Bara Diatas Singgasana .. 01

BARA DI ATAS SINGGASANA

Bagian I – Putra Mahkota

Yang pernah terjadi di Tumapel sudah hampir dilupakan. Rakyat

Tumapel sendiri sudah tidak pernah menyebut nama Akuwu

Tunggul Ametung yang sudah tidak ada lagi. Mereka tidak pernah

mempersoalkan perkawinan Ken Arok dengan Ken Dedes.

Semuanya seolah-olah sewajarnya dan seharusnya terjadi. Para

pemimpin yang tujuh, para perwira dan manggala, tidak ada yang

membicarakannya lagi. Seperti juga tidak ada lagi yang

membicarakan kematian Kebo Ijo.

Apalagi setelah rakyat Tumapel melihat kemampuan Ken Arok

memerintah. Tumapel tidak lagi Tumapel yang sudah puas dengan

dirinya seperti pada saat Akuwu Tunggul Ametung memerintah.

Tumapel kini seakan-akan selalu bergolak. Tanah-tanah kering

harus menjadi basah, dan anak-anak muda yang duduk termenung

harus bangkit mesu diri, membentuk kekuatan yang setiap saat

dapat digerakkan untuk tujuan apapun.

Demikianlah Ken Arok menjadikan Tumapel semakin lama

menjadi semakin kuat dan makmur. Hidup rakyatnya menjadi kian

baik, penghasilan pun bertambah-tambah.

Ken Dedes yang menyerahkan kekuasaannya dengan diam-diam

kepada Ken Arak sama sekali tidak menyesal. Ia melihat

perkembangan Tumapel dengan dada tengadah.

Bukan saja sebagai seorang permaisuri, tetapi sebagai seorang

istri pun Ken Dedes menemukan yang tidak pernah didapatkannya

sebelumnya. Meskipun Ken Arok lebih sering keluar istana, tetapi

Ken Arok tidak pernah melupakannya. Apalagi Ken Dedes mengerti,

bahwa setiap kali Ken Arok meninggalkan istana, maka sesuatu

telah dilakukannya untuk mengembangkan Tumapel.

Hanya sekali-sekali saja Ken Arok melupakan kesibukan itu. Ada

sesuatu yang masih kadang-kadang dirindukannya. Berburu di

hutan-hutan seperti yang dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung.

Tetapi Ken Arok telah digerakkan oleh kenangannya pada masamasa

mudanya. Hutan-hutan rindang di sekitar padang Karautan

sangat menarik perhatiannya. Apabila ia sedang berburu di hutan itu

dibawanya Ken Dedes serta, dan ditinggalkannya itu di taman yang

pernah dibuatnya dahulu, di dekat padukuhan baru bagi orangorang

Panawijen.

Hari-hari yang demikian terasa sangat menyenangkan. Juga bagi

Ken Dedes. Hijaunya padukuhan yang baru itu memberi kesegaran

kepadanya. Ia merasa bahwa ia telah memberikan arti dari

Hidupnya kepada kampung halamannya.

Tetapi ada juga orang yang menjadi sangat kecewa. Perkawinan

Ken Arok dengan Ken Dedes telah membuatnya hampir berputus

asa. Namun kekerasan hatinya kemudian telah mendorongnya ke

dalam tindakan yang kurang bijaksana. Namun ia sama sekali tidak

mau memikirkan kepentingan orang lain. Bahkan ia berkata di

dalam hatinya,”Mereka harus tahu, bahwa aku pun mampu

menundukkan hati rajawali yang liar itu.”

Demikianlah maka semua usaha dilakukannya. Dua kali lipat

dendam yang tersimpan di dadanya harus dituntutnya. Mahisa

Agnilah yang mula-mula menyakitkan hatinya, dan kemudian Adik

perempuannya, Ken Dedes.

Masa-masa berburu yang dilakukan oleh Ken Arok menjadi salah

satu kesempatan baginya. Dan ia telah mencoba untuk

mempergunakannya sebaik-baiknya.

Maka ketika sepasukan kecil orang-orang berkuda berderap

menuju ke hutan-hutan perburuan di sekitar padang Karautan dari

padukuhan baru orang-orang Panawijen setelah meninggalkan Ken

Dedes di taman yang melingkari sendang, maka seekor kuda yang

datang dari jurusan lain pun berlari pula menuju ke tempat yang

sama.

“Terima kasih,”berkata penunggang kuda itu kepada

pesuruhnya,”tetapi apabila kau keliru, maka kupotong lehermu.”

“Aku tidak akan keliru. Aku tahu pasti, bahwa hari ini Ken Arok

pergi berburu.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya maka ia pun segera

memacu kudanya untuk menjumpai Ken Arok dengan beberapa

orang pengiringnya.

Sudah menjadi kebiasaannya, bahwa Ken Arok selalu membuat

sebuah tempat peristirahatan di pinggir hutan. Sebuah gubuk kecil

yang dikelilingi oleh beberapa gubuk yang lain. Dari gubuk-gubuk

itulah mereka pergi mengintai binatang-binatang buruan mereka,

sebelum binatang-binatang itu mereka tangkap hidup atau mati.

Tetapi musim berburu kali ini ternyata agak berbeda dengan

saat-saat yang pernah terjadi. Ketika Ken Arok sedang mengintai di

pinggir sebuah mata air, yang sering dikunjungi oleh binatangbinatang

buruan yang sedang haus, tiba-tiba ia melihat seekor kuda

lewat dengan cepatnya. Segera ia dapat membedakan, bahwa orang

berkuda itu sama sekali bukan orangnya.

“He. kau lihat orang berkuda itu?” Ken Arek berdesis.

Seorang, pengawal mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk

ia menjawab,”ya, hamba melihat.”

“Siapa?”

Kini orang itu menggeleng,”Hamba tidak tahu.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba timbullah

keinginannya untuk mengetahui orang itu. Karena itu maka katanya,

“Aku akan melihatnya.”

“Orang itu berkuda. Sedang kita sama sekali tidak membawa

seekor kuda pun, karena kuda-kuda kita berada di perkemahan.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi ia bukanlah orang yang

mudah menyerah karena keadaan. Karena itu maka katanya,”Kau

tinggal di sini. Kalau para pengawal mencari aku, suruhlah mereka

tinggal di sini menunggu.”

“Tetapi, sebaiknya hamba pergi bersama.”

Sejenak Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa

pengawalnya itu menjadi cemas. Mereka tidak tahu sama sekali,

siapakah penunggang kuda yang lewat itu.

Tetapi Ken Arok menjawab, “Tidak apa-apa. Aku hanya sekedar

ingin tahu. Kalau aku menganggap orang berkuda itu berbahaya,

maka aku akan memanggil para pengawal.”

Pengawal itu tidak segera menjawab. Tetapi kecemasan masih

membayang di wajahnya.

Namun dalam pada itu Ken Arok tersenyum sambil menepuk

bahunya, “Aku dapat menjaga diriku sendiri,”

Pengawal itu tidak menjawab, selain menganggukkan kepalanya.

“Nah, tetaplah di sini. Jangan cemas.”

Sebelum pengawal itu berbuat sesuatu, Ken Arok telah meloncat

dengan sigapnya. Sekejap saja kemudian, Ken Arok itu seakan-akan

telah lenyap ditelan rimbunnya dedaunan.

Sementara itu Ken Arok sedang menyusup di bawah gerumbulgerumbul

perdu ke arah hilangnya kuda yang mencurigakannya.

Ada sesuatu yang tampak aneh oleh Ken Arok pada penunggang

kuda itu. Sesuatu yang tidak dikatakan oleh Ken Arok kepada

pengawalnya. Tetapi ketajaman matanya dapat menangkap apa

yang tidak dilihatnya oleh pengawalnya itu.

Sejenak Ken Arok harus merunduk di bawah gerumbul-gerumbul

sebelum ia dapat menangkap derap kaki-kaki kuda. Kini kuda itu

tidak lagi berlari-lari. Sekali ia mendengar kuda itu meringkik,

kemudian berputar di tempatnya.

“Tidak jauh lagi,” berkata Ken Arok di dalam hatinya.

Dan perhitungan Ken Arok itu memang tepat. Kini ia melihat

penunggang kuda itu sedang termangu-mangu. Menilik sikapnya,

Ken Arok menduga bahwa penunggang kuda itu akan berbalik

menempuh jalan yang baru saja dilaluinya.

“Hem,” desis Ken Arok,”aku mencurigainya.”

Ken Arok pun beringsut semakin dekat. Tetapi ia masih belum

melihat wajah penunggang kuda itu.

Tiba-tiba sebelum penunggang kuda itu menyadari kehadiran

Ken Arok di sisinya, ia merasa kendali kudanya telah ditangkap oleh

seseorang.

Bukan saja penunggang kuda itulah yang terkejut, tetapi

kudanya pun terkejut pula sehingga kuda itu meringkik dan berkisar

pada kaki belakangnya.

Karena penunggang kuda itu sama sekali tidak menyangka,

bahwa kudanya akan bergeser, betapapun kuatnya tangan yang

memegangi kendali itu, namun ia tidak dapat menghindarkan dirinya

lagi dari kesulitan. Guncangan itu telah melontarkannya dari

punggung kudanya. Hampir saja ia terbanting di tanah, kalau

tangan yang menggenggam kendali itu tidak cepat bertindak.

Begitu kendali kuda itu dilepaskan, maka tangan itu pun segera

menangkap penunggang yang terlempar itu.

Semuanya itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat

sekali, sehingga ketika mereka menyadari keadaan diri masingmasing,

penunggang kuda itu telah berpegangan pundak Ken Arok

erat-erat. Sedang Ken Arok pun berusaha untuk menahannya agar

ia tidak terjatuh.

Tanpa mereka sadari, maka sejenak kemudian mereka pun saling

berpandangan. Dan sekali lagi mereka terkejut karenanya.

Perlahan-lahan Ken Arok melepaskan penunggang kuda yang kini

tersenyum kepadanya sambil berkata, “Terima kasih Tuanku.

Bukankah Tuanku Akuwu Tumapel yang bijaksana?”

Ken Arok mundur selangkah. Dipandanginya orang itu dengan

tatapan mata yang hampir tidak berkedip.

“Apakah Tuanku sudah lupa kepada hamba yang hina ini?”

“Hem,”Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “kau Ken Umang.”

Ken Umang mengangguk-anggukkan kepalanya.

Katanya,”Bukankah hamba masih yang dahulu? Yang berbeda

adalah justru Tuanku. Tuanku sekarang bukan sekedar salah satu

dari pemimpin yang tujuh di Tumapel. Tetapi Tuanku adalah

seorang Akuwu, meskipun kekuasaan itu Tuanku dapat dari Tuan

Putri Ken Dedes yang. cantik tiada taranya.”

Ken Arok tidak segera menjawab. Ia masih terpaku memandang

Ken Umang dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya.

“Kenapa kau berbuat seperti ini? Berpakaian laki-laki dan sengaja

mengganggu masa berburu kami?”

“Siapa yang mengganggu Tuanku? Hamba sama sekali tidak

berbuat apapun di sini. Hamba hanya lewat, dan tidak ada

peraturan yang melarang seseorang lewat di hutan ini.”

“Bohong!| bentak Ken Arok, “kau pasti sengaja melakukannya

justru kau tahu aku sedang berada di sini.”

Ken Umang mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia

tertawa sambil melangkah maju, “Tuanku sekarang menjadi

pemarah. Apakah seorang Akuwu harus seorang pemarah seperti

Akuwu Tunggul Ametung?”

Ken Arok tidak menyahut.

“Tetapi Tuanku lain sekali dengan Akuwu yang terdahulu.

Persamaannya, keduanya adalah suami Ken Dedes. Tetapi masih

juga ada perbedaannya. Tuan tidak mendapatkan seorang gadis

lagi.”

“Diam!” Ken Arok hampir berteriak. Terdengar ia

menggeram,”Kalau saja kau bukan seorang gadis, maka aku tampar

mulutmu.”

Tetapi Ken Umang masih saja tertawa. Bahkan ia

berkata,”Memang Tuan. Aku masih seorang gadis, Kenapa Tuanku

tidak menginginkan seorang gadis? Tuanku dapat berbuat apa saja

menurut kehendak Tuanku setelah Tuanku merampas kekuasaan itu

dari tangan Ken Dedes.”

“Diam! Diam kau!”

Tetapi Ken Umang tidak terdiam karenanya. Ia masih tertawa.

Perlahan-lahan ia mendekati Ken Arok. Ketika Ken Umang meraba

ikat pinggang kulit yang membelit di perutnya, Ken Arok sama sekali

tidak beringsut dari tempatnya. Bahkan ia berdiri saja seperti

patung.

Dengan jari-jarinya yang lentik Ken Umang seakan-akan

menghitung butiran-butiran berlian yang terpahat pada timang ikat

pinggang Ken Arok. Kemudian disentuhnya pula ukiran keris yang

terselip pada ikat pinggang di punggungnya.

Perlahan-lahan Ken Umang berdesis, “Tuanku memang gagah

sekali.”

Ken Arok masih tetap mematung.

Dan Ken Umang bertanya seterusnya, “Apakah Tuanku hanya

seorang diri?”

Ken Arok menggeleng, seperti anak-anak yang dituduh

melempari buah-buahan di halaman,”Tidak. Aku tidak seorang diri,”

“Di manakah kawan-kawan Tuanku sekarang?”

“Di gubuk-gubuk itu.”

Ken Umang tersenyum manis sekali. Dirabanya janggut dan

jambang Ken Arok yang pendek dan teratur rapi.

“Maaf Tuanku. Ternyata bukan Tuanku yang mencari hamba

seperti pernah hamba katakan. Tetapi hambalah yang mencari

Tuanku.”

Sentuhan tangan Ken Umang, benar-benar serasa seperti api

yang menyentuh minyak yang tersimpan di dadanya. Adalah jauh

berbeda sekali dengan Ken Dedes. Ken Dedes adalah titik-titik

embun di teriknya matahari. Sejuk sekali.

Apabila hatinya sedang membara, maka sentuhan tangan Ken

Dedes adalah sentuhan ketenteraman yang damai.

Tetapi sentuhan tangan Ken Umang telah mendidihkan darahnya,

sehingga Ken Arok sama sekali tidak dapat mendinginkannya

dengan usaha yang bagaimanapun juga, ketika kemudian seluruh isi

dadanya terbakar.

Semua pengawalnya menjadi gelisah karena Ken Arok tidak

segera kembali ke tempatnya. Seorang pengawal yang menunggu

Ken Arok di tempat mereka melihat seekor kuda melintas, hampirhampir

tidak dapat menahan diri lagi untuk menyusul Akuwu. Tetapi

ia masih bertahan. Kalau ia pergi menyusul, itu berarti ia telah

melanggar perintah. Bahkan kepada pengawal-pengawal yang lain

pun ia telah memberitahukan, bahwa Ken Arok tidak ingin seorang

pun mengikutinya.

“Apakah kau tidak berusaha mencegahnya,” bertanya seorang

kawannya.

“Aku sudah berusaha. Tetapi Akuwu tetap pada pendiriannya.”

“Bagaimana kalau terjadi sesuatu atasnya?”

Pengawal itu tidak menyahut. Tetapi yang lain bergumam,

“Tetapi kalau Akuwu tidak mampu mengelakkan bahaya itu, apakah

kemampuan kita dapat menolongnya.”

“Setidak-tidaknya kita dapat membantunya. Kalau bahaya datang

beradu dada, aku kira Akuwu benar-benar dapat menjaga diri.

Tetapi bagaimanakah halnya apabila ada jebakan yang tidak

disangka-sangka,”

Semuanya diam sejenak. Kemudian seorang yang sudah berusia

agak lanjut berkata,”Kita tunggu sebentar lagi. Kalau Akuwu tidak

segera datang, kita mencarinya.”

Semuanya mengangguk-anggukkan kepala. Mereka pun

kemudian kembali ke gubuk masing-masing, kecuali seorang

pengawal yang diharuskan menunggu di tempat mereka berpisah

dengan Ken Arok.

Pengawal itu sama sekali tidak memperhatikan lagi kepada

binatang-binatang buruan yang minum di genangan air yang

ditungguinya, karena hatinya semakin lama menjadi semakin

gelisah.

Sementara itu Ken Arok sedang dibakar oleh api yang telah

menyentuh perasaannya.

Di masa-masa ia masih berkeliaran di hutan-hutan di sekitar

padang Karautan ini, apapun pernah dilakukannya. Merampas,

merampok dan juga memerkosa. Tetapi kini sebagai seorang Akuwu

ia tidak berdaya melawan lembutnya tangan-tangan Ken Umang

yang menyeretnya ke dalam lembah yang berbahaya.

Ken Arok menyadari dirinya, ketika ia sudah hangus terbakar.

Dengan wajah merah padam ia memandang dirinya sendiri,

kemudian gadis yang masih saja tersenyum di hadapannya.

“Apakah Tuanku menyesal?” bertanya Ken Umang. Ken Arok

berdiri gemetar.

“Kalau Tuanku menyesal, Tuanku masih mempunyai jalan

keluar.”

Ken Arok tidak menjawab.

“Tuanku dapat membunuh hamba sekarang. Kemudian Tuan

dapat terlepas dari semua akibat perbuatan Tuan.”

Wajah Ken Arok menjadi semakin tegang. Ditatapnya wajah Ken

Umang yang cerah oleh senyum yang selalu menghiasi bibirnya.

Namun Ken Arok seakan-akan telah benar-benar membeku,

sehingga ia tidak mampu berbuat apapun juga.

Perlahan-lahan Ken Umang berdiri dan mendekatinya. Sekali lagi

ia meraba janggut dan jambang Ken Arok, yang pendek itu.

“Tuanku dapat membunuh hamba. Bukankah Tuanku membawa

keris dan pedang? Mudah sekali. Inilah dada hamba.”

Tiba-tiba Ken Arok menggelengkan kepalanya. Dengan nada

yang berat ia berkata, “Tidak. Aku bukan pengecut. Aku adalah

seorang laki-laki.”

“Maksud Tuanku?” Ken Umang mengerutkan keningnya. Tetapi

hatinya melonjak kegirangan. Kalau ia berhasil, maka ia akan dapat

duduk di samping anak pedesaan Panawijen itu. Setidak-tidaknya ia

akan mendapat sebagian dari kekuasaan atas Tumapel, yang akan

melimpah kepada anak-anaknya kelak.

“Pergilah. Kembalilah ke Tumapel,”desis Ken Arok. Ken Umang

berdiri termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah Ken Arok

yang masih tegang.

“Sudah aku katakan, aku bukan pengecut. Apakah kau masih

tinggal di rumah Witantra?”

“Tidak Tuanku. Hamba tidak berada di rumah yang kosong itu

lagi. Tetapi hamba berada di rumah bibi hamba.

“Utusanku akan mencarimu. Sekarang, pergilah. Pengawalpengawalku

sudah terlampau lama menunggu.”

Ken Umang tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan

kepalanya ia berkata,”Hamba akan kembali mendahului Tuanku.

Hamba selalu menunggu titah Tuanku, apapun yang harus hamba

jalani,”

Ken Arok tidak menjawab. Dipandanginya saja Ken Umang yang

membenahi pakaian laki-lakinya, kemudian naik ke atas punggung

kudanya yang sedang enak-enak makan rerumputan yang muda.

(bersambung ke jilid 51)

BAGIAN KE 2

Bara di Atas Singgasana

Jilid 51

SEKALI lagi Ken Umang berpaling sambil tersenyum. Sebuah

panji-panji kemenangan telah berkibar di hatinya. Ia telah berhasil

menundukkan seekor burung rajawali yang menguasai seluruh

langit.

“Hamba minta diri, Tuanku. Hamba mohon maaf apabila Tuanku

tidak berkenan di hati,” berkata Ken Umang.

“Pergilah.”

“Hamba Tuanku, mungkin hamba memang sudah tidak

diperlukan lagi.”

“Aku bukan pengecut!”

Ken Umang menganggukkan kepalanya. Kemudian sambil

melambaikan tangannya Ken Umang menggerakkan kudanya, dan

meluncur di antara semak-semak perdu dan batang-batang ilalang.

Ketika Ken Umang hilang dibalik rerungkutan, maka Ken Arok

pun menarik nafas dalam-dalam. Kini ia mempunyai kesempatan

untuk menilai dirinya.

“Aku sudah dijebaknya,” desisnya, “tetapi aku tidak dapat

melepaskan diri dari gairah hidupnya yang menyala-nyala.”

Dan tiba-tiba teperciklah pengakuannya, “Agaknya aku memang

memerlukannya. Aku memang memerlukan yang lain dari Ken

Dedes.”

Tiba-tiba Ken Arok menghentakkan kakinya.

“Mudah-mudahan aku tidak terjerumus ke dalam kesulitan

karenanya,” desisnya. Namun demikian terbayanglah selembar

mendung yang akan mengambang di langit Tumapel.

“Apa boleh buat.”

Sambil menundukkan kepalanya Ken Arok pun kemudian berjalan

kembali ke tempat pengawalnya menunggu. Dicobanya untuk

menghilangkan kesan dari apa yang telah terjadi. Tidak seorang pun

yang boleh tahu, setidak-tidaknya untuk sementara waktu.

Demikianlah, maka Ken Arok pun kembali ke tengah-tengah

pengawalnya tanpa memberikan jawaban apapun ketika

pengawalnya bertanya tentang orang berkuda itu.

“Aku tidak menemukannya,” jawabnya, “mungkin kalau aku juga

mempergunakan seekor kuda, aku dapat mengejarnya.”

Pengawalnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun masa berburu kali ini tidak begitu menarik lagi bagi Ken

Arok. Ia sendiri tidak begitu gairah mengejar binatang-binatang

buruannya. Bahkan belum lagi sepanjang waktu yang direncanakan

Ken Arok sudah memerintahkan orang-orangnya untuk bersikap

kembali ke padang Karautan.

Ken Arok sendiri tidak dapat mengerti, kenapa justru dalam

keadaan yang demikian wajah Ken Dedes selalu terbayang di

pelupuk matanya.

“Kita percepat masa berburu kali ini,” katanya kepada

pengawalnya.

Pengawalnya menjadi heran. Tetapi tidak seorang pun yang

bertanya.

“Besok pagi-pagi kita tinggalkan tempat ini.”

Para pengawalnya hanya saling berpandangan.

“Apa yang sudah kita dapat dari perburuan kita kali ini?”

“Dua helai kulit harimau. Satu helai loreng dan satu helai hitam.

Sepasang tanduk menjangan branggah,” jawab pengawalnya.

“Baru itu?”

“Hamba Tuanku.”

Ken Arok mengerutkan keningnya.

“Badak bercula satu yang Tuanku inginkan masih belum kita

dapatkan,” berkata pengawalnya pula, kemudian, “dan bagaimana

dengan kulit lembu liar yang kita panggang hari ini?”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah.

Tetapi itu sudah cukup. Aku ingin mengalasi tempat dudukku

dengan kulit harimau loreng itu, untuk mengganti alas yang sudah

tua. Bukankah kau sertakan kepala harimau itu pula.”

“Hamba Tuanku.”

“Sudah cukup. Kita akan segera kembali ke padang Karautan.

Ken Dedes pasti sudah menunggu.”

Maka ketika matahari terbit di pagi harinya, iring-iringan itu pun

telah meninggalkan hutan perburuan kembali ke taman di sebelah

padukuhan Panawijen yang baru. Derap kaki-kaki kuda yang

melontarkan debu di atas rerumputan yang kering di padang

Karautan segera menarik perhatian orang-orang yang tinggal di

padukuhan baru itu.

“Akuwu sudah kembali.”

“Ya, Akuwu sudah kembali.”

Beberapa orang pengawal yang berada di taman di seputar

belumbang, yang mengawal pesanggrahan Ken Dedes pun segera

melihat mereka pula.

“Agak lebih cepat dari rencana,” desis para pengawal yang

tinggal di pesanggrahan.

Ken Dedes yang segera diberi tahu pun menjadi heran. Bahkan ia

menjadi cemas, kalau sesuatu telah terjadi sehingga masa berburu

itu dipercepat.

Karena itu maka dengan tergesa-gesa ia berkemas untuk

menyambut kedatangan suaminya.

Tetapi ternyata Ken Arok yang berkuda di paling depan, tampak

segar bugar.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ketika Ken Arok

kemudian meloncat turun dari kudanya, Ken Dedes segera

mendekatinya sambil berkata, “Hamba menjadi cemas Tuanku,

karena justru rombongan ini datang terlampau cepat dari rencana.

Syukurlah, kalau tidak terjadi sesuatu atas Tuanku.”

Dada Ken Arok berdesir mendengar sambutan itu. Seperti anakanak

yang merasa bersalah, maka sebelum Ken Dedes bertanya

lebih lanjut, ia berkata, “Tetapi aku tidak sengaja mengubah

rencana ini Ken Dedes. Tiba-tiba saja aku ingin kembali. Seakanakan

sudah terlampau lama kita tidak bertemu.”

“Ah,” Ken Dedes menjadi kemerah-merahan. Tetapi ia benarbenar

tidak mengerti kenapa Ken Arok itu tiba-tiba

menggandengnya, masuk ke dalam perkemahan.

Tingkah laku Ken Arok benar-benar membuat Ken Dedes menjadi

heran. Meskipun Ken Arok adalah seorang suami yang baik sejak

mereka kawin, namun tiba-tiba saja Ken Arok menjadi seperti

seorang pengantin yang baru saja dipertemukan di pelaminan.

Tetapi Ken Dedes tidak menaruh prasangka apapun. Ia

menyangka bahwa sesuatu sedang bergetar di dalam dada Ken

Arok. Mungkin ia sedang tidak berminat untuk berburu di hutan,

atau kelelahan yang mencengkamnya. Mungkin badannya tetapi

juga mungkin pikirannya.

Sebagai seorang istri yang baik, Ken Dedes berusaha untuk

berbuat sebaik-baiknya.

Namun kegelisahan yang kadang-kadang mencengkam Ken Arok

sehingga mempercepat detak jantungnya, teraba oleh perasaan

halus seorang istri. Meskipun Ken Arok berusaha bersikap sebaikbaiknya,

tetapi tangan Ken Dedes merasakan getar yang tidak wajar

pada arus darah suaminya.

Meskipun demikian Ken Dedes tidak segera bertanya sesuatu. Ia

mengharap bahwa ia akan menemukan kesempatan atau bahkan

Ken Arok sendiri akan mengatakannya.

Tetapi Ken Arok tidak mengatakan sesuatu. Sehari Ken Dedes

menunggu. Bahkan di hari berikutnya. Ken Arok sama sekali tidak

mengatakan apa-apa kepadanya.

“Mungkin akulah yang berangan-angan,” berkata Ken Dedes di

dalam hatinya, sehingga dengan demikian ia sama sekali tidak lagi

berniat untuk bertanya, meskipun sikap Ken Arok kadang-kadang

masih menumbuhkan pertanyaan di dalam dirinya.

Demikianlah, maka musim berburu kali ini telah menimbulkan

persoalan baru di dalam istana Tumapel. Persoalan yang akan

berekor panjang sekali.

Pada saatnya, maka rombongan Akuwu pun kembali dari padang

Karautan. Meskipun hasil buruan mereka kali ini tidak begitu

banyak, tetapi kesan yang dalam telah terpahat di hati Ken Arok.

Kesan yang selalu diusahakannya untuk tetap tersembunyi di dasar

hati.

Namun yang tidak disangka-sangka telah terjadi. Di antara rakyat

dari padukuhan Panawijen lama yang sedang melambai-lambaikan

tangan mereka, ketika mereka melepaskan Ken Arok dan Ken Dedes

kembali ke istana. terdapat seseorang yang hampir tidak mengerti

atas penglihatannya sendiri. Hampir tanpa berkedip dicobanya untuk

mengerti, apakah yang duduk di atas punggung kuda di samping

tandu Ken Dedes.

“Bukankah yang berkuda itu adalah Akuwu yang baru?” ia

bertanya kepada seseorang yang berdiri di sampingnya.

“Ya. Ken Arok. Ia jugalah yang membantu kami membangun

bendungan itu. Ia jugalah yang atas perintah Akuwu Tunggul

Ametung membangun taman yang sekarang dipakainya sendiri

sebagai pesanggrahan.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Bahkan kemudian kepalanya

digeleng-gelengkannya tanpa sesadarnya.

“Kenapa?” bertanya orang di sampingnya.

“Tidak apa-apa,” jawabnya.

“Apakah kau heran? Memang jalan hidup seseorang kadangkadang

mengherankan. Tetapi sejak ia masih seorang pelayan

dalam, ia sudah menunjukkan beberapa kelebihan.”

Orang yang bertanya tentang Ken Arok itu mengangguk-angguk.

“Kalau kau melihat sendiri waktu itu, kau akan sependapat

dengan aku, bahwa sudah selayaknyalah ia menjadi seorang Akuwu

dan suami Ken Dedes.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku memang mengaguminya,” katanya kemudian.

Iring-iringan Akuwu itu pun semakin lama menjadi semakin jauh.

Namun orang yang keheran-heranan itu masih saja berdiri di

tempatnya. Bahkan sambil mengusap-usap matanya ia berkata

kepada diri sendiri, “Apakah aku sudah tidak dapat membedakan

penglihatan atas orang-orang Tumapel?”

Akhirnya ketika orang-orang Panawijen telah meninggalkan

tempatnya, orang itu pun berjalan dengan kepala tunduk, seakanakan

sedang menghitung langkahnya sendiri.

“Aneh. Menurut pendengaranku, orang yang membunuh Empu

Gandring itu jugalah yang membunuh Akuwu Tunggul Ametung,

bernama Kebo Ijo,” desah orang itu di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba ia terkejut sekali sehingga selangkah ia

terloncat.

“He, kau terkejut,” bertanya seseorang yang menggamitnya.

“Hem,” orang itu menarik nafas dalam-dalam, “sedikit.”

“Kenapa kau begitu mudah terkejut? Apalagi di siang hari

begini?”

“Aku sedang memikirkan sesuatu,” berkata orang itu. Dan nada

suaranya tiba-tiba merendah, “Aku berpikir tentang Akuwu itu,

Agni.”

Mahisa Agni, orang yang telah mengejutkan itu, mengerutkan

keningnya. Kemudian ia bertanya, “Kenapa dengan Akuwu itu?”

Orang itu tidak segera menyahut. Baru sejenak kemudian ia

bertanya, “Kau telah dikenalnya dengan baik.”

“Ya.”

“Kau sudah menjadi keluarga dari Akuwu berdua.”

“Ya.”

Orang itu tidak melanjutkan kata-katanya, sehingga Mahisa Agni

bertanya kepadanya.

“Kenapa?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah ada sesuatu yang menarik perhatianmu?”

Sejenak orang itu berpikir. Namun kemudian ia menggelengkan

kepalanya, “Tidak. Tidak apa-apa.”

Namun jawaban itu justru telah membuat Mahisa Agni bertanyatanya

di dalam hati. Dipandanginya orang itu tajam-tajam.

“Aku melihat sesuatu tersembunyi di dalam hatimu,” Mahisa

Agnilah yang kini bertanya. “Ken Dedes adalah adikku. Mungkin aku

dapat menjelaskan teka-teki yang barangkali mengganggumu.”

Orang itu berpikir sejenak. Namun sekali lagi ia menggelengkan

kepalanya, “Tidak. Tidak ada apa.”

Jawaban itu justru merupakan teka-teki yang sulit sekali bagi

Mahisa Agni. Karena itu, maka ia menjadi semakin ingin

mengetahui, apakah yang menjadi sebabnya, sehingga orang itu

menaruh perhatian yang asing kepada suami istri itu.

Karena itu maka ia pun mendesak, “Ada sesuatu yang menarik

perhatianmu. Dan hal itulah yang ingin aku ketahui.”

Orang itu menggelengkan kepalanya, “Tidak ada apa-apa.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat

memaksa orang itu untuk mengatakan sesuatu kepadanya. Karena

itu sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Apa boleh buat.

Tetapi sikapmu mengatakan kepadaku, bahwa ada sesuatu yang

kau anggap aneh pada Akuwu dan istrinya.”

“Tidak. Kau berprasangka.”

Mahisa Agni pun kemudian meninggalkannya sendiri. Sejenak

orang itu masih berdiri di tempatnya. Kemudian dengan langkah

gontai ia pun pergi ke padukuhan baru dari rakyat Panawijen.

Namun ternyata penglihatannya itu benar-benar telah

mengganggu perasaannya. Ketika malam datang, sekejap pun ia

tidak dapat memejamkan matanya. Wajah Akuwu yang baru itu

selalu membayang di pelupuk matanya, sehingga bayangan itu

kemudian menjadi beban yang semakin lama semakin berat di

hatinya.

“Matakulah yang agaknya sudah rabun,” katanya di dalam hati,

“seharusnya aku tidak menghiraukannya.”

Ditutupnya wajahnya dengan kedua belah tangannya. Kemudian

ia pun menelungkup. Tetapi wajah Akuwu masih tetap

membayanginya.

“Kenapa wajah ini tidak mau pergi?” desisnya.

Namun bagaimanapun juga ia berusaha, wajah itu tetap

membayang, bahkan semakin lama semakin jelas.

“Ya, wajah itu. Aku yakin,” tiba-tiba ia menggeram.

“Oh, gila,” desahnya kemudian, “aku sudah menjadi gila.”

Orang itu pun kemudian bangkit dari pembaringannya. Perlahanlahan

ia melangkah keluar dari biliknya, yang berada di gandok

banjar padukuhan Panawijen baru.

Ketika ia berada di halaman banjar, terasa hatinya menjadi

sedikit tenteram. Terasa sejuknya malam menyusup sampai ke

pusat jantungnya.

“Hem,” ia menarik nafas dalam-dalam, “ternyata aku tidak

sedang bermimpi. Tetapi apakah aku harus berterus terang?”

Orang itu tidak segera menemukan jawabnya. Ketika hatinya

masih juga diamuk oleh kebingungan. maka kakinya telah

membawanya melangkah keluar halaman banjar, turun ke jalan

yang membujur di tengah-tengah padukuhan.

Tanpa sesadarnya ia kemudian berjalan selangkah demi

selangkah. Ketika para peronda di gardu di depan banjar bertanya

kepadanya, maka jawabnya, “Udara terlampau panas. Aku tidak

dapat tidur, sehingga aku ingin berjalan-jalan menyejukkan diri

sejenak.”

Tidak seorang pun yang mencurigainya. Orang itu adalah tamu

terhormat bagi Panawijen, karena ia adalah tamu Mahisa Agni.

Namun meskipun orang itu telah berjalan hampir mengitari

padukuhan, hatinya masih juga disaput oleh kegelisahan. Bayangan

yang mengerikan selalu mengikutinya. Bukan sekedar bayangan

Akuwu Tumapel, istrinya Ken Dedes. Tetapi tiba-tiba saja ia melihat

wajah yang hampir dilupakannya, Empu Gandring.

“Oh, aku akan menjadi benar-benar gila.”

Dan orang itu sama sekali tidak ingin gila. Karena itu, maka di

pagi harinya, setelah semalam suntuk ia tidak berhasil memejamkan

matanya sekejap pun, ia menemui Mahisa Agni.

“Mahisa Agni,” katanya, “aku minta diri. Hari ini aku akan kembali

ke Lulumbang.”

“He,” Mahisa Agni terkejut, “kenapa begitu tergesa-gesa?”

“Aku sudah beberapa hari berada di sini.”

“Tetapi sampai kemarin kau sama sekali belum merencanakan

untuk segera pulang hari ini.”

“Tentu sudah. Hanya barangkali aku belum mengatakannya

kepadamu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin tidak

mengerti akan sikap orang itu. Dan ia berterus terang

mengatakannya. “Aku menjadi bingung sejak kemarin melihat

sikapmu yang asing itu. Aku kira kau memang menyimpan sesuatu

di dalam hatimu. Apakah kau tidak lebih baik berterus terang

kepadaku?”

Orang itu mengerutkan keningnya.

“Aku tahu, bahwa kau telah dibebani oleh sesuatu. Kalau kau

menyimpannya di dalam hatimu, maka kau akan selalu merasa

gelisah. Tetapi kalau kau mau mengatakannya, barangkali aku dapat

membantumu, memperingan beban itu.”

Tetapi orang itu menggeleng.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni.

Tatapan mata orang itu melontar jauh sekali.

“Katakan. Kalau itu suatu rahasia, maka aku berjanji, bahwa aku

pun akan merahasiakannya.”

Kini orang itu memandang wajah Mahisa Agni. Kemudian

perlahan-lahan ia berkata, “Agni. Aku tidak ingin bahwa karena

salah sangka, atau prasangka-prasangka yang tidak pada

tempatnya, menyebabkan ketenangan yang sudah pulih kembali di

Tumapel ini terguncang.”

“He,” jawaban orang itu benar-benar tidak disangka-sangka oleh

Mahisa Agni. sehingga ia menjadi sangat terkejut karenanya,

“apakah kau melihat sesuatu yang dapat menimbulkan keguncangan

seperti yang kau katakan? Kalau benar demikian, kau pasti melihat

sesuatu yang sangat penting.”

“Tetapi kau jangan mempercayai aku. Aku tidak mempunyai

ketajaman penglihatan dan ingatan seperti seorang prajurit atau

petugas-petugas apapun. Aku hanya sekedar seorang cantrik

padepokan yang tidak berharga.”

“Bukan kau yang menentukan. Tetapi persoalan yang kau lihat

itu.”

Orang itu, salah seorang cantrik dari padepokan di Lulumbang,

tidak segera menyahut. Dadanya masih saja diamuk oleh keraguraguan

yang sangat. Kalimat demi kalimat yang sudah tersusun dan

terkumpul di bibirnya. tiba-tiba ditelannya kembali.

“Lebih baik aku tidak mengatakan sesuatu, Agni,” berkata orang

itu kemudian, “biarlah aku minta diri. Datanglah sering ke

Lulumbang. agar padepokan itu tidak menjadi terlalu sepi

sepeninggal Empu Gandring.”

Tetapi Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku

bukan anak-anak lagi. Aku dapat menimbang, mana yang baik dan

mana yang buruk. Karena itu, katakanlah.”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam.

“Aku tidak mau. karena kesalahan penglihatanku, Tumapel

menjadi keruh kembali.”

“Katakan. Katakan,” desak Mahisa Agni.

Dada cantrik itu bergelora dahsyat sekali. Hampir saja ia tidak

dapat menahan diri, sehingga syarafnya benar-benar terpengaruh

oleh persoalan yang disimpannya.

“Jagalah dirimu sendiri,” bisik Mahisa Agni, “kau tidak akan dapat

melepaskan diri dari tekanan perasaanmu siang dan malam. Tetapi

apabila hal itu sudah kau katakan, maka apapun akibatnya, namun

dadamu akan menjadi lapang.”

“Apakah aku harus mementingkan diriku sendiri?” ia bertanya.

“Apakah kau yakin bahwa akibatnya akan selalu jelek?”

“Ya.”

“Kau salah sangka. Sekali lagi aku katakan, kalau hal itu kau

anggap rahasia, aku akan merahasiakannya. Kalau kau keliru, aku

akan membantu menemukan kebenarannya, kalau aku mampu.”

Sekali lagi cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Namun

kemudian ia berkata, “Baiklah Agni, tetapi mudah-mudahan aku

keliru atau kau tidak mempercayainya.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Dibiarkannya cantrik itu

menelan ludahnya, kemudian berkata tersendat-sendat, “Agni.

Menurut penglihatanku, orang yang bernama Ken Arok itulah yang

pernah datang ke padepokan Empu Gandring pada saat Empu

Gandring terbunuh.”

“He,” serasa darah Mahisa Agni terhenti sesaat. Dipandanginya

cantrik itu dengan tajamnya, sehingga kepalanya tertunduk dalamdalam.

Mahisa Agni tersadar ketika ia mendengar cantrik itu berkata,

“Mudah-mudahan aku keliru.”

Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang untuk menenangkan

gejolak di dalam dadanya. Kemudian ia berdesis perlahan-lahan,

“Tetapi bukankah orang yang datang waktu itu ke padepokan

memakai kalung yang berwarna kekuning-kuningan.”

“Ya. Orang itulah yang memakainya.” tetapi kemudian

dilanjutkannya, “sekedar menurut penglihatanku Agni. Apalagi

waktu itu malam hari. Lentera di regol halaman tidak begitu terang

dan mataku barangkali memang sudah rabun.”

Mahisa Agni seolah-olah membeku untuk sejenak. Ia tidak

menyangka bahwa ia akan mendengar keterangan serupa itu.

“Sudahlah Agni, jangan kau hiraukan. Aku hanya sekedar

mengurangi beban yang memberati dadaku seperti yang kau

sarankan. Aku tidak bermaksud menuduh Akuwu itu bersungguhsungguh.”

“Tunggulah sebentar,” berkata Mahisa Agni, “bagaimana

pendapatmu tentang Kebo Ijo?”

“Aku belum pernah mengenal Kebo Ijo.”

“Tetapi bentuk tubuhnya jauh berbeda dengan Ken Arok,

sehingga seandainya yang datang waktu itu benar-benar Kebo Ijo,

kau pasti tidak akan keliru bahwa yang datang itu adalah orang

yang sekarang menjadi Akuwu.”

“Entahlah Agni. Sudah aku katakan, aku dapat keliru. Dan

kemungkinan itulah yang terbesar dapat terjadi.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ia

berkata, “Sebaiknya kau tidak pulang ke Lulumbang.”

“Kenapa?”

“Kau tetap tinggal di padukuhan ini.”

“Maksudmu?”

“Demi keamananmu. Meskipun seandainya kau keliru, tetapi

apabila orang yang pernah kau lihat itu benar bukan Kebo Ijo, dan

kini ia masih hidup, maka ia akan berusaha untuk menghilangkan

dan melenyapkan semua saksi, termasuk kau.”

Tetapi cantrik itu menggeleng, “Kalau hal itu akan dilakukan

Agni, waktunya sudah cukup lama. sejak Empu Gandring terbunuh.

Ternyata aku masih tetap hidup sampai ini.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab,

“Mungkin sampai saat ini kau tidak termasuk hitungan. Tetapi

apabila pembunuh itu teringat, bahwa kau masih ada, maka kau

akan terancam.”

“Kalau hal itu terpaksa terjadi Agni, aku akan mengalaminya

dengan senang hati. Sebagai tanda setiaku kepada Empu Gandring

yang sudah terbunuh lebih dahulu.”

“Kalau persoalannya hanya sekedar itu, biarlah kau terbenam

dalam kesetiaanmu itu. Tetapi mungkin kau yang masih tetap hidup

sangat diperlukan. Apalagi kalau ternyata bahwa pembunuhnya

benar bukan Kebo Ijo. karena aku ikut menentukan, pada saat Kebo

Ijo dihukum mati.”

Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “Memang mungkin orang

yang datang itu bukan Kebo Ijo sendiri, tetapi pesuruhnya, namun

apabila ada pembuktian yang lebih nyata, maka hukuman atas Kebo

Ijo menjadi semakin mantap.”

“Tetapi sebaiknya aku kembali ke Lulumbang Agni. apapun yang

akan terjadi. Bertahun-tahun aku berada di padepokan itu.”

Cantrik itu berhenti sejenak, “aku menyesal bahwa aku telah

berkunjung kemari pada saat Akuwu datang pula, untuk berburu,

sehingga khayalanku sudah terkacau oleh penglihatanku yang kacau

pula.”

Sekali lagi ia berhenti lalu, “Maafkan aku Agni bahwa aku telah

menumbuhkan prasangka di dalam dirimu. Tetapi lupakanlah katakataku

semua. Anggaplah semuanya itu sebagai bualan yang tidak

berharga sama sekali.”

Kepala Mahisa Agni terangguk perlahan. Cantrik itu alah cantik

pamannya sejak ia masih terlalu muda, sehingga karena itu

padepokan Lulumbang seolah-olah adalah tempat kelahirannya

sendiri.

Namun demikian Mahisa Agni masih mencoba menahannya.

Katanya, “Aku tahu bahwa tidak ada tempat lain bagimu selain

Lulumbang. Kesetiaanmu kepada Paman Empu Gandring

menumbuhkan perasaan haru padaku. Tetapi kesetiaanmu dapat

juga berbentuk lain. Bukan sekedar menunggui padepokan itu.”

Mahisa Agni berhenti sejenak, kemudian katanya, “Aku adalah

kemenakannya. Kematian paman telah mengguncangkan jantungku.

Dan aku tidak sekedar menangisinya. Kalau memang ada suatu

jalan yang lebih baik bagimu dan bagiku untuk menyatakan

kesetiaan itu, maka marilah jalan itu kita tempuh.”

“Maksudmu?” bertanya cantrik itu.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian,

“Kita akan melihat bersama-sama. Meskipun persoalan Empu

Gandring dan Akuwu Tunggul Ametung dianggap sudah selesai,

namun apa salahnya kita melihat kebenaran, apabila itu masih

memungkinkan. Kalau kita kemudian berkesimpulan, apa yang

terjadi itu sudah benar, kita akan menjadi lebih mantap. Tetapi

kalau kebenaran itu tidak seperti yang telah kita lakukan, betapa

pahitnya kita harus berani melihat dan mengakui kesalahan, dan

sekaligus harus berani meluruskan yang salah itu.”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia bergumam,

“Itulah yang aku cemaskan sejak semula. Karena itu lebih baik aku

tidak mengatakan apa-apa.”

“Jangan bersikap begitu. Kalau kau melihat kesalahan, janganlah

kesalahan itu kau endapkan saja di dalam hatimu, meskipun kau

tahu, itu akan menjadi racun sepanjang hidupmu. Karena apabila

demikian, maka apa yang terjadi seterusnya, adalah perbuatanperbuatan

yang beralaskan kesalahan itu.”

“Tetapi sebaiknya kau berpendirian lain Agni. Anggaplah bahwa

mataku sekarang inilah yang salah.”

“Kita tidak dapat menganggap yang salah itu benar dan yang

benar itu salah. Anggapan yang demikian adalah pengingkaran atas

kenyataan.”

Cantrik itu termenung sejenak. Dan Mahisa Agni berkata

seterusnya, “Kau harus menunjukkan kesetiaanmu kepada paman

Empu Gandring. Kalau tuduhan kita atas Kebo Ijo itu memang

keliru, dan kau dapat menemukan pembunuh yang sebenarnya,

kamu telah berbuat kebajikan atas paman yang sudah terbunuh

itu.”

“Tetapi tidak,” orang itu tiba-tiba berkata dengan nada yang

tinggi. Terbayang kecemasan merambat di wajahnya, “aku tidak

mau melibatkan diriku dalam kesulitan yang dapat mengguncang

ketenangan Tumapel.”

Tetapi Mahisa Agni menepuk pundaknya, “Kau sama sekali tidak

gentar apapun yang terjadi atasmu, apabila kau kembali ke

Lulumbang, demi kesetiaanmu kepada paman Empu Gandring.

Apakah kau dihinggapi oleh perasaan cemas apabila kau menempuh

jalan lain untuk menyatakan kesetiaanmu itu?”

Cantrik itu tidak menjawab.

“Nah, bagaimana pendapatmu?”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia

berdesah, “Apakah maksudmu, dan apakah yang sebaiknya aku

lakukan?”

Mahisa Agnilah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam.

Matanya yang redup memandang jauh kepada bayangan-bayangan

matahari yang bermain di dedaunan.

“Kita akan mencari jalan untuk melakukannya,” desis Mahisa

Agni.

Cantrik itu berdiam diri sejenak.

“Kau tetap tinggal di sini,” berkata Mahisa Agni, “Aku akan pergi

ke Tumapel.”

“Apakah yang akan kau lakukan?”

“Aku akan melihat dan mendengar lebih banyak tentang Ken

Arok dan Ken Dedes. Saat itu perhatian kita seakan-akan sudah

dibatasi oleh tuduhan yang mantap atas Kebo Ijo, sehingga kita

tidak mendapat kesempatan untuk mencari keterangan-keterangan

lain.”

“Mudah-mudahan kau tidak menemukan apa-apa.”

“Mudah-mudahan. Tetapi kita tidak dapat puas dengan apa yang

sudah terjadi.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau setuju?”

“Kalau itu yang kau kehendaki, aku akan mencobanya.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Agni kemudian, “dengan demikian kau

akan tetap tinggal di sini. Akulah yang besok akan segera menyusul

Akuwu.”

Demikianlah, maka Mahisa Agni menemukan bahan baru yang

terpaksa diperhatikannya, karena cantrik itu adalah satu-satunya

saksi yang masih hidup, yang melihat sendiri orang yang datang ke

padepokan pada saat Empu Gandring terbunuh. Karena itu

keterangannya itu, mau tidak mau harus mendapat tanggapannya.

Betapa pahitnya apabila ternyata apa yang sudah diputuskan itu

ternyata keliru.

Di hari berikutnya. Mahisa Agni minta diri kepada Ki Buyut

Panawijen dan kawan-kawannya untuk pergi ke Tumapel tanpa

mengatakan keperluannya yang sebenarnya. Ia masih tetap

merahasiakan keterangan cantrik yang masih belum dapat

dipastikan kebenarannya itu.

Namun pengenalannya atas Ken Arok sebelum anak muda itu

menemukan jalan yang baik, tiba-tiba telah mempengaruhi Mahisa

Agni pula. Terbayang wajah anak muda yang kasar dan liar di

padang Karautan. Anak muda yang melakukan seribu macam

kejahatan sebelum ia menemukan jalan yang lurus di istana

Tumapel atas tuntunan seorang pendeta yang bernama Lohgawe.

“Aku harus mendapat keterangan selengkap-lengkapnya tentang

anak muda itu, apa yang sudah dilakukan dan apa yang dilakukan

kemudian setelah Akuwu terbunuh dan Kebo Ijo dibunuhnya,”

berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Berbeda dengan kebiasaannya, kali ini Mahisa Agni justru

langsung pergi ke istana sebagai kakak Ken Dedes. Pada masa

Tunggul Ametung menjadi Akuwu, jarang sekali Mahisa Agni mau

tinggal di istana apabila ia berada di Tumapel.

Tetapi tidak seorang pun yang melihat kelainan itu. Semua orang

menganggap, bahwa adalah wajar sekali, apabila Mahisa Agni

mendapat tempat bermalam di istana selama ia berada di Tumapel.

Dalam pada itu, tidak seorang pun yang dapat diajaknya

berbicara tentang maksudnya. Bahkan pemomong Ken Dedes yang

tua itu, yang sebenarnya adalah ibunya sendiri, tidak juga

diberitahukannya.

Namun setelah beberapa saat ia berada di istana, timbullah

keragu-raguannya untuk meneruskan usahanya. Ia melihat Ken

Arok sebagai seorang Akuwu yang memang diharapkan oleh rakyat

Tumapel. Ia dapat memberi apa yang seharusnya diterima, dan ia

dapat membuat apa yang memang diperlukan.

Ternyata Ken Arok adalah seorang pemimpin yang baik dan

bijaksana.

Itulah sebabnya, maka Ken Arok pun kemudian tidak puas

dengan keadaan Tumapel seperti yang sudah dicapainya. Ia sama

sekali tidak senang untuk menundukkan kepalanya kepada orang

lain yang selama ini berkuasa.

“Benar juga kata cantrik itu,” berkata Mahisa Agni, “apakah aku

sekarang akan mengguncangkan Tumapel yang sedang merambat

naik ini? Aku yakin sebentar lagi Ken Arok pasti akan berhasil.

Rakyat Tumapel pasti tidak akan berkeberatan untuk menyebutnya

sebagai seorang raja, bukan sekedar seorang Akuwu.”

Dan Ken Arok memang berusaha untuk pada suatu ketika

menjadi seorang raja. Apalagi Ken Dedes selalu berusaha untuk

mendorong maju.

Namun Ken Dedes tidak menaruh prasangka apapun ketika Ken

Arok seakan-akan tidak sabar lagi untuk menunggu esok.

“Kenapa Tuan tergesa-gesa,” bertanya Ken Dedes, “untuk

melakukan pekerjaan yang besar Tuan harus berhati-hati. Tuan

harus mempertimbangkan segala segi.”

“Aku kira semuanya sudah masak. Bukan karena aku terlampau

bernafsu untuk bergelar seorang raja, tetapi sejak saat ini Tumapel

harus berdiri sendiri. Tumapel harus menyebut dirinya sebagai suatu

negara. Dengan demikian kesadaran dan tanggung jawab rakyatnya

akan meningkat.”

“Tetapi apakah Tuanku sudah mempertimbangkan tindakan yang

dapat diambil oleh Maharaja Kediri dengan pernyataan Tuan itu?”

“Tumapel sudah siap.”

Ken Dedes tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Apalagi ia

mempercayai Ken Arok. bahwa perhitungannya atas keadaan pada

umumnya tidak jauh menyimpang dari yang diinginkannya.

Mahisa Agni yang masih berada di istana sekali-sekali sempat

juga bertemu dengan Ken Dedes. Sempat juga ia berbicara tentang

kemungkinan Ken Arok untuk menyebut dirinya menjadi seorang

raja.

“Bagaimana pendapatmu Kakang?” bertanya Ken Dedes.

“Aku bukan seorang pemimpin pemerintahan yang dapat menilai

keadaan dengan tepat. Tetapi apabila Ken Arok. maksudku Tuanku

Akuwu sudah memperhitungkannya dengan masak, maka aku kira

tidak akan ada keberatan apa-apa lagi.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Mahisa Agni

pun ikut merasakan kegembiraan yang membayang di wajah adik

angkatnya itu.

“Mudah-mudahan kau dapat berbahagia,” desis Mahisa Agni di

dalam hatinya. Dan harapannya itu telah membuatnya semakin

segan untuk melihat kenyataan seperti yang dikatakan oleh cantrik

pamannya.

“Aku kira Tuanku Akuwu akan berhasil,” berkata Mahisa Agni

kepada Ken Dedes, “aku mengenal kemampuan dan

kecerdasannya.”

“Doamu saja Kakang. Mudah-mudahan semuanya berlangsung

dengan baik. meskipun Tuanku agak tergesa-gesa.”

“Tetapi persiapannya memang sudah matang. Semuanya sudah

diperhitungkannya,” Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tetapi Mahisa Agni tidak pernah sempat berbicara dengan Ken Arok

sendiri. Ken Arok terlampau sibuk dengan tugas-tugasnya. Dengan

rencananya. Ia adalah seorang yang berhati baja. Dan ia adalah

seorang yang mempunyai kecakapan untuk menilai persoalan yang

sedang dikerjakannya.

Seperti Ken Dedes tidak seorang pun yang mengerti, kenapa Ken

Arok begitu tergesa-gesa kali ini untuk menyebut dirinya seorang

raja. Dengan demikian maka Tumapel menjadi terlampau sibuk.

Selain persiapan penobatan, maka Ken Arok telah mempersiapkan

setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Pasukan sandi telah

disebarnya di segenap penjuru, dan bahkan masuk dalam-dalam ke

daerah Kediri. Pasukan yang kuat berjaga-jaga di perbatasan dan

hampir setiap saat di Tumapel harus mempersiapkan dirinya untuk

menghadapi apapun yang bakal terjadi akibat penobatan itu.

“Bukan main,” desis Mahisa Agni di dalam hati, “ia benar-benar

mampu melakukannya. Cita-cita bagi Ken Arok bukanlah sesuatu

yang sekedar mengambang di langit. Tetapi ia berusaha benarbenar

dapat meraihnya dan menelannya. Dan kini ia sedang gigih

berjuang untuk itu. Pada saatnya, seluruh rakyat Tumapel bersorak.

Tumapel kini bukan lagi suatu wilayah kecil di bawah perintah sang

Akuwu yang mengakui kekuasaan Kediri. Kini Tumapel adalah

sebuah kerajaan yang menamakan dirinya Singasari.”

Seluruh rakyat meneriakkan kelahiran suatu kerajaan baru yang

bernama Singasari itu.

Dan dengan demikian lahir pula seorang raja yang menjadi

kebanggaan rakyatnya untuk memimpin kerajaan yang baru itu, Ken

Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwa Bumi,

yang menguasai kerajaan Singasari, di sebelah timur Gunung Kawi.

Mahisa Agni yang melihat kemajuan anak padang Karautan itu

hanya dapat mengelus dadanya. Ia ikut menjadi bangga karenanya.

Kalau anak itu masih berkeliaran di padang Karautan, ia akan tetap

merupakan hantu yang tidak saja menakutkan, tetapi oleh otaknya

yang cemerlang, ia akan menjadi iblis yang maha dahsyat. Bahkan

ia pun akan mampu membuat suatu kerajaan tersendiri, yang

memerintah para perampok, pencuri, pemeras dan segala macam

penjahat.

Kini kemampuan yang melimpah-limpah itu sudah tersalur. Ken

Arok adalah seorang raja yang perkasa.

Pergolakan yang terjadi di Kediri dimanfaatkannya baik-baik.

Pertentangan antara para pendeta dan para bangsawan. Keputusan

Maharaja Kertajaya yang memaksa para pendeta untuk

menyembahnya, telah menggali jurang yang tidak terhubungkan

lagi.

Dengan demikian, maka hubungan kedua negara itu semakin

memburuk. Raja Singasari yang bergelar Sri Rajasa dapat lebih

tangkas menangani persoalannya.

Mahisa Agni yang merasa berkewajiban untuk menemukan

pembunuh pamannya yang sebenarnya, menjadi semakin

termangu-mangu. Akhirnya tanpa berbuat sesuatu ia kembali ke

padukuhan Panawijen baru. setelah beberapa lama ia berada di

istana Singasari.

Ia memerlukan singgah sebentar ke Lulumbang menemui cantrikcantrik

yang masih menunggui padepokan itu.

“Kawanmu masih berada di Panawijen,” katanya kepada para

cantrik ketika mereka menanyakan seorang kawannya yang

berkunjung kepada Mahisa Agni.

“Kenapa ia tidak segera kembali?”

“Aku menahannya.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jagalah padepokan ini baik-baik. Rawatlah keluarga paman yang

masih ada.”

Para cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

“Apabila aku sampai ke Panawijen, kawanmu akan segera

pulang.”

“Ya,” jawab para cantrik, “kami menjadi cemas.”

Dada Mahisa Agni berdesir.

“Kenapa?” ia bertanya.

“Ia jauh melampaui batas waktu yang direncanakan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Ia selamat.”

Anak muda itu hanya sekedar singgah saja di Lulumbang.

Kemudian ia pun segera meneruskan perjalanan, kembali ke

Panawijen.

Ketika cantrik yang memberitahukan kepadanya tentang Ken

Arok itu bertanya kepadanya. Mahisa Agni hanya dapat

menggelengkan kepalanya, “Seperti kau, aku tidak ingin negara

yang baru lahir ini berguncang. Seluruh rakyat menyambut lahirnya

kerajaan Singasari. Seluruh rakyat mengharap bahwa negara ini

akan segera berkembang. Aku tidak dapat melakukannya.

Kepentingan yang seolah-olah lebih bersifat pribadi ini. terpaksa aku

urungkan, meskipun tidak berarti bahwa kesalahan Ken Arok,

seandainya benar penglihatanmu, menjadi terhapus karenanya.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Sudahlah, anggaplah penglihatankulah yang salah. Singasari

memerlukan seorang besar seperti Ken Arok.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku akan segera kembali ke Lulumbang,” berkata cantrik itu

kemudian.

Namun Mahisa Agni tidak dapat melepaskannya sendiri.

Perasaannyalah yang selalu membayangi. Cantrik itu adalah satusatunya

saksi yang masih dapat mengatakan, siapakah yang

sebenarnya datang ke Lulumbang pada saat Empu Gandring

terbunuh.

“Barangkali pembunuh itu sudah melupakannya, bahwa masih

ada seorang saksi,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “selama

tidak ada persoalan apapun tentang pembunuhan itu, maka aku kira

cantrik itu pun tidak akan terancam.”

Meskipun demikian Mahisa Agni memerlukan mengantarkan

cantrik itu sampai ke Lulumbang, menyerahkannya kembali kepada

kawan-kawannya.

Dengan demikian Mahisa Agni mencoba untuk seterusnya

melupakan keterangan cantrik itu. Ia menenggelamkan di dalam

kerjanya sehari-hari, membangun padukuhannya yang baru, seperti

juga Singasari membangun dirinya. Kini pemerintahan yang

dipimpin oleh Ken Arok itu mulai terasa sampai ke padukuhanpadukuhan

terpencil. Perlindungan dan bimbingannya memberikan

banyak manfaat kepada daerah-daerah yang semula seakan-akan

tidak bertuan.

Namun, adalah berbeda sekali apa yang terjadi di dalam istana

sendiri. Di kala Singasari sedang memencar ke segala penjuru,

keretakan yang perlahan-lahan telah merayapi istana. Seperti yang

dikatakannya sendiri, Ken Arok bukanlah seorang pengecut. Dan ia

memang tidak berlaku sebagai seorang pengecut.

Meskipun belum dilakukannya secara terbuka, namun ia benarbenar

tidak meninggalkan Ken Umang. Bahkan Ken Umang ternyata

mempunyai kecakapan yang seakan-akan ajaib. Ken Arok sama

sekali tidak dapat melepaskannya lagi, bukan sekedar karena

kejantanannya. Tetapi Ken Arok benar-benar memerlukan Ken

Umang.

“Tuanku,” berkata Ken Umang pada suatu kali, “apakah untuk

seterusnya Tuanku akan selalu bersembunyi-sembunyi apabila

Tuanku datang mengunjungi hamba seperti ini.”

“Tentu tidak Umang. Pada saatnya aku akan mengumumkan

perkawinan kita.”

“Tetapi bagaimana dengan Tuanku Permaisuri. Bukankah

kekuasaan yang Tuanku miliki sekarang berasal dari Tuan Putri itu,

yang mendapat pelimpahan dari Akuwu Tunggul Ametung?”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia

menjawab, “Tunggul Ametung bukan seorang raja. Tunggul

Ametung hanya seorang Akuwu. Seandainya kekuasaanku itu aku

dapatkan dari Tunggul Ametung lewat Ken Dedes, maka aku adalah

sekedar seorang Akuwu, tetapi aku adalah seorang raja.”

Ken Umang tertawa pendek. Dan suara tertawa itu menggelitik

jantung Ken Arok. Sambil berjalan hilir mudik Ken Umang berkata,

“Hamba tahu, bahwa pada saatnya Tuanku pasti tidak akan

bersembunyi-sembunyi lagi, karena Tuanku mempunyai kekuasaan

untuk melakukan apa saja. Tetapi pada saatnya itu kapan?”

Ken Arok tidak segera menjawab.

“Tuanku memang seorang raja yang berkuasa. Tidak seorang

pun di Singasari yang berani menentang kehendak Sri Rajasa,” Ken

Umang meneruskan, “tetapi meskipun demikian Sri Rajasa yang

kuasa itu tidak dapat menyakiti hati Permaisuri tercinta.”

“Cukup!” Ken Arok memotong.

Tetapi Ken Umang tertawa. Katanya, “Tuanku jangan marah. Aku

tidak sengaja menyinggung perasaan Tuanku. Barangkali Tuanku

memang terlampau lelah, sehingga mudah sekali kehilangan

pengamatan diri. Karena itu, kami persilakan Tuanku beristirahat.

Tuanku harus melupakan segala kesibukan yang melemahkan itu

meskipun hanya sesaat.”

Ken Arok masih tetap berdiam diri.

“Setuju Tuanku?”

Ken Arok sama sekali tidak bergerak. Tetapi ketika tangan Ken

Umang menyentuhnya, dan bau wewangian meraba hidungnya. Ken

Arok tidak dapat menghindarinya lagi.

“Tuanku memang tidak perlu menyakiti hati Permaisuri. Hamba

sudah puas dengan keadaan sekarang. Apapun yang Tuan lakukan

hamba tidak akan sakit hati.”

“Sudah aku katakan, bahwa aku bukan pengecut,” jawab Ken

Arok, kemudian, “aku sudah berusaha mempercepat penobatanku,

supaya tidak ada persoalan apapun lagi yang dapat merintangi

maksudku, apabila aku akan menyatakan kau sebagai istriku.”

Ken Umang tertawa. Katanya , “Jadi Tuanku menjadikan

Singasari ini suatu kerajaan bukan karena cita-cita Tuan, bahwa hari

depan Singasari akan menjadi lebih baik, tetapi hanya sekedar agar

Tuanku dapat menjadikan hamba sebagai seorang istri yang

terbuka.”

“Bukan, bukan itu,” Ken Arok menyahut dengan serta-merta,

“Tetapi keduanya memang bersangkut paut.”

“Sudahlah,” berkata Ken Umang kemudian, “Tuanku memang

harus beristirahat.”

Demikianlah, Ken Arok menjadi semakin terikat oleh Ken Umang

yang mempunyai sifat yang berbeda dengan Ken Dedes. Seperti

juga Ken Arok tidak lagi dapat hidup tanpa Ken Dedes, ia pun tidak

dapat lagi terlepas dari Ken Umang. Keduanya diperlukan dan

keduanya mempunyai arti yang tersendiri di dalam kehidupannya.

Maka ketika datang saatnya Ken Dedes melahirkan, maka sekali

lagi rakyat Singasari bersorak. Ken Dedes melahirkan seorang putra

laki-laki. Seorang putra laki-laki yang tampan.

Namun di antara sorak-sorai rakyat Singasari itu. justru

rajanyalah yang selalu berdesah di dalam hati. Kelahiran putra lakilaki

itu adalah suatu pertanda bagi Ken Arok, bahwa persoalannya

dengan Tunggul Ametung memang belum selesai dengan

terbunuhnya Kebo Ijo.

Meskipun demikian, di hadapan rakyatnya dan Ken Dedes. Ken

Arok sama sekali tidak menyatakan perasaannya. Ia sama sekali

tidak memberikan kesan apapun, sehingga Ken Dedes sama sekali

tidak berprasangka, meskipun ia tahu benar, bahwa kelahiran

putranya itu akan menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Namun apabila Ken Arok duduk sendiri di dalam biliknya, ia selalu

diburu oleh kegelisahan yang kadang-kadang sangat menyayat

hatinya. Anak itu adalah anak Tunggul Ametung. Bukan anaknya.

Dan anak yang lahir itu adalah seorang anak laki-laki.

“Apakah aku kelak akan mengakuinya sebagai putra Mahkota?”

pertanyaan itu selalu mengganggunya setiap kali.

Dengan demikian maka Ken Arok menjadi semakin tenggelam di

dalam pengaruh Ken Umang. Ia berusaha melarikan dirinya dari

kejaran pertanyaan itu, dan mencari ketenteraman kepada

perempuan itu.

Selain kepada Ken Umang, maka Ken Arok pun telah mencari

penyaluran yang lain dari kekecewaannya. Mau tidak mau, setiap

kali ia melihat putra laki-laki Permaisurinya itu, dadanya selalu

berdesir. Wajah bayi itu seakan-akan merupakan bayangan wajah

Tunggul Ametung.

Ken Arok menjadi semakin lekat dengan punggung kudanya. Ia

menjelajahi sudut-sudut Tanah Singasari. Bahkan Ken Arok pun

kemudian tidak lagi mengakui batas kerajaannya sebesar tanah

Tumapel. Ia seolah-olah sudah tidak melihat lagi batas antara

Singasari dan Kediri.

Arus para pendeta yang menyingkir dari Kediri memberinya

kesempatan untuk menghimpun kekuatan di daerah-daerah yang

sebenarnya termasuk daerah Kediri. Namun orang-orang yang

tinggal di daerah itu terlampau terpengaruh oleh para pendeta yang

memihak kepada Ken Arok.

Apalagi Ken Arok sendiri selalu menumbuhkan gairah yang

menyala-nyala di dalam dada para anak-anak muda Singasari. Di

atas punggung kuda Ken Arok menjelajahi pasukan demi pasukan

yang disusun di daerah-daerah yang terpencil sekalipun.

Singasari benar-benar telah siap menghadapi setiap

kemungkinan.

Dalam pada itu, kegembiraan atas kelahiran putra Ken Dedes

telah mengguncangkan padukuhan Panawijen. Mereka bersyukur,

bahwa seorang anak padukuhan kecil itu dapat melahirkan seorang

putra yang terhormat. Seorang putra yang menghuni sebuah istana

kerajaan Singasari.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni pun telah hampir

melupakan maksudnya untuk menemukan pembunuh pamannya.

Meskipun setiap kali keterangan cantrik itu masih juga terngiang,

namun ia selalu berusaha menahan dirinya. Ia tidak akan sampai

hati melihat Ken Dedes kehilangan sekali lagi atau Singasari

kehilangan seorang yang kuat yang dapat membina Singasari

menjadi sebuah kerajaan besar.

Bagi rakyat Singasari nama Ken Arok semakin hari menjadi

semakin besar. Usahanya yang merata, serta kebanggaan yang

telah menggetarkan setiap dada, benar-benar telah mencengkam

kecintaan rakyat Singasari kepadanya.

Bagi Ken Arok, kemajuan Singasari membuatnya semakin

berpengharapan, bahwa pada suatu ketika, negaranya akan menjadi

suatu negara yang besar.

Namun betapa kebanggaan melonjak di hatinya oleh kemajuan

yang pesat dari kerajaannya, namun setiap kali Ken Arok masih

harus mengusap dadanya, justru apabila ia berada di istananya.

Setiap kali ia harus melihat putra Ken Dedes. Dan setiap kali ia

akan teringat kepada Tunggul Ametung dan tingkah lakunya sendiri,

yang telah merenggut nyawa akuwu itu.

Tetapi akhirnya Ken Arok harus menyerah kepada kenyataan.

Kenyataan bahwa anak Ken Dedes itu memang ada. Seorang lakilaki

yang kemudian diberinya nama Anusapati.

“Aku harus berjiwa besar,” ia selalu berusaha menghibur dirinya

sendiri.

Tetapi apabila kekecewaan itu tiba-tiba saja menggelegak di

dalam dadanya, ia selalu melarikan dirinya di atas punggung kuda

untuk menyaksikan latihan perang, atau menghilang dan

bersembunyi di rumah Ken Umang.

Namun Ken Arok benar-benar tidak dapat berbuat demikian

untuk seterusnya. Ketika Ken Arok yakin, bahwa rakyat Tumapel

telah berada di dalam genggaman tangannya, maka terjadilah hal

yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Ken Dedes.

Seperti guruh yang tiba-tiba saja meledak di atas kepalanya, Ken

Dedes mendengar berita itu. Ken Arok telah mengambil seorang

istri. Ken Umang. Dan yang lebih menyakitkan hatinya, adalah,

bahwa Ken Umang itu telah mengandung pula. Mengandung putra

Ken Arok sendiri.

Berita itu bagi Rakyat Singasari memang mengejutkan. Tetapi

hanya sesaat. Kebesaran nama Sri Rajasa Batara Sang Amurwa

Bumi benar-benar telah terpahat di hati mereka, sehingga

perkawinannya itu pun sama sekali tidak mampu mengguncangkan

kepercayaan rakyat kepadanya.

Sesuai dengan sifat-sifatnya. Ken Dedes sama sekali tidak

bertanya apapun kepada suaminya. Yang dapat dilakukannya

hanyalah menangis sambil memeluk putranya, Anusapati.

Dicurahkannya kepahitan hidupnya kepada tetesan darahnya.

Betapa Ken Arok berusaha menghiburnya, namun Ken Dedes

benar-benar telah terluka. Apa yang dilakukannya kemudian

terhadap suaminya adalah sekedar melakukan kewajibannya

sebagai seorang istri. Tetapi kesetiaan jasmaniahnya itu. semakin

hari semakin menyakitkan perasaannya.

“Aku tidak dapat mengelabui perasaanku,” Ken Arok berterus

terang, “bukan karena aku tidak mau menerima kehadiran anak itu.

Tetapi aku adalah manusia biasa. Sehingga pada suatu ketika aku

telah tergelincir.”

“Hamba, Tuanku. Hamba pun memang sudah merasa, bahwa

hamba terlampau rendah buat Tuanku. Apalagi sekarang, setelah

Tuanku menjadi seorang raja yang berkuasa. Hamba adalah anak

pedesaan yang tidak berharga. Apalagi hamba memang bukan gadis

lagi ketika hamba Tuanku ambil menjadi istri Tuanku. Tuanku

mengetahui dengan pasti bahwa saat itu hamba telah

mengandung.”

“Jangan menyakiti hati sendiri Ken Dedes. Kau telah membuat

luka di hatimu menjadi bertambah parah.”

“Hamba sudah terlampau biasa mengalami kepahitan Tuanku.

Barangkali Tuanku tahu pasti, apakah yang sudah terjadi atas

hamba. Hamba melihat kematian seorang laki-laki untuk pertama

kalinya hamba cintai, karena hamba telah diambil dengan paksa dari

ayah hamba. Kemudian hamba harus menyesuaikan diri sebagai

seorang istri dari Akuwu Tunggul Ametung yang mempunyai sifatsifat

yang sulit dimengerti. Ketika hamba sudah merasa berhasil,

suami hamba itu terbunuh. Tuanku tahu, bahwa perasaan hamba

terhadap Tuanku tumbuh dengan wajar, sebagai perasaan seorang

perempuan terhadap laki-laki. Ketika kita kawin, hamba mengharap

bahwa hamba akan berbahagia.”

“Jangan kau siksa dirimu sendiri dengan perasaanmu itu,” potong

Ken Arok.

“Tidak Tuanku. Sama sekali tidak. Kenangan yang kadangkadang

tumbuh ini akan meneguhkan hati hamba, bahwa memang

menjadi kewajiban hamba untuk bertahan dalam setiap keadaan.”

“Ken Dedes,” berkata Ken Arok, “kau jangan kecil hati. Kau

bagiku adalah seorang perempuan yang paling berharga. Aku

menghargai kau karena sifat-sifatmu.”

Ken Arok berhenti sejenak, kemudian, “tetapi tidak demikian

pandanganku terhadap Ken Umang. Ken Umang bukan seorang istri

yang mengerti keadaan suaminya sampai sedalam-dalamnya, ia

adalah seorang yang menilai setiap keadaan dari tatapan

lahiriahnya. Tetapi aku yakin, kau tidak demikian. Pada suatu saat,

seandainya aku tidak lagi menjadi seorang raja. sikapmu,

pandanganmu dan tangkapanmu atasku tidak akan berubah. Tetapi

tidak demikian dengan Ken Umang. Kalau aku bukan seorang akuwu

waktu itu dan apalagi sekarang seorang raja, maka ia akan lari

dariku. Aku sadar akan hal itu Ken Dedes. Dengan demikian kau

akan dapat menimbang, penilaianku atasmu dan penilaianku atas

Ken Umang, justru karena aku menyadari keadaanku sekarang.”

Ken Dedes menundukkan kepalanya. Meskipun hatinya pedih,

namun sepercik kebanggaan telah mengembang di hatinya. Ken

Arok dapat melihat perbedaan antara dirinya dan Ken Umang.

Sepercik kebanggaan itu telah sedikit menghiburnya, meskipun

saat yang demikian telah mematahkan segenap kegairahannya

terhadap suaminya.

Namun Ken Arok yang kemudian beristrikan Ken Umang itu,

sama sekali tidak mengubah sikapnya terhadap Ken Dedes. Bahkan

tampak ia perlahan-lahan menjadi semakin dekat dengan Anusapati.

Tetapi bagaimanapun juga, baik Ken Arok maupun Ken Dedes

mengetahui dengan pasti bahwa anak itu adalah anak Tunggul

Ametung. Sehingga apabila kemudian lahir anak Ken Arok sendiri

dari Ken Umang, maka perhatian Ken Arok atas Anusapati pun

segera bergeser pula.

Mahisa Agni yang semula telah ingin melupakan segala-galanya.

Tiba-tiba saja telah diguncang kembali oleh berita perkawinan Ken

Arok dengan Ken Umang. Meskipun ia belum melihat sendiri namun

ia sudah dapat membayangkan, bahwa Ken Dedes akan mengalami

kejutan perasaan yang sangat pedih.

Bayangan tentang Ken Dedes itu akhirnya telah membuat Mahisa

Agni menjadi sangat kecewa terhadap Ken Arok. Ken Arok yang

semula berkeliaran di padang Karautan. kemudian mendapat tempat

yang baik di Tumapel itu, kini justru telah membuat sakit hati

kepada Ken Dedes.

“Tetapi aku belum melihatnya sendiri,” ia mencoba

mempergunakan nalarnya, “mungkin ia sama sekali tidak

terpengaruh oleh perkawinan Ken Arok itu. Kalau aku tiba-tiba saja

berbuat sesuatu, sedang Ken Dedes sendiri dapat menerima hal itu

dengan baik, maka akulah yang justru telah membuat luka baru di

hati perempuan itu.”

Meskipun demikian untuk membiarkan hal itu tanpa berbuat apaapa

rasa-rasanya perasaan Mahisa Agni selalu terganggu.

“Aku akan melihat, apa yang sebenarnya terjadi,” katanya

kepada diri sendiri.

Demikianlah pada suatu saat. Mahisa Agni pun segera pergi ke

Singasari. Di sepanjang jalan direka-rekanya, apa yang akan

dilakukannya nanti di dalam beberapa kemungkinan. Kalau begini

apa yang harus dilakukan, kalau begitu apa pula yang perlu

dikerjakan.

“Kalau Ken Dedes menderita karenanya, maka aku harus

melakukan sesuatu. Mungkin aku akan membawa cantrik itu dengan

diam-diam dan bersembunyi ke Singasari untuk mengenal apakah

benar Ken Arok itulah yang dimaksud.”

Dengan hati yang berdebar-debar Mahisa Agni memasuki istana

Singasari lewat regol belakang. Istana itu sudah sangat berubah

menurut pengamatannya. Namun beberapa orang pemimpin prajurit

penjaga yang sedang bertugas masih mengenalinya, sehingga

karena itu maka tanpa kesulitan sama sekali ia dapat masuk ke

dalam istana itu.

“Aku akan bertemu dengan Permaisuri,” katanya pada seorang

penjaga.

“Baiklah. Silakan menunggu di serambi belakang.” jawab seorang

pelayan dalam.

Kedatangan Mahisa Agni itu pun kemudian disampaikannya

kepada permaisuri, yang dengan tergopoh-gopoh minta kepada

pelayan dalam itu agar dipersilakannya masuk ke ruang belakang.

Dada Mahisa Agni bergetar ketika ia melihat Ken Dedes

menyambutnya dengan titik-titik air mata. Selama ini kepahitan hati

itu selalu disimpannya. Ia hanya dapat menumpahkannya kepada

pemomongnya yang tua. Setiap kali. Dan agaknya tekanan-tekanan

perasaan itu masih juga terasa menyekat di dadanya. Karena itu

kehadiran Mahisa Agni adalah merupakan tempat penumpahan

perasaannya pula yang semakin hari semakin penuh.

“Sudahlah Tuanku,” pemomongnya mencoba menghiburnya,

“jangan Tuanku turuti perasaan itu. Cobalah menimbang dengan

tenang, bahwa yang baik masih lebih banyak dari kekecewaankekecewaan

itu.”

Tetapi air mata itu tidak segera kering. Setiap tetes serasa

tusukan-tusukan duri yang paling tajam di dinding jantungnya.

“Kakang,” berkata Permaisuri itu, “hidupku kini tinggallah sisasisa

yang gersang. seperti gersangnya padukuhan Panawijen lama.

Aku tidak dapat lagi mendengarkan merdunya kidung dan tidak

dapat lagi memandang cerahnya matahari pagi pada dedaunan.

Hatiku telah membeku.”

“Jangan Tuanku,” tetapi mata emban itu pun telah mulai basah

pula, “Tuanku masih cukup muda. Seandainya Tuanku telah puas

dengan menghirup cerahnya kehidupan, maka hidup Tuanku

selanjutnya adalah suatu pengabdian buat putra Tuanku.”

“Itulah satu-satunya sebab, kenapa aku masih tetap hidup

emban.”

“Tidak Tuanku. Dalam kemurungan hati, maka putra Tuanku

akan terpengaruh pula olehnya.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.

“Begitulah Tuanku,” berkata Mahisa Agni, meskipun ia sendiri

tidak meyakininya. Tetapi untuk selalu berdiam diri tanpa

memberikan sesuatu yang dapat memperingan beban Ken Dedes

adalah tidak selayaknya, “Bukankah Tuanku Sri Rajasa mempunyai

seorang putra pula dari istrinya yang lain?”

Tanpa sesadarnya Ken Dedes mengangguk.

“Nah, putra Tuanku Permaisurilah yang kelak harus menjadi

putra terbaik dari semua putra-putra Ken Arok.”

Ken Dedes hanya menundukkan kepalanya. Sekali-sekali jarinya

menyentuh pelupuk matanya.

“Kau bermalam di istana saja Kakang,” berkata Ken Dedes

seterusnya.

Mahisa Agni mengangguk.

“Hamba Tuan Putri,” jawabnya, “memang tidak ada tempat yang

lebih baik daripada istana ini. meskipun di sudut yang paling

tersembunyi. Tetapi bagaimanakah apabila pada suatu saat hamba

datang bersama seorang kawan hamba? Apakah kawan hamba itu

pun diperkenankan bermalam di istana ini pula?”

“Tentu Kakang. Tidak ada keberatan apapun. Aku dapat

memberinya izin.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Agni yang tiba-tiba sekilas di dalam

ingatannya untuk membawa cantrik itu pula ke Singasari.

Ternyata titik-titik air mata Ken Dedes telah dengan perlahanlahan

memanaskan darahnya meskipun ia masih tetap mencoba

berpikir sebaik-baiknya. Ia masih tetap mencoba melihat segala segi

dari kepentingan yang jauh lebih besar dari kepentingankepentingan

pribadi. Meskipun demikian ia berkata di dalam hatinya,

“Mungkin pada saatnya aku memerlukannya untuk mengetahui

siapakah sebenarnya pembunuh paman Empu Gandring.”

Dan ternyata keinginannya untuk itu semakin lama justru

menjadi semakin kuat. Ketika kemudian ia meninggalkan ruang

dalam dan di antara langsung ke dalam bilik penginapannya di sudut

bangsal belakang, niat itu justru menjadi semakin berkembang.

“Kasihan anak itu,” desisnya, “seolah-olah sepanjang hidupnya

selalu dibayangi oleh mendung yang kelam.”

Ken Arok yang kemudian diberi tahu akan kehadiran Mahisa Agni

menjadi berdebar-debar pula. Ia tahu benar, bahwa Mahisa Agni

bukanlah sekedar anak pedesaan Panawijen kebanyakan. Mahisa

Agni ternyata memiliki tidak saja kemampuan jasmaniah, tetapi ia

pun termasuk seorang anak muda yang mempunyai kemampuan

berpikir yang kuat.

Tetapi Ken Arok adalah seorang yang bijaksana. Karena itu,

ketika terluang waktu baginya, dalam sidang yang tidak terlalu

banyak persoalan, segera ia memanggil Mahisa Agni menghadap.

“Begitu lama kau tidak datang Agni?” Ken Arok bertanya.

“Hamba Tuanku,” jawab Mahisa Agni, “hamba terlampau sibuk

dengan pekerjaan hamba di padukuhan.”

“Ah,” Ken Arok berdesah, “seandainya aku tidak terikat oleh tata

kehidupan istana, aku sama sekali tidak menghiraukan jenjangjenjang

sebutan seperti itu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejak Ken Arok menjadi

seorang akuwu, ia sudah mempergunakan sebutan resmi dalam

hubungan pribadi mereka. Namun baru sekarang Ken Arok

menyebut kejanggalan itu. Sebagai dua orang yang pernah berada

di dalam satu lingkungan kerja yang besar, jarak yang tiba-tiba saja

membatasi mereka dalam jenjang kedudukan itu memang terasa

janggal. Tetapi kenapa Ken Arok baru menyadarinya sekarang?

“Sebenarnya aku lebih senang hidup tanpa hubungan resmi yang

mengikat seperti ini,” berkata Ken Arok, “keharusan-keharusan

resmi seorang raja ternyata menjemukan sekali bagiku, bagi

seorang yang biasa hidup di alam terbuka.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tetapi Tuanku

tinggal menjalaninya. Hal itu sudah menjadi naluri susunan

hubungan di antara kita. Antara seorang raja dan rakyatnya.”

“Ya, ya,” Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tibatiba

suaranya meninggi, “apakah kau sudah melihat

kemenakanmu?”

“Hamba Tuanku.”

“Anak yang manis. Anak yang memiliki pertanda kebesaran,” Ken

Arok berhenti sejenak. Dan tanpa disangka-sangka ia berkata

seperti begitu saja terloncat dari bibirnya sebelum

dipertimbangkannya baik-baik. “Anak itu adalah bakal Putra

Mahkota. Ia harus mendapatkan tuntunan sesuai dengan

kedudukannya.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia belum mendengar

hal itu sebelumnya. Ken Dedes sama sekali tidak pernah

mengatakannya. Bahkan dalam nada kecemasannya, Ken Dedes

meragukan kemungkinan itu. Tetapi kini Ken Arok sendirilah yang

mengatakannya.

“Bagaimana pendapatmu Agni?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan hatihati

ia menjawab, “Sudah tentu hamba akan sangat berterima kasih

Tuanku. Meskipun hanya sentuhan yang betapapun kecilnya, hamba

dapat ikut mengenyam kemurahan hati Tuanku. Kemenakan hamba

akan mendapat anugerah yang akan sangat berarti di masa

depannya.”

“Itu sudah haknya Agni. Ia adalah putra tertua.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Tetapi Mahisa Agni

bukanlah seorang yang berotak terlampau tumpul. Sikap Ken Arok

yang sangat baik terhadapnya justru menimbulkan persoalan

tersendiri di dalam hatinya.

“Mungkin Ken Arok merasa bersalah,” katanya di dalam hati,

“perkawinannya dengan Ken Umang dapat menjadi sebab, yang

akan dapat menumbuhkan keretakan di dalam istana. Kehadiranku

di sini pasti dihubungkannya dengan kepahitan hati Ken Dedes.”

Tetapi Mahisa Agni berusaha untuk bersikap sewajarnya. Sebagai

seorang pedesaan yang mendapat kehormatan begitu tinggi, maka

tampak kegembiraan membayang di wajahnya.

Beberapa orang pemimpin Tumapel yang melihatnya,

mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa orang baru, yang

belum banyak mengenal Mahisa Agni justru mencibirkan bibirnya.

“Anak padang Karautan ini akan dapat menjadi besar kepalanya.”

Namun setelah Mahisa Agni mundur dari hadapan Sri Rajasa, dan

sidang itu dibubarkan pernyataan baginda tentang putra Ken Dedes

itu menjadi persoalan yang riuh di antara para pemimpin yang lain.

Meskipun tidak seorang pun yang berani mengemukakannya kepada

Ken Arok, namun mereka saling berbisik, “Apakah sudah wajar

bahwa Anusapati yang akan menjadi Putra Mahkota? Bukankah

Anusapati itu bukan putra Sri Rajasa?”

Tetapi beberapa orang yang lain, apabila yang tua-tua berbisik di

antara mereka, “Sri Rajasa memang bijaksana. Ia tidak melupakan

modal kekuasaan yang diterima dari permaisurinya yang mendapat

limpahan kekuasaan dari Akuwu Tunggul Ametung.”

“Terlalu tergesa-gesa,” berkata kelompok yang lain, “sebaiknya

Tuanku Sri Rajasa membicarakannya dahulu dengan para pemimpin

dan tetua Kerajaan Singasari.”

“Tetapi penobatan sebagai Putra Mahkota masih belum

dilakukan. Masih ada kemungkinan lain.”

“Sabda Pandita Ratu,” desis yang lain. Pembicaraan itu ternyata

tidak hanya terbatas pada para pemimpin yang mendengar sendiri

keterangan baginda di dalam pasewakan. Hampir seluruh rakyat,

terutama yang tinggal di dalam kota Singasari, telah

membicarakannya.

“Putra Permaisuri itu masih bayi,” berkata seseorang, “apakah

sudah sepantasnya membicarakan masalah itu sekarang?”

Yang lain hanya mengangkat pundaknya. Dan yang lain lagi

seakan-akan acuh tidak acuh saja akan hal itu.

Namun di dalam pembicaraan sehari-hari itu. Mahisa Agni

ternyata mampu menangkap sikap rakyat Singasari. Ternyata di

antara mereka masih juga ada yang tetap mengenangkan Akuwu

Tunggul Ametung.

Beberapa orang dari rakyat Singasari masih juga menyebutnyebut,

bahwa anak itu pasti anak Tunggul Ametung. Ketika

Tunggul Ametung terbunuh Ken Dedes lagi mengandung muda.

“Mudah-mudahan anak itu benar-benar menjadi putra Mahkota

sehingga Tunggul Ametung kelak akan kembali memegang

kekuasaan.”

Dalam pada itu. Ken Dedes yang masih belum mendengar sendiri

hal itu dari Ken Arok, tetapi sudah mendengar desas-desus yang

tersebar menjadi termangu-mangu. Ia sengaja tidak bertanya

kepada Ken Arok tentang hal itu menunggu apakah benar Ken Arok

berkata demikian bukan sekedar untuk menyenangkan Mahisa Agni.

Tetapi pada suatu saat Ken Arok benar-benar mengatakan hal itu

kepadanya. Seperti pada saat ia mengatakannya di muka sidang

yang dihadiri oleh Ken Arok. seakan-akan begitu saja terloncat dari

bibirnya, “Adinda Permaisuri, Anusapati harus segera mendapat

tuntunan untuk menyesuaikan dirinya dengan kedudukannya. Kelak

ia akan menjadi Putra Mahkota, sehingga pertumbuhannya pun

harus disesuaikan dengan keadaan itu.”

Pernyataan yang seakan-akan begitu saja terloncat dari bibir Ken

Arok itu serasa telah mengembangkan seluruh isi dada Ken Dedes.

Ken Arok benar-benar berhasrat menjadikan putranya yang sulung

itu seorang Putra Mahkota.

“Terima kasih, Tuanku. Hamba akan sangat berterima kasih atas

kemurahan hati Tuanku.”

“Kenapa?” Ken Arok justru bertanya.

“Kesempatan kepada Anusapati untuk menjadi seorang Putra

Mahkota.”

“Bukankah hal itu sewajarnya? He? Aku tidak berbuat menurut

kehendakku sendiri. Putra yang sulung akan menjadi Putra

Mahkota.”

Ken Dedes menundukkan kepalanya, “Hamba Tuanku.”

Dalam pada itu Ken Arok pun mengangguk-anggukkan

kepalanya. Katanya, “Aku tahu Ken Dedes, bahwa mungkin selama

ini kau telah dicemaskan oleh bayangan-bayangan yang seakanakan

menjadi kabut yang kelam di atas singgasana, karena aku

mempunyai anak pula dari istriku yang lain. Tetapi sudah aku

katakan kepadamu, bahwa kau adalah istri yang baik. Kau adalah

seorang istri yang sebenarnya. Kau bukan sekedar seorang

perempuan yang merindukan kelebihan duniawi. Karena itu, maka

putramulah yang memang sudah sepantasnya menjadi seorang

Putra Mahkota. Jangan hiraukan kata orang tentang putramu itu.

Aku menganggapnya seperti anakku sendiri.”

Ken Dedes tidak menjawab. Tetapi matanya menjadi berkacakaca.

Sepercik harapan melonjak di dalam dirinya. Meskipun

hidupnya sendiri seakan-akan selama ini selalu dilingkari oleh

kepahitan, namun pada suatu saat putranya akan menjadi seorang

yang berkuasa di atas Tanah Singasari.

Kesanggupan Ken Arok untuk mengangkat Anusapati menjadi

Putra Mahkota telah memberikan ketenangan dan sedikit

kebanggaan di hatinya. Demikian juga kepada Mahisa Agni.

Meskipun perasaan Mahisa Agni yang tajam menangkap sesuatu

yang mendebarkan jantungnya. Seakan-akan ia melihat sesuatu

yang tersembunyi dibalik kebaikan hati itu.

Tetapi Mahisa Agni tidak mengatakannya kepada siapa pun. Di

dalam hatinya ia hanya mempersoalkannya dengan dirinya sendiri.

Namun dicobanya untuk menenteramkan kegelisahannya.

“Mungkin aku terlampau berprasangka,” desisnya di dalam hati,

“mungkin pengenalanku atas Ken Arok semasa ia masih berkeliaran

di padang Karautan, dan mungkin juga karena keterangan cantrik

yang masih belum pasti kebenarannya itulah yang telah

menggelisahkan hati.”

Dengan demikian maka Mahisa Agni telah berusaha menahan diri

untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menyakitkan hati Ken

Dedes. Ia tidak mau Ken Dedes kehilangan harapannya untuk

menggenggam hari depan lewat putranya Anusapati.

Betapapun keinginan tumbuh di dadanya untuk melihat

kebenaran keterangan cantrik yang tinggal satu-satunya saksi

tentang kematian pamannya, namun niat itu selalu disingkirkannya

jauh-jauh.

Hari-hari yang merambat melampaui ujung bulan dan tahun telah

melahirkan peristiwa-peristiwa yang berlangsung terus. Betapa

dinginnya hati Ken Dedes atas suaminya setelah Ken Arok kawin

dengan Ken Umang, namun ia tidak mau ingkar akan kewajibannya.

Di hari-hari mendatang, maka lahirlah putranya yang berikutnya.

Demikian juga dengan Ken Umang. Kelahiran putranya yang

pertama, yang dinamainya Tohjaya, disusul pula oleh kelahiran adikadiknya.

Semakin lama niat Mahisa Agni pun seakan-akan menjadi

hampir padam sama sekali. Meskipun ia melihat kelesuan di dalam

hidup Ken Dedes, tetapi yang terjadi itu masih jauh lebih baik

daripada peristiwa-peristiwa yang dapat menghempaskannya sekali

lagi ke dalam duka yang mendalam.

Tetapi adalah kebetulan sekali, bahwa istri Ken Arok yang muda

itu adalah Ken Umang. Seorang perempuan yang seperti dikatakan

oleh Ken Arok sendiri, mendambakan dirinya pada kemewahan

lahiriah. Meskipun ia selalu tersenyum di hadapan Ken Arok, seakanakan

ia tidak pernah menentang niatnya, namun kesempatan yang

didapat oleh Anusapati untuk menjadi Putra Mahkota telah

menyakitkan hatinya, Anusapati adalah bukan keturunan Ken Arok,

sehingga tidak sewajarnyalah bahwa takhta yang diperjuangkannya

selama ini akan jatuh ke tangan orang lain.

Perlahan-lahan namun pasti, Ken Umang membiuskan gejolak

hatinya itu ke telinga Ken Arok. Dengan hati-hati. Setiap kata

disertai belaian tangannya yang halus dan suara tawanya yang

renyah, sehingga hampir tanpa disadarinya Ken Arok mulai

menimbang-nimbang kembali keputusannya itu.

“Tetapi aku tidak dapat berbuat lain,” katanya di dalam hati,

“Anusapati memang berhak menjadi Putra Mahkota. Bukan salahnya

bahwa aku mengawini ibunya selagi ia berada di dalam kandungan.

Tetapi ia lahir dari kandungan ibunya, seorang Permaisuri Kerajaan

Singasari.”

Namun meskipun hanya diketahuinya sendiri Ken Arok tidak

dapat ingkar, bahwa ia selalu dibayangi oleh kecemasannya bahwa

ada golongan-golongan yang selalu menghantuinya yang masih

tetap hidup di dalam kerajaannya.

Ken Arok tidak dapat mengelabui dirinya sendiri, bahwa di dalam

lingkungannya masih ada orang-orang yang tidak mendapat

kepuasan. Meskipun ia tidak tahu lagi, di mana Witantra sekarang,

namun ia tidak dapat melupakannya. Anak Empu Gandring dan anak

laki-laki Kebo Ijo yang menjadi semakin besar. Apabila pada suatu

saat rahasia tentang kematian Akuwu Tunggul Ametung terbuka,

maka semua yang pasti akan menuding wajahnya sambil berkata,

“Kau. kaulah pembunuh itu.”

Karena itu, Ken Arok tidak akan menambah orang-orang yang

menjadi duri di dalam hidupnya. Pengikut-pengikut Akuwu Tunggul

Ametung yang tidak puas dengan keadaan, orang-orang yang lebih

senang berpihak kepada Kediri, dan Mahisa Agni yang masingmasing

mempunyai kepentingan sendiri-sendiri.

Dengan demikian, maka atas dasar beberapa segi pertimbangan.

Ken Arok tidak dapat menolak kehadiran Anusapati untuk menjadi

seorang Putra Mahkota.

Tetapi bagaimanapun juga, sikapnya sebagai manusia tidak

dapat disembunyikannya pula. Semakin lama semakin nyata, kalau

Ken Arok menjadi lebih dekat dengan Tohjaya daripada Anusapati.

Mahisa Agni yang semakin sering berkunjung ke istana Singasari

untuk mengunjungi adiknya, melihat juga kejanggalan itu. Justru

lebih banyak dari Ken Dedes sendiri. Kadang-kadang Anusapati yang

bermain-main dengan pemomongnya, sama sekali tidak ditegur oleh

Ken Arok yang lewat beberapa langkah saja daripadanya, dengan

wajah yang gelap dan tingkah laku yang kasar.

Kadang-kadang Mahisa Agni melihat hal itu dari kejauhan. Dan ia

hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Meskipun demikian, hal itu sama sekali masih belum menyakiti

hatinya. Ia masih memandang dengan dada lapang, bahwa Ken

Arok pun manusia biasa yang tidak dapat menghindari guncanganguncangan

perasaannya.

Tetapi yang tidak disangka-sangka telah terjadi.

Ketika Mahisa Agni berjalan-jalan di halaman istana, tanpa

disadarinya ia telah sampai ke batas yang membelah halaman istana

itu menjadi dua bagian. Bagian yang baru, yang memang dibuat

untuk menempatkan Ken Umang, dan bagian yang lama, yang

sudah ada sejak istana itu masih menjadi istana Akuwu Tunggul

Ametung.

Tanpa diketahuinya, sepasang mata selalu memandanginya dari

ujung serambi bangsal di halaman sebelah lewat regol yang lebar.

Sepasang mata seorang perempuan yang berlindung dibalik sudut

bangsal itu.

Tiba-tiba perempuan itu memanggil seorang prajurit pengawal.

Sambil menunjuk kepada Mahisa Agni ia berkata, “Panggil orang

itu!”

Prajurit itu ragu-ragu sejenak.

“Panggil orang itu!” ulangnya.

“Orang itu adalah kakanda Tuanku Permaisuri Tuan Putri.”

“Panggil orang itu!”

Prajurit itu masih termangu-mangu. Tetapi perempuan itu

membentaknya, “Panggil orang itu. Cepat!”

Tidak ada pilihan lain dari Prajurit itu. selain menundukkan

kepalanya dalam-dalam sambil menjawab, “Hamba, Tuan Putri.”

Dengan tergesa-gesa prajurit itu pun menyusul Mahisa Agni yang

sudah menjadi semakin jauh. Kemudian dengan nafas terengahengah

prajurit itu menggamitnya.

“Tuan,” katanya, “hamba mendapat perintah, tuan diharap

datang ke bangsal sebelah.”

Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Kini barulah ia menyadari

bahwa ia telah berjalan terlampau dekat bangsal di seberang batas

halaman istana yang lama.

“Tuan diharap datang sekarang.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia mencoba memandang

ke bangsal di sebelah. Tetapi ia tidak dapat melihat seorang pun di

sana kecuali para prajurit yang bertugas.

“Siapakah yang memanggil aku,” bertanya Mahisa Aum.

“Tuan Putri.”

“Tuan Putri Ken Umang maksudmu?”

“Ya. Aku mendapat perintahnya.”

Terasa darah di dada Mahisa Agni menjadi semakin deras

mengalir. Tetapi ia berhadapan dengan seorang prajurit pengawal

yang hanya dapat menjalankan perintah.

Meskipun demikian ia masih bertanya, “Apakah kau tidak keliru?”

“Tidak. Perintah itu jelas.”

“Apa katanya.”

“Tuan Putri menunjuk tuan dari balik bangsal itu.”

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Kalau ia tidak bersedia, maka

pengawal yang hanya menerima perintah itu pasti akan

memaksanya. Ia sama sekali tidak mendapat keuntungan apapun

berselisih dengan prajurit yang sedang bertugas.

Karena itu, betapa beratnya ia pergi juga memenuhi panggilan

Ken Umang itu. Namun sudah terasa, bahwa sesuatu pasti akan

terjadi. Sesuatu yang tidak akan menyenangkan hatinya.

Tetapi Mahisa Agni itu terpaksa menyusup regol yang lebar pada

dinding batas halaman itu, diantar oleh prajurit pengawal yang

memanggilnya.

Ketika ia sampai ke ujung serambi belakang bangsal itu.

terdengar suara seorang perempuan dari balik dinding, “Suruh

orang itu duduk di serambi!”

Terasa dada Mahisa Agni melonjak. Ia kini sadar, bahwa ia

berhadapan dengan seorang perempuan pendendam.

Tetapi ia masih dapat menyabarkan dirinya. Meskipun ia tidak

duduk di serambi, tetapi ia menunggu di bawah tangga. Tiba-tiba

dari balik pintu muncul seorang perempuan dalam pakaian yang

gemerlapan. Ken Umang.

Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia segan

memandang wajah perempuan itu.

“Kakang Mahisa Agni,” katanya kemudian, “aku ingin

mengucapkan selamat datang di istana Singasari.”

Mahisa Agni dengan susah payah menahan hatinya. Jawabnya,

“Terima kasih Tuan Putri.”

“Apakah Kakang Mahisa Agni masih ingat kepadaku?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sekilas dipandangnya

wajah Ken Umang yang sedang tersenyum atas kemenangannya.

Sambil bersandar tiang yang berukir dan bersungging warna-warna

cemerlang ia menyilangkan tangannya di dadanya.

“Ya Tuan Putri. Hamba masih ingat.”

“Di manakah kau pernah bertemu dengan aku?”

Terasa dada Mahisa Agni menjadi semakin sesak. Dengan tanpa

memandanginya ia menjawab, “Aku kira Tuan Putri pun masih ingat,

di mana kita pernah berjumpa.”

Ken Umang terdiam sejenak. Jawaban itu sama sekali tidak

dikehendaki. Sekilas ia melihat dua orang pengawal berdiri tegak di

sebelah menyebelah regol yang menghubungkan bagian istana yang

baru dan bagian yang lama.

“Ya,” berkata Ken Umang kemudian, “aku memang masih ingat.

Kita bertemu di rumah Kakang Witantra bukan?”

“Hamba Tuanku.”

“Dan sekarang kita bertemu di sini. Kau tahu, siapa aku

sekarang?”

“Hamba Tuanku.”

“Kau ingat, bagaimana kau menyakiti hatiku waktu itu?”

Mahisa Agni berdiri termangu-mangu. Tetapi ia memang harus

menahan dirinya. Kini ia berhadapan dengan istri muda seorang raja

yang perkasa.

“Mahisa Agni,” berkata Ken Umang itu kemudian, “aku memang

sudah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku akan menunjukkan

kepadamu, bahwa Ken Umang bukan seorang gadis buangan seperti

yang kau sangka. Sekarang kau mengerti, bahwa kau harus

berhamba diri kepadaku.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Untunglah bahwa

jasmaniah dan rohaniah ia sudah terlatih untuk menahan diri. Di

sarang Kebo Sindet ia menahan hati betapa sakitnya dijadikan

seorang budak sampai saatnya ia berhasil membinasakannya.

“Nah apa katamu?” bertanya Ken Umang.

“Tidak apa-apa Tuan Putri?” jawabnya.

“Apakah kau menyangka bahwa aku akan mati karena

penolakanmu yang kasar itu?”

“Tentu tidak Tuan Putri. Kalau hamba mengira demikian, hamba

tidak akan berani menolak. Dengan demikian berarti hamba telah

membunuh seseorang.”

Dada Ken Umang tiba-tiba bergetar mendengar jawaban itu.

Kemarahan yang digalinya sendiri mulai merayapi hatinya.

“Orang yang tidak tahu diri,” ia menggeram, “coba katakan

sekarang, siapakah aku.”

Betapapun sakitnya, tetapi Mahisa Agni berusaha untuk tetap

menguasai perasaannya. Maka jawabnya, “Tuan Putri adalah istri

kedua Tuanku Sri Rajasa Batara Sang Amurwa Bumi.”

“Nah, sekarang kau harus duduk bersimpuh di hadapanku.

Sebagai seorang budak yang duduk di hadapan Tuannya.”

“Itu tidak sewajarnya Tuan Putri.”

“Jangan membantah anak padang Karautan.”

Betapapun juga terasa sengatan menyentuh jantungnya. Sebagai

seorang yang mempunyai harga diri Mahisa Agni merasa terhina.

“Hem, alangkah sakitnya,” desisnya di dalam hati, “hukuman

sebagai melepaskan dendam serupa ini tidak sepantasnya

dilakukan.”

“Ayo lakukan, supaya kau sadar, bahwa kau benar-benar

berhadapan dengan istri seorang Maharaja,” berkata Ken Umang

sambil mengangkat wajahnya.

Tetapi Mahisa Agni menjawab, “Ampun Tuan Putri. Apakah

dengan demikian Tuan Putri tidak merendahkan suami Tuan Putri,

seorang Raja yang perkasa?”

Ken Umang mengerutkan keningnya. “Kenapa? Kau adalah anak

pedesaan yang pantas berlutut di bawah kakiku.”

“Hamba adalah kakak ipar suami Tuan Putri. Kalau Tuan

menghinakan hamba demikian, maka adik iparku, akan terhina pula

karenanya.”

Wajah Ken Umang tiba-tiba menjadi tegang. Sejenak ia berdiri

membeku. Dipandanginya Mahisa Agni yang masih saja

melemparkan tatapan matanya jauh-jauh.

Dengan suara gemetar Ken Umang berkata, “Kau mencoba

menakut-nakuti aku? Kau salah, Agni. Sri Rajasa sangat

mencintaiku. apapun yang aku katakan pasti dilakukannya.

Seandainya aku bukan seseorang yang baik hati. yang mengerti

perasaan seorang perempuan, maka aku dapat minta kepada

Tuanku Sri Rajasa untuk mengusir Ken Dedes. Apakah kau tidak

percaya?”

Mahisa Agni terkejut mendengar ancaman itu. Tetapi ia tidak

dapat ditakut-takuti pula, sehingga dengan caranya sendiri ia

menjawab, “Tuan Putri. Jangan bermain api. Tuanku Sri Rajasa

sangat mencintai Tuan Putri itu hamba percaya. Karena itu, apakah

yang akan terjadi kalau Tuanku mengetahui, apa yang pernah Tuan

Putri lakukan terhadap hamba.”

“Diam!” tiba-tiba Ken Umang membentak. Wajahnya menjadi

merah padam, “Kau akan memeras aku he?”

“Bukan, Tuan Putri. Hamba hanya sekedar membela diri. Tuanku

terlampau bernafsu untuk membalas dendam dengan cara yang

tidak sewajarnya.”

Ken Umang terdiam sejenak. Ditatapnya wajah Mahisa Agni

sebentar. Wajah yang memang pernah menarik perhatiannya.

Sejenak dadanya terguncang oleh kemarahan yang meluap. Namun

sejenak kemudian darahnya serasa semakin lambat mengalir.

“Agni,” katanya perlahan-lahan dalam nada yang jauh berbeda

sehingga Mahisa Agni terkejut karenanya. Tanpa sesadarnya ia

menengadahkan kepalanya memandangi wajah Ken Umang itu.

Sekilas ia melihat perempuan itu tersenyum. Tetapi justru senyum

itu telah mendebarkan jantungnya. Dan ia mendengar Ken Umang

itu berkata lirih, “Agni. berjanjilah bahwa kau akan datang lagi

kemari, kapan kau sukai.”

Kata-kata itu telah menghentakkan dada Mahisa Agni. serasa

akan meruntuhkan jantungnya, ia sama sekali tidak menyangka.

bahwa Ken Umang yang kini telah menjadi istri Ken Arok yang

bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwa Bumi masih juga

dihinggapi sifat-sifatnya yang lama.

Namun dengan demikian justru Mahisa Agni seakan-akan

membeku karenanya. Ia berdiri tegak seperti patung, meskipun

dadanya bergetar dahsyat sekali.

Karena Mahisa Agni tidak menjawab, maka terdengar suara

tertawa Ken Umang, “Apakah kau masih juga akan menolak?”

Mahisa Agni masih belum menjawab.

“Pertimbangkan Agni,” berkata Ken Umang, “manakah yang lebih

menguntungkan kau. Ingat, aku adalah istri Raja Singasari. Istri

yang sangat dicintai oleh suaminya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tuan Putri.

Kalau Tuan Putri sangat dicintai oleh Tuanku Sri Rajasa. Kenapa

Tuan Putri menyia-nyiakan cintanya itu?”

Ken Umang tertawa. Katanya, “Kalau aku seorang Permaisuri,

maka aku tidak akan berbuat demikian. Tetapi aku bukan

Permaisuri. Sri Rajasa tidak setiap hari datang ke bangsal ini.

Bahkan kadang-kadang sepekan sekali. Kalau banyak persoalan

yang harus diselesaikan, kadang-kadang dua tiga pekan Tuanku

baru berkunjung. Nah, bayangkan, alangkah sepinya waktu-waktu

itu.”

“Tuan Putri,” berkata Mahisa Agni, “umur kita sudah merambat

semakin tua. Tuan Putri sudah bukan seorang pengantin baru lagi.

Putra-putra Tuan Putri telah lahir satu demi satu. Apakah Tuan Putri

masih juga memerlukan orang lain?”

Wajah Ken Umang menegang sejenak. Namun kemudian ia pun

tertawa. “Aku belum tentu yang kau sangka, Agni. Tetapi aku tidak

akan memaksamu sekarang meskipun aku dapat berbuat apa saja

sekehendakku. Aku dapat menangkap kau dengan tuduhan apapun

yang aku kehendaki. Aku dapat mengatakan hitam bagi yang putih,

dan mengatakan putih bagi yang hitam.”

Terasa darah Mahisa Agni menjadi semakin cepat mengalir.

“Pergilah kalau kau mau pergi sekarang. Tetapi pada saatnya kau

pasti akan kembali. Aku akan menyediakan madu yang paling manis

buatmu, atau kau ingin aku memberikan reramuan yang paling

pahit.”

Mahisa Agni hampir kehilangan kemampuan untuk menahan

gelora kemarahan di dalam dadanya. Untunglah bahwa ia masih

tetap menyadari keadaannya. Karena itu maka ia pun membungkuk

dalam-dalam sambil berkata, “Terima kasih Tuanku. Hamba mohon

diri.”

“Pintuku selalu terbuka bagimu, Agni.”

Mahisa Agni mengatupkan giginya rapat-rapat. Suara tertawa

Ken Umang yang kemudian mengiringinya terdengar seperti suara

hantu betina yang kehausan darah, melihat bangkai yang masih

segar.

Tetapi Mahisa Agni tidak berani lagi berpaling. Ia berjalan sambil

menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun di dalam dadanya

berkecamuk berbagai perasaan yang menghentak-hentak.

Apa yang telah dialaminya ternyata seperti api yang telah

menyalakan darahnya yang hampir mendingin kembali. Tingkah laku

Ken Umang yang memuakkannya itu membuat Mahisa Agni menjadi

semakin iba kepada Ken Dedes. Sudah tentu bahwa Ken Dedes

tidak akan dapat berbuat seperti Ken Umang meskipun terhadap

Ken Arok sendiri. Dan akibatnya pasti akan semakin menjauhkannya

dari Sri Rajasa, meskipun menurut Ken Umang, waktu yang

didapatkannya dari Ken Arok hanya sepekan atau dua pekan sekali.

Tetapi sudah tentu bahwa Ken Arok akan lebih memperhatikan istri

mudanya daripada Ken Dedes.

Sekilas terbayang di dalam angan-angan Mahisa Agni. sikap Ken

Arok terhadap Anusapati. Dan terbayang pula kasih sayang Raja itu

terhadap Tohjaya.

Meskipun hal itu adalah wajar sebagai suatu sikap manusiawi,

tetapi perasaan Mahisa Agni kini seakan-akan tidak dapat

membiarkannya hal itu berlangsung terus.

“Seandainya Ken Arok berhasil menarik diri sepenuhnya dari

dalam lumpur, namun agaknya Ken Umang akan menyeretnya

kembali justru ke dalam kubangan yang paling kotor,” katanya di

dalam hati.

Mahisa Agni sama sekali tidak menyadari, bahwa tiba-tiba saja

keinginannya untuk mengetahui siapakah pembunuh sebenarnya

dari Empu Gandring telah tumbuh kembali. Meskipun ia mencoba

membayanginya dengan sikap. Seolah-olah hal itu hanya sekedar

pekerjaan sambilan.

“Seandainya aku mengetahuinya, maka aku tidak harus berbuat

apapun apabila tidak memungkinkannya,” katanya di dalam hati.

Demikianlah maka Mahisa Agni pun segera minta diri kepada Ken

Dedes, pemomongnya dan dalam suatu kesempatan kepada Ken

Arok. Selain untuk mencoba menghubungi untuk yang dapat

menjadi saksi dalam persoalan pamannya, ia juga mencemaskan

dirinya sendiri, kalau Ken Umang benar-benar tidak dapat

mengendalikan diri.

Mahisa Agni memerlukan waktu beberapa lama untuk pantas

kembali lagi ke Singasari. Meskipun hampir saja ia tidak dapat

bersabar lagi, namun baru pada bulan berikutnya ia membawa

cantrik yang melihat kehadiran seorang prajurit yang dapat disangka

membunuh Empu Gandring di padepokannya.

“Tetapi untuk keselamatanmu, kau harus dapat menyamar diri,”

berkata Mahisa Agni.

“Kalau aku harus mati karena pekerjaan ini, aku tidak akan

menyesal,” berkata cantrik itu “ tetapi aku sama sekali tidak

bermaksud mengguncang keseimbangan yang sudah dicapai oleh

Singasari.”

Mahisa Agni tidak menyahut.

“Apalagi kini,” berkata cantrik itu pula, “para pendeta di Kediri

sudah tidak dapat menahan hati lagi. Mereka mengalir menuju ke

Singasari. Dan agaknya Sri Rajasa pun sudah semakin bersiaga

untuk menanggapi keadaan.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia mengetahui juga

bahwa perkembangan keadaan Singasari dan Kediri menjadi

semakin panas.

Tetapi ia tidak dapat juga menyingkirkan sakit hatinya yang tibatiba

telah terungkit karena kelakuan Ken Umang. Sehingga

meskipun masih dipengaruhi oleh berbagai macam pertimbangan, ia

memutuskan untuk melanjutkan penyelidikannya. Mumpung masih

ada saksi yang dapat memberi arah penyelidikan itu.

Ketika mereka memasuki istana Singasari, cantrik itu berpakaian

seperti seorang petani. Petani yang sangat sederhana.

Atas izin permaisuri maka Mahisa Agni dan petani yang

sederhana itu pun bermalam di istana. Semula Ken Dedes heran

melihat orang yang belum pernah dikenalnya itu. Sebagai anak

Panawijen ia mengenal hampir setiap orang. Tetapi orang ini belum

pernah dilihatnya.

“Orang ini orang baru Tuan Putri. Dari beberapa bulan ia tinggal

bersama kami di padukuhan Panawijen baru.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Orang baru ini pasti orang

yang dianggap penting oleh Mahisa Agni. Tetapi Ken Dedes tidak

menanyakannya.

Meskipun demikian, Mahisa Agni seakan-akan mengetahui

perasaan Permaisuri itu, sehingga ia pun berkata, “Tetapi orang ini

bukan orang terkemuka di padukuhan kami. Ia sama sekali belum

pernah melihat istana. Karena itu ia ingin ikut bersamaku.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dari sorot

matanya Mahisa Agni dapat melihat keheranan di hati Permaisuri

itu.

Tetapi Permaisuri itu berkata, “Baiklah. Pergunakan kesempatan

sebaik-baiknya selagi kalian berada di Singasari.”

Sementara mereka berada di istana itu di hari-hari berikutnya.

Mahisa Agni mencoba untuk memecahkan teka-teki yang sudah

sekian lama tersimpan. Pada suatu kesempatan mereka melihat Sri

Rajasa berjalan-jalan di halaman istana. Kemudian pada

kesempatan lain, keduanya melihat Raja Singasari itu berkuda

keluar regol halaman istana bersama beberapa orang pengiringnya.

Namun yang meyakinkan bagi cantrik itu, adalah ketika mereka

berkesempatan melihat baginda bersantap. Baginda dalam pakaian

sehari-hari yang sederhana.

Sejenak cantrik itu menjadi gemetar. Ia tidak dapat dikelabui lagi

meskipun semua itu telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Namun

ingatannya ternyata masih cukup segar. Seorang prajurit yang

datang dengan tergesa-gesa, menemui Empu Gandring di

Sanggarnya, kemudian pergi di malam itu pula.

“Apakah kau yakin?” bertanya Mahisa Agni.

“Dugaanku kuat. Tetapi sekedar dugaanku.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak

dapat mengambil keputusan atas dasar keterangan cantrik itu saja.

Karena itu, maka ia pun segera berusaha untuk mendapatkan

keterangan dari sumber-sumber lain. Dengan hati-hati dihubunginya

istri Kebo Ijo. Daripadanya ia mendapat keterangan tentang

kematian suaminya, tentang pintu yang tidak terkunci.

“Kakang Mahisa Agni, kenapa Kakang menggugat hal itu

kembali? Biarlah hal itu terjadi.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Bukankah Kakang Mahisa Agni ikut menentukan bahwa Kakang

Kebo Ijo bersalah telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung? Dan

barangkali juga Empu Gandring?”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia

menjawab, “Ya. Justru karena aku ikut menentukan kepastian Kebo

Ijo bersalah itulah aku tidak dapat melupakan peristiwa itu.”

“Sudahlah. Luka di hatiku telah sembuh sedikit demi sedikit.

Kalau persoalan itu nanti terungkit kembali, maka luka di hatiku

pasti akan kambuh pula.”

“Maafkan Nyai. Tetapi aku memerlukan keterangan itu. Setidaktidaknya

untuk menenteramkan hatiku sendiri.”

“Sebaiknya Kakang Mahisa Agni melupakannya. Aku pun akan

melupakannya.”

“Kau yakin bahwa Kebo Ijo tidak bersalah?”

“Aku yakin. Dan keyakinanku tidak akan goyah.”

“Mungkin pintu yang terbuka itu merupakan salah satu peristiwa

yang bersangkut paut.”

“Sudahlah. Jangan kau teruskan Kakang.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Kemudian ia pun minta

izin untuk kembali ke istana.

Namun di sepanjang jalan langkah Mahisa Agni serasa diberati

oleh beban yang tidak dapat dilepaskannya. Sambil menundukkan

kepalanya ia berjalan perlahan-lahan. Ternyata ia tidak langsung

menuju ke istana. Ia berjalan berkeliling kota untuk melihat-lihat

perkembangan kota Singasari yang sangat pesat.

Mahisa Agni tertegun ketika ia berdiri di depan sebuah regol yang

besar di pinggir kota. Sebuah padepokan yang asri dan sejuk di

bawah rimbunnya batang-batang sawo kecik yang berjajar di

halaman.

Sejenak Mahisa Agni berdiri termangu-mangu. Ia mengenal

padepokan itu adalah padepokan pendeta istana. Pendeta Lohgawe,

yang telah menarik langsung Ken Arok dari padang Karautan, dan

menyerahkannya ke dalam pengabdian di istana Akuwu Tunggul

Ametung saat itu.

Tiba-tiba saja Mahisa Agni telah dicengkam oleh suatu keinginan

untuk menghadap Lohgawe. Ia yakin, sebagai seorang pendeta,

Lohgawe akan berpijak pada kebajikan dan kebenaran.

Dalam keragu-raguan Mahisa Agni berdiri tegak di samping regol

padepokan sambil menatap tanaman yang teratur di halaman yang

luas. yang dilingkungi oleh pagar batu yang tidak terlampau tinggi.

Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba saja seorang cantrik muncul

dari dalam regol. Seperti Mahisa Agni, cantrik itu pun terkejut.

Dengan serta-merta ia menyapanya, “ Apakah Ki Sanak mencari

seseorang?”

Mahisa Agni menjadi bingung. Sejenak ia mematung dalam

kebimbangan. Namun kemudian ia bertanya, “Apalah padepokan ini,

padepokan pendeta Lohgawe?”

Kini cantrik itulah yang termangu-mangu. Ditatapnya Mahisa Agni

beberapa saat. Pertanyaan itu terdengar aneh di telinga cantrik itu.

karena semua orang di seluruh Singasari telah mengenal, bahwa

padepokan itu adalah padepokan pendeta istana yang bernama

Lohgawe.

“Apakah Ki Sanak bukan orang Singasari?” cantrik itu bertanya.

Tergagap Mahisa Agni menjawab, “Bukan. Aku bukan orang kota

Singasari, meskipun aku berasal dari wilayah Singasari pula.”

“Dari manakah, Ki Sanak?”

“Padang Karautan.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Padepokan ini memang padepokan Pendeta Lohgawe.

Pendeta istana. Apakah Ki Sanak akan menghadap?”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Namun kepalanya kemudian

terangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Aku akan menghadap apabila

tidak berkeberatan.”

“Apakah keperluan Ki Sanak?”

Mahisa Agni menjadi bingung. Ia tidak akan dapat mengatakan

keperluannya kepada cantrik itu. Sedangkan ia menyadari, sebagai

pendeta istana, maka tidak setiap orang dapat menemuinya.

Dalam keragu-raguan itu, tiba-tiba saja ia sadar, bahwa ia adalah

kakak Permaisuri Ken Dedes. Karena itu maka katanya kemudian,

“Kalau Pendeta Lohgawe tidak sedang sibuk katakan, bahwa

kakanda Tuan Putri Permaisuri Singasari akan bertemu.”

Cantrik itu mengerutkan keningnya.

“Maksud Ki Sanak, Ki Sanak adalah utusan kakanda Tuanku

Permaisuri?”

Sekali lagi Mahisa Agni termangu-mangu. Kalau ia mengiakan

pertanyaan itu, mungkin perhatian Pendeta Lohgawe tidak seperti

apabila ia langsung menyebut dirinya. Setelah sejenak berpikir,

akhirnya Mahisa Agni menjawab, “Aku adalah orang yang kau

maksud.”

“O, jadi … “ cantrik itu berheran-heran. Ia melihat seorang lakilaki

yang sederhana, yang menyebut dirinya mula-mula sebagai

seorang laki-laki yang datang dari padang Karautan. Tetapi

kemudian ia menyebut dirinya sebagai kakak permaisuri Singasari.

Dalam keragu-raguan Mahisa Agni bertanya, “Apakah kau bukan

orang Singasari?”

Pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan yang pernah

diajukannya itu telah membingungkan cantrik itu.

“Kalau kau orang Singasari,” berkata Mahisa Agni seterusnya,

“pasti mengetahui, bahwa Tuan Putri Ken Dedes berasal dari

padepokan Panawijen. Putri seorang Pendeta yang bernama Empu

Purwa. Aku adalah putra laki-laki dari Pendeta tersebut.”

“O, maaf tuan. Maaf.” cantrik itu terbungkuk-bungkuk, “aku tidak

tahu, bahwa tuan adalah kakak Tuan Putri Ken Dedes.”

“Tidak mengapa. Sekarang, sampaikan kepada Bapa Lohgawe

bahwa aku akan menghadap.”

“Maaf, nama tuan?”

“Mahisa Agni.”

Cantrik itu membungkukkan kepalanya. Kemudian dibawanya

Mahisa Agni masuk ke padepokan yang asri itu. Sementara ia

menunggu, oleh cantrik itu Mahisa Agni dipersilakan duduk di

pendapa padepokan, menghadap ke taman yang diwarnai oleh

bunga dan dedaunan yang beraneka warna.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam ketika ia tinggal duduk

seorang diri. Cantrik-cantrik yang lewat di halaman dan batu-batu

kerikil di seputar taman, mengingatkannya kepada padepokan yang

dihuninya sejak kanak-kanak. Padepokan Panawijen. Meskipun

Padepokan Empu Purwa tidak sebaik padepokan pendeta istana ini,

namun padepokan itu pun cukup memberikan kesan yang menarik.

Belumbang, yang berisi ikan gurame dan tawes, binatang peliharaan

raja kaya dan iwen yang berkeliaran di halaman, angsa, itik dan

semacamnya.

Mahisa Agni terperanjat ketika cantrik yang membawanya masuk

memanggilnya, “Tuan, aku sudah menyampaikan kepada Bapa

Pendeta. Tuan dipersilakan masuk.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Bagaimana ia akan

mulai dengan persoalan yang selama ini tersimpan di dalam

hatinya?

Tetapi ia sudah terlanjur berada di dalam halaman padepokan

itu. Ia tidak akan dapat pergi tanpa menemui Pendeta Lohgawe.

Karena itu, maka Mahisa Agni pun segera mengikuti cantrik itu.

Lewat longkangan di sebelah pendapa, masuk ke bagian belakang

padepokan.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya ketika ia melihat seorang

yang duduk terpekur di serambi. Seorang pendeta yang tua namun

masih memancarkan kesegaran jasmaniah.

Mahisa Agni belum pernah duduk berhadapan muka dengan

pendeta itu. Kini ia dapat melihat dengan jelas, bahwa pendeta itu

adalah pendeta yang agak berbeda dengan gurunya, Empu Purwa,

dan juga berbeda dengan Empu Sada. Pendeta ini kulitnya agak

kehitam-hitaman. Berhidung mancung dan bermata tajam. Namun

tampak kelunakan dan kesabaran yang seakan-akan tiada berbatas.

Di keningnya tergurat garis-garis umurnya, sekaligus memancarkan

sorot kebijaksanaan.

Mahisa Agni membungkukkan kepalanya sambil berkata, “Aku

akan menghadap Bapa Pendeta, apabila berkenan di hati Bapa.”

“Marilah Anakmas. Silakan,” suaranya berat dan lunak.

Mahisa Agni pun kemudian naik ke serambi dan duduk bersila

sambil menundukkan kepalanya di hadapan Pendeta Lohgawe.

“Aku sudah diberi tahu oleh cantrik, bahwa Anakmas adalah

kakanda Tuanku Permaisuri Ken Dedes.”

“Ya, Bapa Pendeta.”

“Aku sebenarnya agak terkejut mendapat kunjungan yang tibatiba

dari Anakmas tanpa seorang utusan pun yang memberitahukan

hal itu kepadaku terlebih dahulu.”

“Oh, maafkan Bapa Pendeta,” sahut Mahisa Agni dengan sertamerta.

Kini baru ia menyadari tata hubungan orang istana yang jauh

berbeda dengan tata hubungan orang-orang di padang Karautan.

Dalam kehidupannya sehari-hari di padang Karautan ia sama

sekali tidak pernah menghiraukan tata hubungan serupa itu. Bahkan

kedatangannya ke istana Singasari pun hampir tidak pernah

mempergunakan tata cara apapun. Ia datang dan masuk ke istana

lewat regol belakang. Baru saat itulah ia memberitahukan

kedatangannya kepada Ken Dedes.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya ketika Lohgawe kemudian

berkata, “Tetapi bukan sekedar karena kedatangan Anakmas yang

tiba-tiba. Aku terkejut karena Anakmas begitu memerlukan

berkunjung ke padepokan ini.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi a

menyadari sesuatu yang hampir tidak pernah dihiraukannya. Ia

adalah kakak seorang permaisuri. Meskipun ia perah menolak gelar

kebangsawanan dari istana Tumapel saat itu, dan kemudian juga

setelah Ken Arok menjadi akuwu, sehingga kini Tumapel telah

menjadi kerajaan. Namun bagi orang lain, kakak seorang permaisuri

memang mendapat tempat yang tersendiri.

“Bapa Pendeta,” berkata Mahisa Agni kemudian dengan hati-hati,

“sebenarnya aku hanya sekedar ingin berkunjung kemari. Aku tidak

mempunyai suatu keperluan yang khusus. Karena itu, apabila bapa

Pendeta sedang sibuk degan tugas-tugas Bapa Pendeta, aku tidak

akan mengganggu.”

“Oh tidak, tidak Ngger. Aku tidak sedang berbuat apa-apa. Aku

memang sedang duduk-duduk di serambi ini, ketika cantrik itu

memberitahukan kedatangan Anakmas.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Agni, “aku akan sangat menghargai

waktu ini.”

“Silakan. Silakan Angger duduk-duduk di sini mengawani aku,”

berkata Lohgawe sambil tersenyum.

“Sudah lama sebenarnya aku ingin datang sekedar berkunjung,”

berkata Mahisa Agni kemudian, “tetapi baru sekarang aku mendapat

kesempatan. Setiap kali aku datang ke Singasari, waktuku tidak

terlampau banyak tersisa.”

Lohgawe mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun

bertanya, “Di manakah Anakmas selama ini tinggal? Apakah masih

tetap berada di Panawijen?” Lohgawe berhenti sejenak, kemudian,

“Bukankah Tuan Putri berasal dan Panawijen?”

“Panawijen telah kering bapa Pendeta,” jawab Mahisa Agni,

“padepokan Empu Purwa pun telah kering pula.”

“Jadi?”

“Aku kini tinggal di padang Karautan.”

Pendeta Lohgawe mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tampaklah dahinya menjadi berkerut-merut.

“Ya Bapa Pendeta. Kami telah membuka padukuhan baru di

padang Karautan bersama baginda sebelum menjadi akuwu.”

“Ya, ya. Aku mendengar bahwa Baginda dahulu, selagi ia masih

menjadi pelayan dalam, pernah mendapat tugas untuk ikut serta

membuka padang Karautan.”

“Ya Bapa Pendeta. Ternyata Baginda memang mengenal padang

Karautan dengan baik, seperti mengenal isi istana sekarang ini.”

Pendeta Lohgawe tidak segera menjawab. Tetapi keningnya

menjadi semakin berkerut-merut.

“Pekerjaan membangun bendungan, susukan dan parit-parit

ditambah lagi dengan sebuah taman dan belumbang yang luas itu

dapat ditanganinya dengan sempurna.”

Lohgawe mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tidak ada orang lain yang dapat melakukannya selain Baginda

yang saat itu bernama Ken Arok.”

“Bukan Anakmas,” jawab Lohgawe, “bukan hanya sekedar

Baginda. Tetapi para prajurit yang pada waktu itu ikut besertanya,

dan orang-orang Panawijen sendiri ikut menentukan.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi kini ia benarbenar

berusaha untuk mengarahkan pembicaraan.

“Memang bapa Pendeta,” jawab Mahisa Agni, “tetapi tanpa

mengenal medan dengan baik, pekerjaan yang besar itu tidak akan

dapat berjalan dengan lancar. Dan ternyata Baginda yang pada

waktu itu bernama Ken Arok mengenal padang Karautan dengan

baik.”

Pendeta Lohgawe mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan

dengan sareh ia menjawab, “Ya Ngger. Agaknya memang

demikian.”

“Baginda memang seorang yang luar biasa bapa,” berkata Mahisa

Agni kemudian, “kemampuannya membangun padang Karautan

membayangkan kemampuannya di bidang-bidang lain. Ternyata

Baginda mampu juga membangun kerajaan Singasari yang megah.

Bahkan agaknya Baginda tidak hanya akan berhenti sampai sekian.”

Lohgawe mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Saat itu, Baginda yang masih bernama Ken Arok, telah

menganggap padang Karautan seperti ia menangani kerajaan

Singasari sekarang. Ia mulai dari modal yang sekecil-kecilnya

dibumbui oleh bermacam-macam keadaan, maka jadilah apa yang

kita lihat sekarang.”

Lohgawe tidak segera menjawab.

“Bapa Pendeta,” berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah Bapa

Pendeta tidak mengetahui, bahwa Baginda memang benar-benar

telah mengenal padang Karautan sebelum ia datang bersama para

prajurit?”

Lohgawe menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukanggukkan

kepalanya ia meraba-raba janggutnya yang tidak

terlampau panjang.

“Marilah kita lihat Baginda seperti keadaannya sekarang ini

Anakmas,” berkata Lohgawe kemudian.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sambil menganggukkan

kepalanya pula ia berkata, “Ya Bapa Pendeta. Aku memang melihat

Baginda seperti apa adanya sekarang. Aku hanya sekedar

mengagumi, betapa seseorang mampu merambat untuk mencapai

tangga tertinggi dari kehidupannya.”

“Asal kita berbuat dengan tekun dan penuh ketulusan hati, kita

akan dapat mencapai, setidak-tidaknya mendekati ujung dari citacita

kita.”

“Ya, Bapa. Aku mengagumi, selagi seseorang tidak memanjat

mata tangga yang dibuat dari korban-korban nafsu mementingkan

diri sendiri.”

Tampaklah perubahan membersit di wajah Lohgawe. Tetapi

hanya sesaat. Kemudian wajah itu pun telah menjadi bening seperti

semula. Bahkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia

berkata, “Benar Ngger. Benar. Kita tidak dapat berdiri di atas

timbunan korban-korban yang tidak bersalah, sekedar untuk

memuaskan nafsu kita. Bahkan untuk mencapai cita-cita yang

bagaimanapun baiknya, kita tidak dapat membenarkan setiap cara

apapun tanpa menghiraukan nilai-nilai peradaban untuk mencapai

tujuan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Bapa

Pendeta, menilik sifat-sifat Baginda Sri Rajasa, maka Baginda pasti

tidak akan berbuat serupa itu. Baginda pasti berjuang lewat jalan

yang seharusnya dilalui untuk mencapai tingkat puncak seperti yang

diharapkannya.”

Kini Pendeta Lohgawe tidak dapat lagi menyembunyikan

perasaan yang membayang di wajahnya. Tampak sesuatu terlontar

dari kerut-merut di keningnya.

Tetapi ternyata bahwa Lohgawe adalah seorang yang benarbenar

bijaksana, sehingga sejenak kemudian ia berkata, “Angger

Mahisa Agni memang seorang yang memiliki pandangan yang

sangat tajam. Aku mengerti apa yang Angger maksudkan. Dan aku

mengerti kenapa Angger berbuat demikian. Anakmas adalah kakak

Tuanku Permaisuri, sedang Anakmas melihat, bahwa Baginda Sri

Rajasa tidak berdiri seperti yang Angger harapkan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Beberapa tahun lamanya ia

hidup di padepokan bersama seorang pendeta yang bijaksana pula.

Karena itu, maka ia pun mampu untuk menjajaki sifat-sifat

kependetaan Lohgawe. Meskipun ia sadar bahwa Pendeta Lohgawe

pun adalah manusia biasa pula, seperti gurunya. Empu Purwa yang

pada suatu saat menjadi khilaf dan berbuat kesalahan yang besar

bagi kemanusiaan dengan memecah bendungan Panawijen.

“Bapa Pendeta,” berkata Mahisa Agni, “aku minta maaf bahwa

aku telah terdorong untuk menanyakan hal itu.”

“Tidak apa Anakmas. Anakmas memang berkepentingan. Tetapi

kalau pertanyaan itu Angger teruskan, maka sudah pasti, aku akan

sampai pada suatu kesulitan yang tidak akan dapat aku atasi.”

Mahisa Agni terdiam sejenak. Ia mencoba merenungkan katakata

Pendeta Lohgawe itu. Namun ia sampai pada suatu

kesimpulan, bahwa apa yang dikatakan oleh Pendeta Lohgawe itu,

sebenarnya adalah jawaban dari semua pertanyaan yang tersimpan

di dalam dadanya.

Mahisa Agni tahu pasti, bahwa Lohgawe tidak akan dapat

berbohong. Sebagai seorang pendeta ia akan mengatakan putih

bagi yang putih dan hitam bagi yang hitam. Sehingga apabila ia

sampai ke puncak pertanyaannya, maka Lohgawe pasti tidak akan

dapat menjawabnya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Mahisa Agni berkata,

“Baiklah Bapa. Aku tidak akan bertanya lebih jauh, karena

sebenarnya Bapa telah memberitahukan apa yang ingin aku

ketahui.”

“Baiklah Ngger. Tetapi aku tahu, bahwa Angger adalah seorang

yang bijaksana. Angger tahu apa yang sebaiknya Angger lakukan

dan apa yang tidak sebaiknya Angger perbuat.”

“Aku tahu Bapa. Tetapi perkenankanlah aku bertanya satu hal

lagi.”

Pendeta Lohgawe mengerutkan keningnya. Terbayang keraguraguan

yang tidak lagi dapat disembunyikan pula.

“Maaf Bapa Pendeta,” berkata Mahisa Agni, “pertanyaanku

terlampau sederhana. Pertanyaan seorang anak padang Karautan.”

Lohgawe masih tetap berdiam diri.

“Bapa,” suara Mahisa Agni menjadi semakin lambat dan datar,

“apakah Bapa merestui perjuangan Baginda sampai ke tempatnya

yang sekarang?”

Lohgawe adalah Pendeta yang hampir mumpuni. Ia menguasai

ilmu yang kasatmata dan yang tidak kasatmata. Itulah sebabnya

maka pertanyaan Mahisa Agni itu dapat ditangkap sampai jauh ke

dalam inti maknanya. Bukan sekedar pertanyaan seorang yang

datang dari padang Karautan atau seorang kakak dari seorang

perempuan yang kecewa karena dimadu, bukan pula sekedar

pertanyaan seorang yang iri hati. Tetapi Lohgawe menelusuri

masalahnya dari sumber segala yang ada. Sangkan paraning

dumadi.

Pendeta itu menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Agni bukan

orang yang harus dipersoalkan. Tetapi bahwa ia mendapat hasrat

untuk melakukannya, itulah yang menjadi pusat perhatian Lohgawe.

Ken Arok sekarang justru berada di pintu kemasyhuran. Ia

sedang berusaha menghadapi Kediri yang tidak senang melihat

perkembangan Singasari yang tumbuh di atas tanah Tumapel.

Namun sementara itu Kediri telah melakukan kesalahan yang dapat

menikam jantung sendiri. Menurut keputusan Maharaja Kediri, maka

semua pendeta harus menyembahnya, sebagai dewa tertinggi.

Sehingga para pendeta yang mempunyai banyak pengaruh itu telah

memalingkan wajah mereka ke Singasari.

Pada saat itulah, dari pusat adanya, Ken Arok telah mendapatkan

sepercik tuntutan lewat Mahisa Agni.

Dengan demikian maka Pendeta Lohgawe yang mempunyai

penglihatan yang lepas hampir tidak berbatas itu segera melihat,

kabut yang gelap membayangi tahta Singasari yang kini masih

sedang menanjak.

“Memang tidak ada seorang pun yang dapat menghindarkan diri

dari tangan-Nya,” katanya di dalam hati.

Karena Lohgawe tidak segera menjawab, maka Mahisa Agni pun

mendesaknya. “Bagaimana Bapa?”

“Anakmas Mahisa Agni,” berkata Pendeta itu kemudian, “aku

tahu bahwa Anakmas menganggap, sebagai seorang pendeta aku

tidak akan melakukan pemalsuan. Tingkah laku, kata-kata maupun

kesaksian. Sejak semula aku memang sudah menyangka, bahwa

Anakmas akan mendorong aku sampai ke sana. Aku tidak akan

dapat ingkar dari pertanyaan itu. Tetapi sekali lagi aku mengharap

bahwa Anakmas cukup bijaksana. Seandainya seekor ular

bersembunyi di dalam tiang rumahku, sudah tentu aku tidak akan

langsung menebang tiang itu untuk membunuh ularnya. Justru aku

tahu, bahwa di atas atap rumah itu banyak orang yang sedang

bersembunyi menyelamatkan diri dari kejaran seekor harimau.”

Terasa sesuatu bergetar di dada Mahisa Agni. Ia langsung dapat

menangkap makna dari kata-kata Pendeta Lohgawe itu.

Justru karena itu, Mahisa Agni diam mematung. Darahnya serasa

berjalan semakin lambat. Ditatapnya wajah Pendeta Lohgawe yang

kini telah menjadi bening kembali, justru setelah ia mengatakan apa

yang tersimpan di dalam hatinya.

Ketika Mahisa Agni akan mengucapkan sepatah kata, Lohgawe

mendahului, “Itulah Anakmas. Bukankah kau menghendaki untuk

mengetahui kenyataan itu? Dan agaknya Yang Maha Tunggallah

yang membawa kau kemari, seperti Yang Tunggal membawa Ken

Arok kepadaku.”

Lohgawe berhenti sejenak, kemudian, “Terserahlah kepada

Anakmas. Apakah yang menurut Anakmas baik dilakukan. Aku

menganggap bahwa Anakmas telah mendapat kebijaksanaan yang

tidak terbatas.”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak sejauh itu Bapa

Pendeta. Kini terasa betapa bodohnya aku. Setelah aku mendengar

jawaban yang aku tunggu-tunggu itu, justru aku menjadi kehilangan

akal. Aku tidak tahu, apa yang sebaiknya aku lakukan.”

“Angger memang perlu penenangan. Aku sudah pasrah. Apa

yang Angger lakukan adalah yang paling baik.”

Mahisa Agni menjadi semakin bingung.

“Jangan kau paksa untuk mengambil kesimpulan sekarang

Anakmas. Kalau Anakmas sudah menjadi tenang, maka Anakmas

akan melihat cahaya itu di hati Anakmas.”

Mahisa Agni masih menundukkan kepalanya.

“Lupakanlah untuk sejenak. Apakah Anakmas mempunyai

persoalan yang lain?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak Bapa

Pendeta. Aku tidak mempunyai keperluan apapun.”

“Kalau begitu, kita mempunyai waktu untuk berbicara tentang

banyak hal. Tentang jalan-jalan yang menjadi semakin rata,

bangunan-bangunan yang bertambah megah di atas Singasari ini.”

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni menundukkan kepalanya sambil

berkata, “Aku mohon diri Bapa Pendeta. Aku kira aku telah berbuat

suatu kesalahan. Aku telah didorong oleh perasaan-perasaan yang

selama ini terdesak jauh ke sudut hati yang paling tersembunyi.

Tetapi aku tidak berhasrat untuk berbuat apapun.”

Lohgawe tersenyum. “Jangan mengambil keputusan sekarang.”

Kini Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Sejenak kemudian

ia berkata, “Aku mohon diri Bapa Pendeta.”

Sekali lagi Lohgawe tersenyum, “Baiklah Anakmas.”

“Aku mohon restu, agar aku tidak dilihat oleh kegelapan, oleh iri

dan dengki.”

“Kalau kau sadar akan dirimu, maka kau tidak akan terjerumus

ke dalamnya.”

“Mudah-mudahan Bapa Pendeta.”

Mahisa Agni pun kemudian meninggalkan padepokan itu dengan

hati yang kisruh. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Setela

ia ia mendapat jawaban atas teka-tekinya, maka kini justru ia

diharapkan pada suatu teka-teki baru yang lebih sulit.

Mahisa Agni menjadi semakin bingung lagi, karena ia sadar tidak

seorang pun yang dapat diajaknya berbicara. Cantrik yang

dibawanya dari Lulumbang itu pun tidak.

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni teringat kepada emban tua

pemomong Ken Dedes. Ia akan dapat berkata berterus terang

kepada ibunya sendiri. Sudah tentu bahwa ibunya tidak akan

berbuat apa-apa yang dapat mencelakakannya. Dan bahkan

mungkin ibunya, yang selama ini dekat dengan Ken Dedes, dapat

mengatakan, apa yang pernah dilihatnya.

Maka ketika ia mendapat kesempatan, pada malam hari ia

berkunjung ke bilik emban tua itu tanpa dicurigai oleh para

pengawal. Keduanya adalah orang-orang Panawijen, dan emban tua

itu adalah pemomong permaisuri.

Dengan hati-hati Mahisa Agni mencoba untuk mengarahkan

pembicaraan. Dikatakannya pula bahwa ia telah bertemu dengan

janda Kebo Ijo, dengan Lohgawe dan menurut sepengetahuan

cantrik yang dibawanya itu.

“Bagaimanakah pendapat ibu?”

Sejenak orang tua itu tidak menjawab. Perlahan-lahan kepalanya

menunduk, dan titik-titik air pun berjatuhan satu demi satu.

“Kenapa ibu menangis?” bertanya Mahisa Agni.

“Ceritamu membuat hatiku trenyuh, Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi

tangkapan naluriku mengatakannya demikian. Aku melihat

hubungan yang tidak wajar sebelumnya antara Ken Dedes dan Ken

Arok.”

“Apakah ibu percaya bahwa akhir dari peristiwa itu memang

demikian.”

Perlahan ibunya mengangguk.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kini ia yakin, bahwa ia

telah menemukan pembunuh Empu Gandring, pembunuh Akuwu

Tunggul Ametung dan jawaban atas pertanyaan, kenapa Ken Arok

membunuh Kebo Ijo sebelum ada keputusan dari pemimpin yang

tujuh.

Namun kesimpulan itu ternyata telah memukul dadanya, seakanakan

menjadi bengkah. Sekilat dikenangnya akan Witantra, yang

terusir dari kedudukannya karena keyakinannya. Kebo Ijo tidak

bersalah. Dan ia, Mahisa Agni yang terburu nafsulah yang saat itu

naik ke atas arena, untuk memperkuat keputusan, bahwa Kebo Ijo

telah bersalah.

Penyesalan yang tiada taranya telah meremas jantungnya.

Karena itu maka kebenciannya kepada Ken Arok pun tiba-tiba

meledak. Dengan nada yang tajam ia berdesis, “Aku akan

membunuh Ken Arok.”

Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba saja ibunya meloncat

memeluknya. Di antara isak tangisnya ia berkata, “Jangan Agni.

Jangan. Bagaimanapun juga, Ken Dedes tidak akan ikhlas melihat

suami pilihannya itu terbunuh. Apalagi kaulah yang membunuhnya.”

Emban tua itu berhenti sejenak, kemudian, “Apalagi saat ini di

mana setiap orang Singasari menggantungkan harapannya kepada

Baginda Sri Rajasa.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pelukan ibunya serta

titik-titik air matanya serasa telah menyejukkan hatinya. Meskipun

demikian ia tidak dapat menyembunyikan penyesalan yang tiada

taranya terhadap sikapnya yang telah menjerumuskan Kebo Ijo ke

dalam kehinaan dan telah mengusir Witantra dari Tumapel.

“Seandainya saat itu aku tidak menjadi gila, aku kira keadaan

akan berbeda. Kalau Ken Arok sendiri tidak turun ke arena, sudah

pasti, sulitlah untuk mencari pimpinan prajurit yang dapat

mengalahkannya. Bahkan Ken Arok pun belum pasti,” berkata

Mahisa Agni di dalam hatinya, “tetapi semuanya sudah terlanjur.

Aku ikut memberikan tenagaku melanggar nilai-nilai kebenaran.”

Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka ibunya

berkata seterusnya, “Tenanglah Mahisa Agni. Jangan tergesa-gesa.

Kalau kau masih juga tergesa-gesa maka kau akan mengulangi

kesalahanmu itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepala. Ia mencoba

mengerti nasihat ibunya.

“Baiklah, Ibu. Aku akan mempertimbangkannya,” sahut Mahisa

Agni. “Tetapi aku tidak dapat mengingkari kesalahan itu. Aku harus

menemui Witantra.”

“Kenapa.”

“Aku harus minta maaf kepadanya.”

“Bagaimana kalau terjadi salah paham?”

“Aku tidak akan berbuat apa-apa.”

Ibunya termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah

Mahisa Agni tetapi hati-hatilah. Kita tidak tahu, bagaimana sikap

Witantra sekarang.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Besok aku

akan berangkat menemuinya.”

Keesokan harinya, Mahisa Agni minta diri kepada ibunya, Ken

Dedes dan karena ia tidak dapat menemui Sri Rajasa, maka

permohonannya disampaikan oleh permaisuri, untuk meninggalkan

Singasari. Setelah ia mengembalikan cantrik yang menjadi satusatunya

saksi itu, maka ia pun sejenak menengok padukuhan

Panawijen baru.

“Aku akan pergi Ki Buyut,” berkata Mahisa Agni.

“Ke mana lagi Anakmas akan pergi?”

“Aku belum tahu. Tetapi sebagai seorang laki-laki aku ingin

menambah pengalaman dalam perantauan.”

“Tetapi kami selalu menunggu kedatanganmu.”

“Tentu Ki Buyut, pada saatnya aku pasti akan kembali.”

Maka setelah menyiapkan bekal seperlunya, Mahisa Agni pun

berangkat meninggalkan padang Karautan. Beberapa orang dan

kawan-kawannya memandangi debu yang terlontar dari kaki-kaki

kudanya sampai ke kejauhan.

Berbagai pertanyaan bergolak di dalam hati orang-orang

Panawijen baru. Agaknya Mahisa Agni akhir ini selalu gelisah,

sehingga agaknya ia mencari ketenteraman di dalam perantauan.

Sementara itu Mahisa Agni berpacu dengan cepatnya. Tetapi

tiba-tiba ia sadar, ke mana ia akan pergi.

Karena itu maka ia pun segera menarik kekang kudanya. Sejenak

ia berdiri termangu-mangu.

“Apakah aku harus bertanya kepada Mahendra. Mungkin ia tahu,

ke mana Witantra pergi,” desisnya.

Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Mahendra tidak sedewasa Witantra.

Mungkin ia masih menyimpan dendam di dalam hatinya, sehingga

akan timbul salah paham seperti yang ditakutkan oleh ibunya.

“Kalau begitu aku akan menemui Panji Bojong Santi,” Mahisa

Agni pun masih ragu-ragu, “apakah ia masih ada sekarang? Kalau ia

masih hidup, maka ia pun pasti sudah semakin tua.”

Tetapi Mahisa Agni kemudian memutuskan untuk pergi ke

padepokan Panji Bojong Santi. Ia mengharap bahwa Panji Bojong

Santi tidak bersikap kekanak-kanakan menghadapi persoalan ini.

Dengan keragu-raguan yang mencengkam dadanya Mahisa Agni

memasuki padepokan Panji Bojong Santi. Ketika ia melihat orang

tua itu masih ada, meskipun sudah menjadi semakin tua. Ia tidak

dapat menahan hatinya. Demikian ia mengikat kudanya pada

sebatang pohon, langsung ia memeluk kaki orang tua itu.

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia ragu-ragu,

namun kemudian ia berkata lirih, “Angger Mahisa Agni.”

“Ya. Bapa. Aku datang kali ini untuk menyerahkan diriku.”

Bojong Santi mengerutkan keningnya, “Kenapa?”

“Bapa pasti sudah tahu, apa yang sudah aku lakukan atas Kebo

Ijo.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia

masih bertanya, “Sekarang, kenapa Angger ingin menyerahkan diri

kepadaku?”

“Aku telah keliru Bapa. Aku waktu itu menjadi gila, dibius oleh

sikap Ken Arok yang mengagumkan. Tetapi kini aku yakin seperti

Witantra, Mahendra dan Bapa sendiri yakin, bahwa Kebo Ijo tidak

bersalah.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil

mengusap pundak Mahisa Agni orang tua itu berkata, “Duduklah.

Kita akan berbicara.”

Mahisa Agni pun kemudian mengangkat kepalanya dan duduk di

hadapan Panji Bojong Santi. Meskipun wajah itu sudah semakin tua

tetapi kedalaman dan ketenangan masih nampak jelas di wajah itu.

“Sekarang kau pun yakin, Anakmas?”

“Ya, Bapa”

“Apakah kau berhasil menemukan orang yang kain cari?”

Mahisa Agni pun menganggukkan kepalanya.

“Baiklah. Aku ikut bergembira.”

“Bapa,” berkata Mahisa Agni, “aku telah bertekad untuk menemui

Witantra. Aku harus minta maaf kepadanya.”

Panji Bojong Santi tersenyum. “Kau memang berjiwa besar

Ngger.”

“Aku adalah orang yang paling bodoh waktu itu.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah.

Kau akan dapat menemuinya kelak.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia mengharap untuk dapat

segera menemui Witantra. Perasaan bersalah yang serasa

meretakkan dadanya itu harus segera ditumpahkannya. Karena itu

maka ia mendesaknya, “Bapa, apakah aku tidak segera dapat

menemuinya. Kalau Bapa Panji Bojong Santi tidak berkeberatan,

memberikan arah tempat tinggalnya, aku akan mencarinya.”

“Tempatnya terlampau asing Ngger. Karena itu, sebaiknya

seorang mengantarkanmu, kau tidak akan dapat pergi sendiri dan

menemukan dengan segera. Waktumu akan habis terbuang

melingkar-lingkar mencari jalan untuk sampai ke tempat Witantra

sekarang.”

“Begitu jauhkah Witantra menyepi diri?”

“Ia mendapatkan ketenangan di tempatnya yang baru. Ia

mendapat tempat yang baik untuk menyempurnakan ilmunya lahir

dan batin.”

“Tetapi kalau ia terpisah dari kehidupan, ilmu itu akan tetap

tersimpan di dalam dirinya.”

Panji Bojong Santi tersenyum. Katanya, “Mungkin begitu, tetapi

mungkin juga tidak. Kadang-kadang kita menemukan arus air yang

tidak kita ketahui sumbernya. Apabila kita melihat sumber di

pegunungan yang terasing, kita menyangka, bahwa air itu tidak

akan berguna. Padahal arus air yang kita lihat yang pertama adalah

kelanjutan saluran air dari sumber yang terasing itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari

bahwa ilmu itu dapat berguna tanpa diamalkannya sendiri. Tetapi

ada perantara yang dapat mempergunakan ilmu itu untuk

kepentingan yang berarti.

“Angger Mahisa Agni,” berkata Panji Bojong Santi kemudian,

“apakah yang pernah dilakukan oleh Empu Purwa pada akhir-akhir

ini? Setelah ia kecewa karena kehilangan putrinya, seolah-olah ia

sama sekali sudah tidak pernah berhubungan dengan dunia lagi.

Tetapi di antara Empu Purwa dan dunia ramai ada Angger Mahisa

Agni. Ada jalur yang masih menghubungkannya, sehingga ilmu itu

tidak sekedar karatan tersimpan tanpa arti.”

“Ya. ya Bapa. Aku mengerti sekarang.”

“Nah, beristirahatlah di sini sehari dua hari. Aku akan memanggil

orang yang pernah melihat tempat itu.”

“Kenapa sehari dua hari Bapa.”

“Angger tidak terlampau lelah.”

“Aku masih segar. Aku dapat berangkat sekarang.. Aku dapat

berjalan terus tiga hari tiga malam kalau diperlukan.”

“Mungkin Angger yang sedang dikejar oleh perasaan sendiri

dapat berbuat demikian. Tetapi kuda Angger akan kepayahan.”

“Ya, Bapa. Kudaku memang perlu beristirahat. Tetapi tidak

sampai sehari apalagi dua hari.”

Panji Bojong Santi menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat

perasaan Mahisa Agni yang tersiksa. Ia merasa wajib untuk segera

bertemu dengan Witantra.

Karena itu Panji Bojong Santi tidak sampai hati untuk

memperpanjang siksaan batin Mahisa Agni itu. Karena itu, maka ia

pun segera memanggil seorang cantriknya yang pernah pergi ke

tempat Witantra untuk mengantarkan Mahisa Agni.

Maka ketika matahari terbit di keesokan harinya, berangkatlah

Mahisa Agni diantar oleh seorang cantrik menempuh perjalanan

yang berat untuk menemui Witantra. Panji Bojong Santi

melepaskannya tanpa waswas karena ia pun sudah yakin pula,

bahwa Witantra pasti cukup dewasa menanggapi persoalan itu.

Witantra pasti tidak akan sekedar dibakar oleh dendam. Ia akan

dapat menanggapi keadaan sewajarnya.

Bersamaan dengan itu, Panji Bojong Santi telah menyuruh

seorang cantriknya untuk memanggil Mahendra. Mahendra yang kini

hidup di dunianya sendiri. Ia mencoba untuk hidup menjadi manusia

kebanyakan, dengan kerja dan usaha, mendirikan rumah tangga.

Tetapi Panji Bojong Santi masih belum yakin, bahwa Mahendra

dapat melupakan persoalan Kebo Ijo seperti halnya Witantra.

Mahendra yang lebih muda dari Witantra dipengaruhi oleh

lingkungan hidupnya, mungkin akan menentukan sikap yang lain.

“Aku harus memberitahukan kepadanya, bahwa ia tidak boleh

berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirinya sendiri,” berkata

Panji Bojong Santi di dalam hatinya, “ia harus dapat menanggapi

keadaan ini dengan hati yang lapang.”

Sementara itu. Mahisa Agni yang berpacu bersama seorang

cantrik kini telah mulai menerobos hutan belukar. Kadang-kadang

mereka terpaksa berhenti sejenak, bahkan turun dari kuda-kuda

mereka untuk merambah sulur-sulur yang melintang di jalan

setapak yang mereka lalui.

“Jalan ini tidak pernah dilalui orang,” berkata cantrik itu,

“sebenarnya aku takut berjalan hanya berdua saja lewat jalan ini.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni.

“Kalau ada penyamun yang kebetulan melihat kita lewat, maka

celakalah kita. Kalau bekal kita saja yang dimintanya, beruntunglah

kita. Tetapi kalau ini?” cantrik itu menunjuk lehernya.

Betapapun ketegangan membelit hati Mahisa Agni, namun ia

sempat juga tersenyum sambil berkata, “Jangan takut tidak ada

penyamun yang akan mencegat perjalanan kita. Kita tidak

membawa apapun yang berharga.”

“Tetapi mereka tidak tahu bahwa kita tidak membawa barang

berharga. Setidak-tidaknya kuda kita dapat mereka rampas dan

mereka ambil.”

“Jangan takut,” desis Mahisa Agni, “karena itu, marilah kita

berusaha secepat-cepatnya meninggalkan tempat ini.”

“Aku tidak tahu kenapa Panji Bojong Santi mempercayai aku

seorang diri mengantarkan kau ke tempat Witantra. Kalau terjadi

sesuatu atasmu, maka akulah yang akan disalahkannya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat

menyalahkan cantrik yang belum mengenalnya itu. Cantrik itu

merasa bertanggung jawab, bahwa ia harus mengantarkan Mahisa

Agni sampai ke tempat Witantra. Hanya itulah yang diketahuinya.

Agaknya Panji Bojong Santi memang tidak merasa perlu

memberitahukan tentang dirinya kepada cantrik itu.

Setiap desir di sebelah jalan setapak itu telah membuat cantrik

kawan seperjalanan Mahisa Agni itu bersiaga. Ia selalu meraba-raba

hulu pedang pendeknya. Agaknya Panji Bojong Santi memang

mengajarinya untuk mempergunakan pedang pendek itu apabila

perlu, meskipun ilmu itu sangat terbatas. Tetapi agaknya cantrik itu

pun cukup tangkas untuk membela diri terhadap perampokanperampokan

dan penyamun-penyamun.

“Ki Sanak,” berkata Mahisa Agni kemudian, “jangan hiraukan

apa-apa lagi. Kita sama sekali tidak bermaksud mengganggu siapa

pun. Kita hanya sekedar berjalan, lewat jalan ini.”

“Memang kita tidak bermaksud mengganggu siapa pun. Tetapi

merekalah yang akan mengganggu kita.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Coba. kalau kau dapat membuat sedikit perhitungan. Banyak

orang-orang Kediri yang terpaksa menyingkir dari tempat tinggalnya

karena mereka tidak sepaham dengan ketentuan-ketentuan baru di

negerinya, terutama mengenai nafas hidup keagamaan. Sementara

itu ketegangan di batas kedua negeri Singasari dan Kediri menjadi

semakin tegang. Apakah dalam keadaan serupa itu, tidak banyak

perampok-perampok yang memancing keuntungan?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia

bertanya, “Dari mana kau tahu bahwa keadaan Kediri dan Singasari

menjadi kian menegang.”

“Panji Bojong Santi sering memberi banyak cerita kepada kami

tentang keadaan di luar padepokan kami,” jawab cantrik itu, “juga

Panji Bojong Santi yang memberi aku peringatan, bahwa perampokperampok

selalu mempergunakan segala kesempatan, bahkan

orang-orang yang sedang dalam kesulitan sekalipun sama sekali

tidak dihiraukannya.”

Mahisa Agni masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“He. kau dengar ringkik kuda?” tiba-tiba cantrik itu menjadi

tegang.

Mahisa Agni memang mendengar ringkik kuda. Tetapi ia tidak

mendengar derap langkahnya. Karena itu menurut perhitungan

Mahisa Agni kuda itu bukan kuda yang sedang berpacu, berjalan

atau sedang dikendarai oleh seseorang. Kuda itu sedang berhenti

atau bahkan dituntun oleh pemiliknya.

Tetapi Mahisa Agni memperlambat kudanya sambil mempertajam

telinganya.

“Kalau kita bertemu dengan perampok apa boleh buat.

Sebenarnya Panji Bojong Santi selalu berpesan, kami tidak boleh

berkelahi. Tetapi sudah tentu kami tidak akan menyerahkan milik

kami kepada perampok-perampok.”

“Aku kira mereka bukan perampok,” berkata Mahisa Agni.

“Kalau bukan perampok, siapakah yang berada di tengah hutan

seperti ini?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya,

“Memang ada beberapa kemungkinan. Mungkin perampok tetapi

mungkin juga tidak. Menilik ceritamu, orang-orang Kediri yang

menyingkir itu dapat saja terjerumus ke dalam hutan ini. Bukankah

hutan ini ada di sekitar perbatasan, atau katakan, bahwa sebelah

menyebelah hutan ini merupakan daerah yang berlainan.”

Cantrik itu mengerutkan keningnya.

“Ya, memang mungkin.”

Beberapa saat kemudian mereka melihat sekelompok orang yang

berdiri termangu-mangu. Dalam sekilas, Mahisa Agni dan cantrik itu

pun segera mengetahui, bahwa orang-orang itu benar-benar orangorang

Kediri yang menyingkir dari kampung halamannya oleh

ketidakpuasan atas tata kehidupannya yang baru.

Agaknya mereka terkejut sekali ketika mereka melihat Mahisa

Agni dan cantrik itu muncul dari balik gerumbul-gerumbul liar.

Dengan sigapnya beberapa orang di antara mereka segera

mempersiapkan diri, sedang yang lain, perempuan dan anak-anak,

melingkar saling berpelukan dengan wajah yang pucat.

“Siapa kalian?” bertanya salah seorang yang agaknya merupakan

pimpinan rombongan itu.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia

menjawab, cantrik yang merasa dirinya menjadi pemimpin

rombongan kecil itu pun menyahut, “Kamilah yang bertanya,

siapakah kalian?”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Namun pemimpin itu

kemudian menjawab, “Tanpa menyembunyikan kenyataan kami.

bahwa kami adalah orang-orang Kediri yang menyingkir, karena

pendeta kami telah ditangkap.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Bagus.”

“Kenapa bagus?” desis Mahisa Agni perlahan-lahan.

Cantrik itu kemudian dengan serta-merta berkata pula, “Tidak,

tidak bagus. Sayang sekali pendeta itu sudah terlanjur ditangkap.

Sebaiknya ia pergi ke Singasari. Bukankah kalian juga akan pergi ke

Singasari?”

“Ya,” jawab pemimpin rombongan itu.

“Pergilah. Kami orang-orang Singasari.”

Pemimpin itu menjadi termangu-mangu. Kemudian ia pun

bertanya, “Manakah jalan yang harus aku tempuh.”

“Lurus. Kau dapat mengikuti jejak kuda-kuda kami dalam arah

yang berlawanan. Kau akan keluar dari hutan ini di wilayah

Singasari. Mengerti?”

Pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Terima kasih.

Tetapi kami tidak dapat memastikan bahwa kami akan dapat

memasuki wilayah Singasari.”

“Kenapa?”

“Aku sadar, bahwa perjalanan kami pasti diikuti. Baginda sudah

mengeluarkan perintah, semua orang Kediri, tidak boleh

menyeberang perbatasan.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mahisa Agni pun

mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Mereka sadar bahwa

Maharaja Kediri akan menyebar orang-orangnya di segenap

perbatasan, untuk mencegah orang-orang yang berusaha

menyeberang. Kadang-kadang mereka dapat mencegah, tetapi

kadang-kadang beberapa orang berhasil lolos, sehingga para

pengawal harus mengejar mereka.

“Apakah kepergianmu diketahui oleh para prajurit Kediri?”

bertanya cantrik itu.

“Aku tidak tahu. Tetapi sekarang setiap dahan mempunyai

telinga dan setiap tikungan mempunyai mata. Itulah sebabnya

sekarang arus orang-orang Kediri agak terbendung.”

“Kalau begitu, cepatlah.”

“Kami tidak akan dapat berjalan cepat. Di antara kami terdapat

perempuan dan anak-anak.”

“Tetapi kalian sudah agak jauh dari perbatasan. Mungkin orang

Kediri tidak akan menghiraukan kau lagi.”

Tetapi belum lagi pembicaraan itu selesai. terdengar derap

beberapa ekor kuda. Lamat-lamat mereka mendengar cambuk yang

meledak dan ringkik kuda yang berkepanjangan.

Pemimpin kelompok itu menjadi gelisah. Ketika ia berpaling

memandangi orang-orangnya, dilihatnya beberapa di antara mereka

menjadi pucat.

“Kita tidak akan kembali ke Kediri. Kita akan menjadi pangewanewan

seperti sekelompok orang dari Padepokan Watu Putih

kemarin. Diarak di sekeliling kota dengan cemoohan yang paling

hina.”

Orang-orangnya tidak menjawab.

“Kita laki-laki, dan kita bersenjata.”

Tiba-tiba mereka sadar, bahwa mereka memang bersenjata.

Beberapa orang di antara mereka telah meraba senjata-senjata

mereka sambil berdesis, “Ya, kami bersenjata.”

“Setidak-tidaknya, enam atau tujuh orang dari kita dapat

melawan.”

“Aku juga masih mampu berkelahi,” berkata seorang laki-laki tua.

“Jadi delapan orang.”

Pemimpin itu pun kemudian melangkah maju. Disuruhnya

perempuan dan anak-anak agak menjauh.

“Berdoalah. Mudah-mudahan kami dapat melindungi kalian.”

Seorang perempuan yang menggenggam patrem tiba-tiba

berkata, “Aku ikut bertempur.”

“Jagailah anak-anak. Jangan kehilangan akal.”

Perempuan itu masih tegak di tempatnya. Namun ketika

terpandang olehnya tatapan mata pemimpinnya, maka ia pun

kemudian melangkah surut, dan bergabung dengan perempuanperempuan

dan anak-anak yang saling berdesakan dengan wajah

yang pucat.

“Apakah yang datang itu para prajurit Kediri,” bertanya Cantrik

itu.

“Aku kira, mereka adalah orang-orang yang sedang berburu

orang. Mereka mengikuti jejak kami. Setiap kepala, mendatangkan

hadiah yang baik bagi mereka. Mungkin mereka bukan prajuritprajurit,

dan bahkan kadang-kadang para perampok dan penyamun

yang mengetahui kehadiran kami di daerah kerja mereka. Mereka

mengejar kami, merampas milik kami, kemudian menyerahkan kami

kepada para prajurit untuk mendapatkan hadiah yang cukup baik.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Apakah hal itu dapat

terjadi dalam pemerintahan Baginda Kediri yang sekarang? Ataukah

memang ada orang-orang yang sengaja menumbuhkan kesan yang

sama sekali tidak menguntungkan bagi Kediri?”

“Saat yang tepat bagi Ken Arok,” Mahisa Agni menarik nafas

dalam-dalam, “Ia memang cerdas dan mampu memperhitungkan

keadaan yang dihadapinya. Ia akan berhasil menguasai Kediri

sebagaimana ia telah berhasil menjerumuskan Kebo Ijo ke dalam

kematian sekaligus tuduhan yang paling hina.”

Derap kuda yang melingkar-lingkar seakan-akan memenuhi

hutan itu pun masih bergema terus. Namun telinga Mahisa Agni

segera dapat mengetahui dari mana mereka datang. Mereka tidak

berpacu terlampau cepat, tetapi juga tidak terlampau lambat.

“Nah. kita akan berkelahi untuk mempertahankan diri,” berkata

pemimpin rombongan itu, “aku adalah orang yang paling

bertanggung jawab atas rombongan ini. Karena itu, Ki Sanak berdua

lebih baik menyingkir, supaya kalian tidak disangka membantu kami.

Orang-orang yang sedang berburu itu kadang-kadang sama sekali

tidak mempergunakan nalar, apalagi rasa perikemanusiaan.”

Mahisa Agni tertegun sejenak. Ketika ia berpaling, dilihatnya

cantrik kawannya itu berdiri termangu-mangu.

“Silakan Ki Sanak. Terima kasih atas petunjuk kalian jalan ke

Singasari.”

“Aku orang Singasari,” berkata cantrik itu tiba-tiba.

“Jangan mempersulit diri sendiri. Kalian tidak usah terlibat dalam

persoalan ini. Kami sudah mempunyai delapan orang yang akan

mengangkat senjata kami masing-masing untuk melindungi

perempuan dan anak-anak kami.”

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni memandang perempuanperempuan

dan anak-anak yang ketakutan. Tiga orang perempuan

itu, dua orang setengah baya. Beberapa orang anak-anak, dan tiga

orang gadis-gadis muda. Ketika terpandang olehnya sepasang mata

yang berkilat. Mahisa Agni berdesir. Ia sudah terlampau tua untuk

memandangi wajah-wajah gadis-gadis. Tetapi gadis itu pun tiba-tiba

menundukkan kepalanya.

Yang pertama-tama merayap di hati Mahisa Agni adalah sebuah

kenangan tentang Ken Dedes. Betapa ia mengalami, ketakutan yang

sangat, pada saat Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul Ametung

mengambilnya.

“Seperti gadis itu,” desisnya. Dan tiba-tiba ia mengerutkan

keningnya, “He, gadis itu memang mirip dengan Ken Dedes.”

“Persetan!” Mahisa Agni tiba-tiba menggeram. Dan ia pun

terperanjat ketika ia mendengar pemimpin rombongan itu berkata,

“Mereka telah datang. Menyingkirlah.”

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni melangkah beberapa langkah

surut. Cantrik, kawan seperjalanannya menjadi ragu-ragu. Namun

kemudian ia pun mendekati Mahisa Agni sambil berbisik, “Tinggallah

di sini. Aku tidak dapat berdiam diri.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dilihatnya wajah cantrik

yang bersungguh-sungguh itu. Sambil memegangi hulu pedang

pendeknya ia siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku harus membantu orang-orang itu. Mereka berada dalam

ketakutan.” cantrik itu terdiam sejenak, “lihatlah perempuan dan

anak-anak itu.”

Sekali lagi Mahisa Agni memandangi perempuan dan anak-anak

itu. Sekali lagi matanya membentur sepasang mata yang cerah dari

antara mereka. Betapa wajahnya pucat oleh ketakutan yang sangat

namun tampak bahwa wajah itu memiliki kelebihan dari wajahwajah

yang lain.

Sementara itu. beberapa orang berkuda telah muncul dari balik

dedaunan. Pemimpin dari orang-orang berkuda itu segera memberi

isyarat untuk berhenti.

“Nah. Itulah mereka!” teriak salah seorang dari mereka.

Pemimpin rombongan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Katanya, “Hem, kau telah membuat kami gelisah. Kami kira bahwa

kami akan kehilangan kalian. Namun akhirnya kami menemukan

juga.”

Pemimpin rombongan orang-orang Kediri yang akan

menyeberang itu masih berdiam diri. Tetapi tangannya telah

melekat di hulu pedangnya. Dipandanginya saja orang-orang yang

menyusulnya itu dengan wajah yang tegang.

“Jangan banyak tingkah seperti beberapa orang yang lain.

Marilah kita kembali ke Kediri, Tidak ada apa-apa. Kalian akan

disambut dengan baik.”

Pemimpin rombongan orang-orang yang menyeberang itu

menggelengkan kepalanya. Katanya, “Apakah kalian menyangka

bahwa aku tidak tahu, apa yang diperlakukan atas orang-orang

yang dapat ditangkap dalam perjalanan menyeberang ke Singasari?”

“Nah. Kalau demikian, kenapa kalian masih juga akan

menyeberang?”

“Perlakuan Baginda terhadap para pendeta sangat menyakitkan

hati.”

Pemimpin rombongan orang-orang yang menyusul itu pun

tertawa. Katanya, “Kalian terlampau mementingkan diri kalian

sendiri. Kalian merasa bahwa kedudukan kalian jauh lebih tinggi dari

rakyat Kediri yang lain. Kalau kalian menganggap diri kalian seperti

rakyat kebanyakan, maka perlakuan itu tidak akan terasa terlampau

menyakitkan hati.”

“Kami tidak minta yang berlebih-lebihan. Tetapi kami tidak akan

mungkin mengubah pandangan kami dalam kebaktian kami

terhadap sesembahan kami.”

Pemimpin orang-orang yang menyusul itu pun kemudian berkata,

“kau juga terlampau banyak bicara seperti orang-orang lain. Kami

adalah pemburu-pemburu yang berpengalaman. Menyerahlah,

supaya kami tidak memperlakukan kalian, perempuan-perempuan

dan anak-anak, apalagi gadis-gadis itu. Seperti yang pernah terjadi.”

Pemimpin orang-orang yang menyeberang itu mengerutkan

keningnya. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandangi perempuanperempuan

yang ketakutan dan anak-anak mulai menangis.

“Menyerahlah!”

Tetapi pemimpin itu menggelengkan kepalanya, “Aku sudah

terlanjur menempuh perjalanan begini jauh. Aku tidak akan kembali.

Lebih baik kami berkubur di sini daripada kami harus menjadi

tontonan di sepanjang jalan Kediri.”

“Kalian tidak ada bedanya dengan kelinci-kelinci yang terpaksa

kami selesaikan sebelumnya,” pemimpin rombongan yang menyusul

itu tersenyum. Kemudian dipandanginya gadis-gadis di antara

perempuan-perempuan yang ketakutan, “ada juga gadis-gadis di

antara kalian. Apa boleh buat.”

Terasa rambut-rambut di seluruh tubuh gadis-gadis itu

meremang.

“Mereka benar-benar serombongan pemburu manusia,” desis

cantrik itu kepada Mahisa Agni, “Sepuluh orang. Apa boleh buat.

Aku tidak akan dapat diam. Mungkin aku akan berkelahi matimatian.”

“Kalau kau mati, bagaimana dengan aku?” bertanya Mahisa Agni.

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya,

“Kau dapat menyusur jalan sempit ini. Terus sampai pada suatu saat

kau akan terhalang oleh sebuah rawa-rawa yang sempit. Kau

berbelok ke kiri. Kemudian kau akan sampai pada lereng

pegunungan yang terjal. Kali ini kau berbelok ke kanan. Kau akan

segera menjumpai padukuhan-padukuhan kecil. Di situ kau

bertanya, di mana rumah Witantra. Kau akan sampai kepadanya.”

“Masih amat jauh. Jangan mati.”

“Aku akan berusaha untuk tidak mati.”

Mahisa Agni tersenyum di dalam hati. Sambil menganggukanggukkan

kepalanya ia berkata, “Baiklah. Tetapi hati-hatilah.”

(bersambung ke jilid 52).

 

Jilid 52

CANTRIK itu-pun mengangguk-anggukkan. Tetapi ia tidak

segera beranjak dari tempatnya.

Orang-orang yang berusaha menyingkir itu-pun segera

menyiapkan diri. Kekuatan mereka sebenarnya hanyalah enam

orang. Seorang sudah separo baya, dan yang seorang telah lebih

tua lagi.

“Apakah kalian benar-benar akan melawan?“ bertanya pemimpin

rombongan yang menyusul itu.

“Ya. Jangan kecewa, meskipun kau sudah mulai menghitunghitung

berapa kepala yang akan kau dapatkan, kali berapa keping

uang.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Kau tahu juga hasil yang akan kami

peroleh dari buruan-buruan kami. Selain itu, semua harta benda

yang kami dapatkan dari buruan-buruan kami menjadi milik kami.”

“Kalian hanya akan mendapatkan kepala-kepala kami.“

“Baiklah. Kami harus mempergunakan kekerasan. Dua di antara

kami adalah prajurit yang memang bertugas bersama kami, supaya

kalian yakin, bahwa kami adalah pemburu-pemburu yang sah. Lebih

dari itu kedua prajurit ini akan meyakinkan kalian, bahwa

perlawanan kalian akan sia-sia.”

“Persetan,“ tiba-tiba cantrik itu berteriak sambil melangkah maju,

“aku berdiri di pihak mereka yang sedang diburu.“

Kelompok orang-orang yang menyusul orang-orang Kediri itu

terheran-heran. Dipandanginya cantrik itu sejenak. Dan sejenak

kemudian mereka saling berpandangan.

Pemimpin rombongan itu akhirnya bertanya, “Siapa kau?”

“Itu tidak perlu bagimu.”

“Kenapa kau perlu menyatakan diri berpihak kepada mereka

yang sedang diburu. Apakah kau bukan termasuk rombongan

mereka itu?”

“Aku orang lain.”

Pemimpin rombongan orang-orang yang menyusul itupun

mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalau begitu

sebaiknya kau berdiri di luar pagar. Aku kira kau adalah salah

seorang dari mereka pula. Tetapi meskipun kau tidak merupakan

sekelompok dengan orang-orang itu asal kau juga berasal dari

Kediri, maka kau termasuk juga menjadi buruanku.“

“Aku orang Singasari.”

Pemimpin rombongan itu mengerutkan keningnya. Katanya

kemudian, “Kau tidak usah turut campur. Ternyata orang-orang

Singasari memang penghasut. Agaknya kaulah yang telah

menghasut orang-orang ini untuk pergi ke Singasari.“

“Bertanyalah kepada mereka.”

“Kalian telah membicarakannya lebih dahulu. Tidak ada gunanya

aku bertanya.”

“Baiklah. Kalau begitu memang tidak gunanya kita berbicara.

Sekarang aku menyatakan diriku di pihak orang-orang yang sedang

diburu. Nah, terserah kepadamu, apa yang akan kau lakukan.”

“Sekali lagi aku akan mencoba memperingatkan. Pertentangan

antara Singasari dan Kediri agaknya memang menjadi semakin

panas. Tetapi aku masih belum berkeinginan untuk berkelahi

langsung dengan orang-orang Singasari.”

“Kalau begitu urungkan niatmu. Orang-orang ini mempunyai

kebebasan untuk memilih. Menurut penilaian mereka, pemerintahan

Kediri kurang berlaku bijaksana terhadap para pendeta.“

“Omong kosong. Kau jangan turut campur. Ini adalah persoalan

Kediri, di daerah Kediri.”

“Siapa yang mengatakan kalau hutan ini berada di daerah

Kediri?“ bertanya cantrik itu.

“Singasari, yang dahulu bernama Tumapel adalah wilayah Kediri.

Tetapi orang yang sekarang menyebut dirinya Sri Rajasa telah

memberontak.”

“Kenapa Kediri tidak mengambil tindakan apapun?”

“Kita memang tidak terlampau tergesa-gesa. Pada saatnya

Singasari akan lenyap.”

Cantrik itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Singasari adalah

suatu kerajaan yang bebas. Sama sekali tidak tunduk kepada negara

mana-pun juga.“

“Persetan. Tetapi aku menuntut orang-orang ini. Mereka adalah

buruanku. Siapa yang mengganggu, ia akan aku hancurkan seperti

buruanku itu pula.”

Cantrik itu maju beberapa langkah lagi. Kini ia berdiri semakin

dekat dengan orang Kediri yang dikejar-kejar itu.

“Ki Sanak,“ berkata pemimpin mereka, “sebaiknya Ki Sanak

memang tidak mencampuri persoalan kami. Kita baru berkenalan di

tempat ini, sehingga sebaiknya Ki Sanak tidak usah melibatkan diri

dalam persoalan ini.”

“Tidak. Aku tidak dapat melihat kebebasan yang diperkosa oleh

pemburu-pemburu keuntungan diri sendiri serupa itu. Siapapun Ki

Sanak dan siapakah orang yang sedang berburu, sah atau tidak sah,

aku terpaksa melibatkan diri.“

Pemimpin rombongan itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia

sempat membuat penilaian atas kekuatan ke dua belah pihak.

Dengan jujur pemimpin rombongan itu mengakui, bahwa kekuatan

lawan agak lebih besar dari kekuatan mereka sendiri, meskipun

cantrik itu ikut bersama mereka.

Tanpa sesadarnya pemimpin rombongan itu memandangi Mahisa

Agni yang masih berdiri di tempatnya.

“Biarkan orang itu,“ berkata cantrik itu seolah-olah ia mencoba

menjajagi pikiran pemimpin rombongan itu. “Ia berada di dalam

tanggung jawabku. Aku harus mengantarkannya sampai ke tempat

tujuan. Karena itu, sebaiknya ia memang tidak ikut campur.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak

menyahut. Ia ingin melihat apa yang akan terjadi.

“Baiklah,“ berkata pemimpin dari orang-orang yang sedang

memburu mangsanya itu. “Siapapun kalian dan apapun kalian, kami

akan menangkap kalian.”

Dengan suatu isyarat, maka orang-orang itu-pun segera

berloncatan dari punggung-punggung kuda mereka. Arena yang

bersemak-semak. dan ditumbuhi pepohonan yang rapat, memang

tidak menguntungkan untuk bertempur di atas punggung kuda.

Sesaat kemudian mereka-pun telah memencar dan siap menyerang

dari segala arah.

“Jangan lukai perempuan dan anak-anak,“ berkata pemimpin

rombongan orang-orang yang sedang menyusul orang-orang Kediri

itu, “terutama gadis-gadisnya.“

“Persetan,“ seseorang yang sudah siap melawan, menggeram. Ia

mempunyai seorang gadis beserta isterinya di dalam rombongan

perempuan dan anak-anak itu.

Lawannya tertawa, katanya, “Bukankah kami cukup

berperikemanusiaan?”

Tidak seorang-pun yang menjawab. Setiap laki-laki di dalam

rombongan itu ditambah seorang cantrik, sudah siap menghadapi

lawan-lawan mereka. Enam orang, dua orang-orang tua dan

seorang cantrik berhadapan dengan delapan orang pemburu

manusia dan dua orang prajurit yang berpengalaman.

Setapak demi setapak para pemburu manusia itu-pun maju,

sedangkan orang Kediri yang diburu itu-pun bersiaga pula

menghadapi setiap kemungkinan yang akan segera terjadi. Senjatasenjata

mereka dari ke dua belah pihak sudah siap di tangan

masing-masing.

Mahisa Agni menyaksikan ke dua belah pihak dengan berdebar.

Benturan senjata di antara mereka memang sudah tidak dapat

dihindarkan lagi. Cantrik yang pergi bersamanya itu langsung telah

melibatkan dirinya, karena orang-orang Kediri yang melarikan

dirinya, pada umumnya adalah dari lingkungan keagamaan,

keluarga dan orang-orang yang terdekat dari pendeta-pendeta yang

tidak dapat menyesuaikan diri dengan keinginan Baginda Maharaja

di Kediri.

Sejenak kemudian maka benturan itu-pun terjadilah. Orangorang

yang sedang berburu itu berloncatan sambil mengayunkan

senjata mereka, sedang orang-orang yang diburunya, berusaha

mempertahankan diri sekuat-kuat tenaga mereka.

Sejenak kemudian Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

Ternyata cantrik yang pergi bersamanya itu memang mampu

bermain dengan pedang pendeknya. Dengan tangkasnya ia

berloncatan kian kemari, menyambar-nyambar seperti burung elang.

Ialah yang dengan beraninya telah langsung membawa prajurit

Kediri yang ada di antara lawan-lawannya. Dan ternyata bahwa ia

memang mampu mengimbanginya. Bahkan kadang-kadang ia masih

dapat membantu pemimpin rombongan yang harus bertempur

melawan dua orang sekaligus.

Perempuan-perempuan dan anak-anak menjadi semakin erat

berpelukan satu sama lain. Wajah-wajah mereka menjadi pucat dan

darah mereka seakan-akan sudah tidak dapat mengalir lagi. Bahkan

beberapa di antara mereka telah terduduk dengan lemahnya di atas

rerumputan liar, seakan-akan kehilangan segenap tulang belulang.

Mahisa Agni masih berdiam diri di tempatnya. Tetapi ia menjadi

semakin berdebar-debar ketika ia melihat dalam waktu yang singkat

orang-orang yang sedang diburu itu sudah terdesak. Meskipun

demikian mereka masih melawan dengan gigihnya, justru cantrik

yang pergi bersamanya itulah yang seakan-akan merupakan puncak

perlawanan dari rombongan itu.

Tiba-tiba, tanpa disangka-sangka, seorang dari mereka yang

menyusul rombongan orang-orang Kediri itu meloncat meninggalkan

gelanggang. Dengan cepatnya ia berlari ke arah Mahisa Agni. Sambil

mengacungkan senjatanya ia berdiri dua langkah di hadapannya.

Kemudian terdengar ia barteriak, “He, Ki Sanak yang datang dari

Singasari. Aku minta kau menghentikan perlawananmu. Kalau tidak,

maka orang yang menjadi tanggunganmu ini, entah siapa dia, akan

aku habisi nyawanya.”

Oleh teriakan itu, perkelahian tiba-tiba terhenti sejenak. Mereka

memandang dengan tegang salah seorang dari mereka yang

menyusul rombongan orang-orang Kediri itu mengacungkan

pedangnya beberapa jengkal kepada Mahisa Agni.

Cantrik, kawan seperjalanannya menjadi tegang sejenak. Ia

mendapat perintah dari Kiai Bojong Santi menyampaikan orang itu

kepada Witantra. Kalau terjadi sesuatu di perjalanan, maka yang

pertama-tama dipersalahkan pasti dirinya.

Dalam termangu-mangu cantrik itu sama sekali tidak menjawab.

Keringat yang dingin mengalir membasahi kening dan

punggungnya.

“Aku minta, tinggalkan arena. Kalau tidak, orang ini aku bunuh

meskipun ia tidak bersalah.”

Cantrik itu masih berdiri kaku di tempatnya. Kini ia berdiri di

persimpangan jalan. Kalau ia meneruskan perlawanan, maka Mahisa

Agni itu terancam. Tetapi kalau ia kemudian meninggalkan arena,

maka orang-orang Kediri itu dalam waktu sejenak saja, pasti akan

segera terbantai.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar pemimpin orang-orang

Kediri yang sedang dikejar-kejar itu berkata, “Tinggalkan kami. Kami

sudah siap menghadapi kemungkinan. Kami tidak ingin melihat

kalian ke dalam persoalan kami. Lebih daripada itu ke dalam

kesulitan yang tidak kalian kehendaki.”

Cantrik itu masih berdiri membeku.

“Cepat, ambil keputusan,“ berkata orang yang memburu mereka

sambil mengacu-acukan ujung pedangnya ke dada Mahisa Agni,

“jangan menunggu sampai kami kehilangan kesabaran.”

“Licik,“ teriak cantrik itu kemudian, “kalian tidak menghadapi

tugasmu dengan jantan.”

Tetapi orang itu tertawa. Jawabnya, “Jangan banyak bicara. Kau

berdua pergi, atau kau berdua akan mati di tempat ini.“

Dengan ragu-ragu cantrik itu masih menjawab, “Kalau kami

sudah meninggalkan arena, kau pasti akan mempergunakan cara

yang sama dengan mengancam perempuan dan anak-anak.”

“Apa pedulimu? Apapun yang akan terjadi, kau sudah tidak akan

menyaksikan lagi. Karena itu, cepat, tinggalkan tempat ini.”

Cantrik itu benar-benar tidak dapat memilih. Yang manakah yang

lebih baik. Bertempur terus, atau menyelamatkan Mahisa Agni.

Namun dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata,

“bertempurlah terus. Jangan hiraukan aku. Aku hanya seorang diri,

sedang orang-orang Kediri itu berjumlah lebih dari limabelas kali

lipat dari pada itu.”

“Diam,“ orang yang mengacukan senjatanya itu berteriak. Tetapi

Mahisa Agni berkata terus, “selesaikan pekerjaan itu. Kalau kau

menarik diri dari arena, maka sebentar saja, orang-orang yang

berusaha menyebrang ke Singasari itu pasti akan binasa.”

Cantrik itu menjadi semakin ragu-ragu. Ia berdiri saja termangumangu

tanpa dapat mengambil keputusan.

Kini seluruh perhatian di ke dua belah pihak ditujukan kepada

Mahisa Agni. Ujung pedang yang mengarah ke dadanya menjadi

bergetar oleh kemarahan yang meluap-luap di dada orang yang

memeganginya.

“Sebenarnya aku tidak ingin bersungguh-sungguh,“ berkata

orang itu, “tetapi sikapnya benar-benar membuat aku muak.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi ketika ujung pedang itu maju

mendekati dadanya, ia melangkah surut.

“Jangan,“ teriak cantrik itu, “akulah yang bertanggung jawab.“

Tetapi orang yang mengacukan pedangnya itu tertawa

menyakitkan hati untuk melontarkan kemarahannya, “Persetan.

Kalian terlampau lambat mematuhi perintahku.”

Sebuah desir yang tajam menyambar jantung cantrik itu. Sejenak

ia seakan-akan membeku di tempatnya. Sedang orang yang

mengancam Mahisa Agni itu maju semakin mendekat.

“Hentikan! Hentikan!”

Tetapi orang itu menggeleng, “Aku bunuh orang ini.”

“Jangan curang,“ yang kemudian berteriak justru pemimpin

rombongan orang-orang Kediri yang sedang dikejar-kejar itu. “Tidak

ada gunanya kalian membunuhnya. Kepalanya tidak kau tukarkan

dengan keping-keping uang.”

“Persetan, aku tidak memerlukan uang terlampau banyak.

Kepala-kepala kalian sudah cukup. Tetapi aku ingin mendapat

kepuasan atas kegilaan orang Singasari ini.”

Cantrik yang bersama Mahisa Agni itu-pun hampir saja meloncat

menyerbu. Tetapi beberapa orang bersama-sama menghalanginya

dengan senjata teracung pula.

“Gila, gila, gila.“ ia berteriak.

Tetapi suaranya yang parau itu sama sekali sudah tidak

dihiraukannya lagi. Agaknya orang Kediri yang mengancam Mahisa

Agni itu sudah benar-benar kehilangan kesabaran, sehingga ia sama

sekali sudah tidak berminat untuk melepaskannya lagi.

Cantrik padepokan Panji Bojong Santi itu memejamkan matanya

ketika ia melihat orang Kediri itu mengayunkan pedangnya. Ia

sendiri sudah tidak mempunyai kesempatan untuk mencegahnya,

karena tiga orang lawannya masih berjajar di hadapannya dengan

senjata siap untuk membelah dadanya.

Tetapi cantrik itu hanya memejamkan matanya sekejap. Ketika ia

membuka matanya perlahan-lahan, ia mengerutkan keningnya,

kemudian mengejapkan matanya berkali-kali. Ia masih melihat

Mahisa Agni melangkah surut. Sedang orang Kediri itu masih saja

memegang senjatanya sambil melangkahkan maju.

Sekali lagi cantrik itu melihat orang Kediri itu mengayunkan

pedangnya. Deras sekali. Dan sekali lagi matanya setengah

terpejam. Tetapi kini ia melihat samar-samar apa yang telah terjadi.

Ayunan pedang orang Kediri itu sama sekali tidak menyentuh tubuh

Mahisa Agni, meskipun tampaknya ia tidak menghindar.

Kini cantrik itu memandangnya dengan mulut ternganga. Ia

hanya melihat Mahisa Agni seakan-akan menggeliat. Tetapi ia sudah

bebas dari serangan lawan yang menggetarkan itu.

Lawannya dengan demikian menjadi semakin marah, tetapi juga

semakin bernafsu. Senjatanya kemudian terayun-ayun tidak

menentu. Tetapi ia masih tetap tidak berhasil mengenai Mahisa

Agni. Mahisa Agni-pun kemudian berputar beberapa langkah, dan

tiba-tiba saja serangan itu terhenti. Semua mata memandang kedua

orang itu dengan tanpa berkedip. Bahkan ada di antara mereka

yang tidak percaya kepada matanya sendiri.

Tetapi akhirnya mereka benar-benar harus melihat kenyataan itu.

Pedang itu telah beralih tangan. Kini Mahisa Agni lah yang

bersenjata.

Seperti lawannya, maka kini Mahisa Agni lah yang mengacukan

pedangnya ke arah dada. Tetapi Mahisa Agni tidak mengayunayunkan

pedang itu membabi buta.

Hal itu benar-benar tidak dapat dimengerti oleh orang-orang

Kediri dan bahkan oleh cantrik kawan seperjalanannya. Sejenak

mereka tercengang, seakan-akan terpukau menyaksikan suatu

keajaiban.

“Sekarang bagaimana? “ terdengar suara Mahisa Agni.

Lawannya berdiri tegak seperti patung. Ialah orang yang paling

tidak mengerti menghadapi keadaan itu. Tiba-tiba saja ia merasa

pergelangan tangannya seakan-akan patah. Kemudian dalam

sekejap, senjatanya telah berpindah tangan.

“Apa orang ini mempunyai ilmu hantu atau iblis,“ desisnya di

dalam hati.

“Pertimbangkan baik-baik,“ berkata Mahisa Agni, “kalian tetap

akan menangkap buruan kalian atau tidak?”

Sejenak tidak seorang-pun yang menyahut. Namun kemudian

pemimpin rombongan orang-orang yang sedang berburu itu

menjawab, “Persetan dengan permainan sihirmu. Kami tetap dalam

pendirian kami, orang-orang ini harus kami kuasai.”

“Aku tidak sedang bermain sihir,“ sahut Mahisa Agni, kemudian,

“lihat, aku tidak menyihirnya.“ kedua tangannya-pun kemudian

bergerak. Yang satu menggenggam tangkai pedang yang

dirampasnya itu, yang lain pada daunnya. Sejenak kemudian

pedang itu-pun patah menjadi dua.”

Sekali lagi mereka yang menyaksikan hal itu menjadi berdebardebar.

Namun ternyata bahwa kedua orang prajurit yang menyertai

rombongan orang-orang yang menyusul itu-pun bukan penakut

yang mudah menjadi putus-asa.

“Persetan. Persetan. Ayo, kita binasakan dahulu orang itu.”

Kedua orang prajurit itu-pun kemudian bersama-sama menyerbu

Mahisa Agni. Senjata-senjata mereka berputaran seperti balingaling.

Sedang orang yang telah kehilangan pedangnya itu-pun

melangkah surut beberapa langkah.

Cantrik kawan seperjalanan Mahisa Agni. dan seluruh rombongan

orang-orang Kediri yang lain seakan-akan sadar pula dari mimpi

mereka. Dengan serta-merta mereka-pun menyiapkan diri, dan

menyerang lawan-lawan mereka yang paling dekat.

Perkelahian-pun berkobar kembali. Tetapi kini keadaan menjadi

jauh berbeda. Karena kedua prajurit Kediri bersama-sama berkelahi

melawan Mahisa Agni, maka kawan-kawannya yang lain tidak

segera dapat menguasai lawannya.

Tetapi perkelahian itu-pun tidak berlangsung lama. Mahisa Agni

yang kemudian bersenjatakan pedang yang telah patah, dalam

waktu yang singkat telah berhasil melemparkan senjata kedua

prajurit yang mengeroyoknya. Bahkan, dengan sentuhan tangan

kirinya, seorang dari mereka terpelanting jatuh meskipun segera

berhasil bangkit kembali.

“Nah, apa katamu?“ bertanya Mahisa Agni, “apakah kalian masih

akan berkelahi terus?”

Sekali lagi pertempuran itu terhenti. Orang-orang yang sedang

memburu mangsanya itu-pun menjadi berdebar-debar. Kini mereka

melihat suatu kenyataan, bahwa orang yang dianggapnya tidak

mampu untuk ikut di dalam perkelahian. bahkan yang akan

dijadikan tanggungan oleh orang-orang yang sedang mengejar

mereka yang menyingkir dari Kediri itu, ternyata seorang yang

mempunyai kemampuan yang tidak pernah mereka bayangkan. Kini

agaknya orang itulah yang akan menentukan akhir dari perkelahian

itu.

“Kalian dapat memilih,“ berkata Mahisa Agni selanjutnya,

“bertempur terus, dengan akibat yang paling parah bagi kalian, atau

kalian mengurungkan niat kalian dan melepaskan orang-orang yang

sedang mencari dunianya yang paling sesuai bagi dirinya.”

“Tetapi itu suatu pengkhianatan,“ potong salah seorang prajurit

itu.

“Memang dalam keadaan yang wajar, tindakan mereka tidak

dapat dibenarkan,“ berkata Mahisa Agni, “tetapi Kediri kini

menghadapi masa darurat. Tindakan Baginda terlampau

menyinggung perasaan para pendeta dan olah tapa. Itulah yang

telah memaksa mereka memilih antara dua kerajaan yang

bertentangan.”

“Singasari ikut dalam kesalahan ini,“ jawab prajurit itu pula,

“kalau Singasari tidak menampung mereka, maka mereka tidak akan

berbuat demikian.“

“Singasari memandangnya dari segi lain. Singasari mengerti

kesulitan para pendeta dan olah tapa itu. Karena itulah maka

Singasari dapat menerima mereka.”

“Omong kosong. Justru Singasari lah yang menghasut rakyat

Kediri, karena Singasari sendiri sudah siap untuk memberontak.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sekilas terbayang wajah

Ken Arok yang tegang, duduk di atas Singgasana didampingi oleh

kedua isterinya. Ken Dedes duduk sambil menundukkan kepalanya,

dan Ken Umang yang menengadahkan wajahnya sambil tersenyum

asam.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berkata di

dalam hatinya, “Aku tidak dapat mencampur baurkan persoalanpersoalan

pribadi dengan persoalan yang jauh lebih besar.”

“Ki Sanak,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “memang pandangan

kita sukar diketemukan. Kau orang Kediri dan aku adalah orang

Singasari. Karena itu, maka marilah kita bicarakan saja apa yang

kita hadapi sekarang. Aku minta kau lepaskan orang-orang itu

memilih jalannya sendiri.“ Kedua prajurit itu menggeram. Tetapi

mereka sudah tidak bersenjata lagi. Mereka tidak akan mampu

melakukan perlawanan terhadap Mahisa Agni. Selagi mereka masih

bersenjata, mereka tidak dapat mengalahkannya, apalagi kini.

“Jangan memaksa kami berbuat terlampau jauh,“ berkata Mahisa

Agni.

Pemimpin rombongan orang-orang yang meyusul orang-orang

Kediri yang menyingkir itu-pun menjadi ragu-ragu.

Dalam pada itu, orang-orang yang merasa dirinya dikejar-kejar

itu-pun hampir serentak berteriak, “Binasakan mereka. Jangan

biarkan mereka lolos. Mereka pasti akan membantai pula lain kali.”

“Bunuh mereka, bunuh mereka,“ teriak yang lain.

Orang-orang yang mengejar orang-orang Kediri yang melarikan

diri itu kini berada dalam keadaan sebaliknya. Kini merekalah yang

merasa diri mereka diburu oleh orang-orang itu. Sedangkan mereka

sama sekali tidak akan dapat mengingkari kenyataan, bahwa

mereka pasti tidak akan dapat melawan. Orang yang mematahkan

pedang itu mampu berkelahi seperti hantu, sehingga kedua prajurit

yang bertempur bersama itu-pun tidak mampu berbuat apa-apa

menghadapinya, meskipun ia hanya bersenjatakan sebilah pedang

yang telah dipatahkannya sendiri.

Tetapi untuk membiarkan diri mereka dibunuh, mereka sama

sekali tidak akan rela.

Karena itu, sejenak mereka dicengkam oleh ketegangan. Mereka

menunggu, apakah yang akan terjadi selanjutnya.

Namun dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Biarlah

mereka pergi. Kita baru menjumpai mereka untuk pertama kali.

Tetapi apabila kita menjumpainya di lain kali dalam tindakan yang

serupa, maka kita tidak akan memaafkannya.”

“Tidak. Jangan dilepaskan,“ teriak salah seorang.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ketika terpandang olehnya

wajah cantrik yang keheran-heranan dan bahkan kebingungan, ia

bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”

Cantrik itu terperanjat. Dalam kebingungan ia menjawab,

“Terserah kepadamu.”

“Nah,“ berkata Mahisa Agni, “begitulah pendapatku. Biarlah kali

ini menjadi peringatan bagi mereka. Peringatan terakhir.”

“Tetapi yang mereka lakukan kali ini bukan yang pertama,“

berkata pemimpin rombongan orang-orang Kediri yang sedang

menyingkir itu.

“Kita tidak dapat dengan mutlak menyalahkan mereka. Yang

mereka lakukan telah dibenarkan oleh pimpinan pemerintahan

Kediri, sehingga dengan demikian, sebagian dari kesalahan dan

tanggung jawab mereka atas perbuatan ini telah diambil oleh

pimpinan pemerintahan.“

“Jika demikian, maka tindakan-akan mereka yang akan datangpun

salah mereka.”

“Kami telah memberikan pertimbangan sebagai peringatan

terakhir,“ jawab Mahisa Agni, “Karena itulah, maka untuk yang bakal

terjadi, pertimbangan kita akan lain.”

Sejenak orang-orang itu terdiam. Tetapi mereka sadar, bahwa

apabila orang itu tidak ikut campur dalam persoalan ini, mereka

pasti akan berhasil dibinasakan oleh pemburu-pemburu itu. Karena

itu, maka akhirnya pemimpin rombongan itu berkata, “Baiklah. Kami

serahkan keputusan kepadamu. Apa yang baik menurut

pertimbangan Ki Sanak, akan baik pula untuk kami. Tetapi perlu

kami peringatkan, bahwa kami masih akan menempuh perjalanan

sampai kami memasuki tlatah Singasari. Kami masih belum tahu

apakah yang bakal terjadi di perjalanan kami. Kalau orang-orang

yang dilepaskan ini, mencari jalan lain, dan mencegat kami selagi

kami sudah tidak bersama-sama dengan kalian, maka nasib kamilah

yang menjadi terlampau jelek.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia dapat mengerti

kekhawatiran orang-orang yang sedang berusaha menyingkir dari

Kediri itu. Karena itu, bagaimana-pun juga Mahisa Agni ingin segera

bertemu dengan Witantra, namun ia berkata, “Baiklah. Kami akan

mengawani kalian sampai ke perbatasan. Sampai kalian keluar dari

hutan ini dan berada di lingkungan tlatah Singasari. Kalian akan

segera menjumpai pusat penjagaan yang akan dapat menampung

kalian.”

Pemimpin rombongan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Katanya, “Kalau demikian, aku akan mengucapkan diperbanyak

terima kasih. Aku tidak berkeberatan, apapun yang akan kalian

putuskan atas orang-orang yang memburu kami ini.”

“Biarlah mereka kembali,“ berkata Mahisa Agni, “mereka akan

membawa pengalamannya. Tidak seharusnya mereka berburu

manusia. Mengejar harta benda yang dibawanya, dan harga

kepalanya.”

Mereka yang mengejar orang-orang Kediri itu sama sekali tidak

menyahut. Mereka berdiam diri sambil berdiri tegang di tempatnya.

“Nah. kembalilah ke Kediri,“ berkata Mahisa Agni, “belajarlah

menghargai kebebasan seseorang. Kalau kediri tidak bertindak

berlebih-lebihan, aku kira tidak akan ada arus manusia yang

mengalir ke Singasari.”

Tidak seorang-pun yang menjawab. Tetapi tidak semua orang di

antara mereka yang dapat mengerti keterangan Mahisa Agni. Ada di

antara mereka yang sama sekali terbungkam. Tetapi gejolak di

dalam dadanya menyalakan dendam tiada taranya.

Terasa dada mereka membara ketika mereka mendengar Mahisa

Agni berkata, “Ki Sanak yang akan melanjutkan perjalanan ke

Singasari, silahkan segera berkemas. Waktuku tidak terlampau

banyak.”

Seperti tergugah dari cengkaman mimpi yang dahsyat, merekapun

segera mengemasi barang-barang mereka. Orang-orang yang

semula menggenggam senjatanya, sebagian telah menyarungkan

senjata itu, dan membantu mengatur barang-barang mereka. Tetapi

mereka sama sekali tidak lengah. Di antara mereka masih juga ada

yang menggenggam senjata telanjang di tangan.

Mahisa Agni dan cantrik kawan seperjalanannya telah berdiri di

antara orang-orang yang akan pergi ke Singasari itu. Mahisa Agni

yang mempunyai penglihatan yang tajam bukan saja penglihatan

lahiriah, masih melihat beberapa orang yang tidak ikhlas

melepaskan buruannya. Namun demikian beberapa orang yang lain

perlahan-lahan mulai menilai diri mereka sendiri. Mereka mulai

melihat tujuan orang-orang yang menyeberang ke Singasari.

Memang orang-orang yang menyingkir dari Kediri ke Singasari.

bukanlah jalan yang paling baik. Tetapi mereka tidak dapat memilih.

Mereka tidak dapat berbuat lain daripada menyingkir karena

keselamatan dan kebebasan mereka terancam.

Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa Sri Rajasa dari Singasari

memang berusaha memanfaatkan keadaan. Dibentuknya kelompokkelompok

yang diserahi tugas menampung orang-orang Kediri, dan

bahkan agak memanjakannya, sehingga apabila berita tentang

orang-orang Kediri itu menggema kembali ke daerah asal mereka

maka hal itu akan merupakan rangsang bagi yang masih tinggal

untuk pergi ke Singasari. Namun dengan demikian, Ken Arok telah

mematangkan kadaan. Pasukannya telah tersebar di segala penjuru.

Bukan sekedar mengawasi penampungan orang-orang Singasari,

tetapi mereka siap mengalir masuk ke daerah Kediri, seperti air

yang tertampung oleh bendungan yang hampir pecah.

Sementara itu. orang-orang yang akan pergi ke Singasari itu

telah siap untuk berangkat. Karena itu maka Mahisa Agni berkata

sekali lagi kepada orang yang mengejar mereka, yang masih

membeku di tempatnya, “Kenapa kalian masih berada di sini?

Pergilah, dan jangan kau coba untuk berbuat seperti kali ini. Kalau

aku melihat kalian sekali lagi berburu manusia, maka aku tidak akan

dapat memaafkan kalian sekali lagi.”

“Beberapa pasang mata seakan-akan membara karenanya.

Tetapi beberapa pasang yang lain menjadi suram.“

“Cepat, pergilah,“ bentak cantrik kawan Mahisa Agni.

Pemimpin rombongan orang-orang itu-pun mengerutkan

keningnya. Ditatapnya cantrik yang bersenjata pedang pendek itu

tajam-tajam. Namun cantrik itu maju beberapa langkah, “Kenapa

kau memandang aku seperti itu?”

Pemimpin itu tidak menjawab. Tetapi dipalingkannya wajahnya

kepada orang-orangnya, “Marilah kita kembali.”

Orang-orang itu-pun kemudian melangkah perlahan-lahan ke

kuda masing-masing. Tetapi masih juga ada di antara mereka yang

berpaling. Sorot matanya memancarkan dendam yang tersimpan di

dalam hati. kekecewaan dan kegelisahan bercampur baur.

“He kenapa berpaling?“ bertanya cantrik itu.

Tetapi seorang yang berbulu lebat di dadanya justru berhenti.

Orang yang kasar itu tidak dapat menahan hatinya mendengar

bentakan-akan yang menyakitkan hati.

Namun cantrik itu-pun benar-benar seorang yang cepat digulat

oleh perasaannya. Tiba-tiba saja ia memburunya sambil berkata,

“Kau masih akan melawan?“

Orang itu tidak menjawab.

“Baik. Baik. Mari kita selesaikan masalah ini. Aku tidak ingin

berbuat licik. Kau dan aku. Lepas dari semua persoalan yang pernah

terjadi.”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Ternyata cantrik itu bukan orang

kebanyakan pula. Ia sudah menyaksikan bagaimana ia bertempur

dengan pedang pendeknya.

Namun sebelum orang berbulu lebat itu mengambil keputusan,

pemimpinnya sudah mendahuluinya, “Kita tinggalkan neraka ini.”

Orang berbulu lebat itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia

berbalik dan berjalan ke kudanya. Sejenak kemudian orang itu telah

meloncat seorang demi seorang, kemudian berpacu meninggalkan

mangsa yang lepas dari mulutnya karena kebetulan sekali ada

seseorang yang bernama Mahisa Agni bersama seorang cantrik di

antara mereka.

Sesaat mereka yang tinggal menyaksikan debu yang putih

mengepul dari kaki-kaki kuda yang berlari kencang itu. Namun

sejenak kemudian mereka menyadari keadaan mereka sendiri.

Dengan demikian mereka menjadi semakin sibuk mengemasi

barang-barang masing-masing.

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni selalu memeperhatikan gadis

yang dengan tergesa-gesa menyiapkan beberapa barangbarangnya.

Bahkan seperti tergerak oleh tenaga yang tidak

dimengertinya Mahisa Agni-pun mendekatinya dan perlahan-lahan ia

berkata, “Apakah aku dapat membantu?”

“O,“ sepercik warna merah membayang di wajah gadis itu.

Sambil tersipu-sipu ia berkata, “sudah selesai.”

“Tetapi, siapakah yang akan membawa barang-barang itu nanti?”

“Ayah,“ berkata gadis itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia

sadar, bahwa gadis itu pasti tidak hanya seorang diri. Ia berjalan di

antara rombongan itu bersama ayahnya dan bahkan mungkin ia

sama sekali bukan seorang gadis. Tetapi di antara laki-laki itu

terdapat suaminya.

Tetapi sebelum Mahisa Agni bertanya lebih lanjut, seorang lakilaki,

yang justru sudah terlampau tua, mendekatinya sambil berkata,

“Aku akan membawa barang-barangnya selebihnya yang dapat

dibawanya sendiri.”

“O,“ Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi orang itu-pun

telah terlalu tua untuk membawa barang-barang yang meskipun

tidak terlampau banyak.

Namun Mahisa Agni tidak bertanya lebih jauh. Dibiarkannya gadis

itu, dan juga orang-orang lain menyelesaikan pekerjaan masingmasing.

Kemudian pemimpin rombongan itu-pun berkata, “Kita

sudah selesai. Marilah kita meneruskan perjalanan.”

Beberapa orang di dalam rombongan itu segera mengangkat

barang masing-masing. Ada di antara mereka yang membawa

seekor kuda untuk membawa beban masing-masing. Tetapi laki-laki

tua itu membawa barang-barangnya di atas pundaknya. Sebagian

dari barang-barangnya telah dibawa pula gadis yang menyebut

dirinya anaknya.

Tetapi agaknya barang-barang itu terlampau berat bagi mereka

berdua. Sedang orang-orang lain telah sibuk dengan milik mereka

sendiri-sendiri.

“Apakah kau berdua bersama ayahmu membawa barang-barang

itu dari Kediri?“ bertanya Mahisa Agni.

Gadis itu mengangguk.

“Kudaku dapat membantu,“ berkata Mahisa Agni kemudian.

Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ditatapnya mata ayahnya yang

redup.

Sejenak laki-laki tua itu berpikir. Kemudian katanya, “Apakah

dengan demikian kami tidak mengganggu Ki Sanak?”

Mahisa Agni menggeleng, “Tidak. Aku akan berjalan bersama

dengan kalian.”

“Terima kasih,“ berkata orang tua itu. yang kemudian meletakkan

beberapa potong barang-barangnya dan barang-barang yang

dibawa oleh gadisnya di atas punggung kuda Mahisa Agni.

Ketika semuanya sudah mulai melangkahkan kakinya, maka

kedua ayah beranak itu-pun berjalan pula. Tetapi kini mereka sudah

tidak diberati lagi oleh barang-barangnya yang sebagian sudah

mereka letakkan di atas punggung kuda Mahisa Agni.

“Siapa yang akan menitipkan barang-barang kepadaku,“ cantrik

itu berdesis di telinga Mahisa Agni.

Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya wajah cantrik yang lucu itu

sedang tersenyum. Bahkan kemudian ia berbisik, “Barangbarangnya

sudah dititipkan kepadamu. Biarlah pemiliknya naik di

atas punggung kudaku. Kalau ia tidak berani seorang diri, aku dapat

menjagainya di belakangnya.”

“Sst,“ Mahisa Agni berdesis, dan cantrik itu tersenyum semakin

lebar.

Sambil berjalan maka Mahisa Agni, cantrik yang bersamanya dan

laki-laki tua itu tidak berhenti-hentinya bercakap-cakap. Sedang

anak gadisnya kemudian berjalan di depan bersama perempuanperempuan

yang lain.

“Ia bukan anakku,“ berkata laki-laki tua itu tiba-tiba. Mahisa Agni

mengerutkan keningnya. Tanpa dikehendakinya sendiri ia bertanya,

“Jadi, apakah hubungan kalian?”

“Ia sebenarnya adalah cucuku.”

“O,“ Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ayahnya meninggal selagi ia berada di dalam kandungan karena

penyakit yang tidak kami ketahui. Ketika ia berumur tiga tahun,

ibunya meninggal pula.”

“Yatim piatu,“ desis Mahisa Agni.

Dan tiba-tiba cantrik itu memotong, “Suaminya?”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. “Memang ia terlambat

kawin. Tetapi ia masih gadis.”

“O,“ cantrik itu mengerutkan keningnya, “tentu belum terlambat.

Berapakah umurnya?”

“Aku tidak tahu pasti. Ia lahir ketika ada gempa yang besar

menimpa Kediri. Pada saat tanah-tanah bengkah dan gunung-gunug

runtuh. Hujan angin seperti dicurahkan dari langit.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kira-kira

duapuluh tahun yang lampau.”

“Ya, begitulah,“ sahut orang tua itu. Kemudian suaranya

menurun, “karena itulah terlambat kawin. Kawan-kawannya yang

berumur tujuh belas tahun sudah dipinang orang.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bahkan yang berumur limabelas tahun,“ orang tua itu

meneruskan. Kemudian, “Sebenarnya anak itu juga sudah dipinang

orang. Ia hampir kawin tiga tahun yang lampau. Tetapi yang

melukai hati anak itu, calon suaminya mati terbunuh.”

“O,“ Mahisa Agni dan cantrik itu terperanjat.

“Kenapa?”

“Itulah yang menyakiti hatinya. Ternyata calon suaminya adalah

seorang perampok,“ jawab orang tua itu, “tidak seorang-pun dari

orang sepadepokan kami yang mengetahuinya. Karena itu

lamarannya-pun aku terima. Gadis itu-pun telah tidak menolak lagi.

Namun berita itu akhirnya sampai pada kami. Laki-laki itu adalah

seorang perampok yang sangat dibenci.”

Mahisa Agni dan cantrik kawan seperjalanannya itu menganggukanggukkan

kepalanya. Sekilas mereka memandang punggung gadis

yang berjalan beberapa langkah di depan mereka. Tetapi mereka

sama sekali tidak mendapat kesan apapun juga.

“Kasihan,“ desis Mahisa Agni di dalam hatinya.

Dan orang tua itu berkata seterusnya, “Tetapi aku kira lebih baik

demikian daripada perkawinan itu sudah berlangsung. Cucuku akan

menjadi seorang isteri perampok yang dikutuk orang, meskipun

orang-orang di sekitarnya tidak mengetahuinya.“ orang tua itu

berhenti sejenak, lalu, “Sekarang ia bebas, meskipun hatinya luka.”

Mahisa Agni hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia

tidak menyahut.

Demikianlah perjalanan mereka itu-pun semakin lama menjadi

semakin dekat dengan perbatasan hutan dan langsung masuk ke

tlatah Singasari. Mahisa Agni sempat mengantarkan mereka sampai

ke tempat yang dianggapnya cukup aman. Mereka tidak akan

terganggu lagi oleh orang-orang yang mengejarnya.

“Sekarang aku akan meneruskan perjalananku lagi,“ berkata

Mahisa Agni kepada pemimpin rombongan itu.

“Terima kasih,“ jawabnya, “aku sudah mengganggu

perjalananmu. Apakah kau akan pergi ke Kediri?”

“Tidak,“ jawab Mahisa Agni, “aku akan pergi ke daerah yang

tidak bertuan. Daerah yang jauh tersembunyi di dalam hutan. Yang

tidak dijangkau oleh kekuasaan baik Kediri mau-pun Singasari.”

“Daerah manakah itu?”

“Daerah yang tidak bernama.“

Pemimpin rombongan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sedang orang tua kakek gadis itu berkata, “Kami sangat berterima

kasih akan kebaikanmu.”

“Adalah sewajarnya, bahwa kita harus saling membantu,“ Mahisa

Agni menyahut, kemudian, “kalau kelak aku kembali, aku akan

mencari kalian. Berpesanlah kepada para petugas, di mana kalian

akan menetap.”

“Ya, ya. Kami akan menunggu.”

Mahisa Agni dan cantrik kawan seperjalanannya itu-pun

kemudian minta diri, melanjutkan perjalanan mereka pergi ke rumah

Witantra. Mereka telah kehilangan waktu. Mereka telah menempuh

jarak rangkap, karena mereka harus kembali lagi mengantarkan

para pengungsi dari Kediri itu.

“Kau akan mencarinya kelak?“ bertanya cantrik kawan

seperjalanannya itu.

Mahisa Agni mengangguk tanpa sesadarnya.

“Kenapa?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sendiri tidak mengerti

kenapa?

“Kenapa? “ cantrik itu mendesak.

“Tidak apa-apa. Hanya sekedar ingin tahu, apakah mereka sudah

mendapat tempat yang wajar.”

Cantrik itu tidak menyahut, tetapi ia tertawa.

“Kenapa kau tertawa?“ bertanya Mahisa Agni.

“Tidak apa-apa”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun kemudian

berdiam diri.

Sejenak mereka tidak saling berbicara. Kuda mereka telah

memasuki semakin dalam jalan setapak di tengah-tengah hutan

yang sepi. Tetapi kini matahari telah condong semakin rendah di

Barat.

Dan tiba-tiba cantrik itu berkata, “Kita akan kemalaman di jalan.”

“Kita jalan terus,“ berkata Mahisa Agni.

“Berbahaya. Dan aku tidak akan dapat mengenal jalan di malam

hari. Kuda-kuda kita juga perlu beristirahat.”

“Jadi?“ bertanya Mahisa Agni.

“Kita bermalam di jalan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Kita

akan bermalam di jalan.”

Karena itu, sebelum hutan itu menjadi gelap, mereka-pun segera

mencari tempat untuk bermalam. Ketika mereka sudah

menemukannya, maka mereka-pun segera mengikat kuda-kuda

mereka dan mencari ranting dan dahan-dahan kering.

“Kita membuat perapian,“ berkata cantrik itu.

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.

“Aku membawa pondoh jagung. Apakah kau tidak lapar?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia

menjawab. “Tentu.”

“Tentu apa?”

“Tentu lapar.”

Keduanya-pun kemudian makan pondoh jagung sambil duduk di

dekat perapian. Malam yang gelap turun menyelubungi hutan yang

menjadi sangat pekat, seakan-akan mata mereka tidak mampu lagi

menembus jarak selangkah-pun. Namun cahaya api yang merah,

telah menembus beberapa puluh langkah di seputar kedua orang

yang duduk sambil berkerudung kain panjang mereka.

Tiba-tiba saja cantrik itu bertanya, “Siapakah sebenarnya kau?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Apakah Panji Bojong Santi

tidak mengatakannya.”

“Panji Bojong Santi hanya mengatakan, agar aku mengantarmu

ke tempat Witantra. Tetapi Panji Bojong Santi tidak mengatakan

kepadaku, siapakah kau sebenarnya.”

“Tidak ada yang aneh. Namaku Mahisa Agni. Itu sudah cukup

bagimu.”

“Tetapi kau ternyata memiliki kemampuan yang tidak aku duga.

Aku kira kau adalah barang titipan, yang harus aku serahkan kepada

Witantra.“ cantrik itu menelan ludahnya, kemudian, “ternyata aku

tidak lebih dari seorang penunjuk jalan.”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Jangan hiraukan lagi.

Sekarang kita bergantian tidur. Kau dulu, atau aku?“

“Tidurlah, aku belum mengantuk,“ jawab cantrik itu.

Mahisa Agni-pun kemudian bersandar pada sebatang pohon. Ia

mencoba untuk tidur barang sejenak.

Tetapi belum tengah malam Mahisa Agni sudah terbangun.

Terasa punggungnya amat lelah. Perlahan-lahan ia berdiri sambil

menggeliat. Dilihatnya cantrik kawan seperjalanannya masih duduk

terkantuk-kantuk di pinggir perapian. Dengan sebatang dahan ia

mempermainkan bara yang merah kekuning-kuningan.

“Apakah kau belum mengantuk,“ bertanya Mahisa Agni.

Cantrik itu berpaling sambil menjawab, “Sudah.“

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tidurlah.

Biarlah aku yang jaga.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak

bersandar sebatang pohon seperti Mahisa Agni. Dengan serta-merta

ia berbaring di atas rerumputan liar yang layu oleh panasnya api di

perapian.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berkata

sepatah kata-pun. Dibiarkannya saja cantrik itu kemudian jatuh

tertidur. Baru ketika fajar menyingsing, ia membuka matanya dan

bertanya, “Apakah yang kemerah-merahan itu cahaya fajar?”

“Ya,“ jawab Mahisa Agni.

“Jadi aku tidur sampai pagi?”

“Ya.”

“Kenapa aku tidak kau bangunkan?”

“Apakah kau memerlukan sesuatu?”

“Tidak, maksudku, kau duduk sampai semalam suntuk.”

“Aku sudah tidur lebih dahulu.“ –

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia-pun

bangkit dan membenahi pakaiannya. dikibas-kibaskannya kain

panjangnya, dan dibetulkannya letak ikat pinggangnya.

“Kau berjaga-jaga semalaman. Kau tentu lelah.“

Mahisa Agni tersenyum. “Sudahlah,“ katanya, “marilah kita

berkemas. Kita sudah kehilangan waktu sehari. Aku ingin segera

bertemu dengan Witantra.“

“Baiklah,“ sahut cantrik itu. Perlahan-lahan ia-pun pergi ke

kudanya yang terikat. Membenahi kelengkapannya pula sambil

berkata, “Kita perlu air.”

“Di sepanjang jalan nanti kita akan bertemu dengan air.”

Cantrik itu mengerutkan keningnya. “Baiklah. Aku kira kuda-kuda

ini-pun sudah haus.“

Sejenak kemudian, ketika mereka sudah selesai berkemas, maka

mereka-pun segera berangkat melanjutkan perjalanan. Beberapa

puluh langkah kemudian mereka menemukan sumber yang bening

memancar dari bawah sebatang pohon preh yang besar.

Setelah mencuci muka, memberi minum kuda-kuda mereka,

maka keduanya-pun segera berpacu menuju ke rumah Witantra.

Suatu pedukuhan baru yang belum banyak dikenal orang. Mereka

masih harus menyusup jalan yang sulit, di antara tetumbuhan hutan

yang cukup rapat, meskipun bukan sebuah belukar yang pepat.

“Kau masih ingat jalan ke padukuhan itu?“ bertanya Mahisa Agni.

“Tentu. Aku masih ingat.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Masih jauh?“ ia bertanya.

Cantrik itu menggeleng, “Tidak terlampau jauh. Sebelum tengah

hari kita akan sampai ke daerah yang lebih baik. Kemudian kita akan

segera sampai. Lewat sedikit tengah hari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mahendra pernah tinggal bersama Witantra beberapa saat.”

Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk. Tiba-tiba saja cantrik itu

bertanya, “Apa sebenarnya kepentinganmu dengan Witantra?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa.”

Cantrik itu menarik nafas. Tentu ia tidak percaya bahwa

seseorang menempuh jalan sejauh itu tanpa suatu keperluan yang

penting. Tetapi cantrik itu mengerti, bahwa Mahisa Agni tidak ingin

mengatakan kepentingannya kepadanya, sehingga karena itu, maka

ia-pun tidak bertanya lagi.

Sejenak mereka menyelusur jalan di hutan yang tidak terlampau

lebat itu sambil berdiam diri. Sekali-sekali Mahisa Agni menarik

nafas dalam-dalam untuk menenteramkan hatinya yang mulai

berdebar-debar. Ia menjadi ragu-ragu, apakah Witantra dapat

menanggapi kedatangannya dengan sikap yang lebih dewasa. Kalau

dendam atas kematian adik seperguruannya dan kekalahannya itu

masih tetap menyala di hatinya, maka ia akan menghadapi keadaan

yang sulit. Dalam keadaan yang sewajarnya, mungkin ia tidak akan

gentar menghadapinya. Bahkan ia masih dapat percaya kepada

dirinya sendiri bahwa Witantra betapa jauh jangkaunya namun ia

tidak akan dapat mengalahkannya dengan mudah. Kalau Witantra

berhasil mempelajari ilmunya hampir sempurna, seperti gurunya

Panji Bojong Santi. maka ia sudah berhasil mencapainya lebih

dahulu.

Bahkan selama ini ia masih juga sempat merenungi ilmunya,

sehingga ilmu itu menjadi kian matang. Ilmu yang didasari oleh

perguruan Empu Purwa, ditambah dengan luluhnya ilmu Empu Sada

dan penemuannya sesudah itu, berdasarkan kedua ilmu itu. pasti

tidak akan mudah dilampaui oleh Witantra.

Tetapi ia tidak akan dapat mempergunakan ilmunya. Ia datang

untuk mengakui semua kesalahannya dan untuk meminta maaf

kepadanya. Sudah tentu ia tidak akan melibatkan diri ke dalam

kesalahan yang lebih besar lagi.

“Tetapi bagaimana kalau Witantra tidak dapat mengerti

perasaannya?“ pertanyaan itu kini telah membelit hatinya.

“Panji Bojong Santi mengenalnya dengan baik. Kalau ia tidak

berpendapat bahwa Witantra akan mengendapkan perasaannya,

maka ia tidak akan membiarkan cantrik ini mengantarkan aku.”

“Meskipun demikian Witantra adalah manusia biasa. Ia tidak akan

luput dari kekurangan dan kekhilafan.”

Ternyata pendirian itu telah membuat dada Mahisa Agni menjadi

semakin berdebar-debar.

Meskipun demikian Mahisa Agni berusaha menyembunyikan

semua kesan-kesannya, sehingga cantrik yang bersamanya itu sama

sekali tidak dapat meraba apa yang terpercik di hatinya.

Demikianlah maka untuk sesaat mereka saling berdiam diri.

Semakin lama mereka menjadi semakin dekat. Hutan yang mereka

lalui menjadi semakin jarang. sehingga akhirnya, mereka telah

melintasi hutan perdu dan ilalang.

Dengan demikian maka kuda-kuda mereka dapat berlari semakin

kencang. Sedang matahari menjadi semakin tinggi memanjat kaki

langit.

Ketika bayangan mereka telah tepat terinjak di bawah kaki

mereka berhenti sejenak pada sebuah mata air yang kecil untuk

memberi kesempatan kuda-kuda mereka minum sejenak, sambil

berteduh di bawah sebatang pohon yang rindang.

“Kita akan menempuh jalan yang melewati gunduk-gunduk yang

keputih-putihan itu,“ berkata cantrik kawan seperjalanan Mahisa

Agni sambil menunjuk segunduk padas putih di hadapan mereka.

Keduanya membiarkan kuda mereka makan rerumputan hijau

sejenak, sementara keduanya menyeka keringat mereka yang

membasahi seluruh tubuhnya.

Tetapi mereka tidak beristirahat terlampau lama. Sejenak

kemudian mereka-pun telah berada di punggung kuda masingmasing,

dan berpacu lebih cepat lagi. Tetapi jalan kini sudah

menjadi semakin baik. Mereka tidak lagi diganggu oleh pepohonan

yang merambat, melintas di atas jalan yang mereka lalui. Kini jalan

seakan-akan terbuka meskipun tidak terlampau baik.

Setelah melewati gundukan padas yang keputih-putihan di

panasnya matahari, mereka sampai ke daerah yang lebih subur.

Daerah yang selalu basah oleh sumber-sumber air dan sebatang

sungai yang meskipun tidak terlampau besar, namun mengalirkan

air yang cukup.

“Padukuhan Witantra ada di tepi sungai ini,“ berkata cantrik itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudah dekat. Gerumbul hijau di hadapan kita itu adalah ujung

padukuhannya.”

“O,” Mahisa Agni mengnggukkan kepalanya, dan hatinya-pun

menjadi semakin berdebar-debar pula. Meskipun demikian,

wajahnya sama sekali tidak mengesankan kegelisahannya itu.

Ternyata jalan yang mereka lalui memang menjadi semakin baik.

Meskipun agak berdebu tapi kini mereka telah sampai pada sebuah

jalan yang agak terpelihara.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sebentar lagi ia akan

bertemu dengan seseorang yang pernah dilukai hatinya. Ia tidak

tahu tanggapan apakah yang akan diberikan oleh Witantra atas

kedatangannya ini.

“Tetapi aku harus menemuinya. Apapun yang akan terjadi nanti,“

berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “sekarang atau waktu yang

akan datang, hampir tidak ada bedanya. Aku tidak mau tersiksa

lebih lama lagi oleh perasaan bersalah ini.”

Dengan demikian maka Mahisa Agni-pun telah membulatkan

tekadnya, untuk bertemu kali ini dengan Witantra meskipun ia tidak

tahu akibat apa yang bakal terjadi oleh pertemuan ini.

Sejenak kemudian maka mereka-pun telah sampai di ujung

padukuhan yang hijau segar. Meskipun padukuhan itu sebuah

padukuhan kecil tetapi tampak bahwa padukuhan itu adalah

padukuhan yang hidup.

Dinding-dinding batu yang rapi dan regol yang manis, meskipun

tidak terlampau besar. Jalan-jalan yang lurus dan bersih.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas. Desisnya, “Inilah

padukuhan itu?”

“Ya, padukuhan yang agak terpencil. Tetapi padukuhan ini

berusaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Dari bahan makan

sampai ke bahan pakaian meskipun tidak begitu baik. Hanya

keperluan yang memaksa saja mereka cari keluar daerah

padukuhan ini. Garam misalnya,“ jawab cantrik itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kita akan segera memasuki regol padukuhan itu. Rumah

Witantra berada di tempat-tempat padukuhan,“ cantrik itu berhenti

sejenak, “padukuhan ini adalah padukuhan yang paling damai yang

pernah aku lihat.”

Mahisa Agni masih mengangguk-angguk. Tetapi ia sependapat

dengan cantrik itu, bahwa padukuhan ini memang padukuhan yang

tampaknya tenteram dan damai.

“Mungkin karena letaknya yang terasing,“ berkata Mahisa Agni di

dalam hatinya, “tetapi apakah kedamaian yang asing seperti ini

adalah yang paling baik bagi Witantra?“

Sejenak Mahisa Agni merenungi regol padukuhan itu. Kemudian

dilihatnya seorang anak melintasi jalan. Anak itu memandanginya

sebentar, kemudian ia berlari-lari masuk ke halaman.

“Jarang sekali ada orang lain yang datang kemari,” berkata

cantrik itu, “kedatangan kita pasti akan menjadi bahan percakapan

penduduk padukuhan ini. Satu dua di antara mereka mungkin

pernah melihat aku datang kemari, apabila mereka masih ingat.

Tetapi kau adalah orang asing sama sekali.“

Mahisa Agni tidak Menjawab. Bagi Witantra, mungkin masih

dapat dimengerti. Bahwa kekecewaan yang sangat telah

menyudutkannya ke tempat yang sepi ini. Tetapi bagaimana dengan

anak-anak yang masih harus berkembang?

Ternyata apa yang dikatakan cantrik itu-pun segera ternyata.

Bukan sekedar anak-anak sajalah yang kemudian menjengukkan

kepala mereka di atas pagar-pagar batu. Dengan herannya mereka

melihat cantrik itu bersama Mahisa Agni melewati di jalan yang

membelah padukuhan itu. Mereka saling berbisik dan bertanya,

siapakah yang datang kali ini?

Tetapi setiap kepala tergeleng lemah, karena tidak seorang-pun

yang dapat menjawab pertanyaan itu. Sejenak kemudian. sampailah

mereka ke pusat padukuhan kecil itu. Mereka berhenti sejenak di

muka sebuah regol halaman yang agak lebih besar dari regol-regol

halaman yang lain. Halaman itu adalah halaman rumah Witantra.

Mahisa Agni menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu justru

bergeser beberapa langkah surut. Kini ia tidak lagi dapat

menyembunyikan perasaannya yang dibakar oleh keragu-raguan.

Cantrik itu menjadi heran. Sejenak ia mengawasi saja tingkah

laku Mahisa Agni. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Marilah kita

masuk. Inilah rumahnya.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Keringat dinginnya yang

mengembun serasa telah membasahi seluruh tubuhnya.

“Kenapa kau?“ bertanya cantrik itu, “inilah rumahnya.”

Mahisa Agni masih belum menjawab. Dipandanginya saja pintu

regol yang terbuka itu, langsung melintasi halaman hingga pada

pintu rumah yang masih tertutup.

Tiba-tiba ia berdesis, “Sepi sekali.”

“Rumah ini memang sepi. Biasanya memang sepi pula. Witantra

dan keluarganya jarang-jarang berada di pendapa. Mereka selalu

berada di dalam.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kini Ia

seakan-akan membeku di atas punggung kudanya.

“He. kenapa kau sebenarnya?“ bertanya cantrik itu.

“Tidak apa-apa.”

“Kenapa kau mematung di situ. Marilah masuk.“

Sekali lagi Mahisa Agni menyapukan pandangan matanya ke

sekelilingnya. Halaman yang bersih. Batang-batang pohon sawo

yang tumbuh subur hambir mencapai teritis. Apabila kelak batangbatang

sawo itu menjadi semakin besar, maka halaman itu-pun

akan bertambah asri.

“Kau sudah menempuh perjalanan yang demikian jauh dan sulit.

Sekarang kau ragu-ragu,“ desis cantrik itu.

“Kau benar,“ jawab Mahisa Agni, “aku memang ragu-ragu.”

“Baiklah. Biarlah aku lebih dahulu masuk. Aku akan mengatakan

kepada Witantra bahwa seorang tamu bernama Mahisa Agni sedang

menunggu di luar regol.“

Mahisa Agni tidak segera menyahut.

“He,“ cantrik itu menjadi kesal, sehingga tiba-tiba ia berkata

tanpa sesadarnya, “apakah kau kesurupan di jalan tadi?”

Mahisa Agni berpaling. Dipandanginya wajah cantrik itu dengan

tajamnya, tetapi ia tidak menjawab.

Dalam kebingungannya, cantrik itu-pun kemudian meloncat turun

dari kudanya dan membimbing kudanya mendekati regol halaman.

Tetapi ia terkejut ketika tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan yang

meloncat dan hinggap di atas dinding batu halaman rumah itu.

Hampir terpekik ia memandang seseorang yang berdiri tegak di atas

sepasang kakinya yang renggang.

Mahisa Agni-pun terkejut bukan kepalang melihat orang yang

tiba-tiba saja sudah bertengger di atas dinding halaman. Apalagi

setelah ia meyakini, bahwa orang yang berdiri itu adalah Witantra.

Sejenak Mahisa Agni benar-benar terpukau oleh penglihatannya.

Witantra berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Di lambungnya

tergantung sepasang pedang panjang.

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia sama

sekali tidak menyangka, bahwa Witantra yang telah menyepi itu

masih menyandang pedang di lambungnya. Apalagi kini sepasang.

Karena itu, maka Mahisa Agni melihat seorang tokoh yang aneh

menurut penilaiannya. Seorang yang mengenakan pakaian putih

melitit di tubuhnya, namun kemudian pakaian itu dibelit oleh sebuah

ikat pinggang kulit yang tebal dan digantungi oleh sepasang

pedang.

“Nah. aku sudah menduga Agni, bahwa pada suatu ketika kau

akan mencari aku. Aku kira kau masih tidak puas dengan

kemenanganmu itu. Kau masih belum puas atas kematian Kebo Ijo.

Kini kau datang untuk memuaskan hatimu.”

Sambutan itu sama sekali tidak disangka-sangkanya. Apalagi

cantrik yang bersamanya itu. Dengan mulut ternganga ia melihat

Witantra dan Mahisa Agni berganti-ganti.

“Aneh sekali,“ ia berkata di dalam hati, “kalau yang akan terjadi

hanyalah demikian saja, kenapa Panji Bojong Santi menyuruh aku

mengantarkannya?”

Dalam kebingungan cantrik itu berdiri membeku di tempatnya.

Sekilas terbayang kemampuan Mahisa Agni yang tidak disangkasangkanya

ketika mereka berkelahi melawan orang-orang Kediri.

Mahisa Agni benar-benar dapat berbuat sekehendak hatinya atas

lawan-lawannya. Memang apa yang dilakukan mirip dengan

permainan sihir. Sedang Witantra adalah murid tertua Panji Bojong

Santi yang sudah mengasingkan diri menekuni ilmunya. Apabila

benar-benar terjadi benturan di antara mereka berdua, maka

akibatnya memang akan dahsyat sekali. Karena itu, maka ketika

dadanya sudah menjadi agak tenang, ia-pun melangkah maju

mendekati Witantra sambil berkata, “Witantra, Panji Bojong Santilah

yang menyuruh aku mengantarkannya kemari.”

Witantra tertawa. Jawabnya, “Aku kira guru-pun mengetahui, apa

yang tersirat di dalam hatinya. Memang tidak ada orang lain yang

dapat melawannya di seluruh Tumapel, yang sekarang menyebut

dirinya Singasari. Tidak ada orang yang dapat mengalahkan seorang

yang bernama Mahisa Agni selain aku. Memang aku pernah di

kalahkannya. Tetapi itu sudah lama berlalu. Sekarang keadaan pasti

sudah berubah. Dan Witantra tidak akan dapat di kalahkannya lagi.“

Witantra berhenti sejenak, dan tiba-tiba pertanyaannya sangat

mengejutkan Mahisa Agni, “Agni, apakah kau sudah berhasil

membunuh Mahendra, sehingga kau sudah datang kepadaku,

kepada saudara tertua di perguruan Panji Bojong Santi?”

Mahisa Agni benar-serasa terbungkam. Ia tidak mengerti

bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Karena itu, maka ia

duduk saja di atas punggung kudanya dengan jantung yang

berdentangan.

“Kenapa kau diam saja?“ lalu kepada cantrik itu Witantra

bertanya, “he. apakah kau tahu. atau guru mengatakan kepadamu,

bahwa Mahendra telah terbunuh?”

Cantrik itu menjadi semakin bingung, tetapi kepalanya tergeleng

lemah, “Tidak. Aku tidak mengetahuinya.”

Suara tertawa Witantra menjadi semakin menyakitkan hati.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Hem, begitu

buas kau Mahisa Agni. Apakah kau akan mendapat upah yang

terlalu besar dari Ken Arok?”

Mahisa Agni benar-benar serasa terbungkam. Hal yang sama

sekati tidak disangka-sangkanya ternyata telah terjadi. Menurut

dugaannya Witantra pasti seorang yang sudah menjadi semakin

mapan dan mengendap, sehingga ia tidak akan terlalu banyak

menjumpai kesukaran.

“Agni, ayo katakan dengan terus-terang. bahwa kau akan

membunuhku.”

Betapapun juga maka akhirnya Mahisa Agni mencoba untuk

menjelaskan maksud kedatangannya, “Witantra, aku sama sekali

tidak akan membunuhmu. Mahendra sama sekali juga tidak

terbunuh.“

Suara tertawa Witantra meninggi. Sambil menganggukanggukkan

kepalanya ia berkata, “O, kau benar-benar seorang buas

yang licik. Kau mencoba menipu aku. Kemudian dengan diam-diam

kau akan menusuk aku dari belakang.“ Witantra berhenti sejenak,

kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak Mahisa Agni, kau tidak

akan dapat mengelabui aku, kau tidak akan dapat menipu aku lagi.

Aku tahu pasti tujuanmu. Karena itu, marilah kita coba sekali lagi.

Kau atau aku yang akan binasa kali ini.“

“Witantra,“ potong Mahisa Agni yang menjadi semakin gelisah,

“kau salah Witantra. Aku tidak akan berkelahi.“

“Jangan kau kelabui aku. Kau tidak akan dapat berbuat curang.

Ayo, kita berhadapan dengan jantan.”

“Kau keliru.”

“Tentu tidak. Aku tidak akan keliru. Kebo Ijo itu sudah benarbenar

mati. Aku sudah kau kalahkan di arena. Mahendra-pun sudah

mati pula. Sekarang kau datang kemari. Apalagi he?”

“Memang, aku telah memperkuat keputusan untuk menetapkan

Kebo Ijo bersalah. Aku telah naik ke arena waktu itu. Tetapi aku

salah, pada waktu itu. Dan aku ingin minta maaf kepadamu

Witantra.”

“O,“ suara tertawa Witantra semakin keras, “kau benar-benar

tidak tahu malu. Kenapa kau tidak menempuh jalan seperti yang

pernah kau pergunakan? Naik ke arena? Kenapa kini kau lebih

senang menjadi seorang yang licik?“ Witantra berhenti sejenak,

kemudian, “Mungkin karena kau sudah tahu. bahwa kau tidak akan

dapat mengalahkan Witantra sekarang. Kau tidak akan dapat

berbuat dengan cara yang pernah kau lakukan. Sedang kau masih

tetap mendendam semua murid Panji Bojong Santi. Mungkin atas

dorongan kegilaanmu, tetapi mungkin juga karena kau akan

mendapat upah dari Ken Arok. Tetapi aku tidak peduli. Bagiku

akibatnya akan sama saja. Kau dengan nafsu dendammu yang

menyala-nyala, atau kau yang akan mendapat upah berlimpahlimpah

dengan raja yang licik itu?”

“Tidak Witantra, kau salah sangka. Kau terlampau mendendam

kepadaku, sehingga kau diganggu oleh bayangan-bayangan yang

selalu menakut-nakuti perasaanmu.”

“He,“ Witantra tiba-tiba terbelalak, “kau terlampau sombong. Apa

yang aku takutkan padamu sehingga aku harus dengan gelisah

menemuimu sekarang? He, kau kira otakku sudah tidak waras lagi

sehingga hidupku selalu dibayangi oleh prasangka-sangka buruk

saja? O Agni. betapa sombongnya kau. Kau merasa dirimu tidak

terkalahkan sehingga aku yang terpencil ini selalu dibayangi oleh

ketakutan yang sangat, sehingga aku menjadi gila.“

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak

mengerti apa yang akan dikatakannya. Ia merasa bahwa ia selalu

salah. Apa yang diucapkan pasti menumbuhkan salah paham.

Witantra pasti menanggapinya dengan dendam yang menyala di

dadanya.

Apalagi ketika kemudian Witantra yang masih berdiri di atas

pagar batu itu berkata, “Agni, jangan terlampau banyak bicara. Kita

selesaikan saja masalah ini dengan segera. Marilah kita pilih sebuah

arena yang dapat memberi kepuasan. Kau setuju?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak

Witantra. aku tidak akan berkelahi.”

“Lalu apa maksudmu datang kemari? Jangan begitu Agni. Kau

adalah kakak seorang Permaisuri. Jagalah nama baik Ken Dedes

yang kini bukan saja seorang Permaisuri seorang Akuwu, tetapi

Permaisuri dari seorang raja yang besar.”

Tetapi Mahisa Agni menggelengkan kepalanya sambil berkata

berulang kali, “Kau keliru Witantra, kau keliru.“

Dalam pada itu cantrik yang mengantarkannya menjadi bingung.

Ia tidak mengerti pembicaraan apakah yang sedang berlangsung.

Tetapi ketika ia mendengar Witantra menyebut Mahisa Agni sebagai

seorang kakak dari Permaisuri Sri Rajasa. hatinya menjadi

bertambah bingung. Tetapi kakak seorang Permaisuri itu kini sama

sekali tidak berbuat apapun di hadapan Witantra. Mahisa Agni

seakan-akan sama sekali tidak menanggapi tantangan Witantra

yang meliliti tubuhnya dengan pakaian yang serba putih, namun di

lambungnya tergantung sepasang pedang.

“Mahisa Agni adalah seorang yang luar biasa,“ berkata cantrik itu

di dalam hatinya, “ia dapat bertempur seperti seorang yang dapat

bermain sihir. Tanpa diketahui apa yang sudah dilakukannya, ia

mampu melepaskan senjata-senjata lawannya. Dan menurut

pengakuan Witantra sendiri, Mahisa Agni memang pernah

mengalahkannya. Tetapi di hadapan Witantra kini Mahisa Agni

seakan-akan seperti seorang yang sama sekali tidak berdaya.“

“Agni,“ berkata Witantra, “ayo, cabut senjatamu!“

Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak bersenjata karena aku

memang tidak ingin berkelahi Witantra.“

“Jangan omong kosong. Cepat, sebelum aku berkeputusan

membunuhmu.“

Tetapi sekali lagi Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak

bersenjata.“

Witantra mengerutkan keningnya. Tiba-tiba dicabutnya sebuah

pedang yang tergantung di lambungnya. Tanpa disangka-sangka

dilemparkannya pedang itu kepada Mahisa Agni, “Pakai senjata itu.“

Sekilas jantung Mahisa Agni disambar oleh keragu-raguan.

Pedang itu meluncur terlampau cepat, sehingga waktunya untuk

menimbang dan mengambil keputusan terlampau pendek. Tetapi

karena kedatangannya memang sudah dilambari oleh kebulatan

tekadnya untuk tidak membuat masalah baru, maka pada saatnya

Mahisa Agni telah mengambil sikap. Tangannya yang sudah

bergetar, sama sekali tidak bergerak untuk menangkap tangkai

pedang yang meluncur di sampingnya. Dipandanginya saja pedang

yang jatuh di tanah, beberapa langkah dari kudanya.

Sementara itu cantrik yang membawanya menjadi semakin

heran. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang dihadapinya.

Sejenak dipandanginya pedang yang tergolek di tanah itu dengan

mata yang hampir tidak berkedip.

“Kenapa Mahisa Agni tidak memungutnya?“ desisnya di dalam

hati.

Tetapi Mahisa Agni benar-benar tidak memungutnya. Ia masih

tetap duduk di punggung kudanya.

“Agni,“ berteriak Witantra, “kenapa tidak kau tangkap pedang

itu?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak

memerlukannya.”

“He,“ Witantra membelalakkan matanya, “kau benar-benar

sombong. Kau sudah menghina aku untuk kesekian kalinya. Kau

sangka kau sekarang dapat mengalahkan aku tanpa senjata.“

“Bukan begitu. Maksudku, aku tidak memerlukannya karena aku

memang tidak berhasrat sama sekali untuk berkelahi.”

“Persetan,“ Witantra menggeram, “aku akan segera mengambil

sikap. Aku akan membunuhmu. Melawan atau tidak melawan.”

“Kalau itu jalan yang paling baik yang dapat kau tempuh

Witantra, lakukanlah.“

Witantra terdiam sejenak. Direnunginya wajah Mahisa Agni

sejenak.

“Kau benar-benar tidak ingin berkelahi?“ bertanya Witantra.

“Sudah aku katakan, aku tidak berniat untuk berbuat apapun di

sini.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia membuka ikat

pinggang kulitnya yang tebal berikut pedangnya. kemudian

dilemparkannya ikat pinggang itu sambil berkata, “Aku memang

sudah menyangka, bahwa kau sekarang sudah menjadi semakin

masak.”

Mahisa Agni serasa telah terpukau oleh sikap Witantra itu.

Sejenak ia mematung. Detak jantungnya seakan-akan terhenti dan

justru karena itu ia menjadi sangat bingung.

Bukan saja Mahisa Agni yang kebingungan. Tetapi cantrik yang

datang bersamanya itu-pun sama sekali tidak mengerti apa yang

telah terjadi.

Sambil menggelengkan kepalanya ia menarik nafas dalam-dalam.

Sekilas ia melihat beberapa buah kepala yang tersembul dari balik

regol dan pagar-pagar batu. Agaknya beberapa orang dari

padukuhan terpencil itu lagi mengintip, apakah yang sebenarnya

sudah terjadi di depan halaman rumah Witantra itu. Apalagi

Witantra bagi orang-orang di sekitarnya dianggap sebagai seorang

tetua dari padukuhan yang kecil itu.

Mahisa Agni dan cantrik itu menjadi semakin berdebar-debar

ketika mereka melihat Witantra itu meloncat turun, dan perlahanlahan

melangkah maju mendekati Mahisa Agni.

“Turunlah Agni,“ berkata Witantra dalam nada yang jauh

berbeda, “aku tidak bersungguh-sungguh. Aku hanya ingin

membuktikan, apakah kau benar-benar telah berhasil meyakinkan

dirimu sendiri, bahwa selama ini kau telah bertindak dengan

tergesa-gesa.“

Sesuatu terasa bergejolak di dalam dada Mahisa Agni. Sejenak

ditatapnya Witantra dalam pakaian putihnya. Namun sejenak

kemudian ia meloncat turun dari kudanya.

Witantra yang sudah menjadi semakin dekat itu-pun segera

menangkap lengannya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya

ia berkata seperti kepada adiknya yang nakal, “Apakah kau sudah

menemukan jawab tentang Kebo Ijo. Mahisa Agni?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Sejenak ia menjadi

bingung sekali, namun kemudian ia menjawab, “Ya Witantra.

Sekarang aku sudah dapat melihat dan meyakinkan, apa yang

sebenarnya sudah terjadi. Aku datang kepadamu untuk

menyerahkan diri. Aku merasa bahwa aku sudah terlampau banyak

berbuat kesalahan.”

Witantra tertawa. Tetapi nada tertawanya-pun jauh berbeda

dengan nada tertawanya yang baru-baru saja diperdengarkannya

dari atas dinding batu.

“Marilah. Aku memang sengaja menunggumu. Aku ingin mengerti

bagaimana kau sekarang. Apakah kau masih juga diburu oleh

ketergesa-gesaanmu seperti saat-saat itu.”

“Darimana kau tahu bahwa aku akan datang kemari? Dan dari

mana kau tahu, bahwa aku datang dengan penyesalan?”

Witantra tertawa pula. Kemudian katanya, “Marilah. Masuklah.”

Mahisa Agni berdiri termangu-mangu, sehingga Witantra

menariknya untuk melangkah memasuki regol. Ditepuknya pula

pundak cantrik yang datang bersama Mahisa Agni itu sambil

berkata, “Jangan bingung. Marilah, kita masuk ke dalam.”

Mahisa Agni-pun melangkahkan kakinya tanpa sesadarnya.

Namun sekali lagi ia bertanya, “Darimana kau tahu bahwa aku akan

datang Witantra?”

Witantra mengangkat keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia

berjalan saja langsung ke pendapa.

“Marilah kita masuk,“ desisnya.

Mahisa Agni dan cantrik itu-pun kemudian mengikatkan kudanya

pada sebatang pohon di halaman. Kemudian dengan ragu-ragu

mereka berjalan di belakang Witantra naik ke pendapa.

“Kita masuk ke pringgitan.“

Mahisa Agni tidak menyahut. Ia berjalan saja di belakang

Witantra bersama cantrik itu.

Sejenak kemudian pintu pringgitan itu-pun terbuka. Witantra

segera mempersilahkan keduanya masuk ke dalam.

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu sejenak. Dari luar, pringgitan itu

tampak agak gelap, sehingga ia tidak segera dapat melihat dengan

jelas, apa yang ada di dalamnya.

“Masuklah,“ Witantra mempersilahkan.

Mahisa Agni-pun kemudian melangkah masuk. Ia tertegun ketika

ia melihat seseorang telah lebih dahulu duduk di sudut pringgitan.

Terasa darah Mahisa Agni hampir terhenti, ketika ia mengenal

siapakah yang duduk di pringgitan itu. Sejenak ia berdiri mematung

namun kemudian ia membungkukkan kepalanya dalam-dalam

sambil berkata lemah, “Jadi inikah sebabnya maka Witantra sudah

mengetahui semuanya?”

Panji Bojong Santi yang duduk di pringgitan itu, menganggukangguk

sambil tersenyum. Jawabnya, “Ya ngger. Aku ternyata

datang lebih dahulu.”

Cantrik yang datang bersama Mahisa Agni itu-pun menganggukangguk

pula. “Hem,“ ia berdesah, “aku menjadi bingung. Kepalaku

serasa akan terlepas dari leher ini.”

“Duduklah,“ Panji Bojong Santi mempersilahkan.

Mahisa Agni dan cantrik itu kemudian duduk berhadapan dengan

Panji Bojong Santi. Witantra-pun duduk pula di antara mereka.

“Aku menyusul kalian,“ berkata Panji Bojong Santi. “Bagaimanapun

juga hatiku selalu berdebar-debar sepeninggal angger.

Meskipun menurut perhitunganku, Witantra tidak akan mudah

terbakar oleh dendam, namun aku ingin juga melihat, apakah

sebenarnya demikian.“ Panji Bojong Santi berhenti sejenak,

“Ternyata bahwa aku datang lebih dahulu.“ Orang tua itu

mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu, “Sebenarnyalah aku

memang ingin mendahului, sehingga aku memilih jalan lain yang

lebih pendek meskipun agak sulit. Tetapi agaknya kalian berhenti di

perjalanan, ternyata kini sekarang kalian sampai.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, “Ya, kami memang

berhenti di perjalanan. Bahkan kami terpaksa kembali ke kota

mengantarkan serombongan pengungsi dari Kediri.”

“Kenapa kalian harus mengantarkannya?“

Mahisa Agni menceriterakan sekilas tentang orang-orang Kediri

yang saling bekejaran.

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Semula aku menjadi cemas, apakah cantrik ini tidak ingat lagi jalan

yang harus kalian lalui, sehingga kalian tersesat.”

“Tentu tidak,“ sahut cantrik itu, “aku adalah orang yang tajam

ingatan. Sekali aku mengenal jalan ke mana-pun dan betapapun

jauhnya, aku akan ingat seumur hidupku.“

Panji Bojong Santi tersenyum, “Bagus, kau adalah seorang

penunjuk jalan yang baik.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak

menjawab.

Dalam pada itu Mahisa Agni berkata kepada Witantra, “Aku

sudah menjadi cemas atas sambutanmu. Aku kira aku akan

dihadapkan pada keadaan tanpa pilihan.“

Witantra tertawa. Katanya, “Aku sudah memperhitungkannya

Agni. Namun aku masih ingin meyakinkan, bahwa kau sekarang

sudah menjadi semakin matang. Kau tidak mudah lagi dibakar oleh

goncangan-angan perasaanmu.“

“Aku mengerti Witantra,“ sahut Mahisa Agni, “karena itulah maka

aku datang kemari. Aku ingin minta maaf kepadamu, bahwa aku

telah ikut serta, membuat kau kehilangan kesempatan

mempertahankan kebenaran yang kau yakini.”

“Saat itu kau mempunyai keyakinan yang berbeda.”

“Dan agaknya aku telah terjebak dalam perangkap tanpa aku

ketahui,“ jawab Mahhisa Agni, “aku memerlukan waktu untuk

melihat kebenaran yang kau pertahankan saat itu. Tetapi agaknya

aku terlampau lambat, sehingga keadaan sekarang sudah menjadi

jauh berbeda.”

“Aku mengerti Agni. Meskipun aku berada jauh dari kota, tetapi

aku selalu mengikuti perkembangan yang ada. Kini kau tidak akan

sampai hati untuk mengusik kedudukan tertinggi di Tumapel yang

kemudian menyebut dirinya Singasari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Singasari berkembang demikian pesatnya.“ Witantra berkata

selanjutnya, “sehingga dengan demikian, maka kita-pun

menganggap bahwa orang yang demikian, yang dapat memimpin

pemerintah dengan baik itu, sangat diperlukan.“

Mahisa Agni masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Betapapun besar kesalahan yang telah diperbuatnya untuk

mencapai tingkat yang didudukinya sekarang, namun Singasari telah

menerimanya sebagai seorang perkasa yang memberi harapan.”

“Ya,“ sahut Mahisa Agni. “itulah sebabnya aku lebih dahulu

datang kepadamu. Aku lebih mudah minta maaf kepadamu,

daripada memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan. Aku tidak

dapat berbuat apa-apa. Selain Singasari memang membutuhkannya,

adikku-pun memerlukannya.“

Witantra tersenyum. “Aku tahu.”

“Karena itu, aku menenyerahkan diriku kepadamu. Apapun yang

akan kau lakukan. Aku benar-benar ingin menebus kesalahan itu,

tetapi aku tidak dapat melakukannya atas sumber kesalahan itu

sendiri.”

“Jangan kau sesalkan Agni. Kau boleh menyesal, tetapi jangan

menjadi duri yang tajam di dalam hidupmu. Apa yang kau lakukan

itu sebenarnya adalah akibat yang wajar dari perangkap yang sudah

dipersiapkan baik-baik. Aku kagum atas kematangan persiapan yang

hampir tidak dapat dihindari lagi oleh setiap orang yang memang

dikehendaki. Adalah luar biasa pula ketajaman perasaanmu,

sehingga kini kau dapat menemukan dirimu sendiri di dalam

perangkap yang sudah sekian lama menjeratmu.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berkata,

“Jadi apakah sudah selayaknya apabila aku cukup berdiam diri,

menyesal dan mengaguminya saja.”

“Sementara Agni. Aku-pun sementara ini hanya dapat berbuat

demikian, semata-mata untuk kepentingan Singasari.”

Mahisa Agni masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini Ia

berhadapan dengan seseorang yang ternyata berpandangan sangat

jauh. Dengan demikian maka Mahisa Agni hanya dapat

menundukkan kepalanya sambil berkata, “Kau benar-benar berjiwa

besar Witantra.”

“Jangan memuji,“ jawab Witantra, “seperti kau juga. Kau juga

tidak berbuat apa-apa. Aku hanya kehilangan adik seperguruanku.

Kau telah kehilangan pamanmu oleh orang yang sama menurut

perhitunganmu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Guru sudah mengatakan kepadaku. Bahkah sebelum kau

menemuinya, meskipun guru tidak dapat menelusur seperti yang

kau lakukan. Baik guru mau-pun aku sendiri, akhirnya mengambil

kesimpulan, bahwa kami hampir yakin bahwa pembunuh itulah yang

mempunyai kecakapan yang luar biasa, sehingga seakan-akan kami

sekedar golek yang telah diaturkan, apa yang harus kita lakukan.”

“Ya. Karena itu, marilah kita beri ia kesempatan. Untuk

kepentingan Singasari yang besar, jauh lebih besar dari

kepentingan-kepentingan kita pribadi.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah satusatunya

kemungkinan yang dapat kita lakukan sekarang. Meskipun

demikian, aku akan berusaha untuk tidak terbakar oleh keadaan.

Kalau aku terlampau sering melihat atau mendengar berita tentang

namanya, maka rasa-rasanya hati ini masih juga tergelitik. Karena

itulah, maka apabila kau tidak berkeberatan Witantra, aku akan

tinggal bersamamu di sini.”

“He,“ Witantra mengerutkan keningnya, “jangan bermimpi Agni.”

Sebelum Mahisa Agni menjawab. Panji Bojong Santi menyahut,

“Jangan ngger. Jangan menjauhkan diri dari pergaulan seperti

Witantra. Seandainya Witantra tidak didorong oleh hubungan tata

kerjanya, di mana saat itu ia menjadi seorang Panglima Pasukan

Pengawal yang terkalahkan di arena, maka aku tidak akan

mengijinkannya pergi.”

Tanpa disadarinya terasa dada Mahisa Agni berguncang. Namun

Panji Bojong Santi melanjutkannya, “Bukan maksudku mengungkat

lagi apa yang sudah terjadi. Tetapi aku hanya sekedar

menceriterakan alasan yang kuat bagi Witantra untuk menjauhi

kota. Tetapi hal itu tidak terjadi atasmu. Kau masih tetap seperti

keadaanmu semula. Tidak seorang-pun yang tahu, apa yang

sebenarnya sudah terjadi dan apalagi yang langsung menyangkut

kau. Karena itu tidak selayaknya kau berada di tempat yang sepi

ini.“ Panji Bojong Santi terdiam sejenak, lalu katanya kemudian,

”Anakmas Mahisa Agni. Menurut pendengaranku, gurumu mPu

Purwa benar-benar sudah tidak dapat diketahui lagi, di mana ia

berada. Hatinya benar-benar patah sejak puterinya hilang. Hanya

sekali-sekali saja ia menampakkan diri seolah-olah begitu saja ia ada

tetapi juga begitu saja ia lenyap. Karena itu, kau adalah saluran

pengabdiannya. Kalau kau bersembunji seperti Witantra, maka garis

pengabdian gurumu akan terputus.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat

mengerti arti kata-kata Panji Bojong Santi. Karena itu tanpa

disengajanya ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata

seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “Jadi, meskipun aku tahu

apa yang sebenarnya telah terjadi, namun aku tidak mempunyai

kemampuan untuk berbuat apa-apa.”

“Bukan begitu,“ sahut Panji Bojong Santi, “kau dapat berbuat

banyak. Tetapi tidak dengan tergesa-gesa.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah. kalau kau ingin menenteramkan hatimu, tinggallah di sini

sejenak. Sehari, dua hari. Tetapi tidak untuk seterusnya.”

“Terima kasih. Aku akan mencoba mencari-cari di sini. Di dalam

ketenangan, mungkin aku menemukan yang aku cari.”

Panji Bojong Santi mengangguk-angguk sambil tersenyum.

“Baiklah. Kau akan mendapat tempat yang kau harapkan di sini.”

Demikianlah maka Mahisa Agni memutuskan untuk tinggal

sementara di padukuhan yang sepi itu. Justru Panji Bojong Santi lah

yang lebih dahulu kembali ke padepokannya.

Di padukuhan yang sepi itu Witantra bersama Mahisa Agni

melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di Singasari.

Menurut perhitungan mereka Ken Arok pasti akan berhasil

menguasai Singasari dan Kediri dengan baik, sehingga berkata

Witantra kemudian, “Mahisa Agni. Aku kira kita tidak akan mendapat

kesempatan sama sekali untuk berbuat sesuatu atas Sri Rajasa. Kita

tahu bahwa seluruh Singasari memerlukannya. Kalau kita mencoba

untuk mengetrapkan rasa keadilan kita atasnya, maka kita akan

berkhianat terhadap Tumapel yang kini sudah berkembang menjadi

Singasari ini.”

“Jadi dengan demikian kita sudah membiarkan kejahatan

berlangsung tanpa hukuman.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Di sinilah kita

dihadapkan pada kenyataan yang tidak kita harapkan itu. Kita tidak

dapat memilih lagi. Kita sadar bahwa kita seakan-akan dihadapkan

pada suatu neraca yang sudah berat sebelah.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi,“ tiba-tiba Mahisa Agni berkata lemah, “apakah kita tidak

akan terlambat untuk berbuat sesuatu di hari-hari mendatang? Hari

depan Singasari bukanlah hasil kerja sehari dua hari. Apa yang akan

berkembang di masa mendatang. pasti sudah mulai bergetar hari

ini.”

“Apakah yang kau maksudkan?”

Mahisa Agni menarik nafas. Katanya. “Sebenarnya aku merasa,

betapa kerdilnya jiwaku dibanding dengan jiwamu. Aku tidak pernah

dapat melepaskan kepentingan-kepentingan pribadiku.”

“Katakan.”

“Witantra,“ berkata Mahisa Agni tersendat-sendat. “Sebuah

pertanyaan selalu mengganggu aku. Siapakah yang akan

melanjutkan takhta Singasari ini kemudian kalau kita sudah

bersepakat untuk membiarkan Ken Arok memerintah, karena ia

benar-benar telah berhasil membuat Singasari menjadi besar,

sehingga kita telah melepaskan segala macam tuntutan atas segala

perbuatannya itu?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Baginya siapa yang akan

menggantikan Ken Arok tidak begitu banyak menjadi persoalan.

Yang penting baginya adalah, orang itu dapat memerintah dengan

baik. Membuat Singasari bertambah maju dan bertambah besar.

Tidak saja sebagai suatu negara di hadapan lingkungannya, tetapi

juga bagi rakyatnya sendiri. Singasari harus menjadi negara yang

memberikan kesejahteraan yang merata. Tetapi memang agak

berbeda bagi Mahisa Agni. Mahisa Agni adalah saudara angkat

Permaisuri Singasari sekarang. Namun demikian Witantra

menjawab, “Mahisa Agni. Aku kira bagimu-pun tidak ada perbedaan,

apakah sekarang yang memegang kekuasaan masih Tunggul

Ametung atau sudah berpindah tangan pada Ken Arok. Bahkan

secara jujur harus diakui. Tunggul Ametung mendapatkan Ken

Dedes dengan cara yang tidak wajar, sehingga hampir saja aku

digantung di alun-alun karena aku tidak mau ikut serta. Sedang Ken

Arok bagi Ken Dedes adalah orang lain sesudah Wiraprana yang

dapat menjerat hatinya.“

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi, kebencianmu kepada Ken Arok itu-pun wajar, karena kau

menganggap bahwa Ken Arok telah membunuh pamanmu,“

Witantra berhenti sejenak, kemudian. “Bukankah begitu?“

“Ya,“ suara Mahisa Agni hampir tidak terdengar, namun

kemudian, “tetapi lain Witantra. Ada sesuatu yang harus

diperhitungkan. Ken Arok ternyata mempunyai seorang isteri yang

lain. Iparmu itu.“

Witantra menarik nafas dalam-dalam.

“Sudah tentu hal itu harus dipertimbangkan.”

“Maksudmu, kau cemas kalau takhta kelak akan jatuh ke

keturunan Ken Umang?”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Adalah kebetulan sekali bahwa

Ken Umang adalah adik ipar Witantra.

“Kau tidak usah ragu-ragu. Aku dan isteriku tidak dapat

menyetujui kelakuan anak itu. Selain itu, aku dapat mengerti

kecemasan yang selalu menghantuimu.“ Witantra terdiam sejenak.

Lalu, “Tetapi bukankah Anusapati sudah diangkat menjadi Pangeran

Pati?”

“Memang Anusapati harus menjadi Pangeran Pati.”

“Dan ia sudah Pangeran Pati.”

“Tetapi anak itu masih terlampau kecil. Masih banyak

kemungkinan yang dapat terjadi.“

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku melihat sendiri apa yang telah terjadi. Sikap Ken Arok

sangat meragukan. Ia terlampau berat sebelah.”

“Maksudmu?”

“Anusapati dan Tohjaja.”

“Kenapa?”

“Emban cinde emban siladan. Ken Arok terlampau memanjakan

Tohjaya dan dapat dikatakan membenci Anusapati. Sebagai manusia

aku dapat mengerti, karena Anusapati itu bukan anaknya. Anusapati

sudah berada di dalam kandungan ketika Ken Dedes diambilnya

menjadi isterinya.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi sebagai manusia,“ bekata Mahisa Agni selanjutnya, “akupun

merasa tidak senang. bahwa ke manakanku itu diperlakukan

tidak adil. Aku tidak tahu, bagaimana tanggapanmu mengenai

masalah ini karena aku tahu, Tohjaya adalah kemenakanmu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ken

Umang seolah-olah sudah terpisah dari keluarga kami. Ketika kami

pergi dari Tumapel adik itu sudah berselisih dengan kakak

perempuannya. Sehingga seolah-olah mereka saling berjanji untuk

tidak berhubungan lagi di saat-saat mendatang.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi. apa yang akan dapat kau lakukan?”

“Aku tidak tahu,“ jawab Mahisa Agni.

Mereka-pun kemudian saling berdiam diri. Tetapi pertanyaan itu

tidak dapat mereka singkirkan dari dada mereka. Bukan hanya

dalam saat mereka berbincang. Tetapi setiap saat. Meskipun hampir

setiap saat keduanya berbicara, maka akhirnya mereka akan sampai

kepada masalah itu. Apa yang dapat mereka lakukan?

“Mahisa Agni,“ berkata Witantra pada suatu saat, “kita tidak akan

dapat menemukan jawaban di masa-masa dekat. Tetapi apapun

yang akan terjadi, kau harus menyiapkan Anusapati untuk

menghadapi segala kemungkinan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepadanya. Jawabnya, “Itu

memang sudah terpikir olehku. Menilik tuntunan yang didapatnya

sekarang. Anusapati tidak akan dapat menjadi orang yang pantas

untuk menjadi seorang raja yang akan menggantikan Ken Arok. Ia

akan tenggelam sama sekali dalam arus kebesaran nama ayah

tirinya, sehingga ia justru akan mendapat banyak kesulitan. Rakyat

pasti akan menganggapnya tidak mampu untuk menggantikan Ken

Arok. Dalam keadaan yang demikian itulah, maka Tohjaya menjadi

semakin masak untuk mendesak kakaknya.“

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Lalu,” katanya, “apakah kau akan menuntunnya langsung?”

“Aku cemas, bahwa aku tidak akan mendapatkan ijin.”

Witantra tidak menjawab. Tetapi kepalanya masih teranggukangguk.

“Witantra,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku tidak tahu

apakah jalan yang terlintas di kepalaku ini jalan satu-satunya yang

paling baik. Aku akan mencari kesempatan, apabila Anusapati

menjadi semakin dewasa, untuk dengan diam-diam menuntunnya.

Aku akan membuat Anusapati seorang anak muda yang memiliki

kemampuan yang tangguh di dalam olah kanuragan, sehingga

apabila datang saatnya, ia bukan lagi seorang yang dungu duduk

kebingungan di atas takhta dan disoraki oleh rakyat Singasari yang

kecewa kepadanya, apalagi yang menuntunnya turun dari

kedudukannya, karena ia dianggap tidak mampu sama sekali.”

Witantra tidak segera menyahut. Tetapi kepalanya teranggukangguk.

Kadang-kadang ia mengerutkan keningnya, namun kadangkadang

sepercik cahaya memancar di matanya.

Witantra dapat mengerti apa yang terlintas di dalam anganangan

Mahisa Agni. Umur Anusapati dan Tohjaya yang tak terpaut

banyak memang dapat menimbulkan kecemasan. Menurut

pertimbangan Mahisa Agni, Anusapati bukan putera Sri Rajasa

sendiri seperti Tohjaya, sehingga memang mungkin sekali

perubahan keputusan Sri Rajasa itu terjadi, meskipun dengan likuliku

yang sangat panjang. Sri Rajasa tidak akan kekurangan akal

untuk melakukan niatnya. Apalagi kini ia memegang kekuasaan.

Selagi ia masih seorang perwira yang tidak begitu dekat dengan

Tunggul Ametung. ia mampu menjadikan orang-orang yang

memimpin Tumapel seperti tidak mempunyai sikap dan pendirian

sendiri. Ken Arok mampu melenyapkan Tunggul Ametung. setelah ia

berhasil membunuh Empu Gandring yang diperkirakannya akan

menjadi duri di sepanjang hidupnya. Kemudian membuang bekas

perbuatannya dengan mengorbankan Kebo Ijo dan memperalat

Mahisa Agni untuk mempertahankan kesalahan Kebo Ijo.

“Ken Arok memang mempunyai kecakapan yang luar biasa,“

desis Witantra di dalam hatinya, “atau memang kamilah yang

terlampau dungu.”

Witantra mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Mahisa Agni

bertanya, “Bagaimana pendapatmu Witantra?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. kau benar.

Memang banyak sekali kemungkinan dapat terjadi.”

“Apalagi pada Anusapati,“ berkata Mahisa Agni pula, “ia seakanakan

sebatang kara di dalam istana. Selagi Tunggul Ametung yang

dikelilingi oleh pengawal-pengawal yang terpercaya dapat

dilenyapkannya tanpa bekas, karena Kebo Ijo terjerat di dalam

jaring-jaringnya. Bukan saja Kebo Ijo, tetapi aku juga.”

“Ya, aku mengerti,“ sahut Witantra.

“Karena itu, aku akan melakukannya dengan diam-diam. Kalau

hal itu nanti pada suatu saat diketahui oleh Ken Arok. maka

Anusapati pasti akan terancam. Namun apabila anak itu dibiarkan

sesuai dengan perkembangannya sekarang, di bawah asuhan orangorang

yang sama sekali memang tidak dapat dipercaya, atau

sengaja atas perintah Sri Rajasa membuat Anusapati tidak berdaya,

maka ia akan mengalami siksaan batin di hari kemudian. Yang lebih

parah lagi adalah, ia akan hilang dari istana sebelum ia dewasa.”

“Ya,“ jawab Witantra, “tetapi caranya itu sangat berbahaya.”

“Aku mempunyai kesempatan yang cukup untuk berada di istana.

Aku dapat berada di dekat Anusapati dengan alasan apapun. Kelak

apabila Anusapati menjadi semakin dewasa, tugas itu akan menjadi

semakin mudah, karena Anusapati sudah dapat keluar dari istana di

saat-saat tertentu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah alasanmu

untuk selalu berada di dekat Anusapati?”

“Padang Karautan sudah menjadi semakin baik. Aku berharap

untuk dapat menjadi seorang pegawai istana, atau pegawai apapun

di kota. Mungkin aku akan mendapat pekerjaan di luar istana, di

sudut-sudut kelengkapan kerja yang lain. Namun aku dapat tinggal

di dalam istana, meskipun di sudut yang paling jauh.”

Witantra masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Memang mungkin hal itu kau lakukan atas pengaruh

Tuanku Permaisuri, sehingga kau dapat tinggal di dalam.

Seandainya tidak ada Permaisuri, orang yang tidak mempunyai

tempat tinggal di kota seperti kau, akan di tempatkan di barak-barak

seperti para prajurit-prajurit muda.”

“Ya. Apalagi aku berada di istana untuk kepentingan anaknya.”

“Apa kau akan memberitahukannya kepada Ken, Dedes?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia

menggeleng, “Untuk sementara lebih baik aku tidak mengatakannya

supaya hidupnya tidak kian tersiksa.“

Witantra tidak menjawab, tetapi ia merenungkan rencana Mahisa

Agni. Memang Mahisa Agni tidak akan dapat merubah keadaan

dalam waktu yang singkat. Ken Arok membuat Singosari seperti

sekarang ini dengan perencanaan yang benar-benar masak,

meskipun seorang diri. Kini apabila Mahisa Agni akan menarik

kembali kekuasaan dari orang lain kecuali Ken Dedes, ia-pun harus

mempergunakan rencana dan perhitungan yang matang.

Mereka tidak segera dapat memutuskan, apakah rencana itu

memang rencana yang paling baik. Mereka memerlukan dua tiga

hari untuk merenungkan, sehingga pada suatu saat Wiantra

berkata, “Mahisa Agni, sampai saat ini aku tidak melihat cara lain

yang lebih baik dari rencana-rencanamu. Karena itu, aku kira kau

dapat mengetrapkannya untuk sementara. Apabila pada suatu saat

kita melihat kemungkinan lain, baiklah kita pertimbangkan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku selalu

mengharap pendapatmu Witantra.“

“Aku akan membantumu Agni. Bukan sekedar saat ini, tetapi di

saat-saat mendatang. Aku harap aku mendapat kesempatan untuk

berbuat sesuatu yang dapat melancarkan rencanamu itu.”

“Terima kasih Witantra. Tetapi yang paling penting bagiku, aku

dapat bekerja dengan tenang, karena aku sudah minta maaf

kepadamu atas segala kesalahanku. Apalagi kau kini menyatakan

bahwa kau akan membantuku. Aku tentu akan sangat berterima

kasih. Pekerjaan ini tidak akan selesai dalam waktu sehari dua hari,

sebulan dua bulan. Mungkin aku memerlukan waktu lebih dari

sepuluh tahun. Dan waktu yang sepuluh tahun itu harus kita telan

tanpa dapat mengelakkan diri lagi. Apa yang ada dan apa yang

berlangsung. Kecuali kalau tiba-tiba saja ada perubahan keadaan

yang mengguncang tanah ini.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya pula, “Kau benar

Agni. Kau memang memerlukan waktu yang panjang. Selama ini

kau akan melakukan tugas yang berbahaya, bukan saja bagimu

tetapi bagi Anusapati juga.”

“Aku menyadari Witantra. tetapi seperti katamu, untuk

sementara jalan itulah yang dapat kita tempuh.“

“Tetapi hati-hatilah. Jangan tergesa-gesa. Kau harus membuat

perencanaan yang baik, cermat dan meyakinkan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukan kepalanya. Ia menyadari

bahwa kata-kata Witantra itu bukan sekedar peringatan. Tetapi

Witantra melihat, bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang

terlampau sulit.

“Aku mengerti Witantra. Mudah-mudahan Anusapati sendiri

membantu rencana itu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Memang ia

sama sekali belum melihat cara lain yang lebih baik.

Dengan demikian, maka keduanya memutuskan untuk

melaksanakan rencana itu. Apabila datang saatnya, Witantra-pun

tidak berkeberatan untuk menyempurnakan ilmu Anusapati,

sehingga menurut bayangan Mahisa Agni, di dalam diri anak itu

akan luluh tiga sumber ilmu dari tiga perguruan, mPu Purwa, mPu

Sada dan Panji Bojong Santi.

“Mudah-mudahan anak itu dapat menjadi anak yang mendekati

kesempurnaan,“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Dengan keputusan itu, maka Mahisa Agni-pun kemudian segera

minta diri. Ia ingin mencari kemungkinan-kemungkinan yang dapat

ditempuhnya untuk melaksanakan rencananya.

Ternyata, baik Mahisa Agni mau-pun Witantra sama sekali sudah

tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk mengguncang

kedudukan Ken Arok. betapa mereka mengetahui kesalahan yang

tersimpan di dalam diri raja Singasari itu. Mereka ternyata

mementingkan masalah yang jauh lebih besar dari masalah-masalah

pribadi mereka sendiri. Kini Sri Rajasa benar-benar diperlukan oleh

Singasari.

“Apakah kau akan kembali bersama aku, atau kau akan tinggal di

sini,“ bertanya Mahisa Agni kepada cantrik yang mengantarkannya.

“Sebenarnya aku lebih senang tinggal di sini,“ jawab cantrik itu.

“Aku kira bukan begitu,“ sahut Witantra, “kau malas melakukan

perjalanan ke mana-pun. Jadi di mana-pun kau berada, kau merasa

bahwa tempat itu lebih baik dari tempat-tempat yang lain.”

Cantrik itu tertawa. “Kau menebak tepat,“ katanya.

“Jadi?“ bertanya Mahisa Agni.

“Aku akan kembali ke kota. Aku akan bertanya di mana para

pengungsi dari Kediri itu di tempatkan.“ ia berhenti sejenak. Lalu,

“bukankah begitu?”

“Ah,“ Mahisa Agni berdesah.

“Marilah kita bersiap-siap,“ berkata cantrik itu kemudian, “kapan

kita berangkat?”

“Besok pagi-pagi buta, supaya kami tidak usah bermalam di

perjalanan.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikianlah, di

pagi-pagi buta keesokan harinya, Mahisa Agni dan cantrik kawan

seperjalanannya itu-pun sudah siap untuk berangkat. Namun sudah

barang tentu ia tidak lupa untuk minta diberi bekal ketan ireng dan

serundeng kelapa muda.

“Supaya aku tidak kelaparan di sepanjang jalan,“ berkata cantrik

itu.

Witantra tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya,

“Bukankah kau kadang-kadang harus berpuasa sampai beberapa

hari tanpa makan apapun kecuali minum dan sebuah pisang emas

sehari.”

“O, tentu berbeda. Kalau aku memang sengaja melakukannya,

jangankan sepekan. Sebulan aku tidak akan merasa lapar.“ ia

berhenti sejenak, “tetapi kali ini aku tidak sengaja berpuasa. Apa

salahnya aku membawa ketan ireng dan serundeng kelapa muda?”

“Tentu tidak ada salahnya,“ jawab Witantra, “Nah begitulah,“

sahut cantrik itu sambil menganggukkan kepalanya, sementara

Mahisa Agni tersenyum saja melihat kelakuannya.

“Bekal ini tidak kalah pentingnya dengan pedang di lambungku,“

lalu, “apakah kita sudah siap untuk berangkat.”

“Aku sudah siap sejak tadi.”

“O, “cantrik itu mengerutkan keningnya, “kalau begitu marilah

kita minta diri. Sebentar lagi matahari akan naik di atas cakrawala.”

Keduanya-pun kemudian minta diri kepada Witantra suami isteri.

Mereka meninggalkan padukuhan yang sepi itu. Namun agaknya

Mahisa Agni menemukan pergolakan yang dahsyat di dalam

dadanya, justru di padukuhan yang sepi dan tenteram.

Sejenak kemudian maka keduanya-pun segera memacu kuda

mereka, sebagai jalan masih memungkinkan. Apabila mereka

sampai ke daerah yang semakin sulit, maka perjalanan mereka akan

terhambat.

Setiap kali cantrik itu masih harus mengusap dahinya yang

dibasahi oleh embun. Kadang-kadang ia memandang langit yang

kemerah-merahan di ujung Timur. Semakin lama semakin terang.

Ujung padi di sawah yang mulai merunduk tampak seolah-olah

masih tidur dengan nyenyaknya. Meskipun gemeretak kaki-kaki

kuda melintas dekat di atas bulir-bulir yang merunduk itu, namun

ujung-ujung batang padi itu sama sekali tidak bergerak.

“Sebentar lagi matahari akan naik,“ desis cantrik itu.

“Dan kita akan sampai ke hutan perdu.”

“Tetapi kita sudah dapat melihat hambatan-hambatan di tengah

perjalanan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak

menjawab.

Kuda-kuda mereka itu-pun meluncur dengan kencangnya di atas

jalan persawahan. Namun mereka akan segera sampai ke daerah

yang tidak digarap oleh tangan.

Dengan demikian maka perjalanan mereka mulai terhambat.

Selain dengan itu, maka matahari-pun mulai memanjat di kaki

langit. Semakin lama semakin jelas, dan warna yang merah-pun

menjadi kekuning-kuningan.

Tidak ada masalah apapun yang mereka hadapi di perjalanan.

Ketika matahari mulai tergelincir cantrik itu menyuapi mulutnya

dengan ketan ireng, selagi kuda-kuda mereka beristirahat sejenak,

minum air jernih di belumbang kecil dan makan rerumputan di

sekitarnya.

“Kau tidak makan?“ ia bertanya kepada Mahisa Agni.

“Ya,“ sahut Mahisa Agni. Tetapi ia tidak dapat makan ketan

sebanyak cantrik itu, sebab jika demikian perutnya akan menjadi

pedih.

Mereka memasuki kota setelah menyelesaikan perjalanannya

hampir sehari penuh. Tiba-tiba saja Mahisa Agni teringat, orangorang

Kediri yang telah ditolongnya. Di antaranya terdapat seorang

gadis yang telah membuat suatu pahatan yang tipis di dinding

hatinya. Seorang gadis dengan matanya yang cerah dan wajahnya

yang luruh seperti wajah adik angkatnya, Ken Dedes.

“He, aku akan singgah di tempat penampungan orang-orang

Kediri sejenak.”

Cantrik itu mendeham. Katanya, “Mereka sudah jelas tidak

mengalami gangguan apapun. Biarkan saja mereka berada di

penampungan mereka.”

“Aku ingin melihatnya sebentar. Barangkali mereka memerlukan

sesuatu.”

“Apa misalnya? Mereka sudah tidak kekurangan apa-apa.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab.

“Mereka tidak akan kekurangan makan karena Singasari

lohjinawi. Pakaian juga tidak akan kekurangan. Apalagi?”

“Ah kau,“ desis Mahisa Agni, “seseorang tidak hanya tergantung

pada sandang dan pangan saja.”

“Papan-pun cukup. Tempat penampungan itu cukup luas?”

“Hanya itu?” tiba-tiba Mahisa Agni bertanya, “hanya sandang,

pangan dan papan? Sesudah itu, tidak ada apa-apa lagi?”

“He,“ cantrik itu mengerutkan keningnya.

“Buat apa kau kadang-kadang membaca kitab-kitab Kidung atau

kakawin atau apapun? Apakah kau tidak pernah mendengarkan

bunyi-bunyian dan melihat tari-tarian di banjar?”

“Eh, tentu.“

“Itu juga suatu kebutuhan,“ berkata Mahisa Agni.

“Aku tahu sekarang. Kau akan mengatakan bahwa kebutuhan itu

tidak sekedar kebutuhan lahiriah. Tetapi juga kesejahteraan

rokhaniah. Begitu?”

“Hebat juga kau.”

Cantrik ikut tersenyum. Namun kemudian ia mengerutkan

keningnya sambil berkata, “Tetapi aku kira masih ada masalah

lahiriah yang tidak kalah pentingnya.”

“Apa?”

“Kau sudah terlibat dalam nalurimu sebagai manusia dewasa.

Seperti malam dan siang. Langit dan bumi. Bulan dan matahari.”

“Ah,“ desah Mahisa Agni.

“Itu wajar. Wajar sekali. Kau jangan membiarkan dirimu ditelan

oleh usia tanpa arti.”

“Kau sendiri bagaimana?”

Cantrik itu tiba-tiba tertawa. Keras sekali sehingga satu dua

orang yang berjalan di pinggir jalan terhenti dan memandang kedua

orang berkuda yang sudah mulai samar-samar.

“Marilah,“ berkata cantrik itu, “kita bermalam di tempat

penampungan.”

“Tidak. Nanti kita lanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa

patok lagi ke padepokan Panji Bojong Santi.“

“ O. ya.“ cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Keduanya-pun kemudian singgah sejenak di tempat

penampungan orang-orang Kediri. Tanpa kesulitan apapun mereka

segera dapat menemukan orang-orang yang mereka cari.

Agaknya mereka sudah mulai dapat menyesuaikan diri mereka

dengan keadaan di tempat penampungan yang cukup baik. Cukup

makan dan pakaian. Sedang tempat-pun cukup pula, meskipun agak

terlampau berjejal-jejal.

“Aku akan sering berkunjung kemari,“ berkata Mahisa Agni.

“O. kami akan senang sekali menerima,“ berkata orang-orang

Kediri itu.

“Aku juga,“ berkata cantrik itu pula. “Apakah, kalian akan

menerima dengan senang hati pula?”

“Tentu.”

Cantrik itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Tetapi mereka hanya sebentar berada di tempat itu. Mereka

segera minta diri dan kembali ke padepokan Panji Bojong Santi.

Dengan berterus terang Mahisa Agni mengatakan, bahwa ia telah

memutuskan suatu rencana yang disetujui oleh Witantra. Ia

berharap bahwa ia akan dapat melaksanakan rencana itu tanpa

mengganggu perkembangan Singasari. Tanpa mengganggu

kedudukan dan usaha Sri Rajasa untuk menjadikan Singasari sebuah

negeri yang besar dan kuat.

“Mudah-mudahan kau berhasil Agni,“ berkata Panji Bojong Santi.

Di malam berikutnya Mahisa Agni bermalam di padepokan itu.

Namun ia hampir-hampir tidak dapat tidur sama sekali. Ia harus

mengakui kelebihan Ken Arok dari dirinya sendiri, dari Witantra dan

bahkan dari semua orang di Singasari. Ken Arok membuat rencana

seorang diri, dilaksanakan seorang diri dan akhirnya berhasil dengan

cemerlang. Tetapi, ia harus membuat rencananya yang jauh lebih

sederhana bersama beberapa orang sekaligus, justru orang-orang

yang memiliki kemampuan terpuji.

“Tetapi apaboleh buat,“ desis Mahisa Agni, “mungkin keadaan

memang sangat membantunya. Tetapi mungkin juga karena Ken

Arok memang orang yang luar biasa. Bukan saja kemampuan

jasmaniahnya, tetapi juga kemampuannya berpikir.”

Untuk memenuhi rencananya Mahisa Agni harus membuat

persiapan-persiapan, terutama di padang Karautan. Karena itu, ia

tidak bermalam lebih dari satu malam di padepokan Panji Bojong

Santi. Di pagi harinya ia segera minta diri untuk kembali ke

padukuhannya.

“Hati-hatilah dengan rencana itu Agni,“ pesan Panji Bojong Santi,

“kau akan berhadapan dengan Sri Rajasa sebagai seorang raja yang

Agung dan bijaksana. Kau akan berhadapan dengan seseorang yang

sangat diperlukan oleh Singasari. tetapi bahwa ia tetap seorang

manusia biasa itu-pun harus kau perhitungkan pula.”

Pesan itu tersimpan di hati Mahisa Agni. Dan ia akan berusaha

untuk melakukannya sebaik-baiknya.

Ketika ia sampai ke padukuhannya, dari kejauhan ia sudah

membuat pertimbangan-angan. Menilik perkembangan padukuhan

itu, tidak ada kesulitan yang perlu dicemaskannya, “Semua berjalan

sesuai seperti yang diperhitungkan. Air yang ajeg, pategalan yang

semakin rimbun dan sawah-sawah yang hijau. Bahkan belumbang

yang dibuat oleh Ken Arok itu kini terpelihara baik. Sri Rajasa

menempatkan beberapa orang petugasnya di sana. meskipun para

petugas itu diambil pula dari anak-anak muda Panawijen.

“Aku sudah dapat meninggalkan mereka,“ berkata Mahisa Agni di

dalam hatinya, “apalagi aku tidak pergi terlampau jauh. Aku hanya

berada di Singasari. Setiap saat yang diperlukan aku dapat kembali

ke padang ini.“

Demikianlah maka rencana Mahisa Agni menjadi bulat. Sehingga

dengan demikian, pada suatu hari ia menghadap Ki Buyut Panawijen

untuk minta diri kepadanya.

“Kau akan meninggalkan kami?“ bertanya Ki Buyut.

“Bukan begitu Ki Buyut. Aku hanya ingin mendapatkan

pengalaman baru. Aku akan selalu datang menengok padukuhan ini.

Bukankah aku tidak berada terlampau jauh dari padukuhan kita.

Apabila ada sesuatu yang penting, seseorang dapat menyusul aku

ke kota, dan aku-pun akan segera datang.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang

di kota kau akan mendapatkan pengalaman yang lebih banyak.

Tetapi aku sudah menjadi semakin tua. Aku tidak mempunyai

seorang anak-pun lagi. Kaulah yang selama ini aku anggap menjadi

ganti anakku yang hilang itu. Padukuhan yang memang kau buat ini

kelak akan memerlukan tenagamu. Tidak ada orang lain yang dapat

menjadi tetua di sini, kecuali kau.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sejenak ia tepekur. Ia

mengerti kerisauan yang selalu mengganggu hati orang tua itu.

Sejenak kemudian ia-pun berkata, “Ki Buyut. Apabila tugas itu

memanggil, dan memang tidak ada orang lain yang dapat

melakukannya, aku tidak akan ingkar. Aku akan kembali ke

padukuhan ini. Namun selama ini biarlah aku mendapatkan

pengalaman baru di dalam hidupku.”

Ki Buyut mengangguk-angguk, “Aku mengerti. Pengalaman

memang perlu. Tidak saja bagimu, tetapi bagi setiap orang. Karena

itu, pergilah. Tetapi pada saatnya kau harus kembali.”

Demikianlah maka Mahisa Agni-pun kemudian minta diri pula

kepada kawan-kawannya, kepada anak-anak muda yang telah

menggantikan angkatannya, setelah ia menjadi semakin tua. Namun

anak-anak muda itu ternyata memberikan kebanggaan dan

kepercayaan di hatinya, bahwa mereka akan dapat melakukan tugas

mereka dengan baik. Anak-anak muda Panawijen bukan anak-anak

muda seperti anak-anak sebayanya, yang karena Panawijen

terlampau subur, sehingga mereka tidak mampu berbuat apa-apa.

Ketika bendungan itu pecah, mereka kebingungan tanpa melakukan

sesuatu.

Tetapi, anak-anak muda kini mempunyai jiwa yang menyala di

dalam dada mereka. Dengan bimbingan yang tepat, anak-anak

muda itu telah siap untuk menjadikan Panawijen baru sebuah

padukuhan yang besar sejalan dengan perkembangan Singasari.

Mahisa Agni yang sudah siap pergi ke Singasari, sama sekali tidak

menghalang-halangi anak-anak muda yang menyediakan diri bagi

perkembangan kerajaan Sri Rajasa itu. Bahkan anak-anak muda

Panawijen telah siap pula untuk ikut serta dalam peperangan yang

agaknya memang sudah berada di ambang pintu. Sebagian dari

mereka dengan tekun mengikuti latihan-latihan keprajuritan, seperti

yang diselenggarakan di padukuhan-padukuhan lain.

“Apakah kau tidak akan kembali?“ bertanya salah seorang

kawannya.

“Tentu,“ jawab Mahisa Agni. “bukankah aku tidak pergi lebih jauh

dari kota Singasari, kau dapat pergi ke kota itu untuk suatu

keperluan. Juga seandainya padukuhan ini memanggil aku.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi

kepergian Mahisa Agni membuat hati mereka serasa menjadi sepi.

Selama ini Mahisa Agni seolah-olah menjadi nyala api di tengahtengah

padukuhannya.

“Kalian harus belajar melakukan tugas-tugas kalian tanpa

tuntunan terus-menerus. Pada suatu saat aku memang harus pergi

untuk selama-lamanya apabila umurku sudah sampai ke batas. Kini

aku hanya akan pergi ke tempat yang masih dapat kalian capai

dalam waktu yang terhitung pendek.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Namun

mereka mengerti, bahwa tidak sewajarnya mereka selalu menahan

Mahisa Agni di padukuhan ini saja, apabila memang terbuka pintu

baginya untuk mengembangkan dirinya.

“Mudah-mudahan kehadiranku di Singasari dapat bermanfaat

bagi padukuhan ini, seperti dahulu Ken Dedes juga memanfaatkan

kehadirannya di Tumapel. Tetapi bedanya, Ken Dedes itu

diperlukan, sedang aku memerlukan Singasari.”

Demikianlah maka pada saatnya Mahisa Agni meninggalkan

padukuhannya. Ia mengharap bahwa ia akan mendapat tempat di

Singasari dalam jabatan apapun. Namun tujuannya yang utama

adalah menyiapkan Anusapati sebagai Pangeran Pati. Ia harus dapat

menerima jabatannya dengan baik.

Sebagai seorang Putera Mahkota Anusapati harus berpribadi.

Dalam menjalankan tugasnya kelak, ia tidak boleh kalah dari Sri

Rajasa. Dengan demikian kedudukannya akan menjadi kuat. Tetapi

apabila ia tidak mampu menggantikan Sri Rajasa, bukan saja untuk

menduduki takhta tetapi untuk melakukan tindakan-akan besar yang

serupa, maka Anusapati tidak lebih dari sebuah golek yang

betapapun indahnya, namun ia tidak akan mampu berbuat apa-apa.

Mahisa Agni memang mempunyai kecurigaan, bahwa Anusapati

yang dipersiapkan untuk menggantikan kedudukan Sri Rajasa, dan

bahkan telah ditentukan untuk menjadi Putera Mahkota itu, sekedar

menenteramkan hati Ken Dedes dan pengikut-pengikut Tunggul

Ametung. Mereka akan menganggap bahwa Sri Rajasa adalah

seseorang yang berjiwa besar. Meskipun Anusapati itu putera

Tunggul Ametung namun anak itu diangkatnya pula menjadi Putera

Mahkota. Apalagi pada saat-saat terakhir, Singasari memerlukan

segenap kemampuannya untuk menghadapi Kediri yang agaknya

semakin tidak senang atas perkembangan Singasari. Beberapa

orang pemimpin Kediri menganggap sikap Singasari itu sebagai

suatu pemberontakan.

Tetapi, di samping mengangkat Anusapati menjadi Putera

Mahkota, Ken Arok pasti sudah menyiapkan rencana lain. Rencana

yang sangat rumit, seperti pada saat ia merebut takhta Tumapel

dari Tunggul Ametung dan sekaligus membunuhnya, merampas

jandanya, dan bahkan justru ia mendapat kepercayaan karena ia

dianggap telah berjasa menangkap pembunuhnya, Kebo Ijo dan

membunuh pembunuh itu sama sekali.

Menilik sikap Ken Arok sebagai manusia. Tohjaya agaknya lebih

menarik perhatiannya. Karena umur Anusapati dan Tohjaya tidak

terpaut terlampau banyak, maka kegagalan Anusapati pasti akan

menggeser perhatian rakyat Singasari kepada Tohjaya. “Inilah

agaknya yang sudah dipersiapkan oleh Sri Rajasa,“ berkata Mahisa

Agni di dalam hatinya. Dan adalah tugasnya untuk mencegah hal itu

terjadi. Anusapati harus dapat menerima takhta sekaligus tugastugasnya.

Ia tidak boleh duduk di atas Singgasana seperti seekor

kepompong yang dungu.

Demikianlah dengan rendah hati Mahisa Agni menyatakan

niatnya itu kepada Ken Dedes, setelah ia sampai di istana. Dengan

dalih yang dikarangkannya, ia mengharap bahwa ia mendapat

kesempatan untuk menambah pengalaman dan pengetahuannya di

Singasari sebagai apapun juga.

“Kenapa baru sekarang?,” bertanya Permaisuri, “bukankah

tawaran untuk itu sudah diberikan sejak Akuwu Tunggul Amatung?”

“Saat itu aku masih belum dapat meninggalkan padang yang

baru saja dibuka itu Tuan Puteri,“ jawabnya, “tetapi sekarang

keadaan itu sudah jauh berbeda. Padukuhan itu sudah menjadi

padukuhan yang masak. Aku sudah hampir tidak diperlukan lagi.

Dalam keadaan yang mendesak, satu dua orang dapat menyusulku

kemari.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya

kemudian, “Aku akan mengatakannya kepada Baginda.“ Ketika Ken

Dedes mendapat kesempatan untuk menyampaikannya kepada Ken

Arok, sambutannya benar-benar di luar dugaan. Ken Arok dengan

gembira menerimanya. Katanya, “Mahisa Agni adalah seorang yang

berkemampuan luar biasa. Ia memiliki ilmu yang jarang ada duanya.

Karena itu, justru dalam keadaan serupa ini, aku sangat

memerlukannya.”

Maka dengan serta-merta, Mahisa Agni-pun segera dipanggil

menghadap. Tanpa prasangka apapun Ken Arok bertanya, “Kau

benar-benar ingin bekerja di istana?”

“Ya Baginda.“

“Aku sudah menawarkan sejak dahulu, tetapi kau menolak.”

“Hamba tidak pernah menolak. Tetapi hamba masih terikat oleh

padukuhan yang sedang berkembang itu.”

“Baiklah Agni. Kau akan menjadi seorang Senapati yang baik. Aku

kira kau dapat melihat perkembangan yang memburuk dari

hubungan kita dengan Kediri.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudah lama aku berniat untuk membentuk suatu pasukan yang

khusus.

“Maksud Baginda?”

“Justru yang terdiri dari orang-orang Kediri sendiri. Orang-orang

yang menyingkir ke Singasari karena bermacam-macam alasan,“

berkata Sri Rajasa. Kemudian, “Tetapi aku belum pernah berhasil

melaksanakan karena tidak ada orang yang dapat dapat aku

percaya untuk itu. Kini kau tiba-tiba datang. Maka kuwajiban ini

akan aku bebankan kepadamu. Kau harus membentuk suatu

pasukan khusus dari orang-orang Kediri sendiri.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Mungkin dari segi daya tempur, pasukan itu tidak akan sekuat

pasukan yang memang sudah kita persiapkan sejak lama. Tetapi

pasukan itu akan mempunyai pengaruh lain terhadap rakyat Kediri

sendiri. Pengaruh batin yang tidak kalah tajamnya dari segala

macam dan jenis senjata.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia

mengagumi kecerdasan Sri Baginda. Apabila pasukan itu benarbenar

dapat terbentuk, muka pengaruhnya pasti akan dahsyat sekali

bagi rakyat Kediri.

“Nah, apakah kau sanggup?”

Sejenak Mahisa Agni berpikir, namun ia-pun memperhitungkan

kepentingannya sendiri. Ia harus mendapat kepercayaan dari Kan

Arok, sehingga kehadirannya di istana tidak dicurigainya. Karena itu,

maka ia-pun kemudian berkata, “Hamba akan mencoba Tuanku.

Hamba akan mencoba membentuk pasukan seperti yang Tuanku

maksudkan.”

“Bagus. Aku percaya kepadamu. Aku-pun yakin bahwa kau akan

berhasil.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas

dipandanginya wajah Sri Rajasa. Wajah yang meskipun kini wajah

seorang raja yang semakin lama menjadi semakin besar, namun

wajah itu juga yang pernah dikenalnya di padang Karautan.

Sekilas teringat olehnya, pertama kali ia bertemu dengan Hantu

Karatutan yang menakutkan itu. Gurunya sengaja membiarkannya

berkelahi.

Sejak saat itu ia melihat sesuatu yang aneh pada Ken Arok.

Meskipun ia tidak mempelajari ilmu tata beladiri, tetapi ia tidak

dapat mengalahkannya. Tubuhnya seolah-olah menjadi liat dan

kebal, meskipun agaknya tidak demikian.

Sekilas teringat pula olehnya sebuah pusaka kecil pemberian

gurunya yang sampai sekarang disimpannya baik-baik. Sebuah

trisula yang turun temurun diterima dari guru kepada muridnya.

Trisula ini mempunyai pengaruh yang aneh atas Ken Arok.

Menurut dugaan Mahisa Agni, pengaruh itu sampai saat ini pasti

masih belum pudar.

“He, kenapa kau tiba-tiba merenung?“ bertanya Ken Arok

sehingga Mahisa Agni terkejut karenanya.

“Ampun Tuanku,“ jawab Mahita Agni, “hamba mencoba

membayangkan, apa yang dapat hamba lakukan.”

“Tidak sekarang,“ berkata Ken Arok, “kau masih mempunyai

kesempatan. Kau dapat merenungkannya sepekan dua pekan. Baru

kau mulai berbuat sesuatu.”

“Hamba Tuanku.”

“Kemudian aku mempunyai tambahan seorang panglima. Di

samping panglima pasukan tempur, pasukan pengawal istana dan

pelayan dalam, aku akan mempunyai seorang panglima pasukan

khusus.”

“Hamba Tuanku. Tetapi jabatan itu terlampau tinggi buat

hamba.”

“Kenapa?”

“Hamba bukan seorang prajurit. Dan hamba hanyalah anak

Padang Karautan.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba ia tertawa.

Perlahan-lahan sekali ia berbisik, “Anak-anak Padang Karautan

harus menjadi orang yang terpandang.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Tetapi ia menangkap katakata

Ken Arok itu.

Maka keputusan Baginda itu-pun kemudian diumumkannya

kepada sidang para pemimpin Singasari. Mahisa Agni resmi

mendapat kedudukan seorang panglima. Panglima pasukan khusus

yang masih harus dibentuknya sendiri.

“Ia adalah kakak Tuan Puteri Permaisuri Singasari,“ desis mereka

yang kemudian mendengar keputusan Sri Baginda itu. “Sudah

sepantasnya apabila ia-pun menjadi seorang panglima.”

Namun seorang senapati muda yang baru saja ditarik masuk ke

kota berkata, “Tetapi apakah ia mampu bertempur? Panglima

memerlukan bekal yang cukup lengkap. Ia akan memimpin

sepasukan prajurit. Pasukan yang besar terbagi-bagi dalam

pasukan-pasukan yang lebih kecil. Nah, bayangkan. Seorang

penglima harus mempunyai kecakapan mengatur di samping

bertempur. Tidak dapat disamakan dengan jabatan-jabatan

kehormatan yang dapat dijabat oleh siapapun meskipun ia kakak

seorang Permaisuri.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia

bertanya, “Apakah kau belum pernah mendengar ceritera tentang

kakak Permaisuri yang bernama Mahisa Agni itu?”

“Maksudmu?”

“Ia pernah naik ke arena melawan panglima pasukan pengawal

istana pada jaman Akuwu Tunggul Ametung.”

Senapati muda itu mengerutkan keningnya.

“Pada waktu itu, tidak seorang-pun di seluruh Tumapel yang

dapat menunjuk seorang prajurit, senapati atau penglima dari

pasukan apapun, untuk mengimbangi Witantra naik ke arena. Pada

waktu itu kita masih belum dapat menilai kemampuan Sri Rajasa,

seorang Pelayan Dalam. Nah, pada saat itulah. Mahisa Agni tampil

dan berhasil mengalahkan Witantra di arena, meskipun ia tidak mau

membunuhnya.”

Senapati itu mengerutkan keningnya.

“Kau dapat membayangkan, apakah Mahisa Agni itu akan mampu

menjadi seorang panglima.”

Tetapi Senapati itu masih mencoba membela pendiriannya,

“Tetapi belum pasti ia dapat mengatur suatu lingkungan

keprajuritan. Apalagi sepasukan yang asing seperti yang akan

dibentuknya. Untuk itu diperlukan kecakapan mengatur dan

menguasai orang lain.”

“Juga ceritera tentang Mahisa Agni,“ jawab kawan-kawannya, “di

padang Karautan ia berhasil membangun sebuah bendungan,

membuka sebuah pedukuhan dan menciptakan tanah persawahan

dan pategalan. Itu suatu kerja yang besar dengan seluruh rakyat

pedukuhan Panawijen lama. Aku kira tidak jauh lebih sulit mengatur

sepasukan prajurit dari pada membangun sebuah padukuhan baru

dengan segala kelengkapannya.”

Sanapati muda itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia

mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku ternyata belum banyak

mengenalnya.”

Demikianlah maka Mahisa Agni mulai mendapatkan wewenang

untuk melaksanakan tugasnya. Kepadanya diperbantukan beberapa

orang yang sudah mengenalnya, supaya justru tidak mngganggu

pekerjaannya.

Yang pertama-tama dilakukan oleh Mahisa Agni adalah mengenal

orang-orang yang menyingkir dari Kediri. Mereka di tempatkan di

barak-barak yang memang dibuat untuk mereka. Dengan demikian

maka Mahisa Agni tidak banyak mengalami kesulitan untuk

berkenalan dengan sebagian besar dari mereka.

Namun dalam sekilas Mahisa Agni segera dapat mengetahui,

bahwa mereka bukanlah calon-calon prajurit yang baik. Meskipun

demikian dengan kerja yang tekun, maka hasilnya akan juga dapat

memadai. Apalagi prajurit yang akan dibentuk oleh Mahisa Agni itu

bukanlah pasukan tempur yang sebenarnya. Mereka lebih condong

sebagai suatu pameran betapa orang-orang Kediri sendiri telah

berpihak kepada Singasari.

Setelah Mahisa Agni cukup mengenal para pengungsi itu, maka

mulailah ia melakukan pemilihan. Anak-anak muda dan orang-orang

yang masih cukup kuat dikumpulkannya.

Tetapi Mahisa Agni cukup bijaksana. Ia tidak langsung

memerintahkan mereka memisahkan diri dari para pengungsi yang

lain. Tetapi kepada mereka, Mahisa Agni memberi kesempatan

untuk memilih.

“Ini adalah suatu tugas suka rela,“ berkata Mahisa Agni, “karena

tanpa kerelaan, pasukan yang akan terbentuk nanti tidak akan

banyak berarti.”

Ternyata kata-kata Mahisa Agni justru menyentuh perasaan

mereka. Jauh lebih dalam dari pada Mahisa Agni langsung

menjatuhkan perintah untuk membentuk suatu pasukan.

“Siapa yang ingin ikut, aku persilahkan,“ berkata Mahisa Agni di

hadapan mereka, “tetapi kalian harus menjadari, bahwa pasukan ini

pada suatu saat akan bertempur. Sebenarnya bertempur melawan

pasukan Kediri.”

Beberapa orang dari mereka mengerutkan keningnya.

“Memang ada kemungkinan bagi kalian masing-masing,

mengalami nasib yang paling pahit. Misalnya di dalam peperangan

akan bertemu dengan sanak saudara, mungkin kawan sepermainan

atau bahkan keluarga yang saudara tinggalkan. Tetapi ini adalah

suatu pengorbanan. Pengorbanan bagi kebebasan rakyat Kediri.”

Mahisa Agni melihat mereka mengangguk-anggukkan kepala.

“Tetapi masih ada lagi yang harus kalian pertimbangkan. Kalian

akan terjun ke dalam api peperangan. Di dalam peperangan ada

kemungkinan yang dapat terjadi atas kalian. Dua kemungkinan yang

sama beratnya. Hidup dan yang lain, mati. Kalian dapat tetap hidup,

tetapi kalian dapat juga mati.“ Mahisa Agni berhenti sejenak,

kemudian, “Nah, renungkan. Siapa yang akan ikut bersama aku,

membebaskan seluruh rakyat Kediri dari ketakutan seperti sekarang,

kalian akan ditampung di barak yang lain. Kami akan menunggu

kalian, sebelum tengah hari. Kalian mempunyai waktu untuk

mempertimbangkan masak-masak. Bagi yang berkeberatan, tidak

akan ada perlakuan apapun. Kalian dapat memilih sebebasbebasnya.

Asal kalian telah menyadari, bahwa kalian akan ditunggu

oleh kerja berat, dan kemungkinan-kemungkinan yang paling pahit

dan pedih.”

Kemudian Mahisa Agni meninggalkan mereka. Dibiarkannya

mereka berpikir sampai saatnya mereka menjatuhkan pilihan.

Demikianlah dilakukan Mahisa Agni dari kelompok ke kelompok

pengungsi yang ditampung di dalam barak-barak di Singasari.

Menilik sikap dan tanggapan mereka, Mahisa Agni berharap, bahwa

pasukannya tidak akan terlampau kecil.

Demikianlah, pada hari yang telah ditentukan, Mahiasa Agni

bersama beberapa orang yang diperbantukan kepadanya, telah

berada dalam suatu barak yang besar. Pada hari itu, tengah hari,

adalah batas waktu penerimaan bagi orang-orang Kediri yang ingin

memasuki lapangan keprajuritan yang akan memerangi ikatanikatan

yang tidak mereka senangi, yang mereka anggap telah

membelenggu Kediri sendiri selama ini.

Ternyata harapan Mahisa Agni tidak sia-sia. Berduyun-duyun

anak-anak muda dan laki-laki masih mampu menggenggam senjata

memasuki barak yang sudah disediakan bagi mereka. Bagi suatu

pasukan baru dalam tata keprajuritan Singasari.

Bagi Singasari jabatan Mahisa Agni sebagai seorang Panglimapun

merupakan jabatan yang baru pula. Sebelumnya tidak pernah

ada seorang Panglima dari sebuah pasukan yang terdiri dari bukan

orang-orang Singasari yang sebelumnya bernama Tumapel. Namun

untuk menghadapi Kediri, Singasari telah membentuk pasukan yang

terdiri dari orang-orang Kediri.

Dengan penuh bertanggung jawab, Mahisa Agni menerima

mereka. Karena orang-orang Kediri itu terdiri dari berbagai macam

tingkat dan kemampuan, Mahisa Agni masih harus memisahmisahkan

mereka. Bagi mereka yang pernah mengalami latihan tata

peperangan, dipisahkannya dalam kelompok tersendiri. Sedang

mereka yang sama sekali belum, dipisahkannya pula.

Di hari-hari berikutnya. Mahisa Agni menghadapi suatu kerja

yang benar-benar berat. Bersama beberapa orang pembantupembantunya,

Mahisa Agni mulai membentuk orangi Kediri itu

menjadi sepasukan prajurit.

Mahisa Agni menyerahkan orang-orang yang pernah mendapat

latihan serba sedikit, kepada pembantu-pembantunya untuk

meningkatkan kemampuan mereka. Sedang yang sama sekali belum

pernah memegang tangkai senjata, Mahisa Agni sendirilah yang

melatih mereka menurut caranya yang kadang-kadang tidak sesuai

dengan cara-cara yang dipergunakan di dalam tata keprajuritan di

Singasari.

“Aku mengutamakan kemampuan tempur,“ berkata Mahisa Agni

setiap kali, “meskipun orang-orang ini tidak dapat bersikap baik di

dalam sikap dan langkahnya, namun mereka harus mampu

membela diri di setiap peperangan.” Itulah sebabnya Mahisa Agni

mengambil cara menurut pertimbangannya sendiri.

Ternyata bahwa usaha Mahisa Agni tidak sia-sia. Dalam waktu

singkat, pasukan yang mendapat latihan terus menerus, tanpa

mengenal lelah dan jemu itu, sedikit demi sedikit dapat

meningkatkan dirinya, mendekati nilai keprajuritan yang sebenarnya

di dalam olah peperangan.

Tetapi yang terlebih penting dari itu, Mahisa Agni mulai

mendapat kepercayaan dari Sri Rajasa. Setelah melihat sendiri hasil

yang dicapai oleh Mahisa Agni, maka Sri Rajasa menjadi semakin

gairah untuk segera dapat mengimbangi kekuasaan Kediri.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni-pun menjadi semakin

leluasa pula berada di istana. Sebagai seorang kakak dari Permaisuri

Singasari, ia mendapat tempat yang baik di bangsal belakang istana

Singasari. Namun dengan demikian Mahisa Agni harus benar-benar

menjaga dirinya agar tidak terperosok ke balik dinding yang

membatasi dua buah petamanan di dalam istana Tumapel. Mahisa

Agni yang mulai mapan itu tidak mau jatuh ke dalam tangan Ken

Umang yang pasti akan dapat merusak semua rencananya.

Demikian, maka tanpa setahu seorang-pun Mahisa Agni menjadi

semakin dekat dengan Anusapati. Memang tidak seorang-pun yang

mencurigainya. Anusapati adalah ke manakannya. Ken Arok-pun

tidak. Mereka menganggap hal itu wajar sekali. Apalagi hampir

setiap orang di dalam istana itu mengetahui bahwa Ken Arok lebih

dengan pada Tohjaya dari pada kepada Anusapati, sehingga

wajarlah bahwa Anusapati memerlukan seorang laki-laki yang dapat

menjadi ayahnya.

Sesuai dengan umurnya, Mahisa Agni mulai membawa Anusapati

bermain-main. Permainan yang paling ringan dan tidak

mencurigakan. Kadang-kadang Anusapati diajaknya bermain

loncatan. Mahisa Agni membuat lingkaran-lingkaran di tanah,

kemudian Anusapati harus mengejarnya, melalui lingkaran-lingkaran

yang diinjak pula oleh Mahisa Agni.

Mula-mula Anusapati yang kecil itu senang bermain kejar-kejaran

dengan cara itu, tetapi kemudian ia menjadi jemu.

“Kita cari cara yang lebih baik,“ berkata Mahisa Agni, “kita

meletakkan batu-batu di tanah. Kejar aku, tetapi kakimu tidak boleh

menyentuh tanah.”

Anusapati-pun menurut pula. Seperti semula, ia senang

melakukannya. Tetapi sepekan dua pekan, ia-pun menjadi jemu

pula.

Mahisa Agni merasa senang dengan anak ini. Ia selalu ingin

sesuatu yang baru. Ia tidak betah untuk tetap melakukan pekerjaan

yang sama.

Tetapi suatu hal yang membuat Mahisa Agni sedih. Hati anak itu

agaknya terlampau tertekan. Meskipun Ken Arok tidak

melakukannya di hadapan ibunya, tetapi setiap kali, apabila Ken

Dedes tidak melihatnya, anak itu selalu diancam, ditakut-takuti dan

sama sekali tidak mendapat hati.

“Aku tidak menyangka, bahwa Ken Arok dapat berbuat

demikian,“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya. Namun kemudian

ia teringat kepada semua rencana Ken Arok yang dapat

dilakukannya dengan sempurna. Karena itu maka Mahisa Agni-pun

segera mengambil kesimpulan, bahwa apa yang dilakukan oleh Ken

Arok itu memang sudah diperhitungkannya masak-masak.

Sekilas terkenang olehnya, apa yang dilakukan oleh Kebo Sindet

atasnya di tengah rawa-rawa maut itu. Untunglah bahwa hal itu

terjadi atasnya setelah jiwanya terbentuk, sehingga sulitlah bagi

Kebo Sindet untuk merubahnya menjadi seorang budak penurut dan

pengecut.

Tetapi Anusapati kini sedang tumbuh dan bersemi. Pada saatsaat

jiwanya sangat peka itulah ia mengalami tekanan batin yang

luar biasa. Setiap kali ia selalu dibayangi oleh ketakutan dan rendah

diri.

“Ini adalah salah satu kecakapan Ken Arok,“ berkata Mahisa Agni

di dalam hatinya, “apabila aku tidak mengerti apa yang telah

dilakukan, aku-pun tidak akan mengerti apa yang sekarang sedang

dilakukannya pula. Meskipun ia mengangkat Anusapati menjadi

seorang Pangeran Pati, tetapi ia berusaha untuk membuat

Anusapati itu mati di dalam hidupnya. Ia kelayakan menjadi Putera

Mahkota yang memuakkan bagi rakyat Singasari. Putera Mahkota

sedungu keledai. Putera Mahkota yang tidak dapat berbuat apapun

juga. Yang selalu dibayangi oleh ketakutan dan keragu-raguan.

Dalam keadaan yang demikian maka rakyat Singasari akan

berteriak, “Minggirlah anak Tunggul Ametung,“ dan mereka akan

berteriak pula, “Angkatlah Tohjaya menjadi penggantinya.”

Mahisa Agni yang sudah mengenal Ken Arok itu kini dapat

memperhitungkan langkahnya. Dan agaknya otak Mahisa Agni-pun

tidak terlampau tumpul untuk mengurai masalah itu.

Dengan sekuat-kuat tenaganya Mahisa Agni melawan cara Ken

Arok itu. Setiap kali ia berusaha membuat hati Anusapati mantap.

Diceriterakannya tentang berbagai macam dongeng tentang orangorang

yang semula menderita, tetapi karena keuletannya, mereka

dapat menolong diri mereka sendiri.

Kadang-kadang Anusapati mendengarkan dengan penuh minat.

Kepalanya terangguk-angguk penuh harapan. Tetapi kadang-kadang

ia justru merenung dengan sorot mata yang buram memandangi

bintik-bintik di kejauhan.

“Ayah terlampau sering marah,“ katanya pada suatu kali, “aku

diancamnya lagi apabila aku berkelahi dengan adinda Tohjaya.”

“Kenapa kau berkelahi?“ bertanya Mahisa Agni.

“Permainanku dirampasnya. Aku mempertahankannya.”

“Lalu.”

“Ketika ia memukul aku, aku menghindar sehingga ia jatuh

tertelungkup. Adinda Tohjaya menangis, dan mengatakan bahwa

akulah yang bersalah.”

“Apakah Ayahanda Baginda melihat?”

“Aku dipanggil Ajahanda Baginda di bangsal sebelah, di bangsal

bibi Ken Umang. Kupingku dicubitnya dan aku tidak boleh mengadu

kepada ibu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Hal itu bukan untuk

pertama kalinya terjadi. Kalau kedua anak-anak itu bertengkar

seperti lazimnya anak-anak, maka Anusapati pasti dimarahi

langsung oleh Baginda sendiri. Bukan oleh pemomong yang sudah

diserahi untuk mengawasinya.

Bahkan Mahisa Agni itu-pun kemudian berprasangka pula

terhadap pemomongnya Anusapati, apakah pemomong yang

ditunjuk oleh Baginda itu sudah mendapat tugas khusus pula untuk

meruntuhkan ketahanan hati Anusapati?

“Sudahlah,“ Mahisa Agni-pun mencoba menghiburnya, “kau lebih

baik tidak bermain-main dengan Tohjaya. Carilah permainan sendiri

di tempat yang terpisah.”

“Adinda Tohjaya lah yang sering mendatangi aku.”

“Menyingkirlah,“ berkata Mahisa Agni, “bukan karena kau takut

kepada Tohjaya, tetapi lebih baik menghindari pertengkaran dengan

anak cengeng. Ia pasti akan selalu menangis dan mengadu. Karena

itu, bermainlah sendiri.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia

mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau ia menyingkir, bukan

berarti ia takut kepada Tohjaya. Tetapi memang lebih baik tidak

bermain-main dengan anak cengeng. Anak yang hanya pandai

menangis.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Aneh nampaknya.

Seorang anak yang seakan-akan menemukan sesuatu di dalam

dirinya.

“Tetapi kau tidak boleh cengeng Anusapati,“ berkata Mahisa Agni

kemudian, “kau harus menghadapi semua persoalan dengan dada

tengadah. Kau tahu bedanya?”

Anusapati mengangguk. Dan tiba-tiba saja anak itu bertanya,

“Apakah paman Mahisa Agni tidak mempunyai seorang putera lakilaki

sebesar aku?”

“Kenapa?“ bertanya Mahisa Agni.

“Aku lebih senang bermain-main dengan seorang kawan atau

lebih daripada bermain-main sendiri.”

“Pemomongmu?”

“Sekarang aku sering dilepaskannya sendiri. Bermain-main sendiri

tanpa emban.”

“Di mana embanmu?”

“Ia juga sering menangis.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti apa yang

sebenarnya melingkari Anusapati itu. Ia tidak dapat mencarinya

dengan serta-merta. Tetapi ia harus melangkah perlahan-lahan

supaya tidak ada seorang-pun yang mencurigainya.

“Menurut bibi emban, aku boleh bermain-main sendiri, tetapi

tidak boleh keluar dari halaman dalam bangsal tengah.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Dan kau

ternyata keluar dari halaman itu tanpa setahunya.”

“Aku jemu berada di halaman bangsal tengah saja paman.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia bertanya, “Di

mana Ayahanda Baginda sekarang?”

“Di bangsal sebelah dinding. Di bangsal bibi Umang.“

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Marilah, aku

antar kau kepada pemomongmu.”

“Aku akan pergi ke bilik Ibunda Permaisuri.”

“O, jangan. Ibunda sedang beristirahat. Ibunda terlampau letih

mengurusi adikmu.”

Anusapati terdiam sejenak.

“Marilah.”

Akhirnya Anusapati mengikuti Mahisa Agni ke bangsal tengah,

untuk menyerahkannya kepada pemomongnya. “Bibi,“ panggil

Anusapati ketika ia sampai ke bangsal tengah.

Seorang perempuan setengah umur yang diserahi untuk menjaga

dan mendidik Anusapati keluar dari sebuah bilik di bagian belakang

bangsal tengah. Ketika ia melihat Anusapati, dengan tergesa-gesa ia

menyongsongnya.

“He, darimana kau ngger?“ perempuan itu bertanya sambil

memeluk momongannya. Lalu, “Kenapa kau he? Apakah kau

menangis lagi?”

Anusapati menggeleng, “Aku tidak menangis.”

“Tetapi matamu menjadi merah.”

“Ayahanda Baginda marah lagi kepadaku bibi.“ Perempuan itu

mengerutkan keningnya. Namun kemudian dipeluknya

momongannya semakin erat. Katanya, “Aku sudah berkata berulang

kali, jangan keluar dari halaman bangsal ini. Kenapa ayahanda

Baginda marah? Apakah kau bertengkar lagi dengan Tohjaya?”

Anusapati mengangguk.

Dibelainya anak itu dengan kedua tangannya. Kemudian

dibimbingnya ia masuk ke dalam bangsal. Kepada Mahisa Agni

emban itu berkata, “Tuan, apakah tuan mempunyai sesuatu

kepentingan?”

Mahisa Agni menggeleng, “Tidak.”

“Biarlah aku mengurus anak ini, yang sudah diserahkan kepadaku

oleh Baginda.”

“Tetapi ia sendirian di belakang.”

“Itu adalah karena salah anak ini sendiri.”

“Emban,“ Mahisa Agni memotong, “ingat, anak itu adalah Putera

Mahkota. Bukan anak gembala kerbau yang dapat diperlakukan

sekehendak hati. Ia harus mendapat perawatan dan pemeliharaan

seperti selayaknya Putera Mahkota.”

Mahisa Agni terdiam ketika ia melihat emban itu menundukkan

kepalanya tanpa menjawab sepatah kata-pun. Bahkan kemudian ia

meneruskan langkahnya, membimbing Anusapati masuk ke dalam

bilik di bagian belakang bangsal tengah.

“Maaf,“ desis Mahisa Agni, “aku tidak berhak mengatakannya.”

Emban itu justru terhenti sejenak. Ketika ia berpaling, Mahisa

Agni menjadi terkejut karenanya, karena ia melihat mata emban itu

menjadi basah.

“Maaf emban,“ berkata Mahisa Agni sekali lagi.

“Tidak tuan. Tuan tidak bersalah. Adalah layak sekali Tuan

memperingatkan aku.”

“Aku mengharap bahwa kau dapat mengerti maksudku.”

“Ya. Tuan. Aku mengerti bahwa maksud Tuan baik. Aku-pun

mengerti apa yang sebaiknya aku lakukan. Apalagi terhadap Putera

Mahkota. Tetapi …,“ kata-kata emban itu terputus.

“Tetapi … “ Mahisa Agni mengulangi.

Emban itu menggelengkan kepalanya. Kemudian dibimbingnya

Anusapati melangkah sambil berkata, “Marilah Ngger.”

Mahisa Agni menjadi bingung melihat sikap emban yang tidak

menentu itu. Namun Mahisa Agni dapat menangkap sesuatu yang

kurang wajar padanya. Menilik kata-kata dan sikapnya, bahkan

kemudian air mata yang mengambang di mata, ada pertentangan

yang terjadi di dalam diri perempuan setengah tua itu. Namun

Mahisa Agni tidak dapat mengerti, apakah yang sebenarnya telah

bergejolak di dalam dadanya.

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan halaman itu. Ketika ia

melalui bangsal Ken Dedes, ia tertegun sejenak. Namun ia kemudian

meneruskan langkahnya ke biliknya sendiri di belakang.

Anusapati yang dibawa oleh embannya itu-pun kemudian

dimandikannya dengan air hangat. Digosoknya seluruh tubuhnya

sehigga bersih.

Namun Anusapati sendiri sama sekali tidak mengetahui, bahwa

pemomongnya benar-benar berada dalam kesulitan batin. Dugaan

Mahisa Agni ternyata tepat, meskipun tidak seluruhnya benar.

“Marilah tidur Tuan,“ berkata emban itu kemudian, “seorang

Putera Mahkota harus tidur siang hari sampai matahari condong ke

Barat.”

Anusapati sendiri tidak begitu menyadari arti kata-kata Pangeran

Pati. Baginya, apakah ia menjadi Putera Mahkota atan tidak, namun

ia merasa bahwa hidupnya di dalam istana Singasari tidak begitu

menyenangkan. Setiap kali ia bermain-main ia merasa selalu

diganggu oleh Tohjaya. Ibunya terlampau sibuk dengan adiknya

yang kecil, dan embannya kadang-kadang bersikap aneh

terhadapnya.

“Orang yang paling baik di Singasari adalah paman Mahisa Agni,“

berkata anak itu di dalam hatinya.

Ketika Anusapati kemudian berbaring di pembaringannya,

embannya-pun duduk bersimpuh di lantai sambil membelai

keningnya. Kemudian perempuan tua itu mencoba untuk berceritera

tentang seekor rusa yang sombong. Tentang burung-burung dan

tentang kelinci.

“Tidurlah sayang,“ desis emban itu.

Anusapati memejamkan matanya. Tetapi sebuah pertanyaan

bergelut di dalam hatinya, “Kenapakah emban ini kadang-kadang

terlampau baik, tetapi kadang-kadang nakal?”

Namun hati anak itu tidak dapat meraba terlampau jauh dari apa

yang dilihatnya dan dirasakannya sehari-hari.

Karena emban itu berceritera terus sambil membelainya, maka

lambat laun Anusapati-pun menjadi terlena pula karenanya.

Perlahan-lahan diselimutinya anak itu baik-baik. Diciumnya

keningnya, lalu ditinggalkannya sendiri di pembaringannya.

Tetapi emban itu tidak pergi jauh. ia duduk di serambi di muka

bilik Anusapati sambil merenung. Merenungi anak yang kelak akan

menggantikan kedudukan Sri Rajasa itu, dan merenungi dirinya

sendiri.

Di bilik di belakang, Mahisa Agni-pun duduk tepekur di atas

pembaringannya. Dicobanya untuk mengerti isi istana itu

seluruhnya, ia merasa bahwa istana itu merupakan petamanan yang

penuh dengan duri. Ia tidak mengerti, di mana dan kapan ia akan

menyentuh atau bahkan menginjaknya. “Mudah-mudahan aku dapat

menghindari,“ desisnya. Demikianlah Mahisa Agni perlahan-lahan

telah mulai dengan rencananya. Anusapati yang masih kecil itu

mulai diisinya tanpa sesadarnya. Setiap kali, selain berloncatloncatan

Anusapati-pun diajarinya memanjat, bergantungan di

cabang-cabang pepohonan. Mula-mula batang-batang pohon yang

rendah, tetapi semakin lama semakin tinggi.

Dengan demikian, maka urat-urat kaki dan tangan Anusapati

tumbuh dengan baiknya. Kekuatannya-pun berkembang seperti

yang diharapkan Mahisa Agni.

Tetapi suatu hal yang Mahisa Agni masih belum dapat

mengatasinya. Anusapati selalu dibayangi oleh ketakutan dan

kecemasan. Jiwanya tidak dapat berkembang sebaik tubuhnya,

meskipun Mahisa Agni selalu berusaha memberinya kebanggaan.

Apalagi waktu yang dapat dipergunakan tidak terlampau banyak dan

kurang teratur. Mahisa Agni hanya dapat mempergunakan waktuwaktu

yang terluang. Namun bahwa embannya kadang-kadang

melepaskannya sendiri, memberinya keuntungan pula kepadanya.

“Anusapati,“ berkata Mahisa Agni pada suatu saat, “kalau besok

paman pergi ke peperangan, mungkin paman tidak akan dapat

bermain-main dengan kau untuk beberapa saat lamanya. Jangan

lupa, kau bermain-main sendiri. Kau harus sudah dapat meloncati

pohon kantil di halaman samping itu. Setiap pagi kau harus

bermain, loncat-loncatan, bergantungan dan ketrampilan. Kau harus

dapat melontarkan tiga empat buah kerikil berganti-ganti terusmenerus

untuk beberapa saat lamanya. Jangan lupa pula bermain

pasir. Benamkan jari-jarimu setiap pagi dan sore ke dalam pasir.

Jari-jari tangan kiri dan jari tangan kanan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tetapi

tanpa kawan permainan itu tidak menarik.”

“Kau harus membiasakan diri bermain sendiri. Kalau paman

datang, kau bermain bersama paman lagi.”

(Bersambung ke jilid 53)

Jilid 53

ANUSAPATI memandang wajah Mahisa Agni dengan sorot mata

yang sayu. Baginya Mahisa Agni adalah orang yang paling dekat

sesudah ibunya. Tetapi ibunya tidak dapat memberinya permainan

seperti yang diberikan oleh Mahisa Agni kepadanya.

Dan tiba-tiba anak itu bertanya, “Apakah paman akan pergi

berperang?”

“Aku seorang prajurit Anusapati,” jawab Mahisa Agni, “seorang

prajurit kadang-kadang memang harus pergi ke medan perang.

Mendung yang mengambang di atas perbatasan Singasari dan Kediri

sudah menjadi semakin kelam, sehingga agaknya perang tidak akan

dapat dihindarinya lagi.”

“Tetapi bukankah paman akan kembali?”

“Aku mengharap untuk kembali ke istana ini. Karena itu, kau

harus berdoa untuk paman, untuk Singasari dan untuk

kesejahteraan seluruh rakyatmu.” Mahisa Agni berhenti sejenak,

“ingat, kau adalah Putera Mahkota. Kau tidak boleh menjadi acuh

tidak acuh atas jabatan yang sejak kecil sudah kau sandang itu.”

“Aku tidak senang dengan jabatan itu paman.”

“Kenapa? “ Mahisa Agni menjadi heran.

“Apabila ayah marah, ayah selalu membawa-bawa jabatan itu,

seperti juga orang-orang lain. Emban itu sering juga marah, dan

menyebut-nyebut bahwa aku tidak kuat untuk memangku jabatan

ini.”

“Emban itu?”

“Ya paman. Tetapi kadang-kadang ia terlalu baik. Dan ia sering

menangis sendiri tanpa sebab.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Itu semua merupakan latihan. Latihan kejiwaan. Kau sedang

diuji apakah kau dapat mengatasi semua godaan itu. Kalau kau

berhasil, kau kelak akan menjadi seorang raja yang paling

mengagumkan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia

bertanya, “Apakah setiap raja, seperti ayahanda Sri Rajasa, juga

terlampau sering marah?”

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab pertanyaan anak itu.

Apalagi ketika Anusapati melanjutkannya, “Dan apakah apabila

kelak aku menjadi raja, aku juga harus selalu marah-marah seperti

Ajahanda itu?”

Mahisa Agni tersenyum. Jawabnya, “Sebenarnya Ayahanda tidak

marah. Tetapi Ayahanda ingin agar kau menjadi seorang anak yang

terlampau baik.”

Anusapati tidak dapat mengerti keterangan itu, meskipun ia tidak

bertanya lagi.

“Tetapi yang harus kau sadari Anusapati,” berkata Mahisa Agni,

“seorang raja haruslah seorang yang kuat lahir dan batin. Itulah

sebabnya kau harus tekun. Tetapi ingatlah, jangan kau perlihatkan

kepada siapapun kalau kau mempunyai beberapa macam permainan

yang pasti mereka anggap aneh.”

“Permainan yang mana paman?”

“Hampir seluruh parmainanmu yang paman berikan adalah

permainan yang tidak lajim. Mereka akan heran dan akan terlampau

banyak bertanya tentang permainan-permainan itu. Ingat hal itu.”

“Jadi aku harus bermain-main dengan permainam yang diberikan

oleh bibi emban saja?”

“Ya, di hadapan orang lain. Apakah permainan itu?”

“Golek dan beberapa helai selendang yang bagus sekali.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sering

melihat Anusapati bermain dengan anak-anakan. Kadang-kadang

bermain pasaran seperti yang sering dilakukan oleh anak-anak

perempuan.

“Ini pasti suatu kesengajaan untuk membentuk jiwa anak itu

menjadi lemah,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

“Apakah permainan Tohjaya yang pernah kau lihat?”

“Pedang-pedangan dan sebuah kuda kayu yang bagus, meskipun

tidak sebagus golekku.”

“Baiklah, bermainlah dengan golekmu bersama emban. Tetapi

kalau kau sempat, tidak seorang-pun yang melihat, lakukanlah

permainan yang paman berikan.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian kepalanya

terangguk-angguk. Agaknya ia dapat mengerti maksud pamannya

meskipun tidak seluruhnya.

Ternyata Anusapati adalah anak yang patuh. Sebelum Mahisa

Agni berangkat ke medan perang yang semakin mendekat, anak itu

masih sempat mendapat beberapa macam petunjuk. Bahkan

Anusapati kini tahu benar-benar mencari kesempatan itu. Setiap ia

terlepas dari pengawasan embannya ia selalu berlari ke bangsal

belakang. Kemudian ke kebun yang sepi di bagian belakang istana.

“Pada suatu ketika,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya,

“apabila latihan-latihan ini sudah menginjak pada olah kanuragan

yang sesungguhnya, pasti tidak dapat dilakukan di halaman istana

yang mana-pun.”

Dan sejak saat itu Mahisa Agni sudah berusaha untuk

mendapatkan tempat yang baik, dam kesempatan yang

memungkinkan bagi Anusapati.

Dalam pada itu, hubungan antara Singasari dengan Kediri

menjadi semakin memburuk. Keduanya sudah saling memutuskan

untuk tidak mengadakan pembicaraan apapun, sehingga di

perbatasan, ke dua belah pihak telah menyiapkan pasukan mereka.

Namun agaknya Baginda di Kediri masih saja menganggap Singasari

tidak lebih baik dari Tumapel, sehingga Baginda agaknya masih

acuh tidak acuh saja melihat seekor harimau yang menjadi dewasa

di dalam biliknya.

Dengan demikian maka persiapan-persiapan yang dilakukan

tidaklah sesempurna persiapan yang dilakukan oleh Ken Arok. Baik

di perbatasan maupun di seluruh negeri. Rakyat Kediri sibuk dengan

persoalan mereka masing-masing. Ketidak puasan semakin lama

menjadi semakin merajalela, terutama dari para pendeta di

padepokan-padepokan.

Pengungsi-pengungsi-pun mengalir semakin banyak

menyeberangi perbatasan Singasari, sehingga tugas penampungan

bagi mereka-pun menjadi semakin banyak. Demikian juga tugas

Mahisa Agni. Ia mengumpulkan juga orang-orang baru dalam

kelompok-kelompok yang digabungkannya dengan pasukannya yang

sudah terbentuk.

Demikianlah maka pasukan Mahisa Agni menjadi semakin besar.

Namun dengan demikian pekerjaannya-pun menjadi semakin

banyak. Setiap hari ia harus turun ke alun-alun untuk memberikan

bimbingan langsung kepada mereka yang sama sekali belum pernah

mengenal senjata.

Karena itu, maka hubungannya dengan Anusapati-pun seakanakan

menjadi semakin renggang. Tetapi Mahisa Agni telah

memberitahukan kepada anak itu, bahwa tugasnya memang

menjadi semakin banyak, dan menyuruhnya untuk bermain-main

sendiri di halaman yang sepi.

Agaknya Anusapati-pun cukup cerdas. Ia mengerti apa yang

dimaksud oleh Mahisa Agni, sehingga tidak seorang-pun yang

pernah melihat permainan apa yang telah dilakukan.

Ternyata Anusapati semakin lama menjadi semakin terampil. Ia

sudah pandai memanjat seperti tupai. Kemudian bergayutan dengan

tangannya sebelah menyebelah. Berputar balik pada dahan-dahan

yang rendah, kemudian berloncatan dari cabang ke cabang.

Kalau ia jemu bermain-main di pepohonan, maka ia-pun

kemudian bermain-main dengan pasir. Dimasukkannya onggokanonggokan

pasir ke dalam kantong-kantong pandan, dan dijinjingnya

kantong-kantong pandan itu berkeliling halaman. Kemudian

diayunkannya berputar.

Dan apabila ia sudah menjadi lelah, maka dituangkannya pasir itu

beronggok-onggok. Kemudian dibenamkannya jari-jari tangannya

kiri kanan berganti-ganti. Terus-menerus. Seperti petunjuk Mahisa

Agni, ditusuk-tusuknya onggokan pasir itu dengan sebuah jari,

kemudian dua buah dan yang terakhir kelima-limanya diulurkannya

dalam suatu himpitan rapat.

Demikian bersungguh-sungguh, sehingga kadang-kadang jari-jari

tangannya itu menjadi lecet dan berdarah. Tetapi anak itu tidak

menghiraukannya.

Permainannya yang lain adalah memukul onggokan pasir itu

dengan sisi telapak tangannya. Semakin lama semakin keras,

sehingga sisi telapak tangannya menjadi keras.

Selagi Mahisa Agni masih sempat, meskipun hanya sejenak, ia

menyaksikan ke manakannya itu bermain sambil menganggukanggukkan

kepalanya. Anak ini memang mewarisi kemampuan

seperti ayahnya, Tunggul Ametung. Kekuatannya berkembang

dengan pesatnya, ketrampilan dan kemampuan.

Tetapi apabila setiap kali Mahisa Agni melihat air mata

mengambang di mata anak itu, hatinya menjadi berdebar-debar.

Kekerdilan jiwanya yang masih belum dapat di atasi oleh Mahisa

Agni.

“Lambat laun ia mencoba untuk tidak berputus-asa. Dan agaknya

kemampuan jasmaniah anak itu memang memberinya harapan.”

Emban pemomong Anusapati yang setiap hari bergaul dengannya

itu-pun sama sekali tidak mengetahui, bahwa momongannya itu

memiliki kemampuan yang sama sekali tidak disangkanya. Setiap

kali Anusapati bertemu dengan Tohjaya, maka setiap kali Anusapati

selalu menjauhinya. Apabila pada suatu saat keduanya bertengkar,

maka Anusapati sama sekali tidak berdaya menghadapi adiknya

seayah. Kalau Anusapati didorong, oleh Tohjaya, anak itu selalu

jatuh tertelentang, atau terjerembab. Tertatih-tatih ia bangun dan

dengan tergesa-gesa menyingkir jauh-jauh. Kalau Tohjaya tidak

berhasil menyakiti Anusapati, maka anak itu menjadi marah dan

kadang-kadang menangis, mengadukan masalahnya kepada

ayahanda. Baginda yang langsung marah kepada Anusapati.

“Ajari anak itu baik-baik,” berkata Kem Arok kepada emban

pemomong Anusapati, “aku sudah memberi, kau petunjuk. Anak itu

harus menjadi anak yang rendah diri, lemah dan tidak mempunyai

gairah bagi hari depannya. Kau tahu maksudku? Ia adalah

keturunan Tunggul Ametung. Bukan maksudku untuk membedakan

dengan anakku sendiri. Tetapi kekuasaan Singasari jangan sampai

jatuh ke tangannya. Kau mengerti?”

Emban itu mengangguk.

“Kau bukan emban kebanyakan. Kau terpilih dari puluhan

perempuan di Singasari yang aku percaya untuk menyelesaikan

rencanaku. Meskipun sekarang kau berlaku seperti seorang emban

pemomong, tetapi kau sudah ikut membangunkan Singasari di harihari

mendatang. Kau mengerti?”

Emban itu mengangguk pula.

“Aku yakin kau akan berhasil. Anusapati tidak boleh

mengembalikan kenangan nama Tunggul Ametung. Ia sudah mati.

Mati untuk selama-lamanya? Rakyat Singasari tidak boleh

mengenangnya lagi. Apalagi Ken Dedes. Ia sekarang adalah isteriku.

Ia harus melupakan suaminya yang lama. Tetapi wajah Tunggul

Ametung itu seakan-akan tercermin di wajah Anusapati.”

Emban itu tidak menjawab.

“Karena itu, aku tidak memberikan pemomong lain kepada

Anusapati. Aku serahkan anak itu sepenuhnya kepadamu. Berhasil

atau tidak, tergantung sekali kepadamu pula.” Sri Rajasa yang

sudah matang dengan rencananya itu berhenti sejenak, kemudian,

“sebentar lagi, seluruh isi istana, bahkan seluruh rakyat Singasari

akan disibukkan oleh peperangan yang agaknya tidak dapat

dihindari lagi. Nah, tugasmu menjadi semakin berat. Bentuk anak itu

menurut petunjukku. Jangan sampai diketahui oleh ibunya atau oleh

siapapun juga.”

“Hamba Tuanku,” jawab emban itu kemudian.

“Kalau kau gagal, kau akan menyesal.”

Emban itu mengerutkan keningnya. Ternyata tugas yang

dibebankan kepadanya terlampau berat untuk dilaksanakan.

Semula, ketika Ken Umang menyerahkannya kepada Sri Rajasa,

ia merasa bahwa ia akan dapat melakukan tugasnya dengan baik.

Tetapi ketika ia sudah berada di sisi anak itu, terasa bahwa tugas itu

bukan sekedar dapat dilakukannya dengan sambil lalu. Membentuk

seseorang menjadi seorang yang terlampau berkecil hati, lemah dan

tidak mempunyai gairah apapun bagi masa depannya.

“Aku lebih senang untuk mengasuh Tohjaya, dan membentuknya

menjadi seorang anak laki-laki,” katanya di dalam hati.

Namun tugas itu sudah dibebankan kepadanya. Tanpa orang lain.

Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali ia merenungi

dirinya sendiri, menjadi semakin jelas kepadanya, bahwa tugas yang

dibebankan kepadanya adalah tugas yang hampir tidak dapat

dilakukannya.

Sementara itu kemelut di perbatasan menjadi semakin panas.

Pasukan Singasari mengalir seperti arus sungai dari segala jurusan

ke perbatasan. Pada suatu saat Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi

merasa, bahwa waktunya memang sudah tiba untuk menyatukan

Kediri dan Singasari.

Namun agaknya Kediri yang merasa dirinya terlampau besar,

tidak mudah untuk merasa cemas menghadapi persiapan Singasari

yang menurut penilaian orang-orang Kediri tidak lebih dari Tumapel.

Sehingga dengan demikian, Kediri masih saja tidak mempertinggi

persiapan mereka. Mereka menganggap bahwa kekuatan yang

diletakkan di perbatasan sudah cukup besar untuk menghadapi

kekuatan Singasari.

Dalam pada itu, Sri Rajasa benar-benar telah bertekad untuk

tidak gagal. Semua pasukan telah berada di perbatasan, selain

pasukan keamanan yang masih tersebar di seluruh Singasari.

Bahkan pasukan khusus yang dipimpin oleh Mahisa Agni-pun telah

berada di pusat kekuatan Singasari. Pasukan itulah yang akan

memasuki Kediri bersama-sama dengan pasukan inti dari Singasari.

Dengan demikian maka Mahisa Agni harus segera meninggalkan

istana dan Anusapati.

Dalam kesempatan terakhir Mahisa Agni berkata kepada

Anusapati, “Paman akan segera berangkat Anusapati. Jangan nakal.

Kau harus selalu ingat pesan paman.”

Anusapati menganggukkan kepala.

“Jangan lalai melakukan permainanmu kalau kau benar-benar

ingin menjadi seorang Pangeran Pati yang baik. Tetapi ingat, jangan

diketahui oleh orang lain.”

“Bagaimana dengan bibi emban?” bertanya Anusapati.

“Untuk sementara jangan. Kau mengerti?”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Bahkan ibu-pun jangan.”

Anusapati mengerutkan keningnya, “Kenapa?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Memang sulit baginya untuk

memberi tahukan apakah alasan yang sebenarnya. Yang dapat di

katakannya adalah, “Anusapati. Banyak sekali orang yang ingin

menjadi Putera Mahkota. Mungkin mereka iri kepadamu dan akan

berusaha mengganggu kau, agar kau tidak dapat menjadi seorang

anak yang kuat dan pantas untuk tetap menjadi seorang Putera

Mahkota, yang ingat, kelak akan menjadi raja, menggantikan

ayahanda Sri Rajasa. Bukankah kau lihat, Ayahanda Sri Rajasa

adalah seorang kuat dan cerdas. Seorang yang berwibawa dan tidak

lemah hati.”

“Kenapa banyak orang yang ingin menjadi Putera Mahkota?

Siapakah yang sebenarnya boleh menjadi Putera Mahkota?”

“Kau, hanya kau Anusapati. Karena itu, kau dapat menumbuhkan

iri hati. Itulah sebabnya kau harus menjaga dirimu. Kau harus tetap

nampak lemah dan bodoh. Dengan demikian mereka menganggap

bahwa kau kelak tidak pantas menjadi seorang raja.” Mahisa Agni

berhenti sejenak. Lalu, “mungkin terlampau sulit bagimu. Tetapi

kelak kau akan mengetahuinya. Sekarang turuti saja nasehat

paman.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Demi

keselamatanmu dan masa depanmu Anusapati. Kau harus tetap

menjadi Pangeran Pati.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, paman besok sudah pergi ke perbatasan. Ingat semua

pesan paman.”

“Apakah paman lama pergi?”

“Aku tidak tahu Anusapati. Mudah-mudahan tidak.” Anusapati

terdiam. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Seolah-olah ia

merasakan betapa sepinya istana ini tanpa Mahisa Agni.

“Marilah, aku antar kau ke embanmu. Tetapi ingat, embanmu itupun

harus tidak tahu apa yang kau lakukan dan terjadi.”

Anusapati mengangguk pula. Kemudian mereka berdua pergi ke

bangsal tengah untuk mencari emban pemomong Anusapati.

Seperti biasanya Anusapati selalu memanggil-manggilnya. Dan

emban itu selalu keluar dari bilik itu-itu juga. Namun kali ini Mahisa

Agni melihat emban itu berwajah terlampau suram. Matanya merah

dan ujung kainnya basah oleh air mata.

“Apakah kau menangis bibi?” bertanya Anusapati.

Dipeluknya anak itu, dan diciumnya di keningnya, “Tidak angger.

Bibi tidak menangis. Marilah tuan mandi. Nanti tuan segera tidur.”

“Emban,” berkata Mahisa Agni kemudian, “besok aku sudah

harus meninggalkan istana. Aku tidak dapat lagi membantu

mengawasi dan bermain-main dengan anak itu. Meskipun Baginda

Sri Rajasa sudah mempercayakannya kepadamu, tetapi aku sebagai

seorang paman, menitipkan anak itu pula. Kau tentu sadar, apakah

artinya seorang Pangeran Pati.”

“Ya tuan.” perempuan itu masih akan menjawab, tetapi bibirnya

serasa menjadi terlampau berat, dan matanya menjadi semakin

basah.

Mahisa Agni menjadi heran melihat tingkah laku emban itu. Ia

tidak dapat meraba sama sekali, apakah yang ada di dalam anganangannya.

Bagaimanakah sebenarnya tanggapannya terhadap

Anusapati.

Karena itu berbagai masalah bergulat di dalam hatinya. Bahkan

kadang-kadang ia dicengkam oleh kecurigaan yang luar biasa.

Apakah emban itu mendapat tugas sampai pada puncak kelicikan

dengan menyingkirkan Anusapati perlahan-lahan?

Tetapi kadang-kadang tumbuh kepercayaannya kepada emban

itu. Bahwa emban itu menaruh kasih kepada Anusapati. Ternyata

setiap kali anak itu diciumnya, dibelainya dan dimandikannya baikbaik

sebelum dibawa ke pembaringan. Bahkan kadang-kadang,

seperti yang dikatakan oleh Anusapati, emban itu sering menangis

tanpa sebab.

Dalam keragu-raguan itu Mahisa Agni menjadi semakin heran.

Perlahan-lahan emban itu berkata, “Tuan, apakah aku dapat

mengatakan sesuatu kepada tuan, sebelum tuan berangkat?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Tentu,” jawabnya.

“Tetapi tidak didengar oleh orang lain?”

Sejenak Mahisa Agni berdiam diri. Namun kemudian ia

mengangguk pula, “Tentu.”

Emban itu mengusap matanya yang basah. Kemudian, katanya,

“Aku akan memandikan tuanku Pangeran Pati.”

Mahisa Agni mengangguk, “Ya, mandikanlah.”

“Tuan dapat datang setelah angger Anusapati tertidur.”

“Baik.”

Emban itu mengusap kepala Anusapati, katanya, “Kau harus

cepat tidur tuan kecil.”

Anusapati tidak menjawab. Tetapi berbagai pertanyaan tumbuh

di dalam kepalanya.

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bangsal itu. Perlahanlahan

ia kembali ke biliknya. Dari kejauhan dipandanginya bangsal

tempat Permaisuri dan putera-puteranya yang kecil tinggal. Emban

pemomong Ken Dedes, ibunya sendiri yang semakin tua masih sibuk

membantu emban-emban yang lain melayani putera Ken Dedes

yang didapatkannya dari Sri Rajasa.

“Anusapati, sebagai seorang Pangeran Pati harus mendapat

pendidikan khusus,” berkata Sri Rajasa kepada Ken Dedes. Dengan

alasan itulah maka Anusapati tidak tinggal bersama-sama di dalam

satu bangsal dengan ibu dan adik-adiknya.

Mahisa Agni tiba-tiba tertegun sejenak. Tetapi kemudian ia

melangkah lagi. Katanya di dalam hati, “Aku memang harus minta

diri kepada ibu dan Ken Dedes. Tetapi biarlah nanti setelah aku

bertemu dengan pemomong Anusapati itu.”

Demikianlah dengan gelisah Mahisa Agni duduk di dalam biliknya,

di bagian belakang istana. Sekali-sekali ia memandang juga regol

dinding yang memisahkan dua bagian dari istana Singasari. Istana

yang lama, dan sebuah bangunan baru tempat tinggal Ken Umang.

Tetapi Mahisa Agni sama sekali tidak berani mendekati regol itu,

kalau ia tidak ingin membuat persoalan yang dapat mengganggu

usahanya membina Anusapati untuk selanjutnya. Ken Umang

baginya tidak kurang dari sesosok hantu betina yang siap

menerkamnya dan menyeretnya ke dalam jurang bencana yang

paling dalam.

Sejenak, Mahisa Agni duduk sambil merenung di dalam biliknya,

menunggu sampai Anusapati kira-kira sudah tertidur. Ia ingin

kembali ke bangsal itu dan menemui emban pemomong

kemenakannya itu.

Sebagai seorang paman tidak seorang-pun yang menaruh

keberatan apabila ia memasuki halaman di sekitar bangsal tengah

itu. Tidak pula ada yang menaruh keberatan apabila ia bermainmain

dengan Anusapati, yang sudah tentu permainan yang wajar

bagi kanak-anak. Tetapi Mahisa Agni menyadari, apabila seseorang

melihat permainan yang khusus bersama Anusapati, maka pasti

akan tumbuh masalah karenanya.

Ketika Mahisa Agni mendekati bilik Anusapati, ternyata Anusapati

memang sudah tertidur. Karena itu, maka Mahisa Agni-pun segera

masuk ke dalam bilik itu.

“Silahkan tuan,” emban itu mempersilahkannya, “aku memang

ingin mengatakan sesuatu kepada tuan. Aku kira tidak ada seorangpun

di sekitar bilik ini. Para prajurit berada di regol halaman atau di

luar sama sekali.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tuan,” berkata emban itu, “apakah tuan bersedia untuk

merahasiakan ceriteraku nanti demi keselamatanku?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Apakah ceriteramu

mengandung bahaya bagimu?”

Emban itu mengangguk, “Ya tuan. Bahaya yang berat bagiku.”

“Aku berjanji.”

“Aku memang yakin kalau tuan mempunyai belas kasihan

kepadaku. Bukan saja untuk kepentingan keselamatanku, tetapi

juga kemanakan tuan, Tuanku Pangeran Pati.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

“Tuan,” berkata emban itu perlahan-lahan, “sebenarnya aku

menjadi heran melihat perkembangan angger Anusapati.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata itu. Tetapi ia

berusaha untuk menyembunyikan perasaannya.

“Sama sekali di luar nalarku, bahwa Pangeran Pati itu mampu

melakukan hal-hal yang sama sekali tidak tersangka-sangka.”

“Apakah yang dilakukannya?” bertanya Mahisa Agni dengan

serta-merta.

Emban itu menarik nafas dalam-dalam.

“Apa?”

“Tuan. Kadang-kadang angger Anusapati mengigau. Bukan saja

mengigau, tetapi bergerak dan menyentak-nyentak. Agaknya ia

sedang bermimpi melakukan permainan yang aneh. Yang tidak aku

mengerti. Padahal ia tidak pernah bermain-main demikian.”

Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Apakah rahasia

yang selama ini ditutupinya rapat-rapat itu disadarinya sudah

diketahui oleh orang lain meskipun tidak seluruhnya?

“Tuan,” berkata emban itu pula, “pada suatu saat yang lain,

permainan tuanku Pangeran Pati tersangkut di langit-langit bilik ini.

Semula aku akan mencari kayu untuk mengambilnya. Tetapi

ternyata anak itu dapat mengambilnya sendiri.”

“Bagaimana ia mengambil?”

“Aku tidak tahu Tuan. Yang aku ketahui, sebelum aku

menemukan kayu penggalah, angger Anusapati sudah berlari-lari

kepadaku sambil membawa mainannya itu.”

“Ah, mungkin Anusapati tidak mengambilnya. Mungkin oleh angin

atau apapun sehingga permainan itu jatuh sendiri.”

Emban itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia menunjuk

ke satu sudut di dalam bilik itu, “Lihatlah Tuan.”

Ketika Mahisa Agni melihat ke arah yang ditunjuk oleh emban itu,

hatinya berdesir. Ia melihat tapak kaki pada dinding bilik itu.

“Tapak kaki itu belum lama melekat pada dinding itu. Belum ada

sepekan. Ketika angger Anusapati mengambil mainannya yang

tersangkut di langit-langit. Nah, apakah kata Tuan tentang anak

yang dapat berbuat demikian itu?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Suatu kecerobohan

yang dapat menumbuhkan rintangan.

“Tetapi Anusapati masih belum cukup dewasa untuk mengerti

bahaya yang selalu mengancamnya,” berkata Mahisa Agni di dalam

hatinya.

Tetapi ia bertanya, “Apakah kau yakin bahwa tapak kaki itu tapak

kaki Anusapati?”

Siapa lagi Tuan. Apakah aku? Atau orang lain yang berani masuk

ke dalam bilik ini?”

Mahisa Agni menarik nafas. Memang di dalam hati ia tidak dapat

ingkar lagi. Telapak kaki itu pasti telapak kaki Anusapati. Namun

demikian, kecurigaan Mahisa Agni terhadap emban itu-pun kian

bertambah-tambah. Kalau emban itu seorang emban kebanyakan,

apakah ia dapat berpikir secermat itu?

“Tuan, semuanya itu telah menumbuhkan keheranan dan

pertanyaan yang selalu menggangguku.”

“Biarlah aku hapus bekas telapak kaki itu.”

“Bukan bekas itu yang penting Tuan. Tetapi perkembangan

apakah yang sudah terjadi di dalam diri angger Anusapati?”

“Kau pasti lebih tahu daripadaku. Aku hanya sempat bermainmain

beberapa saat saja setiap hari. Kalau aku pulang dari barak

dan latihan, aku memang kadang-kadang menjumpainya bermainmain

sendiri. Tetapi bermain-main anak-anakan. Gateng, dan yang

paling baik yang pernah dilakukan adalah jirak.”

“Ya. Itulah sebabnya aku menjadi bingung.”

Mahisa Agni tidak segera menyahut. Ia harus mengerti dahulu

arah pembicaraan emban ini, supaya itu tidak terjerumus dalam

kekeliruan yang berakibat parah.

“Tuan,” berkata emban itu kemudian, “sebenarnya aku ingin

minta Tuan membantu aku, atau Tuan akan mengutuk aku.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?”

“Lebih baik Tuan menghapus bekas kaki itu dahulu. Kalau Sri

Baginda melihat dan bertanya kepadaku, aku tidak akan dapat

menjawab.”

“Kenapa kau tidak mengatakan, bahwa itu telapak kaki Putera

Mahkota yang bermain kejar-kejaran dengan seekor cicak?”

“Oh,” emban itu memegangi keningnya.

“Bukankah dengan demikian Baginda akan bangga dan berterima

kasih kepadamu, karena kau sudah mengasuhnya sebaiknya.”

“Itulah yang akan aku katakan kepada Tuan.” potong emban itu,

“tetapi aku minta Tuan melindungi namaku.”

“Kenapa?”

“Tuan akan tahu.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.

“Sebenarnya aku memang mempunyai tugas khusus Tuan,”

berkata emban itu.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Tugas yang semakin lama semakin tidak aku mengerti.”

Mahisa Agni masih tetap membisu, tetapi perlahan-lahan ia mulai

mengambil kesimpulan, bahwa memang ada yang tidak wajar di

dalam bilik ini.

“Tetapi ternyata perkembangan angger Anusapati membuat aku

menjadi bingung. Aku tidak akan dapat mempertanggung jawabkan

tugasku lagi.”

“Apakah sebenarnya tugasmu?”

“Tuan, apakah yang sebenarnya Tuan kehendaki atas angger

Anusapati?”

“Apakah yang aku kehendaki? Pertanyaanmu aneh emban. Aku

tidak menghendaki apapun. Sebagai seorang paman, aku pasti ikut

mengharap agar kemurahan hati Sri Rajasa, mengangkat Anusapati

menjadi Putera Mahkota, dapat tanggapan yang sewajarnya dari

Anusapati sendiri. Ia tidak boleh mengecewakan hati ayahandanya,

sehingga ia kelak akan menjadi seorang raja yang besar, yang

alangkah senang hati Baginda, apabila Anusapati dapat

menyempurnakan apa yang sudah dirintis oleh Sri Rajasa kali ini.”

Emban itu tidak segera menyahut. Tetapi kepalanya menjadi

tertunduk dalam-dalam.

“Apakah ada yang salah?” bertanya Mahisa Agni.

Emban itu tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya yang tunduk

menjadi semakin tunduk. Dengan demikian maka ruangan itu

menjadi hening sejenak. Yang terdengar adalah desah nafas

Anusapati yang sedang tertidur nyenyak.

Untuk menghilangkan kekakuan, Mahisa Agni berdiri sejenak, dan

melangkah ke sudut bilik itu. Ditatapnya bekas telapak kaki yang

masih tampak jelas melekat di dinding. Memang bekas telapak kaki

itu harus dihapus, supaya tidak memumbuhkan bermacam-macam

pertanyaan yang tidak akan dapat dijawab oleh emban itu.

Mahisa Agni-pun kemudian meloncat sambil mengusap bekas

telapak kaki itu dengan tangannya, sehingga yang masih tampak

melekat di dinding itu tidak lagi berkesan seperti telapak kaki, tetapi

sekedar debu biasa.

“Tuan sudah menghapusnya?” terdengar emban itu bertanya

lirih.

“Ya. Aku sudah menghapusnya. Setidak-tidaknya, tidak akan lagi

menimbulkan pertanyaan, telapak kaki siapakah yang ada di dinding

itu.”

“Terima kasih tuan.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia kembali duduk di

tempatnya.

“Bilik ini semakin lama semakin menyiksaku tuan,” desis emban

itu kemudian.

“Kenapa?”

“Tuanku Pangeran Pati itu,” jawabnya sambil memandang

Anusapati yang tidur nyenyak.

“Kenapa dengan Anusapati?”

Emban itu masih saja ragu-ragu, sehingga Mahisa Agni menjadi

hampir tidak sabar lagi. Anusapati biasanya tidak terlampau lama

tidur siang, sehingga apabila anak itu nanti terbangun, maka emban

itu tidak akan sempat mengatakan apa-apa. Padahal besok ia harus

sudah membawa pasukannya ke perbatasan.

“Tuan,” berkata emban itu selanjutnya, “tugasku ternyata

terlampau berat bagiku. Terus-terang, aku bukan orang yang baik.

Bukan orang berbudi. Justru karena itulah maka aku telah dipilih

oleh Ken Umang dan diserahkannya kepada Tuanku Sri Rajasa

untuk mengasuh angger Anusapati.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Sebagai seseorang yang memang kurang berbudi, aku

menyanggupi tugas itu. Aku mendapat upah yang cukup, yang tidak

akan aku dapatkan, meskipun aku bekerja di mana-pun juga.”

“Apakah tugas itu,” Mahisa Agni menjadi tidak sabar.

“Tugas itu tampaknya sederhana sekali.”

“Ya, tetapi apa?”

“Sekedar membuat angger Anusapati menjadi jinak. Jinak sekali.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Kini

semua kecurigaannya itu terbukti, bahwa memang ada usaha untuk

membuat Anusapati tidak berdaya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa sesadarnya ia

berdesis, “Aku sudah menyangka?”

Emban itu terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya, “Apa yang

sudah tuan sangka?”

Kini Mahisa Agnilah yang terkejut. Sejenak ia berdiam diri, namun

kemudian ia menjawab, “Aku sudah menyangka, bahwa Anusapati

tidak mendapat tuntunan sewajarnya.”

“Kenapa tuan menyangka demikian?” emban itu bertanya pula,

“Agaknya tuan memang sudah mencurigai Sri Rajasa.”

Mahisa Agni menarik nafas. Katanya kemudian, “Aku tidak

memandangnya sebagai seorang raja yang memberikan

kebanggaan bagi rakyat Singasari. Tetapi aku memandangnya

sebagai seorang manusia biasa. Bukankah kau tahu, bahwa

Anusapati itu bukan putra Sri Rajasa.”

Emban itu mengangguk kecil.

“Bukankah prasangka itu masuk akal?”

Sekali lagi emban itu mengangguk kecil.

“Dan kau melakukannya?” Mahisa Agni bertanya pula.

Emban itu menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian dengan

nada yang dalam ia berkata, “Aku memang sudah mencoba

melakukannya.”

“Aku juga sudah menyangka. Sejak semula aku tidak dapat

melepaskan diri dari kecurigaan, kenapa justru hanya seorang

emban yang diserahi untuk menuntun, mengawasi, memelihara

segala-galanya. Hanya kadang-kadang saja ada orang lain yang

membantu. Itu-pun khusus untuk kepentingan-kepentingan yang

tidak langsung berhubungan dengan Anusapati. Berbeda dengan

Tohjaya. Ada dua tiga orang emban yang selalu mengawaninya

setiap-saat. Dua orang pengawal khusus dan permainan yang

memadai sebagai seorang anak laki-laki.”

“Memang tuan. Di sini tampaknya ada juga beberapa orang

emban. Tetapi adalah tugasku untuk mengasingkan Anusapati. Dan

aku agaknya sudah berhasil. Emban-emban yang lain sama sekali

tidak dapat berbuat apapun atas Putera Mahkota. Dan agaknya

mereka-pun senang pula karenanya, selain pekerjaan mereka

menjadi jauh lebih ringan, mereka justru mendapat pemberianpemberian

khusus. Tugas mereka tidak lebih dari membersihkan

bilik ini nanti di sore hari dan pagi hari. Menjediakan makan dan

minumnya. Mencuci pakaiannya dan duduk-duduk di halaman ini

menjelang senja.”

“Ya, aku mengerti.”

“Agaknya tuan terlampau banyak memperhatikan karena itulah

agaknya tuan sering marah kepadaku.”

“Tidak sering, hanya mungkin pernah aku berbuat demikian di

luar sadarku.”

“Tetapi kini aku tahu, bahwa tuan melakukannya karena tuan

memang sudah berprasangka.”

“Ya, Lalu apa yang sudah kau lakukan kemudian?”

“Tetapi, akhirnya aku terjerat oleh perasaanku sendiri. Hubungan

yang setiap hari antara aku dan Tuanku Anusapati telah

menumbuhkan sesuatu yang tidak aku mengerti. Akhirnya aku

merasa, bahwa aku telah mencintai anak itu seperti anakku sendiri.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Terasa getaran katakata

emban itu memancar dari dasar hatinya, sehingga tumbuhlah

kepercayaan Mahisa Agni kepadanya dengan perlahan-lahan.

Sejenak Mahisa Agni tidak menyahut. Kini ia melihat titik-titik air

mata itu lagi. Menetes satu-satu di lantai bilik Anusapati yang

seakan-akan terpisah itu.

“Tuan,” berkata perempuan itu, “sebagai seorang yang tidak

pantas lagi berada di dalam lingkungan pergaulan yang wajar, aku

sama sekali tidak menyangka bahwa aku justru akan terlempar ke

dalam istana, apalagi sebagai seorang pengasuh Pangeran Pati.

Meskipun aku banyak bergaul dengan para bangsawan di masa

mudaku, tetapi itu sebagai mimpi yang datang sekilas bergantigantian.”

perempuan itu menundukkan kepalanya, “memang

kadang-kadang aku menyimpan dendam kepada mereka yang

menemukan kebahagiaan hidup. Aku menjadi iri kepada Tuanku

Permaisuri Ken Dedes, karena ia hanya berasal dari padepokan yang

melonjak ke singgasana seorang Permaisuri. Tetapi aku iri juga

kepada Ken Umang, yang kini perlahan-lahan nampaknya akan

berhasil merebut keturunan Ken Dedes untuk merajai Tanah ini.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Tuan, aku sendiri tidak mempunyai seorang anak-pun. Aku

belum pernah merasa betapa bahagianya seorang perempuan yang

mengandung dan kemudian melahirkan seorang anak. Apakah anak

laki-laki apakah anak perempuan. Aku tidak tahu, betapa bersihnya

hati kanak-anak. Dan aku tidak tahu, betapa jahatnya merusak hari

depan anak-anak yang sama sekali tidak menyadari, apakah yang

akan terjadi atas dirinya itu. Ternyata setelah aku bergaul dengan

Tuanku Pangeran Pati, aku mengerti, bahwa aku sebenarnya telah

terjerumus terlampau jauh. “ Mahisa Agni tidak dapat menyahut,

dan bahkan mengucapkan kata-kata apapun, selain menganggukanggukkan

kepalanya.

“Ken Umang yang mempunyai anak-anaknya itu seharusnya lebih

merasakan kasih terhadap anak-anak. Tetapi mata hatinya telah

dilapisi oleh pamrih, sehingga ia sampai hati mengorbankan hari

depan Anusapati untuk kepentingannya sendiri dan keturunannya.”

Terasa dada Mahisa Agni bergejolak. Dengan susah pajah ia

mencoba menguasai perasaannya. Tanpa menyadari keadaan

Anusapati, ia pasti sudah mengambil suatu keputusan. Tetapi

untunglah bahwa ia masih dapat mempergunakan nalarnya.

Anusapati harus tumbuh sesuai dengan rencananya. Rencananya

yang bertentangan sama sekali dengan rencana Sri Rajasa bersama

Ken Umang yang agaknya telah berhasil mempengaruhi Baginda

lebih jauh lagi.

“Tuan,” berkata emban itu selanjutnya, “aku sudah mengatakan

keadaanku sekarang di sini. Terserahlah kepada tuan, apakah tuan

percaya kepadaku atau tidak. Sudah lama aku memang tidak lagi

dapat dipercaya. Tetapi kini aku mencoba untuk mencari jalan agar

aku tidak terlanjur kehilangan sifat-sifat kemanusiaanku. Aku akan

mempertahankan sifat-sifat itu yang masih tersisa di dalam diriku.”

emban itu terdiam sejenak. Lalu, “Tetapi bagaimana dengan

Pangeran Pati itu? Kalau kemudian diketahui, bahwa aku sudah

berkhianat, maka aku pasti akan mendapat hukuman. Tetapi itu

tidak penting, meskipun aku ngeri juga. Yang penting adalah nasib

angger Anusapati. Ken Umang pasti akan mencari orang lain untuk

menggantikan aku. Dan Sri Baginda akan segera mengambil

keputusan, mengganti pengasuh Anusapati dengan orang lain yang

jauh lebih baik. Sri Baginda akan dapat saja mengatakan, bahwa

selama ini Putera Mahkota itu sama sekali tidak mendapat

kemajuan. Dan aku-pun akan segera hilang dari pergaulan.”

Mahisa Agni masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahanlahan

ia berdesis, “Aku tidak tahu emban, apakah aku dapat

mempercayai ceriteramu atau tidak. Tetapi aku melihat kejujuran

yang memancar dari hatimu. Mudah-mudahan kau berkata

sebenarnya.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “Memang benar

katamu, bahwa nasib Anusapati lah yang paling penting sekarang.”

“Begitulah Tuan.”

“Emban,” berkata Mahisa Agni kemudian, “besok aku harus

sudah pergi. Menurut pendapatku, sementara ini berlakulah seperti

biasanya apa yang kau lakukan. Jangan kau rubah sikapmu dan

caramu mengasuh Anusapati. Ia harus tetap terpisah dari orangorang

lain yang dapat mempengaruhinya, seperti pesan Ken Umang.

Ia harus tetap bermain-main dengan anak-anakan kayu, pasaran

dan sebagainya seperti yang selalu dilakukannya. Biarlah ia

berkeliaran sendiri di kebun-kebun seperti anak-anak liar tidak

terurus, mencari buah-buahan dan bermain-main dengan tanah dan

pasir. Kemudian pada saatnya ia mencarimu, mandikanlah dan bawa

ia tidur. Barangkali yang dapat kau lakukan, selain seperti

kebiasaanmu, berilah anak itu ceritera-ceritera kepahlawanan.

Ceritera tentang Sri Baginda raja-raja yang pernah ada. Kau tahu

maksudku?”

Emban itu mengangguk-anggukkan kepalamya.

“Nah, kita masih mempunyai waktu yang cukup. Mudah-mudahan

aku kembali dari peperangan dengan selamat. Kediri adalah suatu

negeri yang besar, yang penuh dengan senapati-senapati yang

mumpuni.”

“Tetapi tuan adalah seorang yang luar biasa.”

“Siapa yang mengatakannya?”

“Tuan berhasil mengalahkan Tuan Witantra.”

“Darimana kau tahu?”

“Semua orang mengetahuinya.”

“Sudahlah. Jagalah anak itu baik-baik. Mudah-mudahan ia kelak

dapat memenuhi tugasnya sebagai seorang raja. Kau masih harus

bermain dalam dua peran yang sulit. Tetapi aku percaya bahwa kau

akan berhasil. Kau akan tetap mendapat kepercayaan dari Sri

Baginda dan Ken Umang. Jangan sampai anak itu jatuh ke tangan

orang lain yang akan dapat berbuat jauh lebih jahat dari yang

pernah dialaminya.”

Emban itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti apa

yang dimaksud oleh Mahisa Agni, karena itu maka jawabnya,

“Mudah-mudahan aku dapat berbuat seperti yang tuan maksud.”

“Aku percaya kepadamu. Anak itu-pun agaknya sudah dapat kau

ajak berbicara serba sedikit.”

“Ya tuan. Mudah-mudahan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya

Anusapati yang masih tertidur nyenyak. Memang di wajahnya

seolah-olah terbayang wajah Tunggul Ametung, sehingga tidak

mengherankan apabila Ken Arok yang berusaha melupakan

kekuasaan Akuwu Tumapel itu merasa tersinggung setiap kali.

“Sudahlah,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku masih mempunyai

tugas yang harus aku selesaikan hari ini. Kalau aku tidak sempat

menemuimu lagi, aku minta diri. Jagalah anak itu baik-baik. Dan aku

akan sangat berterima kasih apabila kau menganggapnya seperti

anakmu sendiri.”

“Ya tuan. Aku akan menjaganya meskipun aku masih harus

berpura-pura. Tetapi aku mengharap tuan mengerti perasaanku.”

“Aku mengerti,” sahut Mahisa Agni, kemudian, “sudahlah, aku

minta diri. Aku akan menjumpai ibunya. Tuanku Permaisuri.”

“Silahkan tuan. Selama ini aku-pun sudah berhasil memenuhi

tugas yang dibebankan kepadaku. Memisahkan anak itu jauh-jauh

dari ibunya. Dari adik-adiknya dan emban pemomong Tuanku

Permaisuri.”

“Begitukah pesan Sri Rajasa?”

“Pesan, ken Umang. Tetapi agaknya Sri Rajasa juga tidak

berkeberatan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Di kepalanya

terbayang suatu pemberontakan yang perlahan-lahan dilakukan oleh

Ken Umang merebut keturunan untuk menguasai takhta Singasari.

Tetapi bahwa emban itu justru telah tergelincir ke dalam kasih

seorang perempuan terhadap anak-anak, adalah menguntungkan

sekali. Itu adalah suatu kurnia dari Yang Maha Agung, bahwa

Anusapati masih mungkin sekali diselamatkan.

Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan bilik itu. Meskipun ia

mempercayai emban itu. tetapi ia sama sekali belum berani

mengatakan bahwa Anusapati telah mendapat beberapa macam

petunjuk daripadanya, untuk membuat Anusapati menjadi seorang

Pangeran Pati yang pantas. Bagaimana-pun juga masih ada selapis

kecurigaannya terhadap emban itu. Mungkin sekali bahwa pada

suatu saat gemerincingnya emas dan permata akan membuatnya

berubah pendirian.

Dari bilik Anusapati. Mahisa Agni masih sempat mengunjungi bilik

Ken Dedes. Ia minta diri pula kepada adik angkatnya dan kepada

emban pemomongnya, yang tidak lain adalah ibunya itu.

Bagaimana-pun juga, namun emban itu terlampau sulit berusaha

menyembunyikan perasaan seorang ibu. Tiba-tiba saja matanya

menjadi basah. Tetapi ia tidak berbuat lebih dari seorang emban.

Demikianlah maka Mahisa Agni-pun kemudian meninggalkan

istana Singasari pergi kebarak. Ia harus mempersiapkan pasukannya

yang besok akan berangkat ke medan.

Pasukan Mahisa Agni adalah pasukan yang memang sangat

khusus. Dengan susah payah Mahisa Agni telah membentuk

serombongan pengungsi menjadi sepasukan prajurit yang siap maju

ke medan perang.

Tetapi usahanya selama ini agaknya tidak sia-sia. Latihan yang

tidak mengenal lelah, yang diutamakan untuk membuat setiap

orang di dalam pasukannya mampu mempergunakan senjata,

ternyata dapat memadai pula. Meskipun ada di antara mereka yang

sama sekali belum pernah meraba hulu pedang, kini dengan

tangkasnya ia dapat memutar pedang dan menyandang perisai.

Mahisa Agni bersama-sama beberapa orang prajurit yang

diperbantukan kepadanya, merasa bahwa pasukannya kini tidak lagi

terlampau lunak untuk digilas, oleh pasukan lawan yang betapapun

kuatnya. Di setiap kelompok Mahisa Agni berusaha menempatkan

kekuatan-kekuatan yang dapat dibanggakan, setidak-tidaknya untuk

menuntun kawan-kawannya yang lain apabila mereka berada di

peperangan.

Tetapi, meskipun pasukan itu tidak sekuat pasukan-pasukan yang

memang terdiri dari prajurit yang sudah terlatih, namun Mahisa Agni

sama sekali tidak kecewa apabila ia melihat tekad yang benar-benar

menyala di setiap dada orang-orang Kediri. Mereka bertekad untuk

kembali ke kampung halaman. Meskipun seandainya ada di antara

mereka yang harus jatuh menjadi korban, tetapi korban itu sama

sekali tidak sia-sia. Mereka telah berjuang untuk melepaskan Kediri

dari kericuhan dan tindak yang mereka anggap sewenang-wenang,

terutama di bidang keagamaan.”

Demikianlah Mahisa Agni telah berhasil menyiapkan seluruh

pasukannya. Mereka telah bersiap untuk berangkat besok, menyusul

pasukan-pasukan lain yang sudah lebih dahulu berada di

perbatasan. Keberangkatan pasukan itu sejalan dengan rencana Ken

Arok bahwa tidak ada gunanya lagi menunda-nunda benturan yang

pasti akan terjadi antara Singasari dan Kediri.

“Jangan menunggu mereka bersiap lebih jauh. Selagi mereka

masih tenggelam di dalam mimpi, bahwa Kediri tidak terkalahkan,

maka pada saat yang demikian kalian harus menerobos memasuki

batas negara itu, langsung menusuk ke jantung pemerintahan.”

perintah Ken Arok yang memangku kekuasaan Singasari yang

bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Maka para Panglima. Pandega dan Senapati-pun segera

menyesuaikan diri dengan perintah itu. Mereka segera

menempatkan diri mereka sesuai dengan rencana. Setiap pasukan

telah bersiap di mulut jalan-jalan raya yang menuju ke Kediri.

Pasukan Mahisa Agni-pun harus mengambil bagian pula dalam

persiapan yang sudah matang itu.

Beberapa orang pengawas perbatasan dari Kediri melihat

persiapan Singasari yang telah matang. Dengan cemas mereka

menyampaikan laporan itu kepada atasan mereka, sehingga

akhirnya berita itu-pun sampai juga ke hadapan Sri Baginda

Kertajaya.

“Apakah yang akan dapat dilakukan oleh Tumapel?” Barinda

bertanya kepada para Senapati.

“Mereka sudah bersiaga di perbatasan Tuanku.” jawab para

Senapati.

Baginda Kertajaya mengerutkan keningnya. Kemudaan katanya,

“Aku adalah Maharaja yang dikasihi oleh dewa-dewa. Bahkan aku

adalah Batara Guru itu sendiri yang turun ke bumi. Apakah kalian

masih sangsi?”

Para Senapati tidak ada yang menyahut.

Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa para Pendeta dan

pemimpin agama beserta keluarganya dan lingkungannya telah

mengungsi ke Singasari.

Tetapi Sri Baginda Kertajaya terlampau mengagumi

keagungannya sendiri. Ia tidak memperhatikan laporan-laporan

yang sampai ke telinganya. Sehingga pada suatu saat adik Baginda

sendiri Mahisa Walungan telah menghadap dan berkata, “Kakanda

Baginda, apakah Kakanda Baginda masih belum yakin, bahwa kita

seakan-akan telah berdiri di ujung tanduk? Pasukan Singasari telah

siap di perbatasan. seperti air yang tertahan oleh bendungan. Setiap

saat, air itu akan melimpah dan membanjiri tanah Kediri. Apakah

kita akan tetap berdiam diri menghadapi bahaya yang sudah di

ambang pintu?”

Sri Baginda Kertajaya mengerutkan keningnya. Katanya. “He,

apakah kita tidak mempunyai pengawal perbatasan?”

“Ada kakanda. Tetapi pengawal itu terlampau sedikit untuk

menghadapi pasukan Singasari.”

“Uh,” Sri Baginda menghentakkan kakinya, “apakah yang dapat

diperbuat oleh Tumapel?”

“Kakanda. Tumapel kini sudah berkembang menjadi sebuah

negeri. Bukankah setiap kali para Senanati, para Menteri dan hamba

sendiri selalu mengatakan, bahwa Tumapel kini sudah bernama

Singasari dan seorang yang bernama Ken Arok telah mengangkat

dirinya menjadi seorang Raja yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang

Amurwabumi?”

“Itu suatu pemberontakan terhadap Kediri.”

“Bukankah hamba sudah mengatakannya pula bahwa itu

memang suatu pemberontakan?”

“Tetapi kalian menjadi ketakutan seperti melihat kerajaan hantu.”

“Kakanda. Kita kini harus bertindak. Kalau kita tidak menganggap

Singasari sebagai suatu bahaya, tetapi kita-pun harus bertindak

terhadap negeri yang memberontak itu. Kalau kita tidak merasa

bahwa pasukan mereka akan mampu menembus pertahanan kita,

namun kita harus bertindak terhadap pemberontakan itu. Kalau

tidak maka daerah-daerah lain akan melakukan perbuatan yang

serupa.”

Kertajaya, yang merasa dirinya seorang Maharaja yang Agung itu

mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sependapat

dengan kau Mahisa Walungan. Kau dapat menindas pemberontakan

itu. Tetapi kita sama sekali tidak sedang berperang. Perang berarti

benturan kekuatan antara dua negara. Tetapi yang kita hadapi

adalah Tumapel yang kecil, yang diperintah hanya oleh seorang

Akuwu.”

Adik Baginda yang bernama Mahisa Walungan itu menarik nafas

dalam-dalam. Kebesaran Kediri telah membuat kakaknya kehilangan

pengamatan diri. Bahkan ia merasa bahwa kekuasaannya sudah

menyamai kekuasaan dewa-dewa.

“Kakanda,” berkata Mahisa Walungan kemudian, “untuk

menumpas pemberontakan itu, perkenankanlah hamba membawa

segenap pasukan yang ada selain pasukan keamanan.”

“He,” Baginda terkejut mendengar permintaan Mahisa Walungan

itu, “apakah kau sedang diterkam oleh mimpi yang dahsyat? Kenapa

kau memerlukan pasukan yang begitu besar sekedar untuk

menumpas Tumapel?”

“Tumapel telah memperkuat dirinya kakanda.”

“Betapapun kekuatan Tumapel sama sekali tidak memadai

kekuatan Kediri. Aku ijinkan kau mempergunakan pasukan

perbatasan. Kemudian pasukan yang lain akan menggantikan

pasukan yang bertugas di perbatasan itu.”

“Oh,” Mahisa Walungan berdesah. Tetapi ia tidak menyia-nyiakan

kesempatan itu. Katanya, “Baikkah Kakanda Baginda. Pasukan yang

akan menggantikan pasukan perhatasan itu akan hamba bawa

bersama hamba. Sementara hamba mohon kekuasaan dari Kakanda

Baginda untuk masuk langsung ke daerah Tumapel.”

“Baik. Tangkaplah Ken Arok yang menyebut dirinya Sri Rajasa

Batara Sang Amurwabumi itu.”

“Hamba Kakanda Baginda.”

Maka dengan sepasukan kecil sekedar untuk menggantikan

pasukan di perbatasan Mahisa Walungan meninggalkan kota

Kerajaan. Tetapi ia sama sekali tidak menusuk masuk ke Singasari.

Sebagai seorang Senapati yang mengenal medan dengan baik.

Mahisa Walungan menyadari, bahwa, dengan demikian ia akan

membunuh dirinya bersama seluruh pasukannya.

Tetapi Mahisa Walungan tidak berhenti sampai sekian. Ia sudah

berpesan kepada sahabatnya, seorang menteri yang terpercaya

untuk menyusulnya ke perbatasan dengan membawa pasukan yang

lain, sehingga meskipun sedikit tetapi pasukan di perbatasan sudah

bertambah jumlahnya.

“Aku akan segera kembali,” berkata Mahisa Walungan. “Aku akan

menyiapkan pasukan yang dapat bergerak setiap saat meskipun

tidak dapat aku bawa ke perbatasan.”

Mahisa Walungan-pun pergilah meninggalkan sahabatnya,

seorang menteri yang bernama Gubar Baleman, yang ikut

berprihatin atas keadaan Kediri. Seperti para Senopati beberapa kali

Gubar Baleman-pun pernah menyampaikan kesulitan yang, dialami

Kediri, apabila Kediri masih acuh tidak acuh saja menanggapi

keadaan.

Karena itu, maka sekali lagi Gubar Baleman mencoba

menyampaikan kepada Sri Baginda untuk meyakinkan Sri Baginda

Kertajaya bahwa keadaan Kediri benar-benar gawat.

“Kau tahu bahwa Mahisa Walungan baru saja pergi ke Tumapel

untuk menumpas pemberontakan di sana.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Hamba mengerti Tuanku, tetapi apakah pasukan yang dibawa oleh

Adinda Mahisa Walungan mencukupi?”

“Gila kau? Sepasukan prajurit pilihan itu masih belum memadai

untuk menumpas Tumapel?”

“Ampun Tuanku. Tumapel telah mengerahkan setiap laki-laki

untuk maju ke perbatasan. Setiap laki-laki. Seandainya mereka maju

bersama-sama tanpa membawa senjata sekali-pun, maka prajurit

Kediri yang ada di perbatasan tidak cukup banyak untuk membunuh

mereka sampai orang-orang terakhir mencapai kota Kediri.”

“Bohong. Bohong kau pengecut,” bentak Sri Baginda, “inilah

gambaran pemimpin-pemimpin Kediri sekarang?”

“Tuanku, pasukan Kediri adalah pasukan yang pilih tanding.

Pasukan Kediri tidak akan pernah mengenal mundur. Tetapi mereka

memerlukan waktu yang tidak terbatas untuk menaklukkan Tumapel

apabila pasukan di perbatasan itu tidak bertambah. Soalnya sama

sekali bukan karena keberanian dan ketangguhan orang-orang

Tumapel berkelahi. Tetapi jumlah mereka jauh lebih banyak dari

pasukan yang sudah ada. Setiap kali Adinda Mahisa Walungan

menghancurkan sepasukan prajurit, maka muncullah pasukan

Tumapel berikutnya. Demikian seterusnya, seolah-olah peperangan

itu tidak akan pernah selesai. Tetapi dengan pasukan yang lebih

banyak, maka waktu yang diperlukan akan menjadi semakin

pendek.”

Sri Baginda merenung sejenak. Dan Gubar Baleman berdebardebar

menunggu keputusan.

“Kediri benar-benar berada di ambang pintu bahaya,” katanya di

dalam hati, “tetapi aku tidak dapat mengatakannya. Baginda kini

menjadi lain sekali dengan Baginda pada saat Kediri mulai tumbuh.

Kini Baginda merasa dirinya sudah sempurna. Kalau saja Baginda

masih seperti dahulu, maka Baginda akan segera berada di

punggung kudanya, menyaksikan keadaan di perbatasan.”

“Baleman,” titah Sri Baginda Kertajaya, “baiklah, aku ijinkan kau

membawa sepasukan yang akan bergabung dengan Mahisa

Walungan. Tetapi tugas kalian harus segera selesai. Kalian harus

segera membawa Ken Arok menghadap hidup atau mati.”

Gubar Baleman menundukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya,

“Hamba Tuhanku. Hamba akan memimpin pasukan itu sendiri

bersama beberapa orang senapati.”

“He, kau memang benar-benar seorang pengecut sekarang.”

geram Sri Baginda, “kenapa dengan beberapa senapati. Setiap

senapati mempunyai pasukannya sendiri-sendiri. Berapa pasukan

yang akan kau bawa?”

“Sri Baginda,” sembah Gubar Baleman, “soalnya sama sekali

bukan karena hamba dan pasukan Kediri tidak berani menghadapi

orang-orang Tumapel, tetapi semata-mata atas pertimbangan

waktu. Semakin cepat akan menjadi semakin baik. sedang

beayanya-pun akan menjadi semakin murah. Peperangan yang

berlarut-larut dapat menumbuhkan banyak akibat. Pasukan yang

tarlampau lama barada di peperangan akan sangat berpengaruh

pada setiap orang di dalamnya.”

“Kau sedang menggurui aku Baleman. Apakah kau sangka aku

tidak pernah berada di peperangan he?” potong Sri Baginda.

“Ampun Tuanku. Sama sekali bukan maksud hamba,”

Sri Baginda Kertajaya terdiam sejenak. Namun kemudian Baginda

itu berkata, “Bawalah sepasukan prajurit. Tidak lebih.”

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi sangat

kecewa. Tetapi itu sudah jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Setidak-tidaknya ia akan menambah pasukan di perbatasan bersama

pasukan yang sudah dibawa oleh Mahisa Walungan.

Demikianlah maka Gubar Baleman pun berangkat pula ke

perbatasan, menggabungkan dirinya dengan Mahisa Walungan.

Tetapi ketika mereka berada di perbatasan, mereka justru menjadi

semakin cemas. Pasukan Singasari tersebar di perbatasan dan siap

membanjiri Kediri dari beberapa jurusan.

Mahisa Walungan hampir tidak melihat kemungkinan lagi untuk

menyelamatkan perbatasan. Demikian juga Gubar Baleman. Sedang

Sri Baginda Kertajaya benar-benar seperti orang yang sedang

mabuk kebesaran.

“Apakah sudah menjadi pertanda,” Mahisa Walungan berdesis,

“bahwa kebesaran yang lepas dari keseimbangan, akan

menjerumuskan seseorang ke dalam kesulitan. Bahkan lebih

daripada itu. Apakah memang sudah menjadi keharusan dari Yang

Maha Agung, bahwa Kediri sudah sampai ke puncaknya dan harus

meluncur turun tenggelam di bawah cakrawala.”

Gubar Baleman hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan

Mahisa Walungan, adik Sri Baginda Kertajaya itu berkata

seterusnya, “Kakanda Baginda merasa dirinya melampaui kewajaran

manusia biasa. Kakanda Baginda telah melupakan sumber adanya.

Seakan-akan ia mampu melakukan semuanya atas kekuatan dan

kemampuannya sendiri. Itulah agaknya sumber dari bencana yang

kini mengancam Kediri. Bahkan Kakanda Baginda merasa dirinya

mencapai kesempurnaan yang tidak tergoyahkan lagi.”

Gubar Baleman masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

Perlahan-lahan ia berkata, “Tetapi bagaimana-pun juga, kita harus

mencoba bertahan. Kita masih harus tetap berusaha.”

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak

akan ingkar. Sebagai adik seorang raja besar, dan sebagai seorang

prajurit ia harus bersiap melakukan perlawanan apabila negerinya

dilanda oleh lawan. Dengan kekuatan yang ada, betapapun kecilnya,

ia tidak dapat melepaskan begitu saja negerinya dihancurkan oleh

kekuatan Singasari yang sudah berada di hadapan pintu gerbang

kerajaan Kediri.

“Kakang Gubar Baleman,” berkata Mahisa Walungan itu

kemudian, “agaknya aku masih mempunyai waktu sedikit. Aku akan

kembali ke kota untuk menyiapkan prajurit-prajurit Kediri. Kalau aku

tidak mungkin membawa mereka ke perbatasan, maka aku akan

menyusun garis pertahanan di luar kota tanpa setahu Kakanda

Baginda. Menurut perhitunganku, perbatasan Kediri terlampau sulit

untuk dipertahankan melihat kekuatan Singasari yang tidak ada

taranya.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau terjadi perang, kita akan segera menarik pasukan

perbatasan ke pertahanan yang sudah aku siapkan.”

“Kalau rencana adinda itu dapat dilaksanakan, aku kira itu adalah

kemungkinan yang sebaik-baiknya.”

“Aku akan menghubungi para Senapati.”

Gubar Baleman mengerutkan keningnya, “Kenapa Adinda Mahisa

Walungan tidak memerintahkan saja mereka ke perbatasan?”

“Tidak mungkin. Apabila setiap saat Kakanda Baginda

memerlukan salah seorang dari mereka, dan kebetulan yang

dicarinya itu tidak ada, maka Kakanda Baginda tentu akan murka.

Tidak kepada Senapati itu saja. tetapi juga kepadaku, sebagai

Panglima prajurit Kediri yang berada di bawah perintah Sri

Maharaja.”

“Hem,” Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam, “apakah

yang telah menutup perhatian Baginda atas Tanah yang selama ini

telah kita perjuangan dan kita kembangkan.”

Mahisa Walungan tidak menyahut. Tetapi ia mulai merenungkan

rencananya untuk menyusun kekuatan tidak di perbatasan antara

Singasari dan Kediri, tetapi di perbatasan kota. Setiap kali Sri

Baginda memerlukan para Senapati, mereka masih dapat langsung

menghadap, sementara pasukan mereka bersiap dalam kubu-kubu

pertahanan.

Akhirnya, setelah dibicarakan sekali lagi dan sekali lagi, Mahisa

Walungan kembali ke kota meninggalkan Gubar Baleman untuk

memimpin pasukan yang ada di perbatasan. Tetapi Mahisa

Walungan tidak menghadap Sri Baginda. Dengan diam-diam ia

menemui para Senapati dan memberitahukan rencananya.

“Demi negeri ini,” katanya, “aku terpaksa melanggar tata

perintah keprajuritan.”

Para Senapati mengangguk-anggukkan kepala mereka. Bahkan

ada satu dua orang yang berpikir, sebaiknya Mahisa Walungan

sajalah yang kini memegang pemerintahan di Kediri. Tetapi merekapun

sadar, bahwa Mahisa Walungan tidak akan bersedia. Mahisa

Walungan adalah seorang ksatria yang berbuat tanpa pamrih untuk

negerinya, yang kadang-kadang telah melepaskan segala

kepentingan pribadinya.

“Bagaimana menurut pendapat kalian?” bertanya Mahisa

Walungan. “Kami sependapat tuan,” jawab salah seorang Senapati,

“kami sadar, bahwa semuanya ini semata-mata untuk kebaikan

negeri ini.”

“Bagus. Apakah kalian dapat mengerti?”

“Tentu,” hampir bersamaan beberapa orang menyahut.

“Tetapi jangan salah mengerti,” berkata Mahisa Walungan, “apa

yang kita kerjakan ini sama sekali bukan suatu pemberontakan

terhadap Kakanda Baginda Sri Maharaja Kertajaya. Tidak.

Betapapun juga aku tetap setia kepadanya. Justru kesetiaankulah

yang mendorong aku untuk berbuat seperti ini, untuk dengan

terpaksa melanggar tertib keprajuritan yang ditentukan oleh

Kakanda Baginda, demi kelangsungan pemerintah Baginda

Kertajaya atas Kediri.”

Para Senapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kesetiaan bagiku bukan sekedar menundukkan kepala dan

melakukan segala, perintahnya, meskipun kita tahu bahwa kita

bersama-sama sedang menuju ke dalam jurang kehancuran. Kalau

perlu kesetiaan harus diwujudkan dalam bentuk perlawanan dengan

kebiasaan. Tetapi dengan garis tujuan yang jelas. Bukan sekedar

melakukan sesuatu yang tanpa arti.”

Sekali lagi para Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau kalian setuju, maka sedikit demi sedikit, kalian, harus

memusatkan sebagian dari pasukan masing-masing di jalan raya

induk kota Kediri yang menghadap ke Singasari. Tetapi pengawasan

di setiap arah tidak boleh dilengahkan.”

Para Senapati itu merenung sejenak. Memang tidak ada jalan lain

daripada itu.

“Aku akan segera melakukannya,” berkata salah seorang

Senapati, “sebagian besar dari pasukanku akan aku kirim ke pusat

pertahanan itu.”

“Ya. aku akan segera melakukannya pula.”

Demikianlah maka keputusan-pun bulat. Kediri akan

dipertahankan tidak di perbatasan kedua negeri yang semaki lama

menjadi semakin tegang. Tetapi Kediri akan membangun pusat

pertahanannya di dalam negerinya. Rencana yang disiapkan oleh

Mahisa Walungan, Kediri harus menghancurkan musuh di mana-pun

mereka bertemu. Pasukan Singasari itu adalah sebagian terbesar

dari seluruh kekuatannya. Kalau pasukan itu berhasil dihancurkan,

maka kekuatan Singasari pasti sudah akan menjadi lumpuh.

Mahisa Walungan-pun kemudian mengirimkan seorang

penghubung kepada Gubar Baleman, bahwa rencana yang

dibicarakannya agaknya dapat dilakukannya. Karena itu, maka

pertahanan di perbatasan bukanlah pertahanan yang mutlak.

“Tuanku Mahisa Walungan menetapkan pertahanan induk

pasukan Kediri di sebelah Utara Ganter,” berkata penghubung itu

kepada menteri Gubar Baleman.

Gubar Baleman yang telah mendengar rencana itu lebih dahulu

mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baik, Aku

menyesuaikan diri. Rencana Adinda Mahisa Walungan adalah

rencana yang sebaik-baiknya dapat kita lakukan dalam keadaan ini.”

Dengan demikian maka Gubar Baleman-pun mengatur

pertahanannya sesuai dengan pertahanan terakhir pasukan Kediri.

Apabila pasukan perbatasan itu terdesak, maka ia harus mundur

lewat jalan raya yang akan melalui Ganter. Gubar Baleman

mengharap bahwa Mahisa Walungan telah siap dengan pasukannya

untuk membinasakan pasukan Singasari.

Di pinggir kota Kediri, pertahanan telah disusun meskipun Mahisa

Walungan berusaha untuk tidak menimbulkan kecemasan pada

rakyat Kediri. Mahisa Walungan-pun menjaga agar berita tentang

pemusatan pasukan itu tidak sampai kepada Sri Baginda Kertajaya,

bahkan mengenai kehadirannya sendiri. Setiap orang yang mungkin

berhubungan dengan Sri Baginda telah dihubunginya agar tidak

seorang-pun yang menyampaikan berita itu.

Dengan perlahan-lahan Mahisa Walungan menyusun kekuatan.

Sekelompok demi sekelompok. Namun dengan demikian usaha

Mahisa Walungan itu berlangsung lambat sekali.

Tetapi pada suatu saat Mahisa Walungan dapat menarik nafas

panjang. Pasukannya telah siap di sepanjang jalan raya di sebelah

Utara Ganter. Meskipun pasukan itu masih belum memadai

dibanding dengan pasukan Singa-sari. tetapi Mahisa Walungan

berharap, bahwa ia akan dapat menahan pasukan Sri Rajasa di

sebelah Ganter menunggu pasukan-pasukan lain yang pasti akan

dapat dikerahkannya dengan alasan yang kuat.

Dengan usahanya sendiri Mahisa Walungan berhasil menghimpun

bahan makanan untuk pasukan yang telah di pusatkannya itu.

Hampir setiap saat ia berada di antara mereka, memberikan

petunjuk-petunjuk dan membakar tekad mereka untuk

mempertahankan Kediri dengan segala kekuatan yang ada pada

mereka.

Akhirnya Mahisa Wahingan menjadi semakin dekat dengan hati

setiap prajurit. Bagi mereka, Mahsa Walungan lah pemimpin

tertinggi yang dapat memberikan pegangan bagi mereka, sehingga

lambat laun, para prajurit itu seakan-akan sama sekali tidak

memerlukan orang lain, selain Mahisa Walungan. Mereka sama

sekali tidak memerlukan lagi Baginda Kertajaya, meskipun Baginda

Kertajaya menyatakan dirinya sebagai Dewa tertinggi sekali-pun.

Demikian dengan tekun Mahisa Walungan dan beberapa orang

Senapati yang sependapat dengan pendiriannya, membangunkan

kekuatan di sebelah Utara Ganter. Semakin lama semakin tambah

dengan kelompok-kelompok baru yang masih berdatangan. Adalah

sesuai dengan pertimbangannya, bahwa kedatangan pasukan yang

tiba-tiba dan bersamaan akan dapat menumbuhkan kegoncangan

dalam tata kehidupan sehari-hari yang memang sudah diliputi oleh

ketegangan dan ketidak pastian.

Tetapi adalah mengejutkan sekali, bahwa pada suatu saat

seorang utusan datang kepada Mahisa Walungan dengan tergesagesa.

Dengan nafas terengah-engah ia berkata, “Ampun tuan. Aku

adalah utusan Sri Baginda Kertajaya.”

Mahisa Walungan mengerutkan keningnya.

“Aku mendapat perintah Sri. Baginda untuk menghadap tuan.”

“Bagaimana bunyi perintah itu?”

“Aku harus menemui tuan di sebelah Utara Ganter.”

“He,” Mahisa Walungan terkejut, “apakah Kakanda Baginda

mengetahui bahwa, aku berada di sebelah Utara Ganter?”

“Ya tuan. Sri Baginda mengetahui,”

“Darimana Kakanda Baginda mengetahui?”

Utusan itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak mengerti.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa

tidak semua orang sependapat dengan rencananya. Tidak semua

orang mengerti dan sejalan dengan caranya. Juga tidak semua

orang menyerahkan dirinya untuk kepentingan Tanah yang akan

dipertahankannya mati-matian.

Ketika ia mengatakannya kepada beberapa orang Senapati,

mereka-pun menjadi tegang.

“Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Kakanda Baginda?”

“Tuan,” berkata utusan itu, “sebaiknya tuan bersiap-siap untuk

menerima kemarahan Sri Baginda. Baginda menjadi murka ketika

Baginda mendengar tuan tidak berada di Tumapel.

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya. Pasti ada

seseorang yang menyampaikan hal ini kepada Baginda. Menurut

pengamatannya. Baginda yang merasa dirinya melampaui

kewajaran manusia biasa itu, tenggelam dalam sanggar yang

dibuatnya untuk membesarkan dirinya sendiri di dalam alam anganangan,

seolah-olah ia sudah berada di ujung langit, tempat dewadewa

bersemayam. Adalah tidak mungkin Baginda mengetahui

keadaannya tanpa seorang-pun yang memberitahukan kepadanya.

Tetapi Mahisa Walungan tidak akan ingkar dari tanggung

jawabnya. Katanya, “Aku akan menghadap Kakanda Baginda.”

“Silahkan tuan.”

Mahisa Walungan-pun kemudian menyerahkan pimpinan

pasukannya kepada seorang Senapati tertua. Dengan dada yang

berdebar-debar maka ia-pun berpacu di atas punggung kuda tanpa

seorang-pun yang mengawalnya kembali ke istana, selain utusan Sri

Baginda itu.

Mahisa Walungan menjadi semakin berdebar-debar ketika ia

memasuki gerbang dalam. Ia melihat beberapa orang prajurit

pilihan yang berjaga-jaga. Jauh lebih banyak dari kebiasaannya.

Dengan pandangan aneh mereka memandang Mahisa Walungan

yang berjalan di halaman istana itu menuju ke bangsal tengah,

setelah meninggalkan kudanya di halaman depan.

“Hem,” Mahisa Walungan menarik nafas, “aku kira ada ketidak

wajaran yang akan terjadi.”

Setelah menunggu sejenak, maka Mahisa Walungan langsung

dipanggil menghadap oleh Sri Baginda Kertajaya. Di ruang dalam

bangsal tengah.

Sekali lagi ia menjadi heran, bahwa di pintu masuk ruang itu-pun

ia melihat dua orang Senapati dari pasukan pengawal istana seolaholah

memang sudah menunggunya.

“Ha, kau Walungan,” desis Baginda ketika adiknya sudah

menghadap.

Mahisa Walungan tidak segera menjawab. Ia menundukkan

kepalanya dalam-dalam, kemudian dengan dada berdebar-debar ia

duduk di muka singgasana Baginda Kertajaya. Namun Mahisa

Walungan masih sempat melihat beberapa orang pengawal istana

berada di dalam ruangan itu pula, sedang beberapa orang

penasehat Baginda dan para menteri seolah-olah memang telah

dipersiapkan menunggu kedatangannya.

“Majulah Walungan,” tampaknya Baginda terlampau ramah

kepada adiknya. Tetapi Mahisa Walungan menyadari, bahwa

seakan-akan ia kini akan dihadapkan ke depan sidang yang akan

membicarakan nasibnya.

Mahisa Walungan bergeser beberapa jengkal maju. Ketika ia

mengangkat wajahnya, maka dadanya berdesir. Dilihatnya seorang

Senapati muda yang dikenalnya dengan baik duduk di antara para

menteri di sisi Baginda.

Kini sadarlah Mahisa Walungan, bahwa senapati muda yang

bernama Pujang Warit itulah agaknya yang telah memberitahukan

segala masalahnya kepada Baginda.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Pujang Warit

adalah salah seorang Senapati yang tampaknya ikut .di dalam

penyusunan pasukan di luar kota Kediri. Tetapi ternyata ia telah

menyampaikan hal itu kepada Baginda.

“Mahisa Walungan,” bertanya Baginda, “sekian lama aku

menunggu kedatanganmu. Aku ingin mendengar, bagaimanakah

hasil perjalananmu ke Tumapel? Apakah kau sudah berhasil

menangkap pemberontak yang bernama Ken Arok itu?”

“Ampun Kakanda Baginda,” sembah Mahisa Walungan, namun

sekali ia mencoba memandang wajah Senapati, muda itu. Kemudian

katanya selanjutnya, “Hamba tidak dapat masuk ke wilayah

Tumapel karena pertahanan yang rapat.”

Baginda Kertajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Bukankah kau Mahisa Walungan yang dahulu juga?”

Mahisa Walungan tidak menyahut.

“Aku tidak pernah mendengar laporan, bahwa Mahisa Walungan

pernah gagal.”

Mahisa Walungan masih tetap berdiam diri.

“Walungan,” berkata Baginda Kertajaya selanjutnya, “Gubar

Baleman telah membawa sepusukan prajurit yang akan bergabung,

dengan prajurit-prajurit yang kau pimpin. Di manakah Gubar

Baleman sekarang?”

“Kakang Gubar Baleman masih berada di perbatasan.”

“Tetapi kenapa kau berada di Ganter?”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Kini ia tidak akan

dapat berbohong lagi. Senapati muda itu pasti sudah mengatakan

apa saja yang telah dilakukannya.

“Apa salahnya,” katanya di dalam hati, “maksudku baik. Dan aku

mengharap, Kakanda Baginda dapat mengerti.” Mahisa Walungan

mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja tumbuh pertanyaan di dalam

hatinya, “Apakah maksud Senapati muda itu? Apakah ia merasa

berkeberatan atas persiapan itu? Atau bahkan ia merasa iri hati?

Sudah tentu bahwa ia tidak akan dapat berusaha dengan cara

apapun untuk mendesak kedudukanku sebagai Adinda Baginda

Kertajaya. Apapun yang dilakukan, Mahisa Walungan tetap adinda

Sri Baginda. Dan orang lain tidak akan dengan serta merta menjadi

saudara muda Baginda. Tetapi kalau ia inginkan kedudukanku

sebagai Panglima prajurit Kediri, masih juga masuk akal. Namun

sudah tentu bukan anak itu yang akan menggantikan aku

seandainya dengan caranya ia dapat menyingkirkan aku.”

“He,” desak Baginda Kertajaya, “kenapa kau diam saja?”

Mahisa Walungan kemudian mengangkat wajahnya.

Dipandanginya wajah Baginda sekilas. Hanya sekilas. Kemudian

tatapan matanya beredar kepada para tertua, penasehat dan para

menteri. Ketika matanya memandang wajah Senapati muda itu,

maka Pujang Warit-pun segera menundukkan kepalanya.

“Ampun Kakanda Baginda,” berkata Mahisa Walungan kemudian,

“Hamba memang sudah berada di perbatasan. Tetapi menurut

perhitungan hamba, maka seandainya hamba masuk ke daerah

Tumapel yang sekarang menyebut dirinya Singasari itu, hamba pasti

akan terjebak. Jumlah prajurit Singasari tidak terhitung lagi. Itulah

sebabnya hamba memutuskan untuk mengambil cara lain. Hamba

akan menjebak pasukan Singasari itu di sebelah Utara kota Ganter.

Seandainya mereka berhasil mendesak pasukan kakang Gubar

Baleman yang memang sudah bersedia untuk menyesuaikan diri

dengan persiapan hamba.”

Sri Baginda Kertajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi

tiba-tiba ia tertawa. Dan suara tertawanya menumbuhkan

keheranan di hati Mahisa Walungan.

“Kau memang seorang Panglima yang cakap,” desis Baginda di

sela suara tertawanya, “tetapi apakah kau merasa bahwa kau

memegang kekuasaan tertinggi di Kediri?” tiba-tiba suara Baginda

berubah. Derai tertawanya-pun patah dengan tiba-tiba. Dengan

wajah yang tegang dipandanginya Mahisa Walungan yang

menundukkan kepala, “He, Mahisa Walungan. Jangan kau sangka

bahwa aku tidak tahu apa yang kau lakukan.”

Mahisa Walungan tidak menjawab. Ia sama sekali tidak

berkeberatan kalau Baginda mengetahuinya, karena hal itu memang

sudah dikatakannya. Karena itu maka ia menunggu saja apa yang

akan dikatakan oleh Baginda Kertajaya seterusnya.

“Walungan,” berkata Baginda, “tetapi aku sama sekali tidak

menyangka, bahwa kau, adikku sendiri, ternyata tidak setia

kepadaku.”

Kata-kata itu ternyata benar-benar telah mengejutkan Mahisa

Walungan sehingga ia terhenyak sejenak. Ia memang melanggar

perintah Sri Baginda. Tetapi itu bukan pertanda bahwa ia sama

sekali tidak setia.

“Adikku,” bertanya Baginda, “apakah maksudmu sebenarnya

dengan menghimpun prajurit di hadapan gerbang kota Kediri?

Apakah benar, bahwa kau sedang menarik garis pertahanan

menghadap ke Singasari?”

Pertanyaan itu benar-benar telah mengguncangkan dada Mahisa

Walungan. Sejenak ia duduk mematung. Ia tidak mengerti apakah

pendengarannya itu tidak keliru, atau sekedar karena gelora di

dalam dadanya sendiri.

Tetapi keragu-raguan itu-pun lenyap ketika Sri Baginda bertanya

pula, “Bagaimana Mahisa Walungan? Benarkah begitu? Atau itu

semuanya bukan sekedar sebuah topeng untuk maksud-maksudmu

yang lain?”

Alangkah pedih hati Mahisa Walungan mendengar tuduhan itu.

Benar-benar pedih, sehingga sejenak ia menundukkan kepalanya

dalam-dalam. Sekali-sekali ia menarik nafas sambil berdesah

perlahan-lahan.

Beberapa orang yang mengenal Mahisa Walungan dengan baik,

menjadi beriba hati. Mereka yakin bahwa tidak akan timbul sama

sekali niat Mahisa Walungan untuk berbuat sesuatu yang

bertentangan dengan kesetiaannya kepada Kakanda Baginda dan

kepada Tanah Kediri.

Mahisa Walungan dan semua yang ada di ruangan itu tiba-tiba

terkejut ketika Baginda membentak dengan kerasnya, “He

Walungan. Jawablah.”

Mahisa Walungan beringsut setapak. Sambil menundukkan

kepalanya ia menjawab perlahan-lahan, “Ampun Kakanda Baginda.

Sebenarnyalah hamba mempersiapkan pertahanan itu untuk

menghadapi Singasari.”

“Bohong. Bohong,” teriak Sri Baginda, “Walungan. Kau adalah

adikku. Satu-satunya adikku. Tetapi ternyata bahwa justru kau

adalah orang yang pertama-tama mengkhianati aku.”

Mahisa Walungan tidak menjawab.

“Kau memang mempersiapkan pertahanan itu untuk dua maksud.

Aku mengerti bahwa kau dapat menyusun jebakan bagi pasukan

Tumapel di sebelah Utara Ganter. Tetapi yang utama, pasukan itu

sama sekali tidak kau hadapkan kepada lawan, kepada

pemberontakan Ken Arok. Tetapi pasukan itu terutama kau

hadapkan kepadaku. Kau telah bersepakat dengan Gubar Baleman

untuk menguasai Kediri. Gubar Baleman kau tempatkan di

perbatasan untuk menghentikan setiap gerakan Tumapel. Sedang

kau mempunyai kesempatan untuk melakukan rencanamu. Kau

telah menipu banyak sekali Senapati dan prajurit. Mereka tidak

tahu, untuk apa mereka harus berada di Ganter.”

Terasa getaran yang dahsyat telah melanda dada Mahisa

Walungan. Ia tidak menyangka bahwa ia akan dihadapkan pada

suatu tuduhan yang paling keji. Ia menyangka bahwa Kakanda

Baginda Kertajaya itu hanya akan murka karena ia telah melanggar

perintahnya. Tetapi agaknya kemarahan itu sudah melonjak

demikian parahnya.

Agaknya Sri Baginda Kertajaya telah menuduhnya menyiapkan

sebuah pemberontakan atas takhta Kediri.

“Walungan,” Kertajaya berteriak, “kenapa kau masih ingkar he?”

“Ampun Kakanda Baginda,” Mahisa Walungan mencoba

menjelaskan maksudnya, “hamba sama sekali tidak bermaksud

jahat. Hamba hanya mencoba menurut kemampuan hamba

mempertahankan Tanah Kediri. Karena Kakanda Baginda tidak

mengijinkan hamba membawa pasukan ke perbatasan, maka hamba

telah menyusun pasukan itu di sebelah Utara Ganter.”

“Memang kau benar-benar adikku yang cerdas,” sahut Baginda.

Meskipun Baginda tersenyum, tetapi senyumnya terasa mendirikan

bulu-bulu tengkuk Mahisa Walungan, “kau sudah menyusun

jawaban terhadap setiap kemungkinan yang akan ditanyakan

kepadamu. Tetapi kau tidak akan dapat berbohong. Kau harus

mengakui, bahwa kau sudah siap melakukan pemberontakan. Aku

tahu bahwa agaknya kau tidak akan menyerahkan Kediri kepada

orang-orang Tumapel, tetapi pasti ada terlintas di kepalamu, bahwa

aku tidak memberimu kepuasan karena niatmu tidak terpenuhi. Kau

akan memberontak, menyingkirkan aku, dan sebagai satu-satunya

saudara muda, kau akan dengan sendirinya naik takhta.”

Kata-kata Sri Baginda Kertajaya itu bagaikan duri yang langsung

menusuk ulu hati Mahisa Walungan. Karena itu, maka ia tidak dapat

berbuat lain kecuali menundukkan kepala semakin dalam.

Kini ia sadar, kenapa di setiap sudut ruangan, di setiap pintu,

pengawal istana siap berjaga-jaga. Dan ia-pun sadar, bahwa ia tidak

akan dapat kembali ke pasukannya yang telah disiapkannya itu.

“Mahisa Walungan,” berkata Sri Baginda, “aku tidak perlu

mendengar keteranganmu lebih banyak lagi. Karena kau adikku,

maka untuk sementara kau masih akan tetap hidup. Aku masih ingin

tahu, sampai di mana dosa-dosa yang telah kau perbuat atasku dan

atas Kediri. Tetapi, pada suatu saat kau pasti akan menerima

hukuman itu.” Sri Baginda berhenti sejenak, “sekarang kau terpaksa

ditahan. Kau dapat menghitung hari di dalam bilik yang sempit,

sambil menyesali dosa-dosamu. Tetapi semuanya itu sudah

terlambat. Kau tinggal menunggu, hukuman apa yang akan aku

jatuhkan kepadamu atas pengkhianatanmu itu. Meskipun kau

adikku, atau justru karena kau adikku, maka hukuman itu akan

menjadi jauh lebih berat.”

Mahisa Walungan sama sekali sudah tidak melihat kemungkinan

lain. Ia harus menerima keadaannya. Sekali ia memandang wajah

Senapati muda yang agaknya telah menyampaikan laporan palsu

itu. Tetapi Senapati itu tidak sedang memandang wajahnya.

Yang membuatnya sangat berprihatin justru bukan dirinya

sendiri. Tetapi apakah yang akan terjadi atas Kediri? Justru pada

saat banjir bandang itu siap melanda negerinya, ia sama sekali tidak

mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu.

Terasa darah Mahisa Walungan seakan-akan bergolak.

Kemarahan di dalam hatinya tertuju kepada Senapati muda itu.

Senapati muda yang telah mengorbankan segala-galanya untuk

kepentingan dirinya sendiri. Tanpa disadarinya, bahwa ia telah

mengorbankan Kediri dalam keseluruhan ini pula.

Harapan satu-satunya bagi Mahisa Walungan terletak pada Gubar

Baleman. Tetapi hampir pasti bahwa Gubar Baleman-pun akan

mengalami nasib serupa dengan nasibnya. Gubar Baleman itu akan

dipanggil pula oleh Sri Baginda, kemudian seperti dirinya sendiri, ia

tidak akan keluar lagi dari paseban dalam mil Demikianlah Mahisa

Walungan tidak dapat mengelak lagi ketika dua orang Senapati

pengawal istana kemudian membawanya dari hadapan Sri Baginda.

Dan Mahisa Walungan itu masih melihat wajah Baginda yang merah

menahan marah sambil berkata, “Aku akan memberikan contoh

yang sebaik-baiknya bahwa aku tetap berpegang pada keadilan.

Meskipun kau adikku, tetapi pengkhianatanmu akan medapat

imbalan yang wajar.”

Mahisa Walungan tidak menjawab. Sambil menundukkan

kepalanya ia melangkah meninggalkan bangsal itu. Sekilas ia

melihat para pengawal yang berjaga-jaga di depan pintu.

Kedua Senapati yang mengapitnya itu-pun sama sekali tidak

berbicara apapun. Sekali-sekali Mahisa Walungan mencoba

memandangi wajah keduanya berganti-ganti. Tetapi sangatlah sulit

untuk menangkap kesan pada wajah-wajah itu.

Ketika Mahisa Walungan sempat menebarkan pandangan

matanya, maka terasa kesiagaan yang luar biasa di halaman istana

itu. Di setiap regol ia melihat beberapa orang prajurit pengawal.

Bahkan di sudut-sudut longkangan dan di sudut-sudut bangsal

dijaga pula oleh prajurit-prajurit pilihan pengawal istana.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam.

“Kakanda Baginda benar-benar menganggap bahwa aku akan

memberontak. Dipersiapkannya prajurit pengawal sekian

banyaknya, agar aku tidak dapat lolos lagi, seandainya aku berniat

demikian,” katanya di dalam hati.

Namun Mahisa Walungan saat itu sama sekali tidak ingin lari. Ia

tidak merasa bersalah sama sekali, sehingga karena itu, ia akan

menghadapi setiap keadaan dengan dada tengadah. Bahkan

mungkin ia masih mendapat kesempatan untuk membela diri dan

memberikan bukti bahwa ia memang tidak bersalah.

Tetapi seandainya Mahisa Walungan berhasrat untuk

melakukannya, maka masih banyak jalan yang dapat ditempuh.

Meskipun hampir di setiap jengkal ada seorang prajurit yang berdiri

dengan senjata telanjang, namun Mahisa Walungan adalah orang

yang luar biasa.

Demikianlah maka Mahisa Walungan dimasukkan ke dalam

sebuah bilik kayu yang kuat. Sebuah bilik yang sempit dan gelap. Di

sudut bilik itu terdapat sebuah pembaringan kayu yang keras. Tanpa

alas sama sekali.

Mahisa Walungan menggeleng-gelengkan kepalanya. Bilik itu

sama sekali tidak pantas untuknya. Betapapun besar kesalahannya,

tetapi ada tempat yang khusus untuk menahan para bangsawan.

Apalagi seorang adik raja yang besar seperti Mahisa Walungan.

“Agaknya kesalahanku dianggap terlampau besar, dan tidak akan

dapat dipersoalkan lagi. Agaknya Kakanda Baginda menganggap

bahwa aku tidak pantas lagi mendapat perlakuan sebagai manusia

sewajarnya. Bagaimanapun juga, tumbuh juga kekecewaan di hati

Mahisa Walungan. Kekecewaan yang perlahan-lahan telah menusuk

jantungnya atas perlakuan yang dialaminya.”

Ketika pintu bilik yang sempit itu kemudian tertutup rapat, maka

Mahisa Walungan-pun mencoba untuk melihat seluruh sudut

ruangan. Diraba-rabanya dinding kayu yang membatasi ruangan

yang. sempit itu.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Mahisa Walungan

kemudian duduk di atas pembaringan kayu yang keras dan tidak

beralas itu.

“Terlalu. Aku harus menanggung penghinaan seberat ini,”

desisnya.

Telinga Mahisa Walungan yang mendengar langkah beberapa

orang prajurit di luar pintu. Ia yakin bahwa di depan pintu biliknya

itu pasti di tempatkan beberapa prajurit pilihan, dan bahkan

mungkin dengan seorang atau dua orang senapati.

Tiba-tiba Mahisa Walungan itu berdiri. Ia melangkah mendekati

pintu sambil bertanya, “Siapa di luar?”

Tidak segera ada jawaban.

“Siapa di luar? “ Mahisa Walungan mengulangi.

“Aku. Prajurit yang bertugas,” terdengar seseorang menjawab.

“Ruangan ini terlampau Pengab. Aku hampir tidak dapat

bernafas.”

Tidak ada jawaban.

“Apakah tidak dapat dibuat satu lubang agar ada udara yang

dapat masuk?”

“Bagaimana dapat dibuat lubang itu?” prajurit yang bertugas itu

bertanya.

“Ambil sebuah papan dinding bilik ini, kemudian setelah diberi

beberapa buah lubang, pasang kembali.”

Prajurit yang ada di luar pintu itu tidak segera menjawab.

Agaknya ia sedang berbincang dengan kawan-kawannya. Namun

kemudian prajurit itu menjawab, “Itu bukan wewenangku.”

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar,

bahwa hal itu sama sekali bukan wewenangnya. Tetapi udara di bilik

yang sempit itu serasa semakin mencekiknya.

“Bagaimana kalau aku membuat sendiri?” bertanya Mahisa

Walungan.

Prajurit yang bertugas menjaganya menjadi heran. Bagaimana ia

dapat membuat sendiri.

“Bagaimana? “ Mahisa Walungan mendesak.

“Tetapi apakah tuan dapat membuat sendiri?” beritanya prajurit

itu.

“Aku akan membuatnya. Aku tidak dapat bernafas lagi.”

Sebelum prajurit itu menjawab, Mahisa Walungan telah mulai

meraba-raba dinding kayu yang tebal itu. Kemudian ia mengatupkan

giginya rapat-rapat. Sejenak ia memusatkan segenap

kemampuannya, dan sejenak kemudian, maka tangannya-pun

seakan-akan meremas sesuatu.

Prajurit-prajurit yang bertugas di luar bilik itu terkejut ketika

mereka melihat lima buah jari yang tiba-tiba saja seakan-akan

menembus dinding kayu yang tebal itu. Kemudian dengan suatu

remasan yang menghentak, terjadilah sebuah lubang pada dinding

kayu itu.

Prajurit-prajurit yang melihat hal itu justru diam mematung.

Terasa seakan-akan darah mereka berhenti mengalir. Sebelum

mereka menyadari keadaan masing-masing, maka mereka melihat

tangan itu telah membuat lubang yang lain.

Ketika pada dinding bilik itu telah terjadi lima buah lubang maka

terdengar suara dari dalamnya, “Aku kira sudah cukup.”

Ternyata suara itu telah membangunkan para penjaga. Mereka

segera berloncatan mendekati lubang-lubang itu. Tetapi mereka

tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Seorang Senapati yang melihat kegelisahan itu tanpa mengerti

sebabnya dari kejauhan, segera mendekatinya.

“He, kenapa kalian berloncatan?”

“Lihat,” jawab salah seorang prajurit.

“Apa?”

“Lubang itu.”

Senapati itu tidak segera mengerti. Dipandanginya lubang itu

dengan tajamnya.

“Ya lubang itu,” katanya di dalam hati, “tentu bukan lubang yang

memang sudah ada. Lubang-lubang itu tidak berbentuk bulat atau

persegi atau bentuk-bentuk ukiran. Lubang itu sama sekali tidak

berbentuk dan bahkan telah memecahkan serat-erat kaya di

sekitarnya.

“Kenapa dengan lubang itu?” tiba-tiba senapati itu bertanya.

Prajurit itu-pun kemudian mengatakannya bahwa Mahisa

Walungan yang telah membuatnya dengan jari-jarinya.

Terasa dada Senapati itu tergetar. Ia sama sekali tidak

membantah, bahwa sebenarnyalah Mahisa Walungan pasti mampu

melakukannya.

“Maaf,” tiba-tiba terdengar suara Mahisa Walungan. “aku

terpaksa membuat lubang itu karena aku hampir mati tercekik oleh

kepepatan udara di dalam bilik sempit ini.”

Senapati itu tidak menjawab.

“Tetapi percayalah bahwa aku tidak akan lari,” sambung Mahisa

Walungan.

Tidak ada jawaban. Senapati itu berdiri saja mematung. Namun

tiba-tiba ia menganggukkan kepalanya sambil berkata di dalam

hatinya, “Memang luar biasa. Kalau Baginda benar-benar marah dan

melakukan hukuman atasnya, aku tidak tahu, apakah yang akan

terjadi atas Kediri.”

Tanpa berkata sesuatu maka Senapati itu-pun meninggalkan bilik

sempit yang mengurung Mahisa Walungan di dalamnya.

Para prajurit menjadi terheran-heran. Senapati itu tidak

memberikan perintah apapun. Sejenak mereka saling

berpandangan, dan sejenak kemudian salah seorang berbisik,

“Apakah yang akan kita lakukan sekarang?”

Kawannya menggelengkan kepalanya, “Tidak ada. Tidak ada

perintah apapun. Biar saja dinding itu berlubang. Asal yang ada di

dalamnya tidak lepas.”

Tetapi kawannya ragu-ragu. Kalau Mahisa Walungan mampu

melubangi dinding kayu yang tebal itu, apakah sulitnya baginya

memecahkan pintu bilik kemudian dengan sekali pukul membuat

setiap prajurit pingsan.

Tetapi prajurit itu tidak mengatakannya. Namun dadanya yang

berdebaran serasa menjadi semakin bergetar.

“Kita harus berhati-hati,” berkata prajurit yang lain, “kalau

tahanan yang satu ini lepas, kita akan mengalami nasib yang paling

pahit.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun

tiba-tiba salah seorang dari mereka berbisik, “He, apakah kalian

percaya bahwa Adinda Baginda ini akan memberontak?”

Sejenak para prajurit itu saling berpandangan. Tetapi tidak

seorang-pun yang memberikan jawaban. Bahkan prajurit yang

bertanya itu-pun kemudian terdiam.

Dalam pada itu. Baginda Kertajaya telah memerintahkan Senapati

muda yang bernama Pujang Warit itu untuk mengatasi keadaan. Ia

harus berusaha membubarkan pemusatan pasukan, di sebelah Utara

Ganter dan memberinya kekuasaan untuk menyalurkan ketegangan

mereka ke perbatasan.

“Kau bertanggung jawab atas mereka,” sabda Baginda, “supaya

mereka tidak kehilangan gelora perjuangan mereka yang telah

terlanjur membakar dada mereka.”

“Hamba Baginda. Mereka akan hamba bawa, tidak saja ke

perbatasan. Tetapi supaya gelora jantung mereka tersalurkan,

hamba akan memasuki Tumapel.”

“Kau harus dapat membawa Ken Arok itu,” perintah Baginda

kemudian, “tetapi sebelumnya Gubar Baleman harus menghadap

lebih dahulu.”

“Hamba tuanku.”

“Kalau kali ini kau berhasil, maka meskipun ada orang-orang lain

yang lebih tua daripadamu, maka kau akan menepati tempat yang

baik. Kau akan menjadi Panglima pasukan tempur. Tetapi aku akan

membagi kekuasaan Mahisa Walungan. Aku akan memisahkan garis

kepemimpinan pasukan keamanan dan pengawal. Dengan demikian

maka jabatannya akan dipegang oleh tiga orang.”

Senapati muda itu mengerutkan keningnya. Ia menjadi agak

kecewa karena kekuasaan Mahisa Walungan tidak mutlak dapat

dipegangnya. Tetapi ia menyadari kemudaannya. Mungkin

kekuasaan itu akan dapat berkembang di waktu yang mendatang.

“Tetapi sebelum itu, kau harus membuktikan lebih dahulu apa

yang pernah kau sanggupkan. Menumpas pemberontakan Tumapel

dan menggagalkan pemberontakan Mahisa Walungan,” berkata

Baginda Kertajaya kemudian, “selanjutnya, aku sendirilah yang akan

menjatuhkan hukuman atas Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.”

“Hamba tuanku. Hamba akan segera melakukan perintah

Tuanku.”

Senapati itu-pun kemudian meninggalkan istana. Di depan regol

ia bertemu dengan dua orang penasehat Baginda. Sambil tersenyum

kedua orang tua itu berbisik, “Mudah-mudahan kau berhasil.

Agaknya Baginda mempercayai kita. Kau jangan mengecewakan

kami. Dengan demikian kami tidak selamanya menjadi penasehat

saja, karena kami ingin kekuasaan yang lebih besar dari seorang

penasehat.”

Pujang Warit-pun tersenyum pula. Bahkan terasa detak

jantungnya menjadi semakin cepat, dan dadanya seakan-akan

mengembang.

Meskipun demikian ia menjawab, “Tetapi Baginda masih belum

mempercayai kita sepenuhnya. Ternyata Baginda tidak berhasrat

untuk mengangkat seorang Panglima yang menyeluruh. Agaknya

Baginda masih ragu-ragu juga.”

“Bukan karena Baginda tidak mempercayai kita. Tetapi sudah

tentu Baginda masih meragukan kemampuanmu. Kalau kau kelak

dapat membuktikan bahwa kau mampu menandingi kemampuan

Mahisa Walungan, maka meskipun kau bukan Adinda Baginda,

namun Kediri memerlukan orang kuat yang dapat memimpin

pasukannya untuk melawan pemberontakan Tumapel dan mungkin

juga para pengikut Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.”

Senapati muda itu tertawa. Sekilas ia memandang para prajurit

yang sedang bertugas di luar regol. Kemudian sambil mengangkat

dadanya ia berkata, “Jangan ragu-ragu. Aku tahu kemampuan

Mahisa Walungan. Tetapi aku tidak mau kalah daripadanya. Kalau

ada kesempatan aku memang ingin membuktikannya dalam perang

tanding.”

“Kau tidak akan mendapat kesempatan itu,” jawab, salah seorang

penasehat raja itu, “Mahisa Walungan pasti akan mendapat

hukuman mati setelah Gubar Baleman tertangkap pula. Keduanya

akan menjadi pengewan-ewan di alun-alun dan bahkan mungkin

akan diarak di sepanjang jalan-jalan besar sekota.”

“Sayang,” berkata Senapati muda itu, “tetapi bagaimana-pun

juga aku, akan membuktikan bahwa aku tidak kalah dari Mahisa

Walungan.”

“Baiklah. Lakukanlah tugas yang diberikan kepadamu baik-baik.”

“Terima kasih. Aku akan segera pergi ke Ganter atas nama

Baginda Kertajaya. Pasukanku sudah ada di sebelah pemusatan

pertahanan yang dibuat oleh Mahisa Walungan. Kalau ada beberapa

orang Senapati yang tidak mau tunduk kepada keputusan Sri

Baginda, maka aku akan menumpas mereka dengan kekuatan. Tiga

orang Senapati bersama pasukannya telah berpihak kepadaku.

Sepasukan prajurit pengawal dengan dua orang Senapatinya telah

diperbantukan kepadaku pula apabila aku perlukan. Selebihnya tiga

Senapati dari pasukan pengaman telah berada di tempat itu pula.

Aku yakin bahwa di antara mereka yang sudah ada di sebelah Utara

Ganter itu-pun tidak seluruhnya setia kepada Mahisa Walungan

apabila mereka telah mengerti apa yang sebenarnya terjadi.”

Kedua orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku percaya kepadamu. Jangan sampai gagal supaya leher kita

tidak harus kita korbankan untuk keinginan yang tidak begitu

banyak ini.”

“Jangan cemas. Aku bukan anak-anak lagi.”

“Selamat berjuang.”

Senapati muda itu-pun kemudian meninggalkan kedua penasehat

raja yang memandanginya sambil termangu-mangu. Namun

kemudian keduanya tersenyum dan meninggalkan halaman istana

itu sambil berangan-angan, bahwa mereka kelak akan mungkin

mendapat kedudukan yang lebih baik apabila terjadi perubahan di

dalam tata pemerintahan. Senapati muda itu kelak pasti akan

berusaha untuk menempatkan kedua penasehat itu ke dalam

kedudukan yang mempunyai arti kekuasaan langsung. Mereka akan

lebih senang memegang jabatan apapun di luar istana, daripada

sekedar penasehat, meskipun kedudukan seorang penasehat raja

sangat terhormat, seperti juga kedudukan seorang pemimpin

pemerintahan yang lain. Tetapi mereka tidak mempunyai wewenang

lain kecuali memberikan pertimbangan-pertimbangan saja.

Betapa kecilnya kedudukan seorang Akuwu, tetapi Akuwu

mempunyai wewenang langsung untuk melakukan suatu tindakan

atas suatu daerah yang dipercayakan kepadanya. Dan mereka

mengharap bahwa Pujang Warit berhasil menangkap atau

membinasakan Ken Arok, sehingga Tumapel tidak lagi mempunyai

pemimpin pemerintahan.

Meskipun di dalam hati kedua orang itu tumbuh juga pertanyaan

yang menegangkan syaraf mereka, siapakah yang akan mendapat

kedudukan itu di antara mereka berdua, namun sementara mereka

dapat bekerja bersama. Kalau yang seorang akan mendapat

kedudukan Akuwu, mungkin yang seorang akan dapat

menggantikan Gubar Baleman. Seorang menteri yang langsung

berkuasa atas suatu segi pemerintahan di Kediri, meskipun masih

berada di bawah perintah Sri Baginda.

“Tetapi kedudukan Gubar Baleman tidak dapat dijabat oleh setiap

orang,” berkata mereka di dalam hati, “karena Gubar Baleman

adalah seorang menteri yang bertanggung jawab atas keselamatan

negeri, yang bekerja bersama-sama dengan Panglima dari segenap

kekuatan keprajuritan Kediri yang semula dipegang oleh Mahisa

Walungan. Hanya karena Mahisa Walungan itu adik Sri Baginda

Kertajaya lah maka kekuasaan Mahisa Walungan tampaknya

menjadi lebih besar dari Gubar Baleman.”

Namun keduanya tidak memikirkan hal itu lebih jauh.

Kesempatan yang lain pasti masih terbuka. Apapun.

Dengan demikian, maka di dalam pimpinan pemerintahan Kediri

sendiri telah terjadi pusaran yang hampir tidak terbendung. Setiap

orang pada dasarnya hanya memikirkan kemungkinan yang paling

baik bagi diri mereka masing-masing. Mereka menjadi lengah dan

kehilangan kewaspadaan, bahwa di perbatasan pasukan Singasari

yang kuat telah siap menerkam mereka.

Pada saat Senapati muda itu singgah sejenak di rumahnya,

kemudian di atas punggung kuda dikawani oleh dua orang pengawal

yang paling dipercayanya pergi ke pemusatan pasukannya di

sebelah pasukan yang telah dipersiapkan lebih dahulu, maka

seorang penunggang kuda berpacu seperti angin ke perbatasan.

Orang itu adalah utusan beberapa orang Senapati yang mendengar

penangkapan Mahisa Walungan atas tuduhan yang keji itu. Utusan

itu seorang Senapati pula, harus segera menghubungi Gubar

Baleman dan memberitahukan apa yang telah terjadi atas Mahisa

Walungan dan apa yang sebentar lagi akan terjadi atasnya.

Gubar Beleman yang belum mendengar apa yang telah terjadi di

istana, menyambut urusan itu dengan wajah yang cerah. Ia

menyangka bahwa utusan itu pasti utusan Mahisa Walungan yang

akan memberitahukan perkembangan terakhir dari persiapannya.

“Aku hampir tidak sabar menunggu,” sambut Gubar Baleman

yang pertama-tama, “marilah. Kau dapat melihat sendiri apa yang

terjadi di perbatasan, dan kau dapat memberitahukan nanti kepada

Adinda Mahisa Walungan.”

Utusan yang baru saja turun dari kuda itu menggelengkan

kepalanya. Jawabnya, “Tidak Pamanda Menteri. Keadaan sudah jauh

berubah dari yang kita gambarkan semula.”

“He?” Gubar Galeman terkejut. Lalu, “Tetapi marilah kita duduk

di gubugku. Kau dapat berbicara dengan tenang.”

Keduanya-pun kemudian masuk ke dalam sebuah gubug di

perkemahan pasukan Kediri yang sengaja tidak mempergunakan

rumah-rumah rakyat yang sedang diombang-ambingkan oleh

ketidak tentuan.

“Apakah yang sudah terjadi?” bertanya Gubar Baleman.

Senapati muda yang menjadi utusan itu menarik nafas dalamdalam.

Namun kemudian ia bertanya, “Bagaimana dengan

perbatasan ini Pamanda Menteri?”

“Keadaannya sudah menjadi semakin baik, meskipun masih

banyak pengungsi yang menyeberang ke Tumapel. Tetapi aku

sudah menghentikan perburuan manusia seperti yang terjadi

sebelumnya. Aku membiarkan saja mereka yang menyeberang ke

Tumapel. Aku justru mencoba memberikan bantuan yang mereka

perlukan. Juga bekal di perjalanan mereka.”

“Kenapa?”

“Ternyata banyak di antara mereka yang mengurungkan niatnya,

justru karena mereka tidak diburu-buru lagi. Tidak dibantai dan

tidak dirampok segala milik yang sempat dibawanya.”

Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi kau belum mengatakan, kenapa keadaan sudah jauh

berubah?”

Utusan itu termenung sejenak. Namun kemudian ia mulai

menceriterakan apa yang sudah terjadi atas Mahisa Walungan.

“He? Kenapa dapat terjadi demikian? Apakah tidak ada seorangpun

yang dapat mengatakan, bahwa hal itu sama sekali tidak

benar? Itu adalah fitnah semata-mata. Aku tahu benar siapakah

Adinda Mahisa Walungan. Ia adalah Adinda Baginda yang terlampau

setia.”

“Baginda sudah menjadi mata gelap. Menurut dugaanku pasti

ada orang-orang istana yang sengaja memutar balik keadaan. Kini

Baginda memercayakan pimpinan keprajuritan kepada Pujang Warit,

dengan mempertaruhkan segenap keselamatan negeri ini.”

“Pujang Warit, kenapa Pujang Warit? Bukankah Pujang Warit

tidak jauh lebih tua diri padamu?”

“Ya. Umur kami berselisih tiga tahun saja.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya

kemudian, “Memang Pujang Warit mempunyai beberapa kelebihan

dari kawan-kawannya. Apalagi yang lebih muda dari padanya.

Tetapi ia pasti belum mempunyai cukup kebijaksanaan untuk

memimpin pasukan Kediri.”

“Apalagi dalam keadaan seperti sekarang.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia

merenung. Dicobanya untuk mengerti, apakah kira-kira yang sudah

terjadi di istana.

“Pamanda Menteri,” berkata Senapati itu pula, “tugas Pujang

Warit sependengaran kami adalah, menumpas pemberontakan

Tumapel, membubarkan pemusatan pasukan Adinda Mahisa

Walungan dan memanggil Pamanda Menteri Gubar Baleman ke

istana.”

Gubar Baleman sama sekali tidak terkejut. Ia mempunyai

tanggapan yang tajam terhadap keadaan.

“Aku akan dipanggil dan tidak akan keluar lagi dari istana itu.

Begitu agaknya.”

Utusan para Senapati itu tidak menyahut.

“Aku sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi aku mencemaskan

nasib perbatasan ini dan bahkan seluruh Kediri.”

“Itulah yang kami pikirkan, sehingga aku tergesa-gesa menemui

Pamanda Menteri.”

“Kalau aku memenuhi panggilan itu, aku adalah seorang Menteri

yang paling setia kepada Baginda. Tetapi dengan demikian aku

sudah melepaskan kesetiaanku kepada Kediri, karena kini ternyata

bahwa Baginda sudah terpisah dari Kediri dalam keseluruhan.”

“Jadi?”

“Aku menjadi bingung. Tetapi bagiku Kediri adalah wadah yang

harus diselamatkan. Meskipun tampaknya kini aku tidak mematuhi

perintah Baginda, namun apabila keadaan memungkinkan nanti,

setelah Kediri diselamatkan, Baginda akan mengerti, bahwa

perbuatan kami dilandasi oleh kejujuran hati.”

Senapati muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku akan mempertimbangkan, apakah yang akan aku lakukan

dalam keadaan yang semakin kalut ini. Di perbatasan pasukan

Singasari menjadi semakin kuat, di dalam istana para pemimpin

saling berdesakan untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri.

Benar-benar suatu keadaan yang membuat kita semui harus

berprihatin.”

Senapati itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya,

“Begitulah Pamanda Menteri. Karena itu, terserahlah kepada

pamanda. Tidak ada lagi orang tua yang pantas melindungi Kediri

dap isinya selain Pamanda Menteri Gubar Baleman. Kami, para

Senapati, sudah kehilangan kepercayaan kepada siapapun. Juga

kepada Pujang Warit. Kami justru menjadi curiga kepadanya.”

“Baiklah, aku akan mengambil sikap. Beri kesempatan aku

berpikir hari ini.”

“Aku akan menunggu. Petang nanti aku akan kembali ke Ganter.

Aku menyangka, bahwa perkembangan keadaan pasti masih akan

terjadi. Mungkin lebih cepat dari yang kita duga.”

“Baiklah,” sahut Gubar Baleman. Kemudian, “Aku akan melihat

perbatasan. Mungkin aku dapat meninggalkan se hari dua hari. Aku

ingin melihat apa yang sudah terjadi di istana. Tetapi tidak sebagai

seorang pesakitan.”

Gubar Baleman-pun kemudian menyiapkan kudanya untuk

melihat-lihat daerah perbatasan. Dibawanya tiga orang pengawal

kepercayaannya dan Senapati muda itu, agar ia dapat melihat

sendiri, betapa ringkihnya pasukan Kediri di perbatasan.

Demikianlah maka Gubar Baleman itu kemudian mendatangi

setiap pasukan yang ada. Ditemuinya para Senapati yang memimpin

pasukan-pasukan mereka dengan sepenuh hati. Mereka memang

sudah bertekad mempertahankan Kediri mati-matiam. Namun

mereka-pun telah mengetahui rencana Mahisa Walungan. Mereka

tidak akan mempertahankan perbatasan ini. Tetapi mereka akan

menarik pasukan Tumapel jauh memasuki wilajah Kediri. Sampai di

sebelah Ganter, mereka akan bergabung dengan pertahanan yang

sudah disiapkan oleh Mahisa Walungan. Di sebelah Utara Ganter

itulah nanti mereka akan menghancurkan pasukan Tumapel.

Para Senapati itu-pun kemudian melaporkan bahwa tidak ada

gerakan-akan yang mencurigakan di pihak lawan. Pasukan sandi

yang sempat menjusup mendekati pemusatan pasukan Singasari

melaporkan, bahwa mereka-pun masih dalam sikap bertahan.

“Sepasukan prajurit khusus telah berada di perbatasan pula,”

lapor seorang Senapati.

“Apakah yang kau maksud dengan pasukan khusus?”

“Pasukan yang cukup besar, yang terdiri dari beberapa kelompok.

Menurut keterangan yang didengar oleh beberapa orang petugas

sandi, pasukan itu justru dibentuk dari orang-orang Kediri sendiri

yang telah mengungsi ke Singasari.”

“Bukan main,” geram Gubar Baleman, “itulah kelebihan Ken Arok

yang sekarang menyebut dirinya Sri Rajasa.”

“Pasukan itu dipimpin sendiri oleh kakanda permaisuri Singasari.”

“Siapa?”

“Mahisa Agni.”

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. Dalam keadaan

yang demikian, orang yang paling dapat diharapkan oleh Kediri,

Mahisa Walungan, kini berada di dalam tahanan Sri Baginda sendiri.

Karena itu, dalam waktu yang singkat, Gubar Baleman

mengumpulkan beberapa orang Sanapati yang memang tidak

banyak jumlahnya itu. Kepada Senapati yang tertua, Gubar Baleman

menyerahkan kepercayaan untuk memimpin seluruh pasukan di

perbatasan.

“Aku akan melihat apa yang telah terjadi di Kediri. Aku ingin

membuktikan sendiri, kenapa Adinda Mahisa Walungan harus

berada di dalam bilik tahanan.”

“Baiklah,” jawab Senapati tertua itu, “aku akan berusaha untuk

melakukan tugas ini sebaik-baiknya.”

“Seandainya keadaan meruncing, dan kau tidak dapat menunggu

aku, sebelum ada perubahan apapun, lakukanlah rencana yang

telah kita susun. Aku mengharap bahwa kekuatan di Ganter itu

masih memadai.”

“Baiklah.”

Gubar Baleman-pun kemudian kembali ke gubugnya untuk

segera mempersiapkan dirinya dan berkemas-kemas. Ia ingin pergi

ke Kediri bersama Senapati muda itu hari itu juga.

Tetapi sebelum Gubar Baleman sampai ke gubugnya, seorang

pengawalnya telah menemuinya sambil berkata, “Aku sedang

menyusul tuan di sepanjang perbatasan.”

“Kenapa? “

“Ada utusan dari Sri Baginda.”

Gubar Baleman mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia

berpaling kepada Senapati muda di sampingnya sambil berkata,

“Begitu cepatnya Pujang Warit mengambil tindakan. Aku memuji

kelincahannya.”

Senapati itu menganggukkan kepalanya.

“Tetapi ia masih kurang cepat dari kau.”

Senapati itu masih sempat tersenyum ketika Gubar Baleman-pun

tersenyum.

Kemudian kepada pengawal yang menyusulnya itu ia berkata,

“Baiklah. Aku akan menemuinya. Berapa orang jumlah utusan itu?”

“Enam orang.”

Sekali lagi Gubar Baleman tersenyum. “Jumlah yang besar.”

“Tidak,” sahut Senapati muda di sampingnya, “jumlah yang

pantas dalam keadaan serupa ini.”

Gubar Baleman kini benar-benar tertawa, meskipun terasa aneh.

“Katakan kepada utusan itu, sebentar lagi aku akan menemui

mereka.”

“Baiklah.”

Sepeninggal pengawal itu Gubar Baleman kemudian berkata,

“Kau jangan menampakkan dirimu supaya mereka tidak tahu,

bahwa berita tentang Adinda Mahisa Walungan telah sampai

kepadaku.”

“Baiklah.”

“Tetapi cobalah mendengarkan, apa yang mereka bicarakan.

Kalau ada kesempatan, berusahalah mendekat.”

“Sulit. Gubug itu terlampau kecil. Di sekitarnya tidak ada tempat

untuk bersembunyi.”

Gubar Baleman tersenyum, “Kalau mungkin. Kalau tidak, biarlah

nanti aku ceriterakan apa yang mereka katakan kepadaku.”

Gubar Baleman-pun kemudian mendahului Senapati muda itu

langsung pergi ke gubugnya. Di luar gubug itu ia melihat beberapa

ekor kuda yang tertambat, sedang tamu-tamunya sudah duduk di

atas tikar di dalam gubugnya yang sempit.

Ketika mereka melihat Gubar Baleman, maka mereka-pun segera

membungkukkan kepala mereka dengan hormatnya.

“Kami datang untuk menghadap Pamanda Menteri Gubar

Baleman,” berkata salah seorang dari para utusan itu, juga seorang

Senapati yang masih muda.

“Baiklah,” Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya,

“aku sudah mendengar dari seorang pengawal, bahwa ada enam

orang tamu dari kota, utusan Sri Baginda.” Gubar Baleman berhenti

sejenak, “Apakah kalian membawa sepasukan prajurit untuk

memperkuat pertahanan di perbatasan? Atau membawa perbekalan

atau apapun yang dapat memperkuat ketahanan pasukan kita di

sini?”

Sejenak para utusan itu saling berpandangan. Pertanyaan itu

agaknya telah membuat mereka menjadi termangu-mangu. Mereka

sama sekali tidak menyangka, bahwa pertanyaan itulah yang akan

diucapkan oleh Gubar Baleman. Tidak seperti lajimnya, sesuai

dengan tata cara, yang ditanyakan lebih dahulu bagi tamu-tamu

adalah keselamatan.

Baru sejenak kemudian Senapati muda yang memimpin utusan

itu dapat menjawab, “Pamanda Menteri, mungkin Baginda ingin

mendengar laporan tentang penumpasan pemberontakan Tumapel.

Sampai saat ini, Adinda Baginda Mahisa Walungan sama sekali

belum memberikan laporan apapun juga.”

“Lalu?”

“Aku mendapat perintah untuk memanggil Pamanda Menteri

menghadap Tuanku Sri Baginda.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi Tuanku Sri Baginda memanggil aku?”

“Ya.”

“Baiklah,” jawab Gubar Baleman, “aku akan menghadap. Tetapi

tidak hari ini. Aku harus mengatur pasukan di perbatasan ini,

sehingga apabila setiap saat pasukan Singasari menyerang, sedang

aku tidak ada, prajurit-prajurit kita tidak kehilangan pegangan.”

“Tetapi Baginda memerintahkan Pamanda Menteri untuk

menghadap segera.”

“Ya, segera. Tetapi segera itu kapan? Aku tidak sedang

bertamasya di perbatasan, sehingga setiap saat aku dapat

meninggalkan tempat ini tanpa pertanggungan jawab apapun.”

“Aku hanya mengemban perintah.”

“Perintah itu sudah aku terima dan akan aku jalankan sebaikbaiknya.

Baginda-pun pasti mengerti, bahwa, segera bagi seorang

pimpinan pasukan yang sudah siap untuk bertempur, bukanlah

berarti sekarang. Kau adalah seorang Senapati. Kalau kau tidak

mengerti akan hal itu, maka kau agak terdorong langkah.

Seharusnya pangkatmu diturunkan dua atau tiga tingkat lagi.”

Wajah Senapati muda itu menjadi merah padam. Sekilas

dipandanginya wajah kawan-kawannya. Namun ia masih menahan

diri untuk tetap bersikap baik.

“Pamanda Menteri,” berkata Senapati itu, “perintah Baginda

sebenarnya lebih jelas lagi. Pamanda diperintahkan menghadap

bersamaku.”

“Boleh, boleh saja. Kalau begitu tunggulah. Hari ini aku akan

menjelesaikan pekerjaanku di sini. Kalau besok semuanya sudah

tidak mencemaskan lagi, kita akan pergi bersama-sama.”

“Bukan, bukan begitu,” sahut Senapati muda itu, “maksud Sri

Baginda, Pamanda Menteri diperintahkan menghadap sekarang

bersama kami.”

“Jangan membuat lelucon di sini,” berkata Gubar Baleman, “Kau

telah memperbodoh Sri Baginda. Ingat, kalau aku menyampaikan

kepada Sri Baginda, maka kalian akan di hukum. Sri Baginda adalah

seorang Maha Senapati, seorang Panglima perang yang tiada

taranya di dunia ini. Meskipun Sri Baginda tidak di medan ini. tetapi

Sri Baginda mengetahui apakah yang telah terjadi di sini. Dan kau,

yang sempat melihat dengan mata kepala sendiri. masih saja

bersikap begitu bodoh, mencoba memaksa aku meninggalkan

tanggung jawab yang begini besar begitu saja. Sekarang, sekarang.

Seperti anak kelaparan minta makan.”

Sekali lagi warna merah menjalar ke wajah Senapati muda itu.

Dan ia masih harus mendengar Gubar Baleman berkata, “Kalau kau

ingin mendapat pujian anak-anak, pakailah cara yang lain. Kau

harus menyadari, bahwa cara yang kau tempuh ini keliru. Sri

Baginda pasti akan marah sekali karena sikap kalian. Apalagi kalau

besok perbatasan ini pecah, dan pasukan Singasari mengalir seperti

banjir bandang melanda daerah Kediri. Nah. apakah kau sadar,

bahwa kau akan digantung karena kesalahmu itu. Bukan hanya kau.

tetapi aku juga akan digantung, karena aku telah meninggalkan

tanggung jawabku.”

Senapati itu menjadi bingung. Ternyata Menteri Gubar Baleman

tidak mempercayainya, bahwa Sri Baginda benar-benar telah

memanggilnya. Sekarang, seperti istilah yang dipergunakan oleh

Baginda itu juga.

Dalam kebingungan itu, Senapati muda itu tidak segera dapat

mengatakan apa-apa. Sejenak ia duduk dengan gelisah dan dada

yang berdebar-debar.

“Jangan gelisah,” berkata Gubar Baleman, “tunggulah di sini. Aku

akan menjelesaikan pekerjaan. Sokurlah kalau tugas ini dapat aku

selesaikan hari ini. Nanti malam kita dapat berangkat bersamasama.”

Senapati itu masih terdiam.

“Kenapa kau menjadi bingung? Ingat, kau adalah seorang

Senapati. Bukan anak-anak lagi.”

“Pamanda Menteri,” berkata Senapati itu, “aku memang menjadi

bingung. Perintah Baginda memang berbunyi demikian. Aku harus

membawa Pamanda Menteri menghadap sekarang.”

“He,” potong Gubar Baleman, “kau sangka apa aku ini he?

Kenapa kau harus membawa aku? Apakah aku tidak dapat

menghadap sendiri?”

“Maksudku, pamanda diperintahkan untuk menghadap sekarang.

Aku tidak mempergunakan kata-kataku sendiri, tetapi aku

mempergunakan istilah Sri Baginda. Sekarang.”

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. “Kau memang

bodoh. Kau tangkap arti kata seperti katanya itu sendiri. Tetapi

baiklah. Kalau kau berkeras. Tunggulah aku di sini. Aku akan

menghubungi para pemimpin kelompok dan para Senapati. Aku

harus menyerahkan pimpinan kepada salah seorang dari mereka.

Mudah-mudahan kita akan segera dapat berangkat. Segera, apakah

segera itu sama dengan sekarang yang kau maksud aku tidak tahu.”

Senapati itu terdiam sejenak. Tetapi itu akan lebih baik dari

besok atau kapan-pun. Ia dapat mengatakan bahwa selama itu ia

menunggu Menteri Gubar Baleman yang sedang berkeliling, atau

mencari alasan apapun.

Meskipun demikian Senapati muda itu tidak segera menjawab.

Sekali-sekali ditatapnya wajah Gubar Baleman yang menumbuhkan

kesan yang lain padanya, kemudian dipandanginya wajah kawankawannya.

Tetapi hampir setiap wajah rasanya menjadi asing

baginya.

“Baiklah,” akhirnya Senapati muda itu menjawab, “aku akan

menunggu sampai tugas Pamanda Menteri selesai. Mungkin benar

juga kata pamanda Gubar Baleman, bahwa sebaiknya aku melihat

persiapan yang sudah pamanda lakukan dengan mata kepala

sendiri.”

“Buat apa kau melihat?” bertanya Gubar Baleman, “Kalau kau

pemimpinku, atasanku, misalnya Kau ini Adinda Mahisa Walungan

atau Sri Baginda sendiri, pantaslah kau melihat-lihat untuk menilai

pekerjaanku. Tetapi kau adalah bawahanku.”

Dada Senapati muda itu serasa akan retak. Kalau ia tidak

mendapat tugas membawa Gubar Baleman menghadap, maka ia

pasti sudah mengambil tindakan lain. Kalau saja perintah itu

berbunyi, tangkap ia hidup atau mati.

“Tetapi apakah Pamanda Menteri Gubar Baleman atau justru aku

sendiri yang akan mati,” geramnya di dalam hati, ia sadar bahwa

Gubar Baleman adalah seorang Menteri yang bertanggung jawab

atas keamanan dan keselamatan Kediri. Gubar Baleman adalah

seorang prajurit yang pilih tanding. Tetapi untuk menerima

penghinaan yang demikian, justru pada saat ia mengemban

perintah Pujang Warit atas nama Sri Baginda, adalah sangat

menyakitkan hati.

“Kalau aku datang atas namaku sendiri, aku menganggap bahwa

kata-katanya wajar sekali. Tetapi aku adalah seorang utusan.” ia

masih menggerutu di dalam hatinya. Meskipun demikian ia tidak

mengatakan sesuatu.

“Tunggulah di sini,” berkata Gubar Baleman kemudian, “aku akan

menemui para Senapati yang bertugas untuk menjerahkan pimpinan

pada salah seorang di antara mereka.”

Sekali lagi Senapati muda itu tidak mempunyai pilihan lain. Maka

jawabnya, “Baik Pamanda Menteri, tetapi kami mengharap agar

Pamanda Menteri menyadari, bahwa istilah yang aku pakai di dalam

penyampaian perintah ini adalah istilah Sri Baginda sendiri.”

“Aku sudah mendengar dan aku bukan anak-anak. Jangan kau

ulangi lagi pesan itu.”

Senapati muda itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian

dengan dada yang pepat ia menyaksikan Gubar Baleman keluar dari

gubug itu, mengambil kudanya, kemudian meninggalkan tempat itu

bersama tiga orang pengawal kepercayaannya.

Tidak begitu jauh dari gubugnya, muncullah seorang penunggang

kuda yang lain. Senapati yang menyampaikan berita penangkapan

Mahisa Walungan, yang agaknya telah siap pula di atas punggung

kuda.

“Ikuti aku sebentar,” perintah Gubar Baleman.

Ternyata mereka segera berpacu menemui Senapati yang telah

mendapat kepercayaan Gubar Baleman untuk menggantikan

pimpinan sementara di perbatasan.

“Aku mempunyai tamu,” berkata Gubar Baleman kepada Senapati

itu.

“Siapa?”

“Seorang Senapati muda. Aku dipanggil oleh Sri Baginda seperti

yang sudah aku duga. Aku akan pergi ke kota.”

“Bersama utusan itu?”

“Tidak. Aku justru akan mendahului mereka. Kalau jarak yang

aku tempuh sudah cukup panjang, barulah kau memberitahukan

kepada mereka, bahwa aku telah mendahului. Sebaiknya lewat

senja nanti. Aku mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu di

kota nanti.”

Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Utusan itu pasti akan marah. Tetapi kau harus menahan diri.

Apapun yang kalian lakukan di sini atasnya, tetapi kalian harus

memberi kesempatan Senapati itu kembali ke kota.”

“Baiklah. Aku akan melakukan semuanya.”

Gubar Baleman itu-pun kemudian membawa beberapa orang

pengawal bersama Senapati yang telah menghubunginya untuk

kembali ke kota. Ia sudah mempunyai rencana yang barangkali

dapat dilakukannya. Tetapi untuk meringkuk di dalam tahanan

selagi Kediri terancam bahaya adalah tidak menyenangkan sekali.

Bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh Kediri dan untuk

Sri Baginda Kertajaya sendiri.

Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka Senapati muda

utusan Sri Baginda itu-pun menjadi semakin gelisah. Gubar Baleman

masih belum datang ke gubugnya kembali.

“Meskipun malam, kita akan berjalan,” berkata Senapati itu

kepada pengawalnya.

“Ya. kalau tidak, Pujang Warit dan bahkan mungkin Sri Baginda

sendiri akan langsung marah kepada kita.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Tetapi Gubar Baleman tidak

juga kunjung datang.

“Aku hampir tidak sabar lagi. Apakah kita harus mencarinya di

sepanjang perbatasan yang menghadap ke Singasari ini?”

“Agaknya hal itu akan lebih baik dari pada kita duduk saja di sini

tanpa berbuat sesuatu.”

Senapati muda itu-pun bangkit dan melangkah keluar. Di luar

gubug itu ia melihat dua orang penjaga yang berjalan hilir mudik

dengan tombak di tangan.

“He,” panggil Senapati itu, “di mana Pamanda Menteri Gubar

Baleman?”

Kedua prajurit yang sedang bertugas mengawal gubug

perkemahan Gubar Baleman itu saling berpandangan. Kemudian

salah seorang dari mereka menjawab, “Kami tidak tahu.”

“Gila,” Senapati itu menggerutu, “aku memang bawahan

Pamanda Menteri. Tetapi sebagai utusan Sri Baginda aku berhak

berbuat atas namanya apabila keadaan memaksa.”

Kemudian kepada pengawapnya ia berkata, “Marilah kita cari, di

mana saja Pamanda Menteri itu bersembunyi.”

Para pengawalnya-pun kemudian keluar pula dari dalam gubug

itu. Masing-masing pergi ke kudanya yang terikat di halaman

perkemahan. Namun sebelum mereka meninggalkan perkemahan

itu, mereka tertegun karena mereka melihat beberapa penunggang

kuda mendekati mereka.

Senapati muda yang memimpin utusan dari kota itu

menyongsong beberapa orang penunggang kuda itu. Namun

sebelum ia bertanya sesuatu, salah seorang dari penunggang kuda

yang mendekatinya itu berkata, “Akulah yang kini memegang

pimpinan di perbatasan selagi Menteri Gubar Baleman pergi ke

kota.”

Senapati muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi kaulah yang menjadi utusan Sri Baginda memanggil

Menteri Gubar Baleman?”

“Ya,” jawab Senapati muda itu.

“Kenapa kau masih berada di sini?”

“Kenapa?” Senapati muda itu heran mendengar pertanyaan

penunggang kuda itu.

“Ya kenapa? Yang kau jemput sudah lama berangkat. Dan kau

masih menunggui gubug ini.”

Wajah Senapati muda itu menegang. Kemudian ia maju

selangkah sambil berkata, “Jangan bergurau. Aku adalah utusan Sri

Baginda.”

Penunggang kuda itulah yang tampaknya menjadi heran.

Katanya, “Aku sudah lama berada di perbatasan. Di daerah yang

tegang dan panas ini. Aku sudah tidak sempat bergurau lagi.”

Senapati itu menjadi semakin tegang. Katanya, “katakan, di

mana Pamanda Menteri Gubar Baleman.”

“Sudah aku katakan. Menteri Gubar Baleman sudah kembali ke

kota bersama beberapa orang pengawalnya.”

“Bohong.”

“He, kenapa aku berbohong? Apakah gunanya? Kalau kau

mencari seseorang, apakah gunanya aku menyembunyikannya?

Apalagi seorang Menteri.”

Senapati muda itu menjadi marah karenanya. Disangkanya

penunggang kuda itu mempermainkannya.

“Cepat, tunjukkan aku di mana Pamanda Menteri Gubar Baleman

sebelum aku mengambil tindakan atas nama Sri Baginda.”

Tetapi penunggang kuda itu justru tertawa. Katanya, “Kau

seorang Senapati, aku juga seorang Senapati. Umurmu dan umurku

terpaut cukup banyak, sehingga menurut tata kesopanan seorang

prajurit, kau harus menghormati aku. Apalagi kini aku telah diserahi

oleh Menteri Gubar Baleman kekuasaan atas perbatasan ini. Karena

itu kau jangan merasa dirimu berkuasa di sini.”

“Aku memang tidak, tetapi kekuasaan Sri Baginda merata sampai

ke ujung bumi.”

“Setiap orang dapat berkata demikian. Tetapi kau tidak

mempunyai kekuasaan apa-apa selain memanggil Menteri Gubar

Baleman. Dan aku sendiri mengetahui ketika ia berangkat

meninggalkan daerah ini. Katanya, “Baginda memanggil aku

sekarang. Sekarang.”

Darah Senapati muda itu serasa mengalir seluruhnya ke kepala.

Dengan suara lantang ia berkata, “Agaknya Pamanda Menteri Gubar

Baleman telah bersepakat dengan kau untuk mengadakan lelucon

ini. Jangan menunggu aku kehilangan kesabaran. Aku adalah utusan

Sri Baginda yang mempunyai kekuasaan atas namanya, seperti

kekuasaan Sri Baginda sendiri.”

Alangkah sakit hati Senapati muda itu ketika penunggang kuda

itu justru tertawa, “Jangan terlampau besar kepala anak muda.

Memang kadang-kadang Senapati yang masih sangat muda, mudah

kehilangan keseimbangan. Kau pasti mempunyai beberapa

kelebihan sehingga dalam umurmu yang masih semuda itu, kau

sudah sampai kepada jabatan seorang Senapati yang memimpin

sepasukan prajurit. Tetapi kau sama sekali masih belum mempunyai

kebijaksanaan sama sekali. Kau sangka bahwa seorang utusan

mempunyai wewenang yang mengutusnya? Bagaimanakah apabila

dua orang utusan atau penguasa atas nama Sri Baginda berbeda

pendirian? Siapakah yang lebih kuasa dari keduanya?”

“Tetapi aku mendapat kekuasaan itu.”

“Aku juga. Sebagai seorang Senapati yang mendapat perintah

pelimpahan yang berjalur dari Sri Baginda, aku menjadi pimpinan

tertinggi dari seluruh pasukan Kediri di perbatasan. Setiap prajurit

yang datang di perbatasan langsung di bawah perintahku, kecuali

mereka yang memang berkedudukan lebih tinggi dari padaku.”

“Aku bukan pasukan perbatasan.”

“Tetapi kau berada di daerah kuasaku, sedang kau tidak

berkedudukan lebih tinggi dari padaku. Karena itu jangan berbuat

sesuatu yang dapat mencemarkan nama prajurit Kediri. Setiap

prajurit harus mengerti urutan kekuasaan yang ada dalam tata

keprajuritan.”

“Cukup. Aku bukan anak kemarin sore di dalam lingkungan

keprajuritan Kediri. Tetapi yang penting sekarang tunjukkan di mana

Pamanda Menteri Gubar Baleman. Apa lagi seorang Senapati dalam

jabatan apapun. Seorang Menteri-pun harus tunduk kepadaku saat

ini, sebagai pengemban tugas dari kekuasaan tunggal tertinggi di

Kediri.”

“Menteri Gubar Baleman telah kembali ke kota.”

“Bohong,” bentak Senapati muda itu, “Ia harus pergi

bersamaku.”

“Bagaimana mungkin kau dapat ketinggalan?”

“Tunjukkan di mana ia sekarang.”

“Di perjalanan.”

“Bohong. Bohong.”

“Jangan membentak-bentak. Di sini adalah beberapa pasukan

prajurit di bawah perintahku. Kalau kau masih berkeras kepala, aku

akan menangkapmu dan melaporkan tindakanmu yang bodoh itu

kepada Panglima, adinda Sri Baginda, Mahisa Walungan.”

“Mahisa Walungan sudah tidak mempunyai kekuasaan apa-apa

lagi. Ia sudah ditangkap karena ia memberontak.”

“O, kau sudah berceritera tentang suatu hal yang ngayawara.

Kau agaknya memang sedang mengigau.”

Senapati muda itu hampir tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi ia

masih sadar, bahwa ia tidak akan dapat melakukan kekerasan. Di

belakang Senapati yang kini memegang pimpinan atas pasukan di

perbatasan itu, beberapa orang prajurit agaknya sudah siap pula

menghadapi setiap kemungkinan.

“O, aku berhadapan dengan orang-orang gila,” katanya di dalam

hati, “agaknya orang-orang di perbatasan ini sama sekali sudah

tidak menghiraukan lagi kekuasaan Sri Baginda.”

Dan Senapati yang memimpin pasukan di perbatasan itu berkata

seterusnya, “He. apakah kau tidak tahu bahwa Mahisa Walungan itu

adalah Adinda Baginda? Siapakah yang berani menangkap Mahisa

Walungan?”

“Sri Baginda,” sahut Senapati muda itu.

“O,” Senapati yang masih berada di punggung kuda itu menarik

nafas dalam-dalam. “kau sudah bermimpi. Aku menjadi cemas,

bahwa perintah Baginda kepada Menteri Gubar Baleman itu-pun

hanya sekedar mimpi.”

Senapati muda itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat

berbuat apa-apa.

“Nah. daripada kau ribut di sini,” berkata pimpinan pasukan

perbatasan itu, “agaknya lebih baik bagimu untuk menyusul Menteri

Gubar Baleman yang dengan tergesa-gesa meninggalkan

perbatasan kembali ke kota. Ia tidak sempat makan lebih dahulu

meskipun sehari penuh ia belum makan, ia datang kepadaku

sekedar memberikan kekuasaan atas pasukan di perbatasan,

kemudian dengan tergesa-gesa memacu kudanya.”

“Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Buat apa aku menipumu?”

“Aku akan pergi ke kota menyusul Pamanda Menteri Gubar

Baleman. Tetapi apabila kau berbohong, maka kau akan menyesal.

Sri Baginda tidak akan dapat kau ajak bergurau dengan cara yang

bodoh ini.”

“Jangan kau ulangi supaya aku tidak menjadi bertambah marah.

Sudah aku katakan, pasukan di perbatasan tidak sempat bergurau.

Mungkin kau yang ada di kota masih juga sempat berbuat apa saja.

Tetapi kami tidak. Kami setiap hari hanya bergurau dengan senjatasenjata

kami.”

Senapati muda itu meniadi semakin tegang. Tetapi ia tidak mau

terlibat dalam kesulitan. Agaknya orang-orang di perbatasan itu

benar-benar sudah menjadi asing.

Sejenak Senapati muda itu merenung. Namun kemudian ia

berkata kepada pengawalnya, “Kita kembali ke kota. Kita akan

melihat apakah Pamanda Menteri Gubar Baleman sudah

menghadap. Kalau tidak, maka kita akan mengambil tindakan

kepada orang-orang yang bersalah, meskipun di perbatasan ini.

Karena pasukan di perbatasan ini-pun harus tunduk kepada perintah

Sri Baginda atau yang mendapat pelimpahan kekuasaannya.”

Senapati itu tidak menunggu jawab. Ia-pun segera meloncat ke

punggung kudanya diikuti oleh pengawalnya. “Ingat,” katanya pula,

“kekuasaan Sri Baginda tidak terbatas.”

Tetapi tidak ada yang menyahut. Para prajurit perbatasan itu

hanya memandang mereka dengan tajam. Bahkan terdengar

pemimpin pasukan perbatasan itu kemudian tertawa.

“Gila,” Senapati muda itu mengumpat sambil menghentakkan

kendali kudanya, sehingga kuda itu-pun kemudian meloncat berlari

sekencang angin.

Pengawalnya-pun kemudian menyusulnya pula, seakan-akan

mereka sedang berpacu. Sejenak kemudian mereka-pun telah hilang

di baliknya dedaunan liar di seputar perkemahan itu.

Senapati yang mendapat kekuasaan untuk memimpin pasukan

perbatasan itu-pun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia

berdesis, “Agaknya keadaan Kediri akan menjadi terlampau gelap.”

Tidak seorang-pun yang menjawab.

Dalam pada itu, Senapati yang sudah cukup lama menjadi

prajurit Kediri itu duduk termangu-mangu di atas punggung

kudanya. Dengan pandangan yang dalam, ditatapnya warna-warna

merah di langit sebelah Barat. Rasa-rasanya ia sedang menatap

Kediri yang berada di ujung senja.

“Apakah sudah sampai saatnya Kediri akan tenggelam?” desisnya

di dalam hati, “para pemimpinnya sudah saling bertengkar sendiri.

Sri Baginda sudah kehilangan kebijaksanaannya. sehingga Mahisa

Walungan, orang yang paling mungkin untuk memimpin perlawanan

bersama Menteri Gubar Baleman sudah di sisihkan, meskipun ia

Adinda Baginda sendiri. Sementara Singasari semakin memperkuat

perbatasan.”

Senopati itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kepada prajuritprajuritnya

ia berkata, “Kita kembali ke tempat tugas kita masingmasing.

Kita akan segera dapat mengatasi kesulitan yang tidak

berarti ini. Aku percaya kepada Menteri Gubar Baleman. Dan

kepercayaan yang diberikan kepada kita-pun harus kita junjung

tinggi-tinggi. Kita akan mempertahankan perbatasan ini, meskipun

kita mendapat perintah untuk menarik pasukan lawan sampai ke

Ganter. Tetapi apabila kita dapat membendung Singasari di

perbatasan, itu pasti akan lebih dari rencana kedua.”

Para prajuritnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita lanjutkan rencana Menteri Gubar Baleman. Kita tidak

tergantung kepada kekuatan prajurit saja. Rakyat yang dengan suka

rela menyediakan dirinya, sudah kita tampung dalam suatu tempat

latihan. Mereka harus kita persenjatai sebaik-baiknya, supaya

mereka dapat membantu kita dalam keadaan yang sulit.”

Demikianlah maka Senapati itu meneruskan semua hal yang

sudah dilakukan oleh Gubar Baleman. Justru ia semakin rajin

membagi tugas para prajuritnya, termasuk latihan-latihan yang

mereka berikan kepada rakyat Kediri yang dengan suka rela

bergabung dengan para prajurit di perbatasan, tanpa mengenal

waktu.

Sementara itu Gubar Baleman-pun telah sampai ke sebelah Utara

Ganter, ketika malam telah menjadi semakin kelam. Kedatangannya

telah menimbulkan harapan baru bagi pasukan yang hampir

kehilangan pegangan itu.

Dalam waktu yang singkat Gubar Baleman telah dapat

mengumpulkan para Senapati yang berada di sebelah Utara Ganter

untuk membicarakan masalah yang kini mereka hadapi.

“Kami akan tetap setia kepada Sri Baginda Kertajaya dan kepada

Tanah kami,” berkata Gubar Baleman, “tetapi dengan cara kami

sendiri.”

Para Senapati itu-pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

Beberapa di antara mereka yang menangkap berita-berita tentang

keadaan terakhir segera menyampaikannya kepada Gubar

Baleman.”

“Pujang Waritlah yang mendapat tugas untuk membubarkan

pemusatan pasukan ini.”

“Cara apakah yang akan ditempuhnya? Kekerasan?”

“Mungkin tidak. Ia akan datang atas nama Sri Baginda dan

memberikan tugas-tugas baru kepada setiap Senapati yang ada di

sini, sehingga pemusatan pasukan ini akan tercerai-berai.”

Gubar Baleman menarik napas dalam-dalam. Sekilas terbayang

bencana yang akan melanda Kediri, jika dalam saat yang demikian

pasukan Singasari bagaikan banjir bandang menempur negeri ini.

“Apakah menurut perhitungan Pujang Warit ia akan berhasil?”

“Aku kira demikian. Ia mengharap kami tetap setia kepada Sri

Baginda. Mahisa Walungan telah dituduh mempergunakan

kesempatan ini untuk merebut takhta. Kami di sini, sebagian

terbesar dianggap tidak tahu, untuk apa kami melakukan

pemusatan pasukan. Sri Baginda menganggap bahwa Mahisa

Walungan telah menipu kami untuk kepentingannya.”

“Adakah yang pantas kita curigai? “

Para Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tampak di

dalam pandangan mata mereka. sesuatu yang rasa-rasanya

tertahan di kerongkongan.

“Kalian memang cukup berhati-hati” berkata Gubar Baleman,

“tetapi bagaimana kalau aku yang mulai? Aku mencurigai Pujang

Warit.”

Tiba-tiba setiap kepala terangguk-angguk mengiakan. Bahkan

terdengar beberapa orang bergumam, “Ya, kami-pun demikian. Ia

berada di lingkungan ini pada mulanya.”

“Pasti ada sesuatu yang tidak wajar. Baginda pasti telah

mendengar pengaduan palsu tentang Adinda Baginda. Sedang

Adinda Baginda benar-benar seorang adik yang patuh dan tunduk.

Ia tidak mau melakukan perlawanan langsung terhadap kakanda,

meskipun maksudnya baik. Selain ia terikat oleh tingkat kekuasaan,

ia adalah saudara muda yang sangat menghormati saudara tuanya

yang dianggapnya sebagai pengganti ibu-bapa.”

“Tetapi apakah Kediri harus dikorbankan?” bertanya salah

seorang Senapati.

“Tidak. Kita akan berbuat sesuatu meskipun barangkali tidak

akan disetujui oleh Adinda Mahisa Walungan sendiri.”

“Apakah yang dapat kita lakukan?”

“Aku akan menghadap Sri Baginda?”

“Kapan?”

Gubar Baleman berpikir sejenak. Ditatapnya setiap wajah yang

ada di sekitarnya.

“Apakah kalian dapat dipercaya?”

“Kami berjanji,” hampir berbarengan para Senapati itu

menjawab.

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam.

“Di mana Pujang Warit kini berada bersama pasukannya?”

“Ia juga mengadakan pemusatan pasukan tidak jauh dari tempat

ini. Kami memperhitungkan, bahwa apabila ia gagal dengan

caranya, memang mungkin sekali ia akan mempergunakan

kekerasan.”

“Tetapi sebagian terbesar pasukan sudah berkumpul di tempat

ini.”

“Ia masih mengharap pengaruh nama Sri Baginda, sehingga tidak

semua Senapati di dalam pasukan ini akan berpihak kepada Mahisa

Walungan. Sedang Pujang Warit telah mempergunakan pasukan

pengawal istana dan pasukan pilihan yang lain. selain pasukan

keamanan.”

“Tetapi itu tidak mencemaskan, seandainya ia akan

mempergunakan kekerasan. Terpaksa sekali justru ketika Singasari

sudah di ambang pintu. Tetapi aku akan mencari jalan lain untuk

mencegah benturan yang mungkin dapat terjadi.”

“Kami menghadap itu akan berhasil.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Yang pertama-tama harus kalian lakukan adalah menahan

Senapati muda yang pasti akan mencari aku kemari. Mudahmudahan

ia tidak berbuat sesuatu di pertahanan, sehingga tidak

memungkinkannya meninggalkan daerah perbatasan itu.”

“Apakah kami harus menangkapnya?”

“Ya. Ia datang bersama beberapa pengawalnya. Besok aku akan

menghadap Sri Baginda tanpa orang itu.”

“Jadi?”

“Dengar, siapakah yang sudah memahami segala sudut istana?

Aku sendiri sudah. Tetapi aku memerlukan beberapa orang kawan.”

Beberapa orang Senapati segera menyatakan dirinya.

“Memang terpaksa sekali. Malam ini kalian harus memasuki

istana bersama beberapa orang pilihan dengan diam-diam.

Para Senapati itu saling berpandangan sejenak.

“Aku akan menghadap Sri Baginda besok pagi. Tetapi aku sadar,

bahwa aku akan ditangkap. Nah. tugas kalian adalah melindungi

aku.”

“Suatu perlawanan langsung terhadap Sri Baginda,” desis salah

seorang Senapati.

“Tidak. Kita hanya ingin mendapat kesempatan untuk

meyakinkan Baginda, bahwa kami tidak akan memberontak. Adinda

Mahisa Walungan harus dapat keluar dari bilik tahanannya. Kita

bersama akan membuktikan bahwa kita tidak bersalah. Hanya itu.

tanpa menyentuh takhta Baginda sama sekali. Justru dengan

demikian kita akan menyelamatkan kedudukan Baginda. Bukan saja

dari orang yang membuat fitnah ini. tetapi juga dari kehancuran

akibat benturan dengan Singasari.”

Para Senapati itu terdiam sejenak. Mereka mengerti maksud

Gubar Baleman. Tetapi untuk melakukannya dengan berterus terang

di hadapan Baginda, adalah terlampau berat bagi mereka.

“Bagaimana?” bertanya Gubar Baleman.

“Kalau Baginda salah paham, maka kita dapat dianggap

memberontak,” berkata salah seorang Kediri.

“Memang,” jawab Gubar Baleman, “tetapi kita tidak

memberontak. Kalau kita dituduh sebagai seorang pengkhianatan,

dan seandainya usaha kita gagal, dan kita akan dihukum sebagai

pengkhianat bersama-sama dengan Adinda Mahisa Walungan. maka

ini adalah pengorbanan kita yang terbesar. Jauh lebih besar

daripada apabila kita mati di peperangan. Sebab mati di peperangan

kita masih akan disanjung sebagai pahlawan. Tetapi mati dalam

usaha kita kali ini untuk menyelamatkan Kediri, mayat kita masih

akan dicemarkan.” Gubar Baleman berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi

kalau seharusnya demikian, aku rela. Aku rela mati dan dihinakan

untuk kepentingan Kediri dan kesetiaanku kepada Sri Baginda. Niat

ini adalah niat yang jujur. Bukan niat yang harus kita perlihatkan

kepada setiap orang dengan dada tengadah, bahwa kita telah

berjuang. Kita telah berjuang untuk Kediri.” sekali lagi Gubar

Baleman berhenti. Matanya menjadi menyala-nyala, “Perjuangan

kita mungkin tidak akan dikenal untuk selama-lamanya, bahkan kita

akan dituduh sebaliknya. Siapa yang rela mengalaminya, marilah

kita selamatkan Kediri. Siapa yang tidak berani menanggung akibat

itu, aku persilahkan minggir.”

Pertemuan itu menjadi hening untuk sejenak. Setiap wajah

menjadi tegang dan berkerut-merut. Namun akhirnya seorang

Senapati yang sudah mendekati tengah abad berkata. “Baiklah. Aku

mengerti maksud ini. Aku ikut.”

“Ya, aku turut serta.”

“Aku. Aku. Aku … “ akhirnya hampir setiap orang menyatakan

kesediaannya.

“Terima kasih,” sambut Gubar Baleman. “jika demikian, marilah

kita mulai. Kita harus mengatur diri kita supaya usaha ini tidak

gagal.”

Para Senapati-pun kemudian seakan-akan merapatkan dirinya.

Dengan tajamnya mereka memandangi Gubar Baleman.

“Nah, aku lanjutkan rencana yang sudah aku katakan. Sebagian

dari kalian harus memasuki istana bersama beberapa orang prajurit

pilihan,” berkata Gubar Baleman, “kalian harus berusaha untuk

membuat para Senapati dan prajurit yang sudah berada di halaman

istana tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik. Kalian tidak

usah melakukan kekerasan jika tidak terpaksa sekali. Jika sampai

saatnya Baginda memerintahkan menangkap aku, maka kalian akan

mengerti apa yang kalian lakukan. Penangkapan itu harus gagal,

karena tidak ada seorang prajurit-pun yang akan melakukannya.

Dalam kesempatan itulah Adinda Mahisa Walungan harus

menghadap Sri Baginda. Adinda Mahisa Walungan dan aku sendiri

akan memberikan penjelasan kepada Sri Baginda, bahwa Kediri

sudah benar-benar berada di ujung bahaya. Dalam keadaan ini,

masih juga ada orang-orang yang mempergunakan kesempatan

untuk kepentingan diri sendiri.”

“Baiklah,” jawab para Senapati itu, “kami akan melakutannya.”

“Sebagian dari kalian tetap berada di sini. Ada dua tugas harus

dilakukan. Kalau bahaya dari Singasari itu datang sewaktu-waktu,

kalian yang tinggal di sini harus mencoba mengatasinya sebelum

kami datang. Sedang kemungkinan yang lain, yang sama sekali

tidak kita harapkan adalah apabila Pujang Warit mempergunakan

kekerasan. Entah karena ia yakin dapat menguasai kita, atau justru

karena ia menjadi berputus-asa.”

“Baik,” jawab mereka hampir serentak.

Gubar Baleman-pun segera memilih para Senapati yang sudah

memahami benar-benar segala sudut istana. Mereka harus

memasuki istana itu dengan diam-diam, dan dengan diam-diam pula

berada di setiap penjagaan, mendampingi para petugas yang sudah

ada. Mereka harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi

dengan jujur. Kalau ada di antara para prajurit itu yang menolak,

maka mereka harus segera bertindak tanpa ribut-ribut.”

Bersambung ke Jilid 54.

Jilid 54

PARA SENAPATI itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mereka sadar bahwa tugas ini adalah tugas yang sangat berat.

Tetapi mereka harus menjalankannya.

“Yang terutama adalah di tempat-tempat yang terpenting, di

sekitar paseban.” Gubar Baleman menjelaskan, “kemudian di sekitar

tempat Adinda Mahisa Walungan ditahan.”

Para Senapati itu mengangguk-angguk pula.

Mereka telah mendengar dari beberapa orang yang berhasil

menyaksikan kesiagaan di dalam istana. Karena itu mereka-pun

dapat mengira-ngirakan, di mana mereka harus menyiapkan diri.

“Jumlah kita harus lebih banyak daripada Senapati dan prajurit

yang sudah ada di istana, supaya kita dapat menyelesaikannya

dengan cepat tanpa menumbuhkan kegaduhan.”

Para Senapati itu-pun kemudian menyiapkan diri. Yang harus

pergi ke kota memasuki istana-pun segera bersiap dan menyediakan

segala perlengkapan yang diperlukan.

Demikianlah, maka para Senapati itu-pun segera melakukan

tugas masing-masing. Dengan tanpa menimbulkan kecurigaan, para

Senapati dan prajurit-prajurit pilihan memasuki kota melalui jalan

yang terpencar-pencar. Memang satu dua orang dari prajurit yang

bertugas di perbatasan kota bertanya-tanya di dalam hati. kenapa

beberapa orang prajurit yang berada di luar kota memasuki kota di

malam begini? Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena

ciri keprajuritan mereka dapat dijumpai dengan lengkap.

Ketika seorang penjaga yang tidak dapat menahan diri untuk

mengetahui, kenapa mereka memasuki kota di malam hari, maka

jawaban seorang Senapati yang berkuda bersama beberapa orang

kawannya dan prajurit-pilihan, “Kami mendapat kesempatan untuk

berkumpul dengan keluarga sehari besok. Hanya sehari, kemudian

kami akan dikirim ke perbatasan. Besok sore kami akan berangkat.

Karena itu kami mempergunakan waktu sehemat-hematnya.”

Agaknya jawaban itu telah cukup bagi para peronda itu, sehingga

mereka tidak bertanya lebih lanjut. Mereka sendiri tidak tahu,

apakah sebenarnya bahwa akan ada lagi pasukan-pasukan yang

dikirim ke perbatasan. Keadaan yang tidak berketentuan di Kediri

membuat setiap prajurit, bahkan setiap orang menjadi selalu

bertanya-tanya. Apalagi prajurit-prajurit itu tidak mau mendapat

kesulitan dengan kawan sendiri, sehingga akhirnya, mereka biarkan

sajalah, berapa banyak prajurit yang memasuki kota.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat demikian, ketika mereka akan

memasuki istana. Mereka tidak dapat memasuki halaman lewat

regol dan kemudian menyebar. Dengan demikian akan segera

menumbuhkan kecurigaan, dan mungkin rencana mereka akan

pecah di tengah jalan.

Karena itu. maka mereka-pun berusaha memasuki istana dengan

diam-diam. Seorang demi seorang berusaha meloncati dinding di

sudut-sudut yang mereka sangka tidak diketahui oleh penjaga. Di

ujung taman yang jauh. Bahkan di bagian-bagian yang tidak

terperhatikan. Di samping pakiwan atau dapur.

Yang mendapat penjagaan terkuat adalah halaman di sekitar

paseban. Mereka menunggu bahwa di setiap saat Gubar Baleman

akan menghadap. Adalah menjadi tugas mereka untuk melakukan

suatu tindakan yang cepat, apabila Gubar Baleman ternyata

mencoba untuk tidak mematuhi perintah Sri Baginda.

Tetapi ternyata sampai jauh malam, bahkan lewat tengah malam.

Gubar Baleman masih belum menghadap. Beberapa orang prajurit

menjadi jemu, dan yang lain sudah mulai mengantuk.

Karena itu, maka mereka sama sekaIi tidak melihat bahwa di

ujung taman, di belakang pakiwan dan di bawah pohon-pohon yang

rimbun beberapa orang prajurit, Senapati telah berada di dalam

dinding halaman istana.

Apalagi mereka sama sekali tidak menduga bahwa itu akan

terjadi. Mereka sama sekali tidak memperhitungkan perlawanan

yang akan langsung dilakukan oleh beberapa orang prajurit.

Menurut perhitungan mereka, malam itu juga Gubar Baleman akan

menghadap Sri Baginda. Karena Sri Baginda sudah berpesan, setiap

saat Baginda harus dibangunkan apabila Gubar Baleman datang.

Kemudian seperti pada saat Sri Baginda menangkap Mahisa

Walungan. maka di halaman itu pasti tidak akan terjadi apapun

juga. Gubar Baleman termasuk seorang Menteri yang sangat patuh

kepada Sri Baginda Kertajaya.

Namun dalam pada itu para prajurit dan Senapati yang sudah

berada di dalam halaman itu-pun segera merayap mendekati

tempat-tempat yang penting, yang sudah dijaga oleh para prrjurit

pengawal istana.

Para Senapati yang baru datang itu menyadari, bahwa para

prajurit pengawal istana, apalagi para Senapatinya, adalah orangorang

pilihan, karena di tangan merekalah terletak keselamatan Sri

Baginda dan seisi istana. Tetapi meskipun demikian, prajurit yang

telah banyak makan garam peperangan di medan-medan yang

bermacam-macam, dan menghadapi musuh yang beraneka ragam

itu-pun sama sekali tidak merasa berkecil hati, apabila mereka

terpaksa terlibat di dalam tindak kekerasan.

Ketika di kejauhan mereka mendengar suara tengara, suara

kentongan dalam nada dara-muluk-tunda-telu, maka mereka-pun

segera bersiap-siap.

Suara kentongan yang tidak lajim itu memang menumbuhkan

beberapa pertanyaan bagi mereka yang mendengarnya. Tetapi ada

di antara mereka yang menganggap bahwa itu hanyalah suatu

kelalaian para petugas sehingga tangan mereka tidak melakukan

tugasnya sebaik-baiknya.

Namun bagi para prajurit yang menyusup masuk ke dalam istana

suara itu adalah tanda bahwa Gubar Baleman telah berangkat ke

istana. Sebentar lagi ia dan beberapa orang pengawalnya akan

segera memasuki halaman.

Dalam pada itu. Senapati muda dan para pengawalnya yang

mendapat tugas untuk memanggil Gubar Baleman itu-pun berpacu

seperti dikejar hantu. Mereka berusaha untuk mengejar Gubar

Baleman yang menurut pemimpin prajurit di perbatasan, telah

mendahuluinya.

Tetapi mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka sudah

menjadi semakin dekat dengan kota, tetapi mereka sama sekali

masih belum berhasil menyusulnya.

“Kita akan segera sampai ke Ganter,” desis Senapati muda itu.

“Ya. jalan di depan kita itulah jalan silang yang menuju ke

pemusatan pasukan Mahisa Walungan.”

“Mungkin Gubar Baleman akan singgah ke sana.”

“Setan alas. Kalau ia berhasil menemui beberapa orang di sana,

maka ia akan mendengar apa yang telah terjadi.”

“Tetapi apakah kira-kira Gubar Baleman berani menentang Sri

Baginda sendiri, tanpa Mahisa Walungan,” bertanya salah seorang

pengawalnya.

Senapati muda itu berpikir sejenak, “Mungkin tidak. Tetapi

kemungkinan yang lain masih dapat terjadi. Aku kira Pujang Warit

juga belum bertindak sesuatu sebelum Gubar Baleman ditangkap,

sehingga pemusatan pasukan itu sama sekali masih utuh.”

“Lalu apakah yang akan kita kerjakan. Kita hampir sampai di

jalan silang.”

Senapati itu berpikir sejenak. Sangat berat baginya untuk

menghadap Sri Baginda tanpa Gubar Baleman. Karena itu apapun

yang akan terjadi, ia mengambil keputusan. “Kita singgah ke tempat

itu. Kita cari Gubar Baleman di sana. Kita harus membawanya

menghadap.”

Beberapa orang pengawal saling berpandangan sejenak. Namun

mereka tidak dapat membantah keputusan pemimpinnya itu,

sehingga mereka-pun kemudian mengangguk-anggukkan kepala

mereka sambil bergumam, “Baiklah.”

“Bagus,” berkata Senapati itu, “kita harus bersikap tegas.”

Para pengawalnya-pun kemudian mengerutkan kening mereka.

Wajah mereka menjadi tegang. Mereka merasa bahwa mungkin

mereka harus menghadapi masalah yang tidak mereka sangkasangka

ketika mereka berangkat. Beberapa orang di antara mereka

tanpa sadar, telah meraba hulu pedangnya.

Kuda-kuda itu masih berpacu terus. Ketika mereka sampai ke

jalan silang, maka mereka-pun kemudian berbelok ke kanan.

Mereka akan singgah ke pemusatan pasukan Mahisa Walungan di

sebelah Utara Ganter. hanya beberapa patok saja dari jalan yang

dilaluinya. Agaknya apabila rencana Mahisa Walungan berhasil, di

tempat itulah pasukan Singasari akan dijebak.

Dengan hati yang berdebar-debar. Senapati muda itu menjadi

semakin dekat dengan padukuhan yang dipergunakan oleh Mahisa

Walungan untuk menampung kekuatan Kediri. Sebuah padukuhan

yang berhubungan dengan sebuah pategalan yang luas. Kemudian

dipisahkan oleh bulak kecil terbentang sebuah hutan rindang yang

sengaja dibiarkan tetap ada di situ, untuk dipergunakan sebagai

tempat bercengkerama dan berburu bagi Sri Baginda Kertajaya.

Di tempat-tempat itulah pasukan Mahisa Walungan bertebaran.

“Tempat ini memang baik sekali,” berkata Senapati itu di dalam

hatinya, “kalau pasukan Singasari mengalir lewat jalan induk itu,

maka pasukan Mahisa Walungan akan menyerangnya dari samping.

Sedang pasukan yang di seberang kiri jalan, akan memancing

perhatian lawan, sebelum mereka dilanda oleh pasukan yang kuat di

sini.” Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya

padukuhan yang tidak begitu jauh dari tempat itu, namun karena

gelapnya malam, maka ia tidak dapat melihatnya.

Di tempat itulah Pujang Warit membayangi gerak-gerik pasukan

ini.

“Aku masih juga sangsi,” Senapati itu melanjutkan di dalam

hatinya, “apabila orang-orang Mahisa Walungan tetap berkeras.

apakah Pujang Warit mampu memaksa mereka dengan kekerasan?”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam, kemudian, “Tetapi Pujang

Warit yakin bahwa sebagian terbesar dari pasukan yang ada di

pemusatan pasukan itu masih tetap setia kepada Sri Baginda.”

Ternyata bahwa Senapati muda itu masih juga dihinggapi oleh

keragu-raguan. Ia mengerti benar rencana Mahisa Walungan

dengan pemusatan pasukannya. Namun dipaksanya hatinya

berkata, “Tetapi sayang, Mahisa Walungan dan Gubar Baleman akan

menyalah gunakan kekuatan ini untuk memutar pasukan ini

menghadap ke istana Kediri sendiri.”

Sementara itu kudanya berpacu semakin cepat. Sambil

menggertakkan giginya Senapati muda itu berkata, “Kita sudah

hampir sampai. Kita tidak dapat bermain-main lagi dengan perintah

Sri Baginda ini.”

Para pengawalnya tidak menjawab. Tetapi terasa debar yang

semakin cepat di dada mereka.

Angin yang basah terasa mengusap wajah-wajah yang tegang

itu. Namun hati mereka terasa menjadi semakin panas.

Ketika mereka sampai di gerbang padukuhan, mereka-pun

segera menarik kekang kuda-kuda mereka, sehingga kuda-kuda itupun

segera berhenti pula.

“Siapakah kalian,” bertanya pemimpin penjaga regol itu.

“Aku adalah utusan Sri Baginda yang atas namanya, kami

mencari Pamanda Menteri Gubar Baleman.”

“O, kenapa kau mencarinya di sini? Bukankah Menteri Gubar

Baleman berada di perbatasan.”

“Jangan berpura-pura tidak tahu. Ia sudah datang kemari.”

Pemimpin penjaga itu mengerutkan keningnya. Namun sebelum

ia menjawab, seorang Senapati yang sejak lama berada di regol itupun

menyahut, “Ya, Menteri Gubar Baleman ada di sini.”

“Nah, kalau begitu, aku akan bertemu.”

“Ia baru saja datang dari perbatasan. Katanya, Sri Baginda

memanggilnya. Tetapi begitu tergesa-gesa sehingga ia justru

meninggalkan Senapati utusan Baginda yang memanggilnya di

perbatasan.”

“Ya, akulah utusan itu.”

“Sekarang Menteri itu menunggu kalian di sini. Ia yakin bahwa

kau akan mencarinya kemari.”

“Ya.”

“Masuklah. Ia ada di rumah yang terbesar di padukuhan ini. di

sebelah tikungan yang kedua.”

Senapati itu sama sekali tidak turun dari punggung kudanya.

Karena itu, maka ketika ia merasa sudah diijinkan memasuki

padukuhan itu oleh penjaganya, langsung digerakkannya kendali

kudanya, sehingga kudanya itu-pun berjalan maju memasuki regol

diikuti oleh para pengawalnya.

Tetapi ketika orang yang terakhir sudah melangkah regol itu.

betapa mereka. Senapati muda itu beserta pengawalnya, menjadi

terkejut bukan buatan. Tiba-tiba saja beberapa orang telah

mendorong dan menutup pintu regol itu.

“He,” Senapati muda itu berhenti. “apakah artinya ini?”

Senapati yang berdiri di depan pintu regol berjalan

mendekatinya. Di bawah cahaya obor yang kemerah-merahan

tampaklah wajahnya menjadi semakin keras seperti batu karang.

“Maaf Ki Sanak, kau terpaksa harus beristirahat di sini dahulu

sampai Menteri Gubar Baleman datang kembali ke tempat ini.”

“Apa maksudmu?”

“Demikianlah perintah Menteri Gubar Baleman.”

“Aku adalah utusan Sri Baginda justru untuk memanggil Pamanda

Menteri Gubar Baleman.”

“Aku tidak tahu.”

“Kalau kau tidak tahu, aku memberi tahumu. Kalau kau lakukan

juga perintah itu, menahan aku di sini, berarti bahwa kalian telah

melawan perintah Sri Baginda seperti Pamanda Menteri Gubar

Baleman.”

“Menteri Gubar Baleman sudah menghadap Sri Baginda.”

Dada Senapati muda itu berdesir tajam. Sejenak ia justru

terbungkam. Dipandanginya setiap prajurit yang ada di sekitarnya

dengan mata tanpa berkedip. Nyala obor yang kemerah-merahan

membuat wajah Senapati itu seakan-akan telah membara.

Sejenak kemudian ia menggeram, “Kalian jangan berbuat begitu

dungu. Panggil Gubar Baleman.”

Tidak seorang-pun yang menjawab.

“Atas nama Sri Baginda Kertajaya yang berkuasa di Kediri,

panggil Gubar Baleman,” ia berteriak.

Tetapi masih tidak ada jawaban sama sekali. Orang-orang yang

ada di sekitarnya seakan-akan membeku dalam kelamnya malam.

“He, apakah kalian tidak mendengar? Bawa pengkhianat itu

kemari. Aku adalah orang yang mendapat pelimpahan kekuasaan

dari Sri Baginda. Apakah kalian mendengar?”

Masih tidak ada jawaban apapun.

“Gila, kalian di sini sudah menjadi gila. Aku adalah utusan Sri

Baginda. Kalau aku tidak kembali pada saatnya, kalian pasti akan

digantung oleh Sri Baginda sendiri karena kalian telah menghina

utusannya. Itu berarti kalian telah menghina Sri Baginda sendiri.”

Tidak seorang-pun yang menjawabnya.

Tiba-tiba Senapati muda itu kehilangan kesabarannya, bahkan

kehilangan nalarnya. Karena itu maka tiba-tiba ia menarik

pedangnya sambil berkata lantang, “Nilai kepercayaan Sri Baginda

sama dengan ujung senjataku. Siapa yang tidak tunduk, aku berhak

memenggal lehernya.”

Senapati yang memang menunggunya di regol itu-pun kemudian

maju selangkah sambil menarik nafas dalam-dalam. Katanya

kemudian dengan tenang, “Kau kehilangan akal.”

“Tidak. Ini adalah keharusan seorang utusan.”

“Apakah yang dapat kalian lakukan di sini?”

“Memaksa kalian untuk membawa Gubar Baleman menghadap.

Aku harus membawanya menghadap Sri Baginda. Hidup atau mati.”

“Kau adalah seorang Senapati. Kau sudah dimabukkan oleh tugas

yang barangkali baru pertama ini kau lakukan. Mengemban tugas

Sri Baginda,” berkata Senapati itu, “aku adalah orang yang lebih tua

daripadamu. meskipun aku masih juga belum mendapat

kesempatan dinaikkan pangkatku menjadi Senapati Pandega. Cara

yang kau pakai bukanlah tata cara yang benar di dalam tata

keprajuritan.”

“Aku tidak peduli. Tetapi Kediri berada dalam keadaan darurat.

Aku harus menangkap Menteri Gubar Baleman. Apakah kalian tidak

tahu, untuk apa kalian di pusatkan di tempat ini?”

“Kami tahu. Kami tahu dengan pasti, bahwa kami sedang

menunggu banjir bandang yang akan mengalir dari Singasari lewat

jalan induk di sebelah.”

“Kalian ternyata telah diperbodoh oleh Mahisa Walungan dan

Gubar Baleman. Kalian sebenarnya akan dipergunakan oleh mereka

untuk merebut kekuasaan Kediri. Mahisa Walungan ingin menjadi

seorang Raja dan Gubar Baleman akan menjadi Menteri Pertama.

Kalian adalah landasan-landasan yang bodoh untuk memanjat ke

singgasana itu. Atau kalian mungkin mendapat janji untuk

mendapat upah yang tinggi. Bukan kalian akan diangkat menjadi

Pandega atau Akuwu di daerah-daerah kecil?”

Hampir saja Senapati yang bertugas menunggu kedatangannya

itu juga kehilangan nalar. Tetapi karena umurnya yang sudah lebih

tua, dan pengalamannya yang lebih banyak, ia masih mampu

menahan dirinya. Bahkan ia masih dapat berkata dengan tenang,

“Kau tidak sadar, apa saja yang telah kau katakan?”

“Aku sadar. Aku menyadari apa yang aku katakan dan segala

akibatnya.”

“Jangan terlampau congkak. Kau sebagai utusan Sri Baginda atau

kau pribadi, tidak jauh berbeda bagi kami. Kau tetap di sini. Tanpa

maksud menentang kekuasaan Sri Baginda, kami berkeputusan

untuk menahan kau. karena kau ternyata mempunyai penilaian yang

salah terhadap kami. Atau barangkali kau yang telah memfitnah

Adinda Baginda Mahisa Walungan sehinga ia ditahan? Kemudian

Menteri Gubar Baleman-pun mendapat tuduhan yang sama? Kalau

begitu kau adalah orang yang justru paling bodoh di seluruh Kediri,

selagi Singasari siap menelan kita.”

“Cukup,” teriak Senapati muda itu, “aku tidak mau mendengar

kebodohan itu lebih lama lagi. Sekarang bawa Gubar Baleman

kemari.”

“Sarungkan pedangmu supaya kami tidak menarik pedangpedang

kami pula.”

“Tariklah pedangmu.”

“Kau benar-benar gila. Apakah kau akan membunuh dirimu di

sini. selagi kita memerlukan keutuhan kekuatan untuk melawan

Singasari?”

“Aku tidak peduli,” Senapati itu benar-benar telah kehilangan

akal, “kalian harus bertanggung jawab kalau aku membuat pepati di

sini.”

Senapati yang bertugas di padukuhan itu-pun tidak dapat

membiarkannya berbicara lebih lama lagi. Tiba-tiba ia mengangkat

tangannya, kemudian seseorang pengawal memukul kentongan di

regol lima kali berturut-turut. Itu adalah suatu aba yang sudah

diketahui sebelumnya, bahwa tanda itu adalah perintah bagi para

prajurit yang mengawal padukuhan itu untuk mengepung Senapati

muda itu beserta pengikutnya.

Karena itu maka berloncatanlah berpuluh-puluh prajurit yang siap

dengan senjata mereka dari balik pagar batu di pinggir jalan dari

balik gerumbul-gerumbul yang gelap, dan bahkan dari pepohonan.

“Gila,” teriak Senapati itu, “kalian telah memberontak terhadap

Sri Baginda.”

“Bukan maksud kami. Kami hanya ingin menunjukkan kebenaran

kepada Sri Baginda, justru karena kesetiaan kami. kesetiaan Menteri

Gubar Baleman dan kesetiaan Adinda Sri Baginda, Mahisa Walungan

kepada Sri Baginda dan terlebih-lebih kepada Kediri.”

Senapati muda yang merasa dirinya mendapat kekuasaan dari Sri

Baginda Kertajaya itu menggeram. Kini ia sudah tidak berada di atas

punggung kudanya. Demikian juga para pengawalnya. Namun

pedangnya masih tetap di genggamannya.

“Kau tidak dapat berbuat lain daripada menurut perintah Menteri

Gubar Baleman,” berkata Senapati yang menunggui padukuhan itu,

“kau tetap di sini.”

“Tidak,” jawab Senapati muda itu, “aku sudah sanggup menjadi

seorang utusan bersama beberapa orang pengawalku. Kau juga

seorang Senapati. Kau pasti tahu arti daripada kesanggupan

seorang prajurit.”

“Maksudmu hanya mautlah yang dapat mencegahmu?”

“Ya.”

“Kau keliru. Apakah seorang Senapati yang nyata-nyata

menyadari bahwa ia telah sesat jalan, ia juga tidak akan melangkah

surut? Apakah ia akan meneruskan kesesatannya itu sampai ke

ujung kebodohan yang tidak terbatas?” jawab Senapati pengawal

itu.

“Bagiku bukan itu. Kalau kau sadar, bahwa aku tersesat jalan,

maka sebagai seorang jantan aku melangkah surut, mencari jalan

lain yang seharusnya dilalui seorang prajurit?” ia berhenti sejenak.

Lalu, “Sekarang kita sadar, bahwa Singasari sudah berada di ujung

hidung. Apakah kau masih juga sempat mengangkat dadamu,

menantang sesama kawan yang sedang berusaha menyelamatkan

negerinya? Katakanlah, aku hanya setitik air di lautan yang luas,

karena aku hanya seorang Senapati di antara sekian banyak

Senapati. Tetapi bagaimana dengan Menteri Gubar Baleman?

Bagaimana dengan Adinda Baginda Mahisa Walungan?”

“Omong kosong,” teriak Senapati muda itu, “ayo, bunuh aku. Aku

hanya dapat dicegah oleh maut.”

“Jangan terlampau bodoh. Sekarang Menteri Gubar Baleman

telah berada di istana. Jangan ribut.”

Senapati muda itu sama sekali tidak mau mendengar lagi.

Sejenak ia berdiri mematung, kemudian ia mengangkat tangannya,

memberikan perintah kepada para pengawalnya.

Tetapi ia menjadi heran, bahkan kemudian wajahnya yang

membara itu seakan-akan kini telah menyala. “He, cabut senjata

kalian.”

Para pengawal itu hanya saling berpandangan.

“Apakah kalian sudah tuli he?”

Salah seorang pengawal menarik nafas panjang. Dengan raguragu

ia berkata, “Apakah kita harus meyakini kebenaran sikap kita?”

Pertanyaan itu benar-benar telah mengejutkan Senapati muda

itu. Dengan suara gemetar ia menjawab, “O, apakah kau juga sudah

gila dengan tiba-tiba? Atau kesurupan? Tidak ada seorang prajuritpun

yang pernah mengucapkan pertanyaan seperti itu.”

“Ya, aku tahu. Tetapi tiba-tiba saja aku ingin jujur terhadap

perasaanku sendiri. Apakah kita tidak tersesat jalan?”

“Diam, diam kau. Kau harus tunduk perintahku. Kau adalah

seorang prajurit.”

Prajurit itu tidak menjawab.

Yang terdengar adalah perintah Senapati muda itu. “Ayo, tarik

pedangmu.”

Para pengawal yang termangu-mangu itu-pun menarik senjata

masing-masing meskipun mereka masih juga ragu-ragu.

“He, kenapa kalian menjadi linglung. Cepat, lakukanlah sesuatu.

Kita adalah utusan Sri Baginda. Tidak ada nilai yang lebih tinggi

daripada perintah Sri Baginda bagi seorang prajurit.”

“Itu juga keliru,” potong Senapati pengawal, “Sri Baginda adalah

raja yang berkuasa di Kediri. Tetapi apakah tanpa Kediri Sri Baginda

akan tetap menjadi seorang raja? Bagamana kalau Singasari

kemudian menguasai Kediri?”

Senapati muda itu mengerutkan keningnya.

“Apakah kita dapat disebut setia kepada Sri Baginda dan apalagi

kepada Kediri kalau kita membiarkan atau setidak-tidaknya karena

kebodohan kita Kediri tenggelam dan Sri Baginda kemudian

ditangkap oleh lawan?”

Senapati itu masih tetap berdiam diri.

“Renungkan.” Terasa sesuatu bergolak di dada Senapati muda

itu. Namun tiba-tiba ia menghentakkan dirinya. Di dalam hatinya ia

berkata, “Sudah pasti ini merupakan suatu cara untuk melemahkan

hatiku. Aku sudah mulai menjadi bimbang. Tetapi seorang utusan

tidak pernah bimbang dan ragu-ragu.”

Tiba-tiba saja Senapati muda itu berteriak, “Omong kosong.

Omong kosong. Kalian sudah memberontak terhadap Sri Baginda.

Aku adalah utusannya.”

Tiba-tiba pedang Senapati muda itu menjadi bergetar. Sekali ia

berpaling kepada para pengawalnya sambil berteriak, “Jangan

lemah seperti perempuan. Suara itu adalah suara demit yang ingin

melemahkan hati kita. Cepat, kita bunuh semua orang di sini.”

Tetapi pengawalnya sama sekali tidak beranjak di tempatnya.

“He. kalian sudah kesurupan pula.” ia berteriak, “He. kenapa

kalian diam saja he?”

Tetapi pengawalnya masih tetap berada di tempatnya.

Senapati muda yang dibakar oleh kemarahan itu tidak dapat

mengekang dirinya lagi. Serangannya yang pertama justru

dilontarkannya kepada para pengawalnya sendiri. Sambil berteriak

ia meloncat, “Pengkhianat, pengecut. Kalian-pun harus mati.”

Untunglah, bahwa para pengawal itu sudah melihat gelagat yang

kurang baik terbayang di wajah yang kemerah-merahan itu. Karena

itu, mereka-pun segera berusaha untuk mengelak. Dengan tergesagesa

mereka berloncatan surut, meskipun mereka sama sekali tidak

melawan.

Ternyata serangan yang tergesa-gesa dan didorong oleh

perasaan yang melonjak-lonjak itu sama sekali tidak mampu

menyentuh siapapun juga. Bahkan ketika ia akan mengulangi

serangannya, tiba-tiba ia tertegun. Beberapa pucuk senjata telah

merunduk melingkarinya. Ujung-ujung tombak, ujung pedang dan

bahwa beberapa pucuk anak panah yang sudah siap pada busurnya

yang telah melengkung.

Senapati muda itu menggeram seperti seekor harimau yang

terluka. Tetapi ia sama sekali tidak dapat bergerak. Ujung-ujung

senjata itu semakin lama menjadi semakin dekat ke tubuhnya.

“Pengecut,” ia berteriak, “ayo. siapa jantan di antara kalian. Kita

berperang tanding.”

“Itu hanya membuang-buang waktu dan tenaga saja,” jawab

Senapati yang memimpin penangkapan itu, “pengawal-pengawalmu

agaknya dapat berpikir lebih baik daripada kau sendiri.”

“Persetan dengan pengkhianat-pengkhianat itu. Tetapi jangan

mengharap aku akan menyerah.”

“Aku memang tidak mengharap kau menyerah. Tetapi aku

mengharap kau mengerti, bahwa kita kini benar-benar dalam

bahaya.”

“Jangan gurui aku. Kalau kalian tetap berbuat sebodoh Ini.

pasukan Pujang Warit akan menghancurkan pemusatan pasukan

yang akan berkhianat terhadap Sri Baginda ini.”

“Kau mempunyai telinga, tetapi kau tidak dapat mendengar.

Sudah aku katakan, bahwa aku dan seluruh pasukan ini, termasuk

Menteri Gubar Baleman dan Adinda Baginda Mahisa Walungan tidak

akan memberontak.”

“Omong kosong.”

“Terserah kepadamu. Aku tidak dapat melunakkan hati yang

sekeras batu itu. Tetapi kau tidak akan dapat lepas dari padukuhan

ini. Letakkan senjatamu.”

“Senjataku sama harganya dengan nyawaku. Ia akan terlepas

sendiri dari tanganku kalau maut sudah merenggut.”

“Kau memang seorang Senapati yang jantan. Tetapi sayang. kau

termasuk bodoh.”

“Tutup mulutmu.” Senapati itu bergerak setapak, tetapi ujung

senjata yang ada di seputarnya seakan-akan kini telah melekat di

tubuhnya, sehingga ia tidak mungkin lagi mengangkat pedangnya.

“Pengecut, pengecut,” ia berteriak. Namun suaranya hilang saja

ditelan oleh gelapnya malam.

Yang terdengar kemudian adalah suara Senapati pengawal

padukuhan itu, “Letakkan senjatamu supaya kami tidak usah

memaksamu dengan cara yang tidak kau sukai.”

“Bunuh aku.”

“Kami tidak ingin membunuh.”

Senapati itu menggeretakkan giginya. Ketika ujung-ujung senjata

para prajurit di sekitarnya menjadi semakin menekan tubuhnya, ia

menjadi bimbang.

“Letakkan senjatamu. Kau tidak kalah, dan kau tidak perlu

merasa kalah. Tinggallah di sini, dan kau akan membuktikan

kebenaran kata-kata kami. bahwa kami bukan pemberontak.

Mungkin kami mempunyai cara yang tidak disukai oleh Sri Baginda.

Tetapi itu pasti hanya untuk sementaraa. Nanti Baginda-pun akan

mengetahui, siapakah yang sebenarnya setia kepadanya dan kepada

Kediri.”

Senapati itu tidak menjawab.

“Letakkan senjatamu.”

Senapati muda itu menggeretakkan giginya. Terasa pundaknya,

punggungnya, lambungnya, dan bagian-bagian badannya yang lain

telah tersentuh ujung senjata. Dan ia mendengar sekali lagi,

“Letakkan senjatamu.”

Sejenak Senapati muda itu termangu-mangu. Tetapi kemudian

tampak olehnya wajah-wajah yang tegang di sekitarnya.

Akhirnya, betapa keras hatinya. Senapati muda itu-pun hanya

melihat kenyataan. Memang tidak bijaksana untuk membunuh diri

dengan cara yang bodoh itu. Kalau ia masih mempunyai

kesempatan untuk hidup, maka segala kemungkinan masih dapat

terjadi.

Karena itu, ketika ia mendengar desis sekali lagi, dengan hati

yang betapapun beratnya, diletakkannya senjatanya di tanah.

“Bagus,” berkata Senapati pengawal padukuhan itu, “Sekarang,

ikutlah dengan prajurit-prajurit yang akan menunjukkan tempatmu.

Kau barangkali perlu beristirahat.”

Senapati muda itu tidak menjawab. Tetapi sekilas tampak

matanya masih menyala-nyala.

Dalam pada itu, malam-pun menjadi semakin tipis oleh cahaya

yang semakin merah di langit. Meskipun embun masih menitik,

tetapi terasa, bahwa malam-pun akan segera berakhir.

Dalam pada itu Gubar Baleman telah berada di pintu gerbang

istananya bersama beberapa orang pengawal. Mereka-pun segera

berloncatan dari punggung-punggung kuda mereka dan

menyerahkan kuda-kuda itu kepada para pengawal.

“Aku akan menghadap Sri Baginda.”

Seorang prajurit membungkukkan kepalanya sambil menjawab,

“Silahkan. Kami memang mendapat perintah untuk menunggu tuan

datang malam ini.”

Gubar Baleman mengerutkan keningnya, “Siapa yang memberi

kalian perintah itu?”

“Pimpinan pasukanku.”

Gubar Baleman tersenyum. “Bagus. Kau adalah seorang prajurit

yang patuh. Apakah kalau kau tidak menunggu kedatanganku,

gerbang ini tidak dijaga?”

Prajurit itu tergagap. Jawabnya, “Ya, ya, Tentu dijaga.”

Gubar Baleman menepuk pundak prajurit itu. “Sebaiknya kau

bersikap biasa apapun yang sudah kau dengar tentang aku. Kau

tidak usah ikut bersikap aneh-aneh.”

Prajurit itu heran. Tetapi kemudian ia tertunduk malu. Agaknya

Gubar Baleman dapat membaca isi hatinya, bahwa ia-pun merasa

senang melihat kehadiran Menteri yang akan ditangkap itu.

“Nah, jalankan tugasmu baik-baik. Aku akan menghadap Sri

Baginda.”

Prajurit itu hanya membungkukkan kepalanya. Tetapi ia tidak

menjawab lagi.

Gubar Baleman dan pengawalnya-pun segera memasuki gerbang

istana langsung memasuki regol halaman dalam. Ia lahu bahwa ia

harus menghadap Baginda di paseban dalam pula.

Menteri itu mengernyitkan alisnya ketika ia melihat beberapa

orang prajurit yang telah bersiaga di segala sudut.

Demikian juga agaknya kesiagaan para pengawal istana pada

saat Mahisa Walungan menghadap. Namun di dalam hati Gubar

Baleman berkata, “Tetapi seandainya Adinda Mahisa Walungan

menghendaki, penjagaan yang tiga kali lipat dari kekuatan ini tidak

akan dapat menahannya. Namun Adinda Mahisa Walungan

terlampau patuh kepada kakandanya.”

Tetapi ternyata Gubar Baleman telah berbuat lain. Ia adalah

seorang pemimpin yang hampir sepanjang hidupnya menumpahkan

segala tenaganya buat Kediri, dan ia bukan saudara Sri Baginda.

Karena itu Gubar Baleman mempunyai cara yang agak lebih

longgar, meskipun ia sama sekali tidak ingin melawan kekuasaan Sri

Baginda Kertajaya dalam arti sebenarnya.

Maka dengan hati yang berdebar-debar Gubar Baleman

memasuki halaman dalam dengan para pengawalnya. Namun

kemudian ia terhenti ketika seorang Senapati datang kepadanya.

Sambil menundukkan kepala, kemudian Senapati itu berkata,

“Menteri Gubar Baleman. Aku mendapat perintah untuk menunggu

di paseban. Sewaktu-waktu aku harus memberitahukan kepada

pelayan dan emban yang menunggui bilik Sri Baginda untuk

membangunkannya.”

“Terima kasih,” jawab Gubar Baleman, “agaknya kedatanganku

memang sudah ditunggu-tunggu.”

“Sri Baginda sendiri menunggu sampai hampir tengah malam.”

“Aku akan mohon ampun bahwa aku datang terlambat.”

Senapati itu terdiam sejenak. Namun kemudian dengan raguragu

ia berkata, “Tetapi adalah perintah Sri Baginda bahwa Menteri

Gubar Baleman hanya diperkenankan menghadap seorang diri,

tanpa pengawal dan tanpa senjata.”

Gubar Baleman tertawa, “Aku adalah orang istana sejak kecil.

Aku sudah tahu, bahwa aku hanya dapat menghadap Sri Baginda

tanpa pengawal-pengawal ini. Dan mereka akan tinggal di

halaman.”

Senapati itu menganggukkan kepalanya, “Ya. begitulah.”

“Tetapi tidak ada perintah yang pernah aku dengar, bahwa aku

harus menghadap Sri Baginda tanpa senjata. Sebagai seorang

Menteri yang bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan

Kediri, aku adalah Senapati tertinggi. Aku adalah pimpinan tertinggi

pasukan Kediri di samping Adinda Mahisa Walungan.”

“Maaf. Aku hanya sekedar menerima perintah.”

“Aku akan menunggu di halaman. Sampaikan saja dahulu kepada

Sri Baginda, bahwa aku akan menghadap.”

Senapati itu ragu-ragu sejenak.

“Sampaikan.” ulang Gubar Baleman, “kalau Sri Baginda hanya

bersedia menerima aku tanpa senjata, apa boleh buat. Tetapi itu

adalah menyalahi kebiasaan.”

“Baiklah,” jawab Senapati itu, “aku akan menyampaikannya

kepada kakang Pandega yang akan menyampaikannya kepada Sri

Baginda.”

“Supaya aku tidak menyalahi keteranganmu, aku akan menunggu

di sini, di luar.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Seharusnya Gubar Baleman

sudah ada di paseban apabila Sri Baginda keluar.

“Biarlah kakang Pandega yang mengaturnya,” desis Senapati itu

di dalam hatinya, sehingga karena itu, maka ia-pun pergi

meninggalkan Gubar Baleman.

Gubar Baleman masih berada di halaman bersama beberapa

orang pengawalnya. Tetapi Gubar Baleman masih membawa

senjatanya di lambungnya.

Ketika ia melayangkan pandangan matanya ke sekelilingnya.

maka hatinya berdebar-debar. Di bawah cahaya lampu-lampu obor

ia melihat kesiagaan para pengawal. Bahkan di muka regol kini ia

melihat beberapa prajurit berdiri berjajar tepat di muka pintu. Gubar

Baleman sadar, bahwa pintu keluar sudah tertutup.

Namun Gubar Baleman-pun percaya, bahwa pada saatnya.

Orang-orangnya akan segera muncul. Menurut penilaian dan

perhitungannya, mereka kini pasti sudah ada di sekitar halaman ini

pula. Di dalam gerumbul-gerumbul yang gelap, dan di balik-balik

patung yang bertebaran. Di antara longkangan-angan kecil yang

gelap di halaman itu.

“Apabila aku masuk ke paseban, mereka pasti akan segera mulai

bergerak,” katanya di dalam hati.

Dalam pada itu. sejenak kemudian datanglah tiga orang prajurit

dan seorang Senapati Pandega kepadanya.

Gubar Baleman mengerutkan keningnya, ketika Senapati itu

langsung berkata kepadanya, “Atas perintah Sri Baginda,

dipersilahkan menghadap di paseban tanpa senjata.”

“Apakah itu perintah Sri Baginda?”

“Ya.”

Gubar Baleman menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kalau ia tidak

mematuhinya, maka perlawanannya sudah dimulai terlampau cepat.

Karena itu, maka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia

berkata, “Ini adalah perintah yang aneh bagiku. Tidak pernah aku

melepaskan senjataku, apabila sudah terlanjur aku selipkan di

lambung dalam keadaan apapun juga. Tetapi perintah Sri Baginda

memang harus dipatuhi.”

“Kemudian, dipersilahkan naik ke paseban dalam, sementara

para pengawal akan tinggal di luar,” berkata Pandega itu.

Gubar Baleman tidak segera menjawab. Tetapi dilayangkan

pandangan matanya kepada prajurit yang ada di sekitarnya. Seolaholah

ia sedang memperingatkan para pengawalnya, bahwa prajuritprajurit

yang sudah bersiaga di halaman itu kini sudah mengepung

mereka.

Sejenak kemudian Gubar Baleman-pun melangkahkan kakinya

menaiki tangga paseban. Di muka pintu ia berhenti sejenak. Sambil

memandang prajurit yang berdiri di muka pintu ia berkata, “He,

kenapa kau berjaga-jaga di sini dengan senjata telanjang?”

Prajurit itu menjadi bingung. Dipandanginya saja Senapati yang

mengantar Gubar Baleman tanpa mengucapkan sepatah kata-pun.

“Perintah Sri Baginda,” Senapati Pandega itulah yang menjawab.

Namun Senapati itu-pun menjadi bingung ketika Gubar Baleman

bertanya, “Kesiagaan yang begini pulakah yang telah menyambut

Adinda Mahisa Walungan pada saat ia ditangkap?”

Sejenak Senapati itu berdiri saja mematung. Yang terdengar

kemudian adalah suara tertawa Gubar Baleman. Dipandanginya

Senapati yang seolah-olah membeku itu. Kemudian ditepuknya bahu

prajurit yang membawa senjata telanjang, “Awas,” katanya, “kau

harus selalu bersiaga. Meskipun di paseban kau harus

menggenggam senjata yang sudah lepas dari wrangkanya. Siapa

tahu pasukan Singasari akan sampai ke pintu ini. Bahkan mungkin

Ken Arok sendiri akan datang kemari.”

Prajurit itu berdiri saja tanpa dapat berbuat sesuatu. Namun

demikian ia bertanya juga di dalam hatinya, “Kenapa aku harus

bersiaga di sini dalam penangkapan ini? Apakah benar Menteri

Gubar Baleman akan memberontak?”

Gubar Baleman-pun kemudian melangkah memasuki paseban.

Dilihatnya di dalam paseban itu sudah hadir penasehat Sri Baginda,

beberapa orang Menteri yang lain dan beberapa orang Senapati

yang memegang pimpinan di kalangan keprajuritan. Termasuk

kedua Penasehat Sri Baginda yang telah ikut serta mendorong

Pujang Warit untuk merebut pimpinan keprajuritan. Namun Gubar

Baleman tidak melihat Pujang Warit sendiri.

“Anak itu pasti akan mulai bertindak atas pasukan di sebelah

utara Ganter,” berkata Gubar Baleman di dalam hati. Sebagai

seorang prajurit ia mempunyai tanggapan yang ternyata tidak jauh

dari apa yang sebenarnya terjadi.

Pada saat Gubar Baleman menghadap di paseban. Pujang Warit

telah benar-benar menyiapkan pasukannya. Ia akan pergi ke

sebelah Utara Ganter, dan mengumumkan bahwa Mahisa Walungan

dan Gubar Baleman telah ditangkap karena mereka telah

merencanakan pemberontakan. Karena itu. maka ia akan berseru

atas perintah Sri Baginda supaya segenap pasukan di sebelah Utara

Ganter itu melepaskan diri dari segala pengaruh Mahisa Walungan

dan Gubar Baleman.

Di paseban Gubar Baleman-pun kemudian duduk di antara para

Menteri seperti kebiasaannya. Namun kini ia merasa bahwa

beberapa orang di antara mereka menanggapi kedatangannya

dengan sikap acuh tidak acuh. Ada yang dengan sengaja

memalingkan wajahnya, tetapi ada juga yang ragu-ragu. seperti

juga mereka ragu-ragu bahwa kedua orang Senapati tertinggi,

Mahisa Walungan dan Gubar Baleman akan memberontak.

“Kalau mereka benar-benar sudah siap, apakah mereka akan

bersedia datang ke paseban?”

Tetapi tidak seorang-pun di paseban itu yang berbicara. Mereka

menunggu dengan tegang kehadiran Sri Baginda Kertajaya yang

memang sudah berpesan, bahwa setiap saat Gubar Baleman

datang, ia akan menyelesaikan masalah yang sangat menyakitkan

hatinya itu.

Demikianlah, sejenak kemudian maka dua orang pengawal

memasuki ruangan. Kemudian upacara kecil kehadiran Sri Baginda,

karena paseban ini adalah paseban darurat, sehingga Baginda tidak

diikuti dan didahului oleh segala macam upacara kebesaran.

Ruangan itu-pun kemudian menjadi senyap. Tidak seorang-pun

yang berani mengangkat wajah mereka. Seakan-akan setiap orang

dapat mendengar detak jantung mereka sendiri.

“Ha,” berkata Sri Baginda dengan serta-merta, tanpa

menghiraukan lagi adat upacara karena kemarahan yang sekian

lama tertahan di dadanya, “Kau sudah datang Gubar Baleman?”

“Ampun Tuanku. Hamba telah datang memenuhi perintah

Tuanku.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampak sekilas

senyum membayang di bibir Sri Baginda. Sebuah senyuman yang

pahit.

“Apakah kau datang bersama Mahisa Walungan?” bertanya Sri

Baginda kemudian.

“Tidak Tuanku.”

“Di mana Mahisa Walungan sekarang? Bukankah ia berada di

perbatasan dengan kau?”

“Adinda Mahisa Walungan kini berada di luar paseban ini Sri

Baginda.”

Sri Baginda mengerutkan keningnya. Kemudian dipandanginya

para Menteri yang lain dan para Senapati yang ada di dalam

ruangan itu.

“He. kenapa kau menjawab bahwa Mahisa Walungan ada di luar

paseban?”

Gubar Baleman tidak segera menjawab. Ia menjadi ragu-ragu,

apakah Mahisa Walungan benar-benar telah ada di luar paseban.

Sementara itu pada saat Gubar Baleman memasuki ruangan

paseban maka setiap prajurit yang dikirimkannya lebih dahulu

memasuki halaman itu-pun mengerti, bahwa mereka harus

bertindak secepat-cepatnya. Tanpa memberi kesempatan kepada

seorang penjagapun. mereka bergerak mendekati setiap orang yang

sedang bertugas. Dengan pisau-pisau belati mereka menahan setiap

orang yang dengan tiba-tiba saja merasa ujung pisau-pisau itu telah

melekat di punggung atau lambung.

“Apa artinya ini,” desis seorang Prajurit yang berdiri di sudut

halaman bersama dua orang kawannya. Tetapi di sekelilingnya telah

berdiri lima orang prajurit Gubar Baleman sambil menekankan pisau

di lambung masing-masing.

“Kami tidak akan melakukan pemberontakan,” berkata prajurit

yang menahan mereka dengan pisau, “kami sama sekali tidak

mempunyai niat untuk melawan Sri Baginda. Tetapi kami ingin

memberi kesempatan Menteri Gubar Baleman dan Adinda Sri

Baginda Mahisa Walungan untuk menjelaskan persoalannya.”

“Tetapi kau sudah melawan perintah. Kami adalah petugas di

istana Sri Baginda.”

“Tidak. Kami tidak menarik pedang-pedang kami. Kami

mempergunakan kesempatan ini untuk berbicara tentang keadaan

yang sebenarnya di Kediri. Apakah kalian percaya dongeng tentang

pemberontakan yang akan dimulai di Ganter?”

Prajurit yang berada di halaman itu tidak menjawab.

“Itulah yang akan dijelaskan oleh Menteri Gubar Baleman. Kami

terpaksa mempergunakan cara ini, karena cara lain tidak ada. Sri

Baginda pasti tidak akan memberi kesempatan Menteri Gubar

Baleman untuk berbicara cukup panjang.”

Prajurit yang berdiri di sudut halaman itu menjadi termangumangu.

Mula-mula hampir saja ia menarik pedangnya, dan berusaha

melawan apapun jadinya. Meskipun lambungnya telah tersentuh

ujung pisau belati, namun ia tidak boleh menyerah begitu mudah.

Tetapi penjelasan prajurit itu dapat dimengertinya. karena sejak

semula ia memang meragukan kebenaran keputusan Sri Baginda,

bahwa Mahisa Walungan dan Gubar Baleman telah memberontak

justru pada saat Singasasari siap untuk menerkam Kediri.

“Sudah tentu kami akan tetap taat kepada perintah Sri Baginda,”

berkata prajurit yang memegang pisau belati itu, “Tetapi

sebenarnya kami tidak ingin bahwa kami berbenturan satu dengan

yang lain. Kami memerlukan segenap kekuatan untuk melawan

Singasari.”

“Jadi kau sangka bahwa Baginda telah melakukan kesalahan?”

“Bukan begitu,” jawab prajurit itu, “tetapi memang mungkin

sekali bahwa Sri Baginda tidak melihat keadaan yang sebenarnya.

Tidak mustahil satu dua orang telah dengan sengaja memutar balik

keadaan.”

“Marilah kita menunggu,” berkata prajurit pengawal itu.

Ketika ia memandang dengan sudut matanya, ujung pisau itu

masih tertekan di lambungnya.

Keadaan yang serupa telah terjadi pula di beberapa tempat yang

lain. Bahkan prajurit yang berada di luar pintu paseban itu-pun

terkejut ketika tiba-tiba saja masing-masing telah dibayangi oleh

seorang prajurit yang di bawah bayangan dirinya, melekatkan pisaupisau

belati di lambung mereka.

“Kami tidak bermaksud apa-apa,” berkata prajurit-prajurit itu,

“tetapi kami mengharap bahwa kami dapat menggantikan tugas

kalian.”

“Ternyata Gubar Baleman benar-benar memberontak,” desis

prajurit pengawal, “semula aku ragu-ragu akan berita itu. Aku

bahkan menyangkal di dalam hati bahwa Adinda Baginda Mahisa

Walungan dan Menteri yang menjabat sebagai Senapati tertinggi itu

akan memberontak kepada Sri Baginda. Tetapi ternyata berita itu

benar.”

“Kau keliru menanggapi keadaan. Kami tidak memberontak. Hari

ini kau dipaksa untuk berjaga-jaga di sini justru untuk menangkap

Menteri Gubar Baleman yang tidak bersalah. Itulah sebabnya kami

terpaksa mencegah kesalahan itu karena tuduhan yang tidak benar.

Menteri Gubar Baleman hanya akan meluruskan yang bengkok.

Sama sekali tidak akan menyentuh takhta Sri Baginda. Demikian

juga Adinda Sri Baginda.”

Pengawal itu masih akan berbicara lagi, tetapi dua orang prajurit

yang lain telah datang dan berdesis, “Mari, kau beristirahat bersama

kami.”

Kedua pengawal itu masih tetap di tempatnya.

“Jangan membuat keributan Ki Sanak. Kami tidak bermaksud

jahat. Sama sekail tidak.”

Karena ujung-ujung pisau itu semakin menekan lambung

mereka, maka kedua pengawal itu-pun tidak dapat berbuat lain dari

pada mengikuti perintah itu.

“Sarungkanlah senjatamu.”

Tidak ada pilihan lain bagi kedua pengawal itu, selain

menyarungkan senjata mereka. Tidak ada gunanya lagi bagi mereka

untuk menyesali kelengahan mereka. Ketika mereka melihat dua

orang prajurit mendekatinya, mereka sama sekali tidak bercuriga.

Mereka terkejut ketika tiba-tiba saja keduanya berdiri melekat

tubuh-tubuh mereka sendiri, sambil melekatkan ujung pisau itu.

Maka kini dua orang prajurit yang berada di luar pintu Paseban

itu adalah prajurit-prajurit Gubar Baleman. Meskipun ada juga

beberapa perbedaan ciri dari kedua pasukan yang berbeda itu.

tetapi di dalam keremangan malam yang hanya ditembus oleh sinarsinar

obor di kejauhan, perbedaan itu hampir tidak dapat segera

dilihat.

Di bagian lain, sekelompok kecil prajurit dengan tiba-tiba telah

menyergap bilik Mahisa Walungan. Hampir saja terjadi benturan

kekerasan. Namun orang-orang Gubar Baleman yang lebih banyak

segera dapat mengatasi keadaan.

Seperti juga kawan-kawan mereka, maka seorang Senapati yang

telah agak lanjut usia berkata sareh, “Kami ingin meluruskan yang

bengkok. Kami tidak akan berbuat apa-apa.”

Namun kehadiran mereka ternyata telah mengejutkan Mahisa

Walungan sendiri. Ketika kemudian pintu terbuka, dan Senapati tua

itu memasuki biliknya, Mahisa Walungan tanya, “Apakah kalian telah

menjadi gila?”

“Tidak tuan, kami mengemban perintah Menteri Gubar Baleman.”

“He, apakah kakanda Menteri Gubar Baleman benar-benar telah

memberontak?”

“Sama sekali tidak. Tetapi Menteri Gubar Baleman hanya ingin

menjelaskan masalah yang sebenarnya kepada Sri Baginda. Seperti

tuan, kini Menteri Gubar Baleman-pun telah dipanggil menghadap

sekarang ini. Namun Menteri Gubar Baleman mengharap, tuan hadir

pula di paseban untuk memberikan penjelasan seperlunya.”

“Aku sudah mencoba, tetapi Kakanda Baginda tidak

mempercayainya.”

Sekarang sebaiknya tuan mencoba lagi bersama Menteri Gubar

Baleman.”

“Aku tidak dapat melawan Kakanda Baginda. Kakanda Baginda

memerintahkan aku tinggal di dalam bilik ini.”

“Tuan, aku tahu bahwa tuan menghormati Sri Baginda bukan

saja sebagai seorang Maharaja yang berkuasa, tetapi juga sebagai

seorang saudara tua yang harus dipatuhi. Tetapi kini kita berdiri di

simpang jalan. Kita harus memilih. Seperti yang sudah tuan mulai,

meskipun tidak seijin Baginda, dengan pemusatan pasukan di

sebelah Utara Ganter. maka sebaiknya tuan juga melakukannya

sekarang. Tampaknya tuan memang melawan Kakanda Baginda,

tetapi semuanya itu justru untuk kepentingan Sri Baginda dan

Kediri.”

Mahisa Walungan masih juga ragu-ragu.

“Kediri menunggu tuan. Kalau tuan ragu-ragu, maka Kediri akan

mengeluh, karena kini Kediri benar-benar tanpa pelindungan

apapun.”

Mahisa Walungan masih merenungi kata-kata Senapati tua itu.

“Keputusan Tuan ditunggu oleh seluruh rakyat Kediri, sebelum

Kediri tenggelam oleh banjir bandang dari Singasari.”

Sebenarnya tidak niat sama sekali pada Mahisa Walungan untuk

melanggar perintah kakaknya. Tetapi tuan itu benar-benar telah

menyentuh hatinya, ia memang sudah melanggar perintah kakaknya

dengan pemusatan pasukan di sebelah Utara Ganter itu. Tetapi

dengan maksud yang baik bagi Kediri. Dan sekarang ia harus

mengulanginya.

Dalam kebimbangan ia mendengar Senapati tua itu berkata,

“Tidak ada orang lain yang diharapkan oleh Kediri untuk

menghadapi Singasari selain tuan.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Memang menurut

perhitungannya, apabila pasukan Kediri sendiri saling berbenturan,

maka kekuatan Singasari akan tidak terbendung lagi.

“Bagaimana tuan? Keadaan menjadi demikian mendesak.”

Perlahan-lahan Mahisa Walungan-pun kemudian menganggukkan

kepalanya. Katanya, “Baiklah. Aku akan menghadap Kakanda

Baginda sekali lagi.”

“Nah. marilah,” berkata Senapati tua itu, “Menteri Gubar Baleman

pasti sudah ada di paseban.”

Mahisa Walungan termenung sejenak. Kemudian katanya pula,

“Marilah. Mudah-mudahan usaha kita akan berhasil.”

Mereka-pun kemudian pergi dengan tergesa-gesa ke paseban.

Meskipun Mahisa Walungan masih ragu-ragu, namun ia sudah tidak

dapat mundur lagi.

Pada saat itu Baginda dengan herannya sedang bertanya kepada

Gubar Baleman tentang Mahisa Walungan.

“Apakah kau mengigau he?” bentak Sri Baginda, “Mahisa

Walungan sama sekali tidak ada di halaman.”

“Ampun Tuanku, Adinda Mahisa Walungan benar-benar di

halaman Adinda Mahisa Walungan datang bersama hamba dari

perbatasan, karena Tuanku memanggil hamba. Adinda Mahisa

Walungan merasa perlu mengikuti hamba, bila mungkin Tuanku

juga memerlukannya.”

“Gila. kau sudah gila Gubar Baleman,” Sri Baginda Kertajaya

berteriak.

Tetapi Gubar Baleman menjadi terheran-heran. Dengan wajah

yang memancarkan pertanyaan dipandanginya para Menteri dan

Senapati yang sudah ada di dalam paseban itu pula.

“Tuanku,” berkata Gubar Baleman kemudian, “bukanlah hamba

ada di perbatasan bersama Adinda Mahisa Walungan?”

Sri Baginda Kertajaya menjadi semakin tidak tahan mendengar

jawaban Gubar Baleman itu, sehingga ia-pun berteriak, “He Gubar

Baleman, kalau memang Mahisa Walungan ada di depan paseban,

panggil ia kemari.”

Gubar Baleman menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian

dibungkukkannya kepalanya dalam-dalam sambil menjawab, “Baik

Tuanku. Hamba akan memanggil Adinda Mahisa Walungan.”

“Cepat,” bentak Sri Baginda.

Gubar Baleman-pun kemudian beringsut dari tempatnya, mundur

ke pintu paseban. Meskipun demikian ia masih juga cemas, apakah

orang-orangnya yang akan mengambil Mahisa Walungan dari

tempatnya itu sudah berhasil. Kalau mereka gagal, maka Gubar

Baleman-pun pasti akan gagal pula dengan segala rencananya.

Dengan dada berdebar-debar Gubar Baleman keluar dari pintu

paseban. Dilihatnya dua orang prajurit yang berada di luar pintu

dengan senjata telanjang. Namun kemudian ia-pun tersenyum.

Orang itu adalah orang-orangnya.

Sejenak ia berdiri dengan gelisah, karena ia belum melihat

seorang-pun di halaman paseban. Apalagi Mahisa Walungan.

Sejenak ia berdiri termangu-mangu, sedang keringat dinginnya telah

mulai membasahi punggungnya.

Namun kemudian ia-pun menarik nafas dalam-dalam. Dari

kegelapan dilihatnya beberapa orang prajurit mengawal Mahisa

Walungan ke halaman paseban.

“Ha,” desis Gubar Baleman yang menyongsongnya, “aku sudah

hampir kehabisan akal.”

“Aku tidak mengerti,” berkata Mahisa Walungan.

“Kita bersama-sama baru datang dari perbatasan,” jawab Gubar

Baleman.

Mahisa Walungan termangu-mangu.

“Jangan bingung. Anggaplah bahwa kita baru datang,” berkata

Gubar Baleman pula. Lalu diberitahukannya apa yang sudah

direncanakannya malam ini.

Mahisa Walungan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jangan berkesan bahwa adinda baru keluar dari bilik tahanan.

Adinda Mahisa Walungan baru datang dari perbatasan.”

“Permainan apa lagi yang akan kita lakukan?”

“Untuk kepentingan Kediri.”

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah.”

Maka keduanya-pun kemudian melangkah ke pintu paseban

dengan dada yang berdebar-debar.

Demikian keduanya melangkahi pintu, maka setiap orang di

dalam peseban itu terperanjat pula karenanya. Mereka melihat

Gubar Baleman datang benar-benar bersama Mahisa Walungan.

Dan tiba-tiba saja Sri Baginda menutup kedua matanya dengan

tangannya sambil berteriak, “Gila, gila. Apa saja yang telah kalian

lakukan ini? He, Mahisa Walungan, benarkah kau Mahisa

Walungan?”

Mahisa Walungan menjadi terheran-heran. Setelah duduk di

hadapan Kakanda Baginda ia berkata. “Apakah Kakanda Baginda

tidak mengenal hamba lagi?”

“He. bukankah kau yang kemarin aku panggil dari Ganter dan

kemudian ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan?”

“Hamba baru datang dari perbatasan Kakanda Baginda. Baru saja

bersama kakang Gubar Baleman.”

“Gila, gila. Apakah aku memang sudah gila.” tiba-tiba Sri Baginda

berdiri sambil berteriak, “Ambillah orang yang kemarin dimasukkan

ke dalam tahanan itu. Apakah orang itu bukan Mahisa Walungan?”

Beberapa orang menjadi termangu-mangu.

“Cepat, suruhlah penjaga mengambil Mahisa Walungan yang

kemarin dimasukkan ke dalam tahanan itu.”

Kehadiran Mahisa Walungan dan Baginda Kertajaya yang tibatiba

saja berteriak-teriak itu ternyata telah membuat mereka yang

hadir di paseban menjadi bingung. Mereka tidak segera mengerti

apa yang harus mereka lakukan.

Karena itu, maka Sri Baginda menjadi semakin marah karenanya.

Dengan lantang sekali lagi ia berteriak. “Suruhlah penjaga

memanggil Mahisa Walungan.”

Seorang Senapati akhirnya mengerti juga maksud Sri Baginda itu.

Dengan tergesa-gesa ia bergeser keluar pintu paseban. Ketika ia

melihat penjaga dengan senjata telanjang, maka katanya, “Panggil

Mahisa Walungan.”

Penjaga itu menjadi terheran-heran.

“Panggil Mahisa Walungan,” Senapati itu-pun ikut berteriak.

“Tetapi bukankah Adinda Sri Baginda, Mahisa Walungan telah

ada di dalam paseban.”

“Bukan orang itu, tetapi Mahisa Walungan yang kemarin

ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan.”

Penjaga-jaga itu saling berpandangan sejenak. Yang seorang

kemudian bertanya, “Di manakah Adinda Baginda itu ditahan?”

“Gila kau. Kemarin. Yang kemarin dipanggil Sri Baginda,

kemudian ditahan di bilik tahanan istana.”

Karena penjaga-jaga itu masih saja keheran-heranan, maka

Senapati itu-pun membentak, “Pergi, dan panggil orang itu.”

Penjaga-jaga itu tidak membantah lagi. Salah seorang dari

mereka membungkuk dalam-dalam. Kemudian ia-pun pergi dengan

penuh keragu-raguan.

Senapati itu-pun menjadi ragu-ragu pula. Akhirnya ia tidak

segera masuk kembali ke dalam paseban, tetapi disusulnya seorang

penjaga yang pergi memanggil Mahisa Walungan.

“Tunggu.” panggil Senapati itu.

Prajurit yang telah melangkah dengan tergesa-gesa itu-pun, lalu

berhenti. Ketika ia melihat Senapati itu menyusulnya, maka ia-pun

kemudian berdiri tegak menunggu.

“Aku pergi bersamamu.”

Senapati itu tidak menunggu jawaban prajurit penjaga itu. Ia-pun

kemudian melangkah dengan tergesa-gesa ke bilik tahanan Mahisa

Walungan.

Ketika ia melihat beberapa orang penjaga di muka bilik itu, maka

dengan serta-merta ia berkata, “Aku memerlukan orang di dalam

tahanan itu.”

Pemimpin penjaga itu berdiri saja seperti patung. Dengan wajah

yang aneh ia memandangi Senapati yang datang itu.

“Sri Baginda memanggil Mahisa Walungan. Keluarkan orang itu,

dan marilah kita bawa menghadap.”

“Tetapi,” jawab pemimpin penjaga, “di sini tidak ada seorangpun.

Tidak ada seorang tahanan di dalam bilik ini.”

“Gila. Mahisa Walungan. Kemarin Mahisa Walungan dimasukkan

ke dalam bilik ini.”

Pemimpin penjaga itu menggeleng, “Sejak aku menerima

penyerahan penjagaan semalam, aku tidak menerima penyerahan

seorang tahanan pun.”

“He, jangan mengigau.” Senapati yang mendengar Sri Baginda

berteriak-teriak itu-pun berteriak pula, “lihat di dalam bilik itu.”

Pemimpin penjaga itu-pun kemudian membuka pintu bilik

tahanan yang sempit itu. Namun di dalam bilik itu tidak terdapat

seorang-pun.

“Tidak ada seorang-pun di dalam bilik ini,” berkata pemimpin

penjaga itu, “tidak ada seorang tahanan yang ada di dalamnya.

Apalagi Adinda Sri Baginda, Mahisa Walungan.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Ketika Mahisa Walungan

menghadap di paseban kemarin, ia sendiri melihatnya. Tetapi kini

Mahisa Walungan itu datang bersama Gubar Baleman.

Senapati itu menjadi bingung.

“Pasti ada kecurangan,” tiba-tiba ia berteriak, “kalian atau para

penjaga sebelum kalian. Aku akan pergi ke regol halaman dalam.

Kalau para penjaga tidak melihat Mahisa Walungan datang bersama

Menteri Gubar Baleman, maka kalianlah yang akan digantung di

alun-alun besok.”

“Tentu bukan kami, tetapi penjaga sebelum kami. Mereka harus

ditangkap, dan harus bertanggung jawab atas hilangnya seorang

tahanan. Apalagi kalau tahanan itu benar-benar Mahisa Walungan.”

Senapati itu tidak menjawab. Tetapi dengan tergesa-gesa ia

melangkah ke pintu gerbang halaman dalam istana Kediri.

Ketika ia melihat beberapa orang prajurit berdiri berjajar di regol

halaman, maka ia berkata di dalam hatinya. Mereka tidak akan

dapat ditipu. Mereka memang mendapat tugas untuk menutup regol

itu dengan ujung-ujung senjata, agar Menteri Gubar Baleman tidak

dapat melepaskan diri meskipun ia membawa beberapa orang

pengawal.”

Dengan nafas yang semakin memburu. Senapati yang diikuti oleh

seorang prajurit itu-pun segera sampai di regol halaman dalam.

Dengan serta-merta ia bertanya, “Apakah kalian melihat Menteri

Gubar Baleman masuk bersama berapa orang pengawal?”

Seorang prajurit menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil

menjawab, “Ya. kami melihat Menteri Gubar Baleman memasuki

regol ini, langsung mnghadap Sri Baginda di paseban.”

“Apakah ia datang seorang diri?”

“Tidak. Menteri Gubar Baleman datang bersama beberapa orang

pengawalnya yang kini ada di luar paseban di bawah pengawasan

para prajurit pengawal.”

Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Siapa saja yang ada di antara mereka?”

“Tidak ada orang lain kecuali Menteri Gubar Baleman dan Adinda

Sri Baginda, Mahisa Walungan.”

“He,” Senapati itu terkejut, “jadi Menteri Gubar Baleman datang

bersama Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan?”

“Ya. Keduanya memasuki regol ini, kemudian memenuhi perintah

yang kami terima, kami telah menutup regol ini dengan penjagaan

yang kuat. Bukankah demikian?”

Senapati itu menjadi semakin bingung. Apakah ia sudah menjadi

linglung pula, seperti juga Sri Baginda? Tetapi apakah semua orang

yang menyaksikan penangkapan Mahisa Walungan kemarin sudah

menjadi gila semua, sehingga mereka tidak mengerti apa yang

sebenarnya sudah terjadi?

Dengan ragu-ragu ditatapnya wajah-wajah prajurit yang sedang

bertugas itu. Tetapi dalam keremangan malam ia tidak melihat

sesuatu yang dapat menumbuhkan kecurigaannya, selain

keterangan mereka tentang Mahisa Walungan itu.

“Aku, Sri Baginda dan para Menteri, atau prajurit-prajurit inilah

yang sudah menjadi gila. Atau seluruh Kediri sudah menjadi gila

karena Tumapel yang memberontak itu tidak juga segera dapat

diselesaikan,” katanya di dalam hati.

Senapati itu kemudian tidak dapat berbuat lain daripada kembali

untuk menghadap Sri Baginda dan mengatakan apa yang telah

dilihatnya.

Namun dalam saat-saat itu, Gubar Baleman telah sempat

bertanya, “Sri Baginda, apakah yang Tuanku kehendaki dari hamba

berdua, sehingga hamba berdua harus menghadap di saat-saat

perbatasan sedang dalam puncak kegelisahan? Pasukan Singasari

telah benar-benar siap di perbatasan. Setiap saat pasukan itu dapat

mengalir seperti banjir memasuki tlatah Kediri.”

“Bohong,” teriak Sri Baginda, “betapapun besarnya pasukan

Tumapel, namun Kediri adalah negara yang besar. Jauh lebih besar

dari Tumapel yang selama ini tunduk di bawah perintah Kediri.”

“Benar Tuanku. Namun apabila kami yang besar ini tidak berbuat

apa-apa, maka akan datang saatnya kita menyesal kelak.”

“Diam. Diam kau pengecut,” teriak Sri Baginda, “aku sudah

memerintahkan Pujang Warit untuk mengatasi keadaan, termasuk

pasukanmu dan Mahisa Walungan yang akan memberontak

terhadap kekuasaanku.”

“Itulah yang ingin hamba jelaskan bersama Adinda Mahisa

Walungan.”

“Tidak. Aku sudah cukup tahu.”

“Belum Tuanku. Tuanku belum tahu keadaan yang sebenarnya,”

potong Gubar Baleman.

Sri Baginda justru menjadi terheran-heran. Gubar Baleman tidak

pernah berani membantah kata-katanya sepatah kata-pun. Namun

kini ia berani memotong kata-katanya yang masih belum selesai.

Apalagi Gubar Baleman itu berkata, “Kami memang harus mengakui

kesalahan kami, bahwa kami telah menyusun kekuatan di sebelah

Utara Ganter. Tetapi kami mempunyai perhitungan yang sama sekali

berlawanan dengan tuduhan yang kami terima berdua. Kalau kami

ingin melawan kekuasaan Sri Baginda atas Kediri, maka kami tidak

akan sebodoh itu, dengan menyusun kekuatan di luar kota Kediri

dalam waktu yang berlama-lama. Demikian pasukan itu tersusun,

kami akan langsung melakukan perlawanan sebelum usaha kami itu

tercium oleh kalangan lain. Tetapi kami memang tidak berniat

demikian. Kami menunggu banjir bandang yang akan melanda

Kediri. Itu adalah suatu pengabdian yang ikhlas, meskipun kami

akan dianggap bersalah. Kami telah melampaui tugas yang Tuanku

berikan kepada kami, semata-mata karena kecintaan kami kepada

Kediri dan kesetiaan kami kepada kekuasaan Sri Baginda di Kediri.

Sebab tanpa Kediri, Tuanku tidak akan berarti apa-apa lagi.”

“Cukup, cukup,” teriak Kertajaya. Namun kemudian mulutnya

serasa terbungkam. Meskipun bibirnya bergetar, tetapi ia tidak

mengucapkan sepatah kata-pun juga.

“Tuanku,” Gubar Baleman masih berkata terus, “menurut

penilaian kami, pasti ada satu atau dua orang yang telah berbuat

kesalahan di dalam istana ini sepeninggal kami. Kami tidak tahu apa

yang telah dilakukan oleh Pujang Warit. Senapati yang masih muda

itu. sehingga Sri Baginda begitu percaya kepadanya, untuk

mengatasi keadaan Kediri yang sedang kemelut ini. Apakah itu

bukan berarti suatu kemunduran bagi kekuatan Kediri?”

“Kau terlampau sombong Gubar Baleman. Akulah yang berkuasa

di Kediri. Bukan kau. Aku wenang untuk menentukan apa saja yang

aku anggap baik.”

“Tetapi tidak dalam keadaan serupa ini. Demi kesetiaan kami

kepada Sri Baginda, maka kami tidak dapat membenarkan tindakan

Sri Baginda saat ini. Itu adalah tanda setia kami. Kalau kami tidak

mempunyai kesetiaan yang mantap, kami akan tidak ambil pusing

lagi. Kami tidak akan memusatkan pasukan di sebelah Utara Ganter,

karena kami masih mempunyai kesanggupan untuk melarikan diri,

lebih tepat dengan perlindungan pasukan kami dari setiap orang di

Kediri ini.”

“Gila, kau sudah gila Gubar Baleman. Apakah kau tidak sadar,

bahwa aku akan dapat menjatuhkan hukuman kisas kepadamu pada

saat ini juga?”

“Kalau itu yang paling baik bagi Sri Baginda, aku tidak ingkar.

Tetapi aku sudah berbuat sesuatu untuk Kediri, untuk kelangsungan

kekuasaan Sri Baginda.”

Tiba-tiba Sri Baginda Kertajaya terdiam. Sejenak ia menatap

wajah Gubar Baleman tajam-tajam. Kemudian dipandanginya kepala

Mahisa Walungan yang tunduk. Tiba-tiba saja Sri Baginda berpaling

kepada kedua penasehatnya sambil bertanya, “He, bagaimana

pertimbanganmu? Bukankah kau yakin bahwa Pujang Warit

mengatakan yang sebenarnya, dan kau sependapat bahwa Mahisa

Walungan dan Gubar Baleman berbahaya bagi kedudukanku saat

ini.”

Kedua penasehat itu seolah-olah membeku di tempatnya.

Darahnya serasa berhenti mengalir. Mereka tidak menyangka,

bahwa mereka akan dihadapkan langsung kepada dua orang

Senapati Tertinggi itu.

“He, kenapa kalian diam saja?” bentak Sri Baginda.

Keduanya menjadi semakin gelisah. Apalagi ketika mereka

melihat sorot mata Gubar Baleman yang seakan-akan membakar

wajah mereka yang menjadi semakin pucat.

“Berkatalah terus terang,” geram Gubar Baleman. Tetapi Sri

Baginda segera memotong, “Aku yang bertanya. Bukan kau.”

Gubar Baleman segera terdiam. Tetapi sorot matanya tidak

terlepas dari kedua penasehat Baginda itu. Sedang penasehatnasehatnya

yang lain menjadi terheran-heran, apakah yang telah

dilakukan oleh kedua kawan-kawannya itu.

“Aku bertanya kepada kalian berdua. Berbicaralah seperti yang

kau katakan kepadaku itu.”

“Ampun Baginda,” sembah salah seorang daripadanya, “hamba

memang yakin akan hal itu, kalau apa yang dikatakan oleh Pujang

Warit itu memang benar.”

“Apa kata Pujang Warit?” bertanya Baginda pula.

“Bukankah hal itu dikatakannya di hadapan Tuanku.”

“Aku tahu, aku tahu. Tetapi ulangi, apa yang dikatakannya?”

Kedua orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Sekilas

disambarnya wajah Gubar Baleman, tetapi segera ia melemparkan

tatapan matanya menghindari sorot mata Menteri yang sedang

menahan kemarahan di dadanya itu.

“Apa kata Pujang Warit,” Sri Baginda berteriak panjang sekali.

“Ampun Tuanku,” berkata salah seorang dari mereka, “menurut

Pujang Warit yang dikatakannya kepada Tuanku, bahwa Adinda Sri

Baginda mengadakan pemusatan pasukan di sebelah Utara Ganter.

Tetapi kesiagaan itu sama sekali tidak diarahkan kepada pasukan

Singasari, karena menurut Pujang Warit kekuatan Singasari itu

memang tidak seberapa besar. Pujang Warit sendiri dengan diamdiam

pernah pergi ke perbatasan bersama beberapa orang pasukan

sandi.”

“Nah. kau dengar Gubar Baleman.”

“Tetapi Tuanku,” sembah Gubar Baleman. Namun sebelum ia

melanjutkan Sri Baginda telah membentak, “Aku tidak menyuruhmu

berbicara. Aku menyuruh kau mendengarkan.”

Gubar Baleman-pun terdiam karenanya. Tetapi ia sama sekali

tidak melepaskan tatapan matanya.

“Ayo, katakan. Apa pula yang sudah dikatakan oleh Pujang

Warit.”

“Ampun Tuanku,” berkata salah seorang dari mereka, “menurut

Pujang Warit, alasan Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan yang

sudah bersepakat dengan Menteri Gubar Baleman adalah tidak

benar sama sekali. Untunglah Sri Baginda waspada, sehingga Sri

Baginda tidak menyerahkan semua kekuatan kepada keduanya.

Namun demikian mereka telah mencoba menyusun kekuatan atas

pengaruh mereka sendiri di sebelah Utara Ganter.”

“He Gubar Baleman,” berkata Sri Baginda lantang, “apakah kau

masih akan ingkar. Dan kau he Mahisa Walungan. Apakah kau

Mahisa Walungan?”

“Ya Kakanda Baginda. Hamba adalah Mahisa Walungan.”

Sri Baginda mengerutkan keningnya. Lalu tiba-tiba ia berteriak,

“He. di mana Senapati yang memanggil Mahisa Walungan itu?”

Sejenak paseban itu menjadi sepi ketika Sri Baginda berhenti

berbicara. Dipandanginya saja pintu paseban. Sejenak ia menunggu

Senapati yang disuruhnya memanggil Mahisa Walungan.

Tetapi ternyata Senapati itu sedang kebingungan. Ketika ia

sampai di pintu paseban, diiringi oleh prajurit yang menyertainya, ia

melihat sesuatu yang aneh baginya. Ia melihat ciri keprajuritan yang

lain dari prajurit pengawal.

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak begitu

bodoh untuk segera menegurnya. Tiba-tiba saja ia berkata, “Aku

masih belum yakin. Aku akan mengulangi sekali lagi. Aku akan pergi

ke bilik tahanan itu.”

Prajurit yang mengawalnya menjadi heran. Tetapi ia tidak

membantah. Katanya, “Marilah, aku antarkan.”

Keduanya-pun pergi dengan tergesa-gesa ke bilik tahanan

Mahisa Walungan. Sekali lagi Senapati itu bertanya. Dan ia

mendapat jawaban yang sama. Tetapi yang penting baginya,

prajurit-prajurit yang bertugas itu-pun sama sekali bukan prajurit

pengawal.

“Aku akan meyakinkan sekali lagi ke pintu gerbang. Mungkin ada

di antara mereka yang melihat kedatangan Menteri Gubar Baleman.”

“Semuanya melihat,” jawab prajurit yang mengikutinya.

Senapati itu tidak menjawab. Tetapi ia berjalan saja ke pintu

gerbang. Di sudut-sudut halaman ia masih melihat beberapa orang

prajurit berjaga-jaga. Tetapi Senapati itu tidak yakin bahwa prajurit

itu adalah pengawal istana yang memang bertugas di sana.

Tetapi Senapati itu tidak menghiraukannya. Ia mempercepat

langkahnya. Di regol, ia mendapat jawaban yang serupa. Bahkan

dengan nada yang sumbang, prajurit-prajurit itu telah menjawab

pertanyaannya.

Namun dengan demikian ia menjadi yakin, bahwa halaman istana

ini ternyata telah dikuasai oleh prajurit-prajurit yang berpihak

kepada Gubar Baleman dan Mahisa Walungan. Sudah tentu bahwa

Mahisa Walungan dapat menghadap Baginda bersama Gubar

Baleman.

Sekali lagi Senapati itu harus menahan hatinya. Ia masih

berpura-pura bingung ketika kemudian ia memasuki pintu paseban.

“He, cepat,” bentak Sri Baginda, “apakah kali tidur di halaman

he?”

Senapati itu segera duduk di tempatnya. Ditenang-tenangkannya

perasaannya agar kata-katanya tidak menjadi tumpang suh.

“Di mana Mahisa Walungan?” bertanya Sri Baginda.

“Ampun Tuanku. Adinda Baginda Mahisa Walungan yang kemarin

adalah Adinda Baginda yang sekarang ini menghadap.”

“Gila. Itu tidak mungkin. Kemarin ia berada di dalam tahanan.

Bagaimana mungkin ia kini berada di paseban dan datang bersamasama

Gubar Baleman?”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah

Gubar Baleman sejenak. Kemudian diedarkannya pandangan

matanya berkeliling.

“Hem,” katanya di dalam hati, “apabila Sri Baginda sendiri tidak

turun tangan, tidak ada orang yang dapat menyentuh tubuh Mahisa

Walungan. Kemudian masih harus diperhitungkan Gubar Baleman

dan prajurit-prajuritnya di halaman.”

“He, kenapa kau tiba-tiba menjadi bisu,” teriak Sri Baginda.

Senapati itu memang tidak segera dapat menjawab. Berbagai

macam persoalan sedang berkecamuk di dalam dadanya. Sekalisekali

ditatapnya wajah Sri Baginda yang menjadi kemerahmerahan,

kemudian dipandanginya sorot mata Gubar Baleman yang

seakan-akan menyala. Hanya Mahisa Walungan sajalah yang duduk

tenang dan bahkan menundukkan kepalanya.

“Cepat, katakan. Apa yang kau lihat di bilik itu? Setan atau

demit?”

“Tuanku,” Senapati itu menarik nafas dalam-dalam, “sebenarnya

hamba akan mengatakan apa yang hamba lihat di halaman istana.

Tetapi sebelumnya hamba mohon ampun, bahwa mungkin apa yang

hamba katakan itu tidak masuk akal sama sekali.”

“Katakan, katakan,” teriak Sri Baginda.

Senapati itu bergeser sejengkal. Setelah sekali lagi ia menarik

nafas dalam, barulah ia berkata, “Tuanku, ternyata halaman istana

Tuanku kini sudah dikuasai oleh para prajurit yang telah melawan

terhadap kekuasaan Tuanku.”

“Aku menolak keterangan itu,” potong Gubar Baleman.

“Diam, diam kau Baleman,” Sri Baginda menjadi semakin marah,

sehingga darahnya serasa berhenti mengalir. “Ulangi, ulangi.”

“Ampun Tuanku. Halaman istana ini sudah dikuasai oleh para

pemberontak.”

Sejenak Sri Baginda Kertajaya diam mematung. Namun wajahnya

seakan-akan telah membara. Dipandanginya Senapati itu sejenak,

kemudian Mahisa Walungan yang tunduk dan sejenak kemudian

sorot mata Gubar Baleman.

Dengan suara yang parau gemetar Sri Baginda kemudian

berkata, “Pengkhianat. Kalian telah benar-benar memberontak.”

“Ampun Tuanku,” sahut Gubar Baleman, “hamba sama sekali

tidak berniat untuk memberontak. Tetapi hamba hanya sekedar

ingin mendapat kesempatan untuk berbicara. Apabila Tuanku

berkenan, hendaklah Tuanku memanggil Pujang Warit. Kita akan

berbicara dengan hati terbuka. Seandainya ada salah paham, biarlah

kita dapat menemukan titik pertemuan. Tetapi apabila kita saling

dihinggapi oleh nafsu pribadi, maka semuanya akan menjadi jelas.

Tuanku akan tahu dengan pasti, siapakah yang bersalah, dan

siapakah yang benar.”

Dada Sri Baginda serasa akan pecah karenanya. Kepada Senapati

yang melaporkan keadaan halaman istana itu ia bertanya, “Di mana

para pengawal? Apa semuanya sudah mati?”

“Hamba belum tahu Tuanku.”

“Dan pengawal yang ada di pintu paseban?”

“Bukan prajurit pengawal istana. Tetapi prajurit medan yang tibatiba

saja sudah ada di depan pintu dengan senjata telanjang.”

Terdengar Sri Baginda menggeram.

“Gubar Baleman dan Mahisa Walungan. Kini kalian sudah

menguasai istana. Apa kehendakmu sebenarnya?”

“Hamba tidak menghendaki apa-apa Tuanku, selain kepercayaan

Tuanku kepada kami untuk menyelamatkan Kediri, untuk

menyelamatkan kedudukan Sri Baginda sendiri yang kini terancam.”

“Bohong. Kalian benar-benar telah memberontak. He, Mahisa

Walungan. Kenapa kau diam saja? Apakah kau takut menghadapi

kenyataan ini, melihat dirimu sendiri sebagai seorang

pemberontak?”

Mahisa Walungan mengangkat wajahnya, tetapi ia tidak

menjawab.

“Nah, apalah kau menghendaki agar aku menyerahkan takhta

sekarang ini setelah kau mengepung istana selagi diadakan paseban

darurat kali ini?”

Terdengar suara Mahisa Walungan lambat, “Tidak Kakanda

Baginda.”

“Lalu apa maumu, apa maumu he?”

“Ampun Tuanku,” Gubar Baleman lah yang menjawab, “kalau

hamba tidak berbuat serupa ini, hamba tidak akan mendapat

kesempatan sama sekali untuk berbicara, karena hamba akan

segera ditangkap dan dimasukkan ke dalam bilik yang gelap dan

sempit tanpa kesalahan, justru karena hamba bertekad untuk

mempertahankan Kediri. Tetapi sekarang hamba dapat mengatakan

isi hati hamba, dan sekali lagi hamba mohon, agar Pujang Warit

dipanggil menghadap, dan kedua Penasehat Baginda itu-pun agar

tetap tinggal di paseban.” “Keringat dingin telah mengaliri seluruh

tubuh kedua penasehat itu. Mereka tidak menyangka, bahwa Gubar

Baleman akan berani melakukan perlawanan langsung, justru di

hadapan Sri Baginda sendiri.”

“Tetapi aku dapat menggantung kalian sekarang juga. Apakah itu

kau sadari Gubar Baleman.”

“Itulah sebabnya hamba telah menyingkirkan para prajurit yang

mungkin akan melaksanakan perintah Sri Baginda itu.”

“Pengkhianat, pengkhianat.”

“Hamba telah mencoba berbuat sebaik-baiknya buat Kediri dan

buat Tuanku. Hamba mohon Tuanku sudi memanggil Senapati muda

itu, agar semuanya menjadi jelas.”

Sri Baginda tidak segera menjawab. Dilemparkannya tatapan

matanya menembus pintu paseban yang tidak tertutup rapat.

Tampaklah cahaya yang kekuning-kuningan di halaman. Ternyata

bahwa pagi hari telah tiba.

Pada saat itu Pujang Warit telah datang ke sebelah Utara Ganter

sambil mengemban perintah Sri Baginda, bahwa semua pasukan itu

kini langsung di bawah perintah Pujang Warit, seorang Senapati

Pandega yang masih muda.

Perintah itu mendapat tanggapan yang sama sekali tidak diduga

oleh Pujang Warit. Seorang Senapati tua yang menyambutnya

berkata, “Kau jangan mengada-ada anak manis. Tidak baik kita

saling bertengkar. Aku tahu, bahwa kau sudah mengumpulkan

beberapa pasukan prajurit di padukuhan sebelah, yang terdiri dari

pasukan pengawal, pasukan keamanan dan pasukanmu sendiri.”

Darah Pujang Warit serasa mendidih karenanya. Ia tidak

menyangka bahwa pasukan di sebelah Utara Ganter itu menanggapi

perintah Sri Baginda dengan cara yang demikian. Ia masih

mengharap pengaruh keputusan Sri Baginda itu. Tetapi agaknya

akan sia-sia.

“Apakah aku harus mempergunakan kekerasan,” ia berkata di

dalam hatinya. Namun ia sadar, bahwa kekuatan pasukan di sebelah

Utara Ganter itu terlampau besar.

Karena itu maka Pujang Warit tidak dapat segera mengambil

keputusan. Ia harus berpikir berulang kali. Dan ia masih melihat

sikap Senapati tua yang tidak menjenangkan itu. Tetapi Pujang

Warit-pun tidak segera berputus asa. Ia masih mencoba menjajagi

sekali lagi.

“Apakah kalian di sini sudah mendengar bahwa Mahisa Walungan

dan Gubar Baleman sudah ditangkap?” bertanya Pujang Warit

kemudian, “Karena ternyata Sri Baginda sudah mendengar berita,

bahwa keduanya akan menyalah gunakan pasukan yang sudah

dikumpulkannya di Ganter ini untuk kepentingan mereka.”

“Aku memang mendengar,” jawab Senapati tua itu, “Mahisa

Walungan memang sudah ditangkap. Tetapi Gubar Baleman masih

belum ditangkap. Ia justru pergi ke istana untuk membebaskan

Mahisa Walungan.”

Terasa jantung Pujang Warit menjadi semakin cepat berdetak.

Dipandanginya Senapati tua itu sejenak, lalu ia-pun bertanya,

“Apakah kau menyadari kata-katamu itu?”

“Tentu, kenapa?”

“Apakah itu bukan suatu pengakuan bahwa Gubar Baleman telah

memberontak?”

Pujang Warit mengumpat di dalam hatinya ketika ia melihat

Senapati itu justru tertawa. Katanya, “Memang mungkin sikap yang

demikian itu tidak dikehendaki. Terutama oleh orang-orang yang

tidak ingin melihat Kediri tetap menjadi suatu negara yang kuat.”

“Apa maksudmu?”

“Memang Gubar Baleman dapat dikatakan memberontak. Tetapi

bukan itulah yang dimaksudkan. Ia tidak ingin mengusik takhta dan

apalagi kehancuran Kediri. Ia justru berbuat sebaliknya. Inilah yang

tidak kau ketahui. Atau sengaja tidak kau mengerti.”

Wajah Pujang Warit menjadi merah, apalagi ketika Senapati tua

itu meneruskan, “Bukankah kau ada di sini ketika Adinda Sri Baginda

Mahisa Walungan memberikan penjelasan tentang maksud

pemusatan pasukan ini? Nah, kenapa kau masih

mempersoalkannya, dan bahkan sekarang kau memberitahukan

kepada kami, bahwa pemusatan pasukan ini adalah penyalah

gunaan?”

Sejenak Pujang Warit tidak dapat menjawab. Ditatapnya wajah

Senapati tua itu dengan tajamnya. Kemudian ketika pandangan

matanya beredar, dilihatnya pula Senapati-senapati yang lain

memandangnya dengan tegang.

“Tetapi,” berkata Pujang Warit kemudian, “Sri Baginda sudah

memerintahkan, menangkap Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.

Kemudian menempatkan kalian di bawah perintahku. Dan

perintahku yang pertama adalah melepaskan segala hubungan

dengan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, serta membatalkan

segala rencananya.”

Senapati tua itu tertawa. Katanya, “Kau adalah seorang Senapati

muda yang berani. Tetapi kau ternyata tidak secerdas yang kami

duga. Sudah aku katakan bahwa Gubar Baleman tidak ditangkap

sekarang, tetapi ia justru membebaskan Adinda Sri Baginda, agar

mereka mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Sri Baginda,

justru untuk kepentingan Sri Baginda sendiri.”

Pujang Warit benar-benar telah kehilangan harapan untuk dapat

mempengaruhi para pemimpin pasukan yang ada di sebelah Utara

Ganter. Karena itu, maka ia mencoba untuk mengancam mereka,

katanya, “Ingat, aku mengemban perintah Sri Baginda. Sri Baginda

adalah pemegang kekuasaan tertinggi di Kediri.”

“Aku sudah tahu,” jawab Senapati tua itu, “kau tidak perlu

mengulanginya sampai lima atau enam kali. Dan aku sudah

menjawab bahwa persoalan itu sedang dibicarakan di istana. Tidak

di sini. Kita tinggal menunggu hasil pembicaraan itu. Kalau kita

memang harus melepaskan cara ini, pemusatan pasukan untuk

melawan Singasari, kita-pun akan melakukannya. Tetapi kalau kita

harus memperkuat pertahanan ini, kita-pun akan melakukannya.”

“Perintah siapakah yang kalian tunggu?” bertanya Pujang Warit.

“Perintah Sri Baginda.”

“Kalian memang bodoh. Sri Baginda sudah memerintahkan

kepadaku untuk mengambil alih pimpinan pasukan di Kediri.

Termasuk kalian yang ada di sebelah Utara Ganter.”

“Ah,” Senapati tua itu berdesah, “pimpinan yang kau pegang kini

adalah pimpinan yang lahir dalam keadaan yang tidak wajar. Kami

sedang menunggu penyelasaian yang sedang berlangsung

sekarang. Dan kau-pun harus menunggu.”

“Tidak,” tiba-tiba Pujang Warit kehilangan kesabaran, “aku tidak

akan menunggu lagi. Kita sudah berada di ambang pintu bahaya.

Kita harus berbuat secepat-cepatnya, agar kita dapat

menyelamatkan Kediri dari intaian Singasari. Sri Baginda sudah

menyerahkan segenap kekuasaan kepadaku, dan aku telah

mendapat wewenang untuk berbuat apa saja.” Pujang Warit

berhenti sejenak, lalu sambil menengadahkan dadanya ia berkata,

“He para Senapati yang ada di sini, siapa yang masih setia kepada

Sri Baginda Kertajaya, dan siapa yang masih setia kepada Kediri,

dengarlah kata-kataku. Kalian harus memisahkan diri dari kekuatan

yang disusun oleh Mahisa Walungan dan Gubar Baleman untuk

kepentingan mereka berdua. Aku menunggu sampai matahari naik.

Setelah itu aku akan menentukan sikap. Masih ada waktu beberapa

saat untuk mengambil keputusan. Lihat, kini cahaya fajar sudah

menjadi semakin kuning. Aku akan kembali ke pasukan yang sudah

aku siapkan untuk membayangi kalian. Aku menunggu di luar

padukuhan sebelah untuk menerima mereka yang masih tetap setia

kepada Sri Baginda. Bagi mereka yang ingkar akan janjinya sebagai

seorang prajurit, aku tidak bertanggung jawab, apa yang akan

terjadi atas mereka. Kekuasaan Sri Baginda Kertajaya tidak dapat

dianggap sebagai permainan yang tidak berarti.”

Sejenak para Senapati itu terdiam. Tetapi kata-kata Pujang Warit

itu ternyata tidak meyakinkan mereka. Mereka masih lebih percaya

kepada Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Dan mereka-pun

tiba-tiba menjadi yakin, bahwa agaknya Pujang Warit memang

sudah melakukan perbuatan tercela, justru untuk kepentingan

pribadinya.

Tetapi para Senapati itu masih dapat menahan diri mereka,

karena mereka menyadari bahaya yang sudah di ambang pintu.

“Aku akan meninggalkan tempat ini,” berkata Pujang Warit,

“waktu kalian tinggal sedikit.”

Senapati tua itu memandangi Pujang Warit dengan pandangan

yang aneh. Tampaknya Senapati tua itu akan tersenyum, tetapi

agaknya ia ingin bersungguh-sungguh.

“Aku berkata sebenarnya,” sambung Pujang Warit, “aku tidak

bermain-main.”

“Apa yang dapat kau lakukan?” tiba-tiba Senapati tua itu

bertanya.

Pujang Warit tidak menyangka, bahwa ia akan mendapat

pertanyaan itu. Tetapi karena hatinya memang sudah panas, ia-pun

segera menjawab, “Aku akan memaksa mereka yang tetap

menentang perintah Sri Baginda.”

“Aku benar-benar tidak tahu,” sahut Senapati tua itu, “kenapa

kau dapat menjadi seorang Pandega, melampaui pangkatku. Apalagi

kini mendapat kekuasaan langsung dari Sri Baginda. Maaf, bahwa

menurut penilaianmu aku bukanlah seorang prajurit yang baik.

Tetapi aku-pun mendapat perintah dari atasanku yang mempunyai

wewenang lebih tinggi daria padamu. Kalau kau berpangkal kepada

perintah Sri Baginda maka agaknya hal itu masih sedang

dijernihkan. Tetapi yang perlu kau ketahui adalah, bahwa kau tidak

akan dapat memaksa kami. Seharusnya kau mengetahui akan hal

ini, karena kekuatan pasukan di garis pertahanan ini jauh lebih atau

barangkali kau mengharap sebagian dari kami berpihak kepadamu?”

Wajah Pujang Warit yang merah menjadi semakin merah. Dan

sekali lagi ia mengancam, “Aku tidak sedang bermain-main. Kalau

sampai saatnya aku datang dengan kekerasan atas nama Sri

Baginda, jangan menyesal.” Pujang Warit tidak menunggu jawaban

lagi. Ia-pun segera meninggalkan tempat itu kembali ke

pasukannya. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan yang

dihadapinya, bahwa agaknya perhitungannya telah keliru. Tidak

seorang-pun dari pasukan yang ada di sebelah Utara Ganter itu

yang dapat dipengaruhinya, dan berbalik memihaknya.

Meskipun demikian Pujang Warit masih tetap pada pendiriannya.

Tanpa Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, ia mengharap, bahwa

prajurit-prajurit itu tidak akan segarang pasukannya.

Tetapi di saat itu. Baginda masih belum memasukkan Mahisa

Walungan dan Gubar Baleman ke bilik tahanannya, karena kedua

orang itu agaknya tidak menguncupkan tangannya semudah yang

disangka oleh Sri Baginda dan mereka yang ada di paseban. Apalagi

kini ternyata bahwa halaman istana itu sudah dikuasai oleh prajuritprajurit

yang berpihak kepada keduanya.

“Tuanku,” berkata Gubar Baleman, “apakah Tuanku dapat

mengabulkan permohonan hamba itu? Jika Senapati muda yang

bijaksana itu ada di sini, maka Tuanku akan segena dapat

menyelesaikan masalah ini. Kemudian yang kita hadapi tinggallah

bahaya yang kini sudah berdiri berjajar di pagar halaman.”

“Tumapel, Tumapel,” teriak Sri Baginda, “apakah kau tidak dapat

menyebut kata-kata lain daripada Tumapel? Kau benar-benar

seorang pengecut. Seharusnya dengan sebelah kakimu, Tumapel

dapat kau injak sampai hancur. Tetapi kau biarkan Tumapel tetap

menjadi persoalan, supaya kau mempunyai alasan untuk

memusatkan pasukan di sebelah Utara Ganter.”

“Sudah hamba katakan Tuanku, hal inilah yang ingin hamba

jelaskan. Kalau Tuanku sempat menyaksikan sendiri kesiagaan

Singasari, maka Tuanku tidak akan percaya kepada ceritera itu.

Tuanku pasti justru akan membenarkan sikap Adinda Mahisa

Walungan, yang melampaui perintah Tuanku, menyusun pertahanan

itu, selagi Tuanku tidak mengijinkan membawa pasukan lebih

banyak lagi ke perbatasan.”

Tampaklah Sri Baginda Kertajaya termenung sejenak. Namun

tiba-tiba ia berdiri tegak sambil berkata lantang, “Akulah Sri Baginda

Kertajaya, jelmaan Dewa Tertinggi di atas Bumi. Semua kata-kataku

akan terjadi seperti yang aku kehendaki.” Sri Baginda berhenti

sejenak memandangi orang-orang yang ada di sekitarnya. Dalam

pada itu, dada Gubar Baleman dan Mahisa Walungan menjadi

berdebar-debar. Apakah yang akan dilakukan oleh Sri Baginda itu?

Dan Sri Baginda-pun kemudian melanjutkan, “Aku mempunyai

kekuasaan yang tidak terbatas di seluruh bumi. Karena itu. maka

aku tidak akan dapat dipengaruhi oleh siapapun juga apabila aku

sudah mengambil keputusan. Kata-kataku harus terjadi. Juga atas

Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Menurut penilaianku, kalian

ternyata telah memberontak, sehingga kalian tidak akan dapat

membela diri lagi dengan segala macam cara yang kau pergunakan

sekarang. Meskipun kalian telah menguasai halaman istana ini.

tetapi aku tetap berpendapat, bahwa kalian harus ditangkap dan

dihukum.”

Suara Sri Baginda yang menggelegar itu telah memenuhi

ruangan paseban, sehingga setiap dada terketuk karenanya. Para

Senapati, Menteri dan Penasehat Sri Baginda yang berpendirian,

bahwa keputusan Sri Baginda adalah hukum tertinggi, tiba-tiba telah

menengadahkan dada mereka. Keputusan Sri Baginda harus dibela

sampai kemungkinan yang terakhir, meskipun mereka telah

dikelilingi oleh prajurit yang memberontak di bawah pimpinan

Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.

Keputusan Sri Baginda itu bagaikan ledakan guruh yang langsung

menggoncangkan dada Gubar Baleman dan Mahisa Walungan.

Ternyata Sri Baginda Kertajaya adalah Sri Baginda itu juga, yang

tidak mudah berubah pendirian dalam keadaan yang bagaimanapun

juga.”

Dan terdengar kemudian suara Sri Baginda, “Mahisa Walungan

dan Gubar Baleman, kalau kau tetap pada pendirianmu, melakukan

perlawanan terhadap kekuasaanku. Sri Baginda Kertajaya di Kediri,

maka sekaranglah saatnya.”

Ruangan itu seakan-akan telah berguncang ketika mereka

melihat Sri Baginda bergeser selangkah, mendekati Mahisa

Walungan dan Gubar Baleman. Sedang tangannya yang gemetar

tergantung di sisi tubuhnya.

“Tidak ada kekuatan yang dapat melawan Sri Baginda Kertajaya,

meskipun seluruh pasukan Kediri berdiri di pihakmu,” geram Sri

Baginda. Wajahnya menjadi merah menyala, sedang giginya

terdengar gemeretak.

Gubar Baleman tiba-tiba menjadi bingung. Kedua kakak beradik

itu adalah orang-orang yang melampaui kewajaran manusia biasa.

Apabila mereka berdua kehilangan pengamatan diri, dan terlibat

dalam pertentangan langsung, maka akibatnya pasti luar biasa.

Paseban ini pasti akan menjadi reruntuhan yang mengerikan.

Apabila demikian, maka sudah barang tentu, semua orang yang ada

di paseban dan di sekitarnya pasti akan segera melibatkan diri,

sehingga peperangan tidak akan dapat dihindarkan lagi.

Pertempuran di dalam istana ini pasti akan menjalar. Yang pertamatama

akan meledak adalah pasukan-pasukan yang ada di sebelah

Utara Ganter, dan pasukan Pujang Warit yang memang sudah

membayanginya.

“Mahisa Walungan,” terdengar suara Baginda menggelegar.

Wajahnya menjadi semakin membara dan sorot matanya seakanakan

menyala, “kalau kau sudah berani menyusun kekuatan di luar

kota, ayo, sekarang sudah datang waktunya kau merebut takhta

kerajaan Kediri. Kita berdua memang pewaris-pewaris dari kerajaan

ini. Tetapi karena kau lebih muda dari padaku, maka akulah yang

berhak menduduki takhta. Tetapi kalau kau memang ingin menjadi

seorang raja di Kediri, kau memang harus membunuh aku.”

Suara Sri Baginda menjadi gemetar seperti getar jantungnya

yang serasa akan meledak.

Mahisa Walungan masih duduk di tempatnya. Sesaat ia

mengangkat wajahnya. Tanpa sesadarnya ia beringsut setapak

mundur.

“Berdirilah. Kita tidak usah menghiraukan apakah mereka yang

masih setia kepadaku akan bertempur dengan pasukanmu yang

telah mengepung istana. Kau dan aku sejak kanak-anak, mendapat

didikan dalam olah kanuragan oleh guru yang sama dan dalam

waktu yang sama. Hanya karena kau lebih muda saja dari padaku,

maka mungkin nafasmu masih lebih baik. Tetapi otakku sudah tentu

lebih banyak mengunyah pengalaman.”

Betapa Mahisa Walungan menahan hatinya menyaksikan

kemarahan Sri Baginda Kartajaya. Meskipun ia lebih muda dari Sri

Baginda, ternyata bahwa Mahisa Walungan mempunyai kemampuan

yang lebih besar untuk tetap mempergunakan nalarnya menghadapi

keadaan. Meskipun demikian, desakan yang menggelora di dadanya,

telah menggetarkan seluruh tubuhnya.

“Bangkitlah,” teriak Sri Baginda. Dan ketika tangannya tanpa

sesadarnya meremas tiang yang berdiri tegak di sampingnya, maka

segumpal kayu telah teremas hancur menjadi debu, sehingga tiang

itu-pun menjadi berlekuk segenggam.

Pada saat yang bersamaan, Mahisa Walungan yang menahan diri

itu-pun mengetukkan jari-jarinya di atas batu lantai tempat

duduknya. Ia tidak sadar sama sekali bahwa batu itu menjadi lekuk

sedalam kukunya.

Dalam keadaan yang semakin tegang itulah Gubar Baleman

menjadi semakin bingung. Meskipun agaknya Mahisa Walungan

tidak akan menanggapi kemarahan Sri Baginda, namun keadaan

akan berkembang ke arah yang tidak dikehendakinya. Karena itu.

karena kesetiaannya kepada Kediri pulalah, yang mendorong Gubar

Baleman kemudian berkata dengan suara yang parau, “Tuanku.

Sebaiknya Tuanku berpaling kepada hamba. Hambalah sumber dari

keadaan yang panas ini karena kesetiaan hamba kepada Kediri dan

kepada Sri Paduka. Tetapi kalau usaha hamba ini ternyata tidak

berhasil, dan bahkan akan menumbuhkan persoalan yang

sebaliknya dari yang hamba maksud. Karena itu Tuanku, supaya

keadaan ini, tidak berlarut-larut. maka biarlah hamba mengaku,

bahwa hambalah yang telah merencanakan semua ini. Karena

hamba mendengar bahwa Adinda Sri Baginda ditangkap, maka

tumbuhlah niat hamba untuk mendapat kesempatan menjernihkan

keadaan, karena menurut dugaan hamba pasti ada orang yang

sengaja memfitnah Adinda Sri Baginda, Adinda Mahisa Walungan.

Seharusnya Tuanku mengenal tabiat dan watak Adinda Sri Baginda

lebih baik dari hamba, bahwa orang seperti Adinda Mahisa

Walungan tidak akan melepaskan kesetiaannya apapun yang akan

terjadi. Tetapi agaknya Tuanku telah menuduhnya berbuat khianat.”

“Cukup, cukup,” teriak Sri Baginda, “atau kau yang akan berdiri

di paseban ini untuk melawan aku? Aku mengerti Gubar Baleman,

bahwa kau mampu memecah gunung dan mengeringkan telaga

dengan kekuatan tanganmu. Tetapi cobalah kau kini melawan Sri

Baginda Kertajaya.”

“Ampun Tuanku. Hamba tidak akan melawan. Hamba akan

menundukkan kepala hamba demi kesetiaan hamba kepada Kediri.

Seandainya apapun yang dapat hamba lakukan, tetapi hamba

adalah seorang abdi yang harus tunduk kepada Tuanku, meskipun

hamba tahu, bahwa hamba akan digantung di alun-alun. Tetapi

yang paling menyayat hati hamba adalah justru nasib Kediri.”

“Jangan mencari alasan agar perhatianku berpaling dari

persoalan kalian berdua. Aku sudah menyerahkan semua masalah

kepada Pujang Warit. Ia akan segera mengatasi persoalan Singasari.

Yang aku hadapi sekarang adalah persoalan kalian berdua. Mahisa

Walungan dan Gubar Baleman.”

“Ampun Kakanda Baginda,” sembah Mahisa Walungan kemudian,

“sudah dikatakan oleh kadanda Menteri Gubar Baleman bahwa

bukan maksud hamba berdua untuk menentang Kakanda Baginda.

Seandainya sekarang Kakanda Baginda memerintahkan apapun

juga, hamba berdua akan bersedia menjalani tanpa mengelak lagi.”

“Bohong.” Kertajaya menjahut lantang, “kalian berpura-pura.

Atau kalau kalian benar-benar menyerah, kalian tahu, bahwa aku

akan menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya bagi kalian

berdua.”

“Hamba berdua tahu Kakanda Baginda. Dan hamba berdua akan

menjalaninya dengan hati yang lapang.”

“Bohong. Bohong. Lalu apa gunanya kalian mengumpulkan

pasukan di sebelah Utara Ganter?”

“Sudah hamba katakan, dan kakanda Menteri Gubar Balemanpun

telah mengatakan, bahwa pasukan itu kami hadapkan kepada

pasukan Singasari.”

Sri Baginda tertegun sejenak. Dipandanginya Gubar Baleman dan

Mahisa Walungan berganti-ganti. Dan ia mendengar Gubar Baleman

berkata, “Tuanku. Prajurit-prajurit yang ada di sebelah Utara Ganter

dan di sekitar paseban ini akan segera menarik diri apabila hamba

memerintahkan atas nama Tuanku. Mereka tidak akan berbuat apaapa

seandainya hamba akan digantung bersama Adinda Mahisa

Walungan. Namun pesan hamba, mereka-pun sama sekali tidak

bersalah. Justru mereka telah menyiapkan jiwa raga mereka untuk

membela Kediri dan Tuanku.”

Sri Baginda Kertajaya masih berdiri tegak di tempatnya. Sekalisekali

ditatapnya wajah Mahisa Walungan yang tunduk, kemudian

wajah Gubar Baleman. Sri Baginda sama sekali tidak melihat tandatanda

pada keduanya, bahwa keduanya siap untuk melakukan

perlawanan. Meskipun Gubar Baleman tidak menundukkan

kepalanya sampai mencium lantai, dan bahkan ia berani menjawab

kalimat dengan kalimat, namun terasa, bahwa Gubar Baleman-pun

tidak akan mengangkat senjatanya, melawan kekuasaannya.

Dengan demikian maka Sri Baginda mulai menimbang-nimbang.

Kemarahan yang meluap-luap di dadanya serasa mulai mendatar.

Meskipun demikian Sri Baginda masih berkata, “Apakah kalian

mencoba memperkecil arti kesalahan yang pernah galian lakukan?”

Gubar Baleman menggeleng, “Tidak Tuanku. Hamba sudah

pasrah. Apapun yang akan dikatakan dan dikenakan atas kami

berdua. Tetapi kami sudah tidak lagi merasa dibebani oleh dosa

seandainya Kediri mengalami bencana. Hamba dan Adinda Mahisa

Walungan telah merasa menunaikan niat kesetiaan kami atas Sri

Baginda dan Kediri. Tetapi apabila niat kami itu dinilai sebagai suatu

pengkhianatan, kami tidak akan sakit hati. Dada kami sudah lapang,

karena kami sudah melakukan usaha, meskipun gagal.”

“Tetapi kenapa kalian merampas pengawasan atas halaman ini?”

“Kami hanya sekedar berusaha untuk mendapatkan kesempatan

untuk menjelaskan masalah kami seperti sekarang ini. Tanpa

penguasaan halaman istana, maka kami tidak akan mendapat

dukungan apapun untuk mencoba berbicara agak panjang. Mungkin

kami hanya dapat mengucapkan satu dua kalimat seperti Adinda

Mahisa Walungan kemarin.”

“Cukup,” potong Sri Baginda, “apapun yang kalian lakukan, kalian

harus ditangkap.”

“Kami berdua tidak akan mengelak. Kami akan memerintahkan

semua prajurit di halaman ini menarik diri.”

Sri Baginda tiba-tiba saja diam mematung. Terjadi sesuatu yang

menggelepar di dadanya. Ia merasakan kejujuran pada setiap kata

Gubar Baleman. Meskipun demikian Sri Baginda yang sudah

bersabda itu, tidak harus menarik kata-katanya. Gubar Baleman dan

Mahisa Walungan harus ditangkap, meskipun ia dapat menentukan

hukuman yang lebih ringan bagi keduanya.

“Mahisa Walungan dan Gubar Baleman,” berkata Baginda

kemudian, “kalian menjadi tahanan.”

Dalam saat yang demikian itulah Pujang Warit menyiarkan

pasukannya yang terdiri atas prajurit-prajurit dari berbagai

kesatuan. Meskipun dengan dada yang berdebar-debar, dan

pertimbangan yang kurang matang, Pujang Warit masih mengharap

perubahan sikap dari beberapa orang Senapati yang ada di sebelah

Utara Ganter. Apabila mereka melihat, bahwa ia tidak bermain-main,

mengemban perintah Sri Baginda, maka mereka pasti akan mulai

berpikir kembali.

Tetapi pada saat yang demikian itu pulalah, maka apa yang

dicemaskan oleh Mahisa Walungan dan Gubar Baleman itu terjadi.

Agaknya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, Raja yang

memerintah di Singasari, telah menemukan saat yang tepat. Di

tengah malam itu juga, Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi sendiri

telah berangkat ke perbatasan. Ia berhasrat memimpin langsung

pasukannya yang akan menyerbu ke Kediri.

Sri Rajasa memang pernah mendengar, bahwa para Senapati dan

pimpinan kerajaan Kediri, adalah orang-orang yang pilih tanding.

Mereka mempunyai kemampuan yang melampaui kemampuan

manusia sewajarnya. Karena itu, maka di saat-saat terakhir Sri

Rajasa tidak dapat menyerahkan pimpinan pasukan yang akan

menghadapi pasukan yang kuat itu kepada orang lain.

Yang mendapat kepercayaan untuk menjadi paruh dari

pasukannya, justru pasukan khusus yang dipimpin oleh Mahisa Agni.

Menurut Sri Baginda, tidak ada Senapati yang lain, yang dapat

mengimbangi kemampuannya, meskipun pasukannya bukanlah

pasukan yang terkuat. Tetapi, justru mereka terdiri dari orang-orang

Kediri sendiri, Sri Rajasa berharap, bahwa pasukan itu akan dapat

mempengaruhi perasaan para prajurit Kediri.

Demikianlah maka ketika Sri Baginda telah merasa cuakup

dengan segala macam persiapan, terdengarlah suara tengara.

Sebuah bende yang tergantung tinggi di atas sebatang pohon, telah

dipukul bertalu-talu. Bende itu bukanlah bende biasa di dalam

seperangkat gamelan. Tetapi para prajurit Singasari percaya, bahwa

apabila bende itu meraung dengan lantangnya, peperangan yang

akan datang, akan dibayangi oleh kemujuran dan kemenangan.

Bende itulah agaknya yang menjadi tengara, disambut oleh

tanda-tanda yang lain, sahut menyahut sampai ke ujung-ujung

pasukan.

Maka serentak bergeraklah pasukan Singasari itu memasuki

perbatasan Kediri, seperti banjir bandang yang tidak terbendung

lagi. Derap kaki mereka, seakan-akan telah menggugurkan gununggunung

menimbuni lembah yang paling dalam.

Di seberang perbatasan, pasukan Kediri yang telah siap pula,

segera menyongsong prajurit Singasari. Tetapi dengan sepenuh

kesadaran, mereka melihat diri mereka yang terlampau Kecil

dibandingkan dengan pasukan yang mendatang.

“Pertahanan kita berada di sebelah Utara Ganter,” desis Senapati

yang menerima penyerahan pimpinan dari Gubar Baleman, lalu

perintahnya yang terakhir sebelum para Senapati terjun ke

peperangan. “Jangan membiarkan korban berjatuh-jatuhan dengan

sia-sia. Kita harus menarik mereka sampai ke Ganter.”

Tetapi Senapati yang ada di perbatasan itu sama sekali tidak

mengetahui, apa yang sedang terjadi di batas pertahanan mereka

yang terakhir itu.

Dengan demikian, maka prajurit Kediri di perbatasan itu tidak

banyak memberikan perlawanan. Mereka tidak begitu bodoh

mengumpankan prajurit-prajuritnya gugur tanpa arti. Yang mereka

lakukan hanyalah sekedar memperlambat kemajuan pasukan

Singasari dengan kekuatan yang tidak seimbang, sementara

sekelompok kecil penghubung telah mendahului, menyampaikan

kabar penyerangan itu ke pertahanan di sebelah Utara Ganter

dengan kuda-kuda yang berlari bagaikan angin.

Di saat pasukan Pujang Warit mulai bergerak mendekati

pemusatan pasukan Mahisa Walungan itulah penghubung dari

perbatasan memasuki daerah pertahanan di sebelah Utara Ganter.

Dengan nafas terengah-engah, dilaporkannya apa yang telah

terjadi di perbatasan. Pasukan Singasari bagaikan banjir telah

melanda pertahanan pasukan Kediri di perbatasan. Tetapi seperti

yang dipesankan Gubar Baleman, pasukan perbatasan itu sama

sekali tidak berusaha untuk menahan pasukan Singasari. Mereka

hanya sekedar menghambat kemajuan mereka, untuk memberi

kesempatan pasukan Kediri bersiap.

Senapati tertua yang mendapat tugas memimpin pasukan di

sebelah Utara Ganter selagi Mahisa Walungan dan Gubar Baleman

tidak ada itu-pun segera memanggil Senapati-senapati lainnya.

“Kita tidak dapat menunggu,” berkata Senapati itu, “kita tidak

tahu kapan Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan dan Menteri Gubar

Baleman itu selesai.”

“Ya, kita harus mengatur diri. Mungkin kita perlu

memberitahukan kehadiran ini ke istana.”

“Kita melihat perkembangannya kemudian.”

Maka sejenak kemudian terdengarlah tanda-tanda bahwa

pasukan pertahanan yang sudah disiapkan itu untuk menempati

garis pertahanan yang sudah ditentukan.

Ternyata bahwa prajurit Kediri cukup terlatih. Dalam waktu yang

singkat, maka pasukan di sebelah Utara Ganter itu-pun segera

menebar. Dengan lincahnya para Senapati, para pemimpin

kelompok-kelompok yang lebih kecil mengatur pasukannya di

tempat masing-masing, sehingga keseluruhan pasukan itu segera

membentuk garis pertahanan yang kuat.

Namun demikian, masih terasa ada yang kurang di antara

mereka. Tidak ada seorang pemimpin yang dapat memberikan

kebanggaan di hati mereka. Mahisa Walungan dan Gubar Baleman,

keduanya tidak ada di antara pasukan itu.

Pujang Warit yang mendekati tempat pertahanan itu-pun segera

mendapat laporan, bahwa pasukan di sebelah Utara Ganter itu

sudah memasang gelar.

“Gila,” geram Pujang Warit, “apakah mereka benar-benar telah

menentang kekuasaan Sri Baginda dengan perlawanan langsung?

Itu adalah suatu pemberontakan.”

“Tetapi,” berkata petugas yang melaporkannya itu, “mereka

sama sekali tidak menghadapkan pasukannya kepada kita di sini.”

“Lalu?”

“Dengan tergesa-gesa mereka memasang gelar, menghadap ke

jalan induk yang menghubungkan Tumapel dengan Kediri.”

“He?,” Pujang Warit termangu-mangu sejenak, “apakah pasukan

di perbatasan sudah mulai bergerak?”

Dalam kebimbangan itu, beberapa orang pengawas yang

mendapat laporan dari perbatasan bahwa pasukan Singasari-lah

seorang dari mereka berkata, “Pasukan Mahisa Walungan telah siap.

Tetapi menurut penilaian kami, mereka telah mendapat laporan dari

perbatasan bahwa pasukan Singasari telah mulai bergerak.”

Pujang Warit masih tetap termangu-mangu, sementara langit

menjadi semakin lama semakin cerah. Ia mengerutkan keningnya

ketika ia melihat beberapa ekor kuda berlari ke arahnya.

Penunggangnya ternyata adalah Senapati yang diperintahkannya

menyusul Gubar Baleman di perbatasan.

“He, kenapa kau di sini? Apakah kau tidak membawa Gubar

Baleman menghadap Sri Baginda?”

“Ceriteranya cukup panjang. Tetapi kini Gubar Baleman sudah

menghadap Sri Baginda.”

“Lalu apa kerjamu sekarang?”

“Aku ditahan oleh pasukan Mahisa Walungan di pemusatan

pasukannya.”

“Gila, aku sudah siap melakukan perintah Sri Baginda atas

mereka.”

“Jangan saat ini.”

“Kenapa?”

“Pasukan Singasari telah menyerbu langsung menusuk ke pusat

pemerintahan Kediri. Agaknya mereka mempunyai perhitungan,

bahwa pimpinan pemerintahan dan kedudukan pemerintahan harus

dikuasai lebih dahulu.”

“Darimana kau dengar?”

“Beberapa orang penghubung dari perbatasan telah datang.”

Pujang Warit berpikir sejenak. Lalu, “Apakah penghubung itu

dapat dipercaya?”

“Tentu. Aku melihat mereka, dan aku percaya kepada mereka.”

Pujang Warit menganggukkan kepalanya sejenak, kemudian

katanya, “Baiklah, aku akan menemui Senapati yang memimpin

pasukan Kediri di pertahanan itu. Akulah yang mendapat wewenang

dari Sri Baginda untuk memegang seluruh pimpinan.”

“Maksudmu?”

“Senapati itu harus menyerahkan pimpinan kepadaku, sehingga

seluruh kekuasaan berada di dalam satu tangan. Apalagi

menghadapi Singasari yang mempunyai persiapan yang matang.”

“Mereka tentu akan keberatan.”

“Aku tidak peduli, itu perintah Sri Baginda.”

“Jangan berpegangan pada perintah Sri Baginda. Kini kita

menghadapi pasukan lawan. Apapun yang kita lakukan, seandainya

kita kehilangan kepemimpinan kita sama sekali, kita tetap wajib

mempertahankan Kediri.”

“O. kau sudah menjadi dungu pula. Itu adalah mutlak. Perintah

Sri Baginda, akulah pemimpin pasukan Kediri. Mereka harus

tunduk.”

“Dalam suasana yang lain dari sekarang. Sekarang kita

menghadapi lawan. Yang penting, kita kerahkan semua kekuatan

untuk mempertahankan Kediri.”

“Tidak, aku akan mengambil seluruh pimpinan.”

“Ternyata kau bodoh dan tamak,” Senapati muda itu kehilangan

kesabaran, “aku berpihak kepadamu karena aku menyangka,

kesetiaanmu kepada Kediri melebihi kesetiaan Gubar Baleman.

tetapi ternyata aku keliru.”

Darah Pujang Warit tersirap karenanya. Sejenak ia justru diam

mematung. Dipandanginya Senapati muda itu dengan mata yang

berapi-api. Namun agaknya Senapati itu-pun sama sekali tidak

menundukkan kepalanya.

Tata susunan keprajuritan Kediri telah benar-benar rusak

karenanya. Tidak ada lagi ketaatan pada perintah atasannya, dan

seakan-akan tidak ada lagi jalur kekuasaan yang lurus. Setiap

prajurit seolah-olah telah melakukan apa saja yang dianggapnya

baik dan berguna bagi dirinya atau bagi Kediri dan Sri Baginda.

“Aku akan menghadap Sri Baginda,” berkata Senapati muda itu

kemudian, “aku akan melaporkan bahwa gerakan Singasari tidak

terbendung lagi.”

“Gila. Itu suatu rencana yang paling gila yang pernah …”

Wajah Senapati muda itu tiba-tiba menjadi tegang. Katanya,

“Kau tidak berhak menahan aku.”

“Aku berhak menahan kau selagi aku menganggap perlu. Kau

tetap di sini, dan aku-pun akan tetap di sini.”

“Maksudmu?”

“Aku akan membiarkan pasukan Mahisa Walungan itu bertempur.

Apabila keduanya sudah menjadi parah, maka pasukanku akan

datang membantu. Tetapi akulah yang memegang pimpinan.”

“Gila. Itu suatu rencana yang paling gila yang pernah dibuat oleh

seorang prajurit Kediri.”

“Aku tidak gila. Aku memperhitungkan akhir dari peperangan ini.

Semuanya akan hancur, selain pasukanku. Pasukankulah yang akan

menumpas pasukan Singasari yang sudah menjadi payah karena

pertempuran melawan pasukan Mahisa Walungan itu.”

“Gila. Kau benar-benar sudah gila.”

Pujang Warit tidak menjawab. Tetapi terdengar suara tertawanya

yang memanjang.

“Cukup,” teriak Senapati muda itu.

Tetapi Pujang Warit masih tertawa terus. Bahkan ia berkata,

“Jangan menyesal. Kelak kau akan melihat aku memegang

kekuasaan tunggal di Kediri sesudah Sri Baginda. Itu kalau kau

masih hidup. Perbuatanmu kali ini telah menurunkan nilai namamu

di hadapanku.”

“Aku tidak peduli. Aku tidak memerlukan kau.”

Pujang Warit tertawa terus. Sambil mengangguk-anggukkan

kepalanya ia berkata, “Kau tetap di sini.”

Senapati muda itu menggeram. Ketika ia berpaling dilihatnya

beberapa orang prajurit ada di sekitarnya.

“Dengar,” berkata Pujang Warit kemudian, “Aku akan tetap di

sini. Sebentar lagi pasukan Singasari akan melanda pertahanan

Mahisa Walungan yang sudah kehilangan pimpinan itu. Aku akan

menjadi penonton. Baru kemudian aku akan datang dan menggilas

pasukan Singasari itu.”

Senapati muda itu tidak menyahut. Tetapi dadanya serasa

menjadi retak karenanya.

“Akulah kelak yang akan menjadi Senapati Agung di Kediri karena

akulah yang telah berhasil menumpas pemberontakan Mahisa

Walungan dan Gubar Baleman, sekaligus menyelamatkan Kediri dari

serbuan Singasari,” dan suara tertawa Pujang Warit semakin

meninggi.

Senapati muda yang masih duduk di atas punggung kudanya itu

menggeram. Dadanya rasa-rasanya tidak dapat menampung lagi

kekecewaan dan penyesalan yang menghentak-hentak. Tetapi

semuanya sudah terlanjur.

Terbayang di rongga matanya, pasukan Singasari bagaikan banjir

bandang maju terus mendesak pasukan Kediri yang tidak seberapa

kuatnya di perbatasan. Kemudian banjir itu akan membentur

pertahanan di sebelah Utara Ganter. Tetapi pertahanan itu tidak

dipimpin oleh seorang yang pantas dipercaya untuk memimpin

perang yang demikian besar.

Dan tanpa sesadarnya Senapati muda itu tiba-tiba berkata,

“Apakah kalau kau menahan aku di sini, kau sangka tidak ada

leorang-pun yang akan melaporkannya kepada Sri Baginda?”

“Baginda tidak akan mengakui siapapun yang bukan utusanku.”

“Bohong.”

“Aku yakin. Kalau ada seseorang menghadap Sri Baginda, maka

orang itu akan mengalami beberapa kesulitan. Ia tidak akan dapat

masuk regol istana. Seandainya ia dapat masuk, dan menghadap Sri

Baginda sekali-pun, Sri Baginda tidak akan mempercayainya, seperti

Sri Baginda sudah tidak mempercayai Mahisa Walungan dan Gubar

Baleman.”

“Tetapi masalah ini adalah masalah Kediri. Bukan masalah nafsu

seseorang.”

“Aku tahu dan aku memanfaatkan keadaan ini. Aku sama sekali

tidak akan berkhianat terhadap Kediri. Aku tidak akan membiarkan

Kediri hancur. Tetapi aku memperhitungkan seluruh perkembangan

keadaan.”

Senapati muda itu terdiam. Dilihatnya beberapa orang prajurit

berdiri di sekitarnya, di sebelah menyebelah Pujang Warit dan di

belakang mereka adalah sepasukan prajurit yang sudah siap untuk

membayangi prajurit Mahisa Walungan.

Terdengar Senapati muda itu mengeluh. Ia menyesali

kebodohannya selama ini.

“Lalu, apakah aku akan diam saja setelah aku mengakui

kebodohan itu? “ pertanyaan itu telah mengganggu hatinya. Ia

menjadi ngeri apabila sekali lagi terbayang pasukan Singasari yang

menjadi semakin dekat.

Sekilas ditatapnya matahari yang mulai memanjat langit.

Penghubung berkuda yang mengabarkan kemajuan pasukan

Singasari telah datang beberapa saat yang lampau. Karena itu,

maka pasukan yang tidak tertahankan itu pasti sudah menjadi

semakin dekat. Kalau Mahisa Walungan dan Gubar Baleman

kemudian mengetahui, apakah ia dapat berbuat sesuatu? Atau

bahkan keduanya sudah menjalani hukuman mati?

Dalam keadaan yang sulit itu, Senapati muda itu-pun dengan

tiba-tiba saja telah menarik kendali kudanya, kemudian memukul

perutnya sekuat-kuat tenaganya, sehingga kuda itu-pun terkejut

dan melompat sambil meringkik. Beberapa orang prajurit yang

terkejut, berloncatan menepi ketika kuda itu berlari meninggalkan

mereka.

Sejenak Pujang Warit terpukau oleh sikap Senapati muda itu.

Namun kemudian ia sadar, bahwa Senapati itu tidak boleh

meninggalkannya, dan apalagi menyampaikan kepada Sri Baginda,

apa yang sedang dilakukannya sekarang.

Karena itu, maka sejenak kemudian ia berteriak, “Tahan, tahan

dia.”

Tetapi kuda itu berlari semakin kencang. sehingga Pujang Warit

tidak dapat menunggu prajurit-prajurit yang terpesona itu

menyadari keadaan.

Dengan tangkasnya Pujang Warit sendiri meloncat merebut

sebatang tombak pendek seorane prajurit yang berdiri membeku.

Dengan sekuat tenaga tombak itu-pun dilontarkannya dengan

sepenuh tenaga. Tetapi Senapati pilihan yang tidak saja sekedar

tenaga wantah.

Tombak pendek itu meluncur dengan cepatnya, menyusul

Senapati muda yang duduk di atas punggung kudanya. Senapati itu

tidak sempat berpaling, sehingga ia tidak tahu, bahwa sepucuk mata

tombak telah mengejarnya.

Ia mengaduh pendek ketika tiba-tiba saja terasa sesuatu

menyengat pundaknya. Bahkan kemudian terasa seakan-akan

pundaknya dibebani oleh sesuatu yang berat sekali.

Baru sejenak kemudian ia menyadari apa yang telah terjadi atas

dirinya. Namun sementara itu kudanya masih berlari terus, dan

Senapati muda yang menyadari keadaannya itu tetap bertahan

untuk masih berada di atas punggung kudanya yang berlari semakin

kencang.

Tombak yang melekat di pundaknya itu semakin lama terasa

menjadi semakin berat, sedangkan darah mengalir dari lukanya

semakin lama semakin deras.

Di perbatasan kota Senapati itu hampir kehabisan tenaga,

dengan wajah pucat ia singgah di sebuah gardu penjagaan.

“He, kenapa kau?” bertanya seorang prajurit yang wertugas.

“Tolong, cabutlah tombak ini. Aku harus segera menghadap Sri

Baginda.”

Prajurit itu menjadi ragu-ragu sejenak, sementara kawankawannya-

pun datang mengerumuninya.

“Cepatlah,” berkata Senapati muda itu sambil menahan sakit.

Sekali-sekali ia berpaling, kalau-kalau Pujang Warit atau orangorangnya

pergi menyusulnya. Tetapi agaknya mereka yakin bahwa

Senapati muda itu tidak akan mampu bertahan sampai ke istana.

“Kenapa kau he?” bertanya pemimpin penjaga itu.

“Cabutlah. Aku sudah kehabisan waktu. Apalagi aku menyadari

keadaanku. Sebenar lagi aku sudah tidak akan nampu lagi berbuat

sesuatu.”

Pemimpin prajurit itu ragu-ragu sejenak. Dan tiba-tiba ia

bertanya, “Kau berdiri di pihak siapa?”

Dada Senapati itu berdesir. Ternyata setiap prajurit di Kediri kini

telah dihinggapi kecenderungan untuk memisah-misahkan dirinya.

Dan ia merasa, bahwa sebagian dari kesalahan itu ada pada dirinya

pula, karena ia-pun telah berpihak kepada pujang Warit.

“Cepat katakan, kepada siapa kau berpihak?”

“Apakah kalian juga berpihak?” bertanya Senapati yang menjadi

semakin lemah itu.

“Ya, kami juga berpihak.”

“Nah, kepada siapa kalian berpihak.”

“Kamilah yang bertanya.”

Senapati muda itu menyeringai menahan sakit di pundaknya.

Kemudian jawabnya, “Semula aku juga berpihak. Berpihak kepada

yang mana-pun juga, yang akhirnya aku sadari bahwa itu sama

sekali tidak akan bermanfaat.” Senapati itu mengeluh sesaat. Lalu,

“sekarang aku melepaskan diri dari pertentangan yang ada di dalam

lingkungan sendiri. Kini aku berpihak kepada Kediri. Kita bersamasama

harus menyelamatkan Kediri, karena saat ini pasukan

Singasari sedang melanda seperti banjir bandang.”

Para penjaga itu saling berpandangan.

“Cepat, sebelum kalian digilas oleh pasukan Singasari itu.”

Pemimpin penjaga itu masih ragu-ragu sejenak. Kemudian

dianggukkannya kepalanya ketika seseorang maju setapak

mendekati Senapati yang luka itu.

“Perlahan-lahan,” desis Senapati itu.

Dengan hati-hati tombak pendek yang masih melekat di

punggung itu-pun kemudian dicabut. Betapa sakitnya, namun

dengan demikian. Senapati itu menjadi lebih mudah bergerak

meskipun tenaganya sudah menjadi semakin lemah.

“Terima kasih. Aku harus segera menghadap.”

Pemimpin penjaga itu memandanginya sesaat. Wajah yang

menjadi semakin pucat itu seakan-akan tidak lagi akan mampu

bertahan. Karena itu katanya, “Biarlah seorang prajuritku

mengawani kau.”

Senapati itu diam sejenak, lalu, “terima kasih. Apakah kalian

menyediakan kuda di penjagaan itu?”

“Kau menjadi terlampau lemah. Biarlah ia bersamamu.”

Senapati itu berpikir sejenak. Tetapi tubuhnya memang terasa

terlampau lemah, sehingga karena itu katanya, “Baiklah.”

Seorang prajurit yang ditugaskan kemudian naik ke punggung

kuda itu pula sambil melayani Senapati muda yang sudah menjadi

semakin kehabisan darah dan tenaga. Tetapi tekadnya masih tetap

menyala di dadanya untuk dapat menyampaikan kabar tentang

pasukan Kediri dan serbuan Singasari itu kepada Sri Baginda sendiri.

Meskipun terasa terlampau berat, kuda yang dibebani oleh dua

orang prajurit itu-pun berlari menyelusuri jalan-jalan kota menuju ke

istana.

Beberapa orang yang menyaksikan mereka berdua menjadi

heran, namun tidak seorang-pun yang sempat bertanya, karena

kuda itu berlari semakin kencang.

“Berhenti,” perintah para prajurit yang ada di regol istana.

Kuda itu berhenti sejenak. Ketika Senapati itu mengangkat

wajahnya dilihatnya beberapa orang prajurit pengawal berdiri tegak

di depan gerbang.

“Aku akan menghadap Sri Baginda,” desis Senapati yang terluka

itu.

Para prajurit itu termenung sejenak. Mereka menjadi bertanyatanya

di dalam hati, kenapa prajurit yang datang itu terluka dan

dengan tergesa-gesa ingin menghadap Sri Baginda?

“Aku harus mengatakan sesuatu sebelum aku mati,” berkata

Senapati itu.

“Apakah kau berpihak kepada Mahisa Walungan,” bertanya

pengawal di muka gerbang itu.

Senapati itu mengerutkan keningnya.

“Cepat jawab,” desak pengawal itu.

“O,” desahnya, “kalian semuanya memang sudah dibius oleh

perpecahan ini. Tetapi baiklah aku sebut saja diriku, bahwa aku

adalah utusan Sri Baginda yang harus memanggil Gubar Baleman ke

perbatasan. Atau katakanlah, aku adalah kepercayaan Pujang

Warit.”

Pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya,

“Bagus. Kalau begitu masuklah. Istana ini baru saja dikuasai oleh

Gubar Baleman. Ia ingin memaksakan kehendaknya kepada Sri

Baginda. Untunglah bahwa Sri Baginda tetap dalam pendiriannya.”

“Dan kalian telah bertempur untuk merebut istana ini kembali?”

Senapati itu menjadi cemas.

“Tidak, kami tidak bertempur. Gubar Baleman telah menarik

prajurit-prajuritnya yang kini dikumpulkan di halaman belakang

istana.”

“Dan Gubar Baleman sendiri?”

“Menteri itu kini sudah ditahan bersama Mahisa Walungan

meskipun masih ada di paseban.”

Senapati itu menarik nafas. Katanya kemudian, “Aku akan

menghadap.”

“Cepat. Paseban hampir dibubarkan. Mereka tingga menunggu

keputusan Sri Baginda, hukuman apakah yang akai dijatuhkan

kepada kedua pemberontak itu.”

Darah Sanapati muda itu tersirap. Kemudian kudanya segera

memasuki regol istana. Tetapi di gerbang dalam Senopati itu

terpaksa turun. Sambil dipapah oleh prajurit yang mengawaninya, ia

memasuki regol halaman dalam setelah menjawab pertanyaanpertanyaan

yang serupa.

Senapati itu masih sempat melihat kesiagaan yang luar biasa di

dalam istana. Setiap sudut, setiap jengkal tanah agaknya telah

mendapat pengawasan yang luar biasa.

Di pintu paseban, dua orang penjaga yang bersenjata telanjang

telah menghentikannya pula. Namun Senapati itu membentak,

“Jangan kau tunggu aku sampai mati. Ada masalah yang penting

sekali harus aku sampaikan kepada Sri Baginda sendiri.”

“Tetapi Sri Baginda sedang membicarakan masalah yang penting

sekali.”

“Aku tahu. Sri Baginda sedang mempertimbangkan hukuman

bagi Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.”

Kedua penjaga itu menjadi ragu-ragu. Sementara itu Senapati

itu-pun mendekat tanpa menghiraukan lagi kedua penjaga di bawah

tangga, dan dari luar pintu paseban Senapati itu mendengar

seseorang berkata, “Mereka memang harus dihukum mati Tuanku.

Hamba tahu pasti, apa saja yang telah mereka perbuat. Meskipun

angger Mahisa Walungan adalah Adinda Sri Baginda. Tetapi

bagaikan duri yang menyusup di dalam daging, maka duri itu harus

dicungkil dan disingkirkan.”

Suara itu patah sejenak, namun kemudian disambungnya, “Kalau

Sri Baginda tidak bertindak sekarang, maka keadaan akan menjadi

semakin buruk. Mereka telah berani menguasai halaman istana ini

meskipun masih dengan ragu-ragu.”

Dada Senapati muda itu menjadi berdebar-debar. Paseban dalam

itu telah dicengkam oleh kesenyapan yang tegang. Dan sejenak

kemudian terdengar suara yang lain, “Ampun Tuanku. Hamba

adalah seorang penasehat yang tidak berarti. Tetapi hamba sama

sekali tidak ingin melihat kedudukan Tuanku tergoyahkan.”

“Jadi apakah menurut pendapat kalian keduanya benar-benar

sudah memberontak?”

“Hamba Tuanku,” terdengar suatu jawab.

“Dan apakah keduanya pantas mendapat hukuman yang paling

berat?”

“Hamba Tuanku.”

Senapati yang di muka pintu paseban dalam itu menjadi semakin

gemetar. Gemetar oleh kelemahan yang semakin mencengkam

dirinya, dan gemetar karena pembicaraan yang didengarnya itu.

Tetapi pembicaraan berikutnya sama sekali tidak dimengertinya.

Suara-suara di paseban itu menjadi semakin lambat karena agaknya

mereka menyadari bahwa yang mereka bicarakan adalah masalahmasalah

yang penting.

“He,” desis Senapati itu, “kenapa kau berada di situ?”

“Kami mendapat perintah khusus,” jawab kedua penjaga itu.

“Dengan senjata telanjang pula?”

“Keadaan menjadi panas,” jawabnya.

Senapati itu terdiam, ia bergeser semakin dekat dan

menempelkan telinganya pada daun pintu yang tertutup.

“Jangan mengganggu,” berkata prajurit yang bertugas.

“Aku akan menghadap. Aku adalah utusan Sri Baginda sendiri.”

Kedua penjaga itu saling berpandangan. Sementara itu Senapati

itu mendengar suara yang lamat-amat. “Tuanku. Tidak ada

hukuman yang lain bagi seorang pemberontak.”

“Maksudmu hukuman mati? “ terdengar suara Sri Baginda.

“Hamba Tuanku. Terutama bagi Menteri Gubar Baleman. Bagi

Adinda Sri Baginda, terserahlah kepada kebijaksanaan Sri Baginda

sendiri.”

Sekali lagi ruangan itu dicengkam oleh keheningan. Namun

Senapati Muda yang berdiri di muka pintu dengan tubuh yang

gemetar itu sudah tidak tahan lagi. Karena itu, ia tidak menunggu

sidang itu selesai. Dengan serta-merta ia menarik daun pintu sambil

berteriak, “Tidak. Keduanya tidak sepantasnya dihukum mati.”

Semua orang di paseban itu berpaling kepada Senapati muda

yang terluka itu. Kedua prajurit yang bertugas di muka pintu itu

tidak dapat mencegahnya, karena kawan Senapati itulah yang

menghalangi mereka, “Biarlah ia menghadap Sri Baginda.”

“Siapa kau?” suara Sri Baginda lantang.

Terhuyung-huyung Senapati muda itu melangkah masuk seorang

diri. Kemudian dengan lemahnya duduk di lantai, di antara para

Senapati yang hadir.

“Kau terluka,” desis salah seorang Senapati itu.

Senapati muda itu tidak menjawab. Sejenak tatapan matanya

beredar dan terhenti pada wajah Gubar Baleman yang duduk di

sudut bersama Mahisa Walungan diapit oleh tiga orang prajurit.

Gubar Baleman-pun menjadi sangat terkejut melihat

kehadirannya. Apalagi Senapati itu ternyata terluka.

Yang terlintas di angan-angan Gubar Baleman adalah dugaan

bahwa Senapati itu telah mencoba melakukan perlawanan atas

prajurit-prajuritnya di sebelah Utara Ganter yang akan menahannya,

sesuai dengan perintah yang diberikannya.

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. “Kenapa ia tidak

setuju pada hukuman mati itu?” katanya di dalam hati, “apakah ia

menghendaki hukuman picis yang mengerikan?”

Dalam ketidak-tentuan itu ia mendengar Sri Baginda bertanya,

“He. Siapa kau? Dan kenapa kau terluka?”

Prajurit itu bergeser maju. Tetapi ia sudah menjadi semakin

lemah.

“Ampun Tuanku. Hamba adalah Senapati yang mendapat

kepercayaan kakang Pujang Warit untuk memanggil Menteri Gubar

Baleman dari perbatasan.”

“O, jadi kaulah yang memanggil Gubar Baleman ini?”

“Hamba Tuanku.”

“Tetapi Gubar Baleman sudah lama menghadap. Kenapa kau

baru datang sekarang dan terluka pula?”

“Ampun Tuanku. Hamba telah tertahan oleh para prajurit yang

ada di sebelah Utara Ganter.”

“He,” wajah Sri Baginda menjadi semakin tegang, “jadi prajuritprajurit

Gubar Baleman sudah berani menahan orang yang

membawa perintahku.”

“Hamba Tuanku.”

“O, jadi benarlah kalian yang telah mempercayainya bahwa

kedua orang ini telah memberontak. Benarlah kalian yang

menghendaki hukuman yang seberat-beratnya bagi keduanya.”

“Tetapi Tuanku,” potong Senapati muda itu, “bukan maksud

hamba mengatakan demikian.”

Sri Baginda mengerutkan keningnya, sementara Gubar Baleman

dan Mahisa Walungan menjadi semakin berdebar-debar.

“Jadi apakah yang akan kau katakan?”

“Tuanku, justru karena hamba tertahan di dalam perkemahan

pasukan di sebelah Utara Ganter itulah hamba mengerti, apa yang

sebenarnya telah terjadi.”

“Apa maksudmu?”

“Mereka sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk

memberontak.”

Sri Baginda tertegun sejenak. Tetapi ia tidak segera dapat

mempercayai pendengarannya. Namun demikian keragu-raguan

yang memang sudah ada di dalam dirinya, segera terangkat

kembali.

Para Menteri, Senapati dan penasehat Sri Baginda-pun

terperanjat mendengar keterangan itu. Mereka tidak menyangka

bahwa Senapati yang terluka itu akan mengatakan yang justru ke

balikan dari dugaan mereka.

“Ulangi,” desis Sri Baginda, “apakah yang kau katakan itu?”

“Ampun Tuanku. Para prajurit yang ada di sebelah Utara Ganter

itu sama sekali tidak akan memberontak seperti yang kita duga.”

“He, apakah kau sudah dibius oleh para prajurit itu?”

“Sebenarnyalah bahwa hamba melihat segala persiapan mereka.”

Sri Baginda terdiam sejenak. Dipandanginya Senapati yang

terluka itu. Kemudian para Senapati, akhirnya kedua penasehat Sri

Baginda.

“Ampun Tuanku,” berkata salah seorang dari kedua penasehat

yang berphak kepada Pujang Warit, “hamba kira, Senapati muda ini

sudah tidak dapat dipercaya lagi kebeningan ingatannya, ia sudah

terluka parah.”

“Tidak. Aku masih sadar sepenuhnya. Aku masih mengenal setiap

orang yang ada di sini meskipun sudah menjadi agak kekuningkuningan.”

“Jadi, apakah yang sebenarnya yang ingin kau katakan, dan

kenapa kau terluka he?”

“Tuanku,” Senapati itu menjadi semakin lemah, karena darah

masih mengalir dari luka di pundaknya, “ampun Tuanku.

Perkenankanlah hamba mengatakan yang sesungguhnya, bahwa

pasukan di sebelah Utara Ganter kini sudah memasang gelar.”

Wajah Sri Baginda menjadi tegang. Katanya, “Aku tidak mengerti

arti kata-katamu yang simpang siur itu. Maksudmu, pemberontakan

itu sudah dimulai.”

“Tidak Tuanku. Sama sekali tidak. Mereka telah mempersiapkan

diri mereka untuk menahan arus pasukan Singasari.”

Gubar Baleman dan Mahisa Walungan yang mendengar laporan

itu-pun menjadi tegang pula sehingga mereka berkisar setapak

maju. Tetapi prajurit-prajurit yang mengapitnya-pun bergeser pula

setapak.

Mahisa Walungan yang tidak dapat menahan desakan di

dadanya, tanpa sesadarnya bertanya, “Bagaimana dengan prajurit

Singasari?”

Senapati itu berpaling. Ditatapnya wajah yang suram itu.

Kemudian dengan suaranya yang semakin lemah ia berkata,

“Penghubung dari perbatasan telah datang.”

Wajah Mahisa Walungan menjadi semakin tegang, “Maksudmu?”

“Ya. Pasukan Singasari telah menyeberangi perbatasan.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terasa

seakan-akan dadanya terhunjam beberapa pucuk duri. Ketika ia

memandang wajah Gubar Baleman, maka wajah itu justru menjadi

pucat.

Sri Baginda masih berdiam diri sejenak. Namun kemudian ia

berkata, “Aku sudah menyerahkannya kepada Pujang Warit.”

“Ampun Baginda,” Senapati itu masih mencoba berkata. Tetapi

tubuhnya menjadi semakin lemah, sehingga kini ia mencoba

menahan berat badannya dengan kedua tangannya.

“He, lukamu parah?”

Senapati itu tidak menyahut. Namun ketika Gubar Bareman

bergeser untuk menolongnya, Sri Baginda membentak, “Kau tetap di

tempatmu.”

Gubar Baleman kembali duduk di tempatnya meskipun ia menjadi

semakin gelisah.

Dalam pada itu. Senapati itu-pun menjadi semakin kehilangan

tenaganya. Kini ia telah menahan tubuhnya dengan tangannya yang

gemetar, sementara darahnya masih saja mengalir lewat lukanya.

“Apakah orang itu akan dibiarkannya,” berkata Gubar Baleman di

dalam hatinya, sementara Mahisa Walungan yang melihat

penderitaan itu berkata tanpa menghiraukan perasaan Sri Baginda

yang tidak dapat dirabanya, “Kakanda Baginda. Orang itu

memerlukan pertolongan segera.”

“Jangan mengajari aku,” bentak Sri Baginda. Aku sudah melihat

dan aku sudah mengerti apa yang sebaiknya dilakukan untuknya.”

Mahisa Walungan mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun terdiam

karenanya. “He, Senapati. Apakah kau masih dapat beibicara?”

“Ampun Tuanku. Hamba akan mencoba.”

“Katakan, apa yang sudah terjadi. Cepat sebelum kau tidak

mampu lagi berbicara.”

Mahisa Walungan dan Gubar Baleman menarik nafas dalamdalam.

Hampir bersamaan pula mereka berdesah. Ternyata Sri

Baginda sedang dicengkam oleh kebingungan, sehingga kadangkadang

tindakannya kurang dapat dimengerti. Bukan saja Mahisa

Walungan dan Gubar Beleman, tetapi semua orang yang melihat

keadaan Senapati muda itu menjadi berdebar-debar.

Tetapi Senapati yang keras hati itu masih sempat menceriterakan

apa yang dilihatnya. Ia masih sempat mengatakan, bahwa selama

ini ia telah salah memilih pihak.

“Tuanku,” berkata Senapati itu dengan suara yang terputusputus,

“Ternyata Pujang Warit tidak jujur. Ia membiarkan pasukan

di sebelah Utara Ganter itu hancur, agar ia dapat berdiri di atas

tumpukan mayat dari ke dua belah pihak untuk kepentingannya.”

“He,” sorot mata Sri Baginda tiba-tiba telah menyala, “kau

berkata sebenarnya?”

“Di saat hidup hamba yang terakhir ini, hamba tidak akan

berdusta.” suaranya menjadi semakin lirih, sejalan dengan tubuhnya

yang semakin lemah, sehingga akhirnya ia tidak kuat lagi bertelekan

kedua tangannya. Dengan lemahnya Senapati yang masih duduk itu

mencoba menahan tubunnya dengan sikunya.

Barulah Sri Baginda menyadari apa yang dihadapinya. Tiba-tiba

saja ia berteriak, “He, apakah kalian sudah gila? Kenapa kalian

membiarkan saja Senapati yang terluka ini? Cepat. Bawalah

Senapati ini untuk segera mendapat pengobatan.”

Beberapa orang menjadi termangu-mangu. Namun Sri Baginda

membentak, “Cepat. Apakah kalian menunggu orang ini mati.”

Maka beberapa orang bersamaan telah bergeser maju. Di

antaranya adalah kedua penasehat Sri Baginda yang berpihak

kepada Pujang Warit. Namun leher mereka segera berkerut ketika

Sri Baginda membentaknya, “Kau berdua tetap di sini.”

Darah keduanya seakan-akan telah membeku di dalam jantung,

sehingga nafas mereka-pun seolah-olah tidak lagi mau mengalir

lewat lubang hidung mereka.

Dalam pada itu maka beberapa orang segera memapah Senapati

muda itu, tepat ketika ia tidak lagi dapat mempertahankan

duduknya.

Namun sebelum ia meninggalkan paseban ia masih sempat

berkata, “Ampun Tuanku. Kediri harus diselamatkan. Ternyata

bahwa Adinda Sri Baginda dan Menteri Gubar Baleman tidak

bersalah menurut penilaian hamba. Hanya mereka berdua sajalah,

bersama-sama para Senapati dan prajurit, akan dapat

mempertahankan Kediri dari banjir bandang yang tidak pernah kita

bayangkan sebelumnya.”

Sri Baginda berdiri tegak seperti patung. Dipandanginya Senapati

yang semakin lemah itu kemudian diusung keluar paseban.

Ketika mereka telah hilang di balik pintu, maka Sri Baginda itupun

menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia melangkah

mondar-mandir. Kepalanya menunduk dalam-dalam.

Tiba-tiba Sri Baginda berkata dengan suara yang lemah, “Kita

sudah dilepaskan oleh Yang Maha Agung karena keangkuhan kita.”

Tidak seorang-pun yang menjawab. Namun Mahisa Walungan

dan Gubar Baleman dapat menangkap apa yang tersirat di dalam

hati Sri Baginda. Sri Baginda yang memiliki pandangan yang tajam,

telah dapat melihat dengan mata hatinya, apa yang kira-kira bakal

terjadi di Kediri.

“Selama ini hatiku telah digelapkan oleh kebanggaan dan harga

diri yang berlebihan,” desisnya. Namun tiba-tiba Sri Baginda

berhenti. Dipandanginya Mahisa Walungan dan Gubar Baleman

dengan tatapan mata yang suram.

“Apakah benar yang dikatakan oleh Senapati muda itu bahwa kau

berdua benar-benar tidak akan memberontak?”

“Sudah hamba katakan Sri Baginda,” sahut Gubar Baleman, “apa

yang hamba berdua lakukan semata-mata atas dasar kesetiaan

hamba kepada Kediri dan Sri Baginda.”

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku minta

maaf kepada kau berdua. Biarlah aku menanggung kutuk atas

sikapku ini. Aku telah menelan kembali ludahku. Sabda Pandita

Ratu. Namun aku akan tetap mencabutnya. Kalian aku bebaskan

dari segala hukuman.”

“Ampun kakanda,” suara Mahisa Walungan tersendat-sendat,

“tetapi yang lebih penting daripada itu, apakah hamba

diperkenankan kembali kepada pasukan hamba.”

“Aku tidak dapat memerintahkan kau kembali ke pasukanmu,

karena aku telah membuat kesalahan ini. Tetapi kalau kau

memaafkan aku, dan kau memang ingin membaktikan dirimu.

terutama Kepada Kediri, bukan kapadaku, aku akan sangat

berterima kasih kepadamu.”

“Kakanda Baginda,” Mahisa Walungan tiba-tiba menengadahkan

wajahnya, “Hamba mohon diri. Hamba akan pergi ke pasukan

hamba. Mudah-mudahan hamba tidak terlambat.”

Sri Baginda menganggukkan kepalanya. Dan yang terdengar

adalah uara Gubar Baleman, “Hamba-pun mohon diri pula, Tuanku.

Seandainya hamba masih berkesempatan, hamba alan menyerahkan

segala-galanya buat Kediri.”

Sri Baginda menjadi lemah, “Pergilah. Pergilah. Aku berdoa buat

kau berdua dan buat Kediri.”

Mahesa Walungan dan Gubar Baleman tidak menunggu lebih

lama lagi. Sekali lagi mereka mohon diri, kemudian dengan tergesagesa

meninggalkan paseban. Di depan pintu ia masih sempat

memperhatikan wajah-wajah para Senapati yang memandanginya.

Wajah-wajah itu terasa banyak berbicara kepada mereka.

Penjaga pintu paseban mengerutkan keningnya melihat Mahisa

Walungan dan Gubar Baleman. Mereka tidak mendengar jelas

pembicaraan di dalam paseban, sehingga mereka menjadi ragu-ragu

dan bertanya-tanya di dalam hati, kenapa keduanya dibiarkan

keluar.

Namun sejenak kemudian seorang Senapati muncul pula di

belakang keduanya. Katanya kepada Mahisa Walungan, “Aku

mendapat perintah Sri Baginda untuk mengikuti kalian berdua, agar

kalian tidak mendapat kesulitan dari para penjaga di halaman ini.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Walungan singkat.

Dengan tergesa-gesa mereka segera pergi ke halaman belakang.

Mereka segera mencari kuda untuk mempercepat perjalanan

mereka bersama para prajurit yang telah mereda bawa dari sebelah

Utara Ganter.

Karena mereka tidak mendapat sejumlah kuda sebanyak yang

mereka perlukan maka ada di antara mereka, terpaksa

mempergunakan seekor kuda untuk dua orang prajurit.

Demikianlah akhirnya Mahisa Walungan dan Gubar Baleman

memacu kudanya secepat dapat dilakukan untuk mencapai pasukan

yang mereka tinggalkan di sebelah Utara Ganter.

Mereka sama sekali tidak memperhatikan apa yang akan

diakukan oleh Pujang Warit. Yang ada di dalam angan-angan

mereka, adalah banjir bandang yang datang dari Singasari melanda

pasukan mereka yang seakan-akan sedang kehilangan pegangan.

Demikianlah yang sedang terjadi di sebelah Utara Ganter.

Pasukan Singasari benar-benar bagaikan banjir yang tidak

tertahankan. Pasukan Kediri yang ada di perbatasan dengan susah

payah berhasil mundur sampai ke pertahanan pasukan Kediri. Tetapi

karena mereka seakan-akan kehilangan pegangan ketidak-tentuan

di dalam tingkat teratas dari pimpinan keprajuritan dan bahkan

pemerintahan, maka prajurit Kediri seakan-akan telah kehilangan

sebagian dari kekuatannya.

Meskipun demikian pasukan Kediri telah bertempur mati-matian

untuk mempertahankan diri, mempertahankan negeri dan rajanya.

Dengan sekuat-kuat tenaga mereka bertahan agar pasukan

Singasari tidak dapat maju lagi selangkah-pun dari sebelah Utara

Ganter.

Namun Kediri tidak bertempur dengan seluruh kekuatan.

Beberapa ratus tonggak dari pertempuran itu . Pujang Warit dengan

pasukannya sedang menunggu. Mereka mengharap bahwa kedua

pasukan yang bertempur itu akan menjadi luka parah, sehingga

pasukannyalah yang akan dapat menguasai medan yang penuh

dengan mayat bergelimpangan dan bergelimang darah.

Matahari yang terik memanjat langit semakin tinggi. Peperangan

di sebelah Utara Ganter itu-pun berlangsung dengan dahsyatnya.

Pasukan Kediri yang ada telah bertempur dengan gagah berani

melawan pasukan Singasari yang menusuk langsung ke pusat gelar

mereka.

Namun pasukan Kediri itu hampir tidak percaya ketika mereka

melihat ujung pasukan lawan. Mereka semula tidak menduga sama

sekali, kalau pasukan itu terdiri dari orang-orang Kediri sendiri.

Namun di dalam pertempuran yang kemudian terjadi, lambat laun

satu dua dari mereka segera mengenal lawannya. Dan pengenalan

mereka itu-pun lambat laun telah menjalar keseluruh pasukan.

Bersambung ke jilid 55.

Jilid 55

TERNYATA usaha Sri Rajasa untuk mempengaruhi perasaan

yang paling dalam dari prajurit-prajurit Kediri itu sedikit banyak

dapat berhasil. Kekecewaan yang melanda dada mereka karena

pertengkaran di antara para pemimpin, kini kekecewaan mereka

melihat orang-orang Kediri sendiri datang di dalam pasukan lawan,

membuat hati mereka terguncang-guncang.

Dalam keadaan yang demikian itulah pasukan Kediri harus

melawan serangan yang sangat dahsyat itu.

Apalagi pasukan lawan yang terdiri dari orang-orang Kediri itu

sendiri dipimpin oleh seorang Senapati yang luar biasa. Seorang

Senapati yang tangguh tanggon. Dan Senapati itu adalah Mahisa

Agni.

Dengan pedang di tangan Mahisa Agni maju di ujung

pasukannya. Seperti kilat yang menyambar di langit, kilauan daun

pedangnya menyilaukan mata. Namun kemudian ujung pedang itu

bagaikan mulut berribu-ibu ekor ular yang mematuk ke segala

penjuru.

Senapati yang bertempur di pasukan induk di belakang paruh

pasukan Singasari itu-pun ternyata tidak terkatakan lagi. Tidak

seorang-pun yang dapat mendekatinya, apalagi mengenainya

dengan ujung senjata. Senapati itu adalah pimpinan tertinggi

pasukan Singasari. Dan Senapati itu adalah Sri Rajasa Batara Sang

Amurwabumi sendiri.

Dengan demikian maka di dalam benturan itu, pasukan Kediri

tidak dapat tetap mempertahankan garis pertahanannya. Setapak

demi setapak mereka terdesak mundur.

Tetapi seluruh prajurit yang terlibat di dalam peperangan itu

terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar sorak yang seakan-akan

membelah langit justru di bagian belakang pasukan Kediri yang

sedang terdesak itu. Hampir setiap orang mencoba untuk mengerti,

apakah sebabnya maka mereka bersorak-sorak seperti sepasukan

prajurit yang menang perang. Padahal pasukan Kediri justru

terdesak beberapa puluh langkah mundur.

Akhirnya seluruh pasukan Kediri mengetahui, apakah sebabnya

maka kawan-kawan mereka bersorak riuh. Dan bahkan dengan

serta-merta mereka-pun ikut meneriakkan nama-nama yang telah

membuat hati mereka berdebar-debar.

“Mahisa Walungan dan Gubar Baleman telah datang,” dan suara

teriakan itu disambut oleh yang lain, “Mahisa Walungan datang,

Gubar Baleman telah ada di tengah-tengah kita.”

Pasukan Kediri seakan-akan mendapat nafas baru di dalam

kesulitan itu. Mahisa Walungan langsung maju ke ujung pasukannya

yang justru masih ada di belakang paruh pasukan Singasari, sedang

Gubar Baleman berada di tengah-tengah pasukannya untuk

menghentikan ujung pasukan lawan yang mencoba masuk semakin

dalam kegelar pasukannya.

Dengan demikian, maka pertempuran itu menjadi semakin lama

semakin dahsyat. Kini pasukan Kediri telah bangkit. Mereka merasa

mendapatkan kekuatan untuk mengimbangi banjir bandang yang

melanda dari perbatasan.

Gubar Baleman yang bertempur dengan garangnya, segera

berhasil maju ketengah-tengah barisan. Hatinya menjadi berdebardebar

ketika dilihatnya korban telah terlampau banyak berjatuhan.

Ketika tampak olehnya prajurit lawan yang dengan garang

mendesak terus, hatinya tiba-tiba berdesir tajam. Sejenak ia

mencoba mengamati mereka, seolah-olah ia tidak segera

mempercayai penglihatannya sendiri.

“Kau lihat prajurit Singasari itu,” desisnya kepada seorang

prajurit di sampingnya.

Prajurit itu mengerutkan keningnya, “Bukankah mereka orangorang

Kediri?”

“Ya,” jawab prajurit itu. “aku melihat beberapa orang di antara

mereka yang justru sudah aku kenal.”

“Kenapa mereka berada di pihak Singasari?”

Prajurit itu menggelengkan kepalanya.

Sejenak Gubar Baleman merenung. Kini disadarinya semua

kesalahan yang pernah dilakukan oleh para pemimpin Kediri.

Ketidak tentuan yang berlarut-larut, sikap Sri Baginda yang

terlampau keras, apalagi terhadap golongan agama yang tidak mau

menganggapnya sebagai Dewa tertinggi yang menjelma di bumi.

Sekelompok demi sekelompok mereka telah meninggalkan Kediri

dan memasuki daerah Singasari. Adalah menyakitkan hati sekali,

ketika tanpa diketahuinya, para pemimpin prajurit di perbatasan

memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan diri sendiri. Dalam

kekeruhan itu, muncullah Pujang Warit yang menambah suasana

bertambah kalut.

“Dan inilah akibat dari semuanya itu,” katanya di dalam hati.

Gubar Baleman tersadar ketika ia mendengar dentang senjata

dekat di sampingnya. Ketika ia mengangkat wajahnya, tampaklah

prajurit Singasari yang sebagian terbesar terdiri dari orang-orang

Kediri itu-pun mendesak maju.

“Apakah aku harus membunuh mereka?” Gubar Baleman menjadi

ragu-ragu.

“Tetapi sudah tentu bahwa pasukan ini hanya sebagian kecil saja

dari seluruh pasukan Singasari,” katanya kemudian. “mungkin aku

harus menemukan lawanku di sana.” Gubar Baleman menjadi

bimbang. Namun tumbuhlah niatnya untuk berkisar dari tempat itu.

Mungkin ia akan mendapatkan lawan yang seimbang di tengahtengah

pasukan lawan yang terdiri dari orang-orang Singasari.

Tetapi tiba-tiba ia tertegun sejenak. Dilihatnya kini Senapati yang

menjadi ujung pasukan lawan itu, bertempur bagaikan seekor

banteng yang terluka.

“Bukan main,” desis Gubar Baleman, “orang itu pasti bukan

sekedar seorang Senapati prajurit yang diketemukan di antara para

pengungsi dari Kediri.”

“Aku ternyata tidak dapat meninggalkan lingkungan ini,” desis

Gubar Baleman di dalam hatinya, “betapapun beratnya bertempur di

antara keluarga sendiri.” Dan sekilas terbayang pasukan Pujang

Warit yang sedang mengintai. Sehingga dengan demikian kekuatan

Kediri akan terpecah menjadi tiga pihak yang saling bertentangan.

“Menyedihkan sekali,” keluh Gubar Baleman.

Tetapi ia tidak dapat hanya sekedar mengeluh dan menyesali apa

yang sudah terjadi. Kini pasukan Singasari, siapapun mereka itu,

telah berdiri di hadapannya.

Karena itu, maka segera ia-pun meloncat sambil mengacukan

pedangnya menyongsong Senapati Singasari yang mendebarkan

jantungnya.

Gubar Baleman langsung berusaha untuk dapat bertemu dengan

Senapati Singasari itu. Ia tidak dapat menyaksikan prajuritnya

terdesak terus-menerus. Sehingga dengan demikian, maka

terjadilah perang tanding antara kedua Senapati yang memiliki

kemampuan melampaui kemampuan manusia kebanyakan.

Ternyata Gubar Baleman menemukan lawannya yang benarbenar

tangguh. Dan lawan yang tangguh itu adalah Mahisa Agni.

Dengan demikian maka pertempuran di antara keduanya-pun

benar-benar merupakan pertempuran yang terlampau dahsyat.

Dengan senjata di tangan masing-masing mereka sambarmenyambar,

desak-mendesak silih berganti. Keduanya memiliki

kemampuan bergerak terlampau cepat dibandingkan para prajurit

yang bertempur di sekitarnya.

Tanpa sesadarnya seorang prajurit Singasari yang berasal dari

Kediri tiba-tiba berdesis, “Gubar Baleman.”

Mahisa Agni mendengar desis itu. Dan ia-pun mendengar Gubar

Baleman mejawab, “Ya, akulah Gubar Baleman. Pemimpin tertinggi

pasukan Kediri. Kau mengenal aku.”

Prajurit itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi terasa dadanya

berdesir. Gubar Baleman adalah seorang Menteri yang bijaksana. Ia

adalah orang yang paling banyak berbuat untuk rakyat Kediri di

dalam keadaan yang kalut. Tetapi prajurit Singasari itu tidak sempat

merenung terlampau lama. Perang berkecamuk semakin kisruh.

Ternyata kini bukan saja orang Kediri yang berperang di pihak

Singasari, tetapi orang-orang Tumapel-pun telah mengalir ke ujung

barisan itu pula dalam jumlah yang hampir tidak terhitung lagi.

Gubar Baleman yang bertempur mati-matian itu masih

mendengar lawannya berdesis, “Jadi kaukah yang bernama Gubar

Baleman?”

Sambil bertempur Gubar Baleman menjawab, “Ya, dan apakah

kau Panglima tertinggi Singasari?”

Mahisa Agni meloncat surut ketika ujung pedang Gubar Baleman

hampir menyentuh pundaknya. “Tidak,” jawabnya, “Senapati

tertinggi di dalam pasukan kami adalah Sri Rajasa sendiri.”

Gubar Baleman mengerutkan keningnya.

“Aku adalah Mahisa Agni.”

Gubar Baleman tidak menyahut. Ia belum pernah mendengar

nama itu di dalam deretan nama para pemimpin Tumapel sampai

saat negeri itu menamakan dirinya Singasari.

Tetapi menilik kemampuannya, maka ia pasti tidak akan kalah

dari pemimpin Singasari yang mana-pun juga.

Dengan demikian maka Gubar Baleman harus sangat berhati-hati

menghadapinya. Menurut pendengarannya. Akuwu Tunggul

Ametung pada masa hidupnya adalah seseorang yang pilih tanding,

yang selalu didampingi oleh Panglima pasukan pengawalnya yang

bernama Witantra. Tetapi kini yang datang ke Kediri adalah orang

yang tidak dikenal sebelumnya, Mahisa Agni dan Sri Rajasa sendiri.

“Baik orang ini maupun Sri Rajasa pasti orang-orang pilihan.

Ternyata Sri Rajasa telah berhasil menyingkirkan segala orang yang

mungkin dapat menggantikan kedudukan Akuwu yang terbunuh

itu,” berkata Gubar Baleman di dalam hatinya. “Sedang apakah

orang ini termasuk tangan kanannya pada saat ia mulai membangun

Singasari?”

Angan-angannya itu telah mengingatkannya kepada Mahisa

Walungan. Kalau Mahisa Walungan berhasil memecah pasukan

Singasari. maka ia mungkin sekali akan bertemu dengan Sri Rajasa

Batara Sang Amurwabumi.

Demikianlah perang yang terjadi di sebelah Utara Ganter itu-pun

menjadi semakin lama semakin seru. Masing-masing pasukan telah

berusaha untuk dapat menembus pertahanan lawan.

Di tengah-tengah berkecamuknya perang itu. Senapati tertinggi

Singasari. Sri Rajasa telah berhasil membakar gairah perjuangan

pasukannya. Dengan dahsyatnya ia menerjang lawan-lawannya

tanpa ampun.

Namun ia tertegun sejenak, ketika senjatanya tiba-tiba saja

tersentuh oleh sehelai pedang yang telah menggetarkan tangannya.

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Di hadapannya telah berdiri

seorang yang bertubuh kekar, meskipun tidak terlampau tinggi.

Tatapan matanya yang tajam telah memancarkan kebesaran jiwa

dan kemampuan yang tersimpan di dalam diri orang itu.

“Siapa kau?” tiba-tiba Sri Rajasa berdesis.

“Apakah aku berhadapan dengan Sri Rajasa Batara Sang

Amurwabumi?”

“Ya. Akulah Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa.”

“Aku mengenal dari tanda-tanda kebesaran pada pakaianmu.”

“Siapa kau? Agaknya kau-pun pemimpin tertinggi kerajaan

Kediri.”

“Aku Mahisa Walungan.”

“Adinda Sri Baginda Kertajaya?”

“Ya.” Ken Arok mengerutkan keningnya. Sejenak ia melangkah

surut, seakan-akan ingin melihat lawannya lebih jelas lagi dari jarak

yang tidak terlampau dekat.

“Kita akan menentukan akhir dari peperangan ini,” berkata

Mahisa Walungan.

“Kau salah. Bukan hanya kita berdua. Tetapi seluruh kekuatan di

dalam pasukan kita masing-masing. Kau harus mengakui, bahwa

kekuatan pasukan Singasari jauh lebih besar dari pasukan Kediri.

Agaknya para pemimpin di Kediri merasa dirinya terlampau kuat,

sehingga kurang berhati-hati menghadapi Singasari. Karena

Singasari sekarang sama sekali berbeda dengan Tumapel pada

waktu itu.”

“Ya, kau benar,” jawab Mahisa Walungan, “kita dan pasukan

kitalah yang akan menentukan akhir dari peperangan ini.”

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi segera ia mulai lagi dengan

pertempuran yang dahsyat di antara keduanya.

Tetapi Mahisa Walungan telah siap untuk melayaninya. Sebagai

seorang yang bertanggung jawab atas tegaknya Kediri, maka ia-pun

segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan Sri

Rajasa.

Ternyata bahwa Mahisa Walungan benar-benar seorang yang

pilih tanding. Ia mampu melubangi papan yang sangat tebal hanya

dengan jarinya. Kemudian tanpa sesadarnya ketukan ujung jarinya

itu pula telah membuat lekuk pada sebuah batu hitam yang keras.

Dengan demikian, maka ayunan tangannya itu benar-benar

merupakan sambaran angin, maut yang mengerikan.

Namun Sri Rajasa memang memiliki sesuatu yang tidak dipunyai

oleh orang-orang kebanyakan. Geraknya terlampau cepat, dan

kekuatannya-pun mampu mengimbangi lawannya. Sejak ia

mengabdikan diri di istana Tumapel, ia adalah seorang yang aneh.

Dengan jarinya pula ia mampu memijit sebuah kerikil sehingga

pecah, pada saat ia terganggu oleh sikap seorang Pelayan dalam

ketika mereka sedang menyaksikan perang tanding antara Kuda

Sempana dan Witantra. Apalagi pada saat-saat setelah itu.

Kelebihannya berkembang terus tanpa disadarinya sendiri.

Dengan demikian perkelahian di antara kedua orang itu menjadi

semakin lama semakin mengagumkan. Keduanya seolah-olah

berterbangan tanpa menyentuh tanah. Berputaran sambil memutar

senjata masing-masing sehingga tidak dapat diikuti lagi dengan

mata yang wantah.

Dengan demikian, selagi keduanya menumpahkan segenap

kemampuan mereka, para prajurit yang bertempur di sekitar

mereka-pun seolah-olah telah terdorong menjauh. Mereka menjadi

ngeri tersentuh sambaran angin yang dilontarkan oleh ayunan

senjata-senjata di tangan kedua orang yang sedang berkelahi matimatian

itu.

Orang-orang Kediri menjadi heran, bahwa di Singasari ada

seorang yang mampu bertempur melawan Mahisa Walungan.

Namun orang-orang Singasari-pun menjadi tercengang. Adinda Sri

Baginda Kertajaya ternyata adalah seorang yang luar biasa.

“Apa sajakah yang mampu dilakukan oleh Sri Kertajaya sendiri,”

mereka bertanya-tanya di dalam hati.

Dengan demikian, keduanya seakan-akan memang mendapat

kesempatan yang luas untuk saling mempertunjukkan kemampuan

mereka, meskipun mereka sendiri tidak bermaksud demikian.

Mereka masing-masing sudah berusaha dengan sekuat tenaga dan

kemampuan, sambil memeras segenap ilmu yang ada pada mereka.

Dalam pada itu dari ujung sampai ke ujung pasukan,

pertempuran masih berkecamuk, justru semakin sengit. Kedua belah

pihak saling menyerang dengan segenap kemampuan dan

keberanian yang mengagumkan. Namun dengan demikian maka

jumlah prajurit dari keduanya terasa berpengaruh dalam

peperangan itu.

Meskipun ke dua belah pihak sama-sama berani dan sama-sama

tangguh, tetapi pasukan Singasari masih sempat mencari waktu

untuk bernafas sejenak, karena jumlah mereka yang lebih banyak.

Namun demikian, para prajurit Kediri sama sekali tidak berniat

menghindarkan diri. Kediri harus dipertahankan mati-matian,

Singasari semula adalah daerah kecil yang diperintah hanya oleh

seorang Akuwu, sehingga tidak sepantasnya Singasari akan

menguasai Kediri.

Tetapi prajurit Singasari-pun mempunyai suatu keyakinan yang

teguh, bahwa Kediri harus dirubah bentuknya. Selama ini Kediri

telah melakukan banyak sekali kesalahan terhadap rakyatnya dan

daerah-daerah yang dikuasainya. Kekuasaan Sri Baginda Kertajaya

yang berlebih-lebihan, dan bahkan yang merasa dirinya bukan lagi

manusia sewajarnya.

Puncak dari kelalaian Sri Baginda Kertajaya, adalah pada saat ia

merasa dirinya seorang Dewa tertinggi yang menguasai seluruh

permukaan bumi.

Dengan demikian, maka peperangan itu menjadi bertambah seru.

Ketika matahari sudah melampaui puncak langit, serta tangkaitangkai

senjata sudah basah oleh keringat, maka ke dua belah pihak

seakan-akan telah dimabukkan oleh nafas peperangan dan maut.

Dalam pada itu, jumlah korban seakan-akan sudah tidak

terhitung lagi. Mayat bergelimpangan membujur-lintang di dalam

genangan darah dan debu. Rintih dan erang tenggelam dalam

dentang senjata beradu.

Namun bagaimana-pun juga, di hari yang pertama pasukan

Singasari tidak berhasil memecahkan pertahanan Kediri. Mahisa

Walungan dan Gubar Baleman masih bertahan sekuat-kuat

kemampuan mereka. Dengan demikian maka pasukannya-pun sama

sekali tidak menjadi gentar menghadapi angin prahara yang datang

dari Singasari.

Meskipun demikian garis peperangan itu telah bergeser beberapa

tonggak, mendekati kota. Sekuat-kuat pertahanan pasukan Kediri,

namun mereka terpaksa surut beberapa langkah. Tetapi tekad yang

bulat di dalam dada mereka sama sekali tidak tergoyahkan.

Ketika matahari kemudian terbenam, terdengarlah suara tandatanda

dari ke dua belah pihak, seakan-akan telah berjanji untuk

menghentikan peperangan. Betapa darah menggelegak sampai ke

ujung rambut, tetapi para prajurit jantan di kedua pihak saling

menghormati tengara itu, bahwa perang harus dihentikan di saat

matahari tenggelam di ujung langit sebelah Barat.

Pasukan ke dua belah pihak yang lelah itu-pun tersuruk-suruk

mengundurkan diri. Karena pasukan Singasari tidak sempat

membuat pesanggrahan, mereka bertebaran di padukuhanpadukuhan

di sekitar tempat peperangan itu. Padukuhan yang telah

kosong ditinggalkan mengungsi oleh para penghuninya.

“Kita harus menyelesaikannya tidak lebih dari sepekan,” geram

Sri Rajasa, “Kita pada hari kelima harus sudah berada di kota.”

Mahisa Agni dan para panglima tidak menyahut.

“Kalau di hari kelima kita belum memasuki kota,” Sri Rajasa

melanjutkan, “berarti kita dalam keadaan yang gawat. Perbekalan

kita tidak akan membantu lagi, sedang para prajurit pasti sudah

menjadi terlampau lelah.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Meskipun ia seorang

Senapati namun terpengaruh oleh hubungan pribadinya, maka

kadang-kadang ia lupa bahwa ia berhadapan dengan Sri Rajasa

Batara Sang Amurwabumi, bukan lagi dengan Ken Arok, hantu

padang Karautan. Karena itu, hampir tidak sesadarnya ia berkata,

“Tidak seluruhnya kita akan gagal. Kita setidak-tidaknya sudah

menguasai suatu daerah yang tidak akan kita lepaskan lagi,

meskipun seandainya kita tidak segera dapat menembus dan

merebut Kota Raja. Tetapi pasukan kita akan tetap berada di

ambang pintu. Dan kita akan mempertahankan setiap jengkal tanah

yang sudah kita satukan dengan Singasari setelah kita

membebaskannya dari tangan Sri Baginda Kertajaya yang merasa

dirinya Penguasa Bumi.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia mengerti maksud Mahisa

Agni. Tetapi ia tidak ingin mengendorkan peperangan itu. Maka

katanya, “Tidak. Aku tetap pada pendirianku. Kediri harus kita

kuasai tidak lebih dari sepekan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terbayang di wajahnya

suatu kecemasan yang dalam. Dan di dalam hatinya ia memang

berkata, “Ken Arok tidak memperhitungkan, berapa banyak korban

akan berjatuhan.”

Tetapi Mahisa Agni tidak menjawab lagi. Apalagi ketika ia sadar,

bahwa yang mengatakan rencana itu adalah Sri Baginda Singasari

dan sekaligus pimpinan tertinggi segenap pasukan yang maju ke

medan perang ini.

Meskipun demikian, Mahisa Agni masih mencoba membayangkan

cara lain yang lebih baik. Bukan membenturkan seluruh kekuatan

seperti yang terjadi saat ini.

“Kami dapat menempuh beberapa jalan,” katanya di dalam hati,

“dengan pasukan yang lebih kecil, kami dapat memasuki kota lewat

beberapa jurusan. Dengan melepaskan pasukan cadangan lewat

jurusan lain, kami akan dapat memecah perhatian para prajurit

Kediri.”

Tetapi Mahisa Agni tidak mengatakannya. Dan Mahisa Agni itupun

tidak mengerti bahwa sebenarnya Kediri juga menyimpan

pasukan cadangan yang cukup kuat. Pasukan Pujang Warit.

Di bagian lain. Mahisa Walungan duduk terpekur sambil

membelai hulu pedangnya. Di sampingnya Gubar Baleman duduk

bersandar sebatang pohon manggis.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Mereka sedang sibuk dengan

angan-angan masing-masing. Meskipun sekali-sekali mereka

berpaling melihat beberapa orang prajurit yang sedang mengusung

kawan-kawan mereka yang terluka.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Sepercik

kecemasan melonjak di dalam hatinya. Mau tidak mau ia melihat

kenyataan, bahwa jumlah prajuritnya tidak sebanyak prajurit

Singasari. Apalagi pasukannya tidak mempunyai kelebihan yang

dapat dibanggakan dari pasukan lawan. Hampir setiap prajurit, baik

dari Kediri maupun dari Singasari memiliki kemampuan dan tekad

yang sama. Itulah sebabnya maka Mahisa Walungan memandang

akhir dari peperangan ini dengan wajah yang suram.

“Kalau saja Pujang Warit dapat mengerti,” katanya di dalam hati.

Meskipun demikian Mahisa Walungan tidak menjadi berkecil hati.

Ia merasa, bahwa pasukannya masih cukup kuat untuk bertahan,

selagi beberapa orang Senapati masih berusaha untuk menyusun

kekuatan yang akan dapat digabungkannya di dalam peperangan

itu.

“Singasari memusatkan seluruh kekuatannya di sini,” tanpa

sesadarnya Mahisa Walungan bergumam.

Gubar Baleman berpaling. Sejenak ia merenung. Kemudian

terdengar ia menyahut, “Ya. Agaknya Singasari ingin memecah

gerbang Kota Raja dari satu arah.”

“Kami masih mendapat kesempatan untuk menarik pasukanpasukan

pengawal dari dalam kota dan pasukan-pasukan keamanan

dari segala penjuru.”

“Ya,” desis Gubar Baleman. “tetapi Pujang Warit benar-benar

seorang yang mementingkan dirinya sendiri melampaui kepentingan

Kediri.”

“Aku berprihatin karenanya. Tetapi bukan saatnya sekarang kita

berselisih.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Besok kita mendapat beberapa tenaga yang masih segar.

Sepasukan keamanan telah datang. Masih ada beberapa kelompok

yang akan menyusul.”

Sri Rajasa ternyata seorang Panglima yang ulung. Ia-pun

menyimpan tenaga cadangan untuk memberikan pukulan terakhir

kepada lawannya.”

Mahisa Walungan tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk

dalam-dalam.

Kembali keduanya terdiam. Masing-masing telah dicengkam oleh

angan-angan yang meskipun tanpa berjanji, namun gambarangambaran

yang melintas, mempunyai banyak kesamaan.

Keduanya menyesal, bahwa Kediri telah diterkam oleh arus

perpecahan di saat-saat yang menentukan ini. Keduanya menyesal

bahwa Pujang Warit seakan-akan telah menjadi gila. Dan keduanya

menyesal pula, bahwa Singasari berhasil menyusun sekelompok

pasukan yang justru terdiri dari orang-orang Kediri dipimpin oleh

seorang Senapati yang luar biasa, yang setelah bertempur sehari

penuh, namun Gubar Baleman tidak berhasil menundukkannya.

“Agaknya kami belum bersungguh-sungguh,” desis Gubar

Baleman di dalam hatinya, “kami masih terganggu oleh

pertempuran di sekitar kami. Kami masih terganggu oleh tugastugas

kami sebagai seorang Senapati. Pada saatnya, aku ingin

menimbang, betapa beratnya Senapati Singasari yang bernama

Mahis Agni itu.”

Meskipun demikian dengan jujur Gubar Baleman mengakui,

bahwa kemampuan lawannya itu telah membuatnya berdebardebar.

Sebenarnya tidak sia-sialah Mahisa Agni mempelajari dengan

tekun ilmu dari perguruan mPu Purwa, yang diramu dengan ilmu

mPu Sada dalam masa-masa pembajaan diri di sarang Kebo Sindet,

sehingga ia memiliki kemampuan untuk berhadapan langsung

dengan Senapati Kediri yang ngedab-edabi ini.

Para Senapati dari kedua pasukan yang sedang beristirahat itu,

hampir semalam suntuk tidak dapat memejamkan mata mereka.

Setiap saat mereka harus melihat kesiap siagaan pasukan masingmasing.

Namun baik para Senapati Kediri maupun Senapati

Singasari menganjurkan kepada para prajurit, agar mereka

beristirahat sebaik-baiknya, selain yang mendapat giliran bertugas.

Sedang para Senapati itu-pun telah membagi diri untuk dapat

meskipun hanya sekejap, beristirahat pula. Besok mereka harus

memeras tenaga menyabung nyawa di bawah bahaya dan maut.

Seorang prajurit muda yang tidak dapat tidur meskipun telah

lewat tengah malam menggeliat sambil berdesah. Diusapnya tangkai

tombaknya dengan tangannya yang dingin. Sejenak terbayang

keluarga yang ditinggalkannya di rumah, ayah yang sudah tua, ibu

yang duka dan dua orang adik perempuannya.

“Aku satu-satunya anak laki-laki,” desisnya.

Prajurit muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian

ia menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Aku bertempur

untuk mereka. Untuk hari depan anak-anak mereka meskipun

seandainya aku tidak pulang. Anak-anak adik-adikku itu kelak akan

tetap menjadi anak negeri yang besar, Kediri.”

Di sampingnya seorang yang telah hampir berumur setengah

abad tidur mendekur. Sekali-sekali tangannya menepuk nyamuk

yang menggigit pundaknya yang telanjang. Tetapi ia tidak

terbangun sama sekali.

Prajurit muda itu berpaling ketika seorang Senapati

mendekatinya sambil bertanya, “He, kau tidak tidur?”

Prajurit muda itu menggeleng, “Aku tidak dapat tidur.”

“Tidurlah. Besok kau akan mendapat kekuatan baru untuk

menghadapi pasukan Singasari itu.”

“Aku memang ingin tidur. Tetapi tidak dapat.”

“Apakah kau gelisah?”

Prajurit muda itu menggeleng, “Tidak.”

Senapati itu-pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya

sambil berkata, “Cobalah untuk tidur. Sebentar lagi fajar akan

menyingsing, dan kau akan segera mendengar suara tengara.

Sejenak kemudian kau sudah akan berdiri di dalam gelar perang.”

Tetapi prajurit itu justru tersenyum, “Aku akan mencoba,”

katanya.

Maka ditinggalkannya Prajurit muda itu di dalam keadaannya.

Mahisa Walungan sendiri telah membagi waktunya dengan Gubar

Baleman. Lawan-lawan mereka adalah lawan-lawan yang luar biasa,

sehingga mereka memerlukan tenaga yang segar untuk

menghadapinya.

Berbeda dengan mereka itu, Sri Rajasa sama sekali tidak

berhasrat untuk tidur, meskipun para Panglima pasukannya

menganjurkannya. Hanya Mahisa Agni sajalah yang membiarkannya

berjalan hilir mudik di antara pasukannya, sedang Mahisa Agni

sendiri, meskipun hanya sebentar, dapat tidur dengan nyenyaknya.

“Hantu Karautan itu sanggup berkeliaran sepekan tanpa tidur

sama sekali,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “bahkan

badannya akan menjadi sakit-sakitan kalau ia terlampau banyak

tidur meskipun badannya itu lelah. Tetapi lelah itu-pun hampir tidak

dikenalnya.”

Sebenarnyalah bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu

seakan-akan tidak merasakan apapun setelah bertempur sehari

penuh melawan seorang Senapati yang pilih tanding dari Kediri.

Bahkan bukan saja ia bertempur dalam perang tanding, namun ia

masih harus memperhatikan seluruh pasukannya. Dari ujung sampai

ke ujung gelarnya.

Dan itulah kelebihan Ken Arok dari orang-orang lain. Tubuhnya

yang terlatih mengalami segala macam keadaan sejak kecilnya,

telah membuatnya seorang manusia yang aneh.

Demikianlah ketika malam menjadi semakin dalam, kemudian

menjelang saat fajar, pasukan di ke dua belah pihak sudah mulai

bangun. Mereka yang bertugas untuk menyiapkan makan para

prajurit, telah bekerja dengan cekatan sesaat setelah tengah malam

dilampaui.

Ketika langit di Timur telah membayang warna-warna merah,

maka para prajurit di ke dua belah pihak telah mempersiapkan diri.

Mereka membekali diri mereka dengan selengkap-lengkap dapat

mereka lakukan. Di antaranya. mereka telah makan sekenyangkenyangnya,

agar mereka tidak kehabisan tenaga sebelum senja.

Demikianlah, semakin cerah warna langit, maka semakin sibuklah

para prajurit dan Senapati di ke dua belah pihak itu. Mereka

mengemasi pakaian mereka, senjata dan perlengkapanperlengkapan

yang mereka perlukan.

Rajasa yang sama sekali tidak tidur sekejap-pun itu telah berada

di atas sebuah gundukan batu memandang ke arah nasukan lawan

yang masih disaput oleh kabut pagi.

Perlahan-lahan penongsongnya datang mendekatinya sambil

membawa payung kebesaran Raja Singasari, “Apakah hamba hari ini

juga tidak diperkenankan ikut Sri Baginda?” bertanya orang itu.

Sri Baginda berpaling. Dilihatnya juru penongsong itu berdiri

sambil menundukkan kepalanya. Kedua tangannya menggenggam

tangkai payung kebesaran Sri Rajasa.

Namun Sri Rajasa kemudian menggelengkan kepalanya. Katanya,

“Tinggallah kau di sini. Kau berada bersama-sama dengan para

pengawal panji-panji yang hari ini juga tidak akan ikut ke medan.

Menurut perhitunganku, hari ini kita belum dapat memecahkan

pasukan lawan. Di hari ketiga aku akan memasang gelar lengkap

dengan segala macam tanda kebesaran Singasari.”

Penongsong itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya menjadi

semakin tunduk.

“Nah, bawalah payung itu kembali. Dan panggil Mahisa Agni.”

Penongsong itu menunduk dalam-dalam. Tetapi ia merasa

kecewa, bahwa ia tidak dapat berada di peperangan bersama

Rajanya.

Sejenak kemudian Mahisa Agni-pun telah datang. Ia-pun

kemudian meloncat pula keatas gundukan batu di belakang Sri

Rajasa.

“Apakah Tuanku memanggil hamba?” bertanya Mahisa Agni.

Sri Rajasa berpaling. Sambil menganggukkan kepalanya ia

menjawab, “Ya. Kemarilah.”

Mahisa Agni-pun kemudian datang mendekat.

“Kita akan segera mulai,” gumam Sri Rajasa.

“Ya Baginda.”

“Kau mendengar laporan petugas sandi itu?”

“Hamba Baginda.”

“Bagaimana pikiranmu?”

“Petugas sandi itu tidak dapat mengatakan, bahwa pasukan di

padukuhan itu adalah pasukan cadangan. Tidak ada seorang

penghubung-pun yang tampak datang atau pergi dari tempat itu ke

medan ini atau sebaliknya, selama di dalam pengawasannya.”

“Ya, petugas kami yang terdahulu pernah melaporkan tentang

perpecahan ini.”

“Hamba Baginda. Seorang Kediri yang ada di dalam lingkungan

kami berhasil mendapat keterangan tentang hal itu, meskipun tidak

jelas dan pasti.”

“Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Kami menghubungkan laporan yang samar-samar itu dengan

pengamatan petugas sandi yang semalam mengawasi pasukan itu.

Mungkin memang benar tidak ada hubungan apapun di antara

kedua pasukan ini.”

Tetapi Sri Baginda kemudian berkata, “Kita tidak dapat mendugaduga

saja di dalam hal ini. Kita harus meyakinkan. Menurut

perhitunganku ada atau tidak ada hubungan, pasukan itu dapat

merupakan bahaya yang datang setiap saat. Di kala kita lengah,

pasukan itu akan menghancurkan kita. Mungkin mereka menunggu

kita dan pasukan Kediri yang lain itu bersama-sama menjadi letih.

Pada saatnya mereka datang membawa panji-panji kemenangan.”

“Jadi apakah maksud Sri Baginda?”

“Kita pancing mereka ke dalam peperangan.”

“Di medan ini juga?”

Sri Baginda menggeleng, “Tidak. Kita membuka dua medan,

selagi tenaga kita masih cukup segar. Aku kira puncak pimpinan

Kediri baik Gubar Baleman maupun Mahisa Walungan ada di sini.

Kau tetap berusaha menemukan Gubar Baleman, dan aku akan

menahan harimau dari Kediri yang bernama Mahisa Walungan itu.

Biarlah Panglima pasukan tempur Singasari yang memimpin

sebagian pasukan cadangan dan beberapa kelompok dari pasukan

ini untuk menariknya ke dalam sebuah pertempuran. Kita akan

segera mengetahui kekuatannya. Kalau perlu Senapati itu dapat

memanggil pasukan cadangan yang lain, apabila ternyata pasukan

lawan terlampau besar.”

“Kita membuka dua garis perang?”

“Mau tidak mau, selagi kita masih cukup segar. Aku yakin bahwa

pada akhirnya kita juga harus melawan mereka. Meskipun mereka

tidak mau menempatkan diri mereka di bawah pimpinan Mahisa

Walungan misalnya, tetapi mereka tetap prajurit Kediri.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kita segera memecah pasukan, sebelum tengara itu

terdengar.”

Mahisa Agni tidak sempat menjawab. Karena Sri Rajasa segera

meloncat turun sambil berkata, “Bukankah kau sependapat?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Ia menyadari, bahwa Sri Baginda

itu memang tidak menunggu jawabannya. Ia sudah mengambil

suatu keputusan yang akan segera dilakukannya.

Dengan cepatnya Ken Arok telah berhasil menentukan seorang

Senapati bersama sepasukan prajurit untuk menghadapi pasukan

Kediri yang belum terlibat dalam perang di sebelah Utara Ganter itu.

Setelah mendapat petunjuk-petunjuk seperlunya, maka

dilepaslah pasukan itu melingkari medan, mendekati pasukan yang

dipimpin oleh Pujang Warit.

Demikianlah ketika langit menjadi semakin cerah, pasukan di ke

dua belah pihak telah menyusun diri di dalam gelar masing-masing.

Mereka berbaris dalam suatu tebaran yang melebar. Sepasukan

yang paling terpercaya berada di paruh pasukan, yang kemudian

diikuti oleh induk pasukan bersama Senapati tertinggi.

Kali ini yang berada di paruh pasukan Singasari adalah pasukan

yang dipimpin oleh Mahisa Agni pula. Tetapi pasukan itu kini

diperlengkapi dengan prajurit-prajurit yang paling terpercaya dari

Singasari sendiri, setelah di hari pertama pasukan itu

menggoncangkan perasaan para Senapati Kediri, karena mereka

ternyata terdiri dari orang-orang Kediri pula.

Dengan demikian maka susunan kedua pasukan itu hampir tidak

banyak berubah. Beberapa orang prajurit yang masih segar

menggabungkan dirinya pada pasukan Kediri. Sedang pasukan

Singasari masih juga belum menurunkan pasukan cadangan, kecuali

sebagian dari mereka yang telah dikirim untuk memancing

pertempuran prajurit-prajurit Kediri yang dipimpin oleh Pujang

Warit.

Sejenak kemudian para prajurit di ke dua belah pihak menjadi

tegang. Sebentar lagi pasti akan terdengar tengara. Apabila langit

menjadi terang, kedua pasukan itu pasti akan segera terlibat di

dalam peperangan.

Agaknya pasukan Kediri sudah menjadi lebih teratur. Mereka

telah sempat menyusun gelar dengan tanda-tanda kebesaran

mereka. Sebuah payung kebesaran bagi Adinda Sri Baginda yang

mewakili Sri Kertajaya memimpin perlawanan, karena Sri Baginda

sendiri sedang diamuk oleh keprihatinan yang bercampur baur

dengan keangkuhan. Kemudian beberapa jenis umbul dan tunggul

panji-panji.

Dalam pada itu Sri Rajasa yang menyaksikan gelar pasukan

Kediri dari kejauhan, walau-pun sama-sama, menganggukanggukkan

kepalanya. Kemudian katanya lantang, “Jangan hiraukan

tanda-tanda kebesaran pasukan Kediri. Mereka berusaha untuk

menutupi kekecilan hati mereka karena kekalahan yang nereka

derita pada hari pertama. Di hari ini kalian harus berhasil

menghancurkan sebagian dari pasukan itu. Sebagian terbesar. Di

hari ketiga kita akan memecahkan barisan itu langsung memasuki

kota.”

Para prajurit Singasari serasa tersentuh oleh kata-kata itu, dan

telah memacu mereka untuk bertempur lebih gigih lagi.

“Kita merindukan Singasari yang besar dan satu. Satu lingkungan

yang besar di dalam segala tata kehidupan.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian terdengarlah tengara telah

berbunyi. Semula hanya pada satu pihak. Singasari. Tetapi

kemudian Kediri-pun memperdengarkan tengara pula bagi para

prajuritnya untuk maju ke medan perang.

“Kita pertahankan negeri ini,” teriak Mahisa Walungan.

Para prajurit Kediri-pun menyambutnya dengan sorak yang

gemuruh. Panji-panji dan umbul-umbul, rontek serta segala macam

tanda-tanda kebesaran pasukan Kediri terangkat tinggi-tinggi

bersamaan dengan jatuhnya sinar Matahari yang pertama kali pada

ujung payung yang kuning gemerlapan.

Pertempuran di hari kedua ini-pun tidak kalah dahsyatnya.

Seperti di hari pertama Mahisa Agni berusaha untuk selalu

membayangi Gubar Baleman. sedang Mahisa Walungan langsung

bertempur melawan Sri Rajasa.

Namun perhatian mereka kini justru lebih besar terarah kepada

para prajurit yang sedang bertempur. Mereka menyadari bahwa baik

Gubar Baleman, maupun Mahisa Agni tidak akan dapat dengan

cepat menundukkan lawan mereka, sementara perang masih

berkecamuk.

Pada hari yang kedua ini Kediri telah mengerahkan segenap

pasukan yang ada. Mereka percaya bahwa di hari ketiga dan di harihari

berikutnya, mereka masih akan sempat mengumpulkan tenaga

cadangan yang dapat mereka tarik dari segenap penjuru. Bahkan

betapapun keras hati Pujang Warit, selagi ia masih menyebut dirinya

prajurit Kediri, pasukannya masih dapat diharapkannya.

Tetapi ternyata pasukan Singasari telah mendahuluinya,

memukul pasukan Pujang Warit yang sama sekali tidak menyangka.

Pujang Warit yang ada di perkemahannya terkejut ketika ia

mendengar laporan dari beberapa orang pengawas bahwa

sepasukan prajurit Singasari telah menuju ke arah perkemahan itu.

“Gila,” geram Pujang Warit, “apakah kau mimpi?”

“Sebenarnya kami telah melihat,” sahut prajurit pengawas itu.

Pujang Warit menggeretakkan giginya. Tetapi sebagai seorang

prajurit, maka ia-pun segera berteriak. Dipanggilnya beberapa orang

Senapati yang ada padanya, kemudian dengan tergesa-gesa

diperintahkannya untuk menyiapkan gelar.

“Apakah mereka benar-benar akan menyerang kita?” bertanya

seorang Senapati.

“Mungkin sekali. Cepat, masuk ke dalam gelar.”

Tetapi para Senapati itu menjadi agak cemas. Prajurit-prajurit

mereka belum siap mengadakan perang beradu gelar. Namun

demikian, mereka tidak mendapat kesempatan untuk menimbangnimbang.

Dengan tanda-tanda yang ada, Pujang Warit telah

mempersiapkan pasukannya.

“Yang belum sempat makan, usahakan, agar kalian tidak

kelaparan,” teriak beberapa orang Senapati.

Para prajurit yang berdiri di dalam gelar itu masih ada juga yang

sempat membawa sebungkus nasi. Dengan tangkai tombak yang

dijepit dengan lengannya, ia menyuapi mulutnya dengan nasi yang

dibawanya.

“Aku tidak akan sempat makan di peperangan,” katanya.

Kawannya yang berdiri di sampingnya memandanginya dengan

tegang. Kemudian sahutnya, “Cepat. Kau lihat pasukan lawan itu

semakin dekat. Lambungmu justru akan sakit kalau kau terlampau

banyak makan.”

Tetapi prajurit itu tidak makan sendiri. Beberapa orang yang lain

ternyata ada juga yang sedang makan meskipun agak tergesa-gesa.

Pujang Warit yang berdiri di ujung pasukannya menjadi tegang. Ia

tidak memperhitungkan, bahwa pasukan Singasari akan membelah

diri di dalam saat-saat yang berat itu.

“Agaknya jumlah orang-orang Singasari memang terlampau

banyak,” katanya kepada Senapati pengapitnya.

Senapati pengapit itu menganggukkan kepalanya, “Ya. Di hari

pertama mereka berhasil mendesak pasukan Kediri yang dipimpin

oleh Mahisa Walungan.”

Wajah Pujang Warit menjadi merah padam. Katanya, “Setan itu

sempat juga terlepas dari tiang gantungan. Tetapi aku tidak mau

berada di bawah pimpinannya. Aku tidak tahu kenapa Sri Baginda

masih dapat mempercayainya. Mungkin Sri Baginda menjadi

bingung ketika mendengar pasukan Singasari telah datang melanda

pasukan Kediri di perbatasan.”

Senapati pengapitnya tidak menjawab. Tetapi wajah-wajah

mereka yang tegang menatap pasukan Singasari yang semakin lama

menjadi semakin dekat.

“Kita harus bertahan,” desis Pujang Warit, “kita harus tetap utuh

sampai pasukan Mahisa Walungan hancur sama sekali. Kita akan

berdiri di atas bangkai kedua pasukan yang bodoh ini.”

Senapati pengapitnya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kita

harus mempertahankan diri dan mempertahankan Kediri.”

Sejenak kemudian maka Pujang Warit memerintahkan

membunyikan tanda bagi pasukannya. Dengan serta-merta,

gelarnya-pun maju menyongsong lawan yang mendatang.

Pimpinan pasukan Singasari mengangguk-anggukkan kepalanya

sambil bergumam, “Prajurit Kediri memang prajurit yang telah

matang. Dalam keadaan apapun mereka segera dapat

menempatkan diri mereka untuk menghadapi segala kemungkinan.”

Tetapi pasukan Singasari telah mendapat penempaan yang

matang pula, dekat menjelang peperangan ini, sehingga tubuh dan

ilmu mereka masih segar di dalam diri masing-masing.

Sejenak kemudian kedua pasukan itu-pun telah saling

berhadapan. Kaki-kaki mereka berderap di atas tanah persawahan

yang ditumbuhi oleh tanaman palawija yang hijau. Namun kaki-kaki

prajurit itu sama sekali tidak berusaha untuk menghindari bunga

kacang dan kedelai yang akan segera menjadi buah.

Demikianlah maka sesaat kemudian kedua pasukan itu telah

terlibat dalam peperangan. Keduanya terdiri dari prajurit-prajurit

yang memang sudah siap, untuk turun kegelanggang, pertempuran.

Namun di dalam benturan yang pertama sudah terasa, bahwa

pasukan Singasari agak lebih kecil jumlahnya dari pasukan Kediri.

Kalau pasukan Kediri itu dapat menghancurkan pasukan Singasari.

maka hal itu pasti akan mempengaruhi keadaan medan yang lain.

Karena itu maka seorang penghubung segera melaporkannya

kepada Senapati yang bertanggung jawab atas laskar cadangan.

Sekelompok laskar cadangan Singasari segera dikirim untuk

menyelamatkan pasukan Singasari yang bertempur melawan

pasukan Pujang Warit. Ternyata tinjauan mereka terhadap kekuatan

pasukan lawan kurang cermat, sehingga para pemimpin Singasari

salah menilai. Untunglah bahwa di belakang mereka masih ada

pasukan cadangan yang memang dipersiapkan untuk mengatasi

kesulitan-kesulitan yang tiba-tiba saja menimpa pasukan Singasari

yang sedang bertempur itu.

Dengan kedatangan pasukan cadangan itu, maka pasukan

Singasari segera dapat bernafas lagi. Kini mereka tidak lagi terdesak

mundur. Dengan tekad yang menyala-nyala di dalam dada. maka

pasukan Singasari bertempur dengan gigihnya.

Demikianlah maka pertempuran itu-pun menjadi semakin seru

pula, seperti pertempuran di sebelah Utara Ganter, tidak begitu jauh

dari pasukan Pujang Warit yang sedang bertahan dengan sekuatkuat

tenaga.

Namun tanda-tanda yang terdengar dari pasukan Pujang Warit

telah menumbuhkan pertanyaan di hati Mahisa Walungan dan

prajuritnya. Namun sebagai seorang prajurit Mahisa Walungan,

Gubar Baleman dan sebagian terbesar dari pasukannya, segera

menduga, bahwa pasukan Pujang Warit-pun telah terlibat pula di

dalam pertempuran.

“Sri Rajasa benar-benar seorang Panglima yang baik,” desis

Mahisa Walungan di dalam hatinya, “ia ingin mempercepat

penyelesaian. Kalah atau menang. Tetapi ia tidak mau membiarkan

dirinya ditunggu sampai kehabisan tenaga. Mumpung masih segar,

agaknya ia telah menyeret seluruh pasukan Kediri untuk terjun ke

dalam pertempuran ini. Termasuk pasukan Pujang Warit itu.”

Sambil bertempur Mahisa Walungan meneruskan kata-kata di

hatinya itu. “Tetapi itu lebih baik juga bagi kami. Pujang Warit tidak

sempat menunggu sampai kami hancur, kemudian turun ke

peperangan sebagai seorang pahlawan yang menyelamatkan Kediri.

Tetapi dengan pertempuran itu, kekuatan Singasari sudah terbagi.”

Ternyata bahwa di dalam pertempuran pada hari kedua ini, Kediri

tidak terdesak lagi seperti di hari pertama. Meskipun pasukan Kediri

tidak dapat maju lagi sampai kegaris pertahanannya yang pertama,

tetapi di hari kedua, baik Mahisa Walungan maupun Gubar Baleman

dapat bertempur dengan lebih tenang, karena pasukannya tidak

harus mundur setiap saat.

“Mudah-mudahan Pujang Warit bertahan di tempatnya pula,”

berkata Gubar Baleman di dalam hatinya, “dengan demikian

Singosari tidak dapat memusatkan kekuatannya di pertempuran ini.”

Menteri itu mengerutkan keningnya, lalu “persoalan di antara kami,

di antara pasukan-pasukan Kediri sendiri, dapat kami perhitungkan

kemudian.”

Semakin tinggi matahari, maka pertempuran itu-pun berjalan

semakin seru. Tetapi ketika panas telah membakar punggung

mereka yang berkeringat, maka lambat laun, tenaga para prajurit di

ke dua belah pihak itu-pun menjadi susut.

Pasukan Pujang Warit yang tidak bersiap menghadapi serangan

dalam gelar itu, ternyata semakin lama menjadi semakin terdesak.

Tenaga yang mereka persiapkan dengan tergesa-gesa, di saat

matahari mulai turun, menjadi terlalu banyak susut. Meskipun

demikian tekad untuk mempertahankan diri, sama sekali tidak

berkurang seujung rambut pun. sehingga bagaimana-pun juga,

mereka sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan gelanggang.

Meskipun demikian, meskipun seluruh kekuatan yang ada sudah

dikerahkannya, namun pertahanan Pujang Warit harus beringsut

setapak demi setapak.

Tetapi pasukan itu tetap utuh. Mereka tetap bertempur dalam

satu kesatuan, sehingga meskipun mundur setapak sama sekali

tidak berpengaruh atas pertahanan itu.

Pujang Warit berusaha dengan memeras tenaga, bertahan untuk

hari ini. Besok mereka akan siap menghadapi segala kemungkinan.

Mereka tidak akan turun ke dalam gelar dengan tergesa-gesa, tanpa

persiapan lahir dan apalagi batin. Serangan yang mengejutkan itu

mau tidak mau mempunyai pengaruh yang tidak dapat diabaikan

para prajuritnya.

Sampai matahari condong ke Barat, pasukan Pujang Warit masih

tetap dapat bertahan meskipun dengan susah payah. Mereka tidak

terlampau banyak terdesak mundur. Namun demikian, tenaga

prajuritnya sudah menjadi jauh berkurang.

Rasa-rasanya matahari berjalan semakin lambat, seakan-akan

dengan sengaja memberi kesempatan kepada pasukan Singasari

untuk mendesak lawannya terus.

Tetapi akhirnya matahari itu-pun menjadi semakin rendah.

Cahaya yang kemerah-merahan mulai tersangkut di ujung

pepohonan. Bersamaan dengan senja yang semakin suram, harapan

di dada Pujang Warit menjadi semakin mekar, bahwa pasukannya

akan dapat bertahan sampai gelap. Besok mereka akan mendapat

kesempatan untuk mengatur pasukannya jauh lebih baik dari ini.

Persiapan-persiapan lainnya, penempatan pasukan menurut tingkat

kemampuan setiap prajurit di dalam gelar dan senjata-senjata yang

lebih baik akan dapat banyak membantu.

Dan harapan itu-pun ternyata terpenuhi. Sebentar kemudian

mereka mendengar tanda di kejauhan, meskipun lamat-lamat.

Tanda-tanda yang terdengar di sebelah Utara Ganter. bahwa

pertempuran untuk hari itu diakhiri.

Pasukan Singasari-pun kemudian mengendorkan tekanannya.

Tanda-tanda di pasukan itu-pun terdengar pula. Demikian juga pada

pasukan Kediri, sehingga perang-pun terhenti. Sebagai prajuritprajurit

yang jantan tidak satu pihak-pun yang berbuat curang, pada

saat lawan menarik diri.

Betapa sibuknya pasukan di ke dua belah pihak dengan prajuritprajuritnya

yang terluka. Mereka berusaha untuk menemukan di

seluruh medan. Yang terluka bagi ke dua belah pihak mempunyai

kesempatan pertama untuk mendapat perawatan. Yang sudah

gugur, namanyalah yang akan tetap dikenang. Tetapi yang masih

dalam penderitaan harus segera mendapat pertolongan.

Seorang prajurit tua yang duduk bersandar sebatang pohon

kelapa menarik nafas dalam-dalam. Umurnya telah mencapai

setengah abad. Tetapi ia masih tetap berada di lingkungan

keprajuritan. Telah sekian kali ia mengalami peperangan sedahsyat

ini. Dan telah sekian kali pula ia melihat mayat berserakan dan

orang-orang yang terluka mengerang kesakitan.

“Manusia memang aneh,” desisnya, “mereka saling melukai dan

membunuh. Kemudian mereka dengan susah-payah mengobatinya.

Apakah sebenarnya yang mereka kehendaki? Mereka saling

membunuh untuk ditangisi kembali.”

Prajurit tua itu menarik nafas dalam-dalam, sekali lagi dan sekali

lagi. Kemudian karena kelelahan, tanpa disadarinya ia-pun jatuh

tertidur.

Dikemahnya, Pujang Warit mengumpat habis-habisan. Ternyata

korban telah banyak yang jatuh.

“Kita tidak sempat mengatur gelar lebih baik dari yang dapat kita

susun dengan tergesa-gesa itu,” geramnya, “besok kita dapat

memilih. Prajurit-prajurit yang berpengalaman dan memiliki

kemampuan yang lebih baik harus tersebar dari ujung gelar sampai

ke ujung yang lain, agar tidak ada bagi dari gelar yang terlampau

lemah, sehingga memungkinkan jatuhnya korban terlampau

banyak.”

Para pemimpin kelompok mengangguk-anggukkan kepala

mereka.

“Sekarang beristirahatlah. Kita harus menghemat tenaga. Besok

kita akan bertempur lagi. Jangan sampai terlambat, penyediaan

makan para prajurit sebelum fajar.”

Para pemimpin kelompok itu-pun segera meninggalkan Pujang

Warit yang masih duduk dengan beberapa orang Senapati yang

terpercaya.

“Apakah pertahanan ini menguntungkan?” ia bertanya di dalam

hatinya.

Sejenak ia termenung. Dicobanya membayangkan apa yang

terjadi di sebelah Utara Ganter. Apakah Mahisa Walungan dan

Gubar Baleman yang ternyata mendapat kesempatan lagi dari Sri

Baginda itu mampu bertahan?

“Memang keparat orang-orang Singasari,” desisnya, “kalau

mereka tidak tergesa-gesa menyerang, Mahisa Walungan dan Gubar

Baleman pasti sudah digantung. Sehari saja mereka menunda

serangannya, maka mereka tidak akan bersusah payah membunuh

harimau-harimau yang garang itu.”

Para Senapati yang lain berpaling ke arahnya, tetapi mereka

tidak mendengar kata-kata itu dengan jelas.

“Apakah ada di antara kalian yang mempunyai pendapat tentang

garis pertahanan kita?” tiba-tiba Pujang Warit bertanya.

Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Terasa dari

pertanyaan itu, bahwa agaknya telah tumbuh sesuatu di hati Pujang

Warit. Tetapi agaknya masih belum cukup masak untuk diutarakan,

sehingga ia berusaha untuk memancing masalah yang dapat

dipakainya sebagai pancadan pembicaraan.

Namun kawan-kawannya tidak mengerti, ke mana arah jalan

pikiran Senapati yang masih muda itu.

Sejenak Pujang Warit-pun terdiam. Kepalanya sekali-sekali

mengangguk-angguk, namun kemudian keningnya berkerut-merut.

“Bagaimana bunyi laporan petugas sandi itu? “ tiba-tiba bertanya.

“Tentang apa?” bertanya salah seorang Senapatinya.

“Panglima pasukan Singasari.”

“Sri Rajasa sendiri.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Katanya, “Betapapun

saktinya orang Tumapel. mereka tidak akan melampaui orang-orang

Kediri.”

Para Senapati lawannya berbicara tidak ada yang menyahut.

Namun terasa, bahwa di dalam kata-kata Pujang Warit itu tersimpan

keragu-raguan hatinya. Baik Pujang Warit maupun para Senapati

lainnya, tidak dapat menutup mata, bahwa orang Singasari itu

mampu bertempur dua hari penuh. Mereka tetap pada garis perang

yang terjadi sejak benturan pertama. Bahkan mereka telah

mendesak beberapa tonggak maju.

Dengan demikian maka untuk sejenak mereka saling berdiam

diri. Berbagai pertanyaan telah menyentuh setiap hati. Apakah yang

akan terjadi besok dengan pasukan ini?

Sementara itu, di perkemahannya, Mahisa Walungan duduk

menghadapi semangkuk air panas. Wajahnya yang murung

merenungi lampu minyak yang terombang-ambing oleh angin yang

menyusup keperkemahan.

Di sebelahnya Gubar Baleman memandang kekejauhan,

menembus gelapnya malam lewat pintu yang terbuka. Seolah-olah

ingin mengetahui, rahasia apakah yang bersembunyi di balik

kekelaman itu.

“Kakang Gubar Baleman,” berkata Mahisa Walungan. “hari ini kita

sudah menambah prajurit yang dapat kita kumpulkan, tetapi kita

tidak dapat mendesak mereka sama sekali. Beberapa petugas kita

yang mengumpulkan pasukan dari beberapa tempat yang dapat

dicapainya, telah terganggu oleh orang-orang Pujang Warit yang

berbuat serupa, bahkan mereka masih selalu mempergunakan nama

Sri Baginda Kertajaya.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya,

“Keadaan Kediri sama sekali tidak menguntungkan pada saat

pertempuran ini mulai berkobar.”

“Tetapi apaboleh buat,” berkata Mahisa Walungan, “kita harus

mengerahkan segenap tenaga yang mungkin kita tarik

kepertempuran ini. Kalau Pujang Warit tidak mengadakan garis

pertahanan tersendiri, mungkin keadaan kita akan menjadi semakin

baik. Kekuatan Kediri dapat di pusatkan menjadi satu di sini.

Penarikan tenaga-tenaga yang segar tidak saling mengganggu.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku

sependapat. Jadi, apakah kita akan mencari jalan untuk itu?”

“Demikianlah kakang. Sebenarnya aku tidak begitu

mementingkan harga diri sendiri dalam keadaan seperti ini. Aku

lebih mementingkan Kediri. Karena itu, apakah salahnya kalau aku

mengirimkan seorang utusan untuk menghubungi Pujang Warit,

agar kita bersama-sama menyusun satu garis perang yang kuat,

ditambah dengan prajurit-prajurit yang kini masih belum datang.

Ketidak tentuan yang tersebar di seluruh Kediri agaknya belum

dapat dibersihkan dengan serangan Singasari ini.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku

sependapat Adinda Mahisa Walungan. Apakah salahnya kalau kita,

orang-orang tua ini sedikit mengorbankan harga diri kita untuk

kepentingan Kediri.”

“Baiklah kakang. Nanti, setelah para prajurit cukup beristirahat,

serta Pujang Warit sendiri sudah agak menjadi tenang, aku akan

mengirimkan seorang utusan.”

“Aku akan mencari orangnya yang akan menemui Pujang Warit

nanti,” berkata Gubar Baleman.

“Baiklah kakang. Siapa yang akan pergi itu-pun tidak kalah

pentingnya, supaya tidak justru menumbuhkan salah paham,

sehingga jarak antara kita dan Pujang Warit menjadi semakin jauh.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika

ia baru akan berdiri, ia-pun tertegun di tempatnya. Dilihatnya

seseorang dengan tergesa-gesa memasuki kemah itu.

“O kau,” desis Mahisa Walungan kepada orang itu, seorang

prajurit penghubung.

“Duduklah.”

Orang itu-pun kemudian duduk di hadapan Mahisa Walungan.

Wajahnya kemerah-merahan dan keringat telah membasahi seluruh

tubuhnya.

“Apakah kau baru datang?” bertanya Mahisa Walungan.

“Ya tuan. Aku baru datang dari daerah Selatan.”

“Bagaimana dengan usahamu menarik prajurit dan pasukan

keamanan?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya,

“Menyesal sekali tuan, bahwa telah terjadi salah paham di antara

kami sendiri.”

“Kenapa he?” Mahisa Walungan mengerutkan keningnya.

“Pujang Warit melakukan usaha yang serupa,” jawab

penghubung itu, “sehingga justru terjadi bentrokan yang sama

sekali tidak kita ingini. Para prajurit yang tidak mengalami sendiri

perang seperti ini, masih saja membelah diri. Ada yang berpihak

kepada tuan, tetapi ada juga yang berpihak kepada Pujang Warit.”

“O,” Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam, sedang

Gubar Baleman mengusap dadanya dengan telapak tangannya.

“Aku sudah berusaha menjelaskan apa yang sudah terjadi,”

berkata penghubung itu kemudian, “tetapi sulit untuk memberikan

kesadaran kepada mereka. Apalagi orang-orang Pujang Warit

agaknya terlampau yakin, bahwa pada akhir dari segala-galanya

merekalah yang akan berkuasa. Pendirian itu agaknya sudah

menghambat segala usaha.”

Mahisa Walungan mengeluh di dalam hati. “Apakah Kediri

memang sudah tidak akan dapat tertolong lagi?”

“Kami sudah berusaha untuk menghindari bentrokan-bentrokan

itu tuan,” penghubung itu meneruskan, “tetapi sia-sia.”

“Lalu, apakah yang dapat kalian lakukan?”

“Aku gagal membawa seluruh pasukan yang kita kehendaki.

Mereka harus bertahan di tempat masing-masing, karena orangorang

Pujang Warit agaknya berbuat di segala tempat dan keadaan

tanpa pertimbangan apapun lagi selain nafsu yang nyala-nyala di

dalam diri mereka untuk menguasai seluruh Kediri.”

“Jadi kau tidak membawa pasukan itu.”

“Hanya sebagian kecil. Yang lain masih tetap mengamankan

wilayah masing-masing.”

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kapalanya. Namun

hatinya menjerit, “Ya, apakah Yang Maha Agung benar-benar telah

melepaskan Kediri karena ketamakannya sendiri?”

Meskipun demikian Mahisa Walungan berkata kepada Gubar

Baleman, “Kita tetap berusaha untuk berbicara dengan Pujang

Warit. Kita benar-benar berada di ujung bahaya yang sebenarnya.

Bahaya keruntuhan bagi Kediri yang besar ini.”

Ketika malam menjadi semakin malam, serta pasukan di pihakpihak

yang sedang berperang itu sudah mulai agak tepung, maka

dua orang utusan yang dikirim oleh Mahisa Walungan, berderap di

atas punggung kuda pergi keperkemahan Pujang Warit.

Mereka membawa tugas yang penting bagi keselamatan Kediri

yang mulai tampak laju dibakar oleh panasnya api pertentangan di

antara mereka sendiri, ditimpa pula oleh serangan yang dahsyat dari

Singasari.

Kedatangan kedua orang itu telah mengejutkan Pujang Warit.

Dengan wajah yang tegang ia bertanya dengan serta-merta,

“Kenapa kalian kemari?”

“Kami adalah utusan Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan dan

Menteri, pemimpin tertinggi pasukan Kediri Gubar Baleman,” jawab

utusan itu.

“Kenapa mereka tidak datang menghadap kepercayaan Sri

Baginda Kertajaya sendiri?” bertanya Pujang Warit.

Kedua utusan itu saling berpandangan sejenak. Salah seorang

dari mereka kemudian menjawab, “Keduanya tidak berani

meninggalkan medan yang sedang gawat. Karena itu aku berdua

telah diutus untuk menemui Senapati Pujang Warit.”

“Aku adalah kepercayaan Sri Baginda. Bukan sekedar seorang

Senapati Pandega.”

“Ya, begitulah.”

“Begitulah bukan istilah yang tepat.”

“Maksud kami, kami memang ingin menemui kepercayaan Sri

Baginda Kertajaya.”

“Nah, kalau kau mengakui, maka kau pasti harus mengakui

kekuasaan yang ada padaku.”

“Ya. Kami berdua mengakui.”

Pujang Warit mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya

kemudian, “Katakan, pesan apakah yang akan disampaikan oleh

kedua Senapati yang sudah memberontak itu.”

Terasa dada kedua utusan itu berdesir. Tetapi mereka sadar,

bahwa mereka harus menahan diri mereka agar masalah yang ada

di antara dua kekuatan Kediri itu tidak menjadi semakin parah.”

“Cepat,” desak Pujang Warit, “aku-pun bukan penganggur yang

sedang duduk merenungi bintang-bintang yang bergayutan di

langit.”

“Baiklah,” berkata salah seorang dari kedua utusan itu. Setelah

menarik nafas dalam-dalam, maka ia-pun melanjutkannya, “Kami

mendapat tugas untuk menyampaikan pesan Mahisa Walungan dan

Gubar Baleman. Seandainya pimpinan pasukan di sini tidak

berkeberatan, Adinda Sri Baginda dan Menteri Gubar Baleman ingin

membicarakan kemungkinan, kedua pasukan Kediri berada di dalam

satu gerak yang berada di bawah suatu perencanaan yang matang.

Misalnya, menyatukan garis perang yang kini terpecah menjadi dua.

Menyatukan penarikan pasukan dari wilayah-wilayah yang dapat

dicapai untuk menambah kekuatan bagi medan ini.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Katanya, “Kenapa kita

harus menyatukan diri. Bukankah dengan cara ini, kita masingmasing

sudah berjuang untuk mempertahankan negeri kita?”

“Ya, demikianlah. Tetapi di bawah satu panji-panji yang sama

kita akan menjadi semakin kuat. Mungkin di medan ini, kita tidak

banyak melihat manfaat itu. Tetapi di tempat lain justru akan terasa

sekali. Dengan penyatuan itu tidak akan ada lagi salah paham bagi

pasukan-pasukan yang memang sedang kalut ini. Ada yang berpihak

kepada Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan dan ada yang berpihak

kepada Senapati Pujang Warit.”

“Bodoh sekali. Kalau setiap prajurit menyadari tata keprajuritan

hal itu tidak akan terjadi. Di Kediri tidak ada dua atau tiga sumber

kekuasaan. Semuanya berpusar pada Sri Baginda Kertajaya. Akulah

yang mendapat wewenang untuk melakukan kekuasaan Sri Baginda

atas setiap pasukan yang ada di Kediri. Kalau saat ini Gubar

Baleman dan Mahisa Walungan, karena diperlukan tenaganya,

berada di medan, pasti mereka bukan pimpinan dari pasukan Kediri.

Kalau Gubar Baleman dan Mahisa Walungan tidak keluar dari garis

tata keprajuritan, sudah pasti tidak akan ada persoalan lagi di Kediri.

Semuanya akan berjalan lancar. Sehingga seandainya nanti kita

gagal mempertahankan garis pertahanan ini, maka tanggung jawab

kegagalan itu ada pada Gubar Baleman dan Mahisa Walungan.”

Kedua utusan itu mengangguk-anggukkan kepalanya, namun

kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Mungkin hal itu

benar. Tetapi apakah kita masih sempat di dalam keadaan serupa

ini mempersoalkan siapakah yang pantas memimpin pasukan

Kediri.”

“Bukan mungkin lagi. Aku memang benar. Dan pada saat serupa

ini memang tidak ada waktu lagi mempersoalkan siapakah yang

pantas menjadi Senapati Agung, karena Sri baginda sudah

melimpahkan kekuasaan itu kepadaku.”

Kedua utusan itu terpaku sejenak. Pujang Warit agaknya benarbenar

telah dimabukkan oleh kekuasaan, sehingga matanya sudah

menjadi kabur. Ia tidak dapat melihat Kediri yang memelas ini sudah

berada di pinggir jurang kehancuran.

“Nah. kalau Gubar Baleman dan Mahisa Walungan ikut

bertanggung jawab atas keselamatan Kediri, serahkan pasukannya

itu kepadaku. Akulah yang akan memimpin perlawanan di seluruh

Kediri. Aku akan memanggil semua pasukan yang dapat menjadi

pasukan cadangan di peperangan ini tanpa gangguan lagi.”

“Tetapi,” utusan yang seorang berkata, meskipun ragu-ragu,

“Senapati Agung pasukan Singasari di tangani langsung oleh Sri

Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

“Gila kau. Kau menghinaku. Kenapa kau sebutkan nama itu? Kau

sangka aku akan menjadi ketakutan, atau aku akan menganggukkan

kepala, karena aku-pun menganggap bahwa hanya Mahisa

Walungan saja yang pantas melawan Sri Rajasa? O, kalau aku tidak

menyadari bahwa kau-pun orang Kediri, meskipun kau berdiri di

pihak pemberontak itu, aku sudah menyobek mulutmu.”

Terasa jantung kedua utusan itu berdesir. Darahnya seakan-akan

mengalir semakin cepat naik ke kepala. Tetapi keduanya tetap pada

sikap hormatnya, seperti pesan Gubar Baleman dan Mahisa

Walungan.

“Nah. kembalilah kepada pemimpinmu sebelum darahku

mendidih,” berkata Pujang Warit, “katakan semua jawabku kepada

mereka.”

Hampir bersamaan keduanya menarik nafas dalam-dalam.

Agaknya kedatangan mereka sama sekali tidak mendekatkan

hubungan antara kedua pasukan yang tengah bertempur melawan

pasukan Singasari itu.

“Jadi, apakah usaha Adinda Sri Baginda untuk menemukan titik

pertemuan di antara kedua pasukan ini tidak berhasil?” bertanya

salah seorang dari mereka.

“Kalau Mahisa Walungan bersedia mematuhi perintah Sri

Baginda, maka kesatuan itu akan terwujud dengan sendirinya.”

“Baiklah, aku akan mengatakannya,” berkata salah seorang

utusan itu, “mudah-mudahan ada pendekatan yang dapat

menumbuhkan harapan bagi Kediri untuk tetap bertahan.”

“Kau sudah menjadi putus-asa,” potong Pujang Warit, “kenapa

kau tiba-tiba menjadi cengeng? Prajurit Kediri bukan prajurit yang

cengeng seperti kau.”

“Aku tidak cengeng,” jawab utusan itu, “tetapi aku menjadi

prihatin, bahwa justru para pemimpin tertinggi pasukan Kedirilah

yang membuat kami, bawahan, terpecah-belah.”

“Diam. Diam kau. Tidak sepantasnya bawahan menilai atasannya.

Kau hanya bertugas menyampaikan pesan Mahisa Walungan dan

Gubar Baleman, kemudian menyampaikan jawabanku kepada

mereka.”

“Baik, baik,” desis utusan itu.

Mereka-pun kemudian minta diri dengan hati yang pedih. Pujang

Warit sendiri tidak bersedia membuka pintu bagi pembicaraan

berikutnya. Dengan demikian, maka keadaan pasukan Kediri pasti

masih akan selalu dibayangi oleh perpecahan di antara mereka.

Suasana yang tidak menentu masih akan berkepanjangan, meskipun

lawan telah berada di ujung hidung.

Demikianlah maka kedua utusan itu-pun segera memacu kuda

mereka kembali keperkemahan Mahisa Walungan dan Gubar

Baleman. Dengan tanpa melampaui pengertian yang dikatakan oleh

Pujang Warit, maka disampaikannya jawabannya dengan singkat

kepada Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam, sedang Gubar

Baleman mengelus dadanya dengan telapak tangannya.

Kekecewaan yang mendalam telah merasuk sampai ke pusat

jantungnya.

“Bagaimana hal ini dapat terjadi atas Kediri?” desis Mahisa

Walungan. Tetapi di dalam hati ia seakan-akan melihat dengan

jelas, bahwa kesalahan dari para pemimpin Kediri sudah mulai

tumbuh sejak Kediri menjadi besar, terutama Sri Baginda Kertajaya

sendiri, yang lambat laun telah menumbuhkan keadaan yang pahit

seperti saat itu.

“Tetapi kita harus tetap berusaha, agar Kediri tetap mampu

berdiri tegak, meskipun luka-parah,” berkata Mahisa Walungan.

Namun kekecewaan yang dalam, yang mencengkam jantungnya itu,

tidak dapat disingkirkannya.

“Apakah sebaiknya aku datang sendiri kepadanya?” berkata

Gubar Baleman, “mungkin aku dapat menemukan kemungkinankemungkinan

untuk mencari persesuaian meskipun hanya bersifat

sementara. Sebenarnya bagi kita, persoalan siapakah yang

memegang pimpinan tertinggi itu sama sekali bukan masalah lagi.

Yang penting bagi kita, bagaimana kita dapat menyusun kekuatan

sepenuhnya untuk melawan Singasari saat ini.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam. Kemudiannya ia-pun

tidak berkeberatan, seandainya Pujang Warit tidak menuntut hal-hal

yang tidak mungkin terpenuhi.

“Bagaimana pendapat Adinda Mahisa Walungan?” bertanya

Gubar Baleman.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian

jawabnya, “Baiklah. Kalau kakang Menteri Gubar Baleman

berpendapat demikian. Tetapi menilik sifat dan watak anak itu, ia

pasti akan menjadi besar kepala. Mungkin ia akan menuntut aku

dan kakang Gubar Baleman untuk menyerahkan leher kita sebelum

ia bersedia menyatukan diri.”

“Aku akan mencoba menjajaginya.”

“Baiklah. Tetapi hati-hatilah. Pujang Warit adalah orang yang

paling licik yang pernah aku temui di Kediri.”

Gubar Baleman-pun kemudian membawa sepasukan kecil

pengawal berkuda, menuju keperkemahan Pudjang Warit untuk

mendapatkan penyelesaian dari masalah yang paling mengganggu

di saat-saat Kediri berada di pintu bahaya.

Gubar Baleman sendiri menyangsikan hasil dari kunjungannya

itu, meskipun ia sudah mengorbankan segala-galanya, harga diri

dan kadudukannya sebagai pemimpin pasukan Kediri.

“Aku tidak akan berarti apa-apa, asal Kediri dapat diselamatkan.

Meskipun kelak aku harus menyembah di bawah kaki Pujang Warit

sekali-pun, namun Kediri tidak tenggelam dalam arus banjir

bandang yang datang dari Singasari.”

Demikianlah Menteri yang memimpin segenap kesatuan prajurit

Kediri itu sudah melupakan kepentingan diri sendiri. Seluruh

hidupnya memang sudah diserahkannya kepada Tanah kelahirannya

yang pernah mencapai puncak kebesarannya itu.

Semakin dekat Gubar Baleman dengan perkemahan Pujang Warit

hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Sekali-sekali ia

menengadahkan wajahnya. Malam telah jauh.

“Aku masih sempat menemuinya. Masih ada sedikit waktu

sebelum fajar menyingsing,” desisnya.

Dengan demikian maka Gubar Baleman-pun segera memacu

kudanya mendekati perkemahan pasukan yang dipimpin oleh Pujang

Warit. Dari kejauhan mereka sudah melihat nyala api di sela-sela

dedaunan. Agaknya para prajurit fang bertugas sedang

memanaskan diri di tepi perapian, atau para petugas yang

menyediakan makan dan minum bagi patukan itu telah mulai

melakukan kewajibannya.

Tetapi ketika mereka memasuki daerah perkemahan itu, hati

Gubar Baleman menjadi semakin berdebar-debar. Di regol

padukuhan itu sama sekali tidak ada seorang-pun yang berjaga-aga.

Sedang di seputar api itu-pun tidak tampak seorang prajurit-pun

yang memanaskan diri. Sepi. Sepi sekali.

Sejenak Gubar Baleman menjadi termangu-mangu. Permainan

apakah yang kini sedang dilakukan oleh Pujang Warit. Apakah

terpikir olehnya untuk menjebak sekelompok praurit ini?

“Apakah anak itu sudah benar-benar kehilangan nalar, sehingga

ia sampai hati berbuat demikian? “ pertanyaan itu tumbuh di hati

Gubar Baleman.

Tetapi sebagai seorang prajurit yang berpengalaman, Gubar

Baleman sama sekali tidak melihat kemungkinan itu.

“Marilah kita masuk lebih ke dalam,” katanya kepada para

pngawalnya.

Karena pengawalnya menjadi ragu-ragu, Gubar Baleman berkata,

“Tidak akan terjadi sesuatu.”

Tidak seorang-pun yang menjawab. Sekelompok prajurit itu-pun

kemudian memasuki padukuhan yang dipergunakan sebagai tempat

perkemahan oleh Pujang Warit.

Namun padukuhan itu benar-benar telah sepi. Sama sekali tidak

dijumpainya seorang-pun juga. Penduduk telah pergi mengungsi,

meninggalkan rumah mereka yang kemudian dipergunakan oleh

Pujang Warit dan pasukannya. Namun pasukan itu-pun kini sudah

tidak ada di tempat lagi.

Ketika Gubar Baleman menyentuh mangkuk yang berisi air. ia

berdesis, “Mereka pasti belum lama meninggalkan tempat ini.

Mereka masih meninggalkan minuman hangat di dalam mangkuk

ini.”

Pengawalnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Memang

tampaklah bahwa Pujang Warit dengan tergesa-gesa telah

meninggalkan perkemahannya.

“Ke manakah mereka? “ tanpa sesadarnya Gubar Baleman

bertanya.

Para pengawalnya hanya dapat saling berpandangan. “Marilah

kita lihat seluruh perkemahan ini,” berkata Gubar Baleman.

Kesan para prajurit itu kemudian menguatkan, bahwa Pujang

Warit belum lama meninggalkan padukuhan itu. Di beberapa tempat

masih terdapat perapian yang menyala. Beberapa onggok bahan

makanan, yang mentah dan yang sudah masak, tertinggal di dalam

perkemahan itu pula. Bahkan beberapa pucuk senjata dan peralatan

tertinggal pula di gardu, di ujung padukuhan.

Gubar Baleman menjadi bingung. Ia tidak dapat menduga sama

sekali, ke mana pasukan Pujang Warit pergi.

Memang terlintas beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan

oleh Pujang Warit. Tetapi Gubar Baleman menggelengkan kepalanya

sambil berdesah lirih, “Tidak. Tidak mungkin Pujang Warit

terjerumus ke dalam pengkhianatan yang lebih dalam.”

Sejenak kemudian, setelah Gubar Baleman meyakini bahwa

perkemahan itu memang sudah kosong, maka katanya kepada para

pengawalnya, “Marilah, kita tinggalkan tempat ini. Aku tidak

mempunyai cukup bahan untuk menduga, ke mana Pujang Warit

pergi.”

Sekelompok kecil prajurit itu-pun kemudian meninggalkan

perkemahan itu kembali kesebelan Utara Ganter. Di sepanjang jalan

Gubar Baleman mencoba untuk memecahkan teka-teki yang baru

saja ditemuinya. Tetapi yang terlintas di kepalanya adalah beberapa

jawaban yang tidak meyakinkan.

Hal itulah yang kemudian disampaikannya kepada Mahisa

Walungan. Perkemahan itu telah kosong.

Mahisa Walungan-pun menjadi sangat heran karenanya.

Perlahan-lahan ia berdesis, “Apakah mungkin Pujang Warit

membuat hubungan dengan orang-orang Singasari?”

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia

menjawab, “Menurut dugaanku, tentu tidak. Bagaimana-pun juga

Pujang Warit adalah seorang yang bernafsu untuk menguasai

pimpinan Keprajuritan Kediri, sehingga ia pasti masih akan tetap

bertahan dalam keadaan apapun juga.”

“Kalau begitu,” berkata Mahisa Walungan, “apakah anak itu

dengan sengaja menghindarkan diri dari medan ini, agar pasukan

Singasari sempat mendesak kami?”

“Itulah kemungkinan yang paling dekat menurut perhitunganku,”

sahut Gubar Baleman.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Katanya,

“Perhitungan Pujang Warit sudah menjadi kabur. Sebenarnya ia

bukan seorang Senapati yang bodoh. Seharusnya ia mengerti,

dengan demikian Singasari akan dengan mudahnya menggilas

pasukan-pasukan yang terpecah belah ini.”

Gubar Baleman mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Nafsu dan angkara murka orang-orang Kediri sendirilah yang telah

menjerumuskan negeri ini kelembah kehancuran.”

Mahisa Walungan tidak menyahut. Namun tampaklah kepahitan

yang tajam membayang di wajahnya. Meskipun matanya tetap

memancarkan tekad seorang Senapati besar, tetapi hatinyalah yang

menangis. Menangisi ketamakan, nafsu dan pamrih yang berlebihlebihan

dari orang Kediri sendiri.”

Selagi kedua Senapati Agung itu merenungi nasib Kediri yang

malang, dengan tergesa-gesa seorang petugas sandi memasuki

perkemahan itu, diantar oleh seorang Senapati.

Mahisa Walungan dan Gubar Baleman mengerutkan kening

mereka.

“Duduklah,” berkata Mahisa Walungan.

Petugas sandi itu-pun kemudian duduk dengan nafas terengahengah.

“Apakah yang kau lihat?” bertanya Gubar Baleman, “apakah kau

petugas di depan pasukan Singasari?”

Petugas sandi itu menggelengkan kepalanya, “Bukan. Aku tidak

bertugas di hadapan pasukan Singasari.”

Kedua Senapati Agung itu saling berpandangan sejenak. Lalu, “Di

mana kau bertugas?”

“Aku bertugas mengawasi pasukan Pujang Warit.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Kekeruhan di

hatinya telah membuatnya khilaf, bahwa beberapa petugas sandi

akan dapat memberikan sedikit keterangan tentang pasukan Pujang

Warit itu.

“Mereka telah meninggalkan perkemahan,” desis Gubar Baleman.

“Tuan sudah mengetahuinya?” bertanya prajurit itu.

Ketika Gubar Baleman menganggukkan kepalanya, petugas sandi

itu memandangnya dengan heran. Sekali-sekali ditatapnya wajah

Mahisa Walungan, namun kemudian ia memandang Gubar Baleman

dengan sepercik pertanyaan di dalam hatinya.

“Aku baru datang dari perkemahan Pujang Warit,” berkata Gubar

Baleman kemudian, “tetapi perkemahan itu sudah kosong.”

Petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi aku tidak dapat menduga, ke mana mereka pergi.” Gubar

Baleman berhenti sejenak, lalu ia-pun bertanya, “Apakah kau

melihat arah mereka?”

Sekali lagi petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Katanya kemudian, “Ya. Aku melihat mereka. Mereka, agaknya telah

menarik pasukan itu masuk kota.”

“He.” Gubar Baleman terkejut. Mahisa Walungan-pun terkejut

pula sehingga ia tersentak maju setapak.

“Jadi,” berkata Mahisa Walungan, “Pujang Warit membawa

pasukannya masuk kota?”

Petugas itu mengangguk, “Ya. Menurut pengamatanku.”

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Anak

itu benar-benar sudah menjadi gila. Apakah ia sama sekali tidak

menyadari bahwa ia sudah tidak mengacuhkan Kediri lagi karena

nafsunya itu? Aku tidak tahu, bagaimana mungkin seorang Senapati

seperti Pujang Warit dapat membuat kesalahan yang menentukan

ini.”

Gubar Baleman menggeleng-gelengkan kepalanya. Mulutnya

sudah bergerak-gerak untuk berbicara, tetapi niatnya dibatalkannya.

“Baiklah,” berkata Mahisa Walungan kemudian, “beristirahatlah.”

Petugas itu-pun kemudian minta diri bersama pengantarnya,

kembali ke dalam pasukannya. Berita tentang Pujang Warit yang

meninggalkan perkemahannya itu-pun segera tersebar keseluruh

telinga di perkemahan itu.

Berita itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Hampir setiap

prajurit mempunyai penilaian yang sama, seperti penilaian Mahisa

Walungan dan Gubar Baleman.

“Kakang,” berkata Mahisa Walungan, “Pujang Warit benar-benar

ingin menjerumuskan kita ke dalam jurang kehancuran. Mungkin ia

yakin, bahwa ia akan dapat menghancurkan sisa-sisa pasukan

Singasari setelah bertempur mati-matian melawan pasukan Kediri di

perkemahan ini.”

“Ya,” jawab Gubar Baleman, “aku kira Pujang Warit berharap

bahwa ialah yang akan mendapat nama karenanya. Bahwa Pujang

Waritlah yang telah menahan arus pasukan Singasari setelah Mahisa

Walungan dan Gubar Baleman mengalami kegagalan.”

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia

berdesis seolah-olah kepada diri sendiri, “Pujang Warit telah salah

menilai pasukan Singasari. Ia tidak menyadari bahwa Sri Rajasa

bukan anak kemarin sore di medan yang ganas mi. Ternyata ia

masih cukup menyimpan pasukan cadangan, sedang dengan

demikian kita tidak akan dapat mengharap apa-apa lagi dari

pasukan yang terpencar, karena pokal Pujang Warit.”

Gubar Baleman tidak menyahut. Tetapi ia merasa bahwa tugas

mereka besok pagi akan terlampau berat. Berat sekali. “Dan apakah

aku akan dapat memikulnya?” pertanyaan itu bergema tidak saja di

hati Gubar Baleman, tetapi juga di hati Mahisa Walungan.”

“Sudahlah,” terdengar suara Mahisa Walungan, “apakah masih

ada kesempatan untuk sekedar beristirahat?”

Gubar Baleman mengerutkan keningnya. Ketika ia menjenguk

keluar perkemahan ia melihat para petugas yang akan menyediakan

makan bagi para prajurit telah sibuk dengan pekerjaannya.

“Sudah hampir pagi,” desis Gubar Baleman.

Mahisa Walungan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun

kemudian ia-pun menyilangkan tangannya di muka dadanya sambil

bergumam, “Aku akan beristirahat sebentar.”

Gubar Baleman tidak menyahut. Ketika Mahisa Walungan

menyandarkan dirinya pada dinding bambu, maka Gubar Balemanpun

berbuat serupa pula.

Sekejap mereka masih sempat memejamkan mata. Namun yang

sekejap itu benar-benar telah berpengaruh bagi tubuh mereka.

Mereka merasa bahwa tubuh mereka telah menjadi segar kembali.

Tetapi, bagi Gubar Baleman. yang sekejap itu selain membuatnya

menjadi segar, juga membuatnya menjadi gelisah. Di antara sadar

dan tidak sadar, ia melihat hujan dan angin yang besar melanda

rumahnya. Tanpa dapat berbuat apa-apa ia melihat rumahnya

menjadi miring. Semakin lama semakin miring.

Gubar Baleman menarik nafas dalam-dalam. Diusapnya matanya

yang menjadi kemerah-merahan.

“Apakah aku bermimpi?” ia berdesis.

Sambil menarik nafas dalam-dalam dipandanginya Mahisa

Walungan yang masih bersandar dinding sambil memejamkan

matanya. Namun wajah itu-pun tampaknya terlampau suram.

Gubar Baleman mengusap keningnya yang berkeringat,

kesuraman wajah Mahisa Walungan membayangkan kesuraman

wajah Kediri.

“Apapun yang akan terjadi,” desis Menteri yang setia kepada

tanah kelahirannya itu, “aku harus bertahan.”

Dengan hati-hati Gubar Baleman-pun kemudian bangkit

perlahan-lahan ia melangkah keluar. Tetapi ia tidak meninggalkan

pintu yang terbuka, meskipun di muka pintu itu terdapat

sekelompok prajurit yang berjaga-jaga. Sekali-sekali ia berpaling

memandang Mahisa Walungan yang masih saja bersandar dinding

sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

“Aneh,” desis Gubar Baleman, “wajah itu menjadi kian suram.

Bukan saja suram, tetapi pucat.”

Gubar Baleman berdesah. Diusapnya matanya. “Mudah-mudahan

matakulah yang salah.”

Menteri, pemimpin pasukan Kediri itu-pun kemudian duduk di

antara para prajurit yang bertugas. Dicobanya untuk menenangkan

perasaannya dengan kelakar. Namun agaknya setiap prajurit-pun

dibayangi oleh perasaan serupa.

Dengan demikian, bagaimana-pun juga, suasananya selalu

menjadi beku. Setiap kali terkilas di dalam angan-angan mereka,

bahwa pasukan Singasari akan membanjiri pasukan Kediri yang

seakan-akan menjadi semakin kecil jumlahnya.

Ketika Gubar Baleman berpaling, dilihatnya Mahisa Walungan

telah duduk merenungi mangkuknya. Sejenak kemudian ia bangkit

lalu melangkah keluar.

Ketika ia memandang langit yang hitam, segera ia berata “Kita

harus segera siap. Sebentar lagi fajar akan menyingsing.”

Sebentar kemudian, maka para petugas-pun sudah mulai

membagikan ransum para prajurit, sekelompok demi sekelompok.

Mereka yang masih segan untuk bangun, menggeliat sambil

mengusap matanya. Tetapi ketika kawannya meletakkan sebungkus

nasi di tangannya, maka ia-pun segera bangkit, “He, nasi hangat.”

“Suapi mulutmu. Sudah hampir pagi. Kalau tengara itu berbunyi

sebelum kau makan, maka kau akan kelaparan di lapangan

pertempuran.”

“Aku belum mencuci muka.”

“Di rumah-pun kau tidak mencuci muka dahulu sebelum makan.

Apalagi di medan.”

Prajurit itu tertawa. Tetapi ia tidak segera menyuapi mulutnya.

Perlahan-lahan ia berdiri untuk mencari minum lebih dahulu.

Belum lagi mulut-mulut berhenti mengunyah, maka di kejauhan

telah terdengar suara tengara. Hampir bersamaan setiap mulutmulut

itu-pun berdesis, “Singasari sudah mempersiapkan dirinya.”

Para prajurit Kediri-pun kemudian segera mengemasi diri masingmasing.

Mereka meneguk beberapa tetes air untuk menggusur nasi

di leher mereka.

Sejenak kemudian, para prajurit Kediri itu sudah mulai bersiapsiap.

sementara langit menjadi semakin merah. Salah seorang yang

masih mengunyah makannya berdesis, “He, apakah kau benarbenar

menikmati makanmu pagi ini?”

“Kenapa?” bertanya kawannya yang berdiri di sampingnya.

“Siapa tahu, makanan itu adalah makananmu yang terakhir.”

Kawannya tersenyum. Namun di balik senyum itu, membayang

keragu-raguan yang dalam. Meskipun kawannya itu sekedar

berkelakar, namun, hampir di setiap dada, membersitlah perasaan

yang demikian.

Seorang prajurit muda menimang-nimang pedangnya. Digosokgosoknya

hulu pedangnya yang dibuat dari gading. Kepada

kawannya yang berdiri di sampingnya ia berkata, “Kau lihat, bahwa

aku mempunyai pedang berhulu gading.”

Kawannya berpaling.

“Aku tidak mempergunakan pedang yang aku terima dari

pimpinan keprajuritan. Di saat-saat yang gawat aku

mempergunakan pedangku sendiri, yang berhulu gading.”

Kawannya mengamat-amati hulu pedang itu. Tetapi kesuraman

fajar masih menyaput warna putih kekuning-kuningan itu.

“Kau tidak percaya?” bertanya prajurit yang masih muda itu.

“Aku percaya.”

“Terima kasih. Pedang ini aku terima dari ayahku.” prajurit muda

itu berhenti sejenak, lalu, “kau tahu rumahku?”

Kawannya mengerutkan keningnya, “Ya, kenapa?”

“Nah, terima kasih.”

Kawannya menjadi heran. Dipandanginya wajah prajurit muda itu

dengan saksama. Sedang prajurit muda itu melontarkan tatapan

matanya jauh keseberang medan yang akan mereka pergunakan.

“Sebentar lagi kita akan bertempur,” desis prajurit muda itu, “kita

masing-masing tidak tahu pasti, apakah yang akan terjadi atas diri

kita.” ia berhenti sebentar. Lalu, “kalau terjadi sesuatu atasku,

tolong, bawa pedang ini kembali kepada ayahku.”

“Hus,” desis kawannya, “jangan mengigau.”

Prajurit muda itu berpaling. Tetapi kemudian ia-pun tersenyum.

Katanya, “Pujang Warit memang gila. Ia sampai hati mengorbankan

kawan-kawannya sendiri untuk alas kakinya, dalam usahanya

memanjat ke tingkat tertinggi dari susunan keprajuritan Kediri.”

“Ia akan memetik buah dari kelicikannya itu.”

Prajurit muda itu kini tertawa, “Kediri-pun akan memetik buah

dari ketamakannya.”

Kawannya menepuk bahunya sambil berdesis, “Jangan berputus

asa.”

“He, apakah aku berputus-asa? Kau salah terka. Aku tidak

berputus-asa,” namun suaranya kemudian merendah, “tetapi

apakah kita tidak seharusnya menilai keadaan?”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, ya. Kita

memang harus menilai keadaan.”

Prajurit-prajurit Kediri itu-pun kemudian mengatur diri mereka

masing-masing ketika mereka mendengar tengara bagi pasukan itu.

Masing-masing telah berada di dalam kelompoknya, dan kelompokkelompok

sudah menempatkan diri di dalam gelar.

Tanda-tanda kebesaran-pun telah dipasang. Umbul-umbul dan

panji-panji yang melekat pada tunggul-tunggul yang mempunyai

kesan tersendiri. Tunggul-tunggul yang berwarna kekuningkuningan,

bertangkai sepanjang tombak larakan.

Sejenak kemudian Mahisa Walungan yang memegang pimpinan

tertinggi atas nama Sri Baginda Kertajaya, turun ke dalam gelar

yang sudah mulai dipasang. Di belakangnya sebuah songsong yang

kuning gemerlap dikawal oleh lima orang prajurit pilihan.

“Seharusnya Pujang Warit menyadari dirinya,” berkata Gubar

Baleman di dalam hatinya, “songsong kebesaran itu adalah pertanda

bahwa Mahisa Walungan telah mewakili Sri Baginda.”

Sejenak kemudian pasukan di ke dua belah pihak-pun sudah

siap. Ketika matahari menjadi semakin merayap naik, menghampiri

cakrawala, maka langit-pun menjadi semakin-cerah.

Perlahan-lahan pasukan Kediri itu-pun bergerak maju. Angin pagi

yang basah menyentuh panji-panji dan umbul-umbul yang beraneka

warna.

Di seberang yang lain pasukan Singasari-pun telah siap pula.

Seperti yang direncanakan oleh Sri Rajasa, pasukan Singasari telah

memasang gelar dengan segala macam tanda-tanda kebesaran

Kerajaan Singasari.

Panji-panji yang dipasang pada tunggul-tunggul yang megah,

umbul-umbul dan payung yang berwarna kuning emas.

Sesaat sebelum pasukannya bergerak Sri Rajasa masih menerima

beberapa laporan tentang lawangnya. Beberapa saat ia masih

merenungi medan yang terbentang di hadapannya.

“Mahisa Agni,” desis Sri Rajasa, “kita telah menumpahkan semua

kekuatan kita di medan hari ini. Kalau hari ini kita gagal, maka

harapan untuk maju di hari-hari berikutnya-pun menjadi semakin

kecil.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dan apakah kau yakin kepada laporan petugas sandi, bahwa

sepasukan prajurit Kediri, justru yang terasing itu sudah ditarik dari

medan?”

“Demikianlah laporan yang hamba terima Tuanku. Tetapi hamba

percaya kepada petugas sandi itu. Petugas itu bahkan berhasil

memasuki bekas perkemahan prajurit Kediri itu. Pada saat yang

bersamaan, sekelompok kecil pasukan yang diduga datang dari

pasukan induk telah datang keperkemahan itu pula. Tetapi menurut

petugas sandi itu, agaknya yang datang itu tidak tahu, bahwa

pasukan yang ada di perkemahan itu telah meninggalkan

padukuhannya.”

“Kita menjadi semakin yakin, bahwa memang telah terjadi

perpecahan di Kediri.”

“Dan sekarang, apakah Tuanku tetap akan menurunkan seluruh

pasukan di satu medan?”

“Ya. Kalau di perkemahan yang lain memang sudah tidak ada

pasukan lawan, kita pusatkan kekuatan kita di sini. Kita harus dapat

memecahkan pertahanan pasukan Kediri. Hari ini aku akan

membawa dua orang Senapati pengapit. Panglima pasukan

pengawal dan panglima pasukan keamanan ada padaku. Kau-pun

akan di sampingi oleh panglima pasukan tempur yang kemarin

memimpin pasukan pecahan itu dan Pimpinan Pelayan Dalam.”

“Tetapi, apakah kita tidak memerlukan sebuah pasukan cadangan

Tuanku. Kalau semua kekuatan hari ini turun kegelanggang kita

akan kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu, apabila tibatiba

saja timbul masalah-masalah yang tidak dapat kita

perhitungkan lebih dahulu.”

“Semua orang yang ikut ke medan ini adalah prajurit. Para

pengawal perkemahan, juru masak, para pekatik dan orang-orang

yang tinggal di perkemahan harus dapat menjaga diri mereka

sendiri. Dalam keadaan darurat mereka merupakan sekelompok

pasukan yang cukup untuk menolong diri mereka, sementara

mereka mengirimkan penghubung ke medan.”

“Apakah dengan demikian, hal itu tidak akan justru

mengganggu?”

“Tidak. Dan pada dasarnya, aku memang akan mengerahkan

segenap kemampuan. Itulah sebabnya aku katakan, hari ini adalah

hari yang menentukan. Kalau kita gagal, maka hari-hari yang

berikutnya adalah hari-hari yang tidak dapat diharapkan lagi.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Ia mengerti maksud Sri Rajasa. Dan

ia-pun mengerti, bahwa sifat-sifat itu tidak akan dapat dihalau dari

padanya. Sikap yang menentukan. Menang atau kalah sama sekali,

seperti kebiasaan yang dibawanya dari padang Karautan.

Sejenak kemudian jarak gelar yang dipasang oleh ke dua belah

pihak telah menjadi semakin mendekat. Pasukan Singasari-pun

kemudian bergerak pula menyongsong pasukan Kediri yang telah

mendahului memasuki medan.

Ketika Mahisa Walungan melihat gelar pasukan lawannya,

hatinya menjadi berdebar-debar. Ia melihat perbedaan pada

pasukan itu. Hari ini pasukan Singasari telah turun ke medan

dengan segala macam tanda-tanda kebesaran.

“Agaknya Singasari telah meyakini keadaan,” berkata Mahisa

Walungan di dalam hatinya.

Tetapi Mahisa Walungan sama sekali tidak terkecil hati meskipun

kadang-kadang tumbuh juga kecemasan di dalam dadanya. Bukan

tentang dirinya sendiri, tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan,

bahwa setelah Singasari menurunkan segenap kekuatannya maka

pasukan Kediri nampaknya menjadi semakin kecil. Jumlah prajurit

Singasari benar-benar tidak terhitung lagi. Jumlah yang sama sekali

tidak diduga-duganya.

Mahisa Walungan menarik nafas dalam-dalam. Di belakangnya

penongsongnya berjalan dengan mantap, dikawal oleh sekelompok

prajurit pilihan.

Sejenak Adinda Sri Baginda Kertajaya itu melayangkan

pandangannya menebar ke ujung-ujung gelarnya. Ia masih sempat

meraba dadanya oleh haru. Bagaimana-pun juga, ia melihat sorot

mata yang memancar dari prajurit-prajuritnya, sebagai keteguhan

hati mereka menghadapi segala kemungkinan.

“Tidak seorang-pun yang ragu-ragu,” desisnya di dalam hati.

Sejenak kemudian Mahisa Walungan memandang kegelar

lawannya yang semakin jelas. Ia sadar, bahwa Sri Rajasa memang

seorang prajurit yang tangguh. Ia mempunyai ilmu yang sangat

asing bagi Mahisa Walungan. Sebagai seorang yang berilmu, Mahisa

Walungan cukup memiliki bekal untuk menilai tata gerak lawan.

Tetapi ia menggeleng-gelengkan kepalanya, memikirkan tata gerak

Sri Rajasa. Bahkan kadang-kadang dalam keadaan yang genting, Sri

Rajasa telah melakukan beberapa macam cara yang bagi Mahisa

Walungan, agak terlampau kasar dilakukan oleh seorang Raja yang

perkasa. Namun di saat-saat yang lain, Sri Rajasa telah bertempur

bagaikan seorang yang kebal dari sekala macam senjata. Tenang

dan meyakinkan.

“Tetapi Sri Rajasa tidak kebal,” desisnya, “ternyata ia selalu

menghindari tajam senjataku.”

Namun yang menggetarkan bagi Mahisa Walungan, kemampuan

Sri Rajasa sama sekali tidak berkurang setelah sehari penuh ia

bertempur.

Di hari pertama dan bahkan di hari kedua Sri Rajasa sama sekali

tidak terpengaruh oleh banyaknya keringat yang menitik dari

tubuhnya. Di saat-saat matahari sudah condong ke Barat, ia masih

mampu bertempur seperti pada saat pertempuran itu dimulai.

Dan kini ia harus menghadapi Sri Rajasa itu kembali dalam

keadaan yang pahit, sepeninggal Pujang Warit dari perkemahannya.

Dalam pada itu, Pujang Warit memang berada di perjalanan ke

kota. Dalam waktu yang pendek ia memutuskan untuk

meninggalkan medan.

“Tetapi, keputusan yang demikian itu akan sangat berbahaya

bagi pasukan Adinda Sri Baginda Mahisa Walungan dan Menteri

Gubar Baleman. Kita sudah merampas kemungkinan datangnya

pasukan cadangan untuk membantu mereka, kini kita melepaskan

mereka bertempur tanpa kita.”

“Bodoh kau,” geram Pujang Warit kepada Senapati pengapitnya

yang mencoba memberinya peringatan, “Mahisa Walungan dan

Gubar Baleman memang sudah tidak berhak untuk hidup. Sri

Baginda melepaskan mereka, hanya karena Baginda terkejut atas

berita tentang pasukan Singasari itu.”

“Bagaimana kalau Senapati muda yang menjemput Gubar

Baleman ke perbatasan itu sampai ke istana?”

“Ia tidak akan memiliki nyawa rangkap.”

“Tetapi, masalahnya bukan Mahisa Walungan atau Gubar

Baleman. Masalahnya adalah masalah Kediri.”

“Kau memang bodoh. Bersama kita atau tidak, Mahisa Walungan

akan bertempur. Bertempur mati-matian. Kita tahu bahwa mereka

adalah Senapati-senapati yang perkasa. Tetapi bagaimana

perkasanya kedua orang itu, namun mereka tidak akan dapat

menahan arus pasukan Singasari sehingga aku yakin, keduanya

akan hancur di peperangan itu.”

“Bagaimana kalau mereka mengundurkan diri.”

Pujang Warit menggelengkan kepalanya, “Aku kira Mahisa

Walungan dan Gubar Baleman tidak akan mengundurkan diri.

Mereka yakin bahwa cara itu tidak akan ada gunanya bagi mereka,

selama aku masih ada.”

Senapati pengapitnya mengerutkan keningnya.

“Jangan terlampau bodoh. Dalam pertempuran itu, pasukan

Kediri akan pecah dan kocar-kacir. Tetapi pasukan Singasari-pun

akan mengalami kehancuran yang parah. Sudah aku katakan

berkali-kali. Kita akan berdiri di atas timbunan mayat ke dua belah

pihak. Pujang Warit akan menjadi Senapati tertinggi. Siapa tahu,

salah seorang adik Sri Baginda Kertajaya akan dihadiahkan

kepadaku. Kemudian apa bedanya aku dengan Mahisa Walungan?”

Kawannya berbicara sudah tidak bernafsu lagi untuk membantah.

Pujang Warit agaknya memang sudah tidak waras lagi. Tetapi

Senapati itu sadar, bahwa ia tidak akan menumbuhkan perpecahan

baru. sehingga sebelum mereka bertempur melawan Singasari.

pasukan Kediri telah hancur dengan sendirinya.

Demikianlah maka pasukan Pujang Warit itu merayap mendekati

kota. Beberapa ratus patok dari istana, Pujang Warit mengirimkan

seorang penghubung untuk menghadap Sri Baginda,

memberitahukan bahwa ia akan menghadap.

Kehadiran penghubung itu mengejutkan seisi istana yang selalu

berjaga-jaga siang dan malam. Setiap saat mereka mendapat

laporan dari medan di sebelah Utara Ganter. Karena itu, kedatangan

utusan Pujang Warit telah menumbuhkan keheranan di hati Sri

Baginda.

“Kenapa Pujang Warit akan menghadap?”

“Ampun Tuanku. Senapati Panggede Pujang Warit akan

menyampaikan sesuatu yang dianggapnya penting bagi Tuanku.”

Sri Baginda Kertajaya berpikir sejenak. Meskipun ia tidak melihat

medan, tetapi laporan yang diterimanya setiap kali telah

memberikan gambaran yang jelas dari medan yang sedang diaduk

oleh peperangan yang dahsyat di sebelah Utara Ganter.

Dalam pada itu, maka dua orang penasehat Baginda, tanpa

berjanji, dan hampir bersamaan berkata, “Apakah hamba

diperkenankan memanggilnya?”

“Aku belum memutuskan untuk menerima Pujang Warit,” jawab

Sri Baginda.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak, namun mereka

tidak berkata apa-apa lagi.

Dalam pada itu Sri Baginda mencoba menilai apa yang telah

terjadi di medan peperangan yang mencemaskan itu.

Belum lagi Sri Baginda memberi keputusan, utusan yang dikirim

oleh Mahisa Walungan seperti yang selalu dilakukannya, telah

datang menghadap.

Dengan tergesa-gesa Sri Baginda bertanya, “Bagaimana dengan

medan hari ini?”

Penghubung itu-pun segera melaporkannya, bahwa medan

menjadi semakin berat.

“Pujang Warit meninggalkan perkemahannya,” berkata

penghubung itu, “justru pada saat Singasari mengerahkan segala

kekuatan dan pasukan cadangan di hari ketiga. Gelar yang dipasang

hari ini ditandai dengan ciri-ciri kebesaran Sri Rajasa Batara Sang

Amurwabumi.”

Dada Sri Baginda Kertajaya berdesir karenanya.

“Kenapa Pujang Warit justru meninggalkan medan di saat yang

genting ini?” gumam Sri Baginda.

Namun tiba-tiba saja Sri Baginda itu berteriak kepada utusan

Pujang Warit, “Kenapa ia pergi? Bahkan dengan segenap

pasukannya yang ada di medan? Apakah Pujang Warit tidak sadar,

bahwa dengan demikian ia sudah menjerumuskan pasukan Kediri

yang lain ke dalam bencana?”

“Bahkan usaha Adinda Sri Baginda untuk memanggil pasukan

cadangan yang tersebar-pun dihalang-halangi. Pujang Warit masih

selalu menyebut dirinya, yang mendapat limpahan kekuasaan Sri

Baginda Kertajaya.” Sela penghubung Mahisa Walungan.

Sri Baginda menjadi tegang sesaat. Dipandanginya kedua

penasehatnya, kemudian utusan Pujang Warit yang menghadapnya.

Sejenak Sri Baginda itu merenung. memperbandingkan semua

keterangan dan masalah-masalah yang pernah didengarnya dan

disaksikannya. Karena itu paseban itu-pun menjadi sepi. Sepi yang

tegang.

Dan tiba-tiba Sri Baginda berkata, “Aku masih tetap dalam

pendirianku. Kalian tetap berada di paseban. Juga kau, tidak perlu

kembali kepada Pujang Warit.”

“Ampun Tuanku. Saat ini Senapati Pujang Warit sedang

menunggu.”

“Biarlah ia menunggu. Aku akan memanggilnya. Tetapi bukan

kau.”

Utusan itu menjadi pucat. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain dari

pada menundukkan kepalanya.

Sri Baginda-pun kemudian dengan tiba-tiba meninggalkan

ruangan paseban. Di ruang yang lain dipanggilnya beberapa orang

Senapati. Senapati pengawal istana.

“Nah, apakah kau masih tetap setia kepadaku?” bertanya Sri

Baginda.

Para Senapati itu saling berpandangan sejenak. Lalu salah

seorang dari mereka berkata, “Ampun Sri Baginda, apapun yang

akan terjadi, hamba telah menyatakan diri hamba bersama-sama,

selalu setia kepada Sri Baginda.”

“Ya,” berkata Sri Baginda, “terima kasih. Dan kita bersama-sama

telah membuat suatu kesalahan. Kita telah menangkap Mahisa

Walungan. Untunglah bahwa Gubar Baleman mempunyai bentuk

kesetiaan yang lain, sehingga aku terpaksa berpikir lagi mengenai

mereka. Kini mereka berdua masih mempunyai kesempatan untuk

maju ke medan perang. Tetapi keadaan Kediri telah menjadi parah.”

Sri Baginda berhenti sejenak. Lalu, “kalian masih tetap harus

berjaga-jaga di sekitar istana. Tidak seorang-pun boleh keluar.”

Para Senapati itu menganggukan kepala mereka. Yang tertua di

antara mereka menjawab, “Hamba Tuanku.”

“Pujang Warit dan pasukannya kini telah berada di dalam kota.

Senapati itu minta waktu untuk menghadap.”

Para Senapati itu saling berpandangan sejenak.

“Aku akan memanggil Pujang Warit. Tetapi kalian tahu, bahwa

Pujang Warit ternyata telah mengelabui aku. Aku telah membuat

kesalahan karenanya. Karena itu. Pujang Warit tidak akan mendapat

tempat lagi di Kediri.”

Para Senapati menarik nafas dalam-dalam.

“Kalian tahu, akibat apa yang mungkin dapat timbul? Tetapi aku

akan berusaha untuk mengatasi semuanya itu.”

“Hamba bersama-sama para Senapati dan prajurit pengawal

yang masih ada akan menghadapi setiap kemungkinan Tuanku.”

“Bukankah di dalam pasukan Pujang Warit itu terdapat beberapa

kelompok dari kesatuan pengawal?” bertanya Sri Baginda.

“Hamba Tuanku.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya

kemudian, “Nah salah seorang dari kalian, pergilah. Panggil Pujang

Warit. Kalau Pujang Warit menanyakan pesuruhnya, katakan, bahwa

Sri Baginda masih memerlukannya untuk memberikan beberapa

keterangan tentang medan dan pasukan Singasari.”

Demikianlah, maka salah seorang dari para Senapati itu-pun

segera meninggalkan istana untuk menjemput Pujang Warit. Dari

utusan Pujang Warit yang masih ada di paseban. Senapati itu tahu,

di mana Pujang Warit dan pasukannya kini berada.

Kedatangan Senapati itu telah mengejutkan Pujang Warit. Yang

pertama-tama ditanyakan adalah pesuruhnya.

“Sri Baginda masih memerlukan banyak sekali keteranganketerangan

tentang medan. Karena itu, maka aku diperintahkan

oleh Sri Baginda untuk menjemputmu. Sri Baginda tidak

berkeberatan untuk menerimamu. Bahkan semakin cepat semakin

baik. karena Sri Baginda ingin lebih cepat dan lebih banyak

mengetahui tentang medan.”

“Apakah Mahisa Walungan dan Gubar Baleman tidak pernah

mengirimkan penghubungnya?”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpikir, tetapi

ia harus segera menjawab, katanya, “Laporan mereka tidak

meyakinkan. Yang ada hanyalah keluh kesah dan hampir menjadi

putus-asa. Itulah yang akan didengar oleh Sri Baginda.” Senapati itu

terdiam sejenak. Namun ia mengerti sepenuhnya maksud Sri

Baginda, sehingga ia meneruskannya. “Sri Baginda tidak meletakkan

harapannya pada pasukan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.

Pertahanan itu adalah pertahanan depan yang harus dirangkapi

dengan pertahanan yang lain. Untuk sementara. Sri Baginda telah

menjadikan dinding istana sebagai benteng terakhir.”

“Berbahaya sekali,” dengan serta-merta Pujang Warit menjawab.

“Untuk sementara. Tetapi sebaiknya kau menghadap sendiri.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang kurang

mapan di hatinya. Namun ia yakin, bahwa dalam keadaan serupa

ini, Sri Baginda tidak akan berbuat sesuatu yang akan dapat

mengurangi kekuatan Singasari.

Karena itu maka katanya, “Baiklah, aku akan menghadap Sri

Baginda.”

Tetapi ternyata Pujang Warit tidak pergi sendiri. Ia membawa

beberapa orang prajurit yang dipercayanya, untuk mengawalnya ke

istana.

Senapati yang menjemputnya menjadi termangu-mangu. Tetapi

supaya Pujang Warit tidak mencurigainya, maka ia-pun sama sekali

tidak berkeberatan, membawa Pujang Warit bersama beberapa

orang pengawal.

Sejenak kemudian maka mereka-pun segera berpacu ke istana.

Ketika mereka memasuki pintu gerbang, setiap prajurit pengawal

istana, sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Meskipun

demikian mereka tidak segera bertindak agar tidak menumbuhkan

beberapa keributan.

“Cara yang dipergunakan oleh Menteri Gubar Baleman pantas

ditiru,” desis salah seorang Senapati, “mereka menguasai keadaan

tanpa terjadi sesuatu. Apakah dapat dilakukan tindakan serupa atas

para pengawal yang tinggi di luar paseban itu.”

Kawannya menganggukkan kepalanya. “Mungkin sekali. Aku akan

membawa pengawal itu kesamping bangsal.”

Senapati yang seorang itu-pun kemudian meninggalkan

kawannya untuk membawa para pengawal Pujang Warit kesamping

bangsal, sedang kawannya itu-pun segera mempersiapkan beberapa

orang prajurit pengawal untuk menguasai para pengawal Pujang

Warit itu.

Dalam pada itu, Pujang Warit yang telah sampai di luar regol

halaman bangsal paseban dalam, segera turun dari kudanya. Tetapi

ia tidak dapat masuk membawa pengawal-pengawalnya, sehingga

karena itu, maka diantar oleh Senapati yang menjemputnya, ia

melangkah di antara dua orang penjaga di bawah tangga bangsal

paseban. Tetapi kedua penjaga itu, tidak memberikan kesan apapun

pada Senapati muda itu.

Bahkan keduanya menganggukkan kepala mereka, memberikan

hormat sebagai mana seharusnya dilakukan terhadap seorang

Senapati.

Dengan demikian maka para pengawal Pujang Warit-pun tinggal

di halaman bangsal paseban dalam, sedang kuda-kuda mereka

harus mereka tinggalkan di luar regol. Tetapi hal itu sama sekali

tidak menumbuhkan kecurigaan apapun pada Pujang Warit dan

pengawalnya, karena memang demikianlah kebiasaan seseorang,

siapapun dan betapapun pentingnya keperluannya, apabila

menghadap Sri Baginda di paseban dalam.

Para pengawal itu berpaling ketika mereka mendengar seseorang

menyapa mereka. Ternyata seorang Senapati datang menghampiri

mereka dari sisi paseban itu. Sambil tertawa Senapati itu berkata,

“Sri Baginda telah lama menunggu. Apakah kalian datang

mengantarkan Pujang Warit?”

“Ya, kami datang mengawal Pujang Warit,” jawab seorang

Senapati yang ada di dalam kelompok pengawal itu.

“Bagus. Agaknya keadaan sudah menjadi terlampau panas,

sehingga Sri Baginda sendiri-pun menjadi agak bingung

menghadapinya.”

“Kenapa bingung?” jawab Senapati pengawal Pujang Warit,

“bukankah Sri Baginda sudah menyerahkan segala tanggung jawab

kepada Pujang Warit?”

“Ya. tetapi karena Sri Baginda kekurangan bahan laporan itulah

agaknya maka Sri Baginda menjadi bingung. Mudah-mudahan

dengan kedatangan Pujang Warit, Sri Baginda mendapat banyak

penjelasan.”

“Mudah-mudahan.”

“Tetapi,” berkata Senapati pengawal istana itu, “sebaiknya kalian

berada di samping bangsal ini. Dilongkangan sebelah kalian dapat

duduk sambil minum. Bukankah Pujang Warit memerlukan waktu

untuk menyampaikan laporannya itu?”

Senapati pengawal Pujang Warit itu menjadi ragu-ragu sejenak.

Sedang pengawal istana itu berkata, “Apakah kalian akan berdiri

saja di sini?”

Sejenak Senapati pengawal Pujang Warit itu merenung.

Kemudian dipandanginya anak buahnya seorang demi seorang.

Nampaknya mereka mengharap untuk dapat duduk beristirahat

dengan tenang sambil minum minuman hangat.

“Baiklah,” berkata pengawal itu kemudian, “di mana kami dapat

duduk menunggu?”

“Di sebelah bangsal ini.”

Para pengawal itu-pun kemudian berjalan beriringan melingkari

sudut paseban, menuruni sebuah tangga batu menuju kesebuah

longkangan yang dirimbuni oleh daun-daun pohon sawo kecik.

Beberapa orang pengawal yang ada di tempat itu

menganggukkan kepala mereka sambil tersenyum. Dengan

ramahnya mereka mempersilahkan para pengawal Pujang Warit itu

untuk duduk berjajar di halaman, pada sehelai tikar, pandan yang

putih di bawah bayang-bayang pohon yang rimbun.

Namun belum lagi mereka mapan, tiba-tiba mereka terkejut.

Seperti mimpi mereka melihat para pengawal itu bergeser setapak,

kemudian muncul beberapa orang yang lain, yang dengan satu

loncatan telah menekankan ujung-ujung pisau belati di lambung

mereka.

“He, apa artinya ini?” bertanya Senapati pemimpin pengawal

Pujang Warit.

“Tidak menjadi kebiasaan seorang Senapati yang dipanggil

menghadap oleh Sri Baginda membawa sekian banyak pengawal.”

“Sama sekali bukan suatu keanehan,” jawab Senapati itu,

“pengawal ini kami perlukan di sepanjang perjalanan, dalam

suasana yang panas ini.”

“Tetapi lawan masih berada di sebelah Utara Ganter.”

“Siapa tahu ada pesuruh-pesuruh di dalam kota yang sengaja

disebarkan oleh orang-orang Singasari, atau justru oleh orang-orang

Mahisa Walungan dan Gubar Baleman.”

“Mahisa Walungan dan Gubar Baleman sedang bertempur

mempertahankan Kediri.”

“Mereka sedang mencoba untuk memperbaiki kesalahan mereka.

Tetapi seandainya mereka dapat mengusir pasukan Singasari,

apakah mereka tidak memutar arah peperangan ini menghadap ke

istana?”

“Suatu ceritera yang aneh. Kami di sini, bahkan Sri Baginda

pernah mempercayai ceritera itu. Tetapi kini kami berpendapat lain

dan Sri Baginda-pun berpendapat lain. Apalagi setelah Pujang Warit

meninggalkan medan yang kini sedang dalam keadaan tidak

menguntungkan.”

Para pengawal itu menjadi tegang. Tetapi mereka tidak dapat

berbuat apa-apa. Setiap orang telah dilekati dengan ujung-pisau

belati di lambung atau punggungnya.

“Kini Sri Baginda sedang membuat perhitungan dengan Pujang

Warit di paseban. di hadapan para pemimpin Kediri, para penasehat,

para Menteri dan diawasi oleh beberapa orang Senapati yang telah

mengerti persoalan yang sebenarnya. Dengan demikian, maka kami

bertugas untuk membuat kalian tidak dapat ikut campur lagi dalam

masalah ini.”

“Licik. Jadi beginikah cara yang selama ini ditempuh oleh

pasukan pengawal yang terkenal itu? Menurut pendengaranku,

pasukan pengawal istana adalah pasukan yang paling baik di Kediri.

Tetapi ternyata kalian licik. Kenapa kalian tidak berusaha

mengepung kami pada saat kami memasuki halaman istana?”

Para prajurit pengawal istana itu saling berpandangan sejenak.

Tetapi terasa bahwa darah mereka menjadi panas mendengar katakata

pimpinan prajurit pengawal Pujang Warit itu.

Salah seorang dari mereka berkata, “Kalau kami tidak sedang

mengemban tugas, kami akan membuktikan bahwa kami bukan

manusia yang licik.”

“He, masihkah kau ingkar? Kita bersama-sama melihat kenyataan

ini.”

Senapati pengawal istana itu-pun menjawab, “Kami tidak dapat

membiarkan darah kami menjadi panas dan mendidih bagaimanapun

juga dada kami bergelora. Cara ini kami tempuh untuk

menghindari keributan yang tidak akan berarti apa-apa bagi kita

semua. Justru apabila keributan ini merembes sampai keluar istana,

akibatnya hanya akan membuat rakyat menjadi bertambah bingung.

Mereka sedang dicemaskan oleh berita peperangan di sebelah Utara

Ganter. Karena itu, maka kami berusaha untuk menyelesaikan tugas

kami dengan cepat dan tanpa keributan.”

“Tetapi itu bukan perbuatan jantan.”

“Mungkin, menurut penilaian seorang prajurit di peperangan.

Tetapi kami mempunyai pertimbangan lain. Mungkin kami memang

harus mengorbankan kejantanan kami untuk kepentingan yang jauh

lebih besar, Kediri.”

“Omong kosong. Setiap pengecut dapat mencari alasan apapun.

Untung kepentingan yang lebih besar.”

“Kami tidak akan berbantah mengenai diri kami. Apakah kami

orang-orang jantan, atau sekedar hanya segerombolan pengecut.

Tetapi kami berhasrat melakukan tugas kami sebaik-baiknya. Karena

itu maaf bahwa kami akan melucuti senjata kalian.”

“Gila,” teriak Senapati, pemimpin pasukan pengawal Pujang Warit

itu, “tidak mungkin. Senjata kami sama nilainya dengan nyawa

kami.”

“Jadi?”

“Kami tidak akan menyerahkan senjata kami.”

“Sekali lagi kami minta maaf, kalau kalian tidak menyerahkan

senjata kalian, memang kami terpaksa mengambil yang lain, yang

sama nilainya, yaitu nyawa kalian.”

“Gila, kalian sudah menjadi gila?”

“Mungkin kami sudah menjadi gila. Beberapa saat yang lampau

kami berbuat serupa, menangkap Adinda Sri Baginda Mahisa

Walungan. Kemudian kami berusaha menangkap Gubar Baleman,

tetapi gagal. Justru kamilah yang dikuasai oleh prajurit-prajurit

topangan seperti kalian yang setia kepada Menteri Gubar Baleman.

Tetapi agaknya Gubar Baleman tetap tunduk dan setia kepada Sri

Baginda. Sekarang, tugas kami menguasai kalian dan melucuti

senjata kalian. Kami tidak lagi sempat menilai diri kami. Apakah

kami memang gila atau tidak. Tetapi kami adalah prajurit-prajurit

pasukan pengawal Baginda Kertajaya yang hanya dapat diperintah

langsung oleh pimpinan kami yang berada di bawah perintah Sri

Baginda.”

“Gila. Kalian gila. Aku tidak perlu sesorahmu. Tetapi kalian bukan

prajurit-prajurit Kediri yang sebenarnya, karena dengan tindakan

kalian telah melanggar sifat kesatria.”

“Sayang, bahwa pemimpinmulah yang mendahuluinya.”

“Siapa?”

“Pujang Warit. Apakah sampai sekarang kau tidak sadar bahwa

Pujang Warit telah memfitnah Adinda Sri Baginda dan Menteri Gubar

Baleman sehingga hampir saja keduanya terbunuh kalau tidak ada

banjir bandang dari Singasari? Kemudian pemimpinmu itu dengan

licik membiarkan pasukan Kediri di sebelah Utara Ganter hari ini

bertempur tanpa bantuan pasukan cadangan yang seharusnya

dapat dikumpulkan?”

“Kalian mengigau?”

“Diamlah. Kalian harus menyerahkan senjata kalian. Di dalam

keadaan yang gawat, kami tidak dapat bergurau lagi. Senjatamu

atau nyawamu.”

Senapati itu tidak menjawab. Tetapi giginya gemeretak menahan

kemarahan yang memuncak.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa, ketika mereka

dipaksa untuk berdiri berjajar. Kemudian seorang prajurit pengawal

telah melepas pedang dari lambung mereka, dengan wrangkanya

sama sekali.

“Kalian menjadi tawanan pasukan pengawal istana hari ini.”

Senapati pemimpin pengawal Pujang Warit itu tidak menjawab.

Wajahnya yang tegang menjadi kemerah-merahan oleh gejolak di

dalam dadanya.

Sementara itu Pujang Warit yang berada di paseban-pun menjadi

tegang pula. Meskipun mula-mula Sri Baginda Kertajaya

menyambutnya sambil tertawa, “Ha. kau Pujang Warit. Sudah lama

kami menunggumu. Marilah.”

Pujang Warit semula memang tidak menaruh kecurigaan apaapa.

Orang-orang di paseban adalah orang-orang yang sudah

dikenalnya. Dilihatnya di belakang Sri Baginda, di antara para

penasehat, dua orang yang dikenalinya baik-baik. Tetapi Pujang

Warit tidak segera dapat membaca kesan yang terpancar dari

wajah-wajah mereka yang pucat dan basah oleh keringat yang

dingin.

“Bagaimana rencana selanjutnya Pujang Warit? Sebagian aku

sudah mendengar dari pesuruhmu yang mendahului kau

menghadap. Aku menahannya di sini. karena aku ingin banyak

mendengar tentang daerah pertempuran itu. Sehingga aku

memerintahkan kepada orang lain untuk menjemputmu.”

Pujang Warit membungkukkan kepalanya dalam-dalam, “Ampun

Tuanku. Barangkali sebagian terbesar dari masalah yang akan

hamba sampaikan telah Tuanku ketahui. Pertahanan yang

sebenarnya akan hamba bangunkan di dalam lingkungan yang lebih

kuat. Hamba akan menjadikan dinding kota sebagai benteng

pertahanan untuk mematahkan serbuan pasukan Singasari.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah kau

akan membangun benteng pertahanan itu hari ini?”

“Apabila Sri Baginda mengijinkan. Hamba memang

merencanakan demikian.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya

Pujang Warit dengan tatapan mata yang menyimpan teka-teki.

Tetapi Sri Baginda masih berkata, “Apakah pasukan yang cukup

kuat untuk bertahan? Aku mendengar laporan dari orangmu sendiri,

kekuatan Singasari bagaikan banjir bandang yang seakan-akan tidak

terbendung.”

“Hamba Tuanku. Memang kekuatan Singasari cukup

mendebarkan jantung.”

“Apakah prajuritmu cukup banyak untuk mempertahankan kota

ini.”

“Tentu Tuanku. Aku akan berusaha sekuat-kuat tenaga. Prajuritprajuritku

akan aku perlengkapi dengan senjata jarak jauh untuk

menahan laju mereka. Dengan demikian, apabila mereka mencapai

dinding kota, jumlah mereka-pun sudah berkurang.”

“Tidak seberapa jumlahnya. Mereka akan segera berlindung di

balik perisai-perisai mereka.”

Pujang Warit mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba di luar

sadarnya ia berkata, “Tetapi ketika mereka mencapai dinding kota,

maka jumlah mereka-pun pasti sudah akan jauh berkurang.”

“Kenapa?”

“Mereka sedang bertempur di sebelah Utara Ganter.”

“Dengan pasukan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman

maksudmu?”

“Hamba Tuanku.”

“Apakah Mahisa Walungan dan Gubar Baleman kira-kira tidak

akan dapat menahan mereka?”

“Terlampau berat Tuanku.”

Dan sampailah Sri Baginda kepada pertanyaan yang mengejutkan

Pujang Warit sehingga serasa jantungnya berhenti berdetak,

“Kenapa kau tidak membantu Mahisa Walungan dan Gubar Baleman

saja? Pasukan gabungan itu pasti setidak-tidaknya akan dapat

menahan arus laju pasukan Tumapel. selagi kita mengumpulkan

pasukan cadangan yang tersebar.”

Pujang Warit tidak segera menjawab pertanyaan Sri Baginda.

Bahkan terasa keringat dinginnya mulai mengaliri punggungnya.

“Kenapa?” desak Sri Baginda.

Pujang Warit tergagap, “Tetapi, bukankah lebih baik bagi hamba

untuk menyusun pertahanan tersendiri, sesuai dengan perintah Sri

Baginda, bahwa hamba harus mengambil pimpinan seluruh pasukan

Kediri.”

“Ya. aku memang memerintahkan kepadamu untuk mengambil

pimpinan seluruh pasukan. Tetapi kenapa kau tidak berbuat

demikian dan menyatukan pertahanan untuk melawan arus pasukan

yang besar itu?”

“Ampun Tuanku. Hamba sudah mencoba, tetapi Mahisa

Walungan dan Gubar Baleman tidak mau menyerahkan pimpinan.

Justru mereka menganggap bahwa hamba harus tunduk kepada

perintahnya.”

Terasa sesuatu bergetar di dada Baginda. Ia tidak dapat ingkar,

bahwa ia-pun telah melakukan kesalahan. Ia telah menyerahkan

pimpinan tertinggi kepada dua tangan. Ia sampai saat terakhir

masih belum dengan tegas mencabut kekuasaan Pujang Warit,

sehingga akhirnya, Kediri telah terbagi.

Namun demikian Sri Baginda melihat, niat yang kurang baik pada

Pujang Warit. Kalau Gubar Baleman dan Mahisa Walungan dengan

jujur telah berusaha untuk menggabungkan kekuatan mereka,

seperti yang disampaikan oleh penghubungnya, maka Pujang Warit

dengan sengaja menjerumuskan kedua orang yang menjadi

saingannya itu ke dalam bencana.

Karena itu, maka Sri Baginda-pun bertanya, “Tetapi apakah kau

tidak dapat membuat suatu cara, sehingga pasukanmu dapat

bergabung dengan kekuatan Mahisa Walungan dan Gubar Baleman?

Misalnya, kau mengorbankan sedikit harga dirimu seperti yang telah

dilakukan oleh Gubar Baleman, tetapi dengan demikian Kediri dapat

diselamatkan.”

“Tuanku, bukankah Gubar Baleman dan Mahisa Walungan

menurut Tuanku adalah pengkhianat-pengkhianat? Apakah hamba

harus menyerahkan pimpinan pasukan ini kepada seorang

pengkhianat? Kalau mereka bersedia berjuang di dalam lingkungan

perintah hamba, sesuai dengan keputusan Sri Baginda, hamba tidak

akan berkeberatan.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia

melihat kesalahan pada dirinya sendiri.

Tetapi Sri Baginda tidak mau banyak kehilangan waktu, sehingga

katanya kemudian, “Pujang Warit, aku tidak dapat mengingkari

kesalahanku. Tetapi siapakah yang menyebabkan aku salah menilai

kesetiaan adikku dan Menteriku Gubar Baleman?”

Pertanyaan yang langsung itu terasa menyengat jantungnya.

Ternyata bahwa Sri Baginda benar-benar sudah mencium

rencananya bersama kedua penasehat itu. Ternyata kehadiran

Gubar Baleman dan Mahisa Walungan di peperangan itu bukan

sekedar karena Sri Baginda menjadi bingung oleh arus pasukan

Singasari, tetapi justru karena Sri Baginda menyadari kekeliruannya.

“Kenapa kau diam Pujang Warit?”

Pujang Warit tidak segera menjawab. Tubuhnya menjadi semakin

basah oleh keringatnya yang mengalir semakin deras di seluruh

tubuhnya.

“Jangan membisu Pujang Warit. Pada saat-saat terakhir aku

mendengar semua rencanamu yang keji. Kau meninggalkan medan

sama sekali bukan karena kau yakin bahwa kau dapat menyusun

pertahanan yang kuat, tetapi karena kau sengaja menjerumuskan

Gubar Baleman dan Mahisa Walungan ke dalam jurang kehancuran.

Kau berharap bahwa pasukan Gubar Baleman dan Mahisa Walungan

akan hancur, sedang kedua Senapati itu terbunuh. Kau berharap

bahwa sisa-sisa pasukan Singasari tidak akan terlampau berbahaya

lagi bagimu sehingga kau akan dapat menghancurkannya di tepi

kota ini. Dengan demikian kau akan mendapat dua kemenangan

sekaligus. Kemenangan atas Gubar Baleman dan Mahisa Walungan

dan kemenangan atas Singasari. Kau akan mendapat pujian dan

gelar pahlawan yang telah menyelamatkan Kediri dari kehancuran.

Bukankah begitu? “

Mulut Pujang Warit masih juga serasa terbungkam. Bahkan kini

tubuhnya menjadi gemetar menahan perasaannya.

Tidak seorang-pun yang ada di dalam paseban itu berani

mengangkat wajahnya. Kini Sri Baginda Kertajaya sudah sampai

pada puncak kemarahannya, meskipun tampaknya ia masih

mencoba mengendalikan diri.

“Pujang Warit,” berkata Sri Baginda, “kenapa kau diam saja?”

“Ampun Tuanku,” berkata Pujang Warit kemudian, “hamba telah

melakukan yang paling baik bagi Kediri menurut pendapat hamba.”

“Juga tentang usahamu menyingkirkan Gubar Baleman dan

Mahisa Walungan itu termasuk usaha terbaik bagi Kediri?”

“Hamba Tuanku, karena menurut penilaian hamba, keduanya

sudah tidak menurut perintah Tuanku. Keduanya dengan diam-diam

telah membangun pertahanan di sebelah Utara Ganter tidak setahu

Tuanku. Itu akan menjadi kebiasaan yang sangat tercela bagi

seorang prajurit.”

“Tetapi apakah pelanggaran itu berarti pemberontakan seperti

yang kau katakan? Dan apakah kau yakin bahwa keduanya telah

melakukan pelanggaran itu? Aku melarang membawa pasukan ke

perbatasan. Dan mereka mentaatinya. Mereka tidak membawa

pasukan ke perbatasan, tetapi hanya ke sebelah Utara Ganter.”

“Tetapi membangun suatu pertahanan di luar pengetahuan

Tuanku, apakah hal itu dapat dibenarkan?”

“Tentu tidak. Tetapi apakah dibenarkan untuk menyalah gunakan

kepercayaanku, dengan memutar balikkan kenyataan? Apakah

benar Gubar Baleman dan Mahisa Walungan tidak setia kepadaku?”

“Hal itu, kita sama-sama tidak tahu. Hamba tidak tahu apa yang

tersirat di hatinya yang paling dalam, dan Tuanku-pun tidak

mengetahui.”

Darah Sri Baginda berdesir mendengar jawaban itu. Ketika

ditatapnya wajah Pujang Warit, ternyata wajah itu-pun menjadi

merah.

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Kini ia dapat membaca

wajah Senapati muda itu. Agaknya Pujang Warit telah merasa

bahwa ia terjebak. Karena itu, dalam keadaan yang tersudut itu,

tidak ada pilihan lain baginya, dari pada mempertahankan harga diri

sedapat-dapatnya. Ia yang mengetahui kelemahan dan kekeliruan

Sri Baginda selalu berusaha menyandarkan tindakannya kepada

kekeliruan itu. Meskipun akhirnya Sri Baginda dapat berbuat apa

saja atasnya, tetapi ia akan dapat memberikan kepada orang-orang

yang ada di paseban. bahwa kesalahan itu tidak dapat

dibebankannya kepada dirinya sepenuhnya.

Para Senapati dan para Menteri yang ada di paseban itu-pun

menjadi heran melihat sikap Pujang Warit. Sebagian dari mereka

dapat mengerti seperti juga Sri Baginda, bahwa Pujang Warit sudah

mendekati keputus-asaannya. Justru dengan demikian, darah

mudanya telah menggelegak tanpa dapat dikendalikan lagi.

“Aku akan dihukum mati,” berkata Pujang Warit di dalam hatinya,

“sebagai seorang prajurit, tidak pantas aku mati sambil

menyembunyikan wajah. Aku harus menengadahkan kepalaku

menghadap ketiang gantungan.”

Dengan demikian maka Pujang Warit-pun merasa tidak perlu lagi

untuk menundukkan kepalanya sampai mencium lantai. Kini ia justru

duduk dengan dada tengadah.

“Aku tidak akan dapat mengelak lagi,” katanya pula di dalam

hati.

Sikap Pujang Warit itu memang mencengangkan mereka yang

melihatnya. Namun mereka menjadi heran juga. bahwa Sri Baginda

masih saja membiarkannya duduk di tempatnya.

“Pujang Warit,” Sri Baginda masih berkata wajar meskipun

tampak betapa ia menahan hati, “aku tahu apa yang tersirat di hati

Mahisa Walungan dan Gubar Baleman. Mahisa Walungan adalah

adikku. Aku mengenalnya sejak kanak-kanak.”

“Tetapi kenapa Tuanku mempercayai hamba?”

“Ya. Kenapa aku mempercayaimu. Apakah karena kau terlampau

cerdik, atau karena aku terlampau bodoh,” Sri Baginda berhenti

sejenak. Lalu, “sedang Gubar Baleman telah membuktikan

kesetiaannya di saat-saat terakhir. Meskipun ia telah menguasai

seluruh isi istana ini, untuk sekedar dapat memberikan penjelasan

kepadaku, karena aku sudah tidak memberi waktu lagi kepadanya

untuk berbicara.” Sri Baginda berhenti sejenak untuk mengatur

pernafasannya yang memburu, “tetapi ia tidak berbuat lebih lanjut.

Ia tidak merampas kekuasaan dari tanganku meskipun itu dapat

dilakukannya apabila ia mau.”

“Dan Tuanku justru membenarkan cara yang demikian?” jawab

Pujang Warit, lalu, “ternyata Tuanku memang sudah tidak dapat

memegang kekuasaan seperti seharusnya seorang Maharaja.

Terbukti bahwa para Brahmana dan pemimpin agama telah

meninggalkan Kediri. Kemudian terjadi kekisruhan di dalam

pimpinan keprajuritan karena Tuan begitu cepat percaya. Tuanku

yang di saat-saat terakhir merasa diri Tuanku sebagai titisan Dewa,

akhirnya Tuanku harus mengakui, bahwa Tuanku tidak lebih dari

manusia biasa.”

Tidak seorang-pun yang dapat menilai lain dari sikap Pujang

Warit itu kecuali membunuh diri. Tetapi seperti yang diharapkan

oleh Pujang Warit, bahwa kematiannya bukanlah kematian seekor

tikus di tangan seekor kucing.

Namun sikap Pujang Warit itu telah membakar dada Sri Baginda

Kertajaya sebagai seorang prajurit. Meskipun selama ini Sri Baginda

yang merasa dirinya sebagai pengejawantahan Dewa dari langit,

namun dalam keadaan yang panas, ia telah terlempar kembali ke

dalam kenyataannya sebagai manusia, sebagai seorang prajurit.

Itulah sebabnya maka dengan wajah yang merah Sri Baginda

berkata, “Pujang Warit, kau benar. Aku tidak dapat membebankan

kesalahan seluruhnya kepadamu. Kau dan aku telah membuat

kesalahan yang serupa, karena itu. kau dan aku bersama-sama

harus mendapat hukuman. Hukuman yang sama sebagai prajuritprajurit

Kediri. Sebagai kesatria Kediri yang jujur. Hukuman itu

harus dijatuhkan kepada kita bersama-sama. Hukuman itu adalah

perang tanding antara dua orang prajurit yang sama-sama

bersalah.”

Kata-kata Sri Baginda Kertajaya itu ternyata telah

mengguncangkan paseban. Beberapa orang Senapati tersentak, dan

bahkan ada di antara mereka yang bergeser maju. Salah seorang

dari mereka tiba-tiba saja berkata, “Ampun Tuanku, kenapa Tuanku

menjatuhkan keputusan itu?”

“Ya, itu keputusanku.”

“Tuanku, sebelum terlambat. Tuanku dapat menunjuk salah

seorang dari kami untuk mewakili Tuanku, melakukan perang

tanding atas nama Tuanku.”

“Tidak. Aku berkata sepenuh kesadaranku.”

“Tetapi itu terlampau terhormat bagi Pujang Warit yang telah

dengan jelas melakukan pengkhianatan terhadap Tuanku dan

Kediri.”

“Tetapi sudah aku katakan, aku-pun telah bersalah.”

Senapati yang lain menyela, “Tetapi kami adalah prajuritnya yang

setia kepada Sri Baginda. Adalah sepantasnya, salah seorang dari

kami dapat mewakili Sri Baginda.”

Sri Baginda Kertajaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Katanya, “Aku sangat berterima kasih kepada kesetiaan kalian.

Tetapi aku tahu. bahwa akulah yang harus mendapat hukuman. Aku

sebagai manusia dan prajurit seperti yang dikatakan oleh Pujang

Warit. sehingga dengan demikian maka aku adalah pribadi.” Sri

Baginda berhenti sejenak. Lalu, “Aku sama sekali tidak

merendahkan kemampuan kalian. Aku tahu, bahwa Senapati Kediri

adalah prajurit-prajurit pilih tanding. Tetapi Pujang Warit memang

mempunyai beberapa kelebihan, sehingga sepantasnyalah bahwa

aku sebagai seorang prajurit harus melayaninya. Apalagi taruhannya

aku tentukan pula, yaitu pimpinan tertinggi atas Kediri.”

“Tuanku,” hampir serentak mereka yang ada di paseban berseru

dengan wajah yang tegang.

“Nah, sediakan gelanggang di halaman paseban ini. Cepat.

Setelah perang tanding ini selesai, aku atau Pujang Warit masih

harus menyelesaikan orang-orang Tumapel yang sedang berusaha

menguasai seluruh daerah Kediri.”

Sejenak para Senapati dan Menteri yang ada di paseban tidak

beranjak dari tempatnya. Mereka saling berpandangan dengan

penuh keragu-raguan.

“Cepat,” teriak Sri Baginda, lalu katanya, “tetapi aku tidak akan

berbuat serupa itu dengan kedua penasehatku ini. Penasehatku

yang lain kuperkenankan menyaksikan perang tanding ini. Tetapi

yang dua ini harus berada di bawah pengawasan. Kalau Pujang

Warit menang di dalam perang tanding ini, kalian akan bebas, dan

terserah apa yang akan diputuskan oleh Pujang Warit atas kalian.”

Maka setiap dada-pun menjadi berdebar-debar. Para pengawal di

halaman-pun menjadi keheranan atas keputusan itu. Belum pernah

Sri Baginda begitu merendahkan dirinya, melayani perang tanding

melawan seorang Senapati.

“Aku adalah seorang prajurit,” geram Baginda berulang-ulang.

Tidak seorang-pun yang dapat mencegah keputusan Sri Baginda.

Dengan demikian, maka para prajurit yang ada, beserta para

Menteri-pun segera membuat sebuah lingkaran di halaman sebagai

arena perang tanding.

Pujang Warit sendiri sebenarnya terkejut mendengar keputusan

Sri Baginda. Namun karena ia yakin bahwa seandainya tidak

demikian, maka ia-pun akan dihukum mati, maka tantangan itu

adalah jalan yang paling baik yang tersedia baginya, meskipun ia

tahu. bahwa Sri Baginda adalah maha prajurit yang tidak ada

bandingnya.

“Tetapi aku belum pernah meyakinkan kemampuan Sri Baginda,”

berkata Pujang Warit di dalam hatinya. “aku hanya pernah

menyaksikan beberapa bentuk kelebihannya dari orang-lain. Tetapi

bagi Pujang Warit yang pernah berguru bertahun-tahun, semuanya

itu bukanlah hal yang mengecilkan hati.”

Sejenak kemudian maka arena-pun telah siap. Sri Baginda

menuruni tangga paseban tanpa tanda-tanda kebesaran yang

biasanya tidak pernah terpisah dari padanya. Bahkan bukan saja

sekedar tanda kebesaran seorang Maharaja, tetapi Sri Baginda telah

menganggap dirinya sebagai titisan dewa-dewa.

Tetapi kini ia menuruni tangga sebagai seorang prajurit. Sebagai

pribadi yang sudah siap menyelesaikan masalah pribadinya.

Kesalahannya terhadap Kediri harus ditebusnya dengan perang

tanding.

Bagi Sri Baginda Kertajaya, hal itu merupakan suatu

pengorbanan yang luar biasa. Tetapi hal itu kini dengan sadar telah

dikehendakinya sendiri.

Setelah semuanya siap, dan kedua orang yang akan berperang

tanding itu sudah berada di arena. maka bertanyalah Sri Baginda

kepada Pujang Warit, “Senjata apakah yang kau kehendaki Pujang

Warit?”

Bagaimana-pun juga, tatapan mata Sri Baginda telah membentur

hati Pujang Warit, sehingga seisi dadanya serasa berguncang.

“Sebutkan senjata apa yang kau kehendaki. Aku akan

menyesuaikan diri.”

Pujang Warit ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia berkata,

“Terserahlah kepada Sri Baginda.”

“Kau sudah membawa pedang di lambungmu. Apakah kau akan

mempergunakan pedang?”

“Baiklah Tuanku. Hamba akan mempergunakan pedang.”

Sri Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

kepada seorang prajurit yang berdiri di pinggir arena Sri Baginda

berkata, “berikan pedangmu.”

“Tetapi, pedang ini adalah pedang seorang prajurit pengawal

Tuanku.”

“Bukankah kau menerima pedang itu dari pimpinan,

keprajuritan?”

Prajurit itu mengangguk, “Hamba Tuanku.”

“Nah, berikan pedangmu.”

Prajurit itu ragu-ragu sejenak, namun kemudian oleh pesona

yang tidak dimengertinya, maka ditariknya pedangnya, dan

kemudian dengan tangan gemetar diserahkannya pedang itu kepada

Sri Baginda.

“Terima kasih,” berkata Sri Baginda. Kemudian sambil

menghadap kepada Pujang Warit Sri Baginda berkata. “Nah Pujang

Warit, aku sekarang sudah bersenjata pedang seperti senjatamu.

Marilah, kita mulai dengan hukuman yang sama-sama dibebankan

kepada kita. Siapa yang menang, ia berhak atas segala-galanya di

Kediri. Siapa yang kalah, biarlah ia menanggung hukuman atas

kesalahan yang telah terjadi, dan yang telah mengakibatkan Kediri

terpecah belah.”

Pujang Warit masih juga ragu-ragu. Namun kemudian

disentakkannya giginya sambil menggeram di dalam hati. “Aku

bukan pengecut.”

“Nah bersiaplah,” berkata Sri Baginda kemudian.

Pujang Warit mengerahkan segenap keberanian yang ada di

dalam dirinya. Maka jawabnya, “Baiklah Tuanku. Hamba hanya

sekedar menjalani perintah Tuanku.”

“Ya, ya. Kalau kau sekarang melawan aku, ini sama sekali bukan

suatu kesalahan. Justru kita sedang menentukan, siapakah yang

masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Karena

sekarang aku-pun sadar, bahwa aku bukannya titisan dewa-dewa

seperti yang aku sangka sendiri, karena di dalam suatu ketika, aku

telah dilepaskan oleh dewa-dewa tertinggi.”

Pujang Warit tidak menjawab, tetapi ia-pun kemudian dengan

tangan bergetar mencabut pedangnya pula. Pedang seorang

perwira yang memiliki kemampuan pilih tanding.

Sri Baginda mengerutkan keningnya. Ia melihat perbedaan jenis

pedang yang dipergunakannya dan yang dipergunakan oleh

Senapati muda itu.

Tetapi Sri Baginda tidak menghiraukannya karena Sri Baginda

menyangka, bahwa pedang itu adalah pedang prajurit Kediri.

“Marilah, kita segera mulai,” berkata Sri Baginda, “nah, aku minta

tiga orang Senapati yang akan menjadi saksi dari perkelahian ini.

Ketiganya harus mengawasi, bahwa aku dan Pujang Warit harus

berkelahi dengan jujur. Kalau ada di antara kami yang curang, maka

ketiga Senapati itu dapat mengambil tindakan yang wajar. Tanpa

pilih.

Sejenak para prajurit dan Senapati yang ada di seputar

gelanggang itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian Sri Baginda

telah menunjuk tiga di antaranya. Katanya, “Kau, kau dan kau.

Jangan ragu-ragu. Majulah. Lihatlah, bagaimana kami akan

berperang-tanding, kami adalah prajurit-prajurit Kediri.”

Tiga orang perwira yang ditunjuk itu sama sekali tidak dapat

mengelak lagi. Mereka-pun kemudian melangkah maju. Mencabut

pedang-pedang mereka dan berdiri berpencaran. Mereka harus

mengawasi perang tanding itu sebaik-baiknya. Merekalah yang

bertanggung jawab apabila terjadi kecurangan. Dan mereka dapat

bertindak apabila perlu dengan kekerasan.

Semuanya-pun kemudian sudah siap. Para saksi-pun sudah siap.

Sri Baginda dan Pujang Warit-pun sudah siap pula.

“Nah, semua sudah di tempatnya. Sekarang aku adalah prajurit

yang sedang menjalani hukuman. Karena itu. terserahlah kepada

para saksi. Kapan kita harus mulai,” berkata Sri Baginda kemudian.

Para saksi itu-pun saling berpandangan. Kemudian, meskipun

tidak ditunjuk, maka Senapati yang tertua dari ketiganya-pun maju

selangkah sambil berkata, “Ampun Tuanku, hambalah yang akan

memimpin perang tanding ini.”

“Bagus. Pimpinlah sebaik-baiknya.”

“Hamba Tuanku.” perwira itu terdiam sejenak, lalu katanya,

“tetapi yang pertama-tama hamba ingin memperingatkan bahwa,

perang tanding ini harus adil. Kedua senjata pesertanya harus

seimbang.”

“Bukankah senjata kami sudah seimbang?”

“Pedang yang Tuanku pergunakan adalah pedang prajurit biasa.”

“Lalu, bagaimana dengan pedang Pujang Warit.”

“Pedang itu adalah pedang yang khusus.”

“Jadi apakah ada perbedaan senjata antara seorang prajurit dan

seorang Senapati? Bukankah semuanya itu adalah prajurit Kediri?”

“Pedang Pujang Warit bukannya pedang yang lazim

dipergunakan oleh para prajurit dan bahkan para Senapati Kediri.

Pedang itu, adalah pedang pusaka yang dibawanya sendiri

meskipun bentuknya mirip dengan pedang prajurit Kediri.”

“Apakah bedanya? Aku dapat mempergunakan senjata apa saja.”

“Bahannya berbeda Tuanku. Pedang Pujang Warit terbuat dari

bahan yang jauh lebih baik dari bahan pedang para prajurit yang

dibuat oleh para juru pembuat senjata para pande besi. sekaligus

dalam jumlah yang besar. Sedang pedang Pujang Warit adalah

pedang yang hanya dibuat khusus untuknya oleh seorang empu

yang terpilih.”

Sri Baginda merenung sejenak. Namun kemudian sambil

tersenyum Sri Baginda berkata, “Aku akan mempergunakan pedang

prajurit Kediri ini, sebagaimana aku seorang prajurit. Kalau pedang

ini gagal bukan karena kesalahanku, maka alangkah malangnya

nasib setiap prajurit Kediri.”

Senapati yang menjadi saksi itu mengerutkan keningnya. Tetapi

tampak betapa hatinya dicengkam oleh kecemasan, karena

kebetulan sekali ia mengerti betapa kuatnya pedang Pujang Warit

itu. Bahkan ia pernah melihat Pujang Warit memamerkan

senjatanya dan mematahkan beberapa helai pedang lainnya tanpa

menjadi cacat seujung duri-pun.

“Tuanku,” berkata Senapati itu, “apakah Tuanku berkenan

mempergunakan pedang hamba?”

Tetapi Sri Baginda menggelengkan kepalanya, “Tidak.”

Senapati yang akan menjadi saksi dari perang tanding itu tidak

dapat memaksa, meskipun hatinya menjadi sanaat cemas. Tetapi

hal itu agaknya memang sudah dihentikan oleh Baginda sehingga

akhirnya, ia-pun harus membiarkannya mempergunakan pedang

prajurit pengawal itu.

Dalam pada itu. di medan pertempuran di sebelah Utara Ganter,

kedua pasukan telah terlibat di dalam perang yang semakin seru.

Keduanya telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada. Pasukan

Singasari telah turun seluruhnya ke medan perang dengan segala

macam tanda-tanda kebesaran, sedang Mahisa Walungan telah

membawa setiap orang yang ada di dalam perkemahannya.

Namun jumlah prajurit Singasari yang lebih besar ternyata benarbenar

telah berpengaruh pada perang itu. Perlahan-lahan namun

pasti pasukan Singasari telah berhasil mendesak pasukan Kediri,

meskipun setiap prajurit dari Kediri telah bertempur tanpa mengenal

arti menyerah. Tetapi seorang demi seorang prajurit Kediri

berguguran seperti juga prajurit Singasari. Seorang demi seorang

pasukan ke dua belah pihak selalu berkurang.

Meskipun pasukan Kediri sama sekali tidak berputus asa. namun

garis perlawanan mereka-pun bergeser setapak demi setapak,

karena arus prajurit Singasari yang tidak terbendung lagi.

Mahisa Walungan yang memegang pimpinan pasukan Kediri,

bertempur dengan gigihnya. Ternyata bahwa Mahisa Walungan

benar-benar seorang yang memiliki banyak kelebihan dari orang

kebanyakan. Senjatanya, sebuah pedang panjang, menyambarnyambar

seperti paruh burung garuda. Suaranya berdesing-desing

memutari lawannya.

Tetapi lawannya itu adalah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Orang yang aneh dan banyak sekali menyimpan rahasia di dalam

dirinya. Rahasia yang dirinya sendiri hampir tidak mengenalinya.

Dengan kekuatan dan kemampuan yang ada di dalam dirinya,

Ken Arok bertempur dengan gigihnya. Serangan-serangan Mahisa

Walungan yang betapapun berbahayanya, selalu dapat dihindarinya,

atau ditangkisnya. Meskipun kadang-kadang ia kehilangan irama

seorang raja, namun ia tidak dapat didesak oleh kelebihan yang ada

di dalam diri Mahisa Walungan. karena Ken Arok-pun memilikinya

pula.

Mahisa Walungan sebagai seorang kesatria yang sejak kecilnya

berada di dalam lingkungan istana serta segala macam adat dan

tata cara kadang-kadang menjadi heran melihat sikap dan gerak Sri

Rajasa. Kadang-kadang Sri Rajasa bertempur sebagai seorang Raja

yang besar, namun apabila serangan Mahisa Walungan semakin

mendesaknya, tiba-tiba saja raja Singasari itu menjadi kasar dan

garang. Senjatanya berputar-putar tanpa arah dan tampaknya

seperti tidak ada pegangan. Tetapi gerak yang demikian, yang

seharusnya dengan mudah dapat ditembusnya, namun pedang Sri

Rajasa, justru menjadi sebaliknya. Gerak-gerak yang kasar dan tidak

beraturan itu justru merupakan benteng yang sangat rapat,

mengitari dirinya dari segenap serangan.

Sekali-sekali Mahisa Walungan memang terpaksa meloncat surut

untuk mencoba menilai tata gerak lawannya. Namun setiap kali

dengan tiba-tiba saja, Sri Rajasa sudah menyerangnya dengan

kecepatan yang hampir tidak disangka-sangkanya.

Namun Mahisa Walungan adalah seseorang yang matang dalam

ilmu olah senjata. Karena itu. maka betapapun dahsyatnya

lawannya, ia tidak kehilangan akal. Bahkan semakin lama tata

geraknya-pun menjadi semakin mapan. Kekuatan-kekuatan

cadangan yang tersimpan di dalam dirinya-pun mulai tersalur ke

tangannya, sehingga dengan demikian gerak pedangnya-pun

menjadi semakin cepat dan kuat.

Kemampuan yang seolah-olah berkembang itu terasa juga oleh

Sn Rajasa. Kekuatan Mahisa Walungan seakan-akan menjadi

bertambah-tambah. Setiap benturan, terasa tangan Sri Rajasa

menjadi nyeri, sehingga kadang-kadang senjatanya seolah-olah

ingin meloncat dari genggaman.

“Hem,” ia menggeram di dalam hatinya, “agaknya di saat-saat

terakhir Mahisa Walungan mengerahkan segenap kemampuan yang

tersimpan di dalam dirinya. Semua Aji dan kekuatan lahir dan

batin.”

Sebenarnyalah, Mahisa Walungan yang melihat pasukannya

semakin terdesak itu-pun tidak lagi dapat membiarkan peperangan

itu berlangsung semakin lama. Dengan segenap kemampuan yang

ada maka dibangunnya segenap kekuatan lahir dan batin yang ada

di dalam dirinya. Dengan penuh tanggung jawab, Mahisa Walungan

memusatkan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya,

disusunnya dalam tata gerak yang sudah dikuasainya, menjadi

suatu kekuatan yang tiada taranya. Seperti pada saat-saat ia

membuat lubang pada papan yang tebal, maka kini tangannya yang

seakan-akan bergetar itu, telah dialiri oleh kekuatan ilmu yang tiada

taranya.

Sri Rajasa terkejut merasakan benturan-benturan berikutnya. Ia

sadar bahwa ia berhadapan dengan seseorang yang menyimpan

ilmu yang bukan saja ilmu yang kasat mata, tetapi latihan-latihan

yang teratur, sehingga seluruh kekuatan yang ada di dalam dirinya,

kekuatan cadangan yang tidak dimengerti oleh setiap orang, dapat

dikuasainya dan dipergunakannya sebagai Aji Pamungkasnya.

Bersambung Jilid 56.