JILID 226
UNTUK mengurangi gangguan yang mungkin datang,
karena perkelahian itu secara kebetulan dilihat orang, maka
kedua lawan Agung Sedayu telah berusaha mendesak Agung
Sedayu masuk ke dalam hutan. Mereka berusaha menyerang
Agung Sedayu dari satu sisi. Dengan serangan yang datang
beruntun, mereka berharap bahwa sedikit demi sedikit Agung
Sedayu akan terdesak kedalam hutan kecil itu.
“ Mau tidak mau.” berkata salah seorang diantara kedua
orang itu, “ kau harus masuk kedalam hutan seperti yang kami
kehendaki jika kau tidak ingin mempercepat kematian.”
Agung Sedayupun menyadari, bahwa keduanya telah
berusaha mendesaknya. Dengan serangan yang datang
beruntun susul-menyusul maka mereka telah berhasil
memaksa Agung Sedayu bergeser setapak demi setapak.
Kedua lawan Glagah Putih yang melihat usaha kedua
kawannya mendesak Agung Sedayu, telah melakukan hal
yang sama. Mereka telah berloncatan dalam garis lurus yang
bergerak maju perlahan-lahan.
Glagah Putih memang terdesak mundur kearah hutan kecil.
Setapak demi setapak. Sementara itu, kedua lawan-nya
bergerak semakin cepat. Serangan-serangan mereka datang
bagaikan arus gelombang yang datang membentur pantai.
Tetapi sama sekali Glagah Putih tidak menjadi gelisah. Ia
justru lebih banyak memperhatikan dirinya dengan ilmunya
daripada lawannya. Ia masih saja ingin meyakinkan
pengenalannya atas ilmunya sendiri. Meskipun demikian ia
sadar sepenuhnya, bahwa lawannya yang berilmu tinggi itu,
pada suatu saat harus dilayani dengan puncak kemampuannya.
Namun Glagah Putih lebih banyak menunggu daripada
mendahului lawan-lawannya. Dengan demikian ia mendapat
lebih banyak kesempatan untuk mengenali ilmunya yang
ternyata telah meningkat jauh semakin tinggi.
Di lingkungan pertempuran yang lain, Agung Sedayu
bergerak semakin cepat, Kedua lawannya telah
menyerangnya semakin cepat pula. Mereka benar-benar
berharap akan dapat mendesak Agung Sedayu memasuki
hutan. Dengan demikian maka mereka akan mendapat lebih
banyak kesempatan tanpa mencemaskan kemugkinan bahwa
pertempuran itu akan dilihat oleh orang lain, menjadi semakin
kecil.
Kedua lawan Glagah Putih yang berhasil mendesak Glagah
Putih semakin dekat dengan hutan kecil itupun merasa bahwa
usahanya akan segera berhasil lebih cepat dari kedua
kawannya yang bertempur melawan Agung Sedayu. Seorang
diantara merekapun berkata, “ Nah, sekarang berkatalah
dengan lantang bahwa kau tidak akan mau bertempur didalam
hutan.”
“ Maksudmu?” bertanya Glagah Putih.
“ Ternyata kau telah terdesak mendekati hutan itu, senang
atau tidak senang. Kau agaknya masih ingin bertahan agar
kau dapat hidup beberapa saat lagi meskipun kau terpaksa
menelan ludah sendiri. Coba katakan sekali lagi, bahwa kau
tidak mau bertempur didalam hutan.” berkata orang itu.
“ Aku memang tidak ingin bertempur didalam hutan. Aku
ingin bertempur disini. Bukankah aku tidak masuk kedalam
hutan?” sahut Glagah Putih.
Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi beruntun mereka
menyerang Glagah Putih. Jika Glagah Putih berusaha
mengelak kesamping, maka keduanya telah berusaha
mencegahnya, sehingga keduanya benar-benar telah
menggiring Glagah Putih mendekati semak-semak yang
rimbun dan kemudian batang-batang pepohonan di hutan
yang tidak terlalu besar itu.
Glagah Putih memang bergeser surut. Namun tiba-tiba saja
anak muda itu telah melenting tinggi. Melampaui jangkauan
tangan kedua lawannya. Berputar sekali di udara dan
kemudian jatuh dibelakang lawan-lawannya pada
punggungnya. Sekali Glagah Putih berguling namun iapun
telah melenting dan tegak berdiri.
Kedua lawannya mengumpat. Mereka sama sekali tidak
menduga, bahwa Glagah Putih akan mengelakkan dirinya
untuk masuk kedalam hutan dengan cara itu. Karena itu maka
keduanya tidak siap untuk menghalanginya.
Namun demikian mereka menyadari keadaan, maka ke
duanya dengan cepat telah memburunya. Seorang diantara
mereka dengan serta merta telah menyerangnya. Satu
loncatan dengan kaki yang terjulur lurus mengarah dada.
Tetapi Glagah Putih tanggap akan keadaan. Dengan sigap
pula ia telah bergeser kesamping. Namun pada saat yang
bersamaan, lawannya yang lainpun telah meloncat maju.
Tangannya terjulur lurus kearah kening.
Glagah Putih menyadari datangnya serangan yang
berbahaya itu. Karena itu, maka iapun telah melenting. Bukan
sekedar menghindar namun sambil bergeser kesamping, tibatiba
saja tubuhnya telah berputar. Satu ayunan tangan yang
keras menyambar lawannya yang lain.
Satu serangan yang mengejutkan, Ayunan tangan
mendatar itu hampir menyambar wajah lawannya yang lain.
Namun lawannya yang terkejut itu masih sempat menangkis
serangannya itu. Dengan kedua lengannya yang merapat, ia
telah melindungi wajahnya.
Yang terjadi adalah satu benturan yang keras. Glagah Putih
yang muda itu memang mengayunkan tangannya kuat-kuat.
Karena itu maka akibat dari benturan itupun mengejutkan bagi
lawannya.
Ternyata bahwa lawannya yang telah melindungi wajahnya
dengan kedua lengannya yang merapat itu telah terdorong
surut. Meskipun tangan Glagah Putih tidak mengenai
wajahnya, tetapi lengannya sendirilah yang telah menyentuh
wajahnya itu. Bahkan mendorongnya sehingga ia tergeser
surut, sehingga hampir saja orang itu kehilangan
keseimbangannya.
Glagah Putih tidak membiarkan kesempatan itu. Tetapi
ternyata bahwa ia tidak dapat memburu lawannya yang
sedang terguncang itu. Seorang lawannya yang lain telah
dengan sigapnya menjulurkan kakinya kearah lambung.
Namun Glagah Putih sempat berkisar, sehingga lambungnya
tidak tersentuh serangan lawannya. Bahkan kemudian dengan
serta merta Glagah Putih meloncat menyambar tengkuk
lawannya yang telah diguncangkannya. Namun sekali lagi
Glagah Putih gagal mengenainya karena lawannya sempat
merendah.
Demikianlah maka pertempuran itupun menjadi semakin
lama semakin cepat. Kedua lawannya dengan garang
menyerang berganti-ganti. Namun mereka tidak lagi berniat
untuk menggiring Glagah Putih masuk kedalam hutan. Bahkan
mereka telah menjadi semakin jauh dari bibir hutan itu.
Sementara itu Agung Sedayupun tidak juga berhasil
didorong masuk kedalam hutan. Jika semula kedua lawannya
mampu mendesaknya, namun tiba-tiba saja Agung Sedayu
telah menjadi kokoh bagaikan batu karang. Seranganserangan
kedua orang lawannya tidak menggoyahkannya.
Bahkan ketika Agung Sedayu bergerak selangkah demi
selangkah maju, lawannyalah yang surut kebelakang.
Namun kedua lawan Agung Sedayu itu masih bertempur
pada tataran kewajaran. Mereka masih berusaha menjajagi
tataran kemampuan Agung Sedayu. Dengan demikian, maka
mereka tidak dengan serta merta mengerahkan ilmu mereka.
Tetapi setapak demi setapak mereka meningkat.
Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin lama
menjadi semakin cepat. Kekuatan dan tingkat ilmu merekapun
semakin meningkat pula. Selapis demi selapis. Benturanbenturannyapun
menjadi semakin sering terjadi. Bahkan
serangan-serangan yang menjadi semakin cepat, mulai
menyusup disela-sela pertahanan masing-masing, sehingga
serangan-serangan itu mulai mengenai sasarannya.
Tetapi daya tahan mereka yang sedang bertempur itu
ternyata cukup tinggi. Beberapa kali serangan-serangan lawan
sudah mengenai tubuh masing-masing. Namun mereka masih
mampu mengatasi rasa sakit sehingga serangan lawan yang
mengenainya itu tidak berbekas sama sekali. Apalagi Agung
Sedayu yang telah mengenakan ilmu kebalnya. Namun
demikian Agung Sedayu masih belum memberikan kesan
bahwa ia telah menjadi kebal. Bahkan ia telah memberikan
kesan setiap sentuhan serangan lawannya telah
menggetarkannya.
Sementara itu bagi Glagah Putih pertempuran itu
mempunyai arti tersendiri. Ia mendapat kesempatan cukup
banyak untuk menilai ilmunya yang berkembang diluar
pengamatannya. Meskipun kemudian bersama Agung Sedayu
dan Ki Jayaraga ia telah berusaha untuk mengerti tentang ilmu
didalam dirinya itu serta tataran-tatarannya, namun
kesempatan itu akan dapat dipergunakannya untuk
meyakinkannya. Karena itu, Glagah Putih telah
memperhatikan setiap peningkatan ilmu didalam dirinya,
menyesuaikan dengan tingkat ilmu lawannya.
Dengan demikian maka pertempuran itupun telah
berlangsung beberapa lama. Namun keempat orang yang
ingin menyingkirkan Agung Sedayu dan Glagah Putih sebagai
usaha untuk sedikit demi sedikit memperlemah kedudukan
Mataram, masih belum berhasil. Bahkan rasa-rasanya
kedudukan Agung Sedayu dan Glagah Putih justru menjadi
semakin kuat. Katanya justru bergerak lebih cepat dan
serangan-serangan mereka menjadi semakin mantap.
Keempat orang yang mendapat kepercayaan untuk
membunuh Agung Sedayu dan Glagah Putih itupun kemudian
menjadi semakin yakin, bahwa kedua orang yang harus
mereka singkirkan itu benar-benar memiliki ilmu yang sangat
tinggi. Namun merekapun termasuk orang terpilih yang
mempunyai bekal yang mumpuni untuk menghadapi
keduanya. Karena itu, mereka berdua tidak boleh menyianyiakan
kepercayaan itu. Mereka yang semula dianggap
masing-masing akan dapat menyelesaikan Agung Sedayu dan
Glagah Putih. Namun untuk meyakinkan keberhasilan tugas
mereka, maka mereka telah dikirim bertempur untuk
menghadapi kedua orang itu.
Ketika pertempuran itu berlangsung semakin lama, maka
keempat orang itu telah meningkatkan ilmu mereka semakin
tinggi. Mereka tidak lagi sekedar bertempur dengan kekuatan
wajar mereka. Tetapi mereka sudah berlandaskan tenagatenaga
cadangan dan bahkan mulai merambah ilmu mereka
yang mereka andalkan.
Agung Sedayu dan Glagah Putih merasakan peningkatan
kemampuan lawan-lawan mereka. Sehingga dengan demikian
maka merekapun telah meningkatkan ilmu mereka sejalan
dengan lawan-lawan mereka.
Namun dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih
masih juga berhati-hati menghadapi keadaan. Mereka masih
memperhitungkan kemungkinan lain, bahwa keempat orang
itu telah datang bersama beberapa orang lainnya yang siap
menjebak mereka. Tetapi sudah sekian lama mereka
bertempur, namun agaknya yang mereka hadapi memang
hanya empat mata orang itu.
Sementara itu, keempat orang yang merasa bahwa mereka
sudah cukup lama menjajagi kemampuan lawannya dan
sudah mendapat kepastian bahwa lawan mereka memang
berilmu tinggi, maka merekapun telah sampai pada satu
langkah untuk dengan segera menyelesaikan pertempuran itu.
Orang yang berjambang, berkumis dan berjanggut lebat
itupun tiba-tiba telah berteriak, “ Kesempatan yang kami
berikan telah cukup. Meskipun begitu, aku masih menawarkan
kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih untuk memilih jalan
kematian yang kalian kehendaki. Tetapi jika kesempatan ini
tidak kalian pergunakan sebaik-baiknya, maka kalian akan
mengalami kematian dengan cara yang paling tidak
menyenangkan.”
Tetapi yang terdengar adalah jawaban Glagah Putih.
Katanya, “ Aku akan menghitung sampai sepuluh. Jika kalian
tidak menyerah, maka kami terpaksa membunuh kalian.”
“ Gila.” teriak orang berjanggut lebat itu.
Tetapi Glagah Putih tidak menghiraukannya. Sambil
bertempur ia kemudian benar-benar menghitung, “ Satu, dua,
tiga..”
Kedua lawannya benar-benar menjadi sangat marah.
Karena itu, maka dengan berlandaskan kepada kemampuan
ilmu mereka, keduanya telah menyerang Glagah Putih.
Serangannya datang bagaikan prahara yang menghantam
dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Tetapi Glagah
Putih telah bersiap. Karena itu, ketika serangan itu datang,
maka iapun telah mengetrapkan, namun Glagah Putih
ternyata tidak terguncang karenanya.
Ketika kedua lawannya menyerang hampir berbereng,
maka Glagah Putih sempat mengelak. Bahkan kemudian
iapun telah melenting dengan tangan terayun mendasar.
Tetapi ternyata lawannya sempat menghindar pula. Bahkan
seorang lawannya yang lain telah membuka serangannya.
Sambaran angin yang kencang telah terasa sebelum sentuhan
wadagnya. Betapa kuatnya ilmu orang itu, sehingga sambaran
angin yang menampar tubuh Glagah Putih telah
menggetarkannya.
“ Bukan main.” desis Glagah Putih pada diri sendiri.
Dengan demikian ia sadar, bahwa sentuhan wadag
lawannya tentu akan dapat melemparkannya jika ia tidak
mengimbanginya dengan kekuatan yang sepadan. Karena itu,
Glagah Putih telah meningkatkan pula landasan ilmunya.
Dengan garangnya ia telah membalas setiap serangan
dengan serangan. Jika sambaran angin serangan lawannya
mula-mula mampu menggetarkannya, maka Glagah Putihpun
kemudian sama sekali tidak terpengaruh. Namun Glagah Putih
tidak dengan serta merta menunjukkan kemampuannya.
Tetapi perlahan-lahan ia membuktikan, bahwa ia mampu
mengimbangi kemampuan ilmu lawannya itu.
Dengan demikian maka Glagah Putih sama sekali tidak
terdesak meskipun ia harus berhadapan dengan dua orang
yang berilmu tinggi. Tetapi kedua lawannya telah
meningkatkan pula ilmu mereka. Bahkan keduanyapun
kemudian telah meningkatkan pula ilmu mereka. Bahkan
keduanyapun kemudian telah berlari-lari mengitari Glagah
Putih. Namun sekali-sekali mereka telah melenting dengan
cepat sekali menyerang Glagah Putih yang berada dipusat
putaran mereka.
Glagah Putih tidak mudah terpengaruh oleh putaran itu. Ia
idak mau menjadi bingung dan pening. Karena itu maka ia
tidak menghadapi keduanya dengan gejolak perasaannya
saja. Tetapi iapun telah memikirkan cara untuk mengatasinya.
Ternyata bahwa kedua lawannya yang meningkatkan
kemampuannya itu telah membuat Glagah Putih menjadi
berdebar-debar. Jika semula sambaran angin dari setiap
serangan lawannya mampu menampar kulitnya dengan keras
seakan-akan sambaran angin dari setiap serangan lawannya
yang dihindarinya itu bagaikan menyemburkan udara yang
semakin lama semakin panas. Karena itu, maka bagi Glagah
Putih, keadaan akan menjadi gawat jika ia tidak segera
melakukan langkah yang menentukan.
Untuk beberapa saat Glagah Putih memperhatikan
serangan-serangan lawannya dengan saksama. Sementara
itu terdengar seorang lawannya berkata, “ Salahmu sendiri jika
kau akan mati dengan cara yang buruk sekali.”
Glagah Putih tidak menyahut. Namun ia telah memusatkan
perhatiannya kepada satu usaha untuk mematahkan putaran
yang menjengkelkan itu. Karena itu, dengan perhitungan yang
mapan, maka tiba-tiba saja Glagah Putihlah yang meloncat
menyerang. Dengan meningkatkan daya tahan tubuhnya ia
menembus udara panas yang seakan-akan memancar dari
ayunan tubuh lawannya. Bahkan gerak yang bukan serangan
langsungpun seakan-akan telah melemparkan sambaran
angin yang panas.
Dengan meloncat panjang, maka Glagah Putih telah
menyerang salah seorang lawannya, justru melawan arah
putarannya. Demikian cepatnya, sehingga lawannya ia
terkejut. Pada saat putaran ini terhenti, maka Glagah Putih
menyambar wajah orang itu dengan pukulan mendasar
dengan sisi telapak tangannya. Namun orang itu sempat
menarik wajahnya, sehingga tangan Glagah Putih tidak
menyentuhnya pula mendatar.
Lawannya harus meloncat surut. Serangan itu ternyata
telah disusul, serangan berikutnya yang tidak diduga-duga.
Glagah Putih justru bergulung dan berputar pada pundaknya.
Ketika ia menyerang, maka kedua kakinya telah menghantam
kearah lambung sementara tubuhnya masih terbaring di
tanah.
Cara yang jarang dipergunakan. Namun benar-benar
mengejutkan lawannya, sehingga ia tidak sempat mengelak.
Yang dilakukannya adalah mengyilangkan tangannya untuk
menangkis serangan kaki yang tiba-tiba itu.
Sambil mengatasi sengatan panas pada tubuhnya, Glagah
Putih telah menghentakkan kakinya dengan cepat dan kuat.
Glagah Putih menyadari bahwa lawannya adalah orang
berilmu tinggi. Sehingga karena itu, maka ia harus berusaha
untuk dengan secepatnya menguasainya, agar bukan dirinya
yang justru akan dikuasai oleh kedua orang lawannya.
Serangan Glagah Putih itu kemudian telah membentur
tangan lawannya yang bersilang. Benturan yang sangat
mengejutkan lawannya. Meskipun lawannya itu mengetahui
bahwa Glagah Putih memang berilmu tinggi, tetapi ia tidak
menyangka bahwa Glagah Putih memiliki kekuatan yang
sangat besar, jauh lebih besar dari yang diperkirakan.
Karena itu maka ketika kaki Glagah Putih menghantam
tangan lawannya yang bersilang, maka lawannya itu telah
terlempar beberapa langkah surut. Seakan akan ia telah
dilontarkan oleh benturan dengan sebongkah batu yang gugur
di lereng gunung.Tubuh lawannya itupun kemudian terbanting
jatuh.
Betapa rasa sakit menggigit punggungnya yang bagaikan
patah. Meskipun demikian, orang itupun telah berusaha untuk
bangkit berdiri. Meskipun ia harus berjuang menguasai
keseimbangannya, namun akhirnya iapun telah tegak diatas
kedua kakinya.
Glagah Putih yang menyadari bahwa lawannya telah
terlempar dan terbanting jatuh dengan serta merta telah
melenting berdiri. Tetapi ternyata bahwa ia tidak dapat
memburunya. Dengan kecepatan yang tinggi, lawannya yang
seorang telah meloncat menyerangnya justru pada saat ia
sedang tegak.
Serangan yang keras, yang dibarengi dengan sambaran
udara panas itu ternyata telah mengenai pundaknya. Glagah
Putih tidak sempat mengelak. Ketika kaki lawannya mengenai
pundaknya. Iapun telah kehilangan keseimbangannya. Namun
justru karena itu, maka Glagah Putihpun telah menjatuhkan
dirinya dan berguling beberapa kali sambil mengambil ancangancang
untuk meloncat berdiri.
Lawannya memang memburunya. Tetapi yang lain masih
berusaha untuk memperbaiki keseimbangannya, sehingga ia
masih belum ikut memburu kearah Glagah Putih yang
kemudian meloncat berdiri.
Lawannya yang telah berhasil mengenai pundaknya itupun
telah mengulangi serangannya. Dengan tangkasnya ia
meloncat sambil menjulurkan kakinya, sebagaimana telah
dilakukannya. Tetapi Glagah Putih tanggap akan serangan itu.
Dengan serta merta ia pun telah berjongkok sambil bergeser
kesamping, sehingga serangan lawannya itu bagaikan terbang
diatasnya. Namun, meskipun serangan itu tidak mengenainya,
tetapi udara panasnya telah menyambarnya, sehingga Glagah
Putih harus mengatupkan giginya untuk mengatasi rasa panas
yang bagaikan membakar tubuhnya.
Namun anak muda yang berilmu tinggi itu tidak
membiarkan lawannya menyakitinya. Demikian lawannya
meluncur, maka Glagah Putih telah melenting pula dengan
kecepatan yang melampaui kecepatan lawannya.
Serangan Glagah Putih itu memang mengejutkan.
Lawannya yang menyadari akan serangan itu, berusaha
menggeliat untuk menghindar. Dengan sentuhan ujung kaki di
permukaan bumi, orang itu telah melenting sekali lagi
kesamping.
Tetapi Glagah Putih tidak melepaskannya. Selagi lawannya
yang seorang masih belum siap benar, maka ia telah
berusaha untuk menyerang lawannya yag satu lagi. Karena
itu, maka ketika ia melihat lawannya melenting kesamping,
maka kakinyapun segera terayun berputar. Dengan kuat dan
cepatnya, sehingga lawannya tidak sempat lagi
menghindarinya. Meskipun lawannya sempat melindungi
lambungnya dengan sikutnya, tetapi sapuan melingkar kaki
Glagah Putih yang membenturnya, ternyata telah
melemparkannya, sehingga orang itu telah terlempar
kesamping.
Terdengar orang itu mengeluh tertahan. Namun Glagah
Putihpun telah menyeringai menahan panasnya udara.
Sehingga karena itu, maka Glagah Putih justru telah meloncat
mengambil jarak ketika ia melihat lawannya yang lain telah
siap menyerangnya.
Peningkatan ilmu lawannya memang membuat keadaan
menjadi gawat. Panasnya udara hampir tidak lagi teratasi.
Sementara itu semakin banyak lawannya bergerak, maka
rasa-rasanya ilmu mereka menjadi semakin tajam dan
panaspun semakin menusuk tubuhnya. Keringatnya telah
terperas membasahi seluruh permukaan kulitnya.
Untuk beberapa saat Glagah Putih berdiri termangumangu.
Seorang lawannya telah siap untuk bertempur,
sementara yang lain telah menggeliat pula dan bangkit berdiri
sambil memegang lambungnya. Namun iapun telah bersiap
pula menghadapi pertempuran berikutnya.
“ Kau memang anak iblis.” geram salah seorang lawannya,
“ tetapi ternyata bahwa kau mulai ketakutan menghadapi
kami.”
Glagah Putih menggeretakkan giginya. Ia mulai digelitik
oleh kemarahan yang memanasi darahnya meskipun ia tetap
sadar, bahwa ia tidak boleh kehilangan akal. Tetapi iapun
sadar, bahwa ia tidak boleh lengah menghadapi kedua orang
lawannya yang ternyata memang berilmu tinggi.
“ Kami tidak mempunyai waktu lagi.” geram seorang
lawannya, “ dan kaupun telah cukup kami beri kesempatan
untuk hidup lebih lama. Sekarang, bersiaplah untuk mati. Kau
membuat kami semakin muak.”
Glagah Putih yang memang sudah menjadi semakin marah
itupun menjawab, “ Baik. Kita akan segera melihat, siapakah
yang lebih dahulu akan mati. Kalian atau aku. Aku memang
berusaha untuk menangkapmu hidup-hidup. Tetapi jika aku
tidak dapat melakukannya, maka aku akan membunuhmu
saja.”
Jantung kedua orang lawan Glagah Putih itu rasa-rasanya
akan meledak mendengar jawaban yang menyakitkan telinga
mereka itu. Karena itu, maka merekapun segera telah
berloncatan menyerang.
Glagah Putihpun telah bergeser menghindar. Namun dalam
pada itu, kedua lawannya itupun telah berloncatan menyerang
susul menyusul.
Menilik gerak lawannya, maka Glagah Putih telah
mengambil satu kesimpulan, semakin banyak mereka
bergerak, maka udara panaspun semakin banyak mereka
lontarkan. Setiap serangan dan bahkan gerakan disekitar
Glagah Putih telah menimbulkan getaran dan sambaran angin
yang ternyata menjadi semakin panas.
-Meskipun tangan Glagah Putih tidak mengenai wajahnya,
tetapi lengannya sendirilah yang telah menyentuh wajahnya
itu. Bahkan mendorongnya sehingga ia tergeser surut dan
hampir saja orang itu kehilangan.
“ Aku dapat hangus didalamnya.” berkata Glagah Putih.
Tetapi Glagah Putih masih berusaha untuk mengatasi
gigitan udara panas itu jika sekali-sekali masih mampu
mengenai lawannya dan melemparkan mereka sehingga jatuh
terbanting ditanah.
Glagah Putih masih belum mempergunakan
kemampuannya untuk melontarkan ilmunya dari jarak jauh. Ia
masih belum sampai pada satu keyakinan bahwa serangan
yang demikian akan dapat dengan cepat mengalahkan kedua
lawannya. Apalagi kedua lawannya sama sekali tidak
memberinya kesempatan untuk membidik dan melepaskan
ilmunya itu.
“ Nampaknya mereka pernah mendapat keterangan
tentang kemungkinan itu.” berkata Glagah Putih didalam
hatinya, “ sehingga mereka berusaha untuk tidak memberikan
peluang sama sekali bagiku untuk melepaskan ilmu itu.”
Sementara itu, menilik kecepatan gerak lawannya, maka
merekapun akan mampu berloncatan menghindari
serangannya, sementara mereka akan dapat membagi diri
pada sasaran yang berlawanan arah. Lebih dari itu, Glagah
Putih masih berusaha untuk menghindari kematian.
Karena itu, maka Glagah Putih masih tetap bertempur
tanpa ilmunya yang mampu dilontarkannya dari jarak jauh.
Namun ia telah mengerahkan kemampuan dan kecepatan
geraknya, bahkan kekuatan yang menjadi semakin besar.
Dengan cara itu, sambil mengerahkan daya tahan tubuhnya
untuk menguasai gigitan panasnya udara, maka ia telah
mampu mengimbangi kemampuan lawannya. Dua orang yang
berilmu tinggi dan mampu menggetarkan udara dengan
lontaran hawa panas.
Glagah Putih yang telah mendapatkan landasan yang tinggi
bagi ilmunya ternyata mampu mengimbangi lawannya, Betapa
kedua lawannya berusaha mencapai tataran tertinggi dari
kemampuan mereka, namun ilmu Glagah Putih memang telah
mencapai satu tingkat yang tidak dibayangkan olehnya sendiri.
Apalagi oleh kedua lawannya itu.
Benturan-benturan kekuatan Glagah Putih, meskipun
sudah dilapisi dengan panasnya udara yang terpancar dari
ilmu mereka, namun telah membuat keduanya semakin
terdesak. Sentuhan-sentuhan serangan Glagah Putih benarbenar
telah menggoyahkan pertahanan mereka.
Namun karena mereka juga berilmu tinggi, maka tulangtulang
mereka tidak segera berpatahan terkena serangan
Glagah Putih yang luar biasa. Bahkan orang-orang yang
berilmu tinggi itu, hampir tidak percaya pada kenyataan yang
mereka hadapi tentang anak yang bagi mereka masih terlalu
muda itu.
“ Iblis manakah yang telah menyusup kedalam dirinya.”
pertanyaan itu telah tumbuh didalam hati kedua orang lawan
Glagah Putih.
Namun sebagaimana mereka dengar sebelumnya tentang
lawan mereka dari para petugas sandi yang telah berusaha
mencari keterangan tentang Glagah Putih adalah sahabat
Raden Rangga sebelum meninggalnya.
“ Apakah ilmu Raden Rangga telah menyusup kedalam
dirinya, bahkan ditambah dengan ilmunya sendiri yang sudah
dimiliki sebelumnya.” bertanya kedua orang itu di dalam hati.
Tetapi bagaimanapun juga kedua orang itu berjuang
dengan mengerahkan ilmunya, keduanya tidak berhasil
menguasai Glagah Putih.
Sebenarnyalah bahwa Glagah Putihpun mengalami
kesulitan menghadapi kedua lawannya yang memiliki ilmu
yang menggetarkan itu. Keduanya mampu menyelimuti dirinya
dengan udara yang semakin panas, sehingga setiap kali
Glagah Putih menyerang salah seorang diantara mereka,
maka iapun harus mengerahkan daya tahannya pula untuk
mengatasi rasa sakit oleh panas yang menyengat. Namun
bagi Glagah Putih, mungkin saja ia mampu mengatasi rasa
sakit, tetapi apakah wadagnya akan dapat bertahan
mengalami sentuhan panas yang semakin tinggi.
Tetapi Glagah Putih masih juga ragu-ragu, apakah ia akan
menyerang orang-orang itu dengan kemampuan ilmunya yang
dapat dilontarkan dari jarak tertentu.
“ Jika mereka ternyata tidak memiliki kemampuan untuk
mengatasinya, apakah menghindari atau memiliki daya tahan
yang melampaui kekuatan ilmu itu, jangan-jangan mereka
terbunuh.” berkata Glagah Putih di dalam hatinya.
Karena itu, Glagah Putih menjadi ragu-ragu. Disatu pihak ia
memang tidak mengingkari kemungkinan bahwa ia akan gagal
mengalahkan lawannya yang mampu bergerak cepat, mampu
menempatkan diri pada arah yang berlawanan, serta tanpa
memberi kesempatan kepadanya untuk membangunkan
ilmunya, sehingga ia akan dapat mengakhiri pertempuran itu
dengan ilmunya yang mampu dilontarkannya dari jarak jauh,
tetapi dipihak lain, Glagah Putih menjadi cemas jika ia
melanggar pesan Agung Sedayu untuk menangkap mereka
hidup-hidup.
Namun semakin lama keduanya menjadi semakin garang.
Panas udarapun menjadi semakin tinggi. Sehingga makin sulit
bagi Glagah Putih untuk mendekat. Keringatnya sudah
bagaikan terperas dari seluruh tubuhnya.
Namun Glagah Putih adalah seorang anak muda yang
memiliki kemampuan ilmu yang bukan saja sangat tinggi.
Tetapi ia telah mempelajari beberapa jenis ilmu. Glagah Putih
selain memahami ilmu yang disadapnya dari Agung Sedayu
pada jalur cabang ilmu Ki Sadewa, Glagah Putihpun telah
menyadap ilmu dari gurunya yang lain, Kiai Jayaraga. Bahkan
berbekal ilmu itu, maka seakan-akan dengan tiba-tiba saja
telah hadir Raden Rangga yang mendorong ilmunya menjadi
semakin maju. Bahkan melontarkan ilmunya dari jarak
tertentu.
Karena itu, maka Glagah Putih kemudian telah
mengetrapkan diantara ilmunya yang ada didalam dirinya itu,
untuk mengatasi keadaan tanpa kemungkinan yang paling
buruk yang dapat terjadi atas kedua lawannya karena Agung
Sedayu telah berpesan agar keduanya dapat ditangkap hiduphidup.
Sebagai murid Kiai Jayaraga yang mampu menyadap
berbagai kekuatan yang ada di dalam alam disekelilingnya,
maka Glagah Putih telah mempergunakan kekuatan air dalam
ujudnya yang paling berlawanan dengan panasnya api.
Dengan demikian Glagah Putih berusaha untuk membuat
imbangan atas kekuatan lawannya yang mampu memanasi
udara sehingga tubuhnya sendiri tidak menjadi hangus
karenanya.
Demikianlah, sambil bertempur Glagah Putih telah
mempersiapkan dirinya untuk melepaskan ilmunya itu.
Sehingga pada satu kesempatan Glagah Putih telah melenting
mengambil jarak dari kedua lawannya.
Ketika kedua lawannya memburu dengan gerak yang
panjang dan kuat, sehingga udara yang terhempas
mengandung panasnya apipun menjadi semakin besar.
Glagah Putih telah menaburkan kekuatan air dalam takaran
yang paling berlawanan dengan panasnya api.
Dengan demikian maka ketika lawan-lawannya itu
menyergapnya, maka Glagah Putih tidak lagi mengerahkan
daya tahannya untuk mengatasi udara panas dan sakit yang
menggigitnya, namun Glagah Putih telah mengerahkan
ilmunya yang mampu mengimbangi panasnya ilmu lawannya.
Kedua kekuatan yang berlawanan itu tidak saling
membentur. Tetapi panasnya udara bagaikan menyusup
diantara udara dingin dan sebaliknya sehingga timbul
keseimbangan, sehingga seakan-akan tidak terjadi perubahan
apapun pada suhu udara di sekitar arena pertempuran yang
semakin dahsyat itu.
Mula-mula kedua lawannya tidak merasakan perubahan itu.
Apalagi menyadari bahwa ilmunya seakan-akan sudah tidak
berarti lagi bagi lawannya. Namun keduanyapun kemudian
menjadi heran, bahwa Glagah Putih justru telah bertempur
semakin tangkas dan cepat. Baru ketika kekuatan ilmu Glagah
Putih mulai menyusup justru menembus kekuatan ilmu
lawannya dan menyentuh mereka, maka kedua lawannya
mulai merasakan sesuatu yang lain.
Untuk beberapa saat lamanya mereka bertempur sambil
bertanya-tanya di dalam hati. Tetapi sebagai orang yang
berilmu tinggi, akhirnya keduanya mampu menangkap
kekuatan ilmu lawannya yang telah dapat membuat imbangan
atas ilmu api mereka. Kemarahan yang luar biasa telah
bergelora di dalam jantung mereka. Ternyata bahwa kekuatan
apinya tidak mampu mengalahkan anak yang masih terlalu
muda itu.
“ Anak ini benar-benar anak iblis. Pada umurnya yang
masih sangat muda ia telah mampu melawan ilmu yang jarang
ada duanya ini. Bahkan dengan ilmu yang mempunyai
kekuatan yang saling menyerap dan dengan demikian maka
seakan-akan telah kehilangan kekuatannya.” berkata orangorang
itu di dalam hatinya.
Karena itu, maka keduanya harus mempergunakan
kekuatannya yang lain yang akan dapat mendesak lawannya
yang masih sangat muda itu. Apalagi karena dalam
pertempuran berikutnya, Glagah Putih yang bergerak dengan
cepat, tangkas dan mempunyai kekuatan yang sangat besar
itu telah membuat kedua lawannya terdesak.
Ternyata bahwa kedua orang itu telah dibekali pula dengan
kekuatan lain yang meskipun dalam ujud kewadagan, namun
mempunyai kekuatan yang sangat besar.
Ternyata bahwa kedua orang itu telah membawa lingkaranlingkaran
bergerigi yang ujudnya memang tidak terlalu besar.
Tetapi dengan kemampuan yang tinggi, maka senjata itu
benar-benar merupakan senjata yang mengerikan. Senjata
yang dengan kemampuan khusus dilemparkan dengan tangan
itu, akan menyerang lawannya dengan putaran yang
mematikan, mengoyak kulit daging dan bahkan memotong
tulang.
Glagah Putih memang berdebar-debar melihat jenis senjata
mereka. Ketika tiba-tiba saja ia melihat benda meluncur dari
tangan lawannya, maka iapun menyadari, bahwa senjataKang
Zusi - http://kangzusi.com/
senjata kecil itu akan dpat membunuhnya pula sebagaimana
panasnya api yang telah dapat dilunakkannya dengan
ilmunya.
Ketika satu dua senjata lawannya mulai meluncur, maka
Glagah Putih mulai merasa terlalu sibuk untuk
menghindarinya. Karena itulah, maka untuk mengatasinya,
iapun telah mengurai ikat pinggang khususnya.
Sementara itu, tidak terlalu jauh dari arena pertempuran
antara Glagah Putih dan kedua lawannya, maka Agung
Sedayupun telah bertempur dengan serunya pula. Ternyata
bahwa kedua lawan Agung Sedayupun adalah orang-orang
yang berilmu tinggi pula.
Bahkan ternyata bahwa yang dipersiapkan untuk melawan
Agung Sedayu yang telah lebih banyak dikenal tingkat ilmunya
itu adalah saudara-saudara seperguruan dari kedua lawan
Glagah Putih, yang bahkan mempunyai kekuatan ilmu dalam
tataran yang tinggi melampaui saudara-saudaranya yang lebih
muda. Karena itu, maka pertempuran yang terjadi antara
Agung Sedayu dan kedua lawannya pun telah terjadi dengan
sengitnya.
Kedua lawan Agung Sedayu yang telah dibekali dengan
pengertian tentang kemampuan lawan mereka, memang tidak
terkejut melihat Agung Sedayu tataran demi tataran mampu
mengimbangi ilmu mereka. Setiap mereka meningkatkan ilmu
mereka, maka Agung Sedayu sama sekali tidak mendesak
karenanya.
Sebagaimana kedua orang lawan Glagah Putih, maka pada
tataran tertentu kedua orang lawan Agung Sedayu telah
mempergunakan ilmu yang serupa pula dengan ilmu mereka.
Setiap sambaran angin karena gerak tubuhnya, telah
memancar udara panas pula. Sehingga karena itu, maka
semakin lama udarapun menjadi semakin panas karenanya.
Sebagai orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi dari
lawan-lawan Glagah Putih, maka udarapun terasa lebih cepat
menjadi panas. Bukan saya serangan langsung yang
dilakukan oleh kedua lawan Agung Sedayu itu yang mampu
memancarkan panas pada getar udara yang bergerak, tetapi
setiap gerakan yang mereka lakukan. Karena itu, maka
keduanyapun menjadi semakin lama semakin banyak
bergerak mengitari Agung Sedayu.
Namun Agung Sedayu telah menyelimutinya dengan ilmu
kebal. Karena itulah, maka ia mampu mengatasi tusukan
panas pada kulit dagingnya. Sehingga dengan demikian,
seakan-akan ilmu itu sama sekali tidak bunyak berarti bagi
Agung Sedayu.
Memang Agung Sedayu masih belum menutup dirinya
sama sekali dengan ilmu kebalnya. Ia masih mampu
merasakan serangan lawannya yang telah melontarkan udara
panas disekitarnya. Namun perasaan itu sama sekali tidak
berpengaruh kepadanya yang memiliki daya tahan yang
jarang ada bandingnya.
Karena itu, dalam pertempuran selanjutnya, kedua orang
lawannya merasa heran, bahwa ilmunya itu sama sekali tidak
dapat apalagi melumpuhkannya, bahkan rasa-rasanya sama
sekali tidak berarti apa-apa.
Dengan demikian maka kedua orang itu telah mencoba
untuk meningkatkan serangan dengan wadag mereka. Bukan
saja benturan-benturan kewadagan itu akan dapat
mempengaruhi daya tahan lawannya, tetapi semakin banyak
mereka bergerak, maka udara panaspun akan semakin
banyak terhambur pula.
Karena itu maka pertempuranpun semakin lama menjadi
semakin seru. Kedua orang lawan Agung Sedayu telah
semakin meningkatkan kemampuan mereka, sehingga ketika
mereka sampai pada puncak kemampuan yang tertinggi dari
tataran yang tertinggi pula, maka dari ubun-ubun mereka
nampak asap putih yang mulai mengepul.
Agung Sedayu memang melihat asap putih yang mengepul
dari ubun-ubun kedua orang lawannya itu. Sebagai orang
yang berilmu tinggi, maka iapun dapat menilai pertanda yang
dilihatnya itu. Agaknya kedua orang lawannya benar-benar
telah sampai pada puncak kemampuan mereka. Namun
Agung Sedayu telah mengetrapkan ilmu kebalnya pada
tataran yang tinggi pula. Karena itu, maka iapun merasa
bahwa tubuhnya telah dilindungi dari serangan lawannya.
Tetapi ketika benturan-benturan berikutnya terjadi, maka
Agung Sedayu terkejut. Ternyata ilmu lawannya benar-benar
tinggi. Meskipun ia telah mengetrapkan ilmu kebalnya pada
tataran yang tinggi, namun ternyata panasnya ilmu lawannya
masih juga mampu menggoyahkan pertahanannya, menyusup
pada selimut ilmu kebalnya.
“ Bukan main.” geram Agung Sedayu.
Dengan demikian maka Agung Sedayu memang harus
lebih berhati-hati menghadapi kenyataan itu. Apalagi ketika
pertempuran itu menjadi semakin cepat dan loncatan-loncatan
menjadi panjang dan kuat, maka serangan-serangan yang
tidak mengenai sasaran telah menyentuh dahan dan batangbatang
perdu.
Agung Sedayu harus melihat kenyataan, bahwa ranting dan
dahan-dahan yang tersentuh tangan kedua orang itu telah
mengepulkan asap pula. Luka-luka bakar telah nampak pada
dahan dan ranting-ranting itu, dan bahkan daun-daunpun telah
menjadi hangus pula karenanya.
“ Luar biasa.” desis Agung Sedayu diluar sadarnya.
“ Ternyata kau benar-benar anak iblis.” geram orang yang
berilmu tinggi itu, “ akhirnya aku tahu bahwa kau berilmu
kebal. Tetapi panas api ditanganku akan mampu menembus
ilmu kebalmu. Bukan sekedar semburan udara panas karena
ayunan tubuhku, tetapi tubuhku sendiri sudah menjadi bara.”
“ Aku tidak menyangkal.” sahut Agung Sedayu, “ tetapi
bukan berarti bahwa aku harus menyerah kau bantai disini.”
“ Ilmu kebalmu tidak akan menyelamatkanmu.” berkata
salah seorang dari kedua lawannya itu kemudian.
Namun Agung Sedayu telah berusaha meningkatkan ilmu
kebalnya pula. Adalah ciri ilmu kebal yang dimiliki oleh Agung
Sedayu, bahwa pada puncaknya ilmu kebal itu juga
mempunyai akibat yang mirip dengan ilmu lawannya. Ilmu
kebal Agung Sedayu pada tataran puncaknya juga
mempengaruhi suhu udara disekitarnya.
Karena itu, maka lawannyapun mulai merasa, bahwa udara
memang menjadi panas. Getaran yang berbeda dari getaran
di dalam dirinya membuat panasnya udara itu mempengaruhi
kedua lawannya yang tidak terpengaruh oleh panasnya
sendiri.
“ Setan alas.” orang itu mengumpat. Merekapun menjadi
semakin yakin, bahwa Agung Sedayu adalah orang yang luar
biasa, yang jarang terdapat duanya.
Namun meskipun Agung Sedayu mampu menahan
pengaruh panas lawannya, tetapi pakaiannya ternyata tidak
mampu bertahan. Disana-sini, pakaiannya yang tersentuh
serangan lawannya koyak dan berbekas luka bakar. Tetapi
Agung Sedayu tidak membiarkan pakaiannya terkoyak habis
oleh panasnya api lawan. Karena itu, maka iapun tidak
bergerak semakin lama semakin cepat pula.
Dengan demikian, maka pertempuran diantara Agung
Sedayu dan kedua lawannya menjadi semakin sengit. Kedua
belah pihak bergerak semakin cepat dan keras. Sementara itu,
panaspun telah dihambur-hamburkan di udara. Kedua belah
pihak telah menaburkan panas dalam getaran yang berbeda.
Kedua lawan Agung Sedayu itupun ternyata merasa
semakin sulit untuk bergerak dan menyerang. Mereka tidak
dapat dengan leluasa menyerang dan mengenai tubuh Agung
Sedayu dengan sepenuhnya kekuatan mereka dalam usaha
mereka menembus ilmu kebalnya.
Ternyata bahwa Agung Sedayu dengan ilmu kebalnya,
masih jauh lebih baik keadaannya dari kedua lawannya.
Karena itu, maka kedua lawannya tidak dapat bertempur
dalam keadaan itu untuk selanjutnya. Mereka harus
mempergunakan kemampuan mereka yang lain sehingga
mereka akan dapat menembus pertahanan Agung Sedayu
yang berlapis.
Lapisan udara panas yang menyengat kulit mereka jika
mereka memasuki lingkungan pengaruhnya, kemudian lapisan
ilmu kebal yang memang sulit untuk ditembus. Jika mereka
sempat menggoyahkan ilmu kebal Agung Sedayu
sebelumnya, ternyata bahwa Agung Sedayu masih belum
meningkatkan ilmunya sampai ke puncak yang ditandai
dengan pengaruh panas disekelilingnya.
Karena itu, maka kedua orang lawan Agung Sedayu itu
telah merambah kepada ilmunya yang lebih tinggi dari tataran
ilmu yang disadapnya di perguruannya. Mereka tidak lagi
mengamburkan panas dengan sambaran udara karena
geraknya, tetapi mereka mulai mempergunakan kemampuan
tertinggi dari perguruan mereka. Kedua orang itupun
kemudian telah mengambil jarak yang satu dari yang lain.
Agung Sedayu menjadi semakin berhati-hati. Ia sadar,
bahwa kedua lawannya telah merambah ketingkat
kemampuan mereka yang lebih tinggi.
Sementara itu, Glagah Putihpun masih juga terlalu sibuk
melayani kedua lawannya. Beberapa kali ia harus meloncat
menghindar dan menangkis lingkaran-lingkaran kecil namun
bergerigi tajam yang dilemparkan oleh kedua lawannya yang
telah mengambil tempat dari arah yang berbeda.
Namun Glagah Putih telah menggenggam ikat
pinggangnya. Bukan ikat pinggang kebanyakan, tetapi ikat
pinggang itu diterimanya dari Ki Mandaraka. Dengan ikat
pinggang itu, Glagah Putih dengan tangkas telah menangkis
serangan-serangan lawannya yang datang dari arah yang
berbeda. Sehingga karena itu, maka Glagah Putih memang
menjadi terlalu sibuk karenanya. Jika ia meloncat menyerang
lawannya yang seorang, maka serangan berikutnya datang
beruntun dari lawannya yang lain.
“ Ada berapa banyak mereka membawa senjata-senjata
itu?” bertanya Glagah Putih di dalam hatinya.
Namun serangan-serangan lawannya itu seakan-akan
memang tidak ada henti-hentinya. Keduanya agaknya telah
mapan dengan ilmunya itu, sehingga mereka dapat saling
mengisi dari arah yang berbeda sehingga sulit bagi Glagah
Putih untuk menyerang salah seorang diantara mereka.
Tetapi Glagah Putih tidak dapat membiarkan dirinya
menjadi sasaran serangan lawannya yang berbahaya itu.
Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk memecahkan
kesulitan yang dihadapinya itu.
Dengan kemampuannya yang tinggi, maka tiba-tiba saja
Glagah Putih telah meloncat dengan langkah yang panjang.
Ketika serangan lawannya itu datang, Glagah Putih masih
sempat sekali melingkar di udara. Demikian ia berjejak di
tanah, maka dengan serta merta ia telah memutar ikat
pinggangnya menyambar ke tubuh lawannya.
Ternyata lawannyapun bergerak cepat pula. Dengan
tangkas ia menghindari serangan itu. Ketika ikat pinggang itu
melayang menyambar kearah kening, maka iapun sempat
merendahkan dirinya. Dengan serta merta dari jarak yang
dekat sekali, ia telah mengayunkan tangannya menyerang
lambung Glagah Putih dengan lingkaran bergerilya.
Tetapi Glagah Putih tidak mau dikoyak lambungnya.
Dengan cepat pula ia melenting sambil menggeliat, sehingga
lingkaran bergerigi itu terbang tidak lebih dari setebal jari dari
lambungnya.
Namun Glagah Putih itu terkejut ketika telinganya yang
tajam mendengar desing serangan yang begitu cepat dari
arah lawannya yang lain. Glagah Putih memang berusaha
mengelak. Tetapi ternyata bahwa ia terlambat. Perhatiannya
sepenuhnya telah ditujukan kepada serangan lawannya yang
terdekat yang akan mengoyak lanbungnya, sehingga
serangan dari lawannya yang lain dari jarak yang lebih jauh
telah luput dari perhatiannya.
Ternyata bahwa lingkaran bergerigi tajam yang dilontarkan
berputar itu telah benar-benar mengoyak kulit, dipundaknya.
Demikian tajamnya gerigi yang berputar itu, sehingga luka
dipundak Glagah Putih itupun telah menganga cukup panjang.
Lawan Glagah Putih yang merasa telah berhasil
melukainya itu tidak memberikan kesempatan kepadanya. Jika
sekali mereka telah berhasil melukainya, maka kesempatan itu
tentu akan diperolehnya lagi.
Beberapa kali seranganpun telah datang meluncur
mengejarnya. Seakan-akan kemana ia pergi, maka serangan
itu telah menyambarnya. Karena itu, maka iapun menjadi
semakin sibuk. Sambil berloncatan iapun telah menangkis
serangan itu dengan ikat pinggangnya. Namun lawannya
ternyata memang licik. Mereka bertempur dari jarak tertentu,
sehingga sulit bagi Glagah Putih untuk menjangkau lawannya
dengan ikat pinggangnya.
Dengan sengaja lawannya memang berusaha agar mereka
tidak dapat diserang dalam satu lingkaran. Jika Glagah Putih
menyerang seorang diantaranya, maka yang lain akan dapat
menyerang anak muda itu dengan lingkaran-lingkaran
bergeriginya.
Luka di pundak Glagah Putih telah membuat anak muda itu
menjadi sangat marah. Namun dalam pergulatan yang cepat
berikutnya lawan Glagah Putih itu sempat pula melukainya.
Satu guratan yang tajam telah merobek lengan anak muda itu
pula.
Dengan demikian maka kesabaran Glagah Putihpun
semakin menipis. Pesan kakak sepupunya menjadi lupa-lupa
ingat. Apalagi saat-saat keringatnya membasahi lukanya yang
berdarah, yang terasa menjadi sangat pedih.
Karena itu, maka Glagah Putih tidak lagi membuat terlalu
banyak pertimbangan. Ia tidak lagi sekedar membuat
imbangan pada ilmu lawannya, sehingga udara yang panas itu
telah diserap oleh kekuatan ilmunya yang membaurkan udara
dingin.
Dalam keadaan yang semakin sulit, maka tiba-tiba saja
Glagah Putih telah berloncatan menjauh. Bahkan sekali-sekali
ia menjatuhkan dirinya sambil berguling untuk menghindari
kejaran senjata lawannya. Ketika ia kemudian melenting
berdiri, maka ia telah bersiap dengan ikat pinggangnya untuk
menangkis setiap serangan yang bakal datang.
Namun kedua lawannya justru telah berhenti menyerang.
Mereka berdiri termangu-mangu sambil menyaksikan, apa
yang terjadi dengan Glagah Putih. Namun sejenak kemudian
keduanya telah melangkah mendekat. Namun keduanya tetap
berdiri pada jarak tertentu dan di arah yang hampir
berlawanan.
Tetapi kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Glagah Putih.
Agaknya kedua orang lawannya tidak menyadari, apa yang
sedang dipersiapkan oleh Glagah Putih. Dengan luka di
pundak dan di lengannya, maka Gagah Putih tidak lagi
mampu menahan kemarahan yang menghentak-hentak di
dadanya.
Semakin dekat kedua orang lawannya di sisi yang berbeda,
maka Glagah Putihpun telah bersiap sepenuhnya. Tetapi ia
tidak lagi menggenggam ikat pinggangnya di tangan
kanannya, tetapi ikat pinggang itu telah bergeser di tangan
kirinya.
Kedua lawannya memang memperhitungkan hal itu.
Mereka memang bertanya-tanya, kenapa ikat pinggang itu
telah bergeser ditangan kiri. Tetapi mereka tidak menemukan
jawabannya. Karena itu, maka merekapun kemudian telah
memusatkan perhatiannya pula kepada anak muda itu yang
akan menjadi sasaran bidik mereka.
Di tangan kedua lawan Glagah Putih itu telah tergenggam
lingkaran-lingkaran baja yang bergerigi tajam. Namun Glagah
Putih telah memanfaatkan waktunya yang sedikit itu untuk
mempersiapkan ilmunya. Karena itu, maka ketika kedua
lawannya itu menjadi semakin dekat, maka iapun telah siap
menghadapi mereka.
Glagah Putih memang tidak perlu menunggu terlalu lama.
Kedua orang lawannya itu saling berpandangan sejenak.
Namun tiba-tiba lingkaran bergerigi itupun telah mulai terbang
pula kearahnya.
Glagah Putih menangkis serangan itu dengan ikat
pinggang. Ketika serangan dari lawannya yang lain meluncur
pula, maka Glagah Putihpun telah meloncat menghindar
sambil merendah dan bertumpu pada satu lututnya. Namun
demikian ia berlutut, maka iapun telah menggerakkan tangan
kanannya dengan telapak tangan terbuka.
Kemarahan Glagah Putih ternyata telah dihempaskannya
dengan lontaran ilmunya yang luar biasa kearah salah
seorang dari kedua lawannya. Serangan Glagah Putih
demikian tiba-tiba. Ketika segulung api meluncur kearah salah
seorang lawannya, maka orang itu terkejut bukan kepalang.
Serangan yang tidak diduganya telah meluncur dengan
kecepatan yang sangat tinggi.
Orang itu masih berusaha untuk mengelak. Iapun telah
meloncat dan menjatuhkan diri kesamping. Hampir separuh
dari tubuhnya telah disengat oleh ilmu Glagah Putih. Orang itu
telah mengaduh kesakitan. Ketika ia kemudian berusaha
untuk bangkit, maka ternyata ia sudah tidak mampu lagi. Iapun
terjatuh sekali lagi. Panasnya ilmu Glagah Putih benar-benar
melumpuhkan bukan saja separuh dari tubuhnya. Namun
kedua kakinya seakan-akan tidak dapat lagi digerakkannya.
Lawannya yang seorang memang menjadi ngeri melihat
serangan anak muda itu. Pada umumnya yang masih muda, ia
telah memiliki ilmu yang demikian dahsyatnya.
Namun Glagah Putih sendiri memang terkejut melihat
kekuatan serangannya. Ia memang sudah meneliti tataran
kemampuannya setelah ia menerimanya warisan alas
kekuatan didalam dirinya. Namun lontaran ilmu yang
disadapnya dari gurunya Ki Jayaraga dan dengan petunjuk
dan tuntunan Raden Rangga sehingga ia mampu melontarkan
ilmu itu tanpa petunjuk langsung dari gurunya, ternyata
melampaui kemampuan daya tahan lawannya.
Glagah Putih yang melihat keadaan lawannya, menjadi
berdebar-debar. Namun ia tidak mempunyai banyak
kesempatan. Tiba-tiba saja lawan yang seorang lagi, yang
kemudian menyadari keadaannya telah menyerang Glagah
Putih dengan lingkaran bergeriginya pula.
Glagah Putih meloncat mengelak. Tetapi ia tidak
menyerang lawannya dengan ilmunya itu lagi. Tetapi iapun
kemudian telah memindahkan lagi ikat pinggangnya di tangan
kanannya.
Ternyata bahwa Glagah Putih yang muda itu dengan susah
payah berusaha untuk menguasai kemarahannya. Ia tidak
berusaha menghancurkan kedua lawannya. Tetapi ia telah
meredakan perasaannya dan siap bertempur dengan senjata
ditangannya.
Sesaat kemudian, maka Glagah Putih telah
mempergunakan lagi ikat pinggangnya. Tetapi ia tidak lagi
harus melawan dua orang yang berada diarah yang
berlawanan. Karena itu, maka segala sesuatunya segera
menjadi jelas. Seorang lawannya dengan jenis senjata apapun
tidak akan dapat memenangkan pertempuran itu.
Betapapun cepatnya tangannya bergerak melemparkan
lingkaran-lingkaran bergerigi, namun Glagah Putih mampu
menangkisnya dengan kcepatan yang sama. Bahkan
seandainya orang itu bergerak lebih cepat lagi, Glagah
Putihpun akan dapat pula mengimbanginya.
Dengan demikian maka orang itupun dengan cepat telah
terdesak. Ternyata bahwa Glagah Putih telah mendesak orang
itu justru kedalam hutan.
“ Akulah yang memaksamu masuk kedalam hutan.”
berkata Glagah Putih, “ bukan kau. Aku akan bertempur
dimana saja aku kehendaki. Jika aku ingin bertempur diluar
hutan, maka tidak ada yang dapat memaksaku masuk ke
dalam. Tetapi sekarang, aku ingin bertempur di dalam hutan.
Maka tidak seorangpun yang akan dapat menahan aku.”
“ Anak iblis, setan alas. Kau kira kau dapat memaksakan
kehendakmu sesuka hatimu?” geram orang itu.
Glagah Putih tersenyum. Katanya, “ Aku memang dapat
memaksamu. Kecuali kau memilih mati.”
“ Kau sudah terluka. Darahmu akan segera terperas habis.
Jika kau kehabisan darah, maka kau tidak akan dapat
melawanku lagi.” jawab orang itu.
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Ketika ia sempat
merasakan, maka luka-lukanya memang menjadi pedih oleh
keringatnya yang mengalir. Bahkan tiba-tiba saja terasa titik
darah dari lukanya yang jatuh pada jari-jari kakinya.
Dengan demikian maka Glagah Putihpun berkata, “
Pertempuran itu memang harus segera selesai. Jika tidak,
maka darahku memang akan habis terperas dari luka.”
Namun lawannya menyadari arti kata-kata Glagah Putih itu.
Ia memang agak menyesal, bahwa ia sudah mengancamnya.
Namun bagaimanapun juga, ia memang harus bertempur
sampai kemungkinan terakhir. Apalagi jika ia mengingat
perintah yang sedang diembannya. Menurut perhitungan,
maka seorang diri ia harus menghadapi Glagah Putih. Namun
untuk meyakinkan kemenangannya, maka ia telah
menghadapi anak itu berdua.
Namun ternyata bahwa usaha itupun untuk dilakukannya.
Kawannya telah berbaring diantara batang ilalang. Ia tidak
tahu apakah kawannya itu masih hidup atau sudah mati.
Serangan yang dilemparkan oleh Glagah Putih memang
mengejutkan. Bukan sekedar panasnya api. Tetapi seakanakan
dapat dilihat dengan mata wadagnya, gumpalan api itu.
Sebenarnyalah bahwa orang itu sama sekali tidak berdaya
untuk bertahan ketika Glagah Putih mendesaknya masuk ke
dalam hutan. Sehingga dengan demikian, maka sejenak
kemudian, mereka memang telah bertempur dibibir hutan.
Dalam pada itu, Agung Sedayu masih juga terlibat dalam
pertempuran yang sengit. Namun ketika mereka melihat apa
yang telah dilakukan oleh Glagah Putih terhadap salah
seorang saudara seperguruannya, maka kedua orang itu
terkejut. Glagah Putih mampu melontarkan serangan dari
jarak jauh. Segulung udara yang membara telah meluncur dan
mengenai saudara seperguruannya itu, sehingga nasibnya
tidak diketahui. Saudara seperguruannya itu memang
terbaring ditanah. Tetapi apakah ia terbunuh, pingsan atau
karena lukanya yang parah maka ia tidak mampu lagi untuk
bangkit.
“ Anak itu memiliki ilmu yang dahsyat itu pula.” berkata
orang-orang itu didalam hatinya.
Meskipun keduanya yakin, bahwa alas dari ilmu itu lain dari
ilmu mereka berdua, namun ujudnya memiliki kesamaan.
Kedua orang yang bertempur melawan Agung Sedayu itu juga
mampu melepaskan serangan dari jarak jauh dengan
segulung udara panas sebagai puncak dari ilmunya
menguasai panasnya api. Namun yang masih belum dapat
dicapai oleh saudara seperguruannya yang lain yang ternyata
tidak mampu mengalahkan Glagah Putih. Tetapi keduanya
tidak sempat berpikir lebih panjang. Ketika keadaan menjadi
semakin gawat, maka keduanya tidak lagi menyimpan ilmunya
yang dahsyat itu.
“ Ilmu itu akan mampu menembus perisai ilmu kebalnya.”
berkata orang-orang itu didalam hatinya.
Sebenarnyalah, maka keduanya tidak menunggu lebih
lama lagi. Dengan serta merta, hampir berbareng, maka
keduanya telah menyiapkan diri. Dengan sigapnya maka
keduanya telah menggerakkan kaki kanannya maju
selangkah, merendah pada lututnya. Setelah tangannya
menggenggam dan mendatar disisi tubuhnya, sementara
tangan kanannya terjulur kedepan dengan tangan yang
menelungkup dan menggenggam pula. Dari genggaman
tangan itu, seakan-akan telah terjulur memanjang, namun
yang kemudian bagaikan lingkaran udara yang membara
meluncur mengarah ke sasaran Agung Sedayu.
Tetapi Agung Sedayu sempat melihat dua serangan yang
meluncur dari arah yang berbeda dengan jarak waktu yang
hanya sekejap. Karena itu, maka iapun telah meloncat
melenting menghindari kedua serangan itu. Namun Agung
Sedayu harus segera bersiap pula, karena serangan yang
serupa telah meluncur lagi dari salah seorang lawannya.
Agung Sedayu memang menjadi berdebar-debar. Ia
melihat serangan lingkaran bergerigi yang mengarah kepada
Glagah Putih. Namun pada satu saat lingkaran bergerigi itu
tentu akan habis dari persediaan mereka. Tetapi lingkaran
udara yang membara ini agaknya tidak akan ada habishabisnya.
Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu juga dibebani
perasaan yang sama sebagaimana Glagah Putih. Ia ingin
berusaha menangkap lawannya hidup-hidup. Bahkan ialah
yang telah berpesan kepada Glagah Putih untuk bertempur
dengan hati-hati.
Namun ternyata bahwa lawan-lawannya dan juga lawanlawan
Glagah Putih adalah orang-orang yang berilmu tinggi,
sehingga ia tidak akan dapat menyalahkan Glagah Putih jika
seorang diantara lawannya telah terbaring diam.
Tetapi berbeda dengan Glagah Putih yang memaksa
lawannya masuk kedalam hutan. Agung Sedayu justru
berusaha menjauh. Ia tidak tahu pasti akibat yang dapat
terjadi dengan udara panas yang bergulung-gulung itu. Jika
udara panas itu beruntun mengenai pepohonan dan dedaunan
hutan, maka ada kemungkinan panas itu pada satu saat akan
benar-benar dapat menyalakan api dan membakar hutan itu.
Tetapi dari jarak yang semakin jauh, maka udara panas yang
luput dari sasarannya itu sudah kehilangan panasnya disaat
menyentuh kekayuan hutan.
Demikianlah, maka Agung Sedayu untuk selanjutnya harus
berloncatan bukan saja untuk menghindari serangan-serangan
lawan, tetapi juga untuk menjauhi hutan. Sementara itu
serangan-serangan lawannya rasa-rasanya menjadi semakin
cepat.
Namun dengan ilmu kebalnya Agung Sedayu masih selalu
dapat mengatasi serangan-serangan itu. Serangan yang
dihindarinya, tidak mempunyai pengaruh sama sekali atas
dirinya yang diselimuti oleh ilmu kebal itu. Meskipun Agung
Sedayu sadar, bahwa sambaran udara panas itu tentu
berpengaruh juga atas udara yang terbawa arus peluncuran
ilmunya itu. Meskipun ia hanya sempat bergeser setebal daun
dari gumpalan udara panas, namun ia tidak terluka karenanya.
Kedua lawannyapun menjadi berdebar-debar karenanya.
Dengan demikian keduanya sadar, bahwa ilmu kebal Agung
Sedayu adalah ilmu kebal yang sangat kuat. Mereka harus
benar-benar dapat mengenai Agung Sedayu tepat pada
tubuhnya untuk memungkinkan gumpalan udara panas itu
mengoyak ilmu kebalnya. Tetapi Agung Sedayu itu ternyata
mampu bergerak cepat untuk menghindarinya.
Namun serangan itu datang beruntun cepat sekali. Bahkan
kedua orang itu tidak saja menyerang dari tempat mereka
berdiri. Tetapi keduanya telah berloncatan pula dan
menyerang dari arah yang berbeda-beda. Karena itulah maka
serangan itu datang meluncur silang menyilang. Apalagi ujud
dari gumpalan udara yang panas itu tidak begitu jelas nampak.
Hanya karena ketajaman mata Agung Sedayu yang berilmu
tinggi sajalah, maka ia dapat melihat jelas datangnya
serangan itu.
Ketika dalam keadaan yang sulit, serangan lawannya itu
benar-benar mengenai tangannya yang sedang bergerak dan
terkembang, maka Agung Sedayu telah merasakan betapa
dahsyatnya ilmu itu. Ternyata ilmu itu memang mampu
menembus ilmu kebalnya, sehingga tangannya itu telah
merasakan serangan udara panas. Dengan demikian Agung
Sedayu dapat membayangkan, tanpa perlindungan ilmu kebal,
maka tangannya itu tentu sudah menjadi hangus.
“ Kedua orang itu memang sangat berbahaya.” berkata
Agung Sedayu di dalam hatinya.
Karena itu, maka Agung Sedayu tidak mempunyai cara
yang lain untuk melawan mereka selain dengan melawan
serangan dari jarak jauh itu dengan serangan dari jarak yang
sama. Itulah sebabnya, maka Agung Sedayupun bertekad
untuk menghentikan serangan-serangan lawannya. Gumpalan
udara panas itu tidak akan ada habis-habisnya jika sumbernya
masih mampu melancarkan serangan berlandaskan ilmunya
yang sangat tinggi itu.
Untuk beberapa saat Agung Sedayu masih saja
berloncatan menghindari serangan lawannya yang datang dari
arah yang silang menyilang. Namun kemudian Agung
Sedayupun telah berdiri tegak dengan tangan bersilang.
Ia memang merasakan gigitan udara panas pada
pundaknya ketika serangan lawannya mengenainya dan
menembus ilmu kebalnya. Meskipun Agung Sedayu merasa
sakit, tetapi ia dengan yakin menyadari bahwa serangan
lawannya yang menyusup ilmu kebalnya itu tidak melukai
kulitnya. Namun pada saat yang demikian Agung Sedayupun
telah mulai menyerang lawannya dengan sorot matanya yang
mampu meluncurkan ilmunya.
Kedua lawannya terkejut. Meskipun kepada keduanya telah
diberikan beberapa keterangan tentang Agung Sedayu yang
memiliki ilmu sangat tinggi, namun kemampuan Agung
Sedayu yang disaksikannya itu memang melampaui
gambaran mereka sebelumnya.
Ketika serangan Agung Sedayu itu datang, seleret cahaya
dari kedua matanya menyambar salah seorang diantara
lawannya, maka dengan serta merta lawannya itu meloncat
menjatuhkan dirinya sambil berguling. Namun pada saat yang
sama serangan dari lawannya yang lain telah meluncur
dengan derasnya.
Tetapi hal itu memang sudah diperhitungkan oleh Agung
Sedayu. Karena itu, demikian serangannya meluncur, Agung
Sedayu telah siap menghadap kearah lawannya yang lain itu.
Udara panas yang meluncur dari lawannya itu, ternyata telah
mengarah kedada Agung Sedayu disaat ia berputar. Namun
tepat pada waktunya Agung Sedayu telah terjongkok sambil
meluncurkan serangan dengan sorot matanya.
Kecepatan gerak Agung Sedayu itu benar-benar tidak
terduga. Pada saat orang itu masih menunggu akibat
serangannya, maka serangan Agung Sedayu telah terbang
kearahnya melampaui kecepatan anak panah yang lepas dari
busurnya.
Tidak ada kesempatan untuk berbuat banyak. Yang dapat
dilakukannya adalah menjatuhkan dirinya sebagaimana
dilakukan oleh kawannya.
Pada saat yang demikian Agung Sedayu merasakan
serangan lawannya yang seorang lagi mengenainya di
punggungnya, sehingga rasa-rasanya punggungnya memang
bagaikan tersentuh api. Betapa dahsyatnya ilmu lawannya
dapat diperhitungkan oleh Agung Sedayu. Seandainya ia tidak
dilapisi dengan ilmu kebalnya, maka agaknya ia memang
sudah dihancurkan oleh lawannya.
Sambil mengerahkan daya tahannya untuk mengatasi rasa
sakitnya Agung Sedayu tidak beranjak dari tempatnya. Seperti
yang diperhitungkan, maka lawannya yang dihadapinya itu
telah meloncat berdiri.
“ Jangan.” lawan yang lain, yang baru saja menyerangnya
telah berteriak.
Namun terlambat. Demikian orang itu berdiri diatas tanah,
maka serangan Agung Sedayu telah menyambarnya. Yang
terdengar adalah teriakan tertahan. Serangan Agung
Sedayupun tidak kalah dahsyatnya dengan serangan kedua
lawannya itu. Karena itu, maka lawannya itupun telah
terlempar. Jika kemudian ia jatuh dan terguling, bukannya
karena ia menghindari serangan Agung Sedayu, tetapi benarbenar
karena serangan itu telah menghantam dadanya.
Dengan sekuat tenaga orang itu berusaha untuk bertahan.
Ketika kemudian ia terbaring diam, maka iapun berusaha
untuk mengatur pernafasannya sebaik-baiknya. Bahkan
kemudian ia berusaha untuk bangkit agar ia dapat
memusatkan nalar budinya sambil duduk, sehingga perlahanlahan
akan dapat mengatasi kesulitan didalam dadanya.
Namun ia tidak berhasil.
Sementara itu, lawannya yang lain dengan segenap
kekuatan dan kemampuan ilmunya telah berusaha
menghancurkan Agung Sedayu. Ketika ia melihat kawannya
telah dikenai serangan Agung Sedayu dan jatuh berguling,
maka iapun telah berusaha untuk menyerang Agung Sedayu
lagi. Ia yakin bahwa serangannya mampu menembus ilmu
kebal Agung Sedayu, sehingga bagaimanapun juga, maka
serangannya itu akan berpengaruh.
Namun ketika serangan itu meluncur, Agung Sedayulah
yang berguling di tanah, kemudian melenting dan berloncatan
menyamping. Bahkan sekali-sekali berputaran diudara.
Tetapi lawannya tidak mau kehilangan kesempatan. Jika
sekali Agung Sedayu sempat melepaskan serangannya, maka
ia sendirilah yang akan mengalami kesulitan, sementara ia
tidak memiliki ilmu kebal sebagaimana Agung Sedayu.
Ketika Agung Sedayu kemudian berdiri tegak, maka
dengan serta merta, lawannyapun telah melontarkan
serangannya mengarah kedada. Tetapi Agung Sedayu hanya
bergeser selangkah kesamping. Justru pada saat ia telah siap
melontarkan ilmunya. Karena itu, maka sekejap berikutnya,.
Agung Sedayu benar-benar telah melontarkan serangannya
kearah lawannya yang telah bersiap-siap pula untuk
menyerangnya. Ternyata tidak ada kesempatan lagi bagi
lawannya untuk menghindar. Ia sudah terlanjur bergerak.
Bukan saja wadagnya, tetapi juga pengerahan ilmunya.
Dengan demikian, ketika serangan Agung Sedayu meluncur
dengan deras, maka lawannya itupun telah melontarkan
serangannya pula.
Sejenak kemudian, telah terjadi benturan ilmu yang dahsyat
sekali. Kekuatan ilmu yang matang dari Agung Sedayu yang
terlontar lewat sorot matanya yang membentur kekuatan ilmu
lawannya yang sudah mapan pula. Segulung udara panas
telah membentur seleret cahaya yang menyambar bagaikan
petir di langit.
Udarapun seakan-akan telah meledak. Kedua jenis ilmu
yang tinggi itu ternyata telah beradu kekuatan. Namun
bagaimanapun juga, dalam benturan itu telah terjadi kekuatan
yang terpental, berbalik kearah semula, disamping yang
memencar kesegala arah. Meskipun tidak sepenuhnya,
namun kekuatan yang terpental kembali kesumbernya itu
cukup berbahaya.
Ternyata dalam benturan itu dapat pula dinilai kekuatan
ilmu dari kedua belah pihak. Lawan Agung Sedayu yang
terlalu berbangga akan ilmunya itu harus mengakui, bahwa
kekuatan ilmu Agung Sedayu masih lebih tinggi dari ilmunya.
Itulah sebabnya maka getaran ilmunya sendiri yang memental
kearah sumbernya lebih besar dari getaran ilmu Agung
Sedayu yang memental balik.
Terlindung oleh kekuatan ilmu kebalnya serta getaran
ilmunya yang sudah melemah, maka Agung Sedayu tidak
begitu terpengaruh oleh pukulan ilmunya sendiri yang
memental karena benturan itu. Sebaliknya, lawan Agung
Sedayu yang tidak terlindung di belakang ilmu kebal, serta
kekuatan ilmu yang berada dibawah tataran ilmu Agung
Sedayu, sementara jarak benturan itu lebih dekat daripadanya
karena ia agak lambat melepaskan ilmunya, maka
pengaruhnya nampak jauh lebih besar padanya.
Kekuatan udara yang panas itu ternyata telah menyergap
dan membakar kulit dagingnya. Demikian tinggi kekuatan ilmu
itu, sehingga lawan Agung Sedayu itu sendiri tidak mampu
bertahan karenanya. Ternyata kekuatan ilmu Agung Sedayu
yang lebih besar itu sebagian bukan saja menyusup diantara
ilmu lawannya tetapi juga menimbulkan getaran dengan
gelombang yang semakin cepat sehingga seolah-olah
gabungan kekuatan yang timbul kemudian itu menjadi
semakin kuat.
Yang terjadi itu ternyata mempunyai akibat yang parah bagi
lawannya. Orang itu ternyata telah terlempar dan akhirnya
jatuh terbanting ditanah.
Agung Sedayu sendiri masih berdiri tegak. Namun
kemudian disadarinya, bahkan sebagian dari pakaiannyapun
telah menjadi hangus pula. Bahkan terasa pula betapa
pedihnya kulitnya yang tersentuh ilmu lawannya yang mampu
menembus ilmu kebalnya.
Sejenak kemudian keadaan menjadi hening. Tiga orang
terbaring diam diantara batang-batang ilalang.
Agung Sedayu berdiri termangu-mangu memandang
kesekelilingnya. Ia masih belum melihat Glagah Putin yang
telah mendesak lawannya masuk kedalam hutan. Karena itu,
Agung Sedayu menjadi sedikit cemas karenanya. Apalagi
Agung Sedayupun mengetahui bahwa Glagah Putih memang
telah terluka.
Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian dengan hatihati
telah mendekat dan masuk ke lingkungan pepohonan
hutan yang semakin lama semakin lebat itu. Dengan mengikuti
jejak pertempuran antara Glagah Putih dengan seorang
lawannya, maka Agung Sedayupun kemudian telah sampai
pula ke medan yang agaknya juga sudah menjadi tenang.
Dengan telinganya yang tajam Agung Sedayu kemudian
mendengar desir langkah seseorang. Dengan hati-hati ia
kemudian berdesis memanggil, “ Glagah Putih?”
Sebenarnyalah yang berjalan diantara pepononan adalah
Glagah Putih. Karena itu, maka iapun kemudian menyahut, “
Apakah itu kakang Agung Sedayu?”
Agung Sedayupun kemudian berusaha mendekati Glagah
Putih sebagaimana sebaliknya. Namun Agung Sedayu
menjadi cemas ketika ia melihat Glagah Putih yang
nampaknya mengalami kesulitan.
“ Glagah Putih.” desis Agung Sedayu, “ bagaimana dengan
kau?”
Glagah Putih berhenti sejenak. Dengan nada rendah ia
menjawab, “ Agaknya darah sudah terlalu banyak mengalir
dari luka-lukaku kakang.”
Agung Sedayupun dengan cepat telah mendekatinya.
Dengan hati-hati ia mengamati luka di pundak dan di lengan
Glagah Putih. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “ Aku
obati lukamu. Duduklah.”
Glagah Putihpun kemudian telah duduk bersila. Sementara
itu Agung Sedayu mengambil bumbung-bumbung kecil dari
kantong ikat pinggangnya. Dengan serbuk reramuan obat,
maka Agung Sedayu telah mengobati luka Glagah Putih itu.
Glagah Putih mengatupkan giginya rapat-rapat ketika
serbuk ditaburkannya pada lukanya. Perasaan pedihpun telah
menyengat. Namun ketika perasaan pedih itu kemudian
diatasinya, maka darahpun mulai membeku dimulut luka,
sehingga sejenak kemudian maka luka-luka itupun telah
menjadi pampat.
“ Jangan banyak bergerak.” berkata Agung Sedayu.
Glagah Putih mengangguk.
“ Dimana lawanmu yang seorang itu?” bertanya Agung
Sedayu pula.
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya, “ Adalah diluar kemampuan untuk menangkapnya
hidup-hidup. Sebenarnya kesempatan itu ada. Tetapi agaknya
orang itu telah menelan racun untuk membunuh dirinya
sendiri.”
Agung Sedayu terkejut. Dengan kening yang berkerut ia
bertanya untuk mendapat kepastian “ Jadi orang itu menelan
racun untuk membunuh dirinya sendiri? “
Glagah Putih mengangguk. Dengan nada rendah ia
menjawab “ Aku sudah mencoba untuk mencegahnya. Tetapi
aku terlambat. “
“ Apaboleh buat “ desis Agung Sedayu kemudian kit a
sudah berusaha. Di luar hutan ini ada tiga orang terbaring.
Marilah, kita akan melihatnya, apakah masih ada seorang
diantara mereka yang masih hidup. Tetapi kau harus berhatihati
agar dari lukamu tidak lagi mengalirkan darah. “
Glagah Putihpun kemudian dibantu oleh Agung Sedayu
telah bangkit. Namun tubuhnya memang terasa lemah sekali.
Karena itu, maka Agung Sedayu harus membantunya. Sekalisekali
Glagah Putih harus berpegangan lengan Agung Sedayu
jika tiba-tiba saja terasa keseimbangannya goyah.
Namun akhirnya keduanya telah keluar dari hutan. Agung
Sedayupun kemudian membantu Glagah Putih duduk di
sebuah batu padas sambil berkata “ Kau duduk saja disitu.
Aku akan melihat mereka. “
Glagah Putih mengangguk. Ia memang merasa bahwa
tubuhnya menjadi lemah. Karena itu, ia harus berusaha untuk
mengatur pernafasannya dan berusaha mengatasi segala
gejolak yang masih terasa dijantungnya. Ia pun sadar, bahwa
ia tidak boleh terlalu banyak bergerak agar darahnya menjadi
benar-benar pampat lebih dahulu.
Dengan demikian maka Agung Sedayulah yang kemudian
dengan hati-hati mendekati tubuh-tubuh yang terbaring diam
itu. Namun ketika ia menjadi semakin dekat, maka iapun
terkejut. Tubuh yang pertama yang didekatinya ternyata
bagaikan telah membeku. Namun dibawah kakinya nampak
pula noda-noda kebiruan.
“ Racun “ desis Agung Sedayu.
Ternyata bahwa diluar pengamatannya, orang itupun telah
menelan racun pula sebagaimana lawan Glagah Putih.
Agaknya mereka lebih baik mati daripada tertangkap.
Dengan berdebar-debar Agung Sedayu melihat kedua
orang yang lain. Satu diantara mereka memang nampak
bernoda kebiruan ditubuhnya. Namun agaknya yang seorang
lagi tidak sempat menelan racun karena ilmu Agung Sedayu
tidak langsung membunuhnya.
Yang terjadi itu memang bukan yang dikehendaki oleh
Agung Sedayu dan Glagah Putih. Tetapi keduanya memang
tidak mampu mencegahnya. Kematian itu seakan-akan
memang harus terjadi atas mereka sesuai dengan keinginan
mereka sendiri untuk menghindari kesulitan-kesulitan yang
dapat terjadi atas mereka jika mereka tertangkap dan menjadi
tawanan Mataram.
Agung Sedayupun kemudian memberitahukan hal itu
kepada Glagah Putih, sehingga dengan demikian keduanya
mendapat kesimpulan, bahwa bunuh diri dengan menelan
racun itu bukan sikap pribadi lawan Glagah Putih. Tetapi
adalah sikap keempat orang itu bersama-sama. Atau bahkan
sikap perguruan mereka jika mereka menghadapi keadaan
seperti yang dialami oleh keempat orang itu.
“ Kita harus menguburkan mereka “ berkata Agung Sedayu.
Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa hal
itu memang harus dilakukan. Mereka tidak akan dapat
meninggalkan empat sosok mayat begitu saja di padang
ilalang dan didalam hutan. Tetapi Glagah Putih merasa bahwa
tubuhnya memang terlalu lemah.
Agaknya Agung Sedayu mengerti perasaan yang bergejolak
didalam hati adik sepupunya. Karena itu, maka katanya “
Bagaimanapun juga kita tidak akan dapat melakukannya
sendiri. Tetapi kita akan dapat minta tolong
orang-orang dari padukuhan terdekat. Meskipun dengan
demikian kita tidak dapat menyembunyikan kejadian ini. “
Glagah Putih mengangguk-angguk pula. Namun iapun
kemudian bertanya “ Apakah dalam keadaan seperti ini kita
akan pergi ke padukuhan? “
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya
memang berat untuk memasuki padukuhan dalam ujud seperti
itu. Tetapi mereka memang memerlukan bantuan selain
tenaga juga alat untuk menggali tanah. Bahkan jika mungkin,
keempat tubuh yang terbunuh itu sebaiknya dibawa ke
kuburan.
Namun akhirnya Agung Sedayu itu berkata kepada Glagah
Putih “ Apakah sebaiknya kau sajalah yang pergi berkuda,
tetapi dengan hati-hati, menuju ke padukuhan terdekat. Kau
juga harus berupaya agar para pengawal berlaku tenang dan
tidak menimbulkan kegelisahan. Katakan bahwa semua
persoalan telah diselesaikan. Aku akan berada disini. Masih
ada kemungkinan lain dapat terjadi disini. Kemungkinan yang
sama memang dapat juga terjadi di jalan. Tetapi kudamu
adalah kuda yang baik dan tegar, kau tentu akan dapat
mencapai pedukuhan terdekat tanpa dapat disusul oleh kuda
yang manapun juga, sementara pakaianmu masih lebih
pantas dari yang aku pakai meskipun bernoda darah dan
koyak di beberapa tempat. Dan kau tentu akan dapat
menguasai suasana sehingga saatnya kita melaporkan
kepada Ki Gede. “
Glagah Putih termangu-mangu. Namun baginya memang
lebih baik duduk dipunggung kuda dan mencapai padukuhan
terdekat daripada harus menggali lubang bagi ampat orang
atau bahkan membawa mereka ke kuburan.
Karena itu, maka katanya “ Baiklah kakang, aku akan pergi
ke padukuhan disebelah hutan kecil itu. Jaraknya tidak terlalu
jauh. Agaknya dipadukuhan itu terdapat cukup anak-anak
muda untuk membantu kita disini. “
“ Hati-hatilah. Aku akan menunggu disini. Mudahmudahan
kita tidak menemui kesulitan “ berkata Agung
Sedayu.
Demikianlah, Agung Sedayu telah membantu Glagah Putih
naik kepunggung kudanya. Kemudian kuda itupun telah berlari
meninggalkan tempat itu meskipun tidak terlalu cepat.
Namun pedukuhan itu memang tidak terlalu jauh. Lepas
dari pinggir hutan itu, maka Glagah Putihpun telah memasuki
padang perdu yang tidak terlalu luas dan pkhir-nya memasuki
lingkungan tanah garapan orang-orang padukuhan.
Glagah Putih memang berusaha untuk tidak melintasi jalan
yang banyak dilalui orang. Ia memilih jalan pintas yang sempit
dan sepi. Namun akhirnya, mendekati padukuhan, Glagah
Putih memang harus melalui jalan induk padukuhan itu.
Untunglah bahwa jalan memang sedang sepi. Karena itu,
maka dengan diam-diam ia memasuki gerbang padukuhan
dan langsung menuju ke banjar.
Beberapa orang pengawal yang berada di banjar memang
terkejut. Ketika dengan lemah Glagah Putih turun dari
kudanya. Apalagi ketika mereka melihat darah yang
mengering dipakaiannya yang koyak.
“ Apa yang terjadi Glagah Putih? “ bertanya para pengawal
yang bertugas hari itu di banjar dengan serta merta.
Glagah Putih mencoba tersenyum. Katanya “ Tidak ada
apa-apa. Semuanya sudah teratasi. “
“ Tetapi pakaianmu dan barangkali kau terluka? “ bertanya
salah seorang dari anak-anak yang bertugas itu.
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi keadaan
tubuhnya memang sudah menjadi lebih baik meskipun
ia tidak boleh bergerak terlalu kasar, agar darahnya
tidak lagi keluar dari lukanya.
Perlahan-lahan Glagah Putih berjalan mendekati anak-anak
muda itu sambil berkata “ Bukankah aku boleh duduk dahulu?
“
“ Marilah. Marilah “ anak-anak muda itu seakan-akan baru
sadar akan keadaan Glagah Putih yang lemah. Seorang
diantara mereka telah membantu Glagah Putih dan
membawanya duduk di pendapa.
“ Dengarlah “ berkata Glagah Putih kemudian “ tetapi kalian
harus bersikap baik. Jangan menimbulkan kegelisahan dan
seakan-akan akan terjadi perang di sini. “
Anak-anak muda itu mengangguk. Dengan hati-hati dan
seperlunya, Glagah Putih telah memberi tahukan apa yang
telah terjadi.
Kemudian katanya “ Kami memerlukan bantuan beberapa
orang anak muda untuk menguburkan mayat-mayat itu. Tetapi
kita harus menjaga suasana yang baik, agar kami sempat
memberikan laporan terperinci kepada Ki Gede. Tetapi jika
telah terjadi kepadukuhan sebelum kami memberikan laporan,
akan dapat menimbulkan salah paham. “
Anak-anak muda di banjar itu mengerti maksud Glagah
Putih. Karena itu sambil mengangguk-angguk, pemimpin
kelompok anak muda yang bertugas itu berkata “ Baiklah.
Kami akan menghubungi kawan-kawan kami tanpa isyarat
kentongan yang mungkin akan dapat menimbulkan
kegelisahan. Kami akan mendatangi mereka seorang demi
seorang. “
“ Baiklah. Tetapi sekali lagi. Hati-hatilah. Sementara aku
menunggu mereka berkumpul, aku dapat beristirahat di sini.
Kakang Agung Sedayu saat ini masih berada di-pinggir hutan
itu. “ berkata Glagah Putih yang masih sempat
meminjam sepengadeg pakaian kepada salah seorang
anak muda itu, sebagaimana pernah terjadi sebelumnya.
Ternyata bahwa usaha Glagah Putih berhasil. Beberapa
orang anak muda telah terkumpul tanpa kesan keributan.
Mereka datang ke banjar dengan sikap yang tenang dan tidak
menunjukkan kegelisahan.
“ Terima kasih “ berkata Glagah Putih “ kita akan pergi ke
sebelah hutan itu. Tetapi kita tidak akan pergi bersama-sama
supaya tidak ada kesan yang menggelisahkan. “
Glagah Putihpun kemudian telah memberikan ancar-ancar
kemana anak-anak muda itu harus pergi. Sementara itu
beberapa orang diantara mereka telah membawa alat-alat
untuk menggali tanah.
Dengan tanpa menarik perhatian, anak-anak muda itu-pun
kemudian telah pergi ketempat yang ditunjukkan oleh Glagah
Putih. Seperti saat ia datang, maka Glagah Putih telah kembali
ke hutan itu berkuda meskipun tidak terlalu cepat.
Agung Sedayu yang menunggu rasa-rasanya memang
sudah terlalu lama. Namun sambil menunggu ia sudah
berhasil mengatasi semua kesulitan didalam dirinya. Rasa
sakitnyapun telah berangsur hilang. Namun ia harus mengakui
tingkat kemampuan lawan-lawannya yang tinggi sehingga ilmu
mereka mampu menembus ilmu kebalnya.
Pada saat Agung Sedayu mulai menjadi gelisah, maka
Glagah Putihpun telah kembali.
“ Apa kau berhasil? “ bertanya Agung Sedayu.
“ Ya. Beberapa orang kawan akan datang. Mereka sedang
dalam perjalanan “ jawab Glagah Putih.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian beruntun, beberapa
orang anak muda telah sampai ketempat itu. Mereka membawa
alat-alat yang diperlukan sebagaimana diminta oleh
Glagah Putih.
“ Kami memerlukan pertolongan kalian “ berkata Agung
Sedayu.
Anak-anak muda yang menyaksikan bekas arena
pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Mereka juga melihat
keadaan Agung Sedayu sebagaimana Glagah Putih yang
terluka. Dengan demikian mereka telah membayangkan
bahwa pertempuran telah terjadi dengan sengitnya.
Sementara anak-anak muda itu mengumpulkan tubuhtubuh
yang terkapar, maka Agung Sedayu sempat bergumam
kepada Glagah Putih “ Ternyata mereka berkata sebenarnya.
Tidak ada orang lain selain mereka berempat. “
“ Ya. Tetapi agaknya mereka terlalu yakin akan
kemampuan mereka. “ berkata Glagah Putih.
“ Tetapi ilmu mereka memang luar biasa “ berkata Agung
Sedayu.
“ Agaknya orang-orang Madiun telah memilih orang yang
paling baik untuk menghadapi kakang, karena mereka telah
mendapat keterangan yang lengkap tentang kakang. Dua
orang yang lain adalah mereka yang masih pada tataran yang
lebih rendah “ berkata Glagah Putih. Lalu “ Agaknya jika dua
orang yang melawan kakang itu memilih aku sebagai
lawannya, mungkin aku tidak akan sempat keluar dari hutan. “
Agung Sedayu menggeleng. Katanya “ Tidak Glagah Putih.
Jika kau terdesak oleh lawan-lawanmu, karena kau terlalu
terikat oleh pesanku agar kau menangkap lawanmu hidupKang
Zusi - http://kangzusi.com/
hidup. Jika kau tidak aku bebani dengan pesan itu, mungkin
kau tidak terluka karenanya. “
“ Tidak kakang “ berkata Glagah Putih “ ternyata ilmuku
masih jauh dari mapan. “
Agung Sedayu tertawa. Katanya “ Ada baiknya kau berpikir
seperti itu. “
Namun dalam pada itu, seorang anak muda telah bertanya
“ bukankah hanya tiga orang yang terbunuh disini? “
Agung Sedayulah yang menjawab “ Ya. Seorang terbunuh
didalam hutan. Marilah, kita mengambilnya. “
“ Biar aku saja kakang “ berkata Glagah Putih.
“ Beristirahatlah “ sahut Agung Sedayu “ kau masih belum
dibenarkan terlalu banyak bergerak. “
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
Agung Sedayu diikuti oleh beberapa orang anak muda telah
masuk kedalam hutan. Memang tidak terlalu dalam. Namun
Agung Sedayupun segera menemukan sesosok tubuh yang
terbaring diam. Tanda-tanda racun yang bekerja ditubuhnya
nampak pada kulitnya dengan noda-noda kebiruan.
Sejenak kemudian, maka ampat sosok tubuh telah
dikumpulkan. Namun kuburan berada ditempat yang terlalu
jauh dari hutan itu. Karena itu, maka mereka bersepakat untuk
membuat kuburan baru ditepi hutan itu.
“ Kita akan memberinya pertanda “ berkata Agung Sedayu
yang siap menguburkan keempat sosok tubuh itu. Namun
sebelumnya ia berkata “ Kita akan menelitinya sekali lagi.
Apakah ada ciri-ciri yang dapat dikenali pada sosok-sosok
mayat itu. “
Anak-anak muda itupun berusaha untuk melihat dengan
teliti. Namun pertanda yang mereka perlukan itu sama sekali
tidak ada. Bahkan Agung Sedayu sendiri dan Glagah Putihpun
tidak menemukan apa-apa pada sosok-sosok mayat itu. Pada
ikat pinggangnya, timang dan bahkan ikat kepalanya. Yang
diketemukan adalah sisa-sisa senjata yang telah mereka
pergunakan. Lingkaran-lingkaran kecil bergerigi tajam.
Agung Sedayu telah mengambil dan membawa dua buah
senjata itu. Mungkin hal itu akan dapat memberikan
petunjuk kelak. Ia akan dapat berbicara dengan Ki Jayaraga
dan Ki Gede.
Demikianlah, setelah semuanya siap, maka keempat sosok
tubuh itupun telah diturunkan kedalam lubang-lubang kubur.
Demikian kubur itu ditutup, maka merekapun telah
memberikan pertanda, sehingga apabila diperlukan, mereka
akan segera dapat menemukannya. Agung Sedayupun telah
minta anak-anak muda itu mengingat-ingat ujud dari orangorang
yang telah dikuburkan itu, sehingga mereka akan dapat
menyebut ujud-ujud serta ciri-ciri dari yang terkubur itu
masing-masing meskipun tanpa dapat menyebut nama
mereka.
Baru kemudian setelah selesai seluruhnya, serta dengan
pakaian pinjaman, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih
bersama-sama dengan anak-anak muda yang membantu
mereka, meninggalkan tempat itu. Namun Agung Sedayu dan
Glagah Putih masih berpesan, agar untuk sementara mereka
tidak membuat kesan yang dapat menimbulkan kegelisahan.
“ Kami akan berbicara dengan Ki Gede “ berkata Agung
Sedayu.
“ Silahkan “ jawab salah seorang anak itu “ namun pada
saatnya kami memerlukan keterangan yang mapan, sehingga
kami sendiri tidak menjadi gelisah karenanya. “
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Jawabnya “ Aku atau
Glagah Putih akan segera menemui kalian. Tolong, rawat
kuda-kuda dari keempat orang yang terbunuh itu.
Demikianlah, maka merekapun kemudian telah terpisah.
Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak singgah lagi di
padukuhan itu. Tetapi mereka akan langsung melaporkan
persoalannya kepada Ki Gede. Bagaimanapun juga, Tanah
Perdikan Menoreh menjadi salah satu sasaran dari
sekelompok orang yang berada di Madiun, yang
menginginkan Mataram menjadi lemah.
Seperti yang dikatakan kepada anak-anak muda itu, Agung
Sedayu dan Glagah Putih yang lemah memang langsung
menghadap Ki Gede yang kebetulan memang tidak sedang
bepergian, melihat-lihat Tanah Perdikannya.
Ki Gede mendengarkan laporan Agung Sedayu dan Glagah
Putih dengan sungguh-sungguh. Karena apa yang terjadi itu
merupakan bagian dari usaha-usaha lain yang mengancam
Tanah Perdikan Menoreh. Karena Tanah Per-dikan itu telah
meletakkan dirinya disisi Mataram, maka mau tidak mau
Tanah Perdikan Menoreh, akan langsung terlibat jika benarbenar
terjadi pertentangan dan benturan kekerasan dengan
Madiun.
Namun dalam persoalan antara Mataram dan Madiun
Agung Sedayu berkata “ Panembahan Senapati dan
Panembahan Madiun telah bersepakat untuk bertemu dan
berbicara dengan terbuka. “
Tetapi ketajaman penglihatan Ki Gede dalam persoalan itu
telah membuatnya berhati-hati sekali. Dengan nada rendah ia
berkata “ Memang mungkin sekali bahwa keduanya baik
Panembahan Madiun maupun Panembahan Senapati berniat
untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi dengan
pembicaraan yang terbuka. Namun dibelakang Panembahan
Madiun mungkin ada orang-orang yang tidak mau melihat
pembicaraan itu berhasil. Bahkan secara jujur kita harus
mengatakan, bahwa mungkin di Mataram juga ada orangorang
yang terlalu ingin menyelesaikan persoalan dengan
kekerasan. Perang yang dikutuk oleh sebagian besar umat
manusia itu agaknya memang dapat menimbulkan
keberuntungan kepada beberapa pihak tertentu. Mungkin
perang itu sendiri, mungkin akibat dari peperangan itu.
Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk.
Agaknya memang demikian yang telah terjadi.- Sehingga
dengan demikian maka pertemuan antara panembahan
Senapati dan Panembahan Madiun itu akan sangat penting
artinya.
Sementara itu, setelah memberikan laporan selengkapnya,
maka Agung Sedayupun mohon ijin untuk kembali bersama
Glagah Putih. Sementara itu Ki Gedepun telah merencanakan
untuk bertemu dengan para pemimpin Tanah Perdikan
Menoreh dan para pamong di padukuhan-padukuhan.
“ Sebaiknya mereka mengetahui persoalannya berkata Ki
Gede “ setiap kali telah terjadi peristiwa-peristiwa yang
mendebarkan dan bahkan mengejutkan di Tanah Perdikan ini.
Untuk menghindari kegelisahan yang tidak pada tempatnya,
maka persoalan ini memang harus segera dijelaskan. “
“ Kami sependapat Ki Gede “ Jawab Agung Sedayu “
agaknya hal itu memang perlu. “
“ Besok pagi kita akan bertemu. Kau sempat beristirahat.
Aku minta kau menjelaskan persoalannya “ berkata Ki Gede.
“ Baik Ki Gede. “ jawab Agung Sedayu “ besok pagi, disaat
matahari naik, aku sudah berada disini.
Demikianlah maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun
telah mohon diri. Sementara itu, Ki Gedepun telah
memerintahkan para pengawal untuk memanggil para
pemimpin, para bebahu dan para pamong di padukuhanpadukuhan
untuk bertemu besok pagi di rumah Ki Gede untuk
mendengarkan penjelasan tentang peristiwa yang telah terjadi
di Tanah Perdikan, namun juga persoalan yang berkembang
di Mataram
Ki Bekelpun ternyata telah mengundang pula satu atau dua
orang pemimpin dari pasukan khusus Mataram yang berada di
Tanah Perdikan.
Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih sampai dirumahnya,
maka Sekar Mirahpun terkejut melihat keadaan
mereka. Terutama Glagah Putih yang masih belum pulih
kembali. Wajahnya masih kelihatan pucat, meskipun
tenaganya sebagian telah kembali.
“ Apa yang telah terjadi? “ bertanya Sekar Mirah. Agung
Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kiai Jayaraga
yang kemudian datang pula menyongsong mereka,
telah melihat dengan cemas keadaan Glagah Putih.
“ Ia sudah berangsur baik “ berkata Agung Sedayu “ tetapi
anak itu memang perlu beristirahat. “
Demikianlah, maka ketika mereka sudah duduk di ruang
dalam, sementara Sekar Mirah telah menghidangkan
minuman hangat dan beberapa potong makanan, Agung
Sedayupun mulai menceriterakan apa yang telah terjadi.
“ Kami sudah melaporkan kepada Ki Gede “ berkata Agung
Sedayu “ besok akan ada pertemuan dengan para pemimpin,
para bebahu dan para pamong di padukuhan-padukuhan.
Mereka harus mengerti persoalannya dengan jelas. “
“ Persoalan antara Mataram dan Madiun? “ bertanya Ki
Jayaraga.
“ Ya. Tetapi sudah barang tentu tidak seluruhnya “ jawab
Agung Sedayu “ hanya yang penting-penting sajalah yang
akan diberitahu kepada mereka. “
Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia
berkata “ Memang tidak seluruhnya dapat diberitahukan
kepada para bebahu, para pamong di padukuhan serta para
pemimpin kelompok pengawal. Tetapi mereka memang perlu
mengerti apa yang sedang mereka hadapi. “ Ki Jayaraga
berhenti sejenak, lalu “ Tetapi yang menarik adalah satu
usaha untuk membunuh diri dari satu kelompok murid sebuah
perguruan. Sebagaimana kau ceriterakan, bahwa sikap ke
empat orang itu tentu bukan sikap pribadi. Sikap itu tentu
sikap perguruan mereka. “
“ Ya. Sikap itu tentu sikap perguruan mereka. Pemimpin
perguruan merekalah yang agaknya telah memerintahkan
mereka untuk melakukan hal itu. “ berkata Agung Sedayu “
bahkan murid-murid mereka yang terbaik. Agaknya
keempat orang itu termasuk orang-orang terbaik di
perguruan mereka. Itupun harus melakukan bunuh diri untuk
menghilangkan jejak. “
“ Tetapi sikap itu sendiri merupakan jejak sebuah
perguruan, “ berkata Ki Jayaraga “ orang-orang yang mati itu
memang tidak dapat lagi menjawab pertanyaan apapun.
Tetapi cara mati yang mereka pilih itulah yang akan berbicara.
“
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya “ Kau benar
Ki Jayaraga. Kita memang menemukan satu jalur jejak yang
dapat kita telusuri. Bunuh diri itu sebagai satu sikap sebuah
perguruan merupakan jejak untuk mengenali mereka lebih
jauh. Mungkin seseorang pernah mengenal sebuah perguruan
yang mempunyai ciri seperti itu. “
“ Kita akan berusaha “ berkata Ki Jayaraga “ Jika kita
mendapat kesempatan dan waktu, maka kita akan dapat
menemukan padepokan itu. Kita akan dapat
memperlakukannya sebagaimana padepokan Nagaraga. “
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun
katanya “ Kita akan melaporkannya pula ke Mataram. Tetapi
kita tidak dapat menentukan waktunya. “
Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Namun setiap kali ia
tentu akan kecewa, karena ia akan terlalu sulit untuk
mendapat kesempatan ikut dalam tugas yang dilakukan oleh
Agung Sedayu.
Demikianlah maka Sekar Mirahpun kemudian telah
mempersilahkan Agung Sedayu dan Glagah Putih untuk
membersihkan diri dan beristirahat secukupnya. Besok pagi
mereka akan berbicara dengan para pemimpin di Tanah
Perdikan Menoreh.
Ketika Glagah Putih berada di butulan, setelah ia pergi ke
pakiwan, maka pembantu di rumah Agung Sedayu itu
bertanya “ Kenapa kau sebenarnya? “
“ Jatuh dari kuda “ jawab Glagah Putih.
“ Nah, kau rasakan. Karena itu jangan terlalu sombong
dengan kudamu yang tegar itu. Sekali-sekali kau memang
pantas dilemparkan untuk memperingatkanmu, “ berkata anak
itu.
Glagah Putih tertawa kecil. Katanya “ Aku pukul kuda itu
dengan sepotong kayu. “
Kau pukul? “ bertanya anak itu.
“ Ya “ jawab Glagah Putih.
“ Kau telah membuat kudamu semakin marah kepadamu.
Kudamu itu tentu membencimu. Lain kali kau tentu akan
dilemparkannya sekali lagi “ berkata anak itu.
“ Aku sudah minta maaf. “ berkata Glagah Putih.
“ Minta maaf kepada siapa? “ bertanya anak itu.
“ Kepada kudaku “ jawab Glagah Putih sambil tertawa pula.
“ Kau kira kudamu mengerti? “ anak itu bersungut.
“ Mudah-mudahan “ berkata Glagah Putih sambil
melangkah masuk.
“ Tunggu “ berkata anak itu pula “ apakah kau nanti malam
akan turun. “
Ke sungai maksudmu? “ bertanya Glagah Putih.
“ Ya “ jawab anak itu.
Tentu tidak. Kau tahu, badanku baru sakit. Kau lihat lukalukaku
ini? Aku telah jatuh diatas batu-batu padas yang
runcing “ jawab Glagah Putih.
“ Kau terlalu cengeng “ berkata anak itu pula “ laki-laki tidak
boleh cengeng. Luka itu tidak seberapa. Seharus-nyakau tidak
mengeluh karena luka itu. “
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun kemudian
katanya “ Apakah kau ingin mencoba jatuh dari punggung
kuda diatas batu-batu padas? “
“ Jangan mencari kawan. Jatuhlah sendiri “ berkata anak itu
sambil melangkah pergi.
Glagah Putih memandang anak itu sambil menganggukangguk
kecil. Katanya kepada diri sendiri “ Ternyata ia adalah
anak yang tekun. Seumurnya sudah tidak banyak lagi yang
turun meskipun masih ada satu dua. Anak-anak yang lebih
mudalah yang menggantikannya. “ Glagah Putih menganggukangguk,
lalu katanya selanjutnya didalam hatinya “ sebaiknya
keinginannya dipenuhi. Ia ingin serba sedikit memiliki
kemampuan setidak-tidaknya untuk melindungi dirinya sendiri.
“
Malam itu, Glagah Putih benar-benar beristirahat. Ia tidur
hampir semalam suntuk. Ia benar-benar ingin memulihkan
kekuatan wadagnya yang menjadi lemah karena darahnya
yang banyak mengalir dari luka-lukanya.
Disamping obat dan reramuan yang diminumnya, maka
beristirahat sebaik-baiknya akan cepat menolongnya.
Namun Agung Sedayulah yang tidak segera pergi tidur. Ia
masih berbincang dengan Ki Jayaraga dan Sekar Mirah
tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.
“ Tetapi niat baik dari kedua belah pihak untuk bertemu itu
sudah merupakan pertanda baik “ berkata Ki Jayaraga.
“ Namun ternyata terlalu banyak pihak yang tidak ingin
melihat perdamaian antara Mataram dan Madiun. Tentu bukan
hanya orang-orang Madiun yang ingin mengambil keuntungan
dari kekisruhan yang terjadi. Tetapi juga orang Mataram “
berkata Agung Sedayu.
Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Memang banyak pihak
yang akan dapat mengambil keuntungan dari setiap
kekisruhan yang terjadi. Bahwa kesempatan bagi orang-orang
yang ingin mengacaukan Mataram telah mendapat dukungan
dari orang-orang Mataram sendiri adalah satu
pertanda. Bahkan tidak mustahil bahwa orang-orang itu
bukan sekedar orang-orang kebanyakan. Tetapi mungkin juga
orang-orang yang memiliki wewenang didalam istana
Mataram.
Namun akhirnya Agung Sedayu, Ki Jayaraga dan Sekar
Mirah sependapat, bahwa Tanah Perdikan Menoreh sebagai
salah satu landasan kekuatan Mataram harus lebih berhatihati
menghadapi usaha-usaha yang akan dapat menodai
nama Tanah Perdikan mereka.
“ Besok hal itu akan aku singgung “ berkata Agung Sedayu
“ justru besok diharap akan hadir pula pemimpin atau
siapapun yang ditugaskan, dari pasukan khusus Mataram
yang ada di Tanah Perdikan ini. “
Namun tiba-tiba saja Ki Jayaraga berkata hampir kepada
diri sendiri “ Bagaimana dengan daerah-daerah lain yang juga
menjadi, landasan kekuatan Mataram? Bagaimana pula
dengan Jati Anom dan Sangkal Putung? Pajang justru sedang
dalam kekosongan. Selama ini Pajang merupakan penyekat
yang baik tetapi sekaligus penghubung yang baik antara
Mataram dan Madiun. Namun kini Pangeran Benawa sudah
tidak ada.
“ Panembahan Senapati telah memperhitungkannya.
Bahwa agaknya telah dipersiapkan pula pengganti Pangeran-
Benawa, karena Pajang memang tidak boleh terlalu lama
kosong, “ berkata Agung Sedayu.
“ Hubungan baik antara Mataram dan Madiun sebagian
juga tergantung siapakah yang akan duduk sebagai pemimpin
di Pajang. Jika yang ditunjuk oleh Panembahan Senapati tidak
disetujui Panembahan Madiun, maka akibatnya akan semakin
mengaburkan hubungan antara Mataram dan Madiun “
berkata Ki Jayaraga.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya “ Rasarasanya
ada keinginan untuk bertemu dengan Swandaru
khusus dalam persoalan ini. Kiai Gringsing dan Sabungsari
tentu sudah menemuinya. Mungkin Guru telah memanggil
adi Swandaru untuk datang ke padepokan kecilnya.
Tetapi mungkin pula Guru singgah di Sangkal Putung
langsung dari Mataram pada waktu itu. “
“ Ada juga baiknya kita pergi ke Sangkal Putung “ tiba-tiba
saja Sekar Mirah menyahut.
Ki Jayaraga tersenyum. Katanya “ Tentu ada kerinduan
atas kampung halaman. Tetapi dengan demikian aku akan
menjadi penunggu rumah lagi. “
Sekar Mirahpun tertawa. Tetapi katanya “ Sudah lama
sekali aku tidak berkunjung ke Sangkal Putung.
Ki Jayaraga yang juga tersenyum, mengangguk-angguk
pula. Katanya “ Tetapi kita ingin mendengar, siapakah yang
akan dipilih oleh Agung Sedayu untuk menemaninya ke
Sangkal Putung kelak. “
Namun Agung Sedayu menjawab sambil tertawa “
Bukankah belum pasti kapan aku akan berangkat. Jika Ki
Gede memandang Tanah Perdikan ini untuk sementara tidak
boleh aku tinggalkan, maka akupun tidak akan pergi. “
Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Katanya dengan nada
datar “ Baiklah. Aku akan menunggu. “
Ternyata mereka sempat berbicara sampai jauh malam.
Namun akhirnya Ki Jayaraga berkata “ Bukankah kau juga
perlu beristirahat? Beristirahatlah. Meskipun kau tidak terluka
seperti Glagah Putih, tetapi kau tentu juga merasa letih karena
kau harus berhadapan dengan dua orang berilmu tinggi.
Namun seandainya kau mempergunakan ilmumu memecah
diri dengan ujud lebih dari satu, kau tidak akan dapat disentuh
oleh serangannya yang mengandung panasnya api. “
“ Bagaimana jika keduanya memiliki kemampuan
untuk melihat ujud yang sejati? “ bertanya Agung Sedayu.
“ Jarang sekali. Bahkan hampir tidak ada yang dapat
melakukannya. Namun diantara yang mungkin tidak ada itu,
agaknya akan ada juga “ berkata Ki Jayaraga.
“ Ternyata Yang Maha Agung telah melindungi aku “
berkata Agung Sedayu.
Demikianlah, maka akhirnya pembicaraan itu berakhir juga.
Agung Sedayu memang merasa letih dan ingin beristirahat.
Tugas-tugas yang lain masih menunggunya.
Pagi-pagi benar, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah
bersiap, sementara Sekar Mirah sibuk menyiapkan makan
pagi mereka. Tetapi Sekar Mirah tidak perlu bersusah payah
mencari lauk bagi mereka, karena pembantunya semalam
telah mendapat ikan cukup banyak dari pliridannya di pinggir
sungai.
“ Kau memang luar biasa “ berkata Glagah Putih memuji
anak itu.
“ Kau kira tanpa kau, aku tidak dapat menangkap ikan? “
jawab anak itu.
“ Ah sombongnya kau “ desis Glagah Putih.
“ Kau dapat melihat buktinya “ jawab anak itu pula. Glagah
Putih hanya tersenyum saja. Namun iapun
kemudian telah dipanggil masuk. Bersama-sama Agung
Sedayu dan Ki Jayaraga ia dipersilahkan untuk makan pagi.
Sejenak kemudian maka merekapun telah berada di-rumah
Ki Gede. Mereka telah datang mendahului para pemimpin
Tanah Perdikan yang diundang oleh Ki Gede.
Dengan demikian maka mereka sempat berbicara lebih
dahulu tentang yang manakah yang sebaiknya mereka beritahukan
kepada para pemimpin dan yang manakah yang
masih harus mereka simpan lebih dahulu, agar Tanah
Perdikan itu tidak menjadi gelisah dan dibayangi oleh
kecemasan, seolah-olah perang sudah berada diambang
pintu.
Demikianlah maka pada saatnya, para pemimpin Tanah
Perdikan Menoreh telah mulai berdatangan. Memang nampak
kegelisahan membayang diwajah mereka. Peristiwa demi
peristiwa yang terjadi, baik di Tanah Perdikan itu sendiri,
maupun yang terjadi di Mataram dan sekitarnya, memang
dapat menimbulkan kecemasan dihati orang-orang Tanah
Perdikan itu.
Karena itu, penjelasan memang penting bagi mereka,
sehingga para pemimpin itu akan dapat melihat keadaan yang
sewajarnya sedang mereka hadapi.
Setelah mereka yang diundang itu berkumpul, mulailah Ki
Gede membuka pertemuan itu. Dengan sedikit pengantar Ki
Gede kemudian mempersilahkan Agung Sedayu untuk
menjelaskan keadaan Tanah Perdikan Menoreh yang pada
saat itu menghadapi kemelut yang terjadi antara Mataram dan
Madiun.
“ Yang harus kita ketahui, justru adanya orang yang dari
kedua belah pihak yang ingin memanfaatkan pertentangan
yang timbul itu bagi diri mereka sendiri. Kesalah pahaman
antara Mataram dan Madiun memang perlu dipecahkan.
Kedua pemimpin dari kedua belah pihak telah berniat untuk
melakukannya. “ berkata Agung Sedayu kemudian setelah
memberikan beberapa keterangan tentang hubungan kedua
Panembahan itu “ Tetapi satu hal yang penting bagi kita,
bahwa kita telah mengakui Panembahan Senapati sebagai
pemimpin tunggal dari Tanah ini. Meskipun kita menghormati
Panembahan Madiun sebagaimana wajarnya kita
menghormati seorang pemimpin, namun kedudukan antara
Panembahan Madiun dan Panembahan Senapati berada pada
tataran yang berbeda. “
Para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh itu menganggukangguk.
Sementara Agung Sedayau berkata selanjutnya “
Perbedaan tataran itu kita akui sebagaimana kita menyadari
akan tataran kedudukan Tanah Perdikan ini dihadapan
Mataram. “
Dengan demikian maka para pemimpin Tanah Perdikan
Menoreh itupun melihat semakin jelas apa yang sedang
berkecamuk di antara Mataram dan Madiun. Namun merekapun
semakin kukuh berdiri diatas keyakinan mereka tentang
hubungan antara Tanah Perdikan Menoreh, Mataram dan
Madiun. Merekapun semaakin mengerti, dimana mereka harus
berdiri.
“ Karena itu, maka kita harus mempersiapkan diri sebaikbaiknya
menghadapi segala kemungkinan yang bakal datang.
Agal atau alus. Kasar atau lembut. Namun kita semua
berharap, mudah-mudahan Panembahan Senapati dan
Panembahan Madiun dapat memecahkan persoalan yang ada
diantara mereka “ berkata Agung Sedayu.
Para pemimpin itu, termasuk pemimpin pasukan khusus
Mataram di Tanah Perdikan Menoreh, telah mengerti dengan
jelas. Namun sebagaimana diharapkan oleh Agung Sedayu,
maka mereka harus bekerja dengan tenang dan tidak
menumbuhkan kegelisahan.
“ Peningkatan latihan-latihan keprajuritan adalah wajar “
berkata Agung Sedayu “ namun kita belum memasuki
suasana perang. “
Para pemimpin Tanah Perdikan itu mengangguk-angguk.
Ketika keterangan Agung Sedayu itu selesai, ditambah oleh
beberapa pesan Ki Gede sendiri, maka beberapa orang telah
mengajukan pertanyaan, langkah-langkah yang manakah
yang sebaiknya mereka ambil secepatnya.
“ Kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya “ jawab Agung
Sedayu “ tetapi tidak dengan tergesa-gesa dan mungkin
menimbulkan keresahan. Kewaspadaan atas orang-orang
yang tidak kita kenal dan tidak cepat percaya kepada berita
apapun, lebih-lebih yang dapat menimbulkan perpecahan
diantara kita. Kita dengan diam-diam harus mengamati setiap
gejolak yang timbul diantara kita dan
sikap yang asing, yang mungkin merupakan pantulan
pengaruh dari luar. “
Para pemimpin itu menjadi semakin jelas akan tugas yang
mereka hadapi. Satu kerja keras namun yang tidak
menimbulkan keresahan dan tidak menarik perhatian.
Demikianlah, maka dihari berikutnya ternyata semuanya
sudah mulai sibuk di Tanah Perdikan dan di barak para prajurit
dari Pasukan Khusus dari Mataram.
Mereka mulai menyusun kelompok-kelompok yang akan
mulai dengan latihan-latihan yang berat. Namun merekapun
telah menyusun kelompok peronda yang lebih luas meliputi
seluruh Tanah Perdikan dan berada dibawah satu pimpinan
bersama antara pimpinan pengawal Tanah Perdikan dengan
Pimpinan Pasukan Khusus Mataram yang berada di Tanah
Perdikan.
Mereka telah menyusun pula isyarat-isyarat sandi jika
benar-benar terjadi sesuatu di Tanah Perdikan. Kedua belah
pihak telah menemukan batas-batas tugas mereka masingmasing,
sehingga tidak akan timbul kesalah pahaman diantara
mereka.
Ketika latihan-latihan dihari-hari berikutnya benar-benar
diselenggarakan, memang timbul pula pertanyaan. Namun
para pemimpin selalu mengatakan, bahwa latihan-latihan itu
tidak lebih dari usaha peningkatan kemampuan dan sekedar
berjaga-jaga.
Dalam pada itu, agaknya pikiran yang timbul pada Agung
Sedayu untuk melihat keadaan gurunya serta perkembangan
yang timbul di Sangkal Putung menjadi semakin besar.
Bahkan pada satu saat Agung Sedayu telah
membicarakannya dengan Sekar Mirah dan Glagah Putih,
sekaligus untuk melihat keluarga masing-masing yang telah
lama, tidak mereka lihat.
Sementara itu, maka Ki Jayaraga telah mereka minta untuk
tinggal di Tanah Perdikan sementara mereka pergi.
“ Aku sudah menduga “ berkata Ki Jayaraga. Agung
Sedayu tersenyum sambil berkata “ Lain kali
kita akan pergi. Tugas mendatang masih panjang. “
Ki Jayaraga tertawa pula.
“ Kami akan mohon ijin kepada Ki Gede. Agaknya kami
akan singgah pula di Mataram, memberikan laporan tentang
ampat orang yang terbunuh itu, serta mungkin ada pesan
yang harus kami bawa bagi Untara “ Berkata Agung Sedayu.
Ki Jayaraga hanya mengangguk-angguk saja. Meskipun
sekali-sekali ia ingin ikut berbuat sesuatu, namun iapun
menyadari bahwa Tanah Perdikan yang menjadi salah satu
sasaran dari usaha sekelompok orang dari daerah Madiun
yang ingin memotong dahan-dahannya lebih dahulu sebelum
menebang pohonnya, Mataram, memang perlu mendapat
perhatian.
Karena itu, maka jika ia berada di Tanah Perdikan
Menoreh, bukan berarti bahwa ia tidak berbuat apa-apa bagi
Mataram bersama dengan Ki Gede dan orang-orang Tanah
Perdikan Menoreh.
Namun iapun menyadari, bahwa pengembaraan yang
pernah dilakukannya kadang-kadang memang menimbulkan
kerinduan.
Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Menoreh memang telah
berlangsung latihan-latihan bagi para pengawal melampaui
latihan-latihan yang biasa mereka lakukan. Mereka kembali
memasuki masa kesiagaan yang berat. Bukan saja latihanlatihan
di lereng bukit dan di hutan-hutan. Tetapi juga
pengawasan yang semakin cermat atas seluruh daerah Tanah
Perdikan Menoreh.
Bahkan anak-anak muda yang bukan pengawalpun telah
melakukan latihan-latihan. Mereka memperdalam cara
menggunakan senjata dan bahkan juga latihan-latihan
ketahanan tubuh. Hampir setiap pagi, menjelang matahari
terbit, dilereng-lereng bukit, anak-anak muda berkumpul
setelah berlari-larian menyusuri jalan-jalan bulak persawahan.
Beberapa saat mereka mendapat latihan menggunakan
senjata sesuai dengan minat masing-masing. Sekelompok
anak-anak muda berlatih menggunakan tombak. Sekelompok
yang lain pedang dan yang lain lagi mempergunakan senjata
rangkap. Bahkan ada diantara mereka yang merangkapi
kemampuan bermain senjata dengan ketram-pilan
melontarkan senjata-senjata kecil. Pisau belati kecil, paser
dan senjata semacamnya.
Bahkan ada beberapa orang yang ingin juga mampu
mempergunakan senjata sebagaimana digunakan oleh Agung
Sedayu. Cambuk.
Para pengawal yang memiliki kemampuan yang lebih
baikpun telah melengkapi bekal mereka sebagaimana seorang
prajurit. Sehingga dengan demikian maka para pengawal
Tanah Perdikan Menoreh memiliki kemampuan tidak kurang
dari prajurit Mataram dan sudah tentu juga prajurit Madiun.
Bergantian, kelompok-kelompok pengawal dan anak-anak
muda Tanah Perdikan telah mengadakan latihan khusus di
daerah pebukitan dan hutan-hutan yang masih pepat untuk
waktu tertentu. Setiap kelompok direncanakan akan
mempergunakan waktu setengah bulan tanpa meninggalkan
lingkungan latihan mereka. Mereka akan membuat gubugKang
Zusi - http://kangzusi.com/
gubug kecil yang akan mereka pergunakan untuk melindungi
diri dari panas maupun hujan yang bagaimanapun lebatnya.
Sebelum Agung Sedayu dan Glagah Putih meninggalkan
Tanah Perdikan, maka bersama dengan Sekar Mirah dan Ki
Jayaraga, mereka langsung turun memberikan latihan-latihan
kepada para pengawal dan anak-anak muda Tanah Perdikan.
Ki Gede, sendiri yang menjadi semakin tua telah
mempercayakan kepemimpinan para pengawal dan anakanak
muda Tanah Perdikan kepada angkatan yang
lebih muda. Apalagi Agung Sedayu dan Glagah Putih
memang diketahuinya memiliki kemampuan yang tinggi.
Namun pada suatu saat, Agung Sedayu memang
menghadap Ki Gede untuk minta ijin meninggalkan Tanah
Perdikan Menoreh barang satu dua pekan. Bersama dengan
Sekar Mirah dan Glagah Putih, ia ingin mengunjungi Jati
Anom dan Sangkal Putung.
Ki Gede memang dapat mengerti, bahwa Glagah Putih
ingin menengok orang tuanya sebagaimana Sekar Mirah.
Sementara itu Agung Sedayu tentu ingin juga bertemu dengan
kakaknya dan gurunya.
“ Tetapi bukankah Ki Jayaraga masih tetap tinggal? “
bertanya Ki Gede.
“ Ya Ki Gede. Ki Jayaraga akan berada di Tanah Perdikan
ini. Ki Jayaraga akan dapat membantu Ki Gede jika diperlukan
“ jawab Agung Sedayu.
“ Apakah Glagah Putih telah sembuh sama sekali? “
bertanya Ki Gede pula.
“ Sudah Ki Gede, Glagah Putih telah dapat ikut dalam
latihan-latihan yang diadakan di Tanah Perdikan “ berkata
Agung Sedayu. Lalu “ Sementara itu, para pelatih di barak
prajaurit dari Pasukan Khusus Mataram yang berada di Tanah
Perdikan telah bersedia memberikan latihan-latihan khusus
pula kepada para pengawal dan anak-anak muda di Tanah
Perdikan ini, disamping kesediaan mereka untuk ikut menjaga
ketenangannya. “
Ki Gede mengangguk-angguk. Kesediaan para prajurit dari
Pasukan Khusus itu akan membantu tugas anak-anak muda
Tanah Perdikan Menoreh.
Karena itu, maka Ki Gedepun kemudian menyatakan
bahwa ia tidak berkeberatan untuk mengijinkan Agung Sedayu
pergi. Tetapi dengan pesan. “ Kalian harus segera kembali.
Keadaan dapat berubah dengan cepat sekali. “
Jika ada tanda-tanda perkembangan keadaan itu Ki Gede,
kami akan segera kembali. Perjalanan dari Sangkal Putung ke
Tanah Perdikan ini tidak akan makan waktu terlalu panjang. “
berkata Agung Sedayu.
Demikianlah, maka dihari yang sudah ditentukan, pagi-pagi
benar Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih telah
bersiap. Jika mereka berangkat, maka mereka masih akan
singgah dirumah Ki Gede untuk minta diri.
“ Kau akan pergi lagi? “ bertanya pembantu dirumah Agung
Sedayu.
Glagah Putih tersenyum. Katanya “ Aku akan menengok
ayahku. “
Anak itu mengangguk-angguk. lapun kemudian bertanya “
Berapa hari kau akan pergi? “
“ Tidak lama. Satu atau dua pekan “ jawab Glagah Putih.
“ Satu atau dua pekan menurut hitunganmu adalah seratus
hari “ desis anak itu.
Glagah Putih tertawa. Ditepuknya bahu anak itu sambil
berdesis “ Kau tahu, bahwa sekarang aku pergi bersama
kakang Agung Sedayu dan mbokayu Sekar Mirah. Jadi bukan
akulah yang menentukan kapan aku akan kembali. “
Anak itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian
katanya “ Semakin lama kau pergi semakin baik. Tidak ada
yang mengurangi hasil ikanku setiap hari. “
“ Kau masih suka merajuk. Kau sudah remaja sekarang.
Bahkan sebentar lagi kau akan meningkat menjadi anak muda
yang perkasa. Sejak sekarang kau harus menabah sikapmu “
berkata Glagah Putih sambil tertawa pula.
Anak itu tidak menjawab lagi. Tetapi bersama Ki Jayaraga
ia berdiri diregol ketika Agung Sedayu, Sekar Mirah dan
Glagah Putih meloncat kepunggung kuda diluar halaman.
Anak itu sempat melambaikan tangannya. Glagah Putih
yang membalasnya sambil berkata “ Hati-hati jika kau turun
dikali. Jangan sampai keliru menangkap ular. “
Anak itu mengangguk. Namun ketika orang itu menjadi
semakin jauh, Ki Jayaraga menggamit anak itu sambil berkata
“ Kita tinggal berdua. Nanti malam aku ikut kau turun ke
sungai. “
“ Ki Jayaraga? “ bertanya anak itu hampir tidak percaya.
“ Ya. Kenapa? Dimasa remajaku, aku adalah pencari ikan
yang ulung. Pernah sekelompok anak-anak muda yang
sebaya kakakku berlomba mencari ikan. Aku yang paling
muda diantara mereka, ternyata memenangkan lomba itu, “
jawab Ki Jayaraga.
Anak itu mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah, Malam
nanti aku akan memberitahukan kepada Ki Jayaraga jika aku
akan turun. “
Ki Jayaraga tersenyum sambil menepuk pundak anak itu.
Lalu katanya “ Sekarang kau rebus air. Aku akan mengisi
jambangan pakiwan. “
Anak itu mengangguk. Iapun kemudian melangkah
melintasi halaman langsung ke pintu dapur.
Ki Jayaraga masih berdiri di regol sejenak. Hari masih
terlalu pagi. Tetapi jika Agung Sedayu tidak ada, maka
biasanya ia pergi ke rumah Ki Gede. Mungkin ada sesuatu
yang penting untuk dibicarakan. Meskipun umurnya dengan Ki
Gede sebaya, tetapi cacat dikaki Ki Gede yang agaknya sulit
untuk sembuh sama sekali, membuat Ki Gede tidak terlalu
sering keluar rumah. Meskipun bukan berarti bahwa Ki Gede
tidak pernah mendatangi padukuhan-padu-kuhan yang berada
di dalam lingkungan Tanah Perdikan.
Ketika Ki Jayaraga berjalan ke pendapa, maka Agung
Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih telah mendekati regol
halaman rumah Ki Gede. Sejenak kemudian, merekapun
telah memasuki regol dan dengan demikian maka merekapun
turun dari kuda mereka.
Agaknya Ki Gedepun telah bangun pula dan duduk
menghadapi minuman panas diruang dalam. Ketika seorang
pengawal memberitahukan kedatangan Agung Sedayu, Sekar
Mirah dan Glagah Putih, maka Ki Gedepun telah menerima
mereka diruang itu pula.
“ Kalian jadi akan berangkat hari ini? “ bertanya Ki Gede.
“ Ya Ki Gede “ jawab Agung Sedayu “ selagi suasana
terasa tenang. “
“ Disini. Kita tidak tahu apa yang terjadi di daerah-daerah
lain disekitar Mataram. Termasuk pendukung-pendukung
kuatnya. Bahkan mungkin Pati sudah dijamah pula oleh orangorang
Madiun yang tidak menginginkan ketenangan itu. “
sahut Ki Gede.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Lalu katanya pula “
Kami akan singgah barang sebentar-di Mataram untuk
menyampaikan laporan apa yang telah terjadi disini, di Tanah
Perdikan Menoreh. “
Ki Gede termangu-mangu sejenak, lalu katanya “
Sebaiknya juga kau laporkan kesiagaan bersama antara
Tanah Perdikan ini dengan Pasukan Khusus Mataram disini.
“ Ya Ki Gede “ jawab Agung Sedayu “ mudah-mudahan
Panembahan Senapati mendapat gambaran yang utuh
tentang perkembangan keadaan di Tanah Perdikan ini. “
“ Baktiku kepada Panembahan Senapati “ berkata Ki Gede
kemudian “ serta salamku kepada keluarga di Jati Anom dan
Sangkal Putung. Aku berharap bahwa kalian tidak terlalu
lama. Sepekan agaknya sudah cukup untuk melepaskan rindu
kalian atas keluarga Jati Anom dan Sangkal Putung. “
Agung Sedayu mengangguk hormat. Katanya “ Kami
memang berharap untuk segera kembali. Tidak lebih dari
sepekan. “
Demikianlah, maka ketika orang itupun sekali lagi mohon
diri. Sementara Agung Sedayu memberitahukan bahwa Ki
Jayaraga akan selalu datang ke rumah Ki Gede untuk
membantu apapun jika diperlukan.
Beberapa saat kemudian ketiga orang itupun telah berkuda
meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan. Di
perjalanan mereka memang bertemu dengan anak-anak muda
dan pengawal. Jika mereka bertanya maka Agung Sedayu
selalu menjawab “ Kami akan pergi ke Sangkal Putung untuk
satu dua hari. “
“ Bagaimana dengan latihan-latihan kami? “ bertanya
seorang anak muda yang bertemu di tanggul parit.
“ Para perwira dari barak Pasukan Khusus telah sanggup
menggantikan kami. “
“ Mereka terlalu keras dan bahkan kasar. “ berkata anak
muda.
“ Untuk menjadi prajurit yang baik memang harus
mengalami latihan yang keras “ jawab Agung Sedayu.
“ Tetapi kami bukan prajurit “ jawab anak muda itu.
“ Dalam keadaan yang gawat, tanpa kemampuan seorang
prajurit maka kita akan digilas. Lebih baik kita memikul beban
yang berat disaat-saat latihan daripada kita menghadapi
kesulitan di medan perang yang-mungkin akan dapat
merenggut nyawa kita. “ berkata Agung Sedayu sambil
tersenyum.
Anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya “ Kau benar.
Jika kita pingsan di waktu latihan, kita akan segera mendapat
pertolongan. “
Agung Sedayu tertawa. Sementara Glagah Putih berkata “
Tetapi jika kita mati di medan perang, tidak ada seorangpun
yang akan mampu menolong kita. “
Anak muda itupun tertawa pula.
Demikianlah, maka Agung Sedayu meninggalkan Tanah
Perdikan Menoreh dengan meninggalkan beban atas anakanak
muda dan pengawalnya. Sementara Agung Sedayu
memang menyadari, bahwa para perwira prajurit dari Pasukan
Khusus biasanya memberikan latihan-latihan dengan ikatan
yang keras dan ketat. Sehingga terhadap anak-anak muda
dan para pengawal Tanah Perdikan itupun mereka
memperlakukannya sama dengan para prajurit sendiri.
Namun demikian maka anak-anak muda dan para
pengawal Tanah Perdikan akan benar-benar menjadi
pengawal yang bernilai sama dengan prajurit.
Ketika Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih
mendekati Kali Praga, maka tampak airnya seakan-akan
menjadi semakin keruh. Agaknya mendung di arah Utara telah
menjatuhkan air hujan di ujung Kali Praga itu.
Perjalanan mereka bertiga tidak banyak mengalami
hambatan. Hampir tidak ada orang yang mengenali Sekar
Mirah sebagai seorang perempuan. Agar ia dapat leluasa naik
diatas punggung kuda, maka Sekar Mirah telah mengenakan
pakaian seorang laki-laki, sebagaimana sering dilakukannya.
Namun dengan demikian maka Sekar Mirah menjadi jarangjarang
sekali berbicara jika ia berada diantara banyak orang,
sebagaimana saat menyeberangi Kali Praga diatas sebuah
rakit yang memuat beberapa orang lain.
Tetapi demikian Sekar Mirah turun dari rakit dan berbicara
dengan Glagah Putih, maka beberapa orang laki-laki berwajah
kasar telah mendengarnya. Karena itu, maka mereka tidak
putus-putusnya telah memperhatikannya.
“ He, anak itu bukan seorang laki-laki. Aku mendengar
suaranya. Ia seorang perempuan, “ berkata salah seorang
diantara mereka.
“ Menarik sekali “ jawab yang lain “ tentu ada maksudnya
bahwa ia berpakaian seorang laki-laki. “
Tetapi seorang yang nampaknya mempunyai pengaruh
yang besar diantara mereka berkata “ Jangan hiraukan. Bukan
urusan kita apakah ia akan memakai pakaian laki-laki atau
telanjang sekalipun. Kita harus sampai ke tujuan sebelum
malam. Kita masih akan menentukan beberapa hal sebelum
kita melakukan pekerjaan kita. “
Kawan-kawannya tidak berani membantah. Mereka tidak
lagi memperhatikan Sekar Mirah dengan berlebih-lebihan.
Mereka sadar jika mereka melakukan kesalahan terhadap
perempuan yang berpakaian laki-laki itu dan apalagi
menimbulkan persoalan, maka mereka tentu akan mendapat
hukuman dari pemimpin mereka yang garang itu.
Dengan demikian maka beberapa orang laki-laki berwajah
kasar itu sama sekali tidak mengganggunya.
Tetapi yang ternyata tidak terduga telah terjadi. Bukan
orang-orang kasar itu. Justru seorang laki-laki yang berwajah
lunak berpakaian rapi dan mengenakan perhiasan yang
mahal. Sekilas nampak timangnya yang terbuat dari emas.
Demikian pula pendok kerisnya. Tiga orang laki-laki yang
bertubuh raksasa mengiringinya.
Ternyata laki-laki itu juga menaruh perhatian terhadap
Sekar Mirah yang berpakaian laki-laki dikawani seorang lakilaki
yang masih terhitung muda dan seorang anak muda yang
masih dalam batas remaja. Justeru dalam pakaian seorang
laki-laki dimata orang itu Sekar Mirah nampak terlalu cantik.
Apalagi pakaian laki-lakinya membuat orang itu menaruh
perhatian yang besar.
Sekar Mirah tidak memperhatikan bahwa seorang laki-laki
selalu mengawasinya. Karena itu, iapun tidak menaruh curiga
apapun ketika bersama-sama dengan Agung Sedayu dan
Glagah Putih ia meloncat ke punggung kudanya.
Tetapi tiba-tiba saja kuda Sekar Mirah itu terkejut sehingga
terlonjak. Hampir saja Sekar Mirah terlempar. Untunglah
bahwa ia adalah seorang perempuan yang tangkas, sehingga
ia masih tetap melekat dipunggung kudanya.
Sementara itu Agung Sedayu dan Glagah Putih dengan
cepat telah memegang kendali kuda Sekar Mirah di sebelah
menyebelah.
“ Apa yang terjadi? “ bertanya Agung Sedayu.
Sekar Mirah justru meloncat turun ketika kudanya sudah
menjadi tenang. Dipandanginya beberapa orang yang lewat
dari lingkungan penyeberangan. Namun tiba-tiba saja laki-laki
yang berpakaian rapi dan berwajah lunak itu tertawa.
“ Kenapa kau tertawa? “ berkata Sekar Mirah.
“ Nah, ternyata kau benar-benar seorang perempuan, “ lakilaki
itu justru mendekat “ aku sekarang melihat lubang di
telingamu. Suaramu tidak dapat kau sembunyikan dan tatapan
matamu adalah tatapan mata seorang perempuan yang
cantik. “
“ Apa pedulimu “ bentak Sekar Mirah. Lalu “ jadi kaulah
yang telah dengan sengaja mengejutkan kudaku he?
“ Maaf. Bukan maksudku untuk menyulitkanmu “ berkata
laki-laki itu “ tetapi kau sangat menarik perhatianku. Buat apa
kau berpakaian seperti seorang laki-laki? Apakah kau berniat
untuk menyembunyikan kecantikanmu?
Dalam pakaian itu kau justru menjadi sangat menarik.
***
API DI BUKIT MENOREH SERI III
JILID 227
“ AKU peringatkan agar kau tidak berbuat kasar. Aku
memang seorang perempuan dan laki-laki itu adalah suamiku
dan adikku. Nah, pergilah. Aku bersama suamiku.” berkata
Sekar Mirah.
Tetapi laki-laki itu justru tertawa. Katanya, “ Suamimu
terlalu lemah untuk melindungi seorang perempuan cantik
seperti kau. Lihat, ia belum berbuat sesuatu dalam keadaan
seperti ini. Jika ia memang seorang laki-laki, ia tentu akan
marah dan berbuat sesuatu untuk melindungi isterinya.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang
masih duduk berdiam diri diatas punggung kudanya
sebagaimana Glagah Putih. Namun keduanyapun kemudian
meloncat turun. Dengan langkah satu-satu Agung Sedayu
mendekati orang itu sambil berkata, “ Ki Sanak. Sebaiknya kita
tidak bertengkar. Lihatlah, orang-orang yang lewat itu tentu
akan memperhatikan kita. Mereka kemudian akan berkerumun
seperti menonton sabung ayam di kalangan. Karena itu,
sudahlah. Tinggalkan isteriku. Jangan kau ganggu lagi.”
Tetapi laki-laki itu tertawa. Katanya, “ Agaknya kau
termasuk seorang yang lembut dan tidak brangasan. Kau tidak
cepat menjadi marah dan menantangku berkelahi.”
“ Aku bukan orang yang senang berkelahi.” berkata Agung
Sedayu.
“ Atau katakan saja kau laki-laki cengeng.” jawab orang itu
sambil tertawa.
“ Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu, “ menilik ujud
lahiriahmu, kau tidak pantas melakukan penghinaan seperti ini
terhadap seorang perempuan. Tetapi kenapa hal itu kau
lakukan?”
“ Pertanyaan yang menarik.” jawab orang itu. “ Agaknya
tidak hanya kau yang memuji aku sebagai seorang laki-laki
tampan dan berwajah lembut. Tetapi aku bukan seorang lakilaki
cengeng. Aku melakukan apa yang ingin aku lakukan.”
“ Siapa kau sebenarnya?” bertanya Agung Sedayu.
“ Aku anak Demang dari Kademangan Wanda Karang di
seberang Bukit-bukit Menoreh.” jawab anak muda itu.
“ Anak Ki Demang Wanda Karang.” ulang Agung Sedayu.
“ Ya. Kenapa? Kau pernah mendengar nama itu?”
bertanya orang itu.
“ Aku pernah mendengar nama Demang Wanda Karang.
Seorang Demang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi dan
pengabdian yang mantap terhadap Mataram.” jawab Agung
Sedayu.
“ Nah, dengarlah baik-baik.” berkata orang itu, “ aku telah
mendapat perintah dari ayahku untuk menghadap ke
Mataram. Aku membawa pertanda hubungan yang akrab
antara ayahku dengan Ki Tumenggung Resayuda. Ki
Tumenggung tentu bersedia membawa aku menghadap
Panembahan Senapati. Dengar sekali lagi. Aku akan
menghadap Panembahan Senapati secara pribadi. Nah, aku
tentu dapat membayangkan kebesaran anak Demang Wanda
Karang ini, yang akan diterima secara pribadi oleh
Panembahan Senapati.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “ Lalu
apa hubungannya antara kesediaan Ki Tumenggung
Resayuda membawamu menghadap dengan tingkah lakumu
sekarang ini? Ki Sanak. Jika ayahmu tahu apa yang kau
lakukan disini, ayahmu tentu akan sangat marah kepadamu.”
Orang itu tertawa. Katanya, “ Ayah tidak akan marah
kepadaku.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian katanya, “ Sebaiknya jangan kau lakukan
penghinaan terhadap martabat seorang perempuan seperti itu.
Ketika kami melewati Tanah Perdikan Menoreh, anak-anak
muda Tanah Perdikan Menoreh yang berkumpul di ujungujung
lorong memberi kesempatan kami lewat tanpa
diganggu.”
“ Persetan dengan anak-anak Tanah Perdikan Menoreh.”
jawab anak muda itu.
“ Apakah kau tidak mengenal Tanah Perdikan Menoreh?”
bertanya Agung Sedayu.
Orang itu termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “
Yang kau lakukan tidak ada hubungannya dengan Tanah
Perdikan yang besar itu.”
“ Ternyata kau belum mengenal kehidupan di Tanah
Perdikan tetanggamu itu.” berkata Agung Sedayu, “ tingkah
lakumu tentu tidak disukai.”
“ Apakah kau orang Tanah Perdikan Menoreh?” bertanya
anak Demang Wanda Karang itu.
“ Kami keluarga kecil yang tinggal di ujung Utara Tanah
Perdikan itu.” jawab Agung Sedayu.
Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “
Yang aku lakukan tidak ada hubungannya dengan Tanah
Perdikan itu.”
“ Anak-anak muda Tanah Perdikan tentu akan melindungi
kami.” berkata Agung Sedayu, “ jika mereka tahu bahwa anak
Demang Wanda Karang telah menyakiti hati orang-orangnya,
maka ada kemungkinan mereka akan datang melintasi bukit
dan turun di Kademangan Wanda Karang.”
Anak Ki Demang Wanda Karang itu termenung sejenak.
Namun ketika sekali lagi ia memandang wajah Sekar Mirah,
maka katanya, “ Aku sudah terbiasa menuruti keinginanku
atas perempuan-perempuan cantik. Tidak seorangpun telah
menghalangi aku. Sementara itu orang-orang Tanah Perdikan
tidak akan berani mengganggu aku, apalagi Kademangan
Wanda Karang yang sudah diakui adanya dan memiliki
hubungan rapat dengan Panembahan Senapati lewat Ki
Tumenggung Resayuda.”
“ Jangan bermain api Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu, “
Kau akan dihukum oleh Panembahan Senapati. Sudahlah.
Pergilah, karena agaknya Ki Tumenggung itu sudah
menunggumu. Bahkan mungkin Panembahan Senapati.”
“ Perempuan itu cantik sekali.” desis laki-laki yang
berpakaian rapi itu, “ aku akan menukarnya dengan timang
emasku.”
Agung Sedayu tidak sempat menjawab. Tiba-tiba saja
justru tangan Sekar Mirah sendiri telah menampar pipi orang
itu. Meskipun Sekar Mirah hanya mempergunakan tenaga
wajarnya, namun orang itu menyeringai menahan panas
pipinya itu.
“ Kenapa kau memukulku?” bertanya laki-laki itu.
“ Persetan. Aku akan pergi.” geram Sekar Mirah yang
mendekati kudanya.
Tetapi laki-laki itu justru tertawa. Katanya, “ Kau akan pergi
begitu saja setelah menampar pipiku perempuan cantik. Kau
harus mau mengobati pipiku yang sakit ini. Kau dengar?”
Wajah Sekar Mirah menjadi kemerah-merahan. Ketika lakilaki
itu tertawa, maka sekali lagi Sekar Mirah telah menampar
pipinya pula. Lebih keras dari sebelumnya. Orang itu terkejut.
Ia tidak mengira bahwa perempuan itu begitu berani
menampar pipinya sampai dua kali.
“ Jangan membuat aku marah.” berkata anak Demang
Wanda Karang itu, “ aku dapat berbuat lebih kasar lagi
meskipun kita berada dipinggir jalan. Orang-orangku akan
dapat mengusir orang-orang yang ingin menonton permainan
kita atau memaksa perempuan itu untuk pergi ke tengahtengah
padang ilalang di rawa-rawa dipinggir Kali Praga itu.”
Sekar Mirah sudah tidak berbicara lagi. Ia justru sekali lagi
memukul wajah laki-laki itu.
Laki-laki itu memang menjadi marah. Dengan nada keras ia
berkata, “ He, laki-laki cengeng. Kenapa kau diam saja? Kau
harus marah dan menantang aku berkelahi.”
Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “ Aku tidak
suka berkelahi. Tetapi karena perempuan itu yang telah kau
hinakan dan kau rendahkan martabatnya, maka ia tentu akan
marah. Jika kau tidak malu, biarlah kau berkelahi dengan
perempuan itu, atau kau tinggalkan ia.”
“ Pengecut. Kau mau apa he? Kenapa bukan kau yang
berkelahi?” desak laki-laki itu.
“ Yang sering berkelahi memang isteriku. Itu merupakan
kegemarannya. Jika kau menantangnya, ia akan senang
sekali menanggapinya.” jawab Agung Sedayu.
“ Persetan.” geram laki-laki itu. Namun tiba-tiba ia berkata
kepada orang-orangnya, “ Usir orang-orang yang akan
menonton itu. Atau pukuli mereka sampai pingsan.”
Para pengawalnya itupun kemudian telah mengusir orangorang
yang lewat, yang memang tertarik melihat pertengkaran
itu. Namun mereka menjadi ketakutan ketika orang-orang
bertubuh raksasa itu mengusir mereka.
Anak Demang Wanda Karang itu termangu-mangu sejenak.
Sementara Sekar Mirahpun berkata, “ Kau dengar katakata
suamiku. Suamiku bukan jenis orang yang suka
berkelahi. Tetapi akulah yang mempunyai kegemaran
berkelahi. Sudah tiga hari tiga malam aku tidak berkelahi.
Kebetulan sekali bahwa disini aku bertemu dengan seorang
yang ingin berkelahi.”
Telinga laki-laki itu memang mulai panas. Dengan nada
geram ia berkata, “ Aku tantang suamimu.”
“ Ia akan mewakilkan aku. Mau tidak mau. Jika kau
menolak, aku akan memukulimu sampai gigimu terlepas.
Tetapi jika kau menerima tantanganku, aku akan membuatmu
pingsan dan kakimu timpang.” bentak Sekar Mirah.
Laki-laki itu benar-benar marah. Sebagaimana
kebiasaannya, bahwa kemauannya tidak pernah ditolak oleh
orang-orang sekademangan, maka ia benar-benar tidak mau
menerima keadaannya itu.
Sementara itu, dengan nada tinggi ia kemudian berkata
lantang. “ Agaknya kau benar-benar belum mengenal iku.”
“ Memang aneh, bahwa kau belum pernah kami lihat
sebelumnya meskipun kau hanya tinggal di seberang bukitbukit
Menoreh.” berkata Agung Sedayu.
“ Aku memang baru saja kembali ke Kademangan.
Beberapa bulan yang lalu, setelah beberapa tahun aku
berguru di padepokan Pandean. Nah, sekarang kau akan
menjadi semakin menyesali tingkah lakumu. Aku kembali dari
padepokan Pandean dengan ilmu yang tinggi.”
Agung Sedayu memang mengerutkan keningnya ketika ia
mendengar bahwa orang itu baru saja kembali dari berguru
beberapa bulan yang lalu. Itulah agaknya yang telah
mempengaruhi sikapnya. Ketidak seimbangan antara
peningkatan kemampuan dan ilmu serta peningkatan
pengendapan diri. Dengan demikian maka seseorang akan
dapat menjadi sesongaran serta ilmunya bukannya diamalkan,
tetapi justru dipergunakannya untuk merugikan orang lain.
Orang orang yang demikian adalah justru orang-orang yang
sangat berbahaya.
Namun agaknya Sekar Mirah yang merasa terhina itupun
menyahut, “ Persetan dengan padepokan Pandean. Jika kau
tetap akan berbuat kasar dan menghinaku, maka kau akan
menyesal.”
Laki-laki itu justru telah bergeser mendekat, sehingga
Sekar Mirah terpaksa melangkah surut.
“ Aku memperingatkanmu.” berkata Sekar Mirah, “ jangan
mempermainkan aku.”
Tetapi laki-laki itu tidak menghiraukannya. Ia justru maju
selangkah mendekati Sekar Mirah.
Sekar Mirah tidak menahan dirinya lagi. Iapun kemudian
telah memukul dada laki-laki itu dengan telapak tangannya. Ia
bukan saja mempergunakan tenaga wajarnya, tetapi ia sudah
mempergunakan tenaga cadangannya meskipun baru
sebagian kecil. Tetapi karena peristiwa itu sama sekali tidak
diduganya, maka rasa-rasanya dada orang itu telah
membentur batu hitam.
Kecuali perasaan sakit yang menekan seluruh isi dadanya,
maka orang itupun telah terdorong surut beberapa langkah.
Bahkan hampir saja ia telah kehilangan keseimbangannya.
Namun dengan susah payah ia masih sempat
mempertahankan keseimbangannya itu sehingga ia tidak jatuh
terlentang.
Meskipun demikian, maka yang terjadi itu merupakan
penghinaan yang sangat besar bagi laki-laki yang nampak rapi
dan berwajah lunak itu. Tetapi ketika Sekar Mirah kemudian
memandangi wajahnya, maka tatapan yang lembut itu sudah
tidak nampak sama sekali. Yang terbayang diwajahnya
kemudian adalah kebencian yang membara.
“ Perempuan tidak tahu diri.” geram laki-laki itu, “ kau
berani menyakiti aku he? Aku adalah utusan pribadi ayah
Demang Wanda Karang untuk menemui Ki Tumenggung
Resayuda dan yang seterusnya akan menghadap
Panembahan Senapati.”
Sekar Mirah justru menjadi muak mendengar kata-kata lakilaki
yang mengaku anak Ki Demang Wanda Karang itu.
Dengan nada tinggi ia berkata, “ Yang patut dihormati itu
adalah Ki Tumenggung Resayuda dan yang patut disembah
adalah Panembahan Senapati. Bukan kau. Karena itu, tidak
pantas untuk menyombongkan diri sambil menyebut nama Ki
Tumenggung Resayuda itu. Apalagi Panembahan Senapati.”
“ Persetan.” sahut laki-laki itu, “ aku tidak peduli lagi.
Ternyata kalian memang orang-orang yang datang dari bukit
yang tidak mengerti arti kedudukan seorang Tumenggung.
Kau memang tidak akan dapat membayangkan betapa tinggi
kedudukannya dan betapa besar kuasanya. Karena itu, maka
sekarang kau berhadapan saja dengan aku. Aku harus
membuatmu jera, sehingga kau tidak akan menghina aku lagi.
Tanpa menyebut nama Ki Tumenggungpun aku akan dapat
membuatmu menyadari betapa kecilnya kau.”
“ Bagus.” berkata Sekar Mirah, “ sekarang kau mau apa?
Jika kau tidak malu dilihat orang banyak berkelahi dengan
seorang perempuan, apalagi aku.”
“ Kau mencoba mencari alasan untuk menghindari
kekerasan.” berkata laki-laki itu, “ tetapi aku tidak dapat
memaafkanmu lagi. Orang-orangku akan mengusir mereka
yang mencoba menonton kau aku pukuli sampai kau
menyembahku dan mencium kakiku.”
Tetapi Sekar Mirah tertawa. Katanya, “ Kita akan melihat,
siapakah yang akan berlutut dan menciumi telapak kaki. Aku
atau kau.”
Laki-laki itu benar-benar menjadi marah. Tiba-tiba saja
iapun mulai menyerang Sekar Mirah. Sebagai murid dari
padepokan Pandean yang dibanggakannya, maka orang itu
berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Dengan tangkas ia
telah melenting sambil mengayunkan tangannya, mengarah
ke wajah Sekar Mirah. Orang itu ingin membalas, betapa
pedihnya jika tangannya menyentuh pipi perempuan yang
garang itu.
Tetapi ternyata Sekar Mirah mampu bergerak lebih cepat.
Tangan itu terayun tanpa menyentuh wajah Sekar Mirah.
Bahkan dengan cepat pula Sekar Mirah justru telah memukul
pergelangan tangan orang itu dengan sisi telapak tangannya.
Orang itu terkejut. Ia tidak mengira bahwa Sekar Mirah
akan mampu melakukannya. Dengan tergesa-gesa ia
berusaha menarik tangannya yang terayun. Namun ia tidak
dapat membebaskan tangannya sepenuhnya dari sentuhan
sisi telapak tangan Sekar Mirah.
Ketika sisi telapak tangan Sekar Mirah mengenainya, sekali
lagi orang itu terkejut. Perempuan itu tidak hanya mampu
bergerak cepat. Tetapi tenaganya ternyata sangat besar,
sehingga rasa-rasanya tangan lawan Sekar Mirah yang
tersentuh dan telapak tangannya itu bagaikan menjadi retak.
Dengan tergesa-gesa orang itu meloncat surut beberapa
langkah untuk mengambil jarak. Ia ingin memperhatikan
keadaannya. Tangannya yang tersentuh sisi telapak tangan
Sekar Mirah itu terasa betapa nyerinya. Tetapi ia tidak sempat
melakukannya. Sekar Mirah tidak melepaskannya. Iapun telah
meloncat memburunya. Tangannyalah yang kemudian terayun
mengarah kedada lawannya.
Sekali lagi lawannya harus meloncat surut menghindari
serangan Sekar Mirah. Tetapi sekali lagi yang tidak
diduganya, Sekar Mirah yang diketahuinya sebagai seorang
perempuan, tidak saja menyerang dengan tangannya. Tetapi
demikian lawannya menghindar surut, maka tiba-tiba saja
Sekar Mirah telah berputar. Kakinyalah yang terayun satu
putaran, bertumpu pada kakinya yang lain.
Ternyata kaki Sekar Mirah yang berputar itu, tidak sempat
dihindarinya. Ia memang berusaha untuk menangkisnya
dengan sikunya. Tetapi ayunan kaki Sekar Mirah terlalu keras,
sehingga benturan yang terjadi tidak diduganya pula
sebagaimana serangan itu. Ternyata kekuatan Sekar Mirah
benar-benar luar biasa. Benturan yang terjadi telah
melemparkannya keberapa langkah surut. Bahkan orang yang
menyebut dirinya Ki Demang Wanda Karang itu telah
terbanting jatuh.
Untuk melepaskan diri dari serangan berikutnya, orang itu
telah berguling menjauh. Sambil mengerahkan tenaganya ia
telah melenting berdiri. Tetapi geraknya terlalu lamban bagi
Sekar Mirah. Demikian orang itu tegak, maka kaki Sekar Mirah
telah mengenai dadanya sehingga sekali lagi orang itu
terlempar jatuh.
Terdengar keluhan kesakitan. Punggung orang itu seakanakan
telah menjadi patah. Untunglah mereka berkelahi di
tepian Kali Praga yang berpasir, sehingga keadaan orang itu
tidak terlalu parah. Namun demikian, orang itu telah
mengumpat kasar. Ketika ia melihat Sekar Mirah berdiri tegak,
maka sekali lagi ia berguling. Kemudian dengan hati-hati ia
bangkit dan duduk sambil menyilangkan tangannya didada.
Tetapi Sekar Mirah tidak menyerangnya. Ia berdiri tegak
sambil bertolak pinggang.
Ketika orang yang mengaku anak Ki Demang Wanda
Karang itu bangkit sendiri. Sekar Mirah berkata lantang. “ Aku
dapat menghancurkan kepalamu, murid padepokan Pandean.
Apa yang sebenarnya kau banggakan dari perguruanmu itu?
Apa pula yang dapat kau tunjukkan kepada Ki Tumenggung
Resayuda bahwa kau adalah anak Ki Demang Wanda Karang
yang berilmu tinggi? Mungkin kau memang membawa
pertanda dari Ki Demang Wanda Karang. Tetapi apa yang kau
bawa itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa tanpa
menunjukkan bukti bahwa kau memang anak Ki Demang yang
berilmu tinggi itu. Ki Tumenggung tidak akan percaya bahwa
anak Ki Demang Wanda Karang ternyata hanyalah seorang
laki-laki yang mampu berbicara panjang namun bersikap
terlalu lemah melampaui seorang perempuan. He, ingat, aku
adalah seorang perempuan.”
Anak Ki Demang Wanda Karang itu menggeram. Tetapi
perempuan itu benar-benar seorang perempuan yang berilmu
tinggi. Karena itu ia memang harus sangat berhati-hati.
Bahkan ia merasa tanpa senjata ia tidak akan dapat
mengalahkan perempuan itu. Dengan garangnya, maka anak
Ki Demang itu telah menarik pedangnya.
Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Pedang orang itu
benar-benar sebilah pedahg yang luar biasa. Pedang yang
berwarna agak kehitam-hitaman dengan pamor yang
membujur dari pangkal sampai ke ujung. Agaknya pedang itu
telah dibuat sebagaimana seseorang membuat keris,
sehingga dengan demikian maka pedang itu nampaknya
mengandung racun warangan seperti kebiasaan sebilah keris.
“ Kenapa kau menjadi pucat perempuan gila.” geram lakilaki
itu, “ salahmu jika kau mengalami bencana sekarang ini.
Jika kau mati, maka tidak akan ada seorangpun yang berani
menuntut aku karena aku adalah seseorang yang mempunyai
hubungan dengan Ki Tumenggung Resayuda.”
“ Hentikan bualanmu tentang Ki Tumenggung. Kau kira Ki
Tumenggung itu bangga bahwa namanya kau sebut-sebut.
Bahwa kuasanya kau pergunakan untuk menakut-nakuti
orang?”
“ Baik. Tanpa Ki Tumenggung, maka aku akan
menyelesaikanmu. Pedangku adalah pedang yang lain dari
kebanyakan pedang. Kau lihat pamornya yang menyala?”
bertanya laki-laki itu.
Sekar Mirah memang termangu-mangu. Ia tidak mau
terkena akibat dari kelengahannya, karena lawannya
bersenjata. Ia tidak seperti Agung Sedayu yang kebal akan
bisa dan racun. Meskipun kemampuan Agung Sedayu
membawa beberapa obat, tetapi lebih baik baginya untuk tidak
perlu berobat di tengah perjalanan itu.
Karena itu, maka iapun berkata kepada Glagah Putih, “
Tolong, berikan tongkatku.”
Glagah Putih yang tahu pasti, bahwa tongkat Sekar Mirah
berada di pelana kudanya, maka iapun dengan serta merta
tidak mengambilnya dan memberikannya kepada Sekar Mirah.
“ Kau pernah melihat tongkat seperti ini?” bertanya Sekar
Mirah ketika tongkatnya telah berada ditangannya.
Orang itulah yang kemudian menjadi berdebar-debar.
Tongkat itu memang agak aneh. Apalagi kepala tongkat itu
adalah sebuah tongkat kecil yang terbuat dari logam yang
terpilih. Sementara batang tongkatnya yang putih itu
memberikan kesan tersendiri.
“ Aku akan mengimbangi pedangmu dengan senjata ini.
Tetapi jika aku terlanjur bermain dengan senjata, maka
akibatnya mungkin akan sangat pahit bagimu.” berkata Sekar
Mirah.
Tetapi orang itu menjawab, “ Kau harus mengenal lebih
dahulu ilmu pedang dari perguruan Pandean. Baru kau akan
dapat memberikan penilaian.”
Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Meskipun ia tahu
bahwa lawannya bukan seorang yang memiliki kekuatan dan
kemampuan yang besar, tetapi ia tidak boleh
mengabaikannya.
“ Mungkin ia memang memiliki ilmu pedang yang tinggi.”
berkata Sekar Mirah didalam hatinya.
Sejenak keduanya bersiap-siap. Para pengawal Ki Demang
Wanda Karang itu menjadi tegang. Mereka agaknya mengenal
kemampuan ilmu pedang anak Ki Demang itu.
“ Jangan berdiri kebingungan seperti itu.” berkata anak Ki
Demang, “ usir setiap orang yang akan menonton bagaimana
aku menghancurkan seorang perempuan sombong.
Perempuan yang tentu akan berlutut dan mencium telapak
kakiku.”
Tetapi orang itu tiba-tiba terkejut. Tongkat Sekar Mirah
terayun deras, sehingga anginpun telah ikut pula berdesing
menyambar tubuh anak Ki Demang itu. Anak Ki Demang ini
benar-benar tidak menyangka. Iapun dengan serta merta telah
meloncat beberapa langkah surut.
Sekar Mirah justru tertawa. Katanya, “ Tidak usah terkejut
Ki Sanak. Aku tidak benar-benar berusaha mematahkan
lehermu.”
“ Persetan perempuan sombong.” sahut orang itu, “ kau
kira dengan membuat gerakan-gerakan seperti itu kau dapat
membuat aku takut?”
“ O” Sekar Mirah mengerutkan dahinya, “ siapa yang
mengatakan bahwa kau takut? Kau sendiri?”
“ Persetan.” geram orang itu.
Namun sejenak kemudian pedangnyapun telah berputar.
Beberapa kali orang itu bergerak sambil mempermainkan
pedangnya. Bergeser dari satu sisi kesisi yang lain. Ternyata
bahwa orang itu memang menguasai ilmu pedang. Karena itu
Sekar Mirah memang harus berhati-hati. Ketika pedang
lawannya mulai mematuk, maka Sekar Mirahpun mulai
bergeser pula. Iapun telah memutar tongkatnya pula,
sebagaimana dilakukan oleh lawannya.
Sejenak kemudian, maka pertempuran menjadi semakin
seru. Keduanya telah mempergunakan senjata mereka
masing-masing. Mereka ternyata memang memiliki
kemampuan dan kekuatan yang tinggi. Namun agaknya anak
Ki Demang itu masih terbatas pula kemampuan dan
ketrampilan kewadagan. Karena itu, ketika tongkat Sekar
Mirah berputar semakin cepat dilambari dengan kekuatan
cadangan didalam dirinya, sehingga putaran tongkatnya itu
bagaikan bersiul karenanya, hati anak Ki Demang itu memang
berdebar-debar.
“ Ilmu iblis manakah yang menyusup didalam diri
perempuan itu?” bertanya anak Ki Demang itu didalam
hatinya.
Namun ketika sekali-sekali senjata mereka bersentuh,
maka jantung anak Ki Demang itu menjadi semakin berdebardebar.
Ternyata perempuan itu benar-benar bukan perempuan
kebanyakan. Kekuatannyapun bukan kekuatan seorang
perempuan. Tetapi anak Ki Demang itu sudah terlanjur
menarik pedang dari sarungnya. Sehingga karena itu, maka
iapun telah berusaha dengan segenap kemampuan yang pada
dirinya untuk menguasai lawannya yang tidak lebih dari
seorang perempuan. Namun ternyata usahanya sia-sia.
Semakin lama maka iapun justru menjadi semakin terdesak.
Glagah Putih yang sejak semula telah menahan diri
menghadapi sikap anak Ki Demang itu, tiba-tiba telah
bergeser mendekat. Hampir diluar sadarnya, Glagah Putih
telah bertepuk tangan ketika anak Ki Demang itu terdorong
surut.
Untuk menghindari ujung tongkat Sekar Mirah yang
bagaikan memburunya, orang itu telah menggeliat. Namun
justru ia telah terjatuh terlentang. Karena itu, maka iapun telah
berguling untuk mengambil jarak dan meloncat bangkit. Sekar
Mirah tidak memburunya. Ia memang memberi kesempatan
laki-laki itu untuk berdiri.
Tetapi laki-laki itu menjadi marah pula kepada Glagah
Putih. Ia menganggap Glagah Putih telah menghinanya
dengan sengaja karena anak muda itu telah bertepuk tangan
justru pada saat ia terlempar jatuh.
Karena itu maka orang itupun kemudian mengumpat kasar,
“ Anak gila. Kaupun harus mendapatkan pelajaran, agar kau
sadari kebodohanmu.”
“ Bukankah aku tidak berbuat sesuatu?” berkata Glagah
Putih.
“ Kenapa kau bertepuk tangan?” wajah anak Ki Demang itu
menjadi merah.
Glagah Putih tersenyum. Katanya, “ Kau terlalu sombong
sehingga kau telah salah menilai lawanmu. Bahkan setelah
kau jatuh bangun kau masih juga belum menyadari apa yang
sebenarnya telah terjadi atas dirimu.”
Orang itu menggeretakkan giginya, sementara Sekar Mirah
masih saja berdiri sambil menimang tongkatnya.
Kemarahan orang itu benar-benar tidak terkendali. Karena
itu, maka tiba-tiba saja ia berteriak kepada para pengawalnya,
“ Tangkap anak ini. Ikat dan kita akan menyeretnya dibelakang
punggung kuda dan membawanya menghadap Ki
Tumenggung.”
Ketiga orang pengawalnya yang mendapat perintah itupun
segera bersiap. Namun dalam pada itu Glagah Putih masih
sempat menjawab, “ Aku sudah membawa kuda sendiri.”
Kemarahan orang itu menjadi semakin membakar jantung.
Karena itu, maka iapun berteriak, “ Cepat, tangkap dan ikat
kelinci itu.”
Ketiga orang itupun segera mulai bergerak. Mereka
mengepung Glagah Putih dari tiga jurusan.
Anak Ki Demang itupun telah berteriak pula, “ Cepat.
Apalagi yang kau tunggu.”
Ketiga orang itupun dengan serta merta telah meloncat
menyerang Glagah Putih yang masih berdiri termangu-mangu.
Sekar Mirah menyaksikan serangan itu dengan jantung
yang berdebar-debar. Bahkan Agung Sedayu menjadi cemas.
Bukan karena keselamatan Glagah Putih, tetapi justru
sebaliknya. Pergaulan Glagah Putih dengan Raden Rangga
agaknya memang berpengaruh atas sifat-sifat Glagah Putih.
Dan yang dicemaskan Sekar Mirah dan Agung Sedayu itu
memang terjadi, meskipun tidak memungut nyawa dari salah
seorang diantara lawan-lawannya.
Perkelahian antara Glagah Putih dan ketiga orang
pengawal anak Ki Demang itu hanya berlangsung singkat.
Glagah Putih telah berloncatan bagaikan burung sikatan.
Demikian cepat, seakan-akan hanya satu putaran gerak.
Namun ketiga orang lawannya telah terlempar jatuh. Dua
orang diantara mereka tidak segera dapat bangkit kembali,
sementara yang seorang berusaha untuk berdiri. Tetapi
keseimbangannya tidak segera dapat dipulihkan. Ia masih
terhuyung-huyung sesaat. Meskipun ia berhasil berdiri diatas
kedua kakinya, namun dadanya masih saja terasa bagaikan
tersumbat.
Glagah Putih berdiri tegak sambil tertawa kecil. Katanya, “
Sekali lagi terjadi kesalahan. Bangkitlah. Jika kalian masih
ingin bermain-main, kita akan melakukannya. Kami tidak
tergesa-gesa.”
Dua orang yang masih terbaring itu menggeliat. Tetapi
punggung mereka memang terasa bagaikan patah.
“ Marilah.” ulang Glagah Putih.
Dalam pada itu, anak Ki Demang itu memang menjadi
marah bukan kepalang. Dengan keras ia berteriak, “ He,
ternyata kalian adalah tikus-tikus buruk. Aku akan
melaporkannya kepada ayah tentang kalian. Apa yang dapat
kalian lakukan he? Buat apa ayah memerintahkan kalian
menyertai aku?”
“ Jangan mengumpat-umpat.” Glagah Putihlah yang
menjawab sambil tertawa. Katanya kemudian, “ Bukan orangorangmu
yang bagaikan tikus buruk. Tetapi ilmuku, adalah
ilmu yang diturunkan dari langit, dari antara awan yang
berarak, menyadap kekuatan mendung yang mengandung
petir serta mengetrapkan kekuatan lesus dan prahara.”
“ Glagah Putih.” Agung Sedayu melangkah mendekatinya,
“ Kau jangan mempermainkan mereka terlalu jauh.”
Glagah Putih berpaling. Tetapi iapun kemudian menarik
nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia menyadari, bahwa yang
berdiri di belakangnya adalah kakak sepupunya, Agung
Sedayu. Bukan Raden Rangga.
Sementara itu Agung Sedayupun kemudian berkata, “ Ki
Sanak. Tinggalkan tempat ini. Semakin cepat semakin baik
daripada kalian akan menjadi tontonan orang banyak.”
Orang itu memandang Agung Sedayu dengan wajah yang
tegang. Namun ia menyadari, bahwa dari sorot matanya,
orang itu akhirnya mengenal bahwa Agung Sedayu tentu
memiliki kelebihan dari perempuan dan anak muda itu.
Karena itu, maka anak Ki Demang Wanda Karang itu harus
berpikir ulang. Laki-laki yang disebut suami perempuan yang
memiliki kemampuan yang luar biasa serta tongkat yang
menggetarkan jantungnya itu, maka laki-laki itu tentu akan
dapat berbuat jauh lebih banyak.
Karena itu, maka anak Ki Demang itupun kemudian telah
memilih untuk menghentikan usahanya menghukum orangorang
yang dianggapnya telah menyakiti hatinya itu. Karena
itu, maka iapun telah bergeser selangkah surut.
Agaknya Sekar Mirahpun telah jemu dengan permainan itu.
Karena itu, maka tanpa mengatakan sepatah katapun, iapun
segera melangkah ke kudanya, diikuti oleh Glagah Putih.
Setelah menyelipkan tongkatnya, maka Sekar Mirahpun
kemudian dengan tangkasnya meloncat ke punggung
kudanya. Memang tidak ada yang dapat membedakan, bahwa
ia adalah seorang perempuan tanpa melihat ciri-cirinya dari
dekat. Terutama suara Sekar Mirah.
Agung Sedayupun kemudian telah berada dipunggung
kudanya pula, disusul oleh Glagah Putih yang kemudian
duduk dipunggung kudanya yang tegap tegar dan yang jarang
ada duanya itu.
Tanpa berpaling maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan
Glagah Putihpun telah meninggalkan tempat itu. Beberapa
orang yang menonton dari kejauhanpun telah meninggalkan
tempatnya. Mereka menduga, bahwa orang-orang yang kalah
itu tentu akan melepaskan kemarahannya kepada mereka
yang menonton perkelahian itu.
Namun dalam pada itu, masih terdengar suara anak Ki
Demang, “ Hati-hatilah kalian. Aku membawa pertanda untuk
menghadap Ki Tumenggung Resayuda dan Panembahan
Senapati itu sendiri.”
Ketiga orang berkuda itu sama sekali tidak menghiraukan
meskipun mereka juga mendengarnya. Demikianlah, maka
ketiga orang itupun telah berpacu meninggalkan tepian Kali
Praga. Agaknya mereka telah terhambat beberapa saat untuk
melayani seorang laki-laki yang terlalu berbangga karena ia
akan menghadap Ki Tumenggung Resayuda.
Sambil membenahi pakaiannya, Sekar Mirah bertanya
kepada Agung Sedayu, “ Apakah kau pantas menghadap
Panembahan Senapati dengan pakaian seperti ini?”
“ Kita tidak menghadap Panembahan Senapati dalam
pasowanan. Kita akan mohon menghadap secara pribadi.
Agaknya Panembahan Senapati dapat memahami keadaan
kita, sehingga mudah-mudahan Panembahan Senapati tidak
menganggap kita telah berlaku deksura,” jawab Agung
Sedayu.
“ Jika demikian, sebaiknya kakang saja dahulu menghadap.
Aku akan menunggu. Jika agaknya Panembahan Senapati
dapat menerima aku dalam keadaan seperti ini, aku akan ikut
menghadap. Tetapi jika sebaiknya tidak, aku akan menunggu.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti
perasaan Sekar Mirah. Bagaimanapun juga ia tidak
mengenakan pakaian yang pantas dari seorang
perempuan.Bahkan justru karena pakaiannya itulah ia telah
berselisih dengan anak Demang Wanda Karang. Jika Sekar
Mirah berpakaian seperti kebanyakan perempuan, mungkin ia
justru tidak akan banyak menarik perhatian anak Demang
Wanda Karang itu.
Ternyata perjalanan mereka selanjutnya tidak mengalami
hambatan lagi. Mereka kemudian memasuki gerbang kota
Mataram tanpa kesulitan. Orang-orang termasuk para petugas
di pintu gerbang memang menyangka bahwa yang bersamasama
dengan Agung Sedayu itu adalah dua orang anak muda.
Seorang prajurit yang telah mengenal Agung Sedayu
bertanya di dalam hati, “ Anak siapa lagi yang dibawa oleh
Agung Sedayu itu setelah Glagah Putih.”
Demikianlah, maka tanpa kesulitan Agung Sedayupun telah
memasuki halaman istana justru karena seorang perwira yang
bertugas telah mengenalnya. Dan bahkan telah membawanya
kepada seorang pelayan dalam.
“ Jika Panembahan Senapati berkenan, kami akan
menghadap.” berkata Agung Sedayu kepada pelayan dalam
itu.
“ Paseban baru saja selesai.” berkata pelayan dalam itu, “
banyak hal yang dibicarakan. Agaknya Panembahan Senapati
merasa letih.”
“ Cobalah, sampaikan permohonanku. Aku akan
menghadap secara pribadi.” berkata Agung Sedayu
kemudian.
Kemudian ketika pelayan dalam itu masuk keruang dalam,
Agung Sedayu berkata kepada perwira yang telah
mengenalnya itu, “ Biarlah isteriku menunggu. Kami berdua
akan menghadap lebih dahulu. Baru jika Panembahan
Senapati berkenan, isteriku akan aku panggil.”
“ Kenapa?” bertanya perwira itu.
“ Ia tidak mengenakan pakaian yang pantas untuk
menghadap. Pakaian yang dipakainya adalah pakaian
perjalanan.” jawab Agung Sedayu.
Perwira itu hanya mengangguk-angguk saja. Ia sama sekali
tidak dapat menduga, apa yang akan dikatakan oleh
Panembahan Senapati tentang perempuan yang tidak
berpakaian wajar itu. Namun menilik hubungan yang akrab
antara Panembahan Senapati dengan Agung Sedayu sejak
mereka masih sering mengembara, maka ada beberapa
kemungkinan dapat terjadi.
Betapa letihnya Panembahan Senapati, ternyata Agung
Sedayu telah diterimanya juga. Bukan hanya sekedar karena
telah berhubungan akrab. Tetapi Panembahan Senapati telah
menduga bahwa ada perkembangan baru telah terjadi di
Tanah Perdikan.
Bahkan ketika Agung Sedayu menyebut tentang isterinya
yang ikut bersamanya, namun dengan mengenakan pakaian
perjalanan yang tidak pantas untuk menghadap, Panembahan
Senapati berkata, “ Panggil ia kemari. Biarlah ia ikut
mendengar, apa yang kita bicarakan.”
Agung Sedayu mengangguk hormat. Tetapi ia masih juga
ragu-ragu. Karena itu, maka katanya, “ Hamba mohon ampun
Panembahan. Isteri hama mengenakan pakaian perjalanan
yang sama sekali kurang pantas bagi seorang perempuan
yang menghadap Panembahan.”
“ Dalam keadaan khusus, maka aku perkenankan isterimu
menghadap dengan pakaian perjalanan. Aku tahu, bahwa
Sekar Mirah tentu memakai pakaian seorang laki-laki.
Sementara pakaian perjalanan perempuan lain masih juga
tetap memakai kain panjang.” berkata Panembahan Senapati.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia
kemudian bergeser surut untuk memanggil isterinya untuk
menghadap Panembahan Senapati yang menerimanya di
serambi.
Betapa canggungnya Sekar Mirah dalam pakaiannya
menghadap Panembahan Senapati. Tetapi Panembahan
sendiri telah mengatakan, “ Jangan segan. Aku telah
mengijinkan kau menghadap dengan pakaianmu yang sudah
aku bayangkan sebelumnya.”
“ Hamba Panembahan.” sahut Sekar Mirah dengan kepala
tunduk, “ hamba mohon ampun atas tingkah laku hamba ini.”
Panembahan Senapati tertawa. Katanya, “ Kau nampak
semakin meyakinkan sebagai murid Sumangkar.”
Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi kepalanya menjadi
semakin tunduk.
Dalam pada itu, maka Panembahan Senapatipun kemudian
mendengarkan dengan saksama laporan Agung Sedayu
tentang kegiatan orang-orang yang berasal dari daerah Timur
yang tentu digerakkan oleh orang yang paling berpengaruh.
“ Tetapi aku yakin, pamanda Panembahan Madiun masih
belum akan bertindak sedemikian jauh.” berkata Panembahan
Senapati. Namun kemudian suaranya rendah, “ Namun aku
menjadi semakin berprihatin. Meninggalnya adimas Pangeran
Benawa merupakan persoalan baru yang menambah
keruhnya hubungan antara Pajang dan Madiun. Aku,
Panembahan Senapati merasa berwenang untuk menunjuk
penggantinya, karena selama ini Pajang memang berada
dibawah lingkungan kesatuan dengan Mataram, seharusnya
demikian pula dengan Madiun. Karena adimas Pangeran
Benawa tidak meninggalkan pesan apapun, maka semua hak
atas Pajang kembali kepadaku sebagaimana aku pernah
menyerahkannya kepada adimas pangeran. Tetapi mungkin
pamanda Panembahan mempunyai pendapat lain.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian Panembahan Senapatipun berkata, “
Tetapi bukan berarti bahwa semua kemungkinan telah
tertutup. Aku masih berusaha untuk berbicara dengan
pamanda Panembahan Madiun. Sementara itu, pesanku, juga
kepada adik seperguruanmu di Sangkal Putung, berhatihatilah.
Agaknya akan banyak tugas yang harus kita lakukan
kemudian.”
Agung Sedayu mengangguk hormat. Dengan nada rendah
ia menyahut, “ Hamba Panembahan. Hamba dan seisi Tanah
Perdikan Menoreh akan melakukannya. Demikian pula akan
hamba sampaikan pula kepada adi Swandaru di Sangkal
Putung.”
“ Terima kasih.” berkata Panembahan Senapati, “ mudahmudahan
kita masih dapat memelihara ketenangan untuk
seluruh wilayah kesatuan Mataram yang luas.”
Dengan panjang lebar, Panembahan Senapati
mengutarakan angan-angannya tentang masa depan
Mataram. Meskipun secara garis besar, namun sudah nampak
betapa perhatian Panembahan Senapati menyusup disegala
lekuk dan liku kehidupan Mataram sampai tataran yang
terendah.
Sementara itu, justru Agung Sedayu, Sekar Mirah dan
Glagah Putih diterima oleh Panembahan Senapati di serambi,
maka tidak begitu banyak ikatan-ikatan paugeran yang
membatasi mereka. Mereka dapat lebih bebas berbicara
sebagaimana dua orang yang sudah lama mengenal yang
satu dengan yang lain, meskipun pada akhirnya mereka
berada pada tataran kedudukan yang terpisah jauh. Bahkan
Panembahan Senapati sempat memerintahkan untuk
menghidangkan minuman bagi tamu-tamunya.
Dalam pada itu, selagi Panembahan Senapati dan tamutamunya
sibuk berbincang, maka telah menghadap seorang
pelayan dalam yang memberitahukan bahwa Ki Tumenggung
Resayuda akan menghadap.
“ Ki Tumenggung Resayuda?” bertanya Panembahan
Senapati.
“ Hamba Panembahan.” jawab pelayan dalam itu.
“ Bukankah Ki Tumenggung datang menghadap di paseban
tadi?” bertanya Panembahan Senapati pula.
“ Hamba Panembahan. Tetapi Ki Tumenggung, apabila
Panembahan berkenan ingin meghadap barang sebentar.”
berkata pelayan dalam itu.
Panembahan Senapati termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya, “ Baiklah. Biarlah ia masuk.”
Ketika pelayan dalam itu bergeser mundur Panembahan
Senapati berkata, “ Ki Tumenggung tahu bahwa aku berada
disini bersama beberapa orang tamu.”
Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih memang
menjadi berdebar-debar. Agaknya Ki Tumenggung itulah yang
disebut-sebut oleh anak Ki Demang Wanda Karang.
Ketika kemudian Ki Tumenggung menghadap masuk,
Agung Sedayu terkejut. Ternyata ia sudah mengenal
Tumenggung itu. Tetapi namanya bukan Resayuda. Karena
itu, agaknya Ki Tumenggung baru saja mendapat semacam
anugerah nama baru yang biasanya mengiringi pangkat atau
jabatan yang baru pula.
“ Apakah Ki Tumenggung sudah mengenal mereka?”
bertanya Panembahan Senapati.
“ Hamba Panembahan. Hamba telah mengenal mereka
dengan baik.” jawab Ki Tumenggung.
“ Namun yang hamba kenal, namanya bukan Ki
Tumenggung Resayuda.” desis Agung Sedayu.
Ki Resayuda tersenyum sambil menunduk. Sementara itu
sambil tertawa pendek Panembahan Senapati berkata, “ Ki
Tumenggung telah mencapai tataran yang lebih tinggi.”
Agung Sedayupun tertawa. Iapun kemudian berkata, “ Aku
mengucapkan selamat Ki Tumenggung.”
“ Terima kasih.” berkata Ki Resayuda, “ mudah-mudahan
aku dapat melakukan tugasku lebih baik.”
Namun dalam pada itu, Panembahan Senapatipun
bertanya, “ Apakah yang penting kau sampaikan kepadaku?”
“ Ampun Panembahan.” berkata Ki Resayuda, “ hamba
telah menerima anak Ki Demang Wanda Karang.”
Panembahan Senapati mengerutkan keningnya. Iapun
kemudian bertanya, “ Siapakah yang kau maksud?”
“ Seorang Demang, Panembahan. Hamba telah
mengenalnya dengan baik. Ia telah memerintahkan anaknya
untuk menemui hamba, sekedar menyatakan kesetiaannya
kepada Mataram Namun sebenarnyalah Ki Demang ingin
memenuhi keinginan anaknya untuk sekali-sekali datang ke
istana Mataram. Ada keinginannya untuk dapat berkenalan
dengan para Senapati, dan bahkan apabila berkenan dihati
Panembahan, orang itu ingin menghadap barang sejenak.
Namun segala sesuatunya terserah kepada Panembahan.”
berkata Ki Tumenggung.
Ternyata bahwa hati Panembahan Senapati cukup lapang
untuk menerima keinginan rakyatnya. Apalagi sekedar
menghadap. Dengan nada rendah ia berkata, “ Anak Ki
Demang itu tentu akan dengan bangga kembali ke
Kademangannya.”
“ Hamba Panembahan. Ia akan dapat berceritera, bahwa ia
telah menghadap Panembahan Senapati di Mataram.”
berkata Ki Tumenggung Resayuda.
Panembahan Senapati tertawa. Bahkan Panembahan
Senapati itupun bertanya kepada Agung Sedayu, “ Apakah
kau juga berbangga karena kau telah menghadapi aku?”
“ Hamba Panembahan.” jawab Agung Sedayu dengan
serta merta, mengerti perasaan itu.
“ Karena itu, maka aku perkenankan ia menghadap.”
Bahkan Panembahan Senapati berkata, “ Bukankah
Kademangan Wanda Karang itu merupakan tetangga Tanah
Perdikan Menoreh?”
“ Hamba Panembahan.” jawab Agung Sedayu.
“ Jika demikian, apakah kalian sudah mengenal anak Ki
Demang itu?” bertanya Panembahan Senapati.
“ Hamba telah mengenal Ki Demang Wanda Karang.”
jawab Agung Sedayu, “ tetapi justru anaknya hamba belum
mengenalnya.”
Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Lalu katanya
kepada Ki Tumenggung, “ Baiklah. Aku beri kesempatan ia
menghadap. Pembicaraanku dengan tamu-tamuku sudah
selesai.”
“ Hamba Panembahan. Biarlah hamba membawanya
menghadap.” desis Ki Temanggung.
Sementara itu, Sekar Mirah dan Glagah Putih saling
berpandangan sejenak. Orang itu agaknya adalah orang yang
mereka jumpai di pinggir Kali Praga. Tetapi keduanya tidak
berkata apapun juga.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka Ki Tumenggung
yang telah memanggil anak Ki Demang itu telah membawanya
menghadap. Dengan gemetar anak Ki Demang itu naik ke
serambi. Demikian ia berada di depan pintu, maka iapun telah
berjongkok sebagaimana dilakukan oleh Ki Tumenggung.
Sambil berjongkok mereka telah memasuki serambi dengan
kepala tunduk.
Sebenarnyalah bahwa berbagai perasaan telah bergejolak
di dalam hati anak Ki Demang itu. Sebagaimana dikatakan
oleh Ki Tumenggung, bahwa orang itu telah merasa sangat
berbangga dapat langsung menghadap Panembahan
Senapati di Mataram. Jika ia kembali ke Kademangannya,
maka ia akan dapat berceritera kepada semua orang di
Kademangan itu, bahwa ia telah menghadap Panembahan
Senapati.
“ Kalau saja orang-orang liar di Kali Praga itu mengetahui,
bahwa hari ini aku telah menghadap Ki Tumenggung
Resayuda dan kemudian langsung dapat bertemu berhadapan
dengan Panembahan Senapati.” berkata orang itu didalam
hatinya.
Dalam pada itu, Panembahan Senapatipun bertanya, “
Apakah kau memang anak Demang Wanda Karang?”
Jantung orang itu berdegup semakin keras. Karena itu,
dengan suara bergetar sambil menundukkan wajahnya ia
menjawab, “ Ampun panembahan. Hamba memang anak Ki
Demang Wanda Karang.”
“ Siapakah namamu?” bertanya Panembahan Senapati.
Orang itu termangu-mangu. Ia memang lebih senang
memperkenalkan diri dengan sebutan anak Demang Wanda
Karang. Jika ia menyebut namanya, maka mungkin orang itu
tidak mengetahui, bahwa ia adalah anak Demang Wanda
Karang.
Tetapi dihadapan Panembahan Senapati ia tidak dapat
berbuat demikian. Karena itu, maka iapun telah menyebut
namanya. “ Ampun Panembahan. Jika sudi menyebut nama
hamba adalah Suramerta.”
“ Suramerta.” ulang Panembahan Senapati. Lalu katanya, “
Apakah kau mempunyai keperluan tertentu?”
“ Ampun Panembahan. Hamba mendapat perintah dari
ayah hamba untuk menghadap Ki Tumenggung Resayuda
yang sudah mengenal ayah hamba sebelumnya. Ayah hamba
ingin menyampaikan tanda kesetiaan dan melaksanakan
semua pesan Ki Tumenggung Resayuda. Sementara itu,
betapa besar keinginan hamba untuk dapat menghadap
Panembahan Senapati, apalagi hamba sudah berada di
Mataram.” jawab orang itu sambil menunduk.
Namun dalam pada itu, Panembahan Senapati telah
berkata, “ Tetapi sebelum kau datang, aku telah menerima
tamu dari Tanah Perdikan Menoreh. Bukankah
Kademanganmu bertetangga dengan Tanah Perdikan
Menoreh. Apakah kau belum mengenal sahabat-sahabatku
dari Tanah Perdikan Menoreh ini.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Ia memang tidak berani
mengangkat wajahnya. Namun karena pertanyaan itu, maka
anak Ki Demang yang bernama Suramerta itu telah
memberanikan diri untuk sedikit menengadah untuk
memandang orang-orang yang ada di ruang itu.
Tetapi alangkah terkejutnya anak Ki Demang Wanda
Karang itu. Tamu-tamu Panembahan Senapati sebagaimana
dikatakan oleh Panembahan itu sendiri, adalah orang-orang
yang ditemuinya di Kali Praga. Hampir diluar sadarnya, anak
Ki Demang Wanda Karang itu berdesis, “ Kau?”
Panembahan Senapati mengerutkan keningnya. Dengan
nada rendah ia berkata, “ Jadi kalian telah mengenal?”
Agung Sedayulah yang menyahut, “ Sebelumnya kami
belum saling mengenal Panembahan. Tetapi kami telah
bertemu disaat kami menyeberang Kali Praga. Hanya sekilas.
Sesudah itu kami menempuh jalan yang agaknya berbeda.”
Suramerta, anak Ki Demang Wanda Karang itu
menundukkan kepalanya semakin dalam. Ia tidak berani lagi
memandang wajah Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah
Putih. Bahkan tiba-tiba saja perasaan malu telah bergejolak
didalam hatinya. Ternyata ia tidak akan dapat
menyombongkan diri kepada orang-orang yang dianggapnya
orang-orang tersisih di Tanah Perdikan itu, karena jusru
orang-orang itu telah lebih dahulu menghadap Panembahan
Senapati. Bahkan nampaknya orang-orang itu telah terbiasa
menghadap dan tidak lagi merasa canggung untuk berbicara
dihadapan Panembahan Senapati itu.
“ Memang agak aneh.” berkata Panembahan Senapati, “
bukankah kalian bertetangga meskipun dibatasi oleh
pebukitan.”
“ Seperti telah hamba katakan.” jawab Agung Sedayu, “
hamba telah mengenal Ki Demang Wanda Karang. Tetapi
hamba belum mengenal Ki Suramerta, anak Ki Demang ini.”
“ Bagaimana itu dapat terjadi.” desis Panembahan
Senapati, “ apakah kau jarang berada di Kademanganmu,
Suramerta?”
“ Ampun Panembahan.” jawab anak Ki Demang itu dengan
kepala yang semakin menunduk, “ untuk waktu yang lama
hamba memang jarang berada di Kademangan. Hamba telah
berada di padepokan Pandean, karena ayah hamba
menginginkan hamba untuk belajar. Ayah hamba ingin jika
waktunya datang, hamba dapat melakukan tugas hamba
dengan baik.”
Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Lalu katanya,
“ Nah, jika kau mempunyai permintaan, katakanlah. Atau
barangkali pendapat yang berarti bagi Kademanganmu?”
“ Ampun Panembahan. Hamba hanya ingin menghadap.
Hamba tidak mempunyai pendapat apapun juga.” jawab anak
Ki Demang.
Panembahan Senapati mengerutkan keningnya. Lalu
katanya, “ Baiklah. Tetapi untuk kesempatan yang lain,
sebaiknya kau datang dengan satu sikap. Mungkin tentang
Kademanganmu atau tentang hubungannya dengan Mataram
ini atau apapun yang berarti bagi Kademanganmu. Dengan
demikian maka kedatanganmu tidak terlalu sia-sia. Tetapi
agaknya kali ini kau sekedar ingin memperkenalkan dirimu.”
Wajah anak Ki Demang itu menjadi semakin tunduk.
Apalagi ketika Panembahan Senapati itu berkata, “ Untuk
selanjutnya, kau dapat selalu berhubungan dengan Agung
Sedayu ini. Atau istrinya Sekar Mirah atau adik sepupunya
Glagah Putih, yang meskipun masih sangat muda, tetapi ia
telah melakukan banyak hal yang berarti bagi Tanah Perdikan
Menoreh, dan bahkan bagi Mataram. Kau tidak usah berniat
untuk tiba-tiba menjadi seorang pahlawan di Mataram. Tetapi
sebaiknya kau mulai dari Kademanganmu. Seharusnya kau
banyak mengenal lingkunganmu. Tetangga-tetanggamu dan
persoalan-persoalan yang ada didalam lingkunganmu itu.”
Anak Ki Demang itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi
jantungnya menjadi semakin berdebaran.
Dalam pada itu, Panembahan Senapatipun kemudian
berkata, “ Nah, jika kau tidak mempunyai keperluan lain, maka
kau aku perkenankan mundur. Salamku kepada ayahmu, Ki
Demang Wanda Karang. Aku hargai kesetiaannya kepada
Mataram. Karena Kademangan merupakan landasan yang
paling mendasar bagi tegaknya pemerintahan Mataram.”
“ Hamba Panembahan.” sahut anak Ki Demang itu dengan
jantung yang berdegupan.
Perasaannya diliputi oleh campur baur antara kebanggaan,
tetapi juga perasaan yang aneh karena kehadiran orang-orang
yang ditemuinya di Kali Praga. Selebihnya pesan-pesan dari
Panembahan Senapati itu sendiri. Lalu kemudian katanya, “
Hamba mohon diri. Hamba mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya atas kemurahan hati Panembahan yang
berkenan menerima hamba menghadap.”
Panembahan Senapati tersenyum. Lalu katanya, “
Persoalan-persoalanmu yang lain, jika tidak dapat kau
sampaikan kepadaku, katakan saja kepada Ki Tumenggung
Resayuda.”
“ Hamba Panembahan. Selanjutnya hamba mohon diri.”
berkata orang itu terbata-bata.
Demikianlah, maka Ki Suramerta, anak Ki Demang Wanda
Karang itupun kemudian telah mundur dari penghadan
Panembahan Senapati bersama Ki Tumenggung Resayuda.
Diluar serambi, maka dengan tidak sabar lagi, anak Ki
Demang itu bertanya, “ Apakah Panembahan telah mengenal
ketiga orang itu?”
“ Tentu.” jawab Ki Tumenggung Resayuda, “ Agung
Sedayu adalah sahabat Panembahan semasa mudanya.
Keduanya kadang-kadang telah menempuh pengembaraan
bersama. Karena itu, maka keduanya menjadi akrab. Bahkan
agaknya ilmu yang dimiliki oleh keduanyapun tidak terpaut
terlalu banyak.”
“ Bukan main.” desis anak Ki Demang itu.
“ Kenapa?” bertanya Ki Tumenggung.
“ Tidak apa-apa Ki Tumenggung. Tetapi agaknya aku
memang harus mengenal mereka yang tinggal bertetangga
dengan Tanah Perdikan Menoreh.” berkata. anak Ki Demang
itu.
Dalam pada itu, Agung Sedayupun tidak mengatakan apa
yang telah terjadi di pinggir kali Praga. Namun pesan
Panembahan Senapati, Agung Sedayu hendaknya bersedia
untuk membimbing Kademangan itu pula.
Sementara itu, Agung Sedayu masih berbincang barang
sejenak dengan Panembahan Senapati. Namun kemudian
iapun telah mohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke
Sangkal Putung dan Jati Anom.
“ Apakah kau akan pergi ke Sangkal Putung lebih dahulu
atau Jati Anom lebih dahulu?” bertanya Panembahan
Senapati.
Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian
katanya, “ Hamba akan menghadap guru lebih dahulu. Baru
hamba akan menemui paman Widura dan adi Swandaru.”
Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Katanya, “
Salamku kepada semuanya. Kepada Kiai Gringsing, kepada
Ki Demang Sangkal Putung dan adikmu Swandaru, kepada Ki
Widura dan siapapun mereka itu. Jangan lupa singgah barang
sebentar di tempat Untara, agar ia mengerti apa yang telah
terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Serta ingat akan
perintahku lewat Sabungsari.”
“ Hamba Panembahan.” jawab Agung Sedayu, “ hamba
akan menemui kakang Untara di Jati Anom.”
Demikianlah maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah
Putihpun telah sekali lagi mohon diri. Mereka akan
melanjutkan perjalanan mereka ke Jati Anom. Namun ketika
mereka turun kehalaman dan melangkah keluar seketheng
untuk mendapatkan kuda-kuda mereka, maka mereka telah
melihat anak Ki Demang Wanda Karang yang juga sudah siap
mengambil kudanya bersama para pengawalnya.
Agung Sedayu memandangnya sambil tersenyum. Namun
iapun kemudian bertanya, “ begitu cepat?”
“ Keperluanku sudah selesai.” berkata anak Ki Demang itu
dengan wajah yang terasa menjadi panas. Namun akhirnya
diberanikan dirinya berkata, “ Aku minta maaf. Aku belum
mengenal kalian sebelumnya.”
“ Ayahmu mengenal aku. Salamku buat Ki Demang Wanda
Karang.” berkata Agung Sedayu.
Anak Ki Demang itu mengerutkan keningnya. Menurut
penglihatannya umur Agung Sedayu tidak lebih banyak dari
umurnya sendiri. Namun menurut Ki Tumenggung Resayuda,
maka Agung Sedayu telah memiliki ilmu yang sulit dicari
bandingnya.
Dengan nada rendah anak Ki Demang itu menjawab, “
Terima kasih. Aku akan menyampaikannya kepada ayah.
Bagiku, yang terjadi adalah satu pengalaman yang sangat
berharga.”
Agung Sedayu tersenyum. Kemudian ditepuknya bahu
orang itu sambil berkata, “ Akupun telah minta diri. Tetapi aku
tidak segera kembali ke Tanah Perdikan.”
“ Kalian akan pergi ke mana?” bertanya anak Ki Demang.
“ Kami akan pergi ke Jati Anom.” jawab Agung Sedayu.
Dengan demikian, maka merekapun bersama-sama telah
meninggalkan halaman istana. Ki Resayuda berdiri di depan
gardu para prajurit yang bertugas sambil melambaikan
tangannya.
Namun anak Ki Demang yang merasa bersalah itu dengan
segera mengambil jalan lain. Katanya, “ Kita berpisah disini.
Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi.”
Agung Sedayu tersenyum. Sementara itu dengan segan
anak Ki Demang itu telah minta diri pula kepada Sekar Mirah
dan Glagah Putih. Demikianlah mereka berpisah, meskipun
sebenarnya mereka masih dapat menempuh jalan yang sama
untuk beberapa saat.
Namun seperti yang dikatakan oleh anak Ki Demang,
bahwa yang terjadi itu merupakan pengalaman yang sangat
berharga. Apalagi Agung Sedayu, isterinya dan adik
sepupunya itu tinggal di lingkungan tetangganya.
Sementara itu Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah
Putih telah berpacu menuju ke Jati Anom. Mereka telah
mengambil jalan memintas meskipun agak sulit. Tetapi lebih
dekat. Mereka tidak menyusuri jalan di sebelah Candi
Prambanan. Tetapi mereka memanjat kaki Gunung Merapi
yang landai. Memutar arah Timur dan selanjutnya mereka
akan menuruni kaki disebelah Timur.
Ternyata mereka tidak menemui hambatan di perjalanan.
Namun demikian, mereka memang harus berhenti untuk
memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat, minum
dan makan rerumputan segar di tanggul parit yang jernih.
Ketika dirasa bahwa kuda mereka telah cukup beristirahat,
maka ketiganya telah melanjutkan perjalanan lang-sung
menuju ke Jati Anom.
Ketika Agung Sedayu sampai di padepokan kecil Kiai
Gringsing, terkejut melihat suasana padepokan yang lengang.
Dua orang cantrik yang tergesa-gesa menyongsongnya telah
menerima kembali kuda mereka bertiga.
“ Aku merasakan kelainan.” berkata Agung Sedayu, “
padepokan itu terasa sepi.”
“ Kiai Gringsing sedang sakit.” berkata cantrik itu.
“ Guru sedang sakit?” bertanya Agung Sedayu dengan
jantung yang berdebaran.
Cantrik itu mengangguk.
“ Sejak kapan?” bertanya Agung Sedayu pula.
“ Baru tiga hari ini.” jawab cantrik itu.
“ Bukankah guru mempunyai segala macam obat untuk
segala macam penyakit?” bertanya Agung Sedayu pula.
Cantrik itu tidak menjawab. Namun kemudian katanya, “
Marilah. Silahkan menghadap. Sakitnya agaknya tidak terlalu
berat.”
Agung Sedayu termangu-mangu. Namun bertiga
merekapun telah menuju ke bangunan induk padepokan kecil
yang hijau itu. Ketika mereka naik tangga bangunan induk
padepokan itu, seorang cantrik yang lain telah
menyongsongnya pula. Kemudian membawa mereka ke ruang
dalam.
“ Biarlah aku sampaikan kehadiran kalian kepada Kiai.”
berkata cantrik itu.
Tetapi ternyata Agung Sedayu mencegahnya. Iapun
kemudian berkata, “ Jangan. Biarlah aku melihatnya di dalam
bilik guru.”
Cantrik itu termangu-mangu. Namun ia mengenal dengan
baik siapa Agung Sedayu itu, sehingga karena itu, maka
katanya kemudian, “ Baiklah. Silahkan masuk.”
Tetapi Agung Sedayu tidak akan memasuki bilik Kiai
Gringsing bertiga dengan isteri dan adik sepupunya. Tetapi
isteri dan adik sepupunya itu disuruhnya menunggu di
pendapa, sementara Agung Sedayu sendiri kemudian
memasuki bilik Kiai Gringsing yang sedang sakit.
Kedatangan Agung Sedayu memang mengejutkan Kiai
Gringsing. Iapun telah bangkit dan duduk dibibir
pembaringannya. Sementara Agung Sedayu mendekatinya
sambil berkata, “ Silahkan guru berbaring saja jika guru
memang sedang sakit.”
Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Sambil
tersenyum ia berkata, “ Tidak Agung Sedayu. Sakitku tidak
seberapa.”
“ Tetapi jika guru merasa pening atau mual?” bertanya
Agung Sedayu.
Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “ Aku tidak merasa
apa-apa. Tetapi apakah kau datang sendiri?”
“ Tidak Kiai. Aku datang bersama Sekar Mirah dan Glagah
Putih.” jawab Agung Sedayu.
“ Dimanakah mereka sekarang?” bertanya Kiai Gringsing.
“ Mereka berada di pendapa guru.” jawab Agung Sedayu.
Kiai Gringsing yang nampak lemah dan pucat itupun
kemudian berdiri sambil berkata, “ Aku akan menemui
mereka.”
“ Biarlah mereka datang kemari jika guru menghendakinya.”
berkata Agung Sedayu.
Tetapi Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “ Aku akan ke
pendapa. Rasa-rasanya udara menjadi pengab jika aku terlalu
lama berada di dalam bilikku.”
Agung Sedayu tidak dapat mencegahnya. Kiai
Gringsingpun kemudian telah melangkah perlahan-lahan
keluar dari dalam biliknya. Meskipun Kiai Gringsing itu berjalan
sendiri tanpa dibimbingnya, namun nampak bahwa orang tua
itu menjadi semakin lemah sekali.
“ Guru nampak terlalu tua.” berkata Agung Sedayu didalam
hatinya.
Namun menurut perhitungan Agung Sedayu, Kiai Gringsing
memang sudah sangat tua. Karena itu, maka kesehatannya
telah menjadi semakin mundur.
Ketika Kiai Gringsing keluar dari ruang dalam masuk ke
pendapa, maka Sekar Mirah dan Glagah Putih telah bangkit
menyongsongnya.
“ Kiai.” hampir berbareng keduanya berdesis.
Kiai Gringsing tersenyum. Sambil melangkah satu-satu ia
berkata, “ Duduklah. Aku tidak apa-apa.”
Sejenak kemudian, maka merekapun telah duduk di
pendapa, diatas tikar pandan putih berkotak-kotak biru.
Ditempat yang lebih terang, maka Kiai Gringsing justru
nampak lebih pucat dan letih. Dengan demikian maka Agung
Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih mengetahui bahwa
Kiai Gringsing memang benar-benar sakit.
Namun Kiai Gringsing masih juga menanyakan
keselamatan perjalanan mereka dan orang-orang yang
mereka tinggalkan di Tanah Perdikan Menoreh.
Agung Sedayupun sempat menceriterakan perjalanan
mereka, bahwa mereka singgah sebentar di Mataram.
“ Ada laporan yang penting kami sampaikan.” berkata
Agung Sedayu.
“ Tentang apa?” bertanya Kiai Gringsing.
Agung Sedayu merasa ragu-ragu untuk mengatakannya,
justru saat kesehatan Kiai Gringsing sedang menurun.
Namun agaknya Kiai Gringsing dapat membaca keraguraguan
Agung Sedayu, sehingga karena itu maka katanya, “
Katakan Agung Sedayu. Apapun yang aku dengar tidak akan
mempengaruhi keadaanku.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun
kemudian telah menceriterakan apa yang telah terjadi di
Tanah Perdikan Menoreh dan Mataram.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Bahkan iapun telah
menyampaikan isi pesan Panembahan Senapati kepada Ki
Demang Sangkal Putung dan Swandaru. Pesannya untuk
mengingatkan Untara yang telah mendapat perintah dari
Panembahan Senapati lewat Sabungsari yang saat itu kembali
ke Jati Anom bersama Kiai Gringsing.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. “ Ternyata bahwa
Madiun masih tetap bergerak. Kegagalan-kegagalan mereka,
bahkan apa yang terjadi di Nagaraga, tidak membuat mereka
menjadi jera.”
Bahkan tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya, “ Apakah
Pangeran Singasari telah kembali?”
Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “
Sepengetahuanku, Pangeran Singasari belum kembali ke
Mataram. Tetapi penghubungnya sering mondar-mandir untuk
memberikan laporan kepada Panembahan Senapati.”
“ Apakah Panembahan Senapati memang belum
memerintahkannya kembali bersama pasukannya?” ber-tanya
Kiai Gringsing.
“ Aku tidak tahu Kiai. Aku tidak berani bertanya sampai
sejauh itu.” sahut Agung Sedayu.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Agung Sedayu
memang tidak akan berani bertanya tentang hal itu kepada
Panembahan Senapati.
Karena itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “
Baiklah. Kau agaknya tidak akan menanyakannya, kecuali jika
Panembahan Senapati memberitahukan kepadamu.”
Namun Kiai Gringsing kemudian telah menyinggung pula
kekosongan di Pajang disamping pendudukan atas
padepokan besar Nagaraga, yang tentu merupakan persoalan
yang harus diselesaikan dengan baik dalam pertemuan yang
akan diselenggarakan antara Panembahan Senapati dan
Panembahan Madiun.
Agung Sedayu kemudian telah menyampaikan pula kepada
Kiai Gringsing, bahwa Madiun agaknya akan mengambil
langkah yang sama dengan Mataram. Memotong ranting dan
dahan-dahannya sebelum menebang batangnya. Bahkan
Madiun telah mempergunakan cara untuk memotong
hubungan baik antara Mataram dengan lingkungan yang justru
paling dekat.
“ Itulah yang aku cemaskan.” berkata Kiai Gringsing, “
karena itu agaknya aku memang ingin berbicara dengan
Swandaru.”
“ Kiai juga akan pergi ke Sangkal Putung?” bertanya
Agung Sedayu.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan wajah
yang pucat ia berkata, “ Sebenarnya aku memang ingin pergi
ke Sangkal Putung.”
“ Kami mengerti guru.” sahut Agung Sedayu, “ Guru
sedang sakit.”
Kiai Gringsing mengangguk kecil. Katanya, “ Jika kalian
pergi ke Sangkal. Putung, ajak Swandaru datang kemari.”
Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “ Ya guru. Kami
akan membawa adi Swandaru menghadap guru.”
“ Tetapi aku tidak menyuruhmu sekarang pergi ke Sangkal
Putung.” berkata Kiai Gringsing kemudian.
Ternyata malam itu Agung Sedayu, Sekar Mirah dan
Glagah Putih bermalam di padepokan kecil Kiai Gringsing.
Baru di keesokan harinya mereka akan pergi ke Sangkal
Putung. Namun ketika matahari menyusup ke keremangan
senja, mereka sempat pergi ke rumah Untara dan kemudian
langsung ke Banyu Asri menemui Widura.
Kepada Untara Agung Sedayu menyampaikan pesan
Panembahan Senapati serta gambaran keadaan terakhir. Jika
Pajang tidak lagi merupakan selembar tirai bagi Mataram yang
berhadapan dengan Madiun, maka Sangkal Putung harus
mempersiapkan diri. Sementara pasukan Mataram yang
berada di paling dekat dengan Sangkal Putung adalah
pasukan Untara di Jati Anom.
Tetapi Untarapun tahu sifat sifat Swandaru. Karena itu,
maka Untarapun berkata, “ Jika persoalan menjadi semakin
gawat, maka Panembahan Senapati hendaknya menjatuhkan
perintah, siapakah yang harus memegang perintah tertinggi di
daerah ini. Aku memang Senapati prajurit Mataram disini.
Tetapi Swandaru tidak berada dibawah perintahku, sehingga
ia justru akan dapat menyusun kekuatan tersendiri. Aku yakin,
bahwa ia cenderung untuk menempatkan pasukannya
dibawah kendalinya jika tidak ada perintah yang tegas dari
Panembahan Senapati, atau aku akan mengambil langkahlangkah
keprajuritan atas Sangkal Putung dan memaksanya
tunduk dibawah perintahku.”
Agung Sedayu memang menjadi cemas jika perkembangan
di Jati Anom dan Sangkal Putung tidak mendapa penggarisan
yang tegas dari Mataram. Karena itu, maka katanya, “
Bukankah kakang Untara berhak mengusulkan atas persoalan
itu kepada Panembahan Senapati? Bukan berarti bahwa
kakang menghendaki memegang pimpinan tertinggi disini.
Tetapi yang penting adalah ketegasan itu.”
Untara mengangguk. Katanya, “ Aku akan melakukannya
untuk menghindari persoalan yang timbul disini.”
Sementara itu meskipun hanya sebentar, Agung Sedayu,
Sekar Mirah dan Glagah Putih sempat juga bertemu dengan
para pemimpin dan Senapati prajurit Mataram, di antara
mereka adalah Sabungsari.
Dari rumah Untara yang masih saja dipergunakan oleh
sekelompok prajurit Mataram, mereka telah pergi ke Banyu
Asri. Tetapi mereka tidak dapat terlalu lama berada di rumah
Widura karena malam menjadi semakin malam, sehingga
merekapun segera mohon diri.
“ Kami masih akan berada di Jati Anom untuk beberapa
hari. Pada kesempatan lain, kami akan datang lagi.” berkata
Agung Sedayu.
“ Bagaimana dengan Glagah Putih?” bertanya Widura.
Glagah Putih memang ragu-ragu. Tetapi mengingat Kiai
Gringsing yang sedang sakit, maka iapun berkata, “ Aku akan
bermalam di padepokan ayah. Besok aku akan datang lagi
kemari. Kiai Gringsing sedang sakit.”
Widura mengangguk-angguk. Ternyata bahwa Widura
masih belum mengetahui bahwa Kiai Gringsing sedang sakit.
Karena itu maka katanya, “ Jika demikian, besok aku akan
menengoknya. Ternyata kami yang berada dekat dengan
padepokan itu, tidak mengetahui bahwa Kiai Gringsing sedang
sakit.”
“ Silahkan paman.” berkata Agung Sedayu, “ tetapi besok
pagi kami akan pergi ke Sangkal Putung.”
Diperjalanan kembali ke padepokan, Sekar Mirah sempat
bertanya kepada Agung Sedayu, “ Kakang, kenapa kakang
Untara nampaknya tidak begitu senang terhadap kakang
Swandaru?”
“ Bukan tidak senang Mirah.” jawab Agung Sedayu, “ tetapi
sebagaimana kau ketahui, bahwa kakang Untara adalah
seorang prajurit. Benar-benar seorang prajurit, sehingga
baginya semuanya harus jelas dan pasti. Apalagi dalam
susunan kekuatan yang bersifat keprajuritan. Sedangkan
kakakmu Swandaru adalah seorang anak Demang Sangkal
Putung yang merasa memiliki tataran pemerintahan sendiri
yang tidak ada hubungannya dengan kekuasaan kakang
Untara sebagai seorang Senapati. Padahal dalam menyusun
kekuatan yang bersifat keprajuritan diperlukan satu tangan
yang berwibawa. Itulah sebabnya, maka kakang Untara telah
menyatakan sikapnya. Sama sekali bukan sikap pribadinya.”
Sekar Mirah yang sedikit banyak juga mengenal sifat
kakaknya, mengangguk-angguk. Ternyata iapun mengerti,
bahwa jika keadaan menjadi semakin gawat, diperlukan
tataran kepemimpinan yang jelas dan pasti.
Demikianlah, malam itu mereka bertiga telah bermalam di
padepokan kecil di Jati Anom. Kiai Gringsing tidak terlalu
banyak berbincang dengan mereka karena kesehatannya.
“ Silahkan beristirahat Guru.” berkata Agung Sedayu ketika
dilihatnya Kiai Gringsing nampak letih disaat mereka duduk di
ruang dalam sambil minum-minuman hangat.
“ Aku memang memerlukan banyak waktu untuk
beristirahat.” berkata Kiai Gringsing.
“ Bukankah Guru telah minum obat yang paling baik bagi
keadaan Guru?” bertanya Agung Sedayu.
Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “ Aku adalah seorang
yang menggeluti obat-obatan sejak puluhan tahun. Aku
mengenal segala macam obat untuk bermacam-macam
penyakit. Tetapi aku tidak dapat mengingkari keterbatasan
manusia. Apalagi orang yang sudah setua aku. Pangeran
Benawa masih jauh lebih muda dari aku. Bahkan mungkin
tidak terpaut banyak dari umurmu. Tetapi ia tidak dapat
diselamatkan lagi umurnya oleh beberapa orang tabib istana.
Tabib yang tentu juga memiliki kemampuan yang tinggi
tentang pengobatan dan pengertian yang lain jenis obatobatan.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
Kiai Gringsing berkata, “ Akupun telah minum segala macam
obat yang aku anggap akan dapat menolong keadaanku.
Tetapi aku tidak menjadi berangsur baik di hari-hari ini. Aku
tidak dapat mengatakan apa yang akan terjadi esok atau
lusa.”
Sekilas ketegangan membayang di wajah Agung Sedayu.
Namun dalam pada itu Kiai Gringsing berkata, “ Tetapi
bukankah itu wajar? Kita bukannya penentu disaat-saat
terakhir. Betapa tinggi kemampuan seseorang, namun
akhirnya harus diakui bahwa segalanya berada di tangan
Yang Maha Agung juga.”
“ Ya Guru.” desis Agung Sedayu.
“ Kita jangan mencoba untuk menentang kehendak-Nya.
Jika kita menganggap bahwa keputusan-Nya akan dapat kita
rubah, maka kita akan mengalami gangguan pada jiwa kita.
Bahkan kecemasan-kecemasan dan kegelisahan yang sangat.
Tetapi jika kita mengakui kuasa-Nya yang mutlak, dalam
berusaha kita sudah pasrah, sehingga keputusan-Nya dapat
kita terima dengan hati yang lapang. Tanpa kecemasan,
ketakutan dan kegelisahan.”
Justru Agung Sedayulah yang menjadi gelisah. Demikian
pula Sekar Mirah dan Glagah Putih yang ikut mendengarkan
pembicaraan itu.
Namun kemudian Kiai Gringsing berkata “ Aku memang
akan beristirahat. Istirahat bagi orang setua aku adalah salah
satu usaha agar kesehatanku menjadi berangsur baik. “
Dengan tongkat ditangan, Kiai Gringsing berjalan
meninggalkan ruang dalam memasuki biliknya, sementara
Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih masih
berbincang beberapa saat. Namun yang kemudian mereka
perbincangkan adalah Kiai Gringsig itu sendiri.
Bagaimanapun juga keadaan Kiai Gringsing memang
menimbulkan kecempatan. Yang dikatakannya telah mengingatkakan
Glagah Putih kepada kata-kata yang diucapkan
oleh Raden Rangga menjelang saat-saat terakhirnya. Namun
Glagah Putih tidak mengatakannya kepada Agung Sedayu
dan Sekar Mirah.
Menjelang tengah malam, maka ketiganyapun kemudian
telah masuk kedalam bilik yang disediakan bagi mereka
masing-masing. Agung Sedayu dan Sekar Mirah di bilik
sebelah kanan, sementara Glagah Putih berada di gan-dok
bersama para cantrik. Diantara para cantrik memang ada yang
sebaya dengan Glagah Putih.
Sesaat Glagah Putih teringat pembantu dirumah Agung
Sedayu yang mempunyai kegemaran turun kesungai
memasang dan membuka pliridan. Ternyata cantrik di
padepokan Kiai Gringsing jika ada juga yang turun ke sungai
dimalam hari sambil membawa jenis sebagaimana dilakukan
oleh pembantu dirumah Agung Sedayu bersama dengan
Glagah Putih sendiri.
Pagi-pagi sekali Glagah Putih telah sibuk bersama para
cantrik. Sementara itu Agung Sedayu dan Sekar Mirah telah
mandi pula dan duduk dipendapa.
Kiai Gringsing yang sedang sakit itu meskipun sudah
terbangun, namun masih saja berada didalam biliknya. Tetapi
seorang cantrik telah menghidangkan wedang jae yang
hangat.
Ketika kemudian matahari terbit, serta setelah minum dan
makan beberapa potong makanan, maka Agung Sedayu telah
minta diri kepada Kiai Gringsing yang masih berada di dalam
biliknya untuk pergi ke Sangkul Putung.
“ Sekar Mirah telah menjadi sangat rindu kepada orang
tuannya dan kakaknya “ berkata Agung Sedayu.
“ Kiai Gringsing yang duduk di bibir pembaringannya
tersenyum. Katanya “ Baiklah. Pergilah ke Sangkal Putung.
Tetapi aku harap bahwa kalian akan kembali bersama
Swandaru. “
“ Baik Guru “ jawab Agung Sedayu “ aku akan
memberitahukan kepada adi Swandaru, bahwa Guru
memanggilnya menghadap. “
Demikianlah, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan
Glagah Putih telah meninggalkan padepokan kecil itu
menuju ke Sangkal Putung. Memang sudah terdapat
beberapa perubahan terjadi di sepanjang jalan antar Jati
Anom dan Sangkal Putung. Namun di daerah Mataram
mereka masih harus melalui jalan yang menikung tajam,
kemudian menurun, melewati sebuah sungai yang meskipun
tidak begitu lebar, tetapi berbatu-batu besar. Kemudian jalan
memanjat naik dan mencapai ketinggian semula. Sedangkan
di pinggir tikungan di dekat hutan sebatang pohon randu alas
masih tegak berdiri. Batangnya yang besar dan kokoh
memang nampak perkasa, dan bahkan sedikit berkesan
menakutkan. Seakan-akan batang kayu yang besar itu benarbenar
rumah hantu yang disebut Gendruwo bermata Satu.
Ketika mereka memasuki Sangkal Putung, maka terasa
bahwa Kademangan itu benar-benar sebuah Kademangan
yang subur dan terpelihara dengan baik. Jalur-jalur jalan dan
parit-parit yang membelah kotak-kotak sawah memberikan
warna yang khusus bagi Kademangan itu.
Meskipun beberapa Kademangan disebelah menyebelah
telah berusaha meniru usaha yang tidak kenal lelah serta kerja
keras Kademangan Sangkal Putung, namun masih nampak
bahwa Kademangan Sangkal Putung masih juga memiliki
kelebihan, justru karena di Sangkal Putung terdapat seorang
Swandaru yang menyebut dirinya Swandaru Geni.
Sekar Mirah rasa-rasanya tidak sabar lagi menempuh
perjalanannya yang lamban. Karena itu, maka iapun telah
mempercepat lari kudanya. Sehingga ia telah berada di paling
depan. Semakin dekat mereka dengan padukuhan induk,
maka rasa-rasanya Sekar Mirah telah memasuki kembali
medan permainannya di masa kanak-kanak.
Beberapa orang yang melihat kehadiran mereka tidak
dengan cepat dapat mengenalinya. Jika seseorang kemudian
mengenalinya sebagai Sekar Mirah, maka mereka tidak
sempat menegurnya karena kuda Sekar Mirah berlari
cepat. Mereka hanya dapat melambaikan tangan atau
Sekar Mirahlah yang tanpa berhenti menyapa “ Marilah bibi.
Atau marilah paman, atau sebutan-sebutan yang lain. “
Beberapa lama kemudian, ketiganya benar-benar telah
memasuki padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.
Dengan jantung yang berdebar-debar mereka langsung
menuju kerumah Ki Demang Sangkal Putung.
Kedatangan ketiga orang itu memang mengejutkan. Seisi
rumah telah keluar menyongsong mereka. Swandaru ternyata
masih juga berada di rumah. Meskipun ia sudah bersiap-siap
untuk pergi ke padukuhan disebelah yang seorang sibuk
memperbaiki banjar padukuhannya yang mulai 1 rusak karena
bahannya yang kurang baik. Bambu yang dipergunakan untuk
kerangka atasnya tidak direndam lebih dahulu barang
setengah tahun.
“ Marilah, naiklah “ Swandaru mempersilahkan. Mereka
bertigapun segera naik kependapa. Tetapi
Sekar Mirahlah yang langsung masuk ke dalam rumahnya
yang sudah lama ditinggalkannya. Pandan Wangi yang juga
menyongsong mereka telah mengikutinya masuk ke-dalam.
Sekar Mirah memang melepaskan kerinduannya kepada
tempat tinggalnya dimasa kanak-kanak. Bersama Pandan
Wangi, maka iapun telah memasuki semua ruang sampai
kedapur sekalipun.
“ Bukan main “ berkata Sekar Mirah.
“ Apa? “ bertanya Pandan Wangi yang belum sempat
mempertanyakan keselamatan Sekar Mirah serta mereka
yang bersamanya menempuh perjalanan itu serta mereka
yang ditinggalkan di Tanah Perdikan.
“ Semuanya telah berubah “ berkata Sekar Mirah “
tanganmu memang tangan yang trampil mengatur isi rumah
ini. Tentu kau yang telah membuat rumah ini menjadi segar
dan cerah seperti ini, sehingga karena itu, maka
kakang Swandaru akan krasan tinggal dirumah terusmenerus.
“
Sekar Mirah tersenyum. Sambil mencubit Pandan Wangi ia
berkata “ Kau adalah seorang istri yang baik. “
Pandan Wangi berdesis perlahan. Katanya “ Tanganmu
berbeda dengan tangan perempuan-perempuan lain. Jika kau
mencubit, mungkin segumpal daging akan terkelupas. “
“ Kau selalu menggodaku “ sahut Sekar Mirah. Tetapi
ketika tangannya bergerak, Pandan Wangi telah bergeser
menjauh.
“ Dan ternyata kau dapat bergerak secepat loncatan tatit di
langit “ desis Sekar Mirah.
Keduanya kemudian tertawa. Mereka melangkah kembali
kependapa. Sementara sekali-sekali Sekar Mirah menegur
pembantu-pembantu rumah itu yang pernah dikenalnya.
Ternyata di pendapa, suara tertawa Swandarupun
terdengar berkepanjangan. Setelah saling menanyakan
keselamatan masing-masing Swandaru sempat bertanya
apakah Agung Sedayu sudah tidak takut lagi kepada
Gendruwo permata satu sekarang.
Beberapa saat kemudian, maka minuman dan makananpun
telah dihidangkan, sementara Agung Sedayu mulai
menyinggung keadaan gurunya yang sakit.
“ Jadi Guru sakit? “ bertanya Swandaru “ aku yang dekat
tidak dikabarinya. “
“ Akupun tidak “ sahut Agung Sedayu “ secara kebetulan
aku merasa didesak oleh keinginan untuk menengok Guru.
Ternyata Guru sedang sakit. Tetapi agaknya sakitnya tidak
begitu berat. “
“ Sejak kapan Guru sakit? “ bertanya Swandaru.
“ Sejak tiga atau ampat hari yang lalu “ jawab Agung
Sedayu.
“ Guru adalah seorang dukun yang baik yang mengenal
ilmu pengobatan hampir sempurna. Apakah ia tidak mengobati
dirinya sendiri? “ bertanya Swandaru.
“ Guru sudah mencoba beberapa jenis obat yang
dianggapnya terbaik. Tetapi Guru menyadari, bahwa umurnya
memang sudah menjadi semakin tua. Karena itu, maka ada
sesuatu yang tidak dapat diatasinya dengan segala macam
obat. Tetapi apabila kesempatan masih ada pada Guru, maka
ia tentu akan sembuh “ berkata Agung Sedayu kemudian.
Swandaru mengangguk-angguk. Namun dengan nada
rendah ia berkata “ Dengan sikap yang demikian, maka Guru
agaknya kurang berusaha. Ia hanya menunggu kesempatan.
Tetapi seharusnya kitalah yang menangkap kesempatan itu.
Dengan menunggu, maka biasanya kita akan terlambat. Juga
Guru akan terlambat jika ia menunggu kesempatan itu datang.
“
“Bukan begitu Swandaru “ berkata Agung Sedayu “ bukan
berarti Guru tidak berusaha. Bukankah kita mengenal Guru?
Kiai Gringsing yang tua namun yang jiwanya masih tetap
bergelora? “
“ Namun ketika umurnya menjadi semakin tua, Guru
terdampar pada kelemahan sikap itu “ sahut Swandaru “
sebaiknya kita yang muda-muda ini mendorongnya untuk
berjuang.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih
juga berusaha menjelaskan “ Guru juga sudah berjuang
dengan segenap kemampuan yang ada, Jika Guru berbicara
tentang kesempatan, maka yang dimaksudkan adalah, bahwa
Guru tidak akan mengingkari kenyataan apapun yang didapat
terjadi. “
“ Tetapi sebagian besar dari kenyataan tentang diri
kita adalah ditangan kita sendiri. Kitalah yang menentukan
itu, “ berkata Swandaru.
Agung Sedayu memang tidak ingin bertengkar dengan adik
seperguruannya. Karena itu, maka iapun sekedar
mengangguk-angguk saja.
Sementara itu, sebelum Agung Sedayu menyampaikan
pesan Kiai Gringsing untuk memanggilnya menghadap,
Swandaru justru telah berkata. “ Besok aku akan menengok
Guru. “ Namun tiba-tiba saja ia menyambung Tetapi bukan
maksudku untuk mendesak kalian agar segera meninggalkan
Sangkal Putung. Jika kalian masih ingin tinggal disini sampai
lusa atau kapanpun, aku akan menunggu kesempatan
berikutnya. “
Agung Sedayu tersenyum. Katanya “ Sebenarnya aku
mendapat pesan dari Guru, adi Swandaru diminta untuk
menengoknya jika ada kesempatan. Tetapi sebelum aku
mengatakannya, kau sudah menyatakan untuk pergi ke Jati
Anom, menengok Guru. “
“ Ada juga sentuhan getaran antara Guru dan muridnya “
berkata Swandaru “ baiklah. Aku menurut, kapan saja kita
akan pergi ke Jati Anom.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun kemudian
sambil berpaling kepada Sekar Mirah ia berkata “ Bagaimana
jika kita besok pergi ke Jati Anom? Bukan berarti kita tidak
akan kembali kemari lagi dan mungkin bermalam disini satu
dua malam. “
Sekar Mirah mengerti maksud Agung Sedayu. Karena itu,
maka iapun mengangguk. Katanya “ Baiklah kakang. Besok
kita pergi ke Jati Anom. Jika kakang Swandaru tidak
memerlukan waktu yang panjang untuk menjumpai Kiai
Gringsing, maka kita akan dapat kembali di sore hari. Tetapi
jika perlu, kita akan dapat bermalam lagi di Jati Anom. “
“ Baiklah “ berkata Swandaru “ besok kita pergi.
Hari ini aku akan dapat melakukan pekerjaan yang sudah
disiapkan untuk dikerjakan, serta memberikan pesan tentang
kerja besok dan lusa jika kita akan bermalam di Jati Anom. “
Demikianlah, hari itu, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan
Glagah Putih akan bermalam di Kademangan Sangkal
Putung. Mereka sempat berbicara panjang lebar tentang
Kademangan itu dengan Ki Demang, sementara Swandaru
bersiap-siap untuk pergi ke beberapa padukuhan di Kademangannya
yang besar.
“ Bagaimana jika kau ikut? “ bertanya Agung Sedayu
kemudian.
“ Marilah. Kau akan dapat melihat perkembangan
Kademangan ini “ jawab Swandaru.
Bersama Glagah Putih, maka Agung Sedayupun telah
mengikuti Swandaru menyusuri jalan Kademangan,
mengunjungi beberapa padukuhan.
Dengan demikian maka Agung Sedayu dan Glagah Putih
dapat melihat kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh
Sangkal Putung. Hal-hal yang mungkin akan dapat juga
ditrapkan di Tanah Perdikan Menoreh. Usaha untuk
memperbanyak hasil sawah dengan jaringan air yang semakin
baik dan tertib. Jaringan jalan yang lebih merata di seluruh
Kademangan serta hubungan dengan Kademangankademangan
tetangga. Pasar yang ramai dan kedai-kedai
yang tersebar, yang bukan saja menjual makanan dan
minuman, tetapi juga kebutuhan sehari-hari, bahkan kedaikedai
yang menjual perkakas rumah tangga dan alat-alat
pertanian.
“ Kademangan ini menjadi semakin maju “ berkata Agung
Sedayu.
“ Aku berusaha agar Kademangan ini bukan saja menjadi
Kademangan yang subur. Tetapi juga dapat menjadi pusat
perdagangan dari beberapa Kademangan tetangga.
Pasar yang ada di Kademangan-kademangan lain serta
menjadi pusat tukar menukar barang dan jual beli hasil bumi. “
berkata Swandaru.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Memang ada
beberapa perbedaan letak dan lingkungan. Tanah Perdikan
Menoreh memang agak terkurung oleh pebukitan disebelah
Barat dan Kali Praga disebelah Timur sehingga hubungan
dengan tetangga-tetangganya tidak begitu erat seperti
Kademangan Sangkal Putung, meskipun Ki Gede berusaha
untuk selalu mengadakan dan memelihara, bahkan
meningkatkan hubungan yang telah ada. Agung Sedayu di
Tanah Perdikan juga mempunyai kebiasaan saling
mengunjungi dengan tetangga-tetangganya, meskipun masih
juga terbatas. Tetapi agaknya sedikit sulit bagi Tanah
Perdikan Menoreh untuk dapat menjadi pusat perdagangan di
sebelah Barat Kali Praga dan disebelah Timur pebukitan
meskipun dapat juga dicoba.
Terlintas didalam angan-angan Agung Sedayu, bahwa
jalan-jalan di Tanah Perdikan Menoreh akan menjadi sangat
penting artinya. Juga alat-alat penyeberangan di Kali Praga.
“ Bukit-bukit itu harus dapat ditembus dengan jalan-jalan
yang tidak terlalu sulit dilalui. Dan rakit-rakitpun harus menjadi
semakin banyak dan dengan pelayanan yang baik “ berkata
Agung Sedayu didalam hatinya. Namun orang-orang Tanah
Perdikan tidak akan dapat berbicara banyak, jika banjir
sedang mengalir di Kali Praga itu.
Hubungan dari seberang ke seberang seakan-akan akan
telah terputus sama sekali.
Demikianlah, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah
melihat banyak hal yang berarti bagi Tanah Perdikan.
Swandaru benar-benar seorang yang telah bekerja keras bagi
Kademangannya.
Sementara itu, anak-anak mudanyapun telah mengikuti
langkah-langkahnya. Para pengawal dan para bebahu
selalu menjalankan tugas mereka sebaik-baiknya.
Dalam pada itu, Swandaru memang telah memberikan
pesan kepada para pemimpin anak-anak muda dan para
pengawal di padukuhan-padukuhan agar mereka melakukan
segala rencana sebaik-baiknya meskipun Swandaru tidak ada
di Kademangan.
“ Aku akan pergi barang satu dua hari “ berkata Swandaru
kepada mereka.
Agaknya anak-anak muda itu telah memiliki kemampuan
untuk bekerja sendiri dengan sebaik-baiknya tanpa menunggu
perintah. Jika rencana telah tersusun dan disetujui oleh
beberapa pihak yang menentukan, maka rencana itu akan
dapat berjalan dengan baik.
Karena itu, maka Swandaru tidak perlu merasa cemas
untuk meninggalkan Kademangannya. Segala sesuatunya
akan dapat berjalan dengan lancar.
Ketika Swandaru sudah merasa cukup, maka mereka-pun
telah kembali ke Kademangan. Agung Sedayu, Sekar Mirah
dan Glagah Putih ternyata mempunyai banyak waktu untuk
berbicara tentang banyak hal dengan Ki Demang, Swandaru
dan Pandan Wangi setelah mereka membenahi diri dan
makan di ujung malam.
Malam itu, mereka telah bermalam di Sangkal Putung.
Terasa betapa tenangnya Kademangan itu di malam hari.
Pada saat-saat tertentu terdengar suara kentongan di gardugardu
induk. Menjelang tengah malam terdengar suara
kothekan para peronda di sepanjang jalan. Anak-anak muda
yang bertugas telah berkeliling menyusuri jalan-jalan di
padukuhan-padukuhan. Tugas keliling dengan kothekan itu
mereka ulangi lagi menjelang dini hari, sebelum anak-anak
muda itu meninggalkan gardu-gardu.
Rasa-rasanya memang tidak akan ada kesempatan bagi
mereka yang berniat jahat di Kademangan Sangkal Putung.
Selain gardu-gardu tersebar hampir disemua mulut lorong,
maka anak-anak muda yang bertugaspun melakukan tugas
mereka dengan sebaik-baiknya. Bahkan yang berada di
gardu-gardu di setiap malam, bukan saja anak-anak muda
yang bertugas, tetapi banyak anak-anak muda yang datang ke
gardu-gardu sekedar untuk berkelakar dan bahkan
membicarakan beberapa soal yang perlu bagi padukuhan
mereka. Dengan demikian maka gardu-gardu di padukuhan itu
rasa-rasanya tidak akan pernah kosong.
Demikian pula gardu yang ada di depan pintu gerbang
Kademangan. Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih
masih saja mendengar suara tertawa dan kelakar yang segar
di gardu itu lewat tengah malam. Bahkan ketika mereka
terbangun menjelang dini hari.
Pagi-pagi benar Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah
Putih telah bangun dan pergi ke pakiwan. Namun ternyata
ketika mereka selesai bersiap-siap, Swandaru dan Pandan
Wangi telah sempat menyiapkan makan pagi buat mereka
sebelum mereka berangkat ke Jati Anom.
Ketika matahari kemudian mulai naik, Swandaru dan
Pandan Wangipun telah mohon diri kepada Ki Demang.
Demikian pula Agung Sedayu, Glagah Putih dan Sekar Mirah.
“ Jika Guru tidak menahan, aku akan kembali sore nanti “
berkata Swandaru.
“ Kau tidak perlu tergesa-gesa “ berkata Ki Demang “
tunggulah gurumu barang satu malam. Kehadiran muridmuridnya
akan memberikan hiburan bagi orang tua itu. “
Demikian, maka sejenak kemudian merekapun telah
berangkat menuju ke Jati Anom,
Namun satu hal yang mendapat perhatian khusus dari
Sekar Mirah adalah, bahwa Pandan Wangi nampaknya terlalu
berhati-hati. Ia tidak nampak lincah sebagaimana biasanya. Ia
tidak dengan tangkas meloncat kepunggung kuda. Tetapi
rasa-rasanya Pandan Wangi baru mulai belajar naik kuda.
Kudanyapun bukan kuda yang terbiasa dipergunakan,
tetapi ia mempergunakan kuda yang lebih kecil dan lamban.
Tetapi Sekar Mirah masih belum bertanya sesuatu,
meskipun perhatiannya tidak terlepas dari masalah itu.
Bahkan ketika mereka mulai dengan perjalanan mereka,
nampaknya Swandarulah yang berusaha menghambat agar
perjalanan mereka tidak terlalu cepat.
“ Apakah Pandan Wangi sedang sakit? “ bertanya Sekar
Mirah didalam hatinya.
Namun akhirnya Sekar Mirah mulai meraba-raba. Apakah
sebabnya Pandan Wangi tidak dapat berbuat selincah dan
setangkas biasanya. Bahkan nampak terlalu berhati-hati dan
ragu-ragu.
Perjalanan mereka memang bukan perjalanan yang cepat.
Kuda-kuda mereka merangkak terlalu lamban. Kuda Glagah
Putih yang tegar rasa-rasanya tidak sabar menunggui kawankawannya
yang malas dan merangkak seperti seekor siput.
Ketika kemudian Swandaru bergeser di sebelah Agung
Sedayu, untuk mengatakan sesuatu tentang parit-paritnya
yang agak terganggu, maka Sekar Mirah mempergunakan
kesempatan itu untuk berkuda disisi Pandan Wangi. Dengan
nada lembut ia bertanya “ Kau tidak membawa sepasang
pedangmu? “
Pandan Wangi tersenyum. Ia memang tidak
menggantungkan pedangnya di pelana kudanya sebagaimana
sering dilakukannya jika pedangitu tidak melekat
dilambungnya.
“ Kenapa? “ desak Sekar Mirah.
“ Bukankah kita tidak akan pergi berperang? “ bertanya
Pandan Wangi.
“ Tetapi siapa tahu hal itu akan terjadi di perjalanan “ jawab
Sekar Mirah.
Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya “ Aku tidak akan bertempur apapun yang
terjadi. Aku percayakan keselamatanku sepenuhnya kepada
kakang Swandaru. “
Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja
wajahnya menjadi cerah. Dipegangnya tangan Pandan Wangi
erat-erat sambil bertanya “ Jadi, benar dugaanku?
“ Apa yang kau duga? “ bertanya Pandan Wangi pula.
“ Tuhan Maha Agung, “ desis Sekar Mirah “ agaknya kau
telah menerima kurniaNya. “
Pandan Wangi mengangguk sambil tersenyum. Katanya
dengan suara lirih “ Kurnia yang sangat berharga bagiku. “
Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba
saja kepalanya tertunduk. Bahkan terasa pelupuknya menjadi
hangat.
“ Mirah “ desis Pandan Wangi “ kenapa? “ Sekar Mirah
mengusap matanya yang basah. Namun
iapun segera mengangkat wajah sambil mencoba
tersenyum “ Aku iri hati kepadamu Pandan Wangi. Kau telah
menerima kurnia-Nya. Aku masih harus memohon kepada-
Nya. “
“ Tetapi bukankah aku memang bersuami lebih dahulu
daripadamu? Dan bukankah kau yakin, bahwa pada saatnya
kaupun akan menerima juga kurnia itu? “ bertanya Pandan
Wangi.
Sekar Mirah mengangguk. Dengan nada rendah ia berkata
“ Aku memang yakin. Karena itu, aku tidak berhenti memohon.
“
Pandan Wangilah yang kemudian mengguncang tangan
Sekar Mirah sambil berkata “ Yakinkan dirimu. “
Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ia menarik nafas
dalam-dalam. Agung Sedayu dan Swandaru tidak mengerti
apa yang telah dibicarakan oleh Pandan Wangi dan Sekar
Mirah karena mereka berada di depan. Sementara itu Glagah
Putihpun tidak segera mengerti maksudnya. Tetapi Glagah
Putih merasakan getaran perasaan yang telah menyentuh
jantung Sekar Mirah.
Ketika mereka mendekati Jati Anom, maka Sekar Mirah
telah berusaha untuk menghapus sentuhan di jantungnya itu.
Ia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya. Namun
sebenarnyalah bahwa ia menginginkannya untuk juga
mendapatkan kurnia sebagaimana Pandan Wangi yang telah
mengandung itu. Namun sebagaimana dikatakannya, ia
memang yakin, bahwa pada saatnya iapun akan
mendapatkannya.
Dalam pada itu, iring-iringan yang maju perlahan lahan itu
kemudian telah memasuki Jati Anom. Berlima mereka
langsung menuju ke padepokan kecil tempat tinggal Kiai
Gringsing dengan beberapa orang cantriknya.
Beberapa saat kemudian, maka iring-iringan kecil itu telah
memasuki regol padepokan. Para cantrik yang melihat
kedatangan mereka segera menyambutnya. Mereka telah
menerima kuda-kuda para tamu itu dan mengikatnya di-bawah
pohon-pohon yang rindang.
Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Swandaru diantar
oleh seorang cantrik telah langsung masuk kedalam bilik Kiai
Gringsing, sementara yang lain dipersilahkan duduk dan
menunggu di pendapa.
Kiai Gringsing memang sedang berbaring di
pembaringannya. Kedatangan kedua orang muridnya itu
memang benar-benar membuatnya gembira. Rasa-rasanya
orang tua itu telah menunggu untuk waktu yang lama, agar
kedua muridnya itu dapat datang bersama-sama.
Meskipun Agung Sedayu dan Swandaru menahannya agar
Kiai Gringsing tetap berada di pembaringannya, namun
ternyata bahwa Kiai Gringsing ingin bangkit dari
pembaringannya itu dan keluar dari biliknya untuk
menerima murid-muridnya beserta isteri-isteri mereka di
pendapa.
“ Aku tidak apa-apa “ berkata orang tua itu “ jika aku selalu
saja berbaring, maka aku justru akan menjadi pening. “
Agung Sedayu dan Swandaru tidak dapat mencegahnya.
Bahkan mereka telah membantu Kiai Gringsing berjalan ke
pendapa.
Tetapi Kiai Gringsing itu berkata. “ Aku dapat berjalan
dengan bantuan tongkatku ini. “
Agung Sedayu dan Swandaru hanya dapat menarik nafas
dalam-dalam. Namun sebenarnyalah bahwa Kiai Gringsing
dapat berjalan sendiri dengan bantuan tongkatnya.
Demikianlah maka sejenak kemudian, mereka telah duduk
di pendapa. Para cantrik telah menghidangkan minuman
hangat dan beberapa potong makanan yang telah mereka
buat sendiri. Makanan dari ketan yang dipetiknya dari sawah
sendiri pula.
Untuk beberapa saat Kiai Gringsing sempat menanyakan
keselamatan mereka di perjalanan dan mereka yang
ditinggalkan. Baru kemudian mereka berbicara tentang
padepokan kecil itu, serta tentang keadaan Kiai Gringsing
sendiri.
“ Guru tidak boleh begitu saja menyerah kepada penyakit
yang Guru derita sekarang ini “ berkata Swandaru.
Kiai Gringsing tersenyum. Katanya “ Aku memang tidak
menyerah. Aku sudah berusaha. “
“ Apakah dengan demikian keadaan Guru menjadi lebih
baik? “ bertanya Swandaru.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya pula “
Aku sudah berusaha sejauh dapat aku lakukan. Tetapi
bukanlah semuanya tergantung kepada Yang Maha Agung? “
“ Guru terlalu pasrah, sehingga Guru kurang berusaha “
berkata Swandaru.
Kiai Gringsing tersenyum pula sambil menggelengkan
kepalanya. Katanya “ Semua usaha sudah dilakukan. Tetapi
bukankah kita tidak akan dapat melawan kenyataan? Kita
memang merupakan bagian dari penentu kenyataan itu
sendiri. Tetapi penentu yang terakhir adalah Yang Maha
Agung itu jua akhirnya. “
“ Tetapi sebelum kita sampai kesana, maka kita harus
berjuang dan tidak kenal menyerah “ berkata Swandaru “
karena itu, sebaiknya Guru juga melakukannya. Guru
hendaknya mencoba beberapa jenis obat terbaik yang Guru
pahami. Selama ini Guru telah banyak mengobati orang lain.
Karena itu maka Guru tentu akan dapat mengobati diri sendiri.
“
Kiai Gringsing masih saja tersenyum. Ia mengenal betul
watak muridnya itu. Karena itu, maka ia tidak membantah,
karena dengan demikian maka sikap Swandaru justru akan
bertambah keras.
Dengan demikian maka Kiai Gringsing yang sakit itu
mengangguk-angguk sambil berdesis “ Kau benar Swandaru.
Aku akan berusaha tanpa mengenal menyerah. Tentu saja
sejauh kemampuan yang ada padaku. “
Swandaru mengerutkan keningnya. Namun ia tidak
mengatakan apa-apa lagi, meskipun nampak bahwa ia kurang
puas dengan jawaban gurunya yang masih juga bernada
pasrah itu.
Tetapi Kiai Gringsinglah yang kemudian mengalihkan
pembicaraan. Dengan suara berat ia bertanya kepada A-gung
Sedayu “ Apakah kau sudah menceriterakan peristiwa-
peristiwa yang berturut-turut terjadi di Tanah Perdikan
Menoreh dalam hubungannya dengan Mataram dan Madiun? -
Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya “ Sudah Guru.
Aku sudah menceriterakan semuanya yang kami alami
di Tanah Perdikan dan yang berhubungan dengan kegiatan
beberapa orang di Madiun. Aku sudah menceritera-kan usaha
beberapa orang yang dengan sengaja ingin menumbuhkan
kebencian dan perpecahan. Bahkan usaha-usaha untuk
dengan langsung mempengaruhi ketenangan hidup seharihari
di Tanah Perdikan Menoreh.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya kemudian “
Nah Swandaru. Hal seperti itu akan dapat mereka lakukan
pula disini. Di Jati Anom dan di Kademangan Sangkal Putung.
Karena itu, maka kita semuanya memang harus berhati-hati
menghadapi keadaan yang menjadi semakin gawat. Apalagi
sepeninggal Pangeran Benawa. “
Swandarupun mengangguk-angguk pula. Katanya “
Agaknya mereka tidak akan datang ke Sangkal Putung, Guru.
Mereka tentu dapat menilai keadaan. Sangkal Pulung
sekarang benar-benar sudah mapan dan mereka menyadari
bahwa mereka tidak akan dapat menyusup ke-dalamnya.
Selebihnya, Sangkal Putung adalah sebuah rumah yang pintupintunya
terbuka nampak terang sampai kesudut-sudutnya.
Sementara Tanah Perdikan Menoreh masih dibayangi oleh
lingkungan yang seakan-akan sulit untuk dijamah. Hutan,
lereng pegunungan dan rawa-rawa. Tempat-tempat seperti itu
memang dapat dijadikan lan-dasan untuk melakukan tindakantindakan
yang tidak menguntungkan bagi lingkungan itu.
Meskipun di Sangkal Putung masih juga terdapat hutan-hutan
yang sudah ditangani menjadi daerah perburuan maupun
hutan-hutan yang masih lebat, tetapi lingkungannya terasa
lebih terang dan selalu disentuh oleh tangan-tangan para
petani, anak-anak muda dan pengawal. Baik yang sedang
bekerja di sawah dan pategalan, maupun mereka yang
sedang meronda. “
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
Pandan Wangi hanya menundukkan kepalanya saja
sebagaimana Sekar Mirah. Agung Sedayu mendengarkan
keterangan adik seperguruannya itu dengan sungguhsungguh.
Sedangkan Glagah Putih mendengar keterangan
Swandaru itu dengan dahi yang berkerut. Menurut
penglihatannya yang dikatakan oleh Swandaru itu memang
benar. Di Tanah Perdikan Menoreh memang masih terdapat
tempat-tempat yang seakan-akan tersembunyi. Sedangkan di
Sangkal Putung sudah tidak ada lagi. Jika terdapat hutan di
Sangal Putung, maka dipinggir hutan itu terdapat padang
perdu yang sempit. Kemudian sawah atau pategal-an
terbentang sampai ke batas padang perdu itu. Bahkan rasarasanya
orang-orang Sangkal Putung telah menjadi terlalu
akrab dengan hutan-hutannya meskipun hutan-hutan yang
lebat dan dihuni oleh binatang-binatang buas sekalipun.
Meskipun demikian, terasa ada sesuatu yang aneh ditelinganya.
Yang diucapkan Swandaru itu seakan-akan telah
menggelitik hatinya.
“ Apa yang telah menyentuh perasaanku itu? “ bertanya
Glagah Putih kepada diri sendiri.
Dalam pada itu Swandarupun berkata selanjutnya “ Karena
itu Guru. Guru tidak usah merasa cemas. Kami akan dapat
menjaga diri. Selama ini Sangkal Putung tidak pernah
mengalami goncangan-goncangan yang berarti. “
“ Ya “ jawab Kiai Gringsing “ agaknya memang demikian.
Tetapi kali ini aku ingin memberikan pesan kepadamu, bahwa
persoalan antara Madiun dan Mataram dapat berkembang
menjadi letupan-letupan yang tidak dikehendaki oleh kedua
belah pihak, justru karena tingkah laku beberapa orang saja.
Baik orang-orang Madiun maupun orang-orang Mataram
sendiri. Karena itu, maka kau perlu menjadi lebih berhati-hati
menghadapi keadaan ini. Pangeran Singasari mungkin dapat
dikatakan berhasil menguasai padepokan Nagaraga. Tetapi
apakah yang dilakukannya
bukan seperti mengguncang semut di sarangnya. Jika
sarang itu dikuasai oleh pihak lain, maka semut itu akan
berserakan dan merayap menyebar kesegenap arah. “
Swandaru tersenyum. Katanya “ Tidak ada yang perlu
dicemaskan di Sangkal Putung. “
“ Aku mengerti Swandaru. Tetapi keadaan yang meningkat
semakin gawat, memerlukan peningkatan kewaspadaan “
berkata Kiai Gringsing.
“ Kakang “ tiba-tiba terdengar Pandan Wangi menyela “
maksud Kiai Gringsing adalah, bahwa kita harus selalu
mengingat kemungkinan bersiaga, tetapi kadang-kadang ada
satu dua hal yang dapat terjadi diluar perhitungan kita. “
Swandaru tertawa pendek. Tetapi iapun kemudian
menjawab “ Baiklah. Aku akan memperingatkan khususnya
para pengawal untuk lebih berhati-hati. Aku mengerti, bahwa
kesiagaan Sangkal Putung masih dapat ditingkatkan. “
“ Kecuali kesiagaan Swandaru “ berkata Kiai Gringsing “
kau harus memperingatkan semua penghuni di Sangkal
Putung untuk tidak segera mempercayai keterangan apapun
juga, apalagi yang sumbernya belum jelas. Ini merupakan
senjata yang sangat berbahaya bagi mereka yang ingin
memperlemah kedudukan Mataram. “
Swandaru mengangguk-angguk, iapun telah mendengar
dari Agung Sedayu tentang hal tersebut di Tanah Perdikan
Menoreh. Kepada gurunya ia berkata “ Aku akan
melakukannya guru. Untunglah bahwa orang-orang Sangkal
Putung lebih mempercayai aku daripada orang lain. “
“ Sokurlah “ berkata Kiai Gringsing “ mudah-mudahan tidak
terjadi sesuatu di Sangkal Putung, Jati Anom dan Tanah
Perdikan Menoreh. Bahkan di Mataram dan seluruh
wilayahnya. Sementara itu kekosongan di Pajang-pun segera
dapat diisi tanpa menimbulkan persoalan baru.
“ Sebagian tergantung dari kebijaksanaan Panembahan
Senapati “ berkata Swandaru “ jika Panembahan Senapati
memerintah dengan bijaksana, maka tentu tidak akan terjadi
perlawanan dimanapun juga. Termasuk pemecahan
kekosongan di Pajang. “
“ Ya “ desis Kiai Gringsing “ tetapi kadang-kadang
kebijaksanaan seseorang berbeda dengan orang lain. Yang
dianggap bijaksana oleh Panembahan Senapati, mungkin
justru sebaliknya dengan anggapan Panembahan Madiun
“ Tetapi yang berwenang membuat kebijaksanaan tentang
kekosongan di Pajang bukanlah Panembahan Senapati? “
bertanya Swandaru.
Kiai Gringsing mengangguk. Jawabnya “ Demikianlah
seharusnya. Jika ada sikap lain itulah yang dapat
menimbulkan persoalan. “
“ Mataram cukup kuat. “ desis Swandaru.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah
menduga bahwa sikap Swandaru akan berbeda dengan sikap
Agung Sedayu yang lebih banyak menelusuri kemungkinan
penyelesaian dengan baik. Bukan dengan perhitungan
keseimbangan kekuatan saja.
Tetapi Kiai Gringsing tidak menjawab.
Dalam pada itu, maka Kiai Gringsingpun justru berkata “
Nah, sebaiknya kalian beristirahat. Bukankah kalian akan
bermalam disini? “
Yang menjawab adalah Pandan Wangi “ Ya Kiai. Kami
akan bermalam disini, meskipun hanya satu malam.
Swandaru tertawa mendengar jawaban isterinya. Katanya “
Pandan Wangi memang memerlukan suasana yang lain dari
suasananya sehari-hari di Sangkal Putung. “
Kiai Gringsingpun tersenyum. Iapun kemudian mempersilahkan
tamu-tamunya untuk menikmati hidangan yang
telah disuguhkan oleh para cantrik.
Namun dalam pada itu Agung Sedayu berkata “ Guru, jika
Guru merasa terlalu letih duduk bersama kami, silah-kan guru
beristirahat pula.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Aku
justru merasa letih berbaring dan merenung didalam bilik itu.
Disini aku mempunyai banyak kawan berbincang. Tetapi
barangkali Sekar Mirah dan Pandan Wangi ingin membenahi
pakaiannya atau barangkali keperluan yang lain. Atau kalian
bersama-sama ingin berjalan-jalan melihat lihat padepokan
kecil ini? Kita mempunyai banyak waktu untuk berbincangbincang.
Dalam saat-saat seperti ini rasa-rasanya aku ingin
banyak berbicara dengan kalian. Tetapi sudah barang tentu
tidak perlu sekarang. Jika kalian bermalam disini, maka malam
nanti kita dapat berbicara panjang. “
“ Ya Guru “ jawab Agung Sedayu “ rasa-rasanya kami
memang ingin melihat-lihat padepokan ini. “
“ Marilah, aku antar kalian ke kebun yang oleh para cantrik
ditanami berbagai macam sayuran, serta belum-bang tempat
para cantrik memelihara ikan. “ berkata Kiai Gringsing.
“ Tetapi sebaiknya Kiai tidak terlalu banyak bergerak “
berkata Agung Sedayu.
Kiai Gringsing tersenyum sambil menjawab “ Tidak apaapa.
Aku memang perlu berjalan-jalan. Akupun melakukannya
setiap pagi pagi sebelum matahari terbit. Jika aku berada
didalam bilik saja, maka rasa-rasanya sakitku
justru bertambah parah. “
Agung Sedayu memang tidak dapat mencegahnya. Karena
itu, maka merekapun telah meninggalkan pendapa. Diiringi
oleh dua orang cantrik yang sehari-hari merawat Kiai
Gringsing, mereka berjalan-jalan menuju ke kebun belakang.
Meskipun Kiai Gringsing nampak letih, tetapi wajahnya
menunjukkan kegembiraannya. Bahkan ia berceritera
tentang usahanya untuk mencoba mengembangkan jenis
pohon buah-buahan yang banyak digemari orang. Bukan saja
jika buahnya sudah matang, tetapi sebelum matangpun
buahnya dapat dipergunakan untuk masak.
Ketika mereka melihat bagian kebun yang ditumbuhi oleh
puluhan pohon nangka, serta buahnya yang lebat melekat di
batangnya, maka para murid Kiai Gringsing itu menganggukangguk
sambil mengagumi ketekunan para cantrik
memelihara pohon-pohon itu. Bahkan seluruh tanaman yang
ada di kebun dan di halaman. Sementara itu dibagian lain para
cantrik juga menanam pohon sukun yang telah menjadi
semakin besar dan pada saat itu sedang berbuah lebat.
Tetapi agaknya Kiai Gringsing tidak dapat mengantar tamutamunya
berkeliling seluruh lingkungan padepokan. Karena
itu, maka iapun telah membawa tamu-tamunya itu ke pinggir
belumbang. Sebuah gubug kecil telah didirikan di pinggir
belumbang itu.
“ Nah “ berkata Kiai Gringsing “ aku akan menunggu kalian
disini. Jika kalian masih akan berjalan-jalan di padepokan ini,
biarlah cantrik ini mengantarkan kalian melihat-lihat. “
“ Baik Guru “ jawab Agung Sedayu “ silahkan Guru
beristirahat digubug ini. “
Hampir setiap hari aku berada disini di sore hari sambil
melihat-lihat cantrik yang memelihara tanaman dan ikan di
belumbang itu “ jawab Kiai Gringsing.
Dalam pada itu, maka Agung Sedayu dan Swandaru suami
isteri serta Glagah Putih telah melanjutkan penglihatan
mereka atas padepokan kecil itu diantar oleh seorang cantrik.
Mereka tidak untuk pertama kali melihat-lihat halaman dan
kebun di padepokan itu. Mereka telah melakukannya
berulang kali. Namun setiap kali mereka melihat-lihat kebun
itu, rasa-rasanya mereka melihat jenis-jenis tanaman yang
baru.
Di sela-sela batang ketela pohon yang subur, mereka
melihat lanjaran kacang yang berjajar panjang. Pohon-pohon
kacang panjang merambat di lanjaran bambu seakan-akan
menggapai. Di beberapa batang telah bergayutan kacang
panjang yang masih muda.
Sedangkan di bagian lain mereka melihat kebun bayam
yang hijau segar.
“ Kita akan melihat sanggar “ tiba-tiba saja Swandaru
berdesis.
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Katanya “ Apakah
kita tidak minta ijin kepada Guru lebih dahulu? “
“ Bukankah kita hanya melihat-lihat saja? “ jawab
Swandaru.
Agung Sedayu termangu-mangu. Iapun kemudian berpaling
kepada cantrik yang mengantar mereka. Namun cantrik itu
tersenyum sambil berkata “ Jika hanya ingin melihat-lihat,
silahkan. Aku akan mengantar kalian. Bukankah kalian murid
Kiai Gringsing yang terpercaya? “
“ Terima kasih “ sahut Agung Sedayu “ kami memang
hanya akan melihat-lihat saja. Kami pernah berlatih ditempat
itu bersama Guru. Dan tiba-tiba saja memang timbul keinginan
untuk melihatnya. “
Demikianlah, maka merekapun telah mengitari kebun
belakang dan mendekati longkangan diantara beberapa barak
kecil di padepokan itu. Diantar oleh seorang cantrik mereka
memasuki satu diantara bangunan yang ada di padepokan itu.
Sanggar.
Demikian mereka membuka pintu dan melangkah masuk,
maka jantung mereka terasa berdebar-debar. Sanggar itu
nampak teratur rapi. Namun merekapun melihat, bahwa
agaknya sanggar mereka itu sudah agak lama tidak
dipergunakan.
“ Apakah Guru sudah lama tidak mempergunakan sanggar
ini? “ bertanya Agung Sedayu.
Cantrik itu mengangguk. Katanya “ Sudah lebih dari
sepuluh hari. Sejak Guru merasa badannya tidak enak. Tetapi
kami diperkenankan mengadakan latihan-latihan khusus disini.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun timbul juga
pertanyaan dihatinya “ Jika Guru memberikan latihan-latihan
kecil kepada para cantrik, sampai sejauh manakah ilmu yang
diberikan kepada mereka. “
Tetapi pertanyaan itu hanya dapat diberikan kepada Kiai
Gringsing sendiri.
Sejenak mereka berada didalam Sanggar itu. Mereka telah
melihat-lihat benda-benda yang ada didalamnya, serta
berbagai jenis senjata yang tersangkut didinding sanggar.
Meskipun tempat itu sudah lebih dari sepuluh hari tidak
dipergunakan oleh Kiai Gringsing, namun semua yang ada di
sanggar itu nampak bersih dan terawat. Sedangkan para
cantrik agaknya hanya mempergunakan bagian-bagian yang
paling sederhana dari banjar itu tanpa merubah tatanannya.
Swandarupun merenungi beberapa jenis senjata yang ada
didalam sanggar itu. Namun bagi Swandaru tidak ada senjata
yang lain yang sesuai kecuali cambuknya. Selain karena sejak
semula ia telah mempergunakan senjata jenis itu, juga karena
Gurunyapun disebut orang bercambuk, ma-jka cambuknya
telah disulaminya pula dengan karah-karah baja sehingga
cambuk Swandaru memang merupakan cambuk yang sangat
berbahaya sebagai senjata. Ujudnya menjadi agak berbeda
dengan cambuk Agung Sedayu, karena cambuk Agung
Sedayu tidak mengalami perubahan apa-apa sebagaimana
diterimanya dari gurunya.
Sekar Mirah dan Pandan Wangipun memperhatikan
sanggar itu dengan saksama. Namun mereka berduapun telah
mempunyai ciri khusus pada jenis senjata yang mereka
pergunakan. Sebagai murid Sumangkar, maka Sekar Mirah
tidak tertarik kepada jenis senjata apapun selain tongkat
bajanya. Sedangkan Pandan Wangi terbiasa mempergunakan
sepasang pedang. Namun yang untuk sementara pedangpedangnya
sedang diletakkan.
Yang terpukau adalah Glagah Putih. Sanggar dari
padepokan kecil itu nampaknya memang lengkap sekali.
Didalam sanggar itu seseorang dapat berlatih berbagai
macam gerakan yang diperlukan. Didalam sanggar itu
terdapat palang untuk meningkatkan keseimbangan.
Kemudian patok-patok yang ditanam tegak dan tidak sama
tinggi. Bahkan tali ijuk yang terentang agak tinggi. Beberapa
bambu yang bersilang untuk mengadakan latihan-latihan
meringankan tubuh. Pasir didalam kotak dan di kotak lain
terdapat kerikil lemut dan di kotak yang lain lagi terdapat kerikil
tajam dari pecahan batu. Disatu sudut terdapat perapian yang
padam dan tempayan tembaga tempat air bersih. Di dinding
sanggar selain senjata juga terdapat beberapa kerudung
kepala yang tidak berlubang bagi penglihatan.
Hampir diluar sadarnya Agung Sedayu bertanya kepada
cantrik itu “ Apakah kalian pernah mempergunakan kerudung
ini dalam latihan? “
Cantrik itu mengangguk kecil. Jawabnya “ Ya. Kami
memang pernah mengadakan latihan dengan kepala tertutup.
“
Agung Sedayu dengan cermat mengamati kerudung itu,
yang ternyata justru terdapat lubang diarah telinga. Dengan
nada rendah ia berkata “ Satu latihan untuk per-tempuran
malam yang sangat baik. Dengan demikian kalian telah
melatih pendengaran kalian untuk mengatasi kegelapan. “
Agung Sedayu sendiri tidak pernah mendapat latihan
dengan cara itu. Tetapi Kiai Gringsing langsung membawanya
terjun ke medan dimalam hari yang pekat. Atau disanggar
yang tertutup semua lubang-lubang cahayanya. Tetapi untuk
berlatih beberapa orang bersama-sama di setiap saat dan
barangkali diluar sanggar dan di siang hari kerudung itu
memang berarti sekali.
Glagah Putih yang setiap kali mendapat kesempatan untuk
melihat-lihat sanggar itu ternyata tidak pernah merasa jemu. Ia
selalu memperhatikan semua warga yang ada didalam
sanggar itu dengan seksama.
Setelah puas mereka melihat-lihat, maka merekapun
kemudian mengajak cantrik itu untuk keluar dari sanggar dan
kembali ke belumbang.
Kiai Gringsing masih berada di gubug kecil itu. Ia duduk
bersandar dinding, ditunggu oleh seorang cantrik. Ketika ia
melihat tamu-tamunya mendatanginya, maka iapun tersenyum
sambil beringsut menepi.
“ Kau sudah melihat seluruhnya? “ bertanya Kiai Gringsing.
Yang menjawab adalah cantrik yang mengantarkan “ Baru
sebagian Kiai. Tetapi mereka ternyata ingin melihat-lihat
sanggar. “
Kiai Gringsing tertawa. Katanya “ Sanggar itu masih seperti
beberapa saat yang lalu, ketika kalian melihatnya yang
terakhir kalinya. “
“ Kiai mendapatkan satu cara baru untuk melatih para
cantrik bertempur dimalam hari “ berkata Swandaru.
“ Hanya untuk mempermudah pekerjaanku, agar aku tidak
perlu keluar dari bilikku di malam hari “ berkata Kiai Gringsing.
Lalu “ Tetapi bagaimanapun juga adalah lebih baik jika kita
berlatih dalam keadaan sebenarnya. Pengaruh bunyi disekitar
kita, suara-suara malam dan siang adalah
jauh berbeda, sehingga yang dilakukan oleh para cantrik itu
hanya sekedar menutup kekurangan.
“ Satu cara yang menarik “ berkata Agung Sedayu “ tanpa
harus keluar di malam hari sebagaimana Guru katakan.
Setidak-tidaknya sebagai pendahuluan dari latihan yang
sebenarnya. “
“ Ya. Aku memang sudah terlalu tua dan lemah, sehingga
aku harus lebih banyak menghemat tenaga. “ berkata Kiai
Gringsing “ apalagi sekarang, setelah terasa kesehatanku
menjadi sangat menurun. “
Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak
mengatakan sesuatu.
Dalam pada itu, maka Kiai Gringsingpun kemudian berkata
“ Baiklah. Jika kalian masih ingin melihat-lihat, lakukanlah. Aku
akan beristirahat dahulu. Rasa-rasanya angin bertiup semakin
kencang. “
“ Silahkan Guru “ jawab Agung Sedayu “ kami akan berada
disini sampai besok sehingga waktu kami masih cukup. “
“ Agaknya maka sebaiknya kalianpun beristirahat pula di
bilik yang sudah disediakan oleh para cantrik. Berbuatlah
sebagaimana di rumah sendiri. Padepokan ini juga padepokan
kalian semuanya. “
“ Ya Guru. Kami memang merasa dirumah sendiri. “
berkata Agung Sedayu.
Kiai Gringsing tersenyum. Iapun kemudian telah
meninggalkan gubug ditepi kolam itu dan kembali ke
bangunan induk padepokan kecilnya, diantar oleh seorang
cantrik, sementara cantrik yang lain masih menemani para
tamu murid Kiai Gringsing beserta isteri mereka dan Glagah
Putih.
Tetapi tamu-tamu Kiai Gringsing itu juga tidak terlalu lama
melihat-lihat belumbang yang menyimpan ikan-ikan
yang besar. Merekapun kemudian telah diantar oleh para
cantrik ke dalam bilik mereka masing-masing, sementara
Glagah Putih akan berada di bilik para cantrik.
Ternyata bahwa cantrik-cantrik muda ada juga yang sebaya
dengan Glagah Putik Dengan demikian, maka Glagah Putih
pun rasa-rasanya telah mendapat kawan yang sesuai. Mereka
sempat membicarakan tentang pekerjaan para cantrik di
kebun, di sawah dan pategalan, namun juga para cantrik yang
memelihara ikan di belumbang. Ternyata bahwa Glagah Putih
memang tertarik kepada cara para cantrik memelihara ikan.
Demikianlah, maka hari itu, kedua murid Kiai Gringsing
suami isteri serta Glagah Putih sempat menikmati tata cara
kehidupan di padepokan kecil itu. Satu suasana yang berbeda
dari suasana hidup mereka sehari-hari. Meskipun bukan
berarti bahwa di padepokan yang terasa tenang dan damai itu
tidak ada kerja. Karena para cantrik ternyata juga bekerja
keras. Di kebun, di sawah dan pategalan serta di semua
lingkungan mereka yang lain termasuk di dalam sanggar dan
tempat-tempat latihan yang lain.
Namun demikian, suasananya memang tidak seperti
suasana di Kademangan Sangkal Putung atau di Tanah
Perdikan Menoreh. Di padepokan rasa-rasanya hidup mereka
dibatasi oleh lingkungan kecil itu saja. Meskipun bukan berarti
bahwa padepokan Kiai Gringsing tertutup dari lingkungan.
Mereka mempunyai banyak jalur hubungan dengan
padukuhan-padukuhan disebelahnya. Para cantrik itu telah
menukarkan hasil sawah dan pategalan mereka dengan
kebutuhan-kebutuhan lain. Namun para cantrik itu tidak
memerlukan alat-alat pertanian dari luar lingkungan
padepokan, karena ternyata ada diantara para cantrik itu yang
memiliki ketrampilan pande besi, sehingga mereka dapat
membuat alat-alat dari besi itu sendiri.
Meskipun ada juga para cantrik yang pandai menenun,
tetapi hasilnya sama sekali tidak memenuhi kebutuhan
sebagaimana alat-alat pertanian. Karena itu, maka padev
pokan itu masih memerlukan bahan pakaian dari luar
padepokan.
Agung Sedayu dan Swandaru yang mengamati padepokan
itu merasa betapa banyak kemajuan yang telah dicapai oleh
penghuninya. Kemudian dari sebuah padepokan takarannya
memang berbeda dari kemajuan yang dikenal sebuah
Kademangan dan Tanah Perdikan. Apalagi ketika Agung
Sedayu dan Swandaru melihat, bahwa para cantrik juga
menekuni ilmu yang lain kecuali olah kanuragan.
Di dalam ruangan yang khusus, ternyata para cantrik juga
belajar membaca dan menulis. Mereka juga mempelajari
beberapa jenis pengetahuan yang berhubungan dengan
keahlian Kiai Gringsing. Obat-obatan dan pengetahuan
tentang urat syaraf. Meskipun tidak terlalu mendalam tetapi
mereka memiliki pengetahuan dasar yang dapat mereka
pergunakan untuk memberikan sekedar pertolongan kepada
orang-orang sakit, terluka dan juga yang terkena gangguan
urat dan syaraf karena terjatuh, terkilir dan sejenisnya.
Perhatian Glagah Putih ternyata lebih banyak kepada
Sanggar padepokan itu. Di sore hari, ditemani seorang cantrik
Glagah Putih telah berada di sanggar itu lagi. Ia telah
mencoba berbagai macam senjata. Ia masih juga
memperbandingkan dengan senjatanya sendiri yang terlalu
khusus. Ikat pinggang yang memang mempunyai watak yang
khusus. Iapun telah mencoba menilai kemampuannya sendiri
tentang keseimbangan. Ilmu meringankan tubuh dan
ketrampilan kaki.
Diluar sadarnya Glagah Putih telah berlatih dengan penuh
minat karena di sanggar itu tersedia berbagai macam alat
yang sangat menarik perhatiannya.
Adalah diluar sadarnya pula, bahwa cantrik yang
mengantarkannya itu memperhatikannya dengan penuh
kekaguman. Cantrik itu memang tidak mengira bahwa Glagah
Putih yang masih muda itu mampu menguasai ilmu
yang sudah sedemikian tinggi. Keseimbangan tubuhnya,
ilmu meringankan tubuh, ketrampilan tangan dan kaki, serta
kemampuan yang lain yang jarang dilihatnya diantara orangorang
berilmu yang pernah ditemuinya. Bahkan meskipun
cantrik itu yakin akan kelebihan Kiai Gringsing, namun orang
tua itu hampir tidak pernah menunjukkannya kepada para
cantrik itu.
Glagah Putih berhenti ketika sanggar itu menjadi semakin
suram. Agaknya matahari telah turun kepunggung bukit
disebelah Barat. Karena itu, maka iapun telah menghentikan
latihan-latihannya.
“ Luar biasa “ desis cantrik yang mengantarkannya “
bagaimana mungkin kau dapat melakukannya. “
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun iapun
kemudian menarik nafas sambil berkata “ Bukan apa-apa. Aku
hanya mengulang latihan-latihan yang pernah diberikan
kepadaku. Masih sangat dasar. “
Tetapi pertanyaan cantrik itu tidak diduganya “ Tetapi aku
melihat unsur-unsur gerak yang berbeda dari unsur-unsur
gerak yang diajarkan oleh Kiai Gringsing. “
***
API DI BUKIT MENOREH SERI III
JILID 228
GLAGAH PUTIH termangu-mangu sejenak. Ternyata
cantrik itu sudah mampu memberikan dasar-dasar ilmu dari
perguruan yang berbeda. Glagah Putih memang tidak
mempelajari ilmu dari jalur perguruan Kiai Gringsing. Tetapi
dari jalur perguruan Ki Sadewa meskipun juga lewat Agung
Sedayu. Dilengkapi dengan ilmu yang disadapnya dari Ki
Jayaraga.
Dengan nada rendah ia berkata, “ Aku memang
mempunyai jalur perguruan yang berbeda.”
“ Tetapi bukankah kau murid kakang Agung Sedayu?”
bertanya cantrik itu.
“ Itulah kelebihan kakang Agung Sedayu. Meskipun sudah
barang tentu bahwa terdapat juga pengaruh dari ilmu yang
dimilikinya dari Kiai Gringsing, tetapi yang utama yang
diberikan kepadaku adalah jalur ilmu yang lain yang juga
dikuasainya. Tetapi sebenamya tidak akan banyak bedanya.
Sumber ilmu itu hanya merupakan pokok dasar yang
kemudian akan berkembang sesuai dengan pribadi kita
masing-masing serta pengaruh yang kita sadap justru untuk
memperkaya unsur-unsur yang ada didalam ilmu dasar kita,
asal watak dan sifatnya tidak saling bertentangan dengan
dasar kepribadian dan watak ilmu yang telah kita miliki
dasarnya itu.” berkata Glagah Putih.
Cantrik itu mengangguk-angguk. Ia memang melihat
betapa kayanya unsur gerak yang nampak pada tata gerak
Glagah Putih. Kekayaan unsur yang dikuasainya serta
kemampuan mengurai dan mengambil sikap pada satu
keadaan yang khusus, merupakan modal yang sangat
berbahaya. Sementara itu, cantrik itupun pernah mendengar
bahwa Glagah Putih sudah memiliki kemampuan menyadap
kekuatan getaran alam yang ada disekitarnya, mengendapkan
didalam dirinya dan kemudian melontarkannya sebagai bagian
dari ilmunya itu. Tetapi ketika ia menyaksikan ketrampilan
gerak tangan dan kakinya, maka kekagumannya menjadi
semakin meningkat.
Namun haripun menjadi semakin suram. Karena itu, maka
Glagah Putihpun kemudian meninggalkan sanggar itu dan
pergi ke pakiwan.
Ketika senja kemudian turun, maka Glagah Putihpun telah
duduk diruang dalam barak induk padepokan itu bersama
Agung Sedayu dan Swandaru beserta isteri mereka. Kiai
Gringsingpun telah duduk pula diantara mereka. Sementara
itu para cantrikpun telah menghidangkan makan malam yang
hangat.
Beberapa saat kemudian, maka para cantrikpun telah
menyingkirkan mangkuk-mangkuk serta sisa makanan dan
membawanya ke dapur. Sedangkan mereka yang ada diruang
dalam masih juga sempat berbincang-bincang beberapa saat.
Bahkan sekah-sekali terdengar suara tertawa menyelingi
pembicaraan mereka.
Kiai Gringsing yang sedang sakit itupun nampak menjadi
cerah dan gembira. Kiai Gringsingpun telah memanggil
beberapa orang cantrik yang tertua untuk ikut serta
berbincang-bincang dengan sekali sekali terdengar gurau
yang segar.
Namun, ketika malam menjadi semakin dalam, maka
agaknya Kiai Gringsingpun menjadi letih. Tetapi ternyata
bahwa orang tua itu tidak segera meninggalkan ruang dalam.
Bahkan katanya kemudian kepada Sekar Mirah, Pandan
Wangi dan Glagah Putih, “ Beristirahatlah. Biarlah aku
berbicara dengan Agung Sedayu dan Swandaru saja.”
Pandan Wangi dan Sekar Mirah saling berpandangan.
Namun merekapun segera mengerti, bahwa Kiai Gringsing
ingin berbicara dengan Agung Sedayu dan Swandaru sebagai
murid-muridnya. Bahkan para cantrik yang ada di ruang dalam
itupun oleh Kiai Gringsing telah diminta pula untuk
meninggalkan ruangan.
Dengan demikian, maka Glagah Putihpun telah beringsut
meninggalkan tempat itu pula bersama Pandan Wangi dan
Sekar Mirah. Namun mereka tidak segera masuk kedalam bilik
mereka masing-masing. Tetapi mereka telah bersama-sama
berada di serambi. Ternyata bahwa mereka bertiga menjadi
gelisah pula sebagaimana Agung Sedayu dan Swandaru,
sehingga merekapun telah berbincang tentang apa saja yang
akan dibicarakan oleh Kiai Gringsing dengan kedua orang
muridnya itu.
Dalam pada itu, yang tinggal bersama Kiai Gringsing
kemudian adalah tinggal Agung Sedayu dan Swandaru.
Keduanya yang menjadi berdebar-debar itu menunggu, apa
yang akan dikatakan oleh Kiai Gringsing yang sedang sakit itu.
Setelah hening sejenak, maka Kiai Gringsing itupun
kemudian telah berkata, “ Anak-anakku. Sebagaimana kalian
ketahui, bahwa aku semakin lama telah menjadi semakin tua.
Sejak kita dipertemukan oleh Yang Maha Agung, maka aku
memang sudah tua. Apalagi sekarang. Karena itu, maka
kalianpun tahu, kemana arah perjalananku sekarang ini.”
Agung Sedayu dan Swandaru hanya dapat menarik nafas
dalam-dalam sementara suara Kiai Gringsingpun menjadi
semakin berat. “ Rencana itu, maka aku merasa berbangga
sekali, bahwa saat ini aku dapat bertemu dengan kalian
berdua.”
Kiai Gringsing berhenti sejenak. Iapun menarik nafas
dalam-dalam seolah-olah udara malam di padepokan itu akan
dihirupnya semuanya. Kemudian terdengar suaranya
melemah, “ Betapapun juga tingkat ilmu seseorang, tetapi
pada saatnya kita tidak akan dapat ingkar lagi. Karena itu
sikap pasrah bukannya satu sikap yang lemah dan putus-asa.
Tetapi kita memang tidak akan dapat menentang arus
kehidupan. Bahkan akhirnya kita akan sampai ke muara.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Namun
Swandaru telah mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak
mengatakan sesuatu. Bahkan kepalanyapun kemudian
tertunduk kembali.
“ Anak-anakku.” berkata Kiai Gringsing, “ saat-saat seperti
itu tentu akan datang juga kepadaku. Bahkan kelak juga
kepada kalian. Tetapi kalian masih muda. Menurut
perhitungan lahiriah, maka akulah yang akan lebih dahulu
sampai.”
“ Tetapi Guru.” tiba-tiba saja Swandaru berdesis, “ apakah
kita akan menyongsong saat-saat yang demikian itu dengan
berlutut dan tangan bersilang serta kepala menunduk?”
“ Jika kita memang telah sampai kehutan, betapa kita
berusaha menentangnya, itu tidak berarti sama sekali. Seperti
yang pernah aku katakan, bahwa saat itu akan datang tanpa
memperhatikan apakah kita setuju atau tidak setuju. Sama
sekali bukan berarti bahwa kita tidak berusaha. Tetapi
sekarang aku akan berkata dengan tegas, bahwa segala
usaha akan sia-sia. Kita tidak mempunyai wewenang untuk
menentukan, apakah usaha kita akan berhasil atau sia-sia.
Bahkan jika kita menentang kesia-siaan itu, maka kita akan
kehilangan keseimbangan jiwa. Kita justru akan semakin
menderita karenanya.”
Swandaru mengerutkan dahinya. Namun ia sama sekali
tidak berani menentang sikap gurunya yang nampaknya
menjadi keras itu. Jauh berbeda dengan sikapnya disaat-saat
ia datang.
Sejenak kemudian maka Kiai Gringsing itupun berkata
selanjutnya, “ Karena itu, anak-anakku. Akupun tidak akan
menentang saat itu datang. Bahkan aku ingin mempersiapkan
diri sebaik-baiknya menjelang saat itu. Aku tidak ingin bahwa
pada saat terakhir aku digelisahkan oleh persoalan-persoalan
yang aku anggap belum siap ditinggalkan.”
“ Guru.” desis Swandaru.
Tetapi Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “ Tidak ada
pilihan lain Swandaru. Di waktu yang tinggal sedikit ini
seharusnya kita tidak menyia-nyiakan waktu kita itu untuk
melakukan tindakan-tindakan yang tidak berarti sama sekali.
Lebih baik kita berbenah diri dan melakukan yang paling
berarti bagi kita. Bukan satu sikap putus asa Swandaru.”
“ Guru.” suara Swandaru tersendat, “ tetapi bukankah kita
tidak tahu kapan hal itu akan terjadi?”
“ Ya.” jawab Kiai Gringsing, “ kita memang tidak tahu.
Tetapi justru karena itu, maka kita tidak boleh terlambat.”
“ Tetapi bagaimana jika saat itu datang dalam sepuluh atau
duapuluh tahun lagi, sementara kita tenggelam dalam
persiapan bagi satu masa yang masih sangat jauh itu?”
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Kau
masih muda Swandaru. Namun bagaimanapun juga,
kesiagaan itu harus ada didalam diri kita. Saat itu dapat
datang kapan saja tanpa kita ketahui. Apalagi bagi orang yang
sudah setua aku ini. Menurut perhitungan lahiriah seperti yang
sudah aku katakan, bahwa saat itu akan datang tidak terlalu
lama lagi.”
Swandaru mengatupkan giginya rapat-rapat. Ada sesuatu
yang bergejolak didadanya. Tetapi ia memang tidak berani
menentang pendapat Kiai Gringsing itu. Namun karena itu,
maka dadanyapun rasa-rasanya justru menjadi sesak. Yang
dikatakan oleh gurunya itu kurang sesuai dengan
pendapatnya. Kepada dirinya sendiri ia berkata, “ Seharusnya
kita tidak tenggelam dalam laku yang tidak berarti itu. Jika
hidup dan mati itu tidak dapat kita rencanakan, maka
seharusnya kita tidak mempedulikannya. Kita melakukan apa
yang baik menurut penilaian kita tanpa dibayangi oleh
perasaan yang kalut seperti Guru itu.”
Tetapi Swandaru tidak mengucapkannya. Bahkan
kepalanya justru telah tertunduk. Untuk beberapa saat mereka
terdiam. Seakan-akan mereka sedang melihat kedalam diri
mereka masing-masing.
Baru sejenak kemudian Kiai Gringsing itupun berkata, “
Anak-anakku. Karena itulah aku merasa gembira sekali,
bahwa kalian berada disini pada saat yang penting ini. Aku
memang ingin berkemas, agar aku terbebas dari beban yang
dapat mengganggu perasaanku jika aku harus menempuh
perjalanan jauh itu.”
Swandaru berusaha untuk menahan diri agar ia tidak
membantah kata-kata gurunya yang barangkali akan dapat
membuat gurunya itu tersinggung. Sementara itu Agung
Sedayu ternyata berpendapat lain. Ia melihat gurunya sebagai
seorang yang memang telah mempersiapkan diri menghadapi
ujung perjalanan hidup dan akan turun ke sebuah perjalanan
yang baru. Dilihatnya, gurunya seakan-akan sedang berbenah
diri sehingga pada saatnya tidak ada lagi yang dapat
membuatnya cemas dan ragu-ragu. Gurunya akan dapat
melangkah dengan langkah yang tetap dan pasti serta dada
yang lapang. Ia benar-benar telah selesai.
Dalam pada itu, Kiai Gringsingpun berkata pula, “
Sebagaimana kau ketahui, ada beberapa hal yang perlu aku
bicarakan dengan kalian. Dalam ketuaanku ini, maka banyak
tugas-tugas yang tidak dapat lagi aku lakukan dengan baik.
Aku merasa terlalu letih untuk memimpin padepokan ini,
menilai pekerjaan para cantrik. Memberikan latihan-latihan
kepada mereka, melihat-lihat sawah dan pategalan. Karena
itu, aku memerlukan seseorang yang dapat melakukannya
dengan baik. Sementara itu, aku tahu bahwa Agung Sedayu
dan Swandaru masing-masing telah mempunyai tugas yang
cukup berat. Meskipun demikian aku ingin menawarkan
kepada kalian berdua, siapakah yang bersedia untuk
membantu aku memimpin padepokan ini.”
Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan
sejenak. Tetapi agaknya keduanya memang tidak akan dapat
melakukannya. Sebagaimana dikatakan oleh Kiai Gringsing,
bahwa kedua orang muridnya itu telah memiliki tugasnya
masing-masing yang akan sulit sekali ditinggalkannya.
Karena itu, maka Kiai Gringsing yang mengetahui perasaan
kedua orang muridnya itupun berkata, “ Jangan segan-segan
untuk mengatakan kemungkinan bagi kalian masing-masing.
Aku lebih senang mendengarkan kalian berkata yang
sebenarnya kepadaku sehingga dengan demikian aku akan
dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang tepat.”
“ Ampun Guru.” berkata Agung Sedayu, “ bukannya aku
ingin mengingkari tugas seandainya Guru memang
membebankan tugas itu kepadaku. Namun aku mohon Guru
mempertimbangkan tugas-tugasku sekarang yang masih
belum mapan aku lakukan di Tanah Perdikan Menoreh, justru
pada saat yang gawat ini.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling
kepada Swandaru, maka Swandarupun berkata, “ Guru.
Ayahku telah tua pula meskipun belum setua Guru. Karena itu,
maka Kademangan Sangkal Putung memang memerlukan
seseorang yang dapat menanganinya. Itulah sebabnya, maka
aku tidak dapat meninggalkan tugas-tugas sebagai anak
Demang di Sangkal Putung itu.”
Kiai Gringsingpun mengangguk-angguk pula. Katanya, “
Aku memang sudah menduga, bahwa kalian tidak akan dapat
meninggalkan kesibukan kalian masing-masing. Bagiku
memang tidak ada bedanya. Apakah kalian bekerja di Tanah
Perdikan Menoreh, atau di Kademangan Sangkal Putung atau
disini. Yang penting kalian telah berbuat sesuatu yang
akibatnya akan memberikan arti yang baik bagi sesama.
Dimanapun kita berada. Yang penting bagiku adalah
pernyataan kalian itu. Sebab bagiku, kalian berdua adalah
orang-orang yang terdekat yang paling berhak mewarisi
padepokan kecil ini, meskipun tidak berarti apa-apa.
Padepokan kecil yang tidak mempunyai sesuatu yang dapat
dibanggakan.”
Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “ Dengan pernyataan
kalian itu, maka aku akan dapat mengambil langkah yang
menurut penilaianku paling baik. Meskipun demikian aku
masih ingin mempertimbangkannya dengan kalian berdua.”
Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Mereka
menunggu saja apa yang akan dikatakannya oleh gurunya.
Sementara itu, Kiai Gringsingpun berkata, “ Dengan
pernyataan kalian itu, maka bukankah mengandung
pengertian, bahwa kalian akan merelakan jika padepokan ini
akan dipimpin oleh seseorang?”
“ Seseorang?” bertanya Swandaru, “ maksud Guru, orang
lain akan hadir dalam perguruan Kiai Gringsing ini.”
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dengan nada
rendah iapun kemudian berkata, “ Belum seorangpun diantara
para cantrik yang dapat dibebani tanggung jawab atas
padepokan ini. Betapapun kecilnya padepokan ini, namun
agaknya diperlukan seseorang yang dapat memimpinnya
dengan baik dan wajar.”
“ Siapakah yang Guru maksud dengan seseorang itu?”
bertanya Swandaru.
Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Katanya
kemudian dengan nada rendah, “ Aku mempunyai beberapa
nama yang pantas aku sebutkan. Justru aku memang ingin
mendengar pertimbangan kalian sebagai orang-orang yang
paling berhak atas padepokan ini.”
Swandaru dan Agung Sedayu diam menunggu. Sementara
Kiai Gringsing kemudian berkata, “ Aku dapat menyerahkan
padepokan ini kepada angger Untara. Ia dapat memanfaatkan
padepokan ini bagi sebagian prajurit-prajurit tanpa merubah
ujud dan bentuk padepokan ini. Akupun dapat menyebut nama
Ki Widura. Meskipun aku tidak tahu, apakah ia bersedia
memimpin padepokan ini, tetapi jika pilihan kalian jatuh
kepadanya, aku akan mencoba menghubunginya.”
Agung Sedayu mengerutkan dahinya, namun Swandaru
terkejut mendengar pendapat gurunya itu. Bahkan ia telah
beringsut setapak maju. Dengan nada tinggi ia bertanya, “
Guru, apakah hal itu sudah Guru pertimbangkan dengan
masak.”
“ Aku sudah mempertimbangkannya sekarang bersama
kalian.” jawab Kiai Gringsing.
“ Aku sama sekali tidak sependapat jika padepokan ini akan
dipergunakan oleh para prajurit Mataram yang berada di Jati
Anom. Kedudukan padepokan ini akan berubah sama sekali.
Para cantrik akan kehilangan pribadinya sebagai seorang
cantrik di sebuah padepokan.” berkata Swandaru.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Namun iapun
kemudian bertanya, “ Bagaimana dengan Ki Widura?”
“ Ki Widura bukan murid Guru. Tidak ada jalur sama sekali
dari Guru yang sampai kepada Ki Widura. Apakah karena Ki
Widura itu paman kakang Agung Sedayu, maka ia dapat
dipertimbangkan untuk menggantikan kedudukan kakang
Agung Sedayu disini? Sementara itu sifat dan watak ilmu yang
dimiliki oleh Ki Widura sangat berbeda dengan ilmu yang Guru
ajarkan di padepokan ini.” jawab Swandaru pula.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun
bertanya kepada Agung Sedayu, “ Bagaimana pendapatmu,
Agung sedayu?”
Agung Sedayu termangu-mangu. Namun iapun kemudian
menjawab, “ Aku sependapat dengan adi Swandaru, bahwa
sebaiknya padepokan ini tidak diserahkan kepada kakang
Untara. Bukannya aku menolak untuk bekerja bersama
dengan para prajurit Mataram, tetapi bentuk padepokan ini
benar-benar akan berubah. Meskipun para prajurit itu tidak
berniat untuk merubahnya, namun tugas dan kedudukan
mereka akan membuat suasana padepokan ini menjadi lain.
Sedangkan dengan paman Widura aku ingin mendengar dari
Guru, apakah dasarnya bahwa Guru telah menyebut nama
paman Widura itu.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Katanya, “ Anakanakku.
Memang tidak ada orang yang lebih pantas dari kalian
untuk menerima limpahan kepemimpinan di padepokan ini.
Tetapi jika aku sebagai Guru memerintahkan salah seorang
diantara kalian melakukannya, maka aku adalah orang tua
yang telah mengekang perkembangan anak-anaknya.
Cakrawala masa depan kalian akan menjadi sempit dan kalian
akan terpisah dari meskipun tidak mutlak dari perkembangan
lingkungan yang lebih besar. Sementara itu kalian berdua
memang telah menyatakan bahwa kalian untuk waktu yang
dekat tidak akan dapat menghilangkan tugas kalian yang
sedang berkembang sekarang ini, sementara duri-duri yang
ditaburkan oleh beberapa orang di Madiun tengah menyusup
ke Mataram dan lingkungan disekelilingnya. Itulah sebabnya,
maka aku memerlukan seseorang disini. Seseorang yang aku
kenal sifat dan kebiasaannya. Kemampuannya dan tanggung
jawabnya.”
Namun Swandarulah yang dengan tergesa-gesa
menjawab, “ Tetapi bukankah itu tidak terbiasa dilakukan oleh
siapapun juga Guru. Seorang pemimpin padepokan
menyerahkan kepemimpinannya kepada orang lain.
Maksudku, bukan keluarga dari perguruan yang hidup di
padepokan itu.”
“ Aku mengerti Swandaru.” berkata Kiai Gringsing yang
kemudian telah terpotong oleh kata-kata Swandaru, “ Lalu
bagaimana pula dengan para cantrik yang selama ini
mendapat pengetahuan dan ilmu yang Guru berikan.
Sementara itu Ki Widura sendiri tidak pernah mempelajari ilmu
dari jalur yang sama.”
“ Aku telah memikirkannya Swandaru.” berkata Kiai
Gringsing, “ tetapi tolonglah, beri aku pemecahan. Jika kalian
berdua tidak sanggup dan hal itu akan dapat mengerti, lalu
bagaimana dengan padepokan ini? Bukankah lebih baik
dipimpin oleh seseorang yang meskipun datang dari luar jalur
perguruan tetapi sudah kita kenal dengan baik daripada
padepokan ini harus ditutup dan menyerahkan kembali para
cantrik kepada keluarganya? Sementara itu, para cantrik itu
berharap untuk mendapatkan ilmu yang jauh lebih baik dari
yang mereka miliki sekarang. Bukan saja kanuragan tetapi
juga pengetahuan yang lain. Mengenal huruf dan beberapa
jenis ilmu tentang kehidupan. Seandainya demikian, apakah Ki
Widura dapat melakukan sebagaimana dilakukan. Ki Widura
tentu mempunyai cara yang lain. Sementara itu aku yang tua
ini, untuk waktu yang meskipun terbatas akan dapat
membantu tugas itu. Tentu saja tugas-tugas yang ringan.
Mengajarkan para cantrik mengenali jenis tumbuh-tumbuhan,
jenis-jenis daun dan akar-akaran. Mungkin getah dan jenis
racun pada tumbuh-tumbuhan. Racun yang dapat mencelakai
seseorang dan racun yang dapat membantu seseorang. Atau
pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak memerlukan tenaga.”
“ Jika demikian, selama masih berada dibawah
pengawasan Guru, apakah Guru tidak dapat menunjuk salah
seorang cantrik yang tertua ilmu dan kemampuannya?”
bertanya Swandaru pula.
Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “ Sulit bagiku untuk
menyerahkan pimpinan kepada salah seorang diantara
mereka.”
“ Guru tidak usah menyerahkan pimpinan itu. Guru masih
tetap pemimpin disini. Namun orang itulah yang melakukan
tugas-tugas yang berat.” jawab Swandaru.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sambil
memandang ke nyala lampu minyak di ajuk-ajuk ia berkata, “
Aku ingin beristirahat. Aku sudah merasa terlalu letih.”
Swandaru masih akan menyahut. Namun Agung Sedayulah
yang berkata selanjutnya. “ Guru. Aku dapat mengerti, bahwa
pada satu saat, seseorang ingin mendapatkan kesempatan
yang bebas. Tanpa memberikan tugas apapun juga yang
membebani dirinya, meskipun bukan berarti berhenti sama
sekali.”
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Iapun kemudian
memandang Agung Sedayu dengan kerut di dahinya.
Sementara itu Agung Sedayupun berkata, “ Guru. Yang
penting bagi kita, bagaimana padepokan ini justru dapat
berkembang sesuai dengan warna yang telah diletakkan oleh
Guru. Sebenarnya siapapun yang akan memimpin padepokan
ini bukannya soal yang penting. Tetapi kesinambungan dari
alat yang telah diserahkan oleh Guru itulah yang perlu
diperhatikan Guru, sebenarnyalah paman Widura adalah,
orang luar bagi perguruan kita. Kecuali jika paman Widura
hanya sekedar membantu Guru, mengatur para cantrik,
menangani perkembangan padepokan ini secara lahiriah,
maksudku mengurusi pepohonan di kebun, parit-parit di
sawah dan pategalan, ikatan mereka untuk menepati
paugeran dan pengaturan-pengaturan lain yang diperlukan.
Namun Guru akan tetap memberikan tuntunan ilmu yang
manapun kepada para cantrik. Bukankah Guru dapat
menangkap maksudku dengan memilahkan tugas-tugas itu?
Memang Guru tidak akan dapat beristirahat sepenuhnya.
Namun sebagian dari tugas Guru telah dapat dilimpahkan
kepada orang lain. Sementara itu Guru tidak terikat untuk
melakukan tugas Guru setiap waktu. Para cantrik dapat
berlatih dengan teratur diantara mereka sendiri. Hanya pada
saat-saat penting saja Guru hadir diantara mereka.”
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada
rendah ia berkata, “ Memang itu merupakan satu cara. Tetapi
dengan demikian, aku masih harus melakukannya.”
“ Tetapi itu adalah sikap yang paling lunak Guru.” sahut
Swandaru, “ aku tidak akan berpikir demikian lunaknya
sebagaimana kakang Agung Sedayau. Tetapi barangkali itu
adalah cara yang lebih baik daripada Guru menyerahkan
padepokan ini kepada paman Widura.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya. “ Baiklah.
Jika kalian menganggap jalan itu adalah yang terbaik. Aku
akan mencoba menghubunginya.”
“ Tetapi harus dijaga bahwa Ki Widura menyadari dan
meyakini tugas yang diberikan kepadanya. Ia tidak boleh
dengan cara apapun juga pada suatu saat menguasai
padepokan ini dengan menyingkirkan Guru.”
“ Ah.” desah Kiai Gringsing, “ aku mengenal Ki Widura
dengan baik. Ia tidak akan melakukannya. Agung Sedayu
adalah kemenakannya, dan ia adalah muridku. Ia tentu akan
menghormati hakku dan hak kemenakannya.”
“ Mudah-mudahan.” jawab Swandaru, “ tetapi bagi
seseorang, kedengkian kadang-kadang mengalahkan segala
kebaikan. Keinginan untuk menguasai sesuatu akan dapat
membuatnya lupa diri.”
“ Aku kira paman tidak akan berbuat demikian.” berkata
Agung Sedayu.
“ Siapapun dapat mengira-irakan. Tetapi tidak seorangpun
yang dapat memastikannya.”
Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Namun ternyata ia
tidak langsung menjawab. Bahkan ia berpaling kepada Kiai
Gringsing, seakan-akan menyerahkan segala kebijaksanaan
kepadanya.
Sebenarnyalah KiaiGringsing memang ingin mencegah
perselisihan yang mungkin timbul diantara kedua muridnya itu.
Karena itu, maka iapun berkata, “ Baiklah. Meskipun dengan
sangat hati-hati Swandarupun sependapat, bahwa kita akan
dapat bekerja bersama dengan Ki Widura. Besok aku minta
kalian pergi kerumahnya, minta agar Ki Widura bersedia
datang ke padepokan ini. Kita akan berbicara dengannya.
Mudah-mudahan ada titik temu yang dapat memberikan jalan
keluar kepada kita.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk, sementara Swandaru
hanya dapat menarik nafas panjang. Meskipun terasa masih
ada sesuatu bergejolak di dalam hatinya, tetapi bagaimanapun
juga ia berhadapan dengan Gurunya yang sangat
dihormatinya. Sehingga karena itu, maka Swandaru hanya
berusaha untuk mengendapkan perasaannya.
Dalam pada itu, maka Kiai Gringsingpun berkata, “ Baiklah.
Jika demikian maka persoalan yang pertama ini dapat kita
anggap sudah selesai. Pada suatu waktu pasti datang saatnya
aku tidak mampu berbuat apa-apa lagi.”
Agung Sedayu masih saja mengangguk-angguk.
Sementara Swandarupun mulai tertarik kepada persoalan
yang masih akan dibicarakan.
“ Anak-anakku.” berkata Kiai Gringsing kemudian, “ selain
padepokan masih ada yang perlu kita bicarakan.
Sebagaimana kalian ketahui, bahwa aku memiliki sebuah kitab
yang berisi beberapa macam pengetahuan tentang kanuragan
dan kehidupan yang lain. Di kitab itu tidak hanya terdapat
petunjuk dan laku untuk menguasai satu jenis ilmu. Tetapi
beberapa, sehingga kitab itu menjadi tebal sekali. Meskipun
demikian, aku memang tidak ingin kitab itu dipecah menjadi
dua atau tiga berdasarkan atas kelompok ilmu. Aku ingin kitab
itu tetap utuh. Namun dengan demikian, sudah barang tentu
aku tidak dapat memberikannya sekaligus kepada kalian
berdua.”
Agung Sedayu dan Swandaru menjadi berdebar-debar.
Untuk membaca isi kitab itu saja, diperlukan waktu yang cukup
lama, sekitar tiga bulan. Pada kesempatan pertama Agung
Sedayu membawa kitab itu untuk tiga bulan, maka ia telah
membacanya dengan memahatkan hal-hal yang terpenting
didalam hatinya, sehingga ia telah memanfaatkan satu kurnia
baginya, bahwa ia tidak kehilangan ingatan atas sesuatu yang
memang benar-benar ditekankan pada dirinya untuk dapat
diingatnya. Seakan-akan Agung Sedayu itu mampu
memahatkan persoalan terpenting itu pada dinding hatinya
untuk tidak pernah terhapuskan. Memang ada hal-hal yang
dianggap kurang penting pada kitab itu, atau yang
sebelumnya memang sudah dikuasainya. Dengan demikian
untuk mempelajari dan memenuhi laku yang dituntut didalam
kitab itu, maka untuk dapat melakukannya diperlukan waktu
seumur hidup mereka.
Bahkan bagi mereka yang tidak memiliki ketajaman nalar
budi, maka waktu yang sepanjang umurnya itu tidak akan
mencukupi, sehingga mereka tidak akan pernah mampu
menguasai ilmu-ilmu didalam kitab itu sebaik-baiknya,
meskipun hanya satu jenis sekalipun.
Untuk beberapa saat kedua murid Kiai Gringsing itu
terdiam. Mereka memang tidak tahu apakah yang terbaik
dapat dilakukan. Kitab itu memang hanya satu.
Karena kedua muridnya terdiam, maka Kiai Gringsingpun
kemudian berkata, “ Selama ini aku telah memberi kalian
kesempatan untuk membawa dan mempelajari ilmu
diantaranya yang menarik bagi kalian dan sesuai dengan jiwa
kalian masing-masing. Jika cara yang kita lakukan itu kalian
anggap sesuai, maka cara itu akan dapat diteruskan. Kalian
masing-masing mendapat kesempatan tiga bulan bergantiganti.”
Swandarulah yang kemudian menjawab, “ Sebenarnya cara
itu cukup baik guru. Selama tiga bulan kami sempat
mempelajari laku yang diperlukan. Kemudian tiga bulan
berikutnya, jika timbul niat didalam hati, kami dapat menjalani
laku itu untuk menguasai dasar dari salah satu ilmu yang
tertera didalam kitab itu. Selanjutnya kita tinggal
meningkatkannya di tiga bulan berikutnya, sesuai dengan
petunjuk didalam kitab itu pula. Adapun saat-saat berikutnya
kita akan dapat mengembangkannya. Namun kitab itu
memang masih diperlukan karena setiap kali, dalam hal ini
tiga bulan sekali, untuk menyempurnakannya sehingga dalam
sepuluh kali tiga bulan, ilmu yang benar-benar dipelajari dan
laku yang diperlukan benar-benar dijalani, maka ilmu itu akan
menjadi matang didalam diri kita.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “ Aku
sependapat. Cara itu kita lanjutkan. Kitab itu akan berpindah
tangan untuk tiga bulan sekali. Meskipun dalam waktu tiga
bulan itu, mungkin karena kesibukan atau karena hal-hal lain,
kalian tidak sempat mempelajarinya. Namun pada satu saat,
jika hal itu diperlukan, maka kalian dapat menyusun rencana
sebaik-baiknya seperti yang dikatakan oleh Swandaru. Karena
pada dasarnya akar dari ilmu yang bersumber dari perguruan
ini telah kalian kuasai, sehingga untuk mempelajari tingkat
perkembangannya dengan segala cabang-cabang ilmunya
tidak akan terlalu sulit lagi.”
Kiai Gringsing itupun berhenti sejenak. Sambil memandang
kepada Agung Sedayu Kiai Gringsing bertanya, “ Bagaimana
pendapatmu?”
“ Aku sependapat Guru.” berkata Agung Sedayu, “ aku kira
cara itu memang dapat diteruskan.”
“ Baiklah.” berkata Kiai Gringsing, “ jika demikian, maka
cara itu untuk sementara dapat diteruskan.”
“ Kenapa untuk sementara?” bertanya Swandaru.
“ Cara itu tidak akan dapat berlangsung tanpa batas. Pada
suatu saat maka kalian berduapun akan menjadi tua seperti
aku dan menuju kebatas akhir. Karena itu, sebelum hal itu
terjadi, maka harus sudah dapat ditentukan, siapakah yang
akan menyimpan kitabitu selanjutnya dan kepada siapa kitab
itu harus diserahkannya.”
Kedua murid Kiai! Gringsing itu termangu-mangu. Namun
kemudian Agung Sedayupun berkata, “ Guru. Bukankah kami
berdua sudah cukup dewasa untuk membicarakannya kelak
pada saatnya? Jika Guru mempercayai kami, biarlah kami
menentukan apa yang sebaiknya kami lakukan atas kitab itu.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia memang percaya
sepenuhnya kepada Agung Sedayu. Tetapi sebenarnya agak
ragu-ragu terhadap sikap Swandaru. Namun hatinya agak
tenang oleh kenyataan bahwa Agung Sedayu memiliki
kematangan ilmu dan kematangan jiwa melampaui Swandaru,
sehingga sebagai saudara tua dalam perguruan itu, maka
agaknya Agung Sedayu akan dapat mengendalikan adik
seperguruannya jika pada satu saat terjadi penyimpangan.
Karena itu, maka iapun kemudian bertanya kepada Swandaru,
“ Bagaimana pendapatmu Swandaru.”
“ Aku menurut saja Guru.” jawab Swandaru, karena
baginya hal itu akan dapat memberikan lebih banyak peluang
kepadanya. Selama ini Agung Sedayu agaknya terlalu malas
untuk membaca apalagi mempelajari isi kitab itu. Jika waktu
yang tiga bulan habis, belum tentu Agung Sedayu datang
mengambilnya. Bahkan sampai enam bulan kitab itu kadangkadang
masih tersimpan di rumahnya. Meskipun jarak antara
Tanah Perdikan Menoreh dan Sangkal Putung itu sebenarnya
memang tidak terlalu jauh. Namun sekali-sekali juga terbersit
pertanyaan kepada diri sendiri. “ Jika kitab itu sedang ada
padaku, apakah aku juga selalu memanfaatkannya?”
Swandaru menundukkan kepalanya. Bagaimanapun juga ia
harus mengakui, bahwa iapun tidak selalu membaca isi kitab
yang mengandung selain ilmu juga petunjuk-petunjuk tentang
hidup dan kehidupan itu pada saat kitab itu ada padanya.
Swandaru bagaikan tersadar dari angan-angannya, ketika
ia mendengar Kiai Gringsing berkata, “ Baiklah. Jika demikian
aku serahkan kitab itu kepada kalian. Tetapi dengan pesan,
bahwa tidak boleh terjadi penyimpangan. Bukan saja tentang
berbagai paugeran perguruan, tetapi juga tentang perjalanan
hidup kalian diantara sesama. Kalian harus tetap berpegang
pada petunjuk-petunjuk yang pernah aku berikan dan yang
dapat kalian baca kembali didalam kitab itu. Kalian harus tetap
sadar akan hubungan kalian dengan Sumber Hidup kalian dan
dengan sesama.”
Kedua murid Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk.
Dengan nada rendah Agung Sedayu berkata, “ Petunjuk dan
nasehat Guru selama ini akan selalu kami ingat.”
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, sementara
Swandarupun berkata, “ Kami berjanji Guru.”
Kiai Gringsing kemudian memandangi kedua muridnya itu
berganti-ganti. Memang ada kebanggaan dihatinya, bahwa
kedua muridnya telah memiliki pegangan ilmu yang tinggi
meskipun keduanya berbeda sikap dan arah pengembangan
ilmu, namun keduanya berpijak pada alas yang sama.
Kiai Gringsing memang tidak dapat mengingkari kenyataan,
bahwa bukan saja sikap dan arah pengembangan ilmu
mereka yang berbeda, tetapi watak dan sifat kedua muridnya
itupun berbeda. Pandangan hidup dari kedua orang itupun
ternyata tidak searah meskipun Kiai Gringsing selalu
memberikan nasehat dan petunjuk yang sama bagi keduanya.
Tetapi bekal dan lingkungan hidup keduanya berbeda.
Demikian pula ungkapannya dalam kehidupan mereka.
Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian
berkata, “ Terima kasih atas kesediaan kalian anak-anakku.
Dengan demikian maka saat-saat mendatang nampak cerah
bagi perguruan kita. Aku sebenarnya tidak ingin bahwa jalur
ilmu yang kita sadap itu akan menjadi pudar dan apalagi
lenyap di hari-hari kemudian. Namun dengan kesediaan
kalian, maka mudah-mudahan ilmu ini akan tetap
berkembang. Kesediaan membantu sesama yang berada
didalam kesulitan merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari ilmu kita.”
Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu katanya dengan nada
rendah, “ Tetapi ada sedikit yang ingin aku katakan kepadamu
Agung Sedayu.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan sungguhsungguh
ia memperhatikan kata-kata gurunya, “ Bukan
maksudku untuk membatasi kebebasan memilih bagi setiap
orang. Tetapi menurut pengamatanku, adik sepupumu yang
kau tuntun didalam olah kanuragan, yang kemudian juga
dibawah asuhan Ki Jayaraga, condong untuk memiliki ilmu
dari jalur perguruan Ki Sadewa. Aku ikut berbesar hati, bahwa
ilmu dari perguruan Ki Sadewa itu akan tetap hidup dan
bahkan berkembang. Namun satu pertanyaan yang tidak
pernah dapat aku lupakan, apakah aku tidak dapat menitipkan
perkembangan ilmu perguruan ini kepada Glagah Putih? Kita
semuanya tentu sudah mengetahui bahwa pengaruh
perguruan ini memang nampak pada Glagah Putih. Tetapi
apakah kita tidak dapat minta kepadanya untuk mempelajari
ilmu dari perguruan ini secara khusus, sehingga pada saatnya
ilmu dari perguruan ini tidak akan begitu saja dilupakan
orang.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebelumnya ia
tidak pernah memikirkannya, bahwa dengan demikian yang
akan berkembang lewat Glagah Putih adalah jalur perguruan
Ki Sadewa, bukan jalur perguruan Kiai Gringsing.
Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata jujur, “ Ya
Guru. Aku tidak pernah mempertimbangkan dengan sebaikbaiknya
tentang hal itu. Pada saat aku mulai, maka aku tidak
memikirkannya sampai begitu jauh.”
“ Sekarang sudah waktunya kau meninjau kembali. Apakah
kau akan mempergunakan adik sepupumu itu sebagai
jembatan bagi masa datang dalam pengembangan ilmu
perguruan kita?” bertanya Kiai Gringsing.
Namun yang menyahut adalah Swandaru, “ Guru. Kenapa
kita tidak mencari saluran yang murni, yang tidak bercampur
baur dengan jalur ilmu dari perguruan lain?”
“ Tidak ada keberatannya bagiku Swandaru. Aku tahu
bahwa Glagah Putih adalah orang yang memiliki kemampuan
yang tinggi dengan tingkat kecerdasan yang memadai untuk
memilah-milahkan ilmu yang diterimanya. Sementara itu,
iapun memiliki kemampuan untuk meramu dan
mengungkapkannya dalam kesatuan yang luluh sehingga
merupakan ilmu yang memiliki kekayaan unsur yang dapat
membuat orang lain mengaguminya. Karena itu, maka jika
Agung Sedayu sependapat, Glagah Putih akan dapat menjadi
murid yang sangat baik dan akan dapat menangkap berbagai
macam ilmu di dalam dirinya tanpa kehilangan sumbernya
masing-masing.” jawab Kiai Gringsing.
“ Tetapi bukankah lebih baik jika kita mempergunakan
saluran yang masih belum dikotori oleh macam ilmu yang
lain.” berkata Swandaru.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “
Maksudmu tentu bukan dikotori dalam arti yang kurang baik
bukan? Tetapi seandainya seseorang memiliki ilmu
rangkappun sama sekali bukan satu kekurangan. Bahkan jika
kita mampu mempergunakan dengan tepat, malahan akan
merupakan satu kelebihan.”
“ Meskipun kita hanya mempelajari satu saluran perguruan,
namun sebagaimana tertera dalam kitab guru, saluran yang
satu itu sudah menumbuhkan beberapa jenis ilmu. Jika kita
mempelajarinya dan mengembangkannya sampai kepuncak,
maka kemampuan kita tidak akan dapat diatasi oleh ilmu yang
manapun juga, meskipun ilmu rangkap tujuh sekalipun. Itu jika
kita mempunyai satu keyakinan tentang ilmu yang kita pelajari.
Kecuali jika sejak semula kita sudah ragu, bahwa ilmu yang
kita pelajari itu tidak cukup memadai.” berkata Swandaru.
Kiai Gringsing justru tersenyum. Katanya, “ Tidak ada ilmu
yang sempurna Swandaru. Perguruan yang manapun didunia
ini tentu memiliki kekurangan. Sehingga memang
memungkinkan bahwa kekurangan dari satu jenis ilmu dari
sebuah perguruan dapat ditutup dengan unsur-unsur yang
terdapat pada ilmu dari perguruan yang lain yang memiliki
watak yang sejalan.”
“ Tetapi tidak pada permulaannya.” berkata Swandaru
dengan nada tinggi.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian katanya, “ Tetapi aku tidak kehilangan kesempatan.
Seandainya jalur yang satu ini ternyata kurang berhasil, maka
masih mengharap bahwa kau akan dapat memenuhinya,
Swandaru.”
Swandaru justru terkejut mendengar keterangan gurunya.
Sebelumnya ia tidak pernah memikirkannya untuk
menemukan seseorang yang akan dapat dijadikan muridnya.
Namun agaknya hal itu menurut gurunya perlu dilakukannya
sebagai perbandingan dari apa yang sudah dilakukan oleh
Agung Sedayu terhadap adik sepupunya.
Dalam pada itu gurunya itupun kemudian berkata, “
Mungkin selama ini kau belum memikirkannya Swandaru. Kau
masih terlalu sibuk dengan Kademanganmu dan dengan
dirimu sendiri. Tetapi itu tidak apa-apa. Kau masih mempunyai
kesempatan yang panjang.”
Wajah Swandaru tiba-tiba menjadi cerah. Hampir diluar
sadarnya ia berkata, “ Aku sudah mempunyai seorang calon
murid yang baik, Guru.”
“ Syukurlah.” berkata Kiai Gringsing, “ mudah-mudahan ia
akan menjadi murid yang baik lahir dan batinnya.”
“ Tentu Guru. Ia harus menjadi seorang yang baik, berani
dan memiliki ilmu yang tinggi.” berkata Swandaru pula.
“ Barangkali aku boleh tahu, siapakah calon muridmu itu?
Apakah ia masih ada hubungan keluarga denganmu atau
hubungan yang lain?” berkata Kiai Gringsing.
“ Ia adalah bakal anakku, Guru. Pandan Wangi kini telah
mulai mengandung.” jawab Swandaru.
Kiai Gringsing dan Agung Sedayu terkejut sesaat. Namun
kemudian keduanya menarik nafas dalam-dalam. Kiai
Gringsing tersenyum sambil berkata, “ Aku mengucapkan
selamat kepadamu Swandaru.”
Swandaru tertawa. Katanya, “ Terima kasih Guru.
Bukankah aku benar-benar mempunyai seorang calon murid
yang baik? Aku tidak peduli apakah anakku laki-laki atau
perempuan. Tetapi anakku itu harus memiliki kemampuan
ilmu, keberanian dan baik sebagaimana ayah dan ibunya.”
Agung Sedayu yang duduk di sebelah adik seperguruannya
itu menepuk bahu Swandaru sambil berkata, “ Ternyata
kebahagiaanmu akan segera menjadi lengkap adi Swandaru.”
“ Kapan kau menyusul kakang?” bertanya Swandaru.
Agung Sedayu tertawa. Katanya, “ Pada suatu saat, kurnia
itu akan aku terima pula. Aku selalu memohon kepada-Nya.”
“ Mudah-mudahan tidak terlalu lama.” berkata Swandaru, “
anak kita akan sebaya.”
Agung Sedayu masih saja tertawa. Namun kemudian
katanya, “ Seperti yang kau katakan. Kau akan mempunyai
seorang murid yang paling baik.”
“ Aku akan mengajarkan kepadanya, jalur ilmu dari
perguruan orang bercambuk.” berkata Swandaru.
“ Ya. Kau tentu akan lebih berhasil daripadaku.” berkata
Agung Sedayu.
“ Tetapi jika anakmu lahir kelak, maka kaupun akan
mendapat murid baru yang barangkali lebih baik dari Glagah
Putih.” berkata Swandaru, “ kau akan dapat menurunkan ilmu
dari perguruan kita dengan murni.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia
tidak sependapat dengan Swandaru. Tetapi Agung Sedayu
memang segan untuk berbantah. Karena itu, maka iapun tidak
menyahut sama sekali.
Bahkan Kiai Gringsing yang menyahut, “ Aku akan ikut
berdoa, semoga kau segera mendapatkannya Agung
Sedayu.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “
Terima kasih Guru. Mudah-mudahan.”
“ Baiklah.” berkata Kiai Gringsing kemudian. Lalu, “ Jika
demikian, maka aku akan menjadi semakin tenang
menghadapi segala macam kemungkinan yang dapat ter-jadi
atas diriku. Dari seorang yang sudah terlalu tua.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil sambil
menyahut, “ Semoga kami tidak mengecewakan Guru.”
“ Terima kasih.” berkata Kiai Gringsing, “ bagiku segalanya
sudah menjadi jelas sekarang. Ada dua hal yang penting dari
pembicaraan kita. Pertama, aku akan menghubungi Ki Widura,
dan kedua tentang kitab itu, aku percayakan kepada kalian
untuk menentukan apakah yang sebaiknya kalian lakukan
atasnya.”
Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-angguk.
Namun didalam hatinya ia masih berkata, “ Ada dua orang
yang akan mempunyai pengaruh yang besar pada perguruan
ini tetapi ilmunya bersumber dari perguruan lain. Ki Widura
dan Glagah Putih, yang kedua-duanya memiliki alas ilmu dari
perguruan Ki Sadewa.”
Meskipun demikian Swandaru tidak melihat jalan lain untuk
memberikan perbandingan dari jalan yang akan ditempuh oleh
Kiai Gringsing itu. Sehingga dengan demikian maka untuk
sementara Swandaru terpaksa menerima kesimpulan dari
pembicaraan mereka itu.
Namun ternyata bahwa mereka tidak segera meninggalkan
tempat itu. Untuk beberapa saat, Kiai Gringsing masih ingin
berbicara dengan kedua murid-muridnya. Dengan nada datar
iapun kemudian berkata, “ Selanjutnya anak-anakku, yang
ingin aku ketahui adalah perkembangan ilmu kalian. Meskipun
aku tidak ingin membawa kalian ke sanggar, namun
bagaimana pendapat kalian sendiri atas perkembangan ilmu
kalian masing-masing? Apakah kalian menemui kesulitan
didalam pengembangan ilmu berdasarkan atas kitab yang
kalian pergunakan sebagai tuntunan? Menurut pendapatku,
setelah kalian memahami dasar pengetahuan perguruan kita,
maka kitab itu akan memberikan tuntunan kalian tanpa
kesulitan jika kalian benar-benar menyadari laku sebagaimana
ditentukan di dalam kitab itu. Namun lakunya itulah yang
kadang-kadang memang sulit dan berat.”
Swandarulah yang kemudian menjawab, “ Tidak Guru. Aku
tidak mengalami kesulitan. Semuanya akan berlangsung
dengan baik. Meskipun kadang-kadang hambatan itu terjadi
karena kemalasan kami untuk menjalani laku. Apalagi
menjalani laku, membangun kadang-kadang merasa tidak
sempat.”
Kiai Gringsing tersenyum. Ia memuji kejujuran Swandaru
itu, karena sebenarnyalah Kiai Gringsing memang sudah
mengetahuinya. Tetapi iapun berkata kemudian, “ Bukan
maksudku bahwa seluruh waktu kalian selalu kalian
pergunakan untuk menjalani laku sebagaimana tertulis
didalam kitab ini. Bagaimanapun juga kalian harus menempuh
kehidupan sehari-hari kalian sebagaimana kedudukan kalian
agar kalian tidak menjadi orang asing diantara sanak kadang
dan tetangga kalian.”
Tetapi Swandaru sambil tersenyum pula berkata, “
Sebenarnya aku lebih memikirkan kakang Agung Sedayu.”
“ Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.
“ Aku kira justru karena kesibukan dan keinginan kakang
Agung Sedayu meningkatkan hidup di Tanah Perdikan
Menoreh, sehingga kakang Agung Sedayu tidak mempunyai
kesempatan untuk memperhatikan dirinya sendiri.
Bagaimanapun juga, aku kira, kakang Agung Sedayu mau
disebut mementingkan diri sendiri, maka ilmu itu tentu akan
sangat berguna bagi Tanah Perdikan Menoreh.” jawab
Swandaru.
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, sementara Agung
Sedayu memang tertarik juga kepada keterangan Swandaru.
“ Kenapa kau mempunyai anggapan yang demikian? “
bertanya Kiai Gringsing.
“ Aku yang juga merasa bahwa kadang-kadang tidak
sempat membaca dan apalagi menjalani laku yang tertera
didalam kitab itu, namun setidak-tidaknya aku setiap kali
memaksakan diri untuk menelaah isinya. Setidak-tidaknya aku
dapat meningkatkan jenis ilmu yang telah aku kuasai
sebelumnya, sebelum aku sempat mencoba menguasai jenis
ilmu yang baru.” jawab Swandaru, “ tetapi agaknya kakang
Agung Sedayu sama sekali tidak sempat melakukannya,
karena kakang hampir tidak pernah membawa kitab itu ke
Tanah Perdikan pada saat-saat terakhir ini.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.
Sementara itu Kiai Gringsing mengangguk-angguk.
Kemudian iapun telah bertanya kepada Agung Sedayu, “
Apakah benar demikian?”
Agung Sedayupun telah mengangguk pula. Katanya
dengan nada rendah, “ Ya Guru. Aku merasa terlalu sibuk
pada saat-saat terakhir. Daripada aku membawa kitab itu
tanpa menyentuhnya, maka kau menganggap bahwa kitab itu
akan lebih berarti jika berada di Sangkal Putung.”
Swandaru tertawa. Katanya, “ Tetapi kakang harus mencari
kesempatan itu. Pada satu saat, semuanya telah mencapai
puncak Gunung yang tinggi, kakang masih sibuk menyiangi
hutan di lambung Gunung itu.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun iapun telah
tersenyum pula sambil berkata, “ Aku seharusnya memang
berusaha.”
“ Ketika aku pertama kali melihat kelebihan kakang Agung
Sedayu dalam ilmu bidik yang melampaui kemampuan
Sidanti, aku benar-benar kagum. Bahkan seluruh
Kademangan Sangkal Putung waktu itu mengaguminya.
Tetapi dalam perjalanan berikutnya, yang lain berpacu diatas
punggung kuda, kakang masih saja telaten berjalan kaki.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
Kiai Gringsing berkata, “ Adikmu bermaksud baik, Agung
Sedayu.”
“ Ya.” jawab Swandaru, “ meskipun aku dalam perguruan
ini merupakan saudara muda, tetapi dalam hubungan keluarga
aku dianggap lebih tua, karena kakang Agung Sedayu adalah
suami adikku.”
Agung Sedayu tertawa meskipun tidak lepas. Memang
sesuatu tertahan dihatinya. Bahkan sebenarnyalah
gurunyapun demikian pula. Tetapi keduanya sulit untuk
mengatakan keadaan yang sebenarnya tentang perbandingan
ilmu antara Swandaru dan Agung Sedayu.
“ Baiklah.” berkata Kiai Gringsing, “ jika aku menjadi lebih
baik, aku ingin menilik ilmu kalian di sanggar atau di tempat
terbuka. Tetapi sebaiknya, Agung Sedayu tetap
memikirkannya.”
Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya, “ Aku mengerti
Guru.”
Sementara itu Swandaru berkata lebih jauh, “ Apalagi
kakang sering menerima tugas dari Panembahan Senapati
secara khusus. Barangkali peningkatan ilmu akan sangat
berarti bagi kepentingan kakang Agung Sedayu sendiri.”
“ Terima kasih.” desis Agung Sedayu, “ meskipun lamban
tetapi pengalaman yang selama ini aku jalani ternyata
memberikan arti juga bagi ilmuku.”
“ Tetapi tidak akan secepat jika kita menjalani laku.”
berkata Swandaru. Lalu, “ Meskipun segalanya juga
tergantung pada kita masing-masing. Seseorang yang
menjalani laku yang sama dengan orang lain, belum tentu
akan memiliki ilmu yang sama tinggi tingkatnya.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak
membantah.
Dalam pada itu, maka untuk beberapa saat keduanya
masih berbincang tentang padepokan itu, para cantrik dan
kemungkinan bagi masa datang.
Namun kemudian Kiai Gringsingpun berkata, “ Baiklah. Aku
kira untuk sementara pembicaraan kita sudah selesai.
Agaknya aku harus segera beristirahat agar keadaanku tidak
akan menjadi lebih buruk.”
Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan
sejenak. Keduanyapun agaknya mengerti bahwa guru mereka
memang harus segera beristirahat. Karena itu, maka
keduanyapun segera minta diri untuk beristirahat pula.
“ Tidurlah.” berkata Kiai Gringsing kemudian, “ mudahmudahan
kalian dapat tidur nyenyak disini.”
Ketika mereka bergeser dari ruang dalam, merekapun
langsung pergi ke bilik yang sudah disediakan bagi mereka
masing-masing. Ternyata Pandan Wangi dan Sekar Mirahpun
telah berada didalam bilik itu.
Pandan Wangi yang sudah berbaring di pembaringan,
tetapi belum tidur itupun telah bangkit ketika pintu biliknya
terbuka dan Swandaru melangkah masuk.
“ Kau belum tidur?” bertanya Swandaru.
Pandan Wangi menggeleng sambil menjawab. “ Belum
kakang. Rasa-rasanya aku memang belum mengantuk.”
Swandaru pun kemudian duduk dibibir pembaringan itu
pula.
“ Apa saja yang dibicarakan dengan Kiai Gringsing?”
bertanya Pandan Wangi.
Dengan singkat Swandaru menceriterakan rencana Kiai
Gringsing dengan padepokan kecil itu dan dengan kitab
peninggalannya. Kepada Pandan Wangi iapun mengatakan
bahwa orang-orang yang kini tersangkut dalam rencana
gurunya adalah bukan dari perguruannya.
“ Maksud kakang?” bertanya Pandan Wangi.
“ Ki Widura memiliki landasan ilmu dari perguruan Ki
Sadewa. Sementara itu kakang Agung Sedayu telah
menurunkan ilmu kepada sepupunya bukan pula ilmu dari
perguruan kami, tetapi juga ilmu dari perguruan Ki Sadewa.”
berkata Swandaru. Lalu, “ Bahkan pada anak itu telah terdapat
pula ilmu yang disadapnya dari Ki Jayaraga di Tanah Perdikan
Menoreh. Ki Jayaraga yang tidak kita kenal dengan pasti, latar
belakang dari kehidupannya.”
Pandan Wangi mengangguk-angguk. Ia dapat mengeri
pendapat suaminya. Seharusnya, pimpinan langsung atau
tidak langsung atas padepokan kecil itu adalah mereka yang
berasal dari perguruan itu pula. Jika orang lain hadir di sebuah
padepokan dan berasal dari perguruan yang lain, agaknya
memang terasa janggal.
Tetapi Pandan Wangipun mengeri, bahwa keturunan ilmu
dari perguruan Kiai Gringsing itu yang sudah dapat berdiri
tegak dengan ilmunya adalah dua orang yang masing-masing
telah mempunyai kesibukan mereka sendiri-sendiri, sehingga
mereka untuk sementara tidak akan dapat memimpin
padepokan itu. Bahkan menurut penilaian Pandan Wangi, Ki
Widura sebagaimana dikatakan oleh suaminya, tidak akan
memimpin padepokan itu.
Namun yang kemudian dikatakan oleh Swandaru adalah
tentang kitab yang diwariskan oleh gurunya itu, dan tentang
Agung Sedayu yang kurang berminat untuk meningkatkan
ilmunya.
“ Kakang Agung Sedayu menganggap bahwa ilmunya telah
cukup baik untuk menghadapi gejolak dimasa datang di
Mataram.” berkata Swandaru. Lalu, “ Bahwa setiap kali
kakang berhasil, agaknya telah membuatnya semakin yakin
bahwa ilmunya benar-benar telah mapan. Kakang kurang
menyadari, hadirnya orang-orang lain yang telah
membantunya sehingga ia berhasil itu.”
Pandan Wangi mengangguk-angguk. Namun kemudian
katanya, “ Tetapi apakah ilmu kakang Agung Sedayu belum
memadai? Menurut pengenalanku, sebagaimana juga
dikatakan oleh Sekar Mirah, kakang Agung Sedayu juga
memperdalam ilmunya setiap ada kesempatan. Ia termasuk
orang yang rajin berada di dalam sanggar. Tetapi sudah
barang tentu bahwa sebagian dari waktunya diperuntukkannya
bagi Tanah Perdikan Menoreh.”
“ Ya.” jawab Swandaru, “ agaknya Sekar Mirahpun
mempunyai penilaian yang kerdil terhadap ilmu kanuragan. Ia
terlalu mengagumi suaminya, sehingga karena itu ia tidak
sempat memperbandingkan ilmu suaminya itu dengan
perkembangan ilmu secara luas.”
Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Tetapi iapun
menjadi ragu. Menurut penilaiannya ilmu Agung Sedayu justru
telah maju dengan pesat. Namun iapun berkata kepada diri
sendiri, “ Mungkin Sekar Mirah memang terlalu mengagumi
suaminya, sehingga ceriteranya memang agak berlebihan.”
Sementara itu, Swandarupun kemudian berkata, “
Sudahlah. Kita akan beristirahat. Jika besok ada kesempatan,
aku ingin membuat perbandingan ilmu dengan kakang Agung
Sedayu.”
Tetapi Pandan Wangi berkata sareh, “ Kau tidak perlu
melakukannya dengan langsung, kakang. Kita tidak tahu
perasaan kakang Agung Sedayu sekarang. Jika ia sekarang
menjadi mudah tersinggung maka akan dapat timbul salah
paham. Meskipun kau bermaksud baik, tetapi mungkin
tanggapan orang lain dapat berbeda.”
Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “ Baiklah. Aku
akan mencoba untuk melakukannya sebaik-baiknya. Aku ingin
kakang Agung Sedayu mengerti, tetapi tidak tersinggung
karenanya.”
Pandan Wangi mengangguk kecil sambil berdesis, “
Kakang memang harus bijaksana.”
Swandaru tidak menjawab. Sambil mengangguk kecil iapun
kemudian justru berdesis, “ Aku sudah mengantuk.”
Ketika keduanya berbaring dipembaringannya, di bilik lain
Agung Sedayu masih juga merasa gelisah. Dibibir
pembaringan, Sekar Mirah duduk sambil menundukkan
kepalanya. Tetapi terdengar ia berkata lirih, “ Aku tidak
menuntut kakang. Aku hanya mengatakan, bahwa Pandan
Wangi telah mengandung. Aku tahu, bahwa kau dan aku tidak
bersalah. Tetapi agaknya kita masih harus menunggu kurnia
itu datang pada kesempatan lain.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Kita akan
selalu memohon.”
“ Ya kakang. Dengan keyakinah.” jawab Sekar Mirah.
Agung Sedayu masih mengangguk-angguk. Namun
kegelisahannya itu telah membuatnya sama sekali tidak
mengantuk. Bahkan Sekar Mirahpun tidak.
Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri dalam
kegelisahan perasaan. Memang keduanya menyadari, bahwa
tidak ada yang dapat dipersalahkan diantara keduanya.
Merekapun mengerti, bahwa mereka tidak dapat berbuat
banyak selain memohon kepada Sumber Hidupnya. Namun
merekapun merasa wajib berupaya untuk menyatakan
kesungguhan dari permohonan mereka.
Tiba-tiba saja Agung Sedayu berkata, “ Mirah. Guru adalah
seorang yang mengerti tentang obat-obatan dan upaya
menyembuhkan dengan beberapa cara, termasuk dengan
membenahi letak urat syaraf, sehingga mungkin kita akan
dapat mohon bantuannya. Mungkin Guru mengenal jenis
dedaunan atau akar-akaran yang baik bagi kita.”
Sekar Mirah mengangguk kecil. Dengan nada rendah ia
berdesis, “ Semoga Yang Maha Murah mendengarkan
permohonan kita.”
Agung Sedayu tidak menjawab. Setiap kali kepalanya
masih saja terangguk-angguk tanpa makna sama sekali.
Bahkan tiba-tiba saja ia bangkit berdiri.
“ Kenapa kakang?” bertanya Sekar Mirah.
“ Aku akan ke sanggar.” jawab Agung Sedayu.
“ Untuk apa? malam telah larut. Bahkan sebentar lagi fajar
akan datang.” berkata Sekar Mirah yang menjadi cemas.
Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya. Iapun telah
melangkah dengan hati-hati keluar dari biliknya menuju ke
sanggar. Sementara itu Sekar Mirah yang cemas melihat
sikap Agung Sedayu itupun telah mengikutinya.
“ Kakang.” desis Sekar Mirah ketika mereka memasuki
sanggar yang remang-remang. Yang hanya diterangi oleh
sebuah lampu minyak yang kecil.
“ Mirah.” tiba-tiba saja Agung Sedayu menjadi tegang, “
apakah benar menurut penglihatanmu, bahwa pada saat-saat
terakhir ilmuku sudah terhenti dan sama sekali tidak bergerak
lagi?”
“ Kenapa kau bertanya demikian kakang?” Sekar Mirah
ganti bertanya.
“ Menurut adi Swandaru, aku adalah seorang pemalas yang
tidak memperhatikan perkembangan ilmu sama sekali. Aku
tidak tahu pasti, seberapa jauh tingkat ilmu adi Swandaru.
Tetapi kenapa ia harus berprihatin tentang aku? Apakah aku
memang perlu dikasianinya karena aku tidak dapat mencapai
tataran ilmu yang tinggi?” sahut Agung Sedayu.
“ Tidak kakang. Tidak.” jawab Sekar Mirah yang berlari
memeluk suaminya, “ kau tidak lebih buruk dari kakang
Swandaru.”
“ Tetapi Swandaru mengatakan, bahwa aku harus
berusaha meningkatkan ilmuku. Jika dalam tataran ilmu aku
kalah dari Swandaru, maka segala-galanya aku memang
harus mengakui kekalahanku.” berkata Agung Sedayu.
“ Tidak. Itu tidak benar. Aku tahu pasti kakang, bahwa kau
mempunyai kelebihan dari kakang Swandaru.” berkata Sekar
Mirah yang memeluk suaminya semakin erat.
“ Lihat.” berkata Agung Sedayu sambil mendorong Sekar.
Mirah, “ dari mana dinilai kejantanan seseorang? Sikap
kewadagannya, sikap jiwanya atau bahwa ia memiliki ilmu
yang tinggi atau diukur dari jumlah keturunannya?”
“ Kakang. Kenapa kau sebenarnya?” Sekar Mirah menjadi
semakin cemas.
“ Lihat Mirah, lihat. Apakah benar bahwa aku tidak
meningkatkan ilmu kanuraganku?” geram Agung Sedayu.
Sekar Mirah melangkah maju, namun Agung Sedayu telah
melenting dengan dorongan kekuatan tenaga dalamnya.
Bagaikan terbang Agung Sedayu hinggap diatas sebuah patok
kayu yang tegak diantara beberapa patok yang lain yang tidak
sama tinggi. Iapun kemudian bergerak dengan cepatnya,
seakan-akan tubuhnya tidak berbobot sama sekali. Ia
berloncatan dari ujung patok ke ujung patok yang lain.
Kemudian meloncat ke palang kayu yang membujur panjang.
Bahkan kemudian tubuhnya bagaikan melayang keatas
sebatang bambu yang melintang dan bertumpu pada ujung
dan pangkalnya saja. Namun batang bambu itu seakan-akan
tidak bergetar sama sekali. Untuk beberapa lama Agung
Sedayu berloncatan dari satu tumpuan ke tumpuan yang lain.
Justru dalam keremangan cahaya lampu yang lemah.
Sekar Mirah menjadi sangat cemas melihat sikap Agung
Sedayu itu. Agung Sedayu seolah-olah telah bergerak diluar
sadarnya. Dorongan perasaannya telah membuatnya
melakukan permainan yang berbahaya itu.
“ Cukup kakang. Cukup.” minta Sekar Mirah, “ berhentilah.
Tidak seorangpun meragukan kemampuan kakang. Bukankah
selama ini kakang tidak pernah merasa tersinggung karena
penilaian orang lain terhadap ilmu kakang? Bahkan
kakangpun kadang-kadang dengan sengaja justru telah
menyembunyikan kemampuan kakang yang sebenarnya?”
Tetapi Agung Sedayu seakan-akan tidak mendengarkan.
Tiba-tiba saja tangannya telah menyambar sebilah pedang
yang besar. Dengan pedang yang berputaran di tangannya
Agung Sedayu telah berloncatan kembali. Semakin lama
justru menjadi semakin cepat. Ketika ia jemu dengan pedang
itu, maka tangannya telah meraih sebatang tombak pendek.
Bahkan kemudian jenis-jenis senjata yang tidak terbiasa
dipergunakan. Sebuah pedang yang bertangkai sepanjang
tangkai tombak pendek. Kemudian sebuah canggah yang
bergerigi. Sebuah golok dan perisai.
“ Lihat Mirah. Lihatlah aku bukan betina.” suara Agung
Sedayu lantang.
Sekar Mirah menjadi cemas melihat tata gerak Agung
Sedayu. Meskipun sebenarnyalah ia menjadi sangat kagum
akan tingkat ilmu kanuragan suaminya, namun terasa hatinya
menjadi berdebar-debar. Meskipun demikian, seakan-akan
Sekar Mirah itu berkata kepada diri sendiri, “ Jarang orang
yang akan dapat menyamainya. Apalagi jika ia telah
merambah pada ilmunya yang lebih dalam dan rumit. Lebihlebih
kakang Swandaru.”
Tetapi bibirnya berkata. “ Sudah cukup kakang. Sudah
cukup.”
Agung Sedayu tidak mendengarkannya. Untuk beberapa
saat ia masih saja berloncatan dan memutar berbagai macam
senjata berganti-ganti. Kakinya melenting-lenting dari satu
tumpuan ke tumpuan yang lain. Betapa tinggi ilmu
meringankan tubuhnya, sehingga beberapa saat kemudian
Agung Sedayu hanya nampak sebagai bayangan didalam
keremangan di sanggar itu.
“ Kakang.” suara Sekar Mirah mulai diwarnai oleh
kecemasannya yang tidak tertahankan.
Ternyata bahwa Agung Sedayupun akhirnya
mendengarnya. Perlahan-lahan ia mengurangi kecepatan
geraknya, sehingga akhirnya ia berhenti sama sekali.
Dengan serta merta Sekar Mirahpun berlari dan
memeluknya sambil berkata, “ Sudahlah kakang.”
Nafas Agung Sedayu terengah-engah. Bukan karena
kelelahan. Ia masih sanggup bermain sehari semalaman lagi
dengan berjenis-jenis senjata yang ada. Namun gejolak
perasaannya membuat nafasnya bagaikan memburu. Tetapi
ketika terasa air yang hangat menyentuh tubuhnya dari
pelupuk mata Sekar Mirah, maka tiba-tiba saja hatinya
menjadi luluh.
“ Kakang.” suara Sekar Mirah bagaikan tertelan diantara
isaknya, “ apakah aku menyakiti hati kakang?”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam sambil
mengelus rambut isterinya, “ Tidak Mirah. Kau tidak menyakiti
hatiku.”
“ Aku minta maaf jika yang aku katakan tidak berkenan
dihati kakang.” desis Sekar Mirah kemudian.
“ Tidak. Kau tidak bersalah Mirah.” Agung Sedayu berhenti
sejenak. Lalu, “ Perasaankulah yang agaknya memang
sedang goyah.”
Sekar Mirah masih terisak. Namun kemudian Agung
Sedayupun membimbingnya sambil berkata, “ Marilah. Akulah
yang seharusnya minta maaf kepadamu.”
Keduanyapun kemudian telah keluar dari sanggar.
Ternyata malam masih gelap. Para cantrik masih tertidur
nyenyak kecuali dua orang yang bertugas di pendapa, dan
yang sekali sekali meronda mengelilingi halaman dan kebun
padepokan. Namun agaknya selama Agung Sedayu dan
Sekar Mirah berada di sanggar, mereka tidak mendekati
sanggar itu.
Beberapa saat kemudian keduanya telah berada di dalam
bilik mereka. Agung Sedayu yang menyadari keterlanjurannya,
duduk sambil menundukkan kepalanya. Ia memang menyesal
bahwa ia telah kehilangan kendali atas perasaannya sendiri.
Ketika Sekar Mirah mengusap keringatnya Agung Sedayu
berdesis, “ Agaknya aku hampir kehilangan akal. Untunglah
bahwa aku tidak melakukannya dihadapan siapapun juga
kecuali kau Mirah.”
“ Sudahlah.” berkata Sekar Mirah, “ kakang perlu
beristirahat. Malam hampir sampai keujungnya. Tidurlah
meskipun hanya sebentar. Mudah-mudahan kau dapat
memanfaatkan waktu yang tinggal sedikit ini kakang.”
Agung Sedayu mengangguk kecil. Namun Sekar Mirahlah
yang kemudian mengambil baju Agung Sedayu yang tidak
basah oleh keringat dan memberikannya untuk berganti
dengan bajunya yang telah basah.
Sejenak kemudian, keduanya telah berbaring di
pembaringan. Sikap Sekar Mirah memang dapat memberikan
ketenangan kepadanya. Meskipun biasanya Sekar Mirah
bersikap agak keras, tetapi disaat Agung Sedayu dicengkam
oleh kegelisahan, Sekar Mirah dapat bersikap sebagai
seorang isteri yang lembut. Agung Sedayu yang menjadi
tenang itu ternyata masih dapat mempergunakan kesempatan
yang sedikit itu. Beberapa siaat kemudian iapun telah tertidur.
Namun Sekar Mirahlah yang ternyata tidak segera dapat
tidur. Bahkan iapun sempat berdesis, “ Kau memang seorang
yang luar biasa dalam penguasaan ilmu kakang.”
Tidak ada jawaban. Nafas Agung Sedayulah yang mengalir
dengan teratur dalam tidurnya.
Baru beberapa saat kemudian, Sekar Mirahpun telah
tertidur pula sambil tersenyum disisi suaminya dengan satu
keyakinan, bahwa suaminya benar-benar seorang laki-laki.
Keduanya ternyata memang agak lambat bangun. Agung
Sedayu yang biasanya turun dari pembaringan disaat fajar
menyingsing, bahkan kadang-kadang sebelumnya, ternyata
baru membuka matanya ketika langit sudah menjadi cerah.
Karena itu, ia agak tergesa-gesa bangun. Demikian pula
Sekar Mirah.
Setelah membenahi diri, maka Agung Sedayupun telah
membuka pintu biliknya. Ketika ia melangkah keluar, dilihatnya
Glagah Putih justru sedang berjalan kebilik itu.
“ Kakang tidur nyeyak sekali.” berkata Glagah Putih.
Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Ya. Udara yang sejuk
di padepokan ini membuat tidurku sangat nyenyak.”
“ Apakah mbokayu belum bangun?” bertanya Glagah
Putih.
“ Kau dengar ia membersihkan pembaringan?” Agung
Sedayu ganti bertanya.
Glagah Putih tersenyum. Ia memang mendengar suara
tebah lidi untuk membersihkan pembaringan.
“ Kalau begitu aku pergi ke pakiwan dahulu kakang.”
berkata Glagah Putih.
Agung Sedayu mengangguk. Tetapi ia sempat bertanya, “
Apakah kakangmu Swandaru sudah bangun?”
“ Aku sudah melihat kakang Swandaru dan mbokayu
Pandan Wangi turun ke halaman dan berjalan-jalan ke kebun.”
jawab Glagah Putih.
Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Aku memang agak
terlambat bangun.”
Glagah Putih mengangguk kecil. Iapun kemudian bergeser
sambil berkata, “ Aku akan mandi dahulu kakang.”
“ Pergilah. Tetapi biasanya kau mandi pagi-pagi benar.
Apakah kau juga terlambat bangun? “ bertanya Agung
Sedayu.
“ Tidak. Aku tidak terlambat bangun. Aku sudah
mengelilingi padepokan ini pagi-pagi benar sebelum kakang
Swandaru. Bahkan aku telah ikut seorang cantrik yang melihat
air parit di sawah yang sejak semalam dibuka.” jawab Glagah
Putih.
Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Jadi hanya aku
sajalah yang terlambat bangun. Tetapi bagaimana dengan
Guru?”
“ Kiai Gringsing masih belum nampak keluar dari biliknya.”
jawab Glagah Putih.
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Iapun kemudian
berdesis, “ Aku akan menengoknya.”
Ketika Glagah Putih kemudian pergi ke pakiwan, maka
Agung Sedayupun telah memberitahukan kepada Sekar
Mirah, bahwa ia akan melihat guru di biliknya.
“ Pergilah kakang.” jawab Sekar Mirah.
Dengan hati-hati Agung Sedayu yang kemudian berada di
depan bilik Kiai Gringsing telah melangkah mendekat.
Perlahan-lahan pula ia mengetuk pintu yang masih tertutup
sambil berdesis, “ Guru?”
Agaknya Kiai Gringsing telah terbangun pula. Dengan nada
rendah ia menyahut, “ Masuklah.”
Agung Sedayupun kemudian mendorong pintu lereg
kesamping. Ternyata pintu itu tidak diselarak dari dalam.
Perlahan-lahan pula Agung Sedayu melangkah masuk.
Dilihatnya gurunya telah duduk di bibir pembaringannya.
Bahkan Kiai Gringsing telah membenahi pakaian dan
rambutnya. Namun ia masih belum mengenakan ikat
kepalanya.
“ Marilah Agung Sedayu.” desis Kiai Gringsing, “ apakah
kau bersama Swandaru?”
“ Tidak guru.” jawab Agung Sedayu, “ Swandaru sedang
berada di halaman bersama isterinya, melihat-lihat kebun
padepokan. Mereka nampaknya tertarik pada tanaman
sayuran di kebun ini.”
Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “ Marilah. Duduklah.”
Agung Sedayu pun kemudian duduk di sebelah Kiai
Gringsing. Dengan nada dalam ia bertanya, “ Bagaimana
keadaan Guru?”
“ Aku memang menjadi lebih baik Agung Sedayu, tetapi aku
tidak akan dapat mengingkari keterbatasan kekuatan
wadagku. Aku memang sudah tua. Bahkan terlalu tua.”
berkata Kiai Gringsing.
“ Tetapi beberapa saat yang lalu, Kiai masih dengan tegar
berada di antara pasukan Mataram.” berkata Agung Sedayu.
“ Aku telah memaksa diriku sendiri. Namun kemudian
akupun harus mengakui, bahwa aku tidak akan mampu
melampaui keterbatasan itu. Betapapun aku berusaha.”
berkata Kiai Gringsing. Lalu katanya pula, “ Jika aku berusaha
untuk memaksa diri lagi, maka hal itu justru akan
mempercepat perjalananku ke batas ketidak mampuan
berbuat apapun lagi.”
Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya, “ Apakah itu
berarti bahwa Guru harus lebih banyak beristirahat?”
“ Agaknya memang begitu. Akupun tidak sebaiknya
melakukan tugas yang berat lagi. Apalagi yang
mempergunakan tenaga wadagku.” berkata Kiai Gringsing.
“ Tetapi bukankah kemampuan ilmu Guru tidak dapat
susut?” bertanya Agung Sedayu.
“ Ilmunya tidak susut. Tetapi pendukung ilmu itulah yang
tidak lagi dapat berbuat setegar sebelumnya. Wadag ini.
Betapapun tinggi ilmu seseorang, tetapi untuk
mengungkapkannya diperlukan unsur kewadagan dan unsur
kejiwaan. Kedua-duanya telah menjadi semakin lemah
padaku. Terutama wadagku.” jawab Kiai Gringsing.
Agung Sedayu mengangguk pula. Katanya, “ Tetapi
bukankah Guru sekarang merasa lebih baik?”
“ Ya. Rasa-rasanya tubuhku memang menjadi lebih segar.
Menjelang fajar, aku berjalan-jalan di halaman dan dikebun
padepokan ini. Setelah tubuhku agak hangat akupun mandi.
Biasanya aku tidak dapat melakukannya seperti pagi ini.
Meskipun setiap pagi aku juga berjalan-jalan, tetapi aku cepat
menjadi letih. Apalagi disaat-saat aku sakit sejak beberapa
hari yang lalu.” berkata Kiai Gringsing.
Sambil meraba rambutnya Kiai Gringsing itupun berkata
selanjutnya, “ lihatlah. Rambutku telah menjadi seperti kapas.”
Agung Sedayu memang memandang rambut Kiai Gringsing
yang sudah menjadi putih. Tetapi ia masih juga berkata, “
Uban bukan satu-satunya pertanda.”
Kiai Gringsing tertawa. Katanya “ Memang. Uban dapat
tumbuh pada anak-anak yang masih muda. Tetapi yang kau
lihat padaku, adalah uban di kepala seorang yang sudah
terlalu tua. “
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata
bahwa gurunya bangun lebih pagi dari Glagah Putih.
Sementara itu gurunya berkata “ Sudahlah Agung Sedayu.
Jangan terlalu kau pikirkan aku. Aku dan semua orang akan
menjalani putaran hidup ini sebagaimana seharusnya. Tidak
ada perkecualian. “ Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu
katanya “ Kaulah yang masih muda. Kau harus berbuat lebih
baik dari yang pernah kau lakukan. “
Agung Sedayu mengangguk pula.
Dalam pada itu Kiai Gringsingpun berkata “ Agung Sedayu.
Aku tahu bahwa kau memiliki beberapa kelebihan dari adikmu
Swandaru. Tetapi sangat sulit bagiku untuk mengatakan
kepadanya, keadaan yang sebenarnya. Namun hendaknya
kau dapat memaklumi sikapnya, agar tidak terjadi geseran
diantara kau dan adikmu. Yang ingin aku katakan kepadamu
kau harus bijaksana menanggapi keadaan itu, sehingga pada
saatnya kau dapat menunjukkan keadaan yang sebenarnya
tanpa menyakiti hatinya. Aku tahu bahwa hal itu akan menjadi
beban yang sulit kau lakukan.
Agung Sedayu mengangguk kecil. Ia mengerti sepenuhnya
apa yang dikatakan oleh gurunya. Baru semalam Agung
Sedayu diguncang oleh perasaan yang rasa-rasanya belum
pernah disandangnya. Tetapi Agung Sedayupun kemudian
telah menyadari spenuhnya, bahwa jantungnya-lah yang telah
goyah.
Namun beban itu seakan-akan telah ditumpahkannya di
sanggar, sehingga dadanya tidak lagi merasa sesak. Bahkan
semuanya telah menjadi pulih kembali. Agung Sedayu tidak
akan tersinggung lagi seandainya ia dikatakan apapun juga
dengan ilmunya.
Sementara itu Kiai Gringsing masih berkata “ Tetapi
aku, yakin, bahwa kau akan dapat melakukannya Agung
Sedayu. “
“ Mudah-mudahan Guru “ sahut Agung Sedayu sambil
menunduk.
“ Baiklah “ berkata Kiai Gringsing “ aku percaya kepadamu.
“
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian katanya “ Guru. Sebenarnya aku hanya ingin
menengok keadaan Guru. Aku kira Guru masih belum keluar
dari bilik ini. Ternyata bahwa kamilah yang ke-siangan,
sehingga Guru justru telah selesai berbenah diri setelah
berjalan-jalan di kebun dan halaman. “
Kiai Gringsing tersenyum. Sedangkan Agung Sedayu
berkata selanjutnya “ Aku mohon diri Guru. Aku belum mandi.
“
Kiai Gringsing mengangguk sambil menjawab “ Barangkali
kau masih ingin melihat-lihat sawah dan ladang. Mudahmudahan
kau setuju bahwa kami disini telah mendapatkan
banyak kemajuan dibidang pertanian. “
Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab “ Aku akan
mengajak Sekar Mirah, Guru. “
Demikianlah maka Agung Sedayupun telah membenahi
dirinya. Demikian pula Sekar Mirah. Bersama Glagah Putih
merekapun turun ke kebun untuk melihat-lihat suasana
padepokan di pagi hari. Namun merekapun kemudian telah
langsung pergi ke sawah dan pategalan yang digarap oleh
para cantrik padepokan itu.
Ternyata mereka bertiga tidak bertemu dengan Swan-daru
dan Pandan Wangi. Mereka telah berselisih jalan. Ketika
mereka menuju ke pategalan, maka Swandaru dan Pandan
Wangi justru telah kembali melalui jalan yang lain.
Tetapi menjelang matahari naik, maka merekapun telah
berkumpul dijbangunan induk padepokan kecil itu untuk
makan pagi sambil membicarakan perkembangan sawah dan
pategalan padepokan itu. Swandaru dan Agung Sedayupun
telah menyatakan kekaguman mereka terhadap kerja para
cantrik yang jumlahnya tidak begitu banyak, tetapi telah
mampu menangani sawah dan pategalan yang terhitung luas.
Namun dalam pada itu, Swandaru dan Pandan Wangi telah
menyatakan bahwa hari itu mereka akan kembali ke Sangkal
Putung.
“ Begitu tergesa-gesa? “ bertanya Kiai Gringsing “
sebenarnya aku merasa hangat ditunggui oleh kedua muridku.
Dalam umurku yang tua ini, rasa-rasanya berkumpul dengan
kalian merupakan satu kebanggaan tersendiri. “
“ Jarak antara Jati Anom dan Sangkal Putung tidak terlalu
jauh Guru. Setiap saat Guru dapat memanggilku “ berkata
Swandaru.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Apakah kau
tidak ingin berbicara dengan Ki Widura? Barangkali aku dapat
minta Ki Widura untuk datang hari ini. Jika kalian masih
berada disini, maka kita dapat berbicara bersama-sama. “
Tetapi Swandaru menggeleng. Katanya “ Semuanya kami
serahkan kepada Guru. “
“ Baiklah “ berkata Kiai Gringsing. Namun iapun berkata
pula “ Tetapi aku harap Agung Sedayu masih tetap tinggal. “
Agung Sedayu berpaling kepada Sekar Mirah sejenak.
Seolah-olah ia ingin mendengar keinginan isterinya itu.
Tetapi karena Sekar Mirah tidak mengatakan sesuatu,
maka Agung Sedayu pun kemudian berkata “ Bagaimana jika
kita menunggu sampai besok? Besok kita akan menyusul ke
Sangkal Putung. Mungkin hari ini kita sempat berbicara
dengan Ki Widura. Meskipun barangkali pembicaraan itu
dapat dilakukan oleh Guru sendiri, namun menarik juga untuk
ikut mendengarkannya.
Sekar Mirah mengangguk. Jawabnya “ Aku tidak tergesagesa
kakang. “
Agung Sedayulah yang kemudian berkata kepada Kiai
Gringsing “ Kami dapat tinggal sampai besok Guru. “
“ Sokurlah. Aku tidak menjadi terlalu sepi. “ berkata Kiai
Gringsing. Tetapi ia masih juga bertanya kepada Swandaru “
Kenapa kau tidak kembali besok sama sekali. -
Swandaru tertawa. Katanya “ Kapan saja aku akan dapat
berada disini lagi. “
Kiai Gringsingpun tersenyum sambil mengangguk-angguk.
Tetapi iapun masih juga bertanya “ Pada siapakah kitab yang
aku pinjamkan kepada kalian sekarang? “
“ Ada padaku Guru “ jawab Swandaru “ sudah cukup lama.
Itulah salah satu hal yang telah aku sampaikan kepada Guru
tentang kakang Agung Sedayu. “
Kiai Gringsing mengangguk-angguk, sementara Agung
Sedayu berkata “ Aku akan meminjamnya lusa disaat aku
kembali ke Tanah Perdikan. “
Swandaru tertawa pula. Katanya “ jika kau tidak kebetulan
kemari kakang, kau tidak akan mengambil kitab itu secara
khusus. “
Agung Sedayu juga tertawa. Betapapun masamnya.
Bahkan iapun menjawab “ Mungkin aku memang terlalu
malas. “
Swandarulah yang kemudian berkata “ Guru. Sebelum aku
kembali, aku mohon Guru berada di sanggar sebentar. Aku
ingin Guru memberikan penilaian atas kemajuan kanuraganku.
Itu jika keadaan Guru tidak terlalu letih. “
Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya “ Baiklah Swandaru. “
Swandaru tersenyum. Ia menjadi gembira karena
kesediaan gurunya untuk melihat peningkatan ilmunya.
Namun
sebenarnyalah yang dimaksudkan bukan hanya gurunya
sajalah yang akan dapat menyaksikannya. Tetapi juga Agung
Sedayu.
Aku harap kakang Agung Sedayu melihat perkembangan
ilmuku, sehingga hatinya menjadi terbuka, bahwa memang
diperlukan kerja keras untuk mencapai tataran ilmu yang
memadai “ berkata Swandaru didalam hatinya.
Dengan demikian ia berharap akan dapat membuat
perbandingan ilmu dengan Agung Sedayu tanpa menyakiti
hatinya sebagaimana dipesankan oleh Pandan Wangi.
Beberapa saat kemudian, setelah mereka beristirahat
sebentar sehabis makan dan minum, maka merekapun telah
pergi keluar. Mereka turun ke halaman dan perlahan-lahan
mereka berjalan menuju ke sanggar. Kiai Gringsing yang
berjalan dengan tongkatnya, diapit oleh Swandaru dan Agung
Sedayu. Sementara Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Glagah
Putih mengikutinya di belakang.
Sejenak kemudian, merekapun telah berada di dalam
sanggar. Dua orang cantrik sedang membersihkan sanggar
itu. Mereka menempatkan kembali beberapa senjata yang
berpindah dari tempatnya semula.
Kedua cantrik itu memang menduga, bahwa semalam '
sanggar itu telah dipergunakan. Tetapi merekapun merasa
heran, bahwa mereka tidak mendengar sesuatu meskipun bilik
mereka tidak terlalu jauh dari sanggar itu.
“ Apakah Kiai sendiri yang telah berada di sanggar? “
bertanya seorang diantara mereka.
Kawannya hanya menggeleng saja tanpa menjawabnya.
Tetapi sebenarnyalah keduanya tahu bahwa tentu bukan
Kiai Gringsing. Selain ia memang sedang sakit, maka Kiai
Gringsing jarang sekali mempergunakan senjata yang
berjenis-jenis yang dikumpulkannya didalam sanggar itu,
kecuali justru pada saat ia memperkenalkan jenis-jenis
senjata itu serta penggunaannya kepada para cantrik, agar
para cantrik tidak terkejut apabila mereka bertemu dengan
lawan yang membawa senjata seperti itu. Sementara itu para
cantrik sendiri pada tataran pertama masih juga mempelajari
cara penggunaan senjata yang umum dipergunakan. Pedang
dan tombak, sebelum mereka pada suatu saat akan
memasuki latihan menggunakan senjata yang khusus.
Sedangkan jika Kiai Gringsing mempergunakan berjenisjenis
senjata itu untuk mempergunakan dihadapan para
cantrik, maka senjata-senjata itu akan dikembalikannya
dengan tertib.
Tetapi para cantrik itu tidak bertanya kepada siapapun.
Mereka membenahi saja dan mengatur serta membersihkan
sanggar itu sebagaimana yang mereka lakukan sehari-hari.
Ketika Swandaru dan Agung Sedayu memasuki sanggar
itu. bersama Kiai Gringsing dan orang-orang lain yang
bersama mereka, maka para cantrik itupun meninggalkan
sanggar itu. Mereka mengerti bahwa murid-murid utama Kiai
Gringsing itu akan mengadakan penilaian atas ilmu mereka
dibawah pengamatan gurunya.
Agung Sedayulah yang kemudian menutup pintu sanggar
itu, sementara Swandaru mulai mempersiapkan diri.
Kiai Gringsing yang lemah itupun kemudian telah duduk
diatas sebuah balok kayu untuk menyaksikan Swandaru
menunjukkan kemampuan ilmunya.
“ Aku sudah siap Guru “ berkata Swandaru. Kiai Gringsing
memandang kepada orang-orang yang ada di sebelah
menyebelahnya. Kemudian iapun bergumam
“ Kau dapat mulai Swandaru. “
Swandaru mengangguk hormat. Kemudian perlahan-lahan
ia telah melangkah ke tengah-tengah sanggar.
Sejenak Swandaru memusatkan nalar budinya. Kemudian
perlahan-lahan ia mulai bergerak. Tangannya mulai
mengembang, kemudian kakinya mulai bergeser. Semakin
lama semakin cepat sehingga kemudian Swandaru itupun
sudah berloncatan dengan tangkasnya. Tangannya bergerak
dengan cepat, sekali mengembang, kemudian bagaikan
bersilang didada. Satu tangannya terjulur lurus kedepan,
namun kemudian tangannya yang lain dengan telapak tangan
yang tegak terkembang namun jari-jarinya merapat, terayun
kesamping bersamaan dengan kakinya yang berputar
setengah lingkaran.
Kiai Gringsing memperhatikan gerak Swandaru dengan
sungguh-sungguh. Sebenarnyalah Swandaru memiliki
kemantapan gerak yang mengagumkan. Jika ia berdiri tegak
dengan kaki renggang dan ditekuk pada lututnya, maka
sikapnya bagaikan batu karang yang tidak dapat digoyahkan
oleh gelombang yang betapapun kuatnya didorong oleh angin
prahara yang betapapun besarnya.
Ayunan tangannya yang semakin lama semakin cepat,
telah menggetarkan udara di sekitarnya. Bahkan rasa-rasanya
telah menimbulkan ayunan angin yang kencang bertiup
mendahului wadagnya. Sehingga dengan demikian maka
kekuatan wadag Swandaru yang dialasi oleh tenaga cadangan
didalam dirinya, benar-benar merupakan kekuatan yang
dahsyat.
Agung Sedayu yang menyaksikan gerak Swandaru
mengangguk-angguk diluar sadarnya. Sebenarnyalah ia mengerti,
bahwa Swandaru bukannya semata-mata ingin
memperlihatkan kemajuan ilmunya untuk mendapat penilaian
dari gurunya. Tetapi Swandaru juga ingin menunjukkan
kepadanya.
Untunglah bahwa Agung Sedayu telah menumpahkan
perasaannya semalam, dan hanya disaksikan oleh isterinya.
Sehingga dengan demikian maka perasaannya sama sekali
tidak lagi tersinggung melihat sikap Swandaru. Dengan penuh
keyakinan pada diri sendiri, ia melihat bahwa yang ditunjukkan
oleh Swandaru itu sama sekali tidak mengejutkannya. Apalagi
yang nampak pada ilmu Swandaru itu adalah
sebagian besar kekuatan kewadagan betapapun
besarnya.
Sementara itu, Sekar Mirah, Pandan Wangi dan Glagah
Putihpun memperhatikan dengan seksama. Dengan penuh
perhatian Pandan Wangi menilai setiap unsur gerak dari
suaminya.
Ternyata bahwa Pandan Wangi yang juga memiliki
kemampuan yang tinggi berdasarkan ilmu yang mengalir dari
Perguruan Menoreh lewat ayahnya Ki Gede Menoreh yang
bernama Ki Argapati itu melihat beberapa kemungkinan yang
sebenarnya masih dapat dikembangkan oleh Swandaru, asal
saja ia mau melihat ilmunya lebih kekeda-laman. Bahkan
Pandan Wangi sendiri telah mampu menemukan pancaran
ilmunya justru yang belum diketemukan oleh ayahnya sendiri,
kemampuan untuk menjangkau sasaran mendahului sentuhan
wadagnya, yang masih akan dikembangkannya lagi dengan
kemampuan untuk menyentuh sasaran dari jarak tertentu.
Pandan Wangi yang pernah mempersoalkannya dengan
Kiai Gringsing telah mendapat beberapa petunjuk
daripadanya, setelah Kiai Gringsing mempelajari dasar-dasar
ilmunya. Meskipun ilmu itu belum mapan, tetapi telah mulai
menemukan bentuknya.
Namun Pandan Wangi harus menghentikan semua
kegiatannya disamping ia sedang mengandung. Bagi Pandan
Wangi tidak ada yang lebih berharga baginya daripada anak
yang bakal lahir itu.
Beberapa saat Pandan Wangi bagaikan membeku. Namun
kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa ia
tidak banyak dapat membantu suaminya. Bukan karena ia
tidak mau atau tidak sanggup. Tetapi Swandaru terlalu yakin
akan dirinya.
Sementara itu Sekar Mirahpun memperhatikan tata gerak
Swandaru yang keras. Jika kakinya menghentak bumi, maka
rasa-rasanya bumi bagaikan bergetar.
Sekar Mirah pernah bertanya dengan berbagai macam
orang berilmu tinggi. Sementara itu suaminya,Ki Jaya-raga,
bahkan Glagah Putih yang masih sangat muda, adalah orangorang
yang berilmu tinggi pula. Karena itu, maka yang
dikagumi oleh Sekar Mirah pada kakaknya itu adalah
besarnya kekuatan wadagnya. Memang bukannya tidak
mungkin bahwa kekuatan yang sangat besar itu akan dapat
menembus ilmu kebal Agung Sedayu. Tetapi Sekar Mirah
yakin, jika terjadi perbandingan ilmu dengan mengadakan
sentuhan langsung dan mereka benar-benar mempergunakan
segenap ilmu masing-masing, maka kakaknya itu tidak
akan dapat mengimbangi suaminya. Bahkan mampu
mendekatpun tidak, karena Agung Sedayu memiliki
kemampuan menyerang dari jarak tertentu.
Namun tiba-tiba saja Sekar Mirah menjadi cemas. Baru
semalam Agung Sedayu seakan-akan kehilangan atas
pengamatan diri sendiri. Bukan karena sindiran-sindiran
Swandaru tentang ilmunya atau barangkali kenyataan
suaminya mengambil kitab gurunya, tetapi justru karena hal
yang lain, yang seakan-akan membawanya kepada satu
keadaan yang dapat mengecewakan Sekar Mirah sebagai
seorang isteri.
Sementara itu Sekar Mirah tahu pasti, bahwa itu bukan
kesalahan suaminya. Namun agaknya Yang Maha Agunglah
yang memang belum berkenan memberikan kurnia itu kepada
mereka berdua.
Diluar sadarnya ia memandang kepada suaminya yang
berdiri disebelahnya. Tetapi ia tidak melihat kesan apapun
diwajah suaminya, meskipun agaknya suaminya itu sedang
memperhatikan tata gerak Swandaru sebaik-baiknya.
Ketika kemudian Sekar Mirah memandang Kiai Gsing-sing
yang duduk diatas sebatang balok kayu , maka debar
jantungnya serasa menjadi semakin cepat. Kepada diri sendiri
ia berkata “ Jika Kiai Gringsing memerintahkan kakang Agung
Sedayu untuk juga menunjukkan kemampuannya, mungkin ia
akan berusaha untuk menunjukkan
kelebihannya dari kakang Swandaru, justru karena
kekurangannya itu. Jika ternyata bahwa kakang Agung
Sedayu mempunyai banyak kelebihan dari kakang Swandaru,
maka akan dapat timbul persoalan karenanya. “
Sekar Mirah memang merasa menjadi sulit. Agung Sedayu
adalah suaminya, sedangkan Swandaru adalah kakak
kandungnya.
Dalam pada itu, Swandaru telah semakin meningkatkan
kemampuannya. Tangan dan kakinya bergerak semakin
cepat. Geraknya menjadi semakin mantap. Seakan-akan
Swandaru justru menjadikan tubuhnya seberat batu hitam,
namun tanpa kesulitan untuk melenting dan berloncatan.
Hentakan kakinya ditanah benar-benar telah menggoyahkan
lingkungan disekitarnya.
Glagah Putih sekali-sekali mengerutkan keningnya. Namun
kemudian menarik nafas dalam-dalam. Bahkan timbul
pertanyaan didalam hatinya “ Apakah sebenarnya kelebihan
kakang Swandaru? Ia mempunyai kekuatan yang sangat
besar, bahkan ia mampu bergerak dengan cepat meskipun
tubuhnya bagaikan menjadi gumpalan besi. Tetapi
kelebihannya hanya nampak di permukaan. “
Meskipun kemudian Glagah Putih nampak memperhatikan
dengan seksama, tetapi sebenarnyalah, apa yang dilihatnya
tidak menggetarkan jantungnya. Namun Glagah Putih
berusaha untuk menyingkirkan perasaannya yang
dianggapnya sebagai suatu keseimbangan, meskipun setiap
kali muncul dipermukaan “ Aku dapat berbuat lebih dari yang
dilakukan kakang Swandaru. “
Sementara itu Swandaru masih bergerak terus. Bahkan
tiba-tiba saja Swandaru telah mengurai cambuknya. Cambuk
yang semula sama dengan cambuk Agung Sedayu, namun
kemudian telah dirubahnya sekali dengan menambah karahkarah
pada juntainya, sehingga sentuhan juntai cambuk
Swandaru dengan landasan kekuatan yang sama akan
menimbulkan akibat yang lebih parah dari cambuk Agung
Sedayu.
Sejenak kemudian telah terdengar ledakan cambuk yang
mengejutkan. Orang-orang yang ada didalam sanggar itu
memang terkejut. Ledakan cambuk Swandaru bagaikan
menggetarkan udara di dalam sanggar itu dan menghentak
setiap dada. Ketika Swandaru mengulang beberapa kali dan
ledakan-ledakan saling susul menyusul dengan kerasnya,
maka orang-orang yang ada didalam sanggar itu justru tidak
lagi tergetar jantungnya sama sekali. Bahkan Glagah Putihpun
mampu dengan tanpa kesulitan mengatasi hen-takanhentakan
di dadanya itu.
Beberapa saat kemudian, maka Swandaru mulai
menyentuh sasaran dengan ujung cambuknya. Ternyata
kekuatan Swandaru memang luar biasa. Sebuah diantara
patok batang bambu petung yang utuh yang berdiri tegak
diantara beberapa patok yang lain, ternyata telah patah
setelah dikenai ujung cambuk Swandaru. Kemudian ujung
cambuk itu telah melingkar-lingkar di udara, dan dengan cepat
membelit batang bambu petung yang lain. Dengan hentakan
yang keras sekali, maka patok itu telah patah pula. , - -
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia yakin, bahwa
kekuatan Swandaru itu tumbuh bersamaan dengan latihanlatihannya
yang berat dan bersungguh-sungguh.
Dengan kepala yang terangguk-angguk Kiai Gringsing
berkata kepada diri sendiri “ Kekuatan Swandaru memang luar
biasa. “
Tetapi Glagah Putih sama sekali tidak tergetar
menyaksikannya. Ia mampu melakukannya tanpa sentuhan
atas patok-patok bambu itu. Dengan sungguh-sungguh ia
telah melakukan laku yang berat, menukik ke kedalaman
ilmunya dibawah tuntunan Agung Sedayu dan Ki Jayaraga,
sehingga ia mampu menyerap kekuatan yang ada di
sekitarnya.
Ledakan-ledakan cambuk berikutnya menjadi semakin
menghentak-hentak. Namun tidak menggoyahkan jantung
mereka yang ada didalam sanggar itu.
Pandan Wangi memang mengagumi kekuatan suaminya. Ia
menyadari bahwa jarang seseorang memiliki kekuatan dan
kemampuan bergerak secepat Swandaru meskipun geraknya
menjadi mantap dan berat. Tetapi ledakan-ledakan cambuk
itupun tidak mempengaruhi detak jantungnya. Apalagi Pandan
Wangi yang sedang berusaha untuk melindungi anak didalam
kandungannya itu telah mengerahkan daya tahannya pula,
agar ledakan-ledakan itu tidak berpengaruh atas bayinya yang
masih akan dilahirkannya itu kelak. Sementara itu usaha
Pandan Wangi mendalami ilmunya dengan laku dan petunjukpetunjuk
Kiai Gringsing memang telah mampu
membangkitkan perlawanan dari dalam dirinya bersamaan
dengan ungkapan daya tahannya atas pengaruh getarangetaran
yang meng-- hentak dadanya.
Seperti Sekar Mirah, maka Agung Sedayupun menjadi
berdebar-debar pula. Ia justru berpikir, apa yang akan
dilakukannya jika gurunya memintanya untuk menunjukkan
tingkat kemampuannya. Apakah ia harus mempertunjukkan
kemampuannya sejajar dengan tingkat kemampuan
Swandaru, atau kurang dari itu sebagaimana anggapan
Swandaru atau justru pada saat itu gurunya ingin
mengungkapkan tataran ilmu yang sebenarnya dari keduanya.
Ternyata bahwa kegelisahannya itu telah membuatnya
berkeringat di kening dan punggungnya.
Beberapa saat Swandaru masih bermain-main dengan
cambuknya. Namun nampaknya ia telah sampai kepuncak
permainannya, sehingga kemudian kecepatan geraknya telah
disusutnya. Semakin lama semakin lamban dan ledakanledakan
cambuknyapun telah menyusut pula.
Tetapi Swandaru tidak cepat-cepat berhenti. Meskipun
lambat untuk beberapa saat ia masih bergerak. Namun
akhirnya Swandaru itupun berhenti pula.
Kiai Gringsinglah yang mula-mula bertepuk tangan
disambut dengan serta merta oleh Pandan Wangi. Disusul
oleh Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih.
Swandarupun kemudian melangkah maju kehadapan
gurunya. Dengan hormat ia mengangguk dalam-dalam.
“ Permainan yang buruk, Guru “ berkata Swandaru.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dengan nada rendah
ia berkata “ Kau mendapat banyak kemajuan Swandaru. “
“ Terima kasih Guru “ sahut Swandaru “ namun aku mohon
Guru bersedia memberikan beberapa penilaian tentang
ilmuku. Tentu saja bukan yang pantas dipuji saja. Tetapi juga
yang Guru anggap belum memenuhi patokan yang Guru
kehendaki. “
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan hatihati
ia mencoba untuk memberikan penilaian kepada muridnya
yang muda itu.
“ Swandaru “ berkata Kiai Gringsing “ kekuatanmu kian
menjadi semakin besar. Aku tahu, bahwa jarang sekali orang
yang memiliki kekuatan sebagaimana kau miliki itu.
Sementara itu, kau mampu membuat dirimu semakin mantap
berjejak diatas bumi sehingga rasa-rasanya tubuhmu terbuat
dari besi yang berat. Namun sama sekali tidak mempengaruhi
gerak yang tangkas dan cepat. “
“ Aku berlatih sesuai dengan petunjuk laku didalam kitab
yang aku bawa “ berkata Swandaru “ selebihnya, aku telah
mempergunakan sebagian waktuku untuk membuat beberapa
perbandingan dengan pengalamanku selama ini. Dengan
demikian, maka aku telah mengembangkan ilmu itu
sebagaimana Guru lihat. “
“ Ya “ berkata Kiai Gringsing “ kau juga telah mengambil
beberapa unsur dari tiga macam laku dari tiga macam
susunan unsur gerak, namun yang senafas, sehingga tata
gerakmu menjadi kaya dengan unsur-unsur yang tersusun
kemudian. Dengan demikian, maka kau telah memenuhi
keinginanku untuk tidak sekedar membaca, mempelajari dan
melakukannya dengan tertib sebagaimana terdapat
didalam kitab itu tanpa kemungkinan-kemungkinan baru
sesuai dengan perkembangan dunia olah kanuragan. Namun
dengan cara sebagaimana kau lakukan, di dukung oleh
petunjuk-petunjuk lain tentang mengatur pernafasan dan
pemanfaatan setiap jalur urat nadi dan otot-otot didalam
tubuhmu, maka kau benar-benar seorang yang memiliki
kemampuan yang sulit untuk ditemukan tandingnya. “
“ Aku sedang mempersiapkan satu kemungkinan baru Guru
“ berkata Swandaru “ aku sedang mempelajari laku ke empat
dari pemanfaatan tenaga dalam untuk melawan berat alami. “
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah.
Aku tahu bahwa kau telah menguasai laku juga ke tiga dan
sebelumnya.
“ Nah “ berkata Swandaru “ bukankah guru juga ingin
melihat tingkat kemajuan ilmu kakang Agung Sedayu? “
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
keringat dingin mengalir dari kening dan punggung Agung
Sedayu. Ia masih belum menemukan jawabnya, apakah yang
paling baik dilakukan dihadapan Swandaru.
Sebenarnyalah bahwa Sekar Mirah dan Glagah Putih-pun
termangu-mangu seolah-olah mereka mengerti apa yang
bergejolak didalam hati Agung Sedayu. Namun Sekar
Mirahpun menjadi cemas pula, bahwa tiba-tiba saja Agung
Sedayu kehilangan kembali sebagaimana dilakukan semalam.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba saja Kiai Gringsing telah
terbatuk. Dipeganginya dadanya sambil menundukkan
kepalanya.
Hampir berbareng Agung Sedayu dan Swandaru meloncat
dan berlutut disebelah menyebelahnya. Sekar Mirah, Pandan
Wangi dan Glagah Putihpun telah bergegas mendekatinya
pula.
“ Guru “ desis Agung Sedayu dan Swandaru hampir
berbareng.
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada
rendah ia berkata “ Aku tidak apa-apa. Tetapi biarlah aku
beristirahat. “
Agung Sedayu dan Swandaru tidak membantah.
Merekapun kemudian telah memapah Kiai Gringsing keluar
dari sanggar dan membawanya kedalam biliknya.
Ketika Kiai Gringsing kemudian duduk di bibir pembaringan,
maka iapun berkata “ Aku minta minum. “
Swandarulah yang berkisar untuk mengambil gendi diatas
sosok disudut bilik itu.
Ketika Kiai Gringsing meneguk beberapa tetes air dingin
dari gendi itu, maka rasa-rasanya tubuhnya menjadi segar.
Sambil mendorong gendi itu dari mulutnya ia berkata “ Cukup.
Leherku tidak lagi terasa kering. “
“ Bagaimana keadaan Guru sekarang? “ bertanya Agung
Sedayu.
Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya “ Aku sudah menjadi semakin baik. Tetapi biarlah aku
berbaring barang sejenak. “
Agung Sedayu dan Swandarupun kemudian membantu
gurunya merebahkan diri di pembaringannya. Kemudian
merekapun telah diperkenankan oleh Kiai Gringsing untuk
beringsut keluar.
“ Tunggulah sebentar diluar “ berkata Kiai Gringsing “ aku
tidak memerlukan waktu lama. Aku akan memusatkan nalar
dan budiku, agar keadaanku segera semakin baik. “
“ Silahkan Guru “ jawaban merekapun hampir berbareng.
Sekar Mirah dan Pandan Wangipun dengan cemas pula
telah menemui Agung Sedayu dan Swandaru begitu mereka
keluar dari bilik Kiai Gringsing.
“ Bagaimana keadaan Kiai Gringsing? “ bertanya Pandan
Wangi.
“ Guru akan beristirahat sepenuhnya. Kami telah diminta
untuk keluar. Tetapi setelah minum beberapa teguk keadaan
guru menjadi semakin baik “ jawab Swandaru.
“ Sokurlah “ Pandan Wangi mengangguk-angguk “ agaknya
Kiai Gringsing memang terlalu letih. “
Swandaru mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya
kepada Pandan Wangi “ Marilah, kita berbenah diri. Sebentar
lagi kita akan kembali ke Sangkal Putung mendahului kakang
Agung Sedayu. “
“ Besok aku akan segera menyusul “ berkata Agung
Sedayu “ Sekar Mirah nampaknya masih ingin berada di
Sangkal Putung barang dua atau tiga hari. “
Demikianlah maka Swandaru dan Pandan Wangi telah
pergi ke biliknya, sementara Agung Sedayu dan Sekar
Mirahpun telah pergi ke bilik mereka pula.
“ Sayang “ desis Swandaru didalam biliknya “ jika guru tidak
menjadi terlalu letih maka aku akan dapat menunjukkan
kepada kakang Agung Sedayu satu perbandingan ilmu yang
tentu akan sangat menarik. Kakang Agung Sedayu mau tidak
mau harus membuat pertimbangan-pertimbangan baru bagi
ilmunya atau caranya menyadap ilmu. Ia tentu akan merasa
dicambuk untuk mempercepat langkahnya dalam usahanya
meningkatkan ilmunya. “
Pandan Wangi mengangguk-angguk sambil berkata “ Kiai
Gringsing terlalu memaksa diri sejak kemarin. “
“ Ya “ Swandaru mengangguk. Katanya “ Tetapi aku
berharap bahwa pada kesempatan lain aku dan kakang Agung
Sedayu akan dapat melakukannya. “
Pandan Wangi tidak menjawab. Namun iapun membenahi
pakaiannya dan beberapa lembar pakaian yang mereka bawa.
Sementara itu dibilik lain, Agung Sedayu duduk sambil
menarik nafas dalam-dalam. Ia menganggap bahwa gurunya
telah membebaskannya dari kesulitan yang tidak teratasi.
Justru karena gurunya harus beristirahat, maka ia tidak perlu
tampil untuk menunjukkan tingkat ilmunya. Sebab jika ia
benar-benar harus berbuat seperti Swandaru, maka ia akan
kebingungan.
Agaknya Sekar Mirahpun merasa lega, bahwa Agung
Sedayu tidak terpaksa untuk berbuat seperti kakaknya
Swandaru. Dan kemungkinan yang dicemaskannya. Jika
Agung Sedayu tiba-tiba terlepas dari kendali perasaannya,
maka ia akan dapat berbuat sebagaimana dilakukan semalam.
Tetapi jika ia ingin memberi kepuasan kepada Swandaru dan
berbuat lebih sedikit daripada yang dapat dilakukannya, maka
Swandaru tentu akan merendahkannya sebagai seorang
saudara tua dalam perguruannya.
Namun, ternyata Kiai Gringsing yang terlalu letih itu
seakan-akan memberikan jalan keluar yang tidak terdugaduga
kepada Agung Sedayu.
Agung Sedayu dan Sekar Mirah tidak membicarakannya.
Tetapi agaknya kedua-duanya menjadi saling mengerti akan
hal itu.
Sementara itu, Glagah Putih telah berada diantara para
cantrik pula. Sebenarnyalah ia ingin berbicara tentang tingkat
kemampuan ilmu Swandaru. Tetapi karena tidak ada orang
yang dapat diajak berbicara, maka iapun menyimpannya saja
didalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, ternyata Kiai Gringsing telah
bangkit pula dari pembaringannya. Bahkan iapun telah duduk
dan minum minuman hangat yang telah dihidangkan oleh
seorang cantrik yang bergantian melayaninya.
Kepada cantrik yang membawa minuman itu Kiai Gringsing
berpesan agar Swandaru dan Agung Sedayu bersama isteriisteri
mereka dan Glagah Putih datang ke dalam biliknya.
Beberapa saat kemudian, mereka itupun telah duduk pula
didalam bilik Kiai Gringsing. Meskipun agak berdesakan
mereka duduk berjajar di sebuah lincak panjang yang
memang terdapat didalam bilik itu selain pembaringan Kiai
Gringsing.
“ Bagaimana keadaan guru? “ bertanya Agung Sedayu.
“ Aku sudah berangsur baik “ jawab Kiai Gringsing yang
duduk di bibir pembaringan. Aku terlalu hanyut dalam tata
gerak Swandaru. “
“ Apakah Guru kecewa? “ bertanya Swandaru.
“ Tidak. Sudah aku katakan, bahwa aku merasa bangga
atas kemajuanmu “ jawab Kiai Gringsing “ apalagi setelah aku
mendengar bahwa kau sedang mempelajari laku keempat.
Aku hanya ingin menganjurkan agar kau berminat untuk
memasuki bagian kedua dari kitab itu. Meskipun kau belum
sampai pada laku ketujuh dari bagian pertama, maka secara
terpisah, kau dapat mendalami laku sebagaimana menurut
bagian kedua dari kitab itu. Kedua bagian itu dapat kau
pelajari dalam waktu yang bersamaan, asal kau sudah
memahami isi dari kitab itu pada bagian landasannya. “
Swandaru mengerutkan keningnya. Sudah beberapa kali
gurunya menganjurkannya untuk mempelajari bagian kedua
dari kitab itu yang menuntunnya melihat kekedalam-an dirinya,
kekuatan alam disekitarnya dan hubungan antara dunia kecil
dan dunia besar. Bagian yang menurut Swandaru agak kurang
menarik, karena hasilnya tidak dapat langsung terasa dalam
ungkapan jika terjadi benturan kekerasan disaat-saat ia
menjalani laku. Swandaru harus menunggu untuk beberapa
tahun untuk memetik hasil laku pada bagian kekitab itu. Bagi
Swandaru agaknya manfaatnya akan segera terasa jika ia
menjalani laku keempat, kelima, enam dan tujuh.
Tetapi setiap kali gurunya berkata kepadanya, bahwa
kedua bagian itu dapat dipelajari bersama-sama.
“Apakah waktuku tidak akan habis untuk berada di-dalam
sanggar jika aku menjalani laku kedua bagian isi kitab itu
bersama-sama? “ pertanyaan itu selalu saja mengganggu
perasaannya.
Tetapi menghadapi gurunya yang sedang sakit itu,
Swandaru berkata “ Aku akan mencobanya Guru. “
Kiai Gringsing tersenyum. Katanya “ Baiklah. Aku yakin,
bahwa kalian akan menjadi orang yang berilmu tinggi. Namun
berilmu tinggi itu sendiri belum memberikan arti bagi
sesamamu. Karena itu ilmu itu harus kalian amalkan. Tetapi
ingat, kalian harus selalu ingat pada sangkan paraning
dumadi. Selalu ingat kepada Sumber hidup kalian dan sesama
kalian dalam setiap mengamalkan ilmu. Dengan demikian
maka ilmu kalian akan memberikan arti bagi hidup kalian. “
Bukan saja Agung Sedayu dan Swandaru yang
mengangguk-angguk. Tetapi Pandan Wangi, Sekar Mirah dan
Glagah Putihpun mengangguk-angguk pula.
“ Nah “ tiba-tiba suara Kiai Gringsing merendah “
sebenarnya aku juga ingin memberikan bekal kepada Pandan
Wangi. Aku dengar kau sudah mulai mengandung. Aku ikut
merasakan kebahagiaan perasaanmu. Karena itu, maka aku
akan memberikan sejenis obat untukmu, agar kau selalu
dalam keadaan sehat beserta bakal anakmu yang masih ada
did alam kandungan itu. “
Pandan Wangi mengangguk hormat sambil menjawab “
Terima kasih Kiai. Untuk selanjutnya kami mohon restu. “
“ Aku akan berdoa untuk kalian dan bakal anakmu yang
masih berada dalam kandungan. “ berkata Kiai Gringsing
sambil tersenyum.
Kiai Gringsingpun kemudian bangkit berdiri sementara
Agung Sedayu dan Swandaru bersama-sama mendekatinya.
“ Guru akan kemana? “ bertanya Swandaru.
“ Tidak kemana-mana. Aku hanya akan mengambil obat
didalam gledeg bambu itu. Obat yang aku janjikan kepada
Pandan Wangi. “ jawab Kiai Gringsing.
Namun Agung Sedayu dan Swandaru memapahnya
melangkah ke gledeg di sudut bilik itu. Diambilnya sebuah
bumbung dari dalam bilik itu dan diberikannya kepada
Swandaru sambil berkata “ Aku mempunyai beberapa butir
obat yang sangat baik bagi isterimu. Setiap tiga hari sekali,
biarlah Pandan Wangi menelan satu butir obat ini, sampai
habis. Mudah-mudahan ia menjadi semakin sehat, sehingga di
saat melahirkan tidak akan mengalami kesulitan. Baik ibunya
maupun anaknya. “
“ Terima kasih Guru “ jawab Swandaru sambil menerima
obat didalam bumbung itu.
Ketika kemudian Kiai Gringsing telah duduk kembali, maka
Swandaru telah mohon diri untuk kembali ke Sangkal Putung
bersama isterinya.
“ Apakah kau benar-benar akan kembali hari ini? “ bertanya
Kiai Gringsing.
“ Ya Guru, agar pekerjaanku tidak banyak yang
terbengkelai “ jawab Swandaru.
“ Baiklah. Jaga isterimu baik-baik. Kau tentu berharap
bahwa anakmu akan lahir dengan sehat dan tumbuh dengan
cepat pula. Bukankah ia bakal muridmu pula yang akan
menyambung kelangsungan hidup dari ilmu keturunan
perguruan kita? Laki-laki atau perempuan? “ bertanya Kiai
Gringsing.
“ Ya Guru “ jawab Swandaru sambil menunduk. Kiai
pringsing mengangguk-angguk. Tetapi iapun
berkata “ Sayang sekali kau tidak dapat berada disini lebih
lama lagi. Tetapi untuk selanjutnya kau aku harap akan sering
datang ketempat ini. Aku sudah menjadi semakin lemah dan
tidak berdaya. “
Swandaru mengangguk hormat sambil menjawab “ Ya
Guru. Aku akan selalu datang kemari. “
Demikianlah maka Swandaru telah meninggalkan
padepokan kecil itu bersama Pandan Wangi. Gurunya tidak
mengantarkannya sampai keregol. Tetapi Kiai Gringsing
berdiri saja bersandar tongkat di pendapa.
Agung Sedayu, Sekar Mirah, Glagah Putih dan beberapa
cantrik memang mengantar mereka sampai keregol. Ketika
Pandan Wangi dan Swandaru siap untuk berangkat Agung
Sedayu berkata “ Besok kami akan menyusul ke Sangkal
Putung. “
“ Kami menunggu “ jawab Swandaru.
Sementara itu Sekar Mirah berbisik di telinga Pandan
Wangi “ Berhati-hatilah. Seharusnya kau tidak lagi berkuda. “
Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah meninggalkan
padepokan itu. Seperti yang dikatakan oleh Pandan Wangi,
kudanya memang tidak berlari sama sekali. Meskipun
perjalanan mereka masih lebih cepat dari orang-orang yang
berjalan, tetapi perjalanan itu memang merupakan perjalanan
yang lambat.
Namun Swandaru sama sekali tidak tergesa-gesa. Dengan
sabar ia berkuda disebelah Pandan Wangi. Mereka tidak ingin
mengalami kesulitan dengan anak yang ada di-dalam
kandungan itu.
Kedua orang suami isteri itu sama sekali tidak mengalami
gangguan diperjalanan. Jalan yang mereka lalui, merupakan
jalan yang sudah menjadi semakin ramaL Baik jalur disebelah
Timur, maupun jalur disebelah Barat. Meskipun pohon randu
alas yang sering disebut rumah Hantu Bermata Satu itu masih
ada, tetapi disekitarnya sudah menjadi jauh lebih lapang dari
beberapa tahun yang lampau. Gerumbul-gerumbul telah
banyak yang dibersihkan. Sebatang parit mengalirkan air yang
bersih lewat dibawah batang randu alas itu. Sawahpun
menjadi semakin hijau
dari saat-saat sebelumnya ketika air parit masih belum
dapat mengalir dengan teratur.
Sepeninggal Swandaru, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan
Glagah Putih telah kembali ke pendapa. Kiai Gringsing yang
kemudian duduk di pendapa itu sudah nampak lebih segar
dari beberapa saat sebelumnya. Apalagi ketika Kiai Gringsing
itu berada di sanggar.
“ Bagaimana keadaan Kiai? “ Bertanya Agung Sedayu.
“ Aku sudah menjadi semakin baik “ jawab Kiai Gringsing “
mudah-mudahan kedatangan kalian merupakan obat yang
baik bagiku. “ Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian katanya “ Sebenarnya aku ingin berbicara
dengan Ki Widura. Meskipun Swandaru tidak ada, tetapi salah
satu diantara murid utamaku ada disini, sehingga aku dapat
ikut serta dalam pembicaraan itu. “
Agung Sedayu mengangguk hormat sambil bertanya “
Apakah aku harus memanggil Ki Widura? “
Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya “ Baiklah. Mungkin kau dan Glagah Putih akan dapat
memanggilnya. Sekar Mirah dapat menunggu di padepokan ini
atau Sekar Mirah juga akan ikut ke Ba-nyu Asri? “
Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya “ Biarlah aku ikut ke Banyu Asri, Kiai. Aku ingin
melihat-lihat perkembangan daerah ini “
“ Baiklah. Ajak Ki Widura datang ke padepokan kecil ini.
Mudah-mudahan ia tidak berkeberatan mengawani aku disini “
berkata Kiai Gringsing.
“ Ya Guru, jawab Agung Sedayu “ kami akan berangkat
sekarang.
“ Pergilah. Aku menunggu kalian disini “ sahut Kiai
Gringsing.
“ Apakah Guru tidak akan masuk ke bilik untuk beris
tirahat? “ bertanya Agung Sedayu.
“ Aku sudah cukup beristirahat “ jawab Kiai Gringsing pula.
Agung Sedayu memang menjadi termangu-mangu. Tetapi
karena Kiai Gringsing tidak beranjak dari tempatnya, maka
Agung Sedayu telah mengajak Sekar Mirah dan Glagah Putih
untuk meninggalkan pendapa.
Ketiganya kemudian telah membenahi kuda-kuda mereka.
Sebentar kemudian sambil menuntun kuda masing-masing
mereka berjalan di depan pendapa.
Kiai Gringsing yang melihat ketiganya, telah bangkit berdiri
dan berjalan ke tangga pendapa dengan tongkatnya.
Nampaknya memang lebih segar dari beberapa saat
sebelumnya.
“ Hati-hatilah di jalan “ pesan Kiai Gringsing.
“ Ya Guru “ jawab Agung Sedayu “ kami akan berhati-hati “
Sejenak kemudian, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan
Glagah Putih telah turun ke jalan didepan padepokan itu.
Berloncatan mereka naik. Sesaat kemudian, maka kuda
merekapun telah berlari meninggalkan regol. Debu yang
kelabu berhamburan dibelakang kaki kuda-kuda itu.
Ketiganya memang merencanakan untuk singgah barang
sebentar di rumah Untara. Namun ternyata Untara tidak
sedang berada dirumah. Bersama beberapa orang
pengawalnya ia sedang bertugas mengamati keadaan disekitar
barak pasukannya yang berada di Jati Anom. Tetapi
agaknya Untara juga akan menemui beberapa orang beba-hu
Kademangan Jati Anom untuk membicarakan persoalanpersoalan
yang tumbuh kemudian sebagaimana sering
dilakukannya. Bahkan Untara telah sering pula mengunjungi
dan membuat hubungan yang akrab dengan padukuhan-
padukuhan dan Kademangan-kademangan disekitar
Jati Anom.
Karena itu, maka mereka bertiga tidak lama berada dirumah
Untara. Merekapun kemudian telah mohon diri untuk
meneruskan perjalanan ke Banyu Asri.
Di Banyu Asri mereka telah disambut dengan gembira oleh
keluarga Ki Widura. Dengan akrab mereka saling menyapa
dan menanyakan keselamatan masing-masing.
Sambil minum-minuman hangat dan menikmati beberapa
potong makanan merekapun berbicara tentang keadaan
mereka masing-masing serta lingkungan tempat tinggal
mereka.
Baru beberapa saat kemudian Agung Sedayu
menyampaikan maksud kedatangannya kepada Ki Widura.
“ Kiai Gringsing memanggilku? “ desis Ki Widura.
“ Ya Paman. Guru ingin berbicara tentang beberapa hal
yang penting dengan Paman “ berkata Agung Sedayu.
“ Tentang apa? “ bertanya Ki Widura.
“ Guru yang akan mengatakannya langsung kepada Paman
“ jawab Agung Sedayu.
Ki Widura menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun
kemudian menjawab “ Baiklah. Aku akan memenuhi undangan
gurumu. Aku akan membenahi pakaianku dahulu. “
Beberapa saat kemudian, Ki Widurapun telah siap
sehingga iapun dapat bersama-sama dengan Agung Sedayu.
Sekar Mirah dan Glagah Putih.
Kiai Gringsingpun telah mempersilahkan Ki Widura untuk
duduk diruang dalam. Sementara itu, ia telah minta Agung
Sedayu untuklikut berbicara bersamanya dengan Ki Widura.
“ Aku akan membicarakan beberapa hal yang perlu kau
ketahui “ berkata Kiai Gringsing.
Agung Sedayu mengangguk hormat. Sementara itu Sekar
Mirah dan Glagah Putih mengerti maksud orang tua itu, bahwa
sebaiknya mereka tidak ikut dalam pembicaraan itu. Karena
itu, maka Sekar Mirahpun kemudian minta diri untuk
beristirahat dibiliknya dan Glagah Putih ingin melihat-lihat
kebun di padepokan itu.
Ketika Sekar Mirah dan Glagah Putih telah meninggalkan
ruangan itu, maka Kiai Gringsingpun mulai menyampaikan
rencana untuk minta agar Ki Widura bersedia membantunya
tinggal di padepokan itu.
Ki Widura memang terkejut. Yang dilakukan Kiai Gringsing
memang bukan kebiasaan sebuah perguruan. Ki Widura
adalah orang diluar perguruan Kiai Gringsing. Bagaimana
mungkin ia akan dapat memimpin padepokan itu meskipun
atas nama Kiai Gringsing.
Tetapi Kiai Gringsing yang mengetahui perasaan Ki Widura
berkata “ Ki Widura. Kadang-kadang seseorang dapat saja
menyimpang dari kebiasaan yang berlaku jika itu akan
memberikan kebaikan baginya dan sudah tentu tidak
merugikan orang lain. Terlebih-lebih lagi tidak menyalahi
tanggungjawab seseorang kepada Sumber Hidupnya. “
Ki Widura mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai
Gringsing berkata selanjutnya “ Ki Widura. Disini ada seorang
diantara kedua murid utamaku. Ia menjadi saksi, bahwa yang
aku sampaikan kepada Ki Widura telah aku bicarakan dengan
Agung Sedayu dan Swandaru. Ternyata keduanya sama
sekali tidak berkeberatan atas rencana itu. Karena itu, Ki
Widura. Aku berharap bahwa Ki Widura tidak menolak. Jarak
Banyu Asri dan padepokan ini dekat sekali, sehingga Ki
Widura akan dapat setiap kali menengok ke Banyu Asri. “
Ki Widura menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Ada dua
hal yang perlu dipertanyakan Kiai. Pertama, aku bukan
berasal dari perguruan Kiai. Mungkin Kiai sudah menjeKang
Zusi - http://kangzusi.com/
laskan hal ini sebelum aku mengajukan pertanyaan, bahwa
kadang-kadang seseorang dapat menyimpan sebuah
padepokan tidak sebaiknya membagi waktunya dengan
kepentingan lain. Dalam hal ini, keluargaku yang berada di
Banyu Asri. “
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Kita akan
melakukan sesuatu yang barangkali tidak dilakukan oleh
orang lain. Tetapi aku yakin bahwa kita akan dapat
melakukannya dengan baik. Jika aku mohon Ki Widura
memimpin padepokan ini, maka tidak akan bertumpu pada
ilmu dari perguruan ini. Tetapi bagaimana paugeran dan
ikatan-ikatan yang lain dapat berlaku disini. “
Ki Widura menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Kiai
Gringsing berkata “ Ki Widura. Baiklah aku berterus terang.
Aku menjadi cemas melihat perkembangan padepokan ini
sejalan dengan umurku yang merambat terus. Sementara itu
kedua murid utamaku tidak akan dengan mudah
meninggalkan tugas mereka masing-masing. Seorang di
Tanah Perdikan. Seorang di Sangkal Putung. Karena itu, aku
mohon Ki Widura bersedia menolongku, agar padepokan ini
tidak menjadi semakin mundur. Sedangkan dari segi
peningkatan ilmu para cantrik, aku kira aku masih dapat
memberikan beberapa petunjuk meskipun tubuhku menjadi
semakin lemah. Tentu saja hanya dengan gerak-gerak kecil
dan penjelasan lesan. “
Ki Widura termangu-mangu. Ketika berpaling kepada
Agung Sedayu, maka Agung Sedayupun berkata “ Guru tidak
mempunyai wawasan lain. Karena itu Guru benar-benar
berharap, Paman akan bersedia membantunya. “
Hampir diluar sadarnya Ki Widura mengangguk-angguk.
Tetapi ia sudah mempunyai gambaran tentang tugastugasnya.
Ia bukan harus memimpin padepokan itu
sepenuhnya. Tetapi terutama justru agar padepokan itu dapat
hidup terus, dengan ikatan-ikatan yang tetap ketat.
Namun demikian, Ki Widura masih juga bertanya “
Kiai. Dalam kehidupan sebuah perguruan, maka ia tidak
akan terlepas dari pengamatan orang lain. Apa kata orang
tentang kesediaanku membantu Kiai memimpin padepokan
ini, karena setiap orang mengetahui, bahwa aku tidak berasal
dari perguruan ini.
Kiai Gringsing tersenyum. Katanya dengan nada lembut “
Ki Widura. Orang lain memang berhak menilai perguruan kita.
Menilai keadaan dan hubungan kita. Tetapi mereka tidak
mengetahui isi yang sebenarnya dari dada kita. Karena itu Ki
Widura. Mungkin orang lain akan membicarakan kita dalam
satu dua pekan, mungkin satu dua bulan. Namun akhirnya
mereka akan menjadi jemu selama kita tidak menunjukkan
kelainan dari kebiasaan sehari-hari yang berlaku di padepokan
ini.“ Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah Kiai.
Aku akan mencobanya. Aku akan mencoba untuk membantu
Kiai memimpin padepokan ini dan sekaligus mengendalikan
keluargaku di Banyu Asri yang letaknya memang tidak begitu
jauh dari padepokan kecil ini. Tetapi dengan pengertian,
bahwa aku hanya membantu Kiai memimpin
menyelenggarakan padepokan itu. Bukan isi dari padepokan
ini.“ Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Kesediaan
Ki Widura berada di padepokan ini telah jauh meringankan
tugas-tugasku disini. “
Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya kemudian dengan
nada rendah “ Ada baiknya aku mempunyai kesibukan
tertentu. Selama ini rasa-rasanya waktuku banyak yang
terluang. “
Agung Sedayu yang mendengar kesediaan pamannya
itupun kemudian berkata “ terima kasih paman. Aku dan Adi
Swandaru agaknya tidak dapat meninggalkan beban tugas
yang telah kami terima sebelumnya. Karena itu, kesediaan
Paman tinggal di padepokan ini telah meringankan
kegelisahanku. “
“ Tetapi kau dan Swandaru jangan melepaskan seluruh
tanggung jawab kalian “ berkata Ki Wudura. “ Meskipun hanya
pada saat-saat tertentu saja aku minta kalian sering datang ke
padepokan ini. “
“ Tentu Paman “ jawab Agung Sedayu “ aku akan sering
datang mengunjungi Paman disini. “
Dalam pada itu Kiai Gringsingpun kemudian bertanya
kepada Widura “ Sejak kapan Ki Widura bersedia tinggal
disini? “
“ Aku minta waktu barang sepekan. Kiai. Aku akan
membenahi pekerjaanku dirumah. Meskipun tidak banyak,
tetapi pekerjaan itu memang harus ada yang mengerjakan
“ jawab Ki Widura.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah Ki
Widura, kami di padepokan ini selalu menunggu kehadiran Ki
Widura. “
Ki Widura mengangguk-angguk. Tetapi setiap kali ia
sempat merenungi kewajiban yang baru saja disanggupinya
dari Kiai Gringsing itu. Satu hal yang menyimpang dari
kebanyakan. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Kiai
Gringsing, bahwa penyimpangan itu sama sekali tidak
merugikan orang lain dalam hal apapun juga. Juga tidak
merugikan kedudukan para cantrik yang memang memerlukan
seorang pembimbing yang masih mampu bergerak cepat,
sementara Kiai Gringsing menjadi semakin tua. Apalagi dalam
keadaan sakit seperti yang baru disandangnya saat itu.
Untuk beberapa saat lamanya Ki Widura masih berada di
padepokan itu untuk berbincang tentang berbagai persoalan
menjelang kehadiran Ki Widura di padepokan itu.
Demikianlah, maka beberapa saat kemudian Ki Widu-rapun
minta diri dengan kesanggupan untuk kembali ke padepokan
itu sepekan lagi.
Ketika mereka turun kehalaman, maka Glagah Putih-pun
telah mendekati mereka sambil bertanya kepada ayahnya
“ Ayah akan kembali ke Banyu Asri? “
“ Ya “ jawab Ki Widura “ sepekan lagi aku akan berada
disini. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia
berkata “ Sokurlah. Mudah-mudahan ayah kerasan tinggal di
padepokan ini. “
Ki Widurapun tersenyum pula. Katanya “ Aku kerasan
berada dimana-mana. “
Ketika mereka menuju ke regol halaman, maka Sekar
Mirahpun telah turun pula dari serambi dan melangkah
menyusul mereka sampai ke regol untuk ikut melepaskan Ki
Widurayang masih akan kembali ke Banyu Asri.
Di regol Ki Widura masih bertanya “ Kapan kalian akan
meninggalkan padepokan ini? “
“ Besok kita akan pergi ke Sangkal Putung, Paman “ jawab
Agung Sedayu.
“ Sampai kapan? “ bertanya Ki Widura pula. Agung Sedayu
berpaling kepada Sekar Mirah untuk
minta pertimbangan. Sementara Sekar Mirahpun menyahut
“ Kami belum menentukan kapan kami akan kembali ke
Tanah Perdikan. Tetapi sudah tentu dalam waktu dekat,
karena kamipun tidak dapat meninggalkan Tanah Perdikan
terlalu lama. “
“ Baiklah “ berkata Ki Widura “ tetapi jika kalian kembali ke
Tanah Perdikan kami harap kalian dapat singgah sebentar di
padepokan ini. “
“ Tentu Paman “ jawab Agung Sedayu “ kami akan singgah
di padepokan ini serta jika mungkin minta diri kepada kakang
Untara yang nampaknya jarang-jarang berada dirumah. “
Ki Widura mengangguk-angguk. Namun sejenak kemudian,
maka iapun telah melangkah meninggalkan padepokan yang
dalam waktu sepekan lagi akan dihuninya.
Sepeninggal Ki Widura, maka Kiai Gringsingpun telah
kembali untuk beristirahat didalam biliknya. Sementara itu
Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih telah sempat
pula berjalan-jalan dikebun padepokan. Mereka kemudian
telah berada dipinggir belumbang yang berair jernih, sehingga
ikan yang berenang didalamnya dapat dilihat dengan jelas.
Namun dalam pada itu, maka tiba-tiba saja terbersit di
angan-angan Agung Sedayu untuk mempertahankan alur
perguruannya untuk masa-masa mendatang. Sebagaimana
dikatakan oleh Swandaru, bahwa ia telah membina Glagah
Putih sebagai muridnya, namun dengan landasan ilmu yang
justru dari alur perguruan Ki Sadewa.
Bagi Agung Sedayu, Ki Sadewa dan Kiai Gringsing adalah
orang-orang yang memiliki kedudukannya masing-masing. Ki
Sadewa adalah ayahnya, sementara Kiai Gringsing adalah
gurunya. Ia berkepentingan bahwa kedua jalur perguruan itu
agar dapat tetap diperhatikan. Namun setelah ia berbicara
langsung dengan keluarga perguruannya, maka ia memang
melihat, bahwa pada suatu saat jalur perguruan Kiai Gringsing
akan jauh surut. Seandainya Swandaru kemudian menjadikan
anaknya kelak juga muridnya, maka seberapa jauh Swandaru
mampu mempertahankan tataran ilmu perguruan Kiai
Gringsing, karena Swandaru sendiri masih harus mempelajari
laku keempat dari bagian pertama tanpa berusaha untuk
mempelajari bagian kedua dari isi kitab itu.
Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian berkata
kepada Glagah Putih “ Glagah Putih. Kau telah memiliki
landasan ilmu lengkap dari perguruan Ki Sadewa. Sementara
itu Guru mengeluh bahwa diperlukan jalur yang akan
mempertahankan ilmu dari perguruan Kiai Gringsing.
Bagaimanapun juga aku ikut memikirkan kemungkinankemungkinan
bahwa jalur perguruan Kiai Gringsing pada
suatu saat benar-benar akan menjadi terputus. “
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sementara
itu Sekar Mirahpun bertanya “ Apakah kakang Swandaru
tidak akan mencari bibit yang akan dapat menjadi pewaris
ilmunya kelak? “
“ Adi Swandaru memang sudah menyebutkan. Ia akan
mempunyai seorang anak. Anaknyalah yang diharuskan akan
dapat menjadi pewaris ilmu dari jalur perguruan Kiai
Gringsing. Namun sebagaimana kita lihat, bahwa adi
Swandaru telah memilih bagian yang sesuai dengan
seleranya, sehingga ia tidak akan dapat mewariskan bagianbagian
lain yang tidak kalah penting dari jalur perguruan Kiai
Gringsing “ jawab Agung Sedayu. Lalu “ Sementara itu aku
sama sekali tidak mewariskan ilmu itu kepada Glagah Putih.
Jika satu dua unsur muncul pada tata gerak Glagah Putih, itu
adalah sekedar pengaruh dari unsur-unsur yang selalu
dilihatnya dan sekali-sekali diserap manfaatnya. Tetapi aku
tidak pernah secara khusus mewariskan ilmu itu kepadanya. “
Sekar Mirah mengangguk-angguk, sementara itu Glagah
Putih berkata “ Kakang, apakah maksud kakang ingin
mewariskan ilmu dari jalur perguruan Kiai Gringsing
kepadaku? Jika kakang memang berniat demikian, maka
sudah barang tentu aku tidak akan berkeberatan. Dengan
demikian, aku akan dapat memperbanyak kekayaan ilmu
didalam diriku. “
“ Mungkin akan berarti bagimu Glagah Putih. Tetapi kau
akan mempunyai kewajiban ganda- Mewariskan ilmu Ki
Sadewa dan mewariskan ilmu dari perguruan Kiai Gringsing. “
“ Bukankah kakang juga mempunyai tugas yang demikian
karena didalam diri kakang kedua ilmu itu juga kakang kuasai?
“ bertanya Glagah Putih.
Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya “ Disamping ilmu dari perguruan Ki
Sadewa, kau juga memiliki ilmu yang kau warisi dari jalur
perguruan Ki Jayaraga. Karena itu, maka kau harus mempunyai
kemampuan untuk memilahkan unsur-unsur itu.
Tetapi bukan berarti bahwa kau tidak dapat
mempergunakannya dalam satu kesatuan. Jika kau
mengatakan bahwa kau harus dapat memilahkannya, itu
hanyalah sekedar untuk menunjukkan ciri-ciri dari masingmasing
perguruan. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia
berkata “ Kakang. Jika kakang menghendaki, aku akan
menjalankannya. Aku akan berusaha untuk mewarisi ilmu dari
perguruan Kiai Gringsing. Akupun akan berusaha untuk dapat
memilahkannya untuk satu kepentingan yang khusus,
sementara itu, aku akan menjadi semakin kaya dengan jenisjenis
unsur gerak yang akan dapat menyempurnakan ilmuku. “
Tetapi Agung Sedayu berkata “ Glagah Putih. Seandainya
kau mempelajari ilmu dari jalur perguruan Kiai Gringsing,
maka tidak banyak peningkatan yang akan kau alami, karena
kegunaannya pada dasarnya tidak banyak berbeda dari yang
telah kau kuasai. Namun ilmu yang kau warisi dari jalur
perguruan Kiai Gringsing itu akan memberikan kemungkinankemungkinan
baru pada ilmumu. Apalagi jika kau sempat
mempelajari kitab dari perguruan Kiai Gringsing. Maka kau
akan mendapat banyak kesempatan untuk
mengembangkannya. Justru pada bagian yang kurang
disenangi oleh adi Swandaru. “
***
API DI BUKIT MENOREH SERI III
JILID 229
GLAGAH PUTIH mengangguk-angguk. Namun kemudian
katanya, “ Segalanya terserah kepada kakang. Tetapi aku
merasa gembira jika kesempatan itu diberikan kepadaku.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Syukurlah
bahwa kau bersedia melakukannya. Mudah-mudahan akan
memberikan arti bagi jalur-jalur ilmu yang kau pelajari.”
Agung Sedayupun kemudian berkata pula, “ Baiklah. Jika
kita kelak kembali ke Tanah Perdikan, maka aku akan mulai
dengan memberikan dasar-dasar ilmu itu. Tetapi sudah
barang tentu bahwa yang aku lakukan atasmu berbeda sekali
dengan apa yang harus kita lakukan terhadap mereka yang
benar-benar baru mulai. Bagimu, apa yang seharusnya
dipelajari dalam waktu setahun akan dapat kau cakup dalam
waktu sebulan, karena kau tidak perlu lagi mengadakan
latihan-latihan olah tubuh dan penguasaannya. Jalur nadimu
telah masak dan kau sudah menguasai gerak-gerak dasar
seluruhnya.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Lalu katanya, “ Kakang.
Apapun yang harus aku lakukan, akan aku lakukan. Juga
kewajiban-kewajiban yang kemudian akan dibebankan
kepadaku dalam hubungan pewarisan dan pengembangan
ilmu.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Kita
akan melakukannya. Namun bukan berarti bahwa tugas-tugas
kita yang lain akan terlambat. Selain itu sudah barang tentu
aku juga harus berbicara dengan Ki Jayaraga.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa niat
sebagaimana dikatakan oleh kakak sepupunya itu merupakan
tanggung jawab yang lain yang akan dibebankan
dipundaknya. Tetapi Glagah Putih tidak merasa keberatan. Ia
sudah terbiasa bekerja keras untuk beberapa kepentingan
yang menyangkut sesamanya. Tetapi seperti yang dikatakan
oleh Agung Sedayu, maka ia memang harus berbicara dengan
gurunya yang seorang lagi, Ki Jayaraga.
Demikianlah maka untuk beberapa saat, mereka masih
berada di tepi belumbang. Mereka melihat seorang cantrik
yang menangkap beberapa ekor ikan yang sudah cukup besar
untuk lauk mereka nanti. Sedangkan cantrik yang lain sedang
memanjat sebatang pohon nangka untuk mengambil buahnya
yang masih muda.
Namun beberapa saat kemudian, mereka bertiga telah
meninggalkan belumbang itu untuk menyusuri kebun sayuran
dibagian belakang padepokan itu. Namun akhirnya, mereka
telah sampai dibelakang sanggar yang sepi. Sanggar yang
menjadi agak jarang dipergunakan sejak Kiai Gringsing sakit.
Namun tiba-tiba saja rasanya mereka ingin melihat-lihat lagi
isi sanggar itu. Sejalan dengan keinginan Agung Sedayu untuk
mewariskan ilmu dari jalur perguruan Kiai Gringsing kepada
Glagah Putih. Karena itu, maka hampir diluar sadar mereka
telah melangkah kepintu sanggar itu.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Semalam ia
telah melepaskan sesak dadanya dengan melakukan latihan
yang agak berlebihan. Namun ternyata Agung Sedayu tidak
memasuki sanggar itu. Iapun kemudian mengajak Sekar Mirah
dan Glagah Putih kembali ke bangunan induk untuk dudukduduk
dan berbincang dengan para cantrik yang sedang
beristirahat.
Demikianlah hari itu, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan
Glagah Putih masih berada di padepokan kecil Kiai Gringsing.
Namun menjelang senja mereka masih berkesempatan untuk
menengok Untara suami isteri dan anaknya yang menjadi
semakin nakal.
Dari Untara, Agung Sedayu mendengar, bahwa keadaan
justru menjadi semakin buram. Hubungan antara Mataram dan
Madiun tidak bertambah jernih.
“ Memang ada orang-orang yang dengan sengaja
mengeruhkan hubungan itu.” berkata Untara.
“ Sejak semula hal itu sudah disadari oleh Panembahan
Senapati.” berkata Agung Sedayu. Lalu, “ Jika Panembahan
Madiun juga menyadari akan hal itu, maka bukankah mereka
akan dapat saling mengekang diri?”
“ Agaknya memang demikian. Tetapi meninggalnya
Pangeran Benawa merupakan peluang baru yang dapat
menambah keruhnya hubungan itu.” berkata Untara. Lalu, “
Karena itu, kita semuanya harus berhati-hati. Sebagaimana
Mataram mengirimkan beberapa orang petugas sandi untuk
melihat-lihat keadaan Madiun, maka tentu banyak pula
petugas sandi dari Madiun yang berada di Mataram.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ternyata Untara
sudah mendapat banyak keterangan tentang gerakan
Panembahan Madiun. Karena itu pulalah maka Untara telah
membuat banyak persiapan-persiapan yang bila setiap saat
terjadi sesuatu, pasukannya tidak akan mengecewakan.
Namun dalam pada itu, Untarapun berpesan kepada adiknya,
jika mereka kembali ke Tanah Perdikan, mereka harus
berhati-hati di perjalanan.
“ Mungkin ada orang yang mengenalmu, bahwa kau
banyak berbuat bagi Panembahan Senapati.” berkata Untara,
“ atau ada orang yang tahu, bahwa kau adalah murid Kiai
Gringsing. Salah seorang diantara mereka yang ikut
memperkuat kedudukan Mataram. Bahkan tidak mustahil
bahwa padepokan Kiai Gringsing akan menjadi sasaran
sebagaimana usaha Panembahan Senapati memotong
ranting-ranting yang tumbuh dibatang yang kuat, Madiun.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi kemudian
iapun berkata, “ Agak berbeda kakang. Jika Mataran
memotong ranting-ranting kekuatan Madiun antara lain
Nagaraga, maka padepokan itu benar-benar berdiri sendiri.
Sementara itu, padepokan Kiai Gringsing terlalu dekat dengan
kekuatan Mataram yang kakang pimpin disini. Sehingga jika
orang-orang Madiun dengan tanpa perhitungan menyerang
Padepokan Kiai Gringsing, maka berarti mereka menyerang
kekuatan pasukan Mataram disini.”
Tetapi Untara menggeleng. Katanya, “ Belum tentu. Orangorang
Madiun akan dapat menyusup dengan diam-diam
kedalam padepokan. Apalagi disaat Kiai Gringsing sedang
sakit seperti sekarang ini.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “
Kemungkinan memang ada.”
Untuk beberapa saat Agung Sedayu masih berbincang
dengan Untara. Namun ketika malam mulai turun dan udara
menjadi kelam, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah
Putih itupun minta diri.
Di sepanjang jalan menuju ke padepokan kecil, Agung
Sedayu justru mulai membicarakan pesan Untara, agar
padepokan kecil itu menjadi berhati-hati.
“ Jika mereka tahu bahwa Kiai Gringsing sedang sakit.”
berkata Agung Sedayu.
“ Aku tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar.” berkata
Sekar Mirah, “ seandainya aku tidak mendengar pesan kakang
Untara, aku kira aku tidak pernah memikirkannya.”
“ Kemungkinan itu memang ada.” berkata Agung Sedayu, “
besok sebelum kita berangkat ke Sangkal Putung, aku akan
minta kakang Untara ikut mengamati padepokan itu, atau
meletakkan satu dua orang prajuritnya ikut mengawasi
sebelum Paman Widura datang.”
Sekar Mirah mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia
berkata, “ Kiai memerlukan kawan yang pantas. Jika terjadi
sebagaimana yang dikatakan kakang Untara, maka Kiai
Gringsing akan mengalami kesulitan, Justru orang yang
memiliki ilmu yang sangat tinggi, akan mendapat kesulitan di
padepokannya sendiri disaat ia sedang sakit. Masih belum
ada para cantrik yang pantas untuk menahan kekuatan yang
memang sudah dipersiapkan.”
Agung Sedayupun mengangguk-angguk. Katanya, “
Sayang, kita tidak dapat menemaninya untuk waktu yang
lama. Apalagi kitapun mengetahui bahwa usaha orang-orang
Madiun telah merambah sampai ke Tanah Perdikan Menoreh.
Untunglah bahwa para pengawal di Tanah Perdikan sudah
memiliki tingkat kemampuan yang dapat dibanggakan.
Sementara itu, Ki Jayaraga masih juga bersedia untuk tetap
berada di Tanah Perdikan.”
“ Kita memang tidak dapat meninggalkan Tanah Perdikan
terlalu lama.” berkata Glagah Putih kemudian, “ tetapi
bagaimana jika kita berada di padepokan sampai Kiai
Gringsing sembuh benar?”
“ Kiai Gringsing sudah terlalu tua.” berkata Agung Sedayu,
“ seandainya ia sembuh dari sakitnya, namun tentu sudah ada
beberapa kekurangan pada unsur wadagnya, sebagai
pendukung ilmu-ilmunya. Tetapi jika paman Widura sudah
berada di padepokan, maka rasa-rasanya kita menjadi
tenang.”
“ Sepekan lagi.” berkata Glagah Putih.
“ Ya. Sepekan lagi.” berkata Agung Sedayu pula.
Ketiganyapun kemudian justru terdiam oleh angan-angan
mereka masing-masing. Ketiga orang itu memasuki regol
padepokan disaat malam sudah menjadi semakin sunyi. Para
cantrik telah berada di bilik masing-masing, selain yang
bertugas di pendapa.
Karena itu, ketika regol terbuka perlahan-lahan karena
didorong dari luar, dua orang cantrik yang ada di pendapa
telah bangkit dan berjalan turun ke halaman. Namun
merekapun segera melihat bahwa yang datang adalah Agung
Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih.
“ Marilah, silahkan.” desis salah seorang diantara kedua
cantrik itu.
“ Guru sudah tidur?” bertanya Agung Sedayu.
“ Belum. Guru masih menunggu.” jawab cantrik.
“ Guru menunggu!” bertanya Agung Sedayu, “ di mana?”
“ Guru ada didalam biliknya. Tetapi tadi sudah berpesan,
jika kalian datang, diminta untuk menemuinya di-dalam bilik.”
jawab cantrik itu.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Diantar oleh salah
seorang dari kedua cantrik itu mereka langsung menuju ke
bilik Kiai Gringsing. Ternyata Kiai Gringsing memang belum
tidur. Karena itu iapun kemudian telah mempersilahkan Agung
Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih untuk masuk.
“ Marilah.” Kiai Gringsing mempersilahkan, “ jika kalian
masih belum berniat untuk beristirahat kita akan berbicara
tentang apa saja, Agung Sedayu. Mumpung kau bermalam
disini dengan isterimu dan Glagah Putih. Rasa-rasanya
sayang jika kita tidur sore hari.”
Agung Sedayu tersenyum. Namun iapun mempersilahkan
gurunya, “ Silahkan guru sambil berbaring saja.”
“ Ah tidak. Aku sudah terlalu lama berbaring. Aku ingin
duduk.” jawab Kiai Gringsing yang sudah duduk di bibir
pembaringannya.
“ Tetapi Guru akan menjadi terlalu letih nanti.” berkata
Agung Sedayu kemudian.
Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “ Tidak. Justru aku
sudah letih berbaring.”
Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu iapun bertanya, “ Kau
bertemu dengan Untara dan keluarganya?”
“ Ya Guru. Kami sempat berbincang-bincang agak
panjang.” jawab Agung Sedayu.
“ Syukurlah. Nampaknya karena pesan Panembahan
Senapati itu. Untara telah menjadi lebih sibuk dengan
pasukannya. Tetapi ia dapat menjaga ketenangan lingkungan,
karena kesiagaannya tidak memberikan kesan yang
menggelisahkan.” berkata Kiai Gringsing. Lalu, “ Perondaperondanya
sering lewat di depan padepokan ini pula.
Kadang-kadang sampai empat orang dari pasukan
berkudanya yang terkenal itu.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Iapun kemudian
menyampaikan pesan-pesan Untara pula, agar padepokan
kecil itu menjadi semakin berhati-hati.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “ Jika yang
berkata begitu adalah Untara, maka aku kira bukannya tidak
beralasan. Karena itu, mumpung kau disini Agung Sedayu,
kau dapat membantukan mengatur para cantrik yang ada. Kau
memang harus melihat kemampuan mereka yang baru
selapis. Dengan demikian berdasarkan tataran kemampuan
mereka yang baru selapis, kau dapat mengatur kesiagaan
yang sebaik-baiknya.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun Kiai
Gringsing pun kemudian berkata, “ Agung Sedayu.
Sebenarnya ada pesan yang penting yang harus aku
sampaikan kepadamu. Karena itu, kapanpun kau kembali
malam ini dari Jati Anom, aku pasti menunggu.”
Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih justru
menjadi berdebar-debar. Sementara itu Kiai Gringsing berkata
pula, “ Pesan itu pernah disinggung oleh Untara beberapa
waktu yang lalu, ketika ia singgah di padepokan ini.
Sebenarnyalah kami juga sudah mengatur diri betapapun
lemahnya padepokan ini. Tetapi aku tidak terlalu gelisah
karena belum ada tanda-tanda yang nampak bahwa
padepokan kecil ini mendapat perhatian. Namun sejak
kemarin, para cantrik telah memberikan laporan khusus
tentang hal itu.”
Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Nampaknya memang
telah terjadi perkembangan disaat-saat terakhir.
Sementara itu Kiai Gringsingpun berkata, “ Agung Sedayu.
Baru menjelang senja ini seorang cantrik telah melaporkan
sesuatu yang agaknya cukup menarik perhatian.”
Agung Sedayu menjadi semakin bersungguh-sungguh.
Namun kemudian Kiai Gringsingpun telah minta kepada
Glagah Putih untuk memanggil seorang cantrik yang dimaksud
oleh Kiai Gringsing itu.
Sejenak kemudian cantrik itu telah menghadap. Kiai
Gringsing yang nampak masih lemah itupun kemudian
berkata, “ Cantrik. Coba katakan sekali lagi, apa yang kau
laporkan kepadaku tadi agar Agung Sedayu sebagai murid
tertua padepokan ini dapat mendengar.”
Cantrik itu, mengangguk kecil. Kemudian iapun mulai
melaporkan sekali lagi agar Agung Sedayu dapat
mendengarnya. Katanya, “ Kakang Agung Sedayu, aku
melihat tiga orang yang berkeliaran disebelah padepokan ini.
Agaknya mereka memang mencurigakan. Untunglah bahwa
aku saat itu lagi bekeja disawah sehingga orang itu
nampaknya tidak mencurigai aku. Tetapi justru karena itu,
maka aku tidak berhenti bekerja meskipun senja turun. Aku
telah berpura-pura memperbaiki saluran air agar aku dapat
tetap berada disawah. Sebenarnyalah, bahwa menjelang
gelap, lima orang telah lewat di jalan depan regol padepokan
itu. Menurut dugaanku, diantara mereka terdapat ketiga orang
yang telah aku lihat sebelumnya.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Memang
agaknya orang itu mempunyai maksud tertentu atas
padepokan ini.”
“ Agaknya memang demikian kakang. Sementara itu, kami
telah menyiapkan sebuah kentongan yang besar, yang akan
dapat didengar dari gardu penjagaan di lapis luar penjagaan
pasukan kakang Untara di Jati Anom. Menurut pesan para
prajurit Mataram, maka jika diperlukan bantuan, kentongan itu
supaya dibunyikan dengan nada yang telah ditentukan.”
berkata cantrik itu.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Jika
demikian, maka kalian supaya berhati-hati.” Lalu katanya
kepada Kiai Gringsing, “ Jika demikian Guru, apakah
penjagaan yang dilakukan hanya di pendapa sudah
memadai?”
“ Dua orang cantrik yang ada di padepokan itu diharapkan
akan dapat mengamati seluruh halaman di depan. Sementara
itu, disetiap barak, telah ditetapkan bahwa diantara para
cantrik harus ada yang berjaga-jaga.” jawab Kiai Gringsing.
Namun Agung Sedayu masih bertanya, “ Dimanakah
kentongan yang besar itu dipasang?”
“ Dibarak sebelah sanggar. Barak yang terbesar yang
dihuni oleh sejumlah cantrik yang sudah dipersiapkan untuk
memberikan isyarat jika diperlukan.” jawab Kiai Gringsing.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Agaknya padepokan
itu harus menyadari kelemahannya, sehingga segala
sesuatunya dilakukan ditempat tertutup. Meskipun dengan
demikian, para cantrik itu tidak akan dapat melihat pada
sasaran yang lebih luas. Namun agaknya menurut
perhitungan Kiai Gringsing, para cantrik masih terlalu
berbahaya jika mereka berjaga-jaga diluar, karena jika datang
orang-orang berilmu tinggi, maka mereka justru akan dengan
cepat menjadi korban pertama.
Namun dalam pada itu, Agung Sedayupun kemudian
bertanya, “ Tetapi Guru kemarin tidak mengatakan keadaan
seperti ini. Jika Guru mengatakannya, mungkin adi Swandaru
tidak akan tergesa-gesa pulang meninggalkan tempat ini.”
“ Sampai kemarin kami tidak menganggap bahwa akan ada
ancaman yang sungguh-sungguh. Adalah tidak bijaksana jika
aku menyuguhi tamu-tamuku dengan kegelisahan dan bahkan
ketegangan. Namun karena agaknya sore ini persoalannya
berkembang semakin gawat, maka terpaksa aku
memberitahukan hal ini kepadamu.” jawab Kiai Gringsing.
Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. Sementara Kiai
Gringsing berkata, “ Nah, Agung Sedayu. Kau adalah muridku
yang tertua. Karena itu selagi kau ada disini, tolong, lihatlah
kesiagaan para cantrik. Laporan yang terakhir memang perlu
mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Tidak mustahil
bahwa apa yang dikatakan oleh angger Untara sesuai dengan
uraiannya atas peristiwa terakhir itu akan terjadi atas
padepokan ini. Mungkin padepokan kecil ini dianggap salah
satu pilar kekuatan Mataram, sehingga padepokan ini akan
menjadi sasaran pertama sebagaimana Tanah Perdikan
Menoreh Jika Tanah Perdikan Menoreh dimulai dengan usaha
memisahkan rakyat Tanah Perdikan itu dari keutuhan
Mataram dengan berbagai macam cara, maka mereka
menganggap bahwa padepokan kecil ini akan dengan mudah
dihapuskan begitu saja.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Baiklah
Guru. Aku akan melihat-lihat barak para cantrik.”
“ Pergilah. Mudah-mudahan mereka tidak mengecewakan.”
berkata Kiai Gringsing.
Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putihpun
kemudian meninggalkan bilik Kiai Gringsing. Dari cantrik yang
memberikan laporan tentang orang-orang yang mencurigakan
itu, Agung Sedayu mendengar keterangan yang lebih
terperinci, sehingga Agung Sedayupun menjadi semakin
yakin, bahwa bahaya memang sedang mengancam
padepokan kecil itu.
Bahkan kepada Sekar Mirah ia berkata, “ Apakah dalam
keadaan seperti ini kita akan meninggalkan Guru yang sedang
sakit itu besok?”
Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya
ia berkata, “ Memang rasa-rasanya kita tidak sampai hati
untuk beringsut dari tempat ini. Tetapi apakah Ki Widura tidak
dapat datang lebih cepat dari sepekan? “
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Iapun mengerti,
bahwa Sekar Mirah ingin pula segera berada si Sangkal
Putung. Sebagai seorang yang berada cukup jauh dari rumah
orang tuanya, maka sudah barang tentu Sekar Mirah ingin
untuk berada di rumah itu untuk waktu yang cukup.
Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian berkata, “
Besok kita akan menghubungi lagi. Persoalan yang menjadi
terasa gawat baru dilaporkan malam ini, sehingga kesempatan
pertama yang dapat kita lakukan adalah besok pagi. Mungkin
Ki Widura dapat datang ke padepokan ini lebih cepat,
sehingga kitapun akan segera dapat ke Sangkal, Putung.”
Sekar Mirah mengangguk kecil. Tetapi ia berkata, “ Kita
akan menunggu sampai paman Widura sempat berada di
padepokan ini.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Mereka bertiga
bersama seorang cantrikpun kemudian telah memasuki barak
demi barak. Barak-barak kecil yang berisi hanya sekitar empat
orang itu memang telah mengatur diri. Seorang diantara
mereka berjaga-jaga berganti-ganti. Sementara itu didalam
barak-barak kecil itu terdapat sebuah kentongan kecil pula.
“ Baiklah.” berkata Agung Sedayu, “ kalian tentu sudah
mendengar bahwa diujung malam ini, beberapa orang yang
mencurigakan telah berkeliaran di sekitar padepokan ini.
Karena itulah maka kalian harus berhati-hati. Aku kira tidak
ada salahnya orang berhati-hati meskipun seandainya tidak
terjadi apa-apa. Karena itu, yang kebetulan bertugas berjagajaga
jangan asal tidak tidur saja. Tetapi ia harus
memperhatikan keadaan di sekeliling barak ini. Jika ada halhal
yang mencurigakan, ia harus segera membangunkan
kawan-kawannya.”
Para cantrik itupun mengangguk-angguk. Sementara
Agung Sedayu berkata selanjutnya, “ Kalian kecilkan saja
lampu minyak di ajuk-ajuk itu. Usahakan agar kalian tidak
berada dibawah cahaya lampu itu. Sebaiknya kalian ada
didalam bayangan yang gelap. Dengan demikian maka kalian
tidak akan mudah diintip dari luar seandainya ada orang-orang
yang berilmu memasuki padepokan ini sehingga mampu
menyerap bunyi sentuhannya sehingga kalian tidak
mendengarnya.”
Petunjuk-petunjuk Agung Sedayu itu merupakan petunjuk
yang berharga dari para cantrik. Merekapun merasa bahwa
saudara tertuanya itu sempat memperhatikan mereka. Dalam
keadaan yang gawat itu, sementara guru mereka sedang
sakit, mereka memang memerlukan seseorang untuk
bersandar. Dengan kehadiran Agung Sedayu, Sekar Mirah
dan Glagah Putih di barak-barak mereka, rasa-rasanya
keberanian dan ketabahan hati merekapun menjadi
berkembang. Yang terakhir, Agung Sedayu, Glagah Putih dan
Sekar Mirah telah memasuki barak yang terbesar, barak yang
digunakan untuk menyimpan kentongan yang besar, yang
suaranya akan didengar dari gardu penjagaan dilapis luar dari
prajurit Mataram di Jati Anom. Ternyata barak itu benar-benar
telah dipersiapkan dengan baik.
Sebuah ruang khusus bagi kentongan yang besar itu
dindingnya telah dibuka di bagian atas, diganti dengan derijideriji
yang rapat. Dengan demikian suara kentongan itu tidak
akan melingkar-lingkar didalam bilik itu saja, tetapi dapat lepas
keluar menggapai gardu prajurit Mataram di Jati Anom
sebagaimana dikehendaki.
Agung Sedayu menganggap bahwa persiapan telah
dilakukan dengan baik. Namun sebagai murid tertua dari
padepokan kecil itu, rasa-rasanya hatinya menjadi sakit.
Sebuah padepokan yang dipimpin oleh Kiai Gringsing,
seorang yang memiliki ilmu yang sulit dicari duanya, terpaksa
harus menggantungkan keselamatan padepokannya kepada
bantuan orang lain.
Kenyataan itu benar-benar telah membuat jantung Agung
Sedayu berdebar semakin cepat. Seandainya ia tidak memiliki
tanggungjawab yang besar di Tanah Perdikan, juga dalam
masa yang gawat seperti yang dirasakan di padepokan itu,
maka ia tentu sudah menyatakan diri untuk tinggal di
padepokan.
Karena itu, maka harapan satu-satunya memang ada pada
Ki Widura. Jika Ki Widura ada di padepokan itu, maka
keadaannya tentu akan berbeda. Seandainya padepokan itu
masih juga harus mengharapkan bantuan orang lain, tetapi
didalam dirinya sendiri terdapat kekuatan yang pantas.
Apalagi selama Kiai Gringsing masih sakit. Bahkan setelah
sembuhpun keadaannya tentu sudah berbeda.
Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba saja Agung
Sedayu bertanya kepada para cantrik, “ Siapa yang tertua
diantara kalian?”
Seorang diantara mereka melangkah mendekat. Katanya, “
Di barak ini akulah yang dianggap cantrik tertua.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengenal cantrik
itu sejak lama. Ketika ia datang ke padepokan itu sebelumnya,
cantrik itupun telah berada di padepokan itu pula. Namun
sebenarnyalah Agung Sedayu belum mengetahui tingkat
kemampuannya.
Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “ Marilah. Dua
diantara kalian akan ikut aku ke sanggar.”
Dua orang yang dianggap tertua di barak itu memang agak
heran mendengar ajakan Agung Sedayu. Tetapi dua orang
diantara merekapun kemudian telah mengikutinya ke sanggar.
Dibawah sinar lampu minyak yang redup, Agung Sedayu
kemudian berkata, “ Bersiaplah. Kita akan berlatih sebentar.
Aku ingin tahu sampai dimana tingkat kemampuan kalian.”
Para cantrik itu saling berpandangan sejenak. Namun
merekapun kemudian telah mempersiapkan diri. Mereka
kemudian menyadari bahwa saudara tertua mereka ingin
membuat takaran tentang kemampuan mereka.
Sejenak kemudian, maka Agung Sedayupun telah berlatih
bersama kedua orang cantrik itu. Agung Sedayu memang
mulai dari tataran awal, yang semakin lama semakin
ditingkatkan. Ternyata bahwa para cantrik itu sudah
menguasai gerak-gerak dasar dari ilmu yang diwariskan oleh
perguruan Kiai Gringsing.
Bahkan ketika Agung Sedayu meningkatkan lagi ilmunya
sesuai dengan jalur perguruan Kiai Gringsing, maka para
cantrik itu mampu mengikutinya dengan baik. Mereka
memang sudah mulai merambah pada pelepasan tenaga
cadangan dalam tata gerak mereka, sehingga gerak mereka
menjadi lebih cepat, lebih tangkas dan lebih kuat dari gerak
kewadagan mereka sewajarnya.
Agung Sedayu yang mengamati kemampuan para cantrik
itu mengangguk-angguk kecil. Namun ia telah mempercepat
geraknya dan bahkan meningkatkan tenaga cadangari yang
dipergunakan untuk mencoba kemampuan para cantrik itu,
sehingga akhirnya pada satu tataran, Agung Sedayu harus
menghentikan peningkatan ilmunya, karena itu sudah sampai
pada tingkat tertinggi dari kemampuan para cantrik itu. Tetapi
Agung Sedayu tidak segera berhenti. Bahkan kemudian ia
telah mengisi tata geraknya dengan unsur-unsur dari cabang
perguruan yang lain.
Para cantrik itu mula-mula memang menjadi agak bingung
menghadapi tata gerak yang berubah. Namun Agung
Sedayupun kemudian berkata lantang, “ Hati-hati. Tidak
semua orang berlandaskan ilmu yang sama. Jika kau hanya
mampu menghadapi ilmu yang sama dengan ilmu kalian
sendiri, maka kalian hanya mampu berkelahi dengan sesama
saudara.”
Kedua orang cantrik itu tidak menjawab. Tetapi merekapun
menjadi semakin berhati-hati. Dengan kemampuan yang ada
pada mereka, maka para cantrikpun telah melawan Agung
Sedayu yang kemudian justru mempergunakan ilmu yang lain.
“ Kenapa kalian menjadi bingung?” bertanya Agung
Sedayu sambil menyerang.
“ Karena perubahan tata gerak kakang.” jawab salah
saorang diantara para cantrik.
Agung Sedayu tersenyum. Namun ia justru menyerang
semakin cepat.
Ternyata setelah beberapa saat mereka berlatih, para
cantrik itu menjadi semakin mapan meskipun Agung Sedayu
tidak lagi mempergunakan ilmu yang sama. Kebingungan
yang terjadi sesaat hanyalah karena perubahan tata gerak
pada Agung Sedayu yang tidak diduga lebih dahulu oleh para
cantrik itu. Jika semula Agung Sedayu mempergunakan ilmu
sebagaimana mereka pergunakan, tiba-tiba saja ada unsur
gerak yang terasa asing.
Beberapa saat kemudian, maka Agung Sedayupun berkata
kepada mereka, “ Cepat, pergunakan senjata yang paling
kalian kuasai.”
Kedua cantrik itu berloncatan surut. Namun untuk sesaat
mereka masih termangu-mangu, sehingga Agung Sedayu pun
harus mengulanginya, “ Ambil senjata. Aku ingin melihat
kemampuan kalian bermain dengan senjata. Aku tidak tahu
senjata apa yang paling kalian kuasai, karena aku sejak
permulaan telah mempergunakan cambuk yang diberikan oleh
Guru.”
Kedua cantrik itupun kemudian telah berloncatan
menggapai senjata yang tersangkut di dinding. Seorang
diantaranya mempergunakan pedang, sedang yang lain
menggenggam sepasang trisula.
Agung Sedayupun kemudian telah mengambil sebatang
tongkat besi pula yang tersangkut pada dinding sanggar.
Dengan tongkat itu ia akan berlatih dengan kedua cantrik itu.
Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah mulai.
Ternyata kedua cantrik itu sudah memiliki ilmu yang mapan
hagi senjata masing-masing. Dengan ilmu pedang yang
trampil serta penguasaan sepasang trisula ditangannya,
kedua cantrik itu telah berlatih melawan tongkat besi Agung.
Sedayu yang berputar dengan cepat, sekali terayun dan
kemudian mematuk.
Bagi Agung Sedayu, kemampuan kedua cantrik itu sudah
cukup bagi pemula. Bahkan kedua cantrik itu sudah mencapai
tataran yang lebih tinggi. Dengan demikian, maka para cantrik
itu tidak akan sekedar menjadi beban di padepokan itu.
Mereka akan dapat ikut serta membantu mempertahankan
padepokan itu apabila memang diperlukan.
Setelah berlatih beberapa saat, maka Agung Sedayupun
menghentikan latihan itu. Iapun kemudian bertanya kepada
kedua cantrik itu, apakah para cantrik yang lain mempunyai
tataran yang sama dengan mereka.
“ Tidak kakang.” jawab salah seorang diantara mereka, “
ada beberapa orang yang masih baru. Mereka baru
menyelesaikan landasan yang paling dasar, meskipun sudah
pula mempelajari penggunaan senjata. Sedangkan sebagian
besar memiliki tataran sebagaimana kami berdua. Namun ada
empat orang saudara kami yang memiliki beberapa kelebihan
meskipun mereka bukan yang tertua diantara kami. Empat
orang yang memang terpilih dengan teliti karena bakat yang
tersimpan didalam dirinya, sehingga mereka mendapat
perhatian khusus dari Guru.”
“ Apakah mereka mendapatkan senjata khusus ciri
perguruan Kiai Gringsing? Maksudku, apakah mereka juga
bersenjata cambuk sebagaimana Guru?” bertanya Agung
Sedayu.
Cantrik itu menggeleng. Katanya, “ Guru memang mulai
memperkenalkan senjata jenis lentur, khususnya cambuk.
Tetapi menurut Guru, cambuk yang memang temurun dari
perguruannya hanya ada dua yang kemudian diberikan
kepada murid utamanya. Kakang Agung Sedayu dan kakang
Swandaru. Tetapi Guru yakin bahwa Guru akan dapat
membuatnya pula. Mungkin pada suatu saat Guru akan
membuat dan diberikan kepada keempat orang saudara kami
atau bahkan lebih dari itu meskipun nilai kegunaannya tidak
sama dengan yang dimiliki oleh murid utamanya.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “
Baiklah, Aku sudah dapat menjajagi kekuatan yang ada di
padepokan ini. Nah, jika demikian, kita harus bersiap-siap
menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi disini.
Mungkin malam ini, mungkin besok atau kapanpun.”
Para Cantrik itu mengangguk-angguk. Sementara itu Agung
Sedayupun berkata, “ Menurut pendapatku, dua orang cantrik
di pendapa itu memerlukan dua orang kawan lagi.”
“ Mereka adalah orang-orang yang aku katakan mempunyai
kelebihan dari para cantrik yang lain.” berkata cantrik itu, “
mereka bergantian dengan dua orang yang memiliki tataran
yang sama.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Marilah
kita kembali ke barakmu. Kita akan menentukan empat orang
yang akan berada di pendapa bergantian, sehingga yang ada
di pendapa seluruhnya akan berjumlah empat orang setiap
giliran.”
Cantrik itupun mengangguk-angguk. Sementara itu
merekapun telah keluar dari sanggar dan kembali ke barak
yang terbesar itu. Di barak itu, Agung Sedayu telah
menentukan empat orang cantrik yang harus bergantian
berada di pendapa, mengawani dua orang cantrik yang
bertugas bergantian.
Agung Sedayulah yang kemudian membawa para cantrik
ke pendapa untuk diperbantukan kepada dua orang yang
bertugas. Dengan demikian maka ruang pengamatan
merekapun menjadi semakin luas.
“ Berhati-hatilah.” pesan Agung Sedayu kepada mereka, “
jangan menunggu sampai terlambat. Setiap persoalan yang
timbul harus cepat mendapat penanganan. Laporan seorang
diantara para cantrik tentang orang-orang yang mencurigakan
itu harus mendapat perhatian dengan sungguh-sungguh.”
Para cantrik itu mengangguk-angguk. Mereka memang
tidak dapat mengabaikan kemungkinan yang dapat terjadi
malam itu karena sikap beberapa orang yang mencurigakan
disekitar padepokan itu.
Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Sekar Mirahpun
segera kembali kedalam bilik mereka, sementara Glagah
Putihpun kembali pula kedalam biliknya, diantara beberapa
orang cantrik pula.
Dalam pada itu, maka padepokan itu semakin lama
memang menjadi semakin sepi. Beberapa orang cantrikpun
telah tertidur nyenyak. Bahkan Glagah Putih yang beberapa
saat sebelumnya masih berbicara dengan seorang cantrik,
telah menjadi lelap pula.
Di pendapa, empat orang cantrik yang bertugas, duduk di
dua kelompok yang terpisah. Masing-masing mempunyai
ruang perhatian yang berbeda, meskipun mereka sempat juga
berbincang tentang beberapa hal. Namun berempat mereka
merasa beban tugas mereka menjadi berkurang.
Namun bagi keempat orang itu, malam rasa-rasanya
memang terlalu sepi. Suara malam yang bersahutan
dihalaman terdengar semakin ngelangut. Derik cengkerik dan
suara angkup yang bagaikan keluhan yang sedih, membuat
sepinya malam menjadi semakin mencengkam.
“ He.” tiba-tiba seorang cantrik berkata, “ kita perlu
mengguncang malam ini agar tidak terlalu sepi.”
“ Apa yang akan kau lakukan?” bertanya seorang
kawannya.
“ Membangunkan beberapa orang kawan di barak-barak.”
jawab cantrik itu.
“ Jangan seperti orang mabuk.” desis kawannya, “ di setiap
barak tentu ada kawan kita yang berjaga-jaga. Jangan ganggu
yang lain.”
Sambil menarik nafas cantrik itu menjawab, “ Rasa-rasanya
malam ini lain dengan malam-malam sebelumnya.”
“ Itulah sebabnya kita harus berhati-hati.” jawab kawannya.
Cantrik yang merasa jemu duduk di pendapa itupun
kemudian berkata, “ Aku akan turun ke halaman.”
Kawan-kawannya tidak mencegah. Bahkan seorang cantrik
yang lain berkata, “ Marilah. Kita melihat keadaan.”
Dua orang cantrik itupun telah turun ke halaman. Mereka
berjalan melintas dari satu sisi ke sisi halaman yang lain.
Bahkan merekapun kemudian telah menyusup kedalam
gelapnya bayangan pepohonan di halaman samping
padepokan itu. Satu dorongan di dalam diri mereka, telah
membawa mereka justru semakin jauh ke bagian-bagian yang
tersembunyi dari padepokan itu.
Namun kedua orang cantrik itu tiba-tiba tertegun ketika
mereka melihat sebatang pohon yang tumbuh melekat pada
dinding padepokan itu bergerak-gerak. Kedua orang cantrik
itupun dengan serta merta telah bergeser kedalam gelap yang
lebih pekat. Bahkan kemudian mereka telah berusaha untuk
berada dibawah bayangan pohon perdu.
Tetapi karena jarak yang masih agak jauh, maka mereka
tidak melihat dengan jelas apa yang telah terjadi. Tetapi
bahwa dedaunan itu bergerak-gerak tanpa angin yang bertiup,
maka hal itu agaknya pantas untuk diamati.
Dengan hati-hati kedua orang itu telah berusaha mendekat.
Namun kemudian, mereka berhasil melihat meskipun tidak
begitu jelas, sesosok tubuh yang meloncat dari dinding
padepokan dan bergayut pada cabang sebatang pohon yang
tumbuh melekat pada dinding padepokan itu. Bahkan
merupakan tangga yang baik bagi mereka yang ingin turun
dari dinding padepokan tanpa menimbulkan bunyi yang dapat
didengar dari barak terdekat.
Kedua orang cantrik itu saling memberikan isyarat. Dengan
sangat berhati-hati mereka telah bergeser diantara pepohonan
perdu dan kembali kependapa. Bagaimanapun juga kesan
debar di jantung mereka nampak pada wajah mereka,
sehingga kawannya yang berada di pendapat itupun bertanya
hampir berbareng, “ Kenapa dengan kalian?”
Seorang diantara kedua cantrik itu menjawab, “ Ada
beberapa orang memasuki padepokan ini. Mereka memanjat
dinding dan turun melalui sebatang pohon sehingga tidak
menimbulkan bunyi apapun. Untunglah bahwa kami sempat
melihat daun-daunnya yang bergetar.”
“ Kau bersungguh-sungguh?” bertanya kawannya.
“ Untuk apa aku berbohong?” bertanya cantrik itu pula.
“ Bukan sekedar hendak mengguncang malam yang sepi
ini?” kawannya mendesak.
“ Jika demikian tentu tidak dengan cara ini.” jawab cantrik
itu.
Kawannya masih saja termangu-mangu. Sehingga cantrik
itupun berkata, “ Kau menunggu sampai terlambat?”
“ Baiklah.” sahut kawannya, “ kita bunyikan isyarat.”
Tetapi yang lain bertanya, “ Berapa orang yang kau lihat?”
“ Tidak jelas,” jawab cantrik itu, “ aku segera saja
memberitahukan kemari, agar kita tidak terlambat bertindak.”
“ Kita tidak usah membunyikan isyarat. Kita akan
membangunkan para cantrik di barak induk ini. Kemudian kita
akan melihat apa yang terjadi.” berkata cantrik yang lain itu.
“ Kita akan melihat langsung ke halaman?” bertanya
kawannya.
“ Kita bangunkan dahulu kawan-kawan kita di barak induk
ini.” potong cantrik yang melihat beberapa orang memasuki
halaman itu, “ nanti kita terlambat.”
“ Lakukanlah.” berkata yang tertua diantara mereka, “ aku
berjaga-jaga disini.”
Dua orang cantrik segera memasuki barak induk. Mereka
telah membangunkan empat orang cantrik yang berada di
bagian belakang bangunan induk itu.
Namun dalam pada itu, Agung Sedayu dan Sekar Mirah
yang juga berada di salah satu bilik di bangunan induk itu
telah terbangun pula. Tetapi mereka masih berusaha
mendengarkan apa yang telah terjadi.
“ Agaknya ada sesuatu yang penting.” berkata Agung
Sedayu.
Sekar Mirah mengangguk kecil. Namun iapun segera
membenahi pakaiannya sambil berkata, “ Mungkin ada
hubungannya dengan laporan cantrik menjelang malam tadi.”
Agung Sedayupun mengangguk-angguk. Iapun telah
bersiap-siap pula. Bahkan ketika mereka mendengar langkah
seorang cantrik di depan biliknya, maka Agung Sedayupun
telah membuka pintu.
“ Ada apa?” bertanya Agung Sedayu.
Cantrik yang agak tergesa-gesa itu hanya mengatakan
dengan singkat tentang beberapa orang yang memasuki
halaman padepokan.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya
kepada Sekar Mirah, “ Yang dicemaskan itu telah terjadi.”
“ Apa yang akan kita lakukan?” bertanya Sekar Mirah.
“ Kita menghadap Guru. Tetapi aku ingin memanggil
Glagah Putih lebih dahulu. Ia berada di barak sebelah
bersama para cantrik.” berkata Agung Sedayu, “ sementara
itu, kau mendekatlah lebih dahulu ke bilik Guru.”
Sekar Mirah mengangguk. Iapun kemudian melangkah ke
ruang dalam. Namun di depan bilik Kiai Gringsing, dua orang
cantrik telah bersiap.
“ Apakah Kiai Gringsing masih tidur?” bertanya Sekar
Mirah.
“ Kami masih ragu-ragu untuk melihat. Persoalan yang
timbul masih belum jelas.” jawab cantrik itu.
Sekar Mirah tidak segera membuka pintu bilik itu. Ia masih
menunggu Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sementara itu,
Agung Sedayu dengan sangat berhati-hati telah melintas
halaman belakang yang tidak terlalu panjang sebagaimana
sebuah longkangan. Ketika ia mengetuk barak di sebelah,
maka seorang cantrik telah membuka pintu.
“ Mana Glagah Putih?” bertanya Agung Sedayu.
Cantrik itupun telah menunjuk ke sebuah bilik dibagian
samping dari barak itu. Namun sebelum ia mengatakan
sesuatu, Glagah Putih ternyata sudah keluar dari dalam bilik
itu.
“ Ada apa kakang?” bertanya Glagah Putih.
Agung Sedayupun kemudian memberitahukan apa yang
dilihat oleh para cantrik yang bertugas berjaga-jaga. Lalu
katanya kepada Glagah Putih, “ Ikut aku.”
Glagah Putih dengan cepat membenahi diri. Kemudian
iapun melangkah kepintu sementara Agung Sedayu berpesan,
“ Hati-hatilah. Kalau perlu, bunyikan isyarat.”
Cantrik itu mengangguk. Sementara Agung Sedayu dan
Glagah Putih telah meninggalkan barak itu setelah cantrik
yang ditinggalkan itu menyelarak pintu dari dalam. Sejenak
kemudian, maka Agung Sedyu telah berada di depan bilik Kiai
Gringsing. Sekar Mirah dan dua orang cantrik masih tetap
berjaga-jaga didepan pintu bilik itu.
Perlahan-lahan Agung Sedayu mengetuk pintu bilik Kiai
Gringsing. Ternyata Agung Sedayu tidak perlu
mengulanginya. Dengan suara yang dalam Kiai Gringsing
berkata, “ Masuklah.”
Agung Sedayu membuka pintu itu perlahan-lahan. Ketika ia
melangkah masuk, maka dilihatnya Kiai Gring-sing sudah
duduk dibibir pembaringannya.
Agung Sedayu kemudian memberikan laporan singkat,
bahwa menurut para canrik, beberapa orang telah memasuki
halaman padepokan. Namun para cantrik itu belum dapat
memberikan laporan yang lebih terperinci.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “ Aku
serahkan kepadamu, Agung Sedayu.”
“ Baik Guru.” jawab Agung Sedayu, “ biarlah Sekar Mirah
mengawani Guru disini. Aku dan Glagah Putih akan melihatlihat
keadaan dan membangunkan para cantrik.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk sambil berdesis, “
Berhati-hatilah. Meskipun aku tidak merasa diriku seorang
yang disegani, tetapi orang-orang yang dikirim ke padepokan
ini tentu orang-orang yang terpilih. Karena itu, kau harus
berusaha untuk menempatkan dirimu sebaik-baiknya.”
“ Ya guru.” jawab Agung Sedayu, “ kami akan berhati-hati.”
Demikianlah, maka Agung Sedayupun telah minta Sekar
Mirah untuk berada di dalam bilik Kiai Gringsing, sementara
Agung Sedayu telah mengajak Glagah Putih untuk melihat
keadaan. Adapun para cantrik di barak induk itupun telah
bersiap-siap pula untuk menghadapi segala kemungkinan.
Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak keluar dari barak
induk di padepokan itu lewat pringgitan. Tetapi ke-duanya
telah turun melalui pintu butulan. Dengan sangat berhati-hati
keduanya telah mendekati lagi barak yang berada disebelah
longkangan. Kepada para cantrik yang ada di dalamnya
Agung Sedayu berpesan, agar mereka bersiap menghadapi
segala kemungkinan. Demikian pula maka dengan
mengendap-endap keduanya telah memberitahukan hal yang
serupa kepada para cantrik di barak-barak yang lain.
Karena itulah, maka para cantrik yang bertugas berjagajaga
telah membangunkan kawan-kawan mereka untuk
mempersiapkan diri sebaik-baiknya, karena setiap saat
keadaan akan dapat meledak.
Dengan ketajaman penglihatan dan pendengaran, maka
Agung Sedayu dan Glagah Putih telah berusaha mendekati
tempat yang ditunjukkan oleh cantrik yang telah melihat
kehadiran beberapa orang yang meloncati dinding.
Ternyata Agung Sedayu berhasil melihatnya. Agaknya
mereka masih belum beranjak dari bawah pohon itu. Mereka
nampaknya masih sibuk membicarakan rencana yang akan
mereka lakukan setelah mereka berada di dalam.
Dengan mengerahkan kemampuan ilmu Sapta Pangrungu
maka Agung Sedayu mencoba mendengarkan apa yang
sedang dibicarakan oleh orang-orang yang berada di bawah
pohon didekat dinding padepokan itu.
Salah seorang diantara mereka ternyata berkata, “ Kita
menunggu sejenak, Aku yakin, ia tidak akan lepas dari
rencana ini. Ia tentu akan datang pada waktunya.”
“ Sebentar lagi, malam menjadi semakin mendekati dini
hari.” berkata seorang yang lain.
“ Kita tidak memerlukan waktu yang lama disini.” jawab
orang pertama, “ Kiai Gringsing sedang sakit. Betapapun
tinggi ilmunya, tetapi tanpa dukungan kewadagannya, maka ia
tidak akan banyak memberikan perlawanan. Sementara itu,
kalian akan dengan mudah menggilas para cantrik yang masih
belum memiliki alas kemampuan kanuragan yang memadai.
Apalagi pada saat-saat terakhir, Kiai Gringsing yang tua itu
tidak mampu lagi memberikan latihan-latihan yang berarti
kepada para cantriknya.”
Tidak terdengar jawaban. Agaknya mereka baru akan mulai
bergerak jika orang yang mereka tunggu itu sudah datang.
Orang yang agaknya dianggap menjadi penentu dalam
gerakan mereka.
Namun dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih
melihat, bahwa jumlah orang-orang yang berkumpul di kebun
belakang dari padepokan mereka itu cukup banyak. Karena
itu, maka para cantrik benar-benar harus bersiap menghadapi
segala kemungkinan. Agung Sedayupun kemudian telah
menggamit Glagah Putih dan memberi isyarat kepadanya
untuk mengikutinya.
Ketika mereka sudah berada di jarak yang cukup, Agung
Sedayu itupun berkata, “ Para cantrik harus siap menunggu
selagi mereka masih belum mulai bergerak.”
“ Ya.” Glagah Putih memang sependapat, “ jika para
cantrik harus menunggu di dalam barak, maka pada saat-saat
mereka keluar dari pintu barak, kemungkinan yang buruk
dapat terjadi atas mereka, karena mereka akan dapat
menyerang dan menghancurkan barak demi barak.”
“ Marilah.” berkata Agung Sedayu, “ selagi ada waktu.”
Agung Sedayu dan Glagah Putih sekali lagi berkeliling dari
satu barak ke barak yang lain dan memerintahkan para cantrik
untuk berkumpul di longkangan, dibelakang barak induk.
“ Hati-hati.” berkata Agung Sedayu kepada para cantrik
disetiap barak, “ mereka sudah ada di dalam lingkungan
padepokan.”
Dengan ilmu pedang yang trampil serta penguasaan
sepasang trisula ditangannya, kedua cantrik itu telah berlatih
melawan tongkat besi Agung Sedayu yang berputaran dengan
cepat
Demikianlah, maka sejenak kemudian, para cantrik itupun
dengan sangat hati-hati, telah meninggalkan barak masingmasing
dan berkumpul dilongkangan.
Dalam pada itu, maka Agung Sedayupun telah mengatur
agar para cantrik itu berada di beberapa tempat yang terpisah.
Agung Sedayu telah membagi para cantrik itu berdasarkan
atas kemampuan mereka masing-masing. Empat orang yang
memiliki ilmu terbaik harus memimpin empat kelompok yang
harus berada di empat penjuru. Empat orang cantrik bersama
Sekar Mirah akan berada di barak induk, sementara Agung
Sedayu dan Glagah Putih akan berada ditempat-tempat yang
memerlukannya.
Namun satu hal yang selalu diingat oleh Agung Sedayu,
bahwa ada seseorang yang ditunggu oleh sekelompok orang
yang memasuki padepokan itu. Seorang itu tentu orang yang
berilmu tinggi.
“ Agaknya akan menjadi kewajibanku untuk
menghadapinya.” berkata Agung Sedayu didalam hatinya,
karena ia menyadari bahwa ia adalah orang yang
bertanggungjawab di padepokan itu pada saat itu
sebagaimana diperintahkan oleh gurunya.
Namun untuk sementara Agung Sedayu telah
mempercayakan barak induk itu kepada Sekar Mirah, karena
bagaimanapun juga, Kiai Gringsing yang duduk di bibir
pembaringannya itu tentu bukannya tidak mampu berbuat
apa-apa sama sekali.
Kepada seorang cantrik yang ikut berjaga-jaga di barak
induk itu Agung Sedayu telah memerintahkan untuk
membunyikan isyarat, jika barak itu dimasuki oleh siapapun
selain orang-orang padepokan itu.
Sementara itu, Agung Sedayupun telah meninggalkan
barak induk itu pula untuk mengamati keadaan dengan lebih
cermat. Dari tempat yang tidak terlalu jauh namun
tersembunyi Agung Sedayu dan Glagah Putih melihat
kegelisahan diantara mereka yang memasuki padepokan itu.
Namun dalam pada itu, keduanya melihat bayangan yang
meluncur dari atas dinding tanpa menuruni pohon yang dapat
dijadikan tangga oleh orang-orang yang masuk sebelumnya
itu.
Agung Sedayu dan Glagah Putih saling berpandangan.
Mereka menyadari bahwa tentu orang itulah yang ditunggu.
Kedatangan orang itu telah menggerakkan orang-orang
yang berada dibawah pohon itu untuk segera mulai dengan
tugas mereka. Tanpa banyak berbicara, maka orang itu telah
memberikan perintah-perintah singkat.
“ Waktu kita terbatas.” katanya kemudian, “ kita harus
segera mulai.”
Tidak ada jawaban. Namun orang itu mulai melangkah
diikuti oleh sekelompok diantara mereka. Namun yang lain
telah menuju kearah yang berbeda. Agaknya orang-orang itu
akan menyerang padepokan kecil itu dari arah yang berlainan.
Atau barangkali mereka menganggap bahwa menundukkan
padepokan itu sama mudahnya seperti sekelompok serigala
menerkam sejumlah domba-domba di dalam kandangnya.
Untunglah bahwa kelompok-kelompok itu telah mengambil
jalan yang tidak terlalu dekat dengan Agung Sedayu dan
Glagah Putih bersembunyi. Apalagi Agung Sedayu memiliki
kemampuan menyerap bunyi sehingga kehadirannya tidak
mudah diketahui oleh orang lain meskipun orang berilmu tinggi
sekalipun.
Agung Sedayulah yang kemudian justru mengikuti
kelompok-kelompok yang mulai bergerak itu. Kepada Glagah
Putih diisyaratkan untuk mengikuti kelompok yang lain,
sementara Agung Sedayu sendiri mengikuti kelompok yang
dipimpin langsung oleh orang yang datang terakhir itu.
Demikianlah, maka ketegangan telah mencekam seisi
padepokan itu, Baik mereka yang memasuki padepokan itu,
maupun para cantrik yang siap menunggu di sela-sela
gerumbul-gerumbul perdu. Ternyata orang-orang yang
memasuki padepokan itu tidak segera mengetahui bahwa
kedatangan mereka memang sudah ditunggu. Karena itu,
maka dengan cepat mereka bergerak menuju ke bagian yang
lain dari padepokan itu.
Glagah Putih yang mengikuti sekelompok orang yang
mengambil jalan yang lain dari kelompok yang diikuti oleh
Agung Sedayu melihat bahwa kelompok itu akan melintas
diantara kelompok-kelompok para cantrik yang memang
sudah menunggu. Karena itu, Glagah Putih justru telah
memberikan isyarat. Dilemparkannya sebuah batu kearah
para cantrik menunggu sebagaimana diatur oleh Agung
Sedayu.
Bunyi batu yang gemerasak didedaunan dan kemudian
jatuh di tanah itu memang telah menarik perhatian. Tetapi
bukan saja para cantrik. Orang-orang yang memasuki
padepokan itupun telah terkejut pula sehingga langkah
mereka terhenti sejenak.
Glagah Putih mempergunakan kesempatan itu untuk
mendahului kelompok orang-orang yang memasuki
padepokan itu. Dengan menyusup diantara gerumbulgerumbul
perdu yang tumbuh di halaman samping ia langsung
menuju ketempat yang sudah ditentukan bagi para cantrik siap
menunggu.
Sekelompok orang yang memasuki padepokan itupun telah
menjadi berhati-hati. Selain gemerasak batu yang dilemparkan
oleh Glagah Putih, merekapun telah memasuki bagian dari
padepokan itu yang dihuni oleh para cantrik. Beberapa barak
bertebaran diantara pepohonan yang rimbun. Sementara
disebelah depan dari bagian yang dihuni itu terdapat
bangunan induk dari padepokan itu.
Glagah Putih ternyata telah berada diantara para cantrik di
salah satu kelompok yang memang sudah menunggu
kehadiran orang-orang yang tidak dikenal itu. Demikian
Glagah Putih memberikan isyarat, maka para cantrik itupun
mulai bergeser dari tempat mereka. Sebagian dari mereka
tetap menunggu, sementara Glagah Putih dengan tiga orang
cantrik telah melingkari sebuah barak. Ketika sekelompok
orang-orang itu dengan hati-hati mendekati para cantrik, maka
perintah dari pimpinan para cantrik itupun telah mengejutkan
mereka.
Sejenak kemudian, beberapa orang cantrik telah
menghambur keluar dari persembunyian mereka, di sebuah
longkangan yang sempit diantara dua buah barak. Tidak
menunggu perintah itu diulangi maka para cantrikpun telah
menyerang orang-orang yang tidak dikenal itu.
Orang-orang yang memasuki padepokan itu terkejut.
Mereka tidak mengira bahwa demikian cepatnya mereka akan
disergap oleh para cantrik yang ternyata telah bersiaga.
Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang seru.
Namun ternyata bahwa sejumlah orang-orang yang memasuki
padepokan itu lebih banyak dari satu kelompok cantrik yang
menunggu mereka. Glagah Putih yang bersama dengan tiga
orang cantrik mengitari sebuah barak, tiba-tiba pula telah
menyergap Orang-orang yang memasuki padepokan itu dari
punggung.
Sebenarnyalah kehadiran Glagah Putih telah mengejutkan
orang-orang yang memasuki padepokan itu. Meskipun mereka
belum mengenal Glagah Putih, tetapi sikap dan tata gerak
Glagah Putih membuat mereka menjadi berdebar-debar.
Demikianlah pertempuran itupun telah meningkat semakin
keras. Sebagaimana petunjuk para pemimpinnya, para cantrik
harus memanfaatkan pengenalan mereka atas padepokan itu
sebagai perisai. Mereka dapat berlari-larian mengitari
pepohonan untuk tiba-tiba saja kembali menyerang.
Merekapun dapat memanfaatkan longkangan-longkangan
yang gelap pekat dan bagian-bagian yang lain. Ternyata
dengan cara itu, para cantrik sekali-sekali dapat membuat
lawan-lawan mereka menjadi bingung.
Namun ternyata bahwa orang-orang yang memasuki
padepokan itupun memiliki pengalaman yang luas. Karena itu,
mereka tidak segera terpancing oleh para cantrik yang berlarilarian.
Mereka berusaha untuk tidak terjebak dalam arena
yang sempit dan sulit. Karena itu, mereka justru bergerak
mendekati banguhan induk. Namun mereka tetap bertahan di
jalur arah mereka jika para cantrik menyerang.
Glagah Putih memang tidak dengan tergesa-gesa bertindak
lebih jauh. Bersama para cantrik mereka telah menyerang dan
kemudian berkisar kebelakang batang-batang perdu atau
masuk ke longkangan yang gelap. Tetapi orang-orang yang
memasuki padepokan itu sama sekali tidak mengejar mereka.
Tetapi mereka meneruskan langkah mereka ke arah yang
agaknya memang sudah ditentukan. Barak induk padepokan
kecil itu.
Namun ternyata bahwa kelompok itu telah membentur
kekuatan para cantrik dari kelompok yang lain yang dengan
serta merta telah menyergap mereka. Dengan demikian maka
kekuatan merekapun menjadi berimbang. Namun ternyata
bahwa orang-orang yang memasuki padepokannya itu masih
saja berusaha terus mendekati barak induk.
Tetapi mereka tidak lagi semudah sebelumnya untuk maju
terus. Kekuatan para cantrik benar-benar telah mampu
menghentikan mereka. Sehingga dengan demikian maka telah
terjadi pertempuran yang sengit antara orang-orang yang
memasuki padepokan itu melawan para cantrik.
Beberapa orang cantrik memang telah memiliki
kemampuan yang mampu mengimbangi lawan-lawannya,
meskipun ada juga yang mendapat kesulitan karena dasar
kemampuan kanuragan mereka masih belum mapan. Tetapi
ternyata bahwa para cantrik itu benar-benar telah mampu
mengimbangi kekuatan orang-orang yang memasuki
padepokan itu.
Namun hal itu ternyata telah membuat pemimpin kelompok
orang-orang yang memasuki padepokan itu menjadi marah.
Dengan lantang ia berteriak, “ Minggirlah tikus-tikus kecil.
Biarlah pemimpinmu, orang bercambuk itu turun ke arena.
Sudah waktunya orang itu mati, sehingga ia tidak akan dapat
lagi ikut campur dalam persoalan Mataram dengan lawanlawannya
yang semakin banyak.”
Para cantrik tidak menghiraukannya. Mereka bertempur
terus dengan garangnya. Tetapi pemimpin kelompok orangorang
yang tidak dikenal itu ternyata telah terjun langsung
memasuki arena pertempuran. Demikian tinggi
kemampuannya sehingga beberapa orang cantrik telah
terkejut ketika terjadi benturan senjata. Hampir saja senjata
para cantrik itu terlepas dari tangan mereka, ketika sapuan
senjata pemimpin kelompok orang-orang yang belum dikenal
itu menyentuh senjata para cantrik.
Untunglah bahwa Glagah Putih sempat melihat peristiwa
itu. Karena itu, maka iapun telah bergerak diantara para
cantrik mendekat pemimpin kelompok lawan yang
menggetarkan jantung para cantrik itu.
“ Luar biasa Ki Sanak.” berkata Glagah Putih, “
kemampuanmu melampui kemampuan kawan-kawanmu.”
Orang yang sedang mengayun-ayunkan senjatanya itu
tertegun. Dipandanginya Glagah Putih yang siap
menghadapinya. Dari sinar obor di kejauhan, ketajaman mata
orang itu melihat, betapa mudanya orang yang menyapa itu.
Karena itu, maka orang itupun bertanya, “ Siapakah kau he?”
“ Aku salah seorang cantrik padepokan kecil ini.” jawab
Glagah Putih.
“ Kau berani dengan sombong menghadapi aku?” bertanya
orang itu.
“ Kau kira aku menyombongkan diri? Tidak Ki Sanak.
Bukankah kewajiban para cantrik untuk menghentikan polah
tingkahmu itu?” bertanya Glagah Putih.
“ Kau lihat, bahwa kawana-kawanmu tidak ada yang berani
mendekati aku lagi. Apalagi seorang diri? Jika kau datang
dalam sebuah kelompok yang besar, mungkin aku masih
dapat menghargaimu. Tetapi agaknya kau datang untuk
membunuh diri.” berkata orang itu.
“ Jika demikian siapakah yang sombong diantara kita? Kau
atau aku?” bertanya Glagah Putih.
“ Persetan. Jangan mati terlalu muda. Pergilah.” bentak
orang itu. Lalu, “ Panggil gurumu, orang bercambuk itu.
Biarlah aku yang membinasakannya?”
“ Bukankah seorang kawanmu dengan kelompoknya telah
memilih jalan lain menuju ke bangunan induk? Aku kira bukan
kau yang akan menghadapi Guru. Tetapi kawanmu yang telah
kau tunggu cukup lama dibawah pohon di kebun belakang
padepokan ini.” jawab Glagah Putih.
“ Jadi kau melihat kehadiran kami?” bertanya orang itu.
“ Ya. Aku telah melihat kegelisahan kalian menunggu
seorang diantara kalian, yang agaknya merasa dirinya pantas
menghadapi Kiai Gringsing.” jawab Glagah Putih, “ nah, jika
demikian, kau tidak usah menyebut nama Guru lagi. Kita
bertemu dan siapakah diantara kita yang akan keluar dari
arena pertempuran ini dengan selamat.”
“ Ternyata kau memang harus dibunuh.” geram orang itu.
“ Apapun yang akan kau lakukan, lakukanlah. Kita berada
di peperangan. Setiap orang berhak untuk membunuh dan
mungkin akan terbunuh. Karena itu, kita akan melihat, aku
ingin mengetahui, siapakah kalian dan bekerja untuk siapa
Apapula keuntungan kalian dengan menghancurkan
padepokan kecil ini?” bertanya Glagah Putih.
“ Siapapun kami dan untuk siapa kami melakukannya, itu
bukan urusanmu.” berkata orang itu.
“ Baik.” jawab Glagah Putih, “ jika demikian, maka kalian
akan mati tanpa nama.”
“ Kamilah yang akan membinasakan kalian.” geram orang
itu.
Glagah Putih tidak menyahut lagi. Tetapi iapun segera
bersiap menghadapi segala kemungkinan. Sejenak kemudian,
orang yang memimpin kelompok orang-orang yang tidak
dikenal itu telah menyerang Glagah Putih.
Glagah Putih meloncat menghindar. Iapun telah memegang
pedang ditangannya. Ketika lawannya memburunya dengan
mengacukan senjatanya lurus ke dadanya, maka Glagah
Putihpun telah menangkis serangan itu.
Kedua-duanya terkejut. Pemimpin kelompok itu tidak
mengira bahwa orang yang masih sangat muda itu
mempunyai kekuatan yang sangat besar. Jauh melampaui
kekuatan para cantrik yang pernah membenturkan senjata
mereka dengan senjatanya.
“ Agaknya anak itu memiliki kelebihan dari para cantrik
yang lain.” berkata orang itu didalam hatinya.
Sementara itu, Glagah Putih terkejut. Meskipun ia sudah
menduga bahwa lawannya memiliki kekuatan yang besar,
namun sentuhan senjatanya itu benar-benar menunjukkan
kekuatannya yang luar biasa. Tetapi Glagah Putih sama sekali
tidak menjadi gentar karenanya. Apa yang terjadi itu baru
merupakan sentuhan sentuhan permulaan dari kemungkinan
yang akan dapat berkembang menjadi jauh lebih seru.
Ternyata pemimpin kelompok itu tidak memberi banyak
kesempatan kepada Glagah Putih untuk merenung. Dengan
garangnya iapun segera telah menyerang kembali. Senjatanya
berputaran dengan cepatnya. Namun tiba-tiba saja menebas
mendatar mengarah kedada lawannya.
Ketika Glagah Putih sempat bergeser surut selangkah,
maka orang itu telah meloncat selangkah maju sambil
mengacukan senjatanya kearah leher. Tetapi Glagah Putih
mampu bergerak secepat lawannya. Karena itu, maka ujung
senjata itu mematuk sejengkal dari sasaran.
Glagah Putih tidak membiarkan dirinya sekedar menjadi
sasaran serangan lawannya. Iapun kemudian telah
menyerang pula. Dengan memukul senjata lawannya
menyamping, maka dada lawannya telah terbuka. Dengan
cepat Glagah Putih memutar pedangnya dan dengan loncatan
menyamping, pedang itu terayun kearah perut. Tetapi
lawannya sempat bergeser surut. Pedang Glagah Putih sama
sekali tidak menyentuh tubuhnya.
Demikianlah pertempuranpun semakin lama menjadi
semakin cepat. Keduanya semakin meningkatkan ilmu mereka
masing-masing. Sedangkan para cantrikpun telah bertempur
dengan keras pula karena lawan-lawan mereka menjadi
garang.
Ternyata bahwa kemampuan para cantrik tidak
mencemaskan. Mereka sebagian besar telah menguasai ilmu
dasar dari perguruan Kiai Gringsing. Bahkan beberapa orang
diantara mereka telah mulai mampu mengembangkannya.
Dua orang yang masing-masing memimpin sekelompok
cantrik di padepokan itu, sebagaimana dikatakan oleh kawankawannya,
memang memiliki kelebihan dari kemampuan ratarata
para cantrik yang lain. Mereka sempat membuat lawanlawannya
terdorong surut beberapa langkah dalam benturanbenturan
yang terjadi. Bahkan kadang-kadang lawannya
terpaksa mendapat bantuan dari lawan-lawannya jika cantrik
itu mendesak mereka kedalam keadaan yang sangat gawat.
Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin lama
memang menjadi semakin seru.
Orang-orang yang datang memasuki padepokan itu tidak
menduga, bahwa di dalam padepokan kecil itu terdapat
kekuatan yang memadai. Bahkan seorang anak muda telah
mampu mengimbangi kemampuan pemimpin mereka yang
mereka anggap memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Dalam pada itu, kelompok yang lain, yang dipimpin
langsung oleh orang yang untuk beberapa lama ditunggu itu,
bergerak melalui sisi yang lain. Merekapun berusaha untuk
sampai kebarak induk padepokan itu. Agaknya orang yang
datang terakhir itulah yang mendapat tugas langsung untuk
mengakhiri perasaan Kiai Gringsing yang banyak membantu
Mataram itu.
Namun seperti yang terjadi pada kelompok yang lain, maka
para cantrikpun telah menyergap mereka dari balik gerumbulgerumbul
perdu tanaman hias di halaman samping padepokan
dan dari celah-celah barak yang bertebaran. Dua kelompok
para cantrik harus bertempur menghadapi kelompok
pendatang itu.
Namun Agung Sedayu terkejut melihat kekasaran orang
yang datang terakhir itu. Ketika seorang cantrik
menyergapnya, maka seakan-akan ia hanya mengibaskan
sebelah tangannya. Namun cantrik itu terlempar beberapa
langkah, jatuh berguling dan tubuhnyapun telah terdiam.
Agung Sedayu memang tersinggung. Cantrik itu adalah
cantrik yang bernasib buruk. Ia tidak sempat berbuat apapun
di pertempuran itu, ketika tiba-tiba saja ia berpapasan dengan
orang yang dengan semena-mena mempergunakan ilmunya
yang sangat tinggi.
Ketika Agung Sedayu meloncat mendekati orang itu, maka
dua orang cantrik telah terlempar. Meskipun keduanya tidak
menjadi separah cantrik yang pertama, namun keduanyapun
harus meringkuk menepi. Untunglah beberapa orang
kawannya telah membantunya, membawanya ketempat yang
gelap. Sementara dua orang cantrik yang lain telah
mengusung kawannya yang pingsan menyingkir pula dari
pertempuran.
Ketika ampat orang cantrik yang marah meloncat
mendekati orang itu, Agung Sedayu telah berada di hadapan
mereka. Katanya kepada para cantrik, “ Biarlah aku yang
menghadapinya.”
“ Anak setan.” geram orang itu.
Ternyata semakin dekat. Agung Sedayu menjadi semakin
jelas mengamati wajah orang itu. Wajah yang nampak pucat
dan dalam. Tidak ada gejolak sama sekali pada wajah yang
bermata sangat cekung itu. Seakan-akan yang nampak itu
bukannya wajah sebenarnya. Seperti sebuah topeng yang
diam tanpa perubahan kesan apapun selain sorot mata yang
memancarkan nafas kematian.
Ternyata bahwa wajah yang beku itu membuat Agung
Sedayu menjadi berdebar-debar. Orang-orang yang berwajah
demikian, menurut pengenalannya adalah orang yang memiliki
kelainan jiwa. Perasaannya tentu sudah membeku
sebagaimana wajahnya. Namun sebagaimana sorot matanya,
hatinyapun menyimpan api. Orang-orang yang demikian, akan
dapat membunuh tanpa mengedipkan matanya. Tanpa getar
apapun dijantungnya. Apalagi penyesalan. Karena itu, maka
Agung Sedayu harus berhati-hati menghadapinya.
Dalam pada itu terdengar suara orang itu parau, “ Siapakah
kau yang berani dengan sadar menghadapi aku seorang diri?”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Kau
tentu mencari Kiai Gringsing. Aku adalah salah seorang
muridnya.”
Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “ Suruh gurumu
menghadapi aku. Aku ingin membunuhnya.”
“ Apa hubunganmu dengan Guru, sehingga kau akan
membunuhnya?” bertanya Agung Sedayu.
Ternyata orang itu tidak berbelit-belit. Katanya, “ Gurumu
tentu akan memihak Mataram yang bermusuhan dengan
Madiun. Sementara itu aku berpihak kepada Madiun.”
“ Bagaimana jika perselisihan antara Mataram dan Madiun
dapat diselesaikan dengan baik tanpa kekerasan?” bertanya
Agung Sedayu.
“ Itu bukan urusanku. Tugasku membunuh Kiai Gringsing
yang dikenal sebagai orang bercambuk itu. Kecuali ia akan
dapat mengganggu, ia pun seharusnya memang sudah mati
karena ia sudah terlalu lama hidup.” berkata orang itu.
“ Tentang umur seseorang itu bukannya persoalan kita.
Bukan pula urusanmu. Panjang atau pendek umur seseorang,
adalah wewenang Yang Maha Kuasa.” jawab Agung Sedayu.
“ Omong kosong.” geram orang berwajah beku itu, “ orangorang
yang lemah akan mencari sandaran untuk menutupi
kelemahannya. Aku yang yakin akan kemampu-anku, sama
sekali tidak mempercayainya. Aku akan mempertahankan
umurku dengan membunuh lawan-lawannya. Nah, minggirlah
jika kau tidak ingin mati. Aku akan membunuh Gurumu.”
“ Sikapku berbeda.” jawab Agung Sedayu, “ karena aku
yakin, bahwa mati hidupku sudah ditentukan oleh Kuasa-Nya,
maka aku tidak akan minggir. Aku akan menghadapimu
siapapun kau. Aku barangkali kau mau menyebut namamu
atau sebutanmu? “
“ Namaku Singapati. Katakan kepada Gurumu, bahwa aku
adalah pewaris tunggal ilmu dari perguruan Worsukma.”
berkata orang yang bernama Singapati itu. Lalu, “ ia tentu
akan menjadi gemetar dan barangkali dengan suka rela akan
menyerahkan nyawanya kepadaku.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia memang sudah
mendengar berbagai macam perguruan yang pernah disebut
oleh gurunya. Iapun pernah mendengar nama perguruan
Worsukma. Perguruan yang pada masanya memiliki nama
yang menggetarkan bagi orang-orang berilmu. Gurunyapun
pernah memberikan petunjuk untuk menghadapi berjenis-jenis
ilmu yang memiliki kelebihan dari berbagai macam perguruan.
Dan Agung Sedayupun teringat jelas, bagaimana gurunya
memberikan petunjuk untuk menghadapi ilmu dari perguruan
Worsukma.
Agung Sedayu teringat jelas, betapa gurunya berpesan,
agar ia tidak kehilangan pribadinya menghadapi ilmu dari
perguruan Worsukma. Jika ia kehilangan pribadinya, maka ia
akan tunduk pada kehendak lawannya, bahkan dipenggal
kepalanya sekalipun. Dan ilmu itu tidak dapat dilawan dengan
ilmu kebal. Melainkan satu keyakinan akan dirinya sendiri.
“ Benar kata Guru.” berkata Agung Sedayu didalam
hatinya, “ orang-orang yang mewarisi ilmu Worsukma, yang
menurut Singapati adalah pewaris tunggalnya di saat ini, tidak
percaya akan kuasa Yang Maha Kuasa. Itulah sebabnya,
maka aku justru tidak boleh bergeser setebal daun sekalipun
dari sandaran itu. Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, maka
aku akan tetap tegak pada pribadiku dan tidak akan dapat
dikuasainya.”
Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka
Singapati itupun tiba-tiba telah membentaknya, “ He, jika kau
menjadi ketakutan, minggirlah. Aku memang ingin bertemu
dengan pewaris ilmu cambuk yang terkenal itu. Namun yang
sebenarnya hampa di dalamnya.”
“ Guru sedang sakit “ berkata Agung Sedayu “ atau
barangkali kau sengaja datang karena kau mendengar Guru
sedang sakit? Agaknya kau tidak berani berhadapan dengan
Guru disaat-saat Guru siap bertempur melawan sia-papun,
termasuk pewaris tunggal ilmu Worsukma. “ Agung Sedayu
berhenti sejenak, lalu tiba-tiba saja ia berkata “ Kau bukan
pewaris tunggal. Aku pernah bertemu dengan orang yang
memiliki ilmu yang sama dengan ilmumu. Warisan dari
perguruan Worsukma. Cirinya sama dengan ciri-ciri yang ada
padamu. Tidak mempercayai kuasa Yang Maha Kuasa.
Sombong dan tidak mengakui saudara-saudara
seperguruannya sendiri. “
“ Persetan “ geram orang itu “ banyak orang yang mengaku
pewaris ilmu dari perguruan Worsukma. Tetapi semuanya itu
bohong sama sekali. Sekarang, menyerahlah, atau kau akan
mati. “
“ Sudah aku katakan, mati hidupku tidak ditentukan oleh
siapapun. Tidak olehmu dan bahkan tidak olehku sendiri.
Tetapi oleh Penciptanya “ jawab Agung Sedayu.
Orang itu menggeram. Satu hal lagi yang membuat Agung
Sedayu berdebar-debar. Gigi orang itu seakan-akan mengintip
dari sela-sela bibirnya. Satu hal yang tidak pernah disebut
oleh gurunya.
“ Jika orang ini menggeram, maka giginya bagaikan gigi
binatang buas yang mencuat dari batas bibirnya “ berkata
Agung Sedayu didalam hatinya. Lalu “ Apakah arti dari
keadaan itu? “
Tetapi memang ada kemungkinan bahwa hal itu tidak
mempunyai arti apapun kecuali satu kebiasaan saja. Atau
karena orang itu memang memiliki sifat-sifat binatang buas
karena ilmunya atau karena watak dan pribadinya.
Karena Agung Sedayu ternyata sama sekali tidak gentar
menghadapinya, maka orang itupun kemudian berkata “
Bersiaplah. Mungkin masih ada yang ingin kau lihat di
padepokanmu ini karena sebentar lagi kau akan mati. “
Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi iapun telah bersiap
menghadapi segala kemungkinan. Ia tidak boleh lengah bukan
saja menghadapi benturan kewadagan, tetapi orang yang
mewarisi ilmu perguruan Worsukma itu akan dapat
mempengaruhi nalar budinya dan bahkan menguasainya.
Sejenak kemudian maka orang itupun mulai bergerak.
Seperti kebekuan di wajahnya, maka geraknyapun bagaikan
tidak disadarinya. Namun Agung Sedayu tahu pasti, bahwa
orang itu adalah orang yang sangat berbahaya. Agung
Sedayu memang dapat mempergunakan ilmu kebalnya jikadiperlukan
untuk mengatasi benturan wadagnya, tetapi ia tidak
dapat mempergunakan ilmu itu untuk melawan pengaruh yang
mungkin dapat menguasai jiwanya. Karena itu maka ia harus
mempersiapkan perlawanan khusus untuk mengatasinya.
Tetapi agaknya orang itu ingin mencoba kemampuan dan
kekuatan ilmu Agung Sedayu dengan benturan-benturan
wadag. Agaknya orang itu tidak dengan serta merta
mempergunakan ilmu andalan dari perguruan Worsukma yang
dapat menundukkan lawannya tanpa benturan kewadagan.
Sejenak kemudian, maka orang itu mulai menggerakkan
tangannya. Agung Sedayu telah menyaksikan sendiri,
bagaimana kibasan tangannya mampu melemparkan dan
membuat seorang cantrik langsung pingsan, sedangkan yang
lain telah terlempar dan terbanting pula ditanah.
Karena itu, maka Agung Sedayupun telah bersiap
sepenuhnya. Ketika orang itu meloncat dengan satu langkah
panjang sambil menerkam dengan jari-jarinya yang
berkembang, maka Agung Sedayu seakan-akan telah bertemu
dengan kenalan lamanya meskipun berdiri berseberangan.
Wawasannya yang tajam segera mengenal gerak itu,
meskipun sebelumnya ia baru mendapat keterangan dari Kiai
Gringsing tentang jenis ilmu itu. Ilmu yang sangat
berbahaya. Terkaman itu akan dapat mengoyak kulit
dagingnya.
Namun Agung Sedayu ternyata mampu mengimbangi
hentakan pertama lawannya. Demikian ia bergeser
menghindari serangan lawannya, Agung Sedayupun telah
meloncat pula. Sambil merendah maka tangannya terayun
mendatar. Jari-jarinya yang merapat menyambar lambung
lawannya dengan telapak tangan yang menelungkup. Ketika
lawannya menghindar surut, maka tangan itupun segera
berubah arah, mematuk dengan cepat menghadap ke ulu hati.
Orang itu meloncat surut. Wajahnya masih tetap membeku
ketika ia bergumam “ Ternyata kau tangkas. He, apakah
murid-murid Kiai Gringsing sudah mewarisi kemampuannya? “
Agung Sedayu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja ia
melenting sambil berputar, sementara kakinyalah yang
terayun deras sekali, hampir saja menyambar kepala orang
yang menyebut dirinya Singapati itu.
“ Anak iblis “ orang itu mengumpat. Untunglah bahwa ia
masih sempat menghindar dengan merendahkan dirinya
sehingga kepalanya tidak disambar oleh kaki Agung Sedayu.
Gerak itu memang tidak diduganya sebelumnya.
Namun kemarahan orang itu bagaikan terangkat. Karena
itu, maka iapun telah meningkatkan kemampuannya.
Dengan demikian maka pertempuran antara Agung Sedayu
dan Singapati itupun menjadi semakin cepat dan keras.
Ternyata bahwa Agung Sedayu memang harus mengimbangi
lawannya. Meskipun tidak kasar, tetapi Agung Sedayu telah
bertempur sebagaimana lawannya.
Namun dengan sengaja Agung Sedayu telah
memperlihatkan unsur-unsur ilmunya yang lain, yang
diwarisinya dari perguruan Ki Sadewa. Ia ingin melihat
ketajaman pengamatan lawannya tentang jenis-jenis ilmu dari
jalur perguruan yang pernah terkenal pada masa silam.
Ternyata orang itu telah memperhatikan unsur-unsur gerak
yang diperlihatkan oleh Agung Sedayu. Sebagai seorang yang
berilmu tinggi dari angkatan sebelumnya, maka ternyata orang
itu menjadi heran melihat jenis unsur-unsur gerak yang
nampak pada lawannya yang masih terhitung muda itu.
Karena itu, hampir diluar sadarnya, maka terdengar orang
itu bertanya dengan nada datar “ Kau bukan saja murid Kiai
Gringsing. Tetapi kau memiliki kemampuan ilmu dari
perguruan Ki Sadewa. “
“ Kau mengenal Ki Sadewa? “ bertanya Agung Sedayu.
“ Ia berasal dari Jati Anom ini. Aku mengenal orang-orang
berilmu tinggi sebagaimana aku sendiri. Tetapi seandainya Ki
Sadewa masih hidup, ia tidak akan mampu mengimbangi
kemampuanku sekarang, sebagaimana Kiai Gringsingpun
tidak, “ berkata orang itu.
“ Itulah sebabnya maka kau harus dihadapkan pada dua
jenis ilmu itu sehingga dengan demikian maka barulah kau
dapat dikalahkan. “ berkata Agung Sedayu.
“ Persetan “ geram orang itu “ jika kau baru mengenal
dasar-dasar ilmu dari seratus perguruanpun kau tidak mampu
berbuat apa-apa dihadapanku sekarang ini. “
Namun tiba-tiba orang itu terkejut ketika Agung Sedayu
menyerangnya dengan tata gerak yang berbeda pula. Satu ciri
dari perguruan lain, bahwa ia menyerang dengan tubuh yang
menghadap hampir sepenuhnya. Serangan-serangannya
bertumpu pada kakinya, namun dalam keadaan yang khusus.
Satu kakinya ditarik setengah langkah ke-belakang, lututnya
agak merendah sementara kedua tangannya teracu kedepan.
Orang itu nampak terkejut. Selangkah ia surut sambil
berdesis “ Kau berguru juga kepada bajak laut itu? “
Agung Sedayu terkejut. Tetapi ia berusaha untuk
menghapus kesan itu dari wajahnya. Pengenalannya atas ilmu
Ki Jayaraga telah mendorongnya untuk mengganggu
lawannya dengan jenis-jenis ilmu itu. Namun ia justru terkejut
ketika Singapati itu menyebutnya sebagai ilmu yang
disadapnya dari seorang bajak laut.
Namun Agung Sedayupun teringat, bahwa memang ada
murid Ki Jayaraga yang kemudian menjadi bajak laut yang
ditakuti. Tetapi bajak laut itu sudah tidak ada lagi.
Tetapi karena Agung Sedayu memang tidak mendalami
ilmu itu, maka iapun memang tidak berniat untuk
mempergunakan, selain sekedar menunjukkan kekuatan salah
satu unsur gerak dari ilmu yang dikenalinya dengan baik,
karena ia mengenal Ki Jayaraga dengan baik pula. Apalagi
muridnya, Glagah Putih telah berguru pula kepada Ki
Jayaraga sehingga Agung Sedayu bersama-sama dengan Ki
Jayaraga harus menyusun ilmu didalam diri Glagah Putih
sehingga justru akan dapat saling mengisi. Bukan saling
berbenturan didalam dirinya.
Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka
Singapati itu membentaknya “ Jadi kau berguru pula kepada
bajak laut itu he? “
“ Tidak “ jawab Agung Sedayu “ tetapi aku sekedar pernah
mempelajari ilmunya. Karena kau menganggap bahwa Ki
Sadewa, Kiai Gringsing dan siapa lagi, seorang-seorang tidak
akan dapat mengalahkanmu, maka sekarang mereka datang
bersama-sama bahkan bersama Ki Jayaraga meskipun hanya
sekedar ilmunya. Sementara itu, biarlah wadagku menjadi
lantaran pelepasan ilmu mereka. “
“ Iblis kau. Kau benar-benar seorang yang sombong. Kau
merasa dirimu memiliki kemampuan tiga orang berilmu tinggi
itu dan berani menghadapi aku? Kau agaknya memang belum
mengenal kemampuan perguruan Worsukma yang
sesungguhnya. “ geram orang itu.
Agung Sedayu tidak menjawab. Namun iapun telah
benar-benar bersiap. Ilmu apapun yang akan dipergunakan
oleh lawannya, maka ia harus berusaha untuk
mengimbanginya.
Ternyata bahwa Singapati tidak menjadi gelisah dan cepat
terbakar jantungnya. Ia masih menyerang Agung Sedayu
dengan ilmu kanuragan. Meskipun semakin lama menjadi
semakin meningkat, tetapi Agung Sedayu masih saja mampu
mengimbanginya. Serangan dibalas dengan serangan. Sekalisekali
terjadi benturan yang keras sehingga keduanya harus
bergeser surut. Ternyata bahwa Singapati tidak berhasil
mengatasi kemampuan kecepatan dan kekuatan Agung
Sedayu dengan lambaran tenaga cadangannya.
Bagaimanapun ia mengarahkan kemampuannya, ternyata
Agung Sedayu selalu dapat menghindari serangannya atau
menangkisnya dengan kekuatan yang seimbang.
Tetapi bagi Singapati yang dilakukan itu seakan-akan baru
merupakan sekedar menghangatkan darahnya, karena
didalam dirinya tersimpan tingkat-tingkat ilmu yang tinggi dari
perguruan Worsukma disamping ilmu puncaknya.
Dalam pada itu, pertempuran antara para cantrik dan
orang-orang yang memasuki padepokan itupun menjadi
semakin seru. Ternyata kemampuan para cantrik tidak
sebagaimana dibayangkan oleh para pengikut Singapati.
Mereka menyangka bahwa cantrik dari padepokan kecil yang
dipimpin oleh seorang yang menjadi semakin tua, lemah dan
sakit-sakitan itu adalah orang-orang yang lemah pula. Namun
ternyata bahwa mereka memiliki gelora perjuangan yang
sangat besar untuk mempertahankan hak mereka. Didukung
oleh kemampuan yang cukup besar, sehingga dengan
demikian, maka para cantrik itu telah berhasil menahan gerak
maju orang-orang yang datang menyerang.
Tetapi sementara itu, seorang diantara orang-orang yang
datang menyerang padepokan itu telah berhasil lepas dari
pertahanan para cantrik. Kemampuannya yang tinggi
telah mampu menyibakkan para cantrik yang mencoba
menghalanginya. Bahkan seorang diantara para cantrik itu
telah terlempar jatuh dengan luka dipundaknya.
Beberapa orang cantrik memang mengejarnya. Tetapi
orang itu sempat menyusup dilongkangan, kemudian
menyelinap gerumbul-gerumbul perdu, sehingga akhirnya ia
telah berhasil mencapai pintu bangunan induk padepokan itu.
Dengan serta merta iapun telah berlari kepintu dan
mendorongnya pintu itu sehingga berderak. Ternyata
kekuatan orang itu terlalu besar, sehingga pintu itu bukannya
sekedar terbuka, tetapi justru telah patah ditengah.
Para cantrik yang ada diruang tengahpun segera bersiap.
Mereka bersama-sama telah berusaha untuk menahan orang
itu agar tidak mencapai bilik Kiai Gringsing. Namun ternyata
orang itu memang mampu bergerak cepat dan kuat. Kedua
cantrik yang berusaha menggapainya dengan senjata, justru
harus berloncatan mundur.
Tetapi ketika seorang cantrik siap memukul isyarat, maka
terdengar suara dipintu bilik yang terbuka “ Jangan. Biarlah
kawan-kawanmu bertempur dengan tenang. “
Ketika orang-orang diruang dalam itu berpaling, mereka
melihat Sekar Mirah berdiri ditengah-tengah, pintu sambil
menggenggam tongkat baja putihnya. Sebuah tengkorak di
pangkal tongkat itu nampak berkilat kekuning-kuningan.
Dengan langkah yang meyakinkan Sekar Mirah mendekati
orang itu sambil berkata “ Jika tubuhku telah terkapar disini,
bunyikan tanda itu. Dua orang diantara kalian, masuklah dan
layani Kiai Gringsing jika ia memerlukan minum. Biarlah Kiai
Gringsing beristirahat saja dipem-baringannya. Jangan
diganggu dengan jenis-jenis permainan tidak berarti ini. “
Orang yang memasuki ruang dalam itu memandang
tongkat Sekar Mirah dengan wajah yang tegang. Namun
kemudian katanya Siapakah kau? Darimana kau
mendapatkan tongkat itu? Apakah kau murid Macan
Kepatihan sehingga kau mendapatkan tongkat itu dari
Mantahun lewat Tohpati atau dari Sumangkar? “
“ Darimana kau mengenal tongkat ini? “ bertanya Sekar
Mirah kemudian “ apakah kau termasuk salah seorang
diantara orang-orang Jipang yang mendendam terhadap
Mataram, sehingga kini kau melibatkan diri dari pada
pertentangan yang terjadi antara Madiun dan Mataram untuk
melepaskan dendammu? “
Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Dengan geram ia
berkata “ Minggirlah. Biarkan aku bertemu dengan pemimpin
padepokan ini. Jika kau berhasil membunuhnya mendahului
orang lain, maka aku tentu akan mendapatkan hadiah yang
pantas karena jasaku. Aku akan mendapat kedudukan yang
sesuai dengan kemampuanku. Nah, kau tahu, bahwa aku
akan mengorbankan siapa saja yang berusaha menghalangi
aku. “
“ Itukah tujuan kedatanganmu? Jika kau datang dengan
niat membalas dendam aku masih dapat mengerti. Tetapi jika
kau datang dan ingin membunuh seseorang hanya karena
menginginkan ganjaran dalam bentuk apapun, maka kau
adalah orang yang tidak pantas dihormati lagi. “ berkata Sekar
Mirah.
“ Persetan “ geram orang itu “ kau adalah seorang
perempuan. Betapapun tinggi ilmumu, namun kau tidak akan
berarti apa-apa bagiku. Aku tidak percaya bahwa jalur
perguruan Mantahun itu mempunyai nyawa rangkap seperti
ceritera orang. Ternyata Ki Patih Mantahunpun terbunuh
sebagaimana Tohpati. “
“ Kau sebenarnya siapa he? Meskipun Mantahun berdiri
dipihak yang salah pada waktu itu, tetapi kau tahu, bahwa
dengan ciri tongkat ini, aku memiliki ilmu dari jalur
yang sama. “ berkata Sekar Mirah “ Karena itu jangan
menghina ilmunya. “
“ Akulah yang pantas menuduhmu sebagai sisa-sisa
kekuatan Jipang karena tongkatmu itu “ berkata orang itu “
agaknya agar aku tidak mengatakannya, maka kau telah
menuduhku lebih dahulu. “
Sekar Mirah memang menjadi bingung tentang sikap orang
itu. Tetapi satu hal yang pasti, bahwa ia berusaha untuk
membunuh Kiai Gringsing sebagaimana dikatakannya. Karena
itu, ia tidak lagi mempedulikannya, alasan apa yang
dibawanya dan darimanakah datangnya. Yang penting, bahwa
ia harus mencegahnya. Bukan karena Sekar Mirah merasa
memiliki ilmu yang pantas disejajarkan dengan ilmu Kiai
Grinsing, tetapi justru karena Kiai Gringsing sedang sakit
sehingga ia perlu mendapat bantuan.
Nampaknya orang yang memasuki barak induk itu juga
tergesa-gesa. Agaknya ia tidak mau didahului oleh orang lain,
sehingga karena itu, maka iapun berkata “ Sekali lagi aku
peringatkan. Minggirlah. “
Tetapi Sekar Mirah sama sekali tidak bergeser dari
tempatnya. Katanya “ Kita akan bertempur dipringgitan atau
dipendapa. Disini terlalu sempit, sehingga kita tidak akan seni
pat mengenali kemampuan kita masing-masing yang
sebenarnya. “
Orang itu menggeram. Tetapi ia tidak menghiraukannya. -
Dengan serta merta ia menyerang Sekar Mirah.
Tetapi Sekar Mirah memang telah bersiap. Ia bergeser
selangkah surut sambil memiringkan tubuhnya. Kemudian
tongkatnya telah berayun deras. Hampir saja menyentuh ke
muka orang itu. Tetapi dengan tangkasnya orang itu mengelak
sambil bergeser kesamping.
Namun pada pengenalan yang pertama atas ilmu
perempuan yang bersenjata tongkat baja putih itu, orang yang
akan membunuh Kiai Gringsing itupun dapat menjajagi
kemampuannya. Perempuan itu memang berilmu
tinggi-
Karena itu, maka orang itupun tidak ingin mengalami
kegagalan. Iapun dengan serta merta telah menarik
senjatanya pula. Sebilah pedang yang tajam dikedua belah
sisinya. Pedang yang lurus itu nampak berkilat-kilat dibawah
cahaya lampu minyak diruang dalam.
Sementara itu, dua diantara para cantrik memang sudah
berada di dalam bilik Kiai Gringsing, sementara dua yang
lainnya dengan tegang mengamati pertempuran yang
kemudian terjadi antara Sekar Mirah dengan orang yang ingin
membunuh Kiai Gringsing itu. Namun agaknya mereka tidak
berkesempatan untuk melibatkan diri kedalam pertempuran
yang menjadi semakin sulit dimengerti.
Untunglah bahwa Sekar Mirah telah berhasil meningkatkan
dan memperdalam ilmunya justru karena ia adalah istri Agung
Sedayu. Latihan-latihan yang sering dilakukannya dengan
suaminya, telah banyak membantunya, menemukan
kemungkinan-kemungkinan baru bagi perkembangan ilmunya.
Ilmu yang diwarisinya dari Ki Sumangkar.
Dengan demikian maka Sekar Mirah yang pernah ikut
menyumbangkan tenaga dan kemampuannya disaat-saat
pembentukan pasukan khusus Mataram di Tanah Perdikan
Menoreh, dengan tangkasnya berusaha untuk mengimbangi
lawannya yang dengan tergesa-gesa ingin menyelesaikannya
dengan cepat. Karena itulah maka lawannya tidak lagi
menahan diri meningkatkan ilmunya selapis demi selapis.
Tetapi dengan serta merta, lawannya telah mengerahkan
segenap kemampuan yang ada didalam dirinya.
Tetapi ia telah membentur kemampuan ilmu yang tinggi
dari seorang perempuan yang bersenjata tongkat baja putih
yang diwarisinya dari Ki Sumangkar. Salah seorang yang
berilmu tinggi pada masa pemerintahan Adipati Jipang
disamping Ki Patih Mantahun.
Orang itu mengumpat didalam hati. Semula ia menduga,
bahwa yang akan dilakukannya itu tidak akan mengalami
banyak kesulitan. Ia mengira bahwa ia tinggal membunuh
beberapa orang cantrik yang menjaga Kiai Gringsing yang
sakit, kemudian menikam orang tua yang tidak berdaya itu
dipembaringannya.
Namun ia sudah berhadapan dengan perempuan
bertongkat itu. Karena itu, maka ia mempunyai pilihan lain,
bahwa ia harus menyingkirkan perempuan itu.
Karena itu, maka katanya “ Perempuan yang tidak tahu diri,
jika kau tidak minggir, maka kematianmupun sama sekali
bukan karena salahku. “
“ Marilah “ berkata Sekar Mirah “ agaknya satu cara yang
baik bagimu untuk membunuh diri. “
Kemarahan orang itu seakan-akan telah menyalakan oborobornya.
Karena itu, maka iapun telah meloncat sambil
mengacukan pedangnya.
Tetapi Sekar Mirahpun telah bersiap sepenuhnya. Karena
itu, maka iapun telah siap menghadapi serangan itu. Dengan
tangkasnya ia telah memutar tongkatnya, sehingga telah
terjadi benturan antara kedua jenis senjata itu.
Sekar Mirahpun ternyata tidak ingin mengalami kesulitan
karena kelengahannya. Dengan demikian maka iapun telah
mengerahkan segenap kemampuannya pula untuk melawan
serangan lawannya itu.
Sebuah benturan yang keras telah terjadi. Ternyata lawan
Sekar Mirah itupun terkejut. Ia tidak mengira bahwa
perempuan itu memiliki kekuatan yang mampu mengimbangi
kekuatannya. Meskipun ia menyadari bahwa perempuan itu
memang berilmu tinggi, namun kekuatannya benar-benar
melampaui dugaannya.
Karena itu maka orang itupun harus lebih berhati-hati. Ia
tidak dapat sekedar datang untuk membunuh. Namun
kemungkinan lain akan dapat terjadi. Justru ia akan
terbunuh oleh perempuan yang garang itu.
Sejenak kemudian maka perkelahian yang semakin
sengitpun telah terjadi. Sekar Mirah memang ingin mendesak
lawannya, agar mereka tidak bertempur diruang dalam. Bukan
saja karena tempatnya yang sempit. Tetapi pertempuran itu
tentu akan sangat mengganggu Kiai Gringsing yang sedang
sakit.
Karena itu, maka Sekar Mirah pun telah berusaha untuk
bergeser dari tempat yang memang terlalu sempit untuk
bertempur dengan senjata.
Ternyata bahwa kecepatan gerak Sekar Mirah memang
mengagumkan disamping kekuatannya yang jauh lebih besar
dari dugaan lawannya. Selangkah demi selangkah Sekar
Mirah mendesak lawannya menjauhi pintu bilik Kiai Gringsing.
Namun lawannyapun berusaha justru untuk mencapai pintu
itu. Ia sadar, bahwa Kiai Gringsing agaknya ada didalam bilik
itu.
Tetapi selain Sekar Mirah, maka dua orang cantrik telah
berdiri dipintu itu pula. Jika orang itu berniat untuk dengan
serta merta memasuki bilik itu dengan meninggalkan Sekar
Mirah, maka keduanya akan dapat menghambatnya,
meskipun keduanya merasa tidak akan dapat mengimbangi
kemampuan orang itu. Tetapi setidak-tidaknya mereka akan
dapat memberi kesempatan Sekar Mirah mencapai orang itu
dan menahannya untuk tidak memasuki bilik Kiai Gringsing.
Ternyata bahwa tidak mudah bagi Sekar Mirah untuk
mendesak lawannya keluar dari bilik itu. Karena itu. maka
Sekar Mirahpun kemudian telah berusaha untuk
memanfaatkan keadaan didalam ruang dalam itu untuk
mengawasi lawannya.
Dengan demikian maka pertempuran antara Sekar Mirah
dengan orang yang berniat membunuh Kiai GringKang
Zusi - http://kangzusi.com/
sing itupun menjadi semakin cepat dan keras. Keduanya
telah mempergunakan seluruh kemampuan mereka.
Tetapi dengan demikian, maka orang yang mengira bahwa
membunuh Kiai Gringsing adalah sama mudahnya dengan
membunuh beberapa orang cantrik yang menunggunya,
ternyata salah. Meskipun yang dihadapinya adalah seorang
perempuan, tetapi ternyata perempuan itu memiliki
kemampuan yang tidak dapat diatasinya.
Bahkan semakin lama semakin ternyata kemampuan Sekar
Mirah berada selapis diatas kemampuan lawannya.
Betapapun pedang orang itu berputaran, tetapi pedang itu
tidak pernah mampu menembus pertahanan tongkat baja
putih Sekar Mirah. Bahkan Sekar Mirah dengan sengaja telah
mempergunakan kesempatan ruangan itu untuk membuat
lawannya kadang-kadang kehilangan kesempatan karena
pedangnya yang tersentuh oleh barang-barang yang ada di
ruang itu.
Karena itu, maka iapun berpendapat, bahwa mereka akan
lebih baik bertempur ditempat yang luas. Orang itu masih
berharap bahwa dengan loncatan-loncatan panjang dan jarak
yang renggang akan dapat memberikan keuntungan baginya,
justru karena lawannya adalah seorang perempuan.
Karena itu, ketika Sekar Mirah berusaha mendesaknya, ia
justru telah memancing lawannya keluar dari ruang itu.
Demikian mereka berada dipinggiran, maka rasa-rasanya
lawan Sekar Mirah itu telah mendapat kesempatan bernafas
sedalam-dalamnya. Dadanya tidak lagi merasa sesak oleh
sesaknya ruangan.
Dengan tangkasnya orang itu telah mengambil jarak.
Disilangkannya pedangnya didepan dadanya. Namun
kemudian satu kakinya telah melangkah maju. Tubuhnya
kemudian miring dengan lutut yang merendah, sementara
pedangnya yang lurus dan tajam dikedua sisinya terjulur
kedepan.
Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Ilmu pedang orang
itu ternyata agak berbeda dengan ilmu pedang yang sering
ditemuinya. Berbeda pula dengan ilmu pedang yang pernah
dipelajarinya disamping kemampuannya mempergunakan
tongkat baja putihnya.
Tetapi Sekar Mirah tidak menjadi tergetar jantungnya
karena ilmu itu. Sebagai seorang yang sering berbicara
tentang ilmu kanuragan dan berbagai ilmu mempergunakan
senjata, maka Sekar Mirahpun pernah berbicara tentang
berbagai kemungkinan dari ilmu pedang. Meskipun ia telah
mengenal secara khusus ilmu lawannya itu, tetapi ia pernah
mengenali sebagai unsur-unsur gerak dari sejenis ilmu
pedang yang pernah dikenalinya pula.
Agaknya lawannya itu telah mengembangkan unsur itu
sehingga menjadi pola dari geraknya kemudian.
Sejenak kemudian, maka orang itupun telah meloncat
menyerang. Setiap kali pedangnya kesamping, terayun
mendatar dan kemudian mematuk lurus kearah dada. Dengan
demikian maka Sekar Mirah menganggap bahwa ilmu pedang
lawannya itu memang ilmu yang berbeda dengan ilmu pedang
pada umumnya.
Karena itulah, maka Sekar Mirah harus menjadi semakin
berhati-hati. Ia harus berusaha mengenali ilmu lawannya
sebaik-baiknya, kemudian berusaha menemukan kekuatan
dan kelemahannya. Sehingga untuk itu maka ia harus melalui
satu tataran penjajagan.
Itulah sebabnya, maka Sekar Mirah lebih banyak bergeser
surut, menghindar dan dengan sangat berhati-hati menangkis
serangan lawannya.
Namun kadang-kadang Sekar Mirah memang harus
meloncat surut. Kedua kaki orang itu selalu pada jarak yang
hampir tetap. Satu kakinya didepan, satu lagi ditarik kebelakang,
sementara yang berada didepan sedikit merendah
pada lututnya. Letak kedua kaki itu ternyata mampu
menggerakkan tubuhnya dengan cepat dan tangkas.
Sekali-sekali bergerak maju, kemudian satu dua langkah
surut. Namun kemudian dengan loncatan-loncatan yang cepat
ia bergeser dan berputar. Tetapi dalam waktu sekejap, orang
itu telah berada dalam sikapnya kembali. Satu kakinya ditarik
kebelakang, merendah pada lututnya sedangkan pedang di
tangannya terjulur lurus kedepan.
Beberapa saat lamanya, Sekar Mirah menjajagi
kemampuan lawannya. Tetapi karena setiap kali Sekar Mirah
meloncat surut, maka lawannya memang menyangka bahwa
Sekar Mirah memang telah terdesak.
Tetapi ternyata bahwa pekerjaan itu tidak terlalu mudah
dilakukan. Ternyata bahwa semakin lama Sekar Mirah tidak
menjadi semakin terdesak. Justru saat-saat Sekar Mirah mulai
mengenali kekuatan dan kelemahan ilmu pedang lawannya,
maka iapun telah berusaha untuk dapat mengimbanginya.
Namun pengenalan itu telah membuat Sekar Mirah
menduga-duga. Orang itu tentu orang dari pesisir yang
berhubungan dengan orang yang datang dari luar Tanah ini
dan mendapat ajaran ilmu pedang dari mereka. Karena yang
dihadapinya itu bukan sekedar pengembangan unsur dalam
ilmu pedang yang sudah dikenalinya, tetapi benar-benar watak
dari satu ilmu tersendiri.
“ Atau betapa piciknya pengenalanku atas ilmu kanu-ragan
sehingga aku tidak mengenalinya seandainya ilmu itu bukan
berasal dari seberang “ berkata Sekar Mirah didalam hatinya.
Namun demikian, ternyata ketajaman penggraita Sekar
Mirah telah mampu memilih unsur-unsur gerak yang
dikuasainya dan telah dikembangkannya itu untuk
mengimbangi kegarangan ilmu pedang lawannya. Meskipun
Sekar Mirah seorang perempuan, tetapi ia memiliki
pengalaman yang lain. Bahkan seandainya dibandingkan
dengan Swandaru, agaknya Sekar Mirah masih dapat
berbangga.
Karena itulah, maka pertempuran antara Sekar Mirah
dengan lawannya yang kemudian bergeser di pringgitan
itupun menjadi semakin lama semakin seru. Keduanya
menjadi semakin cepat bergerak. Tongkat baja putih Sekar
Mirah ternyata masih juga mampu memancing kegelisahan
lawannya. Loncatan-loncatan panjang dan langkah-langkah
yang cepat menghentak-hentak, membuat lawannya kadangkadang
harus meloncat surut mengambil jarak. Sehingga
dengan demikian, maka bukan saja Sekar Mirah yang kadangkadang
harus meloncat satu dua langkah mundur, tetapi juga
lawannya.
Dua orang cantrik yang semula berdiri dipintu bilik Kiai
Gringsing telah berdiri pula didepan pintu pringgitan.
Keduanya menyaksikan pertempuran itu dengan hati yang
berdebar-debar. Dengan tegang keduanya mengikuti apa
yang telah terjadi. Mereka tidak saja akan menghambat jika
lawan Sekar Mirah itu berusaha dengan serta merta masuk
kedalam, tetapi keduanyapun mengamati keadaan jika ada
orang lain yang berusaha naik kependapa dan membantu
lawan Sekar Mirah itu.
Sementara itu, dibagian lain dari padepokan itu, dua
kelompok tengah bertempur dengan sengitnya. Sekelompok
orang yang memasuki padepokan itu, dan sekelompok lagi
adalah cantrik-cantrik dari padepokan kecil itu. Ternyata
bahwa para cantrik tidak mengecewakan. Mereka mampu
menahan arus yang melanda padepokan mereka. Sementara
itu, pemimpin kelompok dari orang-orang yang memasuki
padepokan itu telah berhadapan dengan Glagah Putih.
Ternyata bahwa pemimpin kelompok itu tidak mampu
mengatasi kecepatan gerak Glagah Putih. Betapapun orang
itu berusaha menyentuh lawannya dengan ujung senjatanya,
namun ternyata sulit sekali baginya menembus lingkaran
putaran senjata Glagah Putih. Bahkan setiap sentuhan
senjata, maka pemimpin kelompok itu merasa betapa
tangannya bagaikan disengat oleh bara. Dengan susah payah
pemimpin kelompok itu harus mempertahankan agar
senjatanya tidak terlepas dari tangannya karena kekuatan
Glagah Putih yang tidak dapat diimbanginya.
Namun semakin lama orang itu menjadi semakin berdebardebar.
Anak muda yang mengaku cantrik dari padepokan kecil
itu ternyata memiliki kemampuan yang tidak dapat
diimbanginya. Namun dalam pada itu semakin terbuka pula
pengenalannya atas ilmu anak muda itu. Dengan nada tinggi
tiba-tiba saja orang itu berkata “ He, siapakah sebenarnya
kau? Kau tidak bertempur sepenuhnya dengan ilmu dari orang
bercambuk itu. Kaupun tidak bersenjata cambuk dan ilmu
bahkan unsur-unsur gerakmu menunjukkan jalur perguruan
tersendiri. “
“ Apa yang kau ketahui tentang ilmu dari perguruanperguruan
yang tersebar di tanah ini? Jika kau membatasi
unsur-unsur gerak dari satu perguruan, maka kau akan
ketinggalan jauh “ jawab Glagah Putih.
Orang itu mengerutkan keningnya sambil bergeser
mengambil jarak. Wajahnya yang tegang menjadi semakin
tegang. Dengan sorot mata yang tajam ia memandang Glagah
Putih yang melangkah satu-satu mendekatinya.
“ Marilah “ berkata Glagah Putih “ apa yang mencegahmu?
“
“ Setan kau “ geram orang itu “ kau mempergunakan ilmu
campur baur dari beberapa perguruan? “
“ Aku meramunya menjadi satu kesatuan yang utuh. He,
kau lihat beberapa unsur gerakku dari perguruan lain? Apa
salahnya jika aku melakukannya? Ternyata kau tidak mampu
mengatasi ilmuku itu, karena justru dengan demikian dapat
memperkaya unsur-unsur gerak pada ramuanku itu sehingga
mampu meningkatkan bobot kemampuanku. Kau
merasakannya? “ bertanya Glagah Putih.
“ Kau.memang terlalu sombong anak muda. Karena itu,
maka kau harus mati. Kau kira dengan mengumpulkan
berbagai macam ilmu dan kau susun menjadi sejenis ilmu
yang baru itu akan lebih baik dari setiap jenis ilmu itu
masing-masing? Ilmu-ilmu itu tidak lahir dalam satu dua
malam dari seorang perenung atau pemimpin. Tetapi tentu
sudah mengalami tempaan dan perkembangan yang
membuatnya mapan. Nah, jika kau mau mencoba, maka kau
tentu akan mengakuinya “ berkata orang itu.
Glagah Putih tertegun. Iapun bergeser surut ketika ia
melihat lawannya itu justru menyarungkan senjatanya.
“ Jangan menyesal bahwa kau benar-benar akan mati
muda “ berkata orang itu kemudian sambil menyilangkan
tangan didadanya.
Glagah Putih menyadari, bahwa lawannya tentu sedang
membangunkan satu jenis ilmu pamungkasnya. -
Karena itu, maka Glagah Putihpun tidak mau kehilangan
kesempatan. Maka iapun telah bersiap, pula. Dalam waktu
sejenak, iapun telah membangunkan pula kemampu-an
ilmunya yang mampu melontarkan serangan, bahkan yang
dapat disadapnya dari inti kekuatan yang ada di sekitarnya.
Tetapi sebagaimana selalu dilakukannya, Glagah Putih
tidak mempergunakannya dengan serta merta. Ia memang
harus berusaha mengalahkan lawannya agar bukan dirinya
sendiri yang menjadi korban. Tetapi dengan tataran ilmu yangtidak
semena-mena dipergunakannya. Hanya terhadap orangorang
yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya, maka
Glagah Putih akan menghempaskan seluruh kekuatan yang
didalam dirinya, yang disadarinya menjadi semakin besar
sejak ia menerima tumpuan alas kekuatan dari Raden Rangga
tanpa mengusik ilmu yang memang telah berada didalam
dirinya.
Dengan demikian maka Glagah Putih memang harus
menjajagi lagi kemampuan ilmu puncak lawannya itu.
Meskipun demikian, maka segala kemungkinan akan dapat
terjadi.
Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka lawannya itupun
telah meloncat menyerang. Dengan ketajaman
pengamatannya, maka Glagah Putih segera melihat, bahwa
telah terdapat perubahan pada tata gerak orang itu. Ayunan
tangannya bagaikan ayunan sebongkah besi baja yang sangat
berat.
Glagah Putih yang telah menyarungkan pedangnya pula,
dengan kecepatan yang sulit diikuti dengan tatapan mata
wadag telah bergeser, sehingga ayunan tangan lawannya itu
tidak menyentuhnya. Namun terasa betapa angin telah
menyambar kakinya dengan derasnya.
Dengan demikian maka Glagah Putih dapat
memperhitungkan betapa kuatnya ayunan tangan lawannya
itu. Bahkan ilmu yang telah dibangunkannya itu tentu mampu
membuat tubuh lawannya itu menjadi sekeras batu hitam.
Pukulannyapun tentu akan meremukkan tulang.
Karena itu, maka orang itu sama sekali tidak
memperhitungkan bahwa lawannya akan menangkis
serangannya itu. Bahkan ia berusaha untuk membuat
benturan-benturan yang akan dapat menghancurkan
perlawanan lawannya.
Tetapi Glagah Putih mampu menempatkan diri. Bahkan ia
masih sempat menduga-duga, apakah dengan demikian
lawannya akan dapat menjadi kebal sehingga seandainya ia
mempergunakan pedangnya, orang itu tidak akan dapat
dilukainya.
Namun Glagah Putih tidak ingin lagi menarik pedangnya. Ia
akan mencoba dengan kemampuan ilmunya, apakah
lawannya memang kebal. Ia akan memanfaatkan kecepatan
geraknya untuk menjajagi kekuatan dan kemampuan
lawannya itu.
Sejenak kemudian, maka Glagah Putihpun telah
mengimbangi ilmu lawannya. Iapun telah meningkatkan
perlawanannya, sehingga tata geraknyapun telah berubah
pula. Geraknya menjadi semakin cepat, sehingga kakinya seakan-
akan tidak lagi berjejak diatas tanah. Dalam keremangan
cahaya obor dikejauhan, maka Glagah Putih itu
bagaikan bayangan yang terbang mengitari arena
pertempuran.
Dengan demikian, maka Glagah Putih telah
mempergunakan unsur yang berlawanan dari lawannya yang
seakan-akan menjadi semakin berat dan menekan bumi.
Geraknya dan ayunan serangannya yang bagaikan besi baja,
sementara Glagah Putih seolah-olah telah menjadi seringan
kapas.
“ Anak iblis “ geram lawannya yang tidak segera mampu
mengenai sasaran dengan ilmunya yang garang. Tetapi
serangan-serangannyapun kemudian datang beruntun.
Lawannya memburunya kemana Glagah Putih bergeser tanpa
harus membuat perhitungan atas serangan-serangannya itu
karena lawannya itu tidak merasa perlu menghindari benturan
kekuatan.
Glagah Putih kemudian memang mencoba untuk
mengetahui daya tahan lawannya. Dengan cepat, ia telah
mempergunakan kesempatan yang terbuka untuk
memasukkan serangannya mengenai pundak lawannya itu.
Ternyata Glagah Putih berhasil. Jari-jarinya yang merapat,
berhasil mengenai pundak lawannya sebagaimana
direncanakan.
Tetapi sentuhan itu telah mengejutkan Glagah Putih.
Meskipun lawannya itu juga meloncat surut oleh serangan
yang terasa menyakitinya, tetapi jari-jari Glagah Putihpun
merasa sakit pula. Rasa-rasanya jari-jarinya akan berpatahan.
Pundak lawannya itu seolah-olah berubah menjadi
sekeras batu.
“ Satu jenis ilmu yang berbahaya “ berkata Glagah Putih
didalam hatinya “ setiap sentuhan serangan telah menyakiti
penyerangnya sendiri. Dan karena itulah agaknya, maka ia
tidak terlalu banyak memperhitungkan tata
geraknya. Ia menyerang seperti seekor kerbau yang dungu.
Namun ayunan tangannya seperti ayunan balok-balok besi.
Sementara itu, tubuhnyapun menjadi sekeras batu pula.
Semakin keras seseorang menyerang dan mengenainya,
maka orang itu sendiri akan menjadi semakin kesakitan. “
Tetapi satu hal yang diketahui puli oleh Glagah Putih,
bahwa ternyata orang itu tidak menjadi kebal. Sentuhan
tangannya masih juga mampu menyakiti orang itu, meskipun
jari-jarinya juga menjadi sakit.
Dengan demikian Glagah Putih menduga, bahwa ilmu
orang itu menjadi hubungan atau merupakan rambatan dari
ilmu Tameng Waja. Jika orang itu berhasil, maka sulit bagi
lawan-lawannya untuk mengalahkannya, karena Tameng
Waja mempunyai kemampuan sebagaimana ilmu kebal.
Meskipun bukan berarti bahwa ilmu itu tidak dapat ditembus
sama sekali. Kemampuan ilmu yang mempunyai tataran ilmu
Tameng Waja itu masih akan dapat menembusnya dan
menghancurkannya.
Demikian maka pertempuran antara Glagah Putih dengan
pemimpin kelompok dari orang-orang yang memasuki
padepokan itu menjadi semakin seru. Orang itu benar-benar
telah mempercayakan dirinya pada kemampuan ilmunya.
Meskipun serangan-serangan orang itu tidak dapat mengenai
lawannya, tetapi Glagah Putihpun harus membuat perhitungan
sebaik-baiknya untuk menyentuhnya agar lawannya sendiri
tidak merasa sakit karenanya.
Karena itu, maka Glagah Putih tidak mengenai lawannya
dengan sentuhan-sentuhan yang keras, tetapi Glagah Putih
telah mempergunakan sentuhan-sentuhan yang lunak.
Seakan-akan setiap kali ia hanya mendorong lawannya
sehingga setiap kali lawannya itu seakan-akan telah
kehilangan keseimbangannya. Tetapi ternyata bahwa
dorongan-dorongan itu tidak juga berhasil menjatuhkannya
meskipun beberapa kali hal itu hampir terjadi.
Namun dalam pada itu, Glagah Putih menjadi berdebardebar
ketika ia mengamati pertempuran yang terjadi
disekitarnya. Meskipun hanya sekilas-sekilas, tetapi ia melihat
bahwa ternyata lawan-lawan para cantrik itu telah bertempur
semakin keras dan kasar. Bahkan kadang-kadang diluar
batas-batas paugeran, sehingga sikap itu ternyata telah
berpengaruh atas perlawanan para cantrik. Dalam beberapa
hal para cantrik yang kurang berpengalaman itu memang
mempunyai beberapa kekurangan menghadapi keadaan yang
tiba-tiba saja berubah. Sehingga sikap orang-orang yang
memasuki padepokan itupun kadang-kadang membingungkan
mereka.
Dengan keadaan yang demikian, maka Glagah Putih-pun
merasa telah berpacu pula dengan waktu. Jika keadaan para
cantrik itu menjadi semakin sulit, maka korbanpun tentu akan
berjatuhan tanpa dapat dikekang lagi.
Karena itu, maka Glagah Putih pun merasa wajib untuk
dengan segera berusaha mengatasi lawannya yang memiliki
kemampuan yang tinggi itu.
Sementara itu Agung Sedayupun tengah bertempur
melawan lawannya yang wajahnya bagaikan membeku. Orang
yang menyebut dirinya bernama Singapati serta memiliki ilmu
yang diwarisinya dari perguruan Worsukma itu telah
meningkatkan ilmunya dari satu tingkat ketingkat berikutnya.
Namun Agung Sedayupun j telah mengimbanginya pula. Iapun
telah meningkatkan - ilmunya setingkat demi setingkat pula.
Dengan demikian pertempuran diantara keduanyapun
menjadi semakin cepat. Keduanya bergerak semakin cepat,
sementara gerak tangan dan kaki merekapun tidak lagi dapat
diikuti dengan pandangan mata wadag.
Di pringgitan Sekar Mirahpun bertempur semakin cepat
pula. Ternyata dua orang cantrik yang mengejar orang itu
namun kemudian kehilangan jejaknya, telah berada di
pendapa pula. Tetapi keduanya tertegun ketika mereka
melihat
dua orang cantrik yang lain berdiri termangu-mangu di pintu
pringgitan, sementara Sekar Mirah bertempur dengan
kemampuan yang mendebarkan melawan orang yang
bersenjata pedang lurus bermata tajam di kedua sisinya itu.
Karena itulah maka keduanyapun untuk sementara hanya
sekedar melihat saja apa yang terjadi dengan kedua orang
yang bertempur itu.
Namun keduanyapun ternyata sempat menangkap isyarat
dari pertempuran itu, bahwa Sekar Mirah tidak akan dapat
dikalahkan oleh lawannya yang berpedang lurus itu. Beberapa
kali justru Sekar Mirahlah yang telah mendesak lawannya.
Tongkat baja putihpun berputaran seperti baling-baling.
Suaranya seperti desau angin yang bertiup kencang diselasela
dedaunan.
Dalam setiap benturan, maka lawannya, selalu nampak
terdorong surut meskipun hanya setapak atau senjatanya
sajalah yang bagaikan mental dari benturan.
Dengan demikian maka kedua orang cantrik yang berusaha
mengejarnya tidak lagi merasa cemas akan orang itu,
sehingga keduanyapun telah meninggalkan pendapa dan
berlari kembali kepada kelompok mereka yang masih
bertempur dengan sengitnya.
Yang ditinggalkan di pendapa ternyata masih bertempur
terus dengan sengitnya.
Dua orang cantrik yang dipintu pringgitan menyaksikan
pertempuran itu dengan jantung yang seakan-akan berdenyut
semakin cepat. Namun merekapun melihat, bahwa Sekar
Mirah berada pada kemungkinan yang lebih baik dari
lawannya. Beberapa kali lawannya yang bersenjata panjang
itu telah terdesak mundur, sementara pedang-nyapun sulit
untuk mengikuti kecepatan gerak tongkat baja putih Sekar
Mirah.
Sekar Mirahpun kemudian menjadi semakin yakin pula,
bahwa ilmu yang dimilikinya mampu mengatasi ilmu
pedang betapapun mula-mula ilmu itu agak asing baginya.
Namun pengalamannya serta kemampuannya yang telah
berkembang dapat melampaui tata gerak yang semula tidak
begitu dikenalnya. Namun yang perlahan-lahan dapat dikenali
kekuatan dan kelemahan itu.
Namun dalam pada itu. Sekar Mirah menjadi termangumangu
sejenak. Hampir saja ujung pedang lawannya
menyentuh tubuhnya. Untunglah bahwa ia mampu meloncat
surut dengan gerak nalurinya, sehingga tubuhnya tidak
terkoyak karenanya.
Dari sebelah bangunan induk di padepokan itu terdengar
sorak yang bagaikan mengguncang seluruh padepokan.
Kemudian disusul oleh teriakan-teriakan yang serupa dari arah
lain. Seakan-akan suara-suara riuh itu semakin lama menjadi
semakin dekat.
“ Apakah mereka berhasil mendesak para cantrik sehingga
pertempuran itu menjadi semakin dekat dengan barak induk
ini? “ pertanyaan itu tumbuh dihati Sekar Mirah.
Tetapi justru karena itu, maka iapun telah mengambil
keputusan untuk dengan cepat menyelesaikan perlawanan
orang berpedang lurus itu.
Ketika teriakan-teriakan dari corak yang riuh itu terdengar
semakin keras, maka Sekar Mirahpun telah menghentakan
kemampuan ilmu yang diwarisinya dari Ki Sumangkar dan
telah dikembangkannya pula dengan tuntunan suaminya serta
dilambari dengan pengalaman yang luas, maka iapun benarbenar
telah menekan lawannya. Demikian sorak yang
mengguntur meledak, maka keluh kesakitan orang berpedang
itu tidak dapat didengarnya.
Orang berpedang lurus itu meloncat beberapa langkah
surut. Ternyata tongkat baja putih Sekar Mirah telah mengenai
bahu orang itu. Kulit orang itu memang tidak ter-luka, tetapi
tulang-tulangnya terasa bagaikan berpatahan.
Sekar Mirah tidak melepaskan lawannya justru karena
suara riuh itu menjadi semakin dekat. Bahkan Sekar Mirah
telah menghentakkan pula kemampuannya, agar ia dapat
segera membantu jika kemungkinan yang terburuk telah
terjadi.
Dengan demikian maka Sekar Mirahlah yang kemudian
nampak menjadi garang. Ilmu yang diwarisinya dari Ki Sumangkar,
sebagaimana ilmu yang dikuasai oleh Tohpati yang
digelari Macan Kepatihan memang satu jenis ilmu yang
garang. Apalagi jenis senjata yang dipergunakannya adalah
senjata yang menggetarkan jantung pula. Sedangkan
kemampuan ilmunya telah berkembang pula semakin mapan.
Karena itu, ketika Sekar Mirah benar-benar mengerahkan
ilmunya sampai kepuncak, maka lawannya memang tidak
banyak mendapat kesempatan. Orang berpedang lurus itu
justru semakin terdesak. Apalagi karena bahunya telah dikenai
tongkat baja putih Sekar Mirah.
Beberapa saat kemudian, maka suara yang riuh itu rasarasanya
memang hampir mencapai sebelah menye-belah
pendapa. Sekar Mirah memang menjadi agak gelisah. Tetapi
kegelisahannya itu tidak mengaburkan pengamatannya atas
tata gerak lawan. Ia memang berusaha mempercepat
penyelesaian, tetapi tidak dengan tanpa perhitungan.
Ketika Sekar Mirah meloncat kesamping dengan ayunan
mendatar, lawannya sempat bergerak kearah yang
berlawanan. Namun demikian ujung jari kaki Sekar Mirah
menyentuh lantai, maka iapun telah melenting pula.
Tongkatnya mematuk lurus kedepan kearah dada. Tetapi
lawannya masih juga sempat memiringkan tubuhnya sambil
menangkis tongkat itu kesamping. Tetapi Sekar Mirah dengan
cepat memutar tongkatnya. Sekali lagi ia mengayunkan
mendatar dan kekuatannya yang besar telah menghantam
lambung orang itu lewat tongkat besi bajanya.
Orang itu tidak sekedar meloncat mundur. Ketika ia
mencoba menghindar, justru pada saat kakinya lepas dari
lantai, tongkat lawannya itu mengenainya. Sehingga dengan
demikian maka orang itu bagaikan dilemparkan dengan
kekuatan yang sangat besar. Sekali orang itu berguling.
Namun ketika ia berusaha untuk bangkit, maka ia justru telah
terpeleset jatuh ketangga pendapa.
Sekar Mirah tidak mau melepaskannya. Orang itu tidak
boleh melarikan diri. Karena itu, Sekar Mirahpun dengan
loncatan panjang menyusulnya. Demikian orang itu bangkit,
maka tongkat Sekar Mirah telah terayun deras.
Terdengar keluh kesakitan. Namun tubuh itupun kemudian
terhuyung-huyung sejenak. Tongkat Sekar Mirah yang agak
tergesa-gesa diayunkan, ternyata telah mengenai punggung
orang itu agak dibawah tengkuk.
Beberapa saat orang itu memang berusaha untuk
mempertahankan keseimbangannya. Namun sejenak
kemudian iapun telah terjatuh menelungkup. Pedangnya
tergeletak disisinya sementara tangannya masih berusaha
untuk berpegang pada hulunya.
Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Kedua orang cantrik
yang berdiri didepan pintu pringgitan itupun berlari-lari
mendekat.
“ Apa yang terjadi? “ bertanya salah seorang diantara
mereka.
Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ketika kedua orang
cantrik itu menengadahkan orang itu, Sekar Mirah berpaling
dan berjalan beberapa langkah menjauh. Ternyata bahwa
Sekar Mirah tidak ingin menyaksikan wajah orang itu yang
membayangkan kesakitan yang sangat disaat-saat terakhir.
Namun dalam pada itu suara sorak dan teriakan-teriakan
itupun menjadi semakin keras.
Sesaat Sekar Mirah menunggu. Namun ketika ia mendapat
kesempatan untuk memperhatikan dengan, sungguh-sungguh
suara itu, maka agaknya pertempuran itu masih belum terlalu
dekat dengan pendapa barak induk itu.
Karena itu, maka Sekar Mirahpun telah berlari kepintu
pringgitan. Sejenak ia tertegun seakan-akan menunggu kedua
orang cantrik yang masih menunggui tubuh orang yang
terbaring dibawahtangga pendapa itu. Namun kemudian iapun
telah masuk keruang dalam dan langsung menuju kebilik Kiai
Gringsing.
Dilihatnya Kiai Gringsing yang duduk dibibir
pembaringannya itu tersenyum. Katanya dengan nada rendah
“ Kau berhasil mengalahkan lawanmu? “
“ Ya Kiai. Ternyata aku dapat menghentikan
perlawanannya. Tetapi suara sorak yang teriak-teriakan itu
menjadi semakin dekat “ jawab Sekar Mirah.
“ Tidak apa-apa “ jawab Kiai Gringsing masih tetap tenang “
kita percayakan saja semuanya kepada Agung Se-dayu. Ia
akan dapat mengatasi persoalan ini. “
Sekar Mirah mengangguk kecil. Namun Kiai Gringsing
masih melihat kecemasan diwajah perempuan itu. Karena itu
maka katanya “ Yakinkan dirimu. “
“ Baik Kiai “ jawab Sekar Mirah.
“ Nah, karena itu, jangan gelisah. Tunggu sajalah mereka
disini “ berkata Kiai Gringsing.
Sekar Mirah mengangguk pula. Dengan ragu-ragu ia
berdesis “ Aku akan menunggu disini Kiai. “
- Hati-hatilah. Jangan tergesa-gesa menanggapi keadaan “
berkata Kiai Gringsing pula.
Demikianlah, maka Sekar Mirahpun kemudian telah keluar.
Dua orang cantrik masih berada didalam bilik Kiai Gringsing.
Ketika dengan hati-hati Sekar Mirah menjenguk pringgitan,
maka dilihatnya dua orang cantrik yang berada
diluar telah berdiri berjaga-jaga dipringgitan, sementara itu
sesosok tubuh yang semula berada dibawah tangga, telah
diangkat dan dibaringkan di pendapa.
Tetapi Sekar Mirah sama sekali tidak mengatakan sesuatu.
Sementara itu, pertempuran masih berlangsung dengan
sengitnya. Orang-orang yang mendatangi padepokan itu
memang dengan sengaja berusaha untuk menggoncangkan
ketahanan batin para cantrik yang kurang berpengalaman.
Ternyata usaha mereka memang berpengaruh. Ketika
orang-orang itu bersorak-sorak dan berteriak nyaring, bahkan
mengumpat-umpat dan segala macam bunyi, maka para
cantrik menjadi sangat gelisah. Apalagi tata gerak orang-orang
itu menjadi kasar dan liar. Mereka berlari-lari dan berusaha
untuk mendesak para cantrik mendekati bangunan induk.
Bahkan beberapa orang justru berusaha untuk menyusup
melampaui arena pertempuran.
Namun betapapun para cantrik terpengaruh oleh keadaan
itu, tetapi mereka masih berusaha untuk menahan agar orangKang
Zusi - http://kangzusi.com/
orang yang memasuki padepokan itu tidak mendekat barak
induk. Apalagi mereka menyadari bahwa Kiai Gringsing
memang sedang sakit.
Glagah Putih yang menyadari pula akan usaha orang-orang
itu untuk mempengaruhi perlawanan para cantrik dari dalam
diri sendiri, maka Glagah Putihpun tidak berniat untuk
memperpanjang pertempuran itu. Iapun semakin
meningkatkan kemampuannya sehingga tata geraknyapun
menjadi semakin cepat.
Tetapi ternyata bahwa kemampuan lawannya telah
menghambarnya. Glagah Putih tidak dapat menyakiti
lawannya dengan tanpa memperhitungkan dirinya sendiri.
Karena semakin keras ia mengenai tubuh lawannya, maka
tangannya sendiripun rasa-rasanya bagaikan menjadi patah.
Karena itu, maka Glagah Putihpun telah memilih jalan lain.
Ia terpaksa mempergunakan ilmunya yang menurut
perhitungannya akan dapat mengalahkan lawannya tanpa
menyakiti diri sendiri. Meskipun semula Glagah Putih tidak
ingin mempergunakan kemampuannya itu, namun ia memang
tidak mempunyai jalan lain.
Dengan ilmunya itu maka Glagah Putih dapat menyerang
lawannya tanpa menyakitinya.
Demikian, ketika lawannya dengan tanpa membuat
perhitungan-perhitungan yang rumit berusaha menyerang
Glagah Putih, maka Glagah Putihpun telah berusaha
mengambil jarak. Sentuhan orang itu akan dapat meremukkan
tulang-tulangnya jika ia berhasil mengenainya.
Tetapi agaknya lawannya tidak membiarkan Glagah Putih
itu melepaskan diri. Setiap loncatan yang memberikan jarak
diantara mereka, dianggap oleh lawannya bahwa Glagah
Putih menjadi semakin terdesak.
Namun ketika Glagah Putih mendapat satu kesempatan,
maka tiba-tiba iapun telah menggerakkan tangannya
menghentak kearah lawannya.
Ternyata gerak tangan Glagah Putih itu sangat
mengejutkan lawannya. Lawannya itu tidak mengira bahwa
lawannya yang masih sangat muda itu, akan mampu
melepaskan ilmu sebagaimana dikerahkan sebagai ilmu yang
mampu menjangkaulawannya dari arah tertentu.
Tetapi ternyata bahwa serangan itu memang telah datang
menerkamnya.
Karena itu, maka dengan serta merta orang itu berusaha
menghindar. Dengan loncatan panjang ia bergeser
kesamping. Namun ketika serangan Glagah Putih datang pula
memburunya, maka iapun telah menjatuhkan diri dan
berguling beberapa kali. Dengan sigapnya orang itupun
kemudian melenting berdiri dan siap untuk meloncat
menghindar jika serangan Glagah Putih datang sekali lagi.
Serangan Glagah Putih yang tidak mengenai sasarannya
telah mengejutkan mereka yang sedang bertempur namun
yang sudah bergeser semakin jauh kearah barak induk itu.
Namun orang-orang yang memasuki padepokan itu justru
berusaha semakin cepat mendesak para cantrik dengan cara
yang sangat kasar. Sambil berteriak-teriak mereka bertempur
dengan liar.
Sementara itu Glagah Putih menjadi semakin cemas.
Ketika sekilas ia memperhatikan orang-orang yang mendesak
para cantrik itu maka tiba-tiba saja lawannya telah
melancarkan sesuatu. Glagah Putih menghindar. Namun
ternyata lengannya masih juga terasa panas. Bahkan juga di
bahunya.
Glagah Putih menggeram. Ketika ia meraba bahunya,
maka tangannya telah menyentuh cairan yang hangat yang
meleleh dari luka. Sementara ketika ia kemudian meraba
lengannya, maka terasa sesuatu berada dibawah kulitnya.
Dengan cepat Glagah Putih dapat mengetahui apa yang
telah terjadi. Orang itu ternyata telah melemparkan butiranbutiran
besi sebesar biji jagung. Tidak hanya satu dua, tetapi
butiran-butiran besi itu telah ditaburkan dalam jumlah yang
banyak. Mungkin lima atau enam sekaligus.
Karena itulah maka Glagah Putih menyadari, bahwa
lawannya memang sangat berbahaya baginya. Apalagi
lawannya itu telah melukainya dan bahkan satu diantara
butiran besi itu ternyata telah mengeram didalam lengannya.
Lengannya memang terasa nyeri jika digerakkannya.
Dengan demikian, maka kemarahan Glagah Putih menjadi
semakin terungkat. Dua hal yang telah memaksanya
mengambil satu keputusan. Bahwa para cantrik yang menjadi
bingung menghadapi kekasaran orang-orang yang menyerang
padepokan itu, bahkan liar dan garang, serta bahwa lawannya
itu telah melukainya.
Apalagi Glagah Putih tidak sempat membuat pertimbanganpertimbangan
lebih lanjut karena lawannya itu telah
menyerangnya pula. Beberapa butir biji-biji besi itu telah
menghambur dengan derasnya kearahnya.
Glagah Putih yang marah itu sempat meloncat menghindar.
Namun sesaat kemudian serangan berikutnya yang
menyambarnya, sehingga karena itu, maka Glagah Putihlah
yang harus meloncat kemudian menjatuhkan dirinya berguling
menghindari serangan berikutnya yang mengejarnya, karena
lawannya agaknya tidak mau melepaskan kesempatan itu.
Tetapi Glagah Putihpun telah mengambil keputusan.
Karena itu, tanpa meloncat bangkit ia telah menyerang
lawannya dengan ilmunya yan dahsyat.
Ternyata lawannya salah menghitung gerak Glagah Putih.
Ia menyangka bahwa Glagah Putih akan melenting berdiri. Ia
telah siap dengan butir-butir besi ditangannya untuk
dilontarkannya demikian Glagah Putih melenting. Dengan
demikian maka kemungkinan Glagah Putih untuk menghindar
menjadi sangat kecil. Selagi kakinya belum menyentuh tanah,
maka butir-butir besi itu sudah akan menyambarnya
dibeberapa bagian tubuhnya.
Kesalahan itu berakibat sangat buruk bagi orang itu.
Glagah Putih yang masih terbaring ditanah itu ternyata telah
menghentakkan tangannya.
Seleret cahaya sakan-akan telah meluncur dari tangan-nya
itu. Demikian cepatnya dan tidak terduga-duga, sehingga
lawannya yang telah bersiap melontarkan serangannya itu
terlambat menyadari apa yang telah terjadi.
Yang terdengar kemudian adalah pekik kesakitan. Orang
itu terlempar beberapa langkah surut tanpa sempat
melepaskan butir-butir besi ditangannya.
Pekik kesakitan itu ternyata telah menggetarkan setiap
jantung dari orang-orang yang menyerang padepokan itu.
Mereka mengenali suara itu, adalah suara pemimpin
kelompok mereka. Mereka yang sempat berpaling sejenak
melihat bagaimana pemimpin mereka itu terlempar jatuh dan
tidak segera berhasil bangkit kembali.
Kesempatan itu dipergunakan oleh para cantrik sebaikbaiknya.
Disaat orang-orang itu terkejut melihat peristiwa
yang, menggetarkan itu.
Yang terdengar bersorak kemudian adalah justru para
cantrik. Sorak kemenangan. Bukan sekedar berpura-pura
untuk mengimbangi teriakan-teriakan lawannya. Tetapi benarbenar
begitu saja melonjak dari dalam hati.
Glagah Putihlah yang kemudian termangu-mangu sejenak.
Dipandanginya lawannya yang terbaring diam. Namun Glagah
Putih tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ia tahu bahwa
lawannya memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa oleh
ilmunya yang tinggi, yang menjadikan tubuhnya bagaikan
sekeras batu. Tetapi Glagah Putihpun tahu bahwa lawannya
tidak menjadi kebal karenanya. Seandainya benar dugaannya
bahwa ilmu yang dimiliki itu adalah, bentuk mula dari ilmu
Tameng Waja, maka ilmu itu sama sekali masih belum mapan.
***
API DI BUKIT MENOREH SERI III
JILID 230
SEMENTARA itu, orang-orang yang memasuki padepokan
itu segera menyadari keadaan mereka. Pemimpin kelompok
mereka telah dikalahkan oleh lawannya. Karena itu, maka
mereka tidak lagi dapat mengharapkan perlindungannya.
Adalah kebetulan bahwa orang-orang yang berilmu tinggi tidak
ada didalam kelompok itu, tetapi ada di kelompok yang lain.
Namun orang-orang didalam kelompok itu tidak mengetahui,
bahwa seorang diantara mereka yang berilmu tinggi itu telah
pula dikalahkan oleh Sekar Mirah, justru di pringgitan barak
induk.
Sesaat kemudian orang-orang yang menyerbu masuk
kedalam padepokan itu menjadi semakin liar dan garang.
Mereka seakan-akan menjadi putus asa dan kehilangan
pegangan, sehingga mereka telah bertempur tanpa sandaran
selain membunuh lawan sebanyak-banyaknya. Mereka
mengamuk seperti orang yang sedang mabuk tuak dan
kehilangan kesadaran diri.
Para cantrik terkejut mengalami perlakuan yang semakin
kasar. Mereka semula mengira, bahwa kematian pemimpin
kelompok itu akan memperlemah perlawanan mereka. Namun
ternyata tidak demikian. Orang-orang itu menjadi semakin liar
karena putus asa.
Dengan demikian para cantrik menjadi semakin gelisah.
Mereka tidak lagi bersorak-sorak. Justru mereka menjadi
cemas menghadapi lawan-lawan mereka.
Glagah Putih melihat kecemasan para cantrik yang
memang kurang berpengalaman itu. Karena itu, maka iapun
telah meninggalkan tubuh yang terbaring diam itu. Dengan
serta merta maka Glagah Putihpun telah melibatkan diri dalam
pertempuran antara para cantrik dan orang-orang yang
menyerang padepokan itu. Bahkan arena pertempuran itupun
telah bergeser semakin dekat dengan bangunan induk.
Tetapi seorang yang melepaskan diri dari arena dan
meloncat naik kepringgitan, ternyata bernasib sangat buruk.
Sekar Mirah yang ada di pringgitan terkejut melihat kehadiran
orang itu. Apalagi Sekar Mirah memperhitungkan kemampuan
orang-orang yang memasuki padepokan itu sebagaimana
orang yang baru saja dilawannya. Karena itu, dengan
kemampuan yang tinggi, maka Sekar Mirah telah
menyongsong orang itu.
Namun Sekar Mirah telah terkejut ketika ayunan tongkatnya
yang pertama telah melemparkan senjata orang itu. Bahkan
ketika Sekar Mirah kemudian memutar tongkatnya dan sekali
lagi menyerang dengan ayunan mendatar kearah lambung,
orang itu sama sekali tidak sempat mengelakkannya.
Diiringi jerit kesakitan tubuh orang itu telah terdorong
kesamping. Kemudian jatuh berguling dipringgitan. Namun
orang itu tidak bangkit lagi.
Dalam pada itu, Glagah Putih yang melihat bahwa
seseorang telah mampu mencapai pringgitan, maka iapun
dengan serta merta tidak meloncat keluar dari arena dan
mendahului naik kepringgitan. Namun iapun terkejut ketika
melihat Sekar Mirah berdiri tegang dengan tongkat baja
putihnya, sementara seseorang telah terbaring diam.
“ mBokayu.” Glagah Putih menyapanya.
“ Apakah mereka semakin mendesak?” bertanya Sekar
Mirah.
“ Ya. Sebagian dari mereka tentu akan mencoba untuk
memasuki bangunan induk ini.” berkata Glagah Putih.
“ Aku dan kedua orang cantrik itu akan menunggu disini.”
berkata Sekar Mirah.
“ Baiklah. Aku akan melihat apakah mereka tidak ada yang
berusaha menembus lewat jalan lain. Mungkin pintu butulan
atau bahkan memecah dinding. Mereka ternyata sempat
menipu para cantrik sehingga dapat melepaskan diri dari
pertempuran.” berkata Glagah Putih yang tanpa menunggu
jawaban Sekar Mirah telah turun lagi dari pringgitan
menyongsong lawan-lawannya disisi bangunan induk.
Pertempuranpun menjadi semakin riuh karena keputusasaan
orang-orang yang telah kehilangan pimpinan itu.
Namun Glagah Putihpun telah berada diantara mereka,
sehingga ia dapat banyak membantu para cantrik yang
kadang-kadang menjadi kebingungan.
Meskipun Glagah Putih tidak mempergunakan ilmunya
yang telah dipergunakan untuk menghabisi perlawanan
pemimpin kelompok itu, namun dengan dorongan tenaga
cadangannya, maka Glagah Putih telah mampu menjadi
penentu dalam pertempuran itu.
Ketika kemudian beberapa orang telah menyerangnya
bersama-sama, maka Glagah Putih memang harus berusaha
untuk melawan mereka dengan mengerahkan tenaga
cadangannya. Dengan kecepatan yang tinggi Glagah Putih
berhasil mengelakkan serangan-serangan yang datang
beruntun.
Namun ternyata bahwa lawannya semakin lama menjadi
semakin banyak, sehingga Glagah Putih menjadi terdesak
karenanya. Bahkan hampir saja Glagah Putih
mempertimbangkan untuk mempergunakan ilmunya jika
keadaan menjadi semakin gawat.
Tetapi beberapa orang cantrik yang melihat keadaan itu
telah datang membantunya. Dengan demikian maka beberapa
orang diantara mereka telah terseret keluar dan bertempur,
dengan para cantrik itu. Karena itulah, maka Glagah Putih
menjadi semakin mapan. Rasa-rasanya nafasnya menjadi
semakin longgar, sehingga Glagah Putih mulai dapat
mendesak lawannya seorang demi seorang. Ketika ujung
pedang Glagah Putih menyentuh seorang lawan, maka orang
itupun telah mengumpat dengan kasarnya. Tanpa
menghiraukan darah yang mengalir dilukanya itu, ia telah
berteriak-teriak sambil mengayun-ayunkan pedangnya
menyerbu kearah Glagah Putih.
Glagah Putih tidak mempunyai pilihan lain. Ketika orang itu
mendesaknya, maka Glagah Putih terpaksa menyingkirkan
ujung senjatanya dengan benturan yang keras, kemudian
ujung pedang Glagah Putihlah yang telah membungkamnya.
Orang itu memang terdiam Bahkan iapun telah jatuh
terbaring di tanah. Pedangnya terlepas beberapa langkah dari
tubuhnya yang kemudian terdiam. Tetapi kematian orang itu
dan beberapa orang yang lain, membuat orang-orang yang
menyerang padepokan itu menjadi bagaikan orang gila.
Mereka tidak menjadi cemas akan nasib mereka sendiri.
Tetapi mereka justru telah bertempur semakin menggila.
“ Satu keberhasilan seseorang membuat orang lalu
kehilangan akal budinya.” berkata Glagah Putih didalam
hatinya.
Orang-orang yang bertempur itu di penglihatan Glagah
Putih seperti orang-orang yang tidak lagi sempat menilai apa
yang telah mereka lakukan. Mereka berbuat sebagaimana
yang mereka lakukan seakan-akan tanpa tahu arti dan
kepentingannya. Sehingga orang-orang itu bagaikan telah
kehilangan pribadinya. Tetapi orang-orang yang demikian
adalah justru orang-orang yang sangat berbahaya. Orangorang
yang tidak sempat memikirkan dirinya sendiri atau
membuat pertimbangan-pertimbangan untuk menyerah.
Namun menghadapi orang-orang yang demikian maka
Glagah Putih justru berusaha mengekang dirinya. Glagah
Putih merasa berhadapan dengan orang-orang yang tidak
tahu apa yang dilakukannya sehingga menurut Glagah Putih
orang-orang itu seharusnya tidak harus bertanggungjawab
sepenuhnya atas perbuatan mereka.
Karena itulah, mereka tidak semestinya dibunuh dalam
pertempuran itu. Hanya jika terpaksa dan diluar perhitungan,
maka Glagah Putih telah melemparkan lawannya dari arena
dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Demikianlah satu-satu orang-orang yang memasuki
padepokan itu telah dilumpuhkan. Betapapun Glagah Putih
menghindari kematian, namun beberapa orang diarena telah
terbunuh pula. Para cantrik memang tidak mendapat petunjuk
untuk selalu membunuh lawannya, bahkan setiap Kiai
Gringsing memberitahukan bahwa kemampuan mereka
bukannya alat untuk membunuh. Tetapi dalam pertempuran
yang seru, para cantrik itu tidak lagi mampu mengendalikan
diri. Apalagi ketika para cantrik itu melihat beberapa orang
kawan mereka telah jatuh pula menjadi korban, maka hati
merekapun menjadi bagaikan menyala.
Tetapi ternyata bahwa pertempuran yang semula bagaikan
membakar padepokan itu, disatu sisi telah menjadi reda. Satusatu
lawan para cantrik dan Glagah Putih itu kehilangan
kesempatan untuk bertempur. Glagah Putihpun kemudian
telah bersedia untuk mencegah agar para cantrik tidak
semata-mata menghanyutkan diri dalam arus perasaannya.
Karena itulah, maka setiap kali Glagah Putih telah
menawarkan kepada orang-orang yang memasuki padepokan
itu untuk menyerah. Bagaimanapun juga, akhirnya perasaan
orang-orang itupun terungkat. Kenyataan yang ada dihadapan
mereka, telah membangunkan mereka dari sebuah mimpi
yang buruk. Itulah agaknya yang memaksa mereka untuk
kemudian menyerah ketika Glagah Putih menyerukannya
sekali lagi.
Satu-satu orang-orang itu telah melemparkan senjatanya,
sehingga orang yang terakhirpun kemudian telah menyerah
pula.
Namun justru setelah pertempuran itu dianggap selesai
disatu sisi, maka Glagah Putih merasakan kepedihan pada
lukanya. Sebutir besi telah bersarang dibawah kulitnya. Hanya
karena ketahanan tubuhnya yang kuat luar biasa, maka
Glagah Putih masih dapat menyelesaikan pertempuran itu
dengan mencegah kematian lebih banyak lagi. Tetapi
kemudian justru dirinya sendirilah yang merasa, betapa
lengannya menjadi sangat sakit. Meskipun demikian Glagah
Putih sadar, bahwa tugas masih belum selesai seluruhnya.
Disisi lain, masih terdengar teriakan-teriakan yang
menggetarkan jantung. Selain keras juga dan berkesan kotor.
Umpatan-umpatan dan makian-makian yang tidak terkendali.
Untuk beberapa saat Glagah Putih masih menunggui para
cantrik yang mulai mengumpulkan senjata yang dilemparkan
dari mereka yang telah menyerah. Kemudian mengambil tali
ijuk yang kuat untuk mengikat para tawanan, agar mereka
tidak melarikan diri atau berusaha untuk bergabung dengan
kawan-kawannya yang masih belum menyerah. Baru
kemudian Glagah Putih itupun berkata, “ Kita dapat membantu
saudara-saudara kita yang masih bertempur. Kita dapat
menunjuk beberapa orang saja untuk menunggui para
tawanan yang sudah terikat. Namun demikian, jika terjadi
kesulitan, agar kalian membunyikan pertanda yang akan dapat
memanggil bantuan.”
Demikian, Glagah Putihpun telah meninggalkan tempat itu
bersama sebagian dari para cantrik, sementara yang lain tetap
berada ditempat itu menunggui orang-orang yang sudah
terikat. Seorang diantara para cantrik yang tinggal telah
diserahi untuk memimpin kawan-kawannya. Dengan hati-hati
Glagah Putih membawa beberapa orang cantrik melingkari
bangunan induk. Kemudian menyelinap diantara batangbatang
perdu mendekati arena pertempuran.
Sejenak Glagah Putih termangu-mangu. Ia masih melihat
pertempuran yang sengit. Seperti para cantrik yang bertempur
bersamanya, maka kekasaran lawan-lawan mereka memang
sangat berpengaruh. Sementara itu, agak jauh dari para
cantrik, Agung Sedayu masih juga bertempur dengan
sengitnya melawan seseorang yang agaknya juga memiliki
ilmu yang sangat tinggi.
Melihat pertempuran antara para cantrik dan orang-orang
yang memasuki padepokan itu, Glagah Putih melihat pula
usaha beberapa orang untuk menerobos arena dan langsung
menuju ke pendapa. Namun usaha mereka itu agaknya selalu
dihalangi oleh para cantrik. Tetapi orang-orang itu tidak
menghentikan usaha mereka. Bahkan ada diantara mereka
orang yang ternyata telah memilih untuk melalui jalan pintas.
Dua orang diantara mereka ternyata berhasil menghindar
dari arena. Dengan mengendap-endap mereka langsung
menuju ke pintu butulan. Namun Glagah Putihpun segera
memberi isyarat kepada para cantrik yang mengikutinya agar
mereka mencegah perbuatan kedua orang itu.
Beberapa orang cantrik telah menghambur dari balik
batang-batang perdu dan langsung menyerang kedua orang
yang ingin masuk kedalam bangunan induk lewat pintu
butulan. Sementara itu kedua orang itu telah siap untuk
merusakkan pintu butulan itu.
Ternyata bahwa kedua orang itu terkejut melihat kehadiran
para cantrik sambil mengacungkan senjata mereka. Karena
itu, maka keduanyapun telah meloncat untuk mempersiapkan
diri melawan para cantrik itu.
Sejenak kemudian, maka keduanya sudah harus bertempur
melawan beberapa orang cantrik yang marah melihat kelicikan
mereka. Dengan garangnya kedua orang itu telah mengayunayunkan
senjata mereka. Namun para cantrik yang telah
memiliki bekal yang memadai itupun kemudian telah berhasil
mendesak mereka menjauhi pintu butulan. Namun karena
percobaan itulah, maka pintu butulan itupun telah dijaga.
Bahkan pintu butulan yang lainpun telah dijaga pula oleh dua
orang cantrik.
Dalam pada itu pertempuran yang terjadi kian lama menjadi
semakin sengit. Seorang yang berilmu melampaui yang lain
telah bertempur berhadapan dengan beberapa orang cantrik.
Namun ternyata bahwa orang itu terlalu tangkas, sehingga
justru para cantrik itu setiap kali telah terdesak.
Namun karena para cantrik bekerja bersama dengan baik,
maka orang itupun belum berhasil memecahkan keputusan
beberapa orang cantrik yang menyerangnya berurutan dari
segala arah itu.
Untuk beberapa saat Glagah Putih berdiri termangumangu.
Setiap kali ia meraba lengannya yang pedih. Dalam
kesempatan itu, Glagah Putih telah menaburkan serbuk obat
pada lukanya. Tetapi ia tidak dapat mengobati luka di
lengannya, karena sebutir besi telah mengeram didalamnya.
Bahkan obat itu rasa-rasanya justru telah membuat lukanya
bagaikan tersentuh api. Rasa-rasanya butir besi didalam
kulitnya itu justru telah membara.
Glagah Putih menggeretakkan giginya untuk menahan.
Iapun telah mengerahkan daya tahan tubuhnya untuk
mengatasi rasa sakit itu. Meskipun tidak hilang seluruhnya,
tetapi cara itu memang telah berkurang.
Dalam pada itu, maka pertempuran telah berubah.
Kehadiran para cantrik dari sisi yang lain bangunan induk
padepokan itu, telah membuat keseimbangan bergeser. Selain
mereka yang mendesak dua orang yang berusaha membuka
pintu butulan, maka beberapa orang cantrik telah langsung
terjun ke dalam pertempuran.
Dengan lantang salah seorang cantrik berkata, “
Pertempuran disebelah bangunan induk ini sudah selesai.
Kami telah membinasakan semua orang yang memasuki
padepokan ini dengan maksud buruk. Karena itu, maka kami
sekarang telah berada disini.”
Suara itu memang sebagian tenggelam diantara teriakanteriakan
kasar lawan-lawan mereka. Namun orang-orang yang
berdiri disebelah menyebelahnya telah mendengar teriakan
itu. Seorang cantrik yang lain dengan sengaja telah bertanya
keras-keras, “ Jadi kalian sudah berhasil membunuh lawanlawan
kalian?”
“ Ya. Bahkan pemimpin kelompoknya yang berilmu tinggi
itu telah mati.” jawab cantrik itu keras-keras.
“ Bohong.” terdengar suara yang lain, “ jangan membual.
Aku koyakkan mulutmu.”
“ Kau mulai ketakutan.” berkata cantrik itu, “ dengar. Jika
mereka belum kami selesaikan, maka kami tidak akan berada
disini sekarang.”
Tidak ada jawaban. Namun para cantrik itupun menjadi
semakin mendesak. Beberapa orang diantara para cantrik itu
telah berhasil membelah kekuatan orang-orang yang
memasuki padepokan itu. Mendesak mereka kearah yang
beda pula.
Orang-orang yang menyerang padepokan itu menjadi
semakin garang. Mereka berusaha untuk mencapai pendapa
bangunan induk. Tetapi agaknya akan menjadi semakin baik
karena jumlah para cantrik yang semakin bertambah.
Beberapa saat kemudian, keseimbangan pertempuran itu
menjadi semakin jelas. Bagaimanapun orang-orang yang
menyerang padepokan itu menjadi semakin liar dan kasar,
namun mereka tidak berhasil untuk mengurai perlawanan para
cantrik yang semakin rapat.
Glagah Putih sendiri masih belum turun ke arena. Ia
melihat kemungkinan yang semakin baik bagi para cantrik.
Beberapa saat Glagah Putih masih berusaha mengatasi
perasaan sakitnya.
Tetapi perhatian Glagah Putih kemudian telah terlempar
pada pertempuran yang terjadi agak terpisah dari arena
pertempuran yang semakin luas. Dengan kening yang
berkerut, Glagah Putih melihat Agung Sedayu bertempur
melawan orang yang memiliki ilmu yang tinggi pula.
Perlahan-lahan Glagah Putihpun beringsut dari tempatnya.
Ia tidak lagi menyelinap diantara gerumbul-gerumbul perdu.
Tetapi ia berjalan saja melintasi arena pertempuran. Memang
sekali-sekali Glagah Putih harus meloncat menghindari
serangan yang datang kepadanya. Namun Glagah Putih telah
mempercayakan penyelesaian pertempuran itu kepada para
cantrik yang memang telah hampir menguasai seluruh arena.
Sekali-sekali terdengar seorang cantrik yang meneriakkan
tawaran agar lawan-lawannya mengerti sebagaimana
dilakukan oleh Glagah Putih. Namun agaknya orang-orang
yang menyerang padepokan itu masih melihat satu
kemungkinan bagi mereka.
Beberapa saat kemudian, Glagah Putih telah berada di
arena pertempuran yang lain. Pertempuran antara Agung
Sedayu melawan seseorang yang mengaku pewaris dari
perguruan Worsukma yang mendebarkan itu.
Sebenarnyalah pertempuran antara keduanya
menunjukkan betapa keduanya memiliki ilmu yang sangat
tinggi. Karena itu, maka pertempuran diantara mereka adalah
pertempuran yang mendebarkan. Keduanya seakan-akan
melayang-layang seperti dua ekor elang yang sedang berlaga,
Namun kadang-kadang keduanya bergerak cepat seperti
burung-burung sikatan. Sambar menyambar sehingga sulit
dikuti dengan tatapan mata wadag.
Dalam pada itu, maka keduanyapun telah meningkatkan
kemampuan mereka semakin tinggi. Dalam pertempuran yang
semakin cepat itu, keduanya telah mulai berhasil menyentuh
tubuh lawan-lawannya.
Ketika tangan lawannya berhasil mengenai pundak Agung
Sedayu, maka terasa betapa sakitnya pundak itu. Namun
Agung Sedayupun mampu bergerak secepat lawannya,
sehingga karena itu, maka iapun telah berhasil menghantam
dada lawannya sehingga terdorong selangkah surut.
Kemarahan yang meledak telah membuat wajah orang itu
menjadi merah. Dadanya bagaikan menjadi retak didalam,
sehingga nafasnya rasa-rasanya telah tersumbat. Karena itu,
maka keduanya merasa perlu untuk melindungi diri mereka
masing-masing. Agung Sedayu yang menyadari, betapa
kuatnya tenaga lawannya, telah menyelimuti dirinya dengan
ilmu kebalnya, sementara itu lawannyapun telah
mengungkapkan ilmunya pula untuk melindungi dirinya.
Pertempuran itu masih berlangsung dengan dahsyatnya.
Namun kemudian keduanyapun telah berubah. Ketika
Singapati dari Worsukma itu berhasil mengenai tubuh Agung
Sedayu, maka Agung Sedayu yang telah mengenakan perisai
ilmu kebalnya itu sama sekali tidak tergoncang karenanya.
Tetapi ketika kemudian Agung Sedayu mengenainya, maka
justru tangan Agung Sedayulah yang menjadi sakit karenanya.
Tubuh orang itu menjadi sekeras besi.
Meskipun Glagah Putih yang menyaksikan pertempuran itu
tidak terlihat, namun ia segera menyadari, bahwa lawan
Agung Sedayu itu memiliki ilmu yang sama dengan orang
yang telah bertempur melawannya. Bahkan sudah barang
tentu, dalam tataran yang justru lebih tinggi. Orang itu
agaknya telah mampu menguasai ilmu sejenis dengan ilmu
Tameng Waja yang mempunyai kemampuan menahan setiap
serangan sehingga seakan-akan tidak menyentuh tubuhnya,
bahkan membuat orang yang menyerangnya menjadi
kesakitan. Karena itulah, maka keduanya kemudian telah
bertempur semakin sengit. Agung Sedayu memiliki ilmu kebal,
sementara orang itu memiliki ilmu Tameng Waja.
Tetapi sebagaimana setiap ilmu betapapun tinggi
tingkatnya, namun tentu bukannya ilmu yang sempurna.
Demikian pula ilmu kebal Agung Sedayu. Ternyata bahwa
kemampuan dan kekuatan ilmu lawannya yang seakan-akan
menjadi semakin meningkat itu mampu menembus ilmu
kebalnya. Meskipun tidak menimbulkan kesulitan yang gawat,
namun Agung Sedayu menjadi berdebar-debar juga ketika ia
merasakan ilmu lawannya itu sedikit demi sedikit mampu
menembus kekuatan ilmu kebalnya, sementara itu ia masih
belum mampu menembus ilmu Tameng Waja lawannya,
karena semakin keras ia memukul lawannya, maka tangannya
sendiripun menjadi semakit sakit, justru kekuatan ilmu orang
itu sudah menembus ilmu kebalnya, meskipun serangan itu
sebenarnya datang dari padanya sendiri. Dengan demikian,
maka sedikit demi sedikit, justru Agung Sedayulah yang mulai
terdesak. Beberapa kali Agung Sedayu Justru melangkah
surut menghindari serangan lawannya yang datang
membadai.
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Jika Agung
Sedayu menjadi semakin terdesak, maka pada saat yang
paling gawat, ia tentu akan mempergunakan kemampuan
puncaknya. Sebagaimana diketahui oleh Glagah Putih, maka
Agung Sedayu akan mampu menyerang lawannya lewat sorot
matanya. Jangankan tubuh seseorang meskipun ia berperisai
ilmu Tameng Waja sekalipun. Sedangkan keping-keping
bajapun akan dapat dihancurkannya.
Namun ternyata Glagah Putih salah hitung. Agung Sedayu
masih belum mempergunakan ilmu pamungkasnya, meskipun
beberapa kali ia terdesak. Agung Sedayu agaknya tidak ingin
dengan serta merta membunuh lawannya.
Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu memang ingin
menyelesaikan pertempuran itu tanpa membunuh lawannya.
Meskipun Agung Sedayu sudah mengira, bahwa sangat sulit
baginya untuk dapat menangkap orang yang berilmu tinggi itu.
Seandainya orang itu dapat dilumpuhkannya tanpa
membunuhnya, namun orang itu tentu tidak akan mau
berbicara sebagaimana diinginkan oleh Agung Sedayu.
Meskipun demikian, ternyata Agung Sedayu masih ingin
mencobanya, sehingga karena itu, maka iapun tidak dengan
serta merta mempergunakan ilmu puncaknya.
Untuk mempertahankan dirinya, Agung Sedayupun
kemudian ternyata telah mengurai cambuknya. Ternyata
Agung Sedayu ingin mencoba menembus ilmu lawannya yang
mirip dengan ilmu Tameng Waja itu dengan ujung cambuknya.
Ketika mula-mula Agung Sedayu menggetarkan
cambuknya, maka ledakannya bagaikan hendak
mengguncangkan seisi padepokan. Rasa-rasanya udarapun
telah bergetar mengguncang-guncang dada orang-orang yang
ada didalam padepokan itu.
Namun Agung Sedayu mampu bergerak secepat lawannya,
sehingga karena itu, maka iapun telah berhasil menghantam
dada lawannya sehingga terdorong selangkah surut.
Ternyata Sekar Mirah, Kiai Gringsing dan para cantrik yang
ada di bangunan indukpun telah mendengar ledakan cambuk
itu pula. Sejenak Sekar Mirah terhenyak ditempatnya. Namun
kemudian hampir diluar sadarnya ia telah melangkah dengan
tergesa-gesa ke bilik Kiai Gringsing.
Demikian Sekar Mirah melangkah masuk, Kiai Gringsing
itupun tersenyum. Orang tua itu melihat kegelisahan di wajah
Sekar Mirah sehingga karena itu, maka iapun berkata, “ Kau
dengar suara cambuk itu Sekar Mirah? Kau tahu watak dari
ilmu suamimu? Selama cambuk itu masih meledak dengan
hentakan-hentakan yang keras, maka suamimu masih belum
merasa perlu memasuki tataran ilmunya yang lebih tinggi.
Bahkan jika ia masih mempergunakan cambuknya, maka ia
masih belum merasa perlu mempergunakan ilmu
pamungkasnya.”
Sekar Mirah mengangguk kecil. Dengan nada rendah ia
berkata, “ Ya. Kiai.”
Kiai Gringsingpun kemudian mempersilahkan Sekar Mirah
untuk beristirahat. Katanya, “ Kau letih Mirah. Duduklah Kau
dapat beristirahat.”
“ Aku tidak letih Kiai.” jawab Sekar Mirah.
“ Mungkin tubuhmu tidak. Tetapi jiwamu yang tegang itu
agaknya perlu kau tenangkan. Duduklah. Minumlah. Biarlah
para cantrik itu berjaga-jaga diluar. Jika terjadi sesuatu,
mereka akan memberikan isyarat.”
Sekar Mirah termangu-mangu. Kiai Gringsing yang melihat
keragu-raguan Sekar Mirah itupun kemudian berkata kepada
dua orang cantrik yang ada didalam bilik itu, “ Kawanilah
saudara-saudaramu yang ada diluar. Biarlah aku disini
bersama Sekar Mirah. Hanya jika perlu sekali, panggillah
kami.”
“ Ya Kiai.” jawab kedua cantrik itu hampir berbareng.
Demikianlah, sejenak kemudian maka kedua orang cantrik
itu telah meninggalkan bilik itu. Sementara Sekar Mirahpun
kemudian telah duduk di sebuah amben kecil didalam bilik itu.
Namun Sekar Mirah memang tidak dapat menjadi tenang.
Apalagi ketika ia mendengar suara cambuk itu lagi. Berdentum
dengan kerasnya.
“ Nah kau dengar.” berkata Kiai Gringsing, “ suamimu
masih bermain-main. Ia belum merasa perlu untuk
bersungguh-sungguh.”
Sekar Mirah hanya mengangguk saja.
Sementara itu, Agung Sedayu yang bertempur melawan
Singapati yang mengaku pewaris perguruan Worsukmo masih
berlangsung dengan sengitnya. Ketika cambuk Agung Sedayu
itu meledak bagaikan memecahkan selaput telinga, maka
Singapati telah meloncat surut. Iapun terkejut mendengar
suara itu. Namun kemudian dengan keyakinan yang tinggi
atas kemampuan ilmunya yang mempunyai kekuatan mirip
dengan Aji Tameng Waja itu, iapun telah mendesak maju.
Sekali lagi Agung Sedayu meledakkan cambuknya. Bukan
sekedar untuk mengejutkan saja. Tetapi ia benar-benar telah
berusaha mengenai lawannya dengan ujung cambuknya yang
berkarah.
Dengan kerasnya ujung cambuk Agung Sedayu benarbenar
telah menghantam tubuh lawannya. Bukan sekedar
juntai janget tinatelon. Tetapi juga karah-karah baja yang
terdapat pada juntai cambuk itupun telah mengenai tubuh
lawannya itu pula. Namun ternyata bahwa kekuatan cambuk
Agung Sedayu tidak dapat menembus ilmu Tameng Waja
yang kuat dan kokoh itu.
Karena itulah, maka ketika oranng itu maju mendesak lagi,
Agung Sedayu telah berloncatan surut. Ia memang masih
mencoba satu dua kali menyerang lawannya dengan ujung
cambuknya. Tetapi ujung cambuk itu hanya dapat
menghentikan langkah Singapati. Namun tidak melukainya,
sehingga Singapatipun telah melangkah lagi memburu
kemana Agung Sedayu meloncat mundur.
Agung Sedayu akhirnya menyadari, bahwa dengan
landasan tenaga cadangannya saja, maka ia tidak mampu
menembus perisai ilmu orang itu. Betapapun ia mengerahkan
kekuatan tenaga cadangannya. Bahkan dengan hentakkan
yang keras.
Karena itu, maka Agung Sedayu terpaksa mempergunakan
kekuatan ilmunya. Dihimpunnya kekuatan cadangannya,
diangkatnya dengan ilmunya kebatas kekuatan tertinggi,
kemudian perlahan-lahan menyerang memasuki kemampuan
ilmunya itu. Dan Agung Sedayu pun kemudian mengalirkan
kemampuan ilmunya itu pada ujung cambuknya. Dengan
demikian, maka bobot kekuatan yang terdapat pada ujung
cambuk Agung Sedayu itu sudah jauh berbeda dari
sebelumnya.
Tetapi lawannya tidak menyadarinya. Ia hanya melihat
Agung Sedayu itu beberapa kali menelusuri juntai cambuknya
dengan telapak tangannya. Namun kemudian cambuk itu telah
berputar lagi diatas kepalanya.
Pada keadaan yang demikian itulah maka Singapati telah
melangkah mendekat. Tanpa menghiraukan ujung cambuk
Agung Sedayu ia melangkah sambil mengacukan tangannya
yang siap menyerang kearah dada.
Namun Agung Sedayu yang masih saja memutar
cambuknya itu telah mencoba memberi peringatan kepada
lawannya. Perlahan-lahan mulai terdengar putaran
cambuknya itu bergaung. Semakin lama semakin keras,
sehingga kemudian seakan-akan beribu lebah tengah terbang
mengitari Agung Sedayu itu.
Tetapi Singapati sama sekali tidak memperhatikannya. Ia
tidak memperhitungkan gaung putaran cambuk Agung Sedayu
yang melampaui kewajaran itu. Bahkan ia menganggap
bahwa Agung Sedayu memang hanya mampu membuat bunyi
yang diharapkan dapat mempengaruhi ketahanan jiwani
lawannya itu.
Karena itu, maka Singapati justru ingin menyerang semakin
cepat. Tanpa menghiraukan cambuk yang dianggapnya sama
sekali tidak akan mampu menembus ilmu yang menjadi
perisainya itu, maka iapun telah meloncat sambil menjulurkan
tangannya kearah dada Agung Sedayu.
Agung Sedayu yang mampu juga bergerak cepat, telah
melenting selangkah kesamping menghindari serangan
lawannya itu.
Dalam pada itu Glagah Putih menjadi semakin tegang. Ia
mengerti bahwa Agung Sedayu telah menyalurkan ilmunya
pada ujung cambuknya. Ia menunggu saat-saat cambuk itu
menghantam tubuh Singapati yang dilindungi oleh ilmunya itu.
Tetapi ternyata Agung Sedayu tidak segera meledakkan
cambuknya. Ia justru meloncat-loncat menghindar ketika
lawannya kemudian memburunya. Demikian cepatnya dan
beruntun, sehingga Agung Sedayu benar-benar harus
berloncatan surut beberapa langkah.
“ Kenapa kakang Agung Sedayu tidak mempergunakan
cambuknya itu.” geram Glagah Putih.
Agung Sedayu memang tidak segera mempergunakan
cambuknya. Ia masih berusaha menahan diri. Ia masih belum
tahu akibat dari ujung cambuknya. Namun menilik
kemampuan ilmu lawannya yang dapat menahan serangan
cambuknya dengan kekuatan kewadagannya, maka iapun
menduga bahwa ujung cambuknya tidak akan melumatkan
lawannya.
Namun ternyata bahwa Agung Sedayu benar-benar telah
terdesak oleh serangan lawannya yang datang beruntun tanpa
menghiraukan kemungkinan buruk yang dapat terjadi atasnya
oleh ujung cambuk Agung Sedayu.
Pada saat Agung Sedayu terdesak dan sulit untuk terusmenerus
menghindar, maka akhirnya Agung Sedayu memang
terpaksa melindungi dirinya dengan ujung cambuknya.
Pada saat lawannya mendesaknya terus dengan seranganserangan
yang berbahaya, maka disaat Agung Sedyu sudah
sulit untuk bergerak mundur, karena punggungnya sudah
melekat dinding padepokan, maka tiba-tiba saja cambuknya
sudah meledak. Tidak terlalu keras. Tidak lagi mengejutkan.
Tetapi getarannya telah menghentak tubuh Singapati.
Sentuhan juntai cambuk Agung Sedayu yang mengantarkan
arus kekuatan ilmunya, ternyata telah mampu mengoyak ilmu
lawannya yang mempunyai kekuatan sejenis Aji Tameng Waja
itu.
Dengan demikian maka lawannya telah terlempar beberapa
langkah surut. Wajahnya memancarkan ketegangan dan
membayangkan kesakitan yang sangat. Meskipun kulitnya
tidak terluka, tetapi Singapati benar-benar telah disakiti oleh
ujung cambuk itu.
Tetapi Singapati yang terdorong surut itu segera dapat
memperbaiki keadaannya. Ia masih dapat mengatur
keseimbangannya, sehingga ia tidak terjatuh karenanya.
Agung Sedayu yang melihat lawannya yang bergeser surut
itu justru menjadi berdebar-debar. Ternyata lawannya benarbenar
seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ilmunya
yang mirip dengan kekuatan ilmu Agung Sedayu lewat ujung
cambuknya, namun seakan-akan Singapati itu mampu dengan
cepat mengatasi perasaan sakitnya.
Bahkan sejenak kemudian, maka Singapati itupun telah
melangkah maju lagi. Bahkan meloncat menyerang dengan
kekuatan dan kecepatan gerak yang tidak berubah.
Glagah Putih yang melihat pertempuran itu menjadi
semakin berdebar-debar. Menilik ledakan cambuknya, maka
Agung Sedayu telah mengerahkan kemampuan ilmunya yang
disalurkan lewat juntai cambuknya. Namun juntai cambuknya
itu tidak berhasil menghentikan gerak maju lawannya.
Tetapi bagaimanapun juga, ujung cambuk itu telah
memberikan kesempatan lebih banyak kepada Agung Sedayu
untuk mengatur kedudukannya di hadapan lawannya itu.
Yang menjadi berdebar-debar didalam bangunan induk
padepokan itu adalah Kiai Gringsing. Iapun mendengar dan
merasakan getaran cambuk Agung Sedayu. Getaran cambuk
yang telah melontarkan ilmunya.
Tetapi Kiai Gringsing berusaha untuk tidak memberikan
kesan yang dapat membuat hati Sekar Mirah yang pucat,
iapun berkata, “ Jangan cemas Sekar Mirah. Cambuk yang
melontarkan ilmu suamimu ini bukan ilmu puncaknya. Ia
memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari ujung
cambuknya, yaitu sorot matanya.”
Sekar Mirah mengangguk-angguk. Tetapi hatinya benarbenar
tidak menjadi tenang. Bahkan kemudian katanya, “
Apakah aku diijinkan untuk melihat keadaan kakang Agung
Sedayu?”
Kiai Gringsing menggeleng lemah. Katanya, “ Kau disini
saja bersamaku Mirah.”
Sekar Mirah tidak memaksa. Tetapi hatinya menjadi
semakin gelisah ketika cambuk itu meledak beberapa kali
berturut-turut. Yang tidak kalah gelisahnya adalah Glagah
Putih. Lawan Agung Sedayu ternyata memang seorang yang
memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Meskipun ia harus
melawan ujung cambuk Agung Sedayu, namun ia masih juga
mampu menyerang dengan garangnya. Bahkan beberapa kali
ia mampu menyentuh tubuh Agung Sedayu. Seandainya
Agung Sedayu tidak membentengi dirinya dengan ilmu
kebalnya, maka tubuh Agung Sedayu itupun telah menjadi
lumat. Bahkan semakin tajam Agung Sedayu mempergunakan
ilmu kebalnya, maka dari dirinya seakan-akan telah memancar
udara yang panas.
Sebenarnyalah bahwa Singapatipun menjadi berdebardebar
pula. Ujung cambuk Agung Sedayu itu berhasil
mengoyak ilmunya dan menyakiti tubuhnya. Bahkan kemudian
di sekeliling Agung Sedayu itu seakan-akan telah diselimuti
oleh udara yang panas.
Tetapi pertempuran itu masih saja berlangsung semakin
sengit. Keduanya saling mendesak, saling menyerang dan
saling mengelak. Namun serangan demi serangan telah saling
mengenai sasarannya, sehingga keduanya menjadi kesakitan,
meskipun keduanya tidak terluka.
“ Anak iblis.” geram Singapati, “ ternyata kau memiliki juga
ilmu kebal. He, dari jenis ilmu kebal yang mana yang kau
pergunakan?”
Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi cambuknya telah
bergetar mengenai tubuh lawannya, sehingga lawannya itu
terdorong selangkah surut. Tetapi tiba-tiba saja Singapati dari
perguruan Worsukma itu telah meloncat maju dengan
cepatnya. Tangannya berhasil mengenai dada Agung Sedayu
sehingga Agung Sedayulah yang terdesak. Beberapa langkah
Agung Sedayu terdorong surut. Tetapi ketika lawannya itu
memburunya, maka dengan cepat pula Agung Sedayu
meledakkan cambuknya mengarah ke wajah orang itu. Untuk
menghindarinya, maka lawannya telah memalingkan wajahnya
itu. Namun demikian juntai cambuk Agung Sedayu itu justru
mengenai tengkuknya.
Sambil berdesis menahan sakit, maka orang itupun telah
berusaha untuk mempertahankan keseimbangannya.
Agung Sedayu tidak melepaskan lawannya. Selagi
lawannya itu masih belum mapan benar, maka cambuknya
telah meledak sekali lagi mengenai tubuh orang itu pula.
Ternyata orang yang mengaku pewaris ilmu perguruan
Worsukma itu benar-benar telah kehilangan
keseimbangannya. Terhuyung-huyung sejenak, namun
kemudian iapun telah terjatuh.
Namun ketika Agung Sedayu meloncat mendekatinya,
orang itu telah berguling beberapa kali. Justru kemudian
dengan sigapnya iapun telah melenting berdiri. Demikian
kedua kakinya tegak, maka Singapati itupun telah meloncat
menyerang dengan garangnya.
Ia tidak menghiraukan ketika juntai cambuk Agung Sedayu
mengenainya. Langkahnya memang tertahan, namun iapun
kemudian telah meloncat menyusup disela-sela putaran
cambuk Agung Sedayu dan langsung menyerang kearah
dada.
Agung Sedayu berusaha mengelak. Namun serangan itu
datang seakan-akan tanpa memperhitungkan ujung cambuk
Agung Sedayu, sehingga justru karena itu, maka Agung
Sedayu telah sedikit terlambat bergerak. Serangan orang itu
ternyata telah mengenai pundak Agung Sedayu. Meskipun
Agung Sedayu telah meningkatkan ilmu kebalnya, namun
serangan itu masih juga terasa betapa sakitnya. Karena itu,
maka Agung Sedayu telah dengan cepat menghindar ketika
orang dari perguruan Worsukma itu menyerangnya sekali lagi.
Agung Sedayu yang berhasil mengambil jarak, telah
meledakkan cambuknya pula mengenai orang itu. Karena itu,
maka orang yang telah melangkah memburu Agung Sedayu
itu terhenti.
Namun Agung Sedayu tidak menghentikan serangannya.
Sekejap kemudian ujung cambuknya telah meledak dan
meledak lagi. Beberapa kali orang itu terdesak mundur.
Namun orang itu masih juga berusaha untuk mengatasi rasa
sakitnya dengan meningkatkan daya tahan tubuhnya
disamping perisai ilmunya yang mirip dengan Aji Tameng
Waja itu. Dengan demikian maka pertempuran semakin lama
menjadi semakin sengit. Dengan cara masing-masing
keduanya berusaha untuk mengalahkan lawannya.
Namun agaknya cambuk Agung Sedayu telah memaksa
orang itu untuk bekerja lebih keras. Bagaimanapun juga,
cambuk Agung Sedayu benar-benar merupakan senjata yang
luar biasa. Ujungnya yang setiap kali dihentakkan sendal
pancing itu, telah menyakiti hampir seluruh tubuhnya,
meskipun sudah mempergunakan perisai ilmu yang jarang
ada duanya.
Tubuh Agung Sedayu juga merasa sakit-sakit oleh pukulanpukulan
lawannya yang berhasil menyusup diantara putaran
cambuknya dan menembus ilmu kebalnya. Tetapi Agung
Sedayu masih mampu mengatasinya dengan daya tahan
tubuhnya yang kuat dibawah ilmu kebalnya. Sementara itu
keduanyapun telah menunjukkan kemampuan dalam
kecepatan gerak masing-masing, sehingga keduanya
bagaikan bayangan yang terbang berputaran.
Sementara itu, pertempuran antara para cantrik dan
pengikut Singapati itu telah mencapai satu keseimbangan
yang pasti. Para cantrik yang jumlahnya telah bertambah itu
benar-benar telah berhasil mendesak lawannya. Korbanpun
berjatuhan dan darah telah menitik ke bumi.
Perlahan-lahan para cantrik mendesak lawan-lawan
mereka. Namun beberapa kali para cantrik masih
menawarkan kesempatan untuk menyerah. Namun agaknya
para pengikut Singapati itu tidak menghiraukannya.
Dalam pada itu, Glagah Putih merasa tidak perlu ikut
bertempur diantara para cantrik yang sebentar lagi tentu akan
berhasil menguasai lawannya. Hidup atau mati. Jika mereka
memang pantang menyerah, maka memang tidak ada pilihan
lain daripada membunuh mereka. Amat berbahaya bagi
padepokan itu jika membiarkan saja mereka melarikan diri.
Tetapi membunuh memang bukan tujuan mereka. Itu telah
ternyata dari seruan para cantrik untuk menyerah saja. Namun
agaknya orang-orang yang menyerang padepokan itu
berkeberatan. Mereka memang memilih mengakhiri
perlawanan mereka dengan kematian, karena mereka
mengira bahwa kematian merupakan penyelesaian yang
tuntas bagi pengabdian mereka.
Dengan demikian maka para pengikut Singapati itu seakanakan
telah bertempur dengan putus-asa, karena tidak ada
harapan bagi mereka untuk menang. Yang mereka lakukan
tidak ubahnya sebagai satu usaha untuk membunuh diri
bersama-sama. Adalah satu kemenangan bagi mereka
apabila mereka dapat membunuh lawannya, karena dengan
demikian maka mereka mendapat kawan untuk mati.
Tetapi jumlah para cantrik yang banyak, tidak memberi
kesempatan dan peluang sama sekali kepada mereka. Satusatu
para pengikut Singapati itu telah tertembus oleh tajamnya
senjata para cantrik. Namun diantara keyakinan untuk
bertahan sampai mati, ternyata ada juga diantara mereka
yang menyerah. Satu dua diantara mereka telah melemparkan
senjata mereka dan tidak lagi mengadakan perlawanan.
Sementara itu, pertempuran yang terpisah ternyata masih
berlangsung, justru semakin sengit. Keduanya benar-benar
telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Desak
mendesak, serang-menyerang dengan cepat dan karena itu,
maka pertempuran itu menjadi semakin sulit untuk dinilai.
Di bangunan induk, kegelisahan Sekar Mirah agaknya
memang sudah memuncak. Ia masih mendengar ledakanledakan
cambuk Agung Sedayu yang menggetarkan udara
dengan dorongan kekuatan ilmunya. Meskipun ledakan itu
tidak terlalu keras, tetapi justru mempunyai pengaruh yang
jauh lebih besar atas lawannya. Namun untuk sekian lama,
hentakan-hentakan cambuk itu belum berhasil menghentikan
perlawanan lawannya itu.
Kiai Gringsing yang melihat kegelisahan Sekar Mirah telah
berusaha menenangkannya. Dengan nada yang lembut dan
bahkan senyum dibibir Kiai Gringsing berkata, “ Percayalah
bahwa suamimu akan dapat mengatasi kesulitan yang
dihadapinya, Mirah. Dalam keadaan yang gawat, maka
serahkan segala sesuatunya kepada Yang Maha Agung.”
“ Apakah aku boleh melihat keadaan kakang Agung
Sedayu, Kiai.” berkata Sekar Mirah, “ kita tidak tahu, apakah
kakang Agung Sedayu harus bertempur melawan satu orang
atau banyak orang. Barangkali aku dapat membantunya
daripada aku menunggu disini.”
Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya, “ Baiklah. Kita pergi melihatnya.”
“ Maksud Kiai?” bertanya Sekar Mirah.
“ Akupun akan pergi. Kau tentu akan bersedia
membantuku.” berkata Kiai Gringsing.
“ Kiai sedang sakit. Tidak baik untuk keluar malam hari.”
berkata Sekar Mirah.
“ Tetapi sakitku sudah jauh susut. Bukankah aku telah
hampir sehat kembali?” berkata Kiai Gringsing pula.
“ Tetapi sebaiknya Kiai tinggal disini.” minta Sekar Mirah.
Tetapi Kiai Gringsing itupun tersenyum. Iapun justru telah
bangkit berdiri dan berjalan dengan bantuan tongkatnya.
Katanya, “ Marilah. Kita pergi.”
Sekar Mirah tidak dapat membantah. Iapun kemudian
mengiringi Kiai Gringsing yang berjalan perlahan-lahan.
Namun kemudian di pendapa ia berkata kepada seorang
cantrik, “ Kemarilah. Kita melihat apa yang terjadi.”
Dengan berpegang pada cantrik itu, maka Kiai Gringsing
dapat berjalan lebih cepat, diikuti oleh Sekar Mirah yang
menjinjing tongkat baja putihnya.
Ketika Kiai Gringsing mendekati arena, maka beberapa
orang cantrik telah berdiri bebas. Lawan-lawannya telah
dilumpuhkannya. Karena itu, ketika mereka melihat kehadiran
Kiai Gringsing, maka dengan tergesa-gesa mereka
menyongsongnya.
“ Kiai, apakah keadaan Kiai sudah baik?” bertanya seorang
cantrik.
Kiai Gringsing tersenyum. Pertempuran memang sudah
hampir selesai. Namun dalam pada itu, Sekar Mirahpun
berTanya, “ Dimana kakang Agung Sedayu.”
Cantrik itu termangu-mangu. Namun merekapun tidak usah
terlalu sulit untuk mencarinya. Ketika kemudian terdengar
cambuk Agung Sedayu meledak.
Dengan serta merta merekapun telah menuju ke suara
cambuk itu. Didalam kegelapan mereka segera melihat dua
orang yang sedang bertempur dengan sengitnya. Bahkan
Glagah Putihpun telah berada di tempat itu pula. Namun
Glagah Putih sama sekali tidak berbuat sesuatu, seakan-akan
Agung Sedayu itu sedang berperang tanding sehingga tidak
ada orang lain yang pantas untuk ikut campur.
Sejenak kemudian, maka Kiai Gringsing, Sekar Mirah dan
beberapa orang cantrik telah berdiri di sebelah Glagah Putih
yang telah datang lebih dahulu.
Agaknya murid dari perguruan Worsukma itu melihat
kedatangan mereka, sehingga orang itupun kemudian
berteriak, “ Marilah. Siapa yang akan ikut mati bersama orang
ini? Semakin banyak kalian memasuki arena, maka akan
semakin cepat pekerjaanku selesai.”
Namun seorang cantrik telah menyahut, “ Orang-orangmu
telah habis. Sebagian besar memang telah membunuh diri,
sedang yang lain telah menyerah. Apakah kau akan tetap
bertempur?”
“ Aku koyakkan mulutmu. Jangan mencoba menghina aku.”
geram orang itu.
Cantrik itu memang berdiam diri, sementara itu
pertempuran antara orang yang menyebut dirinya Singapati itu
dengan Agung Sedayu telah berlangsung semakin cepat.
Beberapa kali cambuk Agung Sedayu meledak. Udarapun
telah tergetar menghentak jantung. Apalagi orang yang
tersentuh ujung cam-buk itu. Tetapi lawannya ternyata mampu
mengatasinya. Bahkan masih sempat bergerak maju dan
menyusup menyerang.
Sekar Mirah memang menjadi semakin gelisah melihat
pertempuran itu. Ternyata lawan Agung Sedayu adalah orang
yang berilmu sangat tinggi, sehingga mampu melawan juntai
cambuk Agung Sedayu yang dihentakkan sendal pancing
dengan segenap kekuatan ilmunya.
Yang terjadi kemudian memang mendebarkan jantung.
Keduanya saling menyerang dan saling bertahan. Keduanya
mempergunaan ilmu kebal meskipun dari jenis yang berlainan.
Bahkan lawan Agung Sedayu itu mampu membuat dirinya
bagaikan sekeras baja, sementara jenis ilmu kebal Agung
Sedayu justru telah memancarkan panas dari tubuhnya.
Disamping itu, maka ledakan-ledakan cambuknya mampu
menembus ilmu kebal lawannya meskipun lawannya itu
mampu mengatasi rasa sakitnya.
Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi semakin
sengit dan mendebarkan. Desak mendesak, serang
menyerang dengan kekuatan dan kemampuan diluar
jangkauan orang kebanyakan. Tetapi anehnya justru cambuk
Agung Sedayu itu lambat laun telah benar-benar menyakiti
kulit lawannya, sementara itu panas ditubuh Agung Sedayu
yang semakin tajampun telah berpengaruh pula pada
lawannya. Tubuhnya yang bagaikan besi baja yang tidak
tembus ditusuk ujung senjata, namun justru mulai merasa
betapa panasnya udara seakan-akan tubuhnya yang menjadi
baja itu telah lebih banyak menyerap panas dari pada
keadaan wajarnya.
Karena itu, maka orang itupun telah mempertimbangkan
untuk segera mengakhiri pertempuran dengan ilmu
simpanannya yang jarang sekali dipergunakannya jika tidak
karena tidak ada pilihan lain. Ilmu yang memang sangat
dikagumi dari perguruan Worsukma, karena ilmu itu mampu
membuat lawannya menjadi hitam atau merah sebagaimana
dikehendakinya.
Karena itulah maka orang itupun telah mengambil sikap.
Dengan sikapnya Singapati itu meloncat beberapa langkah
surut. Kemudian berdiri tegak dengan tangan bersilang
didada.
Agung Sedayu terkejut. Ia sadar, bahwa lawannya tentu
akan melepaskan ilmunya yang paling berbahaya.
Sementara itu tidak ada orang lain yang dapat membantu
selain orang yang dikenal itu sendiri mempertahankan diri.
Kecuali dengan langsung memadamkan sumbernya. Namun
dengan demikian, maka akan dapat menjatuhkan martabat
Agung Sedayu yang meskipun tidak sedang berperang
tanding, tetapi agaknya keduanya telah bertekat untuk
mengadu kemampuan ilmu mereka.
Ternyata bahwa orang-orang yang menyaksikan
pertempuran itupun menjadi berdebar-debar. Bahkan Kiai
Gringsingpun menjadi berdebar-debar pula. Perguruan
Worsukma memang mempunyai sejenis ilmu yang jarang ada
duanya.Singapatipun terkejut bukan buatan. Tetapi semuanya
telah ter-lambat. Serangan Agung Sedayu itu langsung
mengenai dada orang yang mengaku memiliki warisan ilmu
dari perguruan Worsukma itu.
Beberapa saat orang itu berdiri tegak. Agung Sedayupun
berdiri tegak pula ditempatnya. Kiai Gringsing menjadi
semakin cemas ketika ia melihat bahwa Agung Sedayu telah
menatap wajah lawannya. Tetapi iapun tidak dapat berteriak
mencegahnya. Karena dengan demikian, maka ia sudah
membantu Agung Se-dayu.
Suasanapun kemudian menjadi sangat tegang. Kedua
orang yang bertempur itu tengah memusatkan nalar budi
mereka.
Singapati merasa mendapatkan kesempatan ketika Agung
Sedayu justru menatap wajahnya. Dengan serta merta maka
Singapati telah mengetrapkan ilmunya. Ilmu kebanggaan
perguruan Worsukma. Dengan kekuatan sorot matanya, maka
Singapati telah mengetrapkan ilmunya. Perlahan-lahan
dengan penuh keyakinan, maka Agung Sedayu yang menatap
matanya itu tentu akan segera tunduk pada kehendaknya.
Sementara itu, Agung Sedayupun merasa sesuatu
mempengaruhi jiwanya. Ada kehendak yang bergejolak tanpa
dimengertinya. Seakan-akan telah terjadi benturan di dalam
dirinya. Dengan cepat Agung Sedayu teringat, siapakah
lawannya itu. Karena itu, maka dengan serta merta Agung
Sedayupun telah mengikatkan diri pada sumbernya. Dengan
demikian, maka ia akan tetap melekat erat tanpa berkisar
sejengkalpun dari pijakannya. Dalam sandaran yang kokoh
Agung Sedayu dengan sengaja telah menatap mata
lawannya. Ia yakin akan dirinya dari sandarannya yang tidak
akan goyah. Apalagi Agung Sedayu yakin, bahwa ia justru
sedang mempertahankan diri dan haknya. Benturan
kekerasan yang terjadi itu bukan karena salahnya.
Untuk beberapa saat keduanya saling memandang.
Keduanya memiliki landasan yang sama-sama kokoh, tetapi
berbeda. Namun Agung Sedayu yakin, bahwa tidak ada
sandaran yang lebih kokoh dari sumber segala sumber itu.
Ketegangan telah mencengkam jantung orang-orang yang
memperhatikan kedua orang yang berdiri bagaikan patung itu.
Namun kemudian perlahan-lahan Singapati telah melangkah
mendekat.
Agung Sedayu masih tetap berdiri saja tanpa bergerak.
Seolah-olah Agung Sedayu tidak lagi mampu mengambil sikap
menghadapi lawannya.
Sambil melangkah, maka lawannya itupun kemudian
tertawa. Katanya disela-sela tertawanya, “ Ternyata
kemampuanmu tidak lebih dari kemampuan kewadagan Apa
yang dapat kau lakukan sekarang? Kau telah berada dalam
kuasaku. Sebentar lagi kau tentu akan membunuh dirimu
sendiri. Tetapi itu yang terakhir kau lakukan setelah kau
membunuh semua orang-orangmu.”
“ Gila.” Sekar Mirah tiba-tiba berteriak.
Tetapi Kiai Gringsing cepat memahaminya ketika
perempuan itu hampir saja menghambur berlari menyerang
Singapati.
Singapati itu tertawa semakin keras. Katanya, “ Kalian akan
mengalami satu pertempuran yang asing. Kalian sebentar lagi
akan bertempur melawan orang ini, karena orang ini akan
segera menyerang kalian atas namaku. Jangan terkejut
bahwa orang ini dengan segala ilmunya yang tinggi akan
menghancurkan padepokan ini. Tidak seorangpun yang akan
dapat melawannya.”
“ Kiai.” suara Sekar Mirah tersendat dikerongkongan.
Kiai Gringsingpun menjadi gelisah, sementara Glagah Putih
memang menjadi bingung. Apa yang dapat dilakukannya. Jika
ia melawan Agung Sedayu dengan ilmu puncaknya, mungkin
serangannya yang mengandung kekuatan api atau air, atau
kekuatan yang lain yang dapat dilakukannya, jika mampu
menembus ilmu kebalnya akan dapat merusakkan tubuh
Agung Sedayu, sementara hal itu belum merupakan satu
bantuan bahwa pribadi Agung Sedayu akan dapat dipulihkan.
Dalam pada itu, pewaris perguruan Worsukma itu masih
berkata, “ Karena itu, untuk selanjutnya, tidak seorangpun
yang akan mampu mengalahkan perguruan Worsukma.
Perguruan yang tidak ada duanya lagi dalam masa sekarang.”
orang itu berhenti sejenak. Ia masih melangkah mendekat
Agung Sedayu yang berdiri tegak sambil menyilangkan tangan
didadanya, “ Sebentar lagi, orang ini akan bergerak atas
namaku.”
Singapatipun kemudian berhenti tiga langkah dihadapan
Agung Sedayu. Dipandanginya mata Agung Sedayu sambil
berdesah, “ Lakukan apa yang aku inginkan. Kau harus
mempergunakan semua kekuatan ilmumu untuk
membinasakan isi padepokan ini. Kau dapat mempergunakan
segala kemampuan ilmumu yang tinggi untuk membunuh
semua orang yang menentangmu. Lakukan apa yang aku
perintahkan, karena kau adalah bagian dari kehendakku.”
Agung Sedayu masih berdiri tegak. Sementara orang
itupun telah tertawa pula keras-keras. Iapun kemudian
menggerakan kedua tangannya. Terjulur lurus kearah Agung
Sedayu sambil berkata, “ Nah, lakukan sekarang apa yang
aku katakan. Hancurkan padepokan ini dan bunuh semua
orang yang tidak termasuk golonganku, orang yang
memerintahmu. Lakukan perintahku demi nama perguruan
Worsukma yang agung.”
Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu menjadi tidak
sabar lagi. Bagi Glagah Putih dan Sekar Mirah, maka yang
terbaik untuk mengatasinya adalah menyerang orang yang
telah membius Agung sedayu dengan ilmunya itu. Dengan
demikian, maka kekuatan biusnya itu akan hilang.
Namun keduanyapun menyadari, bahwa orang itu memiliki
kemampuan yang sangat tinggi. Glagah Putih tidak tahu,
apakah ilmunya akan dapat menembus kekuatan ilmu kebal
orang yang telah mebius Agung Sedayu itu yang mirip dengan
Aji Tameng Waja.
Selagi mereka belum dapat menemukan langkah yang
paling baik harus dilakukan, maka mereka melihat Agung
Sedayu itu mulai bergerak. Bahkan Agung Sedayu itu sudah
bergeser selangkah surut, sementara Singapati tertawa sambil
berkata, “ Bagus. Lakukanlah.”
Sementara itu Singapati seakan-akan tidak menghiraukan
orang -orang lain yang memperhatikan apa yang terjadi,
karena ia terlalu yakin, seandainya ada diantara mereka
menyerangnya, maka serangannya tidak akan mampu
menembus ilmu kebalnya.
Dalam pada itu, Agung Sedayu yang surut selangkah itu
telah berdiri tegak. Tangannya masih bersilang didadanya.
Namun yang terjadi benar-benar telah mengejutkan semua
orang yang menyaksikan peristiwa itu terjadi. Agung Sedayu
sama sekali tidak melakukan perintah orang itu, tetapi dari
jarak yang terlalu dekat Agung Sedayu justru telah menyerang
orang itu dengan kekuatan sinar yang memancar dari
matanya.
Singapatipun terkejut bukan buatan. Tetapi semuanya
sudah terlambat. Serangan Agung Sedayu itu langsung
mengenai dada orang yang mengaku memiliki warisan ilmu
dari perguruan Worsukma itu. Terdengar orang itu. berteriak
nyaring. Ternyata ia telah terdorong selangkah surut.
Serangan Agung Sedayu itu telah mengoyak ilmu kebalnya
yang mirip dengan Aji Tameng Waja itu. Betapa perasaan
sakit telah menghentak didada dan bahkan seluruh isi
dadanya seakan-akan telah terbakar.
Dengan sekuat tenaga orang itu berusaha mengatasi rasa
sakitnya. Kemudian dengan sisa tenaganya ia meloncat jauh
kedepan menyerang Agung Sedayu. Ayunan tangannya yang
bagaikan besi baja itu telah dengan kuatnya menghantam
dada Agung Sedayu.
Agung Sedayu memang menangkis serangan itu. Tetapi
kekuatan orang itu memang luar biasa. Ketika satu tangannya
luput menggapai dada Agung Sedayu, maka tangannya yang
lain dengan cepat sekali telah menyerang pula.
Ternyata serangan berikutnya itu berhasil menyusup
pertahanan Agung Sedayu yang terlambat menangkisnya.
Serangan itu tepat mengenai dadanya, sehingga Agung
Sedayu itu telah terlempar beberapa langkah surut. Bahkan
Agung Sedayu itu telah terbanting jatuh dan berguling ditanah.
Ketika Agung Sedayu dengan susah payah berusaha untuk
bangkit, maka Singapati itu telah melangkah dengan langkahlangkah
pendek mendekatinya. Namun sesaat kemudian
langkah-langkah itupun telah terhenti.
Agung Sedayu yang dadanya bagaikan terhimpit besi baja
itu, telah mempergunakan sisa tenaganya, untuk menyerang
lawannya yang masih berdiri beberapa langkah dihadapannya.
Justru pada saat lawannya itu mulai bergerak lagi, maka
Agung Sedayu telah melepaskan serangannya kembali.
Serangan itu memang tidak sedahsyat serangannya yang
pertama. Tetapi kekuatan dan daya tahan lawannyapun telah
melemah. Demikian pula ilmu kebalnya, sehingga serangan
Agung Sedayu itu benar-benar telah meremas isi dada
lawannya.
Lawannya itu terdorong selangkah surut. Sambil terhuyunghuyung
ia pun mengumpat. Katanya, “ Kenapa kau tidak
tunduk kepada perintahku anak iblis.”
Nafas Agung Sedayu menjadi terengah-engah. Karena itu
ia tidak menjawab.
“ Kau justru berhasil mengelabui aku dengan pura-pura
tunduk kepadaku. Namun dengan licik kau telah menyerangku
dari jarak yang sangat pendek dengan ilmu iblismu itu.”
geram orang itu dengan suara yang gemetar.
“ Ilmumu mungkin dapat menumbangkan kesadaranku Ki
Sanak, tetapi tidak akan pernah mampu mengantarkan
sandaranku.” jawab Agung Sedayu. Suaranya juga bergetar
karena rasa sakit didadanya.
“ Tetapi akhirnya aku dapat membunuhmu sekarang.”
suara orang itu semakin sendat. Bahkan sejenak kemudian
iapun tidak dapat bertahan lagi. Ketika ia melangkah maju,
maka iapun justru terjatuh di tanah.
Agung Sedayu masih berdiri tegak. Namun rasa-rasanya
tubuhnyapun menjadi semakin lemah. Karena itu, maka
perlahan-lahan iapun telah menjatuhkan dirinya dan berdiri
diatas lututnya.
Sekar Mirah tidak dapat menahan diri lagi. Iapun kemudian
telah berlari mendapatkan suaminya yang lemah.
“ Kakang.” desis Sekar Mirah.
Agung Sedayu benar-benar telah menjadi lemah. Bahkan
iapun telah duduk ditanah.
Ketika Sekar Mirah akan memeluk suaminya, maka
ternyata Kiai Gringsing yang telah berdiri dibelakangnya telah
menggamitnya sambil berkata, “ Beri kesempatan suamimu
mengatur pernafasannya. Itu akan sangat berarti bagi
keadaannya yang memang agak parah.”
Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Namun iapun
melakukan apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing. Namun
iapun kemudian membantu Agung Sedayu untuk duduk
bersila menyilangkan tangannya didadanya.
Beberapa. saat Agung Sedayu mencoba mengatur jalan
pernafasannya yang tersendat, karena dadanya yang seraya
telah diremukkan oleh serangan lawannya yang mampu
menembus ilmu kebalnya. Perlahan-lahan jalan pernafasan
Agung Sedayupun menjadi lancar kembali, sementara itu
maka denyut darahnyapun menjadi wajar. Dengan
memusatkan nalar budinya, maka Agung Sedayupun telah
berusaha mengatasi kesulitan-kesulitan yang terjadi didalam
dirinya. Meskipun tidak sepenuhnya, tetapi rasa-rasanya
dadanya telah menjadi longgar.
“ Bawa Agung Sedayu masuk.” desis Kiai Gringsing, “
mungkin aku harus membantunya dengan obat-obatan.”
Agung Sedayu yang sudah merasa menjadi lebih baik
itupun telah dibantu oleh Sekar Mirah dan Glagah Putih untuk
berdiri dan kemudian perlahan-lahan perjalanan menuju ke
bangunan induk padepokan itu. Sementara Kiai Gringsing
memerintahkan para cantrik untuk mengatur segala
sesuatunya tentang orang-orang yang terluka, terbunuh dan
yang tertangkap.
Namun Kiai Gringsing masih sempat untuk mengamati
keadaan orang yang mengaku pewaris tunggal perguruan
Worsukma itu. Ternyata bahwa orang itu telah terbunuh dalam
pertempuran melawan Agung Sedayu.
Tetapi Kiai gringsing dengan demikian menyadari, bahwa
orang itu tentu orang yang berilmu sangat tinggi. Agung
Sedayu tentu tidak akan mempergunakan ilmu puncaknya, jika
ia memang tidak benar-benar telah tersudut. Bahkan disaat
cambuknya sudah tidak dapat menghentikan lawannya.
Sebagaimana ternyata bahwa kemampuan ilmu orang itu
ternyata pula telah dapat menembus ilmu kebal Agung
Sedayu.
“ Pisahkan orang ini dari yang lain.” berkata Kiai Gringsing.
Seorang cantrik yang berdiri disebelahnyapun mengangguk
hormat sambil menjawab, “ Baik Kiai.”
“ Kumpulkan segera kawan-kawanmu yang terluka.
Mungkin ada pula yang gugur dalam pertempuran ini. Bawa
mereka ke pendapa.” berkata Kiai Gringsing pula.
“ Ya Kiai.” jawab cantrik itu.
“ Aku akan melihat keadaan Agung Sedayu.” berkata Kiai
Gringsing pula.
Dikawani oleh seorang cantrik, Kiai Gringsingpun berjalan
dengan tongkatnya menuju ke bangunan induk. Sementara
itu, Agung Sedayu telah dibaringkan di biliknya pula ditunggui
oleh Sekar Mirah dan Glagah Putih. Meskipun pernafasannya
telah lancar dan urat-urat darahnya telah terbuka dan
darahnya mengalir teratur, namun nampak wajah Agung
Sedayu itu sangat pucat. Sehingga karena itu, maka Sekar
Mirahpun menjadi sangat cemas.
Ketika Kiai Gringsing berada didalam bilik itu pula, maka
barulah ia mengetahui, bahwa Glagah Putihpun telah terluka.
Bahkan sebutir biji besi masih berada didalam dagingnya.
“ Aku harus mengambilnya.” berkata Kiai Gringsing pula.
Glagah Putih termangu-mangu. Agaknya Agung Sedayu
memerlukan pertolongan lebih dahulu daripada dirinya,
meskipun lengannya terasa betapa sakitnya.
Ketika Kiai Gringsing kemudian meraba dada Agung
Sedayu, maka iapun bertanya, “ Bagaimana pernafasanmu
Agung Sedayu?”
Suara Agung Sedayu lambat dan bergetar, “ Sudah baik,
Guru.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ketika Kiai Gringsing
menyibakkan baju Agung Sedayu, nampak didadanya bekas
serangan lawannya yang membiru.
“ Luar biasa.” desis Kiai Gringsing, “ dengan lambaran ilmu
kebal, ia masih dapat memberikan bekas pada kulit Agung
Sedayu. Jika dengan ilmunya ia memukul orang kebanyakan,
maka orang itu tentu akan menjadi lumat seperti tertimpa batu
hitam sebesar kerbau yang dilontarkan oleh gunung berapi
yang meledak.”
Sekar Mirahpun menjadi sangat berdebar-debar. Dari
bekas di dada Agung Sedayu, mereka menyaksikannya dapat
menduga betapa tinggi ilmu orang itu. Namun dengan
demikian, orang-orang yang ada didalam bilik itupun telah
bersukur, bahwa Agung Sedayu masih mendapat
perlindungan Yang Maha Agung. Bahkan kemampuan ilmu
perguruan Worsukma untuk merampas pribadi seseorangpun
tidak berhasil menguasai Agung Sedayu justru karena Agung
Sedayu mempunyai sandaran yang tidak tergoyahkan,
sementara dengan ketetapan hati Agung Sedayu benar-benar
telah mengikatkan diri kepada-Nya.
Sesaat kemudian Agung Sedayu itupun telah mendapat
obat yang berujud cairan berwarna kecoklat-coklatan
bercampur warna hijau. Perlahan-lahan Sekar Mirah
membantu Agung Sedayu mengangkat kepalanya, kemudian
meneguk obat yang diberikan oleh Kiai Gringsing itu.
“ Mudah-mudahan daya tahan tubuhmu meningkat.”
berkata Kiai Gringsing. Lalu, “ Sementara itu, beristirahatlah.
Aku akan mengambil biji besi didalam daging Glagah Putih
sebentar.”
“ Ya Guru.” jawab Agung Sedayu perlahan.
Kiai Gringsingpun kemudian berkata kepada Sekar Mirah, “
Tunggulah suamimu. Ia akan berangsur baik, meskipun tidak
dengan serta merta.”
“ Ya Kiai.” jawab Sekar Mirah sambil mengangguk hormat.
Dalam pada itu, Kiai Gringsingpun telah membawa Glagah
Putih kedalam sebuah bilik yang khusus. Ada berbagai
macam alat yang dipergunakan oleh Kiai Gringsing untuk
mengobati orang-orang sakit, tetapi juga terdapat alat untuk
mengambil benda-benda yang tidak dikehendaki yang
terdapat didalam tubuh seseorang, sebagaimana biji besi yang
mengeram didalam daging Glagah Putih.
Dengan pengetahuannya yang luas, maka Kiai
Gringsingpun telah memanasi sebuah pisau kecil yang
runcing. Kemudian mengikat lengan Glagah Putih keras-keras.
“ Bersiaplah Glagah Putih.” berkata Kiai Gringsing, “ kau
mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mengatasi rasa
sakit.”
Glagah Putih tidak menjawab. Namun Kiai Gringsing telah
memberikan sebatang kayu gabus kepadanya. “ Gigitlah.”
Glagah Putih semula merasa ragu-ragu. Tetapi Kiai
Gringsing memperingatkan, bahwa jika ia tidak menggigit kayu
gabus itu, jika ia menggertakkan giginya, mungkin giginya
dapat mengalami kerusakan.
Dengan dibantu oleh beberapa orang cantrik, maka Kiai
Gringsingpun telah melakukan pekerjaannya. Bagi Kiai
Gringsing pekerjaan itu tidak terlalu sulit, karena biji itu jelas
nampak didalam daging dibagian luar tubuhnya.
Namun ternyata Kiai Gringsing memang sudah tua. Apalagi
sedang sakit. Ketika ia mulai mengacukan pisaunya, nampak
ujung pisau itu agak bergetar. Bukan karena keragu
raguannya karena pekerjaan seperti itu sudah sering
dilakukan, tetapi ketuaannyalah yang membuat tangannya itu
gemetar.
Glagah Putih telah mengerahkan segenap kemampuannya
meningkatkan daya tubuhnya untuk mengatasi rasa sakitnya.
Namun masih juga terasa betapa ujung pisau ditangan Kiai
Gringsing itu mengoyak kulitnya, sehingga giginyapun
kemudian bagaikan tertancap pada kayu gabus yang
digigitnya untuk menahan sakitnya.
Pekerjaan Kiai Gringsing itu dapat diselesaikan tidak terlalu
lama. Kemudian ditaburkannya obat pada bekas kulit yang
dikoyaknya untuk mengeluarkan biji besi itu.
“ Tidak beracun.” berkata Kiai Gringsing.
Untuk mencegah agar obat yang ditaburkan tidak
berhamburan, maka Glagah Putih itupun kemudian telah
dibalut dengan kain yang bersih dilambari dengan selapis tipis
selaput pada batang pisang yang memang diambil untuk
kepentingan itu, dan yang sudah dibersihkan dengan diuapi air
mendidih agar jika ada kuman-kuman penyakit, dapat
terbunuh karenanya.
“ Aku harus menggantinya sehari dua kali.” berkata Kiai
Gringsing, “ sementara itu kaupun tidak boleh terlalu banyak
bergerak, agar lukamu tidak berdarah.”
“ Ya Kiai.” jawab Glagah Putih yang masih berkeringat.
Rasa sakit yang sangat masih terasa pada luka dan
sekitarnya.
“ Meskipun tidak beracun tetapi biji-biji besi atau bentuk
yang lain yang terdapat didalam tubuh seseorang memang
harus segera diambil. Jika tidak, maka sejenis besi atau
beberapa macam logam yang lain akan sangat buruk
akibatnya.” berkata Kiai Gringsing pula.
“ Ya Kiai.” desis Glagah Putih, “ aku mengucapkan terima
kasih.”
Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “ Itu sudah menjadi
tugasku. Apalagi kau terluka akibat kau melindungi padepokan
kecil ini.”
“ Sekedar membantu para cantrik.” sahut Glagah Putih.
Dengan demikian, maka Glagah Putihpun kemudian telah
dibawa kembali kedalam biliknya. Beberapa orang cantrik
yang mengawasinya di dalam bilik itu ternyata masih sibuk
mengurus orang-orang yang terluka dan terbunuh di
peperangan. Juga orang-orang yang telah menyerah. Namun
masih ada juga seorang cantrik yang kemudian
menungguinya.
“ Aku lebih senang disini daripada sibuk dihalaman.”
berkata cantrik itu sambil tertawa.
“ Kau akan mendapat nilai kurang dari pemimpin
kelompokmu.” Glagah Putih mencoba tersenyum.
Cantrik itu tertawa. Katanya, “ Tentu tidak. Aku mendapat
perintah dari Kiai Gringsing.”
“ Kiai Gringsing tidak memberikan perintah begitu.” berkata
Glagah Putih kemudian. Lalu, “ Jika diusut, maka ternyata
bahwa kau berbohong.”
“ Kiai Gringsing tidak akan ingat, apakah ia memberi
perintah atau tidak. Asal aku berkeras mengatakan mendapat
perintah dari guru, maka akhirnya Kiai Gringsing tentu akan
mengiakan.” jawab cantrik itu masih sambil tertawa, “ Guru
menjadi semakin pelupa.”
Glagah Putihpun tertawa pula. Dimana-mana dalam
kumpulan sekelompok anak-anak muda, tentu ada juga yang
nakal. Ketika Glagah Putih kemudian berbaring
dipembaringannya sambil sekali-sekali berdesah menahan
sakit, cantrik itu telah menyelarak pintu dan ikut pula
berbaring. Bahkan sejenak kemudian, telah terdengar dengkur
perlahan-lahan yang agaknya memang letih itu. Tetapi Glagah
Putih sendiri justru masih saja gelisah. Perasaan sakit masih
saja terasa menggigit dilukanya. Agaknya perasaan sakit itu
timbul karena obat yang justru mulai bekerja.
Dihari yang kemudian menjadi semakin cerah. Kiai
Gringsing telah memberikan beberapa perintah. Beberapa
orang cantrik telah mendapat tugasnya masing-masing. Dua
orang akan menghadap Ki Untara untuk melaporkan apa yang
terjadi di padepokan itu, serta mohon beberapa orang prajurit
untuk mengambil orang-orang yang tertawan. Dua orang agar
menghubungi Ki Widura, dan atas persetujuan Agung Sedayu
dan Sekar Mirah, dua orang akan pergi ke Sangkal Putung
untuk memberitahukan bahwa Agung Sedayu dan Sekar
Mirah tidak dapat datang pada hari itu.
“ Kalian dapat melaporkan apa yang telah terjadi apa
adanya.” pesan Kiai Gringsing, “ jangan mengarang ceritera
sendiri, atau menyembunyikan kenyataan dengan sengaja.”
Demikianlah sejenak kemudian para cantrik itupun telah
berangkat ketujuan masing-masing. Tetapi karena jarak yang
mereka tempuh tidak sama, maka merekapun tidak
bersamaan sampai ketujuan.
Yang paling cepat sampai adalah dua orang cantrik yang
harus menghadap Ki Untara. Untunglah bahwa Ki Untara
masih ada dirumahnya, sehingga keduanya langsung sempat
menghadap. Laporan kedua orang cantrik itu memang
mengejutkan.
Dengan serta merta Untara bertanya, “ Kenapa kalian tidak
memberikan isyarat kepada kami?”
Kedua orang cantrik itu saling berpandangan. Kemudian
seorang diantaranya menjawab, “ Kami tidak tahu pasti,
apakah sebabnya Kiai Gringsing tidak memerintahkan untuk
memberikan isyarat. Namun semula menurut perhitungan
kami, kami dapat mengatasi sendiri atas orang-orang yang
datang itu.”
“ Tetapi kalian harus memberikan korban terlalu banyak.
Jika kalian memberikan isyarat, maka kami akan dapat datang
dengan kekuatan yang lebih besar, sehingga kalian tidak perlu
mengorbankan seorangpun.” berkata Untara.
Kedua cantrik itu tidak menjawab. Mereka memang tidak
mendapat pesan untuk menyampaikan alasan, kenapa
padepokan itu tidak memberikan isyarat.
Karena para cantrik itu tidak segera menjawab, maka
Untarapun kemudian berkata, “ Baiklah. Aku akan segera ke
padepokan itu.”
Bagian 2
Glagah Putihpun tertawa pula. Dimana-mana dalam
kumpulan sekelompok anak-anak muda, tentu ada juga yang
nakal.
Ketika Glagah Putih kemudian berbaring dipembaringannya
sambil sekali-sekali berdesah menahan sakit,
cantrik itu telah menyelarak pintu dan ikut pula berbaring.
Bahkan sejenak kemudian, telah terdengar dengkur perlahanlahan
yang agaknya memang letih itu.
Tetapi Glagah Putih sendiri justru masih saja gelisah.
Perasaan sakit masih saja terasa menggigit dilukanya.
Agaknya perasaan sakit itu timbul karena obat yang justru
mulai bekerja.
Dihari yang kemudian menjadi semakin cerah. Kiai Gringsing
telah memberikan beberapa perintah. Beberapa orang
cantrik telah mendapat tugasnya masing-masing. Dua orang
akan menghadap Ki Untara untuk melaporkan apa yang terjadi
di padepokan itu, serta mohon beberapa orang prajurit untuk
mengambil orang-orang yang tertawan. Dua orang agar
menghubungi Ki Widura, dan atas persetujuan Agung Sedayu
dan Sekar Mirah, dua orang akan pergi ke Sangkal Putung
untuk memberitahukan bahwa Agung Sedayu dan Sekar
Mirah tidak dapat datang pada hari itu.
“ Kalian dapat melaporkan apa yang telah terjadi apa
adanya. “ pesan Kiai Gringsing “ jangan mengarang ceritera
sendiri, atau menyembunyikan kenyataan dengan sengaja. “
Demikianlah sejenak kemudian para cantrik itupun telah
berangkat ketujuan masing-masing. Tetapi karena jarak yang
mereka tempuh tidak sama, maka merekapun tidak
bersamaan sampai ketujuan.
Yang paling cepat sampai adalah dua orang cantrik yang
harus menghadap Ki Untara. Untunglah bahwa Ki Untara
masih ada dirumahnya, sehingga keduanya langsung sempat
menghadap.
Laporan kedua orang cantrik itu memang mengejutkan.
Dengan serta merta Untara bertanya “ Kenapa kalian tidak
memberikan isyarat kepada kami? “
Kedua orang cantrik itu saling berpandangan. Kemudian
seorang diantaranya menjawab “ Kami tidak tahu pasti,
apakah sebabnya Kiai Gringsing tidak memerintahkan untuk
memberikan isyarat. Namun semula menurut perhitungan
kami, kami dapat mengatasi sendiri atas orang-orang yang
datang itu. “
“ Tetapi kalian harus memberikan korban terlalu banyak.
Jika kalian memberikan isyarat, maka kami akan dapat datang
dengan kekuatan yang lebih besar, sehingga kalian tidak perlu
mengorbankan seorangpun “ berkata Untara.
Kedua cantrik itu tidak menjawab. Mereka memang tidak
mendapat pesan untuk menyampaikan alasan, kenapa
padepokan itu tidak memberikan isyarat.
Karena para cantrik itu tidak segera menjawab, maka
Untarapun kemudian berkata “ Baiklah. Aku akan segera ke
padepokan itu. “
Dalam waktu singkat, maka Untarapun telah menyiapkan
sekelompok prajurit dari pasukan berkuda yang dapat
bergerak cepat. Selain padepokan yang berada dalam
lingkungan pengawasannya, Untara juga ingin melihat
keadaan adiknya, Agung Sedayu yang menurut kedua cantrik
itu justru telah terluka.
Karena itu, maka sejenak kemudian maka sekelompok
pasukan berkuda telah meninggalkan baraknya menuju ke
padepokan kecil yang tidak terlalu jauh letaknya.
Sementara itu, Ki Widura yang mendapat laporan tentang
padepokan Kiai Gringsing serta keadaan Glagah Putihpun
telah dengan tergesa-gesa pula pergi ke padepokan itu.
Apalagi ia telah pernah menyatakan kesediaannya untuk
berada dalam . padepokan itu pula. Sehingga karena itu,
selain anaknya telah terluka, maka iapun merasa
berkepentingan pula.
Yang sampai ketujuannya yang terakhir adalah dua orang
cantrik yang pergi ke Sangkal Putung. Kedua cantrik itu
berganti-ganti telah menceritakan apa yang telah terjadi di
padepokan, sehingga Agung Sedayu dan Sekar Mirah masih
belum
dapat datang ke Sangkal Putung pada hari itu.
“ Kakang Agung Sedayu menyampaikan pesan ini, agar
tidak menimbulkan kegelisahan di Sangkal Putung “ berkata
salah seorang dari kedua orang cantrik itu.
“ Jadi kakang Agung Sedayu telah terluka? “ berkata
Swandaru.
“ Ya. Bahkan agak parah. Glagah Putih juga terluka, tetapi
tidak begitu parah “ jawab cantrik ita.
Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun
menggeram “ Sayang. Aku tidak ada di padepokan itu. Jika
saja aku tahu, siapa yang telah melukai kakang Agung
Sedayu. “ -
“ Yang melukai kakang Agung Sedayu telah mati terbunuh “
jawab cantrik itu “ juga oleh kakang Agung Sedayu. “
“ Maksudku dari kelompok atau perguruan yang mana.
Adalah leakku, sehingga saudara seperguruan kakang Agung
Sedayu untuk menuntut balas. Apalagi orang-orang itu telah
berani memasuki padepokan guruku. Itu berarti bahwa
perguruan itu telah menyatakan perang terhadap kami. Bukan
salah kami jika kami datang dengan kekuatan untuk
menghancurkan mereka. Bukan hanya yang datang di
padepokan guru, ^ tetapi kami berhak memasuki padepokan
mereka dan menghancurkannya. “
Kedua cantrik itupun hanya dapat saling berpandangan.
Mereka tidak tahu, bagaimana harus menjawab. Namun
mereka tidak pernah mendengar rencana itu, baik dari
gurunya atau pernyataan sepatah kata saja dari Agung
Sedayu, keinginan untuk membalas dendam.
Sementara itu, maka Swandarupun kemudian berkata
kepada Pandan Wangi “ Aku akan pergi ke Jati Anom. Aku
ingin melihat keadaan kakang Agung Sedayu. “
“ Apakah aku diperkenankan ikut? “ bertanya Pandan
Wangi.
“ Sebaiknya kau tinggal dirumah. Jangan terlalu banyak
bepergian, apalagi berkuda “ jawab Swandaru.
Pandan Wangi mengangguk. Ia mengerti keberatan
suaminya, sehingga karena itu, maka katanya “ Baiklah
kakang. Tetapi berhati-hatilah. Jangan pergi seorang diri, “
“ Aku akan pergi bersama kedua orang cantrik ini “ jawab
Swandaru.
“ Jika kakang kembali kelak? “ bertanya Pandan Wangi.
Swandaru mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah. Aku
akan membawa dua pengawal bersamaku. “
“ Berhati-hatilah “ pesan Pandan Wangi “ agaknya yang
terjadi adalah pertentangan antara dua perguruan. Atau
bahkan lebih luas lagi. Karena perguruan di Jati Anom itu
adalah perguruan yang berdiri dipihak Mataram, kemudian
perguruan lainnya telah memusuhi Mataram. “
Swandaru tersenyum. Katanya “ Aku akan berhati-hati.
Demikianlah setelah minta ijin kepada Ki Demang, maka
Swandarupun telah berangkat bersama dua orang pengawal
terpilih dari Sangkal Putung.
Ternyata bahwa Swandaru memang sampai ke padepokan
gurunya yang terakhir. Justru pada saat Untara telah bersiap
untuk membawa para tawanan kembali ke baraknya.
“ Marilah, silahkan “ para cantrikpun telah mempersilahkan.
Swandaru sempat bertemu dan berbicara dengan Untara
beberapa saat. Sementara Widurapun telah ikut menemuinya
pula.
“ Agung Sedayu telah terluka didalam “ berkata Untara.
Swandaru mengangguk-angguk. Katanya “ Aku telah
memperingatkan, agar kakang Agung Sedayu bersedia
mempergunakan waktunya cukup untuk meningkatkan
ilmunya. Pada saat-saat seperti ini, barulah terasa bahwa
meningkatkan ilmu
akan sangat berarti bagi seseorang yang dengan sengaja
menempatkan dirinya pada jajaran olah kanuragan,
dimanapun ia berpihak. “
Untara mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia
berkata “ Padepokan ini juga tidak memberikan isyarat apaapa.
“
Untara dan Widura masih juga sempat bersama-sama
Swandaru menemui Kiai Gringsing dan kemudian melihat
keadaan Agung Sedayu bersama gurunya yang sedang sakit
itu.
Demikian Swandaru berdiri disisi pembaringannya, Agung
Sedayu tersenyum sambil berdesis “ Kau, adi Sandaru. “
Ya kakang “ jawab Swandaru “ aku telah mendengar
tentang peristiwa yang terjadi di padepokan ini dari dua orang
cantrik yang datang ke Sangkal Putung. “
“ Itulah yang terjadi disini “ desis Agung Sedayu.
Swandaru mengangguk-angguk. Kepada gurunya ia
bertanya “ Tetapi bukankah luka Kakang Agung Sedayu tidak
sangat berbahaya? “
Kiai Gringsing menggeleng. Jawabnya “ Luka Agung
Sedayu tidak membahayakan jiwanya asal ia mendapat
perawatan yang baik. “
Swandaru mengerutkan keningnya. Katanya “ Jadi luka
kakang Agung Sedayu benar-benar parah? “
Kiai Gringsing mengangguk kecil. Tetapi katanya “ Tetapi
aku yakin, bahwa ia akan dapat sembuh sebagaimana
keadaannya sebelumnya. Sebaiknya kita selalu berdoa
untuknya. “
Swandaru mengangguk-angguk. Ketika ia sempat
memandang wajah adiknya, maka nampak bahwa matanya
menjadi pengab. Agaknya Sekar Mirah telah menangis
betapapun ia mencoba menahannya. “
Beberapa saat kemudian, Kiai Gringsingpun telah mempersilahkan
tamu-tamunya meninggalkan bilik Agung Sedayu dan
berkata “ Biarlah ia beristirahat sebanyak-banyaknya. “
Merekapun kemudian telah duduk kembali di pendapa.
Sementara Untarapun telah minta diri untuk membawa para
tawanan ke baraknya di Jati Anom, termasuk mereka yang
terluka.
Kepada Kiai Gringsing Untarapun berkata “ Nanti sore , aku
akan kembali, Kiai. “
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dengan nada rendah
ia menyahut “ Terima kasih ngger. Jika angger sering
menengok, Agung Sedayu akan berbesar hati. “
Sepeninggal Untara, maka padepokan itu mengkhususkan
kesibukan mereka dengan persiapan penguburan orang-orang
yang terbunuh. Sebagian besar dari orang-orang yang
menyerang padepokan itu telah memilih mati atau tidak
mampu lagi melawan daripada menyerah. Namun dalam pada
itu, tiga orang cantrikpun telah gugur, sementara beberapa
orang yang lain telah terluka.
Di pendapa Widura duduk bersama Swandaru, sementara
Kiai Gringsing telah berada didalam biliknya kembali. Kiai
Gringsing telah mengatur dirinya sendiri, untuk selalu mencari
kesempatan beristirahat dalam kesibukan yang bagaimanapun
juga.
“ Paman “ berkata Swandaru kepada Widura “ nampaknya
kakang Agung Sedayu bertempur dalam keadaan Seimbang
dengan lawannya. Untunglah bahwa kakang Agung Sedayu
masih dapat membunuh lawannya meskipun keadaannya
sendiri menjadi parah. “
“ Ya “ Ki Widura mengangguk-angguk. Lalu “ Kita wajib
bersukur. “
“ Satu pelajaran bagi kakang Agung Sedayu. “ desis
Swandaru “ ia memang harus berusaha keras untuk
meningkatkan ilmunya. “
“ Menurut pendapatku, ditakar dari umurnya, kemampuan
Agung Sedayu terhitung mencuat tinggi. Ia memiliki macammacam
kemampuan untuk melindungi dirinya “ berkata
Ki Widura.
“ Itulah justru kesalahan kakang Agung Sedayu “ berkata
Swandaru “ ia terlalu ingin memiliki segala jenis ilmu. Namun
sebagaimana biasa, jika perhatian kita terpecah-pecah, maka
kita tidak mampu dapat mencapai kedalaman ilmu itu. Aku
mempunyai sikap yang lain. Aku telah memperdalam ilmu
yang aku terima dari guru. Tanpa menghiraukan yang lain.
Namun dengan demikian, aku dapat mencapai kedalamannya,
meskipun belum sempurna. Sekarang aku sedang berusaha
untuk mencapai tingkat tertinggi dari jenis ilmu yang aku
pelajari meskipun aku harus merambat setapak demi setapak.
“
Ki Widura mengangguk-angguk. Ia memang sudah
mendengar sikap Swandaru terhadap Agung Sedayu, yang
menyangka bahwa kakak seperguruannya itu kurang
bergairah untuk meningkatkan ilmunya, serta dianggapnya
terlalu banyak mempelajari berjenis-jenis ilmu yang justru
kurang penting bagi perkembangannya.
Karena itu, untuk selanjutnya Widura yang sudah semakin
tua itupun lebih banyak mendengarkan apa yang dikatakan
oleh Swandaru dari pada menyatakan pendapatnya. Sekalisekali
saja ia menjawab dan mencoba untuk mengurangi
penilaian yang kurang sewajarnya dari Swandaru terhadap
Agung Sedayu. Namun selebihnya ia hanya menganggukangguk
saja.
Dalam pada itu, maka kesibukan di padepokan itupun
kemudian memuncak ketika para cantrik membawa korban
korban yang telah terbunuh di peperangan, khususnya mereka
yang telah menyerang padepokan itu. Karena penguburan dari
para cantrik yang gugur akan dilakukan tersendiri.
Untara yang telah sampai di baraknya ternyata telah
mengirimkan pula sekelompok prajurit untuk membantu
kesibukan di padepokan kecil itu, agar segala sesuatunya
dapat berlangsung dengan cepat. Apalagi Untara mengerti,
bahwa orang-orang terpenting dari padepokan itu justru
terluka dan Kiai Gringsing sendiri sedang terganggu
kesehatannya.
Bantuan Untara itu sangat berarti bagi padepokan kecil itu.
Dengan demikian maka kerja merekapun menjadi lebih
cepat selesai, sementara sebagian dari para cantrik itu dapat
membenahi halaman dan kebun dari padepokan yang rusak
oleh mereka yang bertempur di padepokan itu.
Di pendapa Widurapun kemudian bertanya kepada
Swandaru “ Bukankah angger tidak tergesa-gesa kembali ke
Sangkal Putung? “
Swandaru merenung sejenak. Kemudian iapun berkata
dengan datar. “ Ya. Aku akan tinggal satu dua hari di
padepokan ini. Mungkin orang-orang yang merasa gagal
menghancurkan padepokan ini akan kembali dengan orangorang
yang lebih tua tataran ilmunya sekaligus untuk
membalas dendam. Karena itu, barangkali paman juga akan
berada di padepokan ini? “
Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Ya. Akupun
akan berada di padepokan ini sampai keadaan menjadi baik
dan meyakinkan. Ternyata luka Glagah Putih memerlukan
waktu untuk menyembuhkannya, meskipun agaknya luka
diluar itu akan lebih mudah dirawat daripada luka angger
Agung Sedayu.
Swandarupun mengangguk-angguk pula. Katanya “ Aku
percaya bahwa guru akan dapat mengatasinya meskipun guru
sendiri sedang sakit. “
“ Agaknya memang demikian “ sahut Ki Widura yang yakin
pula akan kemampuan Kiai Gringsing dalam ilmu obat-obatan.
Bahkan iapun kemudian bertanya kepada Swandaru “ Apakah
angger Swandaru tidak tertarik pada ilmu obat-obatan
sebagaimana dimiliki oleh Kiai Gringsing? “
Swandaru tertawa kecil. Katanya “ Aku tidak telaten paman.
Tetapi entahlah dengan kakang Agung Sedayu. Mungkin
kakang Agung Sedayu akan mampu mewarisi ilmu obatobatan
dari guru. “
Ki Widura mengangguk-angguk. Agaknya Swandaru
memang tidak memiliki sifat seorang ahli dalam hal obatobatan,
karena wataknya. Ia tidak akan telaten memilih
berjenis-jenis
dedaunan dan akar-akar pepohonan yang akan dapat
diramu menjadi obat obatan. Sedangkan reramuannyapun
berbeda-beda dari antara berbagai macam obat untuk
kepentingan yang berbeda-beda pula.
Beberapa saat kemudian maka upacara penguburan para
cantrik yang gugurpun akan segera dilakukan setelah para
cantrik dan sekelompok prajurit yang dikirim oleh Untara
selesai menguburkan orang-orang yang menyerang
padepokan itu, yang terbunuh dipertempuran.
Karena itulah, maka seisi padepokan kecil itu, serta para
prajurit yang ada di padepokan itupun telah memberikan
penghormatan yang terakhir. Para cantrik yang terbunuh itu
adalah korban dari langkah-langkah yang tidak bertanggung
jawab dari orang-orang yang masih belum dikenal dengan
pasti, siapakah mereka itu, selain pemimpinnya yang
mengaku pewaris ilmu perguruan Worsukma. Para penghuni
padepokan itu hanya dapat menduga-duga, apakah alasan
orang-orang yang tidak dikenal itu menyerang padepokan Kiai
Gringsing. Hal itu agaknya dilakukan dalam rangkaian kemelut
antara Mataram dan Madiun.
Kiai Gringsing yang sakit itu memerlukan turun pula ke
halaman. Memberikan sesorah singkat untuk mengantar tubuh
para cantrik yang gugur itu ke makam. Sekar Mirah dan
Glagah Putih ikut pula memberikan penghormatan yang
penghabisan. Hanya Agung Sedayu sajalah yang terpaksa
masih tetap berbaring di biliknya karena keadaannya yang
tidak memungkinkan untuk ikut turun ke halaman padepokan
itu, serta para cantrik yang terluka parah.
Ketika para keluarga cantrik yang gugur itu apalagi
perempuan menyaksikan tubuh-ubuh yang beku itu dibawa
keluar dari padepokan, maka bagaimanapun juga tabah hati
mereka, namun air matapun telah menitik dari sela-sela
pelupuk mereka.
Dengan lembut Kiai Gringsing berusaha untuk menghibur
hati mereka. Walaupun Kiai Gringsing mengerti sepenuhnya
bahwa perpisahan yang demikian itu tentu menimbulkan
kepedihan di hati.
“ Yang Maha Kuasa telah memanggil mereka “ berkata Kiai
Gringsing.
Keluarga para cantrik itu mencoba untuk mengerti.
“ Sebab yang dipergunakan itupun merupakan sebab
kematian yang terhormat, “ berkata Kiai Gringsing selanjutnya.
Para keluarga itupun masih saja mengangguk-angguk.
“ Nah, silahkan naik ke pendapa. “ Kiai Gringsingpun
kemudian mempersilahkan.
Sebagian dari mereka memang naik ke pendapa, tetapi ada
yang ingin langsung kembali ke padukuhan. Karena pada
umumnya mereka adalah orang-orang dari padukuhan-padukuhan
disekitar Jati Anom yang telah memberikan
kesempatan kepada anak-anaknya untuk tinggal di
padepokan, mempelajari beberapa hal tentang kehidupan.
Mengenal huruf, mengenal kerja keras dan sedikit mengenal
olah kanuragan.
Namun pada suatu saat mereka mendapat pemberitahuan
bahwa anak-anaknya itu telah gugur karena padepokan kecil
itu telah diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal.
Selain keluarga mereka yang gugur, maka keluarga mereka
yang terlukapun telah datang untuk menengok para cantrik itu.
Kepada mereka Kiai Gringsing berjanji akan berusaha sebaikbaiknya
agar mereka yang terluka itu dapat sembuh
secepatnya.
“ Kita akan selalu berdoa “ berkata Kiai Gringsing “ mudahmudahan
mereka akan segera dapat pulih kembali seper-si
sediakala. “
Padepokan kecil itu memang diliputi oleh suasana yang
muram, Namun para penghuninya ternyata telah
mendapatkan satu pengalaman yang sangat berharga.
Pengalaman untuk mempertahankan hak mereka. Namun
pengalaman itu harus dibeli dengan harga yang sangat mahal.
Beberapa orang cantrik telah gugur. Agung Sedayu terluka
cukup paran. Sedangkan Glagah Putihpun harus mengalami
pengobatan yang cukup berat, karena sebuah biji besi yang
bersarang didalam dagingnya.
Akhirnya upacara itupun telah selesai. Ketika para keluarga
dan para prajurit telah meninggalkan padepokan itu, maka
padepokan itupun telah menjadi lengang kembali. Para
cantriklah yang kemudian sibuk membantu Kiai Gringsing
merawat orang-orang yang terluka.
Dalam pada itu, Untara di barak khusus telah mulai
memeriksa orang-orang yang tertawan. Tetapi karena pada
umumnya mereka adalah pengikut-pengikut orang yang
menyebut dirinya Singapati itu, maka mereka memang tidak
dapat memberikan keterangan.
“ Apakah Singapati. benar-benar orang dari perguruan
Worsukma? “ bertanya Untara kepada salah seorang
tawanan.
“ Ya “ jawab tawanan itu “ sebagian dari kami adalah orangorang
dari padepokan Worsukma. “
“ Apa yang pernah dikatakan oleh Singapati tentang
penyerbuan itu? “ bertanya Untara pula.
“ Mataram juga pernah menyerang salah satu padepokan
dari sebuah perguruan sahabat kami “ jawab orang itu. Lalu “
Nagaraga telah dihancurkan. “
“ Siapakah pemimpin padepokan Worsukma sekarang? “
desak Untara.
“ Singapati yang disebut Elang Baja. “ jawab tawanan
itu.
“ Gurunya, yang disebut sebagai orang yang telah mewaris
kan ilmu dari perguruan Worsukma itu? “ desak Untara pula.
Tawanan itu termangu-mangu. Tidak ada niat baginya
untuk berbohong. Ia tahu, bahwa pemimpinnya yang bernama
Singapati itu telah terbunuh, sehingga memang tidak ada lagi
yang harus dirahasiakan. Jika ada satu dua orang kawannya
yang melarikan diri dan kembali ke padepokan, maka
padepokan itu tidak akan mampu bangkit lagi. Dua orang yang
berilmu tinggi telah terbunuh di padepokan kecil di Jati Anom
itu.
Beberapa pertanyaan lain memang dijawab dengan lancar.
Namun Untara tidak dapat menemukan jalur keterangan
yang dapat menghubungkan serangan orang-orang
Worsukma itu dengan langkah-langkah yang diambil oleh
Panembahan Madiun, meskipun hubungan itu dapat dilihatnya
dalam pembicaraan pembicaraan yang panjang. Tetapi
tawanan itu tidak dapat mengatakan lebih banyak dari yang
dikatakannya, bahwa Singapati memang pernah bertemu dan
berbicara dengan Panembahan Madiun. Hanya itu.
Untarapun tidak memaksa dengan cara yang keras untuk
mendapat keterangan lebih banyak lagi. Memang tidak ada
yang dapat mereka katakan lebih banyak dari yang telah
mereka katakan meskipun darah mereka diperas sampai
habis sekalipun. Hal ini hanya akan menghabiskan waktu saja
dan tidak akan berarti apa-apa.
Menjelang senja Utara diikuti oleh sekelompok prajurit telah
mengadakan pengamanan keliling di daerah Jati Anom. Selain
menilai keadaan, Untarapun ingin singgah barang sebentar
untuk menengok adiknya yang terluka cukup parah.
Menurut perhitungan Untara yang mengakui bahwa adiknya
memang berilmu tinggi, maka orang yang dibunuhnya itupun
tentu pemimpin dari sebuah perguruan dan telah memiliki ilmu
tinggi pula. Ternyata ia mampu melukai adiknya sehingga
demikian parahnya.
Ketika hari mulai gelap, maka Untara yang mengelilingi
daerah Jati Anom itu telah sampai di padepokan Kiai
Gringsing. Iapun kemudian singgah bersama-sama prajuritnya
yang menyertainya.
Ternyata bahwa keadaan Agung Sedayu sudah berangsur
baik. Bahkan Agung Sedayu telah mau makan meskipun baru
beberapa suap nasi hangat. Namun dengan demikian, ia tidak
-menjadi terlalu lemah.
“ Kau akan segera baik “ berkata Untara ketika ia duduk di
bibir pembaringan adiknya, sementara Sekar Mirah, Swandaru
dan Glagah Putih duduk di sebelah lincak kecil.
“ Kiai Gringsing berharap bahwa dalam waktu kurang
dari sepekan keadaannya sudah akan baik kembali kakang
“ berkata Sekar Mirah.
Untara mengangguk-angguk. Katanya “ Kiai Gringsing yang
sangat berpengalaman itu tentu dapat memperhitungkan
kemungkinan itu. Seandainya belum sepenuhnya,maka
keadaan nya tentu sudah menjadi jauh lebih baik. “
“ Ya kakang “ sahut Sekar Mirah. Lalu katanya “ Menurut
Kiai Gringsing, lawan kakang Agung Sedayu dari perguruan
Worsukma itu memiliki kekuatan yang luar biasa besarnya.
Sehingga karena itu, maka bagian dalam kakang Agung
Sedayulah yang menjadi parah. Namun kekeliruan utama dari
kekuatan itu telah dapat diatasi siang tadi menjelang sore hari.
Demikian padepokan ini menjadi tenang kembali, maka
kakang Agung Sedayu berada dalam goncangan-goncangan
luka-lukanya. Tubuhnya menjadi panas dan detak jantungnya
melemah.
Untara mengangguk-angguk. Sementara Sekar Mirah
meneruskan “ Untunglah bahwa obat yang diberikan oleh Kiai
Gringsing dapat membantu kakang Agung Sedayu
mengatasinya. “
“ Kita wajib mengucapkan sokur “ desis Untara.
“ Ya. Kakang. Kita wajib mengucap sukur “ desis Sekar
Mirah sambil menundukkan kepalanya.
Untarapun kemudian berpaling kepada» Glagah Putih, Ia
melihat wajah sepupunya itu masih juga pucat. Dengan nada
rendah ia bertanya “ Bagaimana keadaanmu? “
“ Sudah baik, kakang “ jawab Glagah Putih,
“ Sokurlah. Satu pengalaman buatmu. Kaupun harus
mampu menilai apa yang telah terjadi “ pesan Untara.
Glagah Putih mengangguk kecil. Sementara itu, Untarapun
kemudian bersama Swandaru telah keluar dari bilik itu dan
duduk di ruang dalam bersama Kiai Gringsing dan Ki Widura.
Beberapa lama ia masih berbincang tentang -keadaan Agung
Sedayu yang lukanya memang parah. Namun masa yang
paling sulit telah berhasil dilaluinya. Sebagaimana dikatakan
oleh Sekar
Mirah, maka Kiai Gringsing pun mengatakan demikian pula.
Beberapa saat kemudian maka Untarapun telah minta diri.
Kepada Kiai Gringsing ia mengulangi pesan yang pernah
diberikan sebelumnya. Jika terjadi sesuatu di padepokan itu
Kiai Gringsing dapat memerintahkan untuk membunyikan
kentong-an dengan nada khusus. Pasukannya yang
ditempatkan di tempat-tempat tertentu tidak jauh dari
padepokan itu akan dapat dengan cepat datang membantu.
“ Ya ngger “ jawab Kiai Gringsing “ kami mengucapkan
terima kasih. “
“ Kiai dapat menghindari korban lebih banyak lagi dari pada
penghuni di padepokan ini. Para cantrik yang baru mulai pada
tataran pertama dari olah kanuragan, tidak harus bertempur
melawan orang-orang yang sudah berpengalaman, apalagi
mereka yang memang memiliki dorongan untuk sekedar
membunuh “ berkata Untara.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk sambil menjawab “
Baiklah ngger. Kami akan melakukannya. “
Demikianlah maka Untarapun telah minta diri. Kepada
Swandaru ia sempat minta agar menyempatkan diri barang
sejenak untuk singgah.
“ Terima kasih “ berkata -Swandaru “ aku akan menyisihkan
waktu untuk singgah. Besok atau lusa. Aku akan berada disini
sampai keadaan pulih kembali dan kemungkinankemungkinan
balas dendam atas kematian para penyerbu itu
menjadi semakin kecil. Apalagi sejak paman Widura berada di
padepokan ini, agaknya kami di padepokan ini akan menjadi
semakin mantap. “
Untarapun mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun
telah minta sekali lagi dan bersama dengan prajurit-prajuritnya
meninggalkan padepokan itu, sementara malampun menjadi
bertambah pekat.
Padepokan kecil yang baru saja mendapat serangan
sehingga beberapa orang korban telah jatuh itupun telah
mengadakan
penjagaan yang sebaik-baiknya. Pengawasan yang
sungguh-sungguh dilakukan disemua sudut padepokan. Para
cantrik yang bertugas tidak lagi seorang-seorang, tetapi selalu
berpasangan.
Dalam pada itu, Swandaru dan Ki Widura telah menengok
Agung Sedayu yang telah dapat tidur lelap. Meskipun kadangkadang
kegelisahan nampak juga di wajahnya, tetapi sejenak
kemudian iapun telah menjadi tenang kembali.
Sementara itu Sekar Mirah menungguinya dengan penuh
perhatian. Sekali-sekali diusirnya nyamuk yang berterbangan
di sekitar wajah Agung Sedayu dengan tebah sapu lidi kecil.
“ Glagah Putih tidak disini? “ bertanya Widura.
“ Ia berada di bilik para cantrik “ jawab Sekar Mirah “
Glagah Putihpun masih harus banyak beristirahat pula. “
Widura mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian
berpesan “ Selagi Agung Sedayu tidur nyenyak, kaupun dapat
tidur pula. Jangan terlalu banyak berjaga-jaga. Kaupun tentu
letih juga karena kaupun telah mengalami pertempuran yang
keras dan memeras tenaga. “
“ Ya Paman “ jawab Sekar Mirah sambil menunduk. Namun
keadaan Agung Sedayu memang tidak sangat
menggelisahkan lagi.
Sepeninggal Ki Widura dan Swandaru maka Sekar Mirahpun
telah menyelarak pintu dan mencoba berbaring di lincak
yang terdapat didalam ruang itu pula. Ternyata bahwa Sekar
Mirah memang letih sekali. Karena itu, maka beberapa saat
kemudian iapun telah tertidur, meskipun setiap kali ia telah
terbangun untuk melihat keadaan Agung Sedayu. Tetapi
Agung Sedayu tidak banyak terbangun dimalam hari. Ia hanya
minta minum sekali lewat tengah malam. Kemudian iapun
telah tidur lagi dengan tenang.
Widura dan Swandaru tidak segera masuk kedalam bilik
mereka. Keduanya telah melihat-lihat kesiagaan para cantrik
yang bertugas.
“ Nampaknya para cantrik itu juga mempunyai ketabahan
yang tinggi “ berkata Swandaru.
“ Mereka nampak bersungguh-sungguh dalam tugas “ desis
Widura.
“ Agaknya memang lebih mudah untuk menuntun para
cantrik dari pada para pengawal dan anak-anak muda di
Kade-mangan. Seorang cantrik dengan tegas dan pasti telah
menempatkan diri di sebuah padepokan siang dan malam.
Jika mereka pergi kesawah atau pategalan, maka sawah dan
pategalan yang mereka garap adalah sawah dan pategalan
bagi padepokannya. Karena itu, maka mereka merupakan
satu lingkungan yang sangat akrab. “ berkata Swandaru.
“ Ya. Namun mereka juga tidak akan dapat meninggalkan
kodrat manusiawinya. Cantrik-cantrik muda itu pada satu saat
akan meninggalkan padepokan ini meskipun tentu ada yang
akan tetap tinggal. Mereka akan berumah tangga dan hidup
dalam keluarga-keluarga mereka masing-masing. Disini
mereka sekedar menuntut berbagai macam pengetahuan. “
berkata Ki Widura. Tetapi iapun melanjutkan “ Namun ada
juga padepokan yang memberikan tempat bagi keluarga para
cantrik. Tetapi ada padepokan yang membiarkan para
cantriknya yang sudah berkeluarga tinggal di rumah masingmasing.
Namun dalam keadaan tertentu para cantrik itu akan
berada di padepokan. “
“ Tetapi agaknya disini tidak ada seorang cantrikpun “
berkata Swandaru.
Ki Widura menggeleng. Katanya “ Biasanya hanya pada
sebuah padepokan yang dipimpin oleh sepasang suami isteri
terdapat dan mentrik sekaligus. Itupun dengan gawar yang
memisahkan lingkungan mereka masing-masing. Bahkan para
putut-pun kadang-kadang tinggal pula bersama keluarganya di
padepokan itu. “
Swandaru mengangguk-angguk. Meskipun ia juga bergurau
sebelumnya kepada seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi,
tetapi Swandaru tidak pernah tinggal di padepokan sebelumnya.
Namun sambil tersenyum iapun kemudian berkata “
Jika demikian seandainya kelak kakang Agung Sedayu dan
Sekar Mirah akan menggantikan pimpinan di padepokan ini,
maka padepokan ini tidak saja menerima anak-anak muda
untuk menyadap berbagai macam pengetahuan, termasuk
mengenal huruf, sedikit ilmu pengobatan dan olah kanuragan,
tetapi akan diterima pula beberapa anak perempuan yang
akan menjadi mentrik disini. -
Ki Widurapun tersenyum. Katanya “ Bukannya tidak
mungkin. Sekar Mirah akan dapat memimpin para mentrik
sementara Agung Sedayu akan mengurusi para cantrik. “
Swandaru tertawa. Katanya “ Bagus. Mungkin kakang
Agung Sedayu sudah memikirkan pula. “
Ki Widurapun tertawa pula. “
“ Paman “ berkata Swandaru kemudian “ agaknya di
padukuhan akan dapat dilakukan hal yang serupa. Kelak, jika
anak Pandan Wangi lahir, biarlah ia memilih beberapa orang
anak perempuan yang akan dapat membantu anak-anak
muda di Kademangan Sangkal Putung. Namun sebagaimana
paman ketahui bahwa hidup di padukuhan itu masalahnya
akan lebih rumif, karena orang-orang padukuhan menghadapi
semua segi kehidupan. Mencari makan, mengurusi sawah dan
ternak, kerukunan bertetangga dan saling membantu bagi
setiap kebutuhan, apalagi kebutuhan bersama. Jika seseorang
atau sebuah keluarga mempunyai niat untuk
menyelenggarakan keramaian karena anaknya akan menjadi
pengantin misalnya, maka hampir semua orang di padukuhan
ikut terlibat. Hal yang tidak terjadi di padepokan. Karena jika
seseorang akan kawin, justru ia akan meninggalkan
padepokan ini dan kesibukan itu terjadi dirumah-nya, bersama
tetangga-tetangganya. “
Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Itulah agaknya
sebab yang mendorong beberapa orang mengirimkan
anaknya ke sebuah padepokan. Anak itu akan terbebas dari
kesibukan-kesibukan lain dan dengan tekun dan bersungguhsungguh
menimba ilmu dan pengetahuan yang diperlukan,
sebagai bekal hidupnya kelak. Karena padepbkan yang
baik bukannya sekedar sarang ilmu kekerasan. Tetapi juga
kemampuan-kemampuan yang lain termasuk tata cara bertani
dengan baik dan bagaimana harus berternak dengan benar. “
“ Ya paman “ Swandaru mengangguk-angguk.
“ Juga bukan satu ikatan mati, bahwa orang-orang yang
telah memasuki padepokan itu tidak akan pernah dapat keluar
lagi. Bahkan sebuah padepokan dijadikan sebagai himpunan
kekuatan sekelompok orang dengan kesetiaan yang mati pula,
apapun yang diperintahkan oleh pemimpin padepokannya.
Tetapi juga bukan berarti bahwa di padepokan tidak ada
paugeran dan ketaatan pada paugeran itu. “ berkata Ki
Widura.
Swandaru mengangguk-angguk. Katanya “ Paman telah
mempelajari dengan saksama kehidupan sebuah padepokan.
Agaknya paman adalah orang yang tepat untuk memimpin
padepokan kecil ini. Namun tidak semua padepokan dipimpin
oleh orang yang mempunyai penalaran seperti paman tentang
sebuah padepokan. Kita mengenal padepokan sebagai satu
kumpulan orang yang terlibat oleh satu paugeran orang-orang
yang telah kehilangan pribadi masing-masing. Apapun yang
diperintahkan oleh pemimpin padepokan, adalah paugeran
dan kebenaran. Siapa yang menolak, apalagi menentang,
maka tidak ada pilihan lain kecuali masuk keliang kubur. “
Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Agaknya orangorang
yang demikian itu pulalah telah memasuki dan
menyerang padepokan ini. “
Demikianlah, maka ketika mereka telah berbicara panjang,
keduanyapun telah berada di regol padepokan. Untuk
beberapa saat keduanya duduk di gardu kecil di sebelah regol
yang tertutup rapat itu bersama para cantrik yang bertugas.
Namun kemudian keduanyapun telah meninggalkan gardu itu
pula sambil berpesan “ Berhati-hatilah. “
Ki Widura dan Swandaru baru tertidur menjelang dini hari.
Namun waktu yang singkat itu telah membuat tubuh mereka
menjadi segar kembali. Karena itulah maka ketika matahari
terbit, keduanya telah mandi dan berbenah diri.
Tidak ada sesuatu yang terjadi malam itu. Ketika Ki Widura
dan Swandaru menengok keadaan Agung Sedayu, maka
keadaan Agung Sedayupun sudah menjadi lebih baik.
Sementara itu Glagah Putihpun telah berada dibilik itu pula.
Lukanya sendiri juga sudah bertambah baik sehingga tidak
lagi terasa sangat sakit.
“ Kau akan segera sembuh kakang “ berkata Swandaru.
Lalu katanya “ Jika kelak kau kembali ke Tanah Perdikan, kau
dapat membawa kitab guru. Tidak hanya untuk tiga bulan.
Tetapi kau dapat mempergunakannya lebih dari itu agar kitab
itu dapat memberikan gairah kepadamu untuk meningkatkan
ilmumu. “
Agung Sedayu tersenyum. Katanya “ Terima kasih. Aku
akan mencoba melakukannya. “
Sekar Mirah hanya menarik nafas dalam-dalam. Menurut
penilaiannya, ilmu Agung Sedayu sudah terlalu tinggi
dibandingkan dengan ilmu kakangnya yang agak gemuk itu.
Tetapi ia memang tidak ingin membuat kakangnya kecewa,
sebagaimana Agung Sedayu sendiri juga tidak mengatakan
apa-apa, bahkan ia telah mengiakannya.
Tetapi memang ada juga pertimbangan dihati Sekar Mirah,
bahwa apakah bijaksana jika ia tidak mengatakan yang
sebenarnya dan membiarkan kakaknya mempunyai penilaian
yang salah?
Namun ternyata bahwa Sekar Mirah hanya menundukkan
kepalanya saja.
Dalam pada itu keadaan padepokan itupun seakan-akan
telah menjadi tenang kembali. Tidak lagi nampak wajah-wajah
para cantrik yang tegang dan langkah-langkah yang tergesagesa.
Tidak pula nampak persiapan yang berlebih-lebihan,
meskipun para cantrik itu tetap waspada. Di siang hari
penjagaan memang dapat dikurangi jumlahnya, namun tetap
dalam kesiagaan tertinggi. Yang bertugas di malam hari,
mendapat kesempatan untuk beristirahat.
Namun beberapa orang cantrik tidak boleh melupakan
tugas-tugas mereka di sawah dan pategalan. Sedangkan
beberapa orang yang lain bekerja di kebun dan belumbang.
Swandaru ternyata sempat memperhatikan belumbang
yang-, dipelihara para cantrik. Satu hal yang belum
dikembangkan di Kademangan Sangkal Putung. Meskipun
ada juga orang membuat belumbang, tetapi belum memakai
cara sebagaimana dipergunakan oleh para cantrik di
padepokan itu, sehingga belumbang itu benar-benar mampu
mencukupi kebutuhan ikan air bagi para cantrik di padepokan
itu.
Karena itu, maka Swandaru nampaknya memang tertarik
kepada belumbang yang berisi ikan, namun yang seakan-akan
telah dibuat bersusun. Sedangkan air didalam belumbang itu
nampaknya tetap bergerak.
Ternyata bahwa selama Swandaru berada di padepokan itu
tidak terjadi sesuatu yang penting. Untara telah datang pula
dihari berikutnya ke padepokan itu. Tetapi ia tidak
mendapatkan banyak keterangan dari orang-orang yang
tertawan, betapapun Untara berusaha.
“ Pengetahuan mereka tentang perguruan Worsukma
benar-benar terbatas “ berkata Untara ketika ia menemui Kiai
Gringsing.
“ Ya. Kita mengerti “ jawab Kiai Gringsing “ Namun satu hal
yang perlu kita perhatikan, bahwa Madiunpun telah mengambil
langkah-langkah yang lebih maju lagi dibidang keprajuritan.
Sementara sampai saat ini masih belum terdapat berita, kapan
dan dimana Panembahan Senapati dapat bertemu dengan
Panembahan Madiun untuk menyelesaikan persoalan diantara
mereka. “
“ Menurut pendengaranku, Panembahan Madiunlah yang
masih berkeberatan “ jawab Untara “ tetapi agaknya di
sekeliling Panembahan Madiun memang terdapat orang-orang
yang menginginkan kekacauan terjadi di Mataram dan
lingkungannya. Mereka akan dapat meneguk keuntungan dari
peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi kemudian. Bahkan baru
kemarin aku menerima perintah dari Panembahan Senapati
untuk
menyiapkan prajurit dalam kesiagaan tertinggi. “
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sementara itu
dipandanginya Untara dengan tajamnya. Suaranya menjadi
berat “ Jadi ada perintah baru dalam hubungannya dengan
Madiun? “
“ Ya, Kiai. “ jawab Ki Untara.
“ Jika demikian, maka kita semuanya memang harus
bersiap. Tetapi apakah angger telah melaporkan apa terjadi di
padepokan ini? “ bertanya Kiai Gringsing.
“ Belum “ jawab Untara “ mungkin aku memang agak
lamban. Tetapi aku ingin keterangan yang cukup, sehingga
laporanku tidak justru seperti sebuah teka-teki. “
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Jika
demikian maka angger memang harus mempersiapkan diri
sebaik-baiknya. Bahkan mungkin petugas sandi dari Mataram
telah mencium rencana gerakan yang lebih luas dari Madiun
yang kurang disadari atau bahkan diluar pengetahuan dan
kendali Panembahan Madiun sendiri. Atau satu dua orang
telah berhasil membujuk Panembahan untuk melakukan
gerakan itu. “
“ Banyak kemungkinan dapat terjadi “ berkata Untara “ dua
orang penghubung dari Mataram tidak memberikan perincian
perintah itu. “
Kiai Gringsingpun kemudian telah berpaling kepada
Swandaru yang ikut dalam pertemuan itu. Katanya “ Kau
dengar keterangan angger Untara itu? Nah, jika demikian
maka Sangkal Putungpun harus bersiap-siap. Kau telah
menyusun kekuatan para pengawal sebagaimana susunan
sepasukan prajurit. Karena itu, maka dalam keadaan tertentu,
para pengawal dari Kademangan Sangkal Putungpun akan
dapat membantu. Setidak-tidaknya untuk mempertahankan
dan mengamankan wilayah Kademangan itu sendiri, karena
Sangkal Putung adalah satu Kademangan yang besar. “
Swandaru mengangguk-angguk. Katanya “ Justru pada
saat aku harus bekerja sendiri. Pandan Wangi tidak akan
dapat
banyak membantu aku pada saat-saat terakhir ini. Namun
aku merasa berbahagia oleh keadaannya itu. “
“ Kau mempunyai beberapa orang pembantu pilihan “
berkata Kiai Gringsing.
“ Ya. Aku telah menempa sepuluh orang terbaik di padukuhan-
padukuhan yang termasuk Kademangan Sangkal Putung.
“ jawab Swandaru “ mudah-mudahan keadaan itu akan
cukup memadai. Dua orang yang menyertaiku kemari itu
adalah dua orang diantara mereka yang mempunyai tataran
terbaik di Sangkal Putung. “
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Lalu katanya “ Agung
Sedayupun harus segera sembuh dan kembali pula ke Tanah
Perdikan Menoreh.
“ Ya “ sahut Untara “ Jika ia sudah dapat berkuda pada
jarak jauh, ia memang sebaiknya kembali. Tetapi harus diingat
pula kemungkinan yang dapat terjadi di perjalanan “
“ Ya “ Kiai Gringsing mengangguk-angguk “ kemungkinan
yang tidak diinginkan memang dapat terjadi. “ Agaknya, jalan
ke Tanah Perdikan mengandung pula kemungkinan itu. “
Swandaru dan Ki Widura mengangguk-angguk pula.
Namun kemudian Swandarupun berkata “ Sebaiknya biarlah
kakang Agung Sedayu menunggu sampai keadaannya pulih
kembali. Meskipun ia akan menempuh perjalanan bersama
Glagah Putih dan Sekar Mirah, yang kedua-duanya memiliki
kemampuan olah kanuragan, namun agaknya suasana di
Mataram baru berkabut. “
Kiai Gringsing tidak menolak pendapat itu. Bahkan iapun
membenarkan, bahwa suasana di Mataram memang sedang
gawat. Karena itu, maka iapun kemudian berkata “ Aku akan
minta kepadanya untuk berbuat demikian. Perjalanan ke
Tanah Perdikan Menoreh memang tidak terlalu panjang, tetapi
di sepanjang jalan mereka harus benar-benar bersiaga dalam
kesiapan tertinggi. “
Dengan demikian maka agaknya Agung Sedayu masih
harus menunggu beberapa hari lagi. Karena itu maka
Agung Sedayu dan Sekar Mirah tidak akan dapat tinggal di
Sangkal Putung untuk waktu yang agak lama. Mereka justru
berada di padepokan kecil di Jati Anom karena keadaan
Agung Sedayu.
Swandaru yang bermalam satu malam lagi di padepokan
itu, menganggap bahwa keadaan sudah menjadi semakin
baik. Namun agaknya Swandarupun ingin melihat keadaan di
sekitar padepokan itu untuk meyakinkan, apakah keadaan
memang sudah menjadi tenang.
Karena itu, maka atas ijin Untara, maka Swandaru telah
mengikuti sekelompok prajurit yang sedang meronda di lengkungan
di sekitar Jati Anom, termasuk padepokan kecil itu. -
Ternyata ia tidak melihat kegelisahan yang timbul di
padukuhan di sekitar padepokan itu, sehingga Swandaru
memang berkesimpulan bahwa untuk sementara masih belum
ada tanda-tanda bahwa sekelompok orang akan mendekati
padepokan itu lagi.
Dengan demikian, maka setelah bermalam dua malam,
maka Swandaru minta diri untuk kembali ke Sangkal Putung.
Dalam keadaan yang gawat dan bila masih ada kesempatan,
Swandaru minta agar padepokan itu mengirimkan
penghubung ke Kademangan Sangkal Putung.
“ Jika ada tanda-tanda yang menggelisahkan, panggillah
aku. Aku akan datang dengan sekelompok pengawal yang
terbaik di Sangkal Putung. “ berkata Swandaru kemudian.
Demikianlah maka Swandarupun telah minta diri pula
kepada Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih.
Dengan nada rendah ia berkata kepada Agung Sedayu “
Bagaimanapun juga kami tetap mengharap kakang dapat
singgah. Aku akan mempersilahkan kakang membawa kitab
guru untuk kepentingan kakang, agar dalam keadaan yang
memaksa, kakang dapat setidak-tidaknya melindungi diri
sendiri. “
“ Aku akan singgah adi “ jawab Agung Sedayu “ Sekar
Mirahpun sebenarnya telah merasa sangat rindu untuk berada
di
Sangkal Putung tidak hanya sesaat.
“ Apakah Sekar Mirah akan pergi bersamaku sekarang?
“ bertanya Swandaru.
Tetapi Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Jawabnya
“ Aku menunggu sampai kakang Agung Sedayu sembuh.
Kami berdua dan Glagah Putih kelak akan singgah di Sangkal
Putung. “
“ Baiklah “ berkata Swandaru “ sebaiknya kau memang
menunggu suamimu “ desis Swandaru.
Demikianlah, maka Swandarupun kemudian minta diri. Kiai
Gringsing, Ki Widura, Sekar Mirah dan Glagah Putih
mengantarnya sampai keregol padepokan.
Sejenak kemudian, maka tiga ekor kudapun telah berpacu
meninggalkan padepokan itu menuju ke Sangkal Putung.
Sepeninggal Swandaru, maka dalam satu kesempatan, Kiai
Gringsing telah berbicara khusus dengan Ki Widura.
Sebagaimana sudah disanggupkan maka Widura akan
beberapa lama di padepokan itu.
“ Ki Widura “ berkata Kiai Gringsing “ bukan maksudku
untuk tidak mengakui kemampuan dan bobot ilmu yang sudah
Ki Widura miliki, Namun mengingat kedangkalan dasar yang
dimiliki oleh para cantrik, maka aku mohon Ki Widura bersedia
untuk menyesuaikan diri. Aku memang tidak dapat minta para
cantriklah yang harus menyesuaikan diri, karena mereka
memang tidak mempunyai kemampuan cukup untuk itu. “
“ Aku mengerti Kiai “ berkata Ki Widura “ tetapi aku kurang
sekali memiliki pengetahuan tentang ilmu yang ditelusuri oleh
para cantrik, karena sumber ilmuku memang berbeda.
Aku mengerti Ki Widura “ karena itu, selagi masih ada
tenaga padaku, aku ingin memberikan beberapa landasan
dasar dari ilmu perguruan ini. Aku yakin, bahwa Ki Widura
yang telah memiliki kemampuan tinggi, akan dapat menuntun
para
cantrik tanpa menggoyahkan sendi-sendi ilmu mereka. “
Ki Widura mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya
maksud Kiai Gringsing. Karena itu, maka iapun telah
mempersiapkan diri untuk melakukannya.
Namun ternyata Kiai Gringsing tidak mengajaknya pergi ke
sanggar. Dengan tongkatnya Kiai Gringsing berjalan menuju
ke biliknya. Ketika ia kemudian keluar dari biliknya, orang tua
itu telah membawa seberkas rontal.
Ketika rontal itu diberikan kepada Ki Widura, maka Ki
Widurapun kemudian bertanya “ Apakah rontal ini bagian dari
kitab Kiai Gringsing itu? “
Kiai Gringsing menggeleng. Jawabnya “ Bukan Ki Widura.
Rontal ini aku buat sendiri, sementara kitab itu adalah warisan
dari beberapa keturunan. Gambar didalam rontal itu sangat
sederhana, tetapi mudah-mudahan akan dapat memadai bagi
Ki Widura. “
Ki Widura yang memperhatikan rontal itu sekilas memang
melihat garis-garis yang diketahuinya, merupakan bagian dari
tata gerak ilmu kanuragan. “
Dengan nada rendah Kiai Gringsingpun kemudian berkata “
Ki Widura, aku mohon Ki Widura melihat-lihatnya lebih dahulu.
Besok kita akan berada di sanggar. Meskipun karena
penyakitku, aku masih lemah, tetapi aku akan dapat
memberikan beberapa keterangan tentang gambar yang aku
buat dengan sederhana itu. “
Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah Kiai.
Aku akan mempelajarinya. Mudah-mudahan otakku belum
terlalu tumpul untuk mengurai jenis ilmu selain ilmuku sendiri.
“ Ah “ Kiai Gringsing tersenyum “ apa sulitnya? Kecuali jika
Ki Widura harus memasuki kemampuan puncak ilmu ini. Tentu
Ki Widura memerlukan banyak waktu. Tetapi yang aku
harapkan, ilmu yang masih mendasar sekali. “
Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Malam nanti
aku akan mengurainya dan sudah barang tentu mengingat
unsur-unsurnya termasuk watak dan sifatnya. “
“ Bukankah pada dasarnya ilmu kanuragan yang satu
banyak mempunyai persamaan dengan yang lain? “ desis Kiai
Gringsing.
“ Ya. Itulah sebabnya maka aku menyanggupinya “ sahut Ki
Widura.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Nah,
silahkan Ki Widura. Besok kita dapat mulai berada di sanggar
meskipun barangkali hanya sebentar. “
“ Sebenarnyalah bahwa Kiai memang memerlukan waktu
sebanyak-banyaknya untuk beristirahat, “ sahut Widura
kemudian.
Demikianlah, maka Kiai Gringsingpun kemudian telah minta
diri untuk beristirahat, sementara Ki Widura akan mempelajari
gambar-gambar yang diberikan oleh Kiai Gringsing kepadanya
itu.
Untuk mengurai gambar-gambar yang memang sederhana
itu, ternyata Ki Widura telah pergi ke sanggar seorang diri.
Ia telah mengamati gambar demi gambar. Bahkan iapun
telah berada di tengah-tengah sanggar, mengurai dan
melakukannya. Satu-satu unsur-unsur gerak itu dipahami.
Kemudian di dalami sifat dan wataknya. Kemampuannya
menghadapi tata gerak ilmu yang lain serta kemungkinankemungkinan
pengembangannya.
Ki Widura memang bukan seorang yang masih muda Iapun
sudah menjadi semakin tua. Namun dengan demikian justru ia
memiliki pengalaman yang luas. Sebagai seorang Senapati ia
memiliki pengetahuan olah kaprajuritan. Dan sebagai pewaris
jalur ilmu Ki Sadewa, ia memiliki landasan yang kuat dalam
olah kanuragan.
Karena itu, Ki Widura yang mengendap itu tidak banyak
mengalami kesulitan. Dengan hati-hati ia memilahkan unsurunsur
gerak di gambar itu dengan unsur-unsur ilmunya sendiri.
Djtelitinya persamaan-persamaannya, tetapi juga
perbedaan-perbedaannya.
Tidak terasa, ternyata Ki Widura berada di sanggar sampai
sore hari, Glagah Putihlah yang mencarinya, karena ayahnya
seakan-akan telah menghilang. Meskipun semula ia tidak
mengira bahwa ayahnya berada didalam sanggar, namun
akhirnya setelah dimana-mana ayahnya tidak
diketemukannya, Glagah Putihpun telah menjenguk kedalam
sanggar pula. Ternyata ia justru menemukan ayahnya disana.
Tetapi ketika Glagah Putih masuk kedalam sanggar,
ayahnya sedang duduk merenungi beberapa lembar rontal
dita-ngannya.
“ Apa yang ayah perhatikan itu? “ bertanya Glagah Putih
ketika ayahnya berpaling kepadanya.
Widura menggeleng sambil tersenyum. Katanya “ Bukan
apa-apa. “
Glagah Putihpun kemudian mendekat ketika Ki Widura
telah membenahi dan menutup rontalnya. Namun ketajaman
panggraita Glagah Putih justru menangkap keringat yang
membasahi tubuh ayahnya.
“ Ayah sedang berlatih? “ bertanya Glagah Putih.
Ki Widura masih tersenyum. Katanya. Sekedar
melemaskan tubuh yang telah lama bagaikan membeku. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya
lagi. Bahkan iapun kemudian berkata “- Waktu makan
siang telah lampau. Tetapi kami masih menunggu ayah. “
“ Kami siapa maksudmu? “ bertanya Ki Widura.
“ Aku dan mbokayu Sekar Mirah “ jawab Glagah Putih.
“ Apakah mbokayumu tidak makan bersama Agung
Sedayu? “ bertanya Ki Widura pula.
“ Mbokayu memang menunggui kakang Agung Sedayu
makan. Tetapi mbokayu sendiri belum makan. “ desis Glagah
Putih.
Ki Widurapun kemudian keluar pula dari sanggar.
Keringatnya memang membasahi bajunya. Karena itu, maka
katanya “ Aku ke pakiwan dulu. Udara memang panas sekali
didalam sanggar, sehingga dengan bergerak sedikit saja,
keringatku bagaikan terperas dari tubuhku. “
Glagah Putihpun kemudian menemui Sekar Mirah dan
memberitahukan bahwa ayahnya diketemukannya di dalam
sanggar.
“ Agaknya ayah merasa sudah terlalu lama tidak
mempergunakan tubuhnya. Katanya, ayah berusaha
melemaskan tubuhnya yang sudah hampir membeku itu. “
berkata Glagah Putih.
Beberapa saat kemudian Ki Widurapun telah datang
setelah berganti pakaian. Merekapun kemudian makan
diruang dalam. Kiai Gringsing sendiri biasanya dilayani
didalam biliknya oleh beberapa orang cantrik dengan jenis
makanan yang khusus yang ramuannya ditentukan oleh Kiai
Gringsing sendiri. Kiai Gringsing hanya sedikit sekali makan
nasi. Yang terbanyak justru adalah sayur-sayuran dan buahbuahan.
Dalam pada itu, Glagah Putih sempat bertanya pula
tentang rontal yang dibawa oleh Ki Widura didalam sanggar
itu. Apakah yang termuat didalam rontal itu ada hubungannya
dengan latihan-latihan khusus yang dilakukan oleh Ki Widura.
Ki Widura tersenyum. Katanya “ Memang ada, Glagah
Putih. “
Glagah Putih mengerutkan dahinya. Sementara Sekar Mirahpun
nampaknya menaruh perhatian pula atas pertanyaan
Glagah Putih itu. Karena itu, agar mereka tidak justru
dibayangi oleh keinginan tahu mereka, maka Ki Widurapun
telah mengatakan apa yang sebenarnya tentang rontal itu
serta rencana Kiai Gringsing untuk memberikan kesempatan
kepadanya meningkatkan latihan-latihan bagi para cantrik.
Glagah Putih dan Sekar Mirah mengangguk-angguk.
Namun dalam pada itu Glagah Putihpun justru berkata “ Agaknya
ayah sendiri akan dapat memanfaatkan-kesempatan itu
Pula-
“ Aku sudah terlalu tua untuk meningkatkan ilmuku “
berkata Ki Widura “ biarlah para cantrik itu saja yang tumbuh
bagi masa depan. “
“ Tetapi satu hal yang barangkali perlu mendapat perhatian
ayah. Mereka yang ada di padepokan ini bukan prajurit. Ayah
sudah terbiasa memimpin sepasukan prajurit sehingga
mungkin ayah akan memperlakukan para cantrik seperti para
prajurit “ berkata Glagah Putih sambil tersenyum.
Sekar Mirahpun tersenyum. Namun Ki Widura menjawab -
Tetapi para cantrikpun terikat oleh satu paugeran yang berlaku
di padepokan ini, meskipun berbeda dengan paugeran bagi
seorang prajurit. Paugeran di padepokan inipun harus ditaati
sebagaimana para prajurit harus mentaati paugeran bagi
mereka. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya “ Ya.
Sedangkan akupun harus menurut perintah dan petunjuk
kakang Agung Sedayu dan Ki Jayaraga. “
“ Tetapi ternyata hal itu berlaku dimana-mana “ berkata Ki
Widura kemudian “ tatanan kehidupan itu ada di semua
lingkungan. “
Glagah Putih dan Sekar Mirahpun mengangguk-angguk
pula. Sementara itu tiba-tiba saja Ki Widurapun berkata “
Glagah Putih. Jika lukamu tidak terasa sakit lagi, ikutlah aku
ke Sanggar. Kita akan mengurai gambar-gambar yang dibuat
oleh Kiai Gringsing. “
“ Tetapi Glagah Putih belum dibenarkan terlalu banyak
bergerak paman “ sela Sekar Mirah.
“ Kami hanya akan mengenali tata gerak dan unsurunsurnya.
Bukan untuk menilai dan memperagakannya “
berkata Ki Widura kemudian.
Demikianlah setelah berbincang sejenak, maka Sekar Mirah
telah berada kembali didalam bilik Agung Sedayu,
sementara Glagah Putih telah membantu ayahnya
menterjemahkan gambar-gambar sederhana yang dibuat oleh
Kiai Gringsing yang akan menjadi pegangan Ki Widura
meningkatkan ilmu kanuragan para cantrik di padepokan kecil
itu.
Setelah beberapa lama mereka mengurai, maka Ki
Widurapun kemudian berkata “ Besok Kiai Gringsing akan
memberikan beberapa keterangan. Jika sebelumnya aku
sudah mencoba memahaminya, maka aku kira besok rencana
Kiai Gringsing akan berjalan lebih cepat. Agaknya Kiai
Gringsing masih terlalu lemah untuk terlalu banyak bergerak. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara sanggar itu
telah menjadi gelap. Seorang cantrik telah menyalahkan
lampu minyak didalam sanggar itu.
“ Apakah obor-obor itu juga dinyalakan jika sanggar ini
akan dipergunakan? “ bertanya cantrik itu.
“ Tidak “ jawab Ki Widura “ tidak perlu. Kami sudah selesai.
“
Sebenarnyalah Ki Widura dan Glagah Putih telah
mengakhiri pengenalan mereka atas gambar-gambar yang
dibuat oleh Kiai Gringsing itu. Karena itu, maka keduanyapun
kemudian telah keluar dari sanggar dan membenahi diri
setelah mereka pergi ke pakiwan.
Namun Widura agaknya masih belum berhenti. Setelah
makan malam, maka didalam biliknya Wirudapun telah
melihat-lihat lagi gambar sederhana yang diberikan oleh Kiai
Gringsing sehingga larut malam.
Seperti dijanjikan oleh Kiai Gringsing, maka di hari
berikutnya, bersama Ki Widura, keduanya telah berada
didalam sanggar. Kiai Gringsing yang masih lemah itu,
memang tidak memberikan beberapa contoh gerak. Tetapi
mempersilahkan Widura untuk melakukannya. Namun setiap
kali Kiai Gringsing memberikan beberapa keterangan tentang
maksud dari setiap unsur gerak yang dilakukan serta uruturutannya.
“ Ternyata semuanya berjalan sangat lancar “ berkata Kiai
Gringsing “ aku memang sudah yakin bahwa Ki Widura akan
dengan cepat menguasainya. Karena yang dilakukan oleh Ki
Widura adalah tinggal mengingat-ingat urutan geraknya,
sementara watak dan tujuan setiap gerak telah Ki Widura
ketahui. “
Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Aku sudah
mempelajarinya dan mengenalinya bersama Glagah Putih
kemarin Kiai. “
“ O “ Kiai Gringsing mengangguk-angguk.-” sokurlah.
Dengan demikian, pekerjaanku akan menjadi sangat ringan.”
Namun demikian Kiai Gringsing telah memberikan batasan
waktu kira-kira dua pekan bagi Ki Widura bersamanya untuk
benar-benar mengenal dan mampu menuangkan kembali
kepada para cantrik. Meskipun Kiai Gringsing juga berkata “
Aku mengerti, jika pada suatu saat unsur-unsur gerak dari ilmu
Ki Widura sendiri akan mempengaruhinya. Tetapi itu tidak
apa-apa. Apalagi jika hal itu sudah disadarinya sejak semula
sehingga yang terjadi adalah justru dengan sengaja
memperkaya unsur-unsur gerak yang telah dimiliki oleh para
cantrik itu. “
Meskipun keadaan Kiai Gringsing masih lemah, tetapi ia
memang dapat memberikan banyak keterangan dan petunjuk
kepada Ki Widura selama waktu yang diperlukan.
Dalam pada. itu, dari hari kehari keadaan Agung Sedayupun
menjadi semakin baik. Ketika pekan pertama lewat,
Agung Sedayu telah berjalan-jalan di halaman padepokan.
Sementara. itu luka Glagah Putihpun telah sembuh pula
meskipun masih membekas. Bahkan agaknya bekas itu akan
tidak mudah dihilangkan dari wajah kulitnya.
Dalam keadaan yang demikian, maka Agung Sedayu
sudah mulai memikirkan kemungkinan untuk pergi ke Sangkal
Putung. Ia tidak ingin terlalu mengecewakan Sekar Mirah yang
ingin berada di rumah tempat kelahirannya itu untuk beberapa
hari. Jika mereka terlalu lama berada di Jati Anom, maka
Sekar Mirah hanya akan mendapat ketempatan satu dua
malam saja di Kademangan Sangkal Putung, karena jika
mereka terlalu
lama pergi, yang menunggu di Tanah Perdikan Menoreh
akan menjadi sangat gelisah pula.
Namun dalam pada itu Glagah Putih telah berkata kepada
Agung Sedayu “ Apakah sebaiknya aku mendahului pulang ke
Tanah Perdikan, agar Ki Gede dan keluarga di Tanah
Perdikan tidak menjadi cemas? “
Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun iapun
menggeleng sambil berdesis “ Kau tunggu aku. Mudahmudahan
Ki Gede dan Ki Jayaraga menganggap bahwa
kerinduan Sekar Mirah kepada kampung halamannya masih
belum sembuh.”
Sekar Mirah hanya tersenyum saja. Sementara Glagah
Putih mengangguk-angguk. Ia sadar bahwa Agung Sedayu
mencemaskan perjalanannya, karena suasana yang
nampaknya memang menjadi kalut. Hubungan antara
Mataram dan Madiun tidak segera dapat dijembatani.
Di hari berikutnya Agung Sedayu sudah berjalan-jalan
dikebun padepokan melihat-lihat berbagai macam tanaman
sayur-sayuran dan kolam ikan. Menghiriup segarnya udara diantara
hijaunya pepohonan dan heningnya air belumbang.
Selain obat yang tepat, daya tahan yang sangat besar
didalam tubuh Agung Sedayu seakan-akan telah
mempercepat perkembangan kesehatannya. Selapis demi
selapis kekuatan tubuh Agung Sedayu merambat mendekati
pulih kembali.
Dalam pada itu, maka Ki Widurapun telah menyelesaikan
pengenalannya atas dasar ilmu dari perguruan kecil di Jati
Anom itu. Dengan demikian, maka ia tidak akan
membingungkan para cantrik dengan unsur-unsur gerak yang
tidak mereka kenal. Sementara itu atas persetujuan Kiai
Gringsing, Ki Widura dapat memperkaya pengenalan para
cantrik atas unsur-unsur gerak yang akan dapat saling
mendukung. Bukan yang dapat menghambat arti daripada
setiap unsur gerak itu.
Demikianlah maka ternyata bahwa Agung Sedayu telah
membutuhkan waktu lebih dari sepuluh hari untuk memulihkan
keadaannya seperti semula. Bahkan ketika ia merasa cukup
kuat untuk pergi ke Sangkal Putung, maka kekuatan dan
kemampuannya
masih belum utuh seperti sebelum terjadi
pertempuran itu.
Namun agaknya Agung Sedayu sudah merasa cukup lama
berada di padepokan kecil itu. Iapun telah mulai memikirkan
kegelisahan orang-orang Tanah Perdikan. Bahkan mungkin
dapat terjadi sesuatu pula di Tanah Perdikan itu. Namun di
Tanah Perdikan itu masih ada Ki Gede sendiri dan Ki
Jayaraga disamping pasukan khusus Mataram yang
ditempatkan di Tanah Perdikan Menoreh.
Dengan demikian, maka Agung Sedayupun telah menemui
gurunya untuk mohon diri meninggalkan padepokan kecil itu.
“ Apakah kau sudah merasa cukup baik? “ bertanya Kiai
Gringsing.
“ Ya Guru. Aku sudah merasa hampir pulih kembali.
Agaknya selama perjalanan, aku akan justru mendapatkan
kekuatanku sepenuhnya kembali. “ berkata Agung Sedayu.
“ Baiklah “ berkata Kiai Gringsing “ ternyata pamanmu Ki
Widura telah berada di padepokan ini pula. Karena jarak
antara padepokan ini dan Banyu Asri tidak terlalu jauh, maka
Ki Widura akan dapat mondar-mandir setiap saat yang
dikehendakinya.
Agung Sedayu mengangguk-angguk, sementara Ki Widura
tersenyum sambil berkata “ Aku akan berada di dua tempat. “
“ Ya paman “ Agung Sedayupun tersenyum “ satu
kepentingan tersendiri. “
Ki Widura justru tertawa karenanya.
Demikianlah Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih
telah mohon diri. Mereka sama sekali tidak merasa menyesal
bahwa mereka menjumpai kesulitan justru ketika me-reeka
menengok gurunya di padepokan kecilnya. Bahkan mereka
merasa bersukur, bahwa mereka mendapat kesempatan untuk
ikut menyelamatkan padepokan itu, maka padepokan itu akan
dapat menempuh cara yang lain untuk menyelamatkan
dirinya, karena Untara juga menaruh perhatian yang besar
bagi padepokan itu.
Kiai Gringsing, Ki Widura dan hampir seisi padepokan itu
telah melepas mereka di halaman. Bahkan Kiai Gringsing, Ki
Widura dan beberapa orang lainnya mengantar mereka
sampai keluar regol. Sehingga sejenak kemudian, maka kudakuda
dari ketiga orang yang meninggalkan padepokan itu
telah berlari meskipun tidak terlalu kencang, menuju Sangkal
Putung. Tetapi mereka masih akan singgah sejenak untuk
minta diri kepada Untara dan keluarganya.
Dalam kesempatan itu Untara telah memberikan beberapa
keterangan tentang perkembangan terakhir. Yang datang
justru perintah untuk bersiaga sepenuhnya dan semakin
berhati-hati menghadapi orang-orang yang menyusup Ibu
Kota Mataram dan sekitarnya.
***
Bersambung ke Jilid 231
JILID 231
DENGAN demikian maka Agung Sedayupun menyadari,
bahwa persoalan antara Mataram dan Madiun masih belum
mereda, dan justru menjadi semakin panas.
“ Agaknya beberapa orang mengambil sikap masingmasing.”
berkata Agung Sedayu.
“ Ya” jawab Untara, “ beberapa orang dari Mataram telah
mengambil sikap sendiri tanpa menunggu perintah
Panembahan Madiun. Sementara itu Panembahan Senapati
telah memerintahkan Pangeran Singasari untuk berada di
istana dan melepaskan kedudukannya diantara pasukannya.”
“ Kenapa dengan Pangeran Singasari? Bukankah ia telah
melakukan tugasnya dengan berhasil?” bertanya Agung
Sedayu.
“ Pangeran Singasari memang berhasil di Padepokan
Nagaraga. Tetapi ternyata Pangeran Singasari telah
mengambil langkah-langkah sendiri, sehingga Panembahan
Senapati terpaksa menempatkan Pangeran Singasari
didekatnya.” jawab Untara.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tentu bukan hanya
Pangeran Singasari. Tentu masih ada orang-orang Mataram
yang didorong oleh kepemimpinan pribadi telah melakukan
langkah-langkah yang justru bertentangan dengan usaha yang
ditempuh oleh Panembahan Senapati. Mungkin Pangeran
Singasari telah bertindak dengan landasan kepentingan
Mataram meskipun langkahnya tidak sesuai dengan
kebijaksanaan Panembahan Senapati, sementara orang lain
benar-benar tidak ada hubungannya dengan kepentingan
Mataram.
“ Karena itu Agung Sedayu.” berkata Untara selanjutnya, “
hati-hatilah di setiap langkahmu. Jika kau sembuh benar,
maka kaupun harus melakukan setiap perintah dengan baik.
Aku kira perintah Panembahan Senapati telah disampaikan
pula ke Tanah Perdikan Menoreh. Tanah Perdikan Menoreh
jangan mengambil kebijaksanaan sendiri menghadapi
Madiun.”
“ Aku mengerti kakang.” jawab Agung Sedayu. Namun
iapun bertanya, “ Bagaimana dengan Sangkal Putung?”
“ Sangkal Putung juga diperhitungkan oleh Mataram.
Kekuatan Kademangan Sangkal Putung diperkirakan sama
dengan kekuatan prajurit segelar-sepapan. Yang pantas
diperhitungkan bukan saja para pengawalnya, tetapi hampir
setiap laki-laki di Sangkal Putung, terutama anak-anak
mudanya mempunyai kemampuan seorang prajurit. Namun
seandainya perintah itu belum dianggap perlu disampaikan
kepada Sangkal Putung oleh Panembahan Senapati, maka
kau dapat mengatakannya meskipun bukan merupakan
perintah resmi. Namun sikap itu perlu diketahui oleh Sangkal
Putung. Bahkan pada saatnya panembahan Senapati tentu
akan memberikan pertanda kepadaku untuk menghimpun
kekuatan dari lingkungan ini atas limpahan kuasanya, tanpa
mencampuri pemerintahan di daerah masing-masing.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara itu
Untarapun berkata selanjutnya, “ Aku juga sedang
memberikan pesan kepada setiap Kademangan di sekitar Jati
Anom, termasuk Kademangan Jati Anom sendiri, agar mereka
mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang mungkin akan
menjadi gawat. Setidak-tidaknya disetiap Kademangan agar
mempersiapkan sepasukan pengawal terpilih yang dapat
bergerak setiap saat. Bukan saja di Kademangannya sendiri,
tetapi mampu bergerak keluar dari Kademangannya. Aku juga
sudah menganjurkan disetiap Kademangan untuk menghitung
jumlah kuda yang dapat dipergunakan untuk kepentingan
gerak cepat para pengawal itu.”
Agung Sedayu masih mengangguk-angguk. Ia menyadari
bahwa Mataram benar-benar telah mempersiapkan diri
sebaik-baiknya menghadapi keadaan yang nampaknya justru
semakin kalut. Sepeninggal Pangeran Benawa, maka rasarasanya
jarak antara Mataram dan Madiun menjadi sangat
jauh.
Demikianlah, maka setelah dihidangkan minuman dan
makanan, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah
Putih telah mohon diri untuk pergi ke Sangkal Putung dan
seterusnya kembali ke Tanah Perdikan.
“ Kau juga harus berhati-hati Glagah Putih.” desis Untara.
“ Ya, kakang.” jawab Glagah Putih sambil mengangguk
kecil.
“ Nah, semoga adi Sekar Mirah dapat memberikan
peringatan kepada Glagah Putih jika anak itu masih saja
nakal.” berkata Untara.
Sekar Mirah tersenyum. Jawabnya, “ Aku masih harus
menarik telinganya setiap kali Glagah Putih berendam di kali
mencari ikan di pliridan, kakang.”
Untarapun tertawa. Sementara isterinya berkata, “ Jika
nakal jangan diberi makan sehari. Ia akan menjadi jera.”
Sekar Mirahpun tertawa pula, sementara Agung Sedayu
menjawab, “ Jika ia tidak diberi makan dirumah ia akan pergi
kerumah Ki Gede untuk mencari makanan. “
Glagah Putih hanya tersenyum-senyum saja. Namun
sebenarnya ia berkeberatan jika ia masih saja diperlakukan
seperti anak-anak. Agung Sedayu dan Sekar Mirah memang
tidak memperlakukannya demikian. Tetapi Untara yang
jarang-jarang bertemu agaknya masih saja mengenang
Glagah Putih dimasa kanak-kanaknya. Sebagai kanak-kanak
Glagah Putih memang termasuk anak yang banyak berbuat
dan selalu ingin tahu.
Beberapa saat kemudian, maka Agung Sedayu, Sekar
Mirah dan Glagah Putih telah siap meninggalkan rumah
Untara. Beberapa orang prajurit sempat mengamati kuda
Glagah Putih yang besar dan tegar.
Glagah Putih yang mengetahui kudanya menjadi perhatian,
telah berdesis, “ Peninggalan Raden Rangga.”
Para prajurit itu mengangguk-angguk. Memang Raden
Rangga mempunyai kegemaran seperti ayahandanya,
bermain-main dengan kuda. Ternyata bahwa Glagah Putih
termasuk seorang anak muda yang beruntung mendapat
hadiah seekor kuda yang tegar.
Beberapa saat kemudian, maka Agung Sedayu, Sekar
Mirah dan Glagah Putih telah meninggalkan Jati Anom.
Mereka berkuda dicerahnya matahari yang mulai menggalkan
kulit.
Randu Alas yang dianggap menjadi sarang Gendruwo
Bermata Satu masih tetap berada ditempatnya. Sementara
jalanpun telah menjadi semakin baik dan lebih terpelihara.
Tidak lagi terdapat semak-semak liar dipinggir-pinggir jalan.
Bahkan tanggul paritpun menjadi teratur rapi. Sedangkan
airnya yang jernih mengalir tanpa henti disepanjang musim.
Kedatangan ketiga orang itu di Sangkal Putung disambut
dengan gembira. Bukan saja oleh keluarga Ki Demang. Tetapi
sebelum mereka memasuki Kademangan, beberapa orang
yang melihat mereka lewat sempat menyapa dengan ramah.
Seorang perempuan yang sudah separo baya dengan
ramah telah menyapa Sekar Mirah, “ Mirah. Kau sekarang
bertambah cantik.”
“ Ah Bibi.” sahut Sekar Mirah sambil tersenyum, “ aku telah
bertambah tua.”
Tanpa maksud apa-apa perempuan itu tiba-tiba saja
bertanya, “ Kapan kau menyusul isteri kakakmu, he?”
Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Sementara itu
perempuan itu meneruskan, “ Sebentar lagi kakakmu akan
memomang anak. Apakah kau juga?”
Wajah Sekar Mirah tiba-tiba saja bagaikan lampu yang
kehabisan minyak. Tetapi segera ia berusaha untuk
menghapus kesan itu. Bahkan ia sempat tersenyum sambil
berkata, “ Doakan saja Bibi.”
“ Ya. Aku akan berdoa untukmu.” sahut perempuan itu.
Sekar Mirahpun kemudian telah melanjutkan perjalanan. Ia
berusaha menghapuskan kesan itu dari dalam hatinya, karena
ia tidak mau mempengaruhi perasaan Agung Sedayu.
Sebagai isterinya Sekar Mirahpun mengerti, bahwa Agung
Sedayu akan dapat merasa bersalah jika hal itu selalu
dibicarakannya.
Demikianlah, merekapun kemudian telah berada di
Kademangan Sangkal Putung, Keluarga Kademangan dengan
akrab telah menyambut mereka.
“ Bagaimana keadaanmu?” bertanya Ki Demang kepada
Agung Sedayu, demikian Agung Sedayu naik kependapa.
“ Atas doa Ki Demang, keadaanku sudah menjadi baik.”
jawab Agung Sedayu.
“ Jadi kekuatanmu telah pulih kembali?” bertanya Ki
Demang pula.
“ Ya Ki Demang.” Agung Sedayu mengangguk kecil, “
agaknya memang demikian.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu Swandaru
sempat pula bertanya kepada Glagah Putih, “ Bagaimana
dengan lukamu?”
“ Sudah sembuh kakang.” jawab Glagah Putih, “ meskipun
bekasnya masih sedikit basah. Tetapi sudah tidak berarti apaapa
lagi.”
“ Bukankah kau masih mengobatinya terus?” bertanya
Swandaru.
“ Ya kakang. Aku masih mengolesnya dengan obat yang
diberikan oleh Kiai Gringsing. Sementara itu, aku masih juga
harus menelan reramuan obat pula.” jawab Glagah Putih.
“ Syukurlah jika kalian benar-benar telah menjadi baik.”
desis Swandaru.
Sementara itu Sekar Mirah tidak ikut naik kependapa
bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih. Tetapi
sebagaimana ia berada dirumahnya sendiri, maka Sekar
Mirahpun telah langsung masuk kedapur menemani Pandan
Wangi dan pembantu-pembantu rumah itu menyediakan
hidangan minuman dan makanan. Namun sambil bekerja
Pandan Wangi dan Sekar Mirah ternyata ramai berbincang
tentang bermacam-macam hal. Bahkan Pandan Wangipun
ingin tahu apa yang telah terjadi disatu malam, sehingga
Agung Sedayu dan Glagah Putih telah terluka.
“ Kau tentu sibuk juga malam itu, Mirah?” bertanya Pandan
Wangi.
“ Aku berada di barak induk bersama Kiai Gringsing.”
jawab Sekar Mirah, “ tetapi ternyata ada juga diantara mereka
yang sempat menyusup sampai ke barak induk itu, sehingga
akupun terpaksa mencegahnya masuk kedalam.”
“ Tongkatmulah tentu yang berbicara.” gumam Pandan
Wangi.
“ Aku telah dipaksa untuk melakukannya.” jawab Sekar
Mirah.
Pandan Wangi tersenyum. Sebagai seorang yang memiliki
ilmu yang tinggi, maka peristiwa yang terjadi dipadepokan itu
tidak dapat lepas begitu saja dari perhatiannya. Namun
demikian, mereka tidak lupa akan tugas mereka. Sebentar
kemudian maka hidanganpun telah siap. Sekar Mirah dan
Pandan Wangi sendirilah yang kemudian membawanya
kependapa. Bahkan keduanya tidak lagi segera kembali ke
dapur, karena keduanyapun ikut pula berbincang dipendapa.
“ Luka kakang Agung Sedayu parah.” berkata Swandaru
kepada isterinya, “ tetapi ternyata Guru benar-benar seorang
yang memiliki pengetahuan tentang obat-obatan hampir
sempurna. Dalam waktu dekat, kakang Agung Sedayu sudah
sembuh sama sekali, meskipun barangkali segala sesuatunya
masih belum sebagaimana semula.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Aku
memerlukan waktu sepuluh hari lebih.”
“ Tetapi tanpa perawatan Guru, mungkin kakang
memerlukan waktu satu bahkan mungkin dua bulan. Semula
aku memang mengira bahwa kakang akan berada di
padepokan itu untuk lebih dari satu bulan.” berkata Swandaru.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengakui
kebenaran pendapat adik seperguruannya itu. Tanpa
perawatan dan obat-obat yang baik, maka Agung Sedayu
tentu memerlukan waktu yang lebih lama lagi untuk
menyembuhkan luka-luka dibagian dalam tubuhnya meskipun
hal itu juga tergantung pada ketahanan tubuh Agung Sedayu.
Jika ketahanan tubuh Agung Sedayu tidak melampaui takaran,
maka penyembuhannyapun akan menjadi sangat sulit dan
lama.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terbersit didalam hati
Agung Sedayu satu pertanyaan, karena Kiai Gringsing tidak
mampu mengatasi kesulitan didalam dirinya sendiri. Tetapi
sebagaimana ia sering mendengar dari gurunya itu pula,
bahwa berapapun tinggi ilmu dan pengetahuan seseorang,
namun ia tidak akan dapat keluar dari batasan-batasan yang
telah ditetapkan bagi hidupnya.
Demikianlah, maka sebagaimana diinginkan oleh Sekar
Mirah, maka Agung Sedayu suami isteri dan Glagah Putih
akan tinggal untuk beberapa hari di Sangkal Putung. Namun
demikian, ternyata Sekar Mirahpun dapat menyesuaikan
dirinya dengan keadaan. Meskipun ia ingin tinggal dirumah
tempat ia bermain-main di masa kecilnya asal lama, namun
karena mereka sudah lama terpaksa berada di padepokan
Kiai Gringsing lebih dari sepuluh hari, maka Sekar Mirah tidak
akan memaksakan keinginannya itu. Sekar Mirahpun tahu,
bahwa orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh tentu sudah
gelisah menunggu mereka.
Karena itu, maka Sekar Mirahpun telah berkata kepada
Agung Sedayu pula satu kesempatan, “ Aku kira kau tidak
perlu terlalu lama disini kakang.”
“ Bukankah kau ingin berada di rumah ini untuk waktu yang
agak panjang?” bertanya Agung Sedayu.
“ Hanya untuk mengenang masa kanak-kanak. Tetapi
agaknya keadaan tidak mengijinkan kali ini. Mungkin pada
kesempatan lain.” berkata Sekar Mirah.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Baiklah.
Agaknya kita memang harus segera kembali ke Tanah
Perdikan.”
“ Ya. Suasana yang kurang menguntungkan. Kakang tentu
sangat diperlukan di Tanah Perdikan.” berkata Sekar Mirah
pula.
Tetapi kedua orang suami isteri itu juga tidak akan dengan
serta merta minta diri. Mereka telah memutuskan untuk
berada di Sangkal Putung selama tiga hari tiga malam.
Selama itu, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih
sempat melihat kesiagaan para pengawal dan anak-anak
muda Sangkal Putung. Swandaru memang telah membentuk
kelompok khusus yang memiliki kemampuan bergerak dan
berkemampuan lebih baik dari yang lain. Namun bukan berarti
bahwa yang lain tidak mendapat perhatiannya. Di Sangkal
Putung telah pula dipersiapkan beberapa ekor kuda yang
dapat dipergunakan setiap saat untuk bergerak.
“ Kau dapat mencoba mengetrapkannya di Tanah Perdikan
Menoreh. Kakang.” berkata Swandaru kepada Agung
Sedayu.
Agung Sedayu mengangguk-angguk sambil menjawab, “
Ya. Aku akan mencobanya.”
Glagahlah Putih yang mengerutkan keningnya.Menurut
penglihatannya, apa yang berlaku di Sangkal Putung itu telah
berlaku di Tanah Perdikan Menoreh. Di Tanah Perdikan
Menoreh telah pula terbentuk sekelompok khusus pengawal
yang dianggap paling baik di setiap padukuhan.
Ketika Glagah Putih itu diluar sadarnya berpaling kepada
Sekar Mirah, maka dilihatnya mbokayunya itu menarik nafas
panjang.
Dalam pada itu, sambil melihat-lihat perkembangan
Sangkal Putung, Swandaru berkata, “ Kami telah mengirimkan
beberapa orang ke Kademangan-kademangan tetangga untuk
memenuhi permintaan mereka. Sebagaimana dianjurkan oleh
kakang Untara, maka setiap Kademangan harus
mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi
perkembangan keadaan yang tidak menentu ini. Beberapa
Kademangan yang lebih dekat dengan Jati Anom telah minta
para prajurit untuk memberikan latihan-latihan keprajuritan.
Tetapi Kademangan-kademangan terdekat dengan Sangkal
Putung, telah minta kepada Sangkal Putung untuk
memberikan latihan-latihan bagi para pengawal dan anakanak
mudanya, atas persetujuan kakang Untara, karena
kakang Untara pun tidak akan dapat mengabaikan kenyataan,
bahwa para pengawal kami disini memiliki kemampuan
seorang prajurit.”
Agung Sedayu masih saja mengangguk-angguk. Sekalisekali
ia memuji keberhasilan Swandaru yang ternyata
bergerak lebih cepat dan lebih berarti daripada ayahnya yang
masih memangku jabatan Demang di Sangkal Putung.
Sebagaimana ternyata para Demang tetangganya dalam
pertemuan pertemuan yang sering diadakan telah
menyatakan, bahwa mereka merasa iri bahwa di Sangkal
Putung terdapat seorang anak muda seperti Swandaru.
“ Apa yang Ki Demang lakukan atas anak itu dimasa
kecilnya?” bertanya para Demang itu kepada Ki Demang
Sangkal Putung.
“ Tidak apa-apa.” jawab Ki Demang Sangkal Putung, “
mungkin satu kebetulan bahwa dimasa remajanya, pasukan
Pajang berada di Sangkal Putung untuk menghadapi sisa-sisa
pasukan Jipang dibawah pimpinan Alap-alap Jalatunda dan
Pande Besi, Sedang Gabus. Namun lebih dari itu, sisa-sisa
pasukan Jipang itu berada dibawah kekuasaan langsung
Macan Kepatihan yang memiliki kemampuan diatas
kemampuan orang kebanyakan. He, kalian ingat itu?”
“ Ya.” jawab para Demang itu, “ Agaknya Ki Demang
Sangkal Putung mampu mengambil keuntungan kehadiran
Senapati Untara di Sangkal Putung untuk menghadapi Tohpati
pada waktu itu.”
Demikianlah untuk waktu-waktu yang sudah ditentukan,
Agung Sedayu dan Sekar Mirah benar-benar telah melihat
seluruh isi Kademangan Sangkal Putung. Sebagai anak
Sangkal Putung, Sekar Mirah ingin melihat kembali dan
mengenang apa yang pernah terjadi lebih-lebih yang
menyangkut dirinya, di Sangkal Putung. Namun Sekar
Mirahpun ingin melihat pula apakah yang pernah dibanggakan
oleh kakaknya.
Namun pada hari yang terakhir, Agung Sedayu, Sekar
Mirah dan Glagah Putih berada di Sangkal Putung, menjelang
malam yang ketiga, mereka telah dikejutkan oleh kehadiran
sekelompok prajurit Mataram yang dipimpin oleh
perwiramuda. Seorang perwira yang bernama Jaka Rampan.
Seorang perwira muda yang memiliki nama yang dengan
cepat menanjak di kalangan prajurit Mataram. Namun karena
untuk waktu yang agak lama ia bertugas di Mataram,
sebagaimana para perwira yang berada dibawah pimpinan
Untara, maka Jaka Rampan belum mengenal secara pribadi
para pemimpin di Sangkal Putung.
Dengan hormat dan ramah Ki Demang telah menerima
sekelompok pasukan Mataram itu di rumahnya.
Dipersilahkannya beberapa orang perwira yang ada didalam
pasukan itu untuk naik ke pendapa, sementara para prajurit
yang bersamanya dipersilahkan duduk-duduk di sepanjang
serambi gandok.
Setelah mempertanyakan nama dan kesatuan para prajurit
Mataram itu, maka Ki Demangpun telah bertanya tentang
keperluan perwira yang masih muda itu.
“ Aku mengemban perintah Panembahan Senapati.”
berkata perwira muda itu.
“ Barangkali tugas yang dibebankan kepada Ki Sanak itu
menyangkut Kademangan Sangkal Putung?” bertanya Ki
Demang.
“ Ya.” jawab Jaka Rampan.
“ Apakah perintah itu?” bertanya Ki Demang pula.
“ Ki Demang. Atas nama Panembahan Senapati di
Mataram, aku mendapat perintah untuk membawa sepasukan
pengawal dari Sangkal Putung bersamaku untuk memperkuat
sekelompok prajuritku,” berkata perwira muda itu.
Ki Demang mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia
bertanya, “ Untuk apa Ki Sanak?”
“ Aku mengemban perintah untuk menusuk langsung ke
belakang garis pertahanan yang sudah disusun oleh Madiun.”
berkata perwira muda yang bernama Jaka Rampan itu.
Ki Demang termangu-mangu. Ia belum pernah mengenal
perwira muda itu. Karena itu, ia menjadi ragu-ragu.
“ Kenapa Ki Demang nampak bingung?” suara Jaka
Rampan menjadi lebih keras, “ perintah ini harus kita
laksanakan. Maksudku, kami dan Ki Demang.”
“ Ki Sanak. Bukan maksud kami meragukan kebijaksanaan
Panembahan Senapati.” berkata Ki Demang, “ tetapi karena
kami belum pernah mengenal Ki Sanak, apa kah Ki Sanak
bersedia menunjukkan pertanda apapun yang diberikan oleh
Panembahan Senapati?”
“ Apakah perintah itu?” bertanya Ki Demang pula. “ Ki
Demang. Atas nama Panembahan Senapati di Mataram, aku
mendapat perintah untuk membawa sepasukan pengawal dari
Sangkal Putung bersamaku untuk memperkuat sekelompok”
Wajah perwira muda itu menjadi merah. Namun iapun
berusaha untuk menahan diri. Bahkan iapun kemudian
tersenyum sambil berkata, “ Mungkin Ki Demang memang
belum mengenal aku, sebagaimana aku belum mengenal Ki
Demang. Aku memang cukup lama bertugas di sekitar Ganjur.
Memang bukan pasukan yang besar, tetapi pasukanku
mempunyai tugas untuk mengawal pintu gerbang Mataram di
bagian Selatan. Bukan tidak mustahil, bahwa ada kekekuatan
yang sengaja ingin menusuk Mataram justru dari Selatan, satu
arah yang dianggap tidak perlu diperhitungkan. Tetapi ternyata
Panembahan Senapati cukup hati-hati sehingga
menempatkan pasukan di Ganjur.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia
bertanya, “ Apa sebenarnya perintah Panembahan Senapati
itu? Mengambil sepasukan pengawal untuk bertempur
bersama Ki Sanak dibelakang garis batas Madiun?”
“ Ya.” jawab Jaka Rampan. Namun katanya kemudian, “
Tetapi garis batas itu sebenarnya tidak ada. Mataram
berkuasa atas Madiun, sehingga yang ada adalah garis batas
kekuasaan Madiun yang dilimpahkan oleh Panembahan
Senapati yang dapat dihapuskan setiap saat.”
Ki Demang menjadi termangu-mangu sejenak. Dalam pada
itu, Swandaru, Agung Sedayu dan Glagah Putih yang ikut
menerima kedatangan pasukan prajurit dari Mataram itu,
mendengarkan pembicaraan Ki Demang itu dengan sungguhsungguh.
Bahkan pada saat Ki Demang masih ragu-ragu,
maka Swandarupun berkata dengan mantab, “ Jika hal itu
dikehendaki oleh Panembahan Senapati, kami sudah siap.
Kami akan dapat memanggil pengawal Kademangan yang
terbaik untuk melakukan tugas yang berat tetapi memberikan
kebanggaan itu.”
“ Terima kasih.” jawab Jaka Rampan. Namun iapun
ternyata, “ Siapakah kau?”
“ Anakku.” Ki Demanglah yang menjawab, “ ialah yang
sekarang ini lebih banyak berbuat bagi Kademangan ini
daripada aku. Terutama dalam hubungannya dengan
kekuatan di Sangkal Putung.”
“ Bagus.” jawab Jaka Rampan, “ kesediaanmu tentu
sangat dihargai oleh Panembahan Senapati. Jika demikian,
maka besok kita akan segera mempersiapkan diri. Kita tidak
boleh kehilangan waktu. Pada waktu satu bulan sejak perintah
jatuh dari Panembahan Senapati, aku harus sudah
menghadap untuk memberikan laporan.”
“ Kapanpun dikehendaki, kami sudah siap.” berkata
Swandaru pula.
Namun dalam pada itu, Agung Sedayu telah menyela, “
Tetapi Ki Sanak. Kau belum menunjukkan pertanda yang
ditanyakan oleh Ki Demang.”
Perwira yang bernama Jaka Rampan itu memandang
wajah Agung Sedayu dengan tajamnya. Sorot matanya
bagaikan memancarkan penyesalan yang sangat atas
pertanyaan Ki Demang yang telah disinggung lagi oleh Agung
Sedayu itu.
Dengan nada rendah ia bertanya, “ Siapa lagi orang ini Ki
Demang?”
“ Anak menantuku.” jawab Ki Demang.
Jaka Rampan mengangguk-angguk. Katanya seakan-akan
ditujukan kepada diri sendiri, “ Yang seorang anak Ki Demang
dan yang seorang menantunya. Jadi merekalah yang telah
membentuk Kademangan Sangkal Putung ini menjadi
Kademangan yang besar dan kuat. Tetapi sayang, bahwa
sikap mereka agak berbeda.”
“ Ki Sanak.” berkata Ki Demang kemudian, “ bukankah
pertanyaanku itu wajar?”
“ Jadi Ki Demang tidak yakin melihat pakaian kami dan
sikap kami?” bertanya orang itu.
“ Maaf Ki Sanak.” jawab Ki Demang, “ bukan tidak yakin
apalagi tidak percaya. Tetapi bukankah kita harus menjunjung
martabat Panembahan Senapati sebagai pemimpin tertinggi
Mataram?”
“ Aku tidak mau mendengar pertanyaan itu. Aku hanya tahu
mengemban perintah Panembahan Senapati.” jawab Jaka
Rampan.
“ Apakah kita tidak dapat mempercayainya begitu saja,
ayah?” bertanya Swandaru yang ternyata juga mulai berpikir.
“ Bukan begitu. Segala sesuatunya agar kita dapat
melakukan tugas kita sebaik-baiknya, sebagaimana aku
katakan tadi, justru untuk menjunjung kuasa Panembahan
Senapati itu sendiri.” jawab Ki Demang.
“ Aku tidak mau dipersulit dengan hal-hal yang tidak berarti
seperti itu. Aku minta disiapkan tigapuluh orang terbaik yang
senilai dengan prajurit. Aku telah membawa tigapuluh orang
pula bersamaku. Kita akan menempuh perjalanan jauh. Kita
tidak akan menuju ke Madiun lewat jalan raya yang
menghubungkan Mataram, Pajang dan Madiun. Tetapi kita
akan menempuh jalan simpang yang kecil dan barangkali
jarang dilalui orang. Kita akan menembus kedalam wilayah
Madiun dan mengejutkan mereka, agar mereka tidak menjadi
terlalu sombong. Sikap mereka sudah keterlaluan sehingga
Panembahan Senapati menjadi marah.” berkata Jaka
Rampan.
“ Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu kemudian, “
Panembahan Senapati adalah orang yang sangat berhati-hati.
Apalagi Panembahan Senapati telah berniat untuk mencari
penyelesaian yang lebih baik daripada perang.”
“ Omong kosong.” wajah Jaka Rampan mulai berkerut, “
Kau tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan dan dirasakan
oleh Panembahan Senapati menghadapi Madiun. Nah, jangan
bertanya lagi. Aku minta disiapkan sejumlah pengawal.”
Tetapi Ki Demanglah yang menjawab, “ Ki Sanak. Kami
minta maaf, bahwa kami masih harus bertanya lagi tentang
pertanda itu. Baru kemudian kami akan dapat menentukan
sikap. Sebab terus terang, kami ragu-ragu bahwa
Panembahan Senapati memerintahkan sepasukan prajurit dari
Mataram untuk menyusup kebelakang garis batas Madiun dan
Mataram.”
“ Kenapa kau ragu-ragu? Pangeran Singasari juga
mendapat tugas untuk menghancurkan padepokan Nagaraga.
Bukankah kita semuanya tahu, bahwa padepokan Nagaraga
adalah sebuah padepokan yang mengakui kuasa Madiun.
Bukan Mataram.”
Yang menjawab adalah Agung Sedayu, “ Ki Sanak. Jika
Panembahan Senapati memerintahkan untuk menghancurkan
Nagaraga, sebab sudah terbukti, bahwa Nagaraga telah
berani menyerang langsung pribadi Panembahan Senapati.
Serangan secara pribadi itu telah memberikan alasan yang
kuat bagi Panembahan Senapati untuk menghukum
Padepokan Nagaraga.”
“ Darimana kau tahu hal itu?” bertanya Jaka Rampan.
“ Glagah Putih ikut dalam tugas penumpasan padepokan
Nagaraga.” Swandarulah yang menyahut.
“ Siapa Glagah Putih itu?” bertanya Jaka Rampan.
“ Ia adalah kawan dekat Raden Rangga semasa hidupnya.”
jawab Swandaru.
“ Yang memimpin pasukan ke Nagaraga adalah Pangeran
Singasari.” geram Jaka Rampan.
“ Glagah Putih memang berangkat lebih dahulu bersama
Raden Rangga pada waktu itu.” sahut Agung Sedayu.
“ Siapakah yang mengatakan hal itu kepadamu?” bertanya
Jaka Rampan.
“ Glagah Putih sendiri.” jawab Agung Sedayu, “ ia ada
disini sekarang.”
Jaka Rampan langsung dapat menebak, yang manakah
yang bernama Glagah Putih. Ketika ia kemudian
memandanginya, maka iapun berdesis didalam hatinya, “
Anak yang masih sangat muda ini.”
Namun Jaka Rampanpun tahu pula, bahwa Raden Rangga
juga masih sangat muda. Bahkan barangkali lebih muda dari
Glagah Putih itu. Untuk beberapa saat Jaka Rampan
termangu-mangu. Agaknya di Sangkal Putung terdapat juga
orang-orang yang sempat berpikir. Mereka tidak sekedar
dengan kepala tunduk dan mata tertutup menjalankan
perintah.
“ Nah Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu kemudian, “
sebaiknya Ki Sanak tidak merasa bersalah, atau kurang
berwibawa jika Ki Sanak menunjukkan pertanda perintah
Panembahan Senapati itu. Karena kitapun tahu betapa
besarnya kuasa Panembahan Senapati.”
Jaka Rampan menjadi semakin gelisah. Tetapi ia merasa
paling tidak senang terhadap Agung Sedayu yang telah berani
bersikap tegas itu. Namun Jaka Rampanpun merasa bahwa ia
harus berhati-hati menghadapi para pemimpin di Kademangan
Sangkal Putung itu.
Meskipun demikian, ia masih juga berusaha untuk
menekan Ki Demang. Katanya, “ Ki Demang. Kaulah yang
bertanggung jawab di sini. Keputusan itu harus kau
pertanggung jawabkan kepada Panembahan Senapati. Jika
aku gagal membawa orang-orangmu, maka kau akan dapat,
dianggap dengan sengaja menghambat tugas keprajuritan
Mataram. Apalagi dalam keadaan gawat seperti sekarang ini.”
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
katanya, “ Ki Sanak. Sudah aku katakan, aku akan
menjalankan segala perintahnya jika Ki Sanak sudi
menunjukkan pertanda kuasa dari Panembahan Senapati.”
“ Cukup.” bentak Jaka Rampan, “ aku adalah utusan yang
membawa kuasa sepenuhnya dari Panembahan Senapati.
Jika kau tidak mendengar perintahku, berarti kau tidak
mendengarkan perintah Panembahan Senapati. Dan kau tahu,
apa artinya itu.”
“ Jangan salah paham Ki Sanak.” sahut Ki Demang.
Tetapi sebelum ia meneruskan kata-katanya, Jaka Rampan
telah memotongnya, “ Aku tidak mau mendengar alasan
apapun lagi. Jawab pertanyaanku. Kau mau menjalankan
perintah Panembahan Senapati atau tidak.”
Ki Demang tidak segera menjawab. Ketika ia memandang
Agung Sedayu, maka Agung Sedayupun berkata, “ Tentu Ki
Sanak. Ki Demang tentu akan menjalankan segala perintah
Panembahan Senapati, karena Panembahan Senapati itu
memang junjungan kita semuanya.”
“ Jika demikian, sediakan tigapuluh orang pengawal pilihan,
yang akan pergi bersamaku besok pagi-pagi.” berkata Jaka
Rampan.
“ Tetapi itu bukan perintah Panembahan Senapati. Atau
katakan, belum meyakinkan bahwa perintah itu adalah
perintah Panembahan Senapati. Sebagaimana yang akan kau
lakukan itu sendiri.” jawab Agung Sedayu. Lalu “ Ternyata
bahwa orang-orang dari Madiun juga banyak yang telah
melakukan tindakan diluar pengetahuan dan kendali
Panembahan Madiun. Jika kau melakukannya juga, maka
yang kau lakukan adalah sama seperti yang dilakukan oleh
orang-orang Nagaraga. Bahkan yang kau lakukan justru lebih
keras lagi. Apa artinya enam puluh orang bagi kekuatan
Madiun. Aku tahu, bahwa dengan enam puluh orang kalian
akan memotong ranting-ranting yang ada pada batang
Kadipaten Madiun. Tetapi kau salah hitung. Enam puluh
orangmu itu akan menjadi daun-daun kering yang masuk
kedalam apinya kekuatan Madiun.”
“ Omong kosong kau pengecut.” bentak Jaka Rampan, “
kau kira aku dengan ceroboh mengambil sikap seperti ini?
Sudah cukup lama orang-orangku dalam tugas sandi
menyelidiki kelemahan Madiun. Kelemahan-kelemahan itu
kemudian aku sampaikan langsung kepada Panembahan
Senapati yang kemudian memerintahkan aku membawa
pasukan menuju ke Belakang garis pertahanan Madiun serta
mengambil tiga puluh orang pengawal dari Kademangan ini.”
“ Ki Sanak.” jawab Ki Demang, “ sudahlah. Jika Ki Sanak
bersedia menunjukkan pertanda perintah Panembahan
Senapati, semuanya akan dapat kau lakukan sebagaimana
kau katakan.”
“ Persetan.” geram Jaka Rampan, “ jika kau menolak.
jangan menyesal. Kau tahu bahwa aku membawa pasukan.
Kau tahu bahwa tugas setiap prajurit Mataram adalah
menghancurkan pemberontakan.”
“ Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Demang.
“ Sangkal Putung telah memberontak terhadap
Panembahan Senapati.” geram Jaka Rampan.
“ Kau jangan asal saja bersikap Ki Sanak.” Agung
Sedayulah yang menyahut, sementara Swandaru memang
menjadi bimbang. Ia kurang mengerti hubungan kuasa
Panembahan Senapati dengan orang-orang yang mendapat
perintahnya atau tidak.
“ Aku masih memberimu kesempatan” berkata Jaka
Rampan, “ jika kesempatan ini tidak kau pergunakan, maka
Sangkal Putung akan menjadi karang abang.”
Wajah Swandaru memang menjadi merah. Namun ternyata
Agung Sedayu masih sempat berpikir dengan baik. Karena itu,
maka iapun berkata, “ Baiklah. Tunggulah sampai lewat
tengah malam. Kami akan membicarakannya dengan para
bebahu yang akan segera kami panggil. Dengan demikian
maka keputusan yang kami ambil akan dipertanggung
jawabkan oleh seluruh pemimpin Kademangan ini.”
Ki Demang memang menjadi agak bingung karena sikap
Agung Sedayu yang tiba-tiba menjadi lunak itu. Tetapi ia tidak
membantah. Mungkin Agung Sedayu sekedar mencari
kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi mereka atau
perhitungan-perhitungan lain untuk mengatasi persoalan yang
dihadapi oleh Sangkal Putung itu.
Dalam pada itu, maka Agung Sedayu telah minta kepada Ki
Demang untuk memerintahkan beberapa orang memberikan
tempat kepada Jaka Rampan untuk beristirahat sambil
menunggu keputusan orang-orang Sangkal Putung.
Namun dalam pada itu, ketika Jaka Rampan itu telah
berada di gandok, maka iapun telah memanggil beberapa
orang pembantunya. Dengan singkat Jaka Rampan
memberitahukan kemungkinan yang bakal terjadi.
“ Aku masih harus menunggu. Mereka akan membicarakan
dengan para bebahu.” berkata Jaka Rampan. Lalu, “ namun
yang agaknya paling cerdik adalah menantu Ki Demang itu.”
“ Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” bertanya
seorang perwira bawahannya.
“ Menunggu dan bersiap-siap.” berkata Jaka Rampan, “
Tetapi aku yakin, bahwa menantu Ki Demang yang cerdik itu
tidak cukup mempunyai keberanian untuk menolak.”
Para perwira bawahannya mengangguk-angguk. Namun
seorang diantara mereka bertanya, “ Apakah kita dapat yakin,
bahwa menantu Ki Demang itu tidak akan berani menolak?”
“ Mula-mula nampaknya ia dengan keras menolak. Tetapi
ketika aku mulai mengancam, maka ia menjadi sedikit lunak,
dan bersedia membicarakannya dengan para bebahu yang
akan dipanggil sekarang juga.” jawab Jaka Rampan.
Sementara itu yang lainpun bertanya, “ Jika mereka
menolak, apakah kita akan benar-benar menghancurkan
Kademangan itu.”
Jaka Rampan termangu-mangu. Katanya, “ Kademangan
ini adalah Kademangan yang kuat. Jika mereka menolak,
maka kita akan meninggalkan Kademangan ini dan
mengancam, bahwa kita akan kembali lagi. Kita akan
membawa kekuatan yang lebih besar. Kita akan menangkap
orang-orang yang bertanggungjawab atas penolakan itu.”
“ Darimana kita akan mendapat kekuatan yang lebih besar
itu?” bertanya salah seorang perwira yang lain.
“ Aku kira pasukan paman Gondang Bangah sudah ada di
Semangkak. Sebelum mereka berangkat ke Madiun dan
menyusup sebagaimana kita lakukan sesuai dengan rencana,
melalui jalan kaki masing-masing, maka biarlah kita
menghukum orang-orang Sangkal Putung. Mereka akan
berpikir berulang kali untuk benar-benar melawan prajurit
Mataram dalam kesatuan yang utuh.” jawab Jaka Rampan.
“ Jika demikian, apakah tidak sebaiknya satu dua orang
diantara kita pergi ke Semangkak untuk meyakinkan apakah
pasukan itu sudah ada disana?” berkata salah seorang
perwiranya.
“ Paman Gondang Bangah tidak pernah meleset dari
rencana yang telah tersusun.” berkata Jaka Rampan, “ Jika
benar-benar orang-orang Kademangan ini menolak, maka kita
minta agar mereka menyiapkan pengawal segelar sepapan.
Kita benar-benar akan datang dengan pasukan paman
Gondang Bangah.”
Para perwiranya mengangguk-angguk. Seorang
diantaranya berkata, “ Aku kira orang-orang Kademangan ini
tidak akan berani bertempur melawan prajurit Mataram dalam
kelengkapannya sebagai prajurit. Bagaimanapun juga, mereka
akan dibayangi oleh tuduhan telah memberontak terhadap
Mataram karena telah melawan prajurit-prajuritnya.”
Jaka Rampan mengangguk-angguk. Sementara itu seorang
prajuritnya telah memberitahukan bahwa pertemuan dengan
para bebahu telah dimulai. Satu-satu para bebahu telah
datang berkumpul dan berbincang di pringgitan, langsung
dipimpin oleh Ki Demang sendiri.
“ Bagaimana dengan anak dan menantunya?” bertanya
Jaka Rampan.
“ Mereka ada juga diantara para bebahu. Tetapi aku tidak
dapat mendengar apa yang telah mereka bicarakan.” berkata
prajurit itu.
“ Biarlah kita menunggu sampai tengah malam.” berkata
Jaka Rampan, “ jika kita tidak telaten, maka kita akan
menentukan sikap.”
Beberapa saat, Jaka Rampan menunggu. Rasa-rasanya
waktu berjalan sangat lamban. Ketika terdengar kentongan
diregol dipukul dengan nada dara muluk, maka iapun bertanya
kepada seorang perwiranya, “ Apakah bunyi kentongan itu
mengisyaratkan tengah malam?”
“ Ya” jawab perwira itu, “ agaknya saat itu memang telah
menginjak pada pertengahan malam.”
“ Dan pembicaraan itu belum selesai?” bertanya Jaka
Rampan.
“ Agaknya belum.” jawab prajurit itu.
Jaka Rampan masih menyabarkan diri dan menunggu
beberapa saat. Namun kemudian ia menjadi tidak sabar,
karena pembicaraan dipringgitan nampaknya masih saja
belum berkeputusan.
Karena itu, maka Jaka Rampanpun kemudian berkata, “
Aku akan pergi ke pringgitan.”
Dua orang perwira bawahannya mengikutinya. Dengan
dada tengadah Jaka Rampan telah hadir di pringgitan.
“ Nah, katakan, apakah keputusan kalian?” bertanya Jaka
Rampan.
Ki Demang memang menjadi agak bingung. Iapun
kemudian memandang Agung Sedayu dengan agak gelisah.
“ Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu kemudian, “ aku
mohon Ki Sanak bersabar sebentar. Kita masih belum selesai.
Ada beberapa persoalan yang masih harus kami pecahkan.”
“ Jangan mengada-ada.” geram Jaka Rampan, “
sebenarnya kalian tidak mempunyai pilihan.”
Sementara Agung Sedayu termangu-mangu, maka Glagah
Putih telah keluar dari ruang dalam. Iapun kemudian duduk
dibelakang Agung Sedayu sambil menyeka peluhnya.
“ Sudah?” bisik Agung Sedayu.
“ Ya” jawab Glagah Putih pendek.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Iapun
kemudian berkata, “ Baiklah Ki Sanak. Jika kau memaksa
untuk menjawab, biarlah aku mewakili Ki Demang. Kami
dengan terpaksa sekali tidak dapat memeriuhi permintaan Ki
Sanak, menyediakan tigapuluh orang pengawal terpilih.”
Wajah Jaka Rampan menjadi merah. Katanya dengan nada
berat, “ Apakah sudah kalian pertimbangkan masak-masak
sikap kalian.”
“ Sudah Ki Sanak.” jawab Agung Sedayu.
Tetapi Jaka Rampan berkata, “ Aku ingin mendengar
jawaban Ki Demang sendiri. Yang menjadi Demang disini
bukan kau.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Iapun kemudian
berkata kepada Ki Demang, “ Silahkan menjawab Ki Demang.”
Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun iapun
kemudian berkata, “ Jawabku sama dengan jawaban
menantuku.”
Telinga Jaka Rampan bagaikan tersentuh api. Jawaban itu
sama sekali tidak dikehendakinya. Karena itu, maka iapun
membentak, “ Jawab sesuai dengan pertanyaanku.”
Ki Demang mengerutkan keningnya, sementara Swandaru
beringsut setapak maju.
“ Baiklah.” berkata Ki Demang. Lalu katanya, “ Ki Sanak.
Jawabku tidak berubah. Setelah kami berbicara dengan para
bebahu, maka kami berkesimpulan bahwa kami berkeberatan
mengirimkan anak-anak kami bersama dengan Ki Sanak jika
Ki Sanak tetap tidak mau menunjukkan pertanda dari Mataram
bahwa Ki Sanak memang membawa kuasa Panembahan
Senapati.”
“ Persetan.” geram Jaka Rampan, “ dengan demikian
maka kalian benar-benar memberontak terhadap Mataram.
Kalian lebih percaya kepada sepotong benda apakah itu
lencana atau tunggul kerajaan daripada kepada prajurit-prajurit
Mataram.”
Jaka Rampan berhenti sejenak, lalu, “ jika demikian tunggu
sebentar. Kami benar-benar akan mengambil tindakan. Tidak
seorangpun yang diperkenankan keluar dari kademangan ini.”
“ Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Demang.
“ Kalian kami jadikan tawanan kami.” geram Jaka Rampan.
“ Tidak mungkin.” geram Swandaru, “ kalian tidak berhak
menahan kami dirumah kami sendiri.”
Tetapi Agung Sedayu memberi isyarat kepada Swandaru
untuk tenang, sementara ia berbisik kepada Glagah Putih, “
Kau dengar pernyataan Jaka Rampan itu?”
Diam-diam Glagah Putihpun telah bergeser meninggalkan
pringgitan itu. Dalam pada itu, seorang diantara perwira
bawahan Jaka Rampan telah meninggalkan pringgitan itu
pula. Ia tahu apa yang harus dikerjakan. Sejenak kemudian,
maka para prajurit Mataram itupun telah menebar di halaman,
sedangkan dua orang diantara mereka dengan tergesa-gesa
telah pergi ke Semangkak.
Jaka Rampan sendiri masih berada di pringgitan. Namun
iapun kemudian berkata, “ Aku masih memberi kesempatan
kepada kalian. Aku akan menunggu dihalaman, diantara
prajurit-prajuritku. Jika kalian benar-benar menolak, maka
kalian akan berhadapan dengan prajurit Mataram yang
sedang mengemban tugas. Aku tahu, bahwa Kademangan ini
adalah Kademangan yang kuat. Tetapi kami adalah prajuritprajurit.”
Jaka Rampan itupun kemudian telah bangkit dan
meninggalkan pringgitan itu sambil berkata, “ Semua orang
tinggal ditempat masing-masing.”
Wajah Swandarulah yang menjadi merah. Tetapi setiap kali
Agung Sedayu memberikan isyarat kepadanya untuk
mematuhi perintah Jaka Rampan itu, agar mereka tetap
tinggal ditempat masing-masing.
Dalam pada itu, dengan sigap para prajurit Mataram telah
menempatkan diri dalam kelompok-kelompok kecil ditempattempat
terpenting di halaman. Mereka mengawasi setiap
perkembangan keadaan dan setiap gerak para pengawal yang
menjadi agak kebingungan karena mereka tidak mendapat
perintah apapun juga. Namun para pengawal yang terlatih
itupun segera bersiaga pula. Mereka tahu bahwa para
pemimpin Kademangan ada dipringgitan. Dalam keadaan
yang gawat, maka mereka yakin, perintah itu akan diberikan
dari pringgitan. Mungkin oleh Ki Demang sendiri, atau oleh
Swandaru atau Agung Sedayu. Sementara para pengawal
yang ada digardupun telah siap untuk membunyikan
kentongan jika memang diperlukan.
Namun para pengawal Kademangan Sangkal Putung
memang sama sekali tidak bermimpi untuk bertempur
melawan prajurit Mataram. Selama ini justru mereka berusaha
untuk mengabdikan diri mereka kepada Mataram.
Ketika Jaka Rampan dan para perwira prajurit Mataram
telah turun dari pringgitan dan mengatur prajurit mereka,
Agung Sedayupun berkata, “ Kita akan menunggu
perkembangan keadaan.”
“ Aku tidak telaten.” geram Swandaru.
“ Kita tidak dapat dengan serta merta bertempur melawan
prajurit Mataram dalam pakaian dan kelengkapan keprajuritan
mereka. Apalagi kita tahu benar, bahwa Jaka Rampan
memang seorang perwira yang namanya mulai menanjak.
Namun kitapun tidak bersalah karena Jaka Rampan tidak mau
dan bahkan mungkin memang tidak memiliki pertanda kuasa
Panembahan Senapati. Mungkin Jaka Rampan telah
kejangkitan nafsu yang membuatnya untuk mengambil
keuntungan dari rencananya sendiri menyusup ke Madiun.”
berkata Agung Sedayu.
Dalam pada itu, ternyata beberapa saat kemudian,
sepasukan prajurit Mataram yang lain, yang dipimpin oleh
seorang Senapati yang bernama Gondang Bangah telah
memasuki halaman Kademangan. Sebagaimana pasukan
Jaka Rampan, maka pasukan inipun memakai kelengkapan
pertanda prajurit Mataram, sehingga dengan demikian, maka
dua pasukan Mataram yang dipimpin oleh Jaka Rampan dan
Gondang Bangah telah berada di halaman Kademangan dan
menebar sampai ke halaman samping.
Jaka Rampan yang menyambut kedatangan Gondang
Bangah berkata sambil tersenyum, “ Kita menghadapi sikap
para pemimpin Sangkal Putung yang sombong.”
Gondang Bangah tertawa. Iapun kemudian bersama Jaka
Rampan telah melangkah ke pringgitan. Namun tanpa naik ke
pringgitan itu Gondang Bangah berteriak, “ Apakah kalian
menolak perintah adi Jaka Rampan?”
Yang menjawab adalah Agung Sedayu sambil duduk, “
Kami hanya ingin melihat pertanda perintah Panembahan
Senapati. Apakah kau membawa Ki Sanak? Dan barangkali Ki
Sanak merasa perlu untuk memperkenalkan diri kepada
kami?”
Gondang Bangah mengerutkan keningnya. Dengan nada
tinggi ia bertanya, “ Siapakah kau? Apakah kau Demang
disini?”
“ Menantu Ki Demang.” sahut Jaka Rampan, “ ia adalah
orang yang terlalu banyak berbicara disini. Melampaui Ki
Demang sendiri. Bahkan anak laki-laki Ki Demang semula
untuk setuju untuk mengumpulkan tigapuluh orang pengawal
yang akan bersama-sama dengan pasukanku melakukan
tugas yang berat dibelakang garis pertahanan Madiun. Tetapi
menantu Ki Demang itu telah mencairkan kembali kesediaan
itu karena ia terlalu banyak berbicara.”
“ Nah, jika demikian, atas nama adi Jaka Rampan sekali
lagi aku bertanya, apakah kalian bersedia membantu pasukan
Mataram atau tidak. Aku tidak mau mendengar jawaban
siapapun selain Ki Demang.” berkata Gondang Bangah.
Ki Demang memandang Agung Sedayu dan Swandaru
berganti-ganti. Namun iapun kemudian menjawab, “ Maaf Ki
Sanak. Dengan cara seperti ini kami tidak dapat membantu
kalian. Sekali lagi aku jelaskan, bahwa Sangkal Putung akan
tetap setia kepada Mataram sepanjang kami yakin bahwa
kami benar-benar berhadapan dengan limpahan kuasa
Panembahan Senapati dengan pertanda yang sah.”
“ Baik. Kami tidak akan memberi keselamatan lagi. Karena
itu, maka Ki Demang, anak dan menantunya akan menjadi
tawanan kami. Kalian bertiga akan kami bawa menghadap
Panembahan Senapati untuk diadili.” berkata Gondang
Bangah.
“ Persoalannya sama saja Ki Sanak.” berkata Ki Demang, “
apakah kalian berhak menangkap kami dan membawa kami
menghadap Panembahan Senapati? Aku tidak yakin, bahwa
Ki Sanak benar-benar akan membawa kami menghadap
Panembahan Senapati. Ki Sanak dapat memperlakukan kami
diluar batas paugeran dan untuk selama-lamanya kami tidak
akan sampai kehadapan Panembahan Senapati tetapi juga
tidak kembali ke Sangkal Putung.”
“ Ki Demang sudah berani merifitnah kami?” bentak
Gondang Bangah.
“ Aku menjadi tidak telaten, kakang Gondang.” berkata
Jaka Rampan. Lalu katanya kepada Ki Demang, “ Ki Demang.
Apakah kita benar-benar harus beradu kekuatan? Apakah
Kademangan Sangkal Putung benar-benar ingin bertempur
melawan pasukan Mataram? Yang ada disini sekarang, bukan
hanya pasukanku. Tetapi juga pasukan kakang Gondang
Bangah. Nah, perhatikan keadaan ini.”
Ki Demang memang menjadi bingung. Tetapi Agung
Sedayu telah memotong, setuju atau tidak disetujui oleh
Gondang Bangah, katanya, “ Kami tidak dapat tunduk kepada
perintah siapapun yang tidak jelas bagi kami.”
“ Bagus.” teriak Gondang Bangah yang agaknya
mempunyai darah yang lebih mudah mendidih daripada Jaka
Rampan, “ kita akan bertempur.”
Halaman rumah Ki Demang itu menjadi tegang. Para
prajurit Mataram dibawah pimpinan Jaka Rampan dan
Gondang Bangah itupun telah bersiap. Mereka telah berada
ditempat-tempat yang mapan, yang dengan mudah dapat
menyergap para pemimpin Kademangan yang berada di
pringgitan.
Sementara itu, para pengawalpun telah bersiap pula. Tetapi
jumlah mereka sama sekali tidak memadai. Para pengawal
tidak bersiap untuk membenturkan kekuatan melawan para
prajurit Mataram. Merekapun tidak tahu apakah mereka harus
melawan dan melindungi Kademangan itu seandainya para
prajurit Mataram benar-benar akan menangkap Ki Demang.
Tetapi para pengawal melihat di pringgitan itu ada Ki
Demang, Ki Jagabaya, Agung Sedayu dan Swandaru.
Sementara itu merekapun tahu, bahwa didalam rumah itu
masih ada Glagah Putih, Sekar Mirah dan barangkali juga
Pandan Wangi meskipun keadaannya sedang tidak
menguntungkan.
Dalam puncak ketegangan itu terdengar suara Gondang
Bangah, “ Aku akan menghitung sampai tiga. Jika kalian tidak
berubah sikap, maka aku akan menjatuhkan perintah untuk
menangkap kalian dengan kekerasan. Jika pengawalpengawal
Kademangan ini berusaha melindungi kalian, atau
ada diantara kalian yang melawan, maka kami benar-benar
akan bertindak sesuai dengan tugas kami sebagai prajurit.”
Suasana menjadi semakin tegang, ketika Gondang Bangah
itu mulai menghitung “ Satu” sementara para prajurit
Matarampun mulai bergerak. Kemudian “ Dua”
Dan yang mengejutkan itu terjadilah. Selagi para prajurit
dibawah pimpinan Jaka Rampan dan Gondang Bangah mulai
melangkah mendekati pendapa dan pringgitan, sementara
para pemimpin Kademangan Sangkal Putung itu masih saja
duduk betapapun ketegangan mencekam jantung,
terdengarlah suara di seketheng mendahului mulut Gondang
Bangah?
“ Jangan ucapkan bilangan berikutnya.”
Semua orang telah berpaling kearah suara itu. Seseorang
melangkah dalam kegelapan keluar dari seketheng dibawah
cahaya lampu yang suram. Namun semua orang segera
mengenalnya, bahwa orang itupun mengenakan pakaian
seorang prajurit Mataram dengan pertanda seorang Senapati.
Sebelum orang-orang itu sempat mengenali wajahnya,
maka beberapa orang perwira yang lain telah muncul pula
diikuti oleh dua orang yang membawa tunggul pertanda
kesatuan serta kelebet kebesaran.
Gondang Bangah dan Jaka Rampan bagaikan membeku
melihat para perwira itu. Sementara dari seketheng itu pula
serta seketheng disisi yang sebelah, telah muncul pasukan
yang berkelengkapan lengkap sebagai prajurit Mataram pula.
Merekapun menebar justru diluar tebaran para prajurit
Mataram yang telah hadir lebih dahulu. Bahkan kemudian
diregol halaman itupun telah muncul pula sekelompok prajurit
Mataram yang lain.
Dalam ketegangan itu, maka seorang perwira dalam
kedudukan sebagai Senapati Besar prajurit Mataram telah
naik kependapa. Orang itu adalah Untara. Sedangkan para
bebahu Kademangan itu bersama Agung Sedayu dan
Swandarupun telah berdiri pula.
“ Atas nama kuasa Panembahan Senapati, aku perintahkan
Jaka Rampan dan Gondang Bangah mengumpulkan prajuritprajuritnya.”
terdengar suara Untara berat membelah
keheningan yang mencekam.
Sejenak Jaka Rampan dan Gondang Bangah berdiri
bagaikan membeku. Mereka sama sekali tidak mengira,
bahwa di Kademangan Sangkal Putung itu telah hadir pula
Senapati Besar Untara dengan pasukannya. Demikian
cepatnya Senapati itu mendengar apa yang terjadi di Sangkal
Putung.
Selagi Jaka Rampan dan Gondang Bangah termangumangu,
maka Glagah Putih telah menyusupi lewat pintu
pringgitan dan berdiri dibelakang Agung Sedayu. Agung
Sedayu berpaling kepadanya sambil tersenyum, sementara
Glagah Putihpun tersenyum pula.
Jaka Rampanpun kemudian menyadari, bahwa orang
orang Sangkal Putung itu telah memperdayainya. Mereka
minta waktu untuk membicarakan dengan para bebahu
sampai lewat tengah malam adalah sekedar usaha menunda
waktu. Sementara itu, mereka telah mengirimkan utusan untuk
menemui Untara di Jati Anom.
“ Yang datang tentu pasukan berkuda.” berkata Jaka
Rampan didalam hatinya. Tetapi tidak seorangpun diantara
mereka yang mendengar derap kaki kuda. Namun jika yang
datang itu bukan pasukan berkuda, tentu memerlukan waktu
yang lebih panjang.
Jaka Rampan menyadari, bahwa mereka berhadapan
dengan Senapati Besar Untara yang telah mereka kenal
sebagai seorang Senapati yang tegak pada paugeran dan
tugas-tugas keprajuritan. Karena itu, maka Jaka Rampan dan
Gondang Bangahpun telah mengumpulkan prajurit mereka
masing-masing. Sementara prajurit Mataram dibawah
pimpinan langsung Senapati Besar Untara mengamati mereka
dengan seksama.
Demikian para prajurit itu sudah berkumpul, maka
Untarapun berkata, “ Jaka Rampan dan Gondang Bangah,
marilah, kita akan berbicara dengan para bebahu
Kademangan Sangkal Putung.”
Untara tidak menunggu keduanya. Iapun kemudian telah
melangkah menuju kepringgitan. Bersama para bebahu dan
orang-orang yang ada dipringgitan, maka iapun telah duduk
pula. Sejenak kemudian, maka Jaka Rampan dan Gondang
Bangahpun telah hadir pula diantara mereka.
Sejenak suasana masih terasa tegang. Jaka Rampan dan
Gondang Bangah duduk sambil menundukkan kepalanya.
Mereka menyesali kebodohan mereka, sehingga mereka
justru telah terjebak.
“ Siapakah yang memerintahkan kalian untuk pergi ke
belakang garis pertahanan Madiun?” tiba-tiba saja Untara
itupun bertanya.
Baik Jaka Rampan maupun Gondang Bangah tidak
menjawab. Mereka justru menjadi semakin menundukkan
kepala.
“ Aku tahu bahwa kalian telah mengambil kebijaksanaan
sendiri.” berkata Untara, “ tetapi apa alasan kalian
meninggalkan kesatuan kalian? Kalian tidak dapat begitu saja
pergi untuk waktu yang lama tanpa alasan yang dapat diterima
akal.”
Jaka Rampan dan Gondang Bangah tidak segera
menjawab. Sementara Untarapun berkata, “ Baiklah jika kalian
berkeberatan untuk memberikan keterangan sekarang. Kalian
akan kami bawa menghadap ke Mataram. Bahkan jika perlu,
aku akan mohon untuk membawa kalian menghadap langsung
Panembahan Senapati.”
Gondang Bangah menarik nafas dalam-dalam. Dengan
nada rendah ia berkata, “ Memang ada niat untuk membantu
mempercepat penyelesaian persoalan antara Mataram dan
Madiun. Kami memang ingin memperlemah kedudukan
Madiun di belakang garis pertahanan mereka.”
“ Satu rencana yang mustahil.” berkata Untara, “ kalian
tidak mempelajari keadaan dengan sebaik-baiknya. Mungkin
kalian dapat memasuki daerah dibelakang garis pertahanan.
Namun sesudah itu apa yang dapat kalian lakukan? Kalian
akan menyerang kesatuan-kesatuan prajurit Madiun atau akan
melakukan pengacauan dibelakang garis pertahanan? Atau
dengan kekuatan yang kalian bawa, kalian akan berusaha
langsung menyerang istana Panembahan Madiun atau
rencana yang lain?”
Gondang Bangah semakin menunduk. Dengan suara
lemah ia berkata, “ Kami belum mempunyai rencana
terperinci.”
“ Mungkin kalian ingin memanfaatkan keadaan ini untuk
mendapat pujian atau bahkan kemudian mendapatkan
kedudukan yang lebih tinggi. Aku tahu bahwa nama kalian,
terutama Jaka Rampan justru mulai menanjak. Tetapi jalan
pintas yang akan kalian tempuh bukan jalan yang baik.”
berkata Untara.
Gondang Bangah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “
Memang, mungkin kami telah mengambil langkah yang tidak
wajar.”
Untara mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “ Kita
akan membicarakannya kelak. Besok kita akan pergi ke
Mataram.”
Berbeda dengan Gondang Bangah, justru Jaka Rampan
tiba-tiba berkata, “ Jika saja kami mendapat kesempatan.”
“ Kesempatan apa?” bertanya Untara.
“ Melaksanakan rencana kami.” jawab Jaka Rampan, “
kami akan membuktikan, bahwa kami adalah putera-putera
terbaik Mataram.”
“ Kau yakin bahwa kau dapat berbuat sesuatu dibelakang
garis pertahanan Madiun?” bertanya Untara.
Jaka Rampan termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak
menunduk lagi. Bahkan nampak wajahnya yang tengadah.
Dengan nada tinggi ia berkata,
“ Ki Untara. Barangkali Ki Untara pernah mendengar serba
sedikit tentang kemampuanku. Beberapa kali aku telah
menyelesaikan tugas dengan baik. Kelompok demi kelompok
kejahatan disekitar Ganjur, Panggang sampai kepesisir telah
kami bersihkan.”
“ Sudah aku katakan, bahwa aku mengerti. Namamu mulai
menanjak sehingga dalam waktu singkat kau telah menduduki
jabatanmu yang sekarang.” berkata Untara. Lalu, “ Tetapi
justru karena itu kau mempunyai penilaian yang salah
terhadap dirimu sendiri. Kau baru dapat menumpas kejahatanKang
Zusi - http://kangzusi.com/
kejahatan kecil dilingkungan tugasmu sampai ke pesisir, kau
sudah merasa memiliki kelebihan yang jarang ada
bandingnya. Tetapi sebenarnyalah bahwa ilmumu itu bukan
apa-apa bagi Sangkal Putung. Sebenarnya tanpa aku dan
pasukanku, Sangkal Putung akan dapat menahan pasukanmu
dan pasukan Gondang Bangah. Tetapi karena kalian memakai
kelengkapan prajurit Mataram yang utuh, maka Sangkal
Putung menjadi ragu-ragu. Memang tidak bijaksana bagi
Sangkal Putung untuk bertempur langsung melawan prajurit
Mataram meskipun mereka tahu, bahwa kalian justru telah
melanggar paugeran prajurit Mataram. Karena itulah maka
aku hadir disini.”
Jaka Rampan mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah
Untara sekilas, namun ketika Untara kemudian menatap
matanya, maka Jaka Rampan segera melemparkan
pandangannya. Namun ia masih juga berkata, “ Ki Untara.
Kami memang tidak dapat berbuat apa-apa dihadapan Ki
Untara dengan pasukan Mataram. Apalagi Ki Untara telah
langsung menemukan kami disaat kami mengayunkan
langkah yang bertentangan dengan paugeran seorang prajurit.
Tetapi yang Ki Untara katakan, bahwa Sangkal Putung
mempunyai kemampuan lebih besar dari kemampuan kami,
itulah yang agak janggal ditelinga kami.”
“ Jadi kau tidak percaya?” bertanya Ki Untara.
“ Mungkin yang Ki Untara maksudkan, Sangkal Putung
mempunyai jumlah pengawal yang jauh lebih banyak dari
jumlah prajurit yang aku bawa sehingga akan dapat
mengalahkan prajurit Mataram seandainya benar-benar terjadi
pertempuran.” berkata Jaka Rampan.
“ Salah satu pengertiannya memang demikian. Tetapi
pengertian yang lain adalah, bahwa kau, pemimpin dari
pasukan Mataram yang akan menyusup kebelakang gardu
pertahanan Madiun, tidak akan dapat melampaui kemampuan
para pemimpin di Sangkal Putung.”
“ Omong kosong.” diluar sadarnya Jaka Rampan
menyahut.
Wajah Untara menjadi merah. Dengan nada keras ia
berkata, “ Dengan siapa kau berbicara?”
Jaka Rampan menundukkan kepalanya. Jawabnya, “
Dengan Senapati Besar Mataram di Jati Anom.”
“ Nah, jika demikian maka kau tidak pantas menuduhku
omong kosong.” berkata Untara, “ meskipun demikian, jika
kau ingin membuktikan, aku kira para pemimpin di Sangkal
Putung tidak akan ingkar. Apalagi para pemimpin mudanya.
Disini ada anak dan menantu Ki Demang. Salah seorang dari
mereka dapat membuktikan, bahwa kau bukan putera terbaik
dari Mataram.”
Terasa dada Jaka Rampan bagaikan meledak. Sebagai
seorang perwira muda yang namanya sedang menanjak,
maka pernyataan Untara itu serasa telah menghinanya.
Apalagi ketika kemudian Untara berkata, “ Nah, terserah
kepadamu Jaka Rampan.”
Jaka Rampan memandang Untara sekilas. Kemudian
katanya, “ Jika Senapati menginginkan, aku bersedia
membuktikan. Tetapi sudah tentu jangan dijadikan alasan
untuk memperberat kesalahan seakan-akan aku menentang
keputusan Senapati disini.”
“ Bagus.” berkata Untara, “ aku tidak akan menyebutnya
demikian. Tetapi hal ini akan aku tawarkan kepada para
pemimpin muda di Sangkal Putung.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun
ternyata Swandarulah yang berkata lantang, “ Kakang Untara.
Kakang Agung Sedayu masih belum sembuh benar. Jika
memang kesempatan itu diberikan kepada para pemimpin
muda di Sangkal Putung, biarlah aku yang membuktikannya,
bahwa di Sangkal Putung terdapat orang-orang yang mampu
mengimbangi kemampuan perwira prajurit Mataram.”
Untara mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya,
“ Biarlah kita melihat. Jika Jaka Rampan tidak percaya, kita
akan membuktikannya. Bukan maksudku memperkecil harga
diri seorang perwira prajurit Mataram. Namun agar para
prajuritpun menyadari, bahwa para pengawal di Kademangan
ini merupakan bagian dari kekuatan Mataram itu. Aku juga
seorang prajurit. Tetapi justru karena tugasku, maka aku
mengerti nilai dari pengabdian orang-orang Sangkal Putung
dan Kademangan-kademangan lain, bahkan seluruh tlatah
Mataram, sebagaimana merekapun mengerti arti seorang
prajurit bagi mereka, tidak hanya di medan perang.” Untara
menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “ Sementara yang
kau lakukan adalah justru menodai citra prajurit Mataram itu
sendiri.”
Jaka Rampan termangu-mangu sejenak. Namun iapun
kemudian berkata, “ Aku tidak ingkar Ki Untara. Tetapi secara
pribadi aku ingin membuktikan, bahwa aku adalah putera
Mataram terbaik yang akan dapat menyelesaikan tugas yang
dibebankan dipundakku, atau yang telah aku angkat sendiri
bagi kepentingan Mataram.”
“ Baiklah.” berkata Untara, “ kita akan melihat dengan jujur
apakah benar Jaka Rampan memiliki sebutan putera terbaik
dari Mataram.”
Jaka Rampan memandang Swandaru dengan sorot mata
yang menyala. Anak muda itu nampaknya tidak begitu
menghiraukannya dengani sebutan putera Mataram terbaik.
Bahkan anak muda yang semula telah menyetujui
menyerahkan pengawal Sangkal Putung sebagaimana
dimintanya itu, telah melangkah turun ke halaman sambil
berkata, “ Marilah. Kita akan bermain-main di halaman.”
Untaralah yang kemudian mengatur segala sesuatunya.
Beberapa orang prajurit Mataram yang dibawanya berdiri
memagari sebuah lingkaran. Untara dan Gondang Bangah
akan menjadi saksi dari perkelahian itu. Namun selain mereka,
Untara juga menunjuk Agung Sedayu dan Glagah Putih untuk
mengawasinya.
Sejenak kemudian, maka arenapun telah siap. Kedua belah
pihak telah melepaskan senjata mereka. Jaka Rampan telah
meletakkan pedangnya, sementara Swandaru telah
meletakkan pula cambuknya.
Ki Demang yang berdiri diluar arena bersama Ki Jagabaya
menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa orang yang
menyebut dirinya Jaka Rampan dan yang sudah berani
mengambil sikap sendiri, menerobos garis pertahanan
Madiun, tentu seorang yang yakin akan kemampuannya
sendiri.
Demikian setelah segala sesuatunya siap, maka Untarapun
berkata, “ Yang akan berhadapan di arena adalah Jaka
Rampan pribadi dan Swandaru pribadi pula. Keduanya
sekedar ingin membuat takaran tentang ilmu kanuragan.
Karena itu, keduanya harus jujur terhadap diri sendiri. Kalah
dan menang bukan persoalan.”
Jaka Rampan dan Swandaru mengangguk.
Sementara itu Untarapun bertanya, “ Apakah kalian sudah
siap?”
“ Ya.” sahut Jaka Rampan dengan serta merta.
Sedangkan Swandaru menjawab kemudian, “ Ya. Aku
sudah siap.”
Untara berdiri diantara kedua orang itu untuk beberapa
saat. Kemudian iapun memberi isyarat kepada Gondang
Bangah dan Agung Sedayu, bahwa perkelahian itu akan
segera dimulai.
Sesaat kemudian, maka Untarapun bergeser menepi.
Dengan demikian maka perkelahian antara Jaka Rampan,
seorang perwira muda prajurit Mataram yang namanya
sedang menanjak naik, melawan Swandaru, anak Ki Demang
Sangkal Putung, murid Kiai Gringsing yang tinggal di
padepokan kecil di Jati Anom.
Demikian perkelahian itu dimulai, maka nampak
kegembiraan di wajah Jaka Rampan. Ia merasa mendapat
penyaluran dari kekecewaannya, bahwa ia telah gagal untuk
mendapatkan pujian atas langkah-langkah yang akan
diambilnya, disamping untuk kepentingan pribadinya.
Tetapi Swandaru menjadi gembira pula. Ia akan
menunjukkan kepada Untara, kepada Agung Sedayu dan
kepada banyak orang bahwa ia telah memiliki ilmu yang tinggi.
Terutama ia ingin menunjukkan kepada saudara tua
seperguruannya, betapa ia akan dapat membanggakan diri
akan kemampuannya.
“ Agaknya orang-orang Mataram hanya mengenal kakang
Agung Sedayu. Kini mereka akan melihat, bahwa adik
seperguruannya justru memiliki kelebihan daripadanya.”
berkata Swandaru didalam hatinya.
Jaka Rampan yang telah bersiap itupun mulai bergeser
mendekati Swandaru. Sementara Swandarupun telah bersiap
pula untuk menghadapinya.
Namun tiba-tiba saja Jaka Rampan masih bertanya, “
Kenapa kau begitu cepat berubah sikap tentang permintaanku
untuk menyiapkan pengawal dari Sangkal Putung ini?”
“ Agaknya aku termasuk orang yang terlalu jujur
menanggapi keadaan. Aku sama sekali tidak berprasangka
buruk terhadapmu. Tetapi ternyata dugaanku itu salah. Dan
aku mengakui kesalahan itu, sehingga aku harus berubah
sikap.” jawab Swandaru.
Jaka Rampan mengangguk-angguk. Ternyata Swandaru itu
cukup cepat pula menanggapi keadaan.
Namun Jaka Rampan tidak mengira kalau Swandaru itu
justru bertanya, “ Apakah kau sudah siap? Atau masih ada lagi
yang ingin kau tanyakan kepadaku selagi kau masih sempat?”
“ Persetan.” geram Jaka Rampan.
Namun tiba-tiba saja Jaka Rampan itu sudah melenting
menyerang.
Swandaru yang sudah siap itupun segera bergeser. Tetapi
dengan tiba-tiba pula ia telah menyerang kembali dengan
dahsyatnya. Satu loncatan panjang dengan kaki terayun
menyamping. Ketika Jaka Rampan menghindari serangan itu
dengan cepat pula, maka Swandarupun telah menyerangnya
pula. Dengan memutar tubuhnya, maka kakinyapun telah
terayun mendatar.
Tetapi Jaka Rampan tidak menghindari serangan itu. Ia
terlalu percaya akan kekuatannya. Karena itu, maka Jaka
Rampan itu tidak berusaha menghindari serangan itu. Dengan
kedua tangannya Jaka Rampan telah membentur putaran kaki
Swandaru itu.
Maka terjadilah satu benturan yang keras. Swandaru yang
telah mempergunakan sebagian dari kekuatannya itu memang
terkejut. Kakinya terasa bagaikan membentur dinding baja
sehingga seakan-akan telah memental kembali. Dengan
demikian maka iapun menjadi terhuyung-huyung sesaat.
Namun dengan tangkasnya ia justru telah meloncat
mengambil jarak dari lawannya. Ketika kedua kakinya
menyentuh tanah, maka iapun telah tegak berdiri dan siap
menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi ternyata bahwa lawannya tidak memburunya.
Benturan yang terjadi agaknya terlalu keras baginya, sehingga
Jaka Rampan telah terdorong beberapa langkah surut. Ia
sama sekali tidak menyangka, bahwa anak padukuhan
Sangkal Putung itu memiliki kekuatan sedemikian besarnya.
Bagaimanapun juga Untara menjadi berdebar-debar
melihat benturan itu. Ia sudah mempercayakan kepada
Swandaru untuk membuktikan bahwa Jaka Rampan telah
menilai kekuatan di Sangkal Putung. Jika Swandaru tidak
berhasil membuktikannya, maka Jaka Rampan akan menjadi
semakin sombong akan kelebihannya. Meskipun ia akan
tunduk kepada Untara untuk dibawa ke Mataram, karena
kesalahannya telah bertindak sendiri, namun ia masih akan
dapat menengadahkan wajahnya dan berkata bahwa dirinya
adalah putera terbaik Mataram. Bahkan tidak mustahil bahwa
Jaka Rampan itu menganggap bahwa secara pribadi ia tentu
akan dapat melampaui kemampuan Untara. Hanya karena
kedudukan Untara sajalah maka Jaka Rampan tunduk
kepadanya.
Dalam pada itu, maka Jaka Rampan dan Swandaru telah
bersiap pula. Sejenak kemudian, pertempuran diarena itupun
telah mulai lagi. Justru semakin lama menjadi semakin cepat.
Jaka Rampan yang merasa dirinya seorang perwira yang baru
tumbuh dan dengan cepat memangku jabatan yang baik
dalam susunan keprajuritan di Mataram, berusaha untuk
menunjukkan kelebihannya itu. Ia berusaha dengan cepat
untuk mengalahkan Swandaru. Ia ingin segera berdiri disisi
tubuh yang terbaring pingsan di arena sambil menghadap
kepada Untara dan berkata, “ Apakah ada orang lain yang
lebih baik?”
Tetapi ternyata bahwa tidak semudah itu untuk
menundukkan Swandaru. Swandaru, saudara seperguruan
Agung Sedayu yang perhatiannya lebih banyak tertuju kepada
kekuatan jasmaniah serta dukungan tenaga cadangannya itu,
ternyata memang memiliki kekuatan yang mendebarkan.
Ketrampilan gerak yang tinggi dan langkah-langkah yang
kadang-kadang sulit untuk diperhitungkan. Meskipun setiap
geraknya nampak mantap dan berat, tetapi kakinya yang kuat
mampu melontarkan tubuhnya dengan cepat dan tangkas
kesegala arah yang dikehendaki.
Setelah bertempur beberapa saat, maka Jaka Rampan
mulai melihat satu kenyataan tentang Kademangan Sangkal
Putung. Anak laki-laki Ki Demang yang agak gemuk itu, benarbenar
memerlukan segenap kesungguhannya, meskipun ia
seorang prajurit Mataram yang terbaik.
Agung Sedayu mengikuti setiap gerak dan langkah dari
kedua orang yang bertempur itu dengan seksama. Karena
Swandaru adalah saudara seperguruannya, maka iapun
mengenal setiap tata geraknya dengan baik. Namun sekalisekali
Agung Sedayupun mengangguk-angguk melihat
kemampuan Swandaru mengembangkan unsur-unsur gerak
dari ilmunya, sehingga dengan demikian, maka ilmu itu pula
Swandaru menjadi seakan-akan memiliki unsur gerak yang
berlipat.
Dalam pada itu, maka ternyata bahwa Sekar Mirah dan
Pandan Wangipun telah hadir pula di halaman. Meskipun
mereka tidak terlalu dekat, tetapi mereka dapat melihat
dengan jelas, apa yang terjadi di arena.
Demikianlah, maka ketegangan telah mencengkam
halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung. Para prajurit
Mataram yang datang bersama Jaka Rampan dan Gondang
Bangah melihat pertempuran itu dengan heran. Mereka
menganggap bahwa Jaka Rampan adalah seorang perwira
muda yang jarang ada duanya. Namun berhadapan dengan
anak muda dari sebuah Kademangan, ternyata ia tidak segera
dapat mengatasinya.
Berbeda dengan penglihatan para prajurit, maka Gondang
Bangah justru menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia melihat
kelebihan Swandaru yang memiliki kekuatan raksasa itu.
Sementara itu, prajurit Mataram yang datang dari Jati Anom
memang berusaha untuk dapat menyaksikan pertempuran di
arena itu pula. Namun sebagian dari mereka harus mengamati
keadaan halaman itu seluruhnya. Bahkan juga mengawasi
prajurit yang datang bersama Jaka Rampan dan Gondang
Bangah.
Tetapi menurut pengamatan para prajurit dari Jati Anom itu
bahwa para prajurit yang datang dengan Jaka Rampan dan
Gondang Bangah ternyata telah terpukau oleh pertempuran
diarena antara pemimpinnya yang mereka anggap melampaui
kemampuan orang-orang berilmu melawan anak muda
Sangkal Putung.
Namun ternyata murid Kiai Gringsing itu benar-benar tidak
mengecewakan. Untara yang tegang itu kadang-kadang
sempat juga mengangguk-angguk melihat kemampuan
Swandaru yang mendebarkan.
Beberapa kali telah terjadi benturan antara kedua orang
yang sedang bertempur itu. Namun Swandaru yang telah
meningkatkan kemampuannya itu membuat lawannya
semakin heran.
Tetapi Jaka Rampan adalah seorang perwira muda yang
tangguh. Dalam keadaan yang gawat, ia masih sempat
melenting surut. Namun dengan kecepatan yang sangat tinggi,
ia telah meloncat menyerang lawannya. Kedua tangannya
terjulur kedepan dengan telapak tangan yang mengembang,
tetapi dengan jari-jari yang merapat. Kedua telapak tangannya
bersusun menelungkup. Namun dengan cepat bergerak
mengembang, demikian kakinya menyentuh tanah selangkah
di depan Swandaru.
Swandaru yang melihat gerak lawannya, justru telah
menyilangkan kedua tangannya didadanya. Namun ternyata
kedua tangan Jaka Rampan yang mengembang itu telah
menyerang kening Swandaru dari dua arah.
Tetapi Swandaru tidak menjadi bingung karenanya.
Dengan cepat ia merendahkan dirinya. Kedua tangannyalah
yang kemudian menyerang dada orang yang berdiri dihadapannya
itu, sementara kedua tangan orang itu tidak
menyentuh sasarannya.
Namun orang itupun cukup tangkas. Dengan cepat Jaka
Rampan bergeser surut, sehingga tangan Swandaru tidak
mencapainya.
Demikian pertempuran itupun semakin lama menjadi
semakin cepat. Baik Jaka Rampan maupun Swandaru telah
meningkatkan ilmu mereka. Mereka mengerahkan tenaga
cadangan mereka sampai ke batas kemampuannya.
Sebagai seorang perwira yang sedang dengan cepat
meningkat, maka Jaka Rampan merasa sudah terlalu lama
bertempur melawan anak Demang Sangkal Putung itu.
Seharusnya ia lebih cepat mengalahkannya, sehingga ia akan
tetap dianggap seorang yang berilmu tinggi. Seorang yang
pantas disebut putera terbaik dari Mataram.
Tetapi betapa ia mengerahkan kemampuannya, ternyata ia
masih belum dapat menjatuhkan anak Ki Demang Sangkal
Putung itu. Bahkan justru anak Ki Demang Sangkal Putung itu
rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin kokoh.
Gondang Bangah memang menjadi sangat gelisah
menyaksikan pertempuran itu. Apakah seorang perwira seperti
Jaka Rampan itu akan dapat diimbangi ilmunya oleh seorang
anak Demang.
Namun sebenarnyalah Jaka Rampan justru mulai
mengalami kesulitan. Swandaru yang dengan sungguhsungguh
menekuni ilmunya itu, semakin lama justru menjadi
semakin kuat. Tenaganya sama sekali tidak menjadi susut,
meskipun keringat telah terperas dari tubuhnya.
Pada setiap benturan yang terjadi terasa bahwa kekuatan
Swandaru tidak menjadi susut, tetapi justru rasa rasanya
menjadi semakin meningkat. Tubuhnya menjadi semakin
keras dan gerakannyapun menjadi semakin tang kas.
Jaka Rampan mengumpat didalam hati. Sebagai seorang
perwira yang berpengalaman, maka iapun segera berusaha
mengatasi kemampuan Swandaru. Jaka Rampan mulai
dengan segenap kemampuannya berusaha menyerang titiktitik
kelemahan Swandaru. Menurut pengetahuan Jaka
Rampan betapapun kemampuan seseorang, namun mereka
tetap memiliki kelemahan itu. Kelemahan yang terdapat pada
bagian-bagian tertentu tubuhnya.
Tetapi Swandarupun mengerti, bahwa Jaka Rampan -itu
telah membidik tempat-tempat yang lemah sebagaimana telah
dipelajarinya dari gurunya. Kiai Gringsing sebagai seorang
yang memiliki kemampuan pengobatan telah memberitahukan
kepadanya dalam latihan-latihan olah kanuragan, bahwa ada
delapan kelemahan pokok terdapat pada tubuhnya. Kemudian
dua belas tempat lainnya pada tataran kedua, dan lebih
banyak lagi pada tataran ketiga.
Dengan demikian maka Swandarupun telah
memperhitungkan hal itu pula. Bahkan sebagaimana
dilakukan oleh lawannya, maka Swandarupun telah
melakukan hal yang serupa.
“ Agaknya orang ini benar-benar akan mengakhiri
pertempuran tanpa memikirkan akibatnya “ berkata Swandaru
didalam hatinya, karena serangan-serangan pada tempattempat
yang paling lemah akan dapat berakibat gawat.
Bahkan titik-titik kelemahan itu akan benar-benar dapat
membunuh seseorang atau membuatnya cacat.
Sementara itu, Untara mulai menjadi tenang ketika ia
melihat bahwa Jaka Rampan memang tidak dapat dengan
segera mengalahkan Swandaru dan menepuk dada sebagai
putera terbaik dari Mataram, sehingga wajarlah jika ia
berusaha untuk berbuat sesuatu bagi kebaikan Mataram atas
rencananya sendiri.
Pandan Wangi yang semula merasa cemas, menjadi lebih
tenang pula. Kemampuannya mengamati ilmu seseorang telah
menunjukkan kepadanya. Meskipun banyak kemungkinan
dapat terjadi, seandainya Swandaru berbuat kesalahan oleh
kelengahannya atau oleh sebab-sebab lain, namun dalam
keadaan wajar, ia tidak akan mudah dikalahkan.
Sekar Mirahpun kemudian hampir menjadi yakin bahwa
kakaknya akan mampu bertahan sampai akhir pertempuran.
Ditempat lain Glagah Putih yang pernah menilai latihanlatihan
yang dilakukan oleh Swandaru didalam sanggar
padepokan di Jati Anom justru masih berharap Swandaru
meningkatkan ilmunya selapis lagi.
Sebenarnyalah, bahwa ketika kedua belah pihak telah
merasa bahwa pertempuran itu sudah berlangsung terlalu
lama tanpa ada yang dapat menunjukkan kemenangannya,
sementara langitpun mulai menjadi terang, maka Jaka
Rampan benar-benar telah mengerahkan tenaganya, justru
pada saat-saat tenaganya sudah mendekati batas susut.
Namun Swandaru telah siap menghadapi kemungkinan itu.
Apalagi karena Swandarupun tahu bahwa sebenarnya Jaka
Rampan telah sampai pada batas.
Karena itulah, maka Swandarulah yang kemudian lebih
banyak menguasai arena. Ia masih tetap tegar dan kuat.
Bahkan seakan-akan tenaganya justru masih akan dapat
bertambah. Tubuhnya masih mungkin mengeras dan
ketahanan tubuhnya masih lebih baik dari Jaka Rampan.
Gondang Bangah yang berada diluar arena, ternyata
mampu menilai kenyataan yang telah terjadi. Sebenarnyalah
ia merasa sedih bahwa seorang perwira prajurit Mataram yang
namanya mulai menanjak, ternyata tidak lebih baik dari anak
seorang Demang di Sangkal Putung.
Tetapi jika kenyataan itu yang terjadi, maka Gondang
Bangah itu memang tidak dapat berbuat apa-apa.
Sementara itu dalam keadaan terakhir, Swandarulah yang
bertempur dengan dada tengadah. Ia telah membuktikan,
bahwa ia memiliki kemampuan yang lebih baik dari seorang
perwira prajurit yang dianggap sebagai seorang perwira yang
berilmu tinggi.
“ Kakang Agung Sedayu tidak akan dapat menuduhku
hanya sekedar berbicara “ berkata Swandaru didalam hatinya.
Pada saat-saat berikutnya, Jaka Rampan menjadi semakin
terdesak. Sementara itu Swandaru justru menjadi semakin
cepat bergerak. Beberapa kali serangannya ber hasil
menyusup pertahanan Jaka Rampan sehingga sekali-sekali
tangannya telah mengenai tubuh perwira prajurit Mataram itu.
Jaka Rampan yang mengerahkan tenaganya disaat-saat
yang gawat itu sekali-sekali memang juga berhasil mengenai
tubuh Swandaru, tetapi dalam perbandingan yang lebih
jarang. Iapun tidak sempat mengenai tepat pada sasaran yang
dibidiknya, pada bagian-bagian yang sangat
lemah ditubuh Swandaru.
Ketika tubuhnya menjadi semakin lemah, sementara
serangan Swandaru datang semakin deras, maka sekali-sekali
Jaka Rampan itu seakan-akan hampir kehilangan
keseimbangannya. Bahkan ketika tangan Swandaru yang
terayun kesamping mendatar berhasil mengenai dadanya,
maka Jaka Rampan itu telah terhuyung-huyung beberapa
langkah surut. Swandaru yang tidak mau kehilangan
kesempatan telah memburunya. Satu tendangan kakinya
kemudian telah mengenai sekali lagi dadanya itu yang
bagaikan menjadi retak.
Jaka Rampan benar-benar tidak dapat bertahan untuk tetap
tegak. Karena itu, maka iapun telah terdorong beberapa
langkah lagi surut dan kemudian jatuh terguling di tanah.
Namun oleh pengalaman dan kemampuan yang ada
didalam dirinya, maka Jaka Rampan itupun telah melenting
berdiri. Betapapun kekuatannya telah semakin surut, namun ia
masih juga mampu tegak dan bersiap menghadapi segala
kemungkinan.
Tetapi Swandaru ternyata tidak memburunya lagi. Ia berdiri
sambil bertolak pinggang memandang lawannya yang nampak
menjadi semakin lemah.
Sementara itu langit memang sudah menjadi terang.
Untarapun kemudian maju beberapa langkah. Ia berdiri
diantara Jaka Rampan dan Swandaru yang tegak dengan
dada tengadah.
“ Aku kira permainan ini sudah cukup “ berkata Untara “ kita
sudah tahu, siapakah yang kalah dan siapakan yang menang.
“
“ Siapa yang kalah menurut pendapat Ki Untara? “ bertanya
Jaka Rampan dengan wajah yang tegang.
Untara mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia
justru ganti bertanya “ Jadi kau merasa belum kalah? “
“ Aku belum kalah “ berkata Jaka Rampan “ aku tantang
anak Demang Sangkal Putung itu bertempur dengan
senjata. Seorang prajurit baru dapat dinilai dengan lengkap
jjka ia sudah mempergunakan senjatanya. Tanpa senjata ia
masih belum seorang prajurit yang utuh. “
“ Tidak perlu “ berkata Untara.
Namun Swandaru berteriak “ Jika ia ingin kita bermain
senjata, maka aku tidak berkeberatan.
“ Nah, Ki Untara mendengar sendiri. Betapa ia menjadi
sangat sombong. Seolah-olah ia berhasil meruntuhkan nilai
dan harga diri seorang prajurit, “ berkata Jaka Rampan.
“ Kenapa? “ justru Untara bertanya “ apakah salahnya jika
seseorang yang bukan prajurit mempunyai kemampuan
melampaui seorang prajurit seperti kau yang justru telah
merusak citra keprajuritan. “
“ Aku akan membuktikan bahwa aku adalah seorang
prajurit yang baik. “ berkata Jaka Rampan “ karena itu beri aku
kesempatan bertempur dengan senjata.
“ Kau dengar jawabku? Tidak. Kau tidak dapat memaksaku.
“ berkata Untara.
“ Sebaiknya biarlah aku menyelesaikan persoalanku
sendiri. Kau tidak perlu turut campur “ bentak Jaka Rampan.
Wajah Untara menjadi merah. Dengan nada berat ia
bertanya kepada Jaka Rampan “ Kau berhadapan dengan
siapa? “
Betapapun perasaannya bergejolak, maka naluri
keprajuritannya telah mengekangnya. Karena itu,
suaranyapun telah menyusut ketika ia kemudian menjawab “
Senapati Besar di Jati Anom. “
“ Lakukan perintahku “ geram Untara.
Jaka Rampan tidak menjawab. Namun Swandarulah yang
hampir berteriak “ Beri kesempatan kepadanya bermain
senjata. Aku akan menerima tantangannya.
“ Tidak “ suara Untara masih tetap tegas “ aku perintahkan,
pertarungan ini dianggap selesai. Semua kembali
ketempatnya masing-masing. “
“ Tetapi aku bukan seorang prajurit yang harus tunduk
kepada perintah Senapati yang manapun “ Swandaru ternyata
masih juga berusaha mendesak.
Tetapi Ki Demanglah yang datang kepadanya. Katanya “
Dalam keadaan yang gawat, Senapati akan dapat bertugas
menangani semua persoalan yang berhubungan dengan
pengamanan satu lingkungan. Seandainya kau dapat tidak
tunduk pada perintah seorang Senapati sekarang ini, lalu kau
akan berkelahi melawan siapa? Nah, sekarang kau dengar.
Aku ayahmu. Aku perintahkan kau keluar dari arena ini. “
Swandaru memandang ayahnya dengan ungkapan
kekecewaannya. Ketika ia kemudian memandang Agung
Sedayu dan Glagah Putih, maka agaknya merekapun
sependapat dengan Ki Demang. Namun dalam keragu-raguan
itu Pandan Wangi telah mendekatinya. Tanpa berkata apapun
juga Pandan Wangi telah membimbing Swandaru keluar dari
arena seperti membimbing seorang anak yang kebingungan.
Mengambil cambuk Swandaru yang dilepas dan kemudian
membawanya masuk lewat seketheng.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak
kemudian, maka Ki Demangpun telah mempersilahkan tamutamunya
untuk kembali naik ke pendapa.
Tetapi agaknya mereka tidak terlalu lama duduk di
pringgitan. Untara segera mempersiapkan diri untuk langsung
pergi ke Mataram. Ia tidak boleh menunda persoalan itu terlalu
lama. Persoalan Jaka Rampan dan Gondang Bangah harus
segera ditangani. Mereka tentu sudah meninggalkan kesatuan
mereka tanpa diketahui oleh Senapati yang membawahinya
langsung, atau dengan cara yang tidak wajar mendapat ijin
justru membawa pasukan meskipun
jumlahnya terlalu kecil, sehingga Jaka Rampan harus
menambah pasukannya dalam perjalanan.
Tetapi Untara cukup bijaksana. Ia tidak melucuti senjata
pasukan Jaka Rampan dan Gondang Bangah, kecuali kedua
perwira itu sehingga mereka tidak menjadi sangat tersinggung.
Tetapi Untara telah memberikan penjelasan apa yang
sebenarnya terjadi serta kesalahan yang telah mereka
lakukan.
Seorang pemimpin kelompok telah menjawab ketika Untara
bertanya “ Aku tidak tahu yang sebenarnya dari perjalanan ke
Timur ini. Aku hanya menerima perintah. Aku kira yang
dilakukan oleh pemimpin kami adalah wajar.
“ Kalian akan dapat menyampaikan kepada yang bertugas
untuk memeriksa kalian di Mataram “ berkata Untara.
Demikianlah, ketika segala persiapan telah selesai, maka
Untara dan pasukan berkudanya telah membawa Jaka
Rampan dan Gondang Bangah bersama pasukannya pula
menuju ke Mataram. Kuda-kuda dari pasukan Untara yang
ditinggalkan diluar padukuhan induk Kademangan Sangkal
Putung telah diambil dan dibawa ke halaman Kademangan.
“ Semakin cepat persoalan ini selesai, semakin baik “
berkata Untara.
Demikianlah maka sejenak kemudian iring-iringan prajurit
Mataram telah meninggalkan Kademangan Sangkal Putung.
Untara menolak ketika Ki Demang mempersilah-kannya
menunggu agar disediakan makan bagi para prajurit
seluruhnya.
“ Seorang Senapati yang berdiri tegak pada hak dan
kewajibannya “ desis Ki Demang.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun
juga ada kebanggaan yang bergetar didalam dada Agung
Sedayu, bahwa kakaknya dalam keadaan yang
bagaimanapun juga tetap tegak pada paugeran seorang
prajurit.
Sejenak kemudian maka halaman Kademangan Sangkal
Putung itupun telah menjadi lengang. Beberapa pengawal
masih tetap berjaga-jaga. Sementara Ki Demang telah
mempersilahkan para bebahu yang ingin beristirahat untuk
pulang. Kecuali Ki Jagabaya yang masih akan berada di
Kademangan bersama beberapa orang pengawal.
Agung Sedayu, Glagah Putih dan Sekar Mirahpun telah
meninggalkan pringgitan pula. Sementara diruang dalam
Swandaru duduk bersama Pandan Wangi. Ketika Ki Demang
telah meninggalkan pringgitan, maka iapun telah duduk
bersama Swandaru pula.
“ Aku menyesal bahwa aku tidak diperkenankan untuk
bertempur dengan senjata “ geram Swandaru.
“ Sudahlah kakang “ potong Pandan Wangi.
“ Ki Untara telah memerintahkan menghentikan
pertandingan itu. Untara telah memerintahkan kepada Jaka
Rampan untuk berhenti. Jika kau nekad ingin berkelahi, kau
tidak akan mempunyai lawan. - berkata Ki Demang.
“ Jaka Rampan tentu akan memaksa juga “ jawab
Swandaru.
Tetapi kau tahu sikap Untara “ sahut Ki Demang.
Swandaru menundukkan kepalanya. Tetapi
kekecewaannya masih membayang diwajahnya. Dengan nada
rendah ia berkata “ Jika perkelahian dengan senjataitu
berlangsung, maka aku dapat melakukan untuk beberapa
sasaran sekaligus. Kecuali memenuhi keinginan kakang
Untara, akupun dapat menunjukkan kepada kakang Agung
Sedayu, tataran yang dapat aku capai, sehingga akan dapat
mendorongnya untuk sedikit memberikan perhatian kepada
ilmunya. “
“ Agung Sedayu sudah bukan anak-anak “ berkata Ki
Demang “ ia tentu dapat menempatkan dalam dunianya.
Sudah bertimbun pengalaman didalam dirinya. “
“ Justru karena itu, ia terlalu yakin akan kemampuan yang
sudah dimilikinya. Berkali-kali kakang Agung Sedayu
mengalami luka parah jika ia berhadapan dengan lawan yang
berilmu tinggi. Tetapi pengalaman yang pahit itu tidak
menderanya untuk meningkatkan ilmunya. “ desis Swandaru.
“ Jangan berprasangka begitu “ berkata Ki Demang “ jika
kau menilai seseorang yang terluka di pertempuran, maka kau
harus menilai kedua-duanya. Jika lawannya berkemampuan
jauh lebih rendah, maka seseorang tidak akan mengalami
sesuatu. Jika keduanya ilmunya seimbang, maka
kemungkinan yang buruk akan dapat terjadi pada keduaduanya.
Hal itu berlaku untuk segala tataran. Yang berilmu
rendahpun akan dapat terjadi seperti itu. Apalagi yang berilmu
tinggi. “
“ Apakah ayah menilai ilmu Jaka Rampan terlalu rendah? “
bertanya Swandaru.
“ Aku tidak mengatakan pertempuran yang baru saja
terjadi. Aku mengatakan sesuatu yang berlaku umum.
Seandainya ilmu Jaka Rampan dan ilmumu seimbang, maka
keadaannya tentu berbeda. “ berkata Ki Demang.
“ Pengakuan seperti itulah yang ingin aku pancing dari
kakang Agung Sedayu “ berkata Swandaru “ jika ia mengakui
bahwa ilmu Jaka Rampan cukup tinggi, maka ia akan menilai
kemampuanku yang berada diatas kemampuan Jaka Rampan
yang dibuktikan oleh keputusan kakang Untara.
Ki Demang mengangguk-angguk. Sebenarnya ia kurang
pendapat dengan Swandaru. Tetapi sulit bagi Ki Demang
untuk menyusun pendapatnya itu dalam kalimat yang dapat
diucapkan. Sedangkan Pandan Wangi merasa lebih baik
untuk berdiam diri dan tidak mencampuri pembicaraan antara
ayah dan anak laki-lakinya itu meskipun terasa hatinya juga
tergelitik karenanya.
Namun dalam pada itu, Ki Demangpun kemudian
berkata “ Sudahlah. Beristirahatlah. Mungkin kau letih. “
“ Ya ayah “ jawab Swandaru “ tetapi sebenarnya aku tidak
terlalu letih. “
Ki Demangpun kemudian telah meninggalkan Swandaru di
ruang tengah. Namun Swandarupun kemudian telah bangkit
pula untuk pergi ke pakiwan.
“ Aku akan menyediakan ganti pakaianmu kakang “ berkata
Pandan Wangi.
Dipintu samping Pandan Wangi bertemu dengan Sekar
Mirah. Dengan nada rendah Sekar Mirah bertanya “
Bagaimana dengan kakang Swandaru? “
“ Kakang Swandaru baru mandi “ jawab Pandan Wangi.
“ Kakang tidak apa-apa? “ bertanya Sekar Mirah pula.
Adalah diluar kehendaknya ketika seolah-olah yang ditekan
didalam dadanya telah terungkat “ Kakang Swandaru menjadi
sangat kecewa. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu
mengalahkan seorang perwira Mataram dalam olah senjata. “
Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Dengan raguragu
ia bertanya “ Bagaimana dengan ayah? “
“ Ki Demang sudah banyak memberikan pesan kepada
kakang Swandaru. “ jawab Pandan Wangi.
Sekar Mirah mengangguk-angguk. Ia tahu benar sifat
kakaknya yang agak gemuk itu. Namun agaknya Pandan
Wangi masih juga menahan diri untuk tidak melepaskan
semua yang terasa menyesak didadanya.
“ Sekarang kau akan kemana? “ bertanya Sekar Mirah.
“ Menyediakan pakaian kakang Swandaru. Pakaian yang
dipakainya basah oleh keringat dan kotor oleh debu. “ jawab
Pandan Wangi.
Sekar Mirah mengangguk-angguk. Tetapi ia masih
bertanya “ Dimana ayah sekarang? “
“ Ki Demang pergi ke biliknya mungkin. Ki Demang nampak
letih “ jawab Pandan Wangi.
Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya “ Jika demikian,
nanti saja aku menemuinya.
Namun tiba-tiba saja Ki Demang muncul dari pintu yang
lain. Sambil mengusap keningnya ia bertanya “ Kau mencari
aku? Apakah ada hal yang penting? “
“ Tidak ayah. Tidak ada apa-apa “ jawab Sekar Mirah. Ki
Demang menarik nafas dalam-dalam. Sementara
Pandan Wangipun telah meninggalkan ruangan itu untuk
menyiapkan pakaian suaminya.
Ki Demang perlahan-lahan telah mendekati anak
perempuannya. Dengan nada rendah ia berkata “ Kakakmu
memang menjadi sangat kecewa. Tetapi aku tidak dapat
berbuat lain. “
Sekar Mirah mengangguk. Sementara Ki Demangpun
berkata “ Disamping niatnya untuk menunjukkan kepada para
prajurit Mataram dibawah pimpinan Jaka Rampan bahwa anak
muda Sangkal Putungpun memiliki kemampuan seorang
perwira, ada juga niatnya yang baik. “
“ Apa ayah? “ bertanya Sekar Mirah.
“ Swandaru ingin menunjukkan kepada kakak
seperguruannya, bahwa kemungkinan untuk meningkatkan
ilmu masih terbuka “ berkata Ki Demang, lalu “ Swandaru
menganggap bahwa suamimu tidak cukup banyak
menyediakan waktu bagi peningkatan ilmunya. “
“ Ayah “ berkata Sekar Mirah “ kakang Swandaru telah
salah menilai kemampuan kakang Agung Sedayu. Aku sudah
mencoba untuk memberitahukan hal itu. Tetapi kakang
Swandaru menganggap bahwa aku terlalu mengagumi
suamiku, sehingga tidak lagi dapat membuat pertimbangan
sewajarnya. “
“ Aku sudah mengira. “ berkata Ki Demang “ Agung Sedayu
bersikap lebih dewasa dari Swandaru. Tetapi Swandaru
menganggap bahwa karena Agung Sedayu beberapa kali
mengalami luka-luka parah dalam pertempuran-pertempuran
yang pernah dilakukannya, maka Swandaru menganggap
bahwa alas kemampuan ilmu Agung Sedayu masih belum
cukup tinggi. “
“ Bukankah hal itu juga tergantung pada lawannya
bertempur? “ desis Sekar Mirah.
“ Aku mengerti “ jawab Ki Demang.
“ Kakang Agung Sedayu mendalami ilmunya tidak sekedar
pada permukaannya. Tetapi jauh menusuk ke kedalamannya “
berkata Sekar Mirah. Lalu katanya “ Lawannya yang terakhir
ternyata memiliki ilmu kebal dari jenis Aji Tameng Waja.
Kakang Agung Sedayu harus mengerahkan segenap ilmunya
untuk dapat mengalahkannya. Namun kakang Agung Sedayu
sendiri mengalami luka parah. “
Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya
“ Dimana suamimu sekarang? “
“ Didalam bilik bersama Glagah Putih. “ berkata Sekar
Mirah “ nampaknya mereka mulai mencemaskan keadaan di
Tanah Perdikan Menoreh. “
“ Bukankah masih ada orang lain yang pantas
diketengahkan di Tanah Perdikan selain Ki Gede? “ bertanya
Ki Demang.
“ Memang Tanah Perdikan tidak terlalu mencemaskan.
Masih ada Ki Jayaraga, yang juga dianggap guru oleh Glagah
Putih. Namun disanapun ada barak pasukan khusus Mataram
yang ditempatkan di Tanah Perdikan itu. “
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya kemudian “
Bukankah kau dan suamimu tidak akan tergesa-gesa kembali
ke Tanah Perdikan? “
“ Tetapi kami tidak akan dapat terlalu lama disini.
Meskipun rinduku kepada kampung halaman ini rasarasanya
masih belum hilang, namun aku tidak dapat
mencegahnya, jika kakang Agung Sedayu menghendaki kami
kembali “ jawab Sekar Mirah.
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya “ Terserahlah
kepada kalian. Keadaan memang sedang kalut. Ternyata
bukan orang-orang Madiun saja yang ingin memanfaatkan
keadaan ini. Mungkin untuk keuntungan pribadi atas dasar
ketamakan akan harta benda, sedangkan mungkin dilakukan
karena menginginkan pujian, drajad dan pangkat. Agaknya
ada juga orang-orang Mataram yang melakukannya. “
Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya “ Kita memang
harus berhati-hati ayah. “
“ Baiklah. Usahakan agar suamimu merasa tenang disini.
Jika kau memerlukan sesuatu, katakan kepadaku, “ berkata
ayahnya “ aku memang akan beristirahat setelah semalam
suntuk mengurusi Jaka Rampan dengan orang-orangnya. “
Ki Demangpun kemudian meninggalkan Sekar Mirah yang
kemudian telah pergi ke dapur. Ternyata Pandan Wangi
setelah menyediakan ganti pakaian suaminya juga telah
berada di dapur pula.
Hari itu, orang-orang di Kademangan Sangkal Putung
masih saja membicarakan tentang sikap Jaka Rampan.
Merekapun merasa bangga, bahwa anak Ki Demang telah
menunjukkan harga diri anak-anak muda Sangkal Putung
pada umumnya.
“ Ternyata Swandaru benar-benar seorang yang berilmu
tinggi. Ia tidak hanya sekedar membual, berteriak-teriak dan
marah-marah kepada anak-anak muda di Kademangan ini.
Tetapi ia benar-benar seorang yang berilmu tinggi, “ berkata
seorang pemimpin kelompok pengawal Kademangan Sangkal
Putung.
“ Agaknya Ki Demang memang beruntung. Anaknya yang
perempuan itupun berilmu tinggi pula. Agung Sedayu dan
Pandan Wangi, menantu-menantunya, juga orang-orang yang
berilmu tinggi. Seandainya mereka berkumpul di Kademangan
Sangkal Putung, maka Sangkal Putung akan menjadi
Kademangan terkuat di seluruh tlatah Mataram. “ sahut
kawannya.
Beberapa orang yang mendengarnya menganguk-angguk.
Hampir berbareng dua orang berkata “ Ya. Kita akan menjadi
terkuat. “
Tetapi seorang yang sudah lebih tua dari mereka berkata “
Jika kita terkuat, lalu mau apa? “
Anak-anak muda itu termangu-mangu. Tetapi seorang
diantara mereka menjawab “ setidak-tidaknya kita dapat
berbangga. “
“ Dan menyombongkan diri? “ bertanya orang yang lebih
tua itu.
Sekali lagi mereka termangu-mangu. Namun beberapa
orang diantara mereka menjawab “ Tentu tidak. “
Sementara seorang anak muda yang lain berkata “ Aku kira
memang ada perbedaan antara kebanggaan dan
kesombongan. “
“ Kau benar “ jawab orang yang lebih tua itu “ tetapi jarak itu
terlalu pendek, sehingga jika kita tenggelam dalam
kebanggaan diri, maka kita akan terlalu mudah untuk
tergelincir dalam sikap yang sombong. “
Kawan-kawannya tidak membantah lagi. Bahkan beberapa
orang yang lain mengangguk-angguk.
Di rumah Ki Demang, suasana masih nampak lesu. Orangorang
di rumah Ki Demang pada umumnya merasa letih.
Namun setelah lewat tengah hari, maka mereka telah menjadi
segar kembali. Swandarupun telah berada di pendapa
bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sambil
membawa minuman dan makanan, maka Pandan Wangi
dan Sekar Mirahpun telah ikut pula duduk-duduk di pendapa.
Pembicaraan merekapun masih juga berkisar pada sikap
Jaka Rampan yang telah menodai wajah prajurit Mataram
sendiri.
Namun akhirnya pembicaraan merekapun telah merambat
sampai ke Tanah Perdikan Menoreh. Agung Sedayu memang
sedikit mencemaskan perkembangan keadaan. Namun seperti
yang pernah dikatakan oleh Sekar Mirah, bahwa kehadiran Ki
Jayaraga dan adanya barak pasukan khusus di Mataram,
akan dapat membantu mengatasi persoalan jika itu timbul di
Tanah Perdikan.
“ Karena itu, kakang tidak usah tergesa-gesa “ berkata
Swandaru “ jika kakang sempat berada di Kademangan ini
barang sebulan, maka kita akan mendapat kesempatan untuk
berlatih bersama sebagaimana dahulu sering kita lakukan,
disaat-saat kita mulai menapakkan kaki di perguruan kita. “
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun
kemudian menjawab “ Sebenarnya memang menarik sekali.
Tetapi rasa-rasanya kami tidak akan dapat berada disini
terlalu lama. Jika tubuh dan kesehatanku pulih kembali
sepenuhnya, maka kami terpaksa minta diri. “
“ Tetapi bukankah seperti kakang katakan, bahwa Tanah
Perdikan tidak perlu terlalu dicemaskan? “ bertanya
Swandaru.
“ Sebenarnya itu adalah pernyataan sekedar untuk
menenangkan diri. Namun kegelisahan itu masih saja tetap
bergejolak didalam hati “ jawab Agung Sedayu.
“ Jika demikian, kita pergunakan kesempatan yang ada
betapapun sempitnya “ berkata Swandaru “ bukankah kita
dapat memanfaatkannya untuk membuat perbandingan ilmu.
Bukan dengan maksud apa-apa. Tetapi sewajarnyalah
bahwa sebagai saudara seperguruan kita sekalisekali
berlatih bersama. “
Agung Sedayu tersenyum. Namun jawabnya “ Aku
sebenarnya ingin sekali melakukannya. Tetapi agaknya
keadaan tubuhku masih terlalu lemah.
Swandaru mengerutkan keningnya. Dipandanginya Agung
Sedayu sejenak. Lalu katanya “ Bukankah keadaan kakang
sudah baik? Biasakan bergerak kembali agar kau benar-benar
segera pulih. Tetapi jika kau masih saja merasa dirimu sakit
dan lemah, maka kau benar-benar memerlukan waktu yang
lebih lama lagi untuk merasa pulih kembali. “
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Bagaimanapun
juga hatinya mulai terasa tergelitik oleh sikap Swandaru.
Tetapi Sekar Mirah mencoba untuk menengahi. “ Kakang
Agung Sedayu akan menilai dirinya sendiri. Jika ia sudah
merasa benar-benar pulih, aku kira kakang Agung Sedayu
tidak akan berkeberatan. “
Swandaru memandang adiknya sekilas. Tetapi ia menahan
kata-kata yang hampir saja terloncat dari bibirnya “ Jangan
terlalu kau manjakan suamimu. “
“ Tetapi untunglah bahwa dalam keadaan tertentu,
Swandaru dapat juga menahan diri.
Yang mereka bicarakan kemudian adalah persoalanpersoalan
lain meskipun masih juga menyangkut
perkembangan Kademangan Sangkal Putung dan Tanah
Perdikan Menoreh. Ternyata bahwa kehadiran Sekar Mirah
untuk melihat rumah serta kampung halamannya telah
membuat Pandan Wangi menjadi rindu pula pada Tanah
Perdikan-nya. Tetapi menyadari keadaannya, maka Pandan
Wangi memang tidak ingin dalam waktu dekat pergi ke Tanah
Perdikan.
“ Aku tidak ingin melakukan perjalanan dalam keadaan
seperti ini “ berkata Pandan Wangi.
“ Sokurlah jika Ki Gede sempat menengokmu “ desis
Swandaru sambil tersenyum.
“ Jika Ki Gede mengetahui, maka Ki Gede tentu akan
mencari kesempatan datang ke Kademangan ini “ berkata
Agung Sedayu.
“ Setidak-tidaknya menjelang selapan “ desis Sekar Mirah
sambil tersenyum.
“ Terlalu lama “ sahut Pandan Wangi.
Tetapi Swandaru menyahut “ Kau kira Ki Gede dapat begitu
saja meninggalkan Tanah Perdikan dalam suasana seperti
ini? Ada dua hal yang harus diperhatikan. Tanah Perdikan
yang ditinggalkannya dan keselamatan Ki Gede sendiri dalam
perjalanan. Tetapi tentu tidak demikian dengan seorang
Kepala Tanah Perdikan. “
Pandan Wangi mengangguk-angguk. Iapun mengerti
sebagaimana dikatakan oleh suaminya.
Pembicaraan merekapun terputus ketika seorang pelayan
memberitahukan bahwa mereka telah mempersiapkan makan
siang di ruang dalam.
“ O “ desis Pandan Wangi “ ternyata aku terlalu asik disini
sehingga aku tidak melihat, bagaimana makan siang itu
dipersiapkan. Tunggulah sebentar. Aku akan membenahinya.
“
Adalah menjadi kebiasaan Pandan Wangi untuk mengatur
sendiri makan terutama jika sedang ada tamu. Karena itu,
maka iapun segera meninggalkan pendapa menuju keruang
dalam. Namun Sekar Mirahpun telah mengikutinya pula
keruang dalam.
Baru sejenak kemudian, Pandan Wangi mempersilah-kan
mereka yang ada di pendapa masuk ke ruang dalam untuk
makan.
Demikianlah, Agung Sedayu dan Sekar Mirah tinggal
beberapa hari di Sangkal Putung. Yang sering menjadi pening
adalah Glagah Putih jika ia mendengar Swandaru
memberikan beberapa pesan kepada Agung Sedayu. Ia
tidak mengerti, bagaimana Agung Sedayu dapat dengan sabar
mendengarkannya.
Dalam pada itu, pada satu kesempatan, selagi Untara
sedang melakukan tugas meronda bersama beberapa orang
prajuritnya, telah singgah di Sangkal Putung. Untara sekedar
ingin memberitahukan kepada Ki Demang bahwa Jaka
Rampan dan Gondang Bangah telah diserahkan kepada
seorang Senapati yang ditunjuk untuk menanganinya.
“ Aku sempat menghadap langsung Panembahan Senapati
“ berkata Untara. Lalu “ ternyata Panembahan Senapati
menjadi sangat prihatin. Tetapi Panembahan Senapati belum
dapat dengan cepat memecahkan hubungannya dengan
Madiun. Bahkan nampaknya persoalan Pajang justru akan
dapat menambah jarak itu. “
“ Persoalan Pajang yang mana? “ bertanya Agung Sedayu
yang ikut mendengarkan pula.
“ Pengganti Pangeran Benawa “ jawab Untara.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang
sudah menduga, bahwa hal itu akan dapat menjadi persoalan
baru bagi Mataram dan Madiun. Sementara di kedua belah
pihak terdapat orang-orang yang tamak dan ingin
memanfaatkan keadaan itu. Atau mereka yang kurang dapat
mengendalikan diri dan ingin bertindak sendiri-sendiri.
Dalam pada itu Untarapun telah menceriterakan pula,
bagaimana mungkin Jaka Rampan dan Gondang Bangah
meninggalkan kesatuannya dengan membawa prajurit.
“ Ternyata bahwa perintah bagi keduanya adalah
menangkap sekelompok penjahat yang mengganggu
ketenangan satu lingkungan. Jaka Rampan seharusnya
mendapat tugas ke Dlingo karena di daerah itu telah timbul
keributan. Sekelompok orang telah berusaha menguasai
kehidupan beberapa Kademangan di Dlingo. Sedangkan
Gondang Bangah harus pergi ke daerah pesisir Selatan,
karena keadaan
yang hampir sama. Tetapi keduanya telah bersepakat
untuk melakukan tindakan sendiri. Sudah tentu pada
keduanya terdapat pamrih pribadi yang baru akan diketahui
setelah keduanya menjalani pemeriksaan. “
Yang mendengarkan keterangan Untara itu menganggukangguk.
Sementara itu Untarapun berpesan pula “ Hati-hatilah
untuk seterusnya. “
Ki Demang dan mereka yang mendengarkan keterangan
Untara itu mengangguk-angguk. Mereka memang harus
berhati-hati. Banyak hal yang dapat terjadi. Bahkan kadangkadang
diluar dugaan mereka sama sekali.
Dalam pada itu, ketika Untara meninggalkan Sangkal
Putung, maka Agung Sedayupun sekaligus minta diri, bahwa
dalam waktu dekat, ia akan langsung kembali ke Tanah
Perdikan Menoreh.
“ Tolong kakang. Mohon dalam saat-saat tertentu kakang
menyempatkan diri menengok guru dan paman Wi-dura di
padepokan kecil itu. “ berkata Agung Sedayu.
Untara tersenyum. Katanya “ Rasa-rasanya aku juga ingin
sering berada di padepokan itu bersama paman Wi-dura. Ilmu
yang membekali kami berdua bersumber dari mata air yang
sama. Meskipun rasa-rasanya aku sudah terlalu tua, apalagi
paman Widura, tetapi tidak ada salahnya jika kami berusaha
untuk menyegarkan ilmu kami. “
Agung Sedayupun tersenyum pula. Sementara Swandaru
menyahut “ Tidak ada salahnya kakang. Waktu untuk
meningkatkan ilmu tidak dibatasi oleh umur seseorang.
Untara tertawa. Namun sejenak kemudian, ia telah
meninggalkan rumah Ki Demang Sangkal Putung.
Adalah diluar dugaan ketika tiba-tiba saja Swandaru
berkata hampir berbisik ditelinga Agung Sedayu “ Nah, kau
dengar kakang. Sementara kakang Untarapun merasa perlu
untuk meningkatkan ilmunya. Apalagi kakang Agung Sedayu
yang lebih muda. Seharusnya kakang menyediakan
waktu lebih banyak lagi untuk menekuni ilmu. Besok, jika
kakang kembali ke Tanah Perdikan, silahkan membawa kitab
yang dipinjamkan oleh Guru kepada kita. Kakang tidak perlu
tergesa-gesa mengembalikan. Maksudku, kita tidak perlu
terikat pada batas waktu tiga bulan di tempat masing-masing. “
Telinga Glagah Putih yang ikut mendengar meskipun
perlahan-lahan sekali, terasa menjadi panas. Sementara itu
Agung Sedayu menjawab lirih “ Terima kasih adi Swandaru. “
Sebenarnyalah, Swandaru telah menyiapkan kitab yang
dipinjamkan oleh Kiai Gringsing kepada dua muridnya. Kiai
Gringsing memang menyerahkan perkembangan ilmu muridmuridnya
kepada kedua muridnya itu sendiri. Menurut
penilaian Kiai Gringsing, ilmu Agung Sedayulah yang maju
lebih cepat dari ilmu Swandaru.
Dalam pada itu, pada hari yang telah disepakati oleh Agung
Sedayu dan Sekar Mirah, maka keduanya bersama Glagah
Putih telah minta diri kepada Ki Demang dan seluruh keluarga
Kademangan Sangkal Putung.
Sebenarnya mereka memang masih ingin menahan Agung
Sedayu suami isteri dan Glagah Putih, tetapi agaknya
keadaan yang gawat telah membuat ketiganya tidak dapat
terlalu lama meninggalkan Tanah Perdikan.
“ Waktuku terlalu lama habis dirampas oleh luka-luka di Jati
Anom “ desis Agung Sedayu.
“ Baiklah “ berkata Ki Demang. “ Lain kali, sokurlah jika
suasana menjadi cepat cerah, kalian akan datang lagi untuk
waktu yang lebih lama di Kademangan Sangkal Putung ini. “
Sekar Mirah ternyata harus berjuang melawan air matanya
yang mengembang dipelupuk. Apalagi ketika ia minta diri
kepada Pandan Wangi. Betapapun ia berusaha, namun setitik
air memang telah menetas dari matanya yang
basah. Sehingga Pandan Wangipun harus mengusap
matanya sendiri yang menjadi panas.
“ Kurnia itu akan datang pada waktunya “ bisik Pandan
Wangi. Sekar Mirah mengangguk.
Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, selagi
matahari mulai naik, mereka telah meninggalkan Sangka!
Putung. Keluarga Ki Demang telah mengantar mereka sampai
kepintu gerbang. Swandaru memang menawarkan beberapa
orang pegawai untuk mengantar mereka, tetapi sambil
tersenyum Agung Sedayu berkata “ Terima kasih adi. Agaknya
kami akan tidak terganggu di perjalanan, -
Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu telah berpacu di
bulak-bulak persawahan Kademangan Sangkal Putung.
Beberapa orang yang melihat mereka telah menyapa dan
bertanya, apakah mereka akan kembali ke Tanah Perdikan.
Seorang perempuan yang sedang menyiangi sawahnya
telah naik kepematang sambil bertanya “ Kau tidak menunggu
mbokayumu sampai melahirkan? “
Sekar Mirah tersenyum, berapapun hatinya tersentuh.
Jawabnya “ Kami akan segera kembali lagi bibi. “
Selama mereka masih berada di daerah Kademangan,
maka mereka tidak dapat berpacu lebih cepat. Apalagi jika
mereka memasuki padukuhan-padukuhan. Maka mereka
masih harus menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang
yang bertemu di sepanjang jalan.
Baru ketika mereka telah keluar dari Kademangan Sangkal
Putung, maka mereka bertiga dapat mempercepat derak kuda
mereka.
“ Apakah kita akan singgah di Mataram? “ bertanya Glagah
Putih.
Agung Sedayu berpaling kepada Sekar Mirah. Jawabnya “
Aku kira tidak perlu. Tidak ada persoalan penting yang perlu
kita laporkan, karena kakang Untara telah
menghadap langsung untuk memberikan laporan tentang
Jaka Rampan dan prajurit-prajuritnya. “
Glagah Putih tidak bertanya lagi. Nampaknya Agung
Sedayu memang ingin segera kembali ke Tanah Perdikan.
Rasa-rasanya mereka bertiga memang sudah terlalu lama
meninggalkan Tanah Perdikan itu. Peristiwa-peristiwa yang
terjadi selama mereka berada di Jati Anom dan Sangkal
Putung rasa-rasanya telah mendorong Agung Sedayu untuk
semakin cepat kembali.
Glagah Putih memang tidak mempunyai kepentingan
khusus di Mataram sehingga iapun tidak berkeberatan untuk
langsung kembali ke Tanah Perdikan.
“ Jika ada persoalan yang harus diselesaikan dengan
Mataram, pada kesempatan lain kita akan dapat menghadap “
berkata Agung Sedayu pula.
Meskipun tidak mengatakannya, namun Glagah Putih
mengetahui bahwa Agung Sedayu bermaksud mengatakan “
Sekarang kita kembali dahulu ke Tanah Perdikan. “
Meskipun mereka tidak ingin singgah di Mataram, namun
mereka telah menempuh perjalanan melalui jalan yang paling
ramai. Jalan yang meskipun melalui hutan di Tambak Baya,
tetapi jalan itu merupakan jalan yang sibuk. Meskipun hutan
Tambak Baya masih merupakan hutan yang pepat dan besar,
tetapi disebelah menyebelah jalan, rasa-rasanya hutan itu
tidak lebih dari sebuah taman. Justru karena jalan itu cukup
ramai, maka binatang buas telah pergi semakin jauh masuk
kedalam hutan yang masih jarang disentuh kaki manusia.
Bahkan di beberapa tempat telah sekelompok-sekelompok
rumah yang bukan saja dihuni, tetapi telah dibuka pula
beberapa buah kedai makanan dan minuman. Orang-orang
yang tinggal di rumah-rumah itu sama sekali tidak cemas
terhadap binatang-binatang buas yang akan dapat mereka
lawan bersama-sama. Jika satu kali seekor harimau tersebut
masuk ke lingkungan mereka, maka beberapa orang laki-laki
telah
menghadapinya dengan tombak-tombak panjang.
Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih yang
berpacu dipunggung kuda meskipun tidak terlalu kencang,
telah menyeberangi sungai Opak dan beberapa saat
kemudian mereka mendekati lingkungan hutan Tambak Baya.
Tetapi karena jalan yang banyak dilewati orang yang hilir
mudik, maka mereka sama sekali tidak memikirkan hambatan
yang akan dapat mengganggu perjalanan mereka.
Sebenarnya tidak ada niat ketiganya untuk berhenti di
sebuah kedai yang terdapat di pinggir jalan itu. Tetapi rasarasanya
mereka ingin memberi kesempatan kuda-kuda
mereka beristirahat.
Karena itu, ketika mereka sampai di sebuah tanjakan yang
tidak begitu tinggi, maka mereka telah berhenti di sebuah
kedai diantara sekelompok kedai yang lain. Kedai yang cukup
besar dan agaknya banyak dikunjungi orang. Beberapa ekor
kuda nampak ditambatkan disebelah kedai itu. Sementara
seorang laki-laki telah sibuk memberikan air dan makan bagi
kuda-kuda itu.
“ Kita berhenti sebentar “ berkata Agung Sedayu “ kudakuda
kita akan mendapat pelayanan sebagaimana kita sendiri.
“
Sekar Mirah yang berpakaian seperti seorang laki-laki itu
tersenyum. Katanya “ Baiklah. Agaknya Glagah Putih juga
sudah haus. Terik matahari dipunggung kita telah memeras
keringat kita di perjalanan yang cukup panjang ini. “
“ Tetapi aku masih harus bertanya, apakah Glagah Putih
bersedia minum atau tidak “ desis Agung Sedayu.
Glagah Putih tertawa kecil. Katanya “ Aku memang tidak
ingin minum bersama kuda-kuda itu. “
Sekar Mirahpun tertawa. Tetapi ia tidak berkata apa-apa
lagi. Demikianlah maka mereka bertigapun telah singgah di
sebuah kedai di pinggir Alas Tambak Baya. Sementara itu
kuda-kuda merekapun telah sempat beristirahat. Seperti
kuda-kuda yang lain, maka kuda-kuda merekapun telah
mendapat minum dan makan. Nampaknya kedai itu telah
mengadakan tambahan pelayanan khusus bagi kuda-kuda
p,ara tamu yang singgah di kedai itu, sehingga dengan
demikian maka orang-orang berkuda yang memang sering
lewat jalan itu akan memilih tempat itu untuk singgah.
Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih yang
kemudian memasuki kedai itu telah memilih tempat disudut.
Tempat yang agak kedalam sehingga tidak banyak mendapat
perhatian orang lain. Mereka duduk di sebuah lincak panjang.
Di depan lincak itu terdapat sebuah geledeg bambu rendah
untuk menempatkan berbagai macam makanan.
Beberapa saat kemudian, maka minuman yang mereka
pesan telah dihidangkan. Sebagaimana orang lain didalam
kedai itu, maka merekapun kemudian telah meneguk
minuman yang masih hangat, meskipun sebenarnya mereka
belum terlalu haus. Tetapi perjalanan yang mereka tempuh
memang sudah cukup jauh.
Namun beberapa saat kemudian, telah masuk pula empat
orang kedalam kedai itu. Seorang diantara mereka telah lewat
separo baya. Rambutnya selembar-selembar yang berjuntai
dibawah ikat kepalanya telah nampak keputih-putihan,
sebagaimana kumis dan janggutnya yang lebat tetapi tidak
terlalu panjang. Sedangkan tiga orang lainnya masih nampak
agak lebih muda. Bahkan seorang diantaranya nampaknya
masih seumur dengan Agung Sedayu.
Ternyata keempat orang itu telah memperhatikan Agung
Sedayu sejenak. Merekapun kemudian melangkah dan duduk
di lincak panjang di hadapannya.
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Sekar Mirah dan
Glagah Putihpun sempat memperhatikan mereka sekilas.
Namun mereka tidak lagi menghiraukan keempat orang itu,
kecuali Agung Sedayu yang sempat berkata kepada orang
yang tertawa itu “ Marilah minum Ki Sanak. “
Orang itu mengangguk ramah. Dengan nada rendah ia
menjawab “ Silahkan Ki Sanak. Kami baru akan memesan. “
Ketika kemudian Agung Sedayu meneguk minumannya,
maka orang-orang itupun telah memesan minuman pula.
Beberapa saat mereka saling berdiam diri. Namun
kemudian orang yang rambutnya telah memutih itu tiba-tiba
saja bertanya sambil mengunyah jenang alot “ Bukankah Ki
Sanak yang bernama Agung Sedayu? “
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. lapun sedang
makan sepotong pondoh beras.
“ Ya Ki Sanak “ jawab Agung Sedayu setelah menelan
makanan di kerongkongannya “ aku minta maaf, bahwa
agaknya aku agak lupa kepada Ki Sanak seandainya kami
sudah pernah berkenalan sebelumnya. “
Orang itu tersenyum. Sementara Sekar Mirah dan Glagah
Putih pun nampaknya tertarik kepada pertanyaan itu.
Tetapi jawab orang itu “ Kita memang belum pernah
berkenalan, Ki Sanak. “
“ O “ Agung Sedayu mengangguk-angguk.
“ Kami hanya mengenal Ki Sanak karena kemasyuran
nama Ki Sanak. Meskipun beberapa saat yang lalu, Ki Sanak
mengalami luka berat dalam satu pertempuran di Jati Anom “
berkata orang itu pula.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada
datar ia bertanya “ Darimana Ki Sanak mengetahui? -
“ Orang-orang terkenal sebagaimana murid-murid Kiai
Gringsing tentu lebih banyak diketahui orang tentang
keadaannya “ jawab orang itu.
“ Siapa sebenarnya Ki Sanak? Mungkin sahabat Kiai
Gringsing atau orang yang dekat dengannya? “ bertanya
Agung Sedayu.
Orang itu tersenyum. Potongan terakhir dari jenang alotnya
telah ditelannya. Katanya “ Ki Sanak. Kami memang harus
kagum terhadap murid-murid Kiai Gringsing yang perkasa. Ki
Sanak adalah murid yang tertua. Sementara Swandaru, murid
mudapun memiliki kemampuan yang luar biasa. Aku tidak
yakin, bahwa kemampuan Swandaru memang berada diatas
kemampuan Agung Sedayu. “
“ Aku tidak tahu apa yang Ki Sanak katakan “ desis Agung
Sedayu.
“ Beberapa orang sering mendengar Swandaru mengeluh,
bahwa kakak seperguruannya agak kurang menyediakan
waktunya untuk berada didalam sanggar karena
kesibukannya. Agung Sedayu lebih senang berada di
bendungan daripada berada didalam sanggar. Karena itu,
menurut Swandaru, kemampuan Agung Sedayu lambat sekali
berkembang. Tidak sebagaimana terjadi pada Swandaru “
berkata orang itu.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “
Agaknya saudara banyak mengetahui tentang keadaan kami. “
“ Aku telah berusaha untuk mengetahuinya “ berkata orang
itu “ beberapa hari terakhir aku mencoba untuk mengenal dari
dekat murid-murid Kiai Gringsing yang terkenal itu. “
“ Ki Sanak “ sahut Agung Sedayu “ nampaknya Ki Sanak
telah membuang waktu untuk kepentingan itu. Apa
sebenarnya yang Ki Sanak kehendaki? “
Orang itu tertawa. Katanya “ Swandaru adalah seorang
anak muda yang perkasa. Ia dikelilingi oleh sepasukan
Kademangan yang memiliki kemampuan seorang prajurit.
Karena itu, sulit bagiku untuk berurusan dengan
anak muda itu. “
Agung Sedayu mulai menjadi berdebar-debar, Sementara
orang itu berkata selanjutnya “ Jika aku memaksa diri, maka
aku akan berhadapan dengan sepasukan pengawal yang
kuat. Betapapun tinggi ilmu seseorang, tetapi jumlah yang
banyak akan ikut menentukan kekuatan salah satu pihak. “
“ Aku tidak mengerti Ki Sanak “ berkata Agung Sedayu.
“ Agung Sedayu “ berkata orang itu dengan kesan wajah
yang tidak berubah. Lalu katanya “ Aku adalah guru Jaka
Rampan. “
“ O “ Agung Sedayu mengangguk-angguk.
“ Karena aku tidak dapat dengan serta merta membalas
sakit hati muridku terhadap Swandaru yang selain mampu
menjebaknya, juga mengalahkannya dalam perang tanding
yang tidak tuntas, maka aku telah memilih sasaran yang lain.
Menurut pendengaranku, kaulah yang telah merencanakan
mengirimkan penghubung ke Jati Anom untuk menjebak
muridku “ berkata orang itu.
Agung Sedayu masih saja mengangguk-angguk. Katanya “
Aku menangkap maksud Ki Sanak, jadi Ki Sanak merasa sakit
hati karena Jaka Rampan ditangkap oleh Senapati Besar di
Jati Anom? “
“ Ya. Dan Senapati itu adalah kakak kakandungmu. Jadi
ada beberapa alasan jika aku menemuimu setelah Jaka
Rampan ditangkap “ berkata orang itu.
“ Lalu maksud Ki Sanak? “ bertanya Agung Sedayu.
“ Maaf Agung Sedayu “ berkata orang itu dengan sikap
yang tidak berubah “ kami ingin mempersilahkanmu singgah di
padepokanku. “
Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya “ Maaf Ki Sanak. Aku mempunyai tugas
yang harus aku selesaikan di Tanah Perdikan. “
“ Aku tahu Agung Sedayu “ jawab orang itu “ agaknya kau
ingin segera kembali ke Tanah Perdikan. Aku memang
mengambil kesempatan ini untuk mengikutimu dan
mempersilahkanmu singgah di padepokan. “
“ Maaf Ki Sanak “ jawab Agung Sedayu “ sudah aku
katakan, aku tidak mempunyai banyak waktu. “
Orang itu tersenyum. Namun sementara itu Glagah Putih
dan Sekar Mirahpun menjadi tegang.
Tetapi sikap orang itu tidak berubah. Ia masih saja
berbicara perlahan sambil tersenyum-senyum, sehingga
orang-orang yang ada di kedai itu sama sekali tidak tertarik
pada pembicaraan mereka. Sedangkan Agung Sedayupun
menanggapinya dengan cara yang sama pula.
“ Agung Sedayu “ berkata orang itu “ aku menawarkan satu
pemecahan yang baik. Kau sajalah yang singgah di
padepokanku. Biarlah kedua orang yang bersamamu, isteri
dan adik sepupumu itu kembali ke Sangkal Putung dan
mengabarkan kepada Untara, bahwa kau telah singgah di
padepokanku. Kau akan aku persilahkan meninggalkan
padepokan tanpa luka seujung duripun jika Jaka Rampan-pun
kembali dengan selamat. Aku tidak peduli apa yang akan
terjadi dengan Gondang Bangah dan prajurit-prajurit yang lain.
Yang penting bagiku adalah Jaka Rampan, Untara tentu dapat
mengusahakan agar Jaka Rampan dibebaskan demi
keselamatan adiknya. Tetapi jika Jaka Rampan tidak
dibebaskan, maka kaupun tidak akan aku persilahkan
meninggalkan padepokanku sepanjang waktu yang diperlukan
oleh Jaka Rampan menjalani hukumannya. Sedangkan jika
ternyata kemudian bahwa Jaka Rampan dihukum mati,
dengan menyesal hukuman yang serupa akan kau alami. Nah,
bukankah itu satu penyelesaian yang adil? -
Agung Sedayu masih meneguk minuman hangatnya.
Bahkan ia masih juga memungut sepotong tasik yang liat.
Tanpa kegelisahan pada nada suaranya, Agung Sedayu
mempersilahkan “ Tasikan ini manis sekali Ki Sanak. “
Guru Jaka Rampan itu mengerutkan keningnya. Ia memang
menjadi berdebar-debar melihat sikap Agung Sedayu. Orang
yang disebut saudara tua seperguruan anak Demang Sangkal
Putung ini bersikap tenang sekali menghadapi kesulitan.
“ Ki Sanak “ berkata guru Jaka Rampan itu “ nampaknya
kau tidak menyadari apa yang dapat terjadi dengan dirimu.
Kau agaknya masih terpengaruh perkelahian yang terjadi di
halaman Kademangan Sangkal Putung. Ingat Agung Sedayu,
aku adalah guru Jaka Rampan. Kau jangan mengukur ilmuku
dengan ilmu Jaka Rampan yang ternyata dapat dikalahkan
oleh adik seperguruanmu itu.
“ Ki Sanak “ berkata Agung Sedayu “ aku tidak pernah
merendahkan ilmu seseorang. Juga ilmu Jaka Rampan.
Apalagi gurunya. Tetapi bagiku lebih baik bersikap wajah
daripada aku harus berteriak-teriak marah dan mengumpatmu
sekarang ini. Karena dengan demikian maka kita akan dapat
mengganggu ketenangan kedai ini. Bukankah Ki Sanak sudah
bersikap demikian? “
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “
Nah. Kau tidak menjumpai pilihan lain Agung Sedayu. “
“ Kenapa tidak? “ jawab Agung Sedayu “ aku berhak
menentukan apakah aku akan singgah atau tidak. “
“ Agung Sedayu. Kau kira aku tidak akan dapat
memaksamu? “ bertanya guru Jaka Rampan itu.
“ Ki Sanak “ berkata Agung Sedayu “ seharusnya kau
menyadari, bahwa muridmu telah melakukan kesalahan.
Sebagai seorang guru kau justru harus menunjukkan kepada
murid-muridmu, manakah yang benar dan baik dilakukan dan
manakah yang tidak. Jika kau memanjakan muridmu seperti
ini, maka Jaka Rampan tidak akan pernah merasa bersalah.
Sementara itu, Mataram adalah sebuah negara yang
mempunyai paugeran. Sudah sewajarnyalah
bahwa setiap orang, termasuk para prajurit di Mataram,
harus mentaati paugeran-paugeran yang berlaku di Mataram.
Nah, sebaiknya kau temui muridmu itu dan kau nase-hati agar
Jaka Rampan menerima hukuman yang akan diletakkan
dipundaknya dengan penuh penyesalan. Dengan demikian,
maka Jaka Rampan tidak akan jatuh kedalam kesalahan lagi
dikemudian hari. “
Orang itu mengangguk-angguk. Katanya “ Agaknya Untara
sempat juga memberimu beberapa petunjuk. Tetapi ingat
Agung Sedayu. Aku bukan prajurit Mataram yang tunduk pada
paugeran seorang prajurit. Ketahuilah, kesalahan yang
sebenarnya tidak terletak pada Jaka Rampan. Ia hanya
menjalankan perintahku. Ada dendamku kepada saudara
seperguruanku yang tinggal dibelakang garis pertahanan
Madiun. Jika Jaka Rampan sempat mempergunakan
pasukannya, maka aku akan dapat menuntut balas,
sementara gerakan Jaka Rampan itu akan dapat memberikan
keuntungan yang besar bagi Mataram. Tetapi ternyata
Senapati Untara itu berjiwa kerdil yang hanya berpegang pada
paugeran yang mati tanpa kebijaksanaan. “
“ Apakah yang kau maksud kebijaksanaan dari satu
paugeran? “ bertanya Agung Sedayu “ apakah bedanya
kebijaksanaan atas satu paugeran dengan penyimpangan? “
***
API DI BUKIT MENOREH SERI III
JILID 232
ORANG itu tersenyum. Katanya, “ Ternyata kau memang memiliki kemampuan mempergunakan nalarmu. Itulah sebabnya rencana Jaka Rampan telah gagal. Agaknya kau memang lebih cerdik dari adik seperguruanmu, anak Demang Sangkal Putung itu.
Tetapi agaknya benar juga kata orang, bahwa ilmu anak Ki Demang itu lebih tinggi dari ilmumu.” “ Biarlah orang lain menilai perbandingan ilmu kami.” berkata Agung Sedayu, “ tetapi satu hal yang harus kau ketahui Ki Sanak, bahwa aku tidak akan singgah di padepokanmu. Persoalan Jaka Rampan bukan persoalanku lagi.”
“ Begitu mudahnya kau mencuci tangan?” bertanya guru Jaka Rampan. Agung Sedayu tersenyum. Sambil memasukkan potongan terakhir tasikannya kedalam mulutnya, ia berkata, “ Aku kira yang paling mudah aku lakukan memang mencuci tangan.” Wajah orang itu menjadi tegang. Tetapi ia masih duduk dengan tenang. Untuk beberapa saat orang yang mengaku guru Jaka Rampan itu berdiam diri. Kawan-kawannyalah yang nampak menjadi gelisah. Seakan-akan mereka tidak sabar lagi menunggu, Bagi mereka, maka langkah yang paling baik adalah memaksa Agung Sedayu untuk mengikuti mereka ke padepokan. Namun sementara itu Glagah Putih dan Sekar Mirahpun menjadi gelisah pula. Mereka menyadari, bahwa ternyata mereka telah menjumpai persoalan yang tidak mereka perhitungkan sebelumnya. Mereka mengira bahwa persoalan Jaka Rampan itu sudah selesai dan untuk selanjutnya menjadi tanggung jawab para Senapati di Mataram. Tetapi tiba-tiba saja mereka telah bertemu dengan orang yang mengaku guru Jaka Rampan, yang tentu saja gurunya sebelum Jaka Rampan memasuki tugas keprajuritan. Orang itu sengaja atau tidak sengaja telah mengaku, bahwa justru orang itulah yang telah menggerakkan Jaka Rampan untuk menyusup kebelakang garis pertahanan Madiun yang sedang berselisih pendapat dengan Mataram. Beberapa saat kemudian, ternyata guru Jaka Rampan itupun berkata, “ Agung Sedayu. Aku tahu, kaupun memiliki kemampuan yang tinggi, meskipun aku tidak tahu pasti, apakah benar ilmunya belum setataran dengan saudara seperguruannya. Apalagi kau baru saja terluka parah, meskipun aku juga tidak tahu, siapakah yang telah melukaimu itu. Tetapi menurut pendengaranku, orang itu adalah orang yang berilmu sangat tinggi pula. Namun yang telah berhasil kau bunuh di pedepokam kecil gurumu. Tetapi tentu setiap orang akan memperhitungkan peranan gurumu dalam hal ini. Gurumu yang namanya menjulang setinggi Gunung Merapi itu, tentu akan dapat membantumu meskipun ia dalam keadaan sakit. Sehingga dengan demikian, maka kau tidak terbunuh oleh lawanmu itu.” Glagah Putih yang tidak sadar lagi, telah bergeser setapak. Hampir saja mulutnya menjawab. Tetapi Agung Sedayu mendahului, “ Bukankah hal itu wajar? Seorang guru memang wajib membantu muridnya jika muridnya dalam keadaan gawat. Apalagi muridnya tidak melakukan langkah-langkah yang bertentangan dengan paugeran. Bahkan berusaha menegakkannya.” “ Tetapi sekarang, gurumu itu tidak ada disini Agung Sedayu.” berkata guru Jaka Rampan itu. “ Dalam keadaan yang demikian, maka aku harus bersandar pada kemampuanku sendiri. Namun ada sandaranku yang lebih kokoh dari segalanya. Yang Maha Adil akan menilai langkah-langkah kita. Apakah benar yang kau tawarkan itu memang sudah cukup adil.” jawab Agung Sedayu. “ Kau menjengkelkan aku Agung Sedayu.” berkata guru Jaka Rampan. Lalu “ Semula aku ingin membuat perjanjian dengan baik-baik. Selama Jaka Rampan belum dibebaskan, aku persilahkan kau tinggal di padepokanku. Tetapi pembicaraan kita telah mengarah ketingkat yang lebih keras daripada sekedar membuat rencana yang saling kita setujui.” “ Lupakan saja perjanjian yang kau siapkan itu Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu, “ kami akan meneruskan perjalanan kami kembali ke Tanah Perdikan Menoreh yang tentu sudah menunggu. Apalagi jika mereka yang ada di Tanah Perdikan itu mendengar bahwa aku telah terluka parah di Jati Anom sementara guruku sedang sakit.” “ Agung Sedayu.” berkata guru Jaka Rampan, “ kemungkinan seperti itu bukannya tidak aku perhitungkan. Karena itu, maka akupun telah siap memaksamu. Terserah kepadamu, apakah kita akan bertempur disini, di jalan itu atau kita masuk saja kedalam hutan agar tidak mengganggu orang lain. Siapa yang kalah, harus tunduk kepada yang menang, kecuali jika terlanjur mati.” “ Kalau itu yang kau tawarkan, maka aku tidak dapat menolak. Sebab seandainya aku menolak, maka kaupun tentu akan memaksaku.” jawab Agung Sedayu. Namun kemudian katanya, “ Tetapi kau harus ingat, bahwa bukan akulah yang membuat perkara ini. Kaulah yang agaknya telah membuat langkah yang salah atas murid-muridmu, karena kau ingin memanfaatkan muridmu bagi kepuasan hatimu. Sementara kau menginginkan kepuasan dari sebuah dendam yang membakar jantungmu. Bukankah dengan demikian kau sendirilah yang telah menjerumuskan muridmu ke dalam kesulitan.” “ Karena itu, aku harus membebaskannya.” berkata guru Jaka Rampan. Lalu, “ Nah, sekarang apa yang akan kita lakukan?” “ Terserah kepadamu.” jawab Agung Sedayu. “ Masuklah kedalam hutan. Aku akan mengikutimu agar tidak ada kesan bahwa aku telah menjebakmu. Kaulah yang memilih tempat.” berkata guru Jaka Rampan. Agung Sedayu mengangguk-angguk. Iapun kemudian berpaling kepada Sekar Mirah dan Glagah Putih, “ Marilah. Kita penuhi keinginan saudara kita itu.” Glagah Putih dan Sekar Mirah tidak menjawab. Keduanyapun kemudian bangkit pula dan berjalan keluar kedai itu, sementara Agung Sedayu sempat menghitung minuman dan makanan yang telah mereka makan dan membayarnya. Namun dalam pada itu, guru Jaka Rampan itupun menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya tongkat baja putih ditangan Sekar Mirah. Tongkat baja putih dengan kepala tengkorak yang berwarna kekuning-kekuningan. Senjata lambang kekerasan yang jarang ada yang dapat mematahkannya. Tetapi orang itu berkata didalam hatinya, “ Senjata itu sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Tergantung sekali kepada pemiliknya.” Namun orang itupun telah mendengar pula keterangan beberapa orang yang pernah berbicara tentang Sekar Mirah. Bahkan adik Swandaru itu adalah seorang perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi pula. Sedangkan saudara sepupu Agung Sedayu itu juga seorang anak yang masih muda namun yang telah membekali dirinya dengan ilmu yang hampir mapan. Karena itu, ketika Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih telah keluar dari kedai itu, orang yang menyebut dirinya guru Jaka Rampan itupun berkata kepada kawan-kawannya, “ Kita ikuti mereka. Tetapi hati-hatilah. Kalian sudah pernah mendengar tentang mereka bertiga. Agung Sedayu sendiri, isterinya yang membawa tongkat yang mendebarkan, karena tongkat seperti itu pula yang dimiliki oleh Macan Kepatihan di Jipang. Aku tidak tahu hubungan perempuan itu dengan Macan Kepatihan, tetapi nampaknya aliran ilmu mereka bersumber dari perguruan yang satu. Sedangkan anak yang masih sangat muda itu adalah sahabat Raden Rangga yang tidak dapat ditakar ilmunya itu.” Ketiga kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “ Kita tidak pernah silau menghadapi lawan yang bagaimanapun juga. Sementara itu Agung Sedayu yang baru saja sembuh dari luka-lukanya yang parah, tentu masih belum mencapai tingkat kemampuannya sebagaimana sebelumnya.” “ Agung Sedayu nampaknya sudah pulih sepenuhnya. Kita harus berhati-hati.” berkata guru Jaka Rampan itu. Mereka berempatpun sejenak kemudian telah meninggalkan tempatnya setelah orang yang rambutnya keputih-putihan dan menyebut dirinya guru Jaka Rampan itu membayar harga makanan dan minumannya serta kawankawannya. Diluar, mereka melihat Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih tengah mengambil kuda mereka. Kepada orang yang mengurusi kuda-kuda itu Agung Sedayu telah memberikan beberapa keping uang. Guru Jaka Rampan itupun kemudian telah berkata kepada Agung Sedayu ketika orang itu mengambil kudanya pula, “ Kaulah yang memilih tempat. Mungkin tempat itu akan menjadi kuburmu pula jika kau berkeras menolak tawaranku.” Agung Sedayu tidak menjawab. Bersama Sekar Mirah dan Glagah Putih maka merekapun telah meninggalkan halaman kedai menyusuri jalan yang cukup banyak dilalui orang itu. “ Apakah kita akan masuk kedalam hutan?” bertanya Glagah Putih. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil berpaling kepada Sekar Mirah ia berkata, “ Bagaimana menurut pendapatmu?” “ Tentu kepada kakang.” jawab Sekar Mirah, “ tetapi akupun telah siap untuk mempertahankan diri.” Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Apaboleh buat. Kita sudah berusaha sejauh mungkin untuk menghindari kekerasan. Tetapi agaknya persoalan-persoalan itu datang beruntun mengejar kita.” Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ia menyadari, bahwa Agung Sedayu sendiri sebenarnya tidak menghendaki pertengkaran seperti itu terjadi. Namun ia memang tidak dapat mengelak. Karena itu, ketika mereka melihat sebuah lorong sempit memasuki Alas Tambak Baya, maka Agung Sedayupun berkata, “ Kita akan mengambil lorong itu.” Sekar Mirah hanya mengangguk saja. Ketika kemudian Agung Sedayu benar-benar berbelok memasuki lorong itu, iapun telah mengikutinya pula. Dipaling belakang adalah Glagah Putih yang duduk diatas kudanya yang tegar yang diterimanya dari Raden Rangga. Beberapa saat kemudian, maka mereka telah berada di dalam Alas Tambak Baya. Ketika mereka menemukan tempat yang agak lapang, maka Agung Sedayupun telah berhenti. “ Kita menunggu mereka disini.” desis Agung Sedayu. Mereka bertigapun telah berloncatan turun. Ditambatkannya kuda-kuda mereka pada batang-batang pohon yang tumbuh dihutan yang lebat itu. Untuk beberapa saat mereka menunggu sambil mengamati lingkungan disekitar mereka. Pohon-pohon yang tumbuh pepat. Batangbatang perdu dan tanah yang lembab. “ Kenapa tempat ini menjadi agak lapang?” bertanya Glagah Putih tiba-tiba. “ Kau lihat batu-batu padas dibawah kaki kita?” bertanya Agung Sedayu pula. Glagah Putih mengangguk-angguk. Agaknya mereka berada diatas bebatuan sehingga tidak sebatang pohon besarpun yang tumbuh. Hanya pohon-pohon perdu sajalah yang lebat menutupi batu-batu padas yang keras. Beberapa saat kemudian, maka mereka bertigapun telah melihat ampat orang diatas punggung kuda pula memasuki tempat itu. Dengan tenang merekapun turun dari kuda mereka. Sebagaimana Agung Sedayu, maka merekapun telah menambatkan kuda-kuda mereka pula. “ Sungguh satu sikap yang terpuji.” berkata guru Jaka Rampan itu, “ dengan demikian maka kebesaran nama Agung Sedayu bukannya sekedar bualan orang-orang yang mengaguminya.” “ Sudahlah.” berkata Agung Sedayu, “ kau tidak usah berpura-pura memujiku. Sekarang, cara penyelesaian yang manakah yang kau inginkan?” “ Aku masih tetap menawarkan kesempatan terbaik bagimu. Singgah di padepokanku.” berkata guru Jaka Rampan. “ Jangan kau sebut lagi. Kau sudah tahu jawabanku.” desis Agung Sedayu. Orang yang mengaku sebagai guru Jaka Rampan itu memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Namun kemudian ia berkata, “ Agung Sedayu. Jika kau tidak mau menerima tawaranku, kau tentu akan kehilangan segala kesempatan. Bahkan bukan hanya kau saja yang harus terkubur disini. Tetapi isteri dan adik sepupumu itupun akan menanggung akibat kesalahanmu pula. Tetapi jika kau bersedia, aku akan membiarkan mereka pergi justru untuk memberitahukan kepada Untara, bahwa kita telah membuat satu perjanjian.” Tetapi Agung Sedayu menjawab, “ Ki Sanak. Apapun yang terjadi, tetapi kau tidak akan dapat memaksaku. Ku lihat bahwa isteriku juga menjinjing senjata. Itu adalah satu pertanda bahwa ia tidak akan menyerah begitu saja. Sementara sepupuku, meskipun masih sangat muda, namun ia akan berusaha mempertahankan dirinya. Karena itu, maka kau jangan menakut-nakuti kami.” “ Baiklah.” berkata Guru Jaka Rampan itu, “ kau telah memilih. Dengan demikian maka tidak seorangpun yang dapat menyalahkan aku. Kaupun jangan menyangka bahwa aku melawanmu justru karena kau baru saja sembuh dari sakitmu yang parah.” “ Aku sudah pulih kembali.” berkata Agung Sedayu, “ jika aku kalah, maka kau benar-benar memiliki ilmu melampaui takaran ilmuku. Bukan karena aku baru saja sembuh dari lukaku yang parah.” Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Kau memang sombong sekali. Tetapi kesombonganmu kali ini adalah kesombonganmu yang terakhir.” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab. Dalam pada itu, orang yang mengaku guru Jaka Rampan itupun berkata kepada orang-orangnya, “ Jaga agar isteri dan sepupu Agung Sedayu itu tidak melarikan diri. Aku akan menyelesaikan Agung Sedayu lebih dahulu. Aku ingin isteri dan sepupunya melihat, bagaimana Agung Sedayu mati ditanganku, sehingga dengan demikian akan lenyaplah segala kebanggaan mereka atas seorang yang bernama Agung Sedayu itu. “ Dengan sengaja Agung Sedayu tidak menghindari serangan itu. Sambil menjajagi kekuatan lawannya, Agung Sedayu menangkis serangan itu dengan kedua tangannya. Temyata benturan itu telah memberikan takaran bagi keduanya. Glagah Putihlah yang menggeram. Tetapi ia masih menahan diri. Ia ingin melihat, apa saja yang dapat dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya guru Jaka Rampan itu. Bahkan tiba-tiba saja timbul keinginan Glagah Putih untuk menilai kemampuan Agung Sedayu yang bertempur dengan guru dari orang yang pernah dikalahkan oleh Swandaru. “ Jika kakang Swandaru bertempur melawan muridnya, maka kakang Agung Sedayu akan bertempur melawan gurunya.” berkata Glagah Putih didalam hatinya. Dalam pada itu, maka ketiga orang kawan dari orang yang menyebut dirinya guru Jaka Rampan itupun telah memencar. Mereka menjaga agar tidak seorangpun diantara ketiga orang yang menjadi sasaran mereka itu sempat melarikan diri. Sejenak kemudian guru Jaka Rampan dan Agung Sedayupun telah bersiap. Untuk beberapa saat mereka berdiri berhadapan. Namun tiba-tiba saja guru Jaka Rampan itu telah meloncat menyerang. Meskipun serangan itu belum merupakan serangan yang menentukan, namun ternyata bahwa guru Jaka Rampan itu memang memiliki kekuatan yang sangat besar. Agung Sedayu bergeser selangkah. Ia berhasil mengelakkan serangan itu. Namun lawannya itupun telah meloncat pula. Dengan kakinya ia menyerang kearah dadanya. Sekali lagi Agung Sedayu bergeser. Tetapi lawannya itupun tiba-tiba telah menyerang dengan putaran kakinya mendatar. Dengan sengaja Agung Sedayu tidak menghindari serangan itu. Sambil menjajagi kekuatan lawannya, Agung Sedayu menangkis serangan itu dengan kedua tangannya. Ternyata benturan itu telah memberikan takaran bagi keduanya. Guru Jaka Rampan itupun segera mengetahui, bahwa Agung Sedayu memang memiliki kekuatan yang cukup besar. Iapun menyadari, bahwa yang membentur serangannya itu tentu belum seluruh kekuatan yang tersimpan didalam diri Agung Sedayu. Demikianlah, maka guru Jaka Rampan itu semakin mempercepat tata geraknya. Namun Agung Sedayu mampu mengimbanginya meskipun setingkat demi setingkat lawannya mempertajam ilmunya yang menjadi semakin berbahaya. Sekar Mirah dan Glagah Putih berdiri tegak mengamati pertempuran itu. Namun mereka berdua belum melihat kelebihan masing-masing. Agaknya keduanya masih berusaha untuk saling menjajagi. Namun pertempuran itu memang menjadi semakin cepat. Guru Jaka Rampan bertempur semakin keras. Namun semakin lama memang menjadi semakin jelas, bahwa orang itu memang memiliki unsur-unsur gerak sebagaimana diperlihatkan oleh Jaka Rampan saat ia bertempur melawan Swandaru. Tetapi mereka yang menyaksikan itupun segera menyadari, bahwa bobot ilmu orang itu memang lebih mapan dari Jaka Rampan. Orang itu mampu bergerak lebih cepat, ayunan serangan yang lebih kuat dan perkembangan yang lebih cepat, ayunan serangan yang lebih berbahaya dari yang pernah diperlihatkan oleh Jaka Rampan. Sementara mereka menyadari bahwa apa yang diperlihatkan oleh guru Jaka Rampan itu masih berada pada tataran permulaan. Dengan demikian maka Sekar Mirah dan Glagah Putih menyadari pula, bahwa guru Jaka Rampan itu tentu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia merasa iba terhadap Agung Sedayu. Demikian ia sembuh, maka tiba-tiba lawan yang barupun telah menunggu. Tetapi dalam keprihatinan, ada juga kebanggaan pada diri Sekar Mirah. Bahwa suaminya yang mendapat kurnia kelebihan dan orang kebanyakan itu telah mengetrapkan ilmunya bagi pengabdian atas sesama. Bagi kewajibannya sebagai seorang kawula yang baik dalam batas-batas tanggungjawabnya. Dengan debar di hati yang semakin cepat, maka Sekar Mirah menyaksikan pertempuran antara suaminya dan orang yang mengaku guru Jaka Rampan itu menjadi semakin cepat juga. Keduanya mulai berloncatan dengan tangkasnya. Ketika sekali-sekali terdengar guru Jaka Rampan itu berteriak, maka rasa-rasanya kulit Sekar Mirah ikut meremang. Semakin lama guru Jaka Rampan itupun menjadi semakin cepat bergerak. Tubuhnya menjadi semakin ringan sehingga kemudian seakan-akan bagaikan bayangan yang terbang mengitari Agung Sedayu. Namun tiba-tiba saja tangannya telah terayun menyerang, atau kakinya yang berputar mendatar atau lurus menyamping. Bahkan kadang kadang kakinya terjulur kedepan mengarah ke dagu. Untuk beberapa saat Agung Sedayu seakan-akan tidak sempat bergeser dari tempatnya. Ia hanya berkisar saja selangkah selangkah untuk menghindari serangan-serangan lawannya. Sehingga dengan demikian maka seakan-akan Agung Sedayu tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang. Tetapi Sekar Mirah dan Glagah Putih yang menyaksikan pertempuran itu tidak menjadi cemas karenanya. Agaknya Agung Sedayu masih berusaha untuk menjajagi kemampuan lawannya yang mulai melepaskan ilmunya dan meningkat selapis demi selapis. Sebenarnyalah guru Jaka Rampan itu memang meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Ketika seranganserangannya belum juga berhasil menyakiti lawannya, maka iapun telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi dan semakin tinggi. Guru Jaka Rampan itu semula menyangka bahwa Agung Sedayu mulai mengalami kebingungan dan tidak sempat beranjak dari tempatnya. Serangan-serangan yang datang seakan-akan dari segala arah telah membuatnya bertahan tanpa sempat bergeser dari tempatnya. Kawan-kawan orang itupun mempunyai dugaan serupa. Bahkan mereka menganggap bahwa ternyata pekerjaan mereka jauh lebih ringan dari yang mereka perhitungkan semula. Mereka semula mengira bahwa untuk memaksa Agung Sedayu tunduk kepada mereka, akan diperlukan waktu yang cukup lama. Tetapi ketika pertempuran itu mulai meningkat semakin cepat, seakan-akan Agung Sedayu sudah tidak mendapat kesempatan sama sekali. Tetapi dugaan itu ternyata keliru. Meskipun Agung Sedayu seakan-akan hanya bertahan tanpa sempat bergeser dari tempatnya, namun adalah satu kenyataan bahwa guru Jaka Rampan itu belum sempat mengenai tubuhnya. Seranganserangannya belum dapat mengenai sasarannya. Kemarahan yang memang telah menyala di dadanya, seakan-akan telah membakar jantungnya. Sambil berteriak nyaring, maka serangan-serangannyapun semakin menjadi cepat dan keras. Dalam pada itu, Agung Sedayu masih berusaha bertahan untuk beberapa saat. Ternyata ia berhasil memancing sebagian besar dari kekuatan dan ilmu lawannya. Meskipun Agung Sedayu menyadari bahwa guru Jaka Rampan itu tentu memiliki ilmu pamungkas yang sangat tinggi, namun Agung Sedayu serba sedikit telah mampu mengenali watak dan kemampuan lawannya. Bahkan serba sedikit, Agung Sedayu melihat kelemahan-kelemahan lawannya. Agaknya lawannya itu lebih banyak memperhitungkan serangan-serangannya daripada pertahanannya. Guru Jaka Rampan itu semakin lama semakin menyadari kedudukannya. Bahkan ia sempat mengumpati dirinya didalam hati. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka ia telah merasa menjadi terlalu bodoh karena semula ia telah menganggap bahwa ia berhasil mengurung Agung Sedayu. “ Bukan main.” geramnya, “ ternyata kau benar-benar seorang yang luar biasa. Agung Sedayu. Kecuali berilmu tinggi, maka otakmu adalah otak yang cerah.” “ Kau tidak usah memujiku. Sebaiknya kau batalkan saja niatmu.” sahut Agung Sedayu sambil bergeser menghindari serangan lawannya. Sambil memburu, guru Jaka Rampan itu berkata, “ Tetapi kau tidak perlu menghinaku dengan cara seperti itu. Kau akan semakin menyesal dan kecewa atas ilmu yang telah kau miliki.” Agung Sedayu tidak menjawab. Namun ternyata bahwa tiba-tiba saja guru Jaka Rampan itu telah menghentakkan ilmunya yang menggetarkan. Demikian cepatnya ia bergerak, maka dalam saat yang hampir bersamaan guru Jaka Rampan itu seakan-akan telah berada di beberapa tempat. Sebelum Agung Sedayu sempat menghadapinya kesatu arah, maka guru Jaka Rampan itu telah berada di tempat lain. Sekar Mirah dan Glagah Putih mulai menjadi tegang. Agaknya lawan Agung Sedayu mulai mengerahkan ilmunya yang tinggi. Sehingga merekapun memperhitungkan bahwa Agung Sedayu tidak akan dapat bertahan dengan caranya. Sementara itu ketiga orang kawan guru Jaka Rampan itupun mengerutkan keningnya. Ia mengerti, bahwa guru Jaka Rampan itu memang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Semula mereka mengira bahwa guru Jaka Rampan itu tidak perlu meningkatkan ilmunya sampai ke tataran itu, karena seakanakan Agung Sedayu sudah tidak sempat melawan lagi. Namun akhirnya merekapun menyadari, bahwa Agung Sedayu masih belum bersungguh-sungguh. Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu mulai merasakan tekanan lawannya. Benturan yang kemudian terjadi telah memperingatkan Agung Sedayu untuk semakin berhati -hati. Karena itu maka Agung Sedayupun harus mengerahkan tenaga cadangan yang ada didalam dirinya. Ia berusaha untuk dapat mengimbangi kecepatan gerak lawannya, yang setiap saat berada ditempat yang berbeda. Tetapi ternyata bahwa tenaga cadangan yang dimiliki oleh Agung Sedayu masih belum mencukupi. Setiap kali Agung Sedayu masih saja agak terlambat. Jika ia dengan tangkasnya menangkis serangan yang datang, maka tiba-tiba saja serangan dari arah lain telah menyergapnya, sehingga Agung Sedayu harus meloncat menghindar. Tetapi demikian kakinya berjejak diatas tanah, serangan berikutnya telah menyambarnya. Begitu cepatnya, sehingga Agung Sedayu tidak lagi sempat mengelak atau menangkis serangan itu. Beberapa kali tubuh Agung Sedayu memang sudah dikenai oleh serangan-serangan lawannya yang datangnya menjadi semakin cepat. Lebih cepat dari seekor lalat yang terbang mengitarinya. Dalam keadaan yang demikian, maka lawannya mulai menjadi yakin, bahwa ia akan dapat mengalahkan orang yang bernama Agung Sedayu itu. Saudara tua dari anak Demang Sangkal Putung yang telah mengalahkan Jaka Rampan. Namun Jaka Rampan ternyata masih belum sampai pada tingkat atau bahkan alas ilmu yang dipergunakan oleh gurunya itu. Ilmu yang telah mampu membuatnya bergerak sangat cepat, sehingga bagi Agung Sedayu, lawannya itu seakanakan telah menyerangnya dari segala penjuru pada waktu yang bersamaan. Ketika tubuh Agung Sedayu mulai merasa nyeri oleh serangan-serangan lawan, maka ia mulai berusaha untuk menghindarinya. Dengan demikian maka ia akan mendapat kesempatan untuk berbuat lebih banyak meskipun masih harus memperhitungkan sentuhan-sentuhan serangan lawannya yang datang dari segenap arah itu. Agung Sedayupun kemudian telah mulai merambah memasuki kemampuan ilmunya. Bukan sekedar tenaga cadangannya. Karena itu, maka iapun mulai mengetrapkan kekuatan ilmunya itu sehingga dengan demikian maka Agung Sedayu mempunyai landasan yang lebih tinggi bagi perlawanannya. Mula-mula Agung Sedayu memang baru berusaha untuk mengatasi kecepatan gerak lawannya. Dengan landasan ilmunya yang disalurkan pada kekuatan dan kemampuan gerak kakinya, maka Agung Sedayu ternyata mampu bergerak lebih cepat dan kuat. Meskipun ia tidak mampu berbuat sebagaimana dilakukan oleh lawannya yang seakan-akan datang menyerang dari semua penjuru, namun Agung Sedayu mempunyai kekuatan yang sangat tinggi, sehingga ia mampu melontarkan tubuhnya dengan kuat. Se-hingga seakan-akan tubuhnyalah yang telah kehilangan bobot. Ketika lawannya masih saja berada disegala arah dan menyerangnya tanpa berhenti, maka tubuh Agung Sedayu itu mulai melenting. Bukan hanya satu dua langkah. Tetapi beberapa langkah. Lawannya memang terkejut. Betapapun ia mampu bergerak cepat, tetapi tidak sejauh loncatan Agung Sedayu. Namun dengan kecepatan yang sangat tinggi, orang itu segera telah menyusulnya. Sekali lagi terjadi seranganserangan yang keras dari beberapa penjuru, sehingga membuat Agung Sedayu terlambat untuk mengelak atau menangkis serangan itu. Namun dalam kesulitan, tiba-tiba Agung Sedayu telah meloncat tinggi-tinggi, bagaikan terbang diudara, kemudian dengan kedua kakinya yang kuat, Agung Sedayu telah berdiri tegak beberapa langkah dari lawannya. Lawannyalah yang kemudian termangu-mangu. Dengan nada berat ia berkata, “ Agung Sedayu. Ternyata kau memiliki ilmu meringankan tubuh yang hampir sempurna. Namamu benar-benar bukan nama yang sekedar dibesar-besarkan. Agaknya cerita tentang kemalasanmu berlatih sehingga adik seperguruanmu telah melampaui kemampuanmu adalah ceritera isapan jempol saja.” “ Jangan menilai kemampuan kami.” berkata Agung Sedayu, “ kaupun akan mengalami kesulitan jika kau harus bertempur melawan Swandaru.” Guru Jaka Rampan tertawa. Katanya, “ Jangan mengadaada. Aku mengenal dengan pasti kemampuan muridku.” Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada itu guru Jaka Rampan itupun berkata, “ Dengan kemampuanmu meringankan tubuh, maka aku kira aku memerlukan waktu yang terlalu lama untuk menundukkanmu. Karena itu, maka apaboleh buat jika aku terpaksa mempergunakan senjata. Karena dengan senjata maka kemungkinan yang paling buruk akan terjadi atas dirimu. Sayang, Jaka Rampan tidak mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam ilmu pedang. Nah, sekali lagi aku peringatkan, bahwa aku adalah gurunya.” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Tentu kemampuanmu jauh berada diatas kemampuan Jaka Rampan dalam ilmu pedang. Bukankah kau ingin mengatakan demikian?” “ Syukurlah jika hal itu kau sadari.” berkata guru Jaka Rampan itu, “ karena itu sebelum pedangku benar-benar membelah jantungmu, aku masih menawarkan niat baikku. Singgahlah dipadepokanku.” Tetapi jawab Agung Sedayu, “ Ki Sanak. Tingkah lakumu telah menimbulkan niatku untuk menangkapmu. Kita sudah berada di dekat ibu kota Mataram. Karena itu , sebaiknya aku membawamu menghadap Panembahan Senapati agar kau dapat menunggui muridmu dan yang penting bertanggung jawab atas perbuatanmu, menjerumuskan muridmu dalam tindak yang salah, melanggar paugeran seorang prajurit. Apalagi muridnya adalah seorang perwira.” Guru Jaka Rampan itu menggeram. Sikap Agung Sedayu benar-benar telah membuat hatinya menjadi semakin sakit. Karena itu, maka iapun berkata, “ Jika demikian Agung Sedayu, maka tidak ada yang paling baik aku lakukan selain membunuhmu.” Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap sepenuhnya untuk melawan ilmu pedang guru Jaka Rampan. Sesaat kemudian, maka pedang guru Jaka Rampan itu mulai bergetar. Namun dalam waktu sekejap pedang itu bagaikan terbang mengitari tubuh Agung Sedayu. Dengan susah payah Agung Sedayu harus berloncatan menghindarinya. Namun dalam keadaan yang sulit, Agung Sedayu telah melenting mengambil jarak. Tetapi guru Jaka Rampan tidak mau melepaskannya. Iapun telah memburu dengan kemampuannya yang tinggi. Ilmunya telah membuatnya menjadi bagaikan bayangan mengimbangi kemampuan ilmu meringankan tubuh Agung Sedayu. Keduanyapun bagaikan berputar-putar diudara. Hanya sekali-sekali saja kaki mereka menyentuh tanah. Sementara itu dalam kesempatan tertentu, guru Jaka Rampan itu seakanKang Zusi - http://kangzusi.com/ akan telah menyerang dari beberapa penjuru dalam waktu yang bersamaan. Agung Sedayu benar-benar mengalami kesulitan. Kemana ia meloncat, guru Jaka Rampan yang telah sampai pada puncak kemampuannya serta kemampuan ilmu pedangnya yang jarang ada bandingnya telah memburunya. Sehingga akhirnya, dalam putaran yang cepat melampaui kecepatan bayangan, ujung pedang guru Jaka Rampan itu telah menyentuh kulit pada lengan Agung Sedayu. Agung Sedayu yang merasakan lengannya terluka telah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan meloncat mengambil jarak dari lawannya. Ternyata guru Jaka Rampan tidak mengejarnya. Ia berdiri sambil menyilangkan pedang didadanya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “ Maaf Agung Sedayu. Aku tidak mempunyai pilihan lain.” “ Apa maksudmu?” bertanya Agung Sedayu. Pedang guru Jaka Rampan itu berputar satu putaran. Demikian pedang itu kembali bersilang didadanya guru Jaka Rampan itu berkata, “ Kau akan mati. Racun di pedangku adalah racun yang sangat kuat. Melampaui kuatnya bisa ular bandotan.” Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Sementara itu guru Jaka Rampan itu berkata, “ Tetapi bukannya tidak ada jalan untuk menyelamatkan jiwamu.” “ Bagaimana?” bertanya Agung Sedayu. “ Jika kau bersedia singgah di padepokanku, maka aku akan memberimu penawar racun itu.” berkata guru Jaka Rampan. “ Jika tidak?” bertanya Agung Sedayu pula. “ Jika tidak kau akan mati. Isterimu juga akan mati. Demikian pula adik sepupumu itu.” berkata guru Jaka Rampan sambil tersenyum. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ketika dipandanginya isterinya dan Glagah Putih, maka keduanya nampak termangu-mangu. Sementara ketiga orang kawan dari guru Jaka Rampan telah yakin bahwa Agung Sedayu tidak akan dapat memilih. Tetapi tiba-tiba saja Agung Sedayu berkata, “ Sayang Ki Sanak. Aku tetap menolak untuk singgah di padepokanmu.” “ Jadi kau memilih mati?” bertanya guru Jaka Rampan. Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “ Aku juga tidak ingin mati. Masih banyak yang harus aku kerjakan. Kecuali jika Yang Maha Agung memang menghendaki.” “ Kau jangan mengabaikan racun ditubuhmu.” berkata guru Jaka Rampan, “ aku tidak bermain-main.” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian telah memijit luka dilengannya. Dari celah-celah bajunya yang koyak, darah nampak meleleh dari luka itu. Merah kebiru-biruan. Namun kemudian Agung Sedayu telah mengusap darah itu sehingga pampat. Guru Jaka Rampan memang terkejut. Ternyata Agung Sedayu mampu menolak racun yang mulai menyentuh darahnya. Bahkan ia berhasil memampatkan kembali darah yang telah terkena racun itu. “ Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu, “ jangan risaukan racun di tubuhku.” “ Anak iblis.” geram guru Jaka Rampan, “ ternyata kau mampu menolak racun yang menyentuh saluran darahmu. Iblis manakah yang telah memberikan kemampuan itu kepadamu?” “ Sudahlah.” berkata Agung Sedayu, “ nampaknya kau memang harus bersungguh-sungguh. Kau benar-benar telah menggoreskan racun. Dengan demikian, maka akupun harus bersungguh-sungguh pula sebagaimana kau lakukan.” “ Persetan.” geram guru Jaka Rampan. Tiba-tiba saja pedangnya telah terjulur pula. Bahkan ujungnya mulai bergetar, sementara iapun menggeram, “ mungkin racun di pedangku tidak dapat membunuhmu. Tetapi ternyata aku telah berhasil melukaimu. Karena itu maka akupun yakin, bahwa aku akan mampu membelah jantungmu.” Agung Sedayu segera mempersiapkan diri. Ia telah mempergunakan waktu yang sesaat itu untuk mengetrapkan ilmu kebalnya. Bagaimanapun juga, ternyata bahwa guru Jaka Rampan itu mampu bergerak sangat cepat. Tetapi selain ilmu kebalnya, maka Agung Sedayupun kemudian telah mengurai pula senjata andalannya. Sehelai cambuk. Guru Jaka Rampan itu termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian, “ Nasibmu memang buruk Agung Sedayu. Orang yang menyerang padepokan itu hanya mampu melukaimu. Tetapi aku akan membunuhmu.” “ Aku akan berusaha untuk membela diriku sendiri Ki Sanak.” jawab Agung Sedayu. Jantung guru Jaka Rampan itu menjadi bagaikan berdegup semakin cepat. Ketika Agung Sedayu menggerakkan juntai cambuknya, orang itu menggeram, “ Murid dari orang bercambuk ini benar-benar seorang yang berilmu tinggi. Ternyata bahwa pendapat tentang perbandingan ilmu antara Agung Sedayu dan Swandaru akan dapat menyesatkan.” Agung Sedayu sama sekali tidak menyahut. Tetapi ia benar-benar sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Lawannya, yang menyebut dirinya guru Jaka Rampan itu seakan-akan memang mempunyai ilmu siluman, sehingga ia dapat berada dibeberapa tempat dalam waktu yang hampir bersamaan. Agung Sedayu memang mengerti, bahwa hal itu semata-mata karena kemampuan ilmu orang itu. Ia mampu bergerak sangat cepat. Tetapi tidak pada jarak yang terlalu panjang. Demikianlah, maka sejenak kemudian orang itu telah meloncat dengan cepatnya. Seakan-akan telah menghilang. Namun pedangnyapun dengan cepat pula telah terayun mendatar menebas kearah punggung Agung Sedayu. Agung Sedayu masih sempat bergeser. Demikian pula ketika tiba-tiba saja orang itu telah menyerangnya dari depan. Pedang itu terjulur lurus mengarah ke dada. Meskipun Agung Sedayu telah mengetrapkan ilmu kebalnya, namun Agung Sedayu tidak membiarkan ujung pedang orang itu mengenai dadanya. Agung Sedayu masih belum tahu, apakah puncak ilmu orang itu akan mampu menembus ilmu kebalnya itu. Karena itu, maka Agung Sedayu masih juga bergeser mengelak. Tetapi demikian cepatnya, pedang itu telah bergerak mendatar setinggi leher Agung Sedayu. Agung Sedayu itupun kemudian meloncat surut. Justru beberapa langkah. Tubuhnya yang bagaikan tidak mempunyai bobot itu melambung bagaikan terbang kearah belakang. Lawannya tidak mau kehilangan kesempatan. Iapun mampu bergerak cepat meskipun tidak sekaligus pada jarak yang panjang. Tetapi demikian bayangannya menghampiri Agung Sedayu yang menyentuh tanah, maka cambuk Agung Sedayupun telah meledak bagaikan memecahkan selaput telinga. Orang itu terkejut. Dengan gerak naluriah, namun dengan kecepatan yang dialasi dengan kemampuan ilmunya, orang itu telah meloncat surut sehingga ujung cambuk Agung Sedayu tidak mengenainya. Namun ternyata jantung orang itu bagaikan meledak. Dengan nada rendah ia bergumam kepada diri sendiri, “ Benar-benar ilmu iblis. Suara cambuknya dapat merontokkan isi dada.” Sementara itu Sekar Mirah dan Glagah Putih ternyata mempunyai tanggapan yang berbeda dengan orang-orang yang berdiri termangu-mangu mengawasi pertempuran itu. Mereka menganggap ledakan cambuk yang bagaikan petir di langit itu merupakan puncak kekuatan ilmu Agung Sedayu. Namun Sekar Mirah dan Glagah Putih mengetahui, bahwa justru suara cambuk itu meledak keras-keras, maka Agung Sedayu masih belum memasuki inti kekuatan ilmunya yang dahsyat. Sejenak kemudian, maka pertempuran menjadi semakin cepat dan semakin keras. Lawan Agung Sedayu itupun telah sampai pada tataran tertinggi dari kemampuannya bergerak cepat. Namun Agung Sedayupun telah mencapai satu tingkat yang mapan pada ilmunya meringankan tubuh. Putaran pedang guru Jaka Rampan yang menjadi semakin cepat itu bagaikan gumpalan awan yang kehitam-hitaman yang terbang dengan kecepatan terbang burung sikatan menyambar bilalang. Namun ujung juntai cambuk Agung Sedayupun telah berputar pula melindunginya, sehingga setiap kali putaran pedang lawannya mendekatinya, maka ledakan yang memekakkan telinga telah menghentak seperti petir dilangit. Jika benturan terjadi, maka getar dari benturan itu telah merambat pada batang senjata masing-masing hingga kemudian bagaikan menggigit telapak tangan. Kekuatan ilmu keduanya benar-benar merupakan kekuatan yang sulit dicari bandingnya. Namun kemudian ternyata bahwa guru Jaka Rampan itu mampu membuat perhitungan yang rumit dari putaran senjata Agung Sedayu. Meskipun senjata itu berputar cepat sekali, tetapi lawannya yang dengan teliti memperhitungkannya, dapat seakan-akan menghanyutkan diri pada putaran itu dan memasuki pertahanan Agung Sedayu. Tetapi ternyata bahwa Agung Sedayupun sempat mengetahuinya sehingga dengan cepat Agung Sedayu telah menarik cambuknya dan kemudian menghentakkannya sendal pancing kearah lawannya. Tetapi guru Jaka Rampan ternyata mampu bergerak lebih cepat. Sebelum Agung Sedayu sempat menghentakkan cambuknya sendal pancing, ternyata ujung pedang guru Jaka Rampan itu telah sempat mengenai sasarannya, menyentuh pundak Agung Sedayu. Sekejap kemudian, pada saat cambuk Agung Sedayu meledak, lawannya itu telah berpaling tiga kali dan dengan satu loncatan yang cepat dan kuat ia telah berdiri tegak dengan pedang yang terjulur kedepan siap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi Agung Sedayu masih tetap berdiri ditempatnya. Sementara itu lawannyapun berkata, “ Sekali lagi pedangku telah mengoyak tubuhmu. Jika pertempuran ini berlangsung terus, maka tubuhmu tentu akan luka arang kranjang.” Agung Sedayu melangkah mendekat sambil tersenyum. Katanya, “ Kau tidak berhasil mengenai tubuhku, Ki Sanak. Kau hanya dapat menyentuh sapuan juntai cambukku.” “ Jangan berbohong.” guru Jaka Rampan itu tertawa. Tetapi Agung Sedayupun tertawa pula. Sambil mengusap pundaknya ia berkata. “ Kau lihat? Tidak ada luka dipundakku.” Guru Jaka Rampan itu termangu-mangu. Ia memang tidak melihat luka di pundak Agung Sedayu. Yang dilihat adalah lubang kecil pada baju Agung Sedayu seujung pedangnya. Tetapi pundak itu tidak terkoyak seujung duripun. Guru Jaka Rampan itu menjadi semakin berdebar-debar menghadapi lawannya yang termasuk masih muda itu. Namun ia masih ingin membuktikan bahwa ia mampu mengenai tubuh lawannya. Sejenak kemudian serangan-serangannyapun telah datang lagi beruntun, sementara Agung Sedayu berusaha untuk menghindar dan menghalau serangan-serangan yang datang demikian cepatnya. Dengan ilmu meringankan tubuh, maka Agung Sedayu mampu mengimbangi kecepatan gerak lawannya itu. Bahkan ketika lawannya itu meloncat dengan pedang terjulur kearah dadanya, Agung Sedayu sempat mengibaskan cambuknya. Memang tidak terlalu keras, karena tiba-tiba saja orang itu telah berada dihadapannya. Sejenak kemudian keduanya telah meloncat mundur. Orang itu terbelalak ketika ia tidak melihat luka didada Agung Sedayu. Bahkan terasa betapa pedihnya lengannya yang disentuh oleh ujung cambuk Agung Sedayu itu. Ketika ia meraba lengannya yang berdarah, ternyata bahwa sebuah luka telah menganga. “ Setan kau Agung Sedayu.” geram orang itu, “ karah baja pada cambukmu sempat mengoyak kulitku. Sementara itu ternyata kau memiliki ilmu kebal.” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Sudahlah Ki Sanak. Tidak ada gunanya kita bertempur terus. Sekarang, akulah yang mempersilahkan kau ikut bersamaku ke Mataram. Sebenarnya aku tidak ingin singgah. Tetapi karena aku akan bersamamu, maka kami sebaiknya memang harus singgah.” “ Persetan.” geram guru Jaka Rampan, “ kau kira ilmu kebalmu cukup kuat untuk menahan serangan-seranganku?” “ Apapun yang ada pada kita masing-masing, maka sebaiknya kita tidak bertempur lagi.” minta Agung Sedayu. “ Kau memang terlalu sombong.” geram orang itu. “ Bukan maksudku. Tetapi aku mempunyai tawaran penyelesaian yang lain dari yang kau tawarkan.” berkata Agung Sedayu pula. Orang itu tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja pedangnya telah perputar lagi. Sejenak kemudian tubuhnya bagaikan hilang dari tempatnya. Namun serangannya telah datang dari arah yang lain. Pertempuran antara Agung Sedayu dan orang itupun telah berlangsung lagi. Tetapi seperti sebelumnya, guru Jaka Rampan itu tidak mempunyai kesempatan untuk mendesak lawannya. Bahkan sekali lagi cambuk Agung Sedayu telah mengenainya. Dalam keadaan yang sulit itu, maka guru Jaka Rampan itupun tiba-tiba saja berteriak nyaring kepada kawankawannya, “ Kuasai isteri dan saudara sepupunya. Jika Agung Sedayu tidak menyerah, mereka akan dikorbankan.” Ketiga orang kawan guru Jaka Rampan itupun tiba-tiba telah bergerak. Perintah guru Jaka Rampan itu tidak perlu diulangi. Dengan serta merta mereka telah menarik pedang dan siap untuk menguasai Sekar Mirah dan Glagah Putih. Tetapi teriakan guru Jaka Rampan itu telah memberikan isyarat pula kepada Sekar Mirah dan Glagah Putih untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, demikian mereka mendengar teriakan lawan Agung Sedayu, maka Sekar Mirahpun telah mengangkat tongkat baja putihnya, sementara Glagah Putih pun telah mengurai ikat pinggangnya. Ia tidak mau membuat kesalahan, karena dengan demikian maka keadaan Agung Sedayu akan menjadi sulit. Karena itu, maka ia tidak mempergunakan senjata lain dari senjata yang sudah diyakininya. Ketika Ketiga orang itu mendekati Sekar Mirah dan Glagah Putih, maka keduanya telah bersiap sepenuhnya. Dengan mantap Sekar Mirah berkata, “ Kita akan bertempur berpasangan.” Glagah Putih mengetahui maksud Sekar Mirah. Karena itu, maka ia pun segera berdiri di belakang Sekar Mirah menghadap kearah yang berlawanan. Ketiga orang kawan guru Jaga Rampan itupun segera mengepungnya. Namun merekapun menyadari bahwa menguasai kedua orang itu bukannya pekerjaan yang mudah. Seorang diantara ketiga orang itu memang berusaha untuk mempengaruhi ketahanan jiwani kedua orang itu. Dengan nada berat orang itu berkata, “ Kalian bukan Agung Sedayu. Jika Agung Sedayu memiliki ilmu kebal dan ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, maka kalian tidak akan dapat melakukannya. Karena itu, untuk menghindari kemungkinan buruk terjadi atas kalian, maka kami harap kalian menyerah saja. Meletakkan senjata kalian dan menurut perintah yang kami berikan.” Yang menjawab adalah Sekar Mirah, “ Maaf Ki Sanak. Barangkali kami terpaksa membunuhmu.” Wajah orang itu menjadi tegang. Dengan geram ia berkata, “ Kau juga sombong seperti Agung Sedayu.” “ Jangan lupa, aku adalah isterinya.” berkata Sekar Mirah, “ sifat-sifatnya akan dapat mempengaruhi sifat-sifatku.” “ Persetan.” orang itu mulai marah. Sementara itu, terdengar lawan Agung Sedayu berteriak, “ Cepat, Kuasai mereka dan paksa mereka untuk tunduk kepada perintah kalian.” Ketiga orang itu dengan serta merta telah bersiap. Senjata mereka segera terangkat. Namun seorang diantara mereka masih berkata, “ Lebih baik menyerahlah.” Meskipun ketiga orang itu sudah memperhitungkan sebelumnya, bahwa Sekar Mirah tidak akan terlalu mudah menyerah, namun mereka masih juga terkejut, ketika Sekar Mirah yang tidak menjawab itu tiba-tiba saja sudah mengayunkan tongkat baja putihnya. Orang yang kebetulan berada dihadapannya itu harus meloncat surut. Jantungnya terasa berdebar semakin cepat. Tongkat baja putih itu telah terayun menghanyutkan udara dengan gaung yang nyaring. “ Betapa kuat ayunannya.” berkata orang itu kepada diri sendiri. Namun orang-orang itu adalah orang-orang yang juga cukup berpengalaman. Karena itu, maka merekapun segera menempatkan dirinya dan dalam waktu sesaat, mereka telah mulai menyerang. Kadang-kadang mereka menyurukkan senjata mereka hampir bersamaan, namun kadang-kadang serangan-serangan mereka datang beruntun susul-menyusul. Namun agaknya Sekar Mirah dan Glagah Putih telah mengetahui pula rencana Agung Sedayu yang ingin membawa orang-orang itu ke Mataram. Karena itu, maka merekapun telah berusaha untuk mengimbangi lawan-lawan mereka agar tidak menyulitkan Agung Sedayu. Jika seorang saja dari keduanya dikuasai oleh orang-orang itu, maka mereka akan dapat memaksa Agung Sedayu untuk menyerah. Sementara itu ujung cambuk Agung Sedayu telah menyentuh lagi kulit lawannya sehingga lukanyapun telah bertambah pula. Ternyata Sekar Mirah dan Glagah Putih memang tidak mengecewakan. Ketiga orang yang telah lama menjelajahi dunia olah kanuragan itu ternyata telah membentur kekuatan yang luar biasa. Meskipun ujudnya seorang perempuan, tetapi ketika tangannya memutar tongkat baja putihnya, maka ketiga orang itu semakin menyadari, bahwa kegarangan tongkat baja putih itu masih tetap mendebarkan jantung. Ketika sekilas orang yang bertempur melawan Agung Sedayu itu sempat melihat ayunan tongkat Sekar Mirah, maka kegelisahannyapun telah memuncak. Ternyata Sekar Mirah telah mengingatkannya kepada kegarangan Macan Kepatihan. Tetapi bukan Sekar Mirah sajalah yang telah mengejutkannya. Ketika itu menyempatkan diri melihat kemampuan anak yang masih terlalu muda itu, hatinyapun tergetar pula. Ternyata anak muda itu mempunyai senjata yang tidak terbiasa dipergunakan oleh orang lain. Sehelai ikat pinggang. Agung Sedayu dengan sengaja memperlambat tata geraknya, seakan-akan memberi kesempatan kepada lawannya untuk menilai seluruh arena pertempuran itu. Dengan demikian Agung Sedayu berharap bahwa ia mempunyai penilaian yang benar tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya dan ketiga orang kawan-kawannya. Justru karena itu, maka guru Jaka Rampan itu mendapat kesempatan untuk melihat apa yang telah terjadi dengan ketiga orang kawan-kawannya. Orang itu tidak menjadi berbesar hati, tetapi justru menjadi semakin berdebar-debar. Guru Jaka Rampan itu melihat tongkat baja putih Sekar Mirah yang berayun cepat seperti baling-baling. Sementara itu, seorang diantara kawan-kawannya itu terkejut bukan buatan ketika pedangnya membentur ikat pinggang Glagah Putih. Menurut penglihatannya, ikat pinggang Glagah Putih itu terbuat dari kulit. Tetapi ternyata dalam benturan yang terjadi, rasa-rasanya pedangnya telah membentur kekuatan yang luar biasa beratnya. Apalagi dengan senjata selembar ikat pinggang. Sebenarnyalah Glagah Putih telah, mempergunakan ikat pinggangnya dengan landasan ilmunya, sehingga jika dikehendaki, ikat pinggangnya itu menjadi sekuat kepingan baja pilihan. “ Kau lihat kemampuan kawan-kawanmu dibandingkan dengan isteri dan sepupuku?” bertanya Agung Sedayu kepada lawannya yang tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Sementara itu tubuhnya sendiri telah terluka dibeberapa tempat. Sentuhan ujung cambuk Agung Sedayu ternyata mampu mengoyak kulitnya, karena karah-karah baja yang terdapat pada juntai cambuk itu. Guru Jaka Rampan itu tidak segera menjawab. Ia harus mengakui bahwa Agung Sedayu memang tidak akan dapat dikalahkannya. Bahkan menitik sikapnya, apa yang diperlihatkan Agung Sedayu kepadanya itu belum seluruh kemampuannya. Agaknya memang masih tersimpan dalam perbendaharaan ilmu Agung Sedayu, kemampuan yang akan dapat membuatnya kehilangan akal. Agung Sedayu sendiri memang tidak ingin memperlihatkan puncak-puncak kemampuannya. Ia menganggap bahwa untuk melawan guru Jaka Rampan ia tidak memerlukannya. Sementara itu, ketiga orang kawan guru Jaka Rampan itupuan telah mengalami kesulitan melawan Sekar Mirah dan Glagah Putih. Ternyata perempuan yang semula tidak dianggap sangat berbahaya itu memiliki kemampuan yang mengagumkan. Ditangannya, meskipun ia seorang perempuan, tongkat baja itu masih tetap memiliki ciri-ciri kegarangan yang mendebarkan. Sedangkan Glagah Putih yang masih sangat muda itu ternyata mampu menembus lawanya menjadi kebingungan. Bukan saja kemampuannya mempermainkan senjatanya yang sudah dimengerti oleh ketiga orang lawannya, namun anak muda itu memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan demikian, maka ketiga orang kawan guru Jaka Rampan itu sama sekali telah berhasil menguasai Sekar Mirah dan Glagah Putih yang akan dapat dipergunakan untuk memaksakan kehendak guru Jaka Rampan itu kepada Agung Sedayu. Bahkan yang terjadi adalah justru sebaliknya. Kedua orang itulah yang telah mendesak lawan mereka. Bahkan ketiga orang itu berusaha memaksa diri untuk menyerang, justru salah seorang diantara mereka telah terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling. Ketiga orang itu berdiri, ternyata bahwa pundaknya telah dicengkam oleh perasaan sakit yang sangat. Tulang-tulangnya bagaikan patah, sementara kulitnya menjadi biru kemerah-merahan. Tongkat baja putih Sekar Mirah agaknya dengan cepat telah menyusup diantara senjata lawannya itu dengan mengenai pundak salah seorang diantara mereka. Meskipun demikian ketiga orang itu masih berusaha untuk mengatasi keadaan. Mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Betapapun sakit menggigit pundaknya, tetapi orang itu masih juga dengan garangnya bersama dengan kedua kawannya menyerang kedua orang itu hampir bersamaan. Dalam pada itu, ternyata seorang lagi diantara ketiga orang itu terdesak. Dengan serta merta orang itu telah meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak. Ia merasa ujung ikat pinggang anak muda itu menyentuh lambungnya. Tetapi semula ia tidak mengira bahwa sentuhan itu akan dapat membuat lambungnya terluka. Namun ketika ia mengusap lambungnya yang terasa sangat pedih, tangannya telah menyentuh darahnya yang hangat. Demikian ia mengamatinya, maka ternyata bahwa segores luka telah menganga. “ Gila.” geram orang itu. Glagah Putih dan Sekar Mirah tegak ditempatnya ketika lawan-lawannya berloncat surut. Dua orang telah terluka. Seorang pundaknya bagaikan dilumpuhkan, sedangkan yang lain, lambungnya telah dikoyakkan. Sementara itu, Agung Sedayupun telah mengambil jarak pula dari lawannya. Bukan karena terdesak atau keadaannya menjadi sulit, tetapi justru Agung Sedayu berusaha memberikan kesempatan kepada lawannya itu untuk menilai keadaan. Guru Jaka Rampan itupun tidak memburunya. Ia benarbenar telah menyadari keadaan. Luka-luka ditubuhnya ternyata telah mengalirkan darah cukup banyak. “ Nah, apa katamu Ki Sanak.” desis Agung Sedayu, “ aku mohon Ki Sanak sempat mempertimbangkan keadaan. Jika kita memaksa diri untuk saling membunuh, aku kira bukan satu penyelesaian yang terbaik untuk persoalan ini. Sementara itu, kau masih harus memperhatikan keadaan muridmu. Kaulah yang harus bertanggung jawab atas peristiwa yang telah terjadi pada muridmu itu.” Guru Jaka Rampan itu memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Dengan nada dalam ia berkata, “ Aku akan bertempur sebagai seorang laki-laki.” “ Apakah ciri seorang laki-laki jika ia bertempur?” bertanya Agung Sedayu. “ Membunuh atau dibunuh.” jawab guru Jaka Rampan. Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Betapa mudahnya untuk mati tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Katakan kepadaku, manakah yang lebih jantan dari seorang laki-laki. Membiarkan dirinya mati untuk menghapuskan tanggungjawabnya atau mempertanggungjawabkan perbuatannya, apalagi hal itu akan menyangkut keselamatan orang lain.” Guru Jaka Rampan termangu-mangu sejenak. Sementara itu Agung Sedayu berkata selanjutnya, “ Muridmu memerlukan kau. Meskipun kau tidak akan membebaskannya, tetapi kau akan dapat memperingan penderitaannya.” Sejenak guru Jaka Rampan itu merenung. Ketika ia berpaling kepada Sekar Mirah dan Glagah Putih, maka merekapun telah memberikan kesempatan kepada lawanlawan mereka untuk merenungi keadaan. Baru sesaat kemudian guru Jaka Rampan itu berkata, “ Baiklah Agung Sedayu. Aku menyerah. Ternyata aku telah salah menilai kemampuanmu. Aku termakan oleh desasdesus bahwa kau agaknya terlalu malas untuk memasuki sanggar, sehingga adik seperguruanmu telah mampu melampaui ilmumu. Karena itu, maka aku menduga bahwa seandainya ilmumu berada dibawah atau sama dengan Swandaru, atau katakanlah karena pengalamanmu kau mempunyai sedikit kelebihan, maka aku akan dengan mudah mengalahkanmu. Tetapi ternyata bahwa kemampuanmu jauh melampaui kemampuanku. Apalagi muridku Jaka Rampan.” “ Sudahlah.” berkata Agung Sedayu, “ jangan kau sebutsebut lagi. Namun aku menghargai keputusanmu. Dengan demikian kau akan bertanggungjawab atas perbuatanmu. Kau akan membantu muridmu dan memberikan keringanan atas hukuman yang akan diterimanya.” Guru Jaka Rampan itu mengangguk. Lalu katanya kepada kawan-kawannya, “ Kita termasuk ikan yang masuk kedalam wuwu. Ternyata kita telah menjerumuskan diri kita sendiri kedalam kesulitan. Kita tidak berhasil melepaskan Jaka Rampan dengan cara ini, bahkan kita sendirilah yang justru telah terjerat karenanya.” Ketiga orang kawannya tidak menyahut. Penyesalan yang dalam nampak di wajah mereka. Tetapi keputusan guru Jaka Rampan itu adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan mereka dari kematian. Karena jika mereka memaksa untuk bertempur terus, maka tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk memenangkan pertempuran itu. Bahkan kemungkinan yang paling dekat adalah justru kematian. Demikianlah, maka sejenak kemudian, guru Jaka Rampan dan kawan-kawannya telah membenahi dan mengobati diri. Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih sama sekali tidak memerintahkan agar mereka meletakkan senjata mereka. Namun merekapun yakin, bahwa keempat orang itu tidak akan dapat lepas dari tangan mereka. Sebelum mereka meninggalkan hutan itu, maka Sekar Mirahpun telah mengobati pula luka Agung Sedayu. Meskipun luka itu tidak berbahaya, serta racun yang terdapat di senjata lawannya tidak sempat menusuk ke saluran darah Agung Sedayu, namun luka itu memang perlu diobati. Demikian semuanya telah siap, maka merekapun segera naik ke punggung kuda masing-masing. Tanpa memberikan kesan yang mercurigakan mereka telah meninggalkan Alas Tambak Baya. Guru Jaka Rampan memang tidak mempunyai pilihan lain. Di sepanjang jalan menuju ke Mataram, sekali-sekali terbersit pula pikiran untuk membebaskan diri. Tetapi guru Jaka Rampan itu tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa Agung Sedayu memiliki ilmu yang terlalu tinggi baginya. Karena itu, maka akhirnya guru Jaka Rampan itupun menjadi pasrah apapun yang akan terjadi atas dirinya. Perjalanan ke Mataram memang tidak terlalu jauh lagi. Dengan guru Jaka Rampan dan kawan-kawannya maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih akhirnya harus singgah di Mataram. Guru Jaka Rampan memang menjadi heran, bahwa Agung Sedayu tidak banyak mengalami kesulitan untuk memasuki istana. Memang satu kebetulan bahwa diantara para prajurit yang bertugas di pintu gerbang istana, telah ada yang mengenalnya. Justru perwira yang bertugas memimpin pasukan pengawal yang bertugas itu. Sehingga dengan demikian maka kedatangan Agung Sedayu itupun telah dilangsungkan kepada pelayan Dalam yang meneruskannya kepada Panembahan Senapati. Panembahan Senapati yang sedang beristirahat, tidak menolak permohonan Agung Sedayu. Bagaimanapun juga keduanya pernah menjadi sangat akrab dimasa-masa pengembaraan mereka. Karena itu, maka Agung Sedayupun segera dipersilahkan untuk memasuki seketheng dan diterima di serambi sebelah kiri. Agung Sedayu menghadap seorang diri. Baru kemudian ia melaporkan apa yang telah terjadi dan dengan siapa ia telah menghadap. Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Katanya, “ Jadi kau berhasil menangkap guru Jaka Rampan?” “ Secara kebetulan, Panembahan. Hamba tidak sengaja mencarinya. Tetapi guru Jaka Rampan itu telah datang sendiri menernui hamba.” jawab Agung Sedayu. Panembahan Senapati tersenyum ketika Agung Sedayu juga menceriterakan bagaimana guru Jaka Rampan itu menyusulnya masuk kedalam kedai. “ Bawalah orang itu kemari. Hanya guru Jaka Rampan saja.” berkata Panembahan Senapati. Namun katanya pula, “ Kau dapat mengajak isteri dan sepupumu untuk bersamamu. Sementara serahkan tawananmu yang lain kepada para prajurit pengawal.” Agung Sedayu itupun kemudian bergeser meninggalkan serambi itu untuk memanggil guru Jaka Rampan serta Sekar Mirah dan Glagah Putih. Guru Jaka Rampan benar-benar terkejut ketika ia begitu saja telah menghadap Panembahan Senapati sendiri. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa Agung Sedayu, penghuni Tanah Perdikan Menoreh serta seorang yang tidak mempunyai kedudukan khusus di Mataram, dapat begitu mudah dan cepatnya menghadap langsung Panembahan Senapati, Penguasa tertinggi Mataram yang sedang berkembang. “ Marilah Ki Sanak.” Panembahan Senapti mempersilahkan guru Jaka Rampan duduk diatas selembar tikar pandan yang putih berkotak-kotak biru. Namun guru Jaka Rampan itu telah menundukkan kepalanya dalam-dalam. “ Aku hanya ingin berbicara sedikit.” berkata Panembahan Senapati. Lalu, “ Karena yang akan bertugas untuk mengurus persoalanmu dan muridmu adalah seorang Senapati yang telah aku tunjuk.” Guru Jaka Rampan hanya mengangguk dalam-dalam tanpa mengucapkan sepatah katapun. “ Aku hanya ingin mendengar pengakuanmu, apakah benar bahwa yang dilakukan oleh Jaka Rampan itu karena perintahmu? “ bertanya Panembahan Senapati. “ Hamba Panembahan.” jawab guru Jaka Rampan dengan suara bergetar. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa Panembahan Senapati sendiri yang akan bertanya kepadanya tentang hal itu. “ Apakah dasar perintahmu itu?” bertanya Panembahan Senapati itu. “ Ampun Panembahan.” jawab guru Jaka Rampan, “ sebenarnyalah hamba didorong oleh perasaan dendam terhadap seseorang. Hamba ingin memanfaatkan murid hamba untuk memukul sebuah padepokan yang kuat dibelakang garis pertahanan Panembahan Madiun.” “ Jadi persoalannya adalah persoalan pribadi?” bertanya Panembahan Senapati. Guru Jaka Rampan tidak menjawab. Sementara Panembahan Senapati berkata, “ Untuk kepentingan pribadi, kau sudah menyeret dua kelompok prajurit Mataram yang dipimpin oleh Jaka Rampan dan Gondang Bangah.” “ Ampun Panembahan.” wajah guru Jaka Rampan itu menjadi semakin menunduk. Namun dalam pada itu, Panembahan Senapatipun berkata, “ Baiklah. Hanya itulah yang ingin aku ketahui.” Demikianlah, sejenak kemudian maka Panembahan Senapati itupun telah memberi isyarat kepada seorang Pelayan Dalam untuk memanggil prajurit yang sedang bertugas. Ketika prajurit yang dipanggil itu menghadap, maka Panembahan Senapati telah memerintahkan agar guru Jaka Rampan dan kawan-kawannya ditahan ditempat yang terpisah dari muridnya. “ Hati-hatilah. Jaga mereka baik-baik. Pada saatnya semuanya akan jelas.” berkata Panembahan Senapati. Seorang perwira dan beberapa orang prajurit kemudian telah menempatkan guru Jaka Rampan dan ketiga orang kawannya didalam sebuah bilik yang kokoh. Mereka mendapat pengawasan yang kuat karena para prajurit Mataram itu tahu, bahwa guru Jaka Rampan itu memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi. Sementara itu Panembahan Senapati yang masih berada di serambi bersama Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih itupun sepeninggal guru Jaka Rampan berkata, “ Kehadiran gurunya akan memperingan kesalahan Jaka Rampan.” Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia bertanya, Panembahan Senapati itu telah berkata selanjutnya, “ Ternyata niat Jaka Rampan menembus garis pertahanan madiun dengan diam-diam itu bukan karena keinginannya sendiri. Bukan karena niatnya untuk mengacaukan hubungan antara Mataram dan Madiun yang memang menjadi semakin kalut. Tetapi justru karena gurunya mendendam kepada seseorang, sehingga persoalannya akan terbatas pada persoalan pribadinya meskipun mungkin akan dapat menimbulkan akibat yang sama. Tetapi niat yang terbersit dihatinya bukannya ingin mendahuiui perintahku dalam hubungan antara Mataram dan Madiun.” “ Hamba Panembahan.” sahut Agung Sedayu, “ menurut guru Jaka Rampan itu ia telah mendendam kepada saudara seperguruannya.” Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Namun iapun telah berkata, “ Persoalannya telah dibatasi pada pertentangan antara murid-murid seperguruan. Tetapi setelah bertempur dengan guru Jaka Rampan apakah kau dapat mengenali aliran ilmunya?” Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Katanya, “ Ternyata bahwa pengetahuan hamba sangat sempit, Panembahan. Hamba tidak dapat mengetahui ciri aliran ilmu guru Jaka Rampan, selain kelebihannya pada kemampuan dan kecepatan bergerak, sehingga hampir dalam satu saat, seakan-akan ia berada ditempat yang berbeda sehingga seakan-akan serangannya datang bersamaan dari dua penjuru.” “ Bukan kemampuan untuk menunjukkan dirinya menjadi lebih dari satu dalam satu saat, sebagaimana dapat kau lakukan?” bertanya Panembahan Senapati. Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Hanya satu permainan yang tidak berarti Panembahan. Orang yang memiliki ketajaman penglihatan batin, akan segera mengetahui jenis permainan itu.” “ Celakanya, tidak banyak orang memiliki ketajaman penglihatan batin. Meskipun seseorang berilmu tinggi, namun kadang-kadang penglihatan batinnya sangat tumpul.” Agung Sedayu tidak menjawab. Sementara Panembahan Senapati kemudian berkata, “ Tetapi biarlah para perwira yang bertugas memeriksa guru Jaka Rampan itu bertanya tentang perguruannya dan tentang pertentangan yang timbul diantara saudara seperguruannya itu.” “ Hamba Panembahan.” sahut Agung Sedayu, “ mungkin ada sesuatu yang berarti yang dapat disadap dari orang itu.” Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Katanya, “ Aku memang harus mengucapkan terima kasih kepadamu Agung Sedayu. Banyak hal yang sudah kau lakukan bagi tanah ini.” “ Seperti hamba katakan, bahwa secara kebetulan orang itulah yang datang kepada hamba.” jawab Agung Sedayu. “ Jika kebetulan itu berakibat lain, maka guru Jaka Rampan itu tentu tidak akan sampai padaku.” berkata Panembahan Senapati, “ misalnya, seandainya ilmunya lebih tinggi dari ilmumu. Selebihnya, menurut laporan yang aku terima, kau pulalah yang telah mengirim adik sepupumu untuk memanggil Untara dan pasukannya ketika Jaka Rampan itu berada di Sangkal Putung. Bukankah itu satu kebijaksanaan yang patut dihargai? Memang tidak sebaiknya para pengawal Sangkal Putung bertempur melawan prajurit Mataram. Kesannya akan dapat menyuramkan citra prajurit itu. Meskipun dalam keadaan yang terpaksa hal itu dapat dilakukan jika langkah para prajurit itu memang salah. Tetapi adalah sangat bijaksana bahwa Untara sempat datang dengan pasukan Mataram pula.” Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kembali kepalanya menunduk dalam-dalam. “ Nah.” berkata Panembahan Senapati, “ baiklah kalian beristirahat. Aku minta kalian singgah sehari ini disini.” “ Ampun Panembahan.” jawab Agung Sedayu, “ hamba mohon agar hamba diperkenankan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Tanah Perdikan hari ini.” Panembahan Senapati mengerutkan keningnya. Tetapi ia bertanya, “ Kenapa tergesa-gesa? Bukankah kau sudah beberapa lama berada di Sangkal Putung? Jika hanya tambah sehari saja, maka tidak akan mengganggu pemerintahan di Tanah Perdikan. Apalagi aku sudah mendengar keterangan dari kakakmu Untara, apa yang telah terjadi atasmu di Jati Anom.” “ Justru karena itu Panembahan.” sahut Agung Sedayu pula, “ Hamba telah terlalu lama pergi.” Panembahan Senapati termangu-mangu sejenak. Ketika dipandanginya Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih yang menunduk, maka katanya, “ Baiklah. Tetapi nanti, sesudah kalian makan siang disini. Bukankah kalian singgah di kedai hanya untuk minum dan makan makanan saja?” Ketiganya tidak dapat menolak. Karena itu, maka merekapun menunggu sampai saatnya mereka dipersilahkan makan. Seorang Pelayan Dalam telah mendapat perintah dari Penembahan Senapati untuk menyiapkan dua buah bilik bagi Agung Sedayu dan Sekar Mirah serta Glagah Putih. “ Beristirahatlah sambil menunggu makan dipersiapkan. Aku ingin menjamu kalian kali ini.” berkata Panembahan Senapati. Ternyata bahwa Agung Sedayu memang merasa letih setelah ia bertempur melawan guru Jaka Rampan. Bagaimanapun juga, kemampuan guru Jaka Rampan itu perlu diperhitungkan. Karena itulah Agung Sedayu pun telah beristirahat dengan berbaring didalam bilik yang telah disediakan. “ Bukankah lukamu tidak apa-apa kakang?” bertanya Sekar Mirah. “ Tidak apa-apa. Agaknya besok akan sembuh.” jawab Agung Sedayu. Sekar Mirah tidak mengganggunya lagi. Ia sendiri memang tidak terlalu letih, meskipun iapun harus bertempur pula. Tetapi tidak sekeras Agung Sedayu. Namun demikian, Sekar Mirah pun telah duduk pula di sebuah amben panjang dengan sandaran tinggi, sehingga iapun dapat beristirahat sambil mengenang apa yang telah terjadi sepanjang perjalanan mereka dari Tanah Perdikan Menoreh sampai ke Sangkal Putung kemudian Jati Anom, kembali ke Sangkal Putung dan selanjutnya menempuh perjalanan kembali ke Tanah Perdikan. Sementara itu, Agung Sedayu sempat pula merenungi kata-kata guru Jaka Rampan tentang pendapat Swandaru. Darimana ia mendengar, bahwa Swandaru menganggapnya terlalu malas untuk berlatih di Sanggar, sehingga ilmunya menjadi tersendat-sendat dan tidak meningkat lagi. “ Agaknya Swandaru telah mengatakan pendapatnya itu kepada anak-anak muda Sangkal Putung sehingga pada suatu saat, dapat didengar oleh guru Jaka Rampan atau pengikut-pengikutnya. Sadar atau tidak sadar.” berkata Agung Sedayu didalam hatinya. Namun hal itu telah menggugahnya untuk sekedar melihat kemampuan yang ada didalam dirinya. Dalam sebungkus bawaannya diantara lembar-lembar pakaiannya yang sedikit terdapat kitab yang dipinjamkan Swandaru kepadanya dengan permintaan agar Agung Sedayu menyempatkan diri meningkatkan ilmunya yang menurut Swandaru menjadi agak terbelakang. Sebenarnyalah bahwa beberapa jenis ilmu yang dahsyat yang dimiliki oleh Agung Sedayu sebagian memang tidak bersumber pada ilmu yang diturunkan oleh Kiai Gringsing, meskipun sudah barang tentu sepengetahuan dan seijinnya. Atau setidak-tidaknya mendapat persetujuannya, atau melaporkannya untuk mendapat penilaian kembali, apakah ilmu itu akan menimbulkan tantangan tantangan didalam dirinya atau tidak. Tiba-tiba saja Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia juga merasa gelisah atas penilaian yang salah dari Swandaru itu. Jika pada suatu saat, Swandaru itu mengetahuinya, maka hal itu akan dapat menimbulkan persoalan. Setidak-tidaknya didalam dirinya sendiri. Menurut Agung Sedayu, memang perlu dicari jalan untuk meletakkan anggapan Swandaru tentang dirinya itu pada tempat yang sewajarnya tanpa menimbulkan kesan seakanakan ia memang ingin menyombongkan diri. Di ruang yang lain, Glagah Putih pun telah berbaring pula meskipun matanya tidak terpejam. Ternyata seperti Agung Sedayu ia memikirkan pendapat Swandaru tentang kemampuan ilmunya dibandingkan dengar, ilmu Agung Sedayu. Bahkan rasa-rasanya Glagah Putihlah yang sekalikali ingin mencoba kemampuan ilmu Swandaru. Tetapi mereka memang tidak mendapat kesempatan terlalu lama merenung. Beberapa saat kemudian, maka seorang pelayan Dalam telah memberitahukan bahwa mereka dipanggil untuk menghadap Panembahan Senapati. Sebenarnyalah Panembahan Senapati telah menjamu mereka makan. Sementara itu, mereka sempat juga berbincang serba sedikit tentang persoalan-persoalan yang timbul menjelang saat-saat terakhir. Terutama setelah Pangeran Benawa meninggal. Dengan demikian Pajang telah menebarkan asap yang hitam yang membuat kemelut dia-tas Mataram dan Madiun menjadi semakin gelap. “ Jadi Panembahan belum sempat bertemu dengan pamanda Panembahan Madiun? “ bertanya Agung Sedayu. Panembahan Senapati menggeleng. Katanya “ Ada-ada saja hambatannya. Tetapi aku benar-benar berniat untuk berbicara. Jika persoalan ini tidak segera menjadi jelas, maka aku akan mengirimkan satu kelompok yang akan membawa pesan-pesan perdamaian bagi pamanda Panembahan Madiun. Aku memang harus merendahkan diri, karena menurut hubungan keluarga, aku ada pada tataran yang lebih muda. Tetapi jika hubungan itu gagal, maka aku harus menebus harga diriku dengan langkah dua kali lipat. “ “ Maksud Panembahan? “ bertanya Agung Sedayu. Panembahan Senapati mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya “ Marilah. Kita ingin makan dengan tanpa merenungi persoalan-persoalan yang rumit. “ Agung Sedayu memang tidak berani bertanya lebih lanjut. Agaknya Panembahan Senapati memang sedang tidak ingin berbicara terlalu banyak tentang Madiun. Karena itu, maka Agung Sedayu tidak bertanya lebih jauh tentang hubungan antara Mataran dan Madiun. Yang mereka bicarakan kemudian adalah makanan yang sedang mereka hadapi. Bahkan Sekar Mirahpun telah ikut berbicara pula, karena iapun seorang yang mempunyai banyak perhatian tentang berjenis-jenis makanan. Setelah makan siang, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih sempat beristirahat beberapa saat sambil berbicara tentang banyak hal dengan Panembahan Senapati. Namun Panembahan Senapati tidak juga menyebut-nyebut lagi tentang Madiun. Sejenak kemudian, maka Agung Sedayupun telah mohon diri untuk meneruskan perjalanan kembali ke Tanah Perdikan. “ Apakah kau tidak bermalam saja disini? Kau akan kemalaman sampai ke Tanah Perdikan. “ berkata Panembahan Senapati. “ Ampun Panembahan “ Jawab Agung Sedayu “ hamba ingin segera melihat Tanah itu setelah sekian lama hamba tinggalkan. “ “ Baiklah “ berkata Panembahan Senapati kemudian “ hatihatilah diperjalanan. Mungkin masih ada rintangan yang akan menghambatmu. “ “ Hamba mohon diri Panembahan “ berkata Agung Sedayu kemudian. “ Hamba mohon restu Panembahan, semoga hamba dan isteri serta sepupu hamba, selamat sampai kerumah hamba kembali. “ Demikianlah, maka setelah Sekar Mirah dan Glagah Putih mohon diri pula, maka merekapun telah meninggalkan istana Mataram menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Ketika mereka menuruni tepian kali Praga, maka langit sudah menjadi kemerah-merahan. Meskipun mereka berangkat dipermulaan hari, namun karena hambatan di perjalanan serta singgah beberapa lama di istana Panembahan Senapati, maka perjalanan ke Tanah Perdikan itu mereka tempuh dalam sehari penuh. Meskipun senja sudah turun, namun masih ada juga beberapa orang yang akan bersama-sama menyeberang dalam satu gethek yang tidak terlalu besar. Sejenak kemudian, maka merekapun telah turun di tepian seberang Kali Opak. Setelah membayar upah mereka bertiga kepada tukang satang, maka mereka siap meninggalkan tepian Kali Praga itu. Namun ada saja yang menghambat perjalanan mereka, Ketika mereka mulai melangkah menuntun kuda mereka, Glagah Putih justru berdesis “ Tunggu sebentar kakang. Agung Sedayu dan Sekar Mirahpun berhenti. Semula mereka tidak begitu memperhatikan apa yang telah terjadi. Namun agaknya Glagah Putih telah melihat seorang yang naik gethek bersama mereka bertengkar dengan tukang satang. “ Aku bekerja untuk mendapatkan upah “ berkata tukang satang itu “ karena itu kau harus membayar. “ “ Bukankah orang lain sudah membayar “ justru orang yang tidak mau membayar itulah yang membentak “ Perdikan Menoreh “ jawab orang itu. “ Jika demikian, apakah kau ingin membuat persoalan dengan orang itu? bertanya Glagah Putih pula. “ Tidak. Tentu tidak. Biarlah aku pergi saja “ berkata orang yang menyebut dirinya Singa Luwuk itu. Tetapi ketika ia melangkah, Glagah Putih menepuknya sambil berkata “ Ada yang belum kau selesaikan. “ “ Apa? “ bertanya Singa Luwuk. “ Kau belum membayar upah kepada tukang satang itu. “ jawab Glagah Putih. Singa Luwuk menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya iapun telah mengambil beberapa keping uang dari kantong ikat pinggangnya yang lebar setelah menyarungkan luwuknya. Tanpa mengatakan apapun juga, baik kepada tukang satang maupun kepada Glagah Putih, apalagi kepada Agung Sedayu dan Sekar Mirah, maka orang itupun telah melangkah dengan langkah-langkah panjang meninggalkan tepian. Tukang-tukang satang itupun hampir berbarengan berkata “ Terima kasih anak muda. “ Glagah Putih tersenyum. Katanya “ Kalian tidak perlu mengucapkan terima kasih Ki Sanak. Terimalah hakmu itu, karena kau memang harus menerimanya. “ Tukang-tukang satang itu mengangguk. Sementara itu Glagah Putihpun kemudian telah meninggalkan mereka dan bersama-sama dengan Agung Sedayu dan Sekar Mirah meneruskan perjalanan. “ Nah, kakang “ berkata Glagah Putih “ nama ka-kang mulai ditakuti orang sekarang. “ Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam Katanya “ Hal itulah yang seharusnya dihindari. “ “ Kenapa? Bukankah dengan demikian kakang akan mempunyai wibawa yang besar? “ bertanya Glagah Putih pula. Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Katanya “ Apakah hal itu diperlukan? Kita seharusnya justru menjadi akrab dengan setiap orang. Bukan ditakuti. “ “ Dalam keadaan yang khusus seperti ini, agaknya memang diperlukan kakang. Baru saja kita dihadapkan pada satu contoh yang jelas. Seandainya nama kakang tidak ditakuti, maka aku kira, aku harus berkelahi untuk memaksanya membayar. “ berkata Glagah Putih. “ Tetapi antara orang itu dan aku, tentu terbentang jarak. Demikian juga dengan orang-orang lain yang mempunyai tanggapan yang sama kepadaku dengan orang itu, “ berkata Agung Sedayu. Lalu katanya “ Bagiku, yang baik adalah bahwa kita mempunyai kedudukan seperti orang-orang lain. Dengan demikian, kita tidak harus membawa beban justru karena kita dianggap berbeda dengan orang lain itu. “ Glagah Putih mengerutkan keningnya. Ternyata ia mempunyai pendapat yang berbeda dengan Agung Sedayu. Menurut pendapat Glagah Putih, Agung Sedayu terlalu rendah hati sehingga baginya nama yang besar itu akan menjadi beban. Tetapi menurut Glagah Putih, kadang-kadang memang diperlukan kebesaran nama seseorang. Bukan saja karena jabatannya, tetapi juga karena pribadi dan kemampuannya. Tetapi Glagah Putih tidak berani menyatakannya, sebagaimana ia juga tidak berani menyatakan sikapnya tentang Swandaru kepada Agung Sedayu, apalagi kepada Sekar Mirah, adik Swandaru itu. Seandainya ia menjadi Agung Sedayu, maka ia akan meyakinkan kepada adik seperguruannya itu, bahwa ilmunya lebih tinggi dan mapan. “ Kakang Agung Sedayu terlalu tertutup hatinya. Hal itu kadang-kadang justru dapat menyulitkannya. Banyak persoalan yang harus tertunda penyelesaiannya. Sebaliknya kakang Swandaru terlalu berterus-terang. “ berkata Glagah Putih didalam hatinya. Keduanya memang seperti dua buah pintu. Satu tertutup rapat-rapat, sementara yang lain terbuka lebar-lebar. Glagah Putih yang merambat keusia dewasa itu ternyata telah mampu menilai keduanya. Bahwa keadaan yang demikian itu, akan dapat mempunyai akibat yang kurang baik pada kedua-duanya. Meskipun pada dasarnya, sifat dan watak Glagah Putih sangat dipengaruhi oleh sifat dan watak Agung Sedayu, tetapi sifat dan watak gurunya yang lain, Ki Jayaraga, berpengaruh pula padanya. Selain mereka, maka pengaruh Raden Rangga pada sifat dan watak Glagah Putihpun cukup besar. Namun demikian, Glagah Putih adalah satu pribadi yang utuh tersendiri. Ia bukan tiruan dari pribadi-pribadi yang ada disekitarnya. Demikianlah ketiganya mulai memasuki Tanah Perdikan Menoreh disaat malam mulai turun. Namun jalan-jalan di Tanah Perdikan itu sudah mereka kenal dengan baik, sehingga meskipun malam menjadi kelam, mereka sama sekali tidak merasa terganggu. Karena itu, meskipun tidak terlalu kencang, maka mereka telah membawa kuda-kuda mereka berlari menyusuri jalanjalan bulak dan padukuhan. Beberapa kali ketiga orang itu harus berhenti dimulut-mulut lorong karena satu dua orang yang telah berada di gardu telah menyapa mereka. Meskipun ketiga orang itu segera ingin sampai ke padukuhan induk, namun mereka tidak dapat begitu saja mengabaikan sapa anak-anak muda dan bahkan orang-orang lain yang berpapasan. Meskipun agak lambat, namun akhirnya ketiganya telah memasuki padukuhan induk. Mereka bertiga sepakat untuk tidak langsung pulang kerumah mereka, tetapi mereka akan singgah lebih dahulu dirumah Ki Gede untuk melaporkan kehadiran mereka, karena sudah terlalu lama meninggalkan Tanah Perdikan. Kedatangan mereka dirumah Ki Gede memang mengejutkan. Namun seluruh keluarga Ki Gede dan para pengawal yang kebetulan bertugas meronda malam itu menyambut kedatanganmerekadengan gembira. Oleh Ki Gede mereka telah diterima diruang dalam. Agaknya Ki Gede juga ingin mengetahui, apa saja yang telah terjadi dengan mereka, sehingga rasa-rasanya mereka telah terlalu lama meninggalkan Tanah Perdikan itu. Namun agaknya Ki Gede menyadari, bahwa ketiga orang itu masih terlalu letih untuk berceritera panjang lebar. Karena itu, Ki Gede hanya ingin tahu serba sedikit apa yang telah terjadi di perjalanan mereka mengunjungi Sangkal Putung dan Jati Anom. Agung Sedayupun kemudian menceriterakan dengan singkat, pengalaman perjalanannya bertiga. Namun yang penting untuk diketahui oleh Ki Gede tidak ada yang terlampaui. Ki Gede memang tidak ingin membicarakannya saat itu. Karena itu maka katanya “ Baiklah. Laporanmu sudah aku dengar Agung Sedayu. Aku tahu, bahwa kalian perlu beristirahat. Karena itu, biarlah besok kita berbicara lebih panjang. Aku harap kalian datang disaat matahari sepenggalah. Aku akan mengundang para bebahu Tanah Perdikan. Meskipun barangkali tidak banyak yang akan dapat mengikuti persoalan yang berkembang antara Mataram dan Madiun, namun biarlah mereka mendengar serba sedikit pengalaman perjalananmu, karena merekapun telah menunggu-nunggu kehadiranmu kembali di Tanah Perdikan ini. “ “ Baiklah Ki Gede “ sahut Agung Sedayu “ perkenankanlah kini kami mohon diri. “ “ Kalian tentu ingin segera membersihkan diri dan kemudian tidur dengan nyenyak. Ki Jayaragapun tentu akan senang menerima kedatangan kalian, “ berkata Ki Gede kemudian. Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putihpun segera mohon diri untuk kembali kerumah mereka yang telah mereka tinggalkan untuk beberapa lama. Ki Jayaraga menjadi sangat gembira menerima kedatangan Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih pulang. Dengan nada tinggi ia berkata “ Sudah terlalu lama aku merasa kesepian dirumah. Aku kira kalian telah melupakan Tanah Perdikan ini. “ Agung Sedayu tertawa. Katanya “ Ada sesuatu yang telah menahan kami. Justru karena disini ada Ki Jayaraga kami tidak merasa tergesa-gesa. “ Ah, ada-ada saja kau Agung Sedayu “ sahut Ki Jayaraga “ tetapi sayang, aku tidak menanak nasi sore ini. Aku makan sisa nasi tadi siang yang masih banyak. “ “ Sudahlah “ berkata Sekar Mirah “ Aku akan menanak nasi. “ “ Aku juga tidak menyediakan lauk pauk, “ desis Ki Jayaraga pula. Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih tertawa. Sementara itu, pembantu dirumah itupun telah menyambut pula kedatangan mereka dengan gembira. Ki Jayaraga kemudian sempat menanyakan keselamatan perjalanan. Demikianlah, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putihpun telah berganti-ganti membersihkan diri. Sementara Sekar Mirah memang pergi ke dapur untuk menghidupkan perapian. Tetapi Sekar Mirah tidak merasa perlu untuk menanak nasi, karena mereka yang baru saja kembali itu tidak merasa lapar. Sekar Mirah hanya merebus air untuk membuat minuman hangat. Setelah mandi dan membenahi diri, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih ternyata tidak segera pergi ke bilik mereka. Agung Sedayu dan Sekar Mirah masih sempat berbincang-bincang dengan Ki Jayaraga. Banyak hal yang telah diceriterakan oleh Agung Sedayu tentang perjalanan mereka. Ki Jayaraga mendengarkan ceritera Agung Sedayu dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, Glagah Putih ternyata sudah sibuk dengan pembantu rumah Agung Sedayu itu. Anak itu sibuk berceritera tentang pliridan dan ikan yang seakan-akan bertambah banyak di sungai kecil tempat mereka membuat pliridan itu. “ Apa kau ingin melihat? “ bertanya anak itu. “ Kau tentu tahu, aku letih “ jawab Glagah Putih. Anak itu sempat pula berceritera bahwa dua hari yang lalu ia telah berkelahi. “ Kenapa? “ bertanya Glagah Putih. “ Mereka telah mencuri ikan di pliridan kita “ jawab anak itu. “ Mereka siapa? “ bertanya Glagah Putih pula. “ Anak padukuhan sebelah “ jawab anak itu. “ Kau berhasil mengusir mereka? bertanya Glagah Putih kemudian. Ternyata anak itu menggeleng. Jawabnya “ Aku dipukuli oleh empat orang. Mereka rata-rata lebih besar dari aku. “ Glagah Putih tertawa. Namun anak itu menjadi marah. Katanya “ Kau malahan mentertawakan aku. Seharusnya kau menjadi marah dan membantuku. “ “ Bagaimana aku membantumu. Peristiwa itu sudah terjadi dua hari yang lalu. “ berkata Glagah Putih. “ Tetapi kita mengenal anak-anak itu. Kita dapat mendatangi mereka dan menantangnya berkelahi. Kau mempunyai banyak kenalan disini, bahkan para pengawal. Aku tidak dapat minta tolong kepada mereka. Tetapi kau tentu dapat. “ berkata anak itu. Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya “ Jadi maksudmu, kita datang beramai-ramai ke rumah anak-anak yang telah memukulimu itu? Menantang mereka berkelahi atau sekedar memukuli mereka beramai-ramai? “ “ Jika kita dapat mengajak duapuluh orang anak-anak muda di padukuhan ini, maka kita akan dapat memukuli mereka “ jawab anak itu. Glagah Putih masih mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya “ Tetapi bagaimana jika keempat anak itu pada hari lain datang kembali bersama-sama dengan empat puluh kawan-kawan mereka dan memukuli kita beramai-ramai? “ Kita mencari kawan lebih banyak lagi “ jawab anak itu. “ Dan merekapun mencari kawan jauh lebih banyak lagi. Nah, bukankah dengan demikian akan dapat timbul perang. Apalagi mereka adalah anak-anak Tanah Perdikan ini pula. Apakah kita akan senang melihat anak-anak muda dari Tanah Perdikan ini saling berperang? Bahkan mungkin akan dapat jatuh korban. Satu atau dua. Nah, bayangkan, ibunya tentu akan menangisinya. Apalagi jika kebetulan ia anak tunggal. “ Anak itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata “ Karena itu, ajari aku berkelahi, supaya aku tidak perlu bantuan orang lain. “ Glagah Putih tertawa. Katanya “ Bukankah aku sudah mengajarimu berkelahi? “ Tetapi aku masih kalah berkelahi dengan anak yang sedikit lebih besar dari aku meskipun ia hanya seorang diri “ berkata anak itu. “ Jadi jika kau nanti pandai berkelahi, maka kau akan berkelahi dengan anak anak yang lebih besar darimu? “ bertanya Glagah Putih. “ Aku akan memukuli mereka yang berani menantang aku “ jawab anak itu. Glagah Putih tertawa pula. Katanya “ Kau keliru. Jika kau belajar berkelahi, bukan maksudku untuk berkelahi melawan siapa saja. “ “ Lalu untuk apa? “ bertanya anak itu. “ Jika kita mampu berkelahi, terutama sekedar untuk melindungi diri kita sendiri tanpa memancing persoalan dengan orang lain. Juga untuk melindungi orang-orang yang lemah dari tindakan sewenang-wenang orang lain. Tetapi agaknya kau tidak begitu. Jika kau mampu berkelahi dengan baik, kau tentu akan menantang anak-anak yang sedang bermain di pinggir jalan atau mereka yang sedang bekerja di sawah. “ Anak itu termangu-mangu. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk “ aku mengerti. “ Jadi kemampuan seseorang tidak untuk menyombongkan diri “ berkata Glagah Putih. “ Baiklah. Ajari aku berkelahi. Aku tidak akan sombong. Tetapi aku tidak akan dipukuli orang lagi tanpa bersalah. Justru orang-orang itu yang akan mencuri ikan di pliridan kita, “ minta anak itu. Glagah Putih tertawa lagi. Katanya “ Baiklah. Tetapi kau harus berjanji untuk tidak mempergunakan tanpa ada artinya. “ “ Kau sudah berjanji lebih dari duapuluh kali “ desis anak itu “ tetapi kau tidak bersungguh-sungguh. “ “ Jangan merajuk “ jawab Glagah Putih “ kau tahu, bahwa aku sering pergi. “ “ Untuk apa sebenarnya kau pergi? Seharusnya kau lebih banyak tinggal di rumah. Sawah dan ladang kadang-kadang terbengkelai. Selama kalian pergi, Ki Jayaraga bekerja sendiri di sawah bersamaku, “ berkata anak itu. “ Tetapi pekerjaan di sawah tidak terlalu banyak sekarang. Padi sudah tumbuh. Bukankah dua orang yang bekerja di sawah kakang Agung Sedayu itu tidak menjadi malas? “ bertanya Glagah Putih. “ Memang tidak. Tetapi biasanya kau, bahkan paman Agung Sedayu sendiri sering turun pula kesawah “ berkata anak itu. “ Sudahlah. Jika tidak perlu sekali, aku tidak akan sering pergi. “ berkata Glagah Putih. “ Kau memang senang bepergian. Seolah-olah rumah ini hanya sekedar tempat persinggahan “ gumam anak itu. “ O, pandai juga kau berbicara. Baiklah. Aku akan mengajarimu berkelahi. “ berkata Glagah Putih “ Tetapi marilah kita memakai istilah lain agar terasa lebih mapan kau mempunyai pengertian yang lebih baik. Bukan belajar berkelahi, tetapi belajar ulah kanuragan. “ Anak itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya “ Apa saja namanya. Pokoknya aku tidak dipukuli orang lagi. “ Glagah Putih tertawa semakin keras. Namun ia berusaha untuk tidak mengganggu mereka yang sedang berbincang didalam. “ Besok lusa kita akan mulai “ berkata Glagah Putih. “ Kenapa besok lusa. Kenapa tidak sekarang? “ desak anak itu. “ Kau tahu, aku masih letih sekarang “ jawab Glagah Putih “ aku akan segera tidur sampai besok. Anak itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bersungut-sungut “ Kau memang malas sekali. - Glagah Putih tertawa. Katanya “ Sudahlah. Jika kau akan pergi ke sungai pergilah. Jangan suka berkelahi. Kurang baik meskipun kau mempunyai kemampuan olah kanuragan. “ Anak itu tidak menjawab, sementara Glagah Putih bangkit sambil menggeliat “ Aku akan tidur. “ Anak itu tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian mengumpulkan alat-alat yang akan dibawanya ke sungai. Sementara Glagah Putihpun telah menuju ke biliknya. Tetapi diruang dalam, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Ki Jayaraga masih duduk sambil berbincang. Mereka tidak saja membicarakan persoalan Mataram dan Madiun, tetapi juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan kemudian Agung Sedayupun telah membicarakan hubungannya dalam tataran ilmu dengan Swandaru. “ Memang sulit kakang “ desis Sekar Mirah “ tetapi sebaiknya kita tidak tergesa-gesa. Jika kemudian ternyata kita tidak menemukan cara, maka kita dapat minta tolong kepada Kiai Gringsing. “ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, penilaian yang keliru itu, merupakan beban perasaan bagi Agung Sedayu. “ Karena itu, cobalah bertempur disaat Swandaru ada “ berkata Ki Jayaraga. “ Itulah yang sulit “ berkata Agung Sedayu “ bagaimana aku harus mengatur agar lawan datang pada saat Swandaru juga hadir. “ Ki Jayaraga justru tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata “ Memang benar, bagaimana kita mengundang Swandaru disaat lawan itu datang. Sedangkan kita tidak tahu kapan lawan itu menghampiri kita. “ “ Bahkan jika mungkin, lawan itu jangan datang sama sekali. “ berkata Agung Sedayu. Ki Jayaraga tertawa. Katanya “ Agaknya kau memang tidak merasa perlu untuk berbuat demikian. Baiklah. Aku sependapat dengan Sekar Mirah. Biarlah gurumu yang mengatakannya dengan caranya. Tentu ia tidak kurang bijaksana. “ Agung Sedayupun kemudian mengangguk-angguk pula. Bahkan hampir diluar sadarnya ia telah bergumam “ Aku juga telah diserahi untuk membawa kitab guru. “ “ O, jadi Swandaru menyerahkannya kepadamu? “ bertanya Ki Jayaraga. “ Ya. Hal itu dilakukan sebagai salah satu akibat kesalahpahaman itu. Ia mengharap agar ilmuku dapat meningkat serba sedikit. Namun bagaimanapun juga, maksud Swandaru tentu baik. Ia ingin saudara seperguruannya tidak selalu terluka dalam hampir setiap pertempuran. “ “ Ah, apakah kau tentu terluka di setiap pertempuran? “ bertanya Ki Jayaraga. “ Tetapi aku memang sering mengalami. Sudah beberapa kali aku terluka dalam pertempuran “ jawab Agung Sedayu. “ Tetapi kau berkesempatan memenangkan pertempuranpertempuran itu. Jika kau tidak sempat keluar dari pertempuran itu, maka kau memang tidak akan pernah terluka lagi, “ sahut Ki Jayaraga. “ Ah, jangan berkata begitu “ Sekar Mirahlah yang menyahut. “ Maaf, bukan maksudku. Tetapi agaknya memang agak terlanjur. “ jawab Ki Jayaraga. “ Sekarang akupun terluka “ berkata Agung Sedayu. “ Luka kecil. Tetapi bukankah kau tidak terganggu karena luka itu? “ bertanya Ki Jayaraga. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata “ Tetapi aku memang ingin memperbaharui ingatanku tentang kitab guru. Aku akan mengambil kesempatan untuk membacanya dan mengingatingat bagian-bagian yang penting. Mungkin pada suatu saat aku sangat memerlukannya. “ “ Tetapi kau mempunyai kesempatan untuk menekuni ilmu yang terdapat dalam kitab itu tetapi belum kau kuasai dengan baik. “ berkata Ki Jayaraga. “ Ada dua kemungkinan yang dapat aku lakukan. Memperbanyak jenis ilmu yang dapat aku kuasai, atau memperdalam yang memang sudah ada “ jawab Agung Sedayu. Lalu katanya “ Tetapi agaknya aku cenderung untuk memperdalam apa yang telah ada padaku. Mungkin akan sangat berarti bagi perkembangan ilmuku sebagai bekal pengabdianku kelak. “ “ Kau aneh Agung Sedayu “ berkata Ki Jayaraga “ bagiku kau adalah orang yang mumpuni. Orang yang sudah tuntas dalam olah kanuragan dan olah kajiwan. Apalagi yang akan kau pelajari untuk meningkatkan ilmumu? “ “ Ki Jayaraga. Aku sama sekali tidak ingin menjadi orang yang memiliki kemampuan tertinggi di seluruh muka bumi, karena aku yakin bahwa setiap orang betapapun tinggi ilmunya, mempunyai kelemahan masing-masing. Tetapi apa salahnya jika seseorang berusaha untuk meningkatkan kemampuannya yang dapat diabdikan bagi sesama? Memang yang nampak tidak ada bedanya dengan orang yang tamak dan berkeinginan untuk berkuasa karena kekuatan yang ada pada dirinya. Namun jiwanyalah yang berlainan. “ Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Alangkah bangganya hati ini jika aku dapat melakukannya pula. “ “ Kenapa tidak? “ bertanya Agung Sedayu. “ Tetapi aku sudah terlalu tua untuk ikut serta menempa diri sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang lebih muda “ berkata Ki Jayaraga. Tetapi Agung Sedayu tertawa. Dengan nada tinggi ia berkata “ Jadi Ki Jayaraga sudah merasa dirinya terlalu tua untuk meningkatkan diri? “ Ki Jayaraga merenung sejenak. Namun iapun kemudian tersenyum sambil berkata “ Mudah-mudahan tidak. Mudahmudahan aku masih mempunyai kemauan untuk melakukannya. “ “ Sokurlah “ berkata Agung Sedayu “ masih banyak tugas yang menunggu dihadapan kita. “ Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata “ Tetapi bukankah kalian masih letih? Jika kalian ingin beristirahat, silahkan. Besok kita akan berceritera lagi tentang perjalanan kalian. “ Agung Sedayu dan Sekar Mirah tersenyum. Namun Agung Sedayu masih sempat berkata “ Agaknya Ki Jayaraga juga sudah mengantuk. “ Ki Jayaragapun tertawa pula. Desisnya “ Barangkali memang demikian. Selamat malam. “ Ki Jayaragalah yang kemudian mendahului meninggalkan Agung Sedayu dan Sekar Mirah kembali ke dalam biliknya. Baru sejenak kemudian Agung Sedayu dan Sekar Mi-rahpun pergi beristirahat. Dihari berikutnya, ketika matahari naik sepenggalah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih telah berada dirumah Ki Gede, Sekar Mirah sengaja tidak ikut bersama mereka ia tahu bahwa pertemuan itu adalah pertemuan resmi. Ternyata diantara para bebahu dan para pemimpin yang lain di Tanah Perdikan, telah hadir pula dua orang tamu. Dua orang yang datang dari barak pasukan Mataram yang ada di Tanah Perdikan. Ketika mereka yang diharapkan datang telah hadir hampir seluruhnya, maka Ki Gede telah membuka pertemuan itu. Kepada mereka yang datang ke pendapa Ki Gede berkata “ Baiklah Ki Sanak. Sebelum kita berbicara tentang diri kita sendiri, maka dua orang tamu yang hadir disi-ni agaknya perlu aku perkenalkan. Keduanya adalah perwira-perwira muda dari pasukan khusus Mataram yang ada di Tanah Perdikan ini. Keduanya memang belum lama bertugas di barak pasukan khusus itu, sehingga agaknya banyak diantara kita yang belum mengenalnya. “ Kedua orang itu mengangguk hormat kepada para pemimpin di Tanah Perdikan itu. Sementara itu Ki Gede melanjutkan “ Keduanya telah ditugaskan untuk bertemu dengan para pemimpin Tanah Perdikan ini. Adalah satu kebetulan bahwa hari ini kita sedang mengadakan pertemuan, sehingga keduanya dapat sekaligus berbicara langsung dengan Ki Sanak semuanya. Nah, agar tugas mereka segera dapat mereka laksanakan, maka baiklah kita memberikan waktu lebih dahulu kepada mereka berdua. “ Salah seorang dari kedua perwira itupun kemudian telah bergeser setapak maju. Atas nama mereka berdua perwira itupun kemudian berkata “ Kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan bertemu dengan Ki Sanak semua. Satu kesempatan yang sebelumnya tidak kami duga. “ Perwira itu berhenti sejenak, lalu “ Nah, perkenalkanlah kami menyampaikan pesan dari Senapati yang kini memimpin pasukan khusus di Tanah Perdikan ini. Senapati kami yang baru ingin mengundang para pemimpin Tanah Perdikan ini, khususnya Ki Gede untuk menghadiri satu pertemuan perkenalan dengan Senapati kami yang baru. “ Ki Gede mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia berkata “ Kami ucapkan terima kasih atas kesempatan ini. Tetapi bukankah sebelumnya hal seperti ini tidak terbiasa dilakukan? Biasaanya, jika terjadi pergantian pimpinan maka Senapati yang baru itu datang memperkenalkan diri. Tetapi agaknya Senapati yang baru ini ingin mengadakan sedikit upacara. “ “ Ya Ki Gede “ jawab perwira itu “ agaknya hal ini pertama kali dilakukan. Tetapi menurut Senapati kami yang baru, cara yang ditempuh ini lebih baik dan tidak banyak membuang waktu. Selain Ki Gede, juga diundang beberapa orang Demang dari Kademangan disekitar Tanah Perdikan ini. Dengan demikian, maka perkenalan itu dapat dilakukan sekaligus, sehingga tidak seperti sebelumnya, seorang Senapati harus membuang-buang waktu untuk mengunjungi mereka seorang demi seorang. “ “ Ah tentu bukannya membuang waktu. Bukankah dengan demikian pemimpin Pasukan Khusus itu akan dapat melihat langsung keadaan lingkungannya. “ sahut Ki Gede. “ Ki Gede benar. Tetapi nampaknya Senapati kami yang baru ini akan sedikit mengadakan upacara melepas Senapati kami yang lama pula. “ jawab perwira itu. “ Baiklah “ jawab Ki Gede “ kami akan datang. “ “ Terima kasih Ki Gede. Tetapi bukan maksud kami membatasi kemauan baik Ki Gede, namun kami hanya dapat menerima tiga orang diantara para pemimpin Tanah Perdikan ini. Bukan karena bermacam-macam perhitungan, tetapi semata-mata karena tempat yang kami sediakan sangat terbatas. “ berkata perwira itu lebih lanjut. “ Baiklah. Kami akan datang bertiga “ jawab Ki Gede kemudian “ itu memang sudah cukup. “ Para perwira itu mengangguk-angguk. Kemudian perwira itupun memberi tahukan tentang saat dari pertemuan itu. Ternyata saatnya sudah terlalu dekat. “ Sore nanti? “ bertanya Ki Gede. “ Ya Ki Gede, sore nanti. Saat matahari turun “ jawab perwira itu. Lalu “ Agar mereka yang datang dari jarak yang agak panjang, tidak kegelapan diperjalanan kembali setelah upacara itu selesai. Lebih-lebih mereka yang datang dari seberang bukit. “ Ki Gede mengangguk-angguk mengiakan. Dengan nada datar Ki Gedepun kemudian berkata “ Ki Sanak. Sampaikan ucapan terima kasih kami, para bebahu Tanah Perdikan Menoreh atas kesempatan ini. Kami akan memerlukan datang meskipun pemberitahuan ini terlalu tibatiba. Tetapi kami mengerti, bahwa agaknya rencana inipun dibuat dengan tiba-tiba. “ “ Ki Gede benar. Senapati kami yang baru itu tiba malam tadi. Ia segera membuat perintah-perintah yang harus kami lakukan. Antara lain mengundang para pemimpin dari Tanah Perdikan ini dan beberapa Kademangan diseki-tar Tanah Perdikan ini. “ jawab perwira muda itu. Namun kemudian katanya “ Tetapi baiklah kami segera mohon diri, karena tugas kami sudah kami selesaikan. Agaknya tidak pantas jika kami tidak ikut dalam pertemuan para pemimpin Tanah Perdikan ini. “ “ Tetapi jika kalian berdua menghendaki, kami tidak mempunyai keberatan “ sahut Ki Gede. “ Terima kasih Ki Gede. Sebaiknya kami mohon diri “ berkata perwira itu. Ki Gede memang tidak menahannya. Karena itu, maka kedua orang perwira muda itupun segera meninggalkan rumah Ki Gede dan kembali ke barak pasukan khusus. Sepeninggal kedua perwira itu, maka Ki Gedepun telah membuka pertemuan itu. Seperti yang sudah ditentukan, maka pertemuan itu akan mendengarkan keterangan Agung Sedayu tentang perjalanannya, sehingga para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh itu dapat mengenali keadaan yang sedang berkembang di Mataram. Hubungan antara Mataram dan Madiun, serta sikap para prajurit Mataram yang seharusnya, karena ada orang yang berusaha memanfaatkan keadaan untuk kepentingan pribadinya sebagaimana dilakukan oleh guru Jaka Rampan. Keterangan Agung Sedayu itu merupakan pengenalan yang luas bagi para pemimpin Tanah Perdikan itu, sehingga keterangannya itu sangat berarti bagi kepentingan Tanah Perdikan. Namun dalam pada itu, disamping keterangan Agung Sedayu para pemimpin Tanah Perdikan itu juga sempat membicarakan sikap Senapati yang memimpin Pasukan khusus Mataram yang baru itu. “ Bukan satu kebiasaan “ berkata Ki Gede “ tetapi hal itu memang tidak mengikat. Agaknya orang ini mempunyai watak dan kebiasaan yang berbeda dengan para Senapati yang terdahulu. “ Tetapi salah seorang diantara bebahu itu ternyata mempunyai kesan yang lain. Katanya “ Tetapi kesannya, Senapati itu bersikap sebagai seorang pemimpin yang berderajad jauh lebih tinggi dari Ki Gede dan para bebahu serta para Demang disekitar Tanah Perdikan ini. “ Ki Gede termangu-mangu. Namun Agung Sedayulah yang menyahut “ Mungkin maksudnya bukan begitu. Seperti yang dikatakannya, dengan demikian maka banyak waktu dapat dihemat. Meskipun Senapati itu tidak dapat melihat langsung keadaan lingkungan Tanah Perdikan dan Kademangankademangan disekitar Tanah Perdikan ini. Tetapi kepentingan yang lain adalah, melepas pemimpin yang digantikannya. “ Ki Gede mengangguk-angguk seperti juga para bebahu yang lain. Namun kemudian katanya “ Baiklah, apapun kepentingannya, maka kami akan datang bertiga. Aku sendiri, Ki Jagabaya dan Agung Sedayu. Kami bertiga akan mewakili bukan saja para bebahu, tetapi juga seluruh rakyat Tanah Perdikan untuk menyambut kelahiran Senapati yang baru bagi Pasukan Khusus itu. Demikianlah, maka pembicaraan yang kemudian berkembang itu telah dianggap selesai. Karena itu, maka Ki Gedepun telah menutup pertemuan itu, setelah mempersilahkan para peserta pertemuan itu untuk minum dan makan. Ketika para bebahu minta diri, maka Agung Sedayupun telah minta diri pula. Ia harus bersiap-siap untuk mengikuti Ki Gede ke barak Pasukan Khusus itu. Pada saat yang telah ditentukan, kakak Agung Sedayu telah berada kembali di rumah Ki Gede. Sejenak kemudian, Ki Jagabayapun telah datang pula. Bersama Ki Gede mereka bertigapun telah berangkat menuju ke Pasukan Khusus yang ada di tanah Perdikan. Ketika mereka sampai ke barak itu, beberapa orang tamu dari Kademangan disekitar Tanah Perdikan itu telah hadir pula. Mereka telah dipersilahkan duduk disebuah ruang yang cukup luas diatas tikar pandan putih bergaris-garis. Beberapa orang perwira muda telah mempersilahkan setiap tamu dengan ramahnya untuk memasuki ruangan. Tetapi kesan keramahan itu agaknya berkurang ketika mereka sudah memasuki ruangan. Senapati yang baru itu duduk diantara dua orang perwira werda yang ada di barak itu. Kemudian Senapati yang lama, yang akan meninggalkan barak itu duduk pula disebelahnya. Sekali-sekali Senapati yang akan meninggalkan barak itu mengangguk sambil tersenyum terhadap tamu-tamunya. Namun wajah Senapati yang baru itu agak berbeda. Meskipun ia juga menganggukangguk dan tersenyum, namun senyumnya terasa agak sendat. Ketika Ki Gede memasuki ruangan itu, maka Senapati yang lama itu justru telah mempersilahkan dengan hormat. Kepada Senapati yang baru itu telah memperkenalkan, bahwa yang datang itu adalah Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh. Senapati itu memang mengangguk. Tetapi nampak bahwa wajahnya tetap sepi. Seakan-akan tidak mengandung kesan apapun juga. Ki Gede memang tertegun sejenak melihat sikap itu. Tetapi Ki Gede berusaha untuk tidak menunjukkan kesan apapun juga. Sebagai orang yang sudah mengendap maka sikapnya adalah sikap yang dewasa. Beberapa saat kemudian, maka nampaknya para tamu yang diundang telah hadir. Sehingga dengan demikian pertemuan itupun segera dimulai. Seorang perwira yang dianggap cukup tua dan telah berada di Tanah Perdikan cukup lama telah mengantarkan pertemuan itu. Perwira itulah yang telah memperkenalkan Senapati yang baru itu kepada mereka yang diundang hadir di barak itu, sementara perwira itu pulalah yang menguraikan kata-kata pelepasan kepada Senapati yang lama, yang akan meninggalkan barak itu. Tidak ada yang aneh dan yang harus mendapat perhatian khusus dalam pertemuan itu. Kedua orang Senapati itu telah mengatakan seseorang masing-masing. Seorang telah minta diri kepada para pemimpin yang hadir dari Tanah Perdikan Menoreh dan Kademangan-kademangan disekitar Tanah Perdikan Menoreh, sedangkan yang lain menyatakan bahwa ia datang untuk menjalankan perintah, memimpin Pasukan Khusus Mataram yang ada di Tanah Perdikan Menoreh. “ Aku sama sekali tidak akan mencampuri pemerintahan di Tanah Perdikan Menoreh serta Kademangan-kademangan disekitar Tanah Perdikan ini “ berkata Senapati yang baru itu. Para pemimpin dari Tanah Perdikan Menoreh serta Kademangan-kademangan itupun mengangguk-angguk. Isi dari sesorah Senapati yang baru itu memang menarik. Tetapi sikapnya masih tetap seperti semula. Wajahnya nampak suram dan hampir tidak pernah nampak senyum dibibirnya. Namun pertemuan itu sendiri berlangsung dengan baik dan rancak. Dari acara yang pertama sampai acara yang terakhir berlangsung sebagaimana direncanakan. Seperti direncanakan pula, maka pertemuan itu diakhiri sebelum matahari menyentuh cakrawala. Sehingga mereka yang datang dari padukuhan-padukuhan diseberang bukit akan dapat mencapai tempat tinggal mereka sebelum malam terlalu dalam. Seperti tamu-tamu yang lain, Ki Gede Menorehpun telah bangkit untuk meninggalkan barak itu. Seperti yang lain-lain pula maka Ki Gede, Agung Sedayu dan Ki Jagaba-yapun memberikan ucapan selamat seorang demi seorang kepada Senapati yang baru itu. Tetapi sebagaimana tanggapannya kepada yang lain, maka wajah Senapati itu serasa kosong ketika ia menjabat tangan Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu dan Ki Jagabaya di Tanah Perdikan. Tetapi Ki Gede tidak mempersoalkannya. Bertiga, maka Ki Gedepun meninggalkan barak itu seperti para tamu yang lain. Namun diperjalanan pulang itu, Agung Sedayu tidak dapat menyimpan pertanyaan didalam hatinya. Karena itu, maka iapun telah bertanya kepada Ki Gede “ Bagaimana tanggapan Ki Gede tentang Senapati yang baru ini? “ Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Aku kurang tahu. Bukankah kita baru berkenalan dengan orang itu hari ini. Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata pula “ Sikapnya dingin sekali terhadap siapapun juga. “ “ Ya “ desis Ki Jagabaya “ rasa-rasanya kita semuanya yang hadir dipertemuan itu, bukan apa-apa baginya. “ Ki Gede justru tersenyum. Katanya “ Tabiat seseorang memang berbeda-beda. Sikapnya yang nampak dingin itu belum tentu menggambarkan sikap batinnya. Mungkin besok atau lusa, justru Senapati itu menjadi bergelora dan langkah-langkah akan membuat para prajurit dari Pasukan Khusus itu bagaikan api yang akan membakar gairah berjuang di Tanah Perdikan ini dan sekitarnya. “ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Desisnya “ Mudahmudahan. “ Tetapi Agung Sedayu tidak bertanya lagi tentang sikap Senapati itu. Di perjalanan selanjutnya mereka justru telah membicarakan perkembangan Tanah Perdikan Menoreh itu sendiri. “ Satu dua hari berikutnya, tidak nampak perubahan yang menarik perhatian dari sikap para prajurit di barak khusus itu. Kegiatan yang mereka lakukan tidak ubahnya dengan kegiatan-kegiatan selanjutnya. Senapati yang baru itu tidak membuat langkah-langkah keluar baraknya. Namun dihari berikutnya, Ki Gede telah dikejutkan oleh kehadiran beberapa orang perwira prajurit dari Mataram. Diantaranya mereka terdapat orang yang dikenalnya dengan baik. Ki Lurah Branjangan. Ki Gedepun dengan segera telah memerintahkannya memanggil Agung Sedayu untuk ikut menemui Ki Lurah Branj angan yang pernah memimpin Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan, justru pada saat pasukan itu sedang di bangun. “ Apakah aku sudah nampak sangat tua? “ bertanya Ki Lurah Branj angan. “ Ah, belum Ki Lurah “ jawab Ki Gede. Namun yang kemudian segera disusul “ Eh, maaf. Apakah pangkat Ki Lurah sudah berubah sekarang? Ki Lurah Brajangan tertawa. Katanya “ Pangkatku sudah pangkat tertinggi bagiku. Sampai saatnya aku mohon mengundurkan diri dari tugas keprajuritan. “ “ Jadi Ki Lurah sudah mengundurkan diri? “ Bertanya Ki Gede. “ Resminya sudah “ jawab Ki Lurah “ tetapi kadangkadang aku masih diperlukan. Hanya kadang-kadang. “ Itulah sebabnya kita jarang bertemu Ki Lurah “ desis Agung Sedayu. “ Setiap kali aku ke istana, Ki Lurah tidak pernah nampak hadir. “ Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya “ Aku memang sudah jarang pergi ke istana, apalagi menghadap Panembahan Senapati. Badanku sudah lemah. Bahkan aku pernah dikabarkan telah meninggal dunia. Beberapa orang kawanku terdekat sempat datang menengokku saat itu. Aku memang sakit keras sehingga berita itu tidak terlalu dibuatbuat. Namun ternyata Yang Maha Agung masih memperkenankan aku sempat melihat Tanah Perdikan ini kembali. “ Seorang perwira yang datang bersama Ki Lurah itupun berkata pula “ Akupun telah datang untuk ikut menyatakan bela sungkawa pada waktu itu. Tetapi ternyata Ki Lurah kemudian sembuh. “ “ Panembahan Senapati sempat mengirimkan utusan untuk melihat apakah benar aku sudah mati “ berkata Ki Lurah sambil tertawa. “ Tetapi Ki Lurah kini nampak sehat “ sahut Ki Gede Menoreh. “ Tetapi tubuhku benar-benar sudah lemah. Berkuda ke padukuhan induk Tanah Perdikan inipun aku sudah merasa sangat letih. Ketika aku bertemu dengan kawan akrabku, ia hampir menangis melihat aku masih sempat berkuda, karena kawan akrabku ini pernah datang ke kuburan yang dikabarkan tempat aku dikuburkan. Ia tidak sempat datang melihat kematianku itu karena ia bertugas. Ketika dari tempatnya bertugas ia mendengar kabar itu, langsung pergi ke kuburan pada saat-saat mayatku itu diberitakan dikuburkan. “ “ Ah “ desah Ki Gede. Namun katanya kemudian “ Tetapi Ki Lurah. Biasanya seseorang yang sudah dikabarkan meninggal itu, umurnya justru akan menjadi panjang. - Ki Lurah tertawa. Katanya “ Semuanya terserah kepada Yang Maha Agung. “ Ki Gedepun tertawa pula. Beberapa saat lamanya mereka sempat berbicara tentang kesehatan masing-masing. Sementara itu minuman hangat dan makananpun telah dihidangkan. Setelah minum beberapa teguk dan makan sepotong makanan, maka Ki Lurah itupun berkata “ Ki Gede. Kedatanganku kali ini sekedar mengantarkan Ki Panji Wiralaga dan beberapa orang pembantunya. Karena aku dianggap akrab dengan Ki Gede dan para pemimpin Tanah Perdikan, maka aku mendapat perintah secara khusus dari Panembahan Senapati untuk menemaninya. “ O “ Ki Gede mengangguk-angguk. Lalu katanya “ Kedatangan Ki Panji Wiralaga dengan beberapa perwira yang lain bersama Ki Lurah Branj angan memang mengejutkan. Baru beberapa hari yang lalu kami, beberapa orang bebahu, mendapat undangan untuk menghadiri upacara yang diselenggarakan Senapati yang baru di barak Pasukan Khusus itu untuk memperkenalkan dirinya kepada para pemimpin Tanah Perdikan ini serta Kademangan di sekitarnya. “ “ Itulah yang akan kami singgung “ berkata Ki Lurah Branj angan. Ki Gede mengerutkan keningnya. Nampaknya memang ada persoalan yang bersungguh-sungguh yang akan disampaikan oleh Ki Panji itu kepadanya. “ Ki Gede “ berkata Ki Panji Wiralaga “ aku harus berkata terus terang kepada Ki Gede. Di Mataram memang sedang terjadi pergolakan. Beberapa orang perwira yang memegang kedudukan penting mulai dipengaruhi oleh kepentingankepentingan pribadinya. Mungkin aku juga. Banyak para Senapati yang ingin menunjukkan kemampuannya di medan perang. Bahkan sebagai satu pengabdian, tetapi semata-mata karena mereka ingin mendapat penghargaan dari kelebihannya itu. Beberapa orang pemimpin dihidang keprajuritan justru telah masuk kedalam satu persaingan yang berbahaya. Sehingga menyulitkan kedudukan Panembahan Senapati yang sedang menghadapi kemelut di Madiun dan Pajang. Panembahan Senapati masih belum berhasil menempatkan seseorang yang kiranya mendapat persetujuan dari Panembahan Madiun untuk jabatan Adipati Pajang. Meskipun pada saatnya Panembahan Senapati dapat saja menunjuk siapapun yang dikehendaki. “ Ki Gede mendengarkan keterangan Ki Panji Wiralaga itu dengan saksama. “ Ki Gede “ Ki Panji itu melanjutkan “ aku telah mendapat tugas khusus dari Panembahan Senapati dan Ki Mandaraka, bahwa aku harus menghubungi Ki Gede untuk mengatakan setidak-tidaknya mengurangi persaingan itu terjadi disini. “ “ Kenapa disini? “ bertanya Ki Gede “ bukankah disini keadaannya terhitung baik dan tenang? “ “ Benar Ki Gede “ jawab Ki Panji “ tetapi Pasukan Khusus itu merupakan salah satu landasan kekuatan yang dapat mendukung kedudukan seseorang. “ Ki Gede mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya Ki Gede itu bertanya “ Benarkah di Mataram telah terjadi persaingan yang demikian memprihatinkan? “ “ Memang belum berakibat terlalu keras, Ki Gede “ jawab Ki Panji “ tetapi hal itu sudah mulai nampak. Orang-orang lain diluar jalur yang sudah ditentukan oleh Panembahan Senapati untuk menjernihkan suasana memang tidak boleh mengetahuinya. Seolah-olah di Mataram tidak terjadi pergolakan seperti itu. “ “ Menilik saat-saat kelahiran Mataram, hal seperti itu agak sulit dimengerti Ki Panji “ berkata Ki Gede. Ki Panji termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling kepada Agung Sedayu, maka Ki Gedepun mengetahui, bahwa Ki Panji ingin berbicara hanya dengan Ki Gede. Tetapi Ki Lurah Branjangan yang juga mengetahui keraguraguan Ki Panji itu berkata “ Biarlah Agung Sedayu ikut mendengar. Bukankah Ki Panji juga mengenal pengabdiannya? “ Ki Panji menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Baiklah. Aku tidak berkeberatan Agung Sedayu ikut mendengar. “ Ki Gede justru menjadi berdebar-debar. Agaknya yang akan dikatakan oleh Ki Panji Wiralaga adalah sesuatu yang rahasia. “ Ki Gede “ berkata Ki Panji pada saat-saat terakhir, Panembahan Senapati memang berusaha untuk dapat langsung berbicara dengan Panembahan Madiun. Tetapi Panembahan Senapati menemui kesulitan. Ada saja hambatan yang menggagalkan usahanya untuk dapat berbicara tentang persoalan yang terasa membuat Mataram menjadi panas. Dalam kemelut itu, nampaknya ada beberapa orang yang telah terpengaruh oleh keadaan yang gawat. Sebagian karena dorongan nafsu pribadi serta ketamakan, sementara yang lain, yang lebih berbahaya, adalah orangorang yang memang dipengaruhi oleh Madiun. Sebagaimana kita ketahui bahwa Panembahan Madiun juga merasa memiliki hak atas tahta Mataram. Sementara itu di Mataram masih ada juga orang-orang yang ternyata jiwanya telah terpengaruh oleh derajat keturunan dan menganggap bahwa Panembahan Senapati bukannya seorang yang berada pada jalur keturunan Demak. Mereka yang semula telah diangkat oleh Panembahan Senapati menjadi pemimpin ditubuh Mataram, mulai berpikir lagi tentang derajat keturunan itu. Sementara itu, Madiun telah mengirimkan orang-orang dalam tugas sandi untuk menghubungi mereka. Petugas sandi Mataram ternyata telah berhasil mencium baunya. “ “ Apakah ada diantara mereka yang sudah tertangkap? “ bertanya Ki Gede. “ Panembahan Senapati memang belum melakukan penangkapan- penangkapan karena bukti masih belum cukup. Tetapi pada saat terakhir Mataram telah menggerakkan sejauh mungkin pengawasan atas semua anggauta tubuhnya, “ jawab Ki Panji. “ Dan Ki Panji adalah salah seorang perwira pada kesatuan dalam tugas sandi itu “ berkata Ki Gede. “ Tidak “ berkata Ki Panji “ aku justru bekerja dengan garisgaris tugas yang terbuka. Namun bahan-bahan tugasku adalah dari para petugas sandi. “ Ki Gede mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Panji Wiralaga berkata “ Persoalan yang tumbuh di Mataram itu belum dinyatakan secara terbuka. Tetapi Mataram tidak ingin terlambat mengatasi persoalan yang sebenarnya memang ada itu. Jika semula mereka telah mendapat tempat yang baik dengan mengesampingkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat merugikan Mataram, maka kini Mataram harus berhatihati menghadapi mereka. Bahkan jika perlu Mataram akan meninjau kembali kedudukan mereka itu. “ ***
API DI BUKIT MENOREH SERI III
JILID 233
“ SATU hal yang rumit.” berkata Ki Gede. “ Ki Gede.” Ki Panji Wiralaga memang agak ragu-ragu. Tetapi kemudian ia mengatakan juga, “ satu contoh adalah Ki Tumenggung Surayuda. Ia adalah saudara seayah dengan Arya Penangsang, meskipun ia lahir dari ibu yang berbeda. Lahir dari seorang selir. Tetapi ia merasa bahwa darah keturunan Demak mengalir didalam tubuhnya. Sementara itu bahwa pertentangan antara Pajang dan Jipang dimasa pemerintahan Adipati Hadiwijaya dan Adipati Arya Penangsang, Panembahan Madiun pada waktu itu tidak nampak bersikap keras terhadap Jipang. Sedangkan Panembahan Senapati telah membunuh saudara seayahnya itu.” “ Namun ternyata bahwa Panembahan Senapati telah melupakan permusuhan itu dan memberikan tempat yang baik kepada Ki Tumenggung Surayuda.” berkata Ki Gede. “ Ya. Panembahan Senapati telah memberikan pengampuan. Ki Tumenggung termasuk seorang perwira wreda yang dihormati, Ia memiliki pengetahuan yang luas dan pengalaman yang bertumpuk didalam dirinya. Namun para petugas sandi Mataram telah menemukan bukti-bukti bahwa ada hubungan antara Ki Tumenggung Surayuda dengan Madiun. Sementara itu sebagaimana diketahui, Tumenggung Surayuda adalah salah sorang penentu dalam susunan keprajuritan di Mataram. Karena itu, maka penempatan para perwira di barak-barak pasukan Khusus selalu mendapat perhatian. Demikian juga perwira yang tiba-tiba saja ditempatkan di barak pasukan khusus di Tanah Perdikan ini.” Ki Gede mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya, “ Tetapi bukankah ada Panglima Pasukan Khusus di Mataram yang bertanggung jawab atas semua pasukan khusus yang ada di Mataram dimanapun letak baraknya.” “ Yang kami kerjakan kemudian untuk menelusuri tingkah laku Ki Tumenggung Surayuda adalah sepengetahuan Panglima Pasukan Khusus. Ketika Ki Tumenggung Surayuda mengajukan nama perwira yang kemudian menjabat Senapati pasukan Khusus itu di Tanah Perdikan, justru telah diterima oleh Panglima Pasukan Khusus. Nah, dalam putaran persoalan inilah kita nanti akan mengambil sikap.” jawab Ki Panji Wiralaga. Ki Gede mengangguk-angguk. Ia sudah mulai mengerti duduk persoalannya. Karena itu, maka Ki Gedepun kemudian berkata, “ Satu tugas yang berat.” “ Kita akan membagi tugas.” berkata Ki Panji, “ untuk itulah aku datang kemari. Ki Lurah Branjangan yang pernah menjabat sebagai Senapati pada Pasukan Khusus disini akan dapat memberikan banyak keterangan, petunjuk dan barangkali pendapat untuk mengatasi persoalan-persoalan yang timbul dengan tiba-tiba. Dalam masa-masa istirahatnya, ia justru akan terlibat dalam kerja yang gawat ini.” “ Ki Panji.” bertanya Ki Gede kemudian, “ disamping Ki Tumenggung Surayuda, apakah ada orang lain yang pantas mendapat pengawasan khusus di Mataram?” “ Ada Ki Gede.” jawab Ki Panji, “ tetapi masih belum terlalu jelas.” “ Bagaimana dengan persoalan guru Jaka Rampan?” bertanya Ki Gede. Ki Panji Wiralaga mengerutkan-keningnya. Namun kimudian jawabnya, “ Persoalan Jaka Rampan dan gurunya bukan persoalan yang rumit bagi Mataram. Persoalannya lebih jelas dan terang. Guru Jaka Rampan ingin memanfaatkan muridnya. Hanya itu. Tetapi mereka sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan Madiun. Agak berbeda dengan Ki Tumenggung Surayuda.” “ Tetapi bukankah Ki Tumenggung Surayuda termasuk perwira wreda yang usianya sudah agak jauh?” bertanya Agung Sedayu. “ Ya. Sebenarnya ia merupakan seorang yang disegani karena kemampuannya dan pengetahuannya tentang gelar perang dan perhitungan yang mantap terhadap keadaan.” berkata Ki Panji Wiralaga, “ namun tidak seorangpun tahu, pengaruh apa yang telah membuat Ki Tumenggung itu bergeser.” “ Maaf Ki Panji.” berkata Agung Sedayu kemudian, “ apakah Mataram sudah yakin akan kesalahan sebagaimana dituduhkan kepada Ki Tumenggung Surayuda?” Ki Panji Wiralaga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Kami sudah mempunyai bukti-bukti. Meskipun demikian kami masih akan meyakinkan diri. Itulah sebabnya Mataram belum mengambil langlah-langkah pasti, atau katakanlah menangkap Ki Tumenggung. Aku tahu bahwa Agung Sedayu memikirkan kemungkinan lain yang berhubungan dengan sikap Ki Tumenggung. Mungkin ada persoalan yang memaksanya berlaku demikian.” Agung Sedayu mengangguk dalam-dalam katanya, “ Dimanakah keluarga Ki Tumenggung? Disini atau di Jipang atau ditempat lain?” “ Kenapa dengan keluarga di Tumenggung?” bertanya Ki Panji. “ Baru saja Mataram terjadi seseorang yang dipaksa melakukan langkah-langkah tertentu karena anak dan isterinya telah ditangkap dan dijadikan taruhan. Orang itu terpaksa melakukan perintah-perintah tanpa dikehendaki karena keluarganya telah dikuasai oleh orang-orang tertentu.” berkata Agung Sedayu. Ki Panji mengangguk-angguk. Katanya, “ Ya. Aku ingat itu. Pendapatmu dapat menjadi bahan pertimbangan. Agung Sedayu, agar kita tidak mengambil langkah yang salah terhadap seseorang yang tidak mutlak bersalah. Karena itu, maka kita masih harus mengikuti perkembangannya lebih jauh.” “ Jadi apakah yang dapat kau lakukan kemudian Ki Panji?” bertanya Ki Gede. “ Ki Gede. Menyampaikan keputusan pembicaraan beberapa orang pemimpin di Mataram, yang sudah disetujui Ki Mandaraka dan Panembahan Senapati sendiri, maka di Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya akan dibentuk satu lingkungan pertahanan yang akan dipimpin oleh seseorang yang akan ditunjuk oleh Panembahan Senapati sendiri atau limpahan wewenangnya kepada Ki Mandaraka.” berkata Ki Panji Wiralaga. Ki Gede mengerutkan keningnya. Namun ia kemudian bertanya, “ Apakah ada hak dan wewenang dari tubuh yang akan mengikat lingkungan pertahanan di Tanah Perdikan ini dan sekitarnya?” “ Ya. Panembahan Senapati akan memberikan wewenangnya itu.” jawab Ki Panji Wiralaga. Ki Gede mengangguk-angguk. Namun Agung Sedayulah yang bertanya, “ Bagaimana hubungannya tubuh yang akan dibentuk ini dengan kekuasaan yang ada pada Pasukan Khusus itu?” “ Pasukan Khusus itu dalam satu susunan tubuh yang mempunyai kekuasaan ke dalam. Kekuasaan pada dirinya sendiri. Jika mereka mengambil langkah-langkah keluar, maka hal itu dilakukan oleh tubuh itu seutuhnya meskipun hanya terdiri dari sebagian kecil dari pasukan yang ada. Pemimpin dari Pasukan Khusus itu nanti akan menjadi salah seorang anggauta pada tubuh yang akan dibentuk nanti yang dipimpin oleh seseorang yang ditunjuk.” berkata Ki Panji Wiralaga. Lalu, “ Karena itulah, maka kedatanganku kemari lebih dahulu, agar dengan demikian Ki Gede dapat mempersiapkan diri. Dari Tanah Perdikan ini kami, sekelompok prajurit yang mendapat tugas ini, juga akan menghubungi beberapa orang Demang disekitar Tanah Perdikan ini. Namun tentu saja apa yang kami sampaikan tidak sejauh apa yang kami katakan disini. Kepada mereka kami hanya menyampaikan sebab dan alasannya. Juga kepada Senapati Pasukan Khusus yang baru itu. Jika kami menyampaikan alasan tentu alasan yang paling umum, yaitu keadaan yang semakin gawat dari hubungan antara Mataram dan Madiun sehingga perlu disusun ikatanikatan yang mantap yang mampu menggerakkan kekuatan besar yang ada di Mataram diluar kekuasaan keprajuwitan itu sendiri.” “ Aku mengerti Ki Panji.” Agung Sedayu menganggukangguk. Tetapi katanya, “ Meskipun demikian. kami di Tanah Perdikan Menoreh ini masih akan bertanya, bagaimana dengan hubungan yang menyangkut Ki Tumenggung Surayuda?” Ki Panji Wiralaga mengangguk-angguk kecil. Katanya, “ Pengawasan dilakukan di Mataram. Tubuh yang akan dibentuk itu akan menjadi bayangan kekuatan Pasukan Khusus di Tanah Perdikan. Justru karena kita masih belum tahu pasti, apa yang sebenarnya terjadi. Atas persetujuan Panglima Pasukan Khusus, maka menjadi takaran. Sebaiknya kamipun berterus terang, bahwa persetujuan Partglima Pasukan Khusus terhadap penunjukkan Senapati pada Pasukan Khusus itu juga didasari kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Menoreh. Seandainya benar-benar ada garis yang patah di Tanah Perdikan itu, maka ada kekuatan yang cukup untuk meluruskannya kembali.” Ki Gede mengangguk-angguk. Tetapi ketegangan nampak diwajahnya. Dengan nada rendah ia berkata, “ Ki Panji, bukankah dengan demikian Tanah Perdikan itu langsung akan menjadi arena pendadaran kesetiaan Ki Tumenggung Surayuda? Dengan menilai Senopati yang ditempatkannya pada Pasukan Khusus itu, maka kita akan menilai pula kesetiaan Ki Tumenggung. Sementara itu taruhannya ternyata mahal sekali. Kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Menoreh dan kekuatan Pasukan Khusus di barak itu. Jika terjadi sentuhan dalam usaha penilaian ini, maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi.” Ki Panji menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Pertimbangan Ki Gede dapat dipahami. Tetapi dimanapun penilaian itu diadakan, maka benturan yang demikian itu mungkin saja terjadi. Jika bukan pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh, tentu antara prajurit Mataram sendiri.” “ Bukankah tidak pantas jika terjadi perlawanan dari pasukan pengawal di Tanah Perdikan ini melawan prajurit Mataram, bagaimana kedudukan mereka masing-masing.” berkata Ki Gede. Sementara itu Ki Gede telah menying-gung pula apa yang terjadi di Sangkal Putung. Katanya kemudian, “ Anak laki-laki Ki Demang adalah seorang yang termasuk kurang panjang berpikir. Namun ternyata iapun tidak menghendaki benturan terjadi melawan para prajurit Mataram.” Ki Panji mengangguk-angguk. Katanya, “ Kami sangat menghargai sikap itu. Namun justru karena itu, seperti aku katakan, Ki Gede dan Para Demang tidak berdiri sendiri. Beberapa orang perwira akan membantu. Dan justru karena itu, kita akan bersama-sama mohon kesediaan Ki Lurah Branjangan untuk terlibat didalamnya. Bagaimanapun juga, Ki Lurah pernah menjadi bapa pada barak Pasukan Khusus itu. Pengaruhnya tentu masih tersisa didalamnya, sehingga dalam keadaan yang paling gawat, Ki Lurah akan dapat membantu. Justru Bapa yang pertama, bahkan dapat disebut pendiri meskipun atas perintah.” Ki Gede mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya keterangan yang dimaksudkan oleh Ki Panji itu. Sementara itu Ki Panjipun berkata, “ Ki Gede tentu mengetahui, bahwa pembicaraan kita adalah rahasia pada tataran yang paling tinggi.” “ Aku mengerti.” jawab Ki Gede. Lalu katanya, “ Jika demikian, maka terserahlah kepada Ki Panji, apa yang harus kami lakukan.” “ Ki Gede sebaiknya mempersiapkan diri untuk kepentingan ini. Tentu saja mempersiapkan diri dengan segala dukungan yang mungkin dapat disiapkan.” berkata Ki Panji. Lalu Ki Panji itupun menunjukkan sebuah cincin yang dipakainya sambil berkata, “ Ki Gede tentu mengenal cincin ini sebagai bukti bahwa aku mengemban tugas langsung dari Panembahan Senapati.” Ki Gede mengangguk-angguk. Sebenarnya ia memang ingin bertanya, apakah Ki Panji membawa pertanda bahwa ia memang diutus langsung oleh Panembahan Senapati dalam tugas yang rumit itu. Karena itu, maka katanya, “ Pertanda itu memang aku perlukan Ki Panji. Dengan demikian maka aku akan bekerja dengan mantap.” Ki Panji tersenyum. Katanya, “ Ki Gede. Pada saatnya akan datang perintah-perintah berikutnya. Satu hal yang dapat aku beritahukan sekarang, bahwa Ki Lurah Branjangan akan menjadi penasehat dari tubuh yang akan disusun itu. Ki Lurah untuk beberapa lama akan tinggal di Tanah Perdikan itu. Yang lain akan ditentukan kemudian.” Ki Gedepun mengangguk-angguk. Perintah Panembahan Senapati lewat Ki Panji itu sudah tegas. Tanah Perdikan Menoreh akan menjadi ajang pengamatan Mataram terhadap seorang yang mempunyai kedudukan penting serta mempunyai kemampuan yang sangat tinggi. Jika Tanah Perdikan itu salah langkah, maka akibatnya akan dapat menjadi sangat parah. Demikianlah setelah minum dan mencicipi makanan, Ki Panji dan para perwira yang lain minta diri meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi mereka tidak segera kembali ke Mataram. Mereka masih akan singgah di barak Pasukan Khusus serta di beberapa Kademangan disekitar Tanah Perdikan Menoreh. Sepeninggal Ki Panji dan para perwira yang lain serta Ki Lurah Branjangan, maka Ki Kede masih berbicara beberapa saat dengan Agung Sedayu. Bagaimanapun juga, maka mereka harus mempersiapkan para pengawal. Bahkan Agung Sedayu telah mengusulkan untuk mengumpulkan kembali para pengawal terpilih untuk ditempatkan dalam lingkungan khusus meskipun mereka tidak harus berada disebuah barak agar tidak menarik perhatian dan menimbulkan kecurigaan. “ Terserah kepadamu Agung Sedayu.” berkata Ki Gede, “ kau tentu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang gawat ini.” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “ Baiklah Ki Gede. Aku akan menyiapkan kekuatan inti dari Tanah Perdikan ini. Mudah-mudahan persiapan itu tidak akan pernah dipergunakan.” “ Hati-hatilah disetiap langkah Agung Sedayu.” pesan Ki Gede, “ jika salah langkah, maka justru kitalah yang akan memancing kekeruhan.” “ Aku akan berhati-hati Ki Gede. Persoalannya memang cukup rumit untuk diatasi dengan diam-diam.” berkata Agung Sedayu yang sejenak kemudian telah minta diri. Namun Agung Sedayu berusaha untuk tidak memberitahukan persoalan itu kepada Glagah Putih. Kepada Sekar Mirah ia berpesan dengan sungguh-sungguh agar persoalan yang dikatakan itu akan tetap menjadi rahasia, meskipun yang dikatakan kepada Sekar Mirah itu pun tidak seluruh persoalan yang dibicarakan di rumah Ki Gede Menoreh. Sementara itu, Ki Panji Wiralaga telah mengunjungi pula barak Pasukan Khusus dan bertemu dengan Senapatinya yang baru. Kepada Senapati yang baru itu, Ki Panji Wiralaga juga menyampaikan perintah Panembahan Senapati untuk menyusun satu sosok tubuh yang terdiri dari beberapa unsur yang ada di Tanah Perdikan Menoreh dan Kademangan di sekitarnya. “ Pasukan Mataram yang mampu digerakkan dengan cepat tidak akan mencukupi jika benar-benar terjadi perang dengan Madiun yang didukung oleh beberapa Kadipaten di sekitarnya. Karena itu Panembahan Senapati ingin bahwa rakyat yang memiliki kemampuan di sekitar Tanah Perdikan ini dapat dengan tertib digerakkan jika itu diperlukan.” berkata Ki Panji. “ Tetapi itu berlebihan.” berkata Senapati yang baru itu, “ jika memang ada tugas seperti itu, kenapa tidak diserahkan saja kepadaku?” “ Tugasmu hanya didalam lingkungan barak ini. Kau bertugas memimpin para prajurit Pasukan Khusus ini. Kau tidak bertugas untuk mencampuri tugas-tugas yang berhubungan dengan pemerintah di Tanah Perdikan ini dan sekitarnya.” berkata Ki Panji, “ karena itu, maka diperlukan satu tubuh yang dapat mengikat semua kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini. Pasukan Khusus Mataram yang ada disini, sudah barang tentu menjadi bagian dari seluruh kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Menoreh.” “ Aku tidak setuju jika aku diletakkan dibawah kuasa Tanah Perdikan ini.” berkata Senapati itu. “ Tidak dibawah kuasa Tanah Perdikan. Tetapi dalam kesatuan pertahanan bagi Mataram, maka diperlukan satu pimpinan diwilayah ini.” berkata Ki Panji. “ Aku sanggup mengatur diriku sendiri dengan seluruh kekuatan Pasukan Khusus ini.” berkata Senapati itu. “ Kau tidak dapat mengelak dari tugas dan tanggung jawabmu sebagai seorang prajurit.” berkata Ki Panji. “ Tetapi, aku Senapati dari Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan ini, mempunyai tugas dan tanggungjawab atas lingkungan ini.” berkata Senapati itu. “ Dengar Senapati. Aku adalah perwira wreda yang membawa tugas dari Panembahan Senapati sendiri sebagaimana ternyata pada pertanda yang aku pakai ini. Perintah yang kau dengar dari mulutku adalah perintah Panembahan Senapati itu sendiri.” berkata Ki Panji kemudian. Senapati itu menjadi tegang. Wajahnya menjadi merah dan telinganya bagaikan tersentuh api. Namun ia sadar, bahwa cincin kekuasaan yang ada di jari Ki Panji itu tidak akan dapat dilawannya jika ia tidak ingin mendapat kesulitan. Bahkan penempatannya di pasukan itu akan gagal membawa pesan dari seorang perwira yang lain yang dengan susah payah berusaha menempatkannya di barak itu. Karena itu, betapapun jantungnya bergejolak, namun ia tidak dapat menolak perintah yang dibawa oleh Ki Panji itu. Sehingga kemudian dengan suara sendat ia berkata, “ Aku terima segala perintah Panembahan Senapati.” Ki Panji menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Terima kasih. Hal ini sudah diketahui oleh Panglima Pasukan Khusus Mataram. Tetapi karena persoalannya lebih berat pada kesiagaan wilayah, maka perintah ini tidak datang lewat jalur Panglima Pasukan Khusus meskipun pada saatnya perintah itu tentu akan datang pula dalam satu ikatan langkah kebijaksanaan dari Panembahan Senapati. Nah, untuk selanjutnya persiapkan dirimu. Perintah-perintah lain akan menyusul kemudian sampai saatnya tubuh itu diresmikan oleh Panembahan Senapati sendiri.” “ Baiklah Ki Panji.” jawab Senapati itu. Namun ia masih berkata, “ Ki Panji. Bukan maksudku menentang pe-rintah Panembahan Senapat. Tetapi aku hanya ingin bertanya, apakah kedudukan para Senapati prajurit Mataram diluar kota Mataram sama seperti kedudukanku? Misalnya Senapati di Ganjur dan terutama Senapati prajurit Mataram di Jati Anom atau yang lebih jauh lagi yang berada di Babadan Gunung Sewu dan yang lain.” Ki Panji termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “ Kedudukan mereka lain. Mereka bukan seorang Senapati yang mendapat tugas untuk memimpin satu kesatuan. Seperti Utara di Jati Anom. Ia berada di Jati Anom untuk memimpin satu kesatuan pertahanan sejak masa kalut yang terjadi antara Pajang dan Jipang. Pasukan yang mendukung kekuatan Untara ada sendiri. Nah, kedudukan para Senapati yang ada dibawah pimpinan Untara dan pemimpin pasukan termasuk Pasukan Berkuda, itu mempunyai hak dan wewenang seperti wewenangmu. Sebagai seorang perwira sebenarnya kau harus sudah mengetahui tataran kepemimpinan prajurit di Mataram.” “ Aku sebenarnya memang sudah tahu Ki Panji. Jika aku bertanya tentang Untara, apakah kekuasaanku disini tidak dapat diangkat, disejajarkan dengan kekuasaan Untara di Jati Anom?” bertanya Senapati itu. Ki Panji menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Itu bukan wewenangku untuk menjawab. Karena itu pertanyaanmu akan aku bawa kepada Panembahan Senapati yang tentu akan berbicara dengan Ki Mandaraka, Panglimamu dan beberapa orang perwira wreda dan para pemimpin keprajuritan di Mataram.” Senapati itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja di dalam hati ia berkata, “ Ki Tumenggung Surayuda tentu akan ikut berbicara. Nasehatnya banyak didengar oleh Panembahan Senapati asal tidak hadir Pangeran Singasari atau Pangeran Mangkubumi, yang nampaknya tidak begitu sesuai cara mereka berpikir.” Demikianlah maka sejenak kemudian Ki Panji itupun telah minta diri untuk melanjutkan perjalanannya. Seperti yang direncanakan, maka iapun telah mengunjungi beberapa Kademangan di sekitar Tanah Perdikan Menoreh. Namun sebenarnyalah bahwa arti dari beberapa Kademangan itu bersama-sama tidak sebesar Tanah Perdikan Menoreh yang dipimpin oleh Ki Gede Menoreh. Dalam pada itu, Senapati dari barak Pasukan Khusus itupun telah bertindak cepat pula melewati jalur yang seharusnya. Iapun dengan cepat telah mempersiapkan diri untuk pergi ke Mataram, langsung menghadap Panglima Pasukan Khusus di Mataram. Dengan singkat Senapati itu telah melaporkan perintah Ki Panji Wiralaga baginya dan juga bagi Tanah Perdikan Menoreh dan beberapa Kademangan di sekitarnya. “ Terima kasih atas laporanmu.” berkata Panglima itu, “ tetapi aku sudah tahu, karena yang dilakukan itu atas persetujuanku. Bukankah Ki Panji membawa pertanda perintah Panembahan Senapati sendiri?” ujar Panglima Pasukan Khusus itu. Senapati itu mengangguk-angguk menjawab, “ Ya. Ki Panji mengenakan cincin kerajaan.” “ Nah, patuhi perintahnya, karena perintah itu sama nilainya dengan perintah Panembahan Senapati sendiri.” berkata Panglimanya. Senapati itupun kemudian telah mohon diri. Tetapi ternyata ia tidak segera kembali ke Tanah Perdikan. Ia telah bermalam satu malam di Mataram. Dirumah Ki Tumenggung Surayuda. Dalam pada itu, Ki Tumenggung itupun telah memerintahkan agar Senapati itu mematuhi perintah Ki Panji Wiralaga agar tidak menimbulkan kecurigaan. “ Aku telah melapor kepada Panglima.” berkata Senapati itu. “ Kalau sudah benar. Kau memang harus melapor kepada Panglimamu.” Pagi-pagi benar, sebelum fajar Senapati itu telah meninggalkan Mataram dan kembali ke baraknya di Tanah Perdikan Menoreh. Sementara itu, Ki Panji Wiralagapun justru telah kembali ke Mataram. Untunglah bahwa perjalanan Ki Panji yang berlawanan arah dengan Senapati Pasukan Khusus di Tanah Perdikan itu tidak bersamaan waktunya sehingga tidak bertemu di perjalanan. Ki Panji yang telah bermalam di sebuah Kademangan tetangga dari Tanah Perdikan Menoreh itu justru berangkat agak siang setelah Senapati itu sampai di baraknya kembali. Dalam pada itu, setelah Ki Panji Wiralaga melaporkan perjalanannya kepada Panembahan Senapati, maka Panembahan Senapati itupun telah memerintahkan Ki Panji untuk menangani pembentukannya di Tanah Perdikan bersama Ki Lurah Branjangan. Perintah Panembahan Senapatipun tegas, bahwa Pimpinan dari tubuh yang akan disusun di Tanah Perdikan itu adalah Ki Gede sendiri. Tugas itu memang tugas yang sulit bagi Ki Panji Wiralagr. Tetapi bersama Ki Lurah Branjangan, maka ia bertekad untuk menyelesaikan tugas itu dengan baik. Sementara itu Ki Panjipun mengetahui bahwa persoalannya tidak terhenti pada pembentukan tubuh itu sendiri, tetapi ia akan selalu saling mengamati dengan Ki Tumenggung Surayuda, seorang perwira wreda yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas. Di Tanah Perdikan Menoreh, Agung Sedayu telah mulai pula dengan langkah-langkahnya. Yang pertama-tama dilakukannya adalah memanggil beberapa orang pemimpin kelompok dari pengawal terpilih di Tanah Perdikan Menoreh. Yang disampaikan kepada mereka adalah persiapanpersiapan yang dilakukan oleh Mataram menghadapi hubungan yang semakin gawat dengan Madiun. “ Panembahan Senapati menyadari, bahwa kekuatan Mataram harus dihimpun. Jika diperlukan maka yang akan bergerak bukan saja para prajurit. Tetapi semua laki-laki di Mataram harus ikut pula berjuang disamping para prajurit. Tentu saja mereka yang keadaan wadagnya masih memungkinkan.” berkata Agung Sedayu kepada mereka. Lalu katanya kemudian, “ Dalam rangka itulah kami mempersiapkan diri. Tetapi jangan memancing kegelisahan rakyat Tanah Perdikan ini. Mereka tidak perlu diusik dengan segala macam persiapan.” Salah seorang dari pemimpin kelompok itupun bertanya, “ Apakah hanya kami saja yang bersiap-siap, atau semua pengawal?” “ Pada saatnya semua pengawal akan bergerak. Aku akan berbicara dengan Prastawa. Beberapa saat terakhir ia nampak agak lesu.” berkata Agung Sedayu. “ Jangan kau usik.” sahut salah seorang pemimpin kelompok, “ Prastawa sedang menghindari keinginan orang tuanya untuk kawin dengan seorang gadis yang tidak disukainya, meskipun gadis itu anak seorang Demang. Agaknya Prastawa sudah mempunyai pilihan sendiri.” Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun dengan cepat ia menguasai perasaannya. Tetapi ia masih juga bertanya, “ Gadis manakah yang menjadi pilihannya itu?” “ Anak seorang Bekel di padukuhan yang termasuk bagian dari Tanah Perdikan ini pula.” jawab pengawal itu. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi katanya kemudian, “ Ia akan dapat membedakan persoalannya. Kepentingan pribadinya dan tugas-tugasnya sebagai salah seorang pimpinan pengawal. Selama ini ia adalah seorang pemimpin pengawal yang baik, meskipun kadang-kadang ia lebih senang menyendiri.” “ Kita tahu, dirinya dibelit oleh persoalan-persoalan pribadinya yang rumit. Bukan saja tentang calon isteri. Itulah sebabnya ia kadang-kadang merasa rendah diri.” Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian katanya, “ Sudahlah. Biar aku temui nanti untuk membicarakannya lebih jelas. Yang pertama-tama harus disiapkan memang pasukan pengawal terpilih. Jumlahnya cukup untuk mengatasi persoalan-persoalan yang tiba-tiba. Tetapi bukan berarti bahwa para pengawal yang lain begitu saja diabaikan. Dalam keadaan yang paling gawat, maka semua kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini diperlukan.” Para pemimpin kelompok dari pengawal terpilih itu mengangguk-angguk. Namun mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan tanpa menimbulkan kegelisahan diantara rakyat Tanah Perdikan Menoreh. Sementara itu, langkah-langkah yang diambil oleh Senapati yang baru dibarak Pasukan Khusus itupun mulai nampak. Orang-orang yang tinggal dipadukuhan terdekat mulai mengenal namanya yang memang menggetarkan. Namanya sendiri adalah nama yang wajar saja, Sanggabaya. Tetapi ia lebih senang disebut Naga Geni. Ki Sanggabaya itu merasa dirinya mempunyai kemampuan sebagai seekor naga yang berapi. Dihari-hari mendatang, maka Ki Sanggabaya yang juga disebut Naga Geni itu telah membawa pasukannya menyusuri jalan-jalan mendaki di pebukitan. Setelah beberapa lamanya pasukan itu jarang sekali mengadakan latihan-la-tihan sampai menjelajahi daerah yang jauh dari barak-barak mereka, maka Senapati yang baru itu telah membawa para prajuritnya mengelilingi bukan saja Tanah Perdikan Menoreh, tetapi juga menembus kademangan-kademangan disekitarnya. Meskipun latihan itu hanya sekedar berlari-lari. Sedangkan latihanlatihan yang sebenarnya juga dilakukan di padang rumput yang memang disediakan bagi barak itu sebagaimana sebelumnya. Namun karena cara latihan yang ditempuh oleh para prajurit di barak itu, maka para pengawal pilihan di Tanah Perdikan tidak melakukan hal yang sama. Meskipun sebelumnya mereka justru sering melakukannya. Meskipun mereka berlatih bagi kepentingan mereka masing-masing, namun para pengawal di Tanah Perdikan Menoreh sudah mendapat pesan dari Agung Sedayu, agar mereka sejauh mungkin menghindari salah paham, justru karena Senapati yang baru. Jika pada suatu saat hubungan mereka telah menjadi akrab sebagaimana sebelumnya, maka latihan-latihan itu tidak akan menimbulkan salah paham. Para pengawal pilihan di Tanah Perdikan justru mengadakan latihan-latihan di padang rumput yang berada di lereng bukit, agak jauh dari barak Pasukan Khusus Mataram itu. Mereka telah memasang patok-patok kayu untuk memberi tanda-tanda jarak yang harus ditempuh oleh para pengawal disaat berlari-lari mengelilingi padang rumput itu. Mereka pun telah mempergunakan patok-patok dan palang-palang kayu bagi latihan-latihan mereka. Selain alat-alat yang memang sudah ada, maka para pengawal telah menambah beberapa macam alat-alat yang baru, yang akan dapat menambah ragam ketrampilan dan ketahanan tubuh mereka. Tetapi para pengawal itu tidak mau menarik perhatian rakyat Tanah Perdikan dengan latihanKang Zusi - http://kangzusi.com/ latihan yang lebih banyak, sehingga karena itu, maka segalanya dilakukan sebagaimana biasanya dilakukan. Namun disamping itu, para pengawal pilihan itu diwajibkan menambah latihan-latihan secara pribadi di rumah masingmasing atau dimana saja asal tidak mengganggu dan tidak membuat orang lain gelisah. Mereka yang memiliki sanggar atau ruang-ruang khusus dirumahnya dapat mempergunakan sebaik-baiknya. Sedangkan bagi mereka yang tidak, dapat bergabung dengan kawan-kawannya yang memiliki sanggar atau berlatih di malam hari, di halaman atau kebun rumahnya sendiri. Para pengawal itu terutama telah berusaha untuk meningkatkan kemampuan mereka mempergunakan berjenisjenis senjata, selain meningkatkan kemampuan mereka melawan berjenis-jenis senjata pula. Merekapun telah berlatih sebaik-baiknya mengatur dan menguasai pernafasan mereka. Mengendapkan tenaga didalam dirinya, mengungkapkan kembali serta bahkan mengangkat segenap tenaga cadangan kepermukaan. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu Agung Sedayu telah memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat berarti bagi mereka. Sehingga mereka dapat mempergunakan waktu yang singkat untuk meningkatkan ketahanan tubuh dan kemampuan mereka dalam ilmu kanuragan. Sebenarnyalah bahwa kegiatan para pengawal seakanakan memang terselubung. Bahkan kemudian bukan saja para pengawal pilihan. Tetapi setiap pengawalpun telah mempergunakan waktu mereka yang luang dirumah untuk meningkatkan diri. Baik daya tahan maupun kemampuan. Sementara itu, Senapati yang baru itu nampaknya memang ingin menunjukkan kegiatannya yang meningkat. Karena itu, ia seakan-akan telah dengan sengaja menunjukkan kepada rakyat Tanah Perdikan, bahwa Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan itu bukan kebanyakan prajurit sebagaimana dikenal orang. Tetapi Pasukan Khusus Tanah Perdikan itu benar-benar terdiri dari orang-orang yang memiliki kelebihan. Dalam pada itu, selagi perhatian Tanah Perdikan Menoreh tertuju kepada para prajurit dari Pasukan Khusus itu, Ki Lurah Branjangan ternyata telah datang ke Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi tidak bersama Ki Panji Wiralaga. Namun bersamanya telah ikut pula dua orang cucunya. Seorang anak muda dan seorang gadis yang meningkat dewasa. Sebaya dengan Glagah Putih. Kedatangan Ki Lurah itu memang agak mengejutkan bagi Tanah Perdikan Menoreh. Dengan ramah Ki Gede telah mempersilahkan Ki Lurah Branjangan untuk naik kependapa. Ki Gede berusaha untuk menyembunyikan perasaan ingin tahunya, kenapa tiba-tiba saja Ki Lurah itu datang tanpa Ki Panji Wiralaga. Setelah mempertanyakan keselamatan masing-masing, maka Ki Lurah justru telah mendahului sebelum Ki Gede bertanya, “ Ki Gede, aku datang membawa bebanku sendiri. Dua orang cucuku ingin berada di Tanah Perdikan ini barang satu dua pekan. Sebenarnya tugas yang harus aku lakukan baru akan berjalan dua pekan mendatang. Ki Panjipun baru akan datang dua pekan ini. Aku datang mendahului waktu yang ditentukan, karena yang dua pekan ini ingin aku pergunakan bagi kepentingan pribadiku.” Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “ Ki Lurah. Sebenarnya aku sudah menjadi berdebar-debar. Ki Lurah datang sendiri justru bersama cucu-cucu Ki Lurah.” Ki Lurah tertawa. Katanya, “ Aku minta maaf Ki Gede. Mungkin kedatanganku membuat Ki Gede bertambah sibuk, karena aku telah membawa dua orang cucu.” Ki Gede tertawa. Katanya, “ Menyenangkan sekali. Ternyata Ki Lurah jauh berada didepan. Aku masih harus menunggu cucuku yang akan lahir beberapa bulan lagi. Ki Lurah yang nampaknya tidak terpaut banyak dari umurku, sudah mempunyai cucu sebesar itu.” “ Ceritera yang agaknya memang menarik Ki Gede. Aku kawin muda. Anakku perempuan, juga kawin muda. Karena itu, cucuku cepat menjadi besar. Kadang-kadang kepada orang yang berpapasan di jalan aku memperkenalkan keduanya sebagai anak-anakku yang paling kecil.” jawab Ki Lurah sambil tertawa. Ki Gedepun tertawa pula. Tetapi yang dikatakan Ki Lurah itu agaknya memang benar. Sementara itu Ki Lurah berkata pula selanjutnya, “ Begitulah Ki Gede, jika Ki Gede tidak berkeberatan, aku ingin berada disini bersama cucu-cucuku ini menjelang tugastugasku yang sebenarnya. Pada saatnya menjelang tugas yang rumit itu, maka cucu-cucuku akan aku bawa ke Mataram.” “ Tentu saja kami tidak berkeberatan Ki Lurah.” berkata Ki Gede, “ tetapi tentu saja, keadaannya jauh berbeda dengan keadaan di Mataram. Disini segala sesuatunya sangat sederhana. Apa adanya dan tentu jauh lebih sepi dari keadaan di Mataram.” “ Itulah yang ingin dilihat oleh kedua cucuku ini.” berkata Ki Lurah, “ biarlah mereka melihat kehidupan yang lain daripada yang selalu dilihatnya setiap hari. Namun yang dinilainya tidak kalah dari kehidupan orang-orang yang tinggal di Kotaraja.” “ Kami justru akan bersenang hati.” berkata Ki Gede, “ disini ada Glagah Putih, adik sepupu Agung Sedayu yang umurnya tentu tidak terpaut banyak. Ia akan dapat menemani kedua cucu Ki Lurah selama berada disini.” Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “ Terima kasih Ki Gede. Cucuku yang nakal ini akan melihat satu kehidupan yang lain dari kehidupan di Kotaraja. Mereka akan dapat melihat para petani yang bekerja keras untuk menghasilkan bahan pangan. Mereka akan dapat melihat hubungan antara sesama yang masih sangat akrab disini dibandingkan dengan tata kehidupan kota. Kehidupan yang masih lebih mementingkan nilai-nilai persahabatan dan bekerja bersama daripada nilai-nilai kebendaan dan uang. Serta kehidupan yang masih erat sekali hubungannya dengan Penciptanya daripada kepentingan-kepentingan lahiriah semata-mata.” “ Mudah-mudahan Ki Lurah akan menemukannya disini. Kami disini memang berharap bahwa nilai-nilai seperti itu masih akan dapat tetap dipertahankan meskipun tata kehidupan akan bergerak semakin maju. Langkah-langkah panjang menuju keperadaban yang lebih tinggi itu diharapkan tidak beranjak dari alas yang kuat dari kehidupan yang pernah ada dibumi ini.” berkata Ki Gede. Ternyata Ki Lurah Branjangan merasa bahwa kedatangan kedua cucunya itu benar-benar akan berarti bagi mereka. Apalagi ketika kemudian Agung Sedayu dan Glagah Putih datang kerumah Ki Gede itu pula memenuhi panggilan Ki Gede lewat seorang pengawal. Ki Gedepun kemudian telah memperkenalkan kedua cucu Ki Lurah itu kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih. Bahkan Ki Gedepun kemudian berkata, “ Glagah Putih akan dapat menemani kalian melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan ini.” Kedua anak muda itu memang melihat Glagah Putih sekilas. Tetapi nampaknya keduanya sama sekali tidak tertarik untuk memperhatikannya lebih lama lagi. Glagah Putih dimata mereka memang tidak lebih dari anak padukuhan yang lain yang dilihatnya di sepanjang perjalanan. Agung Sedayu melihat gelagat itu. Tetapi ia tidak menunjukkan sikap yang lain dari sikapnya yang sudah dikenal oleh Ki Lurah Branjangan. Sambil tersenyum Agung Sedayu berkata, “ Banyak hal yang dapat dilihat disini tetapi tidak ada di Kotaraja. Agaknya Tanah Perdikan ini akan menarik bagi mereka.” Ki Lurah mengangguk. Kepada kedua cucunya ia berkata, “ Nah, kalian kini berada dirumah Ki Gede Menoreh yang menjadi pimpinan tertinggi di Tanah Perdikan ini. Sedangkan Agung Sedayu adalah seorang yang lebih banyak bergerak dibidang pembaharuan dari Tanah Perdikan ini. Bukan saja susunan tubuh para pengawal dari pimpinan tertingginya sampai pemimpin-pemimpin kelompok di padukuhanpadukuhan, tetapi juga dibidang kesejahteraan. Kalian akan dapat belajar banyak disini nanti.” Demikianlah, maka sejak saat itu, Ki Lurah Branjangan dan kedua cucunya telah berada dirumah Ki Gede. Ki Lurah telah memberikan gambaran tentang Tanah Perdikan itu. Diceritakannya tentang sawah yang terbentang. Padukuhanpadukuhan sampai di kaki bukit serta lereng-lereng terjal yang berbatu padas. Tetapi juga hutan yang lebat yang terbentang di ngarai dan memanjat sampai puncak bukit. Mata air yang mengalir menuruni tebing dan mengaliri tanah-tanah persawahan. Sedangkan beberapa sungai yang tidak terlalu besar mengalirkan air yang bening. “ Kau akan dapat melihatnya.” berkata Ki Lurah kepada kedua cucunya, “ Glagah Putih tentu akan dengan senang hati mengantarmu berjalan-jalan di Tanah Perdikan ini.” Kedua cucu Ki Lurah itu agaknya memang tertarik untuk melihat-lihat. Tetapi cucunya yang laki-laki, yang tertua diantara kedua cucunya itu berkata, “ Menarik sekali. Tetapi tentu lebih senang jika kakek sendiri membawa kami berjalanjalan.” “ Glagah Putih adalah anak Tanah Perdikan ini meskipun ia berasal dari Banyu Asri.” berkata kakeknya. “ Anak padesan itu nampaknya terlalu dungu untuk diajak berbicara tentang hal-hal yang agak rumit. Yang diketahuinya tentu tidak lebih dari cara membajak, menanam padi, membuat bendungan dan barangkali sedikit tentang berburu di hutan-hutan.” gumam cucu Ki Lurah Branjangan itu. Tetapi Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya, “ Kau akan salah menilai anak itu. Anak itu adalah anak yang memiliki kemampuan dan penalaran yang tinggi.” “ Setinggi-tinggi tingkat penalarannya, ia adalah anak padesaan.” berkata cucu perempuan Ki Lurah itu. Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak memberikan keterangan lebih panjang. Ia memang sengaja membawa cucunya untuk mendapatkan kenyataan yang lain dari yang dianggapnya telah diketahuinya. Sehari itu kedua cucu Ki Lurah tetap berada di rumah Ki Gede. Mereka hanya melihat-lihat halaman dan kebun. Berdiri di regol halaman serta melihat-lihat jalan induk yang membujur di depan regol itu. Keduanya memang melihat beberapa pengawal digardu. Tetapi keduanya tidak menyapa mereka. Baru dihari berikutnya, Agung Sedayu telah mengajak Glagah Putih pergi kerumah Ki Gede. Namun di sepanjang jalan Agung Sedayu telah berpesan, agar ia dapat menahan diri. Kedua orang cucu Ki Lurah itu terbiasa hidup didalam kota dan dalam pergaulan yang berbeda. Mungkin ada beberapa perbedaan sikap dan cara menanggapi satu keadaan. “ Kau harus berusaha menahan diri. Disini kau menjadi tuan rumah, sehingga kau harus lebih bersabar.” berkata Agung Sedayu. “ Aku akan mencobanya kakang.” jawab Glagah Putih yang ternyata sudah mulai tersinggung melihat sikap kedua cucu Ki Lurah itu sejak mereka bertemu. Namun ia mengerti pesan kakak sepupunya, karena ia memang harus berusaha untuk menjadi tuan rumah yang baik. Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih berada di rumah Ki Gede, maka kedua cucu Ki Lurah itu telah dipertemukan langsung dengan Glagah Putih. Ki Lurah telah memperkenalkan mereka lebih dekat. “ Ingat namanya.” berkata Ki Lurah, “ cucuku yang laki-laki bernama Teja Prabawa.” “ Raden Teja Prabawa.” anak muda itu melengkapi namanya dengan sebutannya sekali. “ Raden Teja Prabawa.” Glagah Putih mengulang. Ki Lurah Branjangan hanya tersenyum saja. Sementara itu, iapun berkata pula, “ Sedangkan cucu perempuanku ini bernama Rara Wulan.” Glagah Putih mengangguk hormat. Tetapi ternyata cucu perempuan Ki Lurah itu sama sekali tidak berpaling kepadanya. Tetapi Glagah Putih sudah mendapat bekal pesan dari Agung Sedayu sehingga karena itu, maka ia sudah mengendalikan dirinya sejak semula. Dalam pada itu Ki Lurah Branjanganpun berkata, “ Nah, Glagah Putih. Bawalah kedua cucuku itu melihat-lihat Tanah Perdikan ini. Mudah-mudahan apa yang dilihatnya akan berarti bagi mereka berdua. Tidak perlu tergesa-gesa, karena mereka akan berada disini agak lama. Sekitar dua pekan. Sehingga banyak kesempatan bagi mereka untuk melihat seluruh Tanah Perdikan ini.” “ Baik Ki Lurah.” jawab Glagah Putih, “ mudah-mudahan keduanya kerasan tinggal di Tanah Perdikan yang sepi ini.” “ Tentu mereka akan kerasan tinggal disini.” jawab Ki Lurah, “ banyak hal yang terdapat di Tanah Perdikan ini, tetapi tidak terdapat di Kotaraja.” “ Aku sudah siap Ki Lurah. Jika dikehendaki, maka kami akan dapat pergi sekarang, mumpung masih belum terlalu panas.” berkata Glagah Putih. “ Bagus.” jawab Ki Lurah Branjangan, “ pergilah.” Lalu katanya kepada kedua cucunya, “ Ikutlah dengan Glagah Putih. Ia akan menunjukkan apa yang belum pernah atau jarang sekali kalian lihat.” “ Kakek tidak pergi bersama kami?” bertanya Teja Prabawa. Ki Lurah menggeleng. Katanya, “ Kakek sudah terlalu sering melihat Tanah Perdikan ini.” “ Jika demikian kenapa bukan kakek sendiri yang mengantar kami?” bertanya Rara Wulan. “ Aku masih akan banyak berbicara dengan Ki Gede menjelang tugasku disini.” berkata Ki Lurah Branjangan pula. Kedua cucunya akhirnya bersedia juga pergi diantar oleh Glagah Putih. Demikianlah maka sejenak kemudian Glagah Putih telah minta diri, sementara Ki Lurah Branjangan dan Agung Sedayu mengantar kedua cucu Ki Lurah itu sampai keregol. Diregol halaman rumah Ki Gede, Agung Sedayu sempat menepuk bahu Glagah Putih sambil berbisik, “ Kau harus menjadi tuan rumah yang baik.” Namun agaknya Ki Lurah dapat membaca bibir Agung Sedayu. Meskipun ia tidak mendengar, tetapi ia dapat mengetahui apa yang dikatakannya. Karena itu, maka iapun justru mendekati mereka sambil berdesis, “ Kau jangan terlalu menahan diri. Aku sengaja ingin mengajar mereka berdua. Jika mereka nakal dan tidak mau mendengar petunjukmu, kau dapat memaksanya. Aku tidak berkeberatan.” Glagah Putih mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling kepada Agung Sedayu, dilihatnya Agung Sedayu hanya tersenyum saja. Sementara itu Teja Prabawa dan Rara Wulan telah berjalan beberapa langkah lebih dahulu, sehingga Glagah Putihpun kemudian harus berlari-lari kecil menyusulnya. Untuk beberapa saat mereka ternyata hanya saling berdiam diri saja. Kedua cucu Ki Lurah itu memang tertarik melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan Menoreh. Halaman-halaman rumah yang luas dan ditanami dengan berbagai macam pepohonan. Terutama pohon buah-buahan. Pintu-pintu gerbang dan dinding halaman yang tidak terlalu tinggi. Glagah Putih berjalan di belakang kedua anak muda itu. Baru ketika mereka keluar dari regol padukuhan induk, kedua anak muda itu mulai berbicara. Teja Prabawa nampaknya sangat tertarik pada bentangan sawah yang luas yang tidak pernah dilihatnya di Kotaraja. Meskipun di pinggir Kotaraja juga masih terdapat bulak-bulak persawahan. Tetapi bulakbulak itu jauh lebih sempit dari bulak yang dilihatnya di sebelah padukuhan induk itu, sehingga dengan demikian maka jalan yang membujur didepan kakinya nampak begitu panjang sampai kepadukuhan berikutnya. Sementara dibelakang, bukit yang hijau membentang dari Selatan sampai jauh ke Utara. Membujur dengan beberapa puncak yang tinggi rendah. Glagah Putih masih saja mengikutinya. Nampaknya kedua cucu Ki Lurah itu belum memerlukannya, sehingga mereka sama sekali tidak bertanya kepadanya. Tetapi Glagah Putih yang sudah mempersiapkan diri menghadapi keadaan seperti itu, sama sekali tidak merasa tersinggung lagi sebagaimana mereka bertemu mula-mula dirumah Ki Gede. Glagah Putih sudah berhasil mengendapkan perasaannya setelah ia justru mendengar pesan Ki Lurah dan Agung Sedayu. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai ketengahtengah bulak yang panjang itu. Ketika mereka sampai ke simpang ampat, maka kedua anak muda itu menjadi raguragu. Setelah termangu-mangu sejenak, maka keduanyapun telah berpaling kepada Glagah Putih. Glagah Putih merasa mulai diperlukan oleh kedua anak muda itu. Karena itu, maka iapun telah melangkah mendekat. “ He, kita akan pergi kemana?” bertanya Teja Prabawa. “ Silahkan Raden memilih.” jawab Glagah Putih, “ bukankah semuanya masih belum pernah Raden lihat.” “ Kaulah yang menentukan, mana yang lebih baik aku lihat lebih dahulu. Kau harus mempunyai rencana sebelum kita berangkat. Jika kau menyerahkan kepadaku, maka tidak perlu kau ikut bersama kami.” berkata Raden Teja Prabawa. Glagah Putih mengangguk-angguk kecil. Katanya, “ Baiklah. Aku akan menawarkan kepada Raden. Jika kita berjalan lurus, kita menuju ke bukit. Kita akan berjalan melalui beberapa padukuhan. Kemudian kita akan melewati padang perdu sebelum memasuki sebuah hutan yang lebat. Namun di hutan itu terdapat jalan yang menuju kekaki bukit, kemudian memanjat tebing dan mencapai padukuhan yang berada di dataran tinggi Bukit Menoreh. Jika kita berbelok ke kanan, maka kita akan sampai ke sebuah belumbang yang meskipun tidak terlalu besar, tetapi menjadi tempat pemandian yang menarik. Disebelahnya terdapat sebuah sungai yang tidak terlalu besar, tetapi cukup memberikan nafas kehidupan bagi persawahan di Tanah Perdikan ini. Sungai itu adalah kepanjangan sungai yang akan kita seberangi, jika kita berjalan terus menuju ke hutan. Sedangkan jika kita kesebelah kiri, maka kita akan menuju ke barak Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan ini, setelah melalui beberapa padukuhan dan sedikit menyusuri jalan didekat hutan.” Kedua cucu Ki Lurah itu termangu-mangu. Namun kemudian Rara Wulanpun bertanya, “ Kita pergi ke mana?” “ Nah, terserah kepada pilihan kalian. Aku akan mengantarkannya.” berkata Glagah Putih. “ Kau yang mengatakan kepadaku dengan alasan-alasan yang mapan atas pilihanmu itu. Buat apa kau ditunjuk oleh kakek untuk membawa kami berdua berjalan-jalan melihatlihat Tanah Perdikan ini?” berkata Teja Prabawa dengan nada keras. Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih juga menjawab, “ Tetapi mungkin kalian berdua ingin menentukan satu pilihan.” “ Cepat, katakan. Kemana kita sebaiknya pergi.” suara Teja Prabawa semakin keras. Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Baiklah. Kita akan berjalan terus.” “ Kau akan membawa kami ke hutan?” bertanya Rara Wulan. “ Ya.” jawab Glagah Putih. “ Kau akan menjerumuskan kami?” desak Rara Wulan. “ Tentu tidak. Bukankah di Kotaraja tidak ada hutan yang dapat dinikmati seperti di lereng bukit Menoreh? Sawah mungkin terdapat meskipun tidak seluas disini. Belumbang tentu pernah pula kau datangi meskipun mungkin buatan atau tempat mandi yang dibuat dari tatanan batu. Tetapi hutan tentu tidak pernah kau masuki.” Nampaknya kedua anak muda itu memang menaruh curiga kepada Glagah Putih. Beberapa saat keduanya saling berpandangan. Namun kemudian Teja Prabawa itu mengambil keputusan. “ Aku ingin melihat barak Pasukan Khusus itu.” Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian bertanya, “ Apakah kalian ingin melihat barak itu?” “ Ya. Aku ingin bertemu dengan para pemimpin dari barak itu.” jawab Teja Prabawa. “ Untuk apa?” bertanya Glagah Putih. “ Bukankah kakek pernah memimpin Pasukan Khusus itu?” desis Teja Prabawa. “ Tetapi pimpinan di barak itu sudah beberapa kali berganti. Sekarang, seorang perwira yang bernama Ki Sanggabaya yang bergelar Naga Geni.” desis Glagah Putih. “ Siapapun yang memimpin barak itu, tentu akan menerima kami. Kami tidak akan berbuat apa-apa selain datang untuk melihat-lihat.” bertanya Teja Prabawa. Glagah Putih akhirnya mengangguk-angguk. Katanya, “ Baiklah. Aku hanya akan mengantarkan kalian. Kalianlah yang harus berbicara kepada Ki Sanggabaya apa yang akan kalian lakukan di barak itu.” “ Aku yang akan berbicara dengan Senapati barak itu.” sahut Teja Prabawa. Demikianlah, maka mereka bertigapun telah mengambil jalan yang berbelok ke kiri. Glagah Putih memang telah menunjukkan letak barak dari Pasukan Khusus Mataram yang ada di Tanah Perdikan itu. Seperti yang dikatakan oleh Glagah Putih, maka mereka telah melewati beberapa pedukuhan dan bahkan kemudian mereka telah berjalan di jalan yang sempit dipinggir hutan. Meskipun masih terdapat beberapa puluh langkah padang perdu yang memisahkan jalanan itu dengan hutan lebat yang membujur searah dengan Bukit Menoreh, namun rasarasanya jalan itu bagaikan lekat dengan pohon-pohon dihutan itu. Ternyata bahwa kedua cucu Ki Lurah Branjangan itu merasa ngeri juga berjalan di jalan sempit di pinggir hutan itu. Setiap kali keduanya berpaling kepada Glagah Putih yang berjalan dibelakang mereka. Namun nampaknya Glagah Putih sama sekali tidak menghiraukan hutan yang agaknya masih menyimpan binatang-binatang yang buas. Ketika jalan itu justru semakin merapat dengan hutan itu, maka Teja Prabawa pun berkata kepada Glagah Putih, “ Jalanlah di depan. Kau tentu sudah mengenal arah. Daripada setiap kali aku bertanya kepadamu, maka sebaiknya kau memang berada di depan.” Glagah Putih itupun masih juga menjawab, “ Hanya ada satu arah jika kita mengikuti jalan ini, maka kita tidak akan tersesat.” Tetapi Teja Prabawa itu berkata tegas, “ Kau berjalan di depan.” Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak membantah lagi. Demikianlah mereka melanjutkan perjalanan. Glagah Putihlah yang kemudian berada di depan. Ia berjalan tanpa menghiraukan hutan yang ada disebelahnya. Bahkan ketika jalan itu seakan-akan telah menyentuh bibir hutan. Glagah Putih sama sekali tidak menunjukkan keragu-raguan. Teja Prabawa dan Rara Wulan menjadi semakin ngeri. Keduanya berjalan merapat terlalu cepat bagi Rara Wulan, sehingga karena itu gadis itupun berkata, “ He, kenapa kau berlari-lari?” Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Baru ia menyadari, bahwa seharusnya ia berjalan lebih lambat, karena ia berjalan bersama seorang gadis yang datang dari Kotaraja. Ketika seekor kera meloncat diatas dahan yang menyilang hampir mencapai batas tepi lorong itu, maka Rara Wulan menjerit kecil. Glagah Putih memang menghentikan langkahnya. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya Rara Wulan dengan wajah pucat memandang dahan-dahan pepohonan yang bergerak. “ Disini memang terdapat banyak kera.” berkata Glagah Putih. Lalu katanya, “ Namun selama masih banyak kera berkeliaran, maka lingkungan ini masih cukup aman.” “ Kenapa?” bertanya Teja Prabawa. “ Jika ada binatang buas yang berbahaya bagi mereka, maka mereka akan segera melarikan diri masuk kedalam lindungan dedauanan yang rapat ditengah-tengah hutan itu.” jawab Glagah Putih. “ Binatang buas apa saja?” bertanya Rara Wulan. “ Harimau misalnya.” jawab Glagah Putih. “ Jangan sebut.” potong Teja Prabawa. “ Kenapa?” bertanya Glagah Putih. “ Apapun alasannya, jangan kau sebut nama binatang itu.” geram Teja Prabawa. Tetapi Glagah Putih tertawa. Katanya, “ Ternyata kau masih juga percaya, bahwa kita tidak boleh menyebut jenis harimau di pinggir hutan seperti ini, tetapi dengan sebutan kakek atau Kiai?” “ Cukup.” geram Teja Prabawa. Glagah Putih masih saja tertawa. Katanya, “ Seharusnya kau jangan percaya. Aku adalah anak Tanah Perdikan ini. Aku sudah memahami sifat dan tabiat Tanah Perdikan ini termasuk hutan dan segala isinya. Termasuk berjenis-jenis binatang buas. Tetapi aku sama sekali tidak menganggap tabu untuk menyebut namanya karena nama itu memang diberikan untuk membedakan berjenis-jenis binatang yang ada.” Wajah Raden Teja Prabawa menjadi merah. Sementara itu, Glagah Putih yang mulai digelitik oleh sifat-sifatnya itu berkata lebih lanjut, “ Nah, karena itu, Raden tidak usah takut mendengar aku menyebut harimau loreng, harimau tutul atau harimau kumbang yang sering memanjat dipepohonan dengan kulitnya yang hitam lekam.” “ Cukup.” Raden Teja Prabawa itu justru berteriak, “ aku perintahkan kepadamu untuk menutup mulutmu.” Glagah Putih mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “ Baiklah Raden. Aku tidak akan menyebutnya lagi.” “ Jika kau sekali lagi menyebutnya, aku mau memukulmu. Aku tahu bahwa sebutan itu tidak akan menimbulkan persoalan apa-apa. Tetapi yang membuat aku marah adalah justru kau telah dengan sengaja melakukan apa yang telah aku larang.” berkata Raden Teja Prabawa. “ Jangan marah Raden.” berkata Glagah Putih, “ kita lebih baik tertawa daripada marah. Kata orang-orang tua, cepat marah akan dapat menimbulkan persoalan tersendiri didalam diri kita.” “ Tetapi kau telah membuat aku marah. Ternyata kau benar-benar memuakkan. Aku akan mengatakannya kepada kakek Lurah Branjangan, bahwa kau dengan sengaja telah melanggar apa yang tidak aku kehendaki.” berkata Teja Prabawa. “ Jika demikian, maka sebaiknya aku tidak menyertai Raden jika aku memang memuakkan.” berkata Glagah Putih. “ Kau akan kembali?” bertanya Teja Prabawa. “ Tidak. Aku akan memasuki hutan ini dan akan bercanda dengan binatang-binatang buas yang tidak pernah marah kepadaku.” jawab Glagah Putih. Wajah Teja Prabawa menjadi tegang. Namun kemudian ia masih mengancam, “ Kau tahu akibat dari perbuatanmu itu? Jika kakek tahu kau dengan sengaja mempermainkan aku, maka kau akan dapat dihukum gantung.” “ O, sangat mengerikan.” jawab Glagah Putih, “ baiklah. Aku tidak akan mempermainkan Raden, karena se-jak semula aku memang tidak berniat berbuat demikian.” “ Kau harus minta maaf kepadaku.” berkata Teja Prabawa, “ juga kepada adikku.” “ Baiklah. Aku minta maaf Raden.” lalu katanya kepada Rara Wulan, “ aku mohon maaf Rara.” “ Cepat, berjalanlah.” bentak Raden Teja Prabawa. Glagah Putihpun kemudian telah melangkah melanjutkan perjalanan menyusuri jalan dipinggir hutan itu. Namun ia masih juga sempat berkata, “ Raden, aku pernah berkawan dengan seorang anak muda yang barangkali sebaya dengan Raden. Tetapi ia sama sekali tidak pernah merasa takut menghadapi apapun juga. Justru mempunyai keberanian jauh melampaui keberanian anak-anak padukuhan di Tanah Perdikan ini, termasuk aku. Anak muda itu juga tinggal di Kotaraja.” “ Persetan.” geram Teja Prabawa. Tetapi tiba-tiba saja ia justru bertanya, “ Jadi kau kira aku tidak mempunyai keberanian seperti anak-anak padukuhan di Tanah Perdikan ini, he? Atau kau kira aku kalah dari anak-anak muda lain dari Kotaraja? Kawanmu tentu anak Kotaraja tetapi yang datang dari padesan. Jika ayahnya seorang pekerja atau seorang juru taman atau seorang pekatik yang mencari rumput bagi kuda seorang bangsawan, maka iapun tentu nampak lebih berani karena kekasarannya. Tetapi kau kira yang nampak kasar itu tentu lebih baik? Mungkin bagi mata orang-orang padukuhan seperti kau hal itu berlaku. Kau terlalu biasa melihat anakanak muda yang kasar dan tidak mengenal unggah-ungguh.” Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi iapun telah berjalan menuju ke barak Pasukan Khusus. Karena itu, ketika ia tersenyum, maka kedua anak muda yang diantarkannya itu tidak melihatnya. Dibelakang Glagah Putih, Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan berlari-lari kecil mengikutinya. Bahkan pada jarak tidak lebih dari selangkah. Suara angin yang bergaung di hutan itu memang membuat bulu tengkuk mereka meremang. Adalah diluar kehendak mereka sendiri ketika mereka membayangkan binatang-binatang buas yang berkeliaran di tengah-tengah hutan itu. Namun beberapa saat kemudian, jalanpun menjadi semakin jauh dari hutan itu. Padang perdu yang membentang diantara jalan yang mereka lalui dengan hutan itupun menjadi semakin luas. Bahkan sejenak kemudian, jalan itupun telah memasuki bulak-bulak persawahan. Ketika Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan melihat seorang petani bekerja disawahnya, maka merekapun telah menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika mereka melihat seorang yang lain dan yang lain lagi. Rasa-rasanya mereka telah berada kembali di lingkungan kehidupan manusia setelah untuk beberapa saat lamanya mereka berada didunia binatang-binatang buas. Tetapi mereka mulai berpikir, bahwa jika mereka kembali kepadukuhan induk, maka mereka akan berjalan melalui jalan itu lagi. “ Tentu ada jalan lain.” berkata Raden Teja Prabawa didalam hatinya, “ meskipun mungkin agak jauh.” Namun Raden Teja Prabawa itu tidak dapat memikirkannya lebih panjang. Ketika mereka mulai memasuki padukuhan, maka Rara Wulanpun mulai memperkatakan kebiasaan orangorang padukuhan itu. “ Padukuhan ini nampak bersih kakang.” desis Rara Wulan. Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Namun iapun mengakui bahwa padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan itu pada umumnya nampak bersih meskipun padukuhanpadukuhan itu dihuni bukan oleh orang-orang kaya. Rumahrumah yang tidak terlalu besar yang nampak terawat. Halaman yang bersih dan regol yang rapi. Tetapi ketika mereka sekali lagi memasuki bulak yang agak panjang, maka Rara Wulan mulai mengeluh. Katanya, “ Aku lelah kakang.” Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian bertanya kepada Glagah Putih, “ He, apakah perjalanan kita masih jauh?” “ Tidak.” jawab Glagah Putih, “ kita akan memasuki padukuhan diseberang bulak pendek ini. Kemudian diantarar oleh sebuah bulak pendek lagi, maka kita akan sampai ke satu lingkungan yang dipisahkan oleh padang rumput yang tidak terlalu luas. Kemudian pagar kayu yang berjajar rapat mengelilingi satu tempat yang dari jauh nampak seperti pategalan yang agak luas. Nah dilingkungan pagar kayu yang rapat setinggi dua orang berdiri bersusun itulah barak pasukan khusus Mataram.” Teja Prabawa tidak menjawab. Tetapi Rara Wulanlah yang sekali lagi mengeluh, “ Aku sudah lelah.” “ Apakah kita akan beristirahat sebentar?” bertanya Teja Prabawa kepada adiknya. Rara Wulan mengangguk. Sehingga karena itu, maka Teja Prabawapun berkata kepada Glagah Putih, “ Kita berhenti sebentar disini. Adikku sudah merasa lelah.” Glagah Putih memang berhenti. Tetapi katanya, “ Jarak yang akan kita tempuh tinggal beberapa puluh tonggak lagi. Kenapa kita harus berhenti?” “ Jangan bertanya lagi. Kau tentu sudah mendengar katakataku tadi.” bentak Teja Prabawa. Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Sesaat kemudian, maka kedua orang kakak beradik itupun telah mencari tempat untuk duduk. Mereka tidak mau duduk begitu saja diatas rerumputan dipinggir jalan. Namun agaknya mereka telah menemukan sebongkah batu yang besar yang terletak dipinggir jalan itu, sehingga merekapun kemudian duduk diatas batu itu. Glagah Putih sendiri tidak ingin duduk. Tetapi ia tetap berdiri saja bersandar sebatang pohon turi yang tidak terlalu besar. Ketika kemudian dua orang anak muda lewat sambil memanggul cangkul tanpa mengenakan baju, sementara kakinya penuh dengan lumpur, Glagah Putih sempat menyapa mereka. “ Masih sepagi ini kalian telah selesai bekerja di sawah?” bertanya Glagah Putih. “ Tinggal sisa kerja kemarin.” jawab salah seorang diantara mereka. Namun anak muda itupun bertanya, “ Apa kerjamu disini?” “ Mengantar kedu cucu Ki Lurah Branjangan yang ingin pergi ke barak.” jawab Glagah Putih. Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Tetapi ketika keduanya memandang kedua cucu Ki Lurah, maka kedua cucu Ki Lurah itu sama sekali tidak memandang mereka. Ketika mereka kemudian berpaling lagi kepada Glagah Putih, maka Glagah Putih hanya dapat mengangkat bahunya. Kedua anak muda yang kotor oleh lumpur itu tersenyum. Hampir berbareng mereka berkata, “ Sudahlah Glagah Putih.” “ Silahkan.” jawab Glagah Putih, “ apakah kalian akan singgah disungai?” “ Ya. Kami akan mandi dahulu.” jawab seorang diantara mereka. “ Bagaimana dengan pliridanmu?” bertanya Glagah Putih kemudian. Anak muda itu tertawa. Katanya, “ Aku sudah tidak telaten lagi. Belumbangku dipinggir kali dihalaman kakek itu sudah mulai panen.” “ Beruntung kau mempunyai tanah di pinggir kali, sehingga kau dapat membuat belumbang yang setiap kali tinggal memungut ikannya.” sahut Glagah Putih. Kedua anak muda itu tertawa. Namun merekapun segera meninggalkan tempat itu. Ketika mereka sekali berpaling kepada kedua cucu Ki Lurah Branjangan itu, maka Teja Prabawa sedang memandang mereka pula. Namun cepatcepat ia telah melemparkan pandangan matanya kekejauhan. Glagah Putih hanya tersenyum saja melihat tingkah laku kedua orang anak muda dari Kotaraja yang masih menganggap dirinya orang berderajad tinggi, sementara Glagah Putih yang pernah mengenal dengan akrab Raden Rangga, dapat membedakan sifat anak-anak muda dari Kotaraja itu. “ Bahkan Ki Lurah Branjangan sendiri sama sekali tidak lagi memiliki sifat-sifat tinggi hati seperti kedua cucunya itu.” berkata Glagah Putih didalam hatinya. Lalu katanya pula kepada diri sendiri, “ Mungkin karena anak Ki Lurah Branjangan adalah ibu anak-anak muda itu. Sementara anakanak muda itu telah memiliki sifat ayahnya.” Tiba-tiba saja Glagah Putih ingin mengetahui, siapakah ayah dari kedua orang anak muda itu. Agaknya baik Agung Sedayu maupun Ki Gede masih belum bertanya tentang ayah kedua anak muda yang tinggi hati dan tidak dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya itu. Tetapi Glagah Putih segera menanyakannya langsung kepada kedua anak muda itu. Glagah Putih menyadari, bahwa jika ia bertanya kepadanya, hanya akan menimbulkan kejengkelan saja. Glagah Putih mengerutkan dahinya ketika didengarnya Teja Prabawa itu berbicara kepada adiknya, “ Nah, kau lihat Wulan. Anak-anak padesan itu hidupnya selalu dilumuri oleh lumpur di sawah.” Rara Wulan mengangguk-angguk. Jawabnya, “ Tetapi nampaknya mereka tidak merasa dirinya kotor.” “ Tentu tidak.” tiba-tiba saja Glagah Putih menyahut, “ seandainya mereka memang kotor, yang kotor hanyalah kulitnya saja. Wadagnya saja.” Teja Prabawa memandang Glagah Putih dengan tajamnya. Kemudian dengan nada tinggi ia bertanya, “ Apa yang kau maksud?” “ Raden.” jawab Glagah Putih, “ kami, anak-anak muda Tanah Perdikan ini memang harus bekerja sebagaimana mereka lakukan. Akupun pada saat-saat tertentu harus turun kesawah, membajak, meratakan dengan garu dan kerja-kerja berat lainnya untuk menyiapkan lahan sehingga perempuanperempuan pada saatnya turun untuk memanen padi. Jika padi sudah mulai tumbuh maka kamipun pada saat-saat tertentu harus turun pula untuk menyiangi. Kerja itu memang membuat tubuh kami kotor. Tetapi hanya tubuh kamilah yang dikotori oleh lumpur sawah. Sedangkan jiwa kami anak-anak padesan, aku kira sama saja dengan anak-anak muda dimana-mana. Jiwa kami dapat kotor, tetapi juga mungkin bersih.” “ Kau ingin mengatakan bahwa jiwa anak-anak padesan lebih bersih dari jiwa anak-anak Kotaraja?” tiba-tiba saja Raden Teja Prabawa membentak. Glagah Putih menggeleng. Jawabnya, “ Bukankah sudah aku katakan, bahwa jiwa kami anak padesan sama saja dengan jiwa anak dimanapun mereka tinggal. Dapat bersih dan dapat juga kotor. Masalahnya adalah masalah yang sangat pribadi. Tetapi jangan dikira bahwa lingkungan dan pergaulan tidak akan mempengaruhi warna jiwa kita.” Tiba-tiba saja Teja Prabawa itu bangkit berdiri. Selangkah ia maju sambil berkata, “ Kau mencoba menggurui aku he?” Glagah Putih justru tertawa. Katanya, “ Tidak Raden. Tentu aku tidak akan dapat menggurui Raden. Jika aku mengucapkannya, rasa-rasanya aku memang sedang menghafal nasehat-nasehat yang pernah diberikan oleh Ki Gede kepada kami. Karena itu apa yang aku katakan lebih banyak aku tujukan kepada diriku sendiri.” Raden Teja Prabawa menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Tetapi kepada adiknya ia berkata, “ Apakah kau masih lelah? Jika tidak akan berjalan lagi. Bukankah jaraknya sudah tidak begitu jauh.” Rara Wulan mengangguk. Iapun kemudian bangkit berdiri, mengibaskan kainnya dengan tangannya. Jawabnya, “ Marilah. Aku sudah tidak letih lagi.” Ketiga anak muda itupun kemudian telah melanjutkan perjalanan mereka menyusuri bulak yang tidak begitu panjang. Ketika mereka memasuki sebuah padukuhan lagi, maka mereka melihat seperti padukuhan-padukuhan yang pernah mereka lewati padukuhan itupun nampak bersih. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka, dengan ramahnya menyapa Glagah Putih. Namun kedua orang cucu Ki Lurah itu tidak pernah menghiraukan mereka. Tetapi orang-orang padukuhan itu mengerti, bahwa kedua orang itu tentu anakanak muda dari Kota Raja menilik pakaian yang mereka kenakan. Karena itu, maka mereka sama sekali tidak merasa berkecil hati melihat sikap mereka berdua. Sejenak kemudian, maka mereka bertiga telah keluar dari pintu gerbang padukuhan itu dan sekali lagi memasuki bulak yang tidak begitu panjang. Dari kejauhan mereka sudah melihat satu lingkungan yang terpisah, yang dari kejauhan nampak seperti pategalan dengan pepohonan yang lebih jarang dari sebuah padukuhan. Bahkan ketika mereka sudah berjalan memasuki bulak pendek itu, mereka telah melihat dinding kayu yang diatur rapat. Balok-balok yang tidak begitu besar berjajar dan diikat dengan tali ijuk yang kuat. Dibeberapa bagian, terutama didekat pintu gerbang utama dan pintu-pintu gerbang butulan, dindingnya dibuat dari batu bata yang besar-besar. Namun setiap saat, bangunan barak Pasukan Khusus itu masih saja mengalami perbaikanperbaikan meskipun perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai ke sebuah lapangan rumput yang cukup luas. Dibelakang lapangan rumput itulah terletak pintu gerbang utama barak Pasukan Khusus itu, sehingga lapangan rumput itu seakan-akan merupakan halaman depan yang luas dari barak itu. Namun dibelakang barak itu, meskipun juga diantarai oleh lapangan rumput, terdapat hutan yang tidak terlalu lebat yang memanjat pebukitan dan gumuk-gumuk kecil. Namun semakin tinggi hutan itu memanjat pebukitan, maka hutan itupun menjadi semakin lebat pula. Glagah Putih yang mengantarkan cucu Ki Lurah itu telah membawa kedua anak muda itu menuju ke pintu gerbang utama. Dua orang prajurit yang bertugas berdiri disebelah menyebelah pintu gerbang itu dengan tombak ditangan. Ketika ketiga anak muda itu mendekati pintu gerbang, maka seorang diantara kedua prajurit yang bertugas itu telah menyapa “ Glagah Putih. Kau mau kemana? “ Glagah Putih tersenyum. Ia sudah mengenal prajurit dari Pasukan Khusus itu. Kecuali dalam tugas-tugas tertentu di Tanah Perdikan itu mereka sering bertemu, anak muda yang bertugas itu adalah anak muda yang berasal dari Tanah Perdikan Menoreh yang tergabung didalam Pasukan Khusus itu. “ Aku mengantarkan kedua cucu Ki Lurah Branjangan “ jawab Glagah Putih. “ Cucu Ki Lurah Branjangan? “ bertanya prajurit itu. “ Ya. “ jawab Glagah Putih “ mereka ingin bertemu dengan Senapati yang baru itu. “ “ Untuk apa? Apakah mereka mendapat pesan dari Ki Lurah? “ bertanya prajurit itu. “ Bertanyalah sendiri kepada mereka “ jawab Glagah Putih. Prajurit itu memandang Teja Prabawa dan Rara Wulan berganti-ganti. Namun kemudian iapun bertanya “ Apakah keperluan kalian bertemu dengan Senapati? “ Raden Teja Prabawa memang agak menjadi bingung untuk menjawab. Ia memang tidak mempunyai keperluan khusus dengan pimpinan Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan itu. Tetapi ia sudah berdiri di muka barak itu, sementara prajurit yang bertugas di pintu gerbang itupun telah bertanya pula kepadanya. Karena itu, maka iapun telah menjawab asal saja “ Aku hanya ingin bertemu. “ Prajurit yang bertugas itu termangu-mangu. Dengan nada heran ia bertanya pula “ Hanya karena ingin bertemu begitu saja? Biasanya Senapati tentu menanyakan, apakah kepentingan seseorang yang akan menemuinya. Pada harihari terakhir, Senapati nampak sangat sibuk. Bukan hanya mengenai latihan-latihan dan penempaan pasukan, tetapi hubungan dengan Mataram pun berjalan lebih sering dari biasanya. “ Teja Prabawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “ Aku adalah cucu Ki Lurah Branjangan. Bukankah kakek pernah berada di barak ini? Aku hanya sekedar ingin melihat-lihat saja. “ Prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian seorang perwira muda yang kebetulan mendengar pembicaraan itupun berkata “ Jadi keduanya adalah cucu Ki Lurah Branjangan? “ “ Ya “ jawab prajurit yang bertugas. “ Baiklah. Biar aku yang menyampaikan kepada Senapati. Tetapi aku tidak tahu, apakah mereka berdua akan dapat diterima atau tidak “ berkata perwira muda itu. Ketika ia melangkah meninggalkan pintu gerbang menuju ke barak khusus yang dipergunakan oleh Senapati yang lebih senang disebut Nagageni itu bekerja, seorang perwira muda yang lain, yang kebetulan adalah adik Nagageni, menyusulnya. “ Siapa mereka he? “ bertanya adik Nagageni itu. “ Cucu Ki Lurah Branjangan “ jawab perwira muda itu. “ Ki Lurah Branjangan yang menurut pendengaranku pernah memimpin Pasukan Khusus ini? “ bertanya adik Senapati Nagageni itu pula. “ Ya. Bukan sekedar memimpin. Tetapi Ki Lurah Branjangan adalah seorang prajurit yang telah menyusun dan membentuk pasukan khusus ini pada saat-saat Mataram bangkit “ jawab perwira muda itu. “ Siapa gadis itu? “ bertanya adik Senapati. “ Sudah aku katakan, cucu Ki Lurah “ jawab perwira muda itu. “ Kau kenal gadis itu? “ bertanya adik Nagageni. Perwira muda itu menggeleng. Katanya “ Aku baru melihat mereka diregol. “ “ Nampaknya kau mulai tertarik. Ternyata kau dengan serta merta bersedia menyampaikan kedatangannya kepada kakang Senapati “ berkata adik Nagageni itu. Perwira muda itu justru terhenti. Dipandanginya adik Nagageni itu dengan tajamnya. Dengan suara berat ia menyahut “ Kau kira aku laki-laki seperti kau yang langsung tertarik kepada seorang gadis begitu melihatnya? “ Perwira muda adik Nagageni itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berdesis “ Tetapi gadis itu sangat cantik. “ “ Jika demikian, kau sajalah yang menghadap Senapati Nagageni. Katakan kepada kakakmu itu, bahwa cucu Ki Lurah Branjangan ingin bertemu. Mereka tidak mempunyai keperluan khusus selain sekedar ingin melihat-lihat. Nah, terserah kepadamu. Mudah-mudahan kau mendapat tugas dari kakakmu untuk mengantar keduanya berjalan-jalan di barak ini “ berkata perwira muda itu. Adik Nagageni berpikir sejenak. Namun tiba-tiba saja ia bertanya “ Dimana keduanya sekarang? “ “ Bukankah kau tahu bahwa keduanya masih berada diregol? “ jawab perwira muda itu. Adik Nagageni mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah. Biarlah aku yang menyampaikannya kepada kakang Senapati. “ Dengan demikian, maka adik Nagageni itulah yang menemui kakaknya di ruangan khususnya. Dengan singkat ia menyatakan bahwa kedua cucu Ki Lurah Branjangan ingin menghadap. “ Apakah ia membawa pesan dari Ki Lurah? “ bertanya Nagageni. “ Menurut keterangannya tidak. Mereka hanya ingin melihat-lihat. Mungkin karena mereka mengetahui bahwa kakeknyapun pernah berada di barak ini. “
“ Yang pernah berada di barak ini adalah Ki Lurah Branjangan. Bukan cucunya. Untuk apa mereka ingin melihatlihat? “ bertanya kakaknya. “ Aku tidak tahu. Mungkin mereka pernah mendengar ceritera tentang kakeknya yang telah berhasil menyusun Pasukan Khusus Mataram disini “ jawab adiknya. “ Omong kosong “ geram Senapati itu “ apa yang pernah dihasilkan oleh Ki Lurah Branjangan? Setiap orang dapat saja mengumpulkan anak-anak muda, memberi makan dan pakaian, menyediakan tempat untuk tidur dan memberikan uang gaji mereka setiap bulan. Tetapi kemampuan pasukan itu ternyata tidak berarti sama sekali. Bahkan pemimpinpemimpin sesudahnyapun tidak berhasil membentuk pasukan ini sesuai dengan namanya. Pasukan Khusus. Baru sekarang, kita mulai membentuk pasukan ini dengan bersungguhsungguh. “ “ Apapun yang mereka katakan, tetapi apa salahnya jika berada sekedar melihat-lihat barak ini? “ bertanya adiknya. “ Kita harus mencurigai setiap orang sekarang ini “ jawab Senapati itu “ karena itu, kita harus yakin, bahwa keduanya tidak berbahaya bagi kita. “ “ Aku dapat menanggung bahwa keduanya tidak berbahaya. Keduanya masih sangat muda. Seorang diantaranya adalah seorang gadis, yang cantik “ berkata adiknya. Senapati Pasukan Khusus itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “ Aku mengerti sekarang. Kau tentu menganggap bahwa gadis itu cantik sekali, sehingga kau tertarik kepadanya. “ Perwira muda itu tertawa. “ Sebenarnya aku ingin menasehatimu. Jangan terlalu mudah tertarik kepada wajah yang cantik. Kau dapat terjerat kedalam kesulitan “ berkata Nagageni. “ Kali ini aku tidak akan berbuat seperti yang pernah aku lakukan sebelumnya kakang. Apalagi jika gadis itu cucu Ki Lurah Branjangan. Aku memang tertarik kepada gadis itu. Tetapi aku akan memperlakukannya dengan baik. Siapa tahu, bahwa gadis itu akan dapat menjadi pasangan hidupku kelak “ berkata perwira itu. Nagageni termangu-mangu sejenak. Meskipun demikian, ia ingin melihat kedua anak muda itu dan berbicara dengan mereka. Apakah benar-benar mereka tidak berbahaya bagi barak Pasukan Khusus itu. Atau bahkan kedua cucu Ki Lurah itu membawa tugas khusus yang bersifat rahasia dari Ki Lurah itu sendiri. Karena itu, maka Nagageni itu pun berkata “ Bawalah kedua anak itu kemari. Aku ingin melihat mereka. “ “ Baik kakang “ jawab perwira muda itu.
Dengan tergesa-gesa perwira muda itupun telah pergi ke regol. Didapatinya kedua orang yang disebut cucu Ki Lurah itu masih ada diregol. Tetapi ternyata bahwa mereka datang bertiga. Ketiga perwira itu berdiri digerbang barak itu, maka iapun telah bertanya “ Siapakah diantara kalian cucu Ki Lurah Branjangan? “ Teja Prabawa dan Rara Wulan menjawab hampir bersama “ Aku. “ Perwira muda itu mengangguk-angguk. Lalu iapun bertanya pula “ Siapakah yang seorang itu? “ “ Glagah Putih “ jawab Teja Prabawa “ anak Tanah Perdikan ini yang diperintahkan oleh Ki Gede mengikuti aku kemari. “ Glagah Putih mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak berkata apapun juga. Sementara itu perwira muda itupun berkata “ Perintah Senapati, hanya cucu Ki Lurah saja yang diperkenankan memasuki barak ini. “ Glagah Putih memang tersinggung mendengar keterangan perwira muda itu. Apalagi ketika Teja Prabawa berkata “ Jika demikian, biarlah anak itu menunggu aku diluar dinding barak. “ “ Marilah. Silahkan menghadap “ perwira itu mempersilahkan. Teja Prabawapun kemudian telah membimbing adiknya melangkah masuk.
Sementara itu ia berpaling kepada Glagah Putih sambil berkata “ Kau tunggu disini. Sebelum aku keluar, kau tidak boleh pergi. “ Terasa telinga Glagah Putih menjadi panas. Memang sulit untuk memenuhi pesan Agung Sedayu. Bahkan Glagah Putih itu telah bergeremang didalam hatinya “ Mungkin kakang Agung Sedayu dapat melakukannya. Tetapi aku merasa sangat berkeberatan mendapat perlakuan seperti ini. “ Karena Glagah Putih tidak segera menjawab, maka Teja Prabawa telah membentak “ Kau dengar perintahku he? - Dengan susah payah Glagah Putih menahan gejolak didalam dadanya. Dengan suara bergetar ia menjawab “ Baiklah Raden. “ Teja Prabawa memandanginya sejenak. Namun kemudian bersama adik perempuannya ia memasuki pintu gerbang barak Pasukan Khusus, mengikuti perwira muda yang akan membawa mereka menghadap pimpinan barak itu.
Perwira muda yang lain, yang mula-mula akan melaporkan kehadiran kedua cucu Ki Lurah itu memandang dari kejauhan. Ia sempat tersenyum sendiri melihat tingkah laku adik Senapati yang memimpin Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan itu. Demikianlah, maka kedua cucu Ki Lurah telah dibawa menghadap Senapati yang memimpin barak Pasukan Khusus itu. Setelah berbicara beberapa patah kata, serta beberapa pertanyaan Senapati itu sudah dijawab, maka Senapati yang mempunyai pengenalan yang tajam itupun segera mengetahui bahwa kedua orang itu memang tidak berbahaya sama sekali. Bahkan ada kesan bahwa keduanya adalah anak-anak muda yang manja, yang tidak banyak mengetahui lingkungan diluar dinding rumahnya. Namun akhirnya Senapati itu bertanya “ Maaf anak-anak muda, yang kalian katakan selalu kakek kalian, Ki Lurah Branjangan. Bolehkah aku mengetahui, siapakah ayah kalian? “
“ Ayahku adalah seorang pejabat di istana Panembahan Senapati. Sedang kakekku, ayah dari ayahku adalah seorang Tumenggung “ jawab Teja Prabawa. “ O, jadi kakekmu yang satu lagi dari aliran darah ayahmu adalah seorang Tumenggung? “ bertanya Senapati itu. “ Satu jabatan yang tinggi “ berkata Senapati itu selanjutnya. “ Ya. “ Jawab Teja Prabawa “ Tumenggung memang kedudukan yang tinggi. Tetapi kakekku dari jalur ibuku, meskipun hanya berpangkat Lurah, tetapi kakek agak lebih dekat dengan Panembahan Senapati itu sendiri daripada orang lain yang meskipun telah tinggi pangkatnya. “ “ Ya, aku tahu. Disaat-saat Mataram bangkit berdiri, kakekmu itu telah ikut bekerja keras membuka Alas Man-taok. Itulah sebabnya kakekmu merupakan orang yang sangat dekat dengan Panembahan Senapati itu sendiri.
Demikian pula saat-saat Pasukan Khusus ini dibentuk “ berkata Senapati itu pula. Raden Teja Prabawa mengangguk-angguk. Ia ikut berbangga, bahwa Senapati itu mengakui peranan kakeknya pada Pasukan Khusus di barak itu. Dalam pada itu, maka Senapati itupun kemudian telah memerintahkan kepada perwira muda yang kebetulan adalah adiknya itu “ Bawalah keduanya melihat-lihat. Hati-hati, jangan memasuki tempat-tempat yang memang dianggap rahasia. “ “ Baik Senapati “ jawab perwira muda itu, yang kemudian berkata kepada Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan “ Marilah. Kita berjalan-jalan. “ Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan merasa senang bahwa mereka mendapat sambutan yang ramah dari pimpinan barak Pasukan Khusus itu. Sehingga didalam hati Raden Teja Prabawa dan adiknya itu berkata “ Kalau saja anak Tanah Perdikan itu melihat sambutan dari para pemimpin barak itu, maka ia tidak akan dapat menyombongkan diri lagi. “ Demikianlah, maka merekapun kemudian telah menelusuri lorong-lorong yang terdapat di barak Pasukan Khusus itu. Mereka melihat-lihat barak-barak yang dibangun diantara halaman yang ditumbuhi pepohonan yang hijau. Kemudian beberapa sanggar khusus yang dipergunakan untuk latihanlatihan berat. Sementara itu, di bagian tengah dan belakang dari barak itu terdapat lapangan rumput yang meskipun tidak terlalu luas, namun mencukupi untuk mengadakan latihan latihan dalam kelompok-kelompok dengan berbagai macam peralatan. Sementara itu, diluar barak, Glagah Putih dengan jantung yang berdegupan semakin keras justru karena itu menahan diri. Jika ia tidak mengingat pesan kakak sepupunya, maka rasa-rasanya ia tidak akan menyiksa diri menunggu didepan barak itu. Padahal Ki Lurah Branjangan sendiri telah berpesan, agar suatu saat jika perlu ia dapat berbuat sesuatu untuk sedikit memberikan pengalaman bagi kedua cucunya itu. Dalam pada itu, prajurit yang bertugas, yang kebetulan telah mengenalnya itu telah bertanya kepadanya “ Kenapa kau hanya menunggu diluar? Sikapnya tidak menyenangkan meskipun keduanya adalah cucu Ki Lurah Branjangan. “ Agaknya Ki Lurah juga tidak menyukai sikapnya itu. Itulah sebabnya ia telah membawa kedua cucunya itu kemari, agar mereka mendapatkan satu pengalaman baru dalam hidupnya “ berkata Glagah Putih. “ Bawa saja mereka masuk ke dalam hutan “ berkata prajurit itu “ bawalah mereka ke tempat yang banyak terdapat binatang buasnya, biar mereka tahu, siapa sebenarnya mereka itu. “ Rasa-rasanya akupun ingin berbuat demikian “ jawab Glagah Putih “ tetapi kakang Agung Sedayu terlalu sabar. Ia berpesan kepadaku, agar aku tetap berlaku baik sebagai tuan rumah. “ Prajurit itu tertawa. Katanya “ Agung Sedayu memang orang aneh. Tetapi siapa yang dapat berlaku sebagaimana kakak sepupumu itu? “ Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan menahan gejolak didalam dirinya, Glagah Putih itupun kemudian menjatuhkan dirinya dan duduk bersandar dinding dekat kawannya yang bertugas. “ He, jangan duduk disitu “ berkata kawannya yang bertugas “ kau akan diusir. Duduklah agak kesana. Jangan terlalu dekat dengan dinding. “ Kau akan mengusir aku? “ bertanya Glagah Putih. “ Bukan aku, tetapi kawanku ini “ jawab prajurit itu sambil berpaling kepada kawannya yang berdiri di sisi lain dari pintu gerbang itu. Tetapi kawannya itupun hanya tersenyum saja tanpa menjawabnya. Glagah Putih yang sudah terlanjur duduk itu tidak segera bangkit. Tetapi ia menjawab “ Aku mempunyai tugas untuk menunggu kedua cucu Ki Lurah Branjangan. “ Kawannyapun kemudian hanya tertawa saja. Sedangkan Glagah Putih tidak lagi menghiraukan apa saja. Bahkan iapun telah memejamkan matanya, seolah-olah ia akan tidur sambil bersandar dinding. Dalam pada itu, Raden Teja Prabawa telah berjalan-jalan mengelilingi barak Pasukan Khusus itu bersama adiknya, diantar oleh seorang perwira muda yang dengan sangat ramah, bahkan agak berlebih-lebihan telah menerangkan berbagai macam bangunan yang ada dibarak itu. Merekapun telah memasuki lapangan berlatih bagi Pasukan Khusus itu, dan bahkan sanggar-sanggar yang dipergunakan untuk melakukan latihan-latihan yang berat.
Ternyata bahwa perwira muda itu, bukan saja ingin menunjukkan berbagai macam kelengkapan yang ada di barak itu sebagai alasan untuk dapat berjalan-jalan lebih lama dengan Rara Wulan, namun iapun telah berusaha untuk menunjukkan kelebihannya dalam olah kanuragan. Karena itu, maka ketika mereka berada disanggar yang cukup besar yang terdapat disalah satu sudut halaman barak itu, perwira itu berkata “ Marilah. Kita dapat mempergunakan segala peralatan ini untuk bermain-main. Aku kira kita juga mendapat kesempatan untuk melakukannya “ lalu iapun bertanya kepada Raden Teja Prabawa “ Marilah. Sekali-sekali kita berlatih bersama? “ Keringat dingin telah membasahi punggung Teja Prabawa. Ia bukan seorang yang memiliki ilmu yang cukup baik. Meskipun ia juga berlatih olah kanuragan, namun melihat peralatan yang ada di barak itu, ia menjadi gelisah, bahwa ilmu yang dimilikinya itu tidak berarti sama sekali dihadapan seorang perwira muda Pasukan Khusus yang terkenal itu. Seandainya yang ada di barak itu adalah Glagah Putih, maka ia akan dengan bangga menunjukkan kemampuannya. Karena Teja Prabawa tidak segera menyahut, maka perwira muda itu mendesaknya “ Marilah. Kita hanya sekedar bermain-main. “ Tetapi Raden Teja Prabawa itu menggeleng. Katanya “ Aku masih terlalu letih. Silahkan, barangkali aku perlu melihat tingkat kemampuan para perwira di barak ini. “ Perwira muda itu termangu-mangu sejenak. Namun keinginannya untuk menunjukkan kemampuannya tidak dapat ditahankannya. Karena itu, maka iapun kemudian berkata “ Baiklah. Aku akan bermain-main sendiri. Tetapi kalian jangan mentertawakannya. Ilmuku masih terlalu dangkal. “ “ Jangan terlalu merendah “ berkata Raden Teja Prabawa.
Perwira itupun kemudian telah bersiap. Iapun mengangguk kepada kedua cucu Ki Lurah itu berganti-ganti. Kemudian ia mulai membuka langkah sambil menggerakkan tangannya perlahan-lahan mengembang dan terangkat semakin tinggi, sehingga kemudian kedua telapak tangan-nyapun telah terkatup sambil bergerak turun perlahan-lahan. Dimuka dadanya kedua tangan itu telah terurai lagi. Satu tangan kemudian telah mengepal, sementara tangan yang lain tetap terbuka dengan jari-jari yang merapat. Kemudian dengan satu hentakkan, tangan yang mengepal itu memukul kedepan, sementara sebelah kakinya telah melangkah setengah langkah sambil menekuk lututnya, sedangkan tangannya yang lain ditariknya disamping lambungnya. Baru kemudian, perwira itu mulai dengan melepaskan beberapa unsur gerak dari ilmunya. Semakin lama semakin cepat, sehingga akhirnya, perwira itu tidak lagi nampak ujudnya dimata kedua cucu Ki Lurah. Perwira muda itu telah berubah bagaikan bayangan yang berterbangan, bahkan seolah-olah tidak lagi menjejak tanah. Sekali bahkan perwira muda itu telah melenting dan hinggap pada patok-patok yang dibuat dari batang pohon kelapa yang utuh dengan tinggi yang tidak sama.
Kaki perwira itu seolah-olah mampu melekat pada tempat yang disentuhnya. Raden Teja Prabawa memang menjadi sangat heran melihat kemampuan perwira muda itu. Untunglah bahwa ia tidak bersedia untuk mengadakan latihan bersama, karena ilmu mereka memang tidak seimbang. Rara Wulan yang serba sedikit juga mempelajari ilmu kanuragan benar-benar telah dicengkam oleh keheranan melihat ketangkasan perwira muda itu. Rasa-rasanya ia memang belum pernah melihat kemampuan seseorang yang demikian tinggi. Ia pernah mendengar betapa kakeknya, Ki Lurah Branjangan memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi kedua cucunya itu belum pernah mendapat kesempatan untuk melihatnya.
Karena itu, maka anak muda itu menyaksikan unsur-unsur gerak perwira muda itu dengan mata yang bagaikan tidak berkedip. Beberapa saat kemudian, gerak itupun semakin susut pula. Perwira muda itu telah meloncat dari patok-patok batang kelapa dan bergerak dengan tangkasnya dilantai sanggar. Namun kemudian, ia telah sampai pada akhir permainannya. Perwira muda itu telah berdiri tegak. Tangannya mulai bergerak perlahan-lahan. Terangkat dan kemudian mengatup didepan dadanya kemudian perlahan-lahan turun dan dengan lemah tergantung disisi tubuhnya seakan-akan kedua tangannya itu telah terlepas dari penguasaannya.
Ketika perwira muda itu kemudian mengangguk hormat, maka kedua cucu Ki Lurah itu telah bertepuk tangan. Mereka benar-benar merasa kagum melihat ilmu kanuragan yang sangat tinggi dari perwira muda itu. “ Luar biasa “ desis Rara Wulan diluar sadarnya. Perwira muda itu mengangguk hormat sambil berkata “ Memang tidak begitu berarti. “ Tetapi Teja Prabawa menyahut “ Aku belum pernah menyaksikan tingkat ilmu setinggi itu. “ “ Tentu ilmu kanuraganmu jauh lebih tinggi dari ilmuku itu “ sahut perwira muda itu. Raden Teja Prabawa memang ragu-ragu untuk mengaku. Tetapi Rara Wulanlah yang menjawab “ memang, ilmunya tidak setinggi ilmu Ki Sanak. “ “ Ah, kau terlalu merendahkan diri “ jawab perwira muda itu. “ Tidak “ jawab Teja Prabawa. Ia tidak dapat berbuat lain kecuali mengucapkan pengakuan “ Untung aku tidak bersedia berlatih bersamamu. Jika demikian, maka kau akan mengetahui betapa rendahnya ilmu kanuraganku. “ “ Jangan memuji. Ilmuku belum seberapa dibanding dengan ilmu Senapati yang sekarang memimpin Pasukan Khusus ini. “ berkata perwira itu. “ Aku percaya. Inilah gambaran dari pasukan yang ada di tanah Perdikan Menoreh ini, yang dahulu pernah dibentuk oleh kakek Lurah Branjangan. “ berkata Teja Prabawa. Perwira muda itu mengerutkan keningnya. Katanya kemudian “ Tetapi tingkat kemampuan Pasukan Khusus ini tidak dengan serta merta berada pada tataran sekarang. Setingkat demi setingkat, Pasukan ini telah ditempa sehingga akhirnya Senapati yang sekarang itulah yang telah berhasil meningkatkan kemampuan Pasukan Khusus ini sehingga benar-benar mencapai tataran yang diinginkan.
Kedua cucu Ki Lurah itu hanya mengangguk-angguk saja. Mereka tidak merasa tersinggung karena kakeknya yang dianggap tidak berhasil melakukan tugasnya dengan sempurna, karena kedua cucu Ki Lurah itu memang tidak dapat menggapai penalaran sampai sekian jauh. Raden Teja Prabawa tiba-tiba terkejut ketika perwira muda itu kemudian berkata “ Apakah kau akan bermain-main juga? “ “ Tidak “ jawab Teja Prabawa “ tidak ada yang dapat aku tunjukkan kepadamu. Mungkin setelah aku melatih diri selama lima tahun lagi, baru aku akan berbuat sebagaimana kau lakukan itu. Tetapi perwira itu tertawa. Dengan nada rendah ia berkata “ Kau nampaknya lebih senang merendahkan diri. “ “ Aku berkata sebenarnya “ jawab Teja Prabawa. Rara Wulanlah yang segera menyahut “ Kakang Teja Prabawa mengatakan yang sebenarnya. Kami kagum melihat kemampuanmu yang berada diluar jangkauan nalarku. “ Perwira itu tertawa semakin keras. Lalu katanya “ Baiklah. Jika kalian tidak ingin bermain-main di sanggar ini, marilah, kita akan melanjutkan langkah kita melihat-lihat barak ini.
Namun agaknya kita sudah mengelilingi seluruh bagian dari barak ini. “ Mereka bertigapun kemudian telah melangkah keluar dari sanggar. Beberapa orang prajurit muda yang sedang tidak bertugas telah memandangi kecantikan Rara Wulan dengan tatapan mata yang hampir tidak berkedip. Namun dalam pada itu, perwira muda, adik Senapati dari Pasukan Khusus itu tiba-tiba telah membentak mereka “ He, apa yang kau lihat? Pergi. Apakah kau tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali termangu-mangu seperti itu? “ Para prajurit itupun kemudian telah dengan tergesa-gesa melangkah tercerai berai. Namun seorang perwira yang lebih tua dari adik Senapati itu justru telah datang mendekat sambil bertanya “ Kenapa kau berteriak-teriak? “ Mereka tidak tahu adat. Aku mengantarkan dua orang cucu Ki Lurah Branj angan yang ingin melihat-lihat barak ini, tetapi mereka menganggap keduanya seperti tontonan.
Seolah-olah mereka tidak pernah melihat orang dari Kotaraja. “ jawab perwira muda itu. Perwira yang lebih tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun mengangguk hormat kepada kedua cucu Ki Lurah Branjangan itu sambil berkata “ Maaf anak-anak muda. Aku tidak tahu sebelumnya. “ Kedua cucu Ki Lurah itupun mengangguk hormat pula. Teja Prabawa itupun bertanya kepada perwira yang lebih tua itu “ Ki Sanak juga anggota Pasukan Khusus? “ “ Ya “ jawab perwira itu “ aku telah berada disini sejak pasukan ini disusun. Perwira muda yang membawamu berkeliling itu termasuk orang baru disini. Ia dipindahkan kemari beberapa bulan yang lalu. Tetapi aku adalah orang yang telah berada disini sejak Ki Lurah memimpin Pasukan Khusus ini. “
Kedua cucu Ki Lurah itu mengangguk-angguk. Nampaknya perwira itupun menarik perhatian mereka. Sementara perwira itupun berkata labih lanjut “ Ki Lurah adalah salah seorang perwira yang luar biasa. Jarang ada Senapati yang memiliki kemampuan sebagaimana Ki Lurah. Tetapi agaknya Ki Lurah sudah tua sekarang ini. “ “ Kakek ada disini. Di Tanah Perdikan ini. “ berkata Teja Prabawa. “ O, dimana? Apakah Ki Lurah ada di barak ini sekarang? “ bertanya perwira itu. “ Tidak. Kakek ada di rumah Ki Gede. “ jawab Teja Prabawa. “ Jadi kalian datang ke barak ini berdua saja? “ bertanya perwira itu. “ Tidak. Kami telah diantar oleh anak padukuhan induk “ jawab Teja Prabawa.
“ Siapa? bertanya perwira itu. “ Glagah Putih “ jawab Teja Prabawa “ anak muda yang nampaknya sangat dungu tetapi sombong. “ Glagah Putih? Maksudmu Glagah Putih sepupu Agung Sedayu? “ bertanya perwira itu. Teja Prabawa termangu-mangu. Namun jawabnya “ Mungkin. Di rumah Ki Gede memang ada orang yang bernama Agung Sedayu, yang nampaknya sudah kenal baik dengan kakek. “ “ Tentu “ jawab perwira itu “ Agung Sedayu adalah salah seorang dari antara para pelatih di barak ini. Agung Sedayu adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Sedangkan Glagah Putih itu adalah sepupunya. Iapun seorang yang berilmu tinggi pula. “ Teja Prabawa termangu-mangu. Namun perwira muda itupun kemudian berkata “ Sudahlah. Kita akan menemui kakang Senapati. “ Perwira yang lebih tua itu mengerutkan keningnya. Perwira muda itu merasa bahwa dirinya adalah saudara pimpinan tertinggi di barak itu, sehingga sikapnyapun kadang-kadang menjadi agak berlebih-lebihan.
Perwira tua itu tidak berkata apapun lagi. Sementara itu kedua cucu Ki Lurah itu telah minta diri dan melangkah bersama dengan perwira muda itu menuju ke barak khusus pimpinan tertinggi barak Pasukan Khusus itu. “ Orang tua itu memang sering membual “ berkata perwira muda itu “ apakah kau percaya bahwa Glagah Putih yang mengantarkanmu itu berilmu tinggi? “ Teja Prabawa tertawa. Katanya “ Ia anak dungu. Yang diketahui tidak lebih dari membajak disawah dan mengotori dirinya dengan lumpur. “ Perwira muda itupun tertawa pula. Lalu katanya “ Kalian tidak perlu kembali bersama mereka. Aku akan mengantarkah kalian sampai ke padukuhan induk. “ “ Lalu, bagaimana dengan anak itu? “ bertanya Teja Prabawa. “ Biarlah seorang prajurit memerintahkannya pergi. “ berkata perwira itu. Teja Prabawa mengangguk-angguk.
Katanya. Baik lah. Aku juga menjadi muak melihatnya. Demikian mereka mendekati barak khusus bagi pim pinan barak itu, maka perwira muda itu memang telah memerintahkan seorang prajurit yang bertugas untuk menemui Glagah Putih diluar barak. Namun adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba saja Hara Wulan bertanya “ Tetapi bukankah kita berangkat bersama anak itu? Kakek dan Ki Gede mempercayakan kita kepadanya. Wajah perwira muda itu menegang sejenak. Namun kemudian katanya “ Tentu tidak apa-apa. Kecuali jika kalian nanti pulang hanya berdua. Kasihan anak itu, karena ia akan dimarahi oleh Ki Lurah Branjangan dan Ki Gede. Tetapi jika kalian kembali bersamaku, maka mereka tentu tidak akan marah karena mereka tentu lebih percaya kepada seorang perwira dari Pasukan Khusus ini daripada seorang anak padukuhan. Rara Wulan termangu-mangu sejenak.
Namun perwira itu bertanya lagi “ Kau jangan terpengaruh oleh bualan orang tua itu. Coba renungkan, apakah masuk akal bahwa Agung Sedayu, anak Tanah Perdikan ini menjadi salah seorang pelatih dari Pasukan Khusus ini. Bukankah bualannya itu telah merendahkan martabat Ki Lurah Branjangan? “ Ya “ sahut Teja Prabawa “ biarlah anak itu pergi. Rara Wulan tidak bertanya lagi. Fa memang tidak dapat berbuat banyak selain mengikuti saja perintah kakaknya. Demikianlah mereka menghadap Senapati Pasukan Khusus itu untuk menyatakan terima kasih kedua cucu Ki Lurah itu yang telah mendapat kesempatan untuk melihat-lihat barak Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan. “ Kami kira, kami sudah merasa cukup untuk hari ini. Mungkin pada kesempatan lain, kami akan datang berkunjung lagi. “ berkata Teja Prabawa. “ Kapan saja, silahkan datang “ berkata Senapati itu “ salamku buat Ki Lurah Branj angan. Jika sempat, aku juga mempersilahkan Ki Lurah untuk melihat-lihat barak ini yang sudah menjadi semakin berkembang. “ “ Terima kasih “ berkata Teja Prabawa “ kami akan segera mohon diri. “ Sebelum Senapati itu menjawab, maka adiknya telah mendahuluinya “ Aku akan mengantarkannya kembali ke padukuhan induk. “ “ Bukankah ia datang dengan seorang pengantar? “ bertanya Senapati itu.
“ Ya “ Rara Wulanlah yang menyahut. Namun tiba-tiba iapun telah terdiam sambil menundukkan kepalanya. Sementara itu perwira muda itupun berkata “ Pengantar itu sudah aku suruh pulang. Biarlah ia tidak terlalu lama menunggu disini. “ Senapati itu mengangguk-angguk. Lalu katanya “ Tetapi kau harus segera kembali. Tugas-tugasmu tidak boleh kau abaikan. Sementara itu serahkan kelompokmu kepada wakilmu. “ Demikianlah, maka pterwira itu telah memberikan beberapa pesan kepada wakil pemimpin kelompoknya. Dengan tergesagesa ia pun kemudian telah bersiap untuk mengantarkan kedua cucu Ki Lurah itu kembali ke padukuhan induk.
“ Maaf, karena kalian mengunjungi barak prajurit, maka kami tidak memberikan hidangan kepada kalian. Makanan dan minuman yang ada tidak pantas disuguhkan kepada tamutamu yang terhormat, sehingga agaknya justru lebih baik tidak sama sekali, “ berkata perwira muda itu. “ Ah tidak apa “ sahut Teja Prabawa “ sambutan yang ramah ini telah melampaui segala jenis hidangan apapun juga. “ Bertiga merekapun kemudian telah melangkah menuju ke pintu gerbang. Tetapi ketika mereka keluar dari pintu gerbang itu, mereka terkejut. Mereka masih melihat Glagah Putih duduk bersandar dinding dengan mata terpejam. “ He, kenapa anak itu belum pergi? “ bertanya perwira muda itu. “ Ia tertidur sejak tadi. Ketika seorang prajurit membawa perintah kepadanya untuk kembali mendahului kedua cucu Ki Lurah Branjangan, anak itu sudah tidur pulas. “ jawab prajurit yang bertugas.
“ Kenapa kau biarkan ia bersandar dinding? Bukankah tidak ada orang yang boleh berkeliaran didekat dinding barak ini? “ bertanya perwira itu. “ Bukankah ia datang untuk mengantarkan kedua cucu Ki Lurah Branjangan? “ prajurit itu ganti bertanya. “ Baiklah. Biarlah ia tidur. Jangan kau bangunkan. Kedua cucu Ki Lurah itu akan aku antarkan pulang, “ berkata perwira itu. Namun Rara Wulan tiba-tiba saja berkata “ Tetapi kasihan anak itu. Jika ia tidak segera terbangun, maka ia akan kehilangan banyak waktu dengan sia-sia. “ Teja Prabawa berpaling kepada adiknya sambil mengerutkan dahinya. Namun iapun kemudian berkata “ Sudahlah. Apa peduli kita dengan anak itu. Marilah. “ Rara Wulan tidak membantah. Merekapun segera melangkah meninggalkan pintu gerbang barak itu menuju ke padukuhan induk. “ Namun demikian mereka bertiga pergi, maka Glagah Putihpun menggeliat sambil tersenyum “ Terima kasih. Kau mampu bermain baik sekali. “ “ Anak setan “ geram prajurit itu “ pergilah. “ Glagah Putih tertawa. Katanya “ Kau sudah kejangkitan penyakit anak Kotaraja itu? “ Prajurit itupun tertawa, sementara kawannya ber-tugaspun tertawa pula. Glagah Putih yang telah bangkit berdiri pun telah melangkah pula sambil berkata “ Aku minta diri. Dengan cara yang lebih baikpun kalian tidak akan memberi bekal apapun. “
“ Awas. Aku bertugas disini. Aku berhak melemparkan tombak kepunggungmu “ geram prajurit itu. Glagah Putih tertawa. Sambil melambaikan tangannya ia menjawab “ Lihat. Tombakmu tumpul. “ Prajurit itu tidak menjawab. Tetapi iapun tertawa pula. Demikian pula kawannya bertugas. Ketika Glagah Putih menjadi semakin jauh kawannya itu berkata “ Anak yang sabar. “ “ Ia telah memaksa diri. Kakak sepupunyalah yang mengajarinya berlaku demikian. Kakak-kakak kita pernah mengalami latihan-latihan yang diberikan oleh Agung Sedayu di barak ini. “ “ Aku juga pernah mengalami “ jawab kawannya. Prajurit itu mengerutkan keningnya. Katanya “ Ya. Kau datang lebih dahulu dari aku. “ Dalam pada itu, Teja Prabawa dan Rara Wulan yang diantar oleh perwira muda dari Pasukan Khusus itu telah melintasi bulak dan menuju ke pinggir hutan. Ada keinginan Teja Prabawa untuk mengajak mereka berjalan lewat jalan lain.
Tetapi rasa-rasanya memang agak segan. Perwira itu akan dapat menganggapnya sebagai seorang penakut. Beberapa saat kemudian, mereka memang telah sampai ke jalan sempit di pinggir hutan. Jalan yang mereka lalui ketika mereka berangkat menuju ke barak Pasukan Khusus itu. Memang terasa tengkuk kedua cucu Ki Lurah itu meremang. Namun perwira muda itu memang nampak sangat meyakinkan. Ia berjalan dipaling depan, dengan pedang panjang tergantung dilambung. Ketika jalan itu menjadi lekat dengan hutan, maka tiba-tiba saja mereka bertiga terkejut. Dari gerumbul perdu dipinggir hutan itu, tiba-tiba dua ekor binatang sebesar ku-cing yang gemuk bulat berloncatan kejar-mengejar. “ He “ Rara Wulan terpekik. Namun kemudian katanya “ Lucu sekali. Seperti kucing, tetapi tentu bukan kucing. Atau barangkali kucing raksasa. “ “ Anak harimau “ berkata perwira itu. “ Anak harimau “ ulang Teja Prabawa. “ Ya “ wajah perwira itu memang menjadi tegang. Namun Rara Wulan berkata “ Tolong. Tangkap kakang. Kita bawa kembali dan kita pelihara. Jika kita pelihara sejak kecil, maka harimau itu tentu tidak akan menjadi buas. “ Wajah Teja Prabawa menjadi tegang pula. Dipandanginya perwira muda itu sambil bertanya “ Apakah kita dapat menangkapnya? “ Perwira itu memang menjadi ragu-ragu. Tetapi didorong oleh keinginannya untuk menyenangkan Rara Wulan, maka katanya “ Tangkap sajalah. “ Teja Prabawa masih ragu-ragu pula. Iapun kemudian bertanya “ Bagaimana dengan induknya? “ Perwira itu termangu-mangu sejenak. Tetapi tiba-tiba saja ditengadahkan dadanya sambil meraba hulu pedangnya “ Aku akan menyelesaikannya. “ Rara Wulan memang tertarik melihat kedua ekor anak harimau yang lucu itu bekejar-kejaran tanpa menghiraukan orang-orang yang memperhatikannya itu. Sementara itu, Teja Prabawapun telah melangkah mendekati kedua ekor harimau kecil yang kemudian berjemur dipanasnya matahari. Namun tiba-tiba saja mereka bertiga terkejut. Terdengar dari dalam hutan itu suara seekor harimau yang mengaum.
Agaknya induk harimau itu sedang memanggil anak-anaknya yang tidak nampak didekatnya. “ Harimau “ tiba-tiba saja Teja Prabawa dan Rara Wulan menjadi gemetar. Sementara perwira itu menjadi tegang. Dengan serta merta ia telah menarik pedangnya sambil berkata “ Kita memang harus melanjutkan perjalanan. Tetapi jika kau ingin menangkap kedua ekor harimau itu tangkaplah. Aku akan membunuh induknya jika induk harimau itu marah. “
“ Kau berani membunuh harimau itu? “ bertanya Rara Wulan. “ Tentu. Aku adalah seorang perwira dari Pasukan Khusus. “ jawab perwira itu yang dengan tegang memperhatikan gerumbul-gerumbul dipinggir hutan. Ketika tiba-tiba dari sebuah gerumbul muncul sesuatu, maka perwira muda itu segera meloncat dengan tangkasnya sambil mengacukan pedangnya. Namun ternyata yang muncul adalah Glagah Putih. Kau anak dungu “ teriak perwira itu “ hampir saja tubuhmu aku lubangi dengan ujung pedang ini. “ “ Sebenarnya aku tidak akan mendekati kalian “ berkata Glagah Putih “ tetapi kalian telah melakukan sesuatu yang berbahaya. Anak-anak harimau itu akan selalu dibayangi oleh induknya. “ “ Persetan “ geram perwira itu “ aku akan membunuh induk harimau itu “
“ Aku percaya bahwa kau mampu melakukannya. Tetapi jika kau bunuh induk harimau itu, maka harimau-harimau kecil itu akan mati juga. Harimau itu masih terlalu kecil untuk dipisahkan dari induknya. “ jawab Glagah Putih. “ Bukan urusanmu “ bentak perwira itu “ kami dapat memelihara harimau itu dengan baik. “ Glagah Putih menggeleng. Katanya “ Tidak. Tidak semudah itu memelihara anak harimau. Karena itu, lebih baik kalian tidak menangkapnya saja. “
“ Pergi “ bentak Teja Prabawa “ kau selalu mengganggu. “ “ Bukan maksudku. Tetapi justru kalian jangan mengganggu kehidupan binatang hutan ini. Memang ada masanya seseorang pergi berburu. Tetapi tidak membunuh seekor harimau yang sedang menyusui. Pemburu yang paling garangpun tidak akan melakukannya. Apalagi kalian. --sahut Glagah Putih. Wajah perwira muda itu menjadi tegang. Ia tidak dapat membantah kebenaran kata-kata Glagah Putih. Tetapi ia tidak ingin mengecewakan cucu perempuan Ki Lurah Branjangan itu. Selagi perwira muda itu ragu-ragu, maka Rara Wulan-pun tiba-tiba telah berkata “ Baiklah. Aku tidak ingin membawa anak macan itu. Nampaknya induknya akan dapat menjadi marah dan berbahaya, sedangkan tidak sepantasnya harimau yang sedang menyusui itu dibunuh.
Perwira muda itu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia memang lebih suka tidak berkelahi melawan seekor harimau betina yang sedang menyusui. Harimau yang demikian dapat menjadi sangat garang dan berbahaya. Meskipun ia akan mungkin dapat membunuhnya, tetapi ia sendiri tentu akan terluka cukup parah. Dalam pada itu, ternyata aum harimau yang terdengar lagi telah membuat kedua cucu Ki Lurah itu semakin ingin dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Karena itu, maka Teja Prabawapun berkata “ Baiklah. Jika Wulan tidak lagi menghendaki, marilah. Kita lanjutkan perjalanan kita. Aku tidak mau lagi diganggu anak itu. “ Glagah Putih tersenyum. Ia mengerti, bahwa sebenarnya cucu Ki Lurah itu menjadi ketakutan mendengar aum harimau yang terdengar menjadi semakin dekat. Demikianlah, maka ketiga orang itupun dengan tergesagesa telah melanjutkan perjalanan mereka. Mereka melintas jalan dipinggir hutan itu dengan cepat. Seperti semula maka perwira muda itulah yang berjalan dipaling depan. Pedangnya masih saja digenggam ditangannya. Di-belakangnya Teja Prabawa dan Rara Wulan berlari-lari mengikutinya. Ketika terdengar lagi aum harimau dihutan memanggil anak-anaknya, maka ketiga orang itu berjalan semakin cepat.
Mereka menjadi agak tenang ketika mereka telah melintasi jalan yang semakin menjauhi hutan yang mendebarkan itu. Semakin lama semakin jauh sehingga akhirnya memasuki sebuah padang perdu. Rasa-rasanya harimau itu tidak akan mengejar mereka sampai ketempat itu, karena anak-anaknya berada jauh dibelakang mereka. Ketika Rara Wulan sempat berpaling, ia tidak melihat Glagah Putih dibelakang mereka. Gadis itu memang menjadi heran. Rasa-rasanya anak Tanah Perdikan itu sama sekali tidak merasa cemas mendengar suara harimau mengaum dengan dahsyatnya itu. Bahkan anak Tanah Perdikan itu tidak pula meninggalkan tempat itu dengan cepat meskipun ia juga mendengar aum harimau itu. Tetapi Rara Wulan tidak sempat memperhatikan anak pedesaan itu lebih lama. Ia harus berlari-lari mengikuti perwira muda yang berjalan terlalu cepat. Namun semakin mereka jauh dari hutan, maka langkahnyapun menjadi semakin lambat.
Ketika mereka memasuki bulak persawahan maka perwira itu telah menyarungkan pedangnya sambil berkata “ Harimau itu tidak akan sempat sampai ketempat ini. “ Raden Teja Prabawa menarik nafas dalam-dalam. Rasarasanya dadanya telah menjadi lapang. Tengkuknya yang meremang tidak lagi memberatinya. Seakan-akan diteng-kuk itu seekor harimau akan menerkam dan menghunjamkan gigigiginya yang tajam. Namun dalam pada itu, perwira muda itu berkata “ Harimau itu ternyata masih bernasib baik. Nyawanya masih lebih dari hari ini. “
“ Kenapa? “ bertanya Raden Teja Prabawa. “ Jika saja anak padesan Tanah ini tidak mencegahnya, harimau itu tentu sudah dikuliti. “ jawab perwira muda itu. “ Tetapi anak itu benar “ potong Rara Wulan “ jika harimau itu mati, maka anak-anaknyapun akan mati. Anak-anak harimau itu tentu sangat memerlukan kehadiran induknya. Bukan saja untuk menyusuinya, tetapi juga untuk melindunginya. “ Perwira muda itu mengerutkan keningnya. Tetapi iapun mengangguk-angguk sambil berkata “ Ya, Aki? mengerti. “ Demikianlah, maka mereka bertiga telah melintasi beberapa bulak dan padukuhan. Beberapa orang anak muda yang berpapasan dengan mereka merasa heran, bahwa kedua orang anak muda dari Kotaraja itu tidak lagi bersamasama dengan Glagah Putih. Tetapi bersama seorang perwira muda dari Pasukan Khusus menilik pakaiannya.
Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang bertanya. Anak muda dari Kotaraja itu nampaknya tidak begitu ramah, sementara perwira yang mengantarkan mereka berjalan seperti seorang prajurit yang sedang memimpin pasukan. Ternyata bahwa mereka memang memerlukan waktu yang agak lama untuk berjalan sampai ke padukuhan induk. Rara Wulan yang menjadi letih, harus beristirahat beberapa saat di sebuah gubug yang kosong. Sehingga dengan demikian, maka mereka telah melampaui waktunya makan siang.
Tetapi ketika perwira itu menawarkan untuk makan di sebuah kedai, kedua cucu Ki Lurah itu menolak. Baru menjelang sore hari, mereka sampai di padukuhan induk. Kedua cucu Ki Lurah nampak sangat letih. Namun perwira muda itu wajahnya masih saja nampak cerah. Tetapi mereka memang agak terkejut ketika demikian mereka memasuki halaman rumah Ki Gede, mereka melihat Glagah Putih telah duduk di serambi gandok bersama Agung Sedayu dan Ki Lurah Branjangan sendiri.
Mereka bertigapun kemudian telah berdiri dan menyongsong perwira muda yang mengantarkan kedua cucu Ki Lurah itu.
“ Marilah anakmas “ Ki Lurah mempersilahkan perwira muda itu. Perwira muda itu mengangguk hormat. Dengan nada rendah ia berkata “ Maaf Ki Lurah. Aku datang untuk mengantarkan cucu Ki Lurah. “ Kedua cucu Ki Lurah itupun kemudian telah melangkah mendekati kakeknya. Namun Rara Wulan sempat bertanya kepada perwira muda itu “ Kau sudah mengenal kakek? “ “ Ki Lurah pernah datang ke barak. Tidak hanya sekali. “ berkata perwira itu. “ tetapi mungkin Ki Lurah belum mengenal aku. “
“ Marilah. Duduklah “ Ki Lurah mempersilahkan. “ Aku menjadi pengganti tuan rumah yang sedang beristirahat didalam. “ Perwira muda itupun kemudian telah duduk di serambi itu pula bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih. Kedua cucu Ki Lurah itupun telah ikut pula duduk bersama mereka meskipun dengan perasaan agak segan karena disitu hadir pula Glagah Putih. Terutama Raden Teja Prabawa. Tetapi sudah tentu ia tidak dapat minta kepada kakeknya untuk mengusir anak itu. “ Anakmas “ berkata Ki Lurah “ maaf, aku orang tua agaknya memang sudah pikun. Anakmas sudah mengenali aku, tetapi aku tidak dapat mengenali anakmas. Siapakah sebenarnya anakmas? “ “ Aku salah seorang perwira pemimpin kelompok prajurit pada Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan ini “ jawab perwira muda itu. “ O “ Ki Lurah mengangguk-angguk. Lalu “ Nama anakmas? “
“ Namaku Wirastama. Orang memanggilku Nagasura “ jawab perwira muda itu. “ Bagus sekali “ jawab Ki Lurah “ nama anakmas bagus sekali. Gelar anakmas sangat meyakinkan. Sementara gelar Senapati di barak Pasukan Khusus yang sekarang adalah Nagageni. “ “ Aku adalah adiknya “ jawab Wirastama. “ Jadi anakmas dari Senapati yang memimpin barak itu? “ bertanya Ki Lurah. “ Ya Ki Lurah. Adik kandungnya “ jawab Wirastama. “ Itulah agaknya anakmas seakan-akan telah memancarkan cahaya dari ubun-ubunnya. “ berkata Ki Lurah. “ Ah. Ki Lurah itu ada-ada saja “ desis Wirastama. Sementara itu Ki Lurahpun bertanya “ Bagaimana aku memanggil anakmas? Wirastama atau Nagasura? “ “ Panggil saja namaku Ki Lurah. Pada saatnya jika aku telah menghasilkan satu karya keprajuritan yang bernilai tinggi, aku akan mempergunakan sebutanku. “ “ Gelar itu maksud anakmas “ sahut Ki Lurah. “ Jangan disebut sebagai gelar “ desis perwira muda itu. Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya “ Itu memang gelar. “ “ Bukan. Gelar adalah nama yang diberikan oleh atasan kita atau sebutan yang dikurniakan oleh Panembahan Senapati. Sedangkan sebutan itu hanya diberikan oleh kakakku sebagaimana sebutan bagi dirinya sendiri. “ jawab perwira itu. “ Tetapi bukankah kakakmu lebih senang memakai gelarnya daripada namanya sendiri? “ bertanya Ki Lurah. Perwira itu hanya tersenyum saja. Namun dalam pada itu, adalah diluar dugaan jika tiba-tiba saja Raden Teja Prabawa yang ingin mengalihkan pembicaraan telah bertanya kepada kakeknya “ Kakek, seorang perwira yang telah tua berkata bahwa ada banyak pelatih di barak itu pada sat kakek memegang jabatan di barak itu. Apakah itu benar? “ Ki Lurah mengerutkan keningnya.
Dengan ragu-ragu ia menjawab “ Ya. Memang. Kenapa? “ “ Jadi kakek tidak melakukannya sendiri? “ bertanya cucunya. “ Tentu tidak. Meskipun juga memberikan latihan-latihan, tetapi tentu ada orang lain yang membantu. Mungkin dari unsur-unsur yang berbeda dari yang kakek berikan, karena ilmu yang harus dikuasai oleh seorang prajurit itu bermacam-macam. Antara lain ilmu kanuragan secara pribadi. Ilmu perang gelar dan ilmu-ilmu yang lain. Dalam olah senjatapun diperlukan berbagai macam pengetahuan khusus. Ilmu pedang, ilmu tombak dan berbagai macam ilmu yang lain. Senjata bertangkai, senjata dengan hulu pendek, senjata lentur dan lain-lain. “
“ Tetapi kakek “ bertanya Teja Prabawa “ apakah benar bahwa kakek harus minta bantuan anak-anak muda Tanah Perdikan ini untuk melatih para prajurit dari Pasukan Khusus? “ Ki Lurah mengerutkan keningnya pula. Dengan nada tinggi ia bertanya “ Maksudnya? Yang benar adalah, bahwa beberapa orang anak-anak muda Tanah Perdikan ini memang ikut menjadi prajurit dalam Pasukan Khusus. “ “ Jadi bukan anak-anak Tanah Perdikan ini melatih Pasukan Khusus? “ desak Teja Prabawa. Sambil tersenyum Ki Lurah menggeleng. “ Nah, jika demikian perwira tua yang pikun itu tentu berbohong jika mengatakan bahwa Agung Sedayu telah ikut melatih pasukan di barak itu. “ berkata Teja Prabawa selanjutnya. Pernyataan itu benar-benar mengejutkan.
Ki Lurah sama sekali tidak mengira bahwa hal itulah yang dimaksudkan oleh cucunya. Apalagi langsung ditanyakan dihadapan Agung Sedayu sendiri. Namun justru Agung Sedayulah yang menjawab “ Ki Lurah benar, tidak ada anak-anak muda Tanah Perdikan yang menjadi pelatih di barak itu. Apalagi aku. “ Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Ia mengenal Agung Sedayu dengan baik. Ia sudah pasti bahwa Agung Sedayu akan menjawab seperti itu. Tetapi Ki Lurah memang ingin memperkenalkan satu dunia yang lain dari dunia sempit cucucucunya yang seakan-akan hanya dibatasi oleh satu lingkungan kecil halaman rumahnya, sementara ayahnya telah mengajarinya menjadi seorang anak muda yang disegani, ditakuti dan dipatuhi apa saja yang dikatakannya oleh pengawal, pembantu dan pelayanpelayannya di rumahnya. Tetapi kedua cucu-cucunya itu jarang sekali bersentuhan dengan kerasnya kehidupan diluar dinding rumahnya. Karena itu, maka tiba-tiba saja Ki Lurah itu menjawab juga diluar dugaan “ Memang benar anak-anak. Agung Sedayu bukan menjadi pelatih bagi para prajurit di Pasukan Khusus itu, tetapi Agung Sedayu justru menjadi pelatih para pelatihnya. “
“ Ah “ Agung Sedayu justru tertawa. Lalu katanya kepada kedua cucu Ki Lurah “ Kakek kalian memang pandai bergurau. Itulah sebabnya Ki Lurah akan panjang umur. “ Raden Teja Prabawa mengerutkan keningnya.
Ia tidak terbiasa mendengar kelakar seperti itu, sehingga menurut pendapatnya, mereka seakan-akan tidak bersungguh-sungguh menanggapi persoalan yang ditanyakannya. Kakeknya biasanya tidak pula bergurau seperti itu. Meskipun kadangkadang mereka juga bicara tentang beberapa hal yang membuat mereka tertawa, namun tidak berkesan sekedar asal saja melontarkan kata-kata. Karena itu Raden Teja Prabawa yang merasa dipermainkan itu justru terdiam. Bahkan kemudian iapun berkata kepada kakeknya “ Kakek, aku merasa letih, Aku akan beristirahat. “
“ Tunggu “ cegah kakeknya “ bukankah kau mempunyai tamu dari barak Pasukan Khusus. “ “ O “ Raden Teja Prabawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya maaf. Aku hampir lupa. Tetapi perwira muda itu justru berkata “ Sebaiknya kalian memang beristirahat. Aku justru akan mohon diri. Aku harus segera kembali ke barak, sebagaimana pesan Senapati. “ “ Kami mengucapkan terima kasih “ berkata Teja Prabawa. “ Ah. Bukan apa-apa. Besok atau kapan saja aku akan datang kemari. Mungkin kita dapat berjalan-jalan di Tanah Perdikan ini. Menyusuri ujung sampai keujung. “ berkata perwira itu. “ Terima kasih “ sahut Teja Prabawa “ kami akan sangat bergembira atas kesediaan itu. “ Tetapi justru Ki Lurah yang menyahut “ Terima kasih anakmas Wirastama. Tetapi sudah tentu kami tidak ingin merepotkan anakmas. Tugas-tugas anakmas sebagai seorang perwira di Pasukan Khusus itu tentu sudah memerlukan waktu yang banyak. Karena itu anakmas tidak perlu begitu memperhatikan cucu-cucuku. “
“ Ah “ Wirastama tertawa meskipun agak pahit “ aku akan dapat membagi waktuku sebaik-baiknya. Apalagi Senapati tertinggi di barak itu adalah kakakku sendiri. “ “ Ah. Jangan begitu anakmas. Justru anakmas adalah adik kandung pimpinan barak Pasukan Khusus, maka anakmas harus dapat menunjukkan contoh yang terbaik bagi para prajurit yang lain. “ berkata Ki Lurah. Perwira muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata “ Baiklah. Aku minta diri. “
“ Aku mengharap kedatanganmu besok “ berkata Teja Prabawa. Perwira itu menjawab meskipun ragu “ Baiklah. Besok aku akan datang. “ Lalu kepada Rara Wulan ia mengangguk sambil berkata “ Aku minta diri. Rara Wulan mengangguk pula sambil berdesis “ Silah-kan. “ “ Apakah kau tidak mengucapkan terima kasih? “ bertanya kakaknya. Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata “ Terima kasih. “ Perwira muda itu tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian “ Tunggu aku besok. Aku pasti datang. Jangan pergi sebelum aku datang. “ “ Ya. Kami akan menunggu “ jawab Teja Prabawa. Perwira itupun kemudian telah meninggalkan rumah itu. Ia tidak bersedia menunggu dan bertemu dengar. Ki Gede ketika Ki Lurah menanyakan kepadanya. “ Tidak perlu Ki Lurah. Tidak ada kepentingan apapun dengan Ki Gede. Aku hanya mengantar cucu-cucu Ki Lurah saja. “ jawab perwira itu. Sepeninggal perwira itu Teja Prabawa telah berkata kepada kakeknya “ Kek, bagaimanakah jika Wirastama itu kemudian berceritera kepada kakaknya yang menjabat sebagai Senapati di barak itu? “
“ Berceritera tentang apa? “ bertanya Ki Lurah. “ Nampaknya kakek yang berkelakar tentang Agung Sedayu yang pernah melatih para pelatih. Tetapi jika perwira itu mengatakannya kepada Ki Nagageni, Senapati tertinggi di barak itu, ia akan dapat tersinggung “ berkata Teja Prabawa. “ Kenapa orang itu tersinggung? Ia tidak perlu merasa tersinggung. Hal itu terjadi disaat kakek memegang pimpinan di barak itu. Dan kakek tidak pernah merasa tersinggung karenanya. Justru kakek merasa berterimakasih kepada Agung Sedayu, “ Ki Lurah berhenti sejenak, lalu “ Atau kau nampaknya tidak percaya, bahwa Agung Sedayu pernah melatih para pelatih di barak itu. “ “ Tetapi perlu dijelaskan Ki Lurah “ potong Agung Sedayu “ melatih dalam hal apa? Tentu bukan dalam olah kanuragan. “ Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya Agung Sedayu masih saja seperti dikenalnya dahulu. Ia lebih suka berendah hati dan tidak menanggapi sikap-sikap yang agak kasar seperti sikap Teja Prabawa itu.
Namun agak berbeda dengan Agung Sedayu, Glagah Putih rasa-rasanya ingin meloncat dan menampar mulut anak muda itu. Tetapi ia tidak berani melakukannya karena kakak sepupunya telah berpesan kepadanya, agar ia bersikap baik sebagai tuan rumah. Tetapi Teja Prabawa sendiri nampaknya sudah tidak berminat lagi berbicara di serambi itu bersama kakek dan orang-orang padesan sehingga iapun kemudian telah masuk kedalam biliknya digandok rumah Ki Gede yang besar itu. Rara Wulan ternyata menjadi bimbang. Apakah ia akan masuk juga kedalam biliknya atau ikut duduk bersama kakeknya. Namun dari dalam biliknya kakaknya memanggilnya. “ Kek, kakak memanggil “ desis Rara Wulan. Ki Lurah menangguk.
Katanya “ Beristirahatlah “ Rara Wulanpun telah meninggalkan kakeknya dan pergi kedalam biliknya pula. ***
API DI BUKIT MENOREH SERI III
JILID 234
KI LURAH menarik nafas dalam-dalam. “ Biarlah mereka
mengenal kenyataan yang keras dari kehidupan ini.” katanya.
Lalu, “ kalian jangan terlalu berendah hati. Sekali-sekali kalian
menunjukkan kenyataan-kenyataan itu. Jika tidak demikian
maka gagallah usahaku membawa mereka kemari. Terutama
Teja Prabawa. Ayahnya, yang memang seorang
Tumenggung, terlalu memanjakan mereka dan mendidiknya
menjadi seorang bangsawan yang sombong dan keras kepala.
Tetapi keduanya kurang mempunyai kepercayaan kepada diri
sendiri.”
Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Biarlah semuanya
terjadi dengan perlahan-lahan Ki Lurah.”
“ Aku sependapat. Tetapi bukannya tidak sama sekali.”
berkata Ki Lurah.
“ Tanah Perdikan yang keras ini menunjukkan kenyataan
itu.” berkata Agung Sedayu pula.
“ Ya. Namun nampaknya kedua cucuku memang
mengagumi seorang perwira muda dari Pasukan Khusus itu,
yang kebetulan adalah adik dari Nagageni yang baru dalam
beberapa bulan memimpin pasukan di barak itu.” berkata Ki
Lurah.
Agung Sedayu masih saja tersenyum. Katanya, “ Lebih baik
bukan kita yang merusakkan citra perwira muda itu. Biarlah
semuanya berlangsung. Adalah lebih baik jika perwira muda
itu dapat menunjukkan kenyataan-kenyataan,yang keras itu
kepada Teja Prabawa.”
Ki Lurah mengangguk-angguk kecil. Katanya, “ Kita
menunggu saja perkembangannya. Tetapi sebenarnya aku
lebih senang jika angger Glagah Putih yang membawa cucucucuku
berjalan-jalan.”
“ Mereka nampaknya tidak begitu tertarik kepadaku Ki
Lurah.” berkata Glagah Putih, “ mereka telah mengusirku di
barak Pasukan Khusus.”
“ Kau telah kejangkitan penyakit kakak sepupumu.” desis
Ki Lurah.
Agung Sedayu tertawa. Katanya, “ Bukankah kita memang
wajib menjadi tuan yang baik?”
Ki Lurahpun akhirnya tertawa pula. Tetapi ia berkata, “
Bagaimanapun juga aku akan meyakinkan cucu-cucuku.
Kalau perlu aku akan menyuruhnya menantang Glagah Putih
berkelahi. Aku minta Glagah Putih membuat wajahnya sedikit
merah dan panas agar ia menyadari, siapakah sebenarnya
dirinya itu.”
“ Jangan terlalu keras mendidik anak-anak muda Ki Lurah.”
berkata Agung Sedayu, “ aku usulkan agar Ki Lurah tidak
mempergunakan cara itu. Cara yang terbaik adalah
membiarkannya mengalami pada saatnya.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi ia kemudian berkata,
“ Aku tidak terlalu lama disini. Mudah-mudahan akan berarti
bagi kedua cucuku itu.”
Agung Sedayu menyahut, “ Tentu Ki Lurah. Mereka akan
mendapatkan pengalaman yang menarik di Tanah Perdikan
ini.”
Ki Lurahpun kemudian berkata, “ Baiklah. Aku ingin mereka
berceritera pengalaman mereka dihari pertama.”
Demikianlah Agung Sedayu dan Glagah Putihpun telah
mohon diri. Mungkin Ki Lurah akan dapat berbicara dengan
cucu-cucunya tentang keadaan yang telah mereka alami dihari
pertama perkenalan mereka dengan Tanah Perdikan ini.
Dari serambi gandok kedua orang itu masih memasuki
seketheng untuk minta diri kepada Ki Gede yang sedang
beristirahat di ruang dalam. Sementara Ki Lurahpun telah
masuk pula kedalam bilik cucu-cucunya.
Di perjalanan pulang, Glagah Putih dan Agung Sedayu
masih membicarakan kedua cucu Ki Lurah. Seperti yang
pernah dikatakannya, maka sekali lagi Agung Sedayu berkata,
“ Mudah-mudahan perwira muda itu dapat memberikan
kesempatan kepada kedua cucu Ki Lurah itu. Aku harap
kedua cucu Ki Lurah mendapatkan pengalaman seperti yang
dikehendaki oleh kakeknya.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi kata hatinya
memang agak berbeda. Meskipun demikian ia tidak berani
mengatakannya kepada kakak sepupunya itu.
Di gandok rumah Ki Gede, Teja Prabawa memang sempat
pula berceritera tentang perwira muda yang mengagumkan
itu. Teja Prabawa juga berceritera bahwa ia sempat melihat
perwira itu berlatih didalam sanggar.
“ Ilmu yang sangat tinggi yang belum pernah aku saksikan
sebelumnya.” berkata Teja Prabawa.
Ki Lurah hanya mengangguk-angguk saja. Ternyata iapun
tidak sampai hati membuat cucunya itu kecewa. Namun
demikian Ki Lurah masih berharap bahwa dihari-hari
berikutnya, terjadi sesuatu yang berharga bagi kedua cucunya
itu.
Dimalam harinya, ternyata Glagah Putih bahkan telah
merasa terganggu ketenangannya. Rasa-rasanya kedua cucu
Ki Lurah itu telah menimbulkan masalah didalam dirinya.
Justru karena ia harus mengekang diri sebagaimana
dikehendaki oleh Agung Sedayu. Karena kegelisahannya
itulah, maka Glagah Putih telah keluar dari biliknya justru pada
saat pembantu dirumah itu mulai terbangun dan bersiap-siap
untuk pergi ke sungai.
“ Aku hampir membangunkanmu.” berkata pembantu
rumah itu.
“ Kenapa?” bertanya Glagah Putih.
“ Aku kira kau akan malas lagi. Beberapa hari ini aku
mendapat ikan lebih banyak dari biasanya.” berkata anak itu.
“ Bukankah kemarin dulu aku juga turun.” desis Glagah
Putih. Anak itu mengangguk-angguk.
Namun tiba-tiba saja Glagah Putih berkata, “ Tunggu. Aku
akan kerumah Ki Gede.”
“ Untuk apa?” bertanya anak itu.
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Hampir diluar
sadarnya ditengadahkannya wajahnya kelangit. Rasa-rasanya
malam belum terlalu dalam.
“ Kalau saja cucu-cucu Ki Lurah itu belum tidur, mereka
dapat diajak turun ke sungai,” berkata Glagah Putih didalam
dirinya.
Namun ia memang ragu-ragu. Waktunya memang sudah
sampai saat sirep uwong, sehingga kebanyakan orang tentu
sudah tidur, kecuali orang-orang yang bertugas.
Meskipun demikian rasa-rasanya ada sesuatu yang
mendorongnya untuk pergi ke rumah Ki Gede, sehingga
karena itu, maka sekali lagi ia berkata kepada pembantunya
itu, “ Tunggu aku. Kita akan turun bersama-sama.”
“ Tetapi jangan terlalu lama. Kita sudah terlambat membuka
dan menutup kembali pliridan yang pertama malam ini.”
gumam anak itu.
Tetapi Glagah Putih tidak menjawab lagi. Dengan tergesagesa
iapun telah pergi ke rumah Ki Gede. Ia masih saja
berharap bahwa Ki Lurah dan cucu-cucunya masih belum
tidur.
Ketika ia sampai ke regol halaman rumah Ki Gede, anakanak
muda yang bertugas ronda sama sekali tidak heran
melihat kedatangannya. Glagah Putih kadang-kadang
memang begitu saja muncul di gardu-gardu perondan
sebagaimana dilakukan oleh Agung Sedayu beberapa tahun
yang lalu. Namun kini Agung Sedayu sudah jarang sekali
melakukannya setelah ada Glagah Putih yang seakan-akan
menggantikannya.
Glagah Putih yang langsung pergi ke gardu telah bertanya
kepada seorang anak muda yang meronda, “ Apakah Ki Lurah
sudah tidur?”
“ Tentu belum. Baru saja ia berada di pendapa.” jawab
anak muda yang meronda itu.
“ O, sekarang?” bertanya Glagah Putih.
“ Mungkin sudah ada di gandok.” jawab anak muda itu.
Glagah Putihpun kemudian telah berjalan bergegas ke
serambi gandok. Tetapi ternyata pintu bilik Ki Lurah telah
tertutup. Karena itu, maka dengan kecewa Glagah Putih telah
menjatuhkan diri duduk di amben bambu di serambi.
Namun ternyata derit amben itu terdengar oleh Ki Lurah
yang memang belum tidur. Iapun kemudian telah melangkah
kepintu dan membukanya. Ketika ia menjenguk, maka
dilihatnya Glagah Putih ada di serambi gandok.
“ Kau Glagah Putih.” desis Ki Lurah.
“ Ki Lurah belum tidur?” bertanya Glagah Putih sambil
berdiri.
“ Baru saja aku duduk-duduk di pendapa bersama Ki Gede
dan cucu-cucuku.” berkata Ki Lurah, “ sebenarnya cucucucuku
memang ingin melihat suasana malam di Tanah
Perdikan ini.”
Ki Lurah berhenti sejenak. Sambil memandang kearah bilik
cucu-cucunya Ki Lurah berkata perlahan-lahan sambil
tersenyum, “ Tetapi ketika mereka berada di jalan didepan
rumah ini dan melihat suasana yang sangat sepi, maka
keduanya menjadi ketakutan. Meskipun alasannya berbeda,
namun aku tahu hal itu.”
“ Apakah mereka sudah tidur?” bertanya Glagah Putih.
“ Agaknya belum. Tetapi mereka lebih senang berada di
tempat yang terang daripada berada di gelapnya jalan-jalan
pedukuhan. Sedangkan diterangnya lampu minyak, Rara
Wulan tidak berani tidur didalam bilik sendiri. Terpaksa ia
berada didalam biliknya ditungguioleh kakaknya yang juga
tidak berani sendiri. Tetapi bersama adiknyaTeja Prabawa
masih juga menjaga harga dirinya.” jawab Ki Lurah.
“ O” Glagah Putih mengangguk-angguk, “ sebenarnya aku
ingin mengajak mereka berdua atau setidak-tidaknya Raden
Teja Prabawa untuk melihat-lihat daerah ini di malam hari.”
Ki Lurah tersenyum sambil mengangguk-angguk. Katanya,
“ Baiklah. Aku akan mengatakan kepadanya.”
“ Tetapi nampaknya ia tidak begitu senang kepadaku Ki
Lurah. Kalau ia keberatan, jangan dipaksa.” berkata Glagah
Putih.
Ki Lurah tidak menjawab. Namun sambil tertawa ia bangkit
dan melangkah ke bilik kedua cucunya.
Perlahan-lahan Ki Lurah mengetuk pintu bilik itu. Ternyata
cucu-cucunya memang belum tidur. Nampaknya suasana sepi
sangat mencengkam mereka.
Suara ketukan pintu itu membuat Raden Teja Prabawa dan
Rara Wulan menjadi berdebar-debar. Namun kemudian
terdengar suara kakeknya lembut, “ Teja Prabawa, apakah
kau belum tidur?”
“ Kakek diluar?” bertanya Teja Prabawa.
“ Ya.” jawab Ki Lurah.
Raden Teja Prabawapun kemudian telah membuka pintu
biliknya.
“ Ada apa kek?” bertanya cucu Ki Lurah itu.
Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya, “ Apakah kau masih ingin melihat-lihat Tanah
Perdikan ini di malam hari?”
“ Ah.” desah Teja Prabawa.
“ Jika kau masih ingin berjalan-jalan, maka Glagah Putih
siap mengantarkanmu. Ia sekarang ada disini.” berkata Ki
Lurah.
“ Untuk apa ia datang kemari?” bertanya Teja Prabawa.
“ Anak itu terbiasa datang ke gardu-gardu dimalam hari.
Kadang-kadang ke gardu didepan, tetapi pada kesempatan
lain kegardu di padukuhan sebelah. Kemudian di gardu yang
lain lagi. Malam ini ia datang kemari.” berkata Ki Lurah. Lalu, “
Marilah. Temui anak itu. Aku sudah terlanjur berkata bahwa
kau ingin melihat-lihat Tanah Perdikan ini di malam hari.”
“ Aku tidak senang pada anak itu.” berkata Teja Prabawa, “
terlalu sombong dan tinggi hati. Seharusnya ia menyadari
bahwa ia tidak lebih dari anak padukuhan yang bodoh dan
dungu. Bagaimana mungkin ia dapat menyamai seorang
perwira muda dari Pasukan Khusus.”
“ Tetapi justru karena itu, maka ia akan dapat menjadi
seorang pengantar yang baik. Agak berbeda dengan perwira
dari Pasukan Khusus. Kau benar-benar harus tunduk kepada
kehendaknya.” berkata Ki Lurah.
“ Sudah larut malam kakek.” akhirnya Teja Prabawa
memotong.
“ Marilah. Temui anak itu. Kau dapat berbicara dengannya.”
ajak Ki Lurah.
Teja Prabawa masih saja termangu-mangu. Ki Lurah yang
tidak sabar lagi telah menarik tangannya sambil berkata, “
Marilah.”
Anak muda itu tidak dapat membantah. Namun Rara
Wulanlah yang memanggil, “ Kakek. Jangan tinggal aku
sendiri.”
“ Marilah ikut ke serambi.” ajak Ki Lurah.
Rara Wulanpun telah berlari-lari pula mengikuti kakek dan
kakaknya keserambi.
Glagah Putih bangkit berdiri ketika Ki Lurah kemudian
datang bersama Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan.
Bahkan kemudian ia telah mengangguk hormat.
“ Duduklah.” berkata Ki Lurah. Lalu katanya kepada Teja
Prabawa, “ Nah, pergilah melihat-lihat suasana malam disini.
Jangan takut. Disini cukup aman. Kau tidak akan bertemu
dengan perampok atau penyamun atau penjahat lainnya.”
“ Kakek, apakah aku pernah mengatakan bahwa aku
takut?” bertanya Teja Prabawa.
Ki Lurah mengerutkan keningnya. Namun iapun menarik
nafas sambil berkata, “ Ya. Kau memang tidak pernah
mengenal takut. Karena itu, pergilah.”
Ki Lurah berhenti sejenak. Lalu iapun berkata kepada
Glagah Putih, “ sebenarnya kau akan pergi kemana.”
“ Aku akan pergi ke sungai Ki Lurah.” jawab Glagah Putih.
“ Untuk apa malam-malam begini pergi ke sungai?”
bertanya Ki Lurah.
“ Aku mempunyai pliridan di sungai. Sore tadi aku telah
membuka pliridan itu. Pada saat-saat menjelang tengah
malam, pliridan itu dapat ditutup untuk pertama kalinya.
Memang ada yang hanya menutup satu kali menjelang dini
hari. Tetapi dapat dilakukan dua kali. Jika kebetulan banyak
ikan yang berkeliaran maka menutup pliridan dua kali lebih
menguntungkan. Namun biasanya kita malas melakukannya,
sehingga hanya dilakukan sekali saja di dini hari.” jawab
Glagah Putih.
“ Menarik sekali.” Rara Wulanlah yang menyahut, “ apakah
aku boleh ikut?”
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Dengan nada
rendah ia menjawab, “ Tetapi kita akan menuruni tebing. Jalan
memang agak rumpil. Bagaimana jika Rara besok siang saja
melihat pliridan itu.”
“ Tetapi bukankah saat menangkap ikan malam-malam
begini?” bertanya Rara Wulan.
“ Ya.” jawab Glagah Putih.
“ Nah, lebih baik aku ikut sekarang.” berkata Rara Wulan.
“ Aku sudah mengantuk.” berkata Teja Prabawa, “ besok
saja kita pergi bersama perwira itu.”
“ Besok kita juga pergi.” jawab Rara Wulan, “ tetapi tentu
tidak memungut ikan seperti malam ini. Besok kita pergi ke
belumbang itu.”
“ Aku tidak mau.” berkata Teja Prabawa.
“ Kakek, aku akan pergi sendiri.” berkata Rara Wulan
kemudian.
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun
kemudian berkata kepada cucunya, “ Pergilah. Antarkan
adikmu yang ingin melihat cara memunguti ikan dari pliridan.
Dimasa remaja aku juga sering melakukannya.”
Teja Prabawa tidak dapat membantah lagi, Ia tidak mau
dikatakan ketakutan memasuki gelapnya malam dan turun
tebing sungai yang rumpil. Apalagi takut bertemu dengan
perampok atau penyamun. Karena itu, maka katanya
kemudian, “ Baiklah. Aku membenahi pakaianku dahulu.”
Glagah Putih masih harus menunggu sejenak. Ternyata
justru Rara Wulan yang tidak mau dicegah. Bukan saja oleh
Glagah Putih, tetapi juga oleh kakeknya. Seperti kakaknya,
maka Rara Wulanpun telah membenahi pakaiannya pula.
Sejenak kemudian maka merekapun telah bersiap.
Betapapun segannya, Teja Prabawa terpaksa ikut bersama
Glagah Putih keluar regol halaman rumah Ki Gede untuk
menuju ke sungai. Tetapi Glagah Putih masih akan singgah
dahulu kerumah untuk mengajak pembantu rumahnya bersama-
sama membuka pliridan.
Ternyata pembantu rumahnya hampir tidak sabar lagi.
Ketika Glagah Putih mengajaknya, maka iapun telah
bergeremang panjang lebar.
“ Aku membawa dua orang kawan.” berkata Glagah Putih,
“ dua orang kawan dari Kotaraja yang tidak terbiasa berjalan
digelapnya malam. Ketika mereka berjalan dari rumah Ki
Gede sampai kemari, ternyata mereka telah mengalami
kesulitan, padahal diregol-regol halaman rumah pada
umumnya terdapat obor atau lampu minyak atau obor biji
jarak.”
“ Buat apa kau bawa mereka?” bertanya pembantunya, “
bukankah hanya merepotkan kita saja?”
“ Mereka ingin tahu, cara membuka pliridan” jawab Glagah
Putih.
Keduanyapun kemudian telah menuju ke halaman depan
sambil membawa alat-alat yang diperlukan, terutama cangkul
dan kepis.
“ Kenapa kau terlalu lama.” bentak Raden Teja Prabawa.
“ Kami mengambil alat-alat dibelakang, Raden.” jawab
Glagah Putih.
“ Kita akan berjalan kemana?” bertanya Raden Teja
Prabawa.
“ Ke Sungai.” jawab Glagah Putih.
“ Maksudku, ke Barat, ke Timur atau ke Utara.” geram
Raden Teja Prabawa.
“ O” Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. “ Kita akan
berjalan ke Barat. Menyusuri jalan induk, kemu-dian keluar ke
bulak persawahan. Kita akan berjalan terus, mengambil jalan
pintas dan kemudian mengikuti pematang sawah sampai
ketebing.”
“ Kita tidak menelusuri jalan induk Tanah Perdikanmu?”
bertanya Raden Teja Prabawa, “ Bukankah lewat jalan induk
kita akan sampai juga ke sungai seperti kau katakan
kemarin?”
“ Tetapi pliridan kami terletak agak jauh dari jalan ini.”
jawab Glagah Putih.
Raden Teja Prabawa termangu-mangu. Namun kemudian
Glagah Putih berkata, “ Kita membawa obor meskipun tidak
terlalu besar. Kita akan membawa obor biji jarak kepyar
kering. Kami mempunyai beberapa.”
“ Kau kira aku takut gelap?” bertanya Teja Prabawa marah.
Namun Rara Wulanlah yang menyahut, “ Biarlah mereka
membawa obor, kakang. Barangkali lebih baik berjalan dalam
cahaya obor daripada gelap sama sekali.”
Glagah Putihpun kemudian telah mengambil beberapa
batang obor biji jarak kepyar yang dirangkai dengan rautan
bambu. Setiap tiga rangkai telah diikat menjadi satu, sehingga
obor biji jarak itu menjadi cukup terang untuk berjalan dimalam
hari. Beberapa saat kemudian, maka dengan batu thithikan dan
empat batang aren Glagah Putih telah membuat api, yang
kemudian dinyalakan pada dimik-dimik belerang untuk
menyalakan obor itu.
“ Siapa anak itu?” bertanya Raden Teja Prabawa ketika
dilihatnya pembantu rumah Agung Sedayu itu bersama
mereka.
“ Pembantu rumah kakang Agung Sedayu. Aku memang
terbiasa pergi bersamanya.” jawab Glagah Putih.
Raden Teja Prabawa tidak bertanya lagi tentang anak itu.
Tetapi iapun kemudian berkata kepada Glagah Putih. “ Kau
yang membawa obor berjalan didepan.”
“ Baik Raden.” jawab Glagah Putih.
Namun ketika pembantu rumahnya akan mengikuti pula
berjalan didepan. Raden Teja Prabawa menarik pundaknya
sambil membentak, “ Siapa yang memerintahkanmu berjalan
didepan? Kau berjalan dibelakangku.”
Anak itu terkejut. Ia tidak biasa diperlakukan begitu kasar.
Tetapi anak itu diam saja, karena menurut Glagah Putih kedua
orang itu adalah anak muda dari Kotaraja. Apalagi ketika
kemudian Glagah Putihpun berkata, “ Kau berjalan
dibelakang.”
Demikianlah, maka iring-iringan itu lewat jalan induk
menuju ke gerbang untuk keluar melintasi bulak. Digardu,
dimulut jalan beberapa orang anak muda yang meronda
memang agak heran melihat Glagah Putih berjalan sambil
membawa obor. Ia tidak terbiasa berbuat demikian. Namun
ketika mereka melihat kedua cucu Ki Lurah yang berada
dirumah Ki Gede, maka merekapun mengerti, bahwa
keduanyalah yang memerlukan obor. Tetapi agaknya mereka
tidak mau membawa sendiri, sehingga Glagah Putihlah yang
harus membawanya.
Anak-anak muda digardu itu sempat juga menyapa Glagah
Putih. Namun mereka tidak berminat untuk berbicara dengan
kedua cucu Ki Lurah yang menurut pendengaran mereka,
keduanya adalah anak-anak muda yang tinggi hati. Sejenak
kemudian, mereka berempatpun telah berjalan dibulak yang
luas. Cucu-cucu Ki Lurah tidak melihat lebih jauh dari cahaya
obor jarak. Agak berbeda dengan Glagah Putih dan pembantu
rumahnya yang sudah terbiasa berjalan dalam gelapnya
malam.
Ternyata kedua cucu Ki Lurah itu merasa ngeri juga
berjalan digelapnya malam. Mereka memang tidak melihat
apa-apa selain bintang diatas mereka. Tanaman disebelah
menyebelah jalan yang mereka lalui yang tersentuh oleh
cahaya obor. Dan tanah yang berdebu dibawah kaki mereka.
Rasa-rasanya dunia disekitar mereka hanya berwarna hitam
semata-mata.
Rara Wulan berjalan dekat dibelakang Glagah Putih. Raden
Teja Prabawa disebelahnya agak belakang. Sementara itu
pembantu dirumah Glagah Putih itu berjalan beberapa langlah
di belakang mereka. Ketika mereka berbelok memasuki jalan
kecil, rasa-rasanya malam menjadi semakin gelap. Apalagi
ketika mereka kemudian melangkah diatas pematang.
“ Jangan terlalu cepat.” minta Rara Wulan.
“ Salahmu.” bentak Teja Prabawa, “ sudah aku katakan,
kita tidak perlu keluar malam ini.”
Rara Wulan tidak menyahut. Meskipun hatinya menjadi
bergetar, tetapi ia tidak mengeluh lagi. Ia memang menyesal
bahwa ia telah keluar malam itu.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai ketanggul
sungai. Mereka harus menuruni tebing yang agak curam.
Karena itu, maka Glagah Putih telah mendahului mereka dan
dari bawah tebing ia telah mengangkat obornya untuk
menerangi jalan setapak yang memang agak sulit itu.
Rara Wulan dan Teja Prabawa memang harus merangkak
turun. Namun akhirnya mereka telah berada di pasir tepian.
Gemericik air sungai rasa-rasanya bagaikan berirama. Karena
pancaran obor yang dibawa oleh Glagah Putih maka batu-batu
sungai yang hitam nampak bagaikai bermunculan dari dalam
air.
Rara Wulan memang menjadi ketakutan. Tetap Glagah
Putih berkata, “ Marilah. Kita berjalan diatas pasir tepian
menyusur naik. Kita akan sampai sebuah bendungan. Pliridan
itu berada di bawah bendungan.”
Mereka berempat kemudian telah menyusuri pasir tepian.
Ketika mereka melewati bayangan pohon benda yang besar,
rasa-rasanya kaki kedua cucu Ki Lurah itu tidak mai bergerak.
Demikian takutnya Rara Wulan, sehingga ia benar-benar
berjalan hampir melekat dibelakang Glagah Putil yang
membawa obor. Namun kedua cucu Ki Lurah itu sedikit
merasa tenang ketika mereka melihat pembantu Glagal Putih
berjalan biasa saja dibelakang mereka.
Ketika mereka harus melangkahi akar-akar raksass pohon
benda yang menjulur sampai ketepian itu, Ran Wulan tidak
dapat menahan diri lagi. Sehingga hampi diluar sadarnya ia
berdesis, “ Aku takut.”
Raden Teja Prabawa tidak membentak adiknya karem ia
sendiri juga menjadi ketakutan, sehingga kedua orang cucu Ki
Lurah itu telah saling berpegangan.
Pembantu dirumah Glagah Putih itu memandang keduanya
dengan heran. Ia memang dapat menduga bahwj keduanya
menjadi ketakutan. Yang tidak diketahuinya apakah yang
mereka takutkan. Padahal pada hari-hari yang lain ia kadangkadang
pergi sendiri tanpa membawa obor sama sekali tanpa
merasa takut.
Tetapi anak itu berkata didalam hatinya, “ Mungkin karena
aku sudah terbiasa berjalan sendiri di tepian ini. Agaknya jika
aku dilepaskan di Kotaraja, dalam ramainya orang-orang
berlalulalang, akupun akan menjadi ketakutan pula.”
Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah
mendekati bendungan yang terbuat dari brunjung bambu yang
diisi dengan batu-batu dan disisipi dengan dedaunan yang
diikat kuat-kuat serta ditimbuni dengan tanah ditompang
dengan patok-patok bambu yang kuat pula.
“ Nah” berkata Glagah Putih, “ ini adalah pliridan itu.”
Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan memperhatikan
bagian dari sungai itu yang dibatasi semacam pematang yang
membelah sungai itu membujur panjang. Dibagian atas
pliridan itu terbuka, bahkan pematang yang lain membujur
menyilang sungai itu hampir keseberang yang lain. Dengan
demikian maka air sungai itu hampir seluruhnya telah mengalir
melalui pliridan itu. Sementara bagian bahan telah ditutup
rapat. Namun diberi sedikit bagian yang lebih rendah untuk
memberikan jalan bagi air yang meluap. Dengan demikian
maka dibagian dalam pliridan itu seakan-akan telah menjadi
sebuah kolam yang tidak begitu dalam.
“ Tunggulah ditepian.” berkata Glagah Putih, “ kami akan
membuka pliridan ini.”
Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan tidak menjawab.
“ Bawalah obor ini Raden.” minta Glagah Putih.
“ Kau yang membawanya. Kau tidak berhak memerintah
aku.” bentak Raden Teja Prabawa.
“ Kami berdua akan membuka pliridan ini, sehingga kami
tidak akan dapat sambil memegang obor ini.” berkata Glagah
Putih kemudian.
“ Itu terserah kepadamu.” jawab Teja Prabawa.
“ Baiklah. Jika demikian obor ini akan aku buang saja.”
desis Glagah Putih.
“ Jangan.” kedua cucu Ki Lurah itu hampir berbareng
mencegahnya.
“ Lalu bagaimana?” bertanya Glagah Putih.
“ Berikan kepadaku.” minta Rara Wulan.
Glagah Putihpun kemudian telah memberikan obor biji jarak
kepyar itu kepada Rara Wulan.
Namun agaknya Raden Teja Prabawa merasa tidak enak,
bahwa adik perempuannyalah yang membawa obor itu.
Karena itu, maka obor itupun telah dimintanya.
Tetapi Rara Wulan menjawab, “ Biarlah kakang. Aku justru
merasa lebih tenang membawa obor ini ditanganku. Aku dapat
menerangi tempat-tempat yang aku inginkan.”
Raden Teja Prabawa tidak memaksa. Tetapi ternyata
bahwa Rara Wulan memang membawa obor itu sambil
berjalan mendekati Glagah Putih dan pembantunya yang
kemudian sibuk menutup pintu air pada pliridannya.
Sementara pembantunya sibuk menutup pintu air dan
membuka bendungan yang menyilang sungai itu, sehingga air
dapat mengalir, maka Glagah Putih telah memasang wuwu
dibagian bawah pliridan itu. Beberapa saat kemudian, maka
airpun telah tertutup, sementara di bagian bawah, air mengalir
keluar melalui wuwu. Namun ikan yang semula ada didalam
pliridan itu justru telah masuk kedalam wuwu.
Ketika air menjadi semakin sedikit, maka seakan-akan air
itu telah berkumpul dibagian tengah pliridan yang menjadi
semakin dangkal. Dengan segulung kelopak-kelopak batang
pisang kering yang diikat, maka Glagah Putih dan
pembantunya telah mendorong ikan yang ada di dalam air
yang semakin dangkal itu dari ujung pliridan menuju ke bagian
bawah yang telah dipasang wuwu.
Rara Wulan ternyata menjadi senang melihatnya. Dengan
obornya ia melihat ikan yang terperangkap ke-dalam pliridan
yang airnya sudah menjadi hampir mengering itu. Beberapa
ekor ikan wader dan sepat berloncatan diair yang tinggal
sedikit. Beberapa ekor ikan yang berwarna kehitaman
bergejolak menghempas-hempaskan diri.
Tiba-tiba saja Rara Wulan melihat seekor ikan yang
berwarna kemerah-merahan terkapar di pasir yang tidak lagi
berair. Dengan serta merta ia memungut ikan itu. Namun
ternyata ikan itu terlalu licin sehingga terlepas lagi dan bahkan
masuk kedalam air ditengah-tengah pliridan itu.
“ O, ikan itu terlepas.” berkata Rara Wulan.
“ Tidak apa-apa.” sahut Glagah Putih, “ ikan itu tidak akan
dapat keluar dari pliridan.”
Namun ketika seekor ikan yang berwarna kehitaman
meloncat kepasir, maka dengan cepat Glagah Putih
mencegah ketika Rara Wulan akan menangkapnya, “ Jangan.
Itu ikan lele.”
“ Kenapa?” bertanya Rara Wulan.
“ Senjatanya berbahaya sekali. Disebelah-menyebelah
kepalanya terdapat sepasang patil yang sangat tajam dan
beracun. Jika kita terkena patilnya, maka bagi yang kurang
mempunyai daya tahan akan dapat menjadi demam.”
“ Omong kosong.” geram Raden Teja Prabawa.
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia
menjawab, pembantu rumahnya telah berkata, “ Apakah
Raden akan mencoba memegangnya?”
Wajah Raden Teja Prabawa menjadi merah. Namun
Glagah Putih cepat-cepat berkata, “ Aku minta maaf untuk
anak dungu itu Raden.”
Anak itu memandang Glagah Putih dengan tajamnya.
Tetapi ia tidak merasa bersalah. Meskipun demikian ia tidak
mengatakan sesuatu.
Sesaat kemudian maka Glagah Putih dan pembantunya
telah melanjutkan kerja mereka setelah melemparkan ikanikan
yang berloncatan keluar dari air yang sedikit itu kembali
kedalam air dan menggiringnya kedalam wuwu.
Ketika seikat kelopak-kelopak batang pisang kering itu
sampai didepan wuwu, maka dalam genangan air yang tinggal
sedikit sekelompok ikan dari berbagai macam jenis telah
berloncatan. Namun sedikit demi sedikit ikan-ikan itupun telah
masuk kedalam wuwu yang agak besar. Demikianlah, maka
sejenak kemudian wuwu itupun telah diangkat dari dalam air
dan dibawa ketepian.
“ Tentu banyak ikannya.” Rara Wulan hampir berteriak.
Namun tiba-tiba saja obor ditangannya menjadi semakin
redup. Agaknya biji-biji jarak itu sudak hampir habis.
“ Obornya akan padam.” berkata Rara Wulan.
Namun Glagah Putih menyahut, “ Aku masih membawa
yang lain. Itu terletak di atas batu dekat baju anak itu.”
Rara Wulan termangu-mangu. Namun Glagah Putihpun
berkata, “ Tolong Raden. Ambilkan obor diatas batu itu.”
“ Kau ambil sendiri.” bentak Raden Teja Prabawa.
“ Seperti Raden lihat, aku baru sibuk bersama
pembantuku.” jawab Glagah Putih, “ aku mohon maaf. Tolong
barangkali adik Raden memerlukannya.”
Raden Teja Prabawa menjadi marah. Tetapi ternyata
bahwa Rara Wulanlah yang memintanya, “ Tolong kakang.
Sebelum obor ini mati.”
“ Anak cengeng.” bentak kakaknya, “ kenapa kau ikut?”
Rara Wulan yang mengenal kakaknya dengan baik itupun
akhirnya berkata, “ Baiklah. Jika kau tidak mau mengambil
obor itu. Aku akan membiasakan melihat dalam gelap.”
“ Kenapa kau tidak mendengar kata-kataku tadi?”
kakaknya masih saja membentak.
Tetapi sebenarnyalah Raden Teja Prabawa sendiri tidak
ingin mereka kegelapan. Mesipun kemudian Rara Wulan
berdiam diri, namun Raden Teja Prabawa itu telah melangkah
ke sebuah batu ditepian.
“ Kau bawa obor itu kemari.” Raden Teja Prabawa hampir
berteriak.
Rara Wulan memang mendekat, sementara Teja Prabawa
telah mengambil obor yang terletak diatas batu ditepian
didekat baju pembantu Glagah Putih itu.
“ Berikan obor itu kakang. Aku akan menyalakannya.”
berkata Rara Wulan.
Raden Teja Prabawa tidak membantah. Iapun kemudian
memberikan obor itu dan membiarkan Rara Wulan
menyalakannya dengan sisa obor yang terdahulu.
“ Hampir terlambat.” katanya, “ untung masih tetap
menyala.”
Dengan obor itu, maka Rara Wulan telah berjongkok di
sebelah Glagah Putih dan pembantunya disaat mereka
menuang ikan dari dalam wuwu kedalam sebuah irig bambu
yang agak besar. Sumbat pada pangkal wuwu itupun dicabut
dan wuwu itupun telah dihentak-hentakkan diatas irig itu
sehingga ikan yang terakhir telah jatuh kedalam irig itu.
“ He, kau mendapat banyak ikan hari ini.” berkata Rara
Wulan yang nampak gembira sekali melihat ikan-ikan dari
berbagai jenis yang bergelepak di dalam irig yang besar itu.
Satu hal yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya.
“ Kau heran melihat ikan-ikan sekecil lalat itu?” bertanya
Teja Prabawa, “ bukankah kau dapat membeli dipasar ikan
apapun jenisnya dan seberapapun kau butuhkan. Bahkan
ikan-ikan yang jauh lebih besar dari ikan-ikan kerdil di sungai
yang kotor itu.”
“ Tetapi lain kakang. Kita memang dapat membeli. Tetapi
mendapatkan ikan sendiri rasa-rasanya tentu lebih puas.
Meskipun ikannya kecil-kecil. Tetapi diantaranya ada juga
yang besar.” jawab Rara Wulan.
Raden Teja Prabawa tidak berbicara lagi. Ia menjadi marah
kepada adiknya. Tetapi ia harus menahan kemarahannya itu.
Ia menyadari jika ia benar-benar marah kepada Rara Wulan,
maka gadis nakal itu tentu akan berani membantah setiap
kata-katanya. Sementara itu, orang terpenting bahkan
termasuk golongan orang-orang yang berderajat tidak pantas
untuk bertengkar dihadapan orang lain. Dengan demikian
akan dapat menurunkan penghargaan orang kepada mereka.
Sejenak kemudian, Glagah Putih telah mencuci ikan yang
didapatkannya didalam irignya yang besar itu. Kemudian
memasukkannya kedalam kepis yang telah disiapkan untuk
membawa ikan itu kembali.
Demikianlah setelah berbenah diri, maka merekapun mulai
melangkah meninggalkan tempat itu. Namun pembantu
Glagah Putih itu sempat menggerutu, “ Malam ini kita hanya
membuka pliridan ini sekali pada waktu yang tanggung.”
“ Kenapa?” bertanya Glagah Putih.
“ Jangan pura-pura. Apakah setelah lewat jauh tengah
malam begini kita akan dapat membuka pliridan ini sekali
lagi?” bertanya pembantunya.
“ Tetapi bukankah kadang-kadang kita memang hanya
membuka sekali saja dalam satu malam?” Glagah Putih ganti
bertanya.
“ Tetapi tidak pada waktu seperti ini. Tetapi besok
menjelang dini sehingga ikan yang ada didalam pliridar
menjadi lebih banyak dari yang kita dapatkan.” jawat
pembantu rumahnya itu.
“ Ah” desis Glagah Putih, “ bedanya tidak akan seberapa.”
Pembantu rumahnya itu tidak menjawab. Tetapi iapui
segera menempatkan diri di urutan paling belakang,
sebagaimana mereka berangkat. Perjalanan kembali itupun
sama mendebarkannya sebagaimana saat mereka berangkat.
Pohon benda itu masih tetap membuat bulu tengkuk cucu Ki
Lurah itu meremang.
Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah
merangkak naik tebing yang agak curam. Setelah itu, mereka
berjalan melalui jalan sempit menuju ke padukuhan induk.
Baru beberapa saat kemudian mereka memasuki jalan induk
yang langsung menuju kegerbang padukuhan induk Tanah
Perdikan Menoreh itu.
Demikian mereka memasuki padukuhan induk, maka
Raden Teja Prabawa itu telah menarik nafas dalam-dalam.
Rasa-rasanya mereka terlepas dari kesulitan yang
mencengkam didalam satu masa hidupnya.
Rara Wulanpun pun merasa terlepas dari ketakutan yang
mencengkam. Namun berbeda dengan Raden Teja Prabawa
yang marah, Rara Wulan merasa mendapat satu pengalaman
yang menarik dalam hidupnya. Di Tanah Perdikan itu ia telah
berhasil dengan selamat melakukan satu kerja yang sangat
berbahaya menurut pendapatnya, serta melihat bagaimana
mendapatkan sekepis ikan di sebuah sungai dengan membuat
pliridan.
Ketika mereka lewat dimuka rumah Agung Sedayu, maka
Glagah Putih telah bertanya kepada kedua cucu Ki Lurah, “
Apakah kalian ingin membawa ikan itu kepada kakek kalian, Ki
Lurah Branjangan?”
“ Untuk apa?” bentak Raden Teja Prabawa, “ bukankah
kau tahu, bahwa kakek menjadi tamu dirumah Ki Gede? Kau
tentu tahu, bahwa kami tidak akan dapat berbuat apa-apa
dengan ikan itu. Apalagi kami memang tidak terbiasa makan
ikan-ikan wader cethul seperti itu. Kami terbiasa membeli ikan
sungai yang bersih dan besar-besar.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “ Aku
memang tahu. Tetapi aku kira bahwa sebaiknya aku
menanyakannya sebagai sekedar basa-basi. Tetapi jika itu
tidak menyenangkanmu, aku minta maaf.”
“ Persetan.” geram Raden Teja Prabawa.
Glagah Putih hanya tersenyum saja. Tetapi iapun kemudian
bertanya, “ Raden, apakah Raden berdua dengan adik Raden
dapat kembali tanpa kami ke rumah Ki Gede?”
“ Maksudmu?” bertanya Raden Teja Prabawa.
“ Jika Raden berdua dapat kembali tanpa kami, maka kami
akan langsung pulang. Hari sudah terlalu malam.” jawab
Glagah Putih.
Wajah Raden Teja Prabawa menjadi merah. Untunglah
bahwa dimalam hari, kemarahannya tidak nampak terlalu
jelas. Namun dengan geram ia berkata, “ Kau harus mengikuti
aku. Meskipun aku tidak takut pulang tanpa kau, tetapi kau
harus ikut aku sampai kerumah Ki Gede. Aku tidakpeduli
apakah malam telah larut atau bahkan sudah pagi sekalipun.
Bahkan seadainya siang hari. Kau memang tidak perlu
mengantar kami. Tetapi kau memang harus mengikuti kami.”
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya
kepada pembantunya, “ Bawa ikan dan alat-alat ini masuk.
Aku akan pergi ke rumah Ki Gede mengikuti Raden Teja
Prabawa dan adiknya.”
Pembantu dirumah Glagah Putih itu tidak menjawab. Tetapi
ia sama sekali tidak senang melihat sikap kedua cucu Ki Lurah
Branjangan itu.
Demikianlah Glagah Putih harus membawa keduanya
kembali dan menyerahkannya kepada Ki Lurah. Sambil
tersenyum Ki Lurah yang terbangun karena ketukan pada
pintu biliknya menerima kedua cucunya sambil tersenyum.
“ Apa yang kalian lihat?” bertanya Ki Lurah.
“ Tidak ada apa-apa kecuali gelap.” jawab Raden Teja
Prabawa.
Tetapi Rara Wulan menjawab, “ Kami melihat bagaimana
caranya seseorang mencari ikan dengan pliridan. Anak itu
mendapat ikan sepenuh tempat ikannya.”
“ Ikan-ikan sebesar cebong katak yang baru menetas.
Wader cethul dan jenis-jenis ikan yang tidak berharga, yang
hanya pantas untuk memberi makan seekor kucing.” sahut
Raden Teja Prabawa.
“ Tidak.” sahut Rara Wulan, “ beberapa ekor ikan lele yang
besar, sepat, wader merah dan beberapa jenis ikan yang lain.”
Ki Lurah tertawa. Katanya, “ Nilainya tidak terletak pada
jenis ikannya, atau barangkali pada harga ikan yang
didapatnya, tetapi keberhasilan satu usaha memberikan
kepuasan tersendiri.”
“ Apakah kakek dapat mengatakan usaha itu berhasil?”
bertanya Raden Teja Prabawa.
“ Ya. Itu adalah hasil usahanya.” jawab Ki Lurah
Branjangan, “ dalam keadaan yang khusus, orang-orang yang
demikian akan dapat memenuhi keperluan mereka sendiri.
Mungkin seseorang yang merasa dirinya mempunyai uang
cukup untuk membeli apa saja yang diinginkan, pada satu
saat akan kehilangan kesempatan untuk mempergunakan
uangnya. Mungkin ia akan terdampar di satu tempat dimana
tidak ada seorangpun yang berjualan apapun atau barangkali
uang yang pernah dimilikinya itu habis karena satu sebab.
Orang yang demikian biasanya akan menjadi bingung dan
tidak tahu apa yang dilakukannya.”
“ Kakek terlalu cemas menghadapi keadaan.” berkata
Raden Teja Prabawa, “ jika kita memiliki kemampuan untuk
mengumpulkan kekayaan, maka kita tidak akan kekeringan.”
“ Meskipun tidak selalu demikian, tetapi aku dapat
mengerti, bahwa kemungkinan untuk tetap mempertahankan
tingkat kehidupan akan dapat dilakukan. Tetapi oleh orang
yang berkepentingan. Anak cucu mereka tidak akan dapat ikut
menepuk dada. karena apa yang terjadi kemudian mungkin
jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada orang-orang
tuanya.” jawab Ki Lurah Branjangan.
Telinga Raden Teja Prabawa menjadi panas. Tetapi ia tidak
menjawab lagi. Iapun menyadari bahwa kakeknya bukan saja
seorang yang sabar, tetapi juga seorang yang kuat pada
keyakinannya. Sebagai seorang Senapati, maka Ki Lurah
Branjangan memang mempunyai sifat seorang prajurit.
Karena itu, maka Raden Teja Prabawa itupun melangkah
menuju ke biliknya. Namun Ki Lurah telah berkata, “ Kau harus
membersihkan kaki dan tanganmu di pakiwan.”
Raden Teja Prabawa tertegun. Sementara Ki Lurah
berkata, “ Ajak adikmu bersamamu.”
Keduanya memang harus pergi ke pakiwan untuk
membersihkan kaki dan tangan mereka.
Sementara mereka berdua pergi ke pakiwan, maka Ki
Lurah berkata, “ di setiap kesempatan, bawa mereka ketempat
yang memberikan kesan tersendiri kepada mereka. Ternyata
adiknya memiliki tanggapan yang lebih baik atas
pengalamannya.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “ Mudahmudahan
mereka akhirnya akan terbiasa dengan keadaan
Tanah Perdikan ini.”
Ki Lurah tersenyum. Sementara itu Glagah Putihpun telah
mohon diri untuk pulang kerumahnya.
Didalam biliknya Raden Teja Prabawa tidak habis-habisnya
menggeremang. Bahkan marah-marah, karena apa yang
harus dilakukannya sama sekali tidak menarik minatnya.
“ Anak itu memang gila.” geramnya.
Rara Wulan tidak menjawab. Ia memang mempunyai kesan
tersendiri meskipun ia mengakui didalam dirinya, bahwa ia
menjadi sangat ketakutan ketika mereka berjalan dibawah
pohon benda raksasa ditepian itu.
“ Tetapi itu sudah lewat. Dan aku selamat.” berkata Rara
Wulan didalam hatinya.
Meskipun Raden Teja Prabawa itu masih saja marah
didalam hatinya namun akhirnya iapun telah tertidur pula.
Tetapi Rara Wulan ternyata dapat lebih cepat tidur dari
kakaknya.
Dirumahnya, pembantu Glagah Putih itu ternyata juga
menggeremang. Sambil membersihkan alat-alat yang
dibawanya ia berkata, “ Kenapa ikan itu kau tawarkan kepada
anak-anak cengeng itu?”
“ Aku tahu mereka tidak akan mau menerima.” jawab
Glagah Putih.
“ Kalau saja mereka mau, kau harus mengganti. Aku tidak
peduli darimana saja kau mendapatkannya.” geram anak itu.
Glagah Putih tertawa. Katanya, “ Aku akan menukarmu dua
kali lipat.”
Anak itu tidak menjawab. Tetapi tangannya sajalah yang
sibuk menghimpun alat-alatnya.
“ Tidurlah.” berkata Glagah Putih, “ besok kau terlambat
bangun.”
Anak itu masih tetap berdiam diri. Namun iapun telah pergi
ke biliknya. Sementara Glagah Putih telah berbaring pula di
pembaringannya. Seperti biasanya, maka Glagah Putih tidak
terlambat bangun. Demikian pula seisi rumah yang lain,
termasuk pembantunya. Ketika matahari terbit mereka sudah
sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Dalam pada itu, ternyata perwira muda dari Pasukan
Khusus itu pagi-pagi telah berada di padukuhan induk Tanah
Perdikan. Demikian matahari terbit, Wirastama, perwira muda
itu, telah memasuki gerbang halaman rumah Ki Gede.
“ Selamat pagi Ki Lurah.” Wirastama mengangguk hormat
ketika ia melihat Ki Lurah duduk di serambi gan-dok.
“ Marilah anakmas.” Ki Lurah itu mempersilahkan, “ masih
sangat pagi anakmas sudah sampai disini. Apakah anakmas
tidak bertugas?”
“ Hari ini aku telah dibebaskan dari tugas-tugasku Ki Lurah.
Tetapi aku mendapat tugas khusus untuk membantu Ki Lurah
dan cucu-cucu Ki Lurah disini.” jawab perwira muda itu.
Tetapi Ki Lurah tersenyum sambil menjawab, “ Mereka
belum bangun.”
“ He?” perwira itu memang agak terkejut. Matahari sudah
terbit, tetapi mereka belum bangun. Kemudian perwira muda
itupun berkata, “ Baiklah. Aku akan menunggu. Barangkali
ketenangan di tempat ini membuat mereka tidur terlalu
nyenyak.”
“ Mereka semalam pergi ke sungai.” berkata Ki Lurah.
“ Kesungai?” bertanya Wirastama, “ untuk apa?”
“ Menutup pliridan bersama Glagah Putih.” jawab K Lurah.
Wajah Wirastama berkerut. Hampir diluar sadarnya is
bertanya, “ Apakah Rara Wulan juga terlambat bangun?”
“ Ya” jawab Ki Lurah, “ keduanya memang pergi ke sungai
semalam.”
“ Rara Wulan juga turun ke sungai yang curam itu.” desak
Wirastama.
“ Ya. Tetapi sungai itu tidak begitu curam. Memang agak
rumpil. Tetapi seandainya seseorang terjatuh dari atas tanggul
ke pasir tepian tidak akan merasa sakit.” jawab Ki Lurah.
“ Tetapi bagi seorang gadis perjalanan di malam hari turun
ke sungai itu tentu berbahaya.” sahut perwira muda itu, “
apakah mereka pergi bersama Ki Lurah?”
“ Tidak. Hanya bersama Glagah Putih.” jawab Ki Lurah.
Perwira muda itu mengerutkan keningnya. Namun iapun
kemudian mengangguk-angguk sambil berkata perlahan. “
Sebaiknya hal itu tidak dilakukan. Mungkin mereka tergelincir.
Mungkin seokor ular mematuk kaki mereka atau mungkin
mereka bertemu seorang penjahat di jalan.”
Ki Lurah tertawa. Katanya, “ Tidak ada yang perlu
dicemaskan. Meskipun disungai itu kadang-kadang ada ular,
tetapi Glagah Putih sudah sangat berpengalaman turun ke
sungai itu. Setiap malam ia membuka pliridannya. Bahkan jika
ia tidak malas, semalam dilakukannya dua kali.”
“ Orang-orang kekurangan harus bekerja keras. Ikan yang
didapatkannya akan dapat memperingan beban mereka,
karena mereka tidak perlu pergi ke pasar membelanjakan
uangnya yang memang hanya sedikit. Tetapi pergi ke sungai
tetap berbahaya bagi orang lain.” berkata Wirastama.
Ki Lurah menggeleng. Katanya, “ Aku tinggal cukup lama
disini saat aku membentuk Pasukan Khusus itu. Aku tahu
bahwa disini jarang sekali terdapat tempat-tempat berbahaya.
Meskipun alam nampaknya keras, tetapi rasa-rasanya cukup
akrab dengan para penghuninya.”
“ Tetapi cucu Ki Lurah bukan penghuni Tanah Perdikan ini.”
sahut Wirastama.
“ Aku ingin mereka belajar menyesuaikan diri dengan
kehidupan yang keras ini. agar mereka mendapatkan
pengalaman yang berharga bagi hidup mereka. Agar mereka
tidak menyangka bahwa hidup di Mataram ini sebagaimana
dilihatnya di Kotaraja. Itupun hanya beberapa bagian tertentu.
Rumah-rumah yang besar. Halaman yang luas. Pelayan yang
siap melakukan perintahnya apapun yang harus dilakukan.
Tercukupi semua kebutuhannya dan selebihnya tidur
mendengkur.” berkata Ki Lurah, “ disini mereka melihat
kehidupan yang lain. Kerja keras. Keakraban dengan alam
dan dengan sesama justru untuk saling membantu. Nafas
kehidupan yang menyatu dengan Kuasa Sumber Hidup
mereka.”
Perwira dari Pasukan Khusus itu termangu-mangu sejenak.
Agahnya Ki Lurah sendirilah yang mendorong cucu-cucunya
untuk melakukan pekerjaan yang berbahaya. Dan bukan saja
berbahaya, tetapi kenapa harus bersama anak Tanah
Perdikan itu, sementara ia sudah menyatakan
kesanggupannya untuk mengantarkan mereka melihat-lihat
Tanah Perdikan ini. Tetapi Wirastama itu merasa masih belum
terlambat. Ia masih mempunyai banyak kesempatan.
Dalam pada itu, maka Ki Lurahpun berkata, “ Tunggulah
sebentar. Biarlah aku membangunkan mereka.”
“ Biar saja Ki Lurah. Agaknya mereka memang letih. Aku
akan menunggu.” jawab perwira muda itu.
Tetapi Ki Lurah tersenyum. Katanya, “ Biarlah, agar mereka
tidak terbiasa bangun terlalu siang. Semua orang sudah ada
pada tugas masing-masing, sementara mereka masih tidur
nyenyak.”
Perwira itu tidak mencegahnya lagi. Sebenarnya ia
memang ingin cucu-cucu Ki Lurah itu segera bangun, mandi
dan berjalan-jalan bersama.
Sejenak kemudian, maka Ki Lurahpun telah
membangunkan kedua cucunya. Meskipun beberapa kali
mereka menggeliat dan memejamkan matanya lagi. Namun Ki
Lurah tidak henti-hentinya membangunkan mereka.
“ Aku masih mengantuk, kek.” gumam Teja Prabawa.
“ Bangun. Wirastama telah sampai disini, kalian masih saja
tidur mengdengkur. Bangun, cepat benahi dirimu.” berkata Ki
Lurah.
Teja Prabawa memang segera bangkit. Sambil mengusap
matanya ia bertanya, “ Jadi perwira muda itu telah berada
disini sepagi ini?”
“ Lihatlah dila serambi, sudah menunggu beberapa lama.”
jawab Ki Lurah.
Teja Prabawapun segera bersiap-siap untuk mandi.
Sementara itu Rara Wulan masih saja berbaring di
pembaringan.
“ Cepat, bangun.” bentak kakaknya. Lalu, “ Kau saja
dahulu yang mandi. Kau memerlukan waktu lebih lama dari
aku untuk berpakaian dan berbenah diri.”
“ Tidak.” jawab Rara Wulan, “ jika kita mulai bersamasama,
maka tentu lebih cepat. Kau berhias melampaui
perempuan. Untuk mengatur rambutmu, kau memerlukan
waktu dua kali lipat dari aku.”
“ Aku memakai ikat kepala. Waktu yang lebih lamaku
pergunakan untuk mengenakan ikat kepala itu.” jawab Teja
Prabawa.
“ Nah, karena itu, kau sajalah yang mandi lebih dahuli.”
jawab Rara Wulan sambil menggeliat.
“ Jangan terlalu malas Wulan.” desis Ki Lurah Brar jangan,
“ seharusnya kau bangun sebelum matahari terbit, membantu
di dapur dan menyediakan minuman bagi kakek.”
Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi perlahan-lahan i
bangkit dan duduk dibibir pembaringannya.
“ Cepatlah.” desak kakaknya.
“ Kau saja dahulu.” sahut Wulan.
Ki Lurahlah yang kemudian menengahi, “ Kau sajalah yang
pergi ke pakiwan Teja. Kau dapat segera menemui Wiratama
yang sudah terlalu lama menunggu.”
Teja Prabawa tidak membantah lagi. Iapun kemudian pergi
ke pakiwan untuk mandi.
Perwira muda dari Pasukan Khusus itu memang menjadi
gelisah. Ia sudah cukup lama menunggu. Namun yang
kemudian keluar menemuinya adalah Ki Lurah lagi.
“ Mereka baru mandi.” berkata Ki Lurah.
Perwira muda itu menyembunyikan kegelisahannya.
Katanya, “ Biar saja Ki Lurah. Aku tidak tergesa-gesa.”
Beberapa saat kemudian Teja Prabawa telah selesai
berbenah diri. Iapun telah keluar ke serambi gandok menemui
Wirastama yang sudah menunggunya.
“ Nah.” berkata Ki Lurah, “ cucuku sudah selesai. Silahkan
duduk bersamanya, aku akan menemui Ki Gede yang
barangkali sudah ada di ruang dalam itu.”
“ Silahkan, silahkan Ki Lurah.” jawab Wirastama.
Ki Lurahpun kemudian meninggalkan kedua anak muda
yang duduk diserambi itu. Tetapi ia singgah ke bilik Rara
Wulan, yang nampaknya masih saja seenaknya berbenah diri,
meskipun ia sudah mandi.
“ Cepat sedikit.” berkata Ki Lurah, “ jika kau ingin berjalanjalan
bersama kakakmu dan barangkali bersama Wirastama,
jangan berangkat terlalu siang.”
“ Aku masih lelah, kek.” berkata Wulan.
“ Katakan kepada kakakmu. Tetapi sebaiknya kau
selesaikan berbenah diri dan ikut menemui Wirastama
diserambi.” berkata Ki Lurah pula. Lalu katanya, “ Aku akan
ke ruang dalam.”
Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian telah
menyisir rambutnya.
Ketika Ki Lurah masuk keruang dalam, Ki Gede memang
sudah duduk sambil menghadapi minuman hangat. Ketika ia
melihat Ki Lurah, maka iapun kemudian mempersilahkannya
duduk. Katanya, “ Aku kira Ki Lurah masih sibuk dengan cucucucu
Ki Lurah.”
“ Itulah.” sahut Ki Lurah, “ sebenarnya mereka sudah
cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri. Tetapi mereka
terlalu terbiasa dilayani, sehingga kadang-kadang mereka
tidak tahu, apa yang sebaiknya dilakukan.”
Ki Gede tersenyum. Katanya, “ Mereka memang
memerlukan pengalaman. Tetapi Ki Lurah tidak akan dapat
mengharapkan perubahan yang tiba-tiba terjadi atas mereka.”
Ki Lurahpun tersenyum pula. Katanya, “ Memang mereka
tidak akan berubah dengan serta merta Ki Gede. Tetapi
pengalaman yang mereka peroleh disini akan memberikan
pengetahuan kepada mereka sehingga untuk selanjutnya
mereka akan memperhitungkannya disaat-saat mereka harus
mengambil sikap, khususnya yang menyangkut
lingkungannya.”
Ki Gedepun mengangguk-angguk. Katanya, “ Aku kira
pengaruh itu tentu akan ada pada saat-saat mendatang,
Meskipuh demikian masih dipertanyakan sebesar manakar
pengaruh itu mewarnai sikapnya.”
Ki Lurah tertawa. Katanya, “ Mudah-mudahan usaha ku
tidak sia-sia.”
Dalam pada itu, maka seorang pembantu dirumah K
Gedepun telah menghidangkan minuman dan makanan pula.
Sementara Ki Gede berkata kepada pembantu itu, “ Jangan
lupa. Digandok ada dua orang cucu Ki Lurah. Dan bahkan
seorang tamu, seorang perwira dari Pasukai Khusus.”
Di gandok, Teja Prabawa telah dengan penuh minat
mendengarkan pembicaraan perwira muda ini. Meskipu
perwira muda itu baru beberapa lama berada di Tanah
Perdikan, tetapi rasa-rasanya ia sudah mengenal semua sudut
Tanah Perdikan itu.
“ Aku mengenal Tanah Perdikan ini melampaui orang-orang
Tanah Perdikan ini sendiri.” berkata Wirastama.
Teja Prabawa mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa
Wirastama mengenal Tanah Perdikan itu dengan baik. Karena
itu maka katanya, “ Apa yang pantas untuk dilihat di Tanah
Perdikan ini? Glagah Putih pernah menyebutkan sebuah
telaga kecil yang biasa dipergunakan sebagai tempat mandi.
Atau daerah hutan lebat di lereng pebukitan di sebelah Barat.
Atau barangkali ada tempat lain yang menarik.”
Wirastama tersenyum. Katanya “ Yang ada itu bukan
sebuah telaga meskipun kecil. Hanya sebuah belumbang yang
oleh orang-orang disekitarnya dipergunakan untuk mandi dan
mencuci pakaian. Tetapi jika kalian ingin melihat dan
barangkali mandi di belumbang itu, aku akan mengantar kalian
kesana.”
“ Apakah belumbang itu dalam?” bertanya Teja Prabawa.
“ Ada bagian yang dalam, tetapi ada bagian yang tidak
terlalu dalam. Apakah kau pandai berenang?” bertanya
Wirastama.
“ Sedikit.” jawab Teja Prabawa.
“ Adikmu?” bertanya Wirastama hampir diluar sadarnya.
“ Juga sedikit-sedikit.” jawab Teja prabawa pula.
“ Nah, jika demikian, marilah. Kita pergi ke belumbang.”
ajak Wirastama.
“ Baiklah. Aku akan berbicara dengan Wulan.” sahut Teja
Prabawa.
Teja Prabawapun kemudian menemui Rara Wulan yang
masih berada didalam biliknya meskipun ia sudah selesai
berbenah diri. Dengan agak mendesak ia berkata, “ Cepatlah
sedikit. Kita akan pergi ke belumbang. Kita dapat mandi di
belumbang itu.”
“ Kita baru saja mandi.” jawab Rara Wulan.
“ Tetapi tentu lain dengan mandi di belumbang. Yang
penting bukan mandi membersihkan diri. Tetapi kita dapat
berenang-renang sambil berendam.” gumam Teja Prabawa.
“ Apakah kau dapat berenang tanpa berendam di air?”
bertanya Rara Wulan.
“ Ah, sudahlah. Cepatlah sedikit. Wirastama sudah
menunggu terlalu lama.” ajak Teja Prabawa.
Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun
kemudian bangkit dan melangkah keluar. Sebenarnyalah ia
memang ingin melihat belumbang itu. Ketika mereka sampai
diserambi, maka ternyata hidangan telah disuguhkan oleh
pembantu dirumah Ki Gede itu. Karena itu, maka sebelum
mereka berangkat, mereka sempat meneguk minuman hangat
dan makan beberapa potong makanan, kecuali Rara Wulan
yang agaknya segan makan-makanan dihadapan perwira
muda itu.
“ Marilah.” ajak Wirastama, “ selagi matahari belum tinggi.”
“ Aku minta diri pada kakek dan Ki Gede.” berkata Teja
Prabawa.
“ Aku juga.” desis Rara Wulan.
“ Kau disini saja.” minta kakaknya, “ aku saja yang minta
diri.”
Tetapi Rara Wulan tidak mau. Iapun justru telah
mendahului kakaknya menuju ke ruang dalam.
Kakeknya berpaling. Lalu katanya, “ Kemarilah. K Gede
duduk disini. Duduklah dan kau akan berbicar apa?”
Rara Wulanpun mendekat. Sambil menunduk iapui duduk
disisi kakeknya, sementara Teja Prabawapun telah
menyusulnya pula dan duduk pula disebelahnya.
“ Kek.” berkata Raden Teja Prabawa kemudian, “ kami
akan berjalan-jalan.”
“ Dengan siapa?” bertanya Ki Lurah.
“ Dengan Wirastama.” jawab Teja Prabawa.
“ Glagah Putih sebentar lagi tentu datang kemari. Apakah
kau tidak menunggunya? Barangkali kalian dapat pergi
bersama-sama?” bertanya kakeknya.
“ Buat apa menunggu anak sombong itu.” desis Teja
Prabawa.
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Gede
berkata, “ Glagah Putih tentu lebih mengenali Tanah Perdikan
ini daripada Wirastama.”
“ Tidak.” jawab Teja Prabawa, “ Wirastama jauh lebih
banyak mengenali Tanah Perdikan ini dari anak dungu itu.”
Ki Gede tersenyum. Katanya, “ Glagah Putih mengenal isi
Tanah Perdikan ini seperti mengenali isi rumahnya yang kecil
itu. Glagah Putih mengenal semua orang yang tinggal di
Tanah Perdikan ini seperti mengenal orang-orang seisi
rumahnya pula.”
Tetapi Teja Prabawa seakan-akan tidak percaya kepada
keterahgan Ki Gede itu. Karena itu, maka ia masih menjawab,
“ Tetapi apa yang diceriterakan oleh Wirastama itu lebih
beraneka tentang isi Tanah Perdikan ini daripada yang
dikatakan oleh anak itu.”
Ki Gede masih saja tersenyum. Jawabnya, “ Kadangkadang
seseorang nampak lebih kaya dari seorang yang
sebenarnya jauh lebih kaya hanya karena pakaiannya.”
Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Sementara itu Ki
Lurah pun berkata, “ Ki Gede adalah orang yang paling
mengetahui di Tanah Perdikan ini, karena itu maka apa yang
dikatakannya tentu bukan sekedar dibuat-buat.”
Cucu Ki Lurah itu memang tidak menjawab. Tetapi ia tetap
tidak percaya. Adalah wajar jika Ki Gede menganggap
orangnya lebih baik dari seorang perwira Pasukan Khusus
sekalipun. Sedangkan menurut Teja Prabawa, Glagah Putih
belum sehitamnya kuku perwira muda yang bernama
Wirastama itu.
Dalam pada itu, Ki Gedepun kemudian berkata, “ Baiklah.
Tetapi berhati-hatilah.”
“ Jangan terlalu lama.” pesan Ki Lurah.
“ Baik Ki Gede. Kami mohon diri kek.” desis Teja Prabawa.
“ Aku juga minta diri kek.” desis Rara Wulan.
“ Kau juga ikut?” bertanya kakeknya.
“ Aku ingin melihat belumbang itu.” jawab Rara Wulan, “
katanya kita dapat mandi di belumbang itu.”
“ Tetapi kau harus memilih. Belumbang itu dibagi menjadi
dua bagian. Yang sebagian memang dapat dipergunakan
untuk mandi. Tetapi di bagian yang lain, belumbang itu sangat
dalam. Nampaknya memang menyenangkan untuk berenang.
Namun kadang-kadang terdapat pusaran air yang berbahaya
yang dapat menyeret seseorang ke dalam lubang batu padas
yang tidak diketahui arahnya. Sedangkan tidak seorangpun
dapat memperkirakan, kapan pusaran itu datang. Karena
begitu tiba-tiba dan tidak disangka-sangka.” pesan Ki Gede.
“ Nah, kau dengar.” Ki Lurah menyambung, “ kau tentu
menyadari apa yang akan terjadi jika seseorang terhisap oleh
pusaran air masuk ke lubang batu padas.”
“ Hal itu memang pernah terjadi Ki Lurah.” berkata Ki
Gede. Lalu, “ Agaknya dibawah belumbang itu terdapat
sebuah ruang yang besar, Setiap kali ruang itu berkurang
isinya karena melalui arus dibawah tanah mengalir. Setiap
saat tertentu, maka kekurangan itu harus diisi jika
keseimbangan udara didalamnya telah tercapai. Dengan
demikian maka diatasnya akan timbul pusaran air disaat air itu
masuk mengisi ruang dibawah tanah itu.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Sambil menepuk bahu cucu
perempuannya ia berkata, “ Berhati-hatilah. Kau dengar pesan
Ki Gede. Karena itu, jika kau mandi juga, jangan terpisah dari
orang-orang lain, terutama orang-orang disekitar tempat itu
yang sudah mengenali tabiat belumbang itu dengan baik.”
“ Ya kakek.” jawab Rara Wulan.
Namun dalam pada itu Teja Prabawa berkata, “ Wirastama
tentu mengetahui hal itu.”
K i Lurah dan Ki Gede hanya dapat saling berpandangan.
Agaknya Teja Prabawa memang terlalu mengagumi perwira
muda dari Pasukan Khusus itu.
Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka bertigapun
telah berangkat. Matahari memang sudah mulai memanjat
langit. Tetapi belum terlalu tinggi.
“ Apakah kau pernah melihat pasar di Tanah Perdikan ini?”
bertanya Wirastama.
“ Belum.” jawab Teja Prabawa.
“ Marilah. Kita melihat pasar. Tentu menarik. Berbeda
dengan pasar di Kotaraja. Ketika aku ditugaskan di tempat ini
setelah untuk waktu yang agak lama di Kotaraja, maka akupun
tertarik melihat pasar disini. Memang tidak seramai di
Kotaraja. Tetapi kita akan melihat orang-orang yang menurut
kalian tentu aneh. Pertama kali aku melihat, aku juga merasa
aneh. Begitu sederhana dan pada umumnya nampak dungu.”
berkata Wirastama.
Teja Prabawa mengangguk. Lalu katanya kepada Rara
Wulan, “ Kita singgah dipasar sebentar.”
Rara Wulan hanya mengangguk saja. Ia memang ingin
melihat apa saja di Tanah Perdikan itu.
Karena itulah, maka mereka bertigapun telah singgah di
pasar yang terletak di padukuhan induk Tanah Perdikan. Teja
Prabawa dan Rara Wulan memang pernah lewat pasar itu
pula. Tetapi mereka belum pernah masuk sampai kedalamnya
dan melihat apa saja yang diperjualbelikan dipasar itu.
“ Seperti kuburan.” berkata Teja Prabawa.
“ Kenapa?” bertanya Wirastama.
“ Gubug-gubugnya terlalu rendah. Yang terbuat dari kayu
justru mirip cungkup di kuburana. Apalagi disaat pasar ini
kosong lewat tengah hari. Lebih-lebih lagi menjelang senja.”
“ Tetapi orang-orang disekitar tempat ini tahu, bahwa disini
terdapat sebuah pasar, bukan kuburan.” sahut Rara Wulan.
“ Ya.” Wirastama mengangguk-angguk. Lalu, “ disini juga
tidak terdapat pohon semboja.”
Teja Prabawa hanya mengangguk-angguk saja, sementara
Rara Wulan tiba-tiba saja bertanya, “ Apakah yang dijual itu?”
Karena Teja Prabawa juga tidak tahu, maka iapun
berpaling kepada Wirastama yang menjawabnya, “ Ampo.
Makanan yang dibuat dari tanah liat.”
“ Tanah liat? Bagaimana mungkin?” bertanya Rara Wulan
pula.
“ Ya. Tanah liat.” jawab Wirastama. “ benar-benar tanah
liat yang digores tipis-tipis. Mula-mula tanah liat itu dibuat
bulatan seperti roda pedati yang besar tebal dan tanpa lubang
di tengah selain porosnya.”
Rara Wulan mengerutkan keningnya. Ia agak kurang dapat
memahami keterangan Wirastama. Namun disebelahnya
ternyata terdapat apa yang dikatakan Wirastama itu. Seperti
roda yang terbuat dari tanah liat. Dikesrik dengan welat
bambu, sehingga berjatuhan lapisan-lapisan tipis yang
bergulung. Kemudian tanah liat itu dipanasi diatas kuali yang
juga terbuat dari tanah liat tanpa minyak.
Rara Wulan menggeleng-gelengkan kepalanya. Hampir
diluar sadarnya ia berkata, “ Bagaimana jika kualinya itu saja
yang dimakan?”
Wirastama tertawa. Katanya, “ Sudahlah. Marilah kita
lanjutkan perjalanan. Bukankah kita akan pergi ke
belumbang?”
Kedua cucu Ki Lurah itu tidak menjawab. Namun mereka
bertiga telah melangkah meninggalkan pasar itu tanpa
menyadari, bahwa beberapa orang tengah memandangi
mereka dengan mulut ternganga. Namun beberapa orang
telah mengetahui bahwa kedua orang yang dikawani oleh
seorang prajurit dari Pasukan Khusus itu adalah tamu Ki Gede
dari Kotaraja.
“ Menilik pakaian dan tanda-tanda yang ada pada
pakaiannya, prajurit itu tentu seorang perwira.” berkata
seorang anak muda yang kebetulan ada di pasar itu.
Namun diantara mereka yang memperhatikan ketiga orang
itu adalah seorang perempuan yang menjinjing sebuah
keranjang yang berisi beberapa jenis sayur-sayuran.
Perempuan yang habis berbelanja untuk kepentingan seharihari.
Perempuan itu adalah Sekar Mirah. Tetapi Sekar Mirah
tidak memperhatikan mereka lebih lama. Iapun kemudian
meninggalkan pasar itu pula, karena ia sudah cukup
berbelanja buat hari itu, sementara dirumah telah ada ikan
hampir sekepis penuh. Namun dirumah, Sekar Mirah sempat
berceritera bahwa ia telah bertemu dengan kedua cucu Ki
Lurah.
“ Aku belum pernah melihat dengan jelas keduanya. Tetapi
aku yakin, bahwa keduanya itulah yang dikawani oleh seorang
perwira dari Pasukan Khusus.” berkata Sekar Mirah.
Glagah Putih mengangguk-angguk sambil menyahut, “
mBokayu benar. Perwira itu bernama Wirastama. Dari
Pasukan Khusus?”
Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Lalu iapun
bertanya, “ Jadi kau tidak lagi menemaninya?”
“ Cucu Ki Lurah itu tidak senang kepadaku. Aku takut
bahwa pada suatu saat aku kehilangan kendali sehingga aku
menyakiti hatinya.” berkata Glagah Putih.
Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Kau bukan kanakkanak
lagi. Glagah Putih. Pengalamanmu cukup luas. Kau
telah menjelajahi banyak daerah. Kau telah mengalami
banyak sekali peristiwa. Kau harus yakin akan dirimu sendiri,
sehingga kau tidak akan mudah merasa rendah diri.”
“ Aku tidak merasa rendah diri kakang. Tetapi sudah tentu
aku justru harus mempertahankan harga diri.” jawab Glagah
Putih.
Agung Sedayu menepuk bahu sepupunya itu sambil
berkata, “ Kau harus yakin akan kelebihanmu. Karena itu,
maka jangan hiraukan tingkah lakunya.”
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sementara
Agung Sedayu berkata pula, “ Lihatlah, kemana mereka
pergi.”
“ Wirastama sudah mengantar mereka.” berkata Glagah
Putih.
“ Anak muda itu belum mengenal semua rahasia yang ada
di Tanah Perdikan ini. Berbeda dengan kau atau aku.”
berkata Agung Sedayu pula.
“ Tetapi aku tidak tahu kemana mereka pergi.” jawab
Glagah Putih.
“ Bertanyalah kepada Ki Lurah.” minta Agung Sedayu.
Glagah Putih tidak dapat menolak. Iapun kemudian
berbenah diri dan dengan langkah segan pergi ke rumah Ki
Gede setelah makan pagi.
“ Marilah.” Ki Lurah yang telah berada diserambi
mempersilahkan.
Glagah Putihpun kemudian duduk bersama Ki Lurah
diserambi.
“ Ki Gede sedang bersiap-siap untuk pergi ke padukuhan
yang sedang mempersiapkan pembongkaran banjarnya yang
lama dan akan menggantikannya dengan yang baru.” berkata
Ki Lurah.
“ O” Glagah Putih mengangguk-angguk, “ kakang Agung
Sedayu juga akan pergi kesana. Sebenarnya aku juga akan
pergi ke banjar itu. Tetapi kakang menyuruhku datang kemari.”
Ki Lurah tersenyum. Katanya, “ Aku tahu, kau tentu merasa
segan menyertai Teja Prabawa melihat-lihat Tanah Perdikan
ini.”
“ Bukan maksudku Ki Lurah. Tetapi keduanya nampaknya
memang tidak menyenangi aku. Mereka lebih senang diantar
oleh Wirastama.” jawab Glagah Putih berterus terang.
Ki Lurah tertawa. Katanya, “ Teja Prabawa memang
mengagumi Wirastama. Agaknya Wirastama memang pandai
menunjukkan sesuatu yang menarik. Kelebihannya dan
pengakuannya bahwa ia telah mengenal Tanah Perdikan ini
melampaui orang-orang Tanah Perdikan ini sendiri.”
“ Mungkin ia memang mengenali Tanah Perdikan ini
dengan baik Ki Lurah.” jawab Glagah Putih.
Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun katanya, “ Tetapi
aku yakin bahwa kau tentu lebih mengenali Tanah Perdikan ini
sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede. Sementara itu, aku
memang agak cemas, karena mereka bertiga telah pergi ke
belumbang yang menurut Ki Gede mempunyai rahasia yang
menggetarkan. Bagian , yang dalam kadang-kadang telah
digoncang oleh pusaran air yang besar, yang mengisap
masuk kedalam lubang yang besar di batu padas didasar
belumbang itu.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia
berkata, “ Tetapi orang-orang di sekitar belumbang itu sudah
mengetahui. Ada beberapa tanda yang dibuat, agar mereka
yang mandi dan berenang di tempat itu tidak memasuki
daerah yang berbahaya. Pusaran air itu datang sewaktuwaktu.
Kadang-kadang dua hari dua malam tidak timbul
pusaran air itu. Namun kadang-kadang sehari semalam dapat
terjadi dua kali.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “ Aku jadi tertarik
pula untuk melihatnya. Mari kita pergi.”
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia merasa
tidak mapan dihatinya. Karena itu maka katanya, “ Aku akan
pergi Ki Lurah. Bukan maksudku untuk berkeberatan
menyusul mereka.”
Ki Lurah tersenyum. Katanya, “ Aku tidak apa-apa. Aku
memang ingin melihat belumbang itu. Aku sudah pernah
tinggal di Tanah Perdikan ini untuk waktu yang lama. Akupun
tahu bahwa ditempat itu ada belumbang. Tetapi aku belum
pernah mendengar tentang pusaran air itu sebelumnya.”
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “
Agaknya perhatian Ki Lurah pada waktu itu sepenuhnya
tertuju pada pembentukan Pasukan Khusus itu, sehingga Ki
Lurah tidak sempat memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi di
Tanah Perdikan ini.”
Ki Lurah justru tertawa. Katanya, “ Aku akan minta diri
kepada Ki Gede yang agaknya sudah siap untuk pergi ke
banjar itu.”
Demikianlah sejenak kemudian, Glagah Putih dan Ki Lurah
telah menyusul kedua cucu Ki Lurah itu ke belumbang yang
oleh orang-orang disekitarnya memang sering disebut telaga
kecil atas yang lain menyebutnya sendang. Tetapi mereka
berdua telah menempuh jalan pintas. Mereka tidak melalui
jalan yang banyak dilalui orang. Mereka telah melewati jalanjalan
sempit yang memang agak lebih sulit.
Sementara itu, kedua cucu Ki Lurah bersama Wirastama
memang telah pergi ke sendang yang terbelah dua itu. Ketika
mereka mendekati belumbang itu, maka Rara Wulan justru
telah mendahului kakaknya dan Wirastama. Meskipun ia
merasa lelah, tetapi ia memang segera ingin tahu belumbang
yang memang cukup luas yang sebagian dipergunakan untuk
mandi dan mencuci pakaian. Sendang itu letaknya disebelah
dataran yang sedikit lebih tinggi dari padukuhan-padukuhan di
sekitarnya, sehingga seakan-akan sendang itu terletak
dipuncak sebuah dataran tinggi.
Disekitar sendang itu terdapat pohon-pohon raksasa.
Namun karena tempat itu setiap hari didatangi banyak orang,
maka tempat itu menjadi bersih. Batu-batu besarpun menjadi
mengkilap karena hampir setiap hari batu-batu itu disentuh
tangan. Beberapa orang yang tidak tergesa-gesa mandi telah
duduk-duduk di atas batu-batu itu.
Ternyata tempat itu memang menarik bagi Rara Wulan. la
melihat beberapa orang gadis sebayanya berada di-pinggir
belumbang itu. Bahkan sebagian diantara mereka sedang
berendam. Disisi yang lain nampak beberapa orang
perempuan sedang mencuci pakaian. Sementara disebelah
yang lain lagi agaknya diperuntukkan bagi laki-laki.
Rara Wulan nampaknya menjadi kecewa. Ketika kakaknya
dan Wirastama mendekatinya maka iapun bertanya “ Jadi lakilaki
juga diperkenankan mandi di belumbang ini. “
“ Belumbang ini kepunyaan orang-orang disekitar tempat ini
“ berkata Wirastama “ jadi semua orang berhak
mempergunakannya. “
Rara Wulan tidak bertanya lagi. Sementara itu Teja
Prabawalah yang bertanya “ Di bagian mana belumbang ini
tidak boleh dipergunakan untuk mandi, yang menurut Ki Gede
sering terjadi pusaran air? “
Wirastama tertawa. Katanya “ Memang orang-orang
disekitar tempat ini tidak berani memasuki bagian yang
dibatasi oleh tiang-tiang bambu itu. Mereka berpendapat
bahwa dibagian yang dibatasi tiang-tiang itu sampai ketepi
seberang adalah daerah yang berbahaya. “
Teja Prabawa mengangguk-angguk. Namun Wirastama
berkata “ Agaknya kepercayaan itu timbul setelah pernah
terjadi seorang yang hilang dibagian yang dianggap
berbahaya itu. Namun agaknya orang itu tidak terlalu pandai
berenang, sementara bagian itu adalah bagian yang sangat
dalam, sehingga diperlukan ketrampilan tersendiri. “
“ Tetapi menurut Ki Gede, di bagian itu kadang-kadang
telah timbul pusaran yang seakan-akan menghisap air
kedalam tanah lewat lubang-lubang di batu padas di dasar
belumbang itu. “ berkata Teja Prabawa.
Tetapi Wirastama tersenyum sambil menjawab “
Nampaknya Ki Gede malas untuk menyelidiki apa yang
sebenarnya terjadi. Ia percaya saja kepada ceritera banyak
orang. Dan barangkali orang-orang setua Ki Gede berpikir,
apa salahnya mengambil langkah-langkah pengamanan.
Teja Prabawa mengangguk-angguk. Kepada adiknya ia
bertanya “ Apakah kau ingin mandi? “
Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Katanya “ Terlalu
banyak orang. “
“ Sudah menjadi kebiasaan disini “ berkata Wirastama.
“ Airnya jernih “ desis Rara Wulan. Namun ketika ia
menengadahkan wajahnya dilihatnya rimbunnya dedaunan
dari pohon-pohon raksasa.
Tiba-tiba saja ia berdesis “ Aku tidak mandi saja. Jika
kakang ingin mandi, mandilah. “
Raden Teja Prabawapun rasa-rasanya ngeri juga melihat
lingkungan disekitarnya meskipun ia melihat beberapa orang
telah berendam didalam air.
Wirastama yang melihat kedua cucu Ki Lurah itu raguragu
berkata “ Marilah. Aku sudah akan mandi. “ “ Tetapi
Rara Wulan menjawab “ Terlalu banyak orang. Lebih baik aku
tidak mandi. “
“ Wirastama termangu-mangu. Iapun kemudian
memandangi beberapa orang laki-laki yang sedang mandi
setelah kembali dari sawah.
“ Apakah aku harus mengusir mereka? “ bertanya
Wirastama.
“ Tidak. Jangan “ cepat-cepat Rara Wulan menjawab “
bukankah hak mereka untuk mandi di sendang itu? “
Wirastama mengangguk-angguk. Sementara itu iapun
bertanya kepada Teja Prabawa “ Bagaimana dengan kau? “
Teja Prabawa termangu-mangu. Sementara itu Rara Wulan
justru menjadi segan mendekati gadis-gadis dan perempuanperempuan
yang sedang mandi dan mencuci. Nampaknya
mereka justru sedang memperhatikannya dengan terheranheran.
“ Apakah aku menjadi tontonan disini? “ desis Rara Wulan.
“ Bukan tontonan “ sahut Wirastama “ mereka adalah
orang-orang padukuhan yang jarang melihat orang luar. Bagi
mereka orang-orang Kotaraja adalah orang-orang yang luar
biasa. Mereka tidak terbiasa memakai pakaian sebagaimana
kalian pakai sekarang. Dan kebetulan pula aku juga memakai
pakaian seorang perwira dari Pasukan Khusus. Agaknya
mereka tertarik untuk memperhatikan kita. “
Rara Wulan tidak menjawab. Iapun tahu, bahwa orangorang
aitu memperhatikan mereka karena orang-orang itu
jarang sekali melihat orang-orang dari Kotaraja yang datang
ke tempat yang sepi itu.
Namun dalam pada itu Wirastamapun berkata “ Marilah.
Kita mandi. Airnya bening sekali. Mata air dari belumbang
ini terdapat dibawah akar pohon-pohon raksasa itu.
Sementara dibagian lain airnya mengalir keluar melimpah ke
sebuah parit yang memang sudah disiapkan yang dapat
mengairi sawah yang cukup luas. Bahkan disegala musim,
karena dimusim kemarau pun air belumpung ini sama sekali
tidak berkurang. “
Teja Prabawa memang ragu-ragu. Tetapi nampaknya
memang segan sekali mandi dibelumbang yang airnya bening
sekali. Tidak terlalu dalam sementara iapun dapat berenang,
Akhirnya Raden Teja Prabawa itupun berkata “ Baiklah.
Aku akan mandi. “
“ Bagus “ berkata Wirastama. Tetapi ia masih berpaling
kepada Rara Wulan sambil berkata “ Marilah. Kau tentu juga
ingin mandi. “
Tetapi Rara Wulan menggeleng. Katanya “ Aku disini saja. “
Wirastama tidak memaksa meskipun ia agak kecewa.
Sebenarnya ia ingin juga Rara Wulan itu mandi bersama
mereka dibelumbang itu.
Demikian sejenak kemudian Wirastama dan Teja Prabawa
telah mencebur kedalam sendang yang airnya terasa sangat
sejuk. Matahari yang memanjat semakin tinggi dila-ngit,
memanasi air belumbang itu sehingga nampak berkilat-kilat.
Jika terasa kulit menjadi gatal oleh sinar matahari, maka
mereka dapat berenang menepi sehingga terlindung oleh
dedaunan dari pohon-pohon raksasa yang tumbuh dipinggir
sendang itu.
Ternyata kedua anak muda itu memang pandai berenang.
Keduanya meluncur kesana kemari. Anak-anak muda
padukuhan yang lebih dahulu mandi di sendang itu, tanpa
mereka sadari telah menepi. Seakan-akan mereka
memberikan tempat di sendang itu hanya untuk berdua saja.
Seorang dari Kotaraja, seorang lagi perwira Pasukan Khusus.
Rara Wulan yang duduk dipinggir sambil menunggui
pakaian kedua anak muda itu melihat keduanya dengan tersenyum-
senyum. Sebenarnya ada keinginannya untuk ikut
mandi. Tetapi selaina pohon-pohon raksasa yang akarakarnya
seakan-akan telah mencengkam belumbang itu,
iapun agak malu karena di belumbang itu terdapat beberapa
orang laki-laki. Namun iapun merasa segan pula untuk mandi
bersama Wirastama.
Gadis-gadis dan perempuan-perempuan yang sedang
mandi dan mencuci itupun telah berusaha mempercepat
pekerjaan mereka. Rasa-rasanya mereka tidak pantas untuk
mandi bersama-sama dengan orang-orang yang terhormat itu.
Namun demikian ternyata mereka tidak segera keluar dari air.
Mereka memang menepi. Tetapi ternyata mereka tanpa sadar
menonton kedua anak muda yang berenang dengan
ketrampilan yang tinggi itu.
“ Kau ternyata sangat pandai berenang “ puji Wirastama.
“ Ah, tidak terlalu baik “ jawab Teja Prabawa “ Kaupun
pandai pula. Bahkan kau mampu berenang sangat cepat dan
dengan berbagai macam gaya. “
Wirastama tertawa. Ia berenang semakin ketengah,
sehingga semakin dekat dengan tiang-tiang bambu yang
dipakai sebagai batas antara bagian yang tidak terlalu dalam
dan bagian yang lebih dalam. Bahkan lebih dari itu, dibelakang
patok-patok bambu itu, adalah bagian yang
dipengaruhi oleh pusaran yang kadang-kadang timbul di
sendang itu. Bahkan pusaran itu kadang-kadang nampak
begitu besar dan kuat, sehingga mampu menyeret seseorang
kedalam lubang yang terdapat didasar sendang itu.
Ketika tiba-tiba saja Wirastama menyentuh salah satu
diantara tiang-tiang itu, beberapa orang yang berada ditepi
sendang itu berdesah.
Teja Prabawapun menjadi gelisah melihat sikap Wirastama
yang sambil tertawa-tawa mengitari salah satu dari
tiang bambu itu.
Ketika ia kemudian berenang memasuki bagian yang dalam
itu semakin jauh, beberapa orang telah berteriak.
“ Jangan “ Teja Prabawapun berteriak pula.
Wirastama memang berpaling. Tetapi ia tidak kembali.
Bahkan iapun telah melambaikan tangannya sambil berenang.
“ Kembalilah tuan “ beberapa orang berteriak
mencegahnya. Sementara Teja Prabawa yang berenang
sampai kebataspun berteriak pula “ Kembalilah. “
Tetapi Wirastama justru berteriak pula “ Marilah. Disini
terasa belumbang ini menjadi lapang. Tidak ada apa-apa. “
Teja Prabawa menjadi sangat gelisah. Sambil berpegangan
tiang batas itu ia masih saja mencegah “ Cepat, kembalilah. “
Wirastama yang berenang dibagian dalam itu, berputar
sekali. Kemudian menyelam dan ketika ia muncul lagi dipermukaan
iapun berteriak “ Kemarilah. “
Tetapi Teja Prabawa tidak berani mendekat. Sementara
orang-orang yang berada ditepi sendang itu masih saja ada
yang berteriak “ Jangan tuan. Jangan kesana. “
Wirastama berenang terus. Bahkan ia telah meluncur
sampai ketepi seberang yang agak jauh. Sambil berpegangan
akar pepohonan ia melambaikan tangannya lagi. Dan sejenak
kemudian ia telah meluncur kembali kearah Teja Prabawa.
Wirastama tidak menyadari bahwa dua pasang mata
memperhatikannya selain orang-orang yang memang sudah
diketahuinya ada di pinggir belumbang itu. Bahkan sekalisekali
Wirastama berusaha untuk melambaikan tangannya,
kepada Rara Wulan yang menjadi pucat.
Dua orang itu justru berdiri dibalik pohon-pohon raksasa
disisi yang lain dari tempat Rara Wulan menunggu
dengan gemetar karena tingkah laku Wirastama.
“ Ki Lurah “ desis Glagah Putih yang sudah ada ditempat itu
bersama Ki Lurah Branjangan “ Wirastama telah melakukan
satu permainan yang sangat berbahaya. “
“ Ia ingin mendapat pujian “ berkata Ki Lurah.
“ Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu “ desis Glagah
Putih.
Orang-orang yang menyaksikan Wirastama itu berenang
mendekati Teja Prabawa telah menahan nafas. Bahkan
merekapun kemudian menarik nafas dalam-dalam ketika
Wirastama hampir mencapai tiang-tiang bambu itu. Karena
sesaat lagi, Wirastama akan berada ditempat yang aman.
Tetapi Wirastama tiba-tiba telah berputar lagi sambil
berkata “ Marilah. Disini menyenangkan. Bukankah kau lihat
tidak ada apa-apa dibagian yang dalam itu? “ “ Jangan “ cegah
Teja Prabawa.
Namun Wirastama justru berputar terus. Ia menuju
ketengah-tengah lagi dari bagian yang dalam itu.
“ Cukup, cukup “ teriak Teja Prabawa. Sedangkan orangorang
lainpun berteriak “ Jangan.
Jangan kembali ketengah. “
Tetapi Wirastama hanya tertawa-tawa saja sambil
berenang.
Orang-orang yang menyaksikan memang menjadi bingung.
Diluar sadar, mereka masih saja mencoba mencegahnya.
Sementara Teja Prabawapun masih juga berteriak-teriak.
Tetapi Wirastama tidak menghiraukannya.
Rara Wulan menjadi semakin pucat. Tetapi ia tidak dapat
berbuat apa-apa.
Dalam pada itu, air belumbang itu memang nampak
tenang. Namun tiba-tiba yang ditakutkan itupun datanglah.
Perlahan-lahan air dibagian yang dalam itu mulai bergerak.
Sebuah pusaran nampak memutar air yang semula
tenang itu.
Semua orang yang melihatnya berteriak lagi.
Wirastamapun terkejut. Ia merasa tubuhnya mulai ditarik oleh
sebuah pusaran air. Meskipun pusaran yang terjadi itu tidak
tepat dibawahnya. Namun rasa-rasanya tarikan air itu
demikian kuatnya.
Wirastama memang memiliki ketrampilan berenang.
Dengan sekuat tenaga ia melawan hisapan air itu. Beberapa
jengkal ia berhasil maju menjauhi pusaran yang menjadi
semakin besar itu. Namun kemudian tenaganya ternyata tidak
mampu melawan lagi. Meskipun Wirastama masih berusaha,
tetapi perlahan-lahan ia mulai terhisap kearah pusat dari
pusaran itu.
“ Ki Lurah “ wajah Glagah Putihpun menjadi tegang “ Ia
memerlukan pertolongan. “
“ Jangan turun “ cegah Ki Lurah “ jika kau turun, maka
kaupun akan terhisap. Betapapun besar tenagamu dan tenaga
cadangan didalam dirimu, tetapi kau tidak akan mampu
melawan pusaran air itu, karena air itu berputar dengan cepat
dan menghisap dengan kuat. Air itu dengan derasnya masuk
melalui lubang dibawah dasar belumbang ini kedalam celah
yang besar dibawah tanah. Karena itu, kekuatannya tentu
sangat besar. “
“ Tetapi Wirastama itu akan terhisap “ sahut Glagah Putih
dengan gelisah.
Ki Lurahpun menjadi tegang. Sementara itu Glagah Putih
berkata “ Tapi. Dimana ada tali? “
Ki Lurah memandang sulur-sulur pepohonan yang
bergayutan di pinggir belumbang itu. Namun sulur-sulur itu
tentu tidak cukup panjang untuk dapat menggapai Wirastama
yang semakin lemah dan mulai hanyut kedalam pusaran.
“ Jika tidak terputar semakin cepat, maka ia akan
memasuki pusat pusaran itu dan kemudian terhisap masuk
“ berkata Glagah Putih dengan gelisah.
“ Ya. Kita harus berusaha menolongnya. Tetapi jangan
justru menambah korban “ jawab Ki Lurah yang masih
mencoba memperhatikan sulur-sulur pepohonan.
Glagah Putih mengerti maksud Ki Lurah. Karena itu, maka
dengan tangkasnya ia telah menarik sehelai sulur. Kemudian
dengan kekuatan cadangan yang dikerahkannya, maka ia
telah menghentakkan sulur itu. Tetapi sulur itu ternyata putus
pada tempat yang tidak dikehendaki. Terlalu pendek.
Glagah Putih menjadi semakin gelisah. Ki Lurahpun
menjadi bingung. Ia tidak melihat kesempatan yang dapat
dipergunakan untuk menolong Wirastama. Sementara itu, ia
sangat berkeberatan jika Glagah Putih meloncat terjun
kedalam pusaran air. Jika demikian, maka kedua-duanya tentu
akan terhisap kedalam lubang batu padas didasar sendang
itu.
Ketika semua orang kehilangan harapan atas keselamatan
Wirastama, maka Glagah Putih telah mengambil satu
keputusan. Ia akan berbuat sesuatu meskipun agak untunguntungan.
Tanpa berusaha apapun juga, Wirastama tentu
akan terhisap. Sementara jika ia berusaha, masih ada
kemungkinan lain betapapun kecilnya.
Pada saat yang mendesak itu Glagah Putih telah
memusatkan nalar budinya. Ia adalah murid Ki Jayaraga yang
mampu melontarkan kekuatan ilmunya yang bersumber pada
kekuatan air, api, udara dan bumi. Karena itu, maka dengan
menghentakkan ilmunya, Glagah Putih telah menyerap
kekuatan udara dan melalui ilmunya melontarkannya kearah
pusaran yang semakin cepat itu. Sementara Wirastama yang
berjuang untuk berenang menjauh benar-benar telah
kehilangan kekuatannya.
Dari sela-sela pohon besar, Glagah Putih kemudian
menghentak ilmunya, melontarkannya menghantam
pusaran yang hampir menghisap Wirastama. Namun
Glagah Putih sadar, bahwa kekuatan ilmunya itu tidak boleh
mengenai perwira muda itu.
Ternyata sesuatu yang dahsyat telah terjadi. Pusaran air itu
telah dihempas oleh kekuatan yang sangat besar. Seakanakan
justru dari pusat pusaran itu telah terlontar gelombang
yang sangat besar.
Semua orang yang ada dipinggir belumbang itu terkejut
bukan buatan. Mereka tidak melihat Glagah Putih dan Ki
Lurah yang berada diantara pohon-pohon besar. Yang mereka
ketahui adalah bahwa tiba-tiba saja hempasan yang kuat itu
seakan-akan telah melemparkan Wirastama yang hampir saja
terhisap sampai kepusat pusaran, sampai ketepi sendang.
Demikian Wirastama jatuh lagi kedalam air, dibagian tepi
sendang, maka beberapa orang laki-laki telah berlari-lari dan
terjun kearahnya. Dengan serta merta mereka telah menarik
Wirastama yang lemah itu. Pantulan gelombang yang
membentur pinggir belumbang itu akan menyeretnya, jika
beberapa orang tidak menolongnya. Bahkan orang-orang
yang menolong itupun harus berjuang melawan arus air yang
memantul itu.
Ketika orang-orang itu mengangkat Wirastama dari dalam
air, maka orang-orang itupun telah menarik nafas lega.
Namun dalam pada itu, hempasan air telah mengguncang
bagian yang dibatasi oleh patok-patok bambu itu pula,
sehingga Teja Prabawapun harus berusaha untuk
melawannya dan mencapai tepi sendang itu.
Demikian ia naik, maka iapun telah berlari-lari mendekati
Wirastama yang terbaring dengan nafas yang terengahengah.
Perwira muda itu tidak pingsan. Tapi tenaganya
seakan telah terkuras habis, sehingga rasa-rasanya ia tidak
mampu lagi untuk bangkit.
“ Satu keajaiban telah terjadi “ berkata seorang lakilaki
yang menolongnya.
Teja Prabawa mengangguk. Tetapi ia tidak menyahut.
Sementara itu, Rara Wulan benar-benar menjadi gemetar
di tempatnya. Hampir saja justru Rara Wulanlah yang pingsan
seandainya Ki Lurah tidak mendekatinya.
Rara Wulan justru terkejut ketika ia mendengar suara
dibelakangnya “ Apa yang terjadi? “
Ketika Rara Wulan berpaling, dilihatnya Ki Lurah dan
Glagah putih berdiri termangu-mangu.
“ Kakek “ Rara Wulan yang ketakutan itupun telah meloncat
memeluk Ki Lurah.
“ Kau tidak apa-apa? “ bertanya Ki Lurah.
“ Wirastama “ jawab Rara Wulan dengan suara bergetar.
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Sementara Glagah
Putih telah mohon kepada Ki Lurah agar tidak mengatakan
apa yang terjadi.
Ki Lurahpun kemudian berkata kepada Rara Wulan “
Tinggallah disini. Aku akan melihat anak muda itu.
Rara Wulan mengangguk. Ketika ia berpaling ke
belumbang, maka dilihatnya gelombang yang tiba-tiba saja
melonjak dan melemparkan Wirastama itu telah hampir tidak
berbekas lagi. Yang nampak kemudian adalah pusaran air
yang semakin cepat, menukik kedasar belumbang.
Darah Rara Wulan berdesir. Ia membayangkan, apa yang
terjadi. seandainya Wirastama itu terhisap oleh pusaran itu
dan tubuhnya akan membentur batu-batu padas didasar
belumbang.
Ketika Ki Lurah kemudian mendekati Wirastama, maka
anak muda itu telah berusaha untuk dapat duduk. Ia harus
berusaha dengan sisa tenaga yang ada padanya, untuk
mengatur pernafasannya sehingga dengan demikian, ia
akan dapat mencapai ketenangan.
Ki Lurah membiarkan anak muda itu mencapai
keseimbangan pernafasan. Kepada orang-orang yang ada
diseki-tarnya ia berkata “ Kami, atas nama keluarga dan
pimpinan Pasukan Khusus mengucapkan terima kasih atas
pertolongan kalian. “
“ Bukan kami “ jawab seorang yang paling tua dian-tara
mereka “ satu keajaiban telah terjadi. Seumurku, belum
pernah melihat hal seperti ini. Pusaran itu memang sering
timbul dengan tiba-tiba tanpa diketahui waktunya. Tetapi
hempasan gelombang yang menyelamatkan perwira muda ini
belum pernah terjadi sebelumnya. “
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya “ Satu lantaran,
bahwa Tuhan masih menghendaki perwira muda itu berumur
panjang. “
Orang-orang yang mengangkatnya dari dalam air itu
menganguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata “ Satu
pertanda, bahwa pada anak muda ini terdapat sesuatu yang
tidak dimiliki oleh orang lain. Sehingga karena itu, maka
pusaran air itupun dapat dihalaunya meskipun keadaannya
sendiri nampaknya menjadi gawat. “
Tetapi Ki Lurah menggeleng. Katanya “ Nampaknya ia tidak
mengalami kesulitan pada dirinya. Ia hanya terlalu letih dan
barangkali kegelisahan. Tetapi setelah ia berhasil mengatur
pernafasannya, maka ia tentu akan menjadi baik kembali.
Ketika orang-orang yang menolongnya mengangguk maka
Teja Prabawapun berkata “ Ia memang seorang yang luar
biasa. Seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. “
Diluar sadarnya Ki Lurah berpaling kepada Glagah Putih
yang berdiri saja mematung.
Sejenak kemudian, maka keadaan Wirastamapun menjadi
berangsur baik. Nafasnya menjadi teratur, dan kekuatannya
sedikit demi sedikit telah tumbuh kembali.
Jantungnya yang semula bagaikan menghentak-hentak
telah berdetak dengan teratur.
“ Berpakaianlah. Lepaskan pakaian kalian yang basah. “
berkata Ki Lurah.
Tetapi Teja Prabawa berkata “ Kami harus berjemur sampai
pakaian basah ini kering. Kami tidak membawa ganti pakaian.
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
katanya “ Baiklah. Biarlah aku kembali bersama Rara Wulan.
Tetapi ingat, jangan diulangi. Kali ini nyawa angger Wirastama
dapat diselamatkan oleh satu keajaiban. Tetapi apakah hal
seperti itu akan terjadi lagi jika kalian masih juga mencobanya.
“
Teja Prabawa mengangguk. Sementara Wirastama yang
keadaannya menjadi semakin baik mencoba untuk bangkit
dibantu oleh beberapa orang.
“ Aku sudah dapat berdiri sendiri “ berkata Wirastama
sambil mengibaskan tangan orang-orang yang membantunya
berdiri.
Orang-orang itupun kemudian melepaskannya. Ternyata
seperti yang dikatakannya, maka Wirastama itupun memang
telah mampu berdiri tegak.
“ Nah, berbenah dirilah “ berkata Ki Lurah.
“ Aku tidak apa-apa Ki Lurah. “ berkata Wirasama memang
satu permainan yang berbahaya. Tetapi aku berhasil
mengatasinya.
Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun katanya Meskipun
demikian keadaanmu menjadi sangat buruk. Kau hampir
menjadi pingsan. Jika keadaan itu tidak teratasi, maka kau
sudah terhisap ke lubang didasar belumbang. “
“ Tetapi aku berhasil Ki Lurah “ berkata Wirastama.
“ Jika sekali lagi terjadi, mungkin keadaannya akan berbeda
“ sahut Ki Lurah.
Wirastama termangu-mangu. Namun ia tidak menjawab.
Kepada Teja Prabawa Ki Lurah itu berkata “ Aku bawa
adikmu pulang.
Teja Prabawa termangu-mangu. Namun Wirastama itupun
berkata “ Ki Lurah, kami berangkat bersama-sama. Biarlah
kami pulang bersama-sama. “
“ Dalam keadaan yang wajar, tidak apa-apa. Tetapi anak itu
nampaknya telah terpengaruh oleh keadaan, sehingga ia
menjadi sangat terkejut. Biarlah aku membawanya kembali
mendahului kalian yang masih akan berjemur untuk
mengeringkan pakaian kalian. Tanpa Rara Wu-lan, kalian
akan dapat lebih bebas untuk berbuat apa saja yang pantas
dilakukan oleh seorang laki-laki. “ berkata Ki Lurah.
Wirastama tidak dapat menahan Rara Wulan untuk tinggal.
Sebenarnya ia menjadi tidak senang melihat Rara Wulan
kembali bersama kakeknya dan Glagah Putih.
Tetapi Glagah Putih memang tidak minta diri. Baik Raden
Teja Prabawa maupun Wirastama sama sekali tidak
menghiraukannya. Seakan-akan keduanya berpalingpun tidak
kepada anak muda itu.
Sejenak kemudian, maka Ki Lurahpun telah meninggalkan
belumbang itu bersama dengan Rara Wulan. Sementara itu
Glagah Putih berjalan di belakangnya.
Wirastama dan Teja Prabawa memandanginya dari ke
jauhan. Dengan geram Wirastama berkata “ Sekali-sekali
penjilat itu perlu mendapat pelajaran. “
“ Ya “ desis Teja Prabawa “ anak itu memang sombong
meskipun sangat dungu. Tetapi nampaknya Ki Gede terlalu
percaya kepadanya. Dengan demikian maka kakek-pun ikut
mengagumi anak itu. “
“ Pada saatnya ia akan menjadi jera “ geram Wirastama.
Teja Prabawa mengangguk-angguk. Namun kemudian
katanya “ Kita harus menjemur di panasnya matahari. “
Keduanyapun kemudian melangkah ketempat yang disinari
oleh matahari. Sementara itu Wirastama masih juga sempat
berkata kepada orang-orang yang menolongnya meskipun
hanya sepatah “ Terima kasih. “
Sambil berbaring diatas sebuah batu yang besar di
panasnya matahari yang masih belum menyengat, Wirastama
berkata “ Ternyata sendang ini sangat menarik. Aku ingin
mencoba lagi apakah pusaran itu memang berbahaya.
“ Jangan “ berkata Teja Prabawa “ jika kau tidak yakin,
maka hal itu akan sangat berbahaya bagimu. “
Wirastama tersenyum. Katanya “ Tentu tidak sekarang.
Kekuatanku belum pulih seluruhnya. Aku memang harus
beristirahat dan berusaha memulihkan kekuatanku kembali.
Tetapi pada kesempatan yang lain, barangkali aku dapat
mencobanya lagi. “
“ Kau jangan berbuat untung-untungan “ berkata Teja
Prabawa.
“ Kau tidak yakin akan kemampuanku? “ bertanya
Wirastama.
“ Aku percaya “ Jawab Teja Prabawa “ tetapi aku ngeri
melihatnya. “
Wirastama tertawa. Katanya tanpa beranjak dari tempatnya
“ Aku, yang mengalaminya tidak merasa ngeri sama sekali. “
“ Aku tidak mempunyai ketahanan jiwani sebagaimana kau.
“ sahut Teja Prabawa.
Wirastama justru tertawa semakin keras.
Dalam pada itu, maka orang-orang yang mandi dan
mencuci disendang itu telah pergi seorang demi seorang,
sehingga akhirnya tepi sendang itu menjadi sepi. Orangorang
yang pulang ke padukuhan masing-masing telah
sempat berceritera, tentang apa yang telah terjadi. Seorang
anak muda yang hanyut kedalam arus putaran ditempat yang
memang sudah diberi bertanda itu. Namun tiba-tiba saja
gelombang yang menghentak telah melemparkannya jauh
ketepi, sehingga anak muda itu jatuh keluar jangkauan
pusaran yang menjadi semakin sempit, tetapi semakin cepat
dan kuat menghisap air kedalam lubang dibawah dasar
sendang itu.
“ Luar biasa “ desis beberapa orang.
“ Mungkin anak muda itu termasuk orang yang sakti “
berkata salah seorang diantara mereka.
“ Mungkin saja atau oleh sebab-sebab lain yang tidak dapat
kita jangkau dengan penalaran kita yang bodoh ini “ berkata
seorang yang usianya sudah separo baya. Katanya
selanjutnya “ Satu peristiwa yang bukan saja seumurku, tetapi
orang-orang tua di padukuhan ini tentu belum pernah melihat
dan mengalaminya. Sungguh satu keajaiban. “
Peristiwa yang terjadi di sendang itupun kemudian telah
tersebar dari mulut kemulut. Bukan saja satu dua padukuhan,
tetapi telah menjalar hampir keseluruh Tanah Per-dikan.
Bahkan ke padukuhan-padukuhan di luar Tanah Per-dikan.
Begitu cepatnya. Justru karena seorang diantara orang-orang
yang menyaksikan itu telah pergi ke sebuah pasar kecil yang
menjadi ramai setiap sepekan sekali. Disa-nalah ceritera itu
mula-mula tersebar. Orang-orang yang sudah waktunya
pulang itupun telah membawa berita itu ke rumah masingmasing.
Ketetangga masing-masing dan semakin lama
menjalar semakin jauh.
Wirastama dan Teja Prabawapun telah meninggalkan
sendang itu pula. Pakaian mereka telah menjadi kering
sehingga merekapun kemudian telah mengenakan kain
panjang mereka, baju dan kelengkapan pakaian yang lain.
Meskipun mereka telah berjalan semakin jauh, namun
sekali-sekali Teja Prabawa masih juga berpaling.
Rambutnya masih meremang jika ia mengingat apa yang baru
saja terjadi disendang itu.
“ Kita tidak langsung kembali “ berkata Wirastama.
“ Kemana? “ bertanya Teja Prabawa.
“ Setelah mandi dan berenang, aku menjadi lapar. Apakah
kau tidak merasa lapar? “ bertanya Wirastama.
Teja Prabawa termangu-mangu. Namun kemudian katanya
“ Baiklah. Terserah kepadamu. “
“ Kita akan kembali ke pasar. Tetapi aku kira, kedai yang
paling baik hanya terdapat di padukuhan induk. Karena itu,
kita akan pergi ke padukuhan induk. “ berkata
Diluar sadarnya Teja Prabawa menengadahkan wajahnya
memandangi matahari yang semakin tinggi. Wirastama
agaknya mengetahui apa yang dipikirkan oleh Teja Prabawa.
Karena itu, maka iapun berkata “ Kedai-kedai didekat pasar di
padukuhan induk itu kebanyakan dibuka sampai lewat tengah
hari. Bahkan ada yang sampai senja, karena lalu lintas
dagangan, terutama hasil bumi berlangsung sampai malam.
Beberapa buah kedai justru mempunyai ruangan-ruangan
yang agak besar yang dipergunakan oleh para pedagang yang
kemalaman sebagai penginapan. “
Teja Prabawa mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak
bertanya lagi tentang kedai itu. Ia mengikuti saja Wirastama
yang ternyata telah berjalan semakin cepat.
Dalam pada itu, Ki Lurah Branjangan yang mendahului
kembali ke padukuhan induk bersama Rara Wulan dan
Glagah Putih telah menjadi semakin dekat. Mereka berjalan
perlahan-lahan sambil memandangi hijaunya tanaman di
sawah.
Ternyata Ki Lurah Branjangan banyak bertanya ten-
Wirastama.
tang berbagai hal kepada Glagah Putih. Bahkan
pertanyaan Ki Lurah bukan saja menyangkut pengetahuan
orang-orang Tanah Perdikan dalam bercocok tanam,
berternak dan pekerjaan-pekerjaan lainnya, tetapi Ki Lurah
telah bertanya tentang berbagai pengalaman yang pernah
dihayati oleh Glagah Putih.
Tanpa berprasangka apapun juga, Glagah Putih telah
menjawab pertanyaan-pertanyaan Ki Lurah Branjangan.
Bahkan diluar sadarnya, Glagah Putih telah sekali-sekali
menyebutkan, bahwa ia memang pernah menghadap
Panembahan Senapati.
“ Kau pernah pergi ke Kotaraja “ tiba-tiba saja Rara Wulan
bertanya.
Glagah Putih tergagap sejenak. Namun iapun kemudian
menjawab “ Tidak secara khusus pergi ke Kotaraja. Ketika aku
datang ke Tanah Perdikan ini dari padukuhan asalku, maka
dalam perjalanan itulah, aku sempat lewat Kotaraja.
Hara Wulan mengangguk-angguk. Namun Ki Lurah
Branjangan yang telah mendengar beberapa hal tentang
Glagah Putih dari Agung Sedayu maupun Ki Gede itupun
bertanya “ He, ikat pinggangmu sangat menarik. Dimana kau
membeli? Nampaknya kulit yang dipakai sebagai bahan
adalah kulit pilihan? Kulit lembu, kulit buaya atau kulit ular? “
Glagah Putih memang menjadi kesulitan untuk menjawab.
Tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat berdiam diri saja.
Karena itu, maka jawabnya kemudian “ Entahlah. Kakang
Agung Sedayu yang memberiku ikut pinggang ini.
Ki Lurah tertawa. Ditepuknya bahu Glagah Putih sambil
berkata “ Ternyata pengaruh sikap kakak sepupumu itu
tampak jelas padamu. “
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya
ia meraba ikat pinggangnya yang diterima dari Ki Mandaraka.
Sementara itu Rara Wulan bertanya kepada kakeknya
“ Siapa yang telah menghadap Panembahan Senapati kek?
Bukankah tadi disebut-sebut tentang pesan Panembahan
Senapati? “
Ki Lurah mengerutkan keningnya. Dipandanginya Glagah
Putih sekilas. Namun dengan cepat Glagah Putih menyahut “
Tentu Ki Lurah yang telah menghadap Panembahan Senapati.
“
“ Tetapi apakah benar kakek yang tadi disebut-sebut?
“ bertanya Rara Wulan yang tidak begitu jelas mendengar
pembicaraan kakeknya dengan Glagah Putih justru karena ia
sedang memperhatikan batang batang padi yang hampir
berbunga.
“ Ya Rara “ jawab Glagah Putih “ memang Ki Lurah yang
tadi kami sebut-sebut. “
Rara Wulan memandang kakeknya yang hanya tersenyum-
senyum saja. Bahkan Ki Lurah itupun kemudian
berkata “ Sudahlah. Marilah kita melihat keramaian pasar
meskipun sudah agak siang. “
“ Aku tadi sudah singgah dipasar “ berkata Rara Wulan.
“ O “ Ki Lurah mengangguk-angguk “ tetapi baiklah. Apa
salahnya kita melihat pasar lagi. “
Rara Wulan tidak membantah. Ketiganyapun kemudian
telah pergi ke pasar di padukuhan induk. Meskipun orangnya
sudah mulai berkurang, namun pasar itu masih cukup ramai.
Ternyata perhatian Ki Lurah terutama tertuju pada beberapa
orang pande besi yang berada di pinggir pasar itu.
“ Agaknya mereka mendapat banyak pekerjaan hari ini “
berkata Ki Lurah.
“ Apakah Ki Lurah memerlukan sesuatu? “ bertanya
Glagah Putih.
Ki Lurah tersenyum sambil menggeleng. Katanya “ Tidak.
Tetapi aku selalu tertarik pada pande besi. Aku senang
melihat bagaimana mereka membuat alat-alat pertanian.
Mereka bekerja keras dan penuh kesungguhan. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Iapun mengikut saja Ki
Lurah dan Rara Wulan yang melihat-lihat pada pande besi
yang sedang bekerja didepan perapian yang panas, sehingga
keringat mereka membasahi seluruh tubuh bagaikan mereka
baru saja mandi.
Namn agaknya Rara Wulan tidak begitu telaten
sebagaimana kakeknya. Meskipun nampaknya Ki Lurah masih
asyik memperhatikan salah seorang diantara para pande besi
itu, Rara Wulan menggamitnya sambil berkata “ Marilah kek.
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Kau tahu,
orang itu sedang membuat apa? “ Rara Wulan menggeleng.
Karena itu lihatlah, apa yang akan dibuatnya “ berkata Ki
Lurah.
Rara Wulan mengerutkan keningnya. Tetapi ia mulai jemu.
Karena itu maka katanya “ Kakek akan menunggu sampai
orang itu selesai? “
“ Tidak. Aku hanya akan menunggu sampai kita melihat
bentuk dari benda yang dibuatnya itu “ jawab Ki Lurah.
Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi wajahnya mulai
menjadi gelap.
Ketika Ki Lurah dan Glagah Putih sedang memperhatikan
benda yang sedang dibuat oleh pande besi itu, tiba-tiba saja
Rara Wulan menjerit kecil sambil meloncat. Sementara itu,
beberapa orang anak muda tertawa berbareng sambil
memandanginya.
“ Kau tentu bukan anak Tanah Perdikan ini “ berkata salah
seorang diantara anak muda itu. Nampaknya ia anak seorang
yang kecukupan menilik pada pakaiannya. “ kau datang dari
Kademangan mana anak manis?
Wajah Rara Wulan menjadi merah. Sementara itu Glagah
Putih telah berdiri dihadapan anak muda itu. Iapun telah
bertanya pula “ Nampaknya kau juga bukan anak linah
Perdikan ini anak anak muda. Apakah kau datang dari
Kademangan sebelah, atau datang dari mana saja? Se-lama
ini rasa-rasanya aku belum pernah melihat kalian. “
Anak-anak muda itu memandang Glagah Putih sejenak.
Namun merekapun kemudian tertawa berkepanjangan.
Tetapi suara tertawa mereka berhenti. Seorang anak muda
tiba-tiba telah berdiri di sebelah Glagah Putih. Anak muda
Tanah Perdikan Menoreh yang sudah mengenal Glagah Putih
dengan baik.
- Glagah Putih “ katanya “ anak-anak ini tentu sekelompok
anak muda yang menjadi tamu keluarga orang-orang kaya
diluar Tanah Perdikan ini. Agaknya pasar di Tanah Perdikan
ini telah menarik perhatian mereka. Tetapi mereka tentu belum
mengenalmu. Karena itu, ada baiknya kau memperkenalkan
dirimu dengan mereka. “
Glagah Putih termangu-mangu. Diluar sadarnya ia
berpaling kepada Rara Wulan. Sementara Ki Lurah telah
berdiri dekat disisi cucunya.
Anak muda Tanah Perdikan itu yakin, bahwa anak-anak
muda itu tidak akan mampu berbuat sesuatu terhadap Glagah
Putih. Bahkan jika Glagah Putih menghendaki, maka mereka
akan mengalami nasib yang sangat buruk.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja dua orang anak muda
telah menyibak mereka. Dengan garang Wirastama bertanya “
Apa yang terjadi? “
Diluar sadarnya, Rara Wulan menjawab “ Anak-anak
itu mengganggu aku. “
Wirastama menggeram. Selangkah demi selangkah
didekatinya anak anak muda itu sambil berkata “ Siapa yang
telah melakukannya? “
Adalah diluar dugaannya, bahwa beberapa orang anak
muda itu hampir berbarengan menjawab “ Aku yang
melakukannya. “
Wajah Wirastama menjadi merah. Ternyata anak-anak
muda itu sama sekali tidak merasa segan melihat pakaian
Wirastama. Pakaian yang dikenakannya adalah pakaian
seorang perwira dari Pasukan Khusus. “
“ Bagus “ geram Wirastama kemudian “ ternyata kalian
adalah anak-anak muda yang berani
mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ternyata anak
gadis yang kau ganggu itu tidak mau menerima begitu saja
perlakuan kalian. “
“ Lalu, gadis itu mau apa? “ bertanya salah seorang
diantara anak-anak muda itu.
Wajah Wirastama memang menjadi panas. Dengan suara
yang bergetar ia berkata “ Aku adalah keluarganya. Aku tidak
akan membiarkan kalian berbuat tidak sewajarnya itu. “
Anak-anak muda itu berpandangan sekilas. Kemudian tibatiba
saja mereka tertawa. Katanya “ Kau marah? Sayang kau
memakai pakaian seorang prajurit. Jika aku tidak mau
melawanmu, karena kau adalah seorang prajurit. Aku tidak
mau bertengkar dengan seorang prajurit. “
Wirastama benar-benar marah mendengar jawaban itu.
Tiba-tiba saja ia berkata “ Baik. Kita akan berhadapan sebagai
anak-anak muda. Kau telah mengganggu seorang gadis yang
kebetulan adalah keluargaku. Kita akan keluar dari pasar ini
dan aku akan menanggalkan pakaian keprajuritanku. “
“ Bagus “ anak muda itu tertawa pula.
Demikianlah, maka Wirastamapun kemudian berkata
kepada Ki Lurah “ Serahkan persoalan mereka kepadaku. -
Wirastama yang diikuti oleh Teja Prabawapun kemudian
telah keluar daripasar itu. Glagah Putih, Ki Lurah dan Rara
Wulanpun mengikuti mereka pula. Sementara itu beberapa
orang anak muda telah beramai-ramai berjalan beriringan di
belakang mereka. Seorang diantara mereka sempat berteriak
“ Gadis itu akan menjadi taruhan. “
“ Setan “ geram Wirastama.
Ternyata Wirastama telah pergi ke sebuah tempat yang
agak lapang di belakang sederet kedai. Beberapa orang yang
melihat menjadi berdebar-debar. Mereka mengerti, bahwa
tentu terjadi sesuatu dengan anak muda itu.
Sejenak kemudian, mereka memang telah berkumpul di
tempat yang lapang itu. Wirastama dengan geram telah
membuka bajunya yang diberi pertanda keprajuritan.
“ Mari, siapa yang merasa bertanggung jawab atas
perlakuan yang tidak sewajarnya itu. “ bertanya Wirastama.
Tetapi sekali lagi terdengar beberapa orang anak itu
menjawab bersama-sama “ Aku. “
Wirastama termangu-mangu sejenak. Ia mengerti maksud
anak-anak muda itu. Agaknya mereka akan berkelahi
bersama-sama.
Wirastama masih sempat menghitung anak-anak muda itu.
Dengan lantang ia berkata “ Bagus. Agaknya kalian berlima
ingin bertanggung jawab bersama-sama, he? Pada langkah
pertama kalian telah dapat aku baca, bahwa kalian adalah
pengecut. “
Tetapi kelima anak muda itu tertawa. Seorang diantara
mereka berkata “ Alangkah nikmatnya mendapat julukan itu.
Aku sudah lama ingin mendapat pengakuan tentang
sebutan yang aku inginkan sejak bertahun-tahun itu.
Kemarahan Wirastama benar-benar tidak tertahankan lagi.
Tiba-tiba saja ia telah meloncat sambil mengayunkan
tangannya.
Wirastama adalah seorang perwira dari Pasukan Khusus.
Karena itu, ia memiliki kemampuan yang tinggi dalam olah
kanuragan. Ditambah dengan ketekunannya berlatih dan
menyadap ilmu dari kakaknya yang menyebut dirinya Ki
Nagageni.
Karena itu, maka ayunan tangan Wirastama benar-benar
telah mengejutkan anak muda itu. Bahkan demikian kerasnya
sehingga anak muda telah terdorong beberapa langkah,
kemudian terhuyung-huyung. Hampir saja ia kehilangan
keseimbangan dan jatuh terguling. Namun ternyata bahwa ia
masih mampu untuk dapat tetap tegak berdiri betapapun
perasaan sakit menyengat pipinya. Bahkan ternyata bahwa
mulutnya telah berdarah karena sebuah giginya telah patah.
“ Setan “ geram anak muda itu “ kau benar-benar ingin
mati. “
Anak muda yang bernama Wirastama itu tidak
menghiraukannya. Sebagai seorang prajurit, maka ia tidak
menunggu. Dengan mempergunakan segenap kekuatannya
Wirastama telah mempergunakan kesempatan yang ada.
Baginya lebih baik menyerang lebih dahulu daripada ia harus
bertahan. Apalagi lawannya ternyata jauh lebih banyak
Karena itu, selagi kawan-kawan anak muda itu masih
termangu-mangu, Wirastama telah meloncat sekali lagi.
Kakinya berputar menyambar seorang diantara lawanlawannya.
Namun demikian kakinya berjejak ditanah, maka
tangannya yang telah menyambar dada anak muda yang lain.
Kedua orang anak muda itu terdorong surut beberapa
langkah. Tetapi Wirastama tidak terhenti. Dengan sigapnya
ia telah menyerang kedua anak muda yang lain
sebelum mereka sadar sepenuhnya, apa yang telah terjadi
atas mereka.
Anak-anak muda itu memang mengumpat-umpat. Tetapi
Wirastama sudah berhasil menyakiti mereka semuanya.
Bahkan tanpa menunggu lagi iapun telah berloncatan
menyambar-nyambar. Kakinya melenting melontarkan
tubuhnya yang seakan-akan tidak berbobot itu. Dengan cepat
ia telah berhasil mengenai lagi tubuh lawan-lawannya.
Kelima orang anak muda itu tiba-tiba telah terbangun dari
keterkejutan mereka. Dengan sigapnya mereka telah bersiap
menghadapi Wirastama. Namun mereka telah terlanjur
kesakitan. Seorang diantara mereka nafasnya bagaikan telah
menyumbat dadanya. Seorang lagi yang dikenai pundaknya,
tangannya seakan-akan menjadi lumpuh. Yang terbesar
diantara mereka, bertubuh tinggi tegap, perutnya menjadi
sangat mual. Seakan-akan usus-ususnya telah menjadi kusut.
Dengan demikian, betapa kemarahan menghentak-hentak
dada anak-anak muda itu, namun mereka tidak mampu lagi
bertempur dengan kemampuan mereka sepenuhnya. Apalagi
Wirastama yang memiliki bukan saja ilmu, tetapi kecerdasan
menguasai medan, sebagaimana seorang perwira dari
Pasukan Khusus.
Sejenak kemudian, maka pertempuran diantara mereka
menjadi semakin sengit. Namun Wirastama yang tangkas itu
nampak semakin garang. Lawan-lawannya tidak banyak
mendapat kesempatan menyerangnya, meskipun mereka
berlima. Bahkan setiap kali, kaki dan tangan Wirastama yang
telah mengenai mereka seorang demi seorang.
Dengan demikian, maka kelima orang anak muda itu mulai
menjadi cemas. Mereka tidak menyangka bahwa prajurit muda
itu memiliki ilmu yang tinggi dan kemampuan mengambil sikap
yang cepat dan tepat.
Dalam pada itu Wirastama yang marah itupun telah
bertempur dengan segenap kekuatan yang ada. Sentuhan
tangan dan kakinya memang mampu melemparkan lawanlawannya.
Seorang diantara mereka telah terpelanting jatuh.
Ketika ia berusaha bangkit maka tiba-tiba kawannya yang lain
telah jatuh menimpanya, sehingga kedua-duanya telah
berguling-guling beberapa kali.
Untuk beberapa lama Wirastama masih saja bertempur
dengan segenap kekuatan dan kemampuannya. Didorong
oleh kemarahan yang membakar jantungnya, maka dalam
waktu yang tidak terlalu lama, ia telah berhasil mengalahkan
kelima orang lawannya. Kelima orang anak muda itu telah
tidak berdaya lagi, ketika kemudian Wirastama berdiri diantara
mereka sambil bertolak pinggang.
“ Nah, jika kalian ingin tertawa, tertawalah “ geram
Wirastama.
Anak-anak muda itu tidak dapat tertawa lagi. Tetapi yang
terdengar adalah keluhan kesakitan.
“ Ayo, cepat bangkit. Jika kalian memang laki-laki yang
bertanggung jawab, yang telah berani mengganggu seorang
gadis, maka kalian tidak akan takut mempertaruhkan nyawa
kalian. Ayo, siapa diantara kalian seorang laki-laki. Aku telah
menanggalkan pertanda keprajuritanku. Tidak seorangpun
akan menyalahkan kalian, karena kalian melawan seorang
perwira dari Pasukan Khusus. “ geram Wirastama.
Kelima orang itu masih saja mengeluh. Tidak seorangpun
yang bangkit, apalagi bersiap untuk melawan.
Karena kelima anak muda itu tidak melawannya, maka
Wirastama telah menarik baju anak yang paling besar diantara
mereka sambil membentak “ Ayo, bangun. Jawab
pertanyaanku. “
Anak muda itu menjadi semakin ketakutan. Sebelah
matanya telah membiru sementara perutnya yang mual
menjadi semakin mual. Mulutnya berdarah dan nafasnya
menjadi tersendat-sendat.
“ Siapakah kalian sebenarnya he? “ bertanya Wirastama.
Anak muda itu termangu-mangu. Karena itu, Wirastama telah
mengguncang bajunya sambil berteriak “ Siapakah kalian
sebenarnya? “
“ Aku, eh, kami berlima adalah saudara seperguruan “
jawab anak muda itu.
“ Seperguruan? Kepada siapa kalian berguru he? Kalian
sama sekali tidak menunjukkan kemampuan olah kanu-ragan
sama sekali. Jika kalian berguru, seperti apa kira-kira rupa
gurumu itu? “ bentak Wirastama pula.
Kelima orang itu memang merasa tersinggung atas
penghinaan terhadap gurunya itu. Tetapi mereka tidak berani
berbuat apa-apa.
“ Siapa gurumu he? Dan sudah berapa lama kalian
berguru? “ bertanya Wirastama.
Anak muda itu menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi
Wirastama telah mengguncangnya lagi dengan kasar sambil
membentak “ Cepat, jawab.
Karena anak itu tidak segera menjawab, maka Wirastama
tiba-tiba telah memilin tangannya sambil mendesaknya “ cepat
jawab, atau tanganmu akan patah. “
“ Jangan, jangan “ anak muda itu merintih.
“ Katakan siapa gurumu “ geram Wirastama.
Anak muda itu masih ragu-ragu. Tetapi karena Wirastama
memilin tangannya semakin keras, maka anak muda itupun
menjawab dengan kata-kata yang terbata-bata
Guruku adalah Kiai Sangkan dan Kiai Paran.
Wirastama termangu-mangu. Ia belum pernah mendengar
nama itu. Namun seorang pengawal yang menunggui
perkelahian itu mendekati Glagah Putih sambil berkata “
Memang, dipesisir Selatan, di sebuah Kademangan ada
seorang yang mengaku sakti dan membuka sebuah
perguruan. Belum lama, baru beberapa bulan. Tetapi kedua
orang itu hanya menerima murid dari antara orang-orang yang
kaya raya dan memungut bayaran yang tinggi. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi katanya
kemudian “ Yang aku dengar agaknya namanya bukan Kiai
Sangkan dan Kiai Paran. “
“ Siapapun namanya. Tetapi perguruan itu memang ada.
Tetapi letaknya memang agak jauh dari Tanah Perdikan ini. “
jawab pengawal itu.
Glagah Putih termangu-mangu. Sebenarnyalah bahwa ia
memang kurang tahu nama orang-orang yang mendirikan
perguruan itu. Tetapi menurut pendengarannya nama-nama
itu adalah nama-nama yang menyeramkan.
Tiba-tiba saja pengawal Tanah Perdikan itu berbisik “ Ya.
Aku ingat. Mereka mempergunakan nama yang tidak
sewajarnya. Seorang bernama Brajasaketi dan seorang
bernama Brajasayuta. “
Glagah Putih termangu-mangu. Namun iapun kemudian
mendekati anak muda yang masih dipilin tangannya oleh
Wirastama. Dengan nada rendah ia bertanya “ Apakah
hubungannya Kiai Sangkan dan Kiai Paran dengan orang
yang menyebut dirinya Brajasaketi dan Brajasayuta? “
Wajah anak muda itu menjadi sangat tegang. Namun
kemudian jawabnya “ Nama itu adalah nama guruku. Kiai
Sangkan adalah Kiai Brajasaketi sedangkan Kiai Paran juga
menyebut dirinya Kiai Brajasayuta. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya “ Jadi kalian
murid-murid dari perguruan itu. Jika demikian maka kalian
tentu anak orang-orang kaya, karena hanya orang-orang kaya
yang dapat membayar banyak sajalah yang diterima menjadi
murid perguruan itu. “
Anak-anak muda itu tidak menjawab. Tetapi Glagah
Putih berkata pula “ Bahkan kalian adalah anak orangorang
kaya yang menganggap bahwa uang adalah segalagalanya
dapat terbaca pula pada sikap kalian.
Anak-anak muda itu tidak menjawab. Sementara itu
Wirastamapun berkata lantang “ Katakan, apakah kalian
merasa jera atau tidak? “
“ Baik-baik. Kami tidak akan melakukannya lagi jawab anak
yang terbesar itu. Yang bertubuh tinggi tegap.
“ Semua diantara mereka harus mengatakannya “ geram
Wirastama. “
Karena yang lain tidak segera mengucapkannya, maka
Wirastama telah menguatkan pilinannya sambil membentak “
Cepat ucapkan bersama-sama atau tangan ini akan patah.
Bahkan juga tangan-tangan kalian yang lain. “
Anak-anak muda itu menjadi ketakutan. Hampir berbareng
mereka berkata “ Baiklah. Kami menjadi jera. “
Namun nampaknya Wirastama masih menginginkan
mereka berteriak “ Katakan sekali lagi. Lebih keras. “
Tetapi yang terdengar adalah suara yang lain, yang seakan
akan menggetarkan jantung “ Cukup. Aku kira sudah cukup. “
Semua orang berpaling kearah suara itu. Wajah-wajah-pun
menjadi tegang ketika mereka melihat dua orang yang sudah
setengah baya melangkah mendekati Wirastama.
“ Aku setuju kau menghukum keduanya. Tetapi hukuman
itu sudah cukup. Jangan memaksa lagi, agar kami tidak usah
ikut campur “ berkata salah seorang diantara mereka.
“ Guru “ tiba-tiba kelima orang itu hampir berbareng
berdesis.
Wirastama memandang kedua orang itu dengan wajah
yang tegang. Namun hampir diluar sadarnya ia sudah
melepaskan tangan anak muda yang dipilinnya itu.
“ Anak muda “ berkata orang yang baru datang itu
selanjutnya Aku kira hukuman yang kau berikan sudah cukup
berat bagi kesalahan yang mereka lakukan. Aku tahu, apa
yang telah dilakukan oleh murid-muridku. Memang satu
kesalahan yang tidak pantas dilakukan oleh anak-anak muda
sejaman dengan aku. Tetapi sebenarnya bagi anak-anak
muda sekarang, tentu tidak begitu bersalah. “ Tetapi bukan
maksudku mengatakan bahwa mereka tidak bersalah. “ orang
itu berhenti sejenak, lalu katanya “ Akupun harus
menganggukkan kepala untuk menghormati sikap jantanmu,
karena kau telah menanggalkan pakaian keprajuritanmu dan
berhadapan dengan murid-murid sebagaimana seorang anak
muda. “
Wirastama memandang kedua orang itu berganti-ganti.
Lalu katanya kemudian kepada keduanya “ Kalian harus lebih
banyak mengajari murid-muridmu untuk bertindak lebih sopan
dan mengenal unggah-ungguh. “
Kedua orang itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata.
Kau tidak usah mengajari aku. Bagiku sudah cukup jika muridmuridku
merasa bersalah, dan apalagi sudah berjanji untuk
tidak mengulanginya. “
***
API DI BUKIT MENOREH SERI III
JILID 235
“ TETAPI ternyata murid-muridmu sama sekali tidak tahu
unggah-ungguh.” Wirastama hampir berteriak, “ tanpa
bimbingan gurunya aku tidak yakin, bahwa yang diucapkan itu
benar-benar satu janji yang akan dipatuhi.”
“ Percaya atau tidak percaya itu adalah hakmu. Sekarang
aku akan membawa murid-muridku pergi. Mereka sudah lama
menjadi tontonan disini, justru disaat mereka berlima
dikalahkan dalam satu perkelahian. Meskipun kelima muridmuridku
itu tidak perlu merasa rendah diri, karena yang
mengalahkannya adalah seorang perwira dari Pasukan
Khusus. Murid-muridku akan merasa terhina jika mereka
dikalahkan oleh anak-anak padukuhan di Tanah Perdikan ini.”
jawab salah seorang dari kedua orang guru dari kelima anak
muda itu.
Kata-kata itu memang menyinggung perasaan Glagah
Putih. Apalagi ketika pengawal Tanah Perdikan yang
kemudian berdiri di sebelahnya berdesis, “ Jika saja Agung
Sedayu mendengar.”
Glagah Putih menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak
berbuat sesuatu.
Namun dalam pada itu, Wirastamapun berkata, “ Aku minta
kau bertanggungjawab bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi.”
“ Kau tidak perlu memaksa aku berbuat begitu. Aku tahu
apa yang harus aku lakukan.” jawab orang itu.
Wajah Wirastama menjadi merah. Dengan lantang ia
berkata, “ Kau jangan terlalu sombong. Meskipun kau adalah
guru dari kelima anak muda itu, namun aku tidak melihat
kelebihanmu sama sekali.”
“ Jangan berbuat kasar anak muda. Aku tahu kau adalah
seorang prajurit. Aku tahu bahwa jika terjadi perselisihan
diantara kita, kau dapat mempergunakan kekuatan
pasukanmu untuk membalas dendam, karena kau tidak akan
dapat berbuat apa-apa terhadap kami berdua, yang memang
telah mengakui sebagai guru anak-anak ingusan yang baru
mulai berguru beberapa hari yang lalu.” berkata orang itu.
“ Aku telah melepaskan baju keprajuritanku.” bentak
Wirastama.
Kedua orang guru dari anak-anak muda itupun saling
berpandangan. Namun tiba-tiba saja keduanya tertawa
berbareng. Suara tertawanya bergetar menggetarkan udara di
tempat yang lapang itu. Ketika suara tertawa orang itu menjadi
semakin tinggi, maka rasa-rasanya getaran udara yang
semakin kuat telah mengalir dari dada orang itu kearah
Wirastama, Teja Prabawa dan orang-orang yang berdiri
disekitarnya.
Mula-mula mereka tidak merasakan sesuatu pada dada
mereka. Yang terasa adalah bahwa suara tertawa itu sangat
menyakitkan telinga. Namun kemudian, rasa-rasanya getaran
yang semakin kuat telah menghantam dada mereka dan
meremas isinya.
Orang-orang itu terkejut. Ki Lurah Branjangan yang
memiliki perbendaharaan pengalaman yang luas dengan serta
merta telah menarik Rara Wulan menjauhi sasaran, sehingga
mereka tidak lagi berada di garis yang berbahaya dari getaran
suara tertawa yang meninggi itu.
Dalam pada itu, Wirastama dan Teja Prabawa ternyata
harus menahan tusukan rasa sakit pada dada mereka. Rasarasanya
isi dada mereka terguncang-guncang oleh getaran
yang sangat kuat. Sesaat kemudian Raden Teja Prabawa
benar-benar telah dicengkam rasa sakit yang hampir tidak
tertahankan. Demikian pula Wirastama yang masih mencoba
bertahan. Sementara itu Glagah Putih yang memiliki ilmu yang
tinggi serta daya tahan yang kuat, berhasil melingkari dirinya
dengan perisai ilmunya. Namun ia berbuat sebagaimana
Wirastama dan Teja Prabawa serta pengawal Tanah Perdikan
yang berdiri di dekatnya. Bahkan garis serangan itu seakanakan
telah memanjang dan menyerang orang-orang yang
berdiri meskipun agak jauh, namun digaris serangan itu,
sehingga beberapa orang telah menjadi pingsan karenanya.
“ Setan itu memiliki kekuatan ilmu mula dari ilmu Gelap
Ngampar.” berkata Glagah Putih didalam hatinya. Namun
Glagah Putih itu kemudian justru telah menekan dadanya
dengan kedua telapak tangannya sebagaimana dilakukan oleh
Wirastama. Bahkan Teja Prabawa telah berjongkok sambil
menyeringai kesakitan. Tetapi suara tertawa itu semakin reda.
Bahkan kemudian berhenti sama sekali.
Wirastama yang kesakitan itu merasa dadanya menjadi
lapang. Namun ia menyadari, bahwa ternyata kedua orang
yang mengaku sebagai guru kelima orang itu adalah orang
yang berilmu tinggi. Karena itu, maka Wirastama tidak berkata
apapun juga ketika ia telah berhasil berdiri tegak.
Teja Prabawapun kemudian berusaha untuk bangkit berdiri.
Meskipun dadanya masih terasa sakit, tetapi rasa-rasanya
nafasnya telah dapat berjalan wajar.
“ Nah, anak-anak muda.” berkata salah seorang diantara
kedua guru anak-anak muda yang telah dikalahkan oleh
Wirastama itu, “ aku sama sekali tidak ingin menyakiti kalian.
Tetapi aku ingin kalian tidak menghalangi aku. Apapun yang
akan aku lakukan, akan aku pertanggung jawabkan.
Sementara itu, aku tidak ingin bermusuhan dengan Pasukan
Khusus Mataram di Tanah Perdikan ini.”
Wirastama tidak menjawab. Tetapi Glagah Putihlah yang
berbicara kemudian, “ Ki Sanak. Tetapi perguruanmu menurut
pendengaranku adalah perguruan aneh.”
“ Kenapa aneh?” bertanya orang itu.
“ Bukankah yang kau terima sebagai murid-muridmu adalah
orang-orang yang dapat memenuhi tuntutan upah yang kau
tentukan?” bertanya Glagah Putih.
“ Anak muda. Siapakah kau sebenarnya? Kau tentu bukan
dari Pasukan Khusus.” berkata orang itu, “ jika kau membuat
aku marah, maka aku akan dapat berbuat lebih banyak.”
Glagah Putih justru bergeser maju. Namun tiba-tiba saja
Teja Prabawa membentaknya, “ Cukup. Kau tidak usah turut
campur persoalan perguruan mereka.”
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sementara Teja
Prabawa berkata kepada kedua orang itu, “ Bawa muridmuridmu.
Kami tidak mempunyai persoalan lagi dengan
kalian.”
Kedua orang itu tertawa pendek. Salah seorang diantara
mereka berkata, “ Ternyata ada diantara kalian yang cukup
bijaksana.”
Teja Prabawa tidak berkata apapun lagi. Demikian pula
Wirastama dan Glagah Putih.
Sejenak kemudian, maka kedua orang itupun telah
melangkah meninggalkan arena. Kelima orang muridnya
dengan susah payah telah mengikuti mereka betapapun
perasaan sakit masih terasa mencengkam tubuh mereka.
Sepeninggal orang-orang itu, maka Ki Lurahpun segera
mengajak Rara Wulan kembali ke rumah Ki Gede diikuti oleh
Teja Prabawa dan Wirastama. Beberapa orang telah ikut pula
dibelakang mereka, sementara masih ada orang yang harus
merawat kawannya yang baru saja sadar dari pingsannya.
Namun ternyata Glagah Putih tidak ikut bersama mereka.
Semula tidak ada orang yang memperhatikan, bahwa
Glagah Putih tidak ikut pergi ke rumah Ki Gede. Baru ketika
mereka memasuki regol, Ki Lurah mencarinya diantara orangorang
yang bersamanya. Termasuk pengawal yang ikut
menyaksikan perkelahian itu.
“ Kemana Glagah Putih?” bertanya Ki Lurah.
Pengawal itu mendekat sambil menjawab, “ Ia hanya
berpesan, bahwa ia ingin menyelesaikan satu pekerjaan.”
“ Pekerjaan apa?” bertanya Ki Lurah.
Pengawal itu menggeleng. Jawabnya, “ Aku tidak tahu.”
Sementara itu Teja Prabawapun menyahut, “ Buat apa
kakek mencari anak itu. Ia tidak berarti apa-apa bagi kami.
Untung Wirastama segera datang ke pasar itu. Jika tidak,
maka Rara Wulan akan dihinakan dihadapan banyak orang.”
“ Kau kira aku akan membiarkannya.” berkata Ki Lurah.
“ Kakek sudah tua.” jawab Teja Prabawa, “ sementara itu
Wirastama dapat mencegah tingkah laku anak-anak muda itu
menjadi semakin buruk. Ternyata satu pameran kekuatan
yang luar biasa. Wirastama dapat mengalahkan lima orang
sekaligus. Adalah wajar saja jika gurunya memiliki kelebihan.
Guru mereka berlima itu pantasnya memang harus
berhadapan dengan guru Wirastama. Apalagi mereka berdua.”
“ Ah.” desis Wirastama, “ sudah menjadi kewajibanku
untuk mengatasi anak-anak bengal seperti mereka itu.”
“ Tetapi seorang diri kau mampu mengalahkan mereka
berlima. Sulit dibayangkan jika aku tidak melihat sendiri apa
yang kau lakukan.” sahut Teja Prabawa.
“ Sudahlah.” berkata Wirastama, “ kita berbicara tentang
yang lain.”
Teja Prabawapun terdiam. Mereka kemudian telah
dipersilahkan duduk di serambi. Sementara Rara Wulan pergi
ke dapur memberitahukan kepada para pelayan, bahwa
mereka memerlukan minum. Para pelayan yang tahu, bahwa
tamu Ki Gede adalah orang-orang terhormat, maka
merekapun dengan serta merta telah menyiapkannya.
Ketika Rara Wulan tidak lagi muncul keserambi maka Teja
Prabawa telah memanggilnya. Katanya, “ Kau belum
mengucapkan terima kasih kepada Wirastama.”
“ Kakek tentu sudah.” jawab Rara Wulan.
“ Kakek juga belum. Tetapi sepantasnya kau sendirilah
yang mengatakannya kepada Wirastama. Kau bukan anakanak
yang masih menyusu. Yang belum dapat berbicara
dengan jelas.”
Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi ia terpaksa bangkit dan
melangkah menuju ke serambi. Di serambi Teja Prabawa
telah mendesaknya lagi. Katanya, “ Nah, kau telah
diselamatkan oleh Wirastama. Apa katamu?”
Ki Lurah mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak
mengatakan apa-apa.
Mula-mula Rara Wulan memang merasa segan. Namun
kemudian iapun berdesis hampir tidak terdengar, “ Aku
mengucapkan terima kasih.”
Wirastama tersenyum. Katanya, “ Bukan apa-apa. Sudah
aku katakan, bahwa itu adalah kewajibanku.”
Rara Wulan mengangguk kecil. Namun pipinya telah
menjadi merah. Dengan suara yang masih agak sendat
hampir tidak terdengar ia berkata, “ Silahkan duduk bersama
kakang Teja Prabawa. Aku akan beristirahat.”
“ Apakah kau lelah? Bukankah kau tidak apa-apa?”
bertanya Teja Prabawa.
Namun Wirastamalah yang menyahut, “ Bukankah ia baru
saja berjalan-jalan yang bagi seorang gadis terhitung jauh?
Biarkan ia beristirahat.”
Rara Wulan tidak menyahut. Iapun segera berdiri dan
melangkah meninggalkan serambi gandok masuk kedalam
biliknya.
Ki Lurah hanya tersenyum saja. Katanya, “ Ia memang
perlu beristirahat.”
“ Yang patut beristirahat adalah Wirastama. Ia baru saja
mengatasi pusaran air yang dahsyat itu. Kemudian berkelahi
melawan lima orang anak muda yang pada umumnya
tubuhnya tinggi tegap. Agaknya ia tentu letih.” berkata Teja
Prabawa.
“ Ya. Ia tentu letih.” sahut Ki Lurah. Karena itu, maka
katanya kepada Wirastama, “ Sebaiknya angger memang
beristirahat.”
“ Ah, aku tidak letih.” jawab Wirastama.
“ Maksudku bukan begitu.” berkata Teja Prabawa, “ ia
dapat beristirahat disini.”
Sebelum Wirastama menjawab, maka seorang pelayan
telah menghidangkan makanan dan minuman. Bahkan
pelayan itu berkata, “ Ki Gede belum kembali. Ki Gede
berpesan, agar Ki Lurah dan para tamu yang lain makan saja
lebih dahulu dengan tidak usah menunggu Ki Gede kembali
dari tugasnya.”
“ Terimakasih.” berkata Ki Lurah, “ sebentar lagi kami akan
keruang dalam.”
“ Sekarang, makan sudah disediakan.” berkata pelayan itu,
“ sebaiknya Ki Lurah dan para tamu pergi ke ruang dalam
sekarang saja.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “ Baiklah. Biarlah
para tamu membenahi diri dan mencuci tangan serta kaki
mereka.”
Beberapa saat kemudian mereka memang sudah ada
diruang dalam. Ki Lurah memaksa Rara Wulan untuk makan
bersamanya agar para pelayan tidak menjadi terlalu sibuk
melayani mereka seorang demi seorang.
Dalam pada itu, ketika mereka sedang makan di ruang
dalam rumah Ki Gede, dua orang guru dan kelima muridnya
berjalan beriringan. Mereka telah menyusuri jalan dipinggir
hutan. Namun tiba-tiba saja mereka terkejut, ketika seseorang
telah meloncat dari dalam hutan mencegat perjalanan mereka.
Kedua orang guru yang disebut bernama Kiai Sangkan dan
Kiai Paran, namun juga menyebut diri mereka Kyai Brajasaketi
dan Kiai Brajasayuta itu segera memberi isyarat kepada
murid-muridnya untuk berhenti.
“ Kau?” desis Kiai Sangkan. Lalu, “ Apa maksudmu
menghentikan perjalanan kami kembali ke padepokan kami?”
“ Namaku Glagah Putih. Kau belum menyatakan kesediaan
kalian untuk mengatur murid-muridmu agar tidak berbuat
sebagaimana dilakukannya.”
Kedua orang itu saling berpandangan. Dengan nada yang
semakin keras Kiai Sangkan menjawab, “ Kau jangan
membuat persoalan baru. Para pemimpin dari anak-anak
muda di Tanah Perdikan ini, bahkan seorang perwira dari
pasukan Khusus telah menganggap persoalannya selesai.”
“ Belum. Mereka menganggap persoalannya selesai,
karena mereka tidak mau bertengkar dengannya. Kau telah
menggertak mereka dengan ilmu mula dari ilmu Gelap
Ngampar.” jawab Glagah Putih.
“ Apapun yang kami lakukan, tetapi persoalan kami sudah
selesai.” jawab Kiai Paran.
“ Tetapi aku, salah seorang pemimpin anak-anak muda
Tanah Perdikan ini menganggap bahwa persoalannya belum
selesai.” berkata Glagah Putih, “ aku ingin kalian berjanji,
bahwa kalian akan mengendalikan murid-murid kalian agar
mereka tidak mengganggu kehidupan di Tanah Perdikan.
Apalagi yang telah mereka lakukan benar-benar satu
perbuatan yang tercela. Mereka telah mengganggu seorang
gadis yang justru bukan gadis Tanah Perdikan. Mereka telah
mengganggu seorang tamu dari Kotaraja. Cucu Ki Lurah
Branjangan.”
Kiai Sangkan dan Kiai Paran itu menjadi marah. Dengan
nada keras Kiai Sangkan berkata, “ Pergilah. Kau jangan
mengganggu aku.”
“ Aku tidak akan membiarkan kalian meninggalkan Tanah
Perdikan ini sebelum kalian berjanji bahwa kalian akan
mengendalikan murid-murid kalian.” berkata Glagah Putih.
“ Jangan mencari perkara anak muda.” geram Kiai Paran, “
kami dapat menghancurkanmu tanpa menyentuhmu.”
“ Dengan ilmu Gelap Ngamparmu yang jelek itu?” sahut
Glagah Putih, “ kau kira ilmu Gelap Ngamparmu yang
tampaknya baru mulai kau pelajari itu akan mampu
mengguncangkan jantungku?”
“ Kau memang anak yang dungu. Bukankah kau telah
mengalami betapa ilmu kami itu mencengkam dadamu?”
bertanya Kiai Paran.
Tetapi Glagah Putih tertawa. Katanya, “ Sudahlah.
Berjanjilah dengan sungguh-sungguh. Aku akan
melepaskanmu. Jika kau berkeberatan, maka kau akan
mengalami kesulitan. Sekarang baru aku seorang diri yang
menghalangimu. Tetapi lambat laun para pengawal seisi
Tanah Perdikan ini akan mengepungmu.”
“ Persetan.” Kiai Sangkan dan Kiai Paran benar-benar
menjadi marah. Dengan suara yang bergetar Kiai Sangkan
berkata, “ Anak muda. Ternyata bahwa kau telah membuat
kami marah. Kau kira bahwa kami akan tunduk kepada
ancamanmu? Biarlah anak-anak muda dan para pengawal
Tanah Perdikan ini semuanya datang melawan kami. Apakah
kau kira kami akan takut dan lari terbirit-birit.”
Glagah Putih tertawa pula. Katanya, “ Sekali lagi aku
katakan, jangan harap kalian dapat keluar dari Tanah
Perdikan ini tanpa mengucapkan janji sebagaimana aku
kehendaki.”
Kiai Sangkan nampaknya sudah tidak dapat
mengendalikan diri lagi. Iapun segera melangkah maju sambil
berkata, “ Aku hanya melepaskan ilmu puncakku untuk
kepentingan tertentu. Sekarang aku akan memaksamu untuk
berbuat tanpa ilmu itu.”
Glagah Putihpun segera bersiap. Karena itu, ketika Kiai
Sangkan menyerangnya, Glagah Putihpun dengan
tangkasnya mengelak. Namun Kiai Sangkanpun tahu, bahwa
tanpa bekal apapun, anak muda yang bernama Glagah Putih
itu tentu tidak akan melakukan hal itu. Karena itu, maka Kiai
Sangkanpun cukup berhati-hati menghadapinya.
Sejenak kemudian, maka Kiai Sangkan itupun telah
bertempur melawan Glagah Putih. Dengan kemarahan yang
menghentak-hentak didadanya, Kiai Sangkan ingin segera
menundukkan anak muda itu dan memaksanya untuk berbuat
dan mohon maaf kepadanya. Tetapi ternyata bahwa
perhitungannya telah keliru. Jangankan menundukkan anak
muda itu, menyentuhpun ternyata Kiai Sangkan itu masih
belum mampu.
Ternyata Glagah Putih dapat bergerak dengan cepatnya.
Berlompatan mengitari lawannya. Namun sekali-sekali kakinya
telah melontarkannya menyerang Kiai Sangkan dengan
garangnya. Kiai Sangkanlah yang kemudian justru mengeluh
ketika serangan Glagah Putih mengenai pundaknya.
“ Anak ini memiliki ilmu iblis sehingga mampu bergerak
begitu cepatnya.” berkata Kiai Sangkan di dalam hatinya.
Namun dalam pertempuran berikutnya, Glagah Putih
ternyata masih mampu meningkatkan kecepatan geraknya.
Kiai Paran yang semula menyerahkan segala-galanya
kepada Kiai Sangkan, karena ia menganggap bahwa anak
muda itu akan dengan serta merta dapat ditundukkan, mulai
menjadi tegang. Ternyata bahwa Kiai Sangkan tidak segera
dapat menyelesaikan pekerjaannya yang dianggapnya tidak
berarti.
Untuk beberapa saat lamanya, keduanya masih bertempur
terus. Justru semakin meningkat dan bahkan Kiai Paranpun
melihat, bukan anak muda yang bernama Glagah Putihlah
yang telah dikenai serangan-serangan Kiai Sangkan, tetapi
malahan sebaliknya. Kiai Sangkanlah yang telah dikenai
tubuhnya oleh serangan-serangan Glagah Putih yang semakin
membadai.
Sentuhan-sentuhan tangan Glagah Putih di tubuh Kiai
Sangkan itu membuat darahnya menjadi semakin mendidih.
Sebagai seorang yang telah membuka sebuah perguruan,
apalagi dihadapan murid-muridnya. Maka Kiai Sangkan akan
cacat namanya jika ia tidak berhasil mengatasi anak muda
yang dianggap anak padesan itu. Karena itu, maka Kiai
Sangkanpun kemudian benar-benar telah merambah ke ilmu
kanuragan dengan mulai mengerahkan tenaga cadangan
didalam dirinya.
Jika ia semula tidak menganggap perlu melakukannya,
maka iapun kemudian tidak dapat mengingkari kenyataan,
bahwa anak muda itu memang memiliki bekal yang cukup.
Tetapi hampir diluar sadarnya ia berkata, “ Anak muda.
Ternyata kau memang terlalu sombong. Aku masih berusaha
untuk menahan diri. Meskipun kau telah membuat aku sangat
marah, namun aku masih berusaha untuk mengekang diri
agar aku tidak membunuhmu tanpa sengaja. Tetapi kau
ternyata salah paham. Kau kira kau benar-benar memiliki
kemampuan untuk melawanku.”
“ Aku tidak mempunyai perhitungan lain kecuali ingin
mendengar kau berjanji untuk tidak membiarkan muridmuridmu
berkeliaran dan mengganggu ketenangan kehidupan
Tanah Perdikan Menoreh. Itu saja.” jawab Glagah Putih.
Kiai Sangkan menggeretakkan giginya. Iapun kemudian
telah mempergunakan tenaga cadangannya dan
mengetrapkannya pada ilmu kanuragannya. Dengan demikian
maka tata gerak Kiai Sangkanpun mulai berubah. Iapun
bergerak sangat cepat. Ayunan tangannya telah menimbulkan
desir angin yang bersiut nyaring, namun yang dapat membuat
jantung menjadi berdebar-debar.
Semula Glagah Putih sempat memperhatikan, bahwa
tangan Kiai Sangkan itu terbuka dengan jari-jari yang merapat.
Pukulannya mempergunakan sisi telapak tangannya, namun
kadang-kadang tangan itu mematuk dengan ujung-ujung jari
yang merapat. Tetapi Glagah Putih sama sekali tidak
mengalami kesulitan meskipun ia harus mulai meniti ilmu
keturunan dari perguruan pamannya, Ki Sadewa. Namun
kecepatan gerak dan kekuatan ayunan tangan Kiai Sangkan
tidak mendebarkan jantungnya lagi.
Beberapa saat kemudian, maka pertempuran itupun
menjadi semakin sengit. Ternyata Glagah Putih masih mampu
memacu ilmunya selapis diatas ilmu lawannya, sehingga
dengan demikian, maka Kiai Sangkanpun mulai mengalami
kesulitan lagi menghadapi Glagah Putih. Bahkan Glagah Putih
yang juga mulai melandasi tata gerak dan kekuatannya
dengan tenaga cadangannya, masih juga mampu menyakiti
tubuh lawannya dengan sentuhan-sentuhan serangannya.
Terdengar Kiai Sangkan mengumpat kasar. Bahkan iapun
mulai meningkatkan ilmu. Justru semakin keras dan bahkan
semakin kasar. Sehingga ketika ia masih juga belum mampu
mengimbangi lawannya yang masih muda itu, maka Kiai
Sangkan tidak lagi dapat menyembunyikan dasar-dasar
ilmunya yang sebenarnya. Ketika ia kemudian mengerahkan
kemampuannya dilandasi dengan ilmu kanuragan, maka tata
geraknyapun mulai berubah lagi. Tangannya tidak lagi
bergerak dengan jari-jari terbuka yang merapat lurus, yang
kadang-kadang dipergunakan untuk memukul dengan sisi
telapak tangannya atau mematuk dengan ujung-ujung jarinya.
Tetapi jari-jari yang mengembang itupun kemudian telah
berubah. Jari-jarinya benar-benar mengembang dan
melengkung seperti hendak mencengkam.
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Selangkah ia
bergeser surut untuk mengamati tata gerak lawannya lebih
jelas lagi. Namun ia tidak mendapat banyak kesempatan.
Lawannya telah memburunya. Jari-jarinya menjadi seperti
cakar burung pemakan daging yang garang, yang siap
menerkamnya. Bagaimana seekor burung alap-alap. Kiai
Sangkan menerkam Glagah Putih.
Tetapi Glagah Putih bukan sekedar seekor burung merpati
yang lemah. Tetapi Glagah Putih justru telah bersiap
sepenuhnya. Melihat sikap lawannya, maka tiba-tiba saja
Glagah Putih berkata lantang, “ Jadi kau adalah pengikut ilmu
Bajra Wereng? Itukah sebabnya kalian menyebut nama kalian
dengan Bajrasaketi dan Bajrasayuta?”
“ Anak setan.” geram orang itu, “ jangan mengigau.”
“ Ki Sanak.” berkata Glagah Putih, “ aku pernah mendapat
petunjuk dari guruku, bahwa sikap kalian adalah sikap ilmu
Bajra Wereng.”
“ Ada seribu macam ilmu yang mempunyai sikap hampir
sama.” geram Kiai Sangkan.
“ Disamping sikapmu, juga tata gerakmu. Tetapi yang lebih
meyakinkanku adalah caramu membuka perguruanmu.
Kepura-puraanmu dengan berperisai unsur dari ilmu yang lain,
namun dalam keadaan yang tersudut, maka kau pergunakan
unsur-unsur gerak dari ilmumu yang hitarn itu. Serta banyak
hal yang telah meyakinkan aku, bahwa kau telah menyadap
ilmu hitam itu.” sahut Glagah Putih.
“ Persetan.” geram orang itu pula. Bahkan katanya
kemudian, “ Jika demikian maka nasibmu akan menjadi
sangat malang. Kau akan terbunuh disini dan tubuhmu akan
dilempar kedalam hutan menjadi makanan binatang liar.”
“ Jangan mencoba membunuh agar kau sendiri tidak
terbunuh.” sahut Glagah Putih, “ tetapi aku hanya minta kau
berjanji untuk mengendalikan murid-muridmu. Hanya itu. Aku
tidak peduli apakah kau berilmu apapun juga, asal kau dan
murid-muridmu tidak mengganggu orang lain.”
Kiai Sangkan tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba ia
telah meloncat menerkam dengan garangnya dengan jarijarinya
yang mengembang. Tetapi Glagah Putihpun benarbenar
telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena
itu, ketika Kiai Sangkan yang juga disebut Kiai Bajrasaketi itu
menyerangnya, maka iapun sudah siap untuk melawan.
Glagah Putih dengan sengaja tidak ingin menghindari
serangan itu. Ia tidak ingin terlalu lama terlibat dalam
pertempuran itu. Karena itu, maka iapun telah menyiapkan
dirinya, menghimpun kekuatannya justru membentur serangan
lawannya yang memiliki ilmu Bajra Wereng itu.
Namun Glagah Putihpun menyadari, bahwa kekuatan ilmu
Bajra Wereng adalah ilmu yang mampu melepaskan kekuatan
yang besar. Jari-jari tangan yang mengembang itu akan
mampu memecahkan tulang di kepalanya atau mengoyak kulit
dagingnya. Karena itu, maka Glagah Putihpun telah
menyiapkan pula kekuatan ilmunya.
Sejenak kemudian benturan yang dahsyatpun telah terjadi
ilmu Bajra Wereng itu telah dapat menggetarkan
keseimbangan Glagah Putih. Namun Glagah Putih hanya
terdorong selangkah surut. Dengan serta merta, maka iapun
sempat memperbaiki keseimbangannya, sehingga sejenak
kemudian, maka iapun telah berdiri tegak dalam
keseimbangan yang mapan.
Sementara itu, Kiai Sangkan benar-benar terkejut bukan
buatan. Serangannya seakan-akan telah membentur dinding
baja setebal dua jengkal. Bukan itu saja, tetapi kekuatan yang
sangat besar seakan-akan telah memantul menghantam
bagian dalam tubuhnya dan melemparkannya dengan
kerasnya, sehingga Kiai Sangkan itupun kemudian telah
terbanting jatuh.
Punggung orang itu rasa-rasanya bagaikan patah. Sambil
menyeringai menahan sakit ia mencoba untuk bangkit.
Betapapun juga, Kiai Bajraseketi itu berusaha untuk tidak
terhina dihadapan murid-muridnya. Namun ia tidak dapat
menyembunyikan kenyataan bahwa ia memang terbanting
jatuh dan menjadi kesakitan.
Sambil berdesah tertahan, Kiai Sangkan itu bertelekan
pada lambungnya. Ketika ia kemudian berdiri tegak, maka
iapun telah mengumpat, “ Anak tidak tahu diri. Aku berusaha
menahan diri agar kau tidak menjadi lumat karena kekuatan
dan kemampuanku. Ternyata kau sama sekali tidak berterima
kasih. Kau hentakkan ilmumu dengan tiba-tiba sehingga aku
menjadi terkejut karenanya.”
“ Jangan banyak bicara.” geram Glagah Putih, “ jika kau
tidak ingin lebih terhina lagi dihadapan murid-muridmu, lekas
ucapkan janji itu, bahwa kau dan murid-muridmu tidak akan
mengganggu siapapun lagi di Tanah Perdikan Menoreh.
Apalagi tamu yang kami hormati itu.”
“ Persetan.” geram orang itu, “ kau memang harus mati.”
Lalu katanya kepada Kiai Paran, “ Marilah. Kita cepat-cepat
menyelesaikannya. Kita tidak mempunyai waktu banyak.”
Kiai Paran yang juga disebut Kiai Bajrasayuta itu
mengerutkan keningnya. Ia tidak mengira bahwa Kiai Sangkan
akan mengalami kesulitan menghadapi anak muda itu. Namun
setelah melihat bagaimana keduanya bertempur, maka Kiai
Paranpun menyadari, bahwa anak muda itu memang memiliki
ilmu yang sangat tinggi. Karena itu, maka sejenak kemudian
Kiai Paranpun telah melangkah mendekati arena
pertempuran.
Kelima orang muridnya yang masih kurang mampu menilai
ilmu yang tinggi yang terpancar dari setiap unsur gerak
Glagah Putih telah mencoba untuk mendekat pula. Meskipun
tubuh mereka masih terasa sakit setelah mereka berlima
dikalahkan oleh Wirastama, namun mereka merasa wajib
untuk ikut melibatkan diri jika hal itu dikehendaki oleh gurugurunya.
Dalam pada itu Kiai Paranpun berkata, “ Kepung anak itu.
Jangan sampai ia melarikan diri.”
Tetapi Glagah Putih menyahut, “ Aku peringatkan, jangan
libatkan murid-muridmu.”
“ Jangan takut.” jawab Kiai Paran, “ mereka hanya akan
berjaga-jaga jika kau ingin melarikan diri dari tangan kami.”
“ Apapun yang harus mereka lakukan, maka tentu akan
sangat berbahaya bagi mereka. Jika mereka terlibat,
betapapun kecilnya, maka akibatnya akan sangat parah bagi
mereka. Mereka sama sekali belum memiliki bekal apapun
juga untuk memasuki sebuah arena pertempuran.” berkata
Glagah Putih. Lalu, “ Seharusnya kalian, guru-gurunya
mengetahuinya. Atau kalian sekedar ingin menakut-nakuti
aku, seolah-olah ada beberapa orang yang akan
mengepungku?”
“ Persetan.” geram Kiai Paran, “ kau memang harus
dibunuh. Kami memang tidak perlu lagi mengekang diri
sehingga kau akan menjadi contoh bagi anak-anak Perdikan
Tanah Menoreh yang akan berani menentang kami. Kami
masih meng-hormati Pasukan Khusus yang memiliki kekuatan
yang benar yang akan dapat menghancurkan padepokan kami
jika mereka menghendaki. Tetapi kau tidak mempunyai
kekuatan apa-apa anak muda. Jika kau mati, tidak ada yang
akan dapat menuntut balas. Bahkan Ki Gede Menorehpun
tidak akan berarti sama sekali bagi kami.”
“ Jadi kau hanya dapat membual saja Ki Sanak. Ingat, aku
tidak akan dapat mati karena mendengar bualanmu itu.”
berkata Glagah Putih.
Telinga Kiai Sangkan dan Kiai Paran rasa-rasanya
bagaikan tersentuh api. Karena itu, maka keduanya segera
meloncat menyerang dengan garangnya. Keduanya tidak lagi
segan-segan mempergunakan puncak kemampuan mereka
dengan ilmu yang dikenali oleh Glagah Putih yang disebutnya
Bajra Wereng. Tetapi Glagah Putih memang sudah bersiap
sepenuhnya. Dengan tangkas ia berloncatan diantara
serangan-serangan kedua lawannya itu.
Demikianlah maka pertempuranpun menjadi semakin
sengit. Ternyata bahwa ilmu Bajra Wereng adalah ilmu yang
sangat garang dan kasar. Kedua orang yang menyebut dirinya
Kiai Bajrasaketi dan Kiai Bajrasayuta itu telah bertempur
dengan tanpa mengendalikan diri lagi. Mereka berdua benarbenar
ingin membunuh Glagah Putih dengan ilmunya.
Tetapi Glagah Putih telah membekali dirinya dengan
kekuatan ilmu dari jalur perguruan pamannya Ki Sadewa serta
ilmu yang disadapnya dari Ki Jayaraga. Ilmu yang benar-benar
telah mapan dan memiliki kekuatan yang luar biasa.
Sementara itu sejalan dengan pengalaman Glagah Putih yang
luas, meskipun ia masih muda maka ilmu itu telah
berkembang pesat, didorong oleh getaran kekuatan yang ada
didalam diri Raden Rangga yang pada saat-saat menjelang
saat terakhirnya telah disalurkan kedalam tubuh Glagah Putih
untuk menompang tingkat ilmunya.
Dengan demikian maka kekuatan ilmu Bajra Wereng yang
garang dan keras itu, ternyata tidak mampu mengimbangi
kemampuan ilmu yang dimiliki oleh Glagah Putih. Sementara
itu Glagah Putih telah mulai jemu dengan pertempuran yang
berlangsung dipinggir hutan itu. Karena itu, justru pada saat
kedua orang yang merasa memiliki ilmu yang dahsyat itu
berusaha menyelesaikan pertempuran, maka justru merekalah
yang telah mengalami tekanan yang tidak terelakkan. Ilmu
yang dilontarkan lewat unsur-unsur gerak yang mapan dan
matang dari Glagah Putih justru menjadi semakin sering
menyentuh tubuh kedua orang lawannya.
“ Gila.” geram Kiai Sangkan, “ kau memang sedang
sekarat.”
Tetapi Glagah Putih menjawab, “ Aku masih mempunyai
pertimbangan-pertimbangan yang mengekang kekuatanku.
Tetapi jika kalian masih tetap tidak mau berjanji maka aku
akan bertindak lebih keras lagi.”
Kedua orang itu justru semakin marah. Tetapi ketika
keduanya justru sampai kepuncak kekuatan ilmu Bajra
Wereng, maka keduanya justru menjadi semakin sulit
menghadapi Glagah Putih. Tubuh Glagah Putih seakan-akan
tidak lagi menyentuh tanah. Seperti bayangan, Glagah Putih
berterbangan mengitari kedua orang lawannya. Bahkan
serangan-serangannya menjadi semakin garang.
Ketika tangannya menjulur mengenai pundak Kiai Paran,
maka orang,itu mengaduh tertahan. Dengan kemarahan yang
memuncak, maka iapun segera menerkam Glagah Putih. Jarijarinya
mengembang mengerikan.
Tetapi Glagah Putih tidak mengelak. Ia justru membentur
kekuatan ilmu Bajra Wereng itu dengan landasan ilmu yang
tersimpan didalam dirinya. Ilmu yang berasal dari beberapa
sumber tetapi sudah menjadi luluh menyatu.
Sejenak kemudian telah terjadi benturan yang sangat
dahsyat. Ternyata ilmu Bajra Wereng benar-benar ilmu yang
memiliki kekuatan yang sangat besar. Namun Glagah Putih
yang membentur kekuatan Bajra Wereng itu tidak memberikan
kesempatan ujung-ujung jari Kiai Paran menyentuh kulitnya
dan apalagi mengoyakkannya.
Namun demikian besar kekuatan Kiai Paran dengan
ilmunya, maka Glagah Putih telah terdorong selangkah surut.
Bahkan Glagah Putih telah terhuyung-huyung sehingga ia
harus berusaha dengan cepat memperbaiki
keseimbangannya.
Dalam pada itu, ternyata benturan itu telah berakibat
sangat buruk bagi Kiai Paran. Ia telah terlempar beberapa
langkah dan bahkan terbanting jatuh ditanah. Yang terdengar
adalah erang kesakitan, karena punggungnya bagaikan
menjadi patah.
Kiai Sangkan melihat benturan itu dengan jantung yang
berdebaran. Namun ternyata ia dapat mengambil sikap
dengan cepat. Justru pada saat Glagah Putih sedang
memperbaiki keseimbangannya, maka dengan ilmu yang
sama Kiai Sangkan telah meloncat menerkamnya.
Glagah Putih melihat serangan itu. Ia mengagumi
kecepatan bersikap Kiai Sangkan yang mempergunakan
keadaannya yang menurut perhitungan terlalu lemah untuk
membentur sekali lagi kekuatan ilmu Bajra Wereng yang
sangat kuay itu. Tetapi Glagah Putihpun cukup tangkas. Ia
tidak membentur kekuatan yang dilontarkan oleh Kiai
Sangkan.
Kesalahan Kiai Sangkan adalah pada keyakinannya,
bahwa Glagah Putih akan membentur kekuatan ilmunya dan
selanjutnya akan terkapar jatuh dengan luka-luka, jika tidak
pada kulit dagingnya yang terkoyak oleh jari-jarinya yang
mengembang, tentu pada bagian dalam dadanya karena
benturan yang terjadi.
Tetapi Glagah Putih tidak berbuat demikian. Justru pada
saat ia menemukan keseimbangannya, dengan cepat ia
bergeser menghindari serangan itu. Sambil merendahkan diri,
hampir berjongkok Glagah Putih bertumpu pada kedua
tangannya. Tiba-tiba saja kedua kakinya terjulur lurus ke arah
lambung Kiai Sangkan yang kehilangan sasaran.
Kiai Sangkan tidak menduga sama sekali, bahkan Glagah
Putih telah mengambil sikap yang lain. Karena itu, maka Kiai
Sangkanpun ternyata telah terdorong beberapa langkah dan
seperti Kiai Paran. Kiai Sangkanpun jatuh berguling. Namun
keadaannya tidak separah keadaan Kiai Paran, sementara
Glagah Putihpun telah membebaskan dirinya dari dorongan
benturan kakinya dengan tubuh Kiai Sangkan dengan
berguling pada punggungnya. Namun dalam sekejap, iapun
telah melenting bangkit berdiri tegak.
Kiai Sangkanpun dengan cepat telah bangkit kembali,
sementara Kiai Paranpun telah berdiri meskipun harus
menahan sakit pada punggungnya. Sejenak keduanya, berdiri
termangu-mangu. Namun kemudian Kiai Sangkanpun
berdesis, “ Kami tidak mempunyai pilihan. Kami akan
menghancurkan isi dadamu dengan ilmu pamungkas kami.”
Glagah Putih menyadari, apa yang akan dilakukan oleh
kedua orang itu. Karena itu, maka iapun telah mempersiapkan
diri sebaik-baiknya. Dibangunkannya tenaga cadangannya
untuk meningkatkan daya tahannya, karena ia tahu, bahwa
kedua orang itu tentu akan melepaskan aji Gelap Ngampar
yang masih pada tataran permulaan sekali. Tetapi Glagah
Putihpun tidak lepas dari kewaspadaan bahwa mungkin kedua
orang itu bukannya tidak mampu untuk menghentakkan
kekuatan Aji Gelap Ngampar pada tataran yang lebih tinggi.
Jika dihadapan Wirastama dan Teja Prabawa hal itu tidak
dilakukan adalah karena dengan ujung ilmunya saja, mereka
sudah mampu menundukkan orang-orang yang disangkanya
telah mengganggu murid-muridnya.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, kedua orang itupun
telah berdiri berdampingan. Sementara itu, murid-murid
mereka yang kebetulan berdiri pada garis hubung antara
keduanya dengan Glagah Putih telah berlari-larian menyingkir,
karena mereka mengerti, sentuhan getaran serangan kedua
gurunya itu akan dapat menghancurkan isi dada mereka.
Glagah Putihpun telah berdiri tegak dalam kesiagaan
penuh. Ia mengerti, justru karena sikap para murid kedua
orang itu, bahwa kedua gurunya masih membatasi ilmunya
pada sasaran tertentu. Ilmu Gelap Ngampar apalagi yang
sudah matang, memang dapat dikendalikan sesuai dengan
keinginan orang yang memiliki kemampuan itu. Mungkin
terhadap sasaran tertentu, tetapi mungkin getaran ilmu itu
akan menyerang kesegenap penjuru.
Tetapi sejak semula Glagah Putih tidak merendahkan
lawannya. Mungkin ilmu kedua orang itu justru telah mapan.
Namun keduanya telah dengan cermat mengendalikan ilmu
mereka.
Sejenak kemudian, maka terdengar kedua orang itu mulai
tertawa. Suaranya bergetar semakin lama semakin tajam.
Udarapun bergetar pula bergelombang mengalir kesasaran.
Semakin lama semakin tajam menukik ke dalam dada.
Namun Glagah Putih benar-benar telah siap. Untuk
beberapa saat Glagah Putih masih tetap bertahan. Kekuatan
ilmu kedua orang itu tidak mampu meremas isi dadanya yang
dilindungi dengan daya tahannya yang kuat.
Kedua orang itu semakin lama semakin berusaha
menghentakkan ilmunya. Bahkan kemudian suara tertawa
keduanyapun menjadi semakin keras. Dedaunan yang
terdapat dibelakang Glagah Putihpun telah berguncang,
sementara ranting-ranting berpatahan. Daun-daun yang mulai
menguningpun telah berguguran.
Tetapi Glagah Putih tidak bergetar sama sekali. Meskipun
ia memang merasakan tusukan-tusukan didadanya, namun
tusukan-tusukan ilmu itu dapat diatasinya dengan daya
tahannya, sehingga rasa sakit itu dapat diabaikannya.
Kedua orang itu menjadi semakin gelisah menghadapi anak
muda Tanah Perdikan ini. Seorang perwira dari Pasukan
Khusus tidak mampu menahan serangan ilmunya yang
menusuk dada itu. Namun anak Tanah Perdikan Menoreh
yang masih terlalu muda itu justru telah menghadapi ilmunya
sambil bertolak pinggang.
Tetapi semakin lama dada Glagah Putih memang menjadi
semakin sakit. Namun dalam batas tertentu Glagah Putih
itupun berteriak, “ Apakah kalian masih tidak mau berjanji?”
Kedua orang itu tidak menghiraukan. Mereka tidak
menjawab pertanyaan anak muda itu. Keduanya menyangka
bahwa Glagah Putih sengaja mengajukan pertanyaan agar
keduanya menjawab, sehingga serangan merekapun terhenti.
Karena keduanya tidak menjawab, maka Glagah Putihpun
berkata, “ Baik. Jika kalian memang benar-benar ingin
bermusuhan dengan Tanah Perdikan Menoreh, apaboleh
buat. Aku, salah seorang dari pemimpin pengawal Tanah
Perdikan, yang tidak terhitung disini, akan menunjukkan
kepada kalian, bahwa Tanah Perdikan bukan lingkungan yang
tidak mempunyai kekuatan sema sekali sehingga orang lain
dapat berbuat sehendak hatinya sendiri. Jika kalian bertemu
dengan pemimpin-pemimpin pengawal yang lebih tua dari aku,
baik umurnya maupun ilmunya, apalagi Ki Gede sendiri, maka
kalian akan menjadi lumat.”
Kedua orang itu masih saja tidak menjawab. Mereka masih
mencoba meningkatkan serangan mereka dengan ilmu
mereka yang masih baru pada tataran yang mula sekali.
Karena keduanya tidak menjawab, maka Glagah Putih
telah berniat untuk menghentikan permainan yang
memuakkan itu. Karena itu, maka iapun segera memusatkan
nalar budinya.
Tiba-tiba saja Glagah Putih telah menggerakkan tangannya
dan menghentakkan dengan telapak tangan menghadap
kedepan. Namun Glagah Putih memang tidak menyerang
kedua orang itu, tetapi ilmunya yang dahsyat telah terlontar
tepat mengenai tanah lima langkah dihadapan kedua orang
itu.
Akibatnya benar-benar luar biasa. Meskipun Glagah Putih
tidak melontarkan kekuatan api, namun kekuatan udara yang
dilepaskannya justru kearah lima langkah dihadapan kedua
orang itu, benar-benar telah membungkam kedua lawannya.
Mereka tidak sekedar terkejut dan terdiam. Tetapi dorongan
ke-kuatan ilmu Glagah Putih ternyata telah melemparkan
mereka beberapa langkah surut, sehingga keduanya telah
terbanting jatuh. Tulang-tulang mereka serasa berpatahan,
sementara itu dengan debupun untuk beberapa saat telah
menyelubungi mereka.
Ketika debu kemudian hanyut oleh desah angin yang
perlahan-lahan berhembus, maka keduanyapun berusaha
untuk bangkit. Namun tubuh mereka benar-benar terasa sakit.
“ Aku sengaja tidak langsung menyerang perutmu.”
berkata Glagah Putih, “ aku melepaskan seranganku dengan
sasaran tanah lima langkah dihadapanmu. Dan kau
merasakan akibatnya.”
Kedua orang yang mengaku guru dari kelima orang anak
muda yang telah mengganggu Rara Wulan itu mengeluh.
Keduanya tidak lagi dapat menghindari kenyataan yang telah
terjadi itu. Karena itu maka keduanyapun sadar, jika mereka
masih ingin mengadakan perlawanan, maka akibatnya akan
dapat parah bagi mereka sendiri. Karena itu, maka kedua
orang itupun kemudian saling memberikan isyarat. Mereka
telah mengangguk bersama-sama. Seorang diantara mereka
berkata, “ Ampun anak muda. Kami berdua mengaku kalah.
Kami mohon, jangan bunuh kami.”
“ Aku tidak memerlukan pengakuan seperti itu.” berkata
Glagah Putih, “ aku hanya memerlukan janjimu untuk
bertanggung jawab, bahwa orang-orang padepokanmu atau
perguruanmu atau apapun namanya tidak akan mengganggu
orang-orang Tanah Perdikan Menoreh lagi. Apalagi tamu-tamu
yang kami hormati. Jika kalian masih melakukannya, maka
aku tidak akan terbatas melakukan serangan pada jarak
tertentu dari kepalamu. Tetapi aku benar-benar akan
memecahkan kepalamu berdua dan murid-muridmu. Kami
akan datang untuk menghancurkan padepokanmu rata
dengan tanah.”
“ Ya, ya, anak muda.” jawab Kiai Sangkan gagap, “ kami
berjanji.”
“ Jika itu kau ucapkan tadi sebelum aku marah, maka kau
tidak akan mengalami perlakuan kasar, karena pada dasarnya
kami tidak ingin berbuat kasar seperti itu.” berkata Glagah
Putih.
Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi mereka hanya
menundukkan kepalanya saja.
Dengan lantang Glagah Putihpun kemudian berkata, “
Cepat. Pergi, sebelum aku mengambil keputusan lain.”
Kedua orang itu mengangguk. hormat. Kiai Sangkan
dengan nada rendah berkata, “ Terima kasih atas kemurahan
hati anak muda.”
“ Bawa murid-muridmu itu.” berkata Glagah Putih
kemudian.
Kemudian orang itu mengangguk sekali lagi. Kemudian
memberikan isyarat kepada murid-muridnya untuk pergi.
Namun sebelum mereka beranjak dari tempatnya, Glagah
Putih masih berkata, “ Tetapi ingat, bahwa perguruan bukan
tempatnya bagi seseorang untuk memeras orang lain dan
memperkaya diri sendiri. Perguruanmu bagimu adalah alat
untuk mengumpulkan kekayaan, bukan tempat menyebarkan
ilmu bagi anak-anak muda. Ingat itu dan selagi belum
terlanjur, kau dapat menentukan arah perguruanmu lebih baik
dari yang sudah kau lakukan. Jika kau ingin menjadi kaya,
caranya bukan membuka perguruan apapun bentuknya.
Tetapi jika kau memang ingin membuka sebuah perguruan,
maka harus kau lakukan dengan penuh tanggungjawab atas
penyebaran ilmu bagi kepentingan sesama.”
“ Kami mengerti.” jawab Kiai Sangkan.
“ Nah, sekarang pergilah.” berkata Glagah Putih.
Kedua orang guru serta kelima orang muridnya itupun
kemudian telah melangkah pergi, menyusuri jalan pinggir
hutan itu meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh dengan
kesan tersendiri. Mereka justru telah mengalami peristiwa
yang sebelumnya tidak pernah mereka duga, bahwa di Tanah
Perdikan ada anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi.
Kehadiran mereka ditempat yang tidak jauh dari Tanah
Perdikan dan membuka sebuah perguruan, ternyata telah
berada didekat satu tempat yang akan dapat membayangi
padepokannya itu.
Sementara itu, ketika Glagah Putih sedang memperhatikan
orang-orang yang meninggalkannya itu, telah terkejut oleh
desir lembut dihutan disebelahnya. Karena itu, maka iapun
telah bergeser sambil mempersiapkan diri menghadapi segala
kemungkinan.
Tetapi yang kemudian keluar dari hutan adalah Ki Lurah
Branjangan diikuti oleh Agung Sedayu.
“ Ki Lurah.” desis Glagah Putih.
Ki Lurah tertawa. Katanya, “ Aku sudah menduga apa yang
kau lakukan ketika aku bertanya kepada pengawal yang ada
di arena perkelahian antara Wirastama dengan kelima orang
anak-anak muda yang nakal itu, bahwa kau tidak kembali
bersama kami. Pengawal itu hanya dapat menyebutkan
beberapa hal tentang kepergianmu. Kemudian aku telah
singgah dan mengajak kakak sepupumu yang kebetulan ada
dirumah.”
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun ketika
rasa-rasanya masih ada yang dicari, Agung Sedayu berkata, “
Ki Jayaraga baru pergi ke sawah.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara Ki Lurah
berkata, “ Nampaknya serba sedikit kebiasaan Raden Rangga
akan nampak pada tingkah lakumu, karena kau pernah
bergaul rapat dan menjalankan tugas bersama-sama dengan
anak muda itu. Namun agaknya kau lebih dapat mengekang
diri.”Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia hanya
menundukkan kepalanya saja.
“ Aku tahu, kau tidak mau menunjukkan kelebihanmu
dihadapan Teja Prabawa.” berkata Ki Lurah. Lalu, “ Tetapi
sebenarnya itu tidak perlu. Teja Prabawa harus tahu, betapa
dirinya itu sebenarnya. Ia bukan seorang yang harus
mendapat kehormatan sebagaimana dilakukan sekarang oleh
orang-orang Tanah Perdikan ini termasuk kau.”
Glagah Putih masih menundukkan kepalanya saja.
“ Aku tidak tahu, apa yang akan dikatakan oleh Teja
Prabawa jika ia melihat apa yang telah kau lakukan.” berkata
Ki Lurah. Namun kemudian, “ Tetapi karena sekarang telah
hadir pula Wirastama, maka persoalannya akan menjadi
semakin berbelit. Namun sebaiknya kau tidak perlu
merendahkan dirimu sendiri.”
Glagah Putih termangu-mangu. Namun kemudian katanya,
“ Aku tidak ingin melanggar pesan kakang Agung Sedayu.”
Ki Lurah berpaling kepada Agung Sedayu. Katanya, “
Kakangmu memang mempunyai kebiasaan yang sulit
dilakukan oleh orang lain.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun iapun
kemudian tersenyum sambil berkata, “ Aku hanya ingin
menghormati tamu-tamu yang datang ke Tanah Perdikan ini.
Apalagi jika tamu itu adalah cucu Ki Lurah.”
Ki Lurahpun tertawa. Katanya, “ Terima kasih. Tetapi jika
dengan demikian maka maksud kedatangan mereka ke Tanah
Perdikan ini justru tidak akan tercapai.”
“ Apakah maksud mereka datang kemari?” tiba-tiba Glagah
Putih bertanya.
Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
jawabnya, “ Sebenarnya memang bukan maksud mereka.
Tetapi akulah yang ingin mereka mendapat pengalaman baru
dalam perlawatan mereka ke Tanah Perdikan ini. Karena itu,
biarlah mereka mengalami apa yang sewajarnya harus
terjadi.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun
katanya, “ Mereka akan mendapatkannya Ki Lurah. Tanpa
harus dengan serta merta. Lebih baik mereka mendapatkan
dari sedikit, sehingga tidak menimbulkan goncangangoncangan
di dalam hati mereka.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “ Waktu
mereka tidak terlalu banyak.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak
menjawab lagi.
Demikianlah maka merekapun kemudian mulai bergerak
ketika Agung Sedayu mempersilahkan, “ Marilah. Kita kembali
ke pedukuhan induk.”
Mereka bertigapun kemudian langsung pergi ke rumah Ki
Gede. Ternyata bahwa Wirastama sudah tidak ada dirumah Ki
Gede itu. Dari Teja Prabawa Ki Lurah mengetahui bahwa
Wirastama telah kembali ke baraknya.
“ Besok pagi-pagi Wirastama akan datang lagi.” berkata
Teja Prabawa, “ kami akan melihat lihat tempat lain di Tanah
Perdikan ini.”
“ Sebaiknya kau jangan mengganggu tugasnya.” berkata
Ki Lurah, “ kau tahu, bahwa jika ia sering datang untuk
mengantarmu berjalan-jalan, maka itu berarti bahwa ia telah
meninggalkan tugasnya.”
“ Tetapi ia sudah mendapat ijin untuk mengawani kami
selama kami berada di Tanah Perdikan ini.” jawab Teja
Prabawa.
“ Besok aku akan berkata kepadanya, bahwa ia tidak perlu
berbuat seperti itu. Sudah aku katakan, bahwa kau dapat
berjalan-jalan bersama Glagah Putih.” berkata Ki Lurah.
“ Kakek.” jawab Teja Prabawa, “ sebenarnya kakek tentu
dapat menilai, dengan siapa sebaiknya aku pergi. Apa yang
aku dapatkan jika aku pergi bersama anak padukuhan itu?
Kakek akan dapat membayangkan, seandainya anak itulah
yang tadi di gulung pusaran, apakah kira-kira yang akan
terjadi.”
Ki Lurah berpaling kearah Glagah Putih yang
mendengarkan keterangan Teja Prabawa. Telinganya
memang terasa panas. Tetapi setiap kali ia hanya dapat
memandang sekilas kakak sepupunya.
Glagah Putih dan Agung Sedayu berada di rumah Ki Gede
beberapa lama. Namun merekapun kemudian telah minta diri
untuk kembali.
“ Ki Gede ada dirumah. Apakah kalian akan minta diri?”
bertanya Ki Lurah.
“ Terima kasih. Tolong, Ki Lurah sajalah nanti yang
mengatakan bahwa kami sudah pulang. Mungkin Ki Gede
sedang beristirahat.” jawab Agung Sedayu.
Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun
telah minta diri. Merekapun kemudian menyusuri jalan
padukuhan induk. Sementara Glagah Putih berkata, “ Aku
sudah jemu mengawani anak-anak cengeng itu.”
Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Cobalah sekali lagi.
Pada suatu saat kau akan merasakan satu manfaat dari
perhubungan kalian dengan mereka. Kau akan mendapat
pengalaman baru sebagaimana mereka ingin mendapat
pengalaman baru pula.”
Glagah Putih sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia benarbenar
tidak ingin untuk mengawani mereka lagi. Untuk
menghilangkan kejengkelannya, maka dimalam hari, Glagah
Putih telah turun pula ke sungai. Ia tiba-tiba saja merasa
bahwa pekerjaannya menutup dan membuka pliridan ittu
dapat memberikan kepuasan tersendiri.
Ketika matahari terbit dipagi hari, Glagah Putih masih saja
terlalu sibuk dengan pekerjaan dirumah. Ketika ia menyapu
halaman, dilihatnya Wirastama telah berjalan didepan regol
halaman. Bahkan Wirastama sempat berhenti dan
menjenguknya sambil menyapa, “ Kau masih sibuk bekerja?”
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tetapi iapun
bertanya, “ Sepagi ini kau sudah sampai disini?”
“ Aku berjanji dengan cucu-cucu Ki Lurah untuk naik
kebukit. Mereka ingin melihat sumber air yang mengalir
menuruni tebing disebelah gumuk kecil itu.” jawab Wirastama.
“ Maksudmu gumuk Watu Abang?” bertanya Glagah Putih.
“ Ya. Gumuk Watu Abang.” jawab Wirastama, “ aku
memang belum tahu bahwa gumuk itu mempunyai nama.”
“ Hati-hatilah.” berkata Glagah Putih, “ ada beberapa jenis
ular berbisa disekitar gumuk itu.”
“ Kami tidak akan pergi ke gumuk. Kami akan naik tebing
dan melihat sumber air dibawah pohon preh raksasa itu.”
jawab Wirastama.
“ Sumber itu tidak terlalu besar.” berkata Glagah Putih.
“ Tetapi cukup menarik. Aku pernah melihatnya.” jawab
Wirastama.
“ Aku hanya memperingatkanmu. Aku mengenal tempat itu
dengan baik.” berkata Glagah Putih.
Wirastama mengerutkan keningnya. Namun kemudian
sambil tersenyum ia berkata, “ Aku akan bertanggung jawab.”
Glagah Putih hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.
Katanya dengan nada rendah, “ Mudah-mudahan kalian tidak
mengalami kesulitan di gumuk Watu Abang. Bagaimanapun
juga terserah kepadamu. Tetapi ular kendang yang banyak
terdapat ditempat itu benar-benar berbahaya, karena ular
kendang mempunyai ketajaman bisa seperti ular bandotan.
Ular kendang itu berbahaya karena ujudnya yang tidak seperti
ular kebanyakan. Terlalu pendek, dan kadang-kadang
menggelinding seperti bumbung kecil yang berwarna kehitamhitaman.
Tetapi jika ular itu mematuk ujung kaki sekalipun,
maka sulit bagi seseorang untuk menyelamatkan diri. Apalagi
jenis ular belang yang juga banyak terdapat di sekitar Watu
Abang itu.”
Tetapi Wirastama tertawa. Katanya, “ Bukan hanya kau
yang pernah pergi ke Watu Abang itu. Akupun pernah pergi
kesana. Aku tidak melihat seekor ularpun. Ular sawahpun
tidak. Apalagi ular berbisa seperti dongengmu itu.”
“ Terserah kepadamu.” desis Glagah Putih kemudian.
“ Baiklah. Selesaikan pekerjaanmu. Aku akan pergi ke
gumuk itu dan kemudian naik keatas tebing di sebelah Watu
Abang itu untuk melihat sebatang pohon raksasa yang
dibawahnya terdapat sumber air yang sangat besar. Tetapi
tidak timbul sendang, karena airnya mengalir sebagai
gerojogan.” berkata Wirastama.
Glagah Putih tidak menghiraukan lagi, karena apapun yang
dapat terjadi adalah tanggung jawab Wirastama.
Namun ternyata terdengar suara yang lain, “ Sebaiknya kau
pertimbangkan lagi rencanamu itu. Aku sependapat dengan
Glagah Putih bahwa perjalanan itu akan menjadi perjalanan
yang sangat berbahaya. Bukan saja ular berbisa, tetapi
disekitar pohon raksasa itu masih terdapat hutan yang lebat
yang dihuni oleh binatang-binatang buas.”
Wirastama berpaling. Dilihatnya Agung Sedayu berdiri
termangu-mangu.
“ Sudahlah.” berkata Wirastama, “ Aku tudak takut bisa dan
juga tidak takut binatang buas.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapj ia tidak
mengatakan sesuatu lagi ketika Sekar Mirah menggamitnya.
Katanya, “ Biarkan saja anak itu pergi. Glagah Putih sudah
cukup banyak memberikan keterangan. Tetapi nampaknya
anak itu memang keras kepala.”
Agung Sedayu memang membiarkan anak itu pergi.
Namun kemudian ia berdesis, “ Yang aku pikirkan adalah cucu
Ki Lurah.”
“ Ki Lurah pernah tinggal disini. Ia tentu tahu apakah
cucunya pantas pergi ketempat itu atau tidak.” berkata Sekar
Mirah.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Ya.
Mudah-mudahan Ki Lurah sempat bertanya, kemana mereka
akan pergi.”
Sementara itu, Wirastama telah melanjutkan langkahnya
menuju ke rumah Ki Gede. Ia memang ingin mengajak cucucucu
Ki Lurah itu ketempat yang berbahaya. Dengan demikian
ia akan mendapat kesempatan untuk menunjukkan
kelebihannya apabila terjadi sesuatu ditempat yang berbahaya
itu.
Ketika Wirastama sampai ke rumah Ki Gede, maka Ki
Lurahpun terkejut pula. Teja Prabawa dan Rara Wulan
memang sudah bangun, tetapi mereka belum mandi dan
berbenah diri.
“ Marilah, silahkan ngger.” Ki Lurah Branjangan
mempersilahkan Wirastama untuk duduk diserambi gandok.
Wirastamapun kemudian telah duduk pula diserambi
gandok bersama Ki Lurah Branjangan.
“ Masih pagi begini, angger telah datang kemari.” berkata
Ki Lurah.
“ Mumpung masih pagi Ki Lurah.” jawab Wirastama.
“ Sebenarnya kami tidak ingin mengganggu tugas-tugas
angger. Bukankah angger mempunyai tugas di barak Pasukan
Khusus? Jika angger terlalu sering datang kemari, maka
tugas-tugas angger itu tentu akan terganggu.” berkata Ki
Lurah.
Wirastama tersenyum. Katanya, “ Pimpinan tertinggi di
barak itu adalah kakak kandungku. Ia tidak akan menyalahkan
aku.”
“ Tetapi ia bertanggung jawab kepada seluruh anak
buahnya di barak itu.” berkata Ki Lurah, “ jika seorang
diantara para perwira mendapat perlakuan seperti angger,
maka yang lainpun akan mendapat perlakuan yang sama
pula. Demikian pula kesempatan yang telah diberikan kepada
angger, seharusnya diberikan kepada orang lain pula.”
Wirastama tertawa. Katanya, “ Ki Lurah. Aku justru
mendapat perintah yang bukan saja dengan diam-diam. Tetapi
perintah terbuka, bahwa untuk menghormati Ki Lurah, yang
pernah bukan saja memimpin, tetapi justru membentuk
Pasukan Khusus itu, maka aku telah diperintahkan untuk
melayani Ki Lurah dan cucu-cucu Ki Lurah. Dengan demikian
tidak akan ada seorangpun yang menjadi iri hati, seakan-akan
aku telah meninggalkan tugas. Yang aku lakukan sekarang ini
adalah justru tugas yang diberikan kepadaku itulah.”
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Satu
penyambutan yang berlebih-lebihan. Sebenarnya kalian tidak
perlu berbuat seperti itu.”
“ Tetapi kami ingin berbuat seperti itu.” jawab Wirastama, “
Nah, sekarang, aku telah siap membawa cucu-cucu ki Lurah
itu berjalan-jalan.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “ Biarlah mereka
mandi dan membenahi diri dahulu.”
“ Tentu. Aku tidak tergesa-gesa Ki Lurah.” jawab
Wirastama.
Sebenarnyalah Wirastama masih harus menunggu. Bahkan
terasa agak terlalu lama. Namun meskipun hati Wirastama
bergejolak oleh ketidak sabaran, tetapi ia harus menunggu
dengan sikap yang seakan-akan sabar dan tanpa kegelisahan.
Sementara itu ternyata Teja Prabawa dan Rara Wulan
masih sempat makan pagi lebih dahulu di ruang dalam tanpa
Ki Lurah Branjangan, karena Ki Lurah duduk menemani
Wirastama di serambi gandok.
“ Kalian akan pergi ke mana hari ini?” bertanya Ki Gede.
“ Aku belum tahu Ki Gede.” jawab Teja Prabawa, “ terserah
saja kepada Wirastama.”
“ Tetapi kalian harus berhati-hati. Kemarin Wirastama itu
hampir saja ditelan oleh pusaran. Sebelumnya kami sudah
memperingatkannya. Tetapi nampaknya anak itu memang
kurang berhati-hati.” berkata Ki Gede.
“ Tetapi ia berhasil menyelamatkan diri.” berkata Teja
Prabawa.
Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia
menjawab, “ Tidak. Ia tidak akan dapat menyelamatkan diri.
Namun agaknya Tuhan masih berbelas kasihan sehingga
dengan lantaran ia telah dilemparkan keluar dari pusaran itu.
Tetapi sebaiknya ia tidak mengulanginya. Mungkin Yang Maha
Esa akan bersikap lain dan benar-benar mengambilnya.”
Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak
menjawab.
Namun dalam pada itu, ternyata Ki Lurah telah masuk pula
keruang dalam. Didapatinya kedua cucunya masih belum
selesai dengan makan pagi, sementara Ki Gede ternyata
justru menunggui mereka.
“ Aku berpesan agar mereka lebih berhati-hati.” berkata Ki
Gede.
“ Aku sependapat Ki Gede.” jawab Ki Lurah, “ apalagi
rencananya hari ini Wirastama akan membawa Teja Prabawa
ke Watu Abang untuk memanjat bukit dan melihat mata air
dibawah pohon raksasa itu.”
“ Kenapa harus pergi ke Watu Abang?” bertanya Ki Gede.
“ Apakah tempat itu berbahaya?” bertanya Teja Prabawa.
“ Di tempat itu banyak sekali terdapat ular.” jawab Ki Gede,
“ bahkan ular-ular berbisa. Jika kalian kemudian naik, maka
diatas bukit masih terdapat hutan yang lebat. Masih terdapat
beberapa jenis binatang buas yang berkeliaran di tempat itu.”
“ Tetapi Wirastama akan dapat mengatasinya.” jawab Teja
Prabawa.
“ Aku peringatkan, sebaiknya kau tidak pergi ke sana.”
berkata Ki Lurah, “ aku memang ingin membawamu ke satu
tempat yang mungkin dapat memberikan pengalaman baru
bagimu. Tetapi tentu tidak ketempat yang berbahaya seperti
Watu Abang itu.”
Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Namun kemudian
katanya, “ Terserah saja kepada Wirastama.”
Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya Teja
Prabawa terlalu percaya kepada anak muda itu. Namun Ki
Lurahlah yang kemudian berkata, “ Jika kalian benar-benar
akan pergi ke Watu Abang, Wulan tidak akan pergi bersama
kalian.”
Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Namun Rara
Wulanpun berkata, “ Aku memang takut kepada ular. Karena
itu, aku lebih baik tidak ikut serta.”
“ Terserah kepadamu.” jawab Teja Prabawa, “ tetapi aku
bukan gadis cengeng seperti kau.”
“ Kau kira kau bukan seorang laki-laki cengeng?
Nampaknya agak lebih pantas bagi seorang gadis yang
cengeng daripada seorang anak muda.” jawab Rara Wulan.
“ Cukup.” potong Ki Lurah, “ jika Teja Prabawa ingin pergi,
biarlah ia pergi. Tetapi jika Rara Wulan tidak, biarlah ia tidak
pergi.”
Teja Prabawa tidak menjawab lagi. Tetapi iapun kemudian
telah meninggalkan ruang dalam untuk menemui Wirastama.
“ Apakah kau telah mengatakan kepada kakek, kemana kita
akan pergi?” bertanya Teja Prabawa.
“ Ya.” jawab Wirastama.
“ Nampaknya kakek agak berkeberatan. Ki Gedepun minta
agar kita pergi ke tempat lain karena di sekitar Watu Abang
terdapat banyak sekali ular, sedangkan di sekitar mata air
dibawah pohon raksasa itu masih terdapat binatang buas.”
berkata Teja Prabawa.
“ Aku tidak takut ular dan tidak takut binatang buas.”
berkata Wirastama, “ kita membawa pedang. Seekor ular yang
paling garang sekalipun, lehernya akan putus sekali tebas.”
Teja Prabawa termangu-mangu sejenak. Sementara
Wirastama berkata selanjutnya, “ Jika kita harus berhadapan
dengan seekor harimau, aku sama sekali tidak berkeberatan.”
“ Baiklah, kita akan pergi.” berkata Teja Prabawa.
“ Bagaimana dengan adikmu?” bertanya Wirastama.
“ Gadis cengeng itu tidak berani pergi.” jawab Teja
Prabawa.
“ Kenapa takut? Katakan, aku akan melindunginya.” minta
Wirastama.
“ Kakek nampaknya menakut-nakutinya.” berkata Teja
Prabawa.
Wirastama mengerutkan keningnya. Sebenarnyalah ia ingin
pergi bersama Rara Wulan. Karena itu, maka katanya, “
Baiklah. Katakan kepada kakekmu dan kepada adikmu, kita
pergi ke tempat lain yang tidak berbahaya. Kita melihat
sendang kecil yang dihuni oleh seekor bulus raksasa. Ikannya
seperti dawet cendol karena banyaknya, tetapi tidak
seorangpun yang berani menangkapnya. Katakan, kita pergi
ke sendang Panutan. Itu saja. Tempat yang sudah tentu sama
sekali tidak berbahaya dan bahkan banyak dikunjungi orang,
karena air yang melimpah dipergunakan untuk mencuci
seperti sendang yang ada air pusarannya itu.”
Teja Prabawa termangu-mangu sejenak. Ia memang
merasa ragu-ragu untuk mengajak adik perempuannya.
Seandainya ia mengatakan yang tidak sebenarnya, kemudian
adiknya itu bersedia ikut, maka perjalanan ke tempat yang
direncanakan itu memang terlalu berat bagi adiknya, seorang
gadis.
Karena Teja Prabawa itu nampak ragu-ragu, Wirastama
telah mendesaknya, “ Cepatlah. Katakan kepada kakekmu,
bahwa kita telah mengurungkan niat kita pergi ke Watu Abang
dan mata air dibawah pohon raksasa di bukit itu.”
“ Tetapi bagaimana sebenarnya?” bertanya Teja Prabawa.
“ Kita akan membicarakan sambil berjalan.” jawab
Wirastama.
Teja Prabawa termangu-mangu. Namun kemudian katanya,
“ Baiklah. Aku akan mengatakannya kepada kakek.”
“ Cepatlah. Aku menunggu.” berkata Wirastama.
Teja Prabawapun kemudian telah masuk kembali keruang
dalam. Untunglah bahwa kakeknya dan Ki Gede masih duduk
bersama Rara Wulan. Dengan nada rendah, Teja Prabawa
berkata, “ Kek, Wirastawa telah merubah rencananya.”
“ O” Ki Lurah mengangguk-angguk, “ jadi kalian tidak jadi
pergi ke Watu Abang?”
“ Tidak kek, Wirastama mengajak kami pergi ke Sendang
Panutan untuk melihat bulus raksasa dan ikan yang banyak
sekali.” jawab Teja Prabawa.
Ki Gedepun mengangguk-angguk pula. Dengan nada
rendah ia berkata, “ Nah, agaknya memang lebih baik pergi ke
Sendang Panutan. Sendang kecil yang menarik. Air mata
sendang itu juga berada di bawah sebatang pohon yang
besar. Tetapi tidak seorang pun yang berani mandi di sendang
yang penuh dengan ikan itu. Di dalam lubang yang besar
terdapat seekor bulus raksasa. Siapa yang kebetulan melihat
bulus itu, maka ia akan bernasib sangat baik.”
Ki Lurahpun menyambung, “ Aku juga pernah pergi ke
Sendang Panutan. Ikan di sendang itu tidak seorangpun yang
berani mengambilnya. Tetapi jika ikan itu sudah turun ke
sungai kecil yang merupakan saluran yang menerima
limpahan air sendang itu, maka ikan itu dapat ditangkap.
Menurut kepercayaan, ikan itu sudah dibuang dan tidak
diperlukan lagi. Karena itu, di sungai kecil yang kemudian juga
terdapat sebuah kedung kecil itu, sering terdapat anak-anak
yang mengail. Kadang-kadang mereka mendapat ikan cukup
banyak. Tetapi kadang-kadang tidak sama sekali. Sementara
di tempat air sendang kecil itu melimpah, banyak perempuan
mencuci pakaian. Airnya cukup banyak dan sangat jernih.”
“ Ternyata Ki Lurah mengenal Tanah Perdikan ini seperti
kami mengenalinya. “ berkata Ki Gede.
Ki Lurah tersenyum. Katanya, “ Aku pernah tinggal di sini
untuk waktu yang cukup lama.”
“ Jadi, apakah kakek tidak berkeberatan jika kami pergi ke
sana?” bertanya Teja Prabawa.
“ Bahkan kakek menganjurkan, kau pergi saja ke sendang
Panutan. Sendang kecil yang menarik. Jika ada orang yang
memenuhi nadarnya, maka tempat itu menjadi ramai.”
berkata Ki Lurah.
“ Ki Lurah tahu juga tempat itu sering menjadi ajang kaul.”
bertanya Ki Gede.
“ Tentu.” jawab Ki Lurah, “ jika seseorang terpenuhi
keinginannya dan memang sudah berjanji untuk datang ke
Sendang Panutan itu untuk menyatakah syukur, maka
sebelum orang itu benar-benar mengadakan syukuran di
sendang itu, ia masih merasa berhutang. Juga mereka yang
keluarganya ada yang sakit dan kemudian sembuh.”
“ Mudah-mudahan hari ini ada orang yang menyatakan
syukur di sendang itu.” berkata Ki Gede.
“ Apakah yang dikatakan kakek itu benar Ki Gede?”
bertanya Rara Wulan.
“ Ya. Memang benar. Karena itu, sendang yang meskipun
hanya kecil itu menarik. Setidak-tidaknya untuk mencuci
pakaian.” jawab Ki Gede sambil tersenyum.
“ Tentang syukuran itu?” desak Rara Wulan.
“ Benar ngger. Meskipun tidak setiap hari, bahkan tidak
setiap pekan, tetapi jika hari ini hari baik, mungkin ada orang
yang melakukannya.” jawab Ki Gede sambil tersenyum.
“ Nah, jika demikian, marilah. Ikut kami.” ajak Teja
Prabawa.
Rara Wulan ragu-ragu. Sementara itu Ke Gede berkata, “
Tempat itu bukan tempat yang berbahaya.”
“ Ki Gede benar.” berkata Ki Lurah, “ kau dapat pergi ke
Sendang Panutan. Tetapi tidak ke tempat lain, apalagi ke
Watu Abang. Pergi ke Watu Abang sama artinya dengan
bermain-main dengan nyawamu. Bahkan bertaruh nyawa
tanpa arti. Seseorang mungkin mempertaruhkan nyawanya
untuk satu cita-cita. Tetapi orang yang mati di Watu Abang
karena digigit ular atau diterkam harimau diatas bukit, akan
mati sia-sia.”
“ Kakek menakut-nakuti saja.” desis Teja Prabawa.
“ Bukan menakut-nakuti anak muda.” sahut Ki Gede, “
sebenarnyalah Ki Lurah mengenal Tanah Perdikan ini seperti
aku sendiri mengenalinya. Karena itu, yakinlah apa yang
dikatakannya itu.”
Teja Prabawa mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak
menyahut.
Sementara itu Rara Wulanpun berkata, “ Kek, aku akan
pergi bersama kakang Teja Prabawa.”
“ Pergilah. Tetapi ingat, jangan pergi ketempat lain.” pesan
Ki Lurah.
Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya, “ Kami minta
diri kek.” Dan kepada Ki Gede ia berkata, “ Kami mohon diri
Ki Gede”
“ Berhati-hatilah.” pesan Ki Gede.
Kedua cucu Ki Lurah itupun kemudian telah-pergi ke
gandok untuk menemui Wirastama bersama Ki Lurah dan Ki
Gede. Ternyata Wirastama menjadi berdebar-debar juga
ketika kemudian Ki Lurah dan Ki Gede memberikan beberapa
pesan. Terutama pesan Ki Lurah, “ Jangan pergi ketempat
yang lain kecuali Sendang Panutan. Itu saja.”
Wirastama yang ragu-ragu itu mengangguk. Dengan gagap
ia menjawab, “ Baik. Baik Ki Lurah.”
“ Aku titipkan kedua cucuku kepadamu ngger.” berkata Ki
Lurah, “ cegahlah jika mereka mengajak pergi kemanapun,
apalagi ke Watu Abang. Aku percayakan keseluruhan mereka
kepadamu.”
Wirastama memang menjadi termangu-mangu. Tetapi ia
mengangguk juga sambil berkata “ Ya, ya Ki Lurah. “
Sementara itu Ki Gedepun berkata “ Kami yakin, bahwa
kau dapat mengendalikan kedua tamumu itu agar mereka
tidak pergi ke tempat lain. Aku adalah tuan rumah disini. Aku
mengucapkan terima kasih atas kesediaanmu membantuku.
Namun bagaimanapun juga, segala langkah yang kita ambil
harus kita pertanggungjawabkan. “
Wirastama menjadi semakin berdebar-debar. Namun
sambil mengangguk ia berkata “ Baiklah Ki Gede. Kami akan
berhati-hati. “
Demikianlah maka ketiga orang anak muda itupun telah
meninggalkan rumah Ki Gede. Wirastama mengajak mereka
mengikuti jalan untuk menuju ke arah yang berlawanan
dengan arah rumah Agung Sedayu.
Teja Prabawa dan Rara Wulan berjalan dibelakang
Wirastama ketika mereka melintas pintu gerbang,
meninggalkan padukuhan induk.
“ Tempatnya memang agak jauh “ berkata Wirastama.
Teja Prabawa dan Rara Wulan sempat mengagumi
hijaunya bulak panjang yang terbentang dihadapan mereka.
Sudah beberapa kali mereka berjalan dibulak itu. Tetapi rasarasanya
udara yang segar selalu membuat nafsu mereka
menjadi terasa bening.
“ Marilah “ berkata Wirastama kemudian “ Kita berjalan
agak cepat. Sendang Panutan itu terletak disebuah
padukuhan kecil disebelah gumuk kecil. Dari padukuhan ini
berjarak lebih dari lima padukuhan besar dan kecil, serta bulak
panjang dan pendek. “
“ Apakah jarak itu jauh sekali? Manakah yang lebih jauh -
dengan sendang yang ada pusarannya itu? “ bertanya Rara
Wulan.
“ Sendang ini lebih dekat sedikit “ jawab Wirastama “ tetapi
diarah yang berlawanan. “
Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara itu mereka
berjalan tidak lagi berurutan. Teja Prabawa dan Wirastama
berjalan mengapit Rara Wulan. Mereka menyusuri jalan bulak
yang disebelah menyebelahnya ditumbuhi pohon-pohon turi
yang melindungi jalan bulak itu dari teriknya matahari ditengah
hari. Sementara itu, ternyata Agung Sedayu tidak sampai hati
membiarkan kedua cucu Ki Lurah itu pergi ke Watu Abang
hanya ditemani oleh Wirastama. Apalagi setelah Agung
Sedayu mendengar apa yang terjadi di sendang yang sering
diputar oleh pusaran air itu.
“ Bagaimanapun juga, ada baiknya kau pergi menemui Ki
Lurah, Glagah Putih “ berkata Agung Sedayu.
Glagah Putih sebenarnya merasa segan sekali untuk
melakukannya. Tetapi ternyata bahwa Ki Jayaraga juga
mendesaknya “ Pergilah. Mungkin ada gunanya. “
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
Sekar Mirahpun berkata “ Memang nampaknya kau harus
melihatnya Glagah Putih. Apalagi jika Rara Wulan ikut
bersama mereka. “
Glagah Putih tidak dapat membantah lagi. Iapun kemudian
telah pergi ke rumah Ki Gede untuk menemui Ki Lurah Branjangan.
Ki Lurah tersenyum ketika Glagah Putih bertanya tentang
kedua cucunya dan Wirastama.
“ Mereka telah merubah acara mereka “ berkata Ki Lurah “
mereka tidak lagi pergi ke Watu Abang dan belik diba-wah
pohon raksasa diatas bukit. Aku telah melarang mereka.
Demikian pula Ki Gede yang untung sempat pula
mendengar pembicaraan tentang rencana kepergian Teja
Prabawa dan Wulan. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya “ Sokurlah.
Kakang Agung Sedayu merasa sangat cemas. Demikian pula
mBokayu Sekar Mirah dan Ki Jayaraga. “
“ Memang mencemaskan “ berkata Ki Lurah “ untunglah
mereka bersedia merubah acara itu. “
“ Tetapi Wirastama nampaknya terlalu yakin untuk pergi
ketempat itu “ berkata Glagah Putih.
Ki Lurah menyahut dengan nada rendah “ Ki Gede berhasil
meyakinkan mereka “ Tetapi tiba-tiba saja Ki Lurah berkata “
Marilah. Kita pergi. Aku hanya ingin melihat, apakah mereka
memang berada di Sendang Panutan. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Seperti dihari
sebelumnya, keduanya juga pergi ke sendang yang kadangkadang
diputar oleh pusaran itu dengan diam-diam.
Dalam pada itu, Wirastama yang sempat berjalan-jalan
bersama Rara Wulan dan Teja Prabawa merasa, dirinya
diperlukan oleh kedua cucu Ki Lurah itu. Karena itu, maka
pembicaraan Wirastawa semakin lama menjadi semakin
melambung. Teja Prabawa yang memang mengaguminya,
ternyata telah ikut pula memuji kelebihan yang dimiliki oleh
Wirastama.
Bahkan kemudian Wirastama mulai memberanikan diri
untuk memuji Rara Wulan sebagai seorang gadis yang cantik,
lembut dan berpandangan luas.
“ Jarang sekali aku temui gadis-gadis seperti kau “ desis
Wirastama.
Rara Wulan menundukkan kepalanya. Sebagai seorang
gadis ia merasa malu mendapat pujian langsung dari seorang
anak muda dihadapannya. Karena itu, maka pipinyapun
menjadi merah sementara Wirastama berkata selanjutnya “
Gadis-gadis biasanya hanya ingin melihat pasar dan tempattempat
untuk berbelanja. Tetapi kau ingin melihat sesuatu
yang jauh lebih
berarti. Gadis-gadis Kotaraja yang aku kenal pada
umumnya hanya pandai bersolek dan dikerumuni oleh
pelayan-pelayannya yang siap menjalankan perintahnya atau
dikerumuni oleh perempuan-perempuan untuk memijit tangan
dan kakinya dan memandikannya. “
Wajah Rara Wulan terasa semakin panas, sementara
Wirastama justru seakan-akan mendapat kesempatan untuk
berbicara lebih panjang. Namun Rara Wulan akhirnya justru
berkisar dan berjalan sebelah kakaknya, sehingga dengan
demikian Teja Prabawalah yang kemudian berjalan ditengah.
Wirastama memang menjadi kecewa. Tetapi sebagai
seorang anak muda yang mempunyai pengalaman yang luas
bergaul dengan gadis-gadis maka ia tidak dengan cepat ikut
bergeser pula. Dibiarkannya saja Rara Wulan menghindar.
Tetapi Wirastama yang berpengalaman itu merasa tidak akan
luput menangkap gadis cantik itu. Meskipun ia tidak dapat
melupakan bahwa gadis itu adalah cucu Ki Lurah Branjangan,
sehingga ia tidak dapat memperlakukannya seperti gadisgadis
pedesaan yang pernah dikenalnya.
Beberapa saat mereka masih berjalan. Wirastamapun
kemudian tidak habis-habisnya berceritera kepada Teja
Prabawa dan sekali-sekali kepada Rara Wulan tentang Tanah
Per-dikan Menoreh yang terhitung besar dibanding dengan
Kade-mangan-kademangan di sekitarnya. Macam-macam isi
yang ada di Tanah Perdikan itu serta kebiasaan-kebiasaan
rakyatnya yang jarang atau hampir tidak pernah dijumpai di
Kotaraja.
Ternyata Wirastama tidak membawa kedua cucu Ki Lurah
itu langsung ke Sendang Panutan. Tetapi Wirastama
membawa mereka menempuh jalan yang lebih jauh, agar ia
dapat berjalan bersama mereka lebih lama. Dengan demikian
Wirastama mendapat lebih banyak kesempatan untuk
berbincang dengan kedua cucu Ki Lurah itu.
Namun akhirnya mereka bertigapun telah mendekati
padukuhan kecil yang mereka tuju. Di sebelah padukuhan
kecil itu terdapat sendang Panutan. Sendang yang tidak begitu
besar, tetapi mempunyai daya tariknya tersendiri, karena di
sendang itu terdapat seekor bulus yang sangat besar serta
ikan yang jumlahnya terlalu banyak. Sementara itu airnya
yang jernih yang melimpah kesebuah parit, dipergunakan
untuk mencuci pakaian oleh perempuan-perempuan dari
padukuhan itu, sementara sawah dibawah sendang itu dapat
pula memanfaatkan air sendang itu bagi sawah mereka.
Ketika ketiga orang anak muda itu sampai di Sendang
Panutan itu, maka Ki Lurah dan Glagah Putih sempat melihat
mereka dari kejauhan. Ternyata Ki Lurah dan Glagah Putih -
justru telah sampai ketempat itu lebih dahulu. Selain mereka
memang menempuh jalan pintas, mereka pun langsung
menuju ke sendang itu. Sedangkan Wirastama justru telah
mengambil jalan yang melingkar-lingkar.
“ Kenapa mereka baru sampai? “ bertanya Ki Lurah.
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun kemudian
katanya “ Mereka tidak menempuh jalan yang seharusnya.
Jika mereka melalui jalan yang biasa, mereka tidak akan
datang dari arah itu. “
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya “ Agaknya mereka
memang mencari jalan yang lebih panjang. “
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak
segera mengerti kenapa mereka justru memilih jalan yang
lebih panjang. Namun kemudian Ki Lurah berkata “ Mungkin
sudah menjadi kebiasaan anak-anak muda. Mereka lebih
senang berbincang-bincang sambil menyusuri jalan panjang. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak
menjawab lagi.
Untuk beberapa saat mereka mengawasi ketiga anak muda
itu dari kejauhan. Mereka melihat bahwa, Teja Prabawa dan
Rara Wulan mengagumi bulus raksasa yang kebetulan
sedang menampakkan diri. Mereka juga kagum melihat ikan
yang jumlahnya tidak terhitung, sementara perempuan yang
mencuci pakaian menjadi tersipu-sipu melihat kehadiran
mereka. Jika
mereka tidak datang bersama Rara Wulan, maka
perempuan-perempuan itu tentu akan berlari-larian.
Namun ketika mereka sudah agak lama melihat-lihat
sendang kecil itu, nampaknya Wirastama telah berniat untuk
mengajak mereka meneruskan perjalanan.
Dari jauh Ki Lurah Branjangan dan Glagah Putih tidak tahu
apa yang sedang dibicarakan oleh ketiga orang anak muda
itu. Namun mereka mengerti bahwa nampaknya Rara Wulan
mempunyai keinginan yang berbeda dengan Wirastama dan
Teja Prabawa.
Sebenarnyalah, ketika mereka sudah puas melihat
sendang kecil itu, maka Wirastama mengajak mereka untuk
melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan itu lebih jauh lagi.
“ Kemana? “ bertanya Rara Wulan.
“ Kita pergi ke lereng bukit itu “ berkata Wirastama “
Dimana kita akan dapat melihat dataran Tanah Perdikan ini
bagaikan permadani yang terbentang sampai ke pinggir Kali
Praga. “
“ Bagus sekali “ berkata Teja Prabawa “ kita naik kelereng.
Dari lereng itu kita melihat pemandangan yang digelar
dihadapan kita. Sawah, ladang, padukuhan dan Kali Praga.”
“ Tetapi kakek dan Ki Gede sudah berpesan, kita tidak akan
pergi ketempat lain. Aku tidak berani naik kelereng. Dan
barangkali aku tidak dapat memanjat tebing lereng bukit itu “
berkata Rara Wulan.
Wirastama tertawa. Katanya “ Kita akan naik bersamasama
dan saling menolong. Jangan cemas, lereng itu tidak
begitu terjal sebagaimana kita lihat dari tempat ini. “
Aku dapat membantumu “ berkata Teja Prabawa “ jangan
menjadi penakut seperti itu. “
“ Tetapi kakek sudah pesan. Bahkan Ki Gede juga
berpesan agar kita tidak pergi ke mana-mana. Apalagi ke
Watu Abang “ jawab Rara Wulan.
“ Kita tidak pergi ke Watu Abang. Kita naik kelereng bukit
yang jauh dari Watu Abang. Kita hanya ingin melihat
pemandangan alam. Bukan melihat mata air dibawah pohon
raksasa ditempat yang masih sering didatangi binatang buas
itu, meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak takut kepada
binatang buas itu. “ berkata Wirastama kemudian.
Tetapi Rara Wulan menggeleng. Katanya “ Aku tidak mau
pergi ke lereng “
Wirastama tersenyum. Dengan pengalamannya
berhubungan dengan perempuan, maka iapun berkata “
Jangan begitu Rara Wulan. Selama ini aku telah
mengagumimu sebagai seorang gadis yang luar biasa. Gadis
yang tidak seperti kebanyakan gadis yang hanya pandai
bersolek. Tetapi kau mempunyai keinginan melihat betapa
luasnya cakrawala. Karena itu, marilah. Kita pergi bersamasama.
Jangan takut, bagaimana kau nanti akan naik lereng
yang tidak terlalu terjal itu. “
Tetapi Rara Wulan tetap pada pendiriannya. Katanya “
Tidak. Aku tidak mau. “
“ Jangan keras kepala “ bentak Teja Prabawa “ kenapa kau
tadi ikut bersama kami? “
“ Aku ikut sampai ke Sendang ini saja “ berkata Rara Wulan
“ bukankah kalian juga mengatakan, bahwa kalian tidak akan
pergi ke mana-mana? “
“ Marilah anak manis “ desis Wirastama “ jangan cemas.
Bukankah ada kakakmu dan ada aku? “
“ Jika kau tidak mau ikut, kau lalu mau apa? “ bertanya Teja
Prabawa.
“ Aku akan kembali. Antarkan aku kembali dahulu, baru
kalian pergi sesuka kalian “ jawab Rara Wulan.
“ Tentu tidak “ sahut Wirastama “ jika kita pulang, kita akan
banyak kehilangan waktu. Kita akan berjalan terus. Jarak dari
tempat ini sampai kerumah Ki Gede lebih jauh dari tempat ini
sampai ke lereng. “
“ Tetapi ...... “ Rara Wulan tidak sempat meneruskan
kata-katanya karena Wirastama memotong “ Baiklah. Kita
akan pergi sampai kekaki bukit. Jika kira-kira kau kesulitan
naik ke lereng, maka kita tidak akan naik. Kita akan melihatlihat
sawah di kaki bukit itu saja. Jangan takut, kita tidak pergi
ke Watu Abang. “
Rara Wulan menjadi bingung. Sementara itu kakaknya
berkata “ Jika kau ingin kembali, kembalilah sendiri. “
Rara Wulan memang tidak mempunyai pilihan lain. Rara
Wulan memang tidak berani kembali sendiri. Sementara itu, ia
percaya bahwa kakaknya tidak akan memaksanya naik lereng
bukit, jika ia memang tidak dapat melakukannya. Apalagi
menurut penglihatannya bukit itu memang tidak terlalu jauh
lagi dari sendang Panutan itu.
“ Marilah “ berkata Teja Prabawa “ kita berjalan lagi “
Wirastama tersenyum. Ternyata Rara Wulan akhirnya
bersedia mengikutinya ke lereng. Yang penting baginya
adalah berada diperjalanan semakin lama bersama Teja
Prabawa dan lebih-lebih lagi bersama Rara Wulan. Ia akan
mendapat kesempatan menolong gadis itu naik ke lereng
bukit, dan bahkan menunjukkan ketrampilan dan
kemampuannya. Malahan Wirastama memang mengharap
seekor harimau datang mendekati mereka, meskipun mereka
memang tidak pergi ke Watu Abang dan tidak pergi ke mata
air dibawah pohon raksasa, tetapi diatas bukit itupun terdapat
hutan yang dihuni oleh binatang buas.
Dari kejauhan Ki Lurah dan Glagah Putih melihat mereka
bertiga meninggalkan Sendang Panutan. Tetapi mereka tidak
menuju ke padukuhan induk.
“ Mereka akan kemana? “ desis Glagah Putih.
“ Memang tidak ke Watu Abang. “ sahut Ki Lurah “ tetapi
nampaknya mereka pergi ke lereng bukit. Apa sebenarnya
yang dimaui oleh anak-anak itu? “
“ Kita tidak mendengar pembicaraan mereka, tetapi
nampaknya Rara Wulan semula berkeberatan “ berkata
Glagah Putih.
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Kita akan
melihat dari kejauhan. Apa yang akan mereka lakukan. Kita
dapat mengikuti mereka melalui jalan-jalan setapak dan lewat
pategalan. Jalan yang akan mereka lalui adalah jalan satusatunya
ke lereng bukit. “
Glagah Putih mengangguk. Baginya sama sekali tidak ada
kesulitan untuk mengikuti ketiga orang anak muda yang
berjalan menuju ke lereng.
Sebenarnyalah mereka bertiga telah pergi ke lereng bukit.
Ternyata bahwa lereng itu tidak mudah untuk didaki. Tetapi
Rara Wulan menjadi semakin tersudut untuk mengikuti
kakaknya dan Wirastama.
Namun ternyata gadis itu benar-benar menolak untuk naik.
Bahkan ketika kakaknya mengancam akan meninggalkan
sendiri. Rara Wulan menjawab “ Pergilah. Aku tidak akan naik.
Aku akan pulang sendiri. Jika aku sampai ke rumah Ki Gede,
aku akan mengatakan kepada kakek. Tetapi jika aku tidak
sempat kembali karena tersesat atau kehilangan jalan atau
karena sebab lain, kakek tentu akan minta
pertanggungjawaban kepadamu. “
Teja Prabawa tidak mengira bahwa adiknya akan menjadi
sekeras itu. Namun Wirastama agaknya bersikap lain. Ia justru
tertawa sambil berkata “ Kau aneh Rara Wulan. Kau tidak mau
naik karena menurut katamu, kau tidak akan mampu atau
takut atau alasan yang lain. Tetapi tiba-tiba kau menjadi
seorang pemberani yang ingin kembali seorang diri. Baru
kemarin kau diganggu oleh anak-anak yang tidak tahu adat.
Apakah kau tidak membayangkan bahwa kau akan dapat
bertemu lagi dengan orang-orang seperti itu. “
Wajah Rara Wulan menjadi merah. Dengan nada tinggi ia
berkata “ Jika terjadi hal seperti itu, bahkan lebih buruk lagi,
maka itu bukanlah salahku. Tetapi salah kalian berdua. “
“ Jangan berkata begitu Rara Wulan “ berkata Wirastama “
marilah. Aku dan kakakmu akan menolongmu. Jika kau benarbenar
mengalami kesulitan, aku bersedia menKang
Zusi - http://kangzusi.com/
dukungmu sampai kelereng. Kita tidak perlu sampai ke
punggung bukit yang tertinggi. Dari perut bukit itu, kita sudah
dapat melihat betapa indahnya Tanah Perdikan ini. Sawah,
ladang, sungai, parit-parit dan Kali Praga merupakan lukisan
alam yang sangat mempesona. “
“ Tetapi aku tidak mau naik “ berkata Rara Wulan.
“ Kau jangan keras kepala “ bentak Teja Prabawa “ kita
tidak untuk seterusnya berada disini. Kita harus
mempergunakan setiap kesempatan sebaik-baiknya. Karena
itu, jangan membiarkan kesempatan ini sia-sia. “
“ Aku tidak mau “ Rara Wulan berteriak.
Tetapi Wirastama masih tetap saja tertawa. Katanya “
Marilah. Kau akhirnya akan mengikuti kami. “
“ Tidak “ Rara Wulan masih berteriak.
Teja Prabawa menjadi ragu-ragu. Namun kemudian
katanya “ Terserah kepadamu. Aku akan naik. “
Teja Prabawapun kemudian mulai bergerak, Wirastama
telah menggamitnya sambil berkata “ Ia akan merubah
kepuasannya. Ia akan ikut bersama kita. “
Ketika Teja Prabawa dan Wirastama mulai memanjat
lereng bukit, Rara Wulan memang menjadi bingung. Rasarasanya
memang takut untuk kembali seorang diri, sementara
mereka sudah berjalan cukup jauh. Bahkan Rara Wulan tentu
akan menemui kebingungan jika ia harus berjalan sendiri. Ia
akan tersesat dan banyak kemungkinan buruk dapat terjadi.
Namun dalam kebingungan itu, tiba-tiba saja seseorang
telah muncul dari balik gerumbul. Seorang yang juga sudah
dikenal oleh Rara Wulan. Karena itu, tiba-tiba saja diluar
sadar-nya Rara Wulan itu telah menyebut namanya “ Glagah
Putih.
Teja Prabawa dan Wirastama yang sudah mulai memanjat
tebing mendengar panggilan itu. Karena itu, maka
keduanyapun tiba-tiba telah berpaling.
Sebenarnyalah mereka melihat Glagah Putih berdiri
termangu-mangu.
Kehadiran Glagah Putih itu telah membuat kedua anak
muda itu berbeda sikap. Teja Prabawa merasa beruntung,
bahwa adiknya itu akan dapat diserahkan kepada Glagah
Putih untuk diantar pulang. Dengan demikian maka ia tidak
akan mengganggunya lagi.
Karena itu, maka katanya “ Nah, kebetulan kau datang
Glagah Putih. Bawa Rara Wulan kembali kepada kakek. Jika
kau tidak dapat melakukannya dengan baik, maka kau akan
menyesal seumur hidupmu. Aku tidak dapat mengampunimu
lagi. “
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan
ingin mengendapkan gejolak didalam dadanya.
Tetapi sebelum gejolak jantungnya menjadi reda, terdengar
suara Wirastama garang “ He, anak dungu. Apa kerjamu
disini? Siapa yang menyuruhmu kemari? “
Glagah Putih memang masih mencoba bertahan. Ia masih
selalu ingat pesan kakaknya. Ia tidak boleh menyakiti hati
tamu-tamu Ki Gede.
Tetapi ia menjadi bingung. Sikap kedua anak muda itu
nampaknya memang berbeda. Bahkan Teja Prabawapun
menjadi bingung mendengar kata-kata Wirastama. Agaknya
Wirastama tidak berkenan melihat kehadiran Glagah Putih
yang bagi Teja Prabawa justru kebetulan sekali.
Untuk beberapa saat lamanya Glagah Putih termangumangu.
Sementara itu Wirastama telah membentaknya “ Pergi.
Tinggal kan kami. Jangan mengganggu lagi. “
Glagah Putih masih saja termangu-mangu. Ia masih
bingung. Langkah yang manakah yang harus diambilnya. Ki
Lurah tidak memberinya pesan apa-apa, selain memaksanya
untuk mendekat. Hanya itu.
“ Cepat, pergi “ sekali lagi Wirastama membentak.
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Jantungnya
bergejolak semakin keras. Yang membentaknya itu bukan
tamu Ki Gede, tetapi seorang perwira muda dari Pasukan
Khusus di Tanah Perdikan Menoreh.
Glagah Putihpun menjadi semakin bingung. Ia tidak
seharusnya melawan seorang prajurit. Tetapi iapun tidak
dapat membiarkan dirinya dihinakan.
Namun ia pernah mendengar Ki Lurah, bukan saja seorang
perwira prajurit dari Pasukan Khusus, tetapi justru ialah yang
mendapat tugas pada masanya membentuk pasukan itu
berkata “ Seorang prajurit harus dapat menjadi teladan.
Seorang prajurit yang salah langkah akan merusak citra
prajurit itu sendiri.
Tetapi menghadapi sikap yang demikian, apa yang harus
dilakukannya.
Untuk beberapa saat Glagah Putih memang menjadi
bingung. Namun selagi Glagah Putih termangu-mangu
Wirastama membentak-bentaknya pula “ Cepat pergi. Apa
yang kau tunggu? Atau kau ingin gigimu rontok lebih dahulu. “
Glagah Putih berusaha untuk tetap menguasai
perasaannya meskipun jantungnya bagaikan terbakar. Namun
sebelum ia menjawab Rara Wulanlah yang menjawab. “
Baiklah. Pergilah Glagah Putih. Aku juga akan pergi
bersamamu. “
“ Glagah Putih mengangguk kecil. Hampir diluar sadarnya
ia menjawab. “ Marilah “
“ Tunggu “ Wirastama telah meloncat mendekat “ Rara
Wulan dan Teja Prabawa pergi bersamaku. Aku harus
mempertanggungjawabkannya sampai keduanya kembali
kepada kakeknya. Karena itu, ia tidak akan pergi bersama
orang lain, kecuali bersama aku. “
“ Tidak “ Rara Wulanlah yang menjawab “ aku akan pulang
bersama Glagah Putih. “
“ Glagah Putih tidak akan melakukannya. Kecuali jika ia
sudah jemu hidup. “ geram Wirastama.
“ Kau kira aku tidak punya mulut untuk menceritera-kannya
kepada kakek? Kepada Ki Gede dan kepada pimpinanmu?
Kau akan dihukum oleh piminan Pasukan Khusus itu karena
tingkah lakumu “ jawab Rara Wulan dengan berani.
Wajah Wirastama menjadi merah. Ia tidak mengira bahwa
gadis yang lembut, luruh dan hampir selalu menunduk itu tibatiba
mempunyai keberanian untuk melawan kemauannya.
Sementara itu Teja Prabawa justru berdiri saja termangumangu.
Ia memang menjadi bingung, la tidak mengerti apa
yang sebaiknya dilakukannya.
Namun dalam pada itu, selagi keadaan menjadi semakin
tegang, anak-anak muda itu telah dikejutkan oleh suara
tertawa. Tidak terlalu keras. Namun seakan-akan telah
mengguncang jantung mereka.
Anak-anak muda itu kemudian telah berpaling. Mereka
terkejut ketika mereka melihat seorang yang sudah seumur
dengan Ki Lurah Branjangan datang mendekat bersama
seorang laki-laki yang umurnya sebaya dengan Agung
Sedayu.
“ Maaf anak-anak muda “ berkata orang itu “ aku ingin
mengganggu sedikit. “
Wirastama memandang orang itu dengan wajah yang
masih tegang. Dengan nada datar ia bertanya “ Siapakah
kalian? “
“ Aku memang ingin memperkenalkan diri “ jawab orang tua
itu. Katanya kemudian “ Namaku Ki Citrabawa. Ki Lurah
Citrabawa. Aku adalah kawan baik dari Ki Lurah Branjang an.
“
“ O “ Wirastama mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya
pula “ Lalu, apakah maksud Ki Lurah Citrabawa. “
“ Sebenarnya aku menunggu kalian naik kelereng. Tetapi
ternyata kalian masih saja bertengkar disini. “ jawab orang itu.
“ Apakah kepentingan Ki Lurah? “ desak Wirastama.
Orang itu tertawa. Kemudian iapun berpaling kepada orang
yang masih muda itu sambil berkata “ Ini adalah anakku yang
bungsu. Aku ajak anak ini mengembara di Tanah Perdikan
ini selama beberapa hari hanya untuk mendapat kesempatan
berbicara dengan cucu-cucu Ki Lurah Branjangan. “
“ Untuk apa? “ bertanya Wirastama.
“ Baiklah, aku ingin langsung berbicara dengan cucu Ki
Lurah itu. “ jawab Ki Lurah Citrabawa.
Teja Prabawalah yang kemudian melangkah maju sambil
bertanya “ Apakah yang ingin Ki Lurah bicarakan? “
“ Anak muda “ berkata Ki Lurah Citrabawa “ sebenarnya
aku terpaksa mengambil langkah ini. Tetapi aku tidak
mempunyai pilihan lain. Sejak Ki Lurah Branjangan berkhianat
terhadap Pajang, maka beberapa kali ia membuat aku
kecewa. “
“ Maksud Ki Lurah? “ bertanya Teja Prabawa.
“ Dahulu aku dan Branjangan berada dalam satu kesatuan.
Tetapi ketika Panembahan Senapati memberontak terhadap
Pajang. Branjangan telah berkhianat pula dan ikut pergi ke
Mataram. “ berkata Citrabawa “ sebenarnya aku tidak ambil
posing. Tetapi ternyata bahwa janjinya secara pribadi dengan
aku telah dikhianatinya pula. “
“ Janji Ki Lurah? “ bertanya Teja Prabawa.
“ Aku dan Branjangan telah sepakat untuk mempererat
hubungannya kekeluargaan dengan mempertunangkan anakanak
sulung kami. Tetapi ketika Branjangan pergi ke Mataram,
ia melupakan janji itu sehingga akhirnya anak perempuannya
kawin dengan seorang pembesar di Mataram. Namun semula
aku berusaha menahan hati. Mungkin karena kami sudah
lama tidak berhubungan, Branjangan menganggap janji itu
tidak berlaku lagi. Tetapi disaat terakhir aku tahu bahwa
Branjangan mempunyai cucu perempuan yang cantik. Nah,
aku telah menemuinya lagi setelah sekian lamanya tidak
pernah berhubungan. Memang hanya satu kebetulan bahwa
kita bertemu lagi setelah permusuhan antara Mataram dan
Pajang menjadi reda, bahkan Pajang berada di bawah
kekuasaan Mataram. Tetapi aku merasa sangat kecewa,
bahwa Branjangan tidak memenuhi keinginanku untuk
memperbaharui janji itu. Bukan anaknya yang akan aku ambil
menantu, tetapi cucunya, bagi anakku yang bungsu. “ berkata
Ki Lurah Citrabawa.
“ Wulan maksud Ki Lurah? “ bertanya Teja Prabawa.
“ Ya. Aku ingin Rara Wulan menjadi menantuku. “ berkata
Ki Lurah. “ sekarang anakku yang bungsu itu ada bersamaku.
“
“ Tidak “ tiba-tiba saja Rara Wulan berteriak.
“ Ki Lurah “ berkata Teja Prabawa “ persoalannya harus Ki
Lurah selesaikan dengan kakek. “
“ Kakekmu keras kepala “ jawab Ki Lurah Citrabawa itu.
Wajah anak-anak muda itu menjadi tegang. Rara Wulan
menggigil oleh kemarahan dan ketakutan, sementara Teja
Prabawapun menjadi marah. Tetapi mereka tertegun karena
sikap orang tua dan anaknya itu. Nampaknya Ki Lurah
Citrabawa bukan orang kebanyakan.
“ Anak-anak muda “ berkata Ki Lurah Citrabawa itu “ jika
anakku yang sulung sesuai dengan perjanjian mendapat anak
Ki Lurah Branjangan, maka gadis cantik ini akan menjadi
cucuku. Tetapi karena hal itu tidak terjadi, maka gadis cantik
ini akan menjadi menantuku dan mendapatkan anakku yang
bungsu. “
Dalam pada itu, ketegangan semakin mencengkam jantung
anak-anak muda itu. Sementara itu Ki Lurah Citrabawapun
berkata selanjutnya “ Anak-anak muda. Aku terpaksa
menempuh jalan ini karena aku tidak mempunyai cara lain.
Kakekmu menjadi terlalu sombong dan tidak mau lagi
mengenal aku. Ia nampaknya telah berhasil menjadi seorang
yang disegani di Mataram, sementara aku setelah Pajang
jatuh telah kehilangan pekerjaanku dan menjadi seorang
petani yang miskin. Tetapi aku masih tetap mempunyai harga
diri seorang laki-laki. Karena itu, aku akan membawa Rara
Wulan. Aku sama sekali tidak takut jika Branjangan menjadi
marah. Aku akan menghadapinya sebagai laki-laki. “
“ Aku tidak mau “ teriak Rara Wulan.
“ Berteriaklah. Di kaki bukit ini tidak akan ada orang yang
mendengarnya. Paling-paling petani yang bekerja disawahnya
dibulak itu. Itupun jika suaramu mampu
menjangkaunya. “ berkata Ki Lurah Citrabawa.
Jantung Rara Wulan berdegup semakin keras. Ia menjadi
semakin ketakutan.
Namun dalam pada itu, maka Wirastama pun telah
meloncat kedepan sambil berkata “ Ki Lurah. Kau kira kau
dapat berbuat apa saja sesukamu disini? “
Orang itu tertawa pendek. Katanya “ Menilik pakaianmu,
kau tentu seorang perwira muda dari Pasukan Khusus yang
di-bentuk oleh Branjangan itu. Kau sebenarnya pantas
dihormati. Tetapi sebaiknya kau jangan mencoba melindungi
gadis itu, karena yang kau lakukan itu sia-sia. “
“ Aku akan mencegah perbuatan itu. Baik sebagai seorang
prajurit, maupun sebagai seorang anak muda aku akan
mempertahankan Rara Wulan. “ berkata Wirastama.
“ Jangan terlalu sombong anak muda “ berkata Ki Lurah
Citrabawa “ kau kira pakaianmu itu dapat membuat kau silau?
Kau tidak usah melepas pakaian keprajuritanmu sebagaimana
kau lakukan ketika kau berkelahi dengan anak-anak muda
yang bengal itu, karena bagiku, pakaianmu tidak berarti apaapa.
“
Wirastama yang merasa wajib melindungi Rara Wulan
itupun serasa bersiap-siap. Katanya “ Ki Citrabawa. Maaf,
bahwa seharusnya aku tidak boleh berlaku kasar terhadap
orang-orang tua, bahkan harus menghormatinya. Tetapi jika
kau memaksakan niatmu, maka kau memang tidak pantas
untuk dihormati “
“ Bagus anak muda “ berkata Ki Citrabawa “ nampaknya
kau benar-benar ingin melindungi gadis itu. “
“ Ya “ jawab Wirastama.
Ki Lurah Citrabawa itupun kemudian maju beberapa
langkah. Dengan nada rendah Ki Citrabawa itu berkata “ Hatihatilah
anak muda. Aku memang ingin tahu, seberapa jauh
keberhasilan Branjangan menyusun kekuatan dengan
Pasukan Khususnya di Tanah Perdikan ini. Dengan menjajagi
salah seorang perwira mudanya, maka aku akan mendapat
gambaran hasil jerih payah Branjangan itu. “
Wirastama memang sudah siap. Karena itu iapun telah
meloncat menyerang orang tua yang telah membuat jantung
Wirastama menjadi panas itu.
Tetapi orang itu cukup tangkas. Iapun dengan cepat
menghindar sehingga serangan Wirastama tidak mengenai
sasaran.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, keduanya telah
terlihat dalam perkelahian yang cepat. Ternyata Ki Lurah
Citrabawa itu masih cukup cekatan untuk mengimbangi gerak
Wirastama yang cepat dan kuat. Agaknya pengalaman yang
sangat luas pada orang itu membuatnya tidak terlalu sulit
untuk menghadapi Wirastama.
Wirastama memang memiliki kekuatan yang besar dan
kecepatan gerak yang mengagumkan. Namun beberapa saat
kemudian, anak muda itu terdorong beberapa langkah surut.
Tangan Ki Citrabawa tepat mengenai dada anak muda itu.
Kemarahan Wirastamapun kemudian telah memuncak.
Dikerahkannya kemampuannya. Ia adalah seorang perwira
muda yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga
dengan demikian maka serangan-serangannya yang
kemudian menjadi semakin garang. Apalagi di tepi arena
pertempuran itu terdapat seorang gadis yang cantik.
Namun lawan Wirastama saat itu adalah seorang tua yang
tangguh dan berpengalaman. Meskipun Ki Citrabawa tidak
memiliki kekuatan sebesar Wirastama, tetapi ia justru lebih
banyak berhasil mengenai tubuh lawannya yang masih muda
itu. Geraknya yang kadang-kadang, membingungkan
membuat Wirastama sering kehilangan arah serangan
lawannya.
Ternyata bahwa meskipun dengan mengerahkan
tenaganya. Wirastama tidak berhasil menguasai lawannya
yang tua itu. Bahkan semakin lama ia menjadi semakin
terdesak, sehingga beberapa saat kemudian Wirastama bukan
saja terdorong beberapa langkah surut, tetapi ia benar-benar
telah terbanting jatuh. Dadanya bagaikan menjadi sesak
sehingga nafasnya seolah-olah tertahan ditenggorokan.
Ki Lurah Citrabawa tertawa. Iapun kemudian berdiri
beberapa langkah daripadanya. Katanya “ Sudahlah anak
muda. Sebaiknya kau tidak usah turut campur. Persoalan ini
adalah persoalanku dengan Ki Lurah Bran jangan.
Wajah Wirastama menjadi merah. Ia berusaha untuk
bangkit. Namun ia tidak dapat dengan serta merta
menghilangkan sesak didadanya serta mengatur
pernafasannya agar berjalan wajar.
Karena itu, maka Wirastama tidak dengan serta merta
menyerang kembali Ki Lurah Citrabawa yang berdiri tegak
sambil bertolak pinggang.
“ Urusan ini urusan orang tua-tua “ berkata Ki Citrabawa
kemudian “ Nah, Rara Wulan. Kau harus ikut aku, atau kau
akan mengalami nasib yang sangat buruk. “
“ Tidak “ teriak Rara Wulan sambil berlari dan bersembunyi
dipunggung kakaknya “ aku tidak mau kakang. Aku tidak mau.
“
Teja Prabawa sadar, bahwa ia harus melindungi adiknya.
Tetapi Wirastama yang dikaguminya itu tidak berdaya
menghadapi orang yang nampaknya sudah hampir pikun itu.
Karena itu, Teja Prabawa telah menjadi sangat bingung.
“ Sudahlah “ berkata Ki Lurah Citrabawa “ jangan
memperpanjang persoalan. Kita akan menganggap persoalan
ini selesai. Jika belum selesai itu adalah persoalanku dengan
persoalan Ki Lurah Branjangan. “
Teja Prabawa menjadi semakin bingung ketika Ki Lurah itu
berkata “ Minggir kau anak muda. Aku hanya memerlukan
Rara Wulan. Aku tidak memerlukan kau. “
“ Kakang “ teriak Rara Wulan “ aku tidak mau. “
Teja Prabawa menjadi gemetar ketika ia melihat Ki Lurah
itu melangkah mendekatinya sementara Wirastama masih
juga belum dapat menguasai dirinya sendiri.
Namun dalam pada itu, selagi orang-orang yang berada di
lereng bukit itu dicengkam ketegangan, seorang lagi telah
muncul dari balik pepohonan. Dengan nada berat orang itu
berkata “ Kau benar Ki Lurah. Persoalan berikutnya adalah
persoalanmu dengan aku. “
Ki Lurah Citrabawa berpaling. Ia terkejut ketika ia melihat Ki
Lurah Branjangan melangkah mendekat.
“ Setan tua “ geram Ki Lurah Citrabawa “ ternyata kau ada
disini? “
“ Tentu. Aku tidak akan membiarkan cucuku kau ambil
begitu saja dengan cara yang sama sekali tidak terpuji. He,
apakah kau tidak lagi mengenal unggah-ungguh? Begitulah
cara melamar anak orang jaman sekarang ini? “ bertanya Ki
Lurah.
“ Persetan Ki Lurah “ jawab Ki Citrabawa.
Sementara itu, Rara Wulan yang menggigil tiba-tiba saja
telah lari menghambur memeluk kakeknya.
“ Jangan cemas Wulan “ desis Ki Lurah Branjangan.
Namun diluar sadarnya ia berpaling kepada Glagah Putih
yang masih saja berdiri kebingungan. Ia tidak tahu apa yang
sebaiknya dilakukan. Namun pandangan mata Ki Lurah
Branjangan itu nampak olehnya seakan-akan satu penyesalan
yang dalam, bahwa Glagah Putih tidak berbuat apa-apa pada
saat Rara Wulan mengalami ketakutan, sementara Wirastama
sudah tidak berdaya.
Namun Ki Lurah Branjanganpun kemudian perhatiannya
telah tertuju sepenuhnya kepada Ki Lurah Citrabawa yang
dengan suara lantang berkata “ Branjangan. Aku tidak
mempunyai banyak kesempatan. Sekarang, berikan cucumu
itu kepadaku. Ia akan menjadi isteri yang akan dijaga sebaikbaiknya
oleh anakku yang bungsu itu. “
Tetapi jawab Ki Lurah Branjangan “ Rara Wulan itu
bukan anakku. Jika kau melamarnya bertemulah dengan
orang tuanya. “
“ Maaf Ki Lurah. Aku sudah bukan orang penting lagi. Aku
kira aku dapat melupakan unggah-ungguh itu. Sebaiknya aku
mempergunakan cara yang aku kenal. Mengambilnya saja.
Bahkan kalau perlu dengan kekerasan. Bukankah kita sudah
tidak lagi bersahabat sejak kau berkhianat? “ geram Ki Lurah
Citrabawa.
“ Siapakah yang berkhianat Ki Lurah? Jika kau masih tetap
pada martabatmu, setidak-tidaknya martabat kemanusiaanmu,
aku tidak akan ingkar. Tetapi kegagalanmu meraih kedudukan
yang tidak akan mungkin dapat kau capai membuatmu
menjadi gila. Sehingga aku berpikir, lebih baik aku menarik diri
dari perjanjian persahabatan kita, karena aku tidak mau
mempunyai sanak keluarga orang gila “ jawab Ki Lurah Branjangan.
“ Kau benar-benar iblis, Branjangan “ berkata Ki Lurah
Citrabawa “ nampaknya kedudukanmu di Mataram
membuatmu menjadi kehilangan tempat berpijak. Kau tidak
lagi menganggap sahabat-sahabatmu yang tidak berhasil
menjilat seperti kau itu tidak lagi bermartabat. “
“ Jangan memutar balikkan keadaan “ jawab Ki Lurah
Branjangan “ kau dapat membohongi siapa saja. Tetapi kau
tidak akan dapat membohongi dirimu sendiri. Apa yang kau
lakukan pada saat-saat terakhir Pajang membuat aku sangat
kecewa. Kau tahu, bahwa yang kau sebut pengkhianat
terhadap sahabat itu aku lakukan sebelum aku mendapat
kedudukan apapun di Mataram. Pada waktu itu kita masih
bersama-sama ada di Pajang. Kau terlempar dari
kedudukanmu bukan karena Mataram. Tetapi karena
ketamakanmu. Nah, sebenarnya kau tidak perlu membohongi
anak-anak muda ini. Mereka memang tidak tahu apapun juga
tentang diri kita masing-masing. Dan akupun merasa heran,
bahwa tiba-tiba saja kau sekarang menggangguku lagi setelah
sekian tahun tidak bertemu. Dan kaupun melihat Rara Wulan
masih terlalu remaja untuk kau jadikan menantumu. Ia masih
memerlukan beberapa tahun lagi untuk sempat mekar. “
“ Biarlah gadis itu mekar di petamananku Ki Lurah. Tentu
akan menjadi semakin cantik dan semerbak “ sahut Ki Lurah
Citrabawa seakan-akan tanpa menghiraukan kata-kata Ki
Lurah Branjangan.
“ Sudahlah Ki Lurah Citrabawa “ berkata Ki Lurah
Branjangan “ sebaiknya kau sadari keadaanmu. “
Ki Lurah Citrabawa memandang Ki Lurah Branjangan
dengan tatapan mata yang menyorotkan gejolak didalam
jantungnya. Sementara itu Ki Lurah Branjangan telah
mempersiapkan diri. Ia sadar, dengan siapa ia berhadapan. Ki
Lurah Citrabawa adalah seorang prajurit yang baik
sebagaimana dirinya sendiri ketika mereka masih bersamasama
berada di Pajang. Tetapi hubungan mereka yang akrab
itupun kemudian telah pecah menjelang bangkitnya Mataram,
karena keinginan Ki Lurah Citrabawa yang melonjak-lonjak
untuk menduduki jabatan yang jauh lebih tinggi, sehingga
justru ia telah tersisih.
Dan sejak itulah Ki Lurah Citrabawa telah menempuh jalan
yang sesat dan meninggalkan Pajang.
Dalam pada itu, Ki Lurah Branjanganpun berkata pula “ Ki
Lurah Citrabawa. Demi sisa-sisa persahabatan kita yang
masih ada, tinggalkan cucuku. Jangan kau ganggu lagi dan
untuk seterusnya jangan kau ganggu keluarga kami. “
Ki Citrabawa menggeleng. Katanya “ Apapun yang kau
katakan Branjangan, aku akan membawa cucumu. Meskipun
anakku yang bungsu masih harus menunggu dua tiga tahun
lagi, ia akan melakukannya. Tetapi kesempatan untuk
mengambil cucumu tidak akan datang pada kesempatan lain. “
Tetapi Ki Lurah Branjanganpun mulai menjadi keras.
Katanya “ Pergilah. Atau kita akan benar-benar bermusuhan. “
Ki Lurah Citrabawa tertawa. Katanya “ Sudah lama aku
merasa terhina. Sekarang, datang saatnya aku melepaskan
tekanan perasaan itu. “
“ Apa yang akan kau lakukan? “ bertanya Ki Lurah
Branjangan.
“ Memaksa membawa cucumu dengan kekerasan. “ jawab
Ki Lurah Citrabawa itu.
Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya
“ Baiklah Ki Lurah Citrabawa. Nampaknya Ki Lurah masih
juga senang mengajak bermain diusia tua. Marilah. Aku akan
mclayanimu. “
Ki Lurah Citrabawapun kemudian mempersiapkan diri.
Sekilas ia berpaling kepada anaknya sambil berkata “ Awasi
mereka. Biarlah aku melayani setan tua itu. Nampaknya ia
ingin lebih cepat mati. “
Anak Ki Lurah Citrabawa itu mengangguk sambil berkata
“ Tidak seorangpun akan dapat pergi ayah. “
Demikianlah, maka Ki Lurah Citrabawapun mulai
menyerang Ki Lurah Branjangan. Setelah mendorong Rara
Wulan kepada kakaknya, maka Ki Lurahpun telah melayani Ki
Lurah Citrabawa. Sebagai dua orang yang saling mengenal
dengan baik pada mulanya, maka keduanyapun telah
mempunyai gambaran tentang kemampuan mereka masingmasing.
Namun ke-pergian Ki Lurah Branjangan ke Mataram,
telah menempanya, sehingga ia semakin matang dalam olah
kanuragan.
Sejenak kemudian maka pertempuran antara kedua orang
tua itupun menjadi semakin sengit. Teja PrabaWa dan Rara
Wulan melihat kakeknya bertempur dengan jantung, yang
berdegupan. Mereka memang mengetahui bahwa kakeknya
adalah bekas seorang Senapati Mataram. Namun ketika
mereka melihat kakeknya benar-benar bertempur, mereka
semakin yakin akan kemampuan kakeknya itu.
Wirastama yang dadanya masih sesak, berdiri termangu”
mangu. Ia merasa, bahwa ia tidak akan dapat membantu lagi.
Jika ia melibatkan diri, maka nafasnya tentu akan putus
karenanya.
Beberapa saat kemudian pertempuran antara kedua orang
itu menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa kehidupan Ki
Citrabawa benar-benar telah dipengaruhi oleh kehidupan
dunia yang hitam. Meskipun semula nampak pada kedua
orang tua itu sikap yang mirip, namun kemudian Ki
Citrabawapun menjadi semakin keras. Bahkan kemudian tata
geraknya menjadi kasar.
“ Dari siapa kau belajar bertempur cara ini Ki Citrabawa? “
bertanya Ki Lurah Branjangan “ ilmumu menjadi buram. Aku
tidak lagi melihat unsur-unsur gerakmu yang bening. Tetapi
yang nampak adalah kekerasan dan kekasaran semata-mata.
Apakah itu juga gambaran kehidupan Ki Lurah Citrabawa
selama ini? “
“ Persetan “ geram Ki Citrabawa “ jika kau merasa ngeri,
menyerahlah. Serahkan cucumu dan persoalan kita sudah
selesai. Aku tidak akan merasa terhina lagi dan dengan
demikian kalian sekeluarga tidak akan terganggu lagi. “
Tetapi Ki Lurah Branjangan menjawabnya dengan
mempercepat serangannya. Sebagai Senapati Pasukan
Khusus, maka Ki Lurah Branjangan memiliki pengetahuan
yang luas tentang olah kanuragan meskipun ia bukan salah
seorang yang memiliki puncak-puncak ilmu kanuragan.
Namun ternyata pertempuran itu menjadi sangat seru.
Kedua orang tua itu telah mengerahkan kemampuan mereka,
sehingga dengan demikian, maka pengaruh kewadagan
mereka-pun dengan cepat pula mulai mewarnai pertempuran
itu. Kekuatan mereka dengan cepat mulai susut, justru karena
keduanya bertempur melawan kekuatan yang seimbang,
sementara mereka telah memasuki usia senja.
Tetapi semakin lama semakin nampak, bahwa daya tahan
Ki Lurah Branjangan masih lebih baik dari lawannya. Karena
itu, maka setelah bertempur beberapa lama, ternyata Ki Lurah
Citrabawa mulai terdesak. Kecepatan gerak Ki Lurah
Branjangan masih lebih baik dari lawannya, sehingga
beberapa kali Ki Lurah Branjangan sempat mengenai tubuh
lawannya. Tetapi itu bukan berarti bahwa Ki Citrabawa tidak
pernah berhasil mengenai lawannya. Terasa dada Ki Lurah
Branjanganpun menjadi serasa sesak ketika pukulan yang
keras mengenai dadanya. Namun Ki Lurah Citrabawa telah
merasa tercekik pada saat ketukan ibu jari Ki Lurah
Branjangan sempat mengenai lehernya.
Dengan demikian maka semakin lama pertempuran itupun
menjadi nampak semakin letih. Ki Lurah Branjangan yang
memiliki daya tahan yang lebih besar dari Ki Lurah Citrabawa,
sekali-sekali masih nampak menyerang dengan keras dan
kuat, sehingga kadang-kadang Ki Lurah Citrabawa telah
terdorong beberapa langkah surut.
Pada saat nafas Ki Citrabawa bagaikan terputus di
kerongkongan, maka mau tidak mau Ki Lurah Citrabawa itu
harus meloncat beberapa langkah surut, menghindar dari
serangan Ki Lurah Branjangan yang masih cukup kuat.
Dengan mengambil jarak itu, maka Ki Lurah Citrabawa sempat
beristirahat sambil menekan lambungnya yang terasa menjadi
sakit.
Ki Lurah Branjanganpun mulai menjadi terengah-engah.
Namun ia masih sempat berkata “ Nah, Ki Lurah Citrabawa.
Apa maumu sekarang? “
Ki Lurah Citrabawa tidak segera menjawab. Di pandanginya
kedua cucu Ki Lurah Branjangan yang kemudian telah
mendekati kakeknya yang nampak sangat letih itu.
“ Kakek “ desis Rara Wulan.
“ Ia tidak akan mengganggumu lagi Wulan “ berkata Ki
Lurah Branjangan.
Tetapi ternyata Ki Lurah Citrabawa yang nafasnya hampir
terputus itu masih sempat tertawa meskipun sambil terengahengah.
Katanya “ Kau salah Branjangan. “
Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Dengan
nada berat ia bertanya “ Apa yang akan kau lakukan lagi? “
“ Ki Lurah Branjangan. Ternyata kau tidak saja seorang
yang dibesarkan namanya karena kau selalu menjilat
atasanmu. Tetapi ternyata kau benar-benar memiliki ilmu yang
tinggi. Kau mampu menyalurkan ilmumu dengan dorongan
tenaga cadangan didalam dirimu sehingga mampu menembus
pertahananku. Sayang ketuaanku sangat mempengaruhi
kemampuan wadagku mendukung ilmuku. “ berkata Ki Lurah
Citrabawa.
“ Karena itu Ki Lurah, tinggalkan kami. Tinggalkan aku dan
cucu-cucuku. Jangan mencoba mengganggu kami lagi. “
“ Tentu tidak begitu saja kami akan pergi “ sahut Ki Lurah
Citrabawa “ yang harus mengakui kelebihanmu adalah aku.
Tetapi ada orang yang lebih berkepentingan dengan cucumu.
Karena itu, biarlah anakku sendiri yang berbicara. “
Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Sementara
itu anak bungsu Ki Lurah Citrabawa itupun melangkah
mendekat dengan sikap yang sangat meyakinkan.
“ Branjangan “ berkata Ki Citrabawa “ kau belum mengenal
anakku yang bungsu. Beberapa tahun ia berguru untuk
mencari bekal bagi masa depannya. Ia bukan saja
mempelajari ilmu kanuragan, tetapi juga ilmu yang lain yang
akan dapat menjadi landasan bagi masa-masa yang panjang
dari hidupnya.
Ki Lurah Branjangan memang menjadi berdebar-debar.
Apalagi ketika orang itu mengangguk hormat kepadanya
sambil berkata “ Hormatku Ki Lurah. “
Ki Lurah Branjangan memang menjadi termangu-mangu
sejenak, sementara Ki Lurah Citrabawa tersenyum “ Ia juga
belajar unggah-ungguh, sehingga nampaknya ia memiliki adat
yang lebih baik dari aku. “
“ Apa yang kau kehendaki? “ bertanya Ki Lurah
Branjangan.
“ Ayah telah mengatakan Ki Lurah. Aku ingin membawa
cucu Ki Lurah. Aku berjanji untuk berbuat baik dan tidak akan
menyia-nyiakannya. “ berkata orang itu.
Ki Lurah Branjangan memandang orang itu dengan sorot
mata yang menyala. Katanya “ Citrabawa. Kau ajari anakmu
dengan unggah-ungguh seperti itu? Kau kira, keluarga kami
adalah keluarga yang sama sekali tidak berharga? “
Ki Lurah Citrabawa justru tertawa. Katanya “ Kau dapat
dengan dada tengadah menolak permintaanku, karena
ternyata kau masih juga memiliki kelebihan dari aku. Tetapi
kau tidak akan dapat berbuat seperti itu dengan anakku. Ia
telah melihat, bagaimana kau bertempur melawanku. Karena
itu, maka aku kira kau rangkap empat masih belum akan
dapat mengimbangi kemampuannya. “
“ Apapun yang terjadi “ geram Ki Lurah Branjangan “ aku
akan mempertahankan martabat keluargaku. “
“ Ki Lurah “ berkata anak Ki Lurah Citrabawa itu “
sebenarnya aku tidak ingin melakukan kekerasan. Aku ingin
membawa cucu Ki Lurah dengan baik-baik. Ketika kami
mengetahui bahwa Ki Lurah pergi ke Tanah Perdikan
Menoreh dengan cucu Ki Lurah, maka kami telah mengikuti Ki
Lurah. Kami telah mengikuti dalam beberapa hari ini kedua
cucu Ki Lurah yang dikawani oleh prajurit itu. Namun kami
baru mendapat kesempatan hari ini berbicara dengan Ki
Lurah. “
“ Cukup “ bentak Ki Lurah “ aku minta kau pergi. “ Tetapi Ki
Lurah Citrabawa yang menyahut “ Jangan terlalu kasar Ki
Lurah Branjangan. Kau akan dapat menyesal, karena anak itu
akan dapat mematahkan batang lehermu. Tetapi ia sudah
berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. “
Ki Lurah Branjangan menggeretakkan giginya. Tetapi ia
percaya bahwa anak Ki Lurah Citrabawa itu mempunyai
kelebihan dari ayahnya. Namun meskipun demikian, ia tidak
akan melepaskan cucu perempuannya itu.
Sementara itu, Wirastama yang telah berhasil mengatasi
kesulitan pernafasannya tiba-tiba saja meloncat maju sambil
berkata lantang “ Kau akan ditangkap oleh para pengawal di
Tanah Perdikan ini. “
“ Tutup mulutmu “ tiba-tiba orang yang nampaknya lembut
dan penuh hormat itu membentak kasar “ jangan ikut campur
atau aku koyakkan mulutmu. “
Wajah Wirastama menjadi marah. Harga dirinya benarbenar
tersinggung. Karena itu, maka iapun telah meloncat
menyerang orang yang akan mengambil Rara Wulan itu.
Tetapi ternyata Wirastama salah menilai lawannya. Orang
itu sama sekali tidak menghindar. Tetapi ia telah membentur
kekuatan Wirastama itu.
Satu benturan yang keras telah terjadi. Orang itu tergetar
dan surut selangkah. Namun Wirastama telah terlempar dan
terbanting jatuh. Demikian kerasnya sehingga ketika ia
bangkit, maka punggungnya bagaikan terasa patah.
Wirastama menyeringai menahan sakit. Ia sama sekali
tidak menduga bahwa lawannya itu bagaikan dinding baja
yang tidak dapat digoyahkannya. Bahkan telah menyakitinya.
“ Nah anak muda “ berkata orang itu “ aku memang tidak
perlu menggelitikmu untuk melepaskan pakaian perwiramu.
Jika kau masih ingin berkelahi, marilah. Kau akan aku
remukkan dan untuk selanjutnya kau tidak akan dapat lagi
menjadi seorang perwira pada Pasukan Khusus itu.
Telinga Wirastama bagaikan tersentuh api mendengar
kata-kata anak Ki Lurah Citrabawa itu. Sementara Ki Lurah
Citrabawa itu tertawa sambil berkata “ Sudahlah. Jangan
mencampuri persoalan kami. Aku tahu, bahwa kau telah
bersusah payah berusaha untuk menunjukkan kelebihanmu
kepada Rara Wulan. Kau paksa gadis itu untuk naik kelereng
agar kau mendapat kesempatan untuk menolongnya, karena
kau tahu, kakaknya yang bernama Teja Prabawa itu tidak
akan dapat melakukannya. Tetapi sekarang, kau berhadapan
dengan aku. Meskipun kau dapat mengalahkan siapapun juga,
kau tidak akan dapat mengalahkan anakku. “
Wirastama berdiri dengan tubuh bergetar oleh kemarahan
yang menghentak-hentak didadanya. Namun ia benar-benar
tidak akan dapat berbuat sesuatu. Punggungnyalah yang
bagaikan patah itu, terasa demikian sakitnya ketika ia
mencoba bergerak. Apalagi jika ia harus bertempur lagi
melawan orang yang nampaknya memang memiliki ilmu yang
sangat tinggi itu.
“ Tidak sia-sia anakku itu berguru bertahun-tahun “ berkata
Ki Lurah Citrabawa. Kemudian katanya kepada Ki Lurah
Branjangan “ Nah, kau telah beruntung mendapat cucu
menantu yang tangguh, sehingga ia akan dapat melindungi
cucumu dari kemungkinan yang paling buruk sekalipun. “
Ki Lurah Branjangan menggeretakkan giginya. Namun Ki
Lurah Citrabawa berkata “ Jangan mencoba melawan anakku,
Ki Lurah. Jika ia marah, maka ia tidak peduli lagi. Siapapun
akan dihancurkannya tanpa belas kasihan. Ia telah ditempa
oleh seorang guru yang keras dan tidak mengenal belas
kasihan. “
“ Apapun yang terjadi “ berkata Ki Lurah Branjangan “ Aku
bertanggung jawab atas cucu-cucuku, karena akulah yang
telah membawa mereka kemari. “
“ Lalu apa yang akan kau lakukan? “ bertanya Ki Lurah
Citrabawa.
“ Kau dapat berbuat apa saja terhadap cucu-cucuku, jika
aku sudah terbujur mati disini “ geram Ki Lurah Branjangan
yang benar-benar menjadi marah.
“ Kakek “ Rara Wulan mulai menangis. Sementara Teja
Prabawapun menjadi gemetar.
“ Jangan takut “ berkata Ki Lurah Branjangan “ aku adalah
bekas. Senapati dari Pasukan Khusus itu. “
Tetapi anak Ki Lurah Citrabawa tertawa. Katanya “ Aku
tidak akan gentar terhadap Senapati dari Pasukan Khusus itu.
Jangankan Ki Lurah Branjangan yang sudah tua, yang
wadagnya tidak akan mampu lagi mendukung ilmu yang
betapapun tingginya. Senapati yang sekarang itupun aku tidak
akan gentar. “
Suasana memang menjadi sangat tegang. Glagah Putih
memperhatikan keadaan itu dengan jantung yang berdebaran.
Ia masih saja agak ragu untuk berbuat sesuatu. Namun ketika
keadaan menjadi semakin gawat, ia telah berusaha
memecahkan belenggu yang dibuatnya sendiri atas dirinya. Ia
tidak peduli lagi, apakah langkahnya akan menyinggung
perasaan Teja Prabawa atau Wirastama. Namun ia tidak
dapat membiarkan Ki Citrabawa yang ilmunya hampir
seimbang itu harus bertempur dengan orang yang ilmunya
nampaknya cukup tinggi.
Karena itu, maka dengan ragu-ragu ia maju mendekati Ki
Lurah Branjangan sambil berkata “ Ki Lurah. Aku mohon maaf.
Apakah Ki Lurah memperkenankan aku mencampuri
persoalan ini? “
Ki Lurah berpaling. Sebenarnyalah bahwa satu-satunya
harapan baginya adalah Glagah Putih. Karena itu, maka
iapun kemudian tersenyum sambil berkata “ Kau yang
ditugaskan oleh Ki Gede mengantarkan dan mengamat-amati
cucu-cucuku. Kau bertanggung jawab pula akan
keselamatannya. “
Glagah Putih mengangguk hormat. Sementara itu
Wirastama menggeram “ Apa yang akan kau lakukan? “
Glagah Putih tidak menghiraukannya. Iapun kemudian
melangkah menghadap kepada anak Ki Lurah Citrabawa itu.
Katanya “ Ki Sanak. Aku mohon Ki Sanak mengurungkan niat
Ki Sanak. Aku kira cara yang Ki Sanak tempuh itu kurang
pada tempatnya. “
“ Setan “ geram orang itu “ siapakah kau? “
“ Aku Glagah Putih, anak Tanah Perdikan ini. Aku telah
mendapat kepercayaan Ki Gede untuk mengawani cucu-cucu
Ki Lurah selama mereka berada di Tanah Perdikan. Persoalan
apakah mereka senang atau tidak itu bukan persoalanku.
Namun yang penting bahwa tugas itu dibebani tanggung
jawab akan keselamatan mereka “ jawab Glagah Putih.
“ Kasihan kau anak muda “ berkata anak Ki Lurah
Citrabawa itu.
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Dipandanginya
sikap yang meyakinkan dari anak Ki Lurah Citrabawa.
Sedangkan anak Ki Citrabawa itu nampaknya terlalu percaya
kepada ilmunya.
Karena itu, maka Glagah Putih merasa bahwa ia memang
harus berhati-hati.
“ Anak muda “ berkata orang itu pula “ pergilah sebelum
terlanjur. Kau tahu, bahwa perwira Pasukan Khusus itupun
tidak dapat mencegah aku. Apalagi kau, anak padu-kuhan
yang malang. “
Namun Glagah Putih menjawab “ Apapun yang terjadi
atasku, aku harus melakukan tugas yang dibebankan
kepadaku oleh Ki Gede. Karena itu, pergilah dengan damai,
tanpa permusuhan dengan orang-orang Tanah Perdikan
Menoreh yang menjadi tuan rumah dari kedua cucu Ki Lurah
Branjangan itu. “
“ Kata-katamu menyakitkan hati anak muda “ geram anak
Ki Lurah Citrabawa. “ aku ingin menyumbat mulutmu dengan
tumitku. “
“ Sekali lagi aku mohon Ki Sanak. Tinggalkan Tanah
Perdikan “ berkata Glagah Putih.
Orang-orang yang menyaksikan sikap Glagah Putih itu
menjadi tegang. Anak Ki Lurah Citrabawa itupun mampu
menilai sikap Glagah Putih yang matang. Sementara itu,
Wirastama terheran-heran melihat Glagah Putih dengan
mantap menghadapi orang yang memiliki kekuatan yang
sangat besar itu.
Teja Prabawa menjadi berdebar-debar. Ia sama sekali tidak
menduga bahwa anak padukuhan itu dapat bersikap demikian
meyakinkan menghadapi keadaan yang gawat.
Anak Ki Lurah Citrabawa yang berilmu tinggi itu mulai
marah. Sementara Ki Lirah Citrabawa itu berkata “ Jangan
berkorban untuk orang yang tidak banyak kau kenal. Jika kau
mati, maka kematianmu tidak berarti apa-apa bagi Tanah
Perdikan ini. “
“ Aku sedang mempertahankan martabat Tanah Perdikan
ini “ jawab Glagah Putih.
“ Anak iblis “ berkata anak Ki Lurah Citrabawa “ kenapa kau
demikian dungunya menghadapi kenyataan ini. Jika aku ambil
gadis itu apakah kau akan merasa kehilangan? “
Pertanyaan itu terdengar aneh ditelinga Glagah Putih.
Tetapi iapun telah bertanya kepada diri sendiri “ Apakah aku
akan merasa kehilangan? “
Glagah Putih memang bertanggung jawab atas
keselamatan tamu-tamu Tanah Perdikan Menoreh karena ia
adalah salah seorang penghuni Tanah Perdikan itu. Karena
itu, maka iapun telah menjawab pertanyaan dari dalam dirinya
itu didalam hati “ Bukan karena kehilangan. Tetapi itu adalah
kewajibanku. “
Namun justru diluar sadarnya ia telah berpaling memandang
Rara Wulan. Gadis itu wajahnya menjadi sangat
pucat karena ketakutan. Tubuhnya menggigil dan air matanya
telah mengalir di pipinya.
Tiba-tiba saja Glagah Putih merasa sangat iba melihat
gadis yang sangat ketakutan itu, sehingga dengan demikian,
maka telah mendorong niatnya untuk menghancurkan
ketamakan Ki Lurah Citrabawa dengan anak laki-lakinya yang
bungsu yang dibanggakannya itu.
Sementara itu anak Ki Lurah Citrabawa itupun membentak
“ Minggir atau aku bunuh kau. “
Tetapi hampir diluar sadarnya Glagah Putih berkata “
Kaulah yang minggir. Kau sudah terlalu tua untuk mengambil
Rara Wulan yang masih terlalu muda. “
Anak Ki Lurah Citrabawa tidak dapat menahan
kemarahannya. Iapun kemudian maju selangkah sambil
berkata “ Bersiaplah untuk mati. Jika ada pesan yang ingin
kau sampaikan, lakukanlah sekarang, karena pada benturan
pertama kau tentu sudah akan mati. “
Glagah Putihpun menjadi marah. Sudah cukup lama ia
menahan diri. Sejak hari-hari sebelumnya rasa-rasanya ia
telah mengekang diri sehingga dadanya bagaikan menjadi
sesak. Karena itu, ketika kesempatan itu datang, maka
perasaannya-pun bagaikan telah meledak.
Karena itu, maka Glagah Putihpun melangkah maju dengan
tatapan mata yang tajam. Dengan mantap ia berdiri tegak
beberapa langkah dihadapan anak Ki Lurah Citrabawa.
“ Kau benar-benar ingin mati “ geram orang itu.
“ Kita akan melihat siapakah yang akan keluar dari
pertempuran ini dengan selamat “ sahut Glagah Putih.
Orang itupun tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja
ia telah meloncat menyerang dengan garangnya. Agaknya ia
tidak sekedar menjajagi kemampuan lawannya. Tetapi anak Ki
Citrabawa itu agaknya langsung ingin membunuh Glagah
Putih. “
Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi
berdebar-debar. Wirastamapun menjadi tegang. Ia menyadari,
bahwa serangan itu adalah serangan mematikan. Nampaknya
anak Tanah Perdikan itu benar-benar bernasib buruk, hanya
karena ia terlalu taat melakukan perintah Ki Gede.
Tetapi dugaan mereka ternyata salah. Dengan tangkas
Glagah Putih menghindari serangan itu. Ia bergeser selangkah
sambil memiringkan tubuhnya. Demikian serangan itu
menyambar setapak di sisinya, tiba-tiba saja Glagah Putih
telah berputar, bertumpu pada sebelah kakinya, sementara
kakinya yang lain terayun dengan cepatnya, menyerang
lawannya yang kehilangan sasaran.
Adalah tidak terduga sama sekali, justru serangan Glagah
Putih yang telah mengenai tubuh lawannya yang meluncur itu
meskipun tidak terlalu keras. Namun sentuhan itu benar-benar
telah menyakiti hati lawannya, jauh lebih sakit dari tubuhnya
yang terkena serangan itu.
“ Anak iblis “ orang itu menggeram sambil meloncat
mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.
Glagah Putih memang tidak memburunya. Iapun berdiri
tegak menghadap kearah anak Ki Lurah Citrabawa itu.
“ Kau bangga dengan kelengahanku itu? “ bertanya anak Ki
Lurah Citrabawa yang marah sekali.
“ Bunuh saja anak itu dengan cepat “ geram Ki Citrabawa
pula “ waktu itu tidak terlalu panjang. “
Tetapi Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya “ Sedang
seekor cacingpun akan menggeliat jika terinjak kaki. Apalagi
Glagah Putih. “
Sebenarnyalah Glagah Putih memang telah bersiap
sepenuhnya menghadapi kemungkinan yang bagaimanapun
juga. Meskipun Glagah Putih tidak pernah merasa sebagai
seorang yang terbaik dalam olah kanuragan, namun ia
memang meyakini bahwa ilmu yang pernah disadapnya akan
mampu melindunginya.
Demikianlah, maka anak Ki Lurah Citrabawa itu telah
menerkamnya lagi dengan garangnya. Karena ia terlalu
bernafas untuk segera membunuh Glagah Putih, maka tata
geraknyapun menjadi keras dan kasar.
Tetapi Glagah Putih telah bersiap-siap menghadapi
kemungkinan itu. Dengan tangkasnya ia menghindari setiap
serangan. Namun dengan cepat pula ia berganti menyerang,
sehingga dengan demikian, keduanya telah saling menyerang
dengan sengitnya.
Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi
semakin tegang. Setiap saat, kemampuan keduanya seakanakan
semakin meningkat. Sehingga beberapa saat kemudian
maka keduanya telah bertempur pula tataran ilmu yang tinggi.
Keduanya bergerak seperti bayangan yang tidak digantungi
oleh berat tubuhnya. Kaki-kaki mereka bagaikan tidak berjejak
diatas tanah.
Ki Lurah Citrabawa menjadi sangat tegang. Ia terlalu
percaya akan kemampuan anaknya. Namun tiba-tiba saja di
Tanah Perdikan ini anaknya itu menjumpai seorang anak yang
masih sangat muda yang mampu mengimbangi ilmunya.
Ki Lurah Branjanganpun menjadi tegang. Ternyata anak Ki
Lurah Citrabawa itu memang memiliki bekal ilmu yang tinggi.
Namun ia tetap berharap bahwa Glagah Putih akan dapat
mengatasinya.
Yang menjadi bingung adalah Wirastama dan apalagi Teja
Prabawa. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa anak
padukuhan di Tanah Perdikan Menoreh itu mampu bertempur
dengan dahsyatnya, pada tataran ilmu yang tinggi.
“ Bagaimana mungkin hal itu dapat dilakukan “.desis
Wirastama kepada diri sendiri. Sementara Teja Prabawa justru
merasa bingung. Tanpa disengaja ia sempat mengingat apa
yang pernah dilakukan atas anak Tanah Perdikan yang
dianggapnya tidak lebih dari anak padesan itu.
“ Agaknya kakek sudah mengenalnya dengan baik “
berkata Teja Prabawa didalam hatinya “ ternyata kakek begitu
yakin akan kemampuannya. “
Rara Wulan justru menjadi sangat berdebar-debar. Serba
sedikit ia dapat mengetahui, bahwa pertempuran antara kedua
orang itu benar-benar sudah berada pada tataran ilmu yang
tinggi.
Sebenarnyalah anak Ki Lurah Citrabawa itu telah
meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Tangannya berputaran,
terayun, mematuk dan menerkam lawannya dengan
secepatnya sehingga tangannya yang sepasang itu seakanakan
telah menjadi beberapa pasang.
Tetapi tubuh Glagah Putihpun rasa-rasanya tidak lagi
menyentuh tanah. Seperti seekor burung sikatan menyambar
bilalang, maka gerak Glagah Putih kadang-kadang memang
membingungkan lawannya yang tangguh itu.
***
Bersambung ke Jilid 236
JILID 236
BEBERAPA saat kemudian, maka serangan-serangan
merekapun telah mulai mengenai sasaran. Tangan anak Ki
Lurah Citrabawa itu sempat menyambar lambung Glagah
Putih. Tetapi dengan mengerahkan daya tahan tubuhnya,
maka dengan cepat ia menguasai dirinya sepenuhnya.
Bahkan ketika kaki lawannya terjulur kearah dadanya, Glagah
Putih sempat merendah. Satu putaran kakinya telah
menyambar kaki lawannya demikian ia berjejak diatas tanah.
Tetapi anak Ki Lurah Citrabawa itu tepat pada waktunya telah
melenting kembali untuk menghindari serangan kaki Glagah
Putih yang menyapu kakinya. Tetapi ketika ia sekali lagi berdiri
tegak, maka ia sama sekali tidak sempat mengelak ketika
tangan Glagah Putih menghantam dadanya.
Anak Ki Lurah Citrabawa itu terdorong beberapa langkah
surut. Ketika Glagah Putih memburunya, maka lawannya itu
justru melenting untuk mengambil jarak. Tetapi Glagah Putih
tidak membiarkannya. Iapun telah meloncat dengan loncatan
yang lebih panjang, sehingga ketika lawannya itu tegak,
Glagah Putih telah berada disampingnya. Tangannya terayun
deras menyambar kening anak Ki Lurah Citrabawa. Tetapi
anak Ki Lurah itu sempat membungkukkan badannya.
Namun perhitungan Glagah Putih ternyata lebih cermat.
Demikian lawannya membungkuk, maka sambil meloncat
maju, lututnya telah diangkatnya. Hampir saja lutut Glagab
Putih mengenai dahi anak Ki Lurah itu. Tetapi dengan cepat,
anak Ki Lurah itu sempat mendorong kaki Glagah Putih
kesamping sementara anak Ki Lurah itu bergeser selangkah.
Namun yang terjadi adalah putaran kaki Glagah Putih telah
menghantam punggungnya.
Anak Ki Lurah Citrabawa itu hampir saja jatuh terjerembab.
Tetapi dengan tangkas ia justru berguling dalam putaran yang
mapan beberapa kali, sehingga akhirnya ia melenting berdiri.
Glagah Putih yang siap memburunya tertegun. Ia melihat
lawannya itu menggenggam senjata ditangannya. Sepasang
pisau belati panjang dikedua tangannya.
Glagah Putih berdiri tegak dengan tatapan mata yang
tajam. Sekali dipandanginya sepasang pisau belati panjang
itu. Kemudian ditatapnya wajah orang yang menjadi sangat
marah itu.
“Kau memang harus dibunuh anak iblis.” geram anak Ki
Lurah Citrabawa itu.
Glagah Putih termangu-mangu. Sebagai seorang yang
berilmu, maka ia dapat melihat kemampuan lawannya dengan
melihat caranya menggenggam sepasang pisau belatinya itu.
“Kau akan mati anak muda. Pisau-pisauku ini adalah pisaupisau
yang bertuah. Jika keduanya sudah disentuh silirnya
angin, maka keduanya harus dibasahi dengan darah. Sayang,
bahwa kali ini darahmulah yang akan membasahi pisau belati
ini.”
Glagah Putih masih berdiri tegak. Pisau belati itu agaknya
terbuat dari baja pilihan. Tidak berkilat seperti kebanyakan
pisau belati. Tetapi pisau-pisau itu berwarna kelam. Namun
dengan demikian Glagah Putih mengerti, bahwa pisau belati
itu memang bukan pisau belati kebanyakan meskipun ujud
dan bentuknya memang sebagaimana pisau belati yang lain.
Glagah Putihpun segera bersiap ketika ia melihat lawannya itu
maju selangkah demi selangkah.
Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi
tegang. Mereka tidak melihat Glagah Putih membawa senjata
apapun. Dilambungnya tidak tergantung pedang. Di
punggungnya tidak terselip keris. Bahkan pisau belatipun
agaknya ia tidak membawa.
Sesaat kemudian, maka anak Ki Lurah Citrabawa itu telah
meloncat menyerangnya. Kedua pisau belatinya menyambarnyambar
dengan dahsyatnya. Bayangan yang berputaran
menyelubungi anak Ki Lurah yang menjadi semakin garang.
Namun kemarahannya yang bagaikan meledakkan
kepalanya itu telah memeras kemampuan dan ilmunya yang
sebenarnya. la menjadi semakin keras dan kasar.
Ternyata orang itu benar-benar menguasai sepasang
senjatanya. Bahkan bukan saja ketrampilannya, tetapi orang
itu memang memiliki ilmu yang rumit. Beberapa kali Glagah
Putih harus berloncatan surut untuk mengambil jarak jika
keadaannya menjadi sulit oleh serangan-serangan yang
datang beruntun susul menyusul.
Ki Lurah Branjanganpun menjadi tegang pula. Anak Ki
Lurah Citrabawa dengan sepasang pisau belatinya memang
nampak sangat garang. Beberapa kali ia berhasil mendesak
Glagah Putih, sehingga kedudukan Glagah Putihpun menjadi
semakin berbahaya.
Untuk beberapa saat Glagah Putih masih bertumpu pada
kemampuannya bergerak cepat dan ketangkasannya
mengelakkan diri dari ujung-ujung senjata lawannya itu.
Namun ternyata kemudian bahwa ia semakin mengalami
kesulitan. Bahkan beberapa saat kemudian Glagah Putih itu
telah terdesak ketebing bukit.
Rara Wulan yang melihat pertempuran itu kadang-kadang
harus menyembunyikan wajahnya atau berpaling sambil
memejamkan matanya. Namun ketegangan yang
mencengkam jantungnya membuatnya berpegangan kepada
kakeknya semakin erat.
Sementara itu terdengar Ki Lurah Citrabawa tertawa.
Semakin lama semakin keras. Katanya disela-sela derai
tertawanya, “He, Branjangan. Lihatlah. Anak yang ditugaskan
oleh Ki Gede Menoreh itu sebentar lagi akan mati. Ia tidak
akan mungkin mampu bertahan menghadapi ilmu pedang
anakku yang disebutnya ilmu pedang Sapu Angin.”
Ki Lurah Branjangan tidak menjawab. Tetapi ia memang
semakin berdebar-debar melihat ilmu pedang anak Ki
Citrabawa itu. Kedua pisau belati panjang ditangannya, telah
berputaran dengan cepat sekali, sehingga nampak seakanakan
gumpalan awan yang hitam kelabu bergulung-gulung
menyerang Glagah Putih yang nampaknya menjadi semakin
terdesak.
Suara tertawa Ki Lurah Citrabawapun menjadi semakin
keras, sementara Rara Wulan mulai terisak. Baginya Glagah
Putih adalah harapan terakhir untuk menyelamatkannya. Jika
Glagah Putih itu benar-benar terbunuh, maka ia tentu akan
dibawa oleh laki-laki yang tidak dikenalnya itu. Sementara itu,
iapun telah pula menyebabkan kematian anak muda dari
Tanah Perdikan itu.
Teja Prabawa dan Wirastama menyaksikan pertempuran
itu dengan nafas yang bagaikan terhenti. Keduanya membeku
dalam ketegangan yang mencengkam. Wirastama yang tidak
ingin dilampaui kemampuannya itu, ternyata menjadi cemas
pula melihat keadaan Glagah Putih.
Sementara itu, anak Ki Lurah Citrabawa itu semakin
mendesak lawannya. Ketika Glagah Putih telah berada di
bawah tebing bukit, orang itu menggeram. “Sayang anak
muda. Kau telah mencampuri persoalan orang lain. Sekarang,
sesalilah perbuatanmu itu beberapa saat sebelum koyak oleh
senjataku ini.”
Glagah Putih menggeretakkan giginya. Iapun menjadi
marah melihat sikap lawannya. Sementara itu sekilas ia
sempat melihat orang-orang yang membeku menyaksikan
pertempuran itu. Jarak mereka sudah menjadi agak jauh
karena Glagah Putih yang telah terdesak sampai ketebing.
Namun orang-orang itu masih sempat menyaksikan
pertempuran itu dengan jelas. Merekapun dapat melihat
dengan jelas pula, bahwa Glagah Putih telah terdesak sampai
ketebing. Adalah kebetulan bahwa Glagah Putih ketika
berloncatan surut tidak memperhatikan jalan setapak di lereng
bukit itu, sehingga ia masih akan mendapat kesempatan untuk
naik dan menghindari serangan-serangan anak Ki Lurah
Citrabawa itu.
“Kakek.” Rara Wulan memang tidak dapat menahan
tangisnya.
“Kalian tidak akan dapat melarikan diri.” berkata Ki Lurah
Citrabawa.
Tetapi Ki Lurah Branjangan berpendapat lain, katanya,
“Pertempuran itu belum berakhir.”
Ki Lurah Citrabawa termangu-mangu sejenak.
Dipandanginya anaknya yang berdiri tegak dengan sepasang
pisau belati ditangannya. Dihadapannya Glagah Putih berdiri
di wajah tebing hampir tegak yang terdiri dari batu-batu padas
yang berlumut kehijau-hijauan.
Sementara itu, anak Ki Lurah Citrabawa itu berkata pula,
“Sepasang pisauku akan berterima kasih kepadamu, karena
sempat menghirup darah anak yang masih terlalu muda untuk
mati. Tetapi darahmu tentu jauh lebih segar daripada darah Ki
Lurah Branjangan yang tua itu.”
Suara tertawa anak Ki Lurah Citrabawa masih terdengar.
Bahkan kemudian semakin keras dan bergema pada dindingdinding
pada perbukitan.
“Jangan sesali nasibmu anak muda.” anak Ki Lurah
Citrabawa itu menggeram.
Namun dalam pada itu, ketika jantung Ki Lurah Branjangan
dan orang-orang lain yang menyaksikan pertempuran itu
bagaikan berhenti berdetak, mereka melihat tangan Glagah
Putih melepas ikat pinggang kulitnya. Kemudian menarik kain
panjangnya dan mengikatkannya pada lambungnya. Dengan
ikat pinggang kulit ditangan, maka Glagah Putih berdiri tegak
menunggu kemungkinan yang bakal terjadi.
“Gila.” geram anak Ki Lurah Citrabawa, “kau masih sempat
menghina aku he? Buat apa ikat pinggang kulit seperti itu?”
Glagah Putih sama sekali tidak menjawab. Ia mulai
menggerakkan ikat pinggangnya. Terayun-ayun disisi
tubuhnya. Namun kemudian iapun berkata, “Bersiaplah Ki
Sanak. Saat kematian kita bukanlah kita yang menentukan.
Karena itu, maka aku atau kau yang akan mati, tidak akan
dapat kita pastikan menurut keinginan kita.”
“Persetan.” geram anak Ki Lurah Citrabawa. Agaknya ia
sudah tidak ingin menunda-nunda lagi. Karena itu, maka
kedua pisau belati yang berwarna suram ditangannya itupun
mulai berputar. Semakin lama semakin cepat.
Demikianlah sesaat kemudian, maka anak Ki Lurah
Citrabawa itupun telah meloncat dengan garangnya. Sebuah
dari pisau belatinya mematuk lurus kearah dada, sementara
yang lain siap untuk terayun mendatar jika Glagah Putih
mengelak kesamping.
Namun adalah diluar dugaan. Demikian pisau belati itu
meluncur dengan derasnya, maka Glagah Putih yang telah
menggerak-gerakkan ikat pinggangnya itu memiringkan
tubuhnya. Iapun menyadari adanya pisau belati yang ada
ditangan lawannya yang lain. Karena itu, ia tidak meloncat
menghindar, tetapi dengan kecepatan sulit diikuti dengan mata
wadag, ia justru telah menangkis serangan lawannya. Pisau
belati yang mematuk lurus kedada Glagah Putih itu tiba-tiba
bagaikan terpukul oleh tongkat baja sebesar batang wregu
dengan kekuatan yang tidak terduga. Karena itu, maka tanpa
dapat dimengerti sama sekali, pisau belati yang terjulur kearah
dada itu, telah terlempar dan jatuh beberapa langkah dari
anak Ki Citrabawa yang terkejut itu.
Glagah Putih yang berhasil melepaskan satu senjata
lawannya itu sebenarnya mempunyai kesempatan yang lebih
baik dari lawannya untuk menyerang. Ikat pinggangnya yang
telah menjadi sekuat keping baja itu, sudah siap untuk
menusuk. Meskipun ujungnya sama sekali tidak runcing,
namun kekuatan Glagah Putih akan mampu membelah dada
lawannya dengan senjatanya yang khusus itu.
Tetapi ketika senjata itu mulai terjulur, maka Glagah Putih
telah menahan diri. Pengaruh Raden Rangga mulai nampak
didalam sikapnya yang meyakinkan, tetapi agak menyakitkan
hati.Glagah Putih yang urung memecahkan tulang-tulang iga
lawannya itu telah memutar ikat pinggangnya disisi tubuhnya
sambil berkata, “Nah Ki Sanak. Ambillah senjatamu. Dengan
sepasang senjata kau tidak mampu berbuat apa-apa atasku.
Apalagi hanya dengan sebuah dari sepasang senjatamu.”
Wajah anak Ki Lurah Citrabawa itu menjadi merah.
Penghinaan itu benar-benar telah menyengat jantungnya.
Namun Glagah Putih telah membentak, “Cepat. Ambil
pisaumu.”
Lawannya masih agak kebingungan. Namun karena orang
itu tidak segera mengambil pisaunya, maka tiba-tiba saja
Glagah Putih telah meloncat menyerang. Ikat pinggangnya
terayun cepat sehingga desing angin telah menyakitkan
telinga lawannya Bahkan gerak ikat pinggang itu demikian
cepatnya, sehingga lawannyapun dengan serta merta telah
menangkisnya. Tetapi sekali lagi, lawannya terkejut sekali.
Pisaunya yang sebuah itupun ternyata telah terlepas dan
terlempar pula dari tangannya. Orang itu meloncat beberapa
langkah surut untuk mengambil jarak.
Glagah Putih tiba-tiba saja tertawa. Katanya disela-sela
derai tertawanya, “Kasihan kau Ki Sanak. Kau telah
kehilangan semua senjatamu. Ambillah. Aku akan menunggu.”
Telinga lawannya bagaikan tersentuh api. Sikap Glagah
Putih yang tiba-tiba berubah itu telah sangat menyakitkan
hatinya. la sama sekali tidak menyangka, bahwa ia telah
berhadapan dengan anak muda yang berilmu sangat tinggi.
Namun dalam pada itu, Glagah Putih berkata, “Ki Sanak.
Aku tahu kau berilmu tinggi. Kau tentu tidak akan begitu
mudah kehilangan senjata jika kau tidak terlalu sombong. Kau
terlalu merendahkan lawanmu sehingga kau lengah. Karena
itu, sekali lagi aku minta, ambil senjatamu. Aku tidak mau
memenangkan pertempuran ini secara kebetulan, bahwa
lawanku adalah seorang yang sombong sehingga menjadi
lengah. Aku ingin bertempur sebagaimana seorang laki-laki
jantan. Kita beradu dada, sama-sama siap dan sempat
mengerahkan semua ilmu yang kita miliki. Aku tahu, bahwa
kau belum sampai kepuncak ilmumu, sehingga jika kau
terbunuh sekarang, kau tentu sangat menyesal oleh
kelengahan itu.”
“Persetan.” orang itu menggeram dengan kemarahan yang
menghentak-hentak didadanya.
Tetapi Glagah Putih justru tersenyum. Dengan nada tinggi
ia berkata, “Jangan marah. Tentunya gurumu pernah
berpesan kepadamu agar kau tidak cepat menjadi marah
dalam pertempuran. Kemarahan akan dapat membuat
seseorang kehilangan pengamatan diri. Hal itu akan dapat
mempercepat kekalahanmu.”
Anak Ki Lurah Citrabawa itu menggeretakkan giginya.
Hampir di luar sadarnya ia berpaling ke arah pisau-pisaunya
yang terlepas dari tangannya.
“Ambil. Ambillah Ki Sanak.” berkata Glagah Putih sambil
tersenyum.
Orang itupun tidak memperdulikan harga dirinya lagi.
Kemarahannya tidak dapat ditahankannya lagi, sehingga ia
benar-benar ingin membunuh anak muda yang dimatanya
menjadi sangat sombong itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja
orang itu meloncat menggapai pisau-pisaunya yang terlepas
dari tangannya.
Ki Lurah Branjangan menjadi berdebar-debar sesaat. Iapun
melihat perubahan sikap Glagah Putih. Ia tidak lagi
membayangkan sikapnya yang dengan sungguh-sungguh
mengangguk hormat. Tetapi anak muda itu memang bersikap
lain. Tertawanya yang ceria dan sikapnya yang telah menjadi
bebas dan tidak terkekang oleh keseganan yang
membelenggunya.
Wirastamapun terkejut bukan kepalang melihat perkelahian
itu. Apalagi karena anak Ki Lurah Citrabawa itu telah
kehilangan kedua pisaunya, serta kesempatan yang diberikan
Glagah Putih kepadanya untuk mengambil pisaunya itu
kembali.
“Siapakah Glagah Putih itu sebenarnya?” pertanyaan itu
tiba-tiba saja telah membelit di hatinya.
Rara Wulan yang putus asa, telah menemukan harapannya
kembali, sehingga tangisnyapun telah terhenti, sedangkan
Teja Prabawa menjadi kebingungan. la merasa bersalah atas
sikapnya terhadap anak muda padesan yang kakinya kotor
oleh lumpur dan pakaiannya basah oleh keringat karena kerja
di sawah itu. Ternyata anak muda itu memiliki ilmu yang
sangat tinggi.
Beberapa saat kemudian, kedua orang yang bertempur itu
telah berdiri saling berhadapan. Anak Ki Citrabawa telah
menggenggam sepasang pisaunya kembali, sementara ikat
pinggang Glagah Putihpun masih saja terayun:ayun disisi
tubuhnya. Menurut penglihatan lawannya, ikat pinggang itu
adalah ikat pinggang kulit seperti ikat pinggang kebanyakan.
Namun sentuhan ikat pinggang itu bagaikan sentuhan
lempeng baja yang tebal dan kuat melampui kuatnya pedang
yang terbaik sekalipun.
“Marilah Ki Sanak.” terdengar Glagah Putih, “kita akan
dapat segera mulai. Kita berhadapan dalam kesiagaan yang
sama. Kau jangan menjadi lengah lagi karena
kesombonganmu. Jika terjadi sekali lagi demikian, dan
kemudian dadamu pecah karena ikat pinggangku, maka itu
sama sekali bukan salahku lagi. Jangan kau sebut aku terlalu
kejam menghadapi orang sekasar kau.”
Anak Ki Lurah Citrabawa itu tidak dapat menahan getar
kemarahannya lagi. Karena itu, maka iapun kemudian telah
menyerang Glagah Putih dengan sepasang pisau belati yang
berputar.
Gumpalan asap kelabu nampak lagi di seputar anak Ki
Lurah Citrabawa. Sepasang putaran asap yang bergerakgerak
semakin lama menjadi semakin dekat dengan tubuh
Glagah Putih yang masih tetap berada di tempatnya.
Namun Glagah Putihpun telah bersiap pula. Ketika
gumpalan asap kelabu itu menjadi semakin dekat, maka
Glagah Putihpun mulai memutar ikat pinggangnya pula.
Demikianlah, maka sejenak kemudian pertempuranpun
telah berlangsung lagi dengan dahsyatnya. Keduanya adalah
orang-orang berilmu tinggi. Keduanya mampu menguasai
senjata masing-masing dengan baik dan bahkan hampir
sempurna.
Kedua pisau belati itu berganti-ganti menyambar tubuh
Glagah Putih. Jika sebuah diantaranya mematuk, maka yang
lain siap menyambar tubuh Glagah Putih yang terlempar
menghindar. Namun tidak terlalu mudah untuk menyentuh
tubuh Glagah Putih, ikat pinggangnyalah yang menyambar
senjata lawannya itu.
Tetapi lawannya memang menjadi semakin berhati-hati.
Disadarinya kekuatan Glagah Putih yang sangat besar,
sehingga karena itu, maka iapun telah menggenggam
senjatanya erat-erat.
Namun kemampuan Glagah Putih bermain dengan ikat
pinggangnya memang mengagumkan. ltulah sebabnya, maka
lawannya kadang-kadang harus berloncatan surut
menghindari kejaran senjata anak padesan itu.
“Mari Ki Sanak.” suara Glagah Putih terdengar bernada
tinggi, “jangan terlalu sering menjauhi arena. Bukankah kita
sudah bertekad bertempur sampai tataran ilmu kita yang
tertinggi?”
Namun ternyata bahwa ilmu pedang anak Ki Lurah
Citrabawa itu sulit untuk mengimbangi kemampuan Glagah
Putih mempermainkan senjatanya. Karena itu, maka anak Ki
Lurah Citrabawa itu mulai berloncatan menjauh.
Namun Glagah Putih tidak melepaskannya. Kemarahannya
telah membakar jantungnya atas sikap orang itu, meskipun ia
masih berhasil menguasai perasaannya itu pada sikap dan
geraknya dalam olah kanuragan, sehingga ia masih tetap
mampu mempergunakan nalarnya dengan jernih.
Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin berat
sebelah. Anak Ki Lurah Citrabawa menjadi semakin terdesak,
sehingga arena itupun telah bergeser lagi, semakin dekat
dengan Ki Lurah Citrabawa menunggu kemenangan anak lakilakinya
selalu terdesak, sehingga akhirnya ia berteriak,
“Selesaikan anak itu dengan ilmu pamungkasmu. Jangan
segan-segan lagi dan jangan menunggu sampai kau menjadi
korban keganasannya itu.”
Anak Ki Lurah Citrabawa itupun telah mengambil jarak.
Sementara itu Glagah Putihpun termangu-mangu melihat
sikap orang itu. Ia tejah kehilangan kesempatan untuk
mengalahkan Glagah Putih dengan ilmu Sapu Anginnya.
Namun agaknya orang itu masih akan melepaskan jenis
ilmunya yang lain.
Anak Ki Lurah yang telah bersiap itu termangu-mangu
sejenak. Namun Ki Lurah Citrabawa itu berteriak, “Untuk apa
kau berguru jika kau biarkan dirimu dihina oleh anak padesan?
Seandainya ia mati sekalipun tidak akan ada yang
menyesalinya. Dunia tidak akan merasa kehilangan apapun
juga.”
Sebenarnyalah anak Ki Lurah Citrabawa itu segera bersiap.
Tiba-tiba saja ia telah mengatupkan kedua telapak tangannya
yang sudah tidak menggenggam senjatanya lagi itu.
Kemudian kedua tangannya bersilang sejajar di depan
dadanya. Dengan satu gerak yang khusus, anak Ki Lurah
Citrabawa itu telah menghentakkan tangannya yang terbuka
menghadapi ke arah Glagah Putih.
“Nah, itulah ilmu Sapu Angin yang sebenarnya.” teriak Ki
Lurah Citrabawa yang berbangga dengan ilmu anaknya itu.
Sebenarnyalah dari telapak tangan anak Ki Lurah
Citrabawa itu seakan-akan telah berhembus angin yang
sangat keras. Hanya tertuju ke arah sasarannya saja,
sehingga dengan demikian maka serangan itu merupakan
sarangan yang sangat berbahaya. Jika serangan itu
menyentuh lawannya, maka serangan itu akan dapat
meremukkan bagian dalam tubuhnya.
Namun Glagah Putih dengan cepat telah meloncat
menghindar. Karena itu, gumpalan arus udara yang sangat
dahsyat itu tidak menyentuh tubuhnya. Namun ternyata orangorang
yang menyaksikan kedahsyatan ilmu itu menjadi
berdebar-debar. Serangan yang luput dari sasaran itu, telah
menghantam batu-batu padas ditebing sehingga gumpalangumpalan
batu padas telah berguguran.
Ketika kemudian Glagah Putih berdiri tegak, maka
jantungnya menjadi berdebaran. Anak Ki Lurah Citrabawa itu
benar-benar tidak lagi mengekang diri. Ilmunya memang
menggetarkan jantung. Namun bahwa orang itu telah
mempergunakannya, maka Glagah Putihpun benar-benar
telah menjadi marah.
Tetapi Glagah Putih masih tetap menyadari kedudukannya.
Sehingga karena itu, maka ia masih mampu mengendalikan
diri dari dorongan keinginannya untuk membalas lawannya.
Jika lawannya itu benar-benar ingin membunuhnya, kenapa ia
tidak melakukannya juga ? Namun Glagah Putih memang
tidak ingin menghentikan ketamakan anak Ki Lurah Citrabawa
itu.
Karena itu, maka Glagah Putihpun telah berniat untuk
membentur ilmu orang itu dengan ilmunya. Menurut pendapat
Glagah Putih, maka orang itu tentu akan sedikit tergantung
sehingga ilmu Glagah Putih tidak akan melumatkannya.
Sebenarnyalah, anak Ki Lurah Citrabawa yang gagal
dengan serangan pertamanya itu, telah bersiap-siap untuk
menyerang kembali. Apalagi ketika ayahnya berteriak,
“Jangan menahan diri. Jangan membiarkan kau menjadi
sasaran kesombongannya dan terkapar mati disini.”
Anak Ki Lurah Citrabawa itu memang tidak ragu-ragu lagi.
Dipusatkannya nalar budinya. Disusunnya tataran ilmu
pamungkasannya, sehingga akhirnya digerakannya tangannya
sesuai dengan arus ilmunya sehingga akhirnya
dihentakkannya tangannya dengan telapak tangannya
menghadap kearah Glagah Putih.
Glagah Putih tidak mengelak. Iapun menggerakkan
tangannya pula. Kedua telapak tangannya kemudian telah
menghadap kearah anak Ki Lurah Citrabawa yang sedang
menghentakkan ilmu Sapu Angin menurut aliran
perguruannya.
Ternyata Glagah Putih telah melontarkan ilmunya pula.
Ilmu yang mengendap didalam dirinya dan dihentakkannya
sesuai dengan ajaran yang diberikan oleh Ki Jayaraga.
Karena Glagah Putih tidak berniat memburu lawannya,
maka ia berusaha melawan aliran perguruan anak Ki
Citrabawa itu hanya dengan kekuatan udara didalam dirinya.
Sehingga demikian maka tiba-tiba dari tangan Glagah Putih itu
telah memancar pula arus udara yang dahsyat.
Kedua kekuatan ilmu yang tinggi telah saling berbenturan.
Namun ternyata Glagah Putih memang memiliki kelebihan dari
lawannya. Meskipun Glagah Putih masih lebih muda, tetapi ia
telah memiliki pengalaman yang sangat banyak. Apalagi pada
masa-masa persahabatannya dengan Raden Rangga. Bahkan
landasan ilmu keduanyapun memang kurang seimbang.
Glagah Putih yang mendapatkan ilmunya dari berbagai
sumber, yang kemudian telah luluh di dalam dirinya itu,
ternyata jauh lebih kuat dan lebih matang dari ilmu lawannya.
Dengan demikian, maka benturan ilmu itu memang telah
mengejutkan Ki Lurah Citrabawa.
Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan benturan
itupun telah menahan nafas. Mereka melihat Glagah Putih,
Glagah Putih bergetar dan terdorong selangkah surut. Namun
ia tetap berdiri tegak dan bersiap menghadapi segala
kemungkinan.
Namun anak Lurah Citrabawa itu ternyata telah terlempar
beberapa langkah. Ia tidak berhasil mempertahankan
keseimbangannya, sehingga ia telah terbanting jatuh.
Beberapa kali ia terguling agar tubuhnya tidak menjadi
semakin sulit karena menahan hentakkan yang sangat kuat.
Anak Ki Lurah itu memang berusaha untuk meloncat
bangkit. Namun ternyata benturan ilmu yang terjadi itu telah
menghantam dadanya dengan dahsyatnya. Karena itu, maka
demikian ia tegak, maka ternyata dadanya bagaikan terhimpit
sepasang batu raksasa. Tulang-tulangnya bagaikan
berpatahan sehingga iapun telah terhuyung-huyung lagi dan
jatuh terlenlang.
Ki Lurah Citrabawapun telah berlari mendekati anaknya
yang terjatuh. Dengan serta merta iapun telah berjongkok
disisi tubuh anaknya itu.
“Anakku, anakku.” desis Ki Lurah Citrabawa.
Anaknya itu mengerang kesakitan. Punggungnya rasarasanya
telah berpatahan, sementara dadanya menjadi sesak.
Ilmu yang dilontarkan kearah Glagah Putih ternyata telah
membentur kekuatan ilmu Glagah Putih dan justru berbalik
menghantam dirinya sendiri.
“Ayah.” desis orang itu.
“Bagaimana keadaanmu?” bertanya Ki Lurah itu dengan
cemas.
Orang itu mencoba menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
dadanya justru terasa sakit sekali.
“Tolong aku duduk ayah.” minta orang itu.
Ki Lurah Citrabawa telah menolong anaknya untuk duduk.
Dengan hati-hati orang itu menarik nafas panjang karena hal
itu tidak dapat dilakukannya sambil terbaring. Namun dadanya
memang masih terasa sakit. Meskipun demikian, sambil
duduk, rasa-rasanya sesak nafasnya sedikit dapat diatasi.
Ketika Glagah Putik kemudian melangkah mendekat, maka
Ki Lurah Citrabawa itupun berkata dengan suara sendat, “Aku
minta maaf. Jangan kau bunuh anakku.”
Glagah Putih tidak menjawab. Selangkah demi selangkah
ia maju mendekati orang yang telah terluka didalam itu.
“Ampun anak muda.” suara Ki Lurah Citrabawa menjadi
gemetar.
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia berdiri saja
memandangi keadaan lawannya yang gawat itu.
Ki Lurah Branjanganlah yang kemudian mendekati Glagah
Putih. Dengan nada rendah ia berkata, “Apa yang akan kau
lakukan?”
Glagah Putih termangu-mangu. Diluar sadarnya
dipandanginya orang-orang yang bagaikan membeku
diseputar arena itu. Wirastama, Teja Prabawa dan Rara
Wulan.
Sejenak Glagah Putih terdiam. Namun tiba-tiba saja ia
berkata lantang, “Ki Lurah Citrabawa. Bawa anakmu pergi
sebelum jantungku digelitik iblis. Jika demikian, maka mungkin
aku akan dapat membunuhnya.”
“Baik. Baik anak muda. Aku akan membawanya pergi.”
suara Ki Lurah menjadi semakin gagap.
Tetapi ketika Ki Lurah mencoba membantu anaknya berdiri,
orang itu justru menyeringai kesakitan. Bahkan setitik darah
telah mengembun dibibirnya.
“Persetan.” geram Glagah Putih.
“Aku akan membawanya pergi.” berkata Ki Lurah dengan
suara gemetar.
Tetapi keadaan anak bungsunya itu justru menjadi gawat.
Karena itu, maka Ki Lurah itupun berkata, “Aku minta ijin untuk
mempergunakan waktu sekejap saja.”
“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Glagah Putih.
“Aku ingin memberikan obat kepada anakku ini. Sekedar
untuk meningkatkan daya tahannya agar ia tidak mati karena
luka-lukanya.” sahut Ki Lurah Citrabawa.
Wajah Glagah Putih menjadi tegang. Namun kemudian
katanya kepada Ki Lurah Branjangan, “Ki Lurah Branjangan.
Marilah kita kembali. Biarlah Ki Lurah Citrabawa mengurus
anak laki-lakinya yang dibangga-banggakannya itu.”
Ki Lurah Branjangan mengangguk. Katanya, “Marilah. Aku
sependapat dengan sikapmu yang terpuji itu. Nampaknya kau
memiliki sikap kakangmu Agung Sedayu, namun juga
pengaruh sikap Raden Rangga.”
“Lupakan itu Ki Lurah.” berkata Glagah Putih sambil
melangkah.
Ki Lurah Branjanganpun kemudian mengajak kedua
cucunya untuk mengikuti Glagah Putih yang berjalan
mendahului mereka menuju ke padukuhan induk. Sementara
itu Wirastamapun telah menyertai mereka pula.
Di perjalanan itu, Glagah Putih hampir tidak pernah
berpaling. la berjalan di paling depan. Meskipun tidak begitu
cepat, tetapi ia tidak memberi kesempatan kepada orangorang
lain untuk berjalan bersamanya. Rasa-rasanya ia ingin
berjalan seorang diri sambil menundukkan kepalanya dalamdalam.
Merenungi peristiwa yang baru saja terjadi.
Sementara itu Rara Wulan sempat bertanya, “Tadi kakek
menyebut nama Raden Rangga disamping sebuah nama yang
lain.”
“Ya,” jawab Ki Lurah Branjangan, “anak muda itu adalah
adik sepupu Agung Sedayu. Sahabat Panembahan Senapati
sebelum Panembahan Senapati bertahta di Mataram.
Umurnya memang bertaut sedikit. Panembahan Senapati
lebih tua hanya beberapa tahun saja. Keduanya adalah orangorang
yang senang menjelajahi tempat-tempat yang paling
baik untuk memusatkan nalar budi dan menjalani laku dalam
olah kanuragan. Sedangkan Glagah Putih adalah sahabat
yang paling dekat dengan Raden Rangga.”
“Raden Rangga putra Panembahan Senapati yang kakek
maksud?” bertanya Teja Prabawa.
“Ya. Di Mataram tidak ada Raden Rangga yang lain. Kau
tahu, senjata yang dipergunakan oleh Glagah Putih tadi?”
bertanya Ki lurah.
“Ikat pinggang,” jawab Teja Prabawa.
“Ikal pinggang pemberian Ki Mandaraka.” jawab Ki Lurah.
“Jadi anak itu sudah sering berada di Kotaraja?” bertanya
Teja Prabawa.
“Ya. Kau kira hanya kau sajalah yang pernah berada di
Kotaraja? Sedangkan kau sama sekali belum mengenal
Raden Rangga. Kaupun jarang sekali, bahkan belum pernah
masuk kedalam istana Panembahan Senapati. Anak muda itu
sudah sering bermalam di istana.” jawab Ki Lurah Branjangan.
Teja Prabawa dan Rara Wulan termangu-mangu.
Sementara itu Wirastamapun menjadi berdebar-debar
mendengar ceritera Ki Lurah Branjangan.
“Kau tidak percaya?” desis Ki Lurah kepada kedua
cucunya.
Rara Wulan memandang Glagah Putih yang berjalan di
depan beberapa langkah. Namun anak itu tidak mendengar
apa yang sedang dipercakapkan antara seorang kakek dan
kedua orang cucunya itu.
Dimata Rara Wulan Glagah Putih itu rasa-rasanya telah
berubah. Ia bukan saja seorang anak muda padesan yang
selalu menundukkan kepalanya. dan mengangguk hormat.
Tetapi Glagah Putih adalah seorang anak muda yang perkasa.
Dalam usianya yang masih muda itu, ia telah memiliki ilmu
yang sangat tinggi.
Diluar sadarnya ia berpaling kepada kakaknya, Teja
Prabawa. Ternyata bahwa kakaknya bukan apa-apa
dibandingkan dengan Glagah Putih. Bahkan Wirastama, yang
dikagumi kakaknya itupun tidak setingkat ilmunya dengan
anak Tanah Perdikan Menoreh itu.
Namun tiba-tiba Teja Prabawa berkata dengan nada berat,
“Kakek tidak pernah berceritera kepada kami tentang anak
muda itu. Apalagi bahwa ia adalah sahabat apalagi yang
paling dekat dengan Raden Rangga.”
“Untuk apa aku berceritera tentang dirinya? Jika kau
bersikap baik dengan anak muda itu sejak semula, maka ia
tentu akan berceritera sendiri kepada kalian.” berkata Ki Lurah
Branjangan.
Teja Prabawa menundukkan kepalanya. Sementara Ki
Lurah Branjangan berkata, “Bagaimana anak itu menahan
dirinya menghadapi sikap kalian yang sombong. Untunglah
bahwa Glagah Putih adalah sepupu Agung Sedayu, sehingga
Agung Sedayu dapat mengendalikannya. Jika Glagah Putih
bukan sepupu Agung Sedayu, maka kau berdua tentu sudah
dibuatnya jera.”
“Kakek tidak memberitahukan sebelumnya.” desis Teja
Prabawa.
“Aku berbuat demikian dengan pertimbangan tertentu.”
berkata Ki Lurah, “seharusnya diberi tahu atau tidak diberi
tahu, berilmu atau tidak berilmu, kau wajib menghormatinya. la
adalah anak muda yang ditunjuk oleh Ki Gede Menoreh,
penguasa Tanah Perdikan ini untuk menemani kalian melihatlihat
Tanah Perdikan ini sebagaimana yang kita kehendaki
sejak kita berangkat dari Mataram. Tetapi kalian terlalu
sombong. Kalian merasa diri kalian anak-anak muda dari
Kotaraja yang mempunyai kelebihan dari anak-anak padesan.
Kalian merasa tidak pantas untuk bergaul dengan anak-anak
Tanah Perdikan ini karena kalian takut akan terpercik lumpur
dari tubuh mereka. Tetapi kalian sekarang melihat, bahwa
anak-anak muda yang kakinya berlumpur itu memiliki ilmu
yang jauh lebih tinggi dari yang kalian miliki.”
Teja Prabawa tidak menjawab. Tetapi kepalanya telah
menunduk dalam-dalam. Wirastamapun tidak berkata sesuatu.
Ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa anak muda
Tanah Perdikan itu memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari
ilmu yang dimilikinya. Tanpa kehadiran Glagah Putih, maka ia
tidak akan dapat berbuat banyak untuk mencegah agar Rara
Wulun tidak diculik oleh Ki Lurah Citrabawa bersama anak
laki-lakinya itu.
Namun dengan demikian, maka usahanya untuk mendekati
gadis itupun akan gagal. Rara Wulan tentu akan menjadi
semakin memperhatikan Glagah Putih daripada dirinya.
Jika semula ia ikut merasa bersukur bahwa Rara Wulan
dapat diselamatkan, namun kemudian timbul persoalan yang
lain di dalam dirinya. Tetapi sudah barang tentu bahwa
Wirastama harus mengakui kenyataan yang dihadapinya.
Glagah Putih adalah seorang anak muda yang berilmu tinggi.
Dalam pada itu, maka iring-iringan kecil itu telah melewati
beberapa bulak dan padukuhan. Anak-anak muda yang
berpapasan dengan Glagah Putih merasa heran, bahwa
nampaknya Glagah Putih sedang memikirkan sesuatu.
Sikapnya tidak seperti biasanya. Ia menjawab pertanyaan
kawan-kawannya dengan kalimat-kalimat yang singkat.
Sedangkan senyumnyapun rasa-rasanya terlalu kering.
Tetapi anak-anak muda itu tidak bertanya sesuatu.
Merekapun kemudian mengangguk hormat kepada Ki Lurah
Branjangan serta cucu-cucunya yang sombong menurut
penglihatan anak-anak muda Tanah Perdikan itu, serta
Wirastama yang angkuh.
Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah
memasuki padukuhan induk. Glagah Putih rasa-rasanya
menjadi agak tergesa-gesa. Tanpa berpaling ia menuju ke
rumah Ki Gede Menoreh. Tetapi ketika ia sampai didepan
regol, maka iapun berhenti. Ketika ia berpaling, ternyata Ki
Lurah, dua orang cucunya dan Wirastama berjalan agak jauh
dibelakang.
Glagah Putih tidak segera memasuki halaman. Tetapi
menunggu Ki Lurah.
“Marilah.” ajak Ki Lurah Branjangan ketika ia sampai di
depan regol.
“Ki Lurah.” berkata Glagah Putih kemudian, “maaf Ki Lurah.
Aku harus pulang. Silahkan Ki Lurah serta cucu-cucu Ki Lurah,
Rara Wulan dan Raden Teja Prabawa untuk kembali ke
gandok bersama Wirastama. Aku akan pulang dahulu.”
“Tolong Ki Lurah sajalah yang melaporkannya kepada Ki
Gede. Aku akan bertemu dengan Kakang Agung Sedayu.”
jawab Glagah Putih. Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam.
Agaknya Glagah Putih memang seorang yang patuh terhadap
kakak sepupunya.
“Nanti dulu,” cegah Ki Lurah, “kaupun harus bersama-sama
kami bertemu dan melaporkan peristiwa yang baru saja terjadi
kepada Ki Gede. Peristiwa itu terjadi di Tanah Perdikan,
sehingga Ki Gede harus mengetahuinya.”
“Tolong Ki Lurah sajalah yang melaporkannya kepada Ki
Gede. Aku akan bertemu dengan kakang Agung Sedayu.”
jawab Glagah Putih.
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Glagah
Putih memang seorang yang patuh terhadap kakak
sepupunya, sehingga ia merasa wajib untuk melaporkan
kepada kakak sepupunya itu lebih dahulu sebelum
menghadap Ki Gede.
Ki Lurahpun kemudian tidak mencegahnya. Beberapa saat
kemudian anak muda itu tentu akan datang bersama Agung
Sedayu. Karena itu maka Ki Lurahpun telah membicarakan
Glagah Putih justru tidak singgah di rumah Ki Gede.
Ki Lurahlah yang kemudian telah menemui Ki Gede yang
kebetulan telah berada dirumahnya. Dengan singkat ia telah
melaporkan apa yang telah terjadi di bawah bukit. Ki Lurah
telah mengajak Wirastama, Teja Prabawa dan Rara Wulan
bersamanya untuk menjadi saksi dari laporannya.
Ki Gede mendengarkan laporan Ki Lurah itu dengan
sungguh-sungguh. Sambil mengangguk-angguk ia kemudian
berkata, “Untunglah cucu Ki Lurah dapat diselamatkan. Jika
tidak, maka akulah yang bertanggung jawab, karena Ki Lurah
kini sedang menjadi tamuku.”
“Ternyata Glagah Putih mampu melakukan tugas yang
dibebankan kepadanya. Ia akan menjadi kekuatan yang
sangat berarti bagi Tanah Perdikan ini disamping Ki Gede dan
Agung Sedayu.”
“Aku sudah tua Ki Lurah.” Ki Gede itu berdesis. Namun Ki
Gede itu terkejut ketika Ki Lurah kemudian menceritakan
bahwa anak Ki Lurah Citrabawa yang bungsu itu telah
mempergunakan ilmu Sapu Angin.
“Sapu Angin yang mana?” bertanya Ki Gede.
“Ada berapa jenis ilmu yang disebut Sapu Angin itu?”
berianya Ki Lurah.
“Ki Lurah,” berkata Ki Gede dengan dahi yang berkerut,
“memang sumber ilmu itu agaknya hanya satu. Tetapi
perkembangannya menjadi agak berbeda.”
Ki Lurah Branjanganpun kemudian telah menceriterakan
apa yang dilihatnya tentang ilmu yang disebut oleh Ki Lurah
Citrabawa itu dengan ilmu Sapu Angin. Ilmu yang nampak
pada unsur-unsur gerak disaat anak bungsu Ki Lurah
Citrabawa itu mempergunakan pisau-pisaunya, tetapi juga
disaat anak Ki Lurah Citrabawa itu melontarkan kekuatan
angin seakan-akan dari telapak tangannya yang terbuka.
Ki Gede mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Ki
Gede berkata, “Ki Lurah pernah mendengar nama Padepokan
Kaliwalik yang berada di dekat suangan Kali Bagawanta?”
Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun
mengangguk-angguk sambil berdesis, “Aku memang pernah
mendengar.”
“Apakah Ki Lurah juga pernah mendengar nama Ki Ajar
Wadal ? Seorang Ajar yang hampir tanpa cacat?” bertanya Ki
Gede.
“Ya. Aku pernah mendengar. Tetapi menurut ingatanku,
jaman Ki Ajar Wadal bukanlah jaman kita.” jawab Ki Lurah.
“Ya. Satu keturunan lebih tua.” jawab Ki Gede, “tetapi ada
tiga orang muridnya. Dua orang telah meninggal tanpa
diketahui sebabnya sebelum mereka sempat menurunkan
ilmunya. Hanya setahun seterah Ki Ajar itu sendiri meninggal.
Sedangkan seorang muridnya bukankah orang yang baik.”
Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Iapun kemudian
segera dapat menangkap maksud Ki Gede. Karena itu, maka
katanya, “Jadi ilmu itu bersumber dari padepokan Kaliwalik,
namun melalui salah seorang murid yang menurut penilaian Ki
Gede kurang baik. ltukah sebabnya maka ilmu yang sampai
kepada anak bungsu Ki Lurah Citrabawa ilu juga kurang
baik?”
“Agaknya memang demikian.” berkata Ki Gede,
“sebenarnya bukan ilmunya yang wataknya tidak baik. Tetapi
orang yang menguasai ilmu itu. Justru itulah yang berbahaya.
Ilmu yang baik tetapi ada ditangan orang yang tidak baik.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Beruntunglah
Rara Wulan karena kehadiran Glagah Putih.”
“Tetapi aku tidak tahu, bahwa mungkin sekali KI Ajar Wadal
mempunyai saudara seperguruan, sehingga ilmu yang sampai
kepada anak Ki Lurah Citrabawa itu bukan dari satu-satunya
murid Ki Ajar yang masih hidup, tetapi disadapnya dari saluran
yang berbeda. Namun yang pasti, anak Ki Lurah telah
menyalah gunakan ilmu itu untuk kepentingan yang tidak baik.
Sehingga dengan demikian, maka kita harus berhati-hati
terhadap ilmu Sapu Angin menurut perguruan tempat anak Ki
Lurah Citrabawa berguru. Tidak mustahil bahwa orang itu
akan mempergunakannya lagi untuk kepentingan yang juga
tidak baik.” berkata Ki Gede.
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin
sekali. Namun masih ada yang aku pikirkan Ki Gede, yang
agaknya tidak kalah gawatnya dari kemungkinan itu. Apakah
mungkin guru anak Ki Lurah Citrabawa itu tidak tersinggung
oleh kekalahan muridnya dari Glagah Putih.”
Ki Gede mengangguk-angguk. Namun katanya, “Glagah
Putih masih juga dibawah asuhan guru-gurunya. Mudahmudahan
tidak terjadi sesuatu untuk selanjutnya. Tetapi jika
terpaksa guru orang yang dikalahkan oleh Glagah Putih itu
merasa tersinggung, maka Glagah Putih akan dapat
memohon guru-gurunya untuk membantunya.”
Ki Lurah Branjangan itupun mengangguk-angguk pula.
Katanya, “Ya. Tentu guru-guru Glagah Putih tidak akan
membiarkannya. Jika anak-anak berkelahi dan orang tua
salah satu diantara mereka ikut pula berkelahi, maka orang
tua anak yang lain tidak akan memberikan anaknya
mengalami kesulitan karena perlakuan yang tidak adil. Mudahmudahan
Glagah Putih tidak mengalami kesulitan karena
kehadiranku disini.”
“Tentu tidak. Aku akan berbicara dengan Agung Sedayu
dan Ki Jayaraga.” berkata Ki Gede, “mungkin mereka atau
setidak tidaknya Agung Sedayu akan datang kemari setelah
Giagah Putih memberikan laporan kepadanya.”
Ki Lurah masih mengangguk-angguk. Katanya, “Mereka
tentu akan datang.”
Tetapi Wirastama justru menjadi gelisah. Rasa-rasanya ia
tidak ingin mendengar pembicaraan orang-orang itu dengan
Glagah Putih. Mereka tentu akan mengulangi ucapan terima
kasih berpuluh kali. Rara Wulanpun tentu akan memujinya dan
Teja PrabaWa akan segera berubah sikap. Apalagi setelah
diketahuinya, bahwa Glagah Putih adalah sahabat dekat
Raden Rangga yang telah meninggal. Namun yang dimasa
hidupnya menjadi buah bibir banyak orang, terutama anakanak
muda di Mataram. Karena itu, maka sejenak kemudian
justru Wirastamalah yang pertama kali memindahkan
pembicaraan. Katanya, “Agaknya aku sudah terlalu lama
meninggalkan tugasku.”
“O,” Ki Lurah mengangguk-angguk, “jadi maksud anak
mas?”
“Aku mohon diri. Aku akan kembali ke barak.” desis
Wirastama.
Ki Lurah masih mengangguk-angguk. Katanya, “Terima
kasih atas kebaikan angger Wirastama selama ini. Mudahmudahan
angger Wirastama akan selalu bersedia menemani
cucu-cucuku bersama Glagah Putih.”
Wajah Wirastama terasa menjadi panas. Namun ia
memaksa untuk tersenyum dan menjawab, “Baik Ki Lurah.
Akan aku usahakan disela-sela kesibukan tugasku.”
Ki Lurah Branjangan memang tidak ingin menyakiti hati
anak muda itu. Demikian pula Ki Gede. Karena itu maka Ki
Gedepun berkata, “Akupun mengucapkan terima kasih ngger.”
Wirastama menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
iapun bangkit dan bergeser surut. Kepada Teja Prabawa ia
mengangguk sambil berdesis, “Aku minta diri.”
Teja Prabawapun mengangguk. Tetapi Wirastama tidak
secara khusus minta diri kepada Rara Wulan meskipun ia juga
mengangguk hormat kepada gadis itu. Sementara Rara Wulan
berdiri saja termangu-mangu.
Wirastama tertegun ketika diluar regol ia bertemu dengan
Glagah Putih bersama Agung Sedayu. Seperti yang diduga
oleh Ki Lurah, maka keduanya memang benar-benar
menghadap Ki Gede untuk memberikan laporan sebagaimana
dilakukan oleh Ki Lurah Branjangan.
Untuk sesaat keduanya hanya saling berpandangan saja.
Namun kemudian Glagah Putihlah yang menegurnya lebih
dahulu, “Kau akan pergi kemana?”
“Kembali ke barak.” jawab Wirastama singkat, “aku sibuk.”
“O.” Glagah Putih hanya mengangguk saja.
Agung Sedayu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam
ketika ia melihat kemudian Wirastama itu melangkah dengan
tergesa-gesa meninggalkan Glagah Putih berdiri termangumangu.
“Marilah.” ajak Agung Sedayu.
Glagah Putih terkejut. Namun iapun kemudian mengikuti
kakak sepupunya memasuki halaman rumah Ki Gede.
Sejenak kemudian, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah
duduk bersama dengan Ki Gede dan Ki Lurah Branjangan.
Sementara itu Teja Prabawa dan Rara Wulan bergeser agak
dibelakang Ki Lurah. Mereka mulai merasa kecil duduk
diantara orang-orang yang ternyata memiliki kelebihannya
masing-masing. Bahkan juga Glagah Putih yang dianggapnya
tidak lebih dari anak padesan yang kulitnya menjadi hitam
karena lumpur.
“Bukankah Ki Lurah Branjangan telah memberikan
laporan?” bertanya Agung Sedayu.
Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Adikmu telah
melakukan tugasnya dengan baik.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ia
sudah berusaha berbuat sebaik-baiknya. Tetapi ia terpaksa
lelakukannya karena keadaan menjadi sangat gawat.”
“la memang telah memilih langkah yang tepat.” desis Ki
Gede.
Sementara itu Ki Lurah Branjangan berkata, “Jika Glagah
Putih tidak melakukannya, maka cucuku tentu sudah terkena
bencana. Yang dilakukan oleh Glagah Putih sama sekali
bukan sekedar untuk menyombongkan diri atau sekedar ingin
menunjukkan kelebihannya dari orang lain. Tetapi benar-benar
karena ia harus berbuat demikian.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia
berkata, “Kami mohon maaf, bahwa di Tanah Perdikan ini, Ki
Lurah harus mengalami satu perlakuan yang tidak
menyenangkan. Bagaimananun juga peristiwa itu sudah
mengganggu ketenangan Ki Lurah yang ingin beristirahat di
Tanah Perdikan ini. Satu pertanda pula bahwa kami, yang
muda-muda di Tanah Perdikan ini kurang mampu menjaga
ketenangan dan ketenteraman lingkungannya.”
Tetapi Ki Lurah tertawa. Katanya, “Jangan berkata begitu.
Aku sudah pernah tinggal di Tanah Perdikan ini, sehingga aku
tahu bahwa Tanah Perdikan ini sekarang sudah jauh
berkembang. Bukankah begitu Ki Gede?”
Ki Gede tersenyum. Katanya, “Aku tidak tahu apa yang
harus aku katakan. Aku memang membenarkan kata-kata Ki
Lurah, bahwa anak-anak muda tanah Perdikan ini sudah
bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan hidup di
Tanah Perdikan ini. Tetapi seharusnya aku bersikap seperti
Agung Sedayu. Bahkan karena akulah yang bertanggung
jawab di Tanah Perdikan ini.”
“Kenapa kalian harus merasa bersalah?” berkata Ki Lurah,
yang kemudian melanjutkannya, “Daripada kita berbicara
tentang yang telah terjadi, maka sebaiknya kita berbicara
tentang kemungkinan yang dapat terjadi.”
“Maksud Ki Lurah?” bertanya Agung Sedayu.
“Bukankah Ki Lurah Citrabawa tidak berdiri sendiri?
Anaknya telah berguru kepada seseorang. Ia memiliki ilmu
Sapu Angin, namun entah dari jenis yang mana.” jawab Lurah.
Lalu katanya pula, “Mudah-mudahan persoalan ini dianggap
selesai sampai disini. Tetapi jika gurunya mulai digelitik oleh
harga dirinya, maka kemungkinan lain dapat terjadi.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar
sadarnya ia berkata, “Persoalan yang bertumpang tindih.”
Ki Gede dan Ki Lurah Branjangan memandang Agung
Sedayu dengan dahi yang berkerut. Tetapi mereka menunggu
Agung Sedayu melanjutkan, “Mataram sekarang dibayangi
oleh kekuasaan pamandanya di Madiun. Sementara itu asap
dari api yang mengepul diantara Pajang dan Mataram itu telah
sampai ke Tanah Perdikan itu, khususnya dilingkungan
Pasukan Khusus. Sekarang kita menghadapi satu persoalan
baru meskipun sangat khusus. Tetapi bagaimanapun juga
telah menarik perhatian kita.”
Ki Gede mengangguk-angguk. Sementara Ki Lurah
Branjangan berdesis, “Kami yang harus berprihatin karena
itu.”
“Bukan maksudku Ki Lurah.” Agung Sedayu cepat-cepat
memotong, “Maksudku, bahwa persoalan-persoalan itu datang
beruntun. Justru pada saat kita mempunyai tamu.”
“Tetapi persoalan yang terakhir itu menyangkut
kehadiranku disini.” berkata Ki Lurah.
“Kamilah yang harus bertanggung jawab, karena Ki Lurah
adalah tamu kami.” sahut Agung Sedayu.
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mau
memberikan banyak uraian tentang persoalan itu, karena
sudah tentu bukan pada tempatnya ia menyalahkan dirinya
dihadapan Ki Gede, karena hal itu tentu tidak dikehendaki oleh
Ki Gede.
Sementara itu Ki Gedelah yang berkata, “Kita akan
menanggapi semua persoalan dengan sewajarnya. Kita
memang harus berhati-hati. Sementara itu kita menunggu
persiapan yang dilakukan oleh Mataram untuk menyusun satu
kesatuan langkah di Tanah Perdikan itu sehubungan dengan
pendapat beberapa kalangan di Mataram tentang pimpinan
Pasukan Khusus itu.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Justru
karena itu, maka aku untuk beberapa lama akan tetap berada
disini. Setidak-tidaknya persoalan Ki Lurah Citrabawa itulah
yang aku tunggu. Apakah ia menghentikan langkahlangkahnya
yang sesat itu atau memang akan
meneruskannya. Meskipun disini aku juga sekedar bersandar
kepada kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini.”
Ki Gede tertawa pendek. Katanya, “Tentu kami akan
menerima Ki Lurah dengan senang hati untuk tetap tinggal
disini.”
Ki Lurah Branjanganpun tersenyum sambil berkata,
“Namun angger Glagah Putih hendaknya lebih berhati-hati.
Banyak kemungkinan dapat terjadi.”
Glagah Putih mengangguk hormat sambil berkata dengan
nada berat, “Aku akan selalu berhati-hati Ki Lurah.”
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudahmudahan
tidak terjadi persoalan berikutnya.”
Demikianlah, maka pembicaraan merekapun sampai pada
akhirnya ketika Ki Gede berkata kepada Ki Lurah, “Tetapi,
agaknya Ki Lurah dan kedua cucu Ki Lurah memerlukan
istirahat. Silahkan Ki Lurah. Pada kesempatan lain kita akan
berbicara lagi.”
“Terima kasih Ki Gede.” sahut Ki Lurah yang kemudian
minta diri untuk kembali ke gandok bersama kedua cucucucunya.
Agung Sedayu dan Glagah Putih pun kemudian juga minta
diri. Namun Ki Gede telah berpesan, bahwa persoalan yang
nampaknya dapat dilupakan begitu saja itu hendaknya
mendapat perhatian pula dari Agung Sedayu dan Ki Jayaraga.
“Aku akan berbicara dengan Ki Jayaraga.” berkata Agung
Sedayu ketika ia meninggalkan ruang dalam rumah Ki Gede.
Di gandok Agung Sedayu dan Glagah Putih telah minta diri
pula kepada Ki Lurah Branjangan dan kedua orang cucucucunya.
Sikap Teja Prabawa dan Rara Wulan telah berubah sama
sekali. Mereka mulai menyadari, bahwa mereka telah
membuat kesalahan sejak langkah mereka yang pertama di
Tanah Perdikan itu. Ternyata bahwa dugaan mereka tentang
anak-anak muda Tanah Perdikan itu salah sama sekali.
Meskipun Glagah Putih menurut ujud lahiriyahnya tidak lebih
dari anak seorang petani biasa, namun ternyata ia memiliki
kelebihan yang jauh diatas tataran anak-anak muda Kotaraja
sekalipun.
Apalagi kemudian merekapun mengetahui, bahwa Glagah
Putih bukan saja memiliki kemampuan dalan olah kanuragan,
tetapi juga mempunyai pengetahuan tentang berbagai ilmu.
Glagah Putih mempunyai pengetahuan tentang hal bercocok
tanam, musim, pengetahuan tentang keprajuritan dan bahkan
ilmu sastra. Adalah salah satu kegemaran Glagah Putih untuk
membaca kitab-kitab yang memuat tentang pengenalan masa
lampau, tentang berbagai macam ceritera termasuk tentang
ceritera kepahlawanan yang termuat dalam ceritera-ceritera
pewayangan. Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih juga
mempunyai suara yang cukup baik sehingga dalam
pertemuan-pertemuan khusus, Glagah Putih kadang-kadang
diminta untuk membaca kidung.
Dihari berikutnya kedua cucu Ki Lurah Branjangan itu tidak
meninggalkan gandok rumah Ki Gede. Wirastama pada hari
itu tidak datang sebagaimana dilakukan dihari-hari
sebelumnya. Sementara Glagah Putihpun nampaknya masih
segan-segan pula untuk pergi menemui mereka.
Ketika Agung Sedayu bertanya kepadanya apakah ia tidak
menemui Ki Lurah, maka Glagah Putihpun berkata, “Hari ini
tidak kakang. Besok saja.”
Agung Sedayu tidak memaksanya. Ia dapat mengerti
perasaan Glagah Putih. Karena itu, maka Agung Sedayulah
yang pergi menemui Ki Lurah.
Tetapi ternyata bahwa Ki Lurah ingin mengajak Teja
Prabawa dan Rara Wulan kerumah Agung Sedayu. Dengan
nada rendah Ki Lurah berkata, “Aku ingin memperkenalkan
Rara Wulan kepada isterimu ngger. Biarlah Rara Wulan
melihat, bahwa seorang perempuan dapat memiliki ilmu yang
tinggi. Bahkan sekedar bermain-main.”
“Ah” desah Agung Sedayu, “apa yang dapat dilakukan oleh
Sekar Mirah?”
Tetapi Ki Lurah benar-benar berniat untuk mengajak Rara
Wulan kerumah Agung Sedayu itu. Karena itu, maka katanya,
“Kalian tidak usah menganggap kami sebagai tamu, sehingga
kalian menjadi repot karenanya. Anggap saja kami sebagai
tetangga yang singgah sepulang dari pasar.”
Agung Sedayu tersenyum. Tetapi sudah barang tentu ia
tidak akan dapat menolaknya.
Setelah minta diri kepada Ki Gede, maka Ki Lurah telah
mengikuti Agung Sedayu kerumahnya bersama kedua
cucunya. Betapapun segannya Raden Teja Prabawa telah
diajak oleh Ki Lurah untuk mengikutinya.
Sekar Mirah tiba-tiba memang menjadi sibuk ketika Agung
Sedayu datang bersama tamu-tamunya. Glagah Putih ternyata
lebih senang berada didapur membantu mbokayunya daripada
menemui tamu-tamunya.
“Kesanalah.” minta Sekar Mirah, “temui tamu-tamu itu.”
“Nanti mBokayu sibuk sendiri.” jawab Glagah Putih.
“Ada anak itu. Ia dapat membantuku.” sahut Sekar Mirah.
“Didepan sudah ada kakang Agung Sedayu dan Ki
Jayaraga.” jawab Glagah Putih.
“Ah, kau.” potong Sekar Mirah, “kau tidak pantas berada
didapur. Hanya perempuan yang pantas berada didapur.”
“Kalau begitu kesempatan bagi perempuan lebih banyak
dari laki-laki.” sahut Glagah Putih.
“Kenapa?” bertanya Sekar Mirah.
“Perempuan pantas berada di dapur. Tetapi pantas berada
dalam sanggar olah kanuragan.” jawab Glagah Putih.
“Kau memang pandai membantah.” desak Sekar
Mirah,”ayo, pergilah menemui tamu-tamu itu. Cucu Ki Lurah
itu sebaya denganmu.”
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak
dapat mengelak lagi ketika Sekar Mirah mengancam, “Aku
akan memanggil kakakmu agar memaksamu menemui tamutamu
itu.”
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun sebelum ia
beranjak, Agung Sedayu justru telah dipintu dapur. Katanya,
“Glagah Putih, temui tamu-tamu itu.”
Glagah Putih berpaling kearah Sekar Mirah yang
memandanginya sambil tersenyum. Katanya, “Nah, bukankah
kau memang harus keluar untuk menemui tamu-tamu kecil
itu?”Glagah Putih tidak menjawab. Iapun kemudian mengikuti
Agung Sedayu dan duduk ikut menemui tamu-tamu itu
bersamanya dan Ki Jayaraga yang kebetulan tidak berada
disawah.
Mula-mula mereka berbicara hilir mudik mengenai
perkembangan Tanah Perdikan. Beberapa kali Ki Lurah
sengaja menyinggung Raden Rangga agar kedua cucunya
benar-benar yakin bahwa Glagah Putih memang sahabat
dekat Raden Rangga itu. Demikian pula Ki Lurah dengan
sengaja menunjukkan kepada cucu-cucunya bahwa Agung
Sedayu itu adalah kawan mengembara Panembahan
Senapati. Pernah menjadi pelatih di barak Pasukan Khusus.
Kedua cucu Ki Lurah itu semakin merasa diri mereka kecil.
Apalagi ketika Ki Lurah juga menyinggung tentang Sekar
Mirah yang juga pernah membantu Agung Sedayu ikut serta
membina para prajurit dalam Pasukan Khusus.
“Tetapi dimana angger Sekar Mirah itu?” bertanya Ki Lurah.
“Di dapur Ki Lurah.” jawab Agung Sedayu.
“Ah, jangan begitu. Biarlah ia ikut menemui kami. Sudah
aku katakan, kami tidak perlu diperlakukan sebagai tamu.”
berkata Ki Lurah.
Tetapi Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Sekar Mirah
memang ada di dapur. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa.”
Ki Lurah tertawa. Tiba-tiba saja ia berpaling kepada Rara
Wulan. Katanya, “Bantulah mBokayu Sekar Mirah.”
Rara Wulan termangu-mangu. la benar-benar merasa
canggung. Namun Ki Lurah berkata kepada Glagah Putih,
“Tolong Glagah Putih, tunjukkan, dimanakah letak dapur itu.”
Glagah Putih memang merasa sangat segan sebagaimana
Rara Wulan. Tetapi ia tidak dapat menjawab.
Karena itu, Glagah Putihpun kemudian telah membawa
Rara Wulan kedapur. Namun terasa bahwa bajunya menjadi
basah oleh keringat.
Sekar Mirah memang terkejut. Tetapi Rara Wulan sambil
menunduk berkata, “Kakek memerintahkan aku untuk
membantu mBokayu.”
“Ah. Sudahlah Rara, Silahkan duduk saja didepan.” minta
Sekar Mirah.
Tetapi Rara Wulan tidak pergi. Ia berdiri saja termangumangu.
Sekar Mirahpun akhirnya menyadari, bahwa dengan
demikian gadis itu justru menjadi semakin bingung. Karena itu,
maka katanya kemudian, “Baiklah. Tolong Rara, bawa
minuman ini kedepan.”
Rara Wulanpun kemudian telah membawa nampan yang
berisi mangkuk dan dua buah teko dari tanah yang berisi air
sere yang hangat dengan beberapa potong gula kelapa.
Ketika Rara Wulan kemudian kembali lagi ke dapur, maka
iapun telah dipersilahkan membawa beberapa potong
makanan untuk dihidangkan pula. Tetapi Rara Wulan telah
membawa pesan Ki Lurah, agar Sekar Mirahpun ikut menemui
mereka.
Rara Wulan ternyata tidak mau meninggalkan dapur jika
Sekar Mirah tidak bersamanya. Sekar Mirah tidak dapat
menolak. Iapun kemudian meninggalkan dapur itu dan
menyerahkan agar perapian dijaga tetap menyala kepada
pembantunya.
“Jangan kau tinggal pergi.” pesan Sekar Mirah hampir
berbisik, “jika api itu padam, aku harus membuat api lagi nanti.
Sebentar lagi kita akan menanak nasi.”
Anak itu tidak menjawab. Tetapi setelah Sekar Mirah
menjauh, ia mulai bergeremang, “Lebih senang mencari kayu
di kebun daripada menunggui api.”
Sementara itu, diruang dalam pembicaraan menjadi
semakin riuh. Ternyata Sekar Mirah mampu memancing Rara
Wulan untuk melibatkan diri dalam pembicaraan mereka.
Justru Teja Prabawa dan Glagah Putihlah yang menjadi lebih
banyak diam dan mendengarkan.
Namun Sekar Mirah terkejut ketika tiba-tiba saja Ki Lurah
Branjangan berkata, “Angger Sekar Mirah. Kedatangan Wulan
kemari adalah karena Wulan ingin melihat buktinya bahwa
seorang perempuan dapat meniti sampai tataran yang tinggi
dalam ilmu kanuragan. Karena itu, Rara Wulan ingin mengikuti
angger Sekar Mirah melihat-lihat sanggar.”
“Ah.” sahut Sekar Mirah, “jika hanya melihat-lihat sanggar
kakang Agung Sedayu saja, kami tentu tidak akan
berkeberatan. Tetapi siapakah perempuan yang Ki Lurah
maksudkan itu?”
“Siapa lagi?” Ki Lurah justru bertanya, “ada berapa orang
perempuan dirumah ini?”
“Ah.” desis Sekar Mirah, “agaknya Ki Lurah telah salah
menilai.”
“Tentu tidak.” jawab Ki Lurah. Lalu, “Dan akupun telah
terlanjur menceriterakan, bahwa angger Sekar Mirah pernah
menjadi seorang pelatih pada Pasukan Khusus itu.”
“Ki Lurah Branjangan memang senang bergurau.” berkata
Sekar Mirah, “tetapi sudah tentu bahwa yang dimaksud
bukanlah yang sebenarnya.”
Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya, “Keluarga Agung
Sedayu adalah keluarga yang rendah hati. Aku sudah mengira
bahwa aku harus memaksa jika Rara Wulan benar-benar ingin
melihat angger Sekar Mirah bermain barang sejenak didalam
sanggar.”
Sekar Mirah termangu-mangu. Dipandanginya wajah
Agung Sedayu yang berkerut. Nampaknya Agung Sedayupun
tidak segera dapat mengambil sikap.
Namun ternyata Ki Lurah telah mendesaknya, “Marilah,
Dimuka para prajurit dalam Pasukan Khusus angger Sekar
Mirah tidak segan menunjukkan kemampuannya. Sudah tentu
akan demikian pula sekarang.”
Sekar Mirah masih saja ragu-ragu. Tetapi Agung
Sedayulah yang kemudian mengambil keputusan, “Baiklah Ki
Lurah. Kita akan pergi ke sanggar.”
Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
Agung Sedayu berkata kepadanya, “berkemaslah. Kau harus
berganti pakaian untuk memasuki sanggar.”
Sekar Mirah memang tidak dapat mengelak lagi. Iapun
kemudian bergeser meninggalkan tamu-tamunya dan masuk
kedalam biliknya untuk berganti pakaian.
Sejenak kemudian mereka telah berada didalam sanggar
yang tidak begitu luas dibandingkan dengan sanggar Pasukan
Khusus. Di sanggar Pasukan Khusus itu kedua cucu Ki Gede
pernah melihat Wirastama mempertunjukkan kemampuannya,
yang ternyata jauh berada dibawah kemampuan Glagah Putih
yang dianggapnya tidak lebih dari anak pedesan yang kaki
dan pakaiannya kotor karena lumpur di sawah.
Untuk beberapa saat mereka mengamati isi sanggar itu.
Berbagai macam senjata tergantung di dinding. Disalah satu
sudutnya berdiri beberapa tonggak kelapa utuh yang tidak
sama tingginya. Kemudian terdapat beberapa batang bambu
yang silang menyilang. Di sudut yang lain terdapat pasir dalam
kotak yang besar. Disebelahnya kerikil halus yang juga
terdapat didalam kotak. Potongan-potongan kayu yang
bergantungan disebelah lain. Kemudian tali temali yang
bergayutan. Disalah satu sudutnya terdapat sebuah amben
bambu yang nampaknya sudah terlalu tua sehingga tidak lagi
dapat dipergunakan untuk duduk.
Meskipun Rara Wulan tidak memahami penggunaan alatalat
itu, namun yang sangat menarik perhatiannya justru
amben tua itu. Kenapa amben itu tidak dibuang saja sehingga
tidak mengurangi ruangan yang ada didalam sanggar itu.
Ruang yang barangkali dapat dipergunakan untuk
kepentingan yang lain.
Ki Lurah agaknya melihat bahwa Rara Wulan tertarik
kepada amben tua itu. Karena itu, maka iapun bertanya,
“Nampaknya kau memperhatikan amben tua itu? Kau tentu
menganggap bahwa amben tua itu tidak ada artinya didalam
sanggar sehingga sebaiknya dibuang saja.”
Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi ia memang ingin tahu
untuk apa amben tua itu berada disitu. Namun Ki Lurah tidak
memberikan jawaban atas pertanyaan itu, sehingga karena
itu, maka Rara Wulan memang harus menunggu.
Demikianlah, maka Sekar Mirah memang tidak dapat
mengelak lagi. Ia harus mempertunjukkan kemampuannya
kepada Rara Wulan. Karena itu, maka sejenak kemudian,
maka Sekar Mirah telah berdiri ditengah-tengah sanggar itu.
Beberapa saat ia mempersiapkan dirinya. Kemudian perlahanlahan
tangannya mulai bergerak. Mula-mula kedua tangannya
terangkat menengadah. Kemudian perlahan-lahan pula
telapak tangannya mengatup didepan dadanya. Kemudian
tangan itu telah bergerak pula perlahan-lahan terbuka.
Sekar Mirah mulai menggerakkan kakinya. Loncatanloncatan
kecil dan gerak tangan yang semakin cepat. Namun
Sekar Mirah nampaknya baru melakukan pemanasan. Tetapi
geraknya semakin lama menjadi semakin cepat. Tangannya
berputar semakin cepat pula, seirama dengan loncatanloncatan
kakinya yang tangkas.
Rara Wulan dan Teja Prabawa memperhatikan tata gerak
Sekar Mirah dengan dada yang berdebaran. Ia pernah melihat
permainan Wirastama didalam sanggar. Yang dilakukan oleh
Sekar Mirah itu memang belum serumit yang pernah
ditunjukkan oleh Wirastama. Namun mereka menyadari,
bahwa Sekar Mirah nampaknya memang baru mulai.
Sebenarnyalah semakin lama Sekar Mirah bergerak
semakin cepat. Ia mulai berloncatan dengan langkah-langkah
panjang. Bahkan sejenak kemudian Sekar Mirah telah
meloncat keatas sebatang patok batang kelapa.
Dengan tangkasnya Sekar Mirah berloncatan dari satu
patok kepatok lainnya yang tidak sama tingginya. Bahkan
kemudian Sekar Mirah telah meloncat ke patok-patok bambu
petung.
Rara Wulan dan Teja Prabawa menjadi semakin berdebardebar.
Ternyata bahwa tata gerak Sekar Mirah semakin lama
menjadi semakin rumit, sehingga akhirnya, ketika Sekar Mirah
mulai mengerahkan tenaga dalamnya, geraknyapun menjadi
semakin cepat. Dengan demikian, maka tubuh Sekar Mirah itu
seakan-akan berubah bagaikan bayangan yang berterbangan
dan hinggap dari satu patok ke patok lainnya. Bahkan sekalisekali
Sekar Mirah tidak hinggap pada kakinya, tetapi
tangannyalah yang berpijak pada patok-patok bambu.
Kemudian melenting dan berputar. Dengan lembut kakinyalah
yang kemudian menyentuh patok-patok berikutnya.
Beberapa saat kemudian Sekar Mirah telah meloncat turun.
Kembali ia bermain ditengah-tengah arena. Tetapi tidak lagi
sebagaimana ia baru mulai. Sekar Mirah ternyata telah
menunjukkan kekuatannya dan kemampuannya. Ayunan
tangannya telah menimbulkan desir angin yang menerpa
orang-orang yang sedang menyaksikannya.
Teja Prabawa dan Rara Wulan menjadi semakin termangumangu.
Yang dilakukan Sekar Mirah kemudian telah
melampaui kemampuan yang pernah ditunjukkan oleh
Wirastama di sanggar Pasukan Khusus di Tanah Perdikan itu.
Sekar Mirah ternyata mampu bergerak lebih cepat dan
menunjukkan unsur-unsur gerak yang lebih meyakinkan.
Beberapa saat lamanya Sekar Mirah berloncatan.
Disentuhnya pula pasir yang berada didalam kota yang besar
itu. Pukulan-pukulan telapak tangan dan ujung-ujung jari yang
merapat. Demikian kerasnya, sehingga mereka yang
menyaksikannya dapat membayangkan, jika tangan itu
mengenai tubuhnya. Bahkan kemudian sisi telapak tangan
Sekar Mirah dan ujung-ujung jarinya yang merapat telah
menusuk kerikil halus dikotak yang lain.
Teja Prabawa menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar
merasa bersalah atas sikapnya. Dengan melihat kemampuan
Glagah Putih dan Sekar Mirah, maka dapat membayangkan
kemampuan Agung Sedayu.
Yang terakhir, ternyata Sekar Mirah telah menjawab
pertanyaan yang bergejolak dihati Rara Wulan tentang amben
tua yang hampir roboh itu, ketika tiba-tiba saja Sekar Mirah
telah meloncat ke atasnya.
Amben itu memang berderit. Tetapi hanya sekali. Namun
amben tua itu ternyata tidak pecah berserakan ketika Sekar
Mirah berloncatan diatasnya. Bahkan amben tua itu sama
sekali tidak berderak dan seakan-akan tidak bergerak sama
sekali.
Ki Lurah Branjangan yang menyaksikan permainan Sekar
Mirah itu menarik nafas dalam-dalam. Yang dilakukan itu
adalah sekedar permainan sendiri. Jika menghadapi lawan,
maka kekuatan dan kemampuannya akan terpancing semakin
tinggi.
Bahkan Teja Prabawa dan Rara Wulan yang tidak
memahami tentang olah kanuragan, telah mengagumi
permainan Sekar Mirah itu. Mereka dapat mengerti, bahwa
yang dilakukan oleh Sekar Mirah diatas amben itu adalah
ungkapan dari kemampuannya yang sangat tinggi. Tubuhnya
seakan-akan telah kehilangan sebagian dari bobotnya
sehingga amben tua itu mampu menyangganya.
Beberapa saat lamanya Sekar Mirah bermain diatas amben
tua itu. Baru kemudian, iapun telah meloncat turun.
Geraknyapun semakin lama semakin perlahan-lahan.
Kemudian berhenti sama sekali. Hanya kedua tangannya
sajalah yang masih menengadah. Namun sejenak kemudian
telah bergerak dan kedua telapak tangannya terkatup dimuka
dadanya.
Demikian Sekar Mirah itu mengangguk hormat kepada Ki
Lurah Branjangan, maka Ki Lurah dan kedua cucunya hampir
tanpa disadarinya telah bertepuk tangan.
“Luar biasa.” berkata Ki Lurah, “aku yakin bahwa
kemampuan angger Sekar Mirah di medan perang yang
sesungguhnya jauh lebih tinggi dari yang sudah kau
pertunjukkan itu.”
“Satu permainan yang tidak berharga Ki Lurah.” berkata
Sekar Mirah.
“Sangat mengagumkan.” desis Ki Lurah, yang kemudian
berkata kepada kedua cucunya, “Nah, kau lihat? Apa yang
telah dilakukan oleh mBokayumu Sekar Mirah? sekarang
kalian baru percaya sepenuhnya bahwa mBokayumu Sekar
Mirah pernah menjadi salah seorang yang memberikan
latihan-latihannya kepada para prajurit di Pasukan Khusus
membantu suaminya. Agung Sedayu.”
Rara Wulan mengangguk-angguk. Dengan nada lemah ia
berkata, “Sungguh diluar dugaan. Wirastama pernah juga
mempertunjukkan permainan di sanggar Pasukan Khusus.
Waktu itu aku sangat mengagumi kemampuannya. Namun
setelah aku melihat apa yang dilakukan oleh mBokayu Sekar
Mirah, maka yang dilakukan oleh Wirastama itu belum
mengimbanginya.”
“Ah, tentu tidak.” desis Sekar Mirah, “yang aku lakukan
hanya sekedarnya saja. Sebagai isteri kakang Agung Sedayu
maka aku merasa berkewajiban untuk serba sedikit memiliki
bekal olah kanuragan. Pada saat-saat kami menginjak masa
berkeluarga, keadaan menuntun aku dapat melindungi diri
serba sedikit, karena kakang Agung Sedayu banyak dipanggil
oleh tugas-tugasnya keluar rumah.”
Tetapi Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya, “Murid Ki
Sumangkar ini sudah kejangkitan penyakit Agung Sedayu.”
Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Namun iapun
tersenyum ketika Ki Lurah berkata, “Bagaimana dengan
tongkat baja putihmu itu?”
Sekar Mirah mengerti, bahwa Ki Lurah Branjangan ingin
mengatakan bahwa sejak ia belum kawin dengan Agung
Sedayu, ia sudah murid Ki Sumangkar. Tetapi Sekar Mirah
tidak menjawab. Ia hanya berdiri saja termangu-mangu.
Namun dalam pada itu, Ki Lurah itupun telah bertanya
kepada Rara Wulan “Apakah kau ingin mampu berbuat seperti
itu? “
“Ah. Hanya perempuan yang kasar sajalah yang pantas
berusaha untuk mempelajari ilmu seperti itu “berkata Sekar
Mirah.
“Siapa tahu, Rara Wulan ingin menjadi seorang perempuan
yang kasar “sahut Ki Lurah Branjangan sambil tertawa.
Agung Sedayu tertawa. Sementara itu Ki Jayaraga yang
berpaling kearah Glagah Putih melihat anak muda itu
menunduk saja.
“Kau sempat berpikir “berkata Ki Lurah “besok atau lusa
kau dapat memberikan jawaban. Jika kau bersedia, maka
tentu angger Sekar Mirah tidak akan berkeberatan untuk
menuntunmu. Jika kau tidak terlalu dungu, maka dalam
beberapa tahun, serba sedikit kau tentu akan dapat
menguasainya. “
Rara Wulan mengerutkan keningnya. Memang satu
keinginan telah melonjak dihatinya. Tetapi hampir diluar
sadarnya ia bertanya “Jika aku ingin, apakah mbokayu Sekar
Mirah bersedia tinggal bersama kami? “
“Jangan bodoh “sahut Ki Lurah Branjangan “jika kau
berguru, kaulah yang tinggal bersama gurumu. Bukan gurumu
harus tinggal bersamamu dirumahmu. “
“O “wajah Rara Wulan menjadi merah.
Tetapi Ki Jayaraga menyahut “Kecuali aku. Aku justru
tinggal bersama muridku, karena aku memang tidak lagi
mempunyai tempat tinggal. “
“Satu kelainan “Ki Lurah tertawa. Ki Jayaragapun tertawa
pula.
Namun Agung Sedayulah yang kemudian minta mereka
untuk kembali keruang dalam. Demikian mereka duduk, maka
Sekar Mirah telah minta diri untuk berganti pakaian. Tetapi ia
tidak segera menemui tamu-tamunya lagi. Diam-diam Sekar
Mirah telah pergi ke dapur untuk menanak nasi dan
menyiapkannya untuk menjamu tamu-tamunya itu.
Tetapi ia terkejut ketika Rara Wulan tiba-tiba saja menjadi
akrab dan membantunya didapur. Gadis itu tidak mau pergi
keruang dalam. Ia ingin ikut bekerja didapur dengan Sekar
Mirah.
“mBokayu luar biasa “berkata Rara Wulan “seseorang yang
melihat mBokayu didapur begini, orang tidak menyangka
bahwa mBokayu berilmu sangat tinggi. “
“Aku adalah seorang perempuan Rara. Bagaimanapun
juga, aku tidak akan dapat meninggalkan kodratku menurut
tatanan adatku. Seorang perempuan sepantasnya berada di
dapur. Karena itu, maka meskipun kakang Agung Sedayu
memberiku kesempatan apapun juga sehingga seakan-akan
aku tidak ada bedanya lagi dengan kakang Agung Sedayu
sendiri untuk menentukan langkah-langkah pilihan, namun aku
tetap seorang perempuan “berkata Sekar Mirah.
Rara Wulan mengangguk kecil. Sementara itu, Sekar Mirah
berkata pula “Betapapun seorang perempuan memiliki derajat
yang sama disamping laki-laki, namun ia adalah perempuan.
Adapun jenis yang lain adalah laki-laki. Pada suatu saat
perempuan harus melahirkan anaknya dan menyusuinya. Kita
tidak akan dapat menuntut laki-laki untuk melakukannya. “
“Ya mBokayu “suara Rara Wulan menjadi berat.
“Ah, sudahlah “berkata Sekar Mirah “jika kau memang ingin
membantuku, tolong parutkan kelapa muda.
“Baik. Baik mBokayu “jawab Rara Wulan.
Sekar Mirahpun kemudian mengerjakan pekerjaan yang
lain didapur itu sambil memperhatikan Rara Wulan memarut
kelapa. Namun setiap kali Sekar Mirah tersenyum. Ternyata
gadis itu tidak begitu pandai bekerja di dapur. Meskipun ia
tidak memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, tetapi iapun tidak
memiliki kemampuan untuk menjadi seorang perempuan yang
lengkap bekerja di dapur.
“Agaknya yang dilakukannya dirumahnya yang barangkali
besar dan terlalu baik menurut ukuran padesan, hanyalah
bersolek saja “Berkata Sekar Mirah didalam hatinya. Bahkan
menurut sikap dan kata-kata yang terucapkan, maka gadis itu
tentu seorang gadis yang manja.
Tetapi ternyata bahwa Rara Wulan telah menempuh jalan
yang lebih baik dari Teja Prabawa. Jika anak muda itu tidak
segera menempatkan dirinya, maka ia akan menjadi seorang
laki-laki yang canggung dan cengeng. Sehingga tidak ada
yang dapat dilakukannya. Apalagi menjadi pendahulu dari
anak-anak muda sebayanya.
Ketika kemudian Sekar Mirah duduk disebelah Rara Wulan,
maka ia melihat tangan gadis itu telah tergores oleh
parut kelapa. Sekali-sekali gadis itu memang menyeringai.
Tetapi ia tidak mengeluh betapa pedihnya jari-jarinya yang
tergores di beberapa tempat itu.
Sambil tersenyum Sekar Mirah berkata “Pada saatnya, kau
akan dapat melakukannya tanpa membuat jari-jarimu menjadi
pedih. “
“Ah, tidak apa-apa mBokayu “jawab Rara Wulan. Sekar
Mirah masih saja tersenyum. Tetapi ia tidak bertanya
lagi.
Demikianlah, Rara Wulan tetap berada didapur sampai
saatnya masakan itu siap. Nasi dan sayur serta lauk pauknya.
Ketika nasi hangat itu dihidangkan, maka Ki Lurah Branjanganpun
berkata “Baunya membuat perutku menjadi sangat
lapar. “
“Rara Wulanlah yang masak hari ini “jawab Sekar Mirah
yang menghidangkan nasi itu.
Tetapi dengan cepat Rara Wulan menyahut “Bukan. Bukan
aku. “
“Ki Lurah “berkata Sekar Mirah kemudian “lihat ujung-ujung
jari Rara Wulan yang kena parut kelapa. “
“Ah “Rara Wulan hanya dapat berdesah.
“Marilah “Ki Jayaraga kemudian mempersilahkan “kita akan
makan bersama-sama. Aku sudah lapar sekali. “
Rara Wulanpun kemudian telah duduk disebelah kakaknya
yang telah banyak diam sebagaimana Glagah Putih.
Sedangkan Sekar Mirah duduk menepi, karena ia harus
melayani tamu-tamunya berganti-ganti. Tetapi Sekar Mirahpun
kemudian telah ikut pula makan bersama mereka.
Tetapi belum lagi mereka selesai makan, maka tiba-tiba
saja pembantu dirumah Agung Sedayu itu masuk keruang
dalam. Sejenak ia termangu-mangu. Namun Agung Sedayulah
yang kemudian bertanya “Ada apa? “
“Ada tamu diluar “jawab anak itu.
“Tamu? “Dimana sekarang? “bertanya Agung Sedayu pula.
“Sudah duduk dipendapa “jawab anak itu.
“Baiklah. Sebentar lagi, aku akan menemuinya “jawab
Agung Sedayu. Lalu “Katakan, bahwa aku sedang perlu
sebentar. “
Anak itupun kemudian keluar dari ruang dalam dan pergi ke
pendapa untuk mempersilahkan tamunya menunggu.
Ketika Agung Sedayu kemudian mendahului meninggalkan
amben besar tempat ia bersama tamu-tamunya makan, maka
Sekar Mirahlah yang kemudian mempersilahkan tamutamunya
untuk meneruskan makan.
Agung Sedayu mengerutkan dahinya ketika ia melihat
seseorang duduk di pendapa. Wajahnya sudah nampak
digoresi oleh garis-garis umurnya, sedangkan satu dua helai
rambutnya yang tergerai dibawah ikat kepalanya, nampaknya
memang sudah putih.
Ketika Agung Sedayu menemuinya, maka orang itu
bertanya “Apakah Angger yang bernama Agung Sedayu? “
“Ya Ki Sanak. Aku Agung Sedayu “jawab Agung Sedayu
“kemudian jika tidak berkeberatan, apakah aku boleh
mengetahui siapakah Ki Sanak ini? “
Orang itu tersenyum. Katanya “Aku kawan dekat Ki Lurah
Branjangan. Akulah yang disebut Ki Lurah Citra-bawa. “
Dada Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ternyata
orang itulah yang bernama Ki Lurah Citrabawa. Sementara
orang itu bertanya “Apakah Ki Lurah Branjangan ada di sini? “
“Ya Ki Lurah. Ki Lurah Branjangan memang ada disini
“jawab Agung Sedayu.
“Untunglah bahwa aku dapat menemukannya “berkata Ki
Lurah Citrabawa. Lalu katanya “Apakah aku boleh
menemuinya? “
“Tentu Ki Lurah “jawab Agung Sedayu “Ki Lurah
Branjangan sedang makan. Marilah, aku persilahkan Ki Lurah
Citrabawa untuk makan bersamanya. “
“Terima kasih ngger “jawab Ki Lurah Citrabawa “aku akan
menunggu disini. Aku sudah makan tadi di perjalanan. “
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas
terbayang apa yang sudah terjadi di lereng bukit. Persoalan
yang timbul antara Glagah Putih dengan anak Ku Lurah
Citrabawa itu.
Karena Ki Citrabawa tidak mau masuk keruang dalam,
maka Agung Sedayu itupun berkata “Ki Lurah. Baiklah jika Ki
Lurah Tidak bersedia untuk makan bersama kami. Aku akan
memberitahukan kehadiran Ki Lurah kepada Ki Lurah
Branjangan. “
“Terima kasih ngger. Aku akan menunggu disini “jawab Ki
Lurah Citrabawa.
Agung Sedayupun kemudian telah melangkah masuk. Ternyata
mereka yang berada diruang dalam telah selesai juga.
Bahkan Sekar Mirah dan Rara Wulan telah mulai mengatur
mangkuk-mangkuk kotor untuk disingkirkan.
Tetapi Agung Sedayu berkata kepada istrinya “Duduklah.
Kita mempunyai tamu. “
“Siapa? “bertanya Sekar Mirah.
“Kau belum pernah mengenalnya. Tetapi Ki Lurah
Branjangan tentu sudah “jawab Agung Sedayu.
Sekar Mirahpun telah duduk kembali. Demikian pula Rara
Wulan. Namun nampak berbagai macam pertanyaan diwajahwajah
mereka.
“Siapakah tamunya itu? “bertanya Ki Lurah Branjangan.
“Ki Lurah Citrabawa “jawab Agung Sedayu.
Orang-orang yang berada diruang dalam itu memang
terkejut. Namun yang terkilas diangan-angan mereka adalah
peristiwa
yang baru saja terjadi.
“Baiklah “berkata Ki Lurah Branjangan “aku akan
menemuinya. “
“Marilah Ki Lurah, aku antar Ki Lurah ke pendapa “sahut
Agung Sedayu.
Demikianlah, maka Ki Lurah Branjangan dan Agung
Sedayu telah keluar ke pendapa. Sementara itu Sekar Mirah
dan Rara Wulan justru telah duduk kembali.
Namun gadis itu tidak menjadi terlalu gelisah, la melihat
dirumah itu ada Glagah Pulih, Sekar Mirah, Agung Sedayu
sendiri dan orang yang disebut guru Glagah Putih yang lain, Ki
Jayaraga. Jika terjadi sesuatu, maka mereka akan menjadi
pelindung yang baik disamping kakeknya sendiri.
Dipendapa, Ki Lurah Branjangan dan Agung Sedayu telah
duduk menghadap tamunya yang mendebarkan itu. Namun
menurut pengamatan Agung Sedayu, sikap Ki Lurah itu bukan
sikap yang bermusuhan.
“Ki Lurah Branjangan “berkata Ki Lurah Citrabawa
kemudian “kedatanganku kemari sebenarnya bukan karena
niatku sendiri. Aku sekedar melakukan permintaan orang lain
kepadaku untuk bertemu dengan Ki Lurah. “
Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Tetapi
rasa-rasanya ia telah dapat meraba, apa yang akan dikatakan
oleh Ki Lurah Citrabawa itu.
Meskipun demikian Ki Lurah Branjangan bertanya juga
“Siapakah orang itu? “
Ki Lurah Citrabawa termangu-mangu sejenak. Kemudian
katanya “Ki Lurah. Aku tidak dapat menolak permintaan orang
itu. la adalah orang yang memiliki banyak kelebihan dari aku. “
Ki Lurah Branjangan tiba-tiba saja telah menebak “Guru
anakmu itu Ki Lurah? “
Ki Lurah Citrabawa menarik nafas panjang. Sambil
mengangguk ia berkata “Ya. Guru anakku itu. Ia mempunyai
segala-galanya untuk memaksaku datang kepada Ki Lurah
Branjangan. Meskipun aku mula-mula merasa berkeberatan. “
“Apa katanya? “bertanya Ki Lurah Branjangan.
Ki Lurah Citrabawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya
“Tetapi setelah aku merenunginya, maka aku justru merasa
wajib untuk datang menemuimu. Sepantasnya bahwa aku
minta maaf kepadamu atas perlakuanku terhadap keluargamu.
Aku juga minta maaf kepada Kepala Tanah Perdikan
Menoreh, karena aku sudah membuat kerusuhan di wilayah
kuasanya. “
Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Sementara Ki
Lurah Citrabawa berkata selanjutnya “Tetapi selain itu, ada
yang ingin aku sampaikan kepada Ki Lurah. “
“Aku sudah dapat menduga “sahut Ki Lurah Branjangan.
“Ya. Kau tentu sudah dapat menduga. Guru anakku itu
memang merasa terhina. Aku diminta untuk mengatakan
kepada Ki Lurah Branjangan, bahwa ia menginginkan Glagah
Putih. Jika tidak, maka ia sendiri akan mengambil Rara Wulan,
berkata Ki Citrabawa.
Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Sambil
berpaling kepada Agung Sedayu ia berkata “Ternyata
kehadiranku disini telah membawa persoalan bagi Tanah
Perdikan ini. Setidak-tidaknya keluargamu, ngger. “
Agung Sedayu mengangguk kecil. Tetapi iapun kemudian
berkata “Tetapi seandainya Ki Lurah tidak datang kemari,
maka persoalan inipun tidak akan dapat Ki Lurah hindari.
Justru kehadiran Ki Lurah kemari, maka Ki Lurah mendapat
beberapa orang kawan yang dapat bersama-sama dengan Ki
Lurah menanggapi persoalan ini. “
Ki Lurah mengangguk-angguk pula. Katanya “Terima kasih
atas kesediaanmu ngger. Aku juga harus berterima kasih
kepada Ki Gede Menoreh. “
Dalam pada itu Ki Citrabawa berkata “Ki Lurah.
Kesediaanku untuk datang sendiri juga didorong oleh
keinginanku untuk memberikan sedikit peringatan kepada Ki
Lurah, bahwa
guru anakku ilu termasuk seorang yang kasar, la memang
berilmu tinggi, Namun kadang-kadang sikapnya aneh.
Tanggapannya atas satu persoalan tidak dapat ditebak sama
sekali. “
Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Tetapi ia tibatiba
bertanya “Ki Lurah. Apakah niatmu memberi peringatan
kepadaku, atau kau sedang menakut-nakuti aku? “
“Aku berkata sesungguhnya. Aku memang ingin
memberimu peringatan. Mudah-mudahan kau menemukan
jalan keluar. Aku tahu, bahwa Glagah Putih tidak bersalah, la
memang berilmu tinggi. Tetapi sudah barang tentu ia akan
mengalami kesulitan jika ia benar-benar harus berhadapan
dengan guru anakku itu, “berkata Ki Lurah Citrabawa.
“Ki Lurah “berkata Ki Lurah Branjangan pula “apakah
kau tahu nama guru anakmu itu? “
“Sudah tentu “jawab Ki Lurah Branjangan “ia adalah
seorang tua yang berilmu sangat tinggi, berkelakuan aneh dan
kasar, serta tidak ragu-ragu bertindak. Namanya Ki Ajar Sigar-
Welat. “
Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Dengan
nada rendah ia mengulangi “Ki Ajar Sigarwelat. Nama yang
menarik. Tetapi apakah Ki Citrabawa pernah mendengar
nama Ki Ajar Wadal? “
Ki Lurah Citrabawa menggelengkan kepalanya. Sementara
itu Ki Lurah Branjangan bertanya pula “Bagaimana dengan
padepokan Kaliwalik? “
“Aku belum pernah mendengar “jawab Ki Citrabawa.
“Aneh Ki Lurah. Padepokan itu adalah padepokan tua.
“berkata Ki Lurah Branjangan.
“Pengetahuanku memang terlalu sedikit. Aku tidak banyak
mendengar nama orang-orang berilmu serta padepokanpadepokannya.
“jawab Ki Lurah Citrabawa.
“Baiklah. Tetapi kau tentu sudah dapat menduga pula
jawabku atas permintaan Ki Ajar Sigarwelat itu agar aku
menyerahkan Glagah Putih. “berkata Ki Lurah Branjangan.
“Aku sudah menduga. Kau tentu berkeberatan. Tetapi aku
ingin memberitahukan kepadamu, bahwa orang yang bernama
Sigarwelat itu tidak bermain-main dengan kata-katanya, la
tentu akan datang untuk mengambil Rara Wulan. Jika hal itu
dilakukannya, maka kalian tentu akan sulit untuk
mempertahankannya “berkata Ki Citrabawa.
Tetapi Ki Lurah berkata “Jika demikian, maka aku akan
sama sekali minta pertolongan guru Glagah Putih. Ki Lurah
Citrabawa. Jika guru anakmu yang bernama Ki Sigarwelat itu
mencampuri persoalan muridnya, maka guru Glagah Putihpun
tentu akan melakukan hal yang sama. “
“Siapakah guru Glagah Putih? “bertanya Ki Lurah
Citrabawa.
Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Namun
tiba-tiba saja ia berkata “Namanya Panembahan Agung. “
“Panembahan Agung? “wajah Ki Lurah Citrabawa menjadi
tegang “maksudmu Panembahan Agung dan Panembahan Alit
yang memiliki kemampuan menciptakan bentuk-bentuk semu
itu? Tetapi bukankah mereka telah lama mati? “
“O, bukan. Bukan. Jika demikian namanya akan berganti.
Panembahan Sedayu. “sahut Ki Lurah Branjangan.
Ki Lurah Citrabawa mengerutkan keningnya. Namun
kemudian iapun berkata “Ki Lurah Branjangan masih saja
senang bergurau. Dalam keadaan apapun, bahkan dalam
keadaan seperti ini. Nampaknya Ki Lurah ingin mengatakan
bahwa guru Glagah Putih adalah Agung Sedayu. “
Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya “Ya. Bukankah kau
sudah mengenal Agung Sedayu. “
“Aku mengenalnya. Aku mencari Ki Lurah tadi dirumah Ki
Gede. Tetapi para penjaga regol mengatakan bahwa Ki Lurah
ada dirumah Agung Sedayu. Dan akupun sudah
memperkenalkan diri dan mengenal bahwa orang itulah yang
bernama Agung Sedayu. “berkata Ki Lurah Citrabawa.
“Ya. Orang inilah Agung Sedayu. Guru Glagah Putih.
Jika ada orang lain yang mengganggu Glagah Putih,
apalagi karena sakit hati seperti Ki Ajar Sigarwelat itu, maka
sudah barang tentu Agung Sedayu tidak akan membiarkannya
“berkata Ki Lurah Branjangan.
Ki Citrabawa memandang Agung Sedayu dengan
tajamnya. Namun kemudian katanya “Apakah Agung Sedayu
yang masih muda ini akan dapat menghadapi Ki Ajar
Sigarwelat? “
“Murid Ki Ajar itu kalah dari murid Agung Sedayu “jawab Ki
Lurah Branjangan.
“Bukankah itu bukan ukuran yang mutlak? “bertanya Ki
Lurah Citrabawa.
“Ki Lurah benar “jawab Ki Lurah Branjangan “tetapi sebagai
satu ukuran penjajagan, maka hal itu dapat dipergunakan.
Apalagi guru Glagah Putih menganggap bahwa Glagah Putih
tidak bersalah. “
“Aku mengerti. Tetapi baiklah, apapun sikap yang akan kau
ambil. Aku sudah berusaha untuk mengurangi kesalahanku
dengan memberikan sedikit keterangan tentang Ki Ajar
Sigarwelat itu. Namun segala sesuatunya memang tergantung
kepada kalian semuanya. “berkata Ki Lurah Citrabawa.
“Terima kasih atas keteranganmu Ki Lurah. Tetapi kami
mohon kau sampaikan kepada Ki Ajar Sigarwelat, bahwa kami
tidak akan menyerahkan Glagah Putih dan sudah tentu juga
tidak akan menyerahkan Rara Wulan dalam keadaan hidup.
“berkata Ki Lurah Branjangan.
“Apa maksudmu? “bertanya Ki Citrabawa.
“Maksudku jelas. Nah, sampaikan saja kepada Ki Ajar
Sigarwelat agar ia menilai jawaban kami. Terserah, apakah ia
akan melanjutkan maksudnya atau tidak. Namun jika ada
sedikit keberanian dari Ki Ajar Sigarwelat, kami menunggu
keterangannya. Kecuali jika ia akan bertindak licik dan
berusaha menculik cucuku dengan diam-diam seperti laku
seorang pencuri. Padahal menilik namanya, ia tentu seorang
yang perkasa. Dan barangkali telah memiliki ilmu Sapu Angin
yang sempurna “berkata Ki Lurah Branjangan.
Ki Lurah Citrabawa menarik nafas dalam-dalam. Menilik
ketegangan di wajahnya, maka Ki Lurah Branjangan dapat
membaca isi hati Ki Citrabawa itu. Karena itu, maka katanya
Tetapi jika kau tidak mempunyai keberanian untuk
mengatakannya kepada Ki Ajar itu, sudahlah. Jangan
memaksa diri. Bukankah ia orang berilmu tinggi, sehingga sulit
untuk diajak berbicara sebagaimana kau katakan, bahkan ia
mempunyai sifat yang aneh? “
Ki Lurah Citrabawa tiba-tiba menundukkan wajahnya. Ia
memang merasa terlalu kecil dihadapan guru anaknya itu.
Namun ia tidak mengakuinya dihadapan Ki Lurah Branjangan
meskipun Ki Lurah Branjangan itu dapat menebaknya.
“Sudahlah Ki Lurah Branjangan “tiba-tiba saja Ki Citrabawa
itu berkata “aku minta diri. Aku akan kembali. Aku akan
mengatakan bahwa aku sudah bertemu dengan kalian dan
aku sudah menyampaikan pesannya. “
“Baiklah. Kamipun minta Ki Lurah menyampaikan jawaban
kami “berkata Ki Lurah Branjangan.
“Orang itu tentu akan sangat marah “desis Ki Citrabawa
“berhati-hatilah. Ki Ajar itu merasa dirinya orang terpenting
dan memiliki kemampuan tertinggi di seluruh dunia. Karena
itu, maka ia memang mempunyai kelakuan yang aneh. “
“Mungkin ia memang orang yang berilmu tertinggi di-dunia.
Tetapi betapapun tingginya kemampuan dan ilmu seseorang,
tetapi ia tetap seorang manusia yang mempunyai
keterbatasan. Nah, katakan kepadanya, bahwa pada suatu
saat, ia akan sampai kebatas itu. “jawab Ki Lurah Branjangan.
Ki Citrabawa tersenyum. Tetapi alangkah kecutnya
senyumnya itu.
Demikianlah, sejenak kemudian Ki Lurah Citrabawa itu
telah meninggalkan rumah Agung Sedayu. Betapapun gejolak
diperasaannya, namun ia memang tidak mempunyai
kemampuan, bahkan keberanian untuk berbuat sesuatu yang
tidak dikehendaki oleh guru anaknya itu.
Sepeninggal Ki Lurah Citrabawa, maka seisi rumah Agung
Sedayu itupun telah berbincang tentang kedatangan Ki Lurah
Citrabawa itu. Ki Lurah Branjangan sengaja membicarakannya
dihadapan Rara Wulan dan Glagah Putih, sehingga dengan
demikian maka mereka akan menjadi berhati-hati.
Namun sebenarnyalah bahwa Rara Wulan menjadi sangat
ketakutan. Baginya, tanpa perlindungan orang lain, ia tidak
akan dapat menghindarkan diri dari kemungkinan buruk itu.
Dalam pada itu, maka Ki Jayaragapun berkata “Baiklah,
Kita harus menerima tantangan ini. Aku tentu tidak akan
membiarkan muridku disakiti. Apalagi dalam perlakuan yang
tidak adil. “
Agung Sedayupun mengangguk-angguk. Namun kemudian
katanya kepada Ki Lurah “Ki Lurah. Sebaiknya kita mengambil
langkah-langkah untuk mengamankan Rara Wulan. “
Ki Lurah Branjangan mengangguk kecil. Memang tidak ada
cara lain untuk mengamankan Rara Wulan daripada
mendapat perlindungan dari orang-orang yang memiliki
kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan Ki Ajar
Sigarwelat.
Bahkan seandainya Rara Wulan dibawa kembali ke Matarampun
keadaannya akan tetap berbahaya baginya. Mungkin
ayahnya akan dapat membawa kelompok prajurit untuk
menjaga rumahnya. Tetapi sudah barang tentu dengan
demikian Rara Wulan akan merasa dirinya selalu dibayangi
oleh ketakutan jika ia keluar rumah untuk keperluan apapun.
Sedangkan sekelompok prajurit itu belum tentu akan dapat
menjamin, bahwa Ki Ajar tidak akan dapat mengambil
cucunya itu. Ki Ajar akan dapat mengajak muridnya
menyerang rumah Ki Tumenggung dan kemudian melarikan
Rara Wulan. Atau jika tidak mungkin lagi membawanya gadis
itu tentu akan dibunuhnya. Daripada anak Ki Lurah Citrabawa
itu tidak mendapatkannya, maka semua orangpun tidak akan
mendapatkannya pula.
Ketika Ki Lurah kemudian memandangi Ki Jayaraga, Agung
Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih, maka tiba-tiba
saja ia berkata “Angger Agung Sedayu. Jika angger tidak
berkeberatan, biarlah aku titipkan Rara Wulan itu disini. Disini
aku melihat ada beberapa orang yang akan mampu
melindunginya. Sementara dirumah Ki Gede dan bahkan di
Mataram sekalipun keamanannya tidak akan terjamin
sebagaimana disini . “
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Sementara itu tibatiba
saja dada Glagah Putih menjadi berdebar-debar.
Demikian juga jantung Rara Wulan bagaikan berdetak
semakin cepat.
Untuk beberapa saat ruang itu menjadi hening. Namun
kemudian Agung Sedayupun berkata “Jika hal itu Ki Lurah
pandang sebagai jalan keluar meskipun untuk sementara,
kami tidak berkeberatan. Biarlah Rara Wulan disini. Ia dapat
membantu Sekar Mirah. Namun jika Rara Wulan memang
ingin mempelajari serba sedikit ilmu kanuragan, maka biarlah
Sekar Mirah menuntunnya, meskipun hanya sekedar patokanpatokan
pertama. “
Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada
itu Agung Sedayu berkata selanjutnya “Tetapi Ki Lurah harus
memohon kepada Ki Gede. “
“Ya. Aku akan bertemu dengan Ki Gede. Agaknya Ki Gede
akan dapat mengerti apa yang telah terjadi “berkata Ki Lurah
Branjangan.
Tetapi kemudian Agung Sedayupun bertanya “Bagaimana
dengan Raden Teja Prabawa? Jika orang-orang itu gagal
mendapatkan Rara Wulan, mungkin sasaran berikutnya
adalah Raden Teja Prabawa. Jika Ki Lurah mengijinkan,
biarlah ia berada disini pula untuk sementara. “
Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera
menjawab. Dipandanginya Teja Prabawa yang menunduk.
Namun agaknya Ki Lurah sendiri sependapat dengan Agung
Sedayu.
Namun tiba-tiba saja Ki Lurah itu berkata “Jika demikian,
biarlah aku juga berada disini. “
“Ah, tentu saja kami akan mempersilahkan dengan senang
hati “berkata Agung Sedayu.
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku akan
berkata kepada Ki Gede. Disini aku tiba-tiba saja merasa lebih
aman meskipun di rumah Ki Gede dapat saja dijaga oleh
sekelompok pengawal. Namun Ki Ajar Sigarwelat hanya dapat
diimbangi dengan kemampuan pribadi yang tinggi.
Kemampuan sekelompok pengawal akan sangat berbeda
menghadapi orang seperti Ki Ajar daripada seorang saja
namun yang berilmu seimbang. “
“Tentu kami tidak akan berkeberatan. Tetapi rumah kami
tentu tidak dapat memberikan tempat yang baik bagi cucucucu
Ki Lurah. Sempit, barangkali agak lembab dan kotor
“berkata Sekar Mirah.
Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya “Satu pengalaman
yang tentu akan sangat menarik. “
Sekir Mirah hanya dapat tersenyum. Namun sebenarnyalah
ia merasa bahwa rumahnya agak kurang pantas bagi cucucucu
Ki Lurah. Ki Lurah sendiri barangkali tidak akan merasa
sesak dar sempit, karena Ki Lurah yang dimasa mudanya
adalah seorang prajurit yang berpengalaman. Namun cucucucunya
tentu agak berbeda.
Demikianlah, maka Agung Sedayu telah mengantarkan Ki
Lurah Branjangan pergi ke rumah Ki Gede untuk
menyampaikan rencananya. Dimohon Ki Gede dapat
mengerti. Jika persoalannya sudah mendapatkan
penyelesaian, maka Ki Lurah akan kembali lagi ke rumah Ki
Gede untuk selanjutnya kembali ke Mataram.
Ki Gede memang dapat mengerti keadaan Ki Lurah. Iapun
menawarkan, jika Ki Lurah tetap berada di rumah Ki Gede,
sekelompok pengawal yang akan berjaga-jaga di halaman.
Namun Ki Lurah berkata “Kami jangan sampai menyulitkan
kedudukan Ki Gede. “
Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya “Kami benar-benar
harus mohon maaf kepada Ki Lurah, bahwa Tanah ini ternyata
tidak memberikan ketenangan kepada Ki Lurah. “
“Bukan Tanah ini. Malahan akulah yang telah membawa
persoalan kemari. Karena persoalannya adalah persoalan
antara aku dan Ki Lurah Citrabawa “sahut Ki Lurah
Branjangan.
Dengan demikian maka sejak hari itu, Ki Lurah Branjangan
beserta kedua cucunya berada di rumah Agung Sedayu.
Meskipun mereka selalu dibayangi oleh kecemasan, namun
dirumah itu, mereka memang merasa aman.
Raden Teja Prabawa sudah mulai belajar bergaul dengan
Glagah Putih. Betapapun beratnya, tetapi ia terpaksa minta
maaf kepada anak padesan itu, yang ternyata memiliki
kemampuan jauh lebih baik dari dirinya sendiri. Bahkan anak
muda itu adalah sahabat Raden Rangga. Seorang diantara
anak-anak muda yang dikaguminya.
Kehadiran Teja Prabawa rasa-rasanya tidak menjadi
persoalan bagi Glagah Putih, la sudah melupakan persoalan
yang pernah timbul antara mereka berdua. Glagah Putihpun
telah memaafkan sikap dan tingkah laku Teja Prabawa sesaat
setelah ia dipertemukannya dengan anak dari Kotaraja itu.
Namun yang kadang-kadang menggelisahkan Glagah Putih
adalah justru kehadiran Rara Wulan. Sebagai gadis Kotaraja
nampaknya Rara Wulan mempunyai kebiasaan yang lebih
terbuka dari gadis-gadis padesan. Karena itu, jika Rara Wulan
itu bertemu dan berbicara dengan Glagah Putih, maka
kadang-kadang Glagah Putih lebih banyak menjadi
pendengar. Tetapi sekali-sekali, sengaja atau tidak sengaja,
Glagah Putih memandang wajah gadis yang bersih itu.
Namun setiap kali Glagah Putih berkata kepada dirinya
sendiri “Tetapi ia adalah gadis Kotaraja. Anak seorang
Tumenggung yang berkedudukan tinggi di Mataram. “
-Tetapi sekali-sekali Glagah Putihpun telah membanggakan
diri “Meskipun aku anak Tanah Perdikan yang jauh, tetapi aku
pernah mendapat kesempatan untuk berada di istana
Mataram. Panembahan Senapati mengenal aku dengan baik,
serta Ki Mandarakapun telah memberi aku senjata yang
jarang ada duanya. “
Namun semuanya itu pecah berhamburan jika ia
mendengar gadis itu tertawa kecil.
“Aku belum lama mengenalnya”berkata Glagah Putih
didalam hatinya “kenapa aku terlalu memperhatikannya? “
Tetapi rasa-rasanya Glagah Putih tidak akan dapat
mengelakkan dirinya. Apalagi setiap kali Rara Wulan memang
telah menemuinya, berbicara tentang apa saja.
Bahkan tiba-tiba saja ketika senja turun, Rara Wulan
menemui Glagah Putih yang sedang menyiapkan rumput di
kan-dang. Dengan suaranya yang lembut ia berkata “Kau tidak
pernah mengajakku ke sungai itu lagi. Rasa-rasanya
menyenangkan mencari ikan di pliridan itu. “
Glagah Putih termangu-mangu. Namun kemudian katanya
“Tetapi keadaan masih belum menguntungkan. Mungkin
sesuatu dapat terjadi jika kita pergi ke sungai dimalam hari.
Apalagi dengan Rara. “
“Kenapa dengan aku? Aku tidak akan menjadi cengeng
lagi. “jawab Rara Wulan.
“Tentu. Rara tentu tidak akan menjadi cengeng lagi. Tetapi
ancaman Ki Ajar Sigarwelat itu tentu bukan sekedar mainmain.
Ia benar-benar akan dapat menyergap kita. “jawab
Glagah Putih. “mungkin aku sendiri mempunyai banyak cara
untuk melepaskan diri. Tetapi Rara akan mengalami kesulitan.
Ia tentu tidak akan datang sendiri. Tentu berdua dengan
muridnya. Seandainya aku sempat bertempur melawan
gurunya, apapun yang terjadi. Rara tidak akan dapat
melepaskan diri dari tangan anak Ki Lurah Citrabawa itu. “
Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Memang
mungkin sekali hal itu terjadi. “
“Karena itu untuk sementara kita tidak dapat pergi ke
sungai “jawab Glagah Putih.
Namun adalah diluar dugaan bahwa pembantu dirumah
Agung Sedayu itu, yang tidak sengaja mendengar
pembicaraan itu berkata “Jadi kau takut? Aku tidak pernah
takut pergi ke
sungai itu. Meskipun sendiri. “
Glagah Putih berpaling kepada anak itu. Namun iapun
tertawa. Katanya “Nah, jika demikian, maka untuk sementara
kau dapat pergi sendiri. “
“Aku tahu itu. Itu adalah tujuan akhirnya “berkata anak itu
sambil melangkah pergi.
Glagah Putih hanya tertawa saja. Sementara Rara Wulan
bertanya “Siapakah anak itu? “
“Anak tetangga. Tetapi ia tinggal bersama kami disini
“jawab Glagah Putih “ia membantu pekerjaan kami sehari-hari
dirumah. “
“Bukankah anak itu yang pernah pergi bersama kita ke
sungai? “bertanya Rara Wulan.
“Ya. Anak itu rajin dan pada dasarnya cukup cerdas “jawab
Glagah Putih.
Rara Wulan tertawa. Katanya “Anak yang baik. Ia-memi-liki
keberanian pula. “
Glagah Putih mengangguk-angguk.
Namun tiba-tiba Glagah Putih mengerutkan keningnya.
Hampir diluar sadarnya ia menarik Rara Wulan dan
mendorongnya masuk ke dalam kandang. Secepat itu pula
Glagah Putihpun telah meloncat pula masuk kedalam kandang
itu. Bahkan Rara Wulan telah tergelincir dan jatuh di lantai
kandang yang kotor, sementara beberapa ekor kuda telah
menggelinjang dan meringkik keras. Untunglah bahwa kudakuda
itu terikat ditempat masing-masing, sehingga tidak
berlari-larian sehingga akan dapat menginjak Rara Wulan.
Rara Wulan terkejut bukan buatan. Bahkan hampir saja ia
berteriak ketika ia terjatuh dan melihat Glagah Putih meloncat
hampir menimpanya.
Namun tiba-tiba saja angin yang sangat kencang telah
bertiup menyambar deras sekali. Tepat ditempat mereka
berdua berdiri didepan kandang. Bahkan kandang kuda itu
seakan-akan telah terguncang meskipun angin itu hanya
menyentuh sebelah sisinya.
Rara Wulan yang kemudian duduk itu menjadi gemetar. Ia
menyadari, seandainya keduanya akan hanyut dan
membentur tiang sudut kandang itu atau membentur bendabenda
lain.
“Terima kasih “desis Rara Wulan.
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya”Kau
menjadi kotor. Mandilah. “
Rara Wulan mengangguk-angguk. Tetapi Glagah Putihpun
berkata “Marilah. Tetapi hati-hati. Mungkin serangan gelap
seperti ini akan datang lagi. Jika demikian, aku harus
melawannya agar kita tidak sekedar menjadi sasaran.
Meskipun aku harus mempelajari darimana arah serangan itu.
“
Rara Wulan termangu-mangu. Ia sadar, bahwa Ki Ajar
Sigarwelat benar-benar ingin membuktikan kata-katanya.
Karena itu, maka jantungnyapun menjadi berdebaran. Jika
serangan itu dilakukan sekali lagi, langsung mengenai
kandang kuda itu, maka kandang itu akan dapat roboh
karenanya.
Namun dalam pada itu, maka Agung Sedayu, Ki Jayaraga,
Sekar Mirah, Ki Lurah Branjangan telah keluar dari pintu
samping. Mereka mendengar ringkik kuda yang keras di
kandang.
Ketika mereka melihat Glagah Putih menolong Rara Wulan
keluar dari kandang, maka tiba tiba saja wajah Teja Prabawa
menjadi merah. Dengan serta merta ia telah berlari mendekati
adiknya. Dengan keras ia bertanya “Wulan. Apa yang telah
kau lakukan? “
“Aku terjatuh kakang. Kakang Glagah Putih telah
menolongku. “jawab Rara Wulan. “Kami telah diserang
dengan arus angin yang sangat deras. “
“Omong kosong “bentak kakaknya.
Namun Agung Sedayulah yang mendekatinya. Dengan
sabar ia berkata “Raden Teja Prabawa. Mungkin Raden hanya
mendengar ringkik kuda itu saja. Tetapi kami juga mendengar
angin yang keras telah menyambar di halaman rumah ini.
Nampaknya Rara Wulan tidak berbohong. Meskipun masih
ada hal yang lain yang kami ingin tahu. Nah, sebaiknya biarlah
Rara mandi di pakiwan dahulu. Namun kami minta maaf,
bahwa kami akan berjaga-jaga disekitar pakiwan itu. Ditempat
yang agak jauh. Kami masih merasa cemas, bahwa serangan
serupa akan datang lagi. “
Ki Lurah Branjangan telah mendekati cucu laki-lakinya pula.
Katanya “Aku mengerti perasaanmu. Tetapi justru ada yang
tidak kau mengerti. “
Teja Prabawa termangu-mangu. Namun akhirnya iapun
telah didera lagi oleh perasaannya. Ia merasa semakin kecil
diantara orang-orang Tanah Perdikan itu. Ia sama sekali tidak
mengerti apa yang dimaksud dengan serangan angin yang
deras atau alasan apapun juga. “
“Marilah “ajak Ki Lurah Branjangan.
Teja Prabawa tidak mengelak ketika kakeknya
mengajaknya masuk lagi kedalam lewat pintu butulan.
Sementara Sekar Mirah telah membawa Rara Wulan ke
pakiwan. Badannya dan pakaiannya menjadi sangat kotor,
karena ia telah terjatuh dikandang kuda. Sementara itu, Agung
Sedayu, Ki Jayaraga dan Glagah Putih telah memencar di
halaman dan di kebun belakang.
Tetapi ternyata serangan itu tidak terulang lagi.
Ketika mereka kemudian duduk diruang dalam, maka
Glagah Putih telah menjelaskan apa yang terjadi, sehingga Ki
Lurah Branjangan sambil tersenyum bertanya kepada cucunya
“Jelas Teja Prabawa? “
Teja Prabawa mengangguk kecil. Namun dalam pada itu Ki
Jayaraga berkata “Tetapi kami dapat mengerti perasaan
Raden Teja Prabawa. Ia hanya melihat Glagah Putih dan Rara
Wulan keluar dari kandang dengan pakaian yang kotor. “
“Tetapi bukankah dibagian lain kandang itu terbuka? “jawab
Ki Lurah Branjangan.
Namun Ki Jayaraga menyahut “Waktunyapun saat
memasuki gelap. Disaat Bathara Kala sering mencari mangsa.
“
“Ki Lurah Branjangan justru tertawa. Namun Rara Wulan
dan Glagah Putih telah menundukkan wajah mereka dalamdalam.
Bahkan wajah Rara Wulan terasa menjadi panas.
“Sudahlah “berkata Sekar Mirah “yang harus kita perhatikan
adalah justru serangan itu. Ternyata seorang yang bernama Ki
Ajar Sigarwelat itu bukan seorang jantan sebagaimana kita
duga. Ia telah menyerang dari tempat yang bersembunyi justru
pada saat yang tidak terduga. “
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya “Dengan
demikian untuk satu dua hari ini, biarlah Ki Lurah Branjangan
dengan kedua orang cucunya tetap berada didalam rumah. “
Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya “Ya.
Ternyata bahwa kami harus menjadi beban disini. Jika salah
seorang diantara kami pergi ke pakiwan, maka kalian harus
mengawasinya. “
“Tidak apa-apa “jawab Agung Sedayu “bukankah kita
berusaha agar persoalan ini dapat berlalu dengan selamat?
“Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih berulang
kali ngger “desis Ki Lurah Branjangan.
Agung Sedayu tertawa. Katanya “Lupakan Ki Lurah. Kita
berbuat bagi kebaikan kita semuanya. “
Demikianlah, maka malam itu, Agung Sedayu, Glagah
Putih dan Ki Jayaraga telah membagi tugas. Mereka bergantiganti
harus berjaga-jaga. Sementara itu, Rara Wulan akan
tidur bersama Sekar Mirah, sedang Ki Lurah Branjangan
dengan Teja Prabawa.
Yang berjaga-jaga dipermulaan malam adalah Glagah
Putih. Sesaat setelah Ki Lurah Branjangan masuk kedalam
biliknya. Sementara yang lain-lain telah berada didalam bilik
mereka kecuali Agung Sedayu yang tidur diamben besar
diruang tengah, karena didalam biliknya ada Rara Wulan.
Sedangkan Ki Jayaragalebihsenangtidurdibelakang. Di amben
yang berada di sebelah dapur, karena biliknya dipergunakan
oleh Ki Lurah Branjangan.
Sebenarnya di gandok masih juga terdapat beberapa ruang
yang dapat dipergunakan. Namun agaknya keadaan menjadi
semakin rumit, sehingga Agung Sedayu berketetapan hati
untuk minta kepada Ki Lurah Branjangan dan kedua cucunya
tidur saja didalam rumah meskipun akan terasa sempit.
Bilik Glagah Putih sendiri memang kosong. Bilik kecil itu
tidak dipergunakan, karena Glagah Putih duduk diamben
besar tempat Agung Sedayu tidur. Jika sudah waktunya, maka
ia tinggal membangunkan Agung Sedayu dan tidur di amben
itu pula.
Namun menjelang tengah malam, Glagah Putih mendengar
langkah lembut diluar dinding di sebelah biliknya. Karena itu,
maka iapun dengan hati-hati telah melangkah mendekat.
Namun Glagah Putihpun harus menjaga suara langkahnya
sendiri.
Beberapa saat Glagah Putih menunggu. Namun kemudian
ia menarik nafas dalam-dalam. Ia ternyata telah mengenal
desis diluar dinding. Pembantu rumah Agung Sedayu yang
tentu mengajaknya pergi ke sungai.
“Sst “desis Glagah Putih “hari ini aku tidak pergi ke sungai.
“
“Kenapa? “bertanya anak diluar dinding itu “kau memang
terlalu malas. Apalagi setelah gadis itu ada disini. “
“Ah kau “sahut Glagah Putih “kau tahu, bahwa aku harus
membantu paman. “
“Membantu apa malam-malam begini? “bertanya anak itu.
“Sudahlah. Lebih baik kaupun beristirahat malam ini. Kau
tahu tadi menjelang senja ada orang yang licik menyerang aku
didekat kandang? “bertanya Glagah Putih.
“Kau sendiri yang berpura-pura. Supaya kau dapat
menolong gadis itu “jawab anak itu.
“Jangan mengada-ada. Aku tarik hidungmu nanti “desis
Glagah Putih. Namun katanya “Beristirahatlah malam ini. Aku
bersungguh-sungguh. Sebaiknya kau cepat masuk kedalam. “
Anak itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia memang
merasakan kesungguhan pesan Glagah Putih itu sehingga
anak itupun telah mengurungkan niatnya.
Glagah Putih ternyata sempat pergi ke belakang lewat pintu
samping dan pergi ke bilik anak itu. Namun hanya sebentar.
Ia-pun kemudian kembali ketempatnya, duduk disebelah
Agung Sedayu yang sedang tidur. Namun ternyata Agung
Sedavu yang masih memejamkan matanya itu bertanya “Kau
dari mana? “
Glagah Putih sempat menceriterakan ajakan pembantunya
untuk pergi ke sungai.
“Aku nasehatkan agar anak itu tidak pergi ke sungai malam
ini meskipun pliridan sudah dibuka “berkata Glagah Putih.
“Kau benar “desis Agung Sedayu “meskipun anak itu tidak
tahu ujung pangkal persoalannya, tetapi ia akan dapat terkena
getahnya jika ia berkeliaran malam hari sementara anak Ki
Citrabawa itu tahu bahwa anak itu adalah penghuni rumah ini.
“
Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu Agung
Sedayu bertanya “Apakah kau sudah mengantuk? “
“Belum kakang. “jawab Glagah Putih “bukankah masih
belum sampai saatnya aku diganti? “
Agung Sedayu tersenyum. Namun kemudian ia menggeliat
sambil berkata “Baiklah. Tetapi kapan saja jika kau
mengantuk, bangunkan aku. “
“Baik kakang “jawab Glagah Putih. Demikianlah malam
itupun telah dilalui. Ketika Glagah Putih kemudian mengantuk,
maka yang berjaga-jaga adalah Agung Sedayu. Namun
agaknya malam sudah tidak terlalu panjang, sehingga Agung
Sedayu tidak berniat membangunkan Ki Jayaraga. Tetapi
ternyata Ki Jayaraga telah terbangun sendiri dan duduk pula
bersama-sama dengan Agung Sedayu, sementara Glagah
Putih justru telah tidur didalam biliknya.
Pagi terasa segar sekali. Seperti biasa. Agung Sedayu, Ki
Jayaraga dan Glagah Putih telah melakukan pekerjaan
masing-masing. Membersihkan halaman, kebun dan mengisi
jam-bangan pakiwan, sementara Sekar Mirah membersihkan
perabot didalam rumahnya. Didapur, pembantu dirumah
Agung Sedayu yang masih sangat muda itu duduk menunggui
perapian sambil memanaskan telapak tangannya.
Ternyata Rara Wulan tidak mau tinggal diam. Iapun telah
membantu Sekar Mirah. Namun ia masih selalu ingat, bahwa
sebaiknya ia tidak keluar dahulu dari rumah itu.
Dalam pada itu, Agung Sedayu, Ki Jayaraga dan Glagah
Putih yang melakukan pekerjaannya diluar rumah, tidak
kehilangan kewaspadaannya. Mereka selalu siap menghadapi
segala kemungkinan. Bahkan mereka telah siap melontarkan
ilmu mereka jika diperlukan.
Tetapi pagi itu, mereka juga tidak mengalami gangguan
apapun juga. Meskipun demikian Ki Lurah Branjangan dan
kedua cucunya dipersilahkan untuk tetap tinggal didalam
rumah. Kecuali jika mereka pergi ke pakiwan. Bahkan jika
mereka pergi ke pakiwan, Agung Sedayu, Ki Jayaraga dan
Glagah Putih menebar di halaman depan dan kebun belakang.
Tetapi ketika lewat tengah hari, maka yang tidak mereka
harapkan itu datang. Namun bagi Glagah Putih, hal itu
semakin cepat akan menjadi semakin baik. Persoalannya
segera selesai dan Ki Lurah Branjangan serta cucu-cucunya
tidak harus berada didalam rumah saja.
Ketika seisi rumah Agung Sedayu itu sedang makan, maka
Ki Lurah Citrabawa telah datang kerumah itu pula. Tetapi
seperti dihari sebelumnya, Ki Citrabawa itu tidak mau ikut
makan bersama mereka.
“Aku hanya datang untuk menyampaikan pesan itu “berkata
Ki Lurah Citrabawa.
Agung Sedayu yang menemui Ki Citrabawa menyertai Ki
Lurah Branjangan bertanya “Pesan apa lagi yang Ki Lurah
bawa sekarang ini? “
Ki Lurah Citrabawa termangu-mangu. Namun kemudian
katanya “Aku memang tidak mempunyai wewenang untuk
berbuat apapun diluar kehendak mereka. “
Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya “Pesan apa lagi
yang kau bawa? “
Ki Lurah Citrabawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya
“Jangan salah paham. Aku sama sekali tidak
mengarahkannya untuk berbuat begitu. Tetapi gurunya yang
telah membuatnya menjadi kasar seperti itu, meskipun
nampaknya ia dapat menjadi lembut. “
“Tetapi Ki Lurah belum mengatakan pesan itu “sela Agung
Sedayu.
Ki Lurah Citrabawa termangu-mangu. Keringat telah
membasahi keningnya, sedangkan rambutnya yang keputihputihan
terjurai ujungnya dibawah ikat kepalanya.
Ki Lurah Citrabawa itu memang nampak letih. Agaknya
iapun mengalami ketegangan lahir dan batinnya.
“Anak itu tidak dapat aku kendalikan lagi “berkata Ki Lurah
Citrabawa.
“Katakan, apakah pesan itu “minta Ki-Lurah Branjangan. Ia
justru menjadi iba melihat keadaan ki Lurah Citrabawa yang
gelisah.
“Ki Lurah Branjangan “berkata Ki Citrabawa “aku sudah
minta kepada anakku, agar ia mengurungkan niatnya untuk
mengambil cucu Ki Lurah. Tetapi anakku itu sama sekali tidak
mau mendengarkannya. Demikian ia merasa keadaannya
lebih baik karena gurunya berusaha untuk mengobatinya,
maka ia telah berniat untuk mengambil cucu Ki Lurah itu disini.
“
“Tetapi apakah pesan itu? “Agung Sedayu mendesak.
“Baiklah “Ki Lurah Citrabawa menarik nafas dalam-dalam
“Ki Sigarwelat minta agar nanti menjelang senja, Rara Wulan
sudah harus dibawa ke tempat yang sudah ditentukan.
Tempat yang kami pergunakan untuk mencoba mengambil
Rara Wulan dilereng bukit yang sepi itu. Jika kalian tidak
melakukannya, maka Ki Sigarwelat akan membunuh Glagah
Putih kapan saja ia kehendaki. Karena membunuh Glagah
Putih bagi Ki Sigarwelat akan sama mudahnya dengan
membunuh seekor katak. “Ki Lurah berhenti sejenak. Namun
tiba-tiba ia berkata selanjutnya “tetapi bukan aku yang
mengatakannya. Aku hanya menirukannya saja. “
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya “Apakah
tidak ada jalan lain? “
“Anakku dan Ki Sigarlewat sudah bertekad bulat untuk
mengambil cucu Ki Lurah. Bagi anakku, Rara Wulan adalah
gadis yang dianggapnya paling cantik yang pernah dilihatnya,
sementara bagi Ki Sigarwelat, hal itu sudah menyangkut harga
dirinya. “
“Apakah Ki Sigarlewat benar seorang yang berilmu tinggi
dan tidak dapat dikalahkan? “bertanya Agung Sedayu dengan
ragu-ragu. “
“Ya. Karena itu aku merasa ikut berprihatin “jawab Ki Lurah
Citrabawa. Lalu katanya pula “Aku tahu, bahwa sebaiknya
anakku tidak berbuat seperti itu. Tetapi aku tidak lagi mampu
mengendalikannya lagi. Ia sudah lepas seperti kuda lepas
kendali. Bahkan anakku itu sudah berani mengancam jika aku
tidak mau menurut perintahnya. Sudah barang tentu dengan
dukungan gurunya. “
Sebelum Ki Lurah Branjangan menyahut, Agung Sedayu
telah menyawab sambil mengangguk lemah “Baiklah Ki Lurah.
Jika memang itu yang dikehendaki oleh Ki Sigarwelat, tentu
kami tidak akan dapat mengelak lagi. Aku tentu akan
memberatkan Glagah Putih daripada orang lain. “
Wajah Ki Lurah Branjangan menjadi merah. Tetapi diluar
pengetahuan Ki Citrabawa, Agung Sedayu telah menggamit Ki
Lurah Branjangan sehingga Ki Lurah itupun mengerti, bahwa
tentu ada perhitungan lain yang dibuat oleh Agung Sedayu.
Karena itu, maka iapun telah mengendapkan nalarnya dan
mencoba untuk dapat mengerti. Meskipun demikian, Ki Lurah
Branjangan itu berkata “Aku tidak akan pernah menyerahkan
cucuku. “
“Ki Lurah tidak akan dapat menolak keinginanku. Disini Ki
Lurah tidak mempunyai kekuatan untuk menentangnya
“berkata Agung Sedayu.
Ki Lurah Branjangan termangu-mangu. Namun ia masih
menggeram “Hanya kematian yang dapat memaksa aku
menyerahkan Rara Wulan. “
Tetapi Agung Sedayu segera menyahut “Aku akan datang
membawa Rara Wulan. Serahkan caranya kepadaku. Nah,
aku minta Ki Lurah Citrabawa cepat meninggalkan rumahku,
agar aku sempat membuat persiapan-persiapan. “
Ki Lurah Citrabawa masih ragu-ragu. Namun kemudian
Agung Sedayu telah membentaknya “Cepat. Aku akan
kehabisan waktu jika kau tidak segera pergi. “
Ki Citrabawa itupun telah dengan tergesa-gesa minta diri.
Sementara Agung Sedayu menegaskan “Aku akan datang.
Urusan lain adalah urusanku. “
Ki Lurah Citrabawa itupun segera meninggalkan rumah
Agung Sedayu sementara Ki Lurah Branjangan menjadi
termangu-mangu.
“Jangan cemas Ki Lurah “berkata Agung Sedayu
“semuanya akan dapat kita atasi. “
“Aku sudah menduga “berkata Ki Lurah Branjangan “namun
nampaknya angger Agung Sedayu akan menempuh jalan
yang cukup berbahaya. “
“Mudah-mudahan tidak akan membuat Rara Wulan cidera
“jawab Agung Sedayu.
Seperti yang dikatakan, maka Agung Sedayu memang
telah mengadakan persiapan. Ia memang akan pergi ketempat
yang ditentukan oleh Ki Sigarwelat.
Disenja hari, maka semua orang didalam rumah Agung
Sedayu telah keluar. Mereka menuju kerumah Ki Gede.
Sebenarnyalah Ki Gede tidak sempat mempersilahkan mereka
duduk, karena beberapa diantara mereka akan melanjutkan
perjalanan. Agung Sedayu dan Glagah Putih akan membawa
Rara Wulan ke lereng bukit. Sementara Ki Jayaraga diminta
untuk berjaga-jaga dirumah Ki Gede.
Dalam keremangan senja, maka Glagah Putih berjalan
dipaling depan. Kemudian Rara Wulan berjalan terloncatloncat
karena kain panjangnya yang dikenakannya sesuai
dengan kedudukannya sebagai seorang gadis Kotaraja.
Bajunya yang rapat dan sanggulnya yang rapi. Rapat
dibelakangnya berjalan Agung Sedayu. Nampaknya mereka
mendorong perempuan yang berjalan didepannya, yang
agaknya perjalanan itu tidak sesuai dengan kehendaknya.
Beberapa saat kemudian, maka gelappun telah turun. Keti
ga orang yang berjalan itu menjadi semakin cepat. Dengan
tergesa-gesa mereka melintasi bulak-bulak panjang dan
kemudian memasuki jalan-jalan kecil. Mereka bertiga agaknya
memang menghindari perjalanan melalui padukuhan.
Akhirnya mereka bertiga telah sampai ketempat yang
dikehendaki oleh Ki Ajar Sigarlewat. Lereng bukit dimana
Glagah Putih telah mengalahkan anak Ki Lurah Citrabawa.
Beberapa saat mereka menunggu. Namun mereka belum
melihat seorangpun didalam gelapnya malam.
Namun beberapa saat kemudian terdengar suara tertawa.
Suara tertawa yang melingkar-lingkar. Lontaran suaranya itu
membentur dinding bukit, sehingga pantulan suara itu
menimbulkan gema yang menggaung panjang.
Perlahan-lahan suara itu mulai menurun sehingga akhirnya
berhenti sama sekali.
“Kenapa kau terlambat Agung Sedayu “terdengar suara
dari kegelapan.
- Aku berangkat disaat senja turun “jawab Agung Sedayu.
“Aku minta kau datang saat senja itu “berkata suara dari
dalam kegelapan itu.
“Lalu bagaimana? Apakah kami harus kembali? “bertanya
Agung Sedayu pula.
“Tentu tidak. “jawab suara itu “kami memerlukan Rara
Wulan. “
“Jadi bagaimana maksudmu? “bertanya Agung Sedayu.
“Serahkan Rara Wulan kepadaku. Bawa perempuan itu
melekat dinding bukit. Kemudian kalian berdua bergeser
menjauhinya. “berkata suara itu.
“Untuk apa? Kami sudah membawa gadis itu kemari.
Bukankah persoalan kita sudah selesai? Aku dan Glagah
Putih akan segera kembali. Aku tinggalkan Rara Wulan disini.
“berkata Agung Sedayu.
“Kalian akan kembali kemana? “bertanya suara itu.
“Kembali ke padukuhan induk. Aku masih mempunyai
persoalan dengan Ki Lurah Branjangan yang kini ditawan oleh
pengawal Tanah Perdikan. Para pengawal memang memilih
Glagah Putih, kawan mereka bermain, daripada Rara Wulan
yang belum dikenalnya. Karena itu, maka ijinkan kami kembali
ke padukuhan induk setelah memenuhi pesanmu membawa
Rara Wulan kemari “berkata Agung Sedayu.
Tetapi terdengar suara tertawa berkepanjangan.
Bergulung-gulung oleh gumannya yang panjang pula.
“Jangan bodoh Agung Sedayu “berkata suara itu.
“Apa maksudmu? “bertanya Agung Sedayu.
“Meskipun kau telah memenuhi pesanku, agar membawa
Rara Wulan kemari, namun kau telah melakukan kesalahan
“berkata suara itu.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian katanya “Ki Sanak. Kemarilah. Kita dapat berbicara
dengan baik. Bukankah kalian telah melihat bahwa akubersungguh-
sungguh? “
“Lakukan perintahku “berkata suara itu “kau tinggalkan
Rara Wulan didinding tebing itu. Kemudian kalian bergeser
menjauh. “
“Kami akan kembali ke padukuhan induk “sahut Agung
Sedayu.
“Dengar Agung Sedayu. Bukankah aku belum selesai
mengatakan tentang dua kesalahan yang telah kau lakukan?
“berkata suara itu.
“Apakah kesalahanku kepadamu? “bertanya Agung
Sedayu.
“Kau datang terlambat “jawab suara itu “yang kedua
muridmu sudah menyakiti muridku. Nah, hukuman untuk
kedua kesalahan itu adalah hukuman yang paling berat.
“berkata suara itu.
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun
kemampuannya telah menangkap dari mana suara itu
dilontarkan. Dengan kemampuannya mempertajam suara
karena Aji Pame-lingnya, serta kemampuannya menangkap
arah getaran, maka Agung Sedayupun tahu pasti, dimana Ki
Ajar Sigarwelat itu bersembunyi. Karena Agung Sedayu yakin
bahwa orang itu adalah Ki Ajar Sigarwelat.
Tetapi Agung Sedayu masih juga berkata “Ki Sanak. Aku
mohon Ki Sanak datang kemari. “
“Itu tidak perlu. Aku akan membunuh kalian dari tempat ini.
Tempat yang tidak kau ketahui. Karena itu, kau harus
memisahkan Rara Wulan dari kalian. Jika tidak maka gadis itu
akan ikut mati bersama kalian. “berkata suara itu.
Namun tiba-tiba saja Agung Sedayu justru telah
menangkap Rara Wulan dan memeganginya erat-erat
didadanya. “Katanya “Nah, lontarkan ilmumu, apapun ujudnya.
Sapu angin atau yang lain. Gadis ini akan mati bersamaku. “
Sejenak suasana menjadi hening. Namun kemudian
terdengar suara “Kau licik Agung Sedayu. Aku memerlukan
gadis itu. “
“Aku tidak peduli. “jawab Agung Sedayu. Sementara itu
Glagah Putihpun telah bergeser mendekat pula “Ayo, bunuh
kami bertiga. “
“Jangan guru “tiba-tiba terdengar suara lain, yang dengan
cepat dapat dikenali arahnya.
“Anak dungu “terdengar suara pertama “suaramu telah
menunjukkan kepada mereka, dimana kita berada.
“Ampun guru. Tetapi gadis itu jangan dibunuh. “minta suara
yang lain.
Orang yang pertama itu tertawa. Katanya “Baiklah. Aku
akan mengampuni mereka. “
“Jadi? “bertanya suara yang lain itu.
“Marilah. Kita mendekat saja “jawab suara yang pertama.
Sebenarnyalah beberapa saat kemudian, dari dalam
kegelapan telah muncul dua orang yang melangkah
mendekati Agung Sedayu yang masih memegangi Rara
Wulan.
Glagah Putih segera mengenali seorang diantara mereka.
Seorang yang pernah dikalahkannya sebelumnya. Anak
bungsu Ki Lurah Citrabawa. Yang seorang lagi, yang belum
pernah dilihatnya itu tentu Ki Ajar Sigarwelat.
Agung Sedayu yang meskipun belum pernah melihat
mereka semuanya, namun ia mampu menduga tentang
keduanya itu.
“Lepaskan gadis itu “berkata orang yang diduga adalah Ki
Sigarwelat.
“Siapa kau? “bertanya Agung Sedayu untuk meyakinkan
dirinya sendiri “apakah kau Ki Ajar Sigarwelat? “
Orang yang mendekatinya itu mengangguk kecil sambil
menjawab “Ya. Aku adalah Ki Ajar Sigarwelat. Nah, sekarang
serahkan gadis itu kepadaku. “
Tiba-tiba jawaban Agung Sedayu mengejutkan “Tidak.
“Kenapa? “bertanya Ki Ajar “kau sudah berjanji untuk
menyerahkan gadis itu. “
“Aku datang memang untuk menyerahkan gadis ini. Tetapi
aku tidak mau mati disini. Jika gadis ini sudah aku serahkan,
maka kau tentu akan membunuh kami. Karena itu,
maka gadis ini akan aku bawa kembali ke padukuhan induk.
Ikut kami, dan baru setelah kami berada diantara para
pengawal Tanah Perdikan, bawa gadis ini. “jawab Agung
Sedayu.
“Kau jangan menjadi gila “geram Ki Sigarwelat “kau tahu
akibatnya jika aku menjadi marah? “
“Tetapi ancamanmu untuk membunuh kami tentu tidak
akan dapat kami abaikan. Nah, sekarang biarlah kami kembali
ke padukuhan induk. “berkata Agung Sedayu.
“Pengecut licik. Inikah orang yang disebut guru Glagah
Putih? Jika muridmu telah menyakiti muridku, kenapa gurunya
demikian liciknya dan bahkan pengecut. Jika kau seorang lakilaki,
maka kau tidak akan berlaku seperti itu. Kenapa kau tidak
melawan aku? “bertanya Ki Sigarwelat.
- “Jika aku hanya berdua saja dengan muridku, maka aku
akan melawanmu, “jawab Agung Sedayu.
“Kenapa sekarang? “bertanya Ki Ajar.
“Aku membawa seorang gadis “jawab Agung Sedayu.
“Jika demikian, pergilah. Tinggalkan gadis itu disitu “geram
Ki Ajar Sigarwelat yang telah kehilangan kesabarannya.
“Aku tidak mau. Aku akan membawa gadis ini kembali.
Baru setelah kami berdua yakin akan selamat, kami akan
melepaskan gadis ini. “berkata Agung Sedayu.
Ternyata Ki Ajar tidak sabar lagi. Katanya kepada muridnya
“Kau coba melawan anak itu sekali lagi. Aku akan membunuh
gurunya. Aku tidak mempunyai pilihan lain. “
“Tetapi jangan bunuh gadis itu “muridnya meminta.
Ki Ajar tertawa, katanya “Aku tidak akan membunuh gadis
itu. Tetapi aku akan membunuh Agung Sedayu yang aku kira
seorang laki-laki yang tangguh dan tanggon. Tetapi ternyata ia
hanya berani bersembunyi dibelakang punggung seorang
gadis. “
“Apa yang akan guru lakukan? “bertanya muridnya.
“Aku akan mendekatinya. Aku tidak akan membunuhnya
dengan ilmuku yang dilandasi dengan Aji Sapu Angin. Tetapi
aku akan menjangkaunya dengan tanganku, mencekiknya dan
membunuhnya. “berkata Ki Ajar.
Muridnya mengangguk-angguk. Ia yakin bahiwa gurunya
akan berhasil, karena gurunya adalah seorang yang tidak ada
duanya.
Selangkah demi selangkah anak Ki Lurah Citrabawa itu
mendekati Glagah Putih. Semakin lama semakin dekat,
sementara Glagah Putih menjadi tegang. Namun tiba-tiba saja
Glagah Putihlah yang meloncat menyerangnya.
Serangan itu memang tidak terduga-duga. Namun murid Ki
Ajar itu sempat mengelak. Bahkan ia telah menyerang kembali
dengan sepenuh tenaga.
Glagah Putih bergeser justru menjauh. Bahkan ia sempat
berdesis “Luar biasa. Kau telah sembuh sama sekali. “
Ki Ajarlah yang tertawa. Katanya “Satu diantara keajaiban
yang dapat aku lakukan. “
Namun kemudian Ki Ajar itu berpaling kepada Agung
Sedayu “Sekarang aku akan membunuhmu. “
Agung Sedayu bergeser surut ketika Ki Ajar itu menjadi
semakin dekat. Namun tiba-tiba Rara Wulan itulah yang
meronta, sehingga pegangan Agung Sedayu terlepas.
“Bagus “Ki Ajar hampir berteriak “ternyata gadis itu telah
membantuku. “
“Persetan “Agung Sedayu menggeram. Namun ketika ia
melangkah mendekati Rara Wulan, Ki Ajar berkata “Jangan
sentuh gadis itu lagi. Aku dapat membunuhmu dari tempat aku
berdiri sekarang. “
Agung Sedayu memang tertegun. Namun kemudian
katanya “Kau mau apa. Ambil gadis itu. Aku akan kembali ke
padukuhan induk. “
Ki Ajar Sigarwelat tertawa. Katanya diantara suara tertawanya
yang berkepanjangan. “Nasibmu memang buruk
Agung Sedayu. Kau akan mati disini. Aku dapat membunuhmu
lebih cepat daripada muridmu menyelesaikan pertempurannya
melawan muridku, meskipun aku harus mengakui, bahwa
muridmu itu memiliki kelebihan dari muridku. “
Agung Sedayu bergeser selangkah. Tiba-tiba saja nada
suaranya berubah. Dengan nada rendah ia bertanya “Jadi kita
harus bertempur sekarang? “
Ki Sigarwelat ternyata memiliki panggraita yang tajam.
Perubahan nada suara Agung Sedayu dapat ditangkapnya,
sehingga terasa getar jantungnya.
“Baiklah “berkata Agung Sedayu kemudian sambil
melangkah maju “kita akan bertempur. Kapan kita akan mulai?
Ki Sigarwelat menggeram. Katanya “Bersiaplah untuk mati
sekarang. “
Agung Sedayu melangkah semakin maju. Namun
Sigarwelat ternyata tidak memberinya kesempatan untuk maju
lebih dekat lagi. Karena itu, maka Sigarwelatlah yang justru
telah mendahuluinya menyerang.
Agung Sedayu dengan tangkasnya mengelak. Namun Ki
Ajar Sigarwelat tidak memberinya kesempatan. Dengan cepat
ia memburu dan menyerang beruntun.
***
API DI BUKIT MENOREH SERI III
JILID 237
AGUNG SEDAYU masih saja bergeser untuk mengelak.
Bahkan kemudian ia telah meloncat mengambil jarak,
sehingga menjauhi Rara Wulan yang berdiri termangu-mangu
dalam kegelapan.
Demikianlah, maka Agung Sedayupun segera terlibat
dalam pertempuran sengit. Ia tidak sekedar berloncat
mengelakkan serangan lawannya, tetapi Agung Sedayupun
telah berganti menyerang.
Ki Sigarwelat memang sudah memperhitungkan bahwa
Agung Sedayu tentu memiliki ilmu yang tinggi, menilik
kemampuan muridnya mengalahkan anak Ki Citrabawa itu.
Menurut pendapatnya anak Ki Citrabawa itu telah mempunyai
ilmu yang memadai. Namun ternyata telah dikalahkan oleh
seorang anak yang masih terlalu muda.
Dalam pada itu, Ki Ajar Sigarwelat menyadari, bahwa ia
harus mampu mengalahkan lawannya dengan cepat. Jika
tidak, maka anak muridnya itu akan dapat menjadi korban.
Dengan demikian, maka Ki Ajar itu telah meningkatkan
ilmunya dengan cepat. la ingin segera dapat mengalahkan
Agung Sedayu dan kemudian meninggalkan tempat itu. Jika ia
telah berhasil membunuh Agung Sedayu, maka Glagah Putih
bukan lagi persoalan baginya.
Tetapi ternyata bahwa Agung Sedayu memang terlalu liar
untuk dapat dibinasakan segera. Ia merasa bahwa dibutuhkan
waktu untuk membunuh guru Glagah Putih itu. Sementara itu
muridnya yang bertempur melawan Glagah Putih, tentu akan
segera terdesak. Bahkan mungkin akan membahayakan
jiwanya.
Karena itu setelah mereka bertempur beberapa saat, Ki
Ajar Sigarwelat merasa perlu untuk melindungi muridnya yang
tertua dan yang dianggapnya terbaik itu. Murid yang
dipersiapkan untuk mampu melaksanakan tugas-tugasnya di
padepokan jika Ki Ajar Sigarwelat itu menjadi semakin tua.
Dalam beberapa tahun terakhir, diharapkan muridnya itu
mampu mewarisi segala ilmunya. Meskipun masih harus
dikembangkannya.
Tetapi menurut perhitungan Ki Ajar, ia memang
memerlukan waktu yang telah lama untuk membunuh Agung
Sedayu, sehingga ia harus mengambil jalan lain yang
memang sudah dipersiapkan. Karena itu, maka sejenak
kemudian telah terdengar suitan nyaring. Suaranya bergetar
membelah udara dan membentur lereng bukit. Gemanya
mengumandang di gelapnya malam.
Agung Sedayu dan Glagah Putih berdebar karenanya.
Isyarat itu tentu akan menimbulkan perubahan pada lingkaran
pertempuran itu.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian maka seseorang telah
meloncat dari dalam gerumbul liar yang disaput oleh
kegelapan malam. Demikian cepatnya bayangan itu bagaikan
terbang langsung kearah Rara Wulan.
Terdengar suara Ki Ajar Sigarwelat tertawa, katanya,
“Sayang Agung Sedayu. Kau tidak akan mempunyai pilihan
lain. Rara Wulan akan segera kami kuasai. Perlawananmu
tidak akan mempunyai arti apa-apa.”
Tetapi jawaban Agung Sedayu memang masih saja
mantap, “Bawalah gadis itu. Sudah aku katakan. Aku tidak
berkeberatan asal kau lepaskan kami pergi.”
“Tidak. Kami bawa gadis itu, dan kau tidak akan terlepas
dari tanganku. Jika kau memang tidak terpengaruh lagi sikap
apapun yang kami lakukan atas gadis itu, maka biarlah
muridku kedua itu membantu kakak seperguruannya untuk
membunuh muridmu.” berkata Ki Ajar Sigarwelat.
Agung Sedayu yang meloncat mengambil jarak sempat
melihat laki-laki yang disebut murid kedua Ki Ajar Sigarwelat
itu kemudian telah berdiri disebelah Rara Wulan.
“Singkirkan gadis itu. Jangan beri kesempatan ia melarikan
diri. Tutup simpul syaraf yang menggerakkan kakinya.
Kemudian kau bantu kakangmu membinasakan Glagah Putih.”
berkata Ki Ajar Sigarwelat.
Murid kedua itu menyahut, “Aku akan melakukan sebaikbaiknya
guru.”
“Cepat lakukan.” berkata Ki Ajar.
“Ternyata kau licik.” berkata Agung Sedayu, “kau siapkan
orang ketiga.”
“Apa keberatanmu.” jawab Ki Ajar, “aku memang telah
mempersiapkan. Pertempuran seperti ini memang sudah aku
perhitungkan. Tetapi aku salah menilai harkat
kemanusiaanmu. Aku kira kau akan mengorbankan diri ketika
gadis itu terancam. Tetapi agaknya kau sama sekali tidak
memperdulikannya. Aku menduga, bahwa dengan menguasai
gadis itu, maka kau akan menghentikan perlawananmu.”
“Gadis itu bukan anakku.” sahut Agung Sedayu.
“Bagus.” sahut Ki Ajar. Lalu katanya kepada muridnya,
“Cepat lakukan. Kau menunggu apa lagi. Jangan sakiti gadis
itu. Tetapi jangan sampai ia melarikan diri.”
“Baik guru.” jawab murid kedua itu.
Sementara itu Ki Sigarlewat semakin meningkatkan
ilmunya untuk mendesak Agung Sedayu. Tetapi Glagah Putih
justru telah benar-benar menguasai arena. Lawannya setiap
kali telah berloncatan menjauh untuk menghindari serangan
Glagah Putih yang datang beruntun. Anak Ki Citrabawa itu
justru menjadi ragu-ragu untuk mempergunakan ilmu Sapu
Anginnya yang masih terlalu dasar. Ia yakin, jika ia
mencobanya maka ia tentu akan mengalami kesulitan, yang
sama seperti yang pernah terjadi karena Glagah Putih telah
membentur ilmunya itu.
Karena itu, maka saudara seperguruannya tidak dapat
tinggal diam. Keduanya akan dapat memperhitungkan
kemungkinan untuk mengalahkan Glagah Putih. Meskipun
ilmu mereka masih belum memadai dibanding dengan Glagah
Putih, tetapi berdua mereka dapat menarik perhatian Glagah
Putih, sementara anak Ki Citrabawa itu melepaskan Sapu
Anginnya.
Dengan demikian, maka murid kedua itu segera menutup
simpul syaraf Rara Wulan, agar gadis itu tidak dapat melarikan
diri. Dengan sigapnya murid ke dua itu meloncat mendekati
Rara Wulan. Ia telah siap untuk menyentuh simpul-simpul
syaraf dipunggung gadis itu, sehingga gadis itu seakan-akan
menjadi lumpuh. Dengan demikian maka gadis itu tidak akan
sempat melarikan diri.
Tetapi yang terjadi benar-benar diluar dugaan. Demikian
orang itu siap menyentuh simpul syarafnya dengan ujungujung
jari tangannya yang merapat, maka gadis itu dengan
serta merta telah bergeser selangkah. Tiba-tiba tangan gadis
itu terayun deras sekali menghantam wajah murid kedua di Ki
Ajar Sigarwelat.
Murid kedua Ki Ajar itu terpelanting beberapa langkah dan
kemudian terbanting jatuh. Namun dengan tangkasnya ia
meloncat bangkit meskipun wajahnya terasa betapa
panasnya. Namun demikian ia berdiri tegak, maka yang berdiri
dihadapannya bukan lagi seorang gadis yang ketakutan.
Tetapi seorang perempuan dalam pakaian khusus. Kain
panjangnya sudah dilemparkannya ditanah bersama bajunya
yang terlalu sempit.
Yang terjadi itu memang telah menarik perhatian. Ki Ajar
Sigarwelat dan muridnya yang pertama telah berloncatan
mengambil jarak untuk melihat apa yang telah terjadi.
Muridnya yang kedua masih berdiri termangu-mangu.
Dengan nada tinggi ia bertanya, “Apa yang telah kau
lakukan?”
Sebelum perempuan itu menjawab, maka anak Ki
Citrabawa itupun berteriak, “Perempuan itu tentu bukan Rara
Wulan.”
“Ya. Aku memang bukan Rara Wulan.” sahut perempuan
itu.
“Siapa kau?” bertanya murid kedua itu.
“Namaku Sekar Mirah. Aku adalah isteri kakang Agung
Sedayu.” jawab perempuan itu.
“Gila.” geram Ki Ajar Sigarlewat, “jadi inilah yang kau
lakukan? Agung Sedayu. Kau telah membuat aku sangat
marah.”
Tetapi jawab Agung Sedayu tidak kalah tegasnya, “Kau
telah membuat aku marah sejak kemarin.”
“Persetan.” geram Ki Ajar Sigarlewat, “jika Rara Wulan
bukan sanak kadangmu, maka sekarang yang ada disini
adalah justru isterimu. Muridku kedua tidak akan segan-segan
membunuhnya.”
“Isteriku sifatnya lebih keras dari aku. Sebelum aku
membunuhmu, agaknya isteriku telah melakukannya atas
muridmu jika muridmu itu tidak menyerah.” berkata Agung
Sedayu.
“Kau terlalu sombong.” geram Ki Ajar.
“Nah Ki Ajar. Sebaiknya Ki Ajar mengurungkan niat Ki Ajar.
Muridmu, anak Ki Lurah itupun harus berjanji tidak akan
mengganggu Rara Wulan lagi. Sedangkan murid keduamu
harus minta maaf kepada isteriku, karena ia sudah berani
mencoba membuatnya lumpuh.” berkata Agung Sedayu.
“Jangan menyesal jika kalian bertiga akan mati disini.”
berkata Ki Ajar Sigarwelat, “meskipun aku masih berniat untuk
membunuhnya dengan tanganku tanpa mempergunakan Aji
Sapu Angin, namun jika keadaan memaksa, maka aku akan
dengan serta merta mempergunakan. Bukan saja atasmu,
tetapi juga atas murid dan isterimu.”
Ki Ajar Sigarwelat yang menjadi sangat marah itu tidak
menunggu lebih lama lagi. Dengan suara lantang ia berteriak,
“Bunuh isteri Agung Sedayu. Bunuh Glagah Putih dan aku
akan membunuh Agung Sedayu. Setelah itu, kami akan
memasuki Tanah Perdikan Menoreh untuk mengambil Rara
Wulan. Namun karena kalian sudah menyakiti hatiku, maka
aku akan membakar padukuhan induk Tanah Perdikan itu
meskipun Rara Wulan telah ada ditanganku. Jangan menyesal
bahwa Tanah Perdikan Menoreh akan menjadi rata dengan
tanah.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Jangan membual lagi Ki Ajar. Kami sudah bertekad untuk
menghentikan tingkah lakumu itu. Aku tidak tahu, jalur
perguruan manakah yang kau anut, karena jalur perguruan
yang menurunkan ilmu Sapu Angin pada mulanya tidak
mencerminkan tingkah laku sebagaimana kau lakukan.
Mungkin ilmumu bersumber dari padepokan Kaliwalik didekat
suwangan Kali Bagawanta, atau bersumber dari padepokan
yang lain, namun yang aku hadapi sekarang adalah Ki Ajar
Sigarwelat yang telah dengan menyalah gunakan
kemampuannya yang tinggi akan merampas kebebasan dan
kemerdekaan orang lain, dalam hal ini, Rara Wulan. Satu
tindakan yang tidak terpuji. Dengan ilmu yang, tinggi,
seharusnya kau melindungi orang-orang lemah. Tetapi kau
sudah berbuat sebaliknya.”
“Cukup.” teriak Ki Ajar Sigarwelat. Lalu katanya kepada
murid-muridnya yang pertama, “Cobalah bertahan untuk
bebarapa lama. Aku akan segera membinasakan Agung
Sedayu sementara itu adikmu akan dengan cepat membunuh
isteri Agung Sedayu yang tidak kalah sombongnya dari
suaminya.”
Anak Ki Citrabawa itu memang menjadi cemas. Sejak
semula ia telah menyadari, bahwa ia tidak akan menang atas
Glagah Putih. Tetapi ia harus bertahan untuk tetap hidup
beberapa lama, sampai saatnya adik seperguruannya itu
datang membantunya. Atau bahkan gurunya sendiri. Namun
justru karena itu, maka ia tidak berani melontarkan ilmu Sapu
Anginnya. Jika Glagah Putih membentur ilmunya itu, maka ia
akan kehilangan kesempatan untuk bertahan lebih lama lagi.
Dengan demikikian maka anak Ki Lurah Citrabawa itu akan
mencoba untuk menghindari saja seandainya lawannya
menyerang dengan ilmunya, sambil menunggu kesempatan
yang paling baik untuk mungkin ada kesempatan menyerang
dengan Aji Sapu Angin.
Dalam pada itu, Sekar Mirahpun telah bersiap menghadapi
murid kedua Ki Ajar Sigarwelat. Sesaat keduanya masih
berdiri berhadapan. Dengan nada geram murid kedua itu
berkata, “Jangan menyesal bahwa kau akan mati karena
tingkah lakumu. Dengan berpura-pura menjadi Rara Wulan,
kau telah menjerumuskan dirimu sendiri kedalam maut.”
“Aku sudah siap.” berkata Sekar Mirah.
Murid kedua itu menggeretakkan giginya. Dengan
kemarahan yang menghentak-hentak didadanya ia telah
bergeser selangkah surut. Pukulan Sekar Mirah masih terasa
sakit di wajahnya.
Sekar Mirah tidak melangkah maju. Tetapi ia segera
bersiap, ia sadar sepenuhnya, bahwa lawannya tengah
mengambil ancang-ancang.
Sebenarnyalah sejenak kemudian lawannya itu telah
meloncat dengan derasnya. Dengan kakinya ia menyerang
kearah dada Sekar Mirah. Namun Sekar Mirah telah bersiap.
Karena itu, maka iapun segera bergeser selangkah
kesamping. Tetapi lawannya tidak membiarkannya. Demikian
ia berdiri tegak, maka tubuhnya segera berputar. Kakinya
terayun mendatar mengarah lambung.
Sekali lagi Sekar Mirah meloncat mundur untuk
menghindari serangan kaki yang berputar itu. Namun agaknya
lawannya tidak ingin melepaskannya. Karena itu, maka iapun
kemudian telah meloncat maju dengan tangan terjulur lurus
kearah bahu. Jari-jarinya yang lurus merapat akan dapat
melumpuhkan tangan Sekar Mirah jika bahunya tersentuh oleh
serangan itu.
Namun Sekar Mirah masih juga sempat mengelak. Tetapi
Sekar Mirah tidak sekedar merendahkan diri sambil bergeser
setapak menyamping. Namun demikian tangan lawannya
terjulur sedikit diatas kepalanya, maka kakinyapun telah
berputar menyapu kaki lawan. Tetapi lawannyapun cukup
tangkas. Sambil meloncat, maka kakinya terayun kearah dagu
Sekar Mirah. Ternyata Sekar Mirah cukup tangkas. Sambil
menengadahkan wajahnya Sekar Mirah telah luput dari
sentuhan tumit kaki lawannya. Bahkan Sekar Mirah telah
mempergunakan kesempatan itu. Iapun justru berbaring.
Namun dengan tangkasnya satu kakinya berputar. Kemudian
tubuhnya berguling dengan kaki bergerak menyilang.
Ternyata kaki Sekar Mirah berhasil memutar kaki lawannya
yang menjadi tumpuan selama kakinya yang lain terayun ke
arah dagu Sekar Mirah. Karena itu, maka orang itu justru
terpelanting jatuh.
Dengan tangkasnya orang itu justru berputar pada
pundaknya, berguling dan meloncat bangkit. Namun demikian
ia berdiri, ternyata Sekar Mirah telah lebih dahulu siap. Sekali
lagi kaki Sekar Mirah terjulur langsung mengarah kedadanya.
Murid kedua Ki Ajar Sigarwelat itu tidak sempat mengelak.
Karena itu maka dengan cepat ia menyilangkan tangannya
untuk melindungi dadanya.
Kaki Sekar Mirah memang menghantam tangan lawannya
yang bersilang. Tetapi serangan Sekar Mirah cukup keras,
sehingga orang itu telah terdorong surut. Dengan susah payah
orang itu berusaha untuk tidak lagi terbanting jatuh. Bahkan
iapun kemudian telah meloncat beberapa langkah mundur
untuk memperbaiki keadaannya.
Sekar Mirah mengurungkan niatnya untuk memburu ketika
orang itu benar-benar telah siap. Namun Sekar Mirah telah
berdiri tegak pada kakinya yang renggang memandangi
lawannya yang mulai terengah-engah. Bukan saja karena ia
harus membebaskan diri dari libatan serangan Sekar Mirah,
tetapi juga karena kemarahan yang terasa menyesakkan
dadanya.
“Iblis betina.” geram orang itu, “darimana kau mempelajari
ilmu seperti itu. Ilmu yang hanya pantas dimiliki oleh para
perampok dan penyamun.”
“Marilah.” sahut Sekar Mirah, “kita selesaikan pertempuran
ini. Tidak ada gunanya kau mencela ilmuku, karena aku lebih
tahu tentang ilmuku dari kau.”
“Persetan.” geram orang itu, “kau jangan mengira bahwa
dengan demikian kau telah menang.”
“Aku memang tidak menganggapnya demikian. Aku belum
menang. Jika tubuhmu telah terkapar ditanah dan tidak
mampu lagi bergerak, maka baru aku akan menengadahkan
dadaku, mengangkat tanganku sambil berteriak bahwa aku
telah menang.” jawab Sekar Mirah.
“Aku belum pernah melihat orang yang sesombong kau.”
berkata orang itu kemudian.
“Itulah kelebihanku dari orang lain.” jawab Sekar Mirah.
“Setan kau.” orang itu mengumpat-umpat.
Sementara itu Sekar Mirah justru tersenyum. Namun
agaknya lawannya tidak sempat melihatnya, apalagi dalam
malam yang gelap itu.
“Sejak sekarang aku tidak akan mengekang diri lagi.”
geram murid kedua Ki Ajar itu, “meskipun lawanku hanya
seorang perempuan. Bukan salahku jika kau mengalami nasib
buruk.”
“Sejak semula kau hanya mengancam saja.” Sahut Sekar
Mirah.
Wajah orang itu menjadi merah. Tetapi ia masih berkata,
“Aku datang dari tempat yang jauh. Aku tidak mau dihinakan
disini. Karena itu, aku akan benar-benar membunuhmu.”
“Dari mana?” bertanya Sekar Mirah, “bukankah anak Ki
Citrabawa itu semula tinggal di Pajang? Menurutmu Pajang itu
sangat jauh?”
“Kakak seperguruanku memang berasal dari Pajang. Tetapi
perguruan kami tidak berada di Pajang.” jawab murid kedua
itu.
Sebelum Sekar Mirah sempat menyahut, terdengar Ki
Sigarwelat berteriak, “Cepat, bunuh saja perempuan itu.”
Murid kedua itu menyahut lantang, “Baik guru. Aku akan
membunuhnya.”
Tetapi katanya kepada Sekar Mirah, “Kau cantik.
Sebetulnya sayang sekali jika kau harus dibunuh dalam
pertempuran ini. Bukankah kau yang seharusnya berkorban
untuk gadis itu?”
Terasa telinga Sekar Mirah menjadi panas mendengar
pujian itu. Justru karena itu, maka iapun menjadi marah.
Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah menyerang.
Lawannya memang terkejut. Namun ia masih sempat
menghindari dengan bergeser selangkah menyamping.
Bahkan orang itu telah mencoba untuk menyerang kembali
dengan me-mukul bahu Sekar Mirah yang kehilangan
sasaran. Tetapi orang itu tidak menduga sama sekali bahwa
tiba-tiba saja Sekar Mirah itu berputar. Ayunan kakinya
mendatar ternyata hampir saja menyentuh lambungnya.
Dengan tergesa-gesa orang itu bergeser pula surut.
Namun Sekar Mirah tidak melepaskan lawannya. Sekali
lagi ia berputar. Kakinya yang lainlah yang kemudian terjulur
lurus.
Lawannya masih juga berusaha untuk mengelak. Tetapi
Sekar Mirah ternyata mampu bergerak lebih cepat sehingga
orang itu harus mengumpat ketika serangan itu telah
mengenai lengannya. Serangan itu memang tidak terlalu
keras, sebagaimana serangan kaki Sekar Mirah didadanya.
Tetapi ketangkasan perempuan itu memang mendebarkan
jantungnya.
Pada pertempuran seterusnya ternyata bahwa kemampuan
Sekar Mirah sulit untuk diimbanginya. Perempuan itu mampu
bergerak dengan cepatnya. Berloncatan mengitari lawannya
dan kemudian menyerangnya dari segala arah.
Di lingkungan pertempuran yang lain, Ki Ajar Sigarwelat
ternyata harus mengakui kenyataan bahwa Agung Sedayu
memiliki ilmu yang tidak mudah diatasinya. Bahkan Ki Ajar
Sigarwelat mulai merasa heran, bahwa di Tanah Perdikan itu
ada seseorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Tetapi
agaknya orang itu tidak terlalu banyak melakukan
pengembaraan atau berbuat sesuatu untuk kepentingan yang
luas diantara orang-orang berilmu, sehingga namanya tidak
terdengar dari jarak yang agak jauh. Apalagi umurnya yang
memang terhitung masih muda, sehingga namanya belum
tersebar diantara mereka yang berkeliaran didunia kanuragan.
Ki Sigarwelat yang merasa dirinya memiliki pengalaman
yang sangat luas serta ilmu yang sangat tinggi, mulai merasa
tersinggung. Bukan saja marah karena sikap Agung Sedayu,
tetapi bahwa setelah ia bertempur beberapa lama, sama
sekali tidak nampak kelebihannya dari lawannya.
Setiap kali Ki Ajar Sigarwelat meningkatkan ilmunya, maka
Agung Sedayu selalu dapat mengimbanginya, sehingga rasarasanya
Ki Ajar itu tidak akan dapat menggapai satu tingkatan
yang lebih tinggi dari kemampuan Agung Sedayu.
Namun Ki Ajar yang merasa dirinya termasuk orang-orang
terpenting dalam dunia kanuragan itu telah melihat Agung
Sedayu dalam pertempuran berjarak pendek. Ki Ajar
memperhitungkan bahwa pengenalannya atas berbagai
macam unsur dari bermacam-macam ilmu tentu lebih banyak
dari Agung Sedayu. la harus berusaha membuat Agung
Sedayu itu bingung, sementara pada jarak jangkau tangannya
ia akan dapat meraba Agung Sedayu dengan jari-jarinya yang
mengembang.
Agung Sedayu yang juga memiliki pengalaman yang cukup
segera menyadari bahwa lawannya tentu memiliki
kemampuan ilmu yang dapat dilepaskannya dengan sentuhan
wadagnya.
Tiba-tiba saja Agung Sedayu justru ingin tahu, ilmu apakah
yang akan dihadapinya. Meskipun demikian Agung Sedayu
telah melindungi dirinya dengan ilmu kebalnya, sehingga ia
tidak akan mengalami terlalu banyak kesulitan jika ilmu
lawannya yang belum pernah dikenalnya itu ternyata
merupakan ilmu yang sangat tinggi.
Namun Agung Sedayupun memperhitungkan kemungkinan
dipergunakannya racun. Meskipun bagi Agung Sedayu racun
bukannya sesuatu yang membuatnya cemas, tetapi jika muridmurid
Ki Ajar itu juga mempergunakan, maka hal itu akan
sangat berbahaya terutama bagi Sekar Mirah.
Dalam pertempuran yang terjadi kemudian, Ki Ajar
memang telah bertempur dengan cepat sekali. Ia tidak mau
membiarkan Agung Sedayu mengambil jarak. Bahkan suatu
saat, kemampuannya yang memang sangat tinggi, telah
dipergunakan sebaik-baiknya dilandasi dengan
kemampuannya bergerak cepat sekali. Ketika Agung Sedayu
bergeser memiringkan tubuhnya menghindari serangannya,
orang itu bagaikan menggeliat. Tangannya yang lain telah
terayun dengan cepat sekali mendatar dengan jari-jari yang
terkembang.
Agung Sedayu memang terkejut ketika jari-jari tangan itu
mengenai lengannya. Meskipun Agung Sedayu telah
mengenakan ilmu kebalnya, namun ia masih merasakan
betapa ujung-ujung jari itu rasa-rasanya akan mengoyak
kulitnya.
“Luar biasa.” berkata Agung Sedayu didalam hatinya,
“seandainya aku tidak mengenakan ilmu kebal, maka aku kira
daging di lenganku telah dikoyakkannya. Bahkan mungkin
segumpal daging telah terlepas dari tulangnya.”
Tetapi sebaliknya Ki Ajar Sigarwelat itu terkejut bukan
buatan karena ia tidak berhasil mengoyak daging Agung
Sedayu. Bahkan demikian jantungnya bergejolak, sehingga Ki
Ajar Sigarwelat itu telah meloncat beberapa langkah surut
untuk mengambil jarak. Dengan wajah yang tegang
dipandanginya Agung Sedayu yang berdiri tegak. Agung
Sedayu memang tidak memburunya. Namun selangkah demi
selangkah ia berjalan mendekati lawannya.
“Kau memang anak iblis.” geram Ki Sigarwelat, “aku tidak
mengira bahwa disini ada seorang yang memiliki ilmu kebal.”
“Ki Ajar Sigarwelat.” berkata Agung Sedayu, “sebaiknya
urungkan saja niatmu. Berjanjilah bahwa kau tidak akan
mengganggu lagi Ki Lurah Branjangan dan cucu-cucunya.
Karena kau seorang Ajar, meskipun selama ini nampaknya
kau tidak dapat dipercaya, namun aku akan mencoba
mempercayaimu. Bagaimanapun juga kau tentu masih
mempunyai harga diri dan berusaha untuk menepati janji yang
kau ucapkan secara khusus.”
“Cukup.” teriak Ki Ajar Sigarwelat, “kau memang terlalu
sombong. Kau kira dengan ilmu kebalmu itu kau dapat
mengalahkan aku? Kau harus mengerti, bahwa ilmu yang aku
tuangkan dalam sentuhan jari-jariku masih belum sampai ke
puncak. Aku yakin, bahwa ilmuku akan dapat menembus ilmu
kebalmu.”
“Mungkin kau dapat melakukannya.” jawab Agung Sedayu,
“tetapi apa salahnya jika kita mengurungkan pertempuran
yang lebih keras lagi. Kita berbicara dengan baik dan menilai
apa yang telah terjadi ini.”
“Persetan.” geram Ki Ajar Sigarwelat, “kau jangan mencoba
membujukku agar aku tidak membunuhmu. Bagaimanapun
juga aku tetap akan membunuhmu. Aku akan menghancurkan
Tanah Perdikan Menoreh meskipun aku hanya bertiga. Jika
kau sudah mati, maka tidak akan ada orang yang dapat
mencegahku.”
“Di Tanah Perdikan ini ada Ki Gede Menoreh. Kau tidak
akan mampu mengalahkarmya.” berkata Agung Sedayu.
“Omong kosong. Ki Gede yang kakinya hampir menjadi
cacat itu, tentu tidak akan dapat berbuat banyak. Jika aku
membawanya berlari-lari mengelilingi Tanah Perdikan itu,
maka ia akan menjadi lumpuh.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada
rendah ia bertanya, “Dari mana kau mengetahuinya?”
“Setiap orang mengatakannya.” jawab Ki Ajar Sigarwelat.
Lalu, “Nah, apa katamu he? Atau kau sajalah yang menyerah
dan membiarkan aku membunuh dengan cara yang baik.”
“Yang kau lakukan sudah cukup parah Ki Ajar.” Jawab
Agung Sedayu, “harus ada orang yang menghentikannya.
Sebenarnya aku masih belum melihat alasan-alasan yang
cukup kuat untuk membinasakanmu. Aku belum pernah
mengenalmu sebelumnya. Aku juga belum pernah mendengar
bahwa kau telah melakukan banyak kejahatan. Tetapi tiba-tiba
saja kita bertemu dalam suasana yang tidak akrab seperti ini.”
“Jangan banyak berbicara lagi Agung Sedayu. Sekarang
kau mau berpesan apa saja sebelum kau mati.” geram Ki Ajar
Sigarwelat.
“Menyesal bahwa kita tidak dapat berbicara dengan baik.
Tetapi menilik sikapmu, meskipun aku belum pernah
mendengar, kau memang sering memaksakan kehendakmu
kepada orang lain.” berkata Agung Sedayu.
“Ya.” jawab Ki Ajar Sigarwelat, “kau tidak usah ragu-ragu.
Aku adalah seorang yang selalu memaksakan kehendakku
kepada orang lain yang tidak mau menerimanya. Sekarang
kau boleh mengerti, bahwa akulah yang telah membunuh Ki
Demang Watang. Aku pulalah yang telah membunuh Ki
Ramban Ijo serta aku pulalah yang telah membunuh Serigala
dari Seberang itu. Kau tentu ingin tahu kenapa aku membunuh
mereka? Mereka tidak mau bekerja sama dengan aku. Apa
pun alasan mereka, maka mereka telah bersalah kepadaku.
Karena itu maka mereka harus dibunuh. Kemudian akan
datang giliran aku membunuhmu. Membunuh Ki Lurah
Branjangan dan Ki Gede Menoreh. Membunuh siapa saja
yang menentangku.”
“Luar biasa.” berkata Agung Sedayu, “ternyata kau
memang seorang pembunuh. Mungkin aku juga seorang
pembunuh karena aku juga pernah membunuh. Tetapi alasan
pembunuhan itu tentu dapat dipertanggung jawabkan. Bahkan
sebenarnyalah bahwa sama sekali tidak ada niatku untuk
membunuh.”
“Itulah bedanya. Aku sengaja membunuh mereka. Dan kau
dapat mengukur kemampuanku setelah kau mendengar nama
orang-orang yang telah aku bunuh disamping masih ada
puluhan nama yang lain yang menurut pendapatku tidak perlu
aku sebutkan karena kau tentu belum pernah mengenalnya.”
berkata Ki Ajar Sigarwelat itu.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun
kemudian berkata, “Sayang Ki Ajar. Aku belum pernah
mendengar nama mereka. Aku belum pernah mendengar
nama Ki Demang itu. Juga Serigala dari Seberang. Dan
barangkali nama-nama yang lain. Nama Ki Ajar Sigarwelatpun
baru aku ketahui beberapa hari yang lalu. Aku memang
seorang yang picik karena aku jarang sekali keluar dari Tanah
Perdikan ini. Aku telah menghabiskan waktuku untuk bekerja
bersama anak-anak muda Tanah Perdikan bagi peningkatan
kesejahteraan orang banyak, karena agaknya kerja itu lebih
berarti daripada dengan sombong berkeliaran di dunia olah
kanuragan. Membunuh dan membunuh tanpa arti sama sekali,
karena hanya sekedar untuk mendapat kepuasan rendah dan
mementingkan diri sendiri.”
“Persetan.” geram Ki Ajar, “sekarang, kau jangan
menyesal. Ilmu kebalmu tidak akan dapat bertahan lebih lama
lagi. Aku akan memecahkan ilmu kebalmu dengan pusaka
peninggalan guruku. Sebilah pedang yang disebut Kiai
Lembar Alang-alang. Jenis pusaka yang bertuah, yang akan
mampu membelah ilmu kebal siapapun juga dimuka bumi ini.
Bahkan Aji Tameng Wajapun akan pecah oleh pedang
bertuahku ini.”
Agung Sedayu termangu-mangu. Memang sudah menjadi
wataknya, bahwa ia tidak merendahkan orang lain. Karena itu,
maka ia tidak mengabaikan kata-kata Ki Ajar Sigarwelat itu.
Beberapa saat Agung Sedayu menunggu. Ternyata bahwa
pedang yang dikatakan memang pedang yang luar biasa.
Sarung pedang itu adalah ikat pinggangnya yang membelit
lambung.
Sejenak kemudian, maka Ki Ajar telah menarik pedang
yang membelit lambungnya itu. Pedang yang memang sangat
tipis, setipis ilalang. Namun ditangan Ki Ajar Sigarwelat, maka
pedang yang kemudian bergetar itu, tentu merupakan senjata
yang sangat berbahaya.
“Jangan meratapi nasibmu. Kau pamerkan ilmu kebalmu.
Tetapi aku mempunyai senjata untuk memecahkannya.”
geram Ki Ajar Sigarwelat.
Agung Sedayu memang termangu-mangu sejenak
memandangi daun pedang itu. Pandangan matanya yang
tajam ternyata mampu memperhatikannya dengan saksama.
Daun pedang itu memang terbuat dari baja yang khusus.
Sebelum Agung Sedayu berkata apapun juga, maka Ki Ajar
Sigarwelat itu telah meloncat menyerangnya. Pedangnya
bergetar cepat sekali. Kemudian berputaran di sekitar
tubuhnya. Perlahan-lahan Ki Ajar Sigarwelat itu maju
mendekati lawannya.
Dalam pada itu, di arena yang lain Glagah Putih
nampaknya benar-benar telah menguasai lawannya.
Meskipun lawannya masih juga mencoba bertahan dengan
loncatan panjang. Tetapi murid pertama Ki Ajar itu sama sekali
sudah tidak mendapat kesempatan untuk menyerang.
Sementara itu Glagah Putih nampaknya memang tidak ingin
menyelesaikan lawannya dengan ilmunya yang dapat
dilontarkan kearah lawan yang terpisah oleh jarak, sepanjang
lawannya tidak mempergunakan ilmu Sapu Anginnya yang
masih mentah.
Namun semakin lama ternyata bahwa nafas anak Ki Lurah
Citrabawa itu menjadi semakin terengah-engah.
Tenaganyapun mulai susut. Dengan demikian, maka iapun
telah merasa bahwa ia tidak akan mungkin mengimbangi
lawan dalam pertempuran itu. Yang dapat dilakukannya
hanyalah sekedar bertahan sambil menunggu gurunya akan
datang menolongnya. Tetapi setelah bertempur beberapa
lama, gurunya masih juga belum dapat menyelesaikan
lawannya.
Murid pertama Ki Ajar itu bahkan sempat merasa heran,
kenapa lawannya masih juga belum mempergunakan ilmu
puncaknya yang mampu mengatasi ilmu Sapu Anginnya untuk
dengan segera menyelesaikan pertempuran itu.
Dilingkaran pertempuran yang lain, murid Ki Ajar Sigarwelat
itu ternyata juga mengalami kesulitan. Perempuan yang
semula disangkanya bahkan dengan sengaja memang
menyamarkan dirinya menjadi Rara Wulan itu, memiliki ilmu
yang tinggi pula. Kecepatan geraknya justru kian bertambahtambah.
Meskipun perempuan itu tidak bersenjata apapun,
namun sentuhan tangannya bagaikan sentuhan bara api.
Sebenarnyalah Sekar Mirah yang berbekal ilmu yang
diwarisinya dari Ki Sumangkar telah dikembangkannya pula.
Bersama-sama dengan Agung Sedayu, Sekar Mirah telah
mampu memecahkan beberapa persoalan pada ilmunya yang
tidak sempat dijelaskan oleh Ki Sumangkar yang telah
mendahuluinya itu.
Bersama-sama dengan Agung Sedayu pula, Sekar Mirah
telah berusaha mengembangkan ilmu yang diwariskan itu,
meskipun ia memang tidak dapat menghindari pengaruh ilmu
yang ada didalam diri Agung Sedayu. Baik yang mengalir dari
sumber pokoknya, Kiai Gringsing, maupun dari alur ilmu Ki
Sadewa yang telah dikuasainya pula dan diturunkannya
kepada Glagah Putih sebagai batang ilmunya meskipun
kemudian hadir Ki Jayaraga, bahkan pengaruh dari saluran
ilmu Ki Waskita, karena Agung Sedayu memiliki pengetahuan
yang bersumber dari kitab Ki Waskita. Karena itu, maka murid
kedua Ki Ajar Sigarwelat itu tidak mampu mengimbangi
kemampuan lawannya meskipun hanya seorang perempuan.
Bahkan menurut penglihatannya adalah seorang perempuan
yang cantik.
Namun ternyata bahwa murid kedua Ki Ajar itu semakin
lama semakin terdesak karenanya. Tetapi agaknya seperti
Glagah Putih, Sekar Mirah tidak ingin dengan cepat
menyelesaikan lawannya. Bahkan kadang-kadang
dibiarkannya lawannya berloncatan mengambil jarak dan
mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Baru kemudian selangkah
demi selengkah Sekar Mirah itu menyusulnya.
Tetapi murid kedua Ki Ajar itu tidak membiarkan dirinya
hancur tanpa berusaha melindunginya dengan sepenuh
kemampuannya. Karena itu, maka ketika ia sempat
mengambil jarak, sementara Sekar Mirah melangkah
mendekatinya, murid kedua Ki Ajar itu telah mencabut
senjatanya. Sebilah pedang yang tipis. Namun pedang itu
tidak sebaik pedang gurunya. Pedang murid keduanya itu
adalah pedang yang agaknya merupakan pedang tiruan dari
pedang yang disebut Kiai Lembar Alang-alang itu, meskipun
agak lebih tebal dan tidak selentur pedang aslinya.
Sekar Mirah tertegun. Justru karena itu ia berpura-pura
menjadi Rara Wulan, maka ia memang tidak membawa
tongkat baja putihnya. Tetapi bukan berarti bahwa Sekar
Mirah tidak bersenjata sama sekali. Ia sudah
memperhitungkan kemungkinan seperti itu terjadi. Karena itu,
maka Sekar Mirah telah membawa sepasang pisau belati
yang sebelumnya dapat disembunyikan dibawah baju dan kain
panjangnya yang telah dilepasnya.
Ketika kemudian lawannya memutar pedangnya, maka
Sekar Mirah telah menarik sepasang pisau belatinya. Pisau
Belati yang agak panjang.
Murid kedua Ki Ajar itupun segera bergeser maju. Ialah
yang kemudian telah menyerang dengan garangnya.
Pedangnya teracu dengan ujung yang bergetar. Kemudian
berputar dengan cepat, menggeliat dan menebas mendatar.
Sejenak kemudian mematuk lurus mengarah dada.
Namun Sekar Mirah tidak kalah tangkasnya. Kedua pisau
belatinyapun telah berputar dikedua tangannya, seperti
gumpalan awan kelabu digelapnya malam.
Sekar Mirah memang tidak terbiasa mempergunakan
senjata seperti itu. Tetapi sebagai seorang yang memiliki ilmu
yang tinggi, maka kemampuannya memang tidak terbatas
pada tongkat baja putihnya.
Demikian, maka sejenak kemudian keduanya telah
bertempur dengan senjata masing-masing. Dentang
senjatapun mulai terdengar. Semakin lama memang semakin
cepat.
Agak berbeda dengan murid kedua Ki Ajar, maka muridnya
yang tertua, anak Ki Lurah Citrabawa, menjadi ragu-ragu
untuk menarik senjatanya. Ia tidak ingin memancing lawannya
untuk mempergunakan ilmu puncaknya. Karena itu,
bagaimanapun juga, ia tidak ingin merubah keseimbangan
pertempuran dengan cara apapun juga. Ia merasa lebih aman
untuk berloncatan menghindar sambil menunggu gurunya
menyelamatkannya.
Tetapi ternyata bahwa gurunya tidak segera datang
membantunya. Ki Ajar itu masih bertempur dengan sengitnya
melawan Agung Sedayu. Pedang tipisnya bergetar
ditangannya, seakan-akan memancarkan cahaya yang
kemerah-merahan.
Agung Sedayu yang memiliki pengalaman yang luas
mampu menilai pedang tipis itu. Menurut pengamatan mata
hatinya, maka pedang itu memang memiliki kelebihan. Cahaya
yang kemerah-merahan itu merupakan pertanda baginya, agar
ia menjadi semakin berhati-hati. Karena itu, maka Agung
Sedayupun tidak menjadi lengah. Meskipun ia sudah
mengetrapkan ilmu kebalnya, namun mungkin sekali pedang
itu akan mampu membelah ilmu kebalnya itu.
Pertempuran itu memang menjadi semakin sengit. Ki Ajar
Sigarwelat mampu bertempur dengan cepat sekali. Ia
menguasai ilmu pedang pada tataran yang sangat tinggi,
sehingga karena itu, maka pedangnya memang sangat
berbahaya bagi Agung Sedayu.
Ketika dalam serangan beruntun pedang itu menyentuh
kulit Agung Sedayu, maka terasa kulitnya disengat oleh
perasaan pedih. Ternyata seperti yang dikatakan oleh Ki Ajar
Sigarwelat, pedangnya yang setipis daun ilalang itu tajamnya
melampui tajamnya welat bambu wulung.
Pedang itu memang mampu menembus ilmu kebal Agung
Sedayu meskipun hanya segores kecil. Tanpa ilmu kebal,
maka kulitnya tentu akan terkoyak sampai ke tulang. Pedang
tipis yang sangat tajam itu benar-benar sangat berbahaya.
Jika Ki Ajar sempat meningkatkan ilmunya yang disalurkan
pada pedangnya yang memang merupakan pedang yang
sangat baik itu, maka tajam pedang itu akan dapat menembus
ilmu kebalnya semakin dalam.
Luka dilengan Agung Sedayu itu memang berdarah
meskipun tidak banyak. Namun dengan demikian, maka
Agung Sedayupun telah meningkatkan ilmu kebalnya pula.
Bahkan sampai ketingkat yang paling tinggi, sehingga diluar
sadarnya, dari dalam dirinya seakah-akan telah memancar
udara yang panas.
Ki Ajar ternyata terkejut pula ketika tubuhnya tersentuh
udara panas. Dengan geram ia berkata, “Ternyata kau
memiliki ilmu iblis itu. Ilmu kebalmu memang hampir
sempurna. Udara panas ini hanya terpancar dari tataran ilmu
kebal yang sangat tinggi. Tetapi jangan kau kira, bahwa aku
tidak akan mampu menembusnya. Terhadap orang yang tidak
memiliki ilmu kebal, kemampuanku mampu mengelupas
daging seseorang dengan jari-jariku. Terhadap orang yang
melindungi dirinya dengan ilmu kebal sampai ketataran yang
manapun, juga ilmu kebalmu, pedangkulah yang akan
menembusnya.”
Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia melihat cahaya
kemerah-merahan di daun pedang yang tipis itu menjadi
semakin jelas, bahkan kemudian daun pedang yang setipis
daun ila-lang itu bagaikan telah berubah menjadi bara.
Dengan demikian maka Agung Sedayu tidak dapat
membiarkannya dilukai oleh pedang yang luar biasa itu.
Karena itu, ketika lawannya menyerangnya dengan sengitnya,
berputaran seakan-akan pedang itu terbang dari beberapa
arah, Agung Sedayu harus melawannya dengan senjatanya
pula.
Karena itu, sambil meloncat mengambil jarak, Agung
Sedayu telah mengurai senjatanya. Cambuk yang melilit
dilambungnya dibawah bajunya. Sejenak kemudian maka
cambuk itu telah meledak. Suaranya membentur dinding bukit
dan bergema bagaikan mengaum-aum membelah sepinya
malam.
Jantung murid-murid Ki Ajar itu tergetar. Suara cambuk dan
gemanya yang keras, bagaikan telah mengoyak selaput
telinga mereka.
Namun Ki Ajar justru tertawa. Katanya, “Permainan cambuk
yang buruk. Dengan ledakan cambuk yang terdengar dahsyat
itu, kau hanya dapat menggiring seekor kerbau turun kesawah
menarik bajak. Sama sekali bukan ledakan cambuk dari
orang-orang berilmu tinggi.”
Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi sekali lagi ia
menghentakkan cambuknya. Sendal pancing. Namun cambuk
itu tidak lagi meledak mengaum-aum. Bahkan seakan-akan
sama sekali tidak terdengar ledakannya apalagi gemanya.
Namun bagi Ki Ajar Sigarwelat, getar hentakkan cambuk
sandal pancing itu bagaikan telah mengguncang bukit. Karena
tu, maka jantung Ki Ajar Sigarwelat menjadi berdebar-debar.
Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Apa hubunganmu dengan
pengembara bercambuk itu? “
“Maksudmu siapa?”bertanya Agung Sedayu.
“Orang bercambuk yang terkenal sebagai seorang dukun
dengan seribu nama.” berkata Ki Ajar Sigarwelat itu.
“Aku murid salah seorang dari orang-orang yang disebut
orang bercambuk itu.” jawab Agung Sedayu.
“Ada berapa orang yang disebut orang bercambuk?”
bertanya Ki Ajar Sigarwelat.
Agung Sedayu menjawab asal saja, “Tiga.”
Ki Ajar Sigarwelat menggeram. Katanya, “Siapapun orang
bercambuk itu, kau pantas diperhitungkan. Ternyata disini, di
Tanah Perdikan ini, ada murid orang bercambuk itu.”
Ki Ajar Sigarwelat berhenti sejenak. Lalu, “Itulah sebabnya,
maka Tanah Perdikan ini berani menentang aku.”
“Ki Ajar. Kita masih mempunyai kesempatan untuk
menyelesaikan persoalan ini dengan baik. Saudara sepupuku
serta isteriku ternyata cukup sabar untuk sekedar menahan
kedua murid-muridmu itu. Sebenarnya kau dapat menilai
sendiri. Jika Glagah Putih dan Sekar Mirah benar-benar ingin
melumpuhkan kedua murid-muridnya itu, maka hal itu sudah
dapat dilakukannya.”
“Omong kosong.” berkata Ki Ajar, “murid-muridku bukan
orang-orang cengeng seperti yang kau duga.”
“Jadi bagaimana maksudmu? Kita akan bertempur terus?”
bertanya Agung Sedayu.
“Cukup. Berpesan sajalah kepada isterimu sebelum kau
mati.” berkata Ki Ajar Sigarwelat.
Agung Sedayu tidak menjawab. Namun ia telah
menggerakkan cambuknya dan memutarnya mendatar diatas
kepalanya.
Ki Ajar Sigarwelat dengan pedang tipisnya telah bergerak
pula. Dengan tangkasnya ia mulai berloncatan. Pedangnya
terayun menyambar-nyambar dilambari dengan ilmunya yang
luar biasa kuatnya, sehingga pedang itu mampu menembus
ilmu kebalnya dan melukai lengannya.
Demikianlah maka pertempuran antara keduanya menjadi
semakin garang. Pedang tipis dan lentur itu terayun-ayun
mengerikan. Sekali-sekali mematuk menyusup diantara
putaran cambuk Agung Sedayu. Namun ujung cambuk Agung
Sedayupun mendebarkan jantung lawannya pula. Ledakannya
memang tidak terlalu keras, tetapi ditandai dengan getar udara
yang menghentak dada.
Sejenak kemudian keduanya telah berloncatan saling
menyerang dan saling bertahan. Kemampuan Ki Ajar
Sigarwelat ternyata memang sangat tinggi, sehingga Agung
Sedayu berdesis, “Ki Ajar, aku justru merasa sayang, bahwa
dengan ilmumu yang tinggi itu, kau telah bertempur untuk
persoalan yang tidak sewajarnya. Aku akan kagum jika kau
pergunakan ilmumu itu untuk menegakkan wibawa Mataram
misalnya, sehingga Mataram akan dapat benar-benar menjadi
lambang persatuan kekuatan diseluruh Tanah ini daripada
sekedar kau pergunakan untuk memaksakan kehendak
muridmu terhadap seorang gadis.”
“Persetan.” geram Ki Ajar Sigarwelat, “kau kira aku salah
seorang pendukung Panembahan Senapati yang telah
memberontak terhadap Pajang itu?”
“Jadi kau juga menganggap bahwa Panembahan Senapati
telah memberontak?”bertanya Agung Sedayu.
“Ya. Dan aku telah berjanji dengan pedangku ini bahwa aku
akan membunuh Senapati. Adalah kebetulan sekali bahwa
aku bertemu dengan kau disini. Aku akan dapat menguji
pedangku ini. Ternyata bahwa pedangku mampu menembus
ilmu kebalmu, sehingga akupun yakin bahwa pedangku akan
dapat juga menembus ilmu Tameng Waja Panembahan
Senapati yang diwarisinya dari Sultan Pajang.” geram Ki Ajar
Sigarwelat.
“Jadi kau ingin membunuh Panembahan Senapati ?
Apakah alasanmu he?” bertanya Agung Sedayu.
“Ia telah memberontak terhadap jalur kekuatan Demak.
Seharusnya Panembahan Senapati mengakui kekuasaan
Panembahan Madiun yang masih mempunyai darah yang
mengalir dari tahta Demak.” berkata Ki Ajar Sigarwelat.
“Orang-orang yang bersikap seperti kau inilah yang justru
sering menimbulkan persoalan. Panembahan Madiun sendiri
tidak pernah berpikir sebagaimana kau pikirkan. Orang-orang
seperti kau ini telah membuat kemelut antara Mataram dan
Madiun. Apakah keuntunganmu jika Mataram dan Madiun
berbenturan?” bertanya Agung Sedayu.
“O, jadi kau pernah mendengar juga persoalan antara
Mataram dan Madiun?” bertanya Ki Ajar Sigarwelat.
“Ya. Orang-orang yang mempunyai nafsu pribadi itu telah
memberikan gambaran yang salah kepada Panembahan
Madiun tentang sikap Panembahan Senapati. Sementara itu
ada juga orang-orang Mataram yang bertindak sendiri-sendiri
mendahului perintah Panembahan Senapati yang berusaha
mencegah benturan kekerasan. Nah, jika demikian maka
persoalannya akan berkembang. Jika kau memang akan
membunuh Panembahan Senapati, maka aku berkata
kepadamu sesuai dengan suara hatiku, aku akan
menghentikanmu sampai disini.” berkata Agung Sedayu.
“Persetan.” geram orang itu, “nampaknya kau adalah budak
Panembahan Senapati.”
“Tanah Perdikan Menoreh merupakan salah satu bagian
dari kesatuan yang besar dibawah pimpinan Panembahan
Senapati. Kesatuan yang harus utuh tanpa terbelah.” berkata
Agung Sedayu.
Namun tiba-tiba saja Ki Ajar itu tertawa. Katanya,
“Ketahuilah. Di Madiun kini telah hadir seorang Panembahan
yang lain, yang memiliki pengaruh yang sangat besar atas
Panembahan Madiun.”
Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Dengan ragu-ragu ia
justru telah mengambil jarak dari lawannya sambil bertanya,
“Siapa?”
“Panembahan Pancer.” jawab Ki Ajar Sigarwelat. Lalu
katanya, “Menjelang kematianmu kau boleh mendengar
namanya. Panembahan Pancer adalah seorang yang telah
berhasil menyusun rencana perlawanan terhadap Mataram.
Beberapa orang adipati telah dapat dipengaruhinya.”
“Dan kau adalah salah seorang diantara para pengikut
Panembahan Pancer?” bertanya Agung Sedayu.
“Ya. Dan aku mendapat tugas datang ke Mataram untuk
menjajagi keadaan Mataram.” jawab Ki Ajar.
“Tetapi kenapa kau kemari untuk satu keperluan yang tentu
tidak berarti menurut penglihatan Panembahan Pancer itu?”
bertanya Agung Sedayu.
“Aku telah singgah di rumah muridku. Dan ketika kami
berada di Mataram, tanpa kami sengaja, kami telah melihat Ki
Lurah Branjangan dan cucu-cucunya. Ternyata bahwa
muridku tertarik kepada cucu Ki Lurah, sementara ia telah
pernah mendengar dari ayahnya hubungannya dengan Ki
Lurah Branjangan. Nah, kemudian segalanya tersusun dengan
rapi, ketika muridku itu melihat Ki Lurah pergi ke Tanah
Perdikan Menoreh bersama cucu-cucunya. Ternyata muridku
itu telah dengan saksama mengamati gadis yang
diimpikannya itu.” berkata Ki Ajar Sigarwelat.
“Lalu kau korbankan nyawamu untuk kepentingan muridmu
dengan mengorbankan tugasmu.” berkata Agung Sedayu
yang dadanya mulai bergelora.
“Jangan terlalu sombong.” geram Ki Ajar.
“Ki Ajar.” berkata Agung Sedayu dengan tekanan yang
berat, “jika semula aku ragu-ragu berbuat dengan lambaran
puncak kemampuanku, karena persoalannya tidak lebih dari
persoalan seorang perempuan, sementara aku belum pernah
mempunyai persoalan dengan Ki Ajar, maka kini persoalannya
menjadi lain, jika kau benar ingin membunuh Panembahan
Senapati, maka kau memang pantas untuk dibunuh. Meskipun
demikian, aku masih menawarkan satu penyelesaian.”
“Apa?” bertanya Ki Ajar Sigarwelat.
“Menyerahlah. Kita menghadap Panembahan Senapati.”
berkata Agung Sedayu.
“Nampaknya kau memang seorang penjilat.” geram Ki Ajar.
“Aku adalah sahabat Panembahan Senapati. Kami
mengembara bersama-sama. Kami mencari ilmu bersamasama
dan banyak hal yang telah kami lakukan bersamasama.”
jawab Agung Sedayu.
“Omong kosong. Jika demikian, kau tentu sudah diangkat
menjadi seorang Tumenggung atau bahkan seorang Adipati.
Ternyata kau tidak lebih dari seorang petani kecil di Tanah
Perdikan ini.” berkata Ki Ajar.
“Menurut ukuranmu agaknya memang demikian. Tujuan
terakhir dari persahabatan adalah menarik keuntungan yang
sebesar-besarnya bagi kepentingan diri sendiri.” sahut Agung
Sedayu, “tetapi aku tidak Ki Ajar. Karena itu, jika kau menolak
untuk menyerah, maka kau memang harus dilenyapkan.
Bukan kebiasaanku berbuat demikian, tetapi untuk
kepentingan yang besar, justru saat-saat gawat karena
hubungan yang renggang antara Mataram dan Madiun, maka
aku harus memaksa diri untuk melakukannya. Apalagi kau
adalah salah seorang yang mengipasi bara yang menyala
dalam hubungan antara Mataram dan Madiun sekarang ini.”
Ki Ajar tertawa. Katanya, “Kau memang murid orang bercambuk.
Tetapi yang disegani oleh banyak orang, termasuk
orang-orang tua adalah gurumu, bukan kau. Karena itu jangan
bermimpi dapat membunuhku. Kekalahan murid-muridku
bukan ukuran tingkat kemampuanku. Aku memang terlambat
mengambil mereka menjadi murid-muridku. Itu saja sebabnya,
kenapa mereka belum dapat mengimbangi kemampuan
muridmu.”
Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ketika ia sempat
memandang arena perkelahian yang lain, ia menarik nafas
dalam-dalam. Dilihatnya Glagah Putih duduk menunggui
lawannya yang terengah-engah dan berusaha untuk bangkit
berdiri. Namun nampaknya nafasnya telah hampir terputus di
kerongkongan.
Sementara Sekar Mirah yang bersenjata pisau belati
rangkap benar-benar telah menguasai murid kedua Ki Ajar
Sigarwelat. Meskipun ilmu pedang kedua itu cukup baik, tetapi
ia tidak mampu mengimbangi kecepatan gerak Sekar Mirah.
Namun agaknya Sekar Mirah akan memperlakukan lawannya
sebagaimana Glagah Putih. Dibiarkannya saja lawannya
kehabisan nafas, sehingga dengan satu sentuhan kecil, ia
akan terjatuh dan tidak berdaya lagi untuk bangkit.
Sebenarnyalah, lawan Glagah Putih sudah kehabisan
tenaga. Ia memang menarik pedang tipisnya, juga tiruan
pedang gurunya. Namun semuanya itu tidak berarti lagi.
Demikian nafasnya hampir terputus. Glagah Putih telah
berhasil membantingnya jatuh, sehingga punggungnya serasa
akan patah. Dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit,
sementara Glagah Putih menunggunya sambil duduk diatas
batu padas.
“Ki Ajar.” berkata Agung Sedayu, “kau lihat murid-muridmu.
Mereka sudah tidak berdaya lagi. Meskipun Glagah Putih dan
Sekar Mirah belum membunuhnya, tetapi hal itu akan dapat
terjadi kapan saja.”
“Persetan”geram Ki Ajar, “aku akan membunuhmu.
Kemudian membunuh mereka, membunuh seisi Tanah
Perdikan. Aku tidak gentar dengan Pasukan Khusus yang
dipimpin oleh Naga Geni itu. Karena Naga Geni itu tidak
segarang sebagaimana namanya.”
Agung Sedayu kemudian bersiap-siap. Nampaknya
persoalannya bukan sekedar persoalan Rara Wulan. Tetapi
persoalannya telah terkait dengan kesetiannya kepada
sahabatnya, Panembahan Senapati di Mataram.
Sejenak kemudian, Ki Ajar Sigarwelatpun telah mulai
bergerak. Pedangnya telah bergetar pula ketika tangannya
terjulur lurus mengarah ke dada. Cahaya yang kemerahmerahan
itu membuat Agung Sedayu menjadi sangat berhatihati.
Sementara Ki Ajar Sigarwelatpun berkata, “Nah, menjelang
kematianmu, kau memang harus mendengar, bahwa jika kau
pernah mendengar perguruan Sapu Angin di daerah Timur,
maka ilmuku yang aku namai Sapu Angin memang
mempunyai hubungan. Tetapi perguruan Sapu Angin di
pinggir Bengawan Madiun itu rasa-rasanya tidak akan
memberikan arti apa-apa lagi.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia
teringat kepada ceritera Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga.
Keduanya bersama Sabungsari pernah bertemu dengan
murid-murid dari perguruan Sapu Angin. Bukan ilmu yang
disebut Sapu Angin. Tetapi agaknya Ki Sigarwelat telah
menarik hubungan antara nama padepokan dengan nama
ilmunya. Namun dengan demikian, maka Ki Sigarwelat itupun
ternyata berasal dari daerah Timur. Bukan dari sebuah
padepokan didekat Suwangan Kali Bagawanta.
Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian berkata,
“Kenapa kau terlalu yakin akan dapat membunuhku he?
Kedua orang muridmu sudah tidak berdaya lagi. Jika Glagah
Putih dan Sekar Mirah itu bergabung dengan aku, maka
kaupun akan segera mati.”
“Cobalah. Panggil keduanya dan marilah kita bersamasama
membuktikan, siapakah yang akan mati. Aku atau kalian
bertiga.” geram Ki Ajar Sigarwelat.
Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Katanya, “Aku ingin
tahu, siapakah yang akan lebih baik dalam pertempuran ini.
Ilmumu yang kau sebut Sapu Angin atau cambukku.”
Ki Ajar tidak menjawab lagi. lapun segera meloncat
menyerang Agung Sedayu dengan garangnya. Pedangnya
yang bagaikan membara itu berputaran, sehingga seakanakan
telah menimbulkan asap yang membara memancarkan
panas kesegenap arah. Tetapi panas yang timbul dari putaran
pedang tipis itu masih belum sepanas udara yang
memancarkan panasnya dari dalam diri Agung Sedayu yang
telah sampai kepuncak ilmu kebalnya.
Tetapi daya tahan tubuh Ki Ajar benar-benar luar biasa. Ia
seakan-akan tidak merasa tersengat oleh panasnya udara
disekitar tubuh Agung Sedayu. Namun ujung pedang tipisnya
itu masih juga mampu menggapai tubuh Agung Sedayu.
Namun Agung Sedayu cukup tangkas untuk menghindari
ujung pedang itu. Ia benar-benar berusaha agar kulitnya tidak
tergores lagi karena pedang lawannya ternyata mampu
menembus ilmu kebalnya.
Namun disamping udara yang panas memancar dari dalam
dirinya, serta kemampuannya bergerak cepat, cambuk Agung
Sedayupun merupakan perisai yang rapat. Hanya sekali-sekali
saja, dilambari dengan kemampuannya yang sangat tinggi, Ki
Ajar mampu menembus perisai itu. Namun bukan berarti
bahwa ujung pedangnya yang membara itu dapat menyentuh
tubuh Agung Sedayu.
Permainan pedang tipis Ki Ajar itu memang salah satu ujud
dari ilmu Sapu Anginnya yang dilepaskan lewat senjatanya
yang luar biasa itu. Awan yang kemerah-merahan bergulunggulung
melanda Agung Sedayu yang memutar cambuknya
dengan cepatnya mengitari dirinya. Sekali-sekali terdengar
cambuk itu meledak. Meskipun suaranya tidak
mengumandang di lereng pebukitan, namun bagi Ki Ajar,
getarannya terasa menghentak-hentak dadanya.
Dalam puncak ilmu Sapu Anginnya pada permainan
pedangnya, maka Agung Sedayu benar-benar harus
mengerahkan ilmu cambuknya. Serangan orang itu rasarasanya
memang seperti angin berhembus. Sehingga rasarasanya
terlalu sulit untuk dihindari sehingga tidak tersentuh
sama sekali. Karena itulah, maka ternyata Agung Sedayu
memang tidak dapat menghindari sepenuhnya seranganserangan
lawannya. Sekali lagi pundaknya tergores ujung
pedang lawannya. Meskipun Agung Sedayu telah berada
pada puncak penggunaan ilmu kebalnya, tetapi ujung pedang
yang membara dilambari ilmu Sapu Angin itu memang sempat
menggores kulitnya. Tetapi goresan itu terlalu kecil meskipun
menitikkan darahnya.
Namun betapapun Agung Sedayu selalu menguasai dirinya
sendiri, goresan-goresan ditubuhnya itu telah membuatnya
marah sekali. Nampaknya Ki Ajar Sigarwelat benar-benar
ingin bertempur sampai tuntas. Persoalannya memang bukan
sekedar Rara Wulan, tetapi lebih jauh dari itu. Meskipun
agaknya ada persaingan dari antara dua padepokan yang
mempergunakan nama Sapu Angin bagi padepokannya dan
yang lain bagi ilmunya. Tetapi diakui oleh Ki Ajar, bahwa
keduanya bukannya tidak mempunyai kaitan.
“Pada suatu saat, aku ingin bertanya kepada Kiai Gringsing
tentang hubungan antara keduanya dan padepokan Kaliwalik
di tepi suwangan Kali Bagawanta.” berkata Agung Sedayu
didalam hatinya.
Demikianlah maka pertempuran itu menjadi semakin lama
semakin sengit dan semakin tidak dapat dimengerti. Glagah
Putih benar-benar telah menghentikan perlawanan anak Ki
Lurah Citrabawa yang duduk sambil menyeringai kesakitan.
Sementara murid kedua Ki Ajar itupun telah terbaring
kehabisan nafas. Bahkan beberapa goresan luka telah
memaksanya untuk tidak bangkit lagi.
Tetapi Ki Ajar Sigarwelat ternyata tidak mudah ditundukkan,
tetapi juga tidak mudah menundukkan Agung Sedayu.
Serangan Ki Ajar yang bagaikan angin prahara itu telah
menyapu medan. Tetapi Agung Sedayu ternyata mampu
berdiri tegak di arena bagaikan bukit karang yang kokoh kuat
berakar sampai pusat bumi. Karena itu, maka angin prahara
yang betapapun besarnya, tidak akan mampu untuk menyapu
batu karang yang tidak tergoyahkan itu.
Ketika sekali lagi ujung pedang itu menyentuh dada kiri
Agung Sedayu dengan goresan kecil, maka Agung Sedayu
sempat menyusupkan ujung cambuknya pula dengan
hentakkan sendal pancing. Terdengar keluhan tertahan. Ki
Ajar Sigarwelat telah meloncat beberapa langkah surut untuk
mengambil jarak.
Agung Sedayu sengaja tidak memburunya. Ketika terasa
ujung cambuknya menyentuh tubuh lawannya, maka Agung
Sedayu sengaja memberi kesempatan kepada lawannya
untuk melihat luka ditubuhnya itu.
Sebenarnyalah, pundak orang itulah yang terkoyak oleh
ujung cambuk Agung Sedayu. Meskipun yang menyentuh itu
hanya ujunnya saja, karena Ki Ajar itu dengan cepat telah
mengelak, namun luka yang menganga dipundaknya jauh
lebih besar dan lebih dalam dari luka di tubuh Agung Sedayu
karena sentuhan ujung pedang Ki Ajar Sigarwelat itu, karena
tubuh Agung Sedayu telah dilindungi oleh ilmu kebalnya.
Luka dipundak itu benar-benar berpengaruh pada
kemampuan gerak tangan Ki Ajar Sigarwelat. Kemampuan
Agung Sedayu membidik bukan saja dalam lontaran atas
sasaran pada jarak jauh, tetapi iapun mampu membidikkan
ujung cambuknya pada sasaran yang dikehendaki.
Ki Ajar Sigarwelat itu mengumpat. Dengan geram iapun
kemudian berkata, “Kau memang luar biasa. Pada umurmu
yang masih terhitung muda, kau mampu mengimbangi ilmu
Sapu Anginku yang tersalur lewat pusakaku. Tetapi kau tahu,
bahwa aku mampu membunuhmu dengan ilmu Sapu Angin itu
dalam ujudnya yang lain.”
Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa
lawannya tentu akan segera sampai kepuncak ilmu Sapu
Anginnya. Ki Ajar tentu akan melontarkan ilmu Sapu Angin itu
untuk menyerangnya dari jarak jauh.
Ketika Ki Ajar itu menyarungkan pedangnya, maka Agung
Sedayupun telah membelitkan cambuknya di pinggangnya. Ia
sadar sepenuhnya bahwa karena luka dipundaknya itu, maka
Ki Ajar Sigarwelat merasa tidak akan mampu menggerakkan
pedangnya dalam puncak ilmu Sapu Anginnya lewat
kemampuannya dalam ilmu pedang.
Sebenarnyalah Ki Ajar itu telah bersiap-siap untuk
mengetrapkan ilmunya. Iapun sudah menduga, bahwa Agung
Sedayu tentu memiliki kemampuan untuk melontarkan ilmunya
pula, sebagaimana dilakukan oleh Glagah Putih disaat
melawan murid pertamanya.
Untuk beberapa saat, Ki Ajar itu berdiri tegak. Darah masih
mengucur dari lukanya. Namun kemudian Ki Ajar itu telah
mengatupkan telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi
dadanya. Bagi Ki Ajar, lebih baik melontarkan ilmunya itu
daripada mempergunakannya lewat ilmu pedangnya dengan
tangan kirinya. Untuk melawan orang lain kecuali Agung
Sedayu, Ki Ajar memang sanggup mempergunakan tangan
kirinya, tetapi lawan Agung Sedayu, ia akan mengalami
banyak kesulitan.
Agung sedayu benar-benar telah bersiap. Bahkan iapun
telah mempergunakan kesempatan itu untuk mempersiapkan
ilmu puncaknya pula, yang semakin lama menjadi semakin
matang. Agung Sedayu ternyata tidak usah menunggu terlalu
lama.
Sesaat kemudian ia mendengar Ki Ajar berkata, “Agung
Sedayu. Tataplah langit untuk yang terakhir kalinya. Sebentar
lagi, kau akan hancur luluh dihanyutkan oleh prahara yang
akan dapat membenturkan kau pada dinding bukit itu.”
Agung Sedayu tidak menjawab. Ketajaman penglihatannya
ternyata mampu menangkap gerak tangan Ki Ajar Sigarwelat.
Kemampuan itu agaknya tidak diperhitungkan oleh Ki Ajar,
sehingga ia mengira bahwa ia akan dapat melakukannya di
luar pengamatan lawannya.
Tetapi dengan ketajaman penglihatannya, Agung Sedayu
melihat apa yang dilakukan oleh Ki Ajar. Menggosokkan
kedua telapak tangannya yang satu dengan yang lain sambil
memusatkan nalar budinya. Ternyata Agung Sedayupun
melihat, betapapun cepat, Ki Ajar itu menghentakkan
tangannya dengan telapak tangan menghadap ke arah Agung
Sedayu meskipun hal itu dilakukannya dalam kegelapan.
Seleret sinar nampak memancar dari telapak tangan itu.
Kemudian angin yang sangat kuat bagaikan prahara telah
melanda sasarannya. Meskipun hanya untuk satu batasan
tertentu, namun angin itu bagaikan telah mengguncang bukit.
Ranting-ranting pepohonan berpatahan dan batupun
berguguran.
Tetapi serangan itu tidak mengenai Agung Sedayu.
Ternyata Agung Sedayu memiliki kemampuan untuk melenting
dengan kecepatan yang tinggi dan jarak yang jauh sekali
menurut takaran orang banyak, karena Agung Sedayu
memiliki kemampuan seakan-akan memperingan tubuhnya
sehingga kakinya mampu melontarkannya jauh-jauh.
Ki Ajar yang mula-mula menduga, bahwa Agung Sedayu
yang sudah tidak berada ditempatnya lagi itu tidak mampu
menghindari sepenuhnya serangannya dan terpelanting jatuh
membentur batu-batu padas, menjadi sangat terkejut. Agung
Sedayu yang tidak ada disekitar tempatnya berdiri menurut
jangkauan loncatan yang wajar, ternyata telah berdiri
beberapa langkah lebih jauh lagi dari garis serangan Ki Ajar
Sigarwelat.
“Anak iblis.” geram Ki Ajar Sigarwelat.
Agung Sedayu berdiri tegak dengan tangan bersilang
didada. Namun ia telah bersiap menghadapi segala
kemungkinan.
Ternyata yang terkejut bukan saja Ki Ajar Sigarwelat,
Glagah Putih dan Sekar Mirah yang menjadi berdebar-debar
melihat serangan Ki Ajar Sigarwelat itupun menarik nafas
dalam-dalam pula.
“Luar biasa.” desis Glagah Putih yang memang mengagumi
Agung sedayu sejak semula, “Kemampuan apakah yang telah
melemparkan kakang Agung Sedayu begitu jauh sehingga
terlepas dari arus prahara Ki Ajar Sigarwelat.”
Sekar Mirah sempat meraba dadanya yang bagaikan
menghentak-hentak. Ia tiba-tiba saja merasa sangat bersyukur
bahwa suaminya mendapat kurnia kemampuan yang tinggi,
sehingga ia dapat mempergunakannya untuk kepentingan
sesama.
Sementara itu Ki Ajar Sigarwelat yang kehilangan
sasarannya menjadi sangat marah, meskipun ia juga menjadi
berdebar-debar. Ternyata Agung Sedayu memang seorang
yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ia tidak saja
menunjukkan kemampuan bermain cambuk sebagai murid
dari orang yang dikenalnya dengan sebutan Orang
Bercambuk. Tetapi ternyata orang yang masih terhitung muda
itu memiliki beberapa macam ilmu yang tidak diduganya
semula. Ki Ajar tidak menduga bahwa Agung Sedayu memiliki
ilmu kebal yang dapat menyusur arti dan kemampuan pedang
tipisnya karena perisai ilmu kebal itu. Dan ternyata Agung
Sedayu juga memiliki kemampuan ilmu yang membuat
tubuhnya seakan-akan menjadi tidak berbobot lagi.
Tetapi Ki Ajarpun yakin akan kemampuannya. Karena itu,
maka ia sama sekali tidak berniat untuk membatalkan
maksudnya, membunuh Agung Sedayu. Karena itu, maka
iapun segera mempersiapkan ilmunya pula. Setapak demi
setapak ia melangkah mendekati Agung Sedayu. Dengan
sengaja Ki Ajar telah melangkah dibawah sebatang pohon
yang rimbun untuk menyembunyikan gerak tangannya,
sehingga tidak akan mudah dibaca oleh Agung Sedayu.
Tetapi ketajaman penglihatan Agung Sedayu yang juga
tidak diperhitungkan oleh lawannya, melihat Ki Ajar itu dengan
jelas. Agung Sedayu melihat gerak-gerak kecil Ki Ajar yang
saling menggosokkan telapak tangannya. Namun yang tibatiba
saja dihentakkannya menyerang Agung Sedayu.
Sekali lagi Agung Sedayu yang melihat gerak itu betapa
cepatnya telah meloncat. Loncatan yang sangat panjang
diukur dengan loncatan sewajarya. Tetapi lawannya tidak
memberinya waktu. Dengan serta merta Ki Ajar telah
mempersiapkan serangannya pula. Demikian ia menemukan
Agung Sedayu yang berdiri tegak maka serangannya telah
meluncur dengan cepatnya.
Ketika serangan itu datang semakin cepat, maka Agung
Sedayu mulai berpikir untuk membalas serangan itu. Ia tidak
akan dapat menghindar saja terus-menerus tanpa
membalasnya. Karena itu, maka ilmunya yang memang telah
dipersiapkan itupun telah siap dilontarkannya.
Ketika serangan lawannya itu datang sekali lagi, Agung
Sedayu telah meloncat menjauh. Tetapi sebelum serangan
berikutnya datang, Agung Sedayu telah melenting lagi kearah
yang berlawanan, sehingga Ki Ajar menjadi agak bingung.
Kesempatan itulah yang dipergunakan oleh Agung Sedayu
untuk melepaskan serangannya.
Namun ternyata Ki Ajar juga memiliki kemampuan yang
sangat tinggi. Pada saat Agung Sedayu melepaskan ilmunya,
maka Ki Ajar itupun telah berhasil melemparkan dirinya
kesamping. Ternyata Ki Ajar itu melihat satu kilatan cahaya di
mata Agung Sedayu. Satu hal yang jarang dapat dilakukan
oleh orang lain.
Tetapi ternyata orang yang bergelar Ajar Sigarwelat itu
mengumpat kasar, “Ilmu apa lagi yang kau miliki he?”
Agung Sedayu tidak menjawab. Namun sekali lagi ia
bersiap dan melontarkan serangan dengan sorot matanya.
Namun sekali lagi Ki Ajar itu sempat mengelak.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Orang itu
ternyata benar-benar seorang yang berlmu tinggi, yang
mampu menangkap kilatan cahaya di mata Agung Sedayu
saat Agung Sedayu melontarkan ilmunya. Dengan demikian
maka pertempuran antara keduanya menjadi semakin
dahsyat. Keduanya mampu melontarkan serangan dari jarak
jauh, namun keduanyapun mampu dengan cepat menghindari
serangan-serangan itu.
Namun setiap kali Ki Ajar Sigarwelat telah mengumpat. Ia
benar-benar tidak mengira bahwa di Tanah Perdikan Menoreh
ada orang yang mampu mengimbangi ilmunya itu. Bahkan
mampu melukai tubuhnya dengan ujung cambuknya.
Demikianlah maka sejenak kemudian, keduanya telah
tenggelam dalam pertempuran yang aneh. Keduanya saling
menyerang dengan ilmu puncaknya masing-masing. Sekali.
Agung Sedayu tersentuh lontaran ilmu Sapu Angin sehingga
ia terpelanting jatuh. Namun ia tidak membiarkan lawannya
menyerangnya sekali lagi dan melumatkan tubuhnya
meskipun dilambari dengan ilmu kebal. Karena itu, sambil
berguling Agung Sedayu telah mempersiapkan dirinya.
Demikian ia mendapat kesempatan tanpa bangkit berdiri,
dilontarkannya ilmunya lewat sorot matanya.Tetapi lawannya
selalu pula sempat meloncat mengelak.
Demikianlah pertempuran itu berlangsung beberapa saat
lamanya. Glagah Putih dan Sekar Mirah menjadi berdebardebar
melihat, betapa kedua belah pihak telah saling
menyerang dengan kemampuan ilmu yang sangat tinggi.
Sekali-sekali mereka melihat Agung Sedayu terguncang dan
bahkan kemudian terpelanting jatuh. Namun pada
kesempatan yang lain, Ki Ajar Sigarwelat terdorong dan jatuh
terlentang oleh singgungan serangan Agung Sedayu.
Namun yang terjadi kemudian adalah diluar perhitungan Ki
Ajar Sigarwelat. Tenaganya terasa semakin lama menjadi
semakin surut. Mula-mula Ki Ajar Sigarwelat tidak begitu
mengerti, apa yang terjadi atas dirinya. Namun ketika
kemudian tangannya menyentuh darahnya yang hangat, yang
mengalir bagaikan diperas dari luka dipundaknya, barulah
orang itu menyadari, bahwa darah terlalu banyak mengalir
lewat lukanya itu. Bukan saja karena ia harus berloncatan
menghindari serangan lawan yang bagaikan menguras
tenaganya, tetapi justru pada saat-saat ia melepaskan ilmunya
dengan mengerahkan segenap tenaga dan tenaga
cadangannya untuk mendukung kekuatan lontaran ilmunya,
maka tekanan urat nadinya menjadi semakin kuat. Karena itu,
arus darahpun menjadi semakin deras pula.
Ternyata kesadaran itu telah membuatnya seolah-olah
menjadi semakin lemah. Ketika ia kemudian berdiri, maka
kakinya seakan-akan tidak lagi dapat tegak dengan kuat.
Agung Sedayu yang memiliki ketajaman penglihatan lahir
dan batinnya, melihat keadaan Ki Ajar Sigarwelat itu. Karena
itu, meskipun ia sudah siap untuk menyerangnya, maka
niatnya itupun telah diurungkannya. Meskipun jika Agung
Sedayu berniat, ia akan dapat segera mengakhiri pertempuran
itu. Ia yakin, bahwa saat itu ia akan dapat menyerang dan
bukan saja menyinggung tubuh lawannya, tetapi serangannya
akan dapat langsung meremas isi dadanya. Tetapi Agung
Sedayu justru menunggu.
Ki Ajar Sigarwelat memang telah hampir kehabisan
darahnya lewat lukanya yang menganga dipundaknya. Namun
ternyata bahwa Ki Ajar tidak mau melihat kenyataan itu.
Bahkan ia masih mempersiapkan sebuah serangan dengan
ilmu puncaknya.
“Jangan Ki Ajar “Agung Sedayu berusaha
memperingatkannya “darahmu terlalu banyak mengalir. “
“Kau menyerah “geram Ki Ajar.
“Bukan begitu. Tetapi kau akan mengalami kesulitan.
Darahmu telah terlalu banyak mengalir “sahut Agung Sedayu.
“Persetan “geram orang itu “jangan berlindung dengan cara
yang sangat licik. Aku tidak berpengaruh sama sekali. Lukaku
tidak berarti. Jika kau memang ingin menyerah, menyerahlah.
“
“Ki Ajar “berkata Agung Sedayu “mengingat bahwa kita
secara pribadi belum pernah bermusuhan, maka aku masih
berusaha untuk memperingatkanmu. “
“Cukup. Jangan menghina aku lagi “Ki Ajar itu hampir
berteriak.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya
“Sadari dirimu. Tetapi jika kau tidak mau melihat kenyataanmu
itu, maka kau tentu akan benar-benar mengalami kesulitan. “
Tetapi Ki Ajar yang telah dikuasai oleh nafsunya untuk
membunuh Agung Sedayu itu, tidak mau melihat kenyataan
itu. Ia merasa terlalu kuat dan berilmu sangat tinggi. Ia telah
mampu menembus ilmu kebal Agung Sedayu dengan ilmunya,
ilmu Sapu Angin yang hampir sempurna. Selain dengan
pedang pusakanya yang disebutnya Kiai Lembar Alang-alang.
Meskipun ilmu Sapu Anginnya tidak dapat menembus
sepenuhnya ilmu kebal Agung Sedayu dengan meremukkan
tulang-tulangnya, namun ilmu itu dapat mengguncangkannya.
Karena itu, maka dengan tanpa sempat membuat
perhitungan lagi, maka sekali lagi Ki Ajar Sigarwelat telah
melontarkan ilmunya yang dahsyat.
Ternyata Ki Ajar Sigarwelat telah mengerahkan segenap
kemampuannya.
Serangan itu memang dahsyat. Namun Agung Sedayu
yang telah bersiap menghadapinya, dengan cepat meloncat
menghindar. Satu loncatan yang panjang. Ternyata ilmu Sapu
Angin
itu benar-benar dapat mengguncang ilmu kebalnya
meskipun tidak melukainya. Karena itu, Agung Sedayu
merasa lebih baik menghindarinya daripada terlempar dan
jatuh bergulingan meskipun kulitnya tidak terluka oleh goresan
batu-batu padas.
Tetapi Ki Ajar benar-benar kehilangan akal. Ketika
serangannya itu gagal, maka ia telah menyerangnya sekali
lagi dan sekali lagi.
Namun ketika Ki Ajar itu melontarkan serangan yang
keempat, maka rasa-rasanya malampun telah menjadi
semakin gelap. Tubuhnya menjadi terlalu lemah. Darahnya
benar-benar telah diperasnya lewat lukanya.
Karena itu, maka demikian Ki Ajar menghentakkan ilmunya,
maka seolah-olah tetes darahnya yang terakhir telah
diperasnya pula.
Sejenak kemudian Ki Ajar itupun telah terhuyung-huyung.
Beberapa saat ia berusaha bertahan, namun kemudian Ki Ajar
itupun telah terjatuh.
Agung Sedayu berdiri termangu-mangu. Selangkah demi
selangkah ia mendekati lawannya yang terbaring diam itu.
Bagaimanapun juga ia harus berhati-hati menghadapinya.
Namun agaknya Ki Ajar itu memang sudah tidak bergerak
lagi. Ketika Agung Sedayu berdiri disisinya, maka tubuh itu
rasa-rasanya bagaikan telah membeku.
Dengan lantang Agung Sedayupun kemudian berkata
“Sekar Mirah dan Glagah Putih. Beri kesempatan lawanlawanmu
itu melihat keadaan gurunya jika mereka masih
hidup. “
Sebenarnyalah kedua orang murid Ki Ajar yang sudah tidak
berdaya itu telah mendapat kesempatan untuk berjalan
dengan tertatih-tatih mendekati gurunya. Ketika keduanya
kemudian berjongkok disisi Ki Ajar itu, maka tiba-tiba saja
murid yang tertua itu berkata “Kau bunuh guru? “
Agung Sedayu menggeleng. Katanya dengan nada dalam
“Ia telah membunuh dirinya sendiri. Aku sudah memperingatkannya,
bahwa darahnya akan dapat terperas habis lewat
lukanya. Tetapi ia justru telah mengerahkan ilmunya pada
saat-saat terakhir, sehingga darahnya itu benar-benar menjadi
kering.
Kedua orang murid Ki Ajar itu hanya dapat menundukkan
kepalanya.
“Ki Ajar adalah orang yang luar biasa. Ia masih dapat
melepaskan ilmunya disaat-saat darahnya mulai mengering didalam
jantungnya, sehingga akhirnya ia harus meninggal
karena kehabisan darah. Sebenarnya ia dapat menjaga
dirinya sendiri, karena ia memiliki ilmu dan pengetahuan yang
cukup untuk mencegah peristiwa yang tidak kalian kehendaki
itu. Tetapi seakan-akan Ki Ajar sudah tidak menghiraukan
dirinya sendiri disaat-saat terakhir. Ia lebih menurut
kemarahannya yang bergejolak daripada pertimbangan yang
bening.
Kedua muridnya masih saja berdiam diri. Sekar Mirah dan
Glagah Putih yang kemudian berdiri pula disebelah
menyebelah Agung Sedayu juga bagaikan membeku.
Malam yang dingin itu rasa-rasanya mulai terasa dinginnya.
Angin yang bertiup bukan lagi prahara yang memancar dari Aji
Sapu Angin Ki Ajar Sigarwelat yang memiliki ilmu yang tinggi.
Tetapi angin yang terasa basah mengandung titik-titik embun.
Dalam hening itu terdengar suara Agung Sedayu pula
“Kalian adalah murid-murid Ki Ajar Sigarwelat. Kalian telah
mendapat alas ilmu tertinggi dari gurumu. Tetapi gurumu
sekarang sudah tidak ada lagi. Mungkin kau dapat menyebut
bahwa aku adalah pembunuhnya meskipun ialah yang
sebenarnya telah membunuh dirinya sendiri. Dengan kematian
Ki Ajar, kalian dapat menarik satu pelajaran. Gurumu adalah
orang yang mampu berbuat apa saja. Ilmunya akan sangat
berarti jika ia menge-trapkan pada sisi yang benar. Namun kini
ia terbunuh untuk satu kepentingan yang tidak seimbang sama
sekali dengan pengorbanan yang telah diberikan. Apakah
bagimu nilai Rara Wulan lebih tinggi dari gurumu sehingga
karena permintaanmu kau telah mendorong gurumu kedalam
kematian? “
Kedua orang murid Ki Ajar Sigarwelat itu semakin
menunduk. Sementara itu Agung Sedayu berkata selanjutnya
“Aku mengerti. Kalian tentu menganggap bahwa gurumu
adalah orang yang tidak akan dapat dihalangi oleh siapapun.
Satu lagi yang dapat kau sadap dari peristiwa ini. Tidak ada
orang yang mutlak tidak dapat dikalahkan. Hari ini kau lihat,
aku keluar dengan selamat dari pertempuran ini. Tetapi aku
tidak akan dapat berkata bahwa tidak akan ada orang yang
dapat mengalahkan aku. Satu pengalaman yang sangat
berharga bagimu. Jika kelak kalian dapat mengembangkan
ilmu kalian sehingga mencapai tataran sebagaimana gurumu
sekarang, maka kalian tidak akan dapat berkata, akulah orang
yang terbaik. “
Kedua murid Ki Ajar itu masih tetap berdiam diri. Mereka
memang mendengarkan kata-kata Agung Sedayu sambil
merenungi kematian guru mereka. Betapapun dada mereka
bergejolak, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
“Sudahlah “berkata Agung Sedayu “adalah kewajiban
kalian untuk menyelenggarakan tubuh guru kalian. Sampai
saat ini aku masih menganggap bahwa kalian memiliki nalar
dan rasa yang utuh, sehingga kalian dapat melihat jauh. Juga
dalam hubungan murid Ki Ajar Sigarwelat yang tertua dengan
Rara Wulan. Selebihnya aku ingin memberikan sedikit
keterangan, bahwa gurumu bukan satu-satunya orang yang
memiliki ilmu seperti itu. Ilmu Sapu Angin, agaknya
mempunyai hubungan dengan padepokan Sapu Angin. Kalian
dapat mencoba berhubungan dengan mereka jika kalian
masih ingin mengembangkan ilmu kalian. “
Wajah-wajah kedua murid Ki Ajar itu menjadi tegang.
Nampaknya Agung Sedayu, Glagah Putih dan Sekar Mirah
tidak akan berbuat sesuatu atas mereka. Tidak terbayang
didalam sikap dan kata-kata mereka, bahwa ketiga orang itu
ingin menyakiti mereka apalagi membunuh mereka
sepeninggal gurunya, meskipun mereka tahu, sumber
persoalannya adalah pada murid tertua Ki Ajar Sigarwelat itu.
Bahkan Agung Sedayupun kemudian berkata “Nah, kau
tentu dapat merasakan sekarang, betapa Ki Ajar Sigarwelat
telah mati dalam kesia-siaan, meskipun sebenarnya
kemampuannya itu akan dapat ikut menentukan perputaran
pemerintahan di Mataram. “
“Aku mengerti “desis murid tertua Ki Ajar itu “seperti kau
katakan, kami memang tidak mengira, bahwa di Tanah
Petdikan ini ada orang yang dapat mengimbangi
kemampuannya. “
“Ki Sanak “berkata Agung Sedayu “jika kelak kau dapat
menguasai kemampuan sebagaimana gurumu, maka kau
jangan beranggapan seperti itu. Bertindak sewenang-wenang
justru pada satu lingkungan yang disangka tidak memiliki
pelindung yang baik. Jika kalian mengetahui satu lingkungan
seperti itu, maka kalian, lebih-lebih lagi orang-orang seperti
gurumu itu, justru harus bersedia melindunginya dari tindak
ketidak adilan, kewenang-wenangan dan tindakan-tindakan
lain yang semacam itu. Nah, sekarang kami minta diri. Kami
memberi waktu kepada kalian sampai esok menjelang fajar.
Jika saatnya orang-orang pergi ke pasar dan orang-orang
penjual kayu bakar lewat jalan sempit ini, kalian harus sudah
tidak ada di tempat ini. Terserah, apakah kalian akan
menguburkan guru kalian disini, atau kalian bawa kemana
saja menurut kepentingan kalian. Mungkin kalian dapat
berbicara dengan Ki Lurah Citra-bawa. “
“Baiklah “jawab murid Ki Ajar yang tertua “kami akan
segera meninggalkan tempat ini. “
“Sadari, bahwa kami telah mengampuni kalian kali ini.
Tetapi jika pada suatu saat masih ada diantara kalian yang
mengganggu keluarga Ki Lurah Branjangan, maka mungkin
sekali sikap kami sudah jauh berbeda. “berkata Agung Sedayu
pula.
Kedua orang murid Ki Ajar itu mengangguk kecil.
Demikianlah, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah
Putihpun segera meninggalkan tempat itu. Malam masih
gelap dan anginpun rasa-rasanya mengusap tubuh mereka
yang basah oleh keringat.
Dalam pada itu, Sekar Mirahpun tiba-tiba saja telah
bertanya “Apakah mereka tidak akan mendendam? “
“Mudah-mudahan tidak “jawab Agung Sedayu “betapa
kerasnya hati seseorang, namun aku masih percaya, bahwa
didalam dasarnya yang paling dalam masih tersimpan sikap
yang jernih dari titah terkasih Yang Maha Agung ini. “
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Kakak
sepupunya memang seorang yang lebih banyak berprasangka
baik daripada berprasangka buruk kepada seseorang.
Demikian pula agaknya kepada kedua orang murid Ki Ajar
Sigarwelat itu.
Namun menurut dugaan Glagah Putihpun keduanya tidak
akan berbuat sesuatu. Bukan karena kesadaran yang akan
bangkit begitu saja di dalam jantung mereka, meskipun hal itu
memang mungkin sebagaimana diperhitungkan oleh kakak
sepupunya, tetapi keduanya lebih banyak menjadi ketakutan
melihat kekuatan yang ada di Tanah Perdikan. Kecuali jika
tiba-tiba saja kekuatan raksasa berdiri di belakangnya.
Karena itu, maka Glagah Putih tidak bertanya tentang
kemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi ia bahkan bertanya
“Kemana tubuh Ki Ajar itu akan dibawa oleh kedua orang
muridnya? “
“Entahlah “jawab Agung Sedayu “tetapi jika padepokan
mereka terlalu jauh, Ki Ajar tentu akan dikuburkan di lereng
bukit itu dengan tanda-tanda yang mudah dikenali sehingga
mereka akan tetap dapat mengenali kuburan guru mereka. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya
lagi. Demikianlah, maka mereka bertigapun kemudian telah
menempuh perjalanan kembali disisa malam itu. Tetapi
mereka memang berusaha untuk menghindari padukuhanpadukuhan
agar tidak terlalu banyak pertanyaan yang harus
mereka jawab.
Tetapi mereka tidak dapat menghindari pertanyaan-perKang
Zusi - http://kangzusi.com/
tanyaan dari para peronda di padukuhan induk. Ketika
mereka memasuki mulut jalan induk, maka para perondapun
telah berebut menanyakan apa yang telah terjadi.
“Tidak ada apa-apa “jawab Agung Sedayu.
“Ah “para peronda itu berdesah.
Namun Agung Sedayupun kemudian berkata “Sudah terlalu
malam. Kami sangat letih. Beri kesempatan kami beristirahat. “
Para peronda itu memang tidak memaksa, karena mereka
memang melihat ketiga orang itu nampak letih. Karena itu,
maka dibiarkannya saja ketiga orang itu melanjutkan
perjalanan mereka tanpa diganggu lagi.
Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka telah
memasuki halaman rumah Ki Gede. Para peronda di rumah
itupun telah mendapat jawaban yang sama dari Agung
Sedayu ketika mereka menghujaninya dengan pertanyaanpertanyaan.
“Kami terlalu letih “desis Agung Sedayu.
Para peronda dan para pengawalpun tidak memaksanya
pula untuk menjawab.
Ternyata di ruang dalam Ki Gede, Ki Lurah Branjangan, Ki
Jayaraga masih duduk di ruang dalam. Di sudut amben yang
besar Raden Teja Prabawa telah dipersilahkan berbaring oleh
Ki Gede, karena ia berkeberatan untuk tidur sendiri di gandok.
Namun ternyata anak muda itu juga tidak dapat tidur sama
sekali. Bagaimanapun juga ia masih dicekam oleh
kegelisahan. Sedangkan di sebuah bilik Rara Wulan berbaring
ditemani oleh seorang perempuan separo baya. Tetapi
ternyata Rara Wulan juga dicekam oleh kegelisahan dan
bahkan ketakutan meskipun ia tahu, di depan bilik itu
berkumpul beberapa orang yang akan mampu melindunginya
termasuk Ki Jayaraga yang dikenalnya sebagai guru Glagah
Putih disamping Agung Sedayu. Sementara itu, di sekitar
rumah itu juga dikelilingi oleh beberapa orang pengawal dan
diregol beberapa peronda berada di gardu.
Tetapi Rara Wulan pun mengetahui bahwa orang yang
mengancam untuk mengambilnya itu dibayangi oleh seorang
yang
berilmu sangat tinggi.
Kegelisahan Rara Wulan ternyata tidak saja tentang dirinya
sendiri. Tetapi ia juga menjadi gelisah karena Agung Sedayu,
Glagah Putih dan Sekar Mirah masih juga belum kembali.
Karena itu, ketika Rara Wulan itu mendengar suara ketiga
orang itu di ruang dalam, maka iapun dengan serta merta
telah bangkit dan berlari keluar.
“Apakah yang terjadi? “bertanya Rara Wulan itu dengan
serta merta.
Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika dilihatnya
Glagah Putih berdiri tegak tanpa cidera apapun.
Tetapi Agung Sedayulah yang menjawab “Kami tidak apaapa.
“
“Marilah. Duduklah “Ki Gede mempersilahkan - kami rasarasanya
menjadi sangat gelisah menunggu. “
Ketiga orang itupun kemudian telah duduk bersama di
amben besar di ruang dalam itu pula. Rara Wulan dan Teja
Pra-bawa telah ikut duduk pula bersama mereka.
Sementara perempuan yang semula menunggui Rara
Wulan menyiapkan minuman, maka Agung Sedayu telah
sempat berce-ritera dengan singkat tentang apa yang telah
terjadi.
Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Katanya “Luar biasa.
Jadi ilmu orang yang disebut Ki Ajar Sigarwelat itu mampu
menembus ilmu kebal angger Agung Sedayu? “
“Ilmu kebalku telah diguncangnya. Pedang tipisnyalah yang
telah mengoyak ilmu kebalku dan melukai lenganku. Meskipun
hanya segores kecil “sahut Agung Sedayu.
Ki Gedepun berdesis seakan-akan kepada diri sendiri “Apa
jadinya jika ilmu itu mengenai orang lain. Demikian pula
pedang tipisnya. Tulang-tulangpun akan putus dengan sekali
tebas. “
Agung Sedayupun mengangguk pula sambil menyahut
“Memang luar biasa Ki Gede. Tetapi Yang Maha Agung masih
melindungi kami, sehingga kami bertiga masih sempat
menghadap Ki Gede. “
“Kita memang bersyukur “sahut Ki Lurah “bukan saja kalian
yang mendapat perlindungan itu. Tetapi juga cucuku dan
bahkan seluruh keluargaku. “
“Tetapi bagaimana dengan kedua muridnya itu? “bertanya
Raden Teja Prabawa “apakah keduanya tidak akan
mendendam dan mencari kekuatan untuk melakukannya?
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan
serupa memang terbersit pula dihatinya sebagaimana pernah
ditanyakan pula oleh Sekar Mirah. Namun jawabnyapun sama
sekali tidak menunjukkan prasangka buruknya “Aku kira kedua
muridnya akan menyadari, bahwa mereka telah melakukan
kesalahan. “
Teja Prabawa termangu-mangu. Tetapi katanya
“Sebenarnya akan lebih meyakinkan jika kedua muridnya
itupun dibunuh pula. “
“Teja Prabawa “potong Ki Lurah Branjangan “kenapa kau
berpendapat begitu? Membunuh bukan tindakan yang terpuji
dimanapun juga jika tidak terpaksa sekali. “
“Tetapi membunuh kedua orang itupun termasuk langkah
yang terpaksa diambil untuk melindungi diri sendiri, karena
kedua orang itu akan dapat mengancam keselamatan kita
semuanya. Seseorang kadang-kadang memang harus
dibunuh jika memang tidak ada lagi kemungkinan untuk
merubah sifat dan wataknya seperti kedua orang itu. “berkata
Raden Teja Prabawa.
“Bagaimana kau dapat mengatakan, bahwa keduanya
sudah tidak mungkin lagi berubah watak dan sifatnya?
“bertanya Ki Lurah Branjangan. Lalu “Kau tidak
menghadapinya langsung. Kau tidak mendengar apa yang
dikatakannya dan kau tidak tahu apa yang terjadi pada saatsaat
gurunya meninggal. Kau tidak dapat mengambil
kesimpulan begitu saja. “
Raden Teja Prabawa memang terdiam. Tetapi sebenarnya
ia tetap merasa kecewa bahwa kedua orang itu tidak
dibunuh saja. Kekecewaan yang juga bersumber dari
perasaan takut bahwa pada suatu saat orang-orang itu atau
salah seorang daripadanya akan datang menemuinya untuk
membalas dendam, karena bagaimanapun juga, hubungannya
dengan Rara Wulan sebagai seorang kakak adalah dekat
sekali.
Dalam pada itu, ketika kemudian minuman hangatpun
dihidangkan, maka tubuh-tubuh yang letih itu rasa-rasanya
menjadi segar.
Namun kemudian Agung Sedayu, isteri dan adik sepupunyapun
telah mohon diri kepada Ki Gede untuk membersihkan
diri dan beristirahat barang sesaat dirumah.
Agaknya Ki Gedepun tidak berkeberatan. Tetapi ia minta
agar Ki Lurah Branjangan dan kedua cucunya biar saja berada
di rumahnya. Karena agaknya tidak lagi terdapat ancaman
yang berbahaya atas mereka. Setidak-tidaknya untuk
sementara.
Tetapi tiba-tiba saja Sekar Mirah berkata “Bukankah Rara
akan belajar bersama-sama dengan aku di sanggar? “
“Ya “tiba-tiba saja Rara Wulan menyahut “aku ingin.
“Namun suaranya merendah. “Tetapi jika kakek yang mengijinkan.
“
“Ada-ada saja kau Wulan “sahut kakaknya “kita harus
segera kembali ke Kotaraja. Agaknya Tanah Perdikan ini
kurang sesuai bagi kita. “
Ki Lurah Branjangan tersenyum. Katanya “Ternyata kau
dan Wulan mempunyai beberapa perbedaan sikap. Memang
tidak apa-apa. Setiap orang mempunyai sikap dan tanggapan
mereka masing-masing atas satu persoalan yang sedang
berkembang. Tetapi barangkali kita perlu mendengar alasan
Wulan, kenapa ia ingin mempelajari olah kanuragan. “
“Yang terjadi merupakan pengalaman pahit, kek “jawab
Rara Wulan “karena itu, aku berpikir, bahwa sebaiknya aku
dapat melindungi diriku sendiri. Setidak-tidaknya bertahan
untuk sementara sebelum pertolongan datang. Ketika aku
melihat mbokayu Sekar Mirah di sanggar mempertunjukkan
kemampuannya, maka akupun ingin belajar padanya,
meskipun yang akan aku capai akhirnya hanya sebagian kecil
dari kemampuan itu.
Ki Lurah Branjangan tersenyum. Katanya “Aku tidak
berkeberatan. Aku akan berbicara dengan kedua orang
tuamu. Mudah-mudahan mereka mengerti. Tetapi keputusan
terakhir memang ada pada ayah dan ibumu. “
“Kakek dapat membantu aku “berkata Rara Wulan “apalagi
aku telah menjadi semakin besar dan pada saatnya aku
mempunyai hak untuk menentukan sikapku sendiri. “
“Tidak “jawab Teja Prabawa “kau adalah seorang gadis.
Hanya seorang laki-laki yang berhak menentukan sikapnya
sendiri jika ia dewasa. Seorang gadis harus mengabdi kepada
orang tua, selanjutnya kepada suaminya. “
“Seandainya demikian, Teja Prabawa “sahut Ki Lurah
Branjangan “maka yang menentukan adalah kedua ayah dan
ibumu serta kelak sudah barang tentu suaminya. Jika ayah
dan ibumu tidak berkeberatan dan apalagi suaminya kelak
sependapat, maka kau tidak usah terlalu tegang memikirkan
adikmu.
Teja Prabawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi rasarasanya
ia sudah tidak ingin lebih lama berada di Tanah Perdikan
itu. Namun ia memang merasa berkeberatan jika
adiknya mempelajari olah kanuragan, apalagi kelak memiliki
kemampuan jauh melampauinya.
Namun dalam pada itu, Ki Lurahpun berkata “Sudahlah.
Kita sebaiknya tidak membicarakannya sekarang. Biarlah angger
Agung Sedayu, angger Sekar Mirah dan angger Glagah
Putih beristirahat lebih dahulu.
Demikianlah, maka ketiga orang itu bersama Ki Jayaraga
telah meninggalkan rumah Ki Gede. Meskipun malam sudah
hampir sampai ke ujungnya, namun ketika mereka sampai
dirumah, mereka masih juga sempat mandi dan masingmasing
masuk kedalam bilik mereka. Hanya Glagah Putih
yang masih sempat melihat, bahwa anak yang membantu di
rumah itu ternyata telah mendapat ikan banyak sekali.
“Jika aku sendiri, aku malahan mendapat ikan lebih banyak
daripada jika kau ikut bersamaku “berkata anak itu.
Glagah Putih tersenyum. Katanya “Jika demikian, maka
sebaiknya kau pergi saja sendiri. “
“Baik. Baik “sahut anak itu sambil bersungut-sungut “kau
kira aku tidak dapat melakukannya. “
Glagah Putih menepuk bahu anak itu sambil tertawa.
Katanya “Jangan marah. Aku tidak bersungguh-sungguh. “
Anak itu tidak menjawab. Tetapi ia segera meninggalkan
Glagah Putih yang masih saja tertawa sendiri.
Namun sejenak kemudian Glagah Putihpun telah berada
didalam biliknya dan berbaring dibawah cahaya lampu minyak.
Tetapi dikejauhan telah mulai terdengar ayam jantan berkokok
yang seakan-akan menjalar dari kandang ke kandang,
sehingga kemudian beberapa ekor ayam jantan dikandang
dibelakang rumah Agung Sedayu itupun berkokok pula.
Tetapi Agung Sedayu masih berusaha untuk memejamkan
matanya. Masih ada sisa malam meskipun hanya sebentar.
Dengan tidur sejenak maka keletihan tubuhnya akan hilang.
Namun agaknya Glagah Putih tidak dapat tidur barang
sekejappun. Ada gangguan lain pada perasaannya. Jika ia
mencoba untuk memejamkan matanya, justru sebuah wajah
nampak diangan-angannya. Wajah seorang gadis Kota Raja
yang terbiasa hidup dengan cara yang berbeda dari cara
hidup orang-orang padesan di Tanah Perdikan Menoreh.
Glagah Putih menjadi gelisah. Ia sadar, perasaan apakah
yang sedang bergejolak didalam dirinya. Glagah Putih
menyadari, bahwa ia mulai tertarik pada gadis kota itu. Namun
ia berusaha untuk mengatasinya dengan penalaran, bahwa ia
berada pada jarak yang sangat jauh dari gadis itu. Gadis yang
terbiasa hidup dirumah yang mewah dari seorang
Tumenggung. Yang terbiasa dilayani oleh pelayan-pelayan
yang tidak hanya berjumlah satu dua. Yang terbiasa
dimanjakan sehingga semua keinginannya terpenuhi.
Sementara Glagah Putih adalah anak
bekas seorang prajurit di Banyu Asri, yang kemudian
tinggal di Tanah Perdikan Menoreh yang jauh dari kota,
dengan cara hidup yang jauh berbeda. Yang tinggal di rumah
yang sederhana dan jauh dari keramaian. Sedangkan kaki dan
tangannya selalu dikotori dengan lumpur sawah dan gatalnya
batang ilalang.
Ternyata sampai saatnya matahari membayang dilangit,
Glagah Putih masih belum dapat tertidur barang sekejappun,
sehingga akhirnya ia justru bangkit dan keluar dari biliknya
untuk melakukan kerjanya setiap pagi.
Ketika ia bertemu dengan Sekar Mirah, maka Sekar Mirah
itu justru bertanya kepadanya “Wajahmu nampak pucat
Glagah Putih. Apakah badanmu terasa kurang sehat? Letih
barangkali atau ada bekas ilmu lawanmu pada tubuhmu yang
belum dapat dihindarkan? “
Glagah Putih menggeleng. Jawabnya “Tidak mbokayu.
Tidak ada apa-apa. Aku memang letih. Tetapi justru karena
itu, aku tidak dapat beristirahat dengan baik disisa malam ini. “
“Kau merasa gelisah? “bertanya Sekar Mirah. Glagah Putih
mengangguk.
“Apakah kau gelisah karena murid Ki Ajar itu yang pada
suatu saat memang mungkin dapat datang lagi kepadamu?
“bertanya Sekar Mirah.
“Glagah Putih menggeleng sambil menjawab “Tidak
mbokayu. “
Tiba-tiba saja Sekar Mirah tersenyum. Katanya “Jika
demikian aku tahu apa yang kau gelisahkan. “
Dahi Glagah Putih berkerut. Namun ia mencoba mengelak
“Aku tidak menggelisahkan apa-apa. “
“Ah kau yang mengatakannya sendiri, bahwa kau tidak
dapat tidur karena gelisah sehingga wajahmu nampak pucat
dan tubuhmu letih sekali. Kau biasanya tidak begitu. Kau
sanggup bertempur sehari-semalam tanpa berhenti. Bahkan
lebih. Apalagi hanya melawan murid Ki Ajar yang baru mulai
berguru dan mulai mempelajari ilmu Sapu Angin yang masih
mendasar
sekali. “berkata Sekar Mirah.
“Jadi apa menurut dugaan mbokayu? “bertanya Glagah
Putih.
Sekar Mirah tertawa. Katanya “Aku akan berbicara dengan
kakakmu dan Ki Jayaraga. “
“Bicara tentang apa? “desak Glagah Putih.
“Tentang wajahmu yang pucat, tentang tubuhmu yang
nampak terlalu letih dan tentang kegelisahanmu sehingga kau
tidak sempat beristirahat sama sekali. “jawab Sekar Mirah
yang masih saja tertawa.
“Lalu kesimpulan apa yang mbokayu dapatkan? “bertanya
Glagah Putih pula.
Sekar Mirah hanya tertawa saja. Tetapi iapun melangkah
pergi.
“Mbokayu, mbokayu “panggil Glagah Putih. Tetapi Sekar
Mirah hanya berpaling sambil tertawa. Tetapi ia tidak berhenti,
bahkan kemudian Sekar Mirah itupun telah menyelinap masuk
ke dapur.
Glagah Putih berdiri termangu-mangu. Namun iapun
menjadi bertambah gelisah. Nampaknya Sekar Mirah dapat
membaca perasaannya.
“Mbokayu Sekar Mirah tentu pernah semuda aku juga
“berkata Glagah Putih kepada diri sendiri.
Namun Glagah Putihpun kemudian telah berusaha
melupakan bayangan di angan-angannya. Iapun kemudian
telah bekerja seperti biasanya. Menimba air untuk mengisi
jambangan-jambangan di pakiwan. Kemudian mengisi
gentong didapur bersama pembantu dirumahnya. Glagah
Putih yang menimba air, sementara anak itu yang
membawanya ke dapur.
Tetapi anak itu masih juga bersungut “Karena itu, talang
bambu itu cepat kau perbaiki, sehingga aku tidak usah
mondar-mandir ke dapur. “
“Kenapa bukan kau yang memperbaiki? “bertanya Glagah
Putih.
“Siapa yang lebih besar diantara kita? Kau atau aku?
“bertanya anak itu.
Glagah Putih tertawa. Tetapi katanya “Tentu kau yang
merusakkannya pagi tadi, ketika kau pulang dari sungai. “
“Kau menuduh aku? “mata anak itu terbelalak.
Glagah Putih tertawa. Katanya “Cepat. Bawa air itu kedapur.
Kemudian bawa klenting itu kembali. Kau masih harus
berjalan mondar-mandir dua kali lagi. “
Ternyata anak itu mampu membuat Glagah Putih lupa
barang sejenak kegelisahannya sendiri. Bahkan kemudian ia
berhasil untuk melakukan pekerjaannya yang lain
sebagaimana dilakukan sehari-hari sebelumnya tanpa banyak
berhenti untuk merenung.
Sementara itu, di rumah Ki Gede Menoreh Raden Teja
Prabawa telah mendesak kakeknya untuk segera kembali ke
kota. Baginya kehidupan di Tanah Perdikan itu tidak menarik
sama sekali.
“Kau tidak merasa mendapatkan pengalaman baru di
dalam hidupmu selama kau berada di Tanah Perdikan ini?
Kau tidak merasa bahwa kau telah melihat satu segi
kehidupan yang lain dari kehidupan yang kau lihat sehari-hari
di kota? Dan kau tidak melihat betapa orang-orang Tanah
Perdikan ini menanggapi persoalan dari persoalan air
disawahnya, persoalan ternak di kebunnya sampai ke
persoalan adikmu Rara Wulan “bertanya Ki Lurah Branjangan.
Raden Teja Prabawa termangu-mangu. Namun katanya
kemudian “Apakah hal itu ada hubungannya dengan hidupku
sekarang maupun kelak? Jika aku tidak datang kemari, maka
aku tidak memerlukan pengalaman seperti itu. Mungkin aku
akan bekerja di istana atau mungkin aku akan menjadi
seorang prajurit. “
“Ternyata pandanganmu terlalu sempit Teja Prabawa.
“berkata Ki Lurah Branjangan. Namun tiba-tiba Ki Lurah itu tersenyum
sambil berkata “Tetapi sebenarnya kau tidak
semata-mata membutakan dirimu dari kenyataan itu. Tetapi
kau dibayangi oleh ketakutan akan pembalasan dendam.
Kematian Ki Ajar Sigarwelat itu nampaknya selalu
membuatmu gelisah. “
Raden Teja Prabawa mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak
dapat membantah kata-kata kakeknya. Agaknya kakeknya
dapat melihat isi hatinya yang sebenarnya.
Namun karena itu maka katanya “Kakek. Apakah artinya
bahwa kita harus tetap berada di sini sementara bahaya telah
mengancam. Kedua murid Ki Ajar itu akan dapat mencari
bantuan dari manapun juga asalnya. “
“Teja Prabawa. Apakah kau tidak melihat pasukan
pengawal yang bersiaga siang dan malam di halaman rumah
ini? Sementara itu Ki Gede adalah seorang yang berilmu
tinggi, sedangkan kakek sendiri adalah bekas seorang
prajurit? Apa pula yang kau takutkan? Justru jika kita berada
di kota, maka pembalasan dendam itu akan dapat dilakukan
dengan mudah? Apakah rumah ayahmu itu dijaga seketat
rumah Ki Gede ini? “desis Ki Lurah.
“Tetapi jika ayah menghendaki, rumah kami akan dijaga
oleh prajurit Mataram. Bukan sekedar pengawal Tanah
Perdikan. “berkata Teja Prabawa.
“Sekali lagi kau salah menilai “berkata Ki Lurah Branjangan
“kau mengira bahwa kemampuan olah kanuragan seorang
pengawal kalah dari seorang prajurit. Sebagaimana kau tentu
menganggap bahwa para Senapati di Mataram mempunyai
kemampuan lebih tinggi dari para pemimpin pengawal di
Tanah Perdikan ini. Seharusnya kau yang sudah melihat
sendiri kemampuan mereka mengerti, bahwa para pemimpin
di Tanah Perdikan ini tidak kalah dari para pemimpin di
Mataram. Bahkan para Pangeran sekalipun, selain Ki Juru
Martani yang bergelar Ki Mandaraka dan Panembahan
Senapati sendiri. Seperti yang pernah aku katakan, bahwa
Raden Rangga yang memiliki ilmu tanpa dapat dijajagi itu
adalah kawan bermain Glagah Putih. Kawan mengembara
dan juga kawan menjalani laku dalam memahami ilmu. Tetapi
mereka juga kawan berlatih. Sedangkan
Agung Sedayu pada usia remajanya adalah
seorang pengembara yang kadang-kadang bersama
Panembahan Senapati dan kadang-kadang bersama
Pangeran Benawa. Nah, kau tahu itu? Dan kau lihat bahwa
Agung Sedayu itu sampai sampai sekarang masih juga tetap
bergulat dengan lumpur di sawah? Jika ia mau menjadi
seorang prajurit seperti kakaknya, Untara, maka ia tentu
sudah mendapat kedudukan yang tinggi. “
Teja Prabawa tidak menjawab. Kepalanya memang
tertunduk dalam-dalam. Apalagi ketika kemudian Rara Wulan
datang mendekati mereka.
Adalah tiba-tiba saja ketika Rara Wulan itu kemudian
berkata “Bagaimana pendapat kakek jika aku benar-benar
belajar olah kanuragan kepada mbokayu Sekar Mirah? “
“Itu tidak pantas “Teja Prabawalah yang menjawab “jika kau
memang ingin belajar, biarlah ayah yang mencari seorang
guru yang pantas. “
Namun Ki Lurah Branjangan berpendapat lain. Katanya
“Biarlah aku yang mengatakannya kepada ayah dan ibumu.
Bukankah kemarin aku sudah mengatakan begitu? “
“Jika demikian Wulan harus menunggu sampai ayah dan
ibu memberikan ijinnya “berkata Teja Prabawa.
“Tentu “jawab Ki Lurah Branjangan.
“Tetapi aku harus menunggu terlalu lama, “sahut Rara
Wulan.
“Kita akan segera kembali ke kota “berkata Teja Prabawa
“kakek akan dapat mengatakannya kepada ayah dan ibu. “
“Ya “Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi katanya
selanjutnya “namun sebelum itu. kau dapat mencoba barang
satu dua hari. Jika kau tertarik untuk selanjutnya, barulah aku
akan mengatakannya kepada ayah dan ibumu. Tetapi jika kau
ternyata tidak tertarik atau barangkali kau merasa bahwa
tubuhmu tidak akan mungkin mendukung ilmu kanuragan
yang kau pelajari, maka sudah tentu aku tidak perlu
mengatakannya kepada orang tuamu. “
“Bagus kakek. Nanti aku akan datang kepada mbokayu
Sekar Mirah “berkata Rara Wulan.
“Kau harus mendapat ijin dahulu “bentak Teja Prabawa.
“Biarlah aku yang memutuskannya Teja Prabawa “berkata
Ki Lurah Branjangan “dengan demikian Rara Wulan tidak akan
menjadi bingung. “
Teja Prabawa terdiam meskipun ia tetap berkeberatan.
Tetapi nampaknya kakeknya benar-benar sudah tidak dapat
dirubah keputusannya.
Bahkan kakeknya itupun kemudian berkata “Bersiapsiaplah.
Kita akan pergi ke rumah Agung Sedayu. “
“Baik kek “jawab Rara Wulan sambil berlari masuk kedalam
biliknya untuk berbenah diri.
Sementara itu Ki Lurah Branjangan telah bertanya pula
kepada cucu laki-lakinya “Kau ikut aku ke rumah Agung
Sedayu atau tidak? “
Teja Prabawa menjadi ragu-ragu. Hampir diluar sadarnya ia
bertanya “Dengan siapa kakek pergi ke rumah Agung
Sedayu? “
“Aku, bersama Rara Wulan dan jika kau pergi, kita akan
pergi bertiga “jawab Ki Lurah.
Teja Prabawa termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun
kemudian berkata seakan-akan kepada diri sendiri “Terlalu
berbahaya jika kita pergi hanya bertiga. “
Ki Lurah mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia
bertanya “Kenapa berbahaya? “lalu suaranya merendah “Teja
Prabawa, kau jangan terlalu dibayangi oleh dendam muridmurid
Ki Ajar Sigarwelat. Belum tentu mereka termasuk orangorang
yang sangat jahat dan pendendam. Juga kematian
gurunya akan sangat berpengaruh, sehingga mereka tidak
akan berani berbuat terlalu banyak. “
Teja Prabawa termangu-mangu. Tetapi ia tidak
membantah. Bahkan kemudian iapun berdesis “Aku pergi
bersama kakek. “
“Baik “berkata Ki Lurah “kita akan berbenah diri. “Sejenak
kemudian maka Ki Lurahpun telah menemui Ki Gede untuk
minta diri. Nampaknya Ki Gede sedang bersiap-siap untuk
mengadakan pertemuan para bebahu Tanah Perdikan
Menoreh. Karena itu maka katanya kemudian “Sebentar lagi
Agung Sedayu tentu juga akan datang kemari. Kita akan
berbicara tentang beberapa hal yang penting bagi Tanah
Perdikan ini.”-
“Tetapi bukankah di rumah itu masih ada Sekar Mirah, Ki
Jayaraga dan Glagah Putih? “sahut Ki Lurah. Tetapi iapun
kemudian bertanya “Apakah Ki Jayaraga juga akan hadir disini
nanti? “
Ki Gede menggeleng. Jawabnya “Aku kira tidak. Kali ini aku
hanya mengundang para bebahu dan para pemuka di Tanah
Perdikan ini. “
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya “Jika demikian,
kami mohon diri. “
Ki Gede mengantar Ki Lurah sampai ke halaman. Namun ia
masih juga berpesan “Hati-hati Ki Lurah. Jika Ki Lurah ingin
keluar dari pedukuhan induk, biarlah ada yang
mengantarkannya. “
“Kami hanya ingin pergi ke rumah Agung Sedayu “jawab Ki
Lurah.
“Demikianlah, Ki Lurah bersama kedua cucunyapun telah
keluar dari regol halaman rumah Ki Gede. Seorang pengawal
yang berada didalam regol mengangguk hormat. Sementara
dua orang kawannya duduk termangu-mangu di gardu.
Beberapa saat kemudian, ketiganya telah menyusuri jalan
induk Tanah Perdikan. Jalan yang cukup ramai, karena iapun
akan melalui daerah perdagangan di sebelah pasar.
Beberapa buah pedati lewat beriringan. Beberapa orang yang
terlambat pergi ke pasar nampak tergesa-gesa, sementara itu
sudah ada pula diantara beberapa orang yang pulang dari
pasar. Pasar itu menjadi lebih ramai dihari pasaran sepekan
sekali.
Namun nampaknya Teja Prabawa masih saja merasa
cemas. Jika dua tiga orang laki-laki berjalan beriring, ia selalu
saja menjadi berdebar-debar. Sementara itu justru Rara
Wulan berjalan di depan. Meskipun ia sadar, bahwa ia adalah
sumber ancaman Ki Ajar Sigarwelat, namun ia dapat mengerti
keterangan kakeknya, bahwa untuk sementara mereka tidak
akan mengganggu.
Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan rumah
Agung Sedayu, maka rasa-rasanya hati Teja Prabawa menjadi
semakin tenang. Namun demikian, ia bertanya pula kepada
kakeknya “Bukankah Agung Sedayu akan pergi ke rumah Ki
Gede menghadiri pertemuan para bebahu? “
“Ya “jawab Ki Lurah. “Jadi dirumah itu kita akan bertemu
dengan siapa? “bertanya Teja Prabawa pula.
Bukankah tadi sudah aku katakan kepada Ki Gede bahwa
dirumah itu masih ada Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Sekar
Mirah? jawab Ki Lurah.
Teja Prabawa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
Ki Lurah berkata selanjutnya “Ki Jayaraga adalah seorang
yang luar biasa. Seandainya orang itu yang bertemu dengan
Ki Ajar Sigarwelat, maka agaknya Ki Ajar Sigarwelat pun tidak
akan dapat menang atasnya. “
Anak muda itu tidak menjawab. Rasa-rasanya memang
tidak mudah untuk percaya. Teja Prabawa menyangka, bahwa
kakeknya hanya sekedar menenangkan hatinya saja.
Demikianlah, maka beberapa saat kemudian mereka telah
berada di rumah Agung Sedayu. Seperti yang telah dikatakan
oleh Ki Gede, maka Agung Sedayu memang akan pergi ke
rumah Ki Gede untuk menghadiri pertemuan para bebahu
yang memang sering diadakan oleh Ki Gede untuk
membicarakan perkembangan Tanah Perdikan, agar tidak
terlambat menang-gapi keadaan.
“Tetapi di rumah masih ada Sekar Mirah, Ki Jayaraga dan
Glagah Putih “berkata Agung Sedayu “bahkan jika Ki Lurah
akan dirumah ini lagi, kami akan merasa senang sekali.
“Aku hanya minta diri untuk beberapa lama. Nanti kami
akan kembali ke rumah Ki Gede “jawab Ki Lurah. Namun
katanya pula. Yang berkepentingan kali ini adalah Rara
Wulan. Ia ingin berbicara dengan angger Sekar Mirah.
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian
iapun tersenyum sambil berkata “Silahkan. Sekar Mirah jarang
sekali pergi, kecuali pergi ke sawah. Sekali-sekali ke pasar
dihari-hari pasaran sepekan sekali, jika ia kehabisan bahanbahan
di dapur. “
Rara Wulan menunduk sambil berdesis “Bukan aku. Tetapi
kakek. “
“Ah “sahut kakeknya “aku hanya mengantarkan kau.
“Tetapi kakek yang mengajak aku kemari “jawab Rara
Wulan.
Sekar Mirah tersenyum sambil berkata “Baiklah. Aku sudah
mengerti. Bukankah Rara ingin bermain-main disanggar?
Rara Wulan mengangguk. Katanya sambil menunduk “Aku
baru ingin mencoba. “
“Tidak apa-apa “jawab Sekar Mirah “agaknya Rara
memang masih belum mengenal dengan baik olah kanuragan.
“Itulah yang akan dilakukannya “berkata Ki Lurah “dalam
dua atau tiga hari ini, biarlah ia mengenali olah kanuragan itu
lebih banyak. Baru ia akan dapat menentukan, apakah ia
berminat atau tidak. Jika ia berminat, maka aku harus
berbicara dengan ayah dan ibunya.
Agung Sedayu yang tertawa berkata “Apakah dalam waktu
dua tiga hari seseorang cukup waktu untuk mengenali olah
kanuragan? Dan apakah dalam waktu sesingkat itu seseorang
akan dapat mengatakan, apakah ia tertarik atau tidak? “
“Memang terlalu singkat. Tetapi itu lebih baik daripada tidak
sama sekali jika Rara Wulan ingin mempelajari olah
kanuragan bukan semata-mata karena keinginan yang
meletup begitu saja dari hatinya tetapi yang kemudian akan
segera pudar, karena ternyata olah kanuragan tidak
sebagaimana disangkanya, “jawab Ki Lurah Branjangan “olah
kanuragan bukan permainan seperti gatheng atau sodoran.
Tetapi menuntut tanggung jawab yang jauh lebih berat, selain
tuntutan gerak tubuh sepenuhnya. “
Agung Sedayu yang masih tertawa mengangguk angguk
“Baiklah. Biarlah Sekar Mirah nanti membawanya ke sanggar.
“
“Tetapi jangan mengganggu pekerjaan angger Sekar Mirah
sehari-hari. Masak misalnya atau keperluan yang lain. Bahkan
pergi kesawah. “berkata Ki Lurah.
“Tidak “Sekar Mirah tersenyum. Lalu katanya “Rara tentu
bersedia pula membantu aku didapur, sebelum memasuki
sanggar. Biarlah Glagah Putih nanti pergi ke sawah untuk
menemani Ki Jayaraga. “
“Tetapi “wajah Teja Prabawa yang segera berubah “semua
orang ternyata akan pergi. “
Ki Lurah tertawa. Katanya “angger Agung Sedayu tentu
tidak akan terlalu lama berada di rumah Ki Gede.
Pembicaraan mereka tentu tidak akan sampai tengah hari. “
“O tidak “jawab Agung Sedayu “aku akan segera kembali. “
Teja Prabawa termangu-mangu. Namun agaknya Agung
Sedayu dapat mengerti apa yang menjadi persoalannya yang
dapat dibacanya pula dari sikap Ki Lurah Branjangan.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Agung Sedayulah
yang minta diri untuk pergi ke rumah Ki Gede, sementara yang
lain masih ada dirumah. Bahkan Agung Sedayupun kemudian
berkata kepada Ki Jayaraga “Barangkali Ki Jayaraga dapat
menunda kepergiannya ke sawah sampai aku kembali dari
rumah Ki Gede. “
“Apakah kita akan pergi kesawah bersama-sama?
“bertanya Ki Jayaraga sambil tersenyum.
Agung Sedayu justru tertawa semakin panjang. Demikian
pula Ki Lurah Branjangan, sementara Teja Prabawa menjadi
kebingungan.
Demikianlah sepeninggal Agung Sedayu, maka Ki Jayaragalah
yang menemani Ki Lurah Branjangan berbincangbincang
di pendapa bersama Teja Prabawa. Sementara
Glagah Putih masih sibuk dikandang. Sedangkan Rara Wulan
berada di dapur bersama Sekar Mirah.
“Rara membantu aku didapur sebelum kita pergi ke
sanggar. “berkata Sekar Mirah.
Rara Wulan mengangguk sambil menjawab “Aku tidak
tergesa-gesa. Waktuku banyak. Tetapi kakang Teja
Prabawalah yang tergesa-gesa ingin kembali ke kota. “
“Kenapa? “bertanya Sekar Mirah. “Apakah Raden Teja
Prabawa tidak senang berada di Tanah Perdikan ini? “
“Nampaknya Tanah Perdikan ini bagi kakang Teja Prabawa
selalu dibayangi oleh dendam murid-murid Ki Ajar Sigarwelat
itu, “jawab Rara Wulan.
“Ah. Mereka tidak akan melakukan apa-apa lagi. Kedua
murid Ki Ajar itu masih terlalu muda didalam pewarisan ilmu
gurunya. Meskipun seorang diantara mereka telah menyimpan
pusaka Ki Sigarwelat yang tipis dan bertuah itu, yang ditangan
Ki Ajar Sigarwelat mampu menembus pertahanan ilmu kebal
kakang Agung Sedayu, namun ditangan murid-muridnya
pedang tipis itu tidak akan banyak berarti “berkata Sekar
Mirah.
Rara Wulan mengangguk-angguk. Meskipun ia merupakan
sasaran utama dari keinginan murid tertua Ki Ajar Sigarwelat,
tetapi gadis itu justru tidak mengalami kecemasan seperti
kakaknya.
Demikianlah maka untuk beberapa lama Rara Wulan
memang sibuk didapur. Bahkan ia seakan-akan telah
melupakan niat kedatangannya. Bekerja didapur yang jarang
sekali dilakukan itupun sangat menarik pula baginya. Ternyata
dirumah itu Rara Wulan dapat belajar tentang banyak hal.
Juga tentang masak-memasak.
Rara Wulan pulalah yang menghidangkan suguhan ke
pendapa bagi kakek dan kakaknya selain juga bagi Ki
Jayaraga.
Ternyata seperti yang diminta. Ki Jayaraga tidak segera
pergi ke sawah. Nampaknya kerja di sawah sudah tidak begitu
banyak lagi. Beberapa orang yang diupah oleh Agung Sedayu
telah dapat melakukan kerja mereka tanpa ditunggui oleh siapaun.
Sehingga dengan demikian, Ki Jayaraga dapat
menemani Ki Lurah sambil menunggu Agung Sedayu kembali.
Bahwa Ki Jayaraga tidak pergi, ternyata telah membuat
Teja Prabawa agak tenang. Ia tidak nampak terlalu gelisah
ketika ia duduk di pendapa.
Namun Ki Lurahpun kemudian berkata “Apakah kau tidak
ingin membantu angger Glagah Putih? “
Tetapi Ki Jayaragalah yang menjawab “Glagah Putih
berada di kandang. Nanti Raden dapat menjadi kotor. Tetapi
jika Raden mempunyai kesenangan berkuda, Glagah Putih
akan dapat mengawani Raden. Glagah Putih mempunyai
seekor kuda yang besar dan tegar, yang jarang ada duanya.
Apalagi di Tanah Perdikan ini. “
“Sebesar apa kuda itu? Sebesar-besarnya kuda di Tanah
Perdikan ini, tidak akan menyamai kuda-kuda para
bangsawan di kota, “jawab Teja Prabawa.
“Kuda itu memang didapatkannya dari kota. “berkata Ki
Jayaraga pula.
“Dari kota? “bertanya Raden Teja Prabawa.
“Apakah Glagah Putih atau Agung Sedayu atau yang lain
belum pernah mengatakan bahwa Glagah Putih adalah
sahabat Raden Rangga dari Mataram? “Ki Jayaraga justru
bertanya.
“Sudah beberapa kali ia dengar hal itu “Ki Lurahlah yang
menyahut.
“Apakah belum pernah ada yang mengatakan bahwa kuda
itu berasal dari Raden Rangga? “bertanya Ki Jayaraga pula.
Raden Teja Prabawa tidak menjawab. Bahkan kemudian Ki
Jayaraga itu berkata “Marilah. Mumpung Glagah Putih sedang
membersihkan kuda dan kandangnya, kita akan melihat.
Ki Lurahpun kemudian telah mengajak Teja Prabawa untuk
menyertainya. Mereka bertiga telah turun ke halaman samping
dan menuju ke kandang kuda.
Ada beberapa ekor kuda di kandang. Tetapi seekor diantaranya
memang seekor kuda yang besar dan tegar
melampaui kuda-kuda yang lain.
“Bukan main “desis Raden Teja Prabawa.
“Apakah Raden ingin menunggang kuda mengelilingi
Tanah Perdikan ini? Glagah Putih tentu bersedia menemani
Raden “berkata Ki Jayaraga.
Teja Prabawa menjadi ragu-ragu. Namun iapun kemudian
menggeleng sambil menjawab “Aku ingin beristirahat disini
saja kakek. “
Ki Lurah Branjangan tersenyum. Katanya “Baiklah. Kita
dapat beristirahat saja disini. “
Ketika Ki Lurah dan Ki Jayaraga kembali ke pendapa, maka
untuk beberapa lama Raden Teja Prabawa masih menunggui
Glagah Putih karena kekagumannya atas kuda pemberian
Raden Rangga itu. Namun ketika kemudian Glagah Putih
mengambil air ke sumur, maka Teja Prabawa itupun telah
pergi pula kependapa. Meskipun ada juga keinginannya pergi
berkuda dengan kuda yang tegar dan besar itu berkeliling
Tanah Perdikan, tetapi ia masih saja selalu dibayangi oleh
dendam kedua orang murid Ki Ajar Sigarwelat itu.
Karena itu, maka Teja Prabawa lebih suka berada di rumah
Agung Sedayu itu saja bersama Ki Jayaraga, Glagah Putih
dan Sekar Mirah.
Namun setelah selesai membersihkan kuda dan
kandangnya, maka Glagah Putihpun telah mandi dan
berbenah diri. Sejenak kemudian iapun telah berada di
pendapa. Namun hanya untuk minta diri.
“Biarlah aku saja yang pergi ke sawah guru “berkata
Glagah Putih kepada Ki Jayaraga.
Ki Jayaraga tersenyum. Katanya “Baiklah. Kerja disawah
memang tidak begitu banyak lagi. “
“Sebentar lagi mbokayu tentu sudah selesai. Aku akan
membawa kiriman bagi orang-orang yang bekerja disawah itu.
“berkata Glagah Putih.
“Nah “sahut Ki Lurah Branjangan “kerja yang menarik.
Rasa-rasanya ingin juga ikut pergi ke sawah. “
“Ah, sawah berlumpur “berkata Ki Jayaraga “bahkan
kadang-kadang ada ular di pematang. “
Ki Lurah tertawa. Katanya “Ki Jayaraga pandai menakutnakuti
saja. Tetapi Ki Jayaraga lupa bahwa aku dimasa muda
adalah seorang yang hidup didalam lumpur. Bahkan ketika
Alas Mentaok itu dibuka untuk dijadikan Mataram sekarang ini,
ular merupakan kawan yang akrab dilebatnya Alas Mentaok. “
Ki Jayaraga mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Katanya “Aku hampir melupakannya. “
Tetapi Ki Lurah itupun berkata “Tetapi biarlah aku disini
saja. Bukan berarti bahwa aku menjadi kecewa dan merajuk
sehingga kemudian membatalkan niatku pergi. Tetapi rasarasanya
berbincang-bincang sehari penuh disini merupakan
kerja yang menarik. “
Ki Jayaraga tertawa. Sementara Ki Lurah berkata “Tetapi
jika ada yang ingin Ki Jayaraga kerjakan, silahkan. Aku akan
menunggu disini. “
“Tidak. Hari ini memang tidak ada yang harus aku lakukan
secara khusus, sehingga akupun dapat duduk duduk disini
sepanjang hari. “jawab Ki Jayaraga.
Sementara itu, Glagah Putih berkata “Aku akan melihat,
apakah mbokayu Sekar Mirah sudah selesai atau belum. “
“Nampaknya masih terlalu pagi Glagah Putih. “berkata Ki
Jayaraga “nanti, sebelum matahari turun, orang-orang yang
bekerja itu sudah menjadi lapar lagi. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi katanya
kemudian “Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? “
Jawab Ki Jayaraga “Menunggu. Itulah yang harus kau
lakukan sekarang. Satu kerja yang barangkali menjemukan
bagimu. “
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Di sebelahnya
duduk seorang anak muda pula. Tetapi agaknya mereka tidak
dapat berhubungan dengan baik. Meskipun Teja Prabawa
tidak lagi dapat menganggap Glagah Putih tidak lebih dari
anak pa-desan yang tubuhnya kotor oleh lumpur, namun ia
masih juga segan untuk berhubungan lebih erat lagi.
Karena itu, maka Glagah Putihpun kemudian berkata “Jika
demikian, biarlah aku pergi kerumah kawan sebentar. Aku
berjanji untuk datang kepadanya hari ini, karena ada sesuatu
yang perlu kami bicarakan. “
“Siapa? “bertanya Ki Jayaraga.
“Orang disebelah simpang empat “jawab Glagah Putih.
“Kerto Grobag? “bertanya Ki Jayaraga pula.
“Ya, anaknya. Lembunya mengalami sedikit kesulitan
“jawab Glagah Putih.
“Tetapi jangan terlalu lama. Nanti kau terlambat. Orangorang
yang bekerja di sawah itu sudah kelaparan “berkata Ki
Jayaraga.
Glagah Putih tersenyum. Namun iapun kemudian telah
minta diri kepada Ki Lurah Branjangan dan Raden Teja
Prabawa.
Sementara itu, di dapur, Sekar Mirah dan Rara Wulan
bekerja dengan cepat. Mereka juga ingin segera selesai,
sehingga Rara Wulan segera dapat masuk kedalam sanggar
dan mencoba untuk mengenali langsung olah kanuragan.
Karena itu, maka Rara Wulanpun telah bekerja keras.
Keringatnya telah membasahi kening dan punggungnya.
Beberapa saat kemudian, Sekar Mirah dan Rara Wulanpun
telah selesai. Kiriman untuk empat orang yang bekerja
disawah itu telah ditempatkan di sebuah tenong kecil. Sebuah
kendi air dingin yang segar.
Kepada pembantunya Sekar Mirah kemudian berkata “Nah,
beritahukan kepada Glagah Putih. Bukankah kau dan Glagah
Putih yang akan pergi kesawah. Nampaknya belum tengah
hari. Tetapi tidak apa-apa. Sekali-sekali mereka mendapat
kiriman lebih awal. “
Pembantu rumah itupun kemudian telah pergi ke pendapa
untuk mencari Glagah Putih. Tetapi ternyata Glagah Putih
tidak ada di pendapa. Karena itu, maka anak itupun telah
menyusul Glagah Putih kerumah Kerta Grobag.
Ketika kemudian Glagah Putih tergesa-gesa pergi ke dapur,
ternyata dapur sudah kosong. Yang tinggal diamben adalah
tenong berisi kiriman makan dan kendi air yang dingin segar.
“Kemana mbokayu? “bertanya Glagah Putih.
“Tidak tahu. Tadi ada disini. Tetapi kita tidak perlu
mencarinya. Yang harus kita bawa sudah disediakan “berkata
anak itu.
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia sebenarnya
memang tidak ingin bertemu dengan Sekar Mirah.
Tetapi rasa-rasanya ada yang tertinggal ketika bersama
pembantu dirumahnya Glagah Putih pergi ke sawah.
Sementara itu, Sekar Mirah dan Rara Wulan telah berada
didalam sanggar. Dengan sederhana Sekar Mirah
memberikan beberapa penjelasan dan contoh-contoh dari apa
yang harus dikerjakan oleh Rara Wulan selama ia berlatih olah
kanuragan.
“Kau harus menjaga agar semuanya dapat berlangsung
dengan baik, tertib dan bersungguh-sungguh. Memang berat,
Aku tidak menakut-nakuti. Tetapi dalam mempelajari olah
kanuragan, kita tidak dapat berbuat seenaknya. Maksudnya
kapan saja kita mau. Jika kita sedang malas, maka latihan itu
ditunda. Apalagi tanpa ikatan niat yang benar-benar mapan.
Karena apabila demikian, maka usaha kita akan sia-sia,
“berkata Sekar Mirah dengan sungguh-sungguh.
Rara Wulan mengangguk-angguk. Ia mulai dapat
membayangkan apa yang harus dilakukan. Bagaimana setiap
pagi, ia harus bangun pagi-pagi. Melakukan gerakan-gerakan
yang sudah diajarkan oleh gurunya. Berlari-lari untuk jangka
waktu tertentu. Mengadakan latihan olah tubuh sesuai dengan
kepentingan latihan yang akan dilakukan dihari itu.
Mengulangi unsur-unsur yang pernah dipelajari sebelumnya.
. “Kau tidak boleh meninggalkan tugasmu sehari-hari
“berkata Sekar Mirah “jika kau harus membersihkan bilikmu
pada saat matahari terbit sebagaimana kau biasanya bangun,
maka kau harus bangun lebih pagi. Kau lakukan apa yang
harus kau lakukan. Dan pada saat matahari terbit, kau sudah
melakukan pekerjaanmu sehari-hari itu, membersihkan bilik
tanpa mempergunakan saat-saat latihan sebagai alasan. “
RaFa Wulan masih saja mengangguk-angguk.
Beberapa kali Sekar Mirah memberikan peragaan latihanlatihan
pada tingkat pertama. Kemudian Rara Wulan itu harus
menirukannya serba sedikit, agar dia mampu menilai dirinya
sendiri, apakah ia sanggup melakukannya atau tidak. “
Dengan demikian maka keringat ditubuh Rara Wulan
bagaikan terperas dari kulit dagingnya. Baju dan kainnya
menjadi basah. Ia belum mengenakan pakaian sebagaimana
sering dipergunakan oleh. Sekar Mirah dalam keadaan
khusus. Namun Sekar Mirah saat itupun tidak berpakaian
khusus pula, sehingga Rara Wulan tidak terlalu banyak
mengalami kesulitan untuk melakukan apa yang dilakukan
oleh Sekar Mirah.
Meskipun demikian, gerakan-gerakan itu benar-benar
membuatnya letih. Tetapi Rara Wulan tidak mengeluh. Ia
melakukan apa yang harus dilakukannya.
Tetapi Sekar Mirah dan Rara Wulan tidak terlalu lama
berada disanggar. Setelah Rara Wulan mengenali beberapa
macam gerak yang harus dilakukannya sebagai pendahuluan,
sebelum ia benar-benar mempelajari olah kanuragan, serta
pakaiannya sudah menjadi basah kuyup, maka pengenalan
itupun diakhiri.
Ketika kemudian Rara Wulan menemui kakeknya di
pendapa, maka Ki Lurah Branjangan itu mengerutkan
keningnya. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Sekar Mirah
yang mengantarkannya. Namun kemudian Ki Lurah itu
tersenyum sambil bertanya “Apakah angger sudah mulai
memberikan tuntunan olah kanuragan? “
Sekar Mirah menggeleng. Jawabnya “Belum Ki Lurah. Aku
baru memperkenalkannya. Terserah kepada Rara, apakah ia
akan mempelajarinya atau tidak. Apakah ia tertarik atau
bahkan jaraknya justru semakin jauh dengan olah kanuragan.
“
Ki Lurah mengangguk-angguk. Kemudian iapun bertanya
kepada Rara Wulan “Bagaimana dengan kau? “
Rara Wulan tidak segera menjawab. Dipandanginya orangorang
yang ada disekitarnya. Namun ketika terpandang
olehnya wajah kakaknya Teja Prabawa, Rara Wulan justru
menjadi heran. Agaknya kakaknya terkejut sekali melihat
keadaan Rara Wulan, seperti saat ia melihat Rara Wulan
tergelincir di kandang bersama Glagah Putih.
“Kau kenapa? “bertanya Teja Prabawa.
“Kenapa dengan aku? “Justru Rara Wulan ganti bertanya.
“Apakah kau baru saja terperosok ke dalam belumbang?
“bertanya kakaknya.
Rara Wulan justru tertawa. Katanya “Kita sebelumnya
memang belum pernah berkeringat begini banyaknya.
Tetapi setelah sekali aku mengalaminya, maka rasa-rasanya
tubuhku menjadi semakin ringan.
“Apa yang baru saja kau lakukan sehingga kau berkeringat
begitu banyak? “bertanya Teja Prabawa.
“Bukankah kau dengar mbokayu Sekar Mirah mengatakan
bahwa aku baru saja berusaha mengenali apa yang disebut
olah kanuragan. “jawab Rara Wulan “juga pertanyaan kakek
sebenarnya sedikit menjelaskan, apa yang baru saja aku
lakukan. “
Teja Prabawa termangu-mangu. Tetapi ia tidak bertanya
lagi.
Dalam pada itu, Ki Lurahlah yang kemudian berkata
kepada Rara Wulan “Segalanya tergantung kepadamu Rara
Wulan. Kau tahu apa yang harus kau lakukan jika kau ingin
mempelajari olah kanuragan. Kau harus menjalani laku yang
berat yang barangkali sudah kau dengar dari mbokayumu
Sekar Mirah. “
Tetapi Rara Wulan menjawab dengan mantab “Aku akan
menjalani laku yang betapapun beratnya. Aku sudah bertekad
Untuk berguru kepada mbokayu Sekar Mirah, agar aku dapat
mengenal meskipun serba sedikit olah kanuragan. Setidaktidaknya
aku akan dapat melindungi diriku sendiri sebelum
pertolongan datang. “
“Kau tidak boleh mengharapkan pertolongan “berkata Ki
Lurah Branjangan.
“Baiklah “jawab Rara Wulan “tidak selalu. “
Ki Lurah tersenyum. Sekar Mirah justru tertawa. Sementara
Ki Jayaraga berkata “Aku melihat sikap yang bulat. “
Rara Wulan mengangguk. Katanya “Aku memang sudah
bertekad bulat. “
Tetapi Sekar, Mirahlah yang kemudian berkata “Besok kita
mencoba lagi Rara. Kau jangan menjawab sekarang. Setelah
tiga hari kau baru akan menjawab. “
“Aku sudah dapat memutuskan sekarang “jawab Rara
Wulan.
“Mungkin “jawab Sekar Mirah “tetapi sebaiknya besok lusa
kau tentukan. “
Rara Wulan mengangguk kecil. Katanya “Baiklah mbokayu.
Besok lusa aku akan memutuskan. “
Sekar Mirah tersenyum. Tanpa diajari, Rara Wulan sudah
bersikap sebagai seorang murid kepada gurunya. _
Namun Teja Prabawalah yang seakan-akan tidak mengerti
apa yang akan dilakukan oleh adiknya. Tetapi di samping itu,
Teja Prabawa sebenarnya juga tidak ingin adiknya memiliki
ilmu yang justru pada suatu saat akan lebih tinggi dari
ilmunya.
Karena itu, maka Raden Teja Prabawa itu menjadi semakin
ingin segera kembali. Ia ingin minta kepada ayahnya, agar
ayahnya melarang Rara Wulan berguru. Tetapi seandainya
ayahnya tidak berkeberatan karena pengaruh kakeknya, maka
iapun akan minta kepada ayahnya untuk memanggil seorang
guru yang paling baik, agar ia dapat berlatih olah kanuragan,
dan tidak dikalahkan oleh Rara Wulan.
Tetapi nampaknya kakeknya akan menunggu sampai
besok lusa, saat Sekar Mirah memberikan batas waktu
kepada Rara Wulan untuk menentukan sikapnya. “
Dalam pada itu, maka Sekar Mirahpun kemudian mempersilahkan
Rara Wulan untuk mandi dan membenahi diri, agar
udara tidak terasa terlalu panas.
“Aku tidak membawa ganti pakaian kemari. Pakaianku ada
di rumah Ki Gede “jawab Rara Wulan.
“Rara dapat memakai pakaianku. Mungkin akan sedikit
longgar. Tetapi nanti jika pakaian Rara itu kering, maka Rara
akan dapat berganti pakaian lagi. “berkata Sekar Mirah.
Rara Wulan tidak membantah. Iapun kemudian telah pergi
ke bilik Sekar Mirah untuk berganti pakaian. Dengan pakaian
Sekar Mirah Rara Wulan nampak lebih sederhana. Namun
justru nampak lebih cerah.
Ketika Rara Wulan selesai berganti pakaian, maka ia harus
pergi ke pakiwan untuk mancuci pakaiannya yang basah dan
kotor. Kemudian menjemurnya di jemuran bambu di halaman
belakang.
Namun Rara Wulan terkejut ketika ia sedang menjemur
pakaiannya yang basah, tiba-tiba saja dilihatnya Glagah Putih
sudah duduk di sebelah kandang kudanya.
Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun agaknya
demikian pula dengan Glagah Putih, sehingga keduanya untuk
beberapa saat justru saling berdiam diri.
Namun ternyata bahwa Rara Wulan yang kemudian justru
melangkah mendekat sambil bertanya “Kau tiba-tiba saja
sudah berada disitu, apakah kau sudah pergi ke sawah
membawa kiriman makanan dan minuman? “
“Sudah “jawab Glagah Putih “aku memang baru datang dari
sawah. “
“Apakah sawahnya hanya dekat saja? “bertanya Rara
Wulan pula.
“Ya. Hanya disebelah padukuhan ini “jawab Glagah Putih.
Namun Rara Wulan sempat melihat keringat di pakaian
Glagah Putih. Agaknya Glagah Putih berjalan tergesa-gesa.
Tetapi Rara Wulan tidak bertanya lagi. Bahkan ia berkata
“Pada kesempatan lain, aku ingin ikut pergi ke sawah. “
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia
bertanya “Benar? Kau ingin pergi ke sawah? “
“Ya. Tetapi tidak hari ini “jawab Rara Wulan “aku baru saja
berada di sanggar bersama mbokayu Sekar Mirah. Mbokayu
telah”menunjukkan kepadaku, apa saja yang harus dilakukan
oleh seseorang yang ingin mempelajari olah kanuragan. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya “Itukah
sebabnya kenapa kau memakai pakaian mbokayu? “
“Ya “Rara Wulan tersenyum “apakah aku pantas memakai
pakaian seperti ini? “
Pertanyaan itu tidak diduga oleh Glagah Putih. Karena itu
maka iapun menjadi agak bingung sesaat. Ternyata bahwa
sikap Rara Wulan memang agak lain dengan sikap gadisgadis
Tanah Perdikan yang dikenalnya. Mereka biasanya
hanya menundukkan kepala, tersenyum meskipun
disembunyikannya dan menganggukkan kepalanya meskipun
agak meragukan.
Karena Glagah Putih tidak segera menjawab, maka Rara
Wulan justru tertawa. Katanya “Pakaian ini terasa sesuai
bagiku. Jika kelak aku diperkenankan tinggal bersama mbokayu
Sekar Mirah, maka aku akan membiasakan diri memakai
pakaian seperti ini. “
Glagah Putih masih saja termangu-mangu, sehingga
kemudian Rara Wulan itu berkata “Aku akan menemui
mbokayu Sekar Mirah. Apakah kau tidak akan kependapa? “
Glagah Putih mengangguk dan menjawab agak gagap. “Ya,
aku akan pergi kependapa? “
Ketika kemudian Rara Wulan melangkah menuju ke pintu
butulan, pembantu rumah yang ikut membawa makanan ke
sawah itu telah mendekati Glagah Putih sambil berdesis “He,
gadis itu cantik sekali. “
“Kau tahu apa? “geram Glagah Putih.
“Aku tahu tentang gadis cantik dan tidak cantik “jawab anak
itu.
“Kau masih terlalu kecil untuk menilai kecantikan seorang
gadis “berkata Glagah Putih.
Anak itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun
berdesis “Sejak kapan seseorang dianggap tidak terlalu kecil
menilai orang lain? “
Glagah Putih memandang anak itu sekilas. Kemudian
menepuk bahunya sambil berkata “Kita nanti masih harus
mengambil mangkuk dan alat-alat lain yang kita bawa
kesawah untuk mengirim makanan dan minuman tadi. “
“Salahmu sehingga kita harus hilir mudik ke sawah. Jika
kita tadi menunggu sebentar sampai mereka selesai makan
dan
minum kemudian membawanya sekaligus, kita tidak perlu
lagi pergi ke sawah. “anak itu menggeremang.
Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun iapun
mencoba untuk tersenyum sambil berkata “Dirumah kita juga
tidak mempunyai pekerjaan apa-apa. Biar saja kita pergi ke
sawah sekali lagi. “
“Jika dirumah memang tidak ada pekerjaan apa-apa,
kenapa kau tadi begitu tergesa-gesa pulang? Jika kita berada
disawah barangkali kita dapat membantu bekerja apa saja
bersama orang-orang yang sedang bekerja di sawah itu.
“berkata anak itu.
Glagah Putih ternmangu-mangu sejenak, namun iapun
tersenyum sambil berkata “Sudahlah. Pergilah ke dapur atau
kemana saja. Aku akan pergi kerumah kawanku. “
Tetapi ternyata Glagah Putih tidak pergi kemana-mana.
Tetapi ia pergi ke pendapa, ikut menemui Ki Lurah Branjangan
dan cucu-cucunya.
Tamu-tamu Agung Sedayu itu ternyata berada di pendapa
sampai saatnya Agung Sedayu kembali dari rumah Ki Gede.
Demikian Agung Sedayu duduk pula di pendapa, maka Ki
Lurah itupun bertanya “Apa saja yang telah dibicarakan
bersama Ki Gede? “
***
API DI BUKIT MENOREH SERI III
JILID 238
AGUNG SEDAYU tersenyum sambil menjawab, “Seperti
biasanya, Ki Gede setiap kali menilai perkembangan Tanah
Perdikan ini. Manakah yang sudah dapat dianggap memenuhi
keinginan rakyat Tanah Perdikan ini dan yang manakah yang
masih harus dibenahi.”
“Jadi tidak ada hal-hal yang baru yang dibicarakan?”
bertanya Ki Lurah.
“Tidak Ki Lurah. Memang Ki Gede menyinggung serba
sedikit tentang peristiwa yang telah terjadi. Kematian Ki Ajar
Sigarwelat, Ki Gede minta rakyat Tanah Perdikan untuk selalu
berhati-hati menanggapi setiap peristiwa yang berkembang
kemudian.” jawab Agung Sedayu.
“Ya. Apalagi Ki Ajar Sigarwelat mempunyai hubungan
dengan Madiun.” berkata Ki Lurah.
“Tetapi Ki Gede hampir tidak pernah menyebut-nyebut
secara langsung tentang persoalan antara Mataram dan
Madiun. Hanya kepada orang-orang tertentu saja Ki Gede
berbicara tentang hal itu.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya sikap Ki
Gede cukup bijaksana. Ia tidak mendera orang-orang yang
tidak langsung berhubungan dengan persoalan pemerintahan
kedalam kegelisahan yang tidak berkeputusan.”
“Namun disamping itu, ada pula yang dibicarakan oleh Ki
Gede meskipun hanya sepintas. Tetapi agaknya pada saatsaat
mendatang hal itu akan dibicarakan dengan sungguhsungguh.”
berkata Agung Sedayu.
“Tentang apa?” bertanya Ki Lurah, “barangkali aku boleh
mendengarnya?”
“Tentu boleh Ki Lurah. Jika Ki Lurah nanti kembali kerumah
Ki Gede, maka Ki Lurah agaknya akan diajak berbicara pula.”
jawab Agung Sedayu.
Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun ia bertanya, “Apa
yang dikatakan Ki Gede?”
“Tentang dirinya sendiri.” jawab Agung Sedayu, “tidak
seorangpun tahu, kenapa tiba-tiba Ki Gede merasa dirinya
sudah menjadi tua. Bahkan terlalu tua untuk memimpin Tanah
Perdikan ini.”
Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Dengan
sungguh-sungguh ia berkata, “Itu bukan soal kecil. Pada suatu
saat hal itu akan menjadi persoalan yang besar. Bukankah Ki
Gede masih mempunyai seorang adik laki-laki yang kini
nampaknya lebih senang mengasingkan diri?”
“Ya” jawab Agung Sedayu, “tetapi Ki Argajaya itu sudah
benar-benar mengasingkan diri. Aku percaya kalau Ki
Argajaya tidak akan menimbulkan persoalan.”
“Tetapi bukankah Ki Argajaya mempunyai anak seorang
laki-laki?” bertanya Ki Lurah pula.
“Iapun nampaknya sudah dapat menempatkan dirinya. Aku
kira dari keduanya tidak akan timbul persoalan.” jawab Agung
Sedayu.
“Lalu, masalah apa yang dianggap penting untuk
dibicarakan oleh Ki Gede?” justru Ki Jayaragalah yang
bertanya.
“Anak Ki Gede hanya satu. Itupun seorang perempuan.”
jawab Agung Sedayu, “apalagi perempuan itu sudah
bersuamikan seorang yang juga memerintah satu daerah
seperti Tanah Perdikan Menoreh ini.”
“Pandan Wangi maksudmu?” bertanya Ki Lurah.
“Ya. Pandan Wangi.” jawab Agung Sedayu, “seharusnya
suami Pandan Wangilah yang akan memimpin Tanah
Perdikan ini. Tetapi pertanyaan yang timbul kemudian, apakah
Swandaru akan bersedia meninggalkan Kademangan Sangkal
Putung dan menjadi pemimpin Tanah Perdikan ini?”
Ki Lurah menarik nafas panjang. Katanya, “Memang satu
teka-teki. Tetapi apakah Ki Gede sudah membicarakan
sampai sekian jauh?”
Agung Sedayupun tersenyum. Jawabnya, “Belum Ki Lurah.
Pembicaraan kitalah yang berkepanjangan.”
Ki Lurah dan Ki Jayaragapun tertawa. Bahkan Ki Jayaraga
berdesis, “Jika saatnya hal itu dibicarakan, kita sudah
mempunyai bahan yang cukup banyak.”
Agung Sedayupun tertawa pula.
Demikianlah maka Sekar Mirah dan Rara Wulanpun
kemudian telah menyiapkan makan siang bagi mereka yang
ada di pendapa. Sehingga sejenak kemudian, maka
merekapun telah makan bersama-sama di ruang dalam.
Ketika kemudian matahari turun ke Barat, maka Ki Lurah
Branjanganpun telah minta diri. Bersama kedua cucunya
mereka akan kembali ke rumah Ki Gede, karena mereka akan
bermalam dirumah itu.
“Besok aku kembali mbokayu.” berkata Rara Wulan setelah
ia mengenakan pakaiannya sendiri, “aku akan datang lebih
pagi. Dengan demikian maka waktu kita akan lebih banyak.”
“Tetapi kapan kita pulang ke kota kek?” bertanya Teja
Prabawa, “bukankah kakek akan memberitahukan niat Wulan
kepada ayah dan ibu?”
“Ya” jawab Ki Lurah, “tetapi biarlah Rara Wulan mengalami
satu dua hari lagi. Jika dalam waktu dua tiga hari ia merasa
bahwa dirinya tidak sanggup lagi menjalani laku yang berat,
maka sudah tentu rencana itu batal.”
Teja Prabawa tidak menjawab. Namun sebenarnyalah ia
menjadi berdebar-debar ketika bertiga bersama kakek dan
adiknya mereka akan menempuh perjalanan ke rumah Ki
Gede. Meskipun jaraknya tidak jauh, namun segala
sesuatunya mungkin terjadi.
Teja Prabawa itu menarik nafas dalam-dalam ketika Agung
Sedayu berkata kepada Glagah Putih, “Antar mereka sampai
keregol rumah Ki Gede.”
Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia berjalan saja
dipaling belakang. Mereka tidak terlalu lama berjalan.
Demikian mereka sampai keregol, maka Glagah Putihpun
minta diri untuk kembali.
“Kau tidak singgah?” bertanya Ki Lurah.
“Terima kasih Ki Lurah, masih ada kerja yang harus aku
lakukan.”
“Besok kau jemput aku?” bertanya Rara Wulan.
Pertanyaan itu memang agak mengejutkan. Bukan saja
bagi Glagah Putih, tetapi juga bagi Teja Prabawa. Sehingga
Teja Prabawa itupun bertanya, “Kenapa kau harus dijemput?
Kakek akan mengantarkanmu.”
“Jika dijalan nanti tiba-tiba muncul murid Ki ajar Sigarwelat
bagaimana?” bertanya Rara Wulan.
Wajah Teja Prabawa menjadi merah. Ia sadar bahwa
adiknya dengan sengaja mengejeknya. Namun sebelum Teja
Prabawa menjawab, Ki Lurah Branjangan mendahuluinya,
“Wulan. Kau jangan terlalu nakal. Besok aku dan kakakmu
akan mengantarmu. Kau kira Glagah Putih tidak mempunyai
kesibukan sendiri di rumah? Memang berbeda dengan anakanak
kota yang merasa dirinya anak orang berada,
berpangkat dan barangkali berilmu tinggi. Mereka dapat
berbuat apa saja sesuka hati. Tetapi tidak dengan anak-anak
muda Tanah Perdikan ini. Mereka harus bekerja keras untuk
mencukupi kebutuhannya. Bukan saja kebutuhan secara
pribadi, tetapi kebutuhan seluruh Tanah Perdikan. Karena jika
orang-orang Tanah Perdikan ini tidak mau bekerja keras,
maka kesejahteraan Tanah Perdikan ini tidak akan maju.”
Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi teguran itu ternyata
tidak saja menyentuh Rara Wulan, tetapi juga Teja Prabawa.
Karena kedua orang anak muda itu diam saja, maka Ki
Lurahpun kemudian berkata kepada Glagah Putih, “Sudahlah
Glagah Putih. Biarlah besok aku mengantarkannya jika Wulan
masih ingin bermain-main dengan mbokayumu Sekar Mirah.”
Glagah Putih termangu-mangu. Sebenarnya ia sama sekali
tidak berkeberatan untuk menjemput Rara Wulan. Tetapi
iapun menyadari bahwa agaknya Ki Lurah sendiri tidak
menghendakinya. Karena itu, maka Glagah Putih itupun telah
minta diri untuk kembali.
Ketika Ki Lurah kemudian membawa kedua cucunya
memasuki halaman rumah Ki Gede, maka bagi Teja Prabawa
maupun Rara Wulan saling berdiam diri sambil menunduk.
Keduanya nampak hanyut dalam arus angan-angan masingmasing
yang sudah tentu tidak mempunyai persamaan sama
sekali.
Kedua cucu Ki Lurah itu ternyata langsung menuju ke
gandok, sementara Ki Lurah masuk ke ruang dalam untuk
menemui Ki Gede, karena menurut seorang pembantu Ki
Gede, Ki Gede itu masih duduk seorang diri diruang dalam
setelah makan siang.
“Sendiri?” bertanya Ki Lurah.
“Ya, Ki Lurah.” jawab orang itu, “memang sudah menjadi
kebiasaan Ki Gede, duduk sendiri untuk beberapa lama.
Nampaknya memang ada yang sedang direnungkan.”
“Kebiasaan sejak kapan?” bertanya Ki Lurah.
“Sebenarnya belum terlalu lama.” jawab pembantu itu.
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan
menemani Ki Gede.”
Sejenak kemudian Ki Lurah telah duduk bersama Ki Gede
di ruang dalam. Sambil bergeser menepi Ki Gede berTanya,
“Dimana kedua cucu Ki Lurah?”
“Mereka langsung pergi ke gandok Ki Gede. Mereka baru
saja bertengkar. Agaknya jika setiap hari mereka tidak
bertengkar rasa-rasanya mereka menjadi pening.” jawab Ki
Lurah.
Ki Gede tertawa. Katanya, “Itu biasa. Betapapun rukunnya
dua orang bersaudara, namun pada suatu saat mereka pasti
akan bertengkar, meskipun pada saatnya mereka akan baik
kembali.”
Ki Lurahpun tertawa. Katanya, “Agak berbeda dengan Ki
Gede. Agaknya Ki Gede tidak perlu setiap kali melerai puteraKang
Zusi - http://kangzusi.com/
putera Ki Gede yang bertengkar, karena putera Ki Gede
ternyata hanya seorang. Itupun seorang perempuan.”
“Tidak.” jawab Ki Gede, “aku juga mempunyai seorang
anak laki-laki.”
Ki Lurah mengerutkan keningnya. Namun hal itu sudah
terlanjur diucapkan oleh Ki Gede.Sebenarnyalah Ki Lurah
pernah mendengar tentang anak laki-laki yang lahir dari isteri
Ki Gede. Namun yang ternyata telah menumbuhkan persoalan
jiwani itu. Dan yang kemudian ternyata harus mati diujung
senjata karena justru perlawanannya terhadap Ki Gede sendiri
bersama dengan adik Ki Gede, Ki Argajaya.
Tetapi Ki Lurah berusaha untuk mengendapkan gejolak itu
dalam-dalam. Ia akan hanyut saja apa yang dibicarakan oleh
Ki Gede tentang anaknya laki-laki itu.
Ternyata kemudian suara Ki Gede merendah, “Tetapi anak
itu telah kehilangan keseimbangannya, sehingga akhirnya
harus menebusnya dengan nyawanya.”
“Sayang sekali.” desis Ki Lurah.
“Tetapi aku sudah mengikhlaskannya. Aku sekarang sudah
mendapatkan gantinya. Anak laki-laki.” berkata Ki Gede.
Ki Lurah hampir saja menebak. Tetapi Ki Gede telah
menyebutnya, “Swandaru. Bukankah dengan demikian anakku
telah menjadi dua lagi? Bahkan sekarang menjadi lebih
banyak lagi. Ada Agung Sedayu, Glagah Putih, seorang anak
perempuan lagi yang namanya Sekar Mirah dan anak adikku
Prastawa. Mereka adalah anak-anakku yang justru lebih patuh
dari anak laki-laki itu.”
“Ya Ki Gede. Bahkan lebih banyak lagi. Semua anak-anak
muda Tanah Perdikan ini telah menganggap Ki Gede sebagai
ayah mereka.” berkata Ki Lurah.
Tetapi Ki Gede tersenyum. Katanya, “Sebagai ayah
mereka, juga sebagai kakek mereka.”
Ki Lurah juga mencoba untuk ikut tertawa meskipun masih
terasa debar didadanya.
Namun tiba-tiba saja Ki Gede itu memang berkata
sebagaimana dikatakan oleh Agung Sedayu, “Ki Lurah. Tibatiba
saja aku merasa diriku sekarang sudah sangat tua.”
“Ah, tentu belum.” sahut Ki Lurah dengan serta merta.
“Bahkan mungkin aku sudah lebih tua dari Sultan
Hadiwijaya dan Pangeran Benawa yang telah kembali
menghadap Tuhan itu.” suaranya merendah.
Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ketika
diluar sadarnya ia memandang wajah Ki Gede, maka
nampaklah garis-garis umurnya yang semakin dalam. Namun
didalam hati Ki Lurah itupun berkata, “Aku juga sudah tua.”
Tetapi Ki Lurah tidak perlu memikirkan satu wilayah
sebagaimana Ki Gede memikirkan masa depan Tanah
Perdikan Menoreh.
Adalah seolah-olah diluar sadarnya ketika Ki Gede
kemudian berkata, “Aku memang mempunyai anak laki-laki
perempuan yang banyak sekali. Seluruh penghuni Tanah
Perdikan ini adalah anak-anakku. Tetapi siapakah diantara
mereka yang kelak pantas menggantikan kedudukanku?
Tanah Perdikan ini tentu memerlukan seorang pemimpin.
Bukan asal saja seorang pemimpin. Tetapi seorang pemimpin
yang bertanggung jawab. Seandainya saja Swandaru bukan
anak seorang Demang, maka aku dapat memastikan, ia akan
dapat memimpin Tanah Perdikan ini. Tetapi apakah ia
bersedia meninggalkan Kademangannya, itulah yang menjadi
persoalan.”
Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya, “Jika
Swandaru bersedia memimpin Tanah Perdikan ini, maka
Sekar Mirah akan menggantikan kedudukannya di Sangkal
Putung, sehingga dengan demikian maka Agung Sedayulah
yang akan melaksanakannya.”
Ki Gede mengangguk-angguk. Namun ia berdesis, “Tetapi
agaknya Swandaru berkeberatan untuk meninggalkan
Kademangannya. Padahal menurut penilaianku, ia adalah
seorang yang memiliki pandangan jauh untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyatnya. Sangkal Putung kini telah menjadi
sebuah Kademangan yang besar dengan tingkat
kesejahteraan yang tinggi.”
Tetapi suara Ki Gede merendah, “Meskipun Swandaru
bukan seorang yang rendah hati seperti Agung Sedayu.
Namun sejalan dengan peningkatan umurnya, maka pada
suatu saat, hatinya tentu akan, mengendap.”
Ki Lurah Branjangan hanya mengangguk-angguk saja. Ia
tidak dapat ikut banyak berbicara, karena persoalannya lebih
banyak berkisar tentang keluarga.
Namun tiba-tiba saja, seperti orang yang terbangun dari
tidurnya Ki Gede berkata. “Ah, maaf Ki Lurah. Aku terlalu
banyak berbicara tentang diriku sendiri, sehingga mungkin Ki
Lurah merasa jemu mendengarnya.”
“Tidak. Tentu tidak. Bukankah orang-orang tua seumur kita
ini memang harus memikirkan masa depan bagi
keturunannya? Kita memang tidak boleh mementingkan diri
kita sendiri, sehingga kita tidak mau tahu, apa yang akan
terjadi kelak. Atau bahkan dengan sengaja menutup
kemungkinan bagi angkatan sesudah kita untuk menunjukkan
kebesaran melampaui kebesaran kita, agar kita tetap
dianggap orang-orang terbaik disegala jaman.” berkata Ki
Lurah.
Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Lurah benar,
justru kesempatan itu harus kita berikan.”
“Masa depan adalah demikian luas dan panjangnya.”
berkata Ki Lurah, “satu ruang dengan sejuta kesempatan.
Tergantung kepada mereka yang akan menjalani masa depan
itu.”
“Ya.” sahut Ki Gede, “mudah-mudahan kesempatan itu
tertangkap oleh ketajaman nalar budi mereka. Apalagi jika
mereka tidak menangkapnya, maka mereka asal saja
melontarkan kesalahan kepada kita yang mendahuluinya.
Namun sebaliknya, seperti yang sudah sering aku katakan,
kita yang hidup masa sekarang, adalah landasan bagi masa
mendatang.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Nampaknya Ki Gede benarbenar
telah berpikir tentang masa depan yang panjang itu.
Terutama tentang siapakah yang akan mendapat kewajiban
memimpin Tanah Perdikan itu. Tetapi Ki Lurah tidak berani
memberikan pendapatnya tentang nama-nama yang meskipun
sudah melintas di kepalanya. Ia merasa berkewajiban untuk
menjaga keseimbangan perasaan dan penalaran yang bening
dari Ki Gede sendiri, kecuali jika pada suatu saat Ki Gede
minta pertimbangannya.
Namun dalam pada itu, Ki Lurahpun telah mohon diri untuk
beristirahat digandok sambil melihat apakah cucu-cucunya
masih saja bertengkar.
“Keduanya adalah anak-anak bengal dan manja.” berkata
Ki Lurah.
Ki Gede tersenyum sambil berkata, “Silahkan Ki Lurah.
Tetapi Ki Lurah tidak perlu meminjam cambuk Agung Sedayu
untuk melerai mereka dan menghukum yang bersalah.”
Ki Lurahpun tertawa. Namun ia masih bertanya, “Apakah Ki
Gede tidak beristirahat?”
“Aku sedang beristirahat disini.” jawab Ki Gede.
Ki Lurah tertawa semakin keras. Katanya, “Ya, ya. Agaknya
Ki Gede memang sedang beristirahat.”
Sejenak kemudian, Ki Lurahpun telah berada di gandok.
Rara Wulan telah berbaring menelungkup. Ketika Ki Lurah
datang, maka iapun bersungut-sungut, “Kek, kenapa kakak
selalu mencela sikapku? Apa salahnya jika aku berlatih olah
kanuragan?”
“Sudahlah.” berkata Ki Lurah, “kalian tidak perlu
mempersoalkannya lagi.”
“Tetapi kakak masih saja meributkannya.” jawab Rara
Wulan.
“Wulan selalu mengigau tentang olah kanuragan. Aku
menjadi jemu mendengarnya.” sahut Teja Prabawa.
“Sudahlah. Kita tamu disini. Inikah yang ingin kita tunjukkan
kepada orang-orang padukuhan tentang anak-anak muda
yang datang dari kota? Bertengkar? Marah-marah dan tidak
dapat mengendalikan diri?” desis Ki Lurah.
Kedua cucu Ki Lurah itupun terdiam. Meskipun keduanya
masih berwajah murung.
Sementara itu Ki Lurahpun telah pergi ke serambi. Sambil
memandangi halaman yang luas, Ki Lurah duduk seorang diri.
Tiba-tiba saja iapun telah dijangkiti pula angan-angan
sebagaimana Ki Gede. Meskipun Ki Lurah tidak terlalu
berkepentingan tentang masa depan Tanah Perdikan ini.
Namun bagi Ki Lurah, sebenarnya ada jalan yang paling baik
yang dapat ditempuh Ki Gede. Tetapi Ki Lurah merasa tidak
pada tempatnya apabila ia mengusulkannya, apalagi pada
saat semuanya baru pada tataran permulaan.
Bagi Ki Lurah, jika Swandaru berkeberatan untuk berada di
Tanah Perdikan Menoreh, maka haknya akan dapat
dilimpahkan kepada Sekar Mirah yang memerintah atas
namanya. Dengan demikian, maka yang akan melakukan
tugas itu adalah Agung Sedayu.
Tetapi tentu masih ada seribu macam pertimbangan.
Dibanding dengan Sekar Mirah, maka Prastawa nampaknya
mempunyai hak lebih besar jika Swandaru menolak. Kecuali
jika hak itu diterima oleh Swandaru dan Agung Sedayu hanya
melakukan tugas sehari-hari dalam kedudukan yang khusus.
Tetapi Kepala Tanah Perdikan Menoreh tetap dijabat oleh
Swandaru yang mempunyai jabatan rangkap dengan Demang
di Sangkal Putung, sehingga setiap saat ia harus mondarmandir
antara Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.
Namun menilik kedudukan Tanah Perdikan lebih tinggi dari
Kademangan, maka bermacam-macam kemungkinan
memang masih akan dapat terjadi.
Demikianlah, sisa hari itu dihabiskan oleh Ki Lurah untuk
berada di gardu perondan sampai saatnya mandi dan makan
malam bersama Ki Gede dan kedua cucunya. Kemudian
ketika malam menjadi semakin dalam, merekapun segera
beristirahat di bilik masing-masing.
Namun dalam pada itu, meskipun Teja Prabawa menyadari
bahwa halaman rumah Ki Gede itu dijaga dengan baik, namun
ada juga rasa cemas dihati anak muda itu.
Pagi-pagi Rara Wulan telah bangun dan berbenah diri
setelah mandi. Kemudian dengan tergesa-gesa minta agar
kakek dan kakaknya segera mandi pula.
“Aku ingin lebih cepat berada di sanggar mbokayu Sekar
Mirah. Hari ini mbokayu akan memberikan beberapa peragaan
lagi yang harus aku lakukan juga sebagai salah satu cara
melakukan pendadaran, apakah aku pantas untuk belajar olah
kanuragan atau tidak.”
“Bukan urusanku. Aku masih mengantuk.” geram Teja
Prabawa.
“Tetapi mbokayu tidak mau aku datang lambat, karena
setelah itu mbokayu Sekar Mirah masih harus masak untuk
dibawa kesawah.” sahut Rara Wulan.
“Juga bukan urusanku.” Teja Prabawa justru menggeliat.
Ki Lurah Branjangan tersenyum. Katanya, “Baiklah. Kita
pergi dahulu. Biarlah Teja Prabawa melanjutkan istirahatnya.
Nanti, jika ia berminat, biarlah ia menyusul kita dirumah Agung
Sedayu. Bukankah jaraknya tidak terlalu jauh, sehingga ia
tidak akan tersesat.”
Teja Prabawa mengerutkan dahinya. Namun tiba-tiba saja
ia berkata, “Suruh anak itu menjemputku.”
“Siapa?” bertanya Ki Lurah.
“Glagah Putih.” jawab Teja Prabawa, “bukankah kemarin ia
bersedia untuk menjemput kemari.”
“Kau masih juga merendahkannya?” bertanya Ki Lurah.
“Tidak. Bukan maksudku kek. Tetapi ia sendiri bersedia
melakukannya.” jawab Teja Prabawa.
Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Kau masih saja belum menyadari, bahwa kau tidak dapat
berbangga karena kau anak muda yang datang dari kota?
Apakah sekali-sekali kau harus mengalami perlakuan yang
dapat mengajarimu menghormati kedudukan anak-anak
Tanah Perdikan?”
“Bukan begitu kek.” Teja Prabawa menjadi gagap, “aku
tidak bermaksud demikian.”
“Teja Prabawa.” geram Ki Lurah, “kau harus segera
menyadari, bahwa kau bukan apa-apa disini. Kau adalah
seekor kelinci dipadang yang buas dan dihuni oleh kelompokkelompok
serigala yang garang. Nah, apakah kau masih akan
menyombongkan dirimu?”
Teja Prabawa tidak menjawab. Kepalanya tertunduk dalamdalam.
Ia sadar, bahwa kakeknya memang marah.
“Nah, sekarang terserah kepadamu. Kami akan segera
berangkat. Apakah kau akan pergi bersama kami, atau kau
akan pergi sendiri atau kau akan berada di rumah ini saja.”
berkata Ki Lurah sambil melangkah keluar untuk pergi ke
pakiwan.
Ternyata Ki Lurahpun segera bersiap. Sementara Teja
Prabawa menjadi tergesa-gesa mandi pula dan bersiap untuk
pergi bersama kakek dan adiknya.
Ki Gede tidak dapat menahan mereka ketika Ki Lurah minta
diri untuk pergi kerumah Agung Sedayu. Ki Lurah berterus
terang bahwa ada niat Rara Wulan untuk belajar olah
kanuragan pada Sekar Mirah, sehingga Rara Wulan perlu
datang lebih pagi untuk memenuhi permintaan Sekar Mirah.
“Bagus.” berkata Ki Gede, “angger Rara Wulan harus
patuh. Apalagi nanti, jika Rara benar-benar menjadi murid
angger Sekar Mirah. Segala perintah harus dilakukan tanpa
membantah.”
“Aku akan berusaha Ki Gede. Apapun yang harus aku
lakukan.” jawab Rara Wulan.
Demikianlah, maka tanpa menunggu makan pagi, ketiga
orang itu telah berangkat kerumah Agung Sedayu. Rara
Wulan memang ingin segera menemui Sekar Mirah.
Ketika mereka bertiga sampai kerumah Agung Sedayu,
maka Agung Sedayu dan Glagah Putih masih sibuk
menyelesaikan pekerjaan mereka. Tetapi Sekar Mirah sudah
menunggu kedatangan Rara Wulan yang memang dipesan
untuk datang lebih pagi. Mereka akan berada di sanggar lebih
dahulu, justru sebelum Sekar Mirah menyiapkan makan dan
minuman yang akan dibawa ke sawah.
“Marilah, silahkan Ki Lurah.” Agung Sedayu
mempersilahkan, “biarlah Ki Jayaraga menemani Ki Lurah
duduk di pendapa. Maaf, aku masih harus mempersiapkan
sanggar. Agaknya Rara Wulan dan Sekar Mirah akan
mempergunakan pagi ini.”
“Silahkan. Kedatanganku jangan sampai mengganggu.”
berkata Ki Lurah Branjangan.
Ketika Agung Sedayu sibuk membenahi sanggar untuk
mempersiapkan beberapa macam alat yang mungkin akan
dipergunakan oleh Sekar Mirah, sementara Sekar Mirah masih
sibuk memanasi air di dapur, Glagah Putih masih pula sibuk
dengan kuda-kudanya di kandang.
Namun sejenak kemudian, maka Sekar Mirah telah
mengajak Rara Wulan pergi ke sanggar setelah menuang
wedang sere ke dalam mangkuk serta menyiapkan gula
kelapa. Rara Wulanlah yang membawanya ke pendapa untuk
dihidangkan kepada kakeknya, kepada kakaknya dan Ki
Jayaraga yang menemuinya.
Demikianlah, maka kedua orang itupun sejenak kemudian
telah berada di dalam sanggar. Ternyata Sekar Mirah tidak
sekedar memperagakan beberapa jenis unsur gerak yang
paling mendasar sebagaimana dilakukan dihari sebelumnya,
tetapi Sekar Mirah telah minta agar Rara Wulan mulai
mempelajari beberapa gerak dasar untuk menjajagi
kemampuan jasmaniahnya.
Tidak pula seperti dihari sebelumnya, maka Rara Wulan
harus sudah mengenakan pakaian khusus, meskipun baru
dipinjamnya dari Sekar Mirah.
Ternyata bahwa niat Rara Wulan yang bulat telah
mendorongnya untuk dapat berbuat sebaik-baiknya
sebagaimana dikehendaki oleh Sekar Mirah. Mula-mula
berjalan saja beberapa kali mondar-mandir di dalam sanggar
itu. Kemudian berjalan diatas papan yang diletakkan begitu
saja di atas tanah. Tetapi kemudian papan itu diletakkan pada
alas yang tidak lebih dari sejengkal. Namun Rara Wulan tidak
hanya sekedar harus berjalan diatas papan itu. Rara Wulan
harus mulai menirukan gerakan-gerakan yang sederhana.
Beberapa kali, bahkan berulang -ulang sehingga keringat
mulai membasahi tubuhnya.
Setelah berulang kali ia melakukan sehingga nampaknya
mulai terbiasa, maka Sekar Mirah telah memberikan contoh
yang lain. Bukan saja tangannya yang bergerak, tetapi juga
kakinya, sehingga papan itupun menjadi tergetar pada setiap
gerakan.
Mula-mula keseimbangan Rara Wulan memang terganggu.
Tetapi semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin biasa.
Keseimbangan tubuhnya yang terguncang-guncang saat
papan itu bergetar, mulai dapat diatasinya. Meskipun jika getar
papan itu terasa lebih keras, maka Rara Wulanpun harus
berusaha semakin cermat agar ia tidak terjatuh.
Demikianlah Sekar Mirah memberikan beberapa contoh
gerak yang harus ditirukannya. Meskipun masih pada gerak
dasar, tetapi bagi, Rara Wulan terasa semakin lama semakin
sulit. Bahkan papan itu rasa-rasanya bergetar semakin keras,
sehingga akhirnya, Rara Wulan tidak berhasil
mempertahankan keseimbangannya lagi.
Dalam keadaan yang sangat sulit bagi Rara Wulan, maka
iapun telah meloncat turun dari papan yang hanya setinggi
sejengkal itu.
Rara Wulan dengan wajah murung berdesis, “Aku gagal
mbokayu.”
Tetapi Sekar Mirah tertawa. Katanya, “Kau belum gagal.
Menurut penilaianku, kau akan mampu melakukan latihanlatihan
olah kanuragan. Kau mempunyai kemauan yang
sangat besar dan nampaknya kau juga mempunyai wadag
yang pada dasarnya cukup kuat. Tetapi ingat, bahwa yang kau
lakukan itu hanyalah tidak lebih dari hitamnya kuku dari
seluruh kegiatan latihan-latihan olah kanuragan. Kau akan
menjadi sepuluh kali lebih banyak bergerak. Kau akan menjadi
sepuluh kali lebih letih dari sekarang. Dan kau akan menjadi
sepuluh kali lebih bersungguh-sungguh dari peragaan yang
sederhana ini. Apakah kau sanggup melakukannya?”
Rara Wulan mengangguk. Katanya, “Aku akan
melakukannya.”
Sekar Mirah mengangguk-angguk. Tetapi kemudian
katanya, “Tetapi Rara. Sebelumnya Rara harus tahu, bahwa
ilmuku masih jauh dari sempurna. Ilmuku belum mencapai
satu tataran yang pantas. Tetapi jika kelak Rara mampu
mengembangkan dasar-dasaf ilmu yang akan aku berikan
nanti, maka satu kemungkinan yang luas akan dapat Rara
capai. Mungkin kemampuan Rara akan justru melampaui
kemampuanku.”
“Ah, untuk mencapai tataran yang sederhana, mungkin aku
memerlukan waktu sepanjang umurku.” berkata Rara Wulan.
“Tentu tidak. Kau memiliki sesuatu yang berharga bagi
latihan-latihan yang akan kau lakukan. Nampaknya tubuhmu
telah mapan. Sengaja atau tidak sengaja.” berkata Sekar
Mirah.
“Jauh dari pada itu.” jawab Rara Wulan, “namun aku
berjanji untuk menjadi patuh.”
“Tetapi Rara. Masih ada satu langkah yang harus kau
tempuh. Kakek Rara harus bertemu dengan ayah Rara untuk
mendapatkan keputusan terakhir, apakah Rara diijinkan atau
tidak. Baru kemudian Rara akan dapat menilai dengan latihanlatihan
yang sesungguhnya di rumah ini. Satu sarat lagi harus
dijalani, Rara akan tinggal di sini. Hidup sederhana dan
bekerja keras setiap saat.” berkata Sekar Mirah.
Rara Wulan mengangguk lemah. Bukan karena ia segan
untuk menjalani laku sebagaimana dikatakan oleh Sekar
Mirah. Namun hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Apakah
ayah akan mengijinkan?”
“Bagaimana dengan kakek, Rara?” bertanya Sekar Mirah.
“Kakek justru mendorong aku untuk melakukannya.”
berkata Rara Wulan.
“Jika demikian, kau harus minta bantuan kakekmu. Ki Lurah
tentu akan membantumu.” berkata Sekar Mirah.
Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara Sekar
Mirahpun berkata, “Baiklah. Rara dapat beristirahat sebentar.
Nanti kita akan bermain-main lagi untuk meyakinkan apakah
kewadagan Rara akan mampu mendukung keinginan Rara
itu.”
“mBokayu akan kemana?” bertanya Rara Wulan.
“Aku akan kedapur sejenak.” jawab Sekar Mirah, “kau tidak
usah ikut. Kau disini saja melihat-lihat peralatan di sanggar ini.
Kau dapat membayangkan, apakah kira-kira gunanya. Juga
jenis-jenis senjata yang barangkali belum pernah kau lihat.
Meskipin senjata yang dikumpulkan kakang Agung Sedayu
tidak selengkap yang dikumpulkan oleh Ki Gede, tetapi
beberapa contoh senjata yang ada dapat dianggap cukup
memadai untuk memperkaya pengenalan olah senjata dari
berbagai jenis.”
Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku
akan menunggu disini.”
Demikianlah, maka Sekar Mirahpun telah meninggalkan
sanggar dan pergi ke dapur. Ia harus menyiapkan makanan
yang akan dihidangkan di pendapa.
Namun dalam pada itu, Agung Sedayu menemuinya dan
berkata, “Kami akan pergi dahulu sebentar.”
“Maksud kakang? Kakang bersama Glagah Putih atau
siapa?” bertanya Sekar Mirah.
“Tidak. Aku hari ini sudah berjanji dengan anak-anak untuk
memperbaiki bendungan kecil di sebelah padukuhan induk ini.
Ki Lurah Branjangan dan Teja Prabawa akan pergi pula
bersama aku untuk melihat-lihat.” jawab Agung Sedayu.
“Ki Jayaraga dan Glagah Putih?” bertanya Sekar Mirah.
“Ki Jayaraga akan pergi ke sawah. Kemarin ia sudah tidak
pergi. Glagah Putih akan tinggal di rumah. Ia akan membawa
kiriman makanan dan minuman ke sawah bersama anak
bengal itu.” jawab Agung Sedayu.
Sekar Mirah tersenyum. Ia mengerti yang dimaksud anak
bengal itu. Tentu pembantu rumahnya yang kadang-kadang
nampak nakal, tetapi kadang-kadang lembut dan murung.
“Ia mulai suka berkelahi sekarang.” desis Agung Sedayu,
“aku sudah memperingatkan.”
“Serahkan kepada Glagah Putih. Ia memang sering
menirukan unsur-unsur gerak Glagah Putih. Mungkin anak itu
melihat sekali-sekali jika Glagah Putih kadang-kadang
melemaskan tubuhnya pagi-pagi di kebun belakang. Agaknya
Glagah Putih harus lebih banyak memperhatikannya.” jawab
Sekar Mirah. Lalu katanya, “Jika ia serba sedikit belajar
kepada Glagah Putih, maka sifat ingin tahunya itu akan
tersalur sehingga akan mengurangi keinginannya untuk
berkelahi dan mencoba-coba. Karena sambil belajar, Glagah
Putih akan dapat memberinya nasehat-nasehat.”
“Aku akan mengatakannya kepada Glagah Putih nanti.”
sahut Agung Sedayu yang kemudian minta diri untuk pergi ke
bendungan bersama Ki Lurah dan Raden Teja Prabawa.
Sekar Mirah yang ikut ke pendapa kemudian mendapat
pesan dari Ki Lurah untuk disampaikannya kepada Rara
Wulan, bahwa Ki Lurah dan Raden Teja Prabawa melihat-lihat
Tanah Perdikan itu bersama Agung Sedayu.
“Aku akan menyampaikannya, Ki Lurah.” sahut Sekar
Mirah.
Ketika kemudian Ki Lurah dan Raden Teja Prabawa telah
meninggalkan halaman, maka Ki Jayaragapun telah bersiapsiap
pula pergi kesawah. Pada saat-saat terakhir, Ki Ki
Jayaraga merasakan ketenangan hidup dan arti yang wajar
dari sisa-sisa hidupnya dengan bekerja di sawah bersama
beberapa orang yang memang bekerja bagi Agung Sedayu.
Dengan bekerja di sawah, maka Ki Jayaraga tidak merasa
dirinya terasing dari kewajaran hidup orang kebanyakan. Ia
merasa dirinya seperti orang lain. Hidup, bekerja, makan dan
lebih dari itu, mengabdikan hidupnya kepada Yang Maha
Agung dengan berbagai cara yang mampu dilakukannya,
disamping saat-saat yang memang telah dikhususkan untuk
menghadap.
Namun sebelum berangkat Ki Jayaraga sempat berkata,
“Jika kau tenggelam di sanggar, maka aku harus bersedia ikat
pinggang rangkap hari ini.”
Sekar Mirah tertawa. Katanya, “Tentu tidak. Pada saatnya
Glagah Putih dan anak itu akan sampai di sawah. Seandainya
terlambat, tentu tidak akan terlalu lama.”
“Tidak terlalu lama sampai kapan?” bertanya Ki Jayaraga.
“Sampai matahari turun.” jawab Sekar Mirah.
Ki Jayaraga mengerutkan keningnya. Namun katanya,
“Suruh Glagah Putih membawa usungan. Aku tentu sudah
pingsan.”
Sekar Mirah masih tertawa. Sementara Ki Jayaraga yang
juga tertawa telah melangkah membawa cangkul di
pundaknya, menuju ke regol dan kemudian turun ke jalan.
Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Orang tua itu
sama sekali tidak mengesankan orang yang berilmu tinggi.
Sikapnya kata-katanya dan ujudnya, tidak lebih dari petani
kebanyakan. Perasaan kecewa yang mencengkam
jantungnya, karena tidak seorangpun dari murid-muridnya
yang memenuhi keinginannya, membuatnya lebih dekat
dengan alam. Satu-satunya harapanya terletak di pundak
Glagah Putih. Muridnya yang bungsu.
Sepeninggal Ki Jayaraga, Sekar Mirah telah mencari
pembantu rumahnya. Ketika anak itu diketemukan sedang
menyiapkan kayu bakar, maka Sekar Mirahpun berkata,
“Tolong, kau kuliti keluwih di dapur itu. Nanti aku akan
memasaknya untuk mengirim makan ke sawah.”
Anak itu tidak menjawab. Tetapi dikumpulkannya kayu
bakar itu dan dibawanya ke dapur sekaligus. Di dalam dapur
itu didapatinya beberapa buah keluwih yang akan dimasak
bagi orarig-orang yang bekerja di sawah. Sementara itu,
nampaknya Sekar Mirah akan membuat bothok mlandhingan,
karena seonggok mlandhingan ada di dapur itu pula, serta
beberapa buah kelapa yang nampaknya dipetik kemarin oleh
Glagah Putih.
Sementara itu, Sekar Mirah telah masuk kembali ke dalam
sanggar. Namun ia masih sempat melihat Glagah Putih yang
masih sibuk membersihkan kandang dan kuda-kudanya.
Dalam pada itu Rara Wulan masih berada di dalam
sanggar. Sekar Mirah yang kemudian mendekatinya, memang
menunggunya berbicara. Apakah Rara Wulan tertarik dengan
isi sanggar itu atau tidak. Jika ia tertarik, maka dimanakah
letak perhatiannya yang terbesar.
Meskipun demikian, Sekar Mirah menjadi berdebar-debar
juga. Ia tidak ingin Rara Wulan bertanya tentang hal lain
kecuali isi sanggar itu. Jika demikian, maka perhatiannya tidak
sepenuhnya tertuju kepada kemungkinan-kemungkinan yang
dapat dicapainya dalam olah kanuragan.
Namun yang diucapkan Rara Wulan pertama-tama,
“Mbokayu lama sekali.”
Sekar Mirah tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.
Namun ternyata sebagaimana diharapkan oleh Sekar
Mirah, Rara Wulan bertanya, “Darimana kita akan mulai
berlatih mbokayu. Ketika mbokayu menunjukkan kemampuan
mbokayu dalam olah kanuragan, aku sama sekali tidak
mengerti, darimanakah mbokayu memulainya. Namun yang
aku ingat, hampir disaat terakhir, mbokayu justru bergerak
diatas amben bambu tua itu.”
Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Barulah ia
menjawab, “Dalam olah kanuragan, beberapa orang tidak
selalu mulai dari langkah yang sama. Namun pada umumnya,
mereka mulai dengan mempelajari unsur-unsur gerak dasar
yang paling sering dipergunakan. Setelah kita memahami
beberapa unsur, maka kita mulai mempelajari unsur-unsur
ganda yang sering kita pergunakan. Beberapa unsur ganda
yang kemudian harus dikembangkan sendiri dengan
ketajaman panggraita. Bahkan kadang-kadang menuntut
kecepatan berpikir dan mengambil sikap. Apalagi di dalam
pertempuran, Namun untuk dapat mengambil sikap yang
benar, diperlukan alas yang mapan. Untuk itu diperlukan
waktu.”
“Beberapa lama aku dapat menguasai pengetahuan dasar
itu mbokayu?” bertanya Rara Wulan.
“Jika kau benar-benar ingin maju, maka pengetahuan
dasarmu harus kokoh. Kau memerlukan waktu sekitar dua
tahun untuk menguasai pengetahuan dasar olah kanuragan.
Dalam waktu dua tahun kau akan dapat menguasai semua
unsur gerak dari satu perguruan. Unsur-unsur tunggal dan
unsur-unsur ganda. Dalam dua tahun kau sudah mendapat
petunjuk-petunjuk yang akan mencuat dari dalam dirimu
sendiri, bagaimana unsur itu harus dipergunakan menghadapi
unsur-unsur yang belum kau kenal. Rangkaian dan hubungan
unsur yang satu dengan yang lain, serta watak setiap unsur
itu. Di tahun-tahun berikutnya, kau sudah dapat mulai
mengembangkannya berdasarkan atas pengalamanmu serta
ilmu perbandingan yang mungkin kita peroleh dari orangorang
yang dapat kita ajak berlatih bersama, namun
bersumber dari jalur ilmu perguruan yang lain. Latihan-latihan
semacam itu akan dapat memperkaya pengenalan kita atas
ilmu kanuragan serta kemungkinan-kemungkinannya.” jawab
Sekar Mirah.
Rara Wulan mengangguk-angguk. Ia memang mendapat
gambaran, bahwa yang harus dilakukannya jika ia memang
ingin benar-benar mempelajari olah kanuragan adalah laku
yang berat dan lama. Ia harus tekun dan sabar. Bersungguhsungguh
dan bekerja keras tanpa mengenal lelah.
Dalam pada itu, maka Sekar Mirahpun kemudian berkata,
“Marilah. Kita coba, apakah wadagmu akan dapat mendukung
niatmu yang mantap itu.”
Rara Wulan kemudian telah mempersiapkan diri. Dengan
dada tengadah ia menyahut, “Aku sudah siap.”
Sekar Mirahpun kemudian telah membawa Rara Wulan
kebawah sebuah palang kayu yang dibubut bulat dengan tiang
dikedua ujungnya hampir setinggi tubuh bersusun. Dengan
satu loncatan Sekar Mirah menggapai palang kayu itu dan
kemudian mengangkat tubuhnya yang terayun beberapa kali
bertumpu pada tangannya yang berpegang palang itu.
Setelah beberapa kali melakukannya, maka Sekar Mirah
telah mempersilahkan Rara Wulan melakukannya.
Rara Wulan tidak membantah. Mula-mula ia memang raguragu,
apakah ia mampu menggapai palang kayu itu. Namun
dengan satu keyakinan yang mantap, maka iapun telah
meloncat dengan kekuatan yang justru telah membuat Rara
Wulan sendiri heran. Ternyata tangannya mampu menggapai
palang itu sehingga tubuhnya terayun sebagaimana Sekar
Mirah.
“Nah, angkat tubuhmu, sehingga dagumu sampai ke palang
itu.” berkata Sekar Mirah.
Rara Wulan memang mencobanya. Betapa beratnya.
Namun ia telah melakukannya dengan niat yang menghentakhentak
di dadanya, sehingga akhirnya iapun telah berhasil.
Sekar Mirah tersenyum. Kemudian katanya, “Sudahlah,
turunlah. Kau sudah cukup mencoba kemampuan wadagmu.
Tanpa ada orang lain, maksudku, aku atau orang yang telah
mempelajari olah kanuragan sedikit jauh, jangan mencobacoba
dengan memaksa diri, agar wadagmu tidak mengalami
gangguan. Dengan pengawasan orang lain yang mengetahui
serba sedikit tentang olah kanuragan, maka ia akan dapat
membantu mengamati pengerahan kekuatan yang ada di
dalam dirimu namun yang sama sekali belum diolah itu. Jika
tanpa orang lain, maka kau akan dapat melakukannya
melampaui batas, sehingga akibatnya justru jurang
menguntungkan.”
Rara Wulan yang telah turun kembali itu menganggukkan
kepalanya. Namun iapun berkata, “Ternyata menarik sekali
untuk mengalami latihan-latihan yang akan dapat membentuk
diri. Maaf mbokayu, mungkin angan-anganku terlalu tergesagesa
maju. Namun aku akan tunduk kepada semua
paugeran.”
“Baiklah. Sekarang, lakukan apa saja yang ingin kau
lakukan dengan alat-alat yang ada. Terserah kepadamu.”
berkata Sekar Mirah.
Rara Wulan termangu-mangu. Ia tidak tahu maksud Sekar
Mirah. Namun Sekar Mirah mengulanginya”Di sini ada
bermacam-macam alat. Lakukan apa saja. Kau pernah
melihat aku serba sedikit memperagakan olah kanuragan.
Rara Wulan masih saja termangu-mangu. Namun
kemudian iapun mulai bergerak. Ia mencoba mengingat apa
yang pernah dilakukan oleh Sekar Mirah. Namun yang
diingatnya adalah, bahwa Sekar Mirah itu bagaikan
berterbangan saja di dalam sanggar itu.
Karena itu, maka yang dilakukan oleh Rara Wulan
kemudian adalah berlari-lari saja berkeliling. Sekali-sekali
menyusup diantara tonggak-tonggak batang kelapa yang tidak
sama tingginya. Namun kemudian menyusup tonggak-tonggak
serupa, namun yang lebih kecil terbuat dari bambu petung.
Adalah di luar sadarnya bahwa Rara Wulan kemudian
memanjat tangga dan mencoba untuk meniti palang yang
hanya setinggi dada. Dengan sedikit kesulitan Rara Wulan
ternyata mampu menjaga keseimbangan melampaui palang
itu dengan kedua tangannya mengembang. Ia meloncat turun
ketika ia sampai di ujung palang.
Namun kemudian ketika ia tidak lagi tahu harus berbuat
apa, maka diakhirinya langkah-langkahnya itu sebagaimana
pernah dilakukan oleh Sekar Mirah. Meloncat keatas amben
tua itu. Tetapi ternyata bahwa amben tua itu justru telah patah
dan roboh.
“O” Rara Wulan terkejut. Ia segera meloncat ke samping.
Wajahnya tiba-tiba menjadi pucat. Dipandanginya amben
bambu yang roboh dan patah kakinya itu.
Tetapi Sekar Mirah justru tertawa. Katanya, “Pada saatnya
kau akan dapat menari di atas amben itu. He, apakah kau
dapat menari?”
Rara Wulan justru terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia
tidak mengira bahwa tiba-tiba saja Sekar Mirah bertanya
tentang kemampuannya menari. Karena itu, hampir di luar
sadarnya pula Rara Wulan mengangguk sambil menjawab,
“Ya. Aku memang pernah belajar menari.”
“Aku sudah mengira.” berkata Sekar Mirah, “gadis-gadis
kota pada umumnya memang dapat menari.”
“Tidak semuanya.” jawab Rara Wulan.
“Tetapi Rara dapat menari.” berkata Sekar Mirah, “ajari aku
menari.”
Rara Wulan termangu-mangu. Namun iapun kemudian
telah tersenyum pula ketika Sekar Mirah menepuk bahunya
sambil tertawa dan berkata, “Aku sudah terlalu tua.”
Rara Wulan tidak menyahut. Sementara itu Sekar Mirahpun
berkata, “Aku kira sudah cukup hari ini. Kita akan latihan di
dapur. Jika kita terlambat, Ki Jayaraga akan bergeremang
sehari penuh.”
Rara Wulan hanya mengangguk saja, sementara Sekar
Mirah telah berbenah diri. Ketika Rara Wulan akan
membenahi amben yang rusak, Sekar Mirah berkata, “Biar
saja. Nanti kakang Agung Sedayu akan memperbaikinya.
Sekarang kita pergunakan waktu beberapa saat untuk
menenangkan diri.”
Rara Wulanpun kemudian menirukan saja apa yang
dilakukan oleh Sekar Mirah yang seakan-akan telah
mengendapkan segenap gejolak di aliran darahnya. Beberapa
saat kemudian, keduanya telah keluar dari sanggar. Berganti
pakaian dan langsung sibuk didapur. Mereka memang agak
terlambat. Tetapi Sekar Mirah tidak bekerja sendiri. Tetapi ia
bekerja bersama Rara Wulan sehingga segala sesuatunya
menjadi lebih cepat dapat diselesaikan.
Namun dalam pada itu, selagi keduanya sibuk di dapur,
Glagah Putih telah melangkah masuk. Ia memang ragu-ragu
sesaat ketika ia melihat Rara Wulan ada pula di dapur. Namun
kemudian katanya, “mBokayu, ada tamu di pendapa.”
“Tamu? Bukankah kau dapat menemuinya? Aku sedang
masak. Nanti terlambat.” berkata Sekar Mirah.
“Agaknya hanya sebentar. Tamu dari Jati Anom. Ia ingin
berbicara dengan kakang Agung Sedayu.” berkata Glagah
Putih.
“Dari Jati Anom? Siapa?” bertanya Sekar Mirah.
“Seorang cantrik. Utusan Kiai Gringsing.” jawab Glagah
Putih.
Kening Sekar Mirah telah berkerut. Katanya kepada Rara
Wulan, “Tungguilah perapian itu Rara. Aku akan menemui
tamu itu”
Rara Wulan mengangguk-angguk sambil menyahut,
“Silahkah mbokayu.”
Bersama Glagah Putih, Sekar Mirahpun kemudian telah
pergi ke pendapa untuk menemui tamu yang datang dari Jati
Anom itu. Bagaimanapun juga Sekar Mirah menjadi berdebardebar.
Menurut pengertiannya kesehatan Kiai Gringsing agak
kurang baik.
Ketika Sekar Mirah keluar dari ruang dalam, maka
dilihatnya seorang anak muda duduk di pendapa. Begitu anak
muda itu melihat Sekar Mirah, maka iapun segera
mengangguk hormat. Sekar Mirahpun tersenyum. Ia mengenal
anak muda itu sebagai seorang cantrik di padepokan kecil Kiai
Gringsing.
Sambil duduk di hadapan anak muda itu bersama Glagah
Putih, maka Sekar Mirah yang segera ingin tahu tentang Kiai
Gringsing itupun telah bertanya, “Apa kabar dengan Kiai
Gringsing?”
Cantrik itu mengangguk sekali lagi sambil menjawab, “Baikbaik
saja Nyi. Bahkan beberapa hari ini Kiai Gringsing nampak
lebih sehat.”
“O” Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya,
“Syukurlah jika keadaan Kiai Gringsing sudah berangsur baik.
Dengan demikian agaknya kedatanganmu tidak membawa
kabar yang dapat menggelisahkan kakang Agung Sedayu.
Justru karena keadaan kesehatan Kiai Gringsing, aku sudah
merasa cemas.”
“Ya Nyi. Tetapi aku memang harus segera menemui
kakang Agung Sedayu. Hari ini aku akan segera kembali ke
Jati Anom.” berkata orang itu.
“Kenapa begitu tergesa-gesa? Apakah ada kabar yang
penting sekali.” bertanya Sekar Mirah.
“Memang penting sekali.” sahut orang itu.
“Tetapi kau dapat menunggu. Kakang Agung Sedayu baru
menunggui anak-anak muda yang sedang memperbaiki
bendungan di kali kecil di sebelah pedukuhan induk ini Tentu
tidak akan terlalu lama.” berkata Sekar Mirah.
“Atau barangkali lebih baik jika aku menyusulnya.” berkata
cantrik itu.
Sekar Mirah termangu-mangu. Nampaknya anak muda itu
memang membawa berita yang cukup penting, sehingga ia
tidak sabar menunggu. Karena itu, maka iapun berkata
kepada Glagah Putih, “jika demikian, antarkan cantrik ini ke
bendungan.”
Glagah Putih mengangguk sambil menjawab, “Baik
mbokayu.”
“Tetapi kau harus segera pulang. Masih ada kerja bagimu.
Kecuali jika ada persoalan yang mendesak.” ber-kata Sekar
Mirah.
“Baiklah.” jawab Glagah Putih.
Demikianlah, maka kedua orang anak muda itupun segera
meninggalkan halaman rumah Agung Sedayu itu.
Meskipun tidak terlalu jauh, tetapi karena tamunya berkuda
dan nampak tergesa-gesa, maka Glagah Putihpun telah
berkuda pula. Beberapa saat kemudian, maka kedua orang itu
sudah berada di dekat bendungan yang sedang sibuk
dikerjakan.
Beberapa orang anak muda yang melihat Glagah Putih
telah menyapanya. Bahkan seorang diantara mereka
berTanya, “He, kenapa kau hari ini malas sekali Glagah Putih.
Kenapa kau tidak turun ke bendungan?”
Glagah Putih tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Ia tidak
mengatakan bahwa hari itu ia akan pergi ke sawah
menyampaikan kiriman buat Ki Jayaraga dan orang-orang
yang bekerja di sawah, karena Sekar Mirah tidak dapat
melakukannya selagi ia menemui Rara Wulan.
Namun demikian, tiba-tiba saja sebuah pertanyaan muncul
di hatinya, “Jika Rara Wulan itu belajar ilmu kanuragan pada
mbokayu Sekar Mirah, apakah untuk seterusnya akulah yang
pergi ke sawah membawa kiriman? Dengan demikian berarti
aku kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu bersama
anak-anak muda Tanah Perdikan.”
Tetapi pertanyaan itu telah dijawabnya sendiri, “Tentu tidak.
Malahan Rara Wulan itu akan dapat membantu mbokayu
Sekar Mirah membawa makanan ke sawah.”
Namun dalam pada itu, Agung Sedayu yang melihat
seorang cantrik dari Jati Anom datang ke bendungan itu,
dengan serta merta telah mendekatinya. Iapun menjadi
gelisah justru karena keadaan gurunya yang lemah. Tetapi
cantrik itu segera menjelaskan, bahwa keadaan Kiai Gringsing
justru berangsur baik.
“Jadi, untuk apa kau kemari?” bertanya Agung Sedayu.
Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya
kemudian, “Kiai Gringsing ingin bertemu dengan Kakang
Agung Sedayu.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan nada
tinggi ia bertanya, “Jadi guru memanggil aku?”
“Ya. Kiai Gringsing memanggil kakang Agung Sedayu.”
jawab cantrik itu.
“Kapan?” bertanya Agung Sedayu pula.
“Kiai Gringsing tidak memberi batas waktu. Menurut Kiai
Gringsing, jika kakang Agung Sedayu sudah longgar
waktunya, maka segera dimohon untuk datang.” jawab cantrik
itu.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun katanya
kemudian, “Marilah. Aku akan pulang. Kita berbicara di rumah.
Pergilah dahulu bersama Glagah Putih. Aku akan segera
menyusul.”
“Keperluanku sudah selesai. Aku harus segera kembali ke
Jati Anom.” berkata cantrik itu.
“Tunggu aku di rumah.” berkata Agung Sedayu.
Ketika cantrik itu akan menjawab lagi, Agung Sedayu telah
mendahuluinya pula, “Sudahlah. Tunggu aku di rumah.”
Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak
dapat membantah. Karena itu, maka iapun kemudian bersama
Glagah Putih telah diajak kembali ke rumah mendahului
Agung Sedayu yang akan pulang bersama Ki Lurah
Branjangan dan cucunya, Raden Teja Prabawa.
Agung Sedayupun kemudian terpaksa minta diri. Seorang
bebahu akan meneruskan kerjanya, menunggu mereka yang
sedang memperbaiki bendungan itu.
Beberapa saat kemudian, Agung Sedayu telah menerima
tamunya di pendapa bersama Glagah Putih, sementara Ki
Lurah Branjangan dan Raden Teja Prabawa, dipersilahkan
untuk duduk di ruang dalam. Ki Lurah mengerti, bahwa yang
dikatakan oleh cantrik itu tentang pesan Kiai Gringsing,
mungkin tidak seluruhnya boleh didengar oleh orang lain.
“Apakah kau tahu, kenapa guru memanggilku?” bertanya
Agung Sedayu.
“Aku kurang tahu. Tetapi Kiai Gringsing baru saja
mengadakan perjalanan selama lima hari.” jawab cantrik.
“Jadi dengan kesehatannya yang kurang baik itu guru
mengadakan perjalanan?” bertanya Agung Sedayu.
“Ya. Kami sudah berusaha mencegahnya. Tetapi menurut
Kiai Gringsing, perjalanan itu hanya perjalanan pendek dan
tidak akan membuatnya semakin buruk.” berkata cantrik itu.
“Apa yang memaksa guru untuk menempuh perjalanan
itu?” bertanya Agung Sedayu pula.
“Kami tidak tahu”jawab cantrik itu, “tetapi sebelumnya Kiai
Gringsing telah bertemu dengan Ki Untara. Kiai Gringsing
tidak mengatakan sesuatu atas pembicaraannya dengan Ki
Untara. Namun kemudian Kiai Gringsing memutuskan untuk
pergi.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tentu ada sesuatu
yang sangat mendesak, sehingga Kiai Gringsing yang
kesehatannya tidak begitu baik itu harus pergi. Karena itu,
maka Agung Sedayupun menganggap bahwa panggilan
gurunya itupun tidak akan dapat ditunda-tunda lagi.
“Baiklah.” berkata Agung Sedayu kemudian, “aku akan
berusaha secepatnya datang. Hari ini aku akan berbicara
dengan beberapa orang di Tanah Perdikan ini untuk membagi
pekerjaan. Akupun harus minta diri kepada Ki Gede,
sementara di rumah ini sedang ada tamu dari kota.”
“Kiai Gringsing memang tidak memberikan batas waktu.
Kiai Gringsing juga sudah mengatakan, bahwa untuk
meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, kakang Agung
Sedayu tidak dapat begitu saja pergi. Karena itu, maka aku
akan mengatakan bahwa kakang akan datang di Jati Anom
sekitar dua tiga hari lagi.”
“Ya. Aku akan pergi ke Jati Anom besok lusa.” jawab
Agung Sedayu.
“Jika demikian, maka aku sudah dapat mohon diri
sekarang.” berkata cantrik itu.
“Tentu saja kau dapat minta diri. Tetapi aku minta kau
menunggu sampai kami sempat menghidangkan makan lebih
dahulu.” berkata Agung Sedayu.
“Terima kasih.” jawab cantrik itu.
“Kau tidak dapat menolaknya. Tidak baik menolak rejeki.
Apalagi kau dalam perjalanan yang cukup panjang dan
melelahkan.” berkata Agung Sedayu.
Cantrik itu tidak dapat menolak. Baru sesudah makan dan
beristirahat sejenak bersama-sama dengan Ki Lurah
Branjangan dan Raden Teja Prabawa, maka iapun minta diri.
Agung Sedayu tidak mencegahnya. Sementara cantrik itu
berangkat kembali ke Jati Anom, Glagah Putih dan pembantu
rumah Agung Sedayu itu pergi ke sawah.
“Cepat sedikit.” pesan Sekar Mirah, “memang agak
terlambat. Tetapi katakan kepada Ki Jayaraga, bahwa
kelambatan ini bukan karena kelambatanku. Tetapi ada tamu
dari Jati Anom yang harus aku layani makan dan minum lebih
dahulu.”
Glagah Putih tersenyum. Katanya, “Tetapi belum lambat
sekali.”
“Tetapi cepatlah.” minta Sekar Mirah.
“Apakah aku harus pergi berkuda?” bertanya Glagah Putih
sambil tertawa.
“Ah kau.” Sekar Mirahpun tertawa pula.
Rara Wulan tidak menyambung. Tetapi hampir saja ia
menyatakan dirinya untuk ikut pergi ke sawah. Tetapi ia tahu,
bahwa ayah dan kakaknya telah kembali, sehingga kakaknya
tentu akan marah lagi kepadanya.
Demikianlah maka Glagah Putih dan pembantu di rumah itu
dengan tergesa-gesa pergi kesawah. Mereka meniti pematang
untuk mengambil jalan pintas.
Dalam pada itu, selagi Ki Lurah Branjangan dan kedua
cucunya beristirahat di pendapa sambil menghirup angin yang
dapat sedikit menyejukkan udara yang agak panas, maka
Agung Sedayu tengah berbicara dengan Sekar Mirah didapur.
“Jadi kakang harus pergi ke Jati Anom?” bertanya Sekar
Mirah.
“Ya. Aku memang terpaksa pergi. Jika tidak penting sekali,
guru tidak akan memerintahkan seorang cantrik untuk
menyusul aku. Aku agaknya lupa menanyakan, apakah
Swandaru juga dipanggil oleh guru. Jika demikian, sebaiknya
kami datang pada hari yang sama.” berkata Agung Sedayu.
“Tetapi sebaiknya kakang datang saja dahulu. Jika perlu
kakang dapat memanggil kakang Swandaru.” ber-kata Sekar
Mirah.
“Ya. Aku akan datang besok lusa. Hari ini dan besok aku
masih harus memberikan beberapa pesan kepada anak-anak
muda sesuai dengan rencana yang telah kami susun. Aku
juga harus minta diri kepada Ki Gede.” Agung Sedayu berhenti
sejenak, lalu, “Tetapi bagaimana dengan Ki Lurah?”
“Tidak apa-apa.” jawab Sekar Mirah, “yang berkepentingan
adalah Rara Wulan. Menurut penilaianku, Rara Wulan
memiliki bekal kekuatan jasmaniah yang besar, sehingga aku
berharap bahwa ia tidak akan terlalu banyak mengalami
kesulitan. Yang penting untuk dituntut daripadanya adalah
kesungguhan.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun iapun
kemudian berkata, “Tetapi agaknya Rara Wulan masih harus
mendapat ijin dari orang tuanya.”
Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Tetapi
jangan karena persoalan itu kakang Agung Sedayu terhambat.
Kiai Gringsing tentu benar-benar memerlukan kehadiran
kakang.”
“Ya.” Agung Sedayu mengangguk-angguk, “Perjalanan
yang dilakukan oleh guru juga sangat menarik perhatian. Guru
yang sudah sangat tua dan kesehatannya yang sedang
terganggu itu telah memaksa diri untuk pergi. Tentu sesuatu
yang sangat penting telah terjadi.”
“Dengan siapa kakang pergi? Glagah Putih atau Ki
Jayaraga? Dalam keadaan seperti ini sebaiknya kakang tidak
pergi sendiri. Aku tidak mencemaskan keselamatan kakang,
tetapi barangkali kakang memerlukan seseorang untuk
memberikan kabar kepada siapapun juga jika ada persoalan di
perjalanan. Sementara orang itupun harus seorang yang
sanggup melindungi dirinya sendiri.” berkata Sekar Mirah.
Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun katanya
kemudian, “Aku akan pergi bersama Glagah Putih. Biarlah Ki
Jayaraga membantumu disini. Apalagi jika mungkin Ki Gede
memerlukannya.”
“Tetapi bukankah kakang akan mengatakannya juga
kepada Ki Lurah Branjangan?” bertanya Sekar Mirah.
“Sudah tentu.” jawab Agung Sedayu.
“Maksudku seawal mungkin.” desis Sekar Mirah.
“Mungkin Ki Lurah sudah mengerti meskipun ia tidak
mendengar keterangan cantrik itu langsung.” berkata Agung
Sedayu.
Sekar Mirah mengangguk-angguk. Namun katanya
kemudia, “Marilah. Kita ke pendapa.”
Keduanyapun kemudian telah pergi ke pendapa. Dengan
pendek Agung Sedayupun kemudian mengatakan bahwa
cantrik itu telah menyampaikan pesan Kiai Gringsing, agar ia
pergi ke Jati Anom.
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu ada hal
yang sangat penting. Angger memang harus datang.”
“Aku sudah berjanji, besok lusa aku akan datang di Jati
Anom.” jawab Agung Sedayu.
“Kenapa tidak hari ini? Mungkin persoalannya sangat
mendesak.” berkata Ki Lurah.
“Tidak Ki Lurah, Cantrik itu mengatakan, jika segala
sesuatunya longgar disini.” desis Agung Sedayu.
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian,
maka agaknya Kiai Gringsing memang menghadapi persoalan
yang sangat penting, tetapi tidak mendesak sekali untuk
mendapatkan penyelesaian.”
“Agaknya memang begitu.” Agung Sedayu menganggukangguk.
“Jika demikian, kita akan pergi bersama-sama.” Berkata Ki
Lurah.
“Ki Lurah akan kemana?” bertanya Agung Sedayu.
“Aku sudah terlalu lama disini ngger. Agaknya kedua
cucuku sudah cukup beristirahat.” jawab Ki Lurah, “me-reka
akan kembali memasuki kehidupan mereka sehari-hari dalam
lingkungan mereka.”
“Tetapi bagaimana dengan aku, kakek?” bertanya Rara
Wulan.
“Aku mengerti. Tetapi kau harus berbicara dengan ayah
dan ibumu.” berkata Ki Lurah.
“Kakek yang mengatakan kepada ayah dan ibu.” berkata
Rara Wulan, “bukankah kakek berjanji?”
Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Aku akan mengatakannya
kepada ayah dan ibumu. Tetapi kaupun harus menyesuaikan
dirimu sebagaimana sikap ayah dan ibumu. Apalagi dalam
keadaan yang nampaknya menjadi semakin hangat ini.”
“Pokoknya terserah kepada kakek.” desis Rara Wulan.
Tetapi Raden Teja Prabawalah yang menyahut, “Kau harus
mendengar keputusan terakhir dari ayah dan ibu.”
“Aku tahu.” jawab Rara Wulan, “tetapi kakek akan dapat
mempengaruhi keputusan terakhir itu.”
Teja Prabawa masih akan menjawab. Tetapi Ki Lurahlah
yang menengahinya, “Sudahlah. Semuanya akan menjadi
urusanku. Sekarang kalian tidak usah memamerkan
kebiasaanmu bertengkar kepada kakangmu Agung Sedayu
dan mbokayumu Sekar Mirah.”
Kedua cucu Ki Lurah itu memang terdiam. Sementara itu Ki
Lurah berkata, “Kita akan kembali bersama kakangmu Agung
Sedayu.”
“Apakah Ki Lurah tidak ingin berada di Tanah Perdikan ini
lebih lama lagi. Mungkin aku hanya satu dua hari saja berada
di Jati Anom.” berkata Agung Sedayu.
Tetapi Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Jika ayah dan ibu
Wulan mengijinkan, maka aku akan segera kembali
mengantarkan anak ini.”
Tetapi Sekar Mirahlah yang kemudian berdesis,
“Nampaknya akan sangat berbahaya jika Ki Lurah hanya
berdua saja dengan Rara menempuh perjalanan. Meskipun
murid Ki Sigarwelat itu tidak berniat lagi untuk berbuat buruk,
tetapi jika mereka bertemu dengan Rara Wulan dan Ki Lurah
dalam perjalanan, mungkin niat jahat itu akan dapat timbul
dengan serta merta.”
Ki Lurah mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk
angguk ia berkata, “Memang mungkin sekali hal itu terjadi.”
“Jika demikian Ki Lurah.” berkata Agung Sedayu, “jika kelak
aku kembali dari Jati Anom, biarlah aku singgah dirumah Ki
Lurah. Jika Ki Lurah memang ingin pergi ke Tanah Perdikan
ini, kita akan dapat pergi bersama-sama.”
“Baiklah.” berkata Ki Lurah, “aku akan menunggu sampai
angger Agung Sedayu kembali dari Jati Anom. Pergi atau
tidak pergi aku tentu memerlukan kehadiran angger kelak.”
Demikianlah maka ternyata Ki Lurah telah menentukan
untuk bersama-sama dengan Agung Sedayu dan Glagah
Putih kembali ke Mataram. Dengan demikian maka perjalanan
merekapun akan menjadi lebih aman. Terutama bagi Rara
Wulan.
Seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, maka sebelum
berangkat ia memang harus mengatur tugas-tugasnya di
Tanah Perdikan serta minta diri kepada Ki Gede. Sedangkan
Ki Lurah Branjanganpun sekaligus telah minta diri pula
bersama-sama dengan kedua cucunya untuk kembali ke
Mataram pada saat yang bersamaan dengan kepergian Agung
Sedayu.
Namun Ki Lurah itu berkata, “Tetapi kami hanya berjalan
kaki ngger. Jika angger Agung Sedayu tidak tergesa-gesa,
maka kami berharap untuk bersedia berjalan bersama kami
dengan menuntun kuda sampai ke Mataram.”
“Apakah kedua cucu Ki Gede tidak lelah?” bertanya Agung
Sedayu.
“Kami datang sudah dengan niat untuk menempuh sebuah
perjalanan. Kami ingin mencoba kemampuan kami berjalan
meskipun ternyata kami harus berhenti lima puluh kali
sepanjang perjalanan kemari dari Mataram.” jawab Ki Lurah.
Ki Gede tertawa. Agung Sedayupun tertawa pula. Namun
dalam pada itu, sebelum Agung Sedayu berangkat, pagi-pagi
benar sebelum dini hari dihari berikutnya, maka menjelang
sore hari sebelumnya telah datang dua orang penghubung
berkuda. Keduanya telah membawa berita yang memang
mendebarkan. Dalam beberapa hari lagi, Ki Panji Wiralaga
akan datang untuk melaksanakan rencana yang pernah
disusun.
“Beberapa hari lagi itu maksudnya kapan?” bertanya Ki
Gede, “satu dua hari, sepekan atau sepuluh hari?”
“Belum dapat dipastikan. Tetapi diminta Ki Gede bersiapsiap.”
jawab penghubung itu.
Ketika kemudian Agung Sedayu juga dipanggil ke rumah Ki
Gede, maka Agung Sedayu berjanji esok hari, jika ia pergi ke
Jati Anom akan singgah ke rumah Ki Panji Wiralaga bersama
Ki Lurah Branjangan. Segala sesuatunya akan menjadi lebih
jelas.
Sepeninggal orang itu, maka Ki Gede, Ki Lurah Branjangan
dan Agung Sedayu sempat berbicara sejenak. Menurut
pengamatan mereka, maka keadaan memang menjadi
semakin gawat.
Kedua orang penghubung itu tidak memberikan gambaran
keadaan sama sekali. Tetapi bahwa ia datang untuk memberi
tahukan agar Ki Gede mengambil ancang-ancang untuk
membentuk satu pusat pengendalian kekuatan di Tanah
Perdikan ini dan sekitarnya tentu karena keadaan yang
semakin mendesak.
“Mudah-mudahan besok kita mendapat gambaran yang
lebih jelas di Mataram.” berkata Agung Sedayu.
Demikianlah, maka dikeesokan harinya, Agung Sedayu
benar-benar telah berangkat ke Mataram bersama Glagah
Putih, Ki Lurah Branjangan dan kedua orang cucunya. Mereka
tidak berangkat dari rumah Ki Gede. Tetapi mereka berangkat
dari rumah Agung Sedayu.
Lewat tengah malam mereka telah bangun. Sekar Mirah
telah sibuk didapur memanasi air untuk membuat minuman
dan sekaligus menanak nasi untuk makan pagi sebelum
mereka berangkat. Sementara yang lain telah bergantian
mandi di pakiwan tanpa melepaskan sikap berhati-hati.
Sebelum dini hari, ternyata semuanya sudah selesai,
sehingga mereka dapat berangkat sangat awal. Jika nanti
matahari terbit, mereka telah mencapai jarak yang panjang.
Betapapun lambatnya perjalanan, namun akhirnya mereka
sampai juga di Mataram dengan selamat. Perjalanan yang
melelahkan, sehingga Teja Prabawa rasa-rasanya telah
menjadi jera. Tetapi tidak demikian halnya dengan Rara
Wulan. Meskipun ia juga merasa letih, tetapi ia tetap berharap
untuk pada suatu saat kembali ke Tanah Perdikan
Menjelang sore hari, maka Agung Sedayu, Glagah Putih
dan Ki Lurah Branjangan telah pergi ke rumah Ki Panji
Wiralaga. Malam itu Agung Sedayu dan Glagah Putih akan
bermalam semalam di rumah Ki Lurah Branjangan.
Kedatangan Agung Sedayu, Glagah Putih dan Ki Lurah
Branjangan telah disambut dengan baik oleh Ki Panji
Wiralaga. Dengan singkat Agung Sedayu telah menyampaikan
persoalan yang timbul di Tanah Perdikan karena kehadiran
kedua orang penghubung dari Ki Panji.
“Jadi kau akan pergi ke Jati Anom?” bertanya Ki Panji
kepada Agung Sedayu.
“Ya Ki Panji. Besok jika aku kembali ke Tanah Perdikan,
aku sudah berjanji untuk singgah pula di rumah Ki Lurah.”
jawab Agung Sedayu.
“Kapan kau kembali?” bertanya Ki Panji.
“Aku tidak dapat mengatakan. Tetapi aku kira aku tidak
akan terlalu lama.” jawab Agung Sedayu.
Ki Panji mengangguk-angguk. Setelah merenung sejenak,
maka katanya, “Jika demikian akupun akan menunggu kau
kembali.”
Agung Sedayu termangu-mangu. Tetapi sebelum ia
mengatakan sesuatu, nampaknya Ki Panji dapat mengerti
perasaannya. Katanya, “Kecuali jika kau terlalu lama, maka
aku terpaksa mendahuluimu.”
“Agaknya itu lebih baik Ki Panji.” jawab Agung Sedayu.
Namun dalam kesempatan itu Agung Sedayu telah
mendapat beberapa keterangan yang meskipun sangat
terbatas, namun memberikan gambaran yang agak
menyeluruh. Bahkan dengan nada rendah Ki Panji itu berkata,
“Panembahan Senapati terpaksa mengambil kebijaksanan
yang agak tergesa-gesa.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan nada
rendah ia bertanya, “Keputusan tentang apa?”
Ki Panji Wiralaga memang menjadi ragu-ragu. Bahkan
kemudian katanya, “Bukankah kau mempunyai kesempatan
khusus untuk menghadap Panembahan Senapati? Kau dapat
menghadap hampir setiap saat. Kesempatan yang tidak
dimiliki oleh orang lain kecuali para pemimpin terdekat seperti
Ki Mandaraka. Kau dapat berbicara dengan Panembahan
tentang keadaan terakhir dari Mataram sehingga kau akan
mendapat gambaran yang jelas.”
Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Katanya, “Aku tidak
akan singgah sekarang Ki Panji. Besok aku harus sampai ke
Jati Anom. Jika aku singgah untuk menghadap Panembahan,
mungkin aku harus menunda waktu lagi.”
Ki Panji Wiralaga mengangguk-angguk. Kemudian katanya,
“Ki Mandaraka sudah sepakat untuk mengangkat Pangeran
Gagak Baning untuk menggantikan kedudukan Pangeran
Benawa di Pajang.”
“Pangeran Gagak Baning adik Panembahan Senapati.”
bertanya Agung Sedayu dengan serta merta, “lalu bagaimana
sikap Panembahan Madiun?”
Ki Panji menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya,
“Itulah sebabnya, maka rencana Panembahan Senapati atas
Tanah Perdikan Menoreh serta atas dasar perhitungan
Pemimpin Pasukan Khusus maka kepemimpinan dan kendali
kekuatan di Tanah Perdikan akan dipersatukan. Pengawasan
terhadap Sanggabaya akan ditingkatkan.”
Namun dalam pada itu Ki Lurah Branjangan telah berkata
hampir kepada diri sendiri, “Panembahan Sanggabaya di
Menoreh agak terlalu berani.”
“Ya” jawab Ki Panji, “ternyata diperlukan banyak tenaga
dan perhatian. Namun lewat orang itu, maka akan dapat di
amati siapa saja para pemimpin Mataram yang goyah
pendiriannya.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi katanya,
“Sanggabaya dapat diberi kesempatan yang lain. Tetapi tidak
memegang kekuatan yang cukup besar di atas Tanah
Perdikan itu.”
Ki Panji mengangguk-angguk. Katanya kemudian,
“Memang agak terlalu ke tepi, ibarat kita berdiri di pinggir
jurang. Karena itu, pagar yang direncanakan di buat itu harus
segera di wujudkan.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Mudahmudahan
dapat berjalan lancar. Aku akan segera kembali dari
Jati Anom.”
Demikianlah, maka Agung Sedayu, Ki Lurah dan Glagah
Putihpun segera mohon diri. Ki Panji masih mengharap bahwa
Agung Sedayu tidak akan terlalu lama berada di Jati Anom
sehingga mereka akan dapat bersama-sama pergi ke Tanah
Perdikan Menoreh.
Diperjalanan kembali ke rumah Ki Lurah Branjangan,
Agung Sedayu masih juga bertanya tentang Pangeran Gagak
Baning.
“Aku kurang mengenalnya.” berkata Ki Lurah Branjangan,
“tetapi agaknya memang agak berbeda dengan Pangeran
Singasari yang keras.”
“Tetapi bagi Madiun, kehadiran keluarga Panembahan
Senapati akan dapat menjadi persoalan.” berkata Agung
Sedayu.
“Persoalan itu memang ada lebih dahulu.” jawab Ki Lurah,
“justru Panembahan Senapati ingin menunjukkan sikap
kepemimpinannya. Setelah beberapa kali usahanya untuk
mencari penyelesaian dengan cara yang lebih baik tidak
berhasil.”
“Apakaha sikap Panembahan Madiun sangat kaku?”
bertanya Agung Sedayu.
“Aku sekarang sudah jarang sekali berhubungan dengan
orang-orang dalam. Tetapi menurut pendengaranku, di sekitar
Panembahan Madiun memang terdapat orang-orang yang
keras kepala, mementingkan diri sendiri dan pamrih yang
sangat besar. Merekalah yang kadang-kadang memberikan
keterangan yang sengaja di putar balikkan atau dengan
didorong oleh pamrih pribadi telah memanasi suasana.”
berkata Ki Lurah Branjangan, “tetapi aku tahu benar hubungan
yang sangat akrab antara Panembahan Senapati dan
Panembahan Madiun yang dianggap sebagai pamandanya
sendiri.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga
bertanya, “Ki Lurah. Apakah menurut pendapat Ki Lurah,
masih ada bekas-bekas luka dihati Panembahan Madiun
karena perpindahan pusat pemerintahan dari Pajang ke
Mataram? Bukankah yang mengangkat Panembahan Madiun
pada kedudukannya sekarang adalah Sultan Hadiwijaya di
Pajang? Bukankah pada mulanya, Panembahan Madiun
termasuk salah seorang yang mengusulkan agar Mataram di
padamkan sebelum menjadi nyala api yang akan membakar
Tanah ini.”
“Nampaknya semuanya sudah dilupakan.” berkata Ki Lurah
Branjangan, “tetapi kita memang tidak tahu, apa yang menyala
di dalam dada seseorang.”
Agung Sedayu mengangguk--angguk. Namun ia pun
kemudian berpaling kepada Glagah Putih sambil berkata
“Beruntunglah kau dapat ikut mendengar, Glagah Putih. Tetapi
kau tahu, bahwa berita ini bukan berita yang pantas di
sebarkan untuk orang lain.”
Glagah Putih mengangguk sambil berdesis “Aku mengerti
kakang. “
“Baiklah. Mungkin guru besok akan dapat memberikan
pendapatnya tentang perkembangan terakhir hubungan antara
Mataram dan Madiun. “berkata Agung Sedayu pula.
Namun ketika Ki Lurah Branjangan itu sampai kerumahnya,
maka persoalannya menjadi lain. Yang menjadi ribut
adalah kedua cucunya. Raden Teja Prabawa ingin segera
mengajak kakeknya pulang kerumah orang tuanya. Rara
Wulan mendesak kakeknya untuk segera mengatakan bahwa
ia ingin mempelajari ilmu kanuragan di Tanah Per-dikan
Menoreh.
“Malam ini tamu-tamu kita akan bermalam dirumah kakek
“jawab Ki Lurah “karena itu besok kita akan menemui ayah
dan ibumu. “
Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan memang tidak dapat
memaksa. Hari itu dirumah kakeknya bermalam dua orang
tamu dari Tanah Perdikan Menoreh. Namun dalam satu
kesempatan Ki Lurah berkata kepada keduanya “Meskipun
mereka datang dari Tanah Perdikan Menoreh, tetapi keduanya
adalah orang-orang yang mempunyai hubungan khusus
dengan Panembahan Senapati. Keduanya dapat menghadap
Panembahan Senapati kapan saja tanpa melalui jalur yang
diterapkan bagi orang lain. “
Raden Teja Prabawa mengangguk-angguk. Ia sudah
pernah mendengar keterangan seperti itu. Tetapi ketika
kakeknya mengingatkannya, maka ia memang harus
menahan diri.
Demikianlah Agung Sedayu dan Glagah Putih bermalam
semalam dirumah Ki Lurah. Pagi-pagi mereka telah siap untuk
berangkat ke Jati Anom.
Ketika keduanya menuntun kudanya dihalaman, maka dari
seketheng longkangan rumah Ki Lurah, Rara Wulan
memandang keduanya yang berjalan diantar oleh kakeknya
sampai ke regol. Adalah diluar sadarnya, jika Glagah Putih
berpaling. Ketika ia melihat Rara Wulan yang sedang
memandanginya, maka. terasa jantungnya berdegup keras.
Iapun segera menundukkan kepalanya sementara kakinya
melangkah terus keluar regol halaman.
Demikianlah, maka sejenak kemudian terdengar derap kaki
dua ekor kuda yang semakin lama menjadi semakin jauh.
Untuk beberapa saat Rara Wulan masih berdiri di seketheng.
Namun iapun kemudian melangkah masuk kembali kerumah
kakeknya lewat pintu butulan.
Dalam pada itu, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun
telah berpacu meninggalkan rumah Ki Lurah Branjangan.
Meskipun tidak terlalu cepat, namun mereka telah
menyibakkan orang-orang yang mulai ramai berjalan kaki di
sepanjang jalan yang ternyata melewati sebuah pasar yang
cukup besar. Satu dua mereka juga bertemu dengan orangorang
berkuda yang akan pergi ke pasar.
Tetapi Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak berhenti
ketika mereka melewati pasar. Mereka melintas dengan cepat.
Beberapa orang yang melihat keduanya lewat dijalan sebelah
pasar itu sempat mengagumi kuda mereka. Terutama kuda
Glagah Putih yang besar, tinggi dan tegar.
Perjalanan mereka berdua terasa menjadi cepat. Jauh lebih
cepat dari perjalanan mereka dari Tanah Perdikan Menoreh.
Apalagi perjalanan mereka memang tidak menemui hambatan
apapun juga, sehingga dengan demikian
maka dalam waktu yang terasa singkat saja mereka telah
berada ditepi Kali Opak.
Agung Sedayu dan Glagah Putih memberi kesempatan
kuda mereka untuk beristirahat beberapa saat di pinggir Kali
Opak. Sementara kuda mereka minum dan makan rerumputan
segar, Agung Sedayu dan Glagah Putih duduk diatas
sebongkah batu besar dipinggir Kali Opak.
Ternyata bahwa kuda Glagah Putih memang banyak
menarik perhatian. Beberapa orang yang lewat tidak jauh dari
tempat kedua orang dari Tanah Perdikan Menoreh itu
beristirahat, ternyata telah memperhatikan kuda Glagah Putih
yang sedang makan rerumputan.
Bahkan dua orang yang berpakaian sebagai saudagarsaudagar
kaya telah berhenti.
Tetapi mereka hanya sekedar mengagumi dan bertanya
beberapa hal tentang kuda itu.
“Seandainya aku mendapatkan seekor kuda setegar itu
“desis yang seorang.
Glagah Putih hanya tersenyum saja. Ketika yang lain
bertanya dari mana ia mendapat kuda itu, maka Glagah Putih
menjawab “Pamanku. Pamanku adalah penggemar kuda. “
“Aku juga penggemar kuda “berkata orang itu “kau adalah
seorang yang sangat beruntung mendapatkan seekor kuda
seperti itu. “
Glagah Putih masih saja tersenyum sambil menyahut “Ya.
Aku memang beruntung mendapatkan kuda itu. “
Ketika kedua saudagar itu kemudian melanjutkan
perjalanan, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun segera
berbenah diri. Sejenak kemudian keduanya telah berpacu
menuju ke Jati Anom.
Bagaimanapun juga. Agung Sedayu dan Glagah Putih
merasa berdebar-debar ketika mereka mendekati padepokan
kecil Kiai Gringsing. Mereka berdua menyadari, bahwa tentu
ada sesuatu yang penting. Sementara itu persoalan antara
Mataram dan Madiun menjadi semakin hangat pula.
“Apakah persoalan yang akan dikatakan oleh guru juga
menyangkut persoalan antara Mataram, Pajang dan Madiun?
“bertanya Agung Sedayu kepada diri sendiri.
Tetapi Agung Sedayu harus menunggu jawabnya sampai ia
nanti bertemu dengan gurunya. Gurunya yang semakin tua
dan kesehatannya sudah tidak utuh lagi sebagaimana
kekuatan wadagnya meskipun ilmunya tidak
susut. Namun ilmunya itupun memerlukan dukungan unsur
kewadagannya.
Beberapa saat kemudian, Agung Sedayu dan Glagah
Putih telah berada didepan regol padepokan, Ketika seorang
cantrik melihat mereka memasuki padepokan, maka dengan
tergesa-gesa cantrik itu telah menyongsong mereka.
“Selamat datang di padepokan kami “berkata Cantrik itu
sambil membungkuk hormat.
“Bagaimana dengan padepokan ini? “bertanya Agung
Sedayu.
“Semuanya dalam keadaan baik “jawab cantrik itu.
“Bagaimana dengan guru? “bertanya Agung Sedayu pula.
“Kiai dalam keadaan yang baik. Nampaknya lebih baik dari
beberapa pekan yang lalu “jawab cantrik itu yang kemudian
menerima kuda-kuda Agung Sedayu dan Glagah Putih untuk
diikat disisi bangunan induk padepokan kecil itu. Sementara
cantrik yang lain telah memper-silahkannya naik ke pendapa.
“Apakah guru ada didalam? “bertanya Agung Sedayu-
“Tidak “jawab cantrik itu “Kiai berada ditepi kolam. Sejak
pagi Kiai berjalan-jalan di kebun, kemudian beristirahat
digubug ditepi kolam itu. “
“Sudahlah. Kau tidak usah memanggilnya. Kami akan pergi
kesana. “berkata Agung Sedayu.
Cantrik itupun kemudian mempersialahkannya pergi ke
kebun dibagian belakang padepokan itu.
Kiai Gringsing memang sedang duduk disebuah gubug
yang tidak terlalu kecil sambil menghadapi minuman hangat
dan beberapa potong makanan. Sekali-sekali Kiai Gringsing
sempat memperhatikan ikan-ikan yang berenang hilir mudik di
belumbang. Ikan-ikan yang semakin lama semakin banyak
dan menjadi besar di belumbang itu. Meskipun setiap kali para
cantrik memungut beberapa ekor, namun jumlahnya tidak
pernah susut.
Kedatangan Agung Sedayu dan Glagah. Putih memang
mengejutkan. Namun sudah diduga bahwa hari itu mereka
akan datang.
“Marilah “Kiai Gringsing mempersilahkan sambil beringsut
“aku sudah menduga, jika tidak kemarin, kau tentu akan
datang hari ini. “
Agung Sedayu dan Glagah Putihpun kemudian telah duduk
pula digubug itu. Dengan singkat Agung Sedayu sempat
menceriterakan bahwa semalam ia bermalam di Mataram,
dirumah Ki Lurah Branjangan. Bahkan Agung Se-dayupun
telah menceriterakan pula pertemuannya dengan Ki Panji
Wiralaga serta rencana Panembahan Senapati bagi Tanah
Perdikan. Kemudian Agung Sedayupun sempat berkata
“Panembahan Senapati telah menempatkan Pangeran Gagak
Baning di Pajang. “
“Kau mengatakan hal itu tentu dalam hubungannya dengan
Panembahan Madiun “desis Kiai Gringsing.
“Ya guru “jawab Agung Sedayu.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi kemudian
katanya kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih ketika
seorang cantrik menghidangkan minuman dan makanan
“Minum sajalah dahulu. Nanti jika kau sudah beristirahat, kita
berbicara tentang Mataram dan Madiun. “
Agung Sedayu dan Glagah Putih memang tidak
membicarakan lagi persoalan Mataram dan Madiun. Tetapi
Kiai Gringsing mulai berbicara tentang kolam ikan yang telah
diperluas.
“Kami telah membuat satu lagi. Tetapi dengan cara yang
berbeda. Kolam yang satu yang berada disebelah pagar itu,
kami aliri air dari parit dan kami biarkan airnya tetap bergerak.
Kami membuat kolam itu seperti rumpon. Kami beri bebatuan
dan selangkrah bambu dan daun salak.
“berkata Kiai Gringsing.
“Isi kolam itu tentu berbeda dengan isi kolam ini Kiai.
“sahut Glagah Putih yang mempunyai kesenangan
membuat pliridan dan rumpon.
“Ya. Setelah tiga bulan kami membukanya. Kami mendapat
beberapa kepis ikan lele dan kutuk. “berkata Kiai Gringsing.
“Menarik. Kapan lagi rumpon itu akan dibuka? “bertanya
Glagah Putih.
“Baru beberapa hari yang lalu kami membukanya “jawab
Kiai Gringsing.
“Sayang sekali “desis Glagah Putih.
Kiai Gringsing tersenyum. Iapun tahu bahwa Glagah Putih
mempunyai kesenangan turun kesungai. Sungai disebelah
padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh adalah sungai
yang tidak besar. Tetapi hampir setiap malam Glagah Putih
turun dua kali.
Setelah minum minuman hangat serta berbicara tentang
Jati Anom, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh,
maka Kiai Gringsingpun berkata “Aku memang ingin berbicara
tentang Mataram dan Madiun.
“Aku sudah menduga guru “sahut Agung Sedayu.
“Tetapi aku tidak tergesa-gesa “desis Kiai Gringsing
kemudian.
“Apapun guru juga bermaksud memanggil Swandaru?
“bertanya Agung Sedayu.
“Tidak hari ini “berkata Kiai Gringsing “tetapi besok aku
minta kau memanggilnya. “
Agung Sedayu mengangguk-angguk, Ia mengerti, bahwa
gurunya ingin berbicara dengan dirinya lebih dahulu, baru
kemudian dengan adik seperguruannya, Swandaru
Dalam pada itu gurunya berkata “Nanti malam kita
mempunyai waktu cukup untuk berbicara agak panjang. Ada
beberapa hal yang perlu dipersoalkan. “
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Agaknya gurunya
memang ingin berbicara dengan tenang, sehingga tidak akan
terganggu oleh apapun.
Sebenarnyalah, ketika senja turun, maka Kiai Gringsing
telah berada di pendapa bangunan induk padepokan kecil itu.
Glagah Putih masih sempat menengok kudanya yang sudah
dimasukkan kedalam kandang bersama kuda Agung Sedayu.
Ternyata bahwa Kiai Gringsing berkenan memanggil
Glagah Putih untuk mendapat kesempatan mendengarkan
pembicaraannya dengan Agung Sedayu tentang
perkembangan keadaan yang terakhir.
Sejenak kemudian, ketiganya telah duduk melingkar di
pendapa menghadapi minuman hangat dan beberapa potong
makanan.
“Seorang cantrik mempunyai kecakapan membuat jenang
nangka. Nah, cobalah “Kiai Gringsing memper-silahkan.
Ketika Glagah Putih mencicipinya, maka iapun berdesis
“Enak sekali. Darimana cantrik itu belajar membuat jenang
nangka seperti ini? “Kiai Gringsing tersenyum. Katanya “Sejak
ia datang, ia sudah memiliki kepandaian itu. Menurut
keterangannya, ibunyalah yang mengajarinya. “
Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun setelah ia
makan jenang nangka beberapa potong, iapun mulai
menggenggam beberapa buah beton nangka yang direbus.
Ternyata beton nangka merupakan salah satu kegemarannya.
Apalagi di rebus dengan sedikit garam.
Demikianlah, beberapa saat kemudian, Kiai Gringsing mulai
bersungguh-sungguh. Katanya “Kau aku minta datang kemari,
karena ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu Agung
Sedayu. “Agung Sedayu mengangguk-angguk. Dengan nada
berat ia bertanya “Apakah Guru baru saja melakukan
perjalanan? “
“Ya “Kiai Gringsing mengangguk-angguk “tetapi bukan
perjalanan yang berat. Aku hanya sekedar melihat-lihat
keadaan. Sudah lama aku berada di padepokan ini tanpa
melihat dunia luar yang sebelumnya sering aku jelajahi. Rasarasanya
ada kerinduan untuk melihatnya. Karena itu, maka
aku memerlukan untuk berjalan-jalan selama kira-kira
sepekan. “
“Apakah guru berjalan-jalan ke Timur? “bertanya Agung
Sedayu. ~
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian katanya dengan wajah tengadah “Berjanjilah,
bahwa tidak semua yang aku katakan kepadamu dan didengar
oleh Glagah Putih, akan kalian katakan kepada orang lain.
Kalian berdua harus pandai memilih, mana yang perlu
dikatakan kepada orang lain yang berkepentingan, dan mana
yang tidak.
“Aku berjanji guru “desis Agung Sedayu, sementara Glagah
Putihpun mengangguk. sambil berdesis “Aku mengerti Kiai. “
“Nah, kalian berdua adalah orang-orang yang paling aku
percaya di samping Swandaru. Aku tidak mencurigai
Swandaru bahwa ia akan melanggar pesanku. Tetapi kadangkadang
dengan tidak sengaja Swandaru telah mengatakan
sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan kepada orang yang
tidak berkepentingan. “
Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk.
Mereka memang dapat mengenal sifat dan tabiat Swandaru
dengan baik. Kadang-kadang tanpa disengaja apa saja
terlontar dari mulutnya. Apalagi jika ia sedang marah.
Dalam pada itu, dengan nada rendah dan bersungguhsungguh
Kiai Gringsing berkata “Aku pergi ke Madiun. “
Agung Sedayu dan Glagah Putih memang agak terkejut.
Meskipun mereka sudah menduga, bahwa kepergian Kiai
Gringsing itu ada hubungannya dengan kemelut yang semakin
tebal dilangit yang meliputi Mataram dan Madiun. Tetapi
mereka tidak mengira bahwa Kiai Gringsing langsung pergi ke
Madiun.
Apalagi ketika Kiai Gringsing berkata “Aku telah bertemu
langsung dengan Panembahan Madiun. “
“Guru “wajah Agung Sedayu menjadi tegang.
“Adalah satu kebetulan bahwa Panembahan Madiun
pernah mengenali aku meskipun bukan sebagai Kiai
Gringsing. Tetapi Panembahan Madiun mengenali cambukku.
“berkata Kiai Gringsing.
“Dan lukisan dipergelangan tangan itu “desis Agung
Sedayu pula.
Kiai Gringsing tersenyum. Katanya kemudian “Siapapun
aku, namun aku telah berbicara dengan Panembahan Madiun.
“
“Guru membicarakan hubungan Madiun dengan Mataram?
“bertanya Agung Sedayu.
“Ya. “jawab Kiai Gringsing “namun menurut pendapatku,
keduanya sulit untuk dipertemukan. Meskipun
pada Panembahan Madiun dan pada Panembahan
Senapati terdapat keinginan untuk menyingkirkan kekerasan,
namun jalan pikiran keduanya sulit untuk dapat bertemu.
Lebih-lebih lagi di sekitar Panembahan Madiun terdapat
orang-orang yang sengaja membakar jantungnya. “
“Nampaknya memang demikian guru. Langkah-langkah
yang pernah diambil oleh orang-orang yang tidak langsung
mempunyai jalur hubungan dengan Panembahan Madiun
menunjukkan kemungkinan itu. “berkata Agung Sedayu.
“Tetapi Mataram harus berhati-hati. Madiun mampu
menghimpun kekuatan yang sangat besar. Dari segi jumlah
prajurit, Mataram tidak akan dapat mengimbanginya. Namun
mungkin dari sisi yang lain Mataram dapat mengisi
kekurangan itu. “berkata Kiai Gringsing.
Agung Sedayu dan Glagah Putih mengerutkan keningnya.
Dengan ragu-ragu Agung Sedayu bertanya “Jadi bagaimana
menurut pendapat Guru. Apakah ada pendapat yang harus
didengar oleh Panembahan Senapati? “
“Ya “jawab Kiai Gringsing.
“Jadi Guru akan menghadap Panembahan? “bertanya
Agung Sedayu.
Tetapi Kiai Gringsing nampaknya justru ragu-ragu. Bahkan
ia kemudian bertanya “Bagaimana jika kau saja?
Agung Sedayulah yang kemudian termangu-mangu.
Sejenak ia berpaling kepada Glagah Putih. Namun Glagah
Putihpun agaknya tidak mempunyai sikap tertentu.
Karena itu, maka Agung Sedayupun berkata “Guru.
Menurut pendapatku, sebaiknya Guru langsung bertemu
dengan Panembahan Senapati sebagaimana Guru bertemu
dengan Panembahan di Madiun. “
“Bukankah sama saja bagi Panembahan Senapati? “Kau
adalah muridku, sehingga kehadiranmu di Mataram adalah
atas namaku. “berkata Kiai Gringsing.
“Tetapi pengaruh jiwani atas Panembahan Senapati tentu
akan berbeda jika Guru sendiri yang datang menghadap
Panembahan Senapati. “berkata Agung Sedayu.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “Mungkin ada
baiknya aku menghadap. Tetapi aku sekarang tidak lebih dari
seorang laki-laki tua yang lemah. “
“Jarak antara Jati Anom ke Mataram kurang dari sepertiga
jarak perjalanan antara Jati Anom ke Madiun. “berkata Agung
Sedayu kemudian.
Kiai Gringsing tersenyum. Katanya “Aku mengerti
maksudmu Agung Sedayu. Jika aku dapat berkeliaran sampai
Madiun, kenapa aku tidak dapat pergi ke Mataram. “
“Bukan maksudku Guru “sahut Agung Sedayu dengan serta
merta. “Aku hanya bermaksud agar persoalannya menjadi
lebih jelas. Tetapi terserah kepada Guru, jika Guru
memerintahkan aku menghadap, maka aku akan
menghadap. “Kiai Gringsing masih tersenyum. Sambil
mengangguk-angguk ia berkata “Baiklah. Aku akan
mempertimbangkannya. Namun Panembahan Senapati
memang harus bersiap-siap. Desakan yang datang dari
beberapa orang Adipati di daerah Timur kepada Panembahan
Madiun nampaknya tidak akan dapat terbendung lagi
betapapun Panembahan Madiun sendiri menganggap
Panembahan Senapati itu sebagai anaknya sendiri. Beberapa
Adipati menganggap bahwa Mataram adalah peletik api
sebesar kunang-kunang yang ada di dalam sekam. Api itu
harus segera disiram sebelum menjadi besar dan membakar
kekuasaan para Adipati yang nampaknya segan mengakui
ikatan kesatuan yang dikehendaki oleh Panembahan Senapati
Mereka menganggap bahwa dengan berdiri sendiri-sendiri
mereka akan dapat berbuat lebih leluasa tanpa menghiraukan
citra betapa besarnya kekuatan jika semuanya terikat dalam
satu kesatuan. Apalagi menghadapi kekuatan perdagangan
orang-orang asing di pasisir Utara yang semakin
ramai. Mereka bukan saja orang-orang yang ingin berdagang.
Tetapi mereka ternyata adalah orang-orang yang mulai
mencampuri persoalan-persoalan yang timbul di atas Tanah
ini. Mereka merambat dari lingkungan pasir pantai dan mulai
menginjak daratan. Mereka akan memasuki Tanah ini semakin
dalam. Menjelajahi hutan-hutan tanaman dan sawah-sawah.
Satu ketika mereka akan memasuki kota-kota dan bahkan
istana-istana. “
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Memang terbayang
diangan-angannya satu kekuatan asing yang muncul dari
lautan dengan kekuatan yang besar dan senjata yang
agaknya lebih baik dari senjata yang dimiliki oleh orang-orang
Tanah ini.
Ternyata bahwa Kiai Gringsingpun kemudian berkata,
“Besok kita pergi ke sanggar. Aku ingin menunjukkan
kepadamu, jenis senjata yang dapat melontarkan bara besi ke
sasaran yang jauh. Mungkin kau masih dapat
memperbandingkannya dengan kemampuanmu menyerang
dengan kekuatan sorot matamu. Tetapi hanya satu dua orang
yang memiliki ilmu seperti itu di Tanah ini. Sementara orang
asing itu akan dapat membawa beberapa peti senjata pelontar
bara api itu. “
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Hampir berdesis ia
berkata “Jika demikian, Tanah ini memang harus menjadi
satu. “Namun kemudian Agung Sedayupun bertanya
“Darimana Guru mendapatkan jenis senjata itu? “
“Ada beberapa buah di Madiun. Panembahan Madiun
ternyata berbaik hati memberikan kepadaku sebuah. “jawab
Kiai Gringsing. Namun katanya kemudian “Di Pajang terdapat
pula senjata-senjata semacam itu meskipun hanya satu dua.
Tetapi yang penting harus kita ketahui adalah, bahwa senjata
itu merupakan ancaman bagi keutuhan Tanah ini. “
Agung Sedayu masih saja mengangguk-angguk.
Sementara Kiai Gringsing berkata “Bagaimana juga, aku
sebentar lagi akan menjalani langkah-langkah terakhir dari
hidupku. Tidak seorangpun yang akan mampu menghindar
kan diri dari kematian. Karena itu aku tidak akan melihat apa
yang akan terjadi dalam waktu dekat sekalipun. Namun kau,
anak-anak yang lebih muda lagi seumur Glagah Putih, harus
lebih jauh memandang ke depan. Mungkin anak Untara itu
atau anak Swandaru yang bakal lahir akan mengalami
pergumulan yang lebih seru. Campur tangan orang-orang
asing adalah racun yang paling tajam bagi persatuan
penghuni Tanah ini. “
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun iapun
kemudian bertanya “Apakah Guru mengambil kesimpulan
bahwa Panembahan Senapati harus bergerak lebih cepat
untuk mempersatukan Tanah ini? “
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun
kemudian berdesis “Tidak semudah itu. Dibelakang kita banjir
bandang memburu, sementara dihadapan kita, hutan telah
terbakar dari ujung sampai keujung. “
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Satu masalah yang
sangat rumit akan dihadapi oleh Panembahan Senapati.
Selagi Agung Sedayu merenung, maka Kiai Gringsing puri
berkata pula “Nah, sebaiknya kau pergi ke Sangkal Putung
besok. Aku tidak akan memberitahukan banyak persoalan
kepadanya. Tetapi aku ingin memperingatkan agar ia bersiapsiap
menghadapi kemungkinan yang barangkali memang
menuntut kesiagaan tertinggi dari setiap unsur yang ada di
Mataram. “
“Baik. Guru “jawab Agung Sedayu.
“Mudah-mudahan Swandaru tidak mempunyai rencana
tersendiri sebelum aku sempat menghadap Panembahan
Senapati “berkata Kiai Gringsing.
Demikianlah untuk beberapa lamanya mereka masih
berbincang di pendapa. Namun angin malam yang dingin
nampaknya m