Api di Bukit Menoreh - Jilid 226 - 240

 

JILID 226

UNTUK mengurangi gangguan yang mungkin datang,

karena perkelahian itu secara kebetulan dilihat orang, maka

kedua lawan Agung Sedayu telah berusaha mendesak Agung

Sedayu masuk ke dalam hutan. Mereka berusaha menyerang

Agung Sedayu dari satu sisi. Dengan serangan yang datang

beruntun, mereka berharap bahwa sedikit demi sedikit Agung

Sedayu akan terdesak kedalam hutan kecil itu.

“ Mau tidak mau.” berkata salah seorang diantara kedua

orang itu, “ kau harus masuk kedalam hutan seperti yang kami

kehendaki jika kau tidak ingin mempercepat kematian.”

Agung Sedayupun menyadari, bahwa keduanya telah

berusaha mendesaknya. Dengan serangan yang datang

beruntun susul-menyusul maka mereka telah berhasil

memaksa Agung Sedayu bergeser setapak demi setapak.

Kedua lawan Glagah Putih yang melihat usaha kedua

kawannya mendesak Agung Sedayu, telah melakukan hal

yang sama. Mereka telah berloncatan dalam garis lurus yang

bergerak maju perlahan-lahan.

Glagah Putih memang terdesak mundur kearah hutan kecil.

Setapak demi setapak. Sementara itu, kedua lawan-nya

bergerak semakin cepat. Serangan-serangan mereka datang

bagaikan arus gelombang yang datang membentur pantai.

Tetapi sama sekali Glagah Putih tidak menjadi gelisah. Ia

justru lebih banyak memperhatikan dirinya dengan ilmunya

daripada lawannya. Ia masih saja ingin meyakinkan

pengenalannya atas ilmunya sendiri. Meskipun demikian ia

sadar sepenuhnya, bahwa lawannya yang berilmu tinggi itu,

pada suatu saat harus dilayani dengan puncak kemampuannya.

Namun Glagah Putih lebih banyak menunggu daripada

mendahului lawan-lawannya. Dengan demikian ia mendapat

lebih banyak kesempatan untuk mengenali ilmunya yang

ternyata telah meningkat jauh semakin tinggi.

Di lingkungan pertempuran yang lain, Agung Sedayu

bergerak semakin cepat, Kedua lawannya telah

menyerangnya semakin cepat pula. Mereka benar-benar

berharap akan dapat mendesak Agung Sedayu memasuki

hutan. Dengan demikian maka mereka akan mendapat lebih

banyak kesempatan tanpa mencemaskan kemugkinan bahwa

pertempuran itu akan dilihat oleh orang lain, menjadi semakin

kecil.

Kedua lawan Glagah Putih yang berhasil mendesak Glagah

Putih semakin dekat dengan hutan kecil itupun merasa bahwa

usahanya akan segera berhasil lebih cepat dari kedua

kawannya yang bertempur melawan Agung Sedayu. Seorang

diantara merekapun berkata, “ Nah, sekarang berkatalah

dengan lantang bahwa kau tidak akan mau bertempur didalam

hutan.”

“ Maksudmu?” bertanya Glagah Putih.

“ Ternyata kau telah terdesak mendekati hutan itu, senang

atau tidak senang. Kau agaknya masih ingin bertahan agar

kau dapat hidup beberapa saat lagi meskipun kau terpaksa

menelan ludah sendiri. Coba katakan sekali lagi, bahwa kau

tidak mau bertempur didalam hutan.” berkata orang itu.

“ Aku memang tidak ingin bertempur didalam hutan. Aku

ingin bertempur disini. Bukankah aku tidak masuk kedalam

hutan?” sahut Glagah Putih.

Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi beruntun mereka

menyerang Glagah Putih. Jika Glagah Putih berusaha

mengelak kesamping, maka keduanya telah berusaha

mencegahnya, sehingga keduanya benar-benar telah

menggiring Glagah Putih mendekati semak-semak yang

rimbun dan kemudian batang-batang pepohonan di hutan

yang tidak terlalu besar itu.

 

Glagah Putih memang bergeser surut. Namun tiba-tiba saja

anak muda itu telah melenting tinggi. Melampaui jangkauan

tangan kedua lawannya. Berputar sekali di udara dan

kemudian jatuh dibelakang lawan-lawannya pada

punggungnya. Sekali Glagah Putih berguling namun iapun

telah melenting dan tegak berdiri.

Kedua lawannya mengumpat. Mereka sama sekali tidak

menduga, bahwa Glagah Putih akan mengelakkan dirinya

untuk masuk kedalam hutan dengan cara itu. Karena itu maka

keduanya tidak siap untuk menghalanginya.

Namun demikian mereka menyadari keadaan, maka ke

duanya dengan cepat telah memburunya. Seorang diantara

mereka dengan serta merta telah menyerangnya. Satu

loncatan dengan kaki yang terjulur lurus mengarah dada.

Tetapi Glagah Putih tanggap akan keadaan. Dengan sigap

pula ia telah bergeser kesamping. Namun pada saat yang

bersamaan, lawannya yang lainpun telah meloncat maju.

Tangannya terjulur lurus kearah kening.

Glagah Putih menyadari datangnya serangan yang

berbahaya itu. Karena itu, maka iapun telah melenting. Bukan

sekedar menghindar namun sambil bergeser kesamping, tibatiba

saja tubuhnya telah berputar. Satu ayunan tangan yang

keras menyambar lawannya yang lain.

Satu serangan yang mengejutkan, Ayunan tangan

mendatar itu hampir menyambar wajah lawannya yang lain.

Namun lawannya yang terkejut itu masih sempat menangkis

serangannya itu. Dengan kedua lengannya yang merapat, ia

telah melindungi wajahnya.

Yang terjadi adalah satu benturan yang keras. Glagah Putih

yang muda itu memang mengayunkan tangannya kuat-kuat.

Karena itu maka akibat dari benturan itupun mengejutkan bagi

lawannya.

Ternyata bahwa lawannya yang telah melindungi wajahnya

dengan kedua lengannya yang merapat itu telah terdorong

surut. Meskipun tangan Glagah Putih tidak mengenai

wajahnya, tetapi lengannya sendirilah yang telah menyentuh

wajahnya itu. Bahkan mendorongnya sehingga ia tergeser

 

surut, sehingga hampir saja orang itu kehilangan

keseimbangannya.

Glagah Putih tidak membiarkan kesempatan itu. Tetapi

ternyata bahwa ia tidak dapat memburu lawannya yang

sedang terguncang itu. Seorang lawannya yang lain telah

dengan sigapnya menjulurkan kakinya kearah lambung.

Namun Glagah Putih sempat berkisar, sehingga lambungnya

tidak tersentuh serangan lawannya. Bahkan kemudian dengan

serta merta Glagah Putih meloncat menyambar tengkuk

lawannya yang telah diguncangkannya. Namun sekali lagi

Glagah Putih gagal mengenainya karena lawannya sempat

merendah.

Demikianlah maka pertempuran itupun menjadi semakin

lama semakin cepat. Kedua lawannya dengan garang

menyerang berganti-ganti. Namun mereka tidak lagi berniat

untuk menggiring Glagah Putih masuk kedalam hutan. Bahkan

mereka telah menjadi semakin jauh dari bibir hutan itu.

Sementara itu Agung Sedayupun tidak juga berhasil

didorong masuk kedalam hutan. Jika semula kedua lawannya

mampu mendesaknya, namun tiba-tiba saja Agung Sedayu

telah menjadi kokoh bagaikan batu karang. Seranganserangan

kedua orang lawannya tidak menggoyahkannya.

Bahkan ketika Agung Sedayu bergerak selangkah demi

selangkah maju, lawannyalah yang surut kebelakang.

Namun kedua lawan Agung Sedayu itu masih bertempur

pada tataran kewajaran. Mereka masih berusaha menjajagi

tataran kemampuan Agung Sedayu. Dengan demikian, maka

mereka tidak dengan serta merta mengerahkan ilmu mereka.

Tetapi setapak demi setapak mereka meningkat.

Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin lama

menjadi semakin cepat. Kekuatan dan tingkat ilmu merekapun

semakin meningkat pula. Selapis demi selapis. Benturanbenturannyapun

menjadi semakin sering terjadi. Bahkan

serangan-serangan yang menjadi semakin cepat, mulai

menyusup disela-sela pertahanan masing-masing, sehingga

serangan-serangan itu mulai mengenai sasarannya.

Tetapi daya tahan mereka yang sedang bertempur itu

ternyata cukup tinggi. Beberapa kali serangan-serangan lawan

 

sudah mengenai tubuh masing-masing. Namun mereka masih

mampu mengatasi rasa sakit sehingga serangan lawan yang

mengenainya itu tidak berbekas sama sekali. Apalagi Agung

Sedayu yang telah mengenakan ilmu kebalnya. Namun

demikian Agung Sedayu masih belum memberikan kesan

bahwa ia telah menjadi kebal. Bahkan ia telah memberikan

kesan setiap sentuhan serangan lawannya telah

menggetarkannya.

Sementara itu bagi Glagah Putih pertempuran itu

mempunyai arti tersendiri. Ia mendapat kesempatan cukup

banyak untuk menilai ilmunya yang berkembang diluar

pengamatannya. Meskipun kemudian bersama Agung Sedayu

dan Ki Jayaraga ia telah berusaha untuk mengerti tentang ilmu

didalam dirinya itu serta tataran-tatarannya, namun

kesempatan itu akan dapat dipergunakannya untuk

meyakinkannya. Karena itu, Glagah Putih telah

memperhatikan setiap peningkatan ilmu didalam dirinya,

menyesuaikan dengan tingkat ilmu lawannya.

Dengan demikian maka pertempuran itupun telah

berlangsung beberapa lama. Namun keempat orang yang

ingin menyingkirkan Agung Sedayu dan Glagah Putih sebagai

usaha untuk sedikit demi sedikit memperlemah kedudukan

Mataram, masih belum berhasil. Bahkan rasa-rasanya

kedudukan Agung Sedayu dan Glagah Putih justru menjadi

semakin kuat. Katanya justru bergerak lebih cepat dan

serangan-serangan mereka menjadi semakin mantap.

Keempat orang yang mendapat kepercayaan untuk

membunuh Agung Sedayu dan Glagah Putih itupun kemudian

menjadi semakin yakin, bahwa kedua orang yang harus

mereka singkirkan itu benar-benar memiliki ilmu yang sangat

tinggi. Namun merekapun termasuk orang terpilih yang

mempunyai bekal yang mumpuni untuk menghadapi

keduanya. Karena itu, mereka berdua tidak boleh menyianyiakan

kepercayaan itu. Mereka yang semula dianggap

masing-masing akan dapat menyelesaikan Agung Sedayu dan

Glagah Putih. Namun untuk meyakinkan keberhasilan tugas

mereka, maka mereka telah dikirim bertempur untuk

menghadapi kedua orang itu.

 

Ketika pertempuran itu berlangsung semakin lama, maka

keempat orang itu telah meningkatkan ilmu mereka semakin

tinggi. Mereka tidak lagi sekedar bertempur dengan kekuatan

wajar mereka. Tetapi mereka sudah berlandaskan tenagatenaga

cadangan dan bahkan mulai merambah ilmu mereka

yang mereka andalkan.

Agung Sedayu dan Glagah Putih merasakan peningkatan

kemampuan lawan-lawan mereka. Sehingga dengan demikian

maka merekapun telah meningkatkan ilmu mereka sejalan

dengan lawan-lawan mereka.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih

masih juga berhati-hati menghadapi keadaan. Mereka masih

memperhitungkan kemungkinan lain, bahwa keempat orang

itu telah datang bersama beberapa orang lainnya yang siap

menjebak mereka. Tetapi sudah sekian lama mereka

bertempur, namun agaknya yang mereka hadapi memang

hanya empat mata orang itu.

Sementara itu, keempat orang yang merasa bahwa mereka

sudah cukup lama menjajagi kemampuan lawannya dan

sudah mendapat kepastian bahwa lawan mereka memang

berilmu tinggi, maka merekapun telah sampai pada satu

langkah untuk dengan segera menyelesaikan pertempuran itu.

Orang yang berjambang, berkumis dan berjanggut lebat

itupun tiba-tiba telah berteriak, “ Kesempatan yang kami

berikan telah cukup. Meskipun begitu, aku masih menawarkan

kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih untuk memilih jalan

kematian yang kalian kehendaki. Tetapi jika kesempatan ini

tidak kalian pergunakan sebaik-baiknya, maka kalian akan

mengalami kematian dengan cara yang paling tidak

menyenangkan.”

Tetapi yang terdengar adalah jawaban Glagah Putih.

Katanya, “ Aku akan menghitung sampai sepuluh. Jika kalian

tidak menyerah, maka kami terpaksa membunuh kalian.”

“ Gila.” teriak orang berjanggut lebat itu.

Tetapi Glagah Putih tidak menghiraukannya. Sambil

bertempur ia kemudian benar-benar menghitung, “ Satu, dua,

tiga..”

 

Kedua lawannya benar-benar menjadi sangat marah.

Karena itu, maka dengan berlandaskan kepada kemampuan

ilmu mereka, keduanya telah menyerang Glagah Putih.

Serangannya datang bagaikan prahara yang menghantam

dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Tetapi Glagah

Putih telah bersiap. Karena itu, ketika serangan itu datang,

maka iapun telah mengetrapkan, namun Glagah Putih

ternyata tidak terguncang karenanya.

Ketika kedua lawannya menyerang hampir berbereng,

maka Glagah Putih sempat mengelak. Bahkan kemudian

iapun telah melenting dengan tangan terayun mendasar.

Tetapi ternyata lawannya sempat menghindar pula. Bahkan

seorang lawannya yang lain telah membuka serangannya.

Sambaran angin yang kencang telah terasa sebelum sentuhan

wadagnya. Betapa kuatnya ilmu orang itu, sehingga sambaran

angin yang menampar tubuh Glagah Putih telah

menggetarkannya.

“ Bukan main.” desis Glagah Putih pada diri sendiri.

Dengan demikian ia sadar, bahwa sentuhan wadag

lawannya tentu akan dapat melemparkannya jika ia tidak

mengimbanginya dengan kekuatan yang sepadan. Karena itu,

Glagah Putih telah meningkatkan pula landasan ilmunya.

Dengan garangnya ia telah membalas setiap serangan

dengan serangan. Jika sambaran angin serangan lawannya

mula-mula mampu menggetarkannya, maka Glagah Putihpun

kemudian sama sekali tidak terpengaruh. Namun Glagah Putih

tidak dengan serta merta menunjukkan kemampuannya.

Tetapi perlahan-lahan ia membuktikan, bahwa ia mampu

mengimbangi kemampuan ilmu lawannya itu.

Dengan demikian maka Glagah Putih sama sekali tidak

terdesak meskipun ia harus berhadapan dengan dua orang

yang berilmu tinggi. Tetapi kedua lawannya telah

meningkatkan pula ilmu mereka. Bahkan keduanyapun

kemudian telah meningkatkan pula ilmu mereka. Bahkan

keduanyapun kemudian telah berlari-lari mengitari Glagah

Putih. Namun sekali-sekali mereka telah melenting dengan

cepat sekali menyerang Glagah Putih yang berada dipusat

putaran mereka.

 

Glagah Putih tidak mudah terpengaruh oleh putaran itu. Ia

idak mau menjadi bingung dan pening. Karena itu maka ia

tidak menghadapi keduanya dengan gejolak perasaannya

saja. Tetapi iapun telah memikirkan cara untuk mengatasinya.

Ternyata bahwa kedua lawannya yang meningkatkan

kemampuannya itu telah membuat Glagah Putih menjadi

berdebar-debar. Jika semula sambaran angin dari setiap

serangan lawannya mampu menampar kulitnya dengan keras

seakan-akan sambaran angin dari setiap serangan lawannya

yang dihindarinya itu bagaikan menyemburkan udara yang

semakin lama semakin panas. Karena itu, maka bagi Glagah

Putih, keadaan akan menjadi gawat jika ia tidak segera

melakukan langkah yang menentukan.

Untuk beberapa saat Glagah Putih memperhatikan

serangan-serangan lawannya dengan saksama. Sementara

itu terdengar seorang lawannya berkata, “ Salahmu sendiri jika

kau akan mati dengan cara yang buruk sekali.”

Glagah Putih tidak menyahut. Namun ia telah memusatkan

perhatiannya kepada satu usaha untuk mematahkan putaran

yang menjengkelkan itu. Karena itu, dengan perhitungan yang

mapan, maka tiba-tiba saja Glagah Putihlah yang meloncat

menyerang. Dengan meningkatkan daya tahan tubuhnya ia

menembus udara panas yang seakan-akan memancar dari

ayunan tubuh lawannya. Bahkan gerak yang bukan serangan

langsungpun seakan-akan telah melemparkan sambaran

angin yang panas.

Dengan meloncat panjang, maka Glagah Putih telah

menyerang salah seorang lawannya, justru melawan arah

putarannya. Demikian cepatnya, sehingga lawannya ia

terkejut. Pada saat putaran ini terhenti, maka Glagah Putih

menyambar wajah orang itu dengan pukulan mendasar

dengan sisi telapak tangannya. Namun orang itu sempat

menarik wajahnya, sehingga tangan Glagah Putih tidak

menyentuhnya pula mendatar.

Lawannya harus meloncat surut. Serangan itu ternyata

telah disusul, serangan berikutnya yang tidak diduga-duga.

Glagah Putih justru bergulung dan berputar pada pundaknya.

Ketika ia menyerang, maka kedua kakinya telah menghantam

 

kearah lambung sementara tubuhnya masih terbaring di

tanah.

Cara yang jarang dipergunakan. Namun benar-benar

mengejutkan lawannya, sehingga ia tidak sempat mengelak.

Yang dilakukannya adalah mengyilangkan tangannya untuk

menangkis serangan kaki yang tiba-tiba itu.

Sambil mengatasi sengatan panas pada tubuhnya, Glagah

Putih telah menghentakkan kakinya dengan cepat dan kuat.

Glagah Putih menyadari bahwa lawannya adalah orang

berilmu tinggi. Sehingga karena itu, maka ia harus berusaha

untuk dengan secepatnya menguasainya, agar bukan dirinya

yang justru akan dikuasai oleh kedua orang lawannya.

Serangan Glagah Putih itu kemudian telah membentur

tangan lawannya yang bersilang. Benturan yang sangat

mengejutkan lawannya. Meskipun lawannya itu mengetahui

bahwa Glagah Putih memang berilmu tinggi, tetapi ia tidak

menyangka bahwa Glagah Putih memiliki kekuatan yang

sangat besar, jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

Karena itu maka ketika kaki Glagah Putih menghantam

tangan lawannya yang bersilang, maka lawannya itu telah

terlempar beberapa langkah surut. Seakan akan ia telah

dilontarkan oleh benturan dengan sebongkah batu yang gugur

di lereng gunung.Tubuh lawannya itupun kemudian terbanting

jatuh.

Betapa rasa sakit menggigit punggungnya yang bagaikan

patah. Meskipun demikian, orang itupun telah berusaha untuk

bangkit berdiri. Meskipun ia harus berjuang menguasai

keseimbangannya, namun akhirnya iapun telah tegak diatas

kedua kakinya.

Glagah Putih yang menyadari bahwa lawannya telah

terlempar dan terbanting jatuh dengan serta merta telah

melenting berdiri. Tetapi ternyata bahwa ia tidak dapat

memburunya. Dengan kecepatan yang tinggi, lawannya yang

seorang telah meloncat menyerangnya justru pada saat ia

sedang tegak.

Serangan yang keras, yang dibarengi dengan sambaran

udara panas itu ternyata telah mengenai pundaknya. Glagah

Putih tidak sempat mengelak. Ketika kaki lawannya mengenai

 

pundaknya. Iapun telah kehilangan keseimbangannya. Namun

justru karena itu, maka Glagah Putihpun telah menjatuhkan

dirinya dan berguling beberapa kali sambil mengambil ancangancang

untuk meloncat berdiri.

Lawannya memang memburunya. Tetapi yang lain masih

berusaha untuk memperbaiki keseimbangannya, sehingga ia

masih belum ikut memburu kearah Glagah Putih yang

kemudian meloncat berdiri.

Lawannya yang telah berhasil mengenai pundaknya itupun

telah mengulangi serangannya. Dengan tangkasnya ia

meloncat sambil menjulurkan kakinya, sebagaimana telah

dilakukannya. Tetapi Glagah Putih tanggap akan serangan itu.

Dengan serta merta ia pun telah berjongkok sambil bergeser

kesamping, sehingga serangan lawannya itu bagaikan terbang

diatasnya. Namun, meskipun serangan itu tidak mengenainya,

tetapi udara panasnya telah menyambarnya, sehingga Glagah

Putih harus mengatupkan giginya untuk mengatasi rasa panas

yang bagaikan membakar tubuhnya.

Namun anak muda yang berilmu tinggi itu tidak

membiarkan lawannya menyakitinya. Demikian lawannya

meluncur, maka Glagah Putih telah melenting pula dengan

kecepatan yang melampaui kecepatan lawannya.

Serangan Glagah Putih itu memang mengejutkan.

Lawannya yang menyadari akan serangan itu, berusaha

menggeliat untuk menghindar. Dengan sentuhan ujung kaki di

permukaan bumi, orang itu telah melenting sekali lagi

kesamping.

Tetapi Glagah Putih tidak melepaskannya. Selagi lawannya

yang seorang masih belum siap benar, maka ia telah

berusaha untuk menyerang lawannya yag satu lagi. Karena

itu, maka ketika ia melihat lawannya melenting kesamping,

maka kakinyapun segera terayun berputar. Dengan kuat dan

cepatnya, sehingga lawannya tidak sempat lagi

menghindarinya. Meskipun lawannya sempat melindungi

lambungnya dengan sikutnya, tetapi sapuan melingkar kaki

Glagah Putih yang membenturnya, ternyata telah

melemparkannya, sehingga orang itu telah terlempar

kesamping.

 

Terdengar orang itu mengeluh tertahan. Namun Glagah

Putihpun telah menyeringai menahan panasnya udara.

Sehingga karena itu, maka Glagah Putih justru telah meloncat

mengambil jarak ketika ia melihat lawannya yang lain telah

siap menyerangnya.

Peningkatan ilmu lawannya memang membuat keadaan

menjadi gawat. Panasnya udara hampir tidak lagi teratasi.

Sementara itu semakin banyak lawannya bergerak, maka

rasa-rasanya ilmu mereka menjadi semakin tajam dan

panaspun semakin menusuk tubuhnya. Keringatnya telah

terperas membasahi seluruh permukaan kulitnya.

Untuk beberapa saat Glagah Putih berdiri termangumangu.

Seorang lawannya telah siap untuk bertempur,

sementara yang lain telah menggeliat pula dan bangkit berdiri

sambil memegang lambungnya. Namun iapun telah bersiap

pula menghadapi pertempuran berikutnya.

“ Kau memang anak iblis.” geram salah seorang lawannya,

“ tetapi ternyata bahwa kau mulai ketakutan menghadapi

kami.”

Glagah Putih menggeretakkan giginya. Ia mulai digelitik

oleh kemarahan yang memanasi darahnya meskipun ia tetap

sadar, bahwa ia tidak boleh kehilangan akal. Tetapi iapun

sadar, bahwa ia tidak boleh lengah menghadapi kedua orang

lawannya yang ternyata memang berilmu tinggi.

“ Kami tidak mempunyai waktu lagi.” geram seorang

lawannya, “ dan kaupun telah cukup kami beri kesempatan

untuk hidup lebih lama. Sekarang, bersiaplah untuk mati. Kau

membuat kami semakin muak.”

Glagah Putih yang memang sudah menjadi semakin marah

itupun menjawab, “ Baik. Kita akan segera melihat, siapakah

yang lebih dahulu akan mati. Kalian atau aku. Aku memang

berusaha untuk menangkapmu hidup-hidup. Tetapi jika aku

tidak dapat melakukannya, maka aku akan membunuhmu

saja.”

Jantung kedua orang lawan Glagah Putih itu rasa-rasanya

akan meledak mendengar jawaban yang menyakitkan telinga

mereka itu. Karena itu, maka merekapun segera telah

berloncatan menyerang.

 

Glagah Putihpun telah bergeser menghindar. Namun dalam

pada itu, kedua lawannya itupun telah berloncatan menyerang

susul menyusul.

Menilik gerak lawannya, maka Glagah Putih telah

mengambil satu kesimpulan, semakin banyak mereka

bergerak, maka udara panaspun semakin banyak mereka

lontarkan. Setiap serangan dan bahkan gerakan disekitar

Glagah Putih telah menimbulkan getaran dan sambaran angin

yang ternyata menjadi semakin panas.

-Meskipun tangan Glagah Putih tidak mengenai wajahnya,

tetapi lengannya sendirilah yang telah menyentuh wajahnya

itu. Bahkan mendorongnya sehingga ia tergeser surut dan

hampir saja orang itu kehilangan.

“ Aku dapat hangus didalamnya.” berkata Glagah Putih.

Tetapi Glagah Putih masih berusaha untuk mengatasi

gigitan udara panas itu jika sekali-sekali masih mampu

mengenai lawannya dan melemparkan mereka sehingga jatuh

terbanting ditanah.

Glagah Putih masih belum mempergunakan

kemampuannya untuk melontarkan ilmunya dari jarak jauh. Ia

masih belum sampai pada satu keyakinan bahwa serangan

yang demikian akan dapat dengan cepat mengalahkan kedua

lawannya. Apalagi kedua lawannya sama sekali tidak

memberinya kesempatan untuk membidik dan melepaskan

ilmunya itu.

“ Nampaknya mereka pernah mendapat keterangan

tentang kemungkinan itu.” berkata Glagah Putih didalam

hatinya, “ sehingga mereka berusaha untuk tidak memberikan

peluang sama sekali bagiku untuk melepaskan ilmu itu.”

Sementara itu, menilik kecepatan gerak lawannya, maka

merekapun akan mampu berloncatan menghindari

serangannya, sementara mereka akan dapat membagi diri

pada sasaran yang berlawanan arah. Lebih dari itu, Glagah

Putih masih berusaha untuk menghindari kematian.

Karena itu, maka Glagah Putih masih tetap bertempur

tanpa ilmunya yang mampu dilontarkannya dari jarak jauh.

Namun ia telah mengerahkan kemampuan dan kecepatan

geraknya, bahkan kekuatan yang menjadi semakin besar.

 

Dengan cara itu, sambil mengerahkan daya tahan tubuhnya

untuk menguasai gigitan panasnya udara, maka ia telah

mampu mengimbangi kemampuan lawannya. Dua orang yang

berilmu tinggi dan mampu menggetarkan udara dengan

lontaran hawa panas.

Glagah Putih yang telah mendapatkan landasan yang tinggi

bagi ilmunya ternyata mampu mengimbangi lawannya, Betapa

kedua lawannya berusaha mencapai tataran tertinggi dari

kemampuan mereka, namun ilmu Glagah Putih memang telah

mencapai satu tingkat yang tidak dibayangkan olehnya sendiri.

Apalagi oleh kedua lawannya itu.

Benturan-benturan kekuatan Glagah Putih, meskipun

sudah dilapisi dengan panasnya udara yang terpancar dari

ilmu mereka, namun telah membuat keduanya semakin

terdesak. Sentuhan-sentuhan serangan Glagah Putih benarbenar

telah menggoyahkan pertahanan mereka.

Namun karena mereka juga berilmu tinggi, maka tulangtulang

mereka tidak segera berpatahan terkena serangan

Glagah Putih yang luar biasa. Bahkan orang-orang yang

berilmu tinggi itu, hampir tidak percaya pada kenyataan yang

mereka hadapi tentang anak yang bagi mereka masih terlalu

muda itu.

“ Iblis manakah yang telah menyusup kedalam dirinya.”

pertanyaan itu telah tumbuh didalam hati kedua orang lawan

Glagah Putih.

Namun sebagaimana mereka dengar sebelumnya tentang

lawan mereka dari para petugas sandi yang telah berusaha

mencari keterangan tentang Glagah Putih adalah sahabat

Raden Rangga sebelum meninggalnya.

“ Apakah ilmu Raden Rangga telah menyusup kedalam

dirinya, bahkan ditambah dengan ilmunya sendiri yang sudah

dimiliki sebelumnya.” bertanya kedua orang itu di dalam hati.

Tetapi bagaimanapun juga kedua orang itu berjuang

dengan mengerahkan ilmunya, keduanya tidak berhasil

menguasai Glagah Putih.

Sebenarnyalah bahwa Glagah Putihpun mengalami

kesulitan menghadapi kedua lawannya yang memiliki ilmu

yang menggetarkan itu. Keduanya mampu menyelimuti dirinya

 

dengan udara yang semakin panas, sehingga setiap kali

Glagah Putih menyerang salah seorang diantara mereka,

maka iapun harus mengerahkan daya tahannya pula untuk

mengatasi rasa sakit oleh panas yang menyengat. Namun

bagi Glagah Putih, mungkin saja ia mampu mengatasi rasa

sakit, tetapi apakah wadagnya akan dapat bertahan

mengalami sentuhan panas yang semakin tinggi.

Tetapi Glagah Putih masih juga ragu-ragu, apakah ia akan

menyerang orang-orang itu dengan kemampuan ilmunya yang

dapat dilontarkan dari jarak tertentu.

“ Jika mereka ternyata tidak memiliki kemampuan untuk

mengatasinya, apakah menghindari atau memiliki daya tahan

yang melampaui kekuatan ilmu itu, jangan-jangan mereka

terbunuh.” berkata Glagah Putih di dalam hatinya.

Karena itu, Glagah Putih menjadi ragu-ragu. Disatu pihak ia

memang tidak mengingkari kemungkinan bahwa ia akan gagal

mengalahkan lawannya yang mampu bergerak cepat, mampu

menempatkan diri pada arah yang berlawanan, serta tanpa

memberi kesempatan kepadanya untuk membangunkan

ilmunya, sehingga ia akan dapat mengakhiri pertempuran itu

dengan ilmunya yang mampu dilontarkannya dari jarak jauh,

tetapi dipihak lain, Glagah Putih menjadi cemas jika ia

melanggar pesan Agung Sedayu untuk menangkap mereka

hidup-hidup.

Namun semakin lama keduanya menjadi semakin garang.

Panas udarapun menjadi semakin tinggi. Sehingga makin sulit

bagi Glagah Putih untuk mendekat. Keringatnya sudah

bagaikan terperas dari seluruh tubuhnya.

Namun Glagah Putih adalah seorang anak muda yang

memiliki kemampuan ilmu yang bukan saja sangat tinggi.

Tetapi ia telah mempelajari beberapa jenis ilmu. Glagah Putih

selain memahami ilmu yang disadapnya dari Agung Sedayu

pada jalur cabang ilmu Ki Sadewa, Glagah Putihpun telah

menyadap ilmu dari gurunya yang lain, Kiai Jayaraga. Bahkan

berbekal ilmu itu, maka seakan-akan dengan tiba-tiba saja

telah hadir Raden Rangga yang mendorong ilmunya menjadi

semakin maju. Bahkan melontarkan ilmunya dari jarak

tertentu.

 

Karena itu, maka Glagah Putih kemudian telah

mengetrapkan diantara ilmunya yang ada didalam dirinya itu,

untuk mengatasi keadaan tanpa kemungkinan yang paling

buruk yang dapat terjadi atas kedua lawannya karena Agung

Sedayu telah berpesan agar keduanya dapat ditangkap hiduphidup.

Sebagai murid Kiai Jayaraga yang mampu menyadap

berbagai kekuatan yang ada di dalam alam disekelilingnya,

maka Glagah Putih telah mempergunakan kekuatan air dalam

ujudnya yang paling berlawanan dengan panasnya api.

Dengan demikian Glagah Putih berusaha untuk membuat

imbangan atas kekuatan lawannya yang mampu memanasi

udara sehingga tubuhnya sendiri tidak menjadi hangus

karenanya.

Demikianlah, sambil bertempur Glagah Putih telah

mempersiapkan dirinya untuk melepaskan ilmunya itu.

Sehingga pada satu kesempatan Glagah Putih telah melenting

mengambil jarak dari kedua lawannya.

Ketika kedua lawannya memburu dengan gerak yang

panjang dan kuat, sehingga udara yang terhempas

mengandung panasnya apipun menjadi semakin besar.

Glagah Putih telah menaburkan kekuatan air dalam takaran

yang paling berlawanan dengan panasnya api.

Dengan demikian maka ketika lawan-lawannya itu

menyergapnya, maka Glagah Putih tidak lagi mengerahkan

daya tahannya untuk mengatasi udara panas dan sakit yang

menggigitnya, namun Glagah Putih telah mengerahkan

ilmunya yang mampu mengimbangi panasnya ilmu lawannya.

Kedua kekuatan yang berlawanan itu tidak saling

membentur. Tetapi panasnya udara bagaikan menyusup

diantara udara dingin dan sebaliknya sehingga timbul

keseimbangan, sehingga seakan-akan tidak terjadi perubahan

apapun pada suhu udara di sekitar arena pertempuran yang

semakin dahsyat itu.

Mula-mula kedua lawannya tidak merasakan perubahan itu.

Apalagi menyadari bahwa ilmunya seakan-akan sudah tidak

berarti lagi bagi lawannya. Namun keduanyapun kemudian

menjadi heran, bahwa Glagah Putih justru telah bertempur

 

semakin tangkas dan cepat. Baru ketika kekuatan ilmu Glagah

Putih mulai menyusup justru menembus kekuatan ilmu

lawannya dan menyentuh mereka, maka kedua lawannya

mulai merasakan sesuatu yang lain.

Untuk beberapa saat lamanya mereka bertempur sambil

bertanya-tanya di dalam hati. Tetapi sebagai orang yang

berilmu tinggi, akhirnya keduanya mampu menangkap

kekuatan ilmu lawannya yang telah dapat membuat imbangan

atas ilmu api mereka. Kemarahan yang luar biasa telah

bergelora di dalam jantung mereka. Ternyata bahwa kekuatan

apinya tidak mampu mengalahkan anak yang masih terlalu

muda itu.

“ Anak ini benar-benar anak iblis. Pada umurnya yang

masih sangat muda ia telah mampu melawan ilmu yang jarang

ada duanya ini. Bahkan dengan ilmu yang mempunyai

kekuatan yang saling menyerap dan dengan demikian maka

seakan-akan telah kehilangan kekuatannya.” berkata orangorang

itu di dalam hatinya.

Karena itu, maka keduanya harus mempergunakan

kekuatannya yang lain yang akan dapat mendesak lawannya

yang masih sangat muda itu. Apalagi karena dalam

pertempuran berikutnya, Glagah Putih yang bergerak dengan

cepat, tangkas dan mempunyai kekuatan yang sangat besar

itu telah membuat kedua lawannya terdesak.

Ternyata bahwa kedua orang itu telah dibekali pula dengan

kekuatan lain yang meskipun dalam ujud kewadagan, namun

mempunyai kekuatan yang sangat besar.

Ternyata bahwa kedua orang itu telah membawa lingkaranlingkaran

bergerigi yang ujudnya memang tidak terlalu besar.

Tetapi dengan kemampuan yang tinggi, maka senjata itu

benar-benar merupakan senjata yang mengerikan. Senjata

yang dengan kemampuan khusus dilemparkan dengan tangan

itu, akan menyerang lawannya dengan putaran yang

mematikan, mengoyak kulit daging dan bahkan memotong

tulang.

Glagah Putih memang berdebar-debar melihat jenis senjata

mereka. Ketika tiba-tiba saja ia melihat benda meluncur dari

tangan lawannya, maka iapun menyadari, bahwa senjataKang

Zusi - http://kangzusi.com/

senjata kecil itu akan dpat membunuhnya pula sebagaimana

panasnya api yang telah dapat dilunakkannya dengan

ilmunya.

Ketika satu dua senjata lawannya mulai meluncur, maka

Glagah Putih mulai merasa terlalu sibuk untuk

menghindarinya. Karena itulah, maka untuk mengatasinya,

iapun telah mengurai ikat pinggang khususnya.

Sementara itu, tidak terlalu jauh dari arena pertempuran

antara Glagah Putih dan kedua lawannya, maka Agung

Sedayupun telah bertempur dengan serunya pula. Ternyata

bahwa kedua lawan Agung Sedayupun adalah orang-orang

yang berilmu tinggi pula.

Bahkan ternyata bahwa yang dipersiapkan untuk melawan

Agung Sedayu yang telah lebih banyak dikenal tingkat ilmunya

itu adalah saudara-saudara seperguruan dari kedua lawan

Glagah Putih, yang bahkan mempunyai kekuatan ilmu dalam

tataran yang tinggi melampaui saudara-saudaranya yang lebih

muda. Karena itu, maka pertempuran yang terjadi antara

Agung Sedayu dan kedua lawannya pun telah terjadi dengan

sengitnya.

Kedua lawan Agung Sedayu yang telah dibekali dengan

pengertian tentang kemampuan lawan mereka, memang tidak

terkejut melihat Agung Sedayu tataran demi tataran mampu

mengimbangi ilmu mereka. Setiap mereka meningkatkan ilmu

mereka, maka Agung Sedayu sama sekali tidak mendesak

karenanya.

Sebagaimana kedua orang lawan Glagah Putih, maka pada

tataran tertentu kedua orang lawan Agung Sedayu telah

mempergunakan ilmu yang serupa pula dengan ilmu mereka.

Setiap sambaran angin karena gerak tubuhnya, telah

memancar udara panas pula. Sehingga karena itu, maka

semakin lama udarapun menjadi semakin panas karenanya.

Sebagai orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi dari

lawan-lawan Glagah Putih, maka udarapun terasa lebih cepat

menjadi panas. Bukan saya serangan langsung yang

dilakukan oleh kedua lawan Agung Sedayu itu yang mampu

memancarkan panas pada getar udara yang bergerak, tetapi

setiap gerakan yang mereka lakukan. Karena itu, maka

 

keduanyapun menjadi semakin lama semakin banyak

bergerak mengitari Agung Sedayu.

Namun Agung Sedayu telah menyelimutinya dengan ilmu

kebal. Karena itulah, maka ia mampu mengatasi tusukan

panas pada kulit dagingnya. Sehingga dengan demikian,

seakan-akan ilmu itu sama sekali tidak bunyak berarti bagi

Agung Sedayu.

Memang Agung Sedayu masih belum menutup dirinya

sama sekali dengan ilmu kebalnya. Ia masih mampu

merasakan serangan lawannya yang telah melontarkan udara

panas disekitarnya. Namun perasaan itu sama sekali tidak

berpengaruh kepadanya yang memiliki daya tahan yang

jarang ada bandingnya.

Karena itu, dalam pertempuran selanjutnya, kedua orang

lawannya merasa heran, bahwa ilmunya itu sama sekali tidak

dapat apalagi melumpuhkannya, bahkan rasa-rasanya sama

sekali tidak berarti apa-apa.

Dengan demikian maka kedua orang itu telah mencoba

untuk meningkatkan serangan dengan wadag mereka. Bukan

saja benturan-benturan kewadagan itu akan dapat

mempengaruhi daya tahan lawannya, tetapi semakin banyak

mereka bergerak, maka udara panaspun akan semakin

banyak terhambur pula.

Karena itu maka pertempuranpun semakin lama menjadi

semakin seru. Kedua orang lawan Agung Sedayu telah

semakin meningkatkan kemampuan mereka, sehingga ketika

mereka sampai pada puncak kemampuan yang tertinggi dari

tataran yang tertinggi pula, maka dari ubun-ubun mereka

nampak asap putih yang mulai mengepul.

Agung Sedayu memang melihat asap putih yang mengepul

dari ubun-ubun kedua orang lawannya itu. Sebagai orang

yang berilmu tinggi, maka iapun dapat menilai pertanda yang

dilihatnya itu. Agaknya kedua orang lawannya benar-benar

telah sampai pada puncak kemampuan mereka. Namun

Agung Sedayu telah mengetrapkan ilmu kebalnya pada

tataran yang tinggi pula. Karena itu, maka iapun merasa

bahwa tubuhnya telah dilindungi dari serangan lawannya.

 

Tetapi ketika benturan-benturan berikutnya terjadi, maka

Agung Sedayu terkejut. Ternyata ilmu lawannya benar-benar

tinggi. Meskipun ia telah mengetrapkan ilmu kebalnya pada

tataran yang tinggi, namun ternyata panasnya ilmu lawannya

masih juga mampu menggoyahkan pertahanannya, menyusup

pada selimut ilmu kebalnya.

“ Bukan main.” geram Agung Sedayu.

Dengan demikian maka Agung Sedayu memang harus

lebih berhati-hati menghadapi kenyataan itu. Apalagi ketika

pertempuran itu menjadi semakin cepat dan loncatan-loncatan

menjadi panjang dan kuat, maka serangan-serangan yang

tidak mengenai sasaran telah menyentuh dahan dan batangbatang

perdu.

Agung Sedayu harus melihat kenyataan, bahwa ranting dan

dahan-dahan yang tersentuh tangan kedua orang itu telah

mengepulkan asap pula. Luka-luka bakar telah nampak pada

dahan dan ranting-ranting itu, dan bahkan daun-daunpun telah

menjadi hangus pula karenanya.

“ Luar biasa.” desis Agung Sedayu diluar sadarnya.

“ Ternyata kau benar-benar anak iblis.” geram orang yang

berilmu tinggi itu, “ akhirnya aku tahu bahwa kau berilmu

kebal. Tetapi panas api ditanganku akan mampu menembus

ilmu kebalmu. Bukan sekedar semburan udara panas karena

ayunan tubuhku, tetapi tubuhku sendiri sudah menjadi bara.”

“ Aku tidak menyangkal.” sahut Agung Sedayu, “ tetapi

bukan berarti bahwa aku harus menyerah kau bantai disini.”

“ Ilmu kebalmu tidak akan menyelamatkanmu.” berkata

salah seorang dari kedua lawannya itu kemudian.

Namun Agung Sedayu telah berusaha meningkatkan ilmu

kebalnya pula. Adalah ciri ilmu kebal yang dimiliki oleh Agung

Sedayu, bahwa pada puncaknya ilmu kebal itu juga

mempunyai akibat yang mirip dengan ilmu lawannya. Ilmu

kebal Agung Sedayu pada tataran puncaknya juga

mempengaruhi suhu udara disekitarnya.

Karena itu, maka lawannyapun mulai merasa, bahwa udara

memang menjadi panas. Getaran yang berbeda dari getaran

di dalam dirinya membuat panasnya udara itu mempengaruhi

 

kedua lawannya yang tidak terpengaruh oleh panasnya

sendiri.

“ Setan alas.” orang itu mengumpat. Merekapun menjadi

semakin yakin, bahwa Agung Sedayu adalah orang yang luar

biasa, yang jarang terdapat duanya.

Namun meskipun Agung Sedayu mampu menahan

pengaruh panas lawannya, tetapi pakaiannya ternyata tidak

mampu bertahan. Disana-sini, pakaiannya yang tersentuh

serangan lawannya koyak dan berbekas luka bakar. Tetapi

Agung Sedayu tidak membiarkan pakaiannya terkoyak habis

oleh panasnya api lawan. Karena itu, maka iapun tidak

bergerak semakin lama semakin cepat pula.

Dengan demikian, maka pertempuran diantara Agung

Sedayu dan kedua lawannya menjadi semakin sengit. Kedua

belah pihak bergerak semakin cepat dan keras. Sementara itu,

panaspun telah dihambur-hamburkan di udara. Kedua belah

pihak telah menaburkan panas dalam getaran yang berbeda.

Kedua lawan Agung Sedayu itupun ternyata merasa

semakin sulit untuk bergerak dan menyerang. Mereka tidak

dapat dengan leluasa menyerang dan mengenai tubuh Agung

Sedayu dengan sepenuhnya kekuatan mereka dalam usaha

mereka menembus ilmu kebalnya.

Ternyata bahwa Agung Sedayu dengan ilmu kebalnya,

masih jauh lebih baik keadaannya dari kedua lawannya.

Karena itu, maka kedua lawannya tidak dapat bertempur

dalam keadaan itu untuk selanjutnya. Mereka harus

mempergunakan kemampuan mereka yang lain sehingga

mereka akan dapat menembus pertahanan Agung Sedayu

yang berlapis.

Lapisan udara panas yang menyengat kulit mereka jika

mereka memasuki lingkungan pengaruhnya, kemudian lapisan

ilmu kebal yang memang sulit untuk ditembus. Jika mereka

sempat menggoyahkan ilmu kebal Agung Sedayu

sebelumnya, ternyata bahwa Agung Sedayu masih belum

meningkatkan ilmunya sampai ke puncak yang ditandai

dengan pengaruh panas disekelilingnya.

Karena itu, maka kedua orang lawan Agung Sedayu itu

telah merambah kepada ilmunya yang lebih tinggi dari tataran

 

ilmu yang disadapnya di perguruannya. Mereka tidak lagi

mengamburkan panas dengan sambaran udara karena

geraknya, tetapi mereka mulai mempergunakan kemampuan

tertinggi dari perguruan mereka. Kedua orang itupun

kemudian telah mengambil jarak yang satu dari yang lain.

Agung Sedayu menjadi semakin berhati-hati. Ia sadar,

bahwa kedua lawannya telah merambah ketingkat

kemampuan mereka yang lebih tinggi.

Sementara itu, Glagah Putihpun masih juga terlalu sibuk

melayani kedua lawannya. Beberapa kali ia harus meloncat

menghindar dan menangkis lingkaran-lingkaran kecil namun

bergerigi tajam yang dilemparkan oleh kedua lawannya yang

telah mengambil tempat dari arah yang berbeda.

Namun Glagah Putih telah menggenggam ikat

pinggangnya. Bukan ikat pinggang kebanyakan, tetapi ikat

pinggang itu diterimanya dari Ki Mandaraka. Dengan ikat

pinggang itu, Glagah Putih dengan tangkas telah menangkis

serangan-serangan lawannya yang datang dari arah yang

berbeda. Sehingga karena itu, maka Glagah Putih memang

menjadi terlalu sibuk karenanya. Jika ia meloncat menyerang

lawannya yang seorang, maka serangan berikutnya datang

beruntun dari lawannya yang lain.

“ Ada berapa banyak mereka membawa senjata-senjata

itu?” bertanya Glagah Putih di dalam hatinya.

Namun serangan-serangan lawannya itu seakan-akan

memang tidak ada henti-hentinya. Keduanya agaknya telah

mapan dengan ilmunya itu, sehingga mereka dapat saling

mengisi dari arah yang berbeda sehingga sulit bagi Glagah

Putih untuk menyerang salah seorang diantara mereka.

Tetapi Glagah Putih tidak dapat membiarkan dirinya

menjadi sasaran serangan lawannya yang berbahaya itu.

Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk memecahkan

kesulitan yang dihadapinya itu.

Dengan kemampuannya yang tinggi, maka tiba-tiba saja

Glagah Putih telah meloncat dengan langkah yang panjang.

Ketika serangan lawannya itu datang, Glagah Putih masih

sempat sekali melingkar di udara. Demikian ia berjejak di

 

tanah, maka dengan serta merta ia telah memutar ikat

pinggangnya menyambar ke tubuh lawannya.

Ternyata lawannyapun bergerak cepat pula. Dengan

tangkas ia menghindari serangan itu. Ketika ikat pinggang itu

melayang menyambar kearah kening, maka iapun sempat

merendahkan dirinya. Dengan serta merta dari jarak yang

dekat sekali, ia telah mengayunkan tangannya menyerang

lambung Glagah Putih dengan lingkaran bergerilya.

Tetapi Glagah Putih tidak mau dikoyak lambungnya.

Dengan cepat pula ia melenting sambil menggeliat, sehingga

lingkaran bergerigi itu terbang tidak lebih dari setebal jari dari

lambungnya.

Namun Glagah Putih itu terkejut ketika telinganya yang

tajam mendengar desing serangan yang begitu cepat dari

arah lawannya yang lain. Glagah Putih memang berusaha

mengelak. Tetapi ternyata bahwa ia terlambat. Perhatiannya

sepenuhnya telah ditujukan kepada serangan lawannya yang

terdekat yang akan mengoyak lanbungnya, sehingga

serangan dari lawannya yang lain dari jarak yang lebih jauh

telah luput dari perhatiannya.

Ternyata bahwa lingkaran bergerigi tajam yang dilontarkan

berputar itu telah benar-benar mengoyak kulit, dipundaknya.

Demikian tajamnya gerigi yang berputar itu, sehingga luka

dipundak Glagah Putih itupun telah menganga cukup panjang.

Lawan Glagah Putih yang merasa telah berhasil

melukainya itu tidak memberikan kesempatan kepadanya. Jika

sekali mereka telah berhasil melukainya, maka kesempatan itu

tentu akan diperolehnya lagi.

Beberapa kali seranganpun telah datang meluncur

mengejarnya. Seakan-akan kemana ia pergi, maka serangan

itu telah menyambarnya. Karena itu, maka iapun menjadi

semakin sibuk. Sambil berloncatan iapun telah menangkis

serangan itu dengan ikat pinggangnya. Namun lawannya

ternyata memang licik. Mereka bertempur dari jarak tertentu,

sehingga sulit bagi Glagah Putih untuk menjangkau lawannya

dengan ikat pinggangnya.

Dengan sengaja lawannya memang berusaha agar mereka

tidak dapat diserang dalam satu lingkaran. Jika Glagah Putih

 

menyerang seorang diantaranya, maka yang lain akan dapat

menyerang anak muda itu dengan lingkaran-lingkaran

bergeriginya.

Luka di pundak Glagah Putih telah membuat anak muda itu

menjadi sangat marah. Namun dalam pergulatan yang cepat

berikutnya lawan Glagah Putih itu sempat pula melukainya.

Satu guratan yang tajam telah merobek lengan anak muda itu

pula.

Dengan demikian maka kesabaran Glagah Putihpun

semakin menipis. Pesan kakak sepupunya menjadi lupa-lupa

ingat. Apalagi saat-saat keringatnya membasahi lukanya yang

berdarah, yang terasa menjadi sangat pedih.

Karena itu, maka Glagah Putih tidak lagi membuat terlalu

banyak pertimbangan. Ia tidak lagi sekedar membuat

imbangan pada ilmu lawannya, sehingga udara yang panas itu

telah diserap oleh kekuatan ilmunya yang membaurkan udara

dingin.

Dalam keadaan yang semakin sulit, maka tiba-tiba saja

Glagah Putih telah berloncatan menjauh. Bahkan sekali-sekali

ia menjatuhkan dirinya sambil berguling untuk menghindari

kejaran senjata lawannya. Ketika ia kemudian melenting

berdiri, maka ia telah bersiap dengan ikat pinggangnya untuk

menangkis setiap serangan yang bakal datang.

Namun kedua lawannya justru telah berhenti menyerang.

Mereka berdiri termangu-mangu sambil menyaksikan, apa

yang terjadi dengan Glagah Putih. Namun sejenak kemudian

keduanya telah melangkah mendekat. Namun keduanya tetap

berdiri pada jarak tertentu dan di arah yang hampir

berlawanan.

Tetapi kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Glagah Putih.

Agaknya kedua orang lawannya tidak menyadari, apa yang

sedang dipersiapkan oleh Glagah Putih. Dengan luka di

pundak dan di lengannya, maka Gagah Putih tidak lagi

mampu menahan kemarahan yang menghentak-hentak di

dadanya.

Semakin dekat kedua orang lawannya di sisi yang berbeda,

maka Glagah Putihpun telah bersiap sepenuhnya. Tetapi ia

tidak lagi menggenggam ikat pinggangnya di tangan

 

kanannya, tetapi ikat pinggang itu telah bergeser di tangan

kirinya.

Kedua lawannya memang memperhitungkan hal itu.

Mereka memang bertanya-tanya, kenapa ikat pinggang itu

telah bergeser ditangan kiri. Tetapi mereka tidak menemukan

jawabannya. Karena itu, maka merekapun kemudian telah

memusatkan perhatiannya pula kepada anak muda itu yang

akan menjadi sasaran bidik mereka.

Di tangan kedua lawan Glagah Putih itu telah tergenggam

lingkaran-lingkaran baja yang bergerigi tajam. Namun Glagah

Putih telah memanfaatkan waktunya yang sedikit itu untuk

mempersiapkan ilmunya. Karena itu, maka ketika kedua

lawannya itu menjadi semakin dekat, maka iapun telah siap

menghadapi mereka.

Glagah Putih memang tidak perlu menunggu terlalu lama.

Kedua orang lawannya itu saling berpandangan sejenak.

Namun tiba-tiba lingkaran bergerigi itupun telah mulai terbang

pula kearahnya.

Glagah Putih menangkis serangan itu dengan ikat

pinggang. Ketika serangan dari lawannya yang lain meluncur

pula, maka Glagah Putihpun telah meloncat menghindar

sambil merendah dan bertumpu pada satu lututnya. Namun

demikian ia berlutut, maka iapun telah menggerakkan tangan

kanannya dengan telapak tangan terbuka.

Kemarahan Glagah Putih ternyata telah dihempaskannya

dengan lontaran ilmunya yang luar biasa kearah salah

seorang dari kedua lawannya. Serangan Glagah Putih

demikian tiba-tiba. Ketika segulung api meluncur kearah salah

seorang lawannya, maka orang itu terkejut bukan kepalang.

Serangan yang tidak diduganya telah meluncur dengan

kecepatan yang sangat tinggi.

Orang itu masih berusaha untuk mengelak. Iapun telah

meloncat dan menjatuhkan diri kesamping. Hampir separuh

dari tubuhnya telah disengat oleh ilmu Glagah Putih. Orang itu

telah mengaduh kesakitan. Ketika ia kemudian berusaha

untuk bangkit, maka ternyata ia sudah tidak mampu lagi. Iapun

terjatuh sekali lagi. Panasnya ilmu Glagah Putih benar-benar

 

melumpuhkan bukan saja separuh dari tubuhnya. Namun

kedua kakinya seakan-akan tidak dapat lagi digerakkannya.

Lawannya yang seorang memang menjadi ngeri melihat

serangan anak muda itu. Pada umumnya yang masih muda, ia

telah memiliki ilmu yang demikian dahsyatnya.

Namun Glagah Putih sendiri memang terkejut melihat

kekuatan serangannya. Ia memang sudah meneliti tataran

kemampuannya setelah ia menerimanya warisan alas

kekuatan didalam dirinya. Namun lontaran ilmu yang

disadapnya dari gurunya Ki Jayaraga dan dengan petunjuk

dan tuntunan Raden Rangga sehingga ia mampu melontarkan

ilmu itu tanpa petunjuk langsung dari gurunya, ternyata

melampaui kemampuan daya tahan lawannya.

Glagah Putih yang melihat keadaan lawannya, menjadi

berdebar-debar. Namun ia tidak mempunyai banyak

kesempatan. Tiba-tiba saja lawan yang seorang lagi, yang

kemudian menyadari keadaannya telah menyerang Glagah

Putih dengan lingkaran bergeriginya pula.

Glagah Putih meloncat mengelak. Tetapi ia tidak

menyerang lawannya dengan ilmunya itu lagi. Tetapi iapun

kemudian telah memindahkan lagi ikat pinggangnya di tangan

kanannya.

Ternyata bahwa Glagah Putih yang muda itu dengan susah

payah berusaha untuk menguasai kemarahannya. Ia tidak

berusaha menghancurkan kedua lawannya. Tetapi ia telah

meredakan perasaannya dan siap bertempur dengan senjata

ditangannya.

Sesaat kemudian, maka Glagah Putih telah

mempergunakan lagi ikat pinggangnya. Tetapi ia tidak lagi

harus melawan dua orang yang berada diarah yang

berlawanan. Karena itu, maka segala sesuatunya segera

menjadi jelas. Seorang lawannya dengan jenis senjata apapun

tidak akan dapat memenangkan pertempuran itu.

Betapapun cepatnya tangannya bergerak melemparkan

lingkaran-lingkaran bergerigi, namun Glagah Putih mampu

menangkisnya dengan kcepatan yang sama. Bahkan

seandainya orang itu bergerak lebih cepat lagi, Glagah

Putihpun akan dapat pula mengimbanginya.

 

Dengan demikian maka orang itupun dengan cepat telah

terdesak. Ternyata bahwa Glagah Putih telah mendesak orang

itu justru kedalam hutan.

“ Akulah yang memaksamu masuk kedalam hutan.”

berkata Glagah Putih, “ bukan kau. Aku akan bertempur

dimana saja aku kehendaki. Jika aku ingin bertempur diluar

hutan, maka tidak ada yang dapat memaksaku masuk ke

dalam. Tetapi sekarang, aku ingin bertempur di dalam hutan.

Maka tidak seorangpun yang akan dapat menahan aku.”

“ Anak iblis, setan alas. Kau kira kau dapat memaksakan

kehendakmu sesuka hatimu?” geram orang itu.

Glagah Putih tersenyum. Katanya, “ Aku memang dapat

memaksamu. Kecuali kau memilih mati.”

“ Kau sudah terluka. Darahmu akan segera terperas habis.

Jika kau kehabisan darah, maka kau tidak akan dapat

melawanku lagi.” jawab orang itu.

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Ketika ia sempat

merasakan, maka luka-lukanya memang menjadi pedih oleh

keringatnya yang mengalir. Bahkan tiba-tiba saja terasa titik

darah dari lukanya yang jatuh pada jari-jari kakinya.

Dengan demikian maka Glagah Putihpun berkata, “

Pertempuran itu memang harus segera selesai. Jika tidak,

maka darahku memang akan habis terperas dari luka.”

Namun lawannya menyadari arti kata-kata Glagah Putih itu.

Ia memang agak menyesal, bahwa ia sudah mengancamnya.

Namun bagaimanapun juga, ia memang harus bertempur

sampai kemungkinan terakhir. Apalagi jika ia mengingat

perintah yang sedang diembannya. Menurut perhitungan,

maka seorang diri ia harus menghadapi Glagah Putih. Namun

untuk meyakinkan kemenangannya, maka ia telah

menghadapi anak itu berdua.

Namun ternyata bahwa usaha itupun untuk dilakukannya.

Kawannya telah berbaring diantara batang ilalang. Ia tidak

tahu apakah kawannya itu masih hidup atau sudah mati.

Serangan yang dilemparkan oleh Glagah Putih memang

mengejutkan. Bukan sekedar panasnya api. Tetapi seakanakan

dapat dilihat dengan mata wadagnya, gumpalan api itu.

 

Sebenarnyalah bahwa orang itu sama sekali tidak berdaya

untuk bertahan ketika Glagah Putih mendesaknya masuk ke

dalam hutan. Sehingga dengan demikian, maka sejenak

kemudian, mereka memang telah bertempur dibibir hutan.

Dalam pada itu, Agung Sedayu masih juga terlibat dalam

pertempuran yang sengit. Namun ketika mereka melihat apa

yang telah dilakukan oleh Glagah Putih terhadap salah

seorang saudara seperguruannya, maka kedua orang itu

terkejut. Glagah Putih mampu melontarkan serangan dari

jarak jauh. Segulung udara yang membara telah meluncur dan

mengenai saudara seperguruannya itu, sehingga nasibnya

tidak diketahui. Saudara seperguruannya itu memang

terbaring ditanah. Tetapi apakah ia terbunuh, pingsan atau

karena lukanya yang parah maka ia tidak mampu lagi untuk

bangkit.

“ Anak itu memiliki ilmu yang dahsyat itu pula.” berkata

orang-orang itu didalam hatinya.

Meskipun keduanya yakin, bahwa alas dari ilmu itu lain dari

ilmu mereka berdua, namun ujudnya memiliki kesamaan.

Kedua orang yang bertempur melawan Agung Sedayu itu juga

mampu melepaskan serangan dari jarak jauh dengan

segulung udara panas sebagai puncak dari ilmunya

menguasai panasnya api. Namun yang masih belum dapat

dicapai oleh saudara seperguruannya yang lain yang ternyata

tidak mampu mengalahkan Glagah Putih. Tetapi keduanya

tidak sempat berpikir lebih panjang. Ketika keadaan menjadi

semakin gawat, maka keduanya tidak lagi menyimpan ilmunya

yang dahsyat itu.

“ Ilmu itu akan mampu menembus perisai ilmu kebalnya.”

berkata orang-orang itu didalam hatinya.

Sebenarnyalah, maka keduanya tidak menunggu lebih

lama lagi. Dengan serta merta, hampir berbareng, maka

keduanya telah menyiapkan diri. Dengan sigapnya maka

keduanya telah menggerakkan kaki kanannya maju

selangkah, merendah pada lututnya. Setelah tangannya

menggenggam dan mendatar disisi tubuhnya, sementara

tangan kanannya terjulur kedepan dengan tangan yang

menelungkup dan menggenggam pula. Dari genggaman

 

tangan itu, seakan-akan telah terjulur memanjang, namun

yang kemudian bagaikan lingkaran udara yang membara

meluncur mengarah ke sasaran Agung Sedayu.

Tetapi Agung Sedayu sempat melihat dua serangan yang

meluncur dari arah yang berbeda dengan jarak waktu yang

hanya sekejap. Karena itu, maka iapun telah meloncat

melenting menghindari kedua serangan itu. Namun Agung

Sedayu harus segera bersiap pula, karena serangan yang

serupa telah meluncur lagi dari salah seorang lawannya.

Agung Sedayu memang menjadi berdebar-debar. Ia

melihat serangan lingkaran bergerigi yang mengarah kepada

Glagah Putih. Namun pada satu saat lingkaran bergerigi itu

tentu akan habis dari persediaan mereka. Tetapi lingkaran

udara yang membara ini agaknya tidak akan ada habishabisnya.

Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu juga dibebani

perasaan yang sama sebagaimana Glagah Putih. Ia ingin

berusaha menangkap lawannya hidup-hidup. Bahkan ialah

yang telah berpesan kepada Glagah Putih untuk bertempur

dengan hati-hati.

Namun ternyata bahwa lawan-lawannya dan juga lawanlawan

Glagah Putih adalah orang-orang yang berilmu tinggi,

sehingga ia tidak akan dapat menyalahkan Glagah Putih jika

seorang diantara lawannya telah terbaring diam.

Tetapi berbeda dengan Glagah Putih yang memaksa

lawannya masuk kedalam hutan. Agung Sedayu justru

berusaha menjauh. Ia tidak tahu pasti akibat yang dapat

terjadi dengan udara panas yang bergulung-gulung itu. Jika

udara panas itu beruntun mengenai pepohonan dan dedaunan

hutan, maka ada kemungkinan panas itu pada satu saat akan

benar-benar dapat menyalakan api dan membakar hutan itu.

Tetapi dari jarak yang semakin jauh, maka udara panas yang

luput dari sasarannya itu sudah kehilangan panasnya disaat

menyentuh kekayuan hutan.

Demikianlah, maka Agung Sedayu untuk selanjutnya harus

berloncatan bukan saja untuk menghindari serangan-serangan

lawan, tetapi juga untuk menjauhi hutan. Sementara itu

 

serangan-serangan lawannya rasa-rasanya menjadi semakin

cepat.

Namun dengan ilmu kebalnya Agung Sedayu masih selalu

dapat mengatasi serangan-serangan itu. Serangan yang

dihindarinya, tidak mempunyai pengaruh sama sekali atas

dirinya yang diselimuti oleh ilmu kebal itu. Meskipun Agung

Sedayu sadar, bahwa sambaran udara panas itu tentu

berpengaruh juga atas udara yang terbawa arus peluncuran

ilmunya itu. Meskipun ia hanya sempat bergeser setebal daun

dari gumpalan udara panas, namun ia tidak terluka karenanya.

Kedua lawannyapun menjadi berdebar-debar karenanya.

Dengan demikian keduanya sadar, bahwa ilmu kebal Agung

Sedayu adalah ilmu kebal yang sangat kuat. Mereka harus

benar-benar dapat mengenai Agung Sedayu tepat pada

tubuhnya untuk memungkinkan gumpalan udara panas itu

mengoyak ilmu kebalnya. Tetapi Agung Sedayu itu ternyata

mampu bergerak cepat untuk menghindarinya.

Namun serangan itu datang beruntun cepat sekali. Bahkan

kedua orang itu tidak saja menyerang dari tempat mereka

berdiri. Tetapi keduanya telah berloncatan pula dan

menyerang dari arah yang berbeda-beda. Karena itulah maka

serangan itu datang meluncur silang menyilang. Apalagi ujud

dari gumpalan udara yang panas itu tidak begitu jelas nampak.

Hanya karena ketajaman mata Agung Sedayu yang berilmu

tinggi sajalah, maka ia dapat melihat jelas datangnya

serangan itu.

Ketika dalam keadaan yang sulit, serangan lawannya itu

benar-benar mengenai tangannya yang sedang bergerak dan

terkembang, maka Agung Sedayu telah merasakan betapa

dahsyatnya ilmu itu. Ternyata ilmu itu memang mampu

menembus ilmu kebalnya, sehingga tangannya itu telah

merasakan serangan udara panas. Dengan demikian Agung

Sedayu dapat membayangkan, tanpa perlindungan ilmu kebal,

maka tangannya itu tentu sudah menjadi hangus.

“ Kedua orang itu memang sangat berbahaya.” berkata

Agung Sedayu di dalam hatinya.

Karena itu, maka Agung Sedayu tidak mempunyai cara

yang lain untuk melawan mereka selain dengan melawan

 

serangan dari jarak jauh itu dengan serangan dari jarak yang

sama. Itulah sebabnya, maka Agung Sedayupun bertekad

untuk menghentikan serangan-serangan lawannya. Gumpalan

udara panas itu tidak akan ada habis-habisnya jika sumbernya

masih mampu melancarkan serangan berlandaskan ilmunya

yang sangat tinggi itu.

Untuk beberapa saat Agung Sedayu masih saja

berloncatan menghindari serangan lawannya yang datang dari

arah yang silang menyilang. Namun kemudian Agung

Sedayupun telah berdiri tegak dengan tangan bersilang.

Ia memang merasakan gigitan udara panas pada

pundaknya ketika serangan lawannya mengenainya dan

menembus ilmu kebalnya. Meskipun Agung Sedayu merasa

sakit, tetapi ia dengan yakin menyadari bahwa serangan

lawannya yang menyusup ilmu kebalnya itu tidak melukai

kulitnya. Namun pada saat yang demikian Agung Sedayupun

telah mulai menyerang lawannya dengan sorot matanya yang

mampu meluncurkan ilmunya.

Kedua lawannya terkejut. Meskipun kepada keduanya telah

diberikan beberapa keterangan tentang Agung Sedayu yang

memiliki ilmu sangat tinggi, namun kemampuan Agung

Sedayu yang disaksikannya itu memang melampaui

gambaran mereka sebelumnya.

Ketika serangan Agung Sedayu itu datang, seleret cahaya

dari kedua matanya menyambar salah seorang diantara

lawannya, maka dengan serta merta lawannya itu meloncat

menjatuhkan dirinya sambil berguling. Namun pada saat yang

sama serangan dari lawannya yang lain telah meluncur

dengan derasnya.

Tetapi hal itu memang sudah diperhitungkan oleh Agung

Sedayu. Karena itu, demikian serangannya meluncur, Agung

Sedayu telah siap menghadap kearah lawannya yang lain itu.

Udara panas yang meluncur dari lawannya itu, ternyata telah

mengarah kedada Agung Sedayu disaat ia berputar. Namun

tepat pada waktunya Agung Sedayu telah terjongkok sambil

meluncurkan serangan dengan sorot matanya.

Kecepatan gerak Agung Sedayu itu benar-benar tidak

terduga. Pada saat orang itu masih menunggu akibat

 

serangannya, maka serangan Agung Sedayu telah terbang

kearahnya melampaui kecepatan anak panah yang lepas dari

busurnya.

Tidak ada kesempatan untuk berbuat banyak. Yang dapat

dilakukannya adalah menjatuhkan dirinya sebagaimana

dilakukan oleh kawannya.

Pada saat yang demikian Agung Sedayu merasakan

serangan lawannya yang seorang lagi mengenainya di

punggungnya, sehingga rasa-rasanya punggungnya memang

bagaikan tersentuh api. Betapa dahsyatnya ilmu lawannya

dapat diperhitungkan oleh Agung Sedayu. Seandainya ia tidak

dilapisi dengan ilmu kebalnya, maka agaknya ia memang

sudah dihancurkan oleh lawannya.

Sambil mengerahkan daya tahannya untuk mengatasi rasa

sakitnya Agung Sedayu tidak beranjak dari tempatnya. Seperti

yang diperhitungkan, maka lawannya yang dihadapinya itu

telah meloncat berdiri.

“ Jangan.” lawan yang lain, yang baru saja menyerangnya

telah berteriak.

Namun terlambat. Demikian orang itu berdiri diatas tanah,

maka serangan Agung Sedayu telah menyambarnya. Yang

terdengar adalah teriakan tertahan. Serangan Agung

Sedayupun tidak kalah dahsyatnya dengan serangan kedua

lawannya itu. Karena itu, maka lawannya itupun telah

terlempar. Jika kemudian ia jatuh dan terguling, bukannya

karena ia menghindari serangan Agung Sedayu, tetapi benarbenar

karena serangan itu telah menghantam dadanya.

Dengan sekuat tenaga orang itu berusaha untuk bertahan.

Ketika kemudian ia terbaring diam, maka iapun berusaha

untuk mengatur pernafasannya sebaik-baiknya. Bahkan

kemudian ia berusaha untuk bangkit agar ia dapat

memusatkan nalar budinya sambil duduk, sehingga perlahanlahan

akan dapat mengatasi kesulitan didalam dadanya.

Namun ia tidak berhasil.

Sementara itu, lawannya yang lain dengan segenap

kekuatan dan kemampuan ilmunya telah berusaha

menghancurkan Agung Sedayu. Ketika ia melihat kawannya

telah dikenai serangan Agung Sedayu dan jatuh berguling,

 

maka iapun telah berusaha untuk menyerang Agung Sedayu

lagi. Ia yakin bahwa serangannya mampu menembus ilmu

kebal Agung Sedayu, sehingga bagaimanapun juga, maka

serangannya itu akan berpengaruh.

Namun ketika serangan itu meluncur, Agung Sedayulah

yang berguling di tanah, kemudian melenting dan berloncatan

menyamping. Bahkan sekali-sekali berputaran diudara.

Tetapi lawannya tidak mau kehilangan kesempatan. Jika

sekali Agung Sedayu sempat melepaskan serangannya, maka

ia sendirilah yang akan mengalami kesulitan, sementara ia

tidak memiliki ilmu kebal sebagaimana Agung Sedayu.

Ketika Agung Sedayu kemudian berdiri tegak, maka

dengan serta merta, lawannyapun telah melontarkan

serangannya mengarah kedada. Tetapi Agung Sedayu hanya

bergeser selangkah kesamping. Justru pada saat ia telah siap

melontarkan ilmunya. Karena itu, maka sekejap berikutnya,.

Agung Sedayu benar-benar telah melontarkan serangannya

kearah lawannya yang telah bersiap-siap pula untuk

menyerangnya. Ternyata tidak ada kesempatan lagi bagi

lawannya untuk menghindar. Ia sudah terlanjur bergerak.

Bukan saja wadagnya, tetapi juga pengerahan ilmunya.

Dengan demikian, ketika serangan Agung Sedayu meluncur

dengan deras, maka lawannya itupun telah melontarkan

serangannya pula.

Sejenak kemudian, telah terjadi benturan ilmu yang dahsyat

sekali. Kekuatan ilmu yang matang dari Agung Sedayu yang

terlontar lewat sorot matanya yang membentur kekuatan ilmu

lawannya yang sudah mapan pula. Segulung udara panas

telah membentur seleret cahaya yang menyambar bagaikan

petir di langit.

Udarapun seakan-akan telah meledak. Kedua jenis ilmu

yang tinggi itu ternyata telah beradu kekuatan. Namun

bagaimanapun juga, dalam benturan itu telah terjadi kekuatan

yang terpental, berbalik kearah semula, disamping yang

memencar kesegala arah. Meskipun tidak sepenuhnya,

namun kekuatan yang terpental kembali kesumbernya itu

cukup berbahaya.

 

Ternyata dalam benturan itu dapat pula dinilai kekuatan

ilmu dari kedua belah pihak. Lawan Agung Sedayu yang

terlalu berbangga akan ilmunya itu harus mengakui, bahwa

kekuatan ilmu Agung Sedayu masih lebih tinggi dari ilmunya.

Itulah sebabnya maka getaran ilmunya sendiri yang memental

kearah sumbernya lebih besar dari getaran ilmu Agung

Sedayu yang memental balik.

Terlindung oleh kekuatan ilmu kebalnya serta getaran

ilmunya yang sudah melemah, maka Agung Sedayu tidak

begitu terpengaruh oleh pukulan ilmunya sendiri yang

memental karena benturan itu. Sebaliknya, lawan Agung

Sedayu yang tidak terlindung di belakang ilmu kebal, serta

kekuatan ilmu yang berada dibawah tataran ilmu Agung

Sedayu, sementara jarak benturan itu lebih dekat daripadanya

karena ia agak lambat melepaskan ilmunya, maka

pengaruhnya nampak jauh lebih besar padanya.

Kekuatan udara yang panas itu ternyata telah menyergap

dan membakar kulit dagingnya. Demikian tinggi kekuatan ilmu

itu, sehingga lawan Agung Sedayu itu sendiri tidak mampu

bertahan karenanya. Ternyata kekuatan ilmu Agung Sedayu

yang lebih besar itu sebagian bukan saja menyusup diantara

ilmu lawannya tetapi juga menimbulkan getaran dengan

gelombang yang semakin cepat sehingga seolah-olah

gabungan kekuatan yang timbul kemudian itu menjadi

semakin kuat.

Yang terjadi itu ternyata mempunyai akibat yang parah bagi

lawannya. Orang itu ternyata telah terlempar dan akhirnya

jatuh terbanting ditanah.

Agung Sedayu sendiri masih berdiri tegak. Namun

kemudian disadarinya, bahkan sebagian dari pakaiannyapun

telah menjadi hangus pula. Bahkan terasa pula betapa

pedihnya kulitnya yang tersentuh ilmu lawannya yang mampu

menembus ilmu kebalnya.

Sejenak kemudian keadaan menjadi hening. Tiga orang

terbaring diam diantara batang-batang ilalang.

Agung Sedayu berdiri termangu-mangu memandang

kesekelilingnya. Ia masih belum melihat Glagah Putin yang

telah mendesak lawannya masuk kedalam hutan. Karena itu,

 

Agung Sedayu menjadi sedikit cemas karenanya. Apalagi

Agung Sedayupun mengetahui bahwa Glagah Putih memang

telah terluka.

Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian dengan hatihati

telah mendekat dan masuk ke lingkungan pepohonan

hutan yang semakin lama semakin lebat itu. Dengan mengikuti

jejak pertempuran antara Glagah Putih dengan seorang

lawannya, maka Agung Sedayupun kemudian telah sampai

pula ke medan yang agaknya juga sudah menjadi tenang.

Dengan telinganya yang tajam Agung Sedayu kemudian

mendengar desir langkah seseorang. Dengan hati-hati ia

kemudian berdesis memanggil, “ Glagah Putih?”

Sebenarnyalah yang berjalan diantara pepononan adalah

Glagah Putih. Karena itu, maka iapun kemudian menyahut, “

Apakah itu kakang Agung Sedayu?”

Agung Sedayupun kemudian berusaha mendekati Glagah

Putih sebagaimana sebaliknya. Namun Agung Sedayu

menjadi cemas ketika ia melihat Glagah Putih yang

nampaknya mengalami kesulitan.

“ Glagah Putih.” desis Agung Sedayu, “ bagaimana dengan

kau?”

Glagah Putih berhenti sejenak. Dengan nada rendah ia

menjawab, “ Agaknya darah sudah terlalu banyak mengalir

dari luka-lukaku kakang.”

Agung Sedayupun dengan cepat telah mendekatinya.

Dengan hati-hati ia mengamati luka di pundak dan di lengan

Glagah Putih. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “ Aku

obati lukamu. Duduklah.”

Glagah Putihpun kemudian telah duduk bersila. Sementara

itu Agung Sedayu mengambil bumbung-bumbung kecil dari

kantong ikat pinggangnya. Dengan serbuk reramuan obat,

maka Agung Sedayu telah mengobati luka Glagah Putih itu.

Glagah Putih mengatupkan giginya rapat-rapat ketika

serbuk ditaburkannya pada lukanya. Perasaan pedihpun telah

menyengat. Namun ketika perasaan pedih itu kemudian

diatasinya, maka darahpun mulai membeku dimulut luka,

sehingga sejenak kemudian maka luka-luka itupun telah

menjadi pampat.

 

“ Jangan banyak bergerak.” berkata Agung Sedayu.

Glagah Putih mengangguk.

“ Dimana lawanmu yang seorang itu?” bertanya Agung

Sedayu pula.

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

katanya, “ Adalah diluar kemampuan untuk menangkapnya

hidup-hidup. Sebenarnya kesempatan itu ada. Tetapi agaknya

orang itu telah menelan racun untuk membunuh dirinya

sendiri.”

Agung Sedayu terkejut. Dengan kening yang berkerut ia

bertanya untuk mendapat kepastian “ Jadi orang itu menelan

racun untuk membunuh dirinya sendiri? “

Glagah Putih mengangguk. Dengan nada rendah ia

menjawab “ Aku sudah mencoba untuk mencegahnya. Tetapi

aku terlambat. “

“ Apaboleh buat “ desis Agung Sedayu kemudian kit a

sudah berusaha. Di luar hutan ini ada tiga orang terbaring.

Marilah, kita akan melihatnya, apakah masih ada seorang

diantara mereka yang masih hidup. Tetapi kau harus berhatihati

agar dari lukamu tidak lagi mengalirkan darah. “

Glagah Putihpun kemudian dibantu oleh Agung Sedayu

telah bangkit. Namun tubuhnya memang terasa lemah sekali.

Karena itu, maka Agung Sedayu harus membantunya. Sekalisekali

Glagah Putih harus berpegangan lengan Agung Sedayu

jika tiba-tiba saja terasa keseimbangannya goyah.

Namun akhirnya keduanya telah keluar dari hutan. Agung

Sedayupun kemudian membantu Glagah Putih duduk di

sebuah batu padas sambil berkata “ Kau duduk saja disitu.

Aku akan melihat mereka. “

Glagah Putih mengangguk. Ia memang merasa bahwa

tubuhnya menjadi lemah. Karena itu, ia harus berusaha untuk

mengatur pernafasannya dan berusaha mengatasi segala

gejolak yang masih terasa dijantungnya. Ia pun sadar, bahwa

ia tidak boleh terlalu banyak bergerak agar darahnya menjadi

benar-benar pampat lebih dahulu.

Dengan demikian maka Agung Sedayulah yang kemudian

dengan hati-hati mendekati tubuh-tubuh yang terbaring diam

itu. Namun ketika ia menjadi semakin dekat, maka iapun

 

terkejut. Tubuh yang pertama yang didekatinya ternyata

bagaikan telah membeku. Namun dibawah kakinya nampak

pula noda-noda kebiruan.

“ Racun “ desis Agung Sedayu.

Ternyata bahwa diluar pengamatannya, orang itupun telah

menelan racun pula sebagaimana lawan Glagah Putih.

Agaknya mereka lebih baik mati daripada tertangkap.

Dengan berdebar-debar Agung Sedayu melihat kedua

orang yang lain. Satu diantara mereka memang nampak

bernoda kebiruan ditubuhnya. Namun agaknya yang seorang

lagi tidak sempat menelan racun karena ilmu Agung Sedayu

tidak langsung membunuhnya.

Yang terjadi itu memang bukan yang dikehendaki oleh

Agung Sedayu dan Glagah Putih. Tetapi keduanya memang

tidak mampu mencegahnya. Kematian itu seakan-akan

memang harus terjadi atas mereka sesuai dengan keinginan

mereka sendiri untuk menghindari kesulitan-kesulitan yang

dapat terjadi atas mereka jika mereka tertangkap dan menjadi

tawanan Mataram.

Agung Sedayupun kemudian memberitahukan hal itu

kepada Glagah Putih, sehingga dengan demikian keduanya

mendapat kesimpulan, bahwa bunuh diri dengan menelan

racun itu bukan sikap pribadi lawan Glagah Putih. Tetapi

adalah sikap keempat orang itu bersama-sama. Atau bahkan

sikap perguruan mereka jika mereka menghadapi keadaan

seperti yang dialami oleh keempat orang itu.

“ Kita harus menguburkan mereka “ berkata Agung Sedayu.

Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa hal

itu memang harus dilakukan. Mereka tidak akan dapat

meninggalkan empat sosok mayat begitu saja di padang

ilalang dan didalam hutan. Tetapi Glagah Putih merasa bahwa

tubuhnya memang terlalu lemah.

Agaknya Agung Sedayu mengerti perasaan yang bergejolak

didalam hati adik sepupunya. Karena itu, maka katanya “

Bagaimanapun juga kita tidak akan dapat melakukannya

sendiri. Tetapi kita akan dapat minta tolong

orang-orang dari padukuhan terdekat. Meskipun dengan

demikian kita tidak dapat menyembunyikan kejadian ini. “

 

Glagah Putih mengangguk-angguk pula. Namun iapun

kemudian bertanya “ Apakah dalam keadaan seperti ini kita

akan pergi ke padukuhan? “

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya

memang berat untuk memasuki padukuhan dalam ujud seperti

itu. Tetapi mereka memang memerlukan bantuan selain

tenaga juga alat untuk menggali tanah. Bahkan jika mungkin,

keempat tubuh yang terbunuh itu sebaiknya dibawa ke

kuburan.

Namun akhirnya Agung Sedayu itu berkata kepada Glagah

Putih “ Apakah sebaiknya kau sajalah yang pergi berkuda,

tetapi dengan hati-hati, menuju ke padukuhan terdekat. Kau

juga harus berupaya agar para pengawal berlaku tenang dan

tidak menimbulkan kegelisahan. Katakan bahwa semua

persoalan telah diselesaikan. Aku akan berada disini. Masih

ada kemungkinan lain dapat terjadi disini. Kemungkinan yang

sama memang dapat juga terjadi di jalan. Tetapi kudamu

adalah kuda yang baik dan tegar, kau tentu akan dapat

mencapai pedukuhan terdekat tanpa dapat disusul oleh kuda

yang manapun juga, sementara pakaianmu masih lebih

pantas dari yang aku pakai meskipun bernoda darah dan

koyak di beberapa tempat. Dan kau tentu akan dapat

menguasai suasana sehingga saatnya kita melaporkan

kepada Ki Gede. “

Glagah Putih termangu-mangu. Namun baginya memang

lebih baik duduk dipunggung kuda dan mencapai padukuhan

terdekat daripada harus menggali lubang bagi ampat orang

atau bahkan membawa mereka ke kuburan.

Karena itu, maka katanya “ Baiklah kakang, aku akan pergi

ke padukuhan disebelah hutan kecil itu. Jaraknya tidak terlalu

jauh. Agaknya dipadukuhan itu terdapat cukup anak-anak

muda untuk membantu kita disini. “

“ Hati-hatilah. Aku akan menunggu disini. Mudahmudahan

kita tidak menemui kesulitan “ berkata Agung

Sedayu.

Demikianlah, Agung Sedayu telah membantu Glagah Putih

naik kepunggung kudanya. Kemudian kuda itupun telah berlari

meninggalkan tempat itu meskipun tidak terlalu cepat.

 

Namun pedukuhan itu memang tidak terlalu jauh. Lepas

dari pinggir hutan itu, maka Glagah Putihpun telah memasuki

padang perdu yang tidak terlalu luas dan pkhir-nya memasuki

lingkungan tanah garapan orang-orang padukuhan.

Glagah Putih memang berusaha untuk tidak melintasi jalan

yang banyak dilalui orang. Ia memilih jalan pintas yang sempit

dan sepi. Namun akhirnya, mendekati padukuhan, Glagah

Putih memang harus melalui jalan induk padukuhan itu.

Untunglah bahwa jalan memang sedang sepi. Karena itu,

maka dengan diam-diam ia memasuki gerbang padukuhan

dan langsung menuju ke banjar.

Beberapa orang pengawal yang berada di banjar memang

terkejut. Ketika dengan lemah Glagah Putih turun dari

kudanya. Apalagi ketika mereka melihat darah yang

mengering dipakaiannya yang koyak.

“ Apa yang terjadi Glagah Putih? “ bertanya para pengawal

yang bertugas hari itu di banjar dengan serta merta.

Glagah Putih mencoba tersenyum. Katanya “ Tidak ada

apa-apa. Semuanya sudah teratasi. “

“ Tetapi pakaianmu dan barangkali kau terluka? “ bertanya

salah seorang dari anak-anak yang bertugas itu.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi keadaan

tubuhnya memang sudah menjadi lebih baik meskipun

ia tidak boleh bergerak terlalu kasar, agar darahnya

tidak lagi keluar dari lukanya.

Perlahan-lahan Glagah Putih berjalan mendekati anak-anak

muda itu sambil berkata “ Bukankah aku boleh duduk dahulu?

“ Marilah. Marilah “ anak-anak muda itu seakan-akan baru

sadar akan keadaan Glagah Putih yang lemah. Seorang

diantara mereka telah membantu Glagah Putih dan

membawanya duduk di pendapa.

“ Dengarlah “ berkata Glagah Putih kemudian “ tetapi kalian

harus bersikap baik. Jangan menimbulkan kegelisahan dan

seakan-akan akan terjadi perang di sini. “

Anak-anak muda itu mengangguk. Dengan hati-hati dan

seperlunya, Glagah Putih telah memberi tahukan apa yang

telah terjadi.

 

Kemudian katanya “ Kami memerlukan bantuan beberapa

orang anak muda untuk menguburkan mayat-mayat itu. Tetapi

kita harus menjaga suasana yang baik, agar kami sempat

memberikan laporan terperinci kepada Ki Gede. Tetapi jika

telah terjadi kepadukuhan sebelum kami memberikan laporan,

akan dapat menimbulkan salah paham. “

Anak-anak muda di banjar itu mengerti maksud Glagah

Putih. Karena itu sambil mengangguk-angguk, pemimpin

kelompok anak muda yang bertugas itu berkata “ Baiklah.

Kami akan menghubungi kawan-kawan kami tanpa isyarat

kentongan yang mungkin akan dapat menimbulkan

kegelisahan. Kami akan mendatangi mereka seorang demi

seorang. “

“ Baiklah. Tetapi sekali lagi. Hati-hatilah. Sementara aku

menunggu mereka berkumpul, aku dapat beristirahat di sini.

Kakang Agung Sedayu saat ini masih berada di-pinggir hutan

itu. “ berkata Glagah Putih yang masih sempat

meminjam sepengadeg pakaian kepada salah seorang

anak muda itu, sebagaimana pernah terjadi sebelumnya.

Ternyata bahwa usaha Glagah Putih berhasil. Beberapa

orang anak muda telah terkumpul tanpa kesan keributan.

Mereka datang ke banjar dengan sikap yang tenang dan tidak

menunjukkan kegelisahan.

“ Terima kasih “ berkata Glagah Putih “ kita akan pergi ke

sebelah hutan itu. Tetapi kita tidak akan pergi bersama-sama

supaya tidak ada kesan yang menggelisahkan. “

Glagah Putihpun kemudian telah memberikan ancar-ancar

kemana anak-anak muda itu harus pergi. Sementara itu

beberapa orang diantara mereka telah membawa alat-alat

untuk menggali tanah.

Dengan tanpa menarik perhatian, anak-anak muda itu-pun

kemudian telah pergi ketempat yang ditunjukkan oleh Glagah

Putih. Seperti saat ia datang, maka Glagah Putih telah kembali

ke hutan itu berkuda meskipun tidak terlalu cepat.

Agung Sedayu yang menunggu rasa-rasanya memang

sudah terlalu lama. Namun sambil menunggu ia sudah

berhasil mengatasi semua kesulitan didalam dirinya. Rasa

sakitnyapun telah berangsur hilang. Namun ia harus mengakui

 

tingkat kemampuan lawan-lawannya yang tinggi sehingga ilmu

mereka mampu menembus ilmu kebalnya.

Pada saat Agung Sedayu mulai menjadi gelisah, maka

Glagah Putihpun telah kembali.

“ Apa kau berhasil? “ bertanya Agung Sedayu.

“ Ya. Beberapa orang kawan akan datang. Mereka sedang

dalam perjalanan “ jawab Glagah Putih.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian beruntun, beberapa

orang anak muda telah sampai ketempat itu. Mereka membawa

alat-alat yang diperlukan sebagaimana diminta oleh

Glagah Putih.

“ Kami memerlukan pertolongan kalian “ berkata Agung

Sedayu.

Anak-anak muda yang menyaksikan bekas arena

pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Mereka juga melihat

keadaan Agung Sedayu sebagaimana Glagah Putih yang

terluka. Dengan demikian mereka telah membayangkan

bahwa pertempuran telah terjadi dengan sengitnya.

Sementara anak-anak muda itu mengumpulkan tubuhtubuh

yang terkapar, maka Agung Sedayu sempat bergumam

kepada Glagah Putih “ Ternyata mereka berkata sebenarnya.

Tidak ada orang lain selain mereka berempat. “

“ Ya. Tetapi agaknya mereka terlalu yakin akan

kemampuan mereka. “ berkata Glagah Putih.

“ Tetapi ilmu mereka memang luar biasa “ berkata Agung

Sedayu.

“ Agaknya orang-orang Madiun telah memilih orang yang

paling baik untuk menghadapi kakang, karena mereka telah

mendapat keterangan yang lengkap tentang kakang. Dua

orang yang lain adalah mereka yang masih pada tataran yang

lebih rendah “ berkata Glagah Putih. Lalu “ Agaknya jika dua

orang yang melawan kakang itu memilih aku sebagai

lawannya, mungkin aku tidak akan sempat keluar dari hutan. “

Agung Sedayu menggeleng. Katanya “ Tidak Glagah Putih.

Jika kau terdesak oleh lawan-lawanmu, karena kau terlalu

terikat oleh pesanku agar kau menangkap lawanmu hidupKang

Zusi - http://kangzusi.com/

hidup. Jika kau tidak aku bebani dengan pesan itu, mungkin

kau tidak terluka karenanya. “

“ Tidak kakang “ berkata Glagah Putih “ ternyata ilmuku

masih jauh dari mapan. “

Agung Sedayu tertawa. Katanya “ Ada baiknya kau berpikir

seperti itu. “

Namun dalam pada itu, seorang anak muda telah bertanya

“ bukankah hanya tiga orang yang terbunuh disini? “

Agung Sedayulah yang menjawab “ Ya. Seorang terbunuh

didalam hutan. Marilah, kita mengambilnya. “

“ Biar aku saja kakang “ berkata Glagah Putih.

“ Beristirahatlah “ sahut Agung Sedayu “ kau masih belum

dibenarkan terlalu banyak bergerak. “

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu

Agung Sedayu diikuti oleh beberapa orang anak muda telah

masuk kedalam hutan. Memang tidak terlalu dalam. Namun

Agung Sedayupun segera menemukan sesosok tubuh yang

terbaring diam. Tanda-tanda racun yang bekerja ditubuhnya

nampak pada kulitnya dengan noda-noda kebiruan.

Sejenak kemudian, maka ampat sosok tubuh telah

dikumpulkan. Namun kuburan berada ditempat yang terlalu

jauh dari hutan itu. Karena itu, maka mereka bersepakat untuk

membuat kuburan baru ditepi hutan itu.

“ Kita akan memberinya pertanda “ berkata Agung Sedayu

yang siap menguburkan keempat sosok tubuh itu. Namun

sebelumnya ia berkata “ Kita akan menelitinya sekali lagi.

Apakah ada ciri-ciri yang dapat dikenali pada sosok-sosok

mayat itu. “

Anak-anak muda itupun berusaha untuk melihat dengan

teliti. Namun pertanda yang mereka perlukan itu sama sekali

tidak ada. Bahkan Agung Sedayu sendiri dan Glagah Putihpun

tidak menemukan apa-apa pada sosok-sosok mayat itu. Pada

ikat pinggangnya, timang dan bahkan ikat kepalanya. Yang

diketemukan adalah sisa-sisa senjata yang telah mereka

pergunakan. Lingkaran-lingkaran kecil bergerigi tajam.

 

Agung Sedayu telah mengambil dan membawa dua buah

senjata itu. Mungkin hal itu akan dapat memberikan

petunjuk kelak. Ia akan dapat berbicara dengan Ki Jayaraga

dan Ki Gede.

Demikianlah, setelah semuanya siap, maka keempat sosok

tubuh itupun telah diturunkan kedalam lubang-lubang kubur.

Demikian kubur itu ditutup, maka merekapun telah

memberikan pertanda, sehingga apabila diperlukan, mereka

akan segera dapat menemukannya. Agung Sedayupun telah

minta anak-anak muda itu mengingat-ingat ujud dari orangorang

yang telah dikuburkan itu, sehingga mereka akan dapat

menyebut ujud-ujud serta ciri-ciri dari yang terkubur itu

masing-masing meskipun tanpa dapat menyebut nama

mereka.

Baru kemudian setelah selesai seluruhnya, serta dengan

pakaian pinjaman, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih

bersama-sama dengan anak-anak muda yang membantu

mereka, meninggalkan tempat itu. Namun Agung Sedayu dan

Glagah Putih masih berpesan, agar untuk sementara mereka

tidak membuat kesan yang dapat menimbulkan kegelisahan.

“ Kami akan berbicara dengan Ki Gede “ berkata Agung

Sedayu.

“ Silahkan “ jawab salah seorang anak itu “ namun pada

saatnya kami memerlukan keterangan yang mapan, sehingga

kami sendiri tidak menjadi gelisah karenanya. “

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Jawabnya “ Aku atau

Glagah Putih akan segera menemui kalian. Tolong, rawat

kuda-kuda dari keempat orang yang terbunuh itu.

Demikianlah, maka merekapun kemudian telah terpisah.

Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak singgah lagi di

padukuhan itu. Tetapi mereka akan langsung melaporkan

persoalannya kepada Ki Gede. Bagaimanapun juga, Tanah

Perdikan Menoreh menjadi salah satu sasaran dari

sekelompok orang yang berada di Madiun, yang

menginginkan Mataram menjadi lemah.

Seperti yang dikatakan kepada anak-anak muda itu, Agung

Sedayu dan Glagah Putih yang lemah memang langsung

 

menghadap Ki Gede yang kebetulan memang tidak sedang

bepergian, melihat-lihat Tanah Perdikannya.

Ki Gede mendengarkan laporan Agung Sedayu dan Glagah

Putih dengan sungguh-sungguh. Karena apa yang terjadi itu

merupakan bagian dari usaha-usaha lain yang mengancam

Tanah Perdikan Menoreh. Karena Tanah Per-dikan itu telah

meletakkan dirinya disisi Mataram, maka mau tidak mau

Tanah Perdikan Menoreh, akan langsung terlibat jika benarbenar

terjadi pertentangan dan benturan kekerasan dengan

Madiun.

Namun dalam persoalan antara Mataram dan Madiun

Agung Sedayu berkata “ Panembahan Senapati dan

Panembahan Madiun telah bersepakat untuk bertemu dan

berbicara dengan terbuka. “

Tetapi ketajaman penglihatan Ki Gede dalam persoalan itu

telah membuatnya berhati-hati sekali. Dengan nada rendah ia

berkata “ Memang mungkin sekali bahwa keduanya baik

Panembahan Madiun maupun Panembahan Senapati berniat

untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi dengan

pembicaraan yang terbuka. Namun dibelakang Panembahan

Madiun mungkin ada orang-orang yang tidak mau melihat

pembicaraan itu berhasil. Bahkan secara jujur kita harus

mengatakan, bahwa mungkin di Mataram juga ada orangorang

yang terlalu ingin menyelesaikan persoalan dengan

kekerasan. Perang yang dikutuk oleh sebagian besar umat

manusia itu agaknya memang dapat menimbulkan

keberuntungan kepada beberapa pihak tertentu. Mungkin

perang itu sendiri, mungkin akibat dari peperangan itu.

Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk.

Agaknya memang demikian yang telah terjadi.- Sehingga

dengan demikian maka pertemuan antara panembahan

Senapati dan Panembahan Madiun itu akan sangat penting

artinya.

Sementara itu, setelah memberikan laporan selengkapnya,

maka Agung Sedayupun mohon ijin untuk kembali bersama

Glagah Putih. Sementara itu Ki Gedepun telah merencanakan

untuk bertemu dengan para pemimpin Tanah Perdikan

Menoreh dan para pamong di padukuhan-padukuhan.

 

“ Sebaiknya mereka mengetahui persoalannya berkata Ki

Gede “ setiap kali telah terjadi peristiwa-peristiwa yang

mendebarkan dan bahkan mengejutkan di Tanah Perdikan ini.

Untuk menghindari kegelisahan yang tidak pada tempatnya,

maka persoalan ini memang harus segera dijelaskan. “

“ Kami sependapat Ki Gede “ Jawab Agung Sedayu “

agaknya hal itu memang perlu. “

“ Besok pagi kita akan bertemu. Kau sempat beristirahat.

Aku minta kau menjelaskan persoalannya “ berkata Ki Gede.

“ Baik Ki Gede. “ jawab Agung Sedayu “ besok pagi, disaat

matahari naik, aku sudah berada disini.

Demikianlah maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun

telah mohon diri. Sementara itu, Ki Gedepun telah

memerintahkan para pengawal untuk memanggil para

pemimpin, para bebahu dan para pamong di padukuhanpadukuhan

untuk bertemu besok pagi di rumah Ki Gede untuk

mendengarkan penjelasan tentang peristiwa yang telah terjadi

di Tanah Perdikan, namun juga persoalan yang berkembang

di Mataram

Ki Bekelpun ternyata telah mengundang pula satu atau dua

orang pemimpin dari pasukan khusus Mataram yang berada di

Tanah Perdikan.

Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih sampai dirumahnya,

maka Sekar Mirahpun terkejut melihat keadaan

mereka. Terutama Glagah Putih yang masih belum pulih

kembali. Wajahnya masih kelihatan pucat, meskipun

tenaganya sebagian telah kembali.

“ Apa yang telah terjadi? “ bertanya Sekar Mirah. Agung

Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kiai Jayaraga

yang kemudian datang pula menyongsong mereka,

telah melihat dengan cemas keadaan Glagah Putih.

“ Ia sudah berangsur baik “ berkata Agung Sedayu “ tetapi

anak itu memang perlu beristirahat. “

Demikianlah, maka ketika mereka sudah duduk di ruang

dalam, sementara Sekar Mirah telah menghidangkan

minuman hangat dan beberapa potong makanan, Agung

Sedayupun mulai menceriterakan apa yang telah terjadi.

 

“ Kami sudah melaporkan kepada Ki Gede “ berkata Agung

Sedayu “ besok akan ada pertemuan dengan para pemimpin,

para bebahu dan para pamong di padukuhan-padukuhan.

Mereka harus mengerti persoalannya dengan jelas. “

“ Persoalan antara Mataram dan Madiun? “ bertanya Ki

Jayaraga.

“ Ya. Tetapi sudah barang tentu tidak seluruhnya “ jawab

Agung Sedayu “ hanya yang penting-penting sajalah yang

akan diberitahu kepada mereka. “

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia

berkata “ Memang tidak seluruhnya dapat diberitahukan

kepada para bebahu, para pamong di padukuhan serta para

pemimpin kelompok pengawal. Tetapi mereka memang perlu

mengerti apa yang sedang mereka hadapi. “ Ki Jayaraga

berhenti sejenak, lalu “ Tetapi yang menarik adalah satu

usaha untuk membunuh diri dari satu kelompok murid sebuah

perguruan. Sebagaimana kau ceriterakan, bahwa sikap ke

empat orang itu tentu bukan sikap pribadi. Sikap itu tentu

sikap perguruan mereka. “

“ Ya. Sikap itu tentu sikap perguruan mereka. Pemimpin

perguruan merekalah yang agaknya telah memerintahkan

mereka untuk melakukan hal itu. “ berkata Agung Sedayu “

bahkan murid-murid mereka yang terbaik. Agaknya

keempat orang itu termasuk orang-orang terbaik di

perguruan mereka. Itupun harus melakukan bunuh diri untuk

menghilangkan jejak. “

“ Tetapi sikap itu sendiri merupakan jejak sebuah

perguruan, “ berkata Ki Jayaraga “ orang-orang yang mati itu

memang tidak dapat lagi menjawab pertanyaan apapun.

Tetapi cara mati yang mereka pilih itulah yang akan berbicara.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya “ Kau benar

Ki Jayaraga. Kita memang menemukan satu jalur jejak yang

dapat kita telusuri. Bunuh diri itu sebagai satu sikap sebuah

perguruan merupakan jejak untuk mengenali mereka lebih

jauh. Mungkin seseorang pernah mengenal sebuah perguruan

yang mempunyai ciri seperti itu. “

 

“ Kita akan berusaha “ berkata Ki Jayaraga “ Jika kita

mendapat kesempatan dan waktu, maka kita akan dapat

menemukan padepokan itu. Kita akan dapat

memperlakukannya sebagaimana padepokan Nagaraga. “

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun

katanya “ Kita akan melaporkannya pula ke Mataram. Tetapi

kita tidak dapat menentukan waktunya. “

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Namun setiap kali ia

tentu akan kecewa, karena ia akan terlalu sulit untuk

mendapat kesempatan ikut dalam tugas yang dilakukan oleh

Agung Sedayu.

Demikianlah maka Sekar Mirahpun kemudian telah

mempersilahkan Agung Sedayu dan Glagah Putih untuk

membersihkan diri dan beristirahat secukupnya. Besok pagi

mereka akan berbicara dengan para pemimpin di Tanah

Perdikan Menoreh.

Ketika Glagah Putih berada di butulan, setelah ia pergi ke

pakiwan, maka pembantu di rumah Agung Sedayu itu

bertanya “ Kenapa kau sebenarnya? “

“ Jatuh dari kuda “ jawab Glagah Putih.

“ Nah, kau rasakan. Karena itu jangan terlalu sombong

dengan kudamu yang tegar itu. Sekali-sekali kau memang

pantas dilemparkan untuk memperingatkanmu, “ berkata anak

itu.

Glagah Putih tertawa kecil. Katanya “ Aku pukul kuda itu

dengan sepotong kayu. “

Kau pukul? “ bertanya anak itu.

“ Ya “ jawab Glagah Putih.

“ Kau telah membuat kudamu semakin marah kepadamu.

Kudamu itu tentu membencimu. Lain kali kau tentu akan

dilemparkannya sekali lagi “ berkata anak itu.

“ Aku sudah minta maaf. “ berkata Glagah Putih.

“ Minta maaf kepada siapa? “ bertanya anak itu.

“ Kepada kudaku “ jawab Glagah Putih sambil tertawa pula.

“ Kau kira kudamu mengerti? “ anak itu bersungut.

“ Mudah-mudahan “ berkata Glagah Putih sambil

melangkah masuk.

 

“ Tunggu “ berkata anak itu pula “ apakah kau nanti malam

akan turun. “

Ke sungai maksudmu? “ bertanya Glagah Putih.

“ Ya “ jawab anak itu.

Tentu tidak. Kau tahu, badanku baru sakit. Kau lihat lukalukaku

ini? Aku telah jatuh diatas batu-batu padas yang

runcing “ jawab Glagah Putih.

“ Kau terlalu cengeng “ berkata anak itu pula “ laki-laki tidak

boleh cengeng. Luka itu tidak seberapa. Seharus-nyakau tidak

mengeluh karena luka itu. “

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun kemudian

katanya “ Apakah kau ingin mencoba jatuh dari punggung

kuda diatas batu-batu padas? “

“ Jangan mencari kawan. Jatuhlah sendiri “ berkata anak itu

sambil melangkah pergi.

Glagah Putih memandang anak itu sambil menganggukangguk

kecil. Katanya kepada diri sendiri “ Ternyata ia adalah

anak yang tekun. Seumurnya sudah tidak banyak lagi yang

turun meskipun masih ada satu dua. Anak-anak yang lebih

mudalah yang menggantikannya. “ Glagah Putih menganggukangguk,

lalu katanya selanjutnya didalam hatinya “ sebaiknya

keinginannya dipenuhi. Ia ingin serba sedikit memiliki

kemampuan setidak-tidaknya untuk melindungi dirinya sendiri.

Malam itu, Glagah Putih benar-benar beristirahat. Ia tidur

hampir semalam suntuk. Ia benar-benar ingin memulihkan

kekuatan wadagnya yang menjadi lemah karena darahnya

yang banyak mengalir dari luka-lukanya.

Disamping obat dan reramuan yang diminumnya, maka

beristirahat sebaik-baiknya akan cepat menolongnya.

Namun Agung Sedayulah yang tidak segera pergi tidur. Ia

masih berbincang dengan Ki Jayaraga dan Sekar Mirah

tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

“ Tetapi niat baik dari kedua belah pihak untuk bertemu itu

sudah merupakan pertanda baik “ berkata Ki Jayaraga.

“ Namun ternyata terlalu banyak pihak yang tidak ingin

melihat perdamaian antara Mataram dan Madiun. Tentu bukan

hanya orang-orang Madiun yang ingin mengambil keuntungan

 

dari kekisruhan yang terjadi. Tetapi juga orang Mataram “

berkata Agung Sedayu.

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Memang banyak pihak

yang akan dapat mengambil keuntungan dari setiap

kekisruhan yang terjadi. Bahwa kesempatan bagi orang-orang

yang ingin mengacaukan Mataram telah mendapat dukungan

dari orang-orang Mataram sendiri adalah satu

pertanda. Bahkan tidak mustahil bahwa orang-orang itu

bukan sekedar orang-orang kebanyakan. Tetapi mungkin juga

orang-orang yang memiliki wewenang didalam istana

Mataram.

Namun akhirnya Agung Sedayu, Ki Jayaraga dan Sekar

Mirah sependapat, bahwa Tanah Perdikan Menoreh sebagai

salah satu landasan kekuatan Mataram harus lebih berhatihati

menghadapi usaha-usaha yang akan dapat menodai

nama Tanah Perdikan mereka.

“ Besok hal itu akan aku singgung “ berkata Agung Sedayu

“ justru besok diharap akan hadir pula pemimpin atau

siapapun yang ditugaskan, dari pasukan khusus Mataram

yang ada di Tanah Perdikan ini. “

Namun tiba-tiba saja Ki Jayaraga berkata hampir kepada

diri sendiri “ Bagaimana dengan daerah-daerah lain yang juga

menjadi, landasan kekuatan Mataram? Bagaimana pula

dengan Jati Anom dan Sangkal Putung? Pajang justru sedang

dalam kekosongan. Selama ini Pajang merupakan penyekat

yang baik tetapi sekaligus penghubung yang baik antara

Mataram dan Madiun. Namun kini Pangeran Benawa sudah

tidak ada.

“ Panembahan Senapati telah memperhitungkannya.

Bahwa agaknya telah dipersiapkan pula pengganti Pangeran-

Benawa, karena Pajang memang tidak boleh terlalu lama

kosong, “ berkata Agung Sedayu.

“ Hubungan baik antara Mataram dan Madiun sebagian

juga tergantung siapakah yang akan duduk sebagai pemimpin

di Pajang. Jika yang ditunjuk oleh Panembahan Senapati tidak

disetujui Panembahan Madiun, maka akibatnya akan semakin

mengaburkan hubungan antara Mataram dan Madiun “

berkata Ki Jayaraga.

 

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya “ Rasarasanya

ada keinginan untuk bertemu dengan Swandaru

khusus dalam persoalan ini. Kiai Gringsing dan Sabungsari

tentu sudah menemuinya. Mungkin Guru telah memanggil

adi Swandaru untuk datang ke padepokan kecilnya.

Tetapi mungkin pula Guru singgah di Sangkal Putung

langsung dari Mataram pada waktu itu. “

“ Ada juga baiknya kita pergi ke Sangkal Putung “ tiba-tiba

saja Sekar Mirah menyahut.

Ki Jayaraga tersenyum. Katanya “ Tentu ada kerinduan

atas kampung halaman. Tetapi dengan demikian aku akan

menjadi penunggu rumah lagi. “

Sekar Mirahpun tertawa. Tetapi katanya “ Sudah lama

sekali aku tidak berkunjung ke Sangkal Putung.

Ki Jayaraga yang juga tersenyum, mengangguk-angguk

pula. Katanya “ Tetapi kita ingin mendengar, siapakah yang

akan dipilih oleh Agung Sedayu untuk menemaninya ke

Sangkal Putung kelak. “

Namun Agung Sedayu menjawab sambil tertawa “

Bukankah belum pasti kapan aku akan berangkat. Jika Ki

Gede memandang Tanah Perdikan ini untuk sementara tidak

boleh aku tinggalkan, maka akupun tidak akan pergi. “

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Katanya dengan nada

datar “ Baiklah. Aku akan menunggu. “

Ternyata mereka sempat berbicara sampai jauh malam.

Namun akhirnya Ki Jayaraga berkata “ Bukankah kau juga

perlu beristirahat? Beristirahatlah. Meskipun kau tidak terluka

seperti Glagah Putih, tetapi kau tentu juga merasa letih karena

kau harus berhadapan dengan dua orang berilmu tinggi.

Namun seandainya kau mempergunakan ilmumu memecah

diri dengan ujud lebih dari satu, kau tidak akan dapat disentuh

oleh serangannya yang mengandung panasnya api. “

“ Bagaimana jika keduanya memiliki kemampuan

untuk melihat ujud yang sejati? “ bertanya Agung Sedayu.

“ Jarang sekali. Bahkan hampir tidak ada yang dapat

melakukannya. Namun diantara yang mungkin tidak ada itu,

agaknya akan ada juga “ berkata Ki Jayaraga.

 

“ Ternyata Yang Maha Agung telah melindungi aku “

berkata Agung Sedayu.

Demikianlah, maka akhirnya pembicaraan itu berakhir juga.

Agung Sedayu memang merasa letih dan ingin beristirahat.

Tugas-tugas yang lain masih menunggunya.

Pagi-pagi benar, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah

bersiap, sementara Sekar Mirah sibuk menyiapkan makan

pagi mereka. Tetapi Sekar Mirah tidak perlu bersusah payah

mencari lauk bagi mereka, karena pembantunya semalam

telah mendapat ikan cukup banyak dari pliridannya di pinggir

sungai.

“ Kau memang luar biasa “ berkata Glagah Putih memuji

anak itu.

“ Kau kira tanpa kau, aku tidak dapat menangkap ikan? “

jawab anak itu.

“ Ah sombongnya kau “ desis Glagah Putih.

“ Kau dapat melihat buktinya “ jawab anak itu pula. Glagah

Putih hanya tersenyum saja. Namun iapun

kemudian telah dipanggil masuk. Bersama-sama Agung

Sedayu dan Ki Jayaraga ia dipersilahkan untuk makan pagi.

Sejenak kemudian maka merekapun telah berada di-rumah

Ki Gede. Mereka telah datang mendahului para pemimpin

Tanah Perdikan yang diundang oleh Ki Gede.

Dengan demikian maka mereka sempat berbicara lebih

dahulu tentang yang manakah yang sebaiknya mereka beritahukan

kepada para pemimpin dan yang manakah yang

masih harus mereka simpan lebih dahulu, agar Tanah

Perdikan itu tidak menjadi gelisah dan dibayangi oleh

kecemasan, seolah-olah perang sudah berada diambang

pintu.

Demikianlah maka pada saatnya, para pemimpin Tanah

Perdikan Menoreh telah mulai berdatangan. Memang nampak

kegelisahan membayang diwajah mereka. Peristiwa demi

peristiwa yang terjadi, baik di Tanah Perdikan itu sendiri,

maupun yang terjadi di Mataram dan sekitarnya, memang

dapat menimbulkan kecemasan dihati orang-orang Tanah

Perdikan itu.

 

Karena itu, penjelasan memang penting bagi mereka,

sehingga para pemimpin itu akan dapat melihat keadaan yang

sewajarnya sedang mereka hadapi.

Setelah mereka yang diundang itu berkumpul, mulailah Ki

Gede membuka pertemuan itu. Dengan sedikit pengantar Ki

Gede kemudian mempersilahkan Agung Sedayu untuk

menjelaskan keadaan Tanah Perdikan Menoreh yang pada

saat itu menghadapi kemelut yang terjadi antara Mataram dan

Madiun.

“ Yang harus kita ketahui, justru adanya orang yang dari

kedua belah pihak yang ingin memanfaatkan pertentangan

yang timbul itu bagi diri mereka sendiri. Kesalah pahaman

antara Mataram dan Madiun memang perlu dipecahkan.

Kedua pemimpin dari kedua belah pihak telah berniat untuk

melakukannya. “ berkata Agung Sedayu kemudian setelah

memberikan beberapa keterangan tentang hubungan kedua

Panembahan itu “ Tetapi satu hal yang penting bagi kita,

bahwa kita telah mengakui Panembahan Senapati sebagai

pemimpin tunggal dari Tanah ini. Meskipun kita menghormati

Panembahan Madiun sebagaimana wajarnya kita

menghormati seorang pemimpin, namun kedudukan antara

Panembahan Madiun dan Panembahan Senapati berada pada

tataran yang berbeda. “

Para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh itu menganggukangguk.

Sementara Agung Sedayau berkata selanjutnya “

Perbedaan tataran itu kita akui sebagaimana kita menyadari

akan tataran kedudukan Tanah Perdikan ini dihadapan

Mataram. “

Dengan demikian maka para pemimpin Tanah Perdikan

Menoreh itupun melihat semakin jelas apa yang sedang

berkecamuk di antara Mataram dan Madiun. Namun merekapun

semakin kukuh berdiri diatas keyakinan mereka tentang

hubungan antara Tanah Perdikan Menoreh, Mataram dan

Madiun. Merekapun semaakin mengerti, dimana mereka harus

berdiri.

“ Karena itu, maka kita harus mempersiapkan diri sebaikbaiknya

menghadapi segala kemungkinan yang bakal datang.

Agal atau alus. Kasar atau lembut. Namun kita semua

 

berharap, mudah-mudahan Panembahan Senapati dan

Panembahan Madiun dapat memecahkan persoalan yang ada

diantara mereka “ berkata Agung Sedayu.

Para pemimpin itu, termasuk pemimpin pasukan khusus

Mataram di Tanah Perdikan Menoreh, telah mengerti dengan

jelas. Namun sebagaimana diharapkan oleh Agung Sedayu,

maka mereka harus bekerja dengan tenang dan tidak

menumbuhkan kegelisahan.

“ Peningkatan latihan-latihan keprajuritan adalah wajar “

berkata Agung Sedayu “ namun kita belum memasuki

suasana perang. “

Para pemimpin Tanah Perdikan itu mengangguk-angguk.

Ketika keterangan Agung Sedayu itu selesai, ditambah oleh

beberapa pesan Ki Gede sendiri, maka beberapa orang telah

mengajukan pertanyaan, langkah-langkah yang manakah

yang sebaiknya mereka ambil secepatnya.

“ Kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya “ jawab Agung

Sedayu “ tetapi tidak dengan tergesa-gesa dan mungkin

menimbulkan keresahan. Kewaspadaan atas orang-orang

yang tidak kita kenal dan tidak cepat percaya kepada berita

apapun, lebih-lebih yang dapat menimbulkan perpecahan

diantara kita. Kita dengan diam-diam harus mengamati setiap

gejolak yang timbul diantara kita dan

sikap yang asing, yang mungkin merupakan pantulan

pengaruh dari luar. “

Para pemimpin itu menjadi semakin jelas akan tugas yang

mereka hadapi. Satu kerja keras namun yang tidak

menimbulkan keresahan dan tidak menarik perhatian.

Demikianlah, maka dihari berikutnya ternyata semuanya

sudah mulai sibuk di Tanah Perdikan dan di barak para prajurit

dari Pasukan Khusus dari Mataram.

Mereka mulai menyusun kelompok-kelompok yang akan

mulai dengan latihan-latihan yang berat. Namun merekapun

telah menyusun kelompok peronda yang lebih luas meliputi

seluruh Tanah Perdikan dan berada dibawah satu pimpinan

bersama antara pimpinan pengawal Tanah Perdikan dengan

Pimpinan Pasukan Khusus Mataram yang berada di Tanah

Perdikan.

 

Mereka telah menyusun pula isyarat-isyarat sandi jika

benar-benar terjadi sesuatu di Tanah Perdikan. Kedua belah

pihak telah menemukan batas-batas tugas mereka masingmasing,

sehingga tidak akan timbul kesalah pahaman diantara

mereka.

Ketika latihan-latihan dihari-hari berikutnya benar-benar

diselenggarakan, memang timbul pula pertanyaan. Namun

para pemimpin selalu mengatakan, bahwa latihan-latihan itu

tidak lebih dari usaha peningkatan kemampuan dan sekedar

berjaga-jaga.

Dalam pada itu, agaknya pikiran yang timbul pada Agung

Sedayu untuk melihat keadaan gurunya serta perkembangan

yang timbul di Sangkal Putung menjadi semakin besar.

Bahkan pada satu saat Agung Sedayu telah

membicarakannya dengan Sekar Mirah dan Glagah Putih,

sekaligus untuk melihat keluarga masing-masing yang telah

lama, tidak mereka lihat.

Sementara itu, maka Ki Jayaraga telah mereka minta untuk

tinggal di Tanah Perdikan sementara mereka pergi.

“ Aku sudah menduga “ berkata Ki Jayaraga. Agung

Sedayu tersenyum sambil berkata “ Lain kali

kita akan pergi. Tugas mendatang masih panjang. “

Ki Jayaraga tertawa pula.

“ Kami akan mohon ijin kepada Ki Gede. Agaknya kami

akan singgah pula di Mataram, memberikan laporan tentang

ampat orang yang terbunuh itu, serta mungkin ada pesan

yang harus kami bawa bagi Untara “ Berkata Agung Sedayu.

Ki Jayaraga hanya mengangguk-angguk saja. Meskipun

sekali-sekali ia ingin ikut berbuat sesuatu, namun iapun

menyadari bahwa Tanah Perdikan yang menjadi salah satu

sasaran dari usaha sekelompok orang dari daerah Madiun

yang ingin memotong dahan-dahannya lebih dahulu sebelum

menebang pohonnya, Mataram, memang perlu mendapat

perhatian.

Karena itu, maka jika ia berada di Tanah Perdikan

Menoreh, bukan berarti bahwa ia tidak berbuat apa-apa bagi

Mataram bersama dengan Ki Gede dan orang-orang Tanah

Perdikan Menoreh.

 

Namun iapun menyadari, bahwa pengembaraan yang

pernah dilakukannya kadang-kadang memang menimbulkan

kerinduan.

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Menoreh memang telah

berlangsung latihan-latihan bagi para pengawal melampaui

latihan-latihan yang biasa mereka lakukan. Mereka kembali

memasuki masa kesiagaan yang berat. Bukan saja latihanlatihan

di lereng bukit dan di hutan-hutan. Tetapi juga

pengawasan yang semakin cermat atas seluruh daerah Tanah

Perdikan Menoreh.

Bahkan anak-anak muda yang bukan pengawalpun telah

melakukan latihan-latihan. Mereka memperdalam cara

menggunakan senjata dan bahkan juga latihan-latihan

ketahanan tubuh. Hampir setiap pagi, menjelang matahari

terbit, dilereng-lereng bukit, anak-anak muda berkumpul

setelah berlari-larian menyusuri jalan-jalan bulak persawahan.

Beberapa saat mereka mendapat latihan menggunakan

senjata sesuai dengan minat masing-masing. Sekelompok

anak-anak muda berlatih menggunakan tombak. Sekelompok

yang lain pedang dan yang lain lagi mempergunakan senjata

rangkap. Bahkan ada diantara mereka yang merangkapi

kemampuan bermain senjata dengan ketram-pilan

melontarkan senjata-senjata kecil. Pisau belati kecil, paser

dan senjata semacamnya.

Bahkan ada beberapa orang yang ingin juga mampu

mempergunakan senjata sebagaimana digunakan oleh Agung

Sedayu. Cambuk.

Para pengawal yang memiliki kemampuan yang lebih

baikpun telah melengkapi bekal mereka sebagaimana seorang

prajurit. Sehingga dengan demikian maka para pengawal

Tanah Perdikan Menoreh memiliki kemampuan tidak kurang

dari prajurit Mataram dan sudah tentu juga prajurit Madiun.

Bergantian, kelompok-kelompok pengawal dan anak-anak

muda Tanah Perdikan telah mengadakan latihan khusus di

daerah pebukitan dan hutan-hutan yang masih pepat untuk

waktu tertentu. Setiap kelompok direncanakan akan

mempergunakan waktu setengah bulan tanpa meninggalkan

lingkungan latihan mereka. Mereka akan membuat gubugKang

Zusi - http://kangzusi.com/

gubug kecil yang akan mereka pergunakan untuk melindungi

diri dari panas maupun hujan yang bagaimanapun lebatnya.

Sebelum Agung Sedayu dan Glagah Putih meninggalkan

Tanah Perdikan, maka bersama dengan Sekar Mirah dan Ki

Jayaraga, mereka langsung turun memberikan latihan-latihan

kepada para pengawal dan anak-anak muda Tanah Perdikan.

Ki Gede, sendiri yang menjadi semakin tua telah

mempercayakan kepemimpinan para pengawal dan anakanak

muda Tanah Perdikan kepada angkatan yang

lebih muda. Apalagi Agung Sedayu dan Glagah Putih

memang diketahuinya memiliki kemampuan yang tinggi.

Namun pada suatu saat, Agung Sedayu memang

menghadap Ki Gede untuk minta ijin meninggalkan Tanah

Perdikan Menoreh barang satu dua pekan. Bersama dengan

Sekar Mirah dan Glagah Putih, ia ingin mengunjungi Jati

Anom dan Sangkal Putung.

Ki Gede memang dapat mengerti, bahwa Glagah Putih

ingin menengok orang tuanya sebagaimana Sekar Mirah.

Sementara itu Agung Sedayu tentu ingin juga bertemu dengan

kakaknya dan gurunya.

“ Tetapi bukankah Ki Jayaraga masih tetap tinggal? “

bertanya Ki Gede.

“ Ya Ki Gede. Ki Jayaraga akan berada di Tanah Perdikan

ini. Ki Jayaraga akan dapat membantu Ki Gede jika diperlukan

“ jawab Agung Sedayu.

“ Apakah Glagah Putih telah sembuh sama sekali? “

bertanya Ki Gede pula.

“ Sudah Ki Gede, Glagah Putih telah dapat ikut dalam

latihan-latihan yang diadakan di Tanah Perdikan “ berkata

Agung Sedayu. Lalu “ Sementara itu, para pelatih di barak

prajaurit dari Pasukan Khusus Mataram yang berada di Tanah

Perdikan telah bersedia memberikan latihan-latihan khusus

pula kepada para pengawal dan anak-anak muda di Tanah

Perdikan ini, disamping kesediaan mereka untuk ikut menjaga

ketenangannya. “

Ki Gede mengangguk-angguk. Kesediaan para prajurit dari

Pasukan Khusus itu akan membantu tugas anak-anak muda

Tanah Perdikan Menoreh.

 

Karena itu, maka Ki Gedepun kemudian menyatakan

bahwa ia tidak berkeberatan untuk mengijinkan Agung Sedayu

pergi. Tetapi dengan pesan. “ Kalian harus segera kembali.

Keadaan dapat berubah dengan cepat sekali. “

Jika ada tanda-tanda perkembangan keadaan itu Ki Gede,

kami akan segera kembali. Perjalanan dari Sangkal Putung ke

Tanah Perdikan ini tidak akan makan waktu terlalu panjang. “

berkata Agung Sedayu.

Demikianlah, maka dihari yang sudah ditentukan, pagi-pagi

benar Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih telah

bersiap. Jika mereka berangkat, maka mereka masih akan

singgah dirumah Ki Gede untuk minta diri.

“ Kau akan pergi lagi? “ bertanya pembantu dirumah Agung

Sedayu.

Glagah Putih tersenyum. Katanya “ Aku akan menengok

ayahku. “

Anak itu mengangguk-angguk. lapun kemudian bertanya “

Berapa hari kau akan pergi? “

“ Tidak lama. Satu atau dua pekan “ jawab Glagah Putih.

“ Satu atau dua pekan menurut hitunganmu adalah seratus

hari “ desis anak itu.

Glagah Putih tertawa. Ditepuknya bahu anak itu sambil

berdesis “ Kau tahu, bahwa sekarang aku pergi bersama

kakang Agung Sedayu dan mbokayu Sekar Mirah. Jadi bukan

akulah yang menentukan kapan aku akan kembali. “

Anak itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian

katanya “ Semakin lama kau pergi semakin baik. Tidak ada

yang mengurangi hasil ikanku setiap hari. “

“ Kau masih suka merajuk. Kau sudah remaja sekarang.

Bahkan sebentar lagi kau akan meningkat menjadi anak muda

yang perkasa. Sejak sekarang kau harus menabah sikapmu “

berkata Glagah Putih sambil tertawa pula.

Anak itu tidak menjawab lagi. Tetapi bersama Ki Jayaraga

ia berdiri diregol ketika Agung Sedayu, Sekar Mirah dan

Glagah Putih meloncat kepunggung kuda diluar halaman.

Anak itu sempat melambaikan tangannya. Glagah Putih

yang membalasnya sambil berkata “ Hati-hati jika kau turun

dikali. Jangan sampai keliru menangkap ular. “

 

Anak itu mengangguk. Namun ketika orang itu menjadi

semakin jauh, Ki Jayaraga menggamit anak itu sambil berkata

“ Kita tinggal berdua. Nanti malam aku ikut kau turun ke

sungai. “

“ Ki Jayaraga? “ bertanya anak itu hampir tidak percaya.

“ Ya. Kenapa? Dimasa remajaku, aku adalah pencari ikan

yang ulung. Pernah sekelompok anak-anak muda yang

sebaya kakakku berlomba mencari ikan. Aku yang paling

muda diantara mereka, ternyata memenangkan lomba itu, “

jawab Ki Jayaraga.

Anak itu mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah, Malam

nanti aku akan memberitahukan kepada Ki Jayaraga jika aku

akan turun. “

Ki Jayaraga tersenyum sambil menepuk pundak anak itu.

Lalu katanya “ Sekarang kau rebus air. Aku akan mengisi

jambangan pakiwan. “

Anak itu mengangguk. Iapun kemudian melangkah

melintasi halaman langsung ke pintu dapur.

Ki Jayaraga masih berdiri di regol sejenak. Hari masih

terlalu pagi. Tetapi jika Agung Sedayu tidak ada, maka

biasanya ia pergi ke rumah Ki Gede. Mungkin ada sesuatu

yang penting untuk dibicarakan. Meskipun umurnya dengan Ki

Gede sebaya, tetapi cacat dikaki Ki Gede yang agaknya sulit

untuk sembuh sama sekali, membuat Ki Gede tidak terlalu

sering keluar rumah. Meskipun bukan berarti bahwa Ki Gede

tidak pernah mendatangi padukuhan-padu-kuhan yang berada

di dalam lingkungan Tanah Perdikan.

Ketika Ki Jayaraga berjalan ke pendapa, maka Agung

Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih telah mendekati regol

halaman rumah Ki Gede. Sejenak kemudian, merekapun

telah memasuki regol dan dengan demikian maka merekapun

turun dari kuda mereka.

Agaknya Ki Gedepun telah bangun pula dan duduk

menghadapi minuman panas diruang dalam. Ketika seorang

pengawal memberitahukan kedatangan Agung Sedayu, Sekar

Mirah dan Glagah Putih, maka Ki Gedepun telah menerima

mereka diruang itu pula.

“ Kalian jadi akan berangkat hari ini? “ bertanya Ki Gede.

 

“ Ya Ki Gede “ jawab Agung Sedayu “ selagi suasana

terasa tenang. “

“ Disini. Kita tidak tahu apa yang terjadi di daerah-daerah

lain disekitar Mataram. Termasuk pendukung-pendukung

kuatnya. Bahkan mungkin Pati sudah dijamah pula oleh orangorang

Madiun yang tidak menginginkan ketenangan itu. “

sahut Ki Gede.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Lalu katanya pula “

Kami akan singgah barang sebentar-di Mataram untuk

menyampaikan laporan apa yang telah terjadi disini, di Tanah

Perdikan Menoreh. “

Ki Gede termangu-mangu sejenak, lalu katanya “

Sebaiknya juga kau laporkan kesiagaan bersama antara

Tanah Perdikan ini dengan Pasukan Khusus Mataram disini.

“ Ya Ki Gede “ jawab Agung Sedayu “ mudah-mudahan

Panembahan Senapati mendapat gambaran yang utuh

tentang perkembangan keadaan di Tanah Perdikan ini. “

“ Baktiku kepada Panembahan Senapati “ berkata Ki Gede

kemudian “ serta salamku kepada keluarga di Jati Anom dan

Sangkal Putung. Aku berharap bahwa kalian tidak terlalu

lama. Sepekan agaknya sudah cukup untuk melepaskan rindu

kalian atas keluarga Jati Anom dan Sangkal Putung. “

Agung Sedayu mengangguk hormat. Katanya “ Kami

memang berharap untuk segera kembali. Tidak lebih dari

sepekan. “

Demikianlah, maka ketika orang itupun sekali lagi mohon

diri. Sementara Agung Sedayu memberitahukan bahwa Ki

Jayaraga akan selalu datang ke rumah Ki Gede untuk

membantu apapun jika diperlukan.

Beberapa saat kemudian ketiga orang itupun telah berkuda

meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan. Di

perjalanan mereka memang bertemu dengan anak-anak muda

dan pengawal. Jika mereka bertanya maka Agung Sedayu

selalu menjawab “ Kami akan pergi ke Sangkal Putung untuk

satu dua hari. “

“ Bagaimana dengan latihan-latihan kami? “ bertanya

seorang anak muda yang bertemu di tanggul parit.

 

“ Para perwira dari barak Pasukan Khusus telah sanggup

menggantikan kami. “

“ Mereka terlalu keras dan bahkan kasar. “ berkata anak

muda.

“ Untuk menjadi prajurit yang baik memang harus

mengalami latihan yang keras “ jawab Agung Sedayu.

“ Tetapi kami bukan prajurit “ jawab anak muda itu.

“ Dalam keadaan yang gawat, tanpa kemampuan seorang

prajurit maka kita akan digilas. Lebih baik kita memikul beban

yang berat disaat-saat latihan daripada kita menghadapi

kesulitan di medan perang yang-mungkin akan dapat

merenggut nyawa kita. “ berkata Agung Sedayu sambil

tersenyum.

Anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya “ Kau benar.

Jika kita pingsan di waktu latihan, kita akan segera mendapat

pertolongan. “

Agung Sedayu tertawa. Sementara Glagah Putih berkata “

Tetapi jika kita mati di medan perang, tidak ada seorangpun

yang akan mampu menolong kita. “

Anak muda itupun tertawa pula.

Demikianlah, maka Agung Sedayu meninggalkan Tanah

Perdikan Menoreh dengan meninggalkan beban atas anakanak

muda dan pengawalnya. Sementara Agung Sedayu

memang menyadari, bahwa para perwira prajurit dari Pasukan

Khusus biasanya memberikan latihan-latihan dengan ikatan

yang keras dan ketat. Sehingga terhadap anak-anak muda

dan para pengawal Tanah Perdikan itupun mereka

memperlakukannya sama dengan para prajurit sendiri.

Namun demikian maka anak-anak muda dan para

pengawal Tanah Perdikan akan benar-benar menjadi

pengawal yang bernilai sama dengan prajurit.

Ketika Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih

mendekati Kali Praga, maka tampak airnya seakan-akan

menjadi semakin keruh. Agaknya mendung di arah Utara telah

menjatuhkan air hujan di ujung Kali Praga itu.

Perjalanan mereka bertiga tidak banyak mengalami

hambatan. Hampir tidak ada orang yang mengenali Sekar

Mirah sebagai seorang perempuan. Agar ia dapat leluasa naik

 

diatas punggung kuda, maka Sekar Mirah telah mengenakan

pakaian seorang laki-laki, sebagaimana sering dilakukannya.

Namun dengan demikian maka Sekar Mirah menjadi jarangjarang

sekali berbicara jika ia berada diantara banyak orang,

sebagaimana saat menyeberangi Kali Praga diatas sebuah

rakit yang memuat beberapa orang lain.

Tetapi demikian Sekar Mirah turun dari rakit dan berbicara

dengan Glagah Putih, maka beberapa orang laki-laki berwajah

kasar telah mendengarnya. Karena itu, maka mereka tidak

putus-putusnya telah memperhatikannya.

“ He, anak itu bukan seorang laki-laki. Aku mendengar

suaranya. Ia seorang perempuan, “ berkata salah seorang

diantara mereka.

“ Menarik sekali “ jawab yang lain “ tentu ada maksudnya

bahwa ia berpakaian seorang laki-laki. “

Tetapi seorang yang nampaknya mempunyai pengaruh

yang besar diantara mereka berkata “ Jangan hiraukan. Bukan

urusan kita apakah ia akan memakai pakaian laki-laki atau

telanjang sekalipun. Kita harus sampai ke tujuan sebelum

malam. Kita masih akan menentukan beberapa hal sebelum

kita melakukan pekerjaan kita. “

Kawan-kawannya tidak berani membantah. Mereka tidak

lagi memperhatikan Sekar Mirah dengan berlebih-lebihan.

Mereka sadar jika mereka melakukan kesalahan terhadap

perempuan yang berpakaian laki-laki itu dan apalagi

menimbulkan persoalan, maka mereka tentu akan mendapat

hukuman dari pemimpin mereka yang garang itu.

Dengan demikian maka beberapa orang laki-laki berwajah

kasar itu sama sekali tidak mengganggunya.

Tetapi yang ternyata tidak terduga telah terjadi. Bukan

orang-orang kasar itu. Justru seorang laki-laki yang berwajah

lunak berpakaian rapi dan mengenakan perhiasan yang

mahal. Sekilas nampak timangnya yang terbuat dari emas.

Demikian pula pendok kerisnya. Tiga orang laki-laki yang

bertubuh raksasa mengiringinya.

Ternyata laki-laki itu juga menaruh perhatian terhadap

Sekar Mirah yang berpakaian laki-laki dikawani seorang lakilaki

yang masih terhitung muda dan seorang anak muda yang

 

masih dalam batas remaja. Justeru dalam pakaian seorang

laki-laki dimata orang itu Sekar Mirah nampak terlalu cantik.

Apalagi pakaian laki-lakinya membuat orang itu menaruh

perhatian yang besar.

Sekar Mirah tidak memperhatikan bahwa seorang laki-laki

selalu mengawasinya. Karena itu, iapun tidak menaruh curiga

apapun ketika bersama-sama dengan Agung Sedayu dan

Glagah Putih ia meloncat ke punggung kudanya.

Tetapi tiba-tiba saja kuda Sekar Mirah itu terkejut sehingga

terlonjak. Hampir saja Sekar Mirah terlempar. Untunglah

bahwa ia adalah seorang perempuan yang tangkas, sehingga

ia masih tetap melekat dipunggung kudanya.

Sementara itu Agung Sedayu dan Glagah Putih dengan

cepat telah memegang kendali kuda Sekar Mirah di sebelah

menyebelah.

“ Apa yang terjadi? “ bertanya Agung Sedayu.

Sekar Mirah justru meloncat turun ketika kudanya sudah

menjadi tenang. Dipandanginya beberapa orang yang lewat

dari lingkungan penyeberangan. Namun tiba-tiba saja laki-laki

yang berpakaian rapi dan berwajah lunak itu tertawa.

“ Kenapa kau tertawa? “ berkata Sekar Mirah.

“ Nah, ternyata kau benar-benar seorang perempuan, “ lakilaki

itu justru mendekat “ aku sekarang melihat lubang di

telingamu. Suaramu tidak dapat kau sembunyikan dan tatapan

matamu adalah tatapan mata seorang perempuan yang

cantik. “

“ Apa pedulimu “ bentak Sekar Mirah. Lalu “ jadi kaulah

yang telah dengan sengaja mengejutkan kudaku he?

“ Maaf. Bukan maksudku untuk menyulitkanmu “ berkata

laki-laki itu “ tetapi kau sangat menarik perhatianku. Buat apa

kau berpakaian seperti seorang laki-laki? Apakah kau berniat

untuk menyembunyikan kecantikanmu?

Dalam pakaian itu kau justru menjadi sangat menarik.

***

API DI BUKIT MENOREH SERI III

 

JILID 227

“ AKU peringatkan agar kau tidak berbuat kasar. Aku

memang seorang perempuan dan laki-laki itu adalah suamiku

dan adikku. Nah, pergilah. Aku bersama suamiku.” berkata

Sekar Mirah.

Tetapi laki-laki itu justru tertawa. Katanya, “ Suamimu

terlalu lemah untuk melindungi seorang perempuan cantik

seperti kau. Lihat, ia belum berbuat sesuatu dalam keadaan

seperti ini. Jika ia memang seorang laki-laki, ia tentu akan

marah dan berbuat sesuatu untuk melindungi isterinya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang

masih duduk berdiam diri diatas punggung kudanya

sebagaimana Glagah Putih. Namun keduanyapun kemudian

meloncat turun. Dengan langkah satu-satu Agung Sedayu

mendekati orang itu sambil berkata, “ Ki Sanak. Sebaiknya kita

tidak bertengkar. Lihatlah, orang-orang yang lewat itu tentu

akan memperhatikan kita. Mereka kemudian akan berkerumun

seperti menonton sabung ayam di kalangan. Karena itu,

sudahlah. Tinggalkan isteriku. Jangan kau ganggu lagi.”

Tetapi laki-laki itu tertawa. Katanya, “ Agaknya kau

termasuk seorang yang lembut dan tidak brangasan. Kau tidak

cepat menjadi marah dan menantangku berkelahi.”

“ Aku bukan orang yang senang berkelahi.” berkata Agung

Sedayu.

“ Atau katakan saja kau laki-laki cengeng.” jawab orang itu

sambil tertawa.

“ Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu, “ menilik ujud

lahiriahmu, kau tidak pantas melakukan penghinaan seperti ini

terhadap seorang perempuan. Tetapi kenapa hal itu kau

lakukan?”

“ Pertanyaan yang menarik.” jawab orang itu. “ Agaknya

tidak hanya kau yang memuji aku sebagai seorang laki-laki

tampan dan berwajah lembut. Tetapi aku bukan seorang lakilaki

cengeng. Aku melakukan apa yang ingin aku lakukan.”

“ Siapa kau sebenarnya?” bertanya Agung Sedayu.

 

“ Aku anak Demang dari Kademangan Wanda Karang di

seberang Bukit-bukit Menoreh.” jawab anak muda itu.

“ Anak Ki Demang Wanda Karang.” ulang Agung Sedayu.

“ Ya. Kenapa? Kau pernah mendengar nama itu?”

bertanya orang itu.

“ Aku pernah mendengar nama Demang Wanda Karang.

Seorang Demang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi dan

pengabdian yang mantap terhadap Mataram.” jawab Agung

Sedayu.

“ Nah, dengarlah baik-baik.” berkata orang itu, “ aku telah

mendapat perintah dari ayahku untuk menghadap ke

Mataram. Aku membawa pertanda hubungan yang akrab

antara ayahku dengan Ki Tumenggung Resayuda. Ki

Tumenggung tentu bersedia membawa aku menghadap

Panembahan Senapati. Dengar sekali lagi. Aku akan

menghadap Panembahan Senapati secara pribadi. Nah, aku

tentu dapat membayangkan kebesaran anak Demang Wanda

Karang ini, yang akan diterima secara pribadi oleh

Panembahan Senapati.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “ Lalu

apa hubungannya antara kesediaan Ki Tumenggung

Resayuda membawamu menghadap dengan tingkah lakumu

sekarang ini? Ki Sanak. Jika ayahmu tahu apa yang kau

lakukan disini, ayahmu tentu akan sangat marah kepadamu.”

Orang itu tertawa. Katanya, “ Ayah tidak akan marah

kepadaku.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun

kemudian katanya, “ Sebaiknya jangan kau lakukan

penghinaan terhadap martabat seorang perempuan seperti itu.

Ketika kami melewati Tanah Perdikan Menoreh, anak-anak

muda Tanah Perdikan Menoreh yang berkumpul di ujungujung

lorong memberi kesempatan kami lewat tanpa

diganggu.”

“ Persetan dengan anak-anak Tanah Perdikan Menoreh.”

jawab anak muda itu.

“ Apakah kau tidak mengenal Tanah Perdikan Menoreh?”

bertanya Agung Sedayu.

 

Orang itu termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “

Yang kau lakukan tidak ada hubungannya dengan Tanah

Perdikan yang besar itu.”

“ Ternyata kau belum mengenal kehidupan di Tanah

Perdikan tetanggamu itu.” berkata Agung Sedayu, “ tingkah

lakumu tentu tidak disukai.”

“ Apakah kau orang Tanah Perdikan Menoreh?” bertanya

anak Demang Wanda Karang itu.

“ Kami keluarga kecil yang tinggal di ujung Utara Tanah

Perdikan itu.” jawab Agung Sedayu.

Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “

Yang aku lakukan tidak ada hubungannya dengan Tanah

Perdikan itu.”

“ Anak-anak muda Tanah Perdikan tentu akan melindungi

kami.” berkata Agung Sedayu, “ jika mereka tahu bahwa anak

Demang Wanda Karang telah menyakiti hati orang-orangnya,

maka ada kemungkinan mereka akan datang melintasi bukit

dan turun di Kademangan Wanda Karang.”

Anak Ki Demang Wanda Karang itu termenung sejenak.

Namun ketika sekali lagi ia memandang wajah Sekar Mirah,

maka katanya, “ Aku sudah terbiasa menuruti keinginanku

atas perempuan-perempuan cantik. Tidak seorangpun telah

menghalangi aku. Sementara itu orang-orang Tanah Perdikan

tidak akan berani mengganggu aku, apalagi Kademangan

Wanda Karang yang sudah diakui adanya dan memiliki

hubungan rapat dengan Panembahan Senapati lewat Ki

Tumenggung Resayuda.”

“ Jangan bermain api Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu, “

Kau akan dihukum oleh Panembahan Senapati. Sudahlah.

Pergilah, karena agaknya Ki Tumenggung itu sudah

menunggumu. Bahkan mungkin Panembahan Senapati.”

“ Perempuan itu cantik sekali.” desis laki-laki yang

berpakaian rapi itu, “ aku akan menukarnya dengan timang

emasku.”

Agung Sedayu tidak sempat menjawab. Tiba-tiba saja

justru tangan Sekar Mirah sendiri telah menampar pipi orang

itu. Meskipun Sekar Mirah hanya mempergunakan tenaga

 

wajarnya, namun orang itu menyeringai menahan panas

pipinya itu.

“ Kenapa kau memukulku?” bertanya laki-laki itu.

“ Persetan. Aku akan pergi.” geram Sekar Mirah yang

mendekati kudanya.

Tetapi laki-laki itu justru tertawa. Katanya, “ Kau akan pergi

begitu saja setelah menampar pipiku perempuan cantik. Kau

harus mau mengobati pipiku yang sakit ini. Kau dengar?”

Wajah Sekar Mirah menjadi kemerah-merahan. Ketika lakilaki

itu tertawa, maka sekali lagi Sekar Mirah telah menampar

pipinya pula. Lebih keras dari sebelumnya. Orang itu terkejut.

Ia tidak mengira bahwa perempuan itu begitu berani

menampar pipinya sampai dua kali.

“ Jangan membuat aku marah.” berkata anak Demang

Wanda Karang itu, “ aku dapat berbuat lebih kasar lagi

meskipun kita berada dipinggir jalan. Orang-orangku akan

dapat mengusir orang-orang yang ingin menonton permainan

kita atau memaksa perempuan itu untuk pergi ke tengahtengah

padang ilalang di rawa-rawa dipinggir Kali Praga itu.”

Sekar Mirah sudah tidak berbicara lagi. Ia justru sekali lagi

memukul wajah laki-laki itu.

Laki-laki itu memang menjadi marah. Dengan nada keras ia

berkata, “ He, laki-laki cengeng. Kenapa kau diam saja? Kau

harus marah dan menantang aku berkelahi.”

Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “ Aku tidak

suka berkelahi. Tetapi karena perempuan itu yang telah kau

hinakan dan kau rendahkan martabatnya, maka ia tentu akan

marah. Jika kau tidak malu, biarlah kau berkelahi dengan

perempuan itu, atau kau tinggalkan ia.”

“ Pengecut. Kau mau apa he? Kenapa bukan kau yang

berkelahi?” desak laki-laki itu.

“ Yang sering berkelahi memang isteriku. Itu merupakan

kegemarannya. Jika kau menantangnya, ia akan senang

sekali menanggapinya.” jawab Agung Sedayu.

“ Persetan.” geram laki-laki itu. Namun tiba-tiba ia berkata

kepada orang-orangnya, “ Usir orang-orang yang akan

menonton itu. Atau pukuli mereka sampai pingsan.”

 

Para pengawalnya itupun kemudian telah mengusir orangorang

yang lewat, yang memang tertarik melihat pertengkaran

itu. Namun mereka menjadi ketakutan ketika orang-orang

bertubuh raksasa itu mengusir mereka.

Anak Demang Wanda Karang itu termangu-mangu sejenak.

Sementara Sekar Mirahpun berkata, “ Kau dengar katakata

suamiku. Suamiku bukan jenis orang yang suka

berkelahi. Tetapi akulah yang mempunyai kegemaran

berkelahi. Sudah tiga hari tiga malam aku tidak berkelahi.

Kebetulan sekali bahwa disini aku bertemu dengan seorang

yang ingin berkelahi.”

Telinga laki-laki itu memang mulai panas. Dengan nada

geram ia berkata, “ Aku tantang suamimu.”

“ Ia akan mewakilkan aku. Mau tidak mau. Jika kau

menolak, aku akan memukulimu sampai gigimu terlepas.

Tetapi jika kau menerima tantanganku, aku akan membuatmu

pingsan dan kakimu timpang.” bentak Sekar Mirah.

Laki-laki itu benar-benar marah. Sebagaimana

kebiasaannya, bahwa kemauannya tidak pernah ditolak oleh

orang-orang sekademangan, maka ia benar-benar tidak mau

menerima keadaannya itu.

Sementara itu, dengan nada tinggi ia kemudian berkata

lantang. “ Agaknya kau benar-benar belum mengenal iku.”

“ Memang aneh, bahwa kau belum pernah kami lihat

sebelumnya meskipun kau hanya tinggal di seberang bukitbukit

Menoreh.” berkata Agung Sedayu.

“ Aku memang baru saja kembali ke Kademangan.

Beberapa bulan yang lalu, setelah beberapa tahun aku

berguru di padepokan Pandean. Nah, sekarang kau akan

menjadi semakin menyesali tingkah lakumu. Aku kembali dari

padepokan Pandean dengan ilmu yang tinggi.”

Agung Sedayu memang mengerutkan keningnya ketika ia

mendengar bahwa orang itu baru saja kembali dari berguru

beberapa bulan yang lalu. Itulah agaknya yang telah

mempengaruhi sikapnya. Ketidak seimbangan antara

peningkatan kemampuan dan ilmu serta peningkatan

pengendapan diri. Dengan demikian maka seseorang akan

 

dapat menjadi sesongaran serta ilmunya bukannya diamalkan,

tetapi justru dipergunakannya untuk merugikan orang lain.

Orang orang yang demikian adalah justru orang-orang yang

sangat berbahaya.

Namun agaknya Sekar Mirah yang merasa terhina itupun

menyahut, “ Persetan dengan padepokan Pandean. Jika kau

tetap akan berbuat kasar dan menghinaku, maka kau akan

menyesal.”

Laki-laki itu justru telah bergeser mendekat, sehingga

Sekar Mirah terpaksa melangkah surut.

“ Aku memperingatkanmu.” berkata Sekar Mirah, “ jangan

mempermainkan aku.”

Tetapi laki-laki itu tidak menghiraukannya. Ia justru maju

selangkah mendekati Sekar Mirah.

Sekar Mirah tidak menahan dirinya lagi. Iapun kemudian

telah memukul dada laki-laki itu dengan telapak tangannya. Ia

bukan saja mempergunakan tenaga wajarnya, tetapi ia sudah

mempergunakan tenaga cadangannya meskipun baru

sebagian kecil. Tetapi karena peristiwa itu sama sekali tidak

diduganya, maka rasa-rasanya dada orang itu telah

membentur batu hitam.

Kecuali perasaan sakit yang menekan seluruh isi dadanya,

maka orang itupun telah terdorong surut beberapa langkah.

Bahkan hampir saja ia telah kehilangan keseimbangannya.

Namun dengan susah payah ia masih sempat

mempertahankan keseimbangannya itu sehingga ia tidak jatuh

terlentang.

Meskipun demikian, maka yang terjadi itu merupakan

penghinaan yang sangat besar bagi laki-laki yang nampak rapi

dan berwajah lunak itu. Tetapi ketika Sekar Mirah kemudian

memandangi wajahnya, maka tatapan yang lembut itu sudah

tidak nampak sama sekali. Yang terbayang diwajahnya

kemudian adalah kebencian yang membara.

“ Perempuan tidak tahu diri.” geram laki-laki itu, “ kau

berani menyakiti aku he? Aku adalah utusan pribadi ayah

Demang Wanda Karang untuk menemui Ki Tumenggung

Resayuda dan yang seterusnya akan menghadap

Panembahan Senapati.”

 

Sekar Mirah justru menjadi muak mendengar kata-kata lakilaki

yang mengaku anak Ki Demang Wanda Karang itu.

Dengan nada tinggi ia berkata, “ Yang patut dihormati itu

adalah Ki Tumenggung Resayuda dan yang patut disembah

adalah Panembahan Senapati. Bukan kau. Karena itu, tidak

pantas untuk menyombongkan diri sambil menyebut nama Ki

Tumenggung Resayuda itu. Apalagi Panembahan Senapati.”

“ Persetan.” sahut laki-laki itu, “ aku tidak peduli lagi.

Ternyata kalian memang orang-orang yang datang dari bukit

yang tidak mengerti arti kedudukan seorang Tumenggung.

Kau memang tidak akan dapat membayangkan betapa tinggi

kedudukannya dan betapa besar kuasanya. Karena itu, maka

sekarang kau berhadapan saja dengan aku. Aku harus

membuatmu jera, sehingga kau tidak akan menghina aku lagi.

Tanpa menyebut nama Ki Tumenggungpun aku akan dapat

membuatmu menyadari betapa kecilnya kau.”

“ Bagus.” berkata Sekar Mirah, “ sekarang kau mau apa?

Jika kau tidak malu dilihat orang banyak berkelahi dengan

seorang perempuan, apalagi aku.”

“ Kau mencoba mencari alasan untuk menghindari

kekerasan.” berkata laki-laki itu, “ tetapi aku tidak dapat

memaafkanmu lagi. Orang-orangku akan mengusir mereka

yang mencoba menonton kau aku pukuli sampai kau

menyembahku dan mencium kakiku.”

Tetapi Sekar Mirah tertawa. Katanya, “ Kita akan melihat,

siapakah yang akan berlutut dan menciumi telapak kaki. Aku

atau kau.”

Laki-laki itu benar-benar menjadi marah. Tiba-tiba saja

iapun mulai menyerang Sekar Mirah. Sebagai murid dari

padepokan Pandean yang dibanggakannya, maka orang itu

berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Dengan tangkas ia

telah melenting sambil mengayunkan tangannya, mengarah

ke wajah Sekar Mirah. Orang itu ingin membalas, betapa

pedihnya jika tangannya menyentuh pipi perempuan yang

garang itu.

Tetapi ternyata Sekar Mirah mampu bergerak lebih cepat.

Tangan itu terayun tanpa menyentuh wajah Sekar Mirah.

 

Bahkan dengan cepat pula Sekar Mirah justru telah memukul

pergelangan tangan orang itu dengan sisi telapak tangannya.

Orang itu terkejut. Ia tidak mengira bahwa Sekar Mirah

akan mampu melakukannya. Dengan tergesa-gesa ia

berusaha menarik tangannya yang terayun. Namun ia tidak

dapat membebaskan tangannya sepenuhnya dari sentuhan

sisi telapak tangan Sekar Mirah.

Ketika sisi telapak tangan Sekar Mirah mengenainya, sekali

lagi orang itu terkejut. Perempuan itu tidak hanya mampu

bergerak cepat. Tetapi tenaganya ternyata sangat besar,

sehingga rasa-rasanya tangan lawan Sekar Mirah yang

tersentuh dan telapak tangannya itu bagaikan menjadi retak.

Dengan tergesa-gesa orang itu meloncat surut beberapa

langkah untuk mengambil jarak. Ia ingin memperhatikan

keadaannya. Tangannya yang tersentuh sisi telapak tangan

Sekar Mirah itu terasa betapa nyerinya. Tetapi ia tidak sempat

melakukannya. Sekar Mirah tidak melepaskannya. Iapun telah

meloncat memburunya. Tangannyalah yang kemudian terayun

mengarah kedada lawannya.

Sekali lagi lawannya harus meloncat surut menghindari

serangan Sekar Mirah. Tetapi sekali lagi yang tidak

diduganya, Sekar Mirah yang diketahuinya sebagai seorang

perempuan, tidak saja menyerang dengan tangannya. Tetapi

demikian lawannya menghindar surut, maka tiba-tiba saja

Sekar Mirah telah berputar. Kakinyalah yang terayun satu

putaran, bertumpu pada kakinya yang lain.

Ternyata kaki Sekar Mirah yang berputar itu, tidak sempat

dihindarinya. Ia memang berusaha untuk menangkisnya

dengan sikunya. Tetapi ayunan kaki Sekar Mirah terlalu keras,

sehingga benturan yang terjadi tidak diduganya pula

sebagaimana serangan itu. Ternyata kekuatan Sekar Mirah

benar-benar luar biasa. Benturan yang terjadi telah

melemparkannya keberapa langkah surut. Bahkan orang yang

menyebut dirinya Ki Demang Wanda Karang itu telah

terbanting jatuh.

Untuk melepaskan diri dari serangan berikutnya, orang itu

telah berguling menjauh. Sambil mengerahkan tenaganya ia

telah melenting berdiri. Tetapi geraknya terlalu lamban bagi

 

Sekar Mirah. Demikian orang itu tegak, maka kaki Sekar Mirah

telah mengenai dadanya sehingga sekali lagi orang itu

terlempar jatuh.

Terdengar keluhan kesakitan. Punggung orang itu seakanakan

telah menjadi patah. Untunglah mereka berkelahi di

tepian Kali Praga yang berpasir, sehingga keadaan orang itu

tidak terlalu parah. Namun demikian, orang itu telah

mengumpat kasar. Ketika ia melihat Sekar Mirah berdiri tegak,

maka sekali lagi ia berguling. Kemudian dengan hati-hati ia

bangkit dan duduk sambil menyilangkan tangannya didada.

Tetapi Sekar Mirah tidak menyerangnya. Ia berdiri tegak

sambil bertolak pinggang.

Ketika orang yang mengaku anak Ki Demang Wanda

Karang itu bangkit sendiri. Sekar Mirah berkata lantang. “ Aku

dapat menghancurkan kepalamu, murid padepokan Pandean.

Apa yang sebenarnya kau banggakan dari perguruanmu itu?

Apa pula yang dapat kau tunjukkan kepada Ki Tumenggung

Resayuda bahwa kau adalah anak Ki Demang Wanda Karang

yang berilmu tinggi? Mungkin kau memang membawa

pertanda dari Ki Demang Wanda Karang. Tetapi apa yang kau

bawa itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa tanpa

menunjukkan bukti bahwa kau memang anak Ki Demang yang

berilmu tinggi itu. Ki Tumenggung tidak akan percaya bahwa

anak Ki Demang Wanda Karang ternyata hanyalah seorang

laki-laki yang mampu berbicara panjang namun bersikap

terlalu lemah melampaui seorang perempuan. He, ingat, aku

adalah seorang perempuan.”

Anak Ki Demang Wanda Karang itu menggeram. Tetapi

perempuan itu benar-benar seorang perempuan yang berilmu

tinggi. Karena itu ia memang harus sangat berhati-hati.

Bahkan ia merasa tanpa senjata ia tidak akan dapat

mengalahkan perempuan itu. Dengan garangnya, maka anak

Ki Demang itu telah menarik pedangnya.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Pedang orang itu

benar-benar sebilah pedahg yang luar biasa. Pedang yang

berwarna agak kehitam-hitaman dengan pamor yang

membujur dari pangkal sampai ke ujung. Agaknya pedang itu

telah dibuat sebagaimana seseorang membuat keris,

 

sehingga dengan demikian maka pedang itu nampaknya

mengandung racun warangan seperti kebiasaan sebilah keris.

“ Kenapa kau menjadi pucat perempuan gila.” geram lakilaki

itu, “ salahmu jika kau mengalami bencana sekarang ini.

Jika kau mati, maka tidak akan ada seorangpun yang berani

menuntut aku karena aku adalah seseorang yang mempunyai

hubungan dengan Ki Tumenggung Resayuda.”

“ Hentikan bualanmu tentang Ki Tumenggung. Kau kira Ki

Tumenggung itu bangga bahwa namanya kau sebut-sebut.

Bahwa kuasanya kau pergunakan untuk menakut-nakuti

orang?”

“ Baik. Tanpa Ki Tumenggung, maka aku akan

menyelesaikanmu. Pedangku adalah pedang yang lain dari

kebanyakan pedang. Kau lihat pamornya yang menyala?”

bertanya laki-laki itu.

Sekar Mirah memang termangu-mangu. Ia tidak mau

terkena akibat dari kelengahannya, karena lawannya

bersenjata. Ia tidak seperti Agung Sedayu yang kebal akan

bisa dan racun. Meskipun kemampuan Agung Sedayu

membawa beberapa obat, tetapi lebih baik baginya untuk tidak

perlu berobat di tengah perjalanan itu.

Karena itu, maka iapun berkata kepada Glagah Putih, “

Tolong, berikan tongkatku.”

Glagah Putih yang tahu pasti, bahwa tongkat Sekar Mirah

berada di pelana kudanya, maka iapun dengan serta merta

tidak mengambilnya dan memberikannya kepada Sekar Mirah.

“ Kau pernah melihat tongkat seperti ini?” bertanya Sekar

Mirah ketika tongkatnya telah berada ditangannya.

Orang itulah yang kemudian menjadi berdebar-debar.

Tongkat itu memang agak aneh. Apalagi kepala tongkat itu

adalah sebuah tongkat kecil yang terbuat dari logam yang

terpilih. Sementara batang tongkatnya yang putih itu

memberikan kesan tersendiri.

“ Aku akan mengimbangi pedangmu dengan senjata ini.

Tetapi jika aku terlanjur bermain dengan senjata, maka

akibatnya mungkin akan sangat pahit bagimu.” berkata Sekar

Mirah.

 

Tetapi orang itu menjawab, “ Kau harus mengenal lebih

dahulu ilmu pedang dari perguruan Pandean. Baru kau akan

dapat memberikan penilaian.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Meskipun ia tahu

bahwa lawannya bukan seorang yang memiliki kekuatan dan

kemampuan yang besar, tetapi ia tidak boleh

mengabaikannya.

“ Mungkin ia memang memiliki ilmu pedang yang tinggi.”

berkata Sekar Mirah didalam hatinya.

Sejenak keduanya bersiap-siap. Para pengawal Ki Demang

Wanda Karang itu menjadi tegang. Mereka agaknya mengenal

kemampuan ilmu pedang anak Ki Demang itu.

“ Jangan berdiri kebingungan seperti itu.” berkata anak Ki

Demang, “ usir setiap orang yang akan menonton bagaimana

aku menghancurkan seorang perempuan sombong.

Perempuan yang tentu akan berlutut dan mencium telapak

kakiku.”

Tetapi orang itu tiba-tiba terkejut. Tongkat Sekar Mirah

terayun deras, sehingga anginpun telah ikut pula berdesing

menyambar tubuh anak Ki Demang itu. Anak Ki Demang ini

benar-benar tidak menyangka. Iapun dengan serta merta telah

meloncat beberapa langkah surut.

Sekar Mirah justru tertawa. Katanya, “ Tidak usah terkejut

Ki Sanak. Aku tidak benar-benar berusaha mematahkan

lehermu.”

“ Persetan perempuan sombong.” sahut orang itu, “ kau

kira dengan membuat gerakan-gerakan seperti itu kau dapat

membuat aku takut?”

“ O” Sekar Mirah mengerutkan dahinya, “ siapa yang

mengatakan bahwa kau takut? Kau sendiri?”

“ Persetan.” geram orang itu.

Namun sejenak kemudian pedangnyapun telah berputar.

Beberapa kali orang itu bergerak sambil mempermainkan

pedangnya. Bergeser dari satu sisi kesisi yang lain. Ternyata

bahwa orang itu memang menguasai ilmu pedang. Karena itu

Sekar Mirah memang harus berhati-hati. Ketika pedang

lawannya mulai mematuk, maka Sekar Mirahpun mulai

 

bergeser pula. Iapun telah memutar tongkatnya pula,

sebagaimana dilakukan oleh lawannya.

Sejenak kemudian, maka pertempuran menjadi semakin

seru. Keduanya telah mempergunakan senjata mereka

masing-masing. Mereka ternyata memang memiliki

kemampuan dan kekuatan yang tinggi. Namun agaknya anak

Ki Demang itu masih terbatas pula kemampuan dan

ketrampilan kewadagan. Karena itu, ketika tongkat Sekar

Mirah berputar semakin cepat dilambari dengan kekuatan

cadangan didalam dirinya, sehingga putaran tongkatnya itu

bagaikan bersiul karenanya, hati anak Ki Demang itu memang

berdebar-debar.

“ Ilmu iblis manakah yang menyusup didalam diri

perempuan itu?” bertanya anak Ki Demang itu didalam

hatinya.

Namun ketika sekali-sekali senjata mereka bersentuh,

maka jantung anak Ki Demang itu menjadi semakin berdebardebar.

Ternyata perempuan itu benar-benar bukan perempuan

kebanyakan. Kekuatannyapun bukan kekuatan seorang

perempuan. Tetapi anak Ki Demang itu sudah terlanjur

menarik pedang dari sarungnya. Sehingga karena itu, maka

iapun telah berusaha dengan segenap kemampuan yang pada

dirinya untuk menguasai lawannya yang tidak lebih dari

seorang perempuan. Namun ternyata usahanya sia-sia.

Semakin lama maka iapun justru menjadi semakin terdesak.

Glagah Putih yang sejak semula telah menahan diri

menghadapi sikap anak Ki Demang itu, tiba-tiba telah

bergeser mendekat. Hampir diluar sadarnya, Glagah Putih

telah bertepuk tangan ketika anak Ki Demang itu terdorong

surut.

Untuk menghindari ujung tongkat Sekar Mirah yang

bagaikan memburunya, orang itu telah menggeliat. Namun

justru ia telah terjatuh terlentang. Karena itu, maka iapun telah

berguling untuk mengambil jarak dan meloncat bangkit. Sekar

Mirah tidak memburunya. Ia memang memberi kesempatan

laki-laki itu untuk berdiri.

Tetapi laki-laki itu menjadi marah pula kepada Glagah

Putih. Ia menganggap Glagah Putih telah menghinanya

 

dengan sengaja karena anak muda itu telah bertepuk tangan

justru pada saat ia terlempar jatuh.

Karena itu maka orang itupun kemudian mengumpat kasar,

“ Anak gila. Kaupun harus mendapatkan pelajaran, agar kau

sadari kebodohanmu.”

“ Bukankah aku tidak berbuat sesuatu?” berkata Glagah

Putih.

“ Kenapa kau bertepuk tangan?” wajah anak Ki Demang itu

menjadi merah.

Glagah Putih tersenyum. Katanya, “ Kau terlalu sombong

sehingga kau telah salah menilai lawanmu. Bahkan setelah

kau jatuh bangun kau masih juga belum menyadari apa yang

sebenarnya telah terjadi atas dirimu.”

Orang itu menggeretakkan giginya, sementara Sekar Mirah

masih saja berdiri sambil menimang tongkatnya.

Kemarahan orang itu benar-benar tidak terkendali. Karena

itu, maka tiba-tiba saja ia berteriak kepada para pengawalnya,

“ Tangkap anak ini. Ikat dan kita akan menyeretnya dibelakang

punggung kuda dan membawanya menghadap Ki

Tumenggung.”

Ketiga orang pengawalnya yang mendapat perintah itupun

segera bersiap. Namun dalam pada itu Glagah Putih masih

sempat menjawab, “ Aku sudah membawa kuda sendiri.”

Kemarahan orang itu menjadi semakin membakar jantung.

Karena itu, maka iapun berteriak, “ Cepat, tangkap dan ikat

kelinci itu.”

Ketiga orang itupun segera mulai bergerak. Mereka

mengepung Glagah Putih dari tiga jurusan.

Anak Ki Demang itupun telah berteriak pula, “ Cepat.

Apalagi yang kau tunggu.”

Ketiga orang itupun dengan serta merta telah meloncat

menyerang Glagah Putih yang masih berdiri termangu-mangu.

Sekar Mirah menyaksikan serangan itu dengan jantung

yang berdebar-debar. Bahkan Agung Sedayu menjadi cemas.

Bukan karena keselamatan Glagah Putih, tetapi justru

sebaliknya. Pergaulan Glagah Putih dengan Raden Rangga

agaknya memang berpengaruh atas sifat-sifat Glagah Putih.

Dan yang dicemaskan Sekar Mirah dan Agung Sedayu itu

 

memang terjadi, meskipun tidak memungut nyawa dari salah

seorang diantara lawan-lawannya.

Perkelahian antara Glagah Putih dan ketiga orang

pengawal anak Ki Demang itu hanya berlangsung singkat.

Glagah Putih telah berloncatan bagaikan burung sikatan.

Demikian cepat, seakan-akan hanya satu putaran gerak.

Namun ketiga orang lawannya telah terlempar jatuh. Dua

orang diantara mereka tidak segera dapat bangkit kembali,

sementara yang seorang berusaha untuk berdiri. Tetapi

keseimbangannya tidak segera dapat dipulihkan. Ia masih

terhuyung-huyung sesaat. Meskipun ia berhasil berdiri diatas

kedua kakinya, namun dadanya masih saja terasa bagaikan

tersumbat.

Glagah Putih berdiri tegak sambil tertawa kecil. Katanya, “

Sekali lagi terjadi kesalahan. Bangkitlah. Jika kalian masih

ingin bermain-main, kita akan melakukannya. Kami tidak

tergesa-gesa.”

Dua orang yang masih terbaring itu menggeliat. Tetapi

punggung mereka memang terasa bagaikan patah.

“ Marilah.” ulang Glagah Putih.

Dalam pada itu, anak Ki Demang itu memang menjadi

marah bukan kepalang. Dengan keras ia berteriak, “ He,

ternyata kalian adalah tikus-tikus buruk. Aku akan

melaporkannya kepada ayah tentang kalian. Apa yang dapat

kalian lakukan he? Buat apa ayah memerintahkan kalian

menyertai aku?”

“ Jangan mengumpat-umpat.” Glagah Putihlah yang

menjawab sambil tertawa. Katanya kemudian, “ Bukan orangorangmu

yang bagaikan tikus buruk. Tetapi ilmuku, adalah

ilmu yang diturunkan dari langit, dari antara awan yang

berarak, menyadap kekuatan mendung yang mengandung

petir serta mengetrapkan kekuatan lesus dan prahara.”

“ Glagah Putih.” Agung Sedayu melangkah mendekatinya,

“ Kau jangan mempermainkan mereka terlalu jauh.”

Glagah Putih berpaling. Tetapi iapun kemudian menarik

nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia menyadari, bahwa yang

berdiri di belakangnya adalah kakak sepupunya, Agung

Sedayu. Bukan Raden Rangga.

 

Sementara itu Agung Sedayupun kemudian berkata, “ Ki

Sanak. Tinggalkan tempat ini. Semakin cepat semakin baik

daripada kalian akan menjadi tontonan orang banyak.”

Orang itu memandang Agung Sedayu dengan wajah yang

tegang. Namun ia menyadari, bahwa dari sorot matanya,

orang itu akhirnya mengenal bahwa Agung Sedayu tentu

memiliki kelebihan dari perempuan dan anak muda itu.

Karena itu, maka anak Ki Demang Wanda Karang itu harus

berpikir ulang. Laki-laki yang disebut suami perempuan yang

memiliki kemampuan yang luar biasa serta tongkat yang

menggetarkan jantungnya itu, maka laki-laki itu tentu akan

dapat berbuat jauh lebih banyak.

Karena itu, maka anak Ki Demang itupun kemudian telah

memilih untuk menghentikan usahanya menghukum orangorang

yang dianggapnya telah menyakiti hatinya itu. Karena

itu, maka iapun telah bergeser selangkah surut.

Agaknya Sekar Mirahpun telah jemu dengan permainan itu.

Karena itu, maka tanpa mengatakan sepatah katapun, iapun

segera melangkah ke kudanya, diikuti oleh Glagah Putih.

Setelah menyelipkan tongkatnya, maka Sekar Mirahpun

kemudian dengan tangkasnya meloncat ke punggung

kudanya. Memang tidak ada yang dapat membedakan, bahwa

ia adalah seorang perempuan tanpa melihat ciri-cirinya dari

dekat. Terutama suara Sekar Mirah.

Agung Sedayupun kemudian telah berada dipunggung

kudanya pula, disusul oleh Glagah Putih yang kemudian

duduk dipunggung kudanya yang tegap tegar dan yang jarang

ada duanya itu.

Tanpa berpaling maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan

Glagah Putihpun telah meninggalkan tempat itu. Beberapa

orang yang menonton dari kejauhanpun telah meninggalkan

tempatnya. Mereka menduga, bahwa orang-orang yang kalah

itu tentu akan melepaskan kemarahannya kepada mereka

yang menonton perkelahian itu.

Namun dalam pada itu, masih terdengar suara anak Ki

Demang, “ Hati-hatilah kalian. Aku membawa pertanda untuk

menghadap Ki Tumenggung Resayuda dan Panembahan

Senapati itu sendiri.”

 

Ketiga orang berkuda itu sama sekali tidak menghiraukan

meskipun mereka juga mendengarnya. Demikianlah, maka

ketiga orang itupun telah berpacu meninggalkan tepian Kali

Praga. Agaknya mereka telah terhambat beberapa saat untuk

melayani seorang laki-laki yang terlalu berbangga karena ia

akan menghadap Ki Tumenggung Resayuda.

Sambil membenahi pakaiannya, Sekar Mirah bertanya

kepada Agung Sedayu, “ Apakah kau pantas menghadap

Panembahan Senapati dengan pakaian seperti ini?”

“ Kita tidak menghadap Panembahan Senapati dalam

pasowanan. Kita akan mohon menghadap secara pribadi.

Agaknya Panembahan Senapati dapat memahami keadaan

kita, sehingga mudah-mudahan Panembahan Senapati tidak

menganggap kita telah berlaku deksura,” jawab Agung

Sedayu.

“ Jika demikian, sebaiknya kakang saja dahulu menghadap.

Aku akan menunggu. Jika agaknya Panembahan Senapati

dapat menerima aku dalam keadaan seperti ini, aku akan ikut

menghadap. Tetapi jika sebaiknya tidak, aku akan menunggu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti

perasaan Sekar Mirah. Bagaimanapun juga ia tidak

mengenakan pakaian yang pantas dari seorang

perempuan.Bahkan justru karena pakaiannya itulah ia telah

berselisih dengan anak Demang Wanda Karang. Jika Sekar

Mirah berpakaian seperti kebanyakan perempuan, mungkin ia

justru tidak akan banyak menarik perhatian anak Demang

Wanda Karang itu.

Ternyata perjalanan mereka selanjutnya tidak mengalami

hambatan lagi. Mereka kemudian memasuki gerbang kota

Mataram tanpa kesulitan. Orang-orang termasuk para petugas

di pintu gerbang memang menyangka bahwa yang bersamasama

dengan Agung Sedayu itu adalah dua orang anak muda.

Seorang prajurit yang telah mengenal Agung Sedayu

bertanya di dalam hati, “ Anak siapa lagi yang dibawa oleh

Agung Sedayu itu setelah Glagah Putih.”

Demikianlah, maka tanpa kesulitan Agung Sedayupun telah

memasuki halaman istana justru karena seorang perwira yang

 

bertugas telah mengenalnya. Dan bahkan telah membawanya

kepada seorang pelayan dalam.

“ Jika Panembahan Senapati berkenan, kami akan

menghadap.” berkata Agung Sedayu kepada pelayan dalam

itu.

“ Paseban baru saja selesai.” berkata pelayan dalam itu, “

banyak hal yang dibicarakan. Agaknya Panembahan Senapati

merasa letih.”

“ Cobalah, sampaikan permohonanku. Aku akan

menghadap secara pribadi.” berkata Agung Sedayu

kemudian.

Kemudian ketika pelayan dalam itu masuk keruang dalam,

Agung Sedayu berkata kepada perwira yang telah

mengenalnya itu, “ Biarlah isteriku menunggu. Kami berdua

akan menghadap lebih dahulu. Baru jika Panembahan

Senapati berkenan, isteriku akan aku panggil.”

“ Kenapa?” bertanya perwira itu.

“ Ia tidak mengenakan pakaian yang pantas untuk

menghadap. Pakaian yang dipakainya adalah pakaian

perjalanan.” jawab Agung Sedayu.

Perwira itu hanya mengangguk-angguk saja. Ia sama sekali

tidak dapat menduga, apa yang akan dikatakan oleh

Panembahan Senapati tentang perempuan yang tidak

berpakaian wajar itu. Namun menilik hubungan yang akrab

antara Panembahan Senapati dengan Agung Sedayu sejak

mereka masih sering mengembara, maka ada beberapa

kemungkinan dapat terjadi.

Betapa letihnya Panembahan Senapati, ternyata Agung

Sedayu telah diterimanya juga. Bukan hanya sekedar karena

telah berhubungan akrab. Tetapi Panembahan Senapati telah

menduga bahwa ada perkembangan baru telah terjadi di

Tanah Perdikan.

Bahkan ketika Agung Sedayu menyebut tentang isterinya

yang ikut bersamanya, namun dengan mengenakan pakaian

perjalanan yang tidak pantas untuk menghadap, Panembahan

Senapati berkata, “ Panggil ia kemari. Biarlah ia ikut

mendengar, apa yang kita bicarakan.”

 

Agung Sedayu mengangguk hormat. Tetapi ia masih juga

ragu-ragu. Karena itu, maka katanya, “ Hamba mohon ampun

Panembahan. Isteri hama mengenakan pakaian perjalanan

yang sama sekali kurang pantas bagi seorang perempuan

yang menghadap Panembahan.”

“ Dalam keadaan khusus, maka aku perkenankan isterimu

menghadap dengan pakaian perjalanan. Aku tahu, bahwa

Sekar Mirah tentu memakai pakaian seorang laki-laki.

Sementara pakaian perjalanan perempuan lain masih juga

tetap memakai kain panjang.” berkata Panembahan Senapati.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia

kemudian bergeser surut untuk memanggil isterinya untuk

menghadap Panembahan Senapati yang menerimanya di

serambi.

Betapa canggungnya Sekar Mirah dalam pakaiannya

menghadap Panembahan Senapati. Tetapi Panembahan

sendiri telah mengatakan, “ Jangan segan. Aku telah

mengijinkan kau menghadap dengan pakaianmu yang sudah

aku bayangkan sebelumnya.”

“ Hamba Panembahan.” sahut Sekar Mirah dengan kepala

tunduk, “ hamba mohon ampun atas tingkah laku hamba ini.”

Panembahan Senapati tertawa. Katanya, “ Kau nampak

semakin meyakinkan sebagai murid Sumangkar.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi kepalanya menjadi

semakin tunduk.

Dalam pada itu, maka Panembahan Senapatipun kemudian

mendengarkan dengan saksama laporan Agung Sedayu

tentang kegiatan orang-orang yang berasal dari daerah Timur

yang tentu digerakkan oleh orang yang paling berpengaruh.

“ Tetapi aku yakin, pamanda Panembahan Madiun masih

belum akan bertindak sedemikian jauh.” berkata Panembahan

Senapati. Namun kemudian suaranya rendah, “ Namun aku

menjadi semakin berprihatin. Meninggalnya adimas Pangeran

Benawa merupakan persoalan baru yang menambah

keruhnya hubungan antara Pajang dan Madiun. Aku,

Panembahan Senapati merasa berwenang untuk menunjuk

penggantinya, karena selama ini Pajang memang berada

dibawah lingkungan kesatuan dengan Mataram, seharusnya

 

demikian pula dengan Madiun. Karena adimas Pangeran

Benawa tidak meninggalkan pesan apapun, maka semua hak

atas Pajang kembali kepadaku sebagaimana aku pernah

menyerahkannya kepada adimas pangeran. Tetapi mungkin

pamanda Panembahan mempunyai pendapat lain.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

Namun kemudian Panembahan Senapatipun berkata, “

Tetapi bukan berarti bahwa semua kemungkinan telah

tertutup. Aku masih berusaha untuk berbicara dengan

pamanda Panembahan Madiun. Sementara itu, pesanku, juga

kepada adik seperguruanmu di Sangkal Putung, berhatihatilah.

Agaknya akan banyak tugas yang harus kita lakukan

kemudian.”

Agung Sedayu mengangguk hormat. Dengan nada rendah

ia menyahut, “ Hamba Panembahan. Hamba dan seisi Tanah

Perdikan Menoreh akan melakukannya. Demikian pula akan

hamba sampaikan pula kepada adi Swandaru di Sangkal

Putung.”

“ Terima kasih.” berkata Panembahan Senapati, “ mudahmudahan

kita masih dapat memelihara ketenangan untuk

seluruh wilayah kesatuan Mataram yang luas.”

Dengan panjang lebar, Panembahan Senapati

mengutarakan angan-angannya tentang masa depan

Mataram. Meskipun secara garis besar, namun sudah nampak

betapa perhatian Panembahan Senapati menyusup disegala

lekuk dan liku kehidupan Mataram sampai tataran yang

terendah.

Sementara itu, justru Agung Sedayu, Sekar Mirah dan

Glagah Putih diterima oleh Panembahan Senapati di serambi,

maka tidak begitu banyak ikatan-ikatan paugeran yang

membatasi mereka. Mereka dapat lebih bebas berbicara

sebagaimana dua orang yang sudah lama mengenal yang

satu dengan yang lain, meskipun pada akhirnya mereka

berada pada tataran kedudukan yang terpisah jauh. Bahkan

Panembahan Senapati sempat memerintahkan untuk

menghidangkan minuman bagi tamu-tamunya.

Dalam pada itu, selagi Panembahan Senapati dan tamutamunya

sibuk berbincang, maka telah menghadap seorang

 

pelayan dalam yang memberitahukan bahwa Ki Tumenggung

Resayuda akan menghadap.

“ Ki Tumenggung Resayuda?” bertanya Panembahan

Senapati.

“ Hamba Panembahan.” jawab pelayan dalam itu.

“ Bukankah Ki Tumenggung datang menghadap di paseban

tadi?” bertanya Panembahan Senapati pula.

“ Hamba Panembahan. Tetapi Ki Tumenggung, apabila

Panembahan berkenan ingin meghadap barang sebentar.”

berkata pelayan dalam itu.

Panembahan Senapati termangu-mangu sejenak. Namun

kemudian katanya, “ Baiklah. Biarlah ia masuk.”

Ketika pelayan dalam itu bergeser mundur Panembahan

Senapati berkata, “ Ki Tumenggung tahu bahwa aku berada

disini bersama beberapa orang tamu.”

Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih memang

menjadi berdebar-debar. Agaknya Ki Tumenggung itulah yang

disebut-sebut oleh anak Ki Demang Wanda Karang.

Ketika kemudian Ki Tumenggung menghadap masuk,

Agung Sedayu terkejut. Ternyata ia sudah mengenal

Tumenggung itu. Tetapi namanya bukan Resayuda. Karena

itu, agaknya Ki Tumenggung baru saja mendapat semacam

anugerah nama baru yang biasanya mengiringi pangkat atau

jabatan yang baru pula.

“ Apakah Ki Tumenggung sudah mengenal mereka?”

bertanya Panembahan Senapati.

“ Hamba Panembahan. Hamba telah mengenal mereka

dengan baik.” jawab Ki Tumenggung.

“ Namun yang hamba kenal, namanya bukan Ki

Tumenggung Resayuda.” desis Agung Sedayu.

Ki Resayuda tersenyum sambil menunduk. Sementara itu

sambil tertawa pendek Panembahan Senapati berkata, “ Ki

Tumenggung telah mencapai tataran yang lebih tinggi.”

Agung Sedayupun tertawa. Iapun kemudian berkata, “ Aku

mengucapkan selamat Ki Tumenggung.”

“ Terima kasih.” berkata Ki Resayuda, “ mudah-mudahan

aku dapat melakukan tugasku lebih baik.”

 

Namun dalam pada itu, Panembahan Senapatipun

bertanya, “ Apakah yang penting kau sampaikan kepadaku?”

“ Ampun Panembahan.” berkata Ki Resayuda, “ hamba

telah menerima anak Ki Demang Wanda Karang.”

Panembahan Senapati mengerutkan keningnya. Iapun

kemudian bertanya, “ Siapakah yang kau maksud?”

“ Seorang Demang, Panembahan. Hamba telah

mengenalnya dengan baik. Ia telah memerintahkan anaknya

untuk menemui hamba, sekedar menyatakan kesetiaannya

kepada Mataram Namun sebenarnyalah Ki Demang ingin

memenuhi keinginan anaknya untuk sekali-sekali datang ke

istana Mataram. Ada keinginannya untuk dapat berkenalan

dengan para Senapati, dan bahkan apabila berkenan dihati

Panembahan, orang itu ingin menghadap barang sejenak.

Namun segala sesuatunya terserah kepada Panembahan.”

berkata Ki Tumenggung.

Ternyata bahwa hati Panembahan Senapati cukup lapang

untuk menerima keinginan rakyatnya. Apalagi sekedar

menghadap. Dengan nada rendah ia berkata, “ Anak Ki

Demang itu tentu akan dengan bangga kembali ke

Kademangannya.”

“ Hamba Panembahan. Ia akan dapat berceritera, bahwa ia

telah menghadap Panembahan Senapati di Mataram.”

berkata Ki Tumenggung Resayuda.

Panembahan Senapati tertawa. Bahkan Panembahan

Senapati itupun bertanya kepada Agung Sedayu, “ Apakah

kau juga berbangga karena kau telah menghadapi aku?”

“ Hamba Panembahan.” jawab Agung Sedayu dengan

serta merta, mengerti perasaan itu.

“ Karena itu, maka aku perkenankan ia menghadap.”

Bahkan Panembahan Senapati berkata, “ Bukankah

Kademangan Wanda Karang itu merupakan tetangga Tanah

Perdikan Menoreh?”

“ Hamba Panembahan.” jawab Agung Sedayu.

“ Jika demikian, apakah kalian sudah mengenal anak Ki

Demang itu?” bertanya Panembahan Senapati.

 

“ Hamba telah mengenal Ki Demang Wanda Karang.”

jawab Agung Sedayu, “ tetapi justru anaknya hamba belum

mengenalnya.”

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Lalu katanya

kepada Ki Tumenggung, “ Baiklah. Aku beri kesempatan ia

menghadap. Pembicaraanku dengan tamu-tamuku sudah

selesai.”

“ Hamba Panembahan. Biarlah hamba membawanya

menghadap.” desis Ki Temanggung.

Sementara itu, Sekar Mirah dan Glagah Putih saling

berpandangan sejenak. Orang itu agaknya adalah orang yang

mereka jumpai di pinggir Kali Praga. Tetapi keduanya tidak

berkata apapun juga.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka Ki Tumenggung

yang telah memanggil anak Ki Demang itu telah membawanya

menghadap. Dengan gemetar anak Ki Demang itu naik ke

serambi. Demikian ia berada di depan pintu, maka iapun telah

berjongkok sebagaimana dilakukan oleh Ki Tumenggung.

Sambil berjongkok mereka telah memasuki serambi dengan

kepala tunduk.

Sebenarnyalah bahwa berbagai perasaan telah bergejolak

di dalam hati anak Ki Demang itu. Sebagaimana dikatakan

oleh Ki Tumenggung, bahwa orang itu telah merasa sangat

berbangga dapat langsung menghadap Panembahan

Senapati di Mataram. Jika ia kembali ke Kademangannya,

maka ia akan dapat berceritera kepada semua orang di

Kademangan itu, bahwa ia telah menghadap Panembahan

Senapati.

“ Kalau saja orang-orang liar di Kali Praga itu mengetahui,

bahwa hari ini aku telah menghadap Ki Tumenggung

Resayuda dan kemudian langsung dapat bertemu berhadapan

dengan Panembahan Senapati.” berkata orang itu didalam

hatinya.

Dalam pada itu, Panembahan Senapatipun bertanya, “

Apakah kau memang anak Demang Wanda Karang?”

Jantung orang itu berdegup semakin keras. Karena itu,

dengan suara bergetar sambil menundukkan wajahnya ia

 

menjawab, “ Ampun panembahan. Hamba memang anak Ki

Demang Wanda Karang.”

“ Siapakah namamu?” bertanya Panembahan Senapati.

Orang itu termangu-mangu. Ia memang lebih senang

memperkenalkan diri dengan sebutan anak Demang Wanda

Karang. Jika ia menyebut namanya, maka mungkin orang itu

tidak mengetahui, bahwa ia adalah anak Demang Wanda

Karang.

Tetapi dihadapan Panembahan Senapati ia tidak dapat

berbuat demikian. Karena itu, maka iapun telah menyebut

namanya. “ Ampun Panembahan. Jika sudi menyebut nama

hamba adalah Suramerta.”

“ Suramerta.” ulang Panembahan Senapati. Lalu katanya, “

Apakah kau mempunyai keperluan tertentu?”

“ Ampun Panembahan. Hamba mendapat perintah dari

ayah hamba untuk menghadap Ki Tumenggung Resayuda

yang sudah mengenal ayah hamba sebelumnya. Ayah hamba

ingin menyampaikan tanda kesetiaan dan melaksanakan

semua pesan Ki Tumenggung Resayuda. Sementara itu,

betapa besar keinginan hamba untuk dapat menghadap

Panembahan Senapati, apalagi hamba sudah berada di

Mataram.” jawab orang itu sambil menunduk.

Namun dalam pada itu, Panembahan Senapati telah

berkata, “ Tetapi sebelum kau datang, aku telah menerima

tamu dari Tanah Perdikan Menoreh. Bukankah

Kademanganmu bertetangga dengan Tanah Perdikan

Menoreh. Apakah kau belum mengenal sahabat-sahabatku

dari Tanah Perdikan Menoreh ini.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Ia memang tidak berani

mengangkat wajahnya. Namun karena pertanyaan itu, maka

anak Ki Demang yang bernama Suramerta itu telah

memberanikan diri untuk sedikit menengadah untuk

memandang orang-orang yang ada di ruang itu.

Tetapi alangkah terkejutnya anak Ki Demang Wanda

Karang itu. Tamu-tamu Panembahan Senapati sebagaimana

dikatakan oleh Panembahan itu sendiri, adalah orang-orang

yang ditemuinya di Kali Praga. Hampir diluar sadarnya, anak

Ki Demang Wanda Karang itu berdesis, “ Kau?”

 

Panembahan Senapati mengerutkan keningnya. Dengan

nada rendah ia berkata, “ Jadi kalian telah mengenal?”

Agung Sedayulah yang menyahut, “ Sebelumnya kami

belum saling mengenal Panembahan. Tetapi kami telah

bertemu disaat kami menyeberang Kali Praga. Hanya sekilas.

Sesudah itu kami menempuh jalan yang agaknya berbeda.”

Suramerta, anak Ki Demang Wanda Karang itu

menundukkan kepalanya semakin dalam. Ia tidak berani lagi

memandang wajah Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah

Putih. Bahkan tiba-tiba saja perasaan malu telah bergejolak

didalam hatinya. Ternyata ia tidak akan dapat

menyombongkan diri kepada orang-orang yang dianggapnya

orang-orang tersisih di Tanah Perdikan itu, karena jusru

orang-orang itu telah lebih dahulu menghadap Panembahan

Senapati. Bahkan nampaknya orang-orang itu telah terbiasa

menghadap dan tidak lagi merasa canggung untuk berbicara

dihadapan Panembahan Senapati itu.

“ Memang agak aneh.” berkata Panembahan Senapati, “

bukankah kalian bertetangga meskipun dibatasi oleh

pebukitan.”

“ Seperti telah hamba katakan.” jawab Agung Sedayu, “

hamba telah mengenal Ki Demang Wanda Karang. Tetapi

hamba belum mengenal Ki Suramerta, anak Ki Demang ini.”

“ Bagaimana itu dapat terjadi.” desis Panembahan

Senapati, “ apakah kau jarang berada di Kademanganmu,

Suramerta?”

“ Ampun Panembahan.” jawab anak Ki Demang itu dengan

kepala yang semakin menunduk, “ untuk waktu yang lama

hamba memang jarang berada di Kademangan. Hamba telah

berada di padepokan Pandean, karena ayah hamba

menginginkan hamba untuk belajar. Ayah hamba ingin jika

waktunya datang, hamba dapat melakukan tugas hamba

dengan baik.”

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Lalu katanya,

“ Nah, jika kau mempunyai permintaan, katakanlah. Atau

barangkali pendapat yang berarti bagi Kademanganmu?”

 

“ Ampun Panembahan. Hamba hanya ingin menghadap.

Hamba tidak mempunyai pendapat apapun juga.” jawab anak

Ki Demang.

Panembahan Senapati mengerutkan keningnya. Lalu

katanya, “ Baiklah. Tetapi untuk kesempatan yang lain,

sebaiknya kau datang dengan satu sikap. Mungkin tentang

Kademanganmu atau tentang hubungannya dengan Mataram

ini atau apapun yang berarti bagi Kademanganmu. Dengan

demikian maka kedatanganmu tidak terlalu sia-sia. Tetapi

agaknya kali ini kau sekedar ingin memperkenalkan dirimu.”

Wajah anak Ki Demang itu menjadi semakin tunduk.

Apalagi ketika Panembahan Senapati itu berkata, “ Untuk

selanjutnya, kau dapat selalu berhubungan dengan Agung

Sedayu ini. Atau istrinya Sekar Mirah atau adik sepupunya

Glagah Putih, yang meskipun masih sangat muda, tetapi ia

telah melakukan banyak hal yang berarti bagi Tanah Perdikan

Menoreh, dan bahkan bagi Mataram. Kau tidak usah berniat

untuk tiba-tiba menjadi seorang pahlawan di Mataram. Tetapi

sebaiknya kau mulai dari Kademanganmu. Seharusnya kau

banyak mengenal lingkunganmu. Tetangga-tetanggamu dan

persoalan-persoalan yang ada didalam lingkunganmu itu.”

Anak Ki Demang itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi

jantungnya menjadi semakin berdebaran.

Dalam pada itu, Panembahan Senapatipun kemudian

berkata, “ Nah, jika kau tidak mempunyai keperluan lain, maka

kau aku perkenankan mundur. Salamku kepada ayahmu, Ki

Demang Wanda Karang. Aku hargai kesetiaannya kepada

Mataram. Karena Kademangan merupakan landasan yang

paling mendasar bagi tegaknya pemerintahan Mataram.”

“ Hamba Panembahan.” sahut anak Ki Demang itu dengan

jantung yang berdegupan.

Perasaannya diliputi oleh campur baur antara kebanggaan,

tetapi juga perasaan yang aneh karena kehadiran orang-orang

yang ditemuinya di Kali Praga. Selebihnya pesan-pesan dari

Panembahan Senapati itu sendiri. Lalu kemudian katanya, “

Hamba mohon diri. Hamba mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya atas kemurahan hati Panembahan yang

berkenan menerima hamba menghadap.”

 

Panembahan Senapati tersenyum. Lalu katanya, “

Persoalan-persoalanmu yang lain, jika tidak dapat kau

sampaikan kepadaku, katakan saja kepada Ki Tumenggung

Resayuda.”

“ Hamba Panembahan. Selanjutnya hamba mohon diri.”

berkata orang itu terbata-bata.

Demikianlah, maka Ki Suramerta, anak Ki Demang Wanda

Karang itupun kemudian telah mundur dari penghadan

Panembahan Senapati bersama Ki Tumenggung Resayuda.

Diluar serambi, maka dengan tidak sabar lagi, anak Ki

Demang itu bertanya, “ Apakah Panembahan telah mengenal

ketiga orang itu?”

“ Tentu.” jawab Ki Tumenggung Resayuda, “ Agung

Sedayu adalah sahabat Panembahan semasa mudanya.

Keduanya kadang-kadang telah menempuh pengembaraan

bersama. Karena itu, maka keduanya menjadi akrab. Bahkan

agaknya ilmu yang dimiliki oleh keduanyapun tidak terpaut

terlalu banyak.”

“ Bukan main.” desis anak Ki Demang itu.

“ Kenapa?” bertanya Ki Tumenggung.

“ Tidak apa-apa Ki Tumenggung. Tetapi agaknya aku

memang harus mengenal mereka yang tinggal bertetangga

dengan Tanah Perdikan Menoreh.” berkata. anak Ki Demang

itu.

Dalam pada itu, Agung Sedayupun tidak mengatakan apa

yang telah terjadi di pinggir kali Praga. Namun pesan

Panembahan Senapati, Agung Sedayu hendaknya bersedia

untuk membimbing Kademangan itu pula.

Sementara itu, Agung Sedayu masih berbincang barang

sejenak dengan Panembahan Senapati. Namun kemudian

iapun telah mohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke

Sangkal Putung dan Jati Anom.

“ Apakah kau akan pergi ke Sangkal Putung lebih dahulu

atau Jati Anom lebih dahulu?” bertanya Panembahan

Senapati.

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian

katanya, “ Hamba akan menghadap guru lebih dahulu. Baru

hamba akan menemui paman Widura dan adi Swandaru.”

 

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Katanya, “

Salamku kepada semuanya. Kepada Kiai Gringsing, kepada

Ki Demang Sangkal Putung dan adikmu Swandaru, kepada Ki

Widura dan siapapun mereka itu. Jangan lupa singgah barang

sebentar di tempat Untara, agar ia mengerti apa yang telah

terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Serta ingat akan

perintahku lewat Sabungsari.”

“ Hamba Panembahan.” jawab Agung Sedayu, “ hamba

akan menemui kakang Untara di Jati Anom.”

Demikianlah maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah

Putihpun telah sekali lagi mohon diri. Mereka akan

melanjutkan perjalanan mereka ke Jati Anom. Namun ketika

mereka turun kehalaman dan melangkah keluar seketheng

untuk mendapatkan kuda-kuda mereka, maka mereka telah

melihat anak Ki Demang Wanda Karang yang juga sudah siap

mengambil kudanya bersama para pengawalnya.

Agung Sedayu memandangnya sambil tersenyum. Namun

iapun kemudian bertanya, “ begitu cepat?”

“ Keperluanku sudah selesai.” berkata anak Ki Demang itu

dengan wajah yang terasa menjadi panas. Namun akhirnya

diberanikan dirinya berkata, “ Aku minta maaf. Aku belum

mengenal kalian sebelumnya.”

“ Ayahmu mengenal aku. Salamku buat Ki Demang Wanda

Karang.” berkata Agung Sedayu.

Anak Ki Demang itu mengerutkan keningnya. Menurut

penglihatannya umur Agung Sedayu tidak lebih banyak dari

umurnya sendiri. Namun menurut Ki Tumenggung Resayuda,

maka Agung Sedayu telah memiliki ilmu yang sulit dicari

bandingnya.

Dengan nada rendah anak Ki Demang itu menjawab, “

Terima kasih. Aku akan menyampaikannya kepada ayah.

Bagiku, yang terjadi adalah satu pengalaman yang sangat

berharga.”

Agung Sedayu tersenyum. Kemudian ditepuknya bahu

orang itu sambil berkata, “ Akupun telah minta diri. Tetapi aku

tidak segera kembali ke Tanah Perdikan.”

“ Kalian akan pergi ke mana?” bertanya anak Ki Demang.

“ Kami akan pergi ke Jati Anom.” jawab Agung Sedayu.

 

Dengan demikian, maka merekapun bersama-sama telah

meninggalkan halaman istana. Ki Resayuda berdiri di depan

gardu para prajurit yang bertugas sambil melambaikan

tangannya.

Namun anak Ki Demang yang merasa bersalah itu dengan

segera mengambil jalan lain. Katanya, “ Kita berpisah disini.

Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi.”

Agung Sedayu tersenyum. Sementara itu dengan segan

anak Ki Demang itu telah minta diri pula kepada Sekar Mirah

dan Glagah Putih. Demikianlah mereka berpisah, meskipun

sebenarnya mereka masih dapat menempuh jalan yang sama

untuk beberapa saat.

Namun seperti yang dikatakan oleh anak Ki Demang,

bahwa yang terjadi itu merupakan pengalaman yang sangat

berharga. Apalagi Agung Sedayu, isterinya dan adik

sepupunya itu tinggal di lingkungan tetangganya.

Sementara itu Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah

Putih telah berpacu menuju ke Jati Anom. Mereka telah

mengambil jalan memintas meskipun agak sulit. Tetapi lebih

dekat. Mereka tidak menyusuri jalan di sebelah Candi

Prambanan. Tetapi mereka memanjat kaki Gunung Merapi

yang landai. Memutar arah Timur dan selanjutnya mereka

akan menuruni kaki disebelah Timur.

Ternyata mereka tidak menemui hambatan di perjalanan.

Namun demikian, mereka memang harus berhenti untuk

memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat, minum

dan makan rerumputan segar di tanggul parit yang jernih.

Ketika dirasa bahwa kuda mereka telah cukup beristirahat,

maka ketiganya telah melanjutkan perjalanan lang-sung

menuju ke Jati Anom.

Ketika Agung Sedayu sampai di padepokan kecil Kiai

Gringsing, terkejut melihat suasana padepokan yang lengang.

Dua orang cantrik yang tergesa-gesa menyongsongnya telah

menerima kembali kuda mereka bertiga.

“ Aku merasakan kelainan.” berkata Agung Sedayu, “

padepokan itu terasa sepi.”

“ Kiai Gringsing sedang sakit.” berkata cantrik itu.

 

“ Guru sedang sakit?” bertanya Agung Sedayu dengan

jantung yang berdebaran.

Cantrik itu mengangguk.

“ Sejak kapan?” bertanya Agung Sedayu pula.

“ Baru tiga hari ini.” jawab cantrik itu.

“ Bukankah guru mempunyai segala macam obat untuk

segala macam penyakit?” bertanya Agung Sedayu pula.

Cantrik itu tidak menjawab. Namun kemudian katanya, “

Marilah. Silahkan menghadap. Sakitnya agaknya tidak terlalu

berat.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun bertiga

merekapun telah menuju ke bangunan induk padepokan kecil

yang hijau itu. Ketika mereka naik tangga bangunan induk

padepokan itu, seorang cantrik yang lain telah

menyongsongnya pula. Kemudian membawa mereka ke ruang

dalam.

“ Biarlah aku sampaikan kehadiran kalian kepada Kiai.”

berkata cantrik itu.

Tetapi ternyata Agung Sedayu mencegahnya. Iapun

kemudian berkata, “ Jangan. Biarlah aku melihatnya di dalam

bilik guru.”

Cantrik itu termangu-mangu. Namun ia mengenal dengan

baik siapa Agung Sedayu itu, sehingga karena itu, maka

katanya kemudian, “ Baiklah. Silahkan masuk.”

Tetapi Agung Sedayu tidak akan memasuki bilik Kiai

Gringsing bertiga dengan isteri dan adik sepupunya. Tetapi

isteri dan adik sepupunya itu disuruhnya menunggu di

pendapa, sementara Agung Sedayu sendiri kemudian

memasuki bilik Kiai Gringsing yang sedang sakit.

Kedatangan Agung Sedayu memang mengejutkan Kiai

Gringsing. Iapun telah bangkit dan duduk dibibir

pembaringannya. Sementara Agung Sedayu mendekatinya

sambil berkata, “ Silahkan guru berbaring saja jika guru

memang sedang sakit.”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Sambil

tersenyum ia berkata, “ Tidak Agung Sedayu. Sakitku tidak

seberapa.”

 

“ Tetapi jika guru merasa pening atau mual?” bertanya

Agung Sedayu.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “ Aku tidak merasa

apa-apa. Tetapi apakah kau datang sendiri?”

“ Tidak Kiai. Aku datang bersama Sekar Mirah dan Glagah

Putih.” jawab Agung Sedayu.

“ Dimanakah mereka sekarang?” bertanya Kiai Gringsing.

“ Mereka berada di pendapa guru.” jawab Agung Sedayu.

Kiai Gringsing yang nampak lemah dan pucat itupun

kemudian berdiri sambil berkata, “ Aku akan menemui

mereka.”

“ Biarlah mereka datang kemari jika guru menghendakinya.”

berkata Agung Sedayu.

Tetapi Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “ Aku akan ke

pendapa. Rasa-rasanya udara menjadi pengab jika aku terlalu

lama berada di dalam bilikku.”

Agung Sedayu tidak dapat mencegahnya. Kiai

Gringsingpun kemudian telah melangkah perlahan-lahan

keluar dari dalam biliknya. Meskipun Kiai Gringsing itu berjalan

sendiri tanpa dibimbingnya, namun nampak bahwa orang tua

itu menjadi semakin lemah sekali.

“ Guru nampak terlalu tua.” berkata Agung Sedayu didalam

hatinya.

Namun menurut perhitungan Agung Sedayu, Kiai Gringsing

memang sudah sangat tua. Karena itu, maka kesehatannya

telah menjadi semakin mundur.

Ketika Kiai Gringsing keluar dari ruang dalam masuk ke

pendapa, maka Sekar Mirah dan Glagah Putih telah bangkit

menyongsongnya.

“ Kiai.” hampir berbareng keduanya berdesis.

Kiai Gringsing tersenyum. Sambil melangkah satu-satu ia

berkata, “ Duduklah. Aku tidak apa-apa.”

Sejenak kemudian, maka merekapun telah duduk di

pendapa, diatas tikar pandan putih berkotak-kotak biru.

Ditempat yang lebih terang, maka Kiai Gringsing justru

nampak lebih pucat dan letih. Dengan demikian maka Agung

Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih mengetahui bahwa

Kiai Gringsing memang benar-benar sakit.

 

Namun Kiai Gringsing masih juga menanyakan

keselamatan perjalanan mereka dan orang-orang yang

mereka tinggalkan di Tanah Perdikan Menoreh.

Agung Sedayupun sempat menceriterakan perjalanan

mereka, bahwa mereka singgah sebentar di Mataram.

“ Ada laporan yang penting kami sampaikan.” berkata

Agung Sedayu.

“ Tentang apa?” bertanya Kiai Gringsing.

Agung Sedayu merasa ragu-ragu untuk mengatakannya,

justru saat kesehatan Kiai Gringsing sedang menurun.

Namun agaknya Kiai Gringsing dapat membaca keraguraguan

Agung Sedayu, sehingga karena itu maka katanya, “

Katakan Agung Sedayu. Apapun yang aku dengar tidak akan

mempengaruhi keadaanku.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun

kemudian telah menceriterakan apa yang telah terjadi di

Tanah Perdikan Menoreh dan Mataram.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Bahkan iapun telah

menyampaikan isi pesan Panembahan Senapati kepada Ki

Demang Sangkal Putung dan Swandaru. Pesannya untuk

mengingatkan Untara yang telah mendapat perintah dari

Panembahan Senapati lewat Sabungsari yang saat itu kembali

ke Jati Anom bersama Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. “ Ternyata bahwa

Madiun masih tetap bergerak. Kegagalan-kegagalan mereka,

bahkan apa yang terjadi di Nagaraga, tidak membuat mereka

menjadi jera.”

Bahkan tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya, “ Apakah

Pangeran Singasari telah kembali?”

Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “

Sepengetahuanku, Pangeran Singasari belum kembali ke

Mataram. Tetapi penghubungnya sering mondar-mandir untuk

memberikan laporan kepada Panembahan Senapati.”

“ Apakah Panembahan Senapati memang belum

memerintahkannya kembali bersama pasukannya?” ber-tanya

Kiai Gringsing.

“ Aku tidak tahu Kiai. Aku tidak berani bertanya sampai

sejauh itu.” sahut Agung Sedayu.

 

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Agung Sedayu

memang tidak akan berani bertanya tentang hal itu kepada

Panembahan Senapati.

Karena itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “

Baiklah. Kau agaknya tidak akan menanyakannya, kecuali jika

Panembahan Senapati memberitahukan kepadamu.”

Namun Kiai Gringsing kemudian telah menyinggung pula

kekosongan di Pajang disamping pendudukan atas

padepokan besar Nagaraga, yang tentu merupakan persoalan

yang harus diselesaikan dengan baik dalam pertemuan yang

akan diselenggarakan antara Panembahan Senapati dan

Panembahan Madiun.

Agung Sedayu kemudian telah menyampaikan pula kepada

Kiai Gringsing, bahwa Madiun agaknya akan mengambil

langkah yang sama dengan Mataram. Memotong ranting dan

dahan-dahannya sebelum menebang batangnya. Bahkan

Madiun telah mempergunakan cara untuk memotong

hubungan baik antara Mataram dengan lingkungan yang justru

paling dekat.

“ Itulah yang aku cemaskan.” berkata Kiai Gringsing, “

karena itu agaknya aku memang ingin berbicara dengan

Swandaru.”

“ Kiai juga akan pergi ke Sangkal Putung?” bertanya

Agung Sedayu.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan wajah

yang pucat ia berkata, “ Sebenarnya aku memang ingin pergi

ke Sangkal Putung.”

“ Kami mengerti guru.” sahut Agung Sedayu, “ Guru

sedang sakit.”

Kiai Gringsing mengangguk kecil. Katanya, “ Jika kalian

pergi ke Sangkal. Putung, ajak Swandaru datang kemari.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “ Ya guru. Kami

akan membawa adi Swandaru menghadap guru.”

“ Tetapi aku tidak menyuruhmu sekarang pergi ke Sangkal

Putung.” berkata Kiai Gringsing kemudian.

Ternyata malam itu Agung Sedayu, Sekar Mirah dan

Glagah Putih bermalam di padepokan kecil Kiai Gringsing.

Baru di keesokan harinya mereka akan pergi ke Sangkal

 

Putung. Namun ketika matahari menyusup ke keremangan

senja, mereka sempat pergi ke rumah Untara dan kemudian

langsung ke Banyu Asri menemui Widura.

Kepada Untara Agung Sedayu menyampaikan pesan

Panembahan Senapati serta gambaran keadaan terakhir. Jika

Pajang tidak lagi merupakan selembar tirai bagi Mataram yang

berhadapan dengan Madiun, maka Sangkal Putung harus

mempersiapkan diri. Sementara pasukan Mataram yang

berada di paling dekat dengan Sangkal Putung adalah

pasukan Untara di Jati Anom.

Tetapi Untarapun tahu sifat sifat Swandaru. Karena itu,

maka Untarapun berkata, “ Jika persoalan menjadi semakin

gawat, maka Panembahan Senapati hendaknya menjatuhkan

perintah, siapakah yang harus memegang perintah tertinggi di

daerah ini. Aku memang Senapati prajurit Mataram disini.

Tetapi Swandaru tidak berada dibawah perintahku, sehingga

ia justru akan dapat menyusun kekuatan tersendiri. Aku yakin,

bahwa ia cenderung untuk menempatkan pasukannya

dibawah kendalinya jika tidak ada perintah yang tegas dari

Panembahan Senapati, atau aku akan mengambil langkahlangkah

keprajuritan atas Sangkal Putung dan memaksanya

tunduk dibawah perintahku.”

Agung Sedayu memang menjadi cemas jika perkembangan

di Jati Anom dan Sangkal Putung tidak mendapa penggarisan

yang tegas dari Mataram. Karena itu, maka katanya, “

Bukankah kakang Untara berhak mengusulkan atas persoalan

itu kepada Panembahan Senapati? Bukan berarti bahwa

kakang menghendaki memegang pimpinan tertinggi disini.

Tetapi yang penting adalah ketegasan itu.”

Untara mengangguk. Katanya, “ Aku akan melakukannya

untuk menghindari persoalan yang timbul disini.”

Sementara itu meskipun hanya sebentar, Agung Sedayu,

Sekar Mirah dan Glagah Putih sempat juga bertemu dengan

para pemimpin dan Senapati prajurit Mataram, di antara

mereka adalah Sabungsari.

Dari rumah Untara yang masih saja dipergunakan oleh

sekelompok prajurit Mataram, mereka telah pergi ke Banyu

Asri. Tetapi mereka tidak dapat terlalu lama berada di rumah

 

Widura karena malam menjadi semakin malam, sehingga

merekapun segera mohon diri.

“ Kami masih akan berada di Jati Anom untuk beberapa

hari. Pada kesempatan lain, kami akan datang lagi.” berkata

Agung Sedayu.

“ Bagaimana dengan Glagah Putih?” bertanya Widura.

Glagah Putih memang ragu-ragu. Tetapi mengingat Kiai

Gringsing yang sedang sakit, maka iapun berkata, “ Aku akan

bermalam di padepokan ayah. Besok aku akan datang lagi

kemari. Kiai Gringsing sedang sakit.”

Widura mengangguk-angguk. Ternyata bahwa Widura

masih belum mengetahui bahwa Kiai Gringsing sedang sakit.

Karena itu maka katanya, “ Jika demikian, besok aku akan

menengoknya. Ternyata kami yang berada dekat dengan

padepokan itu, tidak mengetahui bahwa Kiai Gringsing sedang

sakit.”

“ Silahkan paman.” berkata Agung Sedayu, “ tetapi besok

pagi kami akan pergi ke Sangkal Putung.”

Diperjalanan kembali ke padepokan, Sekar Mirah sempat

bertanya kepada Agung Sedayu, “ Kakang, kenapa kakang

Untara nampaknya tidak begitu senang terhadap kakang

Swandaru?”

“ Bukan tidak senang Mirah.” jawab Agung Sedayu, “ tetapi

sebagaimana kau ketahui, bahwa kakang Untara adalah

seorang prajurit. Benar-benar seorang prajurit, sehingga

baginya semuanya harus jelas dan pasti. Apalagi dalam

susunan kekuatan yang bersifat keprajuritan. Sedangkan

kakakmu Swandaru adalah seorang anak Demang Sangkal

Putung yang merasa memiliki tataran pemerintahan sendiri

yang tidak ada hubungannya dengan kekuasaan kakang

Untara sebagai seorang Senapati. Padahal dalam menyusun

kekuatan yang bersifat keprajuritan diperlukan satu tangan

yang berwibawa. Itulah sebabnya, maka kakang Untara telah

menyatakan sikapnya. Sama sekali bukan sikap pribadinya.”

Sekar Mirah yang sedikit banyak juga mengenal sifat

kakaknya, mengangguk-angguk. Ternyata iapun mengerti,

bahwa jika keadaan menjadi semakin gawat, diperlukan

tataran kepemimpinan yang jelas dan pasti.

 

Demikianlah, malam itu mereka bertiga telah bermalam di

padepokan kecil di Jati Anom. Kiai Gringsing tidak terlalu

banyak berbincang dengan mereka karena kesehatannya.

“ Silahkan beristirahat Guru.” berkata Agung Sedayu ketika

dilihatnya Kiai Gringsing nampak letih disaat mereka duduk di

ruang dalam sambil minum-minuman hangat.

“ Aku memang memerlukan banyak waktu untuk

beristirahat.” berkata Kiai Gringsing.

“ Bukankah Guru telah minum obat yang paling baik bagi

keadaan Guru?” bertanya Agung Sedayu.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “ Aku adalah seorang

yang menggeluti obat-obatan sejak puluhan tahun. Aku

mengenal segala macam obat untuk bermacam-macam

penyakit. Tetapi aku tidak dapat mengingkari keterbatasan

manusia. Apalagi orang yang sudah setua aku. Pangeran

Benawa masih jauh lebih muda dari aku. Bahkan mungkin

tidak terpaut banyak dari umurmu. Tetapi ia tidak dapat

diselamatkan lagi umurnya oleh beberapa orang tabib istana.

Tabib yang tentu juga memiliki kemampuan yang tinggi

tentang pengobatan dan pengertian yang lain jenis obatobatan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu

Kiai Gringsing berkata, “ Akupun telah minum segala macam

obat yang aku anggap akan dapat menolong keadaanku.

Tetapi aku tidak menjadi berangsur baik di hari-hari ini. Aku

tidak dapat mengatakan apa yang akan terjadi esok atau

lusa.”

Sekilas ketegangan membayang di wajah Agung Sedayu.

Namun dalam pada itu Kiai Gringsing berkata, “ Tetapi

bukankah itu wajar? Kita bukannya penentu disaat-saat

terakhir. Betapa tinggi kemampuan seseorang, namun

akhirnya harus diakui bahwa segalanya berada di tangan

Yang Maha Agung juga.”

“ Ya Guru.” desis Agung Sedayu.

“ Kita jangan mencoba untuk menentang kehendak-Nya.

Jika kita menganggap bahwa keputusan-Nya akan dapat kita

rubah, maka kita akan mengalami gangguan pada jiwa kita.

Bahkan kecemasan-kecemasan dan kegelisahan yang sangat.

 

Tetapi jika kita mengakui kuasa-Nya yang mutlak, dalam

berusaha kita sudah pasrah, sehingga keputusan-Nya dapat

kita terima dengan hati yang lapang. Tanpa kecemasan,

ketakutan dan kegelisahan.”

Justru Agung Sedayulah yang menjadi gelisah. Demikian

pula Sekar Mirah dan Glagah Putih yang ikut mendengarkan

pembicaraan itu.

Namun kemudian Kiai Gringsing berkata “ Aku memang

akan beristirahat. Istirahat bagi orang setua aku adalah salah

satu usaha agar kesehatanku menjadi berangsur baik. “

Dengan tongkat ditangan, Kiai Gringsing berjalan

meninggalkan ruang dalam memasuki biliknya, sementara

Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih masih

berbincang beberapa saat. Namun yang kemudian mereka

perbincangkan adalah Kiai Gringsig itu sendiri.

Bagaimanapun juga keadaan Kiai Gringsing memang

menimbulkan kecempatan. Yang dikatakannya telah mengingatkakan

Glagah Putih kepada kata-kata yang diucapkan

oleh Raden Rangga menjelang saat-saat terakhirnya. Namun

Glagah Putih tidak mengatakannya kepada Agung Sedayu

dan Sekar Mirah.

Menjelang tengah malam, maka ketiganyapun kemudian

telah masuk kedalam bilik yang disediakan bagi mereka

masing-masing. Agung Sedayu dan Sekar Mirah di bilik

sebelah kanan, sementara Glagah Putih berada di gan-dok

bersama para cantrik. Diantara para cantrik memang ada yang

sebaya dengan Glagah Putih.

Sesaat Glagah Putih teringat pembantu dirumah Agung

Sedayu yang mempunyai kegemaran turun kesungai

memasang dan membuka pliridan. Ternyata cantrik di

padepokan Kiai Gringsing jika ada juga yang turun ke sungai

dimalam hari sambil membawa jenis sebagaimana dilakukan

oleh pembantu dirumah Agung Sedayu bersama dengan

Glagah Putih sendiri.

Pagi-pagi sekali Glagah Putih telah sibuk bersama para

cantrik. Sementara itu Agung Sedayu dan Sekar Mirah telah

mandi pula dan duduk dipendapa.

 

Kiai Gringsing yang sedang sakit itu meskipun sudah

terbangun, namun masih saja berada didalam biliknya. Tetapi

seorang cantrik telah menghidangkan wedang jae yang

hangat.

Ketika kemudian matahari terbit, serta setelah minum dan

makan beberapa potong makanan, maka Agung Sedayu telah

minta diri kepada Kiai Gringsing yang masih berada di dalam

biliknya untuk pergi ke Sangkul Putung.

“ Sekar Mirah telah menjadi sangat rindu kepada orang

tuannya dan kakaknya “ berkata Agung Sedayu.

“ Kiai Gringsing yang duduk di bibir pembaringannya

tersenyum. Katanya “ Baiklah. Pergilah ke Sangkal Putung.

Tetapi aku harap bahwa kalian akan kembali bersama

Swandaru. “

“ Baik Guru “ jawab Agung Sedayu “ aku akan

memberitahukan kepada adi Swandaru, bahwa Guru

memanggilnya menghadap. “

Demikianlah, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan

Glagah Putih telah meninggalkan padepokan kecil itu

menuju ke Sangkal Putung. Memang sudah terdapat

beberapa perubahan terjadi di sepanjang jalan antar Jati

Anom dan Sangkal Putung. Namun di daerah Mataram

mereka masih harus melalui jalan yang menikung tajam,

kemudian menurun, melewati sebuah sungai yang meskipun

tidak begitu lebar, tetapi berbatu-batu besar. Kemudian jalan

memanjat naik dan mencapai ketinggian semula. Sedangkan

di pinggir tikungan di dekat hutan sebatang pohon randu alas

masih tegak berdiri. Batangnya yang besar dan kokoh

memang nampak perkasa, dan bahkan sedikit berkesan

menakutkan. Seakan-akan batang kayu yang besar itu benarbenar

rumah hantu yang disebut Gendruwo bermata Satu.

Ketika mereka memasuki Sangkal Putung, maka terasa

bahwa Kademangan itu benar-benar sebuah Kademangan

yang subur dan terpelihara dengan baik. Jalur-jalur jalan dan

parit-parit yang membelah kotak-kotak sawah memberikan

warna yang khusus bagi Kademangan itu.

Meskipun beberapa Kademangan disebelah menyebelah

telah berusaha meniru usaha yang tidak kenal lelah serta kerja

 

keras Kademangan Sangkal Putung, namun masih nampak

bahwa Kademangan Sangkal Putung masih juga memiliki

kelebihan, justru karena di Sangkal Putung terdapat seorang

Swandaru yang menyebut dirinya Swandaru Geni.

Sekar Mirah rasa-rasanya tidak sabar lagi menempuh

perjalanannya yang lamban. Karena itu, maka iapun telah

mempercepat lari kudanya. Sehingga ia telah berada di paling

depan. Semakin dekat mereka dengan padukuhan induk,

maka rasa-rasanya Sekar Mirah telah memasuki kembali

medan permainannya di masa kanak-kanak.

Beberapa orang yang melihat kehadiran mereka tidak

dengan cepat dapat mengenalinya. Jika seseorang kemudian

mengenalinya sebagai Sekar Mirah, maka mereka tidak

sempat menegurnya karena kuda Sekar Mirah berlari

cepat. Mereka hanya dapat melambaikan tangan atau

Sekar Mirahlah yang tanpa berhenti menyapa “ Marilah bibi.

Atau marilah paman, atau sebutan-sebutan yang lain. “

Beberapa lama kemudian, ketiganya benar-benar telah

memasuki padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.

Dengan jantung yang berdebar-debar mereka langsung

menuju kerumah Ki Demang Sangkal Putung.

Kedatangan ketiga orang itu memang mengejutkan. Seisi

rumah telah keluar menyongsong mereka. Swandaru ternyata

masih juga berada di rumah. Meskipun ia sudah bersiap-siap

untuk pergi ke padukuhan disebelah yang seorang sibuk

memperbaiki banjar padukuhannya yang mulai 1 rusak karena

bahannya yang kurang baik. Bambu yang dipergunakan untuk

kerangka atasnya tidak direndam lebih dahulu barang

setengah tahun.

“ Marilah, naiklah “ Swandaru mempersilahkan. Mereka

bertigapun segera naik kependapa. Tetapi

Sekar Mirahlah yang langsung masuk ke dalam rumahnya

yang sudah lama ditinggalkannya. Pandan Wangi yang juga

menyongsong mereka telah mengikutinya masuk ke-dalam.

Sekar Mirah memang melepaskan kerinduannya kepada

tempat tinggalnya dimasa kanak-kanak. Bersama Pandan

Wangi, maka iapun telah memasuki semua ruang sampai

kedapur sekalipun.

 

“ Bukan main “ berkata Sekar Mirah.

“ Apa? “ bertanya Pandan Wangi yang belum sempat

mempertanyakan keselamatan Sekar Mirah serta mereka

yang bersamanya menempuh perjalanan itu serta mereka

yang ditinggalkan di Tanah Perdikan.

“ Semuanya telah berubah “ berkata Sekar Mirah “

tanganmu memang tangan yang trampil mengatur isi rumah

ini. Tentu kau yang telah membuat rumah ini menjadi segar

dan cerah seperti ini, sehingga karena itu, maka

kakang Swandaru akan krasan tinggal dirumah terusmenerus.

Sekar Mirah tersenyum. Sambil mencubit Pandan Wangi ia

berkata “ Kau adalah seorang istri yang baik. “

Pandan Wangi berdesis perlahan. Katanya “ Tanganmu

berbeda dengan tangan perempuan-perempuan lain. Jika kau

mencubit, mungkin segumpal daging akan terkelupas. “

“ Kau selalu menggodaku “ sahut Sekar Mirah. Tetapi

ketika tangannya bergerak, Pandan Wangi telah bergeser

menjauh.

“ Dan ternyata kau dapat bergerak secepat loncatan tatit di

langit “ desis Sekar Mirah.

Keduanya kemudian tertawa. Mereka melangkah kembali

kependapa. Sementara sekali-sekali Sekar Mirah menegur

pembantu-pembantu rumah itu yang pernah dikenalnya.

Ternyata di pendapa, suara tertawa Swandarupun

terdengar berkepanjangan. Setelah saling menanyakan

keselamatan masing-masing Swandaru sempat bertanya

apakah Agung Sedayu sudah tidak takut lagi kepada

Gendruwo permata satu sekarang.

Beberapa saat kemudian, maka minuman dan makananpun

telah dihidangkan, sementara Agung Sedayu mulai

menyinggung keadaan gurunya yang sakit.

“ Jadi Guru sakit? “ bertanya Swandaru “ aku yang dekat

tidak dikabarinya. “

“ Akupun tidak “ sahut Agung Sedayu “ secara kebetulan

aku merasa didesak oleh keinginan untuk menengok Guru.

Ternyata Guru sedang sakit. Tetapi agaknya sakitnya tidak

begitu berat. “

 

“ Sejak kapan Guru sakit? “ bertanya Swandaru.

“ Sejak tiga atau ampat hari yang lalu “ jawab Agung

Sedayu.

“ Guru adalah seorang dukun yang baik yang mengenal

ilmu pengobatan hampir sempurna. Apakah ia tidak mengobati

dirinya sendiri? “ bertanya Swandaru.

“ Guru sudah mencoba beberapa jenis obat yang

dianggapnya terbaik. Tetapi Guru menyadari, bahwa umurnya

memang sudah menjadi semakin tua. Karena itu, maka ada

sesuatu yang tidak dapat diatasinya dengan segala macam

obat. Tetapi apabila kesempatan masih ada pada Guru, maka

ia tentu akan sembuh “ berkata Agung Sedayu kemudian.

Swandaru mengangguk-angguk. Namun dengan nada

rendah ia berkata “ Dengan sikap yang demikian, maka Guru

agaknya kurang berusaha. Ia hanya menunggu kesempatan.

Tetapi seharusnya kitalah yang menangkap kesempatan itu.

Dengan menunggu, maka biasanya kita akan terlambat. Juga

Guru akan terlambat jika ia menunggu kesempatan itu datang.

“Bukan begitu Swandaru “ berkata Agung Sedayu “ bukan

berarti Guru tidak berusaha. Bukankah kita mengenal Guru?

Kiai Gringsing yang tua namun yang jiwanya masih tetap

bergelora? “

“ Namun ketika umurnya menjadi semakin tua, Guru

terdampar pada kelemahan sikap itu “ sahut Swandaru “

sebaiknya kita yang muda-muda ini mendorongnya untuk

berjuang.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih

juga berusaha menjelaskan “ Guru juga sudah berjuang

dengan segenap kemampuan yang ada, Jika Guru berbicara

tentang kesempatan, maka yang dimaksudkan adalah, bahwa

Guru tidak akan mengingkari kenyataan apapun yang didapat

terjadi. “

“ Tetapi sebagian besar dari kenyataan tentang diri

kita adalah ditangan kita sendiri. Kitalah yang menentukan

itu, “ berkata Swandaru.

 

Agung Sedayu memang tidak ingin bertengkar dengan adik

seperguruannya. Karena itu, maka iapun sekedar

mengangguk-angguk saja.

Sementara itu, sebelum Agung Sedayu menyampaikan

pesan Kiai Gringsing untuk memanggilnya menghadap,

Swandaru justru telah berkata. “ Besok aku akan menengok

Guru. “ Namun tiba-tiba saja ia menyambung Tetapi bukan

maksudku untuk mendesak kalian agar segera meninggalkan

Sangkal Putung. Jika kalian masih ingin tinggal disini sampai

lusa atau kapanpun, aku akan menunggu kesempatan

berikutnya. “

Agung Sedayu tersenyum. Katanya “ Sebenarnya aku

mendapat pesan dari Guru, adi Swandaru diminta untuk

menengoknya jika ada kesempatan. Tetapi sebelum aku

mengatakannya, kau sudah menyatakan untuk pergi ke Jati

Anom, menengok Guru. “

“ Ada juga sentuhan getaran antara Guru dan muridnya “

berkata Swandaru “ baiklah. Aku menurut, kapan saja kita

akan pergi ke Jati Anom.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun kemudian

sambil berpaling kepada Sekar Mirah ia berkata “ Bagaimana

jika kita besok pergi ke Jati Anom? Bukan berarti kita tidak

akan kembali kemari lagi dan mungkin bermalam disini satu

dua malam. “

Sekar Mirah mengerti maksud Agung Sedayu. Karena itu,

maka iapun mengangguk. Katanya “ Baiklah kakang. Besok

kita pergi ke Jati Anom. Jika kakang Swandaru tidak

memerlukan waktu yang panjang untuk menjumpai Kiai

Gringsing, maka kita akan dapat kembali di sore hari. Tetapi

jika perlu, kita akan dapat bermalam lagi di Jati Anom. “

“ Baiklah “ berkata Swandaru “ besok kita pergi.

Hari ini aku akan dapat melakukan pekerjaan yang sudah

disiapkan untuk dikerjakan, serta memberikan pesan tentang

kerja besok dan lusa jika kita akan bermalam di Jati Anom. “

Demikianlah, hari itu, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan

Glagah Putih akan bermalam di Kademangan Sangkal

Putung. Mereka sempat berbicara panjang lebar tentang

Kademangan itu dengan Ki Demang, sementara Swandaru

 

bersiap-siap untuk pergi ke beberapa padukuhan di Kademangannya

yang besar.

“ Bagaimana jika kau ikut? “ bertanya Agung Sedayu

kemudian.

“ Marilah. Kau akan dapat melihat perkembangan

Kademangan ini “ jawab Swandaru.

Bersama Glagah Putih, maka Agung Sedayupun telah

mengikuti Swandaru menyusuri jalan Kademangan,

mengunjungi beberapa padukuhan.

Dengan demikian maka Agung Sedayu dan Glagah Putih

dapat melihat kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh

Sangkal Putung. Hal-hal yang mungkin akan dapat juga

ditrapkan di Tanah Perdikan Menoreh. Usaha untuk

memperbanyak hasil sawah dengan jaringan air yang semakin

baik dan tertib. Jaringan jalan yang lebih merata di seluruh

Kademangan serta hubungan dengan Kademangankademangan

tetangga. Pasar yang ramai dan kedai-kedai

yang tersebar, yang bukan saja menjual makanan dan

minuman, tetapi juga kebutuhan sehari-hari, bahkan kedaikedai

yang menjual perkakas rumah tangga dan alat-alat

pertanian.

“ Kademangan ini menjadi semakin maju “ berkata Agung

Sedayu.

“ Aku berusaha agar Kademangan ini bukan saja menjadi

Kademangan yang subur. Tetapi juga dapat menjadi pusat

perdagangan dari beberapa Kademangan tetangga.

Pasar yang ada di Kademangan-kademangan lain serta

menjadi pusat tukar menukar barang dan jual beli hasil bumi. “

berkata Swandaru.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Memang ada

beberapa perbedaan letak dan lingkungan. Tanah Perdikan

Menoreh memang agak terkurung oleh pebukitan disebelah

Barat dan Kali Praga disebelah Timur sehingga hubungan

dengan tetangga-tetangganya tidak begitu erat seperti

Kademangan Sangkal Putung, meskipun Ki Gede berusaha

untuk selalu mengadakan dan memelihara, bahkan

meningkatkan hubungan yang telah ada. Agung Sedayu di

Tanah Perdikan juga mempunyai kebiasaan saling

 

mengunjungi dengan tetangga-tetangganya, meskipun masih

juga terbatas. Tetapi agaknya sedikit sulit bagi Tanah

Perdikan Menoreh untuk dapat menjadi pusat perdagangan di

sebelah Barat Kali Praga dan disebelah Timur pebukitan

meskipun dapat juga dicoba.

Terlintas didalam angan-angan Agung Sedayu, bahwa

jalan-jalan di Tanah Perdikan Menoreh akan menjadi sangat

penting artinya. Juga alat-alat penyeberangan di Kali Praga.

“ Bukit-bukit itu harus dapat ditembus dengan jalan-jalan

yang tidak terlalu sulit dilalui. Dan rakit-rakitpun harus menjadi

semakin banyak dan dengan pelayanan yang baik “ berkata

Agung Sedayu didalam hatinya. Namun orang-orang Tanah

Perdikan tidak akan dapat berbicara banyak, jika banjir

sedang mengalir di Kali Praga itu.

Hubungan dari seberang ke seberang seakan-akan akan

telah terputus sama sekali.

Demikianlah, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah

melihat banyak hal yang berarti bagi Tanah Perdikan.

Swandaru benar-benar seorang yang telah bekerja keras bagi

Kademangannya.

Sementara itu, anak-anak mudanyapun telah mengikuti

langkah-langkahnya. Para pengawal dan para bebahu

selalu menjalankan tugas mereka sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, Swandaru memang telah memberikan

pesan kepada para pemimpin anak-anak muda dan para

pengawal di padukuhan-padukuhan agar mereka melakukan

segala rencana sebaik-baiknya meskipun Swandaru tidak ada

di Kademangan.

“ Aku akan pergi barang satu dua hari “ berkata Swandaru

kepada mereka.

Agaknya anak-anak muda itu telah memiliki kemampuan

untuk bekerja sendiri dengan sebaik-baiknya tanpa menunggu

perintah. Jika rencana telah tersusun dan disetujui oleh

beberapa pihak yang menentukan, maka rencana itu akan

dapat berjalan dengan baik.

Karena itu, maka Swandaru tidak perlu merasa cemas

untuk meninggalkan Kademangannya. Segala sesuatunya

akan dapat berjalan dengan lancar.

 

Ketika Swandaru sudah merasa cukup, maka mereka-pun

telah kembali ke Kademangan. Agung Sedayu, Sekar Mirah

dan Glagah Putih ternyata mempunyai banyak waktu untuk

berbicara tentang banyak hal dengan Ki Demang, Swandaru

dan Pandan Wangi setelah mereka membenahi diri dan

makan di ujung malam.

Malam itu, mereka telah bermalam di Sangkal Putung.

Terasa betapa tenangnya Kademangan itu di malam hari.

Pada saat-saat tertentu terdengar suara kentongan di gardugardu

induk. Menjelang tengah malam terdengar suara

kothekan para peronda di sepanjang jalan. Anak-anak muda

yang bertugas telah berkeliling menyusuri jalan-jalan di

padukuhan-padukuhan. Tugas keliling dengan kothekan itu

mereka ulangi lagi menjelang dini hari, sebelum anak-anak

muda itu meninggalkan gardu-gardu.

Rasa-rasanya memang tidak akan ada kesempatan bagi

mereka yang berniat jahat di Kademangan Sangkal Putung.

Selain gardu-gardu tersebar hampir disemua mulut lorong,

maka anak-anak muda yang bertugaspun melakukan tugas

mereka dengan sebaik-baiknya. Bahkan yang berada di

gardu-gardu di setiap malam, bukan saja anak-anak muda

yang bertugas, tetapi banyak anak-anak muda yang datang ke

gardu-gardu sekedar untuk berkelakar dan bahkan

membicarakan beberapa soal yang perlu bagi padukuhan

mereka. Dengan demikian maka gardu-gardu di padukuhan itu

rasa-rasanya tidak akan pernah kosong.

Demikian pula gardu yang ada di depan pintu gerbang

Kademangan. Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih

masih saja mendengar suara tertawa dan kelakar yang segar

di gardu itu lewat tengah malam. Bahkan ketika mereka

terbangun menjelang dini hari.

Pagi-pagi benar Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah

Putih telah bangun dan pergi ke pakiwan. Namun ternyata

ketika mereka selesai bersiap-siap, Swandaru dan Pandan

Wangi telah sempat menyiapkan makan pagi buat mereka

sebelum mereka berangkat ke Jati Anom.

 

Ketika matahari kemudian mulai naik, Swandaru dan

Pandan Wangipun telah mohon diri kepada Ki Demang.

Demikian pula Agung Sedayu, Glagah Putih dan Sekar Mirah.

“ Jika Guru tidak menahan, aku akan kembali sore nanti “

berkata Swandaru.

“ Kau tidak perlu tergesa-gesa “ berkata Ki Demang “

tunggulah gurumu barang satu malam. Kehadiran muridmuridnya

akan memberikan hiburan bagi orang tua itu. “

Demikian, maka sejenak kemudian merekapun telah

berangkat menuju ke Jati Anom,

Namun satu hal yang mendapat perhatian khusus dari

Sekar Mirah adalah, bahwa Pandan Wangi nampaknya terlalu

berhati-hati. Ia tidak nampak lincah sebagaimana biasanya. Ia

tidak dengan tangkas meloncat kepunggung kuda. Tetapi

rasa-rasanya Pandan Wangi baru mulai belajar naik kuda.

Kudanyapun bukan kuda yang terbiasa dipergunakan,

tetapi ia mempergunakan kuda yang lebih kecil dan lamban.

Tetapi Sekar Mirah masih belum bertanya sesuatu,

meskipun perhatiannya tidak terlepas dari masalah itu.

Bahkan ketika mereka mulai dengan perjalanan mereka,

nampaknya Swandarulah yang berusaha menghambat agar

perjalanan mereka tidak terlalu cepat.

“ Apakah Pandan Wangi sedang sakit? “ bertanya Sekar

Mirah didalam hatinya.

Namun akhirnya Sekar Mirah mulai meraba-raba. Apakah

sebabnya Pandan Wangi tidak dapat berbuat selincah dan

setangkas biasanya. Bahkan nampak terlalu berhati-hati dan

ragu-ragu.

Perjalanan mereka memang bukan perjalanan yang cepat.

Kuda-kuda mereka merangkak terlalu lamban. Kuda Glagah

Putih yang tegar rasa-rasanya tidak sabar menunggui kawankawannya

yang malas dan merangkak seperti seekor siput.

Ketika kemudian Swandaru bergeser di sebelah Agung

Sedayu, untuk mengatakan sesuatu tentang parit-paritnya

yang agak terganggu, maka Sekar Mirah mempergunakan

kesempatan itu untuk berkuda disisi Pandan Wangi. Dengan

nada lembut ia bertanya “ Kau tidak membawa sepasang

pedangmu? “

 

Pandan Wangi tersenyum. Ia memang tidak

menggantungkan pedangnya di pelana kudanya sebagaimana

sering dilakukannya jika pedangitu tidak melekat

dilambungnya.

“ Kenapa? “ desak Sekar Mirah.

“ Bukankah kita tidak akan pergi berperang? “ bertanya

Pandan Wangi.

“ Tetapi siapa tahu hal itu akan terjadi di perjalanan “ jawab

Sekar Mirah.

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun

kemudian katanya “ Aku tidak akan bertempur apapun yang

terjadi. Aku percayakan keselamatanku sepenuhnya kepada

kakang Swandaru. “

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja

wajahnya menjadi cerah. Dipegangnya tangan Pandan Wangi

erat-erat sambil bertanya “ Jadi, benar dugaanku?

“ Apa yang kau duga? “ bertanya Pandan Wangi pula.

“ Tuhan Maha Agung, “ desis Sekar Mirah “ agaknya kau

telah menerima kurniaNya. “

Pandan Wangi mengangguk sambil tersenyum. Katanya

dengan suara lirih “ Kurnia yang sangat berharga bagiku. “

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba

saja kepalanya tertunduk. Bahkan terasa pelupuknya menjadi

hangat.

“ Mirah “ desis Pandan Wangi “ kenapa? “ Sekar Mirah

mengusap matanya yang basah. Namun

iapun segera mengangkat wajah sambil mencoba

tersenyum “ Aku iri hati kepadamu Pandan Wangi. Kau telah

menerima kurnia-Nya. Aku masih harus memohon kepada-

Nya. “

“ Tetapi bukankah aku memang bersuami lebih dahulu

daripadamu? Dan bukankah kau yakin, bahwa pada saatnya

kaupun akan menerima juga kurnia itu? “ bertanya Pandan

Wangi.

Sekar Mirah mengangguk. Dengan nada rendah ia berkata

“ Aku memang yakin. Karena itu, aku tidak berhenti memohon.

 

Pandan Wangilah yang kemudian mengguncang tangan

Sekar Mirah sambil berkata “ Yakinkan dirimu. “

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ia menarik nafas

dalam-dalam. Agung Sedayu dan Swandaru tidak mengerti

apa yang telah dibicarakan oleh Pandan Wangi dan Sekar

Mirah karena mereka berada di depan. Sementara itu Glagah

Putihpun tidak segera mengerti maksudnya. Tetapi Glagah

Putih merasakan getaran perasaan yang telah menyentuh

jantung Sekar Mirah.

Ketika mereka mendekati Jati Anom, maka Sekar Mirah

telah berusaha untuk menghapus sentuhan di jantungnya itu.

Ia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya. Namun

sebenarnyalah bahwa ia menginginkannya untuk juga

mendapatkan kurnia sebagaimana Pandan Wangi yang telah

mengandung itu. Namun sebagaimana dikatakannya, ia

memang yakin, bahwa pada saatnya iapun akan

mendapatkannya.

Dalam pada itu, iring-iringan yang maju perlahan lahan itu

kemudian telah memasuki Jati Anom. Berlima mereka

langsung menuju ke padepokan kecil tempat tinggal Kiai

Gringsing dengan beberapa orang cantriknya.

Beberapa saat kemudian, maka iring-iringan kecil itu telah

memasuki regol padepokan. Para cantrik yang melihat

kedatangan mereka segera menyambutnya. Mereka telah

menerima kuda-kuda para tamu itu dan mengikatnya di-bawah

pohon-pohon yang rindang.

Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Swandaru diantar

oleh seorang cantrik telah langsung masuk kedalam bilik Kiai

Gringsing, sementara yang lain dipersilahkan duduk dan

menunggu di pendapa.

Kiai Gringsing memang sedang berbaring di

pembaringannya. Kedatangan kedua orang muridnya itu

memang benar-benar membuatnya gembira. Rasa-rasanya

orang tua itu telah menunggu untuk waktu yang lama, agar

kedua muridnya itu dapat datang bersama-sama.

Meskipun Agung Sedayu dan Swandaru menahannya agar

Kiai Gringsing tetap berada di pembaringannya, namun

ternyata bahwa Kiai Gringsing ingin bangkit dari

 

pembaringannya itu dan keluar dari biliknya untuk

menerima murid-muridnya beserta isteri-isteri mereka di

pendapa.

“ Aku tidak apa-apa “ berkata orang tua itu “ jika aku selalu

saja berbaring, maka aku justru akan menjadi pening. “

Agung Sedayu dan Swandaru tidak dapat mencegahnya.

Bahkan mereka telah membantu Kiai Gringsing berjalan ke

pendapa.

Tetapi Kiai Gringsing itu berkata. “ Aku dapat berjalan

dengan bantuan tongkatku ini. “

Agung Sedayu dan Swandaru hanya dapat menarik nafas

dalam-dalam. Namun sebenarnyalah bahwa Kiai Gringsing

dapat berjalan sendiri dengan bantuan tongkatnya.

Demikianlah maka sejenak kemudian, mereka telah duduk

di pendapa. Para cantrik telah menghidangkan minuman

hangat dan beberapa potong makanan yang telah mereka

buat sendiri. Makanan dari ketan yang dipetiknya dari sawah

sendiri pula.

Untuk beberapa saat Kiai Gringsing sempat menanyakan

keselamatan mereka di perjalanan dan mereka yang

ditinggalkan. Baru kemudian mereka berbicara tentang

padepokan kecil itu, serta tentang keadaan Kiai Gringsing

sendiri.

“ Guru tidak boleh begitu saja menyerah kepada penyakit

yang Guru derita sekarang ini “ berkata Swandaru.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya “ Aku memang tidak

menyerah. Aku sudah berusaha. “

“ Apakah dengan demikian keadaan Guru menjadi lebih

baik? “ bertanya Swandaru.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya pula “

Aku sudah berusaha sejauh dapat aku lakukan. Tetapi

bukanlah semuanya tergantung kepada Yang Maha Agung? “

“ Guru terlalu pasrah, sehingga Guru kurang berusaha “

berkata Swandaru.

Kiai Gringsing tersenyum pula sambil menggelengkan

kepalanya. Katanya “ Semua usaha sudah dilakukan. Tetapi

bukankah kita tidak akan dapat melawan kenyataan? Kita

memang merupakan bagian dari penentu kenyataan itu

 

sendiri. Tetapi penentu yang terakhir adalah Yang Maha

Agung itu jua akhirnya. “

“ Tetapi sebelum kita sampai kesana, maka kita harus

berjuang dan tidak kenal menyerah “ berkata Swandaru “

karena itu, sebaiknya Guru juga melakukannya. Guru

hendaknya mencoba beberapa jenis obat terbaik yang Guru

pahami. Selama ini Guru telah banyak mengobati orang lain.

Karena itu maka Guru tentu akan dapat mengobati diri sendiri.

Kiai Gringsing masih saja tersenyum. Ia mengenal betul

watak muridnya itu. Karena itu, maka ia tidak membantah,

karena dengan demikian maka sikap Swandaru justru akan

bertambah keras.

Dengan demikian maka Kiai Gringsing yang sakit itu

mengangguk-angguk sambil berdesis “ Kau benar Swandaru.

Aku akan berusaha tanpa mengenal menyerah. Tentu saja

sejauh kemampuan yang ada padaku. “

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun ia tidak

mengatakan apa-apa lagi, meskipun nampak bahwa ia kurang

puas dengan jawaban gurunya yang masih juga bernada

pasrah itu.

Tetapi Kiai Gringsinglah yang kemudian mengalihkan

pembicaraan. Dengan suara berat ia bertanya kepada A-gung

Sedayu “ Apakah kau sudah menceriterakan peristiwa-

peristiwa yang berturut-turut terjadi di Tanah Perdikan

Menoreh dalam hubungannya dengan Mataram dan Madiun? -

Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya “ Sudah Guru.

Aku sudah menceriterakan semuanya yang kami alami

di Tanah Perdikan dan yang berhubungan dengan kegiatan

beberapa orang di Madiun. Aku sudah menceritera-kan usaha

beberapa orang yang dengan sengaja ingin menumbuhkan

kebencian dan perpecahan. Bahkan usaha-usaha untuk

dengan langsung mempengaruhi ketenangan hidup seharihari

di Tanah Perdikan Menoreh.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya kemudian “

Nah Swandaru. Hal seperti itu akan dapat mereka lakukan

pula disini. Di Jati Anom dan di Kademangan Sangkal Putung.

Karena itu, maka kita semuanya memang harus berhati-hati

 

menghadapi keadaan yang menjadi semakin gawat. Apalagi

sepeninggal Pangeran Benawa. “

Swandarupun mengangguk-angguk pula. Katanya “

Agaknya mereka tidak akan datang ke Sangkal Putung, Guru.

Mereka tentu dapat menilai keadaan. Sangkal Pulung

sekarang benar-benar sudah mapan dan mereka menyadari

bahwa mereka tidak akan dapat menyusup ke-dalamnya.

Selebihnya, Sangkal Putung adalah sebuah rumah yang pintupintunya

terbuka nampak terang sampai kesudut-sudutnya.

Sementara Tanah Perdikan Menoreh masih dibayangi oleh

lingkungan yang seakan-akan sulit untuk dijamah. Hutan,

lereng pegunungan dan rawa-rawa. Tempat-tempat seperti itu

memang dapat dijadikan lan-dasan untuk melakukan tindakantindakan

yang tidak menguntungkan bagi lingkungan itu.

Meskipun di Sangkal Putung masih juga terdapat hutan-hutan

yang sudah ditangani menjadi daerah perburuan maupun

hutan-hutan yang masih lebat, tetapi lingkungannya terasa

lebih terang dan selalu disentuh oleh tangan-tangan para

petani, anak-anak muda dan pengawal. Baik yang sedang

bekerja di sawah dan pategalan, maupun mereka yang

sedang meronda. “

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu

Pandan Wangi hanya menundukkan kepalanya saja

sebagaimana Sekar Mirah. Agung Sedayu mendengarkan

keterangan adik seperguruannya itu dengan sungguhsungguh.

Sedangkan Glagah Putih mendengar keterangan

Swandaru itu dengan dahi yang berkerut. Menurut

penglihatannya yang dikatakan oleh Swandaru itu memang

benar. Di Tanah Perdikan Menoreh memang masih terdapat

tempat-tempat yang seakan-akan tersembunyi. Sedangkan di

Sangkal Putung sudah tidak ada lagi. Jika terdapat hutan di

Sangal Putung, maka dipinggir hutan itu terdapat padang

perdu yang sempit. Kemudian sawah atau pategal-an

terbentang sampai ke batas padang perdu itu. Bahkan rasarasanya

orang-orang Sangkal Putung telah menjadi terlalu

akrab dengan hutan-hutannya meskipun hutan-hutan yang

lebat dan dihuni oleh binatang-binatang buas sekalipun.

 

Meskipun demikian, terasa ada sesuatu yang aneh ditelinganya.

Yang diucapkan Swandaru itu seakan-akan telah

menggelitik hatinya.

“ Apa yang telah menyentuh perasaanku itu? “ bertanya

Glagah Putih kepada diri sendiri.

Dalam pada itu Swandarupun berkata selanjutnya “ Karena

itu Guru. Guru tidak usah merasa cemas. Kami akan dapat

menjaga diri. Selama ini Sangkal Putung tidak pernah

mengalami goncangan-goncangan yang berarti. “

“ Ya “ jawab Kiai Gringsing “ agaknya memang demikian.

Tetapi kali ini aku ingin memberikan pesan kepadamu, bahwa

persoalan antara Madiun dan Mataram dapat berkembang

menjadi letupan-letupan yang tidak dikehendaki oleh kedua

belah pihak, justru karena tingkah laku beberapa orang saja.

Baik orang-orang Madiun maupun orang-orang Mataram

sendiri. Karena itu, maka kau perlu menjadi lebih berhati-hati

menghadapi keadaan ini. Pangeran Singasari mungkin dapat

dikatakan berhasil menguasai padepokan Nagaraga. Tetapi

apakah yang dilakukannya

bukan seperti mengguncang semut di sarangnya. Jika

sarang itu dikuasai oleh pihak lain, maka semut itu akan

berserakan dan merayap menyebar kesegenap arah. “

Swandaru tersenyum. Katanya “ Tidak ada yang perlu

dicemaskan di Sangkal Putung. “

“ Aku mengerti Swandaru. Tetapi keadaan yang meningkat

semakin gawat, memerlukan peningkatan kewaspadaan “

berkata Kiai Gringsing.

“ Kakang “ tiba-tiba terdengar Pandan Wangi menyela “

maksud Kiai Gringsing adalah, bahwa kita harus selalu

mengingat kemungkinan bersiaga, tetapi kadang-kadang ada

satu dua hal yang dapat terjadi diluar perhitungan kita. “

Swandaru tertawa pendek. Tetapi iapun kemudian

menjawab “ Baiklah. Aku akan memperingatkan khususnya

para pengawal untuk lebih berhati-hati. Aku mengerti, bahwa

kesiagaan Sangkal Putung masih dapat ditingkatkan. “

“ Kecuali kesiagaan Swandaru “ berkata Kiai Gringsing “

kau harus memperingatkan semua penghuni di Sangkal

Putung untuk tidak segera mempercayai keterangan apapun

 

juga, apalagi yang sumbernya belum jelas. Ini merupakan

senjata yang sangat berbahaya bagi mereka yang ingin

memperlemah kedudukan Mataram. “

Swandaru mengangguk-angguk, iapun telah mendengar

dari Agung Sedayu tentang hal tersebut di Tanah Perdikan

Menoreh. Kepada gurunya ia berkata “ Aku akan

melakukannya guru. Untunglah bahwa orang-orang Sangkal

Putung lebih mempercayai aku daripada orang lain. “

“ Sokurlah “ berkata Kiai Gringsing “ mudah-mudahan tidak

terjadi sesuatu di Sangkal Putung, Jati Anom dan Tanah

Perdikan Menoreh. Bahkan di Mataram dan seluruh

wilayahnya. Sementara itu kekosongan di Pajang-pun segera

dapat diisi tanpa menimbulkan persoalan baru.

“ Sebagian tergantung dari kebijaksanaan Panembahan

Senapati “ berkata Swandaru “ jika Panembahan Senapati

memerintah dengan bijaksana, maka tentu tidak akan terjadi

perlawanan dimanapun juga. Termasuk pemecahan

kekosongan di Pajang. “

“ Ya “ desis Kiai Gringsing “ tetapi kadang-kadang

kebijaksanaan seseorang berbeda dengan orang lain. Yang

dianggap bijaksana oleh Panembahan Senapati, mungkin

justru sebaliknya dengan anggapan Panembahan Madiun

“ Tetapi yang berwenang membuat kebijaksanaan tentang

kekosongan di Pajang bukanlah Panembahan Senapati? “

bertanya Swandaru.

Kiai Gringsing mengangguk. Jawabnya “ Demikianlah

seharusnya. Jika ada sikap lain itulah yang dapat

menimbulkan persoalan. “

“ Mataram cukup kuat. “ desis Swandaru.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah

menduga bahwa sikap Swandaru akan berbeda dengan sikap

Agung Sedayu yang lebih banyak menelusuri kemungkinan

penyelesaian dengan baik. Bukan dengan perhitungan

keseimbangan kekuatan saja.

Tetapi Kiai Gringsing tidak menjawab.

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsingpun justru berkata “

Nah, sebaiknya kalian beristirahat. Bukankah kalian akan

bermalam disini? “

 

Yang menjawab adalah Pandan Wangi “ Ya Kiai. Kami

akan bermalam disini, meskipun hanya satu malam.

Swandaru tertawa mendengar jawaban isterinya. Katanya “

Pandan Wangi memang memerlukan suasana yang lain dari

suasananya sehari-hari di Sangkal Putung. “

Kiai Gringsingpun tersenyum. Iapun kemudian mempersilahkan

tamu-tamunya untuk menikmati hidangan yang

telah disuguhkan oleh para cantrik.

Namun dalam pada itu Agung Sedayu berkata “ Guru, jika

Guru merasa terlalu letih duduk bersama kami, silah-kan guru

beristirahat pula.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Aku

justru merasa letih berbaring dan merenung didalam bilik itu.

Disini aku mempunyai banyak kawan berbincang. Tetapi

barangkali Sekar Mirah dan Pandan Wangi ingin membenahi

pakaiannya atau barangkali keperluan yang lain. Atau kalian

bersama-sama ingin berjalan-jalan melihat lihat padepokan

kecil ini? Kita mempunyai banyak waktu untuk berbincangbincang.

Dalam saat-saat seperti ini rasa-rasanya aku ingin

banyak berbicara dengan kalian. Tetapi sudah barang tentu

tidak perlu sekarang. Jika kalian bermalam disini, maka malam

nanti kita dapat berbicara panjang. “

“ Ya Guru “ jawab Agung Sedayu “ rasa-rasanya kami

memang ingin melihat-lihat padepokan ini. “

“ Marilah, aku antar kalian ke kebun yang oleh para cantrik

ditanami berbagai macam sayuran, serta belum-bang tempat

para cantrik memelihara ikan. “ berkata Kiai Gringsing.

“ Tetapi sebaiknya Kiai tidak terlalu banyak bergerak “

berkata Agung Sedayu.

Kiai Gringsing tersenyum sambil menjawab “ Tidak apaapa.

Aku memang perlu berjalan-jalan. Akupun melakukannya

setiap pagi pagi sebelum matahari terbit. Jika aku berada

didalam bilik saja, maka rasa-rasanya sakitku

justru bertambah parah. “

Agung Sedayu memang tidak dapat mencegahnya. Karena

itu, maka merekapun telah meninggalkan pendapa. Diiringi

 

oleh dua orang cantrik yang sehari-hari merawat Kiai

Gringsing, mereka berjalan-jalan menuju ke kebun belakang.

Meskipun Kiai Gringsing nampak letih, tetapi wajahnya

menunjukkan kegembiraannya. Bahkan ia berceritera

tentang usahanya untuk mencoba mengembangkan jenis

pohon buah-buahan yang banyak digemari orang. Bukan saja

jika buahnya sudah matang, tetapi sebelum matangpun

buahnya dapat dipergunakan untuk masak.

Ketika mereka melihat bagian kebun yang ditumbuhi oleh

puluhan pohon nangka, serta buahnya yang lebat melekat di

batangnya, maka para murid Kiai Gringsing itu menganggukangguk

sambil mengagumi ketekunan para cantrik

memelihara pohon-pohon itu. Bahkan seluruh tanaman yang

ada di kebun dan di halaman. Sementara itu dibagian lain para

cantrik juga menanam pohon sukun yang telah menjadi

semakin besar dan pada saat itu sedang berbuah lebat.

Tetapi agaknya Kiai Gringsing tidak dapat mengantar tamutamunya

berkeliling seluruh lingkungan padepokan. Karena

itu, maka iapun telah membawa tamu-tamunya itu ke pinggir

belumbang. Sebuah gubug kecil telah didirikan di pinggir

belumbang itu.

“ Nah “ berkata Kiai Gringsing “ aku akan menunggu kalian

disini. Jika kalian masih akan berjalan-jalan di padepokan ini,

biarlah cantrik ini mengantarkan kalian melihat-lihat. “

“ Baik Guru “ jawab Agung Sedayu “ silahkan Guru

beristirahat digubug ini. “

Hampir setiap hari aku berada disini di sore hari sambil

melihat-lihat cantrik yang memelihara tanaman dan ikan di

belumbang itu “ jawab Kiai Gringsing.

Dalam pada itu, maka Agung Sedayu dan Swandaru suami

isteri serta Glagah Putih telah melanjutkan penglihatan

mereka atas padepokan kecil itu diantar oleh seorang cantrik.

Mereka tidak untuk pertama kali melihat-lihat halaman dan

kebun di padepokan itu. Mereka telah melakukannya

berulang kali. Namun setiap kali mereka melihat-lihat kebun

itu, rasa-rasanya mereka melihat jenis-jenis tanaman yang

baru.

 

Di sela-sela batang ketela pohon yang subur, mereka

melihat lanjaran kacang yang berjajar panjang. Pohon-pohon

kacang panjang merambat di lanjaran bambu seakan-akan

menggapai. Di beberapa batang telah bergayutan kacang

panjang yang masih muda.

Sedangkan di bagian lain mereka melihat kebun bayam

yang hijau segar.

“ Kita akan melihat sanggar “ tiba-tiba saja Swandaru

berdesis.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Katanya “ Apakah

kita tidak minta ijin kepada Guru lebih dahulu? “

“ Bukankah kita hanya melihat-lihat saja? “ jawab

Swandaru.

Agung Sedayu termangu-mangu. Iapun kemudian berpaling

kepada cantrik yang mengantar mereka. Namun cantrik itu

tersenyum sambil berkata “ Jika hanya ingin melihat-lihat,

silahkan. Aku akan mengantar kalian. Bukankah kalian murid

Kiai Gringsing yang terpercaya? “

“ Terima kasih “ sahut Agung Sedayu “ kami memang

hanya akan melihat-lihat saja. Kami pernah berlatih ditempat

itu bersama Guru. Dan tiba-tiba saja memang timbul keinginan

untuk melihatnya. “

Demikianlah, maka merekapun telah mengitari kebun

belakang dan mendekati longkangan diantara beberapa barak

kecil di padepokan itu. Diantar oleh seorang cantrik mereka

memasuki satu diantara bangunan yang ada di padepokan itu.

Sanggar.

Demikian mereka membuka pintu dan melangkah masuk,

maka jantung mereka terasa berdebar-debar. Sanggar itu

nampak teratur rapi. Namun merekapun melihat, bahwa

agaknya sanggar mereka itu sudah agak lama tidak

dipergunakan.

“ Apakah Guru sudah lama tidak mempergunakan sanggar

ini? “ bertanya Agung Sedayu.

Cantrik itu mengangguk. Katanya “ Sudah lebih dari

sepuluh hari. Sejak Guru merasa badannya tidak enak. Tetapi

kami diperkenankan mengadakan latihan-latihan khusus disini.

 

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun timbul juga

pertanyaan dihatinya “ Jika Guru memberikan latihan-latihan

kecil kepada para cantrik, sampai sejauh manakah ilmu yang

diberikan kepada mereka. “

Tetapi pertanyaan itu hanya dapat diberikan kepada Kiai

Gringsing sendiri.

Sejenak mereka berada didalam Sanggar itu. Mereka telah

melihat-lihat benda-benda yang ada didalamnya, serta

berbagai jenis senjata yang tersangkut didinding sanggar.

Meskipun tempat itu sudah lebih dari sepuluh hari tidak

dipergunakan oleh Kiai Gringsing, namun semua yang ada di

sanggar itu nampak bersih dan terawat. Sedangkan para

cantrik agaknya hanya mempergunakan bagian-bagian yang

paling sederhana dari banjar itu tanpa merubah tatanannya.

Swandarupun merenungi beberapa jenis senjata yang ada

didalam sanggar itu. Namun bagi Swandaru tidak ada senjata

yang lain yang sesuai kecuali cambuknya. Selain karena sejak

semula ia telah mempergunakan senjata jenis itu, juga karena

Gurunyapun disebut orang bercambuk, ma-jka cambuknya

telah disulaminya pula dengan karah-karah baja sehingga

cambuk Swandaru memang merupakan cambuk yang sangat

berbahaya sebagai senjata. Ujudnya menjadi agak berbeda

dengan cambuk Agung Sedayu, karena cambuk Agung

Sedayu tidak mengalami perubahan apa-apa sebagaimana

diterimanya dari gurunya.

Sekar Mirah dan Pandan Wangipun memperhatikan

sanggar itu dengan saksama. Namun mereka berduapun telah

mempunyai ciri khusus pada jenis senjata yang mereka

pergunakan. Sebagai murid Sumangkar, maka Sekar Mirah

tidak tertarik kepada jenis senjata apapun selain tongkat

bajanya. Sedangkan Pandan Wangi terbiasa mempergunakan

sepasang pedang. Namun yang untuk sementara pedangpedangnya

sedang diletakkan.

Yang terpukau adalah Glagah Putih. Sanggar dari

padepokan kecil itu nampaknya memang lengkap sekali.

Didalam sanggar itu seseorang dapat berlatih berbagai

macam gerakan yang diperlukan. Didalam sanggar itu

terdapat palang untuk meningkatkan keseimbangan.

 

Kemudian patok-patok yang ditanam tegak dan tidak sama

tinggi. Bahkan tali ijuk yang terentang agak tinggi. Beberapa

bambu yang bersilang untuk mengadakan latihan-latihan

meringankan tubuh. Pasir didalam kotak dan di kotak lain

terdapat kerikil lemut dan di kotak yang lain lagi terdapat kerikil

tajam dari pecahan batu. Disatu sudut terdapat perapian yang

padam dan tempayan tembaga tempat air bersih. Di dinding

sanggar selain senjata juga terdapat beberapa kerudung

kepala yang tidak berlubang bagi penglihatan.

Hampir diluar sadarnya Agung Sedayu bertanya kepada

cantrik itu “ Apakah kalian pernah mempergunakan kerudung

ini dalam latihan? “

Cantrik itu mengangguk kecil. Jawabnya “ Ya. Kami

memang pernah mengadakan latihan dengan kepala tertutup.

Agung Sedayu dengan cermat mengamati kerudung itu,

yang ternyata justru terdapat lubang diarah telinga. Dengan

nada rendah ia berkata “ Satu latihan untuk per-tempuran

malam yang sangat baik. Dengan demikian kalian telah

melatih pendengaran kalian untuk mengatasi kegelapan. “

Agung Sedayu sendiri tidak pernah mendapat latihan

dengan cara itu. Tetapi Kiai Gringsing langsung membawanya

terjun ke medan dimalam hari yang pekat. Atau disanggar

yang tertutup semua lubang-lubang cahayanya. Tetapi untuk

berlatih beberapa orang bersama-sama di setiap saat dan

barangkali diluar sanggar dan di siang hari kerudung itu

memang berarti sekali.

Glagah Putih yang setiap kali mendapat kesempatan untuk

melihat-lihat sanggar itu ternyata tidak pernah merasa jemu. Ia

selalu memperhatikan semua warga yang ada didalam

sanggar itu dengan seksama.

Setelah puas mereka melihat-lihat, maka merekapun

kemudian mengajak cantrik itu untuk keluar dari sanggar dan

kembali ke belumbang.

Kiai Gringsing masih berada di gubug kecil itu. Ia duduk

bersandar dinding, ditunggu oleh seorang cantrik. Ketika ia

melihat tamu-tamunya mendatanginya, maka iapun tersenyum

sambil beringsut menepi.

 

“ Kau sudah melihat seluruhnya? “ bertanya Kiai Gringsing.

Yang menjawab adalah cantrik yang mengantarkan “ Baru

sebagian Kiai. Tetapi mereka ternyata ingin melihat-lihat

sanggar. “

Kiai Gringsing tertawa. Katanya “ Sanggar itu masih seperti

beberapa saat yang lalu, ketika kalian melihatnya yang

terakhir kalinya. “

“ Kiai mendapatkan satu cara baru untuk melatih para

cantrik bertempur dimalam hari “ berkata Swandaru.

“ Hanya untuk mempermudah pekerjaanku, agar aku tidak

perlu keluar dari bilikku di malam hari “ berkata Kiai Gringsing.

Lalu “ Tetapi bagaimanapun juga adalah lebih baik jika kita

berlatih dalam keadaan sebenarnya. Pengaruh bunyi disekitar

kita, suara-suara malam dan siang adalah

jauh berbeda, sehingga yang dilakukan oleh para cantrik itu

hanya sekedar menutup kekurangan.

“ Satu cara yang menarik “ berkata Agung Sedayu “ tanpa

harus keluar di malam hari sebagaimana Guru katakan.

Setidak-tidaknya sebagai pendahuluan dari latihan yang

sebenarnya. “

“ Ya. Aku memang sudah terlalu tua dan lemah, sehingga

aku harus lebih banyak menghemat tenaga. “ berkata Kiai

Gringsing “ apalagi sekarang, setelah terasa kesehatanku

menjadi sangat menurun. “

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak

mengatakan sesuatu.

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsingpun kemudian berkata

“ Baiklah. Jika kalian masih ingin melihat-lihat, lakukanlah. Aku

akan beristirahat dahulu. Rasa-rasanya angin bertiup semakin

kencang. “

“ Silahkan Guru “ jawab Agung Sedayu “ kami akan berada

disini sampai besok sehingga waktu kami masih cukup. “

“ Agaknya maka sebaiknya kalianpun beristirahat pula di

bilik yang sudah disediakan oleh para cantrik. Berbuatlah

sebagaimana di rumah sendiri. Padepokan ini juga padepokan

kalian semuanya. “

“ Ya Guru. Kami memang merasa dirumah sendiri. “

berkata Agung Sedayu.

 

Kiai Gringsing tersenyum. Iapun kemudian telah

meninggalkan gubug ditepi kolam itu dan kembali ke

bangunan induk padepokan kecilnya, diantar oleh seorang

cantrik, sementara cantrik yang lain masih menemani para

tamu murid Kiai Gringsing beserta isteri mereka dan Glagah

Putih.

Tetapi tamu-tamu Kiai Gringsing itu juga tidak terlalu lama

melihat-lihat belumbang yang menyimpan ikan-ikan

yang besar. Merekapun kemudian telah diantar oleh para

cantrik ke dalam bilik mereka masing-masing, sementara

Glagah Putih akan berada di bilik para cantrik.

Ternyata bahwa cantrik-cantrik muda ada juga yang sebaya

dengan Glagah Putik Dengan demikian, maka Glagah Putih

pun rasa-rasanya telah mendapat kawan yang sesuai. Mereka

sempat membicarakan tentang pekerjaan para cantrik di

kebun, di sawah dan pategalan, namun juga para cantrik yang

memelihara ikan di belumbang. Ternyata bahwa Glagah Putih

memang tertarik kepada cara para cantrik memelihara ikan.

Demikianlah, maka hari itu, kedua murid Kiai Gringsing

suami isteri serta Glagah Putih sempat menikmati tata cara

kehidupan di padepokan kecil itu. Satu suasana yang berbeda

dari suasana hidup mereka sehari-hari. Meskipun bukan

berarti bahwa di padepokan yang terasa tenang dan damai itu

tidak ada kerja. Karena para cantrik ternyata juga bekerja

keras. Di kebun, di sawah dan pategalan serta di semua

lingkungan mereka yang lain termasuk di dalam sanggar dan

tempat-tempat latihan yang lain.

Namun demikian, suasananya memang tidak seperti

suasana di Kademangan Sangkal Putung atau di Tanah

Perdikan Menoreh. Di padepokan rasa-rasanya hidup mereka

dibatasi oleh lingkungan kecil itu saja. Meskipun bukan berarti

bahwa padepokan Kiai Gringsing tertutup dari lingkungan.

Mereka mempunyai banyak jalur hubungan dengan

padukuhan-padukuhan disebelahnya. Para cantrik itu telah

menukarkan hasil sawah dan pategalan mereka dengan

kebutuhan-kebutuhan lain. Namun para cantrik itu tidak

memerlukan alat-alat pertanian dari luar lingkungan

padepokan, karena ternyata ada diantara para cantrik itu yang

 

memiliki ketrampilan pande besi, sehingga mereka dapat

membuat alat-alat dari besi itu sendiri.

Meskipun ada juga para cantrik yang pandai menenun,

tetapi hasilnya sama sekali tidak memenuhi kebutuhan

sebagaimana alat-alat pertanian. Karena itu, maka padev

pokan itu masih memerlukan bahan pakaian dari luar

padepokan.

Agung Sedayu dan Swandaru yang mengamati padepokan

itu merasa betapa banyak kemajuan yang telah dicapai oleh

penghuninya. Kemudian dari sebuah padepokan takarannya

memang berbeda dari kemajuan yang dikenal sebuah

Kademangan dan Tanah Perdikan. Apalagi ketika Agung

Sedayu dan Swandaru melihat, bahwa para cantrik juga

menekuni ilmu yang lain kecuali olah kanuragan.

Di dalam ruangan yang khusus, ternyata para cantrik juga

belajar membaca dan menulis. Mereka juga mempelajari

beberapa jenis pengetahuan yang berhubungan dengan

keahlian Kiai Gringsing. Obat-obatan dan pengetahuan

tentang urat syaraf. Meskipun tidak terlalu mendalam tetapi

mereka memiliki pengetahuan dasar yang dapat mereka

pergunakan untuk memberikan sekedar pertolongan kepada

orang-orang sakit, terluka dan juga yang terkena gangguan

urat dan syaraf karena terjatuh, terkilir dan sejenisnya.

Perhatian Glagah Putih ternyata lebih banyak kepada

Sanggar padepokan itu. Di sore hari, ditemani seorang cantrik

Glagah Putih telah berada di sanggar itu lagi. Ia telah

mencoba berbagai macam senjata. Ia masih juga

memperbandingkan dengan senjatanya sendiri yang terlalu

khusus. Ikat pinggang yang memang mempunyai watak yang

khusus. Iapun telah mencoba menilai kemampuannya sendiri

tentang keseimbangan. Ilmu meringankan tubuh dan

ketrampilan kaki.

Diluar sadarnya Glagah Putih telah berlatih dengan penuh

minat karena di sanggar itu tersedia berbagai macam alat

yang sangat menarik perhatiannya.

Adalah diluar sadarnya pula, bahwa cantrik yang

mengantarkannya itu memperhatikannya dengan penuh

 

kekaguman. Cantrik itu memang tidak mengira bahwa Glagah

Putih yang masih muda itu mampu menguasai ilmu

yang sudah sedemikian tinggi. Keseimbangan tubuhnya,

ilmu meringankan tubuh, ketrampilan tangan dan kaki, serta

kemampuan yang lain yang jarang dilihatnya diantara orangorang

berilmu yang pernah ditemuinya. Bahkan meskipun

cantrik itu yakin akan kelebihan Kiai Gringsing, namun orang

tua itu hampir tidak pernah menunjukkannya kepada para

cantrik itu.

Glagah Putih berhenti ketika sanggar itu menjadi semakin

suram. Agaknya matahari telah turun kepunggung bukit

disebelah Barat. Karena itu, maka iapun telah menghentikan

latihan-latihannya.

“ Luar biasa “ desis cantrik yang mengantarkannya “

bagaimana mungkin kau dapat melakukannya. “

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun iapun

kemudian menarik nafas sambil berkata “ Bukan apa-apa. Aku

hanya mengulang latihan-latihan yang pernah diberikan

kepadaku. Masih sangat dasar. “

Tetapi pertanyaan cantrik itu tidak diduganya “ Tetapi aku

melihat unsur-unsur gerak yang berbeda dari unsur-unsur

gerak yang diajarkan oleh Kiai Gringsing. “

***

API DI BUKIT MENOREH SERI III

JILID 228

GLAGAH PUTIH termangu-mangu sejenak. Ternyata

cantrik itu sudah mampu memberikan dasar-dasar ilmu dari

perguruan yang berbeda. Glagah Putih memang tidak

mempelajari ilmu dari jalur perguruan Kiai Gringsing. Tetapi

dari jalur perguruan Ki Sadewa meskipun juga lewat Agung

 

Sedayu. Dilengkapi dengan ilmu yang disadapnya dari Ki

Jayaraga.

Dengan nada rendah ia berkata, “ Aku memang

mempunyai jalur perguruan yang berbeda.”

“ Tetapi bukankah kau murid kakang Agung Sedayu?”

bertanya cantrik itu.

“ Itulah kelebihan kakang Agung Sedayu. Meskipun sudah

barang tentu bahwa terdapat juga pengaruh dari ilmu yang

dimilikinya dari Kiai Gringsing, tetapi yang utama yang

diberikan kepadaku adalah jalur ilmu yang lain yang juga

dikuasainya. Tetapi sebenamya tidak akan banyak bedanya.

Sumber ilmu itu hanya merupakan pokok dasar yang

kemudian akan berkembang sesuai dengan pribadi kita

masing-masing serta pengaruh yang kita sadap justru untuk

memperkaya unsur-unsur yang ada didalam ilmu dasar kita,

asal watak dan sifatnya tidak saling bertentangan dengan

dasar kepribadian dan watak ilmu yang telah kita miliki

dasarnya itu.” berkata Glagah Putih.

Cantrik itu mengangguk-angguk. Ia memang melihat

betapa kayanya unsur gerak yang nampak pada tata gerak

Glagah Putih. Kekayaan unsur yang dikuasainya serta

kemampuan mengurai dan mengambil sikap pada satu

keadaan yang khusus, merupakan modal yang sangat

berbahaya. Sementara itu, cantrik itupun pernah mendengar

bahwa Glagah Putih sudah memiliki kemampuan menyadap

kekuatan getaran alam yang ada disekitarnya, mengendapkan

didalam dirinya dan kemudian melontarkannya sebagai bagian

dari ilmunya itu. Tetapi ketika ia menyaksikan ketrampilan

gerak tangan dan kakinya, maka kekagumannya menjadi

semakin meningkat.

Namun haripun menjadi semakin suram. Karena itu, maka

Glagah Putihpun kemudian meninggalkan sanggar itu dan

pergi ke pakiwan.

Ketika senja kemudian turun, maka Glagah Putihpun telah

duduk diruang dalam barak induk padepokan itu bersama

Agung Sedayu dan Swandaru beserta isteri mereka. Kiai

Gringsingpun telah duduk pula diantara mereka. Sementara

 

itu para cantrikpun telah menghidangkan makan malam yang

hangat.

Beberapa saat kemudian, maka para cantrikpun telah

menyingkirkan mangkuk-mangkuk serta sisa makanan dan

membawanya ke dapur. Sedangkan mereka yang ada diruang

dalam masih juga sempat berbincang-bincang beberapa saat.

Bahkan sekah-sekali terdengar suara tertawa menyelingi

pembicaraan mereka.

Kiai Gringsing yang sedang sakit itupun nampak menjadi

cerah dan gembira. Kiai Gringsingpun telah memanggil

beberapa orang cantrik yang tertua untuk ikut serta

berbincang-bincang dengan sekali sekali terdengar gurau

yang segar.

Namun, ketika malam menjadi semakin dalam, maka

agaknya Kiai Gringsingpun menjadi letih. Tetapi ternyata

bahwa orang tua itu tidak segera meninggalkan ruang dalam.

Bahkan katanya kemudian kepada Sekar Mirah, Pandan

Wangi dan Glagah Putih, “ Beristirahatlah. Biarlah aku

berbicara dengan Agung Sedayu dan Swandaru saja.”

Pandan Wangi dan Sekar Mirah saling berpandangan.

Namun merekapun segera mengerti, bahwa Kiai Gringsing

ingin berbicara dengan Agung Sedayu dan Swandaru sebagai

murid-muridnya. Bahkan para cantrik yang ada di ruang dalam

itupun oleh Kiai Gringsing telah diminta pula untuk

meninggalkan ruangan.

Dengan demikian, maka Glagah Putihpun telah beringsut

meninggalkan tempat itu pula bersama Pandan Wangi dan

Sekar Mirah. Namun mereka tidak segera masuk kedalam bilik

mereka masing-masing. Tetapi mereka telah bersama-sama

berada di serambi. Ternyata bahwa mereka bertiga menjadi

gelisah pula sebagaimana Agung Sedayu dan Swandaru,

sehingga merekapun telah berbincang tentang apa saja yang

akan dibicarakan oleh Kiai Gringsing dengan kedua orang

muridnya itu.

Dalam pada itu, yang tinggal bersama Kiai Gringsing

kemudian adalah tinggal Agung Sedayu dan Swandaru.

Keduanya yang menjadi berdebar-debar itu menunggu, apa

yang akan dikatakan oleh Kiai Gringsing yang sedang sakit itu.

 

Setelah hening sejenak, maka Kiai Gringsing itupun

kemudian telah berkata, “ Anak-anakku. Sebagaimana kalian

ketahui, bahwa aku semakin lama telah menjadi semakin tua.

Sejak kita dipertemukan oleh Yang Maha Agung, maka aku

memang sudah tua. Apalagi sekarang. Karena itu, maka

kalianpun tahu, kemana arah perjalananku sekarang ini.”

Agung Sedayu dan Swandaru hanya dapat menarik nafas

dalam-dalam sementara suara Kiai Gringsingpun menjadi

semakin berat. “ Rencana itu, maka aku merasa berbangga

sekali, bahwa saat ini aku dapat bertemu dengan kalian

berdua.”

Kiai Gringsing berhenti sejenak. Iapun menarik nafas

dalam-dalam seolah-olah udara malam di padepokan itu akan

dihirupnya semuanya. Kemudian terdengar suaranya

melemah, “ Betapapun juga tingkat ilmu seseorang, tetapi

pada saatnya kita tidak akan dapat ingkar lagi. Karena itu

sikap pasrah bukannya satu sikap yang lemah dan putus-asa.

Tetapi kita memang tidak akan dapat menentang arus

kehidupan. Bahkan akhirnya kita akan sampai ke muara.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Namun

Swandaru telah mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak

mengatakan sesuatu. Bahkan kepalanyapun kemudian

tertunduk kembali.

“ Anak-anakku.” berkata Kiai Gringsing, “ saat-saat seperti

itu tentu akan datang juga kepadaku. Bahkan kelak juga

kepada kalian. Tetapi kalian masih muda. Menurut

perhitungan lahiriah, maka akulah yang akan lebih dahulu

sampai.”

“ Tetapi Guru.” tiba-tiba saja Swandaru berdesis, “ apakah

kita akan menyongsong saat-saat yang demikian itu dengan

berlutut dan tangan bersilang serta kepala menunduk?”

“ Jika kita memang telah sampai kehutan, betapa kita

berusaha menentangnya, itu tidak berarti sama sekali. Seperti

yang pernah aku katakan, bahwa saat itu akan datang tanpa

memperhatikan apakah kita setuju atau tidak setuju. Sama

sekali bukan berarti bahwa kita tidak berusaha. Tetapi

sekarang aku akan berkata dengan tegas, bahwa segala

usaha akan sia-sia. Kita tidak mempunyai wewenang untuk

 

menentukan, apakah usaha kita akan berhasil atau sia-sia.

Bahkan jika kita menentang kesia-siaan itu, maka kita akan

kehilangan keseimbangan jiwa. Kita justru akan semakin

menderita karenanya.”

Swandaru mengerutkan dahinya. Namun ia sama sekali

tidak berani menentang sikap gurunya yang nampaknya

menjadi keras itu. Jauh berbeda dengan sikapnya disaat-saat

ia datang.

Sejenak kemudian maka Kiai Gringsing itupun berkata

selanjutnya, “ Karena itu, anak-anakku. Akupun tidak akan

menentang saat itu datang. Bahkan aku ingin mempersiapkan

diri sebaik-baiknya menjelang saat itu. Aku tidak ingin bahwa

pada saat terakhir aku digelisahkan oleh persoalan-persoalan

yang aku anggap belum siap ditinggalkan.”

“ Guru.” desis Swandaru.

Tetapi Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “ Tidak ada

pilihan lain Swandaru. Di waktu yang tinggal sedikit ini

seharusnya kita tidak menyia-nyiakan waktu kita itu untuk

melakukan tindakan-tindakan yang tidak berarti sama sekali.

Lebih baik kita berbenah diri dan melakukan yang paling

berarti bagi kita. Bukan satu sikap putus asa Swandaru.”

“ Guru.” suara Swandaru tersendat, “ tetapi bukankah kita

tidak tahu kapan hal itu akan terjadi?”

“ Ya.” jawab Kiai Gringsing, “ kita memang tidak tahu.

Tetapi justru karena itu, maka kita tidak boleh terlambat.”

“ Tetapi bagaimana jika saat itu datang dalam sepuluh atau

duapuluh tahun lagi, sementara kita tenggelam dalam

persiapan bagi satu masa yang masih sangat jauh itu?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Kau

masih muda Swandaru. Namun bagaimanapun juga,

kesiagaan itu harus ada didalam diri kita. Saat itu dapat

datang kapan saja tanpa kita ketahui. Apalagi bagi orang yang

sudah setua aku ini. Menurut perhitungan lahiriah seperti yang

sudah aku katakan, bahwa saat itu akan datang tidak terlalu

lama lagi.”

Swandaru mengatupkan giginya rapat-rapat. Ada sesuatu

yang bergejolak didadanya. Tetapi ia memang tidak berani

menentang pendapat Kiai Gringsing itu. Namun karena itu,

 

maka dadanyapun rasa-rasanya justru menjadi sesak. Yang

dikatakan oleh gurunya itu kurang sesuai dengan

pendapatnya. Kepada dirinya sendiri ia berkata, “ Seharusnya

kita tidak tenggelam dalam laku yang tidak berarti itu. Jika

hidup dan mati itu tidak dapat kita rencanakan, maka

seharusnya kita tidak mempedulikannya. Kita melakukan apa

yang baik menurut penilaian kita tanpa dibayangi oleh

perasaan yang kalut seperti Guru itu.”

Tetapi Swandaru tidak mengucapkannya. Bahkan

kepalanya justru telah tertunduk. Untuk beberapa saat mereka

terdiam. Seakan-akan mereka sedang melihat kedalam diri

mereka masing-masing.

Baru sejenak kemudian Kiai Gringsing itupun berkata, “

Anak-anakku. Karena itulah aku merasa gembira sekali,

bahwa kalian berada disini pada saat yang penting ini. Aku

memang ingin berkemas, agar aku terbebas dari beban yang

dapat mengganggu perasaanku jika aku harus menempuh

perjalanan jauh itu.”

Swandaru berusaha untuk menahan diri agar ia tidak

membantah kata-kata gurunya yang barangkali akan dapat

membuat gurunya itu tersinggung. Sementara itu Agung

Sedayu ternyata berpendapat lain. Ia melihat gurunya sebagai

seorang yang memang telah mempersiapkan diri menghadapi

ujung perjalanan hidup dan akan turun ke sebuah perjalanan

yang baru. Dilihatnya, gurunya seakan-akan sedang berbenah

diri sehingga pada saatnya tidak ada lagi yang dapat

membuatnya cemas dan ragu-ragu. Gurunya akan dapat

melangkah dengan langkah yang tetap dan pasti serta dada

yang lapang. Ia benar-benar telah selesai.

Dalam pada itu, Kiai Gringsingpun berkata pula, “

Sebagaimana kau ketahui, ada beberapa hal yang perlu aku

bicarakan dengan kalian. Dalam ketuaanku ini, maka banyak

tugas-tugas yang tidak dapat lagi aku lakukan dengan baik.

Aku merasa terlalu letih untuk memimpin padepokan ini,

menilai pekerjaan para cantrik. Memberikan latihan-latihan

kepada mereka, melihat-lihat sawah dan pategalan. Karena

itu, aku memerlukan seseorang yang dapat melakukannya

dengan baik. Sementara itu, aku tahu bahwa Agung Sedayu

 

dan Swandaru masing-masing telah mempunyai tugas yang

cukup berat. Meskipun demikian aku ingin menawarkan

kepada kalian berdua, siapakah yang bersedia untuk

membantu aku memimpin padepokan ini.”

Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan

sejenak. Tetapi agaknya keduanya memang tidak akan dapat

melakukannya. Sebagaimana dikatakan oleh Kiai Gringsing,

bahwa kedua orang muridnya itu telah memiliki tugasnya

masing-masing yang akan sulit sekali ditinggalkannya.

Karena itu, maka Kiai Gringsing yang mengetahui perasaan

kedua orang muridnya itupun berkata, “ Jangan segan-segan

untuk mengatakan kemungkinan bagi kalian masing-masing.

Aku lebih senang mendengarkan kalian berkata yang

sebenarnya kepadaku sehingga dengan demikian aku akan

dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang tepat.”

“ Ampun Guru.” berkata Agung Sedayu, “ bukannya aku

ingin mengingkari tugas seandainya Guru memang

membebankan tugas itu kepadaku. Namun aku mohon Guru

mempertimbangkan tugas-tugasku sekarang yang masih

belum mapan aku lakukan di Tanah Perdikan Menoreh, justru

pada saat yang gawat ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling

kepada Swandaru, maka Swandarupun berkata, “ Guru.

Ayahku telah tua pula meskipun belum setua Guru. Karena itu,

maka Kademangan Sangkal Putung memang memerlukan

seseorang yang dapat menanganinya. Itulah sebabnya, maka

aku tidak dapat meninggalkan tugas-tugas sebagai anak

Demang di Sangkal Putung itu.”

Kiai Gringsingpun mengangguk-angguk pula. Katanya, “

Aku memang sudah menduga, bahwa kalian tidak akan dapat

meninggalkan kesibukan kalian masing-masing. Bagiku

memang tidak ada bedanya. Apakah kalian bekerja di Tanah

Perdikan Menoreh, atau di Kademangan Sangkal Putung atau

disini. Yang penting kalian telah berbuat sesuatu yang

akibatnya akan memberikan arti yang baik bagi sesama.

Dimanapun kita berada. Yang penting bagiku adalah

pernyataan kalian itu. Sebab bagiku, kalian berdua adalah

orang-orang yang terdekat yang paling berhak mewarisi

 

padepokan kecil ini, meskipun tidak berarti apa-apa.

Padepokan kecil yang tidak mempunyai sesuatu yang dapat

dibanggakan.”

Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “ Dengan pernyataan

kalian itu, maka aku akan dapat mengambil langkah yang

menurut penilaianku paling baik. Meskipun demikian aku

masih ingin mempertimbangkannya dengan kalian berdua.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Mereka

menunggu saja apa yang akan dikatakannya oleh gurunya.

Sementara itu, Kiai Gringsingpun berkata, “ Dengan

pernyataan kalian itu, maka bukankah mengandung

pengertian, bahwa kalian akan merelakan jika padepokan ini

akan dipimpin oleh seseorang?”

“ Seseorang?” bertanya Swandaru, “ maksud Guru, orang

lain akan hadir dalam perguruan Kiai Gringsing ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dengan nada

rendah iapun kemudian berkata, “ Belum seorangpun diantara

para cantrik yang dapat dibebani tanggung jawab atas

padepokan ini. Betapapun kecilnya padepokan ini, namun

agaknya diperlukan seseorang yang dapat memimpinnya

dengan baik dan wajar.”

“ Siapakah yang Guru maksud dengan seseorang itu?”

bertanya Swandaru.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Katanya

kemudian dengan nada rendah, “ Aku mempunyai beberapa

nama yang pantas aku sebutkan. Justru aku memang ingin

mendengar pertimbangan kalian sebagai orang-orang yang

paling berhak atas padepokan ini.”

Swandaru dan Agung Sedayu diam menunggu. Sementara

Kiai Gringsing kemudian berkata, “ Aku dapat menyerahkan

padepokan ini kepada angger Untara. Ia dapat memanfaatkan

padepokan ini bagi sebagian prajurit-prajurit tanpa merubah

ujud dan bentuk padepokan ini. Akupun dapat menyebut nama

Ki Widura. Meskipun aku tidak tahu, apakah ia bersedia

memimpin padepokan ini, tetapi jika pilihan kalian jatuh

kepadanya, aku akan mencoba menghubunginya.”

Agung Sedayu mengerutkan dahinya, namun Swandaru

terkejut mendengar pendapat gurunya itu. Bahkan ia telah

 

beringsut setapak maju. Dengan nada tinggi ia bertanya, “

Guru, apakah hal itu sudah Guru pertimbangkan dengan

masak.”

“ Aku sudah mempertimbangkannya sekarang bersama

kalian.” jawab Kiai Gringsing.

“ Aku sama sekali tidak sependapat jika padepokan ini akan

dipergunakan oleh para prajurit Mataram yang berada di Jati

Anom. Kedudukan padepokan ini akan berubah sama sekali.

Para cantrik akan kehilangan pribadinya sebagai seorang

cantrik di sebuah padepokan.” berkata Swandaru.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Namun iapun

kemudian bertanya, “ Bagaimana dengan Ki Widura?”

“ Ki Widura bukan murid Guru. Tidak ada jalur sama sekali

dari Guru yang sampai kepada Ki Widura. Apakah karena Ki

Widura itu paman kakang Agung Sedayu, maka ia dapat

dipertimbangkan untuk menggantikan kedudukan kakang

Agung Sedayu disini? Sementara itu sifat dan watak ilmu yang

dimiliki oleh Ki Widura sangat berbeda dengan ilmu yang Guru

ajarkan di padepokan ini.” jawab Swandaru pula.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun

bertanya kepada Agung Sedayu, “ Bagaimana pendapatmu,

Agung sedayu?”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun iapun kemudian

menjawab, “ Aku sependapat dengan adi Swandaru, bahwa

sebaiknya padepokan ini tidak diserahkan kepada kakang

Untara. Bukannya aku menolak untuk bekerja bersama

dengan para prajurit Mataram, tetapi bentuk padepokan ini

benar-benar akan berubah. Meskipun para prajurit itu tidak

berniat untuk merubahnya, namun tugas dan kedudukan

mereka akan membuat suasana padepokan ini menjadi lain.

Sedangkan dengan paman Widura aku ingin mendengar dari

Guru, apakah dasarnya bahwa Guru telah menyebut nama

paman Widura itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Katanya, “ Anakanakku.

Memang tidak ada orang yang lebih pantas dari kalian

untuk menerima limpahan kepemimpinan di padepokan ini.

Tetapi jika aku sebagai Guru memerintahkan salah seorang

diantara kalian melakukannya, maka aku adalah orang tua

 

yang telah mengekang perkembangan anak-anaknya.

Cakrawala masa depan kalian akan menjadi sempit dan kalian

akan terpisah dari meskipun tidak mutlak dari perkembangan

lingkungan yang lebih besar. Sementara itu kalian berdua

memang telah menyatakan bahwa kalian untuk waktu yang

dekat tidak akan dapat menghilangkan tugas kalian yang

sedang berkembang sekarang ini, sementara duri-duri yang

ditaburkan oleh beberapa orang di Madiun tengah menyusup

ke Mataram dan lingkungan disekelilingnya. Itulah sebabnya,

maka aku memerlukan seseorang disini. Seseorang yang aku

kenal sifat dan kebiasaannya. Kemampuannya dan tanggung

jawabnya.”

Namun Swandarulah yang dengan tergesa-gesa

menjawab, “ Tetapi bukankah itu tidak terbiasa dilakukan oleh

siapapun juga Guru. Seorang pemimpin padepokan

menyerahkan kepemimpinannya kepada orang lain.

Maksudku, bukan keluarga dari perguruan yang hidup di

padepokan itu.”

“ Aku mengerti Swandaru.” berkata Kiai Gringsing yang

kemudian telah terpotong oleh kata-kata Swandaru, “ Lalu

bagaimana pula dengan para cantrik yang selama ini

mendapat pengetahuan dan ilmu yang Guru berikan.

Sementara itu Ki Widura sendiri tidak pernah mempelajari ilmu

dari jalur yang sama.”

“ Aku telah memikirkannya Swandaru.” berkata Kiai

Gringsing, “ tetapi tolonglah, beri aku pemecahan. Jika kalian

berdua tidak sanggup dan hal itu akan dapat mengerti, lalu

bagaimana dengan padepokan ini? Bukankah lebih baik

dipimpin oleh seseorang yang meskipun datang dari luar jalur

perguruan tetapi sudah kita kenal dengan baik daripada

padepokan ini harus ditutup dan menyerahkan kembali para

cantrik kepada keluarganya? Sementara itu, para cantrik itu

berharap untuk mendapatkan ilmu yang jauh lebih baik dari

yang mereka miliki sekarang. Bukan saja kanuragan tetapi

juga pengetahuan yang lain. Mengenal huruf dan beberapa

jenis ilmu tentang kehidupan. Seandainya demikian, apakah Ki

Widura dapat melakukan sebagaimana dilakukan. Ki Widura

tentu mempunyai cara yang lain. Sementara itu aku yang tua

 

ini, untuk waktu yang meskipun terbatas akan dapat

membantu tugas itu. Tentu saja tugas-tugas yang ringan.

Mengajarkan para cantrik mengenali jenis tumbuh-tumbuhan,

jenis-jenis daun dan akar-akaran. Mungkin getah dan jenis

racun pada tumbuh-tumbuhan. Racun yang dapat mencelakai

seseorang dan racun yang dapat membantu seseorang. Atau

pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak memerlukan tenaga.”

“ Jika demikian, selama masih berada dibawah

pengawasan Guru, apakah Guru tidak dapat menunjuk salah

seorang cantrik yang tertua ilmu dan kemampuannya?”

bertanya Swandaru pula.

Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “ Sulit bagiku untuk

menyerahkan pimpinan kepada salah seorang diantara

mereka.”

“ Guru tidak usah menyerahkan pimpinan itu. Guru masih

tetap pemimpin disini. Namun orang itulah yang melakukan

tugas-tugas yang berat.” jawab Swandaru.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sambil

memandang ke nyala lampu minyak di ajuk-ajuk ia berkata, “

Aku ingin beristirahat. Aku sudah merasa terlalu letih.”

Swandaru masih akan menyahut. Namun Agung Sedayulah

yang berkata selanjutnya. “ Guru. Aku dapat mengerti, bahwa

pada satu saat, seseorang ingin mendapatkan kesempatan

yang bebas. Tanpa memberikan tugas apapun juga yang

membebani dirinya, meskipun bukan berarti berhenti sama

sekali.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Iapun kemudian

memandang Agung Sedayu dengan kerut di dahinya.

Sementara itu Agung Sedayupun berkata, “ Guru. Yang

penting bagi kita, bagaimana padepokan ini justru dapat

berkembang sesuai dengan warna yang telah diletakkan oleh

Guru. Sebenarnya siapapun yang akan memimpin padepokan

ini bukannya soal yang penting. Tetapi kesinambungan dari

alat yang telah diserahkan oleh Guru itulah yang perlu

diperhatikan Guru, sebenarnyalah paman Widura adalah,

orang luar bagi perguruan kita. Kecuali jika paman Widura

hanya sekedar membantu Guru, mengatur para cantrik,

menangani perkembangan padepokan ini secara lahiriah,

 

maksudku mengurusi pepohonan di kebun, parit-parit di

sawah dan pategalan, ikatan mereka untuk menepati

paugeran dan pengaturan-pengaturan lain yang diperlukan.

Namun Guru akan tetap memberikan tuntunan ilmu yang

manapun kepada para cantrik. Bukankah Guru dapat

menangkap maksudku dengan memilahkan tugas-tugas itu?

Memang Guru tidak akan dapat beristirahat sepenuhnya.

Namun sebagian dari tugas Guru telah dapat dilimpahkan

kepada orang lain. Sementara itu Guru tidak terikat untuk

melakukan tugas Guru setiap waktu. Para cantrik dapat

berlatih dengan teratur diantara mereka sendiri. Hanya pada

saat-saat penting saja Guru hadir diantara mereka.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada

rendah ia berkata, “ Memang itu merupakan satu cara. Tetapi

dengan demikian, aku masih harus melakukannya.”

“ Tetapi itu adalah sikap yang paling lunak Guru.” sahut

Swandaru, “ aku tidak akan berpikir demikian lunaknya

sebagaimana kakang Agung Sedayau. Tetapi barangkali itu

adalah cara yang lebih baik daripada Guru menyerahkan

padepokan ini kepada paman Widura.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya. “ Baiklah.

Jika kalian menganggap jalan itu adalah yang terbaik. Aku

akan mencoba menghubunginya.”

“ Tetapi harus dijaga bahwa Ki Widura menyadari dan

meyakini tugas yang diberikan kepadanya. Ia tidak boleh

dengan cara apapun juga pada suatu saat menguasai

padepokan ini dengan menyingkirkan Guru.”

“ Ah.” desah Kiai Gringsing, “ aku mengenal Ki Widura

dengan baik. Ia tidak akan melakukannya. Agung Sedayu

adalah kemenakannya, dan ia adalah muridku. Ia tentu akan

menghormati hakku dan hak kemenakannya.”

“ Mudah-mudahan.” jawab Swandaru, “ tetapi bagi

seseorang, kedengkian kadang-kadang mengalahkan segala

kebaikan. Keinginan untuk menguasai sesuatu akan dapat

membuatnya lupa diri.”

“ Aku kira paman tidak akan berbuat demikian.” berkata

Agung Sedayu.

 

“ Siapapun dapat mengira-irakan. Tetapi tidak seorangpun

yang dapat memastikannya.”

Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Namun ternyata ia

tidak langsung menjawab. Bahkan ia berpaling kepada Kiai

Gringsing, seakan-akan menyerahkan segala kebijaksanaan

kepadanya.

Sebenarnyalah KiaiGringsing memang ingin mencegah

perselisihan yang mungkin timbul diantara kedua muridnya itu.

Karena itu, maka iapun berkata, “ Baiklah. Meskipun dengan

sangat hati-hati Swandarupun sependapat, bahwa kita akan

dapat bekerja bersama dengan Ki Widura. Besok aku minta

kalian pergi kerumahnya, minta agar Ki Widura bersedia

datang ke padepokan ini. Kita akan berbicara dengannya.

Mudah-mudahan ada titik temu yang dapat memberikan jalan

keluar kepada kita.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk, sementara Swandaru

hanya dapat menarik nafas panjang. Meskipun terasa masih

ada sesuatu bergejolak di dalam hatinya, tetapi bagaimanapun

juga ia berhadapan dengan Gurunya yang sangat

dihormatinya. Sehingga karena itu, maka Swandaru hanya

berusaha untuk mengendapkan perasaannya.

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsingpun berkata, “ Baiklah.

Jika demikian maka persoalan yang pertama ini dapat kita

anggap sudah selesai. Pada suatu waktu pasti datang saatnya

aku tidak mampu berbuat apa-apa lagi.”

Agung Sedayu masih saja mengangguk-angguk.

Sementara Swandarupun mulai tertarik kepada persoalan

yang masih akan dibicarakan.

“ Anak-anakku.” berkata Kiai Gringsing kemudian, “ selain

padepokan masih ada yang perlu kita bicarakan.

Sebagaimana kalian ketahui, bahwa aku memiliki sebuah kitab

yang berisi beberapa macam pengetahuan tentang kanuragan

dan kehidupan yang lain. Di kitab itu tidak hanya terdapat

petunjuk dan laku untuk menguasai satu jenis ilmu. Tetapi

beberapa, sehingga kitab itu menjadi tebal sekali. Meskipun

demikian, aku memang tidak ingin kitab itu dipecah menjadi

dua atau tiga berdasarkan atas kelompok ilmu. Aku ingin kitab

itu tetap utuh. Namun dengan demikian, sudah barang tentu

 

aku tidak dapat memberikannya sekaligus kepada kalian

berdua.”

Agung Sedayu dan Swandaru menjadi berdebar-debar.

Untuk membaca isi kitab itu saja, diperlukan waktu yang cukup

lama, sekitar tiga bulan. Pada kesempatan pertama Agung

Sedayu membawa kitab itu untuk tiga bulan, maka ia telah

membacanya dengan memahatkan hal-hal yang terpenting

didalam hatinya, sehingga ia telah memanfaatkan satu kurnia

baginya, bahwa ia tidak kehilangan ingatan atas sesuatu yang

memang benar-benar ditekankan pada dirinya untuk dapat

diingatnya. Seakan-akan Agung Sedayu itu mampu

memahatkan persoalan terpenting itu pada dinding hatinya

untuk tidak pernah terhapuskan. Memang ada hal-hal yang

dianggap kurang penting pada kitab itu, atau yang

sebelumnya memang sudah dikuasainya. Dengan demikian

untuk mempelajari dan memenuhi laku yang dituntut didalam

kitab itu, maka untuk dapat melakukannya diperlukan waktu

seumur hidup mereka.

Bahkan bagi mereka yang tidak memiliki ketajaman nalar

budi, maka waktu yang sepanjang umurnya itu tidak akan

mencukupi, sehingga mereka tidak akan pernah mampu

menguasai ilmu-ilmu didalam kitab itu sebaik-baiknya,

meskipun hanya satu jenis sekalipun.

Untuk beberapa saat kedua murid Kiai Gringsing itu

terdiam. Mereka memang tidak tahu apakah yang terbaik

dapat dilakukan. Kitab itu memang hanya satu.

Karena kedua muridnya terdiam, maka Kiai Gringsingpun

kemudian berkata, “ Selama ini aku telah memberi kalian

kesempatan untuk membawa dan mempelajari ilmu

diantaranya yang menarik bagi kalian dan sesuai dengan jiwa

kalian masing-masing. Jika cara yang kita lakukan itu kalian

anggap sesuai, maka cara itu akan dapat diteruskan. Kalian

masing-masing mendapat kesempatan tiga bulan bergantiganti.”

Swandarulah yang kemudian menjawab, “ Sebenarnya cara

itu cukup baik guru. Selama tiga bulan kami sempat

mempelajari laku yang diperlukan. Kemudian tiga bulan

berikutnya, jika timbul niat didalam hati, kami dapat menjalani

 

laku itu untuk menguasai dasar dari salah satu ilmu yang

tertera didalam kitab itu. Selanjutnya kita tinggal

meningkatkannya di tiga bulan berikutnya, sesuai dengan

petunjuk didalam kitab itu pula. Adapun saat-saat berikutnya

kita akan dapat mengembangkannya. Namun kitab itu

memang masih diperlukan karena setiap kali, dalam hal ini

tiga bulan sekali, untuk menyempurnakannya sehingga dalam

sepuluh kali tiga bulan, ilmu yang benar-benar dipelajari dan

laku yang diperlukan benar-benar dijalani, maka ilmu itu akan

menjadi matang didalam diri kita.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “ Aku

sependapat. Cara itu kita lanjutkan. Kitab itu akan berpindah

tangan untuk tiga bulan sekali. Meskipun dalam waktu tiga

bulan itu, mungkin karena kesibukan atau karena hal-hal lain,

kalian tidak sempat mempelajarinya. Namun pada satu saat,

jika hal itu diperlukan, maka kalian dapat menyusun rencana

sebaik-baiknya seperti yang dikatakan oleh Swandaru. Karena

pada dasarnya akar dari ilmu yang bersumber dari perguruan

ini telah kalian kuasai, sehingga untuk mempelajari tingkat

perkembangannya dengan segala cabang-cabang ilmunya

tidak akan terlalu sulit lagi.”

Kiai Gringsing itupun berhenti sejenak. Sambil memandang

kepada Agung Sedayu Kiai Gringsing bertanya, “ Bagaimana

pendapatmu?”

“ Aku sependapat Guru.” berkata Agung Sedayu, “ aku kira

cara itu memang dapat diteruskan.”

“ Baiklah.” berkata Kiai Gringsing, “ jika demikian, maka

cara itu untuk sementara dapat diteruskan.”

“ Kenapa untuk sementara?” bertanya Swandaru.

“ Cara itu tidak akan dapat berlangsung tanpa batas. Pada

suatu saat maka kalian berduapun akan menjadi tua seperti

aku dan menuju kebatas akhir. Karena itu, sebelum hal itu

terjadi, maka harus sudah dapat ditentukan, siapakah yang

akan menyimpan kitabitu selanjutnya dan kepada siapa kitab

itu harus diserahkannya.”

Kedua murid Kiai! Gringsing itu termangu-mangu. Namun

kemudian Agung Sedayupun berkata, “ Guru. Bukankah kami

berdua sudah cukup dewasa untuk membicarakannya kelak

 

pada saatnya? Jika Guru mempercayai kami, biarlah kami

menentukan apa yang sebaiknya kami lakukan atas kitab itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia memang percaya

sepenuhnya kepada Agung Sedayu. Tetapi sebenarnya agak

ragu-ragu terhadap sikap Swandaru. Namun hatinya agak

tenang oleh kenyataan bahwa Agung Sedayu memiliki

kematangan ilmu dan kematangan jiwa melampaui Swandaru,

sehingga sebagai saudara tua dalam perguruan itu, maka

agaknya Agung Sedayu akan dapat mengendalikan adik

seperguruannya jika pada satu saat terjadi penyimpangan.

Karena itu, maka iapun kemudian bertanya kepada Swandaru,

“ Bagaimana pendapatmu Swandaru.”

“ Aku menurut saja Guru.” jawab Swandaru, karena

baginya hal itu akan dapat memberikan lebih banyak peluang

kepadanya. Selama ini Agung Sedayu agaknya terlalu malas

untuk membaca apalagi mempelajari isi kitab itu. Jika waktu

yang tiga bulan habis, belum tentu Agung Sedayu datang

mengambilnya. Bahkan sampai enam bulan kitab itu kadangkadang

masih tersimpan di rumahnya. Meskipun jarak antara

Tanah Perdikan Menoreh dan Sangkal Putung itu sebenarnya

memang tidak terlalu jauh. Namun sekali-sekali juga terbersit

pertanyaan kepada diri sendiri. “ Jika kitab itu sedang ada

padaku, apakah aku juga selalu memanfaatkannya?”

Swandaru menundukkan kepalanya. Bagaimanapun juga ia

harus mengakui, bahwa iapun tidak selalu membaca isi kitab

yang mengandung selain ilmu juga petunjuk-petunjuk tentang

hidup dan kehidupan itu pada saat kitab itu ada padanya.

Swandaru bagaikan tersadar dari angan-angannya, ketika

ia mendengar Kiai Gringsing berkata, “ Baiklah. Jika demikian

aku serahkan kitab itu kepada kalian. Tetapi dengan pesan,

bahwa tidak boleh terjadi penyimpangan. Bukan saja tentang

berbagai paugeran perguruan, tetapi juga tentang perjalanan

hidup kalian diantara sesama. Kalian harus tetap berpegang

pada petunjuk-petunjuk yang pernah aku berikan dan yang

dapat kalian baca kembali didalam kitab itu. Kalian harus tetap

sadar akan hubungan kalian dengan Sumber Hidup kalian dan

dengan sesama.”

 

Kedua murid Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk.

Dengan nada rendah Agung Sedayu berkata, “ Petunjuk dan

nasehat Guru selama ini akan selalu kami ingat.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, sementara

Swandarupun berkata, “ Kami berjanji Guru.”

Kiai Gringsing kemudian memandangi kedua muridnya itu

berganti-ganti. Memang ada kebanggaan dihatinya, bahwa

kedua muridnya telah memiliki pegangan ilmu yang tinggi

meskipun keduanya berbeda sikap dan arah pengembangan

ilmu, namun keduanya berpijak pada alas yang sama.

Kiai Gringsing memang tidak dapat mengingkari kenyataan,

bahwa bukan saja sikap dan arah pengembangan ilmu

mereka yang berbeda, tetapi watak dan sifat kedua muridnya

itupun berbeda. Pandangan hidup dari kedua orang itupun

ternyata tidak searah meskipun Kiai Gringsing selalu

memberikan nasehat dan petunjuk yang sama bagi keduanya.

Tetapi bekal dan lingkungan hidup keduanya berbeda.

Demikian pula ungkapannya dalam kehidupan mereka.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian

berkata, “ Terima kasih atas kesediaan kalian anak-anakku.

Dengan demikian maka saat-saat mendatang nampak cerah

bagi perguruan kita. Aku sebenarnya tidak ingin bahwa jalur

ilmu yang kita sadap itu akan menjadi pudar dan apalagi

lenyap di hari-hari kemudian. Namun dengan kesediaan

kalian, maka mudah-mudahan ilmu ini akan tetap

berkembang. Kesediaan membantu sesama yang berada

didalam kesulitan merupakan bagian yang tidak terpisahkan

dari ilmu kita.”

Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu katanya dengan nada

rendah, “ Tetapi ada sedikit yang ingin aku katakan kepadamu

Agung Sedayu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan sungguhsungguh

ia memperhatikan kata-kata gurunya, “ Bukan

maksudku untuk membatasi kebebasan memilih bagi setiap

orang. Tetapi menurut pengamatanku, adik sepupumu yang

kau tuntun didalam olah kanuragan, yang kemudian juga

dibawah asuhan Ki Jayaraga, condong untuk memiliki ilmu

dari jalur perguruan Ki Sadewa. Aku ikut berbesar hati, bahwa

 

ilmu dari perguruan Ki Sadewa itu akan tetap hidup dan

bahkan berkembang. Namun satu pertanyaan yang tidak

pernah dapat aku lupakan, apakah aku tidak dapat menitipkan

perkembangan ilmu perguruan ini kepada Glagah Putih? Kita

semuanya tentu sudah mengetahui bahwa pengaruh

perguruan ini memang nampak pada Glagah Putih. Tetapi

apakah kita tidak dapat minta kepadanya untuk mempelajari

ilmu dari perguruan ini secara khusus, sehingga pada saatnya

ilmu dari perguruan ini tidak akan begitu saja dilupakan

orang.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebelumnya ia

tidak pernah memikirkannya, bahwa dengan demikian yang

akan berkembang lewat Glagah Putih adalah jalur perguruan

Ki Sadewa, bukan jalur perguruan Kiai Gringsing.

Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata jujur, “ Ya

Guru. Aku tidak pernah mempertimbangkan dengan sebaikbaiknya

tentang hal itu. Pada saat aku mulai, maka aku tidak

memikirkannya sampai begitu jauh.”

“ Sekarang sudah waktunya kau meninjau kembali. Apakah

kau akan mempergunakan adik sepupumu itu sebagai

jembatan bagi masa datang dalam pengembangan ilmu

perguruan kita?” bertanya Kiai Gringsing.

Namun yang menyahut adalah Swandaru, “ Guru. Kenapa

kita tidak mencari saluran yang murni, yang tidak bercampur

baur dengan jalur ilmu dari perguruan lain?”

“ Tidak ada keberatannya bagiku Swandaru. Aku tahu

bahwa Glagah Putih adalah orang yang memiliki kemampuan

yang tinggi dengan tingkat kecerdasan yang memadai untuk

memilah-milahkan ilmu yang diterimanya. Sementara itu,

iapun memiliki kemampuan untuk meramu dan

mengungkapkannya dalam kesatuan yang luluh sehingga

merupakan ilmu yang memiliki kekayaan unsur yang dapat

membuat orang lain mengaguminya. Karena itu, maka jika

Agung Sedayu sependapat, Glagah Putih akan dapat menjadi

murid yang sangat baik dan akan dapat menangkap berbagai

macam ilmu di dalam dirinya tanpa kehilangan sumbernya

masing-masing.” jawab Kiai Gringsing.

 

“ Tetapi bukankah lebih baik jika kita mempergunakan

saluran yang masih belum dikotori oleh macam ilmu yang

lain.” berkata Swandaru.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “

Maksudmu tentu bukan dikotori dalam arti yang kurang baik

bukan? Tetapi seandainya seseorang memiliki ilmu

rangkappun sama sekali bukan satu kekurangan. Bahkan jika

kita mampu mempergunakan dengan tepat, malahan akan

merupakan satu kelebihan.”

“ Meskipun kita hanya mempelajari satu saluran perguruan,

namun sebagaimana tertera dalam kitab guru, saluran yang

satu itu sudah menumbuhkan beberapa jenis ilmu. Jika kita

mempelajarinya dan mengembangkannya sampai kepuncak,

maka kemampuan kita tidak akan dapat diatasi oleh ilmu yang

manapun juga, meskipun ilmu rangkap tujuh sekalipun. Itu jika

kita mempunyai satu keyakinan tentang ilmu yang kita pelajari.

Kecuali jika sejak semula kita sudah ragu, bahwa ilmu yang

kita pelajari itu tidak cukup memadai.” berkata Swandaru.

Kiai Gringsing justru tersenyum. Katanya, “ Tidak ada ilmu

yang sempurna Swandaru. Perguruan yang manapun didunia

ini tentu memiliki kekurangan. Sehingga memang

memungkinkan bahwa kekurangan dari satu jenis ilmu dari

sebuah perguruan dapat ditutup dengan unsur-unsur yang

terdapat pada ilmu dari perguruan yang lain yang memiliki

watak yang sejalan.”

“ Tetapi tidak pada permulaannya.” berkata Swandaru

dengan nada tinggi.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun

kemudian katanya, “ Tetapi aku tidak kehilangan kesempatan.

Seandainya jalur yang satu ini ternyata kurang berhasil, maka

masih mengharap bahwa kau akan dapat memenuhinya,

Swandaru.”

Swandaru justru terkejut mendengar keterangan gurunya.

Sebelumnya ia tidak pernah memikirkannya untuk

menemukan seseorang yang akan dapat dijadikan muridnya.

Namun agaknya hal itu menurut gurunya perlu dilakukannya

sebagai perbandingan dari apa yang sudah dilakukan oleh

Agung Sedayu terhadap adik sepupunya.

 

Dalam pada itu gurunya itupun kemudian berkata, “

Mungkin selama ini kau belum memikirkannya Swandaru. Kau

masih terlalu sibuk dengan Kademanganmu dan dengan

dirimu sendiri. Tetapi itu tidak apa-apa. Kau masih mempunyai

kesempatan yang panjang.”

Wajah Swandaru tiba-tiba menjadi cerah. Hampir diluar

sadarnya ia berkata, “ Aku sudah mempunyai seorang calon

murid yang baik, Guru.”

“ Syukurlah.” berkata Kiai Gringsing, “ mudah-mudahan ia

akan menjadi murid yang baik lahir dan batinnya.”

“ Tentu Guru. Ia harus menjadi seorang yang baik, berani

dan memiliki ilmu yang tinggi.” berkata Swandaru pula.

“ Barangkali aku boleh tahu, siapakah calon muridmu itu?

Apakah ia masih ada hubungan keluarga denganmu atau

hubungan yang lain?” berkata Kiai Gringsing.

“ Ia adalah bakal anakku, Guru. Pandan Wangi kini telah

mulai mengandung.” jawab Swandaru.

Kiai Gringsing dan Agung Sedayu terkejut sesaat. Namun

kemudian keduanya menarik nafas dalam-dalam. Kiai

Gringsing tersenyum sambil berkata, “ Aku mengucapkan

selamat kepadamu Swandaru.”

Swandaru tertawa. Katanya, “ Terima kasih Guru.

Bukankah aku benar-benar mempunyai seorang calon murid

yang baik? Aku tidak peduli apakah anakku laki-laki atau

perempuan. Tetapi anakku itu harus memiliki kemampuan

ilmu, keberanian dan baik sebagaimana ayah dan ibunya.”

Agung Sedayu yang duduk di sebelah adik seperguruannya

itu menepuk bahu Swandaru sambil berkata, “ Ternyata

kebahagiaanmu akan segera menjadi lengkap adi Swandaru.”

“ Kapan kau menyusul kakang?” bertanya Swandaru.

Agung Sedayu tertawa. Katanya, “ Pada suatu saat, kurnia

itu akan aku terima pula. Aku selalu memohon kepada-Nya.”

“ Mudah-mudahan tidak terlalu lama.” berkata Swandaru, “

anak kita akan sebaya.”

Agung Sedayu masih saja tertawa. Namun kemudian

katanya, “ Seperti yang kau katakan. Kau akan mempunyai

seorang murid yang paling baik.”

 

“ Aku akan mengajarkan kepadanya, jalur ilmu dari

perguruan orang bercambuk.” berkata Swandaru.

“ Ya. Kau tentu akan lebih berhasil daripadaku.” berkata

Agung Sedayu.

“ Tetapi jika anakmu lahir kelak, maka kaupun akan

mendapat murid baru yang barangkali lebih baik dari Glagah

Putih.” berkata Swandaru, “ kau akan dapat menurunkan ilmu

dari perguruan kita dengan murni.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia

tidak sependapat dengan Swandaru. Tetapi Agung Sedayu

memang segan untuk berbantah. Karena itu, maka iapun tidak

menyahut sama sekali.

Bahkan Kiai Gringsing yang menyahut, “ Aku akan ikut

berdoa, semoga kau segera mendapatkannya Agung

Sedayu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “

Terima kasih Guru. Mudah-mudahan.”

“ Baiklah.” berkata Kiai Gringsing kemudian. Lalu, “ Jika

demikian, maka aku akan menjadi semakin tenang

menghadapi segala macam kemungkinan yang dapat ter-jadi

atas diriku. Dari seorang yang sudah terlalu tua.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil sambil

menyahut, “ Semoga kami tidak mengecewakan Guru.”

“ Terima kasih.” berkata Kiai Gringsing, “ bagiku segalanya

sudah menjadi jelas sekarang. Ada dua hal yang penting dari

pembicaraan kita. Pertama, aku akan menghubungi Ki Widura,

dan kedua tentang kitab itu, aku percayakan kepada kalian

untuk menentukan apakah yang sebaiknya kalian lakukan

atasnya.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-angguk.

Namun didalam hatinya ia masih berkata, “ Ada dua orang

yang akan mempunyai pengaruh yang besar pada perguruan

ini tetapi ilmunya bersumber dari perguruan lain. Ki Widura

dan Glagah Putih, yang kedua-duanya memiliki alas ilmu dari

perguruan Ki Sadewa.”

Meskipun demikian Swandaru tidak melihat jalan lain untuk

memberikan perbandingan dari jalan yang akan ditempuh oleh

Kiai Gringsing itu. Sehingga dengan demikian maka untuk

 

sementara Swandaru terpaksa menerima kesimpulan dari

pembicaraan mereka itu.

Namun ternyata bahwa mereka tidak segera meninggalkan

tempat itu. Untuk beberapa saat, Kiai Gringsing masih ingin

berbicara dengan kedua murid-muridnya. Dengan nada datar

iapun kemudian berkata, “ Selanjutnya anak-anakku, yang

ingin aku ketahui adalah perkembangan ilmu kalian. Meskipun

aku tidak ingin membawa kalian ke sanggar, namun

bagaimana pendapat kalian sendiri atas perkembangan ilmu

kalian masing-masing? Apakah kalian menemui kesulitan

didalam pengembangan ilmu berdasarkan atas kitab yang

kalian pergunakan sebagai tuntunan? Menurut pendapatku,

setelah kalian memahami dasar pengetahuan perguruan kita,

maka kitab itu akan memberikan tuntunan kalian tanpa

kesulitan jika kalian benar-benar menyadari laku sebagaimana

ditentukan di dalam kitab itu. Namun lakunya itulah yang

kadang-kadang memang sulit dan berat.”

Swandarulah yang kemudian menjawab, “ Tidak Guru. Aku

tidak mengalami kesulitan. Semuanya akan berlangsung

dengan baik. Meskipun kadang-kadang hambatan itu terjadi

karena kemalasan kami untuk menjalani laku. Apalagi

menjalani laku, membangun kadang-kadang merasa tidak

sempat.”

Kiai Gringsing tersenyum. Ia memuji kejujuran Swandaru

itu, karena sebenarnyalah Kiai Gringsing memang sudah

mengetahuinya. Tetapi iapun berkata kemudian, “ Bukan

maksudku bahwa seluruh waktu kalian selalu kalian

pergunakan untuk menjalani laku sebagaimana tertulis

didalam kitab ini. Bagaimanapun juga kalian harus menempuh

kehidupan sehari-hari kalian sebagaimana kedudukan kalian

agar kalian tidak menjadi orang asing diantara sanak kadang

dan tetangga kalian.”

Tetapi Swandaru sambil tersenyum pula berkata, “

Sebenarnya aku lebih memikirkan kakang Agung Sedayu.”

“ Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

“ Aku kira justru karena kesibukan dan keinginan kakang

Agung Sedayu meningkatkan hidup di Tanah Perdikan

Menoreh, sehingga kakang Agung Sedayu tidak mempunyai

 

kesempatan untuk memperhatikan dirinya sendiri.

Bagaimanapun juga, aku kira, kakang Agung Sedayu mau

disebut mementingkan diri sendiri, maka ilmu itu tentu akan

sangat berguna bagi Tanah Perdikan Menoreh.” jawab

Swandaru.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, sementara Agung

Sedayu memang tertarik juga kepada keterangan Swandaru.

“ Kenapa kau mempunyai anggapan yang demikian? “

bertanya Kiai Gringsing.

“ Aku yang juga merasa bahwa kadang-kadang tidak

sempat membaca dan apalagi menjalani laku yang tertera

didalam kitab itu, namun setidak-tidaknya aku setiap kali

memaksakan diri untuk menelaah isinya. Setidak-tidaknya aku

dapat meningkatkan jenis ilmu yang telah aku kuasai

sebelumnya, sebelum aku sempat mencoba menguasai jenis

ilmu yang baru.” jawab Swandaru, “ tetapi agaknya kakang

Agung Sedayu sama sekali tidak sempat melakukannya,

karena kakang hampir tidak pernah membawa kitab itu ke

Tanah Perdikan pada saat-saat terakhir ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu Kiai Gringsing mengangguk-angguk.

Kemudian iapun telah bertanya kepada Agung Sedayu, “

Apakah benar demikian?”

Agung Sedayupun telah mengangguk pula. Katanya

dengan nada rendah, “ Ya Guru. Aku merasa terlalu sibuk

pada saat-saat terakhir. Daripada aku membawa kitab itu

tanpa menyentuhnya, maka kau menganggap bahwa kitab itu

akan lebih berarti jika berada di Sangkal Putung.”

Swandaru tertawa. Katanya, “ Tetapi kakang harus mencari

kesempatan itu. Pada satu saat, semuanya telah mencapai

puncak Gunung yang tinggi, kakang masih sibuk menyiangi

hutan di lambung Gunung itu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun iapun telah

tersenyum pula sambil berkata, “ Aku seharusnya memang

berusaha.”

“ Ketika aku pertama kali melihat kelebihan kakang Agung

Sedayu dalam ilmu bidik yang melampaui kemampuan

Sidanti, aku benar-benar kagum. Bahkan seluruh

 

Kademangan Sangkal Putung waktu itu mengaguminya.

Tetapi dalam perjalanan berikutnya, yang lain berpacu diatas

punggung kuda, kakang masih saja telaten berjalan kaki.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu

Kiai Gringsing berkata, “ Adikmu bermaksud baik, Agung

Sedayu.”

“ Ya.” jawab Swandaru, “ meskipun aku dalam perguruan

ini merupakan saudara muda, tetapi dalam hubungan keluarga

aku dianggap lebih tua, karena kakang Agung Sedayu adalah

suami adikku.”

Agung Sedayu tertawa meskipun tidak lepas. Memang

sesuatu tertahan dihatinya. Bahkan sebenarnyalah

gurunyapun demikian pula. Tetapi keduanya sulit untuk

mengatakan keadaan yang sebenarnya tentang perbandingan

ilmu antara Swandaru dan Agung Sedayu.

“ Baiklah.” berkata Kiai Gringsing, “ jika aku menjadi lebih

baik, aku ingin menilik ilmu kalian di sanggar atau di tempat

terbuka. Tetapi sebaiknya, Agung Sedayu tetap

memikirkannya.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya, “ Aku mengerti

Guru.”

Sementara itu Swandaru berkata lebih jauh, “ Apalagi

kakang sering menerima tugas dari Panembahan Senapati

secara khusus. Barangkali peningkatan ilmu akan sangat

berarti bagi kepentingan kakang Agung Sedayu sendiri.”

“ Terima kasih.” desis Agung Sedayu, “ meskipun lamban

tetapi pengalaman yang selama ini aku jalani ternyata

memberikan arti juga bagi ilmuku.”

“ Tetapi tidak akan secepat jika kita menjalani laku.”

berkata Swandaru. Lalu, “ Meskipun segalanya juga

tergantung pada kita masing-masing. Seseorang yang

menjalani laku yang sama dengan orang lain, belum tentu

akan memiliki ilmu yang sama tinggi tingkatnya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak

membantah.

Dalam pada itu, maka untuk beberapa saat keduanya

masih berbincang tentang padepokan itu, para cantrik dan

kemungkinan bagi masa datang.

 

Namun kemudian Kiai Gringsingpun berkata, “ Baiklah. Aku

kira untuk sementara pembicaraan kita sudah selesai.

Agaknya aku harus segera beristirahat agar keadaanku tidak

akan menjadi lebih buruk.”

Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan

sejenak. Keduanyapun agaknya mengerti bahwa guru mereka

memang harus segera beristirahat. Karena itu, maka

keduanyapun segera minta diri untuk beristirahat pula.

“ Tidurlah.” berkata Kiai Gringsing kemudian, “ mudahmudahan

kalian dapat tidur nyenyak disini.”

Ketika mereka bergeser dari ruang dalam, merekapun

langsung pergi ke bilik yang sudah disediakan bagi mereka

masing-masing. Ternyata Pandan Wangi dan Sekar Mirahpun

telah berada didalam bilik itu.

Pandan Wangi yang sudah berbaring di pembaringan,

tetapi belum tidur itupun telah bangkit ketika pintu biliknya

terbuka dan Swandaru melangkah masuk.

“ Kau belum tidur?” bertanya Swandaru.

Pandan Wangi menggeleng sambil menjawab. “ Belum

kakang. Rasa-rasanya aku memang belum mengantuk.”

Swandaru pun kemudian duduk dibibir pembaringan itu

pula.

“ Apa saja yang dibicarakan dengan Kiai Gringsing?”

bertanya Pandan Wangi.

Dengan singkat Swandaru menceriterakan rencana Kiai

Gringsing dengan padepokan kecil itu dan dengan kitab

peninggalannya. Kepada Pandan Wangi iapun mengatakan

bahwa orang-orang yang kini tersangkut dalam rencana

gurunya adalah bukan dari perguruannya.

“ Maksud kakang?” bertanya Pandan Wangi.

“ Ki Widura memiliki landasan ilmu dari perguruan Ki

Sadewa. Sementara itu kakang Agung Sedayu telah

menurunkan ilmu kepada sepupunya bukan pula ilmu dari

perguruan kami, tetapi juga ilmu dari perguruan Ki Sadewa.”

berkata Swandaru. Lalu, “ Bahkan pada anak itu telah terdapat

pula ilmu yang disadapnya dari Ki Jayaraga di Tanah Perdikan

Menoreh. Ki Jayaraga yang tidak kita kenal dengan pasti, latar

belakang dari kehidupannya.”

 

Pandan Wangi mengangguk-angguk. Ia dapat mengeri

pendapat suaminya. Seharusnya, pimpinan langsung atau

tidak langsung atas padepokan kecil itu adalah mereka yang

berasal dari perguruan itu pula. Jika orang lain hadir di sebuah

padepokan dan berasal dari perguruan yang lain, agaknya

memang terasa janggal.

Tetapi Pandan Wangipun mengeri, bahwa keturunan ilmu

dari perguruan Kiai Gringsing itu yang sudah dapat berdiri

tegak dengan ilmunya adalah dua orang yang masing-masing

telah mempunyai kesibukan mereka sendiri-sendiri, sehingga

mereka untuk sementara tidak akan dapat memimpin

padepokan itu. Bahkan menurut penilaian Pandan Wangi, Ki

Widura sebagaimana dikatakan oleh suaminya, tidak akan

memimpin padepokan itu.

Namun yang kemudian dikatakan oleh Swandaru adalah

tentang kitab yang diwariskan oleh gurunya itu, dan tentang

Agung Sedayu yang kurang berminat untuk meningkatkan

ilmunya.

“ Kakang Agung Sedayu menganggap bahwa ilmunya telah

cukup baik untuk menghadapi gejolak dimasa datang di

Mataram.” berkata Swandaru. Lalu, “ Bahwa setiap kali

kakang berhasil, agaknya telah membuatnya semakin yakin

bahwa ilmunya benar-benar telah mapan. Kakang kurang

menyadari, hadirnya orang-orang lain yang telah

membantunya sehingga ia berhasil itu.”

Pandan Wangi mengangguk-angguk. Namun kemudian

katanya, “ Tetapi apakah ilmu kakang Agung Sedayu belum

memadai? Menurut pengenalanku, sebagaimana juga

dikatakan oleh Sekar Mirah, kakang Agung Sedayu juga

memperdalam ilmunya setiap ada kesempatan. Ia termasuk

orang yang rajin berada di dalam sanggar. Tetapi sudah

barang tentu bahwa sebagian dari waktunya diperuntukkannya

bagi Tanah Perdikan Menoreh.”

“ Ya.” jawab Swandaru, “ agaknya Sekar Mirahpun

mempunyai penilaian yang kerdil terhadap ilmu kanuragan. Ia

terlalu mengagumi suaminya, sehingga karena itu ia tidak

sempat memperbandingkan ilmu suaminya itu dengan

perkembangan ilmu secara luas.”

 

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Tetapi iapun

menjadi ragu. Menurut penilaiannya ilmu Agung Sedayu justru

telah maju dengan pesat. Namun iapun berkata kepada diri

sendiri, “ Mungkin Sekar Mirah memang terlalu mengagumi

suaminya, sehingga ceriteranya memang agak berlebihan.”

Sementara itu, Swandarupun kemudian berkata, “

Sudahlah. Kita akan beristirahat. Jika besok ada kesempatan,

aku ingin membuat perbandingan ilmu dengan kakang Agung

Sedayu.”

Tetapi Pandan Wangi berkata sareh, “ Kau tidak perlu

melakukannya dengan langsung, kakang. Kita tidak tahu

perasaan kakang Agung Sedayu sekarang. Jika ia sekarang

menjadi mudah tersinggung maka akan dapat timbul salah

paham. Meskipun kau bermaksud baik, tetapi mungkin

tanggapan orang lain dapat berbeda.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “ Baiklah. Aku

akan mencoba untuk melakukannya sebaik-baiknya. Aku ingin

kakang Agung Sedayu mengerti, tetapi tidak tersinggung

karenanya.”

Pandan Wangi mengangguk kecil sambil berdesis, “

Kakang memang harus bijaksana.”

Swandaru tidak menjawab. Sambil mengangguk kecil iapun

kemudian justru berdesis, “ Aku sudah mengantuk.”

Ketika keduanya berbaring dipembaringannya, di bilik lain

Agung Sedayu masih juga merasa gelisah. Dibibir

pembaringan, Sekar Mirah duduk sambil menundukkan

kepalanya. Tetapi terdengar ia berkata lirih, “ Aku tidak

menuntut kakang. Aku hanya mengatakan, bahwa Pandan

Wangi telah mengandung. Aku tahu, bahwa kau dan aku tidak

bersalah. Tetapi agaknya kita masih harus menunggu kurnia

itu datang pada kesempatan lain.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Kita akan

selalu memohon.”

“ Ya kakang. Dengan keyakinah.” jawab Sekar Mirah.

Agung Sedayu masih mengangguk-angguk. Namun

kegelisahannya itu telah membuatnya sama sekali tidak

mengantuk. Bahkan Sekar Mirahpun tidak.

 

Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri dalam

kegelisahan perasaan. Memang keduanya menyadari, bahwa

tidak ada yang dapat dipersalahkan diantara keduanya.

Merekapun mengerti, bahwa mereka tidak dapat berbuat

banyak selain memohon kepada Sumber Hidupnya. Namun

merekapun merasa wajib berupaya untuk menyatakan

kesungguhan dari permohonan mereka.

Tiba-tiba saja Agung Sedayu berkata, “ Mirah. Guru adalah

seorang yang mengerti tentang obat-obatan dan upaya

menyembuhkan dengan beberapa cara, termasuk dengan

membenahi letak urat syaraf, sehingga mungkin kita akan

dapat mohon bantuannya. Mungkin Guru mengenal jenis

dedaunan atau akar-akaran yang baik bagi kita.”

Sekar Mirah mengangguk kecil. Dengan nada rendah ia

berdesis, “ Semoga Yang Maha Murah mendengarkan

permohonan kita.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Setiap kali kepalanya

masih saja terangguk-angguk tanpa makna sama sekali.

Bahkan tiba-tiba saja ia bangkit berdiri.

“ Kenapa kakang?” bertanya Sekar Mirah.

“ Aku akan ke sanggar.” jawab Agung Sedayu.

“ Untuk apa? malam telah larut. Bahkan sebentar lagi fajar

akan datang.” berkata Sekar Mirah yang menjadi cemas.

Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya. Iapun telah

melangkah dengan hati-hati keluar dari biliknya menuju ke

sanggar. Sementara itu Sekar Mirah yang cemas melihat

sikap Agung Sedayu itupun telah mengikutinya.

“ Kakang.” desis Sekar Mirah ketika mereka memasuki

sanggar yang remang-remang. Yang hanya diterangi oleh

sebuah lampu minyak yang kecil.

“ Mirah.” tiba-tiba saja Agung Sedayu menjadi tegang, “

apakah benar menurut penglihatanmu, bahwa pada saat-saat

terakhir ilmuku sudah terhenti dan sama sekali tidak bergerak

lagi?”

“ Kenapa kau bertanya demikian kakang?” Sekar Mirah

ganti bertanya.

“ Menurut adi Swandaru, aku adalah seorang pemalas yang

tidak memperhatikan perkembangan ilmu sama sekali. Aku

 

tidak tahu pasti, seberapa jauh tingkat ilmu adi Swandaru.

Tetapi kenapa ia harus berprihatin tentang aku? Apakah aku

memang perlu dikasianinya karena aku tidak dapat mencapai

tataran ilmu yang tinggi?” sahut Agung Sedayu.

“ Tidak kakang. Tidak.” jawab Sekar Mirah yang berlari

memeluk suaminya, “ kau tidak lebih buruk dari kakang

Swandaru.”

“ Tetapi Swandaru mengatakan, bahwa aku harus

berusaha meningkatkan ilmuku. Jika dalam tataran ilmu aku

kalah dari Swandaru, maka segala-galanya aku memang

harus mengakui kekalahanku.” berkata Agung Sedayu.

“ Tidak. Itu tidak benar. Aku tahu pasti kakang, bahwa kau

mempunyai kelebihan dari kakang Swandaru.” berkata Sekar

Mirah yang memeluk suaminya semakin erat.

“ Lihat.” berkata Agung Sedayu sambil mendorong Sekar.

Mirah, “ dari mana dinilai kejantanan seseorang? Sikap

kewadagannya, sikap jiwanya atau bahwa ia memiliki ilmu

yang tinggi atau diukur dari jumlah keturunannya?”

“ Kakang. Kenapa kau sebenarnya?” Sekar Mirah menjadi

semakin cemas.

“ Lihat Mirah, lihat. Apakah benar bahwa aku tidak

meningkatkan ilmu kanuraganku?” geram Agung Sedayu.

Sekar Mirah melangkah maju, namun Agung Sedayu telah

melenting dengan dorongan kekuatan tenaga dalamnya.

Bagaikan terbang Agung Sedayu hinggap diatas sebuah patok

kayu yang tegak diantara beberapa patok yang lain yang tidak

sama tinggi. Iapun kemudian bergerak dengan cepatnya,

seakan-akan tubuhnya tidak berbobot sama sekali. Ia

berloncatan dari ujung patok ke ujung patok yang lain.

Kemudian meloncat ke palang kayu yang membujur panjang.

Bahkan kemudian tubuhnya bagaikan melayang keatas

sebatang bambu yang melintang dan bertumpu pada ujung

dan pangkalnya saja. Namun batang bambu itu seakan-akan

tidak bergetar sama sekali. Untuk beberapa lama Agung

Sedayu berloncatan dari satu tumpuan ke tumpuan yang lain.

Justru dalam keremangan cahaya lampu yang lemah.

Sekar Mirah menjadi sangat cemas melihat sikap Agung

Sedayu itu. Agung Sedayu seolah-olah telah bergerak diluar

 

sadarnya. Dorongan perasaannya telah membuatnya

melakukan permainan yang berbahaya itu.

“ Cukup kakang. Cukup.” minta Sekar Mirah, “ berhentilah.

Tidak seorangpun meragukan kemampuan kakang. Bukankah

selama ini kakang tidak pernah merasa tersinggung karena

penilaian orang lain terhadap ilmu kakang? Bahkan

kakangpun kadang-kadang dengan sengaja justru telah

menyembunyikan kemampuan kakang yang sebenarnya?”

Tetapi Agung Sedayu seakan-akan tidak mendengarkan.

Tiba-tiba saja tangannya telah menyambar sebilah pedang

yang besar. Dengan pedang yang berputaran di tangannya

Agung Sedayu telah berloncatan kembali. Semakin lama

justru menjadi semakin cepat. Ketika ia jemu dengan pedang

itu, maka tangannya telah meraih sebatang tombak pendek.

Bahkan kemudian jenis-jenis senjata yang tidak terbiasa

dipergunakan. Sebuah pedang yang bertangkai sepanjang

tangkai tombak pendek. Kemudian sebuah canggah yang

bergerigi. Sebuah golok dan perisai.

“ Lihat Mirah. Lihatlah aku bukan betina.” suara Agung

Sedayu lantang.

Sekar Mirah menjadi cemas melihat tata gerak Agung

Sedayu. Meskipun sebenarnyalah ia menjadi sangat kagum

akan tingkat ilmu kanuragan suaminya, namun terasa hatinya

menjadi berdebar-debar. Meskipun demikian, seakan-akan

Sekar Mirah itu berkata kepada diri sendiri, “ Jarang orang

yang akan dapat menyamainya. Apalagi jika ia telah

merambah pada ilmunya yang lebih dalam dan rumit. Lebihlebih

kakang Swandaru.”

Tetapi bibirnya berkata. “ Sudah cukup kakang. Sudah

cukup.”

Agung Sedayu tidak mendengarkannya. Untuk beberapa

saat ia masih saja berloncatan dan memutar berbagai macam

senjata berganti-ganti. Kakinya melenting-lenting dari satu

tumpuan ke tumpuan yang lain. Betapa tinggi ilmu

meringankan tubuhnya, sehingga beberapa saat kemudian

Agung Sedayu hanya nampak sebagai bayangan didalam

keremangan di sanggar itu.

 

“ Kakang.” suara Sekar Mirah mulai diwarnai oleh

kecemasannya yang tidak tertahankan.

Ternyata bahwa Agung Sedayupun akhirnya

mendengarnya. Perlahan-lahan ia mengurangi kecepatan

geraknya, sehingga akhirnya ia berhenti sama sekali.

Dengan serta merta Sekar Mirahpun berlari dan

memeluknya sambil berkata, “ Sudahlah kakang.”

Nafas Agung Sedayu terengah-engah. Bukan karena

kelelahan. Ia masih sanggup bermain sehari semalaman lagi

dengan berjenis-jenis senjata yang ada. Namun gejolak

perasaannya membuat nafasnya bagaikan memburu. Tetapi

ketika terasa air yang hangat menyentuh tubuhnya dari

pelupuk mata Sekar Mirah, maka tiba-tiba saja hatinya

menjadi luluh.

“ Kakang.” suara Sekar Mirah bagaikan tertelan diantara

isaknya, “ apakah aku menyakiti hati kakang?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam sambil

mengelus rambut isterinya, “ Tidak Mirah. Kau tidak menyakiti

hatiku.”

“ Aku minta maaf jika yang aku katakan tidak berkenan

dihati kakang.” desis Sekar Mirah kemudian.

“ Tidak. Kau tidak bersalah Mirah.” Agung Sedayu berhenti

sejenak. Lalu, “ Perasaankulah yang agaknya memang

sedang goyah.”

Sekar Mirah masih terisak. Namun kemudian Agung

Sedayupun membimbingnya sambil berkata, “ Marilah. Akulah

yang seharusnya minta maaf kepadamu.”

Keduanyapun kemudian telah keluar dari sanggar.

Ternyata malam masih gelap. Para cantrik masih tertidur

nyenyak kecuali dua orang yang bertugas di pendapa, dan

yang sekali sekali meronda mengelilingi halaman dan kebun

padepokan. Namun agaknya selama Agung Sedayu dan

Sekar Mirah berada di sanggar, mereka tidak mendekati

sanggar itu.

Beberapa saat kemudian keduanya telah berada di dalam

bilik mereka. Agung Sedayu yang menyadari keterlanjurannya,

duduk sambil menundukkan kepalanya. Ia memang menyesal

bahwa ia telah kehilangan kendali atas perasaannya sendiri.

 

Ketika Sekar Mirah mengusap keringatnya Agung Sedayu

berdesis, “ Agaknya aku hampir kehilangan akal. Untunglah

bahwa aku tidak melakukannya dihadapan siapapun juga

kecuali kau Mirah.”

“ Sudahlah.” berkata Sekar Mirah, “ kakang perlu

beristirahat. Malam hampir sampai keujungnya. Tidurlah

meskipun hanya sebentar. Mudah-mudahan kau dapat

memanfaatkan waktu yang tinggal sedikit ini kakang.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Namun Sekar Mirahlah

yang kemudian mengambil baju Agung Sedayu yang tidak

basah oleh keringat dan memberikannya untuk berganti

dengan bajunya yang telah basah.

Sejenak kemudian, keduanya telah berbaring di

pembaringan. Sikap Sekar Mirah memang dapat memberikan

ketenangan kepadanya. Meskipun biasanya Sekar Mirah

bersikap agak keras, tetapi disaat Agung Sedayu dicengkam

oleh kegelisahan, Sekar Mirah dapat bersikap sebagai

seorang isteri yang lembut. Agung Sedayu yang menjadi

tenang itu ternyata masih dapat mempergunakan kesempatan

yang sedikit itu. Beberapa siaat kemudian iapun telah tertidur.

Namun Sekar Mirahlah yang ternyata tidak segera dapat

tidur. Bahkan iapun sempat berdesis, “ Kau memang seorang

yang luar biasa dalam penguasaan ilmu kakang.”

Tidak ada jawaban. Nafas Agung Sedayulah yang mengalir

dengan teratur dalam tidurnya.

Baru beberapa saat kemudian, Sekar Mirahpun telah

tertidur pula sambil tersenyum disisi suaminya dengan satu

keyakinan, bahwa suaminya benar-benar seorang laki-laki.

Keduanya ternyata memang agak lambat bangun. Agung

Sedayu yang biasanya turun dari pembaringan disaat fajar

menyingsing, bahkan kadang-kadang sebelumnya, ternyata

baru membuka matanya ketika langit sudah menjadi cerah.

Karena itu, ia agak tergesa-gesa bangun. Demikian pula

Sekar Mirah.

Setelah membenahi diri, maka Agung Sedayupun telah

membuka pintu biliknya. Ketika ia melangkah keluar, dilihatnya

Glagah Putih justru sedang berjalan kebilik itu.

“ Kakang tidur nyeyak sekali.” berkata Glagah Putih.

 

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Ya. Udara yang sejuk

di padepokan ini membuat tidurku sangat nyenyak.”

“ Apakah mbokayu belum bangun?” bertanya Glagah

Putih.

“ Kau dengar ia membersihkan pembaringan?” Agung

Sedayu ganti bertanya.

Glagah Putih tersenyum. Ia memang mendengar suara

tebah lidi untuk membersihkan pembaringan.

“ Kalau begitu aku pergi ke pakiwan dahulu kakang.”

berkata Glagah Putih.

Agung Sedayu mengangguk. Tetapi ia sempat bertanya, “

Apakah kakangmu Swandaru sudah bangun?”

“ Aku sudah melihat kakang Swandaru dan mbokayu

Pandan Wangi turun ke halaman dan berjalan-jalan ke kebun.”

jawab Glagah Putih.

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Aku memang agak

terlambat bangun.”

Glagah Putih mengangguk kecil. Iapun kemudian bergeser

sambil berkata, “ Aku akan mandi dahulu kakang.”

“ Pergilah. Tetapi biasanya kau mandi pagi-pagi benar.

Apakah kau juga terlambat bangun? “ bertanya Agung

Sedayu.

“ Tidak. Aku tidak terlambat bangun. Aku sudah

mengelilingi padepokan ini pagi-pagi benar sebelum kakang

Swandaru. Bahkan aku telah ikut seorang cantrik yang melihat

air parit di sawah yang sejak semalam dibuka.” jawab Glagah

Putih.

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Jadi hanya aku

sajalah yang terlambat bangun. Tetapi bagaimana dengan

Guru?”

“ Kiai Gringsing masih belum nampak keluar dari biliknya.”

jawab Glagah Putih.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Iapun kemudian

berdesis, “ Aku akan menengoknya.”

Ketika Glagah Putih kemudian pergi ke pakiwan, maka

Agung Sedayupun telah memberitahukan kepada Sekar

Mirah, bahwa ia akan melihat guru di biliknya.

“ Pergilah kakang.” jawab Sekar Mirah.

 

Dengan hati-hati Agung Sedayu yang kemudian berada di

depan bilik Kiai Gringsing telah melangkah mendekat.

Perlahan-lahan pula ia mengetuk pintu yang masih tertutup

sambil berdesis, “ Guru?”

Agaknya Kiai Gringsing telah terbangun pula. Dengan nada

rendah ia menyahut, “ Masuklah.”

Agung Sedayupun kemudian mendorong pintu lereg

kesamping. Ternyata pintu itu tidak diselarak dari dalam.

Perlahan-lahan pula Agung Sedayu melangkah masuk.

Dilihatnya gurunya telah duduk di bibir pembaringannya.

Bahkan Kiai Gringsing telah membenahi pakaian dan

rambutnya. Namun ia masih belum mengenakan ikat

kepalanya.

“ Marilah Agung Sedayu.” desis Kiai Gringsing, “ apakah

kau bersama Swandaru?”

“ Tidak guru.” jawab Agung Sedayu, “ Swandaru sedang

berada di halaman bersama isterinya, melihat-lihat kebun

padepokan. Mereka nampaknya tertarik pada tanaman

sayuran di kebun ini.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “ Marilah. Duduklah.”

Agung Sedayu pun kemudian duduk di sebelah Kiai

Gringsing. Dengan nada dalam ia bertanya, “ Bagaimana

keadaan Guru?”

“ Aku memang menjadi lebih baik Agung Sedayu, tetapi aku

tidak akan dapat mengingkari keterbatasan kekuatan

wadagku. Aku memang sudah tua. Bahkan terlalu tua.”

berkata Kiai Gringsing.

“ Tetapi beberapa saat yang lalu, Kiai masih dengan tegar

berada di antara pasukan Mataram.” berkata Agung Sedayu.

“ Aku telah memaksa diriku sendiri. Namun kemudian

akupun harus mengakui, bahwa aku tidak akan mampu

melampaui keterbatasan itu. Betapapun aku berusaha.”

berkata Kiai Gringsing. Lalu katanya pula, “ Jika aku berusaha

untuk memaksa diri lagi, maka hal itu justru akan

mempercepat perjalananku ke batas ketidak mampuan

berbuat apapun lagi.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya, “ Apakah itu

berarti bahwa Guru harus lebih banyak beristirahat?”

 

“ Agaknya memang begitu. Akupun tidak sebaiknya

melakukan tugas yang berat lagi. Apalagi yang

mempergunakan tenaga wadagku.” berkata Kiai Gringsing.

“ Tetapi bukankah kemampuan ilmu Guru tidak dapat

susut?” bertanya Agung Sedayu.

“ Ilmunya tidak susut. Tetapi pendukung ilmu itulah yang

tidak lagi dapat berbuat setegar sebelumnya. Wadag ini.

Betapapun tinggi ilmu seseorang, tetapi untuk

mengungkapkannya diperlukan unsur kewadagan dan unsur

kejiwaan. Kedua-duanya telah menjadi semakin lemah

padaku. Terutama wadagku.” jawab Kiai Gringsing.

Agung Sedayu mengangguk pula. Katanya, “ Tetapi

bukankah Guru sekarang merasa lebih baik?”

“ Ya. Rasa-rasanya tubuhku memang menjadi lebih segar.

Menjelang fajar, aku berjalan-jalan di halaman dan dikebun

padepokan ini. Setelah tubuhku agak hangat akupun mandi.

Biasanya aku tidak dapat melakukannya seperti pagi ini.

Meskipun setiap pagi aku juga berjalan-jalan, tetapi aku cepat

menjadi letih. Apalagi disaat-saat aku sakit sejak beberapa

hari yang lalu.” berkata Kiai Gringsing.

Sambil meraba rambutnya Kiai Gringsing itupun berkata

selanjutnya, “ lihatlah. Rambutku telah menjadi seperti kapas.”

Agung Sedayu memang memandang rambut Kiai Gringsing

yang sudah menjadi putih. Tetapi ia masih juga berkata, “

Uban bukan satu-satunya pertanda.”

Kiai Gringsing tertawa. Katanya “ Memang. Uban dapat

tumbuh pada anak-anak yang masih muda. Tetapi yang kau

lihat padaku, adalah uban di kepala seorang yang sudah

terlalu tua. “

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata

bahwa gurunya bangun lebih pagi dari Glagah Putih.

Sementara itu gurunya berkata “ Sudahlah Agung Sedayu.

Jangan terlalu kau pikirkan aku. Aku dan semua orang akan

menjalani putaran hidup ini sebagaimana seharusnya. Tidak

ada perkecualian. “ Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu

katanya “ Kaulah yang masih muda. Kau harus berbuat lebih

baik dari yang pernah kau lakukan. “

Agung Sedayu mengangguk pula.

 

Dalam pada itu Kiai Gringsingpun berkata “ Agung Sedayu.

Aku tahu bahwa kau memiliki beberapa kelebihan dari adikmu

Swandaru. Tetapi sangat sulit bagiku untuk mengatakan

kepadanya, keadaan yang sebenarnya. Namun hendaknya

kau dapat memaklumi sikapnya, agar tidak terjadi geseran

diantara kau dan adikmu. Yang ingin aku katakan kepadamu

kau harus bijaksana menanggapi keadaan itu, sehingga pada

saatnya kau dapat menunjukkan keadaan yang sebenarnya

tanpa menyakiti hatinya. Aku tahu bahwa hal itu akan menjadi

beban yang sulit kau lakukan.

Agung Sedayu mengangguk kecil. Ia mengerti sepenuhnya

apa yang dikatakan oleh gurunya. Baru semalam Agung

Sedayu diguncang oleh perasaan yang rasa-rasanya belum

pernah disandangnya. Tetapi Agung Sedayupun kemudian

telah menyadari spenuhnya, bahwa jantungnya-lah yang telah

goyah.

Namun beban itu seakan-akan telah ditumpahkannya di

sanggar, sehingga dadanya tidak lagi merasa sesak. Bahkan

semuanya telah menjadi pulih kembali. Agung Sedayu tidak

akan tersinggung lagi seandainya ia dikatakan apapun juga

dengan ilmunya.

Sementara itu Kiai Gringsing masih berkata “ Tetapi

aku, yakin, bahwa kau akan dapat melakukannya Agung

Sedayu. “

“ Mudah-mudahan Guru “ sahut Agung Sedayu sambil

menunduk.

“ Baiklah “ berkata Kiai Gringsing “ aku percaya kepadamu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun

kemudian katanya “ Guru. Sebenarnya aku hanya ingin

menengok keadaan Guru. Aku kira Guru masih belum keluar

dari bilik ini. Ternyata bahwa kamilah yang ke-siangan,

sehingga Guru justru telah selesai berbenah diri setelah

berjalan-jalan di kebun dan halaman. “

Kiai Gringsing tersenyum. Sedangkan Agung Sedayu

berkata selanjutnya “ Aku mohon diri Guru. Aku belum mandi.

 

Kiai Gringsing mengangguk sambil menjawab “ Barangkali

kau masih ingin melihat-lihat sawah dan ladang. Mudahmudahan

kau setuju bahwa kami disini telah mendapatkan

banyak kemajuan dibidang pertanian. “

Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab “ Aku akan

mengajak Sekar Mirah, Guru. “

Demikianlah maka Agung Sedayupun telah membenahi

dirinya. Demikian pula Sekar Mirah. Bersama Glagah Putih

merekapun turun ke kebun untuk melihat-lihat suasana

padepokan di pagi hari. Namun merekapun kemudian telah

langsung pergi ke sawah dan pategalan yang digarap oleh

para cantrik padepokan itu.

Ternyata mereka bertiga tidak bertemu dengan Swan-daru

dan Pandan Wangi. Mereka telah berselisih jalan. Ketika

mereka menuju ke pategalan, maka Swandaru dan Pandan

Wangi justru telah kembali melalui jalan yang lain.

Tetapi menjelang matahari naik, maka merekapun telah

berkumpul dijbangunan induk padepokan kecil itu untuk

makan pagi sambil membicarakan perkembangan sawah dan

pategalan padepokan itu. Swandaru dan Agung Sedayupun

telah menyatakan kekaguman mereka terhadap kerja para

cantrik yang jumlahnya tidak begitu banyak, tetapi telah

mampu menangani sawah dan pategalan yang terhitung luas.

Namun dalam pada itu, Swandaru dan Pandan Wangi telah

menyatakan bahwa hari itu mereka akan kembali ke Sangkal

Putung.

“ Begitu tergesa-gesa? “ bertanya Kiai Gringsing “

sebenarnya aku merasa hangat ditunggui oleh kedua muridku.

Dalam umurku yang tua ini, rasa-rasanya berkumpul dengan

kalian merupakan satu kebanggaan tersendiri. “

“ Jarak antara Jati Anom dan Sangkal Putung tidak terlalu

jauh Guru. Setiap saat Guru dapat memanggilku “ berkata

Swandaru.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Apakah kau

tidak ingin berbicara dengan Ki Widura? Barangkali aku dapat

minta Ki Widura untuk datang hari ini. Jika kalian masih

berada disini, maka kita dapat berbicara bersama-sama. “

 

Tetapi Swandaru menggeleng. Katanya “ Semuanya kami

serahkan kepada Guru. “

“ Baiklah “ berkata Kiai Gringsing. Namun iapun berkata

pula “ Tetapi aku harap Agung Sedayu masih tetap tinggal. “

Agung Sedayu berpaling kepada Sekar Mirah sejenak.

Seolah-olah ia ingin mendengar keinginan isterinya itu.

Tetapi karena Sekar Mirah tidak mengatakan sesuatu,

maka Agung Sedayu pun kemudian berkata “ Bagaimana jika

kita menunggu sampai besok? Besok kita akan menyusul ke

Sangkal Putung. Mungkin hari ini kita sempat berbicara

dengan Ki Widura. Meskipun barangkali pembicaraan itu

dapat dilakukan oleh Guru sendiri, namun menarik juga untuk

ikut mendengarkannya.

Sekar Mirah mengangguk. Jawabnya “ Aku tidak tergesagesa

kakang. “

Agung Sedayulah yang kemudian berkata kepada Kiai

Gringsing “ Kami dapat tinggal sampai besok Guru. “

“ Sokurlah. Aku tidak menjadi terlalu sepi. “ berkata Kiai

Gringsing. Tetapi ia masih juga bertanya kepada Swandaru “

Kenapa kau tidak kembali besok sama sekali. -

Swandaru tertawa. Katanya “ Kapan saja aku akan dapat

berada disini lagi. “

Kiai Gringsingpun tersenyum sambil mengangguk-angguk.

Tetapi iapun masih juga bertanya “ Pada siapakah kitab yang

aku pinjamkan kepada kalian sekarang? “

“ Ada padaku Guru “ jawab Swandaru “ sudah cukup lama.

Itulah salah satu hal yang telah aku sampaikan kepada Guru

tentang kakang Agung Sedayu. “

Kiai Gringsing mengangguk-angguk, sementara Agung

Sedayu berkata “ Aku akan meminjamnya lusa disaat aku

kembali ke Tanah Perdikan. “

Swandaru tertawa pula. Katanya “ jika kau tidak kebetulan

kemari kakang, kau tidak akan mengambil kitab itu secara

khusus. “

Agung Sedayu juga tertawa. Betapapun masamnya.

Bahkan iapun menjawab “ Mungkin aku memang terlalu

malas. “

 

Swandarulah yang kemudian berkata “ Guru. Sebelum aku

kembali, aku mohon Guru berada di sanggar sebentar. Aku

ingin Guru memberikan penilaian atas kemajuan kanuraganku.

Itu jika keadaan Guru tidak terlalu letih. “

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

katanya “ Baiklah Swandaru. “

Swandaru tersenyum. Ia menjadi gembira karena

kesediaan gurunya untuk melihat peningkatan ilmunya.

Namun

sebenarnyalah yang dimaksudkan bukan hanya gurunya

sajalah yang akan dapat menyaksikannya. Tetapi juga Agung

Sedayu.

Aku harap kakang Agung Sedayu melihat perkembangan

ilmuku, sehingga hatinya menjadi terbuka, bahwa memang

diperlukan kerja keras untuk mencapai tataran ilmu yang

memadai “ berkata Swandaru didalam hatinya.

Dengan demikian ia berharap akan dapat membuat

perbandingan ilmu dengan Agung Sedayu tanpa menyakiti

hatinya sebagaimana dipesankan oleh Pandan Wangi.

Beberapa saat kemudian, setelah mereka beristirahat

sebentar sehabis makan dan minum, maka merekapun telah

pergi keluar. Mereka turun ke halaman dan perlahan-lahan

mereka berjalan menuju ke sanggar. Kiai Gringsing yang

berjalan dengan tongkatnya, diapit oleh Swandaru dan Agung

Sedayu. Sementara Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Glagah

Putih mengikutinya di belakang.

Sejenak kemudian, merekapun telah berada di dalam

sanggar. Dua orang cantrik sedang membersihkan sanggar

itu. Mereka menempatkan kembali beberapa senjata yang

berpindah dari tempatnya semula.

Kedua cantrik itu memang menduga, bahwa semalam '

sanggar itu telah dipergunakan. Tetapi merekapun merasa

heran, bahwa mereka tidak mendengar sesuatu meskipun bilik

mereka tidak terlalu jauh dari sanggar itu.

“ Apakah Kiai sendiri yang telah berada di sanggar? “

bertanya seorang diantara mereka.

Kawannya hanya menggeleng saja tanpa menjawabnya.

 

Tetapi sebenarnyalah keduanya tahu bahwa tentu bukan

Kiai Gringsing. Selain ia memang sedang sakit, maka Kiai

Gringsing jarang sekali mempergunakan senjata yang

berjenis-jenis yang dikumpulkannya didalam sanggar itu,

kecuali justru pada saat ia memperkenalkan jenis-jenis

senjata itu serta penggunaannya kepada para cantrik, agar

para cantrik tidak terkejut apabila mereka bertemu dengan

lawan yang membawa senjata seperti itu. Sementara itu para

cantrik sendiri pada tataran pertama masih juga mempelajari

cara penggunaan senjata yang umum dipergunakan. Pedang

dan tombak, sebelum mereka pada suatu saat akan

memasuki latihan menggunakan senjata yang khusus.

Sedangkan jika Kiai Gringsing mempergunakan berjenisjenis

senjata itu untuk mempergunakan dihadapan para

cantrik, maka senjata-senjata itu akan dikembalikannya

dengan tertib.

Tetapi para cantrik itu tidak bertanya kepada siapapun.

Mereka membenahi saja dan mengatur serta membersihkan

sanggar itu sebagaimana yang mereka lakukan sehari-hari.

Ketika Swandaru dan Agung Sedayu memasuki sanggar

itu. bersama Kiai Gringsing dan orang-orang lain yang

bersama mereka, maka para cantrik itupun meninggalkan

sanggar itu. Mereka mengerti bahwa murid-murid utama Kiai

Gringsing itu akan mengadakan penilaian atas ilmu mereka

dibawah pengamatan gurunya.

Agung Sedayulah yang kemudian menutup pintu sanggar

itu, sementara Swandaru mulai mempersiapkan diri.

Kiai Gringsing yang lemah itupun kemudian telah duduk

diatas sebuah balok kayu untuk menyaksikan Swandaru

menunjukkan kemampuan ilmunya.

“ Aku sudah siap Guru “ berkata Swandaru. Kiai Gringsing

memandang kepada orang-orang yang ada di sebelah

menyebelahnya. Kemudian iapun bergumam

“ Kau dapat mulai Swandaru. “

Swandaru mengangguk hormat. Kemudian perlahan-lahan

ia telah melangkah ke tengah-tengah sanggar.

Sejenak Swandaru memusatkan nalar budinya. Kemudian

perlahan-lahan ia mulai bergerak. Tangannya mulai

 

mengembang, kemudian kakinya mulai bergeser. Semakin

lama semakin cepat sehingga kemudian Swandaru itupun

sudah berloncatan dengan tangkasnya. Tangannya bergerak

dengan cepat, sekali mengembang, kemudian bagaikan

bersilang didada. Satu tangannya terjulur lurus kedepan,

namun kemudian tangannya yang lain dengan telapak tangan

yang tegak terkembang namun jari-jarinya merapat, terayun

kesamping bersamaan dengan kakinya yang berputar

setengah lingkaran.

Kiai Gringsing memperhatikan gerak Swandaru dengan

sungguh-sungguh. Sebenarnyalah Swandaru memiliki

kemantapan gerak yang mengagumkan. Jika ia berdiri tegak

dengan kaki renggang dan ditekuk pada lututnya, maka

sikapnya bagaikan batu karang yang tidak dapat digoyahkan

oleh gelombang yang betapapun kuatnya didorong oleh angin

prahara yang betapapun besarnya.

Ayunan tangannya yang semakin lama semakin cepat,

telah menggetarkan udara di sekitarnya. Bahkan rasa-rasanya

telah menimbulkan ayunan angin yang kencang bertiup

mendahului wadagnya. Sehingga dengan demikian maka

kekuatan wadag Swandaru yang dialasi oleh tenaga cadangan

didalam dirinya, benar-benar merupakan kekuatan yang

dahsyat.

Agung Sedayu yang menyaksikan gerak Swandaru

mengangguk-angguk diluar sadarnya. Sebenarnyalah ia mengerti,

bahwa Swandaru bukannya semata-mata ingin

memperlihatkan kemajuan ilmunya untuk mendapat penilaian

dari gurunya. Tetapi Swandaru juga ingin menunjukkan

kepadanya.

Untunglah bahwa Agung Sedayu telah menumpahkan

perasaannya semalam, dan hanya disaksikan oleh isterinya.

Sehingga dengan demikian maka perasaannya sama sekali

tidak lagi tersinggung melihat sikap Swandaru. Dengan penuh

keyakinan pada diri sendiri, ia melihat bahwa yang ditunjukkan

oleh Swandaru itu sama sekali tidak mengejutkannya. Apalagi

yang nampak pada ilmu Swandaru itu adalah

sebagian besar kekuatan kewadagan betapapun

besarnya.

 

Sementara itu, Sekar Mirah, Pandan Wangi dan Glagah

Putihpun memperhatikan dengan seksama. Dengan penuh

perhatian Pandan Wangi menilai setiap unsur gerak dari

suaminya.

Ternyata bahwa Pandan Wangi yang juga memiliki

kemampuan yang tinggi berdasarkan ilmu yang mengalir dari

Perguruan Menoreh lewat ayahnya Ki Gede Menoreh yang

bernama Ki Argapati itu melihat beberapa kemungkinan yang

sebenarnya masih dapat dikembangkan oleh Swandaru, asal

saja ia mau melihat ilmunya lebih kekeda-laman. Bahkan

Pandan Wangi sendiri telah mampu menemukan pancaran

ilmunya justru yang belum diketemukan oleh ayahnya sendiri,

kemampuan untuk menjangkau sasaran mendahului sentuhan

wadagnya, yang masih akan dikembangkannya lagi dengan

kemampuan untuk menyentuh sasaran dari jarak tertentu.

Pandan Wangi yang pernah mempersoalkannya dengan

Kiai Gringsing telah mendapat beberapa petunjuk

daripadanya, setelah Kiai Gringsing mempelajari dasar-dasar

ilmunya. Meskipun ilmu itu belum mapan, tetapi telah mulai

menemukan bentuknya.

Namun Pandan Wangi harus menghentikan semua

kegiatannya disamping ia sedang mengandung. Bagi Pandan

Wangi tidak ada yang lebih berharga baginya daripada anak

yang bakal lahir itu.

Beberapa saat Pandan Wangi bagaikan membeku. Namun

kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa ia

tidak banyak dapat membantu suaminya. Bukan karena ia

tidak mau atau tidak sanggup. Tetapi Swandaru terlalu yakin

akan dirinya.

Sementara itu Sekar Mirahpun memperhatikan tata gerak

Swandaru yang keras. Jika kakinya menghentak bumi, maka

rasa-rasanya bumi bagaikan bergetar.

Sekar Mirah pernah bertanya dengan berbagai macam

orang berilmu tinggi. Sementara itu suaminya,Ki Jaya-raga,

bahkan Glagah Putih yang masih sangat muda, adalah orangorang

yang berilmu tinggi pula. Karena itu, maka yang

dikagumi oleh Sekar Mirah pada kakaknya itu adalah

besarnya kekuatan wadagnya. Memang bukannya tidak

 

mungkin bahwa kekuatan yang sangat besar itu akan dapat

menembus ilmu kebal Agung Sedayu. Tetapi Sekar Mirah

yakin, jika terjadi perbandingan ilmu dengan mengadakan

sentuhan langsung dan mereka benar-benar mempergunakan

segenap ilmu masing-masing, maka kakaknya itu tidak

akan dapat mengimbangi suaminya. Bahkan mampu

mendekatpun tidak, karena Agung Sedayu memiliki

kemampuan menyerang dari jarak tertentu.

Namun tiba-tiba saja Sekar Mirah menjadi cemas. Baru

semalam Agung Sedayu seakan-akan kehilangan atas

pengamatan diri sendiri. Bukan karena sindiran-sindiran

Swandaru tentang ilmunya atau barangkali kenyataan

suaminya mengambil kitab gurunya, tetapi justru karena hal

yang lain, yang seakan-akan membawanya kepada satu

keadaan yang dapat mengecewakan Sekar Mirah sebagai

seorang isteri.

Sementara itu Sekar Mirah tahu pasti, bahwa itu bukan

kesalahan suaminya. Namun agaknya Yang Maha Agunglah

yang memang belum berkenan memberikan kurnia itu kepada

mereka berdua.

Diluar sadarnya ia memandang kepada suaminya yang

berdiri disebelahnya. Tetapi ia tidak melihat kesan apapun

diwajah suaminya, meskipun agaknya suaminya itu sedang

memperhatikan tata gerak Swandaru sebaik-baiknya.

Ketika kemudian Sekar Mirah memandang Kiai Gsing-sing

yang duduk diatas sebatang balok kayu , maka debar

jantungnya serasa menjadi semakin cepat. Kepada diri sendiri

ia berkata “ Jika Kiai Gringsing memerintahkan kakang Agung

Sedayu untuk juga menunjukkan kemampuannya, mungkin ia

akan berusaha untuk menunjukkan

kelebihannya dari kakang Swandaru, justru karena

kekurangannya itu. Jika ternyata bahwa kakang Agung

Sedayu mempunyai banyak kelebihan dari kakang Swandaru,

maka akan dapat timbul persoalan karenanya. “

Sekar Mirah memang merasa menjadi sulit. Agung Sedayu

adalah suaminya, sedangkan Swandaru adalah kakak

kandungnya.

 

Dalam pada itu, Swandaru telah semakin meningkatkan

kemampuannya. Tangan dan kakinya bergerak semakin

cepat. Geraknya menjadi semakin mantap. Seakan-akan

Swandaru justru menjadikan tubuhnya seberat batu hitam,

namun tanpa kesulitan untuk melenting dan berloncatan.

Hentakan kakinya ditanah benar-benar telah menggoyahkan

lingkungan disekitarnya.

Glagah Putih sekali-sekali mengerutkan keningnya. Namun

kemudian menarik nafas dalam-dalam. Bahkan timbul

pertanyaan didalam hatinya “ Apakah sebenarnya kelebihan

kakang Swandaru? Ia mempunyai kekuatan yang sangat

besar, bahkan ia mampu bergerak dengan cepat meskipun

tubuhnya bagaikan menjadi gumpalan besi. Tetapi

kelebihannya hanya nampak di permukaan. “

Meskipun kemudian Glagah Putih nampak memperhatikan

dengan seksama, tetapi sebenarnyalah, apa yang dilihatnya

tidak menggetarkan jantungnya. Namun Glagah Putih

berusaha untuk menyingkirkan perasaannya yang

dianggapnya sebagai suatu keseimbangan, meskipun setiap

kali muncul dipermukaan “ Aku dapat berbuat lebih dari yang

dilakukan kakang Swandaru. “

Sementara itu Swandaru masih bergerak terus. Bahkan

tiba-tiba saja Swandaru telah mengurai cambuknya. Cambuk

yang semula sama dengan cambuk Agung Sedayu, namun

kemudian telah dirubahnya sekali dengan menambah karahkarah

pada juntainya, sehingga sentuhan juntai cambuk

Swandaru dengan landasan kekuatan yang sama akan

menimbulkan akibat yang lebih parah dari cambuk Agung

Sedayu.

Sejenak kemudian telah terdengar ledakan cambuk yang

mengejutkan. Orang-orang yang ada didalam sanggar itu

memang terkejut. Ledakan cambuk Swandaru bagaikan

menggetarkan udara di dalam sanggar itu dan menghentak

setiap dada. Ketika Swandaru mengulang beberapa kali dan

ledakan-ledakan saling susul menyusul dengan kerasnya,

maka orang-orang yang ada didalam sanggar itu justru tidak

lagi tergetar jantungnya sama sekali. Bahkan Glagah Putihpun

 

mampu dengan tanpa kesulitan mengatasi hen-takanhentakan

di dadanya itu.

Beberapa saat kemudian, maka Swandaru mulai

menyentuh sasaran dengan ujung cambuknya. Ternyata

kekuatan Swandaru memang luar biasa. Sebuah diantara

patok batang bambu petung yang utuh yang berdiri tegak

diantara beberapa patok yang lain, ternyata telah patah

setelah dikenai ujung cambuk Swandaru. Kemudian ujung

cambuk itu telah melingkar-lingkar di udara, dan dengan cepat

membelit batang bambu petung yang lain. Dengan hentakan

yang keras sekali, maka patok itu telah patah pula. , - -

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia yakin, bahwa

kekuatan Swandaru itu tumbuh bersamaan dengan latihanlatihannya

yang berat dan bersungguh-sungguh.

Dengan kepala yang terangguk-angguk Kiai Gringsing

berkata kepada diri sendiri “ Kekuatan Swandaru memang luar

biasa. “

Tetapi Glagah Putih sama sekali tidak tergetar

menyaksikannya. Ia mampu melakukannya tanpa sentuhan

atas patok-patok bambu itu. Dengan sungguh-sungguh ia

telah melakukan laku yang berat, menukik ke kedalaman

ilmunya dibawah tuntunan Agung Sedayu dan Ki Jayaraga,

sehingga ia mampu menyerap kekuatan yang ada di

sekitarnya.

Ledakan-ledakan cambuk berikutnya menjadi semakin

menghentak-hentak. Namun tidak menggoyahkan jantung

mereka yang ada didalam sanggar itu.

Pandan Wangi memang mengagumi kekuatan suaminya. Ia

menyadari bahwa jarang seseorang memiliki kekuatan dan

kemampuan bergerak secepat Swandaru meskipun geraknya

menjadi mantap dan berat. Tetapi ledakan-ledakan cambuk

itupun tidak mempengaruhi detak jantungnya. Apalagi Pandan

Wangi yang sedang berusaha untuk melindungi anak didalam

kandungannya itu telah mengerahkan daya tahannya pula,

agar ledakan-ledakan itu tidak berpengaruh atas bayinya yang

masih akan dilahirkannya itu kelak. Sementara itu usaha

Pandan Wangi mendalami ilmunya dengan laku dan petunjukpetunjuk

Kiai Gringsing memang telah mampu

 

membangkitkan perlawanan dari dalam dirinya bersamaan

dengan ungkapan daya tahannya atas pengaruh getarangetaran

yang meng-- hentak dadanya.

Seperti Sekar Mirah, maka Agung Sedayupun menjadi

berdebar-debar pula. Ia justru berpikir, apa yang akan

dilakukannya jika gurunya memintanya untuk menunjukkan

tingkat kemampuannya. Apakah ia harus mempertunjukkan

kemampuannya sejajar dengan tingkat kemampuan

Swandaru, atau kurang dari itu sebagaimana anggapan

Swandaru atau justru pada saat itu gurunya ingin

mengungkapkan tataran ilmu yang sebenarnya dari keduanya.

Ternyata bahwa kegelisahannya itu telah membuatnya

berkeringat di kening dan punggungnya.

Beberapa saat Swandaru masih bermain-main dengan

cambuknya. Namun nampaknya ia telah sampai kepuncak

permainannya, sehingga kemudian kecepatan geraknya telah

disusutnya. Semakin lama semakin lamban dan ledakanledakan

cambuknyapun telah menyusut pula.

Tetapi Swandaru tidak cepat-cepat berhenti. Meskipun

lambat untuk beberapa saat ia masih bergerak. Namun

akhirnya Swandaru itupun berhenti pula.

Kiai Gringsinglah yang mula-mula bertepuk tangan

disambut dengan serta merta oleh Pandan Wangi. Disusul

oleh Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih.

Swandarupun kemudian melangkah maju kehadapan

gurunya. Dengan hormat ia mengangguk dalam-dalam.

“ Permainan yang buruk, Guru “ berkata Swandaru.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dengan nada rendah

ia berkata “ Kau mendapat banyak kemajuan Swandaru. “

“ Terima kasih Guru “ sahut Swandaru “ namun aku mohon

Guru bersedia memberikan beberapa penilaian tentang

ilmuku. Tentu saja bukan yang pantas dipuji saja. Tetapi juga

yang Guru anggap belum memenuhi patokan yang Guru

kehendaki. “

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan hatihati

ia mencoba untuk memberikan penilaian kepada muridnya

yang muda itu.

 

“ Swandaru “ berkata Kiai Gringsing “ kekuatanmu kian

menjadi semakin besar. Aku tahu, bahwa jarang sekali orang

yang memiliki kekuatan sebagaimana kau miliki itu.

Sementara itu, kau mampu membuat dirimu semakin mantap

berjejak diatas bumi sehingga rasa-rasanya tubuhmu terbuat

dari besi yang berat. Namun sama sekali tidak mempengaruhi

gerak yang tangkas dan cepat. “

“ Aku berlatih sesuai dengan petunjuk laku didalam kitab

yang aku bawa “ berkata Swandaru “ selebihnya, aku telah

mempergunakan sebagian waktuku untuk membuat beberapa

perbandingan dengan pengalamanku selama ini. Dengan

demikian, maka aku telah mengembangkan ilmu itu

sebagaimana Guru lihat. “

“ Ya “ berkata Kiai Gringsing “ kau juga telah mengambil

beberapa unsur dari tiga macam laku dari tiga macam

susunan unsur gerak, namun yang senafas, sehingga tata

gerakmu menjadi kaya dengan unsur-unsur yang tersusun

kemudian. Dengan demikian, maka kau telah memenuhi

keinginanku untuk tidak sekedar membaca, mempelajari dan

melakukannya dengan tertib sebagaimana terdapat

didalam kitab itu tanpa kemungkinan-kemungkinan baru

sesuai dengan perkembangan dunia olah kanuragan. Namun

dengan cara sebagaimana kau lakukan, di dukung oleh

petunjuk-petunjuk lain tentang mengatur pernafasan dan

pemanfaatan setiap jalur urat nadi dan otot-otot didalam

tubuhmu, maka kau benar-benar seorang yang memiliki

kemampuan yang sulit untuk ditemukan tandingnya. “

“ Aku sedang mempersiapkan satu kemungkinan baru Guru

“ berkata Swandaru “ aku sedang mempelajari laku ke empat

dari pemanfaatan tenaga dalam untuk melawan berat alami. “

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah.

Aku tahu bahwa kau telah menguasai laku juga ke tiga dan

sebelumnya.

“ Nah “ berkata Swandaru “ bukankah guru juga ingin

melihat tingkat kemajuan ilmu kakang Agung Sedayu? “

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu

keringat dingin mengalir dari kening dan punggung Agung

 

Sedayu. Ia masih belum menemukan jawabnya, apakah yang

paling baik dilakukan dihadapan Swandaru.

Sebenarnyalah bahwa Sekar Mirah dan Glagah Putih-pun

termangu-mangu seolah-olah mereka mengerti apa yang

bergejolak didalam hati Agung Sedayu. Namun Sekar

Mirahpun menjadi cemas pula, bahwa tiba-tiba saja Agung

Sedayu kehilangan kembali sebagaimana dilakukan semalam.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba saja Kiai Gringsing telah

terbatuk. Dipeganginya dadanya sambil menundukkan

kepalanya.

Hampir berbareng Agung Sedayu dan Swandaru meloncat

dan berlutut disebelah menyebelahnya. Sekar Mirah, Pandan

Wangi dan Glagah Putihpun telah bergegas mendekatinya

pula.

“ Guru “ desis Agung Sedayu dan Swandaru hampir

berbareng.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada

rendah ia berkata “ Aku tidak apa-apa. Tetapi biarlah aku

beristirahat. “

Agung Sedayu dan Swandaru tidak membantah.

Merekapun kemudian telah memapah Kiai Gringsing keluar

dari sanggar dan membawanya kedalam biliknya.

Ketika Kiai Gringsing kemudian duduk di bibir pembaringan,

maka iapun berkata “ Aku minta minum. “

Swandarulah yang berkisar untuk mengambil gendi diatas

sosok disudut bilik itu.

Ketika Kiai Gringsing meneguk beberapa tetes air dingin

dari gendi itu, maka rasa-rasanya tubuhnya menjadi segar.

Sambil mendorong gendi itu dari mulutnya ia berkata “ Cukup.

Leherku tidak lagi terasa kering. “

“ Bagaimana keadaan Guru sekarang? “ bertanya Agung

Sedayu.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

katanya “ Aku sudah menjadi semakin baik. Tetapi biarlah aku

berbaring barang sejenak. “

Agung Sedayu dan Swandarupun kemudian membantu

gurunya merebahkan diri di pembaringannya. Kemudian

 

merekapun telah diperkenankan oleh Kiai Gringsing untuk

beringsut keluar.

“ Tunggulah sebentar diluar “ berkata Kiai Gringsing “ aku

tidak memerlukan waktu lama. Aku akan memusatkan nalar

dan budiku, agar keadaanku segera semakin baik. “

“ Silahkan Guru “ jawaban merekapun hampir berbareng.

Sekar Mirah dan Pandan Wangipun dengan cemas pula

telah menemui Agung Sedayu dan Swandaru begitu mereka

keluar dari bilik Kiai Gringsing.

“ Bagaimana keadaan Kiai Gringsing? “ bertanya Pandan

Wangi.

“ Guru akan beristirahat sepenuhnya. Kami telah diminta

untuk keluar. Tetapi setelah minum beberapa teguk keadaan

guru menjadi semakin baik “ jawab Swandaru.

“ Sokurlah “ Pandan Wangi mengangguk-angguk “ agaknya

Kiai Gringsing memang terlalu letih. “

Swandaru mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya

kepada Pandan Wangi “ Marilah, kita berbenah diri. Sebentar

lagi kita akan kembali ke Sangkal Putung mendahului kakang

Agung Sedayu. “

“ Besok aku akan segera menyusul “ berkata Agung

Sedayu “ Sekar Mirah nampaknya masih ingin berada di

Sangkal Putung barang dua atau tiga hari. “

Demikianlah maka Swandaru dan Pandan Wangi telah

pergi ke biliknya, sementara Agung Sedayu dan Sekar

Mirahpun telah pergi ke bilik mereka pula.

“ Sayang “ desis Swandaru didalam biliknya “ jika guru tidak

menjadi terlalu letih maka aku akan dapat menunjukkan

kepada kakang Agung Sedayu satu perbandingan ilmu yang

tentu akan sangat menarik. Kakang Agung Sedayu mau tidak

mau harus membuat pertimbangan-pertimbangan baru bagi

ilmunya atau caranya menyadap ilmu. Ia tentu akan merasa

dicambuk untuk mempercepat langkahnya dalam usahanya

meningkatkan ilmunya. “

Pandan Wangi mengangguk-angguk sambil berkata “ Kiai

Gringsing terlalu memaksa diri sejak kemarin. “

 

“ Ya “ Swandaru mengangguk. Katanya “ Tetapi aku

berharap bahwa pada kesempatan lain aku dan kakang Agung

Sedayu akan dapat melakukannya. “

Pandan Wangi tidak menjawab. Namun iapun membenahi

pakaiannya dan beberapa lembar pakaian yang mereka bawa.

Sementara itu dibilik lain, Agung Sedayu duduk sambil

menarik nafas dalam-dalam. Ia menganggap bahwa gurunya

telah membebaskannya dari kesulitan yang tidak teratasi.

Justru karena gurunya harus beristirahat, maka ia tidak perlu

tampil untuk menunjukkan tingkat ilmunya. Sebab jika ia

benar-benar harus berbuat seperti Swandaru, maka ia akan

kebingungan.

Agaknya Sekar Mirahpun merasa lega, bahwa Agung

Sedayu tidak terpaksa untuk berbuat seperti kakaknya

Swandaru. Dan kemungkinan yang dicemaskannya. Jika

Agung Sedayu tiba-tiba terlepas dari kendali perasaannya,

maka ia akan dapat berbuat sebagaimana dilakukan semalam.

Tetapi jika ia ingin memberi kepuasan kepada Swandaru dan

berbuat lebih sedikit daripada yang dapat dilakukannya, maka

Swandaru tentu akan merendahkannya sebagai seorang

saudara tua dalam perguruannya.

Namun, ternyata Kiai Gringsing yang terlalu letih itu

seakan-akan memberikan jalan keluar yang tidak terdugaduga

kepada Agung Sedayu.

Agung Sedayu dan Sekar Mirah tidak membicarakannya.

Tetapi agaknya kedua-duanya menjadi saling mengerti akan

hal itu.

Sementara itu, Glagah Putih telah berada diantara para

cantrik pula. Sebenarnyalah ia ingin berbicara tentang tingkat

kemampuan ilmu Swandaru. Tetapi karena tidak ada orang

yang dapat diajak berbicara, maka iapun menyimpannya saja

didalam hatinya.

Beberapa saat kemudian, ternyata Kiai Gringsing telah

bangkit pula dari pembaringannya. Bahkan iapun telah duduk

dan minum minuman hangat yang telah dihidangkan oleh

seorang cantrik yang bergantian melayaninya.

 

Kepada cantrik yang membawa minuman itu Kiai Gringsing

berpesan agar Swandaru dan Agung Sedayu bersama isteriisteri

mereka dan Glagah Putih datang ke dalam biliknya.

Beberapa saat kemudian, mereka itupun telah duduk pula

didalam bilik Kiai Gringsing. Meskipun agak berdesakan

mereka duduk berjajar di sebuah lincak panjang yang

memang terdapat didalam bilik itu selain pembaringan Kiai

Gringsing.

“ Bagaimana keadaan guru? “ bertanya Agung Sedayu.

“ Aku sudah berangsur baik “ jawab Kiai Gringsing yang

duduk di bibir pembaringan. Aku terlalu hanyut dalam tata

gerak Swandaru. “

“ Apakah Guru kecewa? “ bertanya Swandaru.

“ Tidak. Sudah aku katakan, bahwa aku merasa bangga

atas kemajuanmu “ jawab Kiai Gringsing “ apalagi setelah aku

mendengar bahwa kau sedang mempelajari laku keempat.

Aku hanya ingin menganjurkan agar kau berminat untuk

memasuki bagian kedua dari kitab itu. Meskipun kau belum

sampai pada laku ketujuh dari bagian pertama, maka secara

terpisah, kau dapat mendalami laku sebagaimana menurut

bagian kedua dari kitab itu. Kedua bagian itu dapat kau

pelajari dalam waktu yang bersamaan, asal kau sudah

memahami isi dari kitab itu pada bagian landasannya. “

Swandaru mengerutkan keningnya. Sudah beberapa kali

gurunya menganjurkannya untuk mempelajari bagian kedua

dari kitab itu yang menuntunnya melihat kekedalam-an dirinya,

kekuatan alam disekitarnya dan hubungan antara dunia kecil

dan dunia besar. Bagian yang menurut Swandaru agak kurang

menarik, karena hasilnya tidak dapat langsung terasa dalam

ungkapan jika terjadi benturan kekerasan disaat-saat ia

menjalani laku. Swandaru harus menunggu untuk beberapa

tahun untuk memetik hasil laku pada bagian kekitab itu. Bagi

Swandaru agaknya manfaatnya akan segera terasa jika ia

menjalani laku keempat, kelima, enam dan tujuh.

Tetapi setiap kali gurunya berkata kepadanya, bahwa

kedua bagian itu dapat dipelajari bersama-sama.

“Apakah waktuku tidak akan habis untuk berada di-dalam

sanggar jika aku menjalani laku kedua bagian isi kitab itu

 

bersama-sama? “ pertanyaan itu selalu saja mengganggu

perasaannya.

Tetapi menghadapi gurunya yang sedang sakit itu,

Swandaru berkata “ Aku akan mencobanya Guru. “

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya “ Baiklah. Aku yakin,

bahwa kalian akan menjadi orang yang berilmu tinggi. Namun

berilmu tinggi itu sendiri belum memberikan arti bagi

sesamamu. Karena itu ilmu itu harus kalian amalkan. Tetapi

ingat, kalian harus selalu ingat pada sangkan paraning

dumadi. Selalu ingat kepada Sumber hidup kalian dan sesama

kalian dalam setiap mengamalkan ilmu. Dengan demikian

maka ilmu kalian akan memberikan arti bagi hidup kalian. “

Bukan saja Agung Sedayu dan Swandaru yang

mengangguk-angguk. Tetapi Pandan Wangi, Sekar Mirah dan

Glagah Putihpun mengangguk-angguk pula.

“ Nah “ tiba-tiba suara Kiai Gringsing merendah “

sebenarnya aku juga ingin memberikan bekal kepada Pandan

Wangi. Aku dengar kau sudah mulai mengandung. Aku ikut

merasakan kebahagiaan perasaanmu. Karena itu, maka aku

akan memberikan sejenis obat untukmu, agar kau selalu

dalam keadaan sehat beserta bakal anakmu yang masih ada

did alam kandungan itu. “

Pandan Wangi mengangguk hormat sambil menjawab “

Terima kasih Kiai. Untuk selanjutnya kami mohon restu. “

“ Aku akan berdoa untuk kalian dan bakal anakmu yang

masih berada dalam kandungan. “ berkata Kiai Gringsing

sambil tersenyum.

Kiai Gringsingpun kemudian bangkit berdiri sementara

Agung Sedayu dan Swandaru bersama-sama mendekatinya.

“ Guru akan kemana? “ bertanya Swandaru.

“ Tidak kemana-mana. Aku hanya akan mengambil obat

didalam gledeg bambu itu. Obat yang aku janjikan kepada

Pandan Wangi. “ jawab Kiai Gringsing.

Namun Agung Sedayu dan Swandaru memapahnya

melangkah ke gledeg di sudut bilik itu. Diambilnya sebuah

bumbung dari dalam bilik itu dan diberikannya kepada

Swandaru sambil berkata “ Aku mempunyai beberapa butir

obat yang sangat baik bagi isterimu. Setiap tiga hari sekali,

 

biarlah Pandan Wangi menelan satu butir obat ini, sampai

habis. Mudah-mudahan ia menjadi semakin sehat, sehingga di

saat melahirkan tidak akan mengalami kesulitan. Baik ibunya

maupun anaknya. “

“ Terima kasih Guru “ jawab Swandaru sambil menerima

obat didalam bumbung itu.

Ketika kemudian Kiai Gringsing telah duduk kembali, maka

Swandaru telah mohon diri untuk kembali ke Sangkal Putung

bersama isterinya.

“ Apakah kau benar-benar akan kembali hari ini? “ bertanya

Kiai Gringsing.

“ Ya Guru, agar pekerjaanku tidak banyak yang

terbengkelai “ jawab Swandaru.

“ Baiklah. Jaga isterimu baik-baik. Kau tentu berharap

bahwa anakmu akan lahir dengan sehat dan tumbuh dengan

cepat pula. Bukankah ia bakal muridmu pula yang akan

menyambung kelangsungan hidup dari ilmu keturunan

perguruan kita? Laki-laki atau perempuan? “ bertanya Kiai

Gringsing.

“ Ya Guru “ jawab Swandaru sambil menunduk. Kiai

pringsing mengangguk-angguk. Tetapi iapun

berkata “ Sayang sekali kau tidak dapat berada disini lebih

lama lagi. Tetapi untuk selanjutnya kau aku harap akan sering

datang ketempat ini. Aku sudah menjadi semakin lemah dan

tidak berdaya. “

Swandaru mengangguk hormat sambil menjawab “ Ya

Guru. Aku akan selalu datang kemari. “

Demikianlah maka Swandaru telah meninggalkan

padepokan kecil itu bersama Pandan Wangi. Gurunya tidak

mengantarkannya sampai keregol. Tetapi Kiai Gringsing

berdiri saja bersandar tongkat di pendapa.

Agung Sedayu, Sekar Mirah, Glagah Putih dan beberapa

cantrik memang mengantar mereka sampai keregol. Ketika

Pandan Wangi dan Swandaru siap untuk berangkat Agung

Sedayu berkata “ Besok kami akan menyusul ke Sangkal

Putung. “

“ Kami menunggu “ jawab Swandaru.

 

Sementara itu Sekar Mirah berbisik di telinga Pandan

Wangi “ Berhati-hatilah. Seharusnya kau tidak lagi berkuda. “

Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah meninggalkan

padepokan itu. Seperti yang dikatakan oleh Pandan Wangi,

kudanya memang tidak berlari sama sekali. Meskipun

perjalanan mereka masih lebih cepat dari orang-orang yang

berjalan, tetapi perjalanan itu memang merupakan perjalanan

yang lambat.

Namun Swandaru sama sekali tidak tergesa-gesa. Dengan

sabar ia berkuda disebelah Pandan Wangi. Mereka tidak ingin

mengalami kesulitan dengan anak yang ada di-dalam

kandungan itu.

Kedua orang suami isteri itu sama sekali tidak mengalami

gangguan diperjalanan. Jalan yang mereka lalui, merupakan

jalan yang sudah menjadi semakin ramaL Baik jalur disebelah

Timur, maupun jalur disebelah Barat. Meskipun pohon randu

alas yang sering disebut rumah Hantu Bermata Satu itu masih

ada, tetapi disekitarnya sudah menjadi jauh lebih lapang dari

beberapa tahun yang lampau. Gerumbul-gerumbul telah

banyak yang dibersihkan. Sebatang parit mengalirkan air yang

bersih lewat dibawah batang randu alas itu. Sawahpun

menjadi semakin hijau

dari saat-saat sebelumnya ketika air parit masih belum

dapat mengalir dengan teratur.

Sepeninggal Swandaru, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan

Glagah Putih telah kembali ke pendapa. Kiai Gringsing yang

kemudian duduk di pendapa itu sudah nampak lebih segar

dari beberapa saat sebelumnya. Apalagi ketika Kiai Gringsing

itu berada di sanggar.

“ Bagaimana keadaan Kiai? “ Bertanya Agung Sedayu.

“ Aku sudah menjadi semakin baik “ jawab Kiai Gringsing “

mudah-mudahan kedatangan kalian merupakan obat yang

baik bagiku. “ Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

Namun kemudian katanya “ Sebenarnya aku ingin berbicara

dengan Ki Widura. Meskipun Swandaru tidak ada, tetapi salah

satu diantara murid utamaku ada disini, sehingga aku dapat

ikut serta dalam pembicaraan itu. “

 

Agung Sedayu mengangguk hormat sambil bertanya “

Apakah aku harus memanggil Ki Widura? “

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

katanya “ Baiklah. Mungkin kau dan Glagah Putih akan dapat

memanggilnya. Sekar Mirah dapat menunggu di padepokan ini

atau Sekar Mirah juga akan ikut ke Ba-nyu Asri? “

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

katanya “ Biarlah aku ikut ke Banyu Asri, Kiai. Aku ingin

melihat-lihat perkembangan daerah ini “

“ Baiklah. Ajak Ki Widura datang ke padepokan kecil ini.

Mudah-mudahan ia tidak berkeberatan mengawani aku disini “

berkata Kiai Gringsing.

“ Ya Guru, jawab Agung Sedayu “ kami akan berangkat

sekarang.

“ Pergilah. Aku menunggu kalian disini “ sahut Kiai

Gringsing.

“ Apakah Guru tidak akan masuk ke bilik untuk beris

tirahat? “ bertanya Agung Sedayu.

“ Aku sudah cukup beristirahat “ jawab Kiai Gringsing pula.

Agung Sedayu memang menjadi termangu-mangu. Tetapi

karena Kiai Gringsing tidak beranjak dari tempatnya, maka

Agung Sedayu telah mengajak Sekar Mirah dan Glagah Putih

untuk meninggalkan pendapa.

Ketiganya kemudian telah membenahi kuda-kuda mereka.

Sebentar kemudian sambil menuntun kuda masing-masing

mereka berjalan di depan pendapa.

Kiai Gringsing yang melihat ketiganya, telah bangkit berdiri

dan berjalan ke tangga pendapa dengan tongkatnya.

Nampaknya memang lebih segar dari beberapa saat

sebelumnya.

“ Hati-hatilah di jalan “ pesan Kiai Gringsing.

“ Ya Guru “ jawab Agung Sedayu “ kami akan berhati-hati “

Sejenak kemudian, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan

Glagah Putih telah turun ke jalan didepan padepokan itu.

Berloncatan mereka naik. Sesaat kemudian, maka kuda

merekapun telah berlari meninggalkan regol. Debu yang

kelabu berhamburan dibelakang kaki kuda-kuda itu.

 

Ketiganya memang merencanakan untuk singgah barang

sebentar di rumah Untara. Namun ternyata Untara tidak

sedang berada dirumah. Bersama beberapa orang

pengawalnya ia sedang bertugas mengamati keadaan disekitar

barak pasukannya yang berada di Jati Anom. Tetapi

agaknya Untara juga akan menemui beberapa orang beba-hu

Kademangan Jati Anom untuk membicarakan persoalanpersoalan

yang tumbuh kemudian sebagaimana sering

dilakukannya. Bahkan Untara telah sering pula mengunjungi

dan membuat hubungan yang akrab dengan padukuhan-

padukuhan dan Kademangan-kademangan disekitar

Jati Anom.

Karena itu, maka mereka bertiga tidak lama berada dirumah

Untara. Merekapun kemudian telah mohon diri untuk

meneruskan perjalanan ke Banyu Asri.

Di Banyu Asri mereka telah disambut dengan gembira oleh

keluarga Ki Widura. Dengan akrab mereka saling menyapa

dan menanyakan keselamatan masing-masing.

Sambil minum-minuman hangat dan menikmati beberapa

potong makanan merekapun berbicara tentang keadaan

mereka masing-masing serta lingkungan tempat tinggal

mereka.

Baru beberapa saat kemudian Agung Sedayu

menyampaikan maksud kedatangannya kepada Ki Widura.

“ Kiai Gringsing memanggilku? “ desis Ki Widura.

“ Ya Paman. Guru ingin berbicara tentang beberapa hal

yang penting dengan Paman “ berkata Agung Sedayu.

“ Tentang apa? “ bertanya Ki Widura.

“ Guru yang akan mengatakannya langsung kepada Paman

“ jawab Agung Sedayu.

Ki Widura menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun

kemudian menjawab “ Baiklah. Aku akan memenuhi undangan

gurumu. Aku akan membenahi pakaianku dahulu. “

Beberapa saat kemudian, Ki Widurapun telah siap

sehingga iapun dapat bersama-sama dengan Agung Sedayu.

Sekar Mirah dan Glagah Putih.

 

Kiai Gringsingpun telah mempersilahkan Ki Widura untuk

duduk diruang dalam. Sementara itu, ia telah minta Agung

Sedayu untuklikut berbicara bersamanya dengan Ki Widura.

“ Aku akan membicarakan beberapa hal yang perlu kau

ketahui “ berkata Kiai Gringsing.

Agung Sedayu mengangguk hormat. Sementara itu Sekar

Mirah dan Glagah Putih mengerti maksud orang tua itu, bahwa

sebaiknya mereka tidak ikut dalam pembicaraan itu. Karena

itu, maka Sekar Mirahpun kemudian minta diri untuk

beristirahat dibiliknya dan Glagah Putih ingin melihat-lihat

kebun di padepokan itu.

Ketika Sekar Mirah dan Glagah Putih telah meninggalkan

ruangan itu, maka Kiai Gringsingpun mulai menyampaikan

rencana untuk minta agar Ki Widura bersedia membantunya

tinggal di padepokan itu.

Ki Widura memang terkejut. Yang dilakukan Kiai Gringsing

memang bukan kebiasaan sebuah perguruan. Ki Widura

adalah orang diluar perguruan Kiai Gringsing. Bagaimana

mungkin ia akan dapat memimpin padepokan itu meskipun

atas nama Kiai Gringsing.

Tetapi Kiai Gringsing yang mengetahui perasaan Ki Widura

berkata “ Ki Widura. Kadang-kadang seseorang dapat saja

menyimpang dari kebiasaan yang berlaku jika itu akan

memberikan kebaikan baginya dan sudah tentu tidak

merugikan orang lain. Terlebih-lebih lagi tidak menyalahi

tanggungjawab seseorang kepada Sumber Hidupnya. “

Ki Widura mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai

Gringsing berkata selanjutnya “ Ki Widura. Disini ada seorang

diantara kedua murid utamaku. Ia menjadi saksi, bahwa yang

aku sampaikan kepada Ki Widura telah aku bicarakan dengan

Agung Sedayu dan Swandaru. Ternyata keduanya sama

sekali tidak berkeberatan atas rencana itu. Karena itu, Ki

Widura. Aku berharap bahwa Ki Widura tidak menolak. Jarak

Banyu Asri dan padepokan ini dekat sekali, sehingga Ki

Widura akan dapat setiap kali menengok ke Banyu Asri. “

Ki Widura menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Ada dua

hal yang perlu dipertanyakan Kiai. Pertama, aku bukan

berasal dari perguruan Kiai. Mungkin Kiai sudah menjeKang

Zusi - http://kangzusi.com/

laskan hal ini sebelum aku mengajukan pertanyaan, bahwa

kadang-kadang seseorang dapat menyimpan sebuah

padepokan tidak sebaiknya membagi waktunya dengan

kepentingan lain. Dalam hal ini, keluargaku yang berada di

Banyu Asri. “

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Kita akan

melakukan sesuatu yang barangkali tidak dilakukan oleh

orang lain. Tetapi aku yakin bahwa kita akan dapat

melakukannya dengan baik. Jika aku mohon Ki Widura

memimpin padepokan ini, maka tidak akan bertumpu pada

ilmu dari perguruan ini. Tetapi bagaimana paugeran dan

ikatan-ikatan yang lain dapat berlaku disini. “

Ki Widura menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Kiai

Gringsing berkata “ Ki Widura. Baiklah aku berterus terang.

Aku menjadi cemas melihat perkembangan padepokan ini

sejalan dengan umurku yang merambat terus. Sementara itu

kedua murid utamaku tidak akan dengan mudah

meninggalkan tugas mereka masing-masing. Seorang di

Tanah Perdikan. Seorang di Sangkal Putung. Karena itu, aku

mohon Ki Widura bersedia menolongku, agar padepokan ini

tidak menjadi semakin mundur. Sedangkan dari segi

peningkatan ilmu para cantrik, aku kira aku masih dapat

memberikan beberapa petunjuk meskipun tubuhku menjadi

semakin lemah. Tentu saja hanya dengan gerak-gerak kecil

dan penjelasan lesan. “

Ki Widura termangu-mangu. Ketika berpaling kepada

Agung Sedayu, maka Agung Sedayupun berkata “ Guru tidak

mempunyai wawasan lain. Karena itu Guru benar-benar

berharap, Paman akan bersedia membantunya. “

Hampir diluar sadarnya Ki Widura mengangguk-angguk.

Tetapi ia sudah mempunyai gambaran tentang tugastugasnya.

Ia bukan harus memimpin padepokan itu

sepenuhnya. Tetapi terutama justru agar padepokan itu dapat

hidup terus, dengan ikatan-ikatan yang tetap ketat.

Namun demikian, Ki Widura masih juga bertanya “

Kiai. Dalam kehidupan sebuah perguruan, maka ia tidak

akan terlepas dari pengamatan orang lain. Apa kata orang

tentang kesediaanku membantu Kiai memimpin padepokan

 

ini, karena setiap orang mengetahui, bahwa aku tidak berasal

dari perguruan ini.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya dengan nada lembut “

Ki Widura. Orang lain memang berhak menilai perguruan kita.

Menilai keadaan dan hubungan kita. Tetapi mereka tidak

mengetahui isi yang sebenarnya dari dada kita. Karena itu Ki

Widura. Mungkin orang lain akan membicarakan kita dalam

satu dua pekan, mungkin satu dua bulan. Namun akhirnya

mereka akan menjadi jemu selama kita tidak menunjukkan

kelainan dari kebiasaan sehari-hari yang berlaku di padepokan

ini.“ Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah Kiai.

Aku akan mencobanya. Aku akan mencoba untuk membantu

Kiai memimpin padepokan ini dan sekaligus mengendalikan

keluargaku di Banyu Asri yang letaknya memang tidak begitu

jauh dari padepokan kecil ini. Tetapi dengan pengertian,

bahwa aku hanya membantu Kiai memimpin

menyelenggarakan padepokan itu. Bukan isi dari padepokan

ini.“ Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Kesediaan

Ki Widura berada di padepokan ini telah jauh meringankan

tugas-tugasku disini. “

Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya kemudian dengan

nada rendah “ Ada baiknya aku mempunyai kesibukan

tertentu. Selama ini rasa-rasanya waktuku banyak yang

terluang. “

Agung Sedayu yang mendengar kesediaan pamannya

itupun kemudian berkata “ terima kasih paman. Aku dan Adi

Swandaru agaknya tidak dapat meninggalkan beban tugas

yang telah kami terima sebelumnya. Karena itu, kesediaan

Paman tinggal di padepokan ini telah meringankan

kegelisahanku. “

“ Tetapi kau dan Swandaru jangan melepaskan seluruh

tanggung jawab kalian “ berkata Ki Wudura. “ Meskipun hanya

pada saat-saat tertentu saja aku minta kalian sering datang ke

padepokan ini. “

“ Tentu Paman “ jawab Agung Sedayu “ aku akan sering

datang mengunjungi Paman disini. “

 

Dalam pada itu Kiai Gringsingpun kemudian bertanya

kepada Widura “ Sejak kapan Ki Widura bersedia tinggal

disini? “

“ Aku minta waktu barang sepekan. Kiai. Aku akan

membenahi pekerjaanku dirumah. Meskipun tidak banyak,

tetapi pekerjaan itu memang harus ada yang mengerjakan

“ jawab Ki Widura.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah Ki

Widura, kami di padepokan ini selalu menunggu kehadiran Ki

Widura. “

Ki Widura mengangguk-angguk. Tetapi setiap kali ia

sempat merenungi kewajiban yang baru saja disanggupinya

dari Kiai Gringsing itu. Satu hal yang menyimpang dari

kebanyakan. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Kiai

Gringsing, bahwa penyimpangan itu sama sekali tidak

merugikan orang lain dalam hal apapun juga. Juga tidak

merugikan kedudukan para cantrik yang memang memerlukan

seorang pembimbing yang masih mampu bergerak cepat,

sementara Kiai Gringsing menjadi semakin tua. Apalagi dalam

keadaan sakit seperti yang baru disandangnya saat itu.

Untuk beberapa saat lamanya Ki Widura masih berada di

padepokan itu untuk berbincang tentang berbagai persoalan

menjelang kehadiran Ki Widura di padepokan itu.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian Ki Widu-rapun

minta diri dengan kesanggupan untuk kembali ke padepokan

itu sepekan lagi.

Ketika mereka turun kehalaman, maka Glagah Putih-pun

telah mendekati mereka sambil bertanya kepada ayahnya

“ Ayah akan kembali ke Banyu Asri? “

“ Ya “ jawab Ki Widura “ sepekan lagi aku akan berada

disini. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia

berkata “ Sokurlah. Mudah-mudahan ayah kerasan tinggal di

padepokan ini. “

Ki Widurapun tersenyum pula. Katanya “ Aku kerasan

berada dimana-mana. “

Ketika mereka menuju ke regol halaman, maka Sekar

Mirahpun telah turun pula dari serambi dan melangkah

 

menyusul mereka sampai ke regol untuk ikut melepaskan Ki

Widurayang masih akan kembali ke Banyu Asri.

Di regol Ki Widura masih bertanya “ Kapan kalian akan

meninggalkan padepokan ini? “

“ Besok kita akan pergi ke Sangkal Putung, Paman “ jawab

Agung Sedayu.

“ Sampai kapan? “ bertanya Ki Widura pula. Agung Sedayu

berpaling kepada Sekar Mirah untuk

minta pertimbangan. Sementara Sekar Mirahpun menyahut

“ Kami belum menentukan kapan kami akan kembali ke

Tanah Perdikan. Tetapi sudah tentu dalam waktu dekat,

karena kamipun tidak dapat meninggalkan Tanah Perdikan

terlalu lama. “

“ Baiklah “ berkata Ki Widura “ tetapi jika kalian kembali ke

Tanah Perdikan kami harap kalian dapat singgah sebentar di

padepokan ini. “

“ Tentu Paman “ jawab Agung Sedayu “ kami akan singgah

di padepokan ini serta jika mungkin minta diri kepada kakang

Untara yang nampaknya jarang-jarang berada dirumah. “

Ki Widura mengangguk-angguk. Namun sejenak kemudian,

maka iapun telah melangkah meninggalkan padepokan yang

dalam waktu sepekan lagi akan dihuninya.

Sepeninggal Ki Widura, maka Kiai Gringsingpun telah

kembali untuk beristirahat didalam biliknya. Sementara itu

Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih telah sempat

pula berjalan-jalan dikebun padepokan. Mereka kemudian

telah berada dipinggir belumbang yang berair jernih, sehingga

ikan yang berenang didalamnya dapat dilihat dengan jelas.

Namun dalam pada itu, maka tiba-tiba saja terbersit di

angan-angan Agung Sedayu untuk mempertahankan alur

perguruannya untuk masa-masa mendatang. Sebagaimana

dikatakan oleh Swandaru, bahwa ia telah membina Glagah

Putih sebagai muridnya, namun dengan landasan ilmu yang

justru dari alur perguruan Ki Sadewa.

Bagi Agung Sedayu, Ki Sadewa dan Kiai Gringsing adalah

orang-orang yang memiliki kedudukannya masing-masing. Ki

Sadewa adalah ayahnya, sementara Kiai Gringsing adalah

gurunya. Ia berkepentingan bahwa kedua jalur perguruan itu

 

agar dapat tetap diperhatikan. Namun setelah ia berbicara

langsung dengan keluarga perguruannya, maka ia memang

melihat, bahwa pada suatu saat jalur perguruan Kiai Gringsing

akan jauh surut. Seandainya Swandaru kemudian menjadikan

anaknya kelak juga muridnya, maka seberapa jauh Swandaru

mampu mempertahankan tataran ilmu perguruan Kiai

Gringsing, karena Swandaru sendiri masih harus mempelajari

laku keempat dari bagian pertama tanpa berusaha untuk

mempelajari bagian kedua dari isi kitab itu.

Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian berkata

kepada Glagah Putih “ Glagah Putih. Kau telah memiliki

landasan ilmu lengkap dari perguruan Ki Sadewa. Sementara

itu Guru mengeluh bahwa diperlukan jalur yang akan

mempertahankan ilmu dari perguruan Kiai Gringsing.

Bagaimanapun juga aku ikut memikirkan kemungkinankemungkinan

bahwa jalur perguruan Kiai Gringsing pada

suatu saat benar-benar akan menjadi terputus. “

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sementara

itu Sekar Mirahpun bertanya “ Apakah kakang Swandaru

tidak akan mencari bibit yang akan dapat menjadi pewaris

ilmunya kelak? “

“ Adi Swandaru memang sudah menyebutkan. Ia akan

mempunyai seorang anak. Anaknyalah yang diharuskan akan

dapat menjadi pewaris ilmu dari jalur perguruan Kiai

Gringsing. Namun sebagaimana kita lihat, bahwa adi

Swandaru telah memilih bagian yang sesuai dengan

seleranya, sehingga ia tidak akan dapat mewariskan bagianbagian

lain yang tidak kalah penting dari jalur perguruan Kiai

Gringsing “ jawab Agung Sedayu. Lalu “ Sementara itu aku

sama sekali tidak mewariskan ilmu itu kepada Glagah Putih.

Jika satu dua unsur muncul pada tata gerak Glagah Putih, itu

adalah sekedar pengaruh dari unsur-unsur yang selalu

dilihatnya dan sekali-sekali diserap manfaatnya. Tetapi aku

tidak pernah secara khusus mewariskan ilmu itu kepadanya. “

Sekar Mirah mengangguk-angguk, sementara itu Glagah

Putih berkata “ Kakang, apakah maksud kakang ingin

mewariskan ilmu dari jalur perguruan Kiai Gringsing

kepadaku? Jika kakang memang berniat demikian, maka

 

sudah barang tentu aku tidak akan berkeberatan. Dengan

demikian, aku akan dapat memperbanyak kekayaan ilmu

didalam diriku. “

“ Mungkin akan berarti bagimu Glagah Putih. Tetapi kau

akan mempunyai kewajiban ganda- Mewariskan ilmu Ki

Sadewa dan mewariskan ilmu dari perguruan Kiai Gringsing. “

“ Bukankah kakang juga mempunyai tugas yang demikian

karena didalam diri kakang kedua ilmu itu juga kakang kuasai?

“ bertanya Glagah Putih.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun

kemudian katanya “ Disamping ilmu dari perguruan Ki

Sadewa, kau juga memiliki ilmu yang kau warisi dari jalur

perguruan Ki Jayaraga. Karena itu, maka kau harus mempunyai

kemampuan untuk memilahkan unsur-unsur itu.

Tetapi bukan berarti bahwa kau tidak dapat

mempergunakannya dalam satu kesatuan. Jika kau

mengatakan bahwa kau harus dapat memilahkannya, itu

hanyalah sekedar untuk menunjukkan ciri-ciri dari masingmasing

perguruan. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia

berkata “ Kakang. Jika kakang menghendaki, aku akan

menjalankannya. Aku akan berusaha untuk mewarisi ilmu dari

perguruan Kiai Gringsing. Akupun akan berusaha untuk dapat

memilahkannya untuk satu kepentingan yang khusus,

sementara itu, aku akan menjadi semakin kaya dengan jenisjenis

unsur gerak yang akan dapat menyempurnakan ilmuku. “

Tetapi Agung Sedayu berkata “ Glagah Putih. Seandainya

kau mempelajari ilmu dari jalur perguruan Kiai Gringsing,

maka tidak banyak peningkatan yang akan kau alami, karena

kegunaannya pada dasarnya tidak banyak berbeda dari yang

telah kau kuasai. Namun ilmu yang kau warisi dari jalur

perguruan Kiai Gringsing itu akan memberikan kemungkinankemungkinan

baru pada ilmumu. Apalagi jika kau sempat

mempelajari kitab dari perguruan Kiai Gringsing. Maka kau

akan mendapat banyak kesempatan untuk

mengembangkannya. Justru pada bagian yang kurang

disenangi oleh adi Swandaru. “

 

***

API DI BUKIT MENOREH SERI III

JILID 229

GLAGAH PUTIH mengangguk-angguk. Namun kemudian

katanya, “ Segalanya terserah kepada kakang. Tetapi aku

merasa gembira jika kesempatan itu diberikan kepadaku.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Syukurlah

bahwa kau bersedia melakukannya. Mudah-mudahan akan

memberikan arti bagi jalur-jalur ilmu yang kau pelajari.”

Agung Sedayupun kemudian berkata pula, “ Baiklah. Jika

kita kelak kembali ke Tanah Perdikan, maka aku akan mulai

dengan memberikan dasar-dasar ilmu itu. Tetapi sudah

barang tentu bahwa yang aku lakukan atasmu berbeda sekali

dengan apa yang harus kita lakukan terhadap mereka yang

benar-benar baru mulai. Bagimu, apa yang seharusnya

dipelajari dalam waktu setahun akan dapat kau cakup dalam

waktu sebulan, karena kau tidak perlu lagi mengadakan

latihan-latihan olah tubuh dan penguasaannya. Jalur nadimu

telah masak dan kau sudah menguasai gerak-gerak dasar

seluruhnya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Lalu katanya, “ Kakang.

Apapun yang harus aku lakukan, akan aku lakukan. Juga

kewajiban-kewajiban yang kemudian akan dibebankan

kepadaku dalam hubungan pewarisan dan pengembangan

ilmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Kita

akan melakukannya. Namun bukan berarti bahwa tugas-tugas

kita yang lain akan terlambat. Selain itu sudah barang tentu

aku juga harus berbicara dengan Ki Jayaraga.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa niat

sebagaimana dikatakan oleh kakak sepupunya itu merupakan

tanggung jawab yang lain yang akan dibebankan

dipundaknya. Tetapi Glagah Putih tidak merasa keberatan. Ia

sudah terbiasa bekerja keras untuk beberapa kepentingan

 

yang menyangkut sesamanya. Tetapi seperti yang dikatakan

oleh Agung Sedayu, maka ia memang harus berbicara dengan

gurunya yang seorang lagi, Ki Jayaraga.

Demikianlah maka untuk beberapa saat, mereka masih

berada di tepi belumbang. Mereka melihat seorang cantrik

yang menangkap beberapa ekor ikan yang sudah cukup besar

untuk lauk mereka nanti. Sedangkan cantrik yang lain sedang

memanjat sebatang pohon nangka untuk mengambil buahnya

yang masih muda.

Namun beberapa saat kemudian, mereka bertiga telah

meninggalkan belumbang itu untuk menyusuri kebun sayuran

dibagian belakang padepokan itu. Namun akhirnya, mereka

telah sampai dibelakang sanggar yang sepi. Sanggar yang

menjadi agak jarang dipergunakan sejak Kiai Gringsing sakit.

Namun tiba-tiba saja rasanya mereka ingin melihat-lihat lagi

isi sanggar itu. Sejalan dengan keinginan Agung Sedayu untuk

mewariskan ilmu dari jalur perguruan Kiai Gringsing kepada

Glagah Putih. Karena itu, maka hampir diluar sadar mereka

telah melangkah kepintu sanggar itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Semalam ia

telah melepaskan sesak dadanya dengan melakukan latihan

yang agak berlebihan. Namun ternyata Agung Sedayu tidak

memasuki sanggar itu. Iapun kemudian mengajak Sekar Mirah

dan Glagah Putih kembali ke bangunan induk untuk dudukduduk

dan berbincang dengan para cantrik yang sedang

beristirahat.

Demikianlah hari itu, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan

Glagah Putih masih berada di padepokan kecil Kiai Gringsing.

Namun menjelang senja mereka masih berkesempatan untuk

menengok Untara suami isteri dan anaknya yang menjadi

semakin nakal.

Dari Untara, Agung Sedayu mendengar, bahwa keadaan

justru menjadi semakin buram. Hubungan antara Mataram dan

Madiun tidak bertambah jernih.

“ Memang ada orang-orang yang dengan sengaja

mengeruhkan hubungan itu.” berkata Untara.

“ Sejak semula hal itu sudah disadari oleh Panembahan

Senapati.” berkata Agung Sedayu. Lalu, “ Jika Panembahan

 

Madiun juga menyadari akan hal itu, maka bukankah mereka

akan dapat saling mengekang diri?”

“ Agaknya memang demikian. Tetapi meninggalnya

Pangeran Benawa merupakan peluang baru yang dapat

menambah keruhnya hubungan itu.” berkata Untara. Lalu, “

Karena itu, kita semuanya harus berhati-hati. Sebagaimana

Mataram mengirimkan beberapa orang petugas sandi untuk

melihat-lihat keadaan Madiun, maka tentu banyak pula

petugas sandi dari Madiun yang berada di Mataram.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ternyata Untara

sudah mendapat banyak keterangan tentang gerakan

Panembahan Madiun. Karena itu pulalah maka Untara telah

membuat banyak persiapan-persiapan yang bila setiap saat

terjadi sesuatu, pasukannya tidak akan mengecewakan.

Namun dalam pada itu, Untarapun berpesan kepada adiknya,

jika mereka kembali ke Tanah Perdikan, mereka harus

berhati-hati di perjalanan.

“ Mungkin ada orang yang mengenalmu, bahwa kau

banyak berbuat bagi Panembahan Senapati.” berkata Untara,

“ atau ada orang yang tahu, bahwa kau adalah murid Kiai

Gringsing. Salah seorang diantara mereka yang ikut

memperkuat kedudukan Mataram. Bahkan tidak mustahil

bahwa padepokan Kiai Gringsing akan menjadi sasaran

sebagaimana usaha Panembahan Senapati memotong

ranting-ranting yang tumbuh dibatang yang kuat, Madiun.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi kemudian

iapun berkata, “ Agak berbeda kakang. Jika Mataran

memotong ranting-ranting kekuatan Madiun antara lain

Nagaraga, maka padepokan itu benar-benar berdiri sendiri.

Sementara itu, padepokan Kiai Gringsing terlalu dekat dengan

kekuatan Mataram yang kakang pimpin disini. Sehingga jika

orang-orang Madiun dengan tanpa perhitungan menyerang

Padepokan Kiai Gringsing, maka berarti mereka menyerang

kekuatan pasukan Mataram disini.”

Tetapi Untara menggeleng. Katanya, “ Belum tentu. Orangorang

Madiun akan dapat menyusup dengan diam-diam

kedalam padepokan. Apalagi disaat Kiai Gringsing sedang

sakit seperti sekarang ini.”

 

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “

Kemungkinan memang ada.”

Untuk beberapa saat Agung Sedayu masih berbincang

dengan Untara. Namun ketika malam mulai turun dan udara

menjadi kelam, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah

Putih itupun minta diri.

Di sepanjang jalan menuju ke padepokan kecil, Agung

Sedayu justru mulai membicarakan pesan Untara, agar

padepokan kecil itu menjadi berhati-hati.

“ Jika mereka tahu bahwa Kiai Gringsing sedang sakit.”

berkata Agung Sedayu.

“ Aku tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar.” berkata

Sekar Mirah, “ seandainya aku tidak mendengar pesan kakang

Untara, aku kira aku tidak pernah memikirkannya.”

“ Kemungkinan itu memang ada.” berkata Agung Sedayu, “

besok sebelum kita berangkat ke Sangkal Putung, aku akan

minta kakang Untara ikut mengamati padepokan itu, atau

meletakkan satu dua orang prajuritnya ikut mengawasi

sebelum Paman Widura datang.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia

berkata, “ Kiai memerlukan kawan yang pantas. Jika terjadi

sebagaimana yang dikatakan kakang Untara, maka Kiai

Gringsing akan mengalami kesulitan, Justru orang yang

memiliki ilmu yang sangat tinggi, akan mendapat kesulitan di

padepokannya sendiri disaat ia sedang sakit. Masih belum

ada para cantrik yang pantas untuk menahan kekuatan yang

memang sudah dipersiapkan.”

Agung Sedayupun mengangguk-angguk. Katanya, “

Sayang, kita tidak dapat menemaninya untuk waktu yang

lama. Apalagi kitapun mengetahui bahwa usaha orang-orang

Madiun telah merambah sampai ke Tanah Perdikan Menoreh.

Untunglah bahwa para pengawal di Tanah Perdikan sudah

memiliki tingkat kemampuan yang dapat dibanggakan.

Sementara itu, Ki Jayaraga masih juga bersedia untuk tetap

berada di Tanah Perdikan.”

“ Kita memang tidak dapat meninggalkan Tanah Perdikan

terlalu lama.” berkata Glagah Putih kemudian, “ tetapi

 

bagaimana jika kita berada di padepokan sampai Kiai

Gringsing sembuh benar?”

“ Kiai Gringsing sudah terlalu tua.” berkata Agung Sedayu,

“ seandainya ia sembuh dari sakitnya, namun tentu sudah ada

beberapa kekurangan pada unsur wadagnya, sebagai

pendukung ilmu-ilmunya. Tetapi jika paman Widura sudah

berada di padepokan, maka rasa-rasanya kita menjadi

tenang.”

“ Sepekan lagi.” berkata Glagah Putih.

“ Ya. Sepekan lagi.” berkata Agung Sedayu pula.

Ketiganyapun kemudian justru terdiam oleh angan-angan

mereka masing-masing. Ketiga orang itu memasuki regol

padepokan disaat malam sudah menjadi semakin sunyi. Para

cantrik telah berada di bilik masing-masing, selain yang

bertugas di pendapa.

Karena itu, ketika regol terbuka perlahan-lahan karena

didorong dari luar, dua orang cantrik yang ada di pendapa

telah bangkit dan berjalan turun ke halaman. Namun

merekapun segera melihat bahwa yang datang adalah Agung

Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih.

“ Marilah, silahkan.” desis salah seorang diantara kedua

cantrik itu.

“ Guru sudah tidur?” bertanya Agung Sedayu.

“ Belum. Guru masih menunggu.” jawab cantrik.

“ Guru menunggu!” bertanya Agung Sedayu, “ di mana?”

“ Guru ada didalam biliknya. Tetapi tadi sudah berpesan,

jika kalian datang, diminta untuk menemuinya di-dalam bilik.”

jawab cantrik itu.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Diantar oleh salah

seorang dari kedua cantrik itu mereka langsung menuju ke

bilik Kiai Gringsing. Ternyata Kiai Gringsing memang belum

tidur. Karena itu iapun kemudian telah mempersilahkan Agung

Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih untuk masuk.

“ Marilah.” Kiai Gringsing mempersilahkan, “ jika kalian

masih belum berniat untuk beristirahat kita akan berbicara

tentang apa saja, Agung Sedayu. Mumpung kau bermalam

disini dengan isterimu dan Glagah Putih. Rasa-rasanya

sayang jika kita tidur sore hari.”

 

Agung Sedayu tersenyum. Namun iapun mempersilahkan

gurunya, “ Silahkan guru sambil berbaring saja.”

“ Ah tidak. Aku sudah terlalu lama berbaring. Aku ingin

duduk.” jawab Kiai Gringsing yang sudah duduk di bibir

pembaringannya.

“ Tetapi Guru akan menjadi terlalu letih nanti.” berkata

Agung Sedayu kemudian.

Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “ Tidak. Justru aku

sudah letih berbaring.”

Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu iapun bertanya, “ Kau

bertemu dengan Untara dan keluarganya?”

“ Ya Guru. Kami sempat berbincang-bincang agak

panjang.” jawab Agung Sedayu.

“ Syukurlah. Nampaknya karena pesan Panembahan

Senapati itu. Untara telah menjadi lebih sibuk dengan

pasukannya. Tetapi ia dapat menjaga ketenangan lingkungan,

karena kesiagaannya tidak memberikan kesan yang

menggelisahkan.” berkata Kiai Gringsing. Lalu, “ Perondaperondanya

sering lewat di depan padepokan ini pula.

Kadang-kadang sampai empat orang dari pasukan

berkudanya yang terkenal itu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Iapun kemudian

menyampaikan pesan-pesan Untara pula, agar padepokan

kecil itu menjadi semakin berhati-hati.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “ Jika yang

berkata begitu adalah Untara, maka aku kira bukannya tidak

beralasan. Karena itu, mumpung kau disini Agung Sedayu,

kau dapat membantukan mengatur para cantrik yang ada. Kau

memang harus melihat kemampuan mereka yang baru

selapis. Dengan demikian berdasarkan tataran kemampuan

mereka yang baru selapis, kau dapat mengatur kesiagaan

yang sebaik-baiknya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun Kiai

Gringsing pun kemudian berkata, “ Agung Sedayu.

Sebenarnya ada pesan yang penting yang harus aku

sampaikan kepadamu. Karena itu, kapanpun kau kembali

malam ini dari Jati Anom, aku pasti menunggu.”

 

Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih justru

menjadi berdebar-debar. Sementara itu Kiai Gringsing berkata

pula, “ Pesan itu pernah disinggung oleh Untara beberapa

waktu yang lalu, ketika ia singgah di padepokan ini.

Sebenarnyalah kami juga sudah mengatur diri betapapun

lemahnya padepokan ini. Tetapi aku tidak terlalu gelisah

karena belum ada tanda-tanda yang nampak bahwa

padepokan kecil ini mendapat perhatian. Namun sejak

kemarin, para cantrik telah memberikan laporan khusus

tentang hal itu.”

Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Nampaknya memang

telah terjadi perkembangan disaat-saat terakhir.

Sementara itu Kiai Gringsingpun berkata, “ Agung Sedayu.

Baru menjelang senja ini seorang cantrik telah melaporkan

sesuatu yang agaknya cukup menarik perhatian.”

Agung Sedayu menjadi semakin bersungguh-sungguh.

Namun kemudian Kiai Gringsingpun telah minta kepada

Glagah Putih untuk memanggil seorang cantrik yang dimaksud

oleh Kiai Gringsing itu.

Sejenak kemudian cantrik itu telah menghadap. Kiai

Gringsing yang nampak masih lemah itupun kemudian

berkata, “ Cantrik. Coba katakan sekali lagi, apa yang kau

laporkan kepadaku tadi agar Agung Sedayu sebagai murid

tertua padepokan ini dapat mendengar.”

Cantrik itu, mengangguk kecil. Kemudian iapun mulai

melaporkan sekali lagi agar Agung Sedayu dapat

mendengarnya. Katanya, “ Kakang Agung Sedayu, aku

melihat tiga orang yang berkeliaran disebelah padepokan ini.

Agaknya mereka memang mencurigakan. Untunglah bahwa

aku saat itu lagi bekeja disawah sehingga orang itu

nampaknya tidak mencurigai aku. Tetapi justru karena itu,

maka aku tidak berhenti bekerja meskipun senja turun. Aku

telah berpura-pura memperbaiki saluran air agar aku dapat

tetap berada disawah. Sebenarnyalah, bahwa menjelang

gelap, lima orang telah lewat di jalan depan regol padepokan

itu. Menurut dugaanku, diantara mereka terdapat ketiga orang

yang telah aku lihat sebelumnya.”

 

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Memang

agaknya orang itu mempunyai maksud tertentu atas

padepokan ini.”

“ Agaknya memang demikian kakang. Sementara itu, kami

telah menyiapkan sebuah kentongan yang besar, yang akan

dapat didengar dari gardu penjagaan di lapis luar penjagaan

pasukan kakang Untara di Jati Anom. Menurut pesan para

prajurit Mataram, maka jika diperlukan bantuan, kentongan itu

supaya dibunyikan dengan nada yang telah ditentukan.”

berkata cantrik itu.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Jika

demikian, maka kalian supaya berhati-hati.” Lalu katanya

kepada Kiai Gringsing, “ Jika demikian Guru, apakah

penjagaan yang dilakukan hanya di pendapa sudah

memadai?”

“ Dua orang cantrik yang ada di padepokan itu diharapkan

akan dapat mengamati seluruh halaman di depan. Sementara

itu, disetiap barak, telah ditetapkan bahwa diantara para

cantrik harus ada yang berjaga-jaga.” jawab Kiai Gringsing.

Namun Agung Sedayu masih bertanya, “ Dimanakah

kentongan yang besar itu dipasang?”

“ Dibarak sebelah sanggar. Barak yang terbesar yang

dihuni oleh sejumlah cantrik yang sudah dipersiapkan untuk

memberikan isyarat jika diperlukan.” jawab Kiai Gringsing.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Agaknya padepokan

itu harus menyadari kelemahannya, sehingga segala

sesuatunya dilakukan ditempat tertutup. Meskipun dengan

demikian, para cantrik itu tidak akan dapat melihat pada

sasaran yang lebih luas. Namun agaknya menurut

perhitungan Kiai Gringsing, para cantrik masih terlalu

berbahaya jika mereka berjaga-jaga diluar, karena jika datang

orang-orang berilmu tinggi, maka mereka justru akan dengan

cepat menjadi korban pertama.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayupun kemudian

bertanya, “ Tetapi Guru kemarin tidak mengatakan keadaan

seperti ini. Jika Guru mengatakannya, mungkin adi Swandaru

tidak akan tergesa-gesa pulang meninggalkan tempat ini.”

 

“ Sampai kemarin kami tidak menganggap bahwa akan ada

ancaman yang sungguh-sungguh. Adalah tidak bijaksana jika

aku menyuguhi tamu-tamuku dengan kegelisahan dan bahkan

ketegangan. Namun karena agaknya sore ini persoalannya

berkembang semakin gawat, maka terpaksa aku

memberitahukan hal ini kepadamu.” jawab Kiai Gringsing.

Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. Sementara Kiai

Gringsing berkata, “ Nah, Agung Sedayu. Kau adalah muridku

yang tertua. Karena itu selagi kau ada disini, tolong, lihatlah

kesiagaan para cantrik. Laporan yang terakhir memang perlu

mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Tidak mustahil

bahwa apa yang dikatakan oleh angger Untara sesuai dengan

uraiannya atas peristiwa terakhir itu akan terjadi atas

padepokan ini. Mungkin padepokan kecil ini dianggap salah

satu pilar kekuatan Mataram, sehingga padepokan ini akan

menjadi sasaran pertama sebagaimana Tanah Perdikan

Menoreh Jika Tanah Perdikan Menoreh dimulai dengan usaha

memisahkan rakyat Tanah Perdikan itu dari keutuhan

Mataram dengan berbagai macam cara, maka mereka

menganggap bahwa padepokan kecil ini akan dengan mudah

dihapuskan begitu saja.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Baiklah

Guru. Aku akan melihat-lihat barak para cantrik.”

“ Pergilah. Mudah-mudahan mereka tidak mengecewakan.”

berkata Kiai Gringsing.

Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putihpun

kemudian meninggalkan bilik Kiai Gringsing. Dari cantrik yang

memberikan laporan tentang orang-orang yang mencurigakan

itu, Agung Sedayu mendengar keterangan yang lebih

terperinci, sehingga Agung Sedayupun menjadi semakin

yakin, bahwa bahaya memang sedang mengancam

padepokan kecil itu.

Bahkan kepada Sekar Mirah ia berkata, “ Apakah dalam

keadaan seperti ini kita akan meninggalkan Guru yang sedang

sakit itu besok?”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya

ia berkata, “ Memang rasa-rasanya kita tidak sampai hati

 

untuk beringsut dari tempat ini. Tetapi apakah Ki Widura tidak

dapat datang lebih cepat dari sepekan? “

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Iapun mengerti,

bahwa Sekar Mirah ingin pula segera berada si Sangkal

Putung. Sebagai seorang yang berada cukup jauh dari rumah

orang tuanya, maka sudah barang tentu Sekar Mirah ingin

untuk berada di rumah itu untuk waktu yang cukup.

Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian berkata, “

Besok kita akan menghubungi lagi. Persoalan yang menjadi

terasa gawat baru dilaporkan malam ini, sehingga kesempatan

pertama yang dapat kita lakukan adalah besok pagi. Mungkin

Ki Widura dapat datang ke padepokan ini lebih cepat,

sehingga kitapun akan segera dapat ke Sangkal, Putung.”

Sekar Mirah mengangguk kecil. Tetapi ia berkata, “ Kita

akan menunggu sampai paman Widura sempat berada di

padepokan ini.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Mereka bertiga

bersama seorang cantrikpun kemudian telah memasuki barak

demi barak. Barak-barak kecil yang berisi hanya sekitar empat

orang itu memang telah mengatur diri. Seorang diantara

mereka berjaga-jaga berganti-ganti. Sementara itu didalam

barak-barak kecil itu terdapat sebuah kentongan kecil pula.

“ Baiklah.” berkata Agung Sedayu, “ kalian tentu sudah

mendengar bahwa diujung malam ini, beberapa orang yang

mencurigakan telah berkeliaran di sekitar padepokan ini.

Karena itulah maka kalian harus berhati-hati. Aku kira tidak

ada salahnya orang berhati-hati meskipun seandainya tidak

terjadi apa-apa. Karena itu, yang kebetulan bertugas berjagajaga

jangan asal tidak tidur saja. Tetapi ia harus

memperhatikan keadaan di sekeliling barak ini. Jika ada halhal

yang mencurigakan, ia harus segera membangunkan

kawan-kawannya.”

Para cantrik itupun mengangguk-angguk. Sementara

Agung Sedayu berkata selanjutnya, “ Kalian kecilkan saja

lampu minyak di ajuk-ajuk itu. Usahakan agar kalian tidak

berada dibawah cahaya lampu itu. Sebaiknya kalian ada

didalam bayangan yang gelap. Dengan demikian maka kalian

tidak akan mudah diintip dari luar seandainya ada orang-orang

 

yang berilmu memasuki padepokan ini sehingga mampu

menyerap bunyi sentuhannya sehingga kalian tidak

mendengarnya.”

Petunjuk-petunjuk Agung Sedayu itu merupakan petunjuk

yang berharga dari para cantrik. Merekapun merasa bahwa

saudara tertuanya itu sempat memperhatikan mereka. Dalam

keadaan yang gawat itu, sementara guru mereka sedang

sakit, mereka memang memerlukan seseorang untuk

bersandar. Dengan kehadiran Agung Sedayu, Sekar Mirah

dan Glagah Putih di barak-barak mereka, rasa-rasanya

keberanian dan ketabahan hati merekapun menjadi

berkembang. Yang terakhir, Agung Sedayu, Glagah Putih dan

Sekar Mirah telah memasuki barak yang terbesar, barak yang

digunakan untuk menyimpan kentongan yang besar, yang

suaranya akan didengar dari gardu penjagaan dilapis luar dari

prajurit Mataram di Jati Anom. Ternyata barak itu benar-benar

telah dipersiapkan dengan baik.

Sebuah ruang khusus bagi kentongan yang besar itu

dindingnya telah dibuka di bagian atas, diganti dengan derijideriji

yang rapat. Dengan demikian suara kentongan itu tidak

akan melingkar-lingkar didalam bilik itu saja, tetapi dapat lepas

keluar menggapai gardu prajurit Mataram di Jati Anom

sebagaimana dikehendaki.

Agung Sedayu menganggap bahwa persiapan telah

dilakukan dengan baik. Namun sebagai murid tertua dari

padepokan kecil itu, rasa-rasanya hatinya menjadi sakit.

Sebuah padepokan yang dipimpin oleh Kiai Gringsing,

seorang yang memiliki ilmu yang sulit dicari duanya, terpaksa

harus menggantungkan keselamatan padepokannya kepada

bantuan orang lain.

Kenyataan itu benar-benar telah membuat jantung Agung

Sedayu berdebar semakin cepat. Seandainya ia tidak memiliki

tanggungjawab yang besar di Tanah Perdikan, juga dalam

masa yang gawat seperti yang dirasakan di padepokan itu,

maka ia tentu sudah menyatakan diri untuk tinggal di

padepokan.

Karena itu, maka harapan satu-satunya memang ada pada

Ki Widura. Jika Ki Widura ada di padepokan itu, maka

 

keadaannya tentu akan berbeda. Seandainya padepokan itu

masih juga harus mengharapkan bantuan orang lain, tetapi

didalam dirinya sendiri terdapat kekuatan yang pantas.

Apalagi selama Kiai Gringsing masih sakit. Bahkan setelah

sembuhpun keadaannya tentu sudah berbeda.

Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba saja Agung

Sedayu bertanya kepada para cantrik, “ Siapa yang tertua

diantara kalian?”

Seorang diantara mereka melangkah mendekat. Katanya, “

Di barak ini akulah yang dianggap cantrik tertua.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengenal cantrik

itu sejak lama. Ketika ia datang ke padepokan itu sebelumnya,

cantrik itupun telah berada di padepokan itu pula. Namun

sebenarnyalah Agung Sedayu belum mengetahui tingkat

kemampuannya.

Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “ Marilah. Dua

diantara kalian akan ikut aku ke sanggar.”

Dua orang yang dianggap tertua di barak itu memang agak

heran mendengar ajakan Agung Sedayu. Tetapi dua orang

diantara merekapun kemudian telah mengikutinya ke sanggar.

Dibawah sinar lampu minyak yang redup, Agung Sedayu

kemudian berkata, “ Bersiaplah. Kita akan berlatih sebentar.

Aku ingin tahu sampai dimana tingkat kemampuan kalian.”

Para cantrik itu saling berpandangan sejenak. Namun

merekapun kemudian telah mempersiapkan diri. Mereka

kemudian menyadari bahwa saudara tertua mereka ingin

membuat takaran tentang kemampuan mereka.

Sejenak kemudian, maka Agung Sedayupun telah berlatih

bersama kedua orang cantrik itu. Agung Sedayu memang

mulai dari tataran awal, yang semakin lama semakin

ditingkatkan. Ternyata bahwa para cantrik itu sudah

menguasai gerak-gerak dasar dari ilmu yang diwariskan oleh

perguruan Kiai Gringsing.

Bahkan ketika Agung Sedayu meningkatkan lagi ilmunya

sesuai dengan jalur perguruan Kiai Gringsing, maka para

cantrik itu mampu mengikutinya dengan baik. Mereka

memang sudah mulai merambah pada pelepasan tenaga

cadangan dalam tata gerak mereka, sehingga gerak mereka

 

menjadi lebih cepat, lebih tangkas dan lebih kuat dari gerak

kewadagan mereka sewajarnya.

Agung Sedayu yang mengamati kemampuan para cantrik

itu mengangguk-angguk kecil. Namun ia telah mempercepat

geraknya dan bahkan meningkatkan tenaga cadangari yang

dipergunakan untuk mencoba kemampuan para cantrik itu,

sehingga akhirnya pada satu tataran, Agung Sedayu harus

menghentikan peningkatan ilmunya, karena itu sudah sampai

pada tingkat tertinggi dari kemampuan para cantrik itu. Tetapi

Agung Sedayu tidak segera berhenti. Bahkan kemudian ia

telah mengisi tata geraknya dengan unsur-unsur dari cabang

perguruan yang lain.

Para cantrik itu mula-mula memang menjadi agak bingung

menghadapi tata gerak yang berubah. Namun Agung

Sedayupun kemudian berkata lantang, “ Hati-hati. Tidak

semua orang berlandaskan ilmu yang sama. Jika kau hanya

mampu menghadapi ilmu yang sama dengan ilmu kalian

sendiri, maka kalian hanya mampu berkelahi dengan sesama

saudara.”

Kedua orang cantrik itu tidak menjawab. Tetapi merekapun

menjadi semakin berhati-hati. Dengan kemampuan yang ada

pada mereka, maka para cantrikpun telah melawan Agung

Sedayu yang kemudian justru mempergunakan ilmu yang lain.

“ Kenapa kalian menjadi bingung?” bertanya Agung

Sedayu sambil menyerang.

“ Karena perubahan tata gerak kakang.” jawab salah

saorang diantara para cantrik.

Agung Sedayu tersenyum. Namun ia justru menyerang

semakin cepat.

Ternyata setelah beberapa saat mereka berlatih, para

cantrik itu menjadi semakin mapan meskipun Agung Sedayu

tidak lagi mempergunakan ilmu yang sama. Kebingungan

yang terjadi sesaat hanyalah karena perubahan tata gerak

pada Agung Sedayu yang tidak diduga lebih dahulu oleh para

cantrik itu. Jika semula Agung Sedayu mempergunakan ilmu

sebagaimana mereka pergunakan, tiba-tiba saja ada unsur

gerak yang terasa asing.

 

Beberapa saat kemudian, maka Agung Sedayupun berkata

kepada mereka, “ Cepat, pergunakan senjata yang paling

kalian kuasai.”

Kedua cantrik itu berloncatan surut. Namun untuk sesaat

mereka masih termangu-mangu, sehingga Agung Sedayu pun

harus mengulanginya, “ Ambil senjata. Aku ingin melihat

kemampuan kalian bermain dengan senjata. Aku tidak tahu

senjata apa yang paling kalian kuasai, karena aku sejak

permulaan telah mempergunakan cambuk yang diberikan oleh

Guru.”

Kedua cantrik itupun kemudian telah berloncatan

menggapai senjata yang tersangkut di dinding. Seorang

diantaranya mempergunakan pedang, sedang yang lain

menggenggam sepasang trisula.

Agung Sedayupun kemudian telah mengambil sebatang

tongkat besi pula yang tersangkut pada dinding sanggar.

Dengan tongkat itu ia akan berlatih dengan kedua cantrik itu.

Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah mulai.

Ternyata kedua cantrik itu sudah memiliki ilmu yang mapan

hagi senjata masing-masing. Dengan ilmu pedang yang

trampil serta penguasaan sepasang trisula ditangannya,

kedua cantrik itu telah berlatih melawan tongkat besi Agung.

Sedayu yang berputar dengan cepat, sekali terayun dan

kemudian mematuk.

Bagi Agung Sedayu, kemampuan kedua cantrik itu sudah

cukup bagi pemula. Bahkan kedua cantrik itu sudah mencapai

tataran yang lebih tinggi. Dengan demikian, maka para cantrik

itu tidak akan sekedar menjadi beban di padepokan itu.

Mereka akan dapat ikut serta membantu mempertahankan

padepokan itu apabila memang diperlukan.

Setelah berlatih beberapa saat, maka Agung Sedayupun

menghentikan latihan itu. Iapun kemudian bertanya kepada

kedua cantrik itu, apakah para cantrik yang lain mempunyai

tataran yang sama dengan mereka.

“ Tidak kakang.” jawab salah seorang diantara mereka, “

ada beberapa orang yang masih baru. Mereka baru

menyelesaikan landasan yang paling dasar, meskipun sudah

pula mempelajari penggunaan senjata. Sedangkan sebagian

 

besar memiliki tataran sebagaimana kami berdua. Namun ada

empat orang saudara kami yang memiliki beberapa kelebihan

meskipun mereka bukan yang tertua diantara kami. Empat

orang yang memang terpilih dengan teliti karena bakat yang

tersimpan didalam dirinya, sehingga mereka mendapat

perhatian khusus dari Guru.”

“ Apakah mereka mendapatkan senjata khusus ciri

perguruan Kiai Gringsing? Maksudku, apakah mereka juga

bersenjata cambuk sebagaimana Guru?” bertanya Agung

Sedayu.

Cantrik itu menggeleng. Katanya, “ Guru memang mulai

memperkenalkan senjata jenis lentur, khususnya cambuk.

Tetapi menurut Guru, cambuk yang memang temurun dari

perguruannya hanya ada dua yang kemudian diberikan

kepada murid utamanya. Kakang Agung Sedayu dan kakang

Swandaru. Tetapi Guru yakin bahwa Guru akan dapat

membuatnya pula. Mungkin pada suatu saat Guru akan

membuat dan diberikan kepada keempat orang saudara kami

atau bahkan lebih dari itu meskipun nilai kegunaannya tidak

sama dengan yang dimiliki oleh murid utamanya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “

Baiklah, Aku sudah dapat menjajagi kekuatan yang ada di

padepokan ini. Nah, jika demikian, kita harus bersiap-siap

menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi disini.

Mungkin malam ini, mungkin besok atau kapanpun.”

Para Cantrik itu mengangguk-angguk. Sementara itu Agung

Sedayupun berkata, “ Menurut pendapatku, dua orang cantrik

di pendapa itu memerlukan dua orang kawan lagi.”

“ Mereka adalah orang-orang yang aku katakan mempunyai

kelebihan dari para cantrik yang lain.” berkata cantrik itu, “

mereka bergantian dengan dua orang yang memiliki tataran

yang sama.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Marilah

kita kembali ke barakmu. Kita akan menentukan empat orang

yang akan berada di pendapa bergantian, sehingga yang ada

di pendapa seluruhnya akan berjumlah empat orang setiap

giliran.”

 

Cantrik itupun mengangguk-angguk. Sementara itu

merekapun telah keluar dari sanggar dan kembali ke barak

yang terbesar itu. Di barak itu, Agung Sedayu telah

menentukan empat orang cantrik yang harus bergantian

berada di pendapa, mengawani dua orang cantrik yang

bertugas bergantian.

Agung Sedayulah yang kemudian membawa para cantrik

ke pendapa untuk diperbantukan kepada dua orang yang

bertugas. Dengan demikian maka ruang pengamatan

merekapun menjadi semakin luas.

“ Berhati-hatilah.” pesan Agung Sedayu kepada mereka, “

jangan menunggu sampai terlambat. Setiap persoalan yang

timbul harus cepat mendapat penanganan. Laporan seorang

diantara para cantrik tentang orang-orang yang mencurigakan

itu harus mendapat perhatian dengan sungguh-sungguh.”

Para cantrik itu mengangguk-angguk. Mereka memang

tidak dapat mengabaikan kemungkinan yang dapat terjadi

malam itu karena sikap beberapa orang yang mencurigakan

disekitar padepokan itu.

Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Sekar Mirahpun

segera kembali kedalam bilik mereka, sementara Glagah

Putihpun kembali pula kedalam biliknya, diantara beberapa

orang cantrik pula.

Dalam pada itu, maka padepokan itu semakin lama

memang menjadi semakin sepi. Beberapa orang cantrikpun

telah tertidur nyenyak. Bahkan Glagah Putih yang beberapa

saat sebelumnya masih berbicara dengan seorang cantrik,

telah menjadi lelap pula.

Di pendapa, empat orang cantrik yang bertugas, duduk di

dua kelompok yang terpisah. Masing-masing mempunyai

ruang perhatian yang berbeda, meskipun mereka sempat juga

berbincang tentang beberapa hal. Namun berempat mereka

merasa beban tugas mereka menjadi berkurang.

Namun bagi keempat orang itu, malam rasa-rasanya

memang terlalu sepi. Suara malam yang bersahutan

dihalaman terdengar semakin ngelangut. Derik cengkerik dan

suara angkup yang bagaikan keluhan yang sedih, membuat

sepinya malam menjadi semakin mencengkam.

 

“ He.” tiba-tiba seorang cantrik berkata, “ kita perlu

mengguncang malam ini agar tidak terlalu sepi.”

“ Apa yang akan kau lakukan?” bertanya seorang

kawannya.

“ Membangunkan beberapa orang kawan di barak-barak.”

jawab cantrik itu.

“ Jangan seperti orang mabuk.” desis kawannya, “ di setiap

barak tentu ada kawan kita yang berjaga-jaga. Jangan ganggu

yang lain.”

Sambil menarik nafas cantrik itu menjawab, “ Rasa-rasanya

malam ini lain dengan malam-malam sebelumnya.”

“ Itulah sebabnya kita harus berhati-hati.” jawab kawannya.

Cantrik yang merasa jemu duduk di pendapa itupun

kemudian berkata, “ Aku akan turun ke halaman.”

Kawan-kawannya tidak mencegah. Bahkan seorang cantrik

yang lain berkata, “ Marilah. Kita melihat keadaan.”

Dua orang cantrik itupun telah turun ke halaman. Mereka

berjalan melintas dari satu sisi ke sisi halaman yang lain.

Bahkan merekapun kemudian telah menyusup kedalam

gelapnya bayangan pepohonan di halaman samping

padepokan itu. Satu dorongan di dalam diri mereka, telah

membawa mereka justru semakin jauh ke bagian-bagian yang

tersembunyi dari padepokan itu.

Namun kedua orang cantrik itu tiba-tiba tertegun ketika

mereka melihat sebatang pohon yang tumbuh melekat pada

dinding padepokan itu bergerak-gerak. Kedua orang cantrik

itupun dengan serta merta telah bergeser kedalam gelap yang

lebih pekat. Bahkan kemudian mereka telah berusaha untuk

berada dibawah bayangan pohon perdu.

Tetapi karena jarak yang masih agak jauh, maka mereka

tidak melihat dengan jelas apa yang telah terjadi. Tetapi

bahwa dedaunan itu bergerak-gerak tanpa angin yang bertiup,

maka hal itu agaknya pantas untuk diamati.

Dengan hati-hati kedua orang itu telah berusaha mendekat.

Namun kemudian, mereka berhasil melihat meskipun tidak

begitu jelas, sesosok tubuh yang meloncat dari dinding

padepokan dan bergayut pada cabang sebatang pohon yang

tumbuh melekat pada dinding padepokan itu. Bahkan

 

merupakan tangga yang baik bagi mereka yang ingin turun

dari dinding padepokan tanpa menimbulkan bunyi yang dapat

didengar dari barak terdekat.

Kedua orang cantrik itu saling memberikan isyarat. Dengan

sangat berhati-hati mereka telah bergeser diantara pepohonan

perdu dan kembali kependapa. Bagaimanapun juga kesan

debar di jantung mereka nampak pada wajah mereka,

sehingga kawannya yang berada di pendapat itupun bertanya

hampir berbareng, “ Kenapa dengan kalian?”

Seorang diantara kedua cantrik itu menjawab, “ Ada

beberapa orang memasuki padepokan ini. Mereka memanjat

dinding dan turun melalui sebatang pohon sehingga tidak

menimbulkan bunyi apapun. Untunglah bahwa kami sempat

melihat daun-daunnya yang bergetar.”

“ Kau bersungguh-sungguh?” bertanya kawannya.

“ Untuk apa aku berbohong?” bertanya cantrik itu pula.

“ Bukan sekedar hendak mengguncang malam yang sepi

ini?” kawannya mendesak.

“ Jika demikian tentu tidak dengan cara ini.” jawab cantrik

itu.

Kawannya masih saja termangu-mangu. Sehingga cantrik

itupun berkata, “ Kau menunggu sampai terlambat?”

“ Baiklah.” sahut kawannya, “ kita bunyikan isyarat.”

Tetapi yang lain bertanya, “ Berapa orang yang kau lihat?”

“ Tidak jelas,” jawab cantrik itu, “ aku segera saja

memberitahukan kemari, agar kita tidak terlambat bertindak.”

“ Kita tidak usah membunyikan isyarat. Kita akan

membangunkan para cantrik di barak induk ini. Kemudian kita

akan melihat apa yang terjadi.” berkata cantrik yang lain itu.

“ Kita akan melihat langsung ke halaman?” bertanya

kawannya.

“ Kita bangunkan dahulu kawan-kawan kita di barak induk

ini.” potong cantrik yang melihat beberapa orang memasuki

halaman itu, “ nanti kita terlambat.”

“ Lakukanlah.” berkata yang tertua diantara mereka, “ aku

berjaga-jaga disini.”

 

Dua orang cantrik segera memasuki barak induk. Mereka

telah membangunkan empat orang cantrik yang berada di

bagian belakang bangunan induk itu.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu dan Sekar Mirah

yang juga berada di salah satu bilik di bangunan induk itu

telah terbangun pula. Tetapi mereka masih berusaha

mendengarkan apa yang telah terjadi.

“ Agaknya ada sesuatu yang penting.” berkata Agung

Sedayu.

Sekar Mirah mengangguk kecil. Namun iapun segera

membenahi pakaiannya sambil berkata, “ Mungkin ada

hubungannya dengan laporan cantrik menjelang malam tadi.”

Agung Sedayupun mengangguk-angguk. Iapun telah

bersiap-siap pula. Bahkan ketika mereka mendengar langkah

seorang cantrik di depan biliknya, maka Agung Sedayupun

telah membuka pintu.

“ Ada apa?” bertanya Agung Sedayu.

Cantrik yang agak tergesa-gesa itu hanya mengatakan

dengan singkat tentang beberapa orang yang memasuki

halaman padepokan.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya

kepada Sekar Mirah, “ Yang dicemaskan itu telah terjadi.”

“ Apa yang akan kita lakukan?” bertanya Sekar Mirah.

“ Kita menghadap Guru. Tetapi aku ingin memanggil

Glagah Putih lebih dahulu. Ia berada di barak sebelah

bersama para cantrik.” berkata Agung Sedayu, “ sementara

itu, kau mendekatlah lebih dahulu ke bilik Guru.”

Sekar Mirah mengangguk. Iapun kemudian melangkah ke

ruang dalam. Namun di depan bilik Kiai Gringsing, dua orang

cantrik telah bersiap.

“ Apakah Kiai Gringsing masih tidur?” bertanya Sekar

Mirah.

“ Kami masih ragu-ragu untuk melihat. Persoalan yang

timbul masih belum jelas.” jawab cantrik itu.

Sekar Mirah tidak segera membuka pintu bilik itu. Ia masih

menunggu Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sementara itu,

Agung Sedayu dengan sangat berhati-hati telah melintas

halaman belakang yang tidak terlalu panjang sebagaimana

 

sebuah longkangan. Ketika ia mengetuk barak di sebelah,

maka seorang cantrik telah membuka pintu.

“ Mana Glagah Putih?” bertanya Agung Sedayu.

Cantrik itupun telah menunjuk ke sebuah bilik dibagian

samping dari barak itu. Namun sebelum ia mengatakan

sesuatu, Glagah Putih ternyata sudah keluar dari dalam bilik

itu.

“ Ada apa kakang?” bertanya Glagah Putih.

Agung Sedayupun kemudian memberitahukan apa yang

dilihat oleh para cantrik yang bertugas berjaga-jaga. Lalu

katanya kepada Glagah Putih, “ Ikut aku.”

Glagah Putih dengan cepat membenahi diri. Kemudian

iapun melangkah kepintu sementara Agung Sedayu berpesan,

“ Hati-hatilah. Kalau perlu, bunyikan isyarat.”

Cantrik itu mengangguk. Sementara Agung Sedayu dan

Glagah Putih telah meninggalkan barak itu setelah cantrik

yang ditinggalkan itu menyelarak pintu dari dalam. Sejenak

kemudian, maka Agung Sedyu telah berada di depan bilik Kiai

Gringsing. Sekar Mirah dan dua orang cantrik masih tetap

berjaga-jaga didepan pintu bilik itu.

Perlahan-lahan Agung Sedayu mengetuk pintu bilik Kiai

Gringsing. Ternyata Agung Sedayu tidak perlu

mengulanginya. Dengan suara yang dalam Kiai Gringsing

berkata, “ Masuklah.”

Agung Sedayu membuka pintu itu perlahan-lahan. Ketika ia

melangkah masuk, maka dilihatnya Kiai Gring-sing sudah

duduk dibibir pembaringannya.

Agung Sedayu kemudian memberikan laporan singkat,

bahwa menurut para canrik, beberapa orang telah memasuki

halaman padepokan. Namun para cantrik itu belum dapat

memberikan laporan yang lebih terperinci.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “ Aku

serahkan kepadamu, Agung Sedayu.”

“ Baik Guru.” jawab Agung Sedayu, “ biarlah Sekar Mirah

mengawani Guru disini. Aku dan Glagah Putih akan melihatlihat

keadaan dan membangunkan para cantrik.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk sambil berdesis, “

Berhati-hatilah. Meskipun aku tidak merasa diriku seorang

 

yang disegani, tetapi orang-orang yang dikirim ke padepokan

ini tentu orang-orang yang terpilih. Karena itu, kau harus

berusaha untuk menempatkan dirimu sebaik-baiknya.”

“ Ya guru.” jawab Agung Sedayu, “ kami akan berhati-hati.”

Demikianlah, maka Agung Sedayupun telah minta Sekar

Mirah untuk berada di dalam bilik Kiai Gringsing, sementara

Agung Sedayu telah mengajak Glagah Putih untuk melihat

keadaan. Adapun para cantrik di barak induk itupun telah

bersiap-siap pula untuk menghadapi segala kemungkinan.

Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak keluar dari barak

induk di padepokan itu lewat pringgitan. Tetapi ke-duanya

telah turun melalui pintu butulan. Dengan sangat berhati-hati

keduanya telah mendekati lagi barak yang berada disebelah

longkangan. Kepada para cantrik yang ada di dalamnya

Agung Sedayu berpesan, agar mereka bersiap menghadapi

segala kemungkinan. Demikian pula maka dengan

mengendap-endap keduanya telah memberitahukan hal yang

serupa kepada para cantrik di barak-barak yang lain.

Karena itulah, maka para cantrik yang bertugas berjagajaga

telah membangunkan kawan-kawan mereka untuk

mempersiapkan diri sebaik-baiknya, karena setiap saat

keadaan akan dapat meledak.

Dengan ketajaman penglihatan dan pendengaran, maka

Agung Sedayu dan Glagah Putih telah berusaha mendekati

tempat yang ditunjukkan oleh cantrik yang telah melihat

kehadiran beberapa orang yang meloncati dinding.

Ternyata Agung Sedayu berhasil melihatnya. Agaknya

mereka masih belum beranjak dari bawah pohon itu. Mereka

nampaknya masih sibuk membicarakan rencana yang akan

mereka lakukan setelah mereka berada di dalam.

Dengan mengerahkan kemampuan ilmu Sapta Pangrungu

maka Agung Sedayu mencoba mendengarkan apa yang

sedang dibicarakan oleh orang-orang yang berada di bawah

pohon didekat dinding padepokan itu.

Salah seorang diantara mereka ternyata berkata, “ Kita

menunggu sejenak, Aku yakin, ia tidak akan lepas dari

rencana ini. Ia tentu akan datang pada waktunya.”

 

“ Sebentar lagi, malam menjadi semakin mendekati dini

hari.” berkata seorang yang lain.

“ Kita tidak memerlukan waktu yang lama disini.” jawab

orang pertama, “ Kiai Gringsing sedang sakit. Betapapun

tinggi ilmunya, tetapi tanpa dukungan kewadagannya, maka ia

tidak akan banyak memberikan perlawanan. Sementara itu,

kalian akan dengan mudah menggilas para cantrik yang masih

belum memiliki alas kemampuan kanuragan yang memadai.

Apalagi pada saat-saat terakhir, Kiai Gringsing yang tua itu

tidak mampu lagi memberikan latihan-latihan yang berarti

kepada para cantriknya.”

Tidak terdengar jawaban. Agaknya mereka baru akan mulai

bergerak jika orang yang mereka tunggu itu sudah datang.

Orang yang agaknya dianggap menjadi penentu dalam

gerakan mereka.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih

melihat, bahwa jumlah orang-orang yang berkumpul di kebun

belakang dari padepokan mereka itu cukup banyak. Karena

itu, maka para cantrik benar-benar harus bersiap menghadapi

segala kemungkinan. Agung Sedayupun kemudian telah

menggamit Glagah Putih dan memberi isyarat kepadanya

untuk mengikutinya.

Ketika mereka sudah berada di jarak yang cukup, Agung

Sedayu itupun berkata, “ Para cantrik harus siap menunggu

selagi mereka masih belum mulai bergerak.”

“ Ya.” Glagah Putih memang sependapat, “ jika para

cantrik harus menunggu di dalam barak, maka pada saat-saat

mereka keluar dari pintu barak, kemungkinan yang buruk

dapat terjadi atas mereka, karena mereka akan dapat

menyerang dan menghancurkan barak demi barak.”

“ Marilah.” berkata Agung Sedayu, “ selagi ada waktu.”

Agung Sedayu dan Glagah Putih sekali lagi berkeliling dari

satu barak ke barak yang lain dan memerintahkan para cantrik

untuk berkumpul di longkangan, dibelakang barak induk.

“ Hati-hati.” berkata Agung Sedayu kepada para cantrik

disetiap barak, “ mereka sudah ada di dalam lingkungan

padepokan.”

 

Dengan ilmu pedang yang trampil serta penguasaan

sepasang trisula ditangannya, kedua cantrik itu telah berlatih

melawan tongkat besi Agung Sedayu yang berputaran dengan

cepat

Demikianlah, maka sejenak kemudian, para cantrik itupun

dengan sangat hati-hati, telah meninggalkan barak masingmasing

dan berkumpul dilongkangan.

Dalam pada itu, maka Agung Sedayupun telah mengatur

agar para cantrik itu berada di beberapa tempat yang terpisah.

Agung Sedayu telah membagi para cantrik itu berdasarkan

atas kemampuan mereka masing-masing. Empat orang yang

memiliki ilmu terbaik harus memimpin empat kelompok yang

harus berada di empat penjuru. Empat orang cantrik bersama

Sekar Mirah akan berada di barak induk, sementara Agung

Sedayu dan Glagah Putih akan berada ditempat-tempat yang

memerlukannya.

Namun satu hal yang selalu diingat oleh Agung Sedayu,

bahwa ada seseorang yang ditunggu oleh sekelompok orang

yang memasuki padepokan itu. Seorang itu tentu orang yang

berilmu tinggi.

“ Agaknya akan menjadi kewajibanku untuk

menghadapinya.” berkata Agung Sedayu didalam hatinya,

karena ia menyadari bahwa ia adalah orang yang

bertanggungjawab di padepokan itu pada saat itu

sebagaimana diperintahkan oleh gurunya.

Namun untuk sementara Agung Sedayu telah

mempercayakan barak induk itu kepada Sekar Mirah, karena

bagaimanapun juga, Kiai Gringsing yang duduk di bibir

pembaringannya itu tentu bukannya tidak mampu berbuat

apa-apa sama sekali.

Kepada seorang cantrik yang ikut berjaga-jaga di barak

induk itu Agung Sedayu telah memerintahkan untuk

membunyikan isyarat, jika barak itu dimasuki oleh siapapun

selain orang-orang padepokan itu.

Sementara itu, Agung Sedayupun telah meninggalkan

barak induk itu pula untuk mengamati keadaan dengan lebih

cermat. Dari tempat yang tidak terlalu jauh namun

tersembunyi Agung Sedayu dan Glagah Putih melihat

 

kegelisahan diantara mereka yang memasuki padepokan itu.

Namun dalam pada itu, keduanya melihat bayangan yang

meluncur dari atas dinding tanpa menuruni pohon yang dapat

dijadikan tangga oleh orang-orang yang masuk sebelumnya

itu.

Agung Sedayu dan Glagah Putih saling berpandangan.

Mereka menyadari bahwa tentu orang itulah yang ditunggu.

Kedatangan orang itu telah menggerakkan orang-orang

yang berada dibawah pohon itu untuk segera mulai dengan

tugas mereka. Tanpa banyak berbicara, maka orang itu telah

memberikan perintah-perintah singkat.

“ Waktu kita terbatas.” katanya kemudian, “ kita harus

segera mulai.”

Tidak ada jawaban. Namun orang itu mulai melangkah

diikuti oleh sekelompok diantara mereka. Namun yang lain

telah menuju kearah yang berbeda. Agaknya orang-orang itu

akan menyerang padepokan kecil itu dari arah yang berlainan.

Atau barangkali mereka menganggap bahwa menundukkan

padepokan itu sama mudahnya seperti sekelompok serigala

menerkam sejumlah domba-domba di dalam kandangnya.

Untunglah bahwa kelompok-kelompok itu telah mengambil

jalan yang tidak terlalu dekat dengan Agung Sedayu dan

Glagah Putih bersembunyi. Apalagi Agung Sedayu memiliki

kemampuan menyerap bunyi sehingga kehadirannya tidak

mudah diketahui oleh orang lain meskipun orang berilmu tinggi

sekalipun.

Agung Sedayulah yang kemudian justru mengikuti

kelompok-kelompok yang mulai bergerak itu. Kepada Glagah

Putih diisyaratkan untuk mengikuti kelompok yang lain,

sementara Agung Sedayu sendiri mengikuti kelompok yang

dipimpin langsung oleh orang yang datang terakhir itu.

Demikianlah, maka ketegangan telah mencekam seisi

padepokan itu, Baik mereka yang memasuki padepokan itu,

maupun para cantrik yang siap menunggu di sela-sela

gerumbul-gerumbul perdu. Ternyata orang-orang yang

memasuki padepokan itu tidak segera mengetahui bahwa

kedatangan mereka memang sudah ditunggu. Karena itu,

 

maka dengan cepat mereka bergerak menuju ke bagian yang

lain dari padepokan itu.

Glagah Putih yang mengikuti sekelompok orang yang

mengambil jalan yang lain dari kelompok yang diikuti oleh

Agung Sedayu melihat bahwa kelompok itu akan melintas

diantara kelompok-kelompok para cantrik yang memang

sudah menunggu. Karena itu, Glagah Putih justru telah

memberikan isyarat. Dilemparkannya sebuah batu kearah

para cantrik menunggu sebagaimana diatur oleh Agung

Sedayu.

Bunyi batu yang gemerasak didedaunan dan kemudian

jatuh di tanah itu memang telah menarik perhatian. Tetapi

bukan saja para cantrik. Orang-orang yang memasuki

padepokan itupun telah terkejut pula sehingga langkah

mereka terhenti sejenak.

Glagah Putih mempergunakan kesempatan itu untuk

mendahului kelompok orang-orang yang memasuki

padepokan itu. Dengan menyusup diantara gerumbulgerumbul

perdu yang tumbuh di halaman samping ia langsung

menuju ketempat yang sudah ditentukan bagi para cantrik siap

menunggu.

Sekelompok orang yang memasuki padepokan itupun telah

menjadi berhati-hati. Selain gemerasak batu yang dilemparkan

oleh Glagah Putih, merekapun telah memasuki bagian dari

padepokan itu yang dihuni oleh para cantrik. Beberapa barak

bertebaran diantara pepohonan yang rimbun. Sementara

disebelah depan dari bagian yang dihuni itu terdapat

bangunan induk dari padepokan itu.

Glagah Putih ternyata telah berada diantara para cantrik di

salah satu kelompok yang memang sudah menunggu

kehadiran orang-orang yang tidak dikenal itu. Demikian

Glagah Putih memberikan isyarat, maka para cantrik itupun

mulai bergeser dari tempat mereka. Sebagian dari mereka

tetap menunggu, sementara Glagah Putih dengan tiga orang

cantrik telah melingkari sebuah barak. Ketika sekelompok

orang-orang itu dengan hati-hati mendekati para cantrik, maka

perintah dari pimpinan para cantrik itupun telah mengejutkan

mereka.

 

Sejenak kemudian, beberapa orang cantrik telah

menghambur keluar dari persembunyian mereka, di sebuah

longkangan yang sempit diantara dua buah barak. Tidak

menunggu perintah itu diulangi maka para cantrikpun telah

menyerang orang-orang yang tidak dikenal itu.

Orang-orang yang memasuki padepokan itu terkejut.

Mereka tidak mengira bahwa demikian cepatnya mereka akan

disergap oleh para cantrik yang ternyata telah bersiaga.

Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang seru.

Namun ternyata bahwa sejumlah orang-orang yang memasuki

padepokan itu lebih banyak dari satu kelompok cantrik yang

menunggu mereka. Glagah Putih yang bersama dengan tiga

orang cantrik mengitari sebuah barak, tiba-tiba pula telah

menyergap Orang-orang yang memasuki padepokan itu dari

punggung.

Sebenarnyalah kehadiran Glagah Putih telah mengejutkan

orang-orang yang memasuki padepokan itu. Meskipun mereka

belum mengenal Glagah Putih, tetapi sikap dan tata gerak

Glagah Putih membuat mereka menjadi berdebar-debar.

Demikianlah pertempuran itupun telah meningkat semakin

keras. Sebagaimana petunjuk para pemimpinnya, para cantrik

harus memanfaatkan pengenalan mereka atas padepokan itu

sebagai perisai. Mereka dapat berlari-larian mengitari

pepohonan untuk tiba-tiba saja kembali menyerang.

Merekapun dapat memanfaatkan longkangan-longkangan

yang gelap pekat dan bagian-bagian yang lain. Ternyata

dengan cara itu, para cantrik sekali-sekali dapat membuat

lawan-lawan mereka menjadi bingung.

Namun ternyata bahwa orang-orang yang memasuki

padepokan itupun memiliki pengalaman yang luas. Karena itu,

mereka tidak segera terpancing oleh para cantrik yang berlarilarian.

Mereka berusaha untuk tidak terjebak dalam arena

yang sempit dan sulit. Karena itu, mereka justru bergerak

mendekati banguhan induk. Namun mereka tetap bertahan di

jalur arah mereka jika para cantrik menyerang.

Glagah Putih memang tidak dengan tergesa-gesa bertindak

lebih jauh. Bersama para cantrik mereka telah menyerang dan

kemudian berkisar kebelakang batang-batang perdu atau

 

masuk ke longkangan yang gelap. Tetapi orang-orang yang

memasuki padepokan itu sama sekali tidak mengejar mereka.

Tetapi mereka meneruskan langkah mereka ke arah yang

agaknya memang sudah ditentukan. Barak induk padepokan

kecil itu.

Namun ternyata bahwa kelompok itu telah membentur

kekuatan para cantrik dari kelompok yang lain yang dengan

serta merta telah menyergap mereka. Dengan demikian maka

kekuatan merekapun menjadi berimbang. Namun ternyata

bahwa orang-orang yang memasuki padepokannya itu masih

saja berusaha terus mendekati barak induk.

Tetapi mereka tidak lagi semudah sebelumnya untuk maju

terus. Kekuatan para cantrik benar-benar telah mampu

menghentikan mereka. Sehingga dengan demikian maka telah

terjadi pertempuran yang sengit antara orang-orang yang

memasuki padepokan itu melawan para cantrik.

Beberapa orang cantrik memang telah memiliki

kemampuan yang mampu mengimbangi lawan-lawannya,

meskipun ada juga yang mendapat kesulitan karena dasar

kemampuan kanuragan mereka masih belum mapan. Tetapi

ternyata bahwa para cantrik itu benar-benar telah mampu

mengimbangi kekuatan orang-orang yang memasuki

padepokan itu.

Namun hal itu ternyata telah membuat pemimpin kelompok

orang-orang yang memasuki padepokan itu menjadi marah.

Dengan lantang ia berteriak, “ Minggirlah tikus-tikus kecil.

Biarlah pemimpinmu, orang bercambuk itu turun ke arena.

Sudah waktunya orang itu mati, sehingga ia tidak akan dapat

lagi ikut campur dalam persoalan Mataram dengan lawanlawannya

yang semakin banyak.”

Para cantrik tidak menghiraukannya. Mereka bertempur

terus dengan garangnya. Tetapi pemimpin kelompok orangorang

yang tidak dikenal itu ternyata telah terjun langsung

memasuki arena pertempuran. Demikian tinggi

kemampuannya sehingga beberapa orang cantrik telah

terkejut ketika terjadi benturan senjata. Hampir saja senjata

para cantrik itu terlepas dari tangan mereka, ketika sapuan

 

senjata pemimpin kelompok orang-orang yang belum dikenal

itu menyentuh senjata para cantrik.

Untunglah bahwa Glagah Putih sempat melihat peristiwa

itu. Karena itu, maka iapun telah bergerak diantara para

cantrik mendekat pemimpin kelompok lawan yang

menggetarkan jantung para cantrik itu.

“ Luar biasa Ki Sanak.” berkata Glagah Putih, “

kemampuanmu melampui kemampuan kawan-kawanmu.”

Orang yang sedang mengayun-ayunkan senjatanya itu

tertegun. Dipandanginya Glagah Putih yang siap

menghadapinya. Dari sinar obor di kejauhan, ketajaman mata

orang itu melihat, betapa mudanya orang yang menyapa itu.

Karena itu, maka orang itupun bertanya, “ Siapakah kau he?”

“ Aku salah seorang cantrik padepokan kecil ini.” jawab

Glagah Putih.

“ Kau berani dengan sombong menghadapi aku?” bertanya

orang itu.

“ Kau kira aku menyombongkan diri? Tidak Ki Sanak.

Bukankah kewajiban para cantrik untuk menghentikan polah

tingkahmu itu?” bertanya Glagah Putih.

“ Kau lihat, bahwa kawana-kawanmu tidak ada yang berani

mendekati aku lagi. Apalagi seorang diri? Jika kau datang

dalam sebuah kelompok yang besar, mungkin aku masih

dapat menghargaimu. Tetapi agaknya kau datang untuk

membunuh diri.” berkata orang itu.

“ Jika demikian siapakah yang sombong diantara kita? Kau

atau aku?” bertanya Glagah Putih.

“ Persetan. Jangan mati terlalu muda. Pergilah.” bentak

orang itu. Lalu, “ Panggil gurumu, orang bercambuk itu.

Biarlah aku yang membinasakannya?”

“ Bukankah seorang kawanmu dengan kelompoknya telah

memilih jalan lain menuju ke bangunan induk? Aku kira bukan

kau yang akan menghadapi Guru. Tetapi kawanmu yang telah

kau tunggu cukup lama dibawah pohon di kebun belakang

padepokan ini.” jawab Glagah Putih.

“ Jadi kau melihat kehadiran kami?” bertanya orang itu.

“ Ya. Aku telah melihat kegelisahan kalian menunggu

seorang diantara kalian, yang agaknya merasa dirinya pantas

 

menghadapi Kiai Gringsing.” jawab Glagah Putih, “ nah, jika

demikian, kau tidak usah menyebut nama Guru lagi. Kita

bertemu dan siapakah diantara kita yang akan keluar dari

arena pertempuran ini dengan selamat.”

“ Ternyata kau memang harus dibunuh.” geram orang itu.

“ Apapun yang akan kau lakukan, lakukanlah. Kita berada

di peperangan. Setiap orang berhak untuk membunuh dan

mungkin akan terbunuh. Karena itu, kita akan melihat, aku

ingin mengetahui, siapakah kalian dan bekerja untuk siapa

Apapula keuntungan kalian dengan menghancurkan

padepokan kecil ini?” bertanya Glagah Putih.

“ Siapapun kami dan untuk siapa kami melakukannya, itu

bukan urusanmu.” berkata orang itu.

“ Baik.” jawab Glagah Putih, “ jika demikian, maka kalian

akan mati tanpa nama.”

“ Kamilah yang akan membinasakan kalian.” geram orang

itu.

Glagah Putih tidak menyahut lagi. Tetapi iapun segera

bersiap menghadapi segala kemungkinan. Sejenak kemudian,

orang yang memimpin kelompok orang-orang yang tidak

dikenal itu telah menyerang Glagah Putih.

Glagah Putih meloncat menghindar. Iapun telah memegang

pedang ditangannya. Ketika lawannya memburunya dengan

mengacukan senjatanya lurus ke dadanya, maka Glagah

Putihpun telah menangkis serangan itu.

Kedua-duanya terkejut. Pemimpin kelompok itu tidak

mengira bahwa orang yang masih sangat muda itu

mempunyai kekuatan yang sangat besar. Jauh melampaui

kekuatan para cantrik yang pernah membenturkan senjata

mereka dengan senjatanya.

“ Agaknya anak itu memiliki kelebihan dari para cantrik

yang lain.” berkata orang itu didalam hatinya.

Sementara itu, Glagah Putih terkejut. Meskipun ia sudah

menduga bahwa lawannya memiliki kekuatan yang besar,

namun sentuhan senjatanya itu benar-benar menunjukkan

kekuatannya yang luar biasa. Tetapi Glagah Putih sama sekali

tidak menjadi gentar karenanya. Apa yang terjadi itu baru

 

merupakan sentuhan sentuhan permulaan dari kemungkinan

yang akan dapat berkembang menjadi jauh lebih seru.

Ternyata pemimpin kelompok itu tidak memberi banyak

kesempatan kepada Glagah Putih untuk merenung. Dengan

garangnya iapun segera telah menyerang kembali. Senjatanya

berputaran dengan cepatnya. Namun tiba-tiba saja menebas

mendatar mengarah kedada lawannya.

Ketika Glagah Putih sempat bergeser surut selangkah,

maka orang itu telah meloncat selangkah maju sambil

mengacukan senjatanya kearah leher. Tetapi Glagah Putih

mampu bergerak secepat lawannya. Karena itu, maka ujung

senjata itu mematuk sejengkal dari sasaran.

Glagah Putih tidak membiarkan dirinya sekedar menjadi

sasaran serangan lawannya. Iapun kemudian telah

menyerang pula. Dengan memukul senjata lawannya

menyamping, maka dada lawannya telah terbuka. Dengan

cepat Glagah Putih memutar pedangnya dan dengan loncatan

menyamping, pedang itu terayun kearah perut. Tetapi

lawannya sempat bergeser surut. Pedang Glagah Putih sama

sekali tidak menyentuh tubuhnya.

Demikianlah pertempuranpun semakin lama menjadi

semakin cepat. Keduanya semakin meningkatkan ilmu mereka

masing-masing. Sedangkan para cantrikpun telah bertempur

dengan keras pula karena lawan-lawan mereka menjadi

garang.

Ternyata bahwa kemampuan para cantrik tidak

mencemaskan. Mereka sebagian besar telah menguasai ilmu

dasar dari perguruan Kiai Gringsing. Bahkan beberapa orang

diantara mereka telah mulai mampu mengembangkannya.

Dua orang yang masing-masing memimpin sekelompok

cantrik di padepokan itu, sebagaimana dikatakan oleh kawankawannya,

memang memiliki kelebihan dari kemampuan ratarata

para cantrik yang lain. Mereka sempat membuat lawanlawannya

terdorong surut beberapa langkah dalam benturanbenturan

yang terjadi. Bahkan kadang-kadang lawannya

terpaksa mendapat bantuan dari lawan-lawannya jika cantrik

itu mendesak mereka kedalam keadaan yang sangat gawat.

 

Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin lama

memang menjadi semakin seru.

Orang-orang yang datang memasuki padepokan itu tidak

menduga, bahwa di dalam padepokan kecil itu terdapat

kekuatan yang memadai. Bahkan seorang anak muda telah

mampu mengimbangi kemampuan pemimpin mereka yang

mereka anggap memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Dalam pada itu, kelompok yang lain, yang dipimpin

langsung oleh orang yang untuk beberapa lama ditunggu itu,

bergerak melalui sisi yang lain. Merekapun berusaha untuk

sampai kebarak induk padepokan itu. Agaknya orang yang

datang terakhir itulah yang mendapat tugas langsung untuk

mengakhiri perasaan Kiai Gringsing yang banyak membantu

Mataram itu.

Namun seperti yang terjadi pada kelompok yang lain, maka

para cantrikpun telah menyergap mereka dari balik gerumbulgerumbul

perdu tanaman hias di halaman samping padepokan

dan dari celah-celah barak yang bertebaran. Dua kelompok

para cantrik harus bertempur menghadapi kelompok

pendatang itu.

Namun Agung Sedayu terkejut melihat kekasaran orang

yang datang terakhir itu. Ketika seorang cantrik

menyergapnya, maka seakan-akan ia hanya mengibaskan

sebelah tangannya. Namun cantrik itu terlempar beberapa

langkah, jatuh berguling dan tubuhnyapun telah terdiam.

Agung Sedayu memang tersinggung. Cantrik itu adalah

cantrik yang bernasib buruk. Ia tidak sempat berbuat apapun

di pertempuran itu, ketika tiba-tiba saja ia berpapasan dengan

orang yang dengan semena-mena mempergunakan ilmunya

yang sangat tinggi.

Ketika Agung Sedayu meloncat mendekati orang itu, maka

dua orang cantrik telah terlempar. Meskipun keduanya tidak

menjadi separah cantrik yang pertama, namun keduanyapun

harus meringkuk menepi. Untunglah beberapa orang

kawannya telah membantunya, membawanya ketempat yang

gelap. Sementara dua orang cantrik yang lain telah

mengusung kawannya yang pingsan menyingkir pula dari

pertempuran.

 

Ketika ampat orang cantrik yang marah meloncat

mendekati orang itu, Agung Sedayu telah berada di hadapan

mereka. Katanya kepada para cantrik, “ Biarlah aku yang

menghadapinya.”

“ Anak setan.” geram orang itu.

Ternyata semakin dekat. Agung Sedayu menjadi semakin

jelas mengamati wajah orang itu. Wajah yang nampak pucat

dan dalam. Tidak ada gejolak sama sekali pada wajah yang

bermata sangat cekung itu. Seakan-akan yang nampak itu

bukannya wajah sebenarnya. Seperti sebuah topeng yang

diam tanpa perubahan kesan apapun selain sorot mata yang

memancarkan nafas kematian.

Ternyata bahwa wajah yang beku itu membuat Agung

Sedayu menjadi berdebar-debar. Orang-orang yang berwajah

demikian, menurut pengenalannya adalah orang yang memiliki

kelainan jiwa. Perasaannya tentu sudah membeku

sebagaimana wajahnya. Namun sebagaimana sorot matanya,

hatinyapun menyimpan api. Orang-orang yang demikian, akan

dapat membunuh tanpa mengedipkan matanya. Tanpa getar

apapun dijantungnya. Apalagi penyesalan. Karena itu, maka

Agung Sedayu harus berhati-hati menghadapinya.

Dalam pada itu terdengar suara orang itu parau, “ Siapakah

kau yang berani dengan sadar menghadapi aku seorang diri?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Kau

tentu mencari Kiai Gringsing. Aku adalah salah seorang

muridnya.”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “ Suruh gurumu

menghadapi aku. Aku ingin membunuhnya.”

“ Apa hubunganmu dengan Guru, sehingga kau akan

membunuhnya?” bertanya Agung Sedayu.

Ternyata orang itu tidak berbelit-belit. Katanya, “ Gurumu

tentu akan memihak Mataram yang bermusuhan dengan

Madiun. Sementara itu aku berpihak kepada Madiun.”

“ Bagaimana jika perselisihan antara Mataram dan Madiun

dapat diselesaikan dengan baik tanpa kekerasan?” bertanya

Agung Sedayu.

“ Itu bukan urusanku. Tugasku membunuh Kiai Gringsing

yang dikenal sebagai orang bercambuk itu. Kecuali ia akan

 

dapat mengganggu, ia pun seharusnya memang sudah mati

karena ia sudah terlalu lama hidup.” berkata orang itu.

“ Tentang umur seseorang itu bukannya persoalan kita.

Bukan pula urusanmu. Panjang atau pendek umur seseorang,

adalah wewenang Yang Maha Kuasa.” jawab Agung Sedayu.

“ Omong kosong.” geram orang berwajah beku itu, “ orangorang

yang lemah akan mencari sandaran untuk menutupi

kelemahannya. Aku yang yakin akan kemampu-anku, sama

sekali tidak mempercayainya. Aku akan mempertahankan

umurku dengan membunuh lawan-lawannya. Nah, minggirlah

jika kau tidak ingin mati. Aku akan membunuh Gurumu.”

“ Sikapku berbeda.” jawab Agung Sedayu, “ karena aku

yakin, bahwa mati hidupku sudah ditentukan oleh Kuasa-Nya,

maka aku tidak akan minggir. Aku akan menghadapimu

siapapun kau. Aku barangkali kau mau menyebut namamu

atau sebutanmu? “

“ Namaku Singapati. Katakan kepada Gurumu, bahwa aku

adalah pewaris tunggal ilmu dari perguruan Worsukma.”

berkata orang yang bernama Singapati itu. Lalu, “ ia tentu

akan menjadi gemetar dan barangkali dengan suka rela akan

menyerahkan nyawanya kepadaku.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia memang sudah

mendengar berbagai macam perguruan yang pernah disebut

oleh gurunya. Iapun pernah mendengar nama perguruan

Worsukma. Perguruan yang pada masanya memiliki nama

yang menggetarkan bagi orang-orang berilmu. Gurunyapun

pernah memberikan petunjuk untuk menghadapi berjenis-jenis

ilmu yang memiliki kelebihan dari berbagai macam perguruan.

Dan Agung Sedayupun teringat jelas, bagaimana gurunya

memberikan petunjuk untuk menghadapi ilmu dari perguruan

Worsukma.

Agung Sedayu teringat jelas, betapa gurunya berpesan,

agar ia tidak kehilangan pribadinya menghadapi ilmu dari

perguruan Worsukma. Jika ia kehilangan pribadinya, maka ia

akan tunduk pada kehendak lawannya, bahkan dipenggal

kepalanya sekalipun. Dan ilmu itu tidak dapat dilawan dengan

ilmu kebal. Melainkan satu keyakinan akan dirinya sendiri.

 

“ Benar kata Guru.” berkata Agung Sedayu didalam

hatinya, “ orang-orang yang mewarisi ilmu Worsukma, yang

menurut Singapati adalah pewaris tunggalnya di saat ini, tidak

percaya akan kuasa Yang Maha Kuasa. Itulah sebabnya,

maka aku justru tidak boleh bergeser setebal daun sekalipun

dari sandaran itu. Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, maka

aku akan tetap tegak pada pribadiku dan tidak akan dapat

dikuasainya.”

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka

Singapati itupun tiba-tiba telah membentaknya, “ He, jika kau

menjadi ketakutan, minggirlah. Aku memang ingin bertemu

dengan pewaris ilmu cambuk yang terkenal itu. Namun yang

sebenarnya hampa di dalamnya.”

“ Guru sedang sakit “ berkata Agung Sedayu “ atau

barangkali kau sengaja datang karena kau mendengar Guru

sedang sakit? Agaknya kau tidak berani berhadapan dengan

Guru disaat-saat Guru siap bertempur melawan sia-papun,

termasuk pewaris tunggal ilmu Worsukma. “ Agung Sedayu

berhenti sejenak, lalu tiba-tiba saja ia berkata “ Kau bukan

pewaris tunggal. Aku pernah bertemu dengan orang yang

memiliki ilmu yang sama dengan ilmumu. Warisan dari

perguruan Worsukma. Cirinya sama dengan ciri-ciri yang ada

padamu. Tidak mempercayai kuasa Yang Maha Kuasa.

Sombong dan tidak mengakui saudara-saudara

seperguruannya sendiri. “

“ Persetan “ geram orang itu “ banyak orang yang mengaku

pewaris ilmu dari perguruan Worsukma. Tetapi semuanya itu

bohong sama sekali. Sekarang, menyerahlah, atau kau akan

mati. “

“ Sudah aku katakan, mati hidupku tidak ditentukan oleh

siapapun. Tidak olehmu dan bahkan tidak olehku sendiri.

Tetapi oleh Penciptanya “ jawab Agung Sedayu.

Orang itu menggeram. Satu hal lagi yang membuat Agung

Sedayu berdebar-debar. Gigi orang itu seakan-akan mengintip

dari sela-sela bibirnya. Satu hal yang tidak pernah disebut

oleh gurunya.

“ Jika orang ini menggeram, maka giginya bagaikan gigi

binatang buas yang mencuat dari batas bibirnya “ berkata

 

Agung Sedayu didalam hatinya. Lalu “ Apakah arti dari

keadaan itu? “

Tetapi memang ada kemungkinan bahwa hal itu tidak

mempunyai arti apapun kecuali satu kebiasaan saja. Atau

karena orang itu memang memiliki sifat-sifat binatang buas

karena ilmunya atau karena watak dan pribadinya.

Karena Agung Sedayu ternyata sama sekali tidak gentar

menghadapinya, maka orang itupun kemudian berkata “

Bersiaplah. Mungkin masih ada yang ingin kau lihat di

padepokanmu ini karena sebentar lagi kau akan mati. “

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi iapun telah bersiap

menghadapi segala kemungkinan. Ia tidak boleh lengah bukan

saja menghadapi benturan kewadagan, tetapi orang yang

mewarisi ilmu perguruan Worsukma itu akan dapat

mempengaruhi nalar budinya dan bahkan menguasainya.

Sejenak kemudian maka orang itupun mulai bergerak.

Seperti kebekuan di wajahnya, maka geraknyapun bagaikan

tidak disadarinya. Namun Agung Sedayu tahu pasti, bahwa

orang itu adalah orang yang sangat berbahaya. Agung

Sedayu memang dapat mempergunakan ilmu kebalnya jikadiperlukan

untuk mengatasi benturan wadagnya, tetapi ia tidak

dapat mempergunakan ilmu itu untuk melawan pengaruh yang

mungkin dapat menguasai jiwanya. Karena itu maka ia harus

mempersiapkan perlawanan khusus untuk mengatasinya.

Tetapi agaknya orang itu ingin mencoba kemampuan dan

kekuatan ilmu Agung Sedayu dengan benturan-benturan

wadag. Agaknya orang itu tidak dengan serta merta

mempergunakan ilmu andalan dari perguruan Worsukma yang

dapat menundukkan lawannya tanpa benturan kewadagan.

Sejenak kemudian, maka orang itu mulai menggerakkan

tangannya. Agung Sedayu telah menyaksikan sendiri,

bagaimana kibasan tangannya mampu melemparkan dan

membuat seorang cantrik langsung pingsan, sedangkan yang

lain telah terlempar dan terbanting pula ditanah.

Karena itu, maka Agung Sedayupun telah bersiap

sepenuhnya. Ketika orang itu meloncat dengan satu langkah

panjang sambil menerkam dengan jari-jarinya yang

berkembang, maka Agung Sedayu seakan-akan telah bertemu

 

dengan kenalan lamanya meskipun berdiri berseberangan.

Wawasannya yang tajam segera mengenal gerak itu,

meskipun sebelumnya ia baru mendapat keterangan dari Kiai

Gringsing tentang jenis ilmu itu. Ilmu yang sangat

berbahaya. Terkaman itu akan dapat mengoyak kulit

dagingnya.

Namun Agung Sedayu ternyata mampu mengimbangi

hentakan pertama lawannya. Demikian ia bergeser

menghindari serangan lawannya, Agung Sedayupun telah

meloncat pula. Sambil merendah maka tangannya terayun

mendatar. Jari-jarinya yang merapat menyambar lambung

lawannya dengan telapak tangan yang menelungkup. Ketika

lawannya menghindar surut, maka tangan itupun segera

berubah arah, mematuk dengan cepat menghadap ke ulu hati.

Orang itu meloncat surut. Wajahnya masih tetap membeku

ketika ia bergumam “ Ternyata kau tangkas. He, apakah

murid-murid Kiai Gringsing sudah mewarisi kemampuannya? “

Agung Sedayu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja ia

melenting sambil berputar, sementara kakinyalah yang

terayun deras sekali, hampir saja menyambar kepala orang

yang menyebut dirinya Singapati itu.

“ Anak iblis “ orang itu mengumpat. Untunglah bahwa ia

masih sempat menghindar dengan merendahkan dirinya

sehingga kepalanya tidak disambar oleh kaki Agung Sedayu.

Gerak itu memang tidak diduganya sebelumnya.

Namun kemarahan orang itu bagaikan terangkat. Karena

itu, maka iapun telah meningkatkan kemampuannya.

Dengan demikian maka pertempuran antara Agung Sedayu

dan Singapati itupun menjadi semakin cepat dan keras.

Ternyata bahwa Agung Sedayu memang harus mengimbangi

lawannya. Meskipun tidak kasar, tetapi Agung Sedayu telah

bertempur sebagaimana lawannya.

Namun dengan sengaja Agung Sedayu telah

memperlihatkan unsur-unsur ilmunya yang lain, yang

diwarisinya dari perguruan Ki Sadewa. Ia ingin melihat

ketajaman pengamatan lawannya tentang jenis-jenis ilmu dari

jalur perguruan yang pernah terkenal pada masa silam.

 

Ternyata orang itu telah memperhatikan unsur-unsur gerak

yang diperlihatkan oleh Agung Sedayu. Sebagai seorang yang

berilmu tinggi dari angkatan sebelumnya, maka ternyata orang

itu menjadi heran melihat jenis unsur-unsur gerak yang

nampak pada lawannya yang masih terhitung muda itu.

Karena itu, hampir diluar sadarnya, maka terdengar orang

itu bertanya dengan nada datar “ Kau bukan saja murid Kiai

Gringsing. Tetapi kau memiliki kemampuan ilmu dari

perguruan Ki Sadewa. “

“ Kau mengenal Ki Sadewa? “ bertanya Agung Sedayu.

“ Ia berasal dari Jati Anom ini. Aku mengenal orang-orang

berilmu tinggi sebagaimana aku sendiri. Tetapi seandainya Ki

Sadewa masih hidup, ia tidak akan mampu mengimbangi

kemampuanku sekarang, sebagaimana Kiai Gringsingpun

tidak, “ berkata orang itu.

“ Itulah sebabnya maka kau harus dihadapkan pada dua

jenis ilmu itu sehingga dengan demikian maka barulah kau

dapat dikalahkan. “ berkata Agung Sedayu.

“ Persetan “ geram orang itu “ jika kau baru mengenal

dasar-dasar ilmu dari seratus perguruanpun kau tidak mampu

berbuat apa-apa dihadapanku sekarang ini. “

Namun tiba-tiba orang itu terkejut ketika Agung Sedayu

menyerangnya dengan tata gerak yang berbeda pula. Satu ciri

dari perguruan lain, bahwa ia menyerang dengan tubuh yang

menghadap hampir sepenuhnya. Serangan-serangannya

bertumpu pada kakinya, namun dalam keadaan yang khusus.

Satu kakinya ditarik setengah langkah ke-belakang, lututnya

agak merendah sementara kedua tangannya teracu kedepan.

Orang itu nampak terkejut. Selangkah ia surut sambil

berdesis “ Kau berguru juga kepada bajak laut itu? “

Agung Sedayu terkejut. Tetapi ia berusaha untuk

menghapus kesan itu dari wajahnya. Pengenalannya atas ilmu

Ki Jayaraga telah mendorongnya untuk mengganggu

lawannya dengan jenis-jenis ilmu itu. Namun ia justru terkejut

ketika Singapati itu menyebutnya sebagai ilmu yang

disadapnya dari seorang bajak laut.

 

Namun Agung Sedayupun teringat, bahwa memang ada

murid Ki Jayaraga yang kemudian menjadi bajak laut yang

ditakuti. Tetapi bajak laut itu sudah tidak ada lagi.

Tetapi karena Agung Sedayu memang tidak mendalami

ilmu itu, maka iapun memang tidak berniat untuk

mempergunakan, selain sekedar menunjukkan kekuatan salah

satu unsur gerak dari ilmu yang dikenalinya dengan baik,

karena ia mengenal Ki Jayaraga dengan baik pula. Apalagi

muridnya, Glagah Putih telah berguru pula kepada Ki

Jayaraga sehingga Agung Sedayu bersama-sama dengan Ki

Jayaraga harus menyusun ilmu didalam diri Glagah Putih

sehingga justru akan dapat saling mengisi. Bukan saling

berbenturan didalam dirinya.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka

Singapati itu membentaknya “ Jadi kau berguru pula kepada

bajak laut itu he? “

“ Tidak “ jawab Agung Sedayu “ tetapi aku sekedar pernah

mempelajari ilmunya. Karena kau menganggap bahwa Ki

Sadewa, Kiai Gringsing dan siapa lagi, seorang-seorang tidak

akan dapat mengalahkanmu, maka sekarang mereka datang

bersama-sama bahkan bersama Ki Jayaraga meskipun hanya

sekedar ilmunya. Sementara itu, biarlah wadagku menjadi

lantaran pelepasan ilmu mereka. “

“ Iblis kau. Kau benar-benar seorang yang sombong. Kau

merasa dirimu memiliki kemampuan tiga orang berilmu tinggi

itu dan berani menghadapi aku? Kau agaknya memang belum

mengenal kemampuan perguruan Worsukma yang

sesungguhnya. “ geram orang itu.

Agung Sedayu tidak menjawab. Namun iapun telah

benar-benar bersiap. Ilmu apapun yang akan dipergunakan

oleh lawannya, maka ia harus berusaha untuk

mengimbanginya.

Ternyata bahwa Singapati tidak menjadi gelisah dan cepat

terbakar jantungnya. Ia masih menyerang Agung Sedayu

dengan ilmu kanuragan. Meskipun semakin lama menjadi

semakin meningkat, tetapi Agung Sedayu masih saja mampu

mengimbanginya. Serangan dibalas dengan serangan. Sekalisekali

terjadi benturan yang keras sehingga keduanya harus

 

bergeser surut. Ternyata bahwa Singapati tidak berhasil

mengatasi kemampuan kecepatan dan kekuatan Agung

Sedayu dengan lambaran tenaga cadangannya.

Bagaimanapun ia mengarahkan kemampuannya, ternyata

Agung Sedayu selalu dapat menghindari serangannya atau

menangkisnya dengan kekuatan yang seimbang.

Tetapi bagi Singapati yang dilakukan itu seakan-akan baru

merupakan sekedar menghangatkan darahnya, karena

didalam dirinya tersimpan tingkat-tingkat ilmu yang tinggi dari

perguruan Worsukma disamping ilmu puncaknya.

Dalam pada itu, pertempuran antara para cantrik dan

orang-orang yang memasuki padepokan itupun menjadi

semakin seru. Ternyata kemampuan para cantrik tidak

sebagaimana dibayangkan oleh para pengikut Singapati.

Mereka menyangka bahwa cantrik dari padepokan kecil yang

dipimpin oleh seorang yang menjadi semakin tua, lemah dan

sakit-sakitan itu adalah orang-orang yang lemah pula. Namun

ternyata bahwa mereka memiliki gelora perjuangan yang

sangat besar untuk mempertahankan hak mereka. Didukung

oleh kemampuan yang cukup besar, sehingga dengan

demikian, maka para cantrik itu telah berhasil menahan gerak

maju orang-orang yang datang menyerang.

Tetapi sementara itu, seorang diantara orang-orang yang

datang menyerang padepokan itu telah berhasil lepas dari

pertahanan para cantrik. Kemampuannya yang tinggi

telah mampu menyibakkan para cantrik yang mencoba

menghalanginya. Bahkan seorang diantara para cantrik itu

telah terlempar jatuh dengan luka dipundaknya.

Beberapa orang cantrik memang mengejarnya. Tetapi

orang itu sempat menyusup dilongkangan, kemudian

menyelinap gerumbul-gerumbul perdu, sehingga akhirnya ia

telah berhasil mencapai pintu bangunan induk padepokan itu.

Dengan serta merta iapun telah berlari kepintu dan

mendorongnya pintu itu sehingga berderak. Ternyata

kekuatan orang itu terlalu besar, sehingga pintu itu bukannya

sekedar terbuka, tetapi justru telah patah ditengah.

Para cantrik yang ada diruang tengahpun segera bersiap.

Mereka bersama-sama telah berusaha untuk menahan orang

 

itu agar tidak mencapai bilik Kiai Gringsing. Namun ternyata

orang itu memang mampu bergerak cepat dan kuat. Kedua

cantrik yang berusaha menggapainya dengan senjata, justru

harus berloncatan mundur.

Tetapi ketika seorang cantrik siap memukul isyarat, maka

terdengar suara dipintu bilik yang terbuka “ Jangan. Biarlah

kawan-kawanmu bertempur dengan tenang. “

Ketika orang-orang diruang dalam itu berpaling, mereka

melihat Sekar Mirah berdiri ditengah-tengah, pintu sambil

menggenggam tongkat baja putihnya. Sebuah tengkorak di

pangkal tongkat itu nampak berkilat kekuning-kuningan.

Dengan langkah yang meyakinkan Sekar Mirah mendekati

orang itu sambil berkata “ Jika tubuhku telah terkapar disini,

bunyikan tanda itu. Dua orang diantara kalian, masuklah dan

layani Kiai Gringsing jika ia memerlukan minum. Biarlah Kiai

Gringsing beristirahat saja dipem-baringannya. Jangan

diganggu dengan jenis-jenis permainan tidak berarti ini. “

Orang yang memasuki ruang dalam itu memandang

tongkat Sekar Mirah dengan wajah yang tegang. Namun

kemudian katanya Siapakah kau? Darimana kau

mendapatkan tongkat itu? Apakah kau murid Macan

Kepatihan sehingga kau mendapatkan tongkat itu dari

Mantahun lewat Tohpati atau dari Sumangkar? “

“ Darimana kau mengenal tongkat ini? “ bertanya Sekar

Mirah kemudian “ apakah kau termasuk salah seorang

diantara orang-orang Jipang yang mendendam terhadap

Mataram, sehingga kini kau melibatkan diri dari pada

pertentangan yang terjadi antara Madiun dan Mataram untuk

melepaskan dendammu? “

Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Dengan geram ia

berkata “ Minggirlah. Biarkan aku bertemu dengan pemimpin

padepokan ini. Jika kau berhasil membunuhnya mendahului

orang lain, maka aku tentu akan mendapatkan hadiah yang

pantas karena jasaku. Aku akan mendapat kedudukan yang

sesuai dengan kemampuanku. Nah, kau tahu, bahwa aku

akan mengorbankan siapa saja yang berusaha menghalangi

aku. “

 

“ Itukah tujuan kedatanganmu? Jika kau datang dengan

niat membalas dendam aku masih dapat mengerti. Tetapi jika

kau datang dan ingin membunuh seseorang hanya karena

menginginkan ganjaran dalam bentuk apapun, maka kau

adalah orang yang tidak pantas dihormati lagi. “ berkata Sekar

Mirah.

“ Persetan “ geram orang itu “ kau adalah seorang

perempuan. Betapapun tinggi ilmumu, namun kau tidak akan

berarti apa-apa bagiku. Aku tidak percaya bahwa jalur

perguruan Mantahun itu mempunyai nyawa rangkap seperti

ceritera orang. Ternyata Ki Patih Mantahunpun terbunuh

sebagaimana Tohpati. “

“ Kau sebenarnya siapa he? Meskipun Mantahun berdiri

dipihak yang salah pada waktu itu, tetapi kau tahu, bahwa

dengan ciri tongkat ini, aku memiliki ilmu dari jalur

yang sama. “ berkata Sekar Mirah “ Karena itu jangan

menghina ilmunya. “

“ Akulah yang pantas menuduhmu sebagai sisa-sisa

kekuatan Jipang karena tongkatmu itu “ berkata orang itu “

agaknya agar aku tidak mengatakannya, maka kau telah

menuduhku lebih dahulu. “

Sekar Mirah memang menjadi bingung tentang sikap orang

itu. Tetapi satu hal yang pasti, bahwa ia berusaha untuk

membunuh Kiai Gringsing sebagaimana dikatakannya. Karena

itu, ia tidak lagi mempedulikannya, alasan apa yang

dibawanya dan darimanakah datangnya. Yang penting, bahwa

ia harus mencegahnya. Bukan karena Sekar Mirah merasa

memiliki ilmu yang pantas disejajarkan dengan ilmu Kiai

Grinsing, tetapi justru karena Kiai Gringsing sedang sakit

sehingga ia perlu mendapat bantuan.

Nampaknya orang yang memasuki barak induk itu juga

tergesa-gesa. Agaknya ia tidak mau didahului oleh orang lain,

sehingga karena itu, maka iapun berkata “ Sekali lagi aku

peringatkan. Minggirlah. “

Tetapi Sekar Mirah sama sekali tidak bergeser dari

tempatnya. Katanya “ Kita akan bertempur dipringgitan atau

dipendapa. Disini terlalu sempit, sehingga kita tidak akan seni

 

pat mengenali kemampuan kita masing-masing yang

sebenarnya. “

Orang itu menggeram. Tetapi ia tidak menghiraukannya. -

Dengan serta merta ia menyerang Sekar Mirah.

Tetapi Sekar Mirah memang telah bersiap. Ia bergeser

selangkah surut sambil memiringkan tubuhnya. Kemudian

tongkatnya telah berayun deras. Hampir saja menyentuh ke

muka orang itu. Tetapi dengan tangkasnya orang itu mengelak

sambil bergeser kesamping.

Namun pada pengenalan yang pertama atas ilmu

perempuan yang bersenjata tongkat baja putih itu, orang yang

akan membunuh Kiai Gringsing itupun dapat menjajagi

kemampuannya. Perempuan itu memang berilmu

tinggi-

Karena itu, maka orang itupun tidak ingin mengalami

kegagalan. Iapun dengan serta merta telah menarik

senjatanya pula. Sebilah pedang yang tajam dikedua belah

sisinya. Pedang yang lurus itu nampak berkilat-kilat dibawah

cahaya lampu minyak diruang dalam.

Sementara itu, dua diantara para cantrik memang sudah

berada di dalam bilik Kiai Gringsing, sementara dua yang

lainnya dengan tegang mengamati pertempuran yang

kemudian terjadi antara Sekar Mirah dengan orang yang ingin

membunuh Kiai Gringsing itu. Namun agaknya mereka tidak

berkesempatan untuk melibatkan diri kedalam pertempuran

yang menjadi semakin sulit dimengerti.

Untunglah bahwa Sekar Mirah telah berhasil meningkatkan

dan memperdalam ilmunya justru karena ia adalah istri Agung

Sedayu. Latihan-latihan yang sering dilakukannya dengan

suaminya, telah banyak membantunya, menemukan

kemungkinan-kemungkinan baru bagi perkembangan ilmunya.

Ilmu yang diwarisinya dari Ki Sumangkar.

Dengan demikian maka Sekar Mirah yang pernah ikut

menyumbangkan tenaga dan kemampuannya disaat-saat

pembentukan pasukan khusus Mataram di Tanah Perdikan

Menoreh, dengan tangkasnya berusaha untuk mengimbangi

lawannya yang dengan tergesa-gesa ingin menyelesaikannya

dengan cepat. Karena itulah maka lawannya tidak lagi

 

menahan diri meningkatkan ilmunya selapis demi selapis.

Tetapi dengan serta merta, lawannya telah mengerahkan

segenap kemampuan yang ada didalam dirinya.

Tetapi ia telah membentur kemampuan ilmu yang tinggi

dari seorang perempuan yang bersenjata tongkat baja putih

yang diwarisinya dari Ki Sumangkar. Salah seorang yang

berilmu tinggi pada masa pemerintahan Adipati Jipang

disamping Ki Patih Mantahun.

Orang itu mengumpat didalam hati. Semula ia menduga,

bahwa yang akan dilakukannya itu tidak akan mengalami

banyak kesulitan. Ia mengira bahwa ia tinggal membunuh

beberapa orang cantrik yang menjaga Kiai Gringsing yang

sakit, kemudian menikam orang tua yang tidak berdaya itu

dipembaringannya.

Namun ia sudah berhadapan dengan perempuan

bertongkat itu. Karena itu, maka ia mempunyai pilihan lain,

bahwa ia harus menyingkirkan perempuan itu.

Karena itu, maka katanya “ Perempuan yang tidak tahu diri,

jika kau tidak minggir, maka kematianmupun sama sekali

bukan karena salahku. “

“ Marilah “ berkata Sekar Mirah “ agaknya satu cara yang

baik bagimu untuk membunuh diri. “

Kemarahan orang itu seakan-akan telah menyalakan oborobornya.

Karena itu, maka iapun telah meloncat sambil

mengacukan pedangnya.

Tetapi Sekar Mirahpun telah bersiap sepenuhnya. Karena

itu, maka iapun telah siap menghadapi serangan itu. Dengan

tangkasnya ia telah memutar tongkatnya, sehingga telah

terjadi benturan antara kedua jenis senjata itu.

Sekar Mirahpun ternyata tidak ingin mengalami kesulitan

karena kelengahannya. Dengan demikian maka iapun telah

mengerahkan segenap kemampuannya pula untuk melawan

serangan lawannya itu.

Sebuah benturan yang keras telah terjadi. Ternyata lawan

Sekar Mirah itupun terkejut. Ia tidak mengira bahwa

perempuan itu memiliki kekuatan yang mampu mengimbangi

kekuatannya. Meskipun ia menyadari bahwa perempuan itu

 

memang berilmu tinggi, namun kekuatannya benar-benar

melampaui dugaannya.

Karena itu maka orang itupun harus lebih berhati-hati. Ia

tidak dapat sekedar datang untuk membunuh. Namun

kemungkinan lain akan dapat terjadi. Justru ia akan

terbunuh oleh perempuan yang garang itu.

Sejenak kemudian maka perkelahian yang semakin

sengitpun telah terjadi. Sekar Mirah memang ingin mendesak

lawannya, agar mereka tidak bertempur diruang dalam. Bukan

saja karena tempatnya yang sempit. Tetapi pertempuran itu

tentu akan sangat mengganggu Kiai Gringsing yang sedang

sakit.

Karena itu, maka Sekar Mirah pun telah berusaha untuk

bergeser dari tempat yang memang terlalu sempit untuk

bertempur dengan senjata.

Ternyata bahwa kecepatan gerak Sekar Mirah memang

mengagumkan disamping kekuatannya yang jauh lebih besar

dari dugaan lawannya. Selangkah demi selangkah Sekar

Mirah mendesak lawannya menjauhi pintu bilik Kiai Gringsing.

Namun lawannyapun berusaha justru untuk mencapai pintu

itu. Ia sadar, bahwa Kiai Gringsing agaknya ada didalam bilik

itu.

Tetapi selain Sekar Mirah, maka dua orang cantrik telah

berdiri dipintu itu pula. Jika orang itu berniat untuk dengan

serta merta memasuki bilik itu dengan meninggalkan Sekar

Mirah, maka keduanya akan dapat menghambatnya,

meskipun keduanya merasa tidak akan dapat mengimbangi

kemampuan orang itu. Tetapi setidak-tidaknya mereka akan

dapat memberi kesempatan Sekar Mirah mencapai orang itu

dan menahannya untuk tidak memasuki bilik Kiai Gringsing.

Ternyata bahwa tidak mudah bagi Sekar Mirah untuk

mendesak lawannya keluar dari bilik itu. Karena itu. maka

Sekar Mirahpun kemudian telah berusaha untuk

memanfaatkan keadaan didalam ruang dalam itu untuk

mengawasi lawannya.

Dengan demikian maka pertempuran antara Sekar Mirah

dengan orang yang berniat membunuh Kiai GringKang

Zusi - http://kangzusi.com/

sing itupun menjadi semakin cepat dan keras. Keduanya

telah mempergunakan seluruh kemampuan mereka.

Tetapi dengan demikian, maka orang yang mengira bahwa

membunuh Kiai Gringsing adalah sama mudahnya dengan

membunuh beberapa orang cantrik yang menunggunya,

ternyata salah. Meskipun yang dihadapinya adalah seorang

perempuan, tetapi ternyata perempuan itu memiliki

kemampuan yang tidak dapat diatasinya.

Bahkan semakin lama semakin ternyata kemampuan Sekar

Mirah berada selapis diatas kemampuan lawannya.

Betapapun pedang orang itu berputaran, tetapi pedang itu

tidak pernah mampu menembus pertahanan tongkat baja

putih Sekar Mirah. Bahkan Sekar Mirah dengan sengaja telah

mempergunakan kesempatan ruangan itu untuk membuat

lawannya kadang-kadang kehilangan kesempatan karena

pedangnya yang tersentuh oleh barang-barang yang ada di

ruang itu.

Karena itu, maka iapun berpendapat, bahwa mereka akan

lebih baik bertempur ditempat yang luas. Orang itu masih

berharap bahwa dengan loncatan-loncatan panjang dan jarak

yang renggang akan dapat memberikan keuntungan baginya,

justru karena lawannya adalah seorang perempuan.

Karena itu, ketika Sekar Mirah berusaha mendesaknya, ia

justru telah memancing lawannya keluar dari ruang itu.

Demikian mereka berada dipinggiran, maka rasa-rasanya

lawan Sekar Mirah itu telah mendapat kesempatan bernafas

sedalam-dalamnya. Dadanya tidak lagi merasa sesak oleh

sesaknya ruangan.

Dengan tangkasnya orang itu telah mengambil jarak.

Disilangkannya pedangnya didepan dadanya. Namun

kemudian satu kakinya telah melangkah maju. Tubuhnya

kemudian miring dengan lutut yang merendah, sementara

pedangnya yang lurus dan tajam dikedua sisinya terjulur

kedepan.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Ilmu pedang orang

itu ternyata agak berbeda dengan ilmu pedang yang sering

ditemuinya. Berbeda pula dengan ilmu pedang yang pernah

 

dipelajarinya disamping kemampuannya mempergunakan

tongkat baja putihnya.

Tetapi Sekar Mirah tidak menjadi tergetar jantungnya

karena ilmu itu. Sebagai seorang yang sering berbicara

tentang ilmu kanuragan dan berbagai ilmu mempergunakan

senjata, maka Sekar Mirahpun pernah berbicara tentang

berbagai kemungkinan dari ilmu pedang. Meskipun ia telah

mengenal secara khusus ilmu lawannya itu, tetapi ia pernah

mengenali sebagai unsur-unsur gerak dari sejenis ilmu

pedang yang pernah dikenalinya pula.

Agaknya lawannya itu telah mengembangkan unsur itu

sehingga menjadi pola dari geraknya kemudian.

Sejenak kemudian, maka orang itupun telah meloncat

menyerang. Setiap kali pedangnya kesamping, terayun

mendatar dan kemudian mematuk lurus kearah dada. Dengan

demikian maka Sekar Mirah menganggap bahwa ilmu pedang

lawannya itu memang ilmu yang berbeda dengan ilmu pedang

pada umumnya.

Karena itulah, maka Sekar Mirah harus menjadi semakin

berhati-hati. Ia harus berusaha mengenali ilmu lawannya

sebaik-baiknya, kemudian berusaha menemukan kekuatan

dan kelemahannya. Sehingga untuk itu maka ia harus melalui

satu tataran penjajagan.

Itulah sebabnya, maka Sekar Mirah lebih banyak bergeser

surut, menghindar dan dengan sangat berhati-hati menangkis

serangan lawannya.

Namun kadang-kadang Sekar Mirah memang harus

meloncat surut. Kedua kaki orang itu selalu pada jarak yang

hampir tetap. Satu kakinya didepan, satu lagi ditarik kebelakang,

sementara yang berada didepan sedikit merendah

pada lututnya. Letak kedua kaki itu ternyata mampu

menggerakkan tubuhnya dengan cepat dan tangkas.

Sekali-sekali bergerak maju, kemudian satu dua langkah

surut. Namun kemudian dengan loncatan-loncatan yang cepat

ia bergeser dan berputar. Tetapi dalam waktu sekejap, orang

itu telah berada dalam sikapnya kembali. Satu kakinya ditarik

kebelakang, merendah pada lututnya sedangkan pedang di

tangannya terjulur lurus kedepan.

 

Beberapa saat lamanya, Sekar Mirah menjajagi

kemampuan lawannya. Tetapi karena setiap kali Sekar Mirah

meloncat surut, maka lawannya memang menyangka bahwa

Sekar Mirah memang telah terdesak.

Tetapi ternyata bahwa pekerjaan itu tidak terlalu mudah

dilakukan. Ternyata bahwa semakin lama Sekar Mirah tidak

menjadi semakin terdesak. Justru saat-saat Sekar Mirah mulai

mengenali kekuatan dan kelemahan ilmu pedang lawannya,

maka iapun telah berusaha untuk dapat mengimbanginya.

Namun pengenalan itu telah membuat Sekar Mirah

menduga-duga. Orang itu tentu orang dari pesisir yang

berhubungan dengan orang yang datang dari luar Tanah ini

dan mendapat ajaran ilmu pedang dari mereka. Karena yang

dihadapinya itu bukan sekedar pengembangan unsur dalam

ilmu pedang yang sudah dikenalinya, tetapi benar-benar watak

dari satu ilmu tersendiri.

“ Atau betapa piciknya pengenalanku atas ilmu kanu-ragan

sehingga aku tidak mengenalinya seandainya ilmu itu bukan

berasal dari seberang “ berkata Sekar Mirah didalam hatinya.

Namun demikian, ternyata ketajaman penggraita Sekar

Mirah telah mampu memilih unsur-unsur gerak yang

dikuasainya dan telah dikembangkannya itu untuk

mengimbangi kegarangan ilmu pedang lawannya. Meskipun

Sekar Mirah seorang perempuan, tetapi ia memiliki

pengalaman yang lain. Bahkan seandainya dibandingkan

dengan Swandaru, agaknya Sekar Mirah masih dapat

berbangga.

Karena itulah, maka pertempuran antara Sekar Mirah

dengan lawannya yang kemudian bergeser di pringgitan

itupun menjadi semakin lama semakin seru. Keduanya

menjadi semakin cepat bergerak. Tongkat baja putih Sekar

Mirah ternyata masih juga mampu memancing kegelisahan

lawannya. Loncatan-loncatan panjang dan langkah-langkah

yang cepat menghentak-hentak, membuat lawannya kadangkadang

harus meloncat surut mengambil jarak. Sehingga

dengan demikian, maka bukan saja Sekar Mirah yang kadangkadang

harus meloncat satu dua langkah mundur, tetapi juga

lawannya.

 

Dua orang cantrik yang semula berdiri dipintu bilik Kiai

Gringsing telah berdiri pula didepan pintu pringgitan.

Keduanya menyaksikan pertempuran itu dengan hati yang

berdebar-debar. Dengan tegang keduanya mengikuti apa

yang telah terjadi. Mereka tidak saja akan menghambat jika

lawan Sekar Mirah itu berusaha dengan serta merta masuk

kedalam, tetapi keduanyapun mengamati keadaan jika ada

orang lain yang berusaha naik kependapa dan membantu

lawan Sekar Mirah itu.

Sementara itu, dibagian lain dari padepokan itu, dua

kelompok tengah bertempur dengan sengitnya. Sekelompok

orang yang memasuki padepokan itu, dan sekelompok lagi

adalah cantrik-cantrik dari padepokan kecil itu. Ternyata

bahwa para cantrik tidak mengecewakan. Mereka mampu

menahan arus yang melanda padepokan mereka. Sementara

itu, pemimpin kelompok dari orang-orang yang memasuki

padepokan itu telah berhadapan dengan Glagah Putih.

Ternyata bahwa pemimpin kelompok itu tidak mampu

mengatasi kecepatan gerak Glagah Putih. Betapapun orang

itu berusaha menyentuh lawannya dengan ujung senjatanya,

namun ternyata sulit sekali baginya menembus lingkaran

putaran senjata Glagah Putih. Bahkan setiap sentuhan

senjata, maka pemimpin kelompok itu merasa betapa

tangannya bagaikan disengat oleh bara. Dengan susah payah

pemimpin kelompok itu harus mempertahankan agar

senjatanya tidak terlepas dari tangannya karena kekuatan

Glagah Putih yang tidak dapat diimbanginya.

Namun semakin lama orang itu menjadi semakin berdebardebar.

Anak muda yang mengaku cantrik dari padepokan kecil

itu ternyata memiliki kemampuan yang tidak dapat

diimbanginya. Namun dalam pada itu semakin terbuka pula

pengenalannya atas ilmu anak muda itu. Dengan nada tinggi

tiba-tiba saja orang itu berkata “ He, siapakah sebenarnya

kau? Kau tidak bertempur sepenuhnya dengan ilmu dari orang

bercambuk itu. Kaupun tidak bersenjata cambuk dan ilmu

bahkan unsur-unsur gerakmu menunjukkan jalur perguruan

tersendiri. “

 

“ Apa yang kau ketahui tentang ilmu dari perguruanperguruan

yang tersebar di tanah ini? Jika kau membatasi

unsur-unsur gerak dari satu perguruan, maka kau akan

ketinggalan jauh “ jawab Glagah Putih.

Orang itu mengerutkan keningnya sambil bergeser

mengambil jarak. Wajahnya yang tegang menjadi semakin

tegang. Dengan sorot mata yang tajam ia memandang Glagah

Putih yang melangkah satu-satu mendekatinya.

“ Marilah “ berkata Glagah Putih “ apa yang mencegahmu?

“ Setan kau “ geram orang itu “ kau mempergunakan ilmu

campur baur dari beberapa perguruan? “

“ Aku meramunya menjadi satu kesatuan yang utuh. He,

kau lihat beberapa unsur gerakku dari perguruan lain? Apa

salahnya jika aku melakukannya? Ternyata kau tidak mampu

mengatasi ilmuku itu, karena justru dengan demikian dapat

memperkaya unsur-unsur gerak pada ramuanku itu sehingga

mampu meningkatkan bobot kemampuanku. Kau

merasakannya? “ bertanya Glagah Putih.

“ Kau.memang terlalu sombong anak muda. Karena itu,

maka kau harus mati. Kau kira dengan mengumpulkan

berbagai macam ilmu dan kau susun menjadi sejenis ilmu

yang baru itu akan lebih baik dari setiap jenis ilmu itu

masing-masing? Ilmu-ilmu itu tidak lahir dalam satu dua

malam dari seorang perenung atau pemimpin. Tetapi tentu

sudah mengalami tempaan dan perkembangan yang

membuatnya mapan. Nah, jika kau mau mencoba, maka kau

tentu akan mengakuinya “ berkata orang itu.

Glagah Putih tertegun. Iapun bergeser surut ketika ia

melihat lawannya itu justru menyarungkan senjatanya.

“ Jangan menyesal bahwa kau benar-benar akan mati

muda “ berkata orang itu kemudian sambil menyilangkan

tangan didadanya.

Glagah Putih menyadari, bahwa lawannya tentu sedang

membangunkan satu jenis ilmu pamungkasnya. -

Karena itu, maka Glagah Putihpun tidak mau kehilangan

kesempatan. Maka iapun telah bersiap, pula. Dalam waktu

sejenak, iapun telah membangunkan pula kemampu-an

 

ilmunya yang mampu melontarkan serangan, bahkan yang

dapat disadapnya dari inti kekuatan yang ada di sekitarnya.

Tetapi sebagaimana selalu dilakukannya, Glagah Putih

tidak mempergunakannya dengan serta merta. Ia memang

harus berusaha mengalahkan lawannya agar bukan dirinya

sendiri yang menjadi korban. Tetapi dengan tataran ilmu yangtidak

semena-mena dipergunakannya. Hanya terhadap orangorang

yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya, maka

Glagah Putih akan menghempaskan seluruh kekuatan yang

didalam dirinya, yang disadarinya menjadi semakin besar

sejak ia menerima tumpuan alas kekuatan dari Raden Rangga

tanpa mengusik ilmu yang memang telah berada didalam

dirinya.

Dengan demikian maka Glagah Putih memang harus

menjajagi lagi kemampuan ilmu puncak lawannya itu.

Meskipun demikian, maka segala kemungkinan akan dapat

terjadi.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka lawannya itupun

telah meloncat menyerang. Dengan ketajaman

pengamatannya, maka Glagah Putih segera melihat, bahwa

telah terdapat perubahan pada tata gerak orang itu. Ayunan

tangannya bagaikan ayunan sebongkah besi baja yang sangat

berat.

Glagah Putih yang telah menyarungkan pedangnya pula,

dengan kecepatan yang sulit diikuti dengan tatapan mata

wadag telah bergeser, sehingga ayunan tangan lawannya itu

tidak menyentuhnya. Namun terasa betapa angin telah

menyambar kakinya dengan derasnya.

Dengan demikian maka Glagah Putih dapat

memperhitungkan betapa kuatnya ayunan tangan lawannya

itu. Bahkan ilmu yang telah dibangunkannya itu tentu mampu

membuat tubuh lawannya itu menjadi sekeras batu hitam.

Pukulannyapun tentu akan meremukkan tulang.

Karena itu, maka orang itu sama sekali tidak

memperhitungkan bahwa lawannya akan menangkis

serangannya itu. Bahkan ia berusaha untuk membuat

benturan-benturan yang akan dapat menghancurkan

perlawanan lawannya.

 

Tetapi Glagah Putih mampu menempatkan diri. Bahkan ia

masih sempat menduga-duga, apakah dengan demikian

lawannya akan dapat menjadi kebal sehingga seandainya ia

mempergunakan pedangnya, orang itu tidak akan dapat

dilukainya.

Namun Glagah Putih tidak ingin lagi menarik pedangnya. Ia

akan mencoba dengan kemampuan ilmunya, apakah

lawannya memang kebal. Ia akan memanfaatkan kecepatan

geraknya untuk menjajagi kekuatan dan kemampuan

lawannya itu.

Sejenak kemudian, maka Glagah Putihpun telah

mengimbangi ilmu lawannya. Iapun telah meningkatkan

perlawanannya, sehingga tata geraknyapun telah berubah

pula. Geraknya menjadi semakin cepat, sehingga kakinya seakan-

akan tidak lagi berjejak diatas tanah. Dalam keremangan

cahaya obor dikejauhan, maka Glagah Putih itu

bagaikan bayangan yang terbang mengitari arena

pertempuran.

Dengan demikian, maka Glagah Putih telah

mempergunakan unsur yang berlawanan dari lawannya yang

seakan-akan menjadi semakin berat dan menekan bumi.

Geraknya dan ayunan serangannya yang bagaikan besi baja,

sementara Glagah Putih seolah-olah telah menjadi seringan

kapas.

“ Anak iblis “ geram lawannya yang tidak segera mampu

mengenai sasaran dengan ilmunya yang garang. Tetapi

serangan-serangannyapun kemudian datang beruntun.

Lawannya memburunya kemana Glagah Putih bergeser tanpa

harus membuat perhitungan atas serangan-serangannya itu

karena lawannya itu tidak merasa perlu menghindari benturan

kekuatan.

Glagah Putih kemudian memang mencoba untuk

mengetahui daya tahan lawannya. Dengan cepat, ia telah

mempergunakan kesempatan yang terbuka untuk

memasukkan serangannya mengenai pundak lawannya itu.

Ternyata Glagah Putih berhasil. Jari-jarinya yang merapat,

berhasil mengenai pundak lawannya sebagaimana

direncanakan.

 

Tetapi sentuhan itu telah mengejutkan Glagah Putih.

Meskipun lawannya itu juga meloncat surut oleh serangan

yang terasa menyakitinya, tetapi jari-jari Glagah Putihpun

merasa sakit pula. Rasa-rasanya jari-jarinya akan berpatahan.

Pundak lawannya itu seolah-olah berubah menjadi

sekeras batu.

“ Satu jenis ilmu yang berbahaya “ berkata Glagah Putih

didalam hatinya “ setiap sentuhan serangan telah menyakiti

penyerangnya sendiri. Dan karena itulah agaknya, maka ia

tidak terlalu banyak memperhitungkan tata

geraknya. Ia menyerang seperti seekor kerbau yang dungu.

Namun ayunan tangannya seperti ayunan balok-balok besi.

Sementara itu, tubuhnyapun menjadi sekeras batu pula.

Semakin keras seseorang menyerang dan mengenainya,

maka orang itu sendiri akan menjadi semakin kesakitan. “

Tetapi satu hal yang diketahui puli oleh Glagah Putih,

bahwa ternyata orang itu tidak menjadi kebal. Sentuhan

tangannya masih juga mampu menyakiti orang itu, meskipun

jari-jarinya juga menjadi sakit.

Dengan demikian Glagah Putih menduga, bahwa ilmu

orang itu menjadi hubungan atau merupakan rambatan dari

ilmu Tameng Waja. Jika orang itu berhasil, maka sulit bagi

lawan-lawannya untuk mengalahkannya, karena Tameng

Waja mempunyai kemampuan sebagaimana ilmu kebal.

Meskipun bukan berarti bahwa ilmu itu tidak dapat ditembus

sama sekali. Kemampuan ilmu yang mempunyai tataran ilmu

Tameng Waja itu masih akan dapat menembusnya dan

menghancurkannya.

Demikian maka pertempuran antara Glagah Putih dengan

pemimpin kelompok dari orang-orang yang memasuki

padepokan itu menjadi semakin seru. Orang itu benar-benar

telah mempercayakan dirinya pada kemampuan ilmunya.

Meskipun serangan-serangan orang itu tidak dapat mengenai

lawannya, tetapi Glagah Putihpun harus membuat perhitungan

sebaik-baiknya untuk menyentuhnya agar lawannya sendiri

tidak merasa sakit karenanya.

Karena itu, maka Glagah Putih tidak mengenai lawannya

dengan sentuhan-sentuhan yang keras, tetapi Glagah Putih

 

telah mempergunakan sentuhan-sentuhan yang lunak.

Seakan-akan setiap kali ia hanya mendorong lawannya

sehingga setiap kali lawannya itu seakan-akan telah

kehilangan keseimbangannya. Tetapi ternyata bahwa

dorongan-dorongan itu tidak juga berhasil menjatuhkannya

meskipun beberapa kali hal itu hampir terjadi.

Namun dalam pada itu, Glagah Putih menjadi berdebardebar

ketika ia mengamati pertempuran yang terjadi

disekitarnya. Meskipun hanya sekilas-sekilas, tetapi ia melihat

bahwa ternyata lawan-lawan para cantrik itu telah bertempur

semakin keras dan kasar. Bahkan kadang-kadang diluar

batas-batas paugeran, sehingga sikap itu ternyata telah

berpengaruh atas perlawanan para cantrik. Dalam beberapa

hal para cantrik yang kurang berpengalaman itu memang

mempunyai beberapa kekurangan menghadapi keadaan yang

tiba-tiba saja berubah. Sehingga sikap orang-orang yang

memasuki padepokan itupun kadang-kadang membingungkan

mereka.

Dengan keadaan yang demikian, maka Glagah Putih-pun

merasa telah berpacu pula dengan waktu. Jika keadaan para

cantrik itu menjadi semakin sulit, maka korbanpun tentu akan

berjatuhan tanpa dapat dikekang lagi.

Karena itu, maka Glagah Putih pun merasa wajib untuk

dengan segera berusaha mengatasi lawannya yang memiliki

kemampuan yang tinggi itu.

Sementara itu Agung Sedayupun tengah bertempur

melawan lawannya yang wajahnya bagaikan membeku. Orang

yang menyebut dirinya bernama Singapati serta memiliki ilmu

yang diwarisinya dari perguruan Worsukma itu telah

meningkatkan ilmunya dari satu tingkat ketingkat berikutnya.

Namun Agung Sedayupun j telah mengimbanginya pula. Iapun

telah meningkatkan - ilmunya setingkat demi setingkat pula.

Dengan demikian pertempuran diantara keduanyapun

menjadi semakin cepat. Keduanya bergerak semakin cepat,

sementara gerak tangan dan kaki merekapun tidak lagi dapat

diikuti dengan pandangan mata wadag.

Di pringgitan Sekar Mirahpun bertempur semakin cepat

pula. Ternyata dua orang cantrik yang mengejar orang itu

 

namun kemudian kehilangan jejaknya, telah berada di

pendapa pula. Tetapi keduanya tertegun ketika mereka

melihat

dua orang cantrik yang lain berdiri termangu-mangu di pintu

pringgitan, sementara Sekar Mirah bertempur dengan

kemampuan yang mendebarkan melawan orang yang

bersenjata pedang lurus bermata tajam di kedua sisinya itu.

Karena itulah maka keduanyapun untuk sementara hanya

sekedar melihat saja apa yang terjadi dengan kedua orang

yang bertempur itu.

Namun keduanyapun ternyata sempat menangkap isyarat

dari pertempuran itu, bahwa Sekar Mirah tidak akan dapat

dikalahkan oleh lawannya yang berpedang lurus itu. Beberapa

kali justru Sekar Mirahlah yang telah mendesak lawannya.

Tongkat baja putihpun berputaran seperti baling-baling.

Suaranya seperti desau angin yang bertiup kencang diselasela

dedaunan.

Dalam setiap benturan, maka lawannya, selalu nampak

terdorong surut meskipun hanya setapak atau senjatanya

sajalah yang bagaikan mental dari benturan.

Dengan demikian maka kedua orang cantrik yang berusaha

mengejarnya tidak lagi merasa cemas akan orang itu,

sehingga keduanyapun telah meninggalkan pendapa dan

berlari kembali kepada kelompok mereka yang masih

bertempur dengan sengitnya.

Yang ditinggalkan di pendapa ternyata masih bertempur

terus dengan sengitnya.

Dua orang cantrik yang dipintu pringgitan menyaksikan

pertempuran itu dengan jantung yang seakan-akan berdenyut

semakin cepat. Namun merekapun melihat, bahwa Sekar

Mirah berada pada kemungkinan yang lebih baik dari

lawannya. Beberapa kali lawannya yang bersenjata panjang

itu telah terdesak mundur, sementara pedang-nyapun sulit

untuk mengikuti kecepatan gerak tongkat baja putih Sekar

Mirah.

Sekar Mirahpun kemudian menjadi semakin yakin pula,

bahwa ilmu yang dimilikinya mampu mengatasi ilmu

 

pedang betapapun mula-mula ilmu itu agak asing baginya.

Namun pengalamannya serta kemampuannya yang telah

berkembang dapat melampaui tata gerak yang semula tidak

begitu dikenalnya. Namun yang perlahan-lahan dapat dikenali

kekuatan dan kelemahan itu.

Namun dalam pada itu. Sekar Mirah menjadi termangumangu

sejenak. Hampir saja ujung pedang lawannya

menyentuh tubuhnya. Untunglah bahwa ia mampu meloncat

surut dengan gerak nalurinya, sehingga tubuhnya tidak

terkoyak karenanya.

Dari sebelah bangunan induk di padepokan itu terdengar

sorak yang bagaikan mengguncang seluruh padepokan.

Kemudian disusul oleh teriakan-teriakan yang serupa dari arah

lain. Seakan-akan suara-suara riuh itu semakin lama menjadi

semakin dekat.

“ Apakah mereka berhasil mendesak para cantrik sehingga

pertempuran itu menjadi semakin dekat dengan barak induk

ini? “ pertanyaan itu tumbuh dihati Sekar Mirah.

Tetapi justru karena itu, maka iapun telah mengambil

keputusan untuk dengan cepat menyelesaikan perlawanan

orang berpedang lurus itu.

Ketika teriakan-teriakan dari corak yang riuh itu terdengar

semakin keras, maka Sekar Mirahpun telah menghentakan

kemampuan ilmu yang diwarisinya dari Ki Sumangkar dan

telah dikembangkannya pula dengan tuntunan suaminya serta

dilambari dengan pengalaman yang luas, maka iapun benarbenar

telah menekan lawannya. Demikian sorak yang

mengguntur meledak, maka keluh kesakitan orang berpedang

itu tidak dapat didengarnya.

Orang berpedang lurus itu meloncat beberapa langkah

surut. Ternyata tongkat baja putih Sekar Mirah telah mengenai

bahu orang itu. Kulit orang itu memang tidak ter-luka, tetapi

tulang-tulangnya terasa bagaikan berpatahan.

Sekar Mirah tidak melepaskan lawannya justru karena

suara riuh itu menjadi semakin dekat. Bahkan Sekar Mirah

telah menghentakkan pula kemampuannya, agar ia dapat

segera membantu jika kemungkinan yang terburuk telah

terjadi.

 

Dengan demikian maka Sekar Mirahlah yang kemudian

nampak menjadi garang. Ilmu yang diwarisinya dari Ki Sumangkar,

sebagaimana ilmu yang dikuasai oleh Tohpati yang

digelari Macan Kepatihan memang satu jenis ilmu yang

garang. Apalagi jenis senjata yang dipergunakannya adalah

senjata yang menggetarkan jantung pula. Sedangkan

kemampuan ilmunya telah berkembang pula semakin mapan.

Karena itu, ketika Sekar Mirah benar-benar mengerahkan

ilmunya sampai kepuncak, maka lawannya memang tidak

banyak mendapat kesempatan. Orang berpedang lurus itu

justru semakin terdesak. Apalagi karena bahunya telah dikenai

tongkat baja putih Sekar Mirah.

Beberapa saat kemudian, maka suara yang riuh itu rasarasanya

memang hampir mencapai sebelah menye-belah

pendapa. Sekar Mirah memang menjadi agak gelisah. Tetapi

kegelisahannya itu tidak mengaburkan pengamatannya atas

tata gerak lawan. Ia memang berusaha mempercepat

penyelesaian, tetapi tidak dengan tanpa perhitungan.

Ketika Sekar Mirah meloncat kesamping dengan ayunan

mendatar, lawannya sempat bergerak kearah yang

berlawanan. Namun demikian ujung jari kaki Sekar Mirah

menyentuh lantai, maka iapun telah melenting pula.

Tongkatnya mematuk lurus kedepan kearah dada. Tetapi

lawannya masih juga sempat memiringkan tubuhnya sambil

menangkis tongkat itu kesamping. Tetapi Sekar Mirah dengan

cepat memutar tongkatnya. Sekali lagi ia mengayunkan

mendatar dan kekuatannya yang besar telah menghantam

lambung orang itu lewat tongkat besi bajanya.

Orang itu tidak sekedar meloncat mundur. Ketika ia

mencoba menghindar, justru pada saat kakinya lepas dari

lantai, tongkat lawannya itu mengenainya. Sehingga dengan

demikian maka orang itu bagaikan dilemparkan dengan

kekuatan yang sangat besar. Sekali orang itu berguling.

Namun ketika ia berusaha untuk bangkit, maka ia justru telah

terpeleset jatuh ketangga pendapa.

Sekar Mirah tidak mau melepaskannya. Orang itu tidak

boleh melarikan diri. Karena itu, Sekar Mirahpun dengan

 

loncatan panjang menyusulnya. Demikian orang itu bangkit,

maka tongkat Sekar Mirah telah terayun deras.

Terdengar keluh kesakitan. Namun tubuh itupun kemudian

terhuyung-huyung sejenak. Tongkat Sekar Mirah yang agak

tergesa-gesa diayunkan, ternyata telah mengenai punggung

orang itu agak dibawah tengkuk.

Beberapa saat orang itu memang berusaha untuk

mempertahankan keseimbangannya. Namun sejenak

kemudian iapun telah terjatuh menelungkup. Pedangnya

tergeletak disisinya sementara tangannya masih berusaha

untuk berpegang pada hulunya.

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Kedua orang cantrik

yang berdiri didepan pintu pringgitan itupun berlari-lari

mendekat.

“ Apa yang terjadi? “ bertanya salah seorang diantara

mereka.

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ketika kedua orang

cantrik itu menengadahkan orang itu, Sekar Mirah berpaling

dan berjalan beberapa langkah menjauh. Ternyata bahwa

Sekar Mirah tidak ingin menyaksikan wajah orang itu yang

membayangkan kesakitan yang sangat disaat-saat terakhir.

Namun dalam pada itu suara sorak dan teriakan-teriakan

itupun menjadi semakin keras.

Sesaat Sekar Mirah menunggu. Namun ketika ia mendapat

kesempatan untuk memperhatikan dengan, sungguh-sungguh

suara itu, maka agaknya pertempuran itu masih belum terlalu

dekat dengan pendapa barak induk itu.

Karena itu, maka Sekar Mirahpun telah berlari kepintu

pringgitan. Sejenak ia tertegun seakan-akan menunggu kedua

orang cantrik yang masih menunggui tubuh orang yang

terbaring dibawahtangga pendapa itu. Namun kemudian iapun

telah masuk keruang dalam dan langsung menuju kebilik Kiai

Gringsing.

Dilihatnya Kiai Gringsing yang duduk dibibir

pembaringannya itu tersenyum. Katanya dengan nada rendah

“ Kau berhasil mengalahkan lawanmu? “

 

“ Ya Kiai. Ternyata aku dapat menghentikan

perlawanannya. Tetapi suara sorak yang teriak-teriakan itu

menjadi semakin dekat “ jawab Sekar Mirah.

“ Tidak apa-apa “ jawab Kiai Gringsing masih tetap tenang “

kita percayakan saja semuanya kepada Agung Se-dayu. Ia

akan dapat mengatasi persoalan ini. “

Sekar Mirah mengangguk kecil. Namun Kiai Gringsing

masih melihat kecemasan diwajah perempuan itu. Karena itu

maka katanya “ Yakinkan dirimu. “

“ Baik Kiai “ jawab Sekar Mirah.

“ Nah, karena itu, jangan gelisah. Tunggu sajalah mereka

disini “ berkata Kiai Gringsing.

Sekar Mirah mengangguk pula. Dengan ragu-ragu ia

berdesis “ Aku akan menunggu disini Kiai. “

- Hati-hatilah. Jangan tergesa-gesa menanggapi keadaan “

berkata Kiai Gringsing pula.

Demikianlah, maka Sekar Mirahpun kemudian telah keluar.

Dua orang cantrik masih berada didalam bilik Kiai Gringsing.

Ketika dengan hati-hati Sekar Mirah menjenguk pringgitan,

maka dilihatnya dua orang cantrik yang berada

diluar telah berdiri berjaga-jaga dipringgitan, sementara itu

sesosok tubuh yang semula berada dibawah tangga, telah

diangkat dan dibaringkan di pendapa.

Tetapi Sekar Mirah sama sekali tidak mengatakan sesuatu.

Sementara itu, pertempuran masih berlangsung dengan

sengitnya. Orang-orang yang mendatangi padepokan itu

memang dengan sengaja berusaha untuk menggoncangkan

ketahanan batin para cantrik yang kurang berpengalaman.

Ternyata usaha mereka memang berpengaruh. Ketika

orang-orang itu bersorak-sorak dan berteriak nyaring, bahkan

mengumpat-umpat dan segala macam bunyi, maka para

cantrik menjadi sangat gelisah. Apalagi tata gerak orang-orang

itu menjadi kasar dan liar. Mereka berlari-lari dan berusaha

untuk mendesak para cantrik mendekati bangunan induk.

Bahkan beberapa orang justru berusaha untuk menyusup

melampaui arena pertempuran.

Namun betapapun para cantrik terpengaruh oleh keadaan

itu, tetapi mereka masih berusaha untuk menahan agar orangKang

Zusi - http://kangzusi.com/

orang yang memasuki padepokan itu tidak mendekat barak

induk. Apalagi mereka menyadari bahwa Kiai Gringsing

memang sedang sakit.

Glagah Putih yang menyadari pula akan usaha orang-orang

itu untuk mempengaruhi perlawanan para cantrik dari dalam

diri sendiri, maka Glagah Putihpun tidak berniat untuk

memperpanjang pertempuran itu. Iapun semakin

meningkatkan kemampuannya sehingga tata geraknyapun

menjadi semakin cepat.

Tetapi ternyata bahwa kemampuan lawannya telah

menghambarnya. Glagah Putih tidak dapat menyakiti

lawannya dengan tanpa memperhitungkan dirinya sendiri.

Karena semakin keras ia mengenai tubuh lawannya, maka

tangannya sendiripun rasa-rasanya bagaikan menjadi patah.

Karena itu, maka Glagah Putihpun telah memilih jalan lain.

Ia terpaksa mempergunakan ilmunya yang menurut

perhitungannya akan dapat mengalahkan lawannya tanpa

menyakiti diri sendiri. Meskipun semula Glagah Putih tidak

ingin mempergunakan kemampuannya itu, namun ia memang

tidak mempunyai jalan lain.

Dengan ilmunya itu maka Glagah Putih dapat menyerang

lawannya tanpa menyakitinya.

Demikian, ketika lawannya dengan tanpa membuat

perhitungan-perhitungan yang rumit berusaha menyerang

Glagah Putih, maka Glagah Putihpun telah berusaha

mengambil jarak. Sentuhan orang itu akan dapat meremukkan

tulang-tulangnya jika ia berhasil mengenainya.

Tetapi agaknya lawannya tidak membiarkan Glagah Putih

itu melepaskan diri. Setiap loncatan yang memberikan jarak

diantara mereka, dianggap oleh lawannya bahwa Glagah

Putih menjadi semakin terdesak.

Namun ketika Glagah Putih mendapat satu kesempatan,

maka tiba-tiba iapun telah menggerakkan tangannya

menghentak kearah lawannya.

Ternyata gerak tangan Glagah Putih itu sangat

mengejutkan lawannya. Lawannya itu tidak mengira bahwa

 

lawannya yang masih sangat muda itu, akan mampu

melepaskan ilmu sebagaimana dikerahkan sebagai ilmu yang

mampu menjangkaulawannya dari arah tertentu.

Tetapi ternyata bahwa serangan itu memang telah datang

menerkamnya.

Karena itu, maka dengan serta merta orang itu berusaha

menghindar. Dengan loncatan panjang ia bergeser

kesamping. Namun ketika serangan Glagah Putih datang pula

memburunya, maka iapun telah menjatuhkan diri dan

berguling beberapa kali. Dengan sigapnya orang itupun

kemudian melenting berdiri dan siap untuk meloncat

menghindar jika serangan Glagah Putih datang sekali lagi.

Serangan Glagah Putih yang tidak mengenai sasarannya

telah mengejutkan mereka yang sedang bertempur namun

yang sudah bergeser semakin jauh kearah barak induk itu.

Namun orang-orang yang memasuki padepokan itu justru

berusaha semakin cepat mendesak para cantrik dengan cara

yang sangat kasar. Sambil berteriak-teriak mereka bertempur

dengan liar.

Sementara itu Glagah Putih menjadi semakin cemas.

Ketika sekilas ia memperhatikan orang-orang yang mendesak

para cantrik itu maka tiba-tiba saja lawannya telah

melancarkan sesuatu. Glagah Putih menghindar. Namun

ternyata lengannya masih juga terasa panas. Bahkan juga di

bahunya.

Glagah Putih menggeram. Ketika ia meraba bahunya,

maka tangannya telah menyentuh cairan yang hangat yang

meleleh dari luka. Sementara ketika ia kemudian meraba

lengannya, maka terasa sesuatu berada dibawah kulitnya.

Dengan cepat Glagah Putih dapat mengetahui apa yang

telah terjadi. Orang itu ternyata telah melemparkan butiranbutiran

besi sebesar biji jagung. Tidak hanya satu dua, tetapi

butiran-butiran besi itu telah ditaburkan dalam jumlah yang

banyak. Mungkin lima atau enam sekaligus.

Karena itulah maka Glagah Putih menyadari, bahwa

lawannya memang sangat berbahaya baginya. Apalagi

lawannya itu telah melukainya dan bahkan satu diantara

butiran besi itu ternyata telah mengeram didalam lengannya.

 

Lengannya memang terasa nyeri jika digerakkannya.

Dengan demikian, maka kemarahan Glagah Putih menjadi

semakin terungkat. Dua hal yang telah memaksanya

mengambil satu keputusan. Bahwa para cantrik yang menjadi

bingung menghadapi kekasaran orang-orang yang menyerang

padepokan itu, bahkan liar dan garang, serta bahwa lawannya

itu telah melukainya.

Apalagi Glagah Putih tidak sempat membuat pertimbanganpertimbangan

lebih lanjut karena lawannya itu telah

menyerangnya pula. Beberapa butir biji-biji besi itu telah

menghambur dengan derasnya kearahnya.

Glagah Putih yang marah itu sempat meloncat menghindar.

Namun sesaat kemudian serangan berikutnya yang

menyambarnya, sehingga karena itu, maka Glagah Putihlah

yang harus meloncat kemudian menjatuhkan dirinya berguling

menghindari serangan berikutnya yang mengejarnya, karena

lawannya agaknya tidak mau melepaskan kesempatan itu.

Tetapi Glagah Putihpun telah mengambil keputusan.

Karena itu, tanpa meloncat bangkit ia telah menyerang

lawannya dengan ilmunya yan dahsyat.

Ternyata lawannya salah menghitung gerak Glagah Putih.

Ia menyangka bahwa Glagah Putih akan melenting berdiri. Ia

telah siap dengan butir-butir besi ditangannya untuk

dilontarkannya demikian Glagah Putih melenting. Dengan

demikian maka kemungkinan Glagah Putih untuk menghindar

menjadi sangat kecil. Selagi kakinya belum menyentuh tanah,

maka butir-butir besi itu sudah akan menyambarnya

dibeberapa bagian tubuhnya.

Kesalahan itu berakibat sangat buruk bagi orang itu.

Glagah Putih yang masih terbaring ditanah itu ternyata telah

menghentakkan tangannya.

Seleret cahaya sakan-akan telah meluncur dari tangan-nya

itu. Demikian cepatnya dan tidak terduga-duga, sehingga

lawannya yang telah bersiap melontarkan serangannya itu

terlambat menyadari apa yang telah terjadi.

Yang terdengar kemudian adalah pekik kesakitan. Orang

itu terlempar beberapa langkah surut tanpa sempat

melepaskan butir-butir besi ditangannya.

 

Pekik kesakitan itu ternyata telah menggetarkan setiap

jantung dari orang-orang yang menyerang padepokan itu.

Mereka mengenali suara itu, adalah suara pemimpin

kelompok mereka. Mereka yang sempat berpaling sejenak

melihat bagaimana pemimpin mereka itu terlempar jatuh dan

tidak segera berhasil bangkit kembali.

Kesempatan itu dipergunakan oleh para cantrik sebaikbaiknya.

Disaat orang-orang itu terkejut melihat peristiwa

yang, menggetarkan itu.

Yang terdengar bersorak kemudian adalah justru para

cantrik. Sorak kemenangan. Bukan sekedar berpura-pura

untuk mengimbangi teriakan-teriakan lawannya. Tetapi benarbenar

begitu saja melonjak dari dalam hati.

Glagah Putihlah yang kemudian termangu-mangu sejenak.

Dipandanginya lawannya yang terbaring diam. Namun Glagah

Putih tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ia tahu bahwa

lawannya memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa oleh

ilmunya yang tinggi, yang menjadikan tubuhnya bagaikan

sekeras batu. Tetapi Glagah Putihpun tahu bahwa lawannya

tidak menjadi kebal karenanya. Seandainya benar dugaannya

bahwa ilmu yang dimiliki itu adalah, bentuk mula dari ilmu

Tameng Waja, maka ilmu itu sama sekali masih belum mapan.

***

API DI BUKIT MENOREH SERI III

JILID 230

SEMENTARA itu, orang-orang yang memasuki padepokan

itu segera menyadari keadaan mereka. Pemimpin kelompok

mereka telah dikalahkan oleh lawannya. Karena itu, maka

mereka tidak lagi dapat mengharapkan perlindungannya.

Adalah kebetulan bahwa orang-orang yang berilmu tinggi tidak

ada didalam kelompok itu, tetapi ada di kelompok yang lain.

Namun orang-orang didalam kelompok itu tidak mengetahui,

bahwa seorang diantara mereka yang berilmu tinggi itu telah

 

pula dikalahkan oleh Sekar Mirah, justru di pringgitan barak

induk.

Sesaat kemudian orang-orang yang menyerbu masuk

kedalam padepokan itu menjadi semakin liar dan garang.

Mereka seakan-akan menjadi putus asa dan kehilangan

pegangan, sehingga mereka telah bertempur tanpa sandaran

selain membunuh lawan sebanyak-banyaknya. Mereka

mengamuk seperti orang yang sedang mabuk tuak dan

kehilangan kesadaran diri.

Para cantrik terkejut mengalami perlakuan yang semakin

kasar. Mereka semula mengira, bahwa kematian pemimpin

kelompok itu akan memperlemah perlawanan mereka. Namun

ternyata tidak demikian. Orang-orang itu menjadi semakin liar

karena putus asa.

Dengan demikian para cantrik menjadi semakin gelisah.

Mereka tidak lagi bersorak-sorak. Justru mereka menjadi

cemas menghadapi lawan-lawan mereka.

Glagah Putih melihat kecemasan para cantrik yang

memang kurang berpengalaman itu. Karena itu, maka iapun

telah meninggalkan tubuh yang terbaring diam itu. Dengan

serta merta maka Glagah Putihpun telah melibatkan diri dalam

pertempuran antara para cantrik dan orang-orang yang

menyerang padepokan itu. Bahkan arena pertempuran itupun

telah bergeser semakin dekat dengan bangunan induk.

Tetapi seorang yang melepaskan diri dari arena dan

meloncat naik kepringgitan, ternyata bernasib sangat buruk.

Sekar Mirah yang ada di pringgitan terkejut melihat kehadiran

orang itu. Apalagi Sekar Mirah memperhitungkan kemampuan

orang-orang yang memasuki padepokan itu sebagaimana

orang yang baru saja dilawannya. Karena itu, dengan

kemampuan yang tinggi, maka Sekar Mirah telah

menyongsong orang itu.

Namun Sekar Mirah telah terkejut ketika ayunan tongkatnya

yang pertama telah melemparkan senjata orang itu. Bahkan

ketika Sekar Mirah kemudian memutar tongkatnya dan sekali

lagi menyerang dengan ayunan mendatar kearah lambung,

orang itu sama sekali tidak sempat mengelakkannya.

 

Diiringi jerit kesakitan tubuh orang itu telah terdorong

kesamping. Kemudian jatuh berguling dipringgitan. Namun

orang itu tidak bangkit lagi.

Dalam pada itu, Glagah Putih yang melihat bahwa

seseorang telah mampu mencapai pringgitan, maka iapun

dengan serta merta tidak meloncat keluar dari arena dan

mendahului naik kepringgitan. Namun iapun terkejut ketika

melihat Sekar Mirah berdiri tegang dengan tongkat baja

putihnya, sementara seseorang telah terbaring diam.

“ mBokayu.” Glagah Putih menyapanya.

“ Apakah mereka semakin mendesak?” bertanya Sekar

Mirah.

“ Ya. Sebagian dari mereka tentu akan mencoba untuk

memasuki bangunan induk ini.” berkata Glagah Putih.

“ Aku dan kedua orang cantrik itu akan menunggu disini.”

berkata Sekar Mirah.

“ Baiklah. Aku akan melihat apakah mereka tidak ada yang

berusaha menembus lewat jalan lain. Mungkin pintu butulan

atau bahkan memecah dinding. Mereka ternyata sempat

menipu para cantrik sehingga dapat melepaskan diri dari

pertempuran.” berkata Glagah Putih yang tanpa menunggu

jawaban Sekar Mirah telah turun lagi dari pringgitan

menyongsong lawan-lawannya disisi bangunan induk.

Pertempuranpun menjadi semakin riuh karena keputusasaan

orang-orang yang telah kehilangan pimpinan itu.

Namun Glagah Putihpun telah berada diantara mereka,

sehingga ia dapat banyak membantu para cantrik yang

kadang-kadang menjadi kebingungan.

Meskipun Glagah Putih tidak mempergunakan ilmunya

yang telah dipergunakan untuk menghabisi perlawanan

pemimpin kelompok itu, namun dengan dorongan tenaga

cadangannya, maka Glagah Putih telah mampu menjadi

penentu dalam pertempuran itu.

Ketika kemudian beberapa orang telah menyerangnya

bersama-sama, maka Glagah Putih memang harus berusaha

untuk melawan mereka dengan mengerahkan tenaga

cadangannya. Dengan kecepatan yang tinggi Glagah Putih

 

berhasil mengelakkan serangan-serangan yang datang

beruntun.

Namun ternyata bahwa lawannya semakin lama menjadi

semakin banyak, sehingga Glagah Putih menjadi terdesak

karenanya. Bahkan hampir saja Glagah Putih

mempertimbangkan untuk mempergunakan ilmunya jika

keadaan menjadi semakin gawat.

Tetapi beberapa orang cantrik yang melihat keadaan itu

telah datang membantunya. Dengan demikian maka beberapa

orang diantara mereka telah terseret keluar dan bertempur,

dengan para cantrik itu. Karena itulah, maka Glagah Putih

menjadi semakin mapan. Rasa-rasanya nafasnya menjadi

semakin longgar, sehingga Glagah Putih mulai dapat

mendesak lawannya seorang demi seorang. Ketika ujung

pedang Glagah Putih menyentuh seorang lawan, maka orang

itupun telah mengumpat dengan kasarnya. Tanpa

menghiraukan darah yang mengalir dilukanya itu, ia telah

berteriak-teriak sambil mengayun-ayunkan pedangnya

menyerbu kearah Glagah Putih.

Glagah Putih tidak mempunyai pilihan lain. Ketika orang itu

mendesaknya, maka Glagah Putih terpaksa menyingkirkan

ujung senjatanya dengan benturan yang keras, kemudian

ujung pedang Glagah Putihlah yang telah membungkamnya.

Orang itu memang terdiam Bahkan iapun telah jatuh

terbaring di tanah. Pedangnya terlepas beberapa langkah dari

tubuhnya yang kemudian terdiam. Tetapi kematian orang itu

dan beberapa orang yang lain, membuat orang-orang yang

menyerang padepokan itu menjadi bagaikan orang gila.

Mereka tidak menjadi cemas akan nasib mereka sendiri.

Tetapi mereka justru telah bertempur semakin menggila.

“ Satu keberhasilan seseorang membuat orang lalu

kehilangan akal budinya.” berkata Glagah Putih didalam

hatinya.

Orang-orang yang bertempur itu di penglihatan Glagah

Putih seperti orang-orang yang tidak lagi sempat menilai apa

yang telah mereka lakukan. Mereka berbuat sebagaimana

yang mereka lakukan seakan-akan tanpa tahu arti dan

kepentingannya. Sehingga orang-orang itu bagaikan telah

 

kehilangan pribadinya. Tetapi orang-orang yang demikian

adalah justru orang-orang yang sangat berbahaya. Orangorang

yang tidak sempat memikirkan dirinya sendiri atau

membuat pertimbangan-pertimbangan untuk menyerah.

Namun menghadapi orang-orang yang demikian maka

Glagah Putih justru berusaha mengekang dirinya. Glagah

Putih merasa berhadapan dengan orang-orang yang tidak

tahu apa yang dilakukannya sehingga menurut Glagah Putih

orang-orang itu seharusnya tidak harus bertanggungjawab

sepenuhnya atas perbuatan mereka.

Karena itulah, mereka tidak semestinya dibunuh dalam

pertempuran itu. Hanya jika terpaksa dan diluar perhitungan,

maka Glagah Putih telah melemparkan lawannya dari arena

dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

Demikianlah satu-satu orang-orang yang memasuki

padepokan itu telah dilumpuhkan. Betapapun Glagah Putih

menghindari kematian, namun beberapa orang diarena telah

terbunuh pula. Para cantrik memang tidak mendapat petunjuk

untuk selalu membunuh lawannya, bahkan setiap Kiai

Gringsing memberitahukan bahwa kemampuan mereka

bukannya alat untuk membunuh. Tetapi dalam pertempuran

yang seru, para cantrik itu tidak lagi mampu mengendalikan

diri. Apalagi ketika para cantrik itu melihat beberapa orang

kawan mereka telah jatuh pula menjadi korban, maka hati

merekapun menjadi bagaikan menyala.

Tetapi ternyata bahwa pertempuran yang semula bagaikan

membakar padepokan itu, disatu sisi telah menjadi reda. Satusatu

lawan para cantrik dan Glagah Putih itu kehilangan

kesempatan untuk bertempur. Glagah Putihpun kemudian

telah bersedia untuk mencegah agar para cantrik tidak

semata-mata menghanyutkan diri dalam arus perasaannya.

Karena itulah, maka setiap kali Glagah Putih telah

menawarkan kepada orang-orang yang memasuki padepokan

itu untuk menyerah. Bagaimanapun juga, akhirnya perasaan

orang-orang itupun terungkat. Kenyataan yang ada dihadapan

mereka, telah membangunkan mereka dari sebuah mimpi

yang buruk. Itulah agaknya yang memaksa mereka untuk

 

kemudian menyerah ketika Glagah Putih menyerukannya

sekali lagi.

Satu-satu orang-orang itu telah melemparkan senjatanya,

sehingga orang yang terakhirpun kemudian telah menyerah

pula.

Namun justru setelah pertempuran itu dianggap selesai

disatu sisi, maka Glagah Putih merasakan kepedihan pada

lukanya. Sebutir besi telah bersarang dibawah kulitnya. Hanya

karena ketahanan tubuhnya yang kuat luar biasa, maka

Glagah Putih masih dapat menyelesaikan pertempuran itu

dengan mencegah kematian lebih banyak lagi. Tetapi

kemudian justru dirinya sendirilah yang merasa, betapa

lengannya menjadi sangat sakit. Meskipun demikian Glagah

Putih sadar, bahwa tugas masih belum selesai seluruhnya.

Disisi lain, masih terdengar teriakan-teriakan yang

menggetarkan jantung. Selain keras juga dan berkesan kotor.

Umpatan-umpatan dan makian-makian yang tidak terkendali.

Untuk beberapa saat Glagah Putih masih menunggui para

cantrik yang mulai mengumpulkan senjata yang dilemparkan

dari mereka yang telah menyerah. Kemudian mengambil tali

ijuk yang kuat untuk mengikat para tawanan, agar mereka

tidak melarikan diri atau berusaha untuk bergabung dengan

kawan-kawannya yang masih belum menyerah. Baru

kemudian Glagah Putih itupun berkata, “ Kita dapat membantu

saudara-saudara kita yang masih bertempur. Kita dapat

menunjuk beberapa orang saja untuk menunggui para

tawanan yang sudah terikat. Namun demikian, jika terjadi

kesulitan, agar kalian membunyikan pertanda yang akan dapat

memanggil bantuan.”

Demikian, Glagah Putihpun telah meninggalkan tempat itu

bersama sebagian dari para cantrik, sementara yang lain tetap

berada ditempat itu menunggui orang-orang yang sudah

terikat. Seorang diantara para cantrik yang tinggal telah

diserahi untuk memimpin kawan-kawannya. Dengan hati-hati

Glagah Putih membawa beberapa orang cantrik melingkari

bangunan induk. Kemudian menyelinap diantara batangbatang

perdu mendekati arena pertempuran.

 

Sejenak Glagah Putih termangu-mangu. Ia masih melihat

pertempuran yang sengit. Seperti para cantrik yang bertempur

bersamanya, maka kekasaran lawan-lawan mereka memang

sangat berpengaruh. Sementara itu, agak jauh dari para

cantrik, Agung Sedayu masih juga bertempur dengan

sengitnya melawan seseorang yang agaknya juga memiliki

ilmu yang sangat tinggi.

Melihat pertempuran antara para cantrik dan orang-orang

yang memasuki padepokan itu, Glagah Putih melihat pula

usaha beberapa orang untuk menerobos arena dan langsung

menuju ke pendapa. Namun usaha mereka itu agaknya selalu

dihalangi oleh para cantrik. Tetapi orang-orang itu tidak

menghentikan usaha mereka. Bahkan ada diantara mereka

orang yang ternyata telah memilih untuk melalui jalan pintas.

Dua orang diantara mereka ternyata berhasil menghindar

dari arena. Dengan mengendap-endap mereka langsung

menuju ke pintu butulan. Namun Glagah Putihpun segera

memberi isyarat kepada para cantrik yang mengikutinya agar

mereka mencegah perbuatan kedua orang itu.

Beberapa orang cantrik telah menghambur dari balik

batang-batang perdu dan langsung menyerang kedua orang

yang ingin masuk kedalam bangunan induk lewat pintu

butulan. Sementara itu kedua orang itu telah siap untuk

merusakkan pintu butulan itu.

Ternyata bahwa kedua orang itu terkejut melihat kehadiran

para cantrik sambil mengacungkan senjata mereka. Karena

itu, maka keduanyapun telah meloncat untuk mempersiapkan

diri melawan para cantrik itu.

Sejenak kemudian, maka keduanya sudah harus bertempur

melawan beberapa orang cantrik yang marah melihat kelicikan

mereka. Dengan garangnya kedua orang itu telah mengayunayunkan

senjata mereka. Namun para cantrik yang telah

memiliki bekal yang memadai itupun kemudian telah berhasil

mendesak mereka menjauhi pintu butulan. Namun karena

percobaan itulah, maka pintu butulan itupun telah dijaga.

Bahkan pintu butulan yang lainpun telah dijaga pula oleh dua

orang cantrik.

 

Dalam pada itu pertempuran yang terjadi kian lama menjadi

semakin sengit. Seorang yang berilmu melampaui yang lain

telah bertempur berhadapan dengan beberapa orang cantrik.

Namun ternyata bahwa orang itu terlalu tangkas, sehingga

justru para cantrik itu setiap kali telah terdesak.

Namun karena para cantrik bekerja bersama dengan baik,

maka orang itupun belum berhasil memecahkan keputusan

beberapa orang cantrik yang menyerangnya berurutan dari

segala arah itu.

Untuk beberapa saat Glagah Putih berdiri termangumangu.

Setiap kali ia meraba lengannya yang pedih. Dalam

kesempatan itu, Glagah Putih telah menaburkan serbuk obat

pada lukanya. Tetapi ia tidak dapat mengobati luka di

lengannya, karena sebutir besi telah mengeram didalamnya.

Bahkan obat itu rasa-rasanya justru telah membuat lukanya

bagaikan tersentuh api. Rasa-rasanya butir besi didalam

kulitnya itu justru telah membara.

Glagah Putih menggeretakkan giginya untuk menahan.

Iapun telah mengerahkan daya tahan tubuhnya untuk

mengatasi rasa sakit itu. Meskipun tidak hilang seluruhnya,

tetapi cara itu memang telah berkurang.

Dalam pada itu, maka pertempuran telah berubah.

Kehadiran para cantrik dari sisi yang lain bangunan induk

padepokan itu, telah membuat keseimbangan bergeser. Selain

mereka yang mendesak dua orang yang berusaha membuka

pintu butulan, maka beberapa orang cantrik telah langsung

terjun ke dalam pertempuran.

Dengan lantang salah seorang cantrik berkata, “

Pertempuran disebelah bangunan induk ini sudah selesai.

Kami telah membinasakan semua orang yang memasuki

padepokan ini dengan maksud buruk. Karena itu, maka kami

sekarang telah berada disini.”

Suara itu memang sebagian tenggelam diantara teriakanteriakan

kasar lawan-lawan mereka. Namun orang-orang yang

berdiri disebelah menyebelahnya telah mendengar teriakan

itu. Seorang cantrik yang lain dengan sengaja telah bertanya

keras-keras, “ Jadi kalian sudah berhasil membunuh lawanlawan

kalian?”

 

“ Ya. Bahkan pemimpin kelompoknya yang berilmu tinggi

itu telah mati.” jawab cantrik itu keras-keras.

“ Bohong.” terdengar suara yang lain, “ jangan membual.

Aku koyakkan mulutmu.”

“ Kau mulai ketakutan.” berkata cantrik itu, “ dengar. Jika

mereka belum kami selesaikan, maka kami tidak akan berada

disini sekarang.”

Tidak ada jawaban. Namun para cantrik itupun menjadi

semakin mendesak. Beberapa orang diantara para cantrik itu

telah berhasil membelah kekuatan orang-orang yang

memasuki padepokan itu. Mendesak mereka kearah yang

beda pula.

Orang-orang yang menyerang padepokan itu menjadi

semakin garang. Mereka berusaha untuk mencapai pendapa

bangunan induk. Tetapi agaknya akan menjadi semakin baik

karena jumlah para cantrik yang semakin bertambah.

Beberapa saat kemudian, keseimbangan pertempuran itu

menjadi semakin jelas. Bagaimanapun orang-orang yang

menyerang padepokan itu menjadi semakin liar dan kasar,

namun mereka tidak berhasil untuk mengurai perlawanan para

cantrik yang semakin rapat.

Glagah Putih sendiri masih belum turun ke arena. Ia

melihat kemungkinan yang semakin baik bagi para cantrik.

Beberapa saat Glagah Putih masih berusaha mengatasi

perasaan sakitnya.

Tetapi perhatian Glagah Putih kemudian telah terlempar

pada pertempuran yang terjadi agak terpisah dari arena

pertempuran yang semakin luas. Dengan kening yang

berkerut, Glagah Putih melihat Agung Sedayu bertempur

melawan orang yang memiliki ilmu yang tinggi pula.

Perlahan-lahan Glagah Putihpun beringsut dari tempatnya.

Ia tidak lagi menyelinap diantara gerumbul-gerumbul perdu.

Tetapi ia berjalan saja melintasi arena pertempuran. Memang

sekali-sekali Glagah Putih harus meloncat menghindari

serangan yang datang kepadanya. Namun Glagah Putih telah

mempercayakan penyelesaian pertempuran itu kepada para

cantrik yang memang telah hampir menguasai seluruh arena.

 

Sekali-sekali terdengar seorang cantrik yang meneriakkan

tawaran agar lawan-lawannya mengerti sebagaimana

dilakukan oleh Glagah Putih. Namun agaknya orang-orang

yang menyerang padepokan itu masih melihat satu

kemungkinan bagi mereka.

Beberapa saat kemudian, Glagah Putih telah berada di

arena pertempuran yang lain. Pertempuran antara Agung

Sedayu melawan seseorang yang mengaku pewaris dari

perguruan Worsukma yang mendebarkan itu.

Sebenarnyalah pertempuran antara keduanya

menunjukkan betapa keduanya memiliki ilmu yang sangat

tinggi. Karena itu, maka pertempuran diantara mereka adalah

pertempuran yang mendebarkan. Keduanya seakan-akan

melayang-layang seperti dua ekor elang yang sedang berlaga,

Namun kadang-kadang keduanya bergerak cepat seperti

burung-burung sikatan. Sambar menyambar sehingga sulit

dikuti dengan tatapan mata wadag.

Dalam pada itu, maka keduanyapun telah meningkatkan

kemampuan mereka semakin tinggi. Dalam pertempuran yang

semakin cepat itu, keduanya telah mulai berhasil menyentuh

tubuh lawan-lawannya.

Ketika tangan lawannya berhasil mengenai pundak Agung

Sedayu, maka terasa betapa sakitnya pundak itu. Namun

Agung Sedayupun mampu bergerak secepat lawannya,

sehingga karena itu, maka iapun telah berhasil menghantam

dada lawannya sehingga terdorong selangkah surut.

Kemarahan yang meledak telah membuat wajah orang itu

menjadi merah. Dadanya bagaikan menjadi retak didalam,

sehingga nafasnya rasa-rasanya telah tersumbat. Karena itu,

maka keduanya merasa perlu untuk melindungi diri mereka

masing-masing. Agung Sedayu yang menyadari, betapa

kuatnya tenaga lawannya, telah menyelimuti dirinya dengan

ilmu kebalnya, sementara itu lawannyapun telah

mengungkapkan ilmunya pula untuk melindungi dirinya.

Pertempuran itu masih berlangsung dengan dahsyatnya.

Namun kemudian keduanyapun telah berubah. Ketika

Singapati dari Worsukma itu berhasil mengenai tubuh Agung

Sedayu, maka Agung Sedayu yang telah mengenakan perisai

 

ilmu kebalnya itu sama sekali tidak tergoncang karenanya.

Tetapi ketika kemudian Agung Sedayu mengenainya, maka

justru tangan Agung Sedayulah yang menjadi sakit karenanya.

Tubuh orang itu menjadi sekeras besi.

Meskipun Glagah Putih yang menyaksikan pertempuran itu

tidak terlihat, namun ia segera menyadari, bahwa lawan

Agung Sedayu itu memiliki ilmu yang sama dengan orang

yang telah bertempur melawannya. Bahkan sudah barang

tentu, dalam tataran yang justru lebih tinggi. Orang itu

agaknya telah mampu menguasai ilmu sejenis dengan ilmu

Tameng Waja yang mempunyai kemampuan menahan setiap

serangan sehingga seakan-akan tidak menyentuh tubuhnya,

bahkan membuat orang yang menyerangnya menjadi

kesakitan. Karena itulah, maka keduanya kemudian telah

bertempur semakin sengit. Agung Sedayu memiliki ilmu kebal,

sementara orang itu memiliki ilmu Tameng Waja.

Tetapi sebagaimana setiap ilmu betapapun tinggi

tingkatnya, namun tentu bukannya ilmu yang sempurna.

Demikian pula ilmu kebal Agung Sedayu. Ternyata bahwa

kemampuan dan kekuatan ilmu lawannya yang seakan-akan

menjadi semakin meningkat itu mampu menembus ilmu

kebalnya. Meskipun tidak menimbulkan kesulitan yang gawat,

namun Agung Sedayu menjadi berdebar-debar juga ketika ia

merasakan ilmu lawannya itu sedikit demi sedikit mampu

menembus kekuatan ilmu kebalnya, sementara itu ia masih

belum mampu menembus ilmu Tameng Waja lawannya,

karena semakin keras ia memukul lawannya, maka tangannya

sendiripun menjadi semakit sakit, justru kekuatan ilmu orang

itu sudah menembus ilmu kebalnya, meskipun serangan itu

sebenarnya datang dari padanya sendiri. Dengan demikian,

maka sedikit demi sedikit, justru Agung Sedayulah yang mulai

terdesak. Beberapa kali Agung Sedayu Justru melangkah

surut menghindari serangan lawannya yang datang

membadai.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Jika Agung

Sedayu menjadi semakin terdesak, maka pada saat yang

paling gawat, ia tentu akan mempergunakan kemampuan

puncaknya. Sebagaimana diketahui oleh Glagah Putih, maka

 

Agung Sedayu akan mampu menyerang lawannya lewat sorot

matanya. Jangankan tubuh seseorang meskipun ia berperisai

ilmu Tameng Waja sekalipun. Sedangkan keping-keping

bajapun akan dapat dihancurkannya.

Namun ternyata Glagah Putih salah hitung. Agung Sedayu

masih belum mempergunakan ilmu pamungkasnya, meskipun

beberapa kali ia terdesak. Agung Sedayu agaknya tidak ingin

dengan serta merta membunuh lawannya.

Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu memang ingin

menyelesaikan pertempuran itu tanpa membunuh lawannya.

Meskipun Agung Sedayu sudah mengira, bahwa sangat sulit

baginya untuk dapat menangkap orang yang berilmu tinggi itu.

Seandainya orang itu dapat dilumpuhkannya tanpa

membunuhnya, namun orang itu tentu tidak akan mau

berbicara sebagaimana diinginkan oleh Agung Sedayu.

Meskipun demikian, ternyata Agung Sedayu masih ingin

mencobanya, sehingga karena itu, maka iapun tidak dengan

serta merta mempergunakan ilmu puncaknya.

Untuk mempertahankan dirinya, Agung Sedayupun

kemudian ternyata telah mengurai cambuknya. Ternyata

Agung Sedayu ingin mencoba menembus ilmu lawannya yang

mirip dengan ilmu Tameng Waja itu dengan ujung cambuknya.

Ketika mula-mula Agung Sedayu menggetarkan

cambuknya, maka ledakannya bagaikan hendak

mengguncangkan seisi padepokan. Rasa-rasanya udarapun

telah bergetar mengguncang-guncang dada orang-orang yang

ada didalam padepokan itu.

Namun Agung Sedayu mampu bergerak secepat lawannya,

sehingga karena itu, maka iapun telah berhasil menghantam

dada lawannya sehingga terdorong selangkah surut.

Ternyata Sekar Mirah, Kiai Gringsing dan para cantrik yang

ada di bangunan indukpun telah mendengar ledakan cambuk

itu pula. Sejenak Sekar Mirah terhenyak ditempatnya. Namun

kemudian hampir diluar sadarnya ia telah melangkah dengan

tergesa-gesa ke bilik Kiai Gringsing.

Demikian Sekar Mirah melangkah masuk, Kiai Gringsing

itupun tersenyum. Orang tua itu melihat kegelisahan di wajah

Sekar Mirah sehingga karena itu, maka iapun berkata, “ Kau

 

dengar suara cambuk itu Sekar Mirah? Kau tahu watak dari

ilmu suamimu? Selama cambuk itu masih meledak dengan

hentakan-hentakan yang keras, maka suamimu masih belum

merasa perlu memasuki tataran ilmunya yang lebih tinggi.

Bahkan jika ia masih mempergunakan cambuknya, maka ia

masih belum merasa perlu mempergunakan ilmu

pamungkasnya.”

Sekar Mirah mengangguk kecil. Dengan nada rendah ia

berkata, “ Ya. Kiai.”

Kiai Gringsingpun kemudian mempersilahkan Sekar Mirah

untuk beristirahat. Katanya, “ Kau letih Mirah. Duduklah Kau

dapat beristirahat.”

“ Aku tidak letih Kiai.” jawab Sekar Mirah.

“ Mungkin tubuhmu tidak. Tetapi jiwamu yang tegang itu

agaknya perlu kau tenangkan. Duduklah. Minumlah. Biarlah

para cantrik itu berjaga-jaga diluar. Jika terjadi sesuatu,

mereka akan memberikan isyarat.”

Sekar Mirah termangu-mangu. Kiai Gringsing yang melihat

keragu-raguan Sekar Mirah itupun kemudian berkata kepada

dua orang cantrik yang ada didalam bilik itu, “ Kawanilah

saudara-saudaramu yang ada diluar. Biarlah aku disini

bersama Sekar Mirah. Hanya jika perlu sekali, panggillah

kami.”

“ Ya Kiai.” jawab kedua cantrik itu hampir berbareng.

Demikianlah, sejenak kemudian maka kedua orang cantrik

itu telah meninggalkan bilik itu. Sementara Sekar Mirahpun

kemudian telah duduk di sebuah amben kecil didalam bilik itu.

Namun Sekar Mirah memang tidak dapat menjadi tenang.

Apalagi ketika ia mendengar suara cambuk itu lagi. Berdentum

dengan kerasnya.

“ Nah kau dengar.” berkata Kiai Gringsing, “ suamimu

masih bermain-main. Ia belum merasa perlu untuk

bersungguh-sungguh.”

Sekar Mirah hanya mengangguk saja.

Sementara itu, Agung Sedayu yang bertempur melawan

Singapati yang mengaku pewaris perguruan Worsukmo masih

berlangsung dengan sengitnya. Ketika cambuk Agung Sedayu

itu meledak bagaikan memecahkan selaput telinga, maka

 

Singapati telah meloncat surut. Iapun terkejut mendengar

suara itu. Namun kemudian dengan keyakinan yang tinggi

atas kemampuan ilmunya yang mempunyai kekuatan mirip

dengan Aji Tameng Waja itu, iapun telah mendesak maju.

Sekali lagi Agung Sedayu meledakkan cambuknya. Bukan

sekedar untuk mengejutkan saja. Tetapi ia benar-benar telah

berusaha mengenai lawannya dengan ujung cambuknya yang

berkarah.

Dengan kerasnya ujung cambuk Agung Sedayu benarbenar

telah menghantam tubuh lawannya. Bukan sekedar

juntai janget tinatelon. Tetapi juga karah-karah baja yang

terdapat pada juntai cambuk itupun telah mengenai tubuh

lawannya itu pula. Namun ternyata bahwa kekuatan cambuk

Agung Sedayu tidak dapat menembus ilmu Tameng Waja

yang kuat dan kokoh itu.

Karena itulah, maka ketika oranng itu maju mendesak lagi,

Agung Sedayu telah berloncatan surut. Ia memang masih

mencoba satu dua kali menyerang lawannya dengan ujung

cambuknya. Tetapi ujung cambuk itu hanya dapat

menghentikan langkah Singapati. Namun tidak melukainya,

sehingga Singapatipun telah melangkah lagi memburu

kemana Agung Sedayu meloncat mundur.

Agung Sedayu akhirnya menyadari, bahwa dengan

landasan tenaga cadangannya saja, maka ia tidak mampu

menembus perisai ilmu orang itu. Betapapun ia mengerahkan

kekuatan tenaga cadangannya. Bahkan dengan hentakkan

yang keras.

Karena itu, maka Agung Sedayu terpaksa mempergunakan

kekuatan ilmunya. Dihimpunnya kekuatan cadangannya,

diangkatnya dengan ilmunya kebatas kekuatan tertinggi,

kemudian perlahan-lahan menyerang memasuki kemampuan

ilmunya itu. Dan Agung Sedayu pun kemudian mengalirkan

kemampuan ilmunya itu pada ujung cambuknya. Dengan

demikian, maka bobot kekuatan yang terdapat pada ujung

cambuk Agung Sedayu itu sudah jauh berbeda dari

sebelumnya.

Tetapi lawannya tidak menyadarinya. Ia hanya melihat

Agung Sedayu itu beberapa kali menelusuri juntai cambuknya

 

dengan telapak tangannya. Namun kemudian cambuk itu telah

berputar lagi diatas kepalanya.

Pada keadaan yang demikian itulah maka Singapati telah

melangkah mendekat. Tanpa menghiraukan ujung cambuk

Agung Sedayu ia melangkah sambil mengacukan tangannya

yang siap menyerang kearah dada.

Namun Agung Sedayu yang masih saja memutar

cambuknya itu telah mencoba memberi peringatan kepada

lawannya. Perlahan-lahan mulai terdengar putaran

cambuknya itu bergaung. Semakin lama semakin keras,

sehingga kemudian seakan-akan beribu lebah tengah terbang

mengitari Agung Sedayu itu.

Tetapi Singapati sama sekali tidak memperhatikannya. Ia

tidak memperhitungkan gaung putaran cambuk Agung Sedayu

yang melampaui kewajaran itu. Bahkan ia menganggap

bahwa Agung Sedayu memang hanya mampu membuat bunyi

yang diharapkan dapat mempengaruhi ketahanan jiwani

lawannya itu.

Karena itu, maka Singapati justru ingin menyerang semakin

cepat. Tanpa menghiraukan cambuk yang dianggapnya sama

sekali tidak akan mampu menembus ilmu yang menjadi

perisainya itu, maka iapun telah meloncat sambil menjulurkan

tangannya kearah dada Agung Sedayu.

Agung Sedayu yang mampu juga bergerak cepat, telah

melenting selangkah kesamping menghindari serangan

lawannya itu.

Dalam pada itu Glagah Putih menjadi semakin tegang. Ia

mengerti bahwa Agung Sedayu telah menyalurkan ilmunya

pada ujung cambuknya. Ia menunggu saat-saat cambuk itu

menghantam tubuh Singapati yang dilindungi oleh ilmunya itu.

Tetapi ternyata Agung Sedayu tidak segera meledakkan

cambuknya. Ia justru meloncat-loncat menghindar ketika

lawannya kemudian memburunya. Demikian cepatnya dan

beruntun, sehingga Agung Sedayu benar-benar harus

berloncatan surut beberapa langkah.

“ Kenapa kakang Agung Sedayu tidak mempergunakan

cambuknya itu.” geram Glagah Putih.

 

Agung Sedayu memang tidak segera mempergunakan

cambuknya. Ia masih berusaha menahan diri. Ia masih belum

tahu akibat dari ujung cambuknya. Namun menilik

kemampuan ilmu lawannya yang dapat menahan serangan

cambuknya dengan kekuatan kewadagannya, maka iapun

menduga bahwa ujung cambuknya tidak akan melumatkan

lawannya.

Namun ternyata bahwa Agung Sedayu benar-benar telah

terdesak oleh serangan lawannya yang datang beruntun tanpa

menghiraukan kemungkinan buruk yang dapat terjadi atasnya

oleh ujung cambuk Agung Sedayu.

Pada saat Agung Sedayu terdesak dan sulit untuk terusmenerus

menghindar, maka akhirnya Agung Sedayu memang

terpaksa melindungi dirinya dengan ujung cambuknya.

Pada saat lawannya mendesaknya terus dengan seranganserangan

yang berbahaya, maka disaat Agung Sedyu sudah

sulit untuk bergerak mundur, karena punggungnya sudah

melekat dinding padepokan, maka tiba-tiba saja cambuknya

sudah meledak. Tidak terlalu keras. Tidak lagi mengejutkan.

Tetapi getarannya telah menghentak tubuh Singapati.

Sentuhan juntai cambuk Agung Sedayu yang mengantarkan

arus kekuatan ilmunya, ternyata telah mampu mengoyak ilmu

lawannya yang mempunyai kekuatan sejenis Aji Tameng Waja

itu.

Dengan demikian maka lawannya telah terlempar beberapa

langkah surut. Wajahnya memancarkan ketegangan dan

membayangkan kesakitan yang sangat. Meskipun kulitnya

tidak terluka, tetapi Singapati benar-benar telah disakiti oleh

ujung cambuk itu.

Tetapi Singapati yang terdorong surut itu segera dapat

memperbaiki keadaannya. Ia masih dapat mengatur

keseimbangannya, sehingga ia tidak terjatuh karenanya.

Agung Sedayu yang melihat lawannya yang bergeser surut

itu justru menjadi berdebar-debar. Ternyata lawannya benarbenar

seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ilmunya

yang mirip dengan kekuatan ilmu Agung Sedayu lewat ujung

cambuknya, namun seakan-akan Singapati itu mampu dengan

cepat mengatasi perasaan sakitnya.

 

Bahkan sejenak kemudian, maka Singapati itupun telah

melangkah maju lagi. Bahkan meloncat menyerang dengan

kekuatan dan kecepatan gerak yang tidak berubah.

Glagah Putih yang melihat pertempuran itu menjadi

semakin berdebar-debar. Menilik ledakan cambuknya, maka

Agung Sedayu telah mengerahkan kemampuan ilmunya yang

disalurkan lewat juntai cambuknya. Namun juntai cambuknya

itu tidak berhasil menghentikan gerak maju lawannya.

Tetapi bagaimanapun juga, ujung cambuk itu telah

memberikan kesempatan lebih banyak kepada Agung Sedayu

untuk mengatur kedudukannya di hadapan lawannya itu.

Yang menjadi berdebar-debar didalam bangunan induk

padepokan itu adalah Kiai Gringsing. Iapun mendengar dan

merasakan getaran cambuk Agung Sedayu. Getaran cambuk

yang telah melontarkan ilmunya.

Tetapi Kiai Gringsing berusaha untuk tidak memberikan

kesan yang dapat membuat hati Sekar Mirah yang pucat,

iapun berkata, “ Jangan cemas Sekar Mirah. Cambuk yang

melontarkan ilmu suamimu ini bukan ilmu puncaknya. Ia

memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari ujung

cambuknya, yaitu sorot matanya.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Tetapi hatinya benarbenar

tidak menjadi tenang. Bahkan kemudian katanya, “

Apakah aku diijinkan untuk melihat keadaan kakang Agung

Sedayu?”

Kiai Gringsing menggeleng lemah. Katanya, “ Kau disini

saja bersamaku Mirah.”

Sekar Mirah tidak memaksa. Tetapi hatinya menjadi

semakin gelisah ketika cambuk itu meledak beberapa kali

berturut-turut. Yang tidak kalah gelisahnya adalah Glagah

Putih. Lawan Agung Sedayu ternyata memang seorang yang

memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Meskipun ia harus

melawan ujung cambuk Agung Sedayu, namun ia masih juga

mampu menyerang dengan garangnya. Bahkan beberapa kali

ia mampu menyentuh tubuh Agung Sedayu. Seandainya

Agung Sedayu tidak membentengi dirinya dengan ilmu

kebalnya, maka tubuh Agung Sedayu itupun telah menjadi

lumat. Bahkan semakin tajam Agung Sedayu mempergunakan

 

ilmu kebalnya, maka dari dirinya seakan-akan telah memancar

udara yang panas.

Sebenarnyalah bahwa Singapatipun menjadi berdebardebar

pula. Ujung cambuk Agung Sedayu itu berhasil

mengoyak ilmunya dan menyakiti tubuhnya. Bahkan kemudian

di sekeliling Agung Sedayu itu seakan-akan telah diselimuti

oleh udara yang panas.

Tetapi pertempuran itu masih saja berlangsung semakin

sengit. Keduanya saling mendesak, saling menyerang dan

saling mengelak. Namun serangan demi serangan telah saling

mengenai sasarannya, sehingga keduanya menjadi kesakitan,

meskipun keduanya tidak terluka.

“ Anak iblis.” geram Singapati, “ ternyata kau memiliki juga

ilmu kebal. He, dari jenis ilmu kebal yang mana yang kau

pergunakan?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi cambuknya telah

bergetar mengenai tubuh lawannya, sehingga lawannya itu

terdorong selangkah surut. Tetapi tiba-tiba saja Singapati dari

perguruan Worsukma itu telah meloncat maju dengan

cepatnya. Tangannya berhasil mengenai dada Agung Sedayu

sehingga Agung Sedayulah yang terdesak. Beberapa langkah

Agung Sedayu terdorong surut. Tetapi ketika lawannya itu

memburunya, maka dengan cepat pula Agung Sedayu

meledakkan cambuknya mengarah ke wajah orang itu. Untuk

menghindarinya, maka lawannya telah memalingkan wajahnya

itu. Namun demikian juntai cambuk Agung Sedayu itu justru

mengenai tengkuknya.

Sambil berdesis menahan sakit, maka orang itupun telah

berusaha untuk mempertahankan keseimbangannya.

Agung Sedayu tidak melepaskan lawannya. Selagi

lawannya itu masih belum mapan benar, maka cambuknya

telah meledak sekali lagi mengenai tubuh orang itu pula.

Ternyata orang yang mengaku pewaris ilmu perguruan

Worsukma itu benar-benar telah kehilangan

keseimbangannya. Terhuyung-huyung sejenak, namun

kemudian iapun telah terjatuh.

Namun ketika Agung Sedayu meloncat mendekatinya,

orang itu telah berguling beberapa kali. Justru kemudian

 

dengan sigapnya iapun telah melenting berdiri. Demikian

kedua kakinya tegak, maka Singapati itupun telah meloncat

menyerang dengan garangnya.

Ia tidak menghiraukan ketika juntai cambuk Agung Sedayu

mengenainya. Langkahnya memang tertahan, namun iapun

kemudian telah meloncat menyusup disela-sela putaran

cambuk Agung Sedayu dan langsung menyerang kearah

dada.

Agung Sedayu berusaha mengelak. Namun serangan itu

datang seakan-akan tanpa memperhitungkan ujung cambuk

Agung Sedayu, sehingga justru karena itu, maka Agung

Sedayu telah sedikit terlambat bergerak. Serangan orang itu

ternyata telah mengenai pundak Agung Sedayu. Meskipun

Agung Sedayu telah meningkatkan ilmu kebalnya, namun

serangan itu masih juga terasa betapa sakitnya. Karena itu,

maka Agung Sedayu telah dengan cepat menghindar ketika

orang dari perguruan Worsukma itu menyerangnya sekali lagi.

Agung Sedayu yang berhasil mengambil jarak, telah

meledakkan cambuknya pula mengenai orang itu. Karena itu,

maka orang yang telah melangkah memburu Agung Sedayu

itu terhenti.

Namun Agung Sedayu tidak menghentikan serangannya.

Sekejap kemudian ujung cambuknya telah meledak dan

meledak lagi. Beberapa kali orang itu terdesak mundur.

Namun orang itu masih juga berusaha untuk mengatasi rasa

sakitnya dengan meningkatkan daya tahan tubuhnya

disamping perisai ilmunya yang mirip dengan Aji Tameng

Waja itu. Dengan demikian maka pertempuran semakin lama

menjadi semakin sengit. Dengan cara masing-masing

keduanya berusaha untuk mengalahkan lawannya.

Namun agaknya cambuk Agung Sedayu telah memaksa

orang itu untuk bekerja lebih keras. Bagaimanapun juga,

cambuk Agung Sedayu benar-benar merupakan senjata yang

luar biasa. Ujungnya yang setiap kali dihentakkan sendal

pancing itu, telah menyakiti hampir seluruh tubuhnya,

meskipun sudah mempergunakan perisai ilmu yang jarang

ada duanya.

 

Tubuh Agung Sedayu juga merasa sakit-sakit oleh pukulanpukulan

lawannya yang berhasil menyusup diantara putaran

cambuknya dan menembus ilmu kebalnya. Tetapi Agung

Sedayu masih mampu mengatasinya dengan daya tahan

tubuhnya yang kuat dibawah ilmu kebalnya. Sementara itu

keduanyapun telah menunjukkan kemampuan dalam

kecepatan gerak masing-masing, sehingga keduanya

bagaikan bayangan yang terbang berputaran.

Sementara itu, pertempuran antara para cantrik dan

pengikut Singapati itu telah mencapai satu keseimbangan

yang pasti. Para cantrik yang jumlahnya telah bertambah itu

benar-benar telah berhasil mendesak lawannya. Korbanpun

berjatuhan dan darah telah menitik ke bumi.

Perlahan-lahan para cantrik mendesak lawan-lawan

mereka. Namun beberapa kali para cantrik masih

menawarkan kesempatan untuk menyerah. Namun agaknya

para pengikut Singapati itu tidak menghiraukannya.

Dalam pada itu, Glagah Putih merasa tidak perlu ikut

bertempur diantara para cantrik yang sebentar lagi tentu akan

berhasil menguasai lawannya. Hidup atau mati. Jika mereka

memang pantang menyerah, maka memang tidak ada pilihan

lain daripada membunuh mereka. Amat berbahaya bagi

padepokan itu jika membiarkan saja mereka melarikan diri.

Tetapi membunuh memang bukan tujuan mereka. Itu telah

ternyata dari seruan para cantrik untuk menyerah saja. Namun

agaknya orang-orang yang menyerang padepokan itu

berkeberatan. Mereka memang memilih mengakhiri

perlawanan mereka dengan kematian, karena mereka

mengira bahwa kematian merupakan penyelesaian yang

tuntas bagi pengabdian mereka.

Dengan demikian maka para pengikut Singapati itu seakanakan

telah bertempur dengan putus-asa, karena tidak ada

harapan bagi mereka untuk menang. Yang mereka lakukan

tidak ubahnya sebagai satu usaha untuk membunuh diri

bersama-sama. Adalah satu kemenangan bagi mereka

apabila mereka dapat membunuh lawannya, karena dengan

demikian maka mereka mendapat kawan untuk mati.

 

Tetapi jumlah para cantrik yang banyak, tidak memberi

kesempatan dan peluang sama sekali kepada mereka. Satusatu

para pengikut Singapati itu telah tertembus oleh tajamnya

senjata para cantrik. Namun diantara keyakinan untuk

bertahan sampai mati, ternyata ada juga diantara mereka

yang menyerah. Satu dua diantara mereka telah melemparkan

senjata mereka dan tidak lagi mengadakan perlawanan.

Sementara itu, pertempuran yang terpisah ternyata masih

berlangsung, justru semakin sengit. Keduanya benar-benar

telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Desak

mendesak, serang-menyerang dengan cepat dan karena itu,

maka pertempuran itu menjadi semakin sulit untuk dinilai.

Di bangunan induk, kegelisahan Sekar Mirah agaknya

memang sudah memuncak. Ia masih mendengar ledakanledakan

cambuk Agung Sedayu yang menggetarkan udara

dengan dorongan kekuatan ilmunya. Meskipun ledakan itu

tidak terlalu keras, tetapi justru mempunyai pengaruh yang

jauh lebih besar atas lawannya. Namun untuk sekian lama,

hentakan-hentakan cambuk itu belum berhasil menghentikan

perlawanan lawannya itu.

Kiai Gringsing yang melihat kegelisahan Sekar Mirah telah

berusaha menenangkannya. Dengan nada yang lembut dan

bahkan senyum dibibir Kiai Gringsing berkata, “ Percayalah

bahwa suamimu akan dapat mengatasi kesulitan yang

dihadapinya, Mirah. Dalam keadaan yang gawat, maka

serahkan segala sesuatunya kepada Yang Maha Agung.”

“ Apakah aku boleh melihat keadaan kakang Agung

Sedayu, Kiai.” berkata Sekar Mirah, “ kita tidak tahu, apakah

kakang Agung Sedayu harus bertempur melawan satu orang

atau banyak orang. Barangkali aku dapat membantunya

daripada aku menunggu disini.”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

katanya, “ Baiklah. Kita pergi melihatnya.”

“ Maksud Kiai?” bertanya Sekar Mirah.

“ Akupun akan pergi. Kau tentu akan bersedia

membantuku.” berkata Kiai Gringsing.

“ Kiai sedang sakit. Tidak baik untuk keluar malam hari.”

berkata Sekar Mirah.

 

“ Tetapi sakitku sudah jauh susut. Bukankah aku telah

hampir sehat kembali?” berkata Kiai Gringsing pula.

“ Tetapi sebaiknya Kiai tinggal disini.” minta Sekar Mirah.

Tetapi Kiai Gringsing itupun tersenyum. Iapun justru telah

bangkit berdiri dan berjalan dengan bantuan tongkatnya.

Katanya, “ Marilah. Kita pergi.”

Sekar Mirah tidak dapat membantah. Iapun kemudian

mengiringi Kiai Gringsing yang berjalan perlahan-lahan.

Namun kemudian di pendapa ia berkata kepada seorang

cantrik, “ Kemarilah. Kita melihat apa yang terjadi.”

Dengan berpegang pada cantrik itu, maka Kiai Gringsing

dapat berjalan lebih cepat, diikuti oleh Sekar Mirah yang

menjinjing tongkat baja putihnya.

Ketika Kiai Gringsing mendekati arena, maka beberapa

orang cantrik telah berdiri bebas. Lawan-lawannya telah

dilumpuhkannya. Karena itu, ketika mereka melihat kehadiran

Kiai Gringsing, maka dengan tergesa-gesa mereka

menyongsongnya.

“ Kiai, apakah keadaan Kiai sudah baik?” bertanya seorang

cantrik.

Kiai Gringsing tersenyum. Pertempuran memang sudah

hampir selesai. Namun dalam pada itu, Sekar Mirahpun

berTanya, “ Dimana kakang Agung Sedayu.”

Cantrik itu termangu-mangu. Namun merekapun tidak usah

terlalu sulit untuk mencarinya. Ketika kemudian terdengar

cambuk Agung Sedayu meledak.

Dengan serta merta merekapun telah menuju ke suara

cambuk itu. Didalam kegelapan mereka segera melihat dua

orang yang sedang bertempur dengan sengitnya. Bahkan

Glagah Putihpun telah berada di tempat itu pula. Namun

Glagah Putih sama sekali tidak berbuat sesuatu, seakan-akan

Agung Sedayu itu sedang berperang tanding sehingga tidak

ada orang lain yang pantas untuk ikut campur.

Sejenak kemudian, maka Kiai Gringsing, Sekar Mirah dan

beberapa orang cantrik telah berdiri di sebelah Glagah Putih

yang telah datang lebih dahulu.

Agaknya murid dari perguruan Worsukma itu melihat

kedatangan mereka, sehingga orang itupun kemudian

 

berteriak, “ Marilah. Siapa yang akan ikut mati bersama orang

ini? Semakin banyak kalian memasuki arena, maka akan

semakin cepat pekerjaanku selesai.”

Namun seorang cantrik telah menyahut, “ Orang-orangmu

telah habis. Sebagian besar memang telah membunuh diri,

sedang yang lain telah menyerah. Apakah kau akan tetap

bertempur?”

“ Aku koyakkan mulutmu. Jangan mencoba menghina aku.”

geram orang itu.

Cantrik itu memang berdiam diri, sementara itu

pertempuran antara orang yang menyebut dirinya Singapati itu

dengan Agung Sedayu telah berlangsung semakin cepat.

Beberapa kali cambuk Agung Sedayu meledak. Udarapun

telah tergetar menghentak jantung. Apalagi orang yang

tersentuh ujung cam-buk itu. Tetapi lawannya ternyata mampu

mengatasinya. Bahkan masih sempat bergerak maju dan

menyusup menyerang.

Sekar Mirah memang menjadi semakin gelisah melihat

pertempuran itu. Ternyata lawan Agung Sedayu adalah orang

yang berilmu sangat tinggi, sehingga mampu melawan juntai

cambuk Agung Sedayu yang dihentakkan sendal pancing

dengan segenap kekuatan ilmunya.

Yang terjadi kemudian memang mendebarkan jantung.

Keduanya saling menyerang dan saling bertahan. Keduanya

mempergunaan ilmu kebal meskipun dari jenis yang berlainan.

Bahkan lawan Agung Sedayu itu mampu membuat dirinya

bagaikan sekeras baja, sementara jenis ilmu kebal Agung

Sedayu justru telah memancarkan panas dari tubuhnya.

Disamping itu, maka ledakan-ledakan cambuknya mampu

menembus ilmu kebal lawannya meskipun lawannya itu

mampu mengatasi rasa sakitnya.

Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi semakin

sengit dan mendebarkan. Desak mendesak, serang

menyerang dengan kekuatan dan kemampuan diluar

jangkauan orang kebanyakan. Tetapi anehnya justru cambuk

Agung Sedayu itu lambat laun telah benar-benar menyakiti

kulit lawannya, sementara itu panas ditubuh Agung Sedayu

yang semakin tajampun telah berpengaruh pula pada

 

lawannya. Tubuhnya yang bagaikan besi baja yang tidak

tembus ditusuk ujung senjata, namun justru mulai merasa

betapa panasnya udara seakan-akan tubuhnya yang menjadi

baja itu telah lebih banyak menyerap panas dari pada

keadaan wajarnya.

Karena itu, maka orang itupun telah mempertimbangkan

untuk segera mengakhiri pertempuran dengan ilmu

simpanannya yang jarang sekali dipergunakannya jika tidak

karena tidak ada pilihan lain. Ilmu yang memang sangat

dikagumi dari perguruan Worsukma, karena ilmu itu mampu

membuat lawannya menjadi hitam atau merah sebagaimana

dikehendakinya.

Karena itulah maka orang itupun telah mengambil sikap.

Dengan sikapnya Singapati itu meloncat beberapa langkah

surut. Kemudian berdiri tegak dengan tangan bersilang

didada.

Agung Sedayu terkejut. Ia sadar, bahwa lawannya tentu

akan melepaskan ilmunya yang paling berbahaya.

Sementara itu tidak ada orang lain yang dapat membantu

selain orang yang dikenal itu sendiri mempertahankan diri.

Kecuali dengan langsung memadamkan sumbernya. Namun

dengan demikian, maka akan dapat menjatuhkan martabat

Agung Sedayu yang meskipun tidak sedang berperang

tanding, tetapi agaknya keduanya telah bertekat untuk

mengadu kemampuan ilmu mereka.

Ternyata bahwa orang-orang yang menyaksikan

pertempuran itupun menjadi berdebar-debar. Bahkan Kiai

Gringsingpun menjadi berdebar-debar pula. Perguruan

Worsukma memang mempunyai sejenis ilmu yang jarang ada

duanya.Singapatipun terkejut bukan buatan. Tetapi semuanya

telah ter-lambat. Serangan Agung Sedayu itu langsung

mengenai dada orang yang mengaku memiliki warisan ilmu

dari perguruan Worsukma itu.

Beberapa saat orang itu berdiri tegak. Agung Sedayupun

berdiri tegak pula ditempatnya. Kiai Gringsing menjadi

semakin cemas ketika ia melihat bahwa Agung Sedayu telah

menatap wajah lawannya. Tetapi iapun tidak dapat berteriak

 

mencegahnya. Karena dengan demikian, maka ia sudah

membantu Agung Se-dayu.

Suasanapun kemudian menjadi sangat tegang. Kedua

orang yang bertempur itu tengah memusatkan nalar budi

mereka.

Singapati merasa mendapatkan kesempatan ketika Agung

Sedayu justru menatap wajahnya. Dengan serta merta maka

Singapati telah mengetrapkan ilmunya. Ilmu kebanggaan

perguruan Worsukma. Dengan kekuatan sorot matanya, maka

Singapati telah mengetrapkan ilmunya. Perlahan-lahan

dengan penuh keyakinan, maka Agung Sedayu yang menatap

matanya itu tentu akan segera tunduk pada kehendaknya.

Sementara itu, Agung Sedayupun merasa sesuatu

mempengaruhi jiwanya. Ada kehendak yang bergejolak tanpa

dimengertinya. Seakan-akan telah terjadi benturan di dalam

dirinya. Dengan cepat Agung Sedayu teringat, siapakah

lawannya itu. Karena itu, maka dengan serta merta Agung

Sedayupun telah mengikatkan diri pada sumbernya. Dengan

demikian, maka ia akan tetap melekat erat tanpa berkisar

sejengkalpun dari pijakannya. Dalam sandaran yang kokoh

Agung Sedayu dengan sengaja telah menatap mata

lawannya. Ia yakin akan dirinya dari sandarannya yang tidak

akan goyah. Apalagi Agung Sedayu yakin, bahwa ia justru

sedang mempertahankan diri dan haknya. Benturan

kekerasan yang terjadi itu bukan karena salahnya.

Untuk beberapa saat keduanya saling memandang.

Keduanya memiliki landasan yang sama-sama kokoh, tetapi

berbeda. Namun Agung Sedayu yakin, bahwa tidak ada

sandaran yang lebih kokoh dari sumber segala sumber itu.

Ketegangan telah mencengkam jantung orang-orang yang

memperhatikan kedua orang yang berdiri bagaikan patung itu.

Namun kemudian perlahan-lahan Singapati telah melangkah

mendekat.

Agung Sedayu masih tetap berdiri saja tanpa bergerak.

Seolah-olah Agung Sedayu tidak lagi mampu mengambil sikap

menghadapi lawannya.

Sambil melangkah, maka lawannya itupun kemudian

tertawa. Katanya disela-sela tertawanya, “ Ternyata

 

kemampuanmu tidak lebih dari kemampuan kewadagan Apa

yang dapat kau lakukan sekarang? Kau telah berada dalam

kuasaku. Sebentar lagi kau tentu akan membunuh dirimu

sendiri. Tetapi itu yang terakhir kau lakukan setelah kau

membunuh semua orang-orangmu.”

“ Gila.” Sekar Mirah tiba-tiba berteriak.

Tetapi Kiai Gringsing cepat memahaminya ketika

perempuan itu hampir saja menghambur berlari menyerang

Singapati.

Singapati itu tertawa semakin keras. Katanya, “ Kalian akan

mengalami satu pertempuran yang asing. Kalian sebentar lagi

akan bertempur melawan orang ini, karena orang ini akan

segera menyerang kalian atas namaku. Jangan terkejut

bahwa orang ini dengan segala ilmunya yang tinggi akan

menghancurkan padepokan ini. Tidak seorangpun yang akan

dapat melawannya.”

“ Kiai.” suara Sekar Mirah tersendat dikerongkongan.

Kiai Gringsingpun menjadi gelisah, sementara Glagah Putih

memang menjadi bingung. Apa yang dapat dilakukannya. Jika

ia melawan Agung Sedayu dengan ilmu puncaknya, mungkin

serangannya yang mengandung kekuatan api atau air, atau

kekuatan yang lain yang dapat dilakukannya, jika mampu

menembus ilmu kebalnya akan dapat merusakkan tubuh

Agung Sedayu, sementara hal itu belum merupakan satu

bantuan bahwa pribadi Agung Sedayu akan dapat dipulihkan.

Dalam pada itu, pewaris perguruan Worsukma itu masih

berkata, “ Karena itu, untuk selanjutnya, tidak seorangpun

yang akan mampu mengalahkan perguruan Worsukma.

Perguruan yang tidak ada duanya lagi dalam masa sekarang.”

orang itu berhenti sejenak. Ia masih melangkah mendekat

Agung Sedayu yang berdiri tegak sambil menyilangkan tangan

didadanya, “ Sebentar lagi, orang ini akan bergerak atas

namaku.”

Singapatipun kemudian berhenti tiga langkah dihadapan

Agung Sedayu. Dipandanginya mata Agung Sedayu sambil

berdesah, “ Lakukan apa yang aku inginkan. Kau harus

mempergunakan semua kekuatan ilmumu untuk

membinasakan isi padepokan ini. Kau dapat mempergunakan

 

segala kemampuan ilmumu yang tinggi untuk membunuh

semua orang yang menentangmu. Lakukan apa yang aku

perintahkan, karena kau adalah bagian dari kehendakku.”

Agung Sedayu masih berdiri tegak. Sementara orang

itupun telah tertawa pula keras-keras. Iapun kemudian

menggerakan kedua tangannya. Terjulur lurus kearah Agung

Sedayu sambil berkata, “ Nah, lakukan sekarang apa yang

aku katakan. Hancurkan padepokan ini dan bunuh semua

orang yang tidak termasuk golonganku, orang yang

memerintahmu. Lakukan perintahku demi nama perguruan

Worsukma yang agung.”

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu menjadi tidak

sabar lagi. Bagi Glagah Putih dan Sekar Mirah, maka yang

terbaik untuk mengatasinya adalah menyerang orang yang

telah membius Agung sedayu dengan ilmunya itu. Dengan

demikian, maka kekuatan biusnya itu akan hilang.

Namun keduanyapun menyadari, bahwa orang itu memiliki

kemampuan yang sangat tinggi. Glagah Putih tidak tahu,

apakah ilmunya akan dapat menembus kekuatan ilmu kebal

orang yang telah mebius Agung Sedayu itu yang mirip dengan

Aji Tameng Waja.

Selagi mereka belum dapat menemukan langkah yang

paling baik harus dilakukan, maka mereka melihat Agung

Sedayu itu mulai bergerak. Bahkan Agung Sedayu itu sudah

bergeser selangkah surut, sementara Singapati tertawa sambil

berkata, “ Bagus. Lakukanlah.”

Sementara itu Singapati seakan-akan tidak menghiraukan

orang -orang lain yang memperhatikan apa yang terjadi,

karena ia terlalu yakin, seandainya ada diantara mereka

menyerangnya, maka serangannya tidak akan mampu

menembus ilmu kebalnya.

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang surut selangkah itu

telah berdiri tegak. Tangannya masih bersilang didadanya.

Namun yang terjadi benar-benar telah mengejutkan semua

orang yang menyaksikan peristiwa itu terjadi. Agung Sedayu

sama sekali tidak melakukan perintah orang itu, tetapi dari

jarak yang terlalu dekat Agung Sedayu justru telah menyerang

 

orang itu dengan kekuatan sinar yang memancar dari

matanya.

Singapatipun terkejut bukan buatan. Tetapi semuanya

sudah terlambat. Serangan Agung Sedayu itu langsung

mengenai dada orang yang mengaku memiliki warisan ilmu

dari perguruan Worsukma itu. Terdengar orang itu. berteriak

nyaring. Ternyata ia telah terdorong selangkah surut.

Serangan Agung Sedayu itu telah mengoyak ilmu kebalnya

yang mirip dengan Aji Tameng Waja itu. Betapa perasaan

sakit telah menghentak didada dan bahkan seluruh isi

dadanya seakan-akan telah terbakar.

Dengan sekuat tenaga orang itu berusaha mengatasi rasa

sakitnya. Kemudian dengan sisa tenaganya ia meloncat jauh

kedepan menyerang Agung Sedayu. Ayunan tangannya yang

bagaikan besi baja itu telah dengan kuatnya menghantam

dada Agung Sedayu.

Agung Sedayu memang menangkis serangan itu. Tetapi

kekuatan orang itu memang luar biasa. Ketika satu tangannya

luput menggapai dada Agung Sedayu, maka tangannya yang

lain dengan cepat sekali telah menyerang pula.

Ternyata serangan berikutnya itu berhasil menyusup

pertahanan Agung Sedayu yang terlambat menangkisnya.

Serangan itu tepat mengenai dadanya, sehingga Agung

Sedayu itu telah terlempar beberapa langkah surut. Bahkan

Agung Sedayu itu telah terbanting jatuh dan berguling ditanah.

Ketika Agung Sedayu dengan susah payah berusaha untuk

bangkit, maka Singapati itu telah melangkah dengan langkahlangkah

pendek mendekatinya. Namun sesaat kemudian

langkah-langkah itupun telah terhenti.

Agung Sedayu yang dadanya bagaikan terhimpit besi baja

itu, telah mempergunakan sisa tenaganya, untuk menyerang

lawannya yang masih berdiri beberapa langkah dihadapannya.

Justru pada saat lawannya itu mulai bergerak lagi, maka

Agung Sedayu telah melepaskan serangannya kembali.

Serangan itu memang tidak sedahsyat serangannya yang

pertama. Tetapi kekuatan dan daya tahan lawannyapun telah

melemah. Demikian pula ilmu kebalnya, sehingga serangan

 

Agung Sedayu itu benar-benar telah meremas isi dada

lawannya.

Lawannya itu terdorong selangkah surut. Sambil terhuyunghuyung

ia pun mengumpat. Katanya, “ Kenapa kau tidak

tunduk kepada perintahku anak iblis.”

Nafas Agung Sedayu menjadi terengah-engah. Karena itu

ia tidak menjawab.

“ Kau justru berhasil mengelabui aku dengan pura-pura

tunduk kepadaku. Namun dengan licik kau telah menyerangku

dari jarak yang sangat pendek dengan ilmu iblismu itu.”

geram orang itu dengan suara yang gemetar.

“ Ilmumu mungkin dapat menumbangkan kesadaranku Ki

Sanak, tetapi tidak akan pernah mampu mengantarkan

sandaranku.” jawab Agung Sedayu. Suaranya juga bergetar

karena rasa sakit didadanya.

“ Tetapi akhirnya aku dapat membunuhmu sekarang.”

suara orang itu semakin sendat. Bahkan sejenak kemudian

iapun tidak dapat bertahan lagi. Ketika ia melangkah maju,

maka iapun justru terjatuh di tanah.

Agung Sedayu masih berdiri tegak. Namun rasa-rasanya

tubuhnyapun menjadi semakin lemah. Karena itu, maka

perlahan-lahan iapun telah menjatuhkan dirinya dan berdiri

diatas lututnya.

Sekar Mirah tidak dapat menahan diri lagi. Iapun kemudian

telah berlari mendapatkan suaminya yang lemah.

“ Kakang.” desis Sekar Mirah.

Agung Sedayu benar-benar telah menjadi lemah. Bahkan

iapun telah duduk ditanah.

Ketika Sekar Mirah akan memeluk suaminya, maka

ternyata Kiai Gringsing yang telah berdiri dibelakangnya telah

menggamitnya sambil berkata, “ Beri kesempatan suamimu

mengatur pernafasannya. Itu akan sangat berarti bagi

keadaannya yang memang agak parah.”

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Namun iapun

melakukan apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing. Namun

iapun kemudian membantu Agung Sedayu untuk duduk

bersila menyilangkan tangannya didadanya.

 

Beberapa. saat Agung Sedayu mencoba mengatur jalan

pernafasannya yang tersendat, karena dadanya yang seraya

telah diremukkan oleh serangan lawannya yang mampu

menembus ilmu kebalnya. Perlahan-lahan jalan pernafasan

Agung Sedayupun menjadi lancar kembali, sementara itu

maka denyut darahnyapun menjadi wajar. Dengan

memusatkan nalar budinya, maka Agung Sedayupun telah

berusaha mengatasi kesulitan-kesulitan yang terjadi didalam

dirinya. Meskipun tidak sepenuhnya, tetapi rasa-rasanya

dadanya telah menjadi longgar.

“ Bawa Agung Sedayu masuk.” desis Kiai Gringsing, “

mungkin aku harus membantunya dengan obat-obatan.”

Agung Sedayu yang sudah merasa menjadi lebih baik

itupun telah dibantu oleh Sekar Mirah dan Glagah Putih untuk

berdiri dan kemudian perlahan-lahan perjalanan menuju ke

bangunan induk padepokan itu. Sementara Kiai Gringsing

memerintahkan para cantrik untuk mengatur segala

sesuatunya tentang orang-orang yang terluka, terbunuh dan

yang tertangkap.

Namun Kiai Gringsing masih sempat untuk mengamati

keadaan orang yang mengaku pewaris tunggal perguruan

Worsukma itu. Ternyata bahwa orang itu telah terbunuh dalam

pertempuran melawan Agung Sedayu.

Tetapi Kiai gringsing dengan demikian menyadari, bahwa

orang itu tentu orang yang berilmu sangat tinggi. Agung

Sedayu tentu tidak akan mempergunakan ilmu puncaknya, jika

ia memang tidak benar-benar telah tersudut. Bahkan disaat

cambuknya sudah tidak dapat menghentikan lawannya.

Sebagaimana ternyata bahwa kemampuan ilmu orang itu

ternyata pula telah dapat menembus ilmu kebal Agung

Sedayu.

“ Pisahkan orang ini dari yang lain.” berkata Kiai Gringsing.

Seorang cantrik yang berdiri disebelahnyapun mengangguk

hormat sambil menjawab, “ Baik Kiai.”

“ Kumpulkan segera kawan-kawanmu yang terluka.

Mungkin ada pula yang gugur dalam pertempuran ini. Bawa

mereka ke pendapa.” berkata Kiai Gringsing pula.

“ Ya Kiai.” jawab cantrik itu.

 

“ Aku akan melihat keadaan Agung Sedayu.” berkata Kiai

Gringsing pula.

Dikawani oleh seorang cantrik, Kiai Gringsingpun berjalan

dengan tongkatnya menuju ke bangunan induk. Sementara

itu, Agung Sedayu telah dibaringkan di biliknya pula ditunggui

oleh Sekar Mirah dan Glagah Putih. Meskipun pernafasannya

telah lancar dan urat-urat darahnya telah terbuka dan

darahnya mengalir teratur, namun nampak wajah Agung

Sedayu itu sangat pucat. Sehingga karena itu, maka Sekar

Mirahpun menjadi sangat cemas.

Ketika Kiai Gringsing berada didalam bilik itu pula, maka

barulah ia mengetahui, bahwa Glagah Putihpun telah terluka.

Bahkan sebutir biji besi masih berada didalam dagingnya.

“ Aku harus mengambilnya.” berkata Kiai Gringsing pula.

Glagah Putih termangu-mangu. Agaknya Agung Sedayu

memerlukan pertolongan lebih dahulu daripada dirinya,

meskipun lengannya terasa betapa sakitnya.

Ketika Kiai Gringsing kemudian meraba dada Agung

Sedayu, maka iapun bertanya, “ Bagaimana pernafasanmu

Agung Sedayu?”

Suara Agung Sedayu lambat dan bergetar, “ Sudah baik,

Guru.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ketika Kiai Gringsing

menyibakkan baju Agung Sedayu, nampak didadanya bekas

serangan lawannya yang membiru.

“ Luar biasa.” desis Kiai Gringsing, “ dengan lambaran ilmu

kebal, ia masih dapat memberikan bekas pada kulit Agung

Sedayu. Jika dengan ilmunya ia memukul orang kebanyakan,

maka orang itu tentu akan menjadi lumat seperti tertimpa batu

hitam sebesar kerbau yang dilontarkan oleh gunung berapi

yang meledak.”

Sekar Mirahpun menjadi sangat berdebar-debar. Dari

bekas di dada Agung Sedayu, mereka menyaksikannya dapat

menduga betapa tinggi ilmu orang itu. Namun dengan

demikian, orang-orang yang ada didalam bilik itupun telah

bersukur, bahwa Agung Sedayu masih mendapat

perlindungan Yang Maha Agung. Bahkan kemampuan ilmu

perguruan Worsukma untuk merampas pribadi seseorangpun

 

tidak berhasil menguasai Agung Sedayu justru karena Agung

Sedayu mempunyai sandaran yang tidak tergoyahkan,

sementara dengan ketetapan hati Agung Sedayu benar-benar

telah mengikatkan diri kepada-Nya.

Sesaat kemudian Agung Sedayu itupun telah mendapat

obat yang berujud cairan berwarna kecoklat-coklatan

bercampur warna hijau. Perlahan-lahan Sekar Mirah

membantu Agung Sedayu mengangkat kepalanya, kemudian

meneguk obat yang diberikan oleh Kiai Gringsing itu.

“ Mudah-mudahan daya tahan tubuhmu meningkat.”

berkata Kiai Gringsing. Lalu, “ Sementara itu, beristirahatlah.

Aku akan mengambil biji besi didalam daging Glagah Putih

sebentar.”

“ Ya Guru.” jawab Agung Sedayu perlahan.

Kiai Gringsingpun kemudian berkata kepada Sekar Mirah, “

Tunggulah suamimu. Ia akan berangsur baik, meskipun tidak

dengan serta merta.”

“ Ya Kiai.” jawab Sekar Mirah sambil mengangguk hormat.

Dalam pada itu, Kiai Gringsingpun telah membawa Glagah

Putih kedalam sebuah bilik yang khusus. Ada berbagai

macam alat yang dipergunakan oleh Kiai Gringsing untuk

mengobati orang-orang sakit, tetapi juga terdapat alat untuk

mengambil benda-benda yang tidak dikehendaki yang

terdapat didalam tubuh seseorang, sebagaimana biji besi yang

mengeram didalam daging Glagah Putih.

Dengan pengetahuannya yang luas, maka Kiai

Gringsingpun telah memanasi sebuah pisau kecil yang

runcing. Kemudian mengikat lengan Glagah Putih keras-keras.

“ Bersiaplah Glagah Putih.” berkata Kiai Gringsing, “ kau

mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mengatasi rasa

sakit.”

Glagah Putih tidak menjawab. Namun Kiai Gringsing telah

memberikan sebatang kayu gabus kepadanya. “ Gigitlah.”

Glagah Putih semula merasa ragu-ragu. Tetapi Kiai

Gringsing memperingatkan, bahwa jika ia tidak menggigit kayu

gabus itu, jika ia menggertakkan giginya, mungkin giginya

dapat mengalami kerusakan.

 

Dengan dibantu oleh beberapa orang cantrik, maka Kiai

Gringsingpun telah melakukan pekerjaannya. Bagi Kiai

Gringsing pekerjaan itu tidak terlalu sulit, karena biji itu jelas

nampak didalam daging dibagian luar tubuhnya.

Namun ternyata Kiai Gringsing memang sudah tua. Apalagi

sedang sakit. Ketika ia mulai mengacukan pisaunya, nampak

ujung pisau itu agak bergetar. Bukan karena keragu

raguannya karena pekerjaan seperti itu sudah sering

dilakukan, tetapi ketuaannyalah yang membuat tangannya itu

gemetar.

Glagah Putih telah mengerahkan segenap kemampuannya

meningkatkan daya tubuhnya untuk mengatasi rasa sakitnya.

Namun masih juga terasa betapa ujung pisau ditangan Kiai

Gringsing itu mengoyak kulitnya, sehingga giginyapun

kemudian bagaikan tertancap pada kayu gabus yang

digigitnya untuk menahan sakitnya.

Pekerjaan Kiai Gringsing itu dapat diselesaikan tidak terlalu

lama. Kemudian ditaburkannya obat pada bekas kulit yang

dikoyaknya untuk mengeluarkan biji besi itu.

“ Tidak beracun.” berkata Kiai Gringsing.

Untuk mencegah agar obat yang ditaburkan tidak

berhamburan, maka Glagah Putih itupun kemudian telah

dibalut dengan kain yang bersih dilambari dengan selapis tipis

selaput pada batang pisang yang memang diambil untuk

kepentingan itu, dan yang sudah dibersihkan dengan diuapi air

mendidih agar jika ada kuman-kuman penyakit, dapat

terbunuh karenanya.

“ Aku harus menggantinya sehari dua kali.” berkata Kiai

Gringsing, “ sementara itu kaupun tidak boleh terlalu banyak

bergerak, agar lukamu tidak berdarah.”

“ Ya Kiai.” jawab Glagah Putih yang masih berkeringat.

Rasa sakit yang sangat masih terasa pada luka dan

sekitarnya.

“ Meskipun tidak beracun tetapi biji-biji besi atau bentuk

yang lain yang terdapat didalam tubuh seseorang memang

harus segera diambil. Jika tidak, maka sejenis besi atau

beberapa macam logam yang lain akan sangat buruk

akibatnya.” berkata Kiai Gringsing pula.

 

“ Ya Kiai.” desis Glagah Putih, “ aku mengucapkan terima

kasih.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “ Itu sudah menjadi

tugasku. Apalagi kau terluka akibat kau melindungi padepokan

kecil ini.”

“ Sekedar membantu para cantrik.” sahut Glagah Putih.

Dengan demikian, maka Glagah Putihpun kemudian telah

dibawa kembali kedalam biliknya. Beberapa orang cantrik

yang mengawasinya di dalam bilik itu ternyata masih sibuk

mengurus orang-orang yang terluka dan terbunuh di

peperangan. Juga orang-orang yang telah menyerah. Namun

masih ada juga seorang cantrik yang kemudian

menungguinya.

“ Aku lebih senang disini daripada sibuk dihalaman.”

berkata cantrik itu sambil tertawa.

“ Kau akan mendapat nilai kurang dari pemimpin

kelompokmu.” Glagah Putih mencoba tersenyum.

Cantrik itu tertawa. Katanya, “ Tentu tidak. Aku mendapat

perintah dari Kiai Gringsing.”

“ Kiai Gringsing tidak memberikan perintah begitu.” berkata

Glagah Putih kemudian. Lalu, “ Jika diusut, maka ternyata

bahwa kau berbohong.”

“ Kiai Gringsing tidak akan ingat, apakah ia memberi

perintah atau tidak. Asal aku berkeras mengatakan mendapat

perintah dari guru, maka akhirnya Kiai Gringsing tentu akan

mengiakan.” jawab cantrik itu masih sambil tertawa, “ Guru

menjadi semakin pelupa.”

Glagah Putihpun tertawa pula. Dimana-mana dalam

kumpulan sekelompok anak-anak muda, tentu ada juga yang

nakal. Ketika Glagah Putih kemudian berbaring

dipembaringannya sambil sekali-sekali berdesah menahan

sakit, cantrik itu telah menyelarak pintu dan ikut pula

berbaring. Bahkan sejenak kemudian, telah terdengar dengkur

perlahan-lahan yang agaknya memang letih itu. Tetapi Glagah

Putih sendiri justru masih saja gelisah. Perasaan sakit masih

saja terasa menggigit dilukanya. Agaknya perasaan sakit itu

timbul karena obat yang justru mulai bekerja.

 

Dihari yang kemudian menjadi semakin cerah. Kiai

Gringsing telah memberikan beberapa perintah. Beberapa

orang cantrik telah mendapat tugasnya masing-masing. Dua

orang akan menghadap Ki Untara untuk melaporkan apa yang

terjadi di padepokan itu, serta mohon beberapa orang prajurit

untuk mengambil orang-orang yang tertawan. Dua orang agar

menghubungi Ki Widura, dan atas persetujuan Agung Sedayu

dan Sekar Mirah, dua orang akan pergi ke Sangkal Putung

untuk memberitahukan bahwa Agung Sedayu dan Sekar

Mirah tidak dapat datang pada hari itu.

“ Kalian dapat melaporkan apa yang telah terjadi apa

adanya.” pesan Kiai Gringsing, “ jangan mengarang ceritera

sendiri, atau menyembunyikan kenyataan dengan sengaja.”

Demikianlah sejenak kemudian para cantrik itupun telah

berangkat ketujuan masing-masing. Tetapi karena jarak yang

mereka tempuh tidak sama, maka merekapun tidak

bersamaan sampai ketujuan.

Yang paling cepat sampai adalah dua orang cantrik yang

harus menghadap Ki Untara. Untunglah bahwa Ki Untara

masih ada dirumahnya, sehingga keduanya langsung sempat

menghadap. Laporan kedua orang cantrik itu memang

mengejutkan.

Dengan serta merta Untara bertanya, “ Kenapa kalian tidak

memberikan isyarat kepada kami?”

Kedua orang cantrik itu saling berpandangan. Kemudian

seorang diantaranya menjawab, “ Kami tidak tahu pasti,

apakah sebabnya Kiai Gringsing tidak memerintahkan untuk

memberikan isyarat. Namun semula menurut perhitungan

kami, kami dapat mengatasi sendiri atas orang-orang yang

datang itu.”

“ Tetapi kalian harus memberikan korban terlalu banyak.

Jika kalian memberikan isyarat, maka kami akan dapat datang

dengan kekuatan yang lebih besar, sehingga kalian tidak perlu

mengorbankan seorangpun.” berkata Untara.

Kedua cantrik itu tidak menjawab. Mereka memang tidak

mendapat pesan untuk menyampaikan alasan, kenapa

padepokan itu tidak memberikan isyarat.

 

Karena para cantrik itu tidak segera menjawab, maka

Untarapun kemudian berkata, “ Baiklah. Aku akan segera ke

padepokan itu.”

Bagian 2

Glagah Putihpun tertawa pula. Dimana-mana dalam

kumpulan sekelompok anak-anak muda, tentu ada juga yang

nakal.

Ketika Glagah Putih kemudian berbaring dipembaringannya

sambil sekali-sekali berdesah menahan sakit,

cantrik itu telah menyelarak pintu dan ikut pula berbaring.

Bahkan sejenak kemudian, telah terdengar dengkur perlahanlahan

yang agaknya memang letih itu.

Tetapi Glagah Putih sendiri justru masih saja gelisah.

Perasaan sakit masih saja terasa menggigit dilukanya.

Agaknya perasaan sakit itu timbul karena obat yang justru

mulai bekerja.

Dihari yang kemudian menjadi semakin cerah. Kiai Gringsing

telah memberikan beberapa perintah. Beberapa orang

cantrik telah mendapat tugasnya masing-masing. Dua orang

akan menghadap Ki Untara untuk melaporkan apa yang terjadi

di padepokan itu, serta mohon beberapa orang prajurit untuk

mengambil orang-orang yang tertawan. Dua orang agar

menghubungi Ki Widura, dan atas persetujuan Agung Sedayu

dan Sekar Mirah, dua orang akan pergi ke Sangkal Putung

untuk memberitahukan bahwa Agung Sedayu dan Sekar

Mirah tidak dapat datang pada hari itu.

“ Kalian dapat melaporkan apa yang telah terjadi apa

adanya. “ pesan Kiai Gringsing “ jangan mengarang ceritera

sendiri, atau menyembunyikan kenyataan dengan sengaja. “

Demikianlah sejenak kemudian para cantrik itupun telah

berangkat ketujuan masing-masing. Tetapi karena jarak yang

mereka tempuh tidak sama, maka merekapun tidak

bersamaan sampai ketujuan.

Yang paling cepat sampai adalah dua orang cantrik yang

harus menghadap Ki Untara. Untunglah bahwa Ki Untara

masih ada dirumahnya, sehingga keduanya langsung sempat

menghadap.

 

Laporan kedua orang cantrik itu memang mengejutkan.

Dengan serta merta Untara bertanya “ Kenapa kalian tidak

memberikan isyarat kepada kami? “

Kedua orang cantrik itu saling berpandangan. Kemudian

seorang diantaranya menjawab “ Kami tidak tahu pasti,

apakah sebabnya Kiai Gringsing tidak memerintahkan untuk

memberikan isyarat. Namun semula menurut perhitungan

kami, kami dapat mengatasi sendiri atas orang-orang yang

datang itu. “

“ Tetapi kalian harus memberikan korban terlalu banyak.

Jika kalian memberikan isyarat, maka kami akan dapat datang

dengan kekuatan yang lebih besar, sehingga kalian tidak perlu

mengorbankan seorangpun “ berkata Untara.

Kedua cantrik itu tidak menjawab. Mereka memang tidak

mendapat pesan untuk menyampaikan alasan, kenapa

padepokan itu tidak memberikan isyarat.

Karena para cantrik itu tidak segera menjawab, maka

Untarapun kemudian berkata “ Baiklah. Aku akan segera ke

padepokan itu. “

Dalam waktu singkat, maka Untarapun telah menyiapkan

sekelompok prajurit dari pasukan berkuda yang dapat

bergerak cepat. Selain padepokan yang berada dalam

lingkungan pengawasannya, Untara juga ingin melihat

keadaan adiknya, Agung Sedayu yang menurut kedua cantrik

itu justru telah terluka.

Karena itu, maka sejenak kemudian maka sekelompok

pasukan berkuda telah meninggalkan baraknya menuju ke

padepokan kecil yang tidak terlalu jauh letaknya.

Sementara itu, Ki Widura yang mendapat laporan tentang

padepokan Kiai Gringsing serta keadaan Glagah Putihpun

telah dengan tergesa-gesa pula pergi ke padepokan itu.

Apalagi ia telah pernah menyatakan kesediaannya untuk

berada dalam . padepokan itu pula. Sehingga karena itu,

selain anaknya telah terluka, maka iapun merasa

berkepentingan pula.

Yang sampai ketujuannya yang terakhir adalah dua orang

cantrik yang pergi ke Sangkal Putung. Kedua cantrik itu

berganti-ganti telah menceritakan apa yang telah terjadi di

 

padepokan, sehingga Agung Sedayu dan Sekar Mirah masih

belum

dapat datang ke Sangkal Putung pada hari itu.

“ Kakang Agung Sedayu menyampaikan pesan ini, agar

tidak menimbulkan kegelisahan di Sangkal Putung “ berkata

salah seorang dari kedua orang cantrik itu.

“ Jadi kakang Agung Sedayu telah terluka? “ berkata

Swandaru.

“ Ya. Bahkan agak parah. Glagah Putih juga terluka, tetapi

tidak begitu parah “ jawab cantrik ita.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun

menggeram “ Sayang. Aku tidak ada di padepokan itu. Jika

saja aku tahu, siapa yang telah melukai kakang Agung

Sedayu. “ -

“ Yang melukai kakang Agung Sedayu telah mati terbunuh “

jawab cantrik itu “ juga oleh kakang Agung Sedayu. “

“ Maksudku dari kelompok atau perguruan yang mana.

Adalah leakku, sehingga saudara seperguruan kakang Agung

Sedayu untuk menuntut balas. Apalagi orang-orang itu telah

berani memasuki padepokan guruku. Itu berarti bahwa

perguruan itu telah menyatakan perang terhadap kami. Bukan

salah kami jika kami datang dengan kekuatan untuk

menghancurkan mereka. Bukan hanya yang datang di

padepokan guru, ^ tetapi kami berhak memasuki padepokan

mereka dan menghancurkannya. “

Kedua cantrik itupun hanya dapat saling berpandangan.

Mereka tidak tahu, bagaimana harus menjawab. Namun

mereka tidak pernah mendengar rencana itu, baik dari

gurunya atau pernyataan sepatah kata saja dari Agung

Sedayu, keinginan untuk membalas dendam.

Sementara itu, maka Swandarupun kemudian berkata

kepada Pandan Wangi “ Aku akan pergi ke Jati Anom. Aku

ingin melihat keadaan kakang Agung Sedayu. “

“ Apakah aku diperkenankan ikut? “ bertanya Pandan

Wangi.

“ Sebaiknya kau tinggal dirumah. Jangan terlalu banyak

bepergian, apalagi berkuda “ jawab Swandaru.

 

Pandan Wangi mengangguk. Ia mengerti keberatan

suaminya, sehingga karena itu, maka katanya “ Baiklah

kakang. Tetapi berhati-hatilah. Jangan pergi seorang diri, “

“ Aku akan pergi bersama kedua orang cantrik ini “ jawab

Swandaru.

“ Jika kakang kembali kelak? “ bertanya Pandan Wangi.

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah. Aku

akan membawa dua pengawal bersamaku. “

“ Berhati-hatilah “ pesan Pandan Wangi “ agaknya yang

terjadi adalah pertentangan antara dua perguruan. Atau

bahkan lebih luas lagi. Karena perguruan di Jati Anom itu

adalah perguruan yang berdiri dipihak Mataram, kemudian

perguruan lainnya telah memusuhi Mataram. “

Swandaru tersenyum. Katanya “ Aku akan berhati-hati.

Demikianlah setelah minta ijin kepada Ki Demang, maka

Swandarupun telah berangkat bersama dua orang pengawal

terpilih dari Sangkal Putung.

Ternyata bahwa Swandaru memang sampai ke padepokan

gurunya yang terakhir. Justru pada saat Untara telah bersiap

untuk membawa para tawanan kembali ke baraknya.

“ Marilah, silahkan “ para cantrikpun telah mempersilahkan.

Swandaru sempat bertemu dan berbicara dengan Untara

beberapa saat. Sementara Widurapun telah ikut menemuinya

pula.

“ Agung Sedayu telah terluka didalam “ berkata Untara.

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya “ Aku telah

memperingatkan, agar kakang Agung Sedayu bersedia

mempergunakan waktunya cukup untuk meningkatkan

ilmunya. Pada saat-saat seperti ini, barulah terasa bahwa

meningkatkan ilmu

akan sangat berarti bagi seseorang yang dengan sengaja

menempatkan dirinya pada jajaran olah kanuragan,

dimanapun ia berpihak. “

Untara mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia

berkata “ Padepokan ini juga tidak memberikan isyarat apaapa.

 

Untara dan Widura masih juga sempat bersama-sama

Swandaru menemui Kiai Gringsing dan kemudian melihat

keadaan Agung Sedayu bersama gurunya yang sedang sakit

itu.

Demikian Swandaru berdiri disisi pembaringannya, Agung

Sedayu tersenyum sambil berdesis “ Kau, adi Sandaru. “

Ya kakang “ jawab Swandaru “ aku telah mendengar

tentang peristiwa yang terjadi di padepokan ini dari dua orang

cantrik yang datang ke Sangkal Putung. “

“ Itulah yang terjadi disini “ desis Agung Sedayu.

Swandaru mengangguk-angguk. Kepada gurunya ia

bertanya “ Tetapi bukankah luka Kakang Agung Sedayu tidak

sangat berbahaya? “

Kiai Gringsing menggeleng. Jawabnya “ Luka Agung

Sedayu tidak membahayakan jiwanya asal ia mendapat

perawatan yang baik. “

Swandaru mengerutkan keningnya. Katanya “ Jadi luka

kakang Agung Sedayu benar-benar parah? “

Kiai Gringsing mengangguk kecil. Tetapi katanya “ Tetapi

aku yakin, bahwa ia akan dapat sembuh sebagaimana

keadaannya sebelumnya. Sebaiknya kita selalu berdoa

untuknya. “

Swandaru mengangguk-angguk. Ketika ia sempat

memandang wajah adiknya, maka nampak bahwa matanya

menjadi pengab. Agaknya Sekar Mirah telah menangis

betapapun ia mencoba menahannya. “

Beberapa saat kemudian, Kiai Gringsingpun telah mempersilahkan

tamu-tamunya meninggalkan bilik Agung Sedayu dan

berkata “ Biarlah ia beristirahat sebanyak-banyaknya. “

Merekapun kemudian telah duduk kembali di pendapa.

Sementara Untarapun telah minta diri untuk membawa para

tawanan ke baraknya di Jati Anom, termasuk mereka yang

terluka.

Kepada Kiai Gringsing Untarapun berkata “ Nanti sore , aku

akan kembali, Kiai. “

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dengan nada rendah

ia menyahut “ Terima kasih ngger. Jika angger sering

menengok, Agung Sedayu akan berbesar hati. “

 

Sepeninggal Untara, maka padepokan itu mengkhususkan

kesibukan mereka dengan persiapan penguburan orang-orang

yang terbunuh. Sebagian besar dari orang-orang yang

menyerang padepokan itu telah memilih mati atau tidak

mampu lagi melawan daripada menyerah. Namun dalam pada

itu, tiga orang cantrikpun telah gugur, sementara beberapa

orang yang lain telah terluka.

Di pendapa Widura duduk bersama Swandaru, sementara

Kiai Gringsing telah berada didalam biliknya kembali. Kiai

Gringsing telah mengatur dirinya sendiri, untuk selalu mencari

kesempatan beristirahat dalam kesibukan yang bagaimanapun

juga.

“ Paman “ berkata Swandaru kepada Widura “ nampaknya

kakang Agung Sedayu bertempur dalam keadaan Seimbang

dengan lawannya. Untunglah bahwa kakang Agung Sedayu

masih dapat membunuh lawannya meskipun keadaannya

sendiri menjadi parah. “

“ Ya “ Ki Widura mengangguk-angguk. Lalu “ Kita wajib

bersukur. “

“ Satu pelajaran bagi kakang Agung Sedayu. “ desis

Swandaru “ ia memang harus berusaha keras untuk

meningkatkan ilmunya. “

“ Menurut pendapatku, ditakar dari umurnya, kemampuan

Agung Sedayu terhitung mencuat tinggi. Ia memiliki macammacam

kemampuan untuk melindungi dirinya “ berkata

Ki Widura.

“ Itulah justru kesalahan kakang Agung Sedayu “ berkata

Swandaru “ ia terlalu ingin memiliki segala jenis ilmu. Namun

sebagaimana biasa, jika perhatian kita terpecah-pecah, maka

kita tidak mampu dapat mencapai kedalaman ilmu itu. Aku

mempunyai sikap yang lain. Aku telah memperdalam ilmu

yang aku terima dari guru. Tanpa menghiraukan yang lain.

Namun dengan demikian, aku dapat mencapai kedalamannya,

meskipun belum sempurna. Sekarang aku sedang berusaha

untuk mencapai tingkat tertinggi dari jenis ilmu yang aku

pelajari meskipun aku harus merambat setapak demi setapak.

 

Ki Widura mengangguk-angguk. Ia memang sudah

mendengar sikap Swandaru terhadap Agung Sedayu, yang

menyangka bahwa kakak seperguruannya itu kurang

bergairah untuk meningkatkan ilmunya, serta dianggapnya

terlalu banyak mempelajari berjenis-jenis ilmu yang justru

kurang penting bagi perkembangannya.

Karena itu, untuk selanjutnya Widura yang sudah semakin

tua itupun lebih banyak mendengarkan apa yang dikatakan

oleh Swandaru dari pada menyatakan pendapatnya. Sekalisekali

saja ia menjawab dan mencoba untuk mengurangi

penilaian yang kurang sewajarnya dari Swandaru terhadap

Agung Sedayu. Namun selebihnya ia hanya menganggukangguk

saja.

Dalam pada itu, maka kesibukan di padepokan itupun

kemudian memuncak ketika para cantrik membawa korban

korban yang telah terbunuh di peperangan, khususnya mereka

yang telah menyerang padepokan itu. Karena penguburan dari

para cantrik yang gugur akan dilakukan tersendiri.

Untara yang telah sampai di baraknya ternyata telah

mengirimkan pula sekelompok prajurit untuk membantu

kesibukan di padepokan kecil itu, agar segala sesuatunya

dapat berlangsung dengan cepat. Apalagi Untara mengerti,

bahwa orang-orang terpenting dari padepokan itu justru

terluka dan Kiai Gringsing sendiri sedang terganggu

kesehatannya.

Bantuan Untara itu sangat berarti bagi padepokan kecil itu.

Dengan demikian maka kerja merekapun menjadi lebih

cepat selesai, sementara sebagian dari para cantrik itu dapat

membenahi halaman dan kebun dari padepokan yang rusak

oleh mereka yang bertempur di padepokan itu.

Di pendapa Widurapun kemudian bertanya kepada

Swandaru “ Bukankah angger tidak tergesa-gesa kembali ke

Sangkal Putung? “

Swandaru merenung sejenak. Kemudian iapun berkata

dengan datar. “ Ya. Aku akan tinggal satu dua hari di

padepokan ini. Mungkin orang-orang yang merasa gagal

menghancurkan padepokan ini akan kembali dengan orangorang

yang lebih tua tataran ilmunya sekaligus untuk

 

membalas dendam. Karena itu, barangkali paman juga akan

berada di padepokan ini? “

Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Ya. Akupun

akan berada di padepokan ini sampai keadaan menjadi baik

dan meyakinkan. Ternyata luka Glagah Putih memerlukan

waktu untuk menyembuhkannya, meskipun agaknya luka

diluar itu akan lebih mudah dirawat daripada luka angger

Agung Sedayu.

Swandarupun mengangguk-angguk pula. Katanya “ Aku

percaya bahwa guru akan dapat mengatasinya meskipun guru

sendiri sedang sakit. “

“ Agaknya memang demikian “ sahut Ki Widura yang yakin

pula akan kemampuan Kiai Gringsing dalam ilmu obat-obatan.

Bahkan iapun kemudian bertanya kepada Swandaru “ Apakah

angger Swandaru tidak tertarik pada ilmu obat-obatan

sebagaimana dimiliki oleh Kiai Gringsing? “

Swandaru tertawa kecil. Katanya “ Aku tidak telaten paman.

Tetapi entahlah dengan kakang Agung Sedayu. Mungkin

kakang Agung Sedayu akan mampu mewarisi ilmu obatobatan

dari guru. “

Ki Widura mengangguk-angguk. Agaknya Swandaru

memang tidak memiliki sifat seorang ahli dalam hal obatobatan,

karena wataknya. Ia tidak akan telaten memilih

berjenis-jenis

dedaunan dan akar-akar pepohonan yang akan dapat

diramu menjadi obat obatan. Sedangkan reramuannyapun

berbeda-beda dari antara berbagai macam obat untuk

kepentingan yang berbeda-beda pula.

Beberapa saat kemudian maka upacara penguburan para

cantrik yang gugurpun akan segera dilakukan setelah para

cantrik dan sekelompok prajurit yang dikirim oleh Untara

selesai menguburkan orang-orang yang menyerang

padepokan itu, yang terbunuh dipertempuran.

Karena itulah, maka seisi padepokan kecil itu, serta para

prajurit yang ada di padepokan itupun telah memberikan

penghormatan yang terakhir. Para cantrik yang terbunuh itu

adalah korban dari langkah-langkah yang tidak bertanggung

jawab dari orang-orang yang masih belum dikenal dengan

 

pasti, siapakah mereka itu, selain pemimpinnya yang

mengaku pewaris ilmu perguruan Worsukma. Para penghuni

padepokan itu hanya dapat menduga-duga, apakah alasan

orang-orang yang tidak dikenal itu menyerang padepokan Kiai

Gringsing. Hal itu agaknya dilakukan dalam rangkaian kemelut

antara Mataram dan Madiun.

Kiai Gringsing yang sakit itu memerlukan turun pula ke

halaman. Memberikan sesorah singkat untuk mengantar tubuh

para cantrik yang gugur itu ke makam. Sekar Mirah dan

Glagah Putih ikut pula memberikan penghormatan yang

penghabisan. Hanya Agung Sedayu sajalah yang terpaksa

masih tetap berbaring di biliknya karena keadaannya yang

tidak memungkinkan untuk ikut turun ke halaman padepokan

itu, serta para cantrik yang terluka parah.

Ketika para keluarga cantrik yang gugur itu apalagi

perempuan menyaksikan tubuh-ubuh yang beku itu dibawa

keluar dari padepokan, maka bagaimanapun juga tabah hati

mereka, namun air matapun telah menitik dari sela-sela

pelupuk mereka.

Dengan lembut Kiai Gringsing berusaha untuk menghibur

hati mereka. Walaupun Kiai Gringsing mengerti sepenuhnya

bahwa perpisahan yang demikian itu tentu menimbulkan

kepedihan di hati.

“ Yang Maha Kuasa telah memanggil mereka “ berkata Kiai

Gringsing.

Keluarga para cantrik itu mencoba untuk mengerti.

“ Sebab yang dipergunakan itupun merupakan sebab

kematian yang terhormat, “ berkata Kiai Gringsing selanjutnya.

Para keluarga itupun masih saja mengangguk-angguk.

“ Nah, silahkan naik ke pendapa. “ Kiai Gringsingpun

kemudian mempersilahkan.

Sebagian dari mereka memang naik ke pendapa, tetapi ada

yang ingin langsung kembali ke padukuhan. Karena pada

umumnya mereka adalah orang-orang dari padukuhan-padukuhan

disekitar Jati Anom yang telah memberikan

kesempatan kepada anak-anaknya untuk tinggal di

padepokan, mempelajari beberapa hal tentang kehidupan.

 

Mengenal huruf, mengenal kerja keras dan sedikit mengenal

olah kanuragan.

Namun pada suatu saat mereka mendapat pemberitahuan

bahwa anak-anaknya itu telah gugur karena padepokan kecil

itu telah diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal.

Selain keluarga mereka yang gugur, maka keluarga mereka

yang terlukapun telah datang untuk menengok para cantrik itu.

Kepada mereka Kiai Gringsing berjanji akan berusaha sebaikbaiknya

agar mereka yang terluka itu dapat sembuh

secepatnya.

“ Kita akan selalu berdoa “ berkata Kiai Gringsing “ mudahmudahan

mereka akan segera dapat pulih kembali seper-si

sediakala. “

Padepokan kecil itu memang diliputi oleh suasana yang

muram, Namun para penghuninya ternyata telah

mendapatkan satu pengalaman yang sangat berharga.

Pengalaman untuk mempertahankan hak mereka. Namun

pengalaman itu harus dibeli dengan harga yang sangat mahal.

Beberapa orang cantrik telah gugur. Agung Sedayu terluka

cukup paran. Sedangkan Glagah Putihpun harus mengalami

pengobatan yang cukup berat, karena sebuah biji besi yang

bersarang didalam dagingnya.

Akhirnya upacara itupun telah selesai. Ketika para keluarga

dan para prajurit telah meninggalkan padepokan itu, maka

padepokan itupun telah menjadi lengang kembali. Para

cantriklah yang kemudian sibuk membantu Kiai Gringsing

merawat orang-orang yang terluka.

Dalam pada itu, Untara di barak khusus telah mulai

memeriksa orang-orang yang tertawan. Tetapi karena pada

umumnya mereka adalah pengikut-pengikut orang yang

menyebut dirinya Singapati itu, maka mereka memang tidak

dapat memberikan keterangan.

“ Apakah Singapati. benar-benar orang dari perguruan

Worsukma? “ bertanya Untara kepada salah seorang

tawanan.

“ Ya “ jawab tawanan itu “ sebagian dari kami adalah orangorang

dari padepokan Worsukma. “

 

“ Apa yang pernah dikatakan oleh Singapati tentang

penyerbuan itu? “ bertanya Untara pula.

“ Mataram juga pernah menyerang salah satu padepokan

dari sebuah perguruan sahabat kami “ jawab orang itu. Lalu “

Nagaraga telah dihancurkan. “

“ Siapakah pemimpin padepokan Worsukma sekarang? “

desak Untara.

“ Singapati yang disebut Elang Baja. “ jawab tawanan

itu.

“ Gurunya, yang disebut sebagai orang yang telah mewaris

kan ilmu dari perguruan Worsukma itu? “ desak Untara pula.

Tawanan itu termangu-mangu. Tidak ada niat baginya

untuk berbohong. Ia tahu, bahwa pemimpinnya yang bernama

Singapati itu telah terbunuh, sehingga memang tidak ada lagi

yang harus dirahasiakan. Jika ada satu dua orang kawannya

yang melarikan diri dan kembali ke padepokan, maka

padepokan itu tidak akan mampu bangkit lagi. Dua orang yang

berilmu tinggi telah terbunuh di padepokan kecil di Jati Anom

itu.

Beberapa pertanyaan lain memang dijawab dengan lancar.

Namun Untara tidak dapat menemukan jalur keterangan

yang dapat menghubungkan serangan orang-orang

Worsukma itu dengan langkah-langkah yang diambil oleh

Panembahan Madiun, meskipun hubungan itu dapat dilihatnya

dalam pembicaraan pembicaraan yang panjang. Tetapi

tawanan itu tidak dapat mengatakan lebih banyak dari yang

dikatakannya, bahwa Singapati memang pernah bertemu dan

berbicara dengan Panembahan Madiun. Hanya itu.

Untarapun tidak memaksa dengan cara yang keras untuk

mendapat keterangan lebih banyak lagi. Memang tidak ada

yang dapat mereka katakan lebih banyak dari yang telah

mereka katakan meskipun darah mereka diperas sampai

habis sekalipun. Hal ini hanya akan menghabiskan waktu saja

dan tidak akan berarti apa-apa.

Menjelang senja Utara diikuti oleh sekelompok prajurit telah

mengadakan pengamanan keliling di daerah Jati Anom. Selain

menilai keadaan, Untarapun ingin singgah barang sebentar

untuk menengok adiknya yang terluka cukup parah.

 

Menurut perhitungan Untara yang mengakui bahwa adiknya

memang berilmu tinggi, maka orang yang dibunuhnya itupun

tentu pemimpin dari sebuah perguruan dan telah memiliki ilmu

tinggi pula. Ternyata ia mampu melukai adiknya sehingga

demikian parahnya.

Ketika hari mulai gelap, maka Untara yang mengelilingi

daerah Jati Anom itu telah sampai di padepokan Kiai

Gringsing. Iapun kemudian singgah bersama-sama prajuritnya

yang menyertainya.

Ternyata bahwa keadaan Agung Sedayu sudah berangsur

baik. Bahkan Agung Sedayu telah mau makan meskipun baru

beberapa suap nasi hangat. Namun dengan demikian, ia tidak

-menjadi terlalu lemah.

“ Kau akan segera baik “ berkata Untara ketika ia duduk di

bibir pembaringan adiknya, sementara Sekar Mirah, Swandaru

dan Glagah Putih duduk di sebelah lincak kecil.

“ Kiai Gringsing berharap bahwa dalam waktu kurang

dari sepekan keadaannya sudah akan baik kembali kakang

“ berkata Sekar Mirah.

Untara mengangguk-angguk. Katanya “ Kiai Gringsing yang

sangat berpengalaman itu tentu dapat memperhitungkan

kemungkinan itu. Seandainya belum sepenuhnya,maka

keadaan nya tentu sudah menjadi jauh lebih baik. “

“ Ya kakang “ sahut Sekar Mirah. Lalu katanya “ Menurut

Kiai Gringsing, lawan kakang Agung Sedayu dari perguruan

Worsukma itu memiliki kekuatan yang luar biasa besarnya.

Sehingga karena itu, maka bagian dalam kakang Agung

Sedayulah yang menjadi parah. Namun kekeliruan utama dari

kekuatan itu telah dapat diatasi siang tadi menjelang sore hari.

Demikian padepokan ini menjadi tenang kembali, maka

kakang Agung Sedayu berada dalam goncangan-goncangan

luka-lukanya. Tubuhnya menjadi panas dan detak jantungnya

melemah.

Untara mengangguk-angguk. Sementara Sekar Mirah

meneruskan “ Untunglah bahwa obat yang diberikan oleh Kiai

Gringsing dapat membantu kakang Agung Sedayu

mengatasinya. “

“ Kita wajib mengucapkan sokur “ desis Untara.

 

“ Ya. Kakang. Kita wajib mengucap sukur “ desis Sekar

Mirah sambil menundukkan kepalanya.

Untarapun kemudian berpaling kepada» Glagah Putih, Ia

melihat wajah sepupunya itu masih juga pucat. Dengan nada

rendah ia bertanya “ Bagaimana keadaanmu? “

“ Sudah baik, kakang “ jawab Glagah Putih,

“ Sokurlah. Satu pengalaman buatmu. Kaupun harus

mampu menilai apa yang telah terjadi “ pesan Untara.

Glagah Putih mengangguk kecil. Sementara itu, Untarapun

kemudian bersama Swandaru telah keluar dari bilik itu dan

duduk di ruang dalam bersama Kiai Gringsing dan Ki Widura.

Beberapa lama ia masih berbincang tentang -keadaan Agung

Sedayu yang lukanya memang parah. Namun masa yang

paling sulit telah berhasil dilaluinya. Sebagaimana dikatakan

oleh Sekar

Mirah, maka Kiai Gringsing pun mengatakan demikian pula.

Beberapa saat kemudian maka Untarapun telah minta diri.

Kepada Kiai Gringsing ia mengulangi pesan yang pernah

diberikan sebelumnya. Jika terjadi sesuatu di padepokan itu

Kiai Gringsing dapat memerintahkan untuk membunyikan

kentong-an dengan nada khusus. Pasukannya yang

ditempatkan di tempat-tempat tertentu tidak jauh dari

padepokan itu akan dapat dengan cepat datang membantu.

“ Ya ngger “ jawab Kiai Gringsing “ kami mengucapkan

terima kasih. “

“ Kiai dapat menghindari korban lebih banyak lagi dari pada

penghuni di padepokan ini. Para cantrik yang baru mulai pada

tataran pertama dari olah kanuragan, tidak harus bertempur

melawan orang-orang yang sudah berpengalaman, apalagi

mereka yang memang memiliki dorongan untuk sekedar

membunuh “ berkata Untara.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk sambil menjawab “

Baiklah ngger. Kami akan melakukannya. “

Demikianlah maka Untarapun telah minta diri. Kepada

Swandaru ia sempat minta agar menyempatkan diri barang

sejenak untuk singgah.

“ Terima kasih “ berkata -Swandaru “ aku akan menyisihkan

waktu untuk singgah. Besok atau lusa. Aku akan berada disini

 

sampai keadaan pulih kembali dan kemungkinankemungkinan

balas dendam atas kematian para penyerbu itu

menjadi semakin kecil. Apalagi sejak paman Widura berada di

padepokan ini, agaknya kami di padepokan ini akan menjadi

semakin mantap. “

Untarapun mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun

telah minta sekali lagi dan bersama dengan prajurit-prajuritnya

meninggalkan padepokan itu, sementara malampun menjadi

bertambah pekat.

Padepokan kecil yang baru saja mendapat serangan

sehingga beberapa orang korban telah jatuh itupun telah

mengadakan

penjagaan yang sebaik-baiknya. Pengawasan yang

sungguh-sungguh dilakukan disemua sudut padepokan. Para

cantrik yang bertugas tidak lagi seorang-seorang, tetapi selalu

berpasangan.

Dalam pada itu, Swandaru dan Ki Widura telah menengok

Agung Sedayu yang telah dapat tidur lelap. Meskipun kadangkadang

kegelisahan nampak juga di wajahnya, tetapi sejenak

kemudian iapun telah menjadi tenang kembali.

Sementara itu Sekar Mirah menungguinya dengan penuh

perhatian. Sekali-sekali diusirnya nyamuk yang berterbangan

di sekitar wajah Agung Sedayu dengan tebah sapu lidi kecil.

“ Glagah Putih tidak disini? “ bertanya Widura.

“ Ia berada di bilik para cantrik “ jawab Sekar Mirah “

Glagah Putihpun masih harus banyak beristirahat pula. “

Widura mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian

berpesan “ Selagi Agung Sedayu tidur nyenyak, kaupun dapat

tidur pula. Jangan terlalu banyak berjaga-jaga. Kaupun tentu

letih juga karena kaupun telah mengalami pertempuran yang

keras dan memeras tenaga. “

“ Ya Paman “ jawab Sekar Mirah sambil menunduk. Namun

keadaan Agung Sedayu memang tidak sangat

menggelisahkan lagi.

Sepeninggal Ki Widura dan Swandaru maka Sekar Mirahpun

telah menyelarak pintu dan mencoba berbaring di lincak

yang terdapat didalam ruang itu pula. Ternyata bahwa Sekar

Mirah memang letih sekali. Karena itu, maka beberapa saat

 

kemudian iapun telah tertidur, meskipun setiap kali ia telah

terbangun untuk melihat keadaan Agung Sedayu. Tetapi

Agung Sedayu tidak banyak terbangun dimalam hari. Ia hanya

minta minum sekali lewat tengah malam. Kemudian iapun

telah tidur lagi dengan tenang.

Widura dan Swandaru tidak segera masuk kedalam bilik

mereka. Keduanya telah melihat-lihat kesiagaan para cantrik

yang bertugas.

“ Nampaknya para cantrik itu juga mempunyai ketabahan

yang tinggi “ berkata Swandaru.

“ Mereka nampak bersungguh-sungguh dalam tugas “ desis

Widura.

“ Agaknya memang lebih mudah untuk menuntun para

cantrik dari pada para pengawal dan anak-anak muda di

Kade-mangan. Seorang cantrik dengan tegas dan pasti telah

menempatkan diri di sebuah padepokan siang dan malam.

Jika mereka pergi kesawah atau pategalan, maka sawah dan

pategalan yang mereka garap adalah sawah dan pategalan

bagi padepokannya. Karena itu, maka mereka merupakan

satu lingkungan yang sangat akrab. “ berkata Swandaru.

“ Ya. Namun mereka juga tidak akan dapat meninggalkan

kodrat manusiawinya. Cantrik-cantrik muda itu pada satu saat

akan meninggalkan padepokan ini meskipun tentu ada yang

akan tetap tinggal. Mereka akan berumah tangga dan hidup

dalam keluarga-keluarga mereka masing-masing. Disini

mereka sekedar menuntut berbagai macam pengetahuan. “

berkata Ki Widura. Tetapi iapun melanjutkan “ Namun ada

juga padepokan yang memberikan tempat bagi keluarga para

cantrik. Tetapi ada padepokan yang membiarkan para

cantriknya yang sudah berkeluarga tinggal di rumah masingmasing.

Namun dalam keadaan tertentu para cantrik itu akan

berada di padepokan. “

“ Tetapi agaknya disini tidak ada seorang cantrikpun “

berkata Swandaru.

Ki Widura menggeleng. Katanya “ Biasanya hanya pada

sebuah padepokan yang dipimpin oleh sepasang suami isteri

terdapat dan mentrik sekaligus. Itupun dengan gawar yang

memisahkan lingkungan mereka masing-masing. Bahkan para

 

putut-pun kadang-kadang tinggal pula bersama keluarganya di

padepokan itu. “

Swandaru mengangguk-angguk. Meskipun ia juga bergurau

sebelumnya kepada seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi,

tetapi Swandaru tidak pernah tinggal di padepokan sebelumnya.

Namun sambil tersenyum iapun kemudian berkata “

Jika demikian seandainya kelak kakang Agung Sedayu dan

Sekar Mirah akan menggantikan pimpinan di padepokan ini,

maka padepokan ini tidak saja menerima anak-anak muda

untuk menyadap berbagai macam pengetahuan, termasuk

mengenal huruf, sedikit ilmu pengobatan dan olah kanuragan,

tetapi akan diterima pula beberapa anak perempuan yang

akan menjadi mentrik disini. -

Ki Widurapun tersenyum. Katanya “ Bukannya tidak

mungkin. Sekar Mirah akan dapat memimpin para mentrik

sementara Agung Sedayu akan mengurusi para cantrik. “

Swandaru tertawa. Katanya “ Bagus. Mungkin kakang

Agung Sedayu sudah memikirkan pula. “

Ki Widurapun tertawa pula. “

“ Paman “ berkata Swandaru kemudian “ agaknya di

padukuhan akan dapat dilakukan hal yang serupa. Kelak, jika

anak Pandan Wangi lahir, biarlah ia memilih beberapa orang

anak perempuan yang akan dapat membantu anak-anak

muda di Kademangan Sangkal Putung. Namun sebagaimana

paman ketahui bahwa hidup di padukuhan itu masalahnya

akan lebih rumif, karena orang-orang padukuhan menghadapi

semua segi kehidupan. Mencari makan, mengurusi sawah dan

ternak, kerukunan bertetangga dan saling membantu bagi

setiap kebutuhan, apalagi kebutuhan bersama. Jika seseorang

atau sebuah keluarga mempunyai niat untuk

menyelenggarakan keramaian karena anaknya akan menjadi

pengantin misalnya, maka hampir semua orang di padukuhan

ikut terlibat. Hal yang tidak terjadi di padepokan. Karena jika

seseorang akan kawin, justru ia akan meninggalkan

padepokan ini dan kesibukan itu terjadi dirumah-nya, bersama

tetangga-tetangganya. “

Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Itulah agaknya

sebab yang mendorong beberapa orang mengirimkan

 

anaknya ke sebuah padepokan. Anak itu akan terbebas dari

kesibukan-kesibukan lain dan dengan tekun dan bersungguhsungguh

menimba ilmu dan pengetahuan yang diperlukan,

sebagai bekal hidupnya kelak. Karena padepbkan yang

baik bukannya sekedar sarang ilmu kekerasan. Tetapi juga

kemampuan-kemampuan yang lain termasuk tata cara bertani

dengan baik dan bagaimana harus berternak dengan benar. “

“ Ya paman “ Swandaru mengangguk-angguk.

“ Juga bukan satu ikatan mati, bahwa orang-orang yang

telah memasuki padepokan itu tidak akan pernah dapat keluar

lagi. Bahkan sebuah padepokan dijadikan sebagai himpunan

kekuatan sekelompok orang dengan kesetiaan yang mati pula,

apapun yang diperintahkan oleh pemimpin padepokannya.

Tetapi juga bukan berarti bahwa di padepokan tidak ada

paugeran dan ketaatan pada paugeran itu. “ berkata Ki

Widura.

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya “ Paman telah

mempelajari dengan saksama kehidupan sebuah padepokan.

Agaknya paman adalah orang yang tepat untuk memimpin

padepokan kecil ini. Namun tidak semua padepokan dipimpin

oleh orang yang mempunyai penalaran seperti paman tentang

sebuah padepokan. Kita mengenal padepokan sebagai satu

kumpulan orang yang terlibat oleh satu paugeran orang-orang

yang telah kehilangan pribadi masing-masing. Apapun yang

diperintahkan oleh pemimpin padepokan, adalah paugeran

dan kebenaran. Siapa yang menolak, apalagi menentang,

maka tidak ada pilihan lain kecuali masuk keliang kubur. “

Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Agaknya orangorang

yang demikian itu pulalah telah memasuki dan

menyerang padepokan ini. “

Demikianlah, maka ketika mereka telah berbicara panjang,

keduanyapun telah berada di regol padepokan. Untuk

beberapa saat keduanya duduk di gardu kecil di sebelah regol

yang tertutup rapat itu bersama para cantrik yang bertugas.

Namun kemudian keduanyapun telah meninggalkan gardu itu

pula sambil berpesan “ Berhati-hatilah. “

Ki Widura dan Swandaru baru tertidur menjelang dini hari.

Namun waktu yang singkat itu telah membuat tubuh mereka

 

menjadi segar kembali. Karena itulah maka ketika matahari

terbit, keduanya telah mandi dan berbenah diri.

Tidak ada sesuatu yang terjadi malam itu. Ketika Ki Widura

dan Swandaru menengok keadaan Agung Sedayu, maka

keadaan Agung Sedayupun sudah menjadi lebih baik.

Sementara itu Glagah Putihpun telah berada dibilik itu pula.

Lukanya sendiri juga sudah bertambah baik sehingga tidak

lagi terasa sangat sakit.

“ Kau akan segera sembuh kakang “ berkata Swandaru.

Lalu katanya “ Jika kelak kau kembali ke Tanah Perdikan, kau

dapat membawa kitab guru. Tidak hanya untuk tiga bulan.

Tetapi kau dapat mempergunakannya lebih dari itu agar kitab

itu dapat memberikan gairah kepadamu untuk meningkatkan

ilmumu. “

Agung Sedayu tersenyum. Katanya “ Terima kasih. Aku

akan mencoba melakukannya. “

Sekar Mirah hanya menarik nafas dalam-dalam. Menurut

penilaiannya, ilmu Agung Sedayu sudah terlalu tinggi

dibandingkan dengan ilmu kakangnya yang agak gemuk itu.

Tetapi ia memang tidak ingin membuat kakangnya kecewa,

sebagaimana Agung Sedayu sendiri juga tidak mengatakan

apa-apa, bahkan ia telah mengiakannya.

Tetapi memang ada juga pertimbangan dihati Sekar Mirah,

bahwa apakah bijaksana jika ia tidak mengatakan yang

sebenarnya dan membiarkan kakaknya mempunyai penilaian

yang salah?

Namun ternyata bahwa Sekar Mirah hanya menundukkan

kepalanya saja.

Dalam pada itu keadaan padepokan itupun seakan-akan

telah menjadi tenang kembali. Tidak lagi nampak wajah-wajah

para cantrik yang tegang dan langkah-langkah yang tergesagesa.

Tidak pula nampak persiapan yang berlebih-lebihan,

meskipun para cantrik itu tetap waspada. Di siang hari

penjagaan memang dapat dikurangi jumlahnya, namun tetap

dalam kesiagaan tertinggi. Yang bertugas di malam hari,

mendapat kesempatan untuk beristirahat.

Namun beberapa orang cantrik tidak boleh melupakan

 

tugas-tugas mereka di sawah dan pategalan. Sedangkan

beberapa orang yang lain bekerja di kebun dan belumbang.

Swandaru ternyata sempat memperhatikan belumbang

yang-, dipelihara para cantrik. Satu hal yang belum

dikembangkan di Kademangan Sangkal Putung. Meskipun

ada juga orang membuat belumbang, tetapi belum memakai

cara sebagaimana dipergunakan oleh para cantrik di

padepokan itu, sehingga belumbang itu benar-benar mampu

mencukupi kebutuhan ikan air bagi para cantrik di padepokan

itu.

Karena itu, maka Swandaru nampaknya memang tertarik

kepada belumbang yang berisi ikan, namun yang seakan-akan

telah dibuat bersusun. Sedangkan air didalam belumbang itu

nampaknya tetap bergerak.

Ternyata bahwa selama Swandaru berada di padepokan itu

tidak terjadi sesuatu yang penting. Untara telah datang pula

dihari berikutnya ke padepokan itu. Tetapi ia tidak

mendapatkan banyak keterangan dari orang-orang yang

tertawan, betapapun Untara berusaha.

“ Pengetahuan mereka tentang perguruan Worsukma

benar-benar terbatas “ berkata Untara ketika ia menemui Kiai

Gringsing.

“ Ya. Kita mengerti “ jawab Kiai Gringsing “ Namun satu hal

yang perlu kita perhatikan, bahwa Madiunpun telah mengambil

langkah-langkah yang lebih maju lagi dibidang keprajuritan.

Sementara sampai saat ini masih belum terdapat berita, kapan

dan dimana Panembahan Senapati dapat bertemu dengan

Panembahan Madiun untuk menyelesaikan persoalan diantara

mereka. “

“ Menurut pendengaranku, Panembahan Madiunlah yang

masih berkeberatan “ jawab Untara “ tetapi agaknya di

sekeliling Panembahan Madiun memang terdapat orang-orang

yang menginginkan kekacauan terjadi di Mataram dan

lingkungannya. Mereka akan dapat meneguk keuntungan dari

peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi kemudian. Bahkan baru

kemarin aku menerima perintah dari Panembahan Senapati

untuk

menyiapkan prajurit dalam kesiagaan tertinggi. “

 

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sementara itu

dipandanginya Untara dengan tajamnya. Suaranya menjadi

berat “ Jadi ada perintah baru dalam hubungannya dengan

Madiun? “

“ Ya, Kiai. “ jawab Ki Untara.

“ Jika demikian, maka kita semuanya memang harus

bersiap. Tetapi apakah angger telah melaporkan apa terjadi di

padepokan ini? “ bertanya Kiai Gringsing.

“ Belum “ jawab Untara “ mungkin aku memang agak

lamban. Tetapi aku ingin keterangan yang cukup, sehingga

laporanku tidak justru seperti sebuah teka-teki. “

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Jika

demikian maka angger memang harus mempersiapkan diri

sebaik-baiknya. Bahkan mungkin petugas sandi dari Mataram

telah mencium rencana gerakan yang lebih luas dari Madiun

yang kurang disadari atau bahkan diluar pengetahuan dan

kendali Panembahan Madiun sendiri. Atau satu dua orang

telah berhasil membujuk Panembahan untuk melakukan

gerakan itu. “

“ Banyak kemungkinan dapat terjadi “ berkata Untara “ dua

orang penghubung dari Mataram tidak memberikan perincian

perintah itu. “

Kiai Gringsingpun kemudian telah berpaling kepada

Swandaru yang ikut dalam pertemuan itu. Katanya “ Kau

dengar keterangan angger Untara itu? Nah, jika demikian

maka Sangkal Putungpun harus bersiap-siap. Kau telah

menyusun kekuatan para pengawal sebagaimana susunan

sepasukan prajurit. Karena itu, maka dalam keadaan tertentu,

para pengawal dari Kademangan Sangkal Putungpun akan

dapat membantu. Setidak-tidaknya untuk mempertahankan

dan mengamankan wilayah Kademangan itu sendiri, karena

Sangkal Putung adalah satu Kademangan yang besar. “

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya “ Justru pada

saat aku harus bekerja sendiri. Pandan Wangi tidak akan

dapat

banyak membantu aku pada saat-saat terakhir ini. Namun

aku merasa berbahagia oleh keadaannya itu. “

 

“ Kau mempunyai beberapa orang pembantu pilihan “

berkata Kiai Gringsing.

“ Ya. Aku telah menempa sepuluh orang terbaik di padukuhan-

padukuhan yang termasuk Kademangan Sangkal Putung.

“ jawab Swandaru “ mudah-mudahan keadaan itu akan

cukup memadai. Dua orang yang menyertaiku kemari itu

adalah dua orang diantara mereka yang mempunyai tataran

terbaik di Sangkal Putung. “

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Lalu katanya “ Agung

Sedayupun harus segera sembuh dan kembali pula ke Tanah

Perdikan Menoreh.

“ Ya “ sahut Untara “ Jika ia sudah dapat berkuda pada

jarak jauh, ia memang sebaiknya kembali. Tetapi harus diingat

pula kemungkinan yang dapat terjadi di perjalanan “

“ Ya “ Kiai Gringsing mengangguk-angguk “ kemungkinan

yang tidak diinginkan memang dapat terjadi. “ Agaknya, jalan

ke Tanah Perdikan mengandung pula kemungkinan itu. “

Swandaru dan Ki Widura mengangguk-angguk pula.

Namun kemudian Swandarupun berkata “ Sebaiknya biarlah

kakang Agung Sedayu menunggu sampai keadaannya pulih

kembali. Meskipun ia akan menempuh perjalanan bersama

Glagah Putih dan Sekar Mirah, yang kedua-duanya memiliki

kemampuan olah kanuragan, namun agaknya suasana di

Mataram baru berkabut. “

Kiai Gringsing tidak menolak pendapat itu. Bahkan iapun

membenarkan, bahwa suasana di Mataram memang sedang

gawat. Karena itu, maka iapun kemudian berkata “ Aku akan

minta kepadanya untuk berbuat demikian. Perjalanan ke

Tanah Perdikan Menoreh memang tidak terlalu panjang, tetapi

di sepanjang jalan mereka harus benar-benar bersiaga dalam

kesiapan tertinggi. “

Dengan demikian maka agaknya Agung Sedayu masih

harus menunggu beberapa hari lagi. Karena itu maka

Agung Sedayu dan Sekar Mirah tidak akan dapat tinggal di

Sangkal Putung untuk waktu yang agak lama. Mereka justru

berada di padepokan kecil di Jati Anom karena keadaan

Agung Sedayu.

 

Swandaru yang bermalam satu malam lagi di padepokan

itu, menganggap bahwa keadaan sudah menjadi semakin

baik. Namun agaknya Swandarupun ingin melihat keadaan di

sekitar padepokan itu untuk meyakinkan, apakah keadaan

memang sudah menjadi tenang.

Karena itu, maka atas ijin Untara, maka Swandaru telah

mengikuti sekelompok prajurit yang sedang meronda di lengkungan

di sekitar Jati Anom, termasuk padepokan kecil itu. -

Ternyata ia tidak melihat kegelisahan yang timbul di

padukuhan di sekitar padepokan itu, sehingga Swandaru

memang berkesimpulan bahwa untuk sementara masih belum

ada tanda-tanda bahwa sekelompok orang akan mendekati

padepokan itu lagi.

Dengan demikian, maka setelah bermalam dua malam,

maka Swandaru minta diri untuk kembali ke Sangkal Putung.

Dalam keadaan yang gawat dan bila masih ada kesempatan,

Swandaru minta agar padepokan itu mengirimkan

penghubung ke Kademangan Sangkal Putung.

“ Jika ada tanda-tanda yang menggelisahkan, panggillah

aku. Aku akan datang dengan sekelompok pengawal yang

terbaik di Sangkal Putung. “ berkata Swandaru kemudian.

Demikianlah maka Swandarupun telah minta diri pula

kepada Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih.

Dengan nada rendah ia berkata kepada Agung Sedayu “

Bagaimanapun juga kami tetap mengharap kakang dapat

singgah. Aku akan mempersilahkan kakang membawa kitab

guru untuk kepentingan kakang, agar dalam keadaan yang

memaksa, kakang dapat setidak-tidaknya melindungi diri

sendiri. “

“ Aku akan singgah adi “ jawab Agung Sedayu “ Sekar

Mirahpun sebenarnya telah merasa sangat rindu untuk berada

di

Sangkal Putung tidak hanya sesaat.

“ Apakah Sekar Mirah akan pergi bersamaku sekarang?

“ bertanya Swandaru.

Tetapi Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Jawabnya

 

“ Aku menunggu sampai kakang Agung Sedayu sembuh.

Kami berdua dan Glagah Putih kelak akan singgah di Sangkal

Putung. “

“ Baiklah “ berkata Swandaru “ sebaiknya kau memang

menunggu suamimu “ desis Swandaru.

Demikianlah, maka Swandarupun kemudian minta diri. Kiai

Gringsing, Ki Widura, Sekar Mirah dan Glagah Putih

mengantarnya sampai keregol padepokan.

Sejenak kemudian, maka tiga ekor kudapun telah berpacu

meninggalkan padepokan itu menuju ke Sangkal Putung.

Sepeninggal Swandaru, maka dalam satu kesempatan, Kiai

Gringsing telah berbicara khusus dengan Ki Widura.

Sebagaimana sudah disanggupkan maka Widura akan

beberapa lama di padepokan itu.

“ Ki Widura “ berkata Kiai Gringsing “ bukan maksudku

untuk tidak mengakui kemampuan dan bobot ilmu yang sudah

Ki Widura miliki, Namun mengingat kedangkalan dasar yang

dimiliki oleh para cantrik, maka aku mohon Ki Widura bersedia

untuk menyesuaikan diri. Aku memang tidak dapat minta para

cantriklah yang harus menyesuaikan diri, karena mereka

memang tidak mempunyai kemampuan cukup untuk itu. “

“ Aku mengerti Kiai “ berkata Ki Widura “ tetapi aku kurang

sekali memiliki pengetahuan tentang ilmu yang ditelusuri oleh

para cantrik, karena sumber ilmuku memang berbeda.

Aku mengerti Ki Widura “ karena itu, selagi masih ada

tenaga padaku, aku ingin memberikan beberapa landasan

dasar dari ilmu perguruan ini. Aku yakin, bahwa Ki Widura

yang telah memiliki kemampuan tinggi, akan dapat menuntun

para

cantrik tanpa menggoyahkan sendi-sendi ilmu mereka. “

Ki Widura mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya

maksud Kiai Gringsing. Karena itu, maka iapun telah

mempersiapkan diri untuk melakukannya.

Namun ternyata Kiai Gringsing tidak mengajaknya pergi ke

sanggar. Dengan tongkatnya Kiai Gringsing berjalan menuju

ke biliknya. Ketika ia kemudian keluar dari biliknya, orang tua

itu telah membawa seberkas rontal.

 

Ketika rontal itu diberikan kepada Ki Widura, maka Ki

Widurapun kemudian bertanya “ Apakah rontal ini bagian dari

kitab Kiai Gringsing itu? “

Kiai Gringsing menggeleng. Jawabnya “ Bukan Ki Widura.

Rontal ini aku buat sendiri, sementara kitab itu adalah warisan

dari beberapa keturunan. Gambar didalam rontal itu sangat

sederhana, tetapi mudah-mudahan akan dapat memadai bagi

Ki Widura. “

Ki Widura yang memperhatikan rontal itu sekilas memang

melihat garis-garis yang diketahuinya, merupakan bagian dari

tata gerak ilmu kanuragan. “

Dengan nada rendah Kiai Gringsingpun kemudian berkata “

Ki Widura, aku mohon Ki Widura melihat-lihatnya lebih dahulu.

Besok kita akan berada di sanggar. Meskipun karena

penyakitku, aku masih lemah, tetapi aku akan dapat

memberikan beberapa keterangan tentang gambar yang aku

buat dengan sederhana itu. “

Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah Kiai.

Aku akan mempelajarinya. Mudah-mudahan otakku belum

terlalu tumpul untuk mengurai jenis ilmu selain ilmuku sendiri.

“ Ah “ Kiai Gringsing tersenyum “ apa sulitnya? Kecuali jika

Ki Widura harus memasuki kemampuan puncak ilmu ini. Tentu

Ki Widura memerlukan banyak waktu. Tetapi yang aku

harapkan, ilmu yang masih mendasar sekali. “

Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Malam nanti

aku akan mengurainya dan sudah barang tentu mengingat

unsur-unsurnya termasuk watak dan sifatnya. “

“ Bukankah pada dasarnya ilmu kanuragan yang satu

banyak mempunyai persamaan dengan yang lain? “ desis Kiai

Gringsing.

“ Ya. Itulah sebabnya maka aku menyanggupinya “ sahut Ki

Widura.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “ Nah,

silahkan Ki Widura. Besok kita dapat mulai berada di sanggar

meskipun barangkali hanya sebentar. “

“ Sebenarnyalah bahwa Kiai memang memerlukan waktu

sebanyak-banyaknya untuk beristirahat, “ sahut Widura

kemudian.

 

Demikianlah, maka Kiai Gringsingpun kemudian telah minta

diri untuk beristirahat, sementara Ki Widura akan mempelajari

gambar-gambar yang diberikan oleh Kiai Gringsing kepadanya

itu.

Untuk mengurai gambar-gambar yang memang sederhana

itu, ternyata Ki Widura telah pergi ke sanggar seorang diri.

Ia telah mengamati gambar demi gambar. Bahkan iapun

telah berada di tengah-tengah sanggar, mengurai dan

melakukannya. Satu-satu unsur-unsur gerak itu dipahami.

Kemudian di dalami sifat dan wataknya. Kemampuannya

menghadapi tata gerak ilmu yang lain serta kemungkinankemungkinan

pengembangannya.

Ki Widura memang bukan seorang yang masih muda Iapun

sudah menjadi semakin tua. Namun dengan demikian justru ia

memiliki pengalaman yang luas. Sebagai seorang Senapati ia

memiliki pengetahuan olah kaprajuritan. Dan sebagai pewaris

jalur ilmu Ki Sadewa, ia memiliki landasan yang kuat dalam

olah kanuragan.

Karena itu, Ki Widura yang mengendap itu tidak banyak

mengalami kesulitan. Dengan hati-hati ia memilahkan unsurunsur

gerak di gambar itu dengan unsur-unsur ilmunya sendiri.

Djtelitinya persamaan-persamaannya, tetapi juga

perbedaan-perbedaannya.

Tidak terasa, ternyata Ki Widura berada di sanggar sampai

sore hari, Glagah Putihlah yang mencarinya, karena ayahnya

seakan-akan telah menghilang. Meskipun semula ia tidak

mengira bahwa ayahnya berada didalam sanggar, namun

akhirnya setelah dimana-mana ayahnya tidak

diketemukannya, Glagah Putihpun telah menjenguk kedalam

sanggar pula. Ternyata ia justru menemukan ayahnya disana.

Tetapi ketika Glagah Putih masuk kedalam sanggar,

ayahnya sedang duduk merenungi beberapa lembar rontal

dita-ngannya.

“ Apa yang ayah perhatikan itu? “ bertanya Glagah Putih

ketika ayahnya berpaling kepadanya.

Widura menggeleng sambil tersenyum. Katanya “ Bukan

apa-apa. “

 

Glagah Putihpun kemudian mendekat ketika Ki Widura

telah membenahi dan menutup rontalnya. Namun ketajaman

panggraita Glagah Putih justru menangkap keringat yang

membasahi tubuh ayahnya.

“ Ayah sedang berlatih? “ bertanya Glagah Putih.

Ki Widura masih tersenyum. Katanya. Sekedar

melemaskan tubuh yang telah lama bagaikan membeku. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya

lagi. Bahkan iapun kemudian berkata “- Waktu makan

siang telah lampau. Tetapi kami masih menunggu ayah. “

“ Kami siapa maksudmu? “ bertanya Ki Widura.

“ Aku dan mbokayu Sekar Mirah “ jawab Glagah Putih.

“ Apakah mbokayumu tidak makan bersama Agung

Sedayu? “ bertanya Ki Widura pula.

“ Mbokayu memang menunggui kakang Agung Sedayu

makan. Tetapi mbokayu sendiri belum makan. “ desis Glagah

Putih.

Ki Widurapun kemudian keluar pula dari sanggar.

Keringatnya memang membasahi bajunya. Karena itu, maka

katanya “ Aku ke pakiwan dulu. Udara memang panas sekali

didalam sanggar, sehingga dengan bergerak sedikit saja,

keringatku bagaikan terperas dari tubuhku. “

Glagah Putihpun kemudian menemui Sekar Mirah dan

memberitahukan bahwa ayahnya diketemukannya di dalam

sanggar.

“ Agaknya ayah merasa sudah terlalu lama tidak

mempergunakan tubuhnya. Katanya, ayah berusaha

melemaskan tubuhnya yang sudah hampir membeku itu. “

berkata Glagah Putih.

Beberapa saat kemudian Ki Widurapun telah datang

setelah berganti pakaian. Merekapun kemudian makan

diruang dalam. Kiai Gringsing sendiri biasanya dilayani

didalam biliknya oleh beberapa orang cantrik dengan jenis

makanan yang khusus yang ramuannya ditentukan oleh Kiai

Gringsing sendiri. Kiai Gringsing hanya sedikit sekali makan

nasi. Yang terbanyak justru adalah sayur-sayuran dan buahbuahan.

 

Dalam pada itu, Glagah Putih sempat bertanya pula

tentang rontal yang dibawa oleh Ki Widura didalam sanggar

itu. Apakah yang termuat didalam rontal itu ada hubungannya

dengan latihan-latihan khusus yang dilakukan oleh Ki Widura.

Ki Widura tersenyum. Katanya “ Memang ada, Glagah

Putih. “

Glagah Putih mengerutkan dahinya. Sementara Sekar Mirahpun

nampaknya menaruh perhatian pula atas pertanyaan

Glagah Putih itu. Karena itu, agar mereka tidak justru

dibayangi oleh keinginan tahu mereka, maka Ki Widurapun

telah mengatakan apa yang sebenarnya tentang rontal itu

serta rencana Kiai Gringsing untuk memberikan kesempatan

kepadanya meningkatkan latihan-latihan bagi para cantrik.

Glagah Putih dan Sekar Mirah mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu Glagah Putihpun justru berkata “ Agaknya

ayah sendiri akan dapat memanfaatkan-kesempatan itu

Pula-

“ Aku sudah terlalu tua untuk meningkatkan ilmuku “

berkata Ki Widura “ biarlah para cantrik itu saja yang tumbuh

bagi masa depan. “

“ Tetapi satu hal yang barangkali perlu mendapat perhatian

ayah. Mereka yang ada di padepokan ini bukan prajurit. Ayah

sudah terbiasa memimpin sepasukan prajurit sehingga

mungkin ayah akan memperlakukan para cantrik seperti para

prajurit “ berkata Glagah Putih sambil tersenyum.

Sekar Mirahpun tersenyum. Namun Ki Widura menjawab -

Tetapi para cantrikpun terikat oleh satu paugeran yang berlaku

di padepokan ini, meskipun berbeda dengan paugeran bagi

seorang prajurit. Paugeran di padepokan inipun harus ditaati

sebagaimana para prajurit harus mentaati paugeran bagi

mereka. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya “ Ya.

Sedangkan akupun harus menurut perintah dan petunjuk

kakang Agung Sedayu dan Ki Jayaraga. “

“ Tetapi ternyata hal itu berlaku dimana-mana “ berkata Ki

Widura kemudian “ tatanan kehidupan itu ada di semua

lingkungan. “

 

Glagah Putih dan Sekar Mirahpun mengangguk-angguk

pula. Sementara itu tiba-tiba saja Ki Widurapun berkata “

Glagah Putih. Jika lukamu tidak terasa sakit lagi, ikutlah aku

ke Sanggar. Kita akan mengurai gambar-gambar yang dibuat

oleh Kiai Gringsing. “

“ Tetapi Glagah Putih belum dibenarkan terlalu banyak

bergerak paman “ sela Sekar Mirah.

“ Kami hanya akan mengenali tata gerak dan unsurunsurnya.

Bukan untuk menilai dan memperagakannya “

berkata Ki Widura kemudian.

Demikianlah setelah berbincang sejenak, maka Sekar Mirah

telah berada kembali didalam bilik Agung Sedayu,

sementara Glagah Putih telah membantu ayahnya

menterjemahkan gambar-gambar sederhana yang dibuat oleh

Kiai Gringsing yang akan menjadi pegangan Ki Widura

meningkatkan ilmu kanuragan para cantrik di padepokan kecil

itu.

Setelah beberapa lama mereka mengurai, maka Ki

Widurapun kemudian berkata “ Besok Kiai Gringsing akan

memberikan beberapa keterangan. Jika sebelumnya aku

sudah mencoba memahaminya, maka aku kira besok rencana

Kiai Gringsing akan berjalan lebih cepat. Agaknya Kiai

Gringsing masih terlalu lemah untuk terlalu banyak bergerak. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara sanggar itu

telah menjadi gelap. Seorang cantrik telah menyalahkan

lampu minyak didalam sanggar itu.

“ Apakah obor-obor itu juga dinyalakan jika sanggar ini

akan dipergunakan? “ bertanya cantrik itu.

“ Tidak “ jawab Ki Widura “ tidak perlu. Kami sudah selesai.

Sebenarnyalah Ki Widura dan Glagah Putih telah

mengakhiri pengenalan mereka atas gambar-gambar yang

dibuat oleh Kiai Gringsing itu. Karena itu, maka keduanyapun

kemudian telah keluar dari sanggar dan membenahi diri

setelah mereka pergi ke pakiwan.

Namun Widura agaknya masih belum berhenti. Setelah

makan malam, maka didalam biliknya Wirudapun telah

 

melihat-lihat lagi gambar sederhana yang diberikan oleh Kiai

Gringsing sehingga larut malam.

Seperti dijanjikan oleh Kiai Gringsing, maka di hari

berikutnya, bersama Ki Widura, keduanya telah berada

didalam sanggar. Kiai Gringsing yang masih lemah itu,

memang tidak memberikan beberapa contoh gerak. Tetapi

mempersilahkan Widura untuk melakukannya. Namun setiap

kali Kiai Gringsing memberikan beberapa keterangan tentang

maksud dari setiap unsur gerak yang dilakukan serta uruturutannya.

“ Ternyata semuanya berjalan sangat lancar “ berkata Kiai

Gringsing “ aku memang sudah yakin bahwa Ki Widura akan

dengan cepat menguasainya. Karena yang dilakukan oleh Ki

Widura adalah tinggal mengingat-ingat urutan geraknya,

sementara watak dan tujuan setiap gerak telah Ki Widura

ketahui. “

Ki Widura mengangguk-angguk. Katanya “ Aku sudah

mempelajarinya dan mengenalinya bersama Glagah Putih

kemarin Kiai. “

“ O “ Kiai Gringsing mengangguk-angguk.-” sokurlah.

Dengan demikian, pekerjaanku akan menjadi sangat ringan.”

Namun demikian Kiai Gringsing telah memberikan batasan

waktu kira-kira dua pekan bagi Ki Widura bersamanya untuk

benar-benar mengenal dan mampu menuangkan kembali

kepada para cantrik. Meskipun Kiai Gringsing juga berkata “

Aku mengerti, jika pada suatu saat unsur-unsur gerak dari ilmu

Ki Widura sendiri akan mempengaruhinya. Tetapi itu tidak

apa-apa. Apalagi jika hal itu sudah disadarinya sejak semula

sehingga yang terjadi adalah justru dengan sengaja

memperkaya unsur-unsur gerak yang telah dimiliki oleh para

cantrik itu. “

Meskipun keadaan Kiai Gringsing masih lemah, tetapi ia

memang dapat memberikan banyak keterangan dan petunjuk

kepada Ki Widura selama waktu yang diperlukan.

Dalam pada. itu, dari hari kehari keadaan Agung Sedayupun

menjadi semakin baik. Ketika pekan pertama lewat,

Agung Sedayu telah berjalan-jalan di halaman padepokan.

Sementara. itu luka Glagah Putihpun telah sembuh pula

 

meskipun masih membekas. Bahkan agaknya bekas itu akan

tidak mudah dihilangkan dari wajah kulitnya.

Dalam keadaan yang demikian, maka Agung Sedayu

sudah mulai memikirkan kemungkinan untuk pergi ke Sangkal

Putung. Ia tidak ingin terlalu mengecewakan Sekar Mirah yang

ingin berada di rumah tempat kelahirannya itu untuk beberapa

hari. Jika mereka terlalu lama berada di Jati Anom, maka

Sekar Mirah hanya akan mendapat ketempatan satu dua

malam saja di Kademangan Sangkal Putung, karena jika

mereka terlalu

lama pergi, yang menunggu di Tanah Perdikan Menoreh

akan menjadi sangat gelisah pula.

Namun dalam pada itu Glagah Putih telah berkata kepada

Agung Sedayu “ Apakah sebaiknya aku mendahului pulang ke

Tanah Perdikan, agar Ki Gede dan keluarga di Tanah

Perdikan tidak menjadi cemas? “

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun iapun

menggeleng sambil berdesis “ Kau tunggu aku. Mudahmudahan

Ki Gede dan Ki Jayaraga menganggap bahwa

kerinduan Sekar Mirah kepada kampung halamannya masih

belum sembuh.”

Sekar Mirah hanya tersenyum saja. Sementara Glagah

Putih mengangguk-angguk. Ia sadar bahwa Agung Sedayu

mencemaskan perjalanannya, karena suasana yang

nampaknya memang menjadi kalut. Hubungan antara

Mataram dan Madiun tidak segera dapat dijembatani.

Di hari berikutnya Agung Sedayu sudah berjalan-jalan

dikebun padepokan melihat-lihat berbagai macam tanaman

sayur-sayuran dan kolam ikan. Menghiriup segarnya udara diantara

hijaunya pepohonan dan heningnya air belumbang.

Selain obat yang tepat, daya tahan yang sangat besar

didalam tubuh Agung Sedayu seakan-akan telah

mempercepat perkembangan kesehatannya. Selapis demi

selapis kekuatan tubuh Agung Sedayu merambat mendekati

pulih kembali.

Dalam pada itu, maka Ki Widurapun telah menyelesaikan

pengenalannya atas dasar ilmu dari perguruan kecil di Jati

Anom itu. Dengan demikian, maka ia tidak akan

 

membingungkan para cantrik dengan unsur-unsur gerak yang

tidak mereka kenal. Sementara itu atas persetujuan Kiai

Gringsing, Ki Widura dapat memperkaya pengenalan para

cantrik atas unsur-unsur gerak yang akan dapat saling

mendukung. Bukan yang dapat menghambat arti daripada

setiap unsur gerak itu.

Demikianlah maka ternyata bahwa Agung Sedayu telah

membutuhkan waktu lebih dari sepuluh hari untuk memulihkan

keadaannya seperti semula. Bahkan ketika ia merasa cukup

kuat untuk pergi ke Sangkal Putung, maka kekuatan dan

kemampuannya

masih belum utuh seperti sebelum terjadi

pertempuran itu.

Namun agaknya Agung Sedayu sudah merasa cukup lama

berada di padepokan kecil itu. Iapun telah mulai memikirkan

kegelisahan orang-orang Tanah Perdikan. Bahkan mungkin

dapat terjadi sesuatu pula di Tanah Perdikan itu. Namun di

Tanah Perdikan itu masih ada Ki Gede sendiri dan Ki

Jayaraga disamping pasukan khusus Mataram yang

ditempatkan di Tanah Perdikan Menoreh.

Dengan demikian, maka Agung Sedayupun telah menemui

gurunya untuk mohon diri meninggalkan padepokan kecil itu.

“ Apakah kau sudah merasa cukup baik? “ bertanya Kiai

Gringsing.

“ Ya Guru. Aku sudah merasa hampir pulih kembali.

Agaknya selama perjalanan, aku akan justru mendapatkan

kekuatanku sepenuhnya kembali. “ berkata Agung Sedayu.

“ Baiklah “ berkata Kiai Gringsing “ ternyata pamanmu Ki

Widura telah berada di padepokan ini pula. Karena jarak

antara padepokan ini dan Banyu Asri tidak terlalu jauh, maka

Ki Widura akan dapat mondar-mandir setiap saat yang

dikehendakinya.

Agung Sedayu mengangguk-angguk, sementara Ki Widura

tersenyum sambil berkata “ Aku akan berada di dua tempat. “

“ Ya paman “ Agung Sedayupun tersenyum “ satu

kepentingan tersendiri. “

Ki Widura justru tertawa karenanya.

 

Demikianlah Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih

telah mohon diri. Mereka sama sekali tidak merasa menyesal

bahwa mereka menjumpai kesulitan justru ketika me-reeka

menengok gurunya di padepokan kecilnya. Bahkan mereka

merasa bersukur, bahwa mereka mendapat kesempatan untuk

ikut menyelamatkan padepokan itu, maka padepokan itu akan

dapat menempuh cara yang lain untuk menyelamatkan

dirinya, karena Untara juga menaruh perhatian yang besar

bagi padepokan itu.

Kiai Gringsing, Ki Widura dan hampir seisi padepokan itu

telah melepas mereka di halaman. Bahkan Kiai Gringsing, Ki

Widura dan beberapa orang lainnya mengantar mereka

sampai keluar regol. Sehingga sejenak kemudian, maka kudakuda

dari ketiga orang yang meninggalkan padepokan itu

telah berlari meskipun tidak terlalu kencang, menuju Sangkal

Putung. Tetapi mereka masih akan singgah sejenak untuk

minta diri kepada Untara dan keluarganya.

Dalam kesempatan itu Untara telah memberikan beberapa

keterangan tentang perkembangan terakhir. Yang datang

justru perintah untuk bersiaga sepenuhnya dan semakin

berhati-hati menghadapi orang-orang yang menyusup Ibu

Kota Mataram dan sekitarnya.

***

Bersambung ke Jilid 231 

JILID 231

DENGAN demikian maka Agung Sedayupun menyadari,

bahwa persoalan antara Mataram dan Madiun masih belum

mereda, dan justru menjadi semakin panas.

“ Agaknya beberapa orang mengambil sikap masingmasing.”

berkata Agung Sedayu.

“ Ya” jawab Untara, “ beberapa orang dari Mataram telah

mengambil sikap sendiri tanpa menunggu perintah

Panembahan Madiun. Sementara itu Panembahan Senapati

telah memerintahkan Pangeran Singasari untuk berada di

istana dan melepaskan kedudukannya diantara pasukannya.”

“ Kenapa dengan Pangeran Singasari? Bukankah ia telah

melakukan tugasnya dengan berhasil?” bertanya Agung

Sedayu.

“ Pangeran Singasari memang berhasil di Padepokan

Nagaraga. Tetapi ternyata Pangeran Singasari telah

mengambil langkah-langkah sendiri, sehingga Panembahan

Senapati terpaksa menempatkan Pangeran Singasari

didekatnya.” jawab Untara.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tentu bukan hanya

Pangeran Singasari. Tentu masih ada orang-orang Mataram

yang didorong oleh kepemimpinan pribadi telah melakukan

langkah-langkah yang justru bertentangan dengan usaha yang

ditempuh oleh Panembahan Senapati. Mungkin Pangeran

Singasari telah bertindak dengan landasan kepentingan

Mataram meskipun langkahnya tidak sesuai dengan

kebijaksanaan Panembahan Senapati, sementara orang lain

benar-benar tidak ada hubungannya dengan kepentingan

Mataram.

 

“ Karena itu Agung Sedayu.” berkata Untara selanjutnya, “

hati-hatilah di setiap langkahmu. Jika kau sembuh benar,

maka kaupun harus melakukan setiap perintah dengan baik.

Aku kira perintah Panembahan Senapati telah disampaikan

pula ke Tanah Perdikan Menoreh. Tanah Perdikan Menoreh

jangan mengambil kebijaksanaan sendiri menghadapi

Madiun.”

“ Aku mengerti kakang.” jawab Agung Sedayu. Namun

iapun bertanya, “ Bagaimana dengan Sangkal Putung?”

“ Sangkal Putung juga diperhitungkan oleh Mataram.

Kekuatan Kademangan Sangkal Putung diperkirakan sama

dengan kekuatan prajurit segelar-sepapan. Yang pantas

diperhitungkan bukan saja para pengawalnya, tetapi hampir

setiap laki-laki di Sangkal Putung, terutama anak-anak

mudanya mempunyai kemampuan seorang prajurit. Namun

seandainya perintah itu belum dianggap perlu disampaikan

kepada Sangkal Putung oleh Panembahan Senapati, maka

kau dapat mengatakannya meskipun bukan merupakan

perintah resmi. Namun sikap itu perlu diketahui oleh Sangkal

Putung. Bahkan pada saatnya panembahan Senapati tentu

akan memberikan pertanda kepadaku untuk menghimpun

kekuatan dari lingkungan ini atas limpahan kuasanya, tanpa

mencampuri pemerintahan di daerah masing-masing.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara itu

Untarapun berkata selanjutnya, “ Aku juga sedang

memberikan pesan kepada setiap Kademangan di sekitar Jati

Anom, termasuk Kademangan Jati Anom sendiri, agar mereka

mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang mungkin akan

menjadi gawat. Setidak-tidaknya disetiap Kademangan agar

mempersiapkan sepasukan pengawal terpilih yang dapat

bergerak setiap saat. Bukan saja di Kademangannya sendiri,

tetapi mampu bergerak keluar dari Kademangannya. Aku juga

sudah menganjurkan disetiap Kademangan untuk menghitung

jumlah kuda yang dapat dipergunakan untuk kepentingan

gerak cepat para pengawal itu.”

Agung Sedayu masih mengangguk-angguk. Ia menyadari

bahwa Mataram benar-benar telah mempersiapkan diri

sebaik-baiknya menghadapi keadaan yang nampaknya justru

 

semakin kalut. Sepeninggal Pangeran Benawa, maka rasarasanya

jarak antara Mataram dan Madiun menjadi sangat

jauh.

Demikianlah, maka setelah dihidangkan minuman dan

makanan, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah

Putih telah mohon diri untuk pergi ke Sangkal Putung dan

seterusnya kembali ke Tanah Perdikan.

“ Kau juga harus berhati-hati Glagah Putih.” desis Untara.

“ Ya, kakang.” jawab Glagah Putih sambil mengangguk

kecil.

“ Nah, semoga adi Sekar Mirah dapat memberikan

peringatan kepada Glagah Putih jika anak itu masih saja

nakal.” berkata Untara.

Sekar Mirah tersenyum. Jawabnya, “ Aku masih harus

menarik telinganya setiap kali Glagah Putih berendam di kali

mencari ikan di pliridan, kakang.”

Untarapun tertawa. Sementara isterinya berkata, “ Jika

nakal jangan diberi makan sehari. Ia akan menjadi jera.”

Sekar Mirahpun tertawa pula, sementara Agung Sedayu

menjawab, “ Jika ia tidak diberi makan dirumah ia akan pergi

kerumah Ki Gede untuk mencari makanan. “

Glagah Putih hanya tersenyum-senyum saja. Namun

sebenarnya ia berkeberatan jika ia masih saja diperlakukan

seperti anak-anak. Agung Sedayu dan Sekar Mirah memang

tidak memperlakukannya demikian. Tetapi Untara yang

jarang-jarang bertemu agaknya masih saja mengenang

Glagah Putih dimasa kanak-kanaknya. Sebagai kanak-kanak

Glagah Putih memang termasuk anak yang banyak berbuat

dan selalu ingin tahu.

Beberapa saat kemudian, maka Agung Sedayu, Sekar

Mirah dan Glagah Putih telah siap meninggalkan rumah

Untara. Beberapa orang prajurit sempat mengamati kuda

Glagah Putih yang besar dan tegar.

Glagah Putih yang mengetahui kudanya menjadi perhatian,

telah berdesis, “ Peninggalan Raden Rangga.”

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Memang Raden

Rangga mempunyai kegemaran seperti ayahandanya,

bermain-main dengan kuda. Ternyata bahwa Glagah Putih

 

termasuk seorang anak muda yang beruntung mendapat

hadiah seekor kuda yang tegar.

Beberapa saat kemudian, maka Agung Sedayu, Sekar

Mirah dan Glagah Putih telah meninggalkan Jati Anom.

Mereka berkuda dicerahnya matahari yang mulai menggalkan

kulit.

Randu Alas yang dianggap menjadi sarang Gendruwo

Bermata Satu masih tetap berada ditempatnya. Sementara

jalanpun telah menjadi semakin baik dan lebih terpelihara.

Tidak lagi terdapat semak-semak liar dipinggir-pinggir jalan.

Bahkan tanggul paritpun menjadi teratur rapi. Sedangkan

airnya yang jernih mengalir tanpa henti disepanjang musim.

Kedatangan ketiga orang itu di Sangkal Putung disambut

dengan gembira. Bukan saja oleh keluarga Ki Demang. Tetapi

sebelum mereka memasuki Kademangan, beberapa orang

yang melihat mereka lewat sempat menyapa dengan ramah.

Seorang perempuan yang sudah separo baya dengan

ramah telah menyapa Sekar Mirah, “ Mirah. Kau sekarang

bertambah cantik.”

“ Ah Bibi.” sahut Sekar Mirah sambil tersenyum, “ aku telah

bertambah tua.”

Tanpa maksud apa-apa perempuan itu tiba-tiba saja

bertanya, “ Kapan kau menyusul isteri kakakmu, he?”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Sementara itu

perempuan itu meneruskan, “ Sebentar lagi kakakmu akan

memomang anak. Apakah kau juga?”

Wajah Sekar Mirah tiba-tiba saja bagaikan lampu yang

kehabisan minyak. Tetapi segera ia berusaha untuk

menghapus kesan itu. Bahkan ia sempat tersenyum sambil

berkata, “ Doakan saja Bibi.”

“ Ya. Aku akan berdoa untukmu.” sahut perempuan itu.

Sekar Mirahpun kemudian telah melanjutkan perjalanan. Ia

berusaha menghapuskan kesan itu dari dalam hatinya, karena

ia tidak mau mempengaruhi perasaan Agung Sedayu.

Sebagai isterinya Sekar Mirahpun mengerti, bahwa Agung

Sedayu akan dapat merasa bersalah jika hal itu selalu

dibicarakannya.

 

Demikianlah, merekapun kemudian telah berada di

Kademangan Sangkal Putung, Keluarga Kademangan dengan

akrab telah menyambut mereka.

“ Bagaimana keadaanmu?” bertanya Ki Demang kepada

Agung Sedayu, demikian Agung Sedayu naik kependapa.

“ Atas doa Ki Demang, keadaanku sudah menjadi baik.”

jawab Agung Sedayu.

“ Jadi kekuatanmu telah pulih kembali?” bertanya Ki

Demang pula.

“ Ya Ki Demang.” Agung Sedayu mengangguk kecil, “

agaknya memang demikian.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu Swandaru

sempat pula bertanya kepada Glagah Putih, “ Bagaimana

dengan lukamu?”

“ Sudah sembuh kakang.” jawab Glagah Putih, “ meskipun

bekasnya masih sedikit basah. Tetapi sudah tidak berarti apaapa

lagi.”

“ Bukankah kau masih mengobatinya terus?” bertanya

Swandaru.

“ Ya kakang. Aku masih mengolesnya dengan obat yang

diberikan oleh Kiai Gringsing. Sementara itu, aku masih juga

harus menelan reramuan obat pula.” jawab Glagah Putih.

“ Syukurlah jika kalian benar-benar telah menjadi baik.”

desis Swandaru.

Sementara itu Sekar Mirah tidak ikut naik kependapa

bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih. Tetapi

sebagaimana ia berada dirumahnya sendiri, maka Sekar

Mirahpun telah langsung masuk kedapur menemani Pandan

Wangi dan pembantu-pembantu rumah itu menyediakan

hidangan minuman dan makanan. Namun sambil bekerja

Pandan Wangi dan Sekar Mirah ternyata ramai berbincang

tentang bermacam-macam hal. Bahkan Pandan Wangipun

ingin tahu apa yang telah terjadi disatu malam, sehingga

Agung Sedayu dan Glagah Putih telah terluka.

“ Kau tentu sibuk juga malam itu, Mirah?” bertanya Pandan

Wangi.

“ Aku berada di barak induk bersama Kiai Gringsing.”

jawab Sekar Mirah, “ tetapi ternyata ada juga diantara mereka

 

yang sempat menyusup sampai ke barak induk itu, sehingga

akupun terpaksa mencegahnya masuk kedalam.”

“ Tongkatmulah tentu yang berbicara.” gumam Pandan

Wangi.

“ Aku telah dipaksa untuk melakukannya.” jawab Sekar

Mirah.

Pandan Wangi tersenyum. Sebagai seorang yang memiliki

ilmu yang tinggi, maka peristiwa yang terjadi dipadepokan itu

tidak dapat lepas begitu saja dari perhatiannya. Namun

demikian, mereka tidak lupa akan tugas mereka. Sebentar

kemudian maka hidanganpun telah siap. Sekar Mirah dan

Pandan Wangi sendirilah yang kemudian membawanya

kependapa. Bahkan keduanya tidak lagi segera kembali ke

dapur, karena keduanyapun ikut pula berbincang dipendapa.

“ Luka kakang Agung Sedayu parah.” berkata Swandaru

kepada isterinya, “ tetapi ternyata Guru benar-benar seorang

yang memiliki pengetahuan tentang obat-obatan hampir

sempurna. Dalam waktu dekat, kakang Agung Sedayu sudah

sembuh sama sekali, meskipun barangkali segala sesuatunya

masih belum sebagaimana semula.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Aku

memerlukan waktu sepuluh hari lebih.”

“ Tetapi tanpa perawatan Guru, mungkin kakang

memerlukan waktu satu bahkan mungkin dua bulan. Semula

aku memang mengira bahwa kakang akan berada di

padepokan itu untuk lebih dari satu bulan.” berkata Swandaru.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengakui

kebenaran pendapat adik seperguruannya itu. Tanpa

perawatan dan obat-obat yang baik, maka Agung Sedayu

tentu memerlukan waktu yang lebih lama lagi untuk

menyembuhkan luka-luka dibagian dalam tubuhnya meskipun

hal itu juga tergantung pada ketahanan tubuh Agung Sedayu.

Jika ketahanan tubuh Agung Sedayu tidak melampaui takaran,

maka penyembuhannyapun akan menjadi sangat sulit dan

lama.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terbersit didalam hati

Agung Sedayu satu pertanyaan, karena Kiai Gringsing tidak

mampu mengatasi kesulitan didalam dirinya sendiri. Tetapi

 

sebagaimana ia sering mendengar dari gurunya itu pula,

bahwa berapapun tinggi ilmu dan pengetahuan seseorang,

namun ia tidak akan dapat keluar dari batasan-batasan yang

telah ditetapkan bagi hidupnya.

Demikianlah, maka sebagaimana diinginkan oleh Sekar

Mirah, maka Agung Sedayu suami isteri dan Glagah Putih

akan tinggal untuk beberapa hari di Sangkal Putung. Namun

demikian, ternyata Sekar Mirahpun dapat menyesuaikan

dirinya dengan keadaan. Meskipun ia ingin tinggal dirumah

tempat ia bermain-main di masa kecilnya asal lama, namun

karena mereka sudah lama terpaksa berada di padepokan

Kiai Gringsing lebih dari sepuluh hari, maka Sekar Mirah tidak

akan memaksakan keinginannya itu. Sekar Mirahpun tahu,

bahwa orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh tentu sudah

gelisah menunggu mereka.

Karena itu, maka Sekar Mirahpun telah berkata kepada

Agung Sedayu pula satu kesempatan, “ Aku kira kau tidak

perlu terlalu lama disini kakang.”

“ Bukankah kau ingin berada di rumah ini untuk waktu yang

agak panjang?” bertanya Agung Sedayu.

“ Hanya untuk mengenang masa kanak-kanak. Tetapi

agaknya keadaan tidak mengijinkan kali ini. Mungkin pada

kesempatan lain.” berkata Sekar Mirah.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Baiklah.

Agaknya kita memang harus segera kembali ke Tanah

Perdikan.”

“ Ya. Suasana yang kurang menguntungkan. Kakang tentu

sangat diperlukan di Tanah Perdikan.” berkata Sekar Mirah

pula.

Tetapi kedua orang suami isteri itu juga tidak akan dengan

serta merta minta diri. Mereka telah memutuskan untuk

berada di Sangkal Putung selama tiga hari tiga malam.

Selama itu, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih

sempat melihat kesiagaan para pengawal dan anak-anak

muda Sangkal Putung. Swandaru memang telah membentuk

kelompok khusus yang memiliki kemampuan bergerak dan

berkemampuan lebih baik dari yang lain. Namun bukan berarti

bahwa yang lain tidak mendapat perhatiannya. Di Sangkal

 

Putung telah pula dipersiapkan beberapa ekor kuda yang

dapat dipergunakan setiap saat untuk bergerak.

“ Kau dapat mencoba mengetrapkannya di Tanah Perdikan

Menoreh. Kakang.” berkata Swandaru kepada Agung

Sedayu.

Agung Sedayu mengangguk-angguk sambil menjawab, “

Ya. Aku akan mencobanya.”

Glagahlah Putih yang mengerutkan keningnya.Menurut

penglihatannya, apa yang berlaku di Sangkal Putung itu telah

berlaku di Tanah Perdikan Menoreh. Di Tanah Perdikan

Menoreh telah pula terbentuk sekelompok khusus pengawal

yang dianggap paling baik di setiap padukuhan.

Ketika Glagah Putih itu diluar sadarnya berpaling kepada

Sekar Mirah, maka dilihatnya mbokayunya itu menarik nafas

panjang.

Dalam pada itu, sambil melihat-lihat perkembangan

Sangkal Putung, Swandaru berkata, “ Kami telah mengirimkan

beberapa orang ke Kademangan-kademangan tetangga untuk

memenuhi permintaan mereka. Sebagaimana dianjurkan oleh

kakang Untara, maka setiap Kademangan harus

mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi

perkembangan keadaan yang tidak menentu ini. Beberapa

Kademangan yang lebih dekat dengan Jati Anom telah minta

para prajurit untuk memberikan latihan-latihan keprajuritan.

Tetapi Kademangan-kademangan terdekat dengan Sangkal

Putung, telah minta kepada Sangkal Putung untuk

memberikan latihan-latihan bagi para pengawal dan anakanak

mudanya, atas persetujuan kakang Untara, karena

kakang Untara pun tidak akan dapat mengabaikan kenyataan,

bahwa para pengawal kami disini memiliki kemampuan

seorang prajurit.”

Agung Sedayu masih saja mengangguk-angguk. Sekalisekali

ia memuji keberhasilan Swandaru yang ternyata

bergerak lebih cepat dan lebih berarti daripada ayahnya yang

masih memangku jabatan Demang di Sangkal Putung.

Sebagaimana ternyata para Demang tetangganya dalam

pertemuan pertemuan yang sering diadakan telah

 

menyatakan, bahwa mereka merasa iri bahwa di Sangkal

Putung terdapat seorang anak muda seperti Swandaru.

“ Apa yang Ki Demang lakukan atas anak itu dimasa

kecilnya?” bertanya para Demang itu kepada Ki Demang

Sangkal Putung.

“ Tidak apa-apa.” jawab Ki Demang Sangkal Putung, “

mungkin satu kebetulan bahwa dimasa remajanya, pasukan

Pajang berada di Sangkal Putung untuk menghadapi sisa-sisa

pasukan Jipang dibawah pimpinan Alap-alap Jalatunda dan

Pande Besi, Sedang Gabus. Namun lebih dari itu, sisa-sisa

pasukan Jipang itu berada dibawah kekuasaan langsung

Macan Kepatihan yang memiliki kemampuan diatas

kemampuan orang kebanyakan. He, kalian ingat itu?”

“ Ya.” jawab para Demang itu, “ Agaknya Ki Demang

Sangkal Putung mampu mengambil keuntungan kehadiran

Senapati Untara di Sangkal Putung untuk menghadapi Tohpati

pada waktu itu.”

Demikianlah untuk waktu-waktu yang sudah ditentukan,

Agung Sedayu dan Sekar Mirah benar-benar telah melihat

seluruh isi Kademangan Sangkal Putung. Sebagai anak

Sangkal Putung, Sekar Mirah ingin melihat kembali dan

mengenang apa yang pernah terjadi lebih-lebih yang

menyangkut dirinya, di Sangkal Putung. Namun Sekar

Mirahpun ingin melihat pula apakah yang pernah dibanggakan

oleh kakaknya.

Namun pada hari yang terakhir, Agung Sedayu, Sekar

Mirah dan Glagah Putih berada di Sangkal Putung, menjelang

malam yang ketiga, mereka telah dikejutkan oleh kehadiran

sekelompok prajurit Mataram yang dipimpin oleh

perwiramuda. Seorang perwira yang bernama Jaka Rampan.

Seorang perwira muda yang memiliki nama yang dengan

cepat menanjak di kalangan prajurit Mataram. Namun karena

untuk waktu yang agak lama ia bertugas di Mataram,

sebagaimana para perwira yang berada dibawah pimpinan

Untara, maka Jaka Rampan belum mengenal secara pribadi

para pemimpin di Sangkal Putung.

Dengan hormat dan ramah Ki Demang telah menerima

sekelompok pasukan Mataram itu di rumahnya.

 

Dipersilahkannya beberapa orang perwira yang ada didalam

pasukan itu untuk naik ke pendapa, sementara para prajurit

yang bersamanya dipersilahkan duduk-duduk di sepanjang

serambi gandok.

Setelah mempertanyakan nama dan kesatuan para prajurit

Mataram itu, maka Ki Demangpun telah bertanya tentang

keperluan perwira yang masih muda itu.

“ Aku mengemban perintah Panembahan Senapati.”

berkata perwira muda itu.

“ Barangkali tugas yang dibebankan kepada Ki Sanak itu

menyangkut Kademangan Sangkal Putung?” bertanya Ki

Demang.

“ Ya.” jawab Jaka Rampan.

“ Apakah perintah itu?” bertanya Ki Demang pula.

“ Ki Demang. Atas nama Panembahan Senapati di

Mataram, aku mendapat perintah untuk membawa sepasukan

pengawal dari Sangkal Putung bersamaku untuk memperkuat

sekelompok prajuritku,” berkata perwira muda itu.

Ki Demang mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia

bertanya, “ Untuk apa Ki Sanak?”

“ Aku mengemban perintah untuk menusuk langsung ke

belakang garis pertahanan yang sudah disusun oleh Madiun.”

berkata perwira muda yang bernama Jaka Rampan itu.

Ki Demang termangu-mangu. Ia belum pernah mengenal

perwira muda itu. Karena itu, ia menjadi ragu-ragu.

“ Kenapa Ki Demang nampak bingung?” suara Jaka

Rampan menjadi lebih keras, “ perintah ini harus kita

laksanakan. Maksudku, kami dan Ki Demang.”

“ Ki Sanak. Bukan maksud kami meragukan kebijaksanaan

Panembahan Senapati.” berkata Ki Demang, “ tetapi karena

kami belum pernah mengenal Ki Sanak, apa kah Ki Sanak

bersedia menunjukkan pertanda apapun yang diberikan oleh

Panembahan Senapati?”

“ Apakah perintah itu?” bertanya Ki Demang pula. “ Ki

Demang. Atas nama Panembahan Senapati di Mataram, aku

mendapat perintah untuk membawa sepasukan pengawal dari

Sangkal Putung bersamaku untuk memperkuat sekelompok”

 

Wajah perwira muda itu menjadi merah. Namun iapun

berusaha untuk menahan diri. Bahkan iapun kemudian

tersenyum sambil berkata, “ Mungkin Ki Demang memang

belum mengenal aku, sebagaimana aku belum mengenal Ki

Demang. Aku memang cukup lama bertugas di sekitar Ganjur.

Memang bukan pasukan yang besar, tetapi pasukanku

mempunyai tugas untuk mengawal pintu gerbang Mataram di

bagian Selatan. Bukan tidak mustahil, bahwa ada kekekuatan

yang sengaja ingin menusuk Mataram justru dari Selatan, satu

arah yang dianggap tidak perlu diperhitungkan. Tetapi ternyata

Panembahan Senapati cukup hati-hati sehingga

menempatkan pasukan di Ganjur.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia

bertanya, “ Apa sebenarnya perintah Panembahan Senapati

itu? Mengambil sepasukan pengawal untuk bertempur

bersama Ki Sanak dibelakang garis batas Madiun?”

“ Ya.” jawab Jaka Rampan. Namun katanya kemudian, “

Tetapi garis batas itu sebenarnya tidak ada. Mataram

berkuasa atas Madiun, sehingga yang ada adalah garis batas

kekuasaan Madiun yang dilimpahkan oleh Panembahan

Senapati yang dapat dihapuskan setiap saat.”

Ki Demang menjadi termangu-mangu sejenak. Dalam pada

itu, Swandaru, Agung Sedayu dan Glagah Putih yang ikut

menerima kedatangan pasukan prajurit dari Mataram itu,

mendengarkan pembicaraan Ki Demang itu dengan sungguhsungguh.

Bahkan pada saat Ki Demang masih ragu-ragu,

maka Swandarupun berkata dengan mantab, “ Jika hal itu

dikehendaki oleh Panembahan Senapati, kami sudah siap.

Kami akan dapat memanggil pengawal Kademangan yang

terbaik untuk melakukan tugas yang berat tetapi memberikan

kebanggaan itu.”

“ Terima kasih.” jawab Jaka Rampan. Namun iapun

ternyata, “ Siapakah kau?”

“ Anakku.” Ki Demanglah yang menjawab, “ ialah yang

sekarang ini lebih banyak berbuat bagi Kademangan ini

daripada aku. Terutama dalam hubungannya dengan

kekuatan di Sangkal Putung.”

 

“ Bagus.” jawab Jaka Rampan, “ kesediaanmu tentu

sangat dihargai oleh Panembahan Senapati. Jika demikian,

maka besok kita akan segera mempersiapkan diri. Kita tidak

boleh kehilangan waktu. Pada waktu satu bulan sejak perintah

jatuh dari Panembahan Senapati, aku harus sudah

menghadap untuk memberikan laporan.”

“ Kapanpun dikehendaki, kami sudah siap.” berkata

Swandaru pula.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu telah menyela, “

Tetapi Ki Sanak. Kau belum menunjukkan pertanda yang

ditanyakan oleh Ki Demang.”

Perwira yang bernama Jaka Rampan itu memandang

wajah Agung Sedayu dengan tajamnya. Sorot matanya

bagaikan memancarkan penyesalan yang sangat atas

pertanyaan Ki Demang yang telah disinggung lagi oleh Agung

Sedayu itu.

Dengan nada rendah ia bertanya, “ Siapa lagi orang ini Ki

Demang?”

“ Anak menantuku.” jawab Ki Demang.

Jaka Rampan mengangguk-angguk. Katanya seakan-akan

ditujukan kepada diri sendiri, “ Yang seorang anak Ki Demang

dan yang seorang menantunya. Jadi merekalah yang telah

membentuk Kademangan Sangkal Putung ini menjadi

Kademangan yang besar dan kuat. Tetapi sayang, bahwa

sikap mereka agak berbeda.”

“ Ki Sanak.” berkata Ki Demang kemudian, “ bukankah

pertanyaanku itu wajar?”

“ Jadi Ki Demang tidak yakin melihat pakaian kami dan

sikap kami?” bertanya orang itu.

“ Maaf Ki Sanak.” jawab Ki Demang, “ bukan tidak yakin

apalagi tidak percaya. Tetapi bukankah kita harus menjunjung

martabat Panembahan Senapati sebagai pemimpin tertinggi

Mataram?”

“ Aku tidak mau mendengar pertanyaan itu. Aku hanya tahu

mengemban perintah Panembahan Senapati.” jawab Jaka

Rampan.

“ Apakah kita tidak dapat mempercayainya begitu saja,

ayah?” bertanya Swandaru yang ternyata juga mulai berpikir.

 

“ Bukan begitu. Segala sesuatunya agar kita dapat

melakukan tugas kita sebaik-baiknya, sebagaimana aku

katakan tadi, justru untuk menjunjung kuasa Panembahan

Senapati itu sendiri.” jawab Ki Demang.

“ Aku tidak mau dipersulit dengan hal-hal yang tidak berarti

seperti itu. Aku minta disiapkan tigapuluh orang terbaik yang

senilai dengan prajurit. Aku telah membawa tigapuluh orang

pula bersamaku. Kita akan menempuh perjalanan jauh. Kita

tidak akan menuju ke Madiun lewat jalan raya yang

menghubungkan Mataram, Pajang dan Madiun. Tetapi kita

akan menempuh jalan simpang yang kecil dan barangkali

jarang dilalui orang. Kita akan menembus kedalam wilayah

Madiun dan mengejutkan mereka, agar mereka tidak menjadi

terlalu sombong. Sikap mereka sudah keterlaluan sehingga

Panembahan Senapati menjadi marah.” berkata Jaka

Rampan.

“ Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu kemudian, “

Panembahan Senapati adalah orang yang sangat berhati-hati.

Apalagi Panembahan Senapati telah berniat untuk mencari

penyelesaian yang lebih baik daripada perang.”

“ Omong kosong.” wajah Jaka Rampan mulai berkerut, “

Kau tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan dan dirasakan

oleh Panembahan Senapati menghadapi Madiun. Nah, jangan

bertanya lagi. Aku minta disiapkan sejumlah pengawal.”

Tetapi Ki Demanglah yang menjawab, “ Ki Sanak. Kami

minta maaf, bahwa kami masih harus bertanya lagi tentang

pertanda itu. Baru kemudian kami akan dapat menentukan

sikap. Sebab terus terang, kami ragu-ragu bahwa

Panembahan Senapati memerintahkan sepasukan prajurit dari

Mataram untuk menyusup kebelakang garis batas Madiun dan

Mataram.”

“ Kenapa kau ragu-ragu? Pangeran Singasari juga

mendapat tugas untuk menghancurkan padepokan Nagaraga.

Bukankah kita semuanya tahu, bahwa padepokan Nagaraga

adalah sebuah padepokan yang mengakui kuasa Madiun.

Bukan Mataram.”

Yang menjawab adalah Agung Sedayu, “ Ki Sanak. Jika

Panembahan Senapati memerintahkan untuk menghancurkan

 

Nagaraga, sebab sudah terbukti, bahwa Nagaraga telah

berani menyerang langsung pribadi Panembahan Senapati.

Serangan secara pribadi itu telah memberikan alasan yang

kuat bagi Panembahan Senapati untuk menghukum

Padepokan Nagaraga.”

“ Darimana kau tahu hal itu?” bertanya Jaka Rampan.

“ Glagah Putih ikut dalam tugas penumpasan padepokan

Nagaraga.” Swandarulah yang menyahut.

“ Siapa Glagah Putih itu?” bertanya Jaka Rampan.

“ Ia adalah kawan dekat Raden Rangga semasa hidupnya.”

jawab Swandaru.

“ Yang memimpin pasukan ke Nagaraga adalah Pangeran

Singasari.” geram Jaka Rampan.

“ Glagah Putih memang berangkat lebih dahulu bersama

Raden Rangga pada waktu itu.” sahut Agung Sedayu.

“ Siapakah yang mengatakan hal itu kepadamu?” bertanya

Jaka Rampan.

“ Glagah Putih sendiri.” jawab Agung Sedayu, “ ia ada

disini sekarang.”

Jaka Rampan langsung dapat menebak, yang manakah

yang bernama Glagah Putih. Ketika ia kemudian

memandanginya, maka iapun berdesis didalam hatinya, “

Anak yang masih sangat muda ini.”

Namun Jaka Rampanpun tahu pula, bahwa Raden Rangga

juga masih sangat muda. Bahkan barangkali lebih muda dari

Glagah Putih itu. Untuk beberapa saat Jaka Rampan

termangu-mangu. Agaknya di Sangkal Putung terdapat juga

orang-orang yang sempat berpikir. Mereka tidak sekedar

dengan kepala tunduk dan mata tertutup menjalankan

perintah.

“ Nah Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu kemudian, “

sebaiknya Ki Sanak tidak merasa bersalah, atau kurang

berwibawa jika Ki Sanak menunjukkan pertanda perintah

Panembahan Senapati itu. Karena kitapun tahu betapa

besarnya kuasa Panembahan Senapati.”

Jaka Rampan menjadi semakin gelisah. Tetapi ia merasa

paling tidak senang terhadap Agung Sedayu yang telah berani

bersikap tegas itu. Namun Jaka Rampanpun merasa bahwa ia

 

harus berhati-hati menghadapi para pemimpin di Kademangan

Sangkal Putung itu.

Meskipun demikian, ia masih juga berusaha untuk

menekan Ki Demang. Katanya, “ Ki Demang. Kaulah yang

bertanggung jawab di sini. Keputusan itu harus kau

pertanggung jawabkan kepada Panembahan Senapati. Jika

aku gagal membawa orang-orangmu, maka kau akan dapat,

dianggap dengan sengaja menghambat tugas keprajuritan

Mataram. Apalagi dalam keadaan gawat seperti sekarang ini.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian

katanya, “ Ki Sanak. Sudah aku katakan, aku akan

menjalankan segala perintahnya jika Ki Sanak sudi

menunjukkan pertanda kuasa dari Panembahan Senapati.”

“ Cukup.” bentak Jaka Rampan, “ aku adalah utusan yang

membawa kuasa sepenuhnya dari Panembahan Senapati.

Jika kau tidak mendengar perintahku, berarti kau tidak

mendengarkan perintah Panembahan Senapati. Dan kau tahu,

apa artinya itu.”

“ Jangan salah paham Ki Sanak.” sahut Ki Demang.

Tetapi sebelum ia meneruskan kata-katanya, Jaka Rampan

telah memotongnya, “ Aku tidak mau mendengar alasan

apapun lagi. Jawab pertanyaanku. Kau mau menjalankan

perintah Panembahan Senapati atau tidak.”

Ki Demang tidak segera menjawab. Ketika ia memandang

Agung Sedayu, maka Agung Sedayupun berkata, “ Tentu Ki

Sanak. Ki Demang tentu akan menjalankan segala perintah

Panembahan Senapati, karena Panembahan Senapati itu

memang junjungan kita semuanya.”

“ Jika demikian, sediakan tigapuluh orang pengawal pilihan,

yang akan pergi bersamaku besok pagi-pagi.” berkata Jaka

Rampan.

“ Tetapi itu bukan perintah Panembahan Senapati. Atau

katakan, belum meyakinkan bahwa perintah itu adalah

perintah Panembahan Senapati. Sebagaimana yang akan kau

lakukan itu sendiri.” jawab Agung Sedayu. Lalu “ Ternyata

bahwa orang-orang dari Madiun juga banyak yang telah

melakukan tindakan diluar pengetahuan dan kendali

Panembahan Madiun. Jika kau melakukannya juga, maka

 

yang kau lakukan adalah sama seperti yang dilakukan oleh

orang-orang Nagaraga. Bahkan yang kau lakukan justru lebih

keras lagi. Apa artinya enam puluh orang bagi kekuatan

Madiun. Aku tahu, bahwa dengan enam puluh orang kalian

akan memotong ranting-ranting yang ada pada batang

Kadipaten Madiun. Tetapi kau salah hitung. Enam puluh

orangmu itu akan menjadi daun-daun kering yang masuk

kedalam apinya kekuatan Madiun.”

“ Omong kosong kau pengecut.” bentak Jaka Rampan, “

kau kira aku dengan ceroboh mengambil sikap seperti ini?

Sudah cukup lama orang-orangku dalam tugas sandi

menyelidiki kelemahan Madiun. Kelemahan-kelemahan itu

kemudian aku sampaikan langsung kepada Panembahan

Senapati yang kemudian memerintahkan aku membawa

pasukan menuju ke Belakang garis pertahanan Madiun serta

mengambil tiga puluh orang pengawal dari Kademangan ini.”

“ Ki Sanak.” jawab Ki Demang, “ sudahlah. Jika Ki Sanak

bersedia menunjukkan pertanda perintah Panembahan

Senapati, semuanya akan dapat kau lakukan sebagaimana

kau katakan.”

“ Persetan.” geram Jaka Rampan, “ jika kau menolak.

jangan menyesal. Kau tahu bahwa aku membawa pasukan.

Kau tahu bahwa tugas setiap prajurit Mataram adalah

menghancurkan pemberontakan.”

“ Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Demang.

“ Sangkal Putung telah memberontak terhadap

Panembahan Senapati.” geram Jaka Rampan.

“ Kau jangan asal saja bersikap Ki Sanak.” Agung

Sedayulah yang menyahut, sementara Swandaru memang

menjadi bimbang. Ia kurang mengerti hubungan kuasa

Panembahan Senapati dengan orang-orang yang mendapat

perintahnya atau tidak.

“ Aku masih memberimu kesempatan” berkata Jaka

Rampan, “ jika kesempatan ini tidak kau pergunakan, maka

Sangkal Putung akan menjadi karang abang.”

Wajah Swandaru memang menjadi merah. Namun ternyata

Agung Sedayu masih sempat berpikir dengan baik. Karena itu,

maka iapun berkata, “ Baiklah. Tunggulah sampai lewat

 

tengah malam. Kami akan membicarakannya dengan para

bebahu yang akan segera kami panggil. Dengan demikian

maka keputusan yang kami ambil akan dipertanggung

jawabkan oleh seluruh pemimpin Kademangan ini.”

Ki Demang memang menjadi agak bingung karena sikap

Agung Sedayu yang tiba-tiba menjadi lunak itu. Tetapi ia tidak

membantah. Mungkin Agung Sedayu sekedar mencari

kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi mereka atau

perhitungan-perhitungan lain untuk mengatasi persoalan yang

dihadapi oleh Sangkal Putung itu.

Dalam pada itu, maka Agung Sedayu telah minta kepada Ki

Demang untuk memerintahkan beberapa orang memberikan

tempat kepada Jaka Rampan untuk beristirahat sambil

menunggu keputusan orang-orang Sangkal Putung.

Namun dalam pada itu, ketika Jaka Rampan itu telah

berada di gandok, maka iapun telah memanggil beberapa

orang pembantunya. Dengan singkat Jaka Rampan

memberitahukan kemungkinan yang bakal terjadi.

“ Aku masih harus menunggu. Mereka akan membicarakan

dengan para bebahu.” berkata Jaka Rampan. Lalu, “ namun

yang agaknya paling cerdik adalah menantu Ki Demang itu.”

“ Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” bertanya

seorang perwira bawahannya.

“ Menunggu dan bersiap-siap.” berkata Jaka Rampan, “

Tetapi aku yakin, bahwa menantu Ki Demang yang cerdik itu

tidak cukup mempunyai keberanian untuk menolak.”

Para perwira bawahannya mengangguk-angguk. Namun

seorang diantara mereka bertanya, “ Apakah kita dapat yakin,

bahwa menantu Ki Demang itu tidak akan berani menolak?”

“ Mula-mula nampaknya ia dengan keras menolak. Tetapi

ketika aku mulai mengancam, maka ia menjadi sedikit lunak,

dan bersedia membicarakannya dengan para bebahu yang

akan dipanggil sekarang juga.” jawab Jaka Rampan.

Sementara itu yang lainpun bertanya, “ Jika mereka

menolak, apakah kita akan benar-benar menghancurkan

Kademangan itu.”

Jaka Rampan termangu-mangu. Katanya, “ Kademangan

ini adalah Kademangan yang kuat. Jika mereka menolak,

 

maka kita akan meninggalkan Kademangan ini dan

mengancam, bahwa kita akan kembali lagi. Kita akan

membawa kekuatan yang lebih besar. Kita akan menangkap

orang-orang yang bertanggungjawab atas penolakan itu.”

“ Darimana kita akan mendapat kekuatan yang lebih besar

itu?” bertanya salah seorang perwira yang lain.

“ Aku kira pasukan paman Gondang Bangah sudah ada di

Semangkak. Sebelum mereka berangkat ke Madiun dan

menyusup sebagaimana kita lakukan sesuai dengan rencana,

melalui jalan kaki masing-masing, maka biarlah kita

menghukum orang-orang Sangkal Putung. Mereka akan

berpikir berulang kali untuk benar-benar melawan prajurit

Mataram dalam kesatuan yang utuh.” jawab Jaka Rampan.

“ Jika demikian, apakah tidak sebaiknya satu dua orang

diantara kita pergi ke Semangkak untuk meyakinkan apakah

pasukan itu sudah ada disana?” berkata salah seorang

perwiranya.

“ Paman Gondang Bangah tidak pernah meleset dari

rencana yang telah tersusun.” berkata Jaka Rampan, “ Jika

benar-benar orang-orang Kademangan ini menolak, maka kita

minta agar mereka menyiapkan pengawal segelar sepapan.

Kita benar-benar akan datang dengan pasukan paman

Gondang Bangah.”

Para perwiranya mengangguk-angguk. Seorang

diantaranya berkata, “ Aku kira orang-orang Kademangan ini

tidak akan berani bertempur melawan prajurit Mataram dalam

kelengkapannya sebagai prajurit. Bagaimanapun juga, mereka

akan dibayangi oleh tuduhan telah memberontak terhadap

Mataram karena telah melawan prajurit-prajuritnya.”

Jaka Rampan mengangguk-angguk. Sementara itu seorang

prajuritnya telah memberitahukan bahwa pertemuan dengan

para bebahu telah dimulai. Satu-satu para bebahu telah

datang berkumpul dan berbincang di pringgitan, langsung

dipimpin oleh Ki Demang sendiri.

“ Bagaimana dengan anak dan menantunya?” bertanya

Jaka Rampan.

 

“ Mereka ada juga diantara para bebahu. Tetapi aku tidak

dapat mendengar apa yang telah mereka bicarakan.” berkata

prajurit itu.

“ Biarlah kita menunggu sampai tengah malam.” berkata

Jaka Rampan, “ jika kita tidak telaten, maka kita akan

menentukan sikap.”

Beberapa saat, Jaka Rampan menunggu. Rasa-rasanya

waktu berjalan sangat lamban. Ketika terdengar kentongan

diregol dipukul dengan nada dara muluk, maka iapun bertanya

kepada seorang perwiranya, “ Apakah bunyi kentongan itu

mengisyaratkan tengah malam?”

“ Ya” jawab perwira itu, “ agaknya saat itu memang telah

menginjak pada pertengahan malam.”

“ Dan pembicaraan itu belum selesai?” bertanya Jaka

Rampan.

“ Agaknya belum.” jawab prajurit itu.

Jaka Rampan masih menyabarkan diri dan menunggu

beberapa saat. Namun kemudian ia menjadi tidak sabar,

karena pembicaraan dipringgitan nampaknya masih saja

belum berkeputusan.

Karena itu, maka Jaka Rampanpun kemudian berkata, “

Aku akan pergi ke pringgitan.”

Dua orang perwira bawahannya mengikutinya. Dengan

dada tengadah Jaka Rampan telah hadir di pringgitan.

“ Nah, katakan, apakah keputusan kalian?” bertanya Jaka

Rampan.

Ki Demang memang menjadi agak bingung. Iapun

kemudian memandang Agung Sedayu dengan agak gelisah.

“ Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu kemudian, “ aku

mohon Ki Sanak bersabar sebentar. Kita masih belum selesai.

Ada beberapa persoalan yang masih harus kami pecahkan.”

“ Jangan mengada-ada.” geram Jaka Rampan, “

sebenarnya kalian tidak mempunyai pilihan.”

Sementara Agung Sedayu termangu-mangu, maka Glagah

Putih telah keluar dari ruang dalam. Iapun kemudian duduk

dibelakang Agung Sedayu sambil menyeka peluhnya.

“ Sudah?” bisik Agung Sedayu.

“ Ya” jawab Glagah Putih pendek.

 

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Iapun

kemudian berkata, “ Baiklah Ki Sanak. Jika kau memaksa

untuk menjawab, biarlah aku mewakili Ki Demang. Kami

dengan terpaksa sekali tidak dapat memeriuhi permintaan Ki

Sanak, menyediakan tigapuluh orang pengawal terpilih.”

Wajah Jaka Rampan menjadi merah. Katanya dengan nada

berat, “ Apakah sudah kalian pertimbangkan masak-masak

sikap kalian.”

“ Sudah Ki Sanak.” jawab Agung Sedayu.

Tetapi Jaka Rampan berkata, “ Aku ingin mendengar

jawaban Ki Demang sendiri. Yang menjadi Demang disini

bukan kau.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Iapun kemudian

berkata kepada Ki Demang, “ Silahkan menjawab Ki Demang.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun iapun

kemudian berkata, “ Jawabku sama dengan jawaban

menantuku.”

Telinga Jaka Rampan bagaikan tersentuh api. Jawaban itu

sama sekali tidak dikehendakinya. Karena itu, maka iapun

membentak, “ Jawab sesuai dengan pertanyaanku.”

Ki Demang mengerutkan keningnya, sementara Swandaru

beringsut setapak maju.

“ Baiklah.” berkata Ki Demang. Lalu katanya, “ Ki Sanak.

Jawabku tidak berubah. Setelah kami berbicara dengan para

bebahu, maka kami berkesimpulan bahwa kami berkeberatan

mengirimkan anak-anak kami bersama dengan Ki Sanak jika

Ki Sanak tetap tidak mau menunjukkan pertanda dari Mataram

bahwa Ki Sanak memang membawa kuasa Panembahan

Senapati.”

“ Persetan.” geram Jaka Rampan, “ dengan demikian

maka kalian benar-benar memberontak terhadap Mataram.

Kalian lebih percaya kepada sepotong benda apakah itu

lencana atau tunggul kerajaan daripada kepada prajurit-prajurit

Mataram.”

Jaka Rampan berhenti sejenak, lalu, “ jika demikian tunggu

sebentar. Kami benar-benar akan mengambil tindakan. Tidak

seorangpun yang diperkenankan keluar dari kademangan ini.”

“ Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Demang.

 

“ Kalian kami jadikan tawanan kami.” geram Jaka Rampan.

“ Tidak mungkin.” geram Swandaru, “ kalian tidak berhak

menahan kami dirumah kami sendiri.”

Tetapi Agung Sedayu memberi isyarat kepada Swandaru

untuk tenang, sementara ia berbisik kepada Glagah Putih, “

Kau dengar pernyataan Jaka Rampan itu?”

Diam-diam Glagah Putihpun telah bergeser meninggalkan

pringgitan itu. Dalam pada itu, seorang diantara perwira

bawahan Jaka Rampan telah meninggalkan pringgitan itu

pula. Ia tahu apa yang harus dikerjakan. Sejenak kemudian,

maka para prajurit Mataram itupun telah menebar di halaman,

sedangkan dua orang diantara mereka dengan tergesa-gesa

telah pergi ke Semangkak.

Jaka Rampan sendiri masih berada di pringgitan. Namun

iapun kemudian berkata, “ Aku masih memberi kesempatan

kepada kalian. Aku akan menunggu dihalaman, diantara

prajurit-prajuritku. Jika kalian benar-benar menolak, maka

kalian akan berhadapan dengan prajurit Mataram yang

sedang mengemban tugas. Aku tahu, bahwa Kademangan ini

adalah Kademangan yang kuat. Tetapi kami adalah prajuritprajurit.”

Jaka Rampan itupun kemudian telah bangkit dan

meninggalkan pringgitan itu sambil berkata, “ Semua orang

tinggal ditempat masing-masing.”

Wajah Swandarulah yang menjadi merah. Tetapi setiap kali

Agung Sedayu memberikan isyarat kepadanya untuk

mematuhi perintah Jaka Rampan itu, agar mereka tetap

tinggal ditempat masing-masing.

Dalam pada itu, dengan sigap para prajurit Mataram telah

menempatkan diri dalam kelompok-kelompok kecil ditempattempat

terpenting di halaman. Mereka mengawasi setiap

perkembangan keadaan dan setiap gerak para pengawal yang

menjadi agak kebingungan karena mereka tidak mendapat

perintah apapun juga. Namun para pengawal yang terlatih

itupun segera bersiaga pula. Mereka tahu bahwa para

pemimpin Kademangan ada dipringgitan. Dalam keadaan

yang gawat, maka mereka yakin, perintah itu akan diberikan

dari pringgitan. Mungkin oleh Ki Demang sendiri, atau oleh

 

Swandaru atau Agung Sedayu. Sementara para pengawal

yang ada digardupun telah siap untuk membunyikan

kentongan jika memang diperlukan.

Namun para pengawal Kademangan Sangkal Putung

memang sama sekali tidak bermimpi untuk bertempur

melawan prajurit Mataram. Selama ini justru mereka berusaha

untuk mengabdikan diri mereka kepada Mataram.

Ketika Jaka Rampan dan para perwira prajurit Mataram

telah turun dari pringgitan dan mengatur prajurit mereka,

Agung Sedayupun berkata, “ Kita akan menunggu

perkembangan keadaan.”

“ Aku tidak telaten.” geram Swandaru.

“ Kita tidak dapat dengan serta merta bertempur melawan

prajurit Mataram dalam pakaian dan kelengkapan keprajuritan

mereka. Apalagi kita tahu benar, bahwa Jaka Rampan

memang seorang perwira yang namanya mulai menanjak.

Namun kitapun tidak bersalah karena Jaka Rampan tidak mau

dan bahkan mungkin memang tidak memiliki pertanda kuasa

Panembahan Senapati. Mungkin Jaka Rampan telah

kejangkitan nafsu yang membuatnya untuk mengambil

keuntungan dari rencananya sendiri menyusup ke Madiun.”

berkata Agung Sedayu.

Dalam pada itu, ternyata beberapa saat kemudian,

sepasukan prajurit Mataram yang lain, yang dipimpin oleh

seorang Senapati yang bernama Gondang Bangah telah

memasuki halaman Kademangan. Sebagaimana pasukan

Jaka Rampan, maka pasukan inipun memakai kelengkapan

pertanda prajurit Mataram, sehingga dengan demikian, maka

dua pasukan Mataram yang dipimpin oleh Jaka Rampan dan

Gondang Bangah telah berada di halaman Kademangan dan

menebar sampai ke halaman samping.

Jaka Rampan yang menyambut kedatangan Gondang

Bangah berkata sambil tersenyum, “ Kita menghadapi sikap

para pemimpin Sangkal Putung yang sombong.”

Gondang Bangah tertawa. Iapun kemudian bersama Jaka

Rampan telah melangkah ke pringgitan. Namun tanpa naik ke

pringgitan itu Gondang Bangah berteriak, “ Apakah kalian

menolak perintah adi Jaka Rampan?”

 

Yang menjawab adalah Agung Sedayu sambil duduk, “

Kami hanya ingin melihat pertanda perintah Panembahan

Senapati. Apakah kau membawa Ki Sanak? Dan barangkali Ki

Sanak merasa perlu untuk memperkenalkan diri kepada

kami?”

Gondang Bangah mengerutkan keningnya. Dengan nada

tinggi ia bertanya, “ Siapakah kau? Apakah kau Demang

disini?”

“ Menantu Ki Demang.” sahut Jaka Rampan, “ ia adalah

orang yang terlalu banyak berbicara disini. Melampaui Ki

Demang sendiri. Bahkan anak laki-laki Ki Demang semula

untuk setuju untuk mengumpulkan tigapuluh orang pengawal

yang akan bersama-sama dengan pasukanku melakukan

tugas yang berat dibelakang garis pertahanan Madiun. Tetapi

menantu Ki Demang itu telah mencairkan kembali kesediaan

itu karena ia terlalu banyak berbicara.”

“ Nah, jika demikian, atas nama adi Jaka Rampan sekali

lagi aku bertanya, apakah kalian bersedia membantu pasukan

Mataram atau tidak. Aku tidak mau mendengar jawaban

siapapun selain Ki Demang.” berkata Gondang Bangah.

Ki Demang memandang Agung Sedayu dan Swandaru

berganti-ganti. Namun iapun kemudian menjawab, “ Maaf Ki

Sanak. Dengan cara seperti ini kami tidak dapat membantu

kalian. Sekali lagi aku jelaskan, bahwa Sangkal Putung akan

tetap setia kepada Mataram sepanjang kami yakin bahwa

kami benar-benar berhadapan dengan limpahan kuasa

Panembahan Senapati dengan pertanda yang sah.”

“ Baik. Kami tidak akan memberi keselamatan lagi. Karena

itu, maka Ki Demang, anak dan menantunya akan menjadi

tawanan kami. Kalian bertiga akan kami bawa menghadap

Panembahan Senapati untuk diadili.” berkata Gondang

Bangah.

“ Persoalannya sama saja Ki Sanak.” berkata Ki Demang, “

apakah kalian berhak menangkap kami dan membawa kami

menghadap Panembahan Senapati? Aku tidak yakin, bahwa

Ki Sanak benar-benar akan membawa kami menghadap

Panembahan Senapati. Ki Sanak dapat memperlakukan kami

diluar batas paugeran dan untuk selama-lamanya kami tidak

 

akan sampai kehadapan Panembahan Senapati tetapi juga

tidak kembali ke Sangkal Putung.”

“ Ki Demang sudah berani merifitnah kami?” bentak

Gondang Bangah.

“ Aku menjadi tidak telaten, kakang Gondang.” berkata

Jaka Rampan. Lalu katanya kepada Ki Demang, “ Ki Demang.

Apakah kita benar-benar harus beradu kekuatan? Apakah

Kademangan Sangkal Putung benar-benar ingin bertempur

melawan pasukan Mataram? Yang ada disini sekarang, bukan

hanya pasukanku. Tetapi juga pasukan kakang Gondang

Bangah. Nah, perhatikan keadaan ini.”

Ki Demang memang menjadi bingung. Tetapi Agung

Sedayu telah memotong, setuju atau tidak disetujui oleh

Gondang Bangah, katanya, “ Kami tidak dapat tunduk kepada

perintah siapapun yang tidak jelas bagi kami.”

“ Bagus.” teriak Gondang Bangah yang agaknya

mempunyai darah yang lebih mudah mendidih daripada Jaka

Rampan, “ kita akan bertempur.”

Halaman rumah Ki Demang itu menjadi tegang. Para

prajurit Mataram dibawah pimpinan Jaka Rampan dan

Gondang Bangah itupun telah bersiap. Mereka telah berada

ditempat-tempat yang mapan, yang dengan mudah dapat

menyergap para pemimpin Kademangan yang berada di

pringgitan.

Sementara itu, para pengawalpun telah bersiap pula. Tetapi

jumlah mereka sama sekali tidak memadai. Para pengawal

tidak bersiap untuk membenturkan kekuatan melawan para

prajurit Mataram. Merekapun tidak tahu apakah mereka harus

melawan dan melindungi Kademangan itu seandainya para

prajurit Mataram benar-benar akan menangkap Ki Demang.

Tetapi para pengawal melihat di pringgitan itu ada Ki

Demang, Ki Jagabaya, Agung Sedayu dan Swandaru.

Sementara itu merekapun tahu, bahwa didalam rumah itu

masih ada Glagah Putih, Sekar Mirah dan barangkali juga

Pandan Wangi meskipun keadaannya sedang tidak

menguntungkan.

Dalam puncak ketegangan itu terdengar suara Gondang

Bangah, “ Aku akan menghitung sampai tiga. Jika kalian tidak

 

berubah sikap, maka aku akan menjatuhkan perintah untuk

menangkap kalian dengan kekerasan. Jika pengawalpengawal

Kademangan ini berusaha melindungi kalian, atau

ada diantara kalian yang melawan, maka kami benar-benar

akan bertindak sesuai dengan tugas kami sebagai prajurit.”

Suasana menjadi semakin tegang, ketika Gondang Bangah

itu mulai menghitung “ Satu” sementara para prajurit

Matarampun mulai bergerak. Kemudian “ Dua”

Dan yang mengejutkan itu terjadilah. Selagi para prajurit

dibawah pimpinan Jaka Rampan dan Gondang Bangah mulai

melangkah mendekati pendapa dan pringgitan, sementara

para pemimpin Kademangan Sangkal Putung itu masih saja

duduk betapapun ketegangan mencekam jantung,

terdengarlah suara di seketheng mendahului mulut Gondang

Bangah?

“ Jangan ucapkan bilangan berikutnya.”

Semua orang telah berpaling kearah suara itu. Seseorang

melangkah dalam kegelapan keluar dari seketheng dibawah

cahaya lampu yang suram. Namun semua orang segera

mengenalnya, bahwa orang itupun mengenakan pakaian

seorang prajurit Mataram dengan pertanda seorang Senapati.

Sebelum orang-orang itu sempat mengenali wajahnya,

maka beberapa orang perwira yang lain telah muncul pula

diikuti oleh dua orang yang membawa tunggul pertanda

kesatuan serta kelebet kebesaran.

Gondang Bangah dan Jaka Rampan bagaikan membeku

melihat para perwira itu. Sementara dari seketheng itu pula

serta seketheng disisi yang sebelah, telah muncul pasukan

yang berkelengkapan lengkap sebagai prajurit Mataram pula.

Merekapun menebar justru diluar tebaran para prajurit

Mataram yang telah hadir lebih dahulu. Bahkan kemudian

diregol halaman itupun telah muncul pula sekelompok prajurit

Mataram yang lain.

Dalam ketegangan itu, maka seorang perwira dalam

kedudukan sebagai Senapati Besar prajurit Mataram telah

naik kependapa. Orang itu adalah Untara. Sedangkan para

bebahu Kademangan itu bersama Agung Sedayu dan

Swandarupun telah berdiri pula.

 

“ Atas nama kuasa Panembahan Senapati, aku perintahkan

Jaka Rampan dan Gondang Bangah mengumpulkan prajuritprajuritnya.”

terdengar suara Untara berat membelah

keheningan yang mencekam.

Sejenak Jaka Rampan dan Gondang Bangah berdiri

bagaikan membeku. Mereka sama sekali tidak mengira,

bahwa di Kademangan Sangkal Putung itu telah hadir pula

Senapati Besar Untara dengan pasukannya. Demikian

cepatnya Senapati itu mendengar apa yang terjadi di Sangkal

Putung.

Selagi Jaka Rampan dan Gondang Bangah termangumangu,

maka Glagah Putih telah menyusupi lewat pintu

pringgitan dan berdiri dibelakang Agung Sedayu. Agung

Sedayu berpaling kepadanya sambil tersenyum, sementara

Glagah Putihpun tersenyum pula.

Jaka Rampanpun kemudian menyadari, bahwa orang

orang Sangkal Putung itu telah memperdayainya. Mereka

minta waktu untuk membicarakan dengan para bebahu

sampai lewat tengah malam adalah sekedar usaha menunda

waktu. Sementara itu, mereka telah mengirimkan utusan untuk

menemui Untara di Jati Anom.

“ Yang datang tentu pasukan berkuda.” berkata Jaka

Rampan didalam hatinya. Tetapi tidak seorangpun diantara

mereka yang mendengar derap kaki kuda. Namun jika yang

datang itu bukan pasukan berkuda, tentu memerlukan waktu

yang lebih panjang.

Jaka Rampan menyadari, bahwa mereka berhadapan

dengan Senapati Besar Untara yang telah mereka kenal

sebagai seorang Senapati yang tegak pada paugeran dan

tugas-tugas keprajuritan. Karena itu, maka Jaka Rampan dan

Gondang Bangahpun telah mengumpulkan prajurit mereka

masing-masing. Sementara prajurit Mataram dibawah

pimpinan langsung Senapati Besar Untara mengamati mereka

dengan seksama.

Demikian para prajurit itu sudah berkumpul, maka

Untarapun berkata, “ Jaka Rampan dan Gondang Bangah,

marilah, kita akan berbicara dengan para bebahu

Kademangan Sangkal Putung.”

 

Untara tidak menunggu keduanya. Iapun kemudian telah

melangkah menuju kepringgitan. Bersama para bebahu dan

orang-orang yang ada dipringgitan, maka iapun telah duduk

pula. Sejenak kemudian, maka Jaka Rampan dan Gondang

Bangahpun telah hadir pula diantara mereka.

Sejenak suasana masih terasa tegang. Jaka Rampan dan

Gondang Bangah duduk sambil menundukkan kepalanya.

Mereka menyesali kebodohan mereka, sehingga mereka

justru telah terjebak.

“ Siapakah yang memerintahkan kalian untuk pergi ke

belakang garis pertahanan Madiun?” tiba-tiba saja Untara

itupun bertanya.

Baik Jaka Rampan maupun Gondang Bangah tidak

menjawab. Mereka justru menjadi semakin menundukkan

kepala.

“ Aku tahu bahwa kalian telah mengambil kebijaksanaan

sendiri.” berkata Untara, “ tetapi apa alasan kalian

meninggalkan kesatuan kalian? Kalian tidak dapat begitu saja

pergi untuk waktu yang lama tanpa alasan yang dapat diterima

akal.”

Jaka Rampan dan Gondang Bangah tidak segera

menjawab. Sementara Untarapun berkata, “ Baiklah jika kalian

berkeberatan untuk memberikan keterangan sekarang. Kalian

akan kami bawa menghadap ke Mataram. Bahkan jika perlu,

aku akan mohon untuk membawa kalian menghadap langsung

Panembahan Senapati.”

Gondang Bangah menarik nafas dalam-dalam. Dengan

nada rendah ia berkata, “ Memang ada niat untuk membantu

mempercepat penyelesaian persoalan antara Mataram dan

Madiun. Kami memang ingin memperlemah kedudukan

Madiun di belakang garis pertahanan mereka.”

“ Satu rencana yang mustahil.” berkata Untara, “ kalian

tidak mempelajari keadaan dengan sebaik-baiknya. Mungkin

kalian dapat memasuki daerah dibelakang garis pertahanan.

Namun sesudah itu apa yang dapat kalian lakukan? Kalian

akan menyerang kesatuan-kesatuan prajurit Madiun atau akan

melakukan pengacauan dibelakang garis pertahanan? Atau

dengan kekuatan yang kalian bawa, kalian akan berusaha

 

langsung menyerang istana Panembahan Madiun atau

rencana yang lain?”

Gondang Bangah semakin menunduk. Dengan suara

lemah ia berkata, “ Kami belum mempunyai rencana

terperinci.”

“ Mungkin kalian ingin memanfaatkan keadaan ini untuk

mendapat pujian atau bahkan kemudian mendapatkan

kedudukan yang lebih tinggi. Aku tahu bahwa nama kalian,

terutama Jaka Rampan justru mulai menanjak. Tetapi jalan

pintas yang akan kalian tempuh bukan jalan yang baik.”

berkata Untara.

Gondang Bangah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “

Memang, mungkin kami telah mengambil langkah yang tidak

wajar.”

Untara mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “ Kita

akan membicarakannya kelak. Besok kita akan pergi ke

Mataram.”

Berbeda dengan Gondang Bangah, justru Jaka Rampan

tiba-tiba berkata, “ Jika saja kami mendapat kesempatan.”

“ Kesempatan apa?” bertanya Untara.

“ Melaksanakan rencana kami.” jawab Jaka Rampan, “

kami akan membuktikan, bahwa kami adalah putera-putera

terbaik Mataram.”

“ Kau yakin bahwa kau dapat berbuat sesuatu dibelakang

garis pertahanan Madiun?” bertanya Untara.

Jaka Rampan termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak

menunduk lagi. Bahkan nampak wajahnya yang tengadah.

Dengan nada tinggi ia berkata,

“ Ki Untara. Barangkali Ki Untara pernah mendengar serba

sedikit tentang kemampuanku. Beberapa kali aku telah

menyelesaikan tugas dengan baik. Kelompok demi kelompok

kejahatan disekitar Ganjur, Panggang sampai kepesisir telah

kami bersihkan.”

“ Sudah aku katakan, bahwa aku mengerti. Namamu mulai

menanjak sehingga dalam waktu singkat kau telah menduduki

jabatanmu yang sekarang.” berkata Untara. Lalu, “ Tetapi

justru karena itu kau mempunyai penilaian yang salah

terhadap dirimu sendiri. Kau baru dapat menumpas kejahatanKang

Zusi - http://kangzusi.com/

kejahatan kecil dilingkungan tugasmu sampai ke pesisir, kau

sudah merasa memiliki kelebihan yang jarang ada

bandingnya. Tetapi sebenarnyalah bahwa ilmumu itu bukan

apa-apa bagi Sangkal Putung. Sebenarnya tanpa aku dan

pasukanku, Sangkal Putung akan dapat menahan pasukanmu

dan pasukan Gondang Bangah. Tetapi karena kalian memakai

kelengkapan prajurit Mataram yang utuh, maka Sangkal

Putung menjadi ragu-ragu. Memang tidak bijaksana bagi

Sangkal Putung untuk bertempur langsung melawan prajurit

Mataram meskipun mereka tahu, bahwa kalian justru telah

melanggar paugeran prajurit Mataram. Karena itulah maka

aku hadir disini.”

Jaka Rampan mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah

Untara sekilas, namun ketika Untara kemudian menatap

matanya, maka Jaka Rampan segera melemparkan

pandangannya. Namun ia masih juga berkata, “ Ki Untara.

Kami memang tidak dapat berbuat apa-apa dihadapan Ki

Untara dengan pasukan Mataram. Apalagi Ki Untara telah

langsung menemukan kami disaat kami mengayunkan

langkah yang bertentangan dengan paugeran seorang prajurit.

Tetapi yang Ki Untara katakan, bahwa Sangkal Putung

mempunyai kemampuan lebih besar dari kemampuan kami,

itulah yang agak janggal ditelinga kami.”

“ Jadi kau tidak percaya?” bertanya Ki Untara.

“ Mungkin yang Ki Untara maksudkan, Sangkal Putung

mempunyai jumlah pengawal yang jauh lebih banyak dari

jumlah prajurit yang aku bawa sehingga akan dapat

mengalahkan prajurit Mataram seandainya benar-benar terjadi

pertempuran.” berkata Jaka Rampan.

“ Salah satu pengertiannya memang demikian. Tetapi

pengertian yang lain adalah, bahwa kau, pemimpin dari

pasukan Mataram yang akan menyusup kebelakang gardu

pertahanan Madiun, tidak akan dapat melampaui kemampuan

para pemimpin di Sangkal Putung.”

“ Omong kosong.” diluar sadarnya Jaka Rampan

menyahut.

Wajah Untara menjadi merah. Dengan nada keras ia

berkata, “ Dengan siapa kau berbicara?”

 

Jaka Rampan menundukkan kepalanya. Jawabnya, “

Dengan Senapati Besar Mataram di Jati Anom.”

“ Nah, jika demikian maka kau tidak pantas menuduhku

omong kosong.” berkata Untara, “ meskipun demikian, jika

kau ingin membuktikan, aku kira para pemimpin di Sangkal

Putung tidak akan ingkar. Apalagi para pemimpin mudanya.

Disini ada anak dan menantu Ki Demang. Salah seorang dari

mereka dapat membuktikan, bahwa kau bukan putera terbaik

dari Mataram.”

Terasa dada Jaka Rampan bagaikan meledak. Sebagai

seorang perwira muda yang namanya sedang menanjak,

maka pernyataan Untara itu serasa telah menghinanya.

Apalagi ketika kemudian Untara berkata, “ Nah, terserah

kepadamu Jaka Rampan.”

Jaka Rampan memandang Untara sekilas. Kemudian

katanya, “ Jika Senapati menginginkan, aku bersedia

membuktikan. Tetapi sudah tentu jangan dijadikan alasan

untuk memperberat kesalahan seakan-akan aku menentang

keputusan Senapati disini.”

“ Bagus.” berkata Untara, “ aku tidak akan menyebutnya

demikian. Tetapi hal ini akan aku tawarkan kepada para

pemimpin muda di Sangkal Putung.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun

ternyata Swandarulah yang berkata lantang, “ Kakang Untara.

Kakang Agung Sedayu masih belum sembuh benar. Jika

memang kesempatan itu diberikan kepada para pemimpin

muda di Sangkal Putung, biarlah aku yang membuktikannya,

bahwa di Sangkal Putung terdapat orang-orang yang mampu

mengimbangi kemampuan perwira prajurit Mataram.”

Untara mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya,

“ Biarlah kita melihat. Jika Jaka Rampan tidak percaya, kita

akan membuktikannya. Bukan maksudku memperkecil harga

diri seorang perwira prajurit Mataram. Namun agar para

prajuritpun menyadari, bahwa para pengawal di Kademangan

ini merupakan bagian dari kekuatan Mataram itu. Aku juga

seorang prajurit. Tetapi justru karena tugasku, maka aku

mengerti nilai dari pengabdian orang-orang Sangkal Putung

dan Kademangan-kademangan lain, bahkan seluruh tlatah

 

Mataram, sebagaimana merekapun mengerti arti seorang

prajurit bagi mereka, tidak hanya di medan perang.” Untara

menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “ Sementara yang

kau lakukan adalah justru menodai citra prajurit Mataram itu

sendiri.”

Jaka Rampan termangu-mangu sejenak. Namun iapun

kemudian berkata, “ Aku tidak ingkar Ki Untara. Tetapi secara

pribadi aku ingin membuktikan, bahwa aku adalah putera

Mataram terbaik yang akan dapat menyelesaikan tugas yang

dibebankan dipundakku, atau yang telah aku angkat sendiri

bagi kepentingan Mataram.”

“ Baiklah.” berkata Untara, “ kita akan melihat dengan jujur

apakah benar Jaka Rampan memiliki sebutan putera terbaik

dari Mataram.”

Jaka Rampan memandang Swandaru dengan sorot mata

yang menyala. Anak muda itu nampaknya tidak begitu

menghiraukannya dengani sebutan putera Mataram terbaik.

Bahkan anak muda yang semula telah menyetujui

menyerahkan pengawal Sangkal Putung sebagaimana

dimintanya itu, telah melangkah turun ke halaman sambil

berkata, “ Marilah. Kita akan bermain-main di halaman.”

Untaralah yang kemudian mengatur segala sesuatunya.

Beberapa orang prajurit Mataram yang dibawanya berdiri

memagari sebuah lingkaran. Untara dan Gondang Bangah

akan menjadi saksi dari perkelahian itu. Namun selain mereka,

Untara juga menunjuk Agung Sedayu dan Glagah Putih untuk

mengawasinya.

Sejenak kemudian, maka arenapun telah siap. Kedua belah

pihak telah melepaskan senjata mereka. Jaka Rampan telah

meletakkan pedangnya, sementara Swandaru telah

meletakkan pula cambuknya.

Ki Demang yang berdiri diluar arena bersama Ki Jagabaya

menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa orang yang

menyebut dirinya Jaka Rampan dan yang sudah berani

mengambil sikap sendiri, menerobos garis pertahanan

Madiun, tentu seorang yang yakin akan kemampuannya

sendiri.

 

Demikian setelah segala sesuatunya siap, maka Untarapun

berkata, “ Yang akan berhadapan di arena adalah Jaka

Rampan pribadi dan Swandaru pribadi pula. Keduanya

sekedar ingin membuat takaran tentang ilmu kanuragan.

Karena itu, keduanya harus jujur terhadap diri sendiri. Kalah

dan menang bukan persoalan.”

Jaka Rampan dan Swandaru mengangguk.

Sementara itu Untarapun bertanya, “ Apakah kalian sudah

siap?”

“ Ya.” sahut Jaka Rampan dengan serta merta.

Sedangkan Swandaru menjawab kemudian, “ Ya. Aku

sudah siap.”

Untara berdiri diantara kedua orang itu untuk beberapa

saat. Kemudian iapun memberi isyarat kepada Gondang

Bangah dan Agung Sedayu, bahwa perkelahian itu akan

segera dimulai.

Sesaat kemudian, maka Untarapun bergeser menepi.

Dengan demikian maka perkelahian antara Jaka Rampan,

seorang perwira muda prajurit Mataram yang namanya

sedang menanjak naik, melawan Swandaru, anak Ki Demang

Sangkal Putung, murid Kiai Gringsing yang tinggal di

padepokan kecil di Jati Anom.

Demikian perkelahian itu dimulai, maka nampak

kegembiraan di wajah Jaka Rampan. Ia merasa mendapat

penyaluran dari kekecewaannya, bahwa ia telah gagal untuk

mendapatkan pujian atas langkah-langkah yang akan

diambilnya, disamping untuk kepentingan pribadinya.

Tetapi Swandaru menjadi gembira pula. Ia akan

menunjukkan kepada Untara, kepada Agung Sedayu dan

kepada banyak orang bahwa ia telah memiliki ilmu yang tinggi.

Terutama ia ingin menunjukkan kepada saudara tua

seperguruannya, betapa ia akan dapat membanggakan diri

akan kemampuannya.

“ Agaknya orang-orang Mataram hanya mengenal kakang

Agung Sedayu. Kini mereka akan melihat, bahwa adik

seperguruannya justru memiliki kelebihan daripadanya.”

berkata Swandaru didalam hatinya.

 

Jaka Rampan yang telah bersiap itupun mulai bergeser

mendekati Swandaru. Sementara Swandarupun telah bersiap

pula untuk menghadapinya.

Namun tiba-tiba saja Jaka Rampan masih bertanya, “

Kenapa kau begitu cepat berubah sikap tentang permintaanku

untuk menyiapkan pengawal dari Sangkal Putung ini?”

“ Agaknya aku termasuk orang yang terlalu jujur

menanggapi keadaan. Aku sama sekali tidak berprasangka

buruk terhadapmu. Tetapi ternyata dugaanku itu salah. Dan

aku mengakui kesalahan itu, sehingga aku harus berubah

sikap.” jawab Swandaru.

Jaka Rampan mengangguk-angguk. Ternyata Swandaru itu

cukup cepat pula menanggapi keadaan.

Namun Jaka Rampan tidak mengira kalau Swandaru itu

justru bertanya, “ Apakah kau sudah siap? Atau masih ada lagi

yang ingin kau tanyakan kepadaku selagi kau masih sempat?”

“ Persetan.” geram Jaka Rampan.

Namun tiba-tiba saja Jaka Rampan itu sudah melenting

menyerang.

Swandaru yang sudah siap itupun segera bergeser. Tetapi

dengan tiba-tiba pula ia telah menyerang kembali dengan

dahsyatnya. Satu loncatan panjang dengan kaki terayun

menyamping. Ketika Jaka Rampan menghindari serangan itu

dengan cepat pula, maka Swandarupun telah menyerangnya

pula. Dengan memutar tubuhnya, maka kakinyapun telah

terayun mendatar.

Tetapi Jaka Rampan tidak menghindari serangan itu. Ia

terlalu percaya akan kekuatannya. Karena itu, maka Jaka

Rampan itu tidak berusaha menghindari serangan itu. Dengan

kedua tangannya Jaka Rampan telah membentur putaran kaki

Swandaru itu.

Maka terjadilah satu benturan yang keras. Swandaru yang

telah mempergunakan sebagian dari kekuatannya itu memang

terkejut. Kakinya terasa bagaikan membentur dinding baja

sehingga seakan-akan telah memental kembali. Dengan

demikian maka iapun menjadi terhuyung-huyung sesaat.

Namun dengan tangkasnya ia justru telah meloncat

mengambil jarak dari lawannya. Ketika kedua kakinya

 

menyentuh tanah, maka iapun telah tegak berdiri dan siap

menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi ternyata bahwa lawannya tidak memburunya.

Benturan yang terjadi agaknya terlalu keras baginya, sehingga

Jaka Rampan telah terdorong beberapa langkah surut. Ia

sama sekali tidak menyangka, bahwa anak padukuhan

Sangkal Putung itu memiliki kekuatan sedemikian besarnya.

Bagaimanapun juga Untara menjadi berdebar-debar

melihat benturan itu. Ia sudah mempercayakan kepada

Swandaru untuk membuktikan bahwa Jaka Rampan telah

menilai kekuatan di Sangkal Putung. Jika Swandaru tidak

berhasil membuktikannya, maka Jaka Rampan akan menjadi

semakin sombong akan kelebihannya. Meskipun ia akan

tunduk kepada Untara untuk dibawa ke Mataram, karena

kesalahannya telah bertindak sendiri, namun ia masih akan

dapat menengadahkan wajahnya dan berkata bahwa dirinya

adalah putera terbaik Mataram. Bahkan tidak mustahil bahwa

Jaka Rampan itu menganggap bahwa secara pribadi ia tentu

akan dapat melampaui kemampuan Untara. Hanya karena

kedudukan Untara sajalah maka Jaka Rampan tunduk

kepadanya.

Dalam pada itu, maka Jaka Rampan dan Swandaru telah

bersiap pula. Sejenak kemudian, pertempuran diarena itupun

telah mulai lagi. Justru semakin lama menjadi semakin cepat.

Jaka Rampan yang merasa dirinya seorang perwira yang baru

tumbuh dan dengan cepat memangku jabatan yang baik

dalam susunan keprajuritan di Mataram, berusaha untuk

menunjukkan kelebihannya itu. Ia berusaha dengan cepat

untuk mengalahkan Swandaru. Ia ingin segera berdiri disisi

tubuh yang terbaring pingsan di arena sambil menghadap

kepada Untara dan berkata, “ Apakah ada orang lain yang

lebih baik?”

Tetapi ternyata bahwa tidak semudah itu untuk

menundukkan Swandaru. Swandaru, saudara seperguruan

Agung Sedayu yang perhatiannya lebih banyak tertuju kepada

kekuatan jasmaniah serta dukungan tenaga cadangannya itu,

ternyata memang memiliki kekuatan yang mendebarkan.

Ketrampilan gerak yang tinggi dan langkah-langkah yang

 

kadang-kadang sulit untuk diperhitungkan. Meskipun setiap

geraknya nampak mantap dan berat, tetapi kakinya yang kuat

mampu melontarkan tubuhnya dengan cepat dan tangkas

kesegala arah yang dikehendaki.

Setelah bertempur beberapa saat, maka Jaka Rampan

mulai melihat satu kenyataan tentang Kademangan Sangkal

Putung. Anak laki-laki Ki Demang yang agak gemuk itu, benarbenar

memerlukan segenap kesungguhannya, meskipun ia

seorang prajurit Mataram yang terbaik.

Agung Sedayu mengikuti setiap gerak dan langkah dari

kedua orang yang bertempur itu dengan seksama. Karena

Swandaru adalah saudara seperguruannya, maka iapun

mengenal setiap tata geraknya dengan baik. Namun sekalisekali

Agung Sedayupun mengangguk-angguk melihat

kemampuan Swandaru mengembangkan unsur-unsur gerak

dari ilmunya, sehingga dengan demikian, maka ilmu itu pula

Swandaru menjadi seakan-akan memiliki unsur gerak yang

berlipat.

Dalam pada itu, maka ternyata bahwa Sekar Mirah dan

Pandan Wangipun telah hadir pula di halaman. Meskipun

mereka tidak terlalu dekat, tetapi mereka dapat melihat

dengan jelas, apa yang terjadi di arena.

Demikianlah, maka ketegangan telah mencengkam

halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung. Para prajurit

Mataram yang datang bersama Jaka Rampan dan Gondang

Bangah melihat pertempuran itu dengan heran. Mereka

menganggap bahwa Jaka Rampan adalah seorang perwira

muda yang jarang ada duanya. Namun berhadapan dengan

anak muda dari sebuah Kademangan, ternyata ia tidak segera

dapat mengatasinya.

Berbeda dengan penglihatan para prajurit, maka Gondang

Bangah justru menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia melihat

kelebihan Swandaru yang memiliki kekuatan raksasa itu.

Sementara itu, prajurit Mataram yang datang dari Jati Anom

memang berusaha untuk dapat menyaksikan pertempuran di

arena itu pula. Namun sebagian dari mereka harus mengamati

keadaan halaman itu seluruhnya. Bahkan juga mengawasi

 

prajurit yang datang bersama Jaka Rampan dan Gondang

Bangah.

Tetapi menurut pengamatan para prajurit dari Jati Anom itu

bahwa para prajurit yang datang dengan Jaka Rampan dan

Gondang Bangah ternyata telah terpukau oleh pertempuran

diarena antara pemimpinnya yang mereka anggap melampaui

kemampuan orang-orang berilmu melawan anak muda

Sangkal Putung.

Namun ternyata murid Kiai Gringsing itu benar-benar tidak

mengecewakan. Untara yang tegang itu kadang-kadang

sempat juga mengangguk-angguk melihat kemampuan

Swandaru yang mendebarkan.

Beberapa kali telah terjadi benturan antara kedua orang

yang sedang bertempur itu. Namun Swandaru yang telah

meningkatkan kemampuannya itu membuat lawannya

semakin heran.

Tetapi Jaka Rampan adalah seorang perwira muda yang

tangguh. Dalam keadaan yang gawat, ia masih sempat

melenting surut. Namun dengan kecepatan yang sangat tinggi,

ia telah meloncat menyerang lawannya. Kedua tangannya

terjulur kedepan dengan telapak tangan yang mengembang,

tetapi dengan jari-jari yang merapat. Kedua telapak tangannya

bersusun menelungkup. Namun dengan cepat bergerak

mengembang, demikian kakinya menyentuh tanah selangkah

di depan Swandaru.

Swandaru yang melihat gerak lawannya, justru telah

menyilangkan kedua tangannya didadanya. Namun ternyata

kedua tangan Jaka Rampan yang mengembang itu telah

menyerang kening Swandaru dari dua arah.

Tetapi Swandaru tidak menjadi bingung karenanya.

Dengan cepat ia merendahkan dirinya. Kedua tangannyalah

yang kemudian menyerang dada orang yang berdiri dihadapannya

itu, sementara kedua tangan orang itu tidak

menyentuh sasarannya.

Namun orang itupun cukup tangkas. Dengan cepat Jaka

Rampan bergeser surut, sehingga tangan Swandaru tidak

mencapainya.

 

Demikian pertempuran itupun semakin lama menjadi

semakin cepat. Baik Jaka Rampan maupun Swandaru telah

meningkatkan ilmu mereka. Mereka mengerahkan tenaga

cadangan mereka sampai ke batas kemampuannya.

Sebagai seorang perwira yang sedang dengan cepat

meningkat, maka Jaka Rampan merasa sudah terlalu lama

bertempur melawan anak Demang Sangkal Putung itu.

Seharusnya ia lebih cepat mengalahkannya, sehingga ia akan

tetap dianggap seorang yang berilmu tinggi. Seorang yang

pantas disebut putera terbaik dari Mataram.

Tetapi betapa ia mengerahkan kemampuannya, ternyata ia

masih belum dapat menjatuhkan anak Ki Demang Sangkal

Putung itu. Bahkan justru anak Ki Demang Sangkal Putung itu

rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin kokoh.

Gondang Bangah memang menjadi sangat gelisah

menyaksikan pertempuran itu. Apakah seorang perwira seperti

Jaka Rampan itu akan dapat diimbangi ilmunya oleh seorang

anak Demang.

Namun sebenarnyalah Jaka Rampan justru mulai

mengalami kesulitan. Swandaru yang dengan sungguhsungguh

menekuni ilmunya itu, semakin lama justru menjadi

semakin kuat. Tenaganya sama sekali tidak menjadi susut,

meskipun keringat telah terperas dari tubuhnya.

Pada setiap benturan yang terjadi terasa bahwa kekuatan

Swandaru tidak menjadi susut, tetapi justru rasa rasanya

menjadi semakin meningkat. Tubuhnya menjadi semakin

keras dan gerakannyapun menjadi semakin tang kas.

Jaka Rampan mengumpat didalam hati. Sebagai seorang

perwira yang berpengalaman, maka iapun segera berusaha

mengatasi kemampuan Swandaru. Jaka Rampan mulai

dengan segenap kemampuannya berusaha menyerang titiktitik

kelemahan Swandaru. Menurut pengetahuan Jaka

Rampan betapapun kemampuan seseorang, namun mereka

tetap memiliki kelemahan itu. Kelemahan yang terdapat pada

bagian-bagian tertentu tubuhnya.

Tetapi Swandarupun mengerti, bahwa Jaka Rampan -itu

telah membidik tempat-tempat yang lemah sebagaimana telah

dipelajarinya dari gurunya. Kiai Gringsing sebagai seorang

 

yang memiliki kemampuan pengobatan telah memberitahukan

kepadanya dalam latihan-latihan olah kanuragan, bahwa ada

delapan kelemahan pokok terdapat pada tubuhnya. Kemudian

dua belas tempat lainnya pada tataran kedua, dan lebih

banyak lagi pada tataran ketiga.

Dengan demikian maka Swandarupun telah

memperhitungkan hal itu pula. Bahkan sebagaimana

dilakukan oleh lawannya, maka Swandarupun telah

melakukan hal yang serupa.

“ Agaknya orang ini benar-benar akan mengakhiri

pertempuran tanpa memikirkan akibatnya “ berkata Swandaru

didalam hatinya, karena serangan-serangan pada tempattempat

yang paling lemah akan dapat berakibat gawat.

Bahkan titik-titik kelemahan itu akan benar-benar dapat

membunuh seseorang atau membuatnya cacat.

Sementara itu, Untara mulai menjadi tenang ketika ia

melihat bahwa Jaka Rampan memang tidak dapat dengan

segera mengalahkan Swandaru dan menepuk dada sebagai

putera terbaik dari Mataram, sehingga wajarlah jika ia

berusaha untuk berbuat sesuatu bagi kebaikan Mataram atas

rencananya sendiri.

Pandan Wangi yang semula merasa cemas, menjadi lebih

tenang pula. Kemampuannya mengamati ilmu seseorang telah

menunjukkan kepadanya. Meskipun banyak kemungkinan

dapat terjadi, seandainya Swandaru berbuat kesalahan oleh

kelengahannya atau oleh sebab-sebab lain, namun dalam

keadaan wajar, ia tidak akan mudah dikalahkan.

Sekar Mirahpun kemudian hampir menjadi yakin bahwa

kakaknya akan mampu bertahan sampai akhir pertempuran.

Ditempat lain Glagah Putih yang pernah menilai latihanlatihan

yang dilakukan oleh Swandaru didalam sanggar

padepokan di Jati Anom justru masih berharap Swandaru

meningkatkan ilmunya selapis lagi.

Sebenarnyalah, bahwa ketika kedua belah pihak telah

merasa bahwa pertempuran itu sudah berlangsung terlalu

lama tanpa ada yang dapat menunjukkan kemenangannya,

sementara langitpun mulai menjadi terang, maka Jaka

 

Rampan benar-benar telah mengerahkan tenaganya, justru

pada saat-saat tenaganya sudah mendekati batas susut.

Namun Swandaru telah siap menghadapi kemungkinan itu.

Apalagi karena Swandarupun tahu bahwa sebenarnya Jaka

Rampan telah sampai pada batas.

Karena itulah, maka Swandarulah yang kemudian lebih

banyak menguasai arena. Ia masih tetap tegar dan kuat.

Bahkan seakan-akan tenaganya justru masih akan dapat

bertambah. Tubuhnya masih mungkin mengeras dan

ketahanan tubuhnya masih lebih baik dari Jaka Rampan.

Gondang Bangah yang berada diluar arena, ternyata

mampu menilai kenyataan yang telah terjadi. Sebenarnyalah

ia merasa sedih bahwa seorang perwira prajurit Mataram yang

namanya mulai menanjak, ternyata tidak lebih baik dari anak

seorang Demang di Sangkal Putung.

Tetapi jika kenyataan itu yang terjadi, maka Gondang

Bangah itu memang tidak dapat berbuat apa-apa.

Sementara itu dalam keadaan terakhir, Swandarulah yang

bertempur dengan dada tengadah. Ia telah membuktikan,

bahwa ia memiliki kemampuan yang lebih baik dari seorang

perwira prajurit yang dianggap sebagai seorang perwira yang

berilmu tinggi.

“ Kakang Agung Sedayu tidak akan dapat menuduhku

hanya sekedar berbicara “ berkata Swandaru didalam hatinya.

Pada saat-saat berikutnya, Jaka Rampan menjadi semakin

terdesak. Sementara itu Swandaru justru menjadi semakin

cepat bergerak. Beberapa kali serangannya ber hasil

menyusup pertahanan Jaka Rampan sehingga sekali-sekali

tangannya telah mengenai tubuh perwira prajurit Mataram itu.

Jaka Rampan yang mengerahkan tenaganya disaat-saat

yang gawat itu sekali-sekali memang juga berhasil mengenai

tubuh Swandaru, tetapi dalam perbandingan yang lebih

jarang. Iapun tidak sempat mengenai tepat pada sasaran yang

dibidiknya, pada bagian-bagian yang sangat

lemah ditubuh Swandaru.

Ketika tubuhnya menjadi semakin lemah, sementara

serangan Swandaru datang semakin deras, maka sekali-sekali

Jaka Rampan itu seakan-akan hampir kehilangan

 

keseimbangannya. Bahkan ketika tangan Swandaru yang

terayun kesamping mendatar berhasil mengenai dadanya,

maka Jaka Rampan itu telah terhuyung-huyung beberapa

langkah surut. Swandaru yang tidak mau kehilangan

kesempatan telah memburunya. Satu tendangan kakinya

kemudian telah mengenai sekali lagi dadanya itu yang

bagaikan menjadi retak.

Jaka Rampan benar-benar tidak dapat bertahan untuk tetap

tegak. Karena itu, maka iapun telah terdorong beberapa

langkah lagi surut dan kemudian jatuh terguling di tanah.

Namun oleh pengalaman dan kemampuan yang ada

didalam dirinya, maka Jaka Rampan itupun telah melenting

berdiri. Betapapun kekuatannya telah semakin surut, namun ia

masih juga mampu tegak dan bersiap menghadapi segala

kemungkinan.

Tetapi Swandaru ternyata tidak memburunya lagi. Ia berdiri

sambil bertolak pinggang memandang lawannya yang nampak

menjadi semakin lemah.

Sementara itu langit memang sudah menjadi terang.

Untarapun kemudian maju beberapa langkah. Ia berdiri

diantara Jaka Rampan dan Swandaru yang tegak dengan

dada tengadah.

“ Aku kira permainan ini sudah cukup “ berkata Untara “ kita

sudah tahu, siapakah yang kalah dan siapakan yang menang.

“ Siapa yang kalah menurut pendapat Ki Untara? “ bertanya

Jaka Rampan dengan wajah yang tegang.

Untara mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia

justru ganti bertanya “ Jadi kau merasa belum kalah? “

“ Aku belum kalah “ berkata Jaka Rampan “ aku tantang

anak Demang Sangkal Putung itu bertempur dengan

senjata. Seorang prajurit baru dapat dinilai dengan lengkap

jjka ia sudah mempergunakan senjatanya. Tanpa senjata ia

masih belum seorang prajurit yang utuh. “

“ Tidak perlu “ berkata Untara.

Namun Swandaru berteriak “ Jika ia ingin kita bermain

senjata, maka aku tidak berkeberatan.

 

“ Nah, Ki Untara mendengar sendiri. Betapa ia menjadi

sangat sombong. Seolah-olah ia berhasil meruntuhkan nilai

dan harga diri seorang prajurit, “ berkata Jaka Rampan.

“ Kenapa? “ justru Untara bertanya “ apakah salahnya jika

seseorang yang bukan prajurit mempunyai kemampuan

melampaui seorang prajurit seperti kau yang justru telah

merusak citra keprajuritan. “

“ Aku akan membuktikan bahwa aku adalah seorang

prajurit yang baik. “ berkata Jaka Rampan “ karena itu beri aku

kesempatan bertempur dengan senjata.

“ Kau dengar jawabku? Tidak. Kau tidak dapat memaksaku.

“ berkata Untara.

“ Sebaiknya biarlah aku menyelesaikan persoalanku

sendiri. Kau tidak perlu turut campur “ bentak Jaka Rampan.

Wajah Untara menjadi merah. Dengan nada berat ia

bertanya kepada Jaka Rampan “ Kau berhadapan dengan

siapa? “

Betapapun perasaannya bergejolak, maka naluri

keprajuritannya telah mengekangnya. Karena itu,

suaranyapun telah menyusut ketika ia kemudian menjawab “

Senapati Besar di Jati Anom. “

“ Lakukan perintahku “ geram Untara.

Jaka Rampan tidak menjawab. Namun Swandarulah yang

hampir berteriak “ Beri kesempatan kepadanya bermain

senjata. Aku akan menerima tantangannya.

“ Tidak “ suara Untara masih tetap tegas “ aku perintahkan,

pertarungan ini dianggap selesai. Semua kembali

ketempatnya masing-masing. “

“ Tetapi aku bukan seorang prajurit yang harus tunduk

kepada perintah Senapati yang manapun “ Swandaru ternyata

masih juga berusaha mendesak.

Tetapi Ki Demanglah yang datang kepadanya. Katanya “

Dalam keadaan yang gawat, Senapati akan dapat bertugas

menangani semua persoalan yang berhubungan dengan

pengamanan satu lingkungan. Seandainya kau dapat tidak

tunduk pada perintah seorang Senapati sekarang ini, lalu kau

akan berkelahi melawan siapa? Nah, sekarang kau dengar.

Aku ayahmu. Aku perintahkan kau keluar dari arena ini. “

 

Swandaru memandang ayahnya dengan ungkapan

kekecewaannya. Ketika ia kemudian memandang Agung

Sedayu dan Glagah Putih, maka agaknya merekapun

sependapat dengan Ki Demang. Namun dalam keragu-raguan

itu Pandan Wangi telah mendekatinya. Tanpa berkata apapun

juga Pandan Wangi telah membimbing Swandaru keluar dari

arena seperti membimbing seorang anak yang kebingungan.

Mengambil cambuk Swandaru yang dilepas dan kemudian

membawanya masuk lewat seketheng.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak

kemudian, maka Ki Demangpun telah mempersilahkan tamutamunya

untuk kembali naik ke pendapa.

Tetapi agaknya mereka tidak terlalu lama duduk di

pringgitan. Untara segera mempersiapkan diri untuk langsung

pergi ke Mataram. Ia tidak boleh menunda persoalan itu terlalu

lama. Persoalan Jaka Rampan dan Gondang Bangah harus

segera ditangani. Mereka tentu sudah meninggalkan kesatuan

mereka tanpa diketahui oleh Senapati yang membawahinya

langsung, atau dengan cara yang tidak wajar mendapat ijin

justru membawa pasukan meskipun

jumlahnya terlalu kecil, sehingga Jaka Rampan harus

menambah pasukannya dalam perjalanan.

Tetapi Untara cukup bijaksana. Ia tidak melucuti senjata

pasukan Jaka Rampan dan Gondang Bangah, kecuali kedua

perwira itu sehingga mereka tidak menjadi sangat tersinggung.

Tetapi Untara telah memberikan penjelasan apa yang

sebenarnya terjadi serta kesalahan yang telah mereka

lakukan.

Seorang pemimpin kelompok telah menjawab ketika Untara

bertanya “ Aku tidak tahu yang sebenarnya dari perjalanan ke

Timur ini. Aku hanya menerima perintah. Aku kira yang

dilakukan oleh pemimpin kami adalah wajar.

“ Kalian akan dapat menyampaikan kepada yang bertugas

untuk memeriksa kalian di Mataram “ berkata Untara.

Demikianlah, ketika segala persiapan telah selesai, maka

Untara dan pasukan berkudanya telah membawa Jaka

Rampan dan Gondang Bangah bersama pasukannya pula

menuju ke Mataram. Kuda-kuda dari pasukan Untara yang

 

ditinggalkan diluar padukuhan induk Kademangan Sangkal

Putung telah diambil dan dibawa ke halaman Kademangan.

“ Semakin cepat persoalan ini selesai, semakin baik “

berkata Untara.

Demikianlah maka sejenak kemudian iring-iringan prajurit

Mataram telah meninggalkan Kademangan Sangkal Putung.

Untara menolak ketika Ki Demang mempersilah-kannya

menunggu agar disediakan makan bagi para prajurit

seluruhnya.

“ Seorang Senapati yang berdiri tegak pada hak dan

kewajibannya “ desis Ki Demang.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun

juga ada kebanggaan yang bergetar didalam dada Agung

Sedayu, bahwa kakaknya dalam keadaan yang

bagaimanapun juga tetap tegak pada paugeran seorang

prajurit.

Sejenak kemudian maka halaman Kademangan Sangkal

Putung itupun telah menjadi lengang. Beberapa pengawal

masih tetap berjaga-jaga. Sementara Ki Demang telah

mempersilahkan para bebahu yang ingin beristirahat untuk

pulang. Kecuali Ki Jagabaya yang masih akan berada di

Kademangan bersama beberapa orang pengawal.

Agung Sedayu, Glagah Putih dan Sekar Mirahpun telah

meninggalkan pringgitan pula. Sementara diruang dalam

Swandaru duduk bersama Pandan Wangi. Ketika Ki Demang

telah meninggalkan pringgitan, maka iapun telah duduk

bersama Swandaru pula.

“ Aku menyesal bahwa aku tidak diperkenankan untuk

bertempur dengan senjata “ geram Swandaru.

“ Sudahlah kakang “ potong Pandan Wangi.

“ Ki Untara telah memerintahkan menghentikan

pertandingan itu. Untara telah memerintahkan kepada Jaka

Rampan untuk berhenti. Jika kau nekad ingin berkelahi, kau

tidak akan mempunyai lawan. - berkata Ki Demang.

“ Jaka Rampan tentu akan memaksa juga “ jawab

Swandaru.

Tetapi kau tahu sikap Untara “ sahut Ki Demang.

 

Swandaru menundukkan kepalanya. Tetapi

kekecewaannya masih membayang diwajahnya. Dengan nada

rendah ia berkata “ Jika perkelahian dengan senjataitu

berlangsung, maka aku dapat melakukan untuk beberapa

sasaran sekaligus. Kecuali memenuhi keinginan kakang

Untara, akupun dapat menunjukkan kepada kakang Agung

Sedayu, tataran yang dapat aku capai, sehingga akan dapat

mendorongnya untuk sedikit memberikan perhatian kepada

ilmunya. “

“ Agung Sedayu sudah bukan anak-anak “ berkata Ki

Demang “ ia tentu dapat menempatkan dalam dunianya.

Sudah bertimbun pengalaman didalam dirinya. “

“ Justru karena itu, ia terlalu yakin akan kemampuan yang

sudah dimilikinya. Berkali-kali kakang Agung Sedayu

mengalami luka parah jika ia berhadapan dengan lawan yang

berilmu tinggi. Tetapi pengalaman yang pahit itu tidak

menderanya untuk meningkatkan ilmunya. “ desis Swandaru.

“ Jangan berprasangka begitu “ berkata Ki Demang “ jika

kau menilai seseorang yang terluka di pertempuran, maka kau

harus menilai kedua-duanya. Jika lawannya berkemampuan

jauh lebih rendah, maka seseorang tidak akan mengalami

sesuatu. Jika keduanya ilmunya seimbang, maka

kemungkinan yang buruk akan dapat terjadi pada keduaduanya.

Hal itu berlaku untuk segala tataran. Yang berilmu

rendahpun akan dapat terjadi seperti itu. Apalagi yang berilmu

tinggi. “

“ Apakah ayah menilai ilmu Jaka Rampan terlalu rendah? “

bertanya Swandaru.

“ Aku tidak mengatakan pertempuran yang baru saja

terjadi. Aku mengatakan sesuatu yang berlaku umum.

Seandainya ilmu Jaka Rampan dan ilmumu seimbang, maka

keadaannya tentu berbeda. “ berkata Ki Demang.

“ Pengakuan seperti itulah yang ingin aku pancing dari

kakang Agung Sedayu “ berkata Swandaru “ jika ia mengakui

bahwa ilmu Jaka Rampan cukup tinggi, maka ia akan menilai

kemampuanku yang berada diatas kemampuan Jaka Rampan

yang dibuktikan oleh keputusan kakang Untara.

 

Ki Demang mengangguk-angguk. Sebenarnya ia kurang

pendapat dengan Swandaru. Tetapi sulit bagi Ki Demang

untuk menyusun pendapatnya itu dalam kalimat yang dapat

diucapkan. Sedangkan Pandan Wangi merasa lebih baik

untuk berdiam diri dan tidak mencampuri pembicaraan antara

ayah dan anak laki-lakinya itu meskipun terasa hatinya juga

tergelitik karenanya.

Namun dalam pada itu, Ki Demangpun kemudian

berkata “ Sudahlah. Beristirahatlah. Mungkin kau letih. “

“ Ya ayah “ jawab Swandaru “ tetapi sebenarnya aku tidak

terlalu letih. “

Ki Demangpun kemudian telah meninggalkan Swandaru di

ruang tengah. Namun Swandarupun kemudian telah bangkit

pula untuk pergi ke pakiwan.

“ Aku akan menyediakan ganti pakaianmu kakang “ berkata

Pandan Wangi.

Dipintu samping Pandan Wangi bertemu dengan Sekar

Mirah. Dengan nada rendah Sekar Mirah bertanya “

Bagaimana dengan kakang Swandaru? “

“ Kakang Swandaru baru mandi “ jawab Pandan Wangi.

“ Kakang tidak apa-apa? “ bertanya Sekar Mirah pula.

Adalah diluar kehendaknya ketika seolah-olah yang ditekan

didalam dadanya telah terungkat “ Kakang Swandaru menjadi

sangat kecewa. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu

mengalahkan seorang perwira Mataram dalam olah senjata. “

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Dengan raguragu

ia bertanya “ Bagaimana dengan ayah? “

“ Ki Demang sudah banyak memberikan pesan kepada

kakang Swandaru. “ jawab Pandan Wangi.

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Ia tahu benar sifat

kakaknya yang agak gemuk itu. Namun agaknya Pandan

Wangi masih juga menahan diri untuk tidak melepaskan

semua yang terasa menyesak didadanya.

“ Sekarang kau akan kemana? “ bertanya Sekar Mirah.

“ Menyediakan pakaian kakang Swandaru. Pakaian yang

dipakainya basah oleh keringat dan kotor oleh debu. “ jawab

Pandan Wangi.

 

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Tetapi ia masih

bertanya “ Dimana ayah sekarang? “

“ Ki Demang pergi ke biliknya mungkin. Ki Demang nampak

letih “ jawab Pandan Wangi.

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya “ Jika demikian,

nanti saja aku menemuinya.

Namun tiba-tiba saja Ki Demang muncul dari pintu yang

lain. Sambil mengusap keningnya ia bertanya “ Kau mencari

aku? Apakah ada hal yang penting? “

“ Tidak ayah. Tidak ada apa-apa “ jawab Sekar Mirah. Ki

Demang menarik nafas dalam-dalam. Sementara

Pandan Wangipun telah meninggalkan ruangan itu untuk

menyiapkan pakaian suaminya.

Ki Demang perlahan-lahan telah mendekati anak

perempuannya. Dengan nada rendah ia berkata “ Kakakmu

memang menjadi sangat kecewa. Tetapi aku tidak dapat

berbuat lain. “

Sekar Mirah mengangguk. Sementara Ki Demangpun

berkata “ Disamping niatnya untuk menunjukkan kepada para

prajurit Mataram dibawah pimpinan Jaka Rampan bahwa anak

muda Sangkal Putungpun memiliki kemampuan seorang

perwira, ada juga niatnya yang baik. “

“ Apa ayah? “ bertanya Sekar Mirah.

“ Swandaru ingin menunjukkan kepada kakak

seperguruannya, bahwa kemungkinan untuk meningkatkan

ilmu masih terbuka “ berkata Ki Demang, lalu “ Swandaru

menganggap bahwa suamimu tidak cukup banyak

menyediakan waktu bagi peningkatan ilmunya. “

“ Ayah “ berkata Sekar Mirah “ kakang Swandaru telah

salah menilai kemampuan kakang Agung Sedayu. Aku sudah

mencoba untuk memberitahukan hal itu. Tetapi kakang

Swandaru menganggap bahwa aku terlalu mengagumi

suamiku, sehingga tidak lagi dapat membuat pertimbangan

sewajarnya. “

“ Aku sudah mengira. “ berkata Ki Demang “ Agung Sedayu

bersikap lebih dewasa dari Swandaru. Tetapi Swandaru

menganggap bahwa karena Agung Sedayu beberapa kali

mengalami luka-luka parah dalam pertempuran-pertempuran

 

yang pernah dilakukannya, maka Swandaru menganggap

bahwa alas kemampuan ilmu Agung Sedayu masih belum

cukup tinggi. “

“ Bukankah hal itu juga tergantung pada lawannya

bertempur? “ desis Sekar Mirah.

“ Aku mengerti “ jawab Ki Demang.

“ Kakang Agung Sedayu mendalami ilmunya tidak sekedar

pada permukaannya. Tetapi jauh menusuk ke kedalamannya “

berkata Sekar Mirah. Lalu katanya “ Lawannya yang terakhir

ternyata memiliki ilmu kebal dari jenis Aji Tameng Waja.

Kakang Agung Sedayu harus mengerahkan segenap ilmunya

untuk dapat mengalahkannya. Namun kakang Agung Sedayu

sendiri mengalami luka parah. “

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya

“ Dimana suamimu sekarang? “

“ Didalam bilik bersama Glagah Putih. “ berkata Sekar

Mirah “ nampaknya mereka mulai mencemaskan keadaan di

Tanah Perdikan Menoreh. “

“ Bukankah masih ada orang lain yang pantas

diketengahkan di Tanah Perdikan selain Ki Gede? “ bertanya

Ki Demang.

“ Memang Tanah Perdikan tidak terlalu mencemaskan.

Masih ada Ki Jayaraga, yang juga dianggap guru oleh Glagah

Putih. Namun disanapun ada barak pasukan khusus Mataram

yang ditempatkan di Tanah Perdikan itu. “

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya kemudian “

Bukankah kau dan suamimu tidak akan tergesa-gesa kembali

ke Tanah Perdikan? “

“ Tetapi kami tidak akan dapat terlalu lama disini.

Meskipun rinduku kepada kampung halaman ini rasarasanya

masih belum hilang, namun aku tidak dapat

mencegahnya, jika kakang Agung Sedayu menghendaki kami

kembali “ jawab Sekar Mirah.

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya “ Terserahlah

kepada kalian. Keadaan memang sedang kalut. Ternyata

bukan orang-orang Madiun saja yang ingin memanfaatkan

keadaan ini. Mungkin untuk keuntungan pribadi atas dasar

ketamakan akan harta benda, sedangkan mungkin dilakukan

 

karena menginginkan pujian, drajad dan pangkat. Agaknya

ada juga orang-orang Mataram yang melakukannya. “

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya “ Kita memang

harus berhati-hati ayah. “

“ Baiklah. Usahakan agar suamimu merasa tenang disini.

Jika kau memerlukan sesuatu, katakan kepadaku, “ berkata

ayahnya “ aku memang akan beristirahat setelah semalam

suntuk mengurusi Jaka Rampan dengan orang-orangnya. “

Ki Demangpun kemudian meninggalkan Sekar Mirah yang

kemudian telah pergi ke dapur. Ternyata Pandan Wangi

setelah menyediakan ganti pakaian suaminya juga telah

berada di dapur pula.

Hari itu, orang-orang di Kademangan Sangkal Putung

masih saja membicarakan tentang sikap Jaka Rampan.

Merekapun merasa bangga, bahwa anak Ki Demang telah

menunjukkan harga diri anak-anak muda Sangkal Putung

pada umumnya.

“ Ternyata Swandaru benar-benar seorang yang berilmu

tinggi. Ia tidak hanya sekedar membual, berteriak-teriak dan

marah-marah kepada anak-anak muda di Kademangan ini.

Tetapi ia benar-benar seorang yang berilmu tinggi, “ berkata

seorang pemimpin kelompok pengawal Kademangan Sangkal

Putung.

“ Agaknya Ki Demang memang beruntung. Anaknya yang

perempuan itupun berilmu tinggi pula. Agung Sedayu dan

Pandan Wangi, menantu-menantunya, juga orang-orang yang

berilmu tinggi. Seandainya mereka berkumpul di Kademangan

Sangkal Putung, maka Sangkal Putung akan menjadi

Kademangan terkuat di seluruh tlatah Mataram. “ sahut

kawannya.

Beberapa orang yang mendengarnya menganguk-angguk.

Hampir berbareng dua orang berkata “ Ya. Kita akan menjadi

terkuat. “

Tetapi seorang yang sudah lebih tua dari mereka berkata “

Jika kita terkuat, lalu mau apa? “

Anak-anak muda itu termangu-mangu. Tetapi seorang

diantara mereka menjawab “ setidak-tidaknya kita dapat

berbangga. “

 

“ Dan menyombongkan diri? “ bertanya orang yang lebih

tua itu.

Sekali lagi mereka termangu-mangu. Namun beberapa

orang diantara mereka menjawab “ Tentu tidak. “

Sementara seorang anak muda yang lain berkata “ Aku kira

memang ada perbedaan antara kebanggaan dan

kesombongan. “

“ Kau benar “ jawab orang yang lebih tua itu “ tetapi jarak itu

terlalu pendek, sehingga jika kita tenggelam dalam

kebanggaan diri, maka kita akan terlalu mudah untuk

tergelincir dalam sikap yang sombong. “

Kawan-kawannya tidak membantah lagi. Bahkan beberapa

orang yang lain mengangguk-angguk.

Di rumah Ki Demang, suasana masih nampak lesu. Orangorang

di rumah Ki Demang pada umumnya merasa letih.

Namun setelah lewat tengah hari, maka mereka telah menjadi

segar kembali. Swandarupun telah berada di pendapa

bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sambil

membawa minuman dan makanan, maka Pandan Wangi

dan Sekar Mirahpun telah ikut pula duduk-duduk di pendapa.

Pembicaraan merekapun masih juga berkisar pada sikap

Jaka Rampan yang telah menodai wajah prajurit Mataram

sendiri.

Namun akhirnya pembicaraan merekapun telah merambat

sampai ke Tanah Perdikan Menoreh. Agung Sedayu memang

sedikit mencemaskan perkembangan keadaan. Namun seperti

yang pernah dikatakan oleh Sekar Mirah, bahwa kehadiran Ki

Jayaraga dan adanya barak pasukan khusus di Mataram,

akan dapat membantu mengatasi persoalan jika itu timbul di

Tanah Perdikan.

“ Karena itu, kakang tidak usah tergesa-gesa “ berkata

Swandaru “ jika kakang sempat berada di Kademangan ini

barang sebulan, maka kita akan mendapat kesempatan untuk

berlatih bersama sebagaimana dahulu sering kita lakukan,

disaat-saat kita mulai menapakkan kaki di perguruan kita. “

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun

kemudian menjawab “ Sebenarnya memang menarik sekali.

Tetapi rasa-rasanya kami tidak akan dapat berada disini

 

terlalu lama. Jika tubuh dan kesehatanku pulih kembali

sepenuhnya, maka kami terpaksa minta diri. “

“ Tetapi bukankah seperti kakang katakan, bahwa Tanah

Perdikan tidak perlu terlalu dicemaskan? “ bertanya

Swandaru.

“ Sebenarnya itu adalah pernyataan sekedar untuk

menenangkan diri. Namun kegelisahan itu masih saja tetap

bergejolak didalam hati “ jawab Agung Sedayu.

“ Jika demikian, kita pergunakan kesempatan yang ada

betapapun sempitnya “ berkata Swandaru “ bukankah kita

dapat memanfaatkannya untuk membuat perbandingan ilmu.

Bukan dengan maksud apa-apa. Tetapi sewajarnyalah

bahwa sebagai saudara seperguruan kita sekalisekali

berlatih bersama. “

Agung Sedayu tersenyum. Namun jawabnya “ Aku

sebenarnya ingin sekali melakukannya. Tetapi agaknya

keadaan tubuhku masih terlalu lemah.

Swandaru mengerutkan keningnya. Dipandanginya Agung

Sedayu sejenak. Lalu katanya “ Bukankah keadaan kakang

sudah baik? Biasakan bergerak kembali agar kau benar-benar

segera pulih. Tetapi jika kau masih saja merasa dirimu sakit

dan lemah, maka kau benar-benar memerlukan waktu yang

lebih lama lagi untuk merasa pulih kembali. “

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Bagaimanapun

juga hatinya mulai terasa tergelitik oleh sikap Swandaru.

Tetapi Sekar Mirah mencoba untuk menengahi. “ Kakang

Agung Sedayu akan menilai dirinya sendiri. Jika ia sudah

merasa benar-benar pulih, aku kira kakang Agung Sedayu

tidak akan berkeberatan. “

Swandaru memandang adiknya sekilas. Tetapi ia menahan

kata-kata yang hampir saja terloncat dari bibirnya “ Jangan

terlalu kau manjakan suamimu. “

“ Tetapi untunglah bahwa dalam keadaan tertentu,

Swandaru dapat juga menahan diri.

Yang mereka bicarakan kemudian adalah persoalanpersoalan

lain meskipun masih juga menyangkut

perkembangan Kademangan Sangkal Putung dan Tanah

Perdikan Menoreh. Ternyata bahwa kehadiran Sekar Mirah

 

untuk melihat rumah serta kampung halamannya telah

membuat Pandan Wangi menjadi rindu pula pada Tanah

Perdikan-nya. Tetapi menyadari keadaannya, maka Pandan

Wangi memang tidak ingin dalam waktu dekat pergi ke Tanah

Perdikan.

“ Aku tidak ingin melakukan perjalanan dalam keadaan

seperti ini “ berkata Pandan Wangi.

“ Sokurlah jika Ki Gede sempat menengokmu “ desis

Swandaru sambil tersenyum.

“ Jika Ki Gede mengetahui, maka Ki Gede tentu akan

mencari kesempatan datang ke Kademangan ini “ berkata

Agung Sedayu.

“ Setidak-tidaknya menjelang selapan “ desis Sekar Mirah

sambil tersenyum.

“ Terlalu lama “ sahut Pandan Wangi.

Tetapi Swandaru menyahut “ Kau kira Ki Gede dapat begitu

saja meninggalkan Tanah Perdikan dalam suasana seperti

ini? Ada dua hal yang harus diperhatikan. Tanah Perdikan

yang ditinggalkannya dan keselamatan Ki Gede sendiri dalam

perjalanan. Tetapi tentu tidak demikian dengan seorang

Kepala Tanah Perdikan. “

Pandan Wangi mengangguk-angguk. Iapun mengerti

sebagaimana dikatakan oleh suaminya.

Pembicaraan merekapun terputus ketika seorang pelayan

memberitahukan bahwa mereka telah mempersiapkan makan

siang di ruang dalam.

“ O “ desis Pandan Wangi “ ternyata aku terlalu asik disini

sehingga aku tidak melihat, bagaimana makan siang itu

dipersiapkan. Tunggulah sebentar. Aku akan membenahinya.

Adalah menjadi kebiasaan Pandan Wangi untuk mengatur

sendiri makan terutama jika sedang ada tamu. Karena itu,

maka iapun segera meninggalkan pendapa menuju keruang

dalam. Namun Sekar Mirahpun telah mengikutinya pula

keruang dalam.

Baru sejenak kemudian, Pandan Wangi mempersilah-kan

mereka yang ada di pendapa masuk ke ruang dalam untuk

makan.

 

Demikianlah, Agung Sedayu dan Sekar Mirah tinggal

beberapa hari di Sangkal Putung. Yang sering menjadi pening

adalah Glagah Putih jika ia mendengar Swandaru

memberikan beberapa pesan kepada Agung Sedayu. Ia

tidak mengerti, bagaimana Agung Sedayu dapat dengan sabar

mendengarkannya.

Dalam pada itu, pada satu kesempatan, selagi Untara

sedang melakukan tugas meronda bersama beberapa orang

prajuritnya, telah singgah di Sangkal Putung. Untara sekedar

ingin memberitahukan kepada Ki Demang bahwa Jaka

Rampan dan Gondang Bangah telah diserahkan kepada

seorang Senapati yang ditunjuk untuk menanganinya.

“ Aku sempat menghadap langsung Panembahan Senapati

“ berkata Untara. Lalu “ ternyata Panembahan Senapati

menjadi sangat prihatin. Tetapi Panembahan Senapati belum

dapat dengan cepat memecahkan hubungannya dengan

Madiun. Bahkan nampaknya persoalan Pajang justru akan

dapat menambah jarak itu. “

“ Persoalan Pajang yang mana? “ bertanya Agung Sedayu

yang ikut mendengarkan pula.

“ Pengganti Pangeran Benawa “ jawab Untara.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang

sudah menduga, bahwa hal itu akan dapat menjadi persoalan

baru bagi Mataram dan Madiun. Sementara di kedua belah

pihak terdapat orang-orang yang tamak dan ingin

memanfaatkan keadaan itu. Atau mereka yang kurang dapat

mengendalikan diri dan ingin bertindak sendiri-sendiri.

Dalam pada itu Untarapun telah menceriterakan pula,

bagaimana mungkin Jaka Rampan dan Gondang Bangah

meninggalkan kesatuannya dengan membawa prajurit.

“ Ternyata bahwa perintah bagi keduanya adalah

menangkap sekelompok penjahat yang mengganggu

ketenangan satu lingkungan. Jaka Rampan seharusnya

mendapat tugas ke Dlingo karena di daerah itu telah timbul

keributan. Sekelompok orang telah berusaha menguasai

kehidupan beberapa Kademangan di Dlingo. Sedangkan

Gondang Bangah harus pergi ke daerah pesisir Selatan,

karena keadaan

 

yang hampir sama. Tetapi keduanya telah bersepakat

untuk melakukan tindakan sendiri. Sudah tentu pada

keduanya terdapat pamrih pribadi yang baru akan diketahui

setelah keduanya menjalani pemeriksaan. “

Yang mendengarkan keterangan Untara itu menganggukangguk.

Sementara itu Untarapun berpesan pula “ Hati-hatilah

untuk seterusnya. “

Ki Demang dan mereka yang mendengarkan keterangan

Untara itu mengangguk-angguk. Mereka memang harus

berhati-hati. Banyak hal yang dapat terjadi. Bahkan kadangkadang

diluar dugaan mereka sama sekali.

Dalam pada itu, ketika Untara meninggalkan Sangkal

Putung, maka Agung Sedayupun sekaligus minta diri, bahwa

dalam waktu dekat, ia akan langsung kembali ke Tanah

Perdikan Menoreh.

“ Tolong kakang. Mohon dalam saat-saat tertentu kakang

menyempatkan diri menengok guru dan paman Wi-dura di

padepokan kecil itu. “ berkata Agung Sedayu.

Untara tersenyum. Katanya “ Rasa-rasanya aku juga ingin

sering berada di padepokan itu bersama paman Wi-dura. Ilmu

yang membekali kami berdua bersumber dari mata air yang

sama. Meskipun rasa-rasanya aku sudah terlalu tua, apalagi

paman Widura, tetapi tidak ada salahnya jika kami berusaha

untuk menyegarkan ilmu kami. “

Agung Sedayupun tersenyum pula. Sementara Swandaru

menyahut “ Tidak ada salahnya kakang. Waktu untuk

meningkatkan ilmu tidak dibatasi oleh umur seseorang.

Untara tertawa. Namun sejenak kemudian, ia telah

meninggalkan rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Adalah diluar dugaan ketika tiba-tiba saja Swandaru

berkata hampir berbisik ditelinga Agung Sedayu “ Nah, kau

dengar kakang. Sementara kakang Untarapun merasa perlu

untuk meningkatkan ilmunya. Apalagi kakang Agung Sedayu

yang lebih muda. Seharusnya kakang menyediakan

waktu lebih banyak lagi untuk menekuni ilmu. Besok, jika

kakang kembali ke Tanah Perdikan, silahkan membawa kitab

yang dipinjamkan oleh Guru kepada kita. Kakang tidak perlu

 

tergesa-gesa mengembalikan. Maksudku, kita tidak perlu

terikat pada batas waktu tiga bulan di tempat masing-masing. “

Telinga Glagah Putih yang ikut mendengar meskipun

perlahan-lahan sekali, terasa menjadi panas. Sementara itu

Agung Sedayu menjawab lirih “ Terima kasih adi Swandaru. “

Sebenarnyalah, Swandaru telah menyiapkan kitab yang

dipinjamkan oleh Kiai Gringsing kepada dua muridnya. Kiai

Gringsing memang menyerahkan perkembangan ilmu muridmuridnya

kepada kedua muridnya itu sendiri. Menurut

penilaian Kiai Gringsing, ilmu Agung Sedayulah yang maju

lebih cepat dari ilmu Swandaru.

Dalam pada itu, pada hari yang telah disepakati oleh Agung

Sedayu dan Sekar Mirah, maka keduanya bersama Glagah

Putih telah minta diri kepada Ki Demang dan seluruh keluarga

Kademangan Sangkal Putung.

Sebenarnya mereka memang masih ingin menahan Agung

Sedayu suami isteri dan Glagah Putih, tetapi agaknya

keadaan yang gawat telah membuat ketiganya tidak dapat

terlalu lama meninggalkan Tanah Perdikan.

“ Waktuku terlalu lama habis dirampas oleh luka-luka di Jati

Anom “ desis Agung Sedayu.

“ Baiklah “ berkata Ki Demang. “ Lain kali, sokurlah jika

suasana menjadi cepat cerah, kalian akan datang lagi untuk

waktu yang lebih lama di Kademangan Sangkal Putung ini. “

Sekar Mirah ternyata harus berjuang melawan air matanya

yang mengembang dipelupuk. Apalagi ketika ia minta diri

kepada Pandan Wangi. Betapapun ia berusaha, namun setitik

air memang telah menetas dari matanya yang

basah. Sehingga Pandan Wangipun harus mengusap

matanya sendiri yang menjadi panas.

“ Kurnia itu akan datang pada waktunya “ bisik Pandan

Wangi. Sekar Mirah mengangguk.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, selagi

matahari mulai naik, mereka telah meninggalkan Sangka!

Putung. Keluarga Ki Demang telah mengantar mereka sampai

kepintu gerbang. Swandaru memang menawarkan beberapa

orang pegawai untuk mengantar mereka, tetapi sambil

 

tersenyum Agung Sedayu berkata “ Terima kasih adi. Agaknya

kami akan tidak terganggu di perjalanan, -

Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu telah berpacu di

bulak-bulak persawahan Kademangan Sangkal Putung.

Beberapa orang yang melihat mereka telah menyapa dan

bertanya, apakah mereka akan kembali ke Tanah Perdikan.

Seorang perempuan yang sedang menyiangi sawahnya

telah naik kepematang sambil bertanya “ Kau tidak menunggu

mbokayumu sampai melahirkan? “

Sekar Mirah tersenyum, berapapun hatinya tersentuh.

Jawabnya “ Kami akan segera kembali lagi bibi. “

Selama mereka masih berada di daerah Kademangan,

maka mereka tidak dapat berpacu lebih cepat. Apalagi jika

mereka memasuki padukuhan-padukuhan. Maka mereka

masih harus menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang

yang bertemu di sepanjang jalan.

Baru ketika mereka telah keluar dari Kademangan Sangkal

Putung, maka mereka bertiga dapat mempercepat derak kuda

mereka.

“ Apakah kita akan singgah di Mataram? “ bertanya Glagah

Putih.

Agung Sedayu berpaling kepada Sekar Mirah. Jawabnya “

Aku kira tidak perlu. Tidak ada persoalan penting yang perlu

kita laporkan, karena kakang Untara telah

menghadap langsung untuk memberikan laporan tentang

Jaka Rampan dan prajurit-prajuritnya. “

Glagah Putih tidak bertanya lagi. Nampaknya Agung

Sedayu memang ingin segera kembali ke Tanah Perdikan.

Rasa-rasanya mereka bertiga memang sudah terlalu lama

meninggalkan Tanah Perdikan itu. Peristiwa-peristiwa yang

terjadi selama mereka berada di Jati Anom dan Sangkal

Putung rasa-rasanya telah mendorong Agung Sedayu untuk

semakin cepat kembali.

Glagah Putih memang tidak mempunyai kepentingan

khusus di Mataram sehingga iapun tidak berkeberatan untuk

langsung kembali ke Tanah Perdikan.

 

“ Jika ada persoalan yang harus diselesaikan dengan

Mataram, pada kesempatan lain kita akan dapat menghadap “

berkata Agung Sedayu pula.

Meskipun tidak mengatakannya, namun Glagah Putih

mengetahui bahwa Agung Sedayu bermaksud mengatakan “

Sekarang kita kembali dahulu ke Tanah Perdikan. “

Meskipun mereka tidak ingin singgah di Mataram, namun

mereka telah menempuh perjalanan melalui jalan yang paling

ramai. Jalan yang meskipun melalui hutan di Tambak Baya,

tetapi jalan itu merupakan jalan yang sibuk. Meskipun hutan

Tambak Baya masih merupakan hutan yang pepat dan besar,

tetapi disebelah menyebelah jalan, rasa-rasanya hutan itu

tidak lebih dari sebuah taman. Justru karena jalan itu cukup

ramai, maka binatang buas telah pergi semakin jauh masuk

kedalam hutan yang masih jarang disentuh kaki manusia.

Bahkan di beberapa tempat telah sekelompok-sekelompok

rumah yang bukan saja dihuni, tetapi telah dibuka pula

beberapa buah kedai makanan dan minuman. Orang-orang

yang tinggal di rumah-rumah itu sama sekali tidak cemas

terhadap binatang-binatang buas yang akan dapat mereka

lawan bersama-sama. Jika satu kali seekor harimau tersebut

masuk ke lingkungan mereka, maka beberapa orang laki-laki

telah

menghadapinya dengan tombak-tombak panjang.

Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih yang

berpacu dipunggung kuda meskipun tidak terlalu kencang,

telah menyeberangi sungai Opak dan beberapa saat

kemudian mereka mendekati lingkungan hutan Tambak Baya.

Tetapi karena jalan yang banyak dilewati orang yang hilir

mudik, maka mereka sama sekali tidak memikirkan hambatan

yang akan dapat mengganggu perjalanan mereka.

Sebenarnya tidak ada niat ketiganya untuk berhenti di

sebuah kedai yang terdapat di pinggir jalan itu. Tetapi rasarasanya

mereka ingin memberi kesempatan kuda-kuda

mereka beristirahat.

Karena itu, ketika mereka sampai di sebuah tanjakan yang

tidak begitu tinggi, maka mereka telah berhenti di sebuah

kedai diantara sekelompok kedai yang lain. Kedai yang cukup

 

besar dan agaknya banyak dikunjungi orang. Beberapa ekor

kuda nampak ditambatkan disebelah kedai itu. Sementara

seorang laki-laki telah sibuk memberikan air dan makan bagi

kuda-kuda itu.

“ Kita berhenti sebentar “ berkata Agung Sedayu “ kudakuda

kita akan mendapat pelayanan sebagaimana kita sendiri.

Sekar Mirah yang berpakaian seperti seorang laki-laki itu

tersenyum. Katanya “ Baiklah. Agaknya Glagah Putih juga

sudah haus. Terik matahari dipunggung kita telah memeras

keringat kita di perjalanan yang cukup panjang ini. “

“ Tetapi aku masih harus bertanya, apakah Glagah Putih

bersedia minum atau tidak “ desis Agung Sedayu.

Glagah Putih tertawa kecil. Katanya “ Aku memang tidak

ingin minum bersama kuda-kuda itu. “

Sekar Mirahpun tertawa. Tetapi ia tidak berkata apa-apa

lagi. Demikianlah maka mereka bertigapun telah singgah di

sebuah kedai di pinggir Alas Tambak Baya. Sementara itu

kuda-kuda merekapun telah sempat beristirahat. Seperti

kuda-kuda yang lain, maka kuda-kuda merekapun telah

mendapat minum dan makan. Nampaknya kedai itu telah

mengadakan tambahan pelayanan khusus bagi kuda-kuda

p,ara tamu yang singgah di kedai itu, sehingga dengan

demikian maka orang-orang berkuda yang memang sering

lewat jalan itu akan memilih tempat itu untuk singgah.

Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih yang

kemudian memasuki kedai itu telah memilih tempat disudut.

Tempat yang agak kedalam sehingga tidak banyak mendapat

perhatian orang lain. Mereka duduk di sebuah lincak panjang.

Di depan lincak itu terdapat sebuah geledeg bambu rendah

untuk menempatkan berbagai macam makanan.

Beberapa saat kemudian, maka minuman yang mereka

pesan telah dihidangkan. Sebagaimana orang lain didalam

kedai itu, maka merekapun kemudian telah meneguk

minuman yang masih hangat, meskipun sebenarnya mereka

belum terlalu haus. Tetapi perjalanan yang mereka tempuh

memang sudah cukup jauh.

 

Namun beberapa saat kemudian, telah masuk pula empat

orang kedalam kedai itu. Seorang diantara mereka telah lewat

separo baya. Rambutnya selembar-selembar yang berjuntai

dibawah ikat kepalanya telah nampak keputih-putihan,

sebagaimana kumis dan janggutnya yang lebat tetapi tidak

terlalu panjang. Sedangkan tiga orang lainnya masih nampak

agak lebih muda. Bahkan seorang diantaranya nampaknya

masih seumur dengan Agung Sedayu.

Ternyata keempat orang itu telah memperhatikan Agung

Sedayu sejenak. Merekapun kemudian melangkah dan duduk

di lincak panjang di hadapannya.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Sekar Mirah dan

Glagah Putihpun sempat memperhatikan mereka sekilas.

Namun mereka tidak lagi menghiraukan keempat orang itu,

kecuali Agung Sedayu yang sempat berkata kepada orang

yang tertawa itu “ Marilah minum Ki Sanak. “

Orang itu mengangguk ramah. Dengan nada rendah ia

menjawab “ Silahkan Ki Sanak. Kami baru akan memesan. “

Ketika kemudian Agung Sedayu meneguk minumannya,

maka orang-orang itupun telah memesan minuman pula.

Beberapa saat mereka saling berdiam diri. Namun

kemudian orang yang rambutnya telah memutih itu tiba-tiba

saja bertanya sambil mengunyah jenang alot “ Bukankah Ki

Sanak yang bernama Agung Sedayu? “

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. lapun sedang

makan sepotong pondoh beras.

“ Ya Ki Sanak “ jawab Agung Sedayu setelah menelan

makanan di kerongkongannya “ aku minta maaf, bahwa

agaknya aku agak lupa kepada Ki Sanak seandainya kami

sudah pernah berkenalan sebelumnya. “

Orang itu tersenyum. Sementara Sekar Mirah dan Glagah

Putih pun nampaknya tertarik kepada pertanyaan itu.

Tetapi jawab orang itu “ Kita memang belum pernah

berkenalan, Ki Sanak. “

“ O “ Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“ Kami hanya mengenal Ki Sanak karena kemasyuran

nama Ki Sanak. Meskipun beberapa saat yang lalu, Ki Sanak

 

mengalami luka berat dalam satu pertempuran di Jati Anom “

berkata orang itu pula.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada

datar ia bertanya “ Darimana Ki Sanak mengetahui? -

“ Orang-orang terkenal sebagaimana murid-murid Kiai

Gringsing tentu lebih banyak diketahui orang tentang

keadaannya “ jawab orang itu.

“ Siapa sebenarnya Ki Sanak? Mungkin sahabat Kiai

Gringsing atau orang yang dekat dengannya? “ bertanya

Agung Sedayu.

Orang itu tersenyum. Potongan terakhir dari jenang alotnya

telah ditelannya. Katanya “ Ki Sanak. Kami memang harus

kagum terhadap murid-murid Kiai Gringsing yang perkasa. Ki

Sanak adalah murid yang tertua. Sementara Swandaru, murid

mudapun memiliki kemampuan yang luar biasa. Aku tidak

yakin, bahwa kemampuan Swandaru memang berada diatas

kemampuan Agung Sedayu. “

“ Aku tidak tahu apa yang Ki Sanak katakan “ desis Agung

Sedayu.

“ Beberapa orang sering mendengar Swandaru mengeluh,

bahwa kakak seperguruannya agak kurang menyediakan

waktunya untuk berada didalam sanggar karena

kesibukannya. Agung Sedayu lebih senang berada di

bendungan daripada berada didalam sanggar. Karena itu,

menurut Swandaru, kemampuan Agung Sedayu lambat sekali

berkembang. Tidak sebagaimana terjadi pada Swandaru “

berkata orang itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “

Agaknya saudara banyak mengetahui tentang keadaan kami. “

“ Aku telah berusaha untuk mengetahuinya “ berkata orang

itu “ beberapa hari terakhir aku mencoba untuk mengenal dari

dekat murid-murid Kiai Gringsing yang terkenal itu. “

“ Ki Sanak “ sahut Agung Sedayu “ nampaknya Ki Sanak

telah membuang waktu untuk kepentingan itu. Apa

sebenarnya yang Ki Sanak kehendaki? “

Orang itu tertawa. Katanya “ Swandaru adalah seorang

anak muda yang perkasa. Ia dikelilingi oleh sepasukan

 

Kademangan yang memiliki kemampuan seorang prajurit.

Karena itu, sulit bagiku untuk berurusan dengan

anak muda itu. “

Agung Sedayu mulai menjadi berdebar-debar, Sementara

orang itu berkata selanjutnya “ Jika aku memaksa diri, maka

aku akan berhadapan dengan sepasukan pengawal yang

kuat. Betapapun tinggi ilmu seseorang, tetapi jumlah yang

banyak akan ikut menentukan kekuatan salah satu pihak. “

“ Aku tidak mengerti Ki Sanak “ berkata Agung Sedayu.

“ Agung Sedayu “ berkata orang itu dengan kesan wajah

yang tidak berubah. Lalu katanya “ Aku adalah guru Jaka

Rampan. “

“ O “ Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“ Karena aku tidak dapat dengan serta merta membalas

sakit hati muridku terhadap Swandaru yang selain mampu

menjebaknya, juga mengalahkannya dalam perang tanding

yang tidak tuntas, maka aku telah memilih sasaran yang lain.

Menurut pendengaranku, kaulah yang telah merencanakan

mengirimkan penghubung ke Jati Anom untuk menjebak

muridku “ berkata orang itu.

Agung Sedayu masih saja mengangguk-angguk. Katanya “

Aku menangkap maksud Ki Sanak, jadi Ki Sanak merasa sakit

hati karena Jaka Rampan ditangkap oleh Senapati Besar di

Jati Anom? “

“ Ya. Dan Senapati itu adalah kakak kakandungmu. Jadi

ada beberapa alasan jika aku menemuimu setelah Jaka

Rampan ditangkap “ berkata orang itu.

“ Lalu maksud Ki Sanak? “ bertanya Agung Sedayu.

“ Maaf Agung Sedayu “ berkata orang itu dengan sikap

yang tidak berubah “ kami ingin mempersilahkanmu singgah di

padepokanku. “

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun

kemudian katanya “ Maaf Ki Sanak. Aku mempunyai tugas

yang harus aku selesaikan di Tanah Perdikan. “

“ Aku tahu Agung Sedayu “ jawab orang itu “ agaknya kau

ingin segera kembali ke Tanah Perdikan. Aku memang

mengambil kesempatan ini untuk mengikutimu dan

mempersilahkanmu singgah di padepokan. “

 

“ Maaf Ki Sanak “ jawab Agung Sedayu “ sudah aku

katakan, aku tidak mempunyai banyak waktu. “

Orang itu tersenyum. Namun sementara itu Glagah Putih

dan Sekar Mirahpun menjadi tegang.

Tetapi sikap orang itu tidak berubah. Ia masih saja

berbicara perlahan sambil tersenyum-senyum, sehingga

orang-orang yang ada di kedai itu sama sekali tidak tertarik

pada pembicaraan mereka. Sedangkan Agung Sedayupun

menanggapinya dengan cara yang sama pula.

“ Agung Sedayu “ berkata orang itu “ aku menawarkan satu

pemecahan yang baik. Kau sajalah yang singgah di

padepokanku. Biarlah kedua orang yang bersamamu, isteri

dan adik sepupumu itu kembali ke Sangkal Putung dan

mengabarkan kepada Untara, bahwa kau telah singgah di

padepokanku. Kau akan aku persilahkan meninggalkan

padepokan tanpa luka seujung duripun jika Jaka Rampan-pun

kembali dengan selamat. Aku tidak peduli apa yang akan

terjadi dengan Gondang Bangah dan prajurit-prajurit yang lain.

Yang penting bagiku adalah Jaka Rampan, Untara tentu dapat

mengusahakan agar Jaka Rampan dibebaskan demi

keselamatan adiknya. Tetapi jika Jaka Rampan tidak

dibebaskan, maka kaupun tidak akan aku persilahkan

meninggalkan padepokanku sepanjang waktu yang diperlukan

oleh Jaka Rampan menjalani hukumannya. Sedangkan jika

ternyata kemudian bahwa Jaka Rampan dihukum mati,

dengan menyesal hukuman yang serupa akan kau alami. Nah,

bukankah itu satu penyelesaian yang adil? -

Agung Sedayu masih meneguk minuman hangatnya.

Bahkan ia masih juga memungut sepotong tasik yang liat.

Tanpa kegelisahan pada nada suaranya, Agung Sedayu

mempersilahkan “ Tasikan ini manis sekali Ki Sanak. “

Guru Jaka Rampan itu mengerutkan keningnya. Ia memang

menjadi berdebar-debar melihat sikap Agung Sedayu. Orang

yang disebut saudara tua seperguruan anak Demang Sangkal

Putung ini bersikap tenang sekali menghadapi kesulitan.

“ Ki Sanak “ berkata guru Jaka Rampan itu “ nampaknya

kau tidak menyadari apa yang dapat terjadi dengan dirimu.

Kau agaknya masih terpengaruh perkelahian yang terjadi di

 

halaman Kademangan Sangkal Putung. Ingat Agung Sedayu,

aku adalah guru Jaka Rampan. Kau jangan mengukur ilmuku

dengan ilmu Jaka Rampan yang ternyata dapat dikalahkan

oleh adik seperguruanmu itu.

“ Ki Sanak “ berkata Agung Sedayu “ aku tidak pernah

merendahkan ilmu seseorang. Juga ilmu Jaka Rampan.

Apalagi gurunya. Tetapi bagiku lebih baik bersikap wajah

daripada aku harus berteriak-teriak marah dan mengumpatmu

sekarang ini. Karena dengan demikian maka kita akan dapat

mengganggu ketenangan kedai ini. Bukankah Ki Sanak sudah

bersikap demikian? “

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “

Nah. Kau tidak menjumpai pilihan lain Agung Sedayu. “

“ Kenapa tidak? “ jawab Agung Sedayu “ aku berhak

menentukan apakah aku akan singgah atau tidak. “

“ Agung Sedayu. Kau kira aku tidak akan dapat

memaksamu? “ bertanya guru Jaka Rampan itu.

“ Ki Sanak “ berkata Agung Sedayu “ seharusnya kau

menyadari, bahwa muridmu telah melakukan kesalahan.

Sebagai seorang guru kau justru harus menunjukkan kepada

murid-muridmu, manakah yang benar dan baik dilakukan dan

manakah yang tidak. Jika kau memanjakan muridmu seperti

ini, maka Jaka Rampan tidak akan pernah merasa bersalah.

Sementara itu, Mataram adalah sebuah negara yang

mempunyai paugeran. Sudah sewajarnyalah

bahwa setiap orang, termasuk para prajurit di Mataram,

harus mentaati paugeran-paugeran yang berlaku di Mataram.

Nah, sebaiknya kau temui muridmu itu dan kau nase-hati agar

Jaka Rampan menerima hukuman yang akan diletakkan

dipundaknya dengan penuh penyesalan. Dengan demikian,

maka Jaka Rampan tidak akan jatuh kedalam kesalahan lagi

dikemudian hari. “

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya “ Agaknya Untara

sempat juga memberimu beberapa petunjuk. Tetapi ingat

Agung Sedayu. Aku bukan prajurit Mataram yang tunduk pada

paugeran seorang prajurit. Ketahuilah, kesalahan yang

sebenarnya tidak terletak pada Jaka Rampan. Ia hanya

menjalankan perintahku. Ada dendamku kepada saudara

 

seperguruanku yang tinggal dibelakang garis pertahanan

Madiun. Jika Jaka Rampan sempat mempergunakan

pasukannya, maka aku akan dapat menuntut balas,

sementara gerakan Jaka Rampan itu akan dapat memberikan

keuntungan yang besar bagi Mataram. Tetapi ternyata

Senapati Untara itu berjiwa kerdil yang hanya berpegang pada

paugeran yang mati tanpa kebijaksanaan. “

“ Apakah yang kau maksud kebijaksanaan dari satu

paugeran? “ bertanya Agung Sedayu “ apakah bedanya

kebijaksanaan atas satu paugeran dengan penyimpangan? “

***

API DI BUKIT MENOREH SERI III

 JILID 232

ORANG itu tersenyum. Katanya, “ Ternyata kau memang memiliki kemampuan mempergunakan nalarmu. Itulah sebabnya rencana Jaka Rampan telah gagal. Agaknya kau memang lebih cerdik dari adik seperguruanmu, anak Demang Sangkal Putung itu.

Tetapi agaknya benar juga kata orang, bahwa ilmu anak Ki Demang itu lebih tinggi dari ilmumu.” “ Biarlah orang lain menilai perbandingan ilmu kami.” berkata Agung Sedayu, “ tetapi satu hal yang harus kau ketahui Ki Sanak, bahwa aku tidak akan singgah di padepokanmu. Persoalan Jaka Rampan bukan persoalanku lagi.”

“ Begitu mudahnya kau mencuci tangan?” bertanya guru Jaka Rampan. Agung Sedayu tersenyum. Sambil memasukkan potongan terakhir tasikannya kedalam mulutnya, ia berkata, “ Aku kira yang paling mudah aku lakukan memang mencuci tangan.” Wajah orang itu menjadi tegang. Tetapi ia masih duduk dengan tenang. Untuk beberapa saat orang yang mengaku guru Jaka Rampan itu berdiam diri. Kawan-kawannyalah yang nampak menjadi gelisah. Seakan-akan mereka tidak sabar lagi menunggu, Bagi mereka, maka langkah yang paling baik adalah memaksa Agung Sedayu untuk mengikuti mereka ke padepokan. Namun sementara itu Glagah Putih dan Sekar Mirahpun menjadi gelisah pula. Mereka menyadari, bahwa ternyata mereka telah menjumpai persoalan yang tidak mereka perhitungkan sebelumnya. Mereka mengira bahwa persoalan Jaka Rampan itu sudah selesai dan untuk selanjutnya menjadi tanggung jawab para Senapati di Mataram. Tetapi tiba-tiba saja mereka telah bertemu dengan orang yang mengaku guru Jaka Rampan, yang tentu saja gurunya sebelum Jaka Rampan memasuki tugas keprajuritan. Orang itu sengaja atau tidak sengaja telah mengaku, bahwa justru orang itulah yang telah menggerakkan Jaka Rampan untuk menyusup kebelakang garis pertahanan Madiun yang sedang berselisih pendapat dengan Mataram. Beberapa saat kemudian, ternyata guru Jaka Rampan itupun berkata, “ Agung Sedayu. Aku tahu, kaupun memiliki kemampuan yang tinggi, meskipun aku tidak tahu pasti, apakah benar ilmunya belum setataran dengan saudara seperguruannya. Apalagi kau baru saja terluka parah, meskipun aku juga tidak tahu, siapakah yang telah melukaimu itu. Tetapi menurut pendengaranku, orang itu adalah orang yang berilmu sangat tinggi pula. Namun yang telah berhasil kau bunuh di pedepokam kecil gurumu. Tetapi tentu setiap orang akan memperhitungkan peranan gurumu dalam hal ini. Gurumu yang namanya menjulang setinggi Gunung Merapi itu, tentu akan dapat membantumu meskipun ia dalam keadaan sakit. Sehingga dengan demikian, maka kau tidak terbunuh oleh lawanmu itu.” Glagah Putih yang tidak sadar lagi, telah bergeser setapak. Hampir saja mulutnya menjawab. Tetapi Agung Sedayu mendahului, “ Bukankah hal itu wajar? Seorang guru memang wajib membantu muridnya jika muridnya dalam keadaan gawat. Apalagi muridnya tidak melakukan langkah-langkah yang bertentangan dengan paugeran. Bahkan berusaha menegakkannya.” “ Tetapi sekarang, gurumu itu tidak ada disini Agung Sedayu.” berkata guru Jaka Rampan itu. “ Dalam keadaan yang demikian, maka aku harus bersandar pada kemampuanku sendiri. Namun ada sandaranku yang lebih kokoh dari segalanya. Yang Maha Adil akan menilai langkah-langkah kita. Apakah benar yang kau tawarkan itu memang sudah cukup adil.” jawab Agung Sedayu. “ Kau menjengkelkan aku Agung Sedayu.” berkata guru Jaka Rampan. Lalu “ Semula aku ingin membuat perjanjian dengan baik-baik. Selama Jaka Rampan belum dibebaskan, aku persilahkan kau tinggal di padepokanku. Tetapi pembicaraan kita telah mengarah ketingkat yang lebih keras daripada sekedar membuat rencana yang saling kita setujui.” “ Lupakan saja perjanjian yang kau siapkan itu Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu, “ kami akan meneruskan perjalanan kami kembali ke Tanah Perdikan Menoreh yang tentu sudah menunggu. Apalagi jika mereka yang ada di Tanah Perdikan itu mendengar bahwa aku telah terluka parah di Jati Anom sementara guruku sedang sakit.” “ Agung Sedayu.” berkata guru Jaka Rampan, “ kemungkinan seperti itu bukannya tidak aku perhitungkan. Karena itu, maka akupun telah siap memaksamu. Terserah kepadamu, apakah kita akan bertempur disini, di jalan itu atau kita masuk saja kedalam hutan agar tidak mengganggu orang lain. Siapa yang kalah, harus tunduk kepada yang menang, kecuali jika terlanjur mati.” “ Kalau itu yang kau tawarkan, maka aku tidak dapat menolak. Sebab seandainya aku menolak, maka kaupun tentu akan memaksaku.” jawab Agung Sedayu. Namun kemudian katanya, “ Tetapi kau harus ingat, bahwa bukan akulah yang membuat perkara ini. Kaulah yang agaknya telah membuat langkah yang salah atas murid-muridmu, karena kau ingin memanfaatkan muridmu bagi kepuasan hatimu. Sementara kau menginginkan kepuasan dari sebuah dendam yang membakar jantungmu. Bukankah dengan demikian kau sendirilah yang telah menjerumuskan muridmu ke dalam kesulitan.” “ Karena itu, aku harus membebaskannya.” berkata guru Jaka Rampan. Lalu, “ Nah, sekarang apa yang akan kita lakukan?” “ Terserah kepadamu.” jawab Agung Sedayu. “ Masuklah kedalam hutan. Aku akan mengikutimu agar tidak ada kesan bahwa aku telah menjebakmu. Kaulah yang memilih tempat.” berkata guru Jaka Rampan. Agung Sedayu mengangguk-angguk. Iapun kemudian berpaling kepada Sekar Mirah dan Glagah Putih, “ Marilah. Kita penuhi keinginan saudara kita itu.” Glagah Putih dan Sekar Mirah tidak menjawab. Keduanyapun kemudian bangkit pula dan berjalan keluar kedai itu, sementara Agung Sedayu sempat menghitung minuman dan makanan yang telah mereka makan dan membayarnya. Namun dalam pada itu, guru Jaka Rampan itupun menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya tongkat baja putih ditangan Sekar Mirah. Tongkat baja putih dengan kepala tengkorak yang berwarna kekuning-kekuningan. Senjata lambang kekerasan yang jarang ada yang dapat mematahkannya. Tetapi orang itu berkata didalam hatinya, “ Senjata itu sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Tergantung sekali kepada pemiliknya.” Namun orang itupun telah mendengar pula keterangan beberapa orang yang pernah berbicara tentang Sekar Mirah. Bahkan adik Swandaru itu adalah seorang perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi pula. Sedangkan saudara sepupu Agung Sedayu itu juga seorang anak yang masih muda namun yang telah membekali dirinya dengan ilmu yang hampir mapan. Karena itu, ketika Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih telah keluar dari kedai itu, orang yang menyebut dirinya guru Jaka Rampan itupun berkata kepada kawan-kawannya, “ Kita ikuti mereka. Tetapi hati-hatilah. Kalian sudah pernah mendengar tentang mereka bertiga. Agung Sedayu sendiri, isterinya yang membawa tongkat yang mendebarkan, karena tongkat seperti itu pula yang dimiliki oleh Macan Kepatihan di Jipang. Aku tidak tahu hubungan perempuan itu dengan Macan Kepatihan, tetapi nampaknya aliran ilmu mereka bersumber dari perguruan yang satu. Sedangkan anak yang masih sangat muda itu adalah sahabat Raden Rangga yang tidak dapat ditakar ilmunya itu.” Ketiga kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “ Kita tidak pernah silau menghadapi lawan yang bagaimanapun juga. Sementara itu Agung Sedayu yang baru saja sembuh dari luka-lukanya yang parah, tentu masih belum mencapai tingkat kemampuannya sebagaimana sebelumnya.” “ Agung Sedayu nampaknya sudah pulih sepenuhnya. Kita harus berhati-hati.” berkata guru Jaka Rampan itu. Mereka berempatpun sejenak kemudian telah meninggalkan tempatnya setelah orang yang rambutnya keputih-putihan dan menyebut dirinya guru Jaka Rampan itu membayar harga makanan dan minumannya serta kawankawannya. Diluar, mereka melihat Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih tengah mengambil kuda mereka. Kepada orang yang mengurusi kuda-kuda itu Agung Sedayu telah memberikan beberapa keping uang. Guru Jaka Rampan itupun kemudian telah berkata kepada Agung Sedayu ketika orang itu mengambil kudanya pula, “ Kaulah yang memilih tempat. Mungkin tempat itu akan menjadi kuburmu pula jika kau berkeras menolak tawaranku.” Agung Sedayu tidak menjawab. Bersama Sekar Mirah dan Glagah Putih maka merekapun telah meninggalkan halaman kedai menyusuri jalan yang cukup banyak dilalui orang itu. “ Apakah kita akan masuk kedalam hutan?” bertanya Glagah Putih. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil berpaling kepada Sekar Mirah ia berkata, “ Bagaimana menurut pendapatmu?” “ Tentu kepada kakang.” jawab Sekar Mirah, “ tetapi akupun telah siap untuk mempertahankan diri.” Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Apaboleh buat. Kita sudah berusaha sejauh mungkin untuk menghindari kekerasan. Tetapi agaknya persoalan-persoalan itu datang beruntun mengejar kita.” Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ia menyadari, bahwa Agung Sedayu sendiri sebenarnya tidak menghendaki pertengkaran seperti itu terjadi. Namun ia memang tidak dapat mengelak. Karena itu, ketika mereka melihat sebuah lorong sempit memasuki Alas Tambak Baya, maka Agung Sedayupun berkata, “ Kita akan mengambil lorong itu.” Sekar Mirah hanya mengangguk saja. Ketika kemudian Agung Sedayu benar-benar berbelok memasuki lorong itu, iapun telah mengikutinya pula. Dipaling belakang adalah Glagah Putih yang duduk diatas kudanya yang tegar yang diterimanya dari Raden Rangga. Beberapa saat kemudian, maka mereka telah berada di dalam Alas Tambak Baya. Ketika mereka menemukan tempat yang agak lapang, maka Agung Sedayupun telah berhenti. “ Kita menunggu mereka disini.” desis Agung Sedayu. Mereka bertigapun telah berloncatan turun. Ditambatkannya kuda-kuda mereka pada batang-batang pohon yang tumbuh dihutan yang lebat itu. Untuk beberapa saat mereka menunggu sambil mengamati lingkungan disekitar mereka. Pohon-pohon yang tumbuh pepat. Batangbatang perdu dan tanah yang lembab. “ Kenapa tempat ini menjadi agak lapang?” bertanya Glagah Putih tiba-tiba. “ Kau lihat batu-batu padas dibawah kaki kita?” bertanya Agung Sedayu pula. Glagah Putih mengangguk-angguk. Agaknya mereka berada diatas bebatuan sehingga tidak sebatang pohon besarpun yang tumbuh. Hanya pohon-pohon perdu sajalah yang lebat menutupi batu-batu padas yang keras. Beberapa saat kemudian, maka mereka bertigapun telah melihat ampat orang diatas punggung kuda pula memasuki tempat itu. Dengan tenang merekapun turun dari kuda mereka. Sebagaimana Agung Sedayu, maka merekapun telah menambatkan kuda-kuda mereka pula. “ Sungguh satu sikap yang terpuji.” berkata guru Jaka Rampan itu, “ dengan demikian maka kebesaran nama Agung Sedayu bukannya sekedar bualan orang-orang yang mengaguminya.” “ Sudahlah.” berkata Agung Sedayu, “ kau tidak usah berpura-pura memujiku. Sekarang, cara penyelesaian yang manakah yang kau inginkan?” “ Aku masih tetap menawarkan kesempatan terbaik bagimu. Singgah di padepokanku.” berkata guru Jaka Rampan. “ Jangan kau sebut lagi. Kau sudah tahu jawabanku.” desis Agung Sedayu. Orang yang mengaku sebagai guru Jaka Rampan itu memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Namun kemudian ia berkata, “ Agung Sedayu. Jika kau tidak mau menerima tawaranku, kau tentu akan kehilangan segala kesempatan. Bahkan bukan hanya kau saja yang harus terkubur disini. Tetapi isteri dan adik sepupumu itupun akan menanggung akibat kesalahanmu pula. Tetapi jika kau bersedia, aku akan membiarkan mereka pergi justru untuk memberitahukan kepada Untara, bahwa kita telah membuat satu perjanjian.” Tetapi Agung Sedayu menjawab, “ Ki Sanak. Apapun yang terjadi, tetapi kau tidak akan dapat memaksaku. Ku lihat bahwa isteriku juga menjinjing senjata. Itu adalah satu pertanda bahwa ia tidak akan menyerah begitu saja. Sementara sepupuku, meskipun masih sangat muda, namun ia akan berusaha mempertahankan dirinya. Karena itu, maka kau jangan menakut-nakuti kami.” “ Baiklah.” berkata Guru Jaka Rampan itu, “ kau telah memilih. Dengan demikian maka tidak seorangpun yang dapat menyalahkan aku. Kaupun jangan menyangka bahwa aku melawanmu justru karena kau baru saja sembuh dari sakitmu yang parah.” “ Aku sudah pulih kembali.” berkata Agung Sedayu, “ jika aku kalah, maka kau benar-benar memiliki ilmu melampaui takaran ilmuku. Bukan karena aku baru saja sembuh dari lukaku yang parah.” Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Kau memang sombong sekali. Tetapi kesombonganmu kali ini adalah kesombonganmu yang terakhir.” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab. Dalam pada itu, orang yang mengaku guru Jaka Rampan itupun berkata kepada orang-orangnya, “ Jaga agar isteri dan sepupu Agung Sedayu itu tidak melarikan diri. Aku akan menyelesaikan Agung Sedayu lebih dahulu. Aku ingin isteri dan sepupunya melihat, bagaimana Agung Sedayu mati ditanganku, sehingga dengan demikian akan lenyaplah segala kebanggaan mereka atas seorang yang bernama Agung Sedayu itu. “ Dengan sengaja Agung Sedayu tidak menghindari serangan itu. Sambil menjajagi kekuatan lawannya, Agung Sedayu menangkis serangan itu dengan kedua tangannya. Temyata benturan itu telah memberikan takaran bagi keduanya. Glagah Putihlah yang menggeram. Tetapi ia masih menahan diri. Ia ingin melihat, apa saja yang dapat dilakukan oleh orang yang menyebut dirinya guru Jaka Rampan itu. Bahkan tiba-tiba saja timbul keinginan Glagah Putih untuk menilai kemampuan Agung Sedayu yang bertempur dengan guru dari orang yang pernah dikalahkan oleh Swandaru. “ Jika kakang Swandaru bertempur melawan muridnya, maka kakang Agung Sedayu akan bertempur melawan gurunya.” berkata Glagah Putih didalam hatinya. Dalam pada itu, maka ketiga orang kawan dari orang yang menyebut dirinya guru Jaka Rampan itupun telah memencar. Mereka menjaga agar tidak seorangpun diantara ketiga orang yang menjadi sasaran mereka itu sempat melarikan diri. Sejenak kemudian guru Jaka Rampan dan Agung Sedayupun telah bersiap. Untuk beberapa saat mereka berdiri berhadapan. Namun tiba-tiba saja guru Jaka Rampan itu telah meloncat menyerang. Meskipun serangan itu belum merupakan serangan yang menentukan, namun ternyata bahwa guru Jaka Rampan itu memang memiliki kekuatan yang sangat besar. Agung Sedayu bergeser selangkah. Ia berhasil mengelakkan serangan itu. Namun lawannya itupun telah meloncat pula. Dengan kakinya ia menyerang kearah dadanya. Sekali lagi Agung Sedayu bergeser. Tetapi lawannya itupun tiba-tiba telah menyerang dengan putaran kakinya mendatar. Dengan sengaja Agung Sedayu tidak menghindari serangan itu. Sambil menjajagi kekuatan lawannya, Agung Sedayu menangkis serangan itu dengan kedua tangannya. Ternyata benturan itu telah memberikan takaran bagi keduanya. Guru Jaka Rampan itupun segera mengetahui, bahwa Agung Sedayu memang memiliki kekuatan yang cukup besar. Iapun menyadari, bahwa yang membentur serangannya itu tentu belum seluruh kekuatan yang tersimpan didalam diri Agung Sedayu. Demikianlah, maka guru Jaka Rampan itu semakin mempercepat tata geraknya. Namun Agung Sedayu mampu mengimbanginya meskipun setingkat demi setingkat lawannya mempertajam ilmunya yang menjadi semakin berbahaya. Sekar Mirah dan Glagah Putih berdiri tegak mengamati pertempuran itu. Namun mereka berdua belum melihat kelebihan masing-masing. Agaknya keduanya masih berusaha untuk saling menjajagi. Namun pertempuran itu memang menjadi semakin cepat. Guru Jaka Rampan bertempur semakin keras. Namun semakin lama memang menjadi semakin jelas, bahwa orang itu memang memiliki unsur-unsur gerak sebagaimana diperlihatkan oleh Jaka Rampan saat ia bertempur melawan Swandaru. Tetapi mereka yang menyaksikan itupun segera menyadari, bahwa bobot ilmu orang itu memang lebih mapan dari Jaka Rampan. Orang itu mampu bergerak lebih cepat, ayunan serangan yang lebih kuat dan perkembangan yang lebih cepat, ayunan serangan yang lebih berbahaya dari yang pernah diperlihatkan oleh Jaka Rampan. Sementara mereka menyadari bahwa apa yang diperlihatkan oleh guru Jaka Rampan itu masih berada pada tataran permulaan. Dengan demikian maka Sekar Mirah dan Glagah Putih menyadari pula, bahwa guru Jaka Rampan itu tentu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia merasa iba terhadap Agung Sedayu. Demikian ia sembuh, maka tiba-tiba lawan yang barupun telah menunggu. Tetapi dalam keprihatinan, ada juga kebanggaan pada diri Sekar Mirah. Bahwa suaminya yang mendapat kurnia kelebihan dan orang kebanyakan itu telah mengetrapkan ilmunya bagi pengabdian atas sesama. Bagi kewajibannya sebagai seorang kawula yang baik dalam batas-batas tanggungjawabnya. Dengan debar di hati yang semakin cepat, maka Sekar Mirah menyaksikan pertempuran antara suaminya dan orang yang mengaku guru Jaka Rampan itu menjadi semakin cepat juga. Keduanya mulai berloncatan dengan tangkasnya. Ketika sekali-sekali terdengar guru Jaka Rampan itu berteriak, maka rasa-rasanya kulit Sekar Mirah ikut meremang. Semakin lama guru Jaka Rampan itupun menjadi semakin cepat bergerak. Tubuhnya menjadi semakin ringan sehingga kemudian seakan-akan bagaikan bayangan yang terbang mengitari Agung Sedayu. Namun tiba-tiba saja tangannya telah terayun menyerang, atau kakinya yang berputar mendatar atau lurus menyamping. Bahkan kadang kadang kakinya terjulur kedepan mengarah ke dagu. Untuk beberapa saat Agung Sedayu seakan-akan tidak sempat bergeser dari tempatnya. Ia hanya berkisar saja selangkah selangkah untuk menghindari serangan-serangan lawannya. Sehingga dengan demikian maka seakan-akan Agung Sedayu tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang. Tetapi Sekar Mirah dan Glagah Putih yang menyaksikan pertempuran itu tidak menjadi cemas karenanya. Agaknya Agung Sedayu masih berusaha untuk menjajagi kemampuan lawannya yang mulai melepaskan ilmunya dan meningkat selapis demi selapis. Sebenarnyalah guru Jaka Rampan itu memang meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Ketika seranganserangannya belum juga berhasil menyakiti lawannya, maka iapun telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi dan semakin tinggi. Guru Jaka Rampan itu semula menyangka bahwa Agung Sedayu mulai mengalami kebingungan dan tidak sempat beranjak dari tempatnya. Serangan-serangan yang datang seakan-akan dari segala arah telah membuatnya bertahan tanpa sempat bergeser dari tempatnya. Kawan-kawan orang itupun mempunyai dugaan serupa. Bahkan mereka menganggap bahwa ternyata pekerjaan mereka jauh lebih ringan dari yang mereka perhitungkan semula. Mereka semula mengira bahwa untuk memaksa Agung Sedayu tunduk kepada mereka, akan diperlukan waktu yang cukup lama. Tetapi ketika pertempuran itu mulai meningkat semakin cepat, seakan-akan Agung Sedayu sudah tidak mendapat kesempatan sama sekali. Tetapi dugaan itu ternyata keliru. Meskipun Agung Sedayu seakan-akan hanya bertahan tanpa sempat bergeser dari tempatnya, namun adalah satu kenyataan bahwa guru Jaka Rampan itu belum sempat mengenai tubuhnya. Seranganserangannya belum dapat mengenai sasarannya. Kemarahan yang memang telah menyala di dadanya, seakan-akan telah membakar jantungnya. Sambil berteriak nyaring, maka serangan-serangannyapun semakin menjadi cepat dan keras. Dalam pada itu, Agung Sedayu masih berusaha bertahan untuk beberapa saat. Ternyata ia berhasil memancing sebagian besar dari kekuatan dan ilmu lawannya. Meskipun Agung Sedayu menyadari bahwa guru Jaka Rampan itu tentu memiliki ilmu pamungkas yang sangat tinggi, namun Agung Sedayu serba sedikit telah mampu mengenali watak dan kemampuan lawannya. Bahkan serba sedikit, Agung Sedayu melihat kelemahan-kelemahan lawannya. Agaknya lawannya itu lebih banyak memperhitungkan serangan-serangannya daripada pertahanannya. Guru Jaka Rampan itu semakin lama semakin menyadari kedudukannya. Bahkan ia sempat mengumpati dirinya didalam hati. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka ia telah merasa menjadi terlalu bodoh karena semula ia telah menganggap bahwa ia berhasil mengurung Agung Sedayu. “ Bukan main.” geramnya, “ ternyata kau benar-benar seorang yang luar biasa. Agung Sedayu. Kecuali berilmu tinggi, maka otakmu adalah otak yang cerah.” “ Kau tidak usah memujiku. Sebaiknya kau batalkan saja niatmu.” sahut Agung Sedayu sambil bergeser menghindari serangan lawannya. Sambil memburu, guru Jaka Rampan itu berkata, “ Tetapi kau tidak perlu menghinaku dengan cara seperti itu. Kau akan semakin menyesal dan kecewa atas ilmu yang telah kau miliki.” Agung Sedayu tidak menjawab. Namun ternyata bahwa tiba-tiba saja guru Jaka Rampan itu telah menghentakkan ilmunya yang menggetarkan. Demikian cepatnya ia bergerak, maka dalam saat yang hampir bersamaan guru Jaka Rampan itu seakan-akan telah berada di beberapa tempat. Sebelum Agung Sedayu sempat menghadapinya kesatu arah, maka guru Jaka Rampan itu telah berada di tempat lain. Sekar Mirah dan Glagah Putih mulai menjadi tegang. Agaknya lawan Agung Sedayu mulai mengerahkan ilmunya yang tinggi. Sehingga merekapun memperhitungkan bahwa Agung Sedayu tidak akan dapat bertahan dengan caranya. Sementara itu ketiga orang kawan guru Jaka Rampan itupun mengerutkan keningnya. Ia mengerti, bahwa guru Jaka Rampan itu memang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Semula mereka mengira bahwa guru Jaka Rampan itu tidak perlu meningkatkan ilmunya sampai ke tataran itu, karena seakanakan Agung Sedayu sudah tidak sempat melawan lagi. Namun akhirnya merekapun menyadari, bahwa Agung Sedayu masih belum bersungguh-sungguh. Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu mulai merasakan tekanan lawannya. Benturan yang kemudian terjadi telah memperingatkan Agung Sedayu untuk semakin berhati -hati. Karena itu maka Agung Sedayupun harus mengerahkan tenaga cadangan yang ada didalam dirinya. Ia berusaha untuk dapat mengimbangi kecepatan gerak lawannya, yang setiap saat berada ditempat yang berbeda. Tetapi ternyata bahwa tenaga cadangan yang dimiliki oleh Agung Sedayu masih belum mencukupi. Setiap kali Agung Sedayu masih saja agak terlambat. Jika ia dengan tangkasnya menangkis serangan yang datang, maka tiba-tiba saja serangan dari arah lain telah menyergapnya, sehingga Agung Sedayu harus meloncat menghindar. Tetapi demikian kakinya berjejak diatas tanah, serangan berikutnya telah menyambarnya. Begitu cepatnya, sehingga Agung Sedayu tidak lagi sempat mengelak atau menangkis serangan itu. Beberapa kali tubuh Agung Sedayu memang sudah dikenai oleh serangan-serangan lawannya yang datangnya menjadi semakin cepat. Lebih cepat dari seekor lalat yang terbang mengitarinya. Dalam keadaan yang demikian, maka lawannya mulai menjadi yakin, bahwa ia akan dapat mengalahkan orang yang bernama Agung Sedayu itu. Saudara tua dari anak Demang Sangkal Putung yang telah mengalahkan Jaka Rampan. Namun Jaka Rampan ternyata masih belum sampai pada tingkat atau bahkan alas ilmu yang dipergunakan oleh gurunya itu. Ilmu yang telah mampu membuatnya bergerak sangat cepat, sehingga bagi Agung Sedayu, lawannya itu seakanakan telah menyerangnya dari segala penjuru pada waktu yang bersamaan. Ketika tubuh Agung Sedayu mulai merasa nyeri oleh serangan-serangan lawan, maka ia mulai berusaha untuk menghindarinya. Dengan demikian maka ia akan mendapat kesempatan untuk berbuat lebih banyak meskipun masih harus memperhitungkan sentuhan-sentuhan serangan lawannya yang datang dari segenap arah itu. Agung Sedayupun kemudian telah mulai merambah memasuki kemampuan ilmunya. Bukan sekedar tenaga cadangannya. Karena itu, maka iapun mulai mengetrapkan kekuatan ilmunya itu sehingga dengan demikian maka Agung Sedayu mempunyai landasan yang lebih tinggi bagi perlawanannya. Mula-mula Agung Sedayu memang baru berusaha untuk mengatasi kecepatan gerak lawannya. Dengan landasan ilmunya yang disalurkan pada kekuatan dan kemampuan gerak kakinya, maka Agung Sedayu ternyata mampu bergerak lebih cepat dan kuat. Meskipun ia tidak mampu berbuat sebagaimana dilakukan oleh lawannya yang seakan-akan datang menyerang dari semua penjuru, namun Agung Sedayu mempunyai kekuatan yang sangat tinggi, sehingga ia mampu melontarkan tubuhnya dengan kuat. Se-hingga seakan-akan tubuhnyalah yang telah kehilangan bobot. Ketika lawannya masih saja berada disegala arah dan menyerangnya tanpa berhenti, maka tubuh Agung Sedayu itu mulai melenting. Bukan hanya satu dua langkah. Tetapi beberapa langkah. Lawannya memang terkejut. Betapapun ia mampu bergerak cepat, tetapi tidak sejauh loncatan Agung Sedayu. Namun dengan kecepatan yang sangat tinggi, orang itu segera telah menyusulnya. Sekali lagi terjadi seranganserangan yang keras dari beberapa penjuru, sehingga membuat Agung Sedayu terlambat untuk mengelak atau menangkis serangan itu. Namun dalam kesulitan, tiba-tiba Agung Sedayu telah meloncat tinggi-tinggi, bagaikan terbang diudara, kemudian dengan kedua kakinya yang kuat, Agung Sedayu telah berdiri tegak beberapa langkah dari lawannya. Lawannyalah yang kemudian termangu-mangu. Dengan nada berat ia berkata, “ Agung Sedayu. Ternyata kau memiliki ilmu meringankan tubuh yang hampir sempurna. Namamu benar-benar bukan nama yang sekedar dibesar-besarkan. Agaknya cerita tentang kemalasanmu berlatih sehingga adik seperguruanmu telah melampaui kemampuanmu adalah ceritera isapan jempol saja.” “ Jangan menilai kemampuan kami.” berkata Agung Sedayu, “ kaupun akan mengalami kesulitan jika kau harus bertempur melawan Swandaru.” Guru Jaka Rampan tertawa. Katanya, “ Jangan mengadaada. Aku mengenal dengan pasti kemampuan muridku.” Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada itu guru Jaka Rampan itupun berkata, “ Dengan kemampuanmu meringankan tubuh, maka aku kira aku memerlukan waktu yang terlalu lama untuk menundukkanmu. Karena itu, maka apaboleh buat jika aku terpaksa mempergunakan senjata. Karena dengan senjata maka kemungkinan yang paling buruk akan terjadi atas dirimu. Sayang, Jaka Rampan tidak mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam ilmu pedang. Nah, sekali lagi aku peringatkan, bahwa aku adalah gurunya.” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Tentu kemampuanmu jauh berada diatas kemampuan Jaka Rampan dalam ilmu pedang. Bukankah kau ingin mengatakan demikian?” “ Syukurlah jika hal itu kau sadari.” berkata guru Jaka Rampan itu, “ karena itu sebelum pedangku benar-benar membelah jantungmu, aku masih menawarkan niat baikku. Singgahlah dipadepokanku.” Tetapi jawab Agung Sedayu, “ Ki Sanak. Tingkah lakumu telah menimbulkan niatku untuk menangkapmu. Kita sudah berada di dekat ibu kota Mataram. Karena itu , sebaiknya aku membawamu menghadap Panembahan Senapati agar kau dapat menunggui muridmu dan yang penting bertanggung jawab atas perbuatanmu, menjerumuskan muridmu dalam tindak yang salah, melanggar paugeran seorang prajurit. Apalagi muridnya adalah seorang perwira.” Guru Jaka Rampan itu menggeram. Sikap Agung Sedayu benar-benar telah membuat hatinya menjadi semakin sakit. Karena itu, maka iapun berkata, “ Jika demikian Agung Sedayu, maka tidak ada yang paling baik aku lakukan selain membunuhmu.” Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap sepenuhnya untuk melawan ilmu pedang guru Jaka Rampan. Sesaat kemudian, maka pedang guru Jaka Rampan itu mulai bergetar. Namun dalam waktu sekejap pedang itu bagaikan terbang mengitari tubuh Agung Sedayu. Dengan susah payah Agung Sedayu harus berloncatan menghindarinya. Namun dalam keadaan yang sulit, Agung Sedayu telah melenting mengambil jarak. Tetapi guru Jaka Rampan tidak mau melepaskannya. Iapun telah memburu dengan kemampuannya yang tinggi. Ilmunya telah membuatnya menjadi bagaikan bayangan mengimbangi kemampuan ilmu meringankan tubuh Agung Sedayu. Keduanyapun bagaikan berputar-putar diudara. Hanya sekali-sekali saja kaki mereka menyentuh tanah. Sementara itu dalam kesempatan tertentu, guru Jaka Rampan itu seakanKang Zusi - http://kangzusi.com/ akan telah menyerang dari beberapa penjuru dalam waktu yang bersamaan. Agung Sedayu benar-benar mengalami kesulitan. Kemana ia meloncat, guru Jaka Rampan yang telah sampai pada puncak kemampuannya serta kemampuan ilmu pedangnya yang jarang ada bandingnya telah memburunya. Sehingga akhirnya, dalam putaran yang cepat melampaui kecepatan bayangan, ujung pedang guru Jaka Rampan itu telah menyentuh kulit pada lengan Agung Sedayu. Agung Sedayu yang merasakan lengannya terluka telah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan meloncat mengambil jarak dari lawannya. Ternyata guru Jaka Rampan tidak mengejarnya. Ia berdiri sambil menyilangkan pedang didadanya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “ Maaf Agung Sedayu. Aku tidak mempunyai pilihan lain.” “ Apa maksudmu?” bertanya Agung Sedayu. Pedang guru Jaka Rampan itu berputar satu putaran. Demikian pedang itu kembali bersilang didadanya guru Jaka Rampan itu berkata, “ Kau akan mati. Racun di pedangku adalah racun yang sangat kuat. Melampaui kuatnya bisa ular bandotan.” Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Sementara itu guru Jaka Rampan itu berkata, “ Tetapi bukannya tidak ada jalan untuk menyelamatkan jiwamu.” “ Bagaimana?” bertanya Agung Sedayu. “ Jika kau bersedia singgah di padepokanku, maka aku akan memberimu penawar racun itu.” berkata guru Jaka Rampan. “ Jika tidak?” bertanya Agung Sedayu pula. “ Jika tidak kau akan mati. Isterimu juga akan mati. Demikian pula adik sepupumu itu.” berkata guru Jaka Rampan sambil tersenyum. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ketika dipandanginya isterinya dan Glagah Putih, maka keduanya nampak termangu-mangu. Sementara ketiga orang kawan dari guru Jaka Rampan telah yakin bahwa Agung Sedayu tidak akan dapat memilih. Tetapi tiba-tiba saja Agung Sedayu berkata, “ Sayang Ki Sanak. Aku tetap menolak untuk singgah di padepokanmu.” “ Jadi kau memilih mati?” bertanya guru Jaka Rampan. Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “ Aku juga tidak ingin mati. Masih banyak yang harus aku kerjakan. Kecuali jika Yang Maha Agung memang menghendaki.” “ Kau jangan mengabaikan racun ditubuhmu.” berkata guru Jaka Rampan, “ aku tidak bermain-main.” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian telah memijit luka dilengannya. Dari celah-celah bajunya yang koyak, darah nampak meleleh dari luka itu. Merah kebiru-biruan. Namun kemudian Agung Sedayu telah mengusap darah itu sehingga pampat. Guru Jaka Rampan memang terkejut. Ternyata Agung Sedayu mampu menolak racun yang mulai menyentuh darahnya. Bahkan ia berhasil memampatkan kembali darah yang telah terkena racun itu. “ Ki Sanak.” berkata Agung Sedayu, “ jangan risaukan racun di tubuhku.” “ Anak iblis.” geram guru Jaka Rampan, “ ternyata kau mampu menolak racun yang menyentuh saluran darahmu. Iblis manakah yang telah memberikan kemampuan itu kepadamu?” “ Sudahlah.” berkata Agung Sedayu, “ nampaknya kau memang harus bersungguh-sungguh. Kau benar-benar telah menggoreskan racun. Dengan demikian, maka akupun harus bersungguh-sungguh pula sebagaimana kau lakukan.” “ Persetan.” geram guru Jaka Rampan. Tiba-tiba saja pedangnya telah terjulur pula. Bahkan ujungnya mulai bergetar, sementara iapun menggeram, “ mungkin racun di pedangku tidak dapat membunuhmu. Tetapi ternyata aku telah berhasil melukaimu. Karena itu maka akupun yakin, bahwa aku akan mampu membelah jantungmu.” Agung Sedayu segera mempersiapkan diri. Ia telah mempergunakan waktu yang sesaat itu untuk mengetrapkan ilmu kebalnya. Bagaimanapun juga, ternyata bahwa guru Jaka Rampan itu mampu bergerak sangat cepat. Tetapi selain ilmu kebalnya, maka Agung Sedayupun kemudian telah mengurai pula senjata andalannya. Sehelai cambuk. Guru Jaka Rampan itu termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian, “ Nasibmu memang buruk Agung Sedayu. Orang yang menyerang padepokan itu hanya mampu melukaimu. Tetapi aku akan membunuhmu.” “ Aku akan berusaha untuk membela diriku sendiri Ki Sanak.” jawab Agung Sedayu. Jantung guru Jaka Rampan itu menjadi bagaikan berdegup semakin cepat. Ketika Agung Sedayu menggerakkan juntai cambuknya, orang itu menggeram, “ Murid dari orang bercambuk ini benar-benar seorang yang berilmu tinggi. Ternyata bahwa pendapat tentang perbandingan ilmu antara Agung Sedayu dan Swandaru akan dapat menyesatkan.” Agung Sedayu sama sekali tidak menyahut. Tetapi ia benar-benar sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Lawannya, yang menyebut dirinya guru Jaka Rampan itu seakan-akan memang mempunyai ilmu siluman, sehingga ia dapat berada dibeberapa tempat dalam waktu yang hampir bersamaan. Agung Sedayu memang mengerti, bahwa hal itu semata-mata karena kemampuan ilmu orang itu. Ia mampu bergerak sangat cepat. Tetapi tidak pada jarak yang terlalu panjang. Demikianlah, maka sejenak kemudian orang itu telah meloncat dengan cepatnya. Seakan-akan telah menghilang. Namun pedangnyapun dengan cepat pula telah terayun mendatar menebas kearah punggung Agung Sedayu. Agung Sedayu masih sempat bergeser. Demikian pula ketika tiba-tiba saja orang itu telah menyerangnya dari depan. Pedang itu terjulur lurus mengarah ke dada. Meskipun Agung Sedayu telah mengetrapkan ilmu kebalnya, namun Agung Sedayu tidak membiarkan ujung pedang orang itu mengenai dadanya. Agung Sedayu masih belum tahu, apakah puncak ilmu orang itu akan mampu menembus ilmu kebalnya itu. Karena itu, maka Agung Sedayu masih juga bergeser mengelak. Tetapi demikian cepatnya, pedang itu telah bergerak mendatar setinggi leher Agung Sedayu. Agung Sedayu itupun kemudian meloncat surut. Justru beberapa langkah. Tubuhnya yang bagaikan tidak mempunyai bobot itu melambung bagaikan terbang kearah belakang. Lawannya tidak mau kehilangan kesempatan. Iapun mampu bergerak cepat meskipun tidak sekaligus pada jarak yang panjang. Tetapi demikian bayangannya menghampiri Agung Sedayu yang menyentuh tanah, maka cambuk Agung Sedayupun telah meledak bagaikan memecahkan selaput telinga. Orang itu terkejut. Dengan gerak naluriah, namun dengan kecepatan yang dialasi dengan kemampuan ilmunya, orang itu telah meloncat surut sehingga ujung cambuk Agung Sedayu tidak mengenainya. Namun ternyata jantung orang itu bagaikan meledak. Dengan nada rendah ia bergumam kepada diri sendiri, “ Benar-benar ilmu iblis. Suara cambuknya dapat merontokkan isi dada.” Sementara itu Sekar Mirah dan Glagah Putih ternyata mempunyai tanggapan yang berbeda dengan orang-orang yang berdiri termangu-mangu mengawasi pertempuran itu. Mereka menganggap ledakan cambuk yang bagaikan petir di langit itu merupakan puncak kekuatan ilmu Agung Sedayu. Namun Sekar Mirah dan Glagah Putih mengetahui, bahwa justru suara cambuk itu meledak keras-keras, maka Agung Sedayu masih belum memasuki inti kekuatan ilmunya yang dahsyat. Sejenak kemudian, maka pertempuran menjadi semakin cepat dan semakin keras. Lawan Agung Sedayu itupun telah sampai pada tataran tertinggi dari kemampuannya bergerak cepat. Namun Agung Sedayupun telah mencapai satu tingkat yang mapan pada ilmunya meringankan tubuh. Putaran pedang guru Jaka Rampan yang menjadi semakin cepat itu bagaikan gumpalan awan yang kehitam-hitaman yang terbang dengan kecepatan terbang burung sikatan menyambar bilalang. Namun ujung juntai cambuk Agung Sedayupun telah berputar pula melindunginya, sehingga setiap kali putaran pedang lawannya mendekatinya, maka ledakan yang memekakkan telinga telah menghentak seperti petir dilangit. Jika benturan terjadi, maka getar dari benturan itu telah merambat pada batang senjata masing-masing hingga kemudian bagaikan menggigit telapak tangan. Kekuatan ilmu keduanya benar-benar merupakan kekuatan yang sulit dicari bandingnya. Namun kemudian ternyata bahwa guru Jaka Rampan itu mampu membuat perhitungan yang rumit dari putaran senjata Agung Sedayu. Meskipun senjata itu berputar cepat sekali, tetapi lawannya yang dengan teliti memperhitungkannya, dapat seakan-akan menghanyutkan diri pada putaran itu dan memasuki pertahanan Agung Sedayu. Tetapi ternyata bahwa Agung Sedayupun sempat mengetahuinya sehingga dengan cepat Agung Sedayu telah menarik cambuknya dan kemudian menghentakkannya sendal pancing kearah lawannya. Tetapi guru Jaka Rampan ternyata mampu bergerak lebih cepat. Sebelum Agung Sedayu sempat menghentakkan cambuknya sendal pancing, ternyata ujung pedang guru Jaka Rampan itu telah sempat mengenai sasarannya, menyentuh pundak Agung Sedayu. Sekejap kemudian, pada saat cambuk Agung Sedayu meledak, lawannya itu telah berpaling tiga kali dan dengan satu loncatan yang cepat dan kuat ia telah berdiri tegak dengan pedang yang terjulur kedepan siap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi Agung Sedayu masih tetap berdiri ditempatnya. Sementara itu lawannyapun berkata, “ Sekali lagi pedangku telah mengoyak tubuhmu. Jika pertempuran ini berlangsung terus, maka tubuhmu tentu akan luka arang kranjang.” Agung Sedayu melangkah mendekat sambil tersenyum. Katanya, “ Kau tidak berhasil mengenai tubuhku, Ki Sanak. Kau hanya dapat menyentuh sapuan juntai cambukku.” “ Jangan berbohong.” guru Jaka Rampan itu tertawa. Tetapi Agung Sedayupun tertawa pula. Sambil mengusap pundaknya ia berkata. “ Kau lihat? Tidak ada luka dipundakku.” Guru Jaka Rampan itu termangu-mangu. Ia memang tidak melihat luka di pundak Agung Sedayu. Yang dilihat adalah lubang kecil pada baju Agung Sedayu seujung pedangnya. Tetapi pundak itu tidak terkoyak seujung duripun. Guru Jaka Rampan itu menjadi semakin berdebar-debar menghadapi lawannya yang termasuk masih muda itu. Namun ia masih ingin membuktikan bahwa ia mampu mengenai tubuh lawannya. Sejenak kemudian serangan-serangannyapun telah datang lagi beruntun, sementara Agung Sedayu berusaha untuk menghindar dan menghalau serangan-serangan yang datang demikian cepatnya. Dengan ilmu meringankan tubuh, maka Agung Sedayu mampu mengimbangi kecepatan gerak lawannya itu. Bahkan ketika lawannya itu meloncat dengan pedang terjulur kearah dadanya, Agung Sedayu sempat mengibaskan cambuknya. Memang tidak terlalu keras, karena tiba-tiba saja orang itu telah berada dihadapannya. Sejenak kemudian keduanya telah meloncat mundur. Orang itu terbelalak ketika ia tidak melihat luka didada Agung Sedayu. Bahkan terasa betapa pedihnya lengannya yang disentuh oleh ujung cambuk Agung Sedayu itu. Ketika ia meraba lengannya yang berdarah, ternyata bahwa sebuah luka telah menganga. “ Setan kau Agung Sedayu.” geram orang itu, “ karah baja pada cambukmu sempat mengoyak kulitku. Sementara itu ternyata kau memiliki ilmu kebal.” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Sudahlah Ki Sanak. Tidak ada gunanya kita bertempur terus. Sekarang, akulah yang mempersilahkan kau ikut bersamaku ke Mataram. Sebenarnya aku tidak ingin singgah. Tetapi karena aku akan bersamamu, maka kami sebaiknya memang harus singgah.” “ Persetan.” geram guru Jaka Rampan, “ kau kira ilmu kebalmu cukup kuat untuk menahan serangan-seranganku?” “ Apapun yang ada pada kita masing-masing, maka sebaiknya kita tidak bertempur lagi.” minta Agung Sedayu. “ Kau memang terlalu sombong.” geram orang itu. “ Bukan maksudku. Tetapi aku mempunyai tawaran penyelesaian yang lain dari yang kau tawarkan.” berkata Agung Sedayu pula. Orang itu tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja pedangnya telah perputar lagi. Sejenak kemudian tubuhnya bagaikan hilang dari tempatnya. Namun serangannya telah datang dari arah yang lain. Pertempuran antara Agung Sedayu dan orang itupun telah berlangsung lagi. Tetapi seperti sebelumnya, guru Jaka Rampan itu tidak mempunyai kesempatan untuk mendesak lawannya. Bahkan sekali lagi cambuk Agung Sedayu telah mengenainya. Dalam keadaan yang sulit itu, maka guru Jaka Rampan itupun tiba-tiba saja berteriak nyaring kepada kawankawannya, “ Kuasai isteri dan saudara sepupunya. Jika Agung Sedayu tidak menyerah, mereka akan dikorbankan.” Ketiga orang kawan guru Jaka Rampan itupun tiba-tiba telah bergerak. Perintah guru Jaka Rampan itu tidak perlu diulangi. Dengan serta merta mereka telah menarik pedang dan siap untuk menguasai Sekar Mirah dan Glagah Putih. Tetapi teriakan guru Jaka Rampan itu telah memberikan isyarat pula kepada Sekar Mirah dan Glagah Putih untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, demikian mereka mendengar teriakan lawan Agung Sedayu, maka Sekar Mirahpun telah mengangkat tongkat baja putihnya, sementara Glagah Putih pun telah mengurai ikat pinggangnya. Ia tidak mau membuat kesalahan, karena dengan demikian maka keadaan Agung Sedayu akan menjadi sulit. Karena itu, maka ia tidak mempergunakan senjata lain dari senjata yang sudah diyakininya. Ketika Ketiga orang itu mendekati Sekar Mirah dan Glagah Putih, maka keduanya telah bersiap sepenuhnya. Dengan mantap Sekar Mirah berkata, “ Kita akan bertempur berpasangan.” Glagah Putih mengetahui maksud Sekar Mirah. Karena itu, maka ia pun segera berdiri di belakang Sekar Mirah menghadap kearah yang berlawanan. Ketiga orang kawan guru Jaga Rampan itupun segera mengepungnya. Namun merekapun menyadari bahwa menguasai kedua orang itu bukannya pekerjaan yang mudah. Seorang diantara ketiga orang itu memang berusaha untuk mempengaruhi ketahanan jiwani kedua orang itu. Dengan nada berat orang itu berkata, “ Kalian bukan Agung Sedayu. Jika Agung Sedayu memiliki ilmu kebal dan ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, maka kalian tidak akan dapat melakukannya. Karena itu, untuk menghindari kemungkinan buruk terjadi atas kalian, maka kami harap kalian menyerah saja. Meletakkan senjata kalian dan menurut perintah yang kami berikan.” Yang menjawab adalah Sekar Mirah, “ Maaf Ki Sanak. Barangkali kami terpaksa membunuhmu.” Wajah orang itu menjadi tegang. Dengan geram ia berkata, “ Kau juga sombong seperti Agung Sedayu.” “ Jangan lupa, aku adalah isterinya.” berkata Sekar Mirah, “ sifat-sifatnya akan dapat mempengaruhi sifat-sifatku.” “ Persetan.” orang itu mulai marah. Sementara itu, terdengar lawan Agung Sedayu berteriak, “ Cepat, Kuasai mereka dan paksa mereka untuk tunduk kepada perintah kalian.” Ketiga orang itu dengan serta merta telah bersiap. Senjata mereka segera terangkat. Namun seorang diantara mereka masih berkata, “ Lebih baik menyerahlah.” Meskipun ketiga orang itu sudah memperhitungkan sebelumnya, bahwa Sekar Mirah tidak akan terlalu mudah menyerah, namun mereka masih juga terkejut, ketika Sekar Mirah yang tidak menjawab itu tiba-tiba saja sudah mengayunkan tongkat baja putihnya. Orang yang kebetulan berada dihadapannya itu harus meloncat surut. Jantungnya terasa berdebar semakin cepat. Tongkat baja putih itu telah terayun menghanyutkan udara dengan gaung yang nyaring. “ Betapa kuat ayunannya.” berkata orang itu kepada diri sendiri. Namun orang-orang itu adalah orang-orang yang juga cukup berpengalaman. Karena itu, maka merekapun segera menempatkan dirinya dan dalam waktu sesaat, mereka telah mulai menyerang. Kadang-kadang mereka menyurukkan senjata mereka hampir bersamaan, namun kadang-kadang serangan-serangan mereka datang beruntun susul-menyusul. Namun agaknya Sekar Mirah dan Glagah Putih telah mengetahui pula rencana Agung Sedayu yang ingin membawa orang-orang itu ke Mataram. Karena itu, maka merekapun telah berusaha untuk mengimbangi lawan-lawan mereka agar tidak menyulitkan Agung Sedayu. Jika seorang saja dari keduanya dikuasai oleh orang-orang itu, maka mereka akan dapat memaksa Agung Sedayu untuk menyerah. Sementara itu ujung cambuk Agung Sedayu telah menyentuh lagi kulit lawannya sehingga lukanyapun telah bertambah pula. Ternyata Sekar Mirah dan Glagah Putih memang tidak mengecewakan. Ketiga orang yang telah lama menjelajahi dunia olah kanuragan itu ternyata telah membentur kekuatan yang luar biasa. Meskipun ujudnya seorang perempuan, tetapi ketika tangannya memutar tongkat baja putihnya, maka ketiga orang itu semakin menyadari, bahwa kegarangan tongkat baja putih itu masih tetap mendebarkan jantung. Ketika sekilas orang yang bertempur melawan Agung Sedayu itu sempat melihat ayunan tongkat Sekar Mirah, maka kegelisahannyapun telah memuncak. Ternyata Sekar Mirah telah mengingatkannya kepada kegarangan Macan Kepatihan. Tetapi bukan Sekar Mirah sajalah yang telah mengejutkannya. Ketika itu menyempatkan diri melihat kemampuan anak yang masih terlalu muda itu, hatinyapun tergetar pula. Ternyata anak muda itu mempunyai senjata yang tidak terbiasa dipergunakan oleh orang lain. Sehelai ikat pinggang. Agung Sedayu dengan sengaja memperlambat tata geraknya, seakan-akan memberi kesempatan kepada lawannya untuk menilai seluruh arena pertempuran itu. Dengan demikian Agung Sedayu berharap bahwa ia mempunyai penilaian yang benar tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya dan ketiga orang kawan-kawannya. Justru karena itu, maka guru Jaka Rampan itu mendapat kesempatan untuk melihat apa yang telah terjadi dengan ketiga orang kawan-kawannya. Orang itu tidak menjadi berbesar hati, tetapi justru menjadi semakin berdebar-debar. Guru Jaka Rampan itu melihat tongkat baja putih Sekar Mirah yang berayun cepat seperti baling-baling. Sementara itu, seorang diantara kawan-kawannya itu terkejut bukan buatan ketika pedangnya membentur ikat pinggang Glagah Putih. Menurut penglihatannya, ikat pinggang Glagah Putih itu terbuat dari kulit. Tetapi ternyata dalam benturan yang terjadi, rasa-rasanya pedangnya telah membentur kekuatan yang luar biasa beratnya. Apalagi dengan senjata selembar ikat pinggang. Sebenarnyalah Glagah Putih telah, mempergunakan ikat pinggangnya dengan landasan ilmunya, sehingga jika dikehendaki, ikat pinggangnya itu menjadi sekuat kepingan baja pilihan. “ Kau lihat kemampuan kawan-kawanmu dibandingkan dengan isteri dan sepupuku?” bertanya Agung Sedayu kepada lawannya yang tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Sementara itu tubuhnya sendiri telah terluka dibeberapa tempat. Sentuhan ujung cambuk Agung Sedayu ternyata mampu mengoyak kulitnya, karena karah-karah baja yang terdapat pada juntai cambuk itu. Guru Jaka Rampan itu tidak segera menjawab. Ia harus mengakui bahwa Agung Sedayu memang tidak akan dapat dikalahkannya. Bahkan menitik sikapnya, apa yang diperlihatkan Agung Sedayu kepadanya itu belum seluruh kemampuannya. Agaknya memang masih tersimpan dalam perbendaharaan ilmu Agung Sedayu, kemampuan yang akan dapat membuatnya kehilangan akal. Agung Sedayu sendiri memang tidak ingin memperlihatkan puncak-puncak kemampuannya. Ia menganggap bahwa untuk melawan guru Jaka Rampan ia tidak memerlukannya. Sementara itu, ketiga orang kawan guru Jaka Rampan itupuan telah mengalami kesulitan melawan Sekar Mirah dan Glagah Putih. Ternyata perempuan yang semula tidak dianggap sangat berbahaya itu memiliki kemampuan yang mengagumkan. Ditangannya, meskipun ia seorang perempuan, tongkat baja itu masih tetap memiliki ciri-ciri kegarangan yang mendebarkan. Sedangkan Glagah Putih yang masih sangat muda itu ternyata mampu menembus lawanya menjadi kebingungan. Bukan saja kemampuannya mempermainkan senjatanya yang sudah dimengerti oleh ketiga orang lawannya, namun anak muda itu memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan demikian, maka ketiga orang kawan guru Jaka Rampan itu sama sekali telah berhasil menguasai Sekar Mirah dan Glagah Putih yang akan dapat dipergunakan untuk memaksakan kehendak guru Jaka Rampan itu kepada Agung Sedayu. Bahkan yang terjadi adalah justru sebaliknya. Kedua orang itulah yang telah mendesak lawan mereka. Bahkan ketiga orang itu berusaha memaksa diri untuk menyerang, justru salah seorang diantara mereka telah terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling. Ketiga orang itu berdiri, ternyata bahwa pundaknya telah dicengkam oleh perasaan sakit yang sangat. Tulang-tulangnya bagaikan patah, sementara kulitnya menjadi biru kemerah-merahan. Tongkat baja putih Sekar Mirah agaknya dengan cepat telah menyusup diantara senjata lawannya itu dengan mengenai pundak salah seorang diantara mereka. Meskipun demikian ketiga orang itu masih berusaha untuk mengatasi keadaan. Mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Betapapun sakit menggigit pundaknya, tetapi orang itu masih juga dengan garangnya bersama dengan kedua kawannya menyerang kedua orang itu hampir bersamaan. Dalam pada itu, ternyata seorang lagi diantara ketiga orang itu terdesak. Dengan serta merta orang itu telah meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak. Ia merasa ujung ikat pinggang anak muda itu menyentuh lambungnya. Tetapi semula ia tidak mengira bahwa sentuhan itu akan dapat membuat lambungnya terluka. Namun ketika ia mengusap lambungnya yang terasa sangat pedih, tangannya telah menyentuh darahnya yang hangat. Demikian ia mengamatinya, maka ternyata bahwa segores luka telah menganga. “ Gila.” geram orang itu. Glagah Putih dan Sekar Mirah tegak ditempatnya ketika lawan-lawannya berloncat surut. Dua orang telah terluka. Seorang pundaknya bagaikan dilumpuhkan, sedangkan yang lain, lambungnya telah dikoyakkan. Sementara itu, Agung Sedayupun telah mengambil jarak pula dari lawannya. Bukan karena terdesak atau keadaannya menjadi sulit, tetapi justru Agung Sedayu berusaha memberikan kesempatan kepada lawannya itu untuk menilai keadaan. Guru Jaka Rampan itupun tidak memburunya. Ia benarbenar telah menyadari keadaan. Luka-luka ditubuhnya ternyata telah mengalirkan darah cukup banyak. “ Nah, apa katamu Ki Sanak.” desis Agung Sedayu, “ aku mohon Ki Sanak sempat mempertimbangkan keadaan. Jika kita memaksa diri untuk saling membunuh, aku kira bukan satu penyelesaian yang terbaik untuk persoalan ini. Sementara itu, kau masih harus memperhatikan keadaan muridmu. Kaulah yang harus bertanggung jawab atas peristiwa yang telah terjadi pada muridmu itu.” Guru Jaka Rampan itu memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Dengan nada dalam ia berkata, “ Aku akan bertempur sebagai seorang laki-laki.” “ Apakah ciri seorang laki-laki jika ia bertempur?” bertanya Agung Sedayu. “ Membunuh atau dibunuh.” jawab guru Jaka Rampan. Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Betapa mudahnya untuk mati tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Katakan kepadaku, manakah yang lebih jantan dari seorang laki-laki. Membiarkan dirinya mati untuk menghapuskan tanggungjawabnya atau mempertanggungjawabkan perbuatannya, apalagi hal itu akan menyangkut keselamatan orang lain.” Guru Jaka Rampan termangu-mangu sejenak. Sementara itu Agung Sedayu berkata selanjutnya, “ Muridmu memerlukan kau. Meskipun kau tidak akan membebaskannya, tetapi kau akan dapat memperingan penderitaannya.” Sejenak guru Jaka Rampan itu merenung. Ketika ia berpaling kepada Sekar Mirah dan Glagah Putih, maka merekapun telah memberikan kesempatan kepada lawanlawan mereka untuk merenungi keadaan. Baru sesaat kemudian guru Jaka Rampan itu berkata, “ Baiklah Agung Sedayu. Aku menyerah. Ternyata aku telah salah menilai kemampuanmu. Aku termakan oleh desasdesus bahwa kau agaknya terlalu malas untuk memasuki sanggar, sehingga adik seperguruanmu telah mampu melampaui ilmumu. Karena itu, maka aku menduga bahwa seandainya ilmumu berada dibawah atau sama dengan Swandaru, atau katakanlah karena pengalamanmu kau mempunyai sedikit kelebihan, maka aku akan dengan mudah mengalahkanmu. Tetapi ternyata bahwa kemampuanmu jauh melampaui kemampuanku. Apalagi muridku Jaka Rampan.” “ Sudahlah.” berkata Agung Sedayu, “ jangan kau sebutsebut lagi. Namun aku menghargai keputusanmu. Dengan demikian kau akan bertanggungjawab atas perbuatanmu. Kau akan membantu muridmu dan memberikan keringanan atas hukuman yang akan diterimanya.” Guru Jaka Rampan itu mengangguk. Lalu katanya kepada kawan-kawannya, “ Kita termasuk ikan yang masuk kedalam wuwu. Ternyata kita telah menjerumuskan diri kita sendiri kedalam kesulitan. Kita tidak berhasil melepaskan Jaka Rampan dengan cara ini, bahkan kita sendirilah yang justru telah terjerat karenanya.” Ketiga orang kawannya tidak menyahut. Penyesalan yang dalam nampak di wajah mereka. Tetapi keputusan guru Jaka Rampan itu adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan mereka dari kematian. Karena jika mereka memaksa untuk bertempur terus, maka tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk memenangkan pertempuran itu. Bahkan kemungkinan yang paling dekat adalah justru kematian. Demikianlah, maka sejenak kemudian, guru Jaka Rampan dan kawan-kawannya telah membenahi dan mengobati diri. Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih sama sekali tidak memerintahkan agar mereka meletakkan senjata mereka. Namun merekapun yakin, bahwa keempat orang itu tidak akan dapat lepas dari tangan mereka. Sebelum mereka meninggalkan hutan itu, maka Sekar Mirahpun telah mengobati pula luka Agung Sedayu. Meskipun luka itu tidak berbahaya, serta racun yang terdapat di senjata lawannya tidak sempat menusuk ke saluran darah Agung Sedayu, namun luka itu memang perlu diobati. Demikian semuanya telah siap, maka merekapun segera naik ke punggung kuda masing-masing. Tanpa memberikan kesan yang mercurigakan mereka telah meninggalkan Alas Tambak Baya. Guru Jaka Rampan memang tidak mempunyai pilihan lain. Di sepanjang jalan menuju ke Mataram, sekali-sekali terbersit pula pikiran untuk membebaskan diri. Tetapi guru Jaka Rampan itu tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa Agung Sedayu memiliki ilmu yang terlalu tinggi baginya. Karena itu, maka akhirnya guru Jaka Rampan itupun menjadi pasrah apapun yang akan terjadi atas dirinya. Perjalanan ke Mataram memang tidak terlalu jauh lagi. Dengan guru Jaka Rampan dan kawan-kawannya maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih akhirnya harus singgah di Mataram. Guru Jaka Rampan memang menjadi heran, bahwa Agung Sedayu tidak banyak mengalami kesulitan untuk memasuki istana. Memang satu kebetulan bahwa diantara para prajurit yang bertugas di pintu gerbang istana, telah ada yang mengenalnya. Justru perwira yang bertugas memimpin pasukan pengawal yang bertugas itu. Sehingga dengan demikian maka kedatangan Agung Sedayu itupun telah dilangsungkan kepada pelayan Dalam yang meneruskannya kepada Panembahan Senapati. Panembahan Senapati yang sedang beristirahat, tidak menolak permohonan Agung Sedayu. Bagaimanapun juga keduanya pernah menjadi sangat akrab dimasa-masa pengembaraan mereka. Karena itu, maka Agung Sedayupun segera dipersilahkan untuk memasuki seketheng dan diterima di serambi sebelah kiri. Agung Sedayu menghadap seorang diri. Baru kemudian ia melaporkan apa yang telah terjadi dan dengan siapa ia telah menghadap. Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Katanya, “ Jadi kau berhasil menangkap guru Jaka Rampan?” “ Secara kebetulan, Panembahan. Hamba tidak sengaja mencarinya. Tetapi guru Jaka Rampan itu telah datang sendiri menernui hamba.” jawab Agung Sedayu. Panembahan Senapati tersenyum ketika Agung Sedayu juga menceriterakan bagaimana guru Jaka Rampan itu menyusulnya masuk kedalam kedai. “ Bawalah orang itu kemari. Hanya guru Jaka Rampan saja.” berkata Panembahan Senapati. Namun katanya pula, “ Kau dapat mengajak isteri dan sepupumu untuk bersamamu. Sementara serahkan tawananmu yang lain kepada para prajurit pengawal.” Agung Sedayu itupun kemudian bergeser meninggalkan serambi itu untuk memanggil guru Jaka Rampan serta Sekar Mirah dan Glagah Putih. Guru Jaka Rampan benar-benar terkejut ketika ia begitu saja telah menghadap Panembahan Senapati sendiri. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa Agung Sedayu, penghuni Tanah Perdikan Menoreh serta seorang yang tidak mempunyai kedudukan khusus di Mataram, dapat begitu mudah dan cepatnya menghadap langsung Panembahan Senapati, Penguasa tertinggi Mataram yang sedang berkembang. “ Marilah Ki Sanak.” Panembahan Senapti mempersilahkan guru Jaka Rampan duduk diatas selembar tikar pandan yang putih berkotak-kotak biru. Namun guru Jaka Rampan itu telah menundukkan kepalanya dalam-dalam. “ Aku hanya ingin berbicara sedikit.” berkata Panembahan Senapati. Lalu, “ Karena yang akan bertugas untuk mengurus persoalanmu dan muridmu adalah seorang Senapati yang telah aku tunjuk.” Guru Jaka Rampan hanya mengangguk dalam-dalam tanpa mengucapkan sepatah katapun. “ Aku hanya ingin mendengar pengakuanmu, apakah benar bahwa yang dilakukan oleh Jaka Rampan itu karena perintahmu? “ bertanya Panembahan Senapati. “ Hamba Panembahan.” jawab guru Jaka Rampan dengan suara bergetar. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa Panembahan Senapati sendiri yang akan bertanya kepadanya tentang hal itu. “ Apakah dasar perintahmu itu?” bertanya Panembahan Senapati itu. “ Ampun Panembahan.” jawab guru Jaka Rampan, “ sebenarnyalah hamba didorong oleh perasaan dendam terhadap seseorang. Hamba ingin memanfaatkan murid hamba untuk memukul sebuah padepokan yang kuat dibelakang garis pertahanan Panembahan Madiun.” “ Jadi persoalannya adalah persoalan pribadi?” bertanya Panembahan Senapati. Guru Jaka Rampan tidak menjawab. Sementara Panembahan Senapati berkata, “ Untuk kepentingan pribadi, kau sudah menyeret dua kelompok prajurit Mataram yang dipimpin oleh Jaka Rampan dan Gondang Bangah.” “ Ampun Panembahan.” wajah guru Jaka Rampan itu menjadi semakin menunduk. Namun dalam pada itu, Panembahan Senapatipun berkata, “ Baiklah. Hanya itulah yang ingin aku ketahui.” Demikianlah, sejenak kemudian maka Panembahan Senapati itupun telah memberi isyarat kepada seorang Pelayan Dalam untuk memanggil prajurit yang sedang bertugas. Ketika prajurit yang dipanggil itu menghadap, maka Panembahan Senapati telah memerintahkan agar guru Jaka Rampan dan kawan-kawannya ditahan ditempat yang terpisah dari muridnya. “ Hati-hatilah. Jaga mereka baik-baik. Pada saatnya semuanya akan jelas.” berkata Panembahan Senapati. Seorang perwira dan beberapa orang prajurit kemudian telah menempatkan guru Jaka Rampan dan ketiga orang kawannya didalam sebuah bilik yang kokoh. Mereka mendapat pengawasan yang kuat karena para prajurit Mataram itu tahu, bahwa guru Jaka Rampan itu memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi. Sementara itu Panembahan Senapati yang masih berada di serambi bersama Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih itupun sepeninggal guru Jaka Rampan berkata, “ Kehadiran gurunya akan memperingan kesalahan Jaka Rampan.” Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia bertanya, Panembahan Senapati itu telah berkata selanjutnya, “ Ternyata niat Jaka Rampan menembus garis pertahanan madiun dengan diam-diam itu bukan karena keinginannya sendiri. Bukan karena niatnya untuk mengacaukan hubungan antara Mataram dan Madiun yang memang menjadi semakin kalut. Tetapi justru karena gurunya mendendam kepada seseorang, sehingga persoalannya akan terbatas pada persoalan pribadinya meskipun mungkin akan dapat menimbulkan akibat yang sama. Tetapi niat yang terbersit dihatinya bukannya ingin mendahuiui perintahku dalam hubungan antara Mataram dan Madiun.” “ Hamba Panembahan.” sahut Agung Sedayu, “ menurut guru Jaka Rampan itu ia telah mendendam kepada saudara seperguruannya.” Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Namun iapun telah berkata, “ Persoalannya telah dibatasi pada pertentangan antara murid-murid seperguruan. Tetapi setelah bertempur dengan guru Jaka Rampan apakah kau dapat mengenali aliran ilmunya?” Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Katanya, “ Ternyata bahwa pengetahuan hamba sangat sempit, Panembahan. Hamba tidak dapat mengetahui ciri aliran ilmu guru Jaka Rampan, selain kelebihannya pada kemampuan dan kecepatan bergerak, sehingga hampir dalam satu saat, seakan-akan ia berada ditempat yang berbeda sehingga seakan-akan serangannya datang bersamaan dari dua penjuru.” “ Bukan kemampuan untuk menunjukkan dirinya menjadi lebih dari satu dalam satu saat, sebagaimana dapat kau lakukan?” bertanya Panembahan Senapati. Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Hanya satu permainan yang tidak berarti Panembahan. Orang yang memiliki ketajaman penglihatan batin, akan segera mengetahui jenis permainan itu.” “ Celakanya, tidak banyak orang memiliki ketajaman penglihatan batin. Meskipun seseorang berilmu tinggi, namun kadang-kadang penglihatan batinnya sangat tumpul.” Agung Sedayu tidak menjawab. Sementara Panembahan Senapati kemudian berkata, “ Tetapi biarlah para perwira yang bertugas memeriksa guru Jaka Rampan itu bertanya tentang perguruannya dan tentang pertentangan yang timbul diantara saudara seperguruannya itu.” “ Hamba Panembahan.” sahut Agung Sedayu, “ mungkin ada sesuatu yang berarti yang dapat disadap dari orang itu.” Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Katanya, “ Aku memang harus mengucapkan terima kasih kepadamu Agung Sedayu. Banyak hal yang sudah kau lakukan bagi tanah ini.” “ Seperti hamba katakan, bahwa secara kebetulan orang itulah yang datang kepada hamba.” jawab Agung Sedayu. “ Jika kebetulan itu berakibat lain, maka guru Jaka Rampan itu tentu tidak akan sampai padaku.” berkata Panembahan Senapati, “ misalnya, seandainya ilmunya lebih tinggi dari ilmumu. Selebihnya, menurut laporan yang aku terima, kau pulalah yang telah mengirim adik sepupumu untuk memanggil Untara dan pasukannya ketika Jaka Rampan itu berada di Sangkal Putung. Bukankah itu satu kebijaksanaan yang patut dihargai? Memang tidak sebaiknya para pengawal Sangkal Putung bertempur melawan prajurit Mataram. Kesannya akan dapat menyuramkan citra prajurit itu. Meskipun dalam keadaan yang terpaksa hal itu dapat dilakukan jika langkah para prajurit itu memang salah. Tetapi adalah sangat bijaksana bahwa Untara sempat datang dengan pasukan Mataram pula.” Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kembali kepalanya menunduk dalam-dalam. “ Nah.” berkata Panembahan Senapati, “ baiklah kalian beristirahat. Aku minta kalian singgah sehari ini disini.” “ Ampun Panembahan.” jawab Agung Sedayu, “ hamba mohon agar hamba diperkenankan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Tanah Perdikan hari ini.” Panembahan Senapati mengerutkan keningnya. Tetapi ia bertanya, “ Kenapa tergesa-gesa? Bukankah kau sudah beberapa lama berada di Sangkal Putung? Jika hanya tambah sehari saja, maka tidak akan mengganggu pemerintahan di Tanah Perdikan. Apalagi aku sudah mendengar keterangan dari kakakmu Untara, apa yang telah terjadi atasmu di Jati Anom.” “ Justru karena itu Panembahan.” sahut Agung Sedayu pula, “ Hamba telah terlalu lama pergi.” Panembahan Senapati termangu-mangu sejenak. Ketika dipandanginya Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih yang menunduk, maka katanya, “ Baiklah. Tetapi nanti, sesudah kalian makan siang disini. Bukankah kalian singgah di kedai hanya untuk minum dan makan makanan saja?” Ketiganya tidak dapat menolak. Karena itu, maka merekapun menunggu sampai saatnya mereka dipersilahkan makan. Seorang Pelayan Dalam telah mendapat perintah dari Penembahan Senapati untuk menyiapkan dua buah bilik bagi Agung Sedayu dan Sekar Mirah serta Glagah Putih. “ Beristirahatlah sambil menunggu makan dipersiapkan. Aku ingin menjamu kalian kali ini.” berkata Panembahan Senapati. Ternyata bahwa Agung Sedayu memang merasa letih setelah ia bertempur melawan guru Jaka Rampan. Bagaimanapun juga, kemampuan guru Jaka Rampan itu perlu diperhitungkan. Karena itulah Agung Sedayu pun telah beristirahat dengan berbaring didalam bilik yang telah disediakan. “ Bukankah lukamu tidak apa-apa kakang?” bertanya Sekar Mirah. “ Tidak apa-apa. Agaknya besok akan sembuh.” jawab Agung Sedayu. Sekar Mirah tidak mengganggunya lagi. Ia sendiri memang tidak terlalu letih, meskipun iapun harus bertempur pula. Tetapi tidak sekeras Agung Sedayu. Namun demikian, Sekar Mirah pun telah duduk pula di sebuah amben panjang dengan sandaran tinggi, sehingga iapun dapat beristirahat sambil mengenang apa yang telah terjadi sepanjang perjalanan mereka dari Tanah Perdikan Menoreh sampai ke Sangkal Putung kemudian Jati Anom, kembali ke Sangkal Putung dan selanjutnya menempuh perjalanan kembali ke Tanah Perdikan. Sementara itu, Agung Sedayu sempat pula merenungi kata-kata guru Jaka Rampan tentang pendapat Swandaru. Darimana ia mendengar, bahwa Swandaru menganggapnya terlalu malas untuk berlatih di Sanggar, sehingga ilmunya menjadi tersendat-sendat dan tidak meningkat lagi. “ Agaknya Swandaru telah mengatakan pendapatnya itu kepada anak-anak muda Sangkal Putung sehingga pada suatu saat, dapat didengar oleh guru Jaka Rampan atau pengikut-pengikutnya. Sadar atau tidak sadar.” berkata Agung Sedayu didalam hatinya. Namun hal itu telah menggugahnya untuk sekedar melihat kemampuan yang ada didalam dirinya. Dalam sebungkus bawaannya diantara lembar-lembar pakaiannya yang sedikit terdapat kitab yang dipinjamkan Swandaru kepadanya dengan permintaan agar Agung Sedayu menyempatkan diri meningkatkan ilmunya yang menurut Swandaru menjadi agak terbelakang. Sebenarnyalah bahwa beberapa jenis ilmu yang dahsyat yang dimiliki oleh Agung Sedayu sebagian memang tidak bersumber pada ilmu yang diturunkan oleh Kiai Gringsing, meskipun sudah barang tentu sepengetahuan dan seijinnya. Atau setidak-tidaknya mendapat persetujuannya, atau melaporkannya untuk mendapat penilaian kembali, apakah ilmu itu akan menimbulkan tantangan tantangan didalam dirinya atau tidak. Tiba-tiba saja Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia juga merasa gelisah atas penilaian yang salah dari Swandaru itu. Jika pada suatu saat, Swandaru itu mengetahuinya, maka hal itu akan dapat menimbulkan persoalan. Setidak-tidaknya didalam dirinya sendiri. Menurut Agung Sedayu, memang perlu dicari jalan untuk meletakkan anggapan Swandaru tentang dirinya itu pada tempat yang sewajarnya tanpa menimbulkan kesan seakanakan ia memang ingin menyombongkan diri. Di ruang yang lain, Glagah Putih pun telah berbaring pula meskipun matanya tidak terpejam. Ternyata seperti Agung Sedayu ia memikirkan pendapat Swandaru tentang kemampuan ilmunya dibandingkan dengar, ilmu Agung Sedayu. Bahkan rasa-rasanya Glagah Putihlah yang sekalikali ingin mencoba kemampuan ilmu Swandaru. Tetapi mereka memang tidak mendapat kesempatan terlalu lama merenung. Beberapa saat kemudian, maka seorang pelayan Dalam telah memberitahukan bahwa mereka dipanggil untuk menghadap Panembahan Senapati. Sebenarnyalah Panembahan Senapati telah menjamu mereka makan. Sementara itu, mereka sempat juga berbincang serba sedikit tentang persoalan-persoalan yang timbul menjelang saat-saat terakhir. Terutama setelah Pangeran Benawa meninggal. Dengan demikian Pajang telah menebarkan asap yang hitam yang membuat kemelut dia-tas Mataram dan Madiun menjadi semakin gelap. “ Jadi Panembahan belum sempat bertemu dengan pamanda Panembahan Madiun? “ bertanya Agung Sedayu. Panembahan Senapati menggeleng. Katanya “ Ada-ada saja hambatannya. Tetapi aku benar-benar berniat untuk berbicara. Jika persoalan ini tidak segera menjadi jelas, maka aku akan mengirimkan satu kelompok yang akan membawa pesan-pesan perdamaian bagi pamanda Panembahan Madiun. Aku memang harus merendahkan diri, karena menurut hubungan keluarga, aku ada pada tataran yang lebih muda. Tetapi jika hubungan itu gagal, maka aku harus menebus harga diriku dengan langkah dua kali lipat. “ “ Maksud Panembahan? “ bertanya Agung Sedayu. Panembahan Senapati mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya “ Marilah. Kita ingin makan dengan tanpa merenungi persoalan-persoalan yang rumit. “ Agung Sedayu memang tidak berani bertanya lebih lanjut. Agaknya Panembahan Senapati memang sedang tidak ingin berbicara terlalu banyak tentang Madiun. Karena itu, maka Agung Sedayu tidak bertanya lebih jauh tentang hubungan antara Mataran dan Madiun. Yang mereka bicarakan kemudian adalah makanan yang sedang mereka hadapi. Bahkan Sekar Mirahpun telah ikut berbicara pula, karena iapun seorang yang mempunyai banyak perhatian tentang berjenis-jenis makanan. Setelah makan siang, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih sempat beristirahat beberapa saat sambil berbicara tentang banyak hal dengan Panembahan Senapati. Namun Panembahan Senapati tidak juga menyebut-nyebut lagi tentang Madiun. Sejenak kemudian, maka Agung Sedayupun telah mohon diri untuk meneruskan perjalanan kembali ke Tanah Perdikan. “ Apakah kau tidak bermalam saja disini? Kau akan kemalaman sampai ke Tanah Perdikan. “ berkata Panembahan Senapati. “ Ampun Panembahan “ Jawab Agung Sedayu “ hamba ingin segera melihat Tanah itu setelah sekian lama hamba tinggalkan. “ “ Baiklah “ berkata Panembahan Senapati kemudian “ hatihatilah diperjalanan. Mungkin masih ada rintangan yang akan menghambatmu. “ “ Hamba mohon diri Panembahan “ berkata Agung Sedayu kemudian. “ Hamba mohon restu Panembahan, semoga hamba dan isteri serta sepupu hamba, selamat sampai kerumah hamba kembali. “ Demikianlah, maka setelah Sekar Mirah dan Glagah Putih mohon diri pula, maka merekapun telah meninggalkan istana Mataram menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Ketika mereka menuruni tepian kali Praga, maka langit sudah menjadi kemerah-merahan. Meskipun mereka berangkat dipermulaan hari, namun karena hambatan di perjalanan serta singgah beberapa lama di istana Panembahan Senapati, maka perjalanan ke Tanah Perdikan itu mereka tempuh dalam sehari penuh. Meskipun senja sudah turun, namun masih ada juga beberapa orang yang akan bersama-sama menyeberang dalam satu gethek yang tidak terlalu besar. Sejenak kemudian, maka merekapun telah turun di tepian seberang Kali Opak. Setelah membayar upah mereka bertiga kepada tukang satang, maka mereka siap meninggalkan tepian Kali Praga itu. Namun ada saja yang menghambat perjalanan mereka, Ketika mereka mulai melangkah menuntun kuda mereka, Glagah Putih justru berdesis “ Tunggu sebentar kakang. Agung Sedayu dan Sekar Mirahpun berhenti. Semula mereka tidak begitu memperhatikan apa yang telah terjadi. Namun agaknya Glagah Putih telah melihat seorang yang naik gethek bersama mereka bertengkar dengan tukang satang. “ Aku bekerja untuk mendapatkan upah “ berkata tukang satang itu “ karena itu kau harus membayar. “ “ Bukankah orang lain sudah membayar “ justru orang yang tidak mau membayar itulah yang membentak “ Perdikan Menoreh “ jawab orang itu. “ Jika demikian, apakah kau ingin membuat persoalan dengan orang itu? bertanya Glagah Putih pula. “ Tidak. Tentu tidak. Biarlah aku pergi saja “ berkata orang yang menyebut dirinya Singa Luwuk itu. Tetapi ketika ia melangkah, Glagah Putih menepuknya sambil berkata “ Ada yang belum kau selesaikan. “ “ Apa? “ bertanya Singa Luwuk. “ Kau belum membayar upah kepada tukang satang itu. “ jawab Glagah Putih. Singa Luwuk menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya iapun telah mengambil beberapa keping uang dari kantong ikat pinggangnya yang lebar setelah menyarungkan luwuknya. Tanpa mengatakan apapun juga, baik kepada tukang satang maupun kepada Glagah Putih, apalagi kepada Agung Sedayu dan Sekar Mirah, maka orang itupun telah melangkah dengan langkah-langkah panjang meninggalkan tepian. Tukang-tukang satang itupun hampir berbarengan berkata “ Terima kasih anak muda. “ Glagah Putih tersenyum. Katanya “ Kalian tidak perlu mengucapkan terima kasih Ki Sanak. Terimalah hakmu itu, karena kau memang harus menerimanya. “ Tukang-tukang satang itu mengangguk. Sementara itu Glagah Putihpun kemudian telah meninggalkan mereka dan bersama-sama dengan Agung Sedayu dan Sekar Mirah meneruskan perjalanan. “ Nah, kakang “ berkata Glagah Putih “ nama ka-kang mulai ditakuti orang sekarang. “ Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam Katanya “ Hal itulah yang seharusnya dihindari. “ “ Kenapa? Bukankah dengan demikian kakang akan mempunyai wibawa yang besar? “ bertanya Glagah Putih pula. Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Katanya “ Apakah hal itu diperlukan? Kita seharusnya justru menjadi akrab dengan setiap orang. Bukan ditakuti. “ “ Dalam keadaan yang khusus seperti ini, agaknya memang diperlukan kakang. Baru saja kita dihadapkan pada satu contoh yang jelas. Seandainya nama kakang tidak ditakuti, maka aku kira, aku harus berkelahi untuk memaksanya membayar. “ berkata Glagah Putih. “ Tetapi antara orang itu dan aku, tentu terbentang jarak. Demikian juga dengan orang-orang lain yang mempunyai tanggapan yang sama kepadaku dengan orang itu, “ berkata Agung Sedayu. Lalu katanya “ Bagiku, yang baik adalah bahwa kita mempunyai kedudukan seperti orang-orang lain. Dengan demikian, kita tidak harus membawa beban justru karena kita dianggap berbeda dengan orang lain itu. “ Glagah Putih mengerutkan keningnya. Ternyata ia mempunyai pendapat yang berbeda dengan Agung Sedayu. Menurut pendapat Glagah Putih, Agung Sedayu terlalu rendah hati sehingga baginya nama yang besar itu akan menjadi beban. Tetapi menurut Glagah Putih, kadang-kadang memang diperlukan kebesaran nama seseorang. Bukan saja karena jabatannya, tetapi juga karena pribadi dan kemampuannya. Tetapi Glagah Putih tidak berani menyatakannya, sebagaimana ia juga tidak berani menyatakan sikapnya tentang Swandaru kepada Agung Sedayu, apalagi kepada Sekar Mirah, adik Swandaru itu. Seandainya ia menjadi Agung Sedayu, maka ia akan meyakinkan kepada adik seperguruannya itu, bahwa ilmunya lebih tinggi dan mapan. “ Kakang Agung Sedayu terlalu tertutup hatinya. Hal itu kadang-kadang justru dapat menyulitkannya. Banyak persoalan yang harus tertunda penyelesaiannya. Sebaliknya kakang Swandaru terlalu berterus-terang. “ berkata Glagah Putih didalam hatinya. Keduanya memang seperti dua buah pintu. Satu tertutup rapat-rapat, sementara yang lain terbuka lebar-lebar. Glagah Putih yang merambat keusia dewasa itu ternyata telah mampu menilai keduanya. Bahwa keadaan yang demikian itu, akan dapat mempunyai akibat yang kurang baik pada kedua-duanya. Meskipun pada dasarnya, sifat dan watak Glagah Putih sangat dipengaruhi oleh sifat dan watak Agung Sedayu, tetapi sifat dan watak gurunya yang lain, Ki Jayaraga, berpengaruh pula padanya. Selain mereka, maka pengaruh Raden Rangga pada sifat dan watak Glagah Putihpun cukup besar. Namun demikian, Glagah Putih adalah satu pribadi yang utuh tersendiri. Ia bukan tiruan dari pribadi-pribadi yang ada disekitarnya. Demikianlah ketiganya mulai memasuki Tanah Perdikan Menoreh disaat malam mulai turun. Namun jalan-jalan di Tanah Perdikan itu sudah mereka kenal dengan baik, sehingga meskipun malam menjadi kelam, mereka sama sekali tidak merasa terganggu. Karena itu, meskipun tidak terlalu kencang, maka mereka telah membawa kuda-kuda mereka berlari menyusuri jalanjalan bulak dan padukuhan. Beberapa kali ketiga orang itu harus berhenti dimulut-mulut lorong karena satu dua orang yang telah berada di gardu telah menyapa mereka. Meskipun ketiga orang itu segera ingin sampai ke padukuhan induk, namun mereka tidak dapat begitu saja mengabaikan sapa anak-anak muda dan bahkan orang-orang lain yang berpapasan. Meskipun agak lambat, namun akhirnya ketiganya telah memasuki padukuhan induk. Mereka bertiga sepakat untuk tidak langsung pulang kerumah mereka, tetapi mereka akan singgah lebih dahulu dirumah Ki Gede untuk melaporkan kehadiran mereka, karena sudah terlalu lama meninggalkan Tanah Perdikan. Kedatangan mereka dirumah Ki Gede memang mengejutkan. Namun seluruh keluarga Ki Gede dan para pengawal yang kebetulan bertugas meronda malam itu menyambut kedatanganmerekadengan gembira. Oleh Ki Gede mereka telah diterima diruang dalam. Agaknya Ki Gede juga ingin mengetahui, apa saja yang telah terjadi dengan mereka, sehingga rasa-rasanya mereka telah terlalu lama meninggalkan Tanah Perdikan itu. Namun agaknya Ki Gede menyadari, bahwa ketiga orang itu masih terlalu letih untuk berceritera panjang lebar. Karena itu, Ki Gede hanya ingin tahu serba sedikit apa yang telah terjadi di perjalanan mereka mengunjungi Sangkal Putung dan Jati Anom. Agung Sedayupun kemudian menceriterakan dengan singkat, pengalaman perjalanannya bertiga. Namun yang penting untuk diketahui oleh Ki Gede tidak ada yang terlampaui. Ki Gede memang tidak ingin membicarakannya saat itu. Karena itu maka katanya “ Baiklah. Laporanmu sudah aku dengar Agung Sedayu. Aku tahu, bahwa kalian perlu beristirahat. Karena itu, biarlah besok kita berbicara lebih panjang. Aku harap kalian datang disaat matahari sepenggalah. Aku akan mengundang para bebahu Tanah Perdikan. Meskipun barangkali tidak banyak yang akan dapat mengikuti persoalan yang berkembang antara Mataram dan Madiun, namun biarlah mereka mendengar serba sedikit pengalaman perjalananmu, karena merekapun telah menunggu-nunggu kehadiranmu kembali di Tanah Perdikan ini. “ “ Baiklah Ki Gede “ sahut Agung Sedayu “ perkenankanlah kini kami mohon diri. “ “ Kalian tentu ingin segera membersihkan diri dan kemudian tidur dengan nyenyak. Ki Jayaragapun tentu akan senang menerima kedatangan kalian, “ berkata Ki Gede kemudian. Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putihpun segera mohon diri untuk kembali kerumah mereka yang telah mereka tinggalkan untuk beberapa lama. Ki Jayaraga menjadi sangat gembira menerima kedatangan Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih pulang. Dengan nada tinggi ia berkata “ Sudah terlalu lama aku merasa kesepian dirumah. Aku kira kalian telah melupakan Tanah Perdikan ini. “ Agung Sedayu tertawa. Katanya “ Ada sesuatu yang telah menahan kami. Justru karena disini ada Ki Jayaraga kami tidak merasa tergesa-gesa. “ Ah, ada-ada saja kau Agung Sedayu “ sahut Ki Jayaraga “ tetapi sayang, aku tidak menanak nasi sore ini. Aku makan sisa nasi tadi siang yang masih banyak. “ “ Sudahlah “ berkata Sekar Mirah “ Aku akan menanak nasi. “ “ Aku juga tidak menyediakan lauk pauk, “ desis Ki Jayaraga pula. Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih tertawa. Sementara itu, pembantu dirumah itupun telah menyambut pula kedatangan mereka dengan gembira. Ki Jayaraga kemudian sempat menanyakan keselamatan perjalanan. Demikianlah, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putihpun telah berganti-ganti membersihkan diri. Sementara Sekar Mirah memang pergi ke dapur untuk menghidupkan perapian. Tetapi Sekar Mirah tidak merasa perlu untuk menanak nasi, karena mereka yang baru saja kembali itu tidak merasa lapar. Sekar Mirah hanya merebus air untuk membuat minuman hangat. Setelah mandi dan membenahi diri, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih ternyata tidak segera pergi ke bilik mereka. Agung Sedayu dan Sekar Mirah masih sempat berbincang-bincang dengan Ki Jayaraga. Banyak hal yang telah diceriterakan oleh Agung Sedayu tentang perjalanan mereka. Ki Jayaraga mendengarkan ceritera Agung Sedayu dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, Glagah Putih ternyata sudah sibuk dengan pembantu rumah Agung Sedayu itu. Anak itu sibuk berceritera tentang pliridan dan ikan yang seakan-akan bertambah banyak di sungai kecil tempat mereka membuat pliridan itu. “ Apa kau ingin melihat? “ bertanya anak itu. “ Kau tentu tahu, aku letih “ jawab Glagah Putih. Anak itu sempat pula berceritera bahwa dua hari yang lalu ia telah berkelahi. “ Kenapa? “ bertanya Glagah Putih. “ Mereka telah mencuri ikan di pliridan kita “ jawab anak itu. “ Mereka siapa? “ bertanya Glagah Putih pula. “ Anak padukuhan sebelah “ jawab anak itu. “ Kau berhasil mengusir mereka? bertanya Glagah Putih kemudian. Ternyata anak itu menggeleng. Jawabnya “ Aku dipukuli oleh empat orang. Mereka rata-rata lebih besar dari aku. “ Glagah Putih tertawa. Namun anak itu menjadi marah. Katanya “ Kau malahan mentertawakan aku. Seharusnya kau menjadi marah dan membantuku. “ “ Bagaimana aku membantumu. Peristiwa itu sudah terjadi dua hari yang lalu. “ berkata Glagah Putih. “ Tetapi kita mengenal anak-anak itu. Kita dapat mendatangi mereka dan menantangnya berkelahi. Kau mempunyai banyak kenalan disini, bahkan para pengawal. Aku tidak dapat minta tolong kepada mereka. Tetapi kau tentu dapat. “ berkata anak itu. Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya “ Jadi maksudmu, kita datang beramai-ramai ke rumah anak-anak yang telah memukulimu itu? Menantang mereka berkelahi atau sekedar memukuli mereka beramai-ramai? “ “ Jika kita dapat mengajak duapuluh orang anak-anak muda di padukuhan ini, maka kita akan dapat memukuli mereka “ jawab anak itu. Glagah Putih masih mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya “ Tetapi bagaimana jika keempat anak itu pada hari lain datang kembali bersama-sama dengan empat puluh kawan-kawan mereka dan memukuli kita beramai-ramai? “ Kita mencari kawan lebih banyak lagi “ jawab anak itu. “ Dan merekapun mencari kawan jauh lebih banyak lagi. Nah, bukankah dengan demikian akan dapat timbul perang. Apalagi mereka adalah anak-anak Tanah Perdikan ini pula. Apakah kita akan senang melihat anak-anak muda dari Tanah Perdikan ini saling berperang? Bahkan mungkin akan dapat jatuh korban. Satu atau dua. Nah, bayangkan, ibunya tentu akan menangisinya. Apalagi jika kebetulan ia anak tunggal. “ Anak itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata “ Karena itu, ajari aku berkelahi, supaya aku tidak perlu bantuan orang lain. “ Glagah Putih tertawa. Katanya “ Bukankah aku sudah mengajarimu berkelahi? “ Tetapi aku masih kalah berkelahi dengan anak yang sedikit lebih besar dari aku meskipun ia hanya seorang diri “ berkata anak itu. “ Jadi jika kau nanti pandai berkelahi, maka kau akan berkelahi dengan anak anak yang lebih besar darimu? “ bertanya Glagah Putih. “ Aku akan memukuli mereka yang berani menantang aku “ jawab anak itu. Glagah Putih tertawa pula. Katanya “ Kau keliru. Jika kau belajar berkelahi, bukan maksudku untuk berkelahi melawan siapa saja. “ “ Lalu untuk apa? “ bertanya anak itu. “ Jika kita mampu berkelahi, terutama sekedar untuk melindungi diri kita sendiri tanpa memancing persoalan dengan orang lain. Juga untuk melindungi orang-orang yang lemah dari tindakan sewenang-wenang orang lain. Tetapi agaknya kau tidak begitu. Jika kau mampu berkelahi dengan baik, kau tentu akan menantang anak-anak yang sedang bermain di pinggir jalan atau mereka yang sedang bekerja di sawah. “ Anak itu termangu-mangu. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk “ aku mengerti. “ Jadi kemampuan seseorang tidak untuk menyombongkan diri “ berkata Glagah Putih. “ Baiklah. Ajari aku berkelahi. Aku tidak akan sombong. Tetapi aku tidak akan dipukuli orang lagi tanpa bersalah. Justru orang-orang itu yang akan mencuri ikan di pliridan kita, “ minta anak itu. Glagah Putih tertawa lagi. Katanya “ Baiklah. Tetapi kau harus berjanji untuk tidak mempergunakan tanpa ada artinya. “ “ Kau sudah berjanji lebih dari duapuluh kali “ desis anak itu “ tetapi kau tidak bersungguh-sungguh. “ “ Jangan merajuk “ jawab Glagah Putih “ kau tahu, bahwa aku sering pergi. “ “ Untuk apa sebenarnya kau pergi? Seharusnya kau lebih banyak tinggal di rumah. Sawah dan ladang kadang-kadang terbengkelai. Selama kalian pergi, Ki Jayaraga bekerja sendiri di sawah bersamaku, “ berkata anak itu. “ Tetapi pekerjaan di sawah tidak terlalu banyak sekarang. Padi sudah tumbuh. Bukankah dua orang yang bekerja di sawah kakang Agung Sedayu itu tidak menjadi malas? “ bertanya Glagah Putih. “ Memang tidak. Tetapi biasanya kau, bahkan paman Agung Sedayu sendiri sering turun pula kesawah “ berkata anak itu. “ Sudahlah. Jika tidak perlu sekali, aku tidak akan sering pergi. “ berkata Glagah Putih. “ Kau memang senang bepergian. Seolah-olah rumah ini hanya sekedar tempat persinggahan “ gumam anak itu. “ O, pandai juga kau berbicara. Baiklah. Aku akan mengajarimu berkelahi. “ berkata Glagah Putih “ Tetapi marilah kita memakai istilah lain agar terasa lebih mapan kau mempunyai pengertian yang lebih baik. Bukan belajar berkelahi, tetapi belajar ulah kanuragan. “ Anak itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya “ Apa saja namanya. Pokoknya aku tidak dipukuli orang lagi. “ Glagah Putih tertawa semakin keras. Namun ia berusaha untuk tidak mengganggu mereka yang sedang berbincang didalam. “ Besok lusa kita akan mulai “ berkata Glagah Putih. “ Kenapa besok lusa. Kenapa tidak sekarang? “ desak anak itu. “ Kau tahu, aku masih letih sekarang “ jawab Glagah Putih “ aku akan segera tidur sampai besok. Anak itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bersungut-sungut “ Kau memang malas sekali. - Glagah Putih tertawa. Katanya “ Sudahlah. Jika kau akan pergi ke sungai pergilah. Jangan suka berkelahi. Kurang baik meskipun kau mempunyai kemampuan olah kanuragan. “ Anak itu tidak menjawab, sementara Glagah Putih bangkit sambil menggeliat “ Aku akan tidur. “ Anak itu tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian mengumpulkan alat-alat yang akan dibawanya ke sungai. Sementara Glagah Putihpun telah menuju ke biliknya. Tetapi diruang dalam, Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Ki Jayaraga masih duduk sambil berbincang. Mereka tidak saja membicarakan persoalan Mataram dan Madiun, tetapi juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan kemudian Agung Sedayupun telah membicarakan hubungannya dalam tataran ilmu dengan Swandaru. “ Memang sulit kakang “ desis Sekar Mirah “ tetapi sebaiknya kita tidak tergesa-gesa. Jika kemudian ternyata kita tidak menemukan cara, maka kita dapat minta tolong kepada Kiai Gringsing. “ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, penilaian yang keliru itu, merupakan beban perasaan bagi Agung Sedayu. “ Karena itu, cobalah bertempur disaat Swandaru ada “ berkata Ki Jayaraga. “ Itulah yang sulit “ berkata Agung Sedayu “ bagaimana aku harus mengatur agar lawan datang pada saat Swandaru juga hadir. “ Ki Jayaraga justru tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata “ Memang benar, bagaimana kita mengundang Swandaru disaat lawan itu datang. Sedangkan kita tidak tahu kapan lawan itu menghampiri kita. “ “ Bahkan jika mungkin, lawan itu jangan datang sama sekali. “ berkata Agung Sedayu. Ki Jayaraga tertawa. Katanya “ Agaknya kau memang tidak merasa perlu untuk berbuat demikian. Baiklah. Aku sependapat dengan Sekar Mirah. Biarlah gurumu yang mengatakannya dengan caranya. Tentu ia tidak kurang bijaksana. “ Agung Sedayupun kemudian mengangguk-angguk pula. Bahkan hampir diluar sadarnya ia telah bergumam “ Aku juga telah diserahi untuk membawa kitab guru. “ “ O, jadi Swandaru menyerahkannya kepadamu? “ bertanya Ki Jayaraga. “ Ya. Hal itu dilakukan sebagai salah satu akibat kesalahpahaman itu. Ia mengharap agar ilmuku dapat meningkat serba sedikit. Namun bagaimanapun juga, maksud Swandaru tentu baik. Ia ingin saudara seperguruannya tidak selalu terluka dalam hampir setiap pertempuran. “ “ Ah, apakah kau tentu terluka di setiap pertempuran? “ bertanya Ki Jayaraga. “ Tetapi aku memang sering mengalami. Sudah beberapa kali aku terluka dalam pertempuran “ jawab Agung Sedayu. “ Tetapi kau berkesempatan memenangkan pertempuranpertempuran itu. Jika kau tidak sempat keluar dari pertempuran itu, maka kau memang tidak akan pernah terluka lagi, “ sahut Ki Jayaraga. “ Ah, jangan berkata begitu “ Sekar Mirahlah yang menyahut. “ Maaf, bukan maksudku. Tetapi agaknya memang agak terlanjur. “ jawab Ki Jayaraga. “ Sekarang akupun terluka “ berkata Agung Sedayu. “ Luka kecil. Tetapi bukankah kau tidak terganggu karena luka itu? “ bertanya Ki Jayaraga. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata “ Tetapi aku memang ingin memperbaharui ingatanku tentang kitab guru. Aku akan mengambil kesempatan untuk membacanya dan mengingatingat bagian-bagian yang penting. Mungkin pada suatu saat aku sangat memerlukannya. “ “ Tetapi kau mempunyai kesempatan untuk menekuni ilmu yang terdapat dalam kitab itu tetapi belum kau kuasai dengan baik. “ berkata Ki Jayaraga. “ Ada dua kemungkinan yang dapat aku lakukan. Memperbanyak jenis ilmu yang dapat aku kuasai, atau memperdalam yang memang sudah ada “ jawab Agung Sedayu. Lalu katanya “ Tetapi agaknya aku cenderung untuk memperdalam apa yang telah ada padaku. Mungkin akan sangat berarti bagi perkembangan ilmuku sebagai bekal pengabdianku kelak. “ “ Kau aneh Agung Sedayu “ berkata Ki Jayaraga “ bagiku kau adalah orang yang mumpuni. Orang yang sudah tuntas dalam olah kanuragan dan olah kajiwan. Apalagi yang akan kau pelajari untuk meningkatkan ilmumu? “ “ Ki Jayaraga. Aku sama sekali tidak ingin menjadi orang yang memiliki kemampuan tertinggi di seluruh muka bumi, karena aku yakin bahwa setiap orang betapapun tinggi ilmunya, mempunyai kelemahan masing-masing. Tetapi apa salahnya jika seseorang berusaha untuk meningkatkan kemampuannya yang dapat diabdikan bagi sesama? Memang yang nampak tidak ada bedanya dengan orang yang tamak dan berkeinginan untuk berkuasa karena kekuatan yang ada pada dirinya. Namun jiwanyalah yang berlainan. “ Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Alangkah bangganya hati ini jika aku dapat melakukannya pula. “ “ Kenapa tidak? “ bertanya Agung Sedayu. “ Tetapi aku sudah terlalu tua untuk ikut serta menempa diri sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang lebih muda “ berkata Ki Jayaraga. Tetapi Agung Sedayu tertawa. Dengan nada tinggi ia berkata “ Jadi Ki Jayaraga sudah merasa dirinya terlalu tua untuk meningkatkan diri? “ Ki Jayaraga merenung sejenak. Namun iapun kemudian tersenyum sambil berkata “ Mudah-mudahan tidak. Mudahmudahan aku masih mempunyai kemauan untuk melakukannya. “ “ Sokurlah “ berkata Agung Sedayu “ masih banyak tugas yang menunggu dihadapan kita. “ Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata “ Tetapi bukankah kalian masih letih? Jika kalian ingin beristirahat, silahkan. Besok kita akan berceritera lagi tentang perjalanan kalian. “ Agung Sedayu dan Sekar Mirah tersenyum. Namun Agung Sedayu masih sempat berkata “ Agaknya Ki Jayaraga juga sudah mengantuk. “ Ki Jayaragapun tertawa pula. Desisnya “ Barangkali memang demikian. Selamat malam. “ Ki Jayaragalah yang kemudian mendahului meninggalkan Agung Sedayu dan Sekar Mirah kembali ke dalam biliknya. Baru sejenak kemudian Agung Sedayu dan Sekar Mi-rahpun pergi beristirahat. Dihari berikutnya, ketika matahari naik sepenggalah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih telah berada dirumah Ki Gede, Sekar Mirah sengaja tidak ikut bersama mereka ia tahu bahwa pertemuan itu adalah pertemuan resmi. Ternyata diantara para bebahu dan para pemimpin yang lain di Tanah Perdikan, telah hadir pula dua orang tamu. Dua orang yang datang dari barak pasukan Mataram yang ada di Tanah Perdikan. Ketika mereka yang diharapkan datang telah hadir hampir seluruhnya, maka Ki Gede telah membuka pertemuan itu. Kepada mereka yang datang ke pendapa Ki Gede berkata “ Baiklah Ki Sanak. Sebelum kita berbicara tentang diri kita sendiri, maka dua orang tamu yang hadir disi-ni agaknya perlu aku perkenalkan. Keduanya adalah perwira-perwira muda dari pasukan khusus Mataram yang ada di Tanah Perdikan ini. Keduanya memang belum lama bertugas di barak pasukan khusus itu, sehingga agaknya banyak diantara kita yang belum mengenalnya. “ Kedua orang itu mengangguk hormat kepada para pemimpin di Tanah Perdikan itu. Sementara itu Ki Gede melanjutkan “ Keduanya telah ditugaskan untuk bertemu dengan para pemimpin Tanah Perdikan ini. Adalah satu kebetulan bahwa hari ini kita sedang mengadakan pertemuan, sehingga keduanya dapat sekaligus berbicara langsung dengan Ki Sanak semuanya. Nah, agar tugas mereka segera dapat mereka laksanakan, maka baiklah kita memberikan waktu lebih dahulu kepada mereka berdua. “ Salah seorang dari kedua perwira itupun kemudian telah bergeser setapak maju. Atas nama mereka berdua perwira itupun kemudian berkata “ Kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan bertemu dengan Ki Sanak semua. Satu kesempatan yang sebelumnya tidak kami duga. “ Perwira itu berhenti sejenak, lalu “ Nah, perkenalkanlah kami menyampaikan pesan dari Senapati yang kini memimpin pasukan khusus di Tanah Perdikan ini. Senapati kami yang baru ingin mengundang para pemimpin Tanah Perdikan ini, khususnya Ki Gede untuk menghadiri satu pertemuan perkenalan dengan Senapati kami yang baru. “ Ki Gede mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia berkata “ Kami ucapkan terima kasih atas kesempatan ini. Tetapi bukankah sebelumnya hal seperti ini tidak terbiasa dilakukan? Biasaanya, jika terjadi pergantian pimpinan maka Senapati yang baru itu datang memperkenalkan diri. Tetapi agaknya Senapati yang baru ini ingin mengadakan sedikit upacara. “ “ Ya Ki Gede “ jawab perwira itu “ agaknya hal ini pertama kali dilakukan. Tetapi menurut Senapati kami yang baru, cara yang ditempuh ini lebih baik dan tidak banyak membuang waktu. Selain Ki Gede, juga diundang beberapa orang Demang dari Kademangan disekitar Tanah Perdikan ini. Dengan demikian, maka perkenalan itu dapat dilakukan sekaligus, sehingga tidak seperti sebelumnya, seorang Senapati harus membuang-buang waktu untuk mengunjungi mereka seorang demi seorang. “ “ Ah tentu bukannya membuang waktu. Bukankah dengan demikian pemimpin Pasukan Khusus itu akan dapat melihat langsung keadaan lingkungannya. “ sahut Ki Gede. “ Ki Gede benar. Tetapi nampaknya Senapati kami yang baru ini akan sedikit mengadakan upacara melepas Senapati kami yang lama pula. “ jawab perwira itu. “ Baiklah “ jawab Ki Gede “ kami akan datang. “ “ Terima kasih Ki Gede. Tetapi bukan maksud kami membatasi kemauan baik Ki Gede, namun kami hanya dapat menerima tiga orang diantara para pemimpin Tanah Perdikan ini. Bukan karena bermacam-macam perhitungan, tetapi semata-mata karena tempat yang kami sediakan sangat terbatas. “ berkata perwira itu lebih lanjut. “ Baiklah. Kami akan datang bertiga “ jawab Ki Gede kemudian “ itu memang sudah cukup. “ Para perwira itu mengangguk-angguk. Kemudian perwira itupun memberi tahukan tentang saat dari pertemuan itu. Ternyata saatnya sudah terlalu dekat. “ Sore nanti? “ bertanya Ki Gede. “ Ya Ki Gede, sore nanti. Saat matahari turun “ jawab perwira itu. Lalu “ Agar mereka yang datang dari jarak yang agak panjang, tidak kegelapan diperjalanan kembali setelah upacara itu selesai. Lebih-lebih mereka yang datang dari seberang bukit. “ Ki Gede mengangguk-angguk mengiakan. Dengan nada datar Ki Gedepun kemudian berkata “ Ki Sanak. Sampaikan ucapan terima kasih kami, para bebahu Tanah Perdikan Menoreh atas kesempatan ini. Kami akan memerlukan datang meskipun pemberitahuan ini terlalu tibatiba. Tetapi kami mengerti, bahwa agaknya rencana inipun dibuat dengan tiba-tiba. “ “ Ki Gede benar. Senapati kami yang baru itu tiba malam tadi. Ia segera membuat perintah-perintah yang harus kami lakukan. Antara lain mengundang para pemimpin dari Tanah Perdikan ini dan beberapa Kademangan diseki-tar Tanah Perdikan ini. “ jawab perwira muda itu. Namun kemudian katanya “ Tetapi baiklah kami segera mohon diri, karena tugas kami sudah kami selesaikan. Agaknya tidak pantas jika kami tidak ikut dalam pertemuan para pemimpin Tanah Perdikan ini. “ “ Tetapi jika kalian berdua menghendaki, kami tidak mempunyai keberatan “ sahut Ki Gede. “ Terima kasih Ki Gede. Sebaiknya kami mohon diri “ berkata perwira itu. Ki Gede memang tidak menahannya. Karena itu, maka kedua orang perwira muda itupun segera meninggalkan rumah Ki Gede dan kembali ke barak pasukan khusus. Sepeninggal kedua perwira itu, maka Ki Gedepun telah membuka pertemuan itu. Seperti yang sudah ditentukan, maka pertemuan itu akan mendengarkan keterangan Agung Sedayu tentang perjalanannya, sehingga para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh itu dapat mengenali keadaan yang sedang berkembang di Mataram. Hubungan antara Mataram dan Madiun, serta sikap para prajurit Mataram yang seharusnya, karena ada orang yang berusaha memanfaatkan keadaan untuk kepentingan pribadinya sebagaimana dilakukan oleh guru Jaka Rampan. Keterangan Agung Sedayu itu merupakan pengenalan yang luas bagi para pemimpin Tanah Perdikan itu, sehingga keterangannya itu sangat berarti bagi kepentingan Tanah Perdikan. Namun dalam pada itu, disamping keterangan Agung Sedayu para pemimpin Tanah Perdikan itu juga sempat membicarakan sikap Senapati yang memimpin Pasukan khusus Mataram yang baru itu. “ Bukan satu kebiasaan “ berkata Ki Gede “ tetapi hal itu memang tidak mengikat. Agaknya orang ini mempunyai watak dan kebiasaan yang berbeda dengan para Senapati yang terdahulu. “ Tetapi salah seorang diantara bebahu itu ternyata mempunyai kesan yang lain. Katanya “ Tetapi kesannya, Senapati itu bersikap sebagai seorang pemimpin yang berderajad jauh lebih tinggi dari Ki Gede dan para bebahu serta para Demang disekitar Tanah Perdikan ini. “ Ki Gede termangu-mangu. Namun Agung Sedayulah yang menyahut “ Mungkin maksudnya bukan begitu. Seperti yang dikatakannya, dengan demikian maka banyak waktu dapat dihemat. Meskipun Senapati itu tidak dapat melihat langsung keadaan lingkungan Tanah Perdikan dan Kademangankademangan disekitar Tanah Perdikan ini. Tetapi kepentingan yang lain adalah, melepas pemimpin yang digantikannya. “ Ki Gede mengangguk-angguk seperti juga para bebahu yang lain. Namun kemudian katanya “ Baiklah, apapun kepentingannya, maka kami akan datang bertiga. Aku sendiri, Ki Jagabaya dan Agung Sedayu. Kami bertiga akan mewakili bukan saja para bebahu, tetapi juga seluruh rakyat Tanah Perdikan untuk menyambut kelahiran Senapati yang baru bagi Pasukan Khusus itu. Demikianlah, maka pembicaraan yang kemudian berkembang itu telah dianggap selesai. Karena itu, maka Ki Gedepun telah menutup pertemuan itu, setelah mempersilahkan para peserta pertemuan itu untuk minum dan makan. Ketika para bebahu minta diri, maka Agung Sedayupun telah minta diri pula. Ia harus bersiap-siap untuk mengikuti Ki Gede ke barak Pasukan Khusus itu. Pada saat yang telah ditentukan, kakak Agung Sedayu telah berada kembali di rumah Ki Gede. Sejenak kemudian, Ki Jagabayapun telah datang pula. Bersama Ki Gede mereka bertigapun telah berangkat menuju ke Pasukan Khusus yang ada di tanah Perdikan. Ketika mereka sampai ke barak itu, beberapa orang tamu dari Kademangan disekitar Tanah Perdikan itu telah hadir pula. Mereka telah dipersilahkan duduk disebuah ruang yang cukup luas diatas tikar pandan putih bergaris-garis. Beberapa orang perwira muda telah mempersilahkan setiap tamu dengan ramahnya untuk memasuki ruangan. Tetapi kesan keramahan itu agaknya berkurang ketika mereka sudah memasuki ruangan. Senapati yang baru itu duduk diantara dua orang perwira werda yang ada di barak itu. Kemudian Senapati yang lama, yang akan meninggalkan barak itu duduk pula disebelahnya. Sekali-sekali Senapati yang akan meninggalkan barak itu mengangguk sambil tersenyum terhadap tamu-tamunya. Namun wajah Senapati yang baru itu agak berbeda. Meskipun ia juga menganggukangguk dan tersenyum, namun senyumnya terasa agak sendat. Ketika Ki Gede memasuki ruangan itu, maka Senapati yang lama itu justru telah mempersilahkan dengan hormat. Kepada Senapati yang baru itu telah memperkenalkan, bahwa yang datang itu adalah Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh. Senapati itu memang mengangguk. Tetapi nampak bahwa wajahnya tetap sepi. Seakan-akan tidak mengandung kesan apapun juga. Ki Gede memang tertegun sejenak melihat sikap itu. Tetapi Ki Gede berusaha untuk tidak menunjukkan kesan apapun juga. Sebagai orang yang sudah mengendap maka sikapnya adalah sikap yang dewasa. Beberapa saat kemudian, maka nampaknya para tamu yang diundang telah hadir. Sehingga dengan demikian pertemuan itupun segera dimulai. Seorang perwira yang dianggap cukup tua dan telah berada di Tanah Perdikan cukup lama telah mengantarkan pertemuan itu. Perwira itulah yang telah memperkenalkan Senapati yang baru itu kepada mereka yang diundang hadir di barak itu, sementara perwira itu pulalah yang menguraikan kata-kata pelepasan kepada Senapati yang lama, yang akan meninggalkan barak itu. Tidak ada yang aneh dan yang harus mendapat perhatian khusus dalam pertemuan itu. Kedua orang Senapati itu telah mengatakan seseorang masing-masing. Seorang telah minta diri kepada para pemimpin yang hadir dari Tanah Perdikan Menoreh dan Kademangan-kademangan disekitar Tanah Perdikan Menoreh, sedangkan yang lain menyatakan bahwa ia datang untuk menjalankan perintah, memimpin Pasukan Khusus Mataram yang ada di Tanah Perdikan Menoreh. “ Aku sama sekali tidak akan mencampuri pemerintahan di Tanah Perdikan Menoreh serta Kademangan-kademangan disekitar Tanah Perdikan ini “ berkata Senapati yang baru itu. Para pemimpin dari Tanah Perdikan Menoreh serta Kademangan-kademangan itupun mengangguk-angguk. Isi dari sesorah Senapati yang baru itu memang menarik. Tetapi sikapnya masih tetap seperti semula. Wajahnya nampak suram dan hampir tidak pernah nampak senyum dibibirnya. Namun pertemuan itu sendiri berlangsung dengan baik dan rancak. Dari acara yang pertama sampai acara yang terakhir berlangsung sebagaimana direncanakan. Seperti direncanakan pula, maka pertemuan itu diakhiri sebelum matahari menyentuh cakrawala. Sehingga mereka yang datang dari padukuhan-padukuhan diseberang bukit akan dapat mencapai tempat tinggal mereka sebelum malam terlalu dalam. Seperti tamu-tamu yang lain, Ki Gede Menorehpun telah bangkit untuk meninggalkan barak itu. Seperti yang lain-lain pula maka Ki Gede, Agung Sedayu dan Ki Jagaba-yapun memberikan ucapan selamat seorang demi seorang kepada Senapati yang baru itu. Tetapi sebagaimana tanggapannya kepada yang lain, maka wajah Senapati itu serasa kosong ketika ia menjabat tangan Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu dan Ki Jagabaya di Tanah Perdikan. Tetapi Ki Gede tidak mempersoalkannya. Bertiga, maka Ki Gedepun meninggalkan barak itu seperti para tamu yang lain. Namun diperjalanan pulang itu, Agung Sedayu tidak dapat menyimpan pertanyaan didalam hatinya. Karena itu, maka iapun telah bertanya kepada Ki Gede “ Bagaimana tanggapan Ki Gede tentang Senapati yang baru ini? “ Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Aku kurang tahu. Bukankah kita baru berkenalan dengan orang itu hari ini. Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata pula “ Sikapnya dingin sekali terhadap siapapun juga. “ “ Ya “ desis Ki Jagabaya “ rasa-rasanya kita semuanya yang hadir dipertemuan itu, bukan apa-apa baginya. “ Ki Gede justru tersenyum. Katanya “ Tabiat seseorang memang berbeda-beda. Sikapnya yang nampak dingin itu belum tentu menggambarkan sikap batinnya. Mungkin besok atau lusa, justru Senapati itu menjadi bergelora dan langkah-langkah akan membuat para prajurit dari Pasukan Khusus itu bagaikan api yang akan membakar gairah berjuang di Tanah Perdikan ini dan sekitarnya. “ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Desisnya “ Mudahmudahan. “ Tetapi Agung Sedayu tidak bertanya lagi tentang sikap Senapati itu. Di perjalanan selanjutnya mereka justru telah membicarakan perkembangan Tanah Perdikan Menoreh itu sendiri. “ Satu dua hari berikutnya, tidak nampak perubahan yang menarik perhatian dari sikap para prajurit di barak khusus itu. Kegiatan yang mereka lakukan tidak ubahnya dengan kegiatan-kegiatan selanjutnya. Senapati yang baru itu tidak membuat langkah-langkah keluar baraknya. Namun dihari berikutnya, Ki Gede telah dikejutkan oleh kehadiran beberapa orang perwira prajurit dari Mataram. Diantaranya mereka terdapat orang yang dikenalnya dengan baik. Ki Lurah Branjangan. Ki Gedepun dengan segera telah memerintahkannya memanggil Agung Sedayu untuk ikut menemui Ki Lurah Branj angan yang pernah memimpin Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan, justru pada saat pasukan itu sedang di bangun. “ Apakah aku sudah nampak sangat tua? “ bertanya Ki Lurah Branj angan. “ Ah, belum Ki Lurah “ jawab Ki Gede. Namun yang kemudian segera disusul “ Eh, maaf. Apakah pangkat Ki Lurah sudah berubah sekarang? Ki Lurah Brajangan tertawa. Katanya “ Pangkatku sudah pangkat tertinggi bagiku. Sampai saatnya aku mohon mengundurkan diri dari tugas keprajuritan. “ “ Jadi Ki Lurah sudah mengundurkan diri? “ Bertanya Ki Gede. “ Resminya sudah “ jawab Ki Lurah “ tetapi kadangkadang aku masih diperlukan. Hanya kadang-kadang. “ Itulah sebabnya kita jarang bertemu Ki Lurah “ desis Agung Sedayu. “ Setiap kali aku ke istana, Ki Lurah tidak pernah nampak hadir. “ Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya “ Aku memang sudah jarang pergi ke istana, apalagi menghadap Panembahan Senapati. Badanku sudah lemah. Bahkan aku pernah dikabarkan telah meninggal dunia. Beberapa orang kawanku terdekat sempat datang menengokku saat itu. Aku memang sakit keras sehingga berita itu tidak terlalu dibuatbuat. Namun ternyata Yang Maha Agung masih memperkenankan aku sempat melihat Tanah Perdikan ini kembali. “ Seorang perwira yang datang bersama Ki Lurah itupun berkata pula “ Akupun telah datang untuk ikut menyatakan bela sungkawa pada waktu itu. Tetapi ternyata Ki Lurah kemudian sembuh. “ “ Panembahan Senapati sempat mengirimkan utusan untuk melihat apakah benar aku sudah mati “ berkata Ki Lurah sambil tertawa. “ Tetapi Ki Lurah kini nampak sehat “ sahut Ki Gede Menoreh. “ Tetapi tubuhku benar-benar sudah lemah. Berkuda ke padukuhan induk Tanah Perdikan inipun aku sudah merasa sangat letih. Ketika aku bertemu dengan kawan akrabku, ia hampir menangis melihat aku masih sempat berkuda, karena kawan akrabku ini pernah datang ke kuburan yang dikabarkan tempat aku dikuburkan. Ia tidak sempat datang melihat kematianku itu karena ia bertugas. Ketika dari tempatnya bertugas ia mendengar kabar itu, langsung pergi ke kuburan pada saat-saat mayatku itu diberitakan dikuburkan. “ “ Ah “ desah Ki Gede. Namun katanya kemudian “ Tetapi Ki Lurah. Biasanya seseorang yang sudah dikabarkan meninggal itu, umurnya justru akan menjadi panjang. - Ki Lurah tertawa. Katanya “ Semuanya terserah kepada Yang Maha Agung. “ Ki Gedepun tertawa pula. Beberapa saat lamanya mereka sempat berbicara tentang kesehatan masing-masing. Sementara itu minuman hangat dan makananpun telah dihidangkan. Setelah minum beberapa teguk dan makan sepotong makanan, maka Ki Lurah itupun berkata “ Ki Gede. Kedatanganku kali ini sekedar mengantarkan Ki Panji Wiralaga dan beberapa orang pembantunya. Karena aku dianggap akrab dengan Ki Gede dan para pemimpin Tanah Perdikan, maka aku mendapat perintah secara khusus dari Panembahan Senapati untuk menemaninya. “ O “ Ki Gede mengangguk-angguk. Lalu katanya “ Kedatangan Ki Panji Wiralaga dengan beberapa perwira yang lain bersama Ki Lurah Branj angan memang mengejutkan. Baru beberapa hari yang lalu kami, beberapa orang bebahu, mendapat undangan untuk menghadiri upacara yang diselenggarakan Senapati yang baru di barak Pasukan Khusus itu untuk memperkenalkan dirinya kepada para pemimpin Tanah Perdikan ini serta Kademangan di sekitarnya. “ “ Itulah yang akan kami singgung “ berkata Ki Lurah Branj angan. Ki Gede mengerutkan keningnya. Nampaknya memang ada persoalan yang bersungguh-sungguh yang akan disampaikan oleh Ki Panji itu kepadanya. “ Ki Gede “ berkata Ki Panji Wiralaga “ aku harus berkata terus terang kepada Ki Gede. Di Mataram memang sedang terjadi pergolakan. Beberapa orang perwira yang memegang kedudukan penting mulai dipengaruhi oleh kepentingankepentingan pribadinya. Mungkin aku juga. Banyak para Senapati yang ingin menunjukkan kemampuannya di medan perang. Bahkan sebagai satu pengabdian, tetapi semata-mata karena mereka ingin mendapat penghargaan dari kelebihannya itu. Beberapa orang pemimpin dihidang keprajuritan justru telah masuk kedalam satu persaingan yang berbahaya. Sehingga menyulitkan kedudukan Panembahan Senapati yang sedang menghadapi kemelut di Madiun dan Pajang. Panembahan Senapati masih belum berhasil menempatkan seseorang yang kiranya mendapat persetujuan dari Panembahan Madiun untuk jabatan Adipati Pajang. Meskipun pada saatnya Panembahan Senapati dapat saja menunjuk siapapun yang dikehendaki. “ Ki Gede mendengarkan keterangan Ki Panji Wiralaga itu dengan saksama. “ Ki Gede “ Ki Panji itu melanjutkan “ aku telah mendapat tugas khusus dari Panembahan Senapati dan Ki Mandaraka, bahwa aku harus menghubungi Ki Gede untuk mengatakan setidak-tidaknya mengurangi persaingan itu terjadi disini. “ “ Kenapa disini? “ bertanya Ki Gede “ bukankah disini keadaannya terhitung baik dan tenang? “ “ Benar Ki Gede “ jawab Ki Panji “ tetapi Pasukan Khusus itu merupakan salah satu landasan kekuatan yang dapat mendukung kedudukan seseorang. “ Ki Gede mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya Ki Gede itu bertanya “ Benarkah di Mataram telah terjadi persaingan yang demikian memprihatinkan? “ “ Memang belum berakibat terlalu keras, Ki Gede “ jawab Ki Panji “ tetapi hal itu sudah mulai nampak. Orang-orang lain diluar jalur yang sudah ditentukan oleh Panembahan Senapati untuk menjernihkan suasana memang tidak boleh mengetahuinya. Seolah-olah di Mataram tidak terjadi pergolakan seperti itu. “ “ Menilik saat-saat kelahiran Mataram, hal seperti itu agak sulit dimengerti Ki Panji “ berkata Ki Gede. Ki Panji termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling kepada Agung Sedayu, maka Ki Gedepun mengetahui, bahwa Ki Panji ingin berbicara hanya dengan Ki Gede. Tetapi Ki Lurah Branjangan yang juga mengetahui keraguraguan Ki Panji itu berkata “ Biarlah Agung Sedayu ikut mendengar. Bukankah Ki Panji juga mengenal pengabdiannya? “ Ki Panji menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Baiklah. Aku tidak berkeberatan Agung Sedayu ikut mendengar. “ Ki Gede justru menjadi berdebar-debar. Agaknya yang akan dikatakan oleh Ki Panji Wiralaga adalah sesuatu yang rahasia. “ Ki Gede “ berkata Ki Panji pada saat-saat terakhir, Panembahan Senapati memang berusaha untuk dapat langsung berbicara dengan Panembahan Madiun. Tetapi Panembahan Senapati menemui kesulitan. Ada saja hambatan yang menggagalkan usahanya untuk dapat berbicara tentang persoalan yang terasa membuat Mataram menjadi panas. Dalam kemelut itu, nampaknya ada beberapa orang yang telah terpengaruh oleh keadaan yang gawat. Sebagian karena dorongan nafsu pribadi serta ketamakan, sementara yang lain, yang lebih berbahaya, adalah orangorang yang memang dipengaruhi oleh Madiun. Sebagaimana kita ketahui bahwa Panembahan Madiun juga merasa memiliki hak atas tahta Mataram. Sementara itu di Mataram masih ada juga orang-orang yang ternyata jiwanya telah terpengaruh oleh derajat keturunan dan menganggap bahwa Panembahan Senapati bukannya seorang yang berada pada jalur keturunan Demak. Mereka yang semula telah diangkat oleh Panembahan Senapati menjadi pemimpin ditubuh Mataram, mulai berpikir lagi tentang derajat keturunan itu. Sementara itu, Madiun telah mengirimkan orang-orang dalam tugas sandi untuk menghubungi mereka. Petugas sandi Mataram ternyata telah berhasil mencium baunya. “ “ Apakah ada diantara mereka yang sudah tertangkap? “ bertanya Ki Gede. “ Panembahan Senapati memang belum melakukan penangkapan- penangkapan karena bukti masih belum cukup. Tetapi pada saat terakhir Mataram telah menggerakkan sejauh mungkin pengawasan atas semua anggauta tubuhnya, “ jawab Ki Panji. “ Dan Ki Panji adalah salah seorang perwira pada kesatuan dalam tugas sandi itu “ berkata Ki Gede. “ Tidak “ berkata Ki Panji “ aku justru bekerja dengan garisgaris tugas yang terbuka. Namun bahan-bahan tugasku adalah dari para petugas sandi. “ Ki Gede mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Panji Wiralaga berkata “ Persoalan yang tumbuh di Mataram itu belum dinyatakan secara terbuka. Tetapi Mataram tidak ingin terlambat mengatasi persoalan yang sebenarnya memang ada itu. Jika semula mereka telah mendapat tempat yang baik dengan mengesampingkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat merugikan Mataram, maka kini Mataram harus berhatihati menghadapi mereka. Bahkan jika perlu Mataram akan meninjau kembali kedudukan mereka itu. “ ***

 

API DI BUKIT MENOREH SERI III

JILID 233

 

“ SATU hal yang rumit.” berkata Ki Gede. “ Ki Gede.” Ki Panji Wiralaga memang agak ragu-ragu. Tetapi kemudian ia mengatakan juga, “ satu contoh adalah Ki Tumenggung Surayuda. Ia adalah saudara seayah dengan Arya Penangsang, meskipun ia lahir dari ibu yang berbeda. Lahir dari seorang selir. Tetapi ia merasa bahwa darah keturunan Demak mengalir didalam tubuhnya. Sementara itu bahwa pertentangan antara Pajang dan Jipang dimasa pemerintahan Adipati Hadiwijaya dan Adipati Arya Penangsang, Panembahan Madiun pada waktu itu tidak nampak bersikap keras terhadap Jipang. Sedangkan Panembahan Senapati telah membunuh saudara seayahnya itu.” “ Namun ternyata bahwa Panembahan Senapati telah melupakan permusuhan itu dan memberikan tempat yang baik kepada Ki Tumenggung Surayuda.” berkata Ki Gede. “ Ya. Panembahan Senapati telah memberikan pengampuan. Ki Tumenggung termasuk seorang perwira wreda yang dihormati, Ia memiliki pengetahuan yang luas dan pengalaman yang bertumpuk didalam dirinya. Namun para petugas sandi Mataram telah menemukan bukti-bukti bahwa ada hubungan antara Ki Tumenggung Surayuda dengan Madiun. Sementara itu sebagaimana diketahui, Tumenggung Surayuda adalah salah sorang penentu dalam susunan keprajuritan di Mataram. Karena itu, maka penempatan para perwira di barak-barak pasukan Khusus selalu mendapat perhatian. Demikian juga perwira yang tiba-tiba saja ditempatkan di barak pasukan khusus di Tanah Perdikan ini.” Ki Gede mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya, “ Tetapi bukankah ada Panglima Pasukan Khusus di Mataram yang bertanggung jawab atas semua pasukan khusus yang ada di Mataram dimanapun letak baraknya.” “ Yang kami kerjakan kemudian untuk menelusuri tingkah laku Ki Tumenggung Surayuda adalah sepengetahuan Panglima Pasukan Khusus. Ketika Ki Tumenggung Surayuda mengajukan nama perwira yang kemudian menjabat Senapati pasukan Khusus itu di Tanah Perdikan, justru telah diterima oleh Panglima Pasukan Khusus. Nah, dalam putaran persoalan inilah kita nanti akan mengambil sikap.” jawab Ki Panji Wiralaga. Ki Gede mengangguk-angguk. Ia sudah mulai mengerti duduk persoalannya. Karena itu, maka Ki Gedepun kemudian berkata, “ Satu tugas yang berat.” “ Kita akan membagi tugas.” berkata Ki Panji, “ untuk itulah aku datang kemari. Ki Lurah Branjangan yang pernah menjabat sebagai Senapati pada Pasukan Khusus disini akan dapat memberikan banyak keterangan, petunjuk dan barangkali pendapat untuk mengatasi persoalan-persoalan yang timbul dengan tiba-tiba. Dalam masa-masa istirahatnya, ia justru akan terlibat dalam kerja yang gawat ini.” “ Ki Panji.” bertanya Ki Gede kemudian, “ disamping Ki Tumenggung Surayuda, apakah ada orang lain yang pantas mendapat pengawasan khusus di Mataram?” “ Ada Ki Gede.” jawab Ki Panji, “ tetapi masih belum terlalu jelas.” “ Bagaimana dengan persoalan guru Jaka Rampan?” bertanya Ki Gede. Ki Panji Wiralaga mengerutkan-keningnya. Namun kimudian jawabnya, “ Persoalan Jaka Rampan dan gurunya bukan persoalan yang rumit bagi Mataram. Persoalannya lebih jelas dan terang. Guru Jaka Rampan ingin memanfaatkan muridnya. Hanya itu. Tetapi mereka sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan Madiun. Agak berbeda dengan Ki Tumenggung Surayuda.” “ Tetapi bukankah Ki Tumenggung Surayuda termasuk perwira wreda yang usianya sudah agak jauh?” bertanya Agung Sedayu. “ Ya. Sebenarnya ia merupakan seorang yang disegani karena kemampuannya dan pengetahuannya tentang gelar perang dan perhitungan yang mantap terhadap keadaan.” berkata Ki Panji Wiralaga, “ namun tidak seorangpun tahu, pengaruh apa yang telah membuat Ki Tumenggung itu bergeser.” “ Maaf Ki Panji.” berkata Agung Sedayu kemudian, “ apakah Mataram sudah yakin akan kesalahan sebagaimana dituduhkan kepada Ki Tumenggung Surayuda?” Ki Panji Wiralaga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Kami sudah mempunyai bukti-bukti. Meskipun demikian kami masih akan meyakinkan diri. Itulah sebabnya Mataram belum mengambil langlah-langkah pasti, atau katakanlah menangkap Ki Tumenggung. Aku tahu bahwa Agung Sedayu memikirkan kemungkinan lain yang berhubungan dengan sikap Ki Tumenggung. Mungkin ada persoalan yang memaksanya berlaku demikian.” Agung Sedayu mengangguk dalam-dalam katanya, “ Dimanakah keluarga Ki Tumenggung? Disini atau di Jipang atau ditempat lain?” “ Kenapa dengan keluarga di Tumenggung?” bertanya Ki Panji. “ Baru saja Mataram terjadi seseorang yang dipaksa melakukan langkah-langkah tertentu karena anak dan isterinya telah ditangkap dan dijadikan taruhan. Orang itu terpaksa melakukan perintah-perintah tanpa dikehendaki karena keluarganya telah dikuasai oleh orang-orang tertentu.” berkata Agung Sedayu. Ki Panji mengangguk-angguk. Katanya, “ Ya. Aku ingat itu. Pendapatmu dapat menjadi bahan pertimbangan. Agung Sedayu, agar kita tidak mengambil langkah yang salah terhadap seseorang yang tidak mutlak bersalah. Karena itu, maka kita masih harus mengikuti perkembangannya lebih jauh.” “ Jadi apakah yang dapat kau lakukan kemudian Ki Panji?” bertanya Ki Gede. “ Ki Gede. Menyampaikan keputusan pembicaraan beberapa orang pemimpin di Mataram, yang sudah disetujui Ki Mandaraka dan Panembahan Senapati sendiri, maka di Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya akan dibentuk satu lingkungan pertahanan yang akan dipimpin oleh seseorang yang akan ditunjuk oleh Panembahan Senapati sendiri atau limpahan wewenangnya kepada Ki Mandaraka.” berkata Ki Panji Wiralaga. Ki Gede mengerutkan keningnya. Namun ia kemudian bertanya, “ Apakah ada hak dan wewenang dari tubuh yang akan mengikat lingkungan pertahanan di Tanah Perdikan ini dan sekitarnya?” “ Ya. Panembahan Senapati akan memberikan wewenangnya itu.” jawab Ki Panji Wiralaga. Ki Gede mengangguk-angguk. Namun Agung Sedayulah yang bertanya, “ Bagaimana hubungannya tubuh yang akan dibentuk ini dengan kekuasaan yang ada pada Pasukan Khusus itu?” “ Pasukan Khusus itu dalam satu susunan tubuh yang mempunyai kekuasaan ke dalam. Kekuasaan pada dirinya sendiri. Jika mereka mengambil langkah-langkah keluar, maka hal itu dilakukan oleh tubuh itu seutuhnya meskipun hanya terdiri dari sebagian kecil dari pasukan yang ada. Pemimpin dari Pasukan Khusus itu nanti akan menjadi salah seorang anggauta pada tubuh yang akan dibentuk nanti yang dipimpin oleh seseorang yang ditunjuk.” berkata Ki Panji Wiralaga. Lalu, “ Karena itulah, maka kedatanganku kemari lebih dahulu, agar dengan demikian Ki Gede dapat mempersiapkan diri. Dari Tanah Perdikan ini kami, sekelompok prajurit yang mendapat tugas ini, juga akan menghubungi beberapa orang Demang disekitar Tanah Perdikan ini. Namun tentu saja apa yang kami sampaikan tidak sejauh apa yang kami katakan disini. Kepada mereka kami hanya menyampaikan sebab dan alasannya. Juga kepada Senapati Pasukan Khusus yang baru itu. Jika kami menyampaikan alasan tentu alasan yang paling umum, yaitu keadaan yang semakin gawat dari hubungan antara Mataram dan Madiun sehingga perlu disusun ikatanikatan yang mantap yang mampu menggerakkan kekuatan besar yang ada di Mataram diluar kekuasaan keprajuwitan itu sendiri.” “ Aku mengerti Ki Panji.” Agung Sedayu menganggukangguk. Tetapi katanya, “ Meskipun demikian. kami di Tanah Perdikan Menoreh ini masih akan bertanya, bagaimana dengan hubungan yang menyangkut Ki Tumenggung Surayuda?” Ki Panji Wiralaga mengangguk-angguk kecil. Katanya, “ Pengawasan dilakukan di Mataram. Tubuh yang akan dibentuk itu akan menjadi bayangan kekuatan Pasukan Khusus di Tanah Perdikan. Justru karena kita masih belum tahu pasti, apa yang sebenarnya terjadi. Atas persetujuan Panglima Pasukan Khusus, maka menjadi takaran. Sebaiknya kamipun berterus terang, bahwa persetujuan Partglima Pasukan Khusus terhadap penunjukkan Senapati pada Pasukan Khusus itu juga didasari kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Menoreh. Seandainya benar-benar ada garis yang patah di Tanah Perdikan itu, maka ada kekuatan yang cukup untuk meluruskannya kembali.” Ki Gede mengangguk-angguk. Tetapi ketegangan nampak diwajahnya. Dengan nada rendah ia berkata, “ Ki Panji, bukankah dengan demikian Tanah Perdikan itu langsung akan menjadi arena pendadaran kesetiaan Ki Tumenggung Surayuda? Dengan menilai Senopati yang ditempatkannya pada Pasukan Khusus itu, maka kita akan menilai pula kesetiaan Ki Tumenggung. Sementara itu taruhannya ternyata mahal sekali. Kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Menoreh dan kekuatan Pasukan Khusus di barak itu. Jika terjadi sentuhan dalam usaha penilaian ini, maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi.” Ki Panji menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Pertimbangan Ki Gede dapat dipahami. Tetapi dimanapun penilaian itu diadakan, maka benturan yang demikian itu mungkin saja terjadi. Jika bukan pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh, tentu antara prajurit Mataram sendiri.” “ Bukankah tidak pantas jika terjadi perlawanan dari pasukan pengawal di Tanah Perdikan ini melawan prajurit Mataram, bagaimana kedudukan mereka masing-masing.” berkata Ki Gede. Sementara itu Ki Gede telah menying-gung pula apa yang terjadi di Sangkal Putung. Katanya kemudian, “ Anak laki-laki Ki Demang adalah seorang yang termasuk kurang panjang berpikir. Namun ternyata iapun tidak menghendaki benturan terjadi melawan para prajurit Mataram.” Ki Panji mengangguk-angguk. Katanya, “ Kami sangat menghargai sikap itu. Namun justru karena itu, seperti aku katakan, Ki Gede dan Para Demang tidak berdiri sendiri. Beberapa orang perwira akan membantu. Dan justru karena itu, kita akan bersama-sama mohon kesediaan Ki Lurah Branjangan untuk terlibat didalamnya. Bagaimanapun juga, Ki Lurah pernah menjadi bapa pada barak Pasukan Khusus itu. Pengaruhnya tentu masih tersisa didalamnya, sehingga dalam keadaan yang paling gawat, Ki Lurah akan dapat membantu. Justru Bapa yang pertama, bahkan dapat disebut pendiri meskipun atas perintah.” Ki Gede mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya keterangan yang dimaksudkan oleh Ki Panji itu. Sementara itu Ki Panjipun berkata, “ Ki Gede tentu mengetahui, bahwa pembicaraan kita adalah rahasia pada tataran yang paling tinggi.” “ Aku mengerti.” jawab Ki Gede. Lalu katanya, “ Jika demikian, maka terserahlah kepada Ki Panji, apa yang harus kami lakukan.” “ Ki Gede sebaiknya mempersiapkan diri untuk kepentingan ini. Tentu saja mempersiapkan diri dengan segala dukungan yang mungkin dapat disiapkan.” berkata Ki Panji. Lalu Ki Panji itupun menunjukkan sebuah cincin yang dipakainya sambil berkata, “ Ki Gede tentu mengenal cincin ini sebagai bukti bahwa aku mengemban tugas langsung dari Panembahan Senapati.” Ki Gede mengangguk-angguk. Sebenarnya ia memang ingin bertanya, apakah Ki Panji membawa pertanda bahwa ia memang diutus langsung oleh Panembahan Senapati dalam tugas yang rumit itu. Karena itu, maka katanya, “ Pertanda itu memang aku perlukan Ki Panji. Dengan demikian maka aku akan bekerja dengan mantap.” Ki Panji tersenyum. Katanya, “ Ki Gede. Pada saatnya akan datang perintah-perintah berikutnya. Satu hal yang dapat aku beritahukan sekarang, bahwa Ki Lurah Branjangan akan menjadi penasehat dari tubuh yang akan disusun itu. Ki Lurah untuk beberapa lama akan tinggal di Tanah Perdikan itu. Yang lain akan ditentukan kemudian.” Ki Gedepun mengangguk-angguk. Perintah Panembahan Senapati lewat Ki Panji itu sudah tegas. Tanah Perdikan Menoreh akan menjadi ajang pengamatan Mataram terhadap seorang yang mempunyai kedudukan penting serta mempunyai kemampuan yang sangat tinggi. Jika Tanah Perdikan itu salah langkah, maka akibatnya akan dapat menjadi sangat parah. Demikianlah setelah minum dan mencicipi makanan, Ki Panji dan para perwira yang lain minta diri meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi mereka tidak segera kembali ke Mataram. Mereka masih akan singgah di barak Pasukan Khusus serta di beberapa Kademangan disekitar Tanah Perdikan Menoreh. Sepeninggal Ki Panji dan para perwira yang lain serta Ki Lurah Branjangan, maka Ki Kede masih berbicara beberapa saat dengan Agung Sedayu. Bagaimanapun juga, maka mereka harus mempersiapkan para pengawal. Bahkan Agung Sedayu telah mengusulkan untuk mengumpulkan kembali para pengawal terpilih untuk ditempatkan dalam lingkungan khusus meskipun mereka tidak harus berada disebuah barak agar tidak menarik perhatian dan menimbulkan kecurigaan. “ Terserah kepadamu Agung Sedayu.” berkata Ki Gede, “ kau tentu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang gawat ini.” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “ Baiklah Ki Gede. Aku akan menyiapkan kekuatan inti dari Tanah Perdikan ini. Mudah-mudahan persiapan itu tidak akan pernah dipergunakan.” “ Hati-hatilah disetiap langkah Agung Sedayu.” pesan Ki Gede, “ jika salah langkah, maka justru kitalah yang akan memancing kekeruhan.” “ Aku akan berhati-hati Ki Gede. Persoalannya memang cukup rumit untuk diatasi dengan diam-diam.” berkata Agung Sedayu yang sejenak kemudian telah minta diri. Namun Agung Sedayu berusaha untuk tidak memberitahukan persoalan itu kepada Glagah Putih. Kepada Sekar Mirah ia berpesan dengan sungguh-sungguh agar persoalan yang dikatakan itu akan tetap menjadi rahasia, meskipun yang dikatakan kepada Sekar Mirah itu pun tidak seluruh persoalan yang dibicarakan di rumah Ki Gede Menoreh. Sementara itu, Ki Panji Wiralaga telah mengunjungi pula barak Pasukan Khusus dan bertemu dengan Senapatinya yang baru. Kepada Senapati yang baru itu, Ki Panji Wiralaga juga menyampaikan perintah Panembahan Senapati untuk menyusun satu sosok tubuh yang terdiri dari beberapa unsur yang ada di Tanah Perdikan Menoreh dan Kademangan di sekitarnya. “ Pasukan Mataram yang mampu digerakkan dengan cepat tidak akan mencukupi jika benar-benar terjadi perang dengan Madiun yang didukung oleh beberapa Kadipaten di sekitarnya. Karena itu Panembahan Senapati ingin bahwa rakyat yang memiliki kemampuan di sekitar Tanah Perdikan ini dapat dengan tertib digerakkan jika itu diperlukan.” berkata Ki Panji. “ Tetapi itu berlebihan.” berkata Senapati yang baru itu, “ jika memang ada tugas seperti itu, kenapa tidak diserahkan saja kepadaku?” “ Tugasmu hanya didalam lingkungan barak ini. Kau bertugas memimpin para prajurit Pasukan Khusus ini. Kau tidak bertugas untuk mencampuri tugas-tugas yang berhubungan dengan pemerintah di Tanah Perdikan ini dan sekitarnya.” berkata Ki Panji, “ karena itu, maka diperlukan satu tubuh yang dapat mengikat semua kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini. Pasukan Khusus Mataram yang ada disini, sudah barang tentu menjadi bagian dari seluruh kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Menoreh.” “ Aku tidak setuju jika aku diletakkan dibawah kuasa Tanah Perdikan ini.” berkata Senapati itu. “ Tidak dibawah kuasa Tanah Perdikan. Tetapi dalam kesatuan pertahanan bagi Mataram, maka diperlukan satu pimpinan diwilayah ini.” berkata Ki Panji. “ Aku sanggup mengatur diriku sendiri dengan seluruh kekuatan Pasukan Khusus ini.” berkata Senapati itu. “ Kau tidak dapat mengelak dari tugas dan tanggung jawabmu sebagai seorang prajurit.” berkata Ki Panji. “ Tetapi, aku Senapati dari Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan ini, mempunyai tugas dan tanggungjawab atas lingkungan ini.” berkata Senapati itu. “ Dengar Senapati. Aku adalah perwira wreda yang membawa tugas dari Panembahan Senapati sendiri sebagaimana ternyata pada pertanda yang aku pakai ini. Perintah yang kau dengar dari mulutku adalah perintah Panembahan Senapati itu sendiri.” berkata Ki Panji kemudian. Senapati itu menjadi tegang. Wajahnya menjadi merah dan telinganya bagaikan tersentuh api. Namun ia sadar, bahwa cincin kekuasaan yang ada di jari Ki Panji itu tidak akan dapat dilawannya jika ia tidak ingin mendapat kesulitan. Bahkan penempatannya di pasukan itu akan gagal membawa pesan dari seorang perwira yang lain yang dengan susah payah berusaha menempatkannya di barak itu. Karena itu, betapapun jantungnya bergejolak, namun ia tidak dapat menolak perintah yang dibawa oleh Ki Panji itu. Sehingga kemudian dengan suara sendat ia berkata, “ Aku terima segala perintah Panembahan Senapati.” Ki Panji menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Terima kasih. Hal ini sudah diketahui oleh Panglima Pasukan Khusus Mataram. Tetapi karena persoalannya lebih berat pada kesiagaan wilayah, maka perintah ini tidak datang lewat jalur Panglima Pasukan Khusus meskipun pada saatnya perintah itu tentu akan datang pula dalam satu ikatan langkah kebijaksanaan dari Panembahan Senapati. Nah, untuk selanjutnya persiapkan dirimu. Perintah-perintah lain akan menyusul kemudian sampai saatnya tubuh itu diresmikan oleh Panembahan Senapati sendiri.” “ Baiklah Ki Panji.” jawab Senapati itu. Namun ia masih berkata, “ Ki Panji. Bukan maksudku menentang pe-rintah Panembahan Senapat. Tetapi aku hanya ingin bertanya, apakah kedudukan para Senapati prajurit Mataram diluar kota Mataram sama seperti kedudukanku? Misalnya Senapati di Ganjur dan terutama Senapati prajurit Mataram di Jati Anom atau yang lebih jauh lagi yang berada di Babadan Gunung Sewu dan yang lain.” Ki Panji termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “ Kedudukan mereka lain. Mereka bukan seorang Senapati yang mendapat tugas untuk memimpin satu kesatuan. Seperti Utara di Jati Anom. Ia berada di Jati Anom untuk memimpin satu kesatuan pertahanan sejak masa kalut yang terjadi antara Pajang dan Jipang. Pasukan yang mendukung kekuatan Untara ada sendiri. Nah, kedudukan para Senapati yang ada dibawah pimpinan Untara dan pemimpin pasukan termasuk Pasukan Berkuda, itu mempunyai hak dan wewenang seperti wewenangmu. Sebagai seorang perwira sebenarnya kau harus sudah mengetahui tataran kepemimpinan prajurit di Mataram.” “ Aku sebenarnya memang sudah tahu Ki Panji. Jika aku bertanya tentang Untara, apakah kekuasaanku disini tidak dapat diangkat, disejajarkan dengan kekuasaan Untara di Jati Anom?” bertanya Senapati itu. Ki Panji menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Itu bukan wewenangku untuk menjawab. Karena itu pertanyaanmu akan aku bawa kepada Panembahan Senapati yang tentu akan berbicara dengan Ki Mandaraka, Panglimamu dan beberapa orang perwira wreda dan para pemimpin keprajuritan di Mataram.” Senapati itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja di dalam hati ia berkata, “ Ki Tumenggung Surayuda tentu akan ikut berbicara. Nasehatnya banyak didengar oleh Panembahan Senapati asal tidak hadir Pangeran Singasari atau Pangeran Mangkubumi, yang nampaknya tidak begitu sesuai cara mereka berpikir.” Demikianlah maka sejenak kemudian Ki Panji itupun telah minta diri untuk melanjutkan perjalanannya. Seperti yang direncanakan, maka iapun telah mengunjungi beberapa Kademangan di sekitar Tanah Perdikan Menoreh. Namun sebenarnyalah bahwa arti dari beberapa Kademangan itu bersama-sama tidak sebesar Tanah Perdikan Menoreh yang dipimpin oleh Ki Gede Menoreh. Dalam pada itu, Senapati dari barak Pasukan Khusus itupun telah bertindak cepat pula melewati jalur yang seharusnya. Iapun dengan cepat telah mempersiapkan diri untuk pergi ke Mataram, langsung menghadap Panglima Pasukan Khusus di Mataram. Dengan singkat Senapati itu telah melaporkan perintah Ki Panji Wiralaga baginya dan juga bagi Tanah Perdikan Menoreh dan beberapa Kademangan di sekitarnya. “ Terima kasih atas laporanmu.” berkata Panglima itu, “ tetapi aku sudah tahu, karena yang dilakukan itu atas persetujuanku. Bukankah Ki Panji membawa pertanda perintah Panembahan Senapati sendiri?” ujar Panglima Pasukan Khusus itu. Senapati itu mengangguk-angguk menjawab, “ Ya. Ki Panji mengenakan cincin kerajaan.” “ Nah, patuhi perintahnya, karena perintah itu sama nilainya dengan perintah Panembahan Senapati sendiri.” berkata Panglimanya. Senapati itupun kemudian telah mohon diri. Tetapi ternyata ia tidak segera kembali ke Tanah Perdikan. Ia telah bermalam satu malam di Mataram. Dirumah Ki Tumenggung Surayuda. Dalam pada itu, Ki Tumenggung itupun telah memerintahkan agar Senapati itu mematuhi perintah Ki Panji Wiralaga agar tidak menimbulkan kecurigaan. “ Aku telah melapor kepada Panglima.” berkata Senapati itu. “ Kalau sudah benar. Kau memang harus melapor kepada Panglimamu.” Pagi-pagi benar, sebelum fajar Senapati itu telah meninggalkan Mataram dan kembali ke baraknya di Tanah Perdikan Menoreh. Sementara itu, Ki Panji Wiralagapun justru telah kembali ke Mataram. Untunglah bahwa perjalanan Ki Panji yang berlawanan arah dengan Senapati Pasukan Khusus di Tanah Perdikan itu tidak bersamaan waktunya sehingga tidak bertemu di perjalanan. Ki Panji yang telah bermalam di sebuah Kademangan tetangga dari Tanah Perdikan Menoreh itu justru berangkat agak siang setelah Senapati itu sampai di baraknya kembali. Dalam pada itu, setelah Ki Panji Wiralaga melaporkan perjalanannya kepada Panembahan Senapati, maka Panembahan Senapati itupun telah memerintahkan Ki Panji untuk menangani pembentukannya di Tanah Perdikan bersama Ki Lurah Branjangan. Perintah Panembahan Senapatipun tegas, bahwa Pimpinan dari tubuh yang akan disusun di Tanah Perdikan itu adalah Ki Gede sendiri. Tugas itu memang tugas yang sulit bagi Ki Panji Wiralagr. Tetapi bersama Ki Lurah Branjangan, maka ia bertekad untuk menyelesaikan tugas itu dengan baik. Sementara itu Ki Panjipun mengetahui bahwa persoalannya tidak terhenti pada pembentukan tubuh itu sendiri, tetapi ia akan selalu saling mengamati dengan Ki Tumenggung Surayuda, seorang perwira wreda yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas. Di Tanah Perdikan Menoreh, Agung Sedayu telah mulai pula dengan langkah-langkahnya. Yang pertama-tama dilakukannya adalah memanggil beberapa orang pemimpin kelompok dari pengawal terpilih di Tanah Perdikan Menoreh. Yang disampaikan kepada mereka adalah persiapanpersiapan yang dilakukan oleh Mataram menghadapi hubungan yang semakin gawat dengan Madiun. “ Panembahan Senapati menyadari, bahwa kekuatan Mataram harus dihimpun. Jika diperlukan maka yang akan bergerak bukan saja para prajurit. Tetapi semua laki-laki di Mataram harus ikut pula berjuang disamping para prajurit. Tentu saja mereka yang keadaan wadagnya masih memungkinkan.” berkata Agung Sedayu kepada mereka. Lalu katanya kemudian, “ Dalam rangka itulah kami mempersiapkan diri. Tetapi jangan memancing kegelisahan rakyat Tanah Perdikan ini. Mereka tidak perlu diusik dengan segala macam persiapan.” Salah seorang dari pemimpin kelompok itupun bertanya, “ Apakah hanya kami saja yang bersiap-siap, atau semua pengawal?” “ Pada saatnya semua pengawal akan bergerak. Aku akan berbicara dengan Prastawa. Beberapa saat terakhir ia nampak agak lesu.” berkata Agung Sedayu. “ Jangan kau usik.” sahut salah seorang pemimpin kelompok, “ Prastawa sedang menghindari keinginan orang tuanya untuk kawin dengan seorang gadis yang tidak disukainya, meskipun gadis itu anak seorang Demang. Agaknya Prastawa sudah mempunyai pilihan sendiri.” Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun dengan cepat ia menguasai perasaannya. Tetapi ia masih juga bertanya, “ Gadis manakah yang menjadi pilihannya itu?” “ Anak seorang Bekel di padukuhan yang termasuk bagian dari Tanah Perdikan ini pula.” jawab pengawal itu. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi katanya kemudian, “ Ia akan dapat membedakan persoalannya. Kepentingan pribadinya dan tugas-tugasnya sebagai salah seorang pimpinan pengawal. Selama ini ia adalah seorang pemimpin pengawal yang baik, meskipun kadang-kadang ia lebih senang menyendiri.” “ Kita tahu, dirinya dibelit oleh persoalan-persoalan pribadinya yang rumit. Bukan saja tentang calon isteri. Itulah sebabnya ia kadang-kadang merasa rendah diri.” Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian katanya, “ Sudahlah. Biar aku temui nanti untuk membicarakannya lebih jelas. Yang pertama-tama harus disiapkan memang pasukan pengawal terpilih. Jumlahnya cukup untuk mengatasi persoalan-persoalan yang tiba-tiba. Tetapi bukan berarti bahwa para pengawal yang lain begitu saja diabaikan. Dalam keadaan yang paling gawat, maka semua kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini diperlukan.” Para pemimpin kelompok dari pengawal terpilih itu mengangguk-angguk. Namun mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan tanpa menimbulkan kegelisahan diantara rakyat Tanah Perdikan Menoreh. Sementara itu, langkah-langkah yang diambil oleh Senapati yang baru dibarak Pasukan Khusus itupun mulai nampak. Orang-orang yang tinggal dipadukuhan terdekat mulai mengenal namanya yang memang menggetarkan. Namanya sendiri adalah nama yang wajar saja, Sanggabaya. Tetapi ia lebih senang disebut Naga Geni. Ki Sanggabaya itu merasa dirinya mempunyai kemampuan sebagai seekor naga yang berapi. Dihari-hari mendatang, maka Ki Sanggabaya yang juga disebut Naga Geni itu telah membawa pasukannya menyusuri jalan-jalan mendaki di pebukitan. Setelah beberapa lamanya pasukan itu jarang sekali mengadakan latihan-la-tihan sampai menjelajahi daerah yang jauh dari barak-barak mereka, maka Senapati yang baru itu telah membawa para prajuritnya mengelilingi bukan saja Tanah Perdikan Menoreh, tetapi juga menembus kademangan-kademangan disekitarnya. Meskipun latihan itu hanya sekedar berlari-lari. Sedangkan latihanlatihan yang sebenarnya juga dilakukan di padang rumput yang memang disediakan bagi barak itu sebagaimana sebelumnya. Namun karena cara latihan yang ditempuh oleh para prajurit di barak itu, maka para pengawal pilihan di Tanah Perdikan tidak melakukan hal yang sama. Meskipun sebelumnya mereka justru sering melakukannya. Meskipun mereka berlatih bagi kepentingan mereka masing-masing, namun para pengawal di Tanah Perdikan Menoreh sudah mendapat pesan dari Agung Sedayu, agar mereka sejauh mungkin menghindari salah paham, justru karena Senapati yang baru. Jika pada suatu saat hubungan mereka telah menjadi akrab sebagaimana sebelumnya, maka latihan-latihan itu tidak akan menimbulkan salah paham. Para pengawal pilihan di Tanah Perdikan justru mengadakan latihan-latihan di padang rumput yang berada di lereng bukit, agak jauh dari barak Pasukan Khusus Mataram itu. Mereka telah memasang patok-patok kayu untuk memberi tanda-tanda jarak yang harus ditempuh oleh para pengawal disaat berlari-lari mengelilingi padang rumput itu. Mereka pun telah mempergunakan patok-patok dan palang-palang kayu bagi latihan-latihan mereka. Selain alat-alat yang memang sudah ada, maka para pengawal telah menambah beberapa macam alat-alat yang baru, yang akan dapat menambah ragam ketrampilan dan ketahanan tubuh mereka. Tetapi para pengawal itu tidak mau menarik perhatian rakyat Tanah Perdikan dengan latihanKang Zusi - http://kangzusi.com/ latihan yang lebih banyak, sehingga karena itu, maka segalanya dilakukan sebagaimana biasanya dilakukan. Namun disamping itu, para pengawal pilihan itu diwajibkan menambah latihan-latihan secara pribadi di rumah masingmasing atau dimana saja asal tidak mengganggu dan tidak membuat orang lain gelisah. Mereka yang memiliki sanggar atau ruang-ruang khusus dirumahnya dapat mempergunakan sebaik-baiknya. Sedangkan bagi mereka yang tidak, dapat bergabung dengan kawan-kawannya yang memiliki sanggar atau berlatih di malam hari, di halaman atau kebun rumahnya sendiri. Para pengawal itu terutama telah berusaha untuk meningkatkan kemampuan mereka mempergunakan berjenisjenis senjata, selain meningkatkan kemampuan mereka melawan berjenis-jenis senjata pula. Merekapun telah berlatih sebaik-baiknya mengatur dan menguasai pernafasan mereka. Mengendapkan tenaga didalam dirinya, mengungkapkan kembali serta bahkan mengangkat segenap tenaga cadangan kepermukaan. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu Agung Sedayu telah memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat berarti bagi mereka. Sehingga mereka dapat mempergunakan waktu yang singkat untuk meningkatkan ketahanan tubuh dan kemampuan mereka dalam ilmu kanuragan. Sebenarnyalah bahwa kegiatan para pengawal seakanakan memang terselubung. Bahkan kemudian bukan saja para pengawal pilihan. Tetapi setiap pengawalpun telah mempergunakan waktu mereka yang luang dirumah untuk meningkatkan diri. Baik daya tahan maupun kemampuan. Sementara itu, Senapati yang baru itu nampaknya memang ingin menunjukkan kegiatannya yang meningkat. Karena itu, ia seakan-akan telah dengan sengaja menunjukkan kepada rakyat Tanah Perdikan, bahwa Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan itu bukan kebanyakan prajurit sebagaimana dikenal orang. Tetapi Pasukan Khusus Tanah Perdikan itu benar-benar terdiri dari orang-orang yang memiliki kelebihan. Dalam pada itu, selagi perhatian Tanah Perdikan Menoreh tertuju kepada para prajurit dari Pasukan Khusus itu, Ki Lurah Branjangan ternyata telah datang ke Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi tidak bersama Ki Panji Wiralaga. Namun bersamanya telah ikut pula dua orang cucunya. Seorang anak muda dan seorang gadis yang meningkat dewasa. Sebaya dengan Glagah Putih. Kedatangan Ki Lurah itu memang agak mengejutkan bagi Tanah Perdikan Menoreh. Dengan ramah Ki Gede telah mempersilahkan Ki Lurah Branjangan untuk naik kependapa. Ki Gede berusaha untuk menyembunyikan perasaan ingin tahunya, kenapa tiba-tiba saja Ki Lurah itu datang tanpa Ki Panji Wiralaga. Setelah mempertanyakan keselamatan masing-masing, maka Ki Lurah justru telah mendahului sebelum Ki Gede bertanya, “ Ki Gede, aku datang membawa bebanku sendiri. Dua orang cucuku ingin berada di Tanah Perdikan ini barang satu dua pekan. Sebenarnya tugas yang harus aku lakukan baru akan berjalan dua pekan mendatang. Ki Panjipun baru akan datang dua pekan ini. Aku datang mendahului waktu yang ditentukan, karena yang dua pekan ini ingin aku pergunakan bagi kepentingan pribadiku.” Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “ Ki Lurah. Sebenarnya aku sudah menjadi berdebar-debar. Ki Lurah datang sendiri justru bersama cucu-cucu Ki Lurah.” Ki Lurah tertawa. Katanya, “ Aku minta maaf Ki Gede. Mungkin kedatanganku membuat Ki Gede bertambah sibuk, karena aku telah membawa dua orang cucu.” Ki Gede tertawa. Katanya, “ Menyenangkan sekali. Ternyata Ki Lurah jauh berada didepan. Aku masih harus menunggu cucuku yang akan lahir beberapa bulan lagi. Ki Lurah yang nampaknya tidak terpaut banyak dari umurku, sudah mempunyai cucu sebesar itu.” “ Ceritera yang agaknya memang menarik Ki Gede. Aku kawin muda. Anakku perempuan, juga kawin muda. Karena itu, cucuku cepat menjadi besar. Kadang-kadang kepada orang yang berpapasan di jalan aku memperkenalkan keduanya sebagai anak-anakku yang paling kecil.” jawab Ki Lurah sambil tertawa. Ki Gedepun tertawa pula. Tetapi yang dikatakan Ki Lurah itu agaknya memang benar. Sementara itu Ki Lurah berkata pula selanjutnya, “ Begitulah Ki Gede, jika Ki Gede tidak berkeberatan, aku ingin berada disini bersama cucu-cucuku ini menjelang tugastugasku yang sebenarnya. Pada saatnya menjelang tugas yang rumit itu, maka cucu-cucuku akan aku bawa ke Mataram.” “ Tentu saja kami tidak berkeberatan Ki Lurah.” berkata Ki Gede, “ tetapi tentu saja, keadaannya jauh berbeda dengan keadaan di Mataram. Disini segala sesuatunya sangat sederhana. Apa adanya dan tentu jauh lebih sepi dari keadaan di Mataram.” “ Itulah yang ingin dilihat oleh kedua cucuku ini.” berkata Ki Lurah, “ biarlah mereka melihat kehidupan yang lain daripada yang selalu dilihatnya setiap hari. Namun yang dinilainya tidak kalah dari kehidupan orang-orang yang tinggal di Kotaraja.” “ Kami justru akan bersenang hati.” berkata Ki Gede, “ disini ada Glagah Putih, adik sepupu Agung Sedayu yang umurnya tentu tidak terpaut banyak. Ia akan dapat menemani kedua cucu Ki Lurah selama berada disini.” Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “ Terima kasih Ki Gede. Cucuku yang nakal ini akan melihat satu kehidupan yang lain dari kehidupan di Kotaraja. Mereka akan dapat melihat para petani yang bekerja keras untuk menghasilkan bahan pangan. Mereka akan dapat melihat hubungan antara sesama yang masih sangat akrab disini dibandingkan dengan tata kehidupan kota. Kehidupan yang masih lebih mementingkan nilai-nilai persahabatan dan bekerja bersama daripada nilai-nilai kebendaan dan uang. Serta kehidupan yang masih erat sekali hubungannya dengan Penciptanya daripada kepentingan-kepentingan lahiriah semata-mata.” “ Mudah-mudahan Ki Lurah akan menemukannya disini. Kami disini memang berharap bahwa nilai-nilai seperti itu masih akan dapat tetap dipertahankan meskipun tata kehidupan akan bergerak semakin maju. Langkah-langkah panjang menuju keperadaban yang lebih tinggi itu diharapkan tidak beranjak dari alas yang kuat dari kehidupan yang pernah ada dibumi ini.” berkata Ki Gede. Ternyata Ki Lurah Branjangan merasa bahwa kedatangan kedua cucunya itu benar-benar akan berarti bagi mereka. Apalagi ketika kemudian Agung Sedayu dan Glagah Putih datang kerumah Ki Gede itu pula memenuhi panggilan Ki Gede lewat seorang pengawal. Ki Gedepun kemudian telah memperkenalkan kedua cucu Ki Lurah itu kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih. Bahkan Ki Gedepun kemudian berkata, “ Glagah Putih akan dapat menemani kalian melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan ini.” Kedua anak muda itu memang melihat Glagah Putih sekilas. Tetapi nampaknya keduanya sama sekali tidak tertarik untuk memperhatikannya lebih lama lagi. Glagah Putih dimata mereka memang tidak lebih dari anak padukuhan yang lain yang dilihatnya di sepanjang perjalanan. Agung Sedayu melihat gelagat itu. Tetapi ia tidak menunjukkan sikap yang lain dari sikapnya yang sudah dikenal oleh Ki Lurah Branjangan. Sambil tersenyum Agung Sedayu berkata, “ Banyak hal yang dapat dilihat disini tetapi tidak ada di Kotaraja. Agaknya Tanah Perdikan ini akan menarik bagi mereka.” Ki Lurah mengangguk. Kepada kedua cucunya ia berkata, “ Nah, kalian kini berada dirumah Ki Gede Menoreh yang menjadi pimpinan tertinggi di Tanah Perdikan ini. Sedangkan Agung Sedayu adalah seorang yang lebih banyak bergerak dibidang pembaharuan dari Tanah Perdikan ini. Bukan saja susunan tubuh para pengawal dari pimpinan tertingginya sampai pemimpin-pemimpin kelompok di padukuhanpadukuhan, tetapi juga dibidang kesejahteraan. Kalian akan dapat belajar banyak disini nanti.” Demikianlah, maka sejak saat itu, Ki Lurah Branjangan dan kedua cucunya telah berada dirumah Ki Gede. Ki Lurah telah memberikan gambaran tentang Tanah Perdikan itu. Diceritakannya tentang sawah yang terbentang. Padukuhanpadukuhan sampai di kaki bukit serta lereng-lereng terjal yang berbatu padas. Tetapi juga hutan yang lebat yang terbentang di ngarai dan memanjat sampai puncak bukit. Mata air yang mengalir menuruni tebing dan mengaliri tanah-tanah persawahan. Sedangkan beberapa sungai yang tidak terlalu besar mengalirkan air yang bening. “ Kau akan dapat melihatnya.” berkata Ki Lurah kepada kedua cucunya, “ Glagah Putih tentu akan dengan senang hati mengantarmu berjalan-jalan di Tanah Perdikan ini.” Kedua cucu Ki Lurah itu agaknya memang tertarik untuk melihat-lihat. Tetapi cucunya yang laki-laki, yang tertua diantara kedua cucunya itu berkata, “ Menarik sekali. Tetapi tentu lebih senang jika kakek sendiri membawa kami berjalanjalan.” “ Glagah Putih adalah anak Tanah Perdikan ini meskipun ia berasal dari Banyu Asri.” berkata kakeknya. “ Anak padesan itu nampaknya terlalu dungu untuk diajak berbicara tentang hal-hal yang agak rumit. Yang diketahuinya tentu tidak lebih dari cara membajak, menanam padi, membuat bendungan dan barangkali sedikit tentang berburu di hutan-hutan.” gumam cucu Ki Lurah Branjangan itu. Tetapi Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya, “ Kau akan salah menilai anak itu. Anak itu adalah anak yang memiliki kemampuan dan penalaran yang tinggi.” “ Setinggi-tinggi tingkat penalarannya, ia adalah anak padesaan.” berkata cucu perempuan Ki Lurah itu. Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak memberikan keterangan lebih panjang. Ia memang sengaja membawa cucunya untuk mendapatkan kenyataan yang lain dari yang dianggapnya telah diketahuinya. Sehari itu kedua cucu Ki Lurah tetap berada di rumah Ki Gede. Mereka hanya melihat-lihat halaman dan kebun. Berdiri di regol halaman serta melihat-lihat jalan induk yang membujur di depan regol itu. Keduanya memang melihat beberapa pengawal digardu. Tetapi keduanya tidak menyapa mereka. Baru dihari berikutnya, Agung Sedayu telah mengajak Glagah Putih pergi kerumah Ki Gede. Namun di sepanjang jalan Agung Sedayu telah berpesan, agar ia dapat menahan diri. Kedua orang cucu Ki Lurah itu terbiasa hidup didalam kota dan dalam pergaulan yang berbeda. Mungkin ada beberapa perbedaan sikap dan cara menanggapi satu keadaan. “ Kau harus berusaha menahan diri. Disini kau menjadi tuan rumah, sehingga kau harus lebih bersabar.” berkata Agung Sedayu. “ Aku akan mencobanya kakang.” jawab Glagah Putih yang ternyata sudah mulai tersinggung melihat sikap kedua cucu Ki Lurah itu sejak mereka bertemu. Namun ia mengerti pesan kakak sepupunya, karena ia memang harus berusaha untuk menjadi tuan rumah yang baik. Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih berada di rumah Ki Gede, maka kedua cucu Ki Lurah itu telah dipertemukan langsung dengan Glagah Putih. Ki Lurah telah memperkenalkan mereka lebih dekat. “ Ingat namanya.” berkata Ki Lurah, “ cucuku yang laki-laki bernama Teja Prabawa.” “ Raden Teja Prabawa.” anak muda itu melengkapi namanya dengan sebutannya sekali. “ Raden Teja Prabawa.” Glagah Putih mengulang. Ki Lurah Branjangan hanya tersenyum saja. Sementara itu, iapun berkata pula, “ Sedangkan cucu perempuanku ini bernama Rara Wulan.” Glagah Putih mengangguk hormat. Tetapi ternyata cucu perempuan Ki Lurah itu sama sekali tidak berpaling kepadanya. Tetapi Glagah Putih sudah mendapat bekal pesan dari Agung Sedayu sehingga karena itu, maka ia sudah mengendalikan dirinya sejak semula. Dalam pada itu Ki Lurah Branjanganpun berkata, “ Nah, Glagah Putih. Bawalah kedua cucuku itu melihat-lihat Tanah Perdikan ini. Mudah-mudahan apa yang dilihatnya akan berarti bagi mereka berdua. Tidak perlu tergesa-gesa, karena mereka akan berada disini agak lama. Sekitar dua pekan. Sehingga banyak kesempatan bagi mereka untuk melihat seluruh Tanah Perdikan ini.” “ Baik Ki Lurah.” jawab Glagah Putih, “ mudah-mudahan keduanya kerasan tinggal di Tanah Perdikan yang sepi ini.” “ Tentu mereka akan kerasan tinggal disini.” jawab Ki Lurah, “ banyak hal yang terdapat di Tanah Perdikan ini, tetapi tidak terdapat di Kotaraja.” “ Aku sudah siap Ki Lurah. Jika dikehendaki, maka kami akan dapat pergi sekarang, mumpung masih belum terlalu panas.” berkata Glagah Putih. “ Bagus.” jawab Ki Lurah Branjangan, “ pergilah.” Lalu katanya kepada kedua cucunya, “ Ikutlah dengan Glagah Putih. Ia akan menunjukkan apa yang belum pernah atau jarang sekali kalian lihat.” “ Kakek tidak pergi bersama kami?” bertanya Teja Prabawa. Ki Lurah menggeleng. Katanya, “ Kakek sudah terlalu sering melihat Tanah Perdikan ini.” “ Jika demikian kenapa bukan kakek sendiri yang mengantar kami?” bertanya Rara Wulan. “ Aku masih akan banyak berbicara dengan Ki Gede menjelang tugasku disini.” berkata Ki Lurah Branjangan pula. Kedua cucunya akhirnya bersedia juga pergi diantar oleh Glagah Putih. Demikianlah maka sejenak kemudian Glagah Putih telah minta diri, sementara Ki Lurah Branjangan dan Agung Sedayu mengantar kedua cucu Ki Lurah itu sampai keregol. Diregol halaman rumah Ki Gede, Agung Sedayu sempat menepuk bahu Glagah Putih sambil berbisik, “ Kau harus menjadi tuan rumah yang baik.” Namun agaknya Ki Lurah dapat membaca bibir Agung Sedayu. Meskipun ia tidak mendengar, tetapi ia dapat mengetahui apa yang dikatakannya. Karena itu, maka iapun justru mendekati mereka sambil berdesis, “ Kau jangan terlalu menahan diri. Aku sengaja ingin mengajar mereka berdua. Jika mereka nakal dan tidak mau mendengar petunjukmu, kau dapat memaksanya. Aku tidak berkeberatan.” Glagah Putih mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling kepada Agung Sedayu, dilihatnya Agung Sedayu hanya tersenyum saja. Sementara itu Teja Prabawa dan Rara Wulan telah berjalan beberapa langkah lebih dahulu, sehingga Glagah Putihpun kemudian harus berlari-lari kecil menyusulnya. Untuk beberapa saat mereka ternyata hanya saling berdiam diri saja. Kedua cucu Ki Lurah itu memang tertarik melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan Menoreh. Halaman-halaman rumah yang luas dan ditanami dengan berbagai macam pepohonan. Terutama pohon buah-buahan. Pintu-pintu gerbang dan dinding halaman yang tidak terlalu tinggi. Glagah Putih berjalan di belakang kedua anak muda itu. Baru ketika mereka keluar dari regol padukuhan induk, kedua anak muda itu mulai berbicara. Teja Prabawa nampaknya sangat tertarik pada bentangan sawah yang luas yang tidak pernah dilihatnya di Kotaraja. Meskipun di pinggir Kotaraja juga masih terdapat bulak-bulak persawahan. Tetapi bulakbulak itu jauh lebih sempit dari bulak yang dilihatnya di sebelah padukuhan induk itu, sehingga dengan demikian maka jalan yang membujur didepan kakinya nampak begitu panjang sampai kepadukuhan berikutnya. Sementara dibelakang, bukit yang hijau membentang dari Selatan sampai jauh ke Utara. Membujur dengan beberapa puncak yang tinggi rendah. Glagah Putih masih saja mengikutinya. Nampaknya kedua cucu Ki Lurah itu belum memerlukannya, sehingga mereka sama sekali tidak bertanya kepadanya. Tetapi Glagah Putih yang sudah mempersiapkan diri menghadapi keadaan seperti itu, sama sekali tidak merasa tersinggung lagi sebagaimana mereka bertemu mula-mula dirumah Ki Gede. Glagah Putih sudah berhasil mengendapkan perasaannya setelah ia justru mendengar pesan Ki Lurah dan Agung Sedayu. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai ketengahtengah bulak yang panjang itu. Ketika mereka sampai ke simpang ampat, maka kedua anak muda itu menjadi raguragu. Setelah termangu-mangu sejenak, maka keduanyapun telah berpaling kepada Glagah Putih. Glagah Putih merasa mulai diperlukan oleh kedua anak muda itu. Karena itu, maka iapun telah melangkah mendekat. “ He, kita akan pergi kemana?” bertanya Teja Prabawa. “ Silahkan Raden memilih.” jawab Glagah Putih, “ bukankah semuanya masih belum pernah Raden lihat.” “ Kaulah yang menentukan, mana yang lebih baik aku lihat lebih dahulu. Kau harus mempunyai rencana sebelum kita berangkat. Jika kau menyerahkan kepadaku, maka tidak perlu kau ikut bersama kami.” berkata Raden Teja Prabawa. Glagah Putih mengangguk-angguk kecil. Katanya, “ Baiklah. Aku akan menawarkan kepada Raden. Jika kita berjalan lurus, kita menuju ke bukit. Kita akan berjalan melalui beberapa padukuhan. Kemudian kita akan melewati padang perdu sebelum memasuki sebuah hutan yang lebat. Namun di hutan itu terdapat jalan yang menuju kekaki bukit, kemudian memanjat tebing dan mencapai padukuhan yang berada di dataran tinggi Bukit Menoreh. Jika kita berbelok ke kanan, maka kita akan sampai ke sebuah belumbang yang meskipun tidak terlalu besar, tetapi menjadi tempat pemandian yang menarik. Disebelahnya terdapat sebuah sungai yang tidak terlalu besar, tetapi cukup memberikan nafas kehidupan bagi persawahan di Tanah Perdikan ini. Sungai itu adalah kepanjangan sungai yang akan kita seberangi, jika kita berjalan terus menuju ke hutan. Sedangkan jika kita kesebelah kiri, maka kita akan menuju ke barak Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan ini, setelah melalui beberapa padukuhan dan sedikit menyusuri jalan didekat hutan.” Kedua cucu Ki Lurah itu termangu-mangu. Namun kemudian Rara Wulanpun bertanya, “ Kita pergi ke mana?” “ Nah, terserah kepada pilihan kalian. Aku akan mengantarkannya.” berkata Glagah Putih. “ Kau yang mengatakan kepadaku dengan alasan-alasan yang mapan atas pilihanmu itu. Buat apa kau ditunjuk oleh kakek untuk membawa kami berdua berjalan-jalan melihatlihat Tanah Perdikan ini?” berkata Teja Prabawa dengan nada keras. Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih juga menjawab, “ Tetapi mungkin kalian berdua ingin menentukan satu pilihan.” “ Cepat, katakan. Kemana kita sebaiknya pergi.” suara Teja Prabawa semakin keras. Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Baiklah. Kita akan berjalan terus.” “ Kau akan membawa kami ke hutan?” bertanya Rara Wulan. “ Ya.” jawab Glagah Putih. “ Kau akan menjerumuskan kami?” desak Rara Wulan. “ Tentu tidak. Bukankah di Kotaraja tidak ada hutan yang dapat dinikmati seperti di lereng bukit Menoreh? Sawah mungkin terdapat meskipun tidak seluas disini. Belumbang tentu pernah pula kau datangi meskipun mungkin buatan atau tempat mandi yang dibuat dari tatanan batu. Tetapi hutan tentu tidak pernah kau masuki.” Nampaknya kedua anak muda itu memang menaruh curiga kepada Glagah Putih. Beberapa saat keduanya saling berpandangan. Namun kemudian Teja Prabawa itu mengambil keputusan. “ Aku ingin melihat barak Pasukan Khusus itu.” Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian bertanya, “ Apakah kalian ingin melihat barak itu?” “ Ya. Aku ingin bertemu dengan para pemimpin dari barak itu.” jawab Teja Prabawa. “ Untuk apa?” bertanya Glagah Putih. “ Bukankah kakek pernah memimpin Pasukan Khusus itu?” desis Teja Prabawa. “ Tetapi pimpinan di barak itu sudah beberapa kali berganti. Sekarang, seorang perwira yang bernama Ki Sanggabaya yang bergelar Naga Geni.” desis Glagah Putih. “ Siapapun yang memimpin barak itu, tentu akan menerima kami. Kami tidak akan berbuat apa-apa selain datang untuk melihat-lihat.” bertanya Teja Prabawa. Glagah Putih akhirnya mengangguk-angguk. Katanya, “ Baiklah. Aku hanya akan mengantarkan kalian. Kalianlah yang harus berbicara kepada Ki Sanggabaya apa yang akan kalian lakukan di barak itu.” “ Aku yang akan berbicara dengan Senapati barak itu.” sahut Teja Prabawa. Demikianlah, maka mereka bertigapun telah mengambil jalan yang berbelok ke kiri. Glagah Putih memang telah menunjukkan letak barak dari Pasukan Khusus Mataram yang ada di Tanah Perdikan itu. Seperti yang dikatakan oleh Glagah Putih, maka mereka telah melewati beberapa pedukuhan dan bahkan kemudian mereka telah berjalan di jalan yang sempit dipinggir hutan. Meskipun masih terdapat beberapa puluh langkah padang perdu yang memisahkan jalanan itu dengan hutan lebat yang membujur searah dengan Bukit Menoreh, namun rasarasanya jalan itu bagaikan lekat dengan pohon-pohon dihutan itu. Ternyata bahwa kedua cucu Ki Lurah Branjangan itu merasa ngeri juga berjalan di jalan sempit di pinggir hutan itu. Setiap kali keduanya berpaling kepada Glagah Putih yang berjalan dibelakang mereka. Namun nampaknya Glagah Putih sama sekali tidak menghiraukan hutan yang agaknya masih menyimpan binatang-binatang yang buas. Ketika jalan itu justru semakin merapat dengan hutan itu, maka Teja Prabawa pun berkata kepada Glagah Putih, “ Jalanlah di depan. Kau tentu sudah mengenal arah. Daripada setiap kali aku bertanya kepadamu, maka sebaiknya kau memang berada di depan.” Glagah Putih itupun masih juga menjawab, “ Hanya ada satu arah jika kita mengikuti jalan ini, maka kita tidak akan tersesat.” Tetapi Teja Prabawa itu berkata tegas, “ Kau berjalan di depan.” Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak membantah lagi. Demikianlah mereka melanjutkan perjalanan. Glagah Putihlah yang kemudian berada di depan. Ia berjalan tanpa menghiraukan hutan yang ada disebelahnya. Bahkan ketika jalan itu seakan-akan telah menyentuh bibir hutan. Glagah Putih sama sekali tidak menunjukkan keragu-raguan. Teja Prabawa dan Rara Wulan menjadi semakin ngeri. Keduanya berjalan merapat terlalu cepat bagi Rara Wulan, sehingga karena itu gadis itupun berkata, “ He, kenapa kau berlari-lari?” Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Baru ia menyadari, bahwa seharusnya ia berjalan lebih lambat, karena ia berjalan bersama seorang gadis yang datang dari Kotaraja. Ketika seekor kera meloncat diatas dahan yang menyilang hampir mencapai batas tepi lorong itu, maka Rara Wulan menjerit kecil. Glagah Putih memang menghentikan langkahnya. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya Rara Wulan dengan wajah pucat memandang dahan-dahan pepohonan yang bergerak. “ Disini memang terdapat banyak kera.” berkata Glagah Putih. Lalu katanya, “ Namun selama masih banyak kera berkeliaran, maka lingkungan ini masih cukup aman.” “ Kenapa?” bertanya Teja Prabawa. “ Jika ada binatang buas yang berbahaya bagi mereka, maka mereka akan segera melarikan diri masuk kedalam lindungan dedauanan yang rapat ditengah-tengah hutan itu.” jawab Glagah Putih. “ Binatang buas apa saja?” bertanya Rara Wulan. “ Harimau misalnya.” jawab Glagah Putih. “ Jangan sebut.” potong Teja Prabawa. “ Kenapa?” bertanya Glagah Putih. “ Apapun alasannya, jangan kau sebut nama binatang itu.” geram Teja Prabawa. Tetapi Glagah Putih tertawa. Katanya, “ Ternyata kau masih juga percaya, bahwa kita tidak boleh menyebut jenis harimau di pinggir hutan seperti ini, tetapi dengan sebutan kakek atau Kiai?” “ Cukup.” geram Teja Prabawa. Glagah Putih masih saja tertawa. Katanya, “ Seharusnya kau jangan percaya. Aku adalah anak Tanah Perdikan ini. Aku sudah memahami sifat dan tabiat Tanah Perdikan ini termasuk hutan dan segala isinya. Termasuk berjenis-jenis binatang buas. Tetapi aku sama sekali tidak menganggap tabu untuk menyebut namanya karena nama itu memang diberikan untuk membedakan berjenis-jenis binatang yang ada.” Wajah Raden Teja Prabawa menjadi merah. Sementara itu, Glagah Putih yang mulai digelitik oleh sifat-sifatnya itu berkata lebih lanjut, “ Nah, karena itu, Raden tidak usah takut mendengar aku menyebut harimau loreng, harimau tutul atau harimau kumbang yang sering memanjat dipepohonan dengan kulitnya yang hitam lekam.” “ Cukup.” Raden Teja Prabawa itu justru berteriak, “ aku perintahkan kepadamu untuk menutup mulutmu.” Glagah Putih mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “ Baiklah Raden. Aku tidak akan menyebutnya lagi.” “ Jika kau sekali lagi menyebutnya, aku mau memukulmu. Aku tahu bahwa sebutan itu tidak akan menimbulkan persoalan apa-apa. Tetapi yang membuat aku marah adalah justru kau telah dengan sengaja melakukan apa yang telah aku larang.” berkata Raden Teja Prabawa. “ Jangan marah Raden.” berkata Glagah Putih, “ kita lebih baik tertawa daripada marah. Kata orang-orang tua, cepat marah akan dapat menimbulkan persoalan tersendiri didalam diri kita.” “ Tetapi kau telah membuat aku marah. Ternyata kau benar-benar memuakkan. Aku akan mengatakannya kepada kakek Lurah Branjangan, bahwa kau dengan sengaja telah melanggar apa yang tidak aku kehendaki.” berkata Teja Prabawa. “ Jika demikian, maka sebaiknya aku tidak menyertai Raden jika aku memang memuakkan.” berkata Glagah Putih. “ Kau akan kembali?” bertanya Teja Prabawa. “ Tidak. Aku akan memasuki hutan ini dan akan bercanda dengan binatang-binatang buas yang tidak pernah marah kepadaku.” jawab Glagah Putih. Wajah Teja Prabawa menjadi tegang. Namun kemudian ia masih mengancam, “ Kau tahu akibat dari perbuatanmu itu? Jika kakek tahu kau dengan sengaja mempermainkan aku, maka kau akan dapat dihukum gantung.” “ O, sangat mengerikan.” jawab Glagah Putih, “ baiklah. Aku tidak akan mempermainkan Raden, karena se-jak semula aku memang tidak berniat berbuat demikian.” “ Kau harus minta maaf kepadaku.” berkata Teja Prabawa, “ juga kepada adikku.” “ Baiklah. Aku minta maaf Raden.” lalu katanya kepada Rara Wulan, “ aku mohon maaf Rara.” “ Cepat, berjalanlah.” bentak Raden Teja Prabawa. Glagah Putihpun kemudian telah melangkah melanjutkan perjalanan menyusuri jalan dipinggir hutan itu. Namun ia masih juga sempat berkata, “ Raden, aku pernah berkawan dengan seorang anak muda yang barangkali sebaya dengan Raden. Tetapi ia sama sekali tidak pernah merasa takut menghadapi apapun juga. Justru mempunyai keberanian jauh melampaui keberanian anak-anak padukuhan di Tanah Perdikan ini, termasuk aku. Anak muda itu juga tinggal di Kotaraja.” “ Persetan.” geram Teja Prabawa. Tetapi tiba-tiba saja ia justru bertanya, “ Jadi kau kira aku tidak mempunyai keberanian seperti anak-anak padukuhan di Tanah Perdikan ini, he? Atau kau kira aku kalah dari anak-anak muda lain dari Kotaraja? Kawanmu tentu anak Kotaraja tetapi yang datang dari padesan. Jika ayahnya seorang pekerja atau seorang juru taman atau seorang pekatik yang mencari rumput bagi kuda seorang bangsawan, maka iapun tentu nampak lebih berani karena kekasarannya. Tetapi kau kira yang nampak kasar itu tentu lebih baik? Mungkin bagi mata orang-orang padukuhan seperti kau hal itu berlaku. Kau terlalu biasa melihat anakanak muda yang kasar dan tidak mengenal unggah-ungguh.” Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi iapun telah berjalan menuju ke barak Pasukan Khusus. Karena itu, ketika ia tersenyum, maka kedua anak muda yang diantarkannya itu tidak melihatnya. Dibelakang Glagah Putih, Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan berlari-lari kecil mengikutinya. Bahkan pada jarak tidak lebih dari selangkah. Suara angin yang bergaung di hutan itu memang membuat bulu tengkuk mereka meremang. Adalah diluar kehendak mereka sendiri ketika mereka membayangkan binatang-binatang buas yang berkeliaran di tengah-tengah hutan itu. Namun beberapa saat kemudian, jalanpun menjadi semakin jauh dari hutan itu. Padang perdu yang membentang diantara jalan yang mereka lalui dengan hutan itupun menjadi semakin luas. Bahkan sejenak kemudian, jalan itupun telah memasuki bulak-bulak persawahan. Ketika Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan melihat seorang petani bekerja disawahnya, maka merekapun telah menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika mereka melihat seorang yang lain dan yang lain lagi. Rasa-rasanya mereka telah berada kembali di lingkungan kehidupan manusia setelah untuk beberapa saat lamanya mereka berada didunia binatang-binatang buas. Tetapi mereka mulai berpikir, bahwa jika mereka kembali kepadukuhan induk, maka mereka akan berjalan melalui jalan itu lagi. “ Tentu ada jalan lain.” berkata Raden Teja Prabawa didalam hatinya, “ meskipun mungkin agak jauh.” Namun Raden Teja Prabawa itu tidak dapat memikirkannya lebih panjang. Ketika mereka mulai memasuki padukuhan, maka Rara Wulanpun mulai memperkatakan kebiasaan orangorang padukuhan itu. “ Padukuhan ini nampak bersih kakang.” desis Rara Wulan. Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Namun iapun mengakui bahwa padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan itu pada umumnya nampak bersih meskipun padukuhanpadukuhan itu dihuni bukan oleh orang-orang kaya. Rumahrumah yang tidak terlalu besar yang nampak terawat. Halaman yang bersih dan regol yang rapi. Tetapi ketika mereka sekali lagi memasuki bulak yang agak panjang, maka Rara Wulan mulai mengeluh. Katanya, “ Aku lelah kakang.” Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian bertanya kepada Glagah Putih, “ He, apakah perjalanan kita masih jauh?” “ Tidak.” jawab Glagah Putih, “ kita akan memasuki padukuhan diseberang bulak pendek ini. Kemudian diantarar oleh sebuah bulak pendek lagi, maka kita akan sampai ke satu lingkungan yang dipisahkan oleh padang rumput yang tidak terlalu luas. Kemudian pagar kayu yang berjajar rapat mengelilingi satu tempat yang dari jauh nampak seperti pategalan yang agak luas. Nah dilingkungan pagar kayu yang rapat setinggi dua orang berdiri bersusun itulah barak pasukan khusus Mataram.” Teja Prabawa tidak menjawab. Tetapi Rara Wulanlah yang sekali lagi mengeluh, “ Aku sudah lelah.” “ Apakah kita akan beristirahat sebentar?” bertanya Teja Prabawa kepada adiknya. Rara Wulan mengangguk. Sehingga karena itu, maka Teja Prabawapun berkata kepada Glagah Putih, “ Kita berhenti sebentar disini. Adikku sudah merasa lelah.” Glagah Putih memang berhenti. Tetapi katanya, “ Jarak yang akan kita tempuh tinggal beberapa puluh tonggak lagi. Kenapa kita harus berhenti?” “ Jangan bertanya lagi. Kau tentu sudah mendengar katakataku tadi.” bentak Teja Prabawa. Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Sesaat kemudian, maka kedua orang kakak beradik itupun telah mencari tempat untuk duduk. Mereka tidak mau duduk begitu saja diatas rerumputan dipinggir jalan. Namun agaknya mereka telah menemukan sebongkah batu yang besar yang terletak dipinggir jalan itu, sehingga merekapun kemudian duduk diatas batu itu. Glagah Putih sendiri tidak ingin duduk. Tetapi ia tetap berdiri saja bersandar sebatang pohon turi yang tidak terlalu besar. Ketika kemudian dua orang anak muda lewat sambil memanggul cangkul tanpa mengenakan baju, sementara kakinya penuh dengan lumpur, Glagah Putih sempat menyapa mereka. “ Masih sepagi ini kalian telah selesai bekerja di sawah?” bertanya Glagah Putih. “ Tinggal sisa kerja kemarin.” jawab salah seorang diantara mereka. Namun anak muda itupun bertanya, “ Apa kerjamu disini?” “ Mengantar kedu cucu Ki Lurah Branjangan yang ingin pergi ke barak.” jawab Glagah Putih. Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Tetapi ketika keduanya memandang kedua cucu Ki Lurah, maka kedua cucu Ki Lurah itu sama sekali tidak memandang mereka. Ketika mereka kemudian berpaling lagi kepada Glagah Putih, maka Glagah Putih hanya dapat mengangkat bahunya. Kedua anak muda yang kotor oleh lumpur itu tersenyum. Hampir berbareng mereka berkata, “ Sudahlah Glagah Putih.” “ Silahkan.” jawab Glagah Putih, “ apakah kalian akan singgah disungai?” “ Ya. Kami akan mandi dahulu.” jawab seorang diantara mereka. “ Bagaimana dengan pliridanmu?” bertanya Glagah Putih kemudian. Anak muda itu tertawa. Katanya, “ Aku sudah tidak telaten lagi. Belumbangku dipinggir kali dihalaman kakek itu sudah mulai panen.” “ Beruntung kau mempunyai tanah di pinggir kali, sehingga kau dapat membuat belumbang yang setiap kali tinggal memungut ikannya.” sahut Glagah Putih. Kedua anak muda itu tertawa. Namun merekapun segera meninggalkan tempat itu. Ketika mereka sekali berpaling kepada kedua cucu Ki Lurah Branjangan itu, maka Teja Prabawa sedang memandang mereka pula. Namun cepatcepat ia telah melemparkan pandangan matanya kekejauhan. Glagah Putih hanya tersenyum saja melihat tingkah laku kedua orang anak muda dari Kotaraja yang masih menganggap dirinya orang berderajad tinggi, sementara Glagah Putih yang pernah mengenal dengan akrab Raden Rangga, dapat membedakan sifat anak-anak muda dari Kotaraja itu. “ Bahkan Ki Lurah Branjangan sendiri sama sekali tidak lagi memiliki sifat-sifat tinggi hati seperti kedua cucunya itu.” berkata Glagah Putih didalam hatinya. Lalu katanya pula kepada diri sendiri, “ Mungkin karena anak Ki Lurah Branjangan adalah ibu anak-anak muda itu. Sementara anakanak muda itu telah memiliki sifat ayahnya.” Tiba-tiba saja Glagah Putih ingin mengetahui, siapakah ayah dari kedua orang anak muda itu. Agaknya baik Agung Sedayu maupun Ki Gede masih belum bertanya tentang ayah kedua anak muda yang tinggi hati dan tidak dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya itu. Tetapi Glagah Putih segera menanyakannya langsung kepada kedua anak muda itu. Glagah Putih menyadari, bahwa jika ia bertanya kepadanya, hanya akan menimbulkan kejengkelan saja. Glagah Putih mengerutkan dahinya ketika didengarnya Teja Prabawa itu berbicara kepada adiknya, “ Nah, kau lihat Wulan. Anak-anak padesan itu hidupnya selalu dilumuri oleh lumpur di sawah.” Rara Wulan mengangguk-angguk. Jawabnya, “ Tetapi nampaknya mereka tidak merasa dirinya kotor.” “ Tentu tidak.” tiba-tiba saja Glagah Putih menyahut, “ seandainya mereka memang kotor, yang kotor hanyalah kulitnya saja. Wadagnya saja.” Teja Prabawa memandang Glagah Putih dengan tajamnya. Kemudian dengan nada tinggi ia bertanya, “ Apa yang kau maksud?” “ Raden.” jawab Glagah Putih, “ kami, anak-anak muda Tanah Perdikan ini memang harus bekerja sebagaimana mereka lakukan. Akupun pada saat-saat tertentu harus turun kesawah, membajak, meratakan dengan garu dan kerja-kerja berat lainnya untuk menyiapkan lahan sehingga perempuanperempuan pada saatnya turun untuk memanen padi. Jika padi sudah mulai tumbuh maka kamipun pada saat-saat tertentu harus turun pula untuk menyiangi. Kerja itu memang membuat tubuh kami kotor. Tetapi hanya tubuh kamilah yang dikotori oleh lumpur sawah. Sedangkan jiwa kami anak-anak padesan, aku kira sama saja dengan anak-anak muda dimana-mana. Jiwa kami dapat kotor, tetapi juga mungkin bersih.” “ Kau ingin mengatakan bahwa jiwa anak-anak padesan lebih bersih dari jiwa anak-anak Kotaraja?” tiba-tiba saja Raden Teja Prabawa membentak. Glagah Putih menggeleng. Jawabnya, “ Bukankah sudah aku katakan, bahwa jiwa kami anak padesan sama saja dengan jiwa anak dimanapun mereka tinggal. Dapat bersih dan dapat juga kotor. Masalahnya adalah masalah yang sangat pribadi. Tetapi jangan dikira bahwa lingkungan dan pergaulan tidak akan mempengaruhi warna jiwa kita.” Tiba-tiba saja Teja Prabawa itu bangkit berdiri. Selangkah ia maju sambil berkata, “ Kau mencoba menggurui aku he?” Glagah Putih justru tertawa. Katanya, “ Tidak Raden. Tentu aku tidak akan dapat menggurui Raden. Jika aku mengucapkannya, rasa-rasanya aku memang sedang menghafal nasehat-nasehat yang pernah diberikan oleh Ki Gede kepada kami. Karena itu apa yang aku katakan lebih banyak aku tujukan kepada diriku sendiri.” Raden Teja Prabawa menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Tetapi kepada adiknya ia berkata, “ Apakah kau masih lelah? Jika tidak akan berjalan lagi. Bukankah jaraknya sudah tidak begitu jauh.” Rara Wulan mengangguk. Iapun kemudian bangkit berdiri, mengibaskan kainnya dengan tangannya. Jawabnya, “ Marilah. Aku sudah tidak letih lagi.” Ketiga anak muda itupun kemudian telah melanjutkan perjalanan mereka menyusuri bulak yang tidak begitu panjang. Ketika mereka memasuki sebuah padukuhan lagi, maka mereka melihat seperti padukuhan-padukuhan yang pernah mereka lewati padukuhan itupun nampak bersih. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka, dengan ramahnya menyapa Glagah Putih. Namun kedua orang cucu Ki Lurah itu tidak pernah menghiraukan mereka. Tetapi orang-orang padukuhan itu mengerti, bahwa kedua orang itu tentu anakanak muda dari Kota Raja menilik pakaian yang mereka kenakan. Karena itu, maka mereka sama sekali tidak merasa berkecil hati melihat sikap mereka berdua. Sejenak kemudian, maka mereka bertiga telah keluar dari pintu gerbang padukuhan itu dan sekali lagi memasuki bulak yang tidak begitu panjang. Dari kejauhan mereka sudah melihat satu lingkungan yang terpisah, yang dari kejauhan nampak seperti pategalan dengan pepohonan yang lebih jarang dari sebuah padukuhan. Bahkan ketika mereka sudah berjalan memasuki bulak pendek itu, mereka telah melihat dinding kayu yang diatur rapat. Balok-balok yang tidak begitu besar berjajar dan diikat dengan tali ijuk yang kuat. Dibeberapa bagian, terutama didekat pintu gerbang utama dan pintu-pintu gerbang butulan, dindingnya dibuat dari batu bata yang besar-besar. Namun setiap saat, bangunan barak Pasukan Khusus itu masih saja mengalami perbaikanperbaikan meskipun perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai ke sebuah lapangan rumput yang cukup luas. Dibelakang lapangan rumput itulah terletak pintu gerbang utama barak Pasukan Khusus itu, sehingga lapangan rumput itu seakan-akan merupakan halaman depan yang luas dari barak itu. Namun dibelakang barak itu, meskipun juga diantarai oleh lapangan rumput, terdapat hutan yang tidak terlalu lebat yang memanjat pebukitan dan gumuk-gumuk kecil. Namun semakin tinggi hutan itu memanjat pebukitan, maka hutan itupun menjadi semakin lebat pula. Glagah Putih yang mengantarkan cucu Ki Lurah itu telah membawa kedua anak muda itu menuju ke pintu gerbang utama. Dua orang prajurit yang bertugas berdiri disebelah menyebelah pintu gerbang itu dengan tombak ditangan. Ketika ketiga anak muda itu mendekati pintu gerbang, maka seorang diantara kedua prajurit yang bertugas itu telah menyapa “ Glagah Putih. Kau mau kemana? “ Glagah Putih tersenyum. Ia sudah mengenal prajurit dari Pasukan Khusus itu. Kecuali dalam tugas-tugas tertentu di Tanah Perdikan itu mereka sering bertemu, anak muda yang bertugas itu adalah anak muda yang berasal dari Tanah Perdikan Menoreh yang tergabung didalam Pasukan Khusus itu. “ Aku mengantarkan kedua cucu Ki Lurah Branjangan “ jawab Glagah Putih. “ Cucu Ki Lurah Branjangan? “ bertanya prajurit itu. “ Ya. “ jawab Glagah Putih “ mereka ingin bertemu dengan Senapati yang baru itu. “ “ Untuk apa? Apakah mereka mendapat pesan dari Ki Lurah? “ bertanya prajurit itu. “ Bertanyalah sendiri kepada mereka “ jawab Glagah Putih. Prajurit itu memandang Teja Prabawa dan Rara Wulan berganti-ganti. Namun kemudian iapun bertanya “ Apakah keperluan kalian bertemu dengan Senapati? “ Raden Teja Prabawa memang agak menjadi bingung untuk menjawab. Ia memang tidak mempunyai keperluan khusus dengan pimpinan Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan itu. Tetapi ia sudah berdiri di muka barak itu, sementara prajurit yang bertugas di pintu gerbang itupun telah bertanya pula kepadanya. Karena itu, maka iapun telah menjawab asal saja “ Aku hanya ingin bertemu. “ Prajurit yang bertugas itu termangu-mangu. Dengan nada heran ia bertanya pula “ Hanya karena ingin bertemu begitu saja? Biasanya Senapati tentu menanyakan, apakah kepentingan seseorang yang akan menemuinya. Pada harihari terakhir, Senapati nampak sangat sibuk. Bukan hanya mengenai latihan-latihan dan penempaan pasukan, tetapi hubungan dengan Mataram pun berjalan lebih sering dari biasanya. “ Teja Prabawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “ Aku adalah cucu Ki Lurah Branjangan. Bukankah kakek pernah berada di barak ini? Aku hanya sekedar ingin melihat-lihat saja. “ Prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian seorang perwira muda yang kebetulan mendengar pembicaraan itupun berkata “ Jadi keduanya adalah cucu Ki Lurah Branjangan? “ “ Ya “ jawab prajurit yang bertugas. “ Baiklah. Biar aku yang menyampaikan kepada Senapati. Tetapi aku tidak tahu, apakah mereka berdua akan dapat diterima atau tidak “ berkata perwira muda itu. Ketika ia melangkah meninggalkan pintu gerbang menuju ke barak khusus yang dipergunakan oleh Senapati yang lebih senang disebut Nagageni itu bekerja, seorang perwira muda yang lain, yang kebetulan adalah adik Nagageni, menyusulnya. “ Siapa mereka he? “ bertanya adik Nagageni itu. “ Cucu Ki Lurah Branjangan “ jawab perwira muda itu. “ Ki Lurah Branjangan yang menurut pendengaranku pernah memimpin Pasukan Khusus ini? “ bertanya adik Senapati Nagageni itu pula. “ Ya. Bukan sekedar memimpin. Tetapi Ki Lurah Branjangan adalah seorang prajurit yang telah menyusun dan membentuk pasukan khusus ini pada saat-saat Mataram bangkit “ jawab perwira muda itu. “ Siapa gadis itu? “ bertanya adik Senapati. “ Sudah aku katakan, cucu Ki Lurah “ jawab perwira muda itu. “ Kau kenal gadis itu? “ bertanya adik Nagageni. Perwira muda itu menggeleng. Katanya “ Aku baru melihat mereka diregol. “ “ Nampaknya kau mulai tertarik. Ternyata kau dengan serta merta bersedia menyampaikan kedatangannya kepada kakang Senapati “ berkata adik Nagageni itu. Perwira muda itu justru terhenti. Dipandanginya adik Nagageni itu dengan tajamnya. Dengan suara berat ia menyahut “ Kau kira aku laki-laki seperti kau yang langsung tertarik kepada seorang gadis begitu melihatnya? “ Perwira muda adik Nagageni itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berdesis “ Tetapi gadis itu sangat cantik. “ “ Jika demikian, kau sajalah yang menghadap Senapati Nagageni. Katakan kepada kakakmu itu, bahwa cucu Ki Lurah Branjangan ingin bertemu. Mereka tidak mempunyai keperluan khusus selain sekedar ingin melihat-lihat. Nah, terserah kepadamu. Mudah-mudahan kau mendapat tugas dari kakakmu untuk mengantar keduanya berjalan-jalan di barak ini “ berkata perwira muda itu. Adik Nagageni berpikir sejenak. Namun tiba-tiba saja ia bertanya “ Dimana keduanya sekarang? “ “ Bukankah kau tahu bahwa keduanya masih berada diregol? “ jawab perwira muda itu. Adik Nagageni mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah. Biarlah aku yang menyampaikannya kepada kakang Senapati. “ Dengan demikian, maka adik Nagageni itulah yang menemui kakaknya di ruangan khususnya. Dengan singkat ia menyatakan bahwa kedua cucu Ki Lurah Branjangan ingin menghadap. “ Apakah ia membawa pesan dari Ki Lurah? “ bertanya Nagageni. “ Menurut keterangannya tidak. Mereka hanya ingin melihat-lihat. Mungkin karena mereka mengetahui bahwa kakeknyapun pernah berada di barak ini. “

“ Yang pernah berada di barak ini adalah Ki Lurah Branjangan. Bukan cucunya. Untuk apa mereka ingin melihatlihat? “ bertanya kakaknya. “ Aku tidak tahu. Mungkin mereka pernah mendengar ceritera tentang kakeknya yang telah berhasil menyusun Pasukan Khusus Mataram disini “ jawab adiknya. “ Omong kosong “ geram Senapati itu “ apa yang pernah dihasilkan oleh Ki Lurah Branjangan? Setiap orang dapat saja mengumpulkan anak-anak muda, memberi makan dan pakaian, menyediakan tempat untuk tidur dan memberikan uang gaji mereka setiap bulan. Tetapi kemampuan pasukan itu ternyata tidak berarti sama sekali. Bahkan pemimpinpemimpin sesudahnyapun tidak berhasil membentuk pasukan ini sesuai dengan namanya. Pasukan Khusus. Baru sekarang, kita mulai membentuk pasukan ini dengan bersungguhsungguh. “ “ Apapun yang mereka katakan, tetapi apa salahnya jika berada sekedar melihat-lihat barak ini? “ bertanya adiknya. “ Kita harus mencurigai setiap orang sekarang ini “ jawab Senapati itu “ karena itu, kita harus yakin, bahwa keduanya tidak berbahaya bagi kita. “ “ Aku dapat menanggung bahwa keduanya tidak berbahaya. Keduanya masih sangat muda. Seorang diantaranya adalah seorang gadis, yang cantik “ berkata adiknya. Senapati Pasukan Khusus itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “ Aku mengerti sekarang. Kau tentu menganggap bahwa gadis itu cantik sekali, sehingga kau tertarik kepadanya. “ Perwira muda itu tertawa. “ Sebenarnya aku ingin menasehatimu. Jangan terlalu mudah tertarik kepada wajah yang cantik. Kau dapat terjerat kedalam kesulitan “ berkata Nagageni. “ Kali ini aku tidak akan berbuat seperti yang pernah aku lakukan sebelumnya kakang. Apalagi jika gadis itu cucu Ki Lurah Branjangan. Aku memang tertarik kepada gadis itu. Tetapi aku akan memperlakukannya dengan baik. Siapa tahu, bahwa gadis itu akan dapat menjadi pasangan hidupku kelak “ berkata perwira itu. Nagageni termangu-mangu sejenak. Meskipun demikian, ia ingin melihat kedua anak muda itu dan berbicara dengan mereka. Apakah benar-benar mereka tidak berbahaya bagi barak Pasukan Khusus itu. Atau bahkan kedua cucu Ki Lurah itu membawa tugas khusus yang bersifat rahasia dari Ki Lurah itu sendiri. Karena itu, maka Nagageni itu pun berkata “ Bawalah kedua anak itu kemari. Aku ingin melihat mereka. “ “ Baik kakang “ jawab perwira muda itu.

Dengan tergesa-gesa perwira muda itupun telah pergi ke regol. Didapatinya kedua orang yang disebut cucu Ki Lurah itu masih ada diregol. Tetapi ternyata bahwa mereka datang bertiga. Ketiga perwira itu berdiri digerbang barak itu, maka iapun telah bertanya “ Siapakah diantara kalian cucu Ki Lurah Branjangan? “ Teja Prabawa dan Rara Wulan menjawab hampir bersama “ Aku. “ Perwira muda itu mengangguk-angguk. Lalu iapun bertanya pula “ Siapakah yang seorang itu? “ “ Glagah Putih “ jawab Teja Prabawa “ anak Tanah Perdikan ini yang diperintahkan oleh Ki Gede mengikuti aku kemari. “ Glagah Putih mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak berkata apapun juga. Sementara itu perwira muda itupun berkata “ Perintah Senapati, hanya cucu Ki Lurah saja yang diperkenankan memasuki barak ini. “ Glagah Putih memang tersinggung mendengar keterangan perwira muda itu. Apalagi ketika Teja Prabawa berkata “ Jika demikian, biarlah anak itu menunggu aku diluar dinding barak. “ “ Marilah. Silahkan menghadap “ perwira itu mempersilahkan. Teja Prabawapun kemudian telah membimbing adiknya melangkah masuk.

Sementara itu ia berpaling kepada Glagah Putih sambil berkata “ Kau tunggu disini. Sebelum aku keluar, kau tidak boleh pergi. “ Terasa telinga Glagah Putih menjadi panas. Memang sulit untuk memenuhi pesan Agung Sedayu. Bahkan Glagah Putih itu telah bergeremang didalam hatinya “ Mungkin kakang Agung Sedayu dapat melakukannya. Tetapi aku merasa sangat berkeberatan mendapat perlakuan seperti ini. “ Karena Glagah Putih tidak segera menjawab, maka Teja Prabawa telah membentak “ Kau dengar perintahku he? - Dengan susah payah Glagah Putih menahan gejolak didalam dadanya. Dengan suara bergetar ia menjawab “ Baiklah Raden. “ Teja Prabawa memandanginya sejenak. Namun kemudian bersama adik perempuannya ia memasuki pintu gerbang barak Pasukan Khusus, mengikuti perwira muda yang akan membawa mereka menghadap pimpinan barak itu.

Perwira muda yang lain, yang mula-mula akan melaporkan kehadiran kedua cucu Ki Lurah itu memandang dari kejauhan. Ia sempat tersenyum sendiri melihat tingkah laku adik Senapati yang memimpin Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan itu. Demikianlah, maka kedua cucu Ki Lurah telah dibawa menghadap Senapati yang memimpin barak Pasukan Khusus itu. Setelah berbicara beberapa patah kata, serta beberapa pertanyaan Senapati itu sudah dijawab, maka Senapati yang mempunyai pengenalan yang tajam itupun segera mengetahui bahwa kedua orang itu memang tidak berbahaya sama sekali. Bahkan ada kesan bahwa keduanya adalah anak-anak muda yang manja, yang tidak banyak mengetahui lingkungan diluar dinding rumahnya. Namun akhirnya Senapati itu bertanya “ Maaf anak-anak muda, yang kalian katakan selalu kakek kalian, Ki Lurah Branjangan. Bolehkah aku mengetahui, siapakah ayah kalian? “

 “ Ayahku adalah seorang pejabat di istana Panembahan Senapati. Sedang kakekku, ayah dari ayahku adalah seorang Tumenggung “ jawab Teja Prabawa. “ O, jadi kakekmu yang satu lagi dari aliran darah ayahmu adalah seorang Tumenggung? “ bertanya Senapati itu. “ Satu jabatan yang tinggi “ berkata Senapati itu selanjutnya. “ Ya. “ Jawab Teja Prabawa “ Tumenggung memang kedudukan yang tinggi. Tetapi kakekku dari jalur ibuku, meskipun hanya berpangkat Lurah, tetapi kakek agak lebih dekat dengan Panembahan Senapati itu sendiri daripada orang lain yang meskipun telah tinggi pangkatnya. “ “ Ya, aku tahu. Disaat-saat Mataram bangkit berdiri, kakekmu itu telah ikut bekerja keras membuka Alas Man-taok. Itulah sebabnya kakekmu merupakan orang yang sangat dekat dengan Panembahan Senapati itu sendiri.

Demikian pula saat-saat Pasukan Khusus ini dibentuk “ berkata Senapati itu pula. Raden Teja Prabawa mengangguk-angguk. Ia ikut berbangga, bahwa Senapati itu mengakui peranan kakeknya pada Pasukan Khusus di barak itu. Dalam pada itu, maka Senapati itupun kemudian telah memerintahkan kepada perwira muda yang kebetulan adalah adiknya itu “ Bawalah keduanya melihat-lihat. Hati-hati, jangan memasuki tempat-tempat yang memang dianggap rahasia. “ “ Baik Senapati “ jawab perwira muda itu, yang kemudian berkata kepada Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan “ Marilah. Kita berjalan-jalan. “ Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan merasa senang bahwa mereka mendapat sambutan yang ramah dari pimpinan barak Pasukan Khusus itu. Sehingga didalam hati Raden Teja Prabawa dan adiknya itu berkata “ Kalau saja anak Tanah Perdikan itu melihat sambutan dari para pemimpin barak itu, maka ia tidak akan dapat menyombongkan diri lagi. “ Demikianlah, maka merekapun kemudian telah menelusuri lorong-lorong yang terdapat di barak Pasukan Khusus itu. Mereka melihat-lihat barak-barak yang dibangun diantara halaman yang ditumbuhi pepohonan yang hijau. Kemudian beberapa sanggar khusus yang dipergunakan untuk latihanlatihan berat. Sementara itu, di bagian tengah dan belakang dari barak itu terdapat lapangan rumput yang meskipun tidak terlalu luas, namun mencukupi untuk mengadakan latihan  latihan dalam kelompok-kelompok dengan berbagai macam peralatan. Sementara itu, diluar barak, Glagah Putih dengan jantung yang berdegupan semakin keras justru karena itu menahan diri. Jika ia tidak mengingat pesan kakak sepupunya, maka rasa-rasanya ia tidak akan menyiksa diri menunggu didepan barak itu. Padahal Ki Lurah Branjangan sendiri telah berpesan, agar suatu saat jika perlu ia dapat berbuat sesuatu untuk sedikit memberikan pengalaman bagi kedua cucunya itu. Dalam pada itu, prajurit yang bertugas, yang kebetulan telah mengenalnya itu telah bertanya kepadanya “ Kenapa kau hanya menunggu diluar? Sikapnya tidak menyenangkan meskipun keduanya adalah cucu Ki Lurah Branjangan. “ Agaknya Ki Lurah juga tidak menyukai sikapnya itu. Itulah sebabnya ia telah membawa kedua cucunya itu kemari, agar mereka mendapatkan satu pengalaman baru dalam hidupnya “ berkata Glagah Putih. “ Bawa saja mereka masuk ke dalam hutan “ berkata prajurit itu “ bawalah mereka ke tempat yang banyak terdapat binatang buasnya, biar mereka tahu, siapa sebenarnya mereka itu. “ Rasa-rasanya akupun ingin berbuat demikian “ jawab Glagah Putih “ tetapi kakang Agung Sedayu terlalu sabar. Ia berpesan kepadaku, agar aku tetap berlaku baik sebagai tuan rumah. “ Prajurit itu tertawa. Katanya “ Agung Sedayu memang orang aneh. Tetapi siapa yang dapat berlaku sebagaimana kakak sepupumu itu? “ Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan menahan gejolak didalam dirinya, Glagah Putih itupun kemudian menjatuhkan dirinya dan duduk bersandar dinding dekat kawannya yang bertugas. “ He, jangan duduk disitu “ berkata kawannya yang bertugas “ kau akan diusir. Duduklah agak kesana. Jangan terlalu dekat dengan dinding. “ Kau akan mengusir aku? “ bertanya Glagah Putih. “ Bukan aku, tetapi kawanku ini “ jawab prajurit itu sambil berpaling kepada kawannya yang berdiri di sisi lain dari pintu gerbang itu. Tetapi kawannya itupun hanya tersenyum saja tanpa menjawabnya. Glagah Putih yang sudah terlanjur duduk itu tidak segera bangkit. Tetapi ia menjawab “ Aku mempunyai tugas untuk menunggu kedua cucu Ki Lurah Branjangan. “ Kawannyapun kemudian hanya tertawa saja. Sedangkan Glagah Putih tidak lagi menghiraukan apa saja. Bahkan iapun telah memejamkan matanya, seolah-olah ia akan tidur sambil bersandar dinding. Dalam pada itu, Raden Teja Prabawa telah berjalan-jalan mengelilingi barak Pasukan Khusus itu bersama adiknya, diantar oleh seorang perwira muda yang dengan sangat ramah, bahkan agak berlebih-lebihan telah menerangkan berbagai macam bangunan yang ada dibarak itu. Merekapun telah memasuki lapangan berlatih bagi Pasukan Khusus itu, dan bahkan sanggar-sanggar yang dipergunakan untuk melakukan latihan-latihan yang berat.

Ternyata bahwa perwira muda itu, bukan saja ingin menunjukkan berbagai macam kelengkapan yang ada di barak itu sebagai alasan untuk dapat berjalan-jalan lebih lama dengan Rara Wulan, namun iapun telah berusaha untuk menunjukkan kelebihannya dalam olah kanuragan. Karena itu, maka ketika mereka berada disanggar yang cukup besar yang terdapat disalah satu sudut halaman barak itu, perwira itu berkata “ Marilah. Kita dapat mempergunakan segala peralatan ini untuk bermain-main. Aku kira kita juga mendapat kesempatan untuk melakukannya “ lalu iapun bertanya kepada Raden Teja Prabawa “ Marilah. Sekali-sekali kita berlatih bersama? “ Keringat dingin telah membasahi punggung Teja Prabawa. Ia bukan seorang yang memiliki ilmu yang cukup baik. Meskipun ia juga berlatih olah kanuragan, namun melihat peralatan yang ada di barak itu, ia menjadi gelisah, bahwa ilmu yang dimilikinya itu tidak berarti sama sekali dihadapan seorang perwira muda Pasukan Khusus yang terkenal itu. Seandainya yang ada di barak itu adalah Glagah Putih, maka ia akan dengan bangga menunjukkan kemampuannya. Karena Teja Prabawa tidak segera menyahut, maka perwira muda itu mendesaknya “ Marilah. Kita hanya sekedar bermain-main. “ Tetapi Raden Teja Prabawa itu menggeleng. Katanya “ Aku masih terlalu letih. Silahkan, barangkali aku perlu melihat tingkat kemampuan para perwira di barak ini. “ Perwira muda itu termangu-mangu sejenak. Namun keinginannya untuk menunjukkan kemampuannya tidak dapat ditahankannya. Karena itu, maka iapun kemudian berkata “ Baiklah. Aku akan bermain-main sendiri. Tetapi kalian jangan mentertawakannya. Ilmuku masih terlalu dangkal. “ “ Jangan terlalu merendah “ berkata Raden Teja Prabawa.

Perwira itupun kemudian telah bersiap. Iapun mengangguk kepada kedua cucu Ki Lurah itu berganti-ganti. Kemudian ia mulai membuka langkah sambil menggerakkan tangannya perlahan-lahan mengembang dan terangkat semakin tinggi, sehingga kemudian kedua telapak tangan-nyapun telah terkatup sambil bergerak turun perlahan-lahan. Dimuka dadanya kedua tangan itu telah terurai lagi. Satu tangan kemudian telah mengepal, sementara tangan yang lain tetap terbuka dengan jari-jari yang merapat. Kemudian dengan satu hentakkan, tangan yang mengepal itu memukul kedepan, sementara sebelah kakinya telah melangkah setengah langkah sambil menekuk lututnya, sedangkan tangannya yang lain ditariknya disamping lambungnya. Baru kemudian, perwira itu mulai dengan melepaskan beberapa unsur gerak dari ilmunya. Semakin lama semakin cepat, sehingga akhirnya, perwira itu tidak lagi nampak ujudnya dimata kedua cucu Ki Lurah. Perwira muda itu telah berubah bagaikan bayangan yang berterbangan, bahkan seolah-olah tidak lagi menjejak tanah. Sekali bahkan perwira muda itu telah melenting dan hinggap pada patok-patok yang dibuat dari batang pohon kelapa yang utuh dengan tinggi yang tidak sama.

 Kaki perwira itu seolah-olah mampu melekat pada tempat yang disentuhnya. Raden Teja Prabawa memang menjadi sangat heran melihat kemampuan perwira muda itu. Untunglah bahwa ia tidak bersedia untuk mengadakan latihan bersama, karena ilmu mereka memang tidak seimbang. Rara Wulan yang serba sedikit juga mempelajari ilmu kanuragan benar-benar telah dicengkam oleh keheranan melihat ketangkasan perwira muda itu. Rasa-rasanya ia memang belum pernah melihat kemampuan seseorang yang demikian tinggi. Ia pernah mendengar betapa kakeknya, Ki Lurah Branjangan memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi kedua cucunya itu belum pernah mendapat kesempatan untuk melihatnya.

 Karena itu, maka anak muda itu menyaksikan unsur-unsur gerak perwira muda itu dengan mata yang bagaikan tidak berkedip. Beberapa saat kemudian, gerak itupun semakin susut pula. Perwira muda itu telah meloncat dari patok-patok batang kelapa dan bergerak dengan tangkasnya dilantai sanggar. Namun kemudian, ia telah sampai pada akhir permainannya. Perwira muda itu telah berdiri tegak. Tangannya mulai bergerak perlahan-lahan. Terangkat dan kemudian mengatup didepan dadanya kemudian perlahan-lahan turun dan dengan lemah tergantung disisi tubuhnya seakan-akan kedua tangannya itu telah terlepas dari penguasaannya.

Ketika perwira muda itu kemudian mengangguk hormat, maka kedua cucu Ki Lurah itu telah bertepuk tangan. Mereka benar-benar merasa kagum melihat ilmu kanuragan yang sangat tinggi dari perwira muda itu. “ Luar biasa “ desis Rara Wulan diluar sadarnya. Perwira muda itu mengangguk hormat sambil berkata “ Memang tidak begitu berarti. “ Tetapi Teja Prabawa menyahut “ Aku belum pernah menyaksikan tingkat ilmu setinggi itu. “ “ Tentu ilmu kanuraganmu jauh lebih tinggi dari ilmuku itu “ sahut perwira muda itu. Raden Teja Prabawa memang ragu-ragu untuk mengaku. Tetapi Rara Wulanlah yang menjawab “ memang, ilmunya tidak setinggi ilmu Ki Sanak. “ “ Ah, kau terlalu merendahkan diri “ jawab perwira muda itu. “ Tidak “ jawab Teja Prabawa. Ia tidak dapat berbuat lain kecuali mengucapkan pengakuan “ Untung aku tidak bersedia berlatih bersamamu. Jika demikian, maka kau akan mengetahui betapa rendahnya ilmu kanuraganku. “ “ Jangan memuji. Ilmuku belum seberapa dibanding dengan ilmu Senapati yang sekarang memimpin Pasukan Khusus ini. “ berkata perwira itu. “ Aku percaya. Inilah gambaran dari pasukan yang ada di tanah Perdikan Menoreh ini, yang dahulu pernah dibentuk oleh kakek Lurah Branjangan. “ berkata Teja Prabawa. Perwira muda itu mengerutkan keningnya. Katanya kemudian “ Tetapi tingkat kemampuan Pasukan Khusus ini tidak dengan serta merta berada pada tataran sekarang. Setingkat demi setingkat, Pasukan ini telah ditempa sehingga akhirnya Senapati yang sekarang itulah yang telah berhasil meningkatkan kemampuan Pasukan Khusus ini sehingga benar-benar mencapai tataran yang diinginkan.

Kedua cucu Ki Lurah itu hanya mengangguk-angguk saja. Mereka tidak merasa tersinggung karena kakeknya yang dianggap tidak berhasil melakukan tugasnya dengan sempurna, karena kedua cucu Ki Lurah itu memang tidak dapat menggapai penalaran sampai sekian jauh. Raden Teja Prabawa tiba-tiba terkejut ketika perwira muda itu kemudian berkata “ Apakah kau akan bermain-main juga? “ “ Tidak “ jawab Teja Prabawa “ tidak ada yang dapat aku tunjukkan kepadamu. Mungkin setelah aku melatih diri selama lima tahun lagi, baru aku akan berbuat sebagaimana kau lakukan itu. Tetapi perwira itu tertawa. Dengan nada rendah ia berkata “ Kau nampaknya lebih senang merendahkan diri. “ “ Aku berkata sebenarnya “ jawab Teja Prabawa. Rara Wulanlah yang segera menyahut “ Kakang Teja Prabawa mengatakan yang sebenarnya. Kami kagum melihat kemampuanmu yang berada diluar jangkauan nalarku. “ Perwira itu tertawa semakin keras. Lalu katanya “ Baiklah. Jika kalian tidak ingin bermain-main di sanggar ini, marilah, kita akan melanjutkan langkah kita melihat-lihat barak ini.

Namun agaknya kita sudah mengelilingi seluruh bagian dari barak ini. “ Mereka bertigapun kemudian telah melangkah keluar dari sanggar. Beberapa orang prajurit muda yang sedang tidak bertugas telah memandangi kecantikan Rara Wulan dengan tatapan mata yang hampir tidak berkedip. Namun dalam pada itu, perwira muda, adik Senapati dari Pasukan Khusus itu tiba-tiba telah membentak mereka “ He, apa yang kau lihat? Pergi. Apakah kau tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali termangu-mangu seperti itu? “ Para prajurit itupun kemudian telah dengan tergesa-gesa melangkah tercerai berai. Namun seorang perwira yang lebih tua dari adik Senapati itu justru telah datang mendekat sambil bertanya “ Kenapa kau berteriak-teriak? “ Mereka tidak tahu adat. Aku mengantarkan dua orang cucu Ki Lurah Branj angan yang ingin melihat-lihat barak ini, tetapi mereka menganggap keduanya seperti tontonan.

Seolah-olah mereka tidak pernah melihat orang dari Kotaraja. “ jawab perwira muda itu. Perwira yang lebih tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun mengangguk hormat kepada kedua cucu Ki Lurah Branjangan itu sambil berkata “ Maaf anak-anak muda. Aku tidak tahu sebelumnya. “ Kedua cucu Ki Lurah itupun mengangguk hormat pula. Teja Prabawa itupun bertanya kepada perwira yang lebih tua itu “ Ki Sanak juga anggota Pasukan Khusus? “ “ Ya “ jawab perwira itu “ aku telah berada disini sejak pasukan ini disusun. Perwira muda yang membawamu berkeliling itu termasuk orang baru disini. Ia dipindahkan kemari beberapa bulan yang lalu. Tetapi aku adalah orang yang telah berada disini sejak Ki Lurah memimpin Pasukan Khusus ini. “

Kedua cucu Ki Lurah itu mengangguk-angguk. Nampaknya perwira itupun menarik perhatian mereka. Sementara perwira itupun berkata labih lanjut “ Ki Lurah adalah salah seorang perwira yang luar biasa. Jarang ada Senapati yang memiliki kemampuan sebagaimana Ki Lurah. Tetapi agaknya Ki Lurah sudah tua sekarang ini. “ “ Kakek ada disini. Di Tanah Perdikan ini. “ berkata Teja Prabawa. “ O, dimana? Apakah Ki Lurah ada di barak ini sekarang? “ bertanya perwira itu. “ Tidak. Kakek ada di rumah Ki Gede. “ jawab Teja Prabawa. “ Jadi kalian datang ke barak ini berdua saja? “ bertanya perwira itu. “ Tidak. Kami telah diantar oleh anak padukuhan induk “ jawab Teja Prabawa.

“ Siapa? bertanya perwira itu. “ Glagah Putih “ jawab Teja Prabawa “ anak muda yang nampaknya sangat dungu tetapi sombong. “ Glagah Putih? Maksudmu Glagah Putih sepupu Agung Sedayu? “ bertanya perwira itu. Teja Prabawa termangu-mangu. Namun jawabnya “ Mungkin. Di rumah Ki Gede memang ada orang yang bernama Agung Sedayu, yang nampaknya sudah kenal baik dengan kakek. “ “ Tentu “ jawab perwira itu “ Agung Sedayu adalah salah seorang dari antara para pelatih di barak ini. Agung Sedayu adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Sedangkan Glagah Putih itu adalah sepupunya. Iapun seorang yang berilmu tinggi pula. “ Teja Prabawa termangu-mangu. Namun perwira muda itupun kemudian berkata “ Sudahlah. Kita akan menemui kakang Senapati. “ Perwira yang lebih tua itu mengerutkan keningnya. Perwira muda itu merasa bahwa dirinya adalah saudara pimpinan tertinggi di barak itu, sehingga sikapnyapun kadang-kadang menjadi agak berlebih-lebihan.

 Perwira tua itu tidak berkata apapun lagi. Sementara itu kedua cucu Ki Lurah itu telah minta diri dan melangkah bersama dengan perwira muda itu menuju ke barak khusus pimpinan tertinggi barak Pasukan Khusus itu. “ Orang tua itu memang sering membual “ berkata perwira muda itu “ apakah kau percaya bahwa Glagah Putih yang mengantarkanmu itu berilmu tinggi? “ Teja Prabawa tertawa. Katanya “ Ia anak dungu. Yang diketahui tidak lebih dari membajak disawah dan mengotori dirinya dengan lumpur. “ Perwira muda itupun tertawa pula. Lalu katanya “ Kalian tidak perlu kembali bersama mereka. Aku akan mengantarkah kalian sampai ke padukuhan induk. “ “ Lalu, bagaimana dengan anak itu? “ bertanya Teja Prabawa. “ Biarlah seorang prajurit memerintahkannya pergi. “ berkata perwira itu. Teja Prabawa mengangguk-angguk.

Katanya. Baik lah. Aku juga menjadi muak melihatnya. Demikian mereka mendekati barak khusus bagi pim pinan barak itu, maka perwira muda itu memang telah memerintahkan seorang prajurit yang bertugas untuk menemui Glagah Putih diluar barak. Namun adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba saja Hara Wulan bertanya “ Tetapi bukankah kita berangkat bersama anak itu? Kakek dan Ki Gede mempercayakan kita kepadanya. Wajah perwira muda itu menegang sejenak. Namun kemudian katanya “ Tentu tidak apa-apa. Kecuali jika kalian nanti pulang hanya berdua. Kasihan anak itu, karena ia akan dimarahi oleh Ki Lurah Branjangan dan Ki Gede. Tetapi jika kalian kembali bersamaku, maka mereka tentu tidak akan marah karena mereka tentu lebih percaya kepada seorang perwira dari Pasukan Khusus ini daripada seorang anak padukuhan. Rara Wulan termangu-mangu sejenak.

Namun perwira itu bertanya lagi “ Kau jangan terpengaruh oleh bualan orang tua itu. Coba renungkan, apakah masuk akal bahwa Agung Sedayu, anak Tanah Perdikan ini menjadi salah seorang pelatih dari Pasukan Khusus ini. Bukankah bualannya itu telah merendahkan martabat Ki Lurah Branjangan? “ Ya “ sahut Teja Prabawa “ biarlah anak itu pergi. Rara Wulan tidak bertanya lagi. Fa memang tidak dapat berbuat banyak selain mengikuti saja perintah kakaknya. Demikianlah mereka menghadap Senapati Pasukan Khusus itu untuk menyatakan terima kasih kedua cucu Ki Lurah itu yang telah mendapat kesempatan untuk melihat-lihat barak Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan. “ Kami kira, kami sudah merasa cukup untuk hari ini. Mungkin pada kesempatan lain, kami akan datang berkunjung lagi. “ berkata Teja Prabawa. “ Kapan saja, silahkan datang “ berkata Senapati itu “ salamku buat Ki Lurah Branj angan. Jika sempat, aku juga mempersilahkan Ki Lurah untuk melihat-lihat barak ini yang sudah menjadi semakin berkembang. “ “ Terima kasih “ berkata Teja Prabawa “ kami akan segera mohon diri. “ Sebelum Senapati itu menjawab, maka adiknya telah mendahuluinya “ Aku akan mengantarkannya kembali ke padukuhan induk. “ “ Bukankah ia datang dengan seorang pengantar? “ bertanya Senapati itu.

 “ Ya “ Rara Wulanlah yang menyahut. Namun tiba-tiba iapun telah terdiam sambil menundukkan kepalanya. Sementara itu perwira muda itupun berkata “ Pengantar itu sudah aku suruh pulang. Biarlah ia tidak terlalu lama menunggu disini. “ Senapati itu mengangguk-angguk. Lalu katanya “ Tetapi kau harus segera kembali. Tugas-tugasmu tidak boleh kau abaikan. Sementara itu serahkan kelompokmu kepada wakilmu. “ Demikianlah, maka pterwira itu telah memberikan beberapa pesan kepada wakil pemimpin kelompoknya. Dengan tergesagesa ia pun kemudian telah bersiap untuk mengantarkan kedua cucu Ki Lurah itu kembali ke padukuhan induk.

 “ Maaf, karena kalian mengunjungi barak prajurit, maka kami tidak memberikan hidangan kepada kalian. Makanan dan minuman yang ada tidak pantas disuguhkan kepada tamutamu yang terhormat, sehingga agaknya justru lebih baik tidak sama sekali, “ berkata perwira muda itu. “ Ah tidak apa “ sahut Teja Prabawa “ sambutan yang ramah ini telah melampaui segala jenis hidangan apapun juga. “ Bertiga merekapun kemudian telah melangkah menuju ke pintu gerbang. Tetapi ketika mereka keluar dari pintu gerbang itu, mereka terkejut. Mereka masih melihat Glagah Putih duduk bersandar dinding dengan mata terpejam. “ He, kenapa anak itu belum pergi? “ bertanya perwira muda itu. “ Ia tertidur sejak tadi. Ketika seorang prajurit membawa perintah kepadanya untuk kembali mendahului kedua cucu Ki Lurah Branjangan, anak itu sudah tidur pulas. “ jawab prajurit yang bertugas.

 “ Kenapa kau biarkan ia bersandar dinding? Bukankah tidak ada orang yang boleh berkeliaran didekat dinding barak ini? “ bertanya perwira itu. “ Bukankah ia datang untuk mengantarkan kedua cucu Ki Lurah Branjangan? “ prajurit itu ganti bertanya. “ Baiklah. Biarlah ia tidur. Jangan kau bangunkan. Kedua cucu Ki Lurah itu akan aku antarkan pulang, “ berkata perwira itu. Namun Rara Wulan tiba-tiba saja berkata “ Tetapi kasihan anak itu. Jika ia tidak segera terbangun, maka ia akan kehilangan banyak waktu dengan sia-sia. “ Teja Prabawa berpaling kepada adiknya sambil mengerutkan dahinya. Namun iapun kemudian berkata “ Sudahlah. Apa peduli kita dengan anak itu. Marilah. “ Rara Wulan tidak membantah. Merekapun segera melangkah meninggalkan pintu gerbang barak itu menuju ke padukuhan induk. “ Namun demikian mereka bertiga pergi, maka Glagah Putihpun menggeliat sambil tersenyum “ Terima kasih. Kau mampu bermain baik sekali. “ “ Anak setan “ geram prajurit itu “ pergilah. “ Glagah Putih tertawa. Katanya “ Kau sudah kejangkitan penyakit anak Kotaraja itu? “ Prajurit itupun tertawa, sementara kawannya ber-tugaspun tertawa pula. Glagah Putih yang telah bangkit berdiri pun telah melangkah pula sambil berkata “ Aku minta diri. Dengan cara yang lebih baikpun kalian tidak akan memberi bekal apapun. “

“ Awas. Aku bertugas disini. Aku berhak melemparkan tombak kepunggungmu “ geram prajurit itu. Glagah Putih tertawa. Sambil melambaikan tangannya ia menjawab “ Lihat. Tombakmu tumpul. “ Prajurit itu tidak menjawab. Tetapi iapun tertawa pula. Demikian pula kawannya bertugas. Ketika Glagah Putih menjadi semakin jauh kawannya itu berkata “ Anak yang sabar. “ “ Ia telah memaksa diri. Kakak sepupunyalah yang mengajarinya berlaku demikian. Kakak-kakak kita pernah mengalami latihan-latihan yang diberikan oleh Agung Sedayu di barak ini. “ “ Aku juga pernah mengalami “ jawab kawannya. Prajurit itu mengerutkan keningnya. Katanya “ Ya. Kau datang lebih dahulu dari aku. “ Dalam pada itu, Teja Prabawa dan Rara Wulan yang diantar oleh perwira muda dari Pasukan Khusus itu telah melintasi bulak dan menuju ke pinggir hutan. Ada keinginan Teja Prabawa untuk mengajak mereka berjalan lewat jalan lain.

Tetapi rasa-rasanya memang agak segan. Perwira itu akan dapat menganggapnya sebagai seorang penakut. Beberapa saat kemudian, mereka memang telah sampai ke jalan sempit di pinggir hutan. Jalan yang mereka lalui ketika mereka berangkat menuju ke barak Pasukan Khusus itu. Memang terasa tengkuk kedua cucu Ki Lurah itu meremang. Namun perwira muda itu memang nampak sangat meyakinkan. Ia berjalan dipaling depan, dengan pedang panjang tergantung dilambung. Ketika jalan itu menjadi lekat dengan hutan, maka tiba-tiba saja mereka bertiga terkejut. Dari gerumbul perdu dipinggir hutan itu, tiba-tiba dua ekor binatang sebesar ku-cing yang gemuk bulat berloncatan kejar-mengejar. “ He “ Rara Wulan terpekik. Namun kemudian katanya “ Lucu sekali. Seperti kucing, tetapi tentu bukan kucing. Atau barangkali kucing raksasa. “ “ Anak harimau “ berkata perwira itu. “ Anak harimau “ ulang Teja Prabawa. “ Ya “ wajah perwira itu memang menjadi tegang. Namun Rara Wulan berkata “ Tolong. Tangkap kakang. Kita bawa kembali dan kita pelihara. Jika kita pelihara sejak kecil, maka harimau itu tentu tidak akan menjadi buas. “ Wajah Teja Prabawa menjadi tegang pula. Dipandanginya perwira muda itu sambil bertanya “ Apakah kita dapat menangkapnya? “ Perwira itu memang menjadi ragu-ragu. Tetapi didorong oleh keinginannya untuk menyenangkan Rara Wulan, maka katanya “ Tangkap sajalah. “ Teja Prabawa masih ragu-ragu pula. Iapun kemudian bertanya “ Bagaimana dengan induknya? “ Perwira itu termangu-mangu sejenak. Tetapi tiba-tiba saja ditengadahkan dadanya sambil meraba hulu pedangnya “ Aku akan menyelesaikannya. “ Rara Wulan memang tertarik melihat kedua ekor anak harimau yang lucu itu bekejar-kejaran tanpa menghiraukan orang-orang yang memperhatikannya itu. Sementara itu, Teja Prabawapun telah melangkah mendekati kedua ekor harimau kecil yang kemudian berjemur dipanasnya matahari. Namun tiba-tiba saja mereka bertiga terkejut. Terdengar dari dalam hutan itu suara seekor harimau yang mengaum.

 Agaknya induk harimau itu sedang memanggil anak-anaknya yang tidak nampak didekatnya. “ Harimau “ tiba-tiba saja Teja Prabawa dan Rara Wulan menjadi gemetar. Sementara perwira itu menjadi tegang. Dengan serta merta ia telah menarik pedangnya sambil berkata “ Kita memang harus melanjutkan perjalanan. Tetapi jika kau ingin menangkap kedua ekor harimau itu tangkaplah. Aku akan membunuh induknya jika induk harimau itu marah. “

 “ Kau berani membunuh harimau itu? “ bertanya Rara Wulan. “ Tentu. Aku adalah seorang perwira dari Pasukan Khusus. “ jawab perwira itu yang dengan tegang memperhatikan gerumbul-gerumbul dipinggir hutan. Ketika tiba-tiba dari sebuah gerumbul muncul sesuatu, maka perwira muda itu segera meloncat dengan tangkasnya sambil mengacukan pedangnya. Namun ternyata yang muncul adalah Glagah Putih. Kau anak dungu “ teriak perwira itu “ hampir saja tubuhmu aku lubangi dengan ujung pedang ini. “ “ Sebenarnya aku tidak akan mendekati kalian “ berkata Glagah Putih “ tetapi kalian telah melakukan sesuatu yang berbahaya. Anak-anak harimau itu akan selalu dibayangi oleh induknya. “ “ Persetan “ geram perwira itu “ aku akan membunuh induk harimau itu “

“ Aku percaya bahwa kau mampu melakukannya. Tetapi jika kau bunuh induk harimau itu, maka harimau-harimau kecil itu akan mati juga. Harimau itu masih terlalu kecil untuk dipisahkan dari induknya. “ jawab Glagah Putih. “ Bukan urusanmu “ bentak perwira itu “ kami dapat memelihara harimau itu dengan baik. “ Glagah Putih menggeleng. Katanya “ Tidak. Tidak semudah itu memelihara anak harimau. Karena itu, lebih baik kalian tidak menangkapnya saja. “

 “ Pergi “ bentak Teja Prabawa “ kau selalu mengganggu. “ “ Bukan maksudku. Tetapi justru kalian jangan mengganggu kehidupan binatang hutan ini. Memang ada masanya seseorang pergi berburu. Tetapi tidak membunuh seekor harimau yang sedang menyusui. Pemburu yang paling garangpun tidak akan melakukannya. Apalagi kalian. --sahut Glagah Putih. Wajah perwira muda itu menjadi tegang. Ia tidak dapat membantah kebenaran kata-kata Glagah Putih. Tetapi ia tidak ingin mengecewakan cucu perempuan Ki Lurah Branjangan itu. Selagi perwira muda itu ragu-ragu, maka Rara Wulan-pun tiba-tiba telah berkata “ Baiklah. Aku tidak ingin membawa anak macan itu. Nampaknya induknya akan dapat menjadi marah dan berbahaya, sedangkan tidak sepantasnya harimau yang sedang menyusui itu dibunuh.

 Perwira muda itu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia memang lebih suka tidak berkelahi melawan seekor harimau betina yang sedang menyusui. Harimau yang demikian dapat menjadi sangat garang dan berbahaya. Meskipun ia akan mungkin dapat membunuhnya, tetapi ia sendiri tentu akan terluka cukup parah. Dalam pada itu, ternyata aum harimau yang terdengar lagi telah membuat kedua cucu Ki Lurah itu semakin ingin dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Karena itu, maka Teja Prabawapun berkata “ Baiklah. Jika Wulan tidak lagi menghendaki, marilah. Kita lanjutkan perjalanan kita. Aku tidak mau lagi diganggu anak itu. “ Glagah Putih tersenyum. Ia mengerti, bahwa sebenarnya cucu Ki Lurah itu menjadi ketakutan mendengar aum harimau yang terdengar menjadi semakin dekat. Demikianlah, maka ketiga orang itupun dengan tergesagesa telah melanjutkan perjalanan mereka. Mereka melintas jalan dipinggir hutan itu dengan cepat. Seperti semula maka perwira muda itulah yang berjalan dipaling depan. Pedangnya masih saja digenggam ditangannya. Di-belakangnya Teja Prabawa dan Rara Wulan berlari-lari mengikutinya. Ketika terdengar lagi aum harimau dihutan memanggil anak-anaknya, maka ketiga orang itu berjalan semakin cepat.

Mereka menjadi agak tenang ketika mereka telah melintasi jalan yang semakin menjauhi hutan yang mendebarkan itu. Semakin lama semakin jauh sehingga akhirnya memasuki sebuah padang perdu. Rasa-rasanya harimau itu tidak akan mengejar mereka sampai ketempat itu, karena anak-anaknya berada jauh dibelakang mereka. Ketika Rara Wulan sempat berpaling, ia tidak melihat Glagah Putih dibelakang mereka. Gadis itu memang menjadi heran. Rasa-rasanya anak Tanah Perdikan itu sama sekali tidak merasa cemas mendengar suara harimau mengaum dengan dahsyatnya itu. Bahkan anak Tanah Perdikan itu tidak pula meninggalkan tempat itu dengan cepat meskipun ia juga mendengar aum harimau itu. Tetapi Rara Wulan tidak sempat memperhatikan anak pedesaan itu lebih lama. Ia harus berlari-lari mengikuti perwira muda yang berjalan terlalu cepat. Namun semakin mereka jauh dari hutan, maka langkahnyapun menjadi semakin lambat.

Ketika mereka memasuki bulak persawahan maka perwira itu telah menyarungkan pedangnya sambil berkata “ Harimau itu tidak akan sempat sampai ketempat ini. “ Raden Teja Prabawa menarik nafas dalam-dalam. Rasarasanya dadanya telah menjadi lapang. Tengkuknya yang meremang tidak lagi memberatinya. Seakan-akan diteng-kuk itu seekor harimau akan menerkam dan menghunjamkan gigigiginya yang tajam. Namun dalam pada itu, perwira muda itu berkata “ Harimau itu ternyata masih bernasib baik. Nyawanya masih lebih dari hari ini. “

“ Kenapa? “ bertanya Raden Teja Prabawa. “ Jika saja anak padesan Tanah ini tidak mencegahnya, harimau itu tentu sudah dikuliti. “ jawab perwira muda itu. “ Tetapi anak itu benar “ potong Rara Wulan “ jika harimau itu mati, maka anak-anaknyapun akan mati. Anak-anak harimau itu tentu sangat memerlukan kehadiran induknya. Bukan saja untuk menyusuinya, tetapi juga untuk melindunginya. “ Perwira muda itu mengerutkan keningnya. Tetapi iapun mengangguk-angguk sambil berkata “ Ya, Aki? mengerti. “ Demikianlah, maka mereka bertiga telah melintasi beberapa bulak dan padukuhan. Beberapa orang anak muda yang berpapasan dengan mereka merasa heran, bahwa kedua orang anak muda dari Kotaraja itu tidak lagi bersamasama dengan Glagah Putih. Tetapi bersama seorang perwira muda dari Pasukan Khusus menilik pakaiannya.

Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang bertanya. Anak muda dari Kotaraja itu nampaknya tidak begitu ramah, sementara perwira yang mengantarkan mereka berjalan seperti seorang prajurit yang sedang memimpin pasukan. Ternyata bahwa mereka memang memerlukan waktu yang agak lama untuk berjalan sampai ke padukuhan induk. Rara Wulan yang menjadi letih, harus beristirahat beberapa saat di sebuah gubug yang kosong. Sehingga dengan demikian, maka mereka telah melampaui waktunya makan siang.

Tetapi ketika perwira itu menawarkan untuk makan di sebuah kedai, kedua cucu Ki Lurah itu menolak. Baru menjelang sore hari, mereka sampai di padukuhan induk. Kedua cucu Ki Lurah nampak sangat letih. Namun perwira muda itu wajahnya masih saja nampak cerah. Tetapi mereka memang agak terkejut ketika demikian mereka memasuki halaman rumah Ki Gede, mereka melihat Glagah Putih telah duduk di serambi gandok bersama Agung Sedayu dan Ki Lurah Branjangan sendiri.

Mereka bertigapun kemudian telah berdiri dan menyongsong perwira muda yang mengantarkan kedua cucu Ki Lurah itu.

 “ Marilah anakmas “ Ki Lurah mempersilahkan perwira muda itu. Perwira muda itu mengangguk hormat. Dengan nada rendah ia berkata “ Maaf Ki Lurah. Aku datang untuk mengantarkan cucu Ki Lurah. “ Kedua cucu Ki Lurah itupun kemudian telah melangkah mendekati kakeknya. Namun Rara Wulan sempat bertanya kepada perwira muda itu “ Kau sudah mengenal kakek? “ “ Ki Lurah pernah datang ke barak. Tidak hanya sekali. “ berkata perwira itu. “ tetapi mungkin Ki Lurah belum mengenal aku. “

“ Marilah. Duduklah “ Ki Lurah mempersilahkan. “ Aku menjadi pengganti tuan rumah yang sedang beristirahat didalam. “ Perwira muda itupun kemudian telah duduk di serambi itu pula bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih. Kedua cucu Ki Lurah itupun telah ikut pula duduk bersama mereka meskipun dengan perasaan agak segan karena disitu hadir pula Glagah Putih. Terutama Raden Teja Prabawa. Tetapi sudah tentu ia tidak dapat minta kepada kakeknya untuk mengusir anak itu. “ Anakmas “ berkata Ki Lurah “ maaf, aku orang tua agaknya memang sudah pikun. Anakmas sudah mengenali aku, tetapi aku tidak dapat mengenali anakmas. Siapakah sebenarnya anakmas? “ “ Aku salah seorang perwira pemimpin kelompok prajurit pada Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan ini “ jawab perwira muda itu. “ O “ Ki Lurah mengangguk-angguk. Lalu “ Nama anakmas? “

 “ Namaku Wirastama. Orang memanggilku Nagasura “ jawab perwira muda itu. “ Bagus sekali “ jawab Ki Lurah “ nama anakmas bagus sekali. Gelar anakmas sangat meyakinkan. Sementara gelar Senapati di barak Pasukan Khusus yang sekarang adalah Nagageni. “ “ Aku adalah adiknya “ jawab Wirastama. “ Jadi anakmas dari Senapati yang memimpin barak itu? “ bertanya Ki Lurah. “ Ya Ki Lurah. Adik kandungnya “ jawab Wirastama. “ Itulah agaknya anakmas seakan-akan telah memancarkan cahaya dari ubun-ubunnya. “ berkata Ki Lurah. “ Ah. Ki Lurah itu ada-ada saja “ desis Wirastama. Sementara itu Ki Lurahpun bertanya “ Bagaimana aku memanggil anakmas? Wirastama atau Nagasura? “ “ Panggil saja namaku Ki Lurah. Pada saatnya jika aku telah menghasilkan satu karya keprajuritan yang bernilai tinggi, aku akan mempergunakan sebutanku. “ “ Gelar itu maksud anakmas “ sahut Ki Lurah. “ Jangan disebut sebagai gelar “ desis perwira muda itu. Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya “ Itu memang gelar. “ “ Bukan. Gelar adalah nama yang diberikan oleh atasan kita atau sebutan yang dikurniakan oleh Panembahan Senapati. Sedangkan sebutan itu hanya diberikan oleh kakakku sebagaimana sebutan bagi dirinya sendiri. “ jawab perwira itu. “ Tetapi bukankah kakakmu lebih senang memakai gelarnya daripada namanya sendiri? “ bertanya Ki Lurah. Perwira itu hanya tersenyum saja. Namun dalam pada itu, adalah diluar dugaan jika tiba-tiba saja Raden Teja Prabawa yang ingin mengalihkan pembicaraan telah bertanya kepada kakeknya “ Kakek, seorang perwira yang telah tua berkata bahwa ada banyak pelatih di barak itu pada sat kakek memegang jabatan di barak itu. Apakah itu benar? “ Ki Lurah mengerutkan keningnya.

Dengan ragu-ragu ia menjawab “ Ya. Memang. Kenapa? “ “ Jadi kakek tidak melakukannya sendiri? “ bertanya cucunya. “ Tentu tidak. Meskipun juga memberikan latihan-latihan, tetapi tentu ada orang lain yang membantu. Mungkin dari unsur-unsur yang berbeda dari yang kakek berikan, karena ilmu yang harus dikuasai oleh seorang prajurit itu bermacam-macam. Antara lain ilmu kanuragan secara pribadi. Ilmu perang gelar dan ilmu-ilmu yang lain. Dalam olah senjatapun diperlukan berbagai macam pengetahuan khusus. Ilmu pedang, ilmu tombak dan berbagai macam ilmu yang lain. Senjata bertangkai, senjata dengan hulu pendek, senjata lentur dan lain-lain. “

“ Tetapi kakek “ bertanya Teja Prabawa “ apakah benar bahwa kakek harus minta bantuan anak-anak muda Tanah Perdikan ini untuk melatih para prajurit dari Pasukan Khusus? “ Ki Lurah mengerutkan keningnya pula. Dengan nada tinggi ia bertanya “ Maksudnya? Yang benar adalah, bahwa beberapa orang anak-anak muda Tanah Perdikan ini memang ikut menjadi prajurit dalam Pasukan Khusus. “ “ Jadi bukan anak-anak Tanah Perdikan ini melatih Pasukan Khusus? “ desak Teja Prabawa. Sambil tersenyum Ki Lurah menggeleng. “ Nah, jika demikian perwira tua yang pikun itu tentu berbohong jika mengatakan bahwa Agung Sedayu telah ikut melatih pasukan di barak itu. “ berkata Teja Prabawa selanjutnya. Pernyataan itu benar-benar mengejutkan.

Ki Lurah sama sekali tidak mengira bahwa hal itulah yang dimaksudkan oleh cucunya. Apalagi langsung ditanyakan dihadapan Agung Sedayu sendiri. Namun justru Agung Sedayulah yang menjawab “ Ki Lurah benar, tidak ada anak-anak muda Tanah Perdikan yang menjadi pelatih di barak itu. Apalagi aku. “ Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Ia mengenal Agung Sedayu dengan baik. Ia sudah pasti bahwa Agung Sedayu akan menjawab seperti itu. Tetapi Ki Lurah memang ingin memperkenalkan satu dunia yang lain dari dunia sempit cucucucunya yang seakan-akan hanya dibatasi oleh satu lingkungan kecil halaman rumahnya, sementara ayahnya telah mengajarinya menjadi seorang anak muda yang disegani, ditakuti dan dipatuhi apa saja yang dikatakannya oleh pengawal, pembantu dan pelayanpelayannya di rumahnya. Tetapi kedua cucu-cucunya itu jarang sekali bersentuhan dengan kerasnya kehidupan diluar dinding rumahnya. Karena itu, maka tiba-tiba saja Ki Lurah itu menjawab juga diluar dugaan “ Memang benar anak-anak. Agung Sedayu bukan menjadi pelatih bagi para prajurit di Pasukan Khusus itu, tetapi Agung Sedayu justru menjadi pelatih para pelatihnya. “

“ Ah “ Agung Sedayu justru tertawa. Lalu katanya kepada kedua cucu Ki Lurah “ Kakek kalian memang pandai bergurau. Itulah sebabnya Ki Lurah akan panjang umur. “ Raden Teja Prabawa mengerutkan keningnya.

 Ia tidak terbiasa mendengar kelakar seperti itu, sehingga menurut pendapatnya, mereka seakan-akan tidak bersungguh-sungguh menanggapi persoalan yang ditanyakannya. Kakeknya biasanya tidak pula bergurau seperti itu. Meskipun kadangkadang mereka juga bicara tentang beberapa hal yang membuat mereka tertawa, namun tidak berkesan sekedar asal saja melontarkan kata-kata. Karena itu Raden Teja Prabawa yang merasa dipermainkan itu justru terdiam. Bahkan kemudian iapun berkata kepada kakeknya “ Kakek, aku merasa letih, Aku akan beristirahat. “

 “ Tunggu “ cegah kakeknya “ bukankah kau mempunyai tamu dari barak Pasukan Khusus. “ “ O “ Raden Teja Prabawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya maaf. Aku hampir lupa. Tetapi perwira muda itu justru berkata “ Sebaiknya kalian memang beristirahat. Aku justru akan mohon diri. Aku harus segera kembali ke barak, sebagaimana pesan Senapati. “ “ Kami mengucapkan terima kasih “ berkata Teja Prabawa. “ Ah. Bukan apa-apa. Besok atau kapan saja aku akan datang kemari. Mungkin kita dapat berjalan-jalan di Tanah Perdikan ini. Menyusuri ujung sampai keujung. “ berkata perwira itu. “ Terima kasih “ sahut Teja Prabawa “ kami akan sangat bergembira atas kesediaan itu. “ Tetapi justru Ki Lurah yang menyahut “ Terima kasih anakmas Wirastama. Tetapi sudah tentu kami tidak ingin merepotkan anakmas. Tugas-tugas anakmas sebagai seorang perwira di Pasukan Khusus itu tentu sudah memerlukan waktu yang banyak. Karena itu anakmas tidak perlu begitu memperhatikan cucu-cucuku. “

“ Ah “ Wirastama tertawa meskipun agak pahit “ aku akan dapat membagi waktuku sebaik-baiknya. Apalagi Senapati tertinggi di barak itu adalah kakakku sendiri. “ “ Ah. Jangan begitu anakmas. Justru anakmas adalah adik kandung pimpinan barak Pasukan Khusus, maka anakmas harus dapat menunjukkan contoh yang terbaik bagi para prajurit yang lain. “ berkata Ki Lurah. Perwira muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata “ Baiklah. Aku minta diri. “

“ Aku mengharap kedatanganmu besok “ berkata Teja Prabawa. Perwira itu menjawab meskipun ragu “ Baiklah. Besok aku akan datang. “ Lalu kepada Rara Wulan ia mengangguk sambil berkata “ Aku minta diri. Rara Wulan mengangguk pula sambil berdesis “ Silah-kan. “ “ Apakah kau tidak mengucapkan terima kasih? “ bertanya kakaknya. Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata “ Terima kasih. “ Perwira muda itu tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian “ Tunggu aku besok. Aku pasti datang. Jangan pergi sebelum aku datang. “ “ Ya. Kami akan menunggu “ jawab Teja Prabawa. Perwira itupun kemudian telah meninggalkan rumah itu. Ia tidak bersedia menunggu dan bertemu dengar. Ki Gede ketika Ki Lurah menanyakan kepadanya. “ Tidak perlu Ki Lurah. Tidak ada kepentingan apapun dengan Ki Gede. Aku hanya mengantar cucu-cucu Ki Lurah saja. “ jawab perwira itu. Sepeninggal perwira itu Teja Prabawa telah berkata kepada kakeknya “ Kek, bagaimanakah jika Wirastama itu kemudian berceritera kepada kakaknya yang menjabat sebagai Senapati di barak itu? “

“ Berceritera tentang apa? “ bertanya Ki Lurah. “ Nampaknya kakek yang berkelakar tentang Agung Sedayu yang pernah melatih para pelatih. Tetapi jika perwira itu mengatakannya kepada Ki Nagageni, Senapati tertinggi di barak itu, ia akan dapat tersinggung “ berkata Teja Prabawa. “ Kenapa orang itu tersinggung? Ia tidak perlu merasa tersinggung. Hal itu terjadi disaat kakek memegang pimpinan di barak itu. Dan kakek tidak pernah merasa tersinggung karenanya. Justru kakek merasa berterimakasih kepada Agung Sedayu, “ Ki Lurah berhenti sejenak, lalu “ Atau kau nampaknya tidak percaya, bahwa Agung Sedayu pernah melatih para pelatih di barak itu. “ “ Tetapi perlu dijelaskan Ki Lurah “ potong Agung Sedayu “ melatih dalam hal apa? Tentu bukan dalam olah kanuragan. “ Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya Agung Sedayu masih saja seperti dikenalnya dahulu. Ia lebih suka berendah hati dan tidak menanggapi sikap-sikap yang agak kasar seperti sikap Teja Prabawa itu.

 Namun agak berbeda dengan Agung Sedayu, Glagah Putih rasa-rasanya ingin meloncat dan menampar mulut anak muda itu. Tetapi ia tidak berani melakukannya karena kakak sepupunya telah berpesan kepadanya, agar ia bersikap baik sebagai tuan rumah. Tetapi Teja Prabawa sendiri nampaknya sudah tidak berminat lagi berbicara di serambi itu bersama kakek dan orang-orang padesan sehingga iapun kemudian telah masuk kedalam biliknya digandok rumah Ki Gede yang besar itu. Rara Wulan ternyata menjadi bimbang. Apakah ia akan masuk juga kedalam biliknya atau ikut duduk bersama kakeknya. Namun dari dalam biliknya kakaknya memanggilnya. “ Kek, kakak memanggil “ desis Rara Wulan. Ki Lurah menangguk.

Katanya “ Beristirahatlah “ Rara Wulanpun telah meninggalkan kakeknya dan pergi kedalam biliknya pula. ***

 

 

API DI BUKIT MENOREH SERI III

JILID 234

KI LURAH menarik nafas dalam-dalam. “ Biarlah mereka

mengenal kenyataan yang keras dari kehidupan ini.” katanya.

Lalu, “ kalian jangan terlalu berendah hati. Sekali-sekali kalian

menunjukkan kenyataan-kenyataan itu. Jika tidak demikian

maka gagallah usahaku membawa mereka kemari. Terutama

Teja Prabawa. Ayahnya, yang memang seorang

Tumenggung, terlalu memanjakan mereka dan mendidiknya

menjadi seorang bangsawan yang sombong dan keras kepala.

Tetapi keduanya kurang mempunyai kepercayaan kepada diri

sendiri.”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Biarlah semuanya

terjadi dengan perlahan-lahan Ki Lurah.”

 

“ Aku sependapat. Tetapi bukannya tidak sama sekali.”

berkata Ki Lurah.

“ Tanah Perdikan yang keras ini menunjukkan kenyataan

itu.” berkata Agung Sedayu pula.

“ Ya. Namun nampaknya kedua cucuku memang

mengagumi seorang perwira muda dari Pasukan Khusus itu,

yang kebetulan adalah adik dari Nagageni yang baru dalam

beberapa bulan memimpin pasukan di barak itu.” berkata Ki

Lurah.

Agung Sedayu masih saja tersenyum. Katanya, “ Lebih baik

bukan kita yang merusakkan citra perwira muda itu. Biarlah

semuanya berlangsung. Adalah lebih baik jika perwira muda

itu dapat menunjukkan kenyataan-kenyataan,yang keras itu

kepada Teja Prabawa.”

Ki Lurah mengangguk-angguk kecil. Katanya, “ Kita

menunggu saja perkembangannya. Tetapi sebenarnya aku

lebih senang jika angger Glagah Putih yang membawa cucucucuku

berjalan-jalan.”

“ Mereka nampaknya tidak begitu tertarik kepadaku Ki

Lurah.” berkata Glagah Putih, “ mereka telah mengusirku di

barak Pasukan Khusus.”

“ Kau telah kejangkitan penyakit kakak sepupumu.” desis

Ki Lurah.

Agung Sedayu tertawa. Katanya, “ Bukankah kita memang

wajib menjadi tuan yang baik?”

Ki Lurahpun akhirnya tertawa pula. Tetapi ia berkata, “

Bagaimanapun juga aku akan meyakinkan cucu-cucuku.

Kalau perlu aku akan menyuruhnya menantang Glagah Putih

berkelahi. Aku minta Glagah Putih membuat wajahnya sedikit

merah dan panas agar ia menyadari, siapakah sebenarnya

dirinya itu.”

“ Jangan terlalu keras mendidik anak-anak muda Ki Lurah.”

berkata Agung Sedayu, “ aku usulkan agar Ki Lurah tidak

mempergunakan cara itu. Cara yang terbaik adalah

membiarkannya mengalami pada saatnya.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi ia kemudian berkata,

“ Aku tidak terlalu lama disini. Mudah-mudahan akan berarti

bagi kedua cucuku itu.”

 

Agung Sedayu menyahut, “ Tentu Ki Lurah. Mereka akan

mendapatkan pengalaman yang menarik di Tanah Perdikan

ini.”

Ki Lurahpun kemudian berkata, “ Baiklah. Aku ingin mereka

berceritera pengalaman mereka dihari pertama.”

Demikianlah Agung Sedayu dan Glagah Putihpun telah

mohon diri. Mungkin Ki Lurah akan dapat berbicara dengan

cucu-cucunya tentang keadaan yang telah mereka alami dihari

pertama perkenalan mereka dengan Tanah Perdikan ini.

Dari serambi gandok kedua orang itu masih memasuki

seketheng untuk minta diri kepada Ki Gede yang sedang

beristirahat di ruang dalam. Sementara Ki Lurahpun telah

masuk pula kedalam bilik cucu-cucunya.

Di perjalanan pulang, Glagah Putih dan Agung Sedayu

masih membicarakan kedua cucu Ki Lurah. Seperti yang

pernah dikatakannya, maka sekali lagi Agung Sedayu berkata,

“ Mudah-mudahan perwira muda itu dapat memberikan

kesempatan kepada kedua cucu Ki Lurah itu. Aku harap

kedua cucu Ki Lurah mendapatkan pengalaman seperti yang

dikehendaki oleh kakeknya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi kata hatinya

memang agak berbeda. Meskipun demikian ia tidak berani

mengatakannya kepada kakak sepupunya itu.

Di gandok rumah Ki Gede, Teja Prabawa memang sempat

pula berceritera tentang perwira muda yang mengagumkan

itu. Teja Prabawa juga berceritera bahwa ia sempat melihat

perwira itu berlatih didalam sanggar.

“ Ilmu yang sangat tinggi yang belum pernah aku saksikan

sebelumnya.” berkata Teja Prabawa.

Ki Lurah hanya mengangguk-angguk saja. Ternyata iapun

tidak sampai hati membuat cucunya itu kecewa. Namun

demikian Ki Lurah masih berharap bahwa dihari-hari

berikutnya, terjadi sesuatu yang berharga bagi kedua cucunya

itu.

Dimalam harinya, ternyata Glagah Putih bahkan telah

merasa terganggu ketenangannya. Rasa-rasanya kedua cucu

Ki Lurah itu telah menimbulkan masalah didalam dirinya.

Justru karena ia harus mengekang diri sebagaimana

 

dikehendaki oleh Agung Sedayu. Karena kegelisahannya

itulah, maka Glagah Putih telah keluar dari biliknya justru pada

saat pembantu dirumah itu mulai terbangun dan bersiap-siap

untuk pergi ke sungai.

“ Aku hampir membangunkanmu.” berkata pembantu

rumah itu.

“ Kenapa?” bertanya Glagah Putih.

“ Aku kira kau akan malas lagi. Beberapa hari ini aku

mendapat ikan lebih banyak dari biasanya.” berkata anak itu.

“ Bukankah kemarin dulu aku juga turun.” desis Glagah

Putih. Anak itu mengangguk-angguk.

Namun tiba-tiba saja Glagah Putih berkata, “ Tunggu. Aku

akan kerumah Ki Gede.”

“ Untuk apa?” bertanya anak itu.

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Hampir diluar

sadarnya ditengadahkannya wajahnya kelangit. Rasa-rasanya

malam belum terlalu dalam.

“ Kalau saja cucu-cucu Ki Lurah itu belum tidur, mereka

dapat diajak turun ke sungai,” berkata Glagah Putih didalam

dirinya.

Namun ia memang ragu-ragu. Waktunya memang sudah

sampai saat sirep uwong, sehingga kebanyakan orang tentu

sudah tidur, kecuali orang-orang yang bertugas.

Meskipun demikian rasa-rasanya ada sesuatu yang

mendorongnya untuk pergi ke rumah Ki Gede, sehingga

karena itu, maka sekali lagi ia berkata kepada pembantunya

itu, “ Tunggu aku. Kita akan turun bersama-sama.”

“ Tetapi jangan terlalu lama. Kita sudah terlambat membuka

dan menutup kembali pliridan yang pertama malam ini.”

gumam anak itu.

Tetapi Glagah Putih tidak menjawab lagi. Dengan tergesagesa

iapun telah pergi ke rumah Ki Gede. Ia masih saja

berharap bahwa Ki Lurah dan cucu-cucunya masih belum

tidur.

Ketika ia sampai ke regol halaman rumah Ki Gede, anakanak

muda yang bertugas ronda sama sekali tidak heran

melihat kedatangannya. Glagah Putih kadang-kadang

memang begitu saja muncul di gardu-gardu perondan

 

sebagaimana dilakukan oleh Agung Sedayu beberapa tahun

yang lalu. Namun kini Agung Sedayu sudah jarang sekali

melakukannya setelah ada Glagah Putih yang seakan-akan

menggantikannya.

Glagah Putih yang langsung pergi ke gardu telah bertanya

kepada seorang anak muda yang meronda, “ Apakah Ki Lurah

sudah tidur?”

“ Tentu belum. Baru saja ia berada di pendapa.” jawab

anak muda yang meronda itu.

“ O, sekarang?” bertanya Glagah Putih.

“ Mungkin sudah ada di gandok.” jawab anak muda itu.

Glagah Putihpun kemudian telah berjalan bergegas ke

serambi gandok. Tetapi ternyata pintu bilik Ki Lurah telah

tertutup. Karena itu, maka dengan kecewa Glagah Putih telah

menjatuhkan diri duduk di amben bambu di serambi.

Namun ternyata derit amben itu terdengar oleh Ki Lurah

yang memang belum tidur. Iapun kemudian telah melangkah

kepintu dan membukanya. Ketika ia menjenguk, maka

dilihatnya Glagah Putih ada di serambi gandok.

“ Kau Glagah Putih.” desis Ki Lurah.

“ Ki Lurah belum tidur?” bertanya Glagah Putih sambil

berdiri.

“ Baru saja aku duduk-duduk di pendapa bersama Ki Gede

dan cucu-cucuku.” berkata Ki Lurah, “ sebenarnya cucucucuku

memang ingin melihat suasana malam di Tanah

Perdikan ini.”

Ki Lurah berhenti sejenak. Sambil memandang kearah bilik

cucu-cucunya Ki Lurah berkata perlahan-lahan sambil

tersenyum, “ Tetapi ketika mereka berada di jalan didepan

rumah ini dan melihat suasana yang sangat sepi, maka

keduanya menjadi ketakutan. Meskipun alasannya berbeda,

namun aku tahu hal itu.”

“ Apakah mereka sudah tidur?” bertanya Glagah Putih.

“ Agaknya belum. Tetapi mereka lebih senang berada di

tempat yang terang daripada berada di gelapnya jalan-jalan

pedukuhan. Sedangkan diterangnya lampu minyak, Rara

Wulan tidak berani tidur didalam bilik sendiri. Terpaksa ia

berada didalam biliknya ditungguioleh kakaknya yang juga

 

tidak berani sendiri. Tetapi bersama adiknyaTeja Prabawa

masih juga menjaga harga dirinya.” jawab Ki Lurah.

“ O” Glagah Putih mengangguk-angguk, “ sebenarnya aku

ingin mengajak mereka berdua atau setidak-tidaknya Raden

Teja Prabawa untuk melihat-lihat daerah ini di malam hari.”

Ki Lurah tersenyum sambil mengangguk-angguk. Katanya,

“ Baiklah. Aku akan mengatakan kepadanya.”

“ Tetapi nampaknya ia tidak begitu senang kepadaku Ki

Lurah. Kalau ia keberatan, jangan dipaksa.” berkata Glagah

Putih.

Ki Lurah tidak menjawab. Namun sambil tertawa ia bangkit

dan melangkah ke bilik kedua cucunya.

Perlahan-lahan Ki Lurah mengetuk pintu bilik itu. Ternyata

cucu-cucunya memang belum tidur. Nampaknya suasana sepi

sangat mencengkam mereka.

Suara ketukan pintu itu membuat Raden Teja Prabawa dan

Rara Wulan menjadi berdebar-debar. Namun kemudian

terdengar suara kakeknya lembut, “ Teja Prabawa, apakah

kau belum tidur?”

“ Kakek diluar?” bertanya Teja Prabawa.

“ Ya.” jawab Ki Lurah.

Raden Teja Prabawapun kemudian telah membuka pintu

biliknya.

“ Ada apa kek?” bertanya cucu Ki Lurah itu.

Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

katanya, “ Apakah kau masih ingin melihat-lihat Tanah

Perdikan ini di malam hari?”

“ Ah.” desah Teja Prabawa.

“ Jika kau masih ingin berjalan-jalan, maka Glagah Putih

siap mengantarkanmu. Ia sekarang ada disini.” berkata Ki

Lurah.

“ Untuk apa ia datang kemari?” bertanya Teja Prabawa.

“ Anak itu terbiasa datang ke gardu-gardu dimalam hari.

Kadang-kadang ke gardu didepan, tetapi pada kesempatan

lain kegardu di padukuhan sebelah. Kemudian di gardu yang

lain lagi. Malam ini ia datang kemari.” berkata Ki Lurah. Lalu, “

Marilah. Temui anak itu. Aku sudah terlanjur berkata bahwa

kau ingin melihat-lihat Tanah Perdikan ini di malam hari.”

 

“ Aku tidak senang pada anak itu.” berkata Teja Prabawa, “

terlalu sombong dan tinggi hati. Seharusnya ia menyadari

bahwa ia tidak lebih dari anak padukuhan yang bodoh dan

dungu. Bagaimana mungkin ia dapat menyamai seorang

perwira muda dari Pasukan Khusus.”

“ Tetapi justru karena itu, maka ia akan dapat menjadi

seorang pengantar yang baik. Agak berbeda dengan perwira

dari Pasukan Khusus. Kau benar-benar harus tunduk kepada

kehendaknya.” berkata Ki Lurah.

“ Sudah larut malam kakek.” akhirnya Teja Prabawa

memotong.

“ Marilah. Temui anak itu. Kau dapat berbicara dengannya.”

ajak Ki Lurah.

Teja Prabawa masih saja termangu-mangu. Ki Lurah yang

tidak sabar lagi telah menarik tangannya sambil berkata, “

Marilah.”

Anak muda itu tidak dapat membantah. Namun Rara

Wulanlah yang memanggil, “ Kakek. Jangan tinggal aku

sendiri.”

“ Marilah ikut ke serambi.” ajak Ki Lurah.

Rara Wulanpun telah berlari-lari pula mengikuti kakek dan

kakaknya keserambi.

Glagah Putih bangkit berdiri ketika Ki Lurah kemudian

datang bersama Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan.

Bahkan kemudian ia telah mengangguk hormat.

“ Duduklah.” berkata Ki Lurah. Lalu katanya kepada Teja

Prabawa, “ Nah, pergilah melihat-lihat suasana malam disini.

Jangan takut. Disini cukup aman. Kau tidak akan bertemu

dengan perampok atau penyamun atau penjahat lainnya.”

“ Kakek, apakah aku pernah mengatakan bahwa aku

takut?” bertanya Teja Prabawa.

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Namun iapun menarik

nafas sambil berkata, “ Ya. Kau memang tidak pernah

mengenal takut. Karena itu, pergilah.”

Ki Lurah berhenti sejenak. Lalu iapun berkata kepada

Glagah Putih, “ sebenarnya kau akan pergi kemana.”

“ Aku akan pergi ke sungai Ki Lurah.” jawab Glagah Putih.

 

“ Untuk apa malam-malam begini pergi ke sungai?”

bertanya Ki Lurah.

“ Aku mempunyai pliridan di sungai. Sore tadi aku telah

membuka pliridan itu. Pada saat-saat menjelang tengah

malam, pliridan itu dapat ditutup untuk pertama kalinya.

Memang ada yang hanya menutup satu kali menjelang dini

hari. Tetapi dapat dilakukan dua kali. Jika kebetulan banyak

ikan yang berkeliaran maka menutup pliridan dua kali lebih

menguntungkan. Namun biasanya kita malas melakukannya,

sehingga hanya dilakukan sekali saja di dini hari.” jawab

Glagah Putih.

“ Menarik sekali.” Rara Wulanlah yang menyahut, “ apakah

aku boleh ikut?”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Dengan nada

rendah ia menjawab, “ Tetapi kita akan menuruni tebing. Jalan

memang agak rumpil. Bagaimana jika Rara besok siang saja

melihat pliridan itu.”

“ Tetapi bukankah saat menangkap ikan malam-malam

begini?” bertanya Rara Wulan.

“ Ya.” jawab Glagah Putih.

“ Nah, lebih baik aku ikut sekarang.” berkata Rara Wulan.

“ Aku sudah mengantuk.” berkata Teja Prabawa, “ besok

saja kita pergi bersama perwira itu.”

“ Besok kita juga pergi.” jawab Rara Wulan, “ tetapi tentu

tidak memungut ikan seperti malam ini. Besok kita pergi ke

belumbang itu.”

“ Aku tidak mau.” berkata Teja Prabawa.

“ Kakek, aku akan pergi sendiri.” berkata Rara Wulan

kemudian.

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun

kemudian berkata kepada cucunya, “ Pergilah. Antarkan

adikmu yang ingin melihat cara memunguti ikan dari pliridan.

Dimasa remaja aku juga sering melakukannya.”

Teja Prabawa tidak dapat membantah lagi, Ia tidak mau

dikatakan ketakutan memasuki gelapnya malam dan turun

tebing sungai yang rumpil. Apalagi takut bertemu dengan

perampok atau penyamun. Karena itu, maka katanya

kemudian, “ Baiklah. Aku membenahi pakaianku dahulu.”

 

Glagah Putih masih harus menunggu sejenak. Ternyata

justru Rara Wulan yang tidak mau dicegah. Bukan saja oleh

Glagah Putih, tetapi juga oleh kakeknya. Seperti kakaknya,

maka Rara Wulanpun telah membenahi pakaiannya pula.

Sejenak kemudian maka merekapun telah bersiap.

Betapapun segannya, Teja Prabawa terpaksa ikut bersama

Glagah Putih keluar regol halaman rumah Ki Gede untuk

menuju ke sungai. Tetapi Glagah Putih masih akan singgah

dahulu kerumah untuk mengajak pembantu rumahnya bersama-

sama membuka pliridan.

Ternyata pembantu rumahnya hampir tidak sabar lagi.

Ketika Glagah Putih mengajaknya, maka iapun telah

bergeremang panjang lebar.

“ Aku membawa dua orang kawan.” berkata Glagah Putih,

“ dua orang kawan dari Kotaraja yang tidak terbiasa berjalan

digelapnya malam. Ketika mereka berjalan dari rumah Ki

Gede sampai kemari, ternyata mereka telah mengalami

kesulitan, padahal diregol-regol halaman rumah pada

umumnya terdapat obor atau lampu minyak atau obor biji

jarak.”

“ Buat apa kau bawa mereka?” bertanya pembantunya, “

bukankah hanya merepotkan kita saja?”

“ Mereka ingin tahu, cara membuka pliridan” jawab Glagah

Putih.

Keduanyapun kemudian telah menuju ke halaman depan

sambil membawa alat-alat yang diperlukan, terutama cangkul

dan kepis.

“ Kenapa kau terlalu lama.” bentak Raden Teja Prabawa.

“ Kami mengambil alat-alat dibelakang, Raden.” jawab

Glagah Putih.

“ Kita akan berjalan kemana?” bertanya Raden Teja

Prabawa.

“ Ke Sungai.” jawab Glagah Putih.

“ Maksudku, ke Barat, ke Timur atau ke Utara.” geram

Raden Teja Prabawa.

“ O” Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. “ Kita akan

berjalan ke Barat. Menyusuri jalan induk, kemu-dian keluar ke

bulak persawahan. Kita akan berjalan terus, mengambil jalan

 

pintas dan kemudian mengikuti pematang sawah sampai

ketebing.”

“ Kita tidak menelusuri jalan induk Tanah Perdikanmu?”

bertanya Raden Teja Prabawa, “ Bukankah lewat jalan induk

kita akan sampai juga ke sungai seperti kau katakan

kemarin?”

“ Tetapi pliridan kami terletak agak jauh dari jalan ini.”

jawab Glagah Putih.

Raden Teja Prabawa termangu-mangu. Namun kemudian

Glagah Putih berkata, “ Kita membawa obor meskipun tidak

terlalu besar. Kita akan membawa obor biji jarak kepyar

kering. Kami mempunyai beberapa.”

“ Kau kira aku takut gelap?” bertanya Teja Prabawa marah.

Namun Rara Wulanlah yang menyahut, “ Biarlah mereka

membawa obor, kakang. Barangkali lebih baik berjalan dalam

cahaya obor daripada gelap sama sekali.”

Glagah Putihpun kemudian telah mengambil beberapa

batang obor biji jarak kepyar yang dirangkai dengan rautan

bambu. Setiap tiga rangkai telah diikat menjadi satu, sehingga

obor biji jarak itu menjadi cukup terang untuk berjalan dimalam

hari. Beberapa saat kemudian, maka dengan batu thithikan dan

empat batang aren Glagah Putih telah membuat api, yang

kemudian dinyalakan pada dimik-dimik belerang untuk

menyalakan obor itu.

“ Siapa anak itu?” bertanya Raden Teja Prabawa ketika

dilihatnya pembantu rumah Agung Sedayu itu bersama

mereka.

“ Pembantu rumah kakang Agung Sedayu. Aku memang

terbiasa pergi bersamanya.” jawab Glagah Putih.

Raden Teja Prabawa tidak bertanya lagi tentang anak itu.

Tetapi iapun kemudian berkata kepada Glagah Putih. “ Kau

yang membawa obor berjalan didepan.”

“ Baik Raden.” jawab Glagah Putih.

Namun ketika pembantu rumahnya akan mengikuti pula

berjalan didepan. Raden Teja Prabawa menarik pundaknya

sambil membentak, “ Siapa yang memerintahkanmu berjalan

didepan? Kau berjalan dibelakangku.”

 

Anak itu terkejut. Ia tidak biasa diperlakukan begitu kasar.

Tetapi anak itu diam saja, karena menurut Glagah Putih kedua

orang itu adalah anak muda dari Kotaraja. Apalagi ketika

kemudian Glagah Putihpun berkata, “ Kau berjalan

dibelakang.”

Demikianlah, maka iring-iringan itu lewat jalan induk

menuju ke gerbang untuk keluar melintasi bulak. Digardu,

dimulut jalan beberapa orang anak muda yang meronda

memang agak heran melihat Glagah Putih berjalan sambil

membawa obor. Ia tidak terbiasa berbuat demikian. Namun

ketika mereka melihat kedua cucu Ki Lurah yang berada

dirumah Ki Gede, maka merekapun mengerti, bahwa

keduanyalah yang memerlukan obor. Tetapi agaknya mereka

tidak mau membawa sendiri, sehingga Glagah Putihlah yang

harus membawanya.

Anak-anak muda digardu itu sempat juga menyapa Glagah

Putih. Namun mereka tidak berminat untuk berbicara dengan

kedua cucu Ki Lurah yang menurut pendengaran mereka,

keduanya adalah anak-anak muda yang tinggi hati. Sejenak

kemudian, mereka berempatpun telah berjalan dibulak yang

luas. Cucu-cucu Ki Lurah tidak melihat lebih jauh dari cahaya

obor jarak. Agak berbeda dengan Glagah Putih dan pembantu

rumahnya yang sudah terbiasa berjalan dalam gelapnya

malam.

Ternyata kedua cucu Ki Lurah itu merasa ngeri juga

berjalan digelapnya malam. Mereka memang tidak melihat

apa-apa selain bintang diatas mereka. Tanaman disebelah

menyebelah jalan yang mereka lalui yang tersentuh oleh

cahaya obor. Dan tanah yang berdebu dibawah kaki mereka.

Rasa-rasanya dunia disekitar mereka hanya berwarna hitam

semata-mata.

Rara Wulan berjalan dekat dibelakang Glagah Putih. Raden

Teja Prabawa disebelahnya agak belakang. Sementara itu

pembantu dirumah Glagah Putih itu berjalan beberapa langlah

di belakang mereka. Ketika mereka berbelok memasuki jalan

kecil, rasa-rasanya malam menjadi semakin gelap. Apalagi

ketika mereka kemudian melangkah diatas pematang.

“ Jangan terlalu cepat.” minta Rara Wulan.

 

“ Salahmu.” bentak Teja Prabawa, “ sudah aku katakan,

kita tidak perlu keluar malam ini.”

Rara Wulan tidak menyahut. Meskipun hatinya menjadi

bergetar, tetapi ia tidak mengeluh lagi. Ia memang menyesal

bahwa ia telah keluar malam itu.

Beberapa saat kemudian mereka telah sampai ketanggul

sungai. Mereka harus menuruni tebing yang agak curam.

Karena itu, maka Glagah Putih telah mendahului mereka dan

dari bawah tebing ia telah mengangkat obornya untuk

menerangi jalan setapak yang memang agak sulit itu.

Rara Wulan dan Teja Prabawa memang harus merangkak

turun. Namun akhirnya mereka telah berada di pasir tepian.

Gemericik air sungai rasa-rasanya bagaikan berirama. Karena

pancaran obor yang dibawa oleh Glagah Putih maka batu-batu

sungai yang hitam nampak bagaikai bermunculan dari dalam

air.

Rara Wulan memang menjadi ketakutan. Tetap Glagah

Putih berkata, “ Marilah. Kita berjalan diatas pasir tepian

menyusur naik. Kita akan sampai sebuah bendungan. Pliridan

itu berada di bawah bendungan.”

Mereka berempat kemudian telah menyusuri pasir tepian.

Ketika mereka melewati bayangan pohon benda yang besar,

rasa-rasanya kaki kedua cucu Ki Lurah itu tidak mai bergerak.

Demikian takutnya Rara Wulan, sehingga ia benar-benar

berjalan hampir melekat dibelakang Glagah Putil yang

membawa obor. Namun kedua cucu Ki Lurah itu sedikit

merasa tenang ketika mereka melihat pembantu Glagal Putih

berjalan biasa saja dibelakang mereka.

Ketika mereka harus melangkahi akar-akar raksass pohon

benda yang menjulur sampai ketepian itu, Ran Wulan tidak

dapat menahan diri lagi. Sehingga hampi diluar sadarnya ia

berdesis, “ Aku takut.”

Raden Teja Prabawa tidak membentak adiknya karem ia

sendiri juga menjadi ketakutan, sehingga kedua orang cucu Ki

Lurah itu telah saling berpegangan.

Pembantu dirumah Glagah Putih itu memandang keduanya

dengan heran. Ia memang dapat menduga bahwj keduanya

 

menjadi ketakutan. Yang tidak diketahuinya apakah yang

mereka takutkan. Padahal pada hari-hari yang lain ia kadangkadang

pergi sendiri tanpa membawa obor sama sekali tanpa

merasa takut.

Tetapi anak itu berkata didalam hatinya, “ Mungkin karena

aku sudah terbiasa berjalan sendiri di tepian ini. Agaknya jika

aku dilepaskan di Kotaraja, dalam ramainya orang-orang

berlalulalang, akupun akan menjadi ketakutan pula.”

Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah

mendekati bendungan yang terbuat dari brunjung bambu yang

diisi dengan batu-batu dan disisipi dengan dedaunan yang

diikat kuat-kuat serta ditimbuni dengan tanah ditompang

dengan patok-patok bambu yang kuat pula.

“ Nah” berkata Glagah Putih, “ ini adalah pliridan itu.”

Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan memperhatikan

bagian dari sungai itu yang dibatasi semacam pematang yang

membelah sungai itu membujur panjang. Dibagian atas

pliridan itu terbuka, bahkan pematang yang lain membujur

menyilang sungai itu hampir keseberang yang lain. Dengan

demikian maka air sungai itu hampir seluruhnya telah mengalir

melalui pliridan itu. Sementara bagian bahan telah ditutup

rapat. Namun diberi sedikit bagian yang lebih rendah untuk

memberikan jalan bagi air yang meluap. Dengan demikian

maka dibagian dalam pliridan itu seakan-akan telah menjadi

sebuah kolam yang tidak begitu dalam.

“ Tunggulah ditepian.” berkata Glagah Putih, “ kami akan

membuka pliridan ini.”

Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan tidak menjawab.

“ Bawalah obor ini Raden.” minta Glagah Putih.

“ Kau yang membawanya. Kau tidak berhak memerintah

aku.” bentak Raden Teja Prabawa.

“ Kami berdua akan membuka pliridan ini, sehingga kami

tidak akan dapat sambil memegang obor ini.” berkata Glagah

Putih kemudian.

“ Itu terserah kepadamu.” jawab Teja Prabawa.

“ Baiklah. Jika demikian obor ini akan aku buang saja.”

desis Glagah Putih.

 

“ Jangan.” kedua cucu Ki Lurah itu hampir berbareng

mencegahnya.

“ Lalu bagaimana?” bertanya Glagah Putih.

“ Berikan kepadaku.” minta Rara Wulan.

Glagah Putihpun kemudian telah memberikan obor biji jarak

kepyar itu kepada Rara Wulan.

Namun agaknya Raden Teja Prabawa merasa tidak enak,

bahwa adik perempuannyalah yang membawa obor itu.

Karena itu, maka obor itupun telah dimintanya.

Tetapi Rara Wulan menjawab, “ Biarlah kakang. Aku justru

merasa lebih tenang membawa obor ini ditanganku. Aku dapat

menerangi tempat-tempat yang aku inginkan.”

Raden Teja Prabawa tidak memaksa. Tetapi ternyata

bahwa Rara Wulan memang membawa obor itu sambil

berjalan mendekati Glagah Putih dan pembantunya yang

kemudian sibuk menutup pintu air pada pliridannya.

Sementara pembantunya sibuk menutup pintu air dan

membuka bendungan yang menyilang sungai itu, sehingga air

dapat mengalir, maka Glagah Putih telah memasang wuwu

dibagian bawah pliridan itu. Beberapa saat kemudian, maka

airpun telah tertutup, sementara di bagian bawah, air mengalir

keluar melalui wuwu. Namun ikan yang semula ada didalam

pliridan itu justru telah masuk kedalam wuwu.

Ketika air menjadi semakin sedikit, maka seakan-akan air

itu telah berkumpul dibagian tengah pliridan yang menjadi

semakin dangkal. Dengan segulung kelopak-kelopak batang

pisang kering yang diikat, maka Glagah Putih dan

pembantunya telah mendorong ikan yang ada di dalam air

yang semakin dangkal itu dari ujung pliridan menuju ke bagian

bawah yang telah dipasang wuwu.

Rara Wulan ternyata menjadi senang melihatnya. Dengan

obornya ia melihat ikan yang terperangkap ke-dalam pliridan

yang airnya sudah menjadi hampir mengering itu. Beberapa

ekor ikan wader dan sepat berloncatan diair yang tinggal

sedikit. Beberapa ekor ikan yang berwarna kehitaman

bergejolak menghempas-hempaskan diri.

Tiba-tiba saja Rara Wulan melihat seekor ikan yang

berwarna kemerah-merahan terkapar di pasir yang tidak lagi

 

berair. Dengan serta merta ia memungut ikan itu. Namun

ternyata ikan itu terlalu licin sehingga terlepas lagi dan bahkan

masuk kedalam air ditengah-tengah pliridan itu.

“ O, ikan itu terlepas.” berkata Rara Wulan.

“ Tidak apa-apa.” sahut Glagah Putih, “ ikan itu tidak akan

dapat keluar dari pliridan.”

Namun ketika seekor ikan yang berwarna kehitaman

meloncat kepasir, maka dengan cepat Glagah Putih

mencegah ketika Rara Wulan akan menangkapnya, “ Jangan.

Itu ikan lele.”

“ Kenapa?” bertanya Rara Wulan.

“ Senjatanya berbahaya sekali. Disebelah-menyebelah

kepalanya terdapat sepasang patil yang sangat tajam dan

beracun. Jika kita terkena patilnya, maka bagi yang kurang

mempunyai daya tahan akan dapat menjadi demam.”

“ Omong kosong.” geram Raden Teja Prabawa.

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia

menjawab, pembantu rumahnya telah berkata, “ Apakah

Raden akan mencoba memegangnya?”

Wajah Raden Teja Prabawa menjadi merah. Namun

Glagah Putih cepat-cepat berkata, “ Aku minta maaf untuk

anak dungu itu Raden.”

Anak itu memandang Glagah Putih dengan tajamnya.

Tetapi ia tidak merasa bersalah. Meskipun demikian ia tidak

mengatakan sesuatu.

Sesaat kemudian maka Glagah Putih dan pembantunya

telah melanjutkan kerja mereka setelah melemparkan ikanikan

yang berloncatan keluar dari air yang sedikit itu kembali

kedalam air dan menggiringnya kedalam wuwu.

Ketika seikat kelopak-kelopak batang pisang kering itu

sampai didepan wuwu, maka dalam genangan air yang tinggal

sedikit sekelompok ikan dari berbagai macam jenis telah

berloncatan. Namun sedikit demi sedikit ikan-ikan itupun telah

masuk kedalam wuwu yang agak besar. Demikianlah, maka

sejenak kemudian wuwu itupun telah diangkat dari dalam air

dan dibawa ketepian.

“ Tentu banyak ikannya.” Rara Wulan hampir berteriak.

 

Namun tiba-tiba saja obor ditangannya menjadi semakin

redup. Agaknya biji-biji jarak itu sudak hampir habis.

“ Obornya akan padam.” berkata Rara Wulan.

Namun Glagah Putih menyahut, “ Aku masih membawa

yang lain. Itu terletak di atas batu dekat baju anak itu.”

Rara Wulan termangu-mangu. Namun Glagah Putihpun

berkata, “ Tolong Raden. Ambilkan obor diatas batu itu.”

“ Kau ambil sendiri.” bentak Raden Teja Prabawa.

“ Seperti Raden lihat, aku baru sibuk bersama

pembantuku.” jawab Glagah Putih, “ aku mohon maaf. Tolong

barangkali adik Raden memerlukannya.”

Raden Teja Prabawa menjadi marah. Tetapi ternyata

bahwa Rara Wulanlah yang memintanya, “ Tolong kakang.

Sebelum obor ini mati.”

“ Anak cengeng.” bentak kakaknya, “ kenapa kau ikut?”

Rara Wulan yang mengenal kakaknya dengan baik itupun

akhirnya berkata, “ Baiklah. Jika kau tidak mau mengambil

obor itu. Aku akan membiasakan melihat dalam gelap.”

“ Kenapa kau tidak mendengar kata-kataku tadi?”

kakaknya masih saja membentak.

Tetapi sebenarnyalah Raden Teja Prabawa sendiri tidak

ingin mereka kegelapan. Mesipun kemudian Rara Wulan

berdiam diri, namun Raden Teja Prabawa itu telah melangkah

ke sebuah batu ditepian.

“ Kau bawa obor itu kemari.” Raden Teja Prabawa hampir

berteriak.

Rara Wulan memang mendekat, sementara Teja Prabawa

telah mengambil obor yang terletak diatas batu ditepian

didekat baju pembantu Glagah Putih itu.

“ Berikan obor itu kakang. Aku akan menyalakannya.”

berkata Rara Wulan.

Raden Teja Prabawa tidak membantah. Iapun kemudian

memberikan obor itu dan membiarkan Rara Wulan

menyalakannya dengan sisa obor yang terdahulu.

“ Hampir terlambat.” katanya, “ untung masih tetap

menyala.”

Dengan obor itu, maka Rara Wulan telah berjongkok di

sebelah Glagah Putih dan pembantunya disaat mereka

 

menuang ikan dari dalam wuwu kedalam sebuah irig bambu

yang agak besar. Sumbat pada pangkal wuwu itupun dicabut

dan wuwu itupun telah dihentak-hentakkan diatas irig itu

sehingga ikan yang terakhir telah jatuh kedalam irig itu.

“ He, kau mendapat banyak ikan hari ini.” berkata Rara

Wulan yang nampak gembira sekali melihat ikan-ikan dari

berbagai jenis yang bergelepak di dalam irig yang besar itu.

Satu hal yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya.

“ Kau heran melihat ikan-ikan sekecil lalat itu?” bertanya

Teja Prabawa, “ bukankah kau dapat membeli dipasar ikan

apapun jenisnya dan seberapapun kau butuhkan. Bahkan

ikan-ikan yang jauh lebih besar dari ikan-ikan kerdil di sungai

yang kotor itu.”

“ Tetapi lain kakang. Kita memang dapat membeli. Tetapi

mendapatkan ikan sendiri rasa-rasanya tentu lebih puas.

Meskipun ikannya kecil-kecil. Tetapi diantaranya ada juga

yang besar.” jawab Rara Wulan.

Raden Teja Prabawa tidak berbicara lagi. Ia menjadi marah

kepada adiknya. Tetapi ia harus menahan kemarahannya itu.

Ia menyadari jika ia benar-benar marah kepada Rara Wulan,

maka gadis nakal itu tentu akan berani membantah setiap

kata-katanya. Sementara itu, orang terpenting bahkan

termasuk golongan orang-orang yang berderajat tidak pantas

untuk bertengkar dihadapan orang lain. Dengan demikian

akan dapat menurunkan penghargaan orang kepada mereka.

Sejenak kemudian, Glagah Putih telah mencuci ikan yang

didapatkannya didalam irignya yang besar itu. Kemudian

memasukkannya kedalam kepis yang telah disiapkan untuk

membawa ikan itu kembali.

Demikianlah setelah berbenah diri, maka merekapun mulai

melangkah meninggalkan tempat itu. Namun pembantu

Glagah Putih itu sempat menggerutu, “ Malam ini kita hanya

membuka pliridan ini sekali pada waktu yang tanggung.”

“ Kenapa?” bertanya Glagah Putih.

“ Jangan pura-pura. Apakah setelah lewat jauh tengah

malam begini kita akan dapat membuka pliridan ini sekali

lagi?” bertanya pembantunya.

 

“ Tetapi bukankah kadang-kadang kita memang hanya

membuka sekali saja dalam satu malam?” Glagah Putih ganti

bertanya.

“ Tetapi tidak pada waktu seperti ini. Tetapi besok

menjelang dini sehingga ikan yang ada didalam pliridar

menjadi lebih banyak dari yang kita dapatkan.” jawat

pembantu rumahnya itu.

“ Ah” desis Glagah Putih, “ bedanya tidak akan seberapa.”

Pembantu rumahnya itu tidak menjawab. Tetapi iapui

segera menempatkan diri di urutan paling belakang,

sebagaimana mereka berangkat. Perjalanan kembali itupun

sama mendebarkannya sebagaimana saat mereka berangkat.

Pohon benda itu masih tetap membuat bulu tengkuk cucu Ki

Lurah itu meremang.

Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah

merangkak naik tebing yang agak curam. Setelah itu, mereka

berjalan melalui jalan sempit menuju ke padukuhan induk.

Baru beberapa saat kemudian mereka memasuki jalan induk

yang langsung menuju kegerbang padukuhan induk Tanah

Perdikan Menoreh itu.

Demikian mereka memasuki padukuhan induk, maka

Raden Teja Prabawa itu telah menarik nafas dalam-dalam.

Rasa-rasanya mereka terlepas dari kesulitan yang

mencengkam didalam satu masa hidupnya.

Rara Wulanpun pun merasa terlepas dari ketakutan yang

mencengkam. Namun berbeda dengan Raden Teja Prabawa

yang marah, Rara Wulan merasa mendapat satu pengalaman

yang menarik dalam hidupnya. Di Tanah Perdikan itu ia telah

berhasil dengan selamat melakukan satu kerja yang sangat

berbahaya menurut pendapatnya, serta melihat bagaimana

mendapatkan sekepis ikan di sebuah sungai dengan membuat

pliridan.

Ketika mereka lewat dimuka rumah Agung Sedayu, maka

Glagah Putih telah bertanya kepada kedua cucu Ki Lurah, “

Apakah kalian ingin membawa ikan itu kepada kakek kalian, Ki

Lurah Branjangan?”

“ Untuk apa?” bentak Raden Teja Prabawa, “ bukankah

kau tahu, bahwa kakek menjadi tamu dirumah Ki Gede? Kau

 

tentu tahu, bahwa kami tidak akan dapat berbuat apa-apa

dengan ikan itu. Apalagi kami memang tidak terbiasa makan

ikan-ikan wader cethul seperti itu. Kami terbiasa membeli ikan

sungai yang bersih dan besar-besar.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “ Aku

memang tahu. Tetapi aku kira bahwa sebaiknya aku

menanyakannya sebagai sekedar basa-basi. Tetapi jika itu

tidak menyenangkanmu, aku minta maaf.”

“ Persetan.” geram Raden Teja Prabawa.

Glagah Putih hanya tersenyum saja. Tetapi iapun kemudian

bertanya, “ Raden, apakah Raden berdua dengan adik Raden

dapat kembali tanpa kami ke rumah Ki Gede?”

“ Maksudmu?” bertanya Raden Teja Prabawa.

“ Jika Raden berdua dapat kembali tanpa kami, maka kami

akan langsung pulang. Hari sudah terlalu malam.” jawab

Glagah Putih.

Wajah Raden Teja Prabawa menjadi merah. Untunglah

bahwa dimalam hari, kemarahannya tidak nampak terlalu

jelas. Namun dengan geram ia berkata, “ Kau harus mengikuti

aku. Meskipun aku tidak takut pulang tanpa kau, tetapi kau

harus ikut aku sampai kerumah Ki Gede. Aku tidakpeduli

apakah malam telah larut atau bahkan sudah pagi sekalipun.

Bahkan seadainya siang hari. Kau memang tidak perlu

mengantar kami. Tetapi kau memang harus mengikuti kami.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya

kepada pembantunya, “ Bawa ikan dan alat-alat ini masuk.

Aku akan pergi ke rumah Ki Gede mengikuti Raden Teja

Prabawa dan adiknya.”

Pembantu dirumah Glagah Putih itu tidak menjawab. Tetapi

ia sama sekali tidak senang melihat sikap kedua cucu Ki Lurah

Branjangan itu.

Demikianlah Glagah Putih harus membawa keduanya

kembali dan menyerahkannya kepada Ki Lurah. Sambil

tersenyum Ki Lurah yang terbangun karena ketukan pada

pintu biliknya menerima kedua cucunya sambil tersenyum.

“ Apa yang kalian lihat?” bertanya Ki Lurah.

“ Tidak ada apa-apa kecuali gelap.” jawab Raden Teja

Prabawa.

 

Tetapi Rara Wulan menjawab, “ Kami melihat bagaimana

caranya seseorang mencari ikan dengan pliridan. Anak itu

mendapat ikan sepenuh tempat ikannya.”

“ Ikan-ikan sebesar cebong katak yang baru menetas.

Wader cethul dan jenis-jenis ikan yang tidak berharga, yang

hanya pantas untuk memberi makan seekor kucing.” sahut

Raden Teja Prabawa.

“ Tidak.” sahut Rara Wulan, “ beberapa ekor ikan lele yang

besar, sepat, wader merah dan beberapa jenis ikan yang lain.”

Ki Lurah tertawa. Katanya, “ Nilainya tidak terletak pada

jenis ikannya, atau barangkali pada harga ikan yang

didapatnya, tetapi keberhasilan satu usaha memberikan

kepuasan tersendiri.”

“ Apakah kakek dapat mengatakan usaha itu berhasil?”

bertanya Raden Teja Prabawa.

“ Ya. Itu adalah hasil usahanya.” jawab Ki Lurah

Branjangan, “ dalam keadaan yang khusus, orang-orang yang

demikian akan dapat memenuhi keperluan mereka sendiri.

Mungkin seseorang yang merasa dirinya mempunyai uang

cukup untuk membeli apa saja yang diinginkan, pada satu

saat akan kehilangan kesempatan untuk mempergunakan

uangnya. Mungkin ia akan terdampar di satu tempat dimana

tidak ada seorangpun yang berjualan apapun atau barangkali

uang yang pernah dimilikinya itu habis karena satu sebab.

Orang yang demikian biasanya akan menjadi bingung dan

tidak tahu apa yang dilakukannya.”

“ Kakek terlalu cemas menghadapi keadaan.” berkata

Raden Teja Prabawa, “ jika kita memiliki kemampuan untuk

mengumpulkan kekayaan, maka kita tidak akan kekeringan.”

“ Meskipun tidak selalu demikian, tetapi aku dapat

mengerti, bahwa kemungkinan untuk tetap mempertahankan

tingkat kehidupan akan dapat dilakukan. Tetapi oleh orang

yang berkepentingan. Anak cucu mereka tidak akan dapat ikut

menepuk dada. karena apa yang terjadi kemudian mungkin

jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada orang-orang

tuanya.” jawab Ki Lurah Branjangan.

Telinga Raden Teja Prabawa menjadi panas. Tetapi ia tidak

menjawab lagi. Iapun menyadari bahwa kakeknya bukan saja

 

seorang yang sabar, tetapi juga seorang yang kuat pada

keyakinannya. Sebagai seorang Senapati, maka Ki Lurah

Branjangan memang mempunyai sifat seorang prajurit.

Karena itu, maka Raden Teja Prabawa itupun melangkah

menuju ke biliknya. Namun Ki Lurah telah berkata, “ Kau harus

membersihkan kaki dan tanganmu di pakiwan.”

Raden Teja Prabawa tertegun. Sementara Ki Lurah

berkata, “ Ajak adikmu bersamamu.”

Keduanya memang harus pergi ke pakiwan untuk

membersihkan kaki dan tangan mereka.

Sementara mereka berdua pergi ke pakiwan, maka Ki

Lurah berkata, “ di setiap kesempatan, bawa mereka ketempat

yang memberikan kesan tersendiri kepada mereka. Ternyata

adiknya memiliki tanggapan yang lebih baik atas

pengalamannya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “ Mudahmudahan

mereka akhirnya akan terbiasa dengan keadaan

Tanah Perdikan ini.”

Ki Lurah tersenyum. Sementara itu Glagah Putihpun telah

mohon diri untuk pulang kerumahnya.

Didalam biliknya Raden Teja Prabawa tidak habis-habisnya

menggeremang. Bahkan marah-marah, karena apa yang

harus dilakukannya sama sekali tidak menarik minatnya.

“ Anak itu memang gila.” geramnya.

Rara Wulan tidak menjawab. Ia memang mempunyai kesan

tersendiri meskipun ia mengakui didalam dirinya, bahwa ia

menjadi sangat ketakutan ketika mereka berjalan dibawah

pohon benda raksasa ditepian itu.

“ Tetapi itu sudah lewat. Dan aku selamat.” berkata Rara

Wulan didalam hatinya.

Meskipun Raden Teja Prabawa itu masih saja marah

didalam hatinya namun akhirnya iapun telah tertidur pula.

Tetapi Rara Wulan ternyata dapat lebih cepat tidur dari

kakaknya.

Dirumahnya, pembantu Glagah Putih itu ternyata juga

menggeremang. Sambil membersihkan alat-alat yang

dibawanya ia berkata, “ Kenapa ikan itu kau tawarkan kepada

anak-anak cengeng itu?”

 

“ Aku tahu mereka tidak akan mau menerima.” jawab

Glagah Putih.

“ Kalau saja mereka mau, kau harus mengganti. Aku tidak

peduli darimana saja kau mendapatkannya.” geram anak itu.

Glagah Putih tertawa. Katanya, “ Aku akan menukarmu dua

kali lipat.”

Anak itu tidak menjawab. Tetapi tangannya sajalah yang

sibuk menghimpun alat-alatnya.

“ Tidurlah.” berkata Glagah Putih, “ besok kau terlambat

bangun.”

Anak itu masih tetap berdiam diri. Namun iapun telah pergi

ke biliknya. Sementara Glagah Putih telah berbaring pula di

pembaringannya. Seperti biasanya, maka Glagah Putih tidak

terlambat bangun. Demikian pula seisi rumah yang lain,

termasuk pembantunya. Ketika matahari terbit mereka sudah

sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

Dalam pada itu, ternyata perwira muda dari Pasukan

Khusus itu pagi-pagi telah berada di padukuhan induk Tanah

Perdikan. Demikian matahari terbit, Wirastama, perwira muda

itu, telah memasuki gerbang halaman rumah Ki Gede.

“ Selamat pagi Ki Lurah.” Wirastama mengangguk hormat

ketika ia melihat Ki Lurah duduk di serambi gan-dok.

“ Marilah anakmas.” Ki Lurah itu mempersilahkan, “ masih

sangat pagi anakmas sudah sampai disini. Apakah anakmas

tidak bertugas?”

“ Hari ini aku telah dibebaskan dari tugas-tugasku Ki Lurah.

Tetapi aku mendapat tugas khusus untuk membantu Ki Lurah

dan cucu-cucu Ki Lurah disini.” jawab perwira muda itu.

Tetapi Ki Lurah tersenyum sambil menjawab, “ Mereka

belum bangun.”

“ He?” perwira itu memang agak terkejut. Matahari sudah

terbit, tetapi mereka belum bangun. Kemudian perwira muda

itupun berkata, “ Baiklah. Aku akan menunggu. Barangkali

ketenangan di tempat ini membuat mereka tidur terlalu

nyenyak.”

“ Mereka semalam pergi ke sungai.” berkata Ki Lurah.

“ Kesungai?” bertanya Wirastama, “ untuk apa?”

“ Menutup pliridan bersama Glagah Putih.” jawab K Lurah.

 

Wajah Wirastama berkerut. Hampir diluar sadarnya is

bertanya, “ Apakah Rara Wulan juga terlambat bangun?”

“ Ya” jawab Ki Lurah, “ keduanya memang pergi ke sungai

semalam.”

“ Rara Wulan juga turun ke sungai yang curam itu.” desak

Wirastama.

“ Ya. Tetapi sungai itu tidak begitu curam. Memang agak

rumpil. Tetapi seandainya seseorang terjatuh dari atas tanggul

ke pasir tepian tidak akan merasa sakit.” jawab Ki Lurah.

“ Tetapi bagi seorang gadis perjalanan di malam hari turun

ke sungai itu tentu berbahaya.” sahut perwira muda itu, “

apakah mereka pergi bersama Ki Lurah?”

“ Tidak. Hanya bersama Glagah Putih.” jawab Ki Lurah.

Perwira muda itu mengerutkan keningnya. Namun iapun

kemudian mengangguk-angguk sambil berkata perlahan. “

Sebaiknya hal itu tidak dilakukan. Mungkin mereka tergelincir.

Mungkin seokor ular mematuk kaki mereka atau mungkin

mereka bertemu seorang penjahat di jalan.”

Ki Lurah tertawa. Katanya, “ Tidak ada yang perlu

dicemaskan. Meskipun disungai itu kadang-kadang ada ular,

tetapi Glagah Putih sudah sangat berpengalaman turun ke

sungai itu. Setiap malam ia membuka pliridannya. Bahkan jika

ia tidak malas, semalam dilakukannya dua kali.”

“ Orang-orang kekurangan harus bekerja keras. Ikan yang

didapatkannya akan dapat memperingan beban mereka,

karena mereka tidak perlu pergi ke pasar membelanjakan

uangnya yang memang hanya sedikit. Tetapi pergi ke sungai

tetap berbahaya bagi orang lain.” berkata Wirastama.

Ki Lurah menggeleng. Katanya, “ Aku tinggal cukup lama

disini saat aku membentuk Pasukan Khusus itu. Aku tahu

bahwa disini jarang sekali terdapat tempat-tempat berbahaya.

Meskipun alam nampaknya keras, tetapi rasa-rasanya cukup

akrab dengan para penghuninya.”

“ Tetapi cucu Ki Lurah bukan penghuni Tanah Perdikan ini.”

sahut Wirastama.

“ Aku ingin mereka belajar menyesuaikan diri dengan

kehidupan yang keras ini. agar mereka mendapatkan

pengalaman yang berharga bagi hidup mereka. Agar mereka

 

tidak menyangka bahwa hidup di Mataram ini sebagaimana

dilihatnya di Kotaraja. Itupun hanya beberapa bagian tertentu.

Rumah-rumah yang besar. Halaman yang luas. Pelayan yang

siap melakukan perintahnya apapun yang harus dilakukan.

Tercukupi semua kebutuhannya dan selebihnya tidur

mendengkur.” berkata Ki Lurah, “ disini mereka melihat

kehidupan yang lain. Kerja keras. Keakraban dengan alam

dan dengan sesama justru untuk saling membantu. Nafas

kehidupan yang menyatu dengan Kuasa Sumber Hidup

mereka.”

Perwira dari Pasukan Khusus itu termangu-mangu sejenak.

Agahnya Ki Lurah sendirilah yang mendorong cucu-cucunya

untuk melakukan pekerjaan yang berbahaya. Dan bukan saja

berbahaya, tetapi kenapa harus bersama anak Tanah

Perdikan itu, sementara ia sudah menyatakan

kesanggupannya untuk mengantarkan mereka melihat-lihat

Tanah Perdikan ini. Tetapi Wirastama itu merasa masih belum

terlambat. Ia masih mempunyai banyak kesempatan.

Dalam pada itu, maka Ki Lurahpun berkata, “ Tunggulah

sebentar. Biarlah aku membangunkan mereka.”

“ Biar saja Ki Lurah. Agaknya mereka memang letih. Aku

akan menunggu.” jawab perwira muda itu.

Tetapi Ki Lurah tersenyum. Katanya, “ Biarlah, agar mereka

tidak terbiasa bangun terlalu siang. Semua orang sudah ada

pada tugas masing-masing, sementara mereka masih tidur

nyenyak.”

Perwira itu tidak mencegahnya lagi. Sebenarnya ia

memang ingin cucu-cucu Ki Lurah itu segera bangun, mandi

dan berjalan-jalan bersama.

Sejenak kemudian, maka Ki Lurahpun telah

membangunkan kedua cucunya. Meskipun beberapa kali

mereka menggeliat dan memejamkan matanya lagi. Namun Ki

Lurah tidak henti-hentinya membangunkan mereka.

“ Aku masih mengantuk, kek.” gumam Teja Prabawa.

“ Bangun. Wirastama telah sampai disini, kalian masih saja

tidur mengdengkur. Bangun, cepat benahi dirimu.” berkata Ki

Lurah.

 

Teja Prabawa memang segera bangkit. Sambil mengusap

matanya ia bertanya, “ Jadi perwira muda itu telah berada

disini sepagi ini?”

“ Lihatlah dila serambi, sudah menunggu beberapa lama.”

jawab Ki Lurah.

Teja Prabawapun segera bersiap-siap untuk mandi.

Sementara itu Rara Wulan masih saja berbaring di

pembaringan.

“ Cepat, bangun.” bentak kakaknya. Lalu, “ Kau saja

dahulu yang mandi. Kau memerlukan waktu lebih lama dari

aku untuk berpakaian dan berbenah diri.”

“ Tidak.” jawab Rara Wulan, “ jika kita mulai bersamasama,

maka tentu lebih cepat. Kau berhias melampaui

perempuan. Untuk mengatur rambutmu, kau memerlukan

waktu dua kali lipat dari aku.”

“ Aku memakai ikat kepala. Waktu yang lebih lamaku

pergunakan untuk mengenakan ikat kepala itu.” jawab Teja

Prabawa.

“ Nah, karena itu, kau sajalah yang mandi lebih dahuli.”

jawab Rara Wulan sambil menggeliat.

“ Jangan terlalu malas Wulan.” desis Ki Lurah Brar jangan,

“ seharusnya kau bangun sebelum matahari terbit, membantu

di dapur dan menyediakan minuman bagi kakek.”

Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi perlahan-lahan i

bangkit dan duduk dibibir pembaringannya.

“ Cepatlah.” desak kakaknya.

“ Kau saja dahulu.” sahut Wulan.

Ki Lurahlah yang kemudian menengahi, “ Kau sajalah yang

pergi ke pakiwan Teja. Kau dapat segera menemui Wiratama

yang sudah terlalu lama menunggu.”

Teja Prabawa tidak membantah lagi. Iapun kemudian pergi

ke pakiwan untuk mandi.

Perwira muda dari Pasukan Khusus itu memang menjadi

gelisah. Ia sudah cukup lama menunggu. Namun yang

kemudian keluar menemuinya adalah Ki Lurah lagi.

“ Mereka baru mandi.” berkata Ki Lurah.

Perwira muda itu menyembunyikan kegelisahannya.

Katanya, “ Biar saja Ki Lurah. Aku tidak tergesa-gesa.”

 

Beberapa saat kemudian Teja Prabawa telah selesai

berbenah diri. Iapun telah keluar ke serambi gandok menemui

Wirastama yang sudah menunggunya.

“ Nah.” berkata Ki Lurah, “ cucuku sudah selesai. Silahkan

duduk bersamanya, aku akan menemui Ki Gede yang

barangkali sudah ada di ruang dalam itu.”

“ Silahkan, silahkan Ki Lurah.” jawab Wirastama.

Ki Lurahpun kemudian meninggalkan kedua anak muda

yang duduk diserambi itu. Tetapi ia singgah ke bilik Rara

Wulan, yang nampaknya masih saja seenaknya berbenah diri,

meskipun ia sudah mandi.

“ Cepat sedikit.” berkata Ki Lurah, “ jika kau ingin berjalanjalan

bersama kakakmu dan barangkali bersama Wirastama,

jangan berangkat terlalu siang.”

“ Aku masih lelah, kek.” berkata Wulan.

“ Katakan kepada kakakmu. Tetapi sebaiknya kau

selesaikan berbenah diri dan ikut menemui Wirastama

diserambi.” berkata Ki Lurah pula. Lalu katanya, “ Aku akan

ke ruang dalam.”

Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian telah

menyisir rambutnya.

Ketika Ki Lurah masuk keruang dalam, Ki Gede memang

sudah duduk sambil menghadapi minuman hangat. Ketika ia

melihat Ki Lurah, maka iapun kemudian mempersilahkannya

duduk. Katanya, “ Aku kira Ki Lurah masih sibuk dengan cucucucu

Ki Lurah.”

“ Itulah.” sahut Ki Lurah, “ sebenarnya mereka sudah

cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri. Tetapi mereka

terlalu terbiasa dilayani, sehingga kadang-kadang mereka

tidak tahu, apa yang sebaiknya dilakukan.”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “ Mereka memang

memerlukan pengalaman. Tetapi Ki Lurah tidak akan dapat

mengharapkan perubahan yang tiba-tiba terjadi atas mereka.”

Ki Lurahpun tersenyum pula. Katanya, “ Memang mereka

tidak akan berubah dengan serta merta Ki Gede. Tetapi

pengalaman yang mereka peroleh disini akan memberikan

pengetahuan kepada mereka sehingga untuk selanjutnya

mereka akan memperhitungkannya disaat-saat mereka harus

 

mengambil sikap, khususnya yang menyangkut

lingkungannya.”

Ki Gedepun mengangguk-angguk. Katanya, “ Aku kira

pengaruh itu tentu akan ada pada saat-saat mendatang,

Meskipuh demikian masih dipertanyakan sebesar manakar

pengaruh itu mewarnai sikapnya.”

Ki Lurah tertawa. Katanya, “ Mudah-mudahan usaha ku

tidak sia-sia.”

Dalam pada itu, maka seorang pembantu dirumah K

Gedepun telah menghidangkan minuman dan makanan pula.

Sementara Ki Gede berkata kepada pembantu itu, “ Jangan

lupa. Digandok ada dua orang cucu Ki Lurah. Dan bahkan

seorang tamu, seorang perwira dari Pasukai Khusus.”

Di gandok, Teja Prabawa telah dengan penuh minat

mendengarkan pembicaraan perwira muda ini. Meskipu

perwira muda itu baru beberapa lama berada di Tanah

Perdikan, tetapi rasa-rasanya ia sudah mengenal semua sudut

Tanah Perdikan itu.

“ Aku mengenal Tanah Perdikan ini melampaui orang-orang

Tanah Perdikan ini sendiri.” berkata Wirastama.

Teja Prabawa mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa

Wirastama mengenal Tanah Perdikan itu dengan baik. Karena

itu maka katanya, “ Apa yang pantas untuk dilihat di Tanah

Perdikan ini? Glagah Putih pernah menyebutkan sebuah

telaga kecil yang biasa dipergunakan sebagai tempat mandi.

Atau daerah hutan lebat di lereng pebukitan di sebelah Barat.

Atau barangkali ada tempat lain yang menarik.”

Wirastama tersenyum. Katanya “ Yang ada itu bukan

sebuah telaga meskipun kecil. Hanya sebuah belumbang yang

oleh orang-orang disekitarnya dipergunakan untuk mandi dan

mencuci pakaian. Tetapi jika kalian ingin melihat dan

barangkali mandi di belumbang itu, aku akan mengantar kalian

kesana.”

“ Apakah belumbang itu dalam?” bertanya Teja Prabawa.

“ Ada bagian yang dalam, tetapi ada bagian yang tidak

terlalu dalam. Apakah kau pandai berenang?” bertanya

Wirastama.

“ Sedikit.” jawab Teja Prabawa.

 

“ Adikmu?” bertanya Wirastama hampir diluar sadarnya.

“ Juga sedikit-sedikit.” jawab Teja prabawa pula.

“ Nah, jika demikian, marilah. Kita pergi ke belumbang.”

ajak Wirastama.

“ Baiklah. Aku akan berbicara dengan Wulan.” sahut Teja

Prabawa.

Teja Prabawapun kemudian menemui Rara Wulan yang

masih berada didalam biliknya meskipun ia sudah selesai

berbenah diri. Dengan agak mendesak ia berkata, “ Cepatlah

sedikit. Kita akan pergi ke belumbang. Kita dapat mandi di

belumbang itu.”

“ Kita baru saja mandi.” jawab Rara Wulan.

“ Tetapi tentu lain dengan mandi di belumbang. Yang

penting bukan mandi membersihkan diri. Tetapi kita dapat

berenang-renang sambil berendam.” gumam Teja Prabawa.

“ Apakah kau dapat berenang tanpa berendam di air?”

bertanya Rara Wulan.

“ Ah, sudahlah. Cepatlah sedikit. Wirastama sudah

menunggu terlalu lama.” ajak Teja Prabawa.

Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun

kemudian bangkit dan melangkah keluar. Sebenarnyalah ia

memang ingin melihat belumbang itu. Ketika mereka sampai

diserambi, maka ternyata hidangan telah disuguhkan oleh

pembantu dirumah Ki Gede itu. Karena itu, maka sebelum

mereka berangkat, mereka sempat meneguk minuman hangat

dan makan beberapa potong makanan, kecuali Rara Wulan

yang agaknya segan makan-makanan dihadapan perwira

muda itu.

“ Marilah.” ajak Wirastama, “ selagi matahari belum tinggi.”

“ Aku minta diri pada kakek dan Ki Gede.” berkata Teja

Prabawa.

“ Aku juga.” desis Rara Wulan.

“ Kau disini saja.” minta kakaknya, “ aku saja yang minta

diri.”

Tetapi Rara Wulan tidak mau. Iapun justru telah

mendahului kakaknya menuju ke ruang dalam.

Kakeknya berpaling. Lalu katanya, “ Kemarilah. K Gede

duduk disini. Duduklah dan kau akan berbicar apa?”

 

Rara Wulanpun mendekat. Sambil menunduk iapui duduk

disisi kakeknya, sementara Teja Prabawapun telah

menyusulnya pula dan duduk pula disebelahnya.

“ Kek.” berkata Raden Teja Prabawa kemudian, “ kami

akan berjalan-jalan.”

“ Dengan siapa?” bertanya Ki Lurah.

“ Dengan Wirastama.” jawab Teja Prabawa.

“ Glagah Putih sebentar lagi tentu datang kemari. Apakah

kau tidak menunggunya? Barangkali kalian dapat pergi

bersama-sama?” bertanya kakeknya.

“ Buat apa menunggu anak sombong itu.” desis Teja

Prabawa.

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Gede

berkata, “ Glagah Putih tentu lebih mengenali Tanah Perdikan

ini daripada Wirastama.”

“ Tidak.” jawab Teja Prabawa, “ Wirastama jauh lebih

banyak mengenali Tanah Perdikan ini dari anak dungu itu.”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “ Glagah Putih mengenal isi

Tanah Perdikan ini seperti mengenali isi rumahnya yang kecil

itu. Glagah Putih mengenal semua orang yang tinggal di

Tanah Perdikan ini seperti mengenal orang-orang seisi

rumahnya pula.”

Tetapi Teja Prabawa seakan-akan tidak percaya kepada

keterahgan Ki Gede itu. Karena itu, maka ia masih menjawab,

“ Tetapi apa yang diceriterakan oleh Wirastama itu lebih

beraneka tentang isi Tanah Perdikan ini daripada yang

dikatakan oleh anak itu.”

Ki Gede masih saja tersenyum. Jawabnya, “ Kadangkadang

seseorang nampak lebih kaya dari seorang yang

sebenarnya jauh lebih kaya hanya karena pakaiannya.”

Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Sementara itu Ki

Lurah pun berkata, “ Ki Gede adalah orang yang paling

mengetahui di Tanah Perdikan ini, karena itu maka apa yang

dikatakannya tentu bukan sekedar dibuat-buat.”

Cucu Ki Lurah itu memang tidak menjawab. Tetapi ia tetap

tidak percaya. Adalah wajar jika Ki Gede menganggap

orangnya lebih baik dari seorang perwira Pasukan Khusus

sekalipun. Sedangkan menurut Teja Prabawa, Glagah Putih

 

belum sehitamnya kuku perwira muda yang bernama

Wirastama itu.

Dalam pada itu, Ki Gedepun kemudian berkata, “ Baiklah.

Tetapi berhati-hatilah.”

“ Jangan terlalu lama.” pesan Ki Lurah.

“ Baik Ki Gede. Kami mohon diri kek.” desis Teja Prabawa.

“ Aku juga minta diri kek.” desis Rara Wulan.

“ Kau juga ikut?” bertanya kakeknya.

“ Aku ingin melihat belumbang itu.” jawab Rara Wulan, “

katanya kita dapat mandi di belumbang itu.”

“ Tetapi kau harus memilih. Belumbang itu dibagi menjadi

dua bagian. Yang sebagian memang dapat dipergunakan

untuk mandi. Tetapi di bagian yang lain, belumbang itu sangat

dalam. Nampaknya memang menyenangkan untuk berenang.

Namun kadang-kadang terdapat pusaran air yang berbahaya

yang dapat menyeret seseorang ke dalam lubang batu padas

yang tidak diketahui arahnya. Sedangkan tidak seorangpun

dapat memperkirakan, kapan pusaran itu datang. Karena

begitu tiba-tiba dan tidak disangka-sangka.” pesan Ki Gede.

“ Nah, kau dengar.” Ki Lurah menyambung, “ kau tentu

menyadari apa yang akan terjadi jika seseorang terhisap oleh

pusaran air masuk ke lubang batu padas.”

“ Hal itu memang pernah terjadi Ki Lurah.” berkata Ki

Gede. Lalu, “ Agaknya dibawah belumbang itu terdapat

sebuah ruang yang besar, Setiap kali ruang itu berkurang

isinya karena melalui arus dibawah tanah mengalir. Setiap

saat tertentu, maka kekurangan itu harus diisi jika

keseimbangan udara didalamnya telah tercapai. Dengan

demikian maka diatasnya akan timbul pusaran air disaat air itu

masuk mengisi ruang dibawah tanah itu.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Sambil menepuk bahu cucu

perempuannya ia berkata, “ Berhati-hatilah. Kau dengar pesan

Ki Gede. Karena itu, jika kau mandi juga, jangan terpisah dari

orang-orang lain, terutama orang-orang disekitar tempat itu

yang sudah mengenali tabiat belumbang itu dengan baik.”

“ Ya kakek.” jawab Rara Wulan.

Namun dalam pada itu Teja Prabawa berkata, “ Wirastama

tentu mengetahui hal itu.”

 

K i Lurah dan Ki Gede hanya dapat saling berpandangan.

Agaknya Teja Prabawa memang terlalu mengagumi perwira

muda dari Pasukan Khusus itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka bertigapun

telah berangkat. Matahari memang sudah mulai memanjat

langit. Tetapi belum terlalu tinggi.

“ Apakah kau pernah melihat pasar di Tanah Perdikan ini?”

bertanya Wirastama.

“ Belum.” jawab Teja Prabawa.

“ Marilah. Kita melihat pasar. Tentu menarik. Berbeda

dengan pasar di Kotaraja. Ketika aku ditugaskan di tempat ini

setelah untuk waktu yang agak lama di Kotaraja, maka akupun

tertarik melihat pasar disini. Memang tidak seramai di

Kotaraja. Tetapi kita akan melihat orang-orang yang menurut

kalian tentu aneh. Pertama kali aku melihat, aku juga merasa

aneh. Begitu sederhana dan pada umumnya nampak dungu.”

berkata Wirastama.

Teja Prabawa mengangguk. Lalu katanya kepada Rara

Wulan, “ Kita singgah dipasar sebentar.”

Rara Wulan hanya mengangguk saja. Ia memang ingin

melihat apa saja di Tanah Perdikan itu.

Karena itulah, maka mereka bertigapun telah singgah di

pasar yang terletak di padukuhan induk Tanah Perdikan. Teja

Prabawa dan Rara Wulan memang pernah lewat pasar itu

pula. Tetapi mereka belum pernah masuk sampai kedalamnya

dan melihat apa saja yang diperjualbelikan dipasar itu.

“ Seperti kuburan.” berkata Teja Prabawa.

“ Kenapa?” bertanya Wirastama.

“ Gubug-gubugnya terlalu rendah. Yang terbuat dari kayu

justru mirip cungkup di kuburana. Apalagi disaat pasar ini

kosong lewat tengah hari. Lebih-lebih lagi menjelang senja.”

“ Tetapi orang-orang disekitar tempat ini tahu, bahwa disini

terdapat sebuah pasar, bukan kuburan.” sahut Rara Wulan.

“ Ya.” Wirastama mengangguk-angguk. Lalu, “ disini juga

tidak terdapat pohon semboja.”

Teja Prabawa hanya mengangguk-angguk saja, sementara

Rara Wulan tiba-tiba saja bertanya, “ Apakah yang dijual itu?”

 

Karena Teja Prabawa juga tidak tahu, maka iapun

berpaling kepada Wirastama yang menjawabnya, “ Ampo.

Makanan yang dibuat dari tanah liat.”

“ Tanah liat? Bagaimana mungkin?” bertanya Rara Wulan

pula.

“ Ya. Tanah liat.” jawab Wirastama. “ benar-benar tanah

liat yang digores tipis-tipis. Mula-mula tanah liat itu dibuat

bulatan seperti roda pedati yang besar tebal dan tanpa lubang

di tengah selain porosnya.”

Rara Wulan mengerutkan keningnya. Ia agak kurang dapat

memahami keterangan Wirastama. Namun disebelahnya

ternyata terdapat apa yang dikatakan Wirastama itu. Seperti

roda yang terbuat dari tanah liat. Dikesrik dengan welat

bambu, sehingga berjatuhan lapisan-lapisan tipis yang

bergulung. Kemudian tanah liat itu dipanasi diatas kuali yang

juga terbuat dari tanah liat tanpa minyak.

Rara Wulan menggeleng-gelengkan kepalanya. Hampir

diluar sadarnya ia berkata, “ Bagaimana jika kualinya itu saja

yang dimakan?”

Wirastama tertawa. Katanya, “ Sudahlah. Marilah kita

lanjutkan perjalanan. Bukankah kita akan pergi ke

belumbang?”

Kedua cucu Ki Lurah itu tidak menjawab. Namun mereka

bertiga telah melangkah meninggalkan pasar itu tanpa

menyadari, bahwa beberapa orang tengah memandangi

mereka dengan mulut ternganga. Namun beberapa orang

telah mengetahui bahwa kedua orang yang dikawani oleh

seorang prajurit dari Pasukan Khusus itu adalah tamu Ki Gede

dari Kotaraja.

“ Menilik pakaian dan tanda-tanda yang ada pada

pakaiannya, prajurit itu tentu seorang perwira.” berkata

seorang anak muda yang kebetulan ada di pasar itu.

Namun diantara mereka yang memperhatikan ketiga orang

itu adalah seorang perempuan yang menjinjing sebuah

keranjang yang berisi beberapa jenis sayur-sayuran.

Perempuan yang habis berbelanja untuk kepentingan seharihari.

Perempuan itu adalah Sekar Mirah. Tetapi Sekar Mirah

tidak memperhatikan mereka lebih lama. Iapun kemudian

 

meninggalkan pasar itu pula, karena ia sudah cukup

berbelanja buat hari itu, sementara dirumah telah ada ikan

hampir sekepis penuh. Namun dirumah, Sekar Mirah sempat

berceritera bahwa ia telah bertemu dengan kedua cucu Ki

Lurah.

“ Aku belum pernah melihat dengan jelas keduanya. Tetapi

aku yakin, bahwa keduanya itulah yang dikawani oleh seorang

perwira dari Pasukan Khusus.” berkata Sekar Mirah.

Glagah Putih mengangguk-angguk sambil menyahut, “

mBokayu benar. Perwira itu bernama Wirastama. Dari

Pasukan Khusus?”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Lalu iapun

bertanya, “ Jadi kau tidak lagi menemaninya?”

“ Cucu Ki Lurah itu tidak senang kepadaku. Aku takut

bahwa pada suatu saat aku kehilangan kendali sehingga aku

menyakiti hatinya.” berkata Glagah Putih.

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Kau bukan kanakkanak

lagi. Glagah Putih. Pengalamanmu cukup luas. Kau

telah menjelajahi banyak daerah. Kau telah mengalami

banyak sekali peristiwa. Kau harus yakin akan dirimu sendiri,

sehingga kau tidak akan mudah merasa rendah diri.”

“ Aku tidak merasa rendah diri kakang. Tetapi sudah tentu

aku justru harus mempertahankan harga diri.” jawab Glagah

Putih.

Agung Sedayu menepuk bahu sepupunya itu sambil

berkata, “ Kau harus yakin akan kelebihanmu. Karena itu,

maka jangan hiraukan tingkah lakunya.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sementara

Agung Sedayu berkata pula, “ Lihatlah, kemana mereka

pergi.”

“ Wirastama sudah mengantar mereka.” berkata Glagah

Putih.

“ Anak muda itu belum mengenal semua rahasia yang ada

di Tanah Perdikan ini. Berbeda dengan kau atau aku.”

berkata Agung Sedayu pula.

“ Tetapi aku tidak tahu kemana mereka pergi.” jawab

Glagah Putih.

“ Bertanyalah kepada Ki Lurah.” minta Agung Sedayu.

 

Glagah Putih tidak dapat menolak. Iapun kemudian

berbenah diri dan dengan langkah segan pergi ke rumah Ki

Gede setelah makan pagi.

“ Marilah.” Ki Lurah yang telah berada diserambi

mempersilahkan.

Glagah Putihpun kemudian duduk bersama Ki Lurah

diserambi.

“ Ki Gede sedang bersiap-siap untuk pergi ke padukuhan

yang sedang mempersiapkan pembongkaran banjarnya yang

lama dan akan menggantikannya dengan yang baru.” berkata

Ki Lurah.

“ O” Glagah Putih mengangguk-angguk, “ kakang Agung

Sedayu juga akan pergi kesana. Sebenarnya aku juga akan

pergi ke banjar itu. Tetapi kakang menyuruhku datang kemari.”

Ki Lurah tersenyum. Katanya, “ Aku tahu, kau tentu merasa

segan menyertai Teja Prabawa melihat-lihat Tanah Perdikan

ini.”

“ Bukan maksudku Ki Lurah. Tetapi keduanya nampaknya

memang tidak menyenangi aku. Mereka lebih senang diantar

oleh Wirastama.” jawab Glagah Putih berterus terang.

Ki Lurah tertawa. Katanya, “ Teja Prabawa memang

mengagumi Wirastama. Agaknya Wirastama memang pandai

menunjukkan sesuatu yang menarik. Kelebihannya dan

pengakuannya bahwa ia telah mengenal Tanah Perdikan ini

melampaui orang-orang Tanah Perdikan ini sendiri.”

“ Mungkin ia memang mengenali Tanah Perdikan ini

dengan baik Ki Lurah.” jawab Glagah Putih.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun katanya, “ Tetapi

aku yakin bahwa kau tentu lebih mengenali Tanah Perdikan ini

sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede. Sementara itu, aku

memang agak cemas, karena mereka bertiga telah pergi ke

belumbang yang menurut Ki Gede mempunyai rahasia yang

menggetarkan. Bagian , yang dalam kadang-kadang telah

digoncang oleh pusaran air yang besar, yang mengisap

masuk kedalam lubang yang besar di batu padas didasar

belumbang itu.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia

berkata, “ Tetapi orang-orang di sekitar belumbang itu sudah

 

mengetahui. Ada beberapa tanda yang dibuat, agar mereka

yang mandi dan berenang di tempat itu tidak memasuki

daerah yang berbahaya. Pusaran air itu datang sewaktuwaktu.

Kadang-kadang dua hari dua malam tidak timbul

pusaran air itu. Namun kadang-kadang sehari semalam dapat

terjadi dua kali.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “ Aku jadi tertarik

pula untuk melihatnya. Mari kita pergi.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia merasa

tidak mapan dihatinya. Karena itu maka katanya, “ Aku akan

pergi Ki Lurah. Bukan maksudku untuk berkeberatan

menyusul mereka.”

Ki Lurah tersenyum. Katanya, “ Aku tidak apa-apa. Aku

memang ingin melihat belumbang itu. Aku sudah pernah

tinggal di Tanah Perdikan ini untuk waktu yang lama. Akupun

tahu bahwa ditempat itu ada belumbang. Tetapi aku belum

pernah mendengar tentang pusaran air itu sebelumnya.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “

Agaknya perhatian Ki Lurah pada waktu itu sepenuhnya

tertuju pada pembentukan Pasukan Khusus itu, sehingga Ki

Lurah tidak sempat memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi di

Tanah Perdikan ini.”

Ki Lurah justru tertawa. Katanya, “ Aku akan minta diri

kepada Ki Gede yang agaknya sudah siap untuk pergi ke

banjar itu.”

Demikianlah sejenak kemudian, Glagah Putih dan Ki Lurah

telah menyusul kedua cucu Ki Lurah itu ke belumbang yang

oleh orang-orang disekitarnya memang sering disebut telaga

kecil atas yang lain menyebutnya sendang. Tetapi mereka

berdua telah menempuh jalan pintas. Mereka tidak melalui

jalan yang banyak dilalui orang. Mereka telah melewati jalanjalan

sempit yang memang agak lebih sulit.

Sementara itu, kedua cucu Ki Lurah bersama Wirastama

memang telah pergi ke sendang yang terbelah dua itu. Ketika

mereka mendekati belumbang itu, maka Rara Wulan justru

telah mendahului kakaknya dan Wirastama. Meskipun ia

merasa lelah, tetapi ia memang segera ingin tahu belumbang

yang memang cukup luas yang sebagian dipergunakan untuk

 

mandi dan mencuci pakaian. Sendang itu letaknya disebelah

dataran yang sedikit lebih tinggi dari padukuhan-padukuhan di

sekitarnya, sehingga seakan-akan sendang itu terletak

dipuncak sebuah dataran tinggi.

Disekitar sendang itu terdapat pohon-pohon raksasa.

Namun karena tempat itu setiap hari didatangi banyak orang,

maka tempat itu menjadi bersih. Batu-batu besarpun menjadi

mengkilap karena hampir setiap hari batu-batu itu disentuh

tangan. Beberapa orang yang tidak tergesa-gesa mandi telah

duduk-duduk di atas batu-batu itu.

Ternyata tempat itu memang menarik bagi Rara Wulan. la

melihat beberapa orang gadis sebayanya berada di-pinggir

belumbang itu. Bahkan sebagian diantara mereka sedang

berendam. Disisi yang lain nampak beberapa orang

perempuan sedang mencuci pakaian. Sementara disebelah

yang lain lagi agaknya diperuntukkan bagi laki-laki.

Rara Wulan nampaknya menjadi kecewa. Ketika kakaknya

dan Wirastama mendekatinya maka iapun bertanya “ Jadi lakilaki

juga diperkenankan mandi di belumbang ini. “

“ Belumbang ini kepunyaan orang-orang disekitar tempat ini

“ berkata Wirastama “ jadi semua orang berhak

mempergunakannya. “

Rara Wulan tidak bertanya lagi. Sementara itu Teja

Prabawalah yang bertanya “ Di bagian mana belumbang ini

tidak boleh dipergunakan untuk mandi, yang menurut Ki Gede

sering terjadi pusaran air? “

Wirastama tertawa. Katanya “ Memang orang-orang

disekitar tempat ini tidak berani memasuki bagian yang

dibatasi oleh tiang-tiang bambu itu. Mereka berpendapat

bahwa dibagian yang dibatasi tiang-tiang itu sampai ketepi

seberang adalah daerah yang berbahaya. “

Teja Prabawa mengangguk-angguk. Namun Wirastama

berkata “ Agaknya kepercayaan itu timbul setelah pernah

terjadi seorang yang hilang dibagian yang dianggap

berbahaya itu. Namun agaknya orang itu tidak terlalu pandai

berenang, sementara bagian itu adalah bagian yang sangat

dalam, sehingga diperlukan ketrampilan tersendiri. “

 

“ Tetapi menurut Ki Gede, di bagian itu kadang-kadang

telah timbul pusaran yang seakan-akan menghisap air

kedalam tanah lewat lubang-lubang di batu padas di dasar

belumbang itu. “ berkata Teja Prabawa.

Tetapi Wirastama tersenyum sambil menjawab “

Nampaknya Ki Gede malas untuk menyelidiki apa yang

sebenarnya terjadi. Ia percaya saja kepada ceritera banyak

orang. Dan barangkali orang-orang setua Ki Gede berpikir,

apa salahnya mengambil langkah-langkah pengamanan.

Teja Prabawa mengangguk-angguk. Kepada adiknya ia

bertanya “ Apakah kau ingin mandi? “

Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Katanya “ Terlalu

banyak orang. “

“ Sudah menjadi kebiasaan disini “ berkata Wirastama.

“ Airnya jernih “ desis Rara Wulan. Namun ketika ia

menengadahkan wajahnya dilihatnya rimbunnya dedaunan

dari pohon-pohon raksasa.

Tiba-tiba saja ia berdesis “ Aku tidak mandi saja. Jika

kakang ingin mandi, mandilah. “

Raden Teja Prabawapun rasa-rasanya ngeri juga melihat

lingkungan disekitarnya meskipun ia melihat beberapa orang

telah berendam didalam air.

Wirastama yang melihat kedua cucu Ki Lurah itu raguragu

berkata “ Marilah. Aku sudah akan mandi. “ “ Tetapi

Rara Wulan menjawab “ Terlalu banyak orang. Lebih baik aku

tidak mandi. “

“ Wirastama termangu-mangu. Iapun kemudian

memandangi beberapa orang laki-laki yang sedang mandi

setelah kembali dari sawah.

“ Apakah aku harus mengusir mereka? “ bertanya

Wirastama.

“ Tidak. Jangan “ cepat-cepat Rara Wulan menjawab “

bukankah hak mereka untuk mandi di sendang itu? “

Wirastama mengangguk-angguk. Sementara itu iapun

bertanya kepada Teja Prabawa “ Bagaimana dengan kau? “

Teja Prabawa termangu-mangu. Sementara itu Rara Wulan

justru menjadi segan mendekati gadis-gadis dan perempuanperempuan

yang sedang mandi dan mencuci. Nampaknya

 

mereka justru sedang memperhatikannya dengan terheranheran.

“ Apakah aku menjadi tontonan disini? “ desis Rara Wulan.

“ Bukan tontonan “ sahut Wirastama “ mereka adalah

orang-orang padukuhan yang jarang melihat orang luar. Bagi

mereka orang-orang Kotaraja adalah orang-orang yang luar

biasa. Mereka tidak terbiasa memakai pakaian sebagaimana

kalian pakai sekarang. Dan kebetulan pula aku juga memakai

pakaian seorang perwira dari Pasukan Khusus. Agaknya

mereka tertarik untuk memperhatikan kita. “

Rara Wulan tidak menjawab. Iapun tahu, bahwa orangorang

aitu memperhatikan mereka karena orang-orang itu

jarang sekali melihat orang-orang dari Kotaraja yang datang

ke tempat yang sepi itu.

Namun dalam pada itu Wirastamapun berkata “ Marilah.

Kita mandi. Airnya bening sekali. Mata air dari belumbang

ini terdapat dibawah akar pohon-pohon raksasa itu.

Sementara dibagian lain airnya mengalir keluar melimpah ke

sebuah parit yang memang sudah disiapkan yang dapat

mengairi sawah yang cukup luas. Bahkan disegala musim,

karena dimusim kemarau pun air belumpung ini sama sekali

tidak berkurang. “

Teja Prabawa memang ragu-ragu. Tetapi nampaknya

memang segan sekali mandi dibelumbang yang airnya bening

sekali. Tidak terlalu dalam sementara iapun dapat berenang,

Akhirnya Raden Teja Prabawa itupun berkata “ Baiklah.

Aku akan mandi. “

“ Bagus “ berkata Wirastama. Tetapi ia masih berpaling

kepada Rara Wulan sambil berkata “ Marilah. Kau tentu juga

ingin mandi. “

Tetapi Rara Wulan menggeleng. Katanya “ Aku disini saja. “

Wirastama tidak memaksa meskipun ia agak kecewa.

Sebenarnya ia ingin juga Rara Wulan itu mandi bersama

mereka dibelumbang itu.

Demikian sejenak kemudian Wirastama dan Teja Prabawa

telah mencebur kedalam sendang yang airnya terasa sangat

sejuk. Matahari yang memanjat semakin tinggi dila-ngit,

memanasi air belumbang itu sehingga nampak berkilat-kilat.

 

Jika terasa kulit menjadi gatal oleh sinar matahari, maka

mereka dapat berenang menepi sehingga terlindung oleh

dedaunan dari pohon-pohon raksasa yang tumbuh dipinggir

sendang itu.

Ternyata kedua anak muda itu memang pandai berenang.

Keduanya meluncur kesana kemari. Anak-anak muda

padukuhan yang lebih dahulu mandi di sendang itu, tanpa

mereka sadari telah menepi. Seakan-akan mereka

memberikan tempat di sendang itu hanya untuk berdua saja.

Seorang dari Kotaraja, seorang lagi perwira Pasukan Khusus.

Rara Wulan yang duduk dipinggir sambil menunggui

pakaian kedua anak muda itu melihat keduanya dengan tersenyum-

senyum. Sebenarnya ada keinginannya untuk ikut

mandi. Tetapi selaina pohon-pohon raksasa yang akarakarnya

seakan-akan telah mencengkam belumbang itu,

iapun agak malu karena di belumbang itu terdapat beberapa

orang laki-laki. Namun iapun merasa segan pula untuk mandi

bersama Wirastama.

Gadis-gadis dan perempuan-perempuan yang sedang

mandi dan mencuci itupun telah berusaha mempercepat

pekerjaan mereka. Rasa-rasanya mereka tidak pantas untuk

mandi bersama-sama dengan orang-orang yang terhormat itu.

Namun demikian ternyata mereka tidak segera keluar dari air.

Mereka memang menepi. Tetapi ternyata mereka tanpa sadar

menonton kedua anak muda yang berenang dengan

ketrampilan yang tinggi itu.

“ Kau ternyata sangat pandai berenang “ puji Wirastama.

“ Ah, tidak terlalu baik “ jawab Teja Prabawa “ Kaupun

pandai pula. Bahkan kau mampu berenang sangat cepat dan

dengan berbagai macam gaya. “

Wirastama tertawa. Ia berenang semakin ketengah,

sehingga semakin dekat dengan tiang-tiang bambu yang

dipakai sebagai batas antara bagian yang tidak terlalu dalam

dan bagian yang lebih dalam. Bahkan lebih dari itu, dibelakang

patok-patok bambu itu, adalah bagian yang

dipengaruhi oleh pusaran yang kadang-kadang timbul di

sendang itu. Bahkan pusaran itu kadang-kadang nampak

 

begitu besar dan kuat, sehingga mampu menyeret seseorang

kedalam lubang yang terdapat didasar sendang itu.

Ketika tiba-tiba saja Wirastama menyentuh salah satu

diantara tiang-tiang itu, beberapa orang yang berada ditepi

sendang itu berdesah.

Teja Prabawapun menjadi gelisah melihat sikap Wirastama

yang sambil tertawa-tawa mengitari salah satu dari

tiang bambu itu.

Ketika ia kemudian berenang memasuki bagian yang dalam

itu semakin jauh, beberapa orang telah berteriak.

“ Jangan “ Teja Prabawapun berteriak pula.

Wirastama memang berpaling. Tetapi ia tidak kembali.

Bahkan iapun telah melambaikan tangannya sambil berenang.

“ Kembalilah tuan “ beberapa orang berteriak

mencegahnya. Sementara Teja Prabawa yang berenang

sampai kebataspun berteriak pula “ Kembalilah. “

Tetapi Wirastama justru berteriak pula “ Marilah. Disini

terasa belumbang ini menjadi lapang. Tidak ada apa-apa. “

Teja Prabawa menjadi sangat gelisah. Sambil berpegangan

tiang batas itu ia masih saja mencegah “ Cepat, kembalilah. “

Wirastama yang berenang dibagian dalam itu, berputar

sekali. Kemudian menyelam dan ketika ia muncul lagi dipermukaan

iapun berteriak “ Kemarilah. “

Tetapi Teja Prabawa tidak berani mendekat. Sementara

orang-orang yang berada ditepi sendang itu masih saja ada

yang berteriak “ Jangan tuan. Jangan kesana. “

Wirastama berenang terus. Bahkan ia telah meluncur

sampai ketepi seberang yang agak jauh. Sambil berpegangan

akar pepohonan ia melambaikan tangannya lagi. Dan sejenak

kemudian ia telah meluncur kembali kearah Teja Prabawa.

Wirastama tidak menyadari bahwa dua pasang mata

memperhatikannya selain orang-orang yang memang sudah

diketahuinya ada di pinggir belumbang itu. Bahkan sekalisekali

Wirastama berusaha untuk melambaikan tangannya,

kepada Rara Wulan yang menjadi pucat.

Dua orang itu justru berdiri dibalik pohon-pohon raksasa

disisi yang lain dari tempat Rara Wulan menunggu

dengan gemetar karena tingkah laku Wirastama.

 

“ Ki Lurah “ desis Glagah Putih yang sudah ada ditempat itu

bersama Ki Lurah Branjangan “ Wirastama telah melakukan

satu permainan yang sangat berbahaya. “

“ Ia ingin mendapat pujian “ berkata Ki Lurah.

“ Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu “ desis Glagah

Putih.

Orang-orang yang menyaksikan Wirastama itu berenang

mendekati Teja Prabawa telah menahan nafas. Bahkan

merekapun kemudian menarik nafas dalam-dalam ketika

Wirastama hampir mencapai tiang-tiang bambu itu. Karena

sesaat lagi, Wirastama akan berada ditempat yang aman.

Tetapi Wirastama tiba-tiba telah berputar lagi sambil

berkata “ Marilah. Disini menyenangkan. Bukankah kau lihat

tidak ada apa-apa dibagian yang dalam itu? “ “ Jangan “ cegah

Teja Prabawa.

Namun Wirastama justru berputar terus. Ia menuju

ketengah-tengah lagi dari bagian yang dalam itu.

“ Cukup, cukup “ teriak Teja Prabawa. Sedangkan orangorang

lainpun berteriak “ Jangan.

Jangan kembali ketengah. “

Tetapi Wirastama hanya tertawa-tawa saja sambil

berenang.

Orang-orang yang menyaksikan memang menjadi bingung.

Diluar sadar, mereka masih saja mencoba mencegahnya.

Sementara Teja Prabawapun masih juga berteriak-teriak.

Tetapi Wirastama tidak menghiraukannya.

Rara Wulan menjadi semakin pucat. Tetapi ia tidak dapat

berbuat apa-apa.

Dalam pada itu, air belumbang itu memang nampak

tenang. Namun tiba-tiba yang ditakutkan itupun datanglah.

Perlahan-lahan air dibagian yang dalam itu mulai bergerak.

Sebuah pusaran nampak memutar air yang semula

tenang itu.

Semua orang yang melihatnya berteriak lagi.

Wirastamapun terkejut. Ia merasa tubuhnya mulai ditarik oleh

sebuah pusaran air. Meskipun pusaran yang terjadi itu tidak

tepat dibawahnya. Namun rasa-rasanya tarikan air itu

demikian kuatnya.

 

Wirastama memang memiliki ketrampilan berenang.

Dengan sekuat tenaga ia melawan hisapan air itu. Beberapa

jengkal ia berhasil maju menjauhi pusaran yang menjadi

semakin besar itu. Namun kemudian tenaganya ternyata tidak

mampu melawan lagi. Meskipun Wirastama masih berusaha,

tetapi perlahan-lahan ia mulai terhisap kearah pusat dari

pusaran itu.

“ Ki Lurah “ wajah Glagah Putihpun menjadi tegang “ Ia

memerlukan pertolongan. “

“ Jangan turun “ cegah Ki Lurah “ jika kau turun, maka

kaupun akan terhisap. Betapapun besar tenagamu dan tenaga

cadangan didalam dirimu, tetapi kau tidak akan mampu

melawan pusaran air itu, karena air itu berputar dengan cepat

dan menghisap dengan kuat. Air itu dengan derasnya masuk

melalui lubang dibawah dasar belumbang ini kedalam celah

yang besar dibawah tanah. Karena itu, kekuatannya tentu

sangat besar. “

“ Tetapi Wirastama itu akan terhisap “ sahut Glagah Putih

dengan gelisah.

Ki Lurahpun menjadi tegang. Sementara itu Glagah Putih

berkata “ Tapi. Dimana ada tali? “

Ki Lurah memandang sulur-sulur pepohonan yang

bergayutan di pinggir belumbang itu. Namun sulur-sulur itu

tentu tidak cukup panjang untuk dapat menggapai Wirastama

yang semakin lemah dan mulai hanyut kedalam pusaran.

“ Jika tidak terputar semakin cepat, maka ia akan

memasuki pusat pusaran itu dan kemudian terhisap masuk

“ berkata Glagah Putih dengan gelisah.

“ Ya. Kita harus berusaha menolongnya. Tetapi jangan

justru menambah korban “ jawab Ki Lurah yang masih

mencoba memperhatikan sulur-sulur pepohonan.

Glagah Putih mengerti maksud Ki Lurah. Karena itu, maka

dengan tangkasnya ia telah menarik sehelai sulur. Kemudian

dengan kekuatan cadangan yang dikerahkannya, maka ia

telah menghentakkan sulur itu. Tetapi sulur itu ternyata putus

pada tempat yang tidak dikehendaki. Terlalu pendek.

Glagah Putih menjadi semakin gelisah. Ki Lurahpun

menjadi bingung. Ia tidak melihat kesempatan yang dapat

 

dipergunakan untuk menolong Wirastama. Sementara itu, ia

sangat berkeberatan jika Glagah Putih meloncat terjun

kedalam pusaran air. Jika demikian, maka kedua-duanya tentu

akan terhisap kedalam lubang batu padas didasar sendang

itu.

Ketika semua orang kehilangan harapan atas keselamatan

Wirastama, maka Glagah Putih telah mengambil satu

keputusan. Ia akan berbuat sesuatu meskipun agak untunguntungan.

Tanpa berusaha apapun juga, Wirastama tentu

akan terhisap. Sementara jika ia berusaha, masih ada

kemungkinan lain betapapun kecilnya.

Pada saat yang mendesak itu Glagah Putih telah

memusatkan nalar budinya. Ia adalah murid Ki Jayaraga yang

mampu melontarkan kekuatan ilmunya yang bersumber pada

kekuatan air, api, udara dan bumi. Karena itu, maka dengan

menghentakkan ilmunya, Glagah Putih telah menyerap

kekuatan udara dan melalui ilmunya melontarkannya kearah

pusaran yang semakin cepat itu. Sementara Wirastama yang

berjuang untuk berenang menjauh benar-benar telah

kehilangan kekuatannya.

Dari sela-sela pohon besar, Glagah Putih kemudian

menghentak ilmunya, melontarkannya menghantam

pusaran yang hampir menghisap Wirastama. Namun

Glagah Putih sadar, bahwa kekuatan ilmunya itu tidak boleh

mengenai perwira muda itu.

Ternyata sesuatu yang dahsyat telah terjadi. Pusaran air itu

telah dihempas oleh kekuatan yang sangat besar. Seakanakan

justru dari pusat pusaran itu telah terlontar gelombang

yang sangat besar.

Semua orang yang ada dipinggir belumbang itu terkejut

bukan buatan. Mereka tidak melihat Glagah Putih dan Ki

Lurah yang berada diantara pohon-pohon besar. Yang mereka

ketahui adalah bahwa tiba-tiba saja hempasan yang kuat itu

seakan-akan telah melemparkan Wirastama yang hampir saja

terhisap sampai kepusat pusaran, sampai ketepi sendang.

Demikian Wirastama jatuh lagi kedalam air, dibagian tepi

sendang, maka beberapa orang laki-laki telah berlari-lari dan

terjun kearahnya. Dengan serta merta mereka telah menarik

 

Wirastama yang lemah itu. Pantulan gelombang yang

membentur pinggir belumbang itu akan menyeretnya, jika

beberapa orang tidak menolongnya. Bahkan orang-orang

yang menolong itupun harus berjuang melawan arus air yang

memantul itu.

Ketika orang-orang itu mengangkat Wirastama dari dalam

air, maka orang-orang itupun telah menarik nafas lega.

Namun dalam pada itu, hempasan air telah mengguncang

bagian yang dibatasi oleh patok-patok bambu itu pula,

sehingga Teja Prabawapun harus berusaha untuk

melawannya dan mencapai tepi sendang itu.

Demikian ia naik, maka iapun telah berlari-lari mendekati

Wirastama yang terbaring dengan nafas yang terengahengah.

Perwira muda itu tidak pingsan. Tapi tenaganya

seakan telah terkuras habis, sehingga rasa-rasanya ia tidak

mampu lagi untuk bangkit.

“ Satu keajaiban telah terjadi “ berkata seorang lakilaki

yang menolongnya.

Teja Prabawa mengangguk. Tetapi ia tidak menyahut.

Sementara itu, Rara Wulan benar-benar menjadi gemetar

di tempatnya. Hampir saja justru Rara Wulanlah yang pingsan

seandainya Ki Lurah tidak mendekatinya.

Rara Wulan justru terkejut ketika ia mendengar suara

dibelakangnya “ Apa yang terjadi? “

Ketika Rara Wulan berpaling, dilihatnya Ki Lurah dan

Glagah putih berdiri termangu-mangu.

“ Kakek “ Rara Wulan yang ketakutan itupun telah meloncat

memeluk Ki Lurah.

“ Kau tidak apa-apa? “ bertanya Ki Lurah.

“ Wirastama “ jawab Rara Wulan dengan suara bergetar.

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Sementara Glagah

Putih telah mohon kepada Ki Lurah agar tidak mengatakan

apa yang terjadi.

Ki Lurahpun kemudian berkata kepada Rara Wulan “

Tinggallah disini. Aku akan melihat anak muda itu.

Rara Wulan mengangguk. Ketika ia berpaling ke

belumbang, maka dilihatnya gelombang yang tiba-tiba saja

melonjak dan melemparkan Wirastama itu telah hampir tidak

 

berbekas lagi. Yang nampak kemudian adalah pusaran air

yang semakin cepat, menukik kedasar belumbang.

Darah Rara Wulan berdesir. Ia membayangkan, apa yang

terjadi. seandainya Wirastama itu terhisap oleh pusaran itu

dan tubuhnya akan membentur batu-batu padas didasar

belumbang.

Ketika Ki Lurah kemudian mendekati Wirastama, maka

anak muda itu telah berusaha untuk dapat duduk. Ia harus

berusaha dengan sisa tenaga yang ada padanya, untuk

mengatur pernafasannya sehingga dengan demikian, ia

akan dapat mencapai ketenangan.

Ki Lurah membiarkan anak muda itu mencapai

keseimbangan pernafasan. Kepada orang-orang yang ada

diseki-tarnya ia berkata “ Kami, atas nama keluarga dan

pimpinan Pasukan Khusus mengucapkan terima kasih atas

pertolongan kalian. “

“ Bukan kami “ jawab seorang yang paling tua dian-tara

mereka “ satu keajaiban telah terjadi. Seumurku, belum

pernah melihat hal seperti ini. Pusaran itu memang sering

timbul dengan tiba-tiba tanpa diketahui waktunya. Tetapi

hempasan gelombang yang menyelamatkan perwira muda ini

belum pernah terjadi sebelumnya. “

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya “ Satu lantaran,

bahwa Tuhan masih menghendaki perwira muda itu berumur

panjang. “

Orang-orang yang mengangkatnya dari dalam air itu

menganguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata “ Satu

pertanda, bahwa pada anak muda ini terdapat sesuatu yang

tidak dimiliki oleh orang lain. Sehingga karena itu, maka

pusaran air itupun dapat dihalaunya meskipun keadaannya

sendiri nampaknya menjadi gawat. “

Tetapi Ki Lurah menggeleng. Katanya “ Nampaknya ia tidak

mengalami kesulitan pada dirinya. Ia hanya terlalu letih dan

barangkali kegelisahan. Tetapi setelah ia berhasil mengatur

pernafasannya, maka ia tentu akan menjadi baik kembali.

Ketika orang-orang yang menolongnya mengangguk maka

Teja Prabawapun berkata “ Ia memang seorang yang luar

biasa. Seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. “

 

Diluar sadarnya Ki Lurah berpaling kepada Glagah Putih

yang berdiri saja mematung.

Sejenak kemudian, maka keadaan Wirastamapun menjadi

berangsur baik. Nafasnya menjadi teratur, dan kekuatannya

sedikit demi sedikit telah tumbuh kembali.

Jantungnya yang semula bagaikan menghentak-hentak

telah berdetak dengan teratur.

“ Berpakaianlah. Lepaskan pakaian kalian yang basah. “

berkata Ki Lurah.

Tetapi Teja Prabawa berkata “ Kami harus berjemur sampai

pakaian basah ini kering. Kami tidak membawa ganti pakaian.

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian

katanya “ Baiklah. Biarlah aku kembali bersama Rara Wulan.

Tetapi ingat, jangan diulangi. Kali ini nyawa angger Wirastama

dapat diselamatkan oleh satu keajaiban. Tetapi apakah hal

seperti itu akan terjadi lagi jika kalian masih juga mencobanya.

Teja Prabawa mengangguk. Sementara Wirastama yang

keadaannya menjadi semakin baik mencoba untuk bangkit

dibantu oleh beberapa orang.

“ Aku sudah dapat berdiri sendiri “ berkata Wirastama

sambil mengibaskan tangan orang-orang yang membantunya

berdiri.

Orang-orang itupun kemudian melepaskannya. Ternyata

seperti yang dikatakannya, maka Wirastama itupun memang

telah mampu berdiri tegak.

“ Nah, berbenah dirilah “ berkata Ki Lurah.

“ Aku tidak apa-apa Ki Lurah. “ berkata Wirasama memang

satu permainan yang berbahaya. Tetapi aku berhasil

mengatasinya.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun katanya Meskipun

demikian keadaanmu menjadi sangat buruk. Kau hampir

menjadi pingsan. Jika keadaan itu tidak teratasi, maka kau

sudah terhisap ke lubang didasar belumbang. “

“ Tetapi aku berhasil Ki Lurah “ berkata Wirastama.

“ Jika sekali lagi terjadi, mungkin keadaannya akan berbeda

“ sahut Ki Lurah.

Wirastama termangu-mangu. Namun ia tidak menjawab.

 

Kepada Teja Prabawa Ki Lurah itu berkata “ Aku bawa

adikmu pulang.

Teja Prabawa termangu-mangu. Namun Wirastama itupun

berkata “ Ki Lurah, kami berangkat bersama-sama. Biarlah

kami pulang bersama-sama. “

“ Dalam keadaan yang wajar, tidak apa-apa. Tetapi anak itu

nampaknya telah terpengaruh oleh keadaan, sehingga ia

menjadi sangat terkejut. Biarlah aku membawanya kembali

mendahului kalian yang masih akan berjemur untuk

mengeringkan pakaian kalian. Tanpa Rara Wu-lan, kalian

akan dapat lebih bebas untuk berbuat apa saja yang pantas

dilakukan oleh seorang laki-laki. “ berkata Ki Lurah.

Wirastama tidak dapat menahan Rara Wulan untuk tinggal.

Sebenarnya ia menjadi tidak senang melihat Rara Wulan

kembali bersama kakeknya dan Glagah Putih.

Tetapi Glagah Putih memang tidak minta diri. Baik Raden

Teja Prabawa maupun Wirastama sama sekali tidak

menghiraukannya. Seakan-akan keduanya berpalingpun tidak

kepada anak muda itu.

Sejenak kemudian, maka Ki Lurahpun telah meninggalkan

belumbang itu bersama dengan Rara Wulan. Sementara itu

Glagah Putih berjalan di belakangnya.

Wirastama dan Teja Prabawa memandanginya dari ke

jauhan. Dengan geram Wirastama berkata “ Sekali-sekali

penjilat itu perlu mendapat pelajaran. “

“ Ya “ desis Teja Prabawa “ anak itu memang sombong

meskipun sangat dungu. Tetapi nampaknya Ki Gede terlalu

percaya kepadanya. Dengan demikian maka kakek-pun ikut

mengagumi anak itu. “

“ Pada saatnya ia akan menjadi jera “ geram Wirastama.

Teja Prabawa mengangguk-angguk. Namun kemudian

katanya “ Kita harus menjemur di panasnya matahari. “

Keduanyapun kemudian melangkah ketempat yang disinari

oleh matahari. Sementara itu Wirastama masih juga sempat

berkata kepada orang-orang yang menolongnya meskipun

hanya sepatah “ Terima kasih. “

 

Sambil berbaring diatas sebuah batu yang besar di

panasnya matahari yang masih belum menyengat, Wirastama

berkata “ Ternyata sendang ini sangat menarik. Aku ingin

mencoba lagi apakah pusaran itu memang berbahaya.

“ Jangan “ berkata Teja Prabawa “ jika kau tidak yakin,

maka hal itu akan sangat berbahaya bagimu. “

Wirastama tersenyum. Katanya “ Tentu tidak sekarang.

Kekuatanku belum pulih seluruhnya. Aku memang harus

beristirahat dan berusaha memulihkan kekuatanku kembali.

Tetapi pada kesempatan yang lain, barangkali aku dapat

mencobanya lagi. “

“ Kau jangan berbuat untung-untungan “ berkata Teja

Prabawa.

“ Kau tidak yakin akan kemampuanku? “ bertanya

Wirastama.

“ Aku percaya “ Jawab Teja Prabawa “ tetapi aku ngeri

melihatnya. “

Wirastama tertawa. Katanya tanpa beranjak dari tempatnya

“ Aku, yang mengalaminya tidak merasa ngeri sama sekali. “

“ Aku tidak mempunyai ketahanan jiwani sebagaimana kau.

“ sahut Teja Prabawa.

Wirastama justru tertawa semakin keras.

Dalam pada itu, maka orang-orang yang mandi dan

mencuci disendang itu telah pergi seorang demi seorang,

sehingga akhirnya tepi sendang itu menjadi sepi. Orangorang

yang pulang ke padukuhan masing-masing telah

sempat berceritera, tentang apa yang telah terjadi. Seorang

anak muda yang hanyut kedalam arus putaran ditempat yang

memang sudah diberi bertanda itu. Namun tiba-tiba saja

gelombang yang menghentak telah melemparkannya jauh

ketepi, sehingga anak muda itu jatuh keluar jangkauan

pusaran yang menjadi semakin sempit, tetapi semakin cepat

dan kuat menghisap air kedalam lubang dibawah dasar

sendang itu.

“ Luar biasa “ desis beberapa orang.

“ Mungkin anak muda itu termasuk orang yang sakti “

berkata salah seorang diantara mereka.

 

“ Mungkin saja atau oleh sebab-sebab lain yang tidak dapat

kita jangkau dengan penalaran kita yang bodoh ini “ berkata

seorang yang usianya sudah separo baya. Katanya

selanjutnya “ Satu peristiwa yang bukan saja seumurku, tetapi

orang-orang tua di padukuhan ini tentu belum pernah melihat

dan mengalaminya. Sungguh satu keajaiban. “

Peristiwa yang terjadi di sendang itupun kemudian telah

tersebar dari mulut kemulut. Bukan saja satu dua padukuhan,

tetapi telah menjalar hampir keseluruh Tanah Per-dikan.

Bahkan ke padukuhan-padukuhan di luar Tanah Per-dikan.

Begitu cepatnya. Justru karena seorang diantara orang-orang

yang menyaksikan itu telah pergi ke sebuah pasar kecil yang

menjadi ramai setiap sepekan sekali. Disa-nalah ceritera itu

mula-mula tersebar. Orang-orang yang sudah waktunya

pulang itupun telah membawa berita itu ke rumah masingmasing.

Ketetangga masing-masing dan semakin lama

menjalar semakin jauh.

Wirastama dan Teja Prabawapun telah meninggalkan

sendang itu pula. Pakaian mereka telah menjadi kering

sehingga merekapun kemudian telah mengenakan kain

panjang mereka, baju dan kelengkapan pakaian yang lain.

Meskipun mereka telah berjalan semakin jauh, namun

sekali-sekali Teja Prabawa masih juga berpaling.

Rambutnya masih meremang jika ia mengingat apa yang baru

saja terjadi disendang itu.

“ Kita tidak langsung kembali “ berkata Wirastama.

“ Kemana? “ bertanya Teja Prabawa.

“ Setelah mandi dan berenang, aku menjadi lapar. Apakah

kau tidak merasa lapar? “ bertanya Wirastama.

Teja Prabawa termangu-mangu. Namun kemudian katanya

“ Baiklah. Terserah kepadamu. “

“ Kita akan kembali ke pasar. Tetapi aku kira, kedai yang

paling baik hanya terdapat di padukuhan induk. Karena itu,

kita akan pergi ke padukuhan induk. “ berkata

Diluar sadarnya Teja Prabawa menengadahkan wajahnya

memandangi matahari yang semakin tinggi. Wirastama

agaknya mengetahui apa yang dipikirkan oleh Teja Prabawa.

Karena itu, maka iapun berkata “ Kedai-kedai didekat pasar di

 

padukuhan induk itu kebanyakan dibuka sampai lewat tengah

hari. Bahkan ada yang sampai senja, karena lalu lintas

dagangan, terutama hasil bumi berlangsung sampai malam.

Beberapa buah kedai justru mempunyai ruangan-ruangan

yang agak besar yang dipergunakan oleh para pedagang yang

kemalaman sebagai penginapan. “

Teja Prabawa mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak

bertanya lagi tentang kedai itu. Ia mengikuti saja Wirastama

yang ternyata telah berjalan semakin cepat.

Dalam pada itu, Ki Lurah Branjangan yang mendahului

kembali ke padukuhan induk bersama Rara Wulan dan

Glagah Putih telah menjadi semakin dekat. Mereka berjalan

perlahan-lahan sambil memandangi hijaunya tanaman di

sawah.

Ternyata Ki Lurah Branjangan banyak bertanya ten-

Wirastama.

tang berbagai hal kepada Glagah Putih. Bahkan

pertanyaan Ki Lurah bukan saja menyangkut pengetahuan

orang-orang Tanah Perdikan dalam bercocok tanam,

berternak dan pekerjaan-pekerjaan lainnya, tetapi Ki Lurah

telah bertanya tentang berbagai pengalaman yang pernah

dihayati oleh Glagah Putih.

Tanpa berprasangka apapun juga, Glagah Putih telah

menjawab pertanyaan-pertanyaan Ki Lurah Branjangan.

Bahkan diluar sadarnya, Glagah Putih telah sekali-sekali

menyebutkan, bahwa ia memang pernah menghadap

Panembahan Senapati.

“ Kau pernah pergi ke Kotaraja “ tiba-tiba saja Rara Wulan

bertanya.

Glagah Putih tergagap sejenak. Namun iapun kemudian

menjawab “ Tidak secara khusus pergi ke Kotaraja. Ketika aku

datang ke Tanah Perdikan ini dari padukuhan asalku, maka

dalam perjalanan itulah, aku sempat lewat Kotaraja.

Hara Wulan mengangguk-angguk. Namun Ki Lurah

Branjangan yang telah mendengar beberapa hal tentang

Glagah Putih dari Agung Sedayu maupun Ki Gede itupun

bertanya “ He, ikat pinggangmu sangat menarik. Dimana kau

 

membeli? Nampaknya kulit yang dipakai sebagai bahan

adalah kulit pilihan? Kulit lembu, kulit buaya atau kulit ular? “

Glagah Putih memang menjadi kesulitan untuk menjawab.

Tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat berdiam diri saja.

Karena itu, maka jawabnya kemudian “ Entahlah. Kakang

Agung Sedayu yang memberiku ikut pinggang ini.

Ki Lurah tertawa. Ditepuknya bahu Glagah Putih sambil

berkata “ Ternyata pengaruh sikap kakak sepupumu itu

tampak jelas padamu. “

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya

ia meraba ikat pinggangnya yang diterima dari Ki Mandaraka.

Sementara itu Rara Wulan bertanya kepada kakeknya

“ Siapa yang telah menghadap Panembahan Senapati kek?

Bukankah tadi disebut-sebut tentang pesan Panembahan

Senapati? “

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Dipandanginya Glagah

Putih sekilas. Namun dengan cepat Glagah Putih menyahut “

Tentu Ki Lurah yang telah menghadap Panembahan Senapati.

“ Tetapi apakah benar kakek yang tadi disebut-sebut?

“ bertanya Rara Wulan yang tidak begitu jelas mendengar

pembicaraan kakeknya dengan Glagah Putih justru karena ia

sedang memperhatikan batang batang padi yang hampir

berbunga.

“ Ya Rara “ jawab Glagah Putih “ memang Ki Lurah yang

tadi kami sebut-sebut. “

Rara Wulan memandang kakeknya yang hanya tersenyum-

senyum saja. Bahkan Ki Lurah itupun kemudian

berkata “ Sudahlah. Marilah kita melihat keramaian pasar

meskipun sudah agak siang. “

“ Aku tadi sudah singgah dipasar “ berkata Rara Wulan.

“ O “ Ki Lurah mengangguk-angguk “ tetapi baiklah. Apa

salahnya kita melihat pasar lagi. “

Rara Wulan tidak membantah. Ketiganyapun kemudian

telah pergi ke pasar di padukuhan induk. Meskipun orangnya

sudah mulai berkurang, namun pasar itu masih cukup ramai.

 

Ternyata perhatian Ki Lurah terutama tertuju pada beberapa

orang pande besi yang berada di pinggir pasar itu.

“ Agaknya mereka mendapat banyak pekerjaan hari ini “

berkata Ki Lurah.

“ Apakah Ki Lurah memerlukan sesuatu? “ bertanya

Glagah Putih.

Ki Lurah tersenyum sambil menggeleng. Katanya “ Tidak.

Tetapi aku selalu tertarik pada pande besi. Aku senang

melihat bagaimana mereka membuat alat-alat pertanian.

Mereka bekerja keras dan penuh kesungguhan. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Iapun mengikut saja Ki

Lurah dan Rara Wulan yang melihat-lihat pada pande besi

yang sedang bekerja didepan perapian yang panas, sehingga

keringat mereka membasahi seluruh tubuh bagaikan mereka

baru saja mandi.

Namn agaknya Rara Wulan tidak begitu telaten

sebagaimana kakeknya. Meskipun nampaknya Ki Lurah masih

asyik memperhatikan salah seorang diantara para pande besi

itu, Rara Wulan menggamitnya sambil berkata “ Marilah kek.

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Kau tahu,

orang itu sedang membuat apa? “ Rara Wulan menggeleng.

Karena itu lihatlah, apa yang akan dibuatnya “ berkata Ki

Lurah.

Rara Wulan mengerutkan keningnya. Tetapi ia mulai jemu.

Karena itu maka katanya “ Kakek akan menunggu sampai

orang itu selesai? “

“ Tidak. Aku hanya akan menunggu sampai kita melihat

bentuk dari benda yang dibuatnya itu “ jawab Ki Lurah.

Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi wajahnya mulai

menjadi gelap.

Ketika Ki Lurah dan Glagah Putih sedang memperhatikan

benda yang sedang dibuat oleh pande besi itu, tiba-tiba saja

Rara Wulan menjerit kecil sambil meloncat. Sementara itu,

beberapa orang anak muda tertawa berbareng sambil

memandanginya.

“ Kau tentu bukan anak Tanah Perdikan ini “ berkata salah

seorang diantara anak muda itu. Nampaknya ia anak seorang

 

yang kecukupan menilik pada pakaiannya. “ kau datang dari

Kademangan mana anak manis?

Wajah Rara Wulan menjadi merah. Sementara itu Glagah

Putih telah berdiri dihadapan anak muda itu. Iapun telah

bertanya pula “ Nampaknya kau juga bukan anak linah

Perdikan ini anak anak muda. Apakah kau datang dari

Kademangan sebelah, atau datang dari mana saja? Se-lama

ini rasa-rasanya aku belum pernah melihat kalian. “

Anak-anak muda itu memandang Glagah Putih sejenak.

Namun merekapun kemudian tertawa berkepanjangan.

Tetapi suara tertawa mereka berhenti. Seorang anak muda

tiba-tiba telah berdiri di sebelah Glagah Putih. Anak muda

Tanah Perdikan Menoreh yang sudah mengenal Glagah Putih

dengan baik.

- Glagah Putih “ katanya “ anak-anak ini tentu sekelompok

anak muda yang menjadi tamu keluarga orang-orang kaya

diluar Tanah Perdikan ini. Agaknya pasar di Tanah Perdikan

ini telah menarik perhatian mereka. Tetapi mereka tentu belum

mengenalmu. Karena itu, ada baiknya kau memperkenalkan

dirimu dengan mereka. “

Glagah Putih termangu-mangu. Diluar sadarnya ia

berpaling kepada Rara Wulan. Sementara Ki Lurah telah

berdiri dekat disisi cucunya.

Anak muda Tanah Perdikan itu yakin, bahwa anak-anak

muda itu tidak akan mampu berbuat sesuatu terhadap Glagah

Putih. Bahkan jika Glagah Putih menghendaki, maka mereka

akan mengalami nasib yang sangat buruk.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja dua orang anak muda

telah menyibak mereka. Dengan garang Wirastama bertanya “

Apa yang terjadi? “

Diluar sadarnya, Rara Wulan menjawab “ Anak-anak

itu mengganggu aku. “

Wirastama menggeram. Selangkah demi selangkah

didekatinya anak anak muda itu sambil berkata “ Siapa yang

telah melakukannya? “

Adalah diluar dugaannya, bahwa beberapa orang anak

muda itu hampir berbarengan menjawab “ Aku yang

melakukannya. “

 

Wajah Wirastama menjadi merah. Ternyata anak-anak

muda itu sama sekali tidak merasa segan melihat pakaian

Wirastama. Pakaian yang dikenakannya adalah pakaian

seorang perwira dari Pasukan Khusus. “

“ Bagus “ geram Wirastama kemudian “ ternyata kalian

adalah anak-anak muda yang berani

mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ternyata anak

gadis yang kau ganggu itu tidak mau menerima begitu saja

perlakuan kalian. “

“ Lalu, gadis itu mau apa? “ bertanya salah seorang

diantara anak-anak muda itu.

Wajah Wirastama memang menjadi panas. Dengan suara

yang bergetar ia berkata “ Aku adalah keluarganya. Aku tidak

akan membiarkan kalian berbuat tidak sewajarnya itu. “

Anak-anak muda itu berpandangan sekilas. Kemudian tibatiba

saja mereka tertawa. Katanya “ Kau marah? Sayang kau

memakai pakaian seorang prajurit. Jika aku tidak mau

melawanmu, karena kau adalah seorang prajurit. Aku tidak

mau bertengkar dengan seorang prajurit. “

Wirastama benar-benar marah mendengar jawaban itu.

Tiba-tiba saja ia berkata “ Baik. Kita akan berhadapan sebagai

anak-anak muda. Kau telah mengganggu seorang gadis yang

kebetulan adalah keluargaku. Kita akan keluar dari pasar ini

dan aku akan menanggalkan pakaian keprajuritanku. “

“ Bagus “ anak muda itu tertawa pula.

Demikianlah, maka Wirastamapun kemudian berkata

kepada Ki Lurah “ Serahkan persoalan mereka kepadaku. -

Wirastama yang diikuti oleh Teja Prabawapun kemudian

telah keluar daripasar itu. Glagah Putih, Ki Lurah dan Rara

Wulanpun mengikuti mereka pula. Sementara itu beberapa

orang anak muda telah beramai-ramai berjalan beriringan di

belakang mereka. Seorang diantara mereka sempat berteriak

“ Gadis itu akan menjadi taruhan. “

“ Setan “ geram Wirastama.

Ternyata Wirastama telah pergi ke sebuah tempat yang

agak lapang di belakang sederet kedai. Beberapa orang yang

melihat menjadi berdebar-debar. Mereka mengerti, bahwa

tentu terjadi sesuatu dengan anak muda itu.

 

Sejenak kemudian, mereka memang telah berkumpul di

tempat yang lapang itu. Wirastama dengan geram telah

membuka bajunya yang diberi pertanda keprajuritan.

“ Mari, siapa yang merasa bertanggung jawab atas

perlakuan yang tidak sewajarnya itu. “ bertanya Wirastama.

Tetapi sekali lagi terdengar beberapa orang anak itu

menjawab bersama-sama “ Aku. “

Wirastama termangu-mangu sejenak. Ia mengerti maksud

anak-anak muda itu. Agaknya mereka akan berkelahi

bersama-sama.

Wirastama masih sempat menghitung anak-anak muda itu.

Dengan lantang ia berkata “ Bagus. Agaknya kalian berlima

ingin bertanggung jawab bersama-sama, he? Pada langkah

pertama kalian telah dapat aku baca, bahwa kalian adalah

pengecut. “

Tetapi kelima anak muda itu tertawa. Seorang diantara

mereka berkata “ Alangkah nikmatnya mendapat julukan itu.

Aku sudah lama ingin mendapat pengakuan tentang

sebutan yang aku inginkan sejak bertahun-tahun itu.

Kemarahan Wirastama benar-benar tidak tertahankan lagi.

Tiba-tiba saja ia telah meloncat sambil mengayunkan

tangannya.

Wirastama adalah seorang perwira dari Pasukan Khusus.

Karena itu, ia memiliki kemampuan yang tinggi dalam olah

kanuragan. Ditambah dengan ketekunannya berlatih dan

menyadap ilmu dari kakaknya yang menyebut dirinya Ki

Nagageni.

Karena itu, maka ayunan tangan Wirastama benar-benar

telah mengejutkan anak muda itu. Bahkan demikian kerasnya

sehingga anak muda telah terdorong beberapa langkah,

kemudian terhuyung-huyung. Hampir saja ia kehilangan

keseimbangan dan jatuh terguling. Namun ternyata bahwa ia

masih mampu untuk dapat tetap tegak berdiri betapapun

perasaan sakit menyengat pipinya. Bahkan ternyata bahwa

mulutnya telah berdarah karena sebuah giginya telah patah.

“ Setan “ geram anak muda itu “ kau benar-benar ingin

mati. “

 

Anak muda yang bernama Wirastama itu tidak

menghiraukannya. Sebagai seorang prajurit, maka ia tidak

menunggu. Dengan mempergunakan segenap kekuatannya

Wirastama telah mempergunakan kesempatan yang ada.

Baginya lebih baik menyerang lebih dahulu daripada ia harus

bertahan. Apalagi lawannya ternyata jauh lebih banyak

Karena itu, selagi kawan-kawan anak muda itu masih

termangu-mangu, Wirastama telah meloncat sekali lagi.

Kakinya berputar menyambar seorang diantara lawanlawannya.

Namun demikian kakinya berjejak ditanah, maka

tangannya yang telah menyambar dada anak muda yang lain.

Kedua orang anak muda itu terdorong surut beberapa

langkah. Tetapi Wirastama tidak terhenti. Dengan sigapnya

ia telah menyerang kedua anak muda yang lain

sebelum mereka sadar sepenuhnya, apa yang telah terjadi

atas mereka.

Anak-anak muda itu memang mengumpat-umpat. Tetapi

Wirastama sudah berhasil menyakiti mereka semuanya.

Bahkan tanpa menunggu lagi iapun telah berloncatan

menyambar-nyambar. Kakinya melenting melontarkan

tubuhnya yang seakan-akan tidak berbobot itu. Dengan cepat

ia telah berhasil mengenai lagi tubuh lawan-lawannya.

Kelima orang anak muda itu tiba-tiba telah terbangun dari

keterkejutan mereka. Dengan sigapnya mereka telah bersiap

menghadapi Wirastama. Namun mereka telah terlanjur

kesakitan. Seorang diantara mereka nafasnya bagaikan telah

menyumbat dadanya. Seorang lagi yang dikenai pundaknya,

tangannya seakan-akan menjadi lumpuh. Yang terbesar

diantara mereka, bertubuh tinggi tegap, perutnya menjadi

sangat mual. Seakan-akan usus-ususnya telah menjadi kusut.

Dengan demikian, betapa kemarahan menghentak-hentak

dada anak-anak muda itu, namun mereka tidak mampu lagi

bertempur dengan kemampuan mereka sepenuhnya. Apalagi

Wirastama yang memiliki bukan saja ilmu, tetapi kecerdasan

menguasai medan, sebagaimana seorang perwira dari

Pasukan Khusus.

Sejenak kemudian, maka pertempuran diantara mereka

menjadi semakin sengit. Namun Wirastama yang tangkas itu

 

nampak semakin garang. Lawan-lawannya tidak banyak

mendapat kesempatan menyerangnya, meskipun mereka

berlima. Bahkan setiap kali, kaki dan tangan Wirastama yang

telah mengenai mereka seorang demi seorang.

Dengan demikian, maka kelima orang anak muda itu mulai

menjadi cemas. Mereka tidak menyangka bahwa prajurit muda

itu memiliki ilmu yang tinggi dan kemampuan mengambil sikap

yang cepat dan tepat.

Dalam pada itu Wirastama yang marah itupun telah

bertempur dengan segenap kekuatan yang ada. Sentuhan

tangan dan kakinya memang mampu melemparkan lawanlawannya.

Seorang diantara mereka telah terpelanting jatuh.

Ketika ia berusaha bangkit maka tiba-tiba kawannya yang lain

telah jatuh menimpanya, sehingga kedua-duanya telah

berguling-guling beberapa kali.

Untuk beberapa lama Wirastama masih saja bertempur

dengan segenap kekuatan dan kemampuannya. Didorong

oleh kemarahan yang membakar jantungnya, maka dalam

waktu yang tidak terlalu lama, ia telah berhasil mengalahkan

kelima orang lawannya. Kelima orang anak muda itu telah

tidak berdaya lagi, ketika kemudian Wirastama berdiri diantara

mereka sambil bertolak pinggang.

“ Nah, jika kalian ingin tertawa, tertawalah “ geram

Wirastama.

Anak-anak muda itu tidak dapat tertawa lagi. Tetapi yang

terdengar adalah keluhan kesakitan.

“ Ayo, cepat bangkit. Jika kalian memang laki-laki yang

bertanggung jawab, yang telah berani mengganggu seorang

gadis, maka kalian tidak akan takut mempertaruhkan nyawa

kalian. Ayo, siapa diantara kalian seorang laki-laki. Aku telah

menanggalkan pertanda keprajuritanku. Tidak seorangpun

akan menyalahkan kalian, karena kalian melawan seorang

perwira dari Pasukan Khusus. “ geram Wirastama.

Kelima orang itu masih saja mengeluh. Tidak seorangpun

yang bangkit, apalagi bersiap untuk melawan.

Karena kelima anak muda itu tidak melawannya, maka

Wirastama telah menarik baju anak yang paling besar diantara

 

mereka sambil membentak “ Ayo, bangun. Jawab

pertanyaanku. “

Anak muda itu menjadi semakin ketakutan. Sebelah

matanya telah membiru sementara perutnya yang mual

menjadi semakin mual. Mulutnya berdarah dan nafasnya

menjadi tersendat-sendat.

“ Siapakah kalian sebenarnya he? “ bertanya Wirastama.

Anak muda itu termangu-mangu. Karena itu, Wirastama telah

mengguncang bajunya sambil berteriak “ Siapakah kalian

sebenarnya? “

“ Aku, eh, kami berlima adalah saudara seperguruan “

jawab anak muda itu.

“ Seperguruan? Kepada siapa kalian berguru he? Kalian

sama sekali tidak menunjukkan kemampuan olah kanu-ragan

sama sekali. Jika kalian berguru, seperti apa kira-kira rupa

gurumu itu? “ bentak Wirastama pula.

Kelima orang itu memang merasa tersinggung atas

penghinaan terhadap gurunya itu. Tetapi mereka tidak berani

berbuat apa-apa.

“ Siapa gurumu he? Dan sudah berapa lama kalian

berguru? “ bertanya Wirastama.

Anak muda itu menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi

Wirastama telah mengguncangnya lagi dengan kasar sambil

membentak “ Cepat, jawab.

Karena anak itu tidak segera menjawab, maka Wirastama

tiba-tiba telah memilin tangannya sambil mendesaknya “ cepat

jawab, atau tanganmu akan patah. “

“ Jangan, jangan “ anak muda itu merintih.

“ Katakan siapa gurumu “ geram Wirastama.

Anak muda itu masih ragu-ragu. Tetapi karena Wirastama

memilin tangannya semakin keras, maka anak muda itupun

menjawab dengan kata-kata yang terbata-bata

Guruku adalah Kiai Sangkan dan Kiai Paran.

Wirastama termangu-mangu. Ia belum pernah mendengar

nama itu. Namun seorang pengawal yang menunggui

perkelahian itu mendekati Glagah Putih sambil berkata “

Memang, dipesisir Selatan, di sebuah Kademangan ada

 

seorang yang mengaku sakti dan membuka sebuah

perguruan. Belum lama, baru beberapa bulan. Tetapi kedua

orang itu hanya menerima murid dari antara orang-orang yang

kaya raya dan memungut bayaran yang tinggi. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi katanya

kemudian “ Yang aku dengar agaknya namanya bukan Kiai

Sangkan dan Kiai Paran. “

“ Siapapun namanya. Tetapi perguruan itu memang ada.

Tetapi letaknya memang agak jauh dari Tanah Perdikan ini. “

jawab pengawal itu.

Glagah Putih termangu-mangu. Sebenarnyalah bahwa ia

memang kurang tahu nama orang-orang yang mendirikan

perguruan itu. Tetapi menurut pendengarannya nama-nama

itu adalah nama-nama yang menyeramkan.

Tiba-tiba saja pengawal Tanah Perdikan itu berbisik “ Ya.

Aku ingat. Mereka mempergunakan nama yang tidak

sewajarnya. Seorang bernama Brajasaketi dan seorang

bernama Brajasayuta. “

Glagah Putih termangu-mangu. Namun iapun kemudian

mendekati anak muda yang masih dipilin tangannya oleh

Wirastama. Dengan nada rendah ia bertanya “ Apakah

hubungannya Kiai Sangkan dan Kiai Paran dengan orang

yang menyebut dirinya Brajasaketi dan Brajasayuta? “

Wajah anak muda itu menjadi sangat tegang. Namun

kemudian jawabnya “ Nama itu adalah nama guruku. Kiai

Sangkan adalah Kiai Brajasaketi sedangkan Kiai Paran juga

menyebut dirinya Kiai Brajasayuta. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya “ Jadi kalian

murid-murid dari perguruan itu. Jika demikian maka kalian

tentu anak orang-orang kaya, karena hanya orang-orang kaya

yang dapat membayar banyak sajalah yang diterima menjadi

murid perguruan itu. “

Anak-anak muda itu tidak menjawab. Tetapi Glagah

Putih berkata pula “ Bahkan kalian adalah anak orangorang

kaya yang menganggap bahwa uang adalah segalagalanya

dapat terbaca pula pada sikap kalian.

 

Anak-anak muda itu tidak menjawab. Sementara itu

Wirastamapun berkata lantang “ Katakan, apakah kalian

merasa jera atau tidak? “

“ Baik-baik. Kami tidak akan melakukannya lagi jawab anak

yang terbesar itu. Yang bertubuh tinggi tegap.

“ Semua diantara mereka harus mengatakannya “ geram

Wirastama. “

Karena yang lain tidak segera mengucapkannya, maka

Wirastama telah menguatkan pilinannya sambil membentak “

Cepat ucapkan bersama-sama atau tangan ini akan patah.

Bahkan juga tangan-tangan kalian yang lain. “

Anak-anak muda itu menjadi ketakutan. Hampir berbareng

mereka berkata “ Baiklah. Kami menjadi jera. “

Namun nampaknya Wirastama masih menginginkan

mereka berteriak “ Katakan sekali lagi. Lebih keras. “

Tetapi yang terdengar adalah suara yang lain, yang seakan

akan menggetarkan jantung “ Cukup. Aku kira sudah cukup. “

Semua orang berpaling kearah suara itu. Wajah-wajah-pun

menjadi tegang ketika mereka melihat dua orang yang sudah

setengah baya melangkah mendekati Wirastama.

“ Aku setuju kau menghukum keduanya. Tetapi hukuman

itu sudah cukup. Jangan memaksa lagi, agar kami tidak usah

ikut campur “ berkata salah seorang diantara mereka.

“ Guru “ tiba-tiba kelima orang itu hampir berbareng

berdesis.

Wirastama memandang kedua orang itu dengan wajah

yang tegang. Namun hampir diluar sadarnya ia sudah

melepaskan tangan anak muda yang dipilinnya itu.

“ Anak muda “ berkata orang yang baru datang itu

selanjutnya Aku kira hukuman yang kau berikan sudah cukup

berat bagi kesalahan yang mereka lakukan. Aku tahu, apa

yang telah dilakukan oleh murid-muridku. Memang satu

kesalahan yang tidak pantas dilakukan oleh anak-anak muda

sejaman dengan aku. Tetapi sebenarnya bagi anak-anak

muda sekarang, tentu tidak begitu bersalah. “ Tetapi bukan

maksudku mengatakan bahwa mereka tidak bersalah. “ orang

itu berhenti sejenak, lalu katanya “ Akupun harus

menganggukkan kepala untuk menghormati sikap jantanmu,

 

karena kau telah menanggalkan pakaian keprajuritanmu dan

berhadapan dengan murid-murid sebagaimana seorang anak

muda. “

Wirastama memandang kedua orang itu berganti-ganti.

Lalu katanya kemudian kepada keduanya “ Kalian harus lebih

banyak mengajari murid-muridmu untuk bertindak lebih sopan

dan mengenal unggah-ungguh. “

Kedua orang itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata.

Kau tidak usah mengajari aku. Bagiku sudah cukup jika muridmuridku

merasa bersalah, dan apalagi sudah berjanji untuk

tidak mengulanginya. “

***

API DI BUKIT MENOREH SERI III

JILID 235

“ TETAPI ternyata murid-muridmu sama sekali tidak tahu

unggah-ungguh.” Wirastama hampir berteriak, “ tanpa

bimbingan gurunya aku tidak yakin, bahwa yang diucapkan itu

benar-benar satu janji yang akan dipatuhi.”

“ Percaya atau tidak percaya itu adalah hakmu. Sekarang

aku akan membawa murid-muridku pergi. Mereka sudah lama

menjadi tontonan disini, justru disaat mereka berlima

dikalahkan dalam satu perkelahian. Meskipun kelima muridmuridku

itu tidak perlu merasa rendah diri, karena yang

mengalahkannya adalah seorang perwira dari Pasukan

Khusus. Murid-muridku akan merasa terhina jika mereka

dikalahkan oleh anak-anak padukuhan di Tanah Perdikan ini.”

jawab salah seorang dari kedua orang guru dari kelima anak

muda itu.

Kata-kata itu memang menyinggung perasaan Glagah

Putih. Apalagi ketika pengawal Tanah Perdikan yang

kemudian berdiri di sebelahnya berdesis, “ Jika saja Agung

Sedayu mendengar.”

 

Glagah Putih menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak

berbuat sesuatu.

Namun dalam pada itu, Wirastamapun berkata, “ Aku minta

kau bertanggungjawab bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi.”

“ Kau tidak perlu memaksa aku berbuat begitu. Aku tahu

apa yang harus aku lakukan.” jawab orang itu.

Wajah Wirastama menjadi merah. Dengan lantang ia

berkata, “ Kau jangan terlalu sombong. Meskipun kau adalah

guru dari kelima anak muda itu, namun aku tidak melihat

kelebihanmu sama sekali.”

“ Jangan berbuat kasar anak muda. Aku tahu kau adalah

seorang prajurit. Aku tahu bahwa jika terjadi perselisihan

diantara kita, kau dapat mempergunakan kekuatan

pasukanmu untuk membalas dendam, karena kau tidak akan

dapat berbuat apa-apa terhadap kami berdua, yang memang

telah mengakui sebagai guru anak-anak ingusan yang baru

mulai berguru beberapa hari yang lalu.” berkata orang itu.

“ Aku telah melepaskan baju keprajuritanku.” bentak

Wirastama.

Kedua orang guru dari anak-anak muda itupun saling

berpandangan. Namun tiba-tiba saja keduanya tertawa

berbareng. Suara tertawanya bergetar menggetarkan udara di

tempat yang lapang itu. Ketika suara tertawa orang itu menjadi

semakin tinggi, maka rasa-rasanya getaran udara yang

semakin kuat telah mengalir dari dada orang itu kearah

Wirastama, Teja Prabawa dan orang-orang yang berdiri

disekitarnya.

Mula-mula mereka tidak merasakan sesuatu pada dada

mereka. Yang terasa adalah bahwa suara tertawa itu sangat

menyakitkan telinga. Namun kemudian, rasa-rasanya getaran

yang semakin kuat telah menghantam dada mereka dan

meremas isinya.

Orang-orang itu terkejut. Ki Lurah Branjangan yang

memiliki perbendaharaan pengalaman yang luas dengan serta

merta telah menarik Rara Wulan menjauhi sasaran, sehingga

mereka tidak lagi berada di garis yang berbahaya dari getaran

suara tertawa yang meninggi itu.

 

Dalam pada itu, Wirastama dan Teja Prabawa ternyata

harus menahan tusukan rasa sakit pada dada mereka. Rasarasanya

isi dada mereka terguncang-guncang oleh getaran

yang sangat kuat. Sesaat kemudian Raden Teja Prabawa

benar-benar telah dicengkam rasa sakit yang hampir tidak

tertahankan. Demikian pula Wirastama yang masih mencoba

bertahan. Sementara itu Glagah Putih yang memiliki ilmu yang

tinggi serta daya tahan yang kuat, berhasil melingkari dirinya

dengan perisai ilmunya. Namun ia berbuat sebagaimana

Wirastama dan Teja Prabawa serta pengawal Tanah Perdikan

yang berdiri di dekatnya. Bahkan garis serangan itu seakanakan

telah memanjang dan menyerang orang-orang yang

berdiri meskipun agak jauh, namun digaris serangan itu,

sehingga beberapa orang telah menjadi pingsan karenanya.

“ Setan itu memiliki kekuatan ilmu mula dari ilmu Gelap

Ngampar.” berkata Glagah Putih didalam hatinya. Namun

Glagah Putih itu kemudian justru telah menekan dadanya

dengan kedua telapak tangannya sebagaimana dilakukan oleh

Wirastama. Bahkan Teja Prabawa telah berjongkok sambil

menyeringai kesakitan. Tetapi suara tertawa itu semakin reda.

Bahkan kemudian berhenti sama sekali.

Wirastama yang kesakitan itu merasa dadanya menjadi

lapang. Namun ia menyadari, bahwa ternyata kedua orang

yang mengaku sebagai guru kelima orang itu adalah orang

yang berilmu tinggi. Karena itu, maka Wirastama tidak berkata

apapun juga ketika ia telah berhasil berdiri tegak.

Teja Prabawapun kemudian berusaha untuk bangkit berdiri.

Meskipun dadanya masih terasa sakit, tetapi rasa-rasanya

nafasnya telah dapat berjalan wajar.

“ Nah, anak-anak muda.” berkata salah seorang diantara

kedua guru anak-anak muda yang telah dikalahkan oleh

Wirastama itu, “ aku sama sekali tidak ingin menyakiti kalian.

Tetapi aku ingin kalian tidak menghalangi aku. Apapun yang

akan aku lakukan, akan aku pertanggung jawabkan.

Sementara itu, aku tidak ingin bermusuhan dengan Pasukan

Khusus Mataram di Tanah Perdikan ini.”

 

Wirastama tidak menjawab. Tetapi Glagah Putihlah yang

berbicara kemudian, “ Ki Sanak. Tetapi perguruanmu menurut

pendengaranku adalah perguruan aneh.”

“ Kenapa aneh?” bertanya orang itu.

“ Bukankah yang kau terima sebagai murid-muridmu adalah

orang-orang yang dapat memenuhi tuntutan upah yang kau

tentukan?” bertanya Glagah Putih.

“ Anak muda. Siapakah kau sebenarnya? Kau tentu bukan

dari Pasukan Khusus.” berkata orang itu, “ jika kau membuat

aku marah, maka aku akan dapat berbuat lebih banyak.”

Glagah Putih justru bergeser maju. Namun tiba-tiba saja

Teja Prabawa membentaknya, “ Cukup. Kau tidak usah turut

campur persoalan perguruan mereka.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sementara Teja

Prabawa berkata kepada kedua orang itu, “ Bawa muridmuridmu.

Kami tidak mempunyai persoalan lagi dengan

kalian.”

Kedua orang itu tertawa pendek. Salah seorang diantara

mereka berkata, “ Ternyata ada diantara kalian yang cukup

bijaksana.”

Teja Prabawa tidak berkata apapun lagi. Demikian pula

Wirastama dan Glagah Putih.

Sejenak kemudian, maka kedua orang itupun telah

melangkah meninggalkan arena. Kelima orang muridnya

dengan susah payah telah mengikuti mereka betapapun

perasaan sakit masih terasa mencengkam tubuh mereka.

Sepeninggal orang-orang itu, maka Ki Lurahpun segera

mengajak Rara Wulan kembali ke rumah Ki Gede diikuti oleh

Teja Prabawa dan Wirastama. Beberapa orang telah ikut pula

dibelakang mereka, sementara masih ada orang yang harus

merawat kawannya yang baru saja sadar dari pingsannya.

Namun ternyata Glagah Putih tidak ikut bersama mereka.

Semula tidak ada orang yang memperhatikan, bahwa

Glagah Putih tidak ikut pergi ke rumah Ki Gede. Baru ketika

mereka memasuki regol, Ki Lurah mencarinya diantara orangorang

yang bersamanya. Termasuk pengawal yang ikut

menyaksikan perkelahian itu.

“ Kemana Glagah Putih?” bertanya Ki Lurah.

 

Pengawal itu mendekat sambil menjawab, “ Ia hanya

berpesan, bahwa ia ingin menyelesaikan satu pekerjaan.”

“ Pekerjaan apa?” bertanya Ki Lurah.

Pengawal itu menggeleng. Jawabnya, “ Aku tidak tahu.”

Sementara itu Teja Prabawapun menyahut, “ Buat apa

kakek mencari anak itu. Ia tidak berarti apa-apa bagi kami.

Untung Wirastama segera datang ke pasar itu. Jika tidak,

maka Rara Wulan akan dihinakan dihadapan banyak orang.”

“ Kau kira aku akan membiarkannya.” berkata Ki Lurah.

“ Kakek sudah tua.” jawab Teja Prabawa, “ sementara itu

Wirastama dapat mencegah tingkah laku anak-anak muda itu

menjadi semakin buruk. Ternyata satu pameran kekuatan

yang luar biasa. Wirastama dapat mengalahkan lima orang

sekaligus. Adalah wajar saja jika gurunya memiliki kelebihan.

Guru mereka berlima itu pantasnya memang harus

berhadapan dengan guru Wirastama. Apalagi mereka berdua.”

“ Ah.” desis Wirastama, “ sudah menjadi kewajibanku

untuk mengatasi anak-anak bengal seperti mereka itu.”

“ Tetapi seorang diri kau mampu mengalahkan mereka

berlima. Sulit dibayangkan jika aku tidak melihat sendiri apa

yang kau lakukan.” sahut Teja Prabawa.

“ Sudahlah.” berkata Wirastama, “ kita berbicara tentang

yang lain.”

Teja Prabawapun terdiam. Mereka kemudian telah

dipersilahkan duduk di serambi. Sementara Rara Wulan pergi

ke dapur memberitahukan kepada para pelayan, bahwa

mereka memerlukan minum. Para pelayan yang tahu, bahwa

tamu Ki Gede adalah orang-orang terhormat, maka

merekapun dengan serta merta telah menyiapkannya.

Ketika Rara Wulan tidak lagi muncul keserambi maka Teja

Prabawa telah memanggilnya. Katanya, “ Kau belum

mengucapkan terima kasih kepada Wirastama.”

“ Kakek tentu sudah.” jawab Rara Wulan.

“ Kakek juga belum. Tetapi sepantasnya kau sendirilah

yang mengatakannya kepada Wirastama. Kau bukan anakanak

yang masih menyusu. Yang belum dapat berbicara

dengan jelas.”

 

Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi ia terpaksa bangkit dan

melangkah menuju ke serambi. Di serambi Teja Prabawa

telah mendesaknya lagi. Katanya, “ Nah, kau telah

diselamatkan oleh Wirastama. Apa katamu?”

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak

mengatakan apa-apa.

Mula-mula Rara Wulan memang merasa segan. Namun

kemudian iapun berdesis hampir tidak terdengar, “ Aku

mengucapkan terima kasih.”

Wirastama tersenyum. Katanya, “ Bukan apa-apa. Sudah

aku katakan, bahwa itu adalah kewajibanku.”

Rara Wulan mengangguk kecil. Namun pipinya telah

menjadi merah. Dengan suara yang masih agak sendat

hampir tidak terdengar ia berkata, “ Silahkan duduk bersama

kakang Teja Prabawa. Aku akan beristirahat.”

“ Apakah kau lelah? Bukankah kau tidak apa-apa?”

bertanya Teja Prabawa.

Namun Wirastamalah yang menyahut, “ Bukankah ia baru

saja berjalan-jalan yang bagi seorang gadis terhitung jauh?

Biarkan ia beristirahat.”

Rara Wulan tidak menyahut. Iapun segera berdiri dan

melangkah meninggalkan serambi gandok masuk kedalam

biliknya.

Ki Lurah hanya tersenyum saja. Katanya, “ Ia memang

perlu beristirahat.”

“ Yang patut beristirahat adalah Wirastama. Ia baru saja

mengatasi pusaran air yang dahsyat itu. Kemudian berkelahi

melawan lima orang anak muda yang pada umumnya

tubuhnya tinggi tegap. Agaknya ia tentu letih.” berkata Teja

Prabawa.

“ Ya. Ia tentu letih.” sahut Ki Lurah. Karena itu, maka

katanya kepada Wirastama, “ Sebaiknya angger memang

beristirahat.”

“ Ah, aku tidak letih.” jawab Wirastama.

“ Maksudku bukan begitu.” berkata Teja Prabawa, “ ia

dapat beristirahat disini.”

Sebelum Wirastama menjawab, maka seorang pelayan

telah menghidangkan makanan dan minuman. Bahkan

 

pelayan itu berkata, “ Ki Gede belum kembali. Ki Gede

berpesan, agar Ki Lurah dan para tamu yang lain makan saja

lebih dahulu dengan tidak usah menunggu Ki Gede kembali

dari tugasnya.”

“ Terimakasih.” berkata Ki Lurah, “ sebentar lagi kami akan

keruang dalam.”

“ Sekarang, makan sudah disediakan.” berkata pelayan itu,

“ sebaiknya Ki Lurah dan para tamu pergi ke ruang dalam

sekarang saja.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “ Baiklah. Biarlah

para tamu membenahi diri dan mencuci tangan serta kaki

mereka.”

Beberapa saat kemudian mereka memang sudah ada

diruang dalam. Ki Lurah memaksa Rara Wulan untuk makan

bersamanya agar para pelayan tidak menjadi terlalu sibuk

melayani mereka seorang demi seorang.

Dalam pada itu, ketika mereka sedang makan di ruang

dalam rumah Ki Gede, dua orang guru dan kelima muridnya

berjalan beriringan. Mereka telah menyusuri jalan dipinggir

hutan. Namun tiba-tiba saja mereka terkejut, ketika seseorang

telah meloncat dari dalam hutan mencegat perjalanan mereka.

Kedua orang guru yang disebut bernama Kiai Sangkan dan

Kiai Paran, namun juga menyebut diri mereka Kyai Brajasaketi

dan Kiai Brajasayuta itu segera memberi isyarat kepada

murid-muridnya untuk berhenti.

“ Kau?” desis Kiai Sangkan. Lalu, “ Apa maksudmu

menghentikan perjalanan kami kembali ke padepokan kami?”

“ Namaku Glagah Putih. Kau belum menyatakan kesediaan

kalian untuk mengatur murid-muridmu agar tidak berbuat

sebagaimana dilakukannya.”

Kedua orang itu saling berpandangan. Dengan nada yang

semakin keras Kiai Sangkan menjawab, “ Kau jangan

membuat persoalan baru. Para pemimpin dari anak-anak

muda di Tanah Perdikan ini, bahkan seorang perwira dari

pasukan Khusus telah menganggap persoalannya selesai.”

“ Belum. Mereka menganggap persoalannya selesai,

karena mereka tidak mau bertengkar dengannya. Kau telah

 

menggertak mereka dengan ilmu mula dari ilmu Gelap

Ngampar.” jawab Glagah Putih.

“ Apapun yang kami lakukan, tetapi persoalan kami sudah

selesai.” jawab Kiai Paran.

“ Tetapi aku, salah seorang pemimpin anak-anak muda

Tanah Perdikan ini menganggap bahwa persoalannya belum

selesai.” berkata Glagah Putih, “ aku ingin kalian berjanji,

bahwa kalian akan mengendalikan murid-murid kalian agar

mereka tidak mengganggu kehidupan di Tanah Perdikan.

Apalagi yang telah mereka lakukan benar-benar satu

perbuatan yang tercela. Mereka telah mengganggu seorang

gadis yang justru bukan gadis Tanah Perdikan. Mereka telah

mengganggu seorang tamu dari Kotaraja. Cucu Ki Lurah

Branjangan.”

Kiai Sangkan dan Kiai Paran itu menjadi marah. Dengan

nada keras Kiai Sangkan berkata, “ Pergilah. Kau jangan

mengganggu aku.”

“ Aku tidak akan membiarkan kalian meninggalkan Tanah

Perdikan ini sebelum kalian berjanji bahwa kalian akan

mengendalikan murid-murid kalian.” berkata Glagah Putih.

“ Jangan mencari perkara anak muda.” geram Kiai Paran, “

kami dapat menghancurkanmu tanpa menyentuhmu.”

“ Dengan ilmu Gelap Ngamparmu yang jelek itu?” sahut

Glagah Putih, “ kau kira ilmu Gelap Ngamparmu yang

tampaknya baru mulai kau pelajari itu akan mampu

mengguncangkan jantungku?”

“ Kau memang anak yang dungu. Bukankah kau telah

mengalami betapa ilmu kami itu mencengkam dadamu?”

bertanya Kiai Paran.

Tetapi Glagah Putih tertawa. Katanya, “ Sudahlah.

Berjanjilah dengan sungguh-sungguh. Aku akan

melepaskanmu. Jika kau berkeberatan, maka kau akan

mengalami kesulitan. Sekarang baru aku seorang diri yang

menghalangimu. Tetapi lambat laun para pengawal seisi

Tanah Perdikan ini akan mengepungmu.”

“ Persetan.” Kiai Sangkan dan Kiai Paran benar-benar

menjadi marah. Dengan suara yang bergetar Kiai Sangkan

berkata, “ Anak muda. Ternyata bahwa kau telah membuat

 

kami marah. Kau kira bahwa kami akan tunduk kepada

ancamanmu? Biarlah anak-anak muda dan para pengawal

Tanah Perdikan ini semuanya datang melawan kami. Apakah

kau kira kami akan takut dan lari terbirit-birit.”

Glagah Putih tertawa pula. Katanya, “ Sekali lagi aku

katakan, jangan harap kalian dapat keluar dari Tanah

Perdikan ini tanpa mengucapkan janji sebagaimana aku

kehendaki.”

Kiai Sangkan nampaknya sudah tidak dapat

mengendalikan diri lagi. Iapun segera melangkah maju sambil

berkata, “ Aku hanya melepaskan ilmu puncakku untuk

kepentingan tertentu. Sekarang aku akan memaksamu untuk

berbuat tanpa ilmu itu.”

Glagah Putihpun segera bersiap. Karena itu, ketika Kiai

Sangkan menyerangnya, Glagah Putihpun dengan

tangkasnya mengelak. Namun Kiai Sangkanpun tahu, bahwa

tanpa bekal apapun, anak muda yang bernama Glagah Putih

itu tentu tidak akan melakukan hal itu. Karena itu, maka Kiai

Sangkanpun cukup berhati-hati menghadapinya.

Sejenak kemudian, maka Kiai Sangkan itupun telah

bertempur melawan Glagah Putih. Dengan kemarahan yang

menghentak-hentak didadanya, Kiai Sangkan ingin segera

menundukkan anak muda itu dan memaksanya untuk berbuat

dan mohon maaf kepadanya. Tetapi ternyata bahwa

perhitungannya telah keliru. Jangankan menundukkan anak

muda itu, menyentuhpun ternyata Kiai Sangkan itu masih

belum mampu.

Ternyata Glagah Putih dapat bergerak dengan cepatnya.

Berlompatan mengitari lawannya. Namun sekali-sekali kakinya

telah melontarkannya menyerang Kiai Sangkan dengan

garangnya. Kiai Sangkanlah yang kemudian justru mengeluh

ketika serangan Glagah Putih mengenai pundaknya.

“ Anak ini memiliki ilmu iblis sehingga mampu bergerak

begitu cepatnya.” berkata Kiai Sangkan di dalam hatinya.

Namun dalam pertempuran berikutnya, Glagah Putih

ternyata masih mampu meningkatkan kecepatan geraknya.

Kiai Paran yang semula menyerahkan segala-galanya

kepada Kiai Sangkan, karena ia menganggap bahwa anak

 

muda itu akan dengan serta merta dapat ditundukkan, mulai

menjadi tegang. Ternyata bahwa Kiai Sangkan tidak segera

dapat menyelesaikan pekerjaannya yang dianggapnya tidak

berarti.

Untuk beberapa saat lamanya, keduanya masih bertempur

terus. Justru semakin meningkat dan bahkan Kiai Paranpun

melihat, bukan anak muda yang bernama Glagah Putihlah

yang telah dikenai serangan-serangan Kiai Sangkan, tetapi

malahan sebaliknya. Kiai Sangkanlah yang telah dikenai

tubuhnya oleh serangan-serangan Glagah Putih yang semakin

membadai.

Sentuhan-sentuhan tangan Glagah Putih di tubuh Kiai

Sangkan itu membuat darahnya menjadi semakin mendidih.

Sebagai seorang yang telah membuka sebuah perguruan,

apalagi dihadapan murid-muridnya. Maka Kiai Sangkan akan

cacat namanya jika ia tidak berhasil mengatasi anak muda

yang dianggap anak padesan itu. Karena itu, maka Kiai

Sangkanpun kemudian benar-benar telah merambah ke ilmu

kanuragan dengan mulai mengerahkan tenaga cadangan

didalam dirinya.

Jika ia semula tidak menganggap perlu melakukannya,

maka iapun kemudian tidak dapat mengingkari kenyataan,

bahwa anak muda itu memang memiliki bekal yang cukup.

Tetapi hampir diluar sadarnya ia berkata, “ Anak muda.

Ternyata kau memang terlalu sombong. Aku masih berusaha

untuk menahan diri. Meskipun kau telah membuat aku sangat

marah, namun aku masih berusaha untuk mengekang diri

agar aku tidak membunuhmu tanpa sengaja. Tetapi kau

ternyata salah paham. Kau kira kau benar-benar memiliki

kemampuan untuk melawanku.”

“ Aku tidak mempunyai perhitungan lain kecuali ingin

mendengar kau berjanji untuk tidak membiarkan muridmuridmu

berkeliaran dan mengganggu ketenangan kehidupan

Tanah Perdikan Menoreh. Itu saja.” jawab Glagah Putih.

Kiai Sangkan menggeretakkan giginya. Iapun kemudian

telah mempergunakan tenaga cadangannya dan

mengetrapkannya pada ilmu kanuragannya. Dengan demikian

maka tata gerak Kiai Sangkanpun mulai berubah. Iapun

 

bergerak sangat cepat. Ayunan tangannya telah menimbulkan

desir angin yang bersiut nyaring, namun yang dapat membuat

jantung menjadi berdebar-debar.

Semula Glagah Putih sempat memperhatikan, bahwa

tangan Kiai Sangkan itu terbuka dengan jari-jari yang merapat.

Pukulannya mempergunakan sisi telapak tangannya, namun

kadang-kadang tangan itu mematuk dengan ujung-ujung jari

yang merapat. Tetapi Glagah Putih sama sekali tidak

mengalami kesulitan meskipun ia harus mulai meniti ilmu

keturunan dari perguruan pamannya, Ki Sadewa. Namun

kecepatan gerak dan kekuatan ayunan tangan Kiai Sangkan

tidak mendebarkan jantungnya lagi.

Beberapa saat kemudian, maka pertempuran itupun

menjadi semakin sengit. Ternyata Glagah Putih masih mampu

memacu ilmunya selapis diatas ilmu lawannya, sehingga

dengan demikian, maka Kiai Sangkanpun mulai mengalami

kesulitan lagi menghadapi Glagah Putih. Bahkan Glagah Putih

yang juga mulai melandasi tata gerak dan kekuatannya

dengan tenaga cadangannya, masih juga mampu menyakiti

tubuh lawannya dengan sentuhan-sentuhan serangannya.

Terdengar Kiai Sangkan mengumpat kasar. Bahkan iapun

mulai meningkatkan ilmu. Justru semakin keras dan bahkan

semakin kasar. Sehingga ketika ia masih juga belum mampu

mengimbangi lawannya yang masih muda itu, maka Kiai

Sangkan tidak lagi dapat menyembunyikan dasar-dasar

ilmunya yang sebenarnya. Ketika ia kemudian mengerahkan

kemampuannya dilandasi dengan ilmu kanuragan, maka tata

geraknyapun mulai berubah lagi. Tangannya tidak lagi

bergerak dengan jari-jari terbuka yang merapat lurus, yang

kadang-kadang dipergunakan untuk memukul dengan sisi

telapak tangannya atau mematuk dengan ujung-ujung jarinya.

Tetapi jari-jari yang mengembang itupun kemudian telah

berubah. Jari-jarinya benar-benar mengembang dan

melengkung seperti hendak mencengkam.

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Selangkah ia

bergeser surut untuk mengamati tata gerak lawannya lebih

jelas lagi. Namun ia tidak mendapat banyak kesempatan.

Lawannya telah memburunya. Jari-jarinya menjadi seperti

 

cakar burung pemakan daging yang garang, yang siap

menerkamnya. Bagaimana seekor burung alap-alap. Kiai

Sangkan menerkam Glagah Putih.

Tetapi Glagah Putih bukan sekedar seekor burung merpati

yang lemah. Tetapi Glagah Putih justru telah bersiap

sepenuhnya. Melihat sikap lawannya, maka tiba-tiba saja

Glagah Putih berkata lantang, “ Jadi kau adalah pengikut ilmu

Bajra Wereng? Itukah sebabnya kalian menyebut nama kalian

dengan Bajrasaketi dan Bajrasayuta?”

“ Anak setan.” geram orang itu, “ jangan mengigau.”

“ Ki Sanak.” berkata Glagah Putih, “ aku pernah mendapat

petunjuk dari guruku, bahwa sikap kalian adalah sikap ilmu

Bajra Wereng.”

“ Ada seribu macam ilmu yang mempunyai sikap hampir

sama.” geram Kiai Sangkan.

“ Disamping sikapmu, juga tata gerakmu. Tetapi yang lebih

meyakinkanku adalah caramu membuka perguruanmu.

Kepura-puraanmu dengan berperisai unsur dari ilmu yang lain,

namun dalam keadaan yang tersudut, maka kau pergunakan

unsur-unsur gerak dari ilmumu yang hitarn itu. Serta banyak

hal yang telah meyakinkan aku, bahwa kau telah menyadap

ilmu hitam itu.” sahut Glagah Putih.

“ Persetan.” geram orang itu pula. Bahkan katanya

kemudian, “ Jika demikian maka nasibmu akan menjadi

sangat malang. Kau akan terbunuh disini dan tubuhmu akan

dilempar kedalam hutan menjadi makanan binatang liar.”

“ Jangan mencoba membunuh agar kau sendiri tidak

terbunuh.” sahut Glagah Putih, “ tetapi aku hanya minta kau

berjanji untuk mengendalikan murid-muridmu. Hanya itu. Aku

tidak peduli apakah kau berilmu apapun juga, asal kau dan

murid-muridmu tidak mengganggu orang lain.”

Kiai Sangkan tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba ia

telah meloncat menerkam dengan garangnya dengan jarijarinya

yang mengembang. Tetapi Glagah Putihpun benarbenar

telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena

itu, ketika Kiai Sangkan yang juga disebut Kiai Bajrasaketi itu

menyerangnya, maka iapun sudah siap untuk melawan.

 

Glagah Putih dengan sengaja tidak ingin menghindari

serangan itu. Ia tidak ingin terlalu lama terlibat dalam

pertempuran itu. Karena itu, maka iapun telah menyiapkan

dirinya, menghimpun kekuatannya justru membentur serangan

lawannya yang memiliki ilmu Bajra Wereng itu.

Namun Glagah Putihpun menyadari, bahwa kekuatan ilmu

Bajra Wereng adalah ilmu yang mampu melepaskan kekuatan

yang besar. Jari-jari tangan yang mengembang itu akan

mampu memecahkan tulang di kepalanya atau mengoyak kulit

dagingnya. Karena itu, maka Glagah Putihpun telah

menyiapkan pula kekuatan ilmunya.

Sejenak kemudian benturan yang dahsyatpun telah terjadi

ilmu Bajra Wereng itu telah dapat menggetarkan

keseimbangan Glagah Putih. Namun Glagah Putih hanya

terdorong selangkah surut. Dengan serta merta, maka iapun

sempat memperbaiki keseimbangannya, sehingga sejenak

kemudian, maka iapun telah berdiri tegak dalam

keseimbangan yang mapan.

Sementara itu, Kiai Sangkan benar-benar terkejut bukan

buatan. Serangannya seakan-akan telah membentur dinding

baja setebal dua jengkal. Bukan itu saja, tetapi kekuatan yang

sangat besar seakan-akan telah memantul menghantam

bagian dalam tubuhnya dan melemparkannya dengan

kerasnya, sehingga Kiai Sangkan itupun kemudian telah

terbanting jatuh.

Punggung orang itu rasa-rasanya bagaikan patah. Sambil

menyeringai menahan sakit ia mencoba untuk bangkit.

Betapapun juga, Kiai Bajraseketi itu berusaha untuk tidak

terhina dihadapan murid-muridnya. Namun ia tidak dapat

menyembunyikan kenyataan bahwa ia memang terbanting

jatuh dan menjadi kesakitan.

Sambil berdesah tertahan, Kiai Sangkan itu bertelekan

pada lambungnya. Ketika ia kemudian berdiri tegak, maka

iapun telah mengumpat, “ Anak tidak tahu diri. Aku berusaha

menahan diri agar kau tidak menjadi lumat karena kekuatan

dan kemampuanku. Ternyata kau sama sekali tidak berterima

kasih. Kau hentakkan ilmumu dengan tiba-tiba sehingga aku

menjadi terkejut karenanya.”

 

“ Jangan banyak bicara.” geram Glagah Putih, “ jika kau

tidak ingin lebih terhina lagi dihadapan murid-muridmu, lekas

ucapkan janji itu, bahwa kau dan murid-muridmu tidak akan

mengganggu siapapun lagi di Tanah Perdikan Menoreh.

Apalagi tamu yang kami hormati itu.”

“ Persetan.” geram orang itu, “ kau memang harus mati.”

Lalu katanya kepada Kiai Paran, “ Marilah. Kita cepat-cepat

menyelesaikannya. Kita tidak mempunyai waktu banyak.”

Kiai Paran yang juga disebut Kiai Bajrasayuta itu

mengerutkan keningnya. Ia tidak mengira bahwa Kiai Sangkan

akan mengalami kesulitan menghadapi anak muda itu. Namun

setelah melihat bagaimana keduanya bertempur, maka Kiai

Paranpun menyadari, bahwa anak muda itu memang memiliki

ilmu yang sangat tinggi. Karena itu, maka sejenak kemudian

Kiai Paranpun telah melangkah mendekati arena

pertempuran.

Kelima orang muridnya yang masih kurang mampu menilai

ilmu yang tinggi yang terpancar dari setiap unsur gerak

Glagah Putih telah mencoba untuk mendekat pula. Meskipun

tubuh mereka masih terasa sakit setelah mereka berlima

dikalahkan oleh Wirastama, namun mereka merasa wajib

untuk ikut melibatkan diri jika hal itu dikehendaki oleh gurugurunya.

Dalam pada itu Kiai Paranpun berkata, “ Kepung anak itu.

Jangan sampai ia melarikan diri.”

Tetapi Glagah Putih menyahut, “ Aku peringatkan, jangan

libatkan murid-muridmu.”

“ Jangan takut.” jawab Kiai Paran, “ mereka hanya akan

berjaga-jaga jika kau ingin melarikan diri dari tangan kami.”

“ Apapun yang harus mereka lakukan, maka tentu akan

sangat berbahaya bagi mereka. Jika mereka terlibat,

betapapun kecilnya, maka akibatnya akan sangat parah bagi

mereka. Mereka sama sekali belum memiliki bekal apapun

juga untuk memasuki sebuah arena pertempuran.” berkata

Glagah Putih. Lalu, “ Seharusnya kalian, guru-gurunya

mengetahuinya. Atau kalian sekedar ingin menakut-nakuti

aku, seolah-olah ada beberapa orang yang akan

mengepungku?”

 

“ Persetan.” geram Kiai Paran, “ kau memang harus

dibunuh. Kami memang tidak perlu lagi mengekang diri

sehingga kau akan menjadi contoh bagi anak-anak Perdikan

Tanah Menoreh yang akan berani menentang kami. Kami

masih meng-hormati Pasukan Khusus yang memiliki kekuatan

yang benar yang akan dapat menghancurkan padepokan kami

jika mereka menghendaki. Tetapi kau tidak mempunyai

kekuatan apa-apa anak muda. Jika kau mati, tidak ada yang

akan dapat menuntut balas. Bahkan Ki Gede Menorehpun

tidak akan berarti sama sekali bagi kami.”

“ Jadi kau hanya dapat membual saja Ki Sanak. Ingat, aku

tidak akan dapat mati karena mendengar bualanmu itu.”

berkata Glagah Putih.

Telinga Kiai Sangkan dan Kiai Paran rasa-rasanya

bagaikan tersentuh api. Karena itu, maka keduanya segera

meloncat menyerang dengan garangnya. Keduanya tidak lagi

segan-segan mempergunakan puncak kemampuan mereka

dengan ilmu yang dikenali oleh Glagah Putih yang disebutnya

Bajra Wereng. Tetapi Glagah Putih memang sudah bersiap

sepenuhnya. Dengan tangkas ia berloncatan diantara

serangan-serangan kedua lawannya itu.

Demikianlah maka pertempuranpun menjadi semakin

sengit. Ternyata bahwa ilmu Bajra Wereng adalah ilmu yang

sangat garang dan kasar. Kedua orang yang menyebut dirinya

Kiai Bajrasaketi dan Kiai Bajrasayuta itu telah bertempur

dengan tanpa mengendalikan diri lagi. Mereka berdua benarbenar

ingin membunuh Glagah Putih dengan ilmunya.

Tetapi Glagah Putih telah membekali dirinya dengan

kekuatan ilmu dari jalur perguruan pamannya Ki Sadewa serta

ilmu yang disadapnya dari Ki Jayaraga. Ilmu yang benar-benar

telah mapan dan memiliki kekuatan yang luar biasa.

Sementara itu sejalan dengan pengalaman Glagah Putih yang

luas, meskipun ia masih muda maka ilmu itu telah

berkembang pesat, didorong oleh getaran kekuatan yang ada

didalam diri Raden Rangga yang pada saat-saat menjelang

saat terakhirnya telah disalurkan kedalam tubuh Glagah Putih

untuk menompang tingkat ilmunya.

 

Dengan demikian maka kekuatan ilmu Bajra Wereng yang

garang dan keras itu, ternyata tidak mampu mengimbangi

kemampuan ilmu yang dimiliki oleh Glagah Putih. Sementara

itu Glagah Putih telah mulai jemu dengan pertempuran yang

berlangsung dipinggir hutan itu. Karena itu, justru pada saat

kedua orang yang merasa memiliki ilmu yang dahsyat itu

berusaha menyelesaikan pertempuran, maka justru merekalah

yang telah mengalami tekanan yang tidak terelakkan. Ilmu

yang dilontarkan lewat unsur-unsur gerak yang mapan dan

matang dari Glagah Putih justru menjadi semakin sering

menyentuh tubuh kedua orang lawannya.

“ Gila.” geram Kiai Sangkan, “ kau memang sedang

sekarat.”

Tetapi Glagah Putih menjawab, “ Aku masih mempunyai

pertimbangan-pertimbangan yang mengekang kekuatanku.

Tetapi jika kalian masih tetap tidak mau berjanji maka aku

akan bertindak lebih keras lagi.”

Kedua orang itu justru semakin marah. Tetapi ketika

keduanya justru sampai kepuncak kekuatan ilmu Bajra

Wereng, maka keduanya justru menjadi semakin sulit

menghadapi Glagah Putih. Tubuh Glagah Putih seakan-akan

tidak lagi menyentuh tanah. Seperti bayangan, Glagah Putih

berterbangan mengitari kedua orang lawannya. Bahkan

serangan-serangannya menjadi semakin garang.

Ketika tangannya menjulur mengenai pundak Kiai Paran,

maka orang,itu mengaduh tertahan. Dengan kemarahan yang

memuncak, maka iapun segera menerkam Glagah Putih. Jarijarinya

mengembang mengerikan.

Tetapi Glagah Putih tidak mengelak. Ia justru membentur

kekuatan ilmu Bajra Wereng itu dengan landasan ilmu yang

tersimpan didalam dirinya. Ilmu yang berasal dari beberapa

sumber tetapi sudah menjadi luluh menyatu.

Sejenak kemudian telah terjadi benturan yang sangat

dahsyat. Ternyata ilmu Bajra Wereng benar-benar ilmu yang

memiliki kekuatan yang sangat besar. Namun Glagah Putih

yang membentur kekuatan Bajra Wereng itu tidak memberikan

kesempatan ujung-ujung jari Kiai Paran menyentuh kulitnya

dan apalagi mengoyakkannya.

 

Namun demikian besar kekuatan Kiai Paran dengan

ilmunya, maka Glagah Putih telah terdorong selangkah surut.

Bahkan Glagah Putih telah terhuyung-huyung sehingga ia

harus berusaha dengan cepat memperbaiki

keseimbangannya.

Dalam pada itu, ternyata benturan itu telah berakibat

sangat buruk bagi Kiai Paran. Ia telah terlempar beberapa

langkah dan bahkan terbanting jatuh ditanah. Yang terdengar

adalah erang kesakitan, karena punggungnya bagaikan

menjadi patah.

Kiai Sangkan melihat benturan itu dengan jantung yang

berdebaran. Namun ternyata ia dapat mengambil sikap

dengan cepat. Justru pada saat Glagah Putih sedang

memperbaiki keseimbangannya, maka dengan ilmu yang

sama Kiai Sangkan telah meloncat menerkamnya.

Glagah Putih melihat serangan itu. Ia mengagumi

kecepatan bersikap Kiai Sangkan yang mempergunakan

keadaannya yang menurut perhitungan terlalu lemah untuk

membentur sekali lagi kekuatan ilmu Bajra Wereng yang

sangat kuay itu. Tetapi Glagah Putihpun cukup tangkas. Ia

tidak membentur kekuatan yang dilontarkan oleh Kiai

Sangkan.

Kesalahan Kiai Sangkan adalah pada keyakinannya,

bahwa Glagah Putih akan membentur kekuatan ilmunya dan

selanjutnya akan terkapar jatuh dengan luka-luka, jika tidak

pada kulit dagingnya yang terkoyak oleh jari-jarinya yang

mengembang, tentu pada bagian dalam dadanya karena

benturan yang terjadi.

Tetapi Glagah Putih tidak berbuat demikian. Justru pada

saat ia menemukan keseimbangannya, dengan cepat ia

bergeser menghindari serangan itu. Sambil merendahkan diri,

hampir berjongkok Glagah Putih bertumpu pada kedua

tangannya. Tiba-tiba saja kedua kakinya terjulur lurus ke arah

lambung Kiai Sangkan yang kehilangan sasaran.

Kiai Sangkan tidak menduga sama sekali, bahkan Glagah

Putih telah mengambil sikap yang lain. Karena itu, maka Kiai

Sangkanpun ternyata telah terdorong beberapa langkah dan

seperti Kiai Paran. Kiai Sangkanpun jatuh berguling. Namun

 

keadaannya tidak separah keadaan Kiai Paran, sementara

Glagah Putihpun telah membebaskan dirinya dari dorongan

benturan kakinya dengan tubuh Kiai Sangkan dengan

berguling pada punggungnya. Namun dalam sekejap, iapun

telah melenting bangkit berdiri tegak.

Kiai Sangkanpun dengan cepat telah bangkit kembali,

sementara Kiai Paranpun telah berdiri meskipun harus

menahan sakit pada punggungnya. Sejenak keduanya, berdiri

termangu-mangu. Namun kemudian Kiai Sangkanpun

berdesis, “ Kami tidak mempunyai pilihan. Kami akan

menghancurkan isi dadamu dengan ilmu pamungkas kami.”

Glagah Putih menyadari, apa yang akan dilakukan oleh

kedua orang itu. Karena itu, maka iapun telah mempersiapkan

diri sebaik-baiknya. Dibangunkannya tenaga cadangannya

untuk meningkatkan daya tahannya, karena ia tahu, bahwa

kedua orang itu tentu akan melepaskan aji Gelap Ngampar

yang masih pada tataran permulaan sekali. Tetapi Glagah

Putihpun tidak lepas dari kewaspadaan bahwa mungkin kedua

orang itu bukannya tidak mampu untuk menghentakkan

kekuatan Aji Gelap Ngampar pada tataran yang lebih tinggi.

Jika dihadapan Wirastama dan Teja Prabawa hal itu tidak

dilakukan adalah karena dengan ujung ilmunya saja, mereka

sudah mampu menundukkan orang-orang yang disangkanya

telah mengganggu murid-muridnya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, kedua orang itupun

telah berdiri berdampingan. Sementara itu, murid-murid

mereka yang kebetulan berdiri pada garis hubung antara

keduanya dengan Glagah Putih telah berlari-larian menyingkir,

karena mereka mengerti, sentuhan getaran serangan kedua

gurunya itu akan dapat menghancurkan isi dada mereka.

Glagah Putihpun telah berdiri tegak dalam kesiagaan

penuh. Ia mengerti, justru karena sikap para murid kedua

orang itu, bahwa kedua gurunya masih membatasi ilmunya

pada sasaran tertentu. Ilmu Gelap Ngampar apalagi yang

sudah matang, memang dapat dikendalikan sesuai dengan

keinginan orang yang memiliki kemampuan itu. Mungkin

terhadap sasaran tertentu, tetapi mungkin getaran ilmu itu

akan menyerang kesegenap penjuru.

 

Tetapi sejak semula Glagah Putih tidak merendahkan

lawannya. Mungkin ilmu kedua orang itu justru telah mapan.

Namun keduanya telah dengan cermat mengendalikan ilmu

mereka.

Sejenak kemudian, maka terdengar kedua orang itu mulai

tertawa. Suaranya bergetar semakin lama semakin tajam.

Udarapun bergetar pula bergelombang mengalir kesasaran.

Semakin lama semakin tajam menukik ke dalam dada.

Namun Glagah Putih benar-benar telah siap. Untuk

beberapa saat Glagah Putih masih tetap bertahan. Kekuatan

ilmu kedua orang itu tidak mampu meremas isi dadanya yang

dilindungi dengan daya tahannya yang kuat.

Kedua orang itu semakin lama semakin berusaha

menghentakkan ilmunya. Bahkan kemudian suara tertawa

keduanyapun menjadi semakin keras. Dedaunan yang

terdapat dibelakang Glagah Putihpun telah berguncang,

sementara ranting-ranting berpatahan. Daun-daun yang mulai

menguningpun telah berguguran.

Tetapi Glagah Putih tidak bergetar sama sekali. Meskipun

ia memang merasakan tusukan-tusukan didadanya, namun

tusukan-tusukan ilmu itu dapat diatasinya dengan daya

tahannya, sehingga rasa sakit itu dapat diabaikannya.

Kedua orang itu menjadi semakin gelisah menghadapi anak

muda Tanah Perdikan ini. Seorang perwira dari Pasukan

Khusus tidak mampu menahan serangan ilmunya yang

menusuk dada itu. Namun anak Tanah Perdikan Menoreh

yang masih terlalu muda itu justru telah menghadapi ilmunya

sambil bertolak pinggang.

Tetapi semakin lama dada Glagah Putih memang menjadi

semakin sakit. Namun dalam batas tertentu Glagah Putih

itupun berteriak, “ Apakah kalian masih tidak mau berjanji?”

Kedua orang itu tidak menghiraukan. Mereka tidak

menjawab pertanyaan anak muda itu. Keduanya menyangka

bahwa Glagah Putih sengaja mengajukan pertanyaan agar

keduanya menjawab, sehingga serangan merekapun terhenti.

Karena keduanya tidak menjawab, maka Glagah Putihpun

berkata, “ Baik. Jika kalian memang benar-benar ingin

bermusuhan dengan Tanah Perdikan Menoreh, apaboleh

 

buat. Aku, salah seorang dari pemimpin pengawal Tanah

Perdikan, yang tidak terhitung disini, akan menunjukkan

kepada kalian, bahwa Tanah Perdikan bukan lingkungan yang

tidak mempunyai kekuatan sema sekali sehingga orang lain

dapat berbuat sehendak hatinya sendiri. Jika kalian bertemu

dengan pemimpin-pemimpin pengawal yang lebih tua dari aku,

baik umurnya maupun ilmunya, apalagi Ki Gede sendiri, maka

kalian akan menjadi lumat.”

Kedua orang itu masih saja tidak menjawab. Mereka masih

mencoba meningkatkan serangan mereka dengan ilmu

mereka yang masih baru pada tataran yang mula sekali.

Karena keduanya tidak menjawab, maka Glagah Putih

telah berniat untuk menghentikan permainan yang

memuakkan itu. Karena itu, maka iapun segera memusatkan

nalar budinya.

Tiba-tiba saja Glagah Putih telah menggerakkan tangannya

dan menghentakkan dengan telapak tangan menghadap

kedepan. Namun Glagah Putih memang tidak menyerang

kedua orang itu, tetapi ilmunya yang dahsyat telah terlontar

tepat mengenai tanah lima langkah dihadapan kedua orang

itu.

Akibatnya benar-benar luar biasa. Meskipun Glagah Putih

tidak melontarkan kekuatan api, namun kekuatan udara yang

dilepaskannya justru kearah lima langkah dihadapan kedua

orang itu, benar-benar telah membungkam kedua lawannya.

Mereka tidak sekedar terkejut dan terdiam. Tetapi dorongan

ke-kuatan ilmu Glagah Putih ternyata telah melemparkan

mereka beberapa langkah surut, sehingga keduanya telah

terbanting jatuh. Tulang-tulang mereka serasa berpatahan,

sementara itu dengan debupun untuk beberapa saat telah

menyelubungi mereka.

Ketika debu kemudian hanyut oleh desah angin yang

perlahan-lahan berhembus, maka keduanyapun berusaha

untuk bangkit. Namun tubuh mereka benar-benar terasa sakit.

“ Aku sengaja tidak langsung menyerang perutmu.”

berkata Glagah Putih, “ aku melepaskan seranganku dengan

sasaran tanah lima langkah dihadapanmu. Dan kau

merasakan akibatnya.”

 

Kedua orang yang mengaku guru dari kelima orang anak

muda yang telah mengganggu Rara Wulan itu mengeluh.

Keduanya tidak lagi dapat menghindari kenyataan yang telah

terjadi itu. Karena itu maka keduanyapun sadar, jika mereka

masih ingin mengadakan perlawanan, maka akibatnya akan

dapat parah bagi mereka sendiri. Karena itu, maka kedua

orang itupun kemudian saling memberikan isyarat. Mereka

telah mengangguk bersama-sama. Seorang diantara mereka

berkata, “ Ampun anak muda. Kami berdua mengaku kalah.

Kami mohon, jangan bunuh kami.”

“ Aku tidak memerlukan pengakuan seperti itu.” berkata

Glagah Putih, “ aku hanya memerlukan janjimu untuk

bertanggung jawab, bahwa orang-orang padepokanmu atau

perguruanmu atau apapun namanya tidak akan mengganggu

orang-orang Tanah Perdikan Menoreh lagi. Apalagi tamu-tamu

yang kami hormati. Jika kalian masih melakukannya, maka

aku tidak akan terbatas melakukan serangan pada jarak

tertentu dari kepalamu. Tetapi aku benar-benar akan

memecahkan kepalamu berdua dan murid-muridmu. Kami

akan datang untuk menghancurkan padepokanmu rata

dengan tanah.”

“ Ya, ya, anak muda.” jawab Kiai Sangkan gagap, “ kami

berjanji.”

“ Jika itu kau ucapkan tadi sebelum aku marah, maka kau

tidak akan mengalami perlakuan kasar, karena pada dasarnya

kami tidak ingin berbuat kasar seperti itu.” berkata Glagah

Putih.

Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi mereka hanya

menundukkan kepalanya saja.

Dengan lantang Glagah Putihpun kemudian berkata, “

Cepat. Pergi, sebelum aku mengambil keputusan lain.”

Kedua orang itu mengangguk. hormat. Kiai Sangkan

dengan nada rendah berkata, “ Terima kasih atas kemurahan

hati anak muda.”

“ Bawa murid-muridmu itu.” berkata Glagah Putih

kemudian.

Kemudian orang itu mengangguk sekali lagi. Kemudian

memberikan isyarat kepada murid-muridnya untuk pergi.

 

Namun sebelum mereka beranjak dari tempatnya, Glagah

Putih masih berkata, “ Tetapi ingat, bahwa perguruan bukan

tempatnya bagi seseorang untuk memeras orang lain dan

memperkaya diri sendiri. Perguruanmu bagimu adalah alat

untuk mengumpulkan kekayaan, bukan tempat menyebarkan

ilmu bagi anak-anak muda. Ingat itu dan selagi belum

terlanjur, kau dapat menentukan arah perguruanmu lebih baik

dari yang sudah kau lakukan. Jika kau ingin menjadi kaya,

caranya bukan membuka perguruan apapun bentuknya.

Tetapi jika kau memang ingin membuka sebuah perguruan,

maka harus kau lakukan dengan penuh tanggungjawab atas

penyebaran ilmu bagi kepentingan sesama.”

“ Kami mengerti.” jawab Kiai Sangkan.

“ Nah, sekarang pergilah.” berkata Glagah Putih.

Kedua orang guru serta kelima orang muridnya itupun

kemudian telah melangkah pergi, menyusuri jalan pinggir

hutan itu meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh dengan

kesan tersendiri. Mereka justru telah mengalami peristiwa

yang sebelumnya tidak pernah mereka duga, bahwa di Tanah

Perdikan ada anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi.

Kehadiran mereka ditempat yang tidak jauh dari Tanah

Perdikan dan membuka sebuah perguruan, ternyata telah

berada didekat satu tempat yang akan dapat membayangi

padepokannya itu.

Sementara itu, ketika Glagah Putih sedang memperhatikan

orang-orang yang meninggalkannya itu, telah terkejut oleh

desir lembut dihutan disebelahnya. Karena itu, maka iapun

telah bergeser sambil mempersiapkan diri menghadapi segala

kemungkinan.

Tetapi yang kemudian keluar dari hutan adalah Ki Lurah

Branjangan diikuti oleh Agung Sedayu.

“ Ki Lurah.” desis Glagah Putih.

Ki Lurah tertawa. Katanya, “ Aku sudah menduga apa yang

kau lakukan ketika aku bertanya kepada pengawal yang ada

di arena perkelahian antara Wirastama dengan kelima orang

anak-anak muda yang nakal itu, bahwa kau tidak kembali

bersama kami. Pengawal itu hanya dapat menyebutkan

beberapa hal tentang kepergianmu. Kemudian aku telah

 

singgah dan mengajak kakak sepupumu yang kebetulan ada

dirumah.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun ketika

rasa-rasanya masih ada yang dicari, Agung Sedayu berkata, “

Ki Jayaraga baru pergi ke sawah.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara Ki Lurah

berkata, “ Nampaknya serba sedikit kebiasaan Raden Rangga

akan nampak pada tingkah lakumu, karena kau pernah

bergaul rapat dan menjalankan tugas bersama-sama dengan

anak muda itu. Namun agaknya kau lebih dapat mengekang

diri.”Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia hanya

menundukkan kepalanya saja.

“ Aku tahu, kau tidak mau menunjukkan kelebihanmu

dihadapan Teja Prabawa.” berkata Ki Lurah. Lalu, “ Tetapi

sebenarnya itu tidak perlu. Teja Prabawa harus tahu, betapa

dirinya itu sebenarnya. Ia bukan seorang yang harus

mendapat kehormatan sebagaimana dilakukan sekarang oleh

orang-orang Tanah Perdikan ini termasuk kau.”

Glagah Putih masih menundukkan kepalanya saja.

“ Aku tidak tahu, apa yang akan dikatakan oleh Teja

Prabawa jika ia melihat apa yang telah kau lakukan.” berkata

Ki Lurah. Namun kemudian, “ Tetapi karena sekarang telah

hadir pula Wirastama, maka persoalannya akan menjadi

semakin berbelit. Namun sebaiknya kau tidak perlu

merendahkan dirimu sendiri.”

Glagah Putih termangu-mangu. Namun kemudian katanya,

“ Aku tidak ingin melanggar pesan kakang Agung Sedayu.”

Ki Lurah berpaling kepada Agung Sedayu. Katanya, “

Kakangmu memang mempunyai kebiasaan yang sulit

dilakukan oleh orang lain.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun iapun

kemudian tersenyum sambil berkata, “ Aku hanya ingin

menghormati tamu-tamu yang datang ke Tanah Perdikan ini.

Apalagi jika tamu itu adalah cucu Ki Lurah.”

Ki Lurahpun tertawa. Katanya, “ Terima kasih. Tetapi jika

dengan demikian maka maksud kedatangan mereka ke Tanah

Perdikan ini justru tidak akan tercapai.”

 

“ Apakah maksud mereka datang kemari?” tiba-tiba Glagah

Putih bertanya.

Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian

jawabnya, “ Sebenarnya memang bukan maksud mereka.

Tetapi akulah yang ingin mereka mendapat pengalaman baru

dalam perlawatan mereka ke Tanah Perdikan ini. Karena itu,

biarlah mereka mengalami apa yang sewajarnya harus

terjadi.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun

katanya, “ Mereka akan mendapatkannya Ki Lurah. Tanpa

harus dengan serta merta. Lebih baik mereka mendapatkan

dari sedikit, sehingga tidak menimbulkan goncangangoncangan

di dalam hati mereka.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “ Waktu

mereka tidak terlalu banyak.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak

menjawab lagi.

Demikianlah maka merekapun kemudian mulai bergerak

ketika Agung Sedayu mempersilahkan, “ Marilah. Kita kembali

ke pedukuhan induk.”

Mereka bertigapun kemudian langsung pergi ke rumah Ki

Gede. Ternyata bahwa Wirastama sudah tidak ada dirumah Ki

Gede itu. Dari Teja Prabawa Ki Lurah mengetahui bahwa

Wirastama telah kembali ke baraknya.

“ Besok pagi-pagi Wirastama akan datang lagi.” berkata

Teja Prabawa, “ kami akan melihat lihat tempat lain di Tanah

Perdikan ini.”

“ Sebaiknya kau jangan mengganggu tugasnya.” berkata

Ki Lurah, “ kau tahu, bahwa jika ia sering datang untuk

mengantarmu berjalan-jalan, maka itu berarti bahwa ia telah

meninggalkan tugasnya.”

“ Tetapi ia sudah mendapat ijin untuk mengawani kami

selama kami berada di Tanah Perdikan ini.” jawab Teja

Prabawa.

“ Besok aku akan berkata kepadanya, bahwa ia tidak perlu

berbuat seperti itu. Sudah aku katakan, bahwa kau dapat

berjalan-jalan bersama Glagah Putih.” berkata Ki Lurah.

 

“ Kakek.” jawab Teja Prabawa, “ sebenarnya kakek tentu

dapat menilai, dengan siapa sebaiknya aku pergi. Apa yang

aku dapatkan jika aku pergi bersama anak padukuhan itu?

Kakek akan dapat membayangkan, seandainya anak itulah

yang tadi di gulung pusaran, apakah kira-kira yang akan

terjadi.”

Ki Lurah berpaling kearah Glagah Putih yang

mendengarkan keterangan Teja Prabawa. Telinganya

memang terasa panas. Tetapi setiap kali ia hanya dapat

memandang sekilas kakak sepupunya.

Glagah Putih dan Agung Sedayu berada di rumah Ki Gede

beberapa lama. Namun merekapun kemudian telah minta diri

untuk kembali.

“ Ki Gede ada dirumah. Apakah kalian akan minta diri?”

bertanya Ki Lurah.

“ Terima kasih. Tolong, Ki Lurah sajalah nanti yang

mengatakan bahwa kami sudah pulang. Mungkin Ki Gede

sedang beristirahat.” jawab Agung Sedayu.

Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun

telah minta diri. Merekapun kemudian menyusuri jalan

padukuhan induk. Sementara Glagah Putih berkata, “ Aku

sudah jemu mengawani anak-anak cengeng itu.”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “ Cobalah sekali lagi.

Pada suatu saat kau akan merasakan satu manfaat dari

perhubungan kalian dengan mereka. Kau akan mendapat

pengalaman baru sebagaimana mereka ingin mendapat

pengalaman baru pula.”

Glagah Putih sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia benarbenar

tidak ingin untuk mengawani mereka lagi. Untuk

menghilangkan kejengkelannya, maka dimalam hari, Glagah

Putih telah turun pula ke sungai. Ia tiba-tiba saja merasa

bahwa pekerjaannya menutup dan membuka pliridan ittu

dapat memberikan kepuasan tersendiri.

Ketika matahari terbit dipagi hari, Glagah Putih masih saja

terlalu sibuk dengan pekerjaan dirumah. Ketika ia menyapu

halaman, dilihatnya Wirastama telah berjalan didepan regol

halaman. Bahkan Wirastama sempat berhenti dan

menjenguknya sambil menyapa, “ Kau masih sibuk bekerja?”

 

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tetapi iapun

bertanya, “ Sepagi ini kau sudah sampai disini?”

“ Aku berjanji dengan cucu-cucu Ki Lurah untuk naik

kebukit. Mereka ingin melihat sumber air yang mengalir

menuruni tebing disebelah gumuk kecil itu.” jawab Wirastama.

“ Maksudmu gumuk Watu Abang?” bertanya Glagah Putih.

“ Ya. Gumuk Watu Abang.” jawab Wirastama, “ aku

memang belum tahu bahwa gumuk itu mempunyai nama.”

“ Hati-hatilah.” berkata Glagah Putih, “ ada beberapa jenis

ular berbisa disekitar gumuk itu.”

“ Kami tidak akan pergi ke gumuk. Kami akan naik tebing

dan melihat sumber air dibawah pohon preh raksasa itu.”

jawab Wirastama.

“ Sumber itu tidak terlalu besar.” berkata Glagah Putih.

“ Tetapi cukup menarik. Aku pernah melihatnya.” jawab

Wirastama.

“ Aku hanya memperingatkanmu. Aku mengenal tempat itu

dengan baik.” berkata Glagah Putih.

Wirastama mengerutkan keningnya. Namun kemudian

sambil tersenyum ia berkata, “ Aku akan bertanggung jawab.”

Glagah Putih hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Katanya dengan nada rendah, “ Mudah-mudahan kalian tidak

mengalami kesulitan di gumuk Watu Abang. Bagaimanapun

juga terserah kepadamu. Tetapi ular kendang yang banyak

terdapat ditempat itu benar-benar berbahaya, karena ular

kendang mempunyai ketajaman bisa seperti ular bandotan.

Ular kendang itu berbahaya karena ujudnya yang tidak seperti

ular kebanyakan. Terlalu pendek, dan kadang-kadang

menggelinding seperti bumbung kecil yang berwarna kehitamhitaman.

Tetapi jika ular itu mematuk ujung kaki sekalipun,

maka sulit bagi seseorang untuk menyelamatkan diri. Apalagi

jenis ular belang yang juga banyak terdapat di sekitar Watu

Abang itu.”

Tetapi Wirastama tertawa. Katanya, “ Bukan hanya kau

yang pernah pergi ke Watu Abang itu. Akupun pernah pergi

kesana. Aku tidak melihat seekor ularpun. Ular sawahpun

tidak. Apalagi ular berbisa seperti dongengmu itu.”

“ Terserah kepadamu.” desis Glagah Putih kemudian.

 

“ Baiklah. Selesaikan pekerjaanmu. Aku akan pergi ke

gumuk itu dan kemudian naik keatas tebing di sebelah Watu

Abang itu untuk melihat sebatang pohon raksasa yang

dibawahnya terdapat sumber air yang sangat besar. Tetapi

tidak timbul sendang, karena airnya mengalir sebagai

gerojogan.” berkata Wirastama.

Glagah Putih tidak menghiraukan lagi, karena apapun yang

dapat terjadi adalah tanggung jawab Wirastama.

Namun ternyata terdengar suara yang lain, “ Sebaiknya kau

pertimbangkan lagi rencanamu itu. Aku sependapat dengan

Glagah Putih bahwa perjalanan itu akan menjadi perjalanan

yang sangat berbahaya. Bukan saja ular berbisa, tetapi

disekitar pohon raksasa itu masih terdapat hutan yang lebat

yang dihuni oleh binatang-binatang buas.”

Wirastama berpaling. Dilihatnya Agung Sedayu berdiri

termangu-mangu.

“ Sudahlah.” berkata Wirastama, “ Aku tudak takut bisa dan

juga tidak takut binatang buas.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapj ia tidak

mengatakan sesuatu lagi ketika Sekar Mirah menggamitnya.

Katanya, “ Biarkan saja anak itu pergi. Glagah Putih sudah

cukup banyak memberikan keterangan. Tetapi nampaknya

anak itu memang keras kepala.”

Agung Sedayu memang membiarkan anak itu pergi.

Namun kemudian ia berdesis, “ Yang aku pikirkan adalah cucu

Ki Lurah.”

“ Ki Lurah pernah tinggal disini. Ia tentu tahu apakah

cucunya pantas pergi ketempat itu atau tidak.” berkata Sekar

Mirah.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “ Ya.

Mudah-mudahan Ki Lurah sempat bertanya, kemana mereka

akan pergi.”

Sementara itu, Wirastama telah melanjutkan langkahnya

menuju ke rumah Ki Gede. Ia memang ingin mengajak cucucucu

Ki Lurah itu ketempat yang berbahaya. Dengan demikian

ia akan mendapat kesempatan untuk menunjukkan

kelebihannya apabila terjadi sesuatu ditempat yang berbahaya

itu.

 

Ketika Wirastama sampai ke rumah Ki Gede, maka Ki

Lurahpun terkejut pula. Teja Prabawa dan Rara Wulan

memang sudah bangun, tetapi mereka belum mandi dan

berbenah diri.

“ Marilah, silahkan ngger.” Ki Lurah Branjangan

mempersilahkan Wirastama untuk duduk diserambi gandok.

Wirastamapun kemudian telah duduk pula diserambi

gandok bersama Ki Lurah Branjangan.

“ Masih pagi begini, angger telah datang kemari.” berkata

Ki Lurah.

“ Mumpung masih pagi Ki Lurah.” jawab Wirastama.

“ Sebenarnya kami tidak ingin mengganggu tugas-tugas

angger. Bukankah angger mempunyai tugas di barak Pasukan

Khusus? Jika angger terlalu sering datang kemari, maka

tugas-tugas angger itu tentu akan terganggu.” berkata Ki

Lurah.

Wirastama tersenyum. Katanya, “ Pimpinan tertinggi di

barak itu adalah kakak kandungku. Ia tidak akan menyalahkan

aku.”

“ Tetapi ia bertanggung jawab kepada seluruh anak

buahnya di barak itu.” berkata Ki Lurah, “ jika seorang

diantara para perwira mendapat perlakuan seperti angger,

maka yang lainpun akan mendapat perlakuan yang sama

pula. Demikian pula kesempatan yang telah diberikan kepada

angger, seharusnya diberikan kepada orang lain pula.”

Wirastama tertawa. Katanya, “ Ki Lurah. Aku justru

mendapat perintah yang bukan saja dengan diam-diam. Tetapi

perintah terbuka, bahwa untuk menghormati Ki Lurah, yang

pernah bukan saja memimpin, tetapi justru membentuk

Pasukan Khusus itu, maka aku telah diperintahkan untuk

melayani Ki Lurah dan cucu-cucu Ki Lurah. Dengan demikian

tidak akan ada seorangpun yang menjadi iri hati, seakan-akan

aku telah meninggalkan tugas. Yang aku lakukan sekarang ini

adalah justru tugas yang diberikan kepadaku itulah.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “ Satu

penyambutan yang berlebih-lebihan. Sebenarnya kalian tidak

perlu berbuat seperti itu.”

 

“ Tetapi kami ingin berbuat seperti itu.” jawab Wirastama, “

Nah, sekarang, aku telah siap membawa cucu-cucu ki Lurah

itu berjalan-jalan.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “ Biarlah mereka

mandi dan membenahi diri dahulu.”

“ Tentu. Aku tidak tergesa-gesa Ki Lurah.” jawab

Wirastama.

Sebenarnyalah Wirastama masih harus menunggu. Bahkan

terasa agak terlalu lama. Namun meskipun hati Wirastama

bergejolak oleh ketidak sabaran, tetapi ia harus menunggu

dengan sikap yang seakan-akan sabar dan tanpa kegelisahan.

Sementara itu ternyata Teja Prabawa dan Rara Wulan

masih sempat makan pagi lebih dahulu di ruang dalam tanpa

Ki Lurah Branjangan, karena Ki Lurah duduk menemani

Wirastama di serambi gandok.

“ Kalian akan pergi ke mana hari ini?” bertanya Ki Gede.

“ Aku belum tahu Ki Gede.” jawab Teja Prabawa, “ terserah

saja kepada Wirastama.”

“ Tetapi kalian harus berhati-hati. Kemarin Wirastama itu

hampir saja ditelan oleh pusaran. Sebelumnya kami sudah

memperingatkannya. Tetapi nampaknya anak itu memang

kurang berhati-hati.” berkata Ki Gede.

“ Tetapi ia berhasil menyelamatkan diri.” berkata Teja

Prabawa.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia

menjawab, “ Tidak. Ia tidak akan dapat menyelamatkan diri.

Namun agaknya Tuhan masih berbelas kasihan sehingga

dengan lantaran ia telah dilemparkan keluar dari pusaran itu.

Tetapi sebaiknya ia tidak mengulanginya. Mungkin Yang Maha

Esa akan bersikap lain dan benar-benar mengambilnya.”

Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak

menjawab.

Namun dalam pada itu, ternyata Ki Lurah telah masuk pula

keruang dalam. Didapatinya kedua cucunya masih belum

selesai dengan makan pagi, sementara Ki Gede ternyata

justru menunggui mereka.

“ Aku berpesan agar mereka lebih berhati-hati.” berkata Ki

Gede.

 

“ Aku sependapat Ki Gede.” jawab Ki Lurah, “ apalagi

rencananya hari ini Wirastama akan membawa Teja Prabawa

ke Watu Abang untuk memanjat bukit dan melihat mata air

dibawah pohon raksasa itu.”

“ Kenapa harus pergi ke Watu Abang?” bertanya Ki Gede.

“ Apakah tempat itu berbahaya?” bertanya Teja Prabawa.

“ Di tempat itu banyak sekali terdapat ular.” jawab Ki Gede,

“ bahkan ular-ular berbisa. Jika kalian kemudian naik, maka

diatas bukit masih terdapat hutan yang lebat. Masih terdapat

beberapa jenis binatang buas yang berkeliaran di tempat itu.”

“ Tetapi Wirastama akan dapat mengatasinya.” jawab Teja

Prabawa.

“ Aku peringatkan, sebaiknya kau tidak pergi ke sana.”

berkata Ki Lurah, “ aku memang ingin membawamu ke satu

tempat yang mungkin dapat memberikan pengalaman baru

bagimu. Tetapi tentu tidak ketempat yang berbahaya seperti

Watu Abang itu.”

Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Namun kemudian

katanya, “ Terserah saja kepada Wirastama.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya Teja

Prabawa terlalu percaya kepada anak muda itu. Namun Ki

Lurahlah yang kemudian berkata, “ Jika kalian benar-benar

akan pergi ke Watu Abang, Wulan tidak akan pergi bersama

kalian.”

Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Namun Rara

Wulanpun berkata, “ Aku memang takut kepada ular. Karena

itu, aku lebih baik tidak ikut serta.”

“ Terserah kepadamu.” jawab Teja Prabawa, “ tetapi aku

bukan gadis cengeng seperti kau.”

“ Kau kira kau bukan seorang laki-laki cengeng?

Nampaknya agak lebih pantas bagi seorang gadis yang

cengeng daripada seorang anak muda.” jawab Rara Wulan.

“ Cukup.” potong Ki Lurah, “ jika Teja Prabawa ingin pergi,

biarlah ia pergi. Tetapi jika Rara Wulan tidak, biarlah ia tidak

pergi.”

Teja Prabawa tidak menjawab lagi. Tetapi iapun kemudian

telah meninggalkan ruang dalam untuk menemui Wirastama.

 

“ Apakah kau telah mengatakan kepada kakek, kemana kita

akan pergi?” bertanya Teja Prabawa.

“ Ya.” jawab Wirastama.

“ Nampaknya kakek agak berkeberatan. Ki Gedepun minta

agar kita pergi ke tempat lain karena di sekitar Watu Abang

terdapat banyak sekali ular, sedangkan di sekitar mata air

dibawah pohon raksasa itu masih terdapat binatang buas.”

berkata Teja Prabawa.

“ Aku tidak takut ular dan tidak takut binatang buas.”

berkata Wirastama, “ kita membawa pedang. Seekor ular yang

paling garang sekalipun, lehernya akan putus sekali tebas.”

Teja Prabawa termangu-mangu sejenak. Sementara

Wirastama berkata selanjutnya, “ Jika kita harus berhadapan

dengan seekor harimau, aku sama sekali tidak berkeberatan.”

“ Baiklah, kita akan pergi.” berkata Teja Prabawa.

“ Bagaimana dengan adikmu?” bertanya Wirastama.

“ Gadis cengeng itu tidak berani pergi.” jawab Teja

Prabawa.

“ Kenapa takut? Katakan, aku akan melindunginya.” minta

Wirastama.

“ Kakek nampaknya menakut-nakutinya.” berkata Teja

Prabawa.

Wirastama mengerutkan keningnya. Sebenarnyalah ia ingin

pergi bersama Rara Wulan. Karena itu, maka katanya, “

Baiklah. Katakan kepada kakekmu dan kepada adikmu, kita

pergi ke tempat lain yang tidak berbahaya. Kita melihat

sendang kecil yang dihuni oleh seekor bulus raksasa. Ikannya

seperti dawet cendol karena banyaknya, tetapi tidak

seorangpun yang berani menangkapnya. Katakan, kita pergi

ke sendang Panutan. Itu saja. Tempat yang sudah tentu sama

sekali tidak berbahaya dan bahkan banyak dikunjungi orang,

karena air yang melimpah dipergunakan untuk mencuci

seperti sendang yang ada air pusarannya itu.”

Teja Prabawa termangu-mangu sejenak. Ia memang

merasa ragu-ragu untuk mengajak adik perempuannya.

Seandainya ia mengatakan yang tidak sebenarnya, kemudian

adiknya itu bersedia ikut, maka perjalanan ke tempat yang

 

direncanakan itu memang terlalu berat bagi adiknya, seorang

gadis.

Karena Teja Prabawa itu nampak ragu-ragu, Wirastama

telah mendesaknya, “ Cepatlah. Katakan kepada kakekmu,

bahwa kita telah mengurungkan niat kita pergi ke Watu Abang

dan mata air dibawah pohon raksasa di bukit itu.”

“ Tetapi bagaimana sebenarnya?” bertanya Teja Prabawa.

“ Kita akan membicarakan sambil berjalan.” jawab

Wirastama.

Teja Prabawa termangu-mangu. Namun kemudian katanya,

“ Baiklah. Aku akan mengatakannya kepada kakek.”

“ Cepatlah. Aku menunggu.” berkata Wirastama.

Teja Prabawapun kemudian telah masuk kembali keruang

dalam. Untunglah bahwa kakeknya dan Ki Gede masih duduk

bersama Rara Wulan. Dengan nada rendah, Teja Prabawa

berkata, “ Kek, Wirastawa telah merubah rencananya.”

“ O” Ki Lurah mengangguk-angguk, “ jadi kalian tidak jadi

pergi ke Watu Abang?”

“ Tidak kek, Wirastama mengajak kami pergi ke Sendang

Panutan untuk melihat bulus raksasa dan ikan yang banyak

sekali.” jawab Teja Prabawa.

Ki Gedepun mengangguk-angguk pula. Dengan nada

rendah ia berkata, “ Nah, agaknya memang lebih baik pergi ke

Sendang Panutan. Sendang kecil yang menarik. Air mata

sendang itu juga berada di bawah sebatang pohon yang

besar. Tetapi tidak seorang pun yang berani mandi di sendang

yang penuh dengan ikan itu. Di dalam lubang yang besar

terdapat seekor bulus raksasa. Siapa yang kebetulan melihat

bulus itu, maka ia akan bernasib sangat baik.”

Ki Lurahpun menyambung, “ Aku juga pernah pergi ke

Sendang Panutan. Ikan di sendang itu tidak seorangpun yang

berani mengambilnya. Tetapi jika ikan itu sudah turun ke

sungai kecil yang merupakan saluran yang menerima

limpahan air sendang itu, maka ikan itu dapat ditangkap.

Menurut kepercayaan, ikan itu sudah dibuang dan tidak

diperlukan lagi. Karena itu, di sungai kecil yang kemudian juga

terdapat sebuah kedung kecil itu, sering terdapat anak-anak

yang mengail. Kadang-kadang mereka mendapat ikan cukup

 

banyak. Tetapi kadang-kadang tidak sama sekali. Sementara

di tempat air sendang kecil itu melimpah, banyak perempuan

mencuci pakaian. Airnya cukup banyak dan sangat jernih.”

“ Ternyata Ki Lurah mengenal Tanah Perdikan ini seperti

kami mengenalinya. “ berkata Ki Gede.

Ki Lurah tersenyum. Katanya, “ Aku pernah tinggal di sini

untuk waktu yang cukup lama.”

“ Jadi, apakah kakek tidak berkeberatan jika kami pergi ke

sana?” bertanya Teja Prabawa.

“ Bahkan kakek menganjurkan, kau pergi saja ke sendang

Panutan. Sendang kecil yang menarik. Jika ada orang yang

memenuhi nadarnya, maka tempat itu menjadi ramai.”

berkata Ki Lurah.

“ Ki Lurah tahu juga tempat itu sering menjadi ajang kaul.”

bertanya Ki Gede.

“ Tentu.” jawab Ki Lurah, “ jika seseorang terpenuhi

keinginannya dan memang sudah berjanji untuk datang ke

Sendang Panutan itu untuk menyatakah syukur, maka

sebelum orang itu benar-benar mengadakan syukuran di

sendang itu, ia masih merasa berhutang. Juga mereka yang

keluarganya ada yang sakit dan kemudian sembuh.”

“ Mudah-mudahan hari ini ada orang yang menyatakan

syukur di sendang itu.” berkata Ki Gede.

“ Apakah yang dikatakan kakek itu benar Ki Gede?”

bertanya Rara Wulan.

“ Ya. Memang benar. Karena itu, sendang yang meskipun

hanya kecil itu menarik. Setidak-tidaknya untuk mencuci

pakaian.” jawab Ki Gede sambil tersenyum.

“ Tentang syukuran itu?” desak Rara Wulan.

“ Benar ngger. Meskipun tidak setiap hari, bahkan tidak

setiap pekan, tetapi jika hari ini hari baik, mungkin ada orang

yang melakukannya.” jawab Ki Gede sambil tersenyum.

“ Nah, jika demikian, marilah. Ikut kami.” ajak Teja

Prabawa.

Rara Wulan ragu-ragu. Sementara itu Ke Gede berkata, “

Tempat itu bukan tempat yang berbahaya.”

“ Ki Gede benar.” berkata Ki Lurah, “ kau dapat pergi ke

Sendang Panutan. Tetapi tidak ke tempat lain, apalagi ke

 

Watu Abang. Pergi ke Watu Abang sama artinya dengan

bermain-main dengan nyawamu. Bahkan bertaruh nyawa

tanpa arti. Seseorang mungkin mempertaruhkan nyawanya

untuk satu cita-cita. Tetapi orang yang mati di Watu Abang

karena digigit ular atau diterkam harimau diatas bukit, akan

mati sia-sia.”

“ Kakek menakut-nakuti saja.” desis Teja Prabawa.

“ Bukan menakut-nakuti anak muda.” sahut Ki Gede, “

sebenarnyalah Ki Lurah mengenal Tanah Perdikan ini seperti

aku sendiri mengenalinya. Karena itu, yakinlah apa yang

dikatakannya itu.”

Teja Prabawa mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak

menyahut.

Sementara itu Rara Wulanpun berkata, “ Kek, aku akan

pergi bersama kakang Teja Prabawa.”

“ Pergilah. Tetapi ingat, jangan pergi ketempat lain.” pesan

Ki Lurah.

Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya, “ Kami minta

diri kek.” Dan kepada Ki Gede ia berkata, “ Kami mohon diri

Ki Gede”

“ Berhati-hatilah.” pesan Ki Gede.

Kedua cucu Ki Lurah itupun kemudian telah-pergi ke

gandok untuk menemui Wirastama bersama Ki Lurah dan Ki

Gede. Ternyata Wirastama menjadi berdebar-debar juga

ketika kemudian Ki Lurah dan Ki Gede memberikan beberapa

pesan. Terutama pesan Ki Lurah, “ Jangan pergi ketempat

yang lain kecuali Sendang Panutan. Itu saja.”

Wirastama yang ragu-ragu itu mengangguk. Dengan gagap

ia menjawab, “ Baik. Baik Ki Lurah.”

“ Aku titipkan kedua cucuku kepadamu ngger.” berkata Ki

Lurah, “ cegahlah jika mereka mengajak pergi kemanapun,

apalagi ke Watu Abang. Aku percayakan keseluruhan mereka

kepadamu.”

Wirastama memang menjadi termangu-mangu. Tetapi ia

mengangguk juga sambil berkata “ Ya, ya Ki Lurah. “

Sementara itu Ki Gedepun berkata “ Kami yakin, bahwa

kau dapat mengendalikan kedua tamumu itu agar mereka

tidak pergi ke tempat lain. Aku adalah tuan rumah disini. Aku

 

mengucapkan terima kasih atas kesediaanmu membantuku.

Namun bagaimanapun juga, segala langkah yang kita ambil

harus kita pertanggungjawabkan. “

Wirastama menjadi semakin berdebar-debar. Namun

sambil mengangguk ia berkata “ Baiklah Ki Gede. Kami akan

berhati-hati. “

Demikianlah maka ketiga orang anak muda itupun telah

meninggalkan rumah Ki Gede. Wirastama mengajak mereka

mengikuti jalan untuk menuju ke arah yang berlawanan

dengan arah rumah Agung Sedayu.

Teja Prabawa dan Rara Wulan berjalan dibelakang

Wirastama ketika mereka melintas pintu gerbang,

meninggalkan padukuhan induk.

“ Tempatnya memang agak jauh “ berkata Wirastama.

Teja Prabawa dan Rara Wulan sempat mengagumi

hijaunya bulak panjang yang terbentang dihadapan mereka.

Sudah beberapa kali mereka berjalan dibulak itu. Tetapi rasarasanya

udara yang segar selalu membuat nafsu mereka

menjadi terasa bening.

“ Marilah “ berkata Wirastama kemudian “ Kita berjalan

agak cepat. Sendang Panutan itu terletak disebuah

padukuhan kecil disebelah gumuk kecil. Dari padukuhan ini

berjarak lebih dari lima padukuhan besar dan kecil, serta bulak

panjang dan pendek. “

“ Apakah jarak itu jauh sekali? Manakah yang lebih jauh -

dengan sendang yang ada pusarannya itu? “ bertanya Rara

Wulan.

“ Sendang ini lebih dekat sedikit “ jawab Wirastama “ tetapi

diarah yang berlawanan. “

Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara itu mereka

berjalan tidak lagi berurutan. Teja Prabawa dan Wirastama

berjalan mengapit Rara Wulan. Mereka menyusuri jalan bulak

yang disebelah menyebelahnya ditumbuhi pohon-pohon turi

yang melindungi jalan bulak itu dari teriknya matahari ditengah

hari. Sementara itu, ternyata Agung Sedayu tidak sampai hati

membiarkan kedua cucu Ki Lurah itu pergi ke Watu Abang

hanya ditemani oleh Wirastama. Apalagi setelah Agung

 

Sedayu mendengar apa yang terjadi di sendang yang sering

diputar oleh pusaran air itu.

“ Bagaimanapun juga, ada baiknya kau pergi menemui Ki

Lurah, Glagah Putih “ berkata Agung Sedayu.

Glagah Putih sebenarnya merasa segan sekali untuk

melakukannya. Tetapi ternyata bahwa Ki Jayaraga juga

mendesaknya “ Pergilah. Mungkin ada gunanya. “

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu

Sekar Mirahpun berkata “ Memang nampaknya kau harus

melihatnya Glagah Putih. Apalagi jika Rara Wulan ikut

bersama mereka. “

Glagah Putih tidak dapat membantah lagi. Iapun kemudian

telah pergi ke rumah Ki Gede untuk menemui Ki Lurah Branjangan.

Ki Lurah tersenyum ketika Glagah Putih bertanya tentang

kedua cucunya dan Wirastama.

“ Mereka telah merubah acara mereka “ berkata Ki Lurah “

mereka tidak lagi pergi ke Watu Abang dan belik diba-wah

pohon raksasa diatas bukit. Aku telah melarang mereka.

Demikian pula Ki Gede yang untung sempat pula

mendengar pembicaraan tentang rencana kepergian Teja

Prabawa dan Wulan. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya “ Sokurlah.

Kakang Agung Sedayu merasa sangat cemas. Demikian pula

mBokayu Sekar Mirah dan Ki Jayaraga. “

“ Memang mencemaskan “ berkata Ki Lurah “ untunglah

mereka bersedia merubah acara itu. “

“ Tetapi Wirastama nampaknya terlalu yakin untuk pergi

ketempat itu “ berkata Glagah Putih.

Ki Lurah menyahut dengan nada rendah “ Ki Gede berhasil

meyakinkan mereka “ Tetapi tiba-tiba saja Ki Lurah berkata “

Marilah. Kita pergi. Aku hanya ingin melihat, apakah mereka

memang berada di Sendang Panutan. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Seperti dihari

sebelumnya, keduanya juga pergi ke sendang yang kadangkadang

diputar oleh pusaran itu dengan diam-diam.

Dalam pada itu, Wirastama yang sempat berjalan-jalan

bersama Rara Wulan dan Teja Prabawa merasa, dirinya

 

diperlukan oleh kedua cucu Ki Lurah itu. Karena itu, maka

pembicaraan Wirastawa semakin lama menjadi semakin

melambung. Teja Prabawa yang memang mengaguminya,

ternyata telah ikut pula memuji kelebihan yang dimiliki oleh

Wirastama.

Bahkan kemudian Wirastama mulai memberanikan diri

untuk memuji Rara Wulan sebagai seorang gadis yang cantik,

lembut dan berpandangan luas.

“ Jarang sekali aku temui gadis-gadis seperti kau “ desis

Wirastama.

Rara Wulan menundukkan kepalanya. Sebagai seorang

gadis ia merasa malu mendapat pujian langsung dari seorang

anak muda dihadapannya. Karena itu, maka pipinyapun

menjadi merah sementara Wirastama berkata selanjutnya “

Gadis-gadis biasanya hanya ingin melihat pasar dan tempattempat

untuk berbelanja. Tetapi kau ingin melihat sesuatu

yang jauh lebih

berarti. Gadis-gadis Kotaraja yang aku kenal pada

umumnya hanya pandai bersolek dan dikerumuni oleh

pelayan-pelayannya yang siap menjalankan perintahnya atau

dikerumuni oleh perempuan-perempuan untuk memijit tangan

dan kakinya dan memandikannya. “

Wajah Rara Wulan terasa semakin panas, sementara

Wirastama justru seakan-akan mendapat kesempatan untuk

berbicara lebih panjang. Namun Rara Wulan akhirnya justru

berkisar dan berjalan sebelah kakaknya, sehingga dengan

demikian Teja Prabawalah yang kemudian berjalan ditengah.

Wirastama memang menjadi kecewa. Tetapi sebagai

seorang anak muda yang mempunyai pengalaman yang luas

bergaul dengan gadis-gadis maka ia tidak dengan cepat ikut

bergeser pula. Dibiarkannya saja Rara Wulan menghindar.

Tetapi Wirastama yang berpengalaman itu merasa tidak akan

luput menangkap gadis cantik itu. Meskipun ia tidak dapat

melupakan bahwa gadis itu adalah cucu Ki Lurah Branjangan,

sehingga ia tidak dapat memperlakukannya seperti gadisgadis

pedesaan yang pernah dikenalnya.

Beberapa saat mereka masih berjalan. Wirastamapun

kemudian tidak habis-habisnya berceritera kepada Teja

 

Prabawa dan sekali-sekali kepada Rara Wulan tentang Tanah

Per-dikan Menoreh yang terhitung besar dibanding dengan

Kade-mangan-kademangan di sekitarnya. Macam-macam isi

yang ada di Tanah Perdikan itu serta kebiasaan-kebiasaan

rakyatnya yang jarang atau hampir tidak pernah dijumpai di

Kotaraja.

Ternyata Wirastama tidak membawa kedua cucu Ki Lurah

itu langsung ke Sendang Panutan. Tetapi Wirastama

membawa mereka menempuh jalan yang lebih jauh, agar ia

dapat berjalan bersama mereka lebih lama. Dengan demikian

Wirastama mendapat lebih banyak kesempatan untuk

berbincang dengan kedua cucu Ki Lurah itu.

Namun akhirnya mereka bertigapun telah mendekati

padukuhan kecil yang mereka tuju. Di sebelah padukuhan

kecil itu terdapat sendang Panutan. Sendang yang tidak begitu

besar, tetapi mempunyai daya tariknya tersendiri, karena di

sendang itu terdapat seekor bulus yang sangat besar serta

ikan yang jumlahnya terlalu banyak. Sementara itu airnya

yang jernih yang melimpah kesebuah parit, dipergunakan

untuk mencuci pakaian oleh perempuan-perempuan dari

padukuhan itu, sementara sawah dibawah sendang itu dapat

pula memanfaatkan air sendang itu bagi sawah mereka.

Ketika ketiga orang anak muda itu sampai di Sendang

Panutan itu, maka Ki Lurah dan Glagah Putih sempat melihat

mereka dari kejauhan. Ternyata Ki Lurah dan Glagah Putih -

justru telah sampai ketempat itu lebih dahulu. Selain mereka

memang menempuh jalan pintas, mereka pun langsung

menuju ke sendang itu. Sedangkan Wirastama justru telah

mengambil jalan yang melingkar-lingkar.

“ Kenapa mereka baru sampai? “ bertanya Ki Lurah.

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun kemudian

katanya “ Mereka tidak menempuh jalan yang seharusnya.

Jika mereka melalui jalan yang biasa, mereka tidak akan

datang dari arah itu. “

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya “ Agaknya mereka

memang mencari jalan yang lebih panjang. “

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak

segera mengerti kenapa mereka justru memilih jalan yang

 

lebih panjang. Namun kemudian Ki Lurah berkata “ Mungkin

sudah menjadi kebiasaan anak-anak muda. Mereka lebih

senang berbincang-bincang sambil menyusuri jalan panjang. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak

menjawab lagi.

Untuk beberapa saat mereka mengawasi ketiga anak muda

itu dari kejauhan. Mereka melihat bahwa, Teja Prabawa dan

Rara Wulan mengagumi bulus raksasa yang kebetulan

sedang menampakkan diri. Mereka juga kagum melihat ikan

yang jumlahnya tidak terhitung, sementara perempuan yang

mencuci pakaian menjadi tersipu-sipu melihat kehadiran

mereka. Jika

mereka tidak datang bersama Rara Wulan, maka

perempuan-perempuan itu tentu akan berlari-larian.

Namun ketika mereka sudah agak lama melihat-lihat

sendang kecil itu, nampaknya Wirastama telah berniat untuk

mengajak mereka meneruskan perjalanan.

Dari jauh Ki Lurah Branjangan dan Glagah Putih tidak tahu

apa yang sedang dibicarakan oleh ketiga orang anak muda

itu. Namun mereka mengerti bahwa nampaknya Rara Wulan

mempunyai keinginan yang berbeda dengan Wirastama dan

Teja Prabawa.

Sebenarnyalah, ketika mereka sudah puas melihat

sendang kecil itu, maka Wirastama mengajak mereka untuk

melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan itu lebih jauh lagi.

“ Kemana? “ bertanya Rara Wulan.

“ Kita pergi ke lereng bukit itu “ berkata Wirastama “

Dimana kita akan dapat melihat dataran Tanah Perdikan ini

bagaikan permadani yang terbentang sampai ke pinggir Kali

Praga. “

“ Bagus sekali “ berkata Teja Prabawa “ kita naik kelereng.

Dari lereng itu kita melihat pemandangan yang digelar

dihadapan kita. Sawah, ladang, padukuhan dan Kali Praga.”

“ Tetapi kakek dan Ki Gede sudah berpesan, kita tidak akan

pergi ketempat lain. Aku tidak berani naik kelereng. Dan

barangkali aku tidak dapat memanjat tebing lereng bukit itu “

berkata Rara Wulan.

 

Wirastama tertawa. Katanya “ Kita akan naik bersamasama

dan saling menolong. Jangan cemas, lereng itu tidak

begitu terjal sebagaimana kita lihat dari tempat ini. “

Aku dapat membantumu “ berkata Teja Prabawa “ jangan

menjadi penakut seperti itu. “

“ Tetapi kakek sudah pesan. Bahkan Ki Gede juga

berpesan agar kita tidak pergi ke mana-mana. Apalagi ke

Watu Abang “ jawab Rara Wulan.

“ Kita tidak pergi ke Watu Abang. Kita naik kelereng bukit

yang jauh dari Watu Abang. Kita hanya ingin melihat

pemandangan alam. Bukan melihat mata air dibawah pohon

raksasa ditempat yang masih sering didatangi binatang buas

itu, meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak takut kepada

binatang buas itu. “ berkata Wirastama kemudian.

Tetapi Rara Wulan menggeleng. Katanya “ Aku tidak mau

pergi ke lereng “

Wirastama tersenyum. Dengan pengalamannya

berhubungan dengan perempuan, maka iapun berkata “

Jangan begitu Rara Wulan. Selama ini aku telah

mengagumimu sebagai seorang gadis yang luar biasa. Gadis

yang tidak seperti kebanyakan gadis yang hanya pandai

bersolek. Tetapi kau mempunyai keinginan melihat betapa

luasnya cakrawala. Karena itu, marilah. Kita pergi bersamasama.

Jangan takut, bagaimana kau nanti akan naik lereng

yang tidak terlalu terjal itu. “

Tetapi Rara Wulan tetap pada pendiriannya. Katanya “

Tidak. Aku tidak mau. “

“ Jangan keras kepala “ bentak Teja Prabawa “ kenapa kau

tadi ikut bersama kami? “

“ Aku ikut sampai ke Sendang ini saja “ berkata Rara Wulan

“ bukankah kalian juga mengatakan, bahwa kalian tidak akan

pergi ke mana-mana? “

“ Marilah anak manis “ desis Wirastama “ jangan cemas.

Bukankah ada kakakmu dan ada aku? “

“ Jika kau tidak mau ikut, kau lalu mau apa? “ bertanya Teja

Prabawa.

“ Aku akan kembali. Antarkan aku kembali dahulu, baru

kalian pergi sesuka kalian “ jawab Rara Wulan.

 

“ Tentu tidak “ sahut Wirastama “ jika kita pulang, kita akan

banyak kehilangan waktu. Kita akan berjalan terus. Jarak dari

tempat ini sampai kerumah Ki Gede lebih jauh dari tempat ini

sampai ke lereng. “

“ Tetapi ...... “ Rara Wulan tidak sempat meneruskan

kata-katanya karena Wirastama memotong “ Baiklah. Kita

akan pergi sampai kekaki bukit. Jika kira-kira kau kesulitan

naik ke lereng, maka kita tidak akan naik. Kita akan melihatlihat

sawah di kaki bukit itu saja. Jangan takut, kita tidak pergi

ke Watu Abang. “

Rara Wulan menjadi bingung. Sementara itu kakaknya

berkata “ Jika kau ingin kembali, kembalilah sendiri. “

Rara Wulan memang tidak mempunyai pilihan lain. Rara

Wulan memang tidak berani kembali sendiri. Sementara itu, ia

percaya bahwa kakaknya tidak akan memaksanya naik lereng

bukit, jika ia memang tidak dapat melakukannya. Apalagi

menurut penglihatannya bukit itu memang tidak terlalu jauh

lagi dari sendang Panutan itu.

“ Marilah “ berkata Teja Prabawa “ kita berjalan lagi “

Wirastama tersenyum. Ternyata Rara Wulan akhirnya

bersedia mengikutinya ke lereng. Yang penting baginya

adalah berada diperjalanan semakin lama bersama Teja

Prabawa dan lebih-lebih lagi bersama Rara Wulan. Ia akan

mendapat kesempatan menolong gadis itu naik ke lereng

bukit, dan bahkan menunjukkan ketrampilan dan

kemampuannya. Malahan Wirastama memang mengharap

seekor harimau datang mendekati mereka, meskipun mereka

memang tidak pergi ke Watu Abang dan tidak pergi ke mata

air dibawah pohon raksasa, tetapi diatas bukit itupun terdapat

hutan yang dihuni oleh binatang buas.

Dari kejauhan Ki Lurah dan Glagah Putih melihat mereka

bertiga meninggalkan Sendang Panutan. Tetapi mereka tidak

menuju ke padukuhan induk.

“ Mereka akan kemana? “ desis Glagah Putih.

“ Memang tidak ke Watu Abang. “ sahut Ki Lurah “ tetapi

nampaknya mereka pergi ke lereng bukit. Apa sebenarnya

yang dimaui oleh anak-anak itu? “

 

“ Kita tidak mendengar pembicaraan mereka, tetapi

nampaknya Rara Wulan semula berkeberatan “ berkata

Glagah Putih.

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya “ Kita akan

melihat dari kejauhan. Apa yang akan mereka lakukan. Kita

dapat mengikuti mereka melalui jalan-jalan setapak dan lewat

pategalan. Jalan yang akan mereka lalui adalah jalan satusatunya

ke lereng bukit. “

Glagah Putih mengangguk. Baginya sama sekali tidak ada

kesulitan untuk mengikuti ketiga orang anak muda yang

berjalan menuju ke lereng.

Sebenarnyalah mereka bertiga telah pergi ke lereng bukit.

Ternyata bahwa lereng itu tidak mudah untuk didaki. Tetapi

Rara Wulan menjadi semakin tersudut untuk mengikuti

kakaknya dan Wirastama.

Namun ternyata gadis itu benar-benar menolak untuk naik.

Bahkan ketika kakaknya mengancam akan meninggalkan

sendiri. Rara Wulan menjawab “ Pergilah. Aku tidak akan naik.

Aku akan pulang sendiri. Jika aku sampai ke rumah Ki Gede,

aku akan mengatakan kepada kakek. Tetapi jika aku tidak

sempat kembali karena tersesat atau kehilangan jalan atau

karena sebab lain, kakek tentu akan minta

pertanggungjawaban kepadamu. “

Teja Prabawa tidak mengira bahwa adiknya akan menjadi

sekeras itu. Namun Wirastama agaknya bersikap lain. Ia justru

tertawa sambil berkata “ Kau aneh Rara Wulan. Kau tidak mau

naik karena menurut katamu, kau tidak akan mampu atau

takut atau alasan yang lain. Tetapi tiba-tiba kau menjadi

seorang pemberani yang ingin kembali seorang diri. Baru

kemarin kau diganggu oleh anak-anak yang tidak tahu adat.

Apakah kau tidak membayangkan bahwa kau akan dapat

bertemu lagi dengan orang-orang seperti itu. “

Wajah Rara Wulan menjadi merah. Dengan nada tinggi ia

berkata “ Jika terjadi hal seperti itu, bahkan lebih buruk lagi,

maka itu bukanlah salahku. Tetapi salah kalian berdua. “

“ Jangan berkata begitu Rara Wulan “ berkata Wirastama “

marilah. Aku dan kakakmu akan menolongmu. Jika kau benarbenar

mengalami kesulitan, aku bersedia menKang

Zusi - http://kangzusi.com/

dukungmu sampai kelereng. Kita tidak perlu sampai ke

punggung bukit yang tertinggi. Dari perut bukit itu, kita sudah

dapat melihat betapa indahnya Tanah Perdikan ini. Sawah,

ladang, sungai, parit-parit dan Kali Praga merupakan lukisan

alam yang sangat mempesona. “

“ Tetapi aku tidak mau naik “ berkata Rara Wulan.

“ Kau jangan keras kepala “ bentak Teja Prabawa “ kita

tidak untuk seterusnya berada disini. Kita harus

mempergunakan setiap kesempatan sebaik-baiknya. Karena

itu, jangan membiarkan kesempatan ini sia-sia. “

“ Aku tidak mau “ Rara Wulan berteriak.

Tetapi Wirastama masih tetap saja tertawa. Katanya “

Marilah. Kau akhirnya akan mengikuti kami. “

“ Tidak “ Rara Wulan masih berteriak.

Teja Prabawa menjadi ragu-ragu. Namun kemudian

katanya “ Terserah kepadamu. Aku akan naik. “

Teja Prabawapun kemudian mulai bergerak, Wirastama

telah menggamitnya sambil berkata “ Ia akan merubah

kepuasannya. Ia akan ikut bersama kita. “

Ketika Teja Prabawa dan Wirastama mulai memanjat

lereng bukit, Rara Wulan memang menjadi bingung. Rasarasanya

memang takut untuk kembali seorang diri, sementara

mereka sudah berjalan cukup jauh. Bahkan Rara Wulan tentu

akan menemui kebingungan jika ia harus berjalan sendiri. Ia

akan tersesat dan banyak kemungkinan buruk dapat terjadi.

Namun dalam kebingungan itu, tiba-tiba saja seseorang

telah muncul dari balik gerumbul. Seorang yang juga sudah

dikenal oleh Rara Wulan. Karena itu, tiba-tiba saja diluar

sadar-nya Rara Wulan itu telah menyebut namanya “ Glagah

Putih.

Teja Prabawa dan Wirastama yang sudah mulai memanjat

tebing mendengar panggilan itu. Karena itu, maka

keduanyapun tiba-tiba telah berpaling.

Sebenarnyalah mereka melihat Glagah Putih berdiri

termangu-mangu.

Kehadiran Glagah Putih itu telah membuat kedua anak

muda itu berbeda sikap. Teja Prabawa merasa beruntung,

bahwa adiknya itu akan dapat diserahkan kepada Glagah

 

Putih untuk diantar pulang. Dengan demikian maka ia tidak

akan mengganggunya lagi.

Karena itu, maka katanya “ Nah, kebetulan kau datang

Glagah Putih. Bawa Rara Wulan kembali kepada kakek. Jika

kau tidak dapat melakukannya dengan baik, maka kau akan

menyesal seumur hidupmu. Aku tidak dapat mengampunimu

lagi. “

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan

ingin mengendapkan gejolak didalam dadanya.

Tetapi sebelum gejolak jantungnya menjadi reda, terdengar

suara Wirastama garang “ He, anak dungu. Apa kerjamu

disini? Siapa yang menyuruhmu kemari? “

Glagah Putih memang masih mencoba bertahan. Ia masih

selalu ingat pesan kakaknya. Ia tidak boleh menyakiti hati

tamu-tamu Ki Gede.

Tetapi ia menjadi bingung. Sikap kedua anak muda itu

nampaknya memang berbeda. Bahkan Teja Prabawapun

menjadi bingung mendengar kata-kata Wirastama. Agaknya

Wirastama tidak berkenan melihat kehadiran Glagah Putih

yang bagi Teja Prabawa justru kebetulan sekali.

Untuk beberapa saat lamanya Glagah Putih termangumangu.

Sementara itu Wirastama telah membentaknya “ Pergi.

Tinggal kan kami. Jangan mengganggu lagi. “

Glagah Putih masih saja termangu-mangu. Ia masih

bingung. Langkah yang manakah yang harus diambilnya. Ki

Lurah tidak memberinya pesan apa-apa, selain memaksanya

untuk mendekat. Hanya itu.

“ Cepat, pergi “ sekali lagi Wirastama membentak.

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Jantungnya

bergejolak semakin keras. Yang membentaknya itu bukan

tamu Ki Gede, tetapi seorang perwira muda dari Pasukan

Khusus di Tanah Perdikan Menoreh.

Glagah Putihpun menjadi semakin bingung. Ia tidak

seharusnya melawan seorang prajurit. Tetapi iapun tidak

dapat membiarkan dirinya dihinakan.

Namun ia pernah mendengar Ki Lurah, bukan saja seorang

perwira prajurit dari Pasukan Khusus, tetapi justru ialah yang

 

mendapat tugas pada masanya membentuk pasukan itu

berkata “ Seorang prajurit harus dapat menjadi teladan.

Seorang prajurit yang salah langkah akan merusak citra

prajurit itu sendiri.

Tetapi menghadapi sikap yang demikian, apa yang harus

dilakukannya.

Untuk beberapa saat Glagah Putih memang menjadi

bingung. Namun selagi Glagah Putih termangu-mangu

Wirastama membentak-bentaknya pula “ Cepat pergi. Apa

yang kau tunggu? Atau kau ingin gigimu rontok lebih dahulu. “

Glagah Putih berusaha untuk tetap menguasai

perasaannya meskipun jantungnya bagaikan terbakar. Namun

sebelum ia menjawab Rara Wulanlah yang menjawab. “

Baiklah. Pergilah Glagah Putih. Aku juga akan pergi

bersamamu. “

“ Glagah Putih mengangguk kecil. Hampir diluar sadarnya

ia menjawab. “ Marilah “

“ Tunggu “ Wirastama telah meloncat mendekat “ Rara

Wulan dan Teja Prabawa pergi bersamaku. Aku harus

mempertanggungjawabkannya sampai keduanya kembali

kepada kakeknya. Karena itu, ia tidak akan pergi bersama

orang lain, kecuali bersama aku. “

“ Tidak “ Rara Wulanlah yang menjawab “ aku akan pulang

bersama Glagah Putih. “

“ Glagah Putih tidak akan melakukannya. Kecuali jika ia

sudah jemu hidup. “ geram Wirastama.

“ Kau kira aku tidak punya mulut untuk menceritera-kannya

kepada kakek? Kepada Ki Gede dan kepada pimpinanmu?

Kau akan dihukum oleh piminan Pasukan Khusus itu karena

tingkah lakumu “ jawab Rara Wulan dengan berani.

Wajah Wirastama menjadi merah. Ia tidak mengira bahwa

gadis yang lembut, luruh dan hampir selalu menunduk itu tibatiba

mempunyai keberanian untuk melawan kemauannya.

Sementara itu Teja Prabawa justru berdiri saja termangumangu.

Ia memang menjadi bingung, la tidak mengerti apa

yang sebaiknya dilakukannya.

Namun dalam pada itu, selagi keadaan menjadi semakin

tegang, anak-anak muda itu telah dikejutkan oleh suara

 

tertawa. Tidak terlalu keras. Namun seakan-akan telah

mengguncang jantung mereka.

Anak-anak muda itu kemudian telah berpaling. Mereka

terkejut ketika mereka melihat seorang yang sudah seumur

dengan Ki Lurah Branjangan datang mendekat bersama

seorang laki-laki yang umurnya sebaya dengan Agung

Sedayu.

“ Maaf anak-anak muda “ berkata orang itu “ aku ingin

mengganggu sedikit. “

Wirastama memandang orang itu dengan wajah yang

masih tegang. Dengan nada datar ia bertanya “ Siapakah

kalian? “

“ Aku memang ingin memperkenalkan diri “ jawab orang tua

itu. Katanya kemudian “ Namaku Ki Citrabawa. Ki Lurah

Citrabawa. Aku adalah kawan baik dari Ki Lurah Branjang an.

“ O “ Wirastama mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya

pula “ Lalu, apakah maksud Ki Lurah Citrabawa. “

“ Sebenarnya aku menunggu kalian naik kelereng. Tetapi

ternyata kalian masih saja bertengkar disini. “ jawab orang itu.

“ Apakah kepentingan Ki Lurah? “ desak Wirastama.

Orang itu tertawa. Kemudian iapun berpaling kepada orang

yang masih muda itu sambil berkata “ Ini adalah anakku yang

bungsu. Aku ajak anak ini mengembara di Tanah Perdikan

ini selama beberapa hari hanya untuk mendapat kesempatan

berbicara dengan cucu-cucu Ki Lurah Branjangan. “

“ Untuk apa? “ bertanya Wirastama.

“ Baiklah, aku ingin langsung berbicara dengan cucu Ki

Lurah itu. “ jawab Ki Lurah Citrabawa.

Teja Prabawalah yang kemudian melangkah maju sambil

bertanya “ Apakah yang ingin Ki Lurah bicarakan? “

“ Anak muda “ berkata Ki Lurah Citrabawa “ sebenarnya

aku terpaksa mengambil langkah ini. Tetapi aku tidak

mempunyai pilihan lain. Sejak Ki Lurah Branjangan berkhianat

terhadap Pajang, maka beberapa kali ia membuat aku

kecewa. “

“ Maksud Ki Lurah? “ bertanya Teja Prabawa.

 

“ Dahulu aku dan Branjangan berada dalam satu kesatuan.

Tetapi ketika Panembahan Senapati memberontak terhadap

Pajang. Branjangan telah berkhianat pula dan ikut pergi ke

Mataram. “ berkata Citrabawa “ sebenarnya aku tidak ambil

posing. Tetapi ternyata bahwa janjinya secara pribadi dengan

aku telah dikhianatinya pula. “

“ Janji Ki Lurah? “ bertanya Teja Prabawa.

“ Aku dan Branjangan telah sepakat untuk mempererat

hubungannya kekeluargaan dengan mempertunangkan anakanak

sulung kami. Tetapi ketika Branjangan pergi ke Mataram,

ia melupakan janji itu sehingga akhirnya anak perempuannya

kawin dengan seorang pembesar di Mataram. Namun semula

aku berusaha menahan hati. Mungkin karena kami sudah

lama tidak berhubungan, Branjangan menganggap janji itu

tidak berlaku lagi. Tetapi disaat terakhir aku tahu bahwa

Branjangan mempunyai cucu perempuan yang cantik. Nah,

aku telah menemuinya lagi setelah sekian lamanya tidak

pernah berhubungan. Memang hanya satu kebetulan bahwa

kita bertemu lagi setelah permusuhan antara Mataram dan

Pajang menjadi reda, bahkan Pajang berada di bawah

kekuasaan Mataram. Tetapi aku merasa sangat kecewa,

bahwa Branjangan tidak memenuhi keinginanku untuk

memperbaharui janji itu. Bukan anaknya yang akan aku ambil

menantu, tetapi cucunya, bagi anakku yang bungsu. “ berkata

Ki Lurah Citrabawa.

“ Wulan maksud Ki Lurah? “ bertanya Teja Prabawa.

“ Ya. Aku ingin Rara Wulan menjadi menantuku. “ berkata

Ki Lurah. “ sekarang anakku yang bungsu itu ada bersamaku.

“ Tidak “ tiba-tiba saja Rara Wulan berteriak.

“ Ki Lurah “ berkata Teja Prabawa “ persoalannya harus Ki

Lurah selesaikan dengan kakek. “

“ Kakekmu keras kepala “ jawab Ki Lurah Citrabawa itu.

Wajah anak-anak muda itu menjadi tegang. Rara Wulan

menggigil oleh kemarahan dan ketakutan, sementara Teja

Prabawapun menjadi marah. Tetapi mereka tertegun karena

sikap orang tua dan anaknya itu. Nampaknya Ki Lurah

Citrabawa bukan orang kebanyakan.

 

“ Anak-anak muda “ berkata Ki Lurah Citrabawa itu “ jika

anakku yang sulung sesuai dengan perjanjian mendapat anak

Ki Lurah Branjangan, maka gadis cantik ini akan menjadi

cucuku. Tetapi karena hal itu tidak terjadi, maka gadis cantik

ini akan menjadi menantuku dan mendapatkan anakku yang

bungsu. “

Dalam pada itu, ketegangan semakin mencengkam jantung

anak-anak muda itu. Sementara itu Ki Lurah Citrabawapun

berkata selanjutnya “ Anak-anak muda. Aku terpaksa

menempuh jalan ini karena aku tidak mempunyai cara lain.

Kakekmu menjadi terlalu sombong dan tidak mau lagi

mengenal aku. Ia nampaknya telah berhasil menjadi seorang

yang disegani di Mataram, sementara aku setelah Pajang

jatuh telah kehilangan pekerjaanku dan menjadi seorang

petani yang miskin. Tetapi aku masih tetap mempunyai harga

diri seorang laki-laki. Karena itu, aku akan membawa Rara

Wulan. Aku sama sekali tidak takut jika Branjangan menjadi

marah. Aku akan menghadapinya sebagai laki-laki. “

“ Aku tidak mau “ teriak Rara Wulan.

“ Berteriaklah. Di kaki bukit ini tidak akan ada orang yang

mendengarnya. Paling-paling petani yang bekerja disawahnya

dibulak itu. Itupun jika suaramu mampu

menjangkaunya. “ berkata Ki Lurah Citrabawa.

Jantung Rara Wulan berdegup semakin keras. Ia menjadi

semakin ketakutan.

Namun dalam pada itu, maka Wirastama pun telah

meloncat kedepan sambil berkata “ Ki Lurah. Kau kira kau

dapat berbuat apa saja sesukamu disini? “

Orang itu tertawa pendek. Katanya “ Menilik pakaianmu,

kau tentu seorang perwira muda dari Pasukan Khusus yang

di-bentuk oleh Branjangan itu. Kau sebenarnya pantas

dihormati. Tetapi sebaiknya kau jangan mencoba melindungi

gadis itu, karena yang kau lakukan itu sia-sia. “

“ Aku akan mencegah perbuatan itu. Baik sebagai seorang

prajurit, maupun sebagai seorang anak muda aku akan

mempertahankan Rara Wulan. “ berkata Wirastama.

“ Jangan terlalu sombong anak muda “ berkata Ki Lurah

Citrabawa “ kau kira pakaianmu itu dapat membuat kau silau?

 

Kau tidak usah melepas pakaian keprajuritanmu sebagaimana

kau lakukan ketika kau berkelahi dengan anak-anak muda

yang bengal itu, karena bagiku, pakaianmu tidak berarti apaapa.

Wirastama yang merasa wajib melindungi Rara Wulan

itupun serasa bersiap-siap. Katanya “ Ki Citrabawa. Maaf,

bahwa seharusnya aku tidak boleh berlaku kasar terhadap

orang-orang tua, bahkan harus menghormatinya. Tetapi jika

kau memaksakan niatmu, maka kau memang tidak pantas

untuk dihormati “

“ Bagus anak muda “ berkata Ki Citrabawa “ nampaknya

kau benar-benar ingin melindungi gadis itu. “

“ Ya “ jawab Wirastama.

Ki Lurah Citrabawa itupun kemudian maju beberapa

langkah. Dengan nada rendah Ki Citrabawa itu berkata “ Hatihatilah

anak muda. Aku memang ingin tahu, seberapa jauh

keberhasilan Branjangan menyusun kekuatan dengan

Pasukan Khususnya di Tanah Perdikan ini. Dengan menjajagi

salah seorang perwira mudanya, maka aku akan mendapat

gambaran hasil jerih payah Branjangan itu. “

Wirastama memang sudah siap. Karena itu iapun telah

meloncat menyerang orang tua yang telah membuat jantung

Wirastama menjadi panas itu.

Tetapi orang itu cukup tangkas. Iapun dengan cepat

menghindar sehingga serangan Wirastama tidak mengenai

sasaran.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, keduanya telah

terlihat dalam perkelahian yang cepat. Ternyata Ki Lurah

Citrabawa itu masih cukup cekatan untuk mengimbangi gerak

Wirastama yang cepat dan kuat. Agaknya pengalaman yang

sangat luas pada orang itu membuatnya tidak terlalu sulit

untuk menghadapi Wirastama.

Wirastama memang memiliki kekuatan yang besar dan

kecepatan gerak yang mengagumkan. Namun beberapa saat

kemudian, anak muda itu terdorong beberapa langkah surut.

Tangan Ki Citrabawa tepat mengenai dada anak muda itu.

Kemarahan Wirastamapun kemudian telah memuncak.

Dikerahkannya kemampuannya. Ia adalah seorang perwira

 

muda yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga

dengan demikian maka serangan-serangannya yang

kemudian menjadi semakin garang. Apalagi di tepi arena

pertempuran itu terdapat seorang gadis yang cantik.

Namun lawan Wirastama saat itu adalah seorang tua yang

tangguh dan berpengalaman. Meskipun Ki Citrabawa tidak

memiliki kekuatan sebesar Wirastama, tetapi ia justru lebih

banyak berhasil mengenai tubuh lawannya yang masih muda

itu. Geraknya yang kadang-kadang, membingungkan

membuat Wirastama sering kehilangan arah serangan

lawannya.

Ternyata bahwa meskipun dengan mengerahkan

tenaganya. Wirastama tidak berhasil menguasai lawannya

yang tua itu. Bahkan semakin lama ia menjadi semakin

terdesak, sehingga beberapa saat kemudian Wirastama bukan

saja terdorong beberapa langkah surut, tetapi ia benar-benar

telah terbanting jatuh. Dadanya bagaikan menjadi sesak

sehingga nafasnya seolah-olah tertahan ditenggorokan.

Ki Lurah Citrabawa tertawa. Iapun kemudian berdiri

beberapa langkah daripadanya. Katanya “ Sudahlah anak

muda. Sebaiknya kau tidak usah turut campur. Persoalan ini

adalah persoalanku dengan Ki Lurah Bran jangan.

Wajah Wirastama menjadi merah. Ia berusaha untuk

bangkit. Namun ia tidak dapat dengan serta merta

menghilangkan sesak didadanya serta mengatur

pernafasannya agar berjalan wajar.

Karena itu, maka Wirastama tidak dengan serta merta

menyerang kembali Ki Lurah Citrabawa yang berdiri tegak

sambil bertolak pinggang.

“ Urusan ini urusan orang tua-tua “ berkata Ki Citrabawa

kemudian “ Nah, Rara Wulan. Kau harus ikut aku, atau kau

akan mengalami nasib yang sangat buruk. “

“ Tidak “ teriak Rara Wulan sambil berlari dan bersembunyi

dipunggung kakaknya “ aku tidak mau kakang. Aku tidak mau.

Teja Prabawa sadar, bahwa ia harus melindungi adiknya.

Tetapi Wirastama yang dikaguminya itu tidak berdaya

 

menghadapi orang yang nampaknya sudah hampir pikun itu.

Karena itu, Teja Prabawa telah menjadi sangat bingung.

“ Sudahlah “ berkata Ki Lurah Citrabawa “ jangan

memperpanjang persoalan. Kita akan menganggap persoalan

ini selesai. Jika belum selesai itu adalah persoalanku dengan

persoalan Ki Lurah Branjangan. “

Teja Prabawa menjadi semakin bingung ketika Ki Lurah itu

berkata “ Minggir kau anak muda. Aku hanya memerlukan

Rara Wulan. Aku tidak memerlukan kau. “

“ Kakang “ teriak Rara Wulan “ aku tidak mau. “

Teja Prabawa menjadi gemetar ketika ia melihat Ki Lurah

itu melangkah mendekatinya sementara Wirastama masih

juga belum dapat menguasai dirinya sendiri.

Namun dalam pada itu, selagi orang-orang yang berada di

lereng bukit itu dicengkam ketegangan, seorang lagi telah

muncul dari balik pepohonan. Dengan nada berat orang itu

berkata “ Kau benar Ki Lurah. Persoalan berikutnya adalah

persoalanmu dengan aku. “

Ki Lurah Citrabawa berpaling. Ia terkejut ketika ia melihat Ki

Lurah Branjangan melangkah mendekat.

“ Setan tua “ geram Ki Lurah Citrabawa “ ternyata kau ada

disini? “

“ Tentu. Aku tidak akan membiarkan cucuku kau ambil

begitu saja dengan cara yang sama sekali tidak terpuji. He,

apakah kau tidak lagi mengenal unggah-ungguh? Begitulah

cara melamar anak orang jaman sekarang ini? “ bertanya Ki

Lurah.

“ Persetan Ki Lurah “ jawab Ki Citrabawa.

Sementara itu, Rara Wulan yang menggigil tiba-tiba saja

telah lari menghambur memeluk kakeknya.

“ Jangan cemas Wulan “ desis Ki Lurah Branjangan.

Namun diluar sadarnya ia berpaling kepada Glagah Putih

yang masih saja berdiri kebingungan. Ia tidak tahu apa yang

sebaiknya dilakukan. Namun pandangan mata Ki Lurah

Branjangan itu nampak olehnya seakan-akan satu penyesalan

yang dalam, bahwa Glagah Putih tidak berbuat apa-apa pada

saat Rara Wulan mengalami ketakutan, sementara Wirastama

sudah tidak berdaya.

 

Namun Ki Lurah Branjanganpun kemudian perhatiannya

telah tertuju sepenuhnya kepada Ki Lurah Citrabawa yang

dengan suara lantang berkata “ Branjangan. Aku tidak

mempunyai banyak kesempatan. Sekarang, berikan cucumu

itu kepadaku. Ia akan menjadi isteri yang akan dijaga sebaikbaiknya

oleh anakku yang bungsu itu. “

Tetapi jawab Ki Lurah Branjangan “ Rara Wulan itu

bukan anakku. Jika kau melamarnya bertemulah dengan

orang tuanya. “

“ Maaf Ki Lurah. Aku sudah bukan orang penting lagi. Aku

kira aku dapat melupakan unggah-ungguh itu. Sebaiknya aku

mempergunakan cara yang aku kenal. Mengambilnya saja.

Bahkan kalau perlu dengan kekerasan. Bukankah kita sudah

tidak lagi bersahabat sejak kau berkhianat? “ geram Ki Lurah

Citrabawa.

“ Siapakah yang berkhianat Ki Lurah? Jika kau masih tetap

pada martabatmu, setidak-tidaknya martabat kemanusiaanmu,

aku tidak akan ingkar. Tetapi kegagalanmu meraih kedudukan

yang tidak akan mungkin dapat kau capai membuatmu

menjadi gila. Sehingga aku berpikir, lebih baik aku menarik diri

dari perjanjian persahabatan kita, karena aku tidak mau

mempunyai sanak keluarga orang gila “ jawab Ki Lurah Branjangan.

“ Kau benar-benar iblis, Branjangan “ berkata Ki Lurah

Citrabawa “ nampaknya kedudukanmu di Mataram

membuatmu menjadi kehilangan tempat berpijak. Kau tidak

lagi menganggap sahabat-sahabatmu yang tidak berhasil

menjilat seperti kau itu tidak lagi bermartabat. “

“ Jangan memutar balikkan keadaan “ jawab Ki Lurah

Branjangan “ kau dapat membohongi siapa saja. Tetapi kau

tidak akan dapat membohongi dirimu sendiri. Apa yang kau

lakukan pada saat-saat terakhir Pajang membuat aku sangat

kecewa. Kau tahu, bahwa yang kau sebut pengkhianat

terhadap sahabat itu aku lakukan sebelum aku mendapat

kedudukan apapun di Mataram. Pada waktu itu kita masih

bersama-sama ada di Pajang. Kau terlempar dari

kedudukanmu bukan karena Mataram. Tetapi karena

ketamakanmu. Nah, sebenarnya kau tidak perlu membohongi

 

anak-anak muda ini. Mereka memang tidak tahu apapun juga

tentang diri kita masing-masing. Dan akupun merasa heran,

bahwa tiba-tiba saja kau sekarang menggangguku lagi setelah

sekian tahun tidak bertemu. Dan kaupun melihat Rara Wulan

masih terlalu remaja untuk kau jadikan menantumu. Ia masih

memerlukan beberapa tahun lagi untuk sempat mekar. “

“ Biarlah gadis itu mekar di petamananku Ki Lurah. Tentu

akan menjadi semakin cantik dan semerbak “ sahut Ki Lurah

Citrabawa seakan-akan tanpa menghiraukan kata-kata Ki

Lurah Branjangan.

“ Sudahlah Ki Lurah Citrabawa “ berkata Ki Lurah

Branjangan “ sebaiknya kau sadari keadaanmu. “

Ki Lurah Citrabawa memandang Ki Lurah Branjangan

dengan tatapan mata yang menyorotkan gejolak didalam

jantungnya. Sementara itu Ki Lurah Branjangan telah

mempersiapkan diri. Ia sadar, dengan siapa ia berhadapan. Ki

Lurah Citrabawa adalah seorang prajurit yang baik

sebagaimana dirinya sendiri ketika mereka masih bersamasama

berada di Pajang. Tetapi hubungan mereka yang akrab

itupun kemudian telah pecah menjelang bangkitnya Mataram,

karena keinginan Ki Lurah Citrabawa yang melonjak-lonjak

untuk menduduki jabatan yang jauh lebih tinggi, sehingga

justru ia telah tersisih.

Dan sejak itulah Ki Lurah Citrabawa telah menempuh jalan

yang sesat dan meninggalkan Pajang.

Dalam pada itu, Ki Lurah Branjanganpun berkata pula “ Ki

Lurah Citrabawa. Demi sisa-sisa persahabatan kita yang

masih ada, tinggalkan cucuku. Jangan kau ganggu lagi dan

untuk seterusnya jangan kau ganggu keluarga kami. “

Ki Citrabawa menggeleng. Katanya “ Apapun yang kau

katakan Branjangan, aku akan membawa cucumu. Meskipun

anakku yang bungsu masih harus menunggu dua tiga tahun

lagi, ia akan melakukannya. Tetapi kesempatan untuk

mengambil cucumu tidak akan datang pada kesempatan lain. “

Tetapi Ki Lurah Branjanganpun mulai menjadi keras.

Katanya “ Pergilah. Atau kita akan benar-benar bermusuhan. “

 

Ki Lurah Citrabawa tertawa. Katanya “ Sudah lama aku

merasa terhina. Sekarang, datang saatnya aku melepaskan

tekanan perasaan itu. “

“ Apa yang akan kau lakukan? “ bertanya Ki Lurah

Branjangan.

“ Memaksa membawa cucumu dengan kekerasan. “ jawab

Ki Lurah Citrabawa itu.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya

“ Baiklah Ki Lurah Citrabawa. Nampaknya Ki Lurah masih

juga senang mengajak bermain diusia tua. Marilah. Aku akan

mclayanimu. “

Ki Lurah Citrabawapun kemudian mempersiapkan diri.

Sekilas ia berpaling kepada anaknya sambil berkata “ Awasi

mereka. Biarlah aku melayani setan tua itu. Nampaknya ia

ingin lebih cepat mati. “

Anak Ki Lurah Citrabawa itu mengangguk sambil berkata

“ Tidak seorangpun akan dapat pergi ayah. “

Demikianlah, maka Ki Lurah Citrabawapun mulai

menyerang Ki Lurah Branjangan. Setelah mendorong Rara

Wulan kepada kakaknya, maka Ki Lurahpun telah melayani Ki

Lurah Citrabawa. Sebagai dua orang yang saling mengenal

dengan baik pada mulanya, maka keduanyapun telah

mempunyai gambaran tentang kemampuan mereka masingmasing.

Namun ke-pergian Ki Lurah Branjangan ke Mataram,

telah menempanya, sehingga ia semakin matang dalam olah

kanuragan.

Sejenak kemudian maka pertempuran antara kedua orang

tua itupun menjadi semakin sengit. Teja PrabaWa dan Rara

Wulan melihat kakeknya bertempur dengan jantung, yang

berdegupan. Mereka memang mengetahui bahwa kakeknya

adalah bekas seorang Senapati Mataram. Namun ketika

mereka melihat kakeknya benar-benar bertempur, mereka

semakin yakin akan kemampuan kakeknya itu.

Wirastama yang dadanya masih sesak, berdiri termangu”

mangu. Ia merasa, bahwa ia tidak akan dapat membantu lagi.

Jika ia melibatkan diri, maka nafasnya tentu akan putus

karenanya.

 

Beberapa saat kemudian pertempuran antara kedua orang

itu menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa kehidupan Ki

Citrabawa benar-benar telah dipengaruhi oleh kehidupan

dunia yang hitam. Meskipun semula nampak pada kedua

orang tua itu sikap yang mirip, namun kemudian Ki

Citrabawapun menjadi semakin keras. Bahkan kemudian tata

geraknya menjadi kasar.

“ Dari siapa kau belajar bertempur cara ini Ki Citrabawa? “

bertanya Ki Lurah Branjangan “ ilmumu menjadi buram. Aku

tidak lagi melihat unsur-unsur gerakmu yang bening. Tetapi

yang nampak adalah kekerasan dan kekasaran semata-mata.

Apakah itu juga gambaran kehidupan Ki Lurah Citrabawa

selama ini? “

“ Persetan “ geram Ki Citrabawa “ jika kau merasa ngeri,

menyerahlah. Serahkan cucumu dan persoalan kita sudah

selesai. Aku tidak akan merasa terhina lagi dan dengan

demikian kalian sekeluarga tidak akan terganggu lagi. “

Tetapi Ki Lurah Branjangan menjawabnya dengan

mempercepat serangannya. Sebagai Senapati Pasukan

Khusus, maka Ki Lurah Branjangan memiliki pengetahuan

yang luas tentang olah kanuragan meskipun ia bukan salah

seorang yang memiliki puncak-puncak ilmu kanuragan.

Namun ternyata pertempuran itu menjadi sangat seru.

Kedua orang tua itu telah mengerahkan kemampuan mereka,

sehingga dengan demikian, maka pengaruh kewadagan

mereka-pun dengan cepat pula mulai mewarnai pertempuran

itu. Kekuatan mereka dengan cepat mulai susut, justru karena

keduanya bertempur melawan kekuatan yang seimbang,

sementara mereka telah memasuki usia senja.

Tetapi semakin lama semakin nampak, bahwa daya tahan

Ki Lurah Branjangan masih lebih baik dari lawannya. Karena

itu, maka setelah bertempur beberapa lama, ternyata Ki Lurah

Citrabawa mulai terdesak. Kecepatan gerak Ki Lurah

Branjangan masih lebih baik dari lawannya, sehingga

beberapa kali Ki Lurah Branjangan sempat mengenai tubuh

lawannya. Tetapi itu bukan berarti bahwa Ki Citrabawa tidak

pernah berhasil mengenai lawannya. Terasa dada Ki Lurah

Branjanganpun menjadi serasa sesak ketika pukulan yang

 

keras mengenai dadanya. Namun Ki Lurah Citrabawa telah

merasa tercekik pada saat ketukan ibu jari Ki Lurah

Branjangan sempat mengenai lehernya.

Dengan demikian maka semakin lama pertempuran itupun

menjadi nampak semakin letih. Ki Lurah Branjangan yang

memiliki daya tahan yang lebih besar dari Ki Lurah Citrabawa,

sekali-sekali masih nampak menyerang dengan keras dan

kuat, sehingga kadang-kadang Ki Lurah Citrabawa telah

terdorong beberapa langkah surut.

Pada saat nafas Ki Citrabawa bagaikan terputus di

kerongkongan, maka mau tidak mau Ki Lurah Citrabawa itu

harus meloncat beberapa langkah surut, menghindar dari

serangan Ki Lurah Branjangan yang masih cukup kuat.

Dengan mengambil jarak itu, maka Ki Lurah Citrabawa sempat

beristirahat sambil menekan lambungnya yang terasa menjadi

sakit.

Ki Lurah Branjanganpun mulai menjadi terengah-engah.

Namun ia masih sempat berkata “ Nah, Ki Lurah Citrabawa.

Apa maumu sekarang? “

Ki Lurah Citrabawa tidak segera menjawab. Di pandanginya

kedua cucu Ki Lurah Branjangan yang kemudian telah

mendekati kakeknya yang nampak sangat letih itu.

“ Kakek “ desis Rara Wulan.

“ Ia tidak akan mengganggumu lagi Wulan “ berkata Ki

Lurah Branjangan.

Tetapi ternyata Ki Lurah Citrabawa yang nafasnya hampir

terputus itu masih sempat tertawa meskipun sambil terengahengah.

Katanya “ Kau salah Branjangan. “

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Dengan

nada berat ia bertanya “ Apa yang akan kau lakukan lagi? “

“ Ki Lurah Branjangan. Ternyata kau tidak saja seorang

yang dibesarkan namanya karena kau selalu menjilat

atasanmu. Tetapi ternyata kau benar-benar memiliki ilmu yang

tinggi. Kau mampu menyalurkan ilmumu dengan dorongan

tenaga cadangan didalam dirimu sehingga mampu menembus

pertahananku. Sayang ketuaanku sangat mempengaruhi

kemampuan wadagku mendukung ilmuku. “ berkata Ki Lurah

Citrabawa.

 

“ Karena itu Ki Lurah, tinggalkan kami. Tinggalkan aku dan

cucu-cucuku. Jangan mencoba mengganggu kami lagi. “

“ Tentu tidak begitu saja kami akan pergi “ sahut Ki Lurah

Citrabawa “ yang harus mengakui kelebihanmu adalah aku.

Tetapi ada orang yang lebih berkepentingan dengan cucumu.

Karena itu, biarlah anakku sendiri yang berbicara. “

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Sementara

itu anak bungsu Ki Lurah Citrabawa itupun melangkah

mendekat dengan sikap yang sangat meyakinkan.

“ Branjangan “ berkata Ki Citrabawa “ kau belum mengenal

anakku yang bungsu. Beberapa tahun ia berguru untuk

mencari bekal bagi masa depannya. Ia bukan saja

mempelajari ilmu kanuragan, tetapi juga ilmu yang lain yang

akan dapat menjadi landasan bagi masa-masa yang panjang

dari hidupnya.

Ki Lurah Branjangan memang menjadi berdebar-debar.

Apalagi ketika orang itu mengangguk hormat kepadanya

sambil berkata “ Hormatku Ki Lurah. “

Ki Lurah Branjangan memang menjadi termangu-mangu

sejenak, sementara Ki Lurah Citrabawa tersenyum “ Ia juga

belajar unggah-ungguh, sehingga nampaknya ia memiliki adat

yang lebih baik dari aku. “

“ Apa yang kau kehendaki? “ bertanya Ki Lurah

Branjangan.

“ Ayah telah mengatakan Ki Lurah. Aku ingin membawa

cucu Ki Lurah. Aku berjanji untuk berbuat baik dan tidak akan

menyia-nyiakannya. “ berkata orang itu.

Ki Lurah Branjangan memandang orang itu dengan sorot

mata yang menyala. Katanya “ Citrabawa. Kau ajari anakmu

dengan unggah-ungguh seperti itu? Kau kira, keluarga kami

adalah keluarga yang sama sekali tidak berharga? “

Ki Lurah Citrabawa justru tertawa. Katanya “ Kau dapat

dengan dada tengadah menolak permintaanku, karena

ternyata kau masih juga memiliki kelebihan dari aku. Tetapi

kau tidak akan dapat berbuat seperti itu dengan anakku. Ia

telah melihat, bagaimana kau bertempur melawanku. Karena

itu, maka aku kira kau rangkap empat masih belum akan

dapat mengimbangi kemampuannya. “

 

“ Apapun yang terjadi “ geram Ki Lurah Branjangan “ aku

akan mempertahankan martabat keluargaku. “

“ Ki Lurah “ berkata anak Ki Lurah Citrabawa itu “

sebenarnya aku tidak ingin melakukan kekerasan. Aku ingin

membawa cucu Ki Lurah dengan baik-baik. Ketika kami

mengetahui bahwa Ki Lurah pergi ke Tanah Perdikan

Menoreh dengan cucu Ki Lurah, maka kami telah mengikuti Ki

Lurah. Kami telah mengikuti dalam beberapa hari ini kedua

cucu Ki Lurah yang dikawani oleh prajurit itu. Namun kami

baru mendapat kesempatan hari ini berbicara dengan Ki

Lurah. “

“ Cukup “ bentak Ki Lurah “ aku minta kau pergi. “ Tetapi Ki

Lurah Citrabawa yang menyahut “ Jangan terlalu kasar Ki

Lurah Branjangan. Kau akan dapat menyesal, karena anak itu

akan dapat mematahkan batang lehermu. Tetapi ia sudah

berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. “

Ki Lurah Branjangan menggeretakkan giginya. Tetapi ia

percaya bahwa anak Ki Lurah Citrabawa itu mempunyai

kelebihan dari ayahnya. Namun meskipun demikian, ia tidak

akan melepaskan cucu perempuannya itu.

Sementara itu, Wirastama yang telah berhasil mengatasi

kesulitan pernafasannya tiba-tiba saja meloncat maju sambil

berkata lantang “ Kau akan ditangkap oleh para pengawal di

Tanah Perdikan ini. “

“ Tutup mulutmu “ tiba-tiba orang yang nampaknya lembut

dan penuh hormat itu membentak kasar “ jangan ikut campur

atau aku koyakkan mulutmu. “

Wajah Wirastama menjadi marah. Harga dirinya benarbenar

tersinggung. Karena itu, maka iapun telah meloncat

menyerang orang yang akan mengambil Rara Wulan itu.

Tetapi ternyata Wirastama salah menilai lawannya. Orang

itu sama sekali tidak menghindar. Tetapi ia telah membentur

kekuatan Wirastama itu.

Satu benturan yang keras telah terjadi. Orang itu tergetar

dan surut selangkah. Namun Wirastama telah terlempar dan

terbanting jatuh. Demikian kerasnya sehingga ketika ia

bangkit, maka punggungnya bagaikan terasa patah.

 

Wirastama menyeringai menahan sakit. Ia sama sekali

tidak menduga bahwa lawannya itu bagaikan dinding baja

yang tidak dapat digoyahkannya. Bahkan telah menyakitinya.

“ Nah anak muda “ berkata orang itu “ aku memang tidak

perlu menggelitikmu untuk melepaskan pakaian perwiramu.

Jika kau masih ingin berkelahi, marilah. Kau akan aku

remukkan dan untuk selanjutnya kau tidak akan dapat lagi

menjadi seorang perwira pada Pasukan Khusus itu.

Telinga Wirastama bagaikan tersentuh api mendengar

kata-kata anak Ki Lurah Citrabawa itu. Sementara Ki Lurah

Citrabawa itu tertawa sambil berkata “ Sudahlah. Jangan

mencampuri persoalan kami. Aku tahu, bahwa kau telah

bersusah payah berusaha untuk menunjukkan kelebihanmu

kepada Rara Wulan. Kau paksa gadis itu untuk naik kelereng

agar kau mendapat kesempatan untuk menolongnya, karena

kau tahu, kakaknya yang bernama Teja Prabawa itu tidak

akan dapat melakukannya. Tetapi sekarang, kau berhadapan

dengan aku. Meskipun kau dapat mengalahkan siapapun juga,

kau tidak akan dapat mengalahkan anakku. “

Wirastama berdiri dengan tubuh bergetar oleh kemarahan

yang menghentak-hentak didadanya. Namun ia benar-benar

tidak akan dapat berbuat sesuatu. Punggungnyalah yang

bagaikan patah itu, terasa demikian sakitnya ketika ia

mencoba bergerak. Apalagi jika ia harus bertempur lagi

melawan orang yang nampaknya memang memiliki ilmu yang

sangat tinggi itu.

“ Tidak sia-sia anakku itu berguru bertahun-tahun “ berkata

Ki Lurah Citrabawa. Kemudian katanya kepada Ki Lurah

Branjangan “ Nah, kau telah beruntung mendapat cucu

menantu yang tangguh, sehingga ia akan dapat melindungi

cucumu dari kemungkinan yang paling buruk sekalipun. “

Ki Lurah Branjangan menggeretakkan giginya. Namun Ki

Lurah Citrabawa berkata “ Jangan mencoba melawan anakku,

Ki Lurah. Jika ia marah, maka ia tidak peduli lagi. Siapapun

akan dihancurkannya tanpa belas kasihan. Ia telah ditempa

oleh seorang guru yang keras dan tidak mengenal belas

kasihan. “

 

“ Apapun yang terjadi “ berkata Ki Lurah Branjangan “ Aku

bertanggung jawab atas cucu-cucuku, karena akulah yang

telah membawa mereka kemari. “

“ Lalu apa yang akan kau lakukan? “ bertanya Ki Lurah

Citrabawa.

“ Kau dapat berbuat apa saja terhadap cucu-cucuku, jika

aku sudah terbujur mati disini “ geram Ki Lurah Branjangan

yang benar-benar menjadi marah.

“ Kakek “ Rara Wulan mulai menangis. Sementara Teja

Prabawapun menjadi gemetar.

“ Jangan takut “ berkata Ki Lurah Branjangan “ aku adalah

bekas. Senapati dari Pasukan Khusus itu. “

Tetapi anak Ki Lurah Citrabawa tertawa. Katanya “ Aku

tidak akan gentar terhadap Senapati dari Pasukan Khusus itu.

Jangankan Ki Lurah Branjangan yang sudah tua, yang

wadagnya tidak akan mampu lagi mendukung ilmu yang

betapapun tingginya. Senapati yang sekarang itupun aku tidak

akan gentar. “

Suasana memang menjadi sangat tegang. Glagah Putih

memperhatikan keadaan itu dengan jantung yang berdebaran.

Ia masih saja agak ragu untuk berbuat sesuatu. Namun ketika

keadaan menjadi semakin gawat, ia telah berusaha

memecahkan belenggu yang dibuatnya sendiri atas dirinya. Ia

tidak peduli lagi, apakah langkahnya akan menyinggung

perasaan Teja Prabawa atau Wirastama. Namun ia tidak

dapat membiarkan Ki Citrabawa yang ilmunya hampir

seimbang itu harus bertempur dengan orang yang ilmunya

nampaknya cukup tinggi.

Karena itu, maka dengan ragu-ragu ia maju mendekati Ki

Lurah Branjangan sambil berkata “ Ki Lurah. Aku mohon maaf.

Apakah Ki Lurah memperkenankan aku mencampuri

persoalan ini? “

Ki Lurah berpaling. Sebenarnyalah bahwa satu-satunya

harapan baginya adalah Glagah Putih. Karena itu, maka

iapun kemudian tersenyum sambil berkata “ Kau yang

ditugaskan oleh Ki Gede mengantarkan dan mengamat-amati

cucu-cucuku. Kau bertanggung jawab pula akan

keselamatannya. “

 

Glagah Putih mengangguk hormat. Sementara itu

Wirastama menggeram “ Apa yang akan kau lakukan? “

Glagah Putih tidak menghiraukannya. Iapun kemudian

melangkah menghadap kepada anak Ki Lurah Citrabawa itu.

Katanya “ Ki Sanak. Aku mohon Ki Sanak mengurungkan niat

Ki Sanak. Aku kira cara yang Ki Sanak tempuh itu kurang

pada tempatnya. “

“ Setan “ geram orang itu “ siapakah kau? “

“ Aku Glagah Putih, anak Tanah Perdikan ini. Aku telah

mendapat kepercayaan Ki Gede untuk mengawani cucu-cucu

Ki Lurah selama mereka berada di Tanah Perdikan. Persoalan

apakah mereka senang atau tidak itu bukan persoalanku.

Namun yang penting bahwa tugas itu dibebani tanggung

jawab akan keselamatan mereka “ jawab Glagah Putih.

“ Kasihan kau anak muda “ berkata anak Ki Lurah

Citrabawa itu.

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Dipandanginya

sikap yang meyakinkan dari anak Ki Lurah Citrabawa.

Sedangkan anak Ki Citrabawa itu nampaknya terlalu percaya

kepada ilmunya.

Karena itu, maka Glagah Putih merasa bahwa ia memang

harus berhati-hati.

“ Anak muda “ berkata orang itu pula “ pergilah sebelum

terlanjur. Kau tahu, bahwa perwira Pasukan Khusus itupun

tidak dapat mencegah aku. Apalagi kau, anak padu-kuhan

yang malang. “

Namun Glagah Putih menjawab “ Apapun yang terjadi

atasku, aku harus melakukan tugas yang dibebankan

kepadaku oleh Ki Gede. Karena itu, pergilah dengan damai,

tanpa permusuhan dengan orang-orang Tanah Perdikan

Menoreh yang menjadi tuan rumah dari kedua cucu Ki Lurah

Branjangan itu. “

“ Kata-katamu menyakitkan hati anak muda “ geram anak

Ki Lurah Citrabawa. “ aku ingin menyumbat mulutmu dengan

tumitku. “

“ Sekali lagi aku mohon Ki Sanak. Tinggalkan Tanah

Perdikan “ berkata Glagah Putih.

 

Orang-orang yang menyaksikan sikap Glagah Putih itu

menjadi tegang. Anak Ki Lurah Citrabawa itupun mampu

menilai sikap Glagah Putih yang matang. Sementara itu,

Wirastama terheran-heran melihat Glagah Putih dengan

mantap menghadapi orang yang memiliki kekuatan yang

sangat besar itu.

Teja Prabawa menjadi berdebar-debar. Ia sama sekali tidak

menduga bahwa anak padukuhan itu dapat bersikap demikian

meyakinkan menghadapi keadaan yang gawat.

Anak Ki Lurah Citrabawa yang berilmu tinggi itu mulai

marah. Sementara Ki Lirah Citrabawa itu berkata “ Jangan

berkorban untuk orang yang tidak banyak kau kenal. Jika kau

mati, maka kematianmu tidak berarti apa-apa bagi Tanah

Perdikan ini. “

“ Aku sedang mempertahankan martabat Tanah Perdikan

ini “ jawab Glagah Putih.

“ Anak iblis “ berkata anak Ki Lurah Citrabawa “ kenapa kau

demikian dungunya menghadapi kenyataan ini. Jika aku ambil

gadis itu apakah kau akan merasa kehilangan? “

Pertanyaan itu terdengar aneh ditelinga Glagah Putih.

Tetapi iapun telah bertanya kepada diri sendiri “ Apakah aku

akan merasa kehilangan? “

Glagah Putih memang bertanggung jawab atas

keselamatan tamu-tamu Tanah Perdikan Menoreh karena ia

adalah salah seorang penghuni Tanah Perdikan itu. Karena

itu, maka iapun telah menjawab pertanyaan dari dalam dirinya

itu didalam hati “ Bukan karena kehilangan. Tetapi itu adalah

kewajibanku. “

Namun justru diluar sadarnya ia telah berpaling memandang

Rara Wulan. Gadis itu wajahnya menjadi sangat

pucat karena ketakutan. Tubuhnya menggigil dan air matanya

telah mengalir di pipinya.

Tiba-tiba saja Glagah Putih merasa sangat iba melihat

gadis yang sangat ketakutan itu, sehingga dengan demikian,

maka telah mendorong niatnya untuk menghancurkan

ketamakan Ki Lurah Citrabawa dengan anak laki-lakinya yang

bungsu yang dibanggakannya itu.

 

Sementara itu anak Ki Lurah Citrabawa itupun membentak

“ Minggir atau aku bunuh kau. “

Tetapi hampir diluar sadarnya Glagah Putih berkata “

Kaulah yang minggir. Kau sudah terlalu tua untuk mengambil

Rara Wulan yang masih terlalu muda. “

Anak Ki Lurah Citrabawa tidak dapat menahan

kemarahannya. Iapun kemudian maju selangkah sambil

berkata “ Bersiaplah untuk mati. Jika ada pesan yang ingin

kau sampaikan, lakukanlah sekarang, karena pada benturan

pertama kau tentu sudah akan mati. “

Glagah Putihpun menjadi marah. Sudah cukup lama ia

menahan diri. Sejak hari-hari sebelumnya rasa-rasanya ia

telah mengekang diri sehingga dadanya bagaikan menjadi

sesak. Karena itu, ketika kesempatan itu datang, maka

perasaannya-pun bagaikan telah meledak.

Karena itu, maka Glagah Putihpun melangkah maju dengan

tatapan mata yang tajam. Dengan mantap ia berdiri tegak

beberapa langkah dihadapan anak Ki Lurah Citrabawa.

“ Kau benar-benar ingin mati “ geram orang itu.

“ Kita akan melihat siapakah yang akan keluar dari

pertempuran ini dengan selamat “ sahut Glagah Putih.

Orang itupun tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja

ia telah meloncat menyerang dengan garangnya. Agaknya ia

tidak sekedar menjajagi kemampuan lawannya. Tetapi anak Ki

Citrabawa itu agaknya langsung ingin membunuh Glagah

Putih. “

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi

berdebar-debar. Wirastamapun menjadi tegang. Ia menyadari,

bahwa serangan itu adalah serangan mematikan. Nampaknya

anak Tanah Perdikan itu benar-benar bernasib buruk, hanya

karena ia terlalu taat melakukan perintah Ki Gede.

Tetapi dugaan mereka ternyata salah. Dengan tangkas

Glagah Putih menghindari serangan itu. Ia bergeser selangkah

sambil memiringkan tubuhnya. Demikian serangan itu

menyambar setapak di sisinya, tiba-tiba saja Glagah Putih

telah berputar, bertumpu pada sebelah kakinya, sementara

kakinya yang lain terayun dengan cepatnya, menyerang

lawannya yang kehilangan sasaran.

 

Adalah tidak terduga sama sekali, justru serangan Glagah

Putih yang telah mengenai tubuh lawannya yang meluncur itu

meskipun tidak terlalu keras. Namun sentuhan itu benar-benar

telah menyakiti hati lawannya, jauh lebih sakit dari tubuhnya

yang terkena serangan itu.

“ Anak iblis “ orang itu menggeram sambil meloncat

mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Glagah Putih memang tidak memburunya. Iapun berdiri

tegak menghadap kearah anak Ki Lurah Citrabawa itu.

“ Kau bangga dengan kelengahanku itu? “ bertanya anak Ki

Lurah Citrabawa yang marah sekali.

“ Bunuh saja anak itu dengan cepat “ geram Ki Citrabawa

pula “ waktu itu tidak terlalu panjang. “

Tetapi Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya “ Sedang

seekor cacingpun akan menggeliat jika terinjak kaki. Apalagi

Glagah Putih. “

Sebenarnyalah Glagah Putih memang telah bersiap

sepenuhnya menghadapi kemungkinan yang bagaimanapun

juga. Meskipun Glagah Putih tidak pernah merasa sebagai

seorang yang terbaik dalam olah kanuragan, namun ia

memang meyakini bahwa ilmu yang pernah disadapnya akan

mampu melindunginya.

Demikianlah, maka anak Ki Lurah Citrabawa itu telah

menerkamnya lagi dengan garangnya. Karena ia terlalu

bernafas untuk segera membunuh Glagah Putih, maka tata

geraknyapun menjadi keras dan kasar.

Tetapi Glagah Putih telah bersiap-siap menghadapi

kemungkinan itu. Dengan tangkasnya ia menghindari setiap

serangan. Namun dengan cepat pula ia berganti menyerang,

sehingga dengan demikian, keduanya telah saling menyerang

dengan sengitnya.

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi

semakin tegang. Setiap saat, kemampuan keduanya seakanakan

semakin meningkat. Sehingga beberapa saat kemudian

maka keduanya telah bertempur pula tataran ilmu yang tinggi.

Keduanya bergerak seperti bayangan yang tidak digantungi

oleh berat tubuhnya. Kaki-kaki mereka bagaikan tidak berjejak

diatas tanah.

 

Ki Lurah Citrabawa menjadi sangat tegang. Ia terlalu

percaya akan kemampuan anaknya. Namun tiba-tiba saja di

Tanah Perdikan ini anaknya itu menjumpai seorang anak yang

masih sangat muda yang mampu mengimbangi ilmunya.

Ki Lurah Branjanganpun menjadi tegang. Ternyata anak Ki

Lurah Citrabawa itu memang memiliki bekal ilmu yang tinggi.

Namun ia tetap berharap bahwa Glagah Putih akan dapat

mengatasinya.

Yang menjadi bingung adalah Wirastama dan apalagi Teja

Prabawa. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa anak

padukuhan di Tanah Perdikan Menoreh itu mampu bertempur

dengan dahsyatnya, pada tataran ilmu yang tinggi.

“ Bagaimana mungkin hal itu dapat dilakukan “.desis

Wirastama kepada diri sendiri. Sementara Teja Prabawa justru

merasa bingung. Tanpa disengaja ia sempat mengingat apa

yang pernah dilakukan atas anak Tanah Perdikan yang

dianggapnya tidak lebih dari anak padesan itu.

“ Agaknya kakek sudah mengenalnya dengan baik “

berkata Teja Prabawa didalam hatinya “ ternyata kakek begitu

yakin akan kemampuannya. “

Rara Wulan justru menjadi sangat berdebar-debar. Serba

sedikit ia dapat mengetahui, bahwa pertempuran antara kedua

orang itu benar-benar sudah berada pada tataran ilmu yang

tinggi.

Sebenarnyalah anak Ki Lurah Citrabawa itu telah

meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Tangannya berputaran,

terayun, mematuk dan menerkam lawannya dengan

secepatnya sehingga tangannya yang sepasang itu seakanakan

telah menjadi beberapa pasang.

Tetapi tubuh Glagah Putihpun rasa-rasanya tidak lagi

menyentuh tanah. Seperti seekor burung sikatan menyambar

bilalang, maka gerak Glagah Putih kadang-kadang memang

membingungkan lawannya yang tangguh itu.

***

Bersambung ke Jilid 236

JILID 236

BEBERAPA saat kemudian, maka serangan-serangan

merekapun telah mulai mengenai sasaran. Tangan anak Ki

Lurah Citrabawa itu sempat menyambar lambung Glagah

Putih. Tetapi dengan mengerahkan daya tahan tubuhnya,

maka dengan cepat ia menguasai dirinya sepenuhnya.

Bahkan ketika kaki lawannya terjulur kearah dadanya, Glagah

Putih sempat merendah. Satu putaran kakinya telah

menyambar kaki lawannya demikian ia berjejak diatas tanah.

Tetapi anak Ki Lurah Citrabawa itu tepat pada waktunya telah

melenting kembali untuk menghindari serangan kaki Glagah

Putih yang menyapu kakinya. Tetapi ketika ia sekali lagi berdiri

tegak, maka ia sama sekali tidak sempat mengelak ketika

tangan Glagah Putih menghantam dadanya.

Anak Ki Lurah Citrabawa itu terdorong beberapa langkah

surut. Ketika Glagah Putih memburunya, maka lawannya itu

justru melenting untuk mengambil jarak. Tetapi Glagah Putih

tidak membiarkannya. Iapun telah meloncat dengan loncatan

yang lebih panjang, sehingga ketika lawannya itu tegak,

Glagah Putih telah berada disampingnya. Tangannya terayun

deras menyambar kening anak Ki Lurah Citrabawa. Tetapi

anak Ki Lurah itu sempat membungkukkan badannya.

Namun perhitungan Glagah Putih ternyata lebih cermat.

Demikian lawannya membungkuk, maka sambil meloncat

maju, lututnya telah diangkatnya. Hampir saja lutut Glagab

Putih mengenai dahi anak Ki Lurah itu. Tetapi dengan cepat,

anak Ki Lurah itu sempat mendorong kaki Glagah Putih

kesamping sementara anak Ki Lurah itu bergeser selangkah.

Namun yang terjadi adalah putaran kaki Glagah Putih telah

menghantam punggungnya.

 

Anak Ki Lurah Citrabawa itu hampir saja jatuh terjerembab.

Tetapi dengan tangkas ia justru berguling dalam putaran yang

mapan beberapa kali, sehingga akhirnya ia melenting berdiri.

Glagah Putih yang siap memburunya tertegun. Ia melihat

lawannya itu menggenggam senjata ditangannya. Sepasang

pisau belati panjang dikedua tangannya.

Glagah Putih berdiri tegak dengan tatapan mata yang

tajam. Sekali dipandanginya sepasang pisau belati panjang

itu. Kemudian ditatapnya wajah orang yang menjadi sangat

marah itu.

“Kau memang harus dibunuh anak iblis.” geram anak Ki

Lurah Citrabawa itu.

Glagah Putih termangu-mangu. Sebagai seorang yang

berilmu, maka ia dapat melihat kemampuan lawannya dengan

melihat caranya menggenggam sepasang pisau belatinya itu.

“Kau akan mati anak muda. Pisau-pisauku ini adalah pisaupisau

yang bertuah. Jika keduanya sudah disentuh silirnya

angin, maka keduanya harus dibasahi dengan darah. Sayang,

bahwa kali ini darahmulah yang akan membasahi pisau belati

ini.”

Glagah Putih masih berdiri tegak. Pisau belati itu agaknya

terbuat dari baja pilihan. Tidak berkilat seperti kebanyakan

pisau belati. Tetapi pisau-pisau itu berwarna kelam. Namun

dengan demikian Glagah Putih mengerti, bahwa pisau belati

itu memang bukan pisau belati kebanyakan meskipun ujud

dan bentuknya memang sebagaimana pisau belati yang lain.

Glagah Putihpun segera bersiap ketika ia melihat lawannya itu

maju selangkah demi selangkah.

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi

tegang. Mereka tidak melihat Glagah Putih membawa senjata

apapun. Dilambungnya tidak tergantung pedang. Di

punggungnya tidak terselip keris. Bahkan pisau belatipun

agaknya ia tidak membawa.

Sesaat kemudian, maka anak Ki Lurah Citrabawa itu telah

meloncat menyerangnya. Kedua pisau belatinya menyambarnyambar

dengan dahsyatnya. Bayangan yang berputaran

menyelubungi anak Ki Lurah yang menjadi semakin garang.

 

Namun kemarahannya yang bagaikan meledakkan

kepalanya itu telah memeras kemampuan dan ilmunya yang

sebenarnya. la menjadi semakin keras dan kasar.

Ternyata orang itu benar-benar menguasai sepasang

senjatanya. Bahkan bukan saja ketrampilannya, tetapi orang

itu memang memiliki ilmu yang rumit. Beberapa kali Glagah

Putih harus berloncatan surut untuk mengambil jarak jika

keadaannya menjadi sulit oleh serangan-serangan yang

datang beruntun susul menyusul.

Ki Lurah Branjanganpun menjadi tegang pula. Anak Ki

Lurah Citrabawa dengan sepasang pisau belatinya memang

nampak sangat garang. Beberapa kali ia berhasil mendesak

Glagah Putih, sehingga kedudukan Glagah Putihpun menjadi

semakin berbahaya.

Untuk beberapa saat Glagah Putih masih bertumpu pada

kemampuannya bergerak cepat dan ketangkasannya

mengelakkan diri dari ujung-ujung senjata lawannya itu.

Namun ternyata kemudian bahwa ia semakin mengalami

kesulitan. Bahkan beberapa saat kemudian Glagah Putih itu

telah terdesak ketebing bukit.

Rara Wulan yang melihat pertempuran itu kadang-kadang

harus menyembunyikan wajahnya atau berpaling sambil

memejamkan matanya. Namun ketegangan yang

mencengkam jantungnya membuatnya berpegangan kepada

kakeknya semakin erat.

Sementara itu terdengar Ki Lurah Citrabawa tertawa.

Semakin lama semakin keras. Katanya disela-sela derai

tertawanya, “He, Branjangan. Lihatlah. Anak yang ditugaskan

oleh Ki Gede Menoreh itu sebentar lagi akan mati. Ia tidak

akan mungkin mampu bertahan menghadapi ilmu pedang

anakku yang disebutnya ilmu pedang Sapu Angin.”

Ki Lurah Branjangan tidak menjawab. Tetapi ia memang

semakin berdebar-debar melihat ilmu pedang anak Ki

Citrabawa itu. Kedua pisau belati panjang ditangannya, telah

berputaran dengan cepat sekali, sehingga nampak seakanakan

gumpalan awan yang hitam kelabu bergulung-gulung

menyerang Glagah Putih yang nampaknya menjadi semakin

terdesak.

 

Suara tertawa Ki Lurah Citrabawapun menjadi semakin

keras, sementara Rara Wulan mulai terisak. Baginya Glagah

Putih adalah harapan terakhir untuk menyelamatkannya. Jika

Glagah Putih itu benar-benar terbunuh, maka ia tentu akan

dibawa oleh laki-laki yang tidak dikenalnya itu. Sementara itu,

iapun telah pula menyebabkan kematian anak muda dari

Tanah Perdikan itu.

Teja Prabawa dan Wirastama menyaksikan pertempuran

itu dengan nafas yang bagaikan terhenti. Keduanya membeku

dalam ketegangan yang mencengkam. Wirastama yang tidak

ingin dilampaui kemampuannya itu, ternyata menjadi cemas

pula melihat keadaan Glagah Putih.

Sementara itu, anak Ki Lurah Citrabawa itu semakin

mendesak lawannya. Ketika Glagah Putih telah berada di

bawah tebing bukit, orang itu menggeram. “Sayang anak

muda. Kau telah mencampuri persoalan orang lain. Sekarang,

sesalilah perbuatanmu itu beberapa saat sebelum koyak oleh

senjataku ini.”

Glagah Putih menggeretakkan giginya. Iapun menjadi

marah melihat sikap lawannya. Sementara itu sekilas ia

sempat melihat orang-orang yang membeku menyaksikan

pertempuran itu. Jarak mereka sudah menjadi agak jauh

karena Glagah Putih yang telah terdesak sampai ketebing.

Namun orang-orang itu masih sempat menyaksikan

pertempuran itu dengan jelas. Merekapun dapat melihat

dengan jelas pula, bahwa Glagah Putih telah terdesak sampai

ketebing. Adalah kebetulan bahwa Glagah Putih ketika

berloncatan surut tidak memperhatikan jalan setapak di lereng

bukit itu, sehingga ia masih akan mendapat kesempatan untuk

naik dan menghindari serangan-serangan anak Ki Lurah

Citrabawa itu.

“Kakek.” Rara Wulan memang tidak dapat menahan

tangisnya.

“Kalian tidak akan dapat melarikan diri.” berkata Ki Lurah

Citrabawa.

Tetapi Ki Lurah Branjangan berpendapat lain, katanya,

“Pertempuran itu belum berakhir.”

 

Ki Lurah Citrabawa termangu-mangu sejenak.

Dipandanginya anaknya yang berdiri tegak dengan sepasang

pisau belati ditangannya. Dihadapannya Glagah Putih berdiri

di wajah tebing hampir tegak yang terdiri dari batu-batu padas

yang berlumut kehijau-hijauan.

Sementara itu, anak Ki Lurah Citrabawa itu berkata pula,

“Sepasang pisauku akan berterima kasih kepadamu, karena

sempat menghirup darah anak yang masih terlalu muda untuk

mati. Tetapi darahmu tentu jauh lebih segar daripada darah Ki

Lurah Branjangan yang tua itu.”

Suara tertawa anak Ki Lurah Citrabawa masih terdengar.

Bahkan kemudian semakin keras dan bergema pada dindingdinding

pada perbukitan.

“Jangan sesali nasibmu anak muda.” anak Ki Lurah

Citrabawa itu menggeram.

Namun dalam pada itu, ketika jantung Ki Lurah Branjangan

dan orang-orang lain yang menyaksikan pertempuran itu

bagaikan berhenti berdetak, mereka melihat tangan Glagah

Putih melepas ikat pinggang kulitnya. Kemudian menarik kain

panjangnya dan mengikatkannya pada lambungnya. Dengan

ikat pinggang kulit ditangan, maka Glagah Putih berdiri tegak

menunggu kemungkinan yang bakal terjadi.

“Gila.” geram anak Ki Lurah Citrabawa, “kau masih sempat

menghina aku he? Buat apa ikat pinggang kulit seperti itu?”

Glagah Putih sama sekali tidak menjawab. Ia mulai

menggerakkan ikat pinggangnya. Terayun-ayun disisi

tubuhnya. Namun kemudian iapun berkata, “Bersiaplah Ki

Sanak. Saat kematian kita bukanlah kita yang menentukan.

Karena itu, maka aku atau kau yang akan mati, tidak akan

dapat kita pastikan menurut keinginan kita.”

“Persetan.” geram anak Ki Lurah Citrabawa. Agaknya ia

sudah tidak ingin menunda-nunda lagi. Karena itu, maka

kedua pisau belati yang berwarna suram ditangannya itupun

mulai berputar. Semakin lama semakin cepat.

Demikianlah sesaat kemudian, maka anak Ki Lurah

Citrabawa itupun telah meloncat dengan garangnya. Sebuah

dari pisau belatinya mematuk lurus kearah dada, sementara

 

yang lain siap untuk terayun mendatar jika Glagah Putih

mengelak kesamping.

Namun adalah diluar dugaan. Demikian pisau belati itu

meluncur dengan derasnya, maka Glagah Putih yang telah

menggerak-gerakkan ikat pinggangnya itu memiringkan

tubuhnya. Iapun menyadari adanya pisau belati yang ada

ditangan lawannya yang lain. Karena itu, ia tidak meloncat

menghindar, tetapi dengan kecepatan sulit diikuti dengan mata

wadag, ia justru telah menangkis serangan lawannya. Pisau

belati yang mematuk lurus kedada Glagah Putih itu tiba-tiba

bagaikan terpukul oleh tongkat baja sebesar batang wregu

dengan kekuatan yang tidak terduga. Karena itu, maka tanpa

dapat dimengerti sama sekali, pisau belati yang terjulur kearah

dada itu, telah terlempar dan jatuh beberapa langkah dari

anak Ki Citrabawa yang terkejut itu.

Glagah Putih yang berhasil melepaskan satu senjata

lawannya itu sebenarnya mempunyai kesempatan yang lebih

baik dari lawannya untuk menyerang. Ikat pinggangnya yang

telah menjadi sekuat keping baja itu, sudah siap untuk

menusuk. Meskipun ujungnya sama sekali tidak runcing,

namun kekuatan Glagah Putih akan mampu membelah dada

lawannya dengan senjatanya yang khusus itu.

Tetapi ketika senjata itu mulai terjulur, maka Glagah Putih

telah menahan diri. Pengaruh Raden Rangga mulai nampak

didalam sikapnya yang meyakinkan, tetapi agak menyakitkan

hati.Glagah Putih yang urung memecahkan tulang-tulang iga

lawannya itu telah memutar ikat pinggangnya disisi tubuhnya

sambil berkata, “Nah Ki Sanak. Ambillah senjatamu. Dengan

sepasang senjata kau tidak mampu berbuat apa-apa atasku.

Apalagi hanya dengan sebuah dari sepasang senjatamu.”

Wajah anak Ki Lurah Citrabawa itu menjadi merah.

Penghinaan itu benar-benar telah menyengat jantungnya.

Namun Glagah Putih telah membentak, “Cepat. Ambil

pisaumu.”

Lawannya masih agak kebingungan. Namun karena orang

itu tidak segera mengambil pisaunya, maka tiba-tiba saja

Glagah Putih telah meloncat menyerang. Ikat pinggangnya

 

terayun cepat sehingga desing angin telah menyakitkan

telinga lawannya Bahkan gerak ikat pinggang itu demikian

cepatnya, sehingga lawannyapun dengan serta merta telah

menangkisnya. Tetapi sekali lagi, lawannya terkejut sekali.

Pisaunya yang sebuah itupun ternyata telah terlepas dan

terlempar pula dari tangannya. Orang itu meloncat beberapa

langkah surut untuk mengambil jarak.

Glagah Putih tiba-tiba saja tertawa. Katanya disela-sela

derai tertawanya, “Kasihan kau Ki Sanak. Kau telah

kehilangan semua senjatamu. Ambillah. Aku akan menunggu.”

Telinga lawannya bagaikan tersentuh api. Sikap Glagah

Putih yang tiba-tiba berubah itu telah sangat menyakitkan

hatinya. la sama sekali tidak menyangka, bahwa ia telah

berhadapan dengan anak muda yang berilmu sangat tinggi.

Namun dalam pada itu, Glagah Putih berkata, “Ki Sanak.

Aku tahu kau berilmu tinggi. Kau tentu tidak akan begitu

mudah kehilangan senjata jika kau tidak terlalu sombong. Kau

terlalu merendahkan lawanmu sehingga kau lengah. Karena

itu, sekali lagi aku minta, ambil senjatamu. Aku tidak mau

memenangkan pertempuran ini secara kebetulan, bahwa

lawanku adalah seorang yang sombong sehingga menjadi

lengah. Aku ingin bertempur sebagaimana seorang laki-laki

jantan. Kita beradu dada, sama-sama siap dan sempat

mengerahkan semua ilmu yang kita miliki. Aku tahu, bahwa

kau belum sampai kepuncak ilmumu, sehingga jika kau

terbunuh sekarang, kau tentu sangat menyesal oleh

kelengahan itu.”

“Persetan.” orang itu menggeram dengan kemarahan yang

menghentak-hentak didadanya.

Tetapi Glagah Putih justru tersenyum. Dengan nada tinggi

ia berkata, “Jangan marah. Tentunya gurumu pernah

berpesan kepadamu agar kau tidak cepat menjadi marah

dalam pertempuran. Kemarahan akan dapat membuat

seseorang kehilangan pengamatan diri. Hal itu akan dapat

mempercepat kekalahanmu.”

Anak Ki Lurah Citrabawa itu menggeretakkan giginya.

Hampir di luar sadarnya ia berpaling ke arah pisau-pisaunya

yang terlepas dari tangannya.

 

“Ambil. Ambillah Ki Sanak.” berkata Glagah Putih sambil

tersenyum.

Orang itupun tidak memperdulikan harga dirinya lagi.

Kemarahannya tidak dapat ditahankannya lagi, sehingga ia

benar-benar ingin membunuh anak muda yang dimatanya

menjadi sangat sombong itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja

orang itu meloncat menggapai pisau-pisaunya yang terlepas

dari tangannya.

Ki Lurah Branjangan menjadi berdebar-debar sesaat. Iapun

melihat perubahan sikap Glagah Putih. Ia tidak lagi

membayangkan sikapnya yang dengan sungguh-sungguh

mengangguk hormat. Tetapi anak muda itu memang bersikap

lain. Tertawanya yang ceria dan sikapnya yang telah menjadi

bebas dan tidak terkekang oleh keseganan yang

membelenggunya.

Wirastamapun terkejut bukan kepalang melihat perkelahian

itu. Apalagi karena anak Ki Lurah Citrabawa itu telah

kehilangan kedua pisaunya, serta kesempatan yang diberikan

Glagah Putih kepadanya untuk mengambil pisaunya itu

kembali.

“Siapakah Glagah Putih itu sebenarnya?” pertanyaan itu

tiba-tiba saja telah membelit di hatinya.

Rara Wulan yang putus asa, telah menemukan harapannya

kembali, sehingga tangisnyapun telah terhenti, sedangkan

Teja Prabawa menjadi kebingungan. la merasa bersalah atas

sikapnya terhadap anak muda padesan yang kakinya kotor

oleh lumpur dan pakaiannya basah oleh keringat karena kerja

di sawah itu. Ternyata anak muda itu memiliki ilmu yang

sangat tinggi.

Beberapa saat kemudian, kedua orang yang bertempur itu

telah berdiri saling berhadapan. Anak Ki Citrabawa telah

menggenggam sepasang pisaunya kembali, sementara ikat

pinggang Glagah Putihpun masih saja terayun:ayun disisi

tubuhnya. Menurut penglihatan lawannya, ikat pinggang itu

adalah ikat pinggang kulit seperti ikat pinggang kebanyakan.

Namun sentuhan ikat pinggang itu bagaikan sentuhan

lempeng baja yang tebal dan kuat melampui kuatnya pedang

yang terbaik sekalipun.

 

“Marilah Ki Sanak.” terdengar Glagah Putih, “kita akan

dapat segera mulai. Kita berhadapan dalam kesiagaan yang

sama. Kau jangan menjadi lengah lagi karena

kesombonganmu. Jika terjadi sekali lagi demikian, dan

kemudian dadamu pecah karena ikat pinggangku, maka itu

sama sekali bukan salahku lagi. Jangan kau sebut aku terlalu

kejam menghadapi orang sekasar kau.”

Anak Ki Lurah Citrabawa itu tidak dapat menahan getar

kemarahannya lagi. Karena itu, maka iapun kemudian telah

menyerang Glagah Putih dengan sepasang pisau belati yang

berputar.

Gumpalan asap kelabu nampak lagi di seputar anak Ki

Lurah Citrabawa. Sepasang putaran asap yang bergerakgerak

semakin lama menjadi semakin dekat dengan tubuh

Glagah Putih yang masih tetap berada di tempatnya.

Namun Glagah Putihpun telah bersiap pula. Ketika

gumpalan asap kelabu itu menjadi semakin dekat, maka

Glagah Putihpun mulai memutar ikat pinggangnya pula.

Demikianlah, maka sejenak kemudian pertempuranpun

telah berlangsung lagi dengan dahsyatnya. Keduanya adalah

orang-orang berilmu tinggi. Keduanya mampu menguasai

senjata masing-masing dengan baik dan bahkan hampir

sempurna.

Kedua pisau belati itu berganti-ganti menyambar tubuh

Glagah Putih. Jika sebuah diantaranya mematuk, maka yang

lain siap menyambar tubuh Glagah Putih yang terlempar

menghindar. Namun tidak terlalu mudah untuk menyentuh

tubuh Glagah Putih, ikat pinggangnyalah yang menyambar

senjata lawannya itu.

Tetapi lawannya memang menjadi semakin berhati-hati.

Disadarinya kekuatan Glagah Putih yang sangat besar,

sehingga karena itu, maka iapun telah menggenggam

senjatanya erat-erat.

Namun kemampuan Glagah Putih bermain dengan ikat

pinggangnya memang mengagumkan. ltulah sebabnya, maka

lawannya kadang-kadang harus berloncatan surut

menghindari kejaran senjata anak padesan itu.

 

“Mari Ki Sanak.” suara Glagah Putih terdengar bernada

tinggi, “jangan terlalu sering menjauhi arena. Bukankah kita

sudah bertekad bertempur sampai tataran ilmu kita yang

tertinggi?”

Namun ternyata bahwa ilmu pedang anak Ki Lurah

Citrabawa itu sulit untuk mengimbangi kemampuan Glagah

Putih mempermainkan senjatanya. Karena itu, maka anak Ki

Lurah Citrabawa itu mulai berloncatan menjauh.

Namun Glagah Putih tidak melepaskannya. Kemarahannya

telah membakar jantungnya atas sikap orang itu, meskipun ia

masih berhasil menguasai perasaannya itu pada sikap dan

geraknya dalam olah kanuragan, sehingga ia masih tetap

mampu mempergunakan nalarnya dengan jernih.

Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin berat

sebelah. Anak Ki Lurah Citrabawa menjadi semakin terdesak,

sehingga arena itupun telah bergeser lagi, semakin dekat

dengan Ki Lurah Citrabawa menunggu kemenangan anak lakilakinya

selalu terdesak, sehingga akhirnya ia berteriak,

“Selesaikan anak itu dengan ilmu pamungkasmu. Jangan

segan-segan lagi dan jangan menunggu sampai kau menjadi

korban keganasannya itu.”

Anak Ki Lurah Citrabawa itupun telah mengambil jarak.

Sementara itu Glagah Putihpun termangu-mangu melihat

sikap orang itu. Ia tejah kehilangan kesempatan untuk

mengalahkan Glagah Putih dengan ilmu Sapu Anginnya.

Namun agaknya orang itu masih akan melepaskan jenis

ilmunya yang lain.

Anak Ki Lurah yang telah bersiap itu termangu-mangu

sejenak. Namun Ki Lurah Citrabawa itu berteriak, “Untuk apa

kau berguru jika kau biarkan dirimu dihina oleh anak padesan?

Seandainya ia mati sekalipun tidak akan ada yang

menyesalinya. Dunia tidak akan merasa kehilangan apapun

juga.”

Sebenarnyalah anak Ki Lurah Citrabawa itu segera bersiap.

Tiba-tiba saja ia telah mengatupkan kedua telapak tangannya

yang sudah tidak menggenggam senjatanya lagi itu.

Kemudian kedua tangannya bersilang sejajar di depan

dadanya. Dengan satu gerak yang khusus, anak Ki Lurah

 

Citrabawa itu telah menghentakkan tangannya yang terbuka

menghadapi ke arah Glagah Putih.

“Nah, itulah ilmu Sapu Angin yang sebenarnya.” teriak Ki

Lurah Citrabawa yang berbangga dengan ilmu anaknya itu.

Sebenarnyalah dari telapak tangan anak Ki Lurah

Citrabawa itu seakan-akan telah berhembus angin yang

sangat keras. Hanya tertuju ke arah sasarannya saja,

sehingga dengan demikian maka serangan itu merupakan

sarangan yang sangat berbahaya. Jika serangan itu

menyentuh lawannya, maka serangan itu akan dapat

meremukkan bagian dalam tubuhnya.

Namun Glagah Putih dengan cepat telah meloncat

menghindar. Karena itu, gumpalan arus udara yang sangat

dahsyat itu tidak menyentuh tubuhnya. Namun ternyata orangorang

yang menyaksikan kedahsyatan ilmu itu menjadi

berdebar-debar. Serangan yang luput dari sasaran itu, telah

menghantam batu-batu padas ditebing sehingga gumpalangumpalan

batu padas telah berguguran.

Ketika kemudian Glagah Putih berdiri tegak, maka

jantungnya menjadi berdebaran. Anak Ki Lurah Citrabawa itu

benar-benar tidak lagi mengekang diri. Ilmunya memang

menggetarkan jantung. Namun bahwa orang itu telah

mempergunakannya, maka Glagah Putihpun benar-benar

telah menjadi marah.

Tetapi Glagah Putih masih tetap menyadari kedudukannya.

Sehingga karena itu, maka ia masih mampu mengendalikan

diri dari dorongan keinginannya untuk membalas lawannya.

Jika lawannya itu benar-benar ingin membunuhnya, kenapa ia

tidak melakukannya juga ? Namun Glagah Putih memang

tidak ingin menghentikan ketamakan anak Ki Lurah Citrabawa

itu.

Karena itu, maka Glagah Putihpun telah berniat untuk

membentur ilmu orang itu dengan ilmunya. Menurut pendapat

Glagah Putih, maka orang itu tentu akan sedikit tergantung

sehingga ilmu Glagah Putih tidak akan melumatkannya.

Sebenarnyalah, anak Ki Lurah Citrabawa yang gagal

dengan serangan pertamanya itu, telah bersiap-siap untuk

menyerang kembali. Apalagi ketika ayahnya berteriak,

 

“Jangan menahan diri. Jangan membiarkan kau menjadi

sasaran kesombongannya dan terkapar mati disini.”

Anak Ki Lurah Citrabawa itu memang tidak ragu-ragu lagi.

Dipusatkannya nalar budinya. Disusunnya tataran ilmu

pamungkasannya, sehingga akhirnya digerakannya tangannya

sesuai dengan arus ilmunya sehingga akhirnya

dihentakkannya tangannya dengan telapak tangannya

menghadap kearah Glagah Putih.

Glagah Putih tidak mengelak. Iapun menggerakkan

tangannya pula. Kedua telapak tangannya kemudian telah

menghadap kearah anak Ki Lurah Citrabawa yang sedang

menghentakkan ilmu Sapu Angin menurut aliran

perguruannya.

Ternyata Glagah Putih telah melontarkan ilmunya pula.

Ilmu yang mengendap didalam dirinya dan dihentakkannya

sesuai dengan ajaran yang diberikan oleh Ki Jayaraga.

Karena Glagah Putih tidak berniat memburu lawannya,

maka ia berusaha melawan aliran perguruan anak Ki

Citrabawa itu hanya dengan kekuatan udara didalam dirinya.

Sehingga demikian maka tiba-tiba dari tangan Glagah Putih itu

telah memancar pula arus udara yang dahsyat.

Kedua kekuatan ilmu yang tinggi telah saling berbenturan.

Namun ternyata Glagah Putih memang memiliki kelebihan dari

lawannya. Meskipun Glagah Putih masih lebih muda, tetapi ia

telah memiliki pengalaman yang sangat banyak. Apalagi pada

masa-masa persahabatannya dengan Raden Rangga. Bahkan

landasan ilmu keduanyapun memang kurang seimbang.

Glagah Putih yang mendapatkan ilmunya dari berbagai

sumber, yang kemudian telah luluh di dalam dirinya itu,

ternyata jauh lebih kuat dan lebih matang dari ilmu lawannya.

Dengan demikian, maka benturan ilmu itu memang telah

mengejutkan Ki Lurah Citrabawa.

Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan benturan

itupun telah menahan nafas. Mereka melihat Glagah Putih,

Glagah Putih bergetar dan terdorong selangkah surut. Namun

ia tetap berdiri tegak dan bersiap menghadapi segala

kemungkinan.

 

Namun anak Lurah Citrabawa itu ternyata telah terlempar

beberapa langkah. Ia tidak berhasil mempertahankan

keseimbangannya, sehingga ia telah terbanting jatuh.

Beberapa kali ia terguling agar tubuhnya tidak menjadi

semakin sulit karena menahan hentakkan yang sangat kuat.

Anak Ki Lurah itu memang berusaha untuk meloncat

bangkit. Namun ternyata benturan ilmu yang terjadi itu telah

menghantam dadanya dengan dahsyatnya. Karena itu, maka

demikian ia tegak, maka ternyata dadanya bagaikan terhimpit

sepasang batu raksasa. Tulang-tulangnya bagaikan

berpatahan sehingga iapun telah terhuyung-huyung lagi dan

jatuh terlenlang.

Ki Lurah Citrabawapun telah berlari mendekati anaknya

yang terjatuh. Dengan serta merta iapun telah berjongkok

disisi tubuh anaknya itu.

“Anakku, anakku.” desis Ki Lurah Citrabawa.

Anaknya itu mengerang kesakitan. Punggungnya rasarasanya

telah berpatahan, sementara dadanya menjadi sesak.

Ilmu yang dilontarkan kearah Glagah Putih ternyata telah

membentur kekuatan ilmu Glagah Putih dan justru berbalik

menghantam dirinya sendiri.

“Ayah.” desis orang itu.

“Bagaimana keadaanmu?” bertanya Ki Lurah itu dengan

cemas.

Orang itu mencoba menarik nafas dalam-dalam. Tetapi

dadanya justru terasa sakit sekali.

“Tolong aku duduk ayah.” minta orang itu.

Ki Lurah Citrabawa telah menolong anaknya untuk duduk.

Dengan hati-hati orang itu menarik nafas panjang karena hal

itu tidak dapat dilakukannya sambil terbaring. Namun dadanya

memang masih terasa sakit. Meskipun demikian, sambil

duduk, rasa-rasanya sesak nafasnya sedikit dapat diatasi.

Ketika Glagah Putik kemudian melangkah mendekat, maka

Ki Lurah Citrabawa itupun berkata dengan suara sendat, “Aku

minta maaf. Jangan kau bunuh anakku.”

Glagah Putih tidak menjawab. Selangkah demi selangkah

ia maju mendekati orang yang telah terluka didalam itu.

 

“Ampun anak muda.” suara Ki Lurah Citrabawa menjadi

gemetar.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia berdiri saja

memandangi keadaan lawannya yang gawat itu.

Ki Lurah Branjanganlah yang kemudian mendekati Glagah

Putih. Dengan nada rendah ia berkata, “Apa yang akan kau

lakukan?”

Glagah Putih termangu-mangu. Diluar sadarnya

dipandanginya orang-orang yang bagaikan membeku

diseputar arena itu. Wirastama, Teja Prabawa dan Rara

Wulan.

Sejenak Glagah Putih terdiam. Namun tiba-tiba saja ia

berkata lantang, “Ki Lurah Citrabawa. Bawa anakmu pergi

sebelum jantungku digelitik iblis. Jika demikian, maka mungkin

aku akan dapat membunuhnya.”

“Baik. Baik anak muda. Aku akan membawanya pergi.”

suara Ki Lurah menjadi semakin gagap.

Tetapi ketika Ki Lurah mencoba membantu anaknya berdiri,

orang itu justru menyeringai kesakitan. Bahkan setitik darah

telah mengembun dibibirnya.

“Persetan.” geram Glagah Putih.

“Aku akan membawanya pergi.” berkata Ki Lurah dengan

suara gemetar.

Tetapi keadaan anak bungsunya itu justru menjadi gawat.

Karena itu, maka Ki Lurah itupun berkata, “Aku minta ijin untuk

mempergunakan waktu sekejap saja.”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Glagah Putih.

“Aku ingin memberikan obat kepada anakku ini. Sekedar

untuk meningkatkan daya tahannya agar ia tidak mati karena

luka-lukanya.” sahut Ki Lurah Citrabawa.

Wajah Glagah Putih menjadi tegang. Namun kemudian

katanya kepada Ki Lurah Branjangan, “Ki Lurah Branjangan.

Marilah kita kembali. Biarlah Ki Lurah Citrabawa mengurus

anak laki-lakinya yang dibangga-banggakannya itu.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk. Katanya, “Marilah. Aku

sependapat dengan sikapmu yang terpuji itu. Nampaknya kau

memiliki sikap kakangmu Agung Sedayu, namun juga

pengaruh sikap Raden Rangga.”

 

“Lupakan itu Ki Lurah.” berkata Glagah Putih sambil

melangkah.

Ki Lurah Branjanganpun kemudian mengajak kedua

cucunya untuk mengikuti Glagah Putih yang berjalan

mendahului mereka menuju ke padukuhan induk. Sementara

itu Wirastamapun telah menyertai mereka pula.

Di perjalanan itu, Glagah Putih hampir tidak pernah

berpaling. la berjalan di paling depan. Meskipun tidak begitu

cepat, tetapi ia tidak memberi kesempatan kepada orangorang

lain untuk berjalan bersamanya. Rasa-rasanya ia ingin

berjalan seorang diri sambil menundukkan kepalanya dalamdalam.

Merenungi peristiwa yang baru saja terjadi.

Sementara itu Rara Wulan sempat bertanya, “Tadi kakek

menyebut nama Raden Rangga disamping sebuah nama yang

lain.”

“Ya,” jawab Ki Lurah Branjangan, “anak muda itu adalah

adik sepupu Agung Sedayu. Sahabat Panembahan Senapati

sebelum Panembahan Senapati bertahta di Mataram.

Umurnya memang bertaut sedikit. Panembahan Senapati

lebih tua hanya beberapa tahun saja. Keduanya adalah orangorang

yang senang menjelajahi tempat-tempat yang paling

baik untuk memusatkan nalar budi dan menjalani laku dalam

olah kanuragan. Sedangkan Glagah Putih adalah sahabat

yang paling dekat dengan Raden Rangga.”

“Raden Rangga putra Panembahan Senapati yang kakek

maksud?” bertanya Teja Prabawa.

“Ya. Di Mataram tidak ada Raden Rangga yang lain. Kau

tahu, senjata yang dipergunakan oleh Glagah Putih tadi?”

bertanya Ki lurah.

“Ikat pinggang,” jawab Teja Prabawa.

“Ikal pinggang pemberian Ki Mandaraka.” jawab Ki Lurah.

“Jadi anak itu sudah sering berada di Kotaraja?” bertanya

Teja Prabawa.

“Ya. Kau kira hanya kau sajalah yang pernah berada di

Kotaraja? Sedangkan kau sama sekali belum mengenal

Raden Rangga. Kaupun jarang sekali, bahkan belum pernah

masuk kedalam istana Panembahan Senapati. Anak muda itu

sudah sering bermalam di istana.” jawab Ki Lurah Branjangan.

 

Teja Prabawa dan Rara Wulan termangu-mangu.

Sementara itu Wirastamapun menjadi berdebar-debar

mendengar ceritera Ki Lurah Branjangan.

“Kau tidak percaya?” desis Ki Lurah kepada kedua

cucunya.

Rara Wulan memandang Glagah Putih yang berjalan di

depan beberapa langkah. Namun anak itu tidak mendengar

apa yang sedang dipercakapkan antara seorang kakek dan

kedua orang cucunya itu.

Dimata Rara Wulan Glagah Putih itu rasa-rasanya telah

berubah. Ia bukan saja seorang anak muda padesan yang

selalu menundukkan kepalanya. dan mengangguk hormat.

Tetapi Glagah Putih adalah seorang anak muda yang perkasa.

Dalam usianya yang masih muda itu, ia telah memiliki ilmu

yang sangat tinggi.

Diluar sadarnya ia berpaling kepada kakaknya, Teja

Prabawa. Ternyata bahwa kakaknya bukan apa-apa

dibandingkan dengan Glagah Putih. Bahkan Wirastama, yang

dikagumi kakaknya itupun tidak setingkat ilmunya dengan

anak Tanah Perdikan Menoreh itu.

Namun tiba-tiba Teja Prabawa berkata dengan nada berat,

“Kakek tidak pernah berceritera kepada kami tentang anak

muda itu. Apalagi bahwa ia adalah sahabat apalagi yang

paling dekat dengan Raden Rangga.”

“Untuk apa aku berceritera tentang dirinya? Jika kau

bersikap baik dengan anak muda itu sejak semula, maka ia

tentu akan berceritera sendiri kepada kalian.” berkata Ki Lurah

Branjangan.

Teja Prabawa menundukkan kepalanya. Sementara Ki

Lurah Branjangan berkata, “Bagaimana anak itu menahan

dirinya menghadapi sikap kalian yang sombong. Untunglah

bahwa Glagah Putih adalah sepupu Agung Sedayu, sehingga

Agung Sedayu dapat mengendalikannya. Jika Glagah Putih

bukan sepupu Agung Sedayu, maka kau berdua tentu sudah

dibuatnya jera.”

“Kakek tidak memberitahukan sebelumnya.” desis Teja

Prabawa.

 

“Aku berbuat demikian dengan pertimbangan tertentu.”

berkata Ki Lurah, “seharusnya diberi tahu atau tidak diberi

tahu, berilmu atau tidak berilmu, kau wajib menghormatinya. la

adalah anak muda yang ditunjuk oleh Ki Gede Menoreh,

penguasa Tanah Perdikan ini untuk menemani kalian melihatlihat

Tanah Perdikan ini sebagaimana yang kita kehendaki

sejak kita berangkat dari Mataram. Tetapi kalian terlalu

sombong. Kalian merasa diri kalian anak-anak muda dari

Kotaraja yang mempunyai kelebihan dari anak-anak padesan.

Kalian merasa tidak pantas untuk bergaul dengan anak-anak

Tanah Perdikan ini karena kalian takut akan terpercik lumpur

dari tubuh mereka. Tetapi kalian sekarang melihat, bahwa

anak-anak muda yang kakinya berlumpur itu memiliki ilmu

yang jauh lebih tinggi dari yang kalian miliki.”

Teja Prabawa tidak menjawab. Tetapi kepalanya telah

menunduk dalam-dalam. Wirastamapun tidak berkata sesuatu.

Ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa anak muda

Tanah Perdikan itu memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari

ilmu yang dimilikinya. Tanpa kehadiran Glagah Putih, maka ia

tidak akan dapat berbuat banyak untuk mencegah agar Rara

Wulun tidak diculik oleh Ki Lurah Citrabawa bersama anak

laki-lakinya itu.

Namun dengan demikian, maka usahanya untuk mendekati

gadis itupun akan gagal. Rara Wulan tentu akan menjadi

semakin memperhatikan Glagah Putih daripada dirinya.

Jika semula ia ikut merasa bersukur bahwa Rara Wulan

dapat diselamatkan, namun kemudian timbul persoalan yang

lain di dalam dirinya. Tetapi sudah barang tentu bahwa

Wirastama harus mengakui kenyataan yang dihadapinya.

Glagah Putih adalah seorang anak muda yang berilmu tinggi.

Dalam pada itu, maka iring-iringan kecil itu telah melewati

beberapa bulak dan padukuhan. Anak-anak muda yang

berpapasan dengan Glagah Putih merasa heran, bahwa

nampaknya Glagah Putih sedang memikirkan sesuatu.

Sikapnya tidak seperti biasanya. Ia menjawab pertanyaan

kawan-kawannya dengan kalimat-kalimat yang singkat.

Sedangkan senyumnyapun rasa-rasanya terlalu kering.

 

Tetapi anak-anak muda itu tidak bertanya sesuatu.

Merekapun kemudian mengangguk hormat kepada Ki Lurah

Branjangan serta cucu-cucunya yang sombong menurut

penglihatan anak-anak muda Tanah Perdikan itu, serta

Wirastama yang angkuh.

Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah

memasuki padukuhan induk. Glagah Putih rasa-rasanya

menjadi agak tergesa-gesa. Tanpa berpaling ia menuju ke

rumah Ki Gede Menoreh. Tetapi ketika ia sampai didepan

regol, maka iapun berhenti. Ketika ia berpaling, ternyata Ki

Lurah, dua orang cucunya dan Wirastama berjalan agak jauh

dibelakang.

Glagah Putih tidak segera memasuki halaman. Tetapi

menunggu Ki Lurah.

“Marilah.” ajak Ki Lurah Branjangan ketika ia sampai di

depan regol.

“Ki Lurah.” berkata Glagah Putih kemudian, “maaf Ki Lurah.

Aku harus pulang. Silahkan Ki Lurah serta cucu-cucu Ki Lurah,

Rara Wulan dan Raden Teja Prabawa untuk kembali ke

gandok bersama Wirastama. Aku akan pulang dahulu.”

“Tolong Ki Lurah sajalah yang melaporkannya kepada Ki

Gede. Aku akan bertemu dengan Kakang Agung Sedayu.”

jawab Glagah Putih. Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam.

Agaknya Glagah Putih memang seorang yang patuh terhadap

kakak sepupunya.

“Nanti dulu,” cegah Ki Lurah, “kaupun harus bersama-sama

kami bertemu dan melaporkan peristiwa yang baru saja terjadi

kepada Ki Gede. Peristiwa itu terjadi di Tanah Perdikan,

sehingga Ki Gede harus mengetahuinya.”

“Tolong Ki Lurah sajalah yang melaporkannya kepada Ki

Gede. Aku akan bertemu dengan kakang Agung Sedayu.”

jawab Glagah Putih.

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Glagah

Putih memang seorang yang patuh terhadap kakak

sepupunya, sehingga ia merasa wajib untuk melaporkan

kepada kakak sepupunya itu lebih dahulu sebelum

menghadap Ki Gede.

 

Ki Lurahpun kemudian tidak mencegahnya. Beberapa saat

kemudian anak muda itu tentu akan datang bersama Agung

Sedayu. Karena itu maka Ki Lurahpun telah membicarakan

Glagah Putih justru tidak singgah di rumah Ki Gede.

Ki Lurahlah yang kemudian telah menemui Ki Gede yang

kebetulan telah berada dirumahnya. Dengan singkat ia telah

melaporkan apa yang telah terjadi di bawah bukit. Ki Lurah

telah mengajak Wirastama, Teja Prabawa dan Rara Wulan

bersamanya untuk menjadi saksi dari laporannya.

Ki Gede mendengarkan laporan Ki Lurah itu dengan

sungguh-sungguh. Sambil mengangguk-angguk ia kemudian

berkata, “Untunglah cucu Ki Lurah dapat diselamatkan. Jika

tidak, maka akulah yang bertanggung jawab, karena Ki Lurah

kini sedang menjadi tamuku.”

“Ternyata Glagah Putih mampu melakukan tugas yang

dibebankan kepadanya. Ia akan menjadi kekuatan yang

sangat berarti bagi Tanah Perdikan ini disamping Ki Gede dan

Agung Sedayu.”

“Aku sudah tua Ki Lurah.” Ki Gede itu berdesis. Namun Ki

Gede itu terkejut ketika Ki Lurah kemudian menceritakan

bahwa anak Ki Lurah Citrabawa yang bungsu itu telah

mempergunakan ilmu Sapu Angin.

“Sapu Angin yang mana?” bertanya Ki Gede.

“Ada berapa jenis ilmu yang disebut Sapu Angin itu?”

berianya Ki Lurah.

“Ki Lurah,” berkata Ki Gede dengan dahi yang berkerut,

“memang sumber ilmu itu agaknya hanya satu. Tetapi

perkembangannya menjadi agak berbeda.”

Ki Lurah Branjanganpun kemudian telah menceriterakan

apa yang dilihatnya tentang ilmu yang disebut oleh Ki Lurah

Citrabawa itu dengan ilmu Sapu Angin. Ilmu yang nampak

pada unsur-unsur gerak disaat anak bungsu Ki Lurah

Citrabawa itu mempergunakan pisau-pisaunya, tetapi juga

disaat anak Ki Lurah Citrabawa itu melontarkan kekuatan

angin seakan-akan dari telapak tangannya yang terbuka.

Ki Gede mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Ki

Gede berkata, “Ki Lurah pernah mendengar nama Padepokan

Kaliwalik yang berada di dekat suangan Kali Bagawanta?”

 

Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun

mengangguk-angguk sambil berdesis, “Aku memang pernah

mendengar.”

“Apakah Ki Lurah juga pernah mendengar nama Ki Ajar

Wadal ? Seorang Ajar yang hampir tanpa cacat?” bertanya Ki

Gede.

“Ya. Aku pernah mendengar. Tetapi menurut ingatanku,

jaman Ki Ajar Wadal bukanlah jaman kita.” jawab Ki Lurah.

“Ya. Satu keturunan lebih tua.” jawab Ki Gede, “tetapi ada

tiga orang muridnya. Dua orang telah meninggal tanpa

diketahui sebabnya sebelum mereka sempat menurunkan

ilmunya. Hanya setahun seterah Ki Ajar itu sendiri meninggal.

Sedangkan seorang muridnya bukankah orang yang baik.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Iapun kemudian

segera dapat menangkap maksud Ki Gede. Karena itu, maka

katanya, “Jadi ilmu itu bersumber dari padepokan Kaliwalik,

namun melalui salah seorang murid yang menurut penilaian Ki

Gede kurang baik. ltukah sebabnya maka ilmu yang sampai

kepada anak bungsu Ki Lurah Citrabawa ilu juga kurang

baik?”

“Agaknya memang demikian.” berkata Ki Gede,

“sebenarnya bukan ilmunya yang wataknya tidak baik. Tetapi

orang yang menguasai ilmu itu. Justru itulah yang berbahaya.

Ilmu yang baik tetapi ada ditangan orang yang tidak baik.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Beruntunglah

Rara Wulan karena kehadiran Glagah Putih.”

“Tetapi aku tidak tahu, bahwa mungkin sekali KI Ajar Wadal

mempunyai saudara seperguruan, sehingga ilmu yang sampai

kepada anak Ki Lurah Citrabawa itu bukan dari satu-satunya

murid Ki Ajar yang masih hidup, tetapi disadapnya dari saluran

yang berbeda. Namun yang pasti, anak Ki Lurah telah

menyalah gunakan ilmu itu untuk kepentingan yang tidak baik.

Sehingga dengan demikian, maka kita harus berhati-hati

terhadap ilmu Sapu Angin menurut perguruan tempat anak Ki

Lurah Citrabawa berguru. Tidak mustahil bahwa orang itu

akan mempergunakannya lagi untuk kepentingan yang juga

tidak baik.” berkata Ki Gede.

 

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin

sekali. Namun masih ada yang aku pikirkan Ki Gede, yang

agaknya tidak kalah gawatnya dari kemungkinan itu. Apakah

mungkin guru anak Ki Lurah Citrabawa itu tidak tersinggung

oleh kekalahan muridnya dari Glagah Putih.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Namun katanya, “Glagah

Putih masih juga dibawah asuhan guru-gurunya. Mudahmudahan

tidak terjadi sesuatu untuk selanjutnya. Tetapi jika

terpaksa guru orang yang dikalahkan oleh Glagah Putih itu

merasa tersinggung, maka Glagah Putih akan dapat

memohon guru-gurunya untuk membantunya.”

Ki Lurah Branjangan itupun mengangguk-angguk pula.

Katanya, “Ya. Tentu guru-guru Glagah Putih tidak akan

membiarkannya. Jika anak-anak berkelahi dan orang tua

salah satu diantara mereka ikut pula berkelahi, maka orang

tua anak yang lain tidak akan memberikan anaknya

mengalami kesulitan karena perlakuan yang tidak adil. Mudahmudahan

Glagah Putih tidak mengalami kesulitan karena

kehadiranku disini.”

“Tentu tidak. Aku akan berbicara dengan Agung Sedayu

dan Ki Jayaraga.” berkata Ki Gede, “mungkin mereka atau

setidak tidaknya Agung Sedayu akan datang kemari setelah

Giagah Putih memberikan laporan kepadanya.”

Ki Lurah masih mengangguk-angguk. Katanya, “Mereka

tentu akan datang.”

Tetapi Wirastama justru menjadi gelisah. Rasa-rasanya ia

tidak ingin mendengar pembicaraan orang-orang itu dengan

Glagah Putih. Mereka tentu akan mengulangi ucapan terima

kasih berpuluh kali. Rara Wulanpun tentu akan memujinya dan

Teja PrabaWa akan segera berubah sikap. Apalagi setelah

diketahuinya, bahwa Glagah Putih adalah sahabat dekat

Raden Rangga yang telah meninggal. Namun yang dimasa

hidupnya menjadi buah bibir banyak orang, terutama anakanak

muda di Mataram. Karena itu, maka sejenak kemudian

justru Wirastamalah yang pertama kali memindahkan

pembicaraan. Katanya, “Agaknya aku sudah terlalu lama

meninggalkan tugasku.”

 

“O,” Ki Lurah mengangguk-angguk, “jadi maksud anak

mas?”

“Aku mohon diri. Aku akan kembali ke barak.” desis

Wirastama.

Ki Lurah masih mengangguk-angguk. Katanya, “Terima

kasih atas kebaikan angger Wirastama selama ini. Mudahmudahan

angger Wirastama akan selalu bersedia menemani

cucu-cucuku bersama Glagah Putih.”

Wajah Wirastama terasa menjadi panas. Namun ia

memaksa untuk tersenyum dan menjawab, “Baik Ki Lurah.

Akan aku usahakan disela-sela kesibukan tugasku.”

Ki Lurah Branjangan memang tidak ingin menyakiti hati

anak muda itu. Demikian pula Ki Gede. Karena itu maka Ki

Gedepun berkata, “Akupun mengucapkan terima kasih ngger.”

Wirastama menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian

iapun bangkit dan bergeser surut. Kepada Teja Prabawa ia

mengangguk sambil berdesis, “Aku minta diri.”

Teja Prabawapun mengangguk. Tetapi Wirastama tidak

secara khusus minta diri kepada Rara Wulan meskipun ia juga

mengangguk hormat kepada gadis itu. Sementara Rara Wulan

berdiri saja termangu-mangu.

Wirastama tertegun ketika diluar regol ia bertemu dengan

Glagah Putih bersama Agung Sedayu. Seperti yang diduga

oleh Ki Lurah, maka keduanya memang benar-benar

menghadap Ki Gede untuk memberikan laporan sebagaimana

dilakukan oleh Ki Lurah Branjangan.

Untuk sesaat keduanya hanya saling berpandangan saja.

Namun kemudian Glagah Putihlah yang menegurnya lebih

dahulu, “Kau akan pergi kemana?”

“Kembali ke barak.” jawab Wirastama singkat, “aku sibuk.”

“O.” Glagah Putih hanya mengangguk saja.

Agung Sedayu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam

ketika ia melihat kemudian Wirastama itu melangkah dengan

tergesa-gesa meninggalkan Glagah Putih berdiri termangumangu.

“Marilah.” ajak Agung Sedayu.

Glagah Putih terkejut. Namun iapun kemudian mengikuti

kakak sepupunya memasuki halaman rumah Ki Gede.

 

Sejenak kemudian, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah

duduk bersama dengan Ki Gede dan Ki Lurah Branjangan.

Sementara itu Teja Prabawa dan Rara Wulan bergeser agak

dibelakang Ki Lurah. Mereka mulai merasa kecil duduk

diantara orang-orang yang ternyata memiliki kelebihannya

masing-masing. Bahkan juga Glagah Putih yang dianggapnya

tidak lebih dari anak padesan yang kulitnya menjadi hitam

karena lumpur.

“Bukankah Ki Lurah Branjangan telah memberikan

laporan?” bertanya Agung Sedayu.

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Adikmu telah

melakukan tugasnya dengan baik.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ia

sudah berusaha berbuat sebaik-baiknya. Tetapi ia terpaksa

lelakukannya karena keadaan menjadi sangat gawat.”

“la memang telah memilih langkah yang tepat.” desis Ki

Gede.

Sementara itu Ki Lurah Branjangan berkata, “Jika Glagah

Putih tidak melakukannya, maka cucuku tentu sudah terkena

bencana. Yang dilakukan oleh Glagah Putih sama sekali

bukan sekedar untuk menyombongkan diri atau sekedar ingin

menunjukkan kelebihannya dari orang lain. Tetapi benar-benar

karena ia harus berbuat demikian.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia

berkata, “Kami mohon maaf, bahwa di Tanah Perdikan ini, Ki

Lurah harus mengalami satu perlakuan yang tidak

menyenangkan. Bagaimananun juga peristiwa itu sudah

mengganggu ketenangan Ki Lurah yang ingin beristirahat di

Tanah Perdikan ini. Satu pertanda pula bahwa kami, yang

muda-muda di Tanah Perdikan ini kurang mampu menjaga

ketenangan dan ketenteraman lingkungannya.”

Tetapi Ki Lurah tertawa. Katanya, “Jangan berkata begitu.

Aku sudah pernah tinggal di Tanah Perdikan ini, sehingga aku

tahu bahwa Tanah Perdikan ini sekarang sudah jauh

berkembang. Bukankah begitu Ki Gede?”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Aku tidak tahu apa yang

harus aku katakan. Aku memang membenarkan kata-kata Ki

Lurah, bahwa anak-anak muda tanah Perdikan ini sudah

 

bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan hidup di

Tanah Perdikan ini. Tetapi seharusnya aku bersikap seperti

Agung Sedayu. Bahkan karena akulah yang bertanggung

jawab di Tanah Perdikan ini.”

“Kenapa kalian harus merasa bersalah?” berkata Ki Lurah,

yang kemudian melanjutkannya, “Daripada kita berbicara

tentang yang telah terjadi, maka sebaiknya kita berbicara

tentang kemungkinan yang dapat terjadi.”

“Maksud Ki Lurah?” bertanya Agung Sedayu.

“Bukankah Ki Lurah Citrabawa tidak berdiri sendiri?

Anaknya telah berguru kepada seseorang. Ia memiliki ilmu

Sapu Angin, namun entah dari jenis yang mana.” jawab Lurah.

Lalu katanya pula, “Mudah-mudahan persoalan ini dianggap

selesai sampai disini. Tetapi jika gurunya mulai digelitik oleh

harga dirinya, maka kemungkinan lain dapat terjadi.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar

sadarnya ia berkata, “Persoalan yang bertumpang tindih.”

Ki Gede dan Ki Lurah Branjangan memandang Agung

Sedayu dengan dahi yang berkerut. Tetapi mereka menunggu

Agung Sedayu melanjutkan, “Mataram sekarang dibayangi

oleh kekuasaan pamandanya di Madiun. Sementara itu asap

dari api yang mengepul diantara Pajang dan Mataram itu telah

sampai ke Tanah Perdikan itu, khususnya dilingkungan

Pasukan Khusus. Sekarang kita menghadapi satu persoalan

baru meskipun sangat khusus. Tetapi bagaimanapun juga

telah menarik perhatian kita.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Sementara Ki Lurah

Branjangan berdesis, “Kami yang harus berprihatin karena

itu.”

“Bukan maksudku Ki Lurah.” Agung Sedayu cepat-cepat

memotong, “Maksudku, bahwa persoalan-persoalan itu datang

beruntun. Justru pada saat kita mempunyai tamu.”

“Tetapi persoalan yang terakhir itu menyangkut

kehadiranku disini.” berkata Ki Lurah.

“Kamilah yang harus bertanggung jawab, karena Ki Lurah

adalah tamu kami.” sahut Agung Sedayu.

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mau

memberikan banyak uraian tentang persoalan itu, karena

 

sudah tentu bukan pada tempatnya ia menyalahkan dirinya

dihadapan Ki Gede, karena hal itu tentu tidak dikehendaki oleh

Ki Gede.

Sementara itu Ki Gedelah yang berkata, “Kita akan

menanggapi semua persoalan dengan sewajarnya. Kita

memang harus berhati-hati. Sementara itu kita menunggu

persiapan yang dilakukan oleh Mataram untuk menyusun satu

kesatuan langkah di Tanah Perdikan itu sehubungan dengan

pendapat beberapa kalangan di Mataram tentang pimpinan

Pasukan Khusus itu.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Justru

karena itu, maka aku untuk beberapa lama akan tetap berada

disini. Setidak-tidaknya persoalan Ki Lurah Citrabawa itulah

yang aku tunggu. Apakah ia menghentikan langkahlangkahnya

yang sesat itu atau memang akan

meneruskannya. Meskipun disini aku juga sekedar bersandar

kepada kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini.”

Ki Gede tertawa pendek. Katanya, “Tentu kami akan

menerima Ki Lurah dengan senang hati untuk tetap tinggal

disini.”

Ki Lurah Branjanganpun tersenyum sambil berkata,

“Namun angger Glagah Putih hendaknya lebih berhati-hati.

Banyak kemungkinan dapat terjadi.”

Glagah Putih mengangguk hormat sambil berkata dengan

nada berat, “Aku akan selalu berhati-hati Ki Lurah.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudahmudahan

tidak terjadi persoalan berikutnya.”

Demikianlah, maka pembicaraan merekapun sampai pada

akhirnya ketika Ki Gede berkata kepada Ki Lurah, “Tetapi,

agaknya Ki Lurah dan kedua cucu Ki Lurah memerlukan

istirahat. Silahkan Ki Lurah. Pada kesempatan lain kita akan

berbicara lagi.”

“Terima kasih Ki Gede.” sahut Ki Lurah yang kemudian

minta diri untuk kembali ke gandok bersama kedua cucucucunya.

Agung Sedayu dan Glagah Putih pun kemudian juga minta

diri. Namun Ki Gede telah berpesan, bahwa persoalan yang

 

nampaknya dapat dilupakan begitu saja itu hendaknya

mendapat perhatian pula dari Agung Sedayu dan Ki Jayaraga.

“Aku akan berbicara dengan Ki Jayaraga.” berkata Agung

Sedayu ketika ia meninggalkan ruang dalam rumah Ki Gede.

Di gandok Agung Sedayu dan Glagah Putih telah minta diri

pula kepada Ki Lurah Branjangan dan kedua orang cucucucunya.

Sikap Teja Prabawa dan Rara Wulan telah berubah sama

sekali. Mereka mulai menyadari, bahwa mereka telah

membuat kesalahan sejak langkah mereka yang pertama di

Tanah Perdikan itu. Ternyata bahwa dugaan mereka tentang

anak-anak muda Tanah Perdikan itu salah sama sekali.

Meskipun Glagah Putih menurut ujud lahiriyahnya tidak lebih

dari anak seorang petani biasa, namun ternyata ia memiliki

kelebihan yang jauh diatas tataran anak-anak muda Kotaraja

sekalipun.

Apalagi kemudian merekapun mengetahui, bahwa Glagah

Putih bukan saja memiliki kemampuan dalan olah kanuragan,

tetapi juga mempunyai pengetahuan tentang berbagai ilmu.

Glagah Putih mempunyai pengetahuan tentang hal bercocok

tanam, musim, pengetahuan tentang keprajuritan dan bahkan

ilmu sastra. Adalah salah satu kegemaran Glagah Putih untuk

membaca kitab-kitab yang memuat tentang pengenalan masa

lampau, tentang berbagai macam ceritera termasuk tentang

ceritera kepahlawanan yang termuat dalam ceritera-ceritera

pewayangan. Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih juga

mempunyai suara yang cukup baik sehingga dalam

pertemuan-pertemuan khusus, Glagah Putih kadang-kadang

diminta untuk membaca kidung.

Dihari berikutnya kedua cucu Ki Lurah Branjangan itu tidak

meninggalkan gandok rumah Ki Gede. Wirastama pada hari

itu tidak datang sebagaimana dilakukan dihari-hari

sebelumnya. Sementara Glagah Putihpun nampaknya masih

segan-segan pula untuk pergi menemui mereka.

Ketika Agung Sedayu bertanya kepadanya apakah ia tidak

menemui Ki Lurah, maka Glagah Putihpun berkata, “Hari ini

tidak kakang. Besok saja.”

 

Agung Sedayu tidak memaksanya. Ia dapat mengerti

perasaan Glagah Putih. Karena itu, maka Agung Sedayulah

yang pergi menemui Ki Lurah.

Tetapi ternyata bahwa Ki Lurah ingin mengajak Teja

Prabawa dan Rara Wulan kerumah Agung Sedayu. Dengan

nada rendah Ki Lurah berkata, “Aku ingin memperkenalkan

Rara Wulan kepada isterimu ngger. Biarlah Rara Wulan

melihat, bahwa seorang perempuan dapat memiliki ilmu yang

tinggi. Bahkan sekedar bermain-main.”

“Ah” desah Agung Sedayu, “apa yang dapat dilakukan oleh

Sekar Mirah?”

Tetapi Ki Lurah benar-benar berniat untuk mengajak Rara

Wulan kerumah Agung Sedayu itu. Karena itu, maka katanya,

“Kalian tidak usah menganggap kami sebagai tamu, sehingga

kalian menjadi repot karenanya. Anggap saja kami sebagai

tetangga yang singgah sepulang dari pasar.”

Agung Sedayu tersenyum. Tetapi sudah barang tentu ia

tidak akan dapat menolaknya.

Setelah minta diri kepada Ki Gede, maka Ki Lurah telah

mengikuti Agung Sedayu kerumahnya bersama kedua

cucunya. Betapapun segannya Raden Teja Prabawa telah

diajak oleh Ki Lurah untuk mengikutinya.

Sekar Mirah tiba-tiba memang menjadi sibuk ketika Agung

Sedayu datang bersama tamu-tamunya. Glagah Putih ternyata

lebih senang berada didapur membantu mbokayunya daripada

menemui tamu-tamunya.

“Kesanalah.” minta Sekar Mirah, “temui tamu-tamu itu.”

“Nanti mBokayu sibuk sendiri.” jawab Glagah Putih.

“Ada anak itu. Ia dapat membantuku.” sahut Sekar Mirah.

“Didepan sudah ada kakang Agung Sedayu dan Ki

Jayaraga.” jawab Glagah Putih.

“Ah, kau.” potong Sekar Mirah, “kau tidak pantas berada

didapur. Hanya perempuan yang pantas berada didapur.”

“Kalau begitu kesempatan bagi perempuan lebih banyak

dari laki-laki.” sahut Glagah Putih.

“Kenapa?” bertanya Sekar Mirah.

“Perempuan pantas berada di dapur. Tetapi pantas berada

dalam sanggar olah kanuragan.” jawab Glagah Putih.

 

“Kau memang pandai membantah.” desak Sekar

Mirah,”ayo, pergilah menemui tamu-tamu itu. Cucu Ki Lurah

itu sebaya denganmu.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak

dapat mengelak lagi ketika Sekar Mirah mengancam, “Aku

akan memanggil kakakmu agar memaksamu menemui tamutamu

itu.”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun sebelum ia

beranjak, Agung Sedayu justru telah dipintu dapur. Katanya,

“Glagah Putih, temui tamu-tamu itu.”

Glagah Putih berpaling kearah Sekar Mirah yang

memandanginya sambil tersenyum. Katanya, “Nah, bukankah

kau memang harus keluar untuk menemui tamu-tamu kecil

itu?”Glagah Putih tidak menjawab. Iapun kemudian mengikuti

Agung Sedayu dan duduk ikut menemui tamu-tamu itu

bersamanya dan Ki Jayaraga yang kebetulan tidak berada

disawah.

Mula-mula mereka berbicara hilir mudik mengenai

perkembangan Tanah Perdikan. Beberapa kali Ki Lurah

sengaja menyinggung Raden Rangga agar kedua cucunya

benar-benar yakin bahwa Glagah Putih memang sahabat

dekat Raden Rangga itu. Demikian pula Ki Lurah dengan

sengaja menunjukkan kepada cucu-cucunya bahwa Agung

Sedayu itu adalah kawan mengembara Panembahan

Senapati. Pernah menjadi pelatih di barak Pasukan Khusus.

Kedua cucu Ki Lurah itu semakin merasa diri mereka kecil.

Apalagi ketika Ki Lurah juga menyinggung tentang Sekar

Mirah yang juga pernah membantu Agung Sedayu ikut serta

membina para prajurit dalam Pasukan Khusus.

“Tetapi dimana angger Sekar Mirah itu?” bertanya Ki Lurah.

“Di dapur Ki Lurah.” jawab Agung Sedayu.

“Ah, jangan begitu. Biarlah ia ikut menemui kami. Sudah

aku katakan, kami tidak perlu diperlakukan sebagai tamu.”

berkata Ki Lurah.

Tetapi Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Sekar Mirah

memang ada di dapur. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa.”

 

Ki Lurah tertawa. Tiba-tiba saja ia berpaling kepada Rara

Wulan. Katanya, “Bantulah mBokayu Sekar Mirah.”

Rara Wulan termangu-mangu. la benar-benar merasa

canggung. Namun Ki Lurah berkata kepada Glagah Putih,

“Tolong Glagah Putih, tunjukkan, dimanakah letak dapur itu.”

Glagah Putih memang merasa sangat segan sebagaimana

Rara Wulan. Tetapi ia tidak dapat menjawab.

Karena itu, Glagah Putihpun kemudian telah membawa

Rara Wulan kedapur. Namun terasa bahwa bajunya menjadi

basah oleh keringat.

Sekar Mirah memang terkejut. Tetapi Rara Wulan sambil

menunduk berkata, “Kakek memerintahkan aku untuk

membantu mBokayu.”

“Ah. Sudahlah Rara, Silahkan duduk saja didepan.” minta

Sekar Mirah.

Tetapi Rara Wulan tidak pergi. Ia berdiri saja termangumangu.

Sekar Mirahpun akhirnya menyadari, bahwa dengan

demikian gadis itu justru menjadi semakin bingung. Karena itu,

maka katanya kemudian, “Baiklah. Tolong Rara, bawa

minuman ini kedepan.”

Rara Wulanpun kemudian telah membawa nampan yang

berisi mangkuk dan dua buah teko dari tanah yang berisi air

sere yang hangat dengan beberapa potong gula kelapa.

Ketika Rara Wulan kemudian kembali lagi ke dapur, maka

iapun telah dipersilahkan membawa beberapa potong

makanan untuk dihidangkan pula. Tetapi Rara Wulan telah

membawa pesan Ki Lurah, agar Sekar Mirahpun ikut menemui

mereka.

Rara Wulan ternyata tidak mau meninggalkan dapur jika

Sekar Mirah tidak bersamanya. Sekar Mirah tidak dapat

menolak. Iapun kemudian meninggalkan dapur itu dan

menyerahkan agar perapian dijaga tetap menyala kepada

pembantunya.

“Jangan kau tinggal pergi.” pesan Sekar Mirah hampir

berbisik, “jika api itu padam, aku harus membuat api lagi nanti.

Sebentar lagi kita akan menanak nasi.”

 

Anak itu tidak menjawab. Tetapi setelah Sekar Mirah

menjauh, ia mulai bergeremang, “Lebih senang mencari kayu

di kebun daripada menunggui api.”

Sementara itu, diruang dalam pembicaraan menjadi

semakin riuh. Ternyata Sekar Mirah mampu memancing Rara

Wulan untuk melibatkan diri dalam pembicaraan mereka.

Justru Teja Prabawa dan Glagah Putihlah yang menjadi lebih

banyak diam dan mendengarkan.

Namun Sekar Mirah terkejut ketika tiba-tiba saja Ki Lurah

Branjangan berkata, “Angger Sekar Mirah. Kedatangan Wulan

kemari adalah karena Wulan ingin melihat buktinya bahwa

seorang perempuan dapat meniti sampai tataran yang tinggi

dalam ilmu kanuragan. Karena itu, Rara Wulan ingin mengikuti

angger Sekar Mirah melihat-lihat sanggar.”

“Ah.” sahut Sekar Mirah, “jika hanya melihat-lihat sanggar

kakang Agung Sedayu saja, kami tentu tidak akan

berkeberatan. Tetapi siapakah perempuan yang Ki Lurah

maksudkan itu?”

“Siapa lagi?” Ki Lurah justru bertanya, “ada berapa orang

perempuan dirumah ini?”

“Ah.” desis Sekar Mirah, “agaknya Ki Lurah telah salah

menilai.”

“Tentu tidak.” jawab Ki Lurah. Lalu, “Dan akupun telah

terlanjur menceriterakan, bahwa angger Sekar Mirah pernah

menjadi seorang pelatih pada Pasukan Khusus itu.”

“Ki Lurah Branjangan memang senang bergurau.” berkata

Sekar Mirah, “tetapi sudah tentu bahwa yang dimaksud

bukanlah yang sebenarnya.”

Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya, “Keluarga Agung

Sedayu adalah keluarga yang rendah hati. Aku sudah mengira

bahwa aku harus memaksa jika Rara Wulan benar-benar ingin

melihat angger Sekar Mirah bermain barang sejenak didalam

sanggar.”

Sekar Mirah termangu-mangu. Dipandanginya wajah

Agung Sedayu yang berkerut. Nampaknya Agung Sedayupun

tidak segera dapat mengambil sikap.

Namun ternyata Ki Lurah telah mendesaknya, “Marilah,

Dimuka para prajurit dalam Pasukan Khusus angger Sekar

 

Mirah tidak segan menunjukkan kemampuannya. Sudah tentu

akan demikian pula sekarang.”

Sekar Mirah masih saja ragu-ragu. Tetapi Agung

Sedayulah yang kemudian mengambil keputusan, “Baiklah Ki

Lurah. Kita akan pergi ke sanggar.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu

Agung Sedayu berkata kepadanya, “berkemaslah. Kau harus

berganti pakaian untuk memasuki sanggar.”

Sekar Mirah memang tidak dapat mengelak lagi. Iapun

kemudian bergeser meninggalkan tamu-tamunya dan masuk

kedalam biliknya untuk berganti pakaian.

Sejenak kemudian mereka telah berada didalam sanggar

yang tidak begitu luas dibandingkan dengan sanggar Pasukan

Khusus. Di sanggar Pasukan Khusus itu kedua cucu Ki Gede

pernah melihat Wirastama mempertunjukkan kemampuannya,

yang ternyata jauh berada dibawah kemampuan Glagah Putih

yang dianggapnya tidak lebih dari anak pedesan yang kaki

dan pakaiannya kotor karena lumpur di sawah.

Untuk beberapa saat mereka mengamati isi sanggar itu.

Berbagai macam senjata tergantung di dinding. Disalah satu

sudutnya berdiri beberapa tonggak kelapa utuh yang tidak

sama tingginya. Kemudian terdapat beberapa batang bambu

yang silang menyilang. Di sudut yang lain terdapat pasir dalam

kotak yang besar. Disebelahnya kerikil halus yang juga

terdapat didalam kotak. Potongan-potongan kayu yang

bergantungan disebelah lain. Kemudian tali temali yang

bergayutan. Disalah satu sudutnya terdapat sebuah amben

bambu yang nampaknya sudah terlalu tua sehingga tidak lagi

dapat dipergunakan untuk duduk.

Meskipun Rara Wulan tidak memahami penggunaan alatalat

itu, namun yang sangat menarik perhatiannya justru

amben tua itu. Kenapa amben itu tidak dibuang saja sehingga

tidak mengurangi ruangan yang ada didalam sanggar itu.

Ruang yang barangkali dapat dipergunakan untuk

kepentingan yang lain.

Ki Lurah agaknya melihat bahwa Rara Wulan tertarik

kepada amben tua itu. Karena itu, maka iapun bertanya,

“Nampaknya kau memperhatikan amben tua itu? Kau tentu

 

menganggap bahwa amben tua itu tidak ada artinya didalam

sanggar sehingga sebaiknya dibuang saja.”

Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi ia memang ingin tahu

untuk apa amben tua itu berada disitu. Namun Ki Lurah tidak

memberikan jawaban atas pertanyaan itu, sehingga karena

itu, maka Rara Wulan memang harus menunggu.

Demikianlah, maka Sekar Mirah memang tidak dapat

mengelak lagi. Ia harus mempertunjukkan kemampuannya

kepada Rara Wulan. Karena itu, maka sejenak kemudian,

maka Sekar Mirah telah berdiri ditengah-tengah sanggar itu.

Beberapa saat ia mempersiapkan dirinya. Kemudian perlahanlahan

tangannya mulai bergerak. Mula-mula kedua tangannya

terangkat menengadah. Kemudian perlahan-lahan pula

telapak tangannya mengatup didepan dadanya. Kemudian

tangan itu telah bergerak pula perlahan-lahan terbuka.

Sekar Mirah mulai menggerakkan kakinya. Loncatanloncatan

kecil dan gerak tangan yang semakin cepat. Namun

Sekar Mirah nampaknya baru melakukan pemanasan. Tetapi

geraknya semakin lama menjadi semakin cepat. Tangannya

berputar semakin cepat pula, seirama dengan loncatanloncatan

kakinya yang tangkas.

Rara Wulan dan Teja Prabawa memperhatikan tata gerak

Sekar Mirah dengan dada yang berdebaran. Ia pernah melihat

permainan Wirastama didalam sanggar. Yang dilakukan oleh

Sekar Mirah itu memang belum serumit yang pernah

ditunjukkan oleh Wirastama. Namun mereka menyadari,

bahwa Sekar Mirah nampaknya memang baru mulai.

Sebenarnyalah semakin lama Sekar Mirah bergerak

semakin cepat. Ia mulai berloncatan dengan langkah-langkah

panjang. Bahkan sejenak kemudian Sekar Mirah telah

meloncat keatas sebatang patok batang kelapa.

Dengan tangkasnya Sekar Mirah berloncatan dari satu

patok kepatok lainnya yang tidak sama tingginya. Bahkan

kemudian Sekar Mirah telah meloncat ke patok-patok bambu

petung.

Rara Wulan dan Teja Prabawa menjadi semakin berdebardebar.

Ternyata bahwa tata gerak Sekar Mirah semakin lama

menjadi semakin rumit, sehingga akhirnya, ketika Sekar Mirah

 

mulai mengerahkan tenaga dalamnya, geraknyapun menjadi

semakin cepat. Dengan demikian, maka tubuh Sekar Mirah itu

seakan-akan berubah bagaikan bayangan yang berterbangan

dan hinggap dari satu patok ke patok lainnya. Bahkan sekalisekali

Sekar Mirah tidak hinggap pada kakinya, tetapi

tangannyalah yang berpijak pada patok-patok bambu.

Kemudian melenting dan berputar. Dengan lembut kakinyalah

yang kemudian menyentuh patok-patok berikutnya.

Beberapa saat kemudian Sekar Mirah telah meloncat turun.

Kembali ia bermain ditengah-tengah arena. Tetapi tidak lagi

sebagaimana ia baru mulai. Sekar Mirah ternyata telah

menunjukkan kekuatannya dan kemampuannya. Ayunan

tangannya telah menimbulkan desir angin yang menerpa

orang-orang yang sedang menyaksikannya.

Teja Prabawa dan Rara Wulan menjadi semakin termangumangu.

Yang dilakukan Sekar Mirah kemudian telah

melampaui kemampuan yang pernah ditunjukkan oleh

Wirastama di sanggar Pasukan Khusus di Tanah Perdikan itu.

Sekar Mirah ternyata mampu bergerak lebih cepat dan

menunjukkan unsur-unsur gerak yang lebih meyakinkan.

Beberapa saat lamanya Sekar Mirah berloncatan.

Disentuhnya pula pasir yang berada didalam kota yang besar

itu. Pukulan-pukulan telapak tangan dan ujung-ujung jari yang

merapat. Demikian kerasnya, sehingga mereka yang

menyaksikannya dapat membayangkan, jika tangan itu

mengenai tubuhnya. Bahkan kemudian sisi telapak tangan

Sekar Mirah dan ujung-ujung jarinya yang merapat telah

menusuk kerikil halus dikotak yang lain.

Teja Prabawa menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar

merasa bersalah atas sikapnya. Dengan melihat kemampuan

Glagah Putih dan Sekar Mirah, maka dapat membayangkan

kemampuan Agung Sedayu.

Yang terakhir, ternyata Sekar Mirah telah menjawab

pertanyaan yang bergejolak dihati Rara Wulan tentang amben

tua yang hampir roboh itu, ketika tiba-tiba saja Sekar Mirah

telah meloncat ke atasnya.

Amben itu memang berderit. Tetapi hanya sekali. Namun

amben tua itu ternyata tidak pecah berserakan ketika Sekar

 

Mirah berloncatan diatasnya. Bahkan amben tua itu sama

sekali tidak berderak dan seakan-akan tidak bergerak sama

sekali.

Ki Lurah Branjangan yang menyaksikan permainan Sekar

Mirah itu menarik nafas dalam-dalam. Yang dilakukan itu

adalah sekedar permainan sendiri. Jika menghadapi lawan,

maka kekuatan dan kemampuannya akan terpancing semakin

tinggi.

Bahkan Teja Prabawa dan Rara Wulan yang tidak

memahami tentang olah kanuragan, telah mengagumi

permainan Sekar Mirah itu. Mereka dapat mengerti, bahwa

yang dilakukan oleh Sekar Mirah diatas amben itu adalah

ungkapan dari kemampuannya yang sangat tinggi. Tubuhnya

seakan-akan telah kehilangan sebagian dari bobotnya

sehingga amben tua itu mampu menyangganya.

Beberapa saat lamanya Sekar Mirah bermain diatas amben

tua itu. Baru kemudian, iapun telah meloncat turun.

Geraknyapun semakin lama semakin perlahan-lahan.

Kemudian berhenti sama sekali. Hanya kedua tangannya

sajalah yang masih menengadah. Namun sejenak kemudian

telah bergerak dan kedua telapak tangannya terkatup dimuka

dadanya.

Demikian Sekar Mirah itu mengangguk hormat kepada Ki

Lurah Branjangan, maka Ki Lurah dan kedua cucunya hampir

tanpa disadarinya telah bertepuk tangan.

“Luar biasa.” berkata Ki Lurah, “aku yakin bahwa

kemampuan angger Sekar Mirah di medan perang yang

sesungguhnya jauh lebih tinggi dari yang sudah kau

pertunjukkan itu.”

“Satu permainan yang tidak berharga Ki Lurah.” berkata

Sekar Mirah.

“Sangat mengagumkan.” desis Ki Lurah, yang kemudian

berkata kepada kedua cucunya, “Nah, kau lihat? Apa yang

telah dilakukan oleh mBokayumu Sekar Mirah? sekarang

kalian baru percaya sepenuhnya bahwa mBokayumu Sekar

Mirah pernah menjadi salah seorang yang memberikan

latihan-latihannya kepada para prajurit di Pasukan Khusus

membantu suaminya. Agung Sedayu.”

 

Rara Wulan mengangguk-angguk. Dengan nada lemah ia

berkata, “Sungguh diluar dugaan. Wirastama pernah juga

mempertunjukkan permainan di sanggar Pasukan Khusus.

Waktu itu aku sangat mengagumi kemampuannya. Namun

setelah aku melihat apa yang dilakukan oleh mBokayu Sekar

Mirah, maka yang dilakukan oleh Wirastama itu belum

mengimbanginya.”

“Ah, tentu tidak.” desis Sekar Mirah, “yang aku lakukan

hanya sekedarnya saja. Sebagai isteri kakang Agung Sedayu

maka aku merasa berkewajiban untuk serba sedikit memiliki

bekal olah kanuragan. Pada saat-saat kami menginjak masa

berkeluarga, keadaan menuntun aku dapat melindungi diri

serba sedikit, karena kakang Agung Sedayu banyak dipanggil

oleh tugas-tugasnya keluar rumah.”

Tetapi Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya, “Murid Ki

Sumangkar ini sudah kejangkitan penyakit Agung Sedayu.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Namun iapun

tersenyum ketika Ki Lurah berkata, “Bagaimana dengan

tongkat baja putihmu itu?”

Sekar Mirah mengerti, bahwa Ki Lurah Branjangan ingin

mengatakan bahwa sejak ia belum kawin dengan Agung

Sedayu, ia sudah murid Ki Sumangkar. Tetapi Sekar Mirah

tidak menjawab. Ia hanya berdiri saja termangu-mangu.

Namun dalam pada itu, Ki Lurah itupun telah bertanya

kepada Rara Wulan “Apakah kau ingin mampu berbuat seperti

itu? “

“Ah. Hanya perempuan yang kasar sajalah yang pantas

berusaha untuk mempelajari ilmu seperti itu “berkata Sekar

Mirah.

“Siapa tahu, Rara Wulan ingin menjadi seorang perempuan

yang kasar “sahut Ki Lurah Branjangan sambil tertawa.

Agung Sedayu tertawa. Sementara itu Ki Jayaraga yang

berpaling kearah Glagah Putih melihat anak muda itu

menunduk saja.

“Kau sempat berpikir “berkata Ki Lurah “besok atau lusa

kau dapat memberikan jawaban. Jika kau bersedia, maka

tentu angger Sekar Mirah tidak akan berkeberatan untuk

menuntunmu. Jika kau tidak terlalu dungu, maka dalam

 

beberapa tahun, serba sedikit kau tentu akan dapat

menguasainya. “

Rara Wulan mengerutkan keningnya. Memang satu

keinginan telah melonjak dihatinya. Tetapi hampir diluar

sadarnya ia bertanya “Jika aku ingin, apakah mbokayu Sekar

Mirah bersedia tinggal bersama kami? “

“Jangan bodoh “sahut Ki Lurah Branjangan “jika kau

berguru, kaulah yang tinggal bersama gurumu. Bukan gurumu

harus tinggal bersamamu dirumahmu. “

“O “wajah Rara Wulan menjadi merah.

Tetapi Ki Jayaraga menyahut “Kecuali aku. Aku justru

tinggal bersama muridku, karena aku memang tidak lagi

mempunyai tempat tinggal. “

“Satu kelainan “Ki Lurah tertawa. Ki Jayaragapun tertawa

pula.

Namun Agung Sedayulah yang kemudian minta mereka

untuk kembali keruang dalam. Demikian mereka duduk, maka

Sekar Mirah telah minta diri untuk berganti pakaian. Tetapi ia

tidak segera menemui tamu-tamunya lagi. Diam-diam Sekar

Mirah telah pergi ke dapur untuk menanak nasi dan

menyiapkannya untuk menjamu tamu-tamunya itu.

Tetapi ia terkejut ketika Rara Wulan tiba-tiba saja menjadi

akrab dan membantunya didapur. Gadis itu tidak mau pergi

keruang dalam. Ia ingin ikut bekerja didapur dengan Sekar

Mirah.

“mBokayu luar biasa “berkata Rara Wulan “seseorang yang

melihat mBokayu didapur begini, orang tidak menyangka

bahwa mBokayu berilmu sangat tinggi. “

“Aku adalah seorang perempuan Rara. Bagaimanapun

juga, aku tidak akan dapat meninggalkan kodratku menurut

tatanan adatku. Seorang perempuan sepantasnya berada di

dapur. Karena itu, maka meskipun kakang Agung Sedayu

memberiku kesempatan apapun juga sehingga seakan-akan

aku tidak ada bedanya lagi dengan kakang Agung Sedayu

sendiri untuk menentukan langkah-langkah pilihan, namun aku

tetap seorang perempuan “berkata Sekar Mirah.

Rara Wulan mengangguk kecil. Sementara itu, Sekar Mirah

berkata pula “Betapapun seorang perempuan memiliki derajat

 

yang sama disamping laki-laki, namun ia adalah perempuan.

Adapun jenis yang lain adalah laki-laki. Pada suatu saat

perempuan harus melahirkan anaknya dan menyusuinya. Kita

tidak akan dapat menuntut laki-laki untuk melakukannya. “

“Ya mBokayu “suara Rara Wulan menjadi berat.

“Ah, sudahlah “berkata Sekar Mirah “jika kau memang ingin

membantuku, tolong parutkan kelapa muda.

“Baik. Baik mBokayu “jawab Rara Wulan.

Sekar Mirahpun kemudian mengerjakan pekerjaan yang

lain didapur itu sambil memperhatikan Rara Wulan memarut

kelapa. Namun setiap kali Sekar Mirah tersenyum. Ternyata

gadis itu tidak begitu pandai bekerja di dapur. Meskipun ia

tidak memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, tetapi iapun tidak

memiliki kemampuan untuk menjadi seorang perempuan yang

lengkap bekerja di dapur.

“Agaknya yang dilakukannya dirumahnya yang barangkali

besar dan terlalu baik menurut ukuran padesan, hanyalah

bersolek saja “Berkata Sekar Mirah didalam hatinya. Bahkan

menurut sikap dan kata-kata yang terucapkan, maka gadis itu

tentu seorang gadis yang manja.

Tetapi ternyata bahwa Rara Wulan telah menempuh jalan

yang lebih baik dari Teja Prabawa. Jika anak muda itu tidak

segera menempatkan dirinya, maka ia akan menjadi seorang

laki-laki yang canggung dan cengeng. Sehingga tidak ada

yang dapat dilakukannya. Apalagi menjadi pendahulu dari

anak-anak muda sebayanya.

Ketika kemudian Sekar Mirah duduk disebelah Rara Wulan,

maka ia melihat tangan gadis itu telah tergores oleh

parut kelapa. Sekali-sekali gadis itu memang menyeringai.

Tetapi ia tidak mengeluh betapa pedihnya jari-jarinya yang

tergores di beberapa tempat itu.

Sambil tersenyum Sekar Mirah berkata “Pada saatnya, kau

akan dapat melakukannya tanpa membuat jari-jarimu menjadi

pedih. “

“Ah, tidak apa-apa mBokayu “jawab Rara Wulan. Sekar

Mirah masih saja tersenyum. Tetapi ia tidak bertanya

lagi.

 

Demikianlah, Rara Wulan tetap berada didapur sampai

saatnya masakan itu siap. Nasi dan sayur serta lauk pauknya.

Ketika nasi hangat itu dihidangkan, maka Ki Lurah Branjanganpun

berkata “Baunya membuat perutku menjadi sangat

lapar. “

“Rara Wulanlah yang masak hari ini “jawab Sekar Mirah

yang menghidangkan nasi itu.

Tetapi dengan cepat Rara Wulan menyahut “Bukan. Bukan

aku. “

“Ki Lurah “berkata Sekar Mirah kemudian “lihat ujung-ujung

jari Rara Wulan yang kena parut kelapa. “

“Ah “Rara Wulan hanya dapat berdesah.

“Marilah “Ki Jayaraga kemudian mempersilahkan “kita akan

makan bersama-sama. Aku sudah lapar sekali. “

Rara Wulanpun kemudian telah duduk disebelah kakaknya

yang telah banyak diam sebagaimana Glagah Putih.

Sedangkan Sekar Mirah duduk menepi, karena ia harus

melayani tamu-tamunya berganti-ganti. Tetapi Sekar Mirahpun

kemudian telah ikut pula makan bersama mereka.

Tetapi belum lagi mereka selesai makan, maka tiba-tiba

saja pembantu dirumah Agung Sedayu itu masuk keruang

dalam. Sejenak ia termangu-mangu. Namun Agung Sedayulah

yang kemudian bertanya “Ada apa? “

“Ada tamu diluar “jawab anak itu.

“Tamu? “Dimana sekarang? “bertanya Agung Sedayu pula.

“Sudah duduk dipendapa “jawab anak itu.

“Baiklah. Sebentar lagi, aku akan menemuinya “jawab

Agung Sedayu. Lalu “Katakan, bahwa aku sedang perlu

sebentar. “

Anak itupun kemudian keluar dari ruang dalam dan pergi ke

pendapa untuk mempersilahkan tamunya menunggu.

Ketika Agung Sedayu kemudian mendahului meninggalkan

amben besar tempat ia bersama tamu-tamunya makan, maka

Sekar Mirahlah yang kemudian mempersilahkan tamutamunya

untuk meneruskan makan.

Agung Sedayu mengerutkan dahinya ketika ia melihat

seseorang duduk di pendapa. Wajahnya sudah nampak

digoresi oleh garis-garis umurnya, sedangkan satu dua helai

 

rambutnya yang tergerai dibawah ikat kepalanya, nampaknya

memang sudah putih.

Ketika Agung Sedayu menemuinya, maka orang itu

bertanya “Apakah Angger yang bernama Agung Sedayu? “

“Ya Ki Sanak. Aku Agung Sedayu “jawab Agung Sedayu

“kemudian jika tidak berkeberatan, apakah aku boleh

mengetahui siapakah Ki Sanak ini? “

Orang itu tersenyum. Katanya “Aku kawan dekat Ki Lurah

Branjangan. Akulah yang disebut Ki Lurah Citra-bawa. “

Dada Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ternyata

orang itulah yang bernama Ki Lurah Citrabawa. Sementara

orang itu bertanya “Apakah Ki Lurah Branjangan ada di sini? “

“Ya Ki Lurah. Ki Lurah Branjangan memang ada disini

“jawab Agung Sedayu.

“Untunglah bahwa aku dapat menemukannya “berkata Ki

Lurah Citrabawa. Lalu katanya “Apakah aku boleh

menemuinya? “

“Tentu Ki Lurah “jawab Agung Sedayu “Ki Lurah

Branjangan sedang makan. Marilah, aku persilahkan Ki Lurah

Citrabawa untuk makan bersamanya. “

“Terima kasih ngger “jawab Ki Lurah Citrabawa “aku akan

menunggu disini. Aku sudah makan tadi di perjalanan. “

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas

terbayang apa yang sudah terjadi di lereng bukit. Persoalan

yang timbul antara Glagah Putih dengan anak Ku Lurah

Citrabawa itu.

Karena Ki Citrabawa tidak mau masuk keruang dalam,

maka Agung Sedayu itupun berkata “Ki Lurah. Baiklah jika Ki

Lurah Tidak bersedia untuk makan bersama kami. Aku akan

memberitahukan kehadiran Ki Lurah kepada Ki Lurah

Branjangan. “

“Terima kasih ngger. Aku akan menunggu disini “jawab Ki

Lurah Citrabawa.

Agung Sedayupun kemudian telah melangkah masuk. Ternyata

mereka yang berada diruang dalam telah selesai juga.

Bahkan Sekar Mirah dan Rara Wulan telah mulai mengatur

mangkuk-mangkuk kotor untuk disingkirkan.

 

Tetapi Agung Sedayu berkata kepada istrinya “Duduklah.

Kita mempunyai tamu. “

“Siapa? “bertanya Sekar Mirah.

“Kau belum pernah mengenalnya. Tetapi Ki Lurah

Branjangan tentu sudah “jawab Agung Sedayu.

Sekar Mirahpun telah duduk kembali. Demikian pula Rara

Wulan. Namun nampak berbagai macam pertanyaan diwajahwajah

mereka.

“Siapakah tamunya itu? “bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Ki Lurah Citrabawa “jawab Agung Sedayu.

Orang-orang yang berada diruang dalam itu memang

terkejut. Namun yang terkilas diangan-angan mereka adalah

peristiwa

yang baru saja terjadi.

“Baiklah “berkata Ki Lurah Branjangan “aku akan

menemuinya. “

“Marilah Ki Lurah, aku antar Ki Lurah ke pendapa “sahut

Agung Sedayu.

Demikianlah, maka Ki Lurah Branjangan dan Agung

Sedayu telah keluar ke pendapa. Sementara itu Sekar Mirah

dan Rara Wulan justru telah duduk kembali.

Namun gadis itu tidak menjadi terlalu gelisah, la melihat

dirumah itu ada Glagah Pulih, Sekar Mirah, Agung Sedayu

sendiri dan orang yang disebut guru Glagah Putih yang lain, Ki

Jayaraga. Jika terjadi sesuatu, maka mereka akan menjadi

pelindung yang baik disamping kakeknya sendiri.

Dipendapa, Ki Lurah Branjangan dan Agung Sedayu telah

duduk menghadap tamunya yang mendebarkan itu. Namun

menurut pengamatan Agung Sedayu, sikap Ki Lurah itu bukan

sikap yang bermusuhan.

“Ki Lurah Branjangan “berkata Ki Lurah Citrabawa

kemudian “kedatanganku kemari sebenarnya bukan karena

niatku sendiri. Aku sekedar melakukan permintaan orang lain

kepadaku untuk bertemu dengan Ki Lurah. “

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Tetapi

rasa-rasanya ia telah dapat meraba, apa yang akan dikatakan

oleh Ki Lurah Citrabawa itu.

 

Meskipun demikian Ki Lurah Branjangan bertanya juga

“Siapakah orang itu? “

Ki Lurah Citrabawa termangu-mangu sejenak. Kemudian

katanya “Ki Lurah. Aku tidak dapat menolak permintaan orang

itu. la adalah orang yang memiliki banyak kelebihan dari aku. “

Ki Lurah Branjangan tiba-tiba saja telah menebak “Guru

anakmu itu Ki Lurah? “

Ki Lurah Citrabawa menarik nafas panjang. Sambil

mengangguk ia berkata “Ya. Guru anakku itu. Ia mempunyai

segala-galanya untuk memaksaku datang kepada Ki Lurah

Branjangan. Meskipun aku mula-mula merasa berkeberatan. “

“Apa katanya? “bertanya Ki Lurah Branjangan.

Ki Lurah Citrabawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya

“Tetapi setelah aku merenunginya, maka aku justru merasa

wajib untuk datang menemuimu. Sepantasnya bahwa aku

minta maaf kepadamu atas perlakuanku terhadap keluargamu.

Aku juga minta maaf kepada Kepala Tanah Perdikan

Menoreh, karena aku sudah membuat kerusuhan di wilayah

kuasanya. “

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Sementara Ki

Lurah Citrabawa berkata selanjutnya “Tetapi selain itu, ada

yang ingin aku sampaikan kepada Ki Lurah. “

“Aku sudah dapat menduga “sahut Ki Lurah Branjangan.

“Ya. Kau tentu sudah dapat menduga. Guru anakku itu

memang merasa terhina. Aku diminta untuk mengatakan

kepada Ki Lurah Branjangan, bahwa ia menginginkan Glagah

Putih. Jika tidak, maka ia sendiri akan mengambil Rara Wulan,

berkata Ki Citrabawa.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Sambil

berpaling kepada Agung Sedayu ia berkata “Ternyata

kehadiranku disini telah membawa persoalan bagi Tanah

Perdikan ini. Setidak-tidaknya keluargamu, ngger. “

Agung Sedayu mengangguk kecil. Tetapi iapun kemudian

berkata “Tetapi seandainya Ki Lurah tidak datang kemari,

maka persoalan inipun tidak akan dapat Ki Lurah hindari.

Justru kehadiran Ki Lurah kemari, maka Ki Lurah mendapat

beberapa orang kawan yang dapat bersama-sama dengan Ki

Lurah menanggapi persoalan ini. “

 

Ki Lurah mengangguk-angguk pula. Katanya “Terima kasih

atas kesediaanmu ngger. Aku juga harus berterima kasih

kepada Ki Gede Menoreh. “

Dalam pada itu Ki Citrabawa berkata “Ki Lurah.

Kesediaanku untuk datang sendiri juga didorong oleh

keinginanku untuk memberikan sedikit peringatan kepada Ki

Lurah, bahwa

guru anakku ilu termasuk seorang yang kasar, la memang

berilmu tinggi, Namun kadang-kadang sikapnya aneh.

Tanggapannya atas satu persoalan tidak dapat ditebak sama

sekali. “

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Tetapi ia tibatiba

bertanya “Ki Lurah. Apakah niatmu memberi peringatan

kepadaku, atau kau sedang menakut-nakuti aku? “

“Aku berkata sesungguhnya. Aku memang ingin

memberimu peringatan. Mudah-mudahan kau menemukan

jalan keluar. Aku tahu, bahwa Glagah Putih tidak bersalah, la

memang berilmu tinggi. Tetapi sudah barang tentu ia akan

mengalami kesulitan jika ia benar-benar harus berhadapan

dengan guru anakku itu, “berkata Ki Lurah Citrabawa.

“Ki Lurah “berkata Ki Lurah Branjangan pula “apakah

kau tahu nama guru anakmu itu? “

“Sudah tentu “jawab Ki Lurah Branjangan “ia adalah

seorang tua yang berilmu sangat tinggi, berkelakuan aneh dan

kasar, serta tidak ragu-ragu bertindak. Namanya Ki Ajar Sigar-

Welat. “

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Dengan

nada rendah ia mengulangi “Ki Ajar Sigarwelat. Nama yang

menarik. Tetapi apakah Ki Citrabawa pernah mendengar

nama Ki Ajar Wadal? “

Ki Lurah Citrabawa menggelengkan kepalanya. Sementara

itu Ki Lurah Branjangan bertanya pula “Bagaimana dengan

padepokan Kaliwalik? “

“Aku belum pernah mendengar “jawab Ki Citrabawa.

“Aneh Ki Lurah. Padepokan itu adalah padepokan tua.

“berkata Ki Lurah Branjangan.

 

“Pengetahuanku memang terlalu sedikit. Aku tidak banyak

mendengar nama orang-orang berilmu serta padepokanpadepokannya.

“jawab Ki Lurah Citrabawa.

“Baiklah. Tetapi kau tentu sudah dapat menduga pula

jawabku atas permintaan Ki Ajar Sigarwelat itu agar aku

menyerahkan Glagah Putih. “berkata Ki Lurah Branjangan.

“Aku sudah menduga. Kau tentu berkeberatan. Tetapi aku

ingin memberitahukan kepadamu, bahwa orang yang bernama

Sigarwelat itu tidak bermain-main dengan kata-katanya, la

tentu akan datang untuk mengambil Rara Wulan. Jika hal itu

dilakukannya, maka kalian tentu akan sulit untuk

mempertahankannya “berkata Ki Citrabawa.

Tetapi Ki Lurah berkata “Jika demikian, maka aku akan

sama sekali minta pertolongan guru Glagah Putih. Ki Lurah

Citrabawa. Jika guru anakmu yang bernama Ki Sigarwelat itu

mencampuri persoalan muridnya, maka guru Glagah Putihpun

tentu akan melakukan hal yang sama. “

“Siapakah guru Glagah Putih? “bertanya Ki Lurah

Citrabawa.

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Namun

tiba-tiba saja ia berkata “Namanya Panembahan Agung. “

“Panembahan Agung? “wajah Ki Lurah Citrabawa menjadi

tegang “maksudmu Panembahan Agung dan Panembahan Alit

yang memiliki kemampuan menciptakan bentuk-bentuk semu

itu? Tetapi bukankah mereka telah lama mati? “

“O, bukan. Bukan. Jika demikian namanya akan berganti.

Panembahan Sedayu. “sahut Ki Lurah Branjangan.

Ki Lurah Citrabawa mengerutkan keningnya. Namun

kemudian iapun berkata “Ki Lurah Branjangan masih saja

senang bergurau. Dalam keadaan apapun, bahkan dalam

keadaan seperti ini. Nampaknya Ki Lurah ingin mengatakan

bahwa guru Glagah Putih adalah Agung Sedayu. “

Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya “Ya. Bukankah kau

sudah mengenal Agung Sedayu. “

“Aku mengenalnya. Aku mencari Ki Lurah tadi dirumah Ki

Gede. Tetapi para penjaga regol mengatakan bahwa Ki Lurah

ada dirumah Agung Sedayu. Dan akupun sudah

 

memperkenalkan diri dan mengenal bahwa orang itulah yang

bernama Agung Sedayu. “berkata Ki Lurah Citrabawa.

“Ya. Orang inilah Agung Sedayu. Guru Glagah Putih.

Jika ada orang lain yang mengganggu Glagah Putih,

apalagi karena sakit hati seperti Ki Ajar Sigarwelat itu, maka

sudah barang tentu Agung Sedayu tidak akan membiarkannya

“berkata Ki Lurah Branjangan.

Ki Citrabawa memandang Agung Sedayu dengan

tajamnya. Namun kemudian katanya “Apakah Agung Sedayu

yang masih muda ini akan dapat menghadapi Ki Ajar

Sigarwelat? “

“Murid Ki Ajar itu kalah dari murid Agung Sedayu “jawab Ki

Lurah Branjangan.

“Bukankah itu bukan ukuran yang mutlak? “bertanya Ki

Lurah Citrabawa.

“Ki Lurah benar “jawab Ki Lurah Branjangan “tetapi sebagai

satu ukuran penjajagan, maka hal itu dapat dipergunakan.

Apalagi guru Glagah Putih menganggap bahwa Glagah Putih

tidak bersalah. “

“Aku mengerti. Tetapi baiklah, apapun sikap yang akan kau

ambil. Aku sudah berusaha untuk mengurangi kesalahanku

dengan memberikan sedikit keterangan tentang Ki Ajar

Sigarwelat itu. Namun segala sesuatunya memang tergantung

kepada kalian semuanya. “berkata Ki Lurah Citrabawa.

“Terima kasih atas keteranganmu Ki Lurah. Tetapi kami

mohon kau sampaikan kepada Ki Ajar Sigarwelat, bahwa kami

tidak akan menyerahkan Glagah Putih dan sudah tentu juga

tidak akan menyerahkan Rara Wulan dalam keadaan hidup.

“berkata Ki Lurah Branjangan.

“Apa maksudmu? “bertanya Ki Citrabawa.

“Maksudku jelas. Nah, sampaikan saja kepada Ki Ajar

Sigarwelat agar ia menilai jawaban kami. Terserah, apakah ia

akan melanjutkan maksudnya atau tidak. Namun jika ada

sedikit keberanian dari Ki Ajar Sigarwelat, kami menunggu

keterangannya. Kecuali jika ia akan bertindak licik dan

berusaha menculik cucuku dengan diam-diam seperti laku

 

seorang pencuri. Padahal menilik namanya, ia tentu seorang

yang perkasa. Dan barangkali telah memiliki ilmu Sapu Angin

yang sempurna “berkata Ki Lurah Branjangan.

Ki Lurah Citrabawa menarik nafas dalam-dalam. Menilik

ketegangan di wajahnya, maka Ki Lurah Branjangan dapat

membaca isi hati Ki Citrabawa itu. Karena itu, maka katanya

Tetapi jika kau tidak mempunyai keberanian untuk

mengatakannya kepada Ki Ajar itu, sudahlah. Jangan

memaksa diri. Bukankah ia orang berilmu tinggi, sehingga sulit

untuk diajak berbicara sebagaimana kau katakan, bahkan ia

mempunyai sifat yang aneh? “

Ki Lurah Citrabawa tiba-tiba menundukkan wajahnya. Ia

memang merasa terlalu kecil dihadapan guru anaknya itu.

Namun ia tidak mengakuinya dihadapan Ki Lurah Branjangan

meskipun Ki Lurah Branjangan itu dapat menebaknya.

“Sudahlah Ki Lurah Branjangan “tiba-tiba saja Ki Citrabawa

itu berkata “aku minta diri. Aku akan kembali. Aku akan

mengatakan bahwa aku sudah bertemu dengan kalian dan

aku sudah menyampaikan pesannya. “

“Baiklah. Kamipun minta Ki Lurah menyampaikan jawaban

kami “berkata Ki Lurah Branjangan.

“Orang itu tentu akan sangat marah “desis Ki Citrabawa

“berhati-hatilah. Ki Ajar itu merasa dirinya orang terpenting

dan memiliki kemampuan tertinggi di seluruh dunia. Karena

itu, maka ia memang mempunyai kelakuan yang aneh. “

“Mungkin ia memang orang yang berilmu tertinggi di-dunia.

Tetapi betapapun tingginya kemampuan dan ilmu seseorang,

tetapi ia tetap seorang manusia yang mempunyai

keterbatasan. Nah, katakan kepadanya, bahwa pada suatu

saat, ia akan sampai kebatas itu. “jawab Ki Lurah Branjangan.

Ki Citrabawa tersenyum. Tetapi alangkah kecutnya

senyumnya itu.

Demikianlah, sejenak kemudian Ki Lurah Citrabawa itu

telah meninggalkan rumah Agung Sedayu. Betapapun gejolak

diperasaannya, namun ia memang tidak mempunyai

kemampuan, bahkan keberanian untuk berbuat sesuatu yang

tidak dikehendaki oleh guru anaknya itu.

 

Sepeninggal Ki Lurah Citrabawa, maka seisi rumah Agung

Sedayu itupun telah berbincang tentang kedatangan Ki Lurah

Citrabawa itu. Ki Lurah Branjangan sengaja membicarakannya

dihadapan Rara Wulan dan Glagah Putih, sehingga dengan

demikian maka mereka akan menjadi berhati-hati.

Namun sebenarnyalah bahwa Rara Wulan menjadi sangat

ketakutan. Baginya, tanpa perlindungan orang lain, ia tidak

akan dapat menghindarkan diri dari kemungkinan buruk itu.

Dalam pada itu, maka Ki Jayaragapun berkata “Baiklah,

Kita harus menerima tantangan ini. Aku tentu tidak akan

membiarkan muridku disakiti. Apalagi dalam perlakuan yang

tidak adil. “

Agung Sedayupun mengangguk-angguk. Namun kemudian

katanya kepada Ki Lurah “Ki Lurah. Sebaiknya kita mengambil

langkah-langkah untuk mengamankan Rara Wulan. “

Ki Lurah Branjangan mengangguk kecil. Memang tidak ada

cara lain untuk mengamankan Rara Wulan daripada

mendapat perlindungan dari orang-orang yang memiliki

kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan Ki Ajar

Sigarwelat.

Bahkan seandainya Rara Wulan dibawa kembali ke Matarampun

keadaannya akan tetap berbahaya baginya. Mungkin

ayahnya akan dapat membawa kelompok prajurit untuk

menjaga rumahnya. Tetapi sudah barang tentu dengan

demikian Rara Wulan akan merasa dirinya selalu dibayangi

oleh ketakutan jika ia keluar rumah untuk keperluan apapun.

Sedangkan sekelompok prajurit itu belum tentu akan dapat

menjamin, bahwa Ki Ajar tidak akan dapat mengambil

cucunya itu. Ki Ajar akan dapat mengajak muridnya

menyerang rumah Ki Tumenggung dan kemudian melarikan

Rara Wulan. Atau jika tidak mungkin lagi membawanya gadis

itu tentu akan dibunuhnya. Daripada anak Ki Lurah Citrabawa

itu tidak mendapatkannya, maka semua orangpun tidak akan

mendapatkannya pula.

Ketika Ki Lurah kemudian memandangi Ki Jayaraga, Agung

Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah Putih, maka tiba-tiba

saja ia berkata “Angger Agung Sedayu. Jika angger tidak

berkeberatan, biarlah aku titipkan Rara Wulan itu disini. Disini

 

aku melihat ada beberapa orang yang akan mampu

melindunginya. Sementara dirumah Ki Gede dan bahkan di

Mataram sekalipun keamanannya tidak akan terjamin

sebagaimana disini . “

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Sementara itu tibatiba

saja dada Glagah Putih menjadi berdebar-debar.

Demikian juga jantung Rara Wulan bagaikan berdetak

semakin cepat.

Untuk beberapa saat ruang itu menjadi hening. Namun

kemudian Agung Sedayupun berkata “Jika hal itu Ki Lurah

pandang sebagai jalan keluar meskipun untuk sementara,

kami tidak berkeberatan. Biarlah Rara Wulan disini. Ia dapat

membantu Sekar Mirah. Namun jika Rara Wulan memang

ingin mempelajari serba sedikit ilmu kanuragan, maka biarlah

Sekar Mirah menuntunnya, meskipun hanya sekedar patokanpatokan

pertama. “

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada

itu Agung Sedayu berkata selanjutnya “Tetapi Ki Lurah harus

memohon kepada Ki Gede. “

“Ya. Aku akan bertemu dengan Ki Gede. Agaknya Ki Gede

akan dapat mengerti apa yang telah terjadi “berkata Ki Lurah

Branjangan.

Tetapi kemudian Agung Sedayupun bertanya “Bagaimana

dengan Raden Teja Prabawa? Jika orang-orang itu gagal

mendapatkan Rara Wulan, mungkin sasaran berikutnya

adalah Raden Teja Prabawa. Jika Ki Lurah mengijinkan,

biarlah ia berada disini pula untuk sementara. “

Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera

menjawab. Dipandanginya Teja Prabawa yang menunduk.

Namun agaknya Ki Lurah sendiri sependapat dengan Agung

Sedayu.

Namun tiba-tiba saja Ki Lurah itu berkata “Jika demikian,

biarlah aku juga berada disini. “

“Ah, tentu saja kami akan mempersilahkan dengan senang

hati “berkata Agung Sedayu.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku akan

berkata kepada Ki Gede. Disini aku tiba-tiba saja merasa lebih

aman meskipun di rumah Ki Gede dapat saja dijaga oleh

 

sekelompok pengawal. Namun Ki Ajar Sigarwelat hanya dapat

diimbangi dengan kemampuan pribadi yang tinggi.

Kemampuan sekelompok pengawal akan sangat berbeda

menghadapi orang seperti Ki Ajar daripada seorang saja

namun yang berilmu seimbang. “

“Tentu kami tidak akan berkeberatan. Tetapi rumah kami

tentu tidak dapat memberikan tempat yang baik bagi cucucucu

Ki Lurah. Sempit, barangkali agak lembab dan kotor

“berkata Sekar Mirah.

Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya “Satu pengalaman

yang tentu akan sangat menarik. “

Sekir Mirah hanya dapat tersenyum. Namun sebenarnyalah

ia merasa bahwa rumahnya agak kurang pantas bagi cucucucu

Ki Lurah. Ki Lurah sendiri barangkali tidak akan merasa

sesak dar sempit, karena Ki Lurah yang dimasa mudanya

adalah seorang prajurit yang berpengalaman. Namun cucucucunya

tentu agak berbeda.

Demikianlah, maka Agung Sedayu telah mengantarkan Ki

Lurah Branjangan pergi ke rumah Ki Gede untuk

menyampaikan rencananya. Dimohon Ki Gede dapat

mengerti. Jika persoalannya sudah mendapatkan

penyelesaian, maka Ki Lurah akan kembali lagi ke rumah Ki

Gede untuk selanjutnya kembali ke Mataram.

Ki Gede memang dapat mengerti keadaan Ki Lurah. Iapun

menawarkan, jika Ki Lurah tetap berada di rumah Ki Gede,

sekelompok pengawal yang akan berjaga-jaga di halaman.

Namun Ki Lurah berkata “Kami jangan sampai menyulitkan

kedudukan Ki Gede. “

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya “Kami benar-benar

harus mohon maaf kepada Ki Lurah, bahwa Tanah ini ternyata

tidak memberikan ketenangan kepada Ki Lurah. “

“Bukan Tanah ini. Malahan akulah yang telah membawa

persoalan kemari. Karena persoalannya adalah persoalan

antara aku dan Ki Lurah Citrabawa “sahut Ki Lurah

Branjangan.

Dengan demikian maka sejak hari itu, Ki Lurah Branjangan

beserta kedua cucunya berada di rumah Agung Sedayu.

 

Meskipun mereka selalu dibayangi oleh kecemasan, namun

dirumah itu, mereka memang merasa aman.

Raden Teja Prabawa sudah mulai belajar bergaul dengan

Glagah Putih. Betapapun beratnya, tetapi ia terpaksa minta

maaf kepada anak padesan itu, yang ternyata memiliki

kemampuan jauh lebih baik dari dirinya sendiri. Bahkan anak

muda itu adalah sahabat Raden Rangga. Seorang diantara

anak-anak muda yang dikaguminya.

Kehadiran Teja Prabawa rasa-rasanya tidak menjadi

persoalan bagi Glagah Putih, la sudah melupakan persoalan

yang pernah timbul antara mereka berdua. Glagah Putihpun

telah memaafkan sikap dan tingkah laku Teja Prabawa sesaat

setelah ia dipertemukannya dengan anak dari Kotaraja itu.

Namun yang kadang-kadang menggelisahkan Glagah Putih

adalah justru kehadiran Rara Wulan. Sebagai gadis Kotaraja

nampaknya Rara Wulan mempunyai kebiasaan yang lebih

terbuka dari gadis-gadis padesan. Karena itu, jika Rara Wulan

itu bertemu dan berbicara dengan Glagah Putih, maka

kadang-kadang Glagah Putih lebih banyak menjadi

pendengar. Tetapi sekali-sekali, sengaja atau tidak sengaja,

Glagah Putih memandang wajah gadis yang bersih itu.

Namun setiap kali Glagah Putih berkata kepada dirinya

sendiri “Tetapi ia adalah gadis Kotaraja. Anak seorang

Tumenggung yang berkedudukan tinggi di Mataram. “

-Tetapi sekali-sekali Glagah Putihpun telah membanggakan

diri “Meskipun aku anak Tanah Perdikan yang jauh, tetapi aku

pernah mendapat kesempatan untuk berada di istana

Mataram. Panembahan Senapati mengenal aku dengan baik,

serta Ki Mandarakapun telah memberi aku senjata yang

jarang ada duanya. “

Namun semuanya itu pecah berhamburan jika ia

mendengar gadis itu tertawa kecil.

“Aku belum lama mengenalnya”berkata Glagah Putih

didalam hatinya “kenapa aku terlalu memperhatikannya? “

Tetapi rasa-rasanya Glagah Putih tidak akan dapat

mengelakkan dirinya. Apalagi setiap kali Rara Wulan memang

telah menemuinya, berbicara tentang apa saja.

 

Bahkan tiba-tiba saja ketika senja turun, Rara Wulan

menemui Glagah Putih yang sedang menyiapkan rumput di

kan-dang. Dengan suaranya yang lembut ia berkata “Kau tidak

pernah mengajakku ke sungai itu lagi. Rasa-rasanya

menyenangkan mencari ikan di pliridan itu. “

Glagah Putih termangu-mangu. Namun kemudian katanya

“Tetapi keadaan masih belum menguntungkan. Mungkin

sesuatu dapat terjadi jika kita pergi ke sungai dimalam hari.

Apalagi dengan Rara. “

“Kenapa dengan aku? Aku tidak akan menjadi cengeng

lagi. “jawab Rara Wulan.

“Tentu. Rara tentu tidak akan menjadi cengeng lagi. Tetapi

ancaman Ki Ajar Sigarwelat itu tentu bukan sekedar mainmain.

Ia benar-benar akan dapat menyergap kita. “jawab

Glagah Putih. “mungkin aku sendiri mempunyai banyak cara

untuk melepaskan diri. Tetapi Rara akan mengalami kesulitan.

Ia tentu tidak akan datang sendiri. Tentu berdua dengan

muridnya. Seandainya aku sempat bertempur melawan

gurunya, apapun yang terjadi. Rara tidak akan dapat

melepaskan diri dari tangan anak Ki Lurah Citrabawa itu. “

Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Memang

mungkin sekali hal itu terjadi. “

“Karena itu untuk sementara kita tidak dapat pergi ke

sungai “jawab Glagah Putih.

Namun adalah diluar dugaan bahwa pembantu dirumah

Agung Sedayu itu, yang tidak sengaja mendengar

pembicaraan itu berkata “Jadi kau takut? Aku tidak pernah

takut pergi ke

sungai itu. Meskipun sendiri. “

Glagah Putih berpaling kepada anak itu. Namun iapun

tertawa. Katanya “Nah, jika demikian, maka untuk sementara

kau dapat pergi sendiri. “

“Aku tahu itu. Itu adalah tujuan akhirnya “berkata anak itu

sambil melangkah pergi.

Glagah Putih hanya tertawa saja. Sementara Rara Wulan

bertanya “Siapakah anak itu? “

 

“Anak tetangga. Tetapi ia tinggal bersama kami disini

“jawab Glagah Putih “ia membantu pekerjaan kami sehari-hari

dirumah. “

“Bukankah anak itu yang pernah pergi bersama kita ke

sungai? “bertanya Rara Wulan.

“Ya. Anak itu rajin dan pada dasarnya cukup cerdas “jawab

Glagah Putih.

Rara Wulan tertawa. Katanya “Anak yang baik. Ia-memi-liki

keberanian pula. “

Glagah Putih mengangguk-angguk.

Namun tiba-tiba Glagah Putih mengerutkan keningnya.

Hampir diluar sadarnya ia menarik Rara Wulan dan

mendorongnya masuk ke dalam kandang. Secepat itu pula

Glagah Putihpun telah meloncat pula masuk kedalam kandang

itu. Bahkan Rara Wulan telah tergelincir dan jatuh di lantai

kandang yang kotor, sementara beberapa ekor kuda telah

menggelinjang dan meringkik keras. Untunglah bahwa kudakuda

itu terikat ditempat masing-masing, sehingga tidak

berlari-larian sehingga akan dapat menginjak Rara Wulan.

Rara Wulan terkejut bukan buatan. Bahkan hampir saja ia

berteriak ketika ia terjatuh dan melihat Glagah Putih meloncat

hampir menimpanya.

Namun tiba-tiba saja angin yang sangat kencang telah

bertiup menyambar deras sekali. Tepat ditempat mereka

berdua berdiri didepan kandang. Bahkan kandang kuda itu

seakan-akan telah terguncang meskipun angin itu hanya

menyentuh sebelah sisinya.

Rara Wulan yang kemudian duduk itu menjadi gemetar. Ia

menyadari, seandainya keduanya akan hanyut dan

membentur tiang sudut kandang itu atau membentur bendabenda

lain.

“Terima kasih “desis Rara Wulan.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya”Kau

menjadi kotor. Mandilah. “

Rara Wulan mengangguk-angguk. Tetapi Glagah Putihpun

berkata “Marilah. Tetapi hati-hati. Mungkin serangan gelap

seperti ini akan datang lagi. Jika demikian, aku harus

melawannya agar kita tidak sekedar menjadi sasaran.

 

Meskipun aku harus mempelajari darimana arah serangan itu.

Rara Wulan termangu-mangu. Ia sadar, bahwa Ki Ajar

Sigarwelat benar-benar ingin membuktikan kata-katanya.

Karena itu, maka jantungnyapun menjadi berdebaran. Jika

serangan itu dilakukan sekali lagi, langsung mengenai

kandang kuda itu, maka kandang itu akan dapat roboh

karenanya.

Namun dalam pada itu, maka Agung Sedayu, Ki Jayaraga,

Sekar Mirah, Ki Lurah Branjangan telah keluar dari pintu

samping. Mereka mendengar ringkik kuda yang keras di

kandang.

Ketika mereka melihat Glagah Putih menolong Rara Wulan

keluar dari kandang, maka tiba tiba saja wajah Teja Prabawa

menjadi merah. Dengan serta merta ia telah berlari mendekati

adiknya. Dengan keras ia bertanya “Wulan. Apa yang telah

kau lakukan? “

“Aku terjatuh kakang. Kakang Glagah Putih telah

menolongku. “jawab Rara Wulan. “Kami telah diserang

dengan arus angin yang sangat deras. “

“Omong kosong “bentak kakaknya.

Namun Agung Sedayulah yang mendekatinya. Dengan

sabar ia berkata “Raden Teja Prabawa. Mungkin Raden hanya

mendengar ringkik kuda itu saja. Tetapi kami juga mendengar

angin yang keras telah menyambar di halaman rumah ini.

Nampaknya Rara Wulan tidak berbohong. Meskipun masih

ada hal yang lain yang kami ingin tahu. Nah, sebaiknya biarlah

Rara mandi di pakiwan dahulu. Namun kami minta maaf,

bahwa kami akan berjaga-jaga disekitar pakiwan itu. Ditempat

yang agak jauh. Kami masih merasa cemas, bahwa serangan

serupa akan datang lagi. “

Ki Lurah Branjangan telah mendekati cucu laki-lakinya pula.

Katanya “Aku mengerti perasaanmu. Tetapi justru ada yang

tidak kau mengerti. “

Teja Prabawa termangu-mangu. Namun akhirnya iapun

telah didera lagi oleh perasaannya. Ia merasa semakin kecil

diantara orang-orang Tanah Perdikan itu. Ia sama sekali tidak

 

mengerti apa yang dimaksud dengan serangan angin yang

deras atau alasan apapun juga. “

“Marilah “ajak Ki Lurah Branjangan.

Teja Prabawa tidak mengelak ketika kakeknya

mengajaknya masuk lagi kedalam lewat pintu butulan.

Sementara Sekar Mirah telah membawa Rara Wulan ke

pakiwan. Badannya dan pakaiannya menjadi sangat kotor,

karena ia telah terjatuh dikandang kuda. Sementara itu, Agung

Sedayu, Ki Jayaraga dan Glagah Putih telah memencar di

halaman dan di kebun belakang.

Tetapi ternyata serangan itu tidak terulang lagi.

Ketika mereka kemudian duduk diruang dalam, maka

Glagah Putih telah menjelaskan apa yang terjadi, sehingga Ki

Lurah Branjangan sambil tersenyum bertanya kepada cucunya

“Jelas Teja Prabawa? “

Teja Prabawa mengangguk kecil. Namun dalam pada itu Ki

Jayaraga berkata “Tetapi kami dapat mengerti perasaan

Raden Teja Prabawa. Ia hanya melihat Glagah Putih dan Rara

Wulan keluar dari kandang dengan pakaian yang kotor. “

“Tetapi bukankah dibagian lain kandang itu terbuka? “jawab

Ki Lurah Branjangan.

Namun Ki Jayaraga menyahut “Waktunyapun saat

memasuki gelap. Disaat Bathara Kala sering mencari mangsa.

“Ki Lurah Branjangan justru tertawa. Namun Rara Wulan

dan Glagah Putih telah menundukkan wajah mereka dalamdalam.

Bahkan wajah Rara Wulan terasa menjadi panas.

“Sudahlah “berkata Sekar Mirah “yang harus kita perhatikan

adalah justru serangan itu. Ternyata seorang yang bernama Ki

Ajar Sigarwelat itu bukan seorang jantan sebagaimana kita

duga. Ia telah menyerang dari tempat yang bersembunyi justru

pada saat yang tidak terduga. “

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya “Dengan

demikian untuk satu dua hari ini, biarlah Ki Lurah Branjangan

dengan kedua orang cucunya tetap berada didalam rumah. “

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya “Ya.

Ternyata bahwa kami harus menjadi beban disini. Jika salah

 

seorang diantara kami pergi ke pakiwan, maka kalian harus

mengawasinya. “

“Tidak apa-apa “jawab Agung Sedayu “bukankah kita

berusaha agar persoalan ini dapat berlalu dengan selamat?

“Kami hanya dapat mengucapkan terima kasih berulang

kali ngger “desis Ki Lurah Branjangan.

Agung Sedayu tertawa. Katanya “Lupakan Ki Lurah. Kita

berbuat bagi kebaikan kita semuanya. “

Demikianlah, maka malam itu, Agung Sedayu, Glagah

Putih dan Ki Jayaraga telah membagi tugas. Mereka bergantiganti

harus berjaga-jaga. Sementara itu, Rara Wulan akan

tidur bersama Sekar Mirah, sedang Ki Lurah Branjangan

dengan Teja Prabawa.

Yang berjaga-jaga dipermulaan malam adalah Glagah

Putih. Sesaat setelah Ki Lurah Branjangan masuk kedalam

biliknya. Sementara yang lain-lain telah berada didalam bilik

mereka kecuali Agung Sedayu yang tidur diamben besar

diruang tengah, karena didalam biliknya ada Rara Wulan.

Sedangkan Ki Jayaragalebihsenangtidurdibelakang. Di amben

yang berada di sebelah dapur, karena biliknya dipergunakan

oleh Ki Lurah Branjangan.

Sebenarnya di gandok masih juga terdapat beberapa ruang

yang dapat dipergunakan. Namun agaknya keadaan menjadi

semakin rumit, sehingga Agung Sedayu berketetapan hati

untuk minta kepada Ki Lurah Branjangan dan kedua cucunya

tidur saja didalam rumah meskipun akan terasa sempit.

Bilik Glagah Putih sendiri memang kosong. Bilik kecil itu

tidak dipergunakan, karena Glagah Putih duduk diamben

besar tempat Agung Sedayu tidur. Jika sudah waktunya, maka

ia tinggal membangunkan Agung Sedayu dan tidur di amben

itu pula.

Namun menjelang tengah malam, Glagah Putih mendengar

langkah lembut diluar dinding di sebelah biliknya. Karena itu,

maka iapun dengan hati-hati telah melangkah mendekat.

Namun Glagah Putihpun harus menjaga suara langkahnya

sendiri.

Beberapa saat Glagah Putih menunggu. Namun kemudian

ia menarik nafas dalam-dalam. Ia ternyata telah mengenal

 

desis diluar dinding. Pembantu rumah Agung Sedayu yang

tentu mengajaknya pergi ke sungai.

“Sst “desis Glagah Putih “hari ini aku tidak pergi ke sungai.

“Kenapa? “bertanya anak diluar dinding itu “kau memang

terlalu malas. Apalagi setelah gadis itu ada disini. “

“Ah kau “sahut Glagah Putih “kau tahu, bahwa aku harus

membantu paman. “

“Membantu apa malam-malam begini? “bertanya anak itu.

“Sudahlah. Lebih baik kaupun beristirahat malam ini. Kau

tahu tadi menjelang senja ada orang yang licik menyerang aku

didekat kandang? “bertanya Glagah Putih.

“Kau sendiri yang berpura-pura. Supaya kau dapat

menolong gadis itu “jawab anak itu.

“Jangan mengada-ada. Aku tarik hidungmu nanti “desis

Glagah Putih. Namun katanya “Beristirahatlah malam ini. Aku

bersungguh-sungguh. Sebaiknya kau cepat masuk kedalam. “

Anak itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia memang

merasakan kesungguhan pesan Glagah Putih itu sehingga

anak itupun telah mengurungkan niatnya.

Glagah Putih ternyata sempat pergi ke belakang lewat pintu

samping dan pergi ke bilik anak itu. Namun hanya sebentar.

Ia-pun kemudian kembali ketempatnya, duduk disebelah

Agung Sedayu yang sedang tidur. Namun ternyata Agung

Sedavu yang masih memejamkan matanya itu bertanya “Kau

dari mana? “

Glagah Putih sempat menceriterakan ajakan pembantunya

untuk pergi ke sungai.

“Aku nasehatkan agar anak itu tidak pergi ke sungai malam

ini meskipun pliridan sudah dibuka “berkata Glagah Putih.

“Kau benar “desis Agung Sedayu “meskipun anak itu tidak

tahu ujung pangkal persoalannya, tetapi ia akan dapat terkena

getahnya jika ia berkeliaran malam hari sementara anak Ki

Citrabawa itu tahu bahwa anak itu adalah penghuni rumah ini.

Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu Agung

Sedayu bertanya “Apakah kau sudah mengantuk? “

 

“Belum kakang. “jawab Glagah Putih “bukankah masih

belum sampai saatnya aku diganti? “

Agung Sedayu tersenyum. Namun kemudian ia menggeliat

sambil berkata “Baiklah. Tetapi kapan saja jika kau

mengantuk, bangunkan aku. “

“Baik kakang “jawab Glagah Putih. Demikianlah malam

itupun telah dilalui. Ketika Glagah Putih kemudian mengantuk,

maka yang berjaga-jaga adalah Agung Sedayu. Namun

agaknya malam sudah tidak terlalu panjang, sehingga Agung

Sedayu tidak berniat membangunkan Ki Jayaraga. Tetapi

ternyata Ki Jayaraga telah terbangun sendiri dan duduk pula

bersama-sama dengan Agung Sedayu, sementara Glagah

Putih justru telah tidur didalam biliknya.

Pagi terasa segar sekali. Seperti biasa. Agung Sedayu, Ki

Jayaraga dan Glagah Putih telah melakukan pekerjaan

masing-masing. Membersihkan halaman, kebun dan mengisi

jam-bangan pakiwan, sementara Sekar Mirah membersihkan

perabot didalam rumahnya. Didapur, pembantu dirumah

Agung Sedayu yang masih sangat muda itu duduk menunggui

perapian sambil memanaskan telapak tangannya.

Ternyata Rara Wulan tidak mau tinggal diam. Iapun telah

membantu Sekar Mirah. Namun ia masih selalu ingat, bahwa

sebaiknya ia tidak keluar dahulu dari rumah itu.

Dalam pada itu, Agung Sedayu, Ki Jayaraga dan Glagah

Putih yang melakukan pekerjaannya diluar rumah, tidak

kehilangan kewaspadaannya. Mereka selalu siap menghadapi

segala kemungkinan. Bahkan mereka telah siap melontarkan

ilmu mereka jika diperlukan.

Tetapi pagi itu, mereka juga tidak mengalami gangguan

apapun juga. Meskipun demikian Ki Lurah Branjangan dan

kedua cucunya dipersilahkan untuk tetap tinggal didalam

rumah. Kecuali jika mereka pergi ke pakiwan. Bahkan jika

mereka pergi ke pakiwan, Agung Sedayu, Ki Jayaraga dan

Glagah Putih menebar di halaman depan dan kebun belakang.

Tetapi ketika lewat tengah hari, maka yang tidak mereka

harapkan itu datang. Namun bagi Glagah Putih, hal itu

semakin cepat akan menjadi semakin baik. Persoalannya

 

segera selesai dan Ki Lurah Branjangan serta cucu-cucunya

tidak harus berada didalam rumah saja.

Ketika seisi rumah Agung Sedayu itu sedang makan, maka

Ki Lurah Citrabawa telah datang kerumah itu pula. Tetapi

seperti dihari sebelumnya, Ki Citrabawa itu tidak mau ikut

makan bersama mereka.

“Aku hanya datang untuk menyampaikan pesan itu “berkata

Ki Lurah Citrabawa.

Agung Sedayu yang menemui Ki Citrabawa menyertai Ki

Lurah Branjangan bertanya “Pesan apa lagi yang Ki Lurah

bawa sekarang ini? “

Ki Lurah Citrabawa termangu-mangu. Namun kemudian

katanya “Aku memang tidak mempunyai wewenang untuk

berbuat apapun diluar kehendak mereka. “

Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya “Pesan apa lagi

yang kau bawa? “

Ki Lurah Citrabawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya

“Jangan salah paham. Aku sama sekali tidak

mengarahkannya untuk berbuat begitu. Tetapi gurunya yang

telah membuatnya menjadi kasar seperti itu, meskipun

nampaknya ia dapat menjadi lembut. “

“Tetapi Ki Lurah belum mengatakan pesan itu “sela Agung

Sedayu.

Ki Lurah Citrabawa termangu-mangu. Keringat telah

membasahi keningnya, sedangkan rambutnya yang keputihputihan

terjurai ujungnya dibawah ikat kepalanya.

Ki Lurah Citrabawa itu memang nampak letih. Agaknya

iapun mengalami ketegangan lahir dan batinnya.

“Anak itu tidak dapat aku kendalikan lagi “berkata Ki Lurah

Citrabawa.

“Katakan, apakah pesan itu “minta Ki-Lurah Branjangan. Ia

justru menjadi iba melihat keadaan ki Lurah Citrabawa yang

gelisah.

“Ki Lurah Branjangan “berkata Ki Citrabawa “aku sudah

minta kepada anakku, agar ia mengurungkan niatnya untuk

mengambil cucu Ki Lurah. Tetapi anakku itu sama sekali tidak

mau mendengarkannya. Demikian ia merasa keadaannya

lebih baik karena gurunya berusaha untuk mengobatinya,

 

maka ia telah berniat untuk mengambil cucu Ki Lurah itu disini.

“Tetapi apakah pesan itu? “Agung Sedayu mendesak.

“Baiklah “Ki Lurah Citrabawa menarik nafas dalam-dalam

“Ki Sigarwelat minta agar nanti menjelang senja, Rara Wulan

sudah harus dibawa ke tempat yang sudah ditentukan.

Tempat yang kami pergunakan untuk mencoba mengambil

Rara Wulan dilereng bukit yang sepi itu. Jika kalian tidak

melakukannya, maka Ki Sigarwelat akan membunuh Glagah

Putih kapan saja ia kehendaki. Karena membunuh Glagah

Putih bagi Ki Sigarwelat akan sama mudahnya dengan

membunuh seekor katak. “Ki Lurah berhenti sejenak. Namun

tiba-tiba ia berkata selanjutnya “tetapi bukan aku yang

mengatakannya. Aku hanya menirukannya saja. “

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya “Apakah

tidak ada jalan lain? “

“Anakku dan Ki Sigarlewat sudah bertekad bulat untuk

mengambil cucu Ki Lurah. Bagi anakku, Rara Wulan adalah

gadis yang dianggapnya paling cantik yang pernah dilihatnya,

sementara bagi Ki Sigarwelat, hal itu sudah menyangkut harga

dirinya. “

“Apakah Ki Sigarlewat benar seorang yang berilmu tinggi

dan tidak dapat dikalahkan? “bertanya Agung Sedayu dengan

ragu-ragu. “

“Ya. Karena itu aku merasa ikut berprihatin “jawab Ki Lurah

Citrabawa. Lalu katanya pula “Aku tahu, bahwa sebaiknya

anakku tidak berbuat seperti itu. Tetapi aku tidak lagi mampu

mengendalikannya lagi. Ia sudah lepas seperti kuda lepas

kendali. Bahkan anakku itu sudah berani mengancam jika aku

tidak mau menurut perintahnya. Sudah barang tentu dengan

dukungan gurunya. “

Sebelum Ki Lurah Branjangan menyahut, Agung Sedayu

telah menyawab sambil mengangguk lemah “Baiklah Ki Lurah.

Jika memang itu yang dikehendaki oleh Ki Sigarwelat, tentu

kami tidak akan dapat mengelak lagi. Aku tentu akan

memberatkan Glagah Putih daripada orang lain. “

Wajah Ki Lurah Branjangan menjadi merah. Tetapi diluar

pengetahuan Ki Citrabawa, Agung Sedayu telah menggamit Ki

 

Lurah Branjangan sehingga Ki Lurah itupun mengerti, bahwa

tentu ada perhitungan lain yang dibuat oleh Agung Sedayu.

Karena itu, maka iapun telah mengendapkan nalarnya dan

mencoba untuk dapat mengerti. Meskipun demikian, Ki Lurah

Branjangan itu berkata “Aku tidak akan pernah menyerahkan

cucuku. “

“Ki Lurah tidak akan dapat menolak keinginanku. Disini Ki

Lurah tidak mempunyai kekuatan untuk menentangnya

“berkata Agung Sedayu.

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu. Namun ia masih

menggeram “Hanya kematian yang dapat memaksa aku

menyerahkan Rara Wulan. “

Tetapi Agung Sedayu segera menyahut “Aku akan datang

membawa Rara Wulan. Serahkan caranya kepadaku. Nah,

aku minta Ki Lurah Citrabawa cepat meninggalkan rumahku,

agar aku sempat membuat persiapan-persiapan. “

Ki Lurah Citrabawa masih ragu-ragu. Namun kemudian

Agung Sedayu telah membentaknya “Cepat. Aku akan

kehabisan waktu jika kau tidak segera pergi. “

Ki Citrabawa itupun telah dengan tergesa-gesa minta diri.

Sementara Agung Sedayu menegaskan “Aku akan datang.

Urusan lain adalah urusanku. “

Ki Lurah Citrabawa itupun segera meninggalkan rumah

Agung Sedayu sementara Ki Lurah Branjangan menjadi

termangu-mangu.

“Jangan cemas Ki Lurah “berkata Agung Sedayu

“semuanya akan dapat kita atasi. “

“Aku sudah menduga “berkata Ki Lurah Branjangan “namun

nampaknya angger Agung Sedayu akan menempuh jalan

yang cukup berbahaya. “

“Mudah-mudahan tidak akan membuat Rara Wulan cidera

“jawab Agung Sedayu.

Seperti yang dikatakan, maka Agung Sedayu memang

telah mengadakan persiapan. Ia memang akan pergi ketempat

yang ditentukan oleh Ki Sigarwelat.

Disenja hari, maka semua orang didalam rumah Agung

Sedayu telah keluar. Mereka menuju kerumah Ki Gede.

Sebenarnyalah Ki Gede tidak sempat mempersilahkan mereka

 

duduk, karena beberapa diantara mereka akan melanjutkan

perjalanan. Agung Sedayu dan Glagah Putih akan membawa

Rara Wulan ke lereng bukit. Sementara Ki Jayaraga diminta

untuk berjaga-jaga dirumah Ki Gede.

Dalam keremangan senja, maka Glagah Putih berjalan

dipaling depan. Kemudian Rara Wulan berjalan terloncatloncat

karena kain panjangnya yang dikenakannya sesuai

dengan kedudukannya sebagai seorang gadis Kotaraja.

Bajunya yang rapat dan sanggulnya yang rapi. Rapat

dibelakangnya berjalan Agung Sedayu. Nampaknya mereka

mendorong perempuan yang berjalan didepannya, yang

agaknya perjalanan itu tidak sesuai dengan kehendaknya.

Beberapa saat kemudian, maka gelappun telah turun. Keti

ga orang yang berjalan itu menjadi semakin cepat. Dengan

tergesa-gesa mereka melintasi bulak-bulak panjang dan

kemudian memasuki jalan-jalan kecil. Mereka bertiga agaknya

memang menghindari perjalanan melalui padukuhan.

Akhirnya mereka bertiga telah sampai ketempat yang

dikehendaki oleh Ki Ajar Sigarlewat. Lereng bukit dimana

Glagah Putih telah mengalahkan anak Ki Lurah Citrabawa.

Beberapa saat mereka menunggu. Namun mereka belum

melihat seorangpun didalam gelapnya malam.

Namun beberapa saat kemudian terdengar suara tertawa.

Suara tertawa yang melingkar-lingkar. Lontaran suaranya itu

membentur dinding bukit, sehingga pantulan suara itu

menimbulkan gema yang menggaung panjang.

Perlahan-lahan suara itu mulai menurun sehingga akhirnya

berhenti sama sekali.

“Kenapa kau terlambat Agung Sedayu “terdengar suara

dari kegelapan.

- Aku berangkat disaat senja turun “jawab Agung Sedayu.

“Aku minta kau datang saat senja itu “berkata suara dari

dalam kegelapan itu.

“Lalu bagaimana? Apakah kami harus kembali? “bertanya

Agung Sedayu pula.

“Tentu tidak. “jawab suara itu “kami memerlukan Rara

Wulan. “

“Jadi bagaimana maksudmu? “bertanya Agung Sedayu.

 

“Serahkan Rara Wulan kepadaku. Bawa perempuan itu

melekat dinding bukit. Kemudian kalian berdua bergeser

menjauhinya. “berkata suara itu.

“Untuk apa? Kami sudah membawa gadis itu kemari.

Bukankah persoalan kita sudah selesai? Aku dan Glagah

Putih akan segera kembali. Aku tinggalkan Rara Wulan disini.

“berkata Agung Sedayu.

“Kalian akan kembali kemana? “bertanya suara itu.

“Kembali ke padukuhan induk. Aku masih mempunyai

persoalan dengan Ki Lurah Branjangan yang kini ditawan oleh

pengawal Tanah Perdikan. Para pengawal memang memilih

Glagah Putih, kawan mereka bermain, daripada Rara Wulan

yang belum dikenalnya. Karena itu, maka ijinkan kami kembali

ke padukuhan induk setelah memenuhi pesanmu membawa

Rara Wulan kemari “berkata Agung Sedayu.

Tetapi terdengar suara tertawa berkepanjangan.

Bergulung-gulung oleh gumannya yang panjang pula.

“Jangan bodoh Agung Sedayu “berkata suara itu.

“Apa maksudmu? “bertanya Agung Sedayu.

“Meskipun kau telah memenuhi pesanku, agar membawa

Rara Wulan kemari, namun kau telah melakukan kesalahan

“berkata suara itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun

kemudian katanya “Ki Sanak. Kemarilah. Kita dapat berbicara

dengan baik. Bukankah kalian telah melihat bahwa akubersungguh-

sungguh? “

“Lakukan perintahku “berkata suara itu “kau tinggalkan

Rara Wulan didinding tebing itu. Kemudian kalian bergeser

menjauh. “

“Kami akan kembali ke padukuhan induk “sahut Agung

Sedayu.

“Dengar Agung Sedayu. Bukankah aku belum selesai

mengatakan tentang dua kesalahan yang telah kau lakukan?

“berkata suara itu.

“Apakah kesalahanku kepadamu? “bertanya Agung

Sedayu.

“Kau datang terlambat “jawab suara itu “yang kedua

muridmu sudah menyakiti muridku. Nah, hukuman untuk

 

kedua kesalahan itu adalah hukuman yang paling berat.

“berkata suara itu.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun

kemampuannya telah menangkap dari mana suara itu

dilontarkan. Dengan kemampuannya mempertajam suara

karena Aji Pame-lingnya, serta kemampuannya menangkap

arah getaran, maka Agung Sedayupun tahu pasti, dimana Ki

Ajar Sigarwelat itu bersembunyi. Karena Agung Sedayu yakin

bahwa orang itu adalah Ki Ajar Sigarwelat.

Tetapi Agung Sedayu masih juga berkata “Ki Sanak. Aku

mohon Ki Sanak datang kemari. “

“Itu tidak perlu. Aku akan membunuh kalian dari tempat ini.

Tempat yang tidak kau ketahui. Karena itu, kau harus

memisahkan Rara Wulan dari kalian. Jika tidak maka gadis itu

akan ikut mati bersama kalian. “berkata suara itu.

Namun tiba-tiba saja Agung Sedayu justru telah

menangkap Rara Wulan dan memeganginya erat-erat

didadanya. “Katanya “Nah, lontarkan ilmumu, apapun ujudnya.

Sapu angin atau yang lain. Gadis ini akan mati bersamaku. “

Sejenak suasana menjadi hening. Namun kemudian

terdengar suara “Kau licik Agung Sedayu. Aku memerlukan

gadis itu. “

“Aku tidak peduli. “jawab Agung Sedayu. Sementara itu

Glagah Putihpun telah bergeser mendekat pula “Ayo, bunuh

kami bertiga. “

“Jangan guru “tiba-tiba terdengar suara lain, yang dengan

cepat dapat dikenali arahnya.

“Anak dungu “terdengar suara pertama “suaramu telah

menunjukkan kepada mereka, dimana kita berada.

“Ampun guru. Tetapi gadis itu jangan dibunuh. “minta suara

yang lain.

Orang yang pertama itu tertawa. Katanya “Baiklah. Aku

akan mengampuni mereka. “

“Jadi? “bertanya suara yang lain itu.

“Marilah. Kita mendekat saja “jawab suara yang pertama.

Sebenarnyalah beberapa saat kemudian, dari dalam

kegelapan telah muncul dua orang yang melangkah

 

mendekati Agung Sedayu yang masih memegangi Rara

Wulan.

Glagah Putih segera mengenali seorang diantara mereka.

Seorang yang pernah dikalahkannya sebelumnya. Anak

bungsu Ki Lurah Citrabawa. Yang seorang lagi, yang belum

pernah dilihatnya itu tentu Ki Ajar Sigarwelat.

Agung Sedayu yang meskipun belum pernah melihat

mereka semuanya, namun ia mampu menduga tentang

keduanya itu.

“Lepaskan gadis itu “berkata orang yang diduga adalah Ki

Sigarwelat.

“Siapa kau? “bertanya Agung Sedayu untuk meyakinkan

dirinya sendiri “apakah kau Ki Ajar Sigarwelat? “

Orang yang mendekatinya itu mengangguk kecil sambil

menjawab “Ya. Aku adalah Ki Ajar Sigarwelat. Nah, sekarang

serahkan gadis itu kepadaku. “

Tiba-tiba jawaban Agung Sedayu mengejutkan “Tidak.

“Kenapa? “bertanya Ki Ajar “kau sudah berjanji untuk

menyerahkan gadis itu. “

“Aku datang memang untuk menyerahkan gadis ini. Tetapi

aku tidak mau mati disini. Jika gadis ini sudah aku serahkan,

maka kau tentu akan membunuh kami. Karena itu,

maka gadis ini akan aku bawa kembali ke padukuhan induk.

Ikut kami, dan baru setelah kami berada diantara para

pengawal Tanah Perdikan, bawa gadis ini. “jawab Agung

Sedayu.

“Kau jangan menjadi gila “geram Ki Sigarwelat “kau tahu

akibatnya jika aku menjadi marah? “

“Tetapi ancamanmu untuk membunuh kami tentu tidak

akan dapat kami abaikan. Nah, sekarang biarlah kami kembali

ke padukuhan induk. “berkata Agung Sedayu.

“Pengecut licik. Inikah orang yang disebut guru Glagah

Putih? Jika muridmu telah menyakiti muridku, kenapa gurunya

demikian liciknya dan bahkan pengecut. Jika kau seorang lakilaki,

maka kau tidak akan berlaku seperti itu. Kenapa kau tidak

melawan aku? “bertanya Ki Sigarwelat.

- “Jika aku hanya berdua saja dengan muridku, maka aku

akan melawanmu, “jawab Agung Sedayu.

 

“Kenapa sekarang? “bertanya Ki Ajar.

“Aku membawa seorang gadis “jawab Agung Sedayu.

“Jika demikian, pergilah. Tinggalkan gadis itu disitu “geram

Ki Ajar Sigarwelat yang telah kehilangan kesabarannya.

“Aku tidak mau. Aku akan membawa gadis ini kembali.

Baru setelah kami berdua yakin akan selamat, kami akan

melepaskan gadis ini. “berkata Agung Sedayu.

Ternyata Ki Ajar tidak sabar lagi. Katanya kepada muridnya

“Kau coba melawan anak itu sekali lagi. Aku akan membunuh

gurunya. Aku tidak mempunyai pilihan lain. “

“Tetapi jangan bunuh gadis itu “muridnya meminta.

Ki Ajar tertawa, katanya “Aku tidak akan membunuh gadis

itu. Tetapi aku akan membunuh Agung Sedayu yang aku kira

seorang laki-laki yang tangguh dan tanggon. Tetapi ternyata ia

hanya berani bersembunyi dibelakang punggung seorang

gadis. “

“Apa yang akan guru lakukan? “bertanya muridnya.

“Aku akan mendekatinya. Aku tidak akan membunuhnya

dengan ilmuku yang dilandasi dengan Aji Sapu Angin. Tetapi

aku akan menjangkaunya dengan tanganku, mencekiknya dan

membunuhnya. “berkata Ki Ajar.

Muridnya mengangguk-angguk. Ia yakin bahiwa gurunya

akan berhasil, karena gurunya adalah seorang yang tidak ada

duanya.

Selangkah demi selangkah anak Ki Lurah Citrabawa itu

mendekati Glagah Putih. Semakin lama semakin dekat,

sementara Glagah Putih menjadi tegang. Namun tiba-tiba saja

Glagah Putihlah yang meloncat menyerangnya.

Serangan itu memang tidak terduga-duga. Namun murid Ki

Ajar itu sempat mengelak. Bahkan ia telah menyerang kembali

dengan sepenuh tenaga.

Glagah Putih bergeser justru menjauh. Bahkan ia sempat

berdesis “Luar biasa. Kau telah sembuh sama sekali. “

Ki Ajarlah yang tertawa. Katanya “Satu diantara keajaiban

yang dapat aku lakukan. “

Namun kemudian Ki Ajar itu berpaling kepada Agung

Sedayu “Sekarang aku akan membunuhmu. “

 

Agung Sedayu bergeser surut ketika Ki Ajar itu menjadi

semakin dekat. Namun tiba-tiba Rara Wulan itulah yang

meronta, sehingga pegangan Agung Sedayu terlepas.

“Bagus “Ki Ajar hampir berteriak “ternyata gadis itu telah

membantuku. “

“Persetan “Agung Sedayu menggeram. Namun ketika ia

melangkah mendekati Rara Wulan, Ki Ajar berkata “Jangan

sentuh gadis itu lagi. Aku dapat membunuhmu dari tempat aku

berdiri sekarang. “

Agung Sedayu memang tertegun. Namun kemudian

katanya “Kau mau apa. Ambil gadis itu. Aku akan kembali ke

padukuhan induk. “

Ki Ajar Sigarwelat tertawa. Katanya diantara suara tertawanya

yang berkepanjangan. “Nasibmu memang buruk

Agung Sedayu. Kau akan mati disini. Aku dapat membunuhmu

lebih cepat daripada muridmu menyelesaikan pertempurannya

melawan muridku, meskipun aku harus mengakui, bahwa

muridmu itu memiliki kelebihan dari muridku. “

Agung Sedayu bergeser selangkah. Tiba-tiba saja nada

suaranya berubah. Dengan nada rendah ia bertanya “Jadi kita

harus bertempur sekarang? “

Ki Sigarwelat ternyata memiliki panggraita yang tajam.

Perubahan nada suara Agung Sedayu dapat ditangkapnya,

sehingga terasa getar jantungnya.

“Baiklah “berkata Agung Sedayu kemudian sambil

melangkah maju “kita akan bertempur. Kapan kita akan mulai?

Ki Sigarwelat menggeram. Katanya “Bersiaplah untuk mati

sekarang. “

Agung Sedayu melangkah semakin maju. Namun

Sigarwelat ternyata tidak memberinya kesempatan untuk maju

lebih dekat lagi. Karena itu, maka Sigarwelatlah yang justru

telah mendahuluinya menyerang.

Agung Sedayu dengan tangkasnya mengelak. Namun Ki

Ajar Sigarwelat tidak memberinya kesempatan. Dengan cepat

ia memburu dan menyerang beruntun.

***

 

API DI BUKIT MENOREH SERI III

JILID 237

AGUNG SEDAYU masih saja bergeser untuk mengelak.

Bahkan kemudian ia telah meloncat mengambil jarak,

sehingga menjauhi Rara Wulan yang berdiri termangu-mangu

dalam kegelapan.

Demikianlah, maka Agung Sedayupun segera terlibat

dalam pertempuran sengit. Ia tidak sekedar berloncat

mengelakkan serangan lawannya, tetapi Agung Sedayupun

telah berganti menyerang.

Ki Sigarwelat memang sudah memperhitungkan bahwa

Agung Sedayu tentu memiliki ilmu yang tinggi, menilik

kemampuan muridnya mengalahkan anak Ki Citrabawa itu.

Menurut pendapatnya anak Ki Citrabawa itu telah mempunyai

ilmu yang memadai. Namun ternyata telah dikalahkan oleh

seorang anak yang masih terlalu muda.

Dalam pada itu, Ki Ajar Sigarwelat menyadari, bahwa ia

harus mampu mengalahkan lawannya dengan cepat. Jika

tidak, maka anak muridnya itu akan dapat menjadi korban.

Dengan demikian, maka Ki Ajar itu telah meningkatkan

ilmunya dengan cepat. la ingin segera dapat mengalahkan

Agung Sedayu dan kemudian meninggalkan tempat itu. Jika ia

telah berhasil membunuh Agung Sedayu, maka Glagah Putih

bukan lagi persoalan baginya.

Tetapi ternyata bahwa Agung Sedayu memang terlalu liar

untuk dapat dibinasakan segera. Ia merasa bahwa dibutuhkan

waktu untuk membunuh guru Glagah Putih itu. Sementara itu

muridnya yang bertempur melawan Glagah Putih, tentu akan

segera terdesak. Bahkan mungkin akan membahayakan

jiwanya.

Karena itu setelah mereka bertempur beberapa saat, Ki

Ajar Sigarwelat merasa perlu untuk melindungi muridnya yang

tertua dan yang dianggapnya terbaik itu. Murid yang

dipersiapkan untuk mampu melaksanakan tugas-tugasnya di

padepokan jika Ki Ajar Sigarwelat itu menjadi semakin tua.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, diharapkan muridnya itu

mampu mewarisi segala ilmunya. Meskipun masih harus

dikembangkannya.

Tetapi menurut perhitungan Ki Ajar, ia memang

memerlukan waktu yang telah lama untuk membunuh Agung

Sedayu, sehingga ia harus mengambil jalan lain yang

memang sudah dipersiapkan. Karena itu, maka sejenak

kemudian telah terdengar suitan nyaring. Suaranya bergetar

membelah udara dan membentur lereng bukit. Gemanya

mengumandang di gelapnya malam.

Agung Sedayu dan Glagah Putih berdebar karenanya.

Isyarat itu tentu akan menimbulkan perubahan pada lingkaran

pertempuran itu.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian maka seseorang telah

meloncat dari dalam gerumbul liar yang disaput oleh

kegelapan malam. Demikian cepatnya bayangan itu bagaikan

terbang langsung kearah Rara Wulan.

Terdengar suara Ki Ajar Sigarwelat tertawa, katanya,

“Sayang Agung Sedayu. Kau tidak akan mempunyai pilihan

lain. Rara Wulan akan segera kami kuasai. Perlawananmu

tidak akan mempunyai arti apa-apa.”

Tetapi jawaban Agung Sedayu memang masih saja

mantap, “Bawalah gadis itu. Sudah aku katakan. Aku tidak

berkeberatan asal kau lepaskan kami pergi.”

“Tidak. Kami bawa gadis itu, dan kau tidak akan terlepas

dari tanganku. Jika kau memang tidak terpengaruh lagi sikap

apapun yang kami lakukan atas gadis itu, maka biarlah

muridku kedua itu membantu kakak seperguruannya untuk

membunuh muridmu.” berkata Ki Ajar Sigarwelat.

Agung Sedayu yang meloncat mengambil jarak sempat

melihat laki-laki yang disebut murid kedua Ki Ajar Sigarwelat

itu kemudian telah berdiri disebelah Rara Wulan.

“Singkirkan gadis itu. Jangan beri kesempatan ia melarikan

diri. Tutup simpul syaraf yang menggerakkan kakinya.

Kemudian kau bantu kakangmu membinasakan Glagah Putih.”

berkata Ki Ajar Sigarwelat.

Murid kedua itu menyahut, “Aku akan melakukan sebaikbaiknya

guru.”

 

“Cepat lakukan.” berkata Ki Ajar.

“Ternyata kau licik.” berkata Agung Sedayu, “kau siapkan

orang ketiga.”

“Apa keberatanmu.” jawab Ki Ajar, “aku memang telah

mempersiapkan. Pertempuran seperti ini memang sudah aku

perhitungkan. Tetapi aku salah menilai harkat

kemanusiaanmu. Aku kira kau akan mengorbankan diri ketika

gadis itu terancam. Tetapi agaknya kau sama sekali tidak

memperdulikannya. Aku menduga, bahwa dengan menguasai

gadis itu, maka kau akan menghentikan perlawananmu.”

“Gadis itu bukan anakku.” sahut Agung Sedayu.

“Bagus.” sahut Ki Ajar. Lalu katanya kepada muridnya,

“Cepat lakukan. Kau menunggu apa lagi. Jangan sakiti gadis

itu. Tetapi jangan sampai ia melarikan diri.”

“Baik guru.” jawab murid kedua itu.

Sementara itu Ki Sigarlewat semakin meningkatkan

ilmunya untuk mendesak Agung Sedayu. Tetapi Glagah Putih

justru telah benar-benar menguasai arena. Lawannya setiap

kali telah berloncatan menjauh untuk menghindari serangan

Glagah Putih yang datang beruntun. Anak Ki Citrabawa itu

justru menjadi ragu-ragu untuk mempergunakan ilmu Sapu

Anginnya yang masih terlalu dasar. Ia yakin, jika ia

mencobanya maka ia tentu akan mengalami kesulitan, yang

sama seperti yang pernah terjadi karena Glagah Putih telah

membentur ilmunya itu.

Karena itu, maka saudara seperguruannya tidak dapat

tinggal diam. Keduanya akan dapat memperhitungkan

kemungkinan untuk mengalahkan Glagah Putih. Meskipun

ilmu mereka masih belum memadai dibanding dengan Glagah

Putih, tetapi berdua mereka dapat menarik perhatian Glagah

Putih, sementara anak Ki Citrabawa itu melepaskan Sapu

Anginnya.

Dengan demikian, maka murid kedua itu segera menutup

simpul syaraf Rara Wulan, agar gadis itu tidak dapat melarikan

diri. Dengan sigapnya murid ke dua itu meloncat mendekati

Rara Wulan. Ia telah siap untuk menyentuh simpul-simpul

syaraf dipunggung gadis itu, sehingga gadis itu seakan-akan

 

menjadi lumpuh. Dengan demikian maka gadis itu tidak akan

sempat melarikan diri.

Tetapi yang terjadi benar-benar diluar dugaan. Demikian

orang itu siap menyentuh simpul syarafnya dengan ujungujung

jari tangannya yang merapat, maka gadis itu dengan

serta merta telah bergeser selangkah. Tiba-tiba tangan gadis

itu terayun deras sekali menghantam wajah murid kedua di Ki

Ajar Sigarwelat.

Murid kedua Ki Ajar itu terpelanting beberapa langkah dan

kemudian terbanting jatuh. Namun dengan tangkasnya ia

meloncat bangkit meskipun wajahnya terasa betapa

panasnya. Namun demikian ia berdiri tegak, maka yang berdiri

dihadapannya bukan lagi seorang gadis yang ketakutan.

Tetapi seorang perempuan dalam pakaian khusus. Kain

panjangnya sudah dilemparkannya ditanah bersama bajunya

yang terlalu sempit.

Yang terjadi itu memang telah menarik perhatian. Ki Ajar

Sigarwelat dan muridnya yang pertama telah berloncatan

mengambil jarak untuk melihat apa yang telah terjadi.

Muridnya yang kedua masih berdiri termangu-mangu.

Dengan nada tinggi ia bertanya, “Apa yang telah kau

lakukan?”

Sebelum perempuan itu menjawab, maka anak Ki

Citrabawa itupun berteriak, “Perempuan itu tentu bukan Rara

Wulan.”

“Ya. Aku memang bukan Rara Wulan.” sahut perempuan

itu.

“Siapa kau?” bertanya murid kedua itu.

“Namaku Sekar Mirah. Aku adalah isteri kakang Agung

Sedayu.” jawab perempuan itu.

“Gila.” geram Ki Ajar Sigarlewat, “jadi inilah yang kau

lakukan? Agung Sedayu. Kau telah membuat aku sangat

marah.”

Tetapi jawab Agung Sedayu tidak kalah tegasnya, “Kau

telah membuat aku marah sejak kemarin.”

“Persetan.” geram Ki Ajar Sigarlewat, “jika Rara Wulan

bukan sanak kadangmu, maka sekarang yang ada disini

 

adalah justru isterimu. Muridku kedua tidak akan segan-segan

membunuhnya.”

“Isteriku sifatnya lebih keras dari aku. Sebelum aku

membunuhmu, agaknya isteriku telah melakukannya atas

muridmu jika muridmu itu tidak menyerah.” berkata Agung

Sedayu.

“Kau terlalu sombong.” geram Ki Ajar.

“Nah Ki Ajar. Sebaiknya Ki Ajar mengurungkan niat Ki Ajar.

Muridmu, anak Ki Lurah itupun harus berjanji tidak akan

mengganggu Rara Wulan lagi. Sedangkan murid keduamu

harus minta maaf kepada isteriku, karena ia sudah berani

mencoba membuatnya lumpuh.” berkata Agung Sedayu.

“Jangan menyesal jika kalian bertiga akan mati disini.”

berkata Ki Ajar Sigarwelat, “meskipun aku masih berniat untuk

membunuhnya dengan tanganku tanpa mempergunakan Aji

Sapu Angin, namun jika keadaan memaksa, maka aku akan

dengan serta merta mempergunakan. Bukan saja atasmu,

tetapi juga atas murid dan isterimu.”

Ki Ajar Sigarwelat yang menjadi sangat marah itu tidak

menunggu lebih lama lagi. Dengan suara lantang ia berteriak,

“Bunuh isteri Agung Sedayu. Bunuh Glagah Putih dan aku

akan membunuh Agung Sedayu. Setelah itu, kami akan

memasuki Tanah Perdikan Menoreh untuk mengambil Rara

Wulan. Namun karena kalian sudah menyakiti hatiku, maka

aku akan membakar padukuhan induk Tanah Perdikan itu

meskipun Rara Wulan telah ada ditanganku. Jangan menyesal

bahwa Tanah Perdikan Menoreh akan menjadi rata dengan

tanah.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya,

“Jangan membual lagi Ki Ajar. Kami sudah bertekad untuk

menghentikan tingkah lakumu itu. Aku tidak tahu, jalur

perguruan manakah yang kau anut, karena jalur perguruan

yang menurunkan ilmu Sapu Angin pada mulanya tidak

mencerminkan tingkah laku sebagaimana kau lakukan.

Mungkin ilmumu bersumber dari padepokan Kaliwalik didekat

suwangan Kali Bagawanta, atau bersumber dari padepokan

yang lain, namun yang aku hadapi sekarang adalah Ki Ajar

Sigarwelat yang telah dengan menyalah gunakan

 

kemampuannya yang tinggi akan merampas kebebasan dan

kemerdekaan orang lain, dalam hal ini, Rara Wulan. Satu

tindakan yang tidak terpuji. Dengan ilmu yang, tinggi,

seharusnya kau melindungi orang-orang lemah. Tetapi kau

sudah berbuat sebaliknya.”

“Cukup.” teriak Ki Ajar Sigarwelat. Lalu katanya kepada

murid-muridnya yang pertama, “Cobalah bertahan untuk

bebarapa lama. Aku akan segera membinasakan Agung

Sedayu sementara itu adikmu akan dengan cepat membunuh

isteri Agung Sedayu yang tidak kalah sombongnya dari

suaminya.”

Anak Ki Citrabawa itu memang menjadi cemas. Sejak

semula ia telah menyadari, bahwa ia tidak akan menang atas

Glagah Putih. Tetapi ia harus bertahan untuk tetap hidup

beberapa lama, sampai saatnya adik seperguruannya itu

datang membantunya. Atau bahkan gurunya sendiri. Namun

justru karena itu, maka ia tidak berani melontarkan ilmu Sapu

Anginnya. Jika Glagah Putih membentur ilmunya itu, maka ia

akan kehilangan kesempatan untuk bertahan lebih lama lagi.

Dengan demikikian maka anak Ki Lurah Citrabawa itu akan

mencoba untuk menghindari saja seandainya lawannya

menyerang dengan ilmunya, sambil menunggu kesempatan

yang paling baik untuk mungkin ada kesempatan menyerang

dengan Aji Sapu Angin.

Dalam pada itu, Sekar Mirahpun telah bersiap menghadapi

murid kedua Ki Ajar Sigarwelat. Sesaat keduanya masih

berdiri berhadapan. Dengan nada geram murid kedua itu

berkata, “Jangan menyesal bahwa kau akan mati karena

tingkah lakumu. Dengan berpura-pura menjadi Rara Wulan,

kau telah menjerumuskan dirimu sendiri kedalam maut.”

“Aku sudah siap.” berkata Sekar Mirah.

Murid kedua itu menggeretakkan giginya. Dengan

kemarahan yang menghentak-hentak didadanya ia telah

bergeser selangkah surut. Pukulan Sekar Mirah masih terasa

sakit di wajahnya.

Sekar Mirah tidak melangkah maju. Tetapi ia segera

bersiap, ia sadar sepenuhnya, bahwa lawannya tengah

mengambil ancang-ancang.

 

Sebenarnyalah sejenak kemudian lawannya itu telah

meloncat dengan derasnya. Dengan kakinya ia menyerang

kearah dada Sekar Mirah. Namun Sekar Mirah telah bersiap.

Karena itu, maka iapun segera bergeser selangkah

kesamping. Tetapi lawannya tidak membiarkannya. Demikian

ia berdiri tegak, maka tubuhnya segera berputar. Kakinya

terayun mendatar mengarah lambung.

Sekali lagi Sekar Mirah meloncat mundur untuk

menghindari serangan kaki yang berputar itu. Namun agaknya

lawannya tidak ingin melepaskannya. Karena itu, maka iapun

kemudian telah meloncat maju dengan tangan terjulur lurus

kearah bahu. Jari-jarinya yang lurus merapat akan dapat

melumpuhkan tangan Sekar Mirah jika bahunya tersentuh oleh

serangan itu.

Namun Sekar Mirah masih juga sempat mengelak. Tetapi

Sekar Mirah tidak sekedar merendahkan diri sambil bergeser

setapak menyamping. Namun demikian tangan lawannya

terjulur sedikit diatas kepalanya, maka kakinyapun telah

berputar menyapu kaki lawan. Tetapi lawannyapun cukup

tangkas. Sambil meloncat, maka kakinya terayun kearah dagu

Sekar Mirah. Ternyata Sekar Mirah cukup tangkas. Sambil

menengadahkan wajahnya Sekar Mirah telah luput dari

sentuhan tumit kaki lawannya. Bahkan Sekar Mirah telah

mempergunakan kesempatan itu. Iapun justru berbaring.

Namun dengan tangkasnya satu kakinya berputar. Kemudian

tubuhnya berguling dengan kaki bergerak menyilang.

Ternyata kaki Sekar Mirah berhasil memutar kaki lawannya

yang menjadi tumpuan selama kakinya yang lain terayun ke

arah dagu Sekar Mirah. Karena itu, maka orang itu justru

terpelanting jatuh.

Dengan tangkasnya orang itu justru berputar pada

pundaknya, berguling dan meloncat bangkit. Namun demikian

ia berdiri, ternyata Sekar Mirah telah lebih dahulu siap. Sekali

lagi kaki Sekar Mirah terjulur langsung mengarah kedadanya.

Murid kedua Ki Ajar Sigarwelat itu tidak sempat mengelak.

Karena itu maka dengan cepat ia menyilangkan tangannya

untuk melindungi dadanya.

 

Kaki Sekar Mirah memang menghantam tangan lawannya

yang bersilang. Tetapi serangan Sekar Mirah cukup keras,

sehingga orang itu telah terdorong surut. Dengan susah payah

orang itu berusaha untuk tidak lagi terbanting jatuh. Bahkan

iapun kemudian telah meloncat beberapa langkah mundur

untuk memperbaiki keadaannya.

Sekar Mirah mengurungkan niatnya untuk memburu ketika

orang itu benar-benar telah siap. Namun Sekar Mirah telah

berdiri tegak pada kakinya yang renggang memandangi

lawannya yang mulai terengah-engah. Bukan saja karena ia

harus membebaskan diri dari libatan serangan Sekar Mirah,

tetapi juga karena kemarahan yang terasa menyesakkan

dadanya.

“Iblis betina.” geram orang itu, “darimana kau mempelajari

ilmu seperti itu. Ilmu yang hanya pantas dimiliki oleh para

perampok dan penyamun.”

“Marilah.” sahut Sekar Mirah, “kita selesaikan pertempuran

ini. Tidak ada gunanya kau mencela ilmuku, karena aku lebih

tahu tentang ilmuku dari kau.”

“Persetan.” geram orang itu, “kau jangan mengira bahwa

dengan demikian kau telah menang.”

“Aku memang tidak menganggapnya demikian. Aku belum

menang. Jika tubuhmu telah terkapar ditanah dan tidak

mampu lagi bergerak, maka baru aku akan menengadahkan

dadaku, mengangkat tanganku sambil berteriak bahwa aku

telah menang.” jawab Sekar Mirah.

“Aku belum pernah melihat orang yang sesombong kau.”

berkata orang itu kemudian.

“Itulah kelebihanku dari orang lain.” jawab Sekar Mirah.

“Setan kau.” orang itu mengumpat-umpat.

Sementara itu Sekar Mirah justru tersenyum. Namun

agaknya lawannya tidak sempat melihatnya, apalagi dalam

malam yang gelap itu.

“Sejak sekarang aku tidak akan mengekang diri lagi.”

geram murid kedua Ki Ajar itu, “meskipun lawanku hanya

seorang perempuan. Bukan salahku jika kau mengalami nasib

buruk.”

 

“Sejak semula kau hanya mengancam saja.” Sahut Sekar

Mirah.

Wajah orang itu menjadi merah. Tetapi ia masih berkata,

“Aku datang dari tempat yang jauh. Aku tidak mau dihinakan

disini. Karena itu, aku akan benar-benar membunuhmu.”

“Dari mana?” bertanya Sekar Mirah, “bukankah anak Ki

Citrabawa itu semula tinggal di Pajang? Menurutmu Pajang itu

sangat jauh?”

“Kakak seperguruanku memang berasal dari Pajang. Tetapi

perguruan kami tidak berada di Pajang.” jawab murid kedua

itu.

Sebelum Sekar Mirah sempat menyahut, terdengar Ki

Sigarwelat berteriak, “Cepat, bunuh saja perempuan itu.”

Murid kedua itu menyahut lantang, “Baik guru. Aku akan

membunuhnya.”

Tetapi katanya kepada Sekar Mirah, “Kau cantik.

Sebetulnya sayang sekali jika kau harus dibunuh dalam

pertempuran ini. Bukankah kau yang seharusnya berkorban

untuk gadis itu?”

Terasa telinga Sekar Mirah menjadi panas mendengar

pujian itu. Justru karena itu, maka iapun menjadi marah.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah menyerang.

Lawannya memang terkejut. Namun ia masih sempat

menghindari dengan bergeser selangkah menyamping.

Bahkan orang itu telah mencoba untuk menyerang kembali

dengan me-mukul bahu Sekar Mirah yang kehilangan

sasaran. Tetapi orang itu tidak menduga sama sekali bahwa

tiba-tiba saja Sekar Mirah itu berputar. Ayunan kakinya

mendatar ternyata hampir saja menyentuh lambungnya.

Dengan tergesa-gesa orang itu bergeser pula surut.

Namun Sekar Mirah tidak melepaskan lawannya. Sekali

lagi ia berputar. Kakinya yang lainlah yang kemudian terjulur

lurus.

Lawannya masih juga berusaha untuk mengelak. Tetapi

Sekar Mirah ternyata mampu bergerak lebih cepat sehingga

orang itu harus mengumpat ketika serangan itu telah

mengenai lengannya. Serangan itu memang tidak terlalu

keras, sebagaimana serangan kaki Sekar Mirah didadanya.

 

Tetapi ketangkasan perempuan itu memang mendebarkan

jantungnya.

Pada pertempuran seterusnya ternyata bahwa kemampuan

Sekar Mirah sulit untuk diimbanginya. Perempuan itu mampu

bergerak dengan cepatnya. Berloncatan mengitari lawannya

dan kemudian menyerangnya dari segala arah.

Di lingkungan pertempuran yang lain, Ki Ajar Sigarwelat

ternyata harus mengakui kenyataan bahwa Agung Sedayu

memiliki ilmu yang tidak mudah diatasinya. Bahkan Ki Ajar

Sigarwelat mulai merasa heran, bahwa di Tanah Perdikan itu

ada seseorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Tetapi

agaknya orang itu tidak terlalu banyak melakukan

pengembaraan atau berbuat sesuatu untuk kepentingan yang

luas diantara orang-orang berilmu, sehingga namanya tidak

terdengar dari jarak yang agak jauh. Apalagi umurnya yang

memang terhitung masih muda, sehingga namanya belum

tersebar diantara mereka yang berkeliaran didunia kanuragan.

Ki Sigarwelat yang merasa dirinya memiliki pengalaman

yang sangat luas serta ilmu yang sangat tinggi, mulai merasa

tersinggung. Bukan saja marah karena sikap Agung Sedayu,

tetapi bahwa setelah ia bertempur beberapa lama, sama

sekali tidak nampak kelebihannya dari lawannya.

Setiap kali Ki Ajar Sigarwelat meningkatkan ilmunya, maka

Agung Sedayu selalu dapat mengimbanginya, sehingga rasarasanya

Ki Ajar itu tidak akan dapat menggapai satu tingkatan

yang lebih tinggi dari kemampuan Agung Sedayu.

Namun Ki Ajar yang merasa dirinya termasuk orang-orang

terpenting dalam dunia kanuragan itu telah melihat Agung

Sedayu dalam pertempuran berjarak pendek. Ki Ajar

memperhitungkan bahwa pengenalannya atas berbagai

macam unsur dari bermacam-macam ilmu tentu lebih banyak

dari Agung Sedayu. la harus berusaha membuat Agung

Sedayu itu bingung, sementara pada jarak jangkau tangannya

ia akan dapat meraba Agung Sedayu dengan jari-jarinya yang

mengembang.

Agung Sedayu yang juga memiliki pengalaman yang cukup

segera menyadari bahwa lawannya tentu memiliki

 

kemampuan ilmu yang dapat dilepaskannya dengan sentuhan

wadagnya.

Tiba-tiba saja Agung Sedayu justru ingin tahu, ilmu apakah

yang akan dihadapinya. Meskipun demikian Agung Sedayu

telah melindungi dirinya dengan ilmu kebalnya, sehingga ia

tidak akan mengalami terlalu banyak kesulitan jika ilmu

lawannya yang belum pernah dikenalnya itu ternyata

merupakan ilmu yang sangat tinggi.

Namun Agung Sedayupun memperhitungkan kemungkinan

dipergunakannya racun. Meskipun bagi Agung Sedayu racun

bukannya sesuatu yang membuatnya cemas, tetapi jika muridmurid

Ki Ajar itu juga mempergunakan, maka hal itu akan

sangat berbahaya terutama bagi Sekar Mirah.

Dalam pertempuran yang terjadi kemudian, Ki Ajar

memang telah bertempur dengan cepat sekali. Ia tidak mau

membiarkan Agung Sedayu mengambil jarak. Bahkan suatu

saat, kemampuannya yang memang sangat tinggi, telah

dipergunakan sebaik-baiknya dilandasi dengan

kemampuannya bergerak cepat sekali. Ketika Agung Sedayu

bergeser memiringkan tubuhnya menghindari serangannya,

orang itu bagaikan menggeliat. Tangannya yang lain telah

terayun dengan cepat sekali mendatar dengan jari-jari yang

terkembang.

Agung Sedayu memang terkejut ketika jari-jari tangan itu

mengenai lengannya. Meskipun Agung Sedayu telah

mengenakan ilmu kebalnya, namun ia masih merasakan

betapa ujung-ujung jari itu rasa-rasanya akan mengoyak

kulitnya.

“Luar biasa.” berkata Agung Sedayu didalam hatinya,

“seandainya aku tidak mengenakan ilmu kebal, maka aku kira

daging di lenganku telah dikoyakkannya. Bahkan mungkin

segumpal daging telah terlepas dari tulangnya.”

Tetapi sebaliknya Ki Ajar Sigarwelat itu terkejut bukan

buatan karena ia tidak berhasil mengoyak daging Agung

Sedayu. Bahkan demikian jantungnya bergejolak, sehingga Ki

Ajar Sigarwelat itu telah meloncat beberapa langkah surut

untuk mengambil jarak. Dengan wajah yang tegang

dipandanginya Agung Sedayu yang berdiri tegak. Agung

 

Sedayu memang tidak memburunya. Namun selangkah demi

selangkah ia berjalan mendekati lawannya.

“Kau memang anak iblis.” geram Ki Sigarwelat, “aku tidak

mengira bahwa disini ada seorang yang memiliki ilmu kebal.”

“Ki Ajar Sigarwelat.” berkata Agung Sedayu, “sebaiknya

urungkan saja niatmu. Berjanjilah bahwa kau tidak akan

mengganggu lagi Ki Lurah Branjangan dan cucu-cucunya.

Karena kau seorang Ajar, meskipun selama ini nampaknya

kau tidak dapat dipercaya, namun aku akan mencoba

mempercayaimu. Bagaimanapun juga kau tentu masih

mempunyai harga diri dan berusaha untuk menepati janji yang

kau ucapkan secara khusus.”

“Cukup.” teriak Ki Ajar Sigarwelat, “kau memang terlalu

sombong. Kau kira dengan ilmu kebalmu itu kau dapat

mengalahkan aku? Kau harus mengerti, bahwa ilmu yang aku

tuangkan dalam sentuhan jari-jariku masih belum sampai ke

puncak. Aku yakin, bahwa ilmuku akan dapat menembus ilmu

kebalmu.”

“Mungkin kau dapat melakukannya.” jawab Agung Sedayu,

“tetapi apa salahnya jika kita mengurungkan pertempuran

yang lebih keras lagi. Kita berbicara dengan baik dan menilai

apa yang telah terjadi ini.”

“Persetan.” geram Ki Ajar Sigarwelat, “kau jangan mencoba

membujukku agar aku tidak membunuhmu. Bagaimanapun

juga aku tetap akan membunuhmu. Aku akan menghancurkan

Tanah Perdikan Menoreh meskipun aku hanya bertiga. Jika

kau sudah mati, maka tidak akan ada orang yang dapat

mencegahku.”

“Di Tanah Perdikan ini ada Ki Gede Menoreh. Kau tidak

akan mampu mengalahkarmya.” berkata Agung Sedayu.

“Omong kosong. Ki Gede yang kakinya hampir menjadi

cacat itu, tentu tidak akan dapat berbuat banyak. Jika aku

membawanya berlari-lari mengelilingi Tanah Perdikan itu,

maka ia akan menjadi lumpuh.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada

rendah ia bertanya, “Dari mana kau mengetahuinya?”

 

“Setiap orang mengatakannya.” jawab Ki Ajar Sigarwelat.

Lalu, “Nah, apa katamu he? Atau kau sajalah yang menyerah

dan membiarkan aku membunuh dengan cara yang baik.”

“Yang kau lakukan sudah cukup parah Ki Ajar.” Jawab

Agung Sedayu, “harus ada orang yang menghentikannya.

Sebenarnya aku masih belum melihat alasan-alasan yang

cukup kuat untuk membinasakanmu. Aku belum pernah

mengenalmu sebelumnya. Aku juga belum pernah mendengar

bahwa kau telah melakukan banyak kejahatan. Tetapi tiba-tiba

saja kita bertemu dalam suasana yang tidak akrab seperti ini.”

“Jangan banyak berbicara lagi Agung Sedayu. Sekarang

kau mau berpesan apa saja sebelum kau mati.” geram Ki Ajar

Sigarwelat.

“Menyesal bahwa kita tidak dapat berbicara dengan baik.

Tetapi menilik sikapmu, meskipun aku belum pernah

mendengar, kau memang sering memaksakan kehendakmu

kepada orang lain.” berkata Agung Sedayu.

“Ya.” jawab Ki Ajar Sigarwelat, “kau tidak usah ragu-ragu.

Aku adalah seorang yang selalu memaksakan kehendakku

kepada orang lain yang tidak mau menerimanya. Sekarang

kau boleh mengerti, bahwa akulah yang telah membunuh Ki

Demang Watang. Aku pulalah yang telah membunuh Ki

Ramban Ijo serta aku pulalah yang telah membunuh Serigala

dari Seberang itu. Kau tentu ingin tahu kenapa aku membunuh

mereka? Mereka tidak mau bekerja sama dengan aku. Apa

pun alasan mereka, maka mereka telah bersalah kepadaku.

Karena itu maka mereka harus dibunuh. Kemudian akan

datang giliran aku membunuhmu. Membunuh Ki Lurah

Branjangan dan Ki Gede Menoreh. Membunuh siapa saja

yang menentangku.”

“Luar biasa.” berkata Agung Sedayu, “ternyata kau

memang seorang pembunuh. Mungkin aku juga seorang

pembunuh karena aku juga pernah membunuh. Tetapi alasan

pembunuhan itu tentu dapat dipertanggung jawabkan. Bahkan

sebenarnyalah bahwa sama sekali tidak ada niatku untuk

membunuh.”

“Itulah bedanya. Aku sengaja membunuh mereka. Dan kau

dapat mengukur kemampuanku setelah kau mendengar nama

 

orang-orang yang telah aku bunuh disamping masih ada

puluhan nama yang lain yang menurut pendapatku tidak perlu

aku sebutkan karena kau tentu belum pernah mengenalnya.”

berkata Ki Ajar Sigarwelat itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun

kemudian berkata, “Sayang Ki Ajar. Aku belum pernah

mendengar nama mereka. Aku belum pernah mendengar

nama Ki Demang itu. Juga Serigala dari Seberang. Dan

barangkali nama-nama yang lain. Nama Ki Ajar Sigarwelatpun

baru aku ketahui beberapa hari yang lalu. Aku memang

seorang yang picik karena aku jarang sekali keluar dari Tanah

Perdikan ini. Aku telah menghabiskan waktuku untuk bekerja

bersama anak-anak muda Tanah Perdikan bagi peningkatan

kesejahteraan orang banyak, karena agaknya kerja itu lebih

berarti daripada dengan sombong berkeliaran di dunia olah

kanuragan. Membunuh dan membunuh tanpa arti sama sekali,

karena hanya sekedar untuk mendapat kepuasan rendah dan

mementingkan diri sendiri.”

“Persetan.” geram Ki Ajar, “sekarang, kau jangan

menyesal. Ilmu kebalmu tidak akan dapat bertahan lebih lama

lagi. Aku akan memecahkan ilmu kebalmu dengan pusaka

peninggalan guruku. Sebilah pedang yang disebut Kiai

Lembar Alang-alang. Jenis pusaka yang bertuah, yang akan

mampu membelah ilmu kebal siapapun juga dimuka bumi ini.

Bahkan Aji Tameng Wajapun akan pecah oleh pedang

bertuahku ini.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Memang sudah menjadi

wataknya, bahwa ia tidak merendahkan orang lain. Karena itu,

maka ia tidak mengabaikan kata-kata Ki Ajar Sigarwelat itu.

Beberapa saat Agung Sedayu menunggu. Ternyata bahwa

pedang yang dikatakan memang pedang yang luar biasa.

Sarung pedang itu adalah ikat pinggangnya yang membelit

lambung.

Sejenak kemudian, maka Ki Ajar telah menarik pedang

yang membelit lambungnya itu. Pedang yang memang sangat

tipis, setipis ilalang. Namun ditangan Ki Ajar Sigarwelat, maka

pedang yang kemudian bergetar itu, tentu merupakan senjata

yang sangat berbahaya.

 

“Jangan meratapi nasibmu. Kau pamerkan ilmu kebalmu.

Tetapi aku mempunyai senjata untuk memecahkannya.”

geram Ki Ajar Sigarwelat.

Agung Sedayu memang termangu-mangu sejenak

memandangi daun pedang itu. Pandangan matanya yang

tajam ternyata mampu memperhatikannya dengan saksama.

Daun pedang itu memang terbuat dari baja yang khusus.

Sebelum Agung Sedayu berkata apapun juga, maka Ki Ajar

Sigarwelat itu telah meloncat menyerangnya. Pedangnya

bergetar cepat sekali. Kemudian berputaran di sekitar

tubuhnya. Perlahan-lahan Ki Ajar Sigarwelat itu maju

mendekati lawannya.

Dalam pada itu, di arena yang lain Glagah Putih

nampaknya benar-benar telah menguasai lawannya.

Meskipun lawannya masih juga mencoba bertahan dengan

loncatan panjang. Tetapi murid pertama Ki Ajar itu sama sekali

sudah tidak mendapat kesempatan untuk menyerang.

Sementara itu Glagah Putih nampaknya memang tidak ingin

menyelesaikan lawannya dengan ilmunya yang dapat

dilontarkan kearah lawan yang terpisah oleh jarak, sepanjang

lawannya tidak mempergunakan ilmu Sapu Anginnya yang

masih mentah.

Namun semakin lama ternyata bahwa nafas anak Ki Lurah

Citrabawa itu menjadi semakin terengah-engah.

Tenaganyapun mulai susut. Dengan demikian, maka iapun

telah merasa bahwa ia tidak akan mungkin mengimbangi

lawan dalam pertempuran itu. Yang dapat dilakukannya

hanyalah sekedar bertahan sambil menunggu gurunya akan

datang menolongnya. Tetapi setelah bertempur beberapa

lama, gurunya masih juga belum dapat menyelesaikan

lawannya.

Murid pertama Ki Ajar itu bahkan sempat merasa heran,

kenapa lawannya masih juga belum mempergunakan ilmu

puncaknya yang mampu mengatasi ilmu Sapu Anginnya untuk

dengan segera menyelesaikan pertempuran itu.

Dilingkaran pertempuran yang lain, murid Ki Ajar Sigarwelat

itu ternyata juga mengalami kesulitan. Perempuan yang

semula disangkanya bahkan dengan sengaja memang

 

menyamarkan dirinya menjadi Rara Wulan itu, memiliki ilmu

yang tinggi pula. Kecepatan geraknya justru kian bertambahtambah.

Meskipun perempuan itu tidak bersenjata apapun,

namun sentuhan tangannya bagaikan sentuhan bara api.

Sebenarnyalah Sekar Mirah yang berbekal ilmu yang

diwarisinya dari Ki Sumangkar telah dikembangkannya pula.

Bersama-sama dengan Agung Sedayu, Sekar Mirah telah

mampu memecahkan beberapa persoalan pada ilmunya yang

tidak sempat dijelaskan oleh Ki Sumangkar yang telah

mendahuluinya itu.

Bersama-sama dengan Agung Sedayu pula, Sekar Mirah

telah berusaha mengembangkan ilmu yang diwariskan itu,

meskipun ia memang tidak dapat menghindari pengaruh ilmu

yang ada didalam diri Agung Sedayu. Baik yang mengalir dari

sumber pokoknya, Kiai Gringsing, maupun dari alur ilmu Ki

Sadewa yang telah dikuasainya pula dan diturunkannya

kepada Glagah Putih sebagai batang ilmunya meskipun

kemudian hadir Ki Jayaraga, bahkan pengaruh dari saluran

ilmu Ki Waskita, karena Agung Sedayu memiliki pengetahuan

yang bersumber dari kitab Ki Waskita. Karena itu, maka murid

kedua Ki Ajar Sigarwelat itu tidak mampu mengimbangi

kemampuan lawannya meskipun hanya seorang perempuan.

Bahkan menurut penglihatannya adalah seorang perempuan

yang cantik.

Namun ternyata bahwa murid kedua Ki Ajar itu semakin

lama semakin terdesak karenanya. Tetapi agaknya seperti

Glagah Putih, Sekar Mirah tidak ingin dengan cepat

menyelesaikan lawannya. Bahkan kadang-kadang

dibiarkannya lawannya berloncatan mengambil jarak dan

mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Baru kemudian selangkah

demi selengkah Sekar Mirah itu menyusulnya.

Tetapi murid kedua Ki Ajar itu tidak membiarkan dirinya

hancur tanpa berusaha melindunginya dengan sepenuh

kemampuannya. Karena itu, maka ketika ia sempat

mengambil jarak, sementara Sekar Mirah melangkah

mendekatinya, murid kedua Ki Ajar itu telah mencabut

senjatanya. Sebilah pedang yang tipis. Namun pedang itu

tidak sebaik pedang gurunya. Pedang murid keduanya itu

 

adalah pedang yang agaknya merupakan pedang tiruan dari

pedang yang disebut Kiai Lembar Alang-alang itu, meskipun

agak lebih tebal dan tidak selentur pedang aslinya.

Sekar Mirah tertegun. Justru karena itu ia berpura-pura

menjadi Rara Wulan, maka ia memang tidak membawa

tongkat baja putihnya. Tetapi bukan berarti bahwa Sekar

Mirah tidak bersenjata sama sekali. Ia sudah

memperhitungkan kemungkinan seperti itu terjadi. Karena itu,

maka Sekar Mirah telah membawa sepasang pisau belati

yang sebelumnya dapat disembunyikan dibawah baju dan kain

panjangnya yang telah dilepasnya.

Ketika kemudian lawannya memutar pedangnya, maka

Sekar Mirah telah menarik sepasang pisau belatinya. Pisau

Belati yang agak panjang.

Murid kedua Ki Ajar itupun segera bergeser maju. Ialah

yang kemudian telah menyerang dengan garangnya.

Pedangnya teracu dengan ujung yang bergetar. Kemudian

berputar dengan cepat, menggeliat dan menebas mendatar.

Sejenak kemudian mematuk lurus mengarah dada.

Namun Sekar Mirah tidak kalah tangkasnya. Kedua pisau

belatinyapun telah berputar dikedua tangannya, seperti

gumpalan awan kelabu digelapnya malam.

Sekar Mirah memang tidak terbiasa mempergunakan

senjata seperti itu. Tetapi sebagai seorang yang memiliki ilmu

yang tinggi, maka kemampuannya memang tidak terbatas

pada tongkat baja putihnya.

Demikian, maka sejenak kemudian keduanya telah

bertempur dengan senjata masing-masing. Dentang

senjatapun mulai terdengar. Semakin lama memang semakin

cepat.

Agak berbeda dengan murid kedua Ki Ajar, maka muridnya

yang tertua, anak Ki Lurah Citrabawa, menjadi ragu-ragu

untuk menarik senjatanya. Ia tidak ingin memancing lawannya

untuk mempergunakan ilmu puncaknya. Karena itu,

bagaimanapun juga, ia tidak ingin merubah keseimbangan

pertempuran dengan cara apapun juga. Ia merasa lebih aman

untuk berloncatan menghindar sambil menunggu gurunya

menyelamatkannya.

 

Tetapi ternyata bahwa gurunya tidak segera datang

membantunya. Ki Ajar itu masih bertempur dengan sengitnya

melawan Agung Sedayu. Pedang tipisnya bergetar

ditangannya, seakan-akan memancarkan cahaya yang

kemerah-merahan.

Agung Sedayu yang memiliki pengalaman yang luas

mampu menilai pedang tipis itu. Menurut pengamatan mata

hatinya, maka pedang itu memang memiliki kelebihan. Cahaya

yang kemerah-merahan itu merupakan pertanda baginya, agar

ia menjadi semakin berhati-hati. Karena itu, maka Agung

Sedayupun tidak menjadi lengah. Meskipun ia sudah

mengetrapkan ilmu kebalnya, namun mungkin sekali pedang

itu akan mampu membelah ilmu kebalnya itu.

Pertempuran itu memang menjadi semakin sengit. Ki Ajar

Sigarwelat mampu bertempur dengan cepat sekali. Ia

menguasai ilmu pedang pada tataran yang sangat tinggi,

sehingga karena itu, maka pedangnya memang sangat

berbahaya bagi Agung Sedayu.

Ketika dalam serangan beruntun pedang itu menyentuh

kulit Agung Sedayu, maka terasa kulitnya disengat oleh

perasaan pedih. Ternyata seperti yang dikatakan oleh Ki Ajar

Sigarwelat, pedangnya yang setipis daun ilalang itu tajamnya

melampui tajamnya welat bambu wulung.

Pedang itu memang mampu menembus ilmu kebal Agung

Sedayu meskipun hanya segores kecil. Tanpa ilmu kebal,

maka kulitnya tentu akan terkoyak sampai ke tulang. Pedang

tipis yang sangat tajam itu benar-benar sangat berbahaya.

Jika Ki Ajar sempat meningkatkan ilmunya yang disalurkan

pada pedangnya yang memang merupakan pedang yang

sangat baik itu, maka tajam pedang itu akan dapat menembus

ilmu kebalnya semakin dalam.

Luka dilengan Agung Sedayu itu memang berdarah

meskipun tidak banyak. Namun dengan demikian, maka

Agung Sedayupun telah meningkatkan ilmu kebalnya pula.

Bahkan sampai ketingkat yang paling tinggi, sehingga diluar

sadarnya, dari dalam dirinya seakah-akan telah memancar

udara yang panas.

 

Ki Ajar ternyata terkejut pula ketika tubuhnya tersentuh

udara panas. Dengan geram ia berkata, “Ternyata kau

memiliki ilmu iblis itu. Ilmu kebalmu memang hampir

sempurna. Udara panas ini hanya terpancar dari tataran ilmu

kebal yang sangat tinggi. Tetapi jangan kau kira, bahwa aku

tidak akan mampu menembusnya. Terhadap orang yang tidak

memiliki ilmu kebal, kemampuanku mampu mengelupas

daging seseorang dengan jari-jariku. Terhadap orang yang

melindungi dirinya dengan ilmu kebal sampai ketataran yang

manapun, juga ilmu kebalmu, pedangkulah yang akan

menembusnya.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia melihat cahaya

kemerah-merahan di daun pedang yang tipis itu menjadi

semakin jelas, bahkan kemudian daun pedang yang setipis

daun ila-lang itu bagaikan telah berubah menjadi bara.

Dengan demikian maka Agung Sedayu tidak dapat

membiarkannya dilukai oleh pedang yang luar biasa itu.

Karena itu, ketika lawannya menyerangnya dengan sengitnya,

berputaran seakan-akan pedang itu terbang dari beberapa

arah, Agung Sedayu harus melawannya dengan senjatanya

pula.

Karena itu, sambil meloncat mengambil jarak, Agung

Sedayu telah mengurai senjatanya. Cambuk yang melilit

dilambungnya dibawah bajunya. Sejenak kemudian maka

cambuk itu telah meledak. Suaranya membentur dinding bukit

dan bergema bagaikan mengaum-aum membelah sepinya

malam.

Jantung murid-murid Ki Ajar itu tergetar. Suara cambuk dan

gemanya yang keras, bagaikan telah mengoyak selaput

telinga mereka.

Namun Ki Ajar justru tertawa. Katanya, “Permainan cambuk

yang buruk. Dengan ledakan cambuk yang terdengar dahsyat

itu, kau hanya dapat menggiring seekor kerbau turun kesawah

menarik bajak. Sama sekali bukan ledakan cambuk dari

orang-orang berilmu tinggi.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi sekali lagi ia

menghentakkan cambuknya. Sendal pancing. Namun cambuk

itu tidak lagi meledak mengaum-aum. Bahkan seakan-akan

 

sama sekali tidak terdengar ledakannya apalagi gemanya.

Namun bagi Ki Ajar Sigarwelat, getar hentakkan cambuk

sandal pancing itu bagaikan telah mengguncang bukit. Karena

tu, maka jantung Ki Ajar Sigarwelat menjadi berdebar-debar.

Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Apa hubunganmu dengan

pengembara bercambuk itu? “

“Maksudmu siapa?”bertanya Agung Sedayu.

“Orang bercambuk yang terkenal sebagai seorang dukun

dengan seribu nama.” berkata Ki Ajar Sigarwelat itu.

“Aku murid salah seorang dari orang-orang yang disebut

orang bercambuk itu.” jawab Agung Sedayu.

“Ada berapa orang yang disebut orang bercambuk?”

bertanya Ki Ajar Sigarwelat.

Agung Sedayu menjawab asal saja, “Tiga.”

Ki Ajar Sigarwelat menggeram. Katanya, “Siapapun orang

bercambuk itu, kau pantas diperhitungkan. Ternyata disini, di

Tanah Perdikan ini, ada murid orang bercambuk itu.”

Ki Ajar Sigarwelat berhenti sejenak. Lalu, “Itulah sebabnya,

maka Tanah Perdikan ini berani menentang aku.”

“Ki Ajar. Kita masih mempunyai kesempatan untuk

menyelesaikan persoalan ini dengan baik. Saudara sepupuku

serta isteriku ternyata cukup sabar untuk sekedar menahan

kedua murid-muridmu itu. Sebenarnya kau dapat menilai

sendiri. Jika Glagah Putih dan Sekar Mirah benar-benar ingin

melumpuhkan kedua murid-muridnya itu, maka hal itu sudah

dapat dilakukannya.”

“Omong kosong.” berkata Ki Ajar, “murid-muridku bukan

orang-orang cengeng seperti yang kau duga.”

“Jadi bagaimana maksudmu? Kita akan bertempur terus?”

bertanya Agung Sedayu.

“Cukup. Berpesan sajalah kepada isterimu sebelum kau

mati.” berkata Ki Ajar Sigarwelat.

Agung Sedayu tidak menjawab. Namun ia telah

menggerakkan cambuknya dan memutarnya mendatar diatas

kepalanya.

Ki Ajar Sigarwelat dengan pedang tipisnya telah bergerak

pula. Dengan tangkasnya ia mulai berloncatan. Pedangnya

terayun menyambar-nyambar dilambari dengan ilmunya yang

 

luar biasa kuatnya, sehingga pedang itu mampu menembus

ilmu kebalnya dan melukai lengannya.

Demikianlah maka pertempuran antara keduanya menjadi

semakin garang. Pedang tipis dan lentur itu terayun-ayun

mengerikan. Sekali-sekali mematuk menyusup diantara

putaran cambuk Agung Sedayu. Namun ujung cambuk Agung

Sedayupun mendebarkan jantung lawannya pula. Ledakannya

memang tidak terlalu keras, tetapi ditandai dengan getar udara

yang menghentak dada.

Sejenak kemudian keduanya telah berloncatan saling

menyerang dan saling bertahan. Kemampuan Ki Ajar

Sigarwelat ternyata memang sangat tinggi, sehingga Agung

Sedayu berdesis, “Ki Ajar, aku justru merasa sayang, bahwa

dengan ilmumu yang tinggi itu, kau telah bertempur untuk

persoalan yang tidak sewajarnya. Aku akan kagum jika kau

pergunakan ilmumu itu untuk menegakkan wibawa Mataram

misalnya, sehingga Mataram akan dapat benar-benar menjadi

lambang persatuan kekuatan diseluruh Tanah ini daripada

sekedar kau pergunakan untuk memaksakan kehendak

muridmu terhadap seorang gadis.”

“Persetan.” geram Ki Ajar Sigarwelat, “kau kira aku salah

seorang pendukung Panembahan Senapati yang telah

memberontak terhadap Pajang itu?”

“Jadi kau juga menganggap bahwa Panembahan Senapati

telah memberontak?”bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Dan aku telah berjanji dengan pedangku ini bahwa aku

akan membunuh Senapati. Adalah kebetulan sekali bahwa

aku bertemu dengan kau disini. Aku akan dapat menguji

pedangku ini. Ternyata bahwa pedangku mampu menembus

ilmu kebalmu, sehingga akupun yakin bahwa pedangku akan

dapat juga menembus ilmu Tameng Waja Panembahan

Senapati yang diwarisinya dari Sultan Pajang.” geram Ki Ajar

Sigarwelat.

“Jadi kau ingin membunuh Panembahan Senapati ?

Apakah alasanmu he?” bertanya Agung Sedayu.

“Ia telah memberontak terhadap jalur kekuatan Demak.

Seharusnya Panembahan Senapati mengakui kekuasaan

 

Panembahan Madiun yang masih mempunyai darah yang

mengalir dari tahta Demak.” berkata Ki Ajar Sigarwelat.

“Orang-orang yang bersikap seperti kau inilah yang justru

sering menimbulkan persoalan. Panembahan Madiun sendiri

tidak pernah berpikir sebagaimana kau pikirkan. Orang-orang

seperti kau ini telah membuat kemelut antara Mataram dan

Madiun. Apakah keuntunganmu jika Mataram dan Madiun

berbenturan?” bertanya Agung Sedayu.

“O, jadi kau pernah mendengar juga persoalan antara

Mataram dan Madiun?” bertanya Ki Ajar Sigarwelat.

“Ya. Orang-orang yang mempunyai nafsu pribadi itu telah

memberikan gambaran yang salah kepada Panembahan

Madiun tentang sikap Panembahan Senapati. Sementara itu

ada juga orang-orang Mataram yang bertindak sendiri-sendiri

mendahului perintah Panembahan Senapati yang berusaha

mencegah benturan kekerasan. Nah, jika demikian maka

persoalannya akan berkembang. Jika kau memang akan

membunuh Panembahan Senapati, maka aku berkata

kepadamu sesuai dengan suara hatiku, aku akan

menghentikanmu sampai disini.” berkata Agung Sedayu.

“Persetan.” geram orang itu, “nampaknya kau adalah budak

Panembahan Senapati.”

“Tanah Perdikan Menoreh merupakan salah satu bagian

dari kesatuan yang besar dibawah pimpinan Panembahan

Senapati. Kesatuan yang harus utuh tanpa terbelah.” berkata

Agung Sedayu.

Namun tiba-tiba saja Ki Ajar itu tertawa. Katanya,

“Ketahuilah. Di Madiun kini telah hadir seorang Panembahan

yang lain, yang memiliki pengaruh yang sangat besar atas

Panembahan Madiun.”

Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Dengan ragu-ragu ia

justru telah mengambil jarak dari lawannya sambil bertanya,

“Siapa?”

“Panembahan Pancer.” jawab Ki Ajar Sigarwelat. Lalu

katanya, “Menjelang kematianmu kau boleh mendengar

namanya. Panembahan Pancer adalah seorang yang telah

berhasil menyusun rencana perlawanan terhadap Mataram.

Beberapa orang adipati telah dapat dipengaruhinya.”

 

“Dan kau adalah salah seorang diantara para pengikut

Panembahan Pancer?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Dan aku mendapat tugas datang ke Mataram untuk

menjajagi keadaan Mataram.” jawab Ki Ajar.

“Tetapi kenapa kau kemari untuk satu keperluan yang tentu

tidak berarti menurut penglihatan Panembahan Pancer itu?”

bertanya Agung Sedayu.

“Aku telah singgah di rumah muridku. Dan ketika kami

berada di Mataram, tanpa kami sengaja, kami telah melihat Ki

Lurah Branjangan dan cucu-cucunya. Ternyata bahwa

muridku tertarik kepada cucu Ki Lurah, sementara ia telah

pernah mendengar dari ayahnya hubungannya dengan Ki

Lurah Branjangan. Nah, kemudian segalanya tersusun dengan

rapi, ketika muridku itu melihat Ki Lurah pergi ke Tanah

Perdikan Menoreh bersama cucu-cucunya. Ternyata muridku

itu telah dengan saksama mengamati gadis yang

diimpikannya itu.” berkata Ki Ajar Sigarwelat.

“Lalu kau korbankan nyawamu untuk kepentingan muridmu

dengan mengorbankan tugasmu.” berkata Agung Sedayu

yang dadanya mulai bergelora.

“Jangan terlalu sombong.” geram Ki Ajar.

“Ki Ajar.” berkata Agung Sedayu dengan tekanan yang

berat, “jika semula aku ragu-ragu berbuat dengan lambaran

puncak kemampuanku, karena persoalannya tidak lebih dari

persoalan seorang perempuan, sementara aku belum pernah

mempunyai persoalan dengan Ki Ajar, maka kini persoalannya

menjadi lain, jika kau benar ingin membunuh Panembahan

Senapati, maka kau memang pantas untuk dibunuh. Meskipun

demikian, aku masih menawarkan satu penyelesaian.”

“Apa?” bertanya Ki Ajar Sigarwelat.

“Menyerahlah. Kita menghadap Panembahan Senapati.”

berkata Agung Sedayu.

“Nampaknya kau memang seorang penjilat.” geram Ki Ajar.

“Aku adalah sahabat Panembahan Senapati. Kami

mengembara bersama-sama. Kami mencari ilmu bersamasama

dan banyak hal yang telah kami lakukan bersamasama.”

jawab Agung Sedayu.

 

“Omong kosong. Jika demikian, kau tentu sudah diangkat

menjadi seorang Tumenggung atau bahkan seorang Adipati.

Ternyata kau tidak lebih dari seorang petani kecil di Tanah

Perdikan ini.” berkata Ki Ajar.

“Menurut ukuranmu agaknya memang demikian. Tujuan

terakhir dari persahabatan adalah menarik keuntungan yang

sebesar-besarnya bagi kepentingan diri sendiri.” sahut Agung

Sedayu, “tetapi aku tidak Ki Ajar. Karena itu, jika kau menolak

untuk menyerah, maka kau memang harus dilenyapkan.

Bukan kebiasaanku berbuat demikian, tetapi untuk

kepentingan yang besar, justru saat-saat gawat karena

hubungan yang renggang antara Mataram dan Madiun, maka

aku harus memaksa diri untuk melakukannya. Apalagi kau

adalah salah seorang yang mengipasi bara yang menyala

dalam hubungan antara Mataram dan Madiun sekarang ini.”

Ki Ajar tertawa. Katanya, “Kau memang murid orang bercambuk.

Tetapi yang disegani oleh banyak orang, termasuk

orang-orang tua adalah gurumu, bukan kau. Karena itu jangan

bermimpi dapat membunuhku. Kekalahan murid-muridku

bukan ukuran tingkat kemampuanku. Aku memang terlambat

mengambil mereka menjadi murid-muridku. Itu saja sebabnya,

kenapa mereka belum dapat mengimbangi kemampuan

muridmu.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ketika ia sempat

memandang arena perkelahian yang lain, ia menarik nafas

dalam-dalam. Dilihatnya Glagah Putih duduk menunggui

lawannya yang terengah-engah dan berusaha untuk bangkit

berdiri. Namun nampaknya nafasnya telah hampir terputus di

kerongkongan.

Sementara Sekar Mirah yang bersenjata pisau belati

rangkap benar-benar telah menguasai murid kedua Ki Ajar

Sigarwelat. Meskipun ilmu pedang kedua itu cukup baik, tetapi

ia tidak mampu mengimbangi kecepatan gerak Sekar Mirah.

Namun agaknya Sekar Mirah akan memperlakukan lawannya

sebagaimana Glagah Putih. Dibiarkannya saja lawannya

kehabisan nafas, sehingga dengan satu sentuhan kecil, ia

akan terjatuh dan tidak berdaya lagi untuk bangkit.

 

Sebenarnyalah, lawan Glagah Putih sudah kehabisan

tenaga. Ia memang menarik pedang tipisnya, juga tiruan

pedang gurunya. Namun semuanya itu tidak berarti lagi.

Demikian nafasnya hampir terputus. Glagah Putih telah

berhasil membantingnya jatuh, sehingga punggungnya serasa

akan patah. Dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit,

sementara Glagah Putih menunggunya sambil duduk diatas

batu padas.

“Ki Ajar.” berkata Agung Sedayu, “kau lihat murid-muridmu.

Mereka sudah tidak berdaya lagi. Meskipun Glagah Putih dan

Sekar Mirah belum membunuhnya, tetapi hal itu akan dapat

terjadi kapan saja.”

“Persetan”geram Ki Ajar, “aku akan membunuhmu.

Kemudian membunuh mereka, membunuh seisi Tanah

Perdikan. Aku tidak gentar dengan Pasukan Khusus yang

dipimpin oleh Naga Geni itu. Karena Naga Geni itu tidak

segarang sebagaimana namanya.”

Agung Sedayu kemudian bersiap-siap. Nampaknya

persoalannya bukan sekedar persoalan Rara Wulan. Tetapi

persoalannya telah terkait dengan kesetiannya kepada

sahabatnya, Panembahan Senapati di Mataram.

Sejenak kemudian, Ki Ajar Sigarwelatpun telah mulai

bergerak. Pedangnya telah bergetar pula ketika tangannya

terjulur lurus mengarah ke dada. Cahaya yang kemerahmerahan

itu membuat Agung Sedayu menjadi sangat berhatihati.

Sementara Ki Ajar Sigarwelatpun berkata, “Nah, menjelang

kematianmu, kau memang harus mendengar, bahwa jika kau

pernah mendengar perguruan Sapu Angin di daerah Timur,

maka ilmuku yang aku namai Sapu Angin memang

mempunyai hubungan. Tetapi perguruan Sapu Angin di

pinggir Bengawan Madiun itu rasa-rasanya tidak akan

memberikan arti apa-apa lagi.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia

teringat kepada ceritera Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga.

Keduanya bersama Sabungsari pernah bertemu dengan

murid-murid dari perguruan Sapu Angin. Bukan ilmu yang

disebut Sapu Angin. Tetapi agaknya Ki Sigarwelat telah

 

menarik hubungan antara nama padepokan dengan nama

ilmunya. Namun dengan demikian, maka Ki Sigarwelat itupun

ternyata berasal dari daerah Timur. Bukan dari sebuah

padepokan didekat Suwangan Kali Bagawanta.

Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian berkata,

“Kenapa kau terlalu yakin akan dapat membunuhku he?

Kedua orang muridmu sudah tidak berdaya lagi. Jika Glagah

Putih dan Sekar Mirah itu bergabung dengan aku, maka

kaupun akan segera mati.”

“Cobalah. Panggil keduanya dan marilah kita bersamasama

membuktikan, siapakah yang akan mati. Aku atau kalian

bertiga.” geram Ki Ajar Sigarwelat.

Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Katanya, “Aku ingin

tahu, siapakah yang akan lebih baik dalam pertempuran ini.

Ilmumu yang kau sebut Sapu Angin atau cambukku.”

Ki Ajar tidak menjawab lagi. lapun segera meloncat

menyerang Agung Sedayu dengan garangnya. Pedangnya

yang bagaikan membara itu berputaran, sehingga seakanakan

telah menimbulkan asap yang membara memancarkan

panas kesegenap arah. Tetapi panas yang timbul dari putaran

pedang tipis itu masih belum sepanas udara yang

memancarkan panasnya dari dalam diri Agung Sedayu yang

telah sampai kepuncak ilmu kebalnya.

Tetapi daya tahan tubuh Ki Ajar benar-benar luar biasa. Ia

seakan-akan tidak merasa tersengat oleh panasnya udara

disekitar tubuh Agung Sedayu. Namun ujung pedang tipisnya

itu masih juga mampu menggapai tubuh Agung Sedayu.

Namun Agung Sedayu cukup tangkas untuk menghindari

ujung pedang itu. Ia benar-benar berusaha agar kulitnya tidak

tergores lagi karena pedang lawannya ternyata mampu

menembus ilmu kebalnya.

Namun disamping udara yang panas memancar dari dalam

dirinya, serta kemampuannya bergerak cepat, cambuk Agung

Sedayupun merupakan perisai yang rapat. Hanya sekali-sekali

saja, dilambari dengan kemampuannya yang sangat tinggi, Ki

Ajar mampu menembus perisai itu. Namun bukan berarti

bahwa ujung pedangnya yang membara itu dapat menyentuh

tubuh Agung Sedayu.

 

Permainan pedang tipis Ki Ajar itu memang salah satu ujud

dari ilmu Sapu Anginnya yang dilepaskan lewat senjatanya

yang luar biasa itu. Awan yang kemerah-merahan bergulunggulung

melanda Agung Sedayu yang memutar cambuknya

dengan cepatnya mengitari dirinya. Sekali-sekali terdengar

cambuk itu meledak. Meskipun suaranya tidak

mengumandang di lereng pebukitan, namun bagi Ki Ajar,

getarannya terasa menghentak-hentak dadanya.

Dalam puncak ilmu Sapu Anginnya pada permainan

pedangnya, maka Agung Sedayu benar-benar harus

mengerahkan ilmu cambuknya. Serangan orang itu rasarasanya

memang seperti angin berhembus. Sehingga rasarasanya

terlalu sulit untuk dihindari sehingga tidak tersentuh

sama sekali. Karena itulah, maka ternyata Agung Sedayu

memang tidak dapat menghindari sepenuhnya seranganserangan

lawannya. Sekali lagi pundaknya tergores ujung

pedang lawannya. Meskipun Agung Sedayu telah berada

pada puncak penggunaan ilmu kebalnya, tetapi ujung pedang

yang membara dilambari ilmu Sapu Angin itu memang sempat

menggores kulitnya. Tetapi goresan itu terlalu kecil meskipun

menitikkan darahnya.

Namun betapapun Agung Sedayu selalu menguasai dirinya

sendiri, goresan-goresan ditubuhnya itu telah membuatnya

marah sekali. Nampaknya Ki Ajar Sigarwelat benar-benar

ingin bertempur sampai tuntas. Persoalannya memang bukan

sekedar Rara Wulan, tetapi lebih jauh dari itu. Meskipun

agaknya ada persaingan dari antara dua padepokan yang

mempergunakan nama Sapu Angin bagi padepokannya dan

yang lain bagi ilmunya. Tetapi diakui oleh Ki Ajar, bahwa

keduanya bukannya tidak mempunyai kaitan.

“Pada suatu saat, aku ingin bertanya kepada Kiai Gringsing

tentang hubungan antara keduanya dan padepokan Kaliwalik

di tepi suwangan Kali Bagawanta.” berkata Agung Sedayu

didalam hatinya.

Demikianlah maka pertempuran itu menjadi semakin lama

semakin sengit dan semakin tidak dapat dimengerti. Glagah

Putih benar-benar telah menghentikan perlawanan anak Ki

Lurah Citrabawa yang duduk sambil menyeringai kesakitan.

 

Sementara murid kedua Ki Ajar itupun telah terbaring

kehabisan nafas. Bahkan beberapa goresan luka telah

memaksanya untuk tidak bangkit lagi.

Tetapi Ki Ajar Sigarwelat ternyata tidak mudah ditundukkan,

tetapi juga tidak mudah menundukkan Agung Sedayu.

Serangan Ki Ajar yang bagaikan angin prahara itu telah

menyapu medan. Tetapi Agung Sedayu ternyata mampu

berdiri tegak di arena bagaikan bukit karang yang kokoh kuat

berakar sampai pusat bumi. Karena itu, maka angin prahara

yang betapapun besarnya, tidak akan mampu untuk menyapu

batu karang yang tidak tergoyahkan itu.

Ketika sekali lagi ujung pedang itu menyentuh dada kiri

Agung Sedayu dengan goresan kecil, maka Agung Sedayu

sempat menyusupkan ujung cambuknya pula dengan

hentakkan sendal pancing. Terdengar keluhan tertahan. Ki

Ajar Sigarwelat telah meloncat beberapa langkah surut untuk

mengambil jarak.

Agung Sedayu sengaja tidak memburunya. Ketika terasa

ujung cambuknya menyentuh tubuh lawannya, maka Agung

Sedayu sengaja memberi kesempatan kepada lawannya

untuk melihat luka ditubuhnya itu.

Sebenarnyalah, pundak orang itulah yang terkoyak oleh

ujung cambuk Agung Sedayu. Meskipun yang menyentuh itu

hanya ujunnya saja, karena Ki Ajar itu dengan cepat telah

mengelak, namun luka yang menganga dipundaknya jauh

lebih besar dan lebih dalam dari luka di tubuh Agung Sedayu

karena sentuhan ujung pedang Ki Ajar Sigarwelat itu, karena

tubuh Agung Sedayu telah dilindungi oleh ilmu kebalnya.

Luka dipundak itu benar-benar berpengaruh pada

kemampuan gerak tangan Ki Ajar Sigarwelat. Kemampuan

Agung Sedayu membidik bukan saja dalam lontaran atas

sasaran pada jarak jauh, tetapi iapun mampu membidikkan

ujung cambuknya pada sasaran yang dikehendaki.

Ki Ajar Sigarwelat itu mengumpat. Dengan geram iapun

kemudian berkata, “Kau memang luar biasa. Pada umurmu

yang masih terhitung muda, kau mampu mengimbangi ilmu

Sapu Anginku yang tersalur lewat pusakaku. Tetapi kau tahu,

 

bahwa aku mampu membunuhmu dengan ilmu Sapu Angin itu

dalam ujudnya yang lain.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa

lawannya tentu akan segera sampai kepuncak ilmu Sapu

Anginnya. Ki Ajar tentu akan melontarkan ilmu Sapu Angin itu

untuk menyerangnya dari jarak jauh.

Ketika Ki Ajar itu menyarungkan pedangnya, maka Agung

Sedayupun telah membelitkan cambuknya di pinggangnya. Ia

sadar sepenuhnya bahwa karena luka dipundaknya itu, maka

Ki Ajar Sigarwelat merasa tidak akan mampu menggerakkan

pedangnya dalam puncak ilmu Sapu Anginnya lewat

kemampuannya dalam ilmu pedang.

Sebenarnyalah Ki Ajar itu telah bersiap-siap untuk

mengetrapkan ilmunya. Iapun sudah menduga, bahwa Agung

Sedayu tentu memiliki kemampuan untuk melontarkan ilmunya

pula, sebagaimana dilakukan oleh Glagah Putih disaat

melawan murid pertamanya.

Untuk beberapa saat, Ki Ajar itu berdiri tegak. Darah masih

mengucur dari lukanya. Namun kemudian Ki Ajar itu telah

mengatupkan telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi

dadanya. Bagi Ki Ajar, lebih baik melontarkan ilmunya itu

daripada mempergunakannya lewat ilmu pedangnya dengan

tangan kirinya. Untuk melawan orang lain kecuali Agung

Sedayu, Ki Ajar memang sanggup mempergunakan tangan

kirinya, tetapi lawan Agung Sedayu, ia akan mengalami

banyak kesulitan.

Agung sedayu benar-benar telah bersiap. Bahkan iapun

telah mempergunakan kesempatan itu untuk mempersiapkan

ilmu puncaknya pula, yang semakin lama menjadi semakin

matang. Agung Sedayu ternyata tidak usah menunggu terlalu

lama.

Sesaat kemudian ia mendengar Ki Ajar berkata, “Agung

Sedayu. Tataplah langit untuk yang terakhir kalinya. Sebentar

lagi, kau akan hancur luluh dihanyutkan oleh prahara yang

akan dapat membenturkan kau pada dinding bukit itu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Ketajaman penglihatannya

ternyata mampu menangkap gerak tangan Ki Ajar Sigarwelat.

Kemampuan itu agaknya tidak diperhitungkan oleh Ki Ajar,

 

sehingga ia mengira bahwa ia akan dapat melakukannya di

luar pengamatan lawannya.

Tetapi dengan ketajaman penglihatannya, Agung Sedayu

melihat apa yang dilakukan oleh Ki Ajar. Menggosokkan

kedua telapak tangannya yang satu dengan yang lain sambil

memusatkan nalar budinya. Ternyata Agung Sedayupun

melihat, betapapun cepat, Ki Ajar itu menghentakkan

tangannya dengan telapak tangan menghadap ke arah Agung

Sedayu meskipun hal itu dilakukannya dalam kegelapan.

Seleret sinar nampak memancar dari telapak tangan itu.

Kemudian angin yang sangat kuat bagaikan prahara telah

melanda sasarannya. Meskipun hanya untuk satu batasan

tertentu, namun angin itu bagaikan telah mengguncang bukit.

Ranting-ranting pepohonan berpatahan dan batupun

berguguran.

Tetapi serangan itu tidak mengenai Agung Sedayu.

Ternyata Agung Sedayu memiliki kemampuan untuk melenting

dengan kecepatan yang tinggi dan jarak yang jauh sekali

menurut takaran orang banyak, karena Agung Sedayu

memiliki kemampuan seakan-akan memperingan tubuhnya

sehingga kakinya mampu melontarkannya jauh-jauh.

Ki Ajar yang mula-mula menduga, bahwa Agung Sedayu

yang sudah tidak berada ditempatnya lagi itu tidak mampu

menghindari sepenuhnya serangannya dan terpelanting jatuh

membentur batu-batu padas, menjadi sangat terkejut. Agung

Sedayu yang tidak ada disekitar tempatnya berdiri menurut

jangkauan loncatan yang wajar, ternyata telah berdiri

beberapa langkah lebih jauh lagi dari garis serangan Ki Ajar

Sigarwelat.

“Anak iblis.” geram Ki Ajar Sigarwelat.

Agung Sedayu berdiri tegak dengan tangan bersilang

didada. Namun ia telah bersiap menghadapi segala

kemungkinan.

Ternyata yang terkejut bukan saja Ki Ajar Sigarwelat,

Glagah Putih dan Sekar Mirah yang menjadi berdebar-debar

melihat serangan Ki Ajar Sigarwelat itupun menarik nafas

dalam-dalam pula.

 

“Luar biasa.” desis Glagah Putih yang memang mengagumi

Agung sedayu sejak semula, “Kemampuan apakah yang telah

melemparkan kakang Agung Sedayu begitu jauh sehingga

terlepas dari arus prahara Ki Ajar Sigarwelat.”

Sekar Mirah sempat meraba dadanya yang bagaikan

menghentak-hentak. Ia tiba-tiba saja merasa sangat bersyukur

bahwa suaminya mendapat kurnia kemampuan yang tinggi,

sehingga ia dapat mempergunakannya untuk kepentingan

sesama.

Sementara itu Ki Ajar Sigarwelat yang kehilangan

sasarannya menjadi sangat marah, meskipun ia juga menjadi

berdebar-debar. Ternyata Agung Sedayu memang seorang

yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ia tidak saja

menunjukkan kemampuan bermain cambuk sebagai murid

dari orang yang dikenalnya dengan sebutan Orang

Bercambuk. Tetapi ternyata orang yang masih terhitung muda

itu memiliki beberapa macam ilmu yang tidak diduganya

semula. Ki Ajar tidak menduga bahwa Agung Sedayu memiliki

ilmu kebal yang dapat menyusur arti dan kemampuan pedang

tipisnya karena perisai ilmu kebal itu. Dan ternyata Agung

Sedayu juga memiliki kemampuan ilmu yang membuat

tubuhnya seakan-akan menjadi tidak berbobot lagi.

Tetapi Ki Ajarpun yakin akan kemampuannya. Karena itu,

maka ia sama sekali tidak berniat untuk membatalkan

maksudnya, membunuh Agung Sedayu. Karena itu, maka

iapun segera mempersiapkan ilmunya pula. Setapak demi

setapak ia melangkah mendekati Agung Sedayu. Dengan

sengaja Ki Ajar telah melangkah dibawah sebatang pohon

yang rimbun untuk menyembunyikan gerak tangannya,

sehingga tidak akan mudah dibaca oleh Agung Sedayu.

Tetapi ketajaman penglihatan Agung Sedayu yang juga

tidak diperhitungkan oleh lawannya, melihat Ki Ajar itu dengan

jelas. Agung Sedayu melihat gerak-gerak kecil Ki Ajar yang

saling menggosokkan telapak tangannya. Namun yang tibatiba

saja dihentakkannya menyerang Agung Sedayu.

Sekali lagi Agung Sedayu yang melihat gerak itu betapa

cepatnya telah meloncat. Loncatan yang sangat panjang

diukur dengan loncatan sewajarya. Tetapi lawannya tidak

 

memberinya waktu. Dengan serta merta Ki Ajar telah

mempersiapkan serangannya pula. Demikian ia menemukan

Agung Sedayu yang berdiri tegak maka serangannya telah

meluncur dengan cepatnya.

Ketika serangan itu datang semakin cepat, maka Agung

Sedayu mulai berpikir untuk membalas serangan itu. Ia tidak

akan dapat menghindar saja terus-menerus tanpa

membalasnya. Karena itu, maka ilmunya yang memang telah

dipersiapkan itupun telah siap dilontarkannya.

Ketika serangan lawannya itu datang sekali lagi, Agung

Sedayu telah meloncat menjauh. Tetapi sebelum serangan

berikutnya datang, Agung Sedayu telah melenting lagi kearah

yang berlawanan, sehingga Ki Ajar menjadi agak bingung.

Kesempatan itulah yang dipergunakan oleh Agung Sedayu

untuk melepaskan serangannya.

Namun ternyata Ki Ajar juga memiliki kemampuan yang

sangat tinggi. Pada saat Agung Sedayu melepaskan ilmunya,

maka Ki Ajar itupun telah berhasil melemparkan dirinya

kesamping. Ternyata Ki Ajar itu melihat satu kilatan cahaya di

mata Agung Sedayu. Satu hal yang jarang dapat dilakukan

oleh orang lain.

Tetapi ternyata orang yang bergelar Ajar Sigarwelat itu

mengumpat kasar, “Ilmu apa lagi yang kau miliki he?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Namun sekali lagi ia

bersiap dan melontarkan serangan dengan sorot matanya.

Namun sekali lagi Ki Ajar itu sempat mengelak.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Orang itu

ternyata benar-benar seorang yang berlmu tinggi, yang

mampu menangkap kilatan cahaya di mata Agung Sedayu

saat Agung Sedayu melontarkan ilmunya. Dengan demikian

maka pertempuran antara keduanya menjadi semakin

dahsyat. Keduanya mampu melontarkan serangan dari jarak

jauh, namun keduanyapun mampu dengan cepat menghindari

serangan-serangan itu.

Namun setiap kali Ki Ajar Sigarwelat telah mengumpat. Ia

benar-benar tidak mengira bahwa di Tanah Perdikan Menoreh

ada orang yang mampu mengimbangi ilmunya itu. Bahkan

mampu melukai tubuhnya dengan ujung cambuknya.

 

Demikianlah maka sejenak kemudian, keduanya telah

tenggelam dalam pertempuran yang aneh. Keduanya saling

menyerang dengan ilmu puncaknya masing-masing. Sekali.

Agung Sedayu tersentuh lontaran ilmu Sapu Angin sehingga

ia terpelanting jatuh. Namun ia tidak membiarkan lawannya

menyerangnya sekali lagi dan melumatkan tubuhnya

meskipun dilambari dengan ilmu kebal. Karena itu, sambil

berguling Agung Sedayu telah mempersiapkan dirinya.

Demikian ia mendapat kesempatan tanpa bangkit berdiri,

dilontarkannya ilmunya lewat sorot matanya.Tetapi lawannya

selalu pula sempat meloncat mengelak.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung beberapa saat

lamanya. Glagah Putih dan Sekar Mirah menjadi berdebardebar

melihat, betapa kedua belah pihak telah saling

menyerang dengan kemampuan ilmu yang sangat tinggi.

Sekali-sekali mereka melihat Agung Sedayu terguncang dan

bahkan kemudian terpelanting jatuh. Namun pada

kesempatan yang lain, Ki Ajar Sigarwelat terdorong dan jatuh

terlentang oleh singgungan serangan Agung Sedayu.

Namun yang terjadi kemudian adalah diluar perhitungan Ki

Ajar Sigarwelat. Tenaganya terasa semakin lama menjadi

semakin surut. Mula-mula Ki Ajar Sigarwelat tidak begitu

mengerti, apa yang terjadi atas dirinya. Namun ketika

kemudian tangannya menyentuh darahnya yang hangat, yang

mengalir bagaikan diperas dari luka dipundaknya, barulah

orang itu menyadari, bahwa darah terlalu banyak mengalir

lewat lukanya itu. Bukan saja karena ia harus berloncatan

menghindari serangan lawan yang bagaikan menguras

tenaganya, tetapi justru pada saat-saat ia melepaskan ilmunya

dengan mengerahkan segenap tenaga dan tenaga

cadangannya untuk mendukung kekuatan lontaran ilmunya,

maka tekanan urat nadinya menjadi semakin kuat. Karena itu,

arus darahpun menjadi semakin deras pula.

Ternyata kesadaran itu telah membuatnya seolah-olah

menjadi semakin lemah. Ketika ia kemudian berdiri, maka

kakinya seakan-akan tidak lagi dapat tegak dengan kuat.

Agung Sedayu yang memiliki ketajaman penglihatan lahir

dan batinnya, melihat keadaan Ki Ajar Sigarwelat itu. Karena

 

itu, meskipun ia sudah siap untuk menyerangnya, maka

niatnya itupun telah diurungkannya. Meskipun jika Agung

Sedayu berniat, ia akan dapat segera mengakhiri pertempuran

itu. Ia yakin, bahwa saat itu ia akan dapat menyerang dan

bukan saja menyinggung tubuh lawannya, tetapi serangannya

akan dapat langsung meremas isi dadanya. Tetapi Agung

Sedayu justru menunggu.

Ki Ajar Sigarwelat memang telah hampir kehabisan

darahnya lewat lukanya yang menganga dipundaknya. Namun

ternyata bahwa Ki Ajar tidak mau melihat kenyataan itu.

Bahkan ia masih mempersiapkan sebuah serangan dengan

ilmu puncaknya.

“Jangan Ki Ajar “Agung Sedayu berusaha

memperingatkannya “darahmu terlalu banyak mengalir. “

“Kau menyerah “geram Ki Ajar.

“Bukan begitu. Tetapi kau akan mengalami kesulitan.

Darahmu telah terlalu banyak mengalir “sahut Agung Sedayu.

“Persetan “geram orang itu “jangan berlindung dengan cara

yang sangat licik. Aku tidak berpengaruh sama sekali. Lukaku

tidak berarti. Jika kau memang ingin menyerah, menyerahlah.

“Ki Ajar “berkata Agung Sedayu “mengingat bahwa kita

secara pribadi belum pernah bermusuhan, maka aku masih

berusaha untuk memperingatkanmu. “

“Cukup. Jangan menghina aku lagi “Ki Ajar itu hampir

berteriak.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya

“Sadari dirimu. Tetapi jika kau tidak mau melihat kenyataanmu

itu, maka kau tentu akan benar-benar mengalami kesulitan. “

Tetapi Ki Ajar yang telah dikuasai oleh nafsunya untuk

membunuh Agung Sedayu itu, tidak mau melihat kenyataan

itu. Ia merasa terlalu kuat dan berilmu sangat tinggi. Ia telah

mampu menembus ilmu kebal Agung Sedayu dengan ilmunya,

ilmu Sapu Angin yang hampir sempurna. Selain dengan

pedang pusakanya yang disebutnya Kiai Lembar Alang-alang.

Meskipun ilmu Sapu Anginnya tidak dapat menembus

sepenuhnya ilmu kebal Agung Sedayu dengan meremukkan

tulang-tulangnya, namun ilmu itu dapat mengguncangkannya.

 

Karena itu, maka dengan tanpa sempat membuat

perhitungan lagi, maka sekali lagi Ki Ajar Sigarwelat telah

melontarkan ilmunya yang dahsyat.

Ternyata Ki Ajar Sigarwelat telah mengerahkan segenap

kemampuannya.

Serangan itu memang dahsyat. Namun Agung Sedayu

yang telah bersiap menghadapinya, dengan cepat meloncat

menghindar. Satu loncatan yang panjang. Ternyata ilmu Sapu

Angin

itu benar-benar dapat mengguncang ilmu kebalnya

meskipun tidak melukainya. Karena itu, Agung Sedayu

merasa lebih baik menghindarinya daripada terlempar dan

jatuh bergulingan meskipun kulitnya tidak terluka oleh goresan

batu-batu padas.

Tetapi Ki Ajar benar-benar kehilangan akal. Ketika

serangannya itu gagal, maka ia telah menyerangnya sekali

lagi dan sekali lagi.

Namun ketika Ki Ajar itu melontarkan serangan yang

keempat, maka rasa-rasanya malampun telah menjadi

semakin gelap. Tubuhnya menjadi terlalu lemah. Darahnya

benar-benar telah diperasnya lewat lukanya.

Karena itu, maka demikian Ki Ajar menghentakkan ilmunya,

maka seolah-olah tetes darahnya yang terakhir telah

diperasnya pula.

Sejenak kemudian Ki Ajar itupun telah terhuyung-huyung.

Beberapa saat ia berusaha bertahan, namun kemudian Ki Ajar

itupun telah terjatuh.

Agung Sedayu berdiri termangu-mangu. Selangkah demi

selangkah ia mendekati lawannya yang terbaring diam itu.

Bagaimanapun juga ia harus berhati-hati menghadapinya.

Namun agaknya Ki Ajar itu memang sudah tidak bergerak

lagi. Ketika Agung Sedayu berdiri disisinya, maka tubuh itu

rasa-rasanya bagaikan telah membeku.

Dengan lantang Agung Sedayupun kemudian berkata

“Sekar Mirah dan Glagah Putih. Beri kesempatan lawanlawanmu

itu melihat keadaan gurunya jika mereka masih

hidup. “

 

Sebenarnyalah kedua orang murid Ki Ajar yang sudah tidak

berdaya itu telah mendapat kesempatan untuk berjalan

dengan tertatih-tatih mendekati gurunya. Ketika keduanya

kemudian berjongkok disisi Ki Ajar itu, maka tiba-tiba saja

murid yang tertua itu berkata “Kau bunuh guru? “

Agung Sedayu menggeleng. Katanya dengan nada dalam

“Ia telah membunuh dirinya sendiri. Aku sudah memperingatkannya,

bahwa darahnya akan dapat terperas habis lewat

lukanya. Tetapi ia justru telah mengerahkan ilmunya pada

saat-saat terakhir, sehingga darahnya itu benar-benar menjadi

kering.

Kedua orang murid Ki Ajar itu hanya dapat menundukkan

kepalanya.

“Ki Ajar adalah orang yang luar biasa. Ia masih dapat

melepaskan ilmunya disaat-saat darahnya mulai mengering didalam

jantungnya, sehingga akhirnya ia harus meninggal

karena kehabisan darah. Sebenarnya ia dapat menjaga

dirinya sendiri, karena ia memiliki ilmu dan pengetahuan yang

cukup untuk mencegah peristiwa yang tidak kalian kehendaki

itu. Tetapi seakan-akan Ki Ajar sudah tidak menghiraukan

dirinya sendiri disaat-saat terakhir. Ia lebih menurut

kemarahannya yang bergejolak daripada pertimbangan yang

bening.

Kedua muridnya masih saja berdiam diri. Sekar Mirah dan

Glagah Putih yang kemudian berdiri pula disebelah

menyebelah Agung Sedayu juga bagaikan membeku.

Malam yang dingin itu rasa-rasanya mulai terasa dinginnya.

Angin yang bertiup bukan lagi prahara yang memancar dari Aji

Sapu Angin Ki Ajar Sigarwelat yang memiliki ilmu yang tinggi.

Tetapi angin yang terasa basah mengandung titik-titik embun.

Dalam hening itu terdengar suara Agung Sedayu pula

“Kalian adalah murid-murid Ki Ajar Sigarwelat. Kalian telah

mendapat alas ilmu tertinggi dari gurumu. Tetapi gurumu

sekarang sudah tidak ada lagi. Mungkin kau dapat menyebut

bahwa aku adalah pembunuhnya meskipun ialah yang

sebenarnya telah membunuh dirinya sendiri. Dengan kematian

Ki Ajar, kalian dapat menarik satu pelajaran. Gurumu adalah

orang yang mampu berbuat apa saja. Ilmunya akan sangat

 

berarti jika ia menge-trapkan pada sisi yang benar. Namun kini

ia terbunuh untuk satu kepentingan yang tidak seimbang sama

sekali dengan pengorbanan yang telah diberikan. Apakah

bagimu nilai Rara Wulan lebih tinggi dari gurumu sehingga

karena permintaanmu kau telah mendorong gurumu kedalam

kematian? “

Kedua orang murid Ki Ajar Sigarwelat itu semakin

menunduk. Sementara itu Agung Sedayu berkata selanjutnya

“Aku mengerti. Kalian tentu menganggap bahwa gurumu

adalah orang yang tidak akan dapat dihalangi oleh siapapun.

Satu lagi yang dapat kau sadap dari peristiwa ini. Tidak ada

orang yang mutlak tidak dapat dikalahkan. Hari ini kau lihat,

aku keluar dengan selamat dari pertempuran ini. Tetapi aku

tidak akan dapat berkata bahwa tidak akan ada orang yang

dapat mengalahkan aku. Satu pengalaman yang sangat

berharga bagimu. Jika kelak kalian dapat mengembangkan

ilmu kalian sehingga mencapai tataran sebagaimana gurumu

sekarang, maka kalian tidak akan dapat berkata, akulah orang

yang terbaik. “

Kedua murid Ki Ajar itu masih tetap berdiam diri. Mereka

memang mendengarkan kata-kata Agung Sedayu sambil

merenungi kematian guru mereka. Betapapun dada mereka

bergejolak, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

“Sudahlah “berkata Agung Sedayu “adalah kewajiban

kalian untuk menyelenggarakan tubuh guru kalian. Sampai

saat ini aku masih menganggap bahwa kalian memiliki nalar

dan rasa yang utuh, sehingga kalian dapat melihat jauh. Juga

dalam hubungan murid Ki Ajar Sigarwelat yang tertua dengan

Rara Wulan. Selebihnya aku ingin memberikan sedikit

keterangan, bahwa gurumu bukan satu-satunya orang yang

memiliki ilmu seperti itu. Ilmu Sapu Angin, agaknya

mempunyai hubungan dengan padepokan Sapu Angin. Kalian

dapat mencoba berhubungan dengan mereka jika kalian

masih ingin mengembangkan ilmu kalian. “

Wajah-wajah kedua murid Ki Ajar itu menjadi tegang.

Nampaknya Agung Sedayu, Glagah Putih dan Sekar Mirah

tidak akan berbuat sesuatu atas mereka. Tidak terbayang

didalam sikap dan kata-kata mereka, bahwa ketiga orang itu

 

ingin menyakiti mereka apalagi membunuh mereka

sepeninggal gurunya, meskipun mereka tahu, sumber

persoalannya adalah pada murid tertua Ki Ajar Sigarwelat itu.

Bahkan Agung Sedayupun kemudian berkata “Nah, kau

tentu dapat merasakan sekarang, betapa Ki Ajar Sigarwelat

telah mati dalam kesia-siaan, meskipun sebenarnya

kemampuannya itu akan dapat ikut menentukan perputaran

pemerintahan di Mataram. “

“Aku mengerti “desis murid tertua Ki Ajar itu “seperti kau

katakan, kami memang tidak mengira, bahwa di Tanah

Petdikan ini ada orang yang dapat mengimbangi

kemampuannya. “

“Ki Sanak “berkata Agung Sedayu “jika kelak kau dapat

menguasai kemampuan sebagaimana gurumu, maka kau

jangan beranggapan seperti itu. Bertindak sewenang-wenang

justru pada satu lingkungan yang disangka tidak memiliki

pelindung yang baik. Jika kalian mengetahui satu lingkungan

seperti itu, maka kalian, lebih-lebih lagi orang-orang seperti

gurumu itu, justru harus bersedia melindunginya dari tindak

ketidak adilan, kewenang-wenangan dan tindakan-tindakan

lain yang semacam itu. Nah, sekarang kami minta diri. Kami

memberi waktu kepada kalian sampai esok menjelang fajar.

Jika saatnya orang-orang pergi ke pasar dan orang-orang

penjual kayu bakar lewat jalan sempit ini, kalian harus sudah

tidak ada di tempat ini. Terserah, apakah kalian akan

menguburkan guru kalian disini, atau kalian bawa kemana

saja menurut kepentingan kalian. Mungkin kalian dapat

berbicara dengan Ki Lurah Citra-bawa. “

“Baiklah “jawab murid Ki Ajar yang tertua “kami akan

segera meninggalkan tempat ini. “

“Sadari, bahwa kami telah mengampuni kalian kali ini.

Tetapi jika pada suatu saat masih ada diantara kalian yang

mengganggu keluarga Ki Lurah Branjangan, maka mungkin

sekali sikap kami sudah jauh berbeda. “berkata Agung Sedayu

pula.

Kedua orang murid Ki Ajar itu mengangguk kecil.

Demikianlah, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Glagah

Putihpun segera meninggalkan tempat itu. Malam masih

 

gelap dan anginpun rasa-rasanya mengusap tubuh mereka

yang basah oleh keringat.

Dalam pada itu, Sekar Mirahpun tiba-tiba saja telah

bertanya “Apakah mereka tidak akan mendendam? “

“Mudah-mudahan tidak “jawab Agung Sedayu “betapa

kerasnya hati seseorang, namun aku masih percaya, bahwa

didalam dasarnya yang paling dalam masih tersimpan sikap

yang jernih dari titah terkasih Yang Maha Agung ini. “

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Kakak

sepupunya memang seorang yang lebih banyak berprasangka

baik daripada berprasangka buruk kepada seseorang.

Demikian pula agaknya kepada kedua orang murid Ki Ajar

Sigarwelat itu.

Namun menurut dugaan Glagah Putihpun keduanya tidak

akan berbuat sesuatu. Bukan karena kesadaran yang akan

bangkit begitu saja di dalam jantung mereka, meskipun hal itu

memang mungkin sebagaimana diperhitungkan oleh kakak

sepupunya, tetapi keduanya lebih banyak menjadi ketakutan

melihat kekuatan yang ada di Tanah Perdikan. Kecuali jika

tiba-tiba saja kekuatan raksasa berdiri di belakangnya.

Karena itu, maka Glagah Putih tidak bertanya tentang

kemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi ia bahkan bertanya

“Kemana tubuh Ki Ajar itu akan dibawa oleh kedua orang

muridnya? “

“Entahlah “jawab Agung Sedayu “tetapi jika padepokan

mereka terlalu jauh, Ki Ajar tentu akan dikuburkan di lereng

bukit itu dengan tanda-tanda yang mudah dikenali sehingga

mereka akan tetap dapat mengenali kuburan guru mereka. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya

lagi. Demikianlah, maka mereka bertigapun kemudian telah

menempuh perjalanan kembali disisa malam itu. Tetapi

mereka memang berusaha untuk menghindari padukuhanpadukuhan

agar tidak terlalu banyak pertanyaan yang harus

mereka jawab.

Tetapi mereka tidak dapat menghindari pertanyaan-perKang

Zusi - http://kangzusi.com/

tanyaan dari para peronda di padukuhan induk. Ketika

mereka memasuki mulut jalan induk, maka para perondapun

telah berebut menanyakan apa yang telah terjadi.

“Tidak ada apa-apa “jawab Agung Sedayu.

“Ah “para peronda itu berdesah.

Namun Agung Sedayupun kemudian berkata “Sudah terlalu

malam. Kami sangat letih. Beri kesempatan kami beristirahat. “

Para peronda itu memang tidak memaksa, karena mereka

memang melihat ketiga orang itu nampak letih. Karena itu,

maka dibiarkannya saja ketiga orang itu melanjutkan

perjalanan mereka tanpa diganggu lagi.

Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka telah

memasuki halaman rumah Ki Gede. Para peronda di rumah

itupun telah mendapat jawaban yang sama dari Agung

Sedayu ketika mereka menghujaninya dengan pertanyaanpertanyaan.

“Kami terlalu letih “desis Agung Sedayu.

Para peronda dan para pengawalpun tidak memaksanya

pula untuk menjawab.

Ternyata di ruang dalam Ki Gede, Ki Lurah Branjangan, Ki

Jayaraga masih duduk di ruang dalam. Di sudut amben yang

besar Raden Teja Prabawa telah dipersilahkan berbaring oleh

Ki Gede, karena ia berkeberatan untuk tidur sendiri di gandok.

Namun ternyata anak muda itu juga tidak dapat tidur sama

sekali. Bagaimanapun juga ia masih dicekam oleh

kegelisahan. Sedangkan di sebuah bilik Rara Wulan berbaring

ditemani oleh seorang perempuan separo baya. Tetapi

ternyata Rara Wulan juga dicekam oleh kegelisahan dan

bahkan ketakutan meskipun ia tahu, di depan bilik itu

berkumpul beberapa orang yang akan mampu melindunginya

termasuk Ki Jayaraga yang dikenalnya sebagai guru Glagah

Putih disamping Agung Sedayu. Sementara itu, di sekitar

rumah itu juga dikelilingi oleh beberapa orang pengawal dan

diregol beberapa peronda berada di gardu.

Tetapi Rara Wulan pun mengetahui bahwa orang yang

mengancam untuk mengambilnya itu dibayangi oleh seorang

yang

berilmu sangat tinggi.

 

Kegelisahan Rara Wulan ternyata tidak saja tentang dirinya

sendiri. Tetapi ia juga menjadi gelisah karena Agung Sedayu,

Glagah Putih dan Sekar Mirah masih juga belum kembali.

Karena itu, ketika Rara Wulan itu mendengar suara ketiga

orang itu di ruang dalam, maka iapun dengan serta merta

telah bangkit dan berlari keluar.

“Apakah yang terjadi? “bertanya Rara Wulan itu dengan

serta merta.

Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika dilihatnya

Glagah Putih berdiri tegak tanpa cidera apapun.

Tetapi Agung Sedayulah yang menjawab “Kami tidak apaapa.

“Marilah. Duduklah “Ki Gede mempersilahkan - kami rasarasanya

menjadi sangat gelisah menunggu. “

Ketiga orang itupun kemudian telah duduk bersama di

amben besar di ruang dalam itu pula. Rara Wulan dan Teja

Pra-bawa telah ikut duduk pula bersama mereka.

Sementara perempuan yang semula menunggui Rara

Wulan menyiapkan minuman, maka Agung Sedayu telah

sempat berce-ritera dengan singkat tentang apa yang telah

terjadi.

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Katanya “Luar biasa.

Jadi ilmu orang yang disebut Ki Ajar Sigarwelat itu mampu

menembus ilmu kebal angger Agung Sedayu? “

“Ilmu kebalku telah diguncangnya. Pedang tipisnyalah yang

telah mengoyak ilmu kebalku dan melukai lenganku. Meskipun

hanya segores kecil “sahut Agung Sedayu.

Ki Gedepun berdesis seakan-akan kepada diri sendiri “Apa

jadinya jika ilmu itu mengenai orang lain. Demikian pula

pedang tipisnya. Tulang-tulangpun akan putus dengan sekali

tebas. “

Agung Sedayupun mengangguk pula sambil menyahut

“Memang luar biasa Ki Gede. Tetapi Yang Maha Agung masih

melindungi kami, sehingga kami bertiga masih sempat

menghadap Ki Gede. “

“Kita memang bersyukur “sahut Ki Lurah “bukan saja kalian

yang mendapat perlindungan itu. Tetapi juga cucuku dan

bahkan seluruh keluargaku. “

 

“Tetapi bagaimana dengan kedua muridnya itu? “bertanya

Raden Teja Prabawa “apakah keduanya tidak akan

mendendam dan mencari kekuatan untuk melakukannya?

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan

serupa memang terbersit pula dihatinya sebagaimana pernah

ditanyakan pula oleh Sekar Mirah. Namun jawabnyapun sama

sekali tidak menunjukkan prasangka buruknya “Aku kira kedua

muridnya akan menyadari, bahwa mereka telah melakukan

kesalahan. “

Teja Prabawa termangu-mangu. Tetapi katanya

“Sebenarnya akan lebih meyakinkan jika kedua muridnya

itupun dibunuh pula. “

“Teja Prabawa “potong Ki Lurah Branjangan “kenapa kau

berpendapat begitu? Membunuh bukan tindakan yang terpuji

dimanapun juga jika tidak terpaksa sekali. “

“Tetapi membunuh kedua orang itupun termasuk langkah

yang terpaksa diambil untuk melindungi diri sendiri, karena

kedua orang itu akan dapat mengancam keselamatan kita

semuanya. Seseorang kadang-kadang memang harus

dibunuh jika memang tidak ada lagi kemungkinan untuk

merubah sifat dan wataknya seperti kedua orang itu. “berkata

Raden Teja Prabawa.

“Bagaimana kau dapat mengatakan, bahwa keduanya

sudah tidak mungkin lagi berubah watak dan sifatnya?

“bertanya Ki Lurah Branjangan. Lalu “Kau tidak

menghadapinya langsung. Kau tidak mendengar apa yang

dikatakannya dan kau tidak tahu apa yang terjadi pada saatsaat

gurunya meninggal. Kau tidak dapat mengambil

kesimpulan begitu saja. “

Raden Teja Prabawa memang terdiam. Tetapi sebenarnya

ia tetap merasa kecewa bahwa kedua orang itu tidak

dibunuh saja. Kekecewaan yang juga bersumber dari

perasaan takut bahwa pada suatu saat orang-orang itu atau

salah seorang daripadanya akan datang menemuinya untuk

membalas dendam, karena bagaimanapun juga, hubungannya

dengan Rara Wulan sebagai seorang kakak adalah dekat

sekali.

 

Dalam pada itu, ketika kemudian minuman hangatpun

dihidangkan, maka tubuh-tubuh yang letih itu rasa-rasanya

menjadi segar.

Namun kemudian Agung Sedayu, isteri dan adik sepupunyapun

telah mohon diri kepada Ki Gede untuk membersihkan

diri dan beristirahat barang sesaat dirumah.

Agaknya Ki Gedepun tidak berkeberatan. Tetapi ia minta

agar Ki Lurah Branjangan dan kedua cucunya biar saja berada

di rumahnya. Karena agaknya tidak lagi terdapat ancaman

yang berbahaya atas mereka. Setidak-tidaknya untuk

sementara.

Tetapi tiba-tiba saja Sekar Mirah berkata “Bukankah Rara

akan belajar bersama-sama dengan aku di sanggar? “

“Ya “tiba-tiba saja Rara Wulan menyahut “aku ingin.

“Namun suaranya merendah. “Tetapi jika kakek yang mengijinkan.

“Ada-ada saja kau Wulan “sahut kakaknya “kita harus

segera kembali ke Kotaraja. Agaknya Tanah Perdikan ini

kurang sesuai bagi kita. “

Ki Lurah Branjangan tersenyum. Katanya “Ternyata kau

dan Wulan mempunyai beberapa perbedaan sikap. Memang

tidak apa-apa. Setiap orang mempunyai sikap dan tanggapan

mereka masing-masing atas satu persoalan yang sedang

berkembang. Tetapi barangkali kita perlu mendengar alasan

Wulan, kenapa ia ingin mempelajari olah kanuragan. “

“Yang terjadi merupakan pengalaman pahit, kek “jawab

Rara Wulan “karena itu, aku berpikir, bahwa sebaiknya aku

dapat melindungi diriku sendiri. Setidak-tidaknya bertahan

untuk sementara sebelum pertolongan datang. Ketika aku

melihat mbokayu Sekar Mirah di sanggar mempertunjukkan

kemampuannya, maka akupun ingin belajar padanya,

meskipun yang akan aku capai akhirnya hanya sebagian kecil

dari kemampuan itu.

Ki Lurah Branjangan tersenyum. Katanya “Aku tidak

berkeberatan. Aku akan berbicara dengan kedua orang

tuamu. Mudah-mudahan mereka mengerti. Tetapi keputusan

terakhir memang ada pada ayah dan ibumu. “

 

“Kakek dapat membantu aku “berkata Rara Wulan “apalagi

aku telah menjadi semakin besar dan pada saatnya aku

mempunyai hak untuk menentukan sikapku sendiri. “

“Tidak “jawab Teja Prabawa “kau adalah seorang gadis.

Hanya seorang laki-laki yang berhak menentukan sikapnya

sendiri jika ia dewasa. Seorang gadis harus mengabdi kepada

orang tua, selanjutnya kepada suaminya. “

“Seandainya demikian, Teja Prabawa “sahut Ki Lurah

Branjangan “maka yang menentukan adalah kedua ayah dan

ibumu serta kelak sudah barang tentu suaminya. Jika ayah

dan ibumu tidak berkeberatan dan apalagi suaminya kelak

sependapat, maka kau tidak usah terlalu tegang memikirkan

adikmu.

Teja Prabawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi rasarasanya

ia sudah tidak ingin lebih lama berada di Tanah Perdikan

itu. Namun ia memang merasa berkeberatan jika

adiknya mempelajari olah kanuragan, apalagi kelak memiliki

kemampuan jauh melampauinya.

Namun dalam pada itu, Ki Lurahpun berkata “Sudahlah.

Kita sebaiknya tidak membicarakannya sekarang. Biarlah angger

Agung Sedayu, angger Sekar Mirah dan angger Glagah

Putih beristirahat lebih dahulu.

Demikianlah, maka ketiga orang itu bersama Ki Jayaraga

telah meninggalkan rumah Ki Gede. Meskipun malam sudah

hampir sampai ke ujungnya, namun ketika mereka sampai

dirumah, mereka masih juga sempat mandi dan masingmasing

masuk kedalam bilik mereka. Hanya Glagah Putih

yang masih sempat melihat, bahwa anak yang membantu di

rumah itu ternyata telah mendapat ikan banyak sekali.

“Jika aku sendiri, aku malahan mendapat ikan lebih banyak

daripada jika kau ikut bersamaku “berkata anak itu.

Glagah Putih tersenyum. Katanya “Jika demikian, maka

sebaiknya kau pergi saja sendiri. “

“Baik. Baik “sahut anak itu sambil bersungut-sungut “kau

kira aku tidak dapat melakukannya. “

Glagah Putih menepuk bahu anak itu sambil tertawa.

Katanya “Jangan marah. Aku tidak bersungguh-sungguh. “

 

Anak itu tidak menjawab. Tetapi ia segera meninggalkan

Glagah Putih yang masih saja tertawa sendiri.

Namun sejenak kemudian Glagah Putihpun telah berada

didalam biliknya dan berbaring dibawah cahaya lampu minyak.

Tetapi dikejauhan telah mulai terdengar ayam jantan berkokok

yang seakan-akan menjalar dari kandang ke kandang,

sehingga kemudian beberapa ekor ayam jantan dikandang

dibelakang rumah Agung Sedayu itupun berkokok pula.

Tetapi Agung Sedayu masih berusaha untuk memejamkan

matanya. Masih ada sisa malam meskipun hanya sebentar.

Dengan tidur sejenak maka keletihan tubuhnya akan hilang.

Namun agaknya Glagah Putih tidak dapat tidur barang

sekejappun. Ada gangguan lain pada perasaannya. Jika ia

mencoba untuk memejamkan matanya, justru sebuah wajah

nampak diangan-angannya. Wajah seorang gadis Kota Raja

yang terbiasa hidup dengan cara yang berbeda dari cara

hidup orang-orang padesan di Tanah Perdikan Menoreh.

Glagah Putih menjadi gelisah. Ia sadar, perasaan apakah

yang sedang bergejolak didalam dirinya. Glagah Putih

menyadari, bahwa ia mulai tertarik pada gadis kota itu. Namun

ia berusaha untuk mengatasinya dengan penalaran, bahwa ia

berada pada jarak yang sangat jauh dari gadis itu. Gadis yang

terbiasa hidup dirumah yang mewah dari seorang

Tumenggung. Yang terbiasa dilayani oleh pelayan-pelayan

yang tidak hanya berjumlah satu dua. Yang terbiasa

dimanjakan sehingga semua keinginannya terpenuhi.

Sementara Glagah Putih adalah anak

bekas seorang prajurit di Banyu Asri, yang kemudian

tinggal di Tanah Perdikan Menoreh yang jauh dari kota,

dengan cara hidup yang jauh berbeda. Yang tinggal di rumah

yang sederhana dan jauh dari keramaian. Sedangkan kaki dan

tangannya selalu dikotori dengan lumpur sawah dan gatalnya

batang ilalang.

Ternyata sampai saatnya matahari membayang dilangit,

Glagah Putih masih belum dapat tertidur barang sekejappun,

sehingga akhirnya ia justru bangkit dan keluar dari biliknya

untuk melakukan kerjanya setiap pagi.

 

Ketika ia bertemu dengan Sekar Mirah, maka Sekar Mirah

itu justru bertanya kepadanya “Wajahmu nampak pucat

Glagah Putih. Apakah badanmu terasa kurang sehat? Letih

barangkali atau ada bekas ilmu lawanmu pada tubuhmu yang

belum dapat dihindarkan? “

Glagah Putih menggeleng. Jawabnya “Tidak mbokayu.

Tidak ada apa-apa. Aku memang letih. Tetapi justru karena

itu, aku tidak dapat beristirahat dengan baik disisa malam ini. “

“Kau merasa gelisah? “bertanya Sekar Mirah. Glagah Putih

mengangguk.

“Apakah kau gelisah karena murid Ki Ajar itu yang pada

suatu saat memang mungkin dapat datang lagi kepadamu?

“bertanya Sekar Mirah.

“Glagah Putih menggeleng sambil menjawab “Tidak

mbokayu. “

Tiba-tiba saja Sekar Mirah tersenyum. Katanya “Jika

demikian aku tahu apa yang kau gelisahkan. “

Dahi Glagah Putih berkerut. Namun ia mencoba mengelak

“Aku tidak menggelisahkan apa-apa. “

“Ah kau yang mengatakannya sendiri, bahwa kau tidak

dapat tidur karena gelisah sehingga wajahmu nampak pucat

dan tubuhmu letih sekali. Kau biasanya tidak begitu. Kau

sanggup bertempur sehari-semalam tanpa berhenti. Bahkan

lebih. Apalagi hanya melawan murid Ki Ajar yang baru mulai

berguru dan mulai mempelajari ilmu Sapu Angin yang masih

mendasar

sekali. “berkata Sekar Mirah.

“Jadi apa menurut dugaan mbokayu? “bertanya Glagah

Putih.

Sekar Mirah tertawa. Katanya “Aku akan berbicara dengan

kakakmu dan Ki Jayaraga. “

“Bicara tentang apa? “desak Glagah Putih.

“Tentang wajahmu yang pucat, tentang tubuhmu yang

nampak terlalu letih dan tentang kegelisahanmu sehingga kau

tidak sempat beristirahat sama sekali. “jawab Sekar Mirah

yang masih saja tertawa.

“Lalu kesimpulan apa yang mbokayu dapatkan? “bertanya

Glagah Putih pula.

 

Sekar Mirah hanya tertawa saja. Tetapi iapun melangkah

pergi.

“Mbokayu, mbokayu “panggil Glagah Putih. Tetapi Sekar

Mirah hanya berpaling sambil tertawa. Tetapi ia tidak berhenti,

bahkan kemudian Sekar Mirah itupun telah menyelinap masuk

ke dapur.

Glagah Putih berdiri termangu-mangu. Namun iapun

menjadi bertambah gelisah. Nampaknya Sekar Mirah dapat

membaca perasaannya.

“Mbokayu Sekar Mirah tentu pernah semuda aku juga

“berkata Glagah Putih kepada diri sendiri.

Namun Glagah Putihpun kemudian telah berusaha

melupakan bayangan di angan-angannya. Iapun kemudian

telah bekerja seperti biasanya. Menimba air untuk mengisi

jambangan-jambangan di pakiwan. Kemudian mengisi

gentong didapur bersama pembantu dirumahnya. Glagah

Putih yang menimba air, sementara anak itu yang

membawanya ke dapur.

Tetapi anak itu masih juga bersungut “Karena itu, talang

bambu itu cepat kau perbaiki, sehingga aku tidak usah

mondar-mandir ke dapur. “

“Kenapa bukan kau yang memperbaiki? “bertanya Glagah

Putih.

“Siapa yang lebih besar diantara kita? Kau atau aku?

“bertanya anak itu.

Glagah Putih tertawa. Tetapi katanya “Tentu kau yang

merusakkannya pagi tadi, ketika kau pulang dari sungai. “

“Kau menuduh aku? “mata anak itu terbelalak.

Glagah Putih tertawa. Katanya “Cepat. Bawa air itu kedapur.

Kemudian bawa klenting itu kembali. Kau masih harus

berjalan mondar-mandir dua kali lagi. “

Ternyata anak itu mampu membuat Glagah Putih lupa

barang sejenak kegelisahannya sendiri. Bahkan kemudian ia

berhasil untuk melakukan pekerjaannya yang lain

sebagaimana dilakukan sehari-hari sebelumnya tanpa banyak

berhenti untuk merenung.

Sementara itu, di rumah Ki Gede Menoreh Raden Teja

Prabawa telah mendesak kakeknya untuk segera kembali ke

 

kota. Baginya kehidupan di Tanah Perdikan itu tidak menarik

sama sekali.

“Kau tidak merasa mendapatkan pengalaman baru di

dalam hidupmu selama kau berada di Tanah Perdikan ini?

Kau tidak merasa bahwa kau telah melihat satu segi

kehidupan yang lain dari kehidupan yang kau lihat sehari-hari

di kota? Dan kau tidak melihat betapa orang-orang Tanah

Perdikan ini menanggapi persoalan dari persoalan air

disawahnya, persoalan ternak di kebunnya sampai ke

persoalan adikmu Rara Wulan “bertanya Ki Lurah Branjangan.

Raden Teja Prabawa termangu-mangu. Namun katanya

kemudian “Apakah hal itu ada hubungannya dengan hidupku

sekarang maupun kelak? Jika aku tidak datang kemari, maka

aku tidak memerlukan pengalaman seperti itu. Mungkin aku

akan bekerja di istana atau mungkin aku akan menjadi

seorang prajurit. “

“Ternyata pandanganmu terlalu sempit Teja Prabawa.

“berkata Ki Lurah Branjangan. Namun tiba-tiba Ki Lurah itu tersenyum

sambil berkata “Tetapi sebenarnya kau tidak

semata-mata membutakan dirimu dari kenyataan itu. Tetapi

kau dibayangi oleh ketakutan akan pembalasan dendam.

Kematian Ki Ajar Sigarwelat itu nampaknya selalu

membuatmu gelisah. “

Raden Teja Prabawa mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak

dapat membantah kata-kata kakeknya. Agaknya kakeknya

dapat melihat isi hatinya yang sebenarnya.

Namun karena itu maka katanya “Kakek. Apakah artinya

bahwa kita harus tetap berada di sini sementara bahaya telah

mengancam. Kedua murid Ki Ajar itu akan dapat mencari

bantuan dari manapun juga asalnya. “

“Teja Prabawa. Apakah kau tidak melihat pasukan

pengawal yang bersiaga siang dan malam di halaman rumah

ini? Sementara itu Ki Gede adalah seorang yang berilmu

tinggi, sedangkan kakek sendiri adalah bekas seorang

prajurit? Apa pula yang kau takutkan? Justru jika kita berada

di kota, maka pembalasan dendam itu akan dapat dilakukan

dengan mudah? Apakah rumah ayahmu itu dijaga seketat

rumah Ki Gede ini? “desis Ki Lurah.

 

“Tetapi jika ayah menghendaki, rumah kami akan dijaga

oleh prajurit Mataram. Bukan sekedar pengawal Tanah

Perdikan. “berkata Teja Prabawa.

“Sekali lagi kau salah menilai “berkata Ki Lurah Branjangan

“kau mengira bahwa kemampuan olah kanuragan seorang

pengawal kalah dari seorang prajurit. Sebagaimana kau tentu

menganggap bahwa para Senapati di Mataram mempunyai

kemampuan lebih tinggi dari para pemimpin pengawal di

Tanah Perdikan ini. Seharusnya kau yang sudah melihat

sendiri kemampuan mereka mengerti, bahwa para pemimpin

di Tanah Perdikan ini tidak kalah dari para pemimpin di

Mataram. Bahkan para Pangeran sekalipun, selain Ki Juru

Martani yang bergelar Ki Mandaraka dan Panembahan

Senapati sendiri. Seperti yang pernah aku katakan, bahwa

Raden Rangga yang memiliki ilmu tanpa dapat dijajagi itu

adalah kawan bermain Glagah Putih. Kawan mengembara

dan juga kawan menjalani laku dalam memahami ilmu. Tetapi

mereka juga kawan berlatih. Sedangkan

Agung Sedayu pada usia remajanya adalah

seorang pengembara yang kadang-kadang bersama

Panembahan Senapati dan kadang-kadang bersama

Pangeran Benawa. Nah, kau tahu itu? Dan kau lihat bahwa

Agung Sedayu itu sampai sampai sekarang masih juga tetap

bergulat dengan lumpur di sawah? Jika ia mau menjadi

seorang prajurit seperti kakaknya, Untara, maka ia tentu

sudah mendapat kedudukan yang tinggi. “

Teja Prabawa tidak menjawab. Kepalanya memang

tertunduk dalam-dalam. Apalagi ketika kemudian Rara Wulan

datang mendekati mereka.

Adalah tiba-tiba saja ketika Rara Wulan itu kemudian

berkata “Bagaimana pendapat kakek jika aku benar-benar

belajar olah kanuragan kepada mbokayu Sekar Mirah? “

“Itu tidak pantas “Teja Prabawalah yang menjawab “jika kau

memang ingin belajar, biarlah ayah yang mencari seorang

guru yang pantas. “

Namun Ki Lurah Branjangan berpendapat lain. Katanya

“Biarlah aku yang mengatakannya kepada ayah dan ibumu.

Bukankah kemarin aku sudah mengatakan begitu? “

 

“Jika demikian Wulan harus menunggu sampai ayah dan

ibu memberikan ijinnya “berkata Teja Prabawa.

“Tentu “jawab Ki Lurah Branjangan.

“Tetapi aku harus menunggu terlalu lama, “sahut Rara

Wulan.

“Kita akan segera kembali ke kota “berkata Teja Prabawa

“kakek akan dapat mengatakannya kepada ayah dan ibu. “

“Ya “Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi katanya

selanjutnya “namun sebelum itu. kau dapat mencoba barang

satu dua hari. Jika kau tertarik untuk selanjutnya, barulah aku

akan mengatakannya kepada ayah dan ibumu. Tetapi jika kau

ternyata tidak tertarik atau barangkali kau merasa bahwa

tubuhmu tidak akan mungkin mendukung ilmu kanuragan

yang kau pelajari, maka sudah tentu aku tidak perlu

mengatakannya kepada orang tuamu. “

“Bagus kakek. Nanti aku akan datang kepada mbokayu

Sekar Mirah “berkata Rara Wulan.

“Kau harus mendapat ijin dahulu “bentak Teja Prabawa.

“Biarlah aku yang memutuskannya Teja Prabawa “berkata

Ki Lurah Branjangan “dengan demikian Rara Wulan tidak akan

menjadi bingung. “

Teja Prabawa terdiam meskipun ia tetap berkeberatan.

Tetapi nampaknya kakeknya benar-benar sudah tidak dapat

dirubah keputusannya.

Bahkan kakeknya itupun kemudian berkata “Bersiapsiaplah.

Kita akan pergi ke rumah Agung Sedayu. “

“Baik kek “jawab Rara Wulan sambil berlari masuk kedalam

biliknya untuk berbenah diri.

Sementara itu Ki Lurah Branjangan telah bertanya pula

kepada cucu laki-lakinya “Kau ikut aku ke rumah Agung

Sedayu atau tidak? “

Teja Prabawa menjadi ragu-ragu. Hampir diluar sadarnya ia

bertanya “Dengan siapa kakek pergi ke rumah Agung

Sedayu? “

“Aku, bersama Rara Wulan dan jika kau pergi, kita akan

pergi bertiga “jawab Ki Lurah.

 

Teja Prabawa termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun

kemudian berkata seakan-akan kepada diri sendiri “Terlalu

berbahaya jika kita pergi hanya bertiga. “

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia

bertanya “Kenapa berbahaya? “lalu suaranya merendah “Teja

Prabawa, kau jangan terlalu dibayangi oleh dendam muridmurid

Ki Ajar Sigarwelat. Belum tentu mereka termasuk orangorang

yang sangat jahat dan pendendam. Juga kematian

gurunya akan sangat berpengaruh, sehingga mereka tidak

akan berani berbuat terlalu banyak. “

Teja Prabawa termangu-mangu. Tetapi ia tidak

membantah. Bahkan kemudian iapun berdesis “Aku pergi

bersama kakek. “

“Baik “berkata Ki Lurah “kita akan berbenah diri. “Sejenak

kemudian maka Ki Lurahpun telah menemui Ki Gede untuk

minta diri. Nampaknya Ki Gede sedang bersiap-siap untuk

mengadakan pertemuan para bebahu Tanah Perdikan

Menoreh. Karena itu maka katanya kemudian “Sebentar lagi

Agung Sedayu tentu juga akan datang kemari. Kita akan

berbicara tentang beberapa hal yang penting bagi Tanah

Perdikan ini.”-

“Tetapi bukankah di rumah itu masih ada Sekar Mirah, Ki

Jayaraga dan Glagah Putih? “sahut Ki Lurah. Tetapi iapun

kemudian bertanya “Apakah Ki Jayaraga juga akan hadir disini

nanti? “

Ki Gede menggeleng. Jawabnya “Aku kira tidak. Kali ini aku

hanya mengundang para bebahu dan para pemuka di Tanah

Perdikan ini. “

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya “Jika demikian,

kami mohon diri. “

Ki Gede mengantar Ki Lurah sampai ke halaman. Namun ia

masih juga berpesan “Hati-hati Ki Lurah. Jika Ki Lurah ingin

keluar dari pedukuhan induk, biarlah ada yang

mengantarkannya. “

“Kami hanya ingin pergi ke rumah Agung Sedayu “jawab Ki

Lurah.

“Demikianlah, Ki Lurah bersama kedua cucunyapun telah

keluar dari regol halaman rumah Ki Gede. Seorang pengawal

 

yang berada didalam regol mengangguk hormat. Sementara

dua orang kawannya duduk termangu-mangu di gardu.

Beberapa saat kemudian, ketiganya telah menyusuri jalan

induk Tanah Perdikan. Jalan yang cukup ramai, karena iapun

akan melalui daerah perdagangan di sebelah pasar.

Beberapa buah pedati lewat beriringan. Beberapa orang yang

terlambat pergi ke pasar nampak tergesa-gesa, sementara itu

sudah ada pula diantara beberapa orang yang pulang dari

pasar. Pasar itu menjadi lebih ramai dihari pasaran sepekan

sekali.

Namun nampaknya Teja Prabawa masih saja merasa

cemas. Jika dua tiga orang laki-laki berjalan beriring, ia selalu

saja menjadi berdebar-debar. Sementara itu justru Rara

Wulan berjalan di depan. Meskipun ia sadar, bahwa ia adalah

sumber ancaman Ki Ajar Sigarwelat, namun ia dapat mengerti

keterangan kakeknya, bahwa untuk sementara mereka tidak

akan mengganggu.

Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan rumah

Agung Sedayu, maka rasa-rasanya hati Teja Prabawa menjadi

semakin tenang. Namun demikian, ia bertanya pula kepada

kakeknya “Bukankah Agung Sedayu akan pergi ke rumah Ki

Gede menghadiri pertemuan para bebahu? “

“Ya “jawab Ki Lurah. “Jadi dirumah itu kita akan bertemu

dengan siapa? “bertanya Teja Prabawa pula.

Bukankah tadi sudah aku katakan kepada Ki Gede bahwa

dirumah itu masih ada Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Sekar

Mirah? jawab Ki Lurah.

Teja Prabawa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu

Ki Lurah berkata selanjutnya “Ki Jayaraga adalah seorang

yang luar biasa. Seandainya orang itu yang bertemu dengan

Ki Ajar Sigarwelat, maka agaknya Ki Ajar Sigarwelat pun tidak

akan dapat menang atasnya. “

Anak muda itu tidak menjawab. Rasa-rasanya memang

tidak mudah untuk percaya. Teja Prabawa menyangka, bahwa

kakeknya hanya sekedar menenangkan hatinya saja.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian mereka telah

berada di rumah Agung Sedayu. Seperti yang telah dikatakan

oleh Ki Gede, maka Agung Sedayu memang akan pergi ke

 

rumah Ki Gede untuk menghadiri pertemuan para bebahu

yang memang sering diadakan oleh Ki Gede untuk

membicarakan perkembangan Tanah Perdikan, agar tidak

terlambat menang-gapi keadaan.

“Tetapi di rumah masih ada Sekar Mirah, Ki Jayaraga dan

Glagah Putih “berkata Agung Sedayu “bahkan jika Ki Lurah

akan dirumah ini lagi, kami akan merasa senang sekali.

“Aku hanya minta diri untuk beberapa lama. Nanti kami

akan kembali ke rumah Ki Gede “jawab Ki Lurah. Namun

katanya pula. Yang berkepentingan kali ini adalah Rara

Wulan. Ia ingin berbicara dengan angger Sekar Mirah.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian

iapun tersenyum sambil berkata “Silahkan. Sekar Mirah jarang

sekali pergi, kecuali pergi ke sawah. Sekali-sekali ke pasar

dihari-hari pasaran sepekan sekali, jika ia kehabisan bahanbahan

di dapur. “

Rara Wulan menunduk sambil berdesis “Bukan aku. Tetapi

kakek. “

“Ah “sahut kakeknya “aku hanya mengantarkan kau.

“Tetapi kakek yang mengajak aku kemari “jawab Rara

Wulan.

Sekar Mirah tersenyum sambil berkata “Baiklah. Aku sudah

mengerti. Bukankah Rara ingin bermain-main disanggar?

Rara Wulan mengangguk. Katanya sambil menunduk “Aku

baru ingin mencoba. “

“Tidak apa-apa “jawab Sekar Mirah “agaknya Rara

memang masih belum mengenal dengan baik olah kanuragan.

“Itulah yang akan dilakukannya “berkata Ki Lurah “dalam

dua atau tiga hari ini, biarlah ia mengenali olah kanuragan itu

lebih banyak. Baru ia akan dapat menentukan, apakah ia

berminat atau tidak. Jika ia berminat, maka aku harus

berbicara dengan ayah dan ibunya.

Agung Sedayu yang tertawa berkata “Apakah dalam waktu

dua tiga hari seseorang cukup waktu untuk mengenali olah

kanuragan? Dan apakah dalam waktu sesingkat itu seseorang

akan dapat mengatakan, apakah ia tertarik atau tidak? “

“Memang terlalu singkat. Tetapi itu lebih baik daripada tidak

sama sekali jika Rara Wulan ingin mempelajari olah

 

kanuragan bukan semata-mata karena keinginan yang

meletup begitu saja dari hatinya tetapi yang kemudian akan

segera pudar, karena ternyata olah kanuragan tidak

sebagaimana disangkanya, “jawab Ki Lurah Branjangan “olah

kanuragan bukan permainan seperti gatheng atau sodoran.

Tetapi menuntut tanggung jawab yang jauh lebih berat, selain

tuntutan gerak tubuh sepenuhnya. “

Agung Sedayu yang masih tertawa mengangguk angguk

“Baiklah. Biarlah Sekar Mirah nanti membawanya ke sanggar.

“Tetapi jangan mengganggu pekerjaan angger Sekar Mirah

sehari-hari. Masak misalnya atau keperluan yang lain. Bahkan

pergi kesawah. “berkata Ki Lurah.

“Tidak “Sekar Mirah tersenyum. Lalu katanya “Rara tentu

bersedia pula membantu aku didapur, sebelum memasuki

sanggar. Biarlah Glagah Putih nanti pergi ke sawah untuk

menemani Ki Jayaraga. “

“Tetapi “wajah Teja Prabawa yang segera berubah “semua

orang ternyata akan pergi. “

Ki Lurah tertawa. Katanya “angger Agung Sedayu tentu

tidak akan terlalu lama berada di rumah Ki Gede.

Pembicaraan mereka tentu tidak akan sampai tengah hari. “

“O tidak “jawab Agung Sedayu “aku akan segera kembali. “

Teja Prabawa termangu-mangu. Namun agaknya Agung

Sedayu dapat mengerti apa yang menjadi persoalannya yang

dapat dibacanya pula dari sikap Ki Lurah Branjangan.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Agung Sedayulah

yang minta diri untuk pergi ke rumah Ki Gede, sementara yang

lain masih ada dirumah. Bahkan Agung Sedayupun kemudian

berkata kepada Ki Jayaraga “Barangkali Ki Jayaraga dapat

menunda kepergiannya ke sawah sampai aku kembali dari

rumah Ki Gede. “

“Apakah kita akan pergi kesawah bersama-sama?

“bertanya Ki Jayaraga sambil tersenyum.

Agung Sedayu justru tertawa semakin panjang. Demikian

pula Ki Lurah Branjangan, sementara Teja Prabawa menjadi

kebingungan.

 

Demikianlah sepeninggal Agung Sedayu, maka Ki Jayaragalah

yang menemani Ki Lurah Branjangan berbincangbincang

di pendapa bersama Teja Prabawa. Sementara

Glagah Putih masih sibuk dikandang. Sedangkan Rara Wulan

berada di dapur bersama Sekar Mirah.

“Rara membantu aku didapur sebelum kita pergi ke

sanggar. “berkata Sekar Mirah.

Rara Wulan mengangguk sambil menjawab “Aku tidak

tergesa-gesa. Waktuku banyak. Tetapi kakang Teja

Prabawalah yang tergesa-gesa ingin kembali ke kota. “

“Kenapa? “bertanya Sekar Mirah. “Apakah Raden Teja

Prabawa tidak senang berada di Tanah Perdikan ini? “

“Nampaknya Tanah Perdikan ini bagi kakang Teja Prabawa

selalu dibayangi oleh dendam murid-murid Ki Ajar Sigarwelat

itu, “jawab Rara Wulan.

“Ah. Mereka tidak akan melakukan apa-apa lagi. Kedua

murid Ki Ajar itu masih terlalu muda didalam pewarisan ilmu

gurunya. Meskipun seorang diantara mereka telah menyimpan

pusaka Ki Sigarwelat yang tipis dan bertuah itu, yang ditangan

Ki Ajar Sigarwelat mampu menembus pertahanan ilmu kebal

kakang Agung Sedayu, namun ditangan murid-muridnya

pedang tipis itu tidak akan banyak berarti “berkata Sekar

Mirah.

Rara Wulan mengangguk-angguk. Meskipun ia merupakan

sasaran utama dari keinginan murid tertua Ki Ajar Sigarwelat,

tetapi gadis itu justru tidak mengalami kecemasan seperti

kakaknya.

Demikianlah maka untuk beberapa lama Rara Wulan

memang sibuk didapur. Bahkan ia seakan-akan telah

melupakan niat kedatangannya. Bekerja didapur yang jarang

sekali dilakukan itupun sangat menarik pula baginya. Ternyata

dirumah itu Rara Wulan dapat belajar tentang banyak hal.

Juga tentang masak-memasak.

Rara Wulan pulalah yang menghidangkan suguhan ke

pendapa bagi kakek dan kakaknya selain juga bagi Ki

Jayaraga.

Ternyata seperti yang diminta. Ki Jayaraga tidak segera

pergi ke sawah. Nampaknya kerja di sawah sudah tidak begitu

 

banyak lagi. Beberapa orang yang diupah oleh Agung Sedayu

telah dapat melakukan kerja mereka tanpa ditunggui oleh siapaun.

Sehingga dengan demikian, Ki Jayaraga dapat

menemani Ki Lurah sambil menunggu Agung Sedayu kembali.

Bahwa Ki Jayaraga tidak pergi, ternyata telah membuat

Teja Prabawa agak tenang. Ia tidak nampak terlalu gelisah

ketika ia duduk di pendapa.

Namun Ki Lurahpun kemudian berkata “Apakah kau tidak

ingin membantu angger Glagah Putih? “

Tetapi Ki Jayaragalah yang menjawab “Glagah Putih

berada di kandang. Nanti Raden dapat menjadi kotor. Tetapi

jika Raden mempunyai kesenangan berkuda, Glagah Putih

akan dapat mengawani Raden. Glagah Putih mempunyai

seekor kuda yang besar dan tegar, yang jarang ada duanya.

Apalagi di Tanah Perdikan ini. “

“Sebesar apa kuda itu? Sebesar-besarnya kuda di Tanah

Perdikan ini, tidak akan menyamai kuda-kuda para

bangsawan di kota, “jawab Teja Prabawa.

“Kuda itu memang didapatkannya dari kota. “berkata Ki

Jayaraga pula.

“Dari kota? “bertanya Raden Teja Prabawa.

“Apakah Glagah Putih atau Agung Sedayu atau yang lain

belum pernah mengatakan bahwa Glagah Putih adalah

sahabat Raden Rangga dari Mataram? “Ki Jayaraga justru

bertanya.

“Sudah beberapa kali ia dengar hal itu “Ki Lurahlah yang

menyahut.

“Apakah belum pernah ada yang mengatakan bahwa kuda

itu berasal dari Raden Rangga? “bertanya Ki Jayaraga pula.

Raden Teja Prabawa tidak menjawab. Bahkan kemudian Ki

Jayaraga itu berkata “Marilah. Mumpung Glagah Putih sedang

membersihkan kuda dan kandangnya, kita akan melihat.

Ki Lurahpun kemudian telah mengajak Teja Prabawa untuk

menyertainya. Mereka bertiga telah turun ke halaman samping

dan menuju ke kandang kuda.

Ada beberapa ekor kuda di kandang. Tetapi seekor diantaranya

memang seekor kuda yang besar dan tegar

melampaui kuda-kuda yang lain.

 

“Bukan main “desis Raden Teja Prabawa.

“Apakah Raden ingin menunggang kuda mengelilingi

Tanah Perdikan ini? Glagah Putih tentu bersedia menemani

Raden “berkata Ki Jayaraga.

Teja Prabawa menjadi ragu-ragu. Namun iapun kemudian

menggeleng sambil menjawab “Aku ingin beristirahat disini

saja kakek. “

Ki Lurah Branjangan tersenyum. Katanya “Baiklah. Kita

dapat beristirahat saja disini. “

Ketika Ki Lurah dan Ki Jayaraga kembali ke pendapa, maka

untuk beberapa lama Raden Teja Prabawa masih menunggui

Glagah Putih karena kekagumannya atas kuda pemberian

Raden Rangga itu. Namun ketika kemudian Glagah Putih

mengambil air ke sumur, maka Teja Prabawa itupun telah

pergi pula kependapa. Meskipun ada juga keinginannya pergi

berkuda dengan kuda yang tegar dan besar itu berkeliling

Tanah Perdikan, tetapi ia masih saja selalu dibayangi oleh

dendam kedua orang murid Ki Ajar Sigarwelat itu.

Karena itu, maka Teja Prabawa lebih suka berada di rumah

Agung Sedayu itu saja bersama Ki Jayaraga, Glagah Putih

dan Sekar Mirah.

Namun setelah selesai membersihkan kuda dan

kandangnya, maka Glagah Putihpun telah mandi dan

berbenah diri. Sejenak kemudian iapun telah berada di

pendapa. Namun hanya untuk minta diri.

“Biarlah aku saja yang pergi ke sawah guru “berkata

Glagah Putih kepada Ki Jayaraga.

Ki Jayaraga tersenyum. Katanya “Baiklah. Kerja disawah

memang tidak begitu banyak lagi. “

“Sebentar lagi mbokayu tentu sudah selesai. Aku akan

membawa kiriman bagi orang-orang yang bekerja disawah itu.

“berkata Glagah Putih.

“Nah “sahut Ki Lurah Branjangan “kerja yang menarik.

Rasa-rasanya ingin juga ikut pergi ke sawah. “

“Ah, sawah berlumpur “berkata Ki Jayaraga “bahkan

kadang-kadang ada ular di pematang. “

Ki Lurah tertawa. Katanya “Ki Jayaraga pandai menakutnakuti

saja. Tetapi Ki Jayaraga lupa bahwa aku dimasa muda

 

adalah seorang yang hidup didalam lumpur. Bahkan ketika

Alas Mentaok itu dibuka untuk dijadikan Mataram sekarang ini,

ular merupakan kawan yang akrab dilebatnya Alas Mentaok. “

Ki Jayaraga mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Katanya “Aku hampir melupakannya. “

Tetapi Ki Lurah itupun berkata “Tetapi biarlah aku disini

saja. Bukan berarti bahwa aku menjadi kecewa dan merajuk

sehingga kemudian membatalkan niatku pergi. Tetapi rasarasanya

berbincang-bincang sehari penuh disini merupakan

kerja yang menarik. “

Ki Jayaraga tertawa. Sementara Ki Lurah berkata “Tetapi

jika ada yang ingin Ki Jayaraga kerjakan, silahkan. Aku akan

menunggu disini. “

“Tidak. Hari ini memang tidak ada yang harus aku lakukan

secara khusus, sehingga akupun dapat duduk duduk disini

sepanjang hari. “jawab Ki Jayaraga.

Sementara itu, Glagah Putih berkata “Aku akan melihat,

apakah mbokayu Sekar Mirah sudah selesai atau belum. “

“Nampaknya masih terlalu pagi Glagah Putih. “berkata Ki

Jayaraga “nanti, sebelum matahari turun, orang-orang yang

bekerja itu sudah menjadi lapar lagi. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi katanya

kemudian “Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? “

Jawab Ki Jayaraga “Menunggu. Itulah yang harus kau

lakukan sekarang. Satu kerja yang barangkali menjemukan

bagimu. “

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Di sebelahnya

duduk seorang anak muda pula. Tetapi agaknya mereka tidak

dapat berhubungan dengan baik. Meskipun Teja Prabawa

tidak lagi dapat menganggap Glagah Putih tidak lebih dari

anak pa-desan yang tubuhnya kotor oleh lumpur, namun ia

masih juga segan untuk berhubungan lebih erat lagi.

Karena itu, maka Glagah Putihpun kemudian berkata “Jika

demikian, biarlah aku pergi kerumah kawan sebentar. Aku

berjanji untuk datang kepadanya hari ini, karena ada sesuatu

yang perlu kami bicarakan. “

“Siapa? “bertanya Ki Jayaraga.

“Orang disebelah simpang empat “jawab Glagah Putih.

 

“Kerto Grobag? “bertanya Ki Jayaraga pula.

“Ya, anaknya. Lembunya mengalami sedikit kesulitan

“jawab Glagah Putih.

“Tetapi jangan terlalu lama. Nanti kau terlambat. Orangorang

yang bekerja di sawah itu sudah kelaparan “berkata Ki

Jayaraga.

Glagah Putih tersenyum. Namun iapun kemudian telah

minta diri kepada Ki Lurah Branjangan dan Raden Teja

Prabawa.

Sementara itu, di dapur, Sekar Mirah dan Rara Wulan

bekerja dengan cepat. Mereka juga ingin segera selesai,

sehingga Rara Wulan segera dapat masuk kedalam sanggar

dan mencoba untuk mengenali langsung olah kanuragan.

Karena itu, maka Rara Wulanpun telah bekerja keras.

Keringatnya telah membasahi kening dan punggungnya.

Beberapa saat kemudian, Sekar Mirah dan Rara Wulanpun

telah selesai. Kiriman untuk empat orang yang bekerja

disawah itu telah ditempatkan di sebuah tenong kecil. Sebuah

kendi air dingin yang segar.

Kepada pembantunya Sekar Mirah kemudian berkata “Nah,

beritahukan kepada Glagah Putih. Bukankah kau dan Glagah

Putih yang akan pergi kesawah. Nampaknya belum tengah

hari. Tetapi tidak apa-apa. Sekali-sekali mereka mendapat

kiriman lebih awal. “

Pembantu rumah itupun kemudian telah pergi ke pendapa

untuk mencari Glagah Putih. Tetapi ternyata Glagah Putih

tidak ada di pendapa. Karena itu, maka anak itupun telah

menyusul Glagah Putih kerumah Kerta Grobag.

Ketika kemudian Glagah Putih tergesa-gesa pergi ke dapur,

ternyata dapur sudah kosong. Yang tinggal diamben adalah

tenong berisi kiriman makan dan kendi air yang dingin segar.

“Kemana mbokayu? “bertanya Glagah Putih.

“Tidak tahu. Tadi ada disini. Tetapi kita tidak perlu

mencarinya. Yang harus kita bawa sudah disediakan “berkata

anak itu.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia sebenarnya

memang tidak ingin bertemu dengan Sekar Mirah.

 

Tetapi rasa-rasanya ada yang tertinggal ketika bersama

pembantu dirumahnya Glagah Putih pergi ke sawah.

Sementara itu, Sekar Mirah dan Rara Wulan telah berada

didalam sanggar. Dengan sederhana Sekar Mirah

memberikan beberapa penjelasan dan contoh-contoh dari apa

yang harus dikerjakan oleh Rara Wulan selama ia berlatih olah

kanuragan.

“Kau harus menjaga agar semuanya dapat berlangsung

dengan baik, tertib dan bersungguh-sungguh. Memang berat,

Aku tidak menakut-nakuti. Tetapi dalam mempelajari olah

kanuragan, kita tidak dapat berbuat seenaknya. Maksudnya

kapan saja kita mau. Jika kita sedang malas, maka latihan itu

ditunda. Apalagi tanpa ikatan niat yang benar-benar mapan.

Karena apabila demikian, maka usaha kita akan sia-sia,

“berkata Sekar Mirah dengan sungguh-sungguh.

Rara Wulan mengangguk-angguk. Ia mulai dapat

membayangkan apa yang harus dilakukan. Bagaimana setiap

pagi, ia harus bangun pagi-pagi. Melakukan gerakan-gerakan

yang sudah diajarkan oleh gurunya. Berlari-lari untuk jangka

waktu tertentu. Mengadakan latihan olah tubuh sesuai dengan

kepentingan latihan yang akan dilakukan dihari itu.

Mengulangi unsur-unsur yang pernah dipelajari sebelumnya.

. “Kau tidak boleh meninggalkan tugasmu sehari-hari

“berkata Sekar Mirah “jika kau harus membersihkan bilikmu

pada saat matahari terbit sebagaimana kau biasanya bangun,

maka kau harus bangun lebih pagi. Kau lakukan apa yang

harus kau lakukan. Dan pada saat matahari terbit, kau sudah

melakukan pekerjaanmu sehari-hari itu, membersihkan bilik

tanpa mempergunakan saat-saat latihan sebagai alasan. “

RaFa Wulan masih saja mengangguk-angguk.

Beberapa kali Sekar Mirah memberikan peragaan latihanlatihan

pada tingkat pertama. Kemudian Rara Wulan itu harus

menirukannya serba sedikit, agar dia mampu menilai dirinya

sendiri, apakah ia sanggup melakukannya atau tidak. “

Dengan demikian maka keringat ditubuh Rara Wulan

bagaikan terperas dari kulit dagingnya. Baju dan kainnya

menjadi basah. Ia belum mengenakan pakaian sebagaimana

sering dipergunakan oleh. Sekar Mirah dalam keadaan

 

khusus. Namun Sekar Mirah saat itupun tidak berpakaian

khusus pula, sehingga Rara Wulan tidak terlalu banyak

mengalami kesulitan untuk melakukan apa yang dilakukan

oleh Sekar Mirah.

Meskipun demikian, gerakan-gerakan itu benar-benar

membuatnya letih. Tetapi Rara Wulan tidak mengeluh. Ia

melakukan apa yang harus dilakukannya.

Tetapi Sekar Mirah dan Rara Wulan tidak terlalu lama

berada disanggar. Setelah Rara Wulan mengenali beberapa

macam gerak yang harus dilakukannya sebagai pendahuluan,

sebelum ia benar-benar mempelajari olah kanuragan, serta

pakaiannya sudah menjadi basah kuyup, maka pengenalan

itupun diakhiri.

Ketika kemudian Rara Wulan menemui kakeknya di

pendapa, maka Ki Lurah Branjangan itu mengerutkan

keningnya. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Sekar Mirah

yang mengantarkannya. Namun kemudian Ki Lurah itu

tersenyum sambil bertanya “Apakah angger sudah mulai

memberikan tuntunan olah kanuragan? “

Sekar Mirah menggeleng. Jawabnya “Belum Ki Lurah. Aku

baru memperkenalkannya. Terserah kepada Rara, apakah ia

akan mempelajarinya atau tidak. Apakah ia tertarik atau

bahkan jaraknya justru semakin jauh dengan olah kanuragan.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Kemudian iapun bertanya

kepada Rara Wulan “Bagaimana dengan kau? “

Rara Wulan tidak segera menjawab. Dipandanginya orangorang

yang ada disekitarnya. Namun ketika terpandang

olehnya wajah kakaknya Teja Prabawa, Rara Wulan justru

menjadi heran. Agaknya kakaknya terkejut sekali melihat

keadaan Rara Wulan, seperti saat ia melihat Rara Wulan

tergelincir di kandang bersama Glagah Putih.

“Kau kenapa? “bertanya Teja Prabawa.

“Kenapa dengan aku? “Justru Rara Wulan ganti bertanya.

“Apakah kau baru saja terperosok ke dalam belumbang?

“bertanya kakaknya.

Rara Wulan justru tertawa. Katanya “Kita sebelumnya

 

memang belum pernah berkeringat begini banyaknya.

Tetapi setelah sekali aku mengalaminya, maka rasa-rasanya

tubuhku menjadi semakin ringan.

“Apa yang baru saja kau lakukan sehingga kau berkeringat

begitu banyak? “bertanya Teja Prabawa.

“Bukankah kau dengar mbokayu Sekar Mirah mengatakan

bahwa aku baru saja berusaha mengenali apa yang disebut

olah kanuragan. “jawab Rara Wulan “juga pertanyaan kakek

sebenarnya sedikit menjelaskan, apa yang baru saja aku

lakukan. “

Teja Prabawa termangu-mangu. Tetapi ia tidak bertanya

lagi.

Dalam pada itu, Ki Lurahlah yang kemudian berkata

kepada Rara Wulan “Segalanya tergantung kepadamu Rara

Wulan. Kau tahu apa yang harus kau lakukan jika kau ingin

mempelajari olah kanuragan. Kau harus menjalani laku yang

berat yang barangkali sudah kau dengar dari mbokayumu

Sekar Mirah. “

Tetapi Rara Wulan menjawab dengan mantab “Aku akan

menjalani laku yang betapapun beratnya. Aku sudah bertekad

Untuk berguru kepada mbokayu Sekar Mirah, agar aku dapat

mengenal meskipun serba sedikit olah kanuragan. Setidaktidaknya

aku akan dapat melindungi diriku sendiri sebelum

pertolongan datang. “

“Kau tidak boleh mengharapkan pertolongan “berkata Ki

Lurah Branjangan.

“Baiklah “jawab Rara Wulan “tidak selalu. “

Ki Lurah tersenyum. Sekar Mirah justru tertawa. Sementara

Ki Jayaraga berkata “Aku melihat sikap yang bulat. “

Rara Wulan mengangguk. Katanya “Aku memang sudah

bertekad bulat. “

Tetapi Sekar, Mirahlah yang kemudian berkata “Besok kita

mencoba lagi Rara. Kau jangan menjawab sekarang. Setelah

tiga hari kau baru akan menjawab. “

“Aku sudah dapat memutuskan sekarang “jawab Rara

Wulan.

“Mungkin “jawab Sekar Mirah “tetapi sebaiknya besok lusa

kau tentukan. “

 

Rara Wulan mengangguk kecil. Katanya “Baiklah mbokayu.

Besok lusa aku akan memutuskan. “

Sekar Mirah tersenyum. Tanpa diajari, Rara Wulan sudah

bersikap sebagai seorang murid kepada gurunya. _

Namun Teja Prabawalah yang seakan-akan tidak mengerti

apa yang akan dilakukan oleh adiknya. Tetapi di samping itu,

Teja Prabawa sebenarnya juga tidak ingin adiknya memiliki

ilmu yang justru pada suatu saat akan lebih tinggi dari

ilmunya.

Karena itu, maka Raden Teja Prabawa itu menjadi semakin

ingin segera kembali. Ia ingin minta kepada ayahnya, agar

ayahnya melarang Rara Wulan berguru. Tetapi seandainya

ayahnya tidak berkeberatan karena pengaruh kakeknya, maka

iapun akan minta kepada ayahnya untuk memanggil seorang

guru yang paling baik, agar ia dapat berlatih olah kanuragan,

dan tidak dikalahkan oleh Rara Wulan.

Tetapi nampaknya kakeknya akan menunggu sampai

besok lusa, saat Sekar Mirah memberikan batas waktu

kepada Rara Wulan untuk menentukan sikapnya. “

Dalam pada itu, maka Sekar Mirahpun kemudian mempersilahkan

Rara Wulan untuk mandi dan membenahi diri, agar

udara tidak terasa terlalu panas.

“Aku tidak membawa ganti pakaian kemari. Pakaianku ada

di rumah Ki Gede “jawab Rara Wulan.

“Rara dapat memakai pakaianku. Mungkin akan sedikit

longgar. Tetapi nanti jika pakaian Rara itu kering, maka Rara

akan dapat berganti pakaian lagi. “berkata Sekar Mirah.

Rara Wulan tidak membantah. Iapun kemudian telah pergi

ke bilik Sekar Mirah untuk berganti pakaian. Dengan pakaian

Sekar Mirah Rara Wulan nampak lebih sederhana. Namun

justru nampak lebih cerah.

Ketika Rara Wulan selesai berganti pakaian, maka ia harus

pergi ke pakiwan untuk mancuci pakaiannya yang basah dan

kotor. Kemudian menjemurnya di jemuran bambu di halaman

belakang.

Namun Rara Wulan terkejut ketika ia sedang menjemur

pakaiannya yang basah, tiba-tiba saja dilihatnya Glagah Putih

sudah duduk di sebelah kandang kudanya.

 

Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun agaknya

demikian pula dengan Glagah Putih, sehingga keduanya untuk

beberapa saat justru saling berdiam diri.

Namun ternyata bahwa Rara Wulan yang kemudian justru

melangkah mendekat sambil bertanya “Kau tiba-tiba saja

sudah berada disitu, apakah kau sudah pergi ke sawah

membawa kiriman makanan dan minuman? “

“Sudah “jawab Glagah Putih “aku memang baru datang dari

sawah. “

“Apakah sawahnya hanya dekat saja? “bertanya Rara

Wulan pula.

“Ya. Hanya disebelah padukuhan ini “jawab Glagah Putih.

Namun Rara Wulan sempat melihat keringat di pakaian

Glagah Putih. Agaknya Glagah Putih berjalan tergesa-gesa.

Tetapi Rara Wulan tidak bertanya lagi. Bahkan ia berkata

“Pada kesempatan lain, aku ingin ikut pergi ke sawah. “

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia

bertanya “Benar? Kau ingin pergi ke sawah? “

“Ya. Tetapi tidak hari ini “jawab Rara Wulan “aku baru saja

berada di sanggar bersama mbokayu Sekar Mirah. Mbokayu

telah”menunjukkan kepadaku, apa saja yang harus dilakukan

oleh seseorang yang ingin mempelajari olah kanuragan. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya “Itukah

sebabnya kenapa kau memakai pakaian mbokayu? “

“Ya “Rara Wulan tersenyum “apakah aku pantas memakai

pakaian seperti ini? “

Pertanyaan itu tidak diduga oleh Glagah Putih. Karena itu

maka iapun menjadi agak bingung sesaat. Ternyata bahwa

sikap Rara Wulan memang agak lain dengan sikap gadisgadis

Tanah Perdikan yang dikenalnya. Mereka biasanya

hanya menundukkan kepala, tersenyum meskipun

disembunyikannya dan menganggukkan kepalanya meskipun

agak meragukan.

Karena Glagah Putih tidak segera menjawab, maka Rara

Wulan justru tertawa. Katanya “Pakaian ini terasa sesuai

bagiku. Jika kelak aku diperkenankan tinggal bersama mbokayu

Sekar Mirah, maka aku akan membiasakan diri memakai

pakaian seperti ini. “

 

Glagah Putih masih saja termangu-mangu, sehingga

kemudian Rara Wulan itu berkata “Aku akan menemui

mbokayu Sekar Mirah. Apakah kau tidak akan kependapa? “

Glagah Putih mengangguk dan menjawab agak gagap. “Ya,

aku akan pergi kependapa? “

Ketika kemudian Rara Wulan melangkah menuju ke pintu

butulan, pembantu rumah yang ikut membawa makanan ke

sawah itu telah mendekati Glagah Putih sambil berdesis “He,

gadis itu cantik sekali. “

“Kau tahu apa? “geram Glagah Putih.

“Aku tahu tentang gadis cantik dan tidak cantik “jawab anak

itu.

“Kau masih terlalu kecil untuk menilai kecantikan seorang

gadis “berkata Glagah Putih.

Anak itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun

berdesis “Sejak kapan seseorang dianggap tidak terlalu kecil

menilai orang lain? “

Glagah Putih memandang anak itu sekilas. Kemudian

menepuk bahunya sambil berkata “Kita nanti masih harus

mengambil mangkuk dan alat-alat lain yang kita bawa

kesawah untuk mengirim makanan dan minuman tadi. “

“Salahmu sehingga kita harus hilir mudik ke sawah. Jika

kita tadi menunggu sebentar sampai mereka selesai makan

dan

minum kemudian membawanya sekaligus, kita tidak perlu

lagi pergi ke sawah. “anak itu menggeremang.

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun iapun

mencoba untuk tersenyum sambil berkata “Dirumah kita juga

tidak mempunyai pekerjaan apa-apa. Biar saja kita pergi ke

sawah sekali lagi. “

“Jika dirumah memang tidak ada pekerjaan apa-apa,

kenapa kau tadi begitu tergesa-gesa pulang? Jika kita berada

disawah barangkali kita dapat membantu bekerja apa saja

bersama orang-orang yang sedang bekerja di sawah itu.

“berkata anak itu.

Glagah Putih ternmangu-mangu sejenak, namun iapun

tersenyum sambil berkata “Sudahlah. Pergilah ke dapur atau

kemana saja. Aku akan pergi kerumah kawanku. “

 

Tetapi ternyata Glagah Putih tidak pergi kemana-mana.

Tetapi ia pergi ke pendapa, ikut menemui Ki Lurah Branjangan

dan cucu-cucunya.

Tamu-tamu Agung Sedayu itu ternyata berada di pendapa

sampai saatnya Agung Sedayu kembali dari rumah Ki Gede.

Demikian Agung Sedayu duduk pula di pendapa, maka Ki

Lurah itupun bertanya “Apa saja yang telah dibicarakan

bersama Ki Gede? “

***

API DI BUKIT MENOREH SERI III

JILID 238

AGUNG SEDAYU tersenyum sambil menjawab, “Seperti

biasanya, Ki Gede setiap kali menilai perkembangan Tanah

Perdikan ini. Manakah yang sudah dapat dianggap memenuhi

keinginan rakyat Tanah Perdikan ini dan yang manakah yang

masih harus dibenahi.”

“Jadi tidak ada hal-hal yang baru yang dibicarakan?”

bertanya Ki Lurah.

“Tidak Ki Lurah. Memang Ki Gede menyinggung serba

sedikit tentang peristiwa yang telah terjadi. Kematian Ki Ajar

Sigarwelat, Ki Gede minta rakyat Tanah Perdikan untuk selalu

berhati-hati menanggapi setiap peristiwa yang berkembang

kemudian.” jawab Agung Sedayu.

“Ya. Apalagi Ki Ajar Sigarwelat mempunyai hubungan

dengan Madiun.” berkata Ki Lurah.

“Tetapi Ki Gede hampir tidak pernah menyebut-nyebut

secara langsung tentang persoalan antara Mataram dan

Madiun. Hanya kepada orang-orang tertentu saja Ki Gede

berbicara tentang hal itu.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya sikap Ki

Gede cukup bijaksana. Ia tidak mendera orang-orang yang

 

tidak langsung berhubungan dengan persoalan pemerintahan

kedalam kegelisahan yang tidak berkeputusan.”

“Namun disamping itu, ada pula yang dibicarakan oleh Ki

Gede meskipun hanya sepintas. Tetapi agaknya pada saatsaat

mendatang hal itu akan dibicarakan dengan sungguhsungguh.”

berkata Agung Sedayu.

“Tentang apa?” bertanya Ki Lurah, “barangkali aku boleh

mendengarnya?”

“Tentu boleh Ki Lurah. Jika Ki Lurah nanti kembali kerumah

Ki Gede, maka Ki Lurah agaknya akan diajak berbicara pula.”

jawab Agung Sedayu.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun ia bertanya, “Apa

yang dikatakan Ki Gede?”

“Tentang dirinya sendiri.” jawab Agung Sedayu, “tidak

seorangpun tahu, kenapa tiba-tiba Ki Gede merasa dirinya

sudah menjadi tua. Bahkan terlalu tua untuk memimpin Tanah

Perdikan ini.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Dengan

sungguh-sungguh ia berkata, “Itu bukan soal kecil. Pada suatu

saat hal itu akan menjadi persoalan yang besar. Bukankah Ki

Gede masih mempunyai seorang adik laki-laki yang kini

nampaknya lebih senang mengasingkan diri?”

“Ya” jawab Agung Sedayu, “tetapi Ki Argajaya itu sudah

benar-benar mengasingkan diri. Aku percaya kalau Ki

Argajaya tidak akan menimbulkan persoalan.”

“Tetapi bukankah Ki Argajaya mempunyai anak seorang

laki-laki?” bertanya Ki Lurah pula.

“Iapun nampaknya sudah dapat menempatkan dirinya. Aku

kira dari keduanya tidak akan timbul persoalan.” jawab Agung

Sedayu.

“Lalu, masalah apa yang dianggap penting untuk

dibicarakan oleh Ki Gede?” justru Ki Jayaragalah yang

bertanya.

“Anak Ki Gede hanya satu. Itupun seorang perempuan.”

jawab Agung Sedayu, “apalagi perempuan itu sudah

bersuamikan seorang yang juga memerintah satu daerah

seperti Tanah Perdikan Menoreh ini.”

“Pandan Wangi maksudmu?” bertanya Ki Lurah.

 

“Ya. Pandan Wangi.” jawab Agung Sedayu, “seharusnya

suami Pandan Wangilah yang akan memimpin Tanah

Perdikan ini. Tetapi pertanyaan yang timbul kemudian, apakah

Swandaru akan bersedia meninggalkan Kademangan Sangkal

Putung dan menjadi pemimpin Tanah Perdikan ini?”

Ki Lurah menarik nafas panjang. Katanya, “Memang satu

teka-teki. Tetapi apakah Ki Gede sudah membicarakan

sampai sekian jauh?”

Agung Sedayupun tersenyum. Jawabnya, “Belum Ki Lurah.

Pembicaraan kitalah yang berkepanjangan.”

Ki Lurah dan Ki Jayaragapun tertawa. Bahkan Ki Jayaraga

berdesis, “Jika saatnya hal itu dibicarakan, kita sudah

mempunyai bahan yang cukup banyak.”

Agung Sedayupun tertawa pula.

Demikianlah maka Sekar Mirah dan Rara Wulanpun

kemudian telah menyiapkan makan siang bagi mereka yang

ada di pendapa. Sehingga sejenak kemudian, maka

merekapun telah makan bersama-sama di ruang dalam.

Ketika kemudian matahari turun ke Barat, maka Ki Lurah

Branjanganpun telah minta diri. Bersama kedua cucunya

mereka akan kembali ke rumah Ki Gede, karena mereka akan

bermalam dirumah itu.

“Besok aku kembali mbokayu.” berkata Rara Wulan setelah

ia mengenakan pakaiannya sendiri, “aku akan datang lebih

pagi. Dengan demikian maka waktu kita akan lebih banyak.”

“Tetapi kapan kita pulang ke kota kek?” bertanya Teja

Prabawa, “bukankah kakek akan memberitahukan niat Wulan

kepada ayah dan ibu?”

“Ya” jawab Ki Lurah, “tetapi biarlah Rara Wulan mengalami

satu dua hari lagi. Jika dalam waktu dua tiga hari ia merasa

bahwa dirinya tidak sanggup lagi menjalani laku yang berat,

maka sudah tentu rencana itu batal.”

Teja Prabawa tidak menjawab. Namun sebenarnyalah ia

menjadi berdebar-debar ketika bertiga bersama kakek dan

adiknya mereka akan menempuh perjalanan ke rumah Ki

Gede. Meskipun jaraknya tidak jauh, namun segala

sesuatunya mungkin terjadi.

 

Teja Prabawa itu menarik nafas dalam-dalam ketika Agung

Sedayu berkata kepada Glagah Putih, “Antar mereka sampai

keregol rumah Ki Gede.”

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia berjalan saja

dipaling belakang. Mereka tidak terlalu lama berjalan.

Demikian mereka sampai keregol, maka Glagah Putihpun

minta diri untuk kembali.

“Kau tidak singgah?” bertanya Ki Lurah.

“Terima kasih Ki Lurah, masih ada kerja yang harus aku

lakukan.”

“Besok kau jemput aku?” bertanya Rara Wulan.

Pertanyaan itu memang agak mengejutkan. Bukan saja

bagi Glagah Putih, tetapi juga bagi Teja Prabawa. Sehingga

Teja Prabawa itupun bertanya, “Kenapa kau harus dijemput?

Kakek akan mengantarkanmu.”

“Jika dijalan nanti tiba-tiba muncul murid Ki ajar Sigarwelat

bagaimana?” bertanya Rara Wulan.

Wajah Teja Prabawa menjadi merah. Ia sadar bahwa

adiknya dengan sengaja mengejeknya. Namun sebelum Teja

Prabawa menjawab, Ki Lurah Branjangan mendahuluinya,

“Wulan. Kau jangan terlalu nakal. Besok aku dan kakakmu

akan mengantarmu. Kau kira Glagah Putih tidak mempunyai

kesibukan sendiri di rumah? Memang berbeda dengan anakanak

kota yang merasa dirinya anak orang berada,

berpangkat dan barangkali berilmu tinggi. Mereka dapat

berbuat apa saja sesuka hati. Tetapi tidak dengan anak-anak

muda Tanah Perdikan ini. Mereka harus bekerja keras untuk

mencukupi kebutuhannya. Bukan saja kebutuhan secara

pribadi, tetapi kebutuhan seluruh Tanah Perdikan. Karena jika

orang-orang Tanah Perdikan ini tidak mau bekerja keras,

maka kesejahteraan Tanah Perdikan ini tidak akan maju.”

Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi teguran itu ternyata

tidak saja menyentuh Rara Wulan, tetapi juga Teja Prabawa.

Karena kedua orang anak muda itu diam saja, maka Ki

Lurahpun kemudian berkata kepada Glagah Putih, “Sudahlah

Glagah Putih. Biarlah besok aku mengantarkannya jika Wulan

masih ingin bermain-main dengan mbokayumu Sekar Mirah.”

 

Glagah Putih termangu-mangu. Sebenarnya ia sama sekali

tidak berkeberatan untuk menjemput Rara Wulan. Tetapi

iapun menyadari bahwa agaknya Ki Lurah sendiri tidak

menghendakinya. Karena itu, maka Glagah Putih itupun telah

minta diri untuk kembali.

Ketika Ki Lurah kemudian membawa kedua cucunya

memasuki halaman rumah Ki Gede, maka bagi Teja Prabawa

maupun Rara Wulan saling berdiam diri sambil menunduk.

Keduanya nampak hanyut dalam arus angan-angan masingmasing

yang sudah tentu tidak mempunyai persamaan sama

sekali.

Kedua cucu Ki Lurah itu ternyata langsung menuju ke

gandok, sementara Ki Lurah masuk ke ruang dalam untuk

menemui Ki Gede, karena menurut seorang pembantu Ki

Gede, Ki Gede itu masih duduk seorang diri diruang dalam

setelah makan siang.

“Sendiri?” bertanya Ki Lurah.

“Ya, Ki Lurah.” jawab orang itu, “memang sudah menjadi

kebiasaan Ki Gede, duduk sendiri untuk beberapa lama.

Nampaknya memang ada yang sedang direnungkan.”

“Kebiasaan sejak kapan?” bertanya Ki Lurah.

“Sebenarnya belum terlalu lama.” jawab pembantu itu.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan

menemani Ki Gede.”

Sejenak kemudian Ki Lurah telah duduk bersama Ki Gede

di ruang dalam. Sambil bergeser menepi Ki Gede berTanya,

“Dimana kedua cucu Ki Lurah?”

“Mereka langsung pergi ke gandok Ki Gede. Mereka baru

saja bertengkar. Agaknya jika setiap hari mereka tidak

bertengkar rasa-rasanya mereka menjadi pening.” jawab Ki

Lurah.

Ki Gede tertawa. Katanya, “Itu biasa. Betapapun rukunnya

dua orang bersaudara, namun pada suatu saat mereka pasti

akan bertengkar, meskipun pada saatnya mereka akan baik

kembali.”

Ki Lurahpun tertawa. Katanya, “Agak berbeda dengan Ki

Gede. Agaknya Ki Gede tidak perlu setiap kali melerai puteraKang

Zusi - http://kangzusi.com/

putera Ki Gede yang bertengkar, karena putera Ki Gede

ternyata hanya seorang. Itupun seorang perempuan.”

“Tidak.” jawab Ki Gede, “aku juga mempunyai seorang

anak laki-laki.”

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Namun hal itu sudah

terlanjur diucapkan oleh Ki Gede.Sebenarnyalah Ki Lurah

pernah mendengar tentang anak laki-laki yang lahir dari isteri

Ki Gede. Namun yang ternyata telah menumbuhkan persoalan

jiwani itu. Dan yang kemudian ternyata harus mati diujung

senjata karena justru perlawanannya terhadap Ki Gede sendiri

bersama dengan adik Ki Gede, Ki Argajaya.

Tetapi Ki Lurah berusaha untuk mengendapkan gejolak itu

dalam-dalam. Ia akan hanyut saja apa yang dibicarakan oleh

Ki Gede tentang anaknya laki-laki itu.

Ternyata kemudian suara Ki Gede merendah, “Tetapi anak

itu telah kehilangan keseimbangannya, sehingga akhirnya

harus menebusnya dengan nyawanya.”

“Sayang sekali.” desis Ki Lurah.

“Tetapi aku sudah mengikhlaskannya. Aku sekarang sudah

mendapatkan gantinya. Anak laki-laki.” berkata Ki Gede.

Ki Lurah hampir saja menebak. Tetapi Ki Gede telah

menyebutnya, “Swandaru. Bukankah dengan demikian anakku

telah menjadi dua lagi? Bahkan sekarang menjadi lebih

banyak lagi. Ada Agung Sedayu, Glagah Putih, seorang anak

perempuan lagi yang namanya Sekar Mirah dan anak adikku

Prastawa. Mereka adalah anak-anakku yang justru lebih patuh

dari anak laki-laki itu.”

“Ya Ki Gede. Bahkan lebih banyak lagi. Semua anak-anak

muda Tanah Perdikan ini telah menganggap Ki Gede sebagai

ayah mereka.” berkata Ki Lurah.

Tetapi Ki Gede tersenyum. Katanya, “Sebagai ayah

mereka, juga sebagai kakek mereka.”

Ki Lurah juga mencoba untuk ikut tertawa meskipun masih

terasa debar didadanya.

Namun tiba-tiba saja Ki Gede itu memang berkata

sebagaimana dikatakan oleh Agung Sedayu, “Ki Lurah. Tibatiba

saja aku merasa diriku sekarang sudah sangat tua.”

“Ah, tentu belum.” sahut Ki Lurah dengan serta merta.

 

“Bahkan mungkin aku sudah lebih tua dari Sultan

Hadiwijaya dan Pangeran Benawa yang telah kembali

menghadap Tuhan itu.” suaranya merendah.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ketika

diluar sadarnya ia memandang wajah Ki Gede, maka

nampaklah garis-garis umurnya yang semakin dalam. Namun

didalam hati Ki Lurah itupun berkata, “Aku juga sudah tua.”

Tetapi Ki Lurah tidak perlu memikirkan satu wilayah

sebagaimana Ki Gede memikirkan masa depan Tanah

Perdikan Menoreh.

Adalah seolah-olah diluar sadarnya ketika Ki Gede

kemudian berkata, “Aku memang mempunyai anak laki-laki

perempuan yang banyak sekali. Seluruh penghuni Tanah

Perdikan ini adalah anak-anakku. Tetapi siapakah diantara

mereka yang kelak pantas menggantikan kedudukanku?

Tanah Perdikan ini tentu memerlukan seorang pemimpin.

Bukan asal saja seorang pemimpin. Tetapi seorang pemimpin

yang bertanggung jawab. Seandainya saja Swandaru bukan

anak seorang Demang, maka aku dapat memastikan, ia akan

dapat memimpin Tanah Perdikan ini. Tetapi apakah ia

bersedia meninggalkan Kademangannya, itulah yang menjadi

persoalan.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya, “Jika

Swandaru bersedia memimpin Tanah Perdikan ini, maka

Sekar Mirah akan menggantikan kedudukannya di Sangkal

Putung, sehingga dengan demikian maka Agung Sedayulah

yang akan melaksanakannya.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Namun ia berdesis, “Tetapi

agaknya Swandaru berkeberatan untuk meninggalkan

Kademangannya. Padahal menurut penilaianku, ia adalah

seorang yang memiliki pandangan jauh untuk meningkatkan

kesejahteraan rakyatnya. Sangkal Putung kini telah menjadi

sebuah Kademangan yang besar dengan tingkat

kesejahteraan yang tinggi.”

Tetapi suara Ki Gede merendah, “Meskipun Swandaru

bukan seorang yang rendah hati seperti Agung Sedayu.

Namun sejalan dengan peningkatan umurnya, maka pada

suatu saat, hatinya tentu akan, mengendap.”

 

Ki Lurah Branjangan hanya mengangguk-angguk saja. Ia

tidak dapat ikut banyak berbicara, karena persoalannya lebih

banyak berkisar tentang keluarga.

Namun tiba-tiba saja, seperti orang yang terbangun dari

tidurnya Ki Gede berkata. “Ah, maaf Ki Lurah. Aku terlalu

banyak berbicara tentang diriku sendiri, sehingga mungkin Ki

Lurah merasa jemu mendengarnya.”

“Tidak. Tentu tidak. Bukankah orang-orang tua seumur kita

ini memang harus memikirkan masa depan bagi

keturunannya? Kita memang tidak boleh mementingkan diri

kita sendiri, sehingga kita tidak mau tahu, apa yang akan

terjadi kelak. Atau bahkan dengan sengaja menutup

kemungkinan bagi angkatan sesudah kita untuk menunjukkan

kebesaran melampaui kebesaran kita, agar kita tetap

dianggap orang-orang terbaik disegala jaman.” berkata Ki

Lurah.

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Lurah benar,

justru kesempatan itu harus kita berikan.”

“Masa depan adalah demikian luas dan panjangnya.”

berkata Ki Lurah, “satu ruang dengan sejuta kesempatan.

Tergantung kepada mereka yang akan menjalani masa depan

itu.”

“Ya.” sahut Ki Gede, “mudah-mudahan kesempatan itu

tertangkap oleh ketajaman nalar budi mereka. Apalagi jika

mereka tidak menangkapnya, maka mereka asal saja

melontarkan kesalahan kepada kita yang mendahuluinya.

Namun sebaliknya, seperti yang sudah sering aku katakan,

kita yang hidup masa sekarang, adalah landasan bagi masa

mendatang.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Nampaknya Ki Gede benarbenar

telah berpikir tentang masa depan yang panjang itu.

Terutama tentang siapakah yang akan mendapat kewajiban

memimpin Tanah Perdikan itu. Tetapi Ki Lurah tidak berani

memberikan pendapatnya tentang nama-nama yang meskipun

sudah melintas di kepalanya. Ia merasa berkewajiban untuk

menjaga keseimbangan perasaan dan penalaran yang bening

dari Ki Gede sendiri, kecuali jika pada suatu saat Ki Gede

minta pertimbangannya.

 

Namun dalam pada itu, Ki Lurahpun telah mohon diri untuk

beristirahat digandok sambil melihat apakah cucu-cucunya

masih saja bertengkar.

“Keduanya adalah anak-anak bengal dan manja.” berkata

Ki Lurah.

Ki Gede tersenyum sambil berkata, “Silahkan Ki Lurah.

Tetapi Ki Lurah tidak perlu meminjam cambuk Agung Sedayu

untuk melerai mereka dan menghukum yang bersalah.”

Ki Lurahpun tertawa. Namun ia masih bertanya, “Apakah Ki

Gede tidak beristirahat?”

“Aku sedang beristirahat disini.” jawab Ki Gede.

Ki Lurah tertawa semakin keras. Katanya, “Ya, ya. Agaknya

Ki Gede memang sedang beristirahat.”

Sejenak kemudian, Ki Lurahpun telah berada di gandok.

Rara Wulan telah berbaring menelungkup. Ketika Ki Lurah

datang, maka iapun bersungut-sungut, “Kek, kenapa kakak

selalu mencela sikapku? Apa salahnya jika aku berlatih olah

kanuragan?”

“Sudahlah.” berkata Ki Lurah, “kalian tidak perlu

mempersoalkannya lagi.”

“Tetapi kakak masih saja meributkannya.” jawab Rara

Wulan.

“Wulan selalu mengigau tentang olah kanuragan. Aku

menjadi jemu mendengarnya.” sahut Teja Prabawa.

“Sudahlah. Kita tamu disini. Inikah yang ingin kita tunjukkan

kepada orang-orang padukuhan tentang anak-anak muda

yang datang dari kota? Bertengkar? Marah-marah dan tidak

dapat mengendalikan diri?” desis Ki Lurah.

Kedua cucu Ki Lurah itupun terdiam. Meskipun keduanya

masih berwajah murung.

Sementara itu Ki Lurahpun telah pergi ke serambi. Sambil

memandangi halaman yang luas, Ki Lurah duduk seorang diri.

Tiba-tiba saja iapun telah dijangkiti pula angan-angan

sebagaimana Ki Gede. Meskipun Ki Lurah tidak terlalu

berkepentingan tentang masa depan Tanah Perdikan ini.

Namun bagi Ki Lurah, sebenarnya ada jalan yang paling baik

yang dapat ditempuh Ki Gede. Tetapi Ki Lurah merasa tidak

 

pada tempatnya apabila ia mengusulkannya, apalagi pada

saat semuanya baru pada tataran permulaan.

Bagi Ki Lurah, jika Swandaru berkeberatan untuk berada di

Tanah Perdikan Menoreh, maka haknya akan dapat

dilimpahkan kepada Sekar Mirah yang memerintah atas

namanya. Dengan demikian, maka yang akan melakukan

tugas itu adalah Agung Sedayu.

Tetapi tentu masih ada seribu macam pertimbangan.

Dibanding dengan Sekar Mirah, maka Prastawa nampaknya

mempunyai hak lebih besar jika Swandaru menolak. Kecuali

jika hak itu diterima oleh Swandaru dan Agung Sedayu hanya

melakukan tugas sehari-hari dalam kedudukan yang khusus.

Tetapi Kepala Tanah Perdikan Menoreh tetap dijabat oleh

Swandaru yang mempunyai jabatan rangkap dengan Demang

di Sangkal Putung, sehingga setiap saat ia harus mondarmandir

antara Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.

Namun menilik kedudukan Tanah Perdikan lebih tinggi dari

Kademangan, maka bermacam-macam kemungkinan

memang masih akan dapat terjadi.

Demikianlah, sisa hari itu dihabiskan oleh Ki Lurah untuk

berada di gardu perondan sampai saatnya mandi dan makan

malam bersama Ki Gede dan kedua cucunya. Kemudian

ketika malam menjadi semakin dalam, merekapun segera

beristirahat di bilik masing-masing.

Namun dalam pada itu, meskipun Teja Prabawa menyadari

bahwa halaman rumah Ki Gede itu dijaga dengan baik, namun

ada juga rasa cemas dihati anak muda itu.

Pagi-pagi Rara Wulan telah bangun dan berbenah diri

setelah mandi. Kemudian dengan tergesa-gesa minta agar

kakek dan kakaknya segera mandi pula.

“Aku ingin lebih cepat berada di sanggar mbokayu Sekar

Mirah. Hari ini mbokayu akan memberikan beberapa peragaan

lagi yang harus aku lakukan juga sebagai salah satu cara

melakukan pendadaran, apakah aku pantas untuk belajar olah

kanuragan atau tidak.”

“Bukan urusanku. Aku masih mengantuk.” geram Teja

Prabawa.

 

“Tetapi mbokayu tidak mau aku datang lambat, karena

setelah itu mbokayu Sekar Mirah masih harus masak untuk

dibawa kesawah.” sahut Rara Wulan.

“Juga bukan urusanku.” Teja Prabawa justru menggeliat.

Ki Lurah Branjangan tersenyum. Katanya, “Baiklah. Kita

pergi dahulu. Biarlah Teja Prabawa melanjutkan istirahatnya.

Nanti, jika ia berminat, biarlah ia menyusul kita dirumah Agung

Sedayu. Bukankah jaraknya tidak terlalu jauh, sehingga ia

tidak akan tersesat.”

Teja Prabawa mengerutkan dahinya. Namun tiba-tiba saja

ia berkata, “Suruh anak itu menjemputku.”

“Siapa?” bertanya Ki Lurah.

“Glagah Putih.” jawab Teja Prabawa, “bukankah kemarin ia

bersedia untuk menjemput kemari.”

“Kau masih juga merendahkannya?” bertanya Ki Lurah.

“Tidak. Bukan maksudku kek. Tetapi ia sendiri bersedia

melakukannya.” jawab Teja Prabawa.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya,

“Kau masih saja belum menyadari, bahwa kau tidak dapat

berbangga karena kau anak muda yang datang dari kota?

Apakah sekali-sekali kau harus mengalami perlakuan yang

dapat mengajarimu menghormati kedudukan anak-anak

Tanah Perdikan?”

“Bukan begitu kek.” Teja Prabawa menjadi gagap, “aku

tidak bermaksud demikian.”

“Teja Prabawa.” geram Ki Lurah, “kau harus segera

menyadari, bahwa kau bukan apa-apa disini. Kau adalah

seekor kelinci dipadang yang buas dan dihuni oleh kelompokkelompok

serigala yang garang. Nah, apakah kau masih akan

menyombongkan dirimu?”

Teja Prabawa tidak menjawab. Kepalanya tertunduk dalamdalam.

Ia sadar, bahwa kakeknya memang marah.

“Nah, sekarang terserah kepadamu. Kami akan segera

berangkat. Apakah kau akan pergi bersama kami, atau kau

akan pergi sendiri atau kau akan berada di rumah ini saja.”

berkata Ki Lurah sambil melangkah keluar untuk pergi ke

pakiwan.

 

Ternyata Ki Lurahpun segera bersiap. Sementara Teja

Prabawa menjadi tergesa-gesa mandi pula dan bersiap untuk

pergi bersama kakek dan adiknya.

Ki Gede tidak dapat menahan mereka ketika Ki Lurah minta

diri untuk pergi kerumah Agung Sedayu. Ki Lurah berterus

terang bahwa ada niat Rara Wulan untuk belajar olah

kanuragan pada Sekar Mirah, sehingga Rara Wulan perlu

datang lebih pagi untuk memenuhi permintaan Sekar Mirah.

“Bagus.” berkata Ki Gede, “angger Rara Wulan harus

patuh. Apalagi nanti, jika Rara benar-benar menjadi murid

angger Sekar Mirah. Segala perintah harus dilakukan tanpa

membantah.”

“Aku akan berusaha Ki Gede. Apapun yang harus aku

lakukan.” jawab Rara Wulan.

Demikianlah, maka tanpa menunggu makan pagi, ketiga

orang itu telah berangkat kerumah Agung Sedayu. Rara

Wulan memang ingin segera menemui Sekar Mirah.

Ketika mereka bertiga sampai kerumah Agung Sedayu,

maka Agung Sedayu dan Glagah Putih masih sibuk

menyelesaikan pekerjaan mereka. Tetapi Sekar Mirah sudah

menunggu kedatangan Rara Wulan yang memang dipesan

untuk datang lebih pagi. Mereka akan berada di sanggar lebih

dahulu, justru sebelum Sekar Mirah menyiapkan makan dan

minuman yang akan dibawa ke sawah.

“Marilah, silahkan Ki Lurah.” Agung Sedayu

mempersilahkan, “biarlah Ki Jayaraga menemani Ki Lurah

duduk di pendapa. Maaf, aku masih harus mempersiapkan

sanggar. Agaknya Rara Wulan dan Sekar Mirah akan

mempergunakan pagi ini.”

“Silahkan. Kedatanganku jangan sampai mengganggu.”

berkata Ki Lurah Branjangan.

Ketika Agung Sedayu sibuk membenahi sanggar untuk

mempersiapkan beberapa macam alat yang mungkin akan

dipergunakan oleh Sekar Mirah, sementara Sekar Mirah masih

sibuk memanasi air di dapur, Glagah Putih masih pula sibuk

dengan kuda-kudanya di kandang.

Namun sejenak kemudian, maka Sekar Mirah telah

mengajak Rara Wulan pergi ke sanggar setelah menuang

 

wedang sere ke dalam mangkuk serta menyiapkan gula

kelapa. Rara Wulanlah yang membawanya ke pendapa untuk

dihidangkan kepada kakeknya, kepada kakaknya dan Ki

Jayaraga yang menemuinya.

Demikianlah, maka kedua orang itupun sejenak kemudian

telah berada di dalam sanggar. Ternyata Sekar Mirah tidak

sekedar memperagakan beberapa jenis unsur gerak yang

paling mendasar sebagaimana dilakukan dihari sebelumnya,

tetapi Sekar Mirah telah minta agar Rara Wulan mulai

mempelajari beberapa gerak dasar untuk menjajagi

kemampuan jasmaniahnya.

Tidak pula seperti dihari sebelumnya, maka Rara Wulan

harus sudah mengenakan pakaian khusus, meskipun baru

dipinjamnya dari Sekar Mirah.

Ternyata bahwa niat Rara Wulan yang bulat telah

mendorongnya untuk dapat berbuat sebaik-baiknya

sebagaimana dikehendaki oleh Sekar Mirah. Mula-mula

berjalan saja beberapa kali mondar-mandir di dalam sanggar

itu. Kemudian berjalan diatas papan yang diletakkan begitu

saja di atas tanah. Tetapi kemudian papan itu diletakkan pada

alas yang tidak lebih dari sejengkal. Namun Rara Wulan tidak

hanya sekedar harus berjalan diatas papan itu. Rara Wulan

harus mulai menirukan gerakan-gerakan yang sederhana.

Beberapa kali, bahkan berulang -ulang sehingga keringat

mulai membasahi tubuhnya.

Setelah berulang kali ia melakukan sehingga nampaknya

mulai terbiasa, maka Sekar Mirah telah memberikan contoh

yang lain. Bukan saja tangannya yang bergerak, tetapi juga

kakinya, sehingga papan itupun menjadi tergetar pada setiap

gerakan.

Mula-mula keseimbangan Rara Wulan memang terganggu.

Tetapi semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin biasa.

Keseimbangan tubuhnya yang terguncang-guncang saat

papan itu bergetar, mulai dapat diatasinya. Meskipun jika getar

papan itu terasa lebih keras, maka Rara Wulanpun harus

berusaha semakin cermat agar ia tidak terjatuh.

Demikianlah Sekar Mirah memberikan beberapa contoh

gerak yang harus ditirukannya. Meskipun masih pada gerak

 

dasar, tetapi bagi, Rara Wulan terasa semakin lama semakin

sulit. Bahkan papan itu rasa-rasanya bergetar semakin keras,

sehingga akhirnya, Rara Wulan tidak berhasil

mempertahankan keseimbangannya lagi.

Dalam keadaan yang sangat sulit bagi Rara Wulan, maka

iapun telah meloncat turun dari papan yang hanya setinggi

sejengkal itu.

Rara Wulan dengan wajah murung berdesis, “Aku gagal

mbokayu.”

Tetapi Sekar Mirah tertawa. Katanya, “Kau belum gagal.

Menurut penilaianku, kau akan mampu melakukan latihanlatihan

olah kanuragan. Kau mempunyai kemauan yang

sangat besar dan nampaknya kau juga mempunyai wadag

yang pada dasarnya cukup kuat. Tetapi ingat, bahwa yang kau

lakukan itu hanyalah tidak lebih dari hitamnya kuku dari

seluruh kegiatan latihan-latihan olah kanuragan. Kau akan

menjadi sepuluh kali lebih banyak bergerak. Kau akan menjadi

sepuluh kali lebih letih dari sekarang. Dan kau akan menjadi

sepuluh kali lebih bersungguh-sungguh dari peragaan yang

sederhana ini. Apakah kau sanggup melakukannya?”

Rara Wulan mengangguk. Katanya, “Aku akan

melakukannya.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Tetapi kemudian

katanya, “Tetapi Rara. Sebelumnya Rara harus tahu, bahwa

ilmuku masih jauh dari sempurna. Ilmuku belum mencapai

satu tataran yang pantas. Tetapi jika kelak Rara mampu

mengembangkan dasar-dasaf ilmu yang akan aku berikan

nanti, maka satu kemungkinan yang luas akan dapat Rara

capai. Mungkin kemampuan Rara akan justru melampaui

kemampuanku.”

“Ah, untuk mencapai tataran yang sederhana, mungkin aku

memerlukan waktu sepanjang umurku.” berkata Rara Wulan.

“Tentu tidak. Kau memiliki sesuatu yang berharga bagi

latihan-latihan yang akan kau lakukan. Nampaknya tubuhmu

telah mapan. Sengaja atau tidak sengaja.” berkata Sekar

Mirah.

“Jauh dari pada itu.” jawab Rara Wulan, “namun aku

berjanji untuk menjadi patuh.”

 

“Tetapi Rara. Masih ada satu langkah yang harus kau

tempuh. Kakek Rara harus bertemu dengan ayah Rara untuk

mendapatkan keputusan terakhir, apakah Rara diijinkan atau

tidak. Baru kemudian Rara akan dapat menilai dengan latihanlatihan

yang sesungguhnya di rumah ini. Satu sarat lagi harus

dijalani, Rara akan tinggal di sini. Hidup sederhana dan

bekerja keras setiap saat.” berkata Sekar Mirah.

Rara Wulan mengangguk lemah. Bukan karena ia segan

untuk menjalani laku sebagaimana dikatakan oleh Sekar

Mirah. Namun hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Apakah

ayah akan mengijinkan?”

“Bagaimana dengan kakek, Rara?” bertanya Sekar Mirah.

“Kakek justru mendorong aku untuk melakukannya.”

berkata Rara Wulan.

“Jika demikian, kau harus minta bantuan kakekmu. Ki Lurah

tentu akan membantumu.” berkata Sekar Mirah.

Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara Sekar

Mirahpun berkata, “Baiklah. Rara dapat beristirahat sebentar.

Nanti kita akan bermain-main lagi untuk meyakinkan apakah

kewadagan Rara akan mampu mendukung keinginan Rara

itu.”

“mBokayu akan kemana?” bertanya Rara Wulan.

“Aku akan kedapur sejenak.” jawab Sekar Mirah, “kau tidak

usah ikut. Kau disini saja melihat-lihat peralatan di sanggar ini.

Kau dapat membayangkan, apakah kira-kira gunanya. Juga

jenis-jenis senjata yang barangkali belum pernah kau lihat.

Meskipin senjata yang dikumpulkan kakang Agung Sedayu

tidak selengkap yang dikumpulkan oleh Ki Gede, tetapi

beberapa contoh senjata yang ada dapat dianggap cukup

memadai untuk memperkaya pengenalan olah senjata dari

berbagai jenis.”

Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku

akan menunggu disini.”

Demikianlah, maka Sekar Mirahpun telah meninggalkan

sanggar dan pergi ke dapur. Ia harus menyiapkan makanan

yang akan dihidangkan di pendapa.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu menemuinya dan

berkata, “Kami akan pergi dahulu sebentar.”

 

“Maksud kakang? Kakang bersama Glagah Putih atau

siapa?” bertanya Sekar Mirah.

“Tidak. Aku hari ini sudah berjanji dengan anak-anak untuk

memperbaiki bendungan kecil di sebelah padukuhan induk ini.

Ki Lurah Branjangan dan Teja Prabawa akan pergi pula

bersama aku untuk melihat-lihat.” jawab Agung Sedayu.

“Ki Jayaraga dan Glagah Putih?” bertanya Sekar Mirah.

“Ki Jayaraga akan pergi ke sawah. Kemarin ia sudah tidak

pergi. Glagah Putih akan tinggal di rumah. Ia akan membawa

kiriman makanan dan minuman ke sawah bersama anak

bengal itu.” jawab Agung Sedayu.

Sekar Mirah tersenyum. Ia mengerti yang dimaksud anak

bengal itu. Tentu pembantu rumahnya yang kadang-kadang

nampak nakal, tetapi kadang-kadang lembut dan murung.

“Ia mulai suka berkelahi sekarang.” desis Agung Sedayu,

“aku sudah memperingatkan.”

“Serahkan kepada Glagah Putih. Ia memang sering

menirukan unsur-unsur gerak Glagah Putih. Mungkin anak itu

melihat sekali-sekali jika Glagah Putih kadang-kadang

melemaskan tubuhnya pagi-pagi di kebun belakang. Agaknya

Glagah Putih harus lebih banyak memperhatikannya.” jawab

Sekar Mirah. Lalu katanya, “Jika ia serba sedikit belajar

kepada Glagah Putih, maka sifat ingin tahunya itu akan

tersalur sehingga akan mengurangi keinginannya untuk

berkelahi dan mencoba-coba. Karena sambil belajar, Glagah

Putih akan dapat memberinya nasehat-nasehat.”

“Aku akan mengatakannya kepada Glagah Putih nanti.”

sahut Agung Sedayu yang kemudian minta diri untuk pergi ke

bendungan bersama Ki Lurah dan Raden Teja Prabawa.

Sekar Mirah yang ikut ke pendapa kemudian mendapat

pesan dari Ki Lurah untuk disampaikannya kepada Rara

Wulan, bahwa Ki Lurah dan Raden Teja Prabawa melihat-lihat

Tanah Perdikan itu bersama Agung Sedayu.

“Aku akan menyampaikannya, Ki Lurah.” sahut Sekar

Mirah.

Ketika kemudian Ki Lurah dan Raden Teja Prabawa telah

meninggalkan halaman, maka Ki Jayaragapun telah bersiapsiap

pula pergi kesawah. Pada saat-saat terakhir, Ki Ki

 

Jayaraga merasakan ketenangan hidup dan arti yang wajar

dari sisa-sisa hidupnya dengan bekerja di sawah bersama

beberapa orang yang memang bekerja bagi Agung Sedayu.

Dengan bekerja di sawah, maka Ki Jayaraga tidak merasa

dirinya terasing dari kewajaran hidup orang kebanyakan. Ia

merasa dirinya seperti orang lain. Hidup, bekerja, makan dan

lebih dari itu, mengabdikan hidupnya kepada Yang Maha

Agung dengan berbagai cara yang mampu dilakukannya,

disamping saat-saat yang memang telah dikhususkan untuk

menghadap.

Namun sebelum berangkat Ki Jayaraga sempat berkata,

“Jika kau tenggelam di sanggar, maka aku harus bersedia ikat

pinggang rangkap hari ini.”

Sekar Mirah tertawa. Katanya, “Tentu tidak. Pada saatnya

Glagah Putih dan anak itu akan sampai di sawah. Seandainya

terlambat, tentu tidak akan terlalu lama.”

“Tidak terlalu lama sampai kapan?” bertanya Ki Jayaraga.

“Sampai matahari turun.” jawab Sekar Mirah.

Ki Jayaraga mengerutkan keningnya. Namun katanya,

“Suruh Glagah Putih membawa usungan. Aku tentu sudah

pingsan.”

Sekar Mirah masih tertawa. Sementara Ki Jayaraga yang

juga tertawa telah melangkah membawa cangkul di

pundaknya, menuju ke regol dan kemudian turun ke jalan.

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Orang tua itu

sama sekali tidak mengesankan orang yang berilmu tinggi.

Sikapnya kata-katanya dan ujudnya, tidak lebih dari petani

kebanyakan. Perasaan kecewa yang mencengkam

jantungnya, karena tidak seorangpun dari murid-muridnya

yang memenuhi keinginannya, membuatnya lebih dekat

dengan alam. Satu-satunya harapanya terletak di pundak

Glagah Putih. Muridnya yang bungsu.

Sepeninggal Ki Jayaraga, Sekar Mirah telah mencari

pembantu rumahnya. Ketika anak itu diketemukan sedang

menyiapkan kayu bakar, maka Sekar Mirahpun berkata,

“Tolong, kau kuliti keluwih di dapur itu. Nanti aku akan

memasaknya untuk mengirim makan ke sawah.”

 

Anak itu tidak menjawab. Tetapi dikumpulkannya kayu

bakar itu dan dibawanya ke dapur sekaligus. Di dalam dapur

itu didapatinya beberapa buah keluwih yang akan dimasak

bagi orarig-orang yang bekerja di sawah. Sementara itu,

nampaknya Sekar Mirah akan membuat bothok mlandhingan,

karena seonggok mlandhingan ada di dapur itu pula, serta

beberapa buah kelapa yang nampaknya dipetik kemarin oleh

Glagah Putih.

Sementara itu, Sekar Mirah telah masuk kembali ke dalam

sanggar. Namun ia masih sempat melihat Glagah Putih yang

masih sibuk membersihkan kandang dan kuda-kudanya.

Dalam pada itu Rara Wulan masih berada di dalam

sanggar. Sekar Mirah yang kemudian mendekatinya, memang

menunggunya berbicara. Apakah Rara Wulan tertarik dengan

isi sanggar itu atau tidak. Jika ia tertarik, maka dimanakah

letak perhatiannya yang terbesar.

Meskipun demikian, Sekar Mirah menjadi berdebar-debar

juga. Ia tidak ingin Rara Wulan bertanya tentang hal lain

kecuali isi sanggar itu. Jika demikian, maka perhatiannya tidak

sepenuhnya tertuju kepada kemungkinan-kemungkinan yang

dapat dicapainya dalam olah kanuragan.

Namun yang diucapkan Rara Wulan pertama-tama,

“Mbokayu lama sekali.”

Sekar Mirah tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun ternyata sebagaimana diharapkan oleh Sekar

Mirah, Rara Wulan bertanya, “Darimana kita akan mulai

berlatih mbokayu. Ketika mbokayu menunjukkan kemampuan

mbokayu dalam olah kanuragan, aku sama sekali tidak

mengerti, darimanakah mbokayu memulainya. Namun yang

aku ingat, hampir disaat terakhir, mbokayu justru bergerak

diatas amben bambu tua itu.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Barulah ia

menjawab, “Dalam olah kanuragan, beberapa orang tidak

selalu mulai dari langkah yang sama. Namun pada umumnya,

mereka mulai dengan mempelajari unsur-unsur gerak dasar

yang paling sering dipergunakan. Setelah kita memahami

beberapa unsur, maka kita mulai mempelajari unsur-unsur

 

ganda yang sering kita pergunakan. Beberapa unsur ganda

yang kemudian harus dikembangkan sendiri dengan

ketajaman panggraita. Bahkan kadang-kadang menuntut

kecepatan berpikir dan mengambil sikap. Apalagi di dalam

pertempuran, Namun untuk dapat mengambil sikap yang

benar, diperlukan alas yang mapan. Untuk itu diperlukan

waktu.”

“Beberapa lama aku dapat menguasai pengetahuan dasar

itu mbokayu?” bertanya Rara Wulan.

“Jika kau benar-benar ingin maju, maka pengetahuan

dasarmu harus kokoh. Kau memerlukan waktu sekitar dua

tahun untuk menguasai pengetahuan dasar olah kanuragan.

Dalam waktu dua tahun kau akan dapat menguasai semua

unsur gerak dari satu perguruan. Unsur-unsur tunggal dan

unsur-unsur ganda. Dalam dua tahun kau sudah mendapat

petunjuk-petunjuk yang akan mencuat dari dalam dirimu

sendiri, bagaimana unsur itu harus dipergunakan menghadapi

unsur-unsur yang belum kau kenal. Rangkaian dan hubungan

unsur yang satu dengan yang lain, serta watak setiap unsur

itu. Di tahun-tahun berikutnya, kau sudah dapat mulai

mengembangkannya berdasarkan atas pengalamanmu serta

ilmu perbandingan yang mungkin kita peroleh dari orangorang

yang dapat kita ajak berlatih bersama, namun

bersumber dari jalur ilmu perguruan yang lain. Latihan-latihan

semacam itu akan dapat memperkaya pengenalan kita atas

ilmu kanuragan serta kemungkinan-kemungkinannya.” jawab

Sekar Mirah.

Rara Wulan mengangguk-angguk. Ia memang mendapat

gambaran, bahwa yang harus dilakukannya jika ia memang

ingin benar-benar mempelajari olah kanuragan adalah laku

yang berat dan lama. Ia harus tekun dan sabar. Bersungguhsungguh

dan bekerja keras tanpa mengenal lelah.

Dalam pada itu, maka Sekar Mirahpun kemudian berkata,

“Marilah. Kita coba, apakah wadagmu akan dapat mendukung

niatmu yang mantap itu.”

Rara Wulan kemudian telah mempersiapkan diri. Dengan

dada tengadah ia menyahut, “Aku sudah siap.”

 

Sekar Mirahpun kemudian telah membawa Rara Wulan

kebawah sebuah palang kayu yang dibubut bulat dengan tiang

dikedua ujungnya hampir setinggi tubuh bersusun. Dengan

satu loncatan Sekar Mirah menggapai palang kayu itu dan

kemudian mengangkat tubuhnya yang terayun beberapa kali

bertumpu pada tangannya yang berpegang palang itu.

Setelah beberapa kali melakukannya, maka Sekar Mirah

telah mempersilahkan Rara Wulan melakukannya.

Rara Wulan tidak membantah. Mula-mula ia memang raguragu,

apakah ia mampu menggapai palang kayu itu. Namun

dengan satu keyakinan yang mantap, maka iapun telah

meloncat dengan kekuatan yang justru telah membuat Rara

Wulan sendiri heran. Ternyata tangannya mampu menggapai

palang itu sehingga tubuhnya terayun sebagaimana Sekar

Mirah.

“Nah, angkat tubuhmu, sehingga dagumu sampai ke palang

itu.” berkata Sekar Mirah.

Rara Wulan memang mencobanya. Betapa beratnya.

Namun ia telah melakukannya dengan niat yang menghentakhentak

di dadanya, sehingga akhirnya iapun telah berhasil.

Sekar Mirah tersenyum. Kemudian katanya, “Sudahlah,

turunlah. Kau sudah cukup mencoba kemampuan wadagmu.

Tanpa ada orang lain, maksudku, aku atau orang yang telah

mempelajari olah kanuragan sedikit jauh, jangan mencobacoba

dengan memaksa diri, agar wadagmu tidak mengalami

gangguan. Dengan pengawasan orang lain yang mengetahui

serba sedikit tentang olah kanuragan, maka ia akan dapat

membantu mengamati pengerahan kekuatan yang ada di

dalam dirimu namun yang sama sekali belum diolah itu. Jika

tanpa orang lain, maka kau akan dapat melakukannya

melampaui batas, sehingga akibatnya justru jurang

menguntungkan.”

Rara Wulan yang telah turun kembali itu menganggukkan

kepalanya. Namun iapun berkata, “Ternyata menarik sekali

untuk mengalami latihan-latihan yang akan dapat membentuk

diri. Maaf mbokayu, mungkin angan-anganku terlalu tergesagesa

maju. Namun aku akan tunduk kepada semua

paugeran.”

 

“Baiklah. Sekarang, lakukan apa saja yang ingin kau

lakukan dengan alat-alat yang ada. Terserah kepadamu.”

berkata Sekar Mirah.

Rara Wulan termangu-mangu. Ia tidak tahu maksud Sekar

Mirah. Namun Sekar Mirah mengulanginya”Di sini ada

bermacam-macam alat. Lakukan apa saja. Kau pernah

melihat aku serba sedikit memperagakan olah kanuragan.

Rara Wulan masih saja termangu-mangu. Namun

kemudian iapun mulai bergerak. Ia mencoba mengingat apa

yang pernah dilakukan oleh Sekar Mirah. Namun yang

diingatnya adalah, bahwa Sekar Mirah itu bagaikan

berterbangan saja di dalam sanggar itu.

Karena itu, maka yang dilakukan oleh Rara Wulan

kemudian adalah berlari-lari saja berkeliling. Sekali-sekali

menyusup diantara tonggak-tonggak batang kelapa yang tidak

sama tingginya. Namun kemudian menyusup tonggak-tonggak

serupa, namun yang lebih kecil terbuat dari bambu petung.

Adalah di luar sadarnya bahwa Rara Wulan kemudian

memanjat tangga dan mencoba untuk meniti palang yang

hanya setinggi dada. Dengan sedikit kesulitan Rara Wulan

ternyata mampu menjaga keseimbangan melampaui palang

itu dengan kedua tangannya mengembang. Ia meloncat turun

ketika ia sampai di ujung palang.

Namun kemudian ketika ia tidak lagi tahu harus berbuat

apa, maka diakhirinya langkah-langkahnya itu sebagaimana

pernah dilakukan oleh Sekar Mirah. Meloncat keatas amben

tua itu. Tetapi ternyata bahwa amben tua itu justru telah patah

dan roboh.

“O” Rara Wulan terkejut. Ia segera meloncat ke samping.

Wajahnya tiba-tiba menjadi pucat. Dipandanginya amben

bambu yang roboh dan patah kakinya itu.

Tetapi Sekar Mirah justru tertawa. Katanya, “Pada saatnya

kau akan dapat menari di atas amben itu. He, apakah kau

dapat menari?”

Rara Wulan justru terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia

tidak mengira bahwa tiba-tiba saja Sekar Mirah bertanya

tentang kemampuannya menari. Karena itu, hampir di luar

 

sadarnya pula Rara Wulan mengangguk sambil menjawab,

“Ya. Aku memang pernah belajar menari.”

“Aku sudah mengira.” berkata Sekar Mirah, “gadis-gadis

kota pada umumnya memang dapat menari.”

“Tidak semuanya.” jawab Rara Wulan.

“Tetapi Rara dapat menari.” berkata Sekar Mirah, “ajari aku

menari.”

Rara Wulan termangu-mangu. Namun iapun kemudian

telah tersenyum pula ketika Sekar Mirah menepuk bahunya

sambil tertawa dan berkata, “Aku sudah terlalu tua.”

Rara Wulan tidak menyahut. Sementara itu Sekar Mirahpun

berkata, “Aku kira sudah cukup hari ini. Kita akan latihan di

dapur. Jika kita terlambat, Ki Jayaraga akan bergeremang

sehari penuh.”

Rara Wulan hanya mengangguk saja, sementara Sekar

Mirah telah berbenah diri. Ketika Rara Wulan akan

membenahi amben yang rusak, Sekar Mirah berkata, “Biar

saja. Nanti kakang Agung Sedayu akan memperbaikinya.

Sekarang kita pergunakan waktu beberapa saat untuk

menenangkan diri.”

Rara Wulanpun kemudian menirukan saja apa yang

dilakukan oleh Sekar Mirah yang seakan-akan telah

mengendapkan segenap gejolak di aliran darahnya. Beberapa

saat kemudian, keduanya telah keluar dari sanggar. Berganti

pakaian dan langsung sibuk didapur. Mereka memang agak

terlambat. Tetapi Sekar Mirah tidak bekerja sendiri. Tetapi ia

bekerja bersama Rara Wulan sehingga segala sesuatunya

menjadi lebih cepat dapat diselesaikan.

Namun dalam pada itu, selagi keduanya sibuk di dapur,

Glagah Putih telah melangkah masuk. Ia memang ragu-ragu

sesaat ketika ia melihat Rara Wulan ada pula di dapur. Namun

kemudian katanya, “mBokayu, ada tamu di pendapa.”

“Tamu? Bukankah kau dapat menemuinya? Aku sedang

masak. Nanti terlambat.” berkata Sekar Mirah.

“Agaknya hanya sebentar. Tamu dari Jati Anom. Ia ingin

berbicara dengan kakang Agung Sedayu.” berkata Glagah

Putih.

“Dari Jati Anom? Siapa?” bertanya Sekar Mirah.

 

“Seorang cantrik. Utusan Kiai Gringsing.” jawab Glagah

Putih.

Kening Sekar Mirah telah berkerut. Katanya kepada Rara

Wulan, “Tungguilah perapian itu Rara. Aku akan menemui

tamu itu”

Rara Wulan mengangguk-angguk sambil menyahut,

“Silahkah mbokayu.”

Bersama Glagah Putih, Sekar Mirahpun kemudian telah

pergi ke pendapa untuk menemui tamu yang datang dari Jati

Anom itu. Bagaimanapun juga Sekar Mirah menjadi berdebardebar.

Menurut pengertiannya kesehatan Kiai Gringsing agak

kurang baik.

Ketika Sekar Mirah keluar dari ruang dalam, maka

dilihatnya seorang anak muda duduk di pendapa. Begitu anak

muda itu melihat Sekar Mirah, maka iapun segera

mengangguk hormat. Sekar Mirahpun tersenyum. Ia mengenal

anak muda itu sebagai seorang cantrik di padepokan kecil Kiai

Gringsing.

Sambil duduk di hadapan anak muda itu bersama Glagah

Putih, maka Sekar Mirah yang segera ingin tahu tentang Kiai

Gringsing itupun telah bertanya, “Apa kabar dengan Kiai

Gringsing?”

Cantrik itu mengangguk sekali lagi sambil menjawab, “Baikbaik

saja Nyi. Bahkan beberapa hari ini Kiai Gringsing nampak

lebih sehat.”

“O” Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya,

“Syukurlah jika keadaan Kiai Gringsing sudah berangsur baik.

Dengan demikian agaknya kedatanganmu tidak membawa

kabar yang dapat menggelisahkan kakang Agung Sedayu.

Justru karena keadaan kesehatan Kiai Gringsing, aku sudah

merasa cemas.”

“Ya Nyi. Tetapi aku memang harus segera menemui

kakang Agung Sedayu. Hari ini aku akan segera kembali ke

Jati Anom.” berkata orang itu.

“Kenapa begitu tergesa-gesa? Apakah ada kabar yang

penting sekali.” bertanya Sekar Mirah.

“Memang penting sekali.” sahut orang itu.

 

“Tetapi kau dapat menunggu. Kakang Agung Sedayu baru

menunggui anak-anak muda yang sedang memperbaiki

bendungan di kali kecil di sebelah pedukuhan induk ini Tentu

tidak akan terlalu lama.” berkata Sekar Mirah.

“Atau barangkali lebih baik jika aku menyusulnya.” berkata

cantrik itu.

Sekar Mirah termangu-mangu. Nampaknya anak muda itu

memang membawa berita yang cukup penting, sehingga ia

tidak sabar menunggu. Karena itu, maka iapun berkata

kepada Glagah Putih, “jika demikian, antarkan cantrik ini ke

bendungan.”

Glagah Putih mengangguk sambil menjawab, “Baik

mbokayu.”

“Tetapi kau harus segera pulang. Masih ada kerja bagimu.

Kecuali jika ada persoalan yang mendesak.” ber-kata Sekar

Mirah.

“Baiklah.” jawab Glagah Putih.

Demikianlah, maka kedua orang anak muda itupun segera

meninggalkan halaman rumah Agung Sedayu itu.

Meskipun tidak terlalu jauh, tetapi karena tamunya berkuda

dan nampak tergesa-gesa, maka Glagah Putihpun telah

berkuda pula. Beberapa saat kemudian, maka kedua orang itu

sudah berada di dekat bendungan yang sedang sibuk

dikerjakan.

Beberapa orang anak muda yang melihat Glagah Putih

telah menyapanya. Bahkan seorang diantara mereka

berTanya, “He, kenapa kau hari ini malas sekali Glagah Putih.

Kenapa kau tidak turun ke bendungan?”

Glagah Putih tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Ia tidak

mengatakan bahwa hari itu ia akan pergi ke sawah

menyampaikan kiriman buat Ki Jayaraga dan orang-orang

yang bekerja di sawah, karena Sekar Mirah tidak dapat

melakukannya selagi ia menemui Rara Wulan.

Namun demikian, tiba-tiba saja sebuah pertanyaan muncul

di hatinya, “Jika Rara Wulan itu belajar ilmu kanuragan pada

mbokayu Sekar Mirah, apakah untuk seterusnya akulah yang

pergi ke sawah membawa kiriman? Dengan demikian berarti

 

aku kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu bersama

anak-anak muda Tanah Perdikan.”

Tetapi pertanyaan itu telah dijawabnya sendiri, “Tentu tidak.

Malahan Rara Wulan itu akan dapat membantu mbokayu

Sekar Mirah membawa makanan ke sawah.”

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu yang melihat

seorang cantrik dari Jati Anom datang ke bendungan itu,

dengan serta merta telah mendekatinya. Iapun menjadi

gelisah justru karena keadaan gurunya yang lemah. Tetapi

cantrik itu segera menjelaskan, bahwa keadaan Kiai Gringsing

justru berangsur baik.

“Jadi, untuk apa kau kemari?” bertanya Agung Sedayu.

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya

kemudian, “Kiai Gringsing ingin bertemu dengan Kakang

Agung Sedayu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan nada

tinggi ia bertanya, “Jadi guru memanggil aku?”

“Ya. Kiai Gringsing memanggil kakang Agung Sedayu.”

jawab cantrik itu.

“Kapan?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Kiai Gringsing tidak memberi batas waktu. Menurut Kiai

Gringsing, jika kakang Agung Sedayu sudah longgar

waktunya, maka segera dimohon untuk datang.” jawab cantrik

itu.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun katanya

kemudian, “Marilah. Aku akan pulang. Kita berbicara di rumah.

Pergilah dahulu bersama Glagah Putih. Aku akan segera

menyusul.”

“Keperluanku sudah selesai. Aku harus segera kembali ke

Jati Anom.” berkata cantrik itu.

“Tunggu aku di rumah.” berkata Agung Sedayu.

Ketika cantrik itu akan menjawab lagi, Agung Sedayu telah

mendahuluinya pula, “Sudahlah. Tunggu aku di rumah.”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak

dapat membantah. Karena itu, maka iapun kemudian bersama

Glagah Putih telah diajak kembali ke rumah mendahului

Agung Sedayu yang akan pulang bersama Ki Lurah

Branjangan dan cucunya, Raden Teja Prabawa.

 

Agung Sedayupun kemudian terpaksa minta diri. Seorang

bebahu akan meneruskan kerjanya, menunggu mereka yang

sedang memperbaiki bendungan itu.

Beberapa saat kemudian, Agung Sedayu telah menerima

tamunya di pendapa bersama Glagah Putih, sementara Ki

Lurah Branjangan dan Raden Teja Prabawa, dipersilahkan

untuk duduk di ruang dalam. Ki Lurah mengerti, bahwa yang

dikatakan oleh cantrik itu tentang pesan Kiai Gringsing,

mungkin tidak seluruhnya boleh didengar oleh orang lain.

“Apakah kau tahu, kenapa guru memanggilku?” bertanya

Agung Sedayu.

“Aku kurang tahu. Tetapi Kiai Gringsing baru saja

mengadakan perjalanan selama lima hari.” jawab cantrik.

“Jadi dengan kesehatannya yang kurang baik itu guru

mengadakan perjalanan?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Kami sudah berusaha mencegahnya. Tetapi menurut

Kiai Gringsing, perjalanan itu hanya perjalanan pendek dan

tidak akan membuatnya semakin buruk.” berkata cantrik itu.

“Apa yang memaksa guru untuk menempuh perjalanan

itu?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Kami tidak tahu”jawab cantrik itu, “tetapi sebelumnya Kiai

Gringsing telah bertemu dengan Ki Untara. Kiai Gringsing

tidak mengatakan sesuatu atas pembicaraannya dengan Ki

Untara. Namun kemudian Kiai Gringsing memutuskan untuk

pergi.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tentu ada sesuatu

yang sangat mendesak, sehingga Kiai Gringsing yang

kesehatannya tidak begitu baik itu harus pergi. Karena itu,

maka Agung Sedayupun menganggap bahwa panggilan

gurunya itupun tidak akan dapat ditunda-tunda lagi.

“Baiklah.” berkata Agung Sedayu kemudian, “aku akan

berusaha secepatnya datang. Hari ini aku akan berbicara

dengan beberapa orang di Tanah Perdikan ini untuk membagi

pekerjaan. Akupun harus minta diri kepada Ki Gede,

sementara di rumah ini sedang ada tamu dari kota.”

“Kiai Gringsing memang tidak memberikan batas waktu.

Kiai Gringsing juga sudah mengatakan, bahwa untuk

meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, kakang Agung

 

Sedayu tidak dapat begitu saja pergi. Karena itu, maka aku

akan mengatakan bahwa kakang akan datang di Jati Anom

sekitar dua tiga hari lagi.”

“Ya. Aku akan pergi ke Jati Anom besok lusa.” jawab

Agung Sedayu.

“Jika demikian, maka aku sudah dapat mohon diri

sekarang.” berkata cantrik itu.

“Tentu saja kau dapat minta diri. Tetapi aku minta kau

menunggu sampai kami sempat menghidangkan makan lebih

dahulu.” berkata Agung Sedayu.

“Terima kasih.” jawab cantrik itu.

“Kau tidak dapat menolaknya. Tidak baik menolak rejeki.

Apalagi kau dalam perjalanan yang cukup panjang dan

melelahkan.” berkata Agung Sedayu.

Cantrik itu tidak dapat menolak. Baru sesudah makan dan

beristirahat sejenak bersama-sama dengan Ki Lurah

Branjangan dan Raden Teja Prabawa, maka iapun minta diri.

Agung Sedayu tidak mencegahnya. Sementara cantrik itu

berangkat kembali ke Jati Anom, Glagah Putih dan pembantu

rumah Agung Sedayu itu pergi ke sawah.

“Cepat sedikit.” pesan Sekar Mirah, “memang agak

terlambat. Tetapi katakan kepada Ki Jayaraga, bahwa

kelambatan ini bukan karena kelambatanku. Tetapi ada tamu

dari Jati Anom yang harus aku layani makan dan minum lebih

dahulu.”

Glagah Putih tersenyum. Katanya, “Tetapi belum lambat

sekali.”

“Tetapi cepatlah.” minta Sekar Mirah.

“Apakah aku harus pergi berkuda?” bertanya Glagah Putih

sambil tertawa.

“Ah kau.” Sekar Mirahpun tertawa pula.

Rara Wulan tidak menyambung. Tetapi hampir saja ia

menyatakan dirinya untuk ikut pergi ke sawah. Tetapi ia tahu,

bahwa ayah dan kakaknya telah kembali, sehingga kakaknya

tentu akan marah lagi kepadanya.

Demikianlah maka Glagah Putih dan pembantu di rumah itu

dengan tergesa-gesa pergi kesawah. Mereka meniti pematang

untuk mengambil jalan pintas.

 

Dalam pada itu, selagi Ki Lurah Branjangan dan kedua

cucunya beristirahat di pendapa sambil menghirup angin yang

dapat sedikit menyejukkan udara yang agak panas, maka

Agung Sedayu tengah berbicara dengan Sekar Mirah didapur.

“Jadi kakang harus pergi ke Jati Anom?” bertanya Sekar

Mirah.

“Ya. Aku memang terpaksa pergi. Jika tidak penting sekali,

guru tidak akan memerintahkan seorang cantrik untuk

menyusul aku. Aku agaknya lupa menanyakan, apakah

Swandaru juga dipanggil oleh guru. Jika demikian, sebaiknya

kami datang pada hari yang sama.” berkata Agung Sedayu.

“Tetapi sebaiknya kakang datang saja dahulu. Jika perlu

kakang dapat memanggil kakang Swandaru.” ber-kata Sekar

Mirah.

“Ya. Aku akan datang besok lusa. Hari ini dan besok aku

masih harus memberikan beberapa pesan kepada anak-anak

muda sesuai dengan rencana yang telah kami susun. Aku

juga harus minta diri kepada Ki Gede.” Agung Sedayu berhenti

sejenak, lalu, “Tetapi bagaimana dengan Ki Lurah?”

“Tidak apa-apa.” jawab Sekar Mirah, “yang berkepentingan

adalah Rara Wulan. Menurut penilaianku, Rara Wulan

memiliki bekal kekuatan jasmaniah yang besar, sehingga aku

berharap bahwa ia tidak akan terlalu banyak mengalami

kesulitan. Yang penting untuk dituntut daripadanya adalah

kesungguhan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun iapun

kemudian berkata, “Tetapi agaknya Rara Wulan masih harus

mendapat ijin dari orang tuanya.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Tetapi

jangan karena persoalan itu kakang Agung Sedayu terhambat.

Kiai Gringsing tentu benar-benar memerlukan kehadiran

kakang.”

“Ya.” Agung Sedayu mengangguk-angguk, “Perjalanan

yang dilakukan oleh guru juga sangat menarik perhatian. Guru

yang sudah sangat tua dan kesehatannya yang sedang

terganggu itu telah memaksa diri untuk pergi. Tentu sesuatu

yang sangat penting telah terjadi.”

 

“Dengan siapa kakang pergi? Glagah Putih atau Ki

Jayaraga? Dalam keadaan seperti ini sebaiknya kakang tidak

pergi sendiri. Aku tidak mencemaskan keselamatan kakang,

tetapi barangkali kakang memerlukan seseorang untuk

memberikan kabar kepada siapapun juga jika ada persoalan di

perjalanan. Sementara orang itupun harus seorang yang

sanggup melindungi dirinya sendiri.” berkata Sekar Mirah.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun katanya

kemudian, “Aku akan pergi bersama Glagah Putih. Biarlah Ki

Jayaraga membantumu disini. Apalagi jika mungkin Ki Gede

memerlukannya.”

“Tetapi bukankah kakang akan mengatakannya juga

kepada Ki Lurah Branjangan?” bertanya Sekar Mirah.

“Sudah tentu.” jawab Agung Sedayu.

“Maksudku seawal mungkin.” desis Sekar Mirah.

“Mungkin Ki Lurah sudah mengerti meskipun ia tidak

mendengar keterangan cantrik itu langsung.” berkata Agung

Sedayu.

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Namun katanya

kemudia, “Marilah. Kita ke pendapa.”

Keduanyapun kemudian telah pergi ke pendapa. Dengan

pendek Agung Sedayupun kemudian mengatakan bahwa

cantrik itu telah menyampaikan pesan Kiai Gringsing, agar ia

pergi ke Jati Anom.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu ada hal

yang sangat penting. Angger memang harus datang.”

“Aku sudah berjanji, besok lusa aku akan datang di Jati

Anom.” jawab Agung Sedayu.

“Kenapa tidak hari ini? Mungkin persoalannya sangat

mendesak.” berkata Ki Lurah.

“Tidak Ki Lurah, Cantrik itu mengatakan, jika segala

sesuatunya longgar disini.” desis Agung Sedayu.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian,

maka agaknya Kiai Gringsing memang menghadapi persoalan

yang sangat penting, tetapi tidak mendesak sekali untuk

mendapatkan penyelesaian.”

“Agaknya memang begitu.” Agung Sedayu menganggukangguk.

 

“Jika demikian, kita akan pergi bersama-sama.” Berkata Ki

Lurah.

“Ki Lurah akan kemana?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku sudah terlalu lama disini ngger. Agaknya kedua

cucuku sudah cukup beristirahat.” jawab Ki Lurah, “me-reka

akan kembali memasuki kehidupan mereka sehari-hari dalam

lingkungan mereka.”

“Tetapi bagaimana dengan aku, kakek?” bertanya Rara

Wulan.

“Aku mengerti. Tetapi kau harus berbicara dengan ayah

dan ibumu.” berkata Ki Lurah.

“Kakek yang mengatakan kepada ayah dan ibu.” berkata

Rara Wulan, “bukankah kakek berjanji?”

Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Aku akan mengatakannya

kepada ayah dan ibumu. Tetapi kaupun harus menyesuaikan

dirimu sebagaimana sikap ayah dan ibumu. Apalagi dalam

keadaan yang nampaknya menjadi semakin hangat ini.”

“Pokoknya terserah kepada kakek.” desis Rara Wulan.

Tetapi Raden Teja Prabawalah yang menyahut, “Kau harus

mendengar keputusan terakhir dari ayah dan ibu.”

“Aku tahu.” jawab Rara Wulan, “tetapi kakek akan dapat

mempengaruhi keputusan terakhir itu.”

Teja Prabawa masih akan menjawab. Tetapi Ki Lurahlah

yang menengahinya, “Sudahlah. Semuanya akan menjadi

urusanku. Sekarang kalian tidak usah memamerkan

kebiasaanmu bertengkar kepada kakangmu Agung Sedayu

dan mbokayumu Sekar Mirah.”

Kedua cucu Ki Lurah itu memang terdiam. Sementara itu Ki

Lurah berkata, “Kita akan kembali bersama kakangmu Agung

Sedayu.”

“Apakah Ki Lurah tidak ingin berada di Tanah Perdikan ini

lebih lama lagi. Mungkin aku hanya satu dua hari saja berada

di Jati Anom.” berkata Agung Sedayu.

Tetapi Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Jika ayah dan ibu

Wulan mengijinkan, maka aku akan segera kembali

mengantarkan anak ini.”

Tetapi Sekar Mirahlah yang kemudian berdesis,

“Nampaknya akan sangat berbahaya jika Ki Lurah hanya

 

berdua saja dengan Rara menempuh perjalanan. Meskipun

murid Ki Sigarwelat itu tidak berniat lagi untuk berbuat buruk,

tetapi jika mereka bertemu dengan Rara Wulan dan Ki Lurah

dalam perjalanan, mungkin niat jahat itu akan dapat timbul

dengan serta merta.”

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk

angguk ia berkata, “Memang mungkin sekali hal itu terjadi.”

“Jika demikian Ki Lurah.” berkata Agung Sedayu, “jika kelak

aku kembali dari Jati Anom, biarlah aku singgah dirumah Ki

Lurah. Jika Ki Lurah memang ingin pergi ke Tanah Perdikan

ini, kita akan dapat pergi bersama-sama.”

“Baiklah.” berkata Ki Lurah, “aku akan menunggu sampai

angger Agung Sedayu kembali dari Jati Anom. Pergi atau

tidak pergi aku tentu memerlukan kehadiran angger kelak.”

Demikianlah maka ternyata Ki Lurah telah menentukan

untuk bersama-sama dengan Agung Sedayu dan Glagah

Putih kembali ke Mataram. Dengan demikian maka perjalanan

merekapun akan menjadi lebih aman. Terutama bagi Rara

Wulan.

Seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, maka sebelum

berangkat ia memang harus mengatur tugas-tugasnya di

Tanah Perdikan serta minta diri kepada Ki Gede. Sedangkan

Ki Lurah Branjanganpun sekaligus telah minta diri pula

bersama-sama dengan kedua cucunya untuk kembali ke

Mataram pada saat yang bersamaan dengan kepergian Agung

Sedayu.

Namun Ki Lurah itu berkata, “Tetapi kami hanya berjalan

kaki ngger. Jika angger Agung Sedayu tidak tergesa-gesa,

maka kami berharap untuk bersedia berjalan bersama kami

dengan menuntun kuda sampai ke Mataram.”

“Apakah kedua cucu Ki Gede tidak lelah?” bertanya Agung

Sedayu.

“Kami datang sudah dengan niat untuk menempuh sebuah

perjalanan. Kami ingin mencoba kemampuan kami berjalan

meskipun ternyata kami harus berhenti lima puluh kali

sepanjang perjalanan kemari dari Mataram.” jawab Ki Lurah.

Ki Gede tertawa. Agung Sedayupun tertawa pula. Namun

dalam pada itu, sebelum Agung Sedayu berangkat, pagi-pagi

 

benar sebelum dini hari dihari berikutnya, maka menjelang

sore hari sebelumnya telah datang dua orang penghubung

berkuda. Keduanya telah membawa berita yang memang

mendebarkan. Dalam beberapa hari lagi, Ki Panji Wiralaga

akan datang untuk melaksanakan rencana yang pernah

disusun.

“Beberapa hari lagi itu maksudnya kapan?” bertanya Ki

Gede, “satu dua hari, sepekan atau sepuluh hari?”

“Belum dapat dipastikan. Tetapi diminta Ki Gede bersiapsiap.”

jawab penghubung itu.

Ketika kemudian Agung Sedayu juga dipanggil ke rumah Ki

Gede, maka Agung Sedayu berjanji esok hari, jika ia pergi ke

Jati Anom akan singgah ke rumah Ki Panji Wiralaga bersama

Ki Lurah Branjangan. Segala sesuatunya akan menjadi lebih

jelas.

Sepeninggal orang itu, maka Ki Gede, Ki Lurah Branjangan

dan Agung Sedayu sempat berbicara sejenak. Menurut

pengamatan mereka, maka keadaan memang menjadi

semakin gawat.

Kedua orang penghubung itu tidak memberikan gambaran

keadaan sama sekali. Tetapi bahwa ia datang untuk memberi

tahukan agar Ki Gede mengambil ancang-ancang untuk

membentuk satu pusat pengendalian kekuatan di Tanah

Perdikan ini dan sekitarnya tentu karena keadaan yang

semakin mendesak.

“Mudah-mudahan besok kita mendapat gambaran yang

lebih jelas di Mataram.” berkata Agung Sedayu.

Demikianlah, maka dikeesokan harinya, Agung Sedayu

benar-benar telah berangkat ke Mataram bersama Glagah

Putih, Ki Lurah Branjangan dan kedua orang cucunya. Mereka

tidak berangkat dari rumah Ki Gede. Tetapi mereka berangkat

dari rumah Agung Sedayu.

Lewat tengah malam mereka telah bangun. Sekar Mirah

telah sibuk didapur memanasi air untuk membuat minuman

dan sekaligus menanak nasi untuk makan pagi sebelum

mereka berangkat. Sementara yang lain telah bergantian

mandi di pakiwan tanpa melepaskan sikap berhati-hati.

 

Sebelum dini hari, ternyata semuanya sudah selesai,

sehingga mereka dapat berangkat sangat awal. Jika nanti

matahari terbit, mereka telah mencapai jarak yang panjang.

Betapapun lambatnya perjalanan, namun akhirnya mereka

sampai juga di Mataram dengan selamat. Perjalanan yang

melelahkan, sehingga Teja Prabawa rasa-rasanya telah

menjadi jera. Tetapi tidak demikian halnya dengan Rara

Wulan. Meskipun ia juga merasa letih, tetapi ia tetap berharap

untuk pada suatu saat kembali ke Tanah Perdikan

Menjelang sore hari, maka Agung Sedayu, Glagah Putih

dan Ki Lurah Branjangan telah pergi ke rumah Ki Panji

Wiralaga. Malam itu Agung Sedayu dan Glagah Putih akan

bermalam semalam di rumah Ki Lurah Branjangan.

Kedatangan Agung Sedayu, Glagah Putih dan Ki Lurah

Branjangan telah disambut dengan baik oleh Ki Panji

Wiralaga. Dengan singkat Agung Sedayu telah menyampaikan

persoalan yang timbul di Tanah Perdikan karena kehadiran

kedua orang penghubung dari Ki Panji.

“Jadi kau akan pergi ke Jati Anom?” bertanya Ki Panji

kepada Agung Sedayu.

“Ya Ki Panji. Besok jika aku kembali ke Tanah Perdikan,

aku sudah berjanji untuk singgah pula di rumah Ki Lurah.”

jawab Agung Sedayu.

“Kapan kau kembali?” bertanya Ki Panji.

“Aku tidak dapat mengatakan. Tetapi aku kira aku tidak

akan terlalu lama.” jawab Agung Sedayu.

Ki Panji mengangguk-angguk. Setelah merenung sejenak,

maka katanya, “Jika demikian akupun akan menunggu kau

kembali.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Tetapi sebelum ia

mengatakan sesuatu, nampaknya Ki Panji dapat mengerti

perasaannya. Katanya, “Kecuali jika kau terlalu lama, maka

aku terpaksa mendahuluimu.”

“Agaknya itu lebih baik Ki Panji.” jawab Agung Sedayu.

Namun dalam kesempatan itu Agung Sedayu telah

mendapat beberapa keterangan yang meskipun sangat

terbatas, namun memberikan gambaran yang agak

menyeluruh. Bahkan dengan nada rendah Ki Panji itu berkata,

 

“Panembahan Senapati terpaksa mengambil kebijaksanan

yang agak tergesa-gesa.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan nada

rendah ia bertanya, “Keputusan tentang apa?”

Ki Panji Wiralaga memang menjadi ragu-ragu. Bahkan

kemudian katanya, “Bukankah kau mempunyai kesempatan

khusus untuk menghadap Panembahan Senapati? Kau dapat

menghadap hampir setiap saat. Kesempatan yang tidak

dimiliki oleh orang lain kecuali para pemimpin terdekat seperti

Ki Mandaraka. Kau dapat berbicara dengan Panembahan

tentang keadaan terakhir dari Mataram sehingga kau akan

mendapat gambaran yang jelas.”

Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Katanya, “Aku tidak

akan singgah sekarang Ki Panji. Besok aku harus sampai ke

Jati Anom. Jika aku singgah untuk menghadap Panembahan,

mungkin aku harus menunda waktu lagi.”

Ki Panji Wiralaga mengangguk-angguk. Kemudian katanya,

“Ki Mandaraka sudah sepakat untuk mengangkat Pangeran

Gagak Baning untuk menggantikan kedudukan Pangeran

Benawa di Pajang.”

“Pangeran Gagak Baning adik Panembahan Senapati.”

bertanya Agung Sedayu dengan serta merta, “lalu bagaimana

sikap Panembahan Madiun?”

Ki Panji menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya,

“Itulah sebabnya, maka rencana Panembahan Senapati atas

Tanah Perdikan Menoreh serta atas dasar perhitungan

Pemimpin Pasukan Khusus maka kepemimpinan dan kendali

kekuatan di Tanah Perdikan akan dipersatukan. Pengawasan

terhadap Sanggabaya akan ditingkatkan.”

Namun dalam pada itu Ki Lurah Branjangan telah berkata

hampir kepada diri sendiri, “Panembahan Sanggabaya di

Menoreh agak terlalu berani.”

“Ya” jawab Ki Panji, “ternyata diperlukan banyak tenaga

dan perhatian. Namun lewat orang itu, maka akan dapat di

amati siapa saja para pemimpin Mataram yang goyah

pendiriannya.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi katanya,

“Sanggabaya dapat diberi kesempatan yang lain. Tetapi tidak

 

memegang kekuatan yang cukup besar di atas Tanah

Perdikan itu.”

Ki Panji mengangguk-angguk. Katanya kemudian,

“Memang agak terlalu ke tepi, ibarat kita berdiri di pinggir

jurang. Karena itu, pagar yang direncanakan di buat itu harus

segera di wujudkan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Mudahmudahan

dapat berjalan lancar. Aku akan segera kembali dari

Jati Anom.”

Demikianlah, maka Agung Sedayu, Ki Lurah dan Glagah

Putihpun segera mohon diri. Ki Panji masih mengharap bahwa

Agung Sedayu tidak akan terlalu lama berada di Jati Anom

sehingga mereka akan dapat bersama-sama pergi ke Tanah

Perdikan Menoreh.

Diperjalanan kembali ke rumah Ki Lurah Branjangan,

Agung Sedayu masih juga bertanya tentang Pangeran Gagak

Baning.

“Aku kurang mengenalnya.” berkata Ki Lurah Branjangan,

“tetapi agaknya memang agak berbeda dengan Pangeran

Singasari yang keras.”

“Tetapi bagi Madiun, kehadiran keluarga Panembahan

Senapati akan dapat menjadi persoalan.” berkata Agung

Sedayu.

“Persoalan itu memang ada lebih dahulu.” jawab Ki Lurah,

“justru Panembahan Senapati ingin menunjukkan sikap

kepemimpinannya. Setelah beberapa kali usahanya untuk

mencari penyelesaian dengan cara yang lebih baik tidak

berhasil.”

“Apakaha sikap Panembahan Madiun sangat kaku?”

bertanya Agung Sedayu.

“Aku sekarang sudah jarang sekali berhubungan dengan

orang-orang dalam. Tetapi menurut pendengaranku, di sekitar

Panembahan Madiun memang terdapat orang-orang yang

keras kepala, mementingkan diri sendiri dan pamrih yang

sangat besar. Merekalah yang kadang-kadang memberikan

keterangan yang sengaja di putar balikkan atau dengan

didorong oleh pamrih pribadi telah memanasi suasana.”

berkata Ki Lurah Branjangan, “tetapi aku tahu benar hubungan

 

yang sangat akrab antara Panembahan Senapati dan

Panembahan Madiun yang dianggap sebagai pamandanya

sendiri.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga

bertanya, “Ki Lurah. Apakah menurut pendapat Ki Lurah,

masih ada bekas-bekas luka dihati Panembahan Madiun

karena perpindahan pusat pemerintahan dari Pajang ke

Mataram? Bukankah yang mengangkat Panembahan Madiun

pada kedudukannya sekarang adalah Sultan Hadiwijaya di

Pajang? Bukankah pada mulanya, Panembahan Madiun

termasuk salah seorang yang mengusulkan agar Mataram di

padamkan sebelum menjadi nyala api yang akan membakar

Tanah ini.”

“Nampaknya semuanya sudah dilupakan.” berkata Ki Lurah

Branjangan, “tetapi kita memang tidak tahu, apa yang menyala

di dalam dada seseorang.”

Agung Sedayu mengangguk--angguk. Namun ia pun

kemudian berpaling kepada Glagah Putih sambil berkata

“Beruntunglah kau dapat ikut mendengar, Glagah Putih. Tetapi

kau tahu, bahwa berita ini bukan berita yang pantas di

sebarkan untuk orang lain.”

Glagah Putih mengangguk sambil berdesis “Aku mengerti

kakang. “

“Baiklah. Mungkin guru besok akan dapat memberikan

pendapatnya tentang perkembangan terakhir hubungan antara

Mataram dan Madiun. “berkata Agung Sedayu pula.

Namun ketika Ki Lurah Branjangan itu sampai kerumahnya,

maka persoalannya menjadi lain. Yang menjadi ribut

adalah kedua cucunya. Raden Teja Prabawa ingin segera

mengajak kakeknya pulang kerumah orang tuanya. Rara

Wulan mendesak kakeknya untuk segera mengatakan bahwa

ia ingin mempelajari ilmu kanuragan di Tanah Per-dikan

Menoreh.

“Malam ini tamu-tamu kita akan bermalam dirumah kakek

“jawab Ki Lurah “karena itu besok kita akan menemui ayah

dan ibumu. “

Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan memang tidak dapat

memaksa. Hari itu dirumah kakeknya bermalam dua orang

 

tamu dari Tanah Perdikan Menoreh. Namun dalam satu

kesempatan Ki Lurah berkata kepada keduanya “Meskipun

mereka datang dari Tanah Perdikan Menoreh, tetapi keduanya

adalah orang-orang yang mempunyai hubungan khusus

dengan Panembahan Senapati. Keduanya dapat menghadap

Panembahan Senapati kapan saja tanpa melalui jalur yang

diterapkan bagi orang lain. “

Raden Teja Prabawa mengangguk-angguk. Ia sudah

pernah mendengar keterangan seperti itu. Tetapi ketika

kakeknya mengingatkannya, maka ia memang harus

menahan diri.

Demikianlah Agung Sedayu dan Glagah Putih bermalam

semalam dirumah Ki Lurah. Pagi-pagi mereka telah siap untuk

berangkat ke Jati Anom.

Ketika keduanya menuntun kudanya dihalaman, maka dari

seketheng longkangan rumah Ki Lurah, Rara Wulan

memandang keduanya yang berjalan diantar oleh kakeknya

sampai ke regol. Adalah diluar sadarnya, jika Glagah Putih

berpaling. Ketika ia melihat Rara Wulan yang sedang

memandanginya, maka. terasa jantungnya berdegup keras.

Iapun segera menundukkan kepalanya sementara kakinya

melangkah terus keluar regol halaman.

Demikianlah, maka sejenak kemudian terdengar derap kaki

dua ekor kuda yang semakin lama menjadi semakin jauh.

Untuk beberapa saat Rara Wulan masih berdiri di seketheng.

Namun iapun kemudian melangkah masuk kembali kerumah

kakeknya lewat pintu butulan.

Dalam pada itu, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun

telah berpacu meninggalkan rumah Ki Lurah Branjangan.

Meskipun tidak terlalu cepat, namun mereka telah

menyibakkan orang-orang yang mulai ramai berjalan kaki di

sepanjang jalan yang ternyata melewati sebuah pasar yang

cukup besar. Satu dua mereka juga bertemu dengan orangorang

berkuda yang akan pergi ke pasar.

Tetapi Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak berhenti

ketika mereka melewati pasar. Mereka melintas dengan cepat.

Beberapa orang yang melihat keduanya lewat dijalan sebelah

 

pasar itu sempat mengagumi kuda mereka. Terutama kuda

Glagah Putih yang besar, tinggi dan tegar.

Perjalanan mereka berdua terasa menjadi cepat. Jauh lebih

cepat dari perjalanan mereka dari Tanah Perdikan Menoreh.

Apalagi perjalanan mereka memang tidak menemui hambatan

apapun juga, sehingga dengan demikian

maka dalam waktu yang terasa singkat saja mereka telah

berada ditepi Kali Opak.

Agung Sedayu dan Glagah Putih memberi kesempatan

kuda mereka untuk beristirahat beberapa saat di pinggir Kali

Opak. Sementara kuda mereka minum dan makan rerumputan

segar, Agung Sedayu dan Glagah Putih duduk diatas

sebongkah batu besar dipinggir Kali Opak.

Ternyata bahwa kuda Glagah Putih memang banyak

menarik perhatian. Beberapa orang yang lewat tidak jauh dari

tempat kedua orang dari Tanah Perdikan Menoreh itu

beristirahat, ternyata telah memperhatikan kuda Glagah Putih

yang sedang makan rerumputan.

Bahkan dua orang yang berpakaian sebagai saudagarsaudagar

kaya telah berhenti.

Tetapi mereka hanya sekedar mengagumi dan bertanya

beberapa hal tentang kuda itu.

“Seandainya aku mendapatkan seekor kuda setegar itu

“desis yang seorang.

Glagah Putih hanya tersenyum saja. Ketika yang lain

bertanya dari mana ia mendapat kuda itu, maka Glagah Putih

menjawab “Pamanku. Pamanku adalah penggemar kuda. “

“Aku juga penggemar kuda “berkata orang itu “kau adalah

seorang yang sangat beruntung mendapatkan seekor kuda

seperti itu. “

Glagah Putih masih saja tersenyum sambil menyahut “Ya.

Aku memang beruntung mendapatkan kuda itu. “

Ketika kedua saudagar itu kemudian melanjutkan

perjalanan, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun segera

berbenah diri. Sejenak kemudian keduanya telah berpacu

menuju ke Jati Anom.

Bagaimanapun juga. Agung Sedayu dan Glagah Putih

merasa berdebar-debar ketika mereka mendekati padepokan

 

kecil Kiai Gringsing. Mereka berdua menyadari, bahwa tentu

ada sesuatu yang penting. Sementara itu persoalan antara

Mataram dan Madiun menjadi semakin hangat pula.

“Apakah persoalan yang akan dikatakan oleh guru juga

menyangkut persoalan antara Mataram, Pajang dan Madiun?

“bertanya Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Tetapi Agung Sedayu harus menunggu jawabnya sampai ia

nanti bertemu dengan gurunya. Gurunya yang semakin tua

dan kesehatannya sudah tidak utuh lagi sebagaimana

kekuatan wadagnya meskipun ilmunya tidak

susut. Namun ilmunya itupun memerlukan dukungan unsur

kewadagannya.

Beberapa saat kemudian, Agung Sedayu dan Glagah

Putih telah berada didepan regol padepokan, Ketika seorang

cantrik melihat mereka memasuki padepokan, maka dengan

tergesa-gesa cantrik itu telah menyongsong mereka.

“Selamat datang di padepokan kami “berkata Cantrik itu

sambil membungkuk hormat.

“Bagaimana dengan padepokan ini? “bertanya Agung

Sedayu.

“Semuanya dalam keadaan baik “jawab cantrik itu.

“Bagaimana dengan guru? “bertanya Agung Sedayu pula.

“Kiai dalam keadaan yang baik. Nampaknya lebih baik dari

beberapa pekan yang lalu “jawab cantrik itu yang kemudian

menerima kuda-kuda Agung Sedayu dan Glagah Putih untuk

diikat disisi bangunan induk padepokan kecil itu. Sementara

cantrik yang lain telah memper-silahkannya naik ke pendapa.

“Apakah guru ada didalam? “bertanya Agung Sedayu-

“Tidak “jawab cantrik itu “Kiai berada ditepi kolam. Sejak

pagi Kiai berjalan-jalan di kebun, kemudian beristirahat

digubug ditepi kolam itu. “

“Sudahlah. Kau tidak usah memanggilnya. Kami akan pergi

kesana. “berkata Agung Sedayu.

Cantrik itupun kemudian mempersialahkannya pergi ke

kebun dibagian belakang padepokan itu.

Kiai Gringsing memang sedang duduk disebuah gubug

yang tidak terlalu kecil sambil menghadapi minuman hangat

dan beberapa potong makanan. Sekali-sekali Kiai Gringsing

 

sempat memperhatikan ikan-ikan yang berenang hilir mudik di

belumbang. Ikan-ikan yang semakin lama semakin banyak

dan menjadi besar di belumbang itu. Meskipun setiap kali para

cantrik memungut beberapa ekor, namun jumlahnya tidak

pernah susut.

Kedatangan Agung Sedayu dan Glagah. Putih memang

mengejutkan. Namun sudah diduga bahwa hari itu mereka

akan datang.

“Marilah “Kiai Gringsing mempersilahkan sambil beringsut

“aku sudah menduga, jika tidak kemarin, kau tentu akan

datang hari ini. “

Agung Sedayu dan Glagah Putihpun kemudian telah duduk

pula digubug itu. Dengan singkat Agung Sedayu sempat

menceriterakan bahwa semalam ia bermalam di Mataram,

dirumah Ki Lurah Branjangan. Bahkan Agung Se-dayupun

telah menceriterakan pula pertemuannya dengan Ki Panji

Wiralaga serta rencana Panembahan Senapati bagi Tanah

Perdikan. Kemudian Agung Sedayupun sempat berkata

“Panembahan Senapati telah menempatkan Pangeran Gagak

Baning di Pajang. “

“Kau mengatakan hal itu tentu dalam hubungannya dengan

Panembahan Madiun “desis Kiai Gringsing.

“Ya guru “jawab Agung Sedayu.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi kemudian

katanya kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih ketika

seorang cantrik menghidangkan minuman dan makanan

“Minum sajalah dahulu. Nanti jika kau sudah beristirahat, kita

berbicara tentang Mataram dan Madiun. “

Agung Sedayu dan Glagah Putih memang tidak

membicarakan lagi persoalan Mataram dan Madiun. Tetapi

Kiai Gringsing mulai berbicara tentang kolam ikan yang telah

diperluas.

“Kami telah membuat satu lagi. Tetapi dengan cara yang

berbeda. Kolam yang satu yang berada disebelah pagar itu,

kami aliri air dari parit dan kami biarkan airnya tetap bergerak.

Kami membuat kolam itu seperti rumpon. Kami beri bebatuan

dan selangkrah bambu dan daun salak.

 

“berkata Kiai Gringsing.

“Isi kolam itu tentu berbeda dengan isi kolam ini Kiai.

“sahut Glagah Putih yang mempunyai kesenangan

membuat pliridan dan rumpon.

“Ya. Setelah tiga bulan kami membukanya. Kami mendapat

beberapa kepis ikan lele dan kutuk. “berkata Kiai Gringsing.

“Menarik. Kapan lagi rumpon itu akan dibuka? “bertanya

Glagah Putih.

“Baru beberapa hari yang lalu kami membukanya “jawab

Kiai Gringsing.

“Sayang sekali “desis Glagah Putih.

Kiai Gringsing tersenyum. Iapun tahu bahwa Glagah Putih

mempunyai kesenangan turun kesungai. Sungai disebelah

padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh adalah sungai

yang tidak besar. Tetapi hampir setiap malam Glagah Putih

turun dua kali.

Setelah minum minuman hangat serta berbicara tentang

Jati Anom, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh,

maka Kiai Gringsingpun berkata “Aku memang ingin berbicara

tentang Mataram dan Madiun.

“Aku sudah menduga guru “sahut Agung Sedayu.

“Tetapi aku tidak tergesa-gesa “desis Kiai Gringsing

kemudian.

“Apapun guru juga bermaksud memanggil Swandaru?

“bertanya Agung Sedayu.

“Tidak hari ini “berkata Kiai Gringsing “tetapi besok aku

minta kau memanggilnya. “

Agung Sedayu mengangguk-angguk, Ia mengerti, bahwa

gurunya ingin berbicara dengan dirinya lebih dahulu, baru

kemudian dengan adik seperguruannya, Swandaru

Dalam pada itu gurunya berkata “Nanti malam kita

mempunyai waktu cukup untuk berbicara agak panjang. Ada

beberapa hal yang perlu dipersoalkan. “

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Agaknya gurunya

memang ingin berbicara dengan tenang, sehingga tidak akan

terganggu oleh apapun.

Sebenarnyalah, ketika senja turun, maka Kiai Gringsing

telah berada di pendapa bangunan induk padepokan kecil itu.

 

Glagah Putih masih sempat menengok kudanya yang sudah

dimasukkan kedalam kandang bersama kuda Agung Sedayu.

Ternyata bahwa Kiai Gringsing berkenan memanggil

Glagah Putih untuk mendapat kesempatan mendengarkan

pembicaraannya dengan Agung Sedayu tentang

perkembangan keadaan yang terakhir.

Sejenak kemudian, ketiganya telah duduk melingkar di

pendapa menghadapi minuman hangat dan beberapa potong

makanan.

“Seorang cantrik mempunyai kecakapan membuat jenang

nangka. Nah, cobalah “Kiai Gringsing memper-silahkan.

Ketika Glagah Putih mencicipinya, maka iapun berdesis

“Enak sekali. Darimana cantrik itu belajar membuat jenang

nangka seperti ini? “Kiai Gringsing tersenyum. Katanya “Sejak

ia datang, ia sudah memiliki kepandaian itu. Menurut

keterangannya, ibunyalah yang mengajarinya. “

Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun setelah ia

makan jenang nangka beberapa potong, iapun mulai

menggenggam beberapa buah beton nangka yang direbus.

Ternyata beton nangka merupakan salah satu kegemarannya.

Apalagi di rebus dengan sedikit garam.

Demikianlah, beberapa saat kemudian, Kiai Gringsing mulai

bersungguh-sungguh. Katanya “Kau aku minta datang kemari,

karena ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu Agung

Sedayu. “Agung Sedayu mengangguk-angguk. Dengan nada

berat ia bertanya “Apakah Guru baru saja melakukan

perjalanan? “

“Ya “Kiai Gringsing mengangguk-angguk “tetapi bukan

perjalanan yang berat. Aku hanya sekedar melihat-lihat

keadaan. Sudah lama aku berada di padepokan ini tanpa

melihat dunia luar yang sebelumnya sering aku jelajahi. Rasarasanya

ada kerinduan untuk melihatnya. Karena itu, maka

aku memerlukan untuk berjalan-jalan selama kira-kira

sepekan. “

“Apakah guru berjalan-jalan ke Timur? “bertanya Agung

Sedayu. ~

 

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun

kemudian katanya dengan wajah tengadah “Berjanjilah,

bahwa tidak semua yang aku katakan kepadamu dan didengar

oleh Glagah Putih, akan kalian katakan kepada orang lain.

Kalian berdua harus pandai memilih, mana yang perlu

dikatakan kepada orang lain yang berkepentingan, dan mana

yang tidak.

“Aku berjanji guru “desis Agung Sedayu, sementara Glagah

Putihpun mengangguk. sambil berdesis “Aku mengerti Kiai. “

“Nah, kalian berdua adalah orang-orang yang paling aku

percaya di samping Swandaru. Aku tidak mencurigai

Swandaru bahwa ia akan melanggar pesanku. Tetapi kadangkadang

dengan tidak sengaja Swandaru telah mengatakan

sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan kepada orang yang

tidak berkepentingan. “

Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk.

Mereka memang dapat mengenal sifat dan tabiat Swandaru

dengan baik. Kadang-kadang tanpa disengaja apa saja

terlontar dari mulutnya. Apalagi jika ia sedang marah.

Dalam pada itu, dengan nada rendah dan bersungguhsungguh

Kiai Gringsing berkata “Aku pergi ke Madiun. “

Agung Sedayu dan Glagah Putih memang agak terkejut.

Meskipun mereka sudah menduga, bahwa kepergian Kiai

Gringsing itu ada hubungannya dengan kemelut yang semakin

tebal dilangit yang meliputi Mataram dan Madiun. Tetapi

mereka tidak mengira bahwa Kiai Gringsing langsung pergi ke

Madiun.

Apalagi ketika Kiai Gringsing berkata “Aku telah bertemu

langsung dengan Panembahan Madiun. “

“Guru “wajah Agung Sedayu menjadi tegang.

“Adalah satu kebetulan bahwa Panembahan Madiun

pernah mengenali aku meskipun bukan sebagai Kiai

Gringsing. Tetapi Panembahan Madiun mengenali cambukku.

“berkata Kiai Gringsing.

“Dan lukisan dipergelangan tangan itu “desis Agung

Sedayu pula.

 

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya kemudian “Siapapun

aku, namun aku telah berbicara dengan Panembahan Madiun.

“Guru membicarakan hubungan Madiun dengan Mataram?

“bertanya Agung Sedayu.

“Ya. “jawab Kiai Gringsing “namun menurut pendapatku,

keduanya sulit untuk dipertemukan. Meskipun

pada Panembahan Madiun dan pada Panembahan

Senapati terdapat keinginan untuk menyingkirkan kekerasan,

namun jalan pikiran keduanya sulit untuk dapat bertemu.

Lebih-lebih lagi di sekitar Panembahan Madiun terdapat

orang-orang yang sengaja membakar jantungnya. “

“Nampaknya memang demikian guru. Langkah-langkah

yang pernah diambil oleh orang-orang yang tidak langsung

mempunyai jalur hubungan dengan Panembahan Madiun

menunjukkan kemungkinan itu. “berkata Agung Sedayu.

“Tetapi Mataram harus berhati-hati. Madiun mampu

menghimpun kekuatan yang sangat besar. Dari segi jumlah

prajurit, Mataram tidak akan dapat mengimbanginya. Namun

mungkin dari sisi yang lain Mataram dapat mengisi

kekurangan itu. “berkata Kiai Gringsing.

Agung Sedayu dan Glagah Putih mengerutkan keningnya.

Dengan ragu-ragu Agung Sedayu bertanya “Jadi bagaimana

menurut pendapat Guru. Apakah ada pendapat yang harus

didengar oleh Panembahan Senapati? “

“Ya “jawab Kiai Gringsing.

“Jadi Guru akan menghadap Panembahan? “bertanya

Agung Sedayu.

Tetapi Kiai Gringsing nampaknya justru ragu-ragu. Bahkan

ia kemudian bertanya “Bagaimana jika kau saja?

Agung Sedayulah yang kemudian termangu-mangu.

Sejenak ia berpaling kepada Glagah Putih. Namun Glagah

Putihpun agaknya tidak mempunyai sikap tertentu.

Karena itu, maka Agung Sedayupun berkata “Guru.

Menurut pendapatku, sebaiknya Guru langsung bertemu

dengan Panembahan Senapati sebagaimana Guru bertemu

dengan Panembahan di Madiun. “

 

“Bukankah sama saja bagi Panembahan Senapati? “Kau

adalah muridku, sehingga kehadiranmu di Mataram adalah

atas namaku. “berkata Kiai Gringsing.

“Tetapi pengaruh jiwani atas Panembahan Senapati tentu

akan berbeda jika Guru sendiri yang datang menghadap

Panembahan Senapati. “berkata Agung Sedayu.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya “Mungkin ada

baiknya aku menghadap. Tetapi aku sekarang tidak lebih dari

seorang laki-laki tua yang lemah. “

“Jarak antara Jati Anom ke Mataram kurang dari sepertiga

jarak perjalanan antara Jati Anom ke Madiun. “berkata Agung

Sedayu kemudian.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya “Aku mengerti

maksudmu Agung Sedayu. Jika aku dapat berkeliaran sampai

Madiun, kenapa aku tidak dapat pergi ke Mataram. “

“Bukan maksudku Guru “sahut Agung Sedayu dengan serta

merta. “Aku hanya bermaksud agar persoalannya menjadi

lebih jelas. Tetapi terserah kepada Guru, jika Guru

memerintahkan aku menghadap, maka aku akan

menghadap. “Kiai Gringsing masih tersenyum. Sambil

mengangguk-angguk ia berkata “Baiklah. Aku akan

mempertimbangkannya. Namun Panembahan Senapati

memang harus bersiap-siap. Desakan yang datang dari

beberapa orang Adipati di daerah Timur kepada Panembahan

Madiun nampaknya tidak akan dapat terbendung lagi

betapapun Panembahan Madiun sendiri menganggap

Panembahan Senapati itu sebagai anaknya sendiri. Beberapa

Adipati menganggap bahwa Mataram adalah peletik api

sebesar kunang-kunang yang ada di dalam sekam. Api itu

harus segera disiram sebelum menjadi besar dan membakar

kekuasaan para Adipati yang nampaknya segan mengakui

ikatan kesatuan yang dikehendaki oleh Panembahan Senapati

Mereka menganggap bahwa dengan berdiri sendiri-sendiri

mereka akan dapat berbuat lebih leluasa tanpa menghiraukan

citra betapa besarnya kekuatan jika semuanya terikat dalam

satu kesatuan. Apalagi menghadapi kekuatan perdagangan

orang-orang asing di pasisir Utara yang semakin

ramai. Mereka bukan saja orang-orang yang ingin berdagang.

 

Tetapi mereka ternyata adalah orang-orang yang mulai

mencampuri persoalan-persoalan yang timbul di atas Tanah

ini. Mereka merambat dari lingkungan pasir pantai dan mulai

menginjak daratan. Mereka akan memasuki Tanah ini semakin

dalam. Menjelajahi hutan-hutan tanaman dan sawah-sawah.

Satu ketika mereka akan memasuki kota-kota dan bahkan

istana-istana. “

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Memang terbayang

diangan-angannya satu kekuatan asing yang muncul dari

lautan dengan kekuatan yang besar dan senjata yang

agaknya lebih baik dari senjata yang dimiliki oleh orang-orang

Tanah ini.

Ternyata bahwa Kiai Gringsingpun kemudian berkata,

“Besok kita pergi ke sanggar. Aku ingin menunjukkan

kepadamu, jenis senjata yang dapat melontarkan bara besi ke

sasaran yang jauh. Mungkin kau masih dapat

memperbandingkannya dengan kemampuanmu menyerang

dengan kekuatan sorot matamu. Tetapi hanya satu dua orang

yang memiliki ilmu seperti itu di Tanah ini. Sementara orang

asing itu akan dapat membawa beberapa peti senjata pelontar

bara api itu. “

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Hampir berdesis ia

berkata “Jika demikian, Tanah ini memang harus menjadi

satu. “Namun kemudian Agung Sedayupun bertanya

“Darimana Guru mendapatkan jenis senjata itu? “

“Ada beberapa buah di Madiun. Panembahan Madiun

ternyata berbaik hati memberikan kepadaku sebuah. “jawab

Kiai Gringsing. Namun katanya kemudian “Di Pajang terdapat

pula senjata-senjata semacam itu meskipun hanya satu dua.

Tetapi yang penting harus kita ketahui adalah, bahwa senjata

itu merupakan ancaman bagi keutuhan Tanah ini. “

Agung Sedayu masih saja mengangguk-angguk.

Sementara Kiai Gringsing berkata “Bagaimana juga, aku

sebentar lagi akan menjalani langkah-langkah terakhir dari

hidupku. Tidak seorangpun yang akan mampu menghindar

kan diri dari kematian. Karena itu aku tidak akan melihat apa

yang akan terjadi dalam waktu dekat sekalipun. Namun kau,

anak-anak yang lebih muda lagi seumur Glagah Putih, harus

 

lebih jauh memandang ke depan. Mungkin anak Untara itu

atau anak Swandaru yang bakal lahir akan mengalami

pergumulan yang lebih seru. Campur tangan orang-orang

asing adalah racun yang paling tajam bagi persatuan

penghuni Tanah ini. “

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun iapun

kemudian bertanya “Apakah Guru mengambil kesimpulan

bahwa Panembahan Senapati harus bergerak lebih cepat

untuk mempersatukan Tanah ini? “

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun

kemudian berdesis “Tidak semudah itu. Dibelakang kita banjir

bandang memburu, sementara dihadapan kita, hutan telah

terbakar dari ujung sampai keujung. “

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Satu masalah yang

sangat rumit akan dihadapi oleh Panembahan Senapati.

Selagi Agung Sedayu merenung, maka Kiai Gringsing puri

berkata pula “Nah, sebaiknya kau pergi ke Sangkal Putung

besok. Aku tidak akan memberitahukan banyak persoalan

kepadanya. Tetapi aku ingin memperingatkan agar ia bersiapsiap

menghadapi kemungkinan yang barangkali memang

menuntut kesiagaan tertinggi dari setiap unsur yang ada di

Mataram. “

“Baik. Guru “jawab Agung Sedayu.

“Mudah-mudahan Swandaru tidak mempunyai rencana

tersendiri sebelum aku sempat menghadap Panembahan

Senapati “berkata Kiai Gringsing.

Demikianlah untuk beberapa lamanya mereka masih

berbincang di pendapa. Namun angin malam yang dingin

nampaknya m