sam po tju 01

 

SAM PO TJU

( TIGA MUTIARA MESTIKA)

Oleh : Gan K.L.

Puncak kejayaan ilmu silat di Tiongkok ialah antara seabad sesudah pendudukan Boan-djing, kala itu ilmu silat dari berbagai cabang dan golongan sudah banyak mengalami perubahan dan perbaikan-perbaikan, di daerah Yuyan (kini Beijing) dan Kanglam (daerah selatan sungai Yang Tse) tidak sedikit Kiam-khek (pendekar silat) yang muncul dari dunia persilatan, mereka secara diam-diam bergerak di bawah tanah dengan tujuan untuk menggulingkan pemerintahan Boan-djing, tetapi di samping itu juga ada perebutan pengaruh dan pertempuran di antara berbagai cabang dan golongan ilmu silat itu.

     Cerita ini dimulai pada zaman dua atau tiga belas tahun setelah Kaisar Khong-hi naik takhta, ketika itu Ping-se-ong Go Sam-kui dan Tjing-lam-ong Kheng Tjin-tiong, dua orang raja muda bentukan pemerintah Boan-djing sendiri beruntun telah angkat senjata memberontak, Kaisar Khong-hi sendiri telah mengatur siasat untuk menggempur pemberontakan itu, ia mengangkat Pangeran Lirkim sebagai Ping-lam-tjing-go-tjiangkun atau Panglima besar penggempur ke selatan dan pengamanan terhadap pemberontak (kira-kira seperti komandan operasi militer pada zaman sekarang).

     Di samping itu, ia juga mengirim berbagai pasukan dalam jumlah besar yang dipimpin oleh Panglima-panglima kepercayaannya yang lain untuk menduduki Hingtjiu dan Gaktjiu. Demikian juga Jenderal-jenderal lainnya memasuki Hantiong dan Hokkian sehingga merupakan garis pengepungan. Di sisi lain, ia mengambil tindakan hukuman mati terhadap semua bawahan dan sanak famili dua raja muda pemberontak itu yang tinggal di kotaraja. Karena tindakan Khong-hi tersebut, seketika seluruh negeri menjadi gempar.

     Sesudah mengalami pertempuran selama setahun, gerakan tentara Boan ternyata berhasil dengan baik, karena tak tahan oleh berbagai pukulan yang dialaminya, tak lama kemudian Go Sam-kui meninggal. Cucunya, Go Se-bwan, kemudian diangkat oleh bekas bawahannya untuk menggantikan kedudukan sang kakek, dan terus bertahan melawan tentara Boan di daerah Ouw-lam. Di pihak lain, Kheng Tjin-tiong yang berkedudukan di Hokkian telah bekerja-sama dengan The King yang pada waktu itu berkedudukan di Taiwan, mereka merongrong pemerintahan Boan dari berbagai penjuru pantai, tetapi tak urung mereka pun terkepung hingga terpaksa bertahan di suatu daerah yang sempit dan terpencil.

     Karena pengaruh kerusuhan di tahun-tahun itu, di propinsi Kangsay, Ouwlam, Ouwpak dan lain-lain, maka banyak kaum gagah perkasa dari Kangouw (pengembara), pahlawan dari berbagai perkumpulan gelap dan tidak terkecuali pula golongan agama dan partai-partai liar yang mengambil kesempatan itu untuk memperkeruh suasana. Mereka menghadang dan merampas bahan-bahan makanan serta menggempur pasukan pemerintah secara mendadak, bahkan banyak pula yang berkeliaran merampok sini dan menggarong sana.

     Panglima besar pasukan Boan-djing, Pangeran Lirkim, mengetahui bahwa sisa-sisa pasukan pemberontak belum dapat dibersihkan seluruhnya, maka ia menggunakan kesempatan itu untuk menarik sebagian tentaranya guna menyapu gerakan melawan Boan-djing di berbagai daerah itu. Siapa saja asal dicurigai, tanpa ampun lagi segera ditangkap, lalu dipenjarakan atau dibunuh.

     Pejabat-pejabat militer bangsa Boan-tjiu memang mempunyai pedoman : Daripada musuh lolos, lebih baik salah membunuh atau bunuh dahulu perkara belakangan. Secara kejam tidak sedikit rakyat bangsa Han yang sudah terbunuh, dan mereka mati penasaran, jiwa manusia dipandang seperti jiwa binatang belaka.

     Di daerah selatan Kangsay, sekitar kabupaten Hinkok dan Itoh, terkenal dengan pegunungannya yang bertanah tandus dan miskin. Karena hari-hari yang dilewati dalam suasana kacau dan musim paceklik pula, maka tak tahan lagi oleh siksaan kelaparan dan kedinginan, rakyat dipaksa ke jalan yang sesat, mereka menghimpun dan memperkuat pengaruhnya sendiri-sendiri, di antaranya termasuk gerombolan dari golongan agama dan partai-partai liar yang paling kuat. Waktu itu justru yang berkedudukan di Kantjiu (ibukota propinsi Kangsay) ialah Bok-tjan, terkenal sebagai manusia yang kejam dan suka membunuh, sampai-sampai bawahannya pun ikut-ikutan ketularan kesukaan atasannya itu. Tiap hari pasti ada tawanan-tawanan dalam jumlah besar yang dibunuh di atas bukit, di jalan raya pun sering kali terlihat mayat tawanan yang dibuang dalam jumlah banyak.

     Pada suatu hari. di jalan raya Itoh, ada sepasukan kecil tentara dengan menggiring serombongan tawanan sedang menuju ke Po-hong-nia (bukit Po-hong). Di antara rombongan tawanan itu terdapat laki-laki dan wanita, bahkan diikuti juga dengan anak-anak, jumlah seluruhnya ada kira-kira belasan orang. Dari jauh terlihat bagaikan mayat hidup yang berjalan lewat dengan menyeret langkahnya yang berat.

     Kebanyakan dari tawanan laki-laki itu tanpa mengenakan baju atau setengah telanjang hingga deretan tulang-tulang iga mereka tertampak dengan jelas, sedang tawanan wanita bermata cekung saking kurusnya, pakaian mereka pun begitu kotor melebihi pengemis yang paling kotor sekalipun. Dengan kaki telanjang tanpa sepatu, mereka berjalan di atas jalanan pasir tandus yang tak berumput itu, karena panggangan sinar matahari yang panas terik, kaki mereka menjadi lecet berair, lidah mereka me-lelet dengan napas memburu seperti anjing kehausan, tetapi di-mana mereka lewat tak ada sebatang rumput pun yang tumbuh saking keringnya, apalagi untuk mencari mata air.

     Pengiring tawanan ini adalah sebarisan kecil serdadu Boan-tjiu, mereka tidak paham bahasa Han. Pemimpinnya seorang opsir rendahan yang berkumis hitam tebal, tiada hentinya dia mengusap keringatnya yang bercucuran sambil duduk di atas kudanya, meskipun dia bertopi lebar untuk mengalingi sinar matahari, tetapi dia masih merasa seperti berjalan di tepi gunung berapi saja, beberapa kali dia harus mengambil gendul berisi air dan ditegukkan ke mulutnya.

     Tiba-tiba di antara rombongan tawanan itu terdengar suara jeritan, beberapa orang serdadu yang membawa golok besar dan berjalan di depan segera berlari ke bagian belakang.

     Ternyata seorang wanita setengah umur yang berkaki kecil di antara para tawanan itu mendadak jatuh pingsan, di sampingnya seorang bocah perempuan berumur sekitar 7 atau 8 tahun sambil berlutut sedang berteriak-teriak memanggil ibunya dan kedua tangannya tiada hentinya menggoyang-goyang tubuh wanita tadi. Dalam pada itu, dari rombongan itu seorang laki-laki yang kakinya masih menyeret borgol yang kuat dan berat datang menghampirinya, waktu menyaksikan wanita yang pingsan tadi, tak tahan lagi beberapa tetes air matanya mengalir.

"Eng-ma (ibu Eng), mengapakah kau?" tanyanya.

Tetapi sudah tentu tak mungkin terdengar oleh wanita itu.

     "Tarrr!" tiba-tiba suara pecut kulit berbunyi, punggung si lelaki tadi telah kena sekali cambukan, serdadu Boan-tjiu yang menggiring di samping mereka sedang mencaci-maki dengan bahasa mereka.

     Karena terkena cambukan itu, lelaki tadi tersungkur di pinggir jalan, beberapa kawan setawanan yang berusia lebih muda lekas maju membangunkan laki-laki itu, bagaikan srigala menyalak, lelaki tadi sesambatan tanpa bisa mengeluarkan air mata lagi, tiada hentinya ia menoleh memandang wanita yang sedang pingsan itu.

     Opsir bangsa Boan-tjiu itu segera memerintahkan bawahannya untuk menyeret bangun wanita tadi dan matanya dijelikan untuk diperiksa, serdadu yang diperintah itu terlihat menggeleng kepala dan entah apa yang dikatakannya, setelah mendapat perintah sekali lagi, segera ia mengangkat goloknya dan memenggal kepala wanita itu, seketika tubuh wanita itupun terguling. Bocah perempuan tadi menangis melolong sambil berjingkrakan, sedang lelaki yang di depan tadi mendadak berhenti sesambatan, ia mendongak memandang dengan sepasang matanya yang merah berapi karena gusarnya kepada opsir berkumis itu.

     Setelah dekat magrib, rombongan 'mayat berjalan' yang kehilangan kemerdekaan itu baru sampai di suatu sungai kecil di bawah bukit, opsir berkumis segera memberi komando, semua orang lantas berhenti di situ.

     Serdadu-serdadu Boan-tjiu begitu melihat air sungai langsung berlarian saling mendahului untuk minum sekenyang-kenyangnya. Seorang tawanan juga seperti kesetanan berlari hendak minum, tetapi segera ia dipapaki dengan sebuah cambukan hingga jatuh menggelongsor, batok kepalanya tertumbuk batu besar di pinggir jalan hingga pecah dan otaknya berantakan, sebaliknya serdadu-serdadu Boan-tjiu tertawa terbahak-bahak dan menendang ke samping mayat tawanan itu, kemudian mereka membentak memerintahkan semua tawanan untuk berjongkok. Setelah opsir berkumis tebal itu sudah cukup mengaso, barulah ia memperkenankan beberapa anak dari rombongan tawanan itu untuk minum di tepi sungai.

     Di tepi sungai penuh dengan tumpukan batu yang sudah berlumut dan licin, seorang anak mencoba merangkak ke atas sebuah baru, dengan tengkurap ia meraup air dengan tangannya, karena kurang hati-hati, tiba-tiba ia terjungkal ke bawah. Sungai kecil di pegunungan itu walaupun dangkal, tetapi anak kecil yang terjerumus masuk bisa tenggelam juga. Bocah yang terjerumus tadi muncul dua kali ke atas permukaan air dan kemudian kerupukan di dalam air. Serdadu Boan yang berdiri di tepi sungai bukan saja mereka tidak lantas menolong, sebaliknya mereka malah merasa geli dan tertawa terpingkal-pingkal.

     Tiba-tiba terdengar suara "Plung," ada orang telah terjun ke dalam sungai, dengan sekali gerakan orang itu berhasil menolong bocah yang terjungkal ke sungai tadi dan terus merangkak naik ke atas sebuah batu.

     Waktu semua orang menegasi, penolong itu ternyata bukan lain ialah bocah perempuan yang kehilangan ibunya itu, rambutnya yang basah kuyup makin menunjukkan sepasang matanya yang hitam bundar dan tampak menarik.

     Melihat kejadian tadi, si opsir berkumis hitam tebal hanya tertawa cekikikan, entah tertawanya ini sebagai pujian terhadap keberanian bocah perempuan tadi atau mungkin tertawa tanda setuju dengan bawahannya yang tadi hanya berpeluk tangan saja melihat bahaya yang menimpa sang bocah.

     Kemudian ia maju menarik bangun kedua tawanan cilik tadi, sesudah itu ia memberi tanda memperbolehkan para tawanannya yang sudah hampir mampus kehausan itu untuk minum. Sudah tentu bukan main girangnya para tawanan itu, seakan-akan ikan mendapatkan air. Mereka merendam kepala ke dalam air sungai dan minum sepuasnya.

     Pada waktu itu juga, beberapa serdadu di antaranya seperti telah menemukan sesuatu, mereka berteriak-teriak menuju ke atas bukit. Kiranya dari jalanan kecil di atas bukit itu ada dua orang dusun sedang berjalan mendatangi, waktu mereka melihat ada serdadu Boan, segera mereka mengkerut menyembunyikan diri ke belakang batu-batu besar pegunungan yang banyak terdapat di situ.

     Dengan sebuah bentakan, si opsir berkumis itu memburu dengan golok terhunus, dalam sekejap saja ia telah dapat meringkus kedua orang tadi, ternyata kesemuanya adalah kakek-kakek yang sudah berusia lebih dari setengah abad, kepala mereka memakai caping, berbaju kain kasar dan bercelana pendek biru yang sudah compang-camping penuh tambalan di sana-sini. Tangan mereka menjinjing bakul dari bambu yang sudah bobrok berisikan penganan berbentuk bundar terbuat dari jagung, dan ada pula tempurung yang berisi madu tawon. Waktu opsir itu memerintahkan menggeledah tubuh mereka, namun sudah tidak menemukan sesuatu barang lain lagi.

     Sementara itu kedua kakek telah berlutut memohon ampun. Opsir berkumis mengambil penganan dari jagung itu, ia meremas beberapa di antaranya untuk diperiksa dan segera dibuangnya ke tanah. Seperti kuatir kehilangan sesuatu, si kakek menjemput penganan yang dibuang itu. Si opsir mengamati mereka, tetapi tiada sesuatu yang mencurigakan, ia memandang pula madu tawon yang ada di dalam bakul, tak tahan lagi ia mengulur tangannya dan merebutnya, kemudian ia menendang mereka agar pergi.

     Kena ditendang dan roboh, dengan menahan sakit kedua orang tua itu kemudian merangkak bangun dan setindak demi setindak lantas berlalu.

     Melihat mereka sudah pergi, si kumis mengulur jarinya dan dicelupkan ke dalam madu tawon yang berada dalam tempurung itu, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya, agaknya rasanya manis enak, lantas ia perintahkan juga pada serdadunya agar mengambil air bening dengan wadah semacam tempurung, lalu ia mencampurkan sedikit madu terus diminum.

     Serdadu-serdadu Boan-tjiu itu melihat opsirnya minum dengan bernapsu dan terlihat nikmat sekali, mereka menjadi mengiler, memang saat itu suhu udara terlalu panas, mereka tentu ingin membasahi sedikit tenggorokan mereka dengan madu tawon itu juga. Susah payah mereka menanti dengan tidak sabar, baru sejenak kemudian tertampak si kumis melambaikan tangannya, maksudnya tentu akan diberikan kepada mereka untuk dibagi rata, maka tanpa perintah untuk yang kedua kalinya secara beramai-ramai para serdadu itu segera menyerbu tempurung madu dan saling berebutan, keruan saja dalam sekejap madu tawon itu sudah tak tersisa setetes pun.

     Sang surya telah tenggelam ke barat, rombongan orang-orang itu pun tiba di suatu tempat yang agak tinggi, dari jauh mereka melihat ada asap mengepul, ternyata di depan mereka terdapat sebuah dusun yang disebut Bho-thau-tjun.

     Si kumis tadi mengeprak kudanya mendahului berjalan, tetapi sekonyong-konyong terdengar kudanya meringkik, dan si kumis terguling jatuh. Waktu serdadu bawahannya bermaksud mendukungnya bangun dan memeriksa, terlihat matanya mendelik dan dari mulutnya keluar busa. Keruan saja seluruh rombongan menjadi gempar oleh kejadian yang mendadak itu.

     Wakil pimpinan rombongan segera memerintahkan mengawasi semua tawanan, tetapi dalam sekejap itupun ia sendiri merasa kepalanya pening dan tak tertahankan lagi. Ia masih sempat memandang bawahannya, namun serupa saja, serdadu-serdadu itupun pada roboh terguling bergelimpangan, terang mereka sudah terkena obat tidur.

     Dalam pada itu dari belakang tanah tinggi itu terdengar ada suara tertawaan orang yang terbahak-bahak, menyusul mana lima atau enam orang laki-laki muncul, dua orang kakek yang tadi didupak pergi termasuk di antara mereka, yang berjalan di depan adalah seorang laki-laki tegap setengah umur, tangannya mencekal golok, kepalanya memakai ikat kain hitam, kedua lengannya telanjang, secarik angkin merah mengikat di pinggangnya dan kakinya memakai 'tjhau-eh' (semacam sepatu sandal terbuat dari rumput, dipakai oleh rakyat petani di musim panas).

     Setelah berhadapan dengan rombongan tawanan itu, laki-laki tegap tadi memandang ke arah rombongan tawanan itu, agaknya seperti hendak mencari seseorang di antara mereka. Melihat lelaki tegap itu, si bocah perempuan tadi segera berlari mendekat sambil berseru, "Teng-sioksiok, tia (ayah) berada di sana!"

Lalu tangannya yang kecil menunjuk ke arah tawanan yang diborgol dan bermata merah berapi tadi. Laki-laki tegap itupun segera menghampirinya sambil menyelipkan goloknya ke ikat pinggang, ia merangkul orang itu sambil mencucurkan air mata.

     "Oh, Pek-djiko, kau telah disiksa sampai begini rupa, hingga aku hampir tak mengenalimu lagi!" katanya kemudian dan terus saja ia melolos goloknya lagi untuk merusak borgol dan rantai yang berada di tubuh orang itu.

     Sementara itu, kawan-kawan yang datang bersamanya dapat merebut semua toato atau golok besar dari para serdadu Boan-tjiu, bagaikan memotong semangka dan merajang sayur, dalam sekejap saja mereka sudah membereskan semua serdadu musuh.

    "Hai, saudara-saudara!" tiba-tiba orang yang dipanggil Pek-djiko tadi berseru. "Ringkus dulu si anjing berkumis itu, jangan biarkan ia mampus secara begitu mudah!"

     Lelaki tegap itu segera menjawab dan ia maju sendiri untuk meringkus si opsir berkumis tebal itu. Dalam pada itu jalan besar itu tertampak telah didatangi pula serombongan orang.

     "Djiko, jangan kaget, mereka adalah saudara-saudara sekampung," seru lelaki tegap she Teng itu sambil berpaling waktu melihat ada serombongan orang lain yang datang lagi.

     Tidak berselang lama, rombongan >ang baru datang itu telah tiba pula, mereka semua membawa arit, pacul dan kampak sebagai senjata, di samping itu mereka membekal pula sedikit makanan. Dari rombongan yang baru datang itu, sekonyong-konyong seorang anak laki-laki kurus jangkung berlari-lari ke depan si bocah perempuan tadi sambil memegang kencang kedua tangannya.

    "Eng-koh, kau tentu telah menderita," kata anak laki-laki itu. "Tadi aku akan datang terlebih dahulu bersama mereka, tetapi tia tidak mengizinkan."

     Kemudian tanpa menghiraukan lagi pandangan mata orang banyak, ia menarik bocah perempuan itu ke samping bakul yang berisikan makanan, melihat itu dia terus bungkam tanpa berkatakata, setelah ia mengamat-amati, barulah ia tahu bahwa mukanya telah basah dengan air mata.

     "He, apakah kau tidak enak badan?" tanya si bocah laki-laki itu dengan heran.

Eng-koh menggeleng kepala.

"Ibuku telah meninggal!" jawabnya dengan singkat.

     Karena perkataannya ini, lelaki tegap yang berada di sampingnya pun sampai ikut terkejut.

     "Bagaimana dengan Dji-ma? Betulkah dia telah meninggal?" ia menoleh dan bertanya pada orang she Pek tadi. Baru kini ia teringat bahwa di antara para tawanan itu memang betul tidak terdapat ibu Eng-dji.

     Saat itu juga di belakangnya timbul suara gedebukan, ternyata orang yang dipanggil sebagai Pek-djiko itu telah jatuh pingsan saking berdukanya. Dalam keadaan ribut itu, lekas mereka berusaha menyadarkannya kembali.

     Sementara itu hari sudah gelap, lelaki she Teng tadi memberi perintah kepada kawan-kawannya, mereka melucuti semua rantai dan borgol para tawanan dan memberikan mereka masing-masing sedikit makanan, kemudian ia memerintahkan pula mencopoti semua pakaian para serdadu Boan-tjiu yang sudah mereka bunuh semua, mayatnya mereka gotong dan dibuang di tempat sepi. Dengan hasil rampasan senjata dan pakaian seragam yang tidak sedikit itu, barulah kemudian mereka kembali ke kampung halaman dalam keadaan gelap.

so 3S es

     Kiranya di dalam rombongan tawanan buangan itu, orang yang dipanggil Pek-djiko tadi bernama Pek Ting-djoan, seorang guru sekolah di Tjiok-ge-tjun, di tepi sungai Bwe-kang, selaun Kangsay. Dalam ilmu sastra, Pek Ting-djoan cukup mempunyai dasar yang baik, ia paham pula sedikit ilmu silat. Di I jiok gc tjun atau kampung Tjiok-ge, ia cukup terkenal dan disanjung oleh penduduk sekampung.

     Dalam kampung Tjiok-ge itu terdapat pula seorang guru silat yang bernama Teng Ling, tidak sedikit dari kalangan muda yang menjadi muridnya. Dengan Pek Ting-djoan, dia merupakan satu bun dan satu bu yang membuka sekolah di satu tempat yang sama, oleh karena itu hubungan mereka berdua sangat baik dan rapat. Mareka sama-sama mempunyai jiwa patriot dan darah panas, di waktu senggang bila mereka berkumpul, tentu yang mereka percakapkan ialah soal cara bagaimana menghimpun semua pahlawan dan orang-orang gagah dari seluruh negeri untuk bersama-sama bergerak dalam pekerjaan yang maha besar itu.

     Tiada sesuatu yang tak terkabul asal ada kemauan. demikian kata peribahasa. Maka selang tidak lama mereka pun sudah mendapatkan banyak kawan-kawan seperjuangan setempat dan bergerak secara gelap.

     Teng Ling mempunyai seorang putra bernama Hong-ko atau lengkapnya Teng Hong-ko, ia terlahir dengan otak tajam dan roman muka cakap. Istri Pek Ting-djoan, Pek Dji-ma. juga melahirkan seorang putri dan diberi nama Eng-dji atau Pek Eng-dji, usianya tiga tahun lebih tua dari Teng Hong-ko. Kedua bocah itu masing-masing mengikuti orang tua mereka belajar bun dan bu (ilmu sastra dan ilmu silat), di kala senggang mereka selalu bermain bersama sebagaiman umumnya di kalangan anak-anak.

     Eng-dji berayah cendekiawan, sudah tentu soal membaca ia jauh lebih banyak daripada Hong-ko, sebaliknya dalam hal bermain silat, sudah tentu pula ia tak bisa menyamai Hong-ko, oleh karena itu kalau sewaktu mereka berkumpul, tentu mereka saling menukar pelajaran apa yang sudah mereka dapat, dua sejoli cilik ini meskipun belum mengerti arti cinta asmara, tetapi kalau sehari tak bertemu saja, mereka lantas merasa kesal.

     Tahun itu, di daerah selatan Kangsay berjangkit suatu penyakit dan bahaya kelaparan, kaum miskin banyak yang menyingkir ke tempat lain untuk mencari nafkah, akibat dari itu, di sekolah Teng Ling dan Pek Ting-djoan pun tinggal tersisa dua-tiga orang murid saja, keruan ongkos penghidupan mereka menjadi persoalan juga, dan justru pada saat itu ada seorang hartawan dari kampung Tiang-sing-su yang berjarak ratusan li (satu li kurang lebih seperempat kilometer) dari kampung Tjiok-ge, telah menyuruh orang untuk mencari Pek Ting-djoan agar ke rumahnya untuk memberi pelajaran beberapa anak muridnya dengan uang jasa yang sangat besar, sudah tentu Pek Ting-djoan menerima tawaran itu dan ia segera berangkat ke tempat yang baru beserta anak istrinya.

     Istri Teng Ling sudah lama meninggal, maka pada waktu hendak berpisah, ia hanya membawa putranya, Hong-ko, mereka mengantar hingga jauh. Kedua orang tua itu melihat sepasang putra-putri cilik merasa berat untuk berpisah, secara lisan mereka pun berjanji untuk mengikat tali perbesanan.

     "Laute, menurut penglihatanku, sekolahmu pun tak mungkin diteruskan lagi, lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Pek Ting-djoan.

    "Memangnya Siaute justru hendak mengemukakan kepada Hengtiang," sahut Teng Ling. "Beberapa hari berselang, pahlawan dari He-ho-tje, Hoa Dji-tjun, telah mengajak Siaute ke sana untuk memberi pelajaran silat kepada para bawahannya, aku merasa bisa mendapat kemajuan juga di sana, maka aku telah menerima ajakannya."

     "Apakah yang kau maksudkan Hoa-djitjetju?" tanya Pek Ting-djoan pula. "Orang ini walaupun betul seorang gagah, tetapi kalau Laute ikut masuk ke dalam gerombolan mereka, kelak kalau pembesar negeri mencium, waktu itu tak mungkin kau bisa kembali lagi tinggal di Tjiok-ge-tjun."

     "Djiko," sahut Teng Ling dengan tertawa. "Keadaan kini kacau-balau, jiwa manusia tidak lebih berharga dari jiwa binatang, seumpama kau hendak menjadi rakyat yang prihatin, toh tidak jarang menjadi korban kaum pembesar negeri yang sewenang-wenang, ditangkap atau dibunuh sesukanya. Kabarnya belakangan ini tidak sedikit yang sudah masuk ke dalam perkumpulan Thian-te-hwe dan Pek-lian-kau, kita hendak bercokol di sini, sedikitnya kita harus mendapatkan sandaran yang mempunyai pengaruh."

     Pek Ting-djoan tidak menjawab, ia hanya manggut-mang-gut saja tanda setuju dengan perkataannya, sambil bercakap-cakap sepanjang perjalanan, tidak terasa mereka sudah berjalan lebih dari belasan li.

    "Jauh-jauh mengantar, akhirnya harus berpisah juga, biarlah Siaute kembali saja, harap Djiko dan Titli (keponakan perempuan) bisa menjaga diri baik-baik!" ujar Teng Ling akhirnya. Kemudian mereka berpisah dalam suasana haru.

     Sesudah sampai di Tiang-sing-su, Pek Ting-djoan memangku pekerjaannya yang baru sebagai guru pengajar dari hartawan Ong Bing. Setelah agak lama ia tinggal di situ, barulah ia mengetahui bahwa Ong Bing sebenarnya ialah pemimpin Pek-lian-kau atau agama Teratai Putih, sebuah perkumpulan rahasia dengan ajaran ilmu hitam, oleh anggota-anggota dari perkumpulan itu di Kang-say dan daerah selatan, Ong Bing disebut sebagai 'Thong-thian-kiu-tju' atau Dewa penolong seluruh jagad.

     Ong Bing sebenarnya adalah seorang hartawan yang kaya raya di tempat itu, kekuasaan setempat tergenggam di dalam tangannya, keh-ting (centeng) bawahannya saja sudah lebih dari ratusan orang, oleh karena itu pihak pemerintah tidak pernah menyangka dan mencurigai dia sebagai pemimpin besar agama liar itu.

     Tahun itu kebetulan juga Djing-ting (kerajaan Boan-djing) menggerakkan tentaranya untuk menggempur pemberontakan dua raja muda di daerah barat daya, justru daerah-daerah itu sedang diamuk oleh paceklik dan bahaya kelaparan, maka penderitaan rakyat jelata susah untuk dilukiskan, banyak sekali rakyat yang telah diseret oleh tentara Boan dan dijadikan Thian-hu (semacam romusa).

Di daerah selatan Kangsay, kaum Liok-lim-ho-kiat atau orang-orang gagah dari golongan begal besar (Liok-lim adalah nama lain dari kaum perampok dan begal) telah bersekongkol dengan orang-orang agama dan partai-partai liar untuk menghasut kaum miskin merampok dimana-mana sehingga menerbitkan kekacauan setempat, dengan cara demikian mereka memberi pukulan pada pasukan Boan secara tidak langsung. Sementara itu di He-ho-tje, gerombolan bajak dari Hoa Dji-tjun, sejak Teng Ling ikut masuk gerombolan mereka dan melatih pengikut-pe-ngikutnya, mereka juga telah mementang sayap dengan cepat dan giat, sampai kini gerombolan ini sudah lebih dari dua ribu jiwa banyaknya, meliputi pasukan sungai dan darat serta tersebar di sekitar sungai Bwe-kang, mereka hanya menanti kesempatan untuk bergerak.

     Setelah Teng Ling berada di He-ho-tje, tidak pernah ia melupakan Pek Ting-djoan. Sang tempo lewat dengan cepat, dan sudah tiba masa 'ikatan dinas' Pek Ting-djoan berakhir, namun masih belum tampak yang tersebut belakangan ini bersurat padanya. Sementara itu putranya, Teng Hong-ko, kini sudah menginjak usia sebelas tahun, dalam hal ilmu silat sudah banyak mendapat kemajuan.

     Menunggu sesudah lewat tahun, Teng Ling lantas membawa Hong-ko diam-diam kembali ke kampung mereka yang dulu, Tjiok-ge-tjun, tetapi yang mereka dapatkan di pedusunan itu hanyalah keadaan yang sepi-senyap, tiap pintu rumah tertutup rapat. Waktu mereka mencari tahu, barulah mengerti bahwa beberapa bulan ini sudah sering kedatangan alat-alat negara untuk menangkap orang, banyak kaum muda yang kuat telah berlari menyingkir ke tempat lain, yang masih tertinggal hanyalah sedikit, itupun mereka yang sudah tua reyot.

     Menyaksikan keadaan itu, perasaan Teng Ling tertusuk, keesokan paginya ia lantas meninggalkan tempat itu bersama putranya, mereka menuju ke Tiang-sing-su untuk mencari kabar sahabat lamanya, Pek Ting-djoan.

Begitu memasuki kampung tujuan mereka, segera mereka melihat keramaian yang luar biasa dalam kampung itu, orang berjalan simpang-siur dan kian-kemari, di rumah-rumah makan dan penginapan pun penuh berjubel dengan para tetamu, ternyata banyak kaum hartawan dari tempat-tempat di sekitar situ telah mengungsi semua kemari. Begitu Teng Ling bertanya, segera ada orang membawa mereka ke rumah keluarga Ong, di depan pintu mereka melihat penjagaan bagitu keras, tidak berapa lama kemudian tertampak Pek Ting-djoan mendatangi untuk menyambut mereka dan menyilakan masuk dan duduk di suatu kamar baca.

     Keadaan Pek Ting-djoan ternyata sudah banyak berlainan, kalau dulu berkain kasar dan berbau miskin, maka kini wajahnya gemuk dan bercahaya, kain pakaiannya sebangsa sutra yang halus.

     Di samping kamar baca itu, bergandengan dengan sebuah paviliun yang berkamar susun, waktu Pek Dji-ma dan Eng-dji mendapat kabar, mereka pun lantas datang menjumpainya. Baru setelah itu Teng Ling mengetahui bahwa sesudah Pek Ting-djoan mengajar di keluarga Ong, soal makan, tempat tinggal dan pakaian semuanya terpenuhi secukupnya, maka tak heran kalau ia tidak ingin kembali ke tempat asalnya lagi.

     Di pihak lain, Eng-dji bisa bertemu dengan Hong-ko, ia pun masih tetap serupa seperti sedia-kala, dengan menggandeng tangan kawan ciliknya ini, ia bertanya panjang lebar.

     "Semula setelah sampai di sini, aku hanya mengira sebagai guru sekolah biasa saja," demikian tutur Pek Ting-djoan waktu ditanya oleh Teng Ling tentang keadaannya setelah berpisah. "Tetapi majikanku, Ong Bing, meladeni aku dengan sangat menghormat dan serba kecukupan, malah telah mengangkatku merangkap sebagai sekretarisnya, bisa memperoleh kecocokan paham, hal ini sungguh di luar dugaanku. Hiante, harap kau mau berdiam barang satu-dua hari di sini, biar kita bisa mengobrol lebih banyak lagi tentang keadaan kita sesudah berpisah."

     Dan begitulah dua saudara yang berlainan she tetapi cocok dan sepaham itu bercakap-cakap sepanjang malam di kamar baca dalam kamar tidur itu.

    "Hiante denganku adalah sahabat sehidup-semati, tiada halangannya aku berterus-terang," Pek Ting-djoan berkata. "Majikanku Ong Bing itu sebenarnya bukan lain ialah Thong-thian-kiu-tju dari Pek-lian-kau di daerah selatan Kangsay ini, kini anggotanya sudah ada beberapa puluh ribu orang. Terhadap diriku, majikan pun sangat menjunjung dan menganggapku sebagai orang kepercayaannya, banyak urusan besar yang ditanganinya selalu mengajakku untuk dirundingkan, hakikatnya selangkah pun kami tidak pernah berpisah, oleh karena itu sesudah masa dinasku berakhir dalam tahun ini, aku masih ditahan terus untuk tinggal di sini."

     Teng Ling terkejut oleh keterangan ini, ia tidak menduga bahwa Thong-thian-kiu-tju yang tersohor di kalangan Kangouw itu adalah Ong Bing, majikan sahabatnya ini, di luaran orang ini terkenal pandai ilmu gaib dan ilmu hitam (black magic). Kemudian ia pun menceritakan kepada Pek Ting-djoan keadaan yang menyedihkan di kampung halaman mereka dimana ia telah menyaksikan sendiri.

     Sudah setahun lamanya mereka berpisah, maka asyik sekali mereka bercakap-cakap sampai hampir mendekati pagi mereka masih belum tidur.

    "Djiko, apakah kau sudah masuk menjadi anggota Pek-lian-kau?" tanya Teng Ling.

     "Sebenarnya," jawab Pek Ting-djoan setelah berdiam sejenak, "Setengah tahun yang lalu aku sudah bersumpah darah ih hadapan Tjo-su (pendiri agama mereka yang sudah wafat) dan telah masuk menjadi anggota, kini jabatanku ialah kim-su (kepala staf) kedudukanku hanya di bawah ketua dan wakil ketua saja, peraturan dalam agama kami sebenarnya sangat kei.is menurut aturan tidak boleh dikatakan kepada siapa pun m.ik.i hai.ip Hiante suka menutup rahasia ini?"

     Habis itu ganti ia yang bertanya tentang bagaimana keadaan di pihak Hoa Dji-tjun di He-ho-tje, secara singkat Teng Ling pun memberi keterangan seperlunya. Tiba-tiba suara ayam jago berkokok di waktu subuh telah terdengar, kuatir kalau didengar oleh orang di luar jendela, lalu Teng Ling tidak meneruskan lagi ceritanya.

     Esok paginya Pek Ting djoan mengajak Teng Ling menjumpai Ong Bing di taman belakang rumah itu, di taman itu penuh tumbuh-tumbuhan dengan tanaman yang rindang dan terdapat panggung bertingkat. Usia Ong Bing sudah lebih setengah abad. Ia mengenakan dandanan sebagai imam, rubuhnya besar, kekar dan berjenggot cabang tiga, sinar matanya tajam, di sampingnya berdiri empat orang kacung yang memegangi hio-lo (tempat dupa) dan kipas bulu, serta pengebut dan alat-alat seban gsanya.

     Berhadapan dengan Teng Ling, Ong Bing ternyata sudah tahu bahwa dia adalah tangan kanan Hoa Dji-tjun, agaknya terhadap seluk-beluk keadaan di He-ho-tje ia banyak mengetahui.

    "Kalau Teng-enghiong adalah sahabat baik Pek-heng, urusan di sini harap suka menolong sedikit, sekembalinya hendaklah lantas saling berhubungan," kata Ong Bing pada Teng Ling.

     Teng Ling menjawab baik, dalam hati ia pun memuji kecepatan kabar yang telah Ong Bing peroleh.

     Sesudah tinggal beberapa hari, lalu ia berpamitan pada Pek Ting-djoan, sementara itu, Hong-ko dan Eng-dji pun merasa sayang harus berpisah kembali.

     "Hong-ko, kau telah berjanji padaku Tian-ngo (bulan lima tanggal lima) akan datang ke sini menonton pek-tjun, harap jangan kau mendustai aku!" pesan wanti-wanti bocah perempuan itu sambil mengusap air matanya yang meleleh, ia mengantar sampai di luar kampung.

     Sang tempo lewat dengan cepat, dalam sekejap saja musim kering atau musim panas sudah tiba, sejak menginjak musim semi, lepas dari biasa, tidak pernah setetes air hujan pun yang turun, tanah sawah sudah retak pecah saking keringnya, di daerah sekitar Hinkok, Lingtoh, dan Suikim, gerombolan pengacau merajalela, bahkan rangsum militer pemerintah saja kadang-kadang dicegat di tengah jalan. Oleh karena itu, dua pejabat militer Boan-tjiu, Bok-tjiam dan Tju-boan oleh atasan mereka telah diperintahkan mengadakan operasi terhadap gerombolan pengacau itu di dusun-dusun tadi.

     Dalam pada itu pembesar-pembesar Boan-djing sudah mulai menaruh curiga terhadap gerak-gerik hartawan yang kaya raya di Tiang-sing-su itu, soalnya karena semua kota distrik maupun kampung-kampung di sekitar situ mengalami perampokan dan pengacauan yang habis-habisan, hanya melulu Tiang-sing-su yang tidak mengalami petaka itu, sebaliknya malah tertampak makin hari makin subur dan makmur. Diperoleh kabar pula bahwa Ong Bing telah memerintahkan orang-orangnya membeli dan mengumpulkan bahan makanan kemana-mana untuk ditimbun, karenanya harga bahan makanan jadi memuncak.

     Gubernur Kangsay akhirnya ikut campur, ia perintahkan Tju-boan To-thong (kapten) menyelidiki keadaan itu, Tju-boan mengirim beberapa penyelidiknya ke Lingtoh, tetapi seperti batu tenggelam di lautan, begitu pergi utusan-utusan itu tak pernah kembali lagi. Tju-boan menjadi murka, ia mengerahkan pasukannya dan mengepung sekitar tepi sungai Bwe-kang, ratusan kampung di situ telah mengalami gerakan pembersihan, ia melarang orang untuk pergi datang, kalau sudah terang adalah rakyat yang prihatin, tiap orang itu segera diberikan secarik surat penduduk sebagai bukti, tetapi yang tidak memiliki surat penduduk itu, semuanya ditangkap dan dituduh sebagai kaum pengacau atau perampok.

     Hoa Dji-tjun Tjetju di He-ho-tje waktu mendapat laporan bahwa pasukan besar pemerintah hendak datang mengepung, siang-siang ia sudah memencarkan pengikutnya dalam kelompok-kelompok kecil, akhirnya mereka pun bisa menyelusup sampai di belakang daerah pendudukan tentara Boan itu.

     Di pihak Tiang-sing-su, Ong Bing mengerahkan beberapa ribu pengikutnya dengan menyamar sebagai kaum petani untuk menduduki bukit-bukit di luar kampung mereka, di samping itu ia bermaksud berhubungan dengan Hoa Dji-tjun agar mengirim orangnya buat merundingkan cara bagaimana memberi pukulan yang dahsyat apabila pasukan tentara Boan menyerbu ke Tiang-sing-su.

     Untuk utusan itu, selain Pek Ting-djoan agaknya tiada orang lain yang cocok, maka ia lantas menulis sepucuk surat dan memberikan pula emas murni lima puluh tail. Dengan membawa isterinya, Pek Ting-djoan lantas menyamar sebagai kaum pengungsi menuju ke He-ho-tje.

     Dengan cara begitu Pek Ting-djoan sekeluarga tiga jiwa terlebih dulu menyambangi kampung asal mereka, Tjiok-ge-tjun, tetapi kenalan-kenalan lama dan tetangga-tetangga yang dulu ternyata sudah buron semua, ada beberapa kaum tua yang jatuh sakit tak sempat lari telah menasehati mereka agar lekas meninggalkan tempat itu. Pek Ting-djoan pun merasa tiada yang harus dibuat sayang untuk tinggal lebih lama di situ, maka esok harinya mereka lantas berangkat lagi.

     Tidak disangka-sangka, orang-orang yang tadinya terkenal sebagai bajingan di kampung itu, kini sudah mengekor pada pihak tentara pemerintah, waktu melihat Pek Ting-djoan kembali ke kampung dengan pakaian compang-camping, mereka menjadi curiga, karena mereka tahu bahwa Pek Ting-djoan bekerja pada Ong Bing yang terkenal kaya raya, tidak mungkin tampak begitu rudin, tentu di dalamnya ada sesuatu yang tidak betul, hal itu diam-diam telah dilaporkan pada pihak tentara Boan.

     Sementara itu Pek Ting-djoan melanjutkan perjalanannya ke He-ho-tje, ia masih belum mengetahui bahwa Hoa Dji-tjun dan Teng Ling serta kawan-kawan yang lain sudah meninggalkan benteng air mereka semula, sebelumnya ia tidak memperoleh sesuatu tanda rahasia pula untuk berhubungan dengan orang

Hoa Dji-tjun yang menyamar sebagai orang biasa. Begitu mereka bertiga memasuki garis terlarang yang sudah terkepung oleh pasukan pemerintah dan nampak keadaan Tjui-tje atau benteng air di situ sudah berlainan, sedang di permukaan sungai sebuah perahu saja tak tampak, ia segera tahu tentu ada sesuatu yang telah terjadi, dengan cepat ia hendak mundur, namun sudah terlambat, tentara Boan sudah datang mengepung dari empat penjuru dan berhasil menangkap mereka.

     Masih terhitung cukup cerdik Pek Ting-djoan, begitu gelagat jelek, segera ia merogoh surat yang ia bawa dan diremas terus dilemparkan ke dalam sungai.

     Waktu digeledah tentara Boan, di atas bungkusan Pek Ting-djoan diketemukan lima puluh tail emas murni, tetapi kalau melihat pakaian ketiga orang yang compang-camping dan dekil, maka segera mereka digusur ke markas untuk diperiksa.

     Pek Ting-djoan hanya mengaku sebagai pengungsi biasa karena takut di perjalanan bertemu dengan gerombolan perampok, maka emas murni itu disimpan rapi di tubuh mereka. Tetapi pengakuan itu tak dipercaya oleh pejabat militer itu, sebaliknya ia dicurigai komplotan perusuh dari He-ho-tje, beberapa kali Pek Ting-djoan telah disiksa dan dianiaya namun ia tetap pada keterangannya, Peh Dji-ma pun merasakan siksaan yang tidak enteng, dengan sengaja pejabat pemeriksa membiarkan Eng-dji menyaksikan penderitaan siksaan ibunya dengan tujuan barangkali bisa mendapatkan sedikit keterangan darinya, tidak tahunya meskipun Eng-dji masih kecil, namun ia sudah memiliki pikiran orang dewasa, dengan menangis ia pun mengatakan emas itu didapat ayahnya dari Ong Bing untuk dibelikan bahan makanan, karena pengakuannya inilah, jiwa kedua orang tuanya telah tertolong.

     Tetapi pihak pejabat negeri itu masih berusaha agar Pek Ting-djoan mengaku apakah Ong Bing bersekongkol dengan pihak pengacau, Pek Ting-djoan menjawab bahwa ia hanya mengajar dalam rumah saja, selamanya ia tak pernah melihat ada hubungan apa-apa dengan kaum pengacau dari luar. Terpaksa, pembesar negeri menggusur mereka ke dalam penjara.

     Sudah lewat dua bulan, tetapi sesuatu bukti masih belum ditemukan, bahkan malah mendapat tahu bahwa Pek Ting-djoan adalah guru sekolah yang sudah belasan tahun di tempat itu, akhirnya mereka bertiga lantas dibuang ke kamar tentara Pat-ki (delapan bendera, pemerintah Boan-djing membagi tentaranya dari berbagai suku bangsa itu menjadi delapan macam tanda bendera, maka disebut Pat-ki) di Sutjwan, karena Pek Ting-djoan tergolong terpelajar, maka ia akan dijadikan juru tulis di sana.

     Dalam perjalanan penggiringan tawanan buangan itu masih terdapat pula belasan orang lain yang juga dibuang ke Sutjwan, sedang opsir pengiring adalah seorang bangsa Boan-tjiu yang berpangkat Thongtay kecil atau setingkat sersan, ialah opsir yang berkumis tebal itu, sepanjang jalan mereka mencambuk dan menggebuki tawanan-tavvanan, mereka berlaku secara kejam seperti apa yang telah diuraikan pada permulaan cerita ini.

     Dan begitulah akhirnya Pek Ting-djoan ditolong oleh sahabatnya, Teng Ling, setelah menjebak terlebih dahulu serdadu-serdadu Boan itu dengan madu tawon yang telah dicampurkan obat tidur.

     Malam itu sesudah Teng Ling kembali ke dalam kampung dan sedang menjamu Pek Ting-djoan ayah dan anak untuk menghilangkan rasa ketakutan mereka. Tiba-tiba ada laporan kilat yang mengatakan bahwa ada sepasukan besar orang berkuda sedang mendatangi menuju ke kampung mereka.

     Teng Ling mengira pasukan tentara yang hendak datang mengepung, segera ia perintahkan semua sinar api dipadamkan di seluruh kampung dan memerintahkan pula bawahannya bersiap sedia, sedang ia sendiri bersama Pek Ting-Djoan kemudian berjalan ke mulut kampung, setiba di sana mereka dapat melihat barisan orang yang datang itu telah menyalakan obor, dan di depan mereka berjalan lebih dulu belasan penunggang kuda dengan bendera kebesaran dan berdandan berlainan dengan kaum pembesar negeri. Begitu sampai di mulut kampung, barisan orang itu lantas berjajar panjang, dan di antara mereka ada seorang yang maju ke depan sambil berseru.

     "Saudara-saudara dari Pho-tau-tjun, kami sengaja datang dari Tiang-sing-su, kabarnya sahabat she Pek itu telah tertolong oleh kalian, maka silakan pemimpin kalian maju berbicara!"

     Sudah sejak tadi Pek Ting-djoan mengenali tanda-tanda bendera itu, kini mendengar pula bahwa mereka datang dari Tiang-sing-su, maka tidak menunggu Teng Ling menjawab ia sudah mendahului maju.

     "Pek Ting-djoan ada di sini! Apakah Kiu-tju yang telah datang?" serunya kemudian.

     Belum habis suara perkataannya, dari rombongan pihak lawan pun sudah maju seorang penunggang kuda yang berdandan sebagai imam dengan kain ikat kepala kaum cendekiawan, siapa lagi kalau bukan 'Thong-thian-kiu-tju' Ong Bing, bukan main girang Pek Ting-djoan, segera dengan berlari-lari ia pun me-mapakinya dengan cepat.

     Kemudian Ong Bing memerintahkan semua pengikutnya tinggal di lemp.il. ia sendiri dengan membawa beberapa pengiring l.inl.is menjumpai lengl mg.

     "Il.ii i iiu aku mendapat laporan bahwa Pck-heng telah ditolong oleh segerombolan orang, malah telah membunuh habis semua serdadu musuh, aku menduga tentu perbuatan orang-oiang llo.i djiko, tidak nyana malah Hengtiang sendiri yang telah memimpinnya," kata Ong Bing dengan menggenggam tangan I eng Ling.

     "Siaute sudah lama menunggu di sini, bagaimana Ong-lau-pan sendiri pun telah datang kemari?" sahut Teng Ling.

     (Siaute = adik Hengtiang = kakak, sebutan kepada sahabat, Laupan = juragan).

     "Susah diceritakan dengan singkat, Tiang-sing-su tak dapat dibuat menancapkan kaki lagi!" kata Ong Bing pula dengan menghela napas.

     "Marilah kita masuk untuk bicara lagi!" ajak Pek Ting-djoan dengan menggandeng tangan mereka. Kemudian mereka dijamu dan menceritakan pengalamannya masing-masing.

     Kiranya Ong Bing sejak ditinggalkan Pek Ting-djoan ke He-ho-tje, tak lama kemudian ia mendapat laporan bahwa He-ho-tje sudah dikosongkan, lekas ia mengirim orang untuk menyusul Pek Ting-djoan, tak tahunya lebih dulu Pek Ting-djoan datang ke Tjiok-ge-tjoan, oleh karena itu mereka telah bersimpang jalan. Kemudian Pek Ting-djoan bertiga jatuh di tangan tentara pemerintah, Ong Bing meski mendapat tahu pun tidak berdaya untuk segera menolongnya, karena waktu itu ia sendiri sedang menghadapi kepungan pihak musuh, tentara Boan memberi batas waktu tiga hari agar menyerahkan daftar nama pemuda-pemuda dalam kampung agar memudahkan tentara Boan memeriksa keluarga demi sekeluarga.

    Ong Bing tahu bahwa akhirnya pasti akan tiba saatnya meletuskan api pertempuran, maka siang-siang ia sudah membagi anggotanya menjadi lima barisan, masing-masing antara lima ratus orang dan menyelundup menduduki bukit-bukit di sekitar kampung untuk menanti saat yang baik. Ia perintahkan pula semua wanita dan anak-anak dalam sehari harus keluar seluruhnya dari kampung mereka melalui jalanan kecil, tinggal sedikit orang-orang tua dan lemah, mereka disuruh setiap hari membakar api dalam kampung agar dipandang dari jauh seperti asap memasak seperti biasa. Di tempat-tempat yang penting ia pendam pula dinamit dan memilih dua ratus orang yang gagah kuat untuk ditugaskan menjaga dan bersembunyi di dalam kampung. Sesudah beres ia mengatur, lalu ia menyelusup keluar ke bukit untuk memimpin pergerakan.

     Pagi itu, tentara Boan sebagian menjaga di luar kampung dan sebagian menyerbu masuk ke Tiang-sing-su, tetapi yang mereka lihat hanya pintu-pintu rumah yang tertutup dan sepi senyap tiada manusia, sampai di tengah kampung keadaan masih serupa saja. mulailah mereka merasa curiga. Selagi mereka hendak mundur, namun sudah terlambat, dalam sekejap dibarengi dengan suara ledakan yang gemuruh, banyak laskar rakyat menerjang keluar dengan ganas hingga banyak serdadu yang bergelimpangan, sementara itu terdengar pula ledakan yang seru, dari atas bukit muncul pula beberapa pasukan laskar rakyat. Karena siasat yang teratur rapi, maka pertempuran itu dimenangkan oleh Ong Bing dengan barang rampasan yang tiada terhitung banyaknya.

     Ia mengerti dengan kekalahan itu, pasukan pemerintah tentu akan mengerahkan tentaranya secara besar-besaran, maka ia perintahkan mundur pasukannya malam itu juga, ia membagi pula sebagian laskarnya buat mengawal kaum wanita dan anak-anak agar berjalan terlebih dahulu menuju ke Hong-hong-san di perbatasan Hokkian sebagai tempat kedudukannya yang baru. Belakangan karena hendak menolong Pek Ting-djoan, ia lantas membawa sepasukan kecil laskar pilihannya untuk bersembunyi di pegunungan menanti kesempatan baik. Kemudian waktu mendapat kabar bahwa rombongan tawanan Pek Ting-djoan akan lewat di tempat persembunyiannya, tetapi belakangan baru diketahuinya bahwa di tengah jalan telah didahului orang lain yang bukan lain ialah Teng Ling, maka ia lalu menyusulnya sampai di Pho-tau-ijun.

     Sementara itu Pek Ting-djoan berulang-ulang mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Ong Bing yang jauh-jauh sengaja datang menyambut padanya, melihat caranya terhadap Ong Bing begitu rapat dan baik sekali daripada dirinya, diam-diam Teng Ling menjadi kurang senang. Apalagi ia telah tahu pula bahwa Pek Ting-djoan sudah masuk menjadi anggota Pek-iian-kau, dan menjabat kedudukan yang penting, kini Ong Ring sengaja datang ke sini, tentu akan membawa Pek Ting-djoan pergi bersamanya.

     Malam itu, kembali Teng Ling dan Pek Ting-djoan tidur satu tempat lagi.

     "Djiko," tanya Teng Ling. "Dengan menghadapi bahaya kali ini Siaute menolongmu, meskipun dibilang karena persahabatan kita yang sehidup semati selama dua puluh tahun ini, tetapi juga bertujuan untuk hari kelak bagi Hengtiang, kalau Hengtiang tidak menolak, di tempat Hoa-djitjetju sana kini sedang mencari orang dari kaum cerdik pandai dan semua pahlawan, kalau Hengtiang suka ke sana, tentu akan mendapat penghargaan yang tinggi."

     "Maksud baik Laute terpaksa baru bisa aku penuhi pada jelmaan hidup yang akan datang," sahut Pek Ting-djoan dengan menyesal. "Aku, Pek Ting-djoan, berkat Kiu-tju punya pandangan yang lain terhadapku selama beberapa tahun ini dan diberi kedudukan sebagai Kunsu yang bertugas berat, kini ia sendiri telah sudi datang pula, sesungguhnya aku tidak dapat meninggalkannya di tengah jalan, malah tadi ia berpesan padaku, ia mengharap Laute bisa membawa orang-orangmu ikut padanya ke Hong-hong-san."

     "Kalau ternyata Djiko sudah berkeras akan mengikuti Ong-heng, Siaute pun tak berani memaksa," ujar Teng Ling setelah mengetahui lak mungkin merubah pendiriannya lagi karena kesetiaannya terhadap Pek-lian-kau. "Tetapi kini Siaute pun sudah menjabat sebagai Thaubak kecil di Hoa-djitjetju, sudah tentu tiada alasan untuk menyingkir ke tempat lain, kita sama-sama mengabdi untuk pemimpin sendiri-sendiri, cukup apabila bersatu dalam menghadapi pasukan Boan, biarpun kita tidak bertempur di tempat yang sama, tetapi tujuan kita adalah satu."

     Sesudah berbicara pula ke sana-kemari dengan mengada-ada, tiba-tiba Pek Ting-djoan berkata, "Laute, aku tiada sesuatu untuk membalas budi padamu, aku pikir Siauli (sebutan untuk puterjnya sendiri) dengan puteramu Hong-ko sejak kecil sudah kumpul bersama, pergaulan mereka begitu baik laksana sepasang suami isteri cilik, pada kesempatan kita berdua masih belum berpisah, tidakkah lebih baik ditetapkan sekarang perjodohan mereka, agar harapan kita yang sudah lama jadi terlunaskan."

     Sudah tentu Teng Ling setuju, maka pada esok paginya mereka memberitahukan perangkapan jodoh itu kepada kedua sejoH cilik tersebut, meskipun Eng-dji masih muda hanya berusia delapan tahun, tetapi ia sudah mengerti jengah, dengan menundukkan kepala ia lantas pergi menyingkir.

     Sang waktu lewat dengan cepat, dalam sekejap saja sudah sepuluh tahun berselang. Putera Teng Ling, Teng Hong-ko kini-pun sudah merupakan pemuda berusia dua puluh satu tahun.

     Sudah lama ia meninggalkan ayahnya, semula ia berdiam dan belajar silat pada Lak-hap-kun Li Tjin, Suheng dari ayahnya yang berdiam di Lam-khong-hu di Kangsay, Li Tjin adalah seorang guru silat turun-temurun, dalam beberapa tahun saja ia sudah banyak menurunkan kepandaiannya kepada Hong-ko, belakangan ia melihat anak ini mempunyai perawakan serta bakat ilmu silat, kelak tentu akan hijau melebihi yang biru atau yang muda akan di atas golongan tua, maka sesungguhnya ia tidak ingin menghalangi hari depan Hong-ko.

     Setelah Hong-ko menginjak umur lima belas tahun, Li Tjin sendiri lantas membawanya ke Liong-hou-san (gunung Liong-hou) untuk memohon imam tua dari Siang-djing-kiong di gunung itu agar mau menerima Hong-ko sebagai murid dan mengajarkan kiam-hoat atau ilmu pedang padanya.

     Imam tua itu bernama Oei-bai Todjin, asal keluaran dari Go-bi-pay, adalah sahabat kental Li Tjin di dunia persilatan. Mendapat kesempatan baik untuk berguru pandai, Teng Hong-ko tidak menyia-siakan temponya, tiap hari ia melatih diri dengan giat dan bersemangat.

     Melihat kemajuan yang dicapai pemuda ini dalam ilmu pedang, sudah tentu Oei-bai Todjin ikut girang, hanya mengenai soal memelihara muda dan latihan tenaga serta napas yang sangat diperhatikan oleh golongan To-kch atau golongan Toi-kau, masih jauh daripada cukup. Oei-bai Todjin ingin menjadikan pemuda ini gagah perkasa dengan cita-cita tinggi, maka sengaja menggembleng pemuda ini lebih banyak pengalaman dan mengenal orang-orang kosen dan berilmu, maka belum sampai tiga tahun, Oei-bai Todjin telah mengajak Hong-ko ke Sutjwan pula dan naik ke Go-bi-san untuk menemui Supeknya (paman guru), Bu-tun Todjin di Sam-tjing-koan (nama rumah berhala) dan menceritakan asal-usul pemuda ini, bisa makin dipupuk kelak tentu akan menjadi seorang Kiam-khek atau pendekar yang luar biasa dari Go-bi-pay.

     Bu-tun Todjin adalah ahli silat nomor satu dari golongan Go-bi-pay. namanya cukup terkenal di dalam Bu-lim atau dunia persilatan, maka lantas ia mengamat-amati diri Hong-ko. Karena Go-bi-pay kalau menerima murid, yang pertama-tama dilihat ialah orang harus mempunyai cita-cita luhur, kemudian bentuk kaki tangan dan perawakannya harus diperiksa pula, baru setelah itu dapat ditentukan cocok untuk belajar silat macam yang mana.

     Berkat kemauan keras dari Hong-ko, empat tahun kemudian ia berguru pada Bu-tun Todjin, kepandaiannya sudah maju sangat pesat, oleh karena sejak kecil ia sudah belajar silat pada ayahnya, maka kemajuan yang dicapai ini dapat dimengerti.

     Pada tahun itu, Bu-tun Todjin telah menitahkan dia turun gunung, sebelum berangkat ia diberi sebatang po-kiam atau pedang pusaka yang disebut 'Go-bi-tjin-kang-kiam', kecuali itu diberinya pula sebuah peti kecil terbuat dari kayu cendana yang mungil dengan pesan agar disampaikan pada 'Im-yang-pat-kik-djiu' Giam Tje-tjwan di kampung Kak-tau-tjun di luar kota Tje-lam, Soatang. Ditambahi pula pesan agar berhati-hati dalam perjalanan, jangan suka ikut campur soal-soal yang bukan urusannya.

     Hong-ko menerima semua pesan itu, kemudian ia berlutut memberi hormat kepada Bu-tun Todjin dan terus berangkat turun gunung.

Dengan tanpa sesuatu gangguan ia sampai di Lamte, kemudiari ia ganti kendaraan air terus ke Soatang, tak tahunya waktu itu justru Hong-ho (sungai Huang, sungai kuning) sedang banjir, kapalnya sampai di Khay-hong dan harus berganti melalui daratan lagi.

     Terpaksa Hong-ko menunggang kuda meneruskan perjalanannya, tetapi sepanjang jalan seperti dikuntit orang karena ia hanya membawa peti kayu wangi itu dalam buntalannya, barang-barang lain yang berharga sudah tiada lagi, maka ia pun tidak menaruh sesuatu curiga.

     Hari itu sesudah lewat kota Khay-hong, perjalanan di depan kini semua hanya hutan belukar yang sunyi sepi menyusur sepanjang jalanan di tepi Hong-ho. Sekonyong-konyong di belakangnya terdengar ada suara derapan kuda yang ramai, dua penunggang kuda secepat terbang telah menyusulnya, yang di depan mukanya terdapat dua guratan bekas luka, kepalanya memakai ikat kain hitam, ketika mereka menyerobot lewat dengan cepat, mendadak ia angkat pecut kudanya lantas menyabet ke bokong kuda Hong-ko.

     Nampak orang itu menyabet dengan pecutnya, dengan sendirinya Teng Hong-ko mendekam di atas kudanya, menyusul segera terdengar suara "tarrr", pecut orang telah mengenai peti yang berada di belakang kudanya, kemudian secepat angin orang itu sudah lewat, waktu Hong-ko memandang lagi, dalam sekejap itu pula kedua orang tadi sudah pergi jauh.

     Selagi ia merasa heran tak mengerti, tiba-tiba ia mendengar suara kelenengan yang riuh, waktu ia menoleh, di antara debu yang mengepul terdapat seorang yang berdandan sebagai Bu-su atau jago silat sedang mendatangi dengan cepat.

     Orang ini berdandan gagah dan sangat perlente, celana bajunya menurut dandanan Bu-su dengan warna kuning gading, ikat pinggangnya hijau muda dan terselip sebatang pedang, ikal kepalanya pun tersunting sebuah batu giok putih, umurnya lebih kurang baru tiga puluhan. Sesudah dekat baru kelihatan pada leher kudanya tergantung tiga kelenengan warna emas, orang itu mengincar peti Hong-ko, bahkan berpaling dan sekilas memandang padanya dan tak lama kemudian ia pun sudah pergi jauh mengikuti suara derapan kudanya.

     Baru kini Hong-ko menaruh curiga, pada malam ia tiba di suatu kota kecil, ia memilih sebuah hotel untuk bermalam, peti kayu cendana itu ia bawa ke atas pembaringan digunakan sebagai bantal, sebuah meja kecil di depan pembaringannya terletak buntalan bersama pedang pusakanya, karena hatinya agak kurang tenteram, ia tak berani terus tidur, ia hanya rebahan dengan penuh kewaspadaan.

     Setelah kentongan ketiga (tengah malam), tiba-tiba ia mendengar ada suatu suara yang lembut, suaranya begitu halus, tetapi sebagai orang yang mahir ilmu silat, dengan segera ia mengerti siapakah yang datang dalam kegelapan itu. Ia pura-pura memejamkan mata, ia hendak mengetahui siapa orang yang ingin mendapatkan senjata dan kudanya yang bakal datang ini.

     Tak lama kemudian kembali ia mendengar suara pintu kamarnya dicukil oleh golok tajam, makin jelaslah baginya bahwa tentu tidak salah lagi adalah orang yang telah bertemu dengannya siang tadi. selagi ia hendak berbangkit, mendadak lampu kamarnya yang remang-remang dengan cepat telah ter-sirap dan tiba-tiba di depan pembaringannya sudah berdiri sesosok bayangan orang.

     Terperanjat juga Hong-ko, ia menyesal tidak mendekatkan pedangnya ke samping bantal, terpaksa ia terus berpura-pura tidur nyenyak, dengan tenang ia menanti apa yang bakal terjadi, tetapi ia masih sempat meraba beberapa pisau 'Liu-yap-hui-to\ yakni semacam pisau kecil berbentuk daun Liu yang panjang kecil, yang terselip di ikat pinggangnya, senjata ini telah dilatihnya sejak ia berada di Go-bi-san. diam-diam ia menyiapkan dua pisau itu, ia telah mengambil keputusan, begitu orang itu coba menyingkap kelambu pembaringannya, segera pisaunya akan ia sambitkan.

Tetapi waktu ia melirik lagi, maka tak tahan ia menjadi ternganga, orang yang telah masuk itu ternyata adalah seorang wanita dengan pakaian ringkas peranti jalan malam, sebuah pedang pendek menyelip di pinggangnya, tetapi dalam kegelapan tidak bisa melihat jelas raut mukanya, hanya tertampak ia mengambil pedang yang terletak di atas meja dan diperiksa dengan cermat.

     Hong-ko mengerti wanita ini tentu pernah berlatih 'ya-si' atau melihat di waktu malam, melihat gerak-geriknya agaknya tidak mengandung maksud jahat, maka batinnya makin tenteram, ia hanya menanti perubahan selanjurnya.

     Dalam pada itu, tiba-tiba di atas atap rumah berkerisik satu suara pula, lembut halus suara itu laksana jatuhnya daun kering di atas genteng. Dengan sekali melesat, sekonyong-konyong wanita tadi sudah menghilang, pedang di atas meja ternyata ikut hilang tak berbekas.

     Hong-ko mengetahui bahwa kembali ada 'ya-heng-djin' atau orang jalan malam, telah datang lagi, dalam batinnya ia makin merasa heran, bagaimana di kota sekecil ini bisa ada begini banyak orang dari kalangan persilatan. Dalam pada itu pintu kamarnya telah terbuka pula, menyusul mana dua bayangan hitam segera melompat masuk.

     Dalam kegelapan, Hong-ko masih bisa melihat dari sinar terang yang remang-remang menembus dari luar itu, lapat-lapat orang yang datang ini seperti dapat dikenali ialah dua laki-laki yang bertemu siang tadi, seorang di antaranya telah menyalakan api dari segebung dupa, dengan sinar api itu segera mereka tahu di atas pembaringan ada orang tidur, segera ia mengangkat goloknya dan membacok.

     Dengan gesit Hong-ko berguling ke belakang pembaringannya dan hui-to atau pisau terbang yang sejak tadi sudah ia siapkan itu hendak ia timpukkan, dalam sekejap itu, dari belakang tempat tidurnya mendadak melompat keluar seorang, dan terdengar suara "trang" yang nyaring, senjata musuh tadi telah ditangkis, saking kerasnya hingga laki-laki pembacok itu tergetar mundur.

     Orang yang melompat keluar ini dikenal Hong-ko sebagai wanita yang datang lebih dulu tadi, dengan pedang melintang di dada segera terdengar ia berseru, "Liok-tjetju, jangan sembrono!"

     Lelaki yang mukanya terdapat dua guratan bekas luka itu merandek, ia angkat api obornya untuk melihat.

     "Siapa kau perempuan ini? Apa datang kemari untuk main gila dengan anak busuk ini!" damprat lelaki itu dengan gusar, karena sebenarnya ia tidak kenal wanita yang bisa mengenali namanya ini.

     Muka wanita itu berubah kemerah-merahan, tetapi segera ia pun menjadi gusar, alisnya berdiri.

    "Kurang ajar! Dengan baik-baik aku berkata, tapi kau berani sembarangan mencaci orang!" ia balas mendamprat sambil menuding dengan pedangnya.

     Lelaki itu tidak menanti sampai si wanita habis berkata, dengan satu gertakan keras, mendadak ia menyerang dengan gerak tipu 'Hui-sing-kui-wi' atau bintang kemukus kembali ke tempatnya, goloknya dengan cepat telah menikam dari depan.

     "Dengan apa dirimu ada harganya bergebrak denganku!" wanita itu menjengek dengan tertawa dingin, sembari pedang di tangannya menempel golok lawan dan terus disurung ke samping.

     Teng Hong-ko yang bersembunyi di belakang kelambu tempat tidur, sebenarnya berpikir hendak keluar membantu si wanita, tetapi teringat bahwa pedangnya yang diletakkan di atas meja sudah diambil wanita itu, maka lebih penting menjaga petinya saja di atas pembaringan.

     Dalam pada itu, tiba-tiba ia mendengar suara benturan benda keras, waktu ia memandang, pedang si wanita sudah berhasil menyelip di dekat gagang golok lawannya, ia puntir dengan kuat dan terus disurung, keruan golok lelaki itu seketika terlepas dari tangannya dan terbang keluar pintu kamar.

Dengan cepat sekali golok laki-laki itu dipukul terpental oleh gadis tadi yang memegang pedang 'Go-bi-tjin-kong-kiam'.

     Menampak senjata kawannya terpental, lelaki yang satunya tidak ayal lagi, segera ia menerjang maju dan terus membacok. Tetapi wanita tadi mendelik dan pedangnya mengayun ke depan sambil membentak dengan suara yang nyaring, "Jangan bergerak! Pentanglah dulu mata anjingmu yang lebar, coba lihat pedang yang ada di tangan nyonyamu ini, baru nanti kamu boleh antar jiwamu dan masih belum terlambat!"

     Sesudah itu, ia bergerak mengunjuk satu gerakan, 'Lau-so-bo-khim' atau orang tua membopong khim (semacam alat musik), ia bopong pedangnya di depan dada.

     Karena wanita itu melayani lawannya dengan cepat dan hanya tertampak sinar pedang yang berkilauan, kini Hong-ko ada kesempatan buat melihat dengan jelas, namun lantas ia tercengang, karena pedang yang berada di tangan wanita itu justru adalah pedang 'Go-bi-tjin-kong-kiam'.

     Sesaat itu keadaan di dalam kamar itu menjadi sunyi, kiranya dua Liok-lim-ho-han atau orang gagah dari kalangan penjahat itupun sedang mengamati pedang yang ada di tangan si wanita. Orang yang dipanggil Liok-tjetju tadi kelihatan wajahnya mengunjuk rasa kaget dan heran, mulutnya malah kemak-kemik, "Ini bukan pedang sasaran dari Go-bi-pay, apa kami yang telah salah meraba?"

     Sementara itu lelaki yang lainpun sudah menurunkan goloknya, jauh berlainan sekali dengan lagak mereka semula sangat sembrono.

     "Liok Ing, tadi aku sudah bilang jangan kau turun tangan, tetapi kau laksana anjing gila terus merangsek aku," kata si wanita dengan tertawa dingin sambil menggerakkan pedangnya. "Sebenarnya aku pun sudah salah terka, hanya beruntung aku tidak ngawur seperti kamu, kalau tidak tentu sudah sejak tadi terjadi keonaran."

     Ia berhenti sebentar, sesudah itu ia menoleh dan berteriak, "Hai kawan, keluarlah sini, kami hendak bertanya padamu!"

Mendengar itu baru dengan pelahan Teng Hong-ko mengunjukkan dirinya.

    "Para kawan dari Bu-lim," katanya kemudian. "Aku Teng Hong-ko lewat di sini, di perjalanan toh tidak pernah berselisih dengan sahabat dari Kangouw, entah saudara-saudara ada petunjuk apa?"

     Sementara itu si wanita tadi sudah menyalakan api lilin hingga dalam kamar kini menjadi terang.

     "Marilah kita semua duduk." ia mengajak. "Sungguh kalau tidak berkelahi tidak berkenalan, saudara Teng, kami sebentar masih hendak bertanya padamu!"

     "Apa Lihiap datang ke sini sejalan dengan 'Pat-pi-long-kun' Yan-toako?" tanya kedua lelaki tadi kepada si wanita sesudah mereka memandang sejenak.

     "Penglihatan Liok-tjetju memang tidak meleset," dengan tersenyum si wanita membenarkan pertanyaan orang. "Aku bukan lain ialah puteri 'Kang-lam-sin-djiu Ang-eng-djio' Hoa Djing-hun, Yan le-lam ialah suamiku, kali ini kedatangan kami juga disebabkan mengikuti jejak 'Tjin-tju-goan' itu. Liok-tjetju, kawan-kawan dari Thay-heng-san yang ikut datang kali ini entah seluruhnya berjumlah berapa?"

     "Hoa-lihiap, tadi kami tidak tahu kalau kau orang tua yang datang, malah kami mengira kau adalah popio (pengawal) dari saudara ini," kata Liok Ing berdua sembari berdiri memberi hormat setelah mengetahui siapa yang berhadapan dengan dia ini. "Harap dimaafkan kecerobohan kami tadi, terus terang kawan-kawan Thay-heng-san yang datang kali ini, kecuali kami berdua masih ada 'Hoa-bin-long To Dju-hai dan Oei-moa-tju Kwan Dji-hou."

     "Kita betul-betul seperti tawon saja," ujar si wanita pula. "Karena sebuah 'Tjin-tju-goan' saja, semua enghiong dari beberapa propinsi di sini sudah dipermainkan hingga berkumpul semua ke Soatang laksana semut, kurangajar betul Soatang Sunbu (residen) Tam Ting-siang bisa membikin benda berharga itu begitu ajaib, sampai kini sedikit tanda rahasia saja masih belum dapat diketemukan."

     "Kalau begitu, apalagi yang dibawa saudara muda ini?" tanya Liok Ing setelah ia memandang sejenak pada Teng Hong-ko.

     Pendekar wanita itu tidak menjawab, tetapi ia lantas membalikkan tubuhnya terus menyambar peti kayu wangi yang berada di pembaringan.

     Peti itu sebenarnya tergembok rapat, tetapi sesudah dipegang berulang kali oleh tangan Lihiap itu, gembok itu lantas rusak dan tutup peti segera terbuka. Liok Ing segera memimpin kawannya untuk melongok barang apakah yang terisi dalam peti itu.

     Di antara orang banyak itu agaknya yang paling tercengang hanya Teng Hong-ko seorang, sebab sebagaimana telah dipesan gurunya, Bu-tun Todjin, sebelum ia berangkat bahwa hendaknya berhati-hati di perjalanan dan sekali-kali peti itu jangan dihilangkan. Tetapi untuk mencegah ia sudah terlambat, terpaksa ia juga ikut-ikutan melihat benda apakah sebenarnya yang tersimpan dalam peti.

     Rupanya pendekar wanita itu menginginkan agar semua orang bisa melihatnya lebih jelas, maka ia tumplekkan isi peti itu, dan benar apakah yang terserak kemudian? Ternyata bukan lain hanya beberapa 'Sam-ling-tju-bo-piau', senjata rahasia piau berbentuk segitiga dan beberapa butir pelor besi bundar, kecuali itu terdapat pula segebung entah barang apa yang terbungkus dengan kain kuning.

     "Liok-tjetju, betul tidak penglihatanku," kata Lihiap itu dengan tertawa, "Mana ada •Tjin-tju-goan' segala di sini, hampir saja bikin kaget kawan dari Go-bi-san ini, marilah kita seharusnya meminta maaf pada saudara Teng!"

    "Memang betul seperti kucing keselomot kumisnya," ujar Liok Ing, agaknya ia pun menyesal. "Tetapi bagaimana Lihiap sendiri malam ini bisa datang juga ke sini?"

Sebenarnya wanita itu sedang akan memberi hormat dan minta maaf pada Teng Hong-ko karena kecerobohan mereka, tetapi mendengar pertanyaan orang, tiba-tiba paras mukanya menjadi merah.

     "Ini memang harus menyesalkan Tang-keh (suami) yang agak gegabah," sahutnya kemudian. "Ketika ia kembali hari ini dari perjalanan, ia memberitahu bahwa utusan itu sudah tiba, melihat dengan mata kepala sendiri, saudara Teng ini menempuh perjalanan seorang diri, kalau bukan orang yang berkepandaian tinggi, mana bisa begitu berani."

     Mendengar cerita itu barulah Hong-ko ingat pada lelaki berdandan perlente warna kuning gading siang hari tadi, yang dijumpainya di perjalanan, ternyata adalah suami pendekar wanita ini.

     Sedang ia termenung, si wanita bersama Liok Ing dan kawannya sudah berbangkit dan memberi hormat di hadapannya sambil meminta maaf telah membikin ribut padanya. Lekas Hong-ko balas menghormat dan merendah.

Saat itu sudah hampir jam empat pagi.

    "Saudara Teng," kata pula si wanita itu. "Malam ini telah banyak mengganggu, besok sore kau sudah bisa sampai di Liu-ho dan seterusnya ialah perbatasan dengan Soatang, apabila perjalananmu tidak mengalami gangguan, baiklah kita berjumpa kembali di tepi sungai Pek-hoa."

     Setelah itu ia masukkan 'Go-bi-tjin-kong-kiam' ke dalam sarungnya dan kemudian diangsurkan kembali pada pemiliknya.

    "Tadi belum sempat mendapat tahu nama yang mulia, kalau nanti sampai di Pek-hoa-ho, entah harus bagaimana menyebutnya?" tanya Teng Hong-ko sambil menyambut pedangnya.

    "Saudara Teng, namaku di kalangan Kangouw dipanggil "Sian-bu Kongtju', kau memiliki 'pedang perjalanan' ini, kalau sampai di Pek-hoa-ho, tentu akan ada orang menyambutmu," sahut Lihiap itu dengan sikap tanpa kikuk lagi.

     Setelah memberi salam sampai bertemu pula, kemudian ketiga orang itu lantas melompat naik ke atas atap rumah pula dan terus menghilang.

     Teng Hong-ko menggembok kembali petinya, sementara itu ia sudah agak letih, waktu ia mengambil pedangnya dan dilihat, baru ia ketahui bahwa pada kedua samping sarung pedang penuh terukir huruf-huruf jampi-mantera dari kaum To-kauw, ia mengerti Bu-tun Todjin menghendaki ia membawa pedang ini, tentu banyak gunanya, dalam keadaan letih pelahan-Iahan ia pun tertidur.

     Ketiga orang yang memasuki kamar pondokan Teng Hong-ko malam ini, Liok Ing adalah seorang begal besar dari gerombolan Soasay atau Soa-say-pang yang bercokol di Thay-heng-san, yang datang bersamanya itu adalah wakil pimpinannya. Sedang si wanita itu mempunyai asal-usul yang luar biasa, ia adalah putri Hoa Djing-hun, Tjong-totju dari Ang-djio-hui atau ketua perkumpulan tombak merah di Kanglam, ia menamakan dirinya sendiri Sian-bu Kongtju, si Kongtju yang suka main silat.

     Sejak masih kecil ia sudah berguru silat pada Oei-bwe Ki-su, pemimpin ketiga dari Tjeng-long-hui, perkumpulan naga hijau, belakangan ia bersuamikan Suhengnya sendiri, Yan Ie-lam, pendekar muda ini berjuluk 'Pat-pi-long-kun', kedua suami isteri itu kini sampai di Soatang, tujuannya ialah menguntit 'Tjin-tju-goan', topi bertabur mutiara mestika, yang menggemparkan seluruh Liok-lim.

     Menurut cerita, topi bertabur mutiara itu adalah barang milik Tan Wan-wan, selir kesayangan Go Sam-kui. Di atas topi itu penuh bertaburan batu-batu permata dan masih ada pula tiga butir mutiara yang merupakan benda yang susah dicari di jagad ini. Ketiga mutiara itu masing-masing ialah : 'Ting-hong-tju', mutiara anti angin, yakni bisa membikin reda serangan angin. Kedua ialah 'Pi-hwe-tju' atau mutiara anti api dan yang ketiga ialah 'Gi-han-tju', mutiara anti dingin.

     Pada waktu Tan Wan-wan memasuki pintu kesucian (memeluk agama), yang dibawa melulu barang mestika ini saja yang harganya tak ternilai.

     Kiranya sesudah Go Sam-kui takluk pada kerajaan Boan-djing dan berkedudukan di Kunbing daerah Hunlam, sepanjang masa itu ia telah mengumpulkan aneka barang-barang mestika yang paling berharga dari seluruh jagad. di antaranya terdapat tiga mutiara yang harganya tak ternilai itu.

    Akhirnya setelah kedudukannya terancam, Go Sam-kui telah angkat senjata memberontak, Tan Wan-wan dapat menduga gerakan suaminya akhirnya tentu akan gagal, maka ia memilih jalan memeluk agama, yakni dengan menjadi Nikoh tetapi piara rambut. Meskipun harta benda Go Sam-kui bertumpuk-tumpuk berasal dari mengeduk darah keringat rakyat, tetapi ia mengambil tidak seberapa, ia hanya membikin sebuah topi imam wanita yang penuh bertabur mutiara dan diam-diam menyelipkan ketiga mutiara mestika di atas topinya itu, hal ini hanya diketahui beberapa pelayan Tan Wan-wan saja.

     Ketika kemudian Go Sam-kui dimusnahkan, Panglima besar Pangeran Lirkim telah memasuki Hunlam dengan pasukannya, kala itu Tan Wan-wan sudah mengasingkan diri di sebuah kuil suci, tak tahunya ia telah 'dijual' oleh Nikoh rekannya. Dan akhirnya Tjin-tju-goan itu jatuh di tangan seorang bernama Tam Ting-siang, salah seorang anggota staf dari Pangeran Lirkim dan menjadi orang kepercayaan bangsawan Nilan Ming-tju.

     Tam Ting-siang ini memang dasarnya cerdik tetapi keji, ia telah membunuh habis semua orang-orangnya yang mengetahui asal-usul Tjin-tju-goan, hanya seorang pengawal yang berhasil lolos dari lubang jarum dan berkecimpung di kalangan Kang-ouw, keruan saja akhirnya rahasia itu tersiar. Dan sudah sejak lama tidak sedikit begal dan perampok yang mengincar topi mestika itu, namun hasilnya nihil meskipun sudah dicari kema-na-mana.

     Sementara itu Tam Ting-siang yang mengandalkan dukungan Nilan Ming-tju, ia telah naik pangkat berturut-turut hingga menjadi Soatang Sun-bu, gubernur Soatang, dengan diikuti seorang pengawalnya, Tjhi Djin-ho, seorang yang tergolong tokoh juga dari Bu-lim atau dunia persilatan. Dan baru pada akhir-akhir ini tersiar kabar bahwa topi mestika itu oleh Tam Ting-siang telah dipendam dalam sebuah pagoda kuil di Se-an (Sian).

     Ketika itu keadaan dalam negeri sudah agak aman, tiga raja muda pemberontak sudah ditumpas bersih, dan Kaisar Khong-hi berniat untuk bersembahyang ke Thay-san. Maka siang-siang Nilan Ming-tju telah memberitahukan kepada Tam Ting-siang bahwa ia sendiri pun akan turut datang.

     Oleh karena kuatir tindak-tanduknya yang korup dan kacau-balau di daerahnya, Tam Ting-siang teringat pada topi mestika itu dan akan digunakan sebagai barang suapan kepada Nilan Ming-tju agar mengaling-alingi perbuatannya itu di hadapan Sri Baginda. Oleh karena itu lantas ia mengirim Tjhi Djin-ho dengan beberapa Po-thau (polisi) ternama ke Se-an untuk mengambil kembali topi mestika itu.

     Kebetulan sekali Hwesio-hwesio dalam kuil dimana Tjin-tju-goan itu dipendam, kini ternyata banyak berhubungan dengan kaum gagah perkasa di daerah itu, waktu Tjhi Djin-ho merusak pagoda untuk mengambil mestika itu, ternyata banyak tulang-tulang manusia yang terkeduk keluar, tulang-tulang ini ialah orang-orang yang mati penasaran sewaktu ikut memendam barang mestika itu, dan oleh sebab itu lantas menarik perhatian para Hwesio dalam kuil tadi. Dan kesudahannya rahasia itu pun terbongkar.

     Tetapi sewaktu kabar itu sampai di telinga para orang gagah, sementara itu Tjhi Djin-ho malam-malam sudah meninggalkan Se-an dengan membawa Tjin-tju-goan, para Hwesio di kuil itu hanya nampak mereka membawa sebuah peti kayu wangi berukir bagus, tetapi mereka tak berani menguntit terus. Sampai akhirnya para pemimpin gerombolan memburu datang, namun Tjhi Djin-ho dan kawan-kawannya sudah sehari lebih dulu berangkat.

Beberapa pemimpin dari perserikatan gerombolan itu segera mengirim dan menyebarkan kabar berita itu, agar sepanjang jalan kawan-kawan Kangouw menguntit jejak Tjhi Djin-ho dan kawan-kawan dengan ketentuan harus berhasil, ditetapkan pula siapa saja yang ikut menguntit kelak masing-masing akan mendapat satu bagian, dan siapa yang berani turun tangan merampas barang mestika itu akan lebih banyak mendapat dua bagian, keruan saja seketika itu di sepanjang Lokyang segera dipenuhi oleh kaum gagah perkasa dari Kangouw.

     Dan memang sangat kebetulan juga, pada waktu itu pula Teng Hong-ko seorang diri dengan kudanya menempuh jalanan ini, ditambah karena ia baru saja muncul dan tak dikenali orang, berbareng itu yang dibawanya berupa sebuah peti kayu cendana yang sama pula. Keruan ia menjadi sasaran para pendekar.

     Begitulah, setelah Hong-ko berpisah dengan pendekar wanita Hoa Sian-bu dan Liok Ing serta kawan-kawannya, ia ber-girang sendiri, dengan nama baik golongan Go-bi-pay yang tersohor telah bisa bersahabat dengan tokoh-tokoh ternama dari Kangouw, ia teringat pula apa yang Hoa Sian-bu pesankan sewaktu hendak berangkat, bahwa dirinya memiliki 'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay itu, perjalanan selanjutnya sudah boleh tidak usah kuatir terganggu pula.

     Maka ia meneruskan perjalanannya, dua hari kemudian ia sudah memasuki daerah propinsi Soatang, dan Pek-hoa-ho sudah berada di depan matanya.

     Daerah ini ialah tapal batas sebelah barat daya Soatang, di utara ada Hui-sia-koan, karesidenan Hui-sia, dan sebelah selatan dekat dengan Lau-ke-tjip, ialah tempat dimana dulu tersohor sebagai markas besar orang-orang gagah dari Liang-san-pik.

     Waktu Teng Hong-ko memandang, yang tertampak di depannya hanya lereng-lereng bukit dengan hutan belukar yang lebat, rumput alang-alang pun melebihi tinggi dengkul, seorang manusia pun tak tertampak. Tetapi karena kepandaiannya tinggi maka nyalinya pun besar, apalagi ia telah berjanji pula dengan Hoa-lihiap, keadaan sepi senyap itu tidak membikin kecil hatinya, bahkan ia mengayun pecut kudanya, menyabet dan terus maju ke depan secepat kilat.

     Tidak lama kemudian tiba-tiba dari jauh tertampak debu mengepul tinggi dan menyusul itu dua orang penunggang kuda mendatangi dari depan. Teng Hong-ko menyangka mereka adalah orang-orang Hoa Sian-bu buat menyambut padanya, maka lantas ia pecut kudanya memapaki ke depan. Baru sesudah dekat ia dapat melihat jelas kedua lelaki penunggang kuda itu berperawakan pendek kecil, dengan ikat kepala hitam dan berdandan ringkas kencang, kesemuanya menggendong golok.

     Mereka memandang ke arah Hong-ko dan segera juga menarik kudanya minggir di kedua samping dan lantas kiongtjiu (menjura) memberi hormat.

    "Yang datang ini apakah saudara Teng?" tanya mereka berbareng.

    "Aku yang rendah betul she Teng," jawab Hong-ko sambil sedikit membungkuk membalas hormat orang di atas kudanya. "Saudara berdua she apa dan bagaimana tahu nama Siaute?"

     Kedua orang itu menarik tali kendali kuda mereka dan maju lebih dekat. Kemudian barulah mereka menjawab.

     "Kami dikirim oleh Giam-laupan dari Tjelam, karena kuatir Hengtiang kurang paham jalanan di sini, maka sengaja beliau mengirim kami datang menyambut."

     Tetapi waktu Hong-ko menegasi, maka tertampak olehnya di geger kuda mereka ada bekas hangus tanda cap milik negeri, maka timbul rasa curiganya. Kala itu semua kuda pemerintah diberi tanda cap, oleh karena itu Hong-ko merasa sangsi.

     "Tjuwi-tjinheng jauh-jauh menyambut Siaute, tetapi entah cara bagaimana Giam-laupan bisa tahu Siaute hendak datang di Soatang, bahkan tahu aku menempuh jalan ini?" tanya Hong-ko.

    Karena pertanyaan itu, kedua lelaki itu menjadi tertegun. Memang keberangkatan Teng Hong-ko dengan membawa peti untuk Giam Tje-tjwan, sebelumnya tidak pernah dikabarkan, tidak heran kalau kedua lelaki itu jadi gelagapan.

     "Kami datang atas perintah saja, sesudah Teng-heng bertemu Giam-laupan tentu lantas tahu,"" sahut mereka akhirnya.

     Sesudah itu dengan mengapit Hong-ko di tengah, segera mereka mengeprak kuda dan pelahan-lahan membelok ke sebelah selatan.

     Begitu mengetahui gelagat agak ganjil, secara tiba-tiba Hong-ko menahan kudanya.

     "Tjuwi silakan jalan dahulu, Siaute masih harus menunggu seorang kawan," katanya memberi alasan.

     "Kalau Teng-heng masih ada keperluan, baiklah silakan petimu itu kami bawa lebih dahulu, agar mengurangi beban kudamu!" jawab seorang di antaranya sambil memepetkan kudanya ke samping Hong-ko.

     Habis berkata, tidak menunggu Hong-ko menyatakan setuju atau tidak, lantas ia turun tangan sendiri hendak mengambil peti yang ada di punggung kuda Hong-ko.

     Mengetahui gelagat jelek tak ayal lagi segera Hong-ko mengempit kencang kudanya terus dilarikan, berbareng ia mengayun pecut kudanya menyabet ke belakang. Dalam sekejap saja kuda itu telah terlepas dari apitan kedua orang itu dan lelaki yang hendak mencoba mengambil peti itupun kena cambuk sekali. Sementara itu Hong-ko membelokkan kudanya, ia melarikan kembali ke jalan dimana tadi ia datang.

     Kedua penjahat itu tidak membiarkan sasaran mereka kabur begitu saja, mereka keprak kudanya dan segera mengejar. Kuda yang ditunggangi Hong-ko hanyalah kuda yang dibelinya mendadak waktu mau berangkat, maka tak heran kalau dalam sekejap saja ia sudah kecandak oleh pengejarnya.

    "Hai, bocah she Teng, lekas tinggalkan peti kayu wangi itu!" bentak mereka dari belakang.

     Tetapi Hong-ko mengerjakan pecutnya mempercepat lari kudanya.

     "Jangan kamu salah lihat, barang petiku itu bukan barang yang kalian cari," jawabnya kemudian setengah menoleh.

    "Tinggalkan Sam-ling-piau dan Thi-wan dalam petimu itu, aku nanti akan mengampuni jiwamu," terdengar suara di belakangnya membentak pula.

     "Aneh, sudah tahu bahwa barang dalam petiku bukan Tjin-tju-goan, tetapi mereka masih menginginkannya?" begitulah pikir Hong-ko dengan heran.

     Selagi ia berpikir, tiba-tiba di belakang kepalanya terasa ada angin tajam menyambar datang, lekas ia mendekam di atas kudanya, dan sebuah senjata rahasia telah lewat di atas kepalanya. Sementara itu suara derapan kuda di belakang makin mendekat, Hong-ko insyaf apabila tidak mengalami suatu pertarungan sengit, tak mungkin ia akan lolos begitu saja. Maka segera ia melolos pedangnya dan sekonyong-konyong membaliki kudanya terus memapaki kedua pengejarnya dengan membabatkan pedangnya ke kiri dan ke kanan, secara mendadak ia bermaksud menusuk roboh kedua pengejar itu.

     Tak terduga kedua orang itu siang-siang pun sudah siap sedia, begitu Hong-ko membaliki kudanya dan menusuk, secara cepat mereka telah berbagi minggir di kedua samping, sesudah itu dua golok mereka menyambut pedang lawan. Di antara suara nyaring terbenturnya pedang dan golok, Hong-ko telah membarengi merubah pula serangannya, ia mainkan ilmu pedang dari Go-bi-pay yang lihai, dengan beberapa kali serangannya ia telah membikin lawannya terpaksa berputar-putar.

     Melihat Hong-ko memainkan pedangnya begitu rapat tanpa lubang, seorang di antara dua laki-laki yang beralis tebal mendadak pura-pura menyerang, kemudian melarikan kudanya dengan cepat sekali, ia sudah memutar kudanya sampai ke belakang Hong-ko terus membacok. Dengan satu gerakan 'Hong-bwe-tiauw-yang' atau ekor burung hong menghadap matahari, Hong-ko membaliki pedangnya menangkis, tetapi lawan satunya yang di depan sementara itu telah membabat juga, seketika itu Hong-ko mengkerut mendekam di atas kudanya untuk menghindarkan serangan, berbareng pula ia mengeprak kudanya menerjang ke depan, dan begitulah, waktu kedua laki-laki sempat memutar kudanya pula, namun Hong-ko sudah kabur pergi sejauh beberapa tombak.

     Dalam beberapa jurus singkat tadi, mereka bertarung di atas kuda semua, maka tak bisa leluasa memainkan senjata masing-masing, namun begitu Hong-ko sudah dapat menjajal bahwa lawannya bukan tandingan yang lemah, tenaga mereka besar berat, golok mereka membawa sambaran angin yang san-tar, apabila pertempuran dilakukan di daratan, dirinya tentu akan dipecundangi, oleh sebab itu jalan satu-satunya yang paling selamat ialah kabur!

     Ketika ketiga kuda saling kejar-mengejar dengan cepat hingga debu mengepul bergulung-gulung, dan makin lama kedua pengejar sudah makin mendekat, saat itu dari depan tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda mendatangi pula, suara kelenengan kudanya nyaring menggema terbawa desiran angin.

     "Celaka!" keluh Hong-ko. "Apabila yang datang dari komplotan penjahat juga, maka susahlah untuk meloloskan diri."

     Selagi ia berkuatir, sementara itu si penunggang kuda dari depan itu makin mendekat dan ternyata adalah seorang laki-laki setengah umur dengan dandanan sebagai Bu-su atau jago silat yang pakaiannya berwarna kuning gading, di leher kudanya yang putih mulus tergantung tiga buah kelenengan hingga menerbitkan suara nyaring.

    Nampak siapa gerangan yang datang ini, dari merasa kuatir Hong-ko berubah menjadi girang. Ia mengenali lelaki ini ialah orang yang pernah ia jumpai beberapa hari berselang, malah Hoa-Iihiap bilang dia ini adalah suaminya, 'Pat-pi-long-kun' Yan Ie-lam. Selagi ia hendak memanggil, secepat angin lelaki itu sudah menyerempet lewat di sampingnya.

     Seketika itu juga Hong-ko menahan kudanya dan berpaling, ia lihat Yan Ie-lam sedang memapaki kedua 'Eng-djiau' atau dua cakar alap-alap (maksudnya anjing penjilat musuh) yang sedang mengejar itu, sekali ia mengayun pedangnya laksana segulungan sinar perak, dua golok cakar alap-alap itu terpental semua, saking ketakutannya kedua orang itu mendekam di atas kudanya terus lari ke depan untuk menyelamatkan jiwa mereka.

     Sementara itu di antara suara derapan kuda yang ramai, Yan Ie-lam telah memutar kudanya pula dan mengejar menuju ke jurusan Hong-ko, kedua cakar alap-alap berbaju hitam itu mengayun tangannya membalik, beberapa bintik terang segera menyambar.

    "Awas senjata rahasia!" seru Hong-ko memperingatkan. Tetapi segera ia mendengar suara gemerincing nyaring, beberapa senjata piau yang ditimpukkan kedua laki-laki itu sudah disam-puk jatuh oleh Yan Ie-lam.

     Sesaat itu, Yan Ie-lam terus memburu, secepat kilat ia menerjang ke tengah kedua musuh itu, ketika kemudian pedangnya bekerja lagi, maka kedua musuh itu sudah terguling berbareng, pundak mereka sudah terluka semua, dengan merintih kesakitan mereka terkulai di antara rumput alang-alang yang lebat.

     Selagi Yan Ie-lam hendak menambahi pula masing-masing satu bacokan, tiba-tiba dari jauh terdengar ada suara bentakan yang ramai, sepasukan penunggang kuda dengan cepat sedang mengejar datang.

     Agaknya Yan Ie-lam terkejut oleh kedatangan pasukan itu, dengan mengayunkan pecutnya segera ia meneriaki Hong-ko, "Saudara Teng, lekas lari ikut aku!"

     Setelah itu mereka melarikan kuda secepat mungkin, tak lama kemudian mereka membelok ke sebuah jalanan kecil, di-mana terdapat hutan lebat, sebuah sungai menyusup lewat di antara hutan itu.

     Yan Ie-lam membawa Hong-ko menyeberangi sungai di tempat yang cetek, setelah agak jauh dari tempat pertempuran tadi, baru ia berhenti dan turun dari kudanya.

     "Kedatanganku agak telat, hingga saudara Teng hampir terjatuh ke tangan musuh!" katanya kemudian pada Hong-ko.

Lekas Hong-ko maju memberi hormat.

     "Apakah tuan adalah Yan-tayhiap?" tanyanya. "Sudah lama kudengar nama Yan-tayhiap yang tersohor, terimalah hormatku ini, entah mengapa Yan-tayhiap juga bisa menyusul datang ke sini?"

    "Kami sudah tahu saudara hari ini akan datang," jawab Yan le-lam sambil membalas hormat orang. "Cuma tidak menduga si jahanam Tam Ting-Siang ini bisa begini licin, ia telah mengirim bawahannya mempedayakan aku, dua anjing tadi bukan lain adalah Po-thau yang dikirim dari gubemuran, dan pasukan yang datang belakangan itu ialah bantuan untuk melindungi kedua anjing tadi."

     "Mereka tadi menghendaki aku meninggalkan senjata rahasia yang berada dalam peti, entah apa maksud tujuan mereka?" tanya Hong-ko.

     "Saudara cilik, menurut penglihatanku tentu mereka mempunyai alasannya. Lebih baik dibicarakan kelak saja," sahut Yan Ie-lam.

     Kemudian mereka mencemplak kuda masing-masing dan melanjutkan perjalanan, kini perjalanan mereka ditempuh di antara bukit-bukit, tidak lama kemudian mereka sudah sampai di suatu perkampungan, di luar pintu terlihat sudah menanti beberapa orang, di antaranya seorang wanita bukan lain ialah Hoa-Iihiap yang Hong-ko ketemukan malam-malam di rumah penginapan itu.

     Sesudah Hong-ko dipersilakan masuk ke ruangan tengah, lalu para hadirin diperkenalkan kepadanya, ternyata kesemuanya adalah para pahlawan dari berbagai perkumpulan dan golongan, bahkan banyak yang jauh-jauh datang dari sekitar Siamsay dan Sutjwan. Hong-ko memberi hormat pada setiap orang yang diperkenalkan padanya, dan ia menceritakan kisah pengalamannya di perjalanan tadi.

     Dalam pada itu, dari luar dilaporkan bahwa Si-siansing telah kembali. Menyusul mana dari luar masuk seorang dan lantas memberi hormat kepada para tamu yang ada di situ.

     Hong-ko coba mengamati orang itu, ia beroman putih cakap, berjenggot pendek cabang tiga, pakai ikat kepala seperti cendekiawan, jubah longgar dengan lengan baju lebar, usianya baru lebih dari tiga puluhan tahun.

     Orang ini bernama Si Liang, seorang Kiam-khek atau pendekar dari Tiang-kang-pang, gerombolan di sepanjang tepi sungai Tiang-kang atau Yang-tse, ia sebenarnya seorang imam dengan nama agama lt-tun, ilmu silatnya tinggi dan banyak tipu akalnya, biasanya ia menganggap dirinya secerdik Tju-kat Liang atau Khong Beng, kali ini ia pun ikut berkumpul di Soatang untuk urusan perampasan Tjin-tju-goan itu.

     Sesudah ia masuk tadi, lantas ia menutur, "Saudara-saudara sekalian, Tjhi Djin-ho memang cukup licin, kita siang malam tiada hentinya menguntit topi mestika itu, kini baru mendapat berita bahwa tiga mutiara mestika yang tak ternilai itu siang-siang sudah dicopot dari topinya dan diam-diam telah diangkut ke Soatang, pantas siang malam kita menanti, akhirnya tiada sesuatu hasil yang kita dapatkan."

     Atas keterangan itu, seketika para pahlawan hanya bisa saling pandang saja.

     "Apakah topi mestika itu pun diangkut kemari?" terdengar ada orang bertanya.

    Oleh karena itu seketika tiada yang menjawab, pandangan semua orang hanya menatap pada si penanya tadi.

     Si Liang ikut melihat penanya itu ialah Tju-kat Beng, pemimpin Liong-bun-pang di Soasay, tergolong tokoh nomor dua di antara orang-orang gagah di sekitar Sutjwan dan Siamsay.

    "Tju-kat Totju," jawabnya kemudian. "Mungkin karena Tjhi Djin-ho sudah mengetahui bahwa para pahlawan dari segala penjuru sedang mengincar padanya, maka ia telah berhasil mengundang sahabat dari Khong-tong-pay tampil ke muka untuk bermusuhan dengan kita."

Mendapat jawaban itu, semua orang jadi terkejut, karena

Kiam-khek Khong-tong-pay pada kala itu sangat disegani oleh orang-orang Kangouw di barat-laut umumnya.

     "Si Liang-heng, Khong-tong-san jauh-jauh berada di Kam-siok, apakah Tjhi Djin-ho bisa mengirim orang mengundang ke sana?" Yan Ie-Jam ikut bertanya.

    "Mungkin Yan-tayhiap belum mengetahui bahwa di dalam Khong-tong-pay itu ada beberapa tokoh, paling akhir ini ada yang telah bertapa di istana Tjhui-hun-kiong di atas Hoa-san," It-tun Ki-su Si Liang menerangkan. "Konon kabarnya Tjhi Djin-ho banyak kenal Tosu-tosu dari Tjhui-hun-kiong itu, dan karena itulah ia telah dihubungkan dengan tokoh-tokoh Khong-tong-pay itu. Tjhi Djin-ho mengetahui bahwa sepanjang jalan ia sudah ditunggu oleh pahlawan-pahlawan dari segala penjuru, maka diam-diam ia telah melucuti ketiga butir mutiara mestika itu dan dikirim dahulu oleh bawahannya, sedang topi mutiara itu sementara masih dititipkan di Tjhui-hun-kiong. ia menunggu bila ketiga mutiara mestika itu sudah tiba dengan selamat di Soatang, baru ia sendiri berangkat kembali."

     Di antara pahlawan-pahlawan itu, agaknya Hoa-lihiap sudah mulai mendongkol.

    "Cara begitu Tjhi Djin-ho mengaturnya, justru kita menempuh yang sulit dan tidak yang gampang," katanya kemudian. "Cuma ketiga mestika itu entah cara bagaimana diangkutnya ke Soatang sini?"

    "Itulah yang tak bisa kuketahui," sahut Si Liang. "Ada kemungkinan kini sudah sampai di Soatang dan mungkin pula masih di tengah jalan."

     Walaupun Teng Hong-ko masih hijau dan baru unjuk muka di kalangan Kangouw, tetapi ia mempunyai otak tajam. Sejak siangnya ia dicegat dua orang alap-alap pemerintah di Pek-hoa-ho, dalam pikirannya lantas tiada hentinya berpikir dengan penuh pertanyaan . Mengapa menguber-uber peti yang tak berharga itu? Katanya kalau ia meninggalkan 'Sam-ling-tju-bo-piau' dan 'Thi-wan', ia boleh dibebaskan.

     "Tjuwi-enghiong Tjianpwe," sekonyong-konyong ia berdiri dan angkat bicara, "Hari ini Siaute telah bentrok dengan bawahan Tam Ting-siang di perjalanan, mereka ternyata berkeras hendak merebut petiku ini, rupanya tindakan mereka ada hubungannya dengan soal Tjin-tju-goan itu."

     Si Liang mengamati pemuda itu sejenak, kemudian ia bertanya, "Siapakah saudara muda ini?"

     "Ya, aku telah lupa memperkenalkannya kepadamu, ia adalah saudara Teng Hong-ko yang kita sangka bawahan Tjhi Djin-ho yang mengirim barang pusaka itu, padahal di dalam petinya hanya contoh piau yang ia bawa untuk Giam-lothautju!" Hoa-lihiap mewakilkan Hong-ko menjawab.

Lalu mereka saling memberi hormat.

    "Kita datang di Soatang sini, menurut aturan seharusnya menjumpai Giam Tje-tjwan sebagai tuan rumah di sini," ujar Si Liang, sesudah itu ia menoleh dan berkata pada Hong-ko, "Saudara Teng, bolehkah kami melihat barang dalam petimu itu?"

"Sudah tentu boleh!" sahut Hong-ko tanpa ragu-ragu.

     Setelah ia mengambil petinya yang terbuat dari kayu cendana wangi itu, lalu ia membuka tutupnya dan terus diletakkan di atas meja.

     "Eh, peti ini mirip sekali dengan peti penyimpan Tjin-tju-goan itu!" kata Si Liang begitu melihatnya, sambil ia menjemput 'Sam-ling-piau' dan 'Thi-wan' dengan tangannya, ia meneliti bolak-balik.

     Pada akhirnya, sekonyong-konyong It-tun Ki-su Si Liang berseru kaget, karena mendadak ia mengenali senjata rahasia di tangannya itu adalah 'Sam-ling-tju-bo-piau* yang sangat lihai dari Go-bi-pay, di tengah piau itu kosong dan terpasang dengan pegas, di atas piau ada lubang rahasia dimana tersembunyi tiga buah piau kecil beracun sebesar paku, apabila musuh menyambut piau itu dan menjeplakkan alat rahasia yang terpasang, maka pegasnya bekerja dan piau kecil yang ada di dalam pipa piau luar itu segera menyambar keluar, begitu senjata rahasia mcnjeplak jangan harap musuh dapat menghindarinya.

     Sebab itu senjata tersebut disebut 'Sam-ling-tju-bo-piau' atau piau induk beranak berbentuk segitiga.

     "Yan-tayhiap," kata Si Liang kemudian. "Apakah kau masih ingat dulu kita membakar Siong-yang-koan di Hun-bong-san tanpa sengaja, sebabnya ialah karena hendak mencuri obat pemunah racun dari piau ini, oleh karenanya begitu berada di tanganku, aku menjadi kaget."

    "Penglihatan Si-heng memang tidak salah, orang yang bisa membikin piau seperti ini, dewasa ini mungkin sudah tidak banyak lagi," sahut Yan Ie-lam. "Cuma maksud saudara Teng mengunjukkan barang ini ialah untuk mengetahui mengapa Tam Ting-siang bisa mengirim orang buat merampasnya, apakah barang ini ada hubungannya dengan Tjin-tju-goan?"

    Si Liang tidak lekas menjawab, ia masih meneliti beberapa 'Sam-ling-piau' itu bolak-balik di bawah sinar lampu, sesudah itu ia mengambil 'Thi-wan' atau gotri besi dari dalam peti, kemudian ia letakkan di atas tutup peti agar tidak menggelundung jatuh.

     Thi-wan, gotri atau peluru dari besi itu adalah semacam senjata rahasia juga dari Go-bi-pay yang terbuat dari baja, tiap-tiap butir sebesar buah kelengkeng, belasan peluru yang terletak di atas tutup peti itu berkelap-kelip terkena sinar lampu.

     Si Liang mengambil dua butir dan diperiksa, lalu ia taruh kembali ke atas tutup peti dan pulang-pergi digelundungkan, namun scdikitpun tiada tanda-tanda yang mencurigakan. Akhirnya ia lepaskan gebungan yang terbungkus dengan kain kuning, di dalamnya ada dua botol obat pemunah racun, selain itu hanya terdapat contoh pembuatan 'Sam-ling-piau' itu. Setelah semua orang memeriksanya juga dan tak terlihat sesuatu tanda-tanda, mereka lantas mengembalikan benda-benda itu ke dalam peti.

     "Saudara Teng, baiklah kau simpan petimu itu, kami telah banyak mengganggu!" kata Yan Ie-lam akhirnya pada Hong-ko.

"Bagaimana bisa dikatakan mengganggu, hari ini kalau bukan Yan-tayhiap yang menolong, peti itu sudah lama jatuh di tangan alap-alap pembesar itu!" sahut Hong-ko dengan tertawa.

     "Aku ada satu usul, entah saudara Teng suka melaksanakan tidak?" sementara terdengar Si Liang berkata pula dengan mengelus-elus jenggotnya.

     "Ki-su ada kepentingan apa, asal Siaute bisa menjalankan, pasti tidak menampik," sahut Hong-ko.

     "Urusan ini adalah bersangkutan dengan kepentingan bersama," Si Liang mulai menerangkan, "Aku pikir kali ini Tam Ting-siang secara diam-diam telah mengangkut ketiga mutiara itu ke Soatang, tentu ia sudah mengatur dengan baik sekali, jangan-jangan masih menggunakan tipu muslihat untuk menghindarkan incaran orang-orang Kangouw, hari ini ia mengirim cakar alap-alapnya buat mencegat peti saudara Teng. Hal ini mungkin erat hubungannya dengan perbuatannya itu, kita boleh juga menghadapinya dengan akal, dengan cara 'Kim-sian-toat-kak' (mengelabui seperti tonggeret emas bertukar kulit), kita bisa mencoba mereka."

     Tertarik oleh usul Si Liang, para pahlawan lantas bertanya apakah akalnya itu.

     "Kali ini barang yang saudara Teng bawa untuk Giam Tje-tjwan Lotjianpwe tidak lebih hanya beberapa buah senjata rahasia ini, tetapi Tam Ting-siang telah menaruh perhatian cukup besar, bahkan ia mengirim orang untuk mencegat di tengah jalan. Ini suatu tanda di dalamnya tentu ada sesuatu yang istimewa," Si Liang menerangkan. "Maka kita mengambil kesempatan ini untuk menukar senjata rahasia di dalam peti dan biar dibawa terus oleh saudara Teng, sedang beberapa orang di antara kita diam-diam menguntit, pertama kita boleh sekalian melihat tindakan apa dari cakar alap-alap nanti, kedua seandainya senjata rahasia itu tersembunyi sesuatu rahasia, juga tak akan merembet ke diri Giam-lotjianpwe, bagaimana pendapat kalian atas usul ini?"

Sudah tentu semua orang memuji akal baik itu dan menyatakan akur. Teng Hong-ko sendiri pun menyatakan sanggup melaksanakan tugas itu. Tetapi lantas ia teringat cara bagaimana mereka bisa mendapatkan barang yang serupa untuk menukarnya?

     "Siaute masih agak ragu-ragu, ialah peluru baja itu masih gampang didapatkan, tetapi beberapa Sam-ling-piau itu darima-na bisa mendapatkannya? Lagipula bagaimana harus menjawab nanti di hadapan Giam Tje-tjwan Tjianpwe?" tanya Hong-ko mengutarakan pikirannya.

     "Saudara Teng tak usah kuatir," sahut Hoa-lihiap dengan tertawa waktu mendengar pertanyaan Hong-ko, "Dulu waktu Yan-toako membakar Siong-yang-koan, ia pernah mencuri tiga buah Sam-ling-piau si imam tua she Kim yang serupa dengan ini dan kini masih tersimpan baik-baik. Sedang di hadapan Giam Tje-tjwan nanti, diam-diam kau boleh memberitahu padanya, tidak lama kita pasti mengembalikan yang asli padanya."

Mendapat janji itu, baru Teng Hong-ko merasa lega.

     Dalam pada itu dari luar ruangan itu mendadak angin kencang mendesir, waktu Hoa-lihiap mendongak, segera ia berteriak, "Awas, ada mata-mata!"

     Segera ia menarik diri Hong-ko terus mengumpet ke belakang rumah, sementara itu tertampak sesosok bayangan orang telah menerobos masuk dan segera ia memadamkan api lilin. Dalam kegelapan itu bayangan hitam telah melompat sampai di tengah ruangan, gerak tubuhnya begitu cepat laksana angin dan lantas menubruk ke tempat dimana Hong-ko tadi berduduk.

     Saat itu Hoa-lihiap sudah menarik Hong-ko melompat ke pintu pojok, melihat di tangannya masih terkempit peti kayu wangi itu, maka segera ia mendorong Hong-ko masuk ke ruang samping dari pintu pojok itu, sedang ia sendiri segera melolos pedangnya dan menjaga di ambang pintu.

     Begitu bayangan orang itu menubruk ke tengah, Yan le-lam dan beberapa jago lainnya sudah menarik senjata dan menjaga di ambang pintu.

     Karena menubruk tempat kosong, bayangan orang itu telah mengangkat kursi di tempat itu dan terus dilemparkan. Di antara suara gedubrakan, kursi itu sudah hancur menjadi beberapa potong. Dengan menggunakan kesempatan ketika ribut menyambut kursi yang dilemparkan itu, bayangan hitam itu dengan sekali lompatan sudah menerobos keluar pintu lagi. Waktu para pahlawan maju memburu, segera mereka disambut dengan beberapa bintik sinar mengkilap.

    "Awas, senjata rahasia!" seru Yan Ie-lam yang berjalan paling depan. Ia memutar pedangnya, di antara suara berdencing, senjata rahasia itu sudah kena disampuk jatuh, kiranya adalah beberapa buah 'kim-tji-yap-tju-piau', senjata rahasia berupa mata uang.

     Terganggu oleh serangan senjata rahasia itu, maka para pahlawan merandek, sedang bayangan hitam itu sudah melesat pergi keluar kampung, dengan sekali lompatan sejauh beberapa tombak, dalam sekejap saja musuh itu sudah menghilang di antara hutan belukar yang gelap gulita.

     Sementara itu Si Liang meneriaki supaya menyalakan api lilin dan menyuruh semua orang jangan menginjak masuk ke dalam ruangan. Sudah tentu seruannya itu membikin bingung semua orang, entah apa yang dikehendaki. Dalam pada itu, saking mendongkolnya dipermainkan orang, secara membabi buta Liok Ing mencaci maki kalang-kabut.

     "Hai, Lau Si, orang telah mengeluruk sampai di rumahmu, tetapi apa yang sedang kau utak-atik di sini!" serunya penasaran.

     "Liok-lotoa, kau boleh lihat nanti, coba lihat ini apa!" sahut Si Liang.

     Waktu sinar lilin menyala pula, maka di lantai ruangan entah sejak kapan sudah tersiram basah oleh air hingga tertampak ada bekas telapak kaki yang sangat kecil, rupanya bekas sepatu kaum wanita yang kecil.

     Kiranya tadi waktu mendadak ada bayangan orang menubruk masuk, Si Liang dengan segera telah menyiram secangkir air teh ke lantai.

     "Hebat sekali, mana boleh jadi!" seru para pahlawan berbareng. "Kita orang-orang gagah dari kedua tepi Hong-ho, bisa membiarkan seorang budak perempuan menerobos pulang-pergi semaunya, hal ini kalau teruar di luaran, bagaimana jadinya nanti?"

    "Percuma kita berang sendiri di sini," ujar Si Liang akhirnya, "Lebih baik kita mencari tahu siapakah gerangan yang datang tadi."

     "Menurut penglihatanku, ia dapat datang dan pergi secepat angin, gerak tubuhnya sangat cepat, begitu masuk lantas hendak merebut peti saudara Teng. Kalau bukan cakar alap-alap dari pembesar negeri, tentu adalah begal tunggal yang berkeliaran di Soatang sini!" Hoa-lihiap mengemukakan pendapatnya.

     Menyusul semua orang lantas mengemukakan pendapatnya masing-masing, tetapi tiada seorang pun yang memastikan macam apakah orang yang datang tadi.

     "Nah, kini sudah makin kuat bukti bahwa peti yang saudara Teng bawa itu ada apa-apanya, hingga merupakan benda tujuan perebutan dari berbagai golongan," ujar Yan le-lam. "Baiknya kita mengaso saja, besok kita berangkatkan dia ke Tjelam dan kita menyusul di belakangnya juga menuju ke tempat Giam-lothaudji sana, coba kita lihat dulu terjadi sesuatu atau tidak, kemudian baru kita mempertimbangkan pula."

     Lalu para pahlawan itu pada menyatakan setuju, tetapi ku-atir Hong-ko terganggu di tengah jalan, maka diputuskan suami isteri Yan Ie-lam mengantarkannya sebagian jalan.

    Esok harinya, dengan menunggang seekor kuda putih, Hong-ko berangkat dengan punggung menggendong 'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay itu, sedang peti kayu cendana menggeletak di punggung kudanya, senjata rahasia dalam peti sementara itu sudah ditukar. Suami isteri Yan Ie-lam pun mengiringnya berangkat.

Kala itu di daerah selatan Tjotjiu dan sekitarnya sebenarnya banyak penyamun yang berkeliaran, tetapi demi nampak ketiga orang di atas kuda begitu gagah, mana ada yang berani coba-coba mengganggunya.

     Setelah Yan Ie-lam berdua mengantar Teng Hong-ko sampai di kota kabupaten, Ka-siang-koan, lantas ia berpesan pada Hong-ko, "Saudara Teng, selanjutnya di depan ialah Tjeling dan kalau terus lagi akan sampai di Tjelam, sepanjang jalan sudah merupakan jalanan ramai, baiknya kita berpisah di sini, kalau saudara sudah sampai di Tjelam, sampaikan salam kami pada Giam-loenghiong, dan kalau terjadi sesuatu urusan jangan kau takut."

     Berulang-ulang Hong-ko menyatakan baik dan tak lupa ia menghaturkan terima kasih, sesudah itu ia pecut kudanya dan terus melanjutkan perjalanannya.

     Perjalanan telah berlangsung dua hari, kini Hong-ko sudah sampai di Thay-an. kalau maju lagi adalah jalanan yang harus melalui lereng gunung, meskipun termasuk jalan besar juga, tetapi kadang harus berpuluh li baru terdapat perhentian.

     Hari itu, ketika ia mengendalikan kudanya, tiba-tiba di belakangnya menyusul derapan kuda yang riuh ramai, dari jauh sudah terdengar bentakan meminta jalan, waktu ia menoleh, maka tertampaklah dua lelaki dengan dandanan sebagai opas, seorang di antaranya menggendong kantong pos dinas, secepat kilat mereka telah menyerobot lewat.

     Kala itu, awan mendung hitam tebal bergumpal-gumpal dan angin besar menderu-deru, debu beterbangan dan sinar kilat sambar-menyambar, tampaknya dengan segera akan turun hujan deras. Lekas Hong-ko pecut kuda mempercepat larinya agar bisa menyandak tempat perhentian di depan, sekadar untuk berteduh dari serangan hujan lebat. Tetapi baru setengah jalan, hujan deras sudah keburu turun dengan kilat menyambar dan halilintar mengguruh. Masih untung baginya sementara itu tempat perhentian sudah tertampak dari jauh.

Waktu Hong-ko sampai di tempat itu, ia lihat di depan rumah pondokan di seberang sana tertampak di kandang kuda tertambat dua ekor kuda, bukan lain adalah kuda kedua opas tadi. Ia pun memasuki rumah penginapan itu dan memilih sebuah kamar buat bermalam. Sementara di kamar sebelah rupanya sudah ada tamu terlebih dulu dengan pintu kamar yang setengah tertutup, waktu Hong-ko melirik, kiranya yang tinggal di dalam adalah dua petugas yang ia ketemukan tadi, mereka sedang mencopot baju mereka buat digarang di atas api anglo agar kering.

     Sampai malam hari, hujan ternyata masih belum reda, sehabis makan malam Hong-ko lantas rebah di kamarnya untuk mengaso. Lapat-lapat ia mendengar kedua petugas negeri atau opas di kamar sebelah itu seperti belum tidur dan sedang mengobrol sambil minum arak.

     Secara iseng Hong-ko coba memasang telinga mendengarkan apa yang sedang dipercakapkan.

    "Malam ini sudah terang tak mungkin berangkat, kita boleh minum sedikit puas dan tidur sedikit gasik, besok pagi-pagi kita lantas berangkat," terdengar seorang di antaranya berkata.

     "Surat dinas itu masih belum kering, digarang di atas anglo jangan-jangan nanti malah hangus, sekali-kali jangan karena itu kita harus terima rangketan," sahut yang lain.

     "Jangan kuatir, surat dinas apa sih begitu penting," ujar yang duluan tadi, "Hanya nota pengiriman barang saja, apa harus begitu terburu-buru, biarkan saja kering sendiri di atas meja."

     "Losam, nyata kau belum tahu, waktu kita hendak berangkat, Ang-taydjin telah wanti-wanti berpesan padaku bahwa surat dinas ini ada sangkut-pautnya dengan urusan penting, sekali-kali jangan dihilangkan," kata pula yang lain.

     "Sudahlah, dalam kamar ini hanya ada kau dan aku dua orang, tak usah kau merasa bimbang, baiklah kita mengaso Siangan," sahut orang yang dipanggil Losam.

     Beberapa kata pembicaraan dua petugas ini ternyata menarik perhatian Teng Hong-ko. Sebentar kemudian, dari suara ke-rusekan di kamar sebelah, Hong-ko dapat menduga mereka sudah pulas dan keadaan telah sunyi senyap.

     "Tadi mereka menyinggung soal pengiriman barang, jangan-jangan adalah barang yang Tam Ting-siang kehendaki itu? Dan dikatakan pula bahwa surat dinas ini sangat penting, apakah juga ada hubungannya dengan topi mestika itu?" tanya Hong-ko dalam hati.

     Tak lama kemudian suara menggeros telah terdengar berkumandang dari kamar sebelah, ia tahu kedua petugas itu tentu sudah terkena pengaruh beberapa cawan air kata-kata, tentu tidur mereka sedang pulas-pulasnya, segera timbul rasa ingin tahunya, ia hendak mencuri baca surat dinas yang disebut-sebut tadi. Lantas ia menukar pakaiannya dengan setelan hitam ringkas, pelahan-lahan ia membuka daun jendela kamarnya terus merayap keluar.

     Di bawah jendela kamarnya itu ternyata adalah satu pelataran kosong, waktu ia melongok, ternyata daun jendela kamar sebelah hanya tertutup separoh, jaraknya sekitar lima atau enam kaki. sedang di tengah jarak itu terhalang oleh pagar bambu yang sengaja dibikin, mungkin untuk menjaga kalau ada pencuri.

     Adanya pagar itu kebetulan juga buat Hong-ko, karena dapat dipergunakan sebagai tangga, ia merembet dari pinggir jendela dan terus merayap ke atas pagar itu, sedikitpun tanpa menerbitkan suara dan ia telah sampai di sebelah pagar sana, kemudian dengan sekali lompatan enteng ia telah menggelantung di belakang sebelah daun jendela yang tertutup itu, waktu ia mengintip, maka terlihat olehnya kedua orang itu terpulas laksana sudah mampus.

     Dengan gerakan 'To-tiau-kim-kau', kait emas menggantung terbalik, kedua kakinya ia gantolkan pada jendela dan terus merayap masuk ke kamar, waktu tangannya diulur, dengan tepat bisa sampai di atas meja, sudah tentu dengan gampang saja surat dinas yang terletak di meja sudah berada di tangannya, kemudian dengan cepat ia kembali ke kamarnya sendiri.

Sesudah berada di kamar, Hong-ko membalik kursinya, dengan baju hitamnya ia tutup keempat kaki kursi itu hingga merupakan kerudung dan di tengahnya ia nyalakan api lilin, dengan begitu sinar lilin tidak tembus keluar kamar, baru sesudah itu ia mengeluarkan surat dinas yang ia colong, tutup surat itu masih basah, maka dengan tidak terlalu susah ia sudah bisa membukanya.

     Tetapi lantas ia merasa kecewa, karena surat itu hanya surat dinas biasa saja sebagai nota pengantar pengiriman barang belaka >ang dikirim bawahan Tam Ting-siang dari Khay-hong.

    "Surat dinas begini saja apakah perlu dikirim begitu cepat?" pikir Hong-ko. Tetapi tidak urung ia membaca terus surat itu.

     Pada akhir surat itu tercantum jumlah kereta rangsum yang dikirim dan hari keberangkatannya. Ketika Hong-ko hendak menutup kembali surat itu, mendadak ia menjadi tertarik oleh sesuatu, ternyata di antaranya ada satu baris tulisan daftar barang-barang >ang dikirim, di pinggir baris tulisan itu ada ditandai bundar-bundar merah dengan sangat mencolok.

    Barang yang tercatat di baris tulisan itu ialah semangka Hami dari Lantju. jumlah seluruhnya termuat dalam sembilan kereta. Waktu Hong-ko meneliti tanggal sampainya di Soatang yang ditentukan, ternyata masih harus tujuh atau delapan hari lagi baru bisa sampai.

     "Pengiriman barang begini penting, laginya tanggal sampainya masih jauh. tetapi diselipkan nota ini dalam surat dinas dan dikirimkan kepada Tam Ting-siang dengan tugas kilat?" begitulah pikir Hong-ko pula dengan tak mengerti.

     Ia berpikir, dan tujuh tanda bundaran merah tadi kembali terkilas di pandangannya, ia tertarik. Ia menduga tentu ada rahasianya tanda-tanda ini, lantas ia ingat baik-baik hari yang tercantum dalam surat itu di sampulnya dan ditutup rapat baik-baik, ia padamkan api lilin pula dan mendekam di lantai untuk mendengarkan gerak-gerik di kamar sebelah, tetapi kedua petugas itu ternyata masih menggeros, dengan cepat ia melompat keluar pula dari jendela dan mengembalikan surat dinas itu ke tempat asalnya. Kemudian ia kembali ke kamarnya sendiri, ia menghela napas lega, ia rebah dan tertidur.

     Besoknya pagi-pagi sekali, cuaca sudah terang dan dua petugas di kamar sebelah itu sudah tak tampak lagi, Hong-ko sendiri pun melanjutkan perjalanan ke Tjelam. Selanjutnya jalanan sudah merupakan jalan raya yang ramai, tiada dua hari kemudian, ia sudah sampai di Kak-thau-tjun, suatu kampung di timur kota yang ditujunya.

     Waktu itu 'Pat-kik-im-yang-tjin' Giam Tje-tjwan sudah berusia lebih setengah abad, ia tergolong jago silat keluaran cabang lain dari Siau-lim-si, ciptaannya 'Pat-kik-im-yang-kiam' di daerah Soatang terpuji sebagai ilmu pedang yang tiada tandingannya. Giam Tje-tjwan berhati jujur dan berbudi luhur, suka membela ketidak-adilan dan membasmi golongan penindas serta berdiri di pihak kaum lemah, ia pun suka bergaul dengan sahabat-sahabat dari kalangan Kangouw, maka beberapa muridnya pun mewariskan semangatnya yang suka berbuat mulia itu. Sebaliknya orang-orang dari kalangan pembesar negeri walaupun agak sirik dan benci padanya, tetapi tidak sedikit pula dari pejabat-pejabat rendahan yang mendapatkan kebaikannya, oleh sebab itu Tjongpothau atau kepala polisi Tjhi Djin-ho biasanya tak berani mengganggu gugat padanya.

     Sesudah memasuki kampung itu dan bertanya, segera Hong-ko menuju ke kediaman keluarga Giam dan setelah memberitahukan maksud kedatangannya, segera ia dipersilakan masuk ke ruang tamu.

     Sesampainya di kamar tamu, maka ia sudah ditunggu oleh seorang laki-laki yang berperawakan gagah kekar, brewok dengan mata bersinar, Hong-ko dapat menduga tentu tidak salah orang ini ialah Giam Tje-tjwan, maka lekas ia maju memberi hormat. Giam Tje-tjwan membalas hormat orang dan sesudah mengetahui nama Hong-ko, ia mempersilakan tamunya duduk, lalu ia bertanya keadaan Bu-tun Todjin sambil ia menerima peti yang dikirimkan kepadanya.

     Selagi Hong-ko hendak menceritakan pengalamannya bertemu dengan Yan Ie-lam dan kawan-kawan di Pek-hoa-ho dan barang dalam peti itu sengaja sudah ditukar, mendadak dari luar ada laporan bahwa dari gubernuran telah dikirim 'Siu-pi' Tjin-taydjin hendak bertemu (Siu-pi kira-kira setingkat dengan letnan sekarang).

     Mendapat laporan itu, rupanya Giam Tje-tjwan agak heran, ia pandang Hong-ko sejenak dan sesudah itu baru ia perintahkan centeng membuka pintu tengah untuk menyambut kedatangan tamu pembesar negeri, supaya menanti sebentar di ruangan besar itu dan menyatakan tuan rumah selekasnya akan menemuinya setelah bertukar pakaian.

    "Teng-hiantit apakah di tengah jalan kau telah berselisih paham dengan pejabat negeri?" tanya Giam Tje-tjwan dengan suara tertahan setelah centeng yang ia perintahkan itu berlalu.

     Hong-ko mengerti bahwa urusan itu tak bisa dijelaskan dengan sepatah kata saja, tetapi kuatir pula menimbulkan kecurigaan Giam Tje-tjwan, maka kemudian ia menjawab, "Wanpwe ketika lewat di Pek-hoa-ho pernah bertemu pejabat hendak merampas petiku itu, belakangan berkat kedatangan seorang penolong barulah pejabat itu lari ketakutan."

     Mata Giam Tje-tjwan mengerling, ia lantas tahu bahwa perkataannya itu tentu ada sebab musababnya, tetapi karena buru-buru harus menemui tamu, tak sempat ia bertanya lebih lanjut.

     "Orang-orang dari pemerintahan jarang ke sini," katanya kemudian waktu hendak meninggalkan Hong-ko. "Tetapi kini tidak lebih dulu dan tidak lambat, begitu Hiantit datang, mereka pun lantas menyambangi aku, tentu ada apa-apanya yang dituju, tiada halangannya Hiantit coba mengintip di belakang pintu, coba dengarkan apa yang akan dibicarakan."

     Sudah tentu Hong-ko merasa tak tenteram, ia tidak nyana begitu datang sudah membawa kesukaran bagi Loenghiong itu.

Lalu ia ikut di belakang Giam Tje-tjwan menuju ke ruangan depan, ia mengintip dari luar jendela yang teraling oleh dedaunan bunga, ia lihat Giam Tje-tjwan sementara itu sedang menghadapi seorang perwira, di samping perwira itu berdiri dua pengiring berdandan sebagai 'Po-gwai' atau anggota polisi.

     "Ya, betul Tjin-taydjin, ia adalah keponakanku, apakah di tengah jalan ia ada apa-apa yang menyinggung pejabat negeri?" terdengar Giam Tje-tjwan sedang bertanya jawab.

     "Bukan, harap Giam-loenghiong tak usah sangsi," terdengar perwira itu menyahut. "Keponakanmu itu tidak menerbitkan sesuatu keonaran, melainkan karena Tam-taydjin mendengar katanya ia telah membawakan Loenghiong beberapa contoh senjata rahasia yang tunggal, maka aku telah diperintahkan datang ke sini buat pinjam lihat saja, apabila memang betul terdiri dari senjata rahasia yang bagus, biar orang-orang kami pun ikut menambah pengalaman."

     Sudah tentu Hong-ko tahu bahwa apa yang perwira itu katakan hanya alasan belaka, yang betul ialah mereka menghendaki barang-barang dalam petinya itu.

     "Tjin-taydjin." kembali terdengar Giam Tje-tjwan berkata pula. "Barang-barang yang dibawa orang she Teng itu hanya sedikit contoh am-gi (senjata gelap atau senjata rahasia) yang tak berharga, entah mengapa Sunbu Taydjin bisa menaruh perhatian begitu besar, dan darimana ia bisa mengetahui isi peti itu?"

     Karena pertanyaan yang terakhir itu, Siu-pi she Tjin itu menjadi bungkam dan seketika tak mampu menjawab.

     "Mengapa Loenghiong malah bertanya," katanya kemudian dengan tertawa buatan. "Asal-usul Sun-bu Tay-djin kami tentu sudah jelas, mata telinganya begitu tajam. Sampai kami yang menjadi bawahan pun sangat mengagumi, kali ini dugaannya pasti tidak meleset, oleh karena itu ia memerintahkan kami meminta pinjam ke sini."

     "Oh, kiranya begitu," sahut Giam Tje-tjwan. "Tetapi harap Tjin-taydjin maklum bahwa orang she Teng itu baru datang hari ini dan barang itu aku pun hanya melihatnya sekejap di dalam peti, barang di dalamnya sedikitpun belum teraba, kalau Sun-bu Taydjin memang hendak pinjam, maka silakan Tjin-taydjin bawa saja."

     Sesudah itu Giam Tje-tjwan memerintahkan orangnya pula membawa keluar peti kayu wangi yang Hong-ko bawa itu.

     Tak lama kemudian peti itu sudah dihadapkan, melihat peti terbikin begitu mungil bagus, berulang-ulang Tjin Siu-pi memuji, menyusul itu lantas ia membuka dan memeriksanya, ternyata tidak salah di dalamnya terdapat beberapa 'Sam-ling-piau' dan belasan butir pelor besi, sedang segebung barang yang terbungkus kain kuning itu ia keluarkan dan diserahkan pada Giam Tje-tjwan.

    "Bungkusan ini baiknya disimpan Loenghiong saja, sedang barang-barang lainnya tanggung besok dikembalikan tepat pada waktunya," kata si perwira.

    Giam Tje-tjwan menyambut barang yang diangsurkan dan terus ia buka, di dalamnya ternyata adalah sepucuk surat dari Bu-tun Todjin, kecuali itu hanya segebung kertas resep cara pembuatan senjata rahasia itu dan dua botol obat bubuk.

    "Tadi aku masih belum tahu barang apa sebenarnya yang terbungkus di dalam ini!" ujar Giam Tje-tjwan pada Tjin Siu-pi.

     Tetapi seperti tidak memperhatikan perkataan itu, Tjin Siu-pi telah berbangkit dan berpamitan.

     "Teng-hiantit, kau sudah mendengar semuanya bukan," kata Giam Tje-tjwan sesudah pembesar itu pergi. "Sepanjang jalan kau sudah diincar orang, beruntung dalam peti ini hanya benda-benda tak berharga ini, aku sendiri pun tidak merasa sayang, cuma agak menghalangi maksud baik gurumu saja!"

     Teng Hong-ko tertawa getir, ia menjawab, tetapi tak berani berterus terang memberitahukan bahwa barang dalam peti sudah ditukar, karena hal itu tentu akan membikin gelisah Giam Tje-tjwan, namun datam hati ia mengerti, tak lama lagi pasti akan terjadi sesuatu.

     Dan dugaan Hong-ko memang tidak salah, malapetaka itu terjadi pada keesokan harinya.

     Pagi-pagi hari kedua, beberapa murid Giam Tje-tjwan secara gugup telah melapor ke dalam, bahwa pasukan tentara telah memasuki kampung dan membikin penjagaan di beberapa jalan penting.

     Sungguhpun paras muka Giam Tje-tjwan agak lain waktu mendapat laporan itu, namun sebisanya ia masih menghibur orang-orangnya bahwa kedatangan pasukan itu mungkin ada dinas tugas lain. Hanya Teng Hong-ko seorang yang berdebar-debar, ia mengerti sesudah Tam Ting-siang mengetahui bahwa barang itu palsu tentu akan membuat perhitungan dengan Giam Tje-tjwan. Untuk menjaga segala kemungkinan, maka ia telah menyiapkan senjata yang perlu di badannya.

     Tak lama kemudian, suara riuh ramai telah terdengar di luar gedung, centeng telah melaporkan bahwa pasukan yang dipimpin Tjin Siu-pi telah mengepung rapat seluruh kampung. Lekas Giam Tje-tjwan keluar untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi, namun Tjin Siu-pi sementara itu telah masuk dengan diikuti beberapa jagoan dari gubernuran. Begitu nampak Giam Tje-tjwan, pembesar itu agaknya sudah tidak sehormat kemarin.

     "Giam Tje-tjwan, Tam-taydjin cukup menghormati kau, sebaliknya kau berani menyerahkan barang yang sudah kau tukar!" serunya sembari duduk tanpa diundang.

     Dengan mata terbuka lebar, Giam Tje-tjwan tercengang, ia tidak mengerti cara bagaimana harus menjawab.

     "Tjin-taydjin, apakah artinya semua itu?" sejenak kemudian baru ia bertanya.

     "Hm, Giam Tje-tjwan jangan kau berlagak pilon dan coba main komidi," sahut sang perwira. "Peti yang aku bawa kemarin itu, barang di dalamnya sudah bukan barang asli lagi!"

     "Tetapi aku yang rendah sungguh belum merubah sedikitpun barang-barang di dalam peti itu," Giam Tje-tjwan coba membela diri.

     Tetapi mana pembesar negeri itu mau percaya, dengan sekali membentak, ia perintahkan pengiring yang datang bersamanya itu untuk menggeledah.

     Laksana binatang liar, pengiring itu segera menyerbu ke dalam rumah dan mengobrak-abrik semua isi rumah, sampai daun jendela dan pintu pun hampir-hampir copot diperiksanya. Melihat kebuasan petugas-petugas itu, beberapa anak murid dan centeng Giam Tje-tjwan yang agak kuat menjadi gusar, dengan mata melotot melihat tingkah laku yang sewenang-wenang itu, hampir saja tak tertahan dan hendak melabrak mereka. Tetapi Giam Tje-tjwan sudah keburu mencegah mereka dan menyuruh mundur ke pelataran luar, dengan begitu para petugas dan prajurit itu bisa dengan leluasa membongkar semaunya. Namun sesudah ribut setengah harian ternyata masih belum menemukan sesuatu yang dicari.

    "Orang yang membawa peti kemarin itu dimana?" tanya Tjin Siu-pi akhirnya dengan membentak.

    Giam Tje-tjwan tertegun oleh pertanyaan itu, tetapi segera ia menjawab, "Tjin-taydjin urusan ini tak mungkin berhubungan dengan orang she Teng itu, ia pergi kemana, aku yang rendah pun tak mengetahui."

     Dalam pada itu, di pelataran rumah itu tiba-tiba terdengar bentakan yang ramai, dua Pothau yang kemarin datang bersama Tjin Siu-pi itu telah memburu ke ruang latihan dengan golok terhunus. Dengan terkejut Giam Tje-tjwan memandang, tetapi akhirnya tahulah ia bahwa Teng Hong-ko yang mencampurkan diri di antara para centeng rupanya telah dipergoki oleh kedua anggota polisi itu.

     Sesaat itu, suasana segera ramai oleh suara beradunya senjata tajam, Teng Hong-ko telah melompat maju, dengan pedangnya ia memapaki golok lawan, secepat kilat dengan satu tipu 'Thian-su-hian-kan' atau Thian-su mempersembahkan surat, ia membikin kedua lawannya terpaksa harus mundur.

     Beberapa begundal petugas negeri lainnya begitu melihat kawan mereka sudah bergebrak, mereka maju serentak dan mengepung Hong-ko di tengah. Tetapi Hong-ko tak gentar walaupun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak, pedangnya diputar dengan cepat, dimana pedangnya sampai, di situ senjata musuh segera terpental.

     Selagi pertarungan menjadi makin sengit, tiba-tiba terlihat ada bayangan orang berkelebat, seseorang telah menerobos masuk di antara senjata-senjata yang saling beterbangan, beberapa jagoan petugas mendadak merasa pergelangan tangan mereka kaku pegal, sementara itu Giam Tje-tjwan sudah menghadang mengalingi di depan Teng Hong-ko.

"Berhenti semua!" bentaknya.

     Kiranya tadi ia telah mengunjukkan 'Im-yang-tjiu' yang lihai, ia telah menotok tangan seorang jagoan yang paling depan, sedang pedang Hong-ko pun kena teraup di tangannya.

     "Jangan kamu coba membikin ribut di rumah Lohu!" ia melanjutkan bentakannya. "Seandainya ada perkara betapa besarnya pun, Lohu boleh memikul seluruhnya."

     Beberapa jagoan polisi yang mengetahui kelihaian Giam Tje-tjwan, maka seketika mereka tak berani coba bertindak sesukanya lagi. Hanya Tjin Siu-pi yang sementara itu telah mendekati.

     "Giam-lodji, berani kau melawan!" katanya dengan tekanan suara berat sambil matanya melotot.

     "Tjin-taydjin, perkenankan aku bertanya, kau diperintahkan datang buat menggeledah rumah atau menangkap orang?" tanya Giam Tje-tjwan, si 'Im-yang-pat-kik-tjiu' dengan berani.

     Karena pertanyaan yang spontan dan beralasan itu, seketika Tjin Siu-pi bungkam, tetapi kemudian lantas ia menjawab sesudah berpikir sejenak.

     "Tam-taydjin memerintahkan aku ke sini, menghendaki agar kau menyerahkan barang aslinya yang ada di dalam peti!"

"Aneh sekali perkataan Tjin-taydjin itu," sahut Giam Tjetjwan. "Berdasarkan apa memastikan bahwa barang di dalam peti itu sudah bukan yang asli lagi?"

     Tjin Siu-pi menjadi gelagapan lagi oleh pertanyaan itu, karena tak mungkin ia menceritakan terus terang apa sebenarnya yang terjadi. Karena itu, dari malu ia berubah menjadi gusar.

     "Giam Tje-tjwan, tak usah kau banyak membacot, baiknya kau dan bocah she Teng itu ikut kami, kemudian biar diputuskan sendiri oleh Tam Ting-siang!" ia membentak lagi. Sudah itu, tanpa berkata lagi segera ia memberi tanda, para begundalnya segera maju mengepung lagi mereka berdua, cuma sudah tak berani sembarangan menggerakkan tangan pula.

     "Aku, Giam Tje-tjwan selamanya tidak pernah berbuat sesuatu kejahatan, andaikan harus ikut pergi dengan pembesar anjing ini pun tak takut, cuma entah orang muda she Teng telah melakukan perbuatan apa sewaktu di tengah jalan," pikir Giam Tje-tjwan.

     Agaknya Hong-ko dapat menerka apa yang orang tua itu pikirkan, maka lantas ia maju dan berkata padanya, "Giam-lo-enghiong jangan kuatir, Siautit datang dari Go-bi tanpa berbuat sesuatu kejahatan, negara tentu ada peraturan hukumnya, apakah kita takut fitnahan pada orang baik-baik, biar Siautit ikut Lo-tjianpwe pergi bersama mereka, coba apakah mereka berani sewenang-wenang mencelakai orang."

     Perkataannya begitu bersemangat dan berani, Tjin Siu-pi mau tak mau harus melirik, sedang Giam Tje-tjwan diam-diam memuji pemuda ini yang cukup tabah dan berani.

     Akhirnya mereka berdua digiring keluar dari rumah dan meninggalkan kampung mereka. Dari kampung 'Kak-thau-tjun' ke kota Tjelam masih harus melalui perjalanan yang memakan tujuh atau delapan li, sepanjang jalan Tjin Siu-pi berlaku waspada untuk menjaga segala kemungkinan.

     Ketika mereka sedang berjalan, dari depan sementara itu telah mendatangi dua orang laki-perempuan yang berdandan sebagai petani, yang lelaki menjunjung bakul bambu, sedang yang perempuan mengenakan caping dan memikul pikulan kayu yang dipalangkan.

     Teng Hong-ko berjalan berendeng dengan Giam Tje-tjwan, begitu nampak kedua orang ini, segera ia menyenggol padanya dan memberi kedipan mata.

     Dalam pada itu, beberapa petugas yang berjalan di depan sudah membentak meminta si wanita minggir, sambil goloknya yang besar diangkat tinggi-tinggi. Namun wanita itu agaknya acuh dan tak mendengar, ia masih terus maju dengan pikulan kayunya yang tetap malang melintang, sedang jarak di antara mereka sudah tinggal beberapa tombak saja.

     Si lelaki yang berjalan di sebelah belakang tampak lekas maju ke depan, dengan kedua tangannya ia memegang kencang bakul bambu yang tersunggi di atas kepalanya, ia berkata pada petugas itu. "Tuan-tuan besar maafkan kami, isteriku itu kedua telinganya memang tuli!"

     Di waktu ia berbicara itu, maka jarak antara mereka sudah semakin dekat, barulah petugas itu sempat menggertak pula, "Lekas enyah!"

     Dan mereka mengangkat golok buat menakut-nakuti, sekonyong-konyong secepat kilat lelaki itu telah menumplekkan bakul bambu yang disunggi itu ke depan, ternyata isi di dalamnya adalah kapur gamping, dan justru waktu itu angin bertiup ke jurusan para petugas itu, keruan saja seketika berupa segumpalan awan putih yang mengabut, kapur gamping itu telah berhamburan di antara mata. mulut dan kepala para petugas yang berjalan di depan itu, hingga mereka kelabakan tak tahu jalan, saking gugupnya mereka menggelepar, hanya golok mereka saja yang diobat-abitkan sekenanya.

     Dalam pada itu si wanita tadi sudah memutar pikulannya menerjang ke dalam barisan serdadu Boan, begitu hebat pikulannya bekerja hingga tanpa ampun lagi siapa saja yang mendekat kena dihantamnya. Sedang si lelaki dengan cepat pun sudah melolos pedangnya, ia melompat ke samping Hong-ko dan terus menariknya pergi. Beberapa jagoan coba menyusul, tetapi lelaki itu membalik dengan beberapa serangannya sudah membikin para jagoan itu tunggang-langgang.

     Kedua lelaki-perempuan yang menyamar sebagai petani ini bukan lain ialah 'Pat-pi-long-kun' Yan le-lam dengan isterinya, Hoa Sian-bu, mereka diam-diam mengikuti Teng Hong-ko, waktu mengetahui hari ini Tjin Siu-pi mengerahkan pasukannya ke Giam-keh-tjeng, mereka lantas tahu tentu telah terjadi sesuatu, maka sengaja mereka menanti di tengah jalan untuk menolong bila perlu.

     Sementara itu Teng Hong-ko pun sudah melolos pedangnya yang memang sudah disiapkan itu, ia memanggil Giam Tje-tjwan dan berseru padanya, "Lotjianpwe, marilah ikut kami membobolkan kepungan!"

     Tetapi Giam Tje-tjwan ternyata seperti tidak mendengar seman itu, bukannya ia maju, sebaliknya ia mundur dan bergabung dalam rombongan serdadu musuh. Beberapa jagoan yang tadi diterjang bubar oleh Yan Ie-lam sementara itu telah merubung maju lagi sambil membentak, "Tangkap penjahat!"

     Yan Ie-lam dapat menduga Giam Tje-tjwan tentu tak mau bertaruh dengan keselamatan harta benda dan keluarganya, maka segera ia memberi tanda pada Hong-ko, sesudah itu pedang mereka bekerja dengan cepat untuk menerjang keluar dari kepungan.

     "Giam-loenghiong, Wanpwe tidak berbuat sesuatu kejahatan, kini terpaksa kami harus pergi dahulu!" teriak Teng Hong-ko akhirnya.

     Setelah itu bersama Yan Ie-lam segera mereka menerjang keluar, pedang mereka bekerja dengan kencang, dalam sekejap saja mereka sudah berhasil membobol kepungan, sedikit musuh yang mencoba mengejar telah dibikin kalang-kabut juga oleh balikan pikulan Hoa-lihiap yang terus menyerampang dan menyeruduk, tidak antara lama mereka bertiga sudah menghilang dari kejaran.

Sekonyong-konyong, secepat kilat lelaki itu me-numplekkan bakul bambu yang disungginya itu ke depan, ternyata di dalamnya berisi kapur Ramping.

     Waktu Tjin Siu-pi dapat menenangkan kembali dirinya dan memeriksa pasukannya, ternyata sudah lebih dari separah yang terluka atau binasa, masih beruntung Giam Tje-tjwan tidak ikut lolos.

    "Giam Tje-tjwan, begitu besar nyalimu, berani kau bersekongkol dengan kaum pengacau untuk membegal tawanan di sini!" Bentak Tjin Siu-pi saking gemasnya karena mengalami kerugian yang tak sedikit itu, ia pun menjadi gusar dengan mata melotot.

     "Tjin-taydjin, hendaklah jangan asal memfitnah saja," jawab Giam Tje-tjwan yang tidak menyerah mentah-mentah. "Aku tidak kenal siapa orang yang datang tadi. kalau tidak, apakah aku bersedia terus tinggal di sini?"

     Setelah ia berpikir sejenak, memanglah masuk diakal apa yang diucapkan Giam Tje-tjwan itu. maka Tjin Siu-pi tak berani terlalu mendesak lagi.

    "Meskipun kau tidak ikut kabur, tetapi pengacau itu telah merampas tawanan she Teng itu, tentu kau kenal mereka," kata Tjin Siu-pi lagi dengan lagu suara yang sudah berubah.

     Kemudian ia perintahkan prajuritnya berangkat kembali ke Tjelam dengan menggiring Giam Tje-tjwan.

     Sementara itu sesudah Pat-pi-long-kun berhasil menolong Teng Hong-ko, mereka bertiga dengan cepat sudah meninggalkan kampung yang terjadi huru-hara itu, waktu hari mulai gelap, mereka sudah menempuh tujuh atau delapan puluh li, ketika itu mereka sudah sampai di bawah lereng gunung Thay-san. Dalam malam yang remang-remang, akhirnya mereka tiba di suatu perkampungan yang besar, di pintu gerbang depan terlihat tertulis 'Mo-dji-tje' tiga huruf.

     Ketika mereka masuk ke ruang tengah, maka Hong-ko lantas menampak para pahlawan yang pernah berkumpul di Pek-hoa-ho tempo hari, ada lima atau enam orang di antaranya juga hadir di sini, begitu melihat mereka datang, segera mereka bangkit berdiri menyambut.

     Antara lain yang di situ ialah It-tun Ki-su Si Liang, Tju-kat Beng dari Liong-bun-pang, Liok Ing, To Dji-hay, Mo Djit, pemimpin Ang-hoa-hui Liu Ut dan masih ada pula seorang imam yang tidak mereka kenal.

     "Dia adalah Gui Djing-si Totiang dari Djing-si-koan di Ong-ok-san," Si Liang memperkenalkan pada mereka bertiga sambil menunjuk si imam. "Hari ini justru ia datang kemari bersama Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le dari Djit-hong-san, tetapi karena mendapat sesuatu kabar berita tentang mutiara mestika di tengah jalan, Bun-tjetju telah mengirim Gui-totiang memberitahukan ke sini dahulu."

     Terhadap sahabat baru itu, suami isteri Yan Ie-lam dan Teng Hong-ko maju memberi salam perkenalan.

     "Djing-si Totiang, Bun-tjetju entah telah mendapatkan kabar apa?" tanya Hoa-lihiap kepada kenalan barunya itu.

     "Siauto bersama Bun-tjetju datang dari Liu-ho, pada waktu ia berada di Ya-yao-kang, ia telah mendapat kabar bahwa sebutir mutiara mestika secara diam-diam telah dikirim dari Khay-hong, yang mengawal ialah dua jagoan kelas berat dari Ko-yang-pay, masing-masing le Djan yang berjuluk 'Sip-tiat-hong' dan Tji Tjing-hian yang berjuluk 'Hoan-san-kau', walaupun Bun-tjetju tidak kenal kedua orang ini, tetapi sengaja ia hendak coba menguntit mereka."

"Oh, kiranya begitu!" kata Hoa-lihiap.

     Setelah para pendekar bertanya tentang pengalaman mereka tadi, akhirnya Pat-pi-long-kun diam-diam menarik Si Liang menyingkir.

     "Manusia macam apakah Gui Djing-si itu? Tingkah lakunya aku lihat agak sedikit mencurigakan!" tanyanya pada Si Liang.

     "Aku pun belum pernah berjumpa dengan dia," sahut Si Liang. "Cuma kabarnya beberapa waktu yang lalu, ia adalah tokoh ternama dari kalangan Liok-lim di Kwangwa dan berkumpul bersama 'Tiat-pi-goan' Song Kiat, belakangan ia baru menjadi imam di Ong-ok-san, kedatangannya hari ini adalah karena kenal dengan Tju-kat Beng dan Mo Djit, mereka sama-sama adalah begal besar dari daerah Siamsay dan Sutjwan."

     "Kini persoalannya makin lama makin ruwet, 'Sam Po Tju' belum ada satupun yang jatuh di tangan kita, tapi dari berbagai pihak sudah pada ikut mengincar, agaknya kelak tak dapat terhindar dari percekcokan," ujar Yan Ie-lam pula dengan menggeleng-geleng kepala.

     Tengah mereka berbicara, tiba-tiba Hoa-lihiap pun menyusul datang.

     "Apakah kamu sedang mempersoalkan si imam tua itu?" tanyanya menimbrung.

    "Ya, Yan-toako menguatirkan maksud kedatangan Gui Djing-si yang mungkin tidak bersih!" sahut Si Liang.

     "Memang aku pun sedang hendak memperingatkan kau," tutur Hoa-lihiap. "Melulu seorang Giok-bin-yao-hou saja kita sudah susah melayani, apabila kini ditambah dengan seorang Gui Djing-si, imam tua yang biasa berlaku tak bersih ini, jangan-jangan nanti nama baik kita ikut ternoda!"

     Sungguhpun dalam hari sudah menaruh curiga, tetapi menurut kebiasaan kaum Liok-lim, siapa saja yang sudah ikut, tak mungkin ditolak lagi dan apa yang akan dilakukan harus dirundingkan bersama. Maka malam itu juga, di 'Mo-dji-tje' terjaga rapi, bahkan penyelidik disebar hingga jauh, sedang di ruangan besar markas mereka sedang berkumpul para pahlawan untuk mempelajari rahasia apa yang terdapat pada senjata rahasia dalam peti Teng Hong-ko itu.

     "Apabila memang benda-benda ini tidak mengandung rahasia, si pembesar anjing Tam Ting-siang tentu tidak mungkin hanya dalam semalam saja telah mengetahui barang-barang dalam peti ini sudah ditukar orang!" Tju-kat Beng mengutarakan pendapatnya.

    "Memang betul apa yang Tju-kat-heng katakan," ujar Si Liang sependapat. "Menurut dugaan Siaute, saudara Teng di tengah jalan tentu sudah dikuntit oleh begundal Tjhi Djin-ho dan memperalat dirinya sebagai tameng mereka, sebabnya ialah karena ia membawa 'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay, siapa saja dari kalangan Liok-lim yang melihatnya sudah pasti tidak mungkin mengganggunya."

    "Perhitungan Si-toako memang tepat juga." ganti Yan le-lam yang bicara. "Tetapi pada waktu berada di Pek-hoa-ho, bukankah kita sendiri sudah memeriksa betul barang-barang dalam peti dan memang tak tertampak sesuatu tanda yang mencurigakan?"

     Jika semua orang sedang mengutarakan pendapat masing-masing dengan ramai, adalah Gui Djing-si waktu itu sedang duduk di suatu sudut sambil mengelus-elus jenggotnya, sepasang matanya yang melambai ke bawah sedang mengincar 'Sam-ling-piau' dan pelor besi yang terserak di atas meja.

     "Aku ada satu usul, entah bagaimana pendapat Tjuwi!" tiba-tiba ia berkata sesudah agak lama.

     "Djing-si Totiang, kau yang sudah banyak berpengalaman dan berpandangan luas di kalangan Hek-to (golongan hitam), jika ada pendapat bagus, silakan katakan!" lekas Tju-kat Beng menyahut.

     Imam tua itu berbangkit, ia mendekati meja dimana tergeletak senjata rahasia yang menjadi pokok persoalan, ia mengambil sebuah 'Sam-ling-piau* untuk diperiksa, sesudah itu baru ia berkata pula.

     "Senjata rahasia dari Go-bi-pay ini terbikin dengan ketelitian yang luar biasa, tiap piau dan tiap butir pelor besi mempunyai bobot yang sama tanpa beda sedikitpun, di sini kini terdapat tiga buah Sam-ling-Piau dan dua belas biji pelor besi, kita boleh menyediakan alat timbangan dan menimbang tiap barang ini."

     Mendengar usulnya itu, para benggolan yang hadir itu mau tak mau harus mengakui kecerdikan pikirannya.

     "Memang bagus sekali pendapat itu," kata Si Liang memuji.

     Kemudian ia perintahkan penjaga mengambil alat penimbang, Gui Djing-si sendiri mengukur timbangan tiap-tiap buah senjata piau itu, ternyata ketiga piau itu mempunyai bobot yang sama tanpa beda. Menyusul itu adalah peluru besi yang harus ditimbang, satu persatu ditimbang, sampai pada biji pelor ketujuh, tiba-tiba diketahui bahwa beratnya jauh lebih enteng dari yang lain.

     "Peluru ini berperut kosong!" Gui Djing-si berseru girang tak tertahan. Keruan saja para benggolan itu seketika berkerumun maju ke pinggir meja, sementara itu Si Liang yang telah memeriksa dengan teliti di bawah sinar api lilin, akhirnya terbukti juga memang 'Thi-wan' atau peluru besi itu terdapat tanda satu garis kecil di tengah-tengahnya.

     Hoa-lihiap tampil ke muka, ia menyambut peluru besi itu, dan ia menggelar saputangannya di atas meja. Kemudian terlihat ia menekan dan memutar peluru besi itu, maka sesaat kemudian tertampaklah selarik sinar putih menyilaukan pandangan orang, ternyata di dalam peluru besi itu menggelundung keluar sebutir mutiara sebesar biji buah kelengkeng yang bersinar gemerlapan tersorot oleh sinar lampu hingga menyilaukan mata.

     Hoa-lihiap menjemputnya dan ditaruh kembali ke saputangannya, mutiara itu begitu licin mengkilap, makin dilihat makin menyenangkan, tidak salah kalau dikatakan mutiara mestika yang jarang diketemukan.

     Saking kagumnya para benggolan itu, sampai seketika keadaan menjadi sepi, betul mereka terhitung benggolan di daerahnya masing-masing, harta benda dan emas berlian atau batu permata yang sudah mereka rampas pun tidak sedikit, tetapi sesungguhnya belum pernah mereka melihat mutiara secantik dan sebesar ini, saking takjubnya hingga lupa daratan menatapkan sinar mata mereka yang mengandung perasaan kagum dan serakah, sampai rahasia cara bagaimana pelor besi tadi bisa terbuka sudah tak mereka perhatikan lagi.

"Barang ini terbikin sedemikian rapinya, tempat sambungan ini dirapatkan dengan beralur-alur, kalau bukan orang dengan tenaga jari sudah terlatih, tentu susah untuk membukanya," kata Si Liang sembari menjemput kedua belah peluru besi tadi.

     Sudah tentu para benggolan itu pun ikut memuji, karena pelor besi itu kecuali mempunyai berat yang tidak sama, soal besar kecilnya memang tiada perbedaan.

     "Kalau begitu, saudara Teng di perjalanan tidak saja sudah dikuntit oleh cakar alap-alap, bahkan barang dalam peti ini pun sudah ditukar orang!" ujar Tju-kat Beng.

     "Yang tertukar melulu hanya sebiji saja," dengan tertawa Yan le-lam berkata. "Aku dapat menduga tentu ini adalah akal bulus Tjhi Djin-ho, lebih dulu ia sudah mengetahui Teng-heng mempunyai 'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay, maka ia telah memperalat dirinya sebagai orang pengantar mutiara, cuma sayang, setelitinya dia masih ada yang kelupaan juga, ia telah lupa bahwa peti kayu cendana itu mirip betul dengan peti yang berisi 'Tjin-tju-goan' itu, hingga sebab itu telah banyak menimbulkan perhatian orang Kangouw, berbareng itu ia pun menunjukkan kegelisahannya, hingga menimbulkan kecurigaan kita terhadap tingkah laku Tam Ting-siang."

     Kiranya pada malam Teng Hong-ko hendak menggunakan kendaraan sungai pada permulaan perjalanannya di Hong-ho, malam itu angin keras dan ombak besar, tetapi pada saat yang demikian itu ada dua bayangan hitam yang menyelundup masuk ke kapal dimana ia menumpang, kedua tamu aneh ini adalah begundal Tjhi Djin-ho. Di luar tahu Hong-ko, mereka telah berhasil membuka petinya serta dapat menukar sebutir pelor besi yang lain dimana di dalamnya tersimpan mutiara mestika tadi. Tetapi akhirnya tak urung ternyata jatuh juga di tangan para benggolan itu.

     Sudah tentu dengan hasil pertama mereka itu, mereka merayakan dengan meriah, dan Hoa-lihiap pun diangkat oleh mereka sebagai orang yang harus menyimpan baik-baik mutiara mestika itu, sambil menanti hingga ketiga-tiganya sudah sampai di tangan mereka semua, baru akan menetapkan cara pembagian rezekinya.

     Sementara itu sudah diperoleh kata sepakat tentang hasil mereka, maka terdengarlah Gui Djing-si berkata pula sambil mengelus-elus jenggotnya yang pendeic, "Saudara-saudara sekalian, si jahanam Tjhi Djin-ho ini banyak tipu muslihatnya, mutiara ini belum tentu tulen, kita harus mencoba, diuji dahulu."

     "Gui-totiang," ujar Tju-kat Beng. "Kalau melihat warna mutiara ini yang bersinar mengkilap, apakah mungkin barang itu tiruan!"

     "Ya, seumpama bukan barang palsu toh kita harus mencobanya juga," sahut Gui Djing-si. "Seperti kita ketahui, mutiara yang bertabur di atas Tjin-tju-goan yang besar adalah tiga butir, masing-masing ialah 'Ting-hong-tju', 'Pi-hwe-tju' dan 'Gi-han-tju', kini baru mendapatkan satu di antara ketiganya, bukankah kita harus mencoba mutiara yang kita dapatkan ini termasuk yang manakah di antara ketiga mutiara itu?"

     Atas keterangan itu, beberapa benggolan yang hadir lantas menyatakan akur dengan pikiran si imam tua.

     "Dan cara bagaimana Totiang hendak mencobanya?" tanya Yan Ie-lam.

     Ternyata Gui Djing-si memang orang cerdas, dalam sekejap saja ia sudah mendapatkan akal.

     "Itu tidak sulit," katanya kemudian, "Umpamakan saja kita anggap dia sebagai 'Pi-hwe-tju', kita nyalakan api pada satu gundukan, siapa yang berani membawa mutiara itu terus melompat masuk ke dalam api, dengan begitu bukankah segera akan bisa dibedakan?"

     "Hendaklah Totiang jangan gegabah dengan permainan begitu," sahut Hoat-giam-ong Mo Djit dengan tertawa. "Apabila mutiara itu bukan 'Pi-hwe-tju', bukankah orang yang melompat masuk ke dalam gundukan api akan hangus?"

    "Itu pun gampang, kalau tiada yang berani, serahkan saja tugas itu kepada aku si imam melarat ini," Gui Djing-si menambahkan puta.

     Setelah usul Gui Djing-si diterima, lantas ia menetapkan pada esok hari hendak menyusun gundukan kayu kering untuk dibakar buat menguji mutiara mestika itu.

     Malam itu Si Liang dan Yan-Ie-lam tinggal bersama satu kamar, ia berkata padanya, "Yan-toako, hari ini kalau bukan Gui-totiang yang mendapatkan akal, kita boleh jadi belum dapat menemukan tempat dimana mutiara itu disimpan!"

     "Lambat atau cepat akhirnya akan ketahuan juga, dia hanya sedikit lebih licin dari kita, malah sekarang pun aku masih menaruh curiga padanya," sahut Yan le-lam.

     "Pantas kau tidak pernah berpisah selangkah pun dari dia," dengan tertawa Si Liang berkata. "Cuma kalau dia berani sembrono di hadapan kita, begitu ia mencoba bertingkah, mungkin kepalanya sudah berpisah dengan tubuhnya!"

     Besoknya, pagi-pagi sekali sudah tampak Gui Djing-si memimpin beberapa orang sedang menumpuk kayu bakar, ia telah menumpuk beberapa puluh batang kayu yang melintang hingga dekat dengan pintu gerbang benteng mereka, setelah itu ia menyiram pula dengan bahan-bahan yang mudah terbakar oleh api, sebangsa belerang dan lain-lain.

     Pada waktu dekat lohor, para pemimpin telah muncul semua di pelataran depan itu, tetapi ketika mereka melihat tumpukan kayu itu tertimbun begitu banyak dan panjang, mereka semua agak kurang mengerti.

     Kemudian Si Liang memerintahkan mulai menyalakan api, karena sudah disiram dengan bahan-bahan pembakar, maka dalam sekejap saja api sudah menjalar ke seluruh gundukan kayu hingga seketika merupakan lautan api.

     Sementara itu Hoa-lihiap sudah memegangi sebuah kotak kecil yang di dalamnya berisi mutiara mestika mereka.

     "Hoa-lihiap, silakan serahkan mutiara itu pada Pin-to!" pinta Gui Djing-si sesudah tiba saatnya.

Akan tetapi Hoa Sian-bu tidak lantas menjawab, ia melirik sekejap pada suaminya.

     "Nanti dulu!" tiba-tiba ia berkata. "Kita kirim beberapa orang melingkari gundukan api ini, agar bila terjadi sesuatu yang membahayakan Gui-totiang, kita bisa segera menolong."

     Gui Djing-si mengerti dirinya dicurigai jangan-jangan begitu memegang mutiara segera ia kabur. Namun ia tetap berpura-pura tenang saja.

     "Begitupun baik," sahutnya kemudian. "Aku sendiri tidak begitu yakin akan berhasil, jangan-jangan mutiara ini bukan Pi-hwe-tju bisa-bisa aku terbakar hidup-hidup!"

     Sementara itu api sudah berkobar-kobar hingga menjulang tinggi.

     Selagi Hoa-lihiap hendak memerintahkan orangnya berjaga-jaga melingkari gundukan api, mendadak terdengar pula Gui Djing-si berkata, "Api sedang berkobar dengan hebatnya, Hoa-lihiap coba keluarkan mutiara itu dan jalan mendekati gundukan api, kemudian menyebutnya, apabila betul mutiara itu adalah Pi-hwe-tju, maka api yang menjilat-jilat itupun akan berkurang."

    Karena perkataannya masuk akal juga, maka Hoa-lihiap membuka kotaknya dan menaruh mutiara itu di tengah tangannya mendekati api, tetapi baru saja ia membuka tangan dan hendak disebul, sekonyong-konyong ada sambaran angin yang san-tar terus menggulung hingga mutiara itu ikut bersama sambaran angin itu, menyusul mana terlihat Gui Djing-si meraup mutiara itu terus melompat menerobos masuk ke dalam gundukan api.

     Perbuatan Gui Djing-si yang mendadak itu telah membikin Yan Ie-lam dan kawan-kawan tercengang seketika, sehingga tak mampu berbuat banyak, sementara itu Gui Djing-si telah menggunakan kepandaiannya 'Kian-khun-siu-tju-hong' atau angin menyambar dari balik lengan baju, ia sanggup menyerobot benda itu sejauh beberapa kaki. Perbuatannya yang secepat kilat dan di luar dugaan para benggolan yang hadir, hanya beberapa orang saja yang bisa melihat ia menyerobot mutiara mestika.

Sementara itu Hoa-lihiap dengan pedang terhunus segera mengudak dengan menerjunkan diri ke dalam lautan api juga.

     Keruan saja yang paling kaget rasanya ialah Yan Ie-lam, lekas ia melompat tinggi sambil sekali jumpalitan di atas, ia menyambar tubuh isterinya di antara api yang berkobar-kobar itu untuk kemudian terus mencelat keluar pula.

     "Api begitu besar jangan kau gegabah!" dengan napas memburu ia mengomeli isterinya itu.

     Saat mana api sedang menyala dengan hebatnya hingga seluruh markas mereka seakan-akan terkurung oleh lautan api dan asap.

     Dengan tipu muslihat Gui Djing-si coba merebut Po-tju, sebenarnya ia sendiri pun belum yakin apakah Po-tju itu yang anti api atau bukan, maka dengan kehebatannya yang luar biasa, la dapat mengantongi mutiara mestika itu, walaupun sedikit jenggot dan rambut tidak urung terbakar hangus, namun tidak berarti baginya.

     Setelah berhasil, maka segera ia meninggalkan Mo-dji-tje dan cepat angkat langkah seribu turun gunung.

     Selagi ia berlari dengan cepatnya, mendadak ada bayangan orang berkelebat, menyusul mana dari pohon di depannya telah muncul seorang dengan gesit sekali, waktu ia menegasi, ternyata hanya seorang wanita dengan mukanya setengah tertutup dengan kain. Mengenakan pakaian ringkas warna gelap, di pinggangnya terikat angkin yang melambai-lambai tertiup angin.

     Seketika Gui Djing-si tertegun oleh kemunculan wanita yang mendadak ini, ia membatin kedatangan wanita ini begini aneh, coba akan kulihat dahulu orang macam apakah dia ini.

     Akan tetapi tanpa berbelit-belit si wanita itu telah menegurnya dengan terus terang, "Gui Djing-si lekas kau tinggalkan mutiara itu, jangan sampai nonamu turun tangan sendiri!"

     Mendengar teguran orang, si imam tua ini semakin terkejut, melihat gelagatnya rupanya wanita ini adalah segolongan dengannya, namun di antara tokoh-tokoh dalam kalangan Hek-to di Soatang selamanya belum pernah ia dengar ada terdapat seorang begal wanita muda.

     "Oh, kiranya nona adalah orang sesama garis kita, sayang mutiara itu masih berada dalam tangan suami isteri Yan Ie-lam dan belum mau menyerahkannya," sahutnya dengan muka tertawa.

     Tak tahunya wanita muda itu tidak gampang percaya, dengan alis menegak segera ia mendamprat, "Bohong kau! Melihat tubuhmu saja yang masih membawa bau hangus, terang Po-tju itu sudah terserobot lari olehmu, masih berani kau jual lagak di depan nonamu!"

    Habis berkata, sinar pedangnya berkelebat, dengan segera ia sudah hendak menerjang maju.

     "Tahan dulu nona!" lekas Gui Djing-si berseru sambil mundur memberi hormat. "Tunggu dulu, Pin-to akan mengambilnya keluar."

     Lalu ia merogoh ke dalam sakunya seakan-akan hendak mengambil sesuatu, namun bukan mutiara yang ia keluarkan, sebaliknya pada waktu tubuhnya menegak kembali, secara mendadak ia mengayunkan tangannya, menyusul terdengar suara gemerincing dengan membawa sinar gemerlapan, ada secomot benda mengkilap dengan cepat menyambar ke muka gadis tadi.

     Senjata ini adalah senjata tunggal yang khusus dipelajari Gui Djing-si yang disebut 'Tui-hun-tjiam' atau jarum pemburu nyawa, ialah terdiri dari belasan jarum yang lembut, ujung jarum sudah direndam dengan air berbisa, begitu mengenai tubuh segera bisa terbinasa.

     Tak terduga gadis itu dengan gampang saja telah enjot tubuhnya setinggi tujuh atau delapan kaki, dan lewatlah jarum pemburu nyawa itu dari bawah kakinya. Berbareng mana bayangan orang berkelebat pula, angin tajam telah menyambar ke muka si imam tua.

     Rupanya Gui Djing-si mengetahui adanya sambaran angin Bu-kek-kiam dari Bu-tong-pay, begitu angin sampai pedangnya tentu menyusul tiba juga, maka lekas ia melompat pergi sambil menyampuk dengan angin pukulannya, dengan Lwekangnya yang cukup kuat ia pikir dapat menggoncang pergi pedang lawan.

     Akan tetapi dalam sekejap itu, terasa juga olehnya angin mengiris lewat di atas kepalanya dan ikat rambutnya terurai, baru ia insyaf bahwa pedang si gadis sudah berhasil membabat topi imamnya hingga rambutnya ikut terbabat.

     Saking terperanjatnya ia melompat naik setinggi-tingginya dan dalam kesempatan itu ia melolos pedangnya sendiri yang terselip di punggungnya.

Sementara itu terdengar gadis itu tertawa terbahak-bahak.

     "Gui Djing-si, tadi nonamu telah mengampuni jiwamu, apa betul kau masih hendak bertanding denganku, nah boleh kau lihat dalam tiga gebrak saja nonamu nanti akan mengambil jiwamu!" katanya menghina.

     Begitu habis suaranya, pedangnya pun berbareng bergerak, ia menyabet Gui Djing-si dengan gerak tipu 'Hi-djin-bang' atau menangkap ikan menebar jala, pedangnya menangkis dari bawah, ia berniat menempel pedang lawan untuk menjajal tenaga dalamnya.

     Tak ia duga, begitu pedang beradu, segera terdengar suara nyaring dan pedangnya hampir terlepas dari tangannya. Lekas ia menggeser langkah dan memutar badannya, ia tarik pedang ke depan dada dan tangan kirinya membantu tangan kanan yang menghunus pedang, ia putar senjatanya secepat kilat, beruntun ia membikin beberapa kali putaran.

     Gerakannya ini cukup sebat dan lihai dengan mengandung banyak perubahan lainnya, apabila pedang lawan beradu lagi. maka tenaga senjatanya bisa mendadak terkumpul di tengah, terus menusuk ke tenggorokan lawan, kalau belum mengetahui cara menangkisnya, sering kali bisa diselomoti oleh tipunya ini.

     Namun gadis itupun tidak gampang diakali, ia menarik pedangnya terus mengikuti gerak senjata si imam sehingga terlepas dari garis ancaman. Cara bagaimana ia bertindak melepaskan diri, Gui Djing-si tak bisa mengetahuinya, maka dalam kegugupannya ia hendak mengubah serangannya pula, tetapi sudah terlambat, tiba-tiba pergelangan tangannya sudah terasa pegal, urat nadinya sudah terpencet oleh tangan si gadis yang datangnya secepat kilat, seketika itu juga seluruh badannya terasa kaku kesemutan dan pedangnya pun terjatuh.

     Dengan sekali bentak, maka tanpa berdaya si imam tua itu telah berlutut sambil berulang-ulang memohon, "Nona, ampuni jiwaku!"

     "Masih tidak kau keluarkan mutiara itu, apakah kau minta batok kepalamu diberi lubang?" bentak si gadis pula sambil pedangnya menempel ke belakang kepala si imam.

     Pada saat demikian ini, sudah tentu Gui Djing-si tak bisa main akal bulus lagi, selamatkan jiwanya paling penting, terpaksa ia merogoh saku dan menyerahkan Po-tju atau mutiara mestika yang baru saja ia dapat merampasnya itu.

     Begitu mutiara itu sudah berada di tangannya, gadis itu segera mendupak sambil membentak pula, "Enyahlah kau!"

     Imam itu terdupak hingga menggelundung jumpalitan pergi sejauh beberapa tombak.

     Sudah itu, si gadis memeriksa mutiara yang berada di tangannya itu di bawah sorotan sinar matahari, kemudian dengan sekali suitan panjang, laksana segulungan bayangan hitam ia melayang pergi menghilang di antara hutan belukar.

     Begitulah, sia-sia belaka usaha imam tua dari Ong-ok-san itu, barang diperolehnya dengan gampang, hilangnya pun mudah dan sekejap saja, dengan memandang bayangan belakang si gadis dalam matanya penuh mengandung api kegusaran, namun apa daya, kepandaiannya kalah dengan orang.

     Ia merangkak bangkit, berulang-ulang ia menghela napas gegetun, rasa girang yang tadinya memuncak kini buyar seketika. Sementara itu karena takut disusul oleh para pemimpin gerombolan yang diingusi dirinya, lekas ia berangkat pulang ke Ong-ok-san laksana anjing buduk yang terusir.

     Sampai waktu magrib, ternyata belum beberapa puluh li yang ia tempuh, sedang rasanya ia sudah payah dan susah melangkah pula. Tiba-tiba ia lihat di bawah sebuah bukit ada sebuah bio atau rumah biara tua, di depan pintu tertampak ada seekor kuda putih yang tertambat di situ dengan pelana yang bagus bersulam, ia menjadi girang, pikirnya siapa yang menambat kuda di sini, justru aku bisa meminjamnya buat perjalananku.

     Tanpa ia tegasi kuda itu pula, begitu membuka tali tambatan, segera ia mencemplak dan dilarikan dengan cepat. Akan tetapi di luar dugaannya baru beberapa langkah kudanya kabur sekonyong-konyong di belakangnya terdengar suara bentakan nyaring dan secepat angin telah ada orang yang memburunya.

     Namun ia tidak menggubris, katanya dalam hati, "Kudamu sudah berada di tanganku, betapa cepat kau memburu, tak nanti kau bisa menyandak!"

     Begitulah dengan sedikit mendekam di atas kuda itu, ia kabur secepat mungkin.

     Tak ia duga tiada seberapa jauh kudanya dilarikan, mendadak ia sudah merasakan tubuhnya terapung, dari belakang terasa ada orang menjambretnya terus diangkat dan dibanting pergi. Ia terlempar menggelundung hingga kepalanya merasa pening karena terbanting.

     Apabila kemudian ia telah menenangkan semangatnya, baru ia membuka matanya, di antara senja yang remang-remang ia lihat di atas kuda putih tadi sudah bertambah seorang wanita cantik yang bukan lain ialah 'Giok-bin-yao-hou' Bun Sui-le.

     Giok-bin-yao-hou atau si siluman rase bermuka ayu, Bun Sui-le ini memang adalah seorang gadis cantik molek sesuai julukan yang orang berikan padanya, usianya tidak lebih hanya 24-25 tahun, asal-usulnya tak diketahui orang, hanya melihat kiam-hoat yang dimilikinya itu terang adalah ahli waris dari Thian-san-pay.

     Ia masih memiliki satu kepandaian lain, ialah dua kaitan di bawah sepatunya, kakinya yang kecil mungil, pada sepatunya terpasang kaitan tajam yang menyelip di bawah, apabila kakinya menendang, dimana tempat yang terkena segera akan tergurat seperti diiris pedang tajam, tidak sedikit jagoan dari Liok-lim yang kena diselomoti hingga rada jeri bila mendengar nama-nya.

     Biasanya ia hanya makan yang besar dan tidak makan yang kecil, pembesar-pembesar korup dan hartawan-hartawan pemeras apabila bertemu dengannya pasti tidak diberi ampun lagi. Masih ada keistimewaannya lagi yang sangat menghebohkan kalangan Hek-to atau golongan gelap, ialah orang lain bila memperoleh rezeki, maka harus pula membagi padanya sepertiga bagian, kecuali kalau ia tidak meminta, sebaliknya tiada yang berani menolak.

     Dengan peraturannya itu, semua orang Liok-lim sudah tentu tidak bisa menurut begitu saja, tetapi belakangan setelah dua pemimpin kelas satu dari Liok-lim di daerah Tjwan-siam (Su-tjwan dan Siamsay) kena dibinasakan dan dipotong-potong menjadi empat keping terus digantung di atas Kiam-kok, keruan saja seketika itu telah menggetarkan seluruh pemimpin kalangan Liok-lim dan sesudah itu tiada yang tak jeri bila berhadapan dengannya.

     Gui Djing-si, si imam dari Ong-ok-san itu sudah lama kenal kelihaian Giok-bin-yao-hou, kali ini dengan sengaja ia mengajaknya ke Soatang, sepanjang jalan ia sudah menghasut agar merebut Po-tju itu, namun Bun Sui-le telah mendamprat dia sebagai pengecut dari kaum Liok-lim, maka Gui Djing-si tak berani coba-coba menyebutnya lagi, kemudian dengan sesuatu alasan, ia memisahkan diri dan mendahului ke Mo-dji-tje untuk menipu dengan akal bulusnya. Tak tersangka di tengah jaian hasil rampasannya kena direbut pula oleh si gadis bertopeng, kini ia hendak mencuri kuda, kembali kebentur pula dengan Bun Sui-le, keruan saja dengan tubuh gemetaran ia mendekam di tanah sambil memberi hormat dengan menundukkan kepala sampai menempel tanah tiada hentinya.

"Sui-kohnio, maafkan aku yang bermata anjing tak bisa mengenali kuda ini adalah milik Kohnio, aku telah berlari kebingungan hingga Kohnio datang masih belum tahu, sungguh harus dihukum!" ia meminta ampun.

     Habis berkata, ia ketok-ketok batok kepala sendiri dengan keras.

     Dengan melirik Bun Sui-le memandangnya sekejap, ia membiarkan imam celaka itu ketok-ketok kepalanya, sesudah cukup rupanya baru ia bertanya, "Kau tua bangka ini, mengapa begitu gugup berlari-lari?"

    Celaka, apabila aku berterus terang mungkin jiwaku bisa lenyap seketika, begitu pikir Gui Djing-si, maka lantas ia menjawab dengan berdusta.

     "Kohnio, orang telah menghinakan aku, mereka telah berhasil memperoleh sebutir Po-tju, karena takut kita minta bagian, aku telah diusirnya pergi," dengan rupa harus dikasihani ia menutur.

     Akan tetapi dengan memandang lagaknya itu, Bun Sui-le sudah dapat mengetahui pasti ia sedang berbohong.

"Siapa yang menghinakan kau?" sengaja ia bertanya.

    "Siapa lagi kalau bukan Yan Ie-lam yang disebut Pat-pi-long-kun itu, mereka suami isteri malah telah mengejar aku hendak mengambil jiwaku" sahut si imam tua dengan berlagak.

     "Bohong!" tiba-tiba terdengar Giok-bin-yao-hou membentak nyaring.

     Entah sejak kapan ia telah melolos seutas pecut panjang, dengan sekali menyabet, cepat sekali imam tua itu sudah terlilit hingga terangkat ke atas dan diputar di angkasa. Keruan saja Gui Djing-si berteriak ketakutan dan akhirnya jatuh pingsan

     Apabila kemudian ia tersadar kembali, maka ia merasakan dirinya sudah rebah di bawah emperan bio kuno itu, sedang Giok-bin-yao-hou terlihat sedang menyalakan segundukan api dan lagi memanggang sekor kelinci, dengan pisau ia mengiris daging panggang itu terus dimasukkan ke mulurnya, bau wangi kelinci panggang itu membikin Gui Djing-si yang memangnya sudah haus dan lapar jadi mengiler.

     Tetapi kemudian ia teringat, ia heran mengapa Giok-bin-yao-hou tidak membunuhnya?

     Ia coba menggeraki tubuhnya, namun dengan segera satu sinar putih menyambar menuju padanya, ternyata Bun Sui-le telah menimpukkan pisau belati yang menyerempet lewat di atas mukanya dan terus menancap pada tiang emperan, hampir saja nyawanya melayang apabila terkena, saking terperanjatnya hingga imam tua celaka itu bermandi keringat dingin.

     "Anjing keparat, berani kau coba mendustai aku." sementara terdengar Bun Sui-le mencaci maki. "Melihat jenggot kambingmu yang sudah terbakar, terang mutiara itu sudah kau rebut dan kaubawa kabur, kalau kau masih sayang jiwamu lekas mengaku terus-terang, jangan sampai nonamu turun tangan pula."

     Baru kini Gui Djing-si mengerti bahwa Giok-bin-yao-hou tidak membunuhnya karena sudah mendakwa dia mencuri mutiara mestika, waktu ia memeriksa, tampak jubahnya sudah robek teriris, terang orang sudah menggeledah tubuhnya, la insyaf apabila tidak bicara apa yang terjadi sebenarnya, pasti banyak kegetiran yang harus dirasakannya pula. Terpaksa dengan suara terputus-putus ia menceritakan semua pengalamannya dari penemuan sebutir Po-tju di Mo-dji-tje, hingga akhirnya dirinya telah menggondolnya merat dengan akal bulus, tetapi kemudian di tengah jalan telah dirampas lagi oleh seorang gadis bertopeng.

     "Dan siapa gadis bertopeng itu?" tanya Bun Sui-le sesudah mendengar penuturannya, melihat rupa imam celaka yang menyedihkan itu, ia tahu kali ini tentu tidak berani berbohong lagi.

     "Di daerah Soatang sini, aku yang rendah tidak ingat ada kaum Liok-lim wanita yang berkepandaian seperti dia itu," sahut Gui Djing-si. "Usianya masih lebih muda dari Kohnio, yang dimainkannya ialah Bu-kek-kiam-hoat, tampaknya adalah anak murid terpuji dari Bu-tong-pay, kalau Kohnio hendak mengejarnya kiranya masih bisa memburu."

Sambil mendengarkan, Bun Sui-le sembari membatin juga.

imam tua ini pun memiliki kepandaian yang tidak rendah, tetapi mengapa dalam dua tiga gebrakan sudah bisa dikalahkan, tampaknya gadis itu bukan main asal-usulnya

     Memang sudah wataknya yang suka pukul yang keras dan menyerah pada yang lemah, seumpama Gui Djing-si tidak bilang, ia pun bemiat mengejar si gadis itu, pertama ia hendak melihat macam wanita apakah bisa berkepandaian tinggi, kedua ia hendak merebut kembali mutiara mestika itu, agar tidak memalukan kaum Liok-lim di daerah Tjwan-siam yang diingusi hanya oleh seorang gadis saja.

     Ia membiarkan kuda putihnya yang bagus itu ditunggangi Gui Djing-si sedang ia sendiri dengan mengunjukkan kepandaiannya berlari cepat 'Tjhau-siang-hui' atau terbang di atas rumput, dengan kencang ia mengikut di belakang kuda Gui Djing-si menuju ke tempat terjadinya perampasan tadi.

     Setelah sampai di hutan lebat yang mereka tuju, Giok-bin-yao-hou melepas kudanya di bawah pohon dengan mencoret satu bundaran dengan batu di tanah, ia tepuk-tepuk kudanya dan tanpa ditambat, kudanya itu ternyata sudah menurut sekali berdiam dalam bundaran dan tidak melanggar kalangan.

     Kemudian mereka berdua terus menyelusup maju sampai di tengah bukit, keadaan sudah gelap, tetapi remang-remang mereka nampak di atas puncak bukit ada sinar api, dengan kepandaian mereka yang gesit dan cepat, tak lama mereka sudah mendaki sampai di atas, di bawah sebuah tebing puncak ternyata ada rumah gubuk dan sinar api tembus keluar dari rumah ini.

     Kuatir kalau si imam tua ilmu entengi tubuhnya masih kurang sempurna, Bun Sui-le berpesan agar dia bersembunyi saja di belakang sebuah batu besar dan tidak peduli apa yang bakal terjadi, tak boleh ia sembarangan bergerak.

     Kemudian ia sendiri dengan gerakan 'Tong-long-yao-poh' atau belalang melangkah lompat, ia memanjat sampai di atas tebing itu, sedang di bawah kakinya berada rumah gubuk itu. Menyusul mana ia menggunakan gerakan 'Pwe-pi-he-khe' atau menyandar pada dinding turun ke tebing, ia merembet pelahan turun ke wuwungan rumah, dengan sekali lompatan enteng ia sudah menancapkan kakinya di atas rumah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

     Apabila kemudian ia menyingkap sedikit atap gubuk dari alang-alang dan mengintip ke dalam, maka tertampak olehnya di dalam rumah itu ada seorang gadis jelita yang sedang membolak-balik memeriksa sesuatu barang. Dimana sinar mata Bun Sui-le menatap, tepat yang ia lihat ialah sebutir barang yang bersinar mengkilap dan tak jelas benda apakah sebenarnya.

     Pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara seruan di dalam rumah, menyusul mana dengan cepat sinar api telah disirap.

     Bun Sui-le cukup cerdik begitu ia melihat api dipadamkan di dalam rumah, secepat kilat ia sudah menggunakan gerakan 'Li-tjo-ling-yan' atau burung layang-layang meninggalkan sarang, tubuhnya melayang naik, menyusul itu dari bawah segera tertampak dua sinar hijau yang menyambar keluar melalui atap rumah itu dan lewat menyerempet di sampingnya.

     Diam-diam Bun Sui-le bersyukur terlepas dari bahaya itu. tetapi tak ia duga, dalam sekelebatan itu bayangan orang pun sudah sampai, sekejap saja gadis di dalam rumah tadi pun sudah muncul di hadapannya.

    "Perempuan liar darimanakah berani mengintip nonamu ini!" terdengar orang telah membentak dengan tertawa dingin.

     Dengan sendirinya Bun Sui-le mundur selangkah untuk mengeluarkan senjatanya, kemudian ia mengawasi lawan yang dihadapinya ini.

     Ternyata si gadis ini memakai baju dan celana singsat ringkas, sepatu kain yang tipis dan ikat pinggang berwarna merah jambu, senjata pedang terhunus di tangannya, ia berdiri dengan tegak, angkinnya melambai-lambai tertiup angin malam. Bun Sui-le terpesona oleh gadis di depannya ini.

     Sementara si gadis itu pun sedang memandang padanya, namun segera ia mendahului membentak pula.

     "He, apa yang kau pandang? Berani datang mengapa tak berani lantas bergebrak!"

     Belum pernah Giok-bin-yao-hou dihinakan orang, kena dipancing oleh perkataan gadis itu, segera pedangnya lantas menusuk, dengan tipu 'Ping-niau-thio-ie' atau burung garuda pentang sayap, begitu pedang si gadis menangkis, dengan segera pedangnya ia sampuk terus dibarengi dengan melangkah maju, tangannya yang lain dengan gerak tipu 'Bok-ie-djiu' atau pukulan menubruk cepat, segera ia menjojoh ke bawah dada orang.

     Akan tetapi waktu melihat gerak serangan lawan, gadis itu ternyata tidak lantas menyambut tusukan orang, ia hanya sedikit berjongkok terus dengan cepat ia menggunakan tipu 'Djiu-hun-pi-pe' atau tangan menabuh pi-pe (alat musik mirip gitar), dengan ujung pedang mengarah ke atas, ia pentang tangannya yang lain melindungi dadanya, begitu pedang beradu segera tergon-cang pergi berbareng. Sementara itu Bun Sui-le pun urung melontarkan gerak tipu 'Bok-ie-djiu', kepalannya lekas ia tarik kembali.

     Kiranya begitu ia melihat si gadis melontarkan tipu gerakan itu, segera ia mengetahui lawannya ini bukan lawan semba-rangan dan siang-siang sudah dapat menduga apa yang hendak ia lakukan.

     Dalam pada itu, begitu ujung pedang tergetar, segera gadis itu melangkah maju pula dan beruntun menyerang dua kali dengan cepat, dengan mundur dua langkah barulah Bun Sui-le dapat menahan tusukan lawan itu, namun demi melihat sebelah bawah musuh tidak terjaga baik. segera ia menikam dengan satu gerakan pancingan, sampai di tengah jalan mendadak ia menekan pedangnya ke bawah terus dengan cepat sekali ia membabat ke kaki musuh.

     Begitu serangan si gadis tadi tak berhasil dan mendadak ia melihat senjata orang berkelebat menyapu kakinya, secara gesit sekali ia enjot tubuhnya dan melompat naik dengan sedikit miring, sedang pedangnya pun berbareng membacok mengarah kepala Giok-bin-yao-hou.

     Serangannya itu begitu cepat dan tiba-tiba laksana bintang jatuh dari atas langit, Giok-bin-yao-hou, si siluman rase bermuka ayu, yang sedang mengkerut tubuh dan menyerang, ia tak menduga pedang lawan bisa begitu cepat, maka buru-buru ia menarik senjatanya dan tubuhnya mengegos ke samping, dengan setengah merebah ia menyanggah dengan tangan kanan, terus ia barengi dengan gerak tipu 'Ho-ping-kiu-li' atau merebah di tanah es memohon ikan mas, pedangnya mengacung ke atas terus membentur senjata musuh yang sedang menikam dengan hebatnya itu.

     Melihat lawannya masih setengah rebahan, gadis itu menekan pedangnya ke bawah hingga suara nyaring beradunya senjata terdengar keras, dalam sekejap itu Giok-bin-yao-hou menjadi murka, ia mengunjukkan tipu serangannya yang ganas dengan kakinya, pada kesempatan kedua senjata masih beradu, ia menggeser tubuh dan berbareng kedua kakinya menendang dengan cepat membawa dua titik sinar yang mengkilap yang bukan lain ialah kaitan tajam yang terselip di bawah sepatunya.

     Namun pandangan mata si gadis ternyata cukup jeli, dengan mengangkat kedua bahunya ia berjumpalitan, kedua kaki yang bersenjata tajam dari Bun Sui-le itu menyerempet lewat di bawah sepatunya. Gerakan kedua pihak begitu cepat dan gesit sekali.

     Kemudian gadis itu menancapkan kakinya kembali dan Giok-bin-yao-hou pun berbangkit berdiri pula, maka mereka berdua sudah berhadapan dalam jarak lebih setombak.

     "Ha, kiranya kau adalah siluman wanita Bun Sui-le itu, nonamu tiada sedikit sangkut-paut dengan kau, kita boleh berbuat menurut tujuan masing-masing, mengapa kau datang mengintip gerak-gerikku?" tanya gadis itu dengan membentak dan pedang menuding.

     Seketika Bun Sui-le tercengang demi mendengar orang mengenali dirinya.

     "Bocah ini termasuk hebat juga, begitu nampak kaitan kedua kakiku, segera ia mengetahui asal-usulku," begitu ia membatin. "Tetapi aku pun hendak menjajalnya, coba dari aliran manakah dia ini?"

     "Kau, si bocah ingusan, kalau sudah mengetahui nama besar Tjetjumu, seharusnya kau katakan terus-terang perbuatanmu, mungkin aku bisa mengampuni kau, anak murid dari Bu-tong-pay," sahutnya kemudian dengan pedang tergenggam.

     "Ayo, begitu besar mulutmu," gadis itu mencemooh. "Kau ingin tahu diri nonamu, boleh kau tanya Tji-yang totiang di Bu-tong-san, kau minta aku menceritakan, sedikitnya kau harus menangkan pedangku ini lebih dulu."

     "Budak busuk yang kurang ajar, kau kira dengan menonjolkan nama Tji-yang Todjin aku lantas menjadi kuncup?" bentak Bun Sui-le dengan gusar. "Terus terang saja kedatanganku ini melulu menghendaki mutiara yang telah kau rebut itu, hanya ada dua jalan boleh kau pilih, jiwa atau mutiara!"

     Setelah itu ia mengayun pedangnya, ujung senjata mengarah Ke depan, segera angin tajam menyambar ke muka si gadis.

Akan tetapi gadis itu tak gentar.

     "Mutiara ada padaku, tetapi jangan kau harap!" sahurnya dengan tertawa dingin.

     Habis itu dengan sekali seruan, senjatanya pun bergerak dan kembali terdengar pula berulang-ulang suara beradunya pedang, dalam sekejap dengan cepat sekali mereka telah saling serang dengan seluruh kemampuan yang ada pada mereka, pertempuran yang makin sengit memecah kesunyian malam.

     Kedua orang itu makin bertarung makin hebat, yang seorang adalah tokoh Liok-lim tersohor dan yang lain memperoleh pelajaran kiam-hoat dari cabang persilatan ternama, keduanya setanding dan sama kuat, walaupun pertempuran sudah berjalan hampir satu jam, namun masih belum menunjukkan mana yang lebih unggul.

"Giok-bin-yao-hou, nonamu besok pagi-pagi masih ada janji, terpaksa aku tak bisa melayani kau terus, tetapi kalau kau ingin menentukan mana yang lebih kuat, besok malam boleh kau ke sini lagi!" tiba-tiba gadis itu berseru.

     Kuatir kalau lawannya kabur, Bun Sui-le malah memperkencang serangan pedangnya.

     "Tak mungkin kau coba mengingusi aku, kecuali kalau kau meninggalkan mutiara itu, baru jiwamu boleh aku ampuni!" sambutnya.

     "Siapa hendak membohongi kau," kata si gadis dengan gusar. "Kalau begitu adalah kau sendiri yang mencari mampus, sebentar lagi tentu kau boleh tahu rasa."

     Atas perkataan orang yang terakhir itu, Bun Sui-le menjadi ragu-ragu, pikirnya, "Jangan-jangan ia telah berjanji dengan orang pandai di sini? Dan kalau betul, ditambah lagi seorang lawan tangguh, bisa-bisa aku terjungkal di depannya."

     Pada kesempatan ia lagi ragu-ragu, gadis itu telah mengayun tangannya, mendadak ia menimpukkan dua buah 'Liu-yap piau'.

     Cepat Bun Sui-le mengegos berkelit, ia dapat menghindarkan sebuah senjata piau dan pedangnya menyampuk jatuh sebuah piau lainnya. Akan tetapi pada saat itu juga, dengan sekali enjotan kilat, gadis itu sudah melompat pergi hingga jauh.

     Ia coba mengejar, namun tertampak gadis itu dengan cepat sekali, dengan beberapa kali naik turun melompat, dalam sekejap saja sudah berada sejauh beberapa tombak.

     Pada saat itu juga, dari dalam hutan lebat di depan sana berkumandang suara gitar aneh hingga daun-daun pohon pada rontok.

     Bun Sui-le jadi merandek, ia kuatir dalam hutan betul-betul bersembunyi orang pandai. Dan karena sedikit merandeknya itu, gadis itu sudah menerobos masuk ke dalam hutan dan menghilang.

     Karena tak bisa menangkan orang, Bun Sui-le berbalik jadi gemas terhadap Gui Djing-si, si imam celaka itu, dia sudah menempur setengah malaman, tetapi tidak tampak ia mengunjukkan diri untuk membantu.

     Dalam keadaan mendongkol, ia berbalik kembali masuk ke dalam rumah gubuk, ia lihat di dalamnya hanya terdapat sebuah pembaringan dari bambu dan meja kecil dari kayu. Dari dalam kantongnya ia mengeluarkan geretan api, ia nyalakan lilin yang ada di meja hingga dapat melihat jelas pada pembaringan bambu itu terdapat sebuah buntalan kecil, lekas ia mengambilnya dan diperiksa, dalam buntalan itu ternyata hanya terdapat dua potong baju wanita petani, dan masih ada pula secarik kain hitam penutup muka dengan dua lubang untuk mata.

     Waktu ia memeriksa lagi, mendadak dari bunialan terjatuh sebuah benda, ia memungutnya dan dilihat, ternyata adalah sekeping besi, benda ini biasanya digunakan sebagai tanda bukti dalam perkumpulan dan gerombolan rahasia.

     Giok-bin-you-hou girang sekali, dengan cepat ia masukkan ke dalam sakunya.

     Ketika ia keluar dari rumah itu, tiba-tiba dilihatnya di belakang batu besar tadi menggeletak seseorang, ia menjadi terkejut.

     Tetapi sesudah ia menegasi, baru ia ketahui adalah Gui Djing-si yang tertidur dengan bersandar pada batu itu, dari hidungnya masih terdengar suara gerosan.

     Keruan ia makin mendongkol, ia angkat kakinya dan menyepak. Dalam kegugupannya kena tendangan, Gui Djing-si merangkak bangun dengan cepat.

     "Aku si tua bangka ini sudah tidak berguna lagi, sebentar saja sudah tertidur, harap nona suka memaafkan!" katanya dengan kuatir. "Apakah budak tadi sudah nona bereskan?"

     Kiranya pada waktu ia melihat dari rumah gubuk itu melompat keluar seorang gadis yang bukan lain ialah gadis bertopeng yang ia ketemukan siang harinya, saking terkejutnya ditambah letihnya berlari seharian, semangatnya sudah tak tahan lagi hingga dalam keadaan tak sadar ia telah menggeros pulas.

     Mendengar pertanyaannya tadi, Bun Sui-Je makin bertambah mangkel.

     "Masih kau tanya! Mengapa tadi kau tak muncul membantu aku?" gertaknya dengan uring-uringan.

     "Sui-kohnio, pedangku sudah hilang, kau telah berpesan juga tak boleh sembarangan bergerak, mana aku berani membantah perintahmu itu?" sahut Gui Djing-si dengan muka bersungut.

     Giok-bin-yao-hou menjengek, tetapi ia pikir tiada gunanya mengomel padanya, maka segera ia membentak pula dan berbareng mereka turun gunung kembali, sampai pada hutan tadi, ternyata kuda putihnya masih tetap berada dalam lingkaran yang digariskan tadi.

     "Dengan seekor binatang saja kau kalah, setidak-tidaknya binatang ini tak mempunyai hati busuk seperti kau," dengan mata melotot ia berkata pula pada Gui Djing-si. "Kalau kau masih ingin hidup, baiklah berjalan dengan menuntun kudaku ini."

     Sudah tentu imam tua sial ini tidak berani membantah, dengan menarik tali kekang kuda, ia berjalan di depan, tetapi dalam hati diam-diam ia mencaci maki. Keadaannya yang menyedihkan itu membikin orang tertawa.

     Kembali bercerita tentang para gagah perkasa di Mo-dji-tje, sesudah mereka diingusi dan mutiara mestika kena diserobot oleh Gui Djing-si, semula banyak yang berniat hendak mengejar, akan tetapi Si Liang mencegah.

    "Tjuwi tak perlu ribut," ujarnya. "Imam busuk ini sangat licin, kini hendak mengejarpun sudah terlambat, baiknya kita boleh lantas menyiarkan berita bahwa mutiara mestika sudah jatuh ke dalam tangannya itu, tak lama kemudian dengan sendirinya pasti ada orang pandai dan pejabat negeri yang akan membikin perhitungan dengannya."

Teng Hong-ko tidak mengerti oleh keterangannya itu.

     "Dengan cara begitu, bukankah Po-tju itu akan terjatuh kembali ke dalam tangan cakar alap-alap pemerintah?" tanyanya.

     "Memang begitulah tujuan kita," jawab Si Liang dengan tertawa. "Kita lebih baik merebutnya kembali dari pejabat pemerintah, daripada pergi menguber-uber jejak Gui Djing-si."

     Begitulah sesudah urusan diatur baik, mereka masing-masing lantas menjalankan tugasnya sendiri.

     Sesudah pada bubar, Teng Hong-ko lihat hanya tinggal Si Liang dan suami isteri Yan Ie-Lam saja yang masih tinggal di dalam markas.

     Si Liang adalah seorang pemeluk agama, maka siang-siang ia sudah bersemedi di dalam kamarnya hingga tiada orang lain lagi di ruangan tengah.

     Hong-ko teringat pada kejadian di rumah pondokan, dimana ia telah mencuri baca surat dinas yang dikirimkan pada gubernur, di antaranya terdapat selembar nota pengiriman barang yang bertanda bundaran dengan tinta merah pada satu baris nama barang yang tertulis 'Semangka Hami dari Lantjiu', semangka itu termuat menjadi sembilan kereta dan waktunya jatuh besok pagi.

     Karena merasa di antara tanda-tanda dalam surat dinas itu pasti ada terkandung rahasia tertentu, lantas Hong-ko menceritakan pengalamannya itu kepada Yan Ie-lam.

    "Saudara Teng, mengapa tidak kau katakan sejak dulu, hampir saja kita melepaskan 'jual-beli' yang baik itu begitu saja," kata Yan Ie-lam sesudah ia berpikir sejenak.

     "Yan-tayhiap, barang dagangan apakah dalam kereta itu?" tanya Hong-ko yang masih belum paham.

     "Kau baru saja mengunjuk diri di kalangan Kangouw dan masih plonco, mana bisa kau tahu banyak peraturan dalam Kangouw," dengan tertawa Yan Ie-lam menerangkan. "Kita menguntit sesuatu incaran barang pun ada istilah tertentu, ialah kesatu mendengar, kedua menguntit, ketiga mengintip, keempat membongkar dan kelima melihat gelagat, tanpa sengaja kau ini dapat membongkar tanda rahasia mereka, ini adalah barang yang harus kita incar, dan tentu pula ialah Po-tju kedua yang diamdiam hendak diangkut Tjhi Djin-ho ke Soatang sini."

     Mendapat penerangan itu, Hong-ko menjadi girang tidak kepalang bercampur kaget.

    "Yan-tayhiap, kalau begitu kita besok mencegat saja kereta itu, bukankah kita lantas akan berhasil?" tanyanya lagi.

     "Mana bisa begitu gampang, saudara," sahut Hoa-lihiap dengan tertawa menimbrung. "Kita harus menyelidiki dulu kereta yang mana tempat disembunyikannya mutiara mestika itu, baru kita bisa turun tangan dengan tepat."

     Meskipun Hong-ko masih hijau, namun otaknya memang cukup cerdas, dengan sedikit berpikir ia sudah dapat menerka.

     "Aku terka pasti disembunyikan pada kereta ketujuh itu," ujarnya.

Suami isteri Yan Ie-lam mengangguk atas perkataannya.

     Terkaanmu memang tidak salah." kata mereka. "Tujuh tanda bundaran merah itu menunjukkan bahwa Po-tju disembunyikan di atas kereta ketujuh, cuma Tjhi Djin-ho yang biasanya tidak pernah gegabah bertindak, menurut penglihatanku, kali ini diam-diam tentu ia telah mengirim pula pengawal yang pandai mengikuti rombongan kereta itu."

     'Barangkali kamu orang tua telah lupa pula atas perkataan Gui Djing-si?" kata Hong-ko pula. "Ia mengatakan bahwa Giok-bin-yao-hou telah mendapat berita bahwa Tjhi Djing ho telah memberangkatkan pula sebutir mutiara mestika yang lain dari Khayhong dan yang mengawal ialah apa yang dikatakannya sebagai ahli dari Ko-yang-pay, bernama Ie Djan berjuluk 'Sip-tiat-hong' dan Tji Tjing-hian yang berjuluk 'Hoan-san-kau', pengawalnya kali ini mungkin ialah kedua orang itu."

     Setelah dirunding lagi lantas mereka memutuskan berangkat malam itu juga, mereka menaksir kereta yang mengangkut tentu melalui jalan dan Tay-bing-hu dan Tong-tjiang terus ke Tjelam.

     Yan Ie-lam berpesan pada Hong-ko agar jangan memberitahukan pada orang lain lagi, supaya tidak terbeber kabar itu hingga banyak menjadi incaran tokoh Kangouw cabang lain. Selain itu ia katakan pula pada Hong-ko, "Saudara Teng, di tengah jalan kita jangan saling sebut nama yang asli, kau sebut saja kami dengan Toako dan Enso saja, sedang kau yang baru mengunjukkan diri paling baik kalau berganti nama dengan sebuah julukan untuk menghindarkan perhatian dari pejabat pemerintah, seumpama terjadi sesuatu, namamu pun tidak diumumkan sebagai seorang buronan."

     Begitulah setelah dirundingkan lagi, akhirnya Teng Hong-ko dipilihkan nama julukan 'Siau Kim-kong1.

     Malam itu juga, dengan tiga ekor tunggangan segera mereka berangkat, setelah melewati Tjelam. malam keduanya mereka menginap di Tong-tjiang dan besoknya pagi sekali mereka lantas berangkat pula.

     Di depan tertampak sebuah hutan Tjo dengan lereng bukit yang naik turun di sana-sini, selajur jalan besar membujur di tengah, menembus hutan Tjo itu menuju ke depan.

     Waktu itu sang surya baru memancarkan sinarnya, kabut malam masih belum buyar, dalam jarak belasan tombak jauhnya masih belum dapat memandang jauh dengan jelas.

     "Inilah suatu tempat yang bagus untuk kita turun tangan, cuma entah kaum pembesar celaka itu apakah sudah berangkat pagi-pagi begini?" ujar Yan Ie-lam.

     "Di depan sana ialah Tong-poh, sebuah kota kecil, tadi malam tentu mereka bermalam di sana, menurut tafsiran, tidak sampai satu jam, tentu mereka sudah bisa sampai di sini," sahut Hoa-lihiap.

     Maka mereka bertiga lantas turun dari kuda dan menyembunyikan diri ke dalam hutan Tjo itu.

     Dengan pelahan Hong-ko mengenjot tubuhnya, ia memanjat ke atas sebatang pohon. Tempat ini kebetulan adalah dataran tinggi di atas bukit, oleh karena itu bila memandang jauh ke depan akan terlihat jalanan besar yang berliku-liku mengikuti naik turunnya bukit menjulur panjang. Di antara kabut yang remang-remang itu sudah tampak dari jauh ada serombongan bayangan orang yang muncul dari belakang bukit.

     Hong-ko girang sekali, ia bersuit memberi tanda pada rekannya yang berada di bawah pohon, tidak ayal lagi Hoa-lihiap segera menyusul meloncat naik juga ke pucuk pohon untuk mengintip apa yang dapat dilihat oleh Hong-ko.

     Ketika itu pelahan-lahan iring-iringan kereta sudah semakin mendekat, oleh karena itu sudah dapat tertampak dengan jelas ada suatu barisan panjang lambat laun mendekati rimba Tjo itu.

     Kiranya konvoi kereta ini memang tidak salah adalah kereta rangsum milik gubernur Soatang.

     Seperti telah diceritakan di muka, tidak lama lagi Kaisar Khong-hi hendak bersujud ke Thay-san, mendapat kabar itu siang-siang Tam Ting-siang sudah menyediakan semua barang keperluan yang hendak disuguhkan pada maharajanya itu.

     Pada kesempatan itu juga Tjhi Djin-ho diam-diam telah menyembunyikan sebutir mutiara mestika dari Tjin-tju-goan ke dalam kereta dan secara rahasia diangkut ke Soatang.

     Sebagai Popio atau pengawal dari konvoi itu ialah dua orang jagoan cabang atas dari Bu-lim atau dunia persilatan, seorang bernama Ie Djan dan yang lain Tji Tjing-hian.

     Ie Djan adalah jagoan ternama dari Ko-yang-pay yang sudah kawakan, ia pandai dalam ilmu Kim-na-djiu, yakni kepandaian cara mencekal dan menawan yang mempunyai tujuh puluh dua rupa gerakan. Sedangkan Tji Tjing-hian menggunakan toya yang disebut 'Dju-bwe-kun', toya buntut tikus, karena ujungnya yang lancip, ia mempunyai tenaga yang luar biasa, dengan sekali toyanya menyodok ia sanggup melubangi batang pohon sedalam beberapa senti.

     Walaupun Ie Djan dan Tji Tjing-hian keduanya termasuk jago kawakan dari Ko-yang-pay, tetapi karena ingin kedudukan dan tamak oleh kemewahan, maka sudah lama bercita-cita memperoleh sedikit pangkat.

     Kali ini setelah Tjhi Djin ho datang ke Hoa-san dan bertemu dengan pendekar golongan Khong-tong-pay yang tinggal di Tjhui-hun-kiong di atas gunung tersebut, kebetulan Ie Djan pun mengunjungi tempat itu. Rupanya memang bintangnya lagi terang juga, maka Tjhi Djin-ho segera meminta dia menjadi pengawal barang kiriman kepada Tam Ting-siang di Tjelam. Ie Djan tidak ragu-ragu lagi untuk menerima tugas itu, bahkan ia malah mengusulkan pula saudara seperguruannya 'Hwan-san-kau' atau ular pelintas gunung, Tji Tjing-hian untuk membantu mengawal pula.

     Tjhi Djin-ho memangnya sedang membutuhkan tenaga orang, maka sudah tentu ia menerima dengan segala senang hati.

    Begitulah, kemudian Ie Djan dan Tji Tjing-hian mengikuti iring-iringan kereta rangsum dari gubernur Soatang itu dan secara berbondong-bondong berangkat menuju ke Tong-tjiang.

     Kereta-kereta itu hanyalah kereta kecil yang ditarik oleh keledai, tetapi sembilan kereta yang harus Ie Djan kawal itu memuat semangka Hami, sebelum berangkat ia sudah dipesan oleh Tjhi Djin-ho agar memperhatikan kereta yang ketujuh.

     Oleh sebab itu, sepanjang hari dalam perjalanan, Ie Djan senantiasa mendampingi kereta ketujuh itu, sedang Tji Tjing-hian ia suruh menjaga di depan.

     Hari itu, tidak lama sesudah mereka berangkat, hutan Tjo sudah melintang di depan mereka, sedang di kedua sampingnya terdiri dari lereng-lereng bukit yang miring, hanya di samping gunung itu terdapat jalanan yang menuju ke utara.

     Melihat sekitar tempat situ cukup berbahaya, diam-diam Ie Djan berkata pada saudara seperguruannya, "Laute. paling akhir ini kabarnya tidak sedikit sahabat-sahabat kalangan Liok-lim dari sekitar Tjwan-siam telah berkumpul secara beramai-ramai di Soatang sini, tindak-tanduk mereka agaknya seperti akan ada sesuatu perdagangan yang baik!"

    Tji Tjing-hian adalah orang yang periang, oleh karena itu. ia tak terlalu menghiraukan apa yang dikatakan kawannya itu.

   

[bersambung]