sam po tju 01
SAM PO TJU
( TIGA MUTIARA MESTIKA)
Oleh : Gan K.L.
Puncak kejayaan ilmu silat di Tiongkok ialah
antara seabad sesudah pendudukan Boan-djing, kala itu ilmu silat
dari berbagai cabang dan golongan sudah banyak mengalami perubahan
dan perbaikan-perbaikan, di daerah Yuyan (kini Beijing) dan Kanglam
(daerah selatan sungai Yang Tse) tidak sedikit Kiam-khek (pendekar
silat) yang muncul dari dunia persilatan, mereka secara diam-diam
bergerak di bawah tanah dengan tujuan untuk menggulingkan
pemerintahan Boan-djing, tetapi di samping itu juga ada perebutan
pengaruh dan pertempuran di antara berbagai cabang dan golongan ilmu
silat itu.
Cerita ini dimulai
pada zaman dua atau tiga belas tahun setelah Kaisar Khong-hi naik
takhta, ketika itu Ping-se-ong Go Sam-kui dan Tjing-lam-ong Kheng
Tjin-tiong, dua orang raja muda bentukan pemerintah Boan-djing
sendiri beruntun telah angkat senjata memberontak, Kaisar Khong-hi
sendiri telah mengatur siasat untuk menggempur pemberontakan itu, ia
mengangkat Pangeran Lirkim sebagai Ping-lam-tjing-go-tjiangkun atau
Panglima besar penggempur ke selatan dan pengamanan terhadap
pemberontak (kira-kira seperti komandan operasi militer pada zaman
sekarang).
Di samping itu, ia
juga mengirim berbagai pasukan dalam jumlah besar yang dipimpin oleh
Panglima-panglima kepercayaannya yang lain untuk menduduki Hingtjiu
dan Gaktjiu. Demikian juga Jenderal-jenderal lainnya memasuki
Hantiong dan Hokkian sehingga merupakan garis pengepungan. Di sisi
lain, ia mengambil tindakan hukuman mati terhadap semua bawahan dan
sanak famili dua raja muda pemberontak itu yang tinggal di kotaraja.
Karena tindakan Khong-hi tersebut, seketika seluruh negeri menjadi
gempar.
Sesudah mengalami
pertempuran selama setahun, gerakan tentara Boan ternyata berhasil
dengan baik, karena tak tahan oleh berbagai pukulan yang dialaminya,
tak lama kemudian Go Sam-kui meninggal. Cucunya, Go Se-bwan,
kemudian diangkat oleh bekas bawahannya untuk menggantikan kedudukan
sang kakek, dan terus bertahan melawan tentara Boan di daerah
Ouw-lam. Di pihak lain, Kheng Tjin-tiong yang berkedudukan di
Hokkian telah bekerja-sama dengan The King yang pada waktu itu
berkedudukan di Taiwan, mereka merongrong pemerintahan Boan dari
berbagai penjuru pantai, tetapi tak urung mereka pun terkepung
hingga terpaksa bertahan di suatu daerah yang sempit dan terpencil.
Karena pengaruh
kerusuhan di tahun-tahun itu, di propinsi Kangsay, Ouwlam, Ouwpak
dan lain-lain, maka banyak kaum gagah perkasa dari Kangouw
(pengembara), pahlawan dari berbagai perkumpulan gelap dan tidak
terkecuali pula golongan agama dan partai-partai liar yang mengambil
kesempatan itu untuk memperkeruh suasana. Mereka menghadang dan
merampas bahan-bahan makanan serta menggempur pasukan pemerintah
secara mendadak, bahkan banyak pula yang berkeliaran merampok sini
dan menggarong sana.
Panglima besar pasukan
Boan-djing, Pangeran Lirkim, mengetahui bahwa sisa-sisa pasukan
pemberontak belum dapat dibersihkan seluruhnya, maka ia menggunakan
kesempatan itu untuk menarik sebagian tentaranya guna menyapu
gerakan melawan Boan-djing di berbagai daerah itu. Siapa saja asal
dicurigai, tanpa ampun lagi segera ditangkap, lalu dipenjarakan atau
dibunuh.
Pejabat-pejabat
militer bangsa Boan-tjiu memang mempunyai pedoman : Daripada musuh
lolos, lebih baik salah membunuh atau bunuh dahulu perkara
belakangan. Secara kejam tidak sedikit rakyat bangsa Han yang sudah
terbunuh, dan mereka mati penasaran, jiwa manusia dipandang seperti
jiwa binatang belaka.
Di daerah selatan
Kangsay, sekitar kabupaten Hinkok dan Itoh, terkenal dengan
pegunungannya yang bertanah tandus dan miskin. Karena hari-hari yang
dilewati dalam suasana kacau dan musim paceklik pula, maka tak tahan
lagi oleh siksaan kelaparan dan kedinginan, rakyat dipaksa ke jalan
yang sesat, mereka menghimpun dan memperkuat pengaruhnya
sendiri-sendiri, di antaranya termasuk gerombolan dari golongan
agama dan partai-partai liar yang paling kuat. Waktu itu justru yang
berkedudukan di Kantjiu (ibukota propinsi Kangsay) ialah Bok-tjan,
terkenal sebagai manusia yang kejam dan suka membunuh, sampai-sampai
bawahannya pun ikut-ikutan ketularan kesukaan atasannya itu. Tiap
hari pasti ada tawanan-tawanan dalam jumlah besar yang dibunuh di
atas bukit, di jalan raya pun sering kali terlihat mayat tawanan
yang dibuang dalam jumlah banyak.
Pada suatu hari. di
jalan raya Itoh, ada sepasukan kecil tentara dengan menggiring
serombongan tawanan sedang menuju ke Po-hong-nia (bukit Po-hong). Di
antara rombongan tawanan itu terdapat laki-laki dan wanita, bahkan
diikuti juga dengan anak-anak, jumlah seluruhnya ada kira-kira
belasan orang. Dari jauh terlihat bagaikan mayat hidup yang berjalan
lewat dengan menyeret langkahnya yang berat.
Kebanyakan dari
tawanan laki-laki itu tanpa mengenakan baju atau setengah telanjang
hingga deretan tulang-tulang iga mereka tertampak dengan jelas,
sedang tawanan wanita bermata cekung saking kurusnya, pakaian mereka
pun begitu kotor melebihi pengemis yang paling kotor sekalipun.
Dengan kaki telanjang tanpa sepatu, mereka berjalan di atas jalanan
pasir tandus yang tak berumput itu, karena panggangan sinar matahari
yang panas terik, kaki mereka menjadi lecet berair, lidah mereka
me-lelet dengan napas memburu seperti anjing kehausan, tetapi
di-mana mereka lewat tak ada sebatang rumput pun yang tumbuh saking
keringnya, apalagi untuk mencari mata air.
Pengiring tawanan
ini adalah sebarisan kecil serdadu Boan-tjiu, mereka tidak paham
bahasa Han. Pemimpinnya seorang opsir rendahan yang berkumis hitam
tebal, tiada hentinya dia mengusap keringatnya yang bercucuran
sambil duduk di atas kudanya, meskipun dia bertopi lebar untuk
mengalingi sinar matahari, tetapi dia masih merasa seperti berjalan
di tepi gunung berapi saja, beberapa kali dia harus mengambil gendul
berisi air dan ditegukkan ke mulutnya.
Tiba-tiba di antara
rombongan tawanan itu terdengar suara jeritan, beberapa orang
serdadu yang membawa golok besar dan berjalan di depan segera
berlari ke bagian belakang.
Ternyata seorang
wanita setengah umur yang berkaki kecil di antara para tawanan itu
mendadak jatuh pingsan, di sampingnya seorang bocah perempuan
berumur sekitar 7 atau 8 tahun sambil berlutut sedang
berteriak-teriak memanggil ibunya dan kedua tangannya tiada hentinya
menggoyang-goyang tubuh wanita tadi. Dalam pada itu, dari rombongan
itu seorang laki-laki yang kakinya masih menyeret borgol yang kuat
dan berat datang menghampirinya, waktu menyaksikan wanita yang
pingsan tadi, tak tahan lagi beberapa tetes air matanya mengalir.
"Eng-ma (ibu Eng), mengapakah kau?"
tanyanya.
Tetapi sudah tentu tak mungkin terdengar
oleh wanita itu.
"Tarrr!" tiba-tiba
suara pecut kulit berbunyi, punggung si lelaki tadi telah kena
sekali cambukan, serdadu Boan-tjiu yang menggiring di samping mereka
sedang mencaci-maki dengan bahasa mereka.
Karena terkena
cambukan itu, lelaki tadi tersungkur di pinggir jalan, beberapa
kawan setawanan yang berusia lebih muda lekas maju membangunkan
laki-laki itu, bagaikan srigala menyalak, lelaki tadi sesambatan
tanpa bisa mengeluarkan air mata lagi, tiada hentinya ia menoleh
memandang wanita yang sedang pingsan itu.
Opsir bangsa
Boan-tjiu itu segera memerintahkan bawahannya untuk menyeret bangun
wanita tadi dan matanya dijelikan untuk diperiksa, serdadu yang
diperintah itu terlihat menggeleng kepala dan entah apa yang
dikatakannya, setelah mendapat perintah sekali lagi, segera ia
mengangkat goloknya dan memenggal kepala wanita itu, seketika tubuh
wanita itupun terguling. Bocah perempuan tadi menangis melolong
sambil berjingkrakan, sedang lelaki yang di depan tadi mendadak
berhenti sesambatan, ia mendongak memandang dengan sepasang matanya
yang merah berapi karena gusarnya kepada opsir berkumis itu.
Setelah dekat
magrib, rombongan 'mayat berjalan' yang kehilangan kemerdekaan itu
baru sampai di suatu sungai kecil di bawah bukit, opsir berkumis
segera memberi komando, semua orang lantas berhenti di situ.
Serdadu-serdadu
Boan-tjiu begitu melihat air sungai langsung berlarian saling
mendahului untuk minum sekenyang-kenyangnya. Seorang tawanan juga
seperti kesetanan berlari hendak minum, tetapi segera ia dipapaki
dengan sebuah cambukan hingga jatuh menggelongsor, batok kepalanya
tertumbuk batu besar di pinggir jalan hingga pecah dan otaknya
berantakan, sebaliknya serdadu-serdadu Boan-tjiu tertawa
terbahak-bahak dan menendang ke samping mayat tawanan itu, kemudian
mereka membentak memerintahkan semua tawanan untuk berjongkok.
Setelah opsir berkumis tebal itu sudah cukup mengaso, barulah ia
memperkenankan beberapa anak dari rombongan tawanan itu untuk minum
di tepi sungai.
Di tepi sungai
penuh dengan tumpukan batu yang sudah berlumut dan licin, seorang
anak mencoba merangkak ke atas sebuah baru, dengan tengkurap ia
meraup air dengan tangannya, karena kurang hati-hati, tiba-tiba ia
terjungkal ke bawah. Sungai kecil di pegunungan itu walaupun
dangkal, tetapi anak kecil yang terjerumus masuk bisa tenggelam
juga. Bocah yang terjerumus tadi muncul dua kali ke atas permukaan
air dan kemudian kerupukan di dalam air. Serdadu Boan yang berdiri
di tepi sungai bukan saja mereka tidak lantas menolong, sebaliknya
mereka malah merasa geli dan tertawa terpingkal-pingkal.
Tiba-tiba terdengar
suara "Plung," ada orang telah terjun ke dalam sungai, dengan sekali
gerakan orang itu berhasil menolong bocah yang terjungkal ke sungai
tadi dan terus merangkak naik ke atas sebuah batu.
Waktu semua orang
menegasi, penolong itu ternyata bukan lain ialah bocah perempuan
yang kehilangan ibunya itu, rambutnya yang basah kuyup makin
menunjukkan sepasang matanya yang hitam bundar dan tampak menarik.
Melihat kejadian
tadi, si opsir berkumis hitam tebal hanya tertawa cekikikan, entah
tertawanya ini sebagai pujian terhadap keberanian bocah perempuan
tadi atau mungkin tertawa tanda setuju dengan bawahannya yang tadi
hanya berpeluk tangan saja melihat bahaya yang menimpa sang bocah.
Kemudian ia maju
menarik bangun kedua tawanan cilik tadi, sesudah itu ia memberi
tanda memperbolehkan para tawanannya yang sudah hampir mampus
kehausan itu untuk minum. Sudah tentu bukan main girangnya para
tawanan itu, seakan-akan ikan mendapatkan air. Mereka merendam
kepala ke dalam air sungai dan minum sepuasnya.
Pada waktu itu
juga, beberapa serdadu di antaranya seperti telah menemukan sesuatu,
mereka berteriak-teriak menuju ke atas bukit. Kiranya dari jalanan
kecil di atas bukit itu ada dua orang dusun sedang berjalan
mendatangi, waktu mereka melihat ada serdadu Boan, segera mereka
mengkerut menyembunyikan diri ke belakang batu-batu besar pegunungan
yang banyak terdapat di situ.
Dengan sebuah
bentakan, si opsir berkumis itu memburu dengan golok terhunus, dalam
sekejap saja ia telah dapat meringkus kedua orang tadi, ternyata
kesemuanya adalah kakek-kakek yang sudah berusia lebih dari setengah
abad, kepala mereka memakai caping, berbaju kain kasar dan bercelana
pendek biru yang sudah compang-camping penuh tambalan di sana-sini.
Tangan mereka menjinjing bakul dari bambu yang sudah bobrok
berisikan penganan berbentuk bundar terbuat dari jagung, dan ada
pula tempurung yang berisi madu tawon. Waktu opsir itu memerintahkan
menggeledah tubuh mereka, namun sudah tidak menemukan sesuatu barang
lain lagi.
Sementara itu kedua
kakek telah berlutut memohon ampun. Opsir berkumis mengambil
penganan dari jagung itu, ia meremas beberapa di antaranya untuk
diperiksa dan segera dibuangnya ke tanah. Seperti kuatir kehilangan
sesuatu, si kakek menjemput penganan yang dibuang itu. Si opsir
mengamati mereka, tetapi tiada sesuatu yang mencurigakan, ia
memandang pula madu tawon yang ada di dalam bakul, tak tahan lagi ia
mengulur tangannya dan merebutnya, kemudian ia menendang mereka agar
pergi.
Kena ditendang dan
roboh, dengan menahan sakit kedua orang tua itu kemudian merangkak
bangun dan setindak demi setindak lantas berlalu.
Melihat mereka
sudah pergi, si kumis mengulur jarinya dan dicelupkan ke dalam madu
tawon yang berada dalam tempurung itu, kemudian dimasukkan ke dalam
mulutnya, agaknya rasanya manis enak, lantas ia perintahkan juga
pada serdadunya agar mengambil air bening dengan wadah semacam
tempurung, lalu ia mencampurkan sedikit madu terus diminum.
Serdadu-serdadu
Boan-tjiu itu melihat opsirnya minum dengan bernapsu dan terlihat
nikmat sekali, mereka menjadi mengiler, memang saat itu suhu udara
terlalu panas, mereka tentu ingin membasahi sedikit tenggorokan
mereka dengan madu tawon itu juga. Susah payah mereka menanti dengan
tidak sabar, baru sejenak kemudian tertampak si kumis melambaikan
tangannya, maksudnya tentu akan diberikan kepada mereka untuk dibagi
rata, maka tanpa perintah untuk yang kedua kalinya secara
beramai-ramai para serdadu itu segera menyerbu tempurung madu dan
saling berebutan, keruan saja dalam sekejap madu tawon itu sudah tak
tersisa setetes pun.
Sang surya telah
tenggelam ke barat, rombongan orang-orang itu pun tiba di suatu
tempat yang agak tinggi, dari jauh mereka melihat ada asap mengepul,
ternyata di depan mereka terdapat sebuah dusun yang disebut
Bho-thau-tjun.
Si kumis tadi
mengeprak kudanya mendahului berjalan, tetapi sekonyong-konyong
terdengar kudanya meringkik, dan si kumis terguling jatuh. Waktu
serdadu bawahannya bermaksud mendukungnya bangun dan memeriksa,
terlihat matanya mendelik dan dari mulutnya keluar busa. Keruan saja
seluruh rombongan menjadi gempar oleh kejadian yang mendadak itu.
Wakil pimpinan
rombongan segera memerintahkan mengawasi semua tawanan, tetapi dalam
sekejap itupun ia sendiri merasa kepalanya pening dan tak
tertahankan lagi. Ia masih sempat memandang bawahannya, namun serupa
saja, serdadu-serdadu itupun pada roboh terguling bergelimpangan,
terang mereka sudah terkena obat tidur.
Dalam pada itu dari
belakang tanah tinggi itu terdengar ada suara tertawaan orang yang
terbahak-bahak, menyusul mana lima atau enam orang laki-laki muncul,
dua orang kakek yang tadi didupak pergi termasuk di antara mereka,
yang berjalan di depan adalah seorang laki-laki tegap setengah umur,
tangannya mencekal golok, kepalanya memakai ikat kain hitam, kedua
lengannya telanjang, secarik angkin merah mengikat di pinggangnya
dan kakinya memakai 'tjhau-eh' (semacam sepatu sandal terbuat dari
rumput, dipakai oleh rakyat petani di musim panas).
Setelah berhadapan
dengan rombongan tawanan itu, laki-laki tegap tadi memandang ke arah
rombongan tawanan itu, agaknya seperti hendak mencari seseorang di
antara mereka. Melihat lelaki tegap itu, si bocah perempuan tadi
segera berlari mendekat sambil berseru, "Teng-sioksiok, tia (ayah)
berada di sana!"
Lalu tangannya yang kecil menunjuk ke arah
tawanan yang diborgol dan bermata merah berapi tadi. Laki-laki tegap
itupun segera menghampirinya sambil menyelipkan goloknya ke ikat
pinggang, ia merangkul orang itu sambil mencucurkan air mata.
"Oh, Pek-djiko, kau
telah disiksa sampai begini rupa, hingga aku hampir tak mengenalimu
lagi!" katanya kemudian dan terus saja ia melolos goloknya lagi
untuk merusak borgol dan rantai yang berada di tubuh orang itu.
Sementara itu,
kawan-kawan yang datang bersamanya dapat merebut semua toato atau
golok besar dari para serdadu Boan-tjiu, bagaikan memotong semangka
dan merajang sayur, dalam sekejap saja mereka sudah membereskan
semua serdadu musuh.
"Hai, saudara-saudara!"
tiba-tiba orang yang dipanggil Pek-djiko tadi berseru. "Ringkus dulu
si anjing berkumis itu, jangan biarkan ia mampus secara begitu
mudah!"
Lelaki tegap itu
segera menjawab dan ia maju sendiri untuk meringkus si opsir
berkumis tebal itu. Dalam pada itu jalan besar itu tertampak telah
didatangi pula serombongan orang.
"Djiko, jangan
kaget, mereka adalah saudara-saudara sekampung," seru lelaki tegap
she Teng itu sambil berpaling waktu melihat ada serombongan orang
lain yang datang lagi.
Tidak berselang
lama, rombongan >ang baru datang itu telah tiba pula, mereka semua
membawa arit, pacul dan kampak sebagai senjata, di samping itu
mereka membekal pula sedikit makanan. Dari rombongan yang baru
datang itu, sekonyong-konyong seorang anak laki-laki kurus jangkung
berlari-lari ke depan si bocah perempuan tadi sambil memegang
kencang kedua tangannya.
"Eng-koh, kau tentu telah
menderita," kata anak laki-laki itu. "Tadi aku akan datang terlebih
dahulu bersama mereka, tetapi tia tidak mengizinkan."
Kemudian tanpa
menghiraukan lagi pandangan mata orang banyak, ia menarik bocah
perempuan itu ke samping bakul yang berisikan makanan, melihat itu
dia terus bungkam tanpa berkatakata, setelah ia mengamat-amati,
barulah ia tahu bahwa mukanya telah basah dengan air mata.
"He, apakah kau
tidak enak badan?" tanya si bocah laki-laki itu dengan heran.
Eng-koh menggeleng kepala.
"Ibuku telah meninggal!" jawabnya dengan
singkat.
Karena perkataannya
ini, lelaki tegap yang berada di sampingnya pun sampai ikut
terkejut.
"Bagaimana dengan
Dji-ma? Betulkah dia telah meninggal?" ia menoleh dan bertanya pada
orang she Pek tadi. Baru kini ia teringat bahwa di antara para
tawanan itu memang betul tidak terdapat ibu Eng-dji.
Saat itu juga di
belakangnya timbul suara gedebukan, ternyata orang yang dipanggil
sebagai Pek-djiko itu telah jatuh pingsan saking berdukanya. Dalam
keadaan ribut itu, lekas mereka berusaha menyadarkannya kembali.
Sementara itu hari
sudah gelap, lelaki she Teng tadi memberi perintah kepada
kawan-kawannya, mereka melucuti semua rantai dan borgol para tawanan
dan memberikan mereka masing-masing sedikit makanan, kemudian ia
memerintahkan pula mencopoti semua pakaian para serdadu Boan-tjiu
yang sudah mereka bunuh semua, mayatnya mereka gotong dan dibuang di
tempat sepi. Dengan hasil rampasan senjata dan pakaian seragam yang
tidak sedikit itu, barulah kemudian mereka kembali ke kampung
halaman dalam keadaan gelap.
so 3S es
Kiranya di dalam
rombongan tawanan buangan itu, orang yang dipanggil Pek-djiko tadi
bernama Pek Ting-djoan, seorang guru sekolah di Tjiok-ge-tjun, di
tepi sungai Bwe-kang, selaun Kangsay. Dalam ilmu sastra, Pek
Ting-djoan cukup mempunyai dasar yang baik, ia paham pula sedikit
ilmu silat. Di I jiok gc tjun atau kampung Tjiok-ge, ia cukup
terkenal dan disanjung oleh penduduk sekampung.
Dalam kampung
Tjiok-ge itu terdapat pula seorang guru silat yang bernama Teng
Ling, tidak sedikit dari kalangan muda yang menjadi muridnya. Dengan
Pek Ting-djoan, dia merupakan satu bun dan satu bu yang membuka
sekolah di satu tempat yang sama, oleh karena itu hubungan mereka
berdua sangat baik dan rapat. Mareka sama-sama mempunyai jiwa
patriot dan darah panas, di waktu senggang bila mereka berkumpul,
tentu yang mereka percakapkan ialah soal cara bagaimana menghimpun
semua pahlawan dan orang-orang gagah dari seluruh negeri untuk
bersama-sama bergerak dalam pekerjaan yang maha besar itu.
Tiada sesuatu yang
tak terkabul asal ada kemauan. demikian kata peribahasa. Maka selang
tidak lama mereka pun sudah mendapatkan banyak kawan-kawan
seperjuangan setempat dan bergerak secara gelap.
Teng Ling mempunyai
seorang putra bernama Hong-ko atau lengkapnya Teng Hong-ko, ia
terlahir dengan otak tajam dan roman muka cakap. Istri Pek
Ting-djoan, Pek Dji-ma. juga melahirkan seorang putri dan diberi
nama Eng-dji atau Pek Eng-dji, usianya tiga tahun lebih tua dari
Teng Hong-ko. Kedua bocah itu masing-masing mengikuti orang tua
mereka belajar bun dan bu (ilmu sastra dan ilmu silat), di kala
senggang mereka selalu bermain bersama sebagaiman umumnya di
kalangan anak-anak.
Eng-dji berayah
cendekiawan, sudah tentu soal membaca ia jauh lebih banyak daripada
Hong-ko, sebaliknya dalam hal bermain silat, sudah tentu pula ia tak
bisa menyamai Hong-ko, oleh karena itu kalau sewaktu mereka
berkumpul, tentu mereka saling menukar pelajaran apa yang sudah
mereka dapat, dua sejoli cilik ini meskipun belum mengerti arti
cinta asmara, tetapi kalau sehari tak bertemu saja, mereka lantas
merasa kesal.
Tahun itu, di
daerah selatan Kangsay berjangkit suatu penyakit dan bahaya
kelaparan, kaum miskin banyak yang menyingkir ke tempat lain untuk
mencari nafkah, akibat dari itu, di sekolah Teng Ling dan Pek
Ting-djoan pun tinggal tersisa dua-tiga orang murid saja, keruan
ongkos penghidupan mereka menjadi persoalan juga, dan justru pada
saat itu ada seorang hartawan dari kampung Tiang-sing-su yang
berjarak ratusan li (satu li kurang lebih seperempat kilometer) dari
kampung Tjiok-ge, telah menyuruh orang untuk mencari Pek Ting-djoan
agar ke rumahnya untuk memberi pelajaran beberapa anak muridnya
dengan uang jasa yang sangat besar, sudah tentu Pek Ting-djoan
menerima tawaran itu dan ia segera berangkat ke tempat yang baru
beserta anak istrinya.
Istri Teng Ling
sudah lama meninggal, maka pada waktu hendak berpisah, ia hanya
membawa putranya, Hong-ko, mereka mengantar hingga jauh. Kedua orang
tua itu melihat sepasang putra-putri cilik merasa berat untuk
berpisah, secara lisan mereka pun berjanji untuk mengikat tali
perbesanan.
"Laute, menurut
penglihatanku, sekolahmu pun tak mungkin diteruskan lagi, lalu apa
rencanamu selanjutnya?" tanya Pek Ting-djoan.
"Memangnya Siaute justru
hendak mengemukakan kepada Hengtiang," sahut Teng Ling. "Beberapa
hari berselang, pahlawan dari He-ho-tje, Hoa Dji-tjun, telah
mengajak Siaute ke sana untuk memberi pelajaran silat kepada para
bawahannya, aku merasa bisa mendapat kemajuan juga di sana, maka aku
telah menerima ajakannya."
"Apakah yang kau
maksudkan Hoa-djitjetju?" tanya Pek Ting-djoan pula. "Orang ini
walaupun betul seorang gagah, tetapi kalau Laute ikut masuk ke dalam
gerombolan mereka, kelak kalau pembesar negeri mencium, waktu itu
tak mungkin kau bisa kembali lagi tinggal di Tjiok-ge-tjun."
"Djiko," sahut Teng
Ling dengan tertawa. "Keadaan kini kacau-balau, jiwa manusia tidak
lebih berharga dari jiwa binatang, seumpama kau hendak menjadi
rakyat yang prihatin, toh tidak jarang menjadi korban kaum pembesar
negeri yang sewenang-wenang, ditangkap atau dibunuh sesukanya.
Kabarnya belakangan ini tidak sedikit yang sudah masuk ke dalam
perkumpulan Thian-te-hwe dan Pek-lian-kau, kita hendak bercokol di
sini, sedikitnya kita harus mendapatkan sandaran yang mempunyai
pengaruh."
Pek Ting-djoan
tidak menjawab, ia hanya manggut-mang-gut saja tanda setuju dengan
perkataannya, sambil bercakap-cakap sepanjang perjalanan, tidak
terasa mereka sudah berjalan lebih dari belasan li.
"Jauh-jauh mengantar,
akhirnya harus berpisah juga, biarlah Siaute kembali saja, harap
Djiko dan Titli (keponakan perempuan) bisa menjaga diri baik-baik!"
ujar Teng Ling akhirnya. Kemudian mereka berpisah dalam suasana
haru.
Sesudah sampai di
Tiang-sing-su, Pek Ting-djoan memangku pekerjaannya yang baru
sebagai guru pengajar dari hartawan Ong Bing. Setelah agak lama ia
tinggal di situ, barulah ia mengetahui bahwa Ong Bing sebenarnya
ialah pemimpin Pek-lian-kau atau agama Teratai Putih, sebuah
perkumpulan rahasia dengan ajaran ilmu hitam, oleh anggota-anggota
dari perkumpulan itu di Kang-say dan daerah selatan, Ong Bing
disebut sebagai 'Thong-thian-kiu-tju' atau Dewa penolong seluruh
jagad.
Ong Bing sebenarnya
adalah seorang hartawan yang kaya raya di tempat itu, kekuasaan
setempat tergenggam di dalam tangannya, keh-ting (centeng)
bawahannya saja sudah lebih dari ratusan orang, oleh karena itu
pihak pemerintah tidak pernah menyangka dan mencurigai dia sebagai
pemimpin besar agama liar itu.
Tahun itu kebetulan
juga Djing-ting (kerajaan Boan-djing) menggerakkan tentaranya untuk
menggempur pemberontakan dua raja muda di daerah barat daya, justru
daerah-daerah itu sedang diamuk oleh paceklik dan bahaya kelaparan,
maka penderitaan rakyat jelata susah untuk dilukiskan, banyak sekali
rakyat yang telah diseret oleh tentara Boan dan dijadikan Thian-hu
(semacam romusa).
Di daerah selatan Kangsay, kaum
Liok-lim-ho-kiat atau orang-orang gagah dari golongan begal besar
(Liok-lim adalah nama lain dari kaum perampok dan begal) telah
bersekongkol dengan orang-orang agama dan partai-partai liar untuk
menghasut kaum miskin merampok dimana-mana sehingga menerbitkan
kekacauan setempat, dengan cara demikian mereka memberi pukulan pada
pasukan Boan secara tidak langsung. Sementara itu di He-ho-tje,
gerombolan bajak dari Hoa Dji-tjun, sejak Teng Ling ikut masuk
gerombolan mereka dan melatih pengikut-pe-ngikutnya, mereka juga
telah mementang sayap dengan cepat dan giat, sampai kini gerombolan
ini sudah lebih dari dua ribu jiwa banyaknya, meliputi pasukan
sungai dan darat serta tersebar di sekitar sungai Bwe-kang, mereka
hanya menanti kesempatan untuk bergerak.
Setelah Teng Ling
berada di He-ho-tje, tidak pernah ia melupakan Pek Ting-djoan. Sang
tempo lewat dengan cepat, dan sudah tiba masa 'ikatan dinas' Pek
Ting-djoan berakhir, namun masih belum tampak yang tersebut
belakangan ini bersurat padanya. Sementara itu putranya, Teng
Hong-ko, kini sudah menginjak usia sebelas tahun, dalam hal ilmu
silat sudah banyak mendapat kemajuan.
Menunggu sesudah
lewat tahun, Teng Ling lantas membawa Hong-ko diam-diam kembali ke
kampung mereka yang dulu, Tjiok-ge-tjun, tetapi yang mereka dapatkan
di pedusunan itu hanyalah keadaan yang sepi-senyap, tiap pintu rumah
tertutup rapat. Waktu mereka mencari tahu, barulah mengerti bahwa
beberapa bulan ini sudah sering kedatangan alat-alat negara untuk
menangkap orang, banyak kaum muda yang kuat telah berlari menyingkir
ke tempat lain, yang masih tertinggal hanyalah sedikit, itupun
mereka yang sudah tua reyot.
Menyaksikan keadaan
itu, perasaan Teng Ling tertusuk, keesokan paginya ia lantas
meninggalkan tempat itu bersama putranya, mereka menuju ke
Tiang-sing-su untuk mencari kabar sahabat lamanya, Pek Ting-djoan.
Begitu memasuki kampung tujuan mereka,
segera mereka melihat keramaian yang luar biasa dalam kampung itu,
orang berjalan simpang-siur dan kian-kemari, di rumah-rumah makan
dan penginapan pun penuh berjubel dengan para tetamu, ternyata
banyak kaum hartawan dari tempat-tempat di sekitar situ telah
mengungsi semua kemari. Begitu Teng Ling bertanya, segera ada orang
membawa mereka ke rumah keluarga Ong, di depan pintu mereka melihat
penjagaan bagitu keras, tidak berapa lama kemudian tertampak Pek
Ting-djoan mendatangi untuk menyambut mereka dan menyilakan masuk
dan duduk di suatu kamar baca.
Keadaan Pek
Ting-djoan ternyata sudah banyak berlainan, kalau dulu berkain kasar
dan berbau miskin, maka kini wajahnya gemuk dan bercahaya, kain
pakaiannya sebangsa sutra yang halus.
Di samping kamar
baca itu, bergandengan dengan sebuah paviliun yang berkamar susun,
waktu Pek Dji-ma dan Eng-dji mendapat kabar, mereka pun lantas
datang menjumpainya. Baru setelah itu Teng Ling mengetahui bahwa
sesudah Pek Ting-djoan mengajar di keluarga Ong, soal makan, tempat
tinggal dan pakaian semuanya terpenuhi secukupnya, maka tak heran
kalau ia tidak ingin kembali ke tempat asalnya lagi.
Di pihak lain,
Eng-dji bisa bertemu dengan Hong-ko, ia pun masih tetap serupa
seperti sedia-kala, dengan menggandeng tangan kawan ciliknya ini, ia
bertanya panjang lebar.
"Semula setelah
sampai di sini, aku hanya mengira sebagai guru sekolah biasa saja,"
demikian tutur Pek Ting-djoan waktu ditanya oleh Teng Ling tentang
keadaannya setelah berpisah. "Tetapi majikanku, Ong Bing, meladeni
aku dengan sangat menghormat dan serba kecukupan, malah telah
mengangkatku merangkap sebagai sekretarisnya, bisa memperoleh
kecocokan paham, hal ini sungguh di luar dugaanku. Hiante, harap kau
mau berdiam barang satu-dua hari di sini, biar kita bisa mengobrol
lebih banyak lagi tentang keadaan kita sesudah berpisah."
Dan begitulah dua
saudara yang berlainan she tetapi cocok dan sepaham itu
bercakap-cakap sepanjang malam di kamar baca dalam kamar tidur itu.
"Hiante denganku adalah
sahabat sehidup-semati, tiada halangannya aku berterus-terang," Pek
Ting-djoan berkata. "Majikanku Ong Bing itu sebenarnya bukan lain
ialah Thong-thian-kiu-tju dari Pek-lian-kau di daerah selatan
Kangsay ini, kini anggotanya sudah ada beberapa puluh ribu orang.
Terhadap diriku, majikan pun sangat menjunjung dan menganggapku
sebagai orang kepercayaannya, banyak urusan besar yang ditanganinya
selalu mengajakku untuk dirundingkan, hakikatnya selangkah pun kami
tidak pernah berpisah, oleh karena itu sesudah masa dinasku berakhir
dalam tahun ini, aku masih ditahan terus untuk tinggal di sini."
Teng Ling terkejut
oleh keterangan ini, ia tidak menduga bahwa Thong-thian-kiu-tju yang
tersohor di kalangan Kangouw itu adalah Ong Bing, majikan sahabatnya
ini, di luaran orang ini terkenal pandai ilmu gaib dan ilmu hitam
(black magic). Kemudian ia pun menceritakan kepada Pek Ting-djoan
keadaan yang menyedihkan di kampung halaman mereka dimana ia telah
menyaksikan sendiri.
Sudah setahun
lamanya mereka berpisah, maka asyik sekali mereka bercakap-cakap
sampai hampir mendekati pagi mereka masih belum tidur.
"Djiko, apakah kau sudah
masuk menjadi anggota Pek-lian-kau?" tanya Teng Ling.
"Sebenarnya," jawab
Pek Ting-djoan setelah berdiam sejenak, "Setengah tahun yang lalu
aku sudah bersumpah darah ih hadapan Tjo-su (pendiri agama mereka
yang sudah wafat) dan telah masuk menjadi anggota, kini jabatanku
ialah kim-su (kepala staf) kedudukanku hanya di bawah ketua dan
wakil ketua saja, peraturan dalam agama kami sebenarnya sangat
kei.is menurut aturan tidak boleh dikatakan kepada siapa pun m.ik.i
hai.ip Hiante suka menutup rahasia ini?"
Habis itu ganti ia
yang bertanya tentang bagaimana keadaan di pihak Hoa Dji-tjun di
He-ho-tje, secara singkat Teng Ling pun memberi keterangan
seperlunya. Tiba-tiba suara ayam jago berkokok di waktu subuh telah
terdengar, kuatir kalau didengar oleh orang di luar jendela, lalu
Teng Ling tidak meneruskan lagi ceritanya.
Esok paginya Pek
Ting djoan mengajak Teng Ling menjumpai Ong Bing di taman belakang
rumah itu, di taman itu penuh tumbuh-tumbuhan dengan tanaman yang
rindang dan terdapat panggung bertingkat. Usia Ong Bing sudah lebih
setengah abad. Ia mengenakan dandanan sebagai imam, rubuhnya besar,
kekar dan berjenggot cabang tiga, sinar matanya tajam, di sampingnya
berdiri empat orang kacung yang memegangi hio-lo (tempat dupa) dan
kipas bulu, serta pengebut dan alat-alat seban gsanya.
Berhadapan dengan
Teng Ling, Ong Bing ternyata sudah tahu bahwa dia adalah tangan
kanan Hoa Dji-tjun, agaknya terhadap seluk-beluk keadaan di
He-ho-tje ia banyak mengetahui.
"Kalau Teng-enghiong
adalah sahabat baik Pek-heng, urusan di sini harap suka menolong
sedikit, sekembalinya hendaklah lantas saling berhubungan," kata Ong
Bing pada Teng Ling.
Teng Ling menjawab
baik, dalam hati ia pun memuji kecepatan kabar yang telah Ong Bing
peroleh.
Sesudah tinggal
beberapa hari, lalu ia berpamitan pada Pek Ting-djoan, sementara
itu, Hong-ko dan Eng-dji pun merasa sayang harus berpisah kembali.
"Hong-ko, kau telah
berjanji padaku Tian-ngo (bulan lima tanggal lima) akan datang ke
sini menonton pek-tjun, harap jangan kau mendustai aku!" pesan
wanti-wanti bocah perempuan itu sambil mengusap air matanya yang
meleleh, ia mengantar sampai di luar kampung.
Sang tempo lewat
dengan cepat, dalam sekejap saja musim kering atau musim panas sudah
tiba, sejak menginjak musim semi, lepas dari biasa, tidak pernah
setetes air hujan pun yang turun, tanah sawah sudah retak pecah
saking keringnya, di daerah sekitar Hinkok, Lingtoh, dan Suikim,
gerombolan pengacau merajalela, bahkan rangsum militer pemerintah
saja kadang-kadang dicegat di tengah jalan. Oleh karena itu, dua
pejabat militer Boan-tjiu, Bok-tjiam dan Tju-boan oleh atasan mereka
telah diperintahkan mengadakan operasi terhadap gerombolan pengacau
itu di dusun-dusun tadi.
Dalam pada itu
pembesar-pembesar Boan-djing sudah mulai menaruh curiga terhadap
gerak-gerik hartawan yang kaya raya di Tiang-sing-su itu, soalnya
karena semua kota distrik maupun kampung-kampung di sekitar situ
mengalami perampokan dan pengacauan yang habis-habisan, hanya melulu
Tiang-sing-su yang tidak mengalami petaka itu, sebaliknya malah
tertampak makin hari makin subur dan makmur. Diperoleh kabar pula
bahwa Ong Bing telah memerintahkan orang-orangnya membeli dan
mengumpulkan bahan makanan kemana-mana untuk ditimbun, karenanya
harga bahan makanan jadi memuncak.
Gubernur Kangsay
akhirnya ikut campur, ia perintahkan Tju-boan To-thong (kapten)
menyelidiki keadaan itu, Tju-boan mengirim beberapa penyelidiknya ke
Lingtoh, tetapi seperti batu tenggelam di lautan, begitu pergi
utusan-utusan itu tak pernah kembali lagi. Tju-boan menjadi murka,
ia mengerahkan pasukannya dan mengepung sekitar tepi sungai
Bwe-kang, ratusan kampung di situ telah mengalami gerakan
pembersihan, ia melarang orang untuk pergi datang, kalau sudah
terang adalah rakyat yang prihatin, tiap orang itu segera diberikan
secarik surat penduduk sebagai bukti, tetapi yang tidak memiliki
surat penduduk itu, semuanya ditangkap dan dituduh sebagai kaum
pengacau atau perampok.
Hoa Dji-tjun Tjetju
di He-ho-tje waktu mendapat laporan bahwa pasukan besar pemerintah
hendak datang mengepung, siang-siang ia sudah memencarkan
pengikutnya dalam kelompok-kelompok kecil, akhirnya mereka pun bisa
menyelusup sampai di belakang daerah pendudukan tentara Boan itu.
Di pihak
Tiang-sing-su, Ong Bing mengerahkan beberapa ribu pengikutnya dengan
menyamar sebagai kaum petani untuk menduduki bukit-bukit di luar
kampung mereka, di samping itu ia bermaksud berhubungan dengan Hoa
Dji-tjun agar mengirim orangnya buat merundingkan cara bagaimana
memberi pukulan yang dahsyat apabila pasukan tentara Boan menyerbu
ke Tiang-sing-su.
Untuk utusan itu,
selain Pek Ting-djoan agaknya tiada orang lain yang cocok, maka ia
lantas menulis sepucuk surat dan memberikan pula emas murni lima
puluh tail. Dengan membawa isterinya, Pek Ting-djoan lantas menyamar
sebagai kaum pengungsi menuju ke He-ho-tje.
Dengan cara begitu
Pek Ting-djoan sekeluarga tiga jiwa terlebih dulu menyambangi
kampung asal mereka, Tjiok-ge-tjun, tetapi kenalan-kenalan lama dan
tetangga-tetangga yang dulu ternyata sudah buron semua, ada beberapa
kaum tua yang jatuh sakit tak sempat lari telah menasehati mereka
agar lekas meninggalkan tempat itu. Pek Ting-djoan pun merasa tiada
yang harus dibuat sayang untuk tinggal lebih lama di situ, maka esok
harinya mereka lantas berangkat lagi.
Tidak
disangka-sangka, orang-orang yang tadinya terkenal sebagai bajingan
di kampung itu, kini sudah mengekor pada pihak tentara pemerintah,
waktu melihat Pek Ting-djoan kembali ke kampung dengan pakaian
compang-camping, mereka menjadi curiga, karena mereka tahu bahwa Pek
Ting-djoan bekerja pada Ong Bing yang terkenal kaya raya, tidak
mungkin tampak begitu rudin, tentu di dalamnya ada sesuatu yang
tidak betul, hal itu diam-diam telah dilaporkan pada pihak tentara
Boan.
Sementara itu Pek
Ting-djoan melanjutkan perjalanannya ke He-ho-tje, ia masih belum
mengetahui bahwa Hoa Dji-tjun dan Teng Ling serta kawan-kawan yang
lain sudah meninggalkan benteng air mereka semula, sebelumnya ia
tidak memperoleh sesuatu tanda rahasia pula untuk berhubungan dengan
orang
Hoa Dji-tjun yang menyamar sebagai orang
biasa. Begitu mereka bertiga memasuki garis terlarang yang sudah
terkepung oleh pasukan pemerintah dan nampak keadaan Tjui-tje atau
benteng air di situ sudah berlainan, sedang di permukaan sungai
sebuah perahu saja tak tampak, ia segera tahu tentu ada sesuatu yang
telah terjadi, dengan cepat ia hendak mundur, namun sudah terlambat,
tentara Boan sudah datang mengepung dari empat penjuru dan berhasil
menangkap mereka.
Masih terhitung
cukup cerdik Pek Ting-djoan, begitu gelagat jelek, segera ia merogoh
surat yang ia bawa dan diremas terus dilemparkan ke dalam sungai.
Waktu digeledah
tentara Boan, di atas bungkusan Pek Ting-djoan diketemukan lima
puluh tail emas murni, tetapi kalau melihat pakaian ketiga orang
yang compang-camping dan dekil, maka segera mereka digusur ke markas
untuk diperiksa.
Pek Ting-djoan
hanya mengaku sebagai pengungsi biasa karena takut di perjalanan
bertemu dengan gerombolan perampok, maka emas murni itu disimpan
rapi di tubuh mereka. Tetapi pengakuan itu tak dipercaya oleh
pejabat militer itu, sebaliknya ia dicurigai komplotan perusuh dari
He-ho-tje, beberapa kali Pek Ting-djoan telah disiksa dan dianiaya
namun ia tetap pada keterangannya, Peh Dji-ma pun merasakan siksaan
yang tidak enteng, dengan sengaja pejabat pemeriksa membiarkan
Eng-dji menyaksikan penderitaan siksaan ibunya dengan tujuan
barangkali bisa mendapatkan sedikit keterangan darinya, tidak
tahunya meskipun Eng-dji masih kecil, namun ia sudah memiliki
pikiran orang dewasa, dengan menangis ia pun mengatakan emas itu
didapat ayahnya dari Ong Bing untuk dibelikan bahan makanan, karena
pengakuannya inilah, jiwa kedua orang tuanya telah tertolong.
Tetapi pihak
pejabat negeri itu masih berusaha agar Pek Ting-djoan mengaku apakah
Ong Bing bersekongkol dengan pihak pengacau, Pek Ting-djoan menjawab
bahwa ia hanya mengajar dalam rumah saja, selamanya ia tak pernah
melihat ada hubungan apa-apa dengan kaum pengacau dari luar.
Terpaksa, pembesar negeri menggusur mereka ke dalam penjara.
Sudah lewat dua
bulan, tetapi sesuatu bukti masih belum ditemukan, bahkan malah
mendapat tahu bahwa Pek Ting-djoan adalah guru sekolah yang sudah
belasan tahun di tempat itu, akhirnya mereka bertiga lantas dibuang
ke kamar tentara Pat-ki (delapan bendera, pemerintah Boan-djing
membagi tentaranya dari berbagai suku bangsa itu menjadi delapan
macam tanda bendera, maka disebut Pat-ki) di Sutjwan, karena Pek
Ting-djoan tergolong terpelajar, maka ia akan dijadikan juru tulis
di sana.
Dalam perjalanan
penggiringan tawanan buangan itu masih terdapat pula belasan orang
lain yang juga dibuang ke Sutjwan, sedang opsir pengiring adalah
seorang bangsa Boan-tjiu yang berpangkat Thongtay kecil atau
setingkat sersan, ialah opsir yang berkumis tebal itu, sepanjang
jalan mereka mencambuk dan menggebuki tawanan-tavvanan, mereka
berlaku secara kejam seperti apa yang telah diuraikan pada permulaan
cerita ini.
Dan begitulah
akhirnya Pek Ting-djoan ditolong oleh sahabatnya, Teng Ling, setelah
menjebak terlebih dahulu serdadu-serdadu Boan itu dengan madu tawon
yang telah dicampurkan obat tidur.
Malam itu sesudah
Teng Ling kembali ke dalam kampung dan sedang menjamu Pek Ting-djoan
ayah dan anak untuk menghilangkan rasa ketakutan mereka. Tiba-tiba
ada laporan kilat yang mengatakan bahwa ada sepasukan besar orang
berkuda sedang mendatangi menuju ke kampung mereka.
Teng Ling mengira
pasukan tentara yang hendak datang mengepung, segera ia perintahkan
semua sinar api dipadamkan di seluruh kampung dan memerintahkan pula
bawahannya bersiap sedia, sedang ia sendiri bersama Pek Ting-Djoan
kemudian berjalan ke mulut kampung, setiba di sana mereka dapat
melihat barisan orang yang datang itu telah menyalakan obor, dan di
depan mereka berjalan lebih dulu belasan penunggang kuda dengan
bendera kebesaran dan berdandan berlainan dengan kaum pembesar
negeri. Begitu sampai di mulut kampung, barisan orang itu lantas
berjajar panjang, dan di antara mereka ada seorang yang maju ke
depan sambil berseru.
"Saudara-saudara
dari Pho-tau-tjun, kami sengaja datang dari Tiang-sing-su, kabarnya
sahabat she Pek itu telah tertolong oleh kalian, maka silakan
pemimpin kalian maju berbicara!"
Sudah sejak tadi
Pek Ting-djoan mengenali tanda-tanda bendera itu, kini mendengar
pula bahwa mereka datang dari Tiang-sing-su, maka tidak menunggu
Teng Ling menjawab ia sudah mendahului maju.
"Pek Ting-djoan ada
di sini! Apakah Kiu-tju yang telah datang?" serunya kemudian.
Belum habis suara
perkataannya, dari rombongan pihak lawan pun sudah maju seorang
penunggang kuda yang berdandan sebagai imam dengan kain ikat kepala
kaum cendekiawan, siapa lagi kalau bukan 'Thong-thian-kiu-tju' Ong
Bing, bukan main girang Pek Ting-djoan, segera dengan berlari-lari
ia pun me-mapakinya dengan cepat.
Kemudian Ong Bing
memerintahkan semua pengikutnya tinggal di lemp.il. ia sendiri
dengan membawa beberapa pengiring l.inl.is menjumpai lengl mg.
"Il.ii i iiu aku
mendapat laporan bahwa Pck-heng telah ditolong oleh segerombolan
orang, malah telah membunuh habis semua serdadu musuh, aku menduga
tentu perbuatan orang-oiang llo.i djiko, tidak nyana malah Hengtiang
sendiri yang telah memimpinnya," kata Ong Bing dengan menggenggam
tangan I eng Ling.
"Siaute sudah lama
menunggu di sini, bagaimana Ong-lau-pan sendiri pun telah datang
kemari?" sahut Teng Ling.
(Siaute = adik
Hengtiang = kakak, sebutan kepada sahabat, Laupan = juragan).
"Susah diceritakan
dengan singkat, Tiang-sing-su tak dapat dibuat menancapkan kaki
lagi!" kata Ong Bing pula dengan menghela napas.
"Marilah kita masuk
untuk bicara lagi!" ajak Pek Ting-djoan dengan menggandeng tangan
mereka. Kemudian mereka dijamu dan menceritakan pengalamannya
masing-masing.
Kiranya Ong Bing
sejak ditinggalkan Pek Ting-djoan ke He-ho-tje, tak lama kemudian ia
mendapat laporan bahwa He-ho-tje sudah dikosongkan, lekas ia
mengirim orang untuk menyusul Pek Ting-djoan, tak tahunya lebih dulu
Pek Ting-djoan datang ke Tjiok-ge-tjoan, oleh karena itu mereka
telah bersimpang jalan. Kemudian Pek Ting-djoan bertiga jatuh di
tangan tentara pemerintah, Ong Bing meski mendapat tahu pun tidak
berdaya untuk segera menolongnya, karena waktu itu ia sendiri sedang
menghadapi kepungan pihak musuh, tentara Boan memberi batas waktu
tiga hari agar menyerahkan daftar nama pemuda-pemuda dalam kampung
agar memudahkan tentara Boan memeriksa keluarga demi sekeluarga.
Ong Bing tahu bahwa
akhirnya pasti akan tiba saatnya meletuskan api pertempuran, maka
siang-siang ia sudah membagi anggotanya menjadi lima barisan,
masing-masing antara lima ratus orang dan menyelundup menduduki
bukit-bukit di sekitar kampung untuk menanti saat yang baik. Ia
perintahkan pula semua wanita dan anak-anak dalam sehari harus
keluar seluruhnya dari kampung mereka melalui jalanan kecil, tinggal
sedikit orang-orang tua dan lemah, mereka disuruh setiap hari
membakar api dalam kampung agar dipandang dari jauh seperti asap
memasak seperti biasa. Di tempat-tempat yang penting ia pendam pula
dinamit dan memilih dua ratus orang yang gagah kuat untuk ditugaskan
menjaga dan bersembunyi di dalam kampung. Sesudah beres ia mengatur,
lalu ia menyelusup keluar ke bukit untuk memimpin pergerakan.
Pagi itu, tentara
Boan sebagian menjaga di luar kampung dan sebagian menyerbu masuk ke
Tiang-sing-su, tetapi yang mereka lihat hanya pintu-pintu rumah yang
tertutup dan sepi senyap tiada manusia, sampai di tengah kampung
keadaan masih serupa saja. mulailah mereka merasa curiga. Selagi
mereka hendak mundur, namun sudah terlambat, dalam sekejap dibarengi
dengan suara ledakan yang gemuruh, banyak laskar rakyat menerjang
keluar dengan ganas hingga banyak serdadu yang bergelimpangan,
sementara itu terdengar pula ledakan yang seru, dari atas bukit
muncul pula beberapa pasukan laskar rakyat. Karena siasat yang
teratur rapi, maka pertempuran itu dimenangkan oleh Ong Bing dengan
barang rampasan yang tiada terhitung banyaknya.
Ia mengerti dengan
kekalahan itu, pasukan pemerintah tentu akan mengerahkan tentaranya
secara besar-besaran, maka ia perintahkan mundur pasukannya malam
itu juga, ia membagi pula sebagian laskarnya buat mengawal kaum
wanita dan anak-anak agar berjalan terlebih dahulu menuju ke
Hong-hong-san di perbatasan Hokkian sebagai tempat kedudukannya yang
baru. Belakangan karena hendak menolong Pek Ting-djoan, ia lantas
membawa sepasukan kecil laskar pilihannya untuk bersembunyi di
pegunungan menanti kesempatan baik. Kemudian waktu mendapat kabar
bahwa rombongan tawanan Pek Ting-djoan akan lewat di tempat
persembunyiannya, tetapi belakangan baru diketahuinya bahwa di
tengah jalan telah didahului orang lain yang bukan lain ialah Teng
Ling, maka ia lalu menyusulnya sampai di Pho-tau-ijun.
Sementara itu Pek
Ting-djoan berulang-ulang mengucapkan rasa terima kasihnya kepada
Ong Bing yang jauh-jauh sengaja datang menyambut padanya, melihat
caranya terhadap Ong Bing begitu rapat dan baik sekali daripada
dirinya, diam-diam Teng Ling menjadi kurang senang. Apalagi ia telah
tahu pula bahwa Pek Ting-djoan sudah masuk menjadi anggota
Pek-iian-kau, dan menjabat kedudukan yang penting, kini Ong Ring
sengaja datang ke sini, tentu akan membawa Pek Ting-djoan pergi
bersamanya.
Malam itu, kembali
Teng Ling dan Pek Ting-djoan tidur satu tempat lagi.
"Djiko," tanya Teng
Ling. "Dengan menghadapi bahaya kali ini Siaute menolongmu, meskipun
dibilang karena persahabatan kita yang sehidup semati selama dua
puluh tahun ini, tetapi juga bertujuan untuk hari kelak bagi
Hengtiang, kalau Hengtiang tidak menolak, di tempat Hoa-djitjetju
sana kini sedang mencari orang dari kaum cerdik pandai dan semua
pahlawan, kalau Hengtiang suka ke sana, tentu akan mendapat
penghargaan yang tinggi."
"Maksud baik Laute
terpaksa baru bisa aku penuhi pada jelmaan hidup yang akan datang,"
sahut Pek Ting-djoan dengan menyesal. "Aku, Pek Ting-djoan, berkat
Kiu-tju punya pandangan yang lain terhadapku selama beberapa tahun
ini dan diberi kedudukan sebagai Kunsu yang bertugas berat, kini ia
sendiri telah sudi datang pula, sesungguhnya aku tidak dapat
meninggalkannya di tengah jalan, malah tadi ia berpesan padaku, ia
mengharap Laute bisa membawa orang-orangmu ikut padanya ke
Hong-hong-san."
"Kalau ternyata
Djiko sudah berkeras akan mengikuti Ong-heng, Siaute pun tak berani
memaksa," ujar Teng Ling setelah mengetahui lak mungkin merubah
pendiriannya lagi karena kesetiaannya terhadap Pek-lian-kau. "Tetapi
kini Siaute pun sudah menjabat sebagai Thaubak kecil di
Hoa-djitjetju, sudah tentu tiada alasan untuk menyingkir ke tempat
lain, kita sama-sama mengabdi untuk pemimpin sendiri-sendiri, cukup
apabila bersatu dalam menghadapi pasukan Boan, biarpun kita tidak
bertempur di tempat yang sama, tetapi tujuan kita adalah satu."
Sesudah berbicara
pula ke sana-kemari dengan mengada-ada, tiba-tiba Pek Ting-djoan
berkata, "Laute, aku tiada sesuatu untuk membalas budi padamu, aku
pikir Siauli (sebutan untuk puterjnya sendiri) dengan puteramu
Hong-ko sejak kecil sudah kumpul bersama, pergaulan mereka begitu
baik laksana sepasang suami isteri cilik, pada kesempatan kita
berdua masih belum berpisah, tidakkah lebih baik ditetapkan sekarang
perjodohan mereka, agar harapan kita yang sudah lama jadi
terlunaskan."
Sudah tentu Teng
Ling setuju, maka pada esok paginya mereka memberitahukan
perangkapan jodoh itu kepada kedua sejoH cilik tersebut, meskipun
Eng-dji masih muda hanya berusia delapan tahun, tetapi ia sudah
mengerti jengah, dengan menundukkan kepala ia lantas pergi
menyingkir.
Sang waktu lewat
dengan cepat, dalam sekejap saja sudah sepuluh tahun berselang.
Putera Teng Ling, Teng Hong-ko kini-pun sudah merupakan pemuda
berusia dua puluh satu tahun.
Sudah lama ia
meninggalkan ayahnya, semula ia berdiam dan belajar silat pada
Lak-hap-kun Li Tjin, Suheng dari ayahnya yang berdiam di
Lam-khong-hu di Kangsay, Li Tjin adalah seorang guru silat
turun-temurun, dalam beberapa tahun saja ia sudah banyak menurunkan
kepandaiannya kepada Hong-ko, belakangan ia melihat anak ini
mempunyai perawakan serta bakat ilmu silat, kelak tentu akan hijau
melebihi yang biru atau yang muda akan di atas golongan tua, maka
sesungguhnya ia tidak ingin menghalangi hari depan Hong-ko.
Setelah Hong-ko
menginjak umur lima belas tahun, Li Tjin sendiri lantas membawanya
ke Liong-hou-san (gunung Liong-hou) untuk memohon imam tua dari
Siang-djing-kiong di gunung itu agar mau menerima Hong-ko sebagai
murid dan mengajarkan kiam-hoat atau ilmu pedang padanya.
Imam tua itu
bernama Oei-bai Todjin, asal keluaran dari Go-bi-pay, adalah sahabat
kental Li Tjin di dunia persilatan. Mendapat kesempatan baik untuk
berguru pandai, Teng Hong-ko tidak menyia-siakan temponya, tiap hari
ia melatih diri dengan giat dan bersemangat.
Melihat kemajuan
yang dicapai pemuda ini dalam ilmu pedang, sudah tentu Oei-bai
Todjin ikut girang, hanya mengenai soal memelihara muda dan latihan
tenaga serta napas yang sangat diperhatikan oleh golongan To-kch
atau golongan Toi-kau, masih jauh daripada cukup. Oei-bai Todjin
ingin menjadikan pemuda ini gagah perkasa dengan cita-cita tinggi,
maka sengaja menggembleng pemuda ini lebih banyak pengalaman dan
mengenal orang-orang kosen dan berilmu, maka belum sampai tiga
tahun, Oei-bai Todjin telah mengajak Hong-ko ke Sutjwan pula dan
naik ke Go-bi-san untuk menemui Supeknya (paman guru), Bu-tun Todjin
di Sam-tjing-koan (nama rumah berhala) dan menceritakan asal-usul
pemuda ini, bisa makin dipupuk kelak tentu akan menjadi seorang
Kiam-khek atau pendekar yang luar biasa dari Go-bi-pay.
Bu-tun Todjin
adalah ahli silat nomor satu dari golongan Go-bi-pay. namanya cukup
terkenal di dalam Bu-lim atau dunia persilatan, maka lantas ia
mengamat-amati diri Hong-ko. Karena Go-bi-pay kalau menerima murid,
yang pertama-tama dilihat ialah orang harus mempunyai cita-cita
luhur, kemudian bentuk kaki tangan dan perawakannya harus diperiksa
pula, baru setelah itu dapat ditentukan cocok untuk belajar silat
macam yang mana.
Berkat kemauan
keras dari Hong-ko, empat tahun kemudian ia berguru pada Bu-tun
Todjin, kepandaiannya sudah maju sangat pesat, oleh karena sejak
kecil ia sudah belajar silat pada ayahnya, maka kemajuan yang
dicapai ini dapat dimengerti.
Pada tahun itu,
Bu-tun Todjin telah menitahkan dia turun gunung, sebelum berangkat
ia diberi sebatang po-kiam atau pedang pusaka yang disebut
'Go-bi-tjin-kang-kiam', kecuali itu diberinya pula sebuah peti kecil
terbuat dari kayu cendana yang mungil dengan pesan agar disampaikan
pada 'Im-yang-pat-kik-djiu' Giam Tje-tjwan di kampung Kak-tau-tjun
di luar kota Tje-lam, Soatang. Ditambahi pula pesan agar
berhati-hati dalam perjalanan, jangan suka ikut campur soal-soal
yang bukan urusannya.
Hong-ko menerima
semua pesan itu, kemudian ia berlutut memberi hormat kepada Bu-tun
Todjin dan terus berangkat turun gunung.
Dengan tanpa sesuatu gangguan ia sampai di
Lamte, kemudiari ia ganti kendaraan air terus ke Soatang, tak
tahunya waktu itu justru Hong-ho (sungai Huang, sungai kuning)
sedang banjir, kapalnya sampai di Khay-hong dan harus berganti
melalui daratan lagi.
Terpaksa Hong-ko menunggang
kuda meneruskan perjalanannya, tetapi sepanjang jalan seperti
dikuntit orang karena ia hanya membawa peti kayu wangi itu dalam
buntalannya, barang-barang lain yang berharga sudah tiada lagi, maka
ia pun tidak menaruh sesuatu curiga.
Hari itu sesudah
lewat kota Khay-hong, perjalanan di depan kini semua hanya hutan
belukar yang sunyi sepi menyusur sepanjang jalanan di tepi Hong-ho.
Sekonyong-konyong di belakangnya terdengar ada suara derapan kuda
yang ramai, dua penunggang kuda secepat terbang telah menyusulnya,
yang di depan mukanya terdapat dua guratan bekas luka, kepalanya
memakai ikat kain hitam, ketika mereka menyerobot lewat dengan
cepat, mendadak ia angkat pecut kudanya lantas menyabet ke bokong
kuda Hong-ko.
Nampak orang itu
menyabet dengan pecutnya, dengan sendirinya Teng Hong-ko mendekam di
atas kudanya, menyusul segera terdengar suara "tarrr", pecut orang
telah mengenai peti yang berada di belakang kudanya, kemudian
secepat angin orang itu sudah lewat, waktu Hong-ko memandang lagi,
dalam sekejap itu pula kedua orang tadi sudah pergi jauh.
Selagi ia merasa
heran tak mengerti, tiba-tiba ia mendengar suara kelenengan yang
riuh, waktu ia menoleh, di antara debu yang mengepul terdapat
seorang yang berdandan sebagai Bu-su atau jago silat sedang
mendatangi dengan cepat.
Orang ini berdandan
gagah dan sangat perlente, celana bajunya menurut dandanan Bu-su
dengan warna kuning gading, ikat pinggangnya hijau muda dan terselip
sebatang pedang, ikal kepalanya pun tersunting sebuah batu giok
putih, umurnya lebih kurang baru tiga puluhan. Sesudah dekat baru
kelihatan pada leher kudanya tergantung tiga kelenengan warna emas,
orang itu mengincar peti Hong-ko, bahkan berpaling dan sekilas
memandang padanya dan tak lama kemudian ia pun sudah pergi jauh
mengikuti suara derapan kudanya.
Baru kini Hong-ko
menaruh curiga, pada malam ia tiba di suatu kota kecil, ia memilih
sebuah hotel untuk bermalam, peti kayu cendana itu ia bawa ke atas
pembaringan digunakan sebagai bantal, sebuah meja kecil di depan
pembaringannya terletak buntalan bersama pedang pusakanya, karena
hatinya agak kurang tenteram, ia tak berani terus tidur, ia hanya
rebahan dengan penuh kewaspadaan.
Setelah kentongan
ketiga (tengah malam), tiba-tiba ia mendengar ada suatu suara yang
lembut, suaranya begitu halus, tetapi sebagai orang yang mahir ilmu
silat, dengan segera ia mengerti siapakah yang datang dalam
kegelapan itu. Ia pura-pura memejamkan mata, ia hendak mengetahui
siapa orang yang ingin mendapatkan senjata dan kudanya yang bakal
datang ini.
Tak lama kemudian
kembali ia mendengar suara pintu kamarnya dicukil oleh golok tajam,
makin jelaslah baginya bahwa tentu tidak salah lagi adalah orang
yang telah bertemu dengannya siang tadi. selagi ia hendak
berbangkit, mendadak lampu kamarnya yang remang-remang dengan cepat
telah ter-sirap dan tiba-tiba di depan pembaringannya sudah berdiri
sesosok bayangan orang.
Terperanjat juga
Hong-ko, ia menyesal tidak mendekatkan pedangnya ke samping bantal,
terpaksa ia terus berpura-pura tidur nyenyak, dengan tenang ia
menanti apa yang bakal terjadi, tetapi ia masih sempat meraba
beberapa pisau 'Liu-yap-hui-to\ yakni semacam pisau kecil berbentuk
daun Liu yang panjang kecil, yang terselip di ikat pinggangnya,
senjata ini telah dilatihnya sejak ia berada di Go-bi-san. diam-diam
ia menyiapkan dua pisau itu, ia telah mengambil keputusan, begitu
orang itu coba menyingkap kelambu pembaringannya, segera pisaunya
akan ia sambitkan.
Tetapi waktu ia melirik lagi, maka tak tahan
ia menjadi ternganga, orang yang telah masuk itu ternyata adalah
seorang wanita dengan pakaian ringkas peranti jalan malam, sebuah
pedang pendek menyelip di pinggangnya, tetapi dalam kegelapan tidak
bisa melihat jelas raut mukanya, hanya tertampak ia mengambil pedang
yang terletak di atas meja dan diperiksa dengan cermat.
Hong-ko mengerti
wanita ini tentu pernah berlatih 'ya-si' atau melihat di waktu
malam, melihat gerak-geriknya agaknya tidak mengandung maksud jahat,
maka batinnya makin tenteram, ia hanya menanti perubahan
selanjurnya.
Dalam pada itu,
tiba-tiba di atas atap rumah berkerisik satu suara pula, lembut
halus suara itu laksana jatuhnya daun kering di atas genteng. Dengan
sekali melesat, sekonyong-konyong wanita tadi sudah menghilang,
pedang di atas meja ternyata ikut hilang tak berbekas.
Hong-ko mengetahui
bahwa kembali ada 'ya-heng-djin' atau orang jalan malam, telah
datang lagi, dalam batinnya ia makin merasa heran, bagaimana di kota
sekecil ini bisa ada begini banyak orang dari kalangan persilatan.
Dalam pada itu pintu kamarnya telah terbuka pula, menyusul mana dua
bayangan hitam segera melompat masuk.
Dalam kegelapan,
Hong-ko masih bisa melihat dari sinar terang yang remang-remang
menembus dari luar itu, lapat-lapat orang yang datang ini seperti
dapat dikenali ialah dua laki-laki yang bertemu siang tadi, seorang
di antaranya telah menyalakan api dari segebung dupa, dengan sinar
api itu segera mereka tahu di atas pembaringan ada orang tidur,
segera ia mengangkat goloknya dan membacok.
Dengan gesit
Hong-ko berguling ke belakang pembaringannya dan hui-to atau pisau
terbang yang sejak tadi sudah ia siapkan itu hendak ia timpukkan,
dalam sekejap itu, dari belakang tempat tidurnya mendadak melompat
keluar seorang, dan terdengar suara "trang" yang nyaring, senjata
musuh tadi telah ditangkis, saking kerasnya hingga laki-laki
pembacok itu tergetar mundur.
Orang yang melompat
keluar ini dikenal Hong-ko sebagai wanita yang datang lebih dulu
tadi, dengan pedang melintang di dada segera terdengar ia berseru,
"Liok-tjetju, jangan sembrono!"
Lelaki yang mukanya
terdapat dua guratan bekas luka itu merandek, ia angkat api obornya
untuk melihat.
"Siapa kau
perempuan ini? Apa datang kemari untuk main gila dengan anak busuk
ini!" damprat lelaki itu dengan gusar, karena sebenarnya ia tidak
kenal wanita yang bisa mengenali namanya ini.
Muka wanita itu
berubah kemerah-merahan, tetapi segera ia pun menjadi gusar, alisnya
berdiri.
"Kurang ajar! Dengan
baik-baik aku berkata, tapi kau berani sembarangan mencaci orang!"
ia balas mendamprat sambil menuding dengan pedangnya.
Lelaki itu tidak
menanti sampai si wanita habis berkata, dengan satu gertakan keras,
mendadak ia menyerang dengan gerak tipu 'Hui-sing-kui-wi' atau
bintang kemukus kembali ke tempatnya, goloknya dengan cepat telah
menikam dari depan.
"Dengan apa dirimu
ada harganya bergebrak denganku!" wanita itu menjengek dengan
tertawa dingin, sembari pedang di tangannya menempel golok lawan dan
terus disurung ke samping.
Teng Hong-ko yang
bersembunyi di belakang kelambu tempat tidur, sebenarnya berpikir
hendak keluar membantu si wanita, tetapi teringat bahwa pedangnya
yang diletakkan di atas meja sudah diambil wanita itu, maka lebih
penting menjaga petinya saja di atas pembaringan.
Dalam pada itu,
tiba-tiba ia mendengar suara benturan benda keras, waktu ia
memandang, pedang si wanita sudah berhasil menyelip di dekat gagang
golok lawannya, ia puntir dengan kuat dan terus disurung, keruan
golok lelaki itu seketika terlepas dari tangannya dan terbang keluar
pintu kamar.
Dengan cepat sekali golok laki-laki itu
dipukul terpental oleh gadis tadi yang memegang pedang
'Go-bi-tjin-kong-kiam'.
Menampak senjata
kawannya terpental, lelaki yang satunya tidak ayal lagi, segera ia
menerjang maju dan terus membacok. Tetapi wanita tadi mendelik dan
pedangnya mengayun ke depan sambil membentak dengan suara yang
nyaring, "Jangan bergerak! Pentanglah dulu mata anjingmu yang lebar,
coba lihat pedang yang ada di tangan nyonyamu ini, baru nanti kamu
boleh antar jiwamu dan masih belum terlambat!"
Sesudah itu, ia
bergerak mengunjuk satu gerakan, 'Lau-so-bo-khim' atau orang tua
membopong khim (semacam alat musik), ia bopong pedangnya di depan
dada.
Karena wanita itu
melayani lawannya dengan cepat dan hanya tertampak sinar pedang yang
berkilauan, kini Hong-ko ada kesempatan buat melihat dengan jelas,
namun lantas ia tercengang, karena pedang yang berada di tangan
wanita itu justru adalah pedang 'Go-bi-tjin-kong-kiam'.
Sesaat itu keadaan
di dalam kamar itu menjadi sunyi, kiranya dua Liok-lim-ho-han atau
orang gagah dari kalangan penjahat itupun sedang mengamati pedang
yang ada di tangan si wanita. Orang yang dipanggil Liok-tjetju tadi
kelihatan wajahnya mengunjuk rasa kaget dan heran, mulutnya malah
kemak-kemik, "Ini bukan pedang sasaran dari Go-bi-pay, apa kami yang
telah salah meraba?"
Sementara itu
lelaki yang lainpun sudah menurunkan goloknya, jauh berlainan sekali
dengan lagak mereka semula sangat sembrono.
"Liok Ing, tadi aku
sudah bilang jangan kau turun tangan, tetapi kau laksana anjing gila
terus merangsek aku," kata si wanita dengan tertawa dingin sambil
menggerakkan pedangnya. "Sebenarnya aku pun sudah salah terka, hanya
beruntung aku tidak ngawur seperti kamu, kalau tidak tentu sudah
sejak tadi terjadi keonaran."
Ia berhenti
sebentar, sesudah itu ia menoleh dan berteriak, "Hai kawan,
keluarlah sini, kami hendak bertanya padamu!"
Mendengar itu baru dengan pelahan Teng
Hong-ko mengunjukkan dirinya.
"Para kawan dari Bu-lim,"
katanya kemudian. "Aku Teng Hong-ko lewat di sini, di perjalanan toh
tidak pernah berselisih dengan sahabat dari Kangouw, entah
saudara-saudara ada petunjuk apa?"
Sementara itu si
wanita tadi sudah menyalakan api lilin hingga dalam kamar kini
menjadi terang.
"Marilah kita semua
duduk." ia mengajak. "Sungguh kalau tidak berkelahi tidak
berkenalan, saudara Teng, kami sebentar masih hendak bertanya
padamu!"
"Apa Lihiap datang
ke sini sejalan dengan 'Pat-pi-long-kun' Yan-toako?" tanya kedua
lelaki tadi kepada si wanita sesudah mereka memandang sejenak.
"Penglihatan
Liok-tjetju memang tidak meleset," dengan tersenyum si wanita
membenarkan pertanyaan orang. "Aku bukan lain ialah puteri
'Kang-lam-sin-djiu Ang-eng-djio' Hoa Djing-hun, Yan le-lam ialah
suamiku, kali ini kedatangan kami juga disebabkan mengikuti jejak
'Tjin-tju-goan' itu. Liok-tjetju, kawan-kawan dari Thay-heng-san
yang ikut datang kali ini entah seluruhnya berjumlah berapa?"
"Hoa-lihiap, tadi
kami tidak tahu kalau kau orang tua yang datang, malah kami mengira
kau adalah popio (pengawal) dari saudara ini," kata Liok Ing berdua
sembari berdiri memberi hormat setelah mengetahui siapa yang
berhadapan dengan dia ini. "Harap dimaafkan kecerobohan kami tadi,
terus terang kawan-kawan Thay-heng-san yang datang kali ini, kecuali
kami berdua masih ada 'Hoa-bin-long To Dju-hai dan Oei-moa-tju Kwan
Dji-hou."
"Kita betul-betul
seperti tawon saja," ujar si wanita pula. "Karena sebuah
'Tjin-tju-goan' saja, semua enghiong dari beberapa propinsi di sini
sudah dipermainkan hingga berkumpul semua ke Soatang laksana semut,
kurangajar betul Soatang Sunbu (residen) Tam Ting-siang bisa
membikin benda berharga itu begitu ajaib, sampai kini sedikit tanda
rahasia saja masih belum dapat diketemukan."
"Kalau begitu,
apalagi yang dibawa saudara muda ini?" tanya Liok Ing setelah ia
memandang sejenak pada Teng Hong-ko.
Pendekar wanita itu
tidak menjawab, tetapi ia lantas membalikkan tubuhnya terus
menyambar peti kayu wangi yang berada di pembaringan.
Peti itu sebenarnya
tergembok rapat, tetapi sesudah dipegang berulang kali oleh tangan
Lihiap itu, gembok itu lantas rusak dan tutup peti segera terbuka.
Liok Ing segera memimpin kawannya untuk melongok barang apakah yang
terisi dalam peti itu.
Di antara orang
banyak itu agaknya yang paling tercengang hanya Teng Hong-ko
seorang, sebab sebagaimana telah dipesan gurunya, Bu-tun Todjin,
sebelum ia berangkat bahwa hendaknya berhati-hati di perjalanan dan
sekali-kali peti itu jangan dihilangkan. Tetapi untuk mencegah ia
sudah terlambat, terpaksa ia juga ikut-ikutan melihat benda apakah
sebenarnya yang tersimpan dalam peti.
Rupanya pendekar
wanita itu menginginkan agar semua orang bisa melihatnya lebih
jelas, maka ia tumplekkan isi peti itu, dan benar apakah yang
terserak kemudian? Ternyata bukan lain hanya beberapa
'Sam-ling-tju-bo-piau', senjata rahasia piau berbentuk segitiga dan
beberapa butir pelor besi bundar, kecuali itu terdapat pula segebung
entah barang apa yang terbungkus dengan kain kuning.
"Liok-tjetju, betul
tidak penglihatanku," kata Lihiap itu dengan tertawa, "Mana ada
•Tjin-tju-goan' segala di sini, hampir saja bikin kaget kawan dari
Go-bi-san ini, marilah kita seharusnya meminta maaf pada saudara
Teng!"
"Memang betul seperti
kucing keselomot kumisnya," ujar Liok Ing, agaknya ia pun menyesal.
"Tetapi bagaimana Lihiap sendiri malam ini bisa datang juga ke
sini?"
Sebenarnya wanita itu sedang akan memberi
hormat dan minta maaf pada Teng Hong-ko karena kecerobohan mereka,
tetapi mendengar pertanyaan orang, tiba-tiba paras mukanya menjadi
merah.
"Ini memang harus
menyesalkan Tang-keh (suami) yang agak gegabah," sahutnya kemudian.
"Ketika ia kembali hari ini dari perjalanan, ia memberitahu bahwa
utusan itu sudah tiba, melihat dengan mata kepala sendiri, saudara
Teng ini menempuh perjalanan seorang diri, kalau bukan orang yang
berkepandaian tinggi, mana bisa begitu berani."
Mendengar cerita
itu barulah Hong-ko ingat pada lelaki berdandan perlente warna
kuning gading siang hari tadi, yang dijumpainya di perjalanan,
ternyata adalah suami pendekar wanita ini.
Sedang ia
termenung, si wanita bersama Liok Ing dan kawannya sudah berbangkit
dan memberi hormat di hadapannya sambil meminta maaf telah membikin
ribut padanya. Lekas Hong-ko balas menghormat dan merendah.
Saat itu sudah hampir jam empat pagi.
"Saudara Teng," kata pula
si wanita itu. "Malam ini telah banyak mengganggu, besok sore kau
sudah bisa sampai di Liu-ho dan seterusnya ialah perbatasan dengan
Soatang, apabila perjalananmu tidak mengalami gangguan, baiklah kita
berjumpa kembali di tepi sungai Pek-hoa."
Setelah itu ia
masukkan 'Go-bi-tjin-kong-kiam' ke dalam sarungnya dan kemudian
diangsurkan kembali pada pemiliknya.
"Tadi belum sempat
mendapat tahu nama yang mulia, kalau nanti sampai di Pek-hoa-ho,
entah harus bagaimana menyebutnya?" tanya Teng Hong-ko sambil
menyambut pedangnya.
"Saudara Teng, namaku di
kalangan Kangouw dipanggil "Sian-bu Kongtju', kau memiliki 'pedang
perjalanan' ini, kalau sampai di Pek-hoa-ho, tentu akan ada orang
menyambutmu," sahut Lihiap itu dengan sikap tanpa kikuk lagi.
Setelah memberi
salam sampai bertemu pula, kemudian ketiga orang itu lantas melompat
naik ke atas atap rumah pula dan terus menghilang.
Teng Hong-ko
menggembok kembali petinya, sementara itu ia sudah agak letih, waktu
ia mengambil pedangnya dan dilihat, baru ia ketahui bahwa pada kedua
samping sarung pedang penuh terukir huruf-huruf jampi-mantera dari
kaum To-kauw, ia mengerti Bu-tun Todjin menghendaki ia membawa
pedang ini, tentu banyak gunanya, dalam keadaan letih pelahan-Iahan
ia pun tertidur.
Ketiga orang yang
memasuki kamar pondokan Teng Hong-ko malam ini, Liok Ing adalah
seorang begal besar dari gerombolan Soasay atau Soa-say-pang yang
bercokol di Thay-heng-san, yang datang bersamanya itu adalah wakil
pimpinannya. Sedang si wanita itu mempunyai asal-usul yang luar
biasa, ia adalah putri Hoa Djing-hun, Tjong-totju dari Ang-djio-hui
atau ketua perkumpulan tombak merah di Kanglam, ia menamakan dirinya
sendiri Sian-bu Kongtju, si Kongtju yang suka main silat.
Sejak masih kecil
ia sudah berguru silat pada Oei-bwe Ki-su, pemimpin ketiga dari
Tjeng-long-hui, perkumpulan naga hijau, belakangan ia bersuamikan
Suhengnya sendiri, Yan Ie-lam, pendekar muda ini berjuluk
'Pat-pi-long-kun', kedua suami isteri itu kini sampai di Soatang,
tujuannya ialah menguntit 'Tjin-tju-goan', topi bertabur mutiara
mestika, yang menggemparkan seluruh Liok-lim.
Menurut cerita,
topi bertabur mutiara itu adalah barang milik Tan Wan-wan, selir
kesayangan Go Sam-kui. Di atas topi itu penuh bertaburan batu-batu
permata dan masih ada pula tiga butir mutiara yang merupakan benda
yang susah dicari di jagad ini. Ketiga mutiara itu masing-masing
ialah : 'Ting-hong-tju', mutiara anti angin, yakni bisa membikin
reda serangan angin. Kedua ialah 'Pi-hwe-tju' atau mutiara anti api
dan yang ketiga ialah 'Gi-han-tju', mutiara anti dingin.
Pada waktu Tan
Wan-wan memasuki pintu kesucian (memeluk agama), yang dibawa melulu
barang mestika ini saja yang harganya tak ternilai.
Kiranya sesudah Go
Sam-kui takluk pada kerajaan Boan-djing dan berkedudukan di Kunbing
daerah Hunlam, sepanjang masa itu ia telah mengumpulkan aneka
barang-barang mestika yang paling berharga dari seluruh jagad. di
antaranya terdapat tiga mutiara yang harganya tak ternilai itu.
Akhirnya setelah
kedudukannya terancam, Go Sam-kui telah angkat senjata memberontak,
Tan Wan-wan dapat menduga gerakan suaminya akhirnya tentu akan
gagal, maka ia memilih jalan memeluk agama, yakni dengan menjadi
Nikoh tetapi piara rambut. Meskipun harta benda Go Sam-kui
bertumpuk-tumpuk berasal dari mengeduk darah keringat rakyat, tetapi
ia mengambil tidak seberapa, ia hanya membikin sebuah topi imam
wanita yang penuh bertabur mutiara dan diam-diam menyelipkan ketiga
mutiara mestika di atas topinya itu, hal ini hanya diketahui
beberapa pelayan Tan Wan-wan saja.
Ketika kemudian Go
Sam-kui dimusnahkan, Panglima besar Pangeran Lirkim telah memasuki
Hunlam dengan pasukannya, kala itu Tan Wan-wan sudah mengasingkan
diri di sebuah kuil suci, tak tahunya ia telah 'dijual' oleh Nikoh
rekannya. Dan akhirnya Tjin-tju-goan itu jatuh di tangan seorang
bernama Tam Ting-siang, salah seorang anggota staf dari Pangeran
Lirkim dan menjadi orang kepercayaan bangsawan Nilan Ming-tju.
Tam Ting-siang ini
memang dasarnya cerdik tetapi keji, ia telah membunuh habis semua
orang-orangnya yang mengetahui asal-usul Tjin-tju-goan, hanya
seorang pengawal yang berhasil lolos dari lubang jarum dan
berkecimpung di kalangan Kang-ouw, keruan saja akhirnya rahasia itu
tersiar. Dan sudah sejak lama tidak sedikit begal dan perampok yang
mengincar topi mestika itu, namun hasilnya nihil meskipun sudah
dicari kema-na-mana.
Sementara itu Tam
Ting-siang yang mengandalkan dukungan Nilan Ming-tju, ia telah naik
pangkat berturut-turut hingga menjadi Soatang Sun-bu, gubernur
Soatang, dengan diikuti seorang pengawalnya, Tjhi Djin-ho, seorang
yang tergolong tokoh juga dari Bu-lim atau dunia persilatan. Dan
baru pada akhir-akhir ini tersiar kabar bahwa topi mestika itu oleh
Tam Ting-siang telah dipendam dalam sebuah pagoda kuil di Se-an
(Sian).
Ketika itu keadaan
dalam negeri sudah agak aman, tiga raja muda pemberontak sudah
ditumpas bersih, dan Kaisar Khong-hi berniat untuk bersembahyang ke
Thay-san. Maka siang-siang Nilan Ming-tju telah memberitahukan
kepada Tam Ting-siang bahwa ia sendiri pun akan turut datang.
Oleh karena kuatir
tindak-tanduknya yang korup dan kacau-balau di daerahnya, Tam
Ting-siang teringat pada topi mestika itu dan akan digunakan sebagai
barang suapan kepada Nilan Ming-tju agar mengaling-alingi
perbuatannya itu di hadapan Sri Baginda. Oleh karena itu lantas ia
mengirim Tjhi Djin-ho dengan beberapa Po-thau (polisi) ternama ke
Se-an untuk mengambil kembali topi mestika itu.
Kebetulan sekali
Hwesio-hwesio dalam kuil dimana Tjin-tju-goan itu dipendam, kini
ternyata banyak berhubungan dengan kaum gagah perkasa di daerah itu,
waktu Tjhi Djin-ho merusak pagoda untuk mengambil mestika itu,
ternyata banyak tulang-tulang manusia yang terkeduk keluar,
tulang-tulang ini ialah orang-orang yang mati penasaran sewaktu ikut
memendam barang mestika itu, dan oleh sebab itu lantas menarik
perhatian para Hwesio dalam kuil tadi. Dan kesudahannya rahasia itu
pun terbongkar.
Tetapi sewaktu
kabar itu sampai di telinga para orang gagah, sementara itu Tjhi
Djin-ho malam-malam sudah meninggalkan Se-an dengan membawa
Tjin-tju-goan, para Hwesio di kuil itu hanya nampak mereka membawa
sebuah peti kayu wangi berukir bagus, tetapi mereka tak berani
menguntit terus. Sampai akhirnya para pemimpin gerombolan memburu
datang, namun Tjhi Djin-ho dan kawan-kawannya sudah sehari lebih
dulu berangkat.
Beberapa pemimpin dari perserikatan
gerombolan itu segera mengirim dan menyebarkan kabar berita itu,
agar sepanjang jalan kawan-kawan Kangouw menguntit jejak Tjhi
Djin-ho dan kawan-kawan dengan ketentuan harus berhasil, ditetapkan
pula siapa saja yang ikut menguntit kelak masing-masing akan
mendapat satu bagian, dan siapa yang berani turun tangan merampas
barang mestika itu akan lebih banyak mendapat dua bagian, keruan
saja seketika itu di sepanjang Lokyang segera dipenuhi oleh kaum
gagah perkasa dari Kangouw.
Dan memang sangat
kebetulan juga, pada waktu itu pula Teng Hong-ko seorang diri dengan
kudanya menempuh jalanan ini, ditambah karena ia baru saja muncul
dan tak dikenali orang, berbareng itu yang dibawanya berupa sebuah
peti kayu cendana yang sama pula. Keruan ia menjadi sasaran para
pendekar.
Begitulah, setelah
Hong-ko berpisah dengan pendekar wanita Hoa Sian-bu dan Liok Ing
serta kawan-kawannya, ia ber-girang sendiri, dengan nama baik
golongan Go-bi-pay yang tersohor telah bisa bersahabat dengan
tokoh-tokoh ternama dari Kangouw, ia teringat pula apa yang Hoa
Sian-bu pesankan sewaktu hendak berangkat, bahwa dirinya memiliki
'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay itu, perjalanan selanjutnya sudah
boleh tidak usah kuatir terganggu pula.
Maka ia meneruskan
perjalanannya, dua hari kemudian ia sudah memasuki daerah propinsi
Soatang, dan Pek-hoa-ho sudah berada di depan matanya.
Daerah ini ialah
tapal batas sebelah barat daya Soatang, di utara ada Hui-sia-koan,
karesidenan Hui-sia, dan sebelah selatan dekat dengan Lau-ke-tjip,
ialah tempat dimana dulu tersohor sebagai markas besar orang-orang
gagah dari Liang-san-pik.
Waktu Teng Hong-ko
memandang, yang tertampak di depannya hanya lereng-lereng bukit
dengan hutan belukar yang lebat, rumput alang-alang pun melebihi
tinggi dengkul, seorang manusia pun tak tertampak. Tetapi karena
kepandaiannya tinggi maka nyalinya pun besar, apalagi ia telah
berjanji pula dengan Hoa-lihiap, keadaan sepi senyap itu tidak
membikin kecil hatinya, bahkan ia mengayun pecut kudanya, menyabet
dan terus maju ke depan secepat kilat.
Tidak lama kemudian
tiba-tiba dari jauh tertampak debu mengepul tinggi dan menyusul itu
dua orang penunggang kuda mendatangi dari depan. Teng Hong-ko
menyangka mereka adalah orang-orang Hoa Sian-bu buat menyambut
padanya, maka lantas ia pecut kudanya memapaki ke depan. Baru
sesudah dekat ia dapat melihat jelas kedua lelaki penunggang kuda
itu berperawakan pendek kecil, dengan ikat kepala hitam dan
berdandan ringkas kencang, kesemuanya menggendong golok.
Mereka memandang ke
arah Hong-ko dan segera juga menarik kudanya minggir di kedua
samping dan lantas kiongtjiu (menjura) memberi hormat.
"Yang datang ini apakah
saudara Teng?" tanya mereka berbareng.
"Aku yang rendah betul
she Teng," jawab Hong-ko sambil sedikit membungkuk membalas hormat
orang di atas kudanya. "Saudara berdua she apa dan bagaimana tahu
nama Siaute?"
Kedua orang itu
menarik tali kendali kuda mereka dan maju lebih dekat. Kemudian
barulah mereka menjawab.
"Kami dikirim oleh
Giam-laupan dari Tjelam, karena kuatir Hengtiang kurang paham
jalanan di sini, maka sengaja beliau mengirim kami datang
menyambut."
Tetapi waktu
Hong-ko menegasi, maka tertampak olehnya di geger kuda mereka ada
bekas hangus tanda cap milik negeri, maka timbul rasa curiganya.
Kala itu semua kuda pemerintah diberi tanda cap, oleh karena itu
Hong-ko merasa sangsi.
"Tjuwi-tjinheng
jauh-jauh menyambut Siaute, tetapi entah cara bagaimana Giam-laupan
bisa tahu Siaute hendak datang di Soatang, bahkan tahu aku menempuh
jalan ini?" tanya Hong-ko.
Karena pertanyaan itu,
kedua lelaki itu menjadi tertegun. Memang keberangkatan Teng Hong-ko
dengan membawa peti untuk Giam Tje-tjwan, sebelumnya tidak pernah
dikabarkan, tidak heran kalau kedua lelaki itu jadi gelagapan.
"Kami datang atas
perintah saja, sesudah Teng-heng bertemu Giam-laupan tentu lantas
tahu,"" sahut mereka akhirnya.
Sesudah itu dengan
mengapit Hong-ko di tengah, segera mereka mengeprak kuda dan
pelahan-lahan membelok ke sebelah selatan.
Begitu mengetahui
gelagat agak ganjil, secara tiba-tiba Hong-ko menahan kudanya.
"Tjuwi silakan
jalan dahulu, Siaute masih harus menunggu seorang kawan," katanya
memberi alasan.
"Kalau Teng-heng
masih ada keperluan, baiklah silakan petimu itu kami bawa lebih
dahulu, agar mengurangi beban kudamu!" jawab seorang di antaranya
sambil memepetkan kudanya ke samping Hong-ko.
Habis berkata,
tidak menunggu Hong-ko menyatakan setuju atau tidak, lantas ia turun
tangan sendiri hendak mengambil peti yang ada di punggung kuda
Hong-ko.
Mengetahui gelagat jelek
tak ayal lagi segera Hong-ko mengempit kencang kudanya terus
dilarikan, berbareng ia mengayun pecut kudanya menyabet ke belakang.
Dalam sekejap saja kuda itu telah terlepas dari apitan kedua orang
itu dan lelaki yang hendak mencoba mengambil peti itupun kena cambuk
sekali. Sementara itu Hong-ko membelokkan kudanya, ia melarikan
kembali ke jalan dimana tadi ia datang.
Kedua penjahat itu
tidak membiarkan sasaran mereka kabur begitu saja, mereka keprak
kudanya dan segera mengejar. Kuda yang ditunggangi Hong-ko hanyalah
kuda yang dibelinya mendadak waktu mau berangkat, maka tak heran
kalau dalam sekejap saja ia sudah kecandak oleh pengejarnya.
"Hai, bocah she Teng,
lekas tinggalkan peti kayu wangi itu!" bentak mereka dari belakang.
Tetapi Hong-ko
mengerjakan pecutnya mempercepat lari kudanya.
"Jangan kamu salah
lihat, barang petiku itu bukan barang yang kalian cari," jawabnya
kemudian setengah menoleh.
"Tinggalkan Sam-ling-piau
dan Thi-wan dalam petimu itu, aku nanti akan mengampuni jiwamu,"
terdengar suara di belakangnya membentak pula.
"Aneh, sudah tahu
bahwa barang dalam petiku bukan Tjin-tju-goan, tetapi mereka masih
menginginkannya?" begitulah pikir Hong-ko dengan heran.
Selagi ia berpikir,
tiba-tiba di belakang kepalanya terasa ada angin tajam menyambar
datang, lekas ia mendekam di atas kudanya, dan sebuah senjata
rahasia telah lewat di atas kepalanya. Sementara itu suara derapan
kuda di belakang makin mendekat, Hong-ko insyaf apabila tidak
mengalami suatu pertarungan sengit, tak mungkin ia akan lolos begitu
saja. Maka segera ia melolos pedangnya dan sekonyong-konyong
membaliki kudanya terus memapaki kedua pengejarnya dengan
membabatkan pedangnya ke kiri dan ke kanan, secara mendadak ia
bermaksud menusuk roboh kedua pengejar itu.
Tak terduga kedua
orang itu siang-siang pun sudah siap sedia, begitu Hong-ko membaliki
kudanya dan menusuk, secara cepat mereka telah berbagi minggir di
kedua samping, sesudah itu dua golok mereka menyambut pedang lawan.
Di antara suara nyaring terbenturnya pedang dan golok, Hong-ko telah
membarengi merubah pula serangannya, ia mainkan ilmu pedang dari
Go-bi-pay yang lihai, dengan beberapa kali serangannya ia telah
membikin lawannya terpaksa berputar-putar.
Melihat Hong-ko
memainkan pedangnya begitu rapat tanpa lubang, seorang di antara dua
laki-laki yang beralis tebal mendadak pura-pura menyerang, kemudian
melarikan kudanya dengan cepat sekali, ia sudah memutar kudanya
sampai ke belakang Hong-ko terus membacok. Dengan satu gerakan
'Hong-bwe-tiauw-yang' atau ekor burung hong menghadap matahari,
Hong-ko membaliki pedangnya menangkis, tetapi lawan satunya yang di
depan sementara itu telah membabat juga, seketika itu Hong-ko
mengkerut mendekam di atas kudanya untuk menghindarkan serangan,
berbareng pula ia mengeprak kudanya menerjang ke depan, dan
begitulah, waktu kedua laki-laki sempat memutar kudanya pula, namun
Hong-ko sudah kabur pergi sejauh beberapa tombak.
Dalam beberapa
jurus singkat tadi, mereka bertarung di atas kuda semua, maka tak
bisa leluasa memainkan senjata masing-masing, namun begitu Hong-ko
sudah dapat menjajal bahwa lawannya bukan tandingan yang lemah,
tenaga mereka besar berat, golok mereka membawa sambaran angin yang
san-tar, apabila pertempuran dilakukan di daratan, dirinya tentu
akan dipecundangi, oleh sebab itu jalan satu-satunya yang paling
selamat ialah kabur!
Ketika ketiga kuda
saling kejar-mengejar dengan cepat hingga debu mengepul
bergulung-gulung, dan makin lama kedua pengejar sudah makin
mendekat, saat itu dari depan tiba-tiba muncul seorang penunggang
kuda mendatangi pula, suara kelenengan kudanya nyaring menggema
terbawa desiran angin.
"Celaka!" keluh
Hong-ko. "Apabila yang datang dari komplotan penjahat juga, maka
susahlah untuk meloloskan diri."
Selagi ia
berkuatir, sementara itu si penunggang kuda dari depan itu makin
mendekat dan ternyata adalah seorang laki-laki setengah umur dengan
dandanan sebagai Bu-su atau jago silat yang pakaiannya berwarna
kuning gading, di leher kudanya yang putih mulus tergantung tiga
buah kelenengan hingga menerbitkan suara nyaring.
Nampak siapa gerangan
yang datang ini, dari merasa kuatir Hong-ko berubah menjadi girang.
Ia mengenali lelaki ini ialah orang yang pernah ia jumpai beberapa
hari berselang, malah Hoa-Iihiap bilang dia ini adalah suaminya,
'Pat-pi-long-kun' Yan Ie-lam. Selagi ia hendak memanggil, secepat
angin lelaki itu sudah menyerempet lewat di sampingnya.
Seketika itu juga
Hong-ko menahan kudanya dan berpaling, ia lihat Yan Ie-lam sedang
memapaki kedua 'Eng-djiau' atau dua cakar alap-alap (maksudnya
anjing penjilat musuh) yang sedang mengejar itu, sekali ia mengayun
pedangnya laksana segulungan sinar perak, dua golok cakar alap-alap
itu terpental semua, saking ketakutannya kedua orang itu mendekam di
atas kudanya terus lari ke depan untuk menyelamatkan jiwa mereka.
Sementara itu di
antara suara derapan kuda yang ramai, Yan Ie-lam telah memutar
kudanya pula dan mengejar menuju ke jurusan Hong-ko, kedua cakar
alap-alap berbaju hitam itu mengayun tangannya membalik, beberapa
bintik terang segera menyambar.
"Awas senjata rahasia!"
seru Hong-ko memperingatkan. Tetapi segera ia mendengar suara
gemerincing nyaring, beberapa senjata piau yang ditimpukkan kedua
laki-laki itu sudah disam-puk jatuh oleh Yan Ie-lam.
Sesaat itu, Yan
Ie-lam terus memburu, secepat kilat ia menerjang ke tengah kedua
musuh itu, ketika kemudian pedangnya bekerja lagi, maka kedua musuh
itu sudah terguling berbareng, pundak mereka sudah terluka semua,
dengan merintih kesakitan mereka terkulai di antara rumput
alang-alang yang lebat.
Selagi Yan Ie-lam
hendak menambahi pula masing-masing satu bacokan, tiba-tiba dari
jauh terdengar ada suara bentakan yang ramai, sepasukan penunggang
kuda dengan cepat sedang mengejar datang.
Agaknya Yan Ie-lam
terkejut oleh kedatangan pasukan itu, dengan mengayunkan pecutnya
segera ia meneriaki Hong-ko, "Saudara Teng, lekas lari ikut aku!"
Setelah itu mereka
melarikan kuda secepat mungkin, tak lama kemudian mereka membelok ke
sebuah jalanan kecil, di-mana terdapat hutan lebat, sebuah sungai
menyusup lewat di antara hutan itu.
Yan Ie-lam membawa
Hong-ko menyeberangi sungai di tempat yang cetek, setelah agak jauh
dari tempat pertempuran tadi, baru ia berhenti dan turun dari
kudanya.
"Kedatanganku agak
telat, hingga saudara Teng hampir terjatuh ke tangan musuh!" katanya
kemudian pada Hong-ko.
Lekas Hong-ko maju memberi hormat.
"Apakah tuan adalah
Yan-tayhiap?" tanyanya. "Sudah lama kudengar nama Yan-tayhiap yang
tersohor, terimalah hormatku ini, entah mengapa Yan-tayhiap juga
bisa menyusul datang ke sini?"
"Kami sudah tahu saudara
hari ini akan datang," jawab Yan le-lam sambil membalas hormat
orang. "Cuma tidak menduga si jahanam Tam Ting-Siang ini bisa begini
licin, ia telah mengirim bawahannya mempedayakan aku, dua anjing
tadi bukan lain adalah Po-thau yang dikirim dari gubemuran, dan
pasukan yang datang belakangan itu ialah bantuan untuk melindungi
kedua anjing tadi."
"Mereka tadi
menghendaki aku meninggalkan senjata rahasia yang berada dalam peti,
entah apa maksud tujuan mereka?" tanya Hong-ko.
"Saudara cilik,
menurut penglihatanku tentu mereka mempunyai alasannya. Lebih baik
dibicarakan kelak saja," sahut Yan Ie-lam.
Kemudian mereka
mencemplak kuda masing-masing dan melanjutkan perjalanan, kini
perjalanan mereka ditempuh di antara bukit-bukit, tidak lama
kemudian mereka sudah sampai di suatu perkampungan, di luar pintu
terlihat sudah menanti beberapa orang, di antaranya seorang wanita
bukan lain ialah Hoa-Iihiap yang Hong-ko ketemukan malam-malam di
rumah penginapan itu.
Sesudah Hong-ko
dipersilakan masuk ke ruangan tengah, lalu para hadirin
diperkenalkan kepadanya, ternyata kesemuanya adalah para pahlawan
dari berbagai perkumpulan dan golongan, bahkan banyak yang jauh-jauh
datang dari sekitar Siamsay dan Sutjwan. Hong-ko memberi hormat pada
setiap orang yang diperkenalkan padanya, dan ia menceritakan kisah
pengalamannya di perjalanan tadi.
Dalam pada itu,
dari luar dilaporkan bahwa Si-siansing telah kembali. Menyusul mana
dari luar masuk seorang dan lantas memberi hormat kepada para tamu
yang ada di situ.
Hong-ko coba
mengamati orang itu, ia beroman putih cakap, berjenggot pendek
cabang tiga, pakai ikat kepala seperti cendekiawan, jubah longgar
dengan lengan baju lebar, usianya baru lebih dari tiga puluhan
tahun.
Orang ini bernama
Si Liang, seorang Kiam-khek atau pendekar dari Tiang-kang-pang,
gerombolan di sepanjang tepi sungai Tiang-kang atau Yang-tse, ia
sebenarnya seorang imam dengan nama agama lt-tun, ilmu silatnya
tinggi dan banyak tipu akalnya, biasanya ia menganggap dirinya
secerdik Tju-kat Liang atau Khong Beng, kali ini ia pun ikut
berkumpul di Soatang untuk urusan perampasan Tjin-tju-goan itu.
Sesudah ia masuk
tadi, lantas ia menutur, "Saudara-saudara sekalian, Tjhi Djin-ho
memang cukup licin, kita siang malam tiada hentinya menguntit topi
mestika itu, kini baru mendapat berita bahwa tiga mutiara mestika
yang tak ternilai itu siang-siang sudah dicopot dari topinya dan
diam-diam telah diangkut ke Soatang, pantas siang malam kita
menanti, akhirnya tiada sesuatu hasil yang kita dapatkan."
Atas keterangan
itu, seketika para pahlawan hanya bisa saling pandang saja.
"Apakah topi
mestika itu pun diangkut kemari?" terdengar ada orang bertanya.
Oleh karena itu seketika
tiada yang menjawab, pandangan semua orang hanya menatap pada si
penanya tadi.
Si Liang ikut
melihat penanya itu ialah Tju-kat Beng, pemimpin Liong-bun-pang di
Soasay, tergolong tokoh nomor dua di antara orang-orang gagah di
sekitar Sutjwan dan Siamsay.
"Tju-kat Totju," jawabnya
kemudian. "Mungkin karena Tjhi Djin-ho sudah mengetahui bahwa para
pahlawan dari segala penjuru sedang mengincar padanya, maka ia telah
berhasil mengundang sahabat dari Khong-tong-pay tampil ke muka untuk
bermusuhan dengan kita."
Mendapat jawaban itu, semua orang jadi
terkejut, karena
Kiam-khek Khong-tong-pay pada kala itu
sangat disegani oleh orang-orang Kangouw di barat-laut umumnya.
"Si Liang-heng,
Khong-tong-san jauh-jauh berada di Kam-siok, apakah Tjhi Djin-ho
bisa mengirim orang mengundang ke sana?" Yan Ie-Jam ikut bertanya.
"Mungkin Yan-tayhiap
belum mengetahui bahwa di dalam Khong-tong-pay itu ada beberapa
tokoh, paling akhir ini ada yang telah bertapa di istana
Tjhui-hun-kiong di atas Hoa-san," It-tun Ki-su Si Liang menerangkan.
"Konon kabarnya Tjhi Djin-ho banyak kenal Tosu-tosu dari
Tjhui-hun-kiong itu, dan karena itulah ia telah dihubungkan dengan
tokoh-tokoh Khong-tong-pay itu. Tjhi Djin-ho mengetahui bahwa
sepanjang jalan ia sudah ditunggu oleh pahlawan-pahlawan dari segala
penjuru, maka diam-diam ia telah melucuti ketiga butir mutiara
mestika itu dan dikirim dahulu oleh bawahannya, sedang topi mutiara
itu sementara masih dititipkan di Tjhui-hun-kiong. ia menunggu bila
ketiga mutiara mestika itu sudah tiba dengan selamat di Soatang,
baru ia sendiri berangkat kembali."
Di antara
pahlawan-pahlawan itu, agaknya Hoa-lihiap sudah mulai mendongkol.
"Cara begitu Tjhi Djin-ho
mengaturnya, justru kita menempuh yang sulit dan tidak yang
gampang," katanya kemudian. "Cuma ketiga mestika itu entah cara
bagaimana diangkutnya ke Soatang sini?"
"Itulah yang tak bisa
kuketahui," sahut Si Liang. "Ada kemungkinan kini sudah sampai di
Soatang dan mungkin pula masih di tengah jalan."
Walaupun Teng
Hong-ko masih hijau dan baru unjuk muka di kalangan Kangouw, tetapi
ia mempunyai otak tajam. Sejak siangnya ia dicegat dua orang
alap-alap pemerintah di Pek-hoa-ho, dalam pikirannya lantas tiada
hentinya berpikir dengan penuh pertanyaan . Mengapa menguber-uber
peti yang tak berharga itu? Katanya kalau ia meninggalkan
'Sam-ling-tju-bo-piau' dan 'Thi-wan', ia boleh dibebaskan.
"Tjuwi-enghiong
Tjianpwe," sekonyong-konyong ia berdiri dan angkat bicara, "Hari ini
Siaute telah bentrok dengan bawahan Tam Ting-siang di perjalanan,
mereka ternyata berkeras hendak merebut petiku ini, rupanya tindakan
mereka ada hubungannya dengan soal Tjin-tju-goan itu."
Si Liang mengamati
pemuda itu sejenak, kemudian ia bertanya, "Siapakah saudara muda
ini?"
"Ya, aku telah lupa
memperkenalkannya kepadamu, ia adalah saudara Teng Hong-ko yang kita
sangka bawahan Tjhi Djin-ho yang mengirim barang pusaka itu, padahal
di dalam petinya hanya contoh piau yang ia bawa untuk
Giam-lothautju!" Hoa-lihiap mewakilkan Hong-ko menjawab.
Lalu mereka saling memberi hormat.
"Kita datang di Soatang
sini, menurut aturan seharusnya menjumpai Giam Tje-tjwan sebagai
tuan rumah di sini," ujar Si Liang, sesudah itu ia menoleh dan
berkata pada Hong-ko, "Saudara Teng, bolehkah kami melihat barang
dalam petimu itu?"
"Sudah tentu boleh!" sahut Hong-ko tanpa
ragu-ragu.
Setelah ia
mengambil petinya yang terbuat dari kayu cendana wangi itu, lalu ia
membuka tutupnya dan terus diletakkan di atas meja.
"Eh, peti ini mirip
sekali dengan peti penyimpan Tjin-tju-goan itu!" kata Si Liang
begitu melihatnya, sambil ia menjemput 'Sam-ling-piau' dan 'Thi-wan'
dengan tangannya, ia meneliti bolak-balik.
Pada akhirnya,
sekonyong-konyong It-tun Ki-su Si Liang berseru kaget, karena
mendadak ia mengenali senjata rahasia di tangannya itu adalah
'Sam-ling-tju-bo-piau* yang sangat lihai dari Go-bi-pay, di tengah
piau itu kosong dan terpasang dengan pegas, di atas piau ada lubang
rahasia dimana tersembunyi tiga buah piau kecil beracun sebesar
paku, apabila musuh menyambut piau itu dan menjeplakkan alat rahasia
yang terpasang, maka pegasnya bekerja dan piau kecil yang ada di
dalam pipa piau luar itu segera menyambar keluar, begitu senjata
rahasia mcnjeplak jangan harap musuh dapat menghindarinya.
Sebab itu senjata
tersebut disebut 'Sam-ling-tju-bo-piau' atau piau induk beranak
berbentuk segitiga.
"Yan-tayhiap," kata
Si Liang kemudian. "Apakah kau masih ingat dulu kita membakar
Siong-yang-koan di Hun-bong-san tanpa sengaja, sebabnya ialah karena
hendak mencuri obat pemunah racun dari piau ini, oleh karenanya
begitu berada di tanganku, aku menjadi kaget."
"Penglihatan Si-heng
memang tidak salah, orang yang bisa membikin piau seperti ini,
dewasa ini mungkin sudah tidak banyak lagi," sahut Yan Ie-lam. "Cuma
maksud saudara Teng mengunjukkan barang ini ialah untuk mengetahui
mengapa Tam Ting-siang bisa mengirim orang buat merampasnya, apakah
barang ini ada hubungannya dengan Tjin-tju-goan?"
Si Liang tidak lekas
menjawab, ia masih meneliti beberapa 'Sam-ling-piau' itu bolak-balik
di bawah sinar lampu, sesudah itu ia mengambil 'Thi-wan' atau gotri
besi dari dalam peti, kemudian ia letakkan di atas tutup peti agar
tidak menggelundung jatuh.
Thi-wan, gotri atau
peluru dari besi itu adalah semacam senjata rahasia juga dari
Go-bi-pay yang terbuat dari baja, tiap-tiap butir sebesar buah
kelengkeng, belasan peluru yang terletak di atas tutup peti itu
berkelap-kelip terkena sinar lampu.
Si Liang mengambil
dua butir dan diperiksa, lalu ia taruh kembali ke atas tutup peti
dan pulang-pergi digelundungkan, namun scdikitpun tiada tanda-tanda
yang mencurigakan. Akhirnya ia lepaskan gebungan yang terbungkus
dengan kain kuning, di dalamnya ada dua botol obat pemunah racun,
selain itu hanya terdapat contoh pembuatan 'Sam-ling-piau' itu.
Setelah semua orang memeriksanya juga dan tak terlihat sesuatu
tanda-tanda, mereka lantas mengembalikan benda-benda itu ke dalam
peti.
"Saudara Teng,
baiklah kau simpan petimu itu, kami telah banyak mengganggu!" kata
Yan Ie-lam akhirnya pada Hong-ko.
"Bagaimana bisa dikatakan mengganggu, hari
ini kalau bukan Yan-tayhiap yang menolong, peti itu sudah lama jatuh
di tangan alap-alap pembesar itu!" sahut Hong-ko dengan tertawa.
"Aku ada satu usul,
entah saudara Teng suka melaksanakan tidak?" sementara terdengar Si
Liang berkata pula dengan mengelus-elus jenggotnya.
"Ki-su ada
kepentingan apa, asal Siaute bisa menjalankan, pasti tidak
menampik," sahut Hong-ko.
"Urusan ini adalah
bersangkutan dengan kepentingan bersama," Si Liang mulai
menerangkan, "Aku pikir kali ini Tam Ting-siang secara diam-diam
telah mengangkut ketiga mutiara itu ke Soatang, tentu ia sudah
mengatur dengan baik sekali, jangan-jangan masih menggunakan tipu
muslihat untuk menghindarkan incaran orang-orang Kangouw, hari ini
ia mengirim cakar alap-alapnya buat mencegat peti saudara Teng. Hal
ini mungkin erat hubungannya dengan perbuatannya itu, kita boleh
juga menghadapinya dengan akal, dengan cara 'Kim-sian-toat-kak'
(mengelabui seperti tonggeret emas bertukar kulit), kita bisa
mencoba mereka."
Tertarik oleh usul
Si Liang, para pahlawan lantas bertanya apakah akalnya itu.
"Kali ini barang
yang saudara Teng bawa untuk Giam Tje-tjwan Lotjianpwe tidak lebih
hanya beberapa buah senjata rahasia ini, tetapi Tam Ting-siang telah
menaruh perhatian cukup besar, bahkan ia mengirim orang untuk
mencegat di tengah jalan. Ini suatu tanda di dalamnya tentu ada
sesuatu yang istimewa," Si Liang menerangkan. "Maka kita mengambil
kesempatan ini untuk menukar senjata rahasia di dalam peti dan biar
dibawa terus oleh saudara Teng, sedang beberapa orang di antara kita
diam-diam menguntit, pertama kita boleh sekalian melihat tindakan
apa dari cakar alap-alap nanti, kedua seandainya senjata rahasia itu
tersembunyi sesuatu rahasia, juga tak akan merembet ke diri
Giam-lotjianpwe, bagaimana pendapat kalian atas usul ini?"
Sudah tentu semua orang memuji akal baik itu
dan menyatakan akur. Teng Hong-ko sendiri pun menyatakan sanggup
melaksanakan tugas itu. Tetapi lantas ia teringat cara bagaimana
mereka bisa mendapatkan barang yang serupa untuk menukarnya?
"Siaute masih agak
ragu-ragu, ialah peluru baja itu masih gampang didapatkan, tetapi
beberapa Sam-ling-piau itu darima-na bisa mendapatkannya? Lagipula
bagaimana harus menjawab nanti di hadapan Giam Tje-tjwan Tjianpwe?"
tanya Hong-ko mengutarakan pikirannya.
"Saudara Teng tak
usah kuatir," sahut Hoa-lihiap dengan tertawa waktu mendengar
pertanyaan Hong-ko, "Dulu waktu Yan-toako membakar Siong-yang-koan,
ia pernah mencuri tiga buah Sam-ling-piau si imam tua she Kim yang
serupa dengan ini dan kini masih tersimpan baik-baik. Sedang di
hadapan Giam Tje-tjwan nanti, diam-diam kau boleh memberitahu
padanya, tidak lama kita pasti mengembalikan yang asli padanya."
Mendapat janji itu, baru Teng Hong-ko merasa
lega.
Dalam pada itu dari
luar ruangan itu mendadak angin kencang mendesir, waktu Hoa-lihiap
mendongak, segera ia berteriak, "Awas, ada mata-mata!"
Segera ia menarik
diri Hong-ko terus mengumpet ke belakang rumah, sementara itu
tertampak sesosok bayangan orang telah menerobos masuk dan segera ia
memadamkan api lilin. Dalam kegelapan itu bayangan hitam telah
melompat sampai di tengah ruangan, gerak tubuhnya begitu cepat
laksana angin dan lantas menubruk ke tempat dimana Hong-ko tadi
berduduk.
Saat itu Hoa-lihiap
sudah menarik Hong-ko melompat ke pintu pojok, melihat di tangannya
masih terkempit peti kayu wangi itu, maka segera ia mendorong
Hong-ko masuk ke ruang samping dari pintu pojok itu, sedang ia
sendiri segera melolos pedangnya dan menjaga di ambang pintu.
Begitu bayangan
orang itu menubruk ke tengah, Yan le-lam dan beberapa jago lainnya
sudah menarik senjata dan menjaga di ambang pintu.
Karena menubruk
tempat kosong, bayangan orang itu telah mengangkat kursi di tempat
itu dan terus dilemparkan. Di antara suara gedubrakan, kursi itu
sudah hancur menjadi beberapa potong. Dengan menggunakan kesempatan
ketika ribut menyambut kursi yang dilemparkan itu, bayangan hitam
itu dengan sekali lompatan sudah menerobos keluar pintu lagi. Waktu
para pahlawan maju memburu, segera mereka disambut dengan beberapa
bintik sinar mengkilap.
"Awas, senjata rahasia!"
seru Yan Ie-lam yang berjalan paling depan. Ia memutar pedangnya, di
antara suara berdencing, senjata rahasia itu sudah kena disampuk
jatuh, kiranya adalah beberapa buah 'kim-tji-yap-tju-piau', senjata
rahasia berupa mata uang.
Terganggu oleh
serangan senjata rahasia itu, maka para pahlawan merandek, sedang
bayangan hitam itu sudah melesat pergi keluar kampung, dengan sekali
lompatan sejauh beberapa tombak, dalam sekejap saja musuh itu sudah
menghilang di antara hutan belukar yang gelap gulita.
Sementara itu Si
Liang meneriaki supaya menyalakan api lilin dan menyuruh semua orang
jangan menginjak masuk ke dalam ruangan. Sudah tentu seruannya itu
membikin bingung semua orang, entah apa yang dikehendaki. Dalam pada
itu, saking mendongkolnya dipermainkan orang, secara membabi buta
Liok Ing mencaci maki kalang-kabut.
"Hai, Lau Si, orang
telah mengeluruk sampai di rumahmu, tetapi apa yang sedang kau
utak-atik di sini!" serunya penasaran.
"Liok-lotoa, kau
boleh lihat nanti, coba lihat ini apa!" sahut Si Liang.
Waktu sinar lilin
menyala pula, maka di lantai ruangan entah sejak kapan sudah
tersiram basah oleh air hingga tertampak ada bekas telapak kaki yang
sangat kecil, rupanya bekas sepatu kaum wanita yang kecil.
Kiranya tadi waktu
mendadak ada bayangan orang menubruk masuk, Si Liang dengan segera
telah menyiram secangkir air teh ke lantai.
"Hebat sekali, mana
boleh jadi!" seru para pahlawan berbareng. "Kita orang-orang gagah
dari kedua tepi Hong-ho, bisa membiarkan seorang budak perempuan
menerobos pulang-pergi semaunya, hal ini kalau teruar di luaran,
bagaimana jadinya nanti?"
"Percuma kita berang
sendiri di sini," ujar Si Liang akhirnya, "Lebih baik kita mencari
tahu siapakah gerangan yang datang tadi."
"Menurut
penglihatanku, ia dapat datang dan pergi secepat angin, gerak
tubuhnya sangat cepat, begitu masuk lantas hendak merebut peti
saudara Teng. Kalau bukan cakar alap-alap dari pembesar negeri,
tentu adalah begal tunggal yang berkeliaran di Soatang sini!"
Hoa-lihiap mengemukakan pendapatnya.
Menyusul semua
orang lantas mengemukakan pendapatnya masing-masing, tetapi tiada
seorang pun yang memastikan macam apakah orang yang datang tadi.
"Nah, kini sudah
makin kuat bukti bahwa peti yang saudara Teng bawa itu ada
apa-apanya, hingga merupakan benda tujuan perebutan dari berbagai
golongan," ujar Yan le-lam. "Baiknya kita mengaso saja, besok kita
berangkatkan dia ke Tjelam dan kita menyusul di belakangnya juga
menuju ke tempat Giam-lothaudji sana, coba kita lihat dulu terjadi
sesuatu atau tidak, kemudian baru kita mempertimbangkan pula."
Lalu para pahlawan
itu pada menyatakan setuju, tetapi ku-atir Hong-ko terganggu di
tengah jalan, maka diputuskan suami isteri Yan Ie-lam
mengantarkannya sebagian jalan.
Esok harinya, dengan
menunggang seekor kuda putih, Hong-ko berangkat dengan punggung
menggendong 'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay itu, sedang peti kayu
cendana menggeletak di punggung kudanya, senjata rahasia dalam peti
sementara itu sudah ditukar. Suami isteri Yan Ie-lam pun
mengiringnya berangkat.
Kala itu di daerah selatan Tjotjiu dan
sekitarnya sebenarnya banyak penyamun yang berkeliaran, tetapi demi
nampak ketiga orang di atas kuda begitu gagah, mana ada yang berani
coba-coba mengganggunya.
Setelah Yan Ie-lam
berdua mengantar Teng Hong-ko sampai di kota kabupaten,
Ka-siang-koan, lantas ia berpesan pada Hong-ko, "Saudara Teng,
selanjutnya di depan ialah Tjeling dan kalau terus lagi akan sampai
di Tjelam, sepanjang jalan sudah merupakan jalanan ramai, baiknya
kita berpisah di sini, kalau saudara sudah sampai di Tjelam,
sampaikan salam kami pada Giam-loenghiong, dan kalau terjadi sesuatu
urusan jangan kau takut."
Berulang-ulang
Hong-ko menyatakan baik dan tak lupa ia menghaturkan terima kasih,
sesudah itu ia pecut kudanya dan terus melanjutkan perjalanannya.
Perjalanan telah
berlangsung dua hari, kini Hong-ko sudah sampai di Thay-an. kalau
maju lagi adalah jalanan yang harus melalui lereng gunung, meskipun
termasuk jalan besar juga, tetapi kadang harus berpuluh li baru
terdapat perhentian.
Hari itu, ketika ia
mengendalikan kudanya, tiba-tiba di belakangnya menyusul derapan
kuda yang riuh ramai, dari jauh sudah terdengar bentakan meminta
jalan, waktu ia menoleh, maka tertampaklah dua lelaki dengan
dandanan sebagai opas, seorang di antaranya menggendong kantong pos
dinas, secepat kilat mereka telah menyerobot lewat.
Kala itu, awan
mendung hitam tebal bergumpal-gumpal dan angin besar menderu-deru,
debu beterbangan dan sinar kilat sambar-menyambar, tampaknya dengan
segera akan turun hujan deras. Lekas Hong-ko pecut kuda mempercepat
larinya agar bisa menyandak tempat perhentian di depan, sekadar
untuk berteduh dari serangan hujan lebat. Tetapi baru setengah
jalan, hujan deras sudah keburu turun dengan kilat menyambar dan
halilintar mengguruh. Masih untung baginya sementara itu tempat
perhentian sudah tertampak dari jauh.
Waktu Hong-ko sampai di tempat itu, ia lihat
di depan rumah pondokan di seberang sana tertampak di kandang kuda
tertambat dua ekor kuda, bukan lain adalah kuda kedua opas tadi. Ia
pun memasuki rumah penginapan itu dan memilih sebuah kamar buat
bermalam. Sementara di kamar sebelah rupanya sudah ada tamu terlebih
dulu dengan pintu kamar yang setengah tertutup, waktu Hong-ko
melirik, kiranya yang tinggal di dalam adalah dua petugas yang ia
ketemukan tadi, mereka sedang mencopot baju mereka buat digarang di
atas api anglo agar kering.
Sampai malam hari,
hujan ternyata masih belum reda, sehabis makan malam Hong-ko lantas
rebah di kamarnya untuk mengaso. Lapat-lapat ia mendengar kedua
petugas negeri atau opas di kamar sebelah itu seperti belum tidur
dan sedang mengobrol sambil minum arak.
Secara iseng
Hong-ko coba memasang telinga mendengarkan apa yang sedang
dipercakapkan.
"Malam ini sudah terang
tak mungkin berangkat, kita boleh minum sedikit puas dan tidur
sedikit gasik, besok pagi-pagi kita lantas berangkat," terdengar
seorang di antaranya berkata.
"Surat dinas itu
masih belum kering, digarang di atas anglo jangan-jangan nanti malah
hangus, sekali-kali jangan karena itu kita harus terima rangketan,"
sahut yang lain.
"Jangan kuatir,
surat dinas apa sih begitu penting," ujar yang duluan tadi, "Hanya
nota pengiriman barang saja, apa harus begitu terburu-buru, biarkan
saja kering sendiri di atas meja."
"Losam, nyata kau
belum tahu, waktu kita hendak berangkat, Ang-taydjin telah
wanti-wanti berpesan padaku bahwa surat dinas ini ada
sangkut-pautnya dengan urusan penting, sekali-kali jangan
dihilangkan," kata pula yang lain.
"Sudahlah, dalam
kamar ini hanya ada kau dan aku dua orang, tak usah kau merasa
bimbang, baiklah kita mengaso Siangan," sahut orang yang dipanggil
Losam.
Beberapa kata
pembicaraan dua petugas ini ternyata menarik perhatian Teng Hong-ko.
Sebentar kemudian, dari suara ke-rusekan di kamar sebelah, Hong-ko
dapat menduga mereka sudah pulas dan keadaan telah sunyi senyap.
"Tadi mereka
menyinggung soal pengiriman barang, jangan-jangan adalah barang yang
Tam Ting-siang kehendaki itu? Dan dikatakan pula bahwa surat dinas
ini sangat penting, apakah juga ada hubungannya dengan topi mestika
itu?" tanya Hong-ko dalam hati.
Tak lama kemudian
suara menggeros telah terdengar berkumandang dari kamar sebelah, ia
tahu kedua petugas itu tentu sudah terkena pengaruh beberapa cawan
air kata-kata, tentu tidur mereka sedang pulas-pulasnya, segera
timbul rasa ingin tahunya, ia hendak mencuri baca surat dinas yang
disebut-sebut tadi. Lantas ia menukar pakaiannya dengan setelan
hitam ringkas, pelahan-lahan ia membuka daun jendela kamarnya terus
merayap keluar.
Di bawah jendela
kamarnya itu ternyata adalah satu pelataran kosong, waktu ia
melongok, ternyata daun jendela kamar sebelah hanya tertutup
separoh, jaraknya sekitar lima atau enam kaki. sedang di tengah
jarak itu terhalang oleh pagar bambu yang sengaja dibikin, mungkin
untuk menjaga kalau ada pencuri.
Adanya pagar itu
kebetulan juga buat Hong-ko, karena dapat dipergunakan sebagai
tangga, ia merembet dari pinggir jendela dan terus merayap ke atas
pagar itu, sedikitpun tanpa menerbitkan suara dan ia telah sampai di
sebelah pagar sana, kemudian dengan sekali lompatan enteng ia telah
menggelantung di belakang sebelah daun jendela yang tertutup itu,
waktu ia mengintip, maka terlihat olehnya kedua orang itu terpulas
laksana sudah mampus.
Dengan gerakan
'To-tiau-kim-kau', kait emas menggantung terbalik, kedua kakinya ia
gantolkan pada jendela dan terus merayap masuk ke kamar, waktu
tangannya diulur, dengan tepat bisa sampai di atas meja, sudah tentu
dengan gampang saja surat dinas yang terletak di meja sudah berada
di tangannya, kemudian dengan cepat ia kembali ke kamarnya sendiri.
Sesudah berada di kamar, Hong-ko membalik
kursinya, dengan baju hitamnya ia tutup keempat kaki kursi itu
hingga merupakan kerudung dan di tengahnya ia nyalakan api lilin,
dengan begitu sinar lilin tidak tembus keluar kamar, baru sesudah
itu ia mengeluarkan surat dinas yang ia colong, tutup surat itu
masih basah, maka dengan tidak terlalu susah ia sudah bisa
membukanya.
Tetapi lantas ia
merasa kecewa, karena surat itu hanya surat dinas biasa saja sebagai
nota pengantar pengiriman barang belaka >ang dikirim bawahan Tam
Ting-siang dari Khay-hong.
"Surat dinas begini saja
apakah perlu dikirim begitu cepat?" pikir Hong-ko. Tetapi tidak
urung ia membaca terus surat itu.
Pada akhir surat
itu tercantum jumlah kereta rangsum yang dikirim dan hari
keberangkatannya. Ketika Hong-ko hendak menutup kembali surat itu,
mendadak ia menjadi tertarik oleh sesuatu, ternyata di antaranya ada
satu baris tulisan daftar barang-barang >ang dikirim, di pinggir
baris tulisan itu ada ditandai bundar-bundar merah dengan sangat
mencolok.
Barang yang tercatat di
baris tulisan itu ialah semangka Hami dari Lantju. jumlah seluruhnya
termuat dalam sembilan kereta. Waktu Hong-ko meneliti tanggal
sampainya di Soatang yang ditentukan, ternyata masih harus tujuh
atau delapan hari lagi baru bisa sampai.
"Pengiriman barang
begini penting, laginya tanggal sampainya masih jauh. tetapi
diselipkan nota ini dalam surat dinas dan dikirimkan kepada Tam
Ting-siang dengan tugas kilat?" begitulah pikir Hong-ko pula dengan
tak mengerti.
Ia berpikir, dan
tujuh tanda bundaran merah tadi kembali terkilas di pandangannya, ia
tertarik. Ia menduga tentu ada rahasianya tanda-tanda ini, lantas ia
ingat baik-baik hari yang tercantum dalam surat itu di sampulnya dan
ditutup rapat baik-baik, ia padamkan api lilin pula dan mendekam di
lantai untuk mendengarkan gerak-gerik di kamar sebelah, tetapi kedua
petugas itu ternyata masih menggeros, dengan cepat ia melompat
keluar pula dari jendela dan mengembalikan surat dinas itu ke tempat
asalnya. Kemudian ia kembali ke kamarnya sendiri, ia menghela napas
lega, ia rebah dan tertidur.
Besoknya pagi-pagi
sekali, cuaca sudah terang dan dua petugas di kamar sebelah itu
sudah tak tampak lagi, Hong-ko sendiri pun melanjutkan perjalanan ke
Tjelam. Selanjutnya jalanan sudah merupakan jalan raya yang ramai,
tiada dua hari kemudian, ia sudah sampai di Kak-thau-tjun, suatu
kampung di timur kota yang ditujunya.
Waktu itu
'Pat-kik-im-yang-tjin' Giam Tje-tjwan sudah berusia lebih setengah
abad, ia tergolong jago silat keluaran cabang lain dari Siau-lim-si,
ciptaannya 'Pat-kik-im-yang-kiam' di daerah Soatang terpuji sebagai
ilmu pedang yang tiada tandingannya. Giam Tje-tjwan berhati jujur
dan berbudi luhur, suka membela ketidak-adilan dan membasmi golongan
penindas serta berdiri di pihak kaum lemah, ia pun suka bergaul
dengan sahabat-sahabat dari kalangan Kangouw, maka beberapa muridnya
pun mewariskan semangatnya yang suka berbuat mulia itu. Sebaliknya
orang-orang dari kalangan pembesar negeri walaupun agak sirik dan
benci padanya, tetapi tidak sedikit pula dari pejabat-pejabat
rendahan yang mendapatkan kebaikannya, oleh sebab itu Tjongpothau
atau kepala polisi Tjhi Djin-ho biasanya tak berani mengganggu gugat
padanya.
Sesudah memasuki
kampung itu dan bertanya, segera Hong-ko menuju ke kediaman keluarga
Giam dan setelah memberitahukan maksud kedatangannya, segera ia
dipersilakan masuk ke ruang tamu.
Sesampainya di
kamar tamu, maka ia sudah ditunggu oleh seorang laki-laki yang
berperawakan gagah kekar, brewok dengan mata bersinar, Hong-ko dapat
menduga tentu tidak salah orang ini ialah Giam Tje-tjwan, maka lekas
ia maju memberi hormat. Giam Tje-tjwan membalas hormat orang dan
sesudah mengetahui nama Hong-ko, ia mempersilakan tamunya duduk,
lalu ia bertanya keadaan Bu-tun Todjin sambil ia menerima peti yang
dikirimkan kepadanya.
Selagi Hong-ko
hendak menceritakan pengalamannya bertemu dengan Yan Ie-lam dan
kawan-kawan di Pek-hoa-ho dan barang dalam peti itu sengaja sudah
ditukar, mendadak dari luar ada laporan bahwa dari gubernuran telah
dikirim 'Siu-pi' Tjin-taydjin hendak bertemu (Siu-pi kira-kira
setingkat dengan letnan sekarang).
Mendapat laporan
itu, rupanya Giam Tje-tjwan agak heran, ia pandang Hong-ko sejenak
dan sesudah itu baru ia perintahkan centeng membuka pintu tengah
untuk menyambut kedatangan tamu pembesar negeri, supaya menanti
sebentar di ruangan besar itu dan menyatakan tuan rumah selekasnya
akan menemuinya setelah bertukar pakaian.
"Teng-hiantit apakah di
tengah jalan kau telah berselisih paham dengan pejabat negeri?"
tanya Giam Tje-tjwan dengan suara tertahan setelah centeng yang ia
perintahkan itu berlalu.
Hong-ko mengerti
bahwa urusan itu tak bisa dijelaskan dengan sepatah kata saja,
tetapi kuatir pula menimbulkan kecurigaan Giam Tje-tjwan, maka
kemudian ia menjawab, "Wanpwe ketika lewat di Pek-hoa-ho pernah
bertemu pejabat hendak merampas petiku itu, belakangan berkat
kedatangan seorang penolong barulah pejabat itu lari ketakutan."
Mata Giam Tje-tjwan
mengerling, ia lantas tahu bahwa perkataannya itu tentu ada sebab
musababnya, tetapi karena buru-buru harus menemui tamu, tak sempat
ia bertanya lebih lanjut.
"Orang-orang dari
pemerintahan jarang ke sini," katanya kemudian waktu hendak
meninggalkan Hong-ko. "Tetapi kini tidak lebih dulu dan tidak
lambat, begitu Hiantit datang, mereka pun lantas menyambangi aku,
tentu ada apa-apanya yang dituju, tiada halangannya Hiantit coba
mengintip di belakang pintu, coba dengarkan apa yang akan
dibicarakan."
Sudah tentu Hong-ko
merasa tak tenteram, ia tidak nyana begitu datang sudah membawa
kesukaran bagi Loenghiong itu.
Lalu ia ikut di belakang Giam Tje-tjwan
menuju ke ruangan depan, ia mengintip dari luar jendela yang
teraling oleh dedaunan bunga, ia lihat Giam Tje-tjwan sementara itu
sedang menghadapi seorang perwira, di samping perwira itu berdiri
dua pengiring berdandan sebagai 'Po-gwai' atau anggota polisi.
"Ya, betul
Tjin-taydjin, ia adalah keponakanku, apakah di tengah jalan ia ada
apa-apa yang menyinggung pejabat negeri?" terdengar Giam Tje-tjwan
sedang bertanya jawab.
"Bukan, harap
Giam-loenghiong tak usah sangsi," terdengar perwira itu menyahut.
"Keponakanmu itu tidak menerbitkan sesuatu keonaran, melainkan
karena Tam-taydjin mendengar katanya ia telah membawakan Loenghiong
beberapa contoh senjata rahasia yang tunggal, maka aku telah
diperintahkan datang ke sini buat pinjam lihat saja, apabila memang
betul terdiri dari senjata rahasia yang bagus, biar orang-orang kami
pun ikut menambah pengalaman."
Sudah tentu Hong-ko tahu bahwa apa
yang perwira itu katakan hanya alasan belaka, yang betul ialah
mereka menghendaki barang-barang dalam petinya itu.
"Tjin-taydjin."
kembali terdengar Giam Tje-tjwan berkata pula. "Barang-barang yang
dibawa orang she Teng itu hanya sedikit contoh am-gi (senjata gelap
atau senjata rahasia) yang tak berharga, entah mengapa Sunbu Taydjin
bisa menaruh perhatian begitu besar, dan darimana ia bisa mengetahui
isi peti itu?"
Karena pertanyaan
yang terakhir itu, Siu-pi she Tjin itu menjadi bungkam dan seketika
tak mampu menjawab.
"Mengapa Loenghiong
malah bertanya," katanya kemudian dengan tertawa buatan. "Asal-usul
Sun-bu Tay-djin kami tentu sudah jelas, mata telinganya begitu
tajam. Sampai kami yang menjadi bawahan pun sangat mengagumi, kali
ini dugaannya pasti tidak meleset, oleh karena itu ia memerintahkan
kami meminta pinjam ke sini."
"Oh, kiranya
begitu," sahut Giam Tje-tjwan. "Tetapi harap Tjin-taydjin maklum
bahwa orang she Teng itu baru datang hari ini dan barang itu aku pun
hanya melihatnya sekejap di dalam peti, barang di dalamnya
sedikitpun belum teraba, kalau Sun-bu Taydjin memang hendak pinjam,
maka silakan Tjin-taydjin bawa saja."
Sesudah itu Giam
Tje-tjwan memerintahkan orangnya pula membawa keluar peti kayu wangi
yang Hong-ko bawa itu.
Tak lama kemudian
peti itu sudah dihadapkan, melihat peti terbikin begitu mungil
bagus, berulang-ulang Tjin Siu-pi memuji, menyusul itu lantas ia
membuka dan memeriksanya, ternyata tidak salah di dalamnya terdapat
beberapa 'Sam-ling-piau' dan belasan butir pelor besi, sedang
segebung barang yang terbungkus kain kuning itu ia keluarkan dan
diserahkan pada Giam Tje-tjwan.
"Bungkusan ini baiknya
disimpan Loenghiong saja, sedang barang-barang lainnya tanggung
besok dikembalikan tepat pada waktunya," kata si perwira.
Giam Tje-tjwan menyambut
barang yang diangsurkan dan terus ia buka, di dalamnya ternyata
adalah sepucuk surat dari Bu-tun Todjin, kecuali itu hanya segebung
kertas resep cara pembuatan senjata rahasia itu dan dua botol obat
bubuk.
"Tadi aku masih belum
tahu barang apa sebenarnya yang terbungkus di dalam ini!" ujar Giam
Tje-tjwan pada Tjin Siu-pi.
Tetapi seperti
tidak memperhatikan perkataan itu, Tjin Siu-pi telah berbangkit dan
berpamitan.
"Teng-hiantit, kau
sudah mendengar semuanya bukan," kata Giam Tje-tjwan sesudah
pembesar itu pergi. "Sepanjang jalan kau sudah diincar orang,
beruntung dalam peti ini hanya benda-benda tak berharga ini, aku
sendiri pun tidak merasa sayang, cuma agak menghalangi maksud baik
gurumu saja!"
Teng Hong-ko
tertawa getir, ia menjawab, tetapi tak berani berterus terang
memberitahukan bahwa barang dalam peti sudah ditukar, karena hal itu
tentu akan membikin gelisah Giam Tje-tjwan, namun datam hati ia
mengerti, tak lama lagi pasti akan terjadi sesuatu.
Dan dugaan Hong-ko
memang tidak salah, malapetaka itu terjadi pada keesokan harinya.
Pagi-pagi hari
kedua, beberapa murid Giam Tje-tjwan secara gugup telah melapor ke
dalam, bahwa pasukan tentara telah memasuki kampung dan membikin
penjagaan di beberapa jalan penting.
Sungguhpun paras
muka Giam Tje-tjwan agak lain waktu mendapat laporan itu, namun
sebisanya ia masih menghibur orang-orangnya bahwa kedatangan pasukan
itu mungkin ada dinas tugas lain. Hanya Teng Hong-ko seorang yang
berdebar-debar, ia mengerti sesudah Tam Ting-siang mengetahui bahwa
barang itu palsu tentu akan membuat perhitungan dengan Giam
Tje-tjwan. Untuk menjaga segala kemungkinan, maka ia telah
menyiapkan senjata yang perlu di badannya.
Tak lama kemudian,
suara riuh ramai telah terdengar di luar gedung, centeng telah
melaporkan bahwa pasukan yang dipimpin Tjin Siu-pi telah mengepung
rapat seluruh kampung. Lekas Giam Tje-tjwan keluar untuk memeriksa
apa yang sebenarnya terjadi, namun Tjin Siu-pi sementara itu telah
masuk dengan diikuti beberapa jagoan dari gubernuran. Begitu nampak
Giam Tje-tjwan, pembesar itu agaknya sudah tidak sehormat kemarin.
"Giam Tje-tjwan,
Tam-taydjin cukup menghormati kau, sebaliknya kau berani menyerahkan
barang yang sudah kau tukar!" serunya sembari duduk tanpa diundang.
Dengan mata terbuka
lebar, Giam Tje-tjwan tercengang, ia tidak mengerti cara bagaimana
harus menjawab.
"Tjin-taydjin,
apakah artinya semua itu?" sejenak kemudian baru ia bertanya.
"Hm, Giam Tje-tjwan
jangan kau berlagak pilon dan coba main komidi," sahut sang perwira.
"Peti yang aku bawa kemarin itu, barang di dalamnya sudah bukan
barang asli lagi!"
"Tetapi aku yang
rendah sungguh belum merubah sedikitpun barang-barang di dalam peti
itu," Giam Tje-tjwan coba membela diri.
Tetapi mana
pembesar negeri itu mau percaya, dengan sekali membentak, ia
perintahkan pengiring yang datang bersamanya itu untuk menggeledah.
Laksana binatang
liar, pengiring itu segera menyerbu ke dalam rumah dan
mengobrak-abrik semua isi rumah, sampai daun jendela dan pintu pun
hampir-hampir copot diperiksanya. Melihat kebuasan petugas-petugas
itu, beberapa anak murid dan centeng Giam Tje-tjwan yang agak kuat
menjadi gusar, dengan mata melotot melihat tingkah laku yang
sewenang-wenang itu, hampir saja tak tertahan dan hendak melabrak
mereka. Tetapi Giam Tje-tjwan sudah keburu mencegah mereka dan
menyuruh mundur ke pelataran luar, dengan begitu para petugas dan
prajurit itu bisa dengan leluasa membongkar semaunya. Namun sesudah
ribut setengah harian ternyata masih belum menemukan sesuatu yang
dicari.
"Orang yang membawa peti
kemarin itu dimana?" tanya Tjin Siu-pi akhirnya dengan membentak.
Giam Tje-tjwan tertegun
oleh pertanyaan itu, tetapi segera ia menjawab, "Tjin-taydjin urusan
ini tak mungkin berhubungan dengan orang she Teng itu, ia pergi
kemana, aku yang rendah pun tak mengetahui."
Dalam pada itu, di
pelataran rumah itu tiba-tiba terdengar bentakan yang ramai, dua
Pothau yang kemarin datang bersama Tjin Siu-pi itu telah memburu ke
ruang latihan dengan golok terhunus. Dengan terkejut Giam Tje-tjwan
memandang, tetapi akhirnya tahulah ia bahwa Teng Hong-ko yang
mencampurkan diri di antara para centeng rupanya telah dipergoki
oleh kedua anggota polisi itu.
Sesaat itu, suasana
segera ramai oleh suara beradunya senjata tajam, Teng Hong-ko telah
melompat maju, dengan pedangnya ia memapaki golok lawan, secepat
kilat dengan satu tipu 'Thian-su-hian-kan' atau Thian-su
mempersembahkan surat, ia membikin kedua lawannya terpaksa harus
mundur.
Beberapa begundal
petugas negeri lainnya begitu melihat kawan mereka sudah bergebrak,
mereka maju serentak dan mengepung Hong-ko di tengah. Tetapi Hong-ko
tak gentar walaupun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak,
pedangnya diputar dengan cepat, dimana pedangnya sampai, di situ
senjata musuh segera terpental.
Selagi pertarungan
menjadi makin sengit, tiba-tiba terlihat ada bayangan orang
berkelebat, seseorang telah menerobos masuk di antara
senjata-senjata yang saling beterbangan, beberapa jagoan petugas
mendadak merasa pergelangan tangan mereka kaku pegal, sementara itu
Giam Tje-tjwan sudah menghadang mengalingi di depan Teng Hong-ko.
"Berhenti semua!" bentaknya.
Kiranya tadi ia
telah mengunjukkan 'Im-yang-tjiu' yang lihai, ia telah menotok
tangan seorang jagoan yang paling depan, sedang pedang Hong-ko pun
kena teraup di tangannya.
"Jangan kamu coba
membikin ribut di rumah Lohu!" ia melanjutkan bentakannya.
"Seandainya ada perkara betapa besarnya pun, Lohu boleh memikul
seluruhnya."
Beberapa jagoan
polisi yang mengetahui kelihaian Giam Tje-tjwan, maka seketika
mereka tak berani coba bertindak sesukanya lagi. Hanya Tjin Siu-pi
yang sementara itu telah mendekati.
"Giam-lodji, berani
kau melawan!" katanya dengan tekanan suara berat sambil matanya
melotot.
"Tjin-taydjin,
perkenankan aku bertanya, kau diperintahkan datang buat menggeledah
rumah atau menangkap orang?" tanya Giam Tje-tjwan, si
'Im-yang-pat-kik-tjiu' dengan berani.
Karena pertanyaan
yang spontan dan beralasan itu, seketika Tjin Siu-pi bungkam, tetapi
kemudian lantas ia menjawab sesudah berpikir sejenak.
"Tam-taydjin
memerintahkan aku ke sini, menghendaki agar kau menyerahkan barang
aslinya yang ada di dalam peti!"
"Aneh sekali perkataan Tjin-taydjin itu,"
sahut Giam Tjetjwan. "Berdasarkan apa memastikan bahwa barang di
dalam peti itu sudah bukan yang asli lagi?"
Tjin Siu-pi menjadi
gelagapan lagi oleh pertanyaan itu, karena tak mungkin ia
menceritakan terus terang apa sebenarnya yang terjadi. Karena itu,
dari malu ia berubah menjadi gusar.
"Giam Tje-tjwan,
tak usah kau banyak membacot, baiknya kau dan bocah she Teng itu
ikut kami, kemudian biar diputuskan sendiri oleh Tam Ting-siang!" ia
membentak lagi. Sudah itu, tanpa berkata lagi segera ia memberi
tanda, para begundalnya segera maju mengepung lagi mereka berdua,
cuma sudah tak berani sembarangan menggerakkan tangan pula.
"Aku, Giam
Tje-tjwan selamanya tidak pernah berbuat sesuatu kejahatan, andaikan
harus ikut pergi dengan pembesar anjing ini pun tak takut, cuma
entah orang muda she Teng telah melakukan perbuatan apa sewaktu di
tengah jalan," pikir Giam Tje-tjwan.
Agaknya Hong-ko
dapat menerka apa yang orang tua itu pikirkan, maka lantas ia maju
dan berkata padanya, "Giam-lo-enghiong jangan kuatir, Siautit datang
dari Go-bi tanpa berbuat sesuatu kejahatan, negara tentu ada
peraturan hukumnya, apakah kita takut fitnahan pada orang baik-baik,
biar Siautit ikut Lo-tjianpwe pergi bersama mereka, coba apakah
mereka berani sewenang-wenang mencelakai orang."
Perkataannya begitu
bersemangat dan berani, Tjin Siu-pi mau tak mau harus melirik,
sedang Giam Tje-tjwan diam-diam memuji pemuda ini yang cukup tabah
dan berani.
Akhirnya mereka
berdua digiring keluar dari rumah dan meninggalkan kampung mereka.
Dari kampung 'Kak-thau-tjun' ke kota Tjelam masih harus melalui
perjalanan yang memakan tujuh atau delapan li, sepanjang jalan Tjin
Siu-pi berlaku waspada untuk menjaga segala kemungkinan.
Ketika mereka
sedang berjalan, dari depan sementara itu telah mendatangi dua orang
laki-perempuan yang berdandan sebagai petani, yang lelaki menjunjung
bakul bambu, sedang yang perempuan mengenakan caping dan memikul
pikulan kayu yang dipalangkan.
Teng Hong-ko
berjalan berendeng dengan Giam Tje-tjwan, begitu nampak kedua orang
ini, segera ia menyenggol padanya dan memberi kedipan mata.
Dalam pada itu,
beberapa petugas yang berjalan di depan sudah membentak meminta si
wanita minggir, sambil goloknya yang besar diangkat tinggi-tinggi.
Namun wanita itu agaknya acuh dan tak mendengar, ia masih terus maju
dengan pikulan kayunya yang tetap malang melintang, sedang jarak di
antara mereka sudah tinggal beberapa tombak saja.
Si lelaki yang
berjalan di sebelah belakang tampak lekas maju ke depan, dengan
kedua tangannya ia memegang kencang bakul bambu yang tersunggi di
atas kepalanya, ia berkata pada petugas itu. "Tuan-tuan besar
maafkan kami, isteriku itu kedua telinganya memang tuli!"
Di waktu ia
berbicara itu, maka jarak antara mereka sudah semakin dekat, barulah
petugas itu sempat menggertak pula, "Lekas enyah!"
Dan mereka
mengangkat golok buat menakut-nakuti, sekonyong-konyong secepat
kilat lelaki itu telah menumplekkan bakul bambu yang disunggi itu ke
depan, ternyata isi di dalamnya adalah kapur gamping, dan justru
waktu itu angin bertiup ke jurusan para petugas itu, keruan saja
seketika berupa segumpalan awan putih yang mengabut, kapur gamping
itu telah berhamburan di antara mata. mulut dan kepala para petugas
yang berjalan di depan itu, hingga mereka kelabakan tak tahu jalan,
saking gugupnya mereka menggelepar, hanya golok mereka saja yang
diobat-abitkan sekenanya.
Dalam pada itu si
wanita tadi sudah memutar pikulannya menerjang ke dalam barisan
serdadu Boan, begitu hebat pikulannya bekerja hingga tanpa ampun
lagi siapa saja yang mendekat kena dihantamnya. Sedang si lelaki
dengan cepat pun sudah melolos pedangnya, ia melompat ke samping
Hong-ko dan terus menariknya pergi. Beberapa jagoan coba menyusul,
tetapi lelaki itu membalik dengan beberapa serangannya sudah
membikin para jagoan itu tunggang-langgang.
Kedua
lelaki-perempuan yang menyamar sebagai petani ini bukan lain ialah
'Pat-pi-long-kun' Yan le-lam dengan isterinya, Hoa Sian-bu, mereka
diam-diam mengikuti Teng Hong-ko, waktu mengetahui hari ini Tjin
Siu-pi mengerahkan pasukannya ke Giam-keh-tjeng, mereka lantas tahu
tentu telah terjadi sesuatu, maka sengaja mereka menanti di tengah
jalan untuk menolong bila perlu.
Sementara itu Teng
Hong-ko pun sudah melolos pedangnya yang memang sudah disiapkan itu,
ia memanggil Giam Tje-tjwan dan berseru padanya, "Lotjianpwe,
marilah ikut kami membobolkan kepungan!"
Tetapi Giam
Tje-tjwan ternyata seperti tidak mendengar seman itu, bukannya ia
maju, sebaliknya ia mundur dan bergabung dalam rombongan serdadu
musuh. Beberapa jagoan yang tadi diterjang bubar oleh Yan Ie-lam
sementara itu telah merubung maju lagi sambil membentak, "Tangkap
penjahat!"
Yan Ie-lam dapat
menduga Giam Tje-tjwan tentu tak mau bertaruh dengan keselamatan
harta benda dan keluarganya, maka segera ia memberi tanda pada
Hong-ko, sesudah itu pedang mereka bekerja dengan cepat untuk
menerjang keluar dari kepungan.
"Giam-loenghiong,
Wanpwe tidak berbuat sesuatu kejahatan, kini terpaksa kami harus
pergi dahulu!" teriak Teng Hong-ko akhirnya.
Setelah itu bersama Yan Ie-lam segera mereka menerjang keluar, pedang mereka bekerja dengan kencang, dalam sekejap saja mereka sudah berhasil membobol kepungan, sedikit musuh yang mencoba mengejar telah dibikin kalang-kabut juga oleh balikan pikulan Hoa-lihiap yang terus menyerampang dan menyeruduk, tidak antara lama mereka bertiga sudah menghilang dari kejaran.
Sekonyong-konyong, secepat kilat lelaki itu
me-numplekkan bakul bambu yang disungginya itu ke depan, ternyata di
dalamnya berisi kapur Ramping.
Waktu Tjin Siu-pi
dapat menenangkan kembali dirinya dan memeriksa pasukannya, ternyata
sudah lebih dari separah yang terluka atau binasa, masih beruntung
Giam Tje-tjwan tidak ikut lolos.
"Giam Tje-tjwan, begitu
besar nyalimu, berani kau bersekongkol dengan kaum pengacau untuk
membegal tawanan di sini!" Bentak Tjin Siu-pi saking gemasnya karena
mengalami kerugian yang tak sedikit itu, ia pun menjadi gusar dengan
mata melotot.
"Tjin-taydjin,
hendaklah jangan asal memfitnah saja," jawab Giam Tje-tjwan yang
tidak menyerah mentah-mentah. "Aku tidak kenal siapa orang yang
datang tadi. kalau tidak, apakah aku bersedia terus tinggal di
sini?"
Setelah ia berpikir
sejenak, memanglah masuk diakal apa yang diucapkan Giam Tje-tjwan
itu. maka Tjin Siu-pi tak berani terlalu mendesak lagi.
"Meskipun kau tidak ikut
kabur, tetapi pengacau itu telah merampas tawanan she Teng itu,
tentu kau kenal mereka," kata Tjin Siu-pi lagi dengan lagu suara
yang sudah berubah.
Kemudian ia
perintahkan prajuritnya berangkat kembali ke Tjelam dengan
menggiring Giam Tje-tjwan.
Sementara itu
sesudah Pat-pi-long-kun berhasil menolong Teng Hong-ko, mereka
bertiga dengan cepat sudah meninggalkan kampung yang terjadi
huru-hara itu, waktu hari mulai gelap, mereka sudah menempuh tujuh
atau delapan puluh li, ketika itu mereka sudah sampai di bawah
lereng gunung Thay-san. Dalam malam yang remang-remang, akhirnya
mereka tiba di suatu perkampungan yang besar, di pintu gerbang depan
terlihat tertulis 'Mo-dji-tje' tiga huruf.
Ketika mereka masuk
ke ruang tengah, maka Hong-ko lantas menampak para pahlawan yang
pernah berkumpul di Pek-hoa-ho tempo hari, ada lima atau enam orang
di antaranya juga hadir di sini, begitu melihat mereka datang,
segera mereka bangkit berdiri menyambut.
Antara lain yang di
situ ialah It-tun Ki-su Si Liang, Tju-kat Beng dari Liong-bun-pang,
Liok Ing, To Dji-hay, Mo Djit, pemimpin Ang-hoa-hui Liu Ut dan masih
ada pula seorang imam yang tidak mereka kenal.
"Dia adalah Gui
Djing-si Totiang dari Djing-si-koan di Ong-ok-san," Si Liang
memperkenalkan pada mereka bertiga sambil menunjuk si imam. "Hari
ini justru ia datang kemari bersama Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le dari
Djit-hong-san, tetapi karena mendapat sesuatu kabar berita tentang
mutiara mestika di tengah jalan, Bun-tjetju telah mengirim
Gui-totiang memberitahukan ke sini dahulu."
Terhadap sahabat
baru itu, suami isteri Yan Ie-lam dan Teng Hong-ko maju memberi
salam perkenalan.
"Djing-si Totiang,
Bun-tjetju entah telah mendapatkan kabar apa?" tanya Hoa-lihiap
kepada kenalan barunya itu.
"Siauto bersama
Bun-tjetju datang dari Liu-ho, pada waktu ia berada di Ya-yao-kang,
ia telah mendapat kabar bahwa sebutir mutiara mestika secara
diam-diam telah dikirim dari Khay-hong, yang mengawal ialah dua
jagoan kelas berat dari Ko-yang-pay, masing-masing le Djan yang
berjuluk 'Sip-tiat-hong' dan Tji Tjing-hian yang berjuluk
'Hoan-san-kau', walaupun Bun-tjetju tidak kenal kedua orang ini,
tetapi sengaja ia hendak coba menguntit mereka."
"Oh, kiranya begitu!" kata Hoa-lihiap.
Setelah para
pendekar bertanya tentang pengalaman mereka tadi, akhirnya
Pat-pi-long-kun diam-diam menarik Si Liang menyingkir.
"Manusia macam
apakah Gui Djing-si itu? Tingkah lakunya aku lihat agak sedikit
mencurigakan!" tanyanya pada Si Liang.
"Aku pun belum
pernah berjumpa dengan dia," sahut Si Liang. "Cuma kabarnya beberapa
waktu yang lalu, ia adalah tokoh ternama dari kalangan Liok-lim di
Kwangwa dan berkumpul bersama 'Tiat-pi-goan' Song Kiat, belakangan
ia baru menjadi imam di Ong-ok-san, kedatangannya hari ini adalah
karena kenal dengan Tju-kat Beng dan Mo Djit, mereka sama-sama
adalah begal besar dari daerah Siamsay dan Sutjwan."
"Kini persoalannya
makin lama makin ruwet, 'Sam Po Tju' belum ada satupun yang jatuh di
tangan kita, tapi dari berbagai pihak sudah pada ikut mengincar,
agaknya kelak tak dapat terhindar dari percekcokan," ujar Yan Ie-lam
pula dengan menggeleng-geleng kepala.
Tengah mereka
berbicara, tiba-tiba Hoa-lihiap pun menyusul datang.
"Apakah kamu sedang
mempersoalkan si imam tua itu?" tanyanya menimbrung.
"Ya, Yan-toako
menguatirkan maksud kedatangan Gui Djing-si yang mungkin tidak
bersih!" sahut Si Liang.
"Memang aku pun
sedang hendak memperingatkan kau," tutur Hoa-lihiap. "Melulu seorang
Giok-bin-yao-hou saja kita sudah susah melayani, apabila kini
ditambah dengan seorang Gui Djing-si, imam tua yang biasa berlaku
tak bersih ini, jangan-jangan nanti nama baik kita ikut ternoda!"
Sungguhpun dalam
hari sudah menaruh curiga, tetapi menurut kebiasaan kaum Liok-lim,
siapa saja yang sudah ikut, tak mungkin ditolak lagi dan apa yang
akan dilakukan harus dirundingkan bersama. Maka malam itu juga, di
'Mo-dji-tje' terjaga rapi, bahkan penyelidik disebar hingga jauh,
sedang di ruangan besar markas mereka sedang berkumpul para pahlawan
untuk mempelajari rahasia apa yang terdapat pada senjata rahasia
dalam peti Teng Hong-ko itu.
"Apabila memang
benda-benda ini tidak mengandung rahasia, si pembesar anjing Tam
Ting-siang tentu tidak mungkin hanya dalam semalam saja telah
mengetahui barang-barang dalam peti ini sudah ditukar orang!"
Tju-kat Beng mengutarakan pendapatnya.
"Memang betul apa yang
Tju-kat-heng katakan," ujar Si Liang sependapat. "Menurut dugaan
Siaute, saudara Teng di tengah jalan tentu sudah dikuntit oleh
begundal Tjhi Djin-ho dan memperalat dirinya sebagai tameng mereka,
sebabnya ialah karena ia membawa 'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay,
siapa saja dari kalangan Liok-lim yang melihatnya sudah pasti tidak
mungkin mengganggunya."
"Perhitungan Si-toako
memang tepat juga." ganti Yan le-lam yang bicara. "Tetapi pada waktu
berada di Pek-hoa-ho, bukankah kita sendiri sudah memeriksa betul
barang-barang dalam peti dan memang tak tertampak sesuatu tanda yang
mencurigakan?"
Jika semua orang
sedang mengutarakan pendapat masing-masing dengan ramai, adalah Gui
Djing-si waktu itu sedang duduk di suatu sudut sambil mengelus-elus
jenggotnya, sepasang matanya yang melambai ke bawah sedang mengincar
'Sam-ling-piau' dan pelor besi yang terserak di atas meja.
"Aku ada satu usul,
entah bagaimana pendapat Tjuwi!" tiba-tiba ia berkata sesudah agak
lama.
"Djing-si Totiang,
kau yang sudah banyak berpengalaman dan berpandangan luas di
kalangan Hek-to (golongan hitam), jika ada pendapat bagus, silakan
katakan!" lekas Tju-kat Beng menyahut.
Imam tua itu
berbangkit, ia mendekati meja dimana tergeletak senjata rahasia yang
menjadi pokok persoalan, ia mengambil sebuah 'Sam-ling-piau* untuk
diperiksa, sesudah itu baru ia berkata pula.
"Senjata rahasia
dari Go-bi-pay ini terbikin dengan ketelitian yang luar biasa, tiap
piau dan tiap butir pelor besi mempunyai bobot yang sama tanpa beda
sedikitpun, di sini kini terdapat tiga buah Sam-ling-Piau dan dua
belas biji pelor besi, kita boleh menyediakan alat timbangan dan
menimbang tiap barang ini."
Mendengar usulnya
itu, para benggolan yang hadir itu mau tak mau harus mengakui
kecerdikan pikirannya.
"Memang bagus
sekali pendapat itu," kata Si Liang memuji.
Kemudian ia
perintahkan penjaga mengambil alat penimbang, Gui Djing-si sendiri
mengukur timbangan tiap-tiap buah senjata piau itu, ternyata ketiga
piau itu mempunyai bobot yang sama tanpa beda. Menyusul itu adalah
peluru besi yang harus ditimbang, satu persatu ditimbang, sampai
pada biji pelor ketujuh, tiba-tiba diketahui bahwa beratnya jauh
lebih enteng dari yang lain.
"Peluru ini
berperut kosong!" Gui Djing-si berseru girang tak tertahan. Keruan
saja para benggolan itu seketika berkerumun maju ke pinggir meja,
sementara itu Si Liang yang telah memeriksa dengan teliti di bawah
sinar api lilin, akhirnya terbukti juga memang 'Thi-wan' atau peluru
besi itu terdapat tanda satu garis kecil di tengah-tengahnya.
Hoa-lihiap tampil
ke muka, ia menyambut peluru besi itu, dan ia menggelar
saputangannya di atas meja. Kemudian terlihat ia menekan dan memutar
peluru besi itu, maka sesaat kemudian tertampaklah selarik sinar
putih menyilaukan pandangan orang, ternyata di dalam peluru besi itu
menggelundung keluar sebutir mutiara sebesar biji buah kelengkeng
yang bersinar gemerlapan tersorot oleh sinar lampu hingga
menyilaukan mata.
Hoa-lihiap
menjemputnya dan ditaruh kembali ke saputangannya, mutiara itu
begitu licin mengkilap, makin dilihat makin menyenangkan, tidak
salah kalau dikatakan mutiara mestika yang jarang diketemukan.
Saking kagumnya
para benggolan itu, sampai seketika keadaan menjadi sepi, betul
mereka terhitung benggolan di daerahnya masing-masing, harta benda
dan emas berlian atau batu permata yang sudah mereka rampas pun
tidak sedikit, tetapi sesungguhnya belum pernah mereka melihat
mutiara secantik dan sebesar ini, saking takjubnya hingga lupa
daratan menatapkan sinar mata mereka yang mengandung perasaan kagum
dan serakah, sampai rahasia cara bagaimana pelor besi tadi bisa
terbuka sudah tak mereka perhatikan lagi.
"Barang ini terbikin sedemikian rapinya,
tempat sambungan ini dirapatkan dengan beralur-alur, kalau bukan
orang dengan tenaga jari sudah terlatih, tentu susah untuk
membukanya," kata Si Liang sembari menjemput kedua belah peluru besi
tadi.
Sudah tentu para
benggolan itu pun ikut memuji, karena pelor besi itu kecuali
mempunyai berat yang tidak sama, soal besar kecilnya memang tiada
perbedaan.
"Kalau begitu,
saudara Teng di perjalanan tidak saja sudah dikuntit oleh cakar
alap-alap, bahkan barang dalam peti ini pun sudah ditukar orang!"
ujar Tju-kat Beng.
"Yang tertukar
melulu hanya sebiji saja," dengan tertawa Yan le-lam berkata. "Aku
dapat menduga tentu ini adalah akal bulus Tjhi Djin-ho, lebih dulu
ia sudah mengetahui Teng-heng mempunyai 'pedang perjalanan' dari
Go-bi-pay, maka ia telah memperalat dirinya sebagai orang pengantar
mutiara, cuma sayang, setelitinya dia masih ada yang kelupaan juga,
ia telah lupa bahwa peti kayu cendana itu mirip betul dengan peti
yang berisi 'Tjin-tju-goan' itu, hingga sebab itu telah banyak
menimbulkan perhatian orang Kangouw, berbareng itu ia pun
menunjukkan kegelisahannya, hingga menimbulkan kecurigaan kita
terhadap tingkah laku Tam Ting-siang."
Kiranya pada malam
Teng Hong-ko hendak menggunakan kendaraan sungai pada permulaan
perjalanannya di Hong-ho, malam itu angin keras dan ombak besar,
tetapi pada saat yang demikian itu ada dua bayangan hitam yang
menyelundup masuk ke kapal dimana ia menumpang, kedua tamu aneh ini
adalah begundal Tjhi Djin-ho. Di luar tahu Hong-ko, mereka telah
berhasil membuka petinya serta dapat menukar sebutir pelor besi yang
lain dimana di dalamnya tersimpan mutiara mestika tadi. Tetapi
akhirnya tak urung ternyata jatuh juga di tangan para benggolan itu.
Sudah tentu dengan
hasil pertama mereka itu, mereka merayakan dengan meriah, dan
Hoa-lihiap pun diangkat oleh mereka sebagai orang yang harus
menyimpan baik-baik mutiara mestika itu, sambil menanti hingga
ketiga-tiganya sudah sampai di tangan mereka semua, baru akan
menetapkan cara pembagian rezekinya.
Sementara itu sudah
diperoleh kata sepakat tentang hasil mereka, maka terdengarlah Gui
Djing-si berkata pula sambil mengelus-elus jenggotnya yang pendeic,
"Saudara-saudara sekalian, si jahanam Tjhi Djin-ho ini banyak tipu
muslihatnya, mutiara ini belum tentu tulen, kita harus mencoba,
diuji dahulu."
"Gui-totiang," ujar
Tju-kat Beng. "Kalau melihat warna mutiara ini yang bersinar
mengkilap, apakah mungkin barang itu tiruan!"
"Ya, seumpama bukan
barang palsu toh kita harus mencobanya juga," sahut Gui Djing-si.
"Seperti kita ketahui, mutiara yang bertabur di atas Tjin-tju-goan
yang besar adalah tiga butir, masing-masing ialah 'Ting-hong-tju',
'Pi-hwe-tju' dan 'Gi-han-tju', kini baru mendapatkan satu di antara
ketiganya, bukankah kita harus mencoba mutiara yang kita dapatkan
ini termasuk yang manakah di antara ketiga mutiara itu?"
Atas keterangan
itu, beberapa benggolan yang hadir lantas menyatakan akur dengan
pikiran si imam tua.
"Dan cara bagaimana
Totiang hendak mencobanya?" tanya Yan Ie-lam.
Ternyata Gui
Djing-si memang orang cerdas, dalam sekejap saja ia sudah
mendapatkan akal.
"Itu tidak sulit,"
katanya kemudian, "Umpamakan saja kita anggap dia sebagai
'Pi-hwe-tju', kita nyalakan api pada satu gundukan, siapa yang
berani membawa mutiara itu terus melompat masuk ke dalam api, dengan
begitu bukankah segera akan bisa dibedakan?"
"Hendaklah Totiang
jangan gegabah dengan permainan begitu," sahut Hoat-giam-ong Mo Djit
dengan tertawa. "Apabila mutiara itu bukan 'Pi-hwe-tju', bukankah
orang yang melompat masuk ke dalam gundukan api akan hangus?"
"Itu pun gampang, kalau
tiada yang berani, serahkan saja tugas itu kepada aku si imam
melarat ini," Gui Djing-si menambahkan puta.
Setelah usul Gui
Djing-si diterima, lantas ia menetapkan pada esok hari hendak
menyusun gundukan kayu kering untuk dibakar buat menguji mutiara
mestika itu.
Malam itu Si Liang
dan Yan-Ie-lam tinggal bersama satu kamar, ia berkata padanya,
"Yan-toako, hari ini kalau bukan Gui-totiang yang mendapatkan akal,
kita boleh jadi belum dapat menemukan tempat dimana mutiara itu
disimpan!"
"Lambat atau cepat
akhirnya akan ketahuan juga, dia hanya sedikit lebih licin dari
kita, malah sekarang pun aku masih menaruh curiga padanya," sahut
Yan le-lam.
"Pantas kau tidak
pernah berpisah selangkah pun dari dia," dengan tertawa Si Liang
berkata. "Cuma kalau dia berani sembrono di hadapan kita, begitu ia
mencoba bertingkah, mungkin kepalanya sudah berpisah dengan
tubuhnya!"
Besoknya, pagi-pagi
sekali sudah tampak Gui Djing-si memimpin beberapa orang sedang
menumpuk kayu bakar, ia telah menumpuk beberapa puluh batang kayu
yang melintang hingga dekat dengan pintu gerbang benteng mereka,
setelah itu ia menyiram pula dengan bahan-bahan yang mudah terbakar
oleh api, sebangsa belerang dan lain-lain.
Pada waktu dekat
lohor, para pemimpin telah muncul semua di pelataran depan itu,
tetapi ketika mereka melihat tumpukan kayu itu tertimbun begitu
banyak dan panjang, mereka semua agak kurang mengerti.
Kemudian Si Liang
memerintahkan mulai menyalakan api, karena sudah disiram dengan
bahan-bahan pembakar, maka dalam sekejap saja api sudah menjalar ke
seluruh gundukan kayu hingga seketika merupakan lautan api.
Sementara itu
Hoa-lihiap sudah memegangi sebuah kotak kecil yang di dalamnya
berisi mutiara mestika mereka.
"Hoa-lihiap,
silakan serahkan mutiara itu pada Pin-to!" pinta Gui Djing-si
sesudah tiba saatnya.
Akan tetapi Hoa Sian-bu tidak lantas
menjawab, ia melirik sekejap pada suaminya.
"Nanti dulu!"
tiba-tiba ia berkata. "Kita kirim beberapa orang melingkari gundukan
api ini, agar bila terjadi sesuatu yang membahayakan Gui-totiang,
kita bisa segera menolong."
Gui Djing-si
mengerti dirinya dicurigai jangan-jangan begitu memegang mutiara
segera ia kabur. Namun ia tetap berpura-pura tenang saja.
"Begitupun baik,"
sahutnya kemudian. "Aku sendiri tidak begitu yakin akan berhasil,
jangan-jangan mutiara ini bukan Pi-hwe-tju bisa-bisa aku terbakar
hidup-hidup!"
Sementara itu api
sudah berkobar-kobar hingga menjulang tinggi.
Selagi Hoa-lihiap
hendak memerintahkan orangnya berjaga-jaga melingkari gundukan api,
mendadak terdengar pula Gui Djing-si berkata, "Api sedang berkobar
dengan hebatnya, Hoa-lihiap coba keluarkan mutiara itu dan jalan
mendekati gundukan api, kemudian menyebutnya, apabila betul mutiara
itu adalah Pi-hwe-tju, maka api yang menjilat-jilat itupun akan
berkurang."
Karena perkataannya masuk
akal juga, maka Hoa-lihiap membuka kotaknya dan menaruh mutiara itu
di tengah tangannya mendekati api, tetapi baru saja ia membuka
tangan dan hendak disebul, sekonyong-konyong ada sambaran angin yang
san-tar terus menggulung hingga mutiara itu ikut bersama sambaran
angin itu, menyusul mana terlihat Gui Djing-si meraup mutiara itu
terus melompat menerobos masuk ke dalam gundukan api.
Perbuatan Gui
Djing-si yang mendadak itu telah membikin Yan Ie-lam dan kawan-kawan
tercengang seketika, sehingga tak mampu berbuat banyak, sementara
itu Gui Djing-si telah menggunakan kepandaiannya
'Kian-khun-siu-tju-hong' atau angin menyambar dari balik lengan
baju, ia sanggup menyerobot benda itu sejauh beberapa kaki.
Perbuatannya yang secepat kilat dan di luar dugaan para benggolan
yang hadir, hanya beberapa orang saja yang bisa melihat ia
menyerobot mutiara mestika.
Sementara itu Hoa-lihiap dengan pedang
terhunus segera mengudak dengan menerjunkan diri ke dalam lautan api
juga.
Keruan saja yang
paling kaget rasanya ialah Yan Ie-lam, lekas ia melompat tinggi
sambil sekali jumpalitan di atas, ia menyambar tubuh isterinya di
antara api yang berkobar-kobar itu untuk kemudian terus mencelat
keluar pula.
"Api begitu besar
jangan kau gegabah!" dengan napas memburu ia mengomeli isterinya
itu.
Saat mana api
sedang menyala dengan hebatnya hingga seluruh markas mereka
seakan-akan terkurung oleh lautan api dan asap.
Dengan tipu
muslihat Gui Djing-si coba merebut Po-tju, sebenarnya ia sendiri pun
belum yakin apakah Po-tju itu yang anti api atau bukan, maka dengan
kehebatannya yang luar biasa, la dapat mengantongi mutiara mestika
itu, walaupun sedikit jenggot dan rambut tidak urung terbakar
hangus, namun tidak berarti baginya.
Setelah berhasil,
maka segera ia meninggalkan Mo-dji-tje dan cepat angkat langkah
seribu turun gunung.
Selagi ia berlari
dengan cepatnya, mendadak ada bayangan orang berkelebat, menyusul
mana dari pohon di depannya telah muncul seorang dengan gesit
sekali, waktu ia menegasi, ternyata hanya seorang wanita dengan
mukanya setengah tertutup dengan kain. Mengenakan pakaian ringkas
warna gelap, di pinggangnya terikat angkin yang melambai-lambai
tertiup angin.
Seketika Gui
Djing-si tertegun oleh kemunculan wanita yang mendadak ini, ia
membatin kedatangan wanita ini begini aneh, coba akan kulihat dahulu
orang macam apakah dia ini.
Akan tetapi tanpa
berbelit-belit si wanita itu telah menegurnya dengan terus terang,
"Gui Djing-si lekas kau tinggalkan mutiara itu, jangan sampai nonamu
turun tangan sendiri!"
Mendengar teguran
orang, si imam tua ini semakin terkejut, melihat gelagatnya rupanya
wanita ini adalah segolongan dengannya, namun di antara tokoh-tokoh
dalam kalangan Hek-to di Soatang selamanya belum pernah ia dengar
ada terdapat seorang begal wanita muda.
"Oh, kiranya nona
adalah orang sesama garis kita, sayang mutiara itu masih berada
dalam tangan suami isteri Yan Ie-lam dan belum mau menyerahkannya,"
sahutnya dengan muka tertawa.
Tak tahunya wanita
muda itu tidak gampang percaya, dengan alis menegak segera ia
mendamprat, "Bohong kau! Melihat tubuhmu saja yang masih membawa bau
hangus, terang Po-tju itu sudah terserobot lari olehmu, masih berani
kau jual lagak di depan nonamu!"
Habis berkata, sinar
pedangnya berkelebat, dengan segera ia sudah hendak menerjang maju.
"Tahan dulu nona!"
lekas Gui Djing-si berseru sambil mundur memberi hormat. "Tunggu
dulu, Pin-to akan mengambilnya keluar."
Lalu ia merogoh ke
dalam sakunya seakan-akan hendak mengambil sesuatu, namun bukan
mutiara yang ia keluarkan, sebaliknya pada waktu tubuhnya menegak
kembali, secara mendadak ia mengayunkan tangannya, menyusul
terdengar suara gemerincing dengan membawa sinar gemerlapan, ada
secomot benda mengkilap dengan cepat menyambar ke muka gadis tadi.
Senjata ini adalah
senjata tunggal yang khusus dipelajari Gui Djing-si yang disebut
'Tui-hun-tjiam' atau jarum pemburu nyawa, ialah terdiri dari belasan
jarum yang lembut, ujung jarum sudah direndam dengan air berbisa,
begitu mengenai tubuh segera bisa terbinasa.
Tak terduga gadis
itu dengan gampang saja telah enjot tubuhnya setinggi tujuh atau
delapan kaki, dan lewatlah jarum pemburu nyawa itu dari bawah
kakinya. Berbareng mana bayangan orang berkelebat pula, angin tajam
telah menyambar ke muka si imam tua.
Rupanya Gui
Djing-si mengetahui adanya sambaran angin Bu-kek-kiam dari
Bu-tong-pay, begitu angin sampai pedangnya tentu menyusul tiba juga,
maka lekas ia melompat pergi sambil menyampuk dengan angin
pukulannya, dengan Lwekangnya yang cukup kuat ia pikir dapat
menggoncang pergi pedang lawan.
Akan tetapi dalam
sekejap itu, terasa juga olehnya angin mengiris lewat di atas
kepalanya dan ikat rambutnya terurai, baru ia insyaf bahwa pedang si
gadis sudah berhasil membabat topi imamnya hingga rambutnya ikut
terbabat.
Saking
terperanjatnya ia melompat naik setinggi-tingginya dan dalam
kesempatan itu ia melolos pedangnya sendiri yang terselip di
punggungnya.
Sementara itu terdengar gadis itu tertawa
terbahak-bahak.
"Gui Djing-si, tadi
nonamu telah mengampuni jiwamu, apa betul kau masih hendak
bertanding denganku, nah boleh kau lihat dalam tiga gebrak saja
nonamu nanti akan mengambil jiwamu!" katanya menghina.
Begitu habis
suaranya, pedangnya pun berbareng bergerak, ia menyabet Gui Djing-si
dengan gerak tipu 'Hi-djin-bang' atau menangkap ikan menebar jala,
pedangnya menangkis dari bawah, ia berniat menempel pedang lawan
untuk menjajal tenaga dalamnya.
Tak ia duga, begitu
pedang beradu, segera terdengar suara nyaring dan pedangnya hampir
terlepas dari tangannya. Lekas ia menggeser langkah dan memutar
badannya, ia tarik pedang ke depan dada dan tangan kirinya membantu
tangan kanan yang menghunus pedang, ia putar senjatanya secepat
kilat, beruntun ia membikin beberapa kali putaran.
Gerakannya ini
cukup sebat dan lihai dengan mengandung banyak perubahan lainnya,
apabila pedang lawan beradu lagi. maka tenaga senjatanya bisa
mendadak terkumpul di tengah, terus menusuk ke tenggorokan lawan,
kalau belum mengetahui cara menangkisnya, sering kali bisa
diselomoti oleh tipunya ini.
Namun gadis itupun
tidak gampang diakali, ia menarik pedangnya terus mengikuti gerak
senjata si imam sehingga terlepas dari garis ancaman. Cara bagaimana
ia bertindak melepaskan diri, Gui Djing-si tak bisa mengetahuinya,
maka dalam kegugupannya ia hendak mengubah serangannya pula, tetapi
sudah terlambat, tiba-tiba pergelangan tangannya sudah terasa pegal,
urat nadinya sudah terpencet oleh tangan si gadis yang datangnya
secepat kilat, seketika itu juga seluruh badannya terasa kaku
kesemutan dan pedangnya pun terjatuh.
Dengan sekali
bentak, maka tanpa berdaya si imam tua itu telah berlutut sambil
berulang-ulang memohon, "Nona, ampuni jiwaku!"
"Masih tidak kau
keluarkan mutiara itu, apakah kau minta batok kepalamu diberi
lubang?" bentak si gadis pula sambil pedangnya menempel ke belakang
kepala si imam.
Pada saat demikian
ini, sudah tentu Gui Djing-si tak bisa main akal bulus lagi,
selamatkan jiwanya paling penting, terpaksa ia merogoh saku dan
menyerahkan Po-tju atau mutiara mestika yang baru saja ia dapat
merampasnya itu.
Begitu mutiara itu
sudah berada di tangannya, gadis itu segera mendupak sambil
membentak pula, "Enyahlah kau!"
Imam itu terdupak
hingga menggelundung jumpalitan pergi sejauh beberapa tombak.
Sudah itu, si gadis
memeriksa mutiara yang berada di tangannya itu di bawah sorotan
sinar matahari, kemudian dengan sekali suitan panjang, laksana
segulungan bayangan hitam ia melayang pergi menghilang di antara
hutan belukar.
Begitulah, sia-sia
belaka usaha imam tua dari Ong-ok-san itu, barang diperolehnya
dengan gampang, hilangnya pun mudah dan sekejap saja, dengan
memandang bayangan belakang si gadis dalam matanya penuh mengandung
api kegusaran, namun apa daya, kepandaiannya kalah dengan orang.
Ia merangkak
bangkit, berulang-ulang ia menghela napas gegetun, rasa girang yang
tadinya memuncak kini buyar seketika. Sementara itu karena takut
disusul oleh para pemimpin gerombolan yang diingusi dirinya, lekas
ia berangkat pulang ke Ong-ok-san laksana anjing buduk yang terusir.
Sampai waktu
magrib, ternyata belum beberapa puluh li yang ia tempuh, sedang
rasanya ia sudah payah dan susah melangkah pula. Tiba-tiba ia lihat
di bawah sebuah bukit ada sebuah bio atau rumah biara tua, di depan
pintu tertampak ada seekor kuda putih yang tertambat di situ dengan
pelana yang bagus bersulam, ia menjadi girang, pikirnya siapa yang
menambat kuda di sini, justru aku bisa meminjamnya buat
perjalananku.
Tanpa ia tegasi
kuda itu pula, begitu membuka tali tambatan, segera ia mencemplak
dan dilarikan dengan cepat. Akan tetapi di luar dugaannya baru
beberapa langkah kudanya kabur sekonyong-konyong di belakangnya
terdengar suara bentakan nyaring dan secepat angin telah ada orang
yang memburunya.
Namun ia tidak
menggubris, katanya dalam hati, "Kudamu sudah berada di tanganku,
betapa cepat kau memburu, tak nanti kau bisa menyandak!"
Begitulah dengan
sedikit mendekam di atas kuda itu, ia kabur secepat mungkin.
Tak ia duga tiada
seberapa jauh kudanya dilarikan, mendadak ia sudah merasakan
tubuhnya terapung, dari belakang terasa ada orang menjambretnya
terus diangkat dan dibanting pergi. Ia terlempar menggelundung
hingga kepalanya merasa pening karena terbanting.
Apabila kemudian ia
telah menenangkan semangatnya, baru ia membuka matanya, di antara
senja yang remang-remang ia lihat di atas kuda putih tadi sudah
bertambah seorang wanita cantik yang bukan lain ialah
'Giok-bin-yao-hou' Bun Sui-le.
Giok-bin-yao-hou
atau si siluman rase bermuka ayu, Bun Sui-le ini memang adalah
seorang gadis cantik molek sesuai julukan yang orang berikan
padanya, usianya tidak lebih hanya 24-25 tahun, asal-usulnya tak
diketahui orang, hanya melihat kiam-hoat yang dimilikinya itu terang
adalah ahli waris dari Thian-san-pay.
Ia masih memiliki
satu kepandaian lain, ialah dua kaitan di bawah sepatunya, kakinya
yang kecil mungil, pada sepatunya terpasang kaitan tajam yang
menyelip di bawah, apabila kakinya menendang, dimana tempat yang
terkena segera akan tergurat seperti diiris pedang tajam, tidak
sedikit jagoan dari Liok-lim yang kena diselomoti hingga rada jeri
bila mendengar nama-nya.
Biasanya ia hanya
makan yang besar dan tidak makan yang kecil, pembesar-pembesar korup
dan hartawan-hartawan pemeras apabila bertemu dengannya pasti tidak
diberi ampun lagi. Masih ada keistimewaannya lagi yang sangat
menghebohkan kalangan Hek-to atau golongan gelap, ialah orang lain
bila memperoleh rezeki, maka harus pula membagi padanya sepertiga
bagian, kecuali kalau ia tidak meminta, sebaliknya tiada yang berani
menolak.
Dengan peraturannya
itu, semua orang Liok-lim sudah tentu tidak bisa menurut begitu
saja, tetapi belakangan setelah dua pemimpin kelas satu dari
Liok-lim di daerah Tjwan-siam (Su-tjwan dan Siamsay) kena
dibinasakan dan dipotong-potong menjadi empat keping terus digantung
di atas Kiam-kok, keruan saja seketika itu telah menggetarkan
seluruh pemimpin kalangan Liok-lim dan sesudah itu tiada yang tak
jeri bila berhadapan dengannya.
Gui Djing-si, si
imam dari Ong-ok-san itu sudah lama kenal kelihaian
Giok-bin-yao-hou, kali ini dengan sengaja ia mengajaknya ke Soatang,
sepanjang jalan ia sudah menghasut agar merebut Po-tju itu, namun
Bun Sui-le telah mendamprat dia sebagai pengecut dari kaum Liok-lim,
maka Gui Djing-si tak berani coba-coba menyebutnya lagi, kemudian
dengan sesuatu alasan, ia memisahkan diri dan mendahului ke
Mo-dji-tje untuk menipu dengan akal bulusnya. Tak tersangka di
tengah jaian hasil rampasannya kena direbut pula oleh si gadis
bertopeng, kini ia hendak mencuri kuda, kembali kebentur pula dengan
Bun Sui-le, keruan saja dengan tubuh gemetaran ia mendekam di tanah
sambil memberi hormat dengan menundukkan kepala sampai menempel
tanah tiada hentinya.
"Sui-kohnio, maafkan aku yang bermata anjing
tak bisa mengenali kuda ini adalah milik Kohnio, aku telah berlari
kebingungan hingga Kohnio datang masih belum tahu, sungguh harus
dihukum!" ia meminta ampun.
Habis berkata, ia
ketok-ketok batok kepala sendiri dengan keras.
Dengan melirik Bun
Sui-le memandangnya sekejap, ia membiarkan imam celaka itu
ketok-ketok kepalanya, sesudah cukup rupanya baru ia bertanya, "Kau
tua bangka ini, mengapa begitu gugup berlari-lari?"
Celaka, apabila aku
berterus terang mungkin jiwaku bisa lenyap seketika, begitu pikir
Gui Djing-si, maka lantas ia menjawab dengan berdusta.
"Kohnio, orang
telah menghinakan aku, mereka telah berhasil memperoleh sebutir
Po-tju, karena takut kita minta bagian, aku telah diusirnya pergi,"
dengan rupa harus dikasihani ia menutur.
Akan tetapi dengan
memandang lagaknya itu, Bun Sui-le sudah dapat mengetahui pasti ia
sedang berbohong.
"Siapa yang menghinakan kau?" sengaja ia
bertanya.
"Siapa lagi kalau bukan
Yan Ie-lam yang disebut Pat-pi-long-kun itu, mereka suami isteri
malah telah mengejar aku hendak mengambil jiwaku" sahut si imam tua
dengan berlagak.
"Bohong!" tiba-tiba
terdengar Giok-bin-yao-hou membentak nyaring.
Entah sejak kapan
ia telah melolos seutas pecut panjang, dengan sekali menyabet, cepat
sekali imam tua itu sudah terlilit hingga terangkat ke atas dan
diputar di angkasa. Keruan saja Gui Djing-si berteriak ketakutan dan
akhirnya jatuh pingsan
Apabila kemudian ia
tersadar kembali, maka ia merasakan dirinya sudah rebah di bawah
emperan bio kuno itu, sedang Giok-bin-yao-hou terlihat sedang
menyalakan segundukan api dan lagi memanggang sekor kelinci, dengan
pisau ia mengiris daging panggang itu terus dimasukkan ke mulurnya,
bau wangi kelinci panggang itu membikin Gui Djing-si yang memangnya
sudah haus dan lapar jadi mengiler.
Tetapi kemudian ia
teringat, ia heran mengapa Giok-bin-yao-hou tidak membunuhnya?
Ia coba menggeraki
tubuhnya, namun dengan segera satu sinar putih menyambar menuju
padanya, ternyata Bun Sui-le telah menimpukkan pisau belati yang
menyerempet lewat di atas mukanya dan terus menancap pada tiang
emperan, hampir saja nyawanya melayang apabila terkena, saking
terperanjatnya hingga imam tua celaka itu bermandi keringat dingin.
"Anjing keparat,
berani kau coba mendustai aku." sementara terdengar Bun Sui-le
mencaci maki. "Melihat jenggot kambingmu yang sudah terbakar, terang
mutiara itu sudah kau rebut dan kaubawa kabur, kalau kau masih
sayang jiwamu lekas mengaku terus-terang, jangan sampai nonamu turun
tangan pula."
Baru kini Gui
Djing-si mengerti bahwa Giok-bin-yao-hou tidak membunuhnya karena
sudah mendakwa dia mencuri mutiara mestika, waktu ia memeriksa,
tampak jubahnya sudah robek teriris, terang orang sudah menggeledah
tubuhnya, la insyaf apabila tidak bicara apa yang terjadi
sebenarnya, pasti banyak kegetiran yang harus dirasakannya pula.
Terpaksa dengan suara terputus-putus ia menceritakan semua
pengalamannya dari penemuan sebutir Po-tju di Mo-dji-tje, hingga
akhirnya dirinya telah menggondolnya merat dengan akal bulus, tetapi
kemudian di tengah jalan telah dirampas lagi oleh seorang gadis
bertopeng.
"Dan siapa gadis
bertopeng itu?" tanya Bun Sui-le sesudah mendengar penuturannya,
melihat rupa imam celaka yang menyedihkan itu, ia tahu kali ini
tentu tidak berani berbohong lagi.
"Di daerah Soatang
sini, aku yang rendah tidak ingat ada kaum Liok-lim wanita yang
berkepandaian seperti dia itu," sahut Gui Djing-si. "Usianya masih
lebih muda dari Kohnio, yang dimainkannya ialah Bu-kek-kiam-hoat,
tampaknya adalah anak murid terpuji dari Bu-tong-pay, kalau Kohnio
hendak mengejarnya kiranya masih bisa memburu."
Sambil mendengarkan, Bun Sui-le sembari
membatin juga.
imam tua ini pun memiliki kepandaian yang
tidak rendah, tetapi mengapa dalam dua tiga gebrakan sudah bisa
dikalahkan, tampaknya gadis itu bukan main asal-usulnya
Memang sudah
wataknya yang suka pukul yang keras dan menyerah pada yang lemah,
seumpama Gui Djing-si tidak bilang, ia pun bemiat mengejar si gadis
itu, pertama ia hendak melihat macam wanita apakah bisa
berkepandaian tinggi, kedua ia hendak merebut kembali mutiara
mestika itu, agar tidak memalukan kaum Liok-lim di daerah Tjwan-siam
yang diingusi hanya oleh seorang gadis saja.
Ia membiarkan kuda
putihnya yang bagus itu ditunggangi Gui Djing-si sedang ia sendiri
dengan mengunjukkan kepandaiannya berlari cepat 'Tjhau-siang-hui'
atau terbang di atas rumput, dengan kencang ia mengikut di belakang
kuda Gui Djing-si menuju ke tempat terjadinya perampasan tadi.
Setelah sampai di
hutan lebat yang mereka tuju, Giok-bin-yao-hou melepas kudanya di
bawah pohon dengan mencoret satu bundaran dengan batu di tanah, ia
tepuk-tepuk kudanya dan tanpa ditambat, kudanya itu ternyata sudah
menurut sekali berdiam dalam bundaran dan tidak melanggar kalangan.
Kemudian mereka
berdua terus menyelusup maju sampai di tengah bukit, keadaan sudah
gelap, tetapi remang-remang mereka nampak di atas puncak bukit ada
sinar api, dengan kepandaian mereka yang gesit dan cepat, tak lama
mereka sudah mendaki sampai di atas, di bawah sebuah tebing puncak
ternyata ada rumah gubuk dan sinar api tembus keluar dari rumah ini.
Kuatir kalau si
imam tua ilmu entengi tubuhnya masih kurang sempurna, Bun Sui-le
berpesan agar dia bersembunyi saja di belakang sebuah batu besar dan
tidak peduli apa yang bakal terjadi, tak boleh ia sembarangan
bergerak.
Kemudian ia sendiri
dengan gerakan 'Tong-long-yao-poh' atau belalang melangkah lompat,
ia memanjat sampai di atas tebing itu, sedang di bawah kakinya
berada rumah gubuk itu. Menyusul mana ia menggunakan gerakan
'Pwe-pi-he-khe' atau menyandar pada dinding turun ke tebing, ia
merembet pelahan turun ke wuwungan rumah, dengan sekali lompatan
enteng ia sudah menancapkan kakinya di atas rumah tanpa mengeluarkan
suara sedikitpun.
Apabila kemudian ia
menyingkap sedikit atap gubuk dari alang-alang dan mengintip ke
dalam, maka tertampak olehnya di dalam rumah itu ada seorang gadis
jelita yang sedang membolak-balik memeriksa sesuatu barang. Dimana
sinar mata Bun Sui-le menatap, tepat yang ia lihat ialah sebutir
barang yang bersinar mengkilap dan tak jelas benda apakah
sebenarnya.
Pada saat itu juga,
tiba-tiba terdengar suara seruan di dalam rumah, menyusul mana
dengan cepat sinar api telah disirap.
Bun Sui-le cukup
cerdik begitu ia melihat api dipadamkan di dalam rumah, secepat
kilat ia sudah menggunakan gerakan 'Li-tjo-ling-yan' atau burung
layang-layang meninggalkan sarang, tubuhnya melayang naik, menyusul
itu dari bawah segera tertampak dua sinar hijau yang menyambar
keluar melalui atap rumah itu dan lewat menyerempet di sampingnya.
Diam-diam Bun
Sui-le bersyukur terlepas dari bahaya itu. tetapi tak ia duga, dalam
sekelebatan itu bayangan orang pun sudah sampai, sekejap saja gadis
di dalam rumah tadi pun sudah muncul di hadapannya.
"Perempuan liar
darimanakah berani mengintip nonamu ini!" terdengar orang telah
membentak dengan tertawa dingin.
Dengan sendirinya
Bun Sui-le mundur selangkah untuk mengeluarkan senjatanya, kemudian
ia mengawasi lawan yang dihadapinya ini.
Ternyata si gadis
ini memakai baju dan celana singsat ringkas, sepatu kain yang tipis
dan ikat pinggang berwarna merah jambu, senjata pedang terhunus di
tangannya, ia berdiri dengan tegak, angkinnya melambai-lambai
tertiup angin malam. Bun Sui-le terpesona oleh gadis di depannya
ini.
Sementara si gadis
itu pun sedang memandang padanya, namun segera ia mendahului
membentak pula.
"He, apa yang kau
pandang? Berani datang mengapa tak berani lantas bergebrak!"
Belum pernah
Giok-bin-yao-hou dihinakan orang, kena dipancing oleh perkataan
gadis itu, segera pedangnya lantas menusuk, dengan tipu
'Ping-niau-thio-ie' atau burung garuda pentang sayap, begitu pedang
si gadis menangkis, dengan segera pedangnya ia sampuk terus
dibarengi dengan melangkah maju, tangannya yang lain dengan gerak
tipu 'Bok-ie-djiu' atau pukulan menubruk cepat, segera ia menjojoh
ke bawah dada orang.
Akan tetapi waktu
melihat gerak serangan lawan, gadis itu ternyata tidak lantas
menyambut tusukan orang, ia hanya sedikit berjongkok terus dengan
cepat ia menggunakan tipu 'Djiu-hun-pi-pe' atau tangan menabuh pi-pe
(alat musik mirip gitar), dengan ujung pedang mengarah ke atas, ia
pentang tangannya yang lain melindungi dadanya, begitu pedang beradu
segera tergon-cang pergi berbareng. Sementara itu Bun Sui-le pun
urung melontarkan gerak tipu 'Bok-ie-djiu', kepalannya lekas ia
tarik kembali.
Kiranya begitu ia
melihat si gadis melontarkan tipu gerakan itu, segera ia mengetahui
lawannya ini bukan lawan semba-rangan dan siang-siang sudah dapat
menduga apa yang hendak ia lakukan.
Dalam pada itu,
begitu ujung pedang tergetar, segera gadis itu melangkah maju pula
dan beruntun menyerang dua kali dengan cepat, dengan mundur dua
langkah barulah Bun Sui-le dapat menahan tusukan lawan itu, namun
demi melihat sebelah bawah musuh tidak terjaga baik. segera ia
menikam dengan satu gerakan pancingan, sampai di tengah jalan
mendadak ia menekan pedangnya ke bawah terus dengan cepat sekali ia
membabat ke kaki musuh.
Begitu serangan si
gadis tadi tak berhasil dan mendadak ia melihat senjata orang
berkelebat menyapu kakinya, secara gesit sekali ia enjot tubuhnya
dan melompat naik dengan sedikit miring, sedang pedangnya pun
berbareng membacok mengarah kepala Giok-bin-yao-hou.
Serangannya itu
begitu cepat dan tiba-tiba laksana bintang jatuh dari atas langit,
Giok-bin-yao-hou, si siluman rase bermuka ayu, yang sedang mengkerut
tubuh dan menyerang, ia tak menduga pedang lawan bisa begitu cepat,
maka buru-buru ia menarik senjatanya dan tubuhnya mengegos ke
samping, dengan setengah merebah ia menyanggah dengan tangan kanan,
terus ia barengi dengan gerak tipu 'Ho-ping-kiu-li' atau merebah di
tanah es memohon ikan mas, pedangnya mengacung ke atas terus
membentur senjata musuh yang sedang menikam dengan hebatnya itu.
Melihat lawannya
masih setengah rebahan, gadis itu menekan pedangnya ke bawah hingga
suara nyaring beradunya senjata terdengar keras, dalam sekejap itu
Giok-bin-yao-hou menjadi murka, ia mengunjukkan tipu serangannya
yang ganas dengan kakinya, pada kesempatan kedua senjata masih
beradu, ia menggeser tubuh dan berbareng kedua kakinya menendang
dengan cepat membawa dua titik sinar yang mengkilap yang bukan lain
ialah kaitan tajam yang terselip di bawah sepatunya.
Namun pandangan
mata si gadis ternyata cukup jeli, dengan mengangkat kedua bahunya
ia berjumpalitan, kedua kaki yang bersenjata tajam dari Bun Sui-le
itu menyerempet lewat di bawah sepatunya. Gerakan kedua pihak begitu
cepat dan gesit sekali.
Kemudian gadis itu
menancapkan kakinya kembali dan Giok-bin-yao-hou pun berbangkit
berdiri pula, maka mereka berdua sudah berhadapan dalam jarak lebih
setombak.
"Ha, kiranya kau
adalah siluman wanita Bun Sui-le itu, nonamu tiada sedikit
sangkut-paut dengan kau, kita boleh berbuat menurut tujuan
masing-masing, mengapa kau datang mengintip gerak-gerikku?" tanya
gadis itu dengan membentak dan pedang menuding.
Seketika Bun Sui-le
tercengang demi mendengar orang mengenali dirinya.
"Bocah ini termasuk
hebat juga, begitu nampak kaitan kedua kakiku, segera ia mengetahui
asal-usulku," begitu ia membatin. "Tetapi aku pun hendak
menjajalnya, coba dari aliran manakah dia ini?"
"Kau, si bocah
ingusan, kalau sudah mengetahui nama besar Tjetjumu, seharusnya kau
katakan terus-terang perbuatanmu, mungkin aku bisa mengampuni kau,
anak murid dari Bu-tong-pay," sahutnya kemudian dengan pedang
tergenggam.
"Ayo, begitu besar
mulutmu," gadis itu mencemooh. "Kau ingin tahu diri nonamu, boleh
kau tanya Tji-yang totiang di Bu-tong-san, kau minta aku
menceritakan, sedikitnya kau harus menangkan pedangku ini lebih
dulu."
"Budak busuk yang
kurang ajar, kau kira dengan menonjolkan nama Tji-yang Todjin aku
lantas menjadi kuncup?" bentak Bun Sui-le dengan gusar. "Terus
terang saja kedatanganku ini melulu menghendaki mutiara yang telah
kau rebut itu, hanya ada dua jalan boleh kau pilih, jiwa atau
mutiara!"
Setelah itu ia mengayun
pedangnya, ujung senjata mengarah Ke depan, segera angin tajam
menyambar ke muka si gadis.
Akan tetapi gadis itu tak gentar.
"Mutiara ada
padaku, tetapi jangan kau harap!" sahurnya dengan tertawa dingin.
Habis itu dengan
sekali seruan, senjatanya pun bergerak dan kembali terdengar pula
berulang-ulang suara beradunya pedang, dalam sekejap dengan cepat
sekali mereka telah saling serang dengan seluruh kemampuan yang ada
pada mereka, pertempuran yang makin sengit memecah kesunyian malam.
Kedua orang itu
makin bertarung makin hebat, yang seorang adalah tokoh Liok-lim
tersohor dan yang lain memperoleh pelajaran kiam-hoat dari cabang
persilatan ternama, keduanya setanding dan sama kuat, walaupun
pertempuran sudah berjalan hampir satu jam, namun masih belum
menunjukkan mana yang lebih unggul.
"Giok-bin-yao-hou, nonamu besok pagi-pagi
masih ada janji, terpaksa aku tak bisa melayani kau terus, tetapi
kalau kau ingin menentukan mana yang lebih kuat, besok malam boleh
kau ke sini lagi!" tiba-tiba gadis itu berseru.
Kuatir kalau
lawannya kabur, Bun Sui-le malah memperkencang serangan pedangnya.
"Tak mungkin kau
coba mengingusi aku, kecuali kalau kau meninggalkan mutiara itu,
baru jiwamu boleh aku ampuni!" sambutnya.
"Siapa hendak membohongi
kau," kata si gadis dengan gusar. "Kalau begitu adalah kau sendiri
yang mencari mampus, sebentar lagi tentu kau boleh tahu rasa."
Atas perkataan
orang yang terakhir itu, Bun Sui-le menjadi ragu-ragu, pikirnya,
"Jangan-jangan ia telah berjanji dengan orang pandai di sini? Dan
kalau betul, ditambah lagi seorang lawan tangguh, bisa-bisa aku
terjungkal di depannya."
Pada kesempatan ia
lagi ragu-ragu, gadis itu telah mengayun tangannya, mendadak ia
menimpukkan dua buah 'Liu-yap piau'.
Cepat Bun Sui-le
mengegos berkelit, ia dapat menghindarkan sebuah senjata piau dan
pedangnya menyampuk jatuh sebuah piau lainnya. Akan tetapi pada saat
itu juga, dengan sekali enjotan kilat, gadis itu sudah melompat
pergi hingga jauh.
Ia coba mengejar,
namun tertampak gadis itu dengan cepat sekali, dengan beberapa kali
naik turun melompat, dalam sekejap saja sudah berada sejauh beberapa
tombak.
Pada saat itu juga,
dari dalam hutan lebat di depan sana berkumandang suara gitar aneh
hingga daun-daun pohon pada rontok.
Bun Sui-le jadi
merandek, ia kuatir dalam hutan betul-betul bersembunyi orang
pandai. Dan karena sedikit merandeknya itu, gadis itu sudah
menerobos masuk ke dalam hutan dan menghilang.
Karena tak bisa
menangkan orang, Bun Sui-le berbalik jadi gemas terhadap Gui
Djing-si, si imam celaka itu, dia sudah menempur setengah malaman,
tetapi tidak tampak ia mengunjukkan diri untuk membantu.
Dalam keadaan
mendongkol, ia berbalik kembali masuk ke dalam rumah gubuk, ia lihat
di dalamnya hanya terdapat sebuah pembaringan dari bambu dan meja
kecil dari kayu. Dari dalam kantongnya ia mengeluarkan geretan api,
ia nyalakan lilin yang ada di meja hingga dapat melihat jelas pada
pembaringan bambu itu terdapat sebuah buntalan kecil, lekas ia
mengambilnya dan diperiksa, dalam buntalan itu ternyata hanya
terdapat dua potong baju wanita petani, dan masih ada pula secarik
kain hitam penutup muka dengan dua lubang untuk mata.
Waktu ia memeriksa
lagi, mendadak dari bunialan terjatuh sebuah benda, ia memungutnya
dan dilihat, ternyata adalah sekeping besi, benda ini biasanya
digunakan sebagai tanda bukti dalam perkumpulan dan gerombolan
rahasia.
Giok-bin-you-hou
girang sekali, dengan cepat ia masukkan ke dalam sakunya.
Ketika ia keluar
dari rumah itu, tiba-tiba dilihatnya di belakang batu besar tadi
menggeletak seseorang, ia menjadi terkejut.
Tetapi sesudah ia
menegasi, baru ia ketahui adalah Gui Djing-si yang tertidur dengan
bersandar pada batu itu, dari hidungnya masih terdengar suara
gerosan.
Keruan ia makin
mendongkol, ia angkat kakinya dan menyepak. Dalam kegugupannya kena
tendangan, Gui Djing-si merangkak bangun dengan cepat.
"Aku si tua bangka
ini sudah tidak berguna lagi, sebentar saja sudah tertidur, harap
nona suka memaafkan!" katanya dengan kuatir. "Apakah budak tadi
sudah nona bereskan?"
Kiranya pada waktu
ia melihat dari rumah gubuk itu melompat keluar seorang gadis yang
bukan lain ialah gadis bertopeng yang ia ketemukan siang harinya,
saking terkejutnya ditambah letihnya berlari seharian, semangatnya
sudah tak tahan lagi hingga dalam keadaan tak sadar ia telah
menggeros pulas.
Mendengar
pertanyaannya tadi, Bun Sui-Je makin bertambah mangkel.
"Masih kau tanya!
Mengapa tadi kau tak muncul membantu aku?" gertaknya dengan
uring-uringan.
"Sui-kohnio,
pedangku sudah hilang, kau telah berpesan juga tak boleh sembarangan
bergerak, mana aku berani membantah perintahmu itu?" sahut Gui
Djing-si dengan muka bersungut.
Giok-bin-yao-hou
menjengek, tetapi ia pikir tiada gunanya mengomel padanya, maka
segera ia membentak pula dan berbareng mereka turun gunung kembali,
sampai pada hutan tadi, ternyata kuda putihnya masih tetap berada
dalam lingkaran yang digariskan tadi.
"Dengan seekor
binatang saja kau kalah, setidak-tidaknya binatang ini tak mempunyai
hati busuk seperti kau," dengan mata melotot ia berkata pula pada
Gui Djing-si. "Kalau kau masih ingin hidup, baiklah berjalan dengan
menuntun kudaku ini."
Sudah tentu imam tua
sial ini tidak berani membantah, dengan menarik tali kekang kuda, ia
berjalan di depan, tetapi dalam hati diam-diam ia mencaci maki.
Keadaannya yang menyedihkan itu membikin orang tertawa.
Kembali bercerita
tentang para gagah perkasa di Mo-dji-tje, sesudah mereka diingusi
dan mutiara mestika kena diserobot oleh Gui Djing-si, semula banyak
yang berniat hendak mengejar, akan tetapi Si Liang mencegah.
"Tjuwi tak perlu ribut,"
ujarnya. "Imam busuk ini sangat licin, kini hendak mengejarpun sudah
terlambat, baiknya kita boleh lantas menyiarkan berita bahwa mutiara
mestika sudah jatuh ke dalam tangannya itu, tak lama kemudian dengan
sendirinya pasti ada orang pandai dan pejabat negeri yang akan
membikin perhitungan dengannya."
Teng Hong-ko tidak mengerti oleh
keterangannya itu.
"Dengan cara
begitu, bukankah Po-tju itu akan terjatuh kembali ke dalam tangan
cakar alap-alap pemerintah?" tanyanya.
"Memang begitulah
tujuan kita," jawab Si Liang dengan tertawa. "Kita lebih baik
merebutnya kembali dari pejabat pemerintah, daripada pergi
menguber-uber jejak Gui Djing-si."
Begitulah sesudah
urusan diatur baik, mereka masing-masing lantas menjalankan tugasnya
sendiri.
Sesudah pada bubar,
Teng Hong-ko lihat hanya tinggal Si Liang dan suami isteri Yan
Ie-Lam saja yang masih tinggal di dalam markas.
Si Liang adalah
seorang pemeluk agama, maka siang-siang ia sudah bersemedi di dalam
kamarnya hingga tiada orang lain lagi di ruangan tengah.
Hong-ko teringat
pada kejadian di rumah pondokan, dimana ia telah mencuri baca surat
dinas yang dikirimkan pada gubernur, di antaranya terdapat selembar
nota pengiriman barang yang bertanda bundaran dengan tinta merah
pada satu baris nama barang yang tertulis 'Semangka Hami dari
Lantjiu', semangka itu termuat menjadi sembilan kereta dan waktunya
jatuh besok pagi.
Karena merasa di
antara tanda-tanda dalam surat dinas itu pasti ada terkandung
rahasia tertentu, lantas Hong-ko menceritakan pengalamannya itu
kepada Yan Ie-lam.
"Saudara Teng, mengapa
tidak kau katakan sejak dulu, hampir saja kita melepaskan
'jual-beli' yang baik itu begitu saja," kata Yan Ie-lam sesudah ia
berpikir sejenak.
"Yan-tayhiap,
barang dagangan apakah dalam kereta itu?" tanya Hong-ko yang masih
belum paham.
"Kau baru saja
mengunjuk diri di kalangan Kangouw dan masih plonco, mana bisa kau
tahu banyak peraturan dalam Kangouw," dengan tertawa Yan Ie-lam
menerangkan. "Kita menguntit sesuatu incaran barang pun ada istilah
tertentu, ialah kesatu mendengar, kedua menguntit, ketiga mengintip,
keempat membongkar dan kelima melihat gelagat, tanpa sengaja kau ini
dapat membongkar tanda rahasia mereka, ini adalah barang yang harus
kita incar, dan tentu pula ialah Po-tju kedua yang diamdiam hendak
diangkut Tjhi Djin-ho ke Soatang sini."
Mendapat penerangan
itu, Hong-ko menjadi girang tidak kepalang bercampur kaget.
"Yan-tayhiap, kalau
begitu kita besok mencegat saja kereta itu, bukankah kita lantas
akan berhasil?" tanyanya lagi.
"Mana bisa begitu
gampang, saudara," sahut Hoa-lihiap dengan tertawa menimbrung. "Kita
harus menyelidiki dulu kereta yang mana tempat disembunyikannya
mutiara mestika itu, baru kita bisa turun tangan dengan tepat."
Meskipun Hong-ko
masih hijau, namun otaknya memang cukup cerdas, dengan sedikit
berpikir ia sudah dapat menerka.
"Aku terka pasti
disembunyikan pada kereta ketujuh itu," ujarnya.
Suami isteri Yan Ie-lam mengangguk atas
perkataannya.
Terkaanmu memang
tidak salah." kata mereka. "Tujuh tanda bundaran merah itu
menunjukkan bahwa Po-tju disembunyikan di atas kereta ketujuh, cuma
Tjhi Djin-ho yang biasanya tidak pernah gegabah bertindak, menurut
penglihatanku, kali ini diam-diam tentu ia telah mengirim pula
pengawal yang pandai mengikuti rombongan kereta itu."
'Barangkali kamu
orang tua telah lupa pula atas perkataan Gui Djing-si?" kata Hong-ko
pula. "Ia mengatakan bahwa Giok-bin-yao-hou telah mendapat berita
bahwa Tjhi Djing ho telah memberangkatkan pula sebutir mutiara
mestika yang lain dari Khayhong dan yang mengawal ialah apa yang
dikatakannya sebagai ahli dari Ko-yang-pay, bernama Ie Djan berjuluk
'Sip-tiat-hong' dan Tji Tjing-hian yang berjuluk 'Hoan-san-kau',
pengawalnya kali ini mungkin ialah kedua orang itu."
Setelah dirunding
lagi lantas mereka memutuskan berangkat malam itu juga, mereka
menaksir kereta yang mengangkut tentu melalui jalan dan Tay-bing-hu
dan Tong-tjiang terus ke Tjelam.
Yan Ie-lam berpesan
pada Hong-ko agar jangan memberitahukan pada orang lain lagi, supaya
tidak terbeber kabar itu hingga banyak menjadi incaran tokoh Kangouw
cabang lain. Selain itu ia katakan pula pada Hong-ko, "Saudara Teng,
di tengah jalan kita jangan saling sebut nama yang asli, kau sebut
saja kami dengan Toako dan Enso saja, sedang kau yang baru
mengunjukkan diri paling baik kalau berganti nama dengan sebuah
julukan untuk menghindarkan perhatian dari pejabat pemerintah,
seumpama terjadi sesuatu, namamu pun tidak diumumkan sebagai seorang
buronan."
Begitulah setelah
dirundingkan lagi, akhirnya Teng Hong-ko dipilihkan nama julukan
'Siau Kim-kong1.
Malam itu juga,
dengan tiga ekor tunggangan segera mereka berangkat, setelah
melewati Tjelam. malam keduanya mereka menginap di Tong-tjiang dan
besoknya pagi sekali mereka lantas berangkat pula.
Di depan tertampak
sebuah hutan Tjo dengan lereng bukit yang naik turun di sana-sini,
selajur jalan besar membujur di tengah, menembus hutan Tjo itu
menuju ke depan.
Waktu itu sang
surya baru memancarkan sinarnya, kabut malam masih belum buyar,
dalam jarak belasan tombak jauhnya masih belum dapat memandang jauh
dengan jelas.
"Inilah suatu
tempat yang bagus untuk kita turun tangan, cuma entah kaum pembesar
celaka itu apakah sudah berangkat pagi-pagi begini?" ujar Yan
Ie-lam.
"Di depan sana
ialah Tong-poh, sebuah kota kecil, tadi malam tentu mereka bermalam
di sana, menurut tafsiran, tidak sampai satu jam, tentu mereka sudah
bisa sampai di sini," sahut Hoa-lihiap.
Maka mereka bertiga
lantas turun dari kuda dan menyembunyikan diri ke dalam hutan Tjo
itu.
Dengan pelahan
Hong-ko mengenjot tubuhnya, ia memanjat ke atas sebatang pohon.
Tempat ini kebetulan adalah dataran tinggi di atas bukit, oleh
karena itu bila memandang jauh ke depan akan terlihat jalanan besar
yang berliku-liku mengikuti naik turunnya bukit menjulur panjang. Di
antara kabut yang remang-remang itu sudah tampak dari jauh ada
serombongan bayangan orang yang muncul dari belakang bukit.
Hong-ko girang
sekali, ia bersuit memberi tanda pada rekannya yang berada di bawah
pohon, tidak ayal lagi Hoa-lihiap segera menyusul meloncat naik juga
ke pucuk pohon untuk mengintip apa yang dapat dilihat oleh Hong-ko.
Ketika itu
pelahan-lahan iring-iringan kereta sudah semakin mendekat, oleh
karena itu sudah dapat tertampak dengan jelas ada suatu barisan
panjang lambat laun mendekati rimba Tjo itu.
Kiranya konvoi
kereta ini memang tidak salah adalah kereta rangsum milik gubernur
Soatang.
Seperti telah
diceritakan di muka, tidak lama lagi Kaisar Khong-hi hendak bersujud
ke Thay-san, mendapat kabar itu siang-siang Tam Ting-siang sudah
menyediakan semua barang keperluan yang hendak disuguhkan pada
maharajanya itu.
Pada kesempatan itu
juga Tjhi Djin-ho diam-diam telah menyembunyikan sebutir mutiara
mestika dari Tjin-tju-goan ke dalam kereta dan secara rahasia
diangkut ke Soatang.
Sebagai Popio atau
pengawal dari konvoi itu ialah dua orang jagoan cabang atas dari
Bu-lim atau dunia persilatan, seorang bernama Ie Djan dan yang lain
Tji Tjing-hian.
Ie Djan adalah jagoan
ternama dari Ko-yang-pay yang sudah kawakan, ia pandai dalam ilmu
Kim-na-djiu, yakni kepandaian cara mencekal dan menawan yang
mempunyai tujuh puluh dua rupa gerakan. Sedangkan Tji Tjing-hian
menggunakan toya yang disebut 'Dju-bwe-kun', toya buntut tikus,
karena ujungnya yang lancip, ia mempunyai tenaga yang luar biasa,
dengan sekali toyanya menyodok ia sanggup melubangi batang pohon
sedalam beberapa senti.
Walaupun Ie Djan
dan Tji Tjing-hian keduanya termasuk jago kawakan dari Ko-yang-pay,
tetapi karena ingin kedudukan dan tamak oleh kemewahan, maka sudah
lama bercita-cita memperoleh sedikit pangkat.
Kali ini setelah
Tjhi Djin ho datang ke Hoa-san dan bertemu dengan pendekar golongan
Khong-tong-pay yang tinggal di Tjhui-hun-kiong di atas gunung
tersebut, kebetulan Ie Djan pun mengunjungi tempat itu. Rupanya
memang bintangnya lagi terang juga, maka Tjhi Djin-ho segera meminta
dia menjadi pengawal barang kiriman kepada Tam Ting-siang di Tjelam.
Ie Djan tidak ragu-ragu lagi untuk menerima tugas itu, bahkan ia
malah mengusulkan pula saudara seperguruannya 'Hwan-san-kau' atau
ular pelintas gunung, Tji Tjing-hian untuk membantu mengawal pula.
Tjhi Djin-ho
memangnya sedang membutuhkan tenaga orang, maka sudah tentu ia
menerima dengan segala senang hati.
Begitulah, kemudian Ie
Djan dan Tji Tjing-hian mengikuti iring-iringan kereta rangsum dari
gubernur Soatang itu dan secara berbondong-bondong berangkat menuju
ke Tong-tjiang.
Kereta-kereta itu
hanyalah kereta kecil yang ditarik oleh keledai, tetapi sembilan
kereta yang harus Ie Djan kawal itu memuat semangka Hami, sebelum
berangkat ia sudah dipesan oleh Tjhi Djin-ho agar memperhatikan
kereta yang ketujuh.
Oleh sebab itu,
sepanjang hari dalam perjalanan, Ie Djan senantiasa mendampingi
kereta ketujuh itu, sedang Tji Tjing-hian ia suruh menjaga di depan.
Hari itu, tidak
lama sesudah mereka berangkat, hutan Tjo sudah melintang di depan
mereka, sedang di kedua sampingnya terdiri dari lereng-lereng bukit
yang miring, hanya di samping gunung itu terdapat jalanan yang
menuju ke utara.
Melihat sekitar
tempat situ cukup berbahaya, diam-diam Ie Djan berkata pada saudara
seperguruannya, "Laute. paling akhir ini kabarnya tidak sedikit
sahabat-sahabat kalangan Liok-lim dari sekitar Tjwan-siam telah
berkumpul secara beramai-ramai di Soatang sini, tindak-tanduk mereka
agaknya seperti akan ada sesuatu perdagangan yang baik!"
Tji Tjing-hian adalah
orang yang periang, oleh karena itu. ia tak terlalu menghiraukan apa
yang dikatakan kawannya itu.