pendekar panji sakti 13 **
BAB 39
Langit Ambruk Bumi Merekah.
Angin masih berhembus sepoi, jilatan api
obor masih memancarkan cahayanya.
Semua orang menahan napas, mengawasi
perubahan mimik muka Hek Seng-thian setelah dicekoki obat, sementara
air muka Hek Seng-thian pucat-pias bagai mayat, peluh sebesar
kedelai jatuh bercucuran membasahijidatnya.
Entah berapa saat sudah lewat, mendadak
terdengar Hek Seng-thian menjerit kesakitan, dia mulai memegangi
perutnya dengan kedua belah tangan dan meringis menahan rasa sakit.
"Kenapa kau?" tegur Lui-pian Lojin dengan
wajah berubah.
"Aduh, sakit... sakit.. racun!" keluh Hek
Seng-thian dengan suara gemetar.
Begitu mendengar kata "racun", paras muka
Liu Ji-uh serta Im Ting-ting segera berubah hebat, bagai disambar
petir di siang hari bolong tubuh mereka gemetar keras.
Tiba-tiba Lui-pian Lojin mendongakkan kepala
dan tertawa keras, suaranya menggaung sampai lama sekali.
Pada mulanya Un Tay-tay merasa kecewa,
menyusul kemudian tercengang dan akhirnya ikut tersenyum.
"Jadi obat itu beracun?" tandasnya sambil
tertawa.
"Beracun... racun jahat... aaah, sudah
menembus ususku, aku ... aduuuh, perutku sakit sekali seperti
dililit, ...aaah, mungkin aku... aku tidak bisa hidup lebih lama
lagi."
Mendadak Lui-pian Lojin
menghentikan gelak tawanya dan berteriak keras:
"Ambilkan pisau!"
"Ambil pisau buat apa?" tanya Un Tay-tay
sambil mengedipkan matanya.
"Kalau memang dia sudah keracunan, sudah
pasti sebentar lagi nyawanya akan hilang, daripada dia menderita
lebih lama, lebih baik Lohu bantu dia, agar matinya tidak usah
tersiksa."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, Hek
Seng-thian sudah melompat bangun sambil berteriak:
"Tidak ada racunnya... aku tidak
keracunan.....”
Semua orang merasa terkejut bercampur
gembira, mereka masih belum paham apa yang sebenarnya telah terjadi.
Sambil tertawa, ujar Un Tay-tay:
"Agar kami semua tidak berani menelan pil
pemunah itu, kau sengaja berlagak keracunan hebat, dasar berhati
busuk, kau memang kejam setengah mati. Padahal kau lupa bahwa racun
yang dimiliki Siang-tok Thaysu bukan sembarang racun, tidak mungkin
racunnya bisa dibandingkan racun biasa. Boleh saja kau berlagak
sakit perut, padahal sejak awal sandiwaramu sudah ketahuan, kalau
aku saja sulit dibohongi, mana mungkin kau bisa menipu dia orang
tua?"
Paras muka Hek Seng-thian pucat-pias, dengan
kepala tertunduk dia bungkam dalam seribu bahasa.
Sambil tertawa, kembali Un Tay-tay berkata:
"Sekarang sisa obat penawar ini persis enam
butir, ayo, kita telan dulu bersama-sama!"
Sambil berkata, diambilnya sebutir pil
pemunah racun itu dan disodorkan ke hadapan Liu Ji-uh.
Tidak lama setelah menelan pil penawar racun
itu, semua sudah mulai menunjukkan reaksinya.
Liong Kian-sik keracunan paling ringan,
mula-mula dia memuntahkan segumpal air berwarna hijau, setelah
kejang beberapa saat, lambat-laun tubuhnya mulai dapat bergerak,
kesadaran yang semula hilang pun perlahan pulih kembali.
Dengan air mata berlinang Liu Ji-uh menanti
dengan tenang, akhirnya dia tidak mampu menahan diri lagi dan segera
memeluk tubuh suaminya erat-erat, serunya dengan nada gemetar:
"Kian-sik... Kian-sik... kau telah kembali,
kau telah kembali...."
Jangan dilihat di hari biasa perempuan ini
berpenampilan dingin dan angkuh, sekali perasaan hatinya terbuka,
maka tampaklah kobaran api cintanya yang membara....
Bukankah bara lahar panas gunung berapi
selalu tersembunyi di balik bebatuan yang dingin dan kaku?
Menyusul Lui Siau-tiau, Im Gi, Im Kiu-siau
menunjukkan reaksinya, sekalipun kekuatan mereka belum pulih seperti
sedia kala, namun masalah itu hanya soal waktu saja.
Liu Ji-uh, Im Ting-ting, Thiat Cing-su serta
Un Tay-tay semuanya diliputi perasaan gembira yang meluap,
sedemikian girangnya hingga untuk sesaat melupakan rasa benci dan
dendamnya terhadap Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu.
"Ternyata kepandaian Siang-tok Thaysu dalam
memunahkan racun memang nomor satu di kolong langit," gumam Un
Tay-tay lirih, "kecuali dia, mungkin tidak ada orang lain yang
sanggup memunahkan pengaruh racun Coat cing hoa"
"Mimpi pun aku tidak menyangka racun Coat
cing hoa ternyata bisa dipunahkan, kusangka kusangka Kian-sik,
dia... dia...."
Tidak menyelesaikan perkataannya, Liu Ji-uh
telah sesenggukan dan memeluk tubuh suaminya semakin kencang.
Mendadak terdengar Im Ting-ting berteriak
keras:
"Coba kalian lihat, Lui...
Lui-locianpwe...." Dari nada teriakannya, dapat ditangkap betapa
kaget dan ngerinya nona itu.
Dengan perasaan terperanjat semua orang
berpaling, ternyata Lui-pian Lojin yang semula berdiri tegar
bagaikan malaikat langit itu, entah sejak kapan sudah roboh terkapar
di tanah.
Paras mukanya yang mula-mula merah
bercahaya, sekarang telah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.
Ketika berpaling ke arah Seng Cun-hau, maka
tampak sekujur badannya sedang mengejang keras, keringat sebesar
kacang kedelai bercucuran membasahi jidatnya.
"Apa... apa yang sebenarnya terjadi?" jerit
Un Tay-tay kaget.
Baru dia berteriak, dari luar gua celah
berkumandang suara gelak tertawa latah membetot sukma.
Menyusul terdengar Siang-tok Thaysu berkata
dengan suara menyeramkan:
"Apa yang telah terjadi? Hanya aku yang bisa
menjelaskan kepadamu."
Melihat bayangan tubuhnya, semua merasa
colah melihat bayangan setan saja, tubuh Im Ting-ting segera gemetar
keras, Thiat Cing-su mesti merangkul gadis itu kencang-kencang,
tidak urung dia sendiri pun gemetar juga.
Liu Ji-uh mendekap pula tubuh Liong Kian-sik
dengan kencang, jeritnya ngeri:
"Pergi... pergi kau!"
"Pergi?" Siang-tok Thaysu tertawa latah,
"kali ini aku tidak bakal pergi lagi, bila aku tidak mau pergi,
siapa manusia di kolong langit ini yang bisa memerintahkan aku
bergeser setengah langkah pun dari sini?"
Un Tay-tay memaksakan diri mengendalikan
perasaannya yang bergejolak, dengan memberanikan diri dia balas
tertawa dingin, jengeknya:
"Huuh, tadi saja sudah kabur terbirit-birit
mirip tikus terjepit, tidak disangka sekarang berani tebalkan muka
muncul lagi di sini, memangnya kau tidak kuatir kehilangan pamormu
sebagai seorang pemimpin perguruan?"
"Budak cilik, tahu apa kau?" sahut Siang-tok
Thaysu sambil tertawa, "tadi aku memang mengundurkan diri sementara
waktu, tindakanku tidak lebih hanya merupakan taktik 'mundur untuk
maju', aku memang ingin menyaksikan kalian satu per satu kehilangan
nyawa tanpa aku mesti membuang banyak tenaga."
Selesai bicara, kembali dia tertawa latah,
lagaknya nampak begitu puas, begitu gembira.
"Jadi... jadi pil tadi benar-benar obat
beracun?" bisik Liu Ji-uh dengan suara parau
Gelak tertawa Siang-tok Thaysu semakin
bangga.
"Hahaha, kalau obat itu racun, masa kalian
bersedia menelannya? Lagi pula jika aku harus mencabut nyawa kalian
dengan mengandalkan racun, hal ini tidak mencerminkan kemampuanku
yang sesungguhnya, tapi sekarang, aku justru dapat mencabut nyawa
kalian dengan mengandalkan obat penawar racun, nah, dari sini kalian
bisa membuktikan betapa hebatnya tindakanku, bukankah begitu? He,
orang she Lui, sekarang kau sudah benar-benar takluk bukan?"
"Obat penawar racun?" tidak tahan Liu Ji-uh
berseru, "kenapa jika obat penawar racun bereaksi begini?"
"Tentu saja teori di balik semua ini sangat
rumit dan rahasia, kau tidak bakal mengerti, kecuali tokoh macam
aku, manusia mana di kolong langit saat ini yang bisa memahami
rahasia di balik semua itu?"
Setelah tertawa latah berulang kali,
lanjutnya:
"Sewaktu menemukan buli-buli berisi obat
tadi, perasaan kalian pasti sangat gembira bukan? Tahukah kalian
bahwa buli-buli itu memang sengaja kujatuhkan?"
"Kenapa... kenapa kau sengaja berbuat
begitu?"
"Walau obat mujarab itu bisa memunahkan
racun, namun setelah memunahkan satu jenis racun, maka sifat obatnya
akan ikut lenyap bersama dengan lenyapnya racun yang bersarang di
tubuh, dan akan berubah jadi segumpal air hijau yang dimuntahkan
keluar."
Tanpa terasa Liu Ji-uh melirik sekejap
gumpalan air hijau di tanah, tanyanya lagi:
"Kemudian?"
"Tapi sayang racun yang bersarang di tubuh
orang she Lui itu terdiri dari dua jenis racun jahat yang berbeda,
walaupun obat pemunah itu berhasil memunahkan salah satu sifat racun
yang ada, namun tetap meninggalkan jenis racun yang lain di dalam
tubuhnya, semestinya dia harus mengandalkan pertentangan kedua racun
di dalam tubuhnya untuk mempertahankan diri, sayangnya begitu salah
satu jenis racun lenyap, maka jenis racun yang lain pun mulai
bekerja, apalagi sifat racun itu sudah kelewat lama dikendalikan
dalam tubuhnya, tidak heran begitu kambuh maka keadaan sulit
dibendung lagi."
"Aaah, ternyata begitu," seru Liu Ji-uh
ketakutan.
"Hahaha, kalau aku tidak menghitung secara
tepat akan hal ini, untuk apa obat penawar racun itu sengaja
kutinggal di sini? Bagaimana mungkin tua bangka she Lui ini mampu
merobek saku bajuku?"
Sementara dia tertawa tergelak dengan
latahnya, paras muka semua jago justru berubah jadi pucat
keabu-abuan.
"Tapi... tapi orang lain toh tidak terkena
dua jenis racun ...." seru Liu Ji-uh.
"Asal tua bangka she Lui itu tidak mampu
melawan racun yang bersarang di tubuhnya, kenapa aku musti
merisaukan yang lain? Memangnya orang-orang itu sanggup menghadapi
gempuran Dewa racun, kendatipun kekuatan tenaga dalam mereka telah
pulih kembali?"
Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat
itu, kembali dia menambahkan sambil tertawa tergelak:
"Lagi pula mereka baru terbebas dari
pengaruh racun, tenaga dalam yang dimiliki pun belum pulih seperti
sedia kala, bila aku ingin mencabut nyawa mereka, semuanya bisa
kulakukan segampang merogoh saku sendiri."
"Makhluk tua beracun, wahai, makhluk tua
beracun, ternyata hatimu lebih beracun ketimbang racunmu, padahal
kami tidak punya dendam denganmu, kenapa kau turun tangan sekeji
ini?"
"Hahaha, kalau soal itu lebih baik kau
tanyakan sendiri kepada raja akhirat setelah mampus nanti, paling
tidak aku sudah memberi-kan sedikit pertanggung jawaban kepadamu
dengan menjelaskan rahasia ini, kalau tidak, mampus pun
kau akan menjadi setan kebingungan."
Tiba-tiba dia membalikkan tubuh sambil
membentak:
"Mana Dewa racun?"
Semua orang merasakan napasnya jadi sesak,
mereka sadar bila Dewa racun muncul di situ, maka semua orang yang
berada dalam gua akan kehilangan nyawa.
Dan kali ini mustahil akan muncul
kemukjizatan lagi seperti tadi.
Siapa tahu walaupun Siang-tok Thaysu sudah
berteriak berulang kali, namun dari luar gua sama sekali tidak
nampak sesuatu gerakan pun.
Berubah paras muka Siang-tok Thaysu, sekali
lagi hardiknya:
"Dewa racun, ada dimana kau?" Suara bentakan
yang menggelegar bagai guntur membelah bumi, membuat seluruh dinding
gua bergetar dan mendengung tiada hentinya.
Namun di luar gua sama sekali tidak
terdengar suara, Dewa racun pun tidak menampakkan diri.
Semua orang kembali dibuat tercengang,
girang serta tidak habis mengerti.
Paras muka Siang-tok Thaysu berubah semakin
hebat, dia terlebih tidak habis mengerti dengan kejadian ini, kalau
dibilang Dewa racun membangkang perintahnya, jelas hal ini
merupakan satu peristiwa yang mustahil.
Tapi kenyataan, kendatipun dia sudah
berteriak berulang kali, namun Dewa racun tetap tidak muncul.
"Siapa tahu Dewa racun sama seperti kau
tadi, kabur terbirit-birit" ejek Un Tay-tay sambil tertawa dingin.
"Budak sialan, kau jangan bicara
sembarangan,"teriak Siang-tok Thaysu gusar, "bila Dewa racun muncul
nanti, pertama-tama nyawamu yang akan kucabut."
Sambil mementang mulutnya, untuk ketiga
kalinya dia berteriak:
"Dewa racun, dimanakau?"
Suaranya keras dan menggaung sampai ke
tempat jauh, sampai lama kemudian suara itu baru sirap dan lenyap
dari pendengaran.
Baru saja Siang-tok Thaysu menggerakkan
tubuhnya dan siap menerjang keluar dari gua untuk melihat keadaan,
mendadak terdengar suara tertawa yang merdu bagaikan suara
keleningan berkumandang dari luar gua.
"Dewa racun berada di sini," terdengar suara
merdu seorang wanita bergema.
Begitu suara merdu itu berkumandang, semua
jago yang berada dalam gua kembali dibuat terkesiap.
"Siapa kau?" bentak Siang-tok Thaysu dengan
wajah berubah hebat.
"Coba perhatikan siapakah aku," jawab orang
di luar gua sambil tertawa ringan.
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu,
seorang wanita cantik berdandan istana sudah melayang masuk ke dalam
gua.
Semua orang merasakan pandangan matanya
jadi silau, penampilan perempuan cantik bak putri istana yang
memancarkan cahaya berkilauan itu membuat suasana dalam gua yang
gelap gulita seakan berubah jadi gemerlapan, gemerlapan seperti
dalam istana.
"Hoa Bu-soat!" jerit Siang-tok Thaysu dengan
perasaan kaget.
Sambil membelalakkan mata, Lui-pian Lojin
ikut menjerit kaget:
"Aaah kau! Ternyata kau ikut datang?"
"Betul, aku telah datang," si Hujan gerimis
Hoa Bu-soat tersenyum lebar.
Kemudian sambil menatap wajah Siang-tok
Thaysu, lanjutnya:
"Kau tidak menyangka bukan kalau aku bakal
kemari, sedang Dewa racunmu...."
"Kemana perginya Dewa racun?" tanya
Siang-tok Thaysu dengan wajah berubah.
"Sudah digiring pergi seseorang, sekarang
entah sudah kabur kemana."
"Kurangajar," teriak Siang-tok Thaysu gusar,
"Dewa racun hanya menuruti perintahku seorang, mana mungkin bisa
digiring pergi orang lain?"
"Mungkin saja orang lain tidak mampu
menggiringnya pergi, sayang orang yang menggiringnya pergi barusan
secara kebetulan memiliki ilmu pembetot sukma yang sangat hebat,
ilmu pembetot sukma yang jauh berbeda dengan kemampuan orang lain."
"Hong Lo-su? Kau maksudkan Hong Lo-su?" seru
Siang-tok Thaysu terperanjat.
"Tepat sekali."
"Bukankah dia sudah terkena racun ganasku,
masakah tidak mampus?"
"Coat cing hoa, masa kau lupa Coat cing
hoa?" Hoa Bu-soat tersenyum.
Siang-tok Thaysu tertegun sesaat, kemudian
sambil menghentak kan kaki dia berseru:
"Takdir... takdir...."
"Benar, memang kehendak takdir, takdir
menghendaki Coat cing hoa tumbuh di tempat ini, takdir pula yang
menghendaki Hong Lo-su tidak tewas di tempat ini, karena dia
dibutuhkan untuk memancing kepergian si Dewa racun "
Senyuman yang semula menghiasi ujung
bibirnya mendadak hilang tidak berbekas, selapis hawa pembunuhan
yang mendekati gila mulai menyelimuti wajahnya, sambil berbicara,
selangkah demi selangkah perempuan itu menghampiri Siang-tok
Thaysu.
Tanpa sadar Siang-tok Thaysu mundur dua
langkah.
"Kau...."
Hoa Bu-soat sama sekali tidak memberi
kesempatan kepadanya untuk bicara, kembali bentaknya:
"Takdir menghendak Dewa racun tersingkir,
agar aku dapat mencabut nyawamu."
"Memangnya kau sudah gila?" teriak Siang-tok
Thaysu gusar, "antara kau dan aku tidak pernah terikat dendam sakit
hati, kenapa kau sengaja memusuhi aku?"
"Sengaja memusuhimu?" Hoa Bu-soat tertawa
dingin, "tidak punya dendam sakit hati? Hmmm, hmmm! Putriku tidak
punya dendam sakit hati denganmu, kenapa tanpa sebab kau meracuninya
hingga mati?"
"Putrimu? Ketemu saja belum pernah, mana
mungkin aku meracuninya sampai mati?" sanggah Siang-tok Thaysu
keheranan, "kau jangan percaya fitnahan jahat orang lain, kalau
belum ada bukti jangan tanpa sebab mencari aku!"
Bagaikan orang gila Hoa Bu-soat tertawa
tergelak, jeritnya:
"Kentut! Dalam tubuh putriku jelas
ditemukan racunmu, memangnya ada orang lain yang bisa melepaskan
racunmu? Jadi kau masih menyangkal? Kalau bukan Coat cing hoa yang
menutupi tubuh nya, putri mestikaku itu... Ling-ling, anakku mungkin
sudah mati keracunan sekarang."
Sepasang matanya merah, wajahnya penuh
diselimuti hawa napsu membunuh, kecantikan serta keanggunannya
seolah sudah lenyap, keayu-annya bagai bidadari kini telah berubah
menjadi iblis pembetot sukma yang ganas.
Siang-tok Thaysu semakin tercengang dan
heran ditambah ketakutan setelah melihat betapa mendalamnya rasa
benci perempuan itu terhadap dirinya, dia mundur satu langkah dan
berseru:
"Kapan aku bertemu putrimu? Atas dasar apa
kau mengatakan begitu?"
"Kau masih belum mau mengakui? Baik! Akan
kusuruh kau lihat sendiri."
Sambil membalikkan badan, dia berteriak
keras:
"Muridku, bopong masuk Sucimu."
Seseorang menyahut dari luar gua, kemudian
terlihat Sim Sin-pek dengan membopong Sui Leng-kong berjalan masuk
dengan langkah lebar, kelihatannya jalan darah tidur Sui Leng-kong
sudah tertotok hingga saat itu dia berada dalam kondisi tertidur
nyenyak.
Mengetahui Hoa Bu-soat berniat mencabut
nyawa Siang-tok Thaysu, atau dengan perkataan lain, nyawa semua
orang yang ada di situ bakal terselamatkan, diam-diam Un Tay-tay
merasa sangat kegirangan.
Tapi begitu tahu murid Hoa Bu-soat ternyata
adalah Sim Sin-pek, sedang gadis yang dibopong Sim Sin-pek adalah
Sui Leng-kong. Tidak terlukiskan rasa terperanjat perempuan ini.
Kebalikannya, Pek Seng-bu sekalian justru
merasa kegirangan setengah mati.
Sebenarnya mereka berada dalam posisi yang
terjelek, bukan saja Siang-tok Thaysu akan mencabut nyawanya,
Lui-pian Lojin pun ingin merenggut jiwa mereka, apalagi orang-orang
perguruan Tay ki bun, rasa benci mereka ibarat ingin makan dagingnya
dan menguliti tubuh mereka.
Bagi mereka, biar dihitung dengan cara
bagaimanapun, terlepas siapa menang siapa kalah, diri sendiri tetap
sulit lolos dari bahaya maut.
Tapi kini situasi berubah secara tiba-tiba,
kemunculan si Hujan gerimis Hoa Bu-soat yang di luar dugaan segera
berhasil menguasai keadaan, sementara Sim Sin-pek telah menjadi
murid barunya.
Dengan terjadinya perubahan ini, maka posisi
pun kembali berubah secara drastis, sekalipun Pek Seng-bu sekalian
diliputi perasaan gembira yang luar biasa, namun mereka tetap tidak
bisa menebak kenapa bisa terjadi perubahan seperti ini.
Terdengar Hoa Bu-soat menjerit lagi sambil
menuding ke arah Sui Leng-kong:
“Cepat katakan! Cepat katakan! Apakah dia
keracunan di tanganmu?"
"Benar, tapi... bagaimana mungkin dia adalah
putrimu?"
Hoa Bu-soat mulai mencak-mencak macam orang
kesurupan, jeritnya:
"Siapa bilang dia bukan putriku? Orang she
Lui, aku mau tanya, benarkah dia adalah putriku? Ayo, katakan,
kenapa? Kau pun tidak berani mengatakannya?"
Lui-pian Lojin hanya memejamkan mata tanpa
menjawab.
Sejujurnya, Lui-pian Lojin ingin sekali Hoa
Bu-soat membantai Siang-tok Thaysu secepatnya, tentu saja dia enggan
membongkar rahasia itu, namun dengan nama serta statusnya, mustahil
baginya untuk berbohong, itulah sebabnya untuk sesaat dia gelagapan
dan tidak tahu bagaimana harus menjawab.
Tiba-tiba Hoa Bu-soat menarik Lui Siau-tiau
dari atas tanah, kembali jeritnya:
"Ling-ling... putri mustikaku, kau kenal
dengannya bukan? Betul, kau lebih kenal daripada siapa pun, ayo,
cepat jawab, benarkah dia adalah Ling-ling putri kesayanganku?"
Lui Siau-tiau melirik ayahnya sekejap,
kemudian sahutnya:
"Rasanya... rasanya memang dia."
Siang-tok Thaysu menyapu pandang sekejap
sekeliling tempat itu, dia sadar masalah yang dihadapinya hari ini
tidak mungkin bisa diselesaikan secara baik-baik, bagaimanapun juga
pertarungan tidak bisa dihindari lagi, timbul pikiran untuk turun
tangan terlebih dahulu, siapa yang menyerang lebih dulu, dia yang
akan kuat.
Dalam pada itu Hoa Bu-soat telah tertawa
terkekeh-kekeh, teriaknya:
"Itulah dia...... itulah dia,
makhluk tua beracun, apa lagi yang ingin kau katakan? Ling-ling....
oooh, Ling-lingku sayang, ibu akan membalaskan dendam sakit hatimu."
Siang-tok Thaysu sama sekali tidak
berbicara, diam-diam tangannya dimasukkan ke dalam saku....
Tiba-tiba Sim Sin-pek berteriak dengan mata
berkilat:
"Suhu, kau orang tua jangan lupa, biarpun
Siang-tok Thaysu yang meracuni, namun dalangnya orang lain, kenapa
kau orang tua tidak membasmi dulu dalangnya?"
Sebetulnya Siang-tok Thaysu sudah bersiap
sedia melancarkan serangan, begitu mendengar perkataan itu, sepasang
matanya ikut berkilat, cepat dia menarik kembali tangannya dari
dalam saku.
Hoa Bu-soat sendiri yang sudah siap
menerjang Siang-tok Thaysu ikut menghentikan gerakan tubuhnya,
serunya sambil mengertak gigi:
"Betul, yang paling memuakkan adalah
dalangnya, dia harus dibantai lebih dulu."
Sinar matanya yang kalap dan penuh kebencian
segera dialihkan ke wajah Lui-pian Lojin.
"Dalangnya?" gumam Lui-pian Lojin melengak,
"siapa dalangnya?"
"Kau!"
"Kau sudah edan?" teriak Lui-pian Lojin
terkejut bercampur gusar, "aku... mana mungkin aku
"Lui-loheng," sela Siang-tok Thaysu
tiba-tiba sambil tertawa dingin, "urusan telah berkembang jadi
begini, buat apa kau masih menyangkal? Lagi pula buat apa aku mesti
mencelakai putrinya dengan racun? Toh putrinya tidak ada urusan
denganku."
Berubah hebat paras muka Lui-pian Lojin.
"Hoa Ji-nio!" teriaknya penuh amarah, "kau
jangan mempercayai fitnahan busuk bajingan tua itu, dia sengaja
menggigit aku agar kau bermusuhan denganku, coba bayangkan sendiri,
apa alasanku untuk mencelakai putrimu?"
Kembali Siang-tok Thaysu tertawa dingin,
sindirnya:
"Sudah, jangan mungkir lagi, bukankah karena
putramu sudah punya gadis idaman lain dan segera akan menikah, maka
kalian ayah beranak kuatir nona Hoa akan menjadi batu sandungan dan
ingin cepat-cepat menghilangkan duri dalam daging?"
Kehebatan ilmu racunnya memang tiada duanya
di kolong langit, ternyata bukan itu saja, kebusukan hatinya
terbukti jauh lebih beracun dari segala jenis kalajengking paling
beracun sekalipun.
Diam-diam Sim Sin-pek bertepuk tangan
kegirangan setelah menyaksikan adegan ini.
Begitu meyakinkan cara bicara Siang-tok
Thaysu, sampai Im Ting-ting serta Thiat Cing-su sekalian nyaris ikut
percaya dengan perkataannya, kini tinggal Lui-pian Lojin ayah
beranak serta Un Tay-tay tiga orang yang kebingungan kalang-kabut,
paras muka mereka berubah hebat.
"Bagus sekali," terdengar Hoa Bu-soat
berteriak gusar, "hei, orang she Lui, ternyata putramu sudah
mempunyai simpanan lain! Makhluk tua beracun, coba katakan, siapa
perempuan yang disukai putranya? Dimana dia sekarang?"
"Itu dia orangnya!" ujar Siang-tok Thaysu
sambil menuding ke arah Un Tay-tay.
Tidak terlukiskan rasa kaget Un Tay-tay,
cepat dia kabur dari dalam gua.
Baru saja kakinya bergeser, tahu-tahu Hoa
Bu-soat sudah tiba di hadapannya, jari tangannya yang lentik bersih
secepat kilat melancarkan sebuah cengkeraman menyongsong
kedatangan-nya.
Untuk sesaat Un Tay-tay kebingungan dan
tidak tahu bagaimana harus berkelit dari cengkeraman itu, tahu-tahu
Hoa Bu-soat telah menjambak rambutnya dan membanting wanita itu
hingga jatuh terpelanting.
Im Ting-ting serta Lui Siau-tiau kontan saja
menjerit kaget.
"Pelacur busuk," umpat Hoa Bu-soat penuh
kebencian, "kau memang rase kecil, berani benar merebut pacar
Ling-ling? Memangnya kau sudah makan nyali macan?"
"Ploook!", sebuah tempelengan keras langsung
dilontarkan ke wajah Un Tay-tay.
"Tahan!" hardik Lui-pian Lojin tidak tahan,
"urusan ini tidak ada sangkut paut dengannya, lepaskan dia"
"Oooh, melihat aku menamparnya, kalian ayah
beranak sakit hati? Tidak tega? Baik, aku sengaja akan menggaploknya
lagi, bahkan akan kutempeleng lebih keras, lebih buas, agar kalian
ayah beranak bisa menikmati lebih seksama."
Tangannya bekerja cepat, dalam waktu singkat
dia sudah menghadiahkan tujuh delapan tempelengan ke wajah Un
Tay-tay.
Sekalipun tamparan itu tidak menggunakan
tenaga penuh, namun kekuatannya cukup menggidikkan hati, begitu
ketujuh delapan tamparan itu selesai dilontarkan, wajah Un Tay-tay
yang semula putih halus telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.
Sebesar apapun daya tahan Un Tay-tay, kini
dia tidak kuasa lagi menahan diri hingga menjerit keras.
Seng Toa-nio sekalian benar-benar merasa
puas menyaksikan kejadian ini, diam-diam mereka bersorak sambil
berteriak dalam hati:
"Bagus, tamparan yang bagus, ayo, hajar
lagi!"
Sebaliknya Im Ting-ting sekalian tidak tega
menyaksikan lebih lanjut, diam-diam mereka berpaling ke arah lain.
Tidak terlukiskan rasa gusar Lui-pian Lojin,
dalam hati dia ingin sekali bangkit berdiri dan balas menghajar
perempuan itu, sayang tubuhnya tidak memiliki kekuatan untuk
bangkit.
Air mata telah berlinang membasahi wajah Un
Tay-tay, ujarnya dengan suara gemetar:
"Kalau ingin memukul, ayo, pukullah terus!
Toh aku perempuan bernasib buruk, tidak masalah kau hajar aku
sampai mati, tapi ... tapi... kami benar-benar tidak
pernah mencelakai putrimu, lagi pula dia bukan putrimu."
Sebetulnya Hoa Bu-soat telah menghentikan
tamparannya, tapi begitu mendengar ucapan itu, dengan kalap dia
menampar lagi sekuatnya.
Sambil tangannya diayunkan berulang kali,
tiada hentinya dia mencaci-maki:
"Kalau putriku bukan dia lantas siapa? Dasar
siluman rase cilik, kau masih berani membohongi aku... hari ini...
hari ini aku harus menghajarmu sampai mampus."
"Dia tidak berbohong, putrimu memang tidak
ada di sini," teriak Lui-pian Lojin nyaring.
"Kentut!" Hoa Bu-soat menyeringai seram,
"sudah jelas tadi kau telah mengakuinya, percuma mungkir
sekarang...."
Tamparannya makin lama semakin keras, makin
cepat dan makin berat, katanya lagi sambil tertawa seram:
"Lui Siau-tiau, aku mau tanya, bagian mana
dari pelacur busuk ini yang paling menarik bagimu? Bagian mana dari
tubuh pelacur ini yang lebih bagus dari putriku, kau... apakah kau
tertarik dengan sepasang mata siluman rase ini?"
"Kau salah paham," sahut Lui Siau-tiau
cepat, "keponakan...."
"Hmm! Aku tahu, kau pasti sudah tertarik
dengan sepasang mata jeli siluman rase ini, baik, hari ini aku akan
mencongkelnya, akan kulihat dia akan menggunakan apa lagi untuk
memikat hatimu?"
Sambil berkata dia menggunakan kedua jari
tangannya yang panjang dan tajam untuk bersiap mencongkel sepasang
mata Un Tay-tay yang basah oleh linangan air mata.
Lui Siau-tiau tidak tega melihat lebih jauh,
cepat dia memejamkan mata, sedang Un Tay-tay hanya bisa menjerit
ngeri sambil memejamkan sepasang matanya, dia dapat merasakan ujung
jari tangan Hoa Bu-soat yang dingin bagaikan es telah menyentuh
kelopak matanya.
Di luar gua, di tanah padang rumput yang
luas, hanya ada Suto Siau seorang yang berjaga-jaga sambil
tersenyum, dia sedang mengawasi Sun Siau-kiau serta Gi Beng dan Gi
Teng yang sudah tertotok.
Sementara mereka yang berada dalam gua,
kalau bukan kehilangan tenaga karena keracunan, tentulah musuh
bebuyutan Un Tay-tay, atau mungkin akan muncul lagi manusia dari
langit atau bawah tanah?
Dalam keadaan dan suasana seperti ini, pada
hakikatnya mustahil ada orang bisa menyelamatkan dirinya lagi,
kelihatannya sepasang mata yangjeli itu segera akan tercongkel
keluar
Dalam situasi yang amat drastis ini, hanya
ada satu nama yang terlintas dalam benak wanita itu.
"Im Ceng... Im Ceng... tunggulah aku di alam
baka, aku segera akan menyusulmu!"
Ujung jari Hoa Bu-soat telah menyentuh mata
Un Tay-tay....
Telapak tangan Suto Siau yang kasar sudah
mulai meraba dan membelai wajah Sun Siau-kiau yang halus. .
Gi Beng serta Gi Teng hanya bisa
menyaksikan adegan itu dengan mata terbelalak.
"Orang mampus," terdengar Sun Siau-kiau
mengumpat sambil tertawa, "apa lagi yang ingin kau raba? Tidak
kuatir Che Toa-ho akan mengulitimu?"
"Situasi telah terubah, kondisi pun telah
berubah," sahut Suto Siau sambil tersenyum, "mulai hari ini, seluruh
kolong langit sudah menjadi milik kita, apa lagi yang musti
ditakuti? Hahaha ... aku tidak bakal takut terhadap siapa pun."
"Huuh, tidak tamu malu, pandai amat membual,
kalau memang kau hebat, punya pengaruh, kenapa lagakmu masih mirip
babi mampus yang bergulingan di tanah, melihat perempuan miliknya
masih tertotok jalan darahnya, kenapa kau tidak berani membebaskan
aku?"
"Hahaha, belum saatnya, lagi pula...." Sinar
matanya segera dialihkan ke tubuh Gi Beng, terusnya sambil tertawa:
"Orang tua itu sudah menyodorkan si cantik
kecil yang tidak mampu bergerak itu ke hadapanku, kenapa tidak
kumanfaatkan kesem-patan yang baik ini untuk menikmati kehangatan
tubuhnya? Bagaimana? Betul bukan?"
"Apa... apa kau bilang?" jerit Gi Beng
kaget.
Suto Siau tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, masa kau tidak paham maksudku?"
katanya.
Sambil membalikkan tubuh, dia segera
menghampiri gadis itu.
"Dasar lelaki bau, lelaki busuk," umpat Sun
Siau-kiau mendongkol, "sudah punya mangkuk nasi sendiri pun masih
melirik periuk nasi milik orang. Aaaaii! Baiklah, toh aku pun tidak
bisa kawin resmi denganmu, biar aku jadi mak comblangmu dengan adik
dari keluarga Gi."
"Hahaha, sudah seharusnya begitu...sudah
seharusnya begitu..."
Dia membungkukkan tubuh dan tangannya mulai
menggerayangi payudara Gi Beng.
"Bajingan laknat!" teriak Gi Teng penuh
amarah, "kau berani ... cepat hentikan perbuatan busukmu!"
"Kau... kau tidak boleh menyentuh aku!"
jerit Gi Beng pula.
"Tidak boleh menyentuhmu?" ejek Suto Siau
sambil menyeringai, "boleh... boleh disentuh... siapa bilang tidak
boleh...."
Bukan hanya menggerayangi saja, kini jari
tangannya mulai bekerja cepat mengendorkan kancing baju di depan
dada Gi Beng.
Pakaian Gi Beng pun sudah terlepas,
payudaranya yang putih bersih telah menongol keluar dari balik
pakaian ....
Sekonyong-konyong terdengar suara ledakan
yang luar biasa, diikuti getaran gempa yang dahsyat menggoncang
seluruh permukaan bumi.
Begitu keras goncangan itu, membuat tubuh
Suto Siau mencelat jauh ke belakang.
Pada saat yang sama jari tangan milik Hoa
Bu-soat yang sudah siap ditusukkan ke bawah, siap mencongkel mata Un
Tay-tay pun tergeser dari wajah korbannya, tergeser karena goncangan
maha dahsyat itu.
Jeritan kaget bergema dari empat penjuru,
suara getaran bagai guntur dan menggelegar tiada hentinya. Dinding
batu di sekeliling gua mulai retak dan berhamburan jatuh, debu pasir
beterbangan bagai hujan deras.
Paras muka semua orang yang berada di dalam
gua berubah jadi pucat-pias bagai mayat, bahkan Hoa Bu-soat sendiri
pun berdiri melongo saking kagetnya, otomatis tusukan kedua jarinya
pun ikut berhenti.
"Apa ... apa yang telah terjadi?"
tanya Siang-tok Thaysu agak tertegun.
Dengan mengerahkan segenap kekuatan yang
tersisa, Lui-pian Lojin berteriak keras:
"Bukit ini segera akan runtuh, cepat
melarikan diri, tinggalkan gua ini!"
Cepat Lui Siau-tiau meronta bangun, dia
menggelinding ke sisi ayahnya dan segera membopong tubuh orang tua
itu.
Sambil menjerit kaget, Liu Ji-uh
menggendong Liong Kian-sik.
Im Ting-ting dan Thiat Cing-su membopong Im
Gi serta Im Kiu-siau.
Sim Sin-pek memeluk kencang tubuh Sui
Leng-kong, sementara Pek Seng-bu menarik tangan saudaranya,
HekSeng-thian.
Seng Toa-nio sendiri menghentakkan kaki
berulang kali menahan kecewa, akhirnya dia pun membopong Seng
Cun-hau.
Hoa Bu-soat segera mengempit tubuh Un
Tay-tay yang jatuh pingsan dan membawanya kabur.
Kawanan jago persilatan yang di hari biasa
selalu tampil tenang dan percaya diri, kini dalam sedetik semuanya
berubah seperti burung yang dipanah, kabur terbirit-birit
meninggalkan gua, lari menyelamatkan diri.
Pada saat itulah kembali terjadi getaran
yang sangat kuat.
Getaran kali ini jauh lebih kencang
ketimbang yang pertama, bahkan suara ledakan yang terjadi pun lebih
memekakkan telinga.
"Muridku, cepat bopong Ling-ling, kita
jangan berpencar," teriak Hoa Bu-soat cepat.
"Paman Hek, cepat ikuti aku," jerit Sim
Sin-pek pula.
"Suko... Suko... ada dimana kau?" teriak Im
Ting-ting pula.
"Ngomoay, hati-hati teriak Thiat Cing-su
memperingatkan.
Tapi sayang waktu itu telinga semua orang
sudah dibuat tuli dan kaku lantaran suara ledakan yang memekakkan
telinga, karena itu siapa pun tidak dapat mendengar teriakan
kawannya secara jelas.
Batu cadas sebesar gajah jatuh berbongkah
bongkah, debu dan pasir beterbangan membuat kabur pandangan, siapa
pun yang kejatuhan batu sebesar itu, bisa dipastikan kepalanya bakal
hancur berantakan.
Mendadak terdengar Liu Ji-uh menjerit
kesakitan sambil berteriak:
"Tolongaku ... tolong! Tolong...."
Rupanya dia kejatuhan batu besar hingga
jatuh terjerembab ke tanah, sekalipun telah
berusaha meronta, namun gagal bangun kembali.
Tapi sayang suasana ketika itu sedang panik,
semua orang hanya memikirkan keselamatan sendiri, jangankan suara
jeritannya memang tenggelam oleh hiruk-pikuk jatuhnya bebatuan,
seandainya terdengar pun belum tentu ada orang yang mau menolongnya.
Semua orang hanya memikirkan diri sendiri,
berusaha mencari jalan keluar untuk meloloskan diri, tidak satu pun
yang mau mengurusi orang lain, jangankan pikiran untuk menolong
orang, niatan untuk mencelakai lawan pun sudah terlupakan untuk
sementara.
Sim Sin-pek yang sebenarnya berdiri di mulut
gua sambil membopong Sui Leng-kong kini melarikan diri terlebih
dulu.
Bagaikan hembusan angin Hoa Bu-soat menyusul
di belakangnya, sambil lari dia mendorong Pek Seng-bu dan Hek
Seng-thian yang sedang berusaha menyerobot jalan untuk melarikan
diri, akhirnya kedua orang itu berhasil juga menerjang keluar.
Waktu itu sebetulnya Siang-tok Thaysu sudah
berada di luar gua, tiba-tiba sambil menyeringai seram dia balik
masuk ke dalam lagi.
Lui Siau-tiau yang kabur sekuat tenaga sudah
hampir mencapai sisi luar gua, betapa terperanjatnya dia sewaktu
mendongakkan kepala, tahu-tahu Siang-tok Thaysu sambil menyeringai
seram sudah menghadang jalan perginya.
Suto Siau yang berada di luar gua, meski
tidak berada dalam kondisi bahaya, tidak urung hatinya kebat-kebit
juga saking takut dan kagetnya, dia langsung kabur dari situ, tapi
baru beberapa langkah sudah balik kembali.
"Orang baik, cepat bopong aku!" Sun
Siau-kiau segera berteriak manja.
Jangankan membopong, melirik sekejap pun
tidak, Suto Siau langsung menghampiri Gi Beng dan menggendongnya.
"Bajingan tengik," teriak Gi Teng penuh
amarah, "lepaskan dia... lepaskan dia...."
"Setan berhati hitam," umpat Sun Siau-kiau
pula sedih, "bajingan berhati busuk... kau... kau... aku sumpahi kau
biar mampus secara mengenaskan!"
Suto Siau sama sekali tidak berpaling,
ketika berlari beberapa langkah dari tempat itu, dia mendengar suara
gemuruh yang amat memekakkan telinga, hal ini membuatnya tidak kuasa
berpaling ke belakang....
Ternyata seluruh tebing batu telah ambruk,
berguguran dan berserakan kemana-mana
Pasir dan debu yang bertebaran di udara
nyaris menyelimuti separoh jagad, di tengah remang-remangnya
suasana, terlihat ada beberapa sosok bayangan manusia melesat keluar
dari timbunan bebatuan dengan kecepatan tinggi.
Pasir dan debu yang menyelimuti udara begitu
rapat bagai kabut tebal, Suto Siau tidak dapat melihat jelas siapa
saja bayangan manusia yang sedang kabur dari onggokan bebatuan...
padahal dia memang tidak berminat untuk memperhatikan dengan
seksama, tanpa banyak membuang waktu dia langsung kabur menuju ke
tengah rerumputan.
Di saat dia berpaling sambil melirik itulah
ujung matanya seolah melihat di antara bayangan manusia yang sedang
melarikan diri, ada dua orang di antaranya roboh tertimpa bebatuan,
tapi dia tidak berniat memperhatikan lebih jauh.
Umpatan dan makian Gi Teng serta Sun
Siau-kiau seolah tertelan suara gemuruh yang memekakkan telinga,
sementara Gi Beng yang panik, ketakutan, malu dan jengkel sudah
tidak sadarkan diri sejak tadi.
Sambil memeluk kencang Gi Beng, Suto Siau
herlari sekuat tenaga masuk ke balik rerumputan, sementara suara
gemuruh yang bergema di belakang sana masih berkumandang tiada
hentinya, gempa bumi masih menggoyang seluruh permukaan, bebatuan
seakan setiap saat dapat menindih tubuhnya.
Dalam keadaan begini, mana mungkin dia
berani menghentikan langkahnya.
Berlarian di tengah rerumputan yang lebat
bukanlah satu pekerjaan yang mudah, tapi dia berlari terus dengan
sempoyongan, tanpa mengetahui arah mata angin, tidak tahu kemana dia
berlari, dia berusaha menyingkir sejauh mungkin dari tempat bencana,
dia baru memperlambat langkahnya ketika napas sudah mulai
tersengal-sengal.
Dia mencoba memasang telinga dan
mendengarkan situasi di seputar sana, walaupun suara gemuruh masih
bergema di seluruh tebing, kelihatannya ledakan dan gempa dahsyat
sudah mulai reda, gaung suara yang memantul pun lambat laun
bertambah lirih.
Saat itulah Suto Siau baru menghembuskan
napas lega, duduk bersila sambil mengatur pernapasan.
Setelah terjadinya bencana dahsyat, masih
ada berapa orang yang hidup? Siapa pula yang menemui ajal? Dia tidak
bisa membayangkan, dia pun tidak berani berbalik untuk melihat
keadaan.
"Kalau sampai Hoa Bu-soat, Sim Sin-pek, Seng
Toa-nio, Hek Seng-thian sekalian menemui ajalnya dalam bencana ini,
sementara orang-orang perguruan Tay ki bun justru hidup, apa yang
harus kulakukan?" gumamnya.
Berpikir sampai di situ, perasaan ngeri
bercampur bergidik seketika menyelimuti hatinya.
Tapi ingatan lain segera melintas, kembali
gumamnya:
"Sebaliknya kalau orang-orang perguruan Tay
ki bun sudah mampus, yang hidup tinggal Sim Sin-pek, Un Tay-tay dan
Sui Leng-kong, bukankah dalam perjalanan berikut tinggal aku seorang
yang menjadi lakon? Bukankah harta kekayaan persekutuan Ngo hok beng
akan menjadi milikku?"
Membayangkan berlimpahnya harta karun yang
bakal menjadi miliknya, dia merasa sangat gembira, jantungnya
berdebar keras.
Namun bagaimanapun juga, dia tetap tidak
berani balik ke tempat semula dan memeriksa keadaan, seorang diri
dia hanya duduk termenung di situ, sebentar keningnya berkerut,
sebentar menebar senyum karena gembira.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya
suara rintihan Gi Beng menyadarkan dia dari lamunan.
Suto Siau berpaling sambil memandangnya
sekejap, menyaksikan separah tubuhnya yang telanjang, memandang
sepasang payudaranya yang putih dan montok, sekulum senyum
kebanggaan segera tersungging di ujung bibirnya.
Sambil tertawa menyeringai, dia bergumam:
"Bagaimanapun juga aku masih tetap hidup,
apalagi ditemani seorang nona muda yang cantik dan bahenol, oooh ...
kapan pun aku ingin menidurinya, saat ini juga aku bisa
menikmatinya"
Membayangkan kembali bagaimana nona itu
sudah menjadi barang dalam genggamannya, daging di atas meja yang
setiap saat dapat dicicipi, tidak tahan lagi dia tertawa tergelak.
Kini semua rasa ngeri dan takut telah
lenyap, yang tersisa hanya segumpal api panas yang membara dari
Tan-tiam menyebar ke seluruh tubuh, api panas yang membuat tubuhnya
terasa hangat, membuat dia kegerahan, membuatnya hampir saja melepas
seluruh pakaian yang dikenakannya.
Sekali lagi dia melirik sekeliling tempat
itu, membasahi bibirnya yang mulai mengering dan bergumam:
"Bagaimanapun juga, aku harus menikmati dulu
gadis ini sebelum bicara lain."
Semenjak jagoan perguruan Tay ki bun muncul
kembali dalam dunia persilatan, dia selalu menekan dan mengendalikan
napsu paling purba yang dimilikinya dalam hati, dia merasa tidak
punya waktu untuk memikirkannya, dia pun tidak berani memikirkannya.
Tapi sekarang dalam situasi serba bahaya
ini, api napsunya yang sudah lama terkekang, entah kenapa tiba-tiba
saja tidak terkendalikan lagi, mendadak meledak dengan
hebatnya.
Begitu napsunya meledak, dia tidak kuasa
lagi mengendalikan diri.
Kini hawa panas yang muncul karena perasaan
panik tadi mempercepat aliran darah dalam tubuhnya... tiba-tiba
tangannya bekerja keras, merobek dan mencabik hancur seluruh pakaian
yang dikenakan Gi Beng.
"Breeet, breeet...!", tidak selang beberapa
saat kemudian tubuh Gi Beng yang halus, putih dengan membawa warna
semu merah seorang gadis perawan telah tampil bugil di hadapan Suto
Siau.
Kini mukanya bertambah merah, sinar matanya
memancarkan cahaya kebuasan seekor binatang liar.
Biji tenggorokannya naik turun seperti bola
yang berlarian, akhirnya dia tidak kuasa lagi menahan diri, tanpa
membuang waktu, tubuhnya langsung menubruk ke arah Gi Beng.
Tiba-tiba "Braaaak!", di antara rerumputan
yang bergoyang, tampak dua sosok bayangan manusia menerjang datang
dengan langkah sempoyongan.
"Siapa?" dengan perasaan terkesiap Suto Siau
menghardik.
Padahal tidak usah menghardik pun dia sudah
melihat dengan jelas siapa yang telah datang.
Lambat-laun racun yang mengeram dalam tubuh
Im Gi mulai punah, kekuatannya baru saja pulih.
Tapi Thiat Cing-su masih memayangnya sambil
bergerak cepat, kedua orang itu berlari di antara rerumputan yang
tinggi.
Di tengah jalan, dengan wajah berubah,
tiba-tiba Im Gi berseru:
"Mana adikmu? Mana adikmu? Kenapa kau tidak
berada bersamanya? Sekarang kita berdua harus kemana mencarinya?"
Thiat Cing-su menundukkan kepala tidak
berani menjawab ... padahal sewaktu terjadi tanah runtuh tadi,
hampir semua orang berusaha menyelamatkan diri, dalam keadaan
begini, mana mungkin memikirkan orang lain? Bagaimana mungkin hal
ini bisa menyalahkan dia?
Im Gi mencoba mengawasi sekejap sekeliling
tempat itu, kemudian dengan men-dongkol mendengus dingin.
Belum sampai mengucapkan sesuatu, tiba-tiba
dia seperti mendengar sesuatu, buru-buru tangannya dibekapkan ke
mulut sendiri sambil memberi tanda agar tidak berisik.
Rupanya setelah berada di balik rerumputan,
dia teringat tempat semacam itu merupakan tempat yang sangat
berbahaya karena setiap saat bisa muncul musuh yang menyerang, bila
dia berisik atau bersuara keras, bisa jadi suara itu akan memancing
datangnya musuh tangguh.
Orang perguruan Tay ki bun sudah tersohor
karena pandai menahan diri, persoalan apapun bisa menahan diri
karena mereka beranggapan nyawa adalah sesuatu yang sangat berharga,
mana boleh nyawa yang berharga dikorbankan begitu saja?
Di saat itulah dari balik rerumputan
terdengar suara rintihan seorang gadis muda.
Dengan cepat Im Gi dan Thiat Cing-su saling
berpandangan sekejap, kemudian tidak tahan mereka
menerobos ke arah sumber suara tadi.
"Siapa?" tiba-tiba seseorang melompat bangun
dari balik semak.
Tentu saja orang itu tidak lain adalah Suto
Siau.
Musuh bebuyutan ternyata saling berhadapan
muka, baik Im Gi dan Thiat Cing-su maupun Suto Siau, semuanya merasa
terperanjat hingga termangu beberapa saat.
"Ternyata kau!" bentak Im Gi dengan mata
merah darah.
"Kau... kau..." tiba-tiba Suto Siau
membalik-kan badan, kemudian melarikan diri terbirit-birit.
"Dasar binatang tidak berguna," kembali Im
Gi mengumpat, "ayo, kabur... ayo, kabur...."
Sambil berteriak dia mencoba melakukan
pengejaran, sayang tenaga dalamnya belum pulih seratus persen,
tubuhnya sempoyongan dan langsung roboh terjungkal ke tanah.
Buru-buru Thiat Cing-su menerjang mendekati
sambil berseru kaget:
"Kenapa kau orang tua?"
"Bagus... bagus...."
Napasnya yang tersengal-sengal membuat dia
tidak sangup melanjutkan kata-katanya.
Cepat Thiat Cing-su menepuk punggungnya
berulang kali, beberapa saat kemudian mendadak dia merasa di sisi
tubuhnya seperti tergeletak sebuah benda yang halus, lembut dan
kenyal.
Dengan perasaan terkesiap buru-buru dia
berpaling, apa yang kemudian terlihat seketika membuat anak muda itu
terbelalak dengan terperana, ternyata dia menemukan tubuh bugil Gi
Beng yang tergeletak di tanah, bugil tanpa selembar benang pun.
Pemuda ini boleh dibilang baru meningkat
dewasa, selama hidup jangankan menyaksikan dengan mata kepala
sendiri, membayangkan adegan itupun belum pernah, tapi sekarang ...
tubuh bugil seorang gadis muda yang begitu montok, begitu menawan
hati, begitu halus dan merangsang hawa napsu telah terbentang jelas
di depan mata....
Thiat Cing-su merasa jantungnya nyaris
melompat keluar dari rongga dadanya, dengan mata terbelalak lebar
dan mulut melongo dia mengawasi tubuh gadis itu tanpa berkedip,
untuk sesaat dia hanya termangu dan sama sekali tidak mampu
bergerak.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya
sambil merintih lirih Gi Beng tersadar dari pingsannya.
Begitu membuka mata, si nona pun segera
menyaksikan wajah seorang pemuda yang sedang terkejut menatapnya,
dia saksikan pemuda itu sedang memandangnya dengan sorot mata
bingung, ingin tahu serta rasa gembira.
Ternyata bukan Suto Siau! Gadis itu agak
melengak.
Menyusul kemudian rasa malu seketika
menyelimuti perasaannya, rasa malu yang membuat sepasang pipinya
berubah semu merah.
"Bajingan cilik," umpatnya gusar, "apa...
apa yang sedang kau lihat?"
"Aku...aku...."
"Kenapa masih memandangi aku?" kembali Gi
Beng menegur.
Kontan Thiat Cing-su merasa kepalanya
seperti dipukul martil, darah panas langsung memenuhi kepalanya,
bukan cuma wajahnya terasa panas, pipinya pun ikut berubah merah
padam, buru-buru dia memejamkan mata.
Melihat pemuda itu meski berwajah keras
namun membawa sifat kekanak-kanakan, di balik kematangan masih
terselip kejujuran, khususnya setelah melihat dia memejamkan mata
rapat-rapat, sekilas senyuman segera tersungging di ujung bibir nona
itu.
"Sebenarnya siapakah kau?" sapanya kemudian
dengan lembut.
"Harap nona... nona mengenakan dulu
pakaianmu kemudian baru berbicara."
"Kalau aku bisa mengenakan sendiri, buat apa
mesti berbicara denganmu?"
Thiat Cing-su tertegun, serunya kemudian
tergagap:
"Lalu... apa... apa yang bisa kulakukan?"
"Jalan darahku tertotok."
"Kau minta aku membebaskan dulu totokan
jalan darahmu?"
Belum sempat Gi Beng menjawab, dengan suara
keras Im Gi telah menghardik:
"Tanyai dulu siapakah dia, jangan
sembarangan turun tangan."
Biarpun selama ini orang tua itu tidak
pernah berpaling, namun pembicaraan yang dilakukan kedua orang itu
dapat didengar olehnya dengan jelas.
Buru-buru Thiat Cing-su berdehem, kemudian
tanyanya:
"Boleh tahu siapa nama nona?"
Berputar sepasang biji mata Gi Beng,
tiba-tiba serunya tertahan:
"Jangan-jangan kalian... kalian berasal dari
perguruan Tay ki bun?"
"Benar!" sahut Im Gi dengan suara berat,
"siapa kau?"
Diam-diam Gi Beng menghembuskan napas lega,
sahutnya:
"Boanpwe bernama Gi Beng, salah satu dari
tujuh pedang pelangi
"Tujuh pedang pelangi?"
"Benar."
Setelah berhenti sejenak untuk menarik
napas, lanjutnya, "Walaupun di antara tujuh pedang pelangi ada yang
bermusuhan dengan perguruan Tay ki bun, tapi kami dua bersaudara
tidak termasuk di antaranya, malahan kami punya seorang sahabat
karib yang berasal dari perguruan Tay ki bun."
Tiba-tiba nona itu merasa salah bicara, tapi
sayang keadaan sudah terlambat, perkataan pun sudah telanjur
meluncur keluar.
Terdengar Im Gi bertanya dengan keheranan:
"Kau punya sahabat yang berasal dari
perguruan Tay ki bun? Siapa dia?"
"Soal ini... soal ini...."
Sekarang dia baru teringat rahasia yang
menyangkut Im Kian tidak boleh diucapkan sembarangan.
"Siapa? Cepat katakan!" hardik Im Gi tak
sabar.
"Aku... tiba-tiba aku tidak teringat
namanya..."
"Omong kosong!"
Cepat dia melepas jubah luarnya dan dilembar
ke depan, pakaian itu jatuh persis di atas tubuh Gi Beng.
Dengan sekali lompatan Im Gi bangkit
berdiri, ditatapnya wajah gadis itu dengan sorot mata tajam, kembali
hardiknya:
"Kenapa kau tidak berani menyebutkan nama
orang itu? Jangan-jangan ada tipu muslihat di balik pengakuanmu
itu?"
"Jangan-jangan orang itu adalah Jiko... atau
Im-samko...." bisik Thiat Cing-su tergagap.
"Kentut!" tukas Im Gi gusar, "kalau memang
kedua orang itu, kenapa dia ragu menyebutnya?"
"Wah, sungguh lihai orang tua ini!" pikir Gi
Beng sambil menghembuskan napas dingin.
Terdengar Im Gi berkata lagi:
"Nona Gi, di antara kita berdua tidak punya
ikatan dendam sakit hati, sebenarnya aku pun tidak akan menyulitkan
dirimu, tapi bila kau masih enggan menjelaskan persoalan ini, jangan
salahkan kalau Lohu akan bersikap kurang sopan."
Dari mimik mukanya terpancar sinar
kewibawaan yang menggidikkan hati, membuat siapa pun merasa seram
memandangnya.
Tidak tahan Gi Beng bersin berulang kali,
hampir saja dia tidak kuasa menahan diri untuk bicara sejujurnya.
Tapi akhirnya sambil mengertak gigi,
pikirnya, 'Aku tidak boleh bicara, aku tidak boleh bicara... kalau
aku mengatakan sesungguhnya, bukankah sama artinya telah mencelakai
Thiat Tiong-tong? Dia adalah kekasih Enci Sui, mana boleh aku
mencelakainya?"
Tapi ingatan lain kembali melintas, pikirnya
lagi, Aaah, benar! Bagaimanapun toh Thiat Tiong-tong sudah mati,
kalau kuceritakan hal yang sesungguhnya, mungkin saja hal ini justru
akan memunculkan rasa menyesal di hati mereka."
Berpikir demikian, dia pun berseru keras:
"Dia adalah Im Kian!"
"Im Kian?" Im Gi tertegun sejenak lalu
berteriak.
Thiat Cing-su sendiri pun melengak.
"Toako?" jeritnya.
"Benar."
"Perempuan tidak tahu diri, besar amat
nyalimu, berani kau membohongi Lohu?" ujar Im Gi gusar, "Im Kian si
binatang kecil yang tidak berbakti itu sudah mati lama, mana mungkin
kau bisa kenal dengannya?"
"Walaupun kalian mengira dia sudah mati,
padahal dia belum mati."
"Omong kosong! Omong kosong! Dengan mata
kepala sendiri Lohu saksikan, kematiannya, mana mungkin salah?"
"Benarkah kau menyaksikan dengan mata kepala
sendiri atas kematiannya?"
"Soal ini kembali Im Gi tertegun.
Perlahan Gi Beng menghela napas panjang,
ujarnya:
"Terus terang kuberitahu, hari itu kau
memang memberi perintah kepada Thiat Tiong-tong untuk melaksanakan
eksekusi, tapi kenyataan Thiat Tiong-tong sama sekali tidak
menghukum mati dirinya, dia mengirimnya ke tempat lain untuk merawat
luka, sementara jenazah orang lain yang mewakilinya melaksanakan
hukuman dipisah lima ekor kuda."
Begitu tahu kejadian yang sebenarnya, Im Gi
maupun Thiat Cing-su semakin tertegun dibuatnya.
Thiat Cing-su merasa terkejut bercampur
girang, gumamnya:
"Ternyata Thian maha kasih... ternyata Thian
sangat bijaksana, rupanya Toako belum meninggal
Hawa amarah mulai menyelimuti wajah Im Gi,
tiba-tiba bentaknya:
"Sekarang binatang kecil itu berada...
berada dimana?"
"Aku tidak tahu."
"Mana mungkin kau tidak tahu? Cepat
katakan!" hardik Im Gi semakin gusar.
"Jejak anggota perguruan Tay ki bun selalu
rahasia dan sukar dilacak, kehebatan kalian menghilangkan diri tiada
tandingannya di kolong langit, bahkan manusia macam Hek Seng-thian
dan Suto Siau kawanan rase tua pun susah menemukan mereka, apalagi
aku?"
Im Gi termenung beberapa saat lamanya,
kemudian manggut-manggut.
"Masuk akal juga perkataanmu itu ...."
Tapi sejenak kemudian kembali bentaknya
marah:
"Tapi bagaimanapun aku harus menemukan
kembali jejak binatang cilik itu, boleh saja nasibnya beruntung bisa
lolos dari eksekusi yang dilakukan tempo hari, tapi kali ini Lohu
akan melaksanakan sendiri eksekusi itu, akan kuperintahkan mayatnya
dipisahkan lima ekor kuda!"
Gi Beng yang mendengar perkataan itu
merasakan hatinya bergidik, pikirnya, 'Ternyata nama besar
Ciangbunjin Thiat hiat tay ki bun memang bukan nama kosong belaka,
dia benar-benar galak sekali.'
Dengan wajah hijau kemerah-merahan, Thiat
Cing-su seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tidak berani
mengungkapkan, sampai lama kemudian dia baru membesarkan nyali dan
berkata:
"Suhu, bukankah selama ini kau selalu
teringat Toako? Bukankah kau orang tua sering pula menyinggung
tentang segala kebaikan yang dimiliki Toako?"
Dada Im Gi naik turun tidak beraturan,
tampaknya sedang menahan gejolak emosi yang menggelora, sepasang
kepalannya tergenggam kencang, bentaknya:
"Tutup mulut!"
Gemetar keras sekujur badan Thiat Cing-su
saking takutnya, tapi dia tetap memberanikan diri berkata lagi:
"Ananda tidak pernah membangkang perkataan
kau orang tua, tapi kali ini ananda harus menyampaikan semua
uneg-uneg yang sudah lama tersimpan dalam hati sanubariku, sekalipun
kau orang tua akan menghajarku sampai mampus, ananda tetap akan
mengatakan-nya juga."
Hawa amarah masih menyelimuti wajah Im Gi,
namun kali ini dia tidak bersuara atau menghalangi niat muridnya
untuk bicara.
"Jiko dan Samko telah tertimpa musibah,
kekuatan perguruan Tay ki bun kita boleh dibilang semakin lemah dan
sedikit, beruntung sekarang kita mendapat tahu Toako masih hidup,
sesungguhnya inilah berita baik untuk perguruan kita, dengan
kepandaian silat serta kecerdasan yang dimiliki Toako, tidak sulit
baginya untuk membangkitkan kembali kejayaan perguruan Tay ki bun,
tapi ... aaaai! Kenapa kau orang tua justru menginginkan pula
kematiannya?"
Im Gi berdiri sambil mengelus jenggot,
tubuhnya gemetar keras karena menahan tekanan batin yang berat,
jelas perang batin sedang terjadi dalam hatinya, di samping gembira
dan penuh luapan emosi, dia pun merasa sedih, pedih dan serba salah.
Ternyata orang tua ini memiliki hati sekeras
baja! Dia seperti tidak bergeming dari keputusan-nya.
"Bagaimanapun juga," katanya kemudian,
"hukum perguruan Thiat hiat tay ki bun harus tetap ditegakkan, orang
yang sudah dijatuhi hukuman mati, tidak mungkin dibiarkan tetap
hidup di dunia ini."
Dengan sedih Thiat Cing-su tertunduk lemas,
air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Gi Beng sendiri pun amat menyesal, dia
membenci diri sendiri, menyesal dan benci kepada diri sendiri karena
banyak mulut.
Tiba-tiba dari kejauhan berkumandang suara
pekikan yang amat keras, suara pekikan itu bagai lolongan serigala
malam, seperti juga tangisan setan gentayangan, membuat siapa pun
yang mendengarnya merasa bergidik dan ngeri.
Berubah paras muka Im Gi, Thiat Cing-su
serta Gi Beng, mereka dapat menangkap suara pekikan ngeri itu sedang
bergerak semakin mendekat, bahkan bergeser menghampiri tempat
mereka.
Tidak terlukiskan rasa kaget Suto Siau
ketika melihat kemunculan Im Gi dan Thiat Cing-su secara tiba-tiba.
Biarpun dia tahu Im Gi belum seratus persen
sembuh dari lukanya, namun nama besar Ciangbunjin perguruan Tay ki
bun sudah cukup membuat hatinya keder.
Sejujurnya dia merasa tidak bernyali untuk
menghadapinya seorang diri, tidak berani bertarung satu lawan satu.
Karena itu tanpa banyak bicara dia langsung
putar badan dan melarikan diri.
Padang rumput yang luas dan lebat memang
tempat yang paling cocok untuk melarikan diri Bambil menyembunyikan
diri.
Setelah kabur sejauh puluhan langkah, dia
sudah kehilangan jejak Im Gi, ketika mencoba pasang telinga, dia pun
tidak mendengar ada suara langkah kaki yang sedang melakukan
pengejaran.
Saat itulah dia baru bisa menghembuskan
napas lega sambil mengumpat lirih:
"Dasar iblis tua macam sukma gentayangan
saja, ternyata ambruknya bukit karang tidak sampai membikin mampus
dirinya, kenapa kalau mau muncul justru di saat aku hendak menikmati
tubuh molek? Sialan!"
Paling tidak sekarang dia sudah tahu jika di
pihak perguruan Tay ki bun ada dua orang tidak mampus dalam bencana
tadi, kenyataan ini membuatnya semakin tidak berani bertindak
gegabah, sambil berusaha tahan napas dia bergerak terus ke depan.
Kini dia benar-benar kebingungan, tidak tahu
ke arah mana harus pergi, keadaannya tidak jauh berbeda dengan orang
buta yang mencari jalan, dalam hati dia hanya bisa berdoa, semoga
jangan sampai bertemu lagi dengan para jago perguruan Tay ki bun.
Sepeminuman teh lamanya dia berjalan,
seluruh tubuh sudah bermandikan keringat, tapi dia masih bingung,
tidak tahu apa yang bakal dihadapi di depan sana, bisa dibayangkan
betapa panik dan takutnya saat itu.
Tiba-tiba dari balik rerumputan di depan
sana terdengar suara baju yang tersampuk angin.
Dengan perasaan terkesiap Suto Siau siap
kabur meninggalkan tempat itu, tapi setelah berpikir sebentar,
akhirnya dengan memberanikan diri dan menahan napas perlahan-lahan
dia bergerak maju ke depan.
Sebetulnya dia sudah berjalan sambil
setengah berjongkok, ketika hampir tiba di tempat itu, tubuhnya
bertiarap di tanah, bagaikan seekor ular berbisa dia bergerak maju
dengan melata.
Angin masih berhembus sepoi, rerumputan
bergoyang meninggalkan suara berisik.
Dari balik rerumputan yang bergoyang dia
mencoba mengintip, benar saja, di sana terlihat bayangan manusia.
Tapi sayang Suto Siau masih belum dapat
melihat wajah kedua orang itu dengan jelas, sambil mengertak gigi
dia merangkak maju lagi dua langkah, tiba-tiba dari balik rerumputan
muncul lagi wajah seseorang.
Ternyata secara kebetulan orang itupun
sedang merangkak ke arahnya.
Begitu saling bertatap muka, kedua orang itu
sama-sama terperanjat hingga nyaris menjerit tertahan, tapi dalam
waktu singkat mereka sudah dapat melihat jelas wajah lawan, maka
masing-masing pun saling mendekap mulut sendiri.
Sambil menghembuskan napas lega, bisik Suto
Siau:
"Saudara Hek, rupanya kau."
Ternyata dua orang yang sedang merangkak itu
tidak lain adalah Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu.
Tidak terlukiskan rasa girang ketiga orang
itu, mereka tidak menyangka setelah merasakan ketegangan sekian
lama, akhirnya mereka dapat berkumpul kembali.
"Wah, Thian memang maha pengasih, ternyata
kalian berdua tidak mati," kata Suto Siau.
Hek Seng-thian tertawa getir.
"Biarpun tidak mampus, tapi sudah hampir,"
katanya.
"Suto-heng," kata Pek Seng-bu pula, "selama
ini kau selalu berjaga di luar gua, tahu tidak siapa saja yang
berhasil melarikan diri dari dalam gua?"
Ternyata apa yang menjadi kekuatiran kedua
orang ini sama persis seperti apa yang dipikirkan Suto Siau.
"Situasi waktu itu sangat kalut, susah
menyaksikan dengan jelas," sambil menghela napas Suto Siau
menggeleng.
"Semoga saja Im Gi si tua bangkotan itu
mampus tertindih batu," seru Hek Seng-thian penuh kebencian.
"Sayangnya justru tua bangka itu masih segar
bugar," kata Suto Siau sambil tertawa getir.
"Jadi kau telah bertemu dengannya?" tanya
Hek Seng-thian berdua hampir berbareng.
"Benar!" secara ringkas dia pun
menceritakan pengalaman yang barusan dialaminya, tentu saja soal
yang menyangkut Gi Beng sama sekali tidak disinggung.
Hek Seng-thian saling pandang sekejap dengan
Pek Seng-bu, kelihatannya mereka gegetun sekali dengan kenyataan
itu.
Lewat sesaat kemudian Hek Seng-thian baru
berkata:
"Biarpun tua bangka Im panjang umur, tapi
aku rasa Lui-pian Lojin dan anaknya pasti sudah mampus."
"Kau melihatnya?"
"Ketika Pek-jite mengajakku keluar tadi,
sebelum meninggalkan gua kami lihat Siang-tok Thaysu bukan saja
telah menghadang jalan pergi Lui-pian Lojin, bahkan dia sempat
mengayunkan telapak tangannya mendorong masuk kedua orang itu,
padahal waktu itu bukit karang sedang runtuh, dengan luka yang belum
sembuh, mana mungkin Lui-pian Lojin berdua sanggup meloloskan diri?"
"Haah? Tidak disangka Lui-pian Lojin,
seorang jagoan yang tangguh harus mati secara mengenaskan di tempat
ini!"
"Seharusnya kita gembira dengan
kematian-nya, kenapa Suto-heng justru menghela napas?"
"Biarpun Lui-pian Lojin menjengkelkan,
paling tidak dia masih terhitung sejalan dengan kita, kematiannya
hanya mendatangkan kerugian, bukan keberuntungan, kenapa aku tidak
boleh menghela napas?"
Pek Seng-bu tersenyum.
"Lantaran Suto-heng tidak menyaksikan
sendiri semua peristiwa yang telah terjadi dalam gua tadi, tidak
heran kau masih menaruh simpati kepadanya dan mengucapkan kata-kata
seperti itu."
"Apa yang telah terjadi dalam gua?"
Hek Seng-thian menghela napas panjang.
"Aaai, Suto-heng belum tahu, tadi Lui-pian
Lojin sudah bersekongkol dengan orang perguruan Tay ki bun, kalau
dia tidak mampus, berarti kita bakal mendapat tambahan seorang musuh
tangguh lagi."
"Ooh, begitu kejadiannya? Aaai, ternyata
perubahan yang terjadi bagaikan perubahan cuaca, sukar diramalkan,
siapa yang mengira dalam setengah hari saja dapat terjadi perubahan
sedrastis ini."
Setelah berhenti sejenak, tanyanya lagi:
"Bagaimana dengan Sim Sin-pek?"
"Dia kabur paling dulu sambil membopong Sui
Leng-kong!"
"Dan si Hujan gerimis?" tanya Suto Siau lagi
setelah menghembuskan napas lega.
"Dengan kepandaiannya yang hebat, memangnya
dia tidak sanggup meloloskan diri?"
"Seng Toa-nio?"
"Seng Toa-nio? Aaaai, susah dibilang, tapi
paling tidak enam puluh persen mereka ibu beranak punya
kesempatan untuk tetap hidup, sedang Liu Ji-uh dan Liong Kian-sik
bisa dipastikan mampus."
"Benar," Hek Seng-thian menandaskan,
"sewaktu masih berada dalam gua, aku sempat mendengar jerit
kesakitannya, dia seperti kejatuhan batu besar. Aaaai! Sayang juga,
masih muda sudah harus mati."
"Kalau Che Toa-ho?"
"Sebelum terjadi longsor, dia sudah mati
lebih dulu, mati keracunan."
Dalam hati kecil Suto Siau merasa sangat
gembira, tapi di luar dia pura-pura menghela napas panjang.
"Aaaai, tidak kusangka ada begitu banyak
orang yang harus tewas dalam bencana kali ini
"Suto-heng, kau tidak merasa agak aneh
dengan bencana alam yang barusan terjadi?" sela Pek Seng-bu
tiba-tiba.
"Aneh? Apanya yang aneh?"
"Tanah longsor dan gempa itu terjadi sangat
mendadak."
"Tanah longsor dan gempa bumi merupakan
bencana alam, itulah gejala alam yang sukar diramalkan, apanya yang
aneh?"
"Tapi gempa dan longsor yang terjadi kali
ini sepertinya perbuatan manusia," kata Pek Seng-bu serius.
"Perbuatan manusia?"
"Benar, 90% hasil perbuatan manusia."
Suto Siau tertegun beberapa saat lamanya,
tapi kemudian katanya sambil tertawa geli:
"Pek-heng, mungkin dugaanmu keliru, manusia
mana di dunia ini yang mampu membuat gempa dan tanah longsor?"
"Bahan peledak!" sela Hek Seng-thian, "masa
saudara Suto lupa tentang bahan peledak?"
Sekali lagi Suto Siau tertegun, gumamnya,
"Benar, bahan peledak
"Ketika pertama kali mendengar suara ledakan
tadi, lamat-lamat aku sempat mengendus bau belerang dan mesiu,
tampaknya ledakan itu berasal dari dalam bumi, tapi aku tidak begitu
yakin."
"Sayang Bi Lek-hwe si tua bangka itu tidak
berada di sini, kalau tidak, dia dapat memastikan suara ledakan itu
berasal dari mana," kata Hek Seng-thian sambil menghela napas.
"Bi Lek-hwe?" Suto Siau berpikir sejenak,
"jangan-jangan dia?"
"Aku rasa bukan, biarpun watak Bi Lek-hwe
agak bau dan jelek, dia paling pantang melakukan perbuatan seperti
itu, jadi mustahil ledakan tadi hasil perbuatannya."
"Tapi selain Bi Lek-hwe, siapa lagi yang
memiliki kemampuan untuk meledakkan mesiu sedahsyat itu?"
"Siaute sendiri pun kurang tahu, tapi dunia
persilatan memang isinya sarang naga gua harimau, apalagi menguasai
bahan peledak bukan merupakan suatu kejadian yang luar biasa."
"Bila ledakan itu hasil ulah tokoh silat,
buat apa dia mesti meledakkan bukit karang? Apalagi ledakan itu
berasal dari bawah tanah, memangnya orang itu bersembunyi di dalam
bumi?"
"Siaute pun merasa bingung, tidak habis
mengerti dengan kejadian ini."
Pada saat itulah dari kejauhan kembali
terdengar suara pekikan nyaring yang amat keras... suara pekikan itu
sama seperti suara pekikan yang terdengar oleh Gi Beng dan Im Gi
sekalian.
BAB 40.
Tewasnya Sang Bidadari.
Ledakan itu memang berasal dari dalam bumi,
tentu saja di bawah tanah terdapat manusia, karena obat mesiu itu
memang diledak-kan dari dalam perut bumi.
Peristiwa semacam ini merupakan peristiwa
langka, kejadian yang tidak umum, tidak heran manusia licik macam
Suto Siau pun tidak bisa menduga apa gerangan yang telah terjadi.
Terlebih lagi mereka tidak menyangka orang
yang berada di dalam perut bumi tidak lain adalah jagoan yang paling
mereka segani... Thiat Tiong-tong dan Kaisar malam.
Selama beberapa waktu belakangan, kehidupan
Thiat Tiong-tong dan Kaisar malam yang berada dalam perut bumi boleh
dibilang ibarat hidup dalam neraka, bukan hanya penderitaan secara
lahiriah, yang lebih menderita adalah siksaan yang datang dari dalam
batin.
Setiap hari mereka hanya bisa mengawasi
bongkahan batu raksasa yang membukit tanpa bisa banyak bicara maupun
berbuat, yang dapat mereka lakukan hanya duduk tanpa bergerak, duduk
termangu sambil mengawasi bebatuan itu, duduk mendelong hingga lupa
makan, minum apalagi tidur.
Batuan cadas raksasa itulah yang telah
memisahkan mereka dengan dunia luar, memutuskan jalan keluar
mereka, melenyapkan seluruh harapan mereka, juga melenyapkan sisa
kekuatan hidup yang mereka miliki.
Dalam keadaan begini, mereka sudah tidak
tahu apa arti kepedihan, tidak tahu bagaimana harus marah, yang bisa
dilakukan hanya termangu sambil mengawasi bongkahan batu raksasa
itu, dengan tenang menunggu saat lenyapnya kehidupan mereka....
Bukan hanya Kaisar malam seorang, bahkan
Thiat Tiong-tong pun sudah kehilangan semangat juangnya, semangat
untuk mempertahankan diri.
Sebenarnya anak muda ini memiliki hati
sekuat baja, betapa pun besarnya kekecewaan, pukulan batin, mara
bahaya maupun kegagalan, hatinya tidak pernah berubah, keuletannya
tidak pernah mengendor.
Tapi sekarang dia harus melalui kehidupan
penuh kegalauan, hidup dalam situasi pelik yang sulit tertolong
lagi, dalam keadaan begini terpaksa dia harus membuang jauh seluruh
harapannya, dia harus memendam semua semangatnya.
Kaisar malam pun nampak sangat kusut, bila
saat itu ada orang yang bertemu dengannya, mereka tidak bakal
percaya orang tua ini tidak lain adalah jagoan nomor wahid yang
pernah menggetarkan sungai telaga, kakek romantis yang memiliki
banyak pacar dan tidak terkalahkan kungfunya.
Terkadang dia sempat bergumam seorang diri:
"Kesalahan apa yang telah kulakukan?
Kesalahan apa yang telah kulakukan? Aku bersalah.. aku bersalah...
Nada ucapannya dipenuhi rasa sedih dan
penyesalan, membuat pedih perasaan hati siapa pun yang mendengar.
Tapi kawanan gadis yang menawan itu seolah
sudah kehilangan senyuman mereka yang menawan, sudah kehilangan
kecantikan wajah mereka di masa lampau.
Wajah yang semula putih, halus dan ayu, kini
berubah jadi layu dan kusut, kerlingan matanya yang genit, kini jadi
buram tidak bercahaya, bahkan rambut panjang mereka yang dulu hitam
berkilat, kini sudah pudar.
Mereka sudah menyingkirkan bedak dan gincu,
mereka membuang cermin untuk berdandan, mereka tinggalkan khim dan
catur, mereka singkirkan pit dan kertas, namun mereka tidak pernah
bisa menyingkirkan rasa sesal yang luar biasa.
Hingga suatu hari, San-san menghembuskan
napas yang terakhir.
Gadis romantis yang lincah dan penuh rasa
cinta itu akhirnya pergi untuk selamanya dengan membawa semua
penyesalan, kepedihan dan penderitaan... cinta yang berlebihan
akhirnya memusnahkan seluruh kehidupannya.
Sebelum menghembuskan napas yang terakhir,
dia sudah dalam kondisi yang mengenaskan, pipinya yang semula halus
lembut bagaikan buah apel, kini tinggal kulit pembungkus tulang,
tinggal selapis kulit yang pucat dan tidak bercahaya.
Sebelum menghembuskan napas yang terakhir,
semua gadis berdiri mengelilinginya, hanya Kaisar malam seorang yang
duduk menjauh, jangankan menghampiri, melirik sekejap pun tidak.
Sesaat sebelum ajalnya, dia masih memohon
pengampunan Kaisar malam.
"Ampunilah kesalahanku, aku
mohon....ampunilah kesalahanku," pintanya dengan suara gemetar.
Kaisar malam sama sekali tidak ambil peduli
dia seolah tidak mendengar permohonan itu, seakan tidak mendengar
apa-apa.
"Aku... aku tahu... dia... selamanya dia
tidak akan memaafkan diriku," bisik San-san lagi dengan air mata
berlinang, "tapi Thiat-kongcu, maukah kau... maukah kau memaafkan
aku?"
Dengan hati pedih Thiat Tiong-tong
mengangguk, sahutnya sambil menghela napas panjang:
"Semua ini memang bukan salahmu, cinta yang
berlebihan... aaaai! Tidak pernah ada yang menyalahkan seorang yang
memiliki cinta berlebihan, kalau ingin menyalahkan... Thian lah yang
salah, aaaai...! Thian... wahai, Thian!"
Akhirnya sekulum senyuman tersungging di
ujung bibir San-san.
Itulah senyumannya yang terakhir, senyuman
yang membuat wajahnya yang kurus kering menampilkan secercah cahaya
aneh... itulah cahaya terakhir menjelang sekarat.
Inilah berkah yang diberikan Thian kepada
seorang yang sekarat.
Dari balik mata San-san pun memancarkan
sekilas cahaya aneh, perlahan-lahan dia menyapu wajah semua gadis
yang berada di sekelilingnya ... setiap orang, tak ada yang
tertinggal.
Kemudian dia bertanya lagi:
"Adik-adikku, kalian... kalian mau
memaafkan aku bukan?"
Kawanan gadis itu tidak mampu mengendalikan
diri lagi, semua orang menangis tersedu-sedu.
Menangis pun merupakan pemberian maaf yang
paling tulus.
"Bila kalian telah bersedia memaafkan aku,
ada satu permintaan terakhir yang ingin kusampaikan kepada kalian,"
kata San-san kemudian: "aku berharap kalian bersedia mengabul-kan
permintaanku itu ... katakan! Kalian bersedia
mengabulkan permintaanku bukan?"
"Apapun permintaanmu, kami pasti akan
mengabulkan," sahut Min-ji sambil menangis terisak.
"Kami kabulkan permintaanmu," serentak
kawanan gadis yang lain ikut menyahut.
"Baiklah San-san tertawa pedih, "setelah aku
mati nanti, ledakkan jenasahku dengan obat peledak hingga hancur
berkeping, aku... aku ...."
Belum selesai dia berkata, mendadak napasnya
sesak dan gadis itupun menghembuskan napasnya yang terakhir.
Sekalipun dia belum selesai berkata, namun
semua orang dapat menangkap betapa menyesalnya gadis itu, rasa
penyesalan yang luar biasa, rasa sesal yang membuatnya menderita....
Dia ingin nyawa dan tubuhnya hancur
berkeping, hancur menjadi abu, dia tidak ingin lagi menyisakan
dirinya, menyisakan bagian mana pun dari tubuhnya di dunia ini....
Meledaklah isak tangis yang memilukan hati
Obat mesiu telah diangkut ke situ, bungkus
demi bungkus obat mesiu telah menumpuk di sekeliling jenazah
San-san.
Min-ji sambil mengangkat obor tinggi-tinggi
selangkah demi selangkah berjalan mendekat, cahaya api menyinari
wajahnya, memantulkan butiran air mata di wajah semua orang,
menyinari pula jenazah yang membujur kaku di tanah menyinari seluruh
gua yang penuh misteri itu ....
Pemandangan saat itu terasa begitu pedih,
tragis dan menggetarkan sukma.
Tiba-tiba Cui-ji berlari ke depan, berlari
sambil berseru:
"Cici sekalian, cepat menyingkir, hati-hati
jangan sampai kalian ikut diledakkan."
"Bagaimana dengan kau?" tanya kawanan
gadisku.
"Aku telah memutuskan untuk menemani Enci
San-san, aku ingin mati bersamanya, karena itu telah kugunakan
begitu banyak bahan peledak, semoga obat mesiu itu cukup untuk
menghancur leburkan tubuh kami bertiga...."
"Tunggu sebentar!" tiba-tiba Thiat
Tiong-tong melompat bangun sambil berteriak.
Dengan tertegun semua gadis berpaling,
mereka dapat menangkap rasa girang yang terlintas di wajah pemuda
itu.
"Thiat-kongcu, kau... kau tidak perlu
menghalangi kami," kata Min-ji sambil tertawa pedih, "sudah kami
putuskan.....”
Obornya mulai diturunkan, mulai mendekati
sumbu bahan peledak itu....
Saat itu Thiat Tiong-tong masih berada
beberapa langkah darinya, di tangannya tiada benda, ingin menyambar
tangannya pun sudah tidak sempat lagi, bahkan ingin menimpuk jatuh
obor itupun mustahil.
Tidak ada gunanya obor itu ditimpuk jatuh,
karena bahan mesiu itu pasti akan segera meledak, kalau sampai
begitu, dapat dipastikan tubuh Min-ji dan Cui-ji pun akan turut
hancur jadi abu.
Sejujurnya dia sama sekali tidak memikirkan
keselamatan Min-ji serta Cui-ji, tindakannya itu bukan lantaran
menguatirkan mereka, dia panik karena obat mesiu itu.
Obat mesiu yang tersisa merupakan kesempatan
terakhir bagi mereka, dia tidak ingin benda itu dibuang percuma.
Dalam gugup dan paniknya, tanpa mempedulikan
segala resiko dia lepaskan sebuah pukulan.
Belum lagi tubuhnya mencapai sasaran, angin
pukulan sudah dilontarkan ke muka, menumbuk tubuh Min-ji yang lemah
dan membuat gadis itu mencelat ke belakang.
Tidak ampun badannya yang lemah menumbuk
dinding batu, roboh terjungkal ke tanah, obor yang berada dalam
genggaman pun padam seketika.
Dengan langkah cepat, Thiat Tiong-tong
meluncur ke tepi tumpukan obat mesiu, dadanya naik turun tidak
beraturan, napasnya tersengal, sementara dia hanya berdiri tertegun,
berdiri tanpa sadar kalau ada belasan mata sedang mengawasinya
dengan ter peranjat, merasa tercengang oleh tindakannya, kaget oleh
kehebatan tenaga pukulannya.
Padahal dia sendiri pun merasa
terperanjat... mimpi pun tidak mengira ayunan tangannya bisa
menghasilkan tenaga pukulan sedahsyat itu.
Dia seolah tidak sadar, sejak berhasil
mempelajari ilmu Ka ih sin kang, tenaga dalamnya sudah amat dahsyat,
kekuatannya sudah bisa disejajarkan dengan jagoan nomor wahid
manapun.
Kalau dulu dia ibarat sebuah batu pualam
yang belum terasah, batu pualam yang belum memantulkan cahayanya,
belum sanggup memperlihatkan kemampuan terpendamnya.
Tapi sekarang dia ibarat batu pualam yang
sudah terasah, indah bercahaya, semua kemampuan terpendamnya telah
tergali... dari sebongkah baja telah berubah menjadi sebilah pedang
tajam.
Saat itu Kaisar malam sedang mengawasi pula
ke arahnya.
Untuk pertama kalinya secercah cahaya tajam
melintas di wajahnya yang kusut dan murung.
Dapat menyaksikan keberhasilan anak didiknya
yang terasah olehnya, jelas merupakan kejadian yang menggembirakan,
kejadian yang membanggakan.
Min-ji sudah tidak sadarkan diri, roboh
terkapar di sisi Cui-ji, sementara gadis itu dengan suara gemetar
menegur:
"Thiat-kongcu, kenapa kau... kenapa kau
berbuat begitu? Kenapa kau harus berbuat begitu? Apakah kau pun
melarang kami orang-orang bernasib burukuntuk mati?"
"Kau tidak perlu mati... semua orang tidak
perlu mati," tukas Thiat Tiong-tong.
"Apakah kau... sudah mendapat akal?"
"Bahan peledak... obat mesiu...."
Sekarang dia sudah berhasil mengendalikan
diri, wajahnya dipenuhi senyum kegembiraan, mendadak dia ambil
sebungkus obat mesiu, sambil disodorkan ke hadapan Cui-ji,
teriaknya:
"Obat mesiu ini berhasil meledakkan lorong
bawah tanah, kenapa tidak kita gunakan lagi untuk meledakkan
bongkahan batu raksasaku?"
Cui-ji tertegun sejenak, kemudian teriaknya
sambil berjingkrak:
"Betul! Betul! Kenapa tidak terpikir sejak
dulu...."
Sementara kawanan gadis itu bersorak-sorai,
Thiat Tiong-tong telah membalikkan tubuh menghampiri Kaisar malam.
Tapi sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu,
Kaisar malam telah bangkit berdiri sambil berseru:
"Cepat, cepat pindahkan semua bahan mesiu
yang ada kemari!"
Dia sendiri sudah lupa, sudah berapa lama
tidak bangkit dari tempat duduknya sekarang, namun sekarang dia
merasa begitu bersemangat, begitu bertenaga.
Suasana kehidupan tumbuh kembali di dalam
liang gua itu.
Hampir semua bahan mesiu yang tersedia dalam
gudang telah dipindahkan keluar semua.
"Cu... cukupkah itu?" dengan perasaan sangsi
Thiat Tiong-tong bertanya.
Kaisar malam tertawa tergelak. "Kalau
diganti dengan bahan mesiu lainnya, biar ditambah sepuluh kali lipat
pun belum tentu cukup, tapi bahan mesiu itu... hahaha... cukup..
cukup... lebih dari cukup."
"Apa bedanya dengan bahan peledak lain?" tak
tahan Thiat Tiong-tong bertanya.
"Coba kau perhatikan lagi dengan seksama,
masa tidak bisa menemukan perbedaannya?"
"Tecu sama sekali tidak paham tentang bahan
mesiu, tapi... seingatku dulu, obat mesiu yang dijual di toko mercon
biasanya berwarna kuning."
"Coba kau perhatikan sekarang, obat mesiu
itu berwarna apa?"
"Hitam!"
"Nah, itulah dia, bubuk mesiu berwarna
kuning hanya bisa digunakan untuk membuat mercon, sedang bubuk mesiu
berwarna hitam dapat digunakan untuk meledakkan batu dan bukit,
setiap orang punya resep untuk membuat ramuan bubuk mesiu kuning,
tapi ramuan bubuk hitam hanya Lohu seorang yang tahu, bubuk mesiu
yang tersedia sekarang tidak lain adalah hasil buatanku sendiri."
Kini orang tua itu sudah memperoleh kembali
semangat serta kehebatannya di masa lalu, sinar matanya tajam
bagai pisau, wajahnya penuh pancaran cahaya hidup, cara bicaranya
pun lebih bersemangat.
"Kenapa terdapat perbedaan yang besar antara
bubuk kuning dengan bubuk hitam?" tidak tahan kembali Thiat
Tiong-tong bertanya.
"Perbedaannya bukan hanya terletak dalam hal
warna, bahan ramuannya pun jauh berbeda."
Setelah memperoleh kembali semangat
hidupnya, rasa ingin tahu Thiat Tiong-tong pun tumbuh kembali, dia
memang sangat tertarik dengan segala yang baru, semua pengetahuan
yang diperoleh selalu ditanya hingga detil.
"Apa pula perbedaan bahan ramuannya?"
kembali ia bertanya.
"Ramuan untuk bubuk mesiu kuning tersedia di
negeri ini sejak zaman kuno, bahan utamanya adalah belerang, sewaktu
meledak menimbulkan suara keras, namun daya ledaknya tidak mampu
menghancurkan benda keras."
"Kalau yang hitam?"
"Kalau bubuk mesiu hitam beda sekali, bubuk
itu baru berhasil Lohu buat setelah melalui eksperimen yang sangat
lama, jarang orang di kolong langit yang mengetahui rahasia ramuan
ini."
"Bolehkah Tecu... Tecu...."
"Sayang, kau pun tidak boleh tahu."
"Ooh ...." Thiat Tiong-tong tertunduk lesu
dan tidak bicara lagi.
Sementara berbincang-bincang, sepasang
tangan Kaisar malam bekerja tiada hentinya, dengan alat bantu
sebilah pisau kecil ia membuat banyak sekali sumbu mesiu yang
disambung menjadi satu.
Cukup lama Thiat Tiong-tong memperhatikan
orang tua itu bekerja, lama kelamaan dia tidak tahan juga untuk
bertanya:
"Apa yang sedang kau buat? Untuk apa benda
itu?"
"Aku sedang membuat sumbu untuk memicu api
itu meledakkan bahan mesiu lainnya."
"Dengan alat pemicu itu, semua bahan mesiu
bisa meledak?"
Kaisar malam tertawa lebar.
"Asal kita sulut mesiu itu dengan api, sudah
pasti semua bahan yang ditumpuk di situ akan meledak, tapi ledakan
yang bakal terjadi sangat mengerikan, kita semua bisa mati konyol
karenanya."
"Aaah, belum pernah Tecu memikirkan hal
itu," kata Thiat Tiong-tong sambil tertawa jengah.
"Nah, untuk menghindari mati konyol, sengaja
kubuat sumbu pemicu yang panjang, kita bisa menyulutnya dari jarak
sekian puluh kaki, bukan Lohu sengaja membual, dalam hal pembuatan
sumbu pemicu inipun belum ada orang yang mampu menandingiku di
kolong langit saat ini."
"Apakah di balik pembuatan inipun terdapat
rahasia lain?"
"Tentu saja ada rahasianya... kau mesti
tahu, bubuk hitam adalah bahan mesiu yang gampang meledak,
salah-salah bisa mendatangkan bencana kematian buat diri sendiri,
bahan sensitif semacam ini tidak setiap orang bisa membuatnya.
Bi lek tong bisa tersohor di kolong langit
karena mereka pun punya resep untuk meracik bubuk mesiu semacam ini,
namun bila dibandingkan dengan kemampuan Lohu, hahaha... mereka
masih ketinggalan jauh."
"Tentu saja!" Thiat Tiong-tong ikut tertawa.
"Untuk meracik bahan mesiu semacam ini,
selain dibutuhkan tehnik tingkat tinggi, kau mesti memiliki sepasang
tangan yang tenang dan mantap, harus menguasai tindakan apa yang
mesti dilakukan bila menjumpai suatu keadaan, dengan ketrampilan
semacam inilah bubuk mesiu itu baru bisa menciptakan daya ledak
semaksimal mungkin."
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.
"Aaaai! Tecu tidak pernah menyangka kalau untuk meracik bahan mesiu
pun dibutuhkan pengetahuan sedemikian luasnya, sayang... sayang Tecu
tidak berjodoh untuk mempelajarinya."
"Kau mulai merasa kecewa? Menyesal?" Kaisar
malam menatapnya sekejap dan tertawa.
"Tecu ...Tecu...."
"Padahal semua kepandaian yang kumiliki
telah kuwariskan kepadamu, kenapa justru ilmu meracik bahan peledak
tidak kuwariskan? Coba pikir sendiri dengan lebih seksama, apa
alasanku menolak permintaanmu itu?"
"Tecu tidak mengerti."
"Karena bubuk mesiu adalah sebuah benda yang
mendatangkan bencana, barang haram yang membuat sial."
Dia mendongakkan kepala dan menghela napas,
lanjutnya:
"Ketika untuk pertama kalinya aku berhasil
menciptakan rahasia ini, tidak terlukiskan rasa girangku, aku ingin
segera menyiarkan kabar gembira ini ke seluruh kolong langit, tapi
setelah berpikir dua hari, makin kubayangkan hatiku semakin
bergidik, bukan saja rahasia racikan itu seketika kumusnahkan,
bahkan aku bersumpah tidak bakal mewariskan ilmu rahasia ini kepada
siapa pun, aku tidak ingin ada orang menggunakan resep rahasiaku
untuk mencelakai orang lain."
"Memang betul benda itu bisa digunakan untuk
mencelakai orang, tapi bila digunakan untuk membuka jalan baru,
bukankah hal itu justru memberi manfaat yang menguntungkan?" kata
Thiat Tiong-tong setelah berpikir sejenak.
"Betul, benda itu memang mendatangkan
manfaat kecil bagi umat manusia, tapi jika digunakan untuk
kepentingan yang salah, bencana yang ditimbulkan sangat mengerikan,
bahkan lebih menakutkan daripada datangnya air bah."
"Soal ini... lagi-lagi Tecu tidak mengerti."
"Coba bayangkan, bila benda ini digunakan
untuk peperangan, untuk membantai sekelompok manusia, apa jadinya?
Pertarungan antar umat persilatan memang masalah kecil, bila
digunakan dalam peperangan antar negara? Bukankah akibatnya bisa
fatal?"
Kembali Thiat Tiong-tong termenung, kemudian
teriaknya:
"Aaah, betul juga."
Setelah menghela napas panjang, kembali
Kaisar malam berkata:
"Sejak zaman kuno, manusia selalu memiliki
ambisi, bila ada ambisi pasti terjadi peperangan, sejak kaisar
pertama melakukan peperangan, selama ribuan tahun lamanya kapan
peperangan berhenti? Kapan tidak terjadi pertempuran lagi?"
"Betul juga perkataan ini," Thiat Tiong-tong
manggut-manggut.
"Dalam pertempuran yang terjadi di zaman
kuno, orang hanya menggunakan batu dan kayu sebagai senjata, maka
tidak banyak korban yang berjatuhan, menyusul kemudian manusia mulai
belajar menggunakan besi, pisau, parang...."
Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:
"Senjata yang bertambah ampuh membuat orang
jadi kesemsem, siapa tahu makin banyak senjata tajam ditempa makin
besar ambisi orang untuk menguasai jagad, makin banyak pula manusia
yang tewas di ujung senjata, kemudian diciptakan panah, lalu panah
api digunakan dimana-mana, bila terjadi pertempuran, bangkai pasti
membukit, darah pasti mengalir menganak sungai.
"Dalam setiap medan pertempuran, nyawa
manusia ibarat sampah, sama sekali tidak ada nilainya.
"Itulah dia, aku kuatir bila ciptaan bubuk
hitamku sampai diwariskan ke dunia, orang akan berlomba-lomba
membuat benda berbahaya ini, jika sampai terjadi pertempuran, bisa
dipastikan korban yang berjatuhan akan beribu kali lipat lebih
mengerikan daripada korban hujan panah berapi."
Thiat Tiong-tong tidak berani membayangkan
lebih lanjut, diam-diam dia bergidik, tapi dia pun merasa kagum
dengan kebijaksanaan orang tua ini, tidak nyana Kaisar malam bisa
berpandangan begitu jauh.
Lewat beberapa saat kemudian, kembali Kaisar
malam berkata:
"Untung bahan racikan itu tidak gampang
dibuat, sekalipun bisa cara meraciknya, namun kalau tidak tahu bahan
ramuan serta kadar yang dibutuhkan, hasilnya juga tidak mengerikan,
bila lohu mati nanti, rahasia ini akan lenyap untuk selamanya dari
kolong langit, paling tidak selama ratusan tahun ke depan belum
tentu ada orang mampu menciptakan benda yang sama."
"Tapi...." sebenarnya Thiat Tiong-tong ingin
mengucapkan sesuatu lagi, namun setelah melirik Kaisar malam
sekejap, dia urungkan niatnyaitu.
Kelihatannya Kaisar malam dapat menebak apa
yang ingin ditanyakan, dengan sedih dia menghela napas panjang.
"Betul, manusia macam aku pun bisa
menciptakan benda itu, cepat atau lambat suatu saat nanti orang lain
pun bisa menciptakannya pula, tapi... aku pikir sehari bisa kita
hambat penemuan itu, biarlah sehari pula dunia lewat dalam
ketenangan."
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.
"Semoga saja rahasia itu tidak pernah
ditemukan manusia," katanya.
Dalam pada itu Kaisar malam telah menyusun
rapi bungkusan berisi bubuk mesiu itu, kemudian dengan seksama pula
dia menghubungkan satu kelompok bungkusan dengan kelompok bungkusan
lainnya melalui sumbu yang telah dipersiapkan.
"Kenapa bungkusan itu mesti dibagi jadi dua
kelompok?" tanya Thiat Tiong-tong.
"Sebetulnya hanya satu kelompok yang kecil
pun sudah cukup untuk meledakkan batu itu, namun setelah terjadi
ledakan, hancuran batu pasti akan berguguran kembali ke tanah,
bahkan bisa jadi akan menyumbat jalan keluar itu. Nah, dalam keadaan
begitulah kita mesti meledakkan bungkusan yang besar, agar batu yang
menyumbat hancur berantakan."
Tidak lama kemudian Kaisar malam bekerja
sama dengan Thiat Tiong-tong membuat sebuah celah di bawah batu
raksasa itu, lalu dengan sangat hati-hati Kaisar malam memasukkan
bubuk mesiu ke bawah lubang itu.
Sumbu pun mulai dipasang, menghubungkan
bungkusan berisi bubuk mesiu itu dengan sisi paling dalam liang gua
itu.
Kaisar malam, Thiat Tiong-tong beserta
kawanan gadis lain segera memindahkan bungkusan bubuk
mesiu yang lebih besar itu itu ke dalam gua.
Setelah membuat obor, Kaisar malam
menyerahkan benda itu ke tangan Thiat Tiong-tong, katanya:
"Semuanya ini berkat jasamu, jadi kau saja
yang menyulutnya."
"Baik!" sahut Thiat Tiong-tong girang,
sambil memegang obor, diam-diam ia berdoa, "Thian, semoga kali ini
berhasil dengan gemilang."
"Wesss!", ujung sumbu mulai disulut, api pun
mulai menjalar membakar tali sumbu yang panjang itu.
Tidak jelas Kaisar malam menggunakan bahan
apa untuk membuat tali sumbu itu, tapi jelas di dalamnya diisi bubuk
mesiu, percikan bunga api segera menyebar kemana-mana.
Semua orang mengalihkan perhatiannya ke atas
tali sumbu itu, mereka merasa di balik setiap kerdipan bunga api itu
seolah mengandung kegembiraan yang tidak terkirakan, mengandung
harapan yang tiada batasnya.
Ledakan dahsyat yang memekakkan telinga
akhirnya berkumandang!
Sebenarnya suara ledakan itu merupakan saat
yang paling dinantikan semua orang, paling diharapkan setiap
penghuni gua itu, namun ledakan dahsyat yang memekakkan telinga
tidak urung membuat mereka terkesiap, tercekat.
Biarpun beberapa nona itu telah menutup
lubang telinga mereka dengan tangan, namun suara ledakan masih
membuat gendang telinga mereka jadi kaku dan mendengung keras,
bahkan untuk beberapa saat mereka seolah tidak bisa mendengar suara
lain.
Gelombang getaran yang dahsyat ibarat gempa
bumi yang menggetarkan jagad, dinding batu yang kokoh mulai
bergoncang keras, hancuran batu, guguran pasir, hamburan debu
menyelimuti seluruh ruangan, membuat mata siapa pun terasa pedas,
tidak sanggup dibuka kembali.
Meja batu, bangku batu, semua peralatan yang
tersedia....
Bahkan setiap benda yang diciptakan Kaisar
malam dengan susah payah, setiap barang antik yang tidak ternilai
harganya, bergetar, berjatuhan dan hancur berantakan.
Namun waktu itu, pada keadaan seperti itu,
tidak seorang pun yang mau menggubris, mempedulikan hal-hal seperti
itu.
Ketika getaran mulai mereda, di saat kabut
abu mulai berkurang, berbondong-bondong semua orang berlari keluar,
mereka ingin tahu bagaimana hasil ledakan itu, ingin secepatnya tahu
apakah bongkahan batu raksasa itu sudah hancur berkeping.
Semakin ke ujung lorong, debu semakin
bertambah tebal. Bahkan ketika tiba di titik ledakan, suasana terasa
begitu gelap, kabur, membuat orang susah membuka mata, membuat
mereka tidak mampu melihat dengan jelas benda yang berada di
sekeliling situ.
Lewat sepeminuman teh kemudian, akhirnya
hancuran batu dan debu mulai mereda... ketika melongok dari balik
kabut, tampak bongkahan batu raksasa yang semula menyumbat jalan,
kini sudah lenyap tidak berbekas.
Tidak tahan semua nona menjerit histerius,
bersorak kegirangan.
"Berhasil, berhasil, akhirnya berhasil"
gumam Kaisar malam dengan air mata berlinang.
Pengalaman yang diterima Kaisar malam selama
ini memang banyak, namun belum pernah dia dihadapkan dalam suasana
yang begitu mengharukan, rasa terharu, gembira, puas bercampur aduk
menjadi satu, membuat dia seolah tak dapat mengendalikan emosinya
lagi, membiarkan air matanyajatuh berlinang.
Begitu pula keadaan Thiat Tiong-tong waktu
itu, terkejut, girang, puas bercampur aduk jadi satu, membuatnya
hampir sesenggukan.
"Lihai, sungguh lihai...." gumamnya seperti
orang kesurupan.
Bongkahan batu cadas sebesar dan sekeras
itupun dapat dihancurkan, bisa dibayangkan apa jadinya bila
digunakan terhadap manusia yang terdiri dari darah daging. Jika
senjata sedahsyat ini digunakan dalam pertempuran, berapa banyak
nyawa manusia yang harus melayang? Berapa banyak keluarga yang harus
kehilangan anggotanya?
Semoga di dunia ini tidak pernah ada benda
pemusnah semacam ini.
“Jika ada umat manusia yang menciptakan
kembali benda laknat semacam ini, dia pasti akan menyesal setelah
melihat hasil ciptaannya merenggut begitu banyak nyawa manusia,
menghancur-leburkan begitu banyak keluarga,” dia berpikir.
Tapi kemudian pikirnya lebih lanjut, “Orang
yang bisa menciptakan benda dahsyat semacam ini, dia pasti akan
bermandikan uang, tapi di saat usianya telah lanjut, ketika rasa
menyesal mulai limbul, dia pasti akan berusaha menggunakan hasil
ciptaannya untuk kesejahteraan orang banyak, namun apapun yang dia
lakukan, belum cukup rasanya untuk menebus dosa dan kesalahan yang
telah dilakukan terhadap umat manusia."
Apa yang diduga memang tepat sekali, apa
yang kemudian terjadi sesuai dengan apa yang dia duga.
Di kemudian hari memang ada umat manusia
yang berhasil menciptakan benda itu, orang itu akhirnya sangat
menyesal, dia benar-benar melimpahkan seluruh kekayaannya untuk
membangun kesejahteraan manusia.
Kalau dibilang menciptakan benda itu
merupakan satu kejahatan, kenyataan benda itu telah mendatangkan
banyak perubahan yang menguntungkan manusia, tapi kalau dibilang
menciptakan benda itu merupakan tindakan benar, kenyataan nyawa
manusia jadi begitu tidak berarti.
Ada kelebihan pasti ada kekurangan, siapa
yang berani memvonis itu benar atau salah?
Thiat Tiong-tong sendiri pun tidak habis
mengerti, kenapa pada saat dan situasi seperti ini dia bisa
membayangkan persoalan yang tidak masuk akal, padahal keadaan tidak
mengizinkan dia berpikir banyak.
Kantong bubuk mesiu kelompok kedua sudah
diangkat datang, sudah dipendam di balik reruntuhan batu.
Untuk kedua kalinya semua orang mengundurkan
diri.
Sumbu telah disulut, percikan bunga api
kembali meletup, ledakan dahsyat kembali bergema, menciptakan
getaran dan ledakan yang menggidikkan hati.
Di tengah sorak-sorai gembira, kawanan nona
itu kembali berlarian ke titik ledak.
"Tunggu sebentar," tiba-tiba Kaisar malam
menghardik.
Dengan perasaan tertegun, kawanan nona itu
berhenti.
"Apa lagi yang mesti ditunggu?" ada yang
mulai bertanya.
Menanti suara ledakan telah reda, Kaisar
malam baru berkata dengan suara dalam:
"Tidak ada gunanya kita keluar dalam keadaan
begini, tidak ada yang bisa dilihat, apa salahnya kalau kita
menunggu sejenak lagi."
Nada suaranya terdengar begitu tenang,
damai, sayang kabut tebal masih menyelimuti ruangan, susah untuk
melihat jelas bagaimana perubahan mimiknya saat itu.
Meski agak keheranan, ternyata kawanan gadis
itu menurut juga, mentaati apa yang dia ucapkan.
Namun perasaan mereka sudah diliputi
kegembiraan yang tidak terlukiskan, gejolak emosi yang tidak
terkirakan, bahkan sampai akhirnya tubuh mereka mulai gemetar.
Semua penderitaan, siksaan segera akan
berakhir, cahaya terang yang sudah lama mereka nantikan kini sudah
muncul di depan mata, tapi... mereka harus menunggu lagi di situ,
menanti....
Sebuah penantian yang begitu lama, sebuah
penantian yang membuat orang panik, gelisah....
Lambat-laun debu dan kabut mulai menipis,
Kaisar malam masih duduk tidak bergeming di situ.
"Harus menunggu lagi? Kenapa?" tidak tahan
kawanan gadis itu bertanya.
"Makin lama kau menanti, makin besar
kegembiraan yang akan kau nikmati," jawab Kaisar malam perlahan.
Walaupun dia berkata begitu, namun Thiat
Tiong-tong dapat menebak perasaannya saat itu.
Perasaannya saat itu seperti seseorang yang
sedang dihadapkan pada ujian berat, ujian yang sangat menentukan,
ujian yang menentukan segalanya, dia seperti tidak percaya diri, dia
merasa takut menghadapi kenyataan, takut menghadapi kegagalan, dia
tidak berani menerima kenyataan seperti itu, maka selama bisa
ditunda, dia ingin sekali menundanya lebih lama.
Dia memang tidak yakin akan berhasil dengan
tindakannya ini, dia tidak yakin bisa menyingkirkan semua rintangan
yang ada, dia takut gagal, dia sudah tidak sanggup lagi menghadapi
pukulan batin sekecil apapun!
Sejujurnya, siapa pula yang sanggup
menghadapi pukulan batin yang datang sekali lagi?
Pukulan batin yang mematikan, pada akhirnya
tetap akan terjatuh ke tubuh sekawanan manusia apes, segelintir
manusia tak beruntung.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya
Kaisar malam menghela napas panjang.
"Pergilah!" ujarnya lirih
Di tengah sorak-sorai, kawanan gadis itu
berhamburan keluar, sementara Thiat Tiong-tong tetap menemani Kaisar
malam, berjalan paling akhir.
Tampaknya kedua orang itu mempunyai pikiran
yang sama, maka mereka berjalan sangat lambat... ketika tiba di
titik ledakan, mereka jumpai kawanan gadis itu ternyata masih tetap
di situ, hanya tidak seorang pun dalam kondisi berdiri.
Di antara mereka ada yang tidak sadarkan
diri, ada pula yang berbaring di tanah sambil menangis tersedu-sedu.
Bongkahan batu besar telah hancur, jalan
keluar pun sudah terbuka, tapi sayang Kaisar malam lupa
memperhitungkan sesuatu, dia seperti lupa memperhitungkan daya ledak
yang dimiliki bubuk mesiu ramuannya, dia pun tidak menyangka bubuk
mesiu itu bisa menghasilkan ledakan sedemikian dahsyatnya.
Ketika terjadi ledakan pertama, dinding batu
bagian atas sudah banyak yang merekah dan berguguran, ketika terjadi
ledakan kedua, seluruh bongkahan batu besar itu hancur berantakan.
Tapi ledakan yang maha dahsyat itu ikut
merobohkan seluruh dinding gua itu, berton-ton bongkahan batu
seketika gugur dan longsor ke bawah, membuat mulut gua yang baru
terbuka, kembali tersumbat.
Padahal mereka sudah tidak punya persediaan
bubuk mesiu lagi.
Salah perhitungan yang dilakukan
mendatangkan pukulan mematikan yang telak! Semua harapan, semua
kegembiraan seketika sirna tidak berbekas.
BAB 41
Perburuan di Padang Rumput.
Suara pekikan nyaring berkumandang di padang
rumput.
Suara pekikan itu bergerak bagaikan larinya
kuda jempolan, dalam sekejap mata sudah makin mendekat, para jago
yang masih dicekam rasa ngeri, kembali dibuat bergidik, berdebar
jantungnya sesudah mendengar pekikan nyaring itu.
Tanpa sadar Gi Beng mulai menggeser
tubuhnya, bergerak mendekati Thiat Cing-su.
"Si... siapa itu?" bisik Thiat Cing-su
dengan wajah berubah.
"Sssttt, tutup mulut, cepat tiarap bentak Im
Gi cepat.
Belum selesai dia menegur, suara pekikan itu
sudah tiba di atas kepala mereka.
Thiat Cing-su tidak sempat berpikir panjang
lagi, cepat dia tarik tangan Gi Beng dan menjatuhkan diri ke tanah,
dengan menggunakan tubuhnya dia tindih badan Gi Beng.
Pada saat dan keadaan seperti itu, dia hanya
berpendapat melindungi gadis yang berada di sampingnya merupakan
tanggung jawab yang sepantasnya dia lakukan, tentang masalah
perbedaan antara laki dan perempuan, dia sudah melupakannya.
"Weesss!", sesosok bayangan manusia,
diiringi suara pekikan panjang melintas di atas kepalanya, menyusul
kemudian "Weesss!", lagi-lagi sesosok bayangan manusia melintas.
Kedua orang itu, yang satu melarikan diri
sementara yang lain mengejar, gerakan tubuh mereka cepat bagaikan
sambaran petir, itulah sebabnya suara ujung baju mereka yang
tersampuk angin menimbulkan suara lengkingan tajam yang menusuk
pendengaran.
Walaupun Thiat Cing-su tidak sempat melihat
gerakan tubuh kedua orang itu, namun cukup didengar dari ujung baju
mereka yang tersampuk angin bisa diduga mereka adalah jago-jago
silat dunia persilatan yang memiliki ilmu meringankan tubuh sangat
tinggi.
Dalam pada itu meski Im Gi memerintahkan
muridnya tiarap, dia sendiri justru masih tetap berdiri tegak, sama
sekali tidak bergerak.
Sepasang kaki kedua sosok bayangan manusia
itu nyaris menginjak kepalanya, namun jangankan memiringkan kepala,
orang tua itu justru masih berdiri tegak sambil melotot besar.
Dengan cepat dia dapat mengenali kedua sosok
bayangan manusia itu adalah Hong Lo-su yang sedang kabur dan Leng
It-hong yang telah berubah jadi Dewa racun mengejar di belakangnya.
Menanti suara pekikan itu menjauh, Thiat
Cing-su baru mendengar suara rintihan lirih berkumandang dari bawah
tubuhnya, sekarang dia baru sadar badannya sedang menindih tubuh
seorang gadis molek.
Kontan saja pipinya merah dan panas,
jantungnya berdebar keras, buru-buru dia bangun terduduk, meski
masih menundukkan kepala, tidak urung sorot matanya secara diam-diam
melirik ke arah gadis yang berada di sisinya.
Gi Beng masih berbaring di atas tanah,
bahunya bergoncang keras, dadanya naik turun dengan kerasnya, jelas
jantungnya masih berdebar kencang, tidak jelas dia sedang jengah,
mendongkol, keberatan atau memang tidak berani bangkit?
Thiat Cing-su sendiri pun merasa detak
jantungnya berdebar sangat kencang, seolah-olah hendak menjebol
dadanya dan melompat keluar.
Lewat sesaat kemudian, tidak tahan dia
menyapa:
"Nona...."
"Ehmm...."
"Harap nona jangan marah," ujar pemuda itu
tergagap, "barusan Cayhe hanya... hanya...."
Tiba-tiba Gi Beng bangkit berdiri, sahutnya
sambil menundukkan kepala dan tertawa:
"Kau telah mempertaruhkan segalanya demi
melindungi keselamatanku, masa aku marah padamu?"
Sesungguhnya dia adalah seorang gadis
periang dan sangat terbuka, ketika secara tiba-tiba tubuhnya
ditindih tubuh seorang pemuda yang gagah dan kekar, entah mengapa
dalam hati justru muncul sebuah perasaan yang belum pernah dirasakan
sebelumnya, dia tidak tahu apakah itu lantaran jengah atau perasaan
lain? Sekarang meskipun dia telah berusaha berlagak seolah-olah
tidak pernah terjadi sesuatu, tidak urung merah jengah juga pipinya,
sepasang matanya yang bening bagaikan air di musim gugur tidak
pernah terangkat kembali.
Walaupun kedua orang itu sama-sama tidak
berani mendongakkan kepala, namun dengus napas mereka terdengar
jelas, perasaan hangat dan manis sama-sama timbul dalam hati mereka
berdua, apalagi Thiat Cing-su, dia merasakan hatinya kebat-kebit
tidak keruan, sukmanya serasa melayang meninggalkan raga, nyaris
terkesima dan dibuat bodoh....
Mendadak terdengar Im Gi membentak nyaring:
"Cing-su, angkat wajahmu!"
Thiat Cing-su terkesiap, sekarang dia baru
teringat mereka masih berada di hadapan gurunya, dalam keadaan
begini dia semakin tidak berani mengangkat wajah, hanya dengan suara
gemetar jawabnya:
"Tecu berada di sini."
"Kau sudah lupa sekarang kita berada dimana?
Dalam suasana apa?"
"Te... tecu tidak berani."
Im Gi mendengus dingin, sambil berpaling,
kembali tegurnya:
"Nona Gi!"
Dengan kepala tertunduk rendah dan
mempermainkan ujung bajunya, Gi Beng mengiakan.
Dengan suara berat Im Gi berkata lebih jauh:
"Setiap murid perguruan Tay ki bun memikul
tanggung jawab membalas dendam kesumat sedalam lautan,
semangat juang mereka tidak boleh terkikis oleh cinta kasih
muda-mudi."
"Aku... aku tahu."
"Kalau sudah tahu, kenapa kau belum pergi
dari sini?" bentak Im Gi lebih jauh.
Gi Beng tertegun, sambil mengangkat wajah
dia berseru:
"Tapi... tapi...."
"Tidak usah banyak bicara, cepat tinggalkan
tempat ini!"
"Tapi... tapi saat ini mara bahaya sedang
mengancam, masa kau ... kau orang tua tega membiarkan dia seorang
gadis muda pergi begitu saja? Dia harus pergi kemana?" protes Thiat
Cing-su.
"Kau anggap urusan pribadinya jauh lebih
penting daripada membalas dendam kesumat perguruan kita?" bentak Im
Gi semakin gusar.
"Tapi... baru saja dia nyaris
"Kau tidak usah bicara lagi," tukas Gi Beng
sambil melompat bangun, "aku segera akan pergi. Biar cuma seorang
gadis muda, sudah lama aku berkelana dalam dunia persilatan, masa
kau kuatir aku bakal ditelan orang lain?"
Waktu itu pengaruh totokan jalan darahnya
telah bebas, lambat-laun peredaran darah tubuhnya juga telah
berjalan lancar, sekalipun gerakan tubuhnya masih belum lancar,
paling tidak dia sudah mampu bangkit berdiri.
Im Gi sama sekali tidak berpaling, kembali
serunya:
"Paling bagus memang begitu, sekarang cepat
pergi dari sini!"
"Kalau aku sudah bilang akan pergi, aku
pasti akan pergi."
Kelihatan sekali perasaan gadis itu penuh
diliputi gejolak emosi, nada suaranya agak parau dan sesenggukan,
setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dia berpaling lagi dan
ujarnya sambil tertawa dingin:
"Sebelum pergi, ada beberapa persoalan ingin
kutanyakan kepadamu"
"Cepat katakan!"
"Kau suruh aku meninggalkan tempat ini,
memangnya kau takut aku akan merayu dan menggaet muridmu?"
Im Gi sama sekali tidak menyangka gadis yang
dihadapinya begitu terbuka dan berani bicara blak-blakan, bahkan
langsung menyodorkan pertanyaan yang terus terang kepadanya.
Untuk sejenak dia tertegun:
"Soal ini...."
"Hmm, kalau begitu kuberitahu padamu, meski
cinta muda-mudi dapat mengikis semangat juang seseorang,
sebaliknya cinta pun bisa membangkitkan semangat juang,
memangnya kau anggap dengan menjadikan setiap murid perguruan Tay ki
bun bagai Hwesio, maka mereka akan punya semangat untuk membalas
dendam? Hmmm, keliru besar jika kau berpendapat begitu, ingat, tidak
seorang manusia pun di dunia ini yang bisa mencegah muda-mudi
bercinta."
"Tutup mulutmu!" hardik Im Gi gusar.
Gi Beng tidak peduli, ujarnya lebih lanjut:
"Apalagi sejak mula aku memang tidak pernah
pandang sebelah mata terhadap anak murid perguruan Tay ki bun, sudah
terlalu banyak perempuan yang disakiti hatinya oleh anggota
perguruan Tay ki bun."
Kemudian setelah tertawa dingin, lanjutnya:
"Kalian bukan saja tidak tahu bagaimana
harus melindungi anak bini sendiri, membiarkan anak bini sendiri
dianiaya orang, disiksa orang, bahkan tindak-tanduk serta ulah
sendiri pun mendatangkan banyak kesedihan buat mereka, terhitung
Enghiong Hohan macam apa kalian itu? Hmmm, aku lihat dendam sakit
hati ini lebih baik tidak usah dibalas, urus dulu anak bini sendiri,
selamatkan dulu mereka sebelum memikirkan hal lain!"
Tidak terlukiskan rasa kaget dan gusar Im Gi
setelah dicaci-maki seperti itu, mimpi pun dia tidak menyangka ada
orang berani bicara semacam itu di hadapannya.
"Aku telah selesai berbicara dan sudah
waktunya pergi," kata Gi Beng lebih lanjut, "coba pikirkan kembali
perkataanku tadi dengan seksama!"
Tanpa berpaling lagi dia segera beranjak
pergi dari situ.
Thiat Cing-su hanya mengawasi bayangan
punggungnya dengan termangu, dia ingin memanggil namun tidak
berani.
Pada saat itulah suara pekikan aneh itu
tiba-tiba berbalik lagi ke arah mereka.
Kali ini suara pekikan aneh itu datang jauh
lebih cepat, bahkan jauh lebih menggetarkan sukma.
Mendadak tubuh Gi Beng terhuyung, lalu
terjatuh ke tanah.
Thiat Cing-su tidak ambil peduli lagi, cepat
dia menerkam ke depan, kali ini mereka berdua sudah bersiap, mereka
ingin tahu siapa gerangan yang sedang melintas, maka walaupun
menjatuhkan diri ke tanah, mereka masih menyempatkan untuk
berpaling.
Dua sosok bayangan manusia yang saling
mengejar itu kembali melintas di atas kepala Im Gi, melintas
bagaikan meteor saja, jika mereka melintas beberapa inci lebih ke
bawah, niscaya batok kepala orang tua itu akan tertendang.
"Kenapa kau ... kau orang tua tidak tiarap?"
seru Thiat Cing-su ketakutan.
"Binatang, memangnya kau lupa siapa gurumu
dan apa kedudukanku dalam dunia persilatan?" seru Im Gi gusar, "kau
sangka aku boleh sembarangan bertiarap? Hmmm, sebagai anggota
perguruan Tay ki bun, aku lebih suka mampus...."
Mendadak suara pekikan aneh itu hilang tak
berbekas, suasana di sekeliling tempat itupun kembali dicekam dalam
keheningan yang luar biasa.
Keheningan ini muncul sangat mendadak, jauh
lebih menggetarkan sukma dibanding ketika mendengar suara pekikan
tadi, bahkan Im Gi sendiri pun mau tidak mau seketika menghentikan
pembicaraannya dan tidak berani bersuara lagi.
Tidak lama kemudian terdengar suara Hong
Lo-su yang parau tapi melengking tajam berkumandang lagi.
Terdengar dia membentak nyaring:
"Aku tahu kau sudah datang, kenapa tidak
berani menampakkan diri? Aku percaya barang yang kau pinjam dariku
pun sudah kau bawa, cepat kembalikan kepadaku... cepat...."
Suara itu bergema sebentar dari kiri
sebentar dari kanan, sebentar dari belakang sebentar pula dari
depan, jelas selama pembicaraan berlangsung, tubuhnya sama sekali
tidak pernah berhenti bergerak.
Tiada jawaban, suasana tetap hening.
Kembali semua orang dibuat tercengang dan
tidak habis mengerti, tanpa terasa pikirnya, “Siapa yang telah
datang? Sebenarnya Hong Lo-su sedang berbicara dengan siapa?”
Setelah menunggu sesaat tanpa jawaban,
akhirnya Hong Lo-su mulai mencaci-maki kalang-kabut.
"Dasar nenek sihir berhati busuk, kau
bersembunyi dimana?" umpatnya gusar, "Lohu dikejar sampai hampir
putus napas, kenapa kau belum juga menampakkan diri menolong aku?
Memangnya kau si nenek busuk ingin melihat aku mampus? Agar kau bisa
mengangkangi barang yang kau pinjam? Kau toh tahu, hanya 'dia' yang
sanggup membendung si burung beracun itu!"
"Jangan-jangan yang sedang dimaki adalah Hoa
Ji-nio?" gumam Im Gi tanpa terasa.
"Dari nada bicaranya, aku rasa bukan," ahut
Gi Beng, "tapi bisa dipastikan orang yang jadi sasaran makiannya
adalah seorang wanita, bahkan wanita itu pernah meminjam sebuah
barang penting darinya."
Kini semua orang sedang dicekam perasaan
ingin tahu, seakan mereka sudah melupakan ganjalan yang baru saja
terjadi.
Im Gi termenung beberapa saat, kembali
ujarnya:
"Benda apa di dunia ini yang bisa membendung
Dewa racun?"
"Pertanyaan ini sulit rasanya untuk
dijawab."
"Yang dimaksud 'dia' rasanya bukan barang,
melainkan manusia," tiba-tiba Thiat Cing-su menyela.
"Ehmm, rasanya begitu...."
Tapi siapa di dunia saat ini yang sanggup
membendung Dewa racun?" kata Im Gi dengan kening berkerut:
"Bila orang itu betul-betul memiliki
kemampuan semacam itu, kenapa pula bisa saling pinjam oleh kedua
orang itu?"
Semua orang berusaha menduga dan menebak,
namun akhirnya tiada jawaban yang ditemukan.
Dalam pada itu suara makian telah bergeser
ke sisi kiri.
"Sreeet!", terdengar desingan angin tajam
bergema, Hong Lo-su telah melintas dari rerumputan di sisi mereka,
sementara si Dewa racun Leng It-hong mengejar ketat di belakangnya.
Tapi anehnya, kini di belakang Dewa racun
telah bertambah lagi dengan sesosok bayangan manusia.
Bayangan itu memiliki perawakan tubuh yang
kecil mungil, namun kelihaian ilmu meringankan tubuhnya sungguh
menggidikkan hati, dia menempel terus di belakang Dewa racun tanpa
menimbulkan suara, walaupun jaraknya tidak kelewat jauh, ternyata
Dewa racun tidak menyadari akan hal itu.
Tiga sosok bayangan manusia melintas dan
lenyap kembali di balik rerumputan.
Im Gi termenung sejenak, lalu bisiknya:
"Jangan-jangan orang itu yang sedang dimaki
Hong Lo-su?"
"Ehmm, kelihatannya orang itu mirip seorang
wanita."
Berubah paras muka Im Gi.
"Perempuan di kolong langit, rasanya hanya
satu orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh sangat tangguh,
mungkin termasuk si Hujan gerimis Hoa Bu-soat pun belum tentu tidak
dapat menandinginya."
"Siapa yang kau orang tua maksud?" tanya
Thiat Cing-su agak tertarik.
"Si Sambaran petir Coh Sam-nio!"
Thiat Cing-su dan Gi Beng segera saling
pandang, diam-diam mereka menghembuskan napas dingin.
"Sekarang Angin, Hujan, Kilat dan Guntur,
empat jagoan dari Bi lok hu telah muncul lengkap di sini, satu
kejadian yang tidak akan dipercaya siapa pun," lanjut Im Gi dengan
suara dalam.
Perlu diketahui, siapa pun dari Angin,
Hujan, Kilat maupun Guntur yang menampakkan diri, kejadian itu sudah
cukup menggetarkan seluruh dunia persilatan, apalagi sekarang mereka
muncul berempat, muncul bersama-sama, jelas peristiwa semacam ini
sangat menghebohkan.
Gi Beng segera bergumam:
"Waaah, dengan kehadiran mereka berempat,
lembah ini bakal lebih ramai lagi, aaaai! Siapa pun dari mereka
berempat sudah lebih dari cukup untuk memporak-porandakan tempat
ini."
"Kalau begitu lebih baik... lebih baik kita
pergi saja," ajak Thiat Cing-su tergagap, "dengan kehadiran mereka
berempat di sini...."
Tapi setelah melirik Im Gi sekejap, dia
segera menelan kembali perkataan yang belum sempat diucapkan.
Biarpun perkataan berikut tidak berani dia
ucapkan, tapi orang lain pun bisa menebak apa yang hendak dia
katakan:
"Dengan kehadiran mereka berempat, apa arti
kepandaian silat yang kita miliki? Apa pula yang bisa kita
lakukan?".
Tentu saja jika kungfu yang mereka miliki
dibandingkan dengan kemampuan Coh Sam-nio berempat, boleh dibilang
ibarat cahaya kunang-kunang dibandingkan dengan sinar rembulan.
"Betul," bisik Gi Beng, "mumpung saat ini
mereka sedang cakar, kenapa kita tidak segera meloloskan diri?
Andai...."
"Jangan mengungkit soal pergi lagi!" tukas
Im Gi tiba-tiba dengan penuh amarah.
"Tapi meski tidak pergi, apa...."
"Saat ini mereka sedang gontok-gontokan,
bisa dipastikan tidak sempat buat mereka memperhatikan
urusan orang lain, inilah kesempatan paling baik buat kita untuk
bertindak."
"Bertindak?" Gi Beng mengedipkan mata.
"Betul, bertindak! Aku yakin orang-orang
Ngo-hok-beng pasti sedang bersembunyi di balik padang rumput ini,
tadi mereka kabur terbirit birit, berarti saat ini belum sempat
berkumpul jadi satu."
"Betul, kawanan manusia itu merupakan
kelompok manusia busuk yang takut mampus," Gi Beng manggut-manggut,
"dalam keadaan seperti ini mereka pasti tidak berani sembarangan
bergerak, mereka pun belum tentu akan berkumpul jadi satu di tempat
yang sama."
Mendengar nona itu ikut mengumpat musuh
besarnya, tanpa terasa timbul perasaan simpati Im Gi
terhadapnya, setelah melirik sekejap, katanya sambil tertawa:
"Betul sekali, inilah saat mereka berada
dalam kondisi tercerai-berai, saat paling tepat buat kita untuk
menggempurnya, bila ada di antara mereka yang bertemu Lohu, itulah
saat orang itu harus mampus, akan kubuat mereka ketemu satu mati
satu, ketemu dua mampus sepasang!"
"Bagus sekali!" sorak Gi Beng sambil
bertepuk tangan, "tinggalkan Suto Siau si bajingan mogor itu
untukku."
"Bagus, kebetulan Lohu memang ingin
menyaksikan kehebatan tujuh pedang pelangi!"
Melihat hubungan antar kedua orang itu telah
berjalan normal kembali, diam-diam Thiat Cing-su merasa girang, tapi
setelah melirik Im Gi sekejap, keningnya kembali berkerut. Ujarnya
tergagap:
"Tapi kekuatan kau orang tua...."
"Melihat batok kepala musuh sudah berada di
depan mata golok, semua racun yang mengeram di tubuh Lohu lenyap
tidak berbekas," kata Im Gi dengan suara berat, "yang tersisa
sekarang hanya rasa dahaga, haus untuk menghirup darah segar
mereka."
"Dibandingkan arak tua yang berusia ratusan
tahun pun, darah segar musuh pasti lebih mantap," sambung Gi Beng
sambil tertawa.
"Anak pintar, ternyata kau mengerti sekali
soal seleraku."
"Tapi barusan aku sempat memakimu!"
"Huuh, apalah arti makian, hanya orang
berjiwa terbuka yang berani memaki orang tanpa tedeng aling-aling,
jauh lebih bagus ketimbang mereka yang tahunya mengikut, menurut,
segala mengiakan, seperti orang yang tidak punya pendirian saja,
ayo, jalan!"
Tanpa membuang waktu dia segera beranjak
pergi dari situ dengan langkah lebar.
Mengawasi bayangan punggungnya yang menjauh,
diam-diam Gi Beng menjulurkan lidah, kemudian sambil berpaling ke
arah Thiat Cing-su, bisiknya sambil tertawa:
"Orang tua ini betul-betul manusia aneh,
kalau dia sudah tidak senang denganmu, segala perbuatanmu
dianggapnya salah, tapi begitu dia merasa cocok denganmu, biar
dimaki pun tidak jadi masalah."
"Jangan-jangan umpatanmu tadi sangat
mengena, kalau tidak...."
"Kalau tidak kenapa?"
Thiat Cing-su menghela napas panjang,
bisiknya:
"Kalau tidak, mungkin aku tidak bisa bertemu
lagi denganmu."
"Apa... apa hubungannya denganku?" paras
muka Gi Beng kontan bersemu merah.
"Mungkin buatmu tidak masalah, tapi sangat
bermasalah bagiku," bisik Thiat Cing-su sambil menundukkan kepala.
Beberapa patah kata itu diucapkan tanpa
sadar, apa yang diungkapkan pun merupakan pengakuan yang paling
jujur dari sanubarinya.
Perlu diketahui, bila orang berada dalam
posisi senasib, biasanya saat seperti itulah paling gampang
mengungkap perasaan hati dengan sejujurnya, tidak kecuali Thiat
Cing-su dan Gi Beng waktu itu.
Tanpa terasa Gi Beng melirik sekejap ke
arahnya, menyaksikan ketulusan dan keseriusan pemuda itu, tanpa
terasa dia pun ikut mengutarakan perkataan yang seharusnya enggan
diucapkan.
"Kemudian bisiknya dengan lembut, "padahal
aku pun merasa ikut bersalah."
Begitu selesai bicara, bagaikan sedang
terbang saja dia langsung meluncur maju ke depan.
Tidak terlukiskan rasa gembira Thiat Cing-su
setelah mendengar perkataan itu, dia merasa tubuhnya seolah berubah
lebih enteng, cepat dia menyusul di belakangnya dengan ketat, atas
semua bencana dan mara bahaya yang mengancam di depan mata pun dia
merasa seolah sudah lupa.
Im Gi bergerak lebih dulu paling depan,
terhadap pembicaraan yang dilakukan sepasang muda-mudi itu dia
seolah sama sekali tidak mendengar, bahkan berpaling pun tidak.
Semenjak bertemu Un Tay-tay dan Gi Beng...
sejak mendengar berita kematian Thiat Tiong-tong dan Im Ceng, watak
orang tua ini seakan benar-benar telah tejadi perubahan, perubahan
yang amat drastis.
Berlarian di tengah padang rumput
sesungguhnya merupakan tindakan yang berbahaya, karena tidak
gampang menghindari pengamatan orang lain, masih untung waktu itu
Hong Lo-su sedang saling kejar sehingga banyak membantu kelancaran
gerak ketiga orang itu.
Mendadak terlihat cahaya tajam berkilat,
sebilah pedang tahu-tahu menusuk keluar dari balik rerumputan
langsung mengancam dada Im Gi, serangan itu datang sangat cepat,
ganas dan sama sekali tidak menimbulkan suara.
"Ternyata datang juga!" bentak Im Gi
nyaring. Kelihatannya dia sudah membuat persiapan, walaupun tusukan
pedang itu muncul secara tiba-tiba, meski serangannya ganas dan
telengas, namun bagi Ciang bunjin Thiat hiat tay ki bun ini, erangan
itu sama sekali tidak dipandang sebelah mata pun.
Tampak dia menekuk pinggangnya ke samping,
tahu-tahu tusukan itu sudah menyambar lewat di sampingnya, menyusul
dia pentang kesepuluh jari tangannya yang tajam bagai kaitan dan
langsung mencengkeram pergelangan tangan lawan yang menggenggam
pedang.
“Bajingan busuk, hebat juga kau," bentak
orang di balik rerumputan gusar.
Tampak seseorang menerjang keluar dari
tempat persembunyiannya sambil memutar pedang dengan kalap, ternyata
dia adalah Gi Teng.
Dengan perasaan terkejut bercampur girang,
Gi Beng segera berseru:
"Im-locianpwe, ampuni jiwanya!" Im Gi
tertegun, cepat dia menarik kembali serangannya sambil mundur.
Gi Teng menarik pula pedangnya sambil
melompat mundur, untuk sesaat dia pun hanya berdiri tertegun dengan
mata terbelalak.
Ketika kakak beradik saling bertemu, tidak
terlukiskan rasa terkejut dan gembira mereka berdua.
Sun Siau-kiau yang mengintil di belakang Gi
Teng segera berseru pula:
"Adikku, ternyata kau, hampir saja kami
mengalami bencana besar, betul-betul air bah menghanyutkan kuil raja
naga."
Tiba-tiba terdengar seseorang berseru pula
dari balik rerumputan, berkata sambil tertawa ringan:
"Sun Siau-kiau, saudara Gi, kenapa kalian
kabur? Memangnya aku benar-benar akan mencelakai kalian? Cepat
kemari, cepat kemari, asal kita berkumpul, makin banyak jumlahnya
semakin enak cara kerjanya."
Perkataan itu disampaikan dengan suara
rendah dan perlahan, jelas cara kerja orang itu amat teliti dan
berhati-hati.
"Su...." berubah hebat paras muka Gi Beng.
Baru saja dia mengucapkan sepatah kata, mulutnya sudah dibekap Gi
Teng.
"Betul," bisik Sun Siau-kiau di samping
telinganya, "dia memang Suto Siau, sewaktu aku bersama kakakmu
berusaha menyusup masuk ke dalam padang rumput, kami telah bertemu
dengan ketiga orang bajingan tengik itu, ternyata dia... dia tidak
mempedulikan hubungan di masa lalu...."
Ketika bicara sampai di situ, tiba-tiba dia
bungkam, paras mukanya berubah merah jengah.
Terpaksa Gi Beng berlagak seolah tidak
paham, katanya lirih:
"Kebetulan sekali kedatangan kalian."
Sementara itu Im Gi dengan sinar mata
berkilat dan wajah diliputi napsu membunuh telah berkata:
"Pancing mereka kemari."
Beberapa orang itu bukan manusia bodoh,
begitu mendengar perkataan itu, Gi Beng dan Thiat Cing-su segera
mengikuti Im Gi membaringkan diri bersembunyi, sementara Gi Teng
dengan pedang terhunus bersiap sedia.
Dengan cepat Sun Siau-kiau menghampiri Suto
Siau, serunya manja:
"Kau sungguh tidak akan mencelakaiku?"
"Tentu saja sungguh," sahut Suto Siau sambil
tertawa, "dimana mereka sekarang?"
"Ada di sini, masa kalian belum mendengar?"
"Baiklah, kali ini kalian jangan kabur
secara sembarangan, apa yang kucapkan tadi tidak lebih hanya
mengajak kalian bergurau saja.."
Belum habis perkataan itu berkumandang, Suto
Siau, Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu telah menyusup tiba, mereka
langsung mengurung Sun Siau-kiau dan Gi Teng di tengah arena.
Paras muka mereka sama sekali tidak dihiasi
senyuman, apalagi wajah Suto Siau, dia nampak dingin, kaku bagaikan
bongkahan salju, seakan perkataan yang barusan diucapkan bukan
berasal dari mulutnya.
"Akhirnya kalian tertipu juga," kata Pek
Seng-bu ketus.
"Akan kulihat, kali ini kalian akan kabur
kemana lagi?" sambung Hek Seng-thian.
Sun Siau-kiau pura-pura terkejut, jeritnya
tergagap:
"Mau apa... mau apa kalian?"
"Tidak mau apa-apa, hanya ingin mencabut
nyawa kalian berdua," kata Suto Siau perlahan.
"Apakah kau... kau sedang bergurau?"
Suto Siau tertawa dingin.
"Dalam keadaan begini, siapa yang punya
selera mengajak kalian bergurau? Hek-heng, Pek-heng, kenapa tidak
segera turun tangan? Mau menunggu sampai kapan lagi?"
"Tunggu sebentar!" bentak Sun Siau-kiau
cepat.
"Apa lagi yang ingin kau katakan?" jengek
Pek Seng-bu dingin.
"Kedatangan tujuh pedang pelangi khusus
untuk membantu kalian, kenapa kalian malah......”
"Hmmm, tujuh pedang pelangi hanya sekelompok
manusia yang pagar makan tanaman," ujar Suto Siau sambil tertawa
dingin, "sudah lama aku berniat membasmi kalian, kini saatnya sangat
tepat, inilah kesempatan emas yang diberikan Thian kepadaku."
"Tapi... tapi... masa kau sudah mengabaikan
hubungan lama kita....”
"Tutup mulut!" tukas Suto Siau gusar.
Sun Siau-kiau tertawa terkekeh.
"Sekarang aku mengerti," katanya, "ternyata
kau memang berniat membungkam mulutku untuk selamanya, karena itu
timbul niat untuk menghabisi nyawaku, dasar bajingan tengik berhati
busuk, kau memang pantas mampus."
"Kalau memang begitu, mau apa kau? Mulutmu
yang banyak bicara memang sudah waktunya untuk dibungkam selamanya,"
kata Suto Siau sambil tertawa seram.
"Memang sudah waktunya untuk tutup mulut,
cuma ada satu persoalan perlu kusampaikan."
"Soal apa?"
"Belalang menubruk tonggeret, burung nuri
mengintai dari belakang. Masa kau lupa dengan perkataan ini? Kalau
kurang percaya, tidak ada salahnya berpaling dan periksa sendiri,
coba lihat siapa sajayangberdiri di belakangmu?"
"Hahaha, kau pun ingin membohongi aku dengan
permainan anak-anak semacam itu?" Suto Siau tertawa tergelak.
Ketiga orang itu benar-benar licik dan
banyak akal muslihat, ternyata tidak seorang pun yang bersedia
berpaling.
Serentak mereka bertiga tertawa
terbahak-bahak, katanya:
"Kami tidak bakal menoleh, dan kau pun
jangan harap bisa kabur...."
Belum selesai mereka tertawa, tiba-tiba dari
belakang tubuh terdengar seseorang berkata dingin:
"Lebih baik kalian berpaling." Begitu ucapan
itu berkumandang, tanpa berpaling pun mereka tahu siapa gerangan
yang berada di belakang, tidak tahan hawa dingin seketika muncul
dari tulang belakang dan bulu kuduk pun berdiri.
Suto Siau berdehem berulang kali, kemudian
ujarnya sambil tertawa paksa:
"Bagus sekali, kebetulan sekali, ternyata
kita bersua kembali."
"Betul, sangat kebetulan kita bisa bersua
lagi...." ujar Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu pula sambil tertawa
paksa.
Sementara berbicara, tubuh mereka secara
diam-diam bergeser ke samping dan berusaha pindah ke arah lain.
"Berhenti!" bentak Im Gi nyaring.
"Kau tidak usah kuatir, sekalipun kau tidak
datang mencari kami, kami tetap akan mencarimu, setelah saling
berjumpa, kenapa kami mesti menyingkir?"
"Kalau begitu, balik tubuhmu, mari kita
berduel sampai mati."
Suto Siau memandang sekeliling tempat itu
sekejap, lalu ejeknya dengan licik:
"Kalian berlima sementara kami bertiga,
dengan lima lawan tiga pihak kalian ingin meraih kemenangan dengan
jumlah banyak, hehehe ... masa orang perguruan Tay ki bun akan
berbuat begitu?"
"Buat apa membicarakan peraturan dunia
persilatan dengan bajingan tidak tahu malu macam kalian," hardik Gi
Beng gusar, "Enci Sun, mari kita bersama-sama meringkus dan
menghabisi nyawa anjingtuaini!"
"Memang sejak lama aku ingin menjagal
bajingan tua ini."
Serentak kedua orang itu merangsek ke muka,
satu di depan dan yang lain dari belakang, langsung menyerang Suto
Siau dengan garang.
Gi Teng mengayunkan pedangnya ikut menusuk
Pek Seng-bu, sedang Thiat Cing-su setelah sangsi sejenak akhirnya
ikut menerjang maju, secara beruntun dia melancarkan tiga serangan
berantai sambil berteriak:
"Heng-tay, aku datang membantumu."
"Hahaha, bagus! Bagus sekali!" seru Hek
Seng-thian sambil mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak,
"tinggalkan ketua perguruan Tay ki bun ini untukku!"
Meskipun gelak tertawanya amat nyaring,
namun dapat terdengar suara tawanya agak gemetar.
"Kau masih belum mau membalikkan badan?"
tegur Im Gi.
"Cepat atau lambat toh pasti akan bertarung
juga, buat apa kau terburu napsu?"
Perlu diketahui, walaupun jawabannya masih
ketus dan keras, namun hatinya sudah mengkeret, rasa takut yang luar
biasa telah mencekam hatinya, dia sadar, begitu berpaling maka
pertarungan mati hidup segera akan berlangsung, bayangkan saja, mana
mungkin dia berani cepat-cepat berpaling?
"Hmm, kau anggap tanpa berpaling lantas Lohu
tidak berani menyerangmu?" tegur Im Gi lantang.
"Ma... masakah Ciangbunjin perguruan Tay ki
bun akan membokong orang dari belakang" sahut Hek Seng-thian, tapi
belum selesai dia berkata, tahu-tahu pandangan matanya kabur dan Im
Gi sudah berdiri tegak persis di hadapannya.
"Hehehe, kau tidak berani berpaling,
memangnya Lohu tidak bisa muncul sendiri di hadapanmu? Ayo, cepat
bertarung," terdengar Im Gi tertawa seram, sebuah pukulan dahsyat
langsung dilontarkan ke arah dadanya.
Belum lagi bertarung, Hek Seng-thian sudah
ciut hatinya, apalagi menghadapi serangan yang begitu dahsyat dengan
kekuatan yang menggetarkan sukma, lima gebrakan kemudian dia sudah
bermandikan keringat dingin.
Di pihak lain, walaupun Suto Siau harus
seorang diri melawan Sun Siau-kiau dan Gi Beng, namun pertarungan
masih berjalan seimbang, justru posisi Pek Seng-bu yang paling
berbahaya, dia sudah terdesak hebat hingga berulang kali harus
menghadapi situasi yang amat berbahaya, panik dan takut membuat dia
bermandikan peluh dingin.
Cahaya pedang, angin pukulan, tenaga
serangan menggetarkan sekeliling tempat itu, membuat rerumputan
tumbang tidak keruan, terpapas kutung sebagian dan beterbangan di
angkasa, ada di antaranya yang terbang dan melekat di wajah Suto
Siau sekalian yang berkeringat, ada pula yang beterbangan di seputar
tubuh mereka yang sedang bertarung, membuat orang-orang itu nampak
amat mengenaskan.
Melihat ketiga orang musuh besarnya yang
paling dibenci sudah tercecar hebat dan hampir kehilangan nyawa, Im
Gi merasa semangatnya semakin berkobar, makin bertarung dia pun
semakin perkasa.
Tampak jenggot panjangnya berkibar terhembus
angin, sepasang kepalannya melepaskan pukulan bagai hujan badai,
angin pukulan yang menderu-deru ibarat tindihan bukit karang yang
berat, membuat Hek Seng-thian susah bernapas, membuat ia
terengah-engah.
"Sungguh memuaskan! Sungguh menggembirakan
tidak tahan Im Gi berseru sambil tertawa nyaring.
Jika ketiga orang itu mampus, berarti
persekutuan Ngo hok beng ikut tumbang, rasa benci dan dendam kesumat
yang sudah tersimpan selama puluhan tahun pun akhirnya bisa
terlampiaskan, dalam kondisi seperti ini, tentu saja dia merasa
sangat puas dan gembira.
"Hmm, apa yang kau gembirakan?" tiba-tiba
Suto Siau menjengek sambil tertawa dingin, "sekalipun hari ini aku
Suto Siau bakal mampus, toh bukan mati di tangan anggota perguruan
Tay ki bun, siapa bilang dendam kesumatmu sudah terbalaskan?"
Im Gi melengak, tapi segera teriaknya gusar:
"Kau...."
Sebelum dia melanjutkan perkataannya, Gi
Beng sudah menyela lebih dulu, "Siapa bilang kau bukan mampus di
tangan anggota perguruan Tay ki bun?"
"Hehehe, memangnya kau anggota perguruan
Tay ki bun?" ejek Suto Siau sambil tertawa dingin.
"Siapa bilang bukan!"
Kontan Suto Siau mendongakkan kepala dan
tertawa terbahak-bahak.
"Pelacur cilik, sejak kapan kau jadi anggota
perguruan Tay ki bun?" jengeknya, "kecuali dalam waktu relatif
singkat, kau menjadi bini si bocah dungu perguruan Tay ki bun."
Walaupun saat itu Thiat Cing-su sedang
bertempur melawan musuh, namun semua pembicaraan dapat didengarnya
dengan jelas.
Dalam gusarnya dia siap melontarkan umpatan,
namun Gi Beng sudah berkata lebih dulu:
"Dugaanmu tepat sekali, aku memang sudah
menikah dengan murid perguruan Tay ki bun, itulah sebabnya sekarang
aku pun terhitung anggota perguruan Tay ki bun, apa lagi yang
hendak kau ucapkan? Serahkan nyawa anjingmu!"
Begitu perkataan itu diutarakan, Suto Siau
kontan melengak, sementara Im Gi merasa terkejut bercampur
kegirangan.
Rasa girang dan kaget yang dialami Thiat
Cing-su pun tidak terlukiskan dengan perkataan.
Gi Teng mula-mula tertegun, kemudian dengan
perasaan girang serunya:
"Kionghi, kionghi...."
"Terima kasih," sahut Thiat Cing-su dengan
wajah memerah.
Tanpa terasa semangat kedua orang pemuda
itupun makin berkobar, tiga gebrakan kemudian Pek Seng-bu sudah
tercecar hebat hingga napasnya tersengal-sengal.
Di pihak lain Suto Siau juga berhasil
didesak Gi Beng hingga mulai menunjukkan tanda terdesak.
Posisi Hek Seng-thian yang paling gawat, dia
sudah tercecar hebat dan terjerumus dalam posisi bahaya.
Andai ketiga tonggak utama persekutuan Ngo
hok beng ini tumbang, niscaya kekuatan persekutuan itupun akan
hancur berantakan.
Di saat yang amat kritis itulah
sekonyong-konyong terlihat sesosok bayangan manusia meluncur datang.
Padahal sebelum munculnya bayangan manusia
itu, suara bentakan dan umpatan mereka sudah berkumandang lebih
dulu, hanya sayang beberapa orang itu sedang asyik terlibat dalam
pertarungan seru sehingga siapa pun tidak mendengar kedatangan
mereka.
Bayangan manusia itu tidak lain adalah Hong
Lo-su, ketika melintas di sana, dia segera melihat pertarungan yang
sedang berlangsung, tiba-tiba tubuhnya berjumpalitan di udara, lalu
dengan cepat meluncur ke arah Im Gi.
Dalam terkesiapnya, buru-buru Im Gi
melepaskan sebuah pukulan, siapa tahu Hong Lo-su menggeser kakinya
ke samping dan secepat kilat berputar ke belakang tubuhnya,
mengguna-kan kesempatan itu dia mendorong tubuh lawan-nya ke depan.
Im Gi terkejut, cepat dia melejit ke tengah
udara dan berusaha menghindari dorongan yang datang dari belakang.
Pada saat bersamaan Dewa racun telah
mengejar tiba, karena Im Gi melejit ke udara, maka tindakan ini sama
artinya dia menyongsong kedatangannya, menanti sadar akan mara
bahaya yang mengancam dan berusaha menghindar, keadaan sudah
terlambat.
Tampak Dewa racun menyodokkan tangannya ke
depan mengarah dada lawan, dalam posisi begini Im Gi tidak sanggup
menghindar lagi.
Gi Teng, Gi Beng maupun Thiat Cing-su
terkesiap melihat kejadian itu, cepat mereka tinggalkan lawan
masing-masing sambil menerjang ke depan, tapi siapa di antara mereka
yang mampu membendung pukulan maut Dewa racun?
Untunglah di saat yang amat kritis, kembali
terlihat bayangan manusia berkelebat lewat, rupanya bayangan manusia
yang berada di belakang Dewa racun telah melampaui tubuhnya dan
mendorong tubuh Im Gi ke samping.
Gerakan itu kelihatannya saja amat gampang
dan sederhana, padahal tanpa ilmu meringankan tubuh yang sempurna,
jangan harap orang lain bisa melakukannya.
Terdengar Hong Lo-su mengumpat dengan rasa
kaget:
"Perempuan sialan, ternyata selama ini kau
mengintil terus di belakangku."
Kini di hadapan Dewa racun tidak ada
penghalang lagi, dia pun kembali mengejar Hong Lo-su.
Dalam kondisi demikian, Hong Lo-su tidak
sempat lagi memaki lebih jauh, buru-buru dia melejit ke udara dan
kembali melarikan diri.
Dewa racun pun segera mengejar kembali dari
belakang.
Baru saja Im Gi meluncur turun ke atas
tanah, dia segera mendengar suara tertawa ringan seorang wanita
sambil berseru:
"Akulah yang telah menyelamatkan nyawamu,
jangan lupa hal ini."
Baru saja ucapan itu bergema, tubuh
perempuan itu kembali meluncur ke depan, bahkan suara tawanya
berasal dari sana.
"Coh Sam-nio, tunggu sebentar," teriak Im
Gi, "bukankah kau adalah Coh Sam-nio?"
Waktu itu bayangan manusia tadi sudah lenyap
di balik rerumputan, tapi terdengar suara yang halus dan lembut,
diiringi suara tertawa ringan bergema dari kejauhan sana:
"Benar, aku memang Coh Sam-nio."
Im Gi mencoba memandang ke tempat jauh,
namun tidak melihat apa-apa.
Dalam pada itu Gi Beng, Gi Teng, Thiat
Cing-su serta Sun Siau-kiau sudah mengerubung datang sambil
bertanya:
"Kau orang tua tidak apa-apa bukan?"
Im Gi menghela napas panjang, sahutnya
dengan gegetun:
"Biarpun aku tidak kekurangan sesuatu
apapun, tapi bagaimana caraku membayar budi pertolongan ini?"
Setelah berhenti sejenak, sambil menengok
sekitar sana, tiba-tiba serunya lagi dengan wajah berubah:
"Celaka!"
Ketika semua orang ikut berpaling, mereka
baru tahu Suto Siau, Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu telah
memanfaatkan kesempatan ketika terjadi kekalutan tadi untuk
melarikan diri.
Keadaan Gi Beng dan Gi Teng masih agak
mending, Im Gi serta Thiat Cing-su justru merasa gusar, kaget,
kecewa serta perasaan campur aduk lain yang susah dilukiskan dengan
perkataan.
"Kejar!" bentak Im Gi kemudian dengan wajah
memerah, merah karena marah.
Dengan Im Gi dan Thiat Cing-su berjalan
paling depan, Gi Beng serta Gi Teng melakukan perlindungan dari
kedua sisi dan Sun Siau-kiau berada di barisan paling belakang,
berangkatlah kelima orang itu untuk melakukan pengejaran, bergerak
dalam formasi kipas.
Anggota perguruan Tay ki bun memang tidak
malu disebut Hohan berhati tegar bersemangat baja, walaupun berada
dalam kondisi gusar bercampur kecewa, ternyata gerak-gerik mereka
tetap tidak gegabah.
Berada di padang rumput yang luas dan lebat,
posisi pemburu serta mereka yang diburu sama sekali tidak ada
bedanya, siapa pun di antara mereka berani bertindak ceroboh,
niscaya akan mengalami celaka di tangan lawan.
Pekikan aneh serta umpatan gusar Hong Lo-su
masih bergema tiada hentinya, kelihatannya permainan petak umpetnya
dengan Coh Sam-nio masih berlangsung seru, namun sayang dia tidak
mampu berbuat banyak.
Yang membuat semua orang tercengang adalah
teriakan serta umpatannya yang begitu keras dan nyaring kenapa tidak
memancing kemunculan si Hujan gerimis Hoa Bu-soat serta Siang-tok
Thaysu?
Kemana perginya kedua orang jago silat itu?
Apa yang sedang mereka lakukan?
Sebenarnya persoalan ini patut dicurigai dan
perlu dibahas lebih mendalam, tapi sayang Im Gi sekalian sedang
dibakar api dendam dan amarah yang tidak terlukiskan, kobaran api
amarah dan dendam itu membuat mereka seolah melupakan segalanya.
Gi Beng berjalan di sisi Thiat Cing-su,
berulang kali mereka saling pandang dengan mesra, kerlingan demi
kerlingan membuat wajah mereka memerah dan buru-buru melengos ke
arah lain.
Didera api dendam dan api asmara yang
sama-sama membara, pemuda yang baru pertama kali terjun ke dunia
persilatan ini benar-benar sangat menderita dan tersiksa.
Mendadak Im Gi berjongkok dengan gerakan
cepat.
Walaupun orang lain tidak mendengar suara
apapun, tidak pula melihat sesuatu, namun Im Gi adalah pemimpin
mereka, melihat sang pemimpin berjongkok, otomatis orang lain pun
serentak ikut berjongkok.
Terdengar Im Gi berbisik dengan suara lirih:
"Hati-hati, di depan sana ada jejak musuh."
Suara itu sangat lirih, biarpun Gi Beng, Gi
Teng serta Sun Siau-kiau tidak mendengar dengan jelas, namun tanpa
mendengar pun mereka dapat menebak apa yang terjadi, kontan jantung
mereka berdebar keras.
Dengan perasaan dag-dig-dug, mereka mulai
bergerak ke depan, bergerak dengan merangkak.
Sebenarnya posisi mereka saat ini sebagai
pemburu atau yang diburu? Mereka sedang mengurung orang lain sebagai
buruan, atau justru sedang bergerak masuk ke dalam perangkap lawan?
Mereka tidak tahu, mereka pun tidak jelas posisi sendiri, bahkan
tidak seorang pun berani berpikir ke situ.
Dalam kondisi yang serba tidak jelas dan
penuh kontradiksi ini, semua orang merasa ketegangan perasaan mereka
sudah mencapai puncaknya.
Akhirnya terdengar suara manusia bergema
dari balik rerumputan, meski tidak keras namun sudah lebih dari
cukup membuat semua orang merasa terkesiap.
Terdengar salah seorang di antaranya
menjerit:
"Seng Toa-nio, kau benar-benar ingin
bermusuhan denganku?"
"Tepat sekali, aku memang ingin bermusuhan
denganmu," jawab seorang wanita dengan suara aneh.
Im Gi dapat mengenali suara orang terakhir
adalah suara Seng Toa-nio, sedang suara orang pertama meski tidak
dikenalnya, namun bisa diduga orang itupun berasal satu kelompok
dengannya.
Im Gi mulai mengertak gigi, wajahnya mulai
mengejang kencang, emosi dan rasa dendam membuatnya nyaris tak kuasa
mengendalikan diri.
Musuh besar berada di depan mata, seharusnya
dia menerjang maju dan membunuhnya, tapi ingatan lain segera
melintas, bukan saja dia berjongkok makin rendah, bahkan
gerak-gerik serta tindak-tanduknya makin berhati-hati.
Ketika orang tua itu tidak bergerak, dengan
sendirinya semua orang semakin tidak berani bertindak gegabah.
Kini Im Gi benar-benar sudah bertiarap di
tanah, dia mencoba mengintip dari sela-sela rerumputan yang lebat.
Seorang pemuda berwajah tampan tapi penuh
kelicikan duduk di sana, tangan kanannya menggenggam pedang
sementara tangan kirinya membopong tubuh seorang gadis.
Gadis itu berbaring membujur di situ,
rambutnya yang panjang berwarna hitam terkulai di atas tanah, meski
dadanya naik turun namun berada dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Seng Toa-nio berada lebih kurang lima kaki
di depan mereka, rerumputan yang memisahkan mereka pun kelihatan
sudah hampir rata karena terinjak-injak, kelihatannya di tempat itu
pernah terjadi pertarungan yang amat sengit.
Perempuan tua itu menggenggam toya baja di
tangan kanannya dan membopong seorang gadis di tangan kirinya, gadis
itu berada dalam keadaan tudak sadar, ternyata dia tidak lain adalah
Im Ting-ting.
Seng Cun-hau pun belum mendusin, dia masih
berbaring di sampingnya, tapi di sisi Seng Cun-hau berbaring pula
seseorang yang lain, orang itu berambut putih dan berjenggot
panjang.
Im Gi tidak perlu melirik untuk kedua
kalinya karena dia segera mengenalinya sebagai Im Kiu-siau.
Begitu pemandangan itu melintas di depan
mata Im Gi, mencorong sinar merah dari mata orang tua itu.
Kini saudara serta putri kesayangannya sudah
terjatuh ke tangan musuh besarnya dan sama sekali tidak berkutik,
bagaimana mungkin orang tua ini berani bertindak gegabah meski rasa
gusar dan sedih telah mencekam benaknya?
Thiat Cing-su, Gi Beng serta Gi Teng pun
telah menyaksikan hal itu, mereka ikut kaget, gusar dan berubah
hebat wajahnya.
Yang dikuatirkan Gi Beng dan Gi Teng adalah
keselamatan Sui Leng-kong, sementara yang dikuatirkan anggota
perguruan Tay ki bun adalah paman serta keponakannya, walaupun
sasarannya beda, namun kecemasan dan rasa panik yang mereka alami
tidak jauh berbeda.
Terdengar pemuda licik itu, Sim Sin-pek,
berkata:
"Tadi kita masih sempat bekerja sama
membekuk tuan muda anggota perguruan Tay ki bun, masa sekarang sudah
berganti memusuhi kami?"'
"Hmm, lain tadi lain sekarang, masa kau
tidak paham perkataan itu?" ujar Seng Toa-nio sambil tertawa dingin,
"cukup melihat sikapmu yang tidak sopan, tidak tahu membedakan mana
lebih tua mana lebih muda dan seenaknya membahasakan kau-aku, sudah
cukup beralasan bagiku untuk mencabut nyawa anjingmu."
"Kau... kau juga melupakan persekutuan Ngo
hok beng?"
"Betul, gara-gara urusan ini maka sampai
sekarang aku belum juga turun tangan, asal kau bersedia melepaskan
gadis itu, aku akan segera memberi jalan hidup untukmu."
"Perempuan itu adalah musuh besar kita
bersama, kenapa kau ...." paras muka Sim Sin-pek berubah hebat.
"Binatang, kau sangka aku tidak dapat
menebak pikiran busukmu?" bentak Seng Toa-nio penuh gusar, "cukup
melihat sepasang mata bangsatmu, aku sudah tahu pikiran cabul
apa yang sedang melintas dalam benakmu."
Dengan mata jalangnya Sim Sin-pek melirik
sekejap tubuh Sui Leng-kong yang molek, kemudian sahutnya:
"Betul, aku memang berniat menggagahi gadis
ini...."
"Binatang! Kau ..." Seng Toa-nio semakin
gusar.
"Bila aku berhasil menggagahi gadis ini,
pertama, bisa melampiaskan semua rasa benci dan dendamku, agar Thiat
Tiong-tong si bajingan cilik itu jadi setan pun tetap harus memakai
topi hijau."
Mendengar sampai di sini baik Im Gi maupun
Thiat Cing-su sekalian merasa gusar, saking jengkelnya mereka harus
mengertak gigi untuk menahan diri... menahan siksaan batin yang
sangat menyakitkan.
Terdengar Sim Sin-pek berkata lebih lanjut:
"Kedua, gadis ini sudah dianggap Hoa Bu-soat
sebagai putrinya, jika berhasil kugagahi hingga nasi menjadi bubur,
mau tidak mau Hoa Bu-soat tentu akan menerima aku menjadi
menantunya."
Dia mendongakkan kepala dan tertawa
terbahak-bahak, lanjutnya:
"Kalau aku sudah menjadi menantu Hoa
Bu-soat, dapat dipastikan Hoa Bu-soat akan mendukung persekutuan Ngo
hok beng, berarti sekali timpuk dapat dua, kenapa kau malah melarang
aku melakukannya?"
Seng Toa-nio termenung beberapa saat,
mendadak bentaknya lagi dengan penuh amarah:
"Tidak bisa, tidak bisa, bagaimanapun juga
gadis itu dilahirkan oleh menantu keluarga Seng, siapa pun tidak
boleh menggagahinya."
Sebetulnya semua orang sedang heran, mereka
tidak habis mengerti kenapa Seng Toa-nio begitu melindungi Sui
Leng-kong, tapi setelah mendengar penjelasannya, semua orang pun
menjadi sadar.
Paras muka Sim Sin-pek sama sekali tidak
berubah, katanya kalem:
"Sekalipun dia adalah anggota keluarga Seng,
memangnya kawin denganku berarti mempermalukan dia?"
"Dasar binatang, kau lebih rendah dan busuk
ketimbang anjing," umpat Seng Toa-nio sewot.
"Tidak masalah kau ingin mengumpat dengan
kata-kata kotor macam apapun, cuma aku ingatkan saja, kalau sampai
terdengar guruku, hehehe... kau bakal mendapat kesulitan."
Semakin pemuda itu berlagak santai dan acuh,
hawa amarah Seng Toa-nio semakin menjadi-jadi, hanya saja dia tidak
ingin Suto Siau sekalian kehilangan muka, maka hingga saat itu masih
enggan turun tangan.
Tapi ejekannya yang terakhir sangat
menyinggung perasaannya, sekarang dia tidak ambil peduli urusan lain
lagi, dengan penuh amarah bentaknya:
"Baik, hari ini juga aku akan menjagal kau
si bangsat cilik, bajingan busuk yang tidak tahu malu, akan kulihat
apa yang bisa diperbuat Suto Siau sekalian terhadapku?"
Toyanya langsung dihantamkan ke atas
kepalanya.
Melihat kejadian itu, semua merasa girang,
mereka berharap pertarungan yang berlangsung bisa makin seru dan
ganas, dengan begitu mereka akan mendapatkan kesempatan bagus untuk
menyelamat kan Im Ting-ting sekalian.
"Wesss!", desingan angin tajam membuat
rerumputan bergoncang keras.
Biar Seng Toa-nio sudah tua, serangan tuanya
sama sekali tidak ikut tua, kekuatan pukulan yang dilontarkan saat
ini boleh dibilang luar biasa dahsyatnya.
Sim Sin-pek tidak berani ayal, apalagi
menghadapi serangan itu dengan keras lawan keras, cepat dia melompat
mundur.
Waktu itu tubuhnya sudah menyusup kembali ke
balik rerumputan, ini membuat gerak-geriknya kembali tidak leluasa,
Im Gi sekalian segera bersiap, mereka menunggu sampai Seng Toa-nio
mengejar sambil melepaskan serangan lagi baru ikut maju mengembut.
Betul saja, Seng Toa-nio kembali mengayun
toyanya siap melancarkan serangan lagi.
Kali ini Sim Sin-pek tidak menghindar maupun
menangkis, tiba-tiba bentaknya:
"Tunggu sebentar! Ada satu perkataan harus
kusampaikan dulu."
"Baik, akan kudengarkan dulu perkataanmu,"
Seng Toa-nio menarik kembali serangannya.
Memang tidak sia-sia dia menekuni ilmu
toyanya selama puluhan tahun, begitu pergelangan tangannya yang
kurus digetarkan, toya baja seberat puluhan kati itu sudah ditarik
kembali.
"Kau mengandalkan umur tuamu untuk
menganiaya aku yang muda, jelas aku bukan tandinganmu."
"Kalau sudah tahu, lebih baik segera
menyerah," tukas Seng Toa-nio sambil tertawa dingin.
Sim Sin-pek balas tertawa dingin.
"Tapi bila kau nekad mengayunkan toyamu
lagi, hmm, biar bakal terhajar toyamu pun akan kutusuk mampus anakmu
terlebih dulu, kemudian akan kubantai putrimu ini, aku mau lihat apa
yang bisa kau perbuat?"
Seng Toa-nio melengak, toya yang sudah
terangkat di tengah udara pun segera diturunkan kembali, "Bluuuk!",
ujung toya segera ditancapkan ke dalam tanah.
"Kau.. kau berani?" tegur Seng Toa-nio
dengan nada gemetar, rambutnya yang beruban nampak bergetar keras
karena menahan emosi.
"Kenapa aku tidak berani?"
"Kau... kau...."
Tiba-tiba Im Kiu-siau yang sedang berbaring
di atas tanah melejit ke tengah udara, kemudian secepat kilat secara
beruntun dia menotok tujuh buah jalan darah penting di punggung Seng
Toa-nio.
Waktu itu Im Gi sekalian sedang kecewa
karena Seng Toa-nio urung melancarkan serangan, perubahan yang
terjadi secara tiba-tiba itu membuat mereka kegirangan setengah
mati, tanpa membuang waktu serentak mereka meluruk maju ke depan.
Waktu itu tubuh Seng Toa-nio baru saja roboh
terjungkal ke tanah.
Tatkala Sim Sin-pek masih dibuat terperana
oleh perubahan yang terjadi secara mendadak, tahu-tahu dari balik
rerumputan telah muncul beberapa sosok bayangan manusia, kenyataan
ini membuat dia semakin tercekat hingga sepasang kakinya lemas.
Menanti dia berniat melarikan diri, keadaan
sudah terlambat, Gi Teng, Thiat Cing-su serta Gi Beng telah
mengepungnya dari tiga penjuru, menyusul kemudian terlihat cahaya
pedang berkelebat dan bayangan pukulan menderu-deru.
Tidak ampun Sim Sin-pek seketika roboh
terkapar di tanah.
Kemenangan ini diraih begitu cepat, Im Kiu
siau seketika dibuat kegirangan setengah mati.
Sambil menepuk bahu saudaranya, Im Gi turut
berkata sambil tertawa tergelak:
"Samte, kau memang hebat, kusangka kau
benar-benar tidak mampu bergerak lagi, siapa tahu rupanya kau sedang
berlagak bodoh, kemampuanmu sungguh membuat Toako sangat gembira."
"Kemunculan Toako yang tiba-tiba ibarat
malaikat langit turun dari kahyangan, Siaute pun amat kagum," seru
Im Kiu-siau sambil tertawa.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Cepat
kau ceritakan."
"Sewaktu aku dan Ting-ting terpisah dari
Toako, sebenarnya aku berencana memulihkan kembali kekuatanku
sebelum bergabung, siapa tahu muncul kedua orang itu secara
tiba-tiba dan melancarkan serangan bokongan...."
Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:
"Waktu itu kondisi tubuhku belum pulih,
tenaga dalam juga belum balik, aku sadar biar melawan pun pada
akhirnya bakal kalah juga, maka aku pura-pura tidak mampu bergerak
dan membiarkan binatang kecil she Sim itu menotok jalan darahku."
"Kalau memang jalan darahmu sudah tertotok,
kenapa tiba-tiba bisa melancarkan serangan?" tanya Im Gi keheranan.
Dengan senyum menghiasi bibir, sahut Im
Kiu-siau:
"Waktu itu secara diam-diam aku
memperhatikan gerak serangannya, melihat dia berniat menotok jalan
darah Khi hay hiatku maka secara diam-diam aku sembunyikan tanganku
ke sisi jalan darah tadi dan siap membebaskannya, maka sewaktu dia
menotok, aku pun menggunakan kesempatan di saat jalan darahku
belum tersumbat untuk menotok bebas jalan darah itu, maka biar dia
sudah menotok jalan darahku, padahal sebenarnya tidak menotok
apa-apa."
Im Gi segera bertepuk tangan memuji,
serunya:
"Sejak dulu aku sudah bilang, Samte adalah
orang paling cerdas dalam perguruan kami, ternyata dugaan itu tidak
salah, Cing-su, kau mesti mencontoh kehebatan paman ketigamu Ini."
Gembira karena dapat berkumpul kembali,
ditambah rasa bangga karena berhasil meraih kemenangan mutlak, untuk
sesaat meredam rasa benci dan dendam di dada setiap orang.
Tapi di saat sorot mata Im Gi beralih
kembali ke wajah Seng Toa-nio, senyum di wajahnya seketika hilang
tidak berbekas.
Waktu itu Gi Beng dan Gi Teng telah merebut
Sui Leng-kong dari pelukan Sim Sin-pek, sedang Thiat Cing-su juga
telah membebaskan jalan darah Im Ting-ting yang tertotok.
Im Kiu-siau menendang tubuh Sim Sin-pek
hingga mencelat ke samping Seng Toa-nio, kemudian tanyanya:
"Toako, mau kita apakan kedua orang ini?"
"Bunuh! Bunuh! Bunuh! Kecuali dibunuh, apa
lagi yang bisa kita lakukan?"
"Mau dibantai di sini juga?"
"Benar, di sini juga dan sekarang."
Pada saat itulah semacam hubungan batin
antara ibu dan anak membuat Seng Cun-hau yang selalu berbakti kepada
orang tuanya, tiba-tiba tersadar kembali dari pingsannya.
Walaupun selama ini dia berada dalam keadaan
tidak sadar, namun seolah menyadari akan terjadinya perubahan itu,
maka begitu sadar dari pingsannya, dia langsung merangkak bangun
sambil berteriak:
"Kalau ingin membunuh ibuku, bunuhlah aku
terlebih dulu!"
Belum sempat Im Gi menanggapi, Gi Beng dan
Gi Teng sudah bersama-sama menjatuhkan diri berlutut.
Dengan suara serius, ujar Gi Teng:
"Walaupun nasib Seng-toako kurang beruntung
hingga musti dilahirkan sebagai musuh bebuyutan perguruan Tay ki
bun, namun selama ini dia tidak pernah melakukan perbuatan jahat
atau busuk terhadap anggota perguruan Tay ki bun, harap Locianpwe
sudi mengampuninya."
"Benar," kata Gi Beng pula, "bukan saja
Seng-toako tidak bisa dianggap sebagai musuh besar perguruan Tay ki
bun, sebaliknya dia justru sahabat karib Thiat Tiong-tong.
Locianpwe, memandang wajah Thiat Tiong-tong, kau tidak boleh
melukainya."
Im Gi mengepal sepasang tinjunya kuat-kuat,
dia berdiri mematung tanpa bergerak.
Dengan suara lirih Thiat Cing-su ikut
berkata:
"Kebaikan putranya masih belum cukup untuk
menebus kejahatan yang pernah dilakukan ibunya."
"Bila kau ingin membunuhnya, bunuhlah aku
terlebih dulu!" ancam Gi Beng.
Dengan jengkel Thiat Cing-su menghentak-kan
kaki berulang kali dan tidak bicara lagi.
Untuk sesaat semua jago hanya berdiri dengan
mulut membungkam, tampak dada Im Gi naik turun dengan kerasnya,
terdengar dengusan napasnya makin lama semakin bertambah berat dan
kasar.
Mendadak terlihat seseorang membelah
rerumputan dan berjalan mendekat.
Waktu itu pikiran semua orang sedang dicekam
gejolak emosi yang luar biasa, ternyata tidak seorang pun yang
menaruh perhatian dengan cara apa orang itu muncul di situ, ketika
tahu-tahu melihat kehadiran orang itu, dengan perasaan terkejut
serentak mereka mundur selangkah ke belakang.
Orang itu mengenakan baju berwarna hijau,
rambutnya yang panjang nampak kusut, walaupun paras mukanya
terhitung cantik dan menawan, namun mimik mukanya seperti orang
bloon, bagai orang kehilangan ingatan.
Ketika melihat ada begitu banyak orang
berkumpul di situ, dia tidak nampak gembira, tidak kaget juga tidak
ketakutan, sebaliknya sambil memiringkan kepala mengawasi seputar
arena, katanya sambil tertawa:
"Waah, ternyata di sini terdapat banyak
orang!"
"Ooh, rupanya kau," seru Gi Beng kemudian
sambil menghembuskan napas lega.
"Betul," nona itu manggut-manggut dan
tertawa, "memang aku, kalau bukan aku siapa lagi?"
"Siapa kau?" tegur Im Gi dengan nyaring.
"Siapa aku? Ooh, betul, aku bernama Leng
Cing-peng."
"Leng Cing-peng?" berubah paras muka Im Gi,
"jangan-jangan kau adalah putri Leng It-hong?"
Sekarang dia baru teringat gadis itu tidak
lain adalah orang yang menyampaikan berita di kuil kuno beberapa
tahun berselang, bila dibandingkan saat itu, kini nona itu kelihatan
jauh lebih tua, sayu dan kusut, sehingga untuk sesaat sulit baginya
untuk mengenalinya.
"Leng It-hong?" terlihat Leng Cing-peng
menyahut dengan wajah kebingungan, "Ehmmm, betul, dia adalah ayahku,
baru saja aku melecutinya dengan cambuk, hehehe... lucu sekali, mana
ada anak menggebuki bapak sendiri? Menarik tidak? Menarik tidak?"
Selesai berkata, kembali dia tertawa
cekikikan.
Sayang orang lain sama sekali tidak ingin
tertawa, semua orang hanya bisa mengawasinya dengan tertegun, mereka
tidak tahu harus merasa iba atau terperanjat.
Sambil mengedipkan matanya berulang kali,
kembali Leng Cing-peng berkata sambil tertawa:
"Siapa sih kalian? Aku... aku seperti merasa
pernah kenal... tapi seperti juga tidak pernah kenal, aku... aku
merasa seperti pernah bertemu dengan kalian, tapi sepertinya belum
pernah bertemu
Tiba-tiba dia mengayunkan tangannya memukul
kepala sendiri, memukul dengan sepenuh tenaga, lalu serunya dengan
jengkel:
"Kepala, kepala, kau memang kepala yang
menjengkelkan! Terkadang kau sepertinya bisa mengingat banyak
urusan, kenapa tiba-tiba bisa melupakan semuanya? Biar kuhajar kau,
kuhajar kau...."
Semakin memukul semakin keras, makin
menghantam makin nyaring, akhirnya Im Ting-ting merasa tidak tega,
cepat dia melompat ke depan, menggenggam tangannya dan berseru:
"Kau pernah bertemu kami, waktu itu kita
berada dalam sebuah kuil kuno, bila kau tidak datang, mungkin
kami...."
"Ya, betul, betul, kuil kuno, kuil kuno...."
tiba-tiba Leng Cing-peng bersorak sambil bertepuk tangan.
"Kuil kuno, kau masih ingat?"
"Tentu saja masih ingat, kuil kuno itu
sangat menyenangkan! Ada banyak benda aneh dan lucu, juga ada dua
orang sedang berkelahi, mereka terbang ke sana kemari...."
"Yang aku maksud bukan kuil kuno seperti
itu, dulu...."
"Betul, betul, aku tidak berbohong, kuil
kuno itu sangat menyenangkan, dindingnya merah, atapnya kuning,
kuning sekali seperti... seperti kuning emas."
Kembali semua orang saling pandang tanpa
bicara sepatah kata pun, namun di hati mereka terasa kecewa
bercampur iba, khususnya Im Ting-ting, dia tidak bisa menahan rasa
sedihnya lagi hingga air mata jatuh berlinang membasahi pipi.
Sambil menghela napas, ujar Im Gi:
"Kelihatannya gadis ini sudah gila,
mengingat budi kebaikannya di masa lalu, aaaai! Biarlah dia pergi!
Walau mengajaknya bicara lebih banyak pun tidak bakal bisa diperoleh
keterangan apapun."
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak
Im Kiu-siau, serunya:
"Tunggu sebentar'"
"Kau ingin menahannya? Kenapa?" tanya Im Gi
keheranan.
"Orang yang ingatannya sedang terganggu,
kadang perkataannya justru paling bisa dipercaya."
"Maksudmu?" tanya Im Gi keheranan.
Im Kiu-siau tidak menjawab pertanyaan itu,
dia berbalik sambil menegur:
"Nona Leng, apakah kau pernah pergi ke kuil
kuno itu?"
"Tentu saja, malah aku baru saja keluar dari
situ," sahut Leng Cing-peng sambil tertawa dan manggut-manggut.
"Mana mungkin di padang rumput yang begini
luas terdapat kuil kuno?" sambil menghela napas Im Gi menggelengkan
kepala berulang kali:
"Aku rasa dia...."
Cepat Im Kiu-siau menggoyangkan tangan
menukas perkataannya, kemudian tanyanya:
"Apakah kau melihat dengan jelas orang yang
sedang berkelahi dalam kuil kuno itu?"
"Tentu saja aku melihatnya dengan jelas,
bahkan jelas sekali!"
"Bagaimana bentuk dandanan mereka?" Leng
Cing-peng memiringkan kepala sambil termenung sejenak, setelah itu
sahutnya:
"Mereka... ahh, betul, mereka adalah seorang
lelaki dan seorang wanita, yang laki malah masih terhitung guru
ayahku! Aku tidak boleh memberitahukan kepada orang lain...."
Padahal dia sudah memberitahukan kepada
orang lain, tapi mulutnya masih mengoceh tidak boleh memberitahu
orang lain, jelas kesadaran gadis ini memang sudah hilang, di
samping merasa iba, mereka pun merasa terkejut, kaget karena
Siang-tok Thaysu ternyata berada di situ.
Tergerak perasaan Im Gi, cepat katanya:
"Jangan-jangan wanita yang sedang bertarung
melawannya adalah Hoa Bu-soat? Tidak heran mereka berdua tidak
muncul, nona... nona Leng, berada dimana kuil kuno itu?"
"Ada di sana," seru Leng Cing-peng sambil
tertawa, "belok kiri, belok kanan, lalu belok kiri lagi, belok kanan
lagi
Setelah berpikir sejenak, lanjutnya:
"Kemudian belok lagi ke kiri, belok lagi ke
kiri, dan tetap belok lagi ke kiri...."
"Jangan belok melulu, cepat ajak kami ke
situ!" tukas Im Gi akhirnya sambil tertawa getir.
Mendadak Leng Cing-peng menutup wajah
sendiri dengan kedua belah tangannya sambil berteriak:
"Aku tidak mau ke situ, aku tidak mau ke
situ... aku tidak mau pergi ke sana lagi."
"Kenapa tidak mau ke situ?"
"Biarpun tempat itu menyenangkan, tapi
menakutkan sekali, aku merasa seakan dari empat penjuru muncul
setan... setan! Ya, setan! Banyak sekali setannya! Aku tidak mau ke
situ... aku tidak mau...."
"Ini... ini... aaaai!" dengan mendongkol Im
Gi menghentakkan kaki berulang kali.
Tiba-tiba Im Kiu-siau berseru sambil
tertawa:
"Aaah, aku tahu, kau sedang berbohong
bukan?"
"Tidak, tidak... aku tidak membohongi mu."
"Sudah jelas kau tidak pernah ke situ, malah
sama sekali tidak tahu dimana letak kuil itu, karena sedang
berbohong, maka kau enggan mengajak kami ke situ bukan? Aaah,
ternyata dia pembohong, ayo, kita tidak usah menggubris dia lagi."
"Aku bukan pembohong, baik, baik... aku...
aku akan mengajak kalian ke situ, tapi... aku tidak mau masuk ke
dalam, boleh bukan aku hanya menunggu di depan pintu?"
"Asal mau mengajak kami ke situ, ikut masuk
atau tidak terserah padamu," sahut Im Kiu-siau kegirangan.
"Baik, ayo, kita berangkat!"
Perlahan dia membalikkan tubuh, beranjak
menelusuri padang rumput.
Kini secara lamat-lamat semua orang dapat
menduga di balik kuil kuno misterius itu pasti tersimpan sejumlah
rahasia luar biasa, melihat gadis itu beranjak pergi, tanpa terasa
semua orang mengintil di belakangnya.
"Bagaimana dengan kedua orang ini...." bisik
Im Kiu-siau, "Seng Toa-nio...."
Im Gi termenung dan berpikir sejenak,
kemudian sambil menghentakkan kaki dan menghela napas, sahutnya:
"Sekalipun ingin mencabut nyawanya, tidak
mungkin kita lakukan di hadapan anak berbakti-nya."
"Siaute juga berpendapat begitu," sahut Im
Kiu-siau.
Perlahan dia memandang sekejap sekitar sana,
dilihatnya Gi Beng telah membopong Sui Lengkong, Gi Teng juga sudah
memayang Seng Cun-hau, dia pun melihat seorang wanita lain... Sun
Siau-kiau, dia sedang mengawasi Sim Sin-pek dengan terkesima.
Sejenak kemudian dia pun berseru:
"Cing-su, kemari kau!"
Sambil membalikkan badan, tanya Thiat
Cing-su:
"Paman ketiga, kau ada perintah apa?"
"Kau saja yang membopong Seng Toa-nio, bila
terjadi perubahan di luar dugaan,...."
Bicara sampai di situ dia pun membuat
gerakan menggorok, lanjutnya:
"Mengerti?"
"Tecu mengerti," tanpa banyak bicara pemuda
itupun membopong Seng Toa-nio.
"Terima kasih, Hengtai," seru Seng Cun-hau
cepat, "terima kasih pula para Cianpwe, Cayhe... Cayhe...."
Setelah menghela napas panjang, dia
menundukkan kepala dan tanpa bicara lagi berjalan mengintil di
belakang Gi Teng.
Kini sinar mata Im Kiu-siau beralih ke wajah
Sun Siau-kiau, sapanya:
"Nona ini...."
"Kau suruh aku membopongnya? Baik!" kata Sun
Siau-kiau sambil tertawa.
Tanpa menunggu Im Kiu-siau berbicara, dia
langsung membopong tubuh Sim Sin-pek dan berjalan di belakang dua
bersaudara Gi.
"Kenapa kau suruh dia...." bisik Im Gi
dengan kening berkerut.
"Toako tidak usah kuaur," tukas Im Kiu-siau
sambil tertawa, "Siaute akan mengintil ketat di belakangnya."
Sambil menyingkirkan rumput dengan kedua
belah tangannya, Leng Cing-peng berjalan paling depan, walaupun
sedang berjalan di tengah padang rumput yang penuh dengan ancaman
bahaya, ternyata dia menelusurinya dengan santai dan tenang,
seolah-olah sedang berjalan di taman saja.
Justru orang-orang yang mengikut di
belakangnya yang merasa kuatir dan kebat-kebit hatinya, tapi
kejadian sudah makin berkembang, terpaksa mereka pun mengikut tanpa
banyak bicara.
Setelah berjalan sekian lama, akhirnya gadis
itu mulai berbelok.
"Berjalan di tengah padang rumput, buat apa
dia mesti berbelok?" tanya Im Gi dengan kening berkerut.
Im Kiu-siau tertawa getir.
"Bukankah kita yang meminta dia sebagai
penunjuk jalan? Ikuti saja kemauannya."
Sambil menghela napas Im Gi tidak bicara
lagi.
Tidak selang beberapa saat kemudian, suara
pekikan dan makian Hong Lo-su kembali bergema semakin mendekat,
terdengar iblis itu berteriak lantang:
"Coh Sam-ci, aku mengaku kalah, sebenarnya
apa maumu? Cepat katakan!"
"Sudah cukup umpatanmu?" tegur Coh Sam-nio
dengan suara lembut tapi melengking.
"Sejak kapan Siaute berani mengumpat Sam-ci?
Siaute...."
"Kalau bukan sedang memaki aku, siapa pula
yang sedang kau maki?"
"Tadi... tadi... aku sedang memaki diriku
sendiri, aku memang bangsat, binatang, aku bukan manusia baik-baik,
aku memang bajingan tengik, bajingan busuk...."
"Selanjutnya?"
"Selanjutnya apapun yang Sam-ci katakan,
Siaute pasti akan menurut, bila Sam-ci menyuruh aku berjumpalitan,
aku segera akan jumpalitan, bila Sam-ci menyuruh aku makan tahi, aku
akan makan tahi."
"Kalau kau ingkar janji, tidak pegang
ucapanmu, apa yang akan kuperbuat?"
"Terserah ... terserah apapun yang hendak
Sam-ci lakukan."
"Terserah aku? Aku tidak memaksamu, kau yang
berjanji sendiri...."
"Betul, aku berjanji, aku sendiri yang
berjanji, Sam-ci, nyonya besarku, ampunilah aku! Makhluk itu bukan
manusia, sedang aku... jelek-jelek begini juga manusia, aku tidak
sanggup menangkan larinya...."
"Baiklah, kalau begitu ikuti aku!" ujar Coh
Sam-nio sambil tertawa.
Semua pembicaraan itu berkumandang datang
mengikuti hembusan angin, terkadang terasa jauh sekali, terkadang
terasa sangat dekat, tak bisa diketahui dengan jelas berasal
darimana suara itu.
Ketika mendengar sampai di situ, semua orang
hanya sempat menangkap bayangan punggung Dewa racun yang
berwarna abu-abu melesat ke depan dan tahu-tahu sudah mendahului di
depan Hong Lo-su.
Menanti semua orang melihat dengan lebih
jelas, ternyata ketiga orang itu sudah lenyap dari pandangan.
Sambil menghela napas, ujar Im Gi, "Ternyata
nama besar si Sambaran petir Coh Sam-nio memang bukan nama kosong
belaka, bicara kehebatan ilmu meringankan tubuhnya, mungkin termasuk
Kaisar malam pun belum tentu bisa mengunggulinya."
"Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki si
Sambaran petir Coh Sam-nio memang tiada dua-nya di kolong langit,"
Im Kiu-siau manggut-manggut, "kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa
mempermainkan Hong Lo-su semaunya?"
"Hanya saja... benda apa yang sebenarnya dia
pinjam dari Hong Lo-su? Kalau dibilang benda itu adalah manusia,
manusia mana di kolong langit yang sanggup menghadapi racun si Dewa
racun?"
"Kalau bukan manusia, lalu benda aneh apakah
itu?"
"Aaaai, hanya Thian yang tahu benda setan
apakah itu."
BAB 42
Cahaya Mentari Menyinari Panji Sakti.
Padang rumput teramat luas, berjalan di
tempat seperti ini semua orang merasa seolah berjalan di alam yang
tidak bertepian.
Rombongan itu masih berjalan mengintil di
belakang Leng Cing-peng, entah sudah berapa lama mereka bergerak.
Akhirnya habis sudah kesabaran Im Gi,
ujarnya:
"Jangan-jangan budak ini sedang
mempermainkan kita?"
"Aku rasa tidak begitu," jawab Im Kiu-siau
sambil tertawa.
Im Gi mendengus dingin, setelah termenung
beberapa saat, mendadak ujarnya lagi:
"Tapi... andaikata kita berhasil menemukan
kuil kuno itu, lalu apa gunanya?"
"Di tengah padang rumput yang berada dalam
lembah terpencil, terdapat sebuah kuil kuno, bisa diduga dalam kuil
kuno itu tentu tersimpan banyak sekali kejadian misterius, bila
rahasia itu menyangkut urusan dunia persilatan, aku percaya rahasia
itu tentu ada sangkut-pautnya pula dengan perguruan kita," ujar Im
Kiu-siau.
"Benar, hampir semua rahasia yang beredar
dalam dunia persilatan selama puluhan tahun terakhir, sedikit banyak
tentu ada sangkut-pautnya dengan perguruan Tay ki bun kita,
khususnya rahasia persilatan yang beredar di enam propinsi utara
sungai Huang-ho."
Setelah mengernyitkan alis matanya yang
tebal, dia melanjutkan:
"Tapi sekarang Hoa Bu-soat serta Siang-tok
Thaysu berada di situ, padahal kedua orang itu bukan sahabat dan
juga bukan musuh kita, bukankah kehadiran kita di tempat itu hanya
mencari penyakit sendiri?"
Im Kiu-siau menghela napas panjang.
"Toako, menurut pendapat Siaute, budi dendam
perguruan kita menyangkut sebuah rangkaian besar dan rumit,
masalahnya tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan selama
ini."
"Tentanghal ini... aku pun tahu."
"Oleh sebab itu bila kita ingin membalas
dendam hanya mengandalkan kekuatan perguruan sendiri, rasanya hal
ini mustahil bisa berhasil, lagi pula amat sulit... aaaai! Ditambah
lagi dalam setahun terakhir, kekuatan perguruan kita semakin
tercerai-berai...."
"Semoga saja Thian mau membantu kita..."
sela Im Gi sambil tertawa.
Berkilat sepasang mata Im Kiu-siau, ujarnya:
"Sekarang dengan situasi semacam inilah
kesempatan emas yang dilimpahkan Thian untuk kita."
"Apa maksudmu?"
"Kini hampir semua tokoh silat berilmu
tinggi telah berkumpul di sini, mereka ada yang otaknya kurang
waras, ada yang banyak curiga dan busuk akalnya, di antara mereka
sendiri juga terlibat banyak pertikaian dan sengketa, kenapa kita
tidak memanfaatkan situasi yang tidak menentu ini untuk menciptakan
situasi yang menguntungkan pihak kita?"
"Walaupun perkataanmu benar, tapi...."
"Sepintas kawanan jago itu nampaknya memang
bukan sahabat kita, melainkan musuh yang menakutkan, namun bila kita
hadapi secara baik-baik, bukan saja mereka tidak akan memusuhi kita,
sebaliknya bisa jadi akan membantu kita secara diam-diam, misalkan
saja Hoa Bu-soat, putri kesayangannya telah berada dalam genggaman
kita, kenapa kita tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksanya
melakukan beberapa hal yang menguntungkan kita."
"Tapi... tindakan semacam ini rasanya...."
"Siaute memahami maksud Toako," tukas Im
Kiu-siau sambil menghela napas, "kau ingin mengatakan tindakan
semacam ini tidak gagah, tidak mencerminkan perbuatan seorang
ksatria, namun kita memikul beban dan tanggung jawab yang berat,
kita harus membalas dendam kesumat perguruan, demi keberhasilan
balas dendam ini, apa salahnya kita pun menghalalkan segala cara
untuk mencapai tujuan?"
"Hanya saja cara ini...."
Tiba-tiba terdengar Leng Cing-peng berseru:
"Sudah sampai...."
Dengan perasaan girang semua orang segera
mengalihkan pandangan ke depan, betul saja, di tepi padang rumput
yang tidak bertepian itu muncul sebuah tanah perbukitan batu, bukit
itu berdiri tegar tanpa terpengaruh oleh getaran dahsyat yang
terjadi tadi.
Tapi bukit cadas itu nampak gundul dan
gersang, tiada rerumputan yang tumbuh di situ, tiada pula pepohonan
yang nampak, apalagi bayangan kuil kuno.
"Mana kuil kunonya?" tegur Im Gi gusar
"Ada di bawah bukit sana."
"Bawah bukit? Kuil kuno itu berada di bawah
bukit?" tanya Gi Beng keheranan.
Leng Cing-peng tertawa cekikikan.
"Aku belum selesai bicara," katanya,
"adikku, kenapa kau tidak sabar?"
"Aku mohon, cepat jelaskan, aku sudah hampir
mampus karena tidak sabar."
"Di bawah bukit terdapat sebuah gua kecil,
asal menundukkan kepala, kau dapat segera masuk ke dalam, setelah
masuk, maka kau harus membelok ke kiri, kemudian belok ke kiri lagi
dan belok ke kiri lagi."
"Biar aku pergi memeriksanya," seru Im Gi
tidak sabar, dengan cepat dia bergerak maju lebih dulu.
Semua orang pun segera mengintil di
belakang, ketika tiba di bawah tebing, terlihat rumput tumbuh dengan
lebatnya mengelilingi sekeliling tanah perbukitan itu, sekilas
pandang tak nampak ada tanda-tanda gua di seputar situ
Tapi setelah diperiksa dengan lebih seksama,
terlihatlah di sekitar sana terdapat sebagian rerumputan seperti
bekas terinjak manusia, bahkan secara lamat-lamat terdengar suara
hembusan angin yang muncul dari arah tebing di belakang rerumputan
itu.
"Kemungkinan besar berada di sini," kata Im
Kiu-siau kemudian.
"Benar, memang berada di situ," seru Leng
Cing-peng sambil berdiri di tempat jauh, "kalian masuklah, aku akan
pergi dari sini."
Sambil membenahi rambutnya yang kusut dan
menyisihkan rerumputan, gadis itu benar-benar beranjak pergi
meninggalkan tempat itu.
Mengawasi bayangan punggungnya yang semakin
menjauh, semua orang hanya bisa berdiri termangu.
"Jangan-jangan di belakang sana terdapat
jebakan?" kata Im Gi dengan suara berat.
"Benar," kata Thiat Cing-su pula, "siapa
tahu gua itu hanya sebuah perangkap yang sengaja dipersiapkan untuk
menjebak kita? Bisa juga gadis itu hanya berlagak gila, agar kita
tertipu dan masuk perangkap."
"Tidak mungkin," bantah Gi Beng sambil
menggeleng, "dia bukan gadis semacam itu."
"Kalau dia adalah gadis semacam itu, buat
apa pula dia mempertaruhkan nyawa memberi peringatan kepada kita
waktu itu," ujar Im Ting-ting pula dengan sedih, "bahkan dia menaruh
perasaan cinta terhadap Thiat-jiko, mana mungkin dia mencelakai
kita."
"Siapa tahu jiwanya sudah terpengaruh oleh
ilmu pembetot sukma dan kedatangannya kali ini untuk melaksanakan
perintah?" kata Thiat Cing-su cepat, "bukankah dia berada satu
rombongan dengan Siang-tok Thaysu? Aku... aku rasa besar sekali
kemungkinan semacam ini."
Im Ting-ting nampak tertegun, serunya
kemudian dengan tergagap:
"Kalau soal ini.... Aaaai!" Semua orang
saling pandang tanpa bicara, mereka merasa apa yang diucapkan Gi
Beng maupun Im Ting-ting ada benarnya, tapi mereka pun berpendapat
perkataan Thiat Cing-su sangat masuk akal, untuk sesaat semua orang
jadi bimbang, tidak seorang pun bisa mengambil kesimpulan dan
keputusan.
Akhirnya sinar mata semua orang dialihkan ke
wajah Im Gi, menunggu orang tua ini mengambil keputusan.
Sambil berpaling ke arah Im Kiu-siau, tanya
Im Gi kemudian:
"Samte, bagaimana menurut pendapatmu?"
Im Kiu-siau termenung, berpikir sejenak,
lalu memutuskan:
"Bagaimanapun kita sudah tiba di sini, biar
perangkap sekalipun kita harus masuk untuk memeriksanya."
"Betul, kalau tidak memasuki sarang macan,
bagaimana mungkin bisa mendapatkan anak harimau!" sambung Im Gi
bersemangat.
Tinggi mulut gua di balik rerumputan itu
hanya empat kaki, benar saja, semua orang harus menundukkan kepala
sebelum menerobos masuk ke dalam, biar tidak luas, namun jelas
kelihatan mulut gua itu hasil karya manusia.
Di balik dinding gua yang sudah dipenuhi
lumut hijau, lamat-lamat terlihat bekas pahatan.
Waktu itu Im Kiu-siau sudah siap melangkah
masuk, cepat dia mundur kembali, dengan merobek secarik kain dia
gosok lumut di atas dinding gua itu kuat-kuat, tidak selang beberapa
saat, ukiran yang tertera di atas dinding pun nampak lebih jelas,
benar saja, ternyata ukiran yang tertera di situ sangat indah.
Di atas dinding gua seluas empat kaki yang
mengelilingi mulut gua itu, hampir semuanya dihiasi ukiran tokoh
manusia berdandan Busu, ada yang sedang menunggang kuda, menjajal
pedang, ada pula yang sedang terlibat pertempuran sengit
Sekalipun ukiran itu hasil pahatan yang
sudah lama, hingga ada bagian yang mulai kabur, namun sekilas
pandang setiap tokoh yang terpahat di sana hampir semuanya nampak
hidup, seolah tokoh silat itu sedang menjebol dinding untuk tampil
keluar.
"Toako, coba lihat," kata Im Kiu-siau dengan
suara berat, "ternyata tempat ini memang ada hubungannya dengan
dunia persilatan "
"Aku akan masuk lebih dulu, kau lindungi aku
dari samping," bisik Im Gi.
Begitu selesai bicara, dia langsung
membungkukkan tubuh dan menerobos masuk ke dalam gua.
Im Kiu-siau sekalian segera mengintil di
belakangnya, Gi Beng sambil membopong Sui Lengkong berjalan paling
belakang. Tiba-tiba dia jumpai Im Ting-ting tidak ikut masuk,
rupanya nona itu masih mengamati ukiran di atas dinding dengan
terpesona.
"Ayo, masuk, apa bagusnya ukiran itu?" ujar
Gi Beng sambil tertawa.
"Aku merasa ukiran ini sedikit aneh," sahut
Im Ting-ting serius.
"Rada aneh?" gumam Gi Beng, tanpa terasa dia
ikut memperhatikan.
Biarpun tokoh silat yang terukir di atas
dinding itu sangat banyak, namun ketika diamati lebih seksama,
ternyata raut muka yang ditampilkan tidak jauh berbeda, dari sekian
ratus tokoh yang tertera, paling hanya mewakili wajah empat lima
orang.
"Sudah dapat menangkap arti di balik ukiran
itu?" tanya Im Ting-ting kemudian.
"Ehmmm! Kelihatannya pahatan ini berhubungan
satu dengan lainnya, seperti sedang menceritakan sebuah kisah, pada
lukisan pertama dikisahkan ada seorang lelaki dibokong orang dan
menderita kekalahan, lalu pada lukisan kedua.....”
Mendadak dari dalam gua terdengar Gi Teng
berteriak:
"Ji-moay, cepat masuk!"
"Ayo, jalan!" ujar Gi Beng sambil tertawa,
"sekalipun pahatan ini mengisahkan sebuah cerita, tidak mungkin
cerita itu ada hubungan atau sangkut-pautnya dengan kita...."
Dia segera menarik tangan Im Ting-ting dan
diajak masuk ke dalam gua.
Im Ting-ting yang ditarik tangannya mau
tidak mau ikut masuk ke dalam gua, namun berulang kali dia masih
menoleh mengawasi pahatan itu, seakan pahatan kuno itu sudah
mendatangkan semacam daya tarik yang aneh baginya.
Mengapa begitu? Dia sendiri pun tidak tahu.
Setelah memasuki gua, di hadapan mereka
terbentang sebuah lorong rahasia yang berliku-liku dan gelap.
Untuk membangun lorong bawah tanah yang
begitu berliku-liku menembus perut bukit, bisa dibayangkan berapa
banyak orang dan tenaga yang dilibatkan tempo dulu, dinding
sepanjang lorong itu halus dan berkilat, setiap belasan langkah
terdapat sebuah lentera tembaga yang berbentuk aneh dan antik
menghiasi dinding batu.
Hanya sayang, waktu yang tidak berperasaan
telah menelanjangi lapisan luarnya yang dulu mungkin berkilat indah,
yang tersisa kini hanya bekas noda minyak yang mirip sisik ikan.
Tapi justru karena itu suasana dalam lorong
rahasia itu jadi terkesan misterius, mengenaskan serta penuh
dicekam hawa pembunuhan yang menggidikkan.
Ketika semua orang memasuki tempat itu,
pemandangan yang muncul di hadapan mereka adalah suasana mengenaskan
yang penuh diliputi kemisteriusan, hidung mereka pun mengendus bau
lembab yang busuk dan basah.
Perasaan ini persis sama seperti orang yang
berjalan memasuki kompleks kuburan, begitu berat, dingin dan
menyesakkan napas.
Bukan hanya muda-mudi itu saja, bahkan Im Gi
yang berpengalaman pun mau tak mau harus memperlambat langkahnya.
Dari dasar hatinya yang paling dalam dia
seolah mendapat firasat jelek... seolah-olah di dalam kuil kuno, di
ujung lorong rahasia itu sudah ada semacam nasib yang paling tragis
sedang menanti kedatangannya.
Sayangnya walaupun dia sudah tahu begitu,
namun mustahil baginya untuk berbalik lagi, dari dalam tubuhnya
seolah terdapat semacam kekuatan iblis yang sedang mendorong-nya,
minta dia jangan menghentikan langkah, memacu dia meneruskan
perjalanan menuju ke sana.
Biar langkah kakinya sangat lamban,
sekalipun mimik mukanya menunjukkan keseriusan dan murung, namun
jantungnya justru berdebar penuh keriangan, berdetak dengan rasa
gembira yang luar biasa....
Sekalipun nasib sangat tragis sedang
menantinya di perjalanan berikut, namun entah mengapa, bukan saja
dia enggan menghindar, malahan justru terburu-buru ingin segera
menghadapinya, menjumpainya....
Perasaan Im Kiu-siau, Thiat Cing-su serta Im
Ting-ting tidak jauh berbeda, perasaan aneh seakan menyelimuti hati
mereka....
Kuil kuno di dalam gua rahasia ini bagi
anggota perguruan Tay ki bun seakan memiliki semacam daya tarik yang
aneh dan sesat, daya tarik ini membuat mereka dapat menghadapi nasib
tragis dengan perasaan gembira, sekalipun harus menghadapi kematian.
Akhirnya mereka tiba di ujung lorong
rahasia.
Lagi-lagi selapis pintu tebal... pintu
dengan ornamen penuh pahatan indah.
Ketika tiba di situ, Im Gi sudah tidak mampu
mengendalikan gejolak emosi, dia tidak ambil peduli
apakah di balik pintu terdapat orang lain atau tidak, dia pun tidak
peduli ruang macam apa yang terdapat di balik pintu itu, tiba-tiba
saja dia seperti lupa segala-galanya, sambil membentak keras
langsung menerobos masuk dengan kalap.
Kakek yang di waktu biasa selalu bersikap
tenang, tiba-tiba saja berubah jadi begitu emosi dan tidak sabar,
sudah tahu berada di tempat rahasia yang berbahaya dan penuh dengan
ancaman maut, dia bukan hanya berteriak keras, bahkan menerjang
masuk bagai orang kalap, kenyataan ini membuat semua orang
terperanjat, serentak mereka ikut menerobos masuk ke dalam.
Ruang kuil kuno penuh diliputi debu yang
beterbangan karena getaran suara teriakannya, Im Gi berdiri kaku di
tengah ruangan dengan wajah tertegun, tubuhnya sama sekali tidak
bergerak.
Ternyata ruangan itu berada dalam keadaan
sepi, tidak nampak sesosok bayangan manusia pun.
Diam-diam Gi Beng menarik napas dingin,
gumamnya:
"Ternyata Hoa Bu-soat maupun Siang-tok
Thaysu tidak berada di sini... masakah nona Leng benar-benar telah
membohongi kita?"
Dia tidak tahu harus merasa kecewa atau
bersyukur, tapi setelah mengawasi seluruh ruangan beberapa saat
lamanya, sesudah memeriksa setiap sudut ruangan itu, kembali
gumamnya:
"Ternyata dia tidak berbohong... dia tidak
membohongi aku."
Kalau dibilang tempat itu adalah sebuah
ruang kuil kuno, lebih cocok kalau dikatakan tempat itu merupakan
sebuah ruang yang bobrok dan kotor.
Ruang itu berbentuk setengah lingkaran, di
bawah atap bulat yang penuh ukiran, terpancang delapan tiang batu
yang sangat besar, luasnya mencapai belasan kaki, di belakang
undak-undakan batu yang sangat rapi terdapat sebuah meja altar yang
megah, di atas meja altar berjajar dua buah patung dewa yang nampak
angker.
Biarpun debu yang melapisi tempat itu sangat
tebal, meskipun lumut hijau amat tebal, bahkan di setiap sudut
ruangan yang gelap tersisa bekas sarang burung dan hewan yang kotor,
sarang laba-laba yang tebal, namun semua itu tidak menutupi
kemegahan ruangan itu di masa lalu, hingga kini siapa pun yang
berada di sana akan muncul rasa hormat dan segan luar biasa,
perasaan haru yang membuat mereka nyaris menjatuhkan diri untuk
menyembah.
Tapi ketika debu mulai mereda, ketika
suasana sudah terang benderang, mereka menjumpai hampir setiap
tonggak, dinding batu dan sekeliling meja altar, penuh bertaburkan
butiran benda yang memancarkan cahaya berkilauan.
Kilauan cahaya yang gemerlapan rasanya tidak
sebanding dengan bangunan kuil yang kuno dan kotor, bagaimana
mungkin di balik suasana yang gelap dan lembab bisa bertaburkan
cahaya berkilauan yang begitu indah?
Tanpa sadar semua orang mulai memperhatikan
benda itu dengan lebih seksama, tidak lama kemudian mereka tahu
bahwa setiap benda yang berkilauan itu ternyata tidak lain adalah
senjata rahasia yang mematikan.
Senjata rahasia itu terdiri dari aneka
bentuk yang berbeda, ada mutiara Ngo bong cu, ada jarum
Bwe hoa ciam, ada duri beracun Gin ji li, ada pasir
Toh hun sah... biarpun senjata rahasia itu terdiri dari berbagai
jenis, namun Im Kiu-siau sekalian masih dapat mengenali bentuk-nya
satu per satu.
Namun selain bentuk yang diketahui, ternyata
di situ pun terdapat puluhan jenis senjata rahasia lain yang
berbentuk aneh, ada senjata rahasia mirip gembrengan terbang,
gunting, golok, pedang, gangsingan, malah ada pula yang berbentuk
lembut sebesar butiran beras, bentuk yang sedemikian kecil hingga
susah dilihat dengan jelas.
Biarpun Im Kiu-siau sekalian sudah lama
berkelana dalam dunia persilatan, walaupun pengetahuan dan
pengalaman mereka sangat luas, namun selama hidup bukan saja tidak
pernah menyaksikan senjata rahasia semacam ini, bahkan mendengar pun
belum pernah.
Yang lebih mengejutkan lagi adalah benda
lembut dan kecil yang nampaknya begitu ringan, bahkan untuk menembus
kain tebal pun belum tentu sanggup, kini justru menghujam dalam di
atas batu cadas. Dari sini dapat diketahui orang yang melepaskan
senjata rahasia itu bukan saja memiliki kepandaian yang hebat,
tenaga dalamnya pun amat sempurna.
Semua orang saling berpandangan sambil
berpikir:
"Dalam dunia persilatan, kecuali si Hujan
gerimis Hoa Bu-soat, siapa pula yang sanggup melepaskan berbagai
jenis senjata rahasia yang aneh itu serta mampu menghujamkan senjata
rahasia itu menembus batu dan kayu?"
"Ternyata nona Leng memang tidak membohongi
kita," kata Gi Beng, "rupanya si Hujan gerimis Hoa Bu-soat memang
pernah bertarung habis-habisan di sini melawan Siang-tok Thaysu,
cuma...."
"Cuma... entah mereka berdua saat ini telah
pergi kemana?" lanjut Thiat Cing-su.
"Kira-kira siapa yang berhasil memenangkan
pertarungan ini?" kata Im Kiu-siau dengan kening berkerut.
Sinar matanya kembali menyapu sekejap
senjata rahasia yang berkilauan itu, kemudian pikirnya, “Bila
Siang-tok Thaysu ingin meloloskan diri dari kepungan hujan Am-gi si
Hujan gerimis, rasanya lebih sulit daripada memanjat ke langit.”
Biarpun para jago tidak sempat menyaksikan
sendiri jalannya pertempuran yang mendebarkan hati itu, namun
ditinjau dari bekas yang tertinggal di medan pertempuran, bisa
dibayangkan betapa seru dan dahsyatnya pertarungan tadi.
Terdengar Gi Beng menghela napas sambil
bergumam:
"Sayang kedatangan kita terlambat satu
langkah, sayang terlambat selangkah...."
Tiba-tiba nampak Im Ting-ting berlari cepat
menaiki anak tangga, sekalipun dia berlari dengan kecepatan tinggi,
namun sepasang matanya mengawasi terus kedua patung dewa yang ada di
meja altar tanpa berkedip.
Wajah kedua patung dewa itu sudah tertelan
di balik lumut yang tebal, boleh dibilang sama sekali tidak terlihat
raut muka sebenarnya, namun Im Ting-ting tetap mengawasinya dengan
kesemsem, bahkan sewaktu lututnya terantuk sisi meja altar yang
keras pun dia seolah tidak merasa kesakitan.
Dengan sekali lompatan dia naik ke atas meja
altar, kemudian merobek ujung bajunya dan merangkak naik lagi
ke atas bahu patung dewa raksasa itu.
"Ting-ting, apa yang hendak kau lakukan?"
tegur Im Kiu-siau dengan kening berkerut.
Im Ting-ting sama sekali tidak berpaling,
dia seolah tidak mendengar teguran itu, dengan tangannya yang
gemetar dia mulai mengusap wajah patung dewa yang kotor dan
membersihkan semua lumut tebal yang ada.
Baru saja Im Kiu-siau hendak menegur,
tiba-tiba dia menyaksikan Im Gi berdiri pula dengan sikap yang
aneh... sepasang mata orang tua itu sedang menatap wajah patung dewa
itu tanpa berkedip, bahkan dia mengamatinya dengan begitu terpesona.
Dalam waktu singkat hati Im Kiu-siau
bergetar keras, darah panas langsung memenuhi kepalanya, secara
tiba-tiba dia ikut melupakan segalanya, yang dia lakukan saat itu
hanya mengawasi wajah patung dewa itu dengan terkesima.
Gi Beng bersaudara yang menyaksikan
perubahan aneh wajah orang-orang itu segera merasakan hatinya
bergidik, semacam firasat jelek seketika melintas di hati mereka,
seolah-olah sebentar lagi akan terjadi satu peristiwa yang
menyeramkan.
Lumut tebal akhirnya berhasil dibersihkan,
kini wajah patung dewa itupun tampil lebih jelas.
Selembar wajah angker, berwibawa, pemberani
dan ulet, alis matanya kelihatan begitu tebal, menampilkan sebuah
tekad dan ambisi yang luar biasa.
Hanya sekilas pandang Gi Teng segera
merasakan hatinya berdebar keras... dia merasa wajah patung dewa itu
begitu dikenal, seperti belum lama menjumpainya.
Mendadak terdengar Gi Beng berteriak keras:
"Bukan., bukankah itu wajah Im-locianpwe"
Baru saja dia menjerit, terlihat Im Gi dan
Im Kiu-siau telah menjatuhkan diri berlutut.
Dalam waktu singkat, paras muka kedua orang
ini telah terjadi perubahan yang luar biasa, perubahan yang sulit
dilukiskan... mimik muka itu seperti terkejut, gembira, sedih,
seperti juga diliputi gejolak emosi yang luar biasa.
Malah butiran air mata telah jatuh berlinang
membasahi wajah Im Ting-ting.
Sambil menggigit bibir, kembali dia menyeka
lumut yang menodai wajah patung dewa itu, ketika hendak berjongkok,
tiba-tiba lututnya lemas dan dia pun terjatuh tertelungkup di atas
meja altar, tepat di depan patung raksasa itu.
Sun Siau-kiau yang menyaksikan kejadian itu
jadi melongo, diam-diam dia menghampiri Gi Beng sambil berbisik:
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Aku sendiri pun kurang tahu," sahut Gi Beng
sambil menggeleng, padahal secara lamat-lamat dia sudah dapat
menebak apa gerangan yang telah terjadi.
Hanya saja untuk sesaat dia tidak berani
menerima hal itu sebagai kenyataan, susah baginya untuk percaya
bahwa di dunia ini ada kejadian yang begitu kebetulan.
Semua anggota perguruan Tay ki bun telah
menjatuhkan diri berlutut, wajah mereka basah oleh air mata.
"Ternyata benar... ternyata benar...." bisik
Im Ting-ting dengan nada gemetar.
"Betul... betul...." ucap Im Kiu-siau pula
dengan air mata berlinang.
"Sebenarnya apa...." tidak tahan Sun Siau
kiau berseru.
Belum selesai pertanyaan itu diajukan,
terdengar Im Gi telah berseru sambil menengadah ke atas:
"Thian... oooh, Thian, mimpi pun Tecu tidak
menyangka akan berjumpa dengan wajah Cosuya berdua di tempat ini,
tampaknya sudah saatnya bagi perguruan Tay ki bun untuk membalas
dendam."
Bergetar hati Sun Siau-kiau, gumamnya dengan
perasaan-tercekat:
"Jangan-jangan... jangan-jangan kedua orang
Cianpwe itu adalah Cosuya mereka yang mendirikan perguruan Tay ki
bun?"
Kini semua orang merasa bahwa wajah patung
dewa yang berada di sebelah kiri sangat mirip dengan wajah Im Gi,
Ciang bunjin perguruan Tay ki bun yang sedang berlutut di tanah.
Serentak Gi Beng maupun Gi Teng ikut
berlutut.
Paras muka Seng Cun-hau berubah hebat,
gumamnya pula:
"Kemauan takdir... kehendak takdir...."
Sementara itu Im Ting-ting sudah merangkak
bangun dari atas meja altar, tiba-tiba jeritnya:
"Ayah, di atas meja terdapat ukiran tulisan"
"Apa yang dikatakan?"
Sambil menyeka tulisan itu dengan kain agar
nampak lebih jelas, baca Im Ting-ting:
"Dipersembahkan untuk Im, Thiat dua orang
Inkong, semoga anak cucu turun temurun, keluarga makmur keturunan
sentosa."
"Semoga anak cucu turun temurun, keluarga
makmur keturunan sentosa," Im Gi mengulang perkataan itu sambil
tertawa getir.
Terbayang bagaimana keturunannya
tercerai-berai, keluarganya hancur berantakan, tidak kuasa lagi air
mata berlinang membasahi wajah tuanya.
Terdengar Im Ting-ting dengan nada gemetar
melanjutkan:
"Di bawahnya tertera tanda tangan beberapa
orang, mereka adalah...."
Tiba-tiba nada suaranya dipenuhi rasa benci,
dan rasa dendam kesumat yang sangat mendalam, lanjutnya:
"Keluarga Seng, Lui, Leng, Pek, Hek dan Suto
enam orang!"
Ketika nama itu diucapkan, Seng Cun-hau
tidak kuasa menahan rasa bergidiknya lagi, bulu kuduknya berdiri.
"Enam keluarga mempersembahkan ucapan yang
hebat, hahaha... semoga anak cucu turun temurun, keluarga makmur
keturunan sentosa ... aku tahu, kalian enam keluarga justru sangat
membenci keluarga Im dan Thiat, kalian berharap kami tertumpas dari
muka bumi... tertumpas untuk selamanya...." teriak Im Gi sambil
tertawa pedih.
Di tengah gelak tertawa yang menyeramkan,
dia melompat bangun sambil mencengkeram Seng Toa-nio, jeritnya:
"Takdir... kehendak takdir... takdirlah yang
menghendaki kalian datang kemari hari ini, agar kalian menyaksikan
dengan mata kepala sendiri apa yang ditinggalkan leluhur kalian,
sekarang... apa yang hendak kau katakan lagi?"
Seng Toa-nio memejamkan mata rapat-rapat,
sambil mengertak gigi dia membungkam.
"Seng Cun-hau!" kembali Im Gi berteriak
keras, "kalau kau memang seorang anak berbakti, tahukah kau bila
hari ini kau masih berbakti kepada ibumu, hal ini sama artinya tidak
berbakti kepada leluhurmu?"
"Boanpwe... Boanpwe...." dengan sedih Seng
Cun-hau menghela napas, "aaaai! Aku tidak bisa berkata apa-apa
lagi."
"Kalau memang tidak bisa berkata lagi...
bagus, Seng Toa-nio, memandang wajah anakmu hari ini, Lohu berikan
satu kesempatan lagi kepadamu...."
Setelah menepuk bebas jalan darah Seng
Toa-nio, bentaknya gusar:
"Bangun, mari kita selesaikan persoalan hari
ini dengan berduel!"
Dia mundur dua langkah, berbalik tubuh
menghadap ke arah dua patung dewa itu dan ujarnya lagi dengan suara
gemetar:
"Suco berdua, hari ini Tecu Im Gi sengaja
akan menyelesaikan semua dendam kesumat perguruan Tay ki bun di
hadapan kalian berdua, akan Tecu gunakan darah segar musuh untuk
menyembah arwah kalian di alam baka!"
Selesai berkata dia rentangkan sepasang
tangannya dan siap membalikkan badan....
Mendadak terdengar suara seseorang
berkumandang datang dari atas patung dewa itu.
Suara itu datang mengalun dan terdengar
sangat misterius, seakan-akan suara yang berasal dari roh
gentayangan.
Sekata demi sekata dia berkata:
"Im Gi, wahai Im Gi, kau keliru besar,
jangan dianggap pertikaian dan dendam kesumat yang dialami perguruan
Tay ki bun bisa diselesaikan segampang itu, sekalipun Seng Toa-nio
berhasil kau bunuh, tapi apa gunanya?"
Begitu ucapan itu bergema, semua jago dibuat
terkesiap dan tercekat perasaannya.
Siapa yang tidak kaget? Siapa yang tidak
bergidik ketika secara tiba-tiba di tengah ruang kuil yang
misterius, dari belakang patung Dewa yang antik dan kuno,
tiba-tiba muncul suara manusia?
Sekujur tubuh Im Gi gemetar keras, dia
mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, serunya tergagap:
"Kau... kau...."
Saking kaget dan tercekatnya dia sampai
tidak mampu melanjutkan kembali perkataannya.
Terdengar suara itu kembali bergema:
"Kerumitan serta kekalutan di balik semua
pertikaian dan dendam kesumat yang menimpa perguruan Tay ki bun
tidak semudah dan sesederhana yang kau bayangkan, untung di antara
mereka yang terlibat masih banyak yang hidup, hari ini mereka akan
berdatangan semua ke tempat ini."
"Darimana kau tahu?" dengan memberanikan
diri Im Gi berteriak.
"Darimana aku tahu?" jawab suara itu,
"urusan apa lagi di dunia ini yang tidak kuketahui?"
"Siapa kau?" tiba-tiba Im Kiu-siau
membentak nyaring.
Sekarang dia sudah tahu suara itu berasal
dari belakang patung dewa, di tengah bentakan nyaring, tubuhnya
melambung ke udara dan secepat kilat menubruk ke belakang patung
itu.
Siapa tahu, belum lagi tubuhnya mencapai
tempat itu, tiba-tiba segulung desingan angin meluncur keluar dari
belakang patung, meskipun gulungan angin itu tidak terlampau kuat,
namun sudah lebih dari cukup untuk menggetarkan tubuh Im Kiu-siau
hingga mesti bersalto beberapa kali di udara dan sewaktu melayang
turun, mundur lagi dengan sempoyongan.
Terkejut bercampur gusar, kembali Im Gi
membentak:
"Sebenarnya siapa kau?"
Suara itu tertawa terkekeh, sahutnya:
"Hahaha, baru saja aku
menyelamatkan nyawamu, masa sekarang kau sudah lupa?"
"Coh Sam-nio!" seru Im Gi terperanjat.
"Betul, aku adalah Coh Sam-nio, karena tadi
aku telah menyelamatkan nyawamu, tentu saja sekarang pun aku tidak
berniat mencelakai-mu, kenapa kau tidak percaya dengan nasehat serta
bujukanku?"
"Apa... apa yang kau inginkan?"
"Bila kau sungguh ingin
menyelesaikan semua pertikaian dan dendam kesumat yang menimpa
perguruan Tay ki bun, ikutlah aku."
Di tengah pembicaraan, terlihat sesosok
bayangan manusia melintas keluar dari balik patung dewa, tubuhnya
bagaikan naga terbang, seperti juga sambaran halilintar, hanya
berkelebat sekejap di depan semua orang dan tahu-tahu bayangan
tubuhnya sudah lenyap tidak berbekas.
Tapi di saat yang amat singkat itulah semua
orang telah melihat sebuah lorong rahasia dari balik kedua patung
dewa itu, dari tempat itulah Coh Sam-nio muncul.
Besar kemungkinan di balik lorong rahasia
itu tersimpan ancaman bahaya maut yang lebih besar dan menakutkan,
namun bagi Im Gi sekalian tidak punya pilihan lain kecuali
mempertaruhkan nyawa ikut menerobos masuk ke dalam.
"Semua anggota perguruan Tay ki bun, ikut
aku!" bentak Im Gi nyaring.
Tanpa membuang waktu, dia menerobos masuk
terlebih dulu.
Sebelum ikut masuk, Im Kiu-siau berpaling
memandang Seng Toa-nio sekejap, tegurnya:
"Apakah kau masih...."
Sambil tertawa dingin Seng Toa-nio menukas:
"Tidak perlu kau kuatirkan, setelah urusan
berkembang jadi begini, memangnya aku bakal kabur?"
Setelah sangsi sejenak, dia membungkukkan
tubuh membopong tubuh putra kesayangannya, kemudian beranjak
mengintil di belakang Im Gi sekalian.
Benar saja, di belakang patung dewa terdapat
sebuah lorong rahasia.
Tentu saja lorong rahasia itupun
berliku-liku bahkan jauh lebih gelap dan lembab, menelusuri lorong
rahasia itu, perasaan Im Gi sekalian terasa jauh lebih bergolak,
gejolak emosinya makin membara.
Bayangan tubuh Coh Sam-nio sudah lenyap,
tapi gelak tawanya tiada henti berkuman-dang dari balik kegelapan di
depan sana, kelihatannya suara tertawa itu digunakannya untuk
memberi petunjuk jalan bagi rombongan ini.
Semua orang merasakan hawa dingin yang
menggidikkan makin lama semakin bertambah mencekam, ketika berjalan
beberapa saat kemudian, tiba-tiba dari depan sana terdengar suara
bentakan serta pekikan tajam yang menusuk pendengaran.
Pekikan tajam itu tampaknya berasal dari
Dewa racun Leng It-hong.
Menyusul terdengar suara Coh Sam-nio yang
berseru dari kejauhan:
"Sudah hampir sampai, ayo, besarkan nyali
dan cepat kemari!"
Kemudian dari arah depan sana lamat-lamat
mulai terlihat ada cahaya terang.
Saat ini tidak seorang pun buka suara, yang
terdengar hanya debaran jantung yang makin lama semakin bertambah
nyaring, langkah kaki semua orang pun tanpa terasa
diayunkan makin cepat....
Mendadak pemandangan di depan sana mulai
bertambah lebar dan cerah.
Sebuah lapisan pintu yang lebih tinggi dan
besar terbentang di depan mata.
Suasana di balik pintu itu sangat terang,
rupanya sebuah ruang pertemuan yang lebar, bangunan ini jauh lebih
megah, mentereng dan mewah ketimbang bangunan pertama, di belakang
meja altar terdapat pula dua buah patung dewa yang tinggi besar,
sekalipun raut wajahnya sudah tertutup oleh lapisan lumut tebal,
namun anehnya ternyata kedua patung itu berupa patung wanita, sisi
kiri ruangan yang sangat megah itu ternyata sudah roboh sebagian,
tumpukan batu berserakan dimana-mana, dari celah dinding yang roboh
itulah cahaya matahari memancar masuk ke dalam dan menerangi seluruh
sudut.
Biarpun banyak hal aneh yang dijumpai di
situ, namun semua orang tidak sempat memperhatikan dengan seksama,
karena di tengah ruangan terdapat kejadian mengejutkan lain yang
jauh lebih menarik perhatian mereka.
Suara bentakan yang menggetarkan
pendengaran, suara pekikan yang tinggi melengking serta suara deru
angin yang bergelombang sedang menyelimuti seluruh ruang megah bak
istana itu.
Dua sosok bayangan manusia bergerak cepat
kian kemari, mereka sedang terlibat pertarungan yang amat seru,
seluruh suara aneh itu tidak lain berasal dari tubuh kedua orang
yang sedang terlibat pertarungan sengit ini.
Kedua orang itu, seorang di antaranya
berpekik nyaring tiada hentinya sambil melompat kian kemari bagaikan
sesosok mayat hidup, tanpa melihat raut mukanya pun semua orang tahu
dia tidak lain adalah Dewa racun.
Sementara yang lain membentak gusar tiada
hentinya, sebilah kapak raksasa yang diputar dalam genggamannya
menimbulkan bayangan kapak yang berlapis bagai bukit dan suara deru
angin yang memekakkan telinga, begitu kerasnya suara deruan itu
hingga ujung baju Im Gi sekalian yang berdiri puluhan tombak dari
situ pun ikut berkibar kencang.
Tubuh orang itu seakan memiliki tenaga sakti
yang tiada habisnya, kapak raksasa yang berada dalam genggamannya
diputar bagaikan roda kereta, begitu rapat dan berlapis-lapis hingga
angin dan hujan susah menembus.
Biarpun Dewa racun berteriak gusar, namun
jangan harap sepasang cakar racunnya mampu menyentuh tubuh orang
itu, dia hanya bisa berpekik nyaring berulang kali sambil berputar
mengelilingi bayangan manusia itu dan menanti bayangan kapaknya
muncul celah kosong.
Sayang orang itu seolah memiliki kekuatan
alam yang luar biasa, kekuatan yang membuatnya tidak pernah lelah,
begitu dahsyat dan kuatnya orang itu seakan dia memiliki kemampuan
untuk memutar kapak itu selamanya.
Selama hidup belum pernah kawanan jago itu
menyaksikan pertarungan sedahsyat ini, tanpa terasa semua orang
berdiri melongo dengan pandangan terbelalak.
Seakan menyadari akan sesuatu, Gi Beng
segera berseru:
"Ternyata 'benda' yang disebut Hong Lo-su
adalah orang ini, tapi siapakah dia? Kenapa bisa memiliki tenaga
sesakti itu? Jangan-jangan dia pun bukan... bukan manusia?"
Ketika berpaling, dia jumpai Im Gi sedang
mengawasi bayangan manusia itu tanpa berkedip, begitu besar dia
melotot sampai biji matanya seolah-olah mau melompat keluar.
Setelah mengamati beberapa saat, akhirnya
dia berteriak nyaring:
"Sim-te! Dia adalah Sim-te!"
"Sim-te!" terdengar Im Kiu-siau ikut
berteriak keras, "kenapa kau bisa berada di sini?"
Dipengaruhi gejolak emosi yang meluap, kedua
orang itu hampir saja menubruk maju ke depan, tapi sebelum
melangkah, tiba-tiba pandangan jadi kabur, tahu-tahu Coh Sam-nio
sudah merintangi jalan pergi mereka sambil merentangkan sepasang
tangannya.
Terdengar dia berkata dengan suara berat:
"Betul, dia memang adik Sim kalian, dan dia
pula satu-satunya orang di dunia ini yang mampu membendung keganasan
Dewa racun, aku sengaja mengajaknya kemari tidak lain karena ingin
menggunakan kemampuannya untuk bertarung melawan Dewa racun."
"Tapi adik Sim, dia... kelihatannya...."
"Benar," tukas Coh Sam-nio sambil tertawa,
"kesadarannya memang kelihatan tidak beres, karena jiwanya memang
sudah dibetot dengan ilmu pembetot sukma, karena tidak sadar maka
dialah yang paling cocok bertarung menghadapi si Dewa racun."
"Aku sebagai Ciangbunjin perguruan Tay ki
bun tidak bisa membiarkan dia menderita, apalagi membiarkan dia
bertarung seorang diri, Lohu... biar mempertaruhkan nyawa pun
harus..."
"Orang yang sudah kehilangan kesadaran mana
mungkin tahu menderita? Sekarang dia telah mengeluarkan seluruh
tenaganya yang tersembunyi untuk melakukan pertarungan, saat ini dia
justru telah menjadi satu-satunya jago paling tangguh
dari perguruan Tay ki bun, sementara si Dewa racun Leng It-hong
tidak dapat disangkal telah menjadi jagoan yang paling tangguh pula
dari persekutuan Ngo hok beng, pertarungan yang berlangsung saat ini
pada hakikatnya merupakan pertempuran antara perguruan Tay ki bun
melawan persekutuan Ngo hok beng, apa salahnya membiarkan dia
bertempur? Dengan kemampuan silatmu sekarang, ikut dalam pertarungan
itu hanya merupakan tindakan ceroboh, membuang tenaga dengan
percuma."
Biarpun ucapan yang terakhir disampaikan
dengan bahasa yang sopan, namun maksudnya jelas sekali:
"Jika kau ikut campur, pada hakikatnya hanya
mengantar nyawa dengan percuma".
Im Gi termangu beberapa saat, akhirnya
sambil menghentakkan kaki dan menghela napas panjang, dia
membungkam.
Akhirnya sorot mata semua orang pun
dialihkan ke tubuh Dewa racun dan lelaki bertelanjang kaki itu.
Sementara itu Gi Beng menyapu pandang
sekejap sekeliling tempat itu, dia lihat di bawah meja altar dan di
bawah patung dewa yang berjarak tiga kaki, duduk bersila dua orang,
orang yang bersila di sebelah kiri ternyata adalah Hong Lo-su,
kelihatannya dia sudah menggunakan tenaga kelewat banyak hingga
sekarang perlu duduk mengatur pernapasan.
Sementara di sampingnya duduk bersila pula
seseorang, ternyata dia adalah Siang-tok Thaysu, wajahnya yang
semula merah darah kini telah berubah jadi hijau keabu-abuan, hal
ini menandakan dia sudah menderita luka dalam.
Mereka berdua sebenarnya adalah musuh
bebuyutan, tapi kini justru duduk berdampingan di atas meja altar
yang sama, kejadian ini semakin menunjukkan kedua orang ini sudah
bertarung habis-habisan hingga tak punya tenaga lagi untuk bergerak,
kalau masih punya kekuatan, mana mungkin mereka duduk tenang?
Mungkin pertarungan mati hidup kembali akan berkobar dengan serunya.
Ketika memeriksa lagi ke belakang meja
altar, tampak ada tiga kepala manusia muncul dari balik kegelapan,
saat itu mereka sedang mengawasi Im Gi dengan penuh kebencian,
ternyata ketiga orang itu adalah Hek Seng-thian, Pek Seng-bu dan
Suto Siau.
Begitu melihat kehadiran ketiga orang itu,
tidak tahan Gi Beng berseru keheranan:
"Aneh, mereka bertiga bisa muncul di sini,
kenapa Hoa Bu-soat...."
"Hoa Bu-soat sedang pergi mencari
putrinya," terdengar Coh Sam-nio menyela sambil tertawa.
"Lalu nona Un?"
"Un Tay-tay sudah terjatuh ke tangan Suto
Siau."
"Aduh! Bagaimana baiknya!" Gi Beng menjerit
tertahan.
Coh Sam-nio tersenyum.
"Dulu Un Tay-tay memang bini muda Suto Siau,
kalau sekarang dia balik lagi ke samping Suto Siau juga bukan suatu
kejadian yang aneh, itu lumrah, kenapa kau mesti cemas pada
keselamatannya?"
Gi Beng menjadi tertegun beberapa saat, tapi
setelah menghela napas panjang, dia pun tidak berbicara lagi...
kalau kejadian sudah begini, perkataaan apa lagi yang bisa
disampaikan?
Im Kiu-siau yang ikut memandang sekejap
sekeliling tempat itu diam-diam merasa girang.
Kini Hoa Bu-soat sudah pergi, Hong Lo-su dan
Siang-tok Thaysu sudah terluka, jago lihai yang tersisa pun tinggal
Coh Sam-nio seorang, padahal dilihat dari sikapnya, jelas Coh
Sam-nio tidak menaruh niat jahat terhadap perguruan Tay ki bun.
Ketika mencoba menganalisa kekuatan musuh,
dari pihak lawan Seng Toa-nio sudah terjatuh ke tangan mereka, Seng
Cun-hau sudah tidak bisa bertarung dan tidak mau bertarung lagi,
sisanya Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Suto Siau sudah bukan
ancaman yang menguatirkan lagi, berarti asal lelaki bertelanjang
kaki itu tidak kalah, dendam kesumat sedalam lautan perguruan Tay ki
bun bisa terbalaskan hari ini.
Berpikir sampai di situ, tanpa terasa
sekulum senyuman menghiasi bibirnya.
Tidak membuang waktu lagi dia segera menarik
ujung baju Im Gi sambil berbisik dengan suara dalam:
"Kesempatan emas sudah di depan mata dan
peluang ini segera akan lenyap bila tidak dimanfaatkan, kalau tidak
turun tangan sekarang, kita mau menunggu kapan lagi?"
"Benar!" seru Im Gi dengan semangat
berkobar.
Dia segera memberi tanda sambil terusnya:
"Cing-su, Ting-ting, kalian menghadapi Pek
Seng-bu, aku menghadapi Suto Siau, sedang Hek Seng-thian kuserahkan
kepadamu Samte!"
Baru selesai bicara, dia sudah melesat ke
depan.
Angin serangan kapak dan bayangan manusia
nyaris menyelimuti seluruh ruangan itu, terpaksa Im Gi harus
menelusuri pinggir ruangan.
Thiat Cing-su, Im Kiu-siau serta Im Ting
ting cepat menyusul dari belakang.
Keempat orang itu penuh diliputi gejolak
hawa darah yang menggelora, napsu membunuh menghiasi wajah semua
orang, bahkan Im Ting-ting yang biasanya halus lembut pun kini sudah
diliputi hawa napsu membunuh yang menakutkan, dia seolah ingin
segera membunuh musuhnya dan memadamkan kobaran api dendamnya dengan
darah lawan.
Menyaksikan bayangan punggung beberapa orang
itu, sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibir Coh Sam-nio,
ujarnya sambil manggut-manggut dan tertawa:
"Bagus, bagus, memang seharusnya begitu,
memang seharusnya begitu
Kemudian sambil menarik kembali pandangan
serta senyumannya, dia melanjutkan dengan nada dalam:
"Tapi persoalan ini merupakan pertikaian
orang-orang perguruan Tay ki bun dan Ngo hok beng, kecuali kalian
yang terlibat langsung, siapa pun tidak boleh ikut campur dalam
persoalan ini, mengerti?"
"Aku toh boleh ikut terlibat," sela Seng
Toa-nio sambil tertawa dingin.
Baru saja dia menurunkan tubuh Seng Cun-hau,
mendadak tubuhnya gemetar keras, di tengah jeritan kagetnya,
mendadak tubuhnya terjungkal ke atas tanah. Rupanya Seng Cun-hau
dengan mengerahkan segenap sisa kekuatan yang dimilikinya telah
menotok jalan darah ibunya.
Ibu dan anak pun sama-sama jatuh bergulingan
di atas tanah.
Tidak terlukiskan rasa kaget bercampur gusar
Seng Toa-nio, jeritnya histeris:
"Cun-hau! Apa-apaan kau?"
Dengan air mata bercucuran, sahut Seng
Cun-hau memelas:
"Ananda memang pantas dibunuh, tapi... tapi
ananda...."
"Binatang!" umpat Seng Toa-nio makin gusar,
"dasar binatang yang tidak berbakti!"
"Kau tidak perlu memakinya," kata Coh
Sam-nio sambil tertawa, "bocah itu berbuat begitu juga demi
kebaikanmu sendiri, dengan begitu, siapa yang akan keluar sebagai
pemenang, di kemudian hari kau boleh cuci tangan dan berdiri sebagai
penonton, apa tidak lebih menyenangkan?"
Terdengar suara bentakan nyaring
menggelegar memecah keheningan, kepalan baja Im Gi telah
dilontarkan ke depan menghantam dada Suto Siau.
"Bagus, orang she Im, kau sangka aku Suto
Siau benar-benar takut kepadamu?" seru Suto Siau sambil tertawa
keras.
Karena sadar tidak mungkin bisa menghindari
pertarungan itu, terpaksa dia harus membesarkan nyali dan menyambut
datangnya serangan itu.
Di arena lain, Hek Seng-thian dan Im
Kiu-siau sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun, begitu
bertemu, masing-masing pihak saling melancarkan tujuh jurus
serangan, sedang Thiat Cing-su bekerja sama dengan Im Ting-ting
terlibat pula dalam pertempuran seru melawan Pek Seng-bu.
Dendam kesumat yang sudah tersimpan selama
belasan tahun dalam dada mereka seketika dilampiaskan keluar semua,
jurus demi jurus serangan yang digunakan pun ganas, telengas dan
sama sekali tidak kenal ampun, tampaknya mereka ingin secepatnya
menghabisi nyawa musuh bebuyutannya.
Pek Seng-bu bertiga pun sadar, bila dalam
pertarungan kali ini tidak berhasil ditentukan hidup-mati, mustahil
pertempuran akan disudahi begitu saja, dalam keadaan seperti ini,
kecuali mengadu jiwa, memang tiada pilihan lain lagi bagi mereka.
Dalam waktu singkat, tampak angin pukulan
bayangan kepalan menderu dan menggulung di udara, suara pekikan
keras bagai gulungan ombak di samudra serasa membawa hawa pembunuhan
yang menakutkan, sedemikian hebatnya pertarungan yang berlangsung
sampai Gi Beng yang berdiri belasan kaki dari arena pun dapat
merasakan betapa menekannya hawa pembunuhan itu.
Biarpun ilmu silat yang dimiliki beberapa
orang itu belum bisa dibilang sangat luar biasa, namun hawa
pembunuhan yang terpancar justru cukup membuat hati orang berdebar,
apalagi bagi Gi Beng, jantungnya berdebar keras, diam-diam dia
selalu berdoa demi keselamatan Thiat Cing-su.
Coh Sam-nio melirik sekejap ke arahnya
sambil tersenyum, tiba-tiba ujarnya:
"Kelihatannya walaupun bukan anggota
perguruan Tay ki bun, namun kau ingin sekali membantu pihak mereka,
bukankah begitu?"
"Siapa pun wajib membela dan menegakkan
kebenaran!"
"Ehmmm, membela dan menegakkan kebenaran!
Sebuah perkataan yang bagus, hanya sayang... aaaai!" Coh Sam-nio
menghela napas panjang.
Dia sengaja menghentikan perkataannya dan
tidak dilanjutkan kembali.
Betul saja, Gi Beng tidak kuasa menahan
diri, segera tanyanya:
"Sayang kenapa?"
"Sayang kelompok jago yang membela dan
menegakkan kebenaran ini mungkin akan tertumpas untuk selamanya pada
hari ini."
Berubah paras muka Gi Beng setelah mendengar
perkataan itu, tapi sejenak kemudian sambil tertawa dia menggeleng,
katanya:
"Kalau hanya mengandalkan kemampuan Hek
Seng-thian dan Suto Siau bertiga, bagaimana mungkin mereka mampu
menandingi kekuatan mereka? Mungkin kelompok Ngo-hok-beng yang bakal
tertumpas untuk selamanya!"
"Oya... lantas bagaimana dengan Dewa racun
itu?"
"Bukankah sudah ada orang yang mampu
menghadang si Dewa racun?"
"Betul," Coh Sam-nio tersenyum, "memang ada
orang lain yang mampu membendung sepak terjang Dewa racun, tapi si
lelaki bertelanjang kaki itu hanya mampu membendung, itupun sudah
menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya, ingin melenyapkan
dirinya? Mustahil bisa dia lakukan. Lagi pula tenaga manusia itu ada
batasnya, paling setengah jam lagi dia pun tidak akan mampu
membendung serangan mautnya."
"Lalu... lalu bagaimana baiknya?" seru Gi
Beng terkejut.
"Pada saat itulah kelompok yang akan membela
dan menegakkan kebenaran ini akan tertumpas dan musnah untuk
selamanya."
"Kalau sampai terjadi seperti ini, apapun
yang bakal terjadi kita harus mencari cara untuk menghadapi Dewa
racun...." seru Gi Beng sambil menggigit bibir.
Tiba-tiba Coh Sam-nio menarik wajahnya
seraya menegur:
"Hanya mereka yang terlibat langsung dalam
pertikaian ini yang boleh ikut campur, kau sudah lupa dengan
perkataan itu?"
"Tapi... tapi... masa akan kau biarkan
mereka mati konyol?" seru Gi Beng dengan wajah berubah.
"Cara kerjaku selalu menjunjung tinggi
keadilan, bila aku tidak mengizinkan orang lain membantu pihak Ngo
hok beng, tentu saja aku pun akan melarang siapa pun membantu pihak
perguruan Tay ki bun, bila ada yang berani turun tangan secara
sembarangan, dia mesti melewati dulu aku Coh Sam-nio."
Gi Beng tertegun beberapa saat, kemudian
jeritnya:
"Kau sengaja berkata begitu karena tahu
pihak perguruan Tay ki bun bakal mengalami bencana tragis, kau jelas
berat sebelah, katanya saja bersikap adil, tapi nyatanyakau ...
kau...."
"Besar amat nyalimu," hardik Coh Sam-nio
keras, "di hadapan Sam-nio pun berani bicara kurangajar, memangnya
kau sangka aku tidak mampu membungkam mulutmu?"
Sekali lagi Gi Beng dibuat melengak,
akhirnya dia berpaling ke arah lain, sementara butiran air mata
jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Gi Teng sendiri pun merasa sangat gusar dan
mendongkol, tapi selama berada di hadapan jago lihai dunia
persilatan ini, selain bersabar dan menahan diri, apa lagi yang bisa
mereka lakukan? Memangnya mereka ingin mengantar kematian dengan
percuma?
Lewat beberapa saat kemudian terdengar Coh
Sam-nio berkata lagi:
"Keadaan sudah berkembang jadi begini, apa
gunanya kau menangis? Coba lihat ke arah sana!"
Tidak tahan Gi Beng segera berpaling ke arah
yang ditunjuk, tampak Im Gi masih menyerang dengan
garangnya, tapi sayang walaupun semua serangannya ganas dan hebat,
Suto Siau dengan mengandalkan gerakan tubuhnya yang lincah dan gesit
berhasil berkelit dari semua ancaman itu, untuk sesaat nampaknya dia
belum akan terkalahkan.
Im Kiu-siau sendiri walaupun berhasil
merebut posisi di atas angin, namun dia pun mengalami kesulitan
menyelesaikan pertarungan dalam waktu singkat.
Hanya keadaan Pek Seng-bu yang paling
mengenaskan, dikerubut dua orang jago dari kiri kanan, posisinya
makin lama semakin tercecar dan terjerumus dalam keadaan sangat
berbahaya.
Im Ting-ting serta Thiat Cing-su ibarat dua
ekor harimau yang baru turun gunung, jurus serangan macam apapun
yang digunakan Pek Seng-bu, ternyata mereka berdua selalu
meng-hadapinya dengan keras lawan keras.
Peluh sebesar kacang kedelai telah membasahi
seluruh tubuh Pek Seng-bu, tiba-tiba dia melepaskan sebuah pukulan,
sementara iga kirinya dibiarkan terbuka dari pertahanan.
Melihat datangnya kesempatan emas, Thiat
Cing-su tidak mau melepaskannya dengan sia-sia, sambil membentak dia
merangsek maju.
Siapa tahu walaupun Pek Seng-bu bukan
tandingan mereka, namun pengalamannya dalam pertarungan jauh
mengungguli lawan, kali ini dia memang sengaja membuka pertahanannya
agar pihak lawan masuk perangkap.
Ketika Thiat Cing-su merangsek maju,
mendadak tangan kiri Pek Seng-bu melepaskan sebuah pukulan, padahal
waktu itu si anak muda itu sudah telanjur merangsek setengah jalan,
sulit baginya untuk menghindarkan diri.
"Aduh celaka!" pekik Gi Beng kaget.
Baru dia berteriak, Thiat Cing-su sudah
termakan sebuah pukulan hingga tubuhnya mencelat ke belakang.
Biarpun serangan itu bersarang di tubuh
Thiat Cing-su, namun seakan menghajar dada Gi Beng, seketika membuat
gadis itu menjerit kaget dan kesakitan, hampir saja tanpa
mempedulikan segala sesuatunya dia akan menerkam ke depan.
Tampak tubuh Thiat Cing-su bergulingan di
atas tanah, tapi segera melompat bangun lagi.
Rupanya walaupun pukulan Pek Seng-bu tadi
bersarang telak, namun karena hadangan Im Ting-ting, serangan itu
tidak sampai menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya.
Im Gi yang menyaksikan kejadian itu segera
membentak keras:
"Anak baik, ayo, maju lagi!"
"Baik!" sahut Thiat Cing-su tidak kalah
kerasnya.
Benar saja, dia langsung merangsek maju
lagi, biarpun pukulan tadi membuatnya kesakitan hingga wajahnya
berubah dan bermandikan keringat dingin, namun rasa sakit sama
sekali tidak melenyapkan semangat tempurnya yang luar biasa.
Gi Beng yang melihat hal itu merasa hatinya
pedih bercampur girang... perempuan mana di dunia ini yang tidak
senang menyaksikan pujaan hatinya seorang lelaki berhati baja?
"Kelihatannya perhatianmu terhadap anak muda
itu sangat besar," kata Coh Sam-nio sambil tertawa.
"Hmmm!" Gi Beng mendengus sambil melengos ke
arah lain, mendadak dia lihat di belakang tubuhnya telah berkurang
dua orang ... rupanya menggunakan kesempatan terjadinya kekalutan
tadi, secara diam-diam Sun Siau-kiau telah membopong Sim Sin-pek
kabur dari situ.
Tapi saat itu dia tidak punya waktu untuk
menggubris Sun Siau-kiau lagi, karena pada waktu bersamaan Hong
Lo-su yang semula duduk bersemedi tiba-tiba melompat bangun.
Gi Beng serta Gi Teng seketika terkesiap.
"Hong Lo-su pun tidak termasuk salah satu
orang yang terlibat dalam pertikaian ini, kau harus mencegahnya
untuk ikut terlibat dalam pertarungan ini," buru-buru Gi Beng
berseru.
"Tidak usah kuatir," Coh Sam-nio tersenyum,
"dia tidak bakal turun tangan."
Benar saja, Hong Lo-su sama sekali tidak
menengok ke arah arena pertarungan, setelah bangkit berdiri,
perlahan-lahan dia berjalan menuju kehadapan Siang-tok Thaysu.
Menyaksikan hal itu, Gi Beng pun
menghembuskan napas lega.
Tampak sekilas senyuman puas yang misterius
terlintas di wajah Coh Sam-nio. Rupanya dia sudah menduga Hong Lo-su
bakal melakukan satu perbuatan yang mengejutkan.
Sewaktu melihat Hong Lo-su berjalan menuju
ke hadapannya, paras muka Siang-tok Thaysu berubah hebat,
kelihatannya dia belum siap untuk menghadapi serangan, bila Hong
Lo-su sampai melancarkan serangan, niscaya Siang-tok Thaysu tidak
akan sanggup melakukan perlawanan.
Anehnya ternyata Hong Lo-su tidak
melancarkan serangan.
Dengan sekulum senyuman aneh dia menatap
wajah Siang-tok Thaysu lekat-lekat, ujarnya perlahan:
"Angkat wajahmu!"
"Mau... mau apa kau?"
"Tatap wajahku!" kembali Hong Lo-su
berkata.
Tanpa sadar Siang-tok Thaysu mengangkat
wajahnya, dan dia pun segera menyaksikan sepasang biji mata Hong
Lo-su memancarkan cahaya aneh.
"Celaka...." pekiknya dalam hati. Dia ingin
menghindar, tapi sayang keadaan sudah terlambat.
"Dalam pertarungan yang terjadi tempo hari,"
ujar Hong Lo-su, "walaupun aku terkena racunmu, kau pun terpengaruh
ilmu pembetot sukmaku, saat itu jiwa dan pikiranmu masih kuat,
karenanya tidak sampai terpengaruh terlalu mendalam, kau masih
sanggup mempertahankan diri meski tingkah lakumu sudah setengah
gila, waktu itu orang lain dapat melihat tingkah gilamu, tapi kau
sendiri sama sekali tidak merasakannya."
Tiba-tiba nada ucapannya berubah sangat
halus, ramah dan hangat, seperti seorang tua yang ramah sedang
memberi wejangan kepada anak muridnya yang paling disayang.
Siang-tok Thaysu membelalakkan matanya
lebar-lebar, mengawasinya tanpa berkedip, dia mendengarkan semua
perkataan itu tanpa membantah, bagaikan seorang anak penurut yang
sedang mendengarkan wejangan gurunya.
Terdengar Hong Lo-su berkata lagi:
"Tapi sekarang, kau sudah terluka oleh
senjata rahasia Hoa Bu-soat, biarpun kau sangat menguasai ilmu
racun, namun tidak mampu memunahkan racun senjata rahasia yang
dilepaskan Hoa Bu-soat, benar begitu?"
Tanpa sadar Siang-tok
Thaysu menganggukkan kepala.
"Oleh sebab itu, kini kau sedang memusatkan
seluruh pikiran dan perhatianmu untuk mencegah agar racun jahat itu
tidak menyerang jantungmu, karena itu niat dan ketegaran jiwamu
sangat lemah, sangat rapuh, kau sudah tidak mampu melawan aku lagi."
Siang-tok Thaysu menghela napas panjang,
tanpa terasa kembali dia mengangguk.
"Nah, itulah dia, kini jalan pikiran dan
kesadaranmu sudah berada dalam kendaliku, sekarang kau tidak akan
mampu mengambil keputusan lagi, kau hanya mampu menuruti semua
perkataanku, benar bukan?"
Nada suara Hong Lo-su makin lama semakin
lembut, halus dan hangat.
Dengan termangu Siang-tok Thaysu menatap
wajahnya beberapa saat, tapi akhirnya dia menundukkan
kepala seraya mengangguk:
"Benar!"
"Mulai sekarang kau hanya mempunyai seorang
majikan, apapun yang akan dia katakan, kau tidak akan melawan dan
membangkang... tahukah kau, siapa majikanmu?"
"Kau adalah majikanku," sahut Siang-tok
Thaysu seperti orang mengigau.
"Bagus, apa jadinya bila kau berani
membangkang majikanmu?" kata Hong Lo-su lagi.
"Siap menjalani hukuman yang ditimpakan
majikan kepadaku."
"Mulai sekarang racun yang mengeram dalam
tubuhmu sudah terbendung oleh kekuatan saktiku, racun itu tidak
bakal kambuh lagi."
Perlu diketahui, ilmu pembetot sukma yang
digunakan di masa lalu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ilmu
hipnotis zaman sekarang, ilmu ini berkhasiat juga untuk menyembuhkan
penyakit.
Tampak sekulum senyuman segera tersungging
di ujung bibir Siang-tok Thaysu, katanya:
"Terima kasih banyak."
"Tapi kau harus ingat," kata Hong Lo-su
lebih jauh, "bila kau berani membangkang perintah majikanmu, racun
itu segera akan bekerja lagi, dan bila sampai terjadi hal semacam
ini, tidak ada lagi manusia di dunia ini yang sanggup menyelamatkan
jiwamu, mengerti?"
Senyuman di wajah Siang-tok Thaysu seketika
hilang tidak berbekas, kembali dia menundukkan kepala seraya
menyahut:
"Mengerti!"
Saat itulah senyum kepuasan terlintas di
wajah Hong Lo-su, katanya perlahan:
"Bagus, sekarang kau boleh memanggil balik
si Dewa racun, beritahu kepadanya siapa saja yang menjadi anggota
perguruan Tay ki bun, kemudian perintahkan kepadanya untuk membantai
habis semua orang itu."
"Terima perintah," sahut Siang-tok Thaysu.
Tiba-tiba Hong Lo-su membalikkan tubuh
sambil membentak:
"Kapak sakti, ada dimana kau?"
Sementara Siang-tok Thaysu berteriak pula
dengan lantang:
"Dewa racun, ada dimana kau?"
Diiringi suara nyaring, deruan angin kapak
dan bayangan manusia seketika reda dan lenyap.
Tampak si Dewa racun meluncur ke sisi
Siang-tok Thaysu dengan kecepatan bagaikan hembusan angin, sedang si
lelaki bertelanjang kaki itu berjalan menghampiri Hong Lo-su dengan
langkah lebar.
Gi Beng serta Gi Teng yang berdiri di
kejauhan hanya bisa menyaksikan perubahan mimik muka Siang-tok
Thaysu, mereka sama sekali tidak mendengar perkataan apa yang
diucapkan Hong Lo-su tentu saja perubahan
yang terjadi sekarang membuat mereka jadi tercengang dan berdiri
tertegun.
Mereka semakin bingung dan tidak habis
mengerti ketika melihat Dewa racun maupun lelaki bertelanjang kaki
itu dipanggil balik.
Sepasang muda-mudi ini hanya bisa saling
bertukar pandang dengan wajah keheranan, siapa pun tidak dapat
menebak dengan pasti peristiwa apa yang sebenarnya telah terjadi.
Umpama waktu itu mereka berdua dapat
mendengar perkataan Hong Lo-su, rasa kaget, keheranan dan tidak
habis mengerti yang mencekam hati mereka pasti akan berlipat ganda.
Waktu itu Hong Lo-su telah berkata kepada
lelaki berkapak sakti itu:
"Tahukah kau, sebenarnya kau adalah anggota
perguruan Tay ki bun?"
"Tahu!" sahut lelaki kekar itu.
Sambil menuding ke arah Pek Seng-bu, Hek
Seng-thian dan Suto Siau, kembali Hong Lo-su berkata:
"Ketiga orang yang kutuding itu adalah musuh
bebuyutanmu, sekarang juga cepat kau cabut nyawa mereka bertiga."
"Baik!"
Dalam pada itu si Dewa racun kembali
berpekik aneh, bagaikan hembusan angin kencang dia merangsek ke sisi
tubuh Im Gi, lalu dengan sepasang cakar beracunnya dia serang tubuh
orang tua itu.
Im Kiu-siau yang kebetulan menyaksikan
kejadian itu jadi kaget setengah mati, segera jeritnya:
"Toako, hati-hati!"
Cepat Im Gi menjatuhkan diri menggelinding
di atas tanah, dalam waktu singkat dia sudah berkelit sejauh
beberapa tombak.
Gagal dengan serangannya, kembali Dewa racun
melesat maju, kali ini sepasang cakar setannya mengancam tubuh Im
Kiu-siau.
Dengan mengerahkan segenap kekuatan yang
dimilikinya, dengan tergopoh-gopoh Im Kiu-siau menghindarkan diri,
teriaknya kemudian:
"Cing-su, Ting-ting, hentikan serangan dan
cepat mundur!"
Keempat orang itu segera melarikan diri
dengan berpencar ke empat penjuru, namun Dewa racun tidak tinggal
diam, sambil berpekik nyaring dia mengejar terus di belakang mereka.
Melihat kejadian ini, Gi Beng dan Gi Teng
kaget setengah mati, sebaliknya Suto Siau sekalian justru merasa
amat girang
Sayang sebelum mereka sempat tertawa
terbahak-bahak karena kegirangan, lelaki bertelanjang kaki dengan
kapak mautnya telah muncul di hadapan mereka, bahkan kapak
raksasanya diputar bagaikan pusingan roda dan disertai deru angin
tajam langsung dibacokkan ke arah kepala mereka.
Kekuatan kapak maut tidak jauh berbeda
dengan cakar beracun Dewa racun, tiada kekuatan manusia di dunia ini
yang sanggup menandingi-nya.
Suto Siau, Pek Seng-bu serta Hek Seng-thian
pun terpaksa melarikan diri terbirit-birit ke empat penjuru, namun
deru angin kapak yang tajam dan dahsyat seolah tidak pernah
meninggalkan belakang tubuh mereka.
Dalam waktu singkat dalam ruangan itu
terlihat delapan sembilan sosok bayangan saling menerjang ke kiri,
menerobos ke kanan diiringi teriakan, jeritan serta pekikan aneh
yang menusuk pendengaran.
"Menarik, menarik, sangat menarik...." seru
Hong Lo-su sambil bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak.
"Hong-locianpwe," jerit Suto Siau dengan
perasaan kaget, "kenapa kau... kenapa kau
"Hahaha, lelaki bertelanjang kaki itu memang
anggota perguruan Tay ki bun," seru Hong Lo-su sambil tertawa
tergelak, "tentu saja dia akan mencari kalian untuk membuat
perhitungan, buat apa kau berteriak-teriak memanggil aku... ?"
Di pihak lain Gi Beng pun berteriak keras:
"Coh... Coh-locianpwe... kenapa kau.....”
Coh Sam-nio tertawa terkekeh.
"Hahaha, Leng It-hong memang anggota Ngo hok
beng, apa salahnya kalau dia mencari anggota perguruan Tay ki bun
untuk menuntut balas? Buat apa kau berteriak memanggil aku? Coba
lihat, mereka yang terlibat dalam pertarungan saat ini, siapa yang
tidak terlibat langsung dalam pertikaian dan perselisihan itu? Orang
luar mana yang terlibat dalam pertarungan itu? Bukankah cara kerja
Sam-nio sangat adil?"
Gi Beng merasa terkejut bercampur gusar,
jeritnya:
"Kau memang betul-betul keji! Kalian semua
memang jahat dan kejam! Bukan saja kalian menghendaki seluruh
anggota perguruan Tay ki bun punah, kalian pun berharap semua
anggota Ngo hok beng mampus, sebenarnya apa maksud kalian melakukan
hal ini?"
"Bila mereka semua sudah mampus, bukankah
kolong langit akan jauh lebih aman dan tenteram?" sahut Coh Sam-nio
sambil tersenyum.
Gi Beng menarik napas dingin, kini dia
benar-benar tidak tahu perkataan apa lagi yang bisa dikatakan.
Mendadak dari luar celah dinding yang roboh
terdengar seseorang membentak nyaring:
"He, apa-apaan kalian semua? Mau
memberontak? Semuanya berhenti!"
Sesosok bayangan manusia meluncur masuk
dengan kecepatan tinggi, ternyata dia adalah Hoa Bu-soat.
"Hoa Bu-soat, kau tidak boleh ikut campur
dalam urusan itu, cepat kemari," Coh Sam-nio segera membentak keras.
Di tengah suara bentakan itu, mendadak dia
turun tangan secepat sambaran petir, Gi Beng hanya merasakan
pandangan matanya kabur, belum sempat melihat jelas apa yang
terjadi, tahu-tahu Sui Leng-kong yang berada dalam pelukannya telah
direbut Coh Sam-nio.
Hoa Bu-soat membalikkan tubuh dan meluncur
ke hadapan Coh Sam-nio, tegurnya sambil tertawa dingin:
"Budak ketiga, rupanya kau, sejak kapan kau
berani memberi perintah kepadaku?"
"Jici, baik-baikkah kau?" sahut Coh Sam-nio
sambil tertawa, "coba kau perhatikan, siapa-kah dia?"
Begitu menyaksikan Sui Leng-kong yang berada
dalam pelukannya, berubah hebat paras muka Hoa Bu-soat, teriaknya:
"Putriku... kembalikan kepadaku, putriku.."
Dalam pada itu Coh Sam-nio sudah mundur
sejauh beberapa tombak dari posisi semula, katanya sambil tertawa:
"Asal Jici tidak ikut campur persoalan ini,
tentu saja Siaumoay akan segera mengembalikan putrimu."
Hoa Bu-soat seperti akan menubruk lagi ke
muka, tapi akhirnya dia urungkan niatnya, ujarnya sambil tertawa
terkekeh:
"Hahaha, bagus, budak ketiga, aku turuti
perkataanmu, tapi jangan kau lukai putriku walau seujung rambut
pun."
"Aku saja senang melihat bocah perempuan
ini, mana mungkin melukainya, Jici, kau tak usah kuatir, coba
lihatlah, betapa menariknya pertarungan mereka."
Dewa racun mengejar ketat anggota perguruan
Tay ki bun, kecuali anak murid perguruan ini, dia tidak pernah
menengok sasaran lain.
Begitu pula dengan lelaki bertelanjang kaki
itu, dia hanya mengejar Suto Siau bertiga, sementara mati hidup
orang lain dia tidak peduli.
Ketika anggota perguruan Tay ki bun saling
bersimpangan dengan Suto Siau sekalian dalam kaburnya, setiap kali
bersua, dalam kerepotan mereka masih sempat saling melepaskan
pukulan untuk merobohkan lawan.
Pemandangan waktu itu boleh dibilang sangat
kalut, suasana pun terasa mengerikan dan menakutkan.
Mendadak terlihat langkah Pek Seng-bu
sempoyongan, diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati dia termakan
bacokan maut kapak raksasa lelaki itu hingga tubuhnya terbelah jadi
dua bagian.
Sekalipun Gi Beng menaruh kesan jelek
terhadap Pek Seng-bu, tidak urung kematiannya yang begitu
mengenaskan membuat bulu kuduk-nya berdiri, dia merasakan segulung
hawa dingin muncul dari dasar kakinya dan menyusup hingga ke atas
kepala.
Sementara itu lelaki bertelanjang kaki
dengan mengayunkan kapak raksasanya yang penuh berlepotan darah
sedang mengejar Hek Seng-thian.
Biarpun Hek Seng-thian keji, jahat dan tidak
berperasaan, namun kematian saudara angkatnya yang sudah
mati hidup ber saman ya selama puluhan tahun seketika membuat
matanya memerah, jeritnya pilu:
"Jite,kau...."
Belum selesai dia menjerit, percikan darah
segar Pek Seng-bu yang menempel di mata kapak telah menodai seluruh
pakaiannya, menyusul kemudian sebuah ayunan kapak langsung menghajar
batok kepalanya.
Belum selesai dia menjerit ngeri, batok
kepalanya sudah terpenggal hingga mencelat jauh ke sudut ruangan.
Suto Siau yang menyaksikan kejadian itu
bergidik, nyalinya pecah berantakan, tiba-tiba dia mendongakkan
kepala dan tertawa keras, tertawa kalap seperti orang gila.
"Bagus sekali suara tawamu, bagus sekali
suara tawamu ejek Hong Lo-su sambil tertawa aneh.
Mendadak Suto Siau menerjang maju ke depan,
lalu secepat kilat tubuhnya menerkam ke muka dan dia memeluk
sepasang kaki Hong Lo-su kencang-kencang.
Tindakan ini sama sekali di luar dugaan Hong
Lo-su, mimpi pun dia tidak pernah mengira Suto Siau bakal berbuat
begitu.
Sekalipun kepandaian silat yang dimilikinya
sepuluh kali lipat lebih hebat daripada kepandaian yang dimiliki
Suto Siau, namun sepasang kakinya yang secara di luar dugaan dipeluk
dan ditubruk orang kuat-kuat, membuat tubuhnya limbung dan tidak
ampun seketika jatuh terguling ke bawah meja altar.
Dalam waktu singkat kedua orang itu saling
bergulingan di atas tanah.
Terdengar Suto Siau berteriak sambil tertawa
seram:
"Kau menginginkan kematianku? Baik, aku pun
menginginkan kematianmu...."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, kapak
maut lelaki bertelanjang kaki itu sudah diayunkan ke bawah, langsung
membacok batok kepala Suto Siau dan sisa kekuatannya masih sempat
membacok kutung sepasang kaki Hong Lo-su.
Diiringi jerit kesakitan yang memilukan
hati, Hong Lo-su roboh tidak sadarkan diri, kelihatannya dia pun
tidak bisa hidup lebih lanjut.
Sungguh tragis nasib jagoan yang tangguh dan
berhati keji ini, pada akhirnya dia harus tewas di ujung senjata
hambanya.
Dalam waktu relatip singkat, sudah empat
orang tewas dalam keadaan mengenaskan, bahkan kematian mereka yang
satu jauh lebih tragis daripada yang lain, semuanya mati dengan
tubuh hancur dan tidak utuh....
Menyaksikan percikan darah segar yang
muncrat ke empat penjuru dan menggenangi permukaan lantai, tidak
kuasa lagi Gi Beng bergidik dengan bulu kuduk berdiri, biarpun sudah
cukup lama dia berkelana dalam dunia persilatan, namun baru pertama
kali ini dia saksikan pertempuran yang demikian seru dan mengerikan.
Tidak kuasa menahan gejolak emosi dalam
dada, gadis itu merasakan kakinya jadi lemas dan roboh terjengkang
ke tanah.
Coh Sam-nio sendiri pun tidak melangka akan
terjadinya peristiwa tragis semacam itu, dengan wajah berubah hebat
dia hentakkan kakinya berulang kali ke lantai, serunya:
"Losu... Losu, kau... kau...." Untuk
sesaat dia pun tidak sanggup melanjutkan
perkataannya.
Begitu menyaksikan tubuh Hong Lo-su roboh
terjungkal, tiba-tiba Siang-tok Thaysu merasakan tubuhnya bergetar
keras, sukmanya seakan-akan untuk sesaat kehilangan kendali, dia
bangkit berdiri dengan wajah kebingungan.
Lelaki bertelanjang dada pun ikut
menghentikan gerakan tubuhnya dan berdiri mematung di tempat,
mengawasi tetesan darah segar yang mengalir dari mata kapaknya,
tiba-tiba sekulum senyuman bodoh tersungging di ujung bibirnya.
Melihat semua musuh besarnya sudah tewas
mengerikan di tangan saudaranya, Im Gi merasa terkejut bercampur
girang, tapi melihat Dewa racun masih mengejar terus tiada hentinya,
mendadak sambil menggigit bibir dia membentak keras:
"Semua anggota perguruan Tay ki bun cepat
berkumpul kemari."
Im Kiu-siau, Im Ting-ting serta Thiat
Cing-su serentak berlarian mendekat.
Terdengar Im Gi berteriak lebih jauh:
"Dendam kesumat perguruan Tay ki bun sudah
terbalas, kini aku orang she Im bisa pergi tanpa sesal, aku tidak
mau lagi dikejar dan dihina orang terus menerus, Leng It-hong,
kemari kau!"
Mendadak dia menghentikan langkahnya sambil
membalikkan tubuh, kemudian secepat kilat menerjang ke hadapan Dewa
racun.
"Toako! Jangan....” jerit Kiu-siau kaget.
Tapi sayang, waktu itu cakar beracun Dewa
racun telah tiba di hadapan Im Gi.
Sambil tertawa seram, teriak Im Gi:
"Dialah musuh besar terakhir perguruan Tay
ki bun kita, biar aku mengadu jiwa dengannya."
Bukannya menghindar, dia justru memapak
datangnya serangan itu, sambil merentangkan sepasang lengannya dia
menerkam ke depan dan memeluk tubuh Dewa racun kuat-kuat.
Tubuh kedua orang itupun jatuh ke lantai dan
saling bergulingan.
Menyaksikan adegan yang menegangkan ini,
semua orang merasakan anggota tubuhnya jadi dingin dan kaku, sukma
seraya melayang meninggalkan raga.
Tampak kedua orang jago itu bergulingan
beberapa saat kian kemari, namun tiba-tiba mereka tidak bergerak
lagi.
Dengan nada pedih Im Kiu-siau segera
menjerit:
"Toako...Toako...."
Im Ting-ting serta Thiat Cing-su ikut
menangis tersedu-sedu, mereka tidak tahan menyaksikan keadaan
gurunya.
Baru saja ketiga orang itu siap menubruk ke
depan jenazah Im Gi, tiba-tiba tubuh Dewa racun melejit dan berdiri
kembali, berdiri bagai mayat hidup dengan sepasang cakar beracunnya
diluruskan ke depan.
Dalam waktu singkat suasana jadi hening,
semua napas seolah berhenti secara tiba-tiba, sepasang cakar maut
Dewa racun seakan-akan telah mencekik tenggorokan semua orang.
Pada saat bersamaan itulah tiba-tiba dari
luar pintu berkumandang suara tertawa seseorang yang merdu:
"Aku tidak berbohong, di dalam sana pasti
ada orang... Cihuku sayang, cepatlah ikut aku!"
Biarpun suara tawanya merdu merayu, namun
bagi pendengaran semua orang serasa mengandung nada misterius yang
aneh.
Di tengah gelak tertawa, empat orang
berjalan masuk ke dalam ruangan dengan Leng Cing-peng berjalan
paling depan, di belakangnya mengikut Im Kian, Hay Tay-sau yang
jarang menampakkan diri serta Liu Ho-ih, si nona berbaju hijau yang
ada di desa pandai besi.
Kemunculan mereka bertiga di tempat ini
sungguh di luar dugaan siapa pun, mereka tidak mengira akan terjadi
hal seperti ini.
Rupanya dalam pengembaraannya, Hay Tay-sau
telah bertemu dengan Im Kian di padepokannya, perjumpaan yang tidak
terduga ini membuat mereka berdua merasa cocok satu dengan lainnya.
Hubungan mereka berdua semakin bertambah
erat setiap kali Hay Tay-sau menyinggung soal Thiat Tiong-tong
serta memuji kegagahan serta jiwa kependekarannya.
Biarpun Hay Tay-sau orang yang tinggi hati,
boleh dibilang dia amat mengagumi kehebatan Thiat Tiong-tong,
padahal hubungan batin Im Kian dengan Thiat Tiong-tong pun amat
akrab, maka kedua orang inipun sering bersulang demi kesela-matan
anak muda itu.
Im Kian yang cetek takaran minumnya sering
dibuat mabuk kepayang, suatu ketika dalam mabuknya, sambil
melelehkan air mata dia membeberkan rahasia besar pribadinya....
Mengetahui rahasia itu, Hay Tay-sau yang
tinggi hati kontan mencaci-maki Im Kian habis-habisan, dia
menganggap tidak seharusnya Im Kian sebagai seorang lelaki sejati
hidup meng-asingkan diri, apapun yang bakal terjadi, apapun yang
bakal menimpa dirinya, seharusnya dia berani tampil ke depan....
Di bawah desakan yang berulang kali,
akhirnya Im Kian membuang jauh semua sikapnya selama ini, dia pun
keluar dari pondoknya yang telah dihuni selama ini dan bersama
Hay Tay-sau terjun kembali ke dunia persilatan.
Dalam perjalanan mengarungi dunia Kangouw,
suatu hari kedua orang itu lewat di dusun pandai besi, di sana
mereka bertemu Liu Ho-ih yang kehilangan akal dan kesadarannya
sedang berdiri seorang diri di bawah pohon. Berdiri dengan termangu
seperti orang gila.
Tiba-tiba suara guntur yang menggelegar
membelah pohon besar itu jadi dua bagian, Liu Ho-ih pun jatuh tidak
sadarkan diri.
Menyaksikan kejadian ini, tentu saja Im Kian
dan Hay Tay-sau tidak berpangku tangan, cepat mereka menyelamatkan
Liu Ho-ih yang pingsan dan menyelamatkan jiwanya dengan memberi pil
mujarab.
Siapa sangka gara-gara bencana itu Liu Ho-ih
justru memperoleh keberuntungan, sambaran geledek yang menggetarkan
tubuhnya justru memulihkan kembali kesadaran serta ingatannya.
Dia pun mulai teringat dirinya adalah Hoa
Ling-ling, putri kesayangan si Hujan Gerimis Hoa Bu-soat, dia pun
teringat ketika kabur dari rumah gara-gara perkawinannya yang tidak
disetujui.
Suatu hari, di tengah hujan guntur yang
deras, dia berdiri termenung di bawah pohon sambil membayangkan
kekasihnya, sambaran petir saat itu membuatnya jatuh tak sadarkan
diri.
Ketika mendusin kembali, dia seakan lupa
segalanya, maka semenjak itulah setiap kali berjumpa dengan hujan
geledek, dia tak tahan untuk berlari keluar dari rumah dan berdiri
di bawah pohon, dia seperti menantikan datangnya sesuatu.
Sampai hari itu, kesadaran dan ingatannya
yang sudah terenggut oleh sambaran petir, akhirnya balik lagi
kepadanya....
Mendengar kisah semacam ini, Im Kian serta
Hay Tay-sau hanya bisa menggelengkan kepala sambil berdecak.
Hoa Ling-ling yang berhasil memperoleh
kembali ingatan serta kesadarannya pun tidak menetap lagi di dusun
pandai besi, setelah berpamitan dengan saudara-saudara angkatnya,
dia pun ikut Hay Tay-sau berdua mengembara dalam dunia persilatan.
Sebenarnya dia masih tidak ingin pulang, dia
hanya berharap bisa berjumpa lagi dengan Lui Siau-tiau.
Ketika tiba di seputar tempat itu, dia pun
mendengar berita yang tersiar dalam dunia persilatan bahwa Lui-pian
Lojin pernah diketahui jejaknya muncul di seputar bukit itu.
Dengan cepat mereka bertiga naik bukit
sambil melakukan pencarian, ketika sedang melakukan pelacakan,
secara kebetulan mereka jumpai Sun Siau-kiau dengan membopong Sim
Sin-pek sedang melarikan diri keluar dari celah bukit rahasiaku.
Hay Tay-sau langsung membekuk Sim Sin-pek,
Sun Siau-kiau yang pintar melihat gelagat buru-buru menceritakan
semua peristiwa yang telah terjadi.
Maka mereka bertiga pun memasuki padang
rumput, dimana mereka menjumpai Leng Cing-peng sedang mengembara
seorang diri.
Tentu saja Leng Cing-peng kenal Im Kian,
tapi kesadaran dan ingatannya yang terganggu membuat dia seolah lupa
bahwa Im Kian pernah mati, dia hanya tahu dia adalah iparnya, maka
Im Kian pun menanyakan kejadian di tengah padang rumput itu.
Akhirnya dia pun mengajak mereka memasuki
gua rahasia itu.
Begitu masuk ke dalam gua, Hoa Ling-ling
langsung berteriak keras:
"Ibu!"
Im Kian dengan mata memerah berteriak pula:
"Ayah!"
Sedang Leng Cing-peng sambil tertawa berseru
pula:
"Ayah, ternyata kau berada di sini."
Suara ketiga orang itu bercampur-baur tidak
jelas, tapi masing-masing segera berlarian menuju ke arah orang yang
di kasihnya.
Mula-mula Hoa Bu-soat nampak tertegun,
menyusul kemudian serunya sambil tertawa tergelak:
"Hahaha, ternyata kaulah Ling-hng, gadis itu
bukan... gadis itu bukan... oooh, Ling-ling putriku sayang, ibu amat
merindukanmu."
Im Kian yang menubruk ke atas jenazah Im Gi
telah menangis tersedu-sedu.
Bagaimana dengan Leng Cing-peng yang
menubruk ke atas tubuh Dewa racun?
Tentu saja Dewa racun Leng It-hong tidak
mengenali putrinya lagi, ketika merasa ada orang menerkam tubuhnya,
dia langsung mengayunkan telapak tangannya sambil melepaskan satu
pukulan.
"Duuuk!", diiringi suara benturan keras,
Leng Cing-peng roboh terjungkal ke tanah, ternyata dia telah
membunuh putri kesayangan-nya.
Menjelang ajalnya, Leng Cing-peng sempat
berseru sambil tertawa:
"Ooh, ayah! Kau telah membunuh putrimu
sendiri.... kau telah membunuh putri kandungmu sendiri.....
menyenangkan..... sungguh menyenangkan"
Suara gelak tertawanya terdengar begitu
memilukan hati, membuat perasaan orang hancur lebur.
Genangan darah kental mulai meleleh
membasahi permukaan lantai, namun kasih sayang seorang ayah terhadap
anaknya memang jauh melebihi kekuatan apapun.
Gelak tertawa yang kalap dan mengenaskan
membuat Dewa racun yang sebenarnya sudah mati rasa dan hilang
pikiran merasakan tubuhnya bergetar keras, perlahan-lahan dia
membalikkan tubuh, dengan mata melotot besar diawasinya wajah
Siang-tok Thaysu tanpa berkedip.
Begitu Siang-tok Thaysu pulih kembali
pikirannya, racun yang mengeram dalam tubuh-nya pun mulai kambuh,
begitu racun mulai bekerja, kesadarannya semakin terang.
Tiba-tiba dia mendongakkan kepala dan
tertawa keras, teriaknya:
"Bagus, bagus, aku hampir mati, Dewa racun
perguruanku juga tidak boleh dipergunakan siapa pun...."
Ketika dia melompat turun dari atas altar,
kebetulan Dewa racun sedang berjalan menghampirinya, dalam waktu
singkat kedua orang itu saling bergumul, mereka berguling, saling
menghantam, saling mencakar... akhirnya suara tertawa pun makin
melemah sebelum akhirnya sama sekali tidak bergerak lagi.
Kali ini mereka benar-benar tidak bergerak
lagi, mereka mati karena senjata makan tuan, Siang-tok Thaysu yang
selama hidup bermain racun, akhirnya harus tewas di tangan Dewa
racun, perguruan racun yang sudah lama membawa bencana dan sengsara
bagi umat persilatan pun punah semenjak itu.
Dalam waktu singkat suasana dalam ruangan
itu jadi kalut. Kekacauan, kepedihan, kengerian, kesedihan
bercampur-aduk jadi satu, suasana ketika itu betul-betul tidak bisa
dilukiskan dengan ucapan.
Paras muka Coh Sam-nio pucat pias tidak
berdarah, tiba-tiba sambil tertawa seram dia berjalan menghampiri
anggota perguruan Tay ki bun.
Padahal saat itu semua anggota perguruan Tay
ki bun masih berdiri dengan wajah tertegun, melongo dan tidak tahu
harus berbuat apa, kematian Im Gi sang Ciangbunjin yang tiba-tiba,
kemunculan Im Kian yang di luar dugaan, ditambah semua kengerian,
kepedihan yang terjadi secara tiba-tiba telah membuat semangat
mereka hancur berantakan.
Jangankan manusia yang terdiri dari darah
daging, manusia baja pun tidak akan tahan menghadapi perubahan
seperti ini.
Gi Beng jadi kaget melihat hal itu, dengan
sigap teriaknya:
"Hati-hati...Coh Sam-nio akan......”
Sekonyong-konyong...
"Kraaaak!", diiringi suara keras, dua buah
patung dewa raksasa itu membelah jadi dua, disusul kemudian terlihat
dua orang manusia berjalan keluar dari belahan patung itu.
Orang yang berjalan paling depan adalah
nenek tua berambut putih yang wajahnya penuh keriput, dia tidak lain
adalah si nenek yang membawa sampan penyeberang di pulau Siang
cun-to... Im Toa-nio, di sisi tubuhnya mengikut seseorang sambil
membopong putrinya, dia tidak lain adalah Leng Cing-soat.
Kembali terjadi kegaduhan, kembali terjadi
kekalutan....
Im Toa-nio memandang sekejap sekeliling
tempat itu, memandang pula Im Kiu-siau yang selalu dicintainya,
biarpun pemandangan tragis terpampang di hadapannya
membuat emosinya bergelora, namun mimik mukanya sama sekali tidak
menampilkan perubahan apapun.
Dengan suara perlahan dia menegur:
"Coh Sam-nio, kau masih tidak mau
menghentikan langkahmu?"
Coh Sam-nio berpaling, kemudian sahutnya
sambil tertawa sedih:
"Bagus, bagus, akhirnya penghuni pulau Siang
cun-to datang juga kemari...."
Mendadak tubuhnya jadi lemas, tidak tahu
kenapa tiba-tiba dia roboh ke tanah.
"Biarpun aku sudah datang, sayang
kedatanganku kelewat terlambat," kata Im Toa-nio perlahan, "dendam
kesumat perguruan Tay ki bun sudah terbalas, tapi begini tragis
akhirnya... semua anggota perguruan Tay ki bun dengarkan baik-baik,
apakah kalian tahu dengan pasti asal-muasal perselisihan ini?"
Sambil menahan rasa sedih yang luar biasa,
Im Kiu-siau maju ke depan, ujarnya sambil memberi hormat:
"Mohon diberi petunjuk."
Im Toa-nio tak berani menatapnya, sambil
mengertak gigi, ujarnya:
"Untuk mengetahui kejadian ini, aku harus
bercerita mulai awal
Ternyata Im dan Thiat sebagai cikal-bakal
pendiri perguruan Tay ki bun meski sepak terjangnya gagah dan
berjiwa ksatria, namun sikap mereka terhadap istri masing-masing
justru sangat buruk.
Im-hujin berasal dari marga Cu, sedang
Thiat-hujin bermarga Hong, kedua orang Hujin ini bukan saja berjiwa
saleh, mereka pun memiliki kepandaian silat tangguh.
Cu-hujin mempunyai watak yang lebih keras,
ketika hubungan suami istri kurang harmonis, dia pun mengembara jauh
ke luar lautan dengan mendirikan perguruan sendiri, yakni Siang
cun-to.
Saat setiap anggota perguruan Tay ki bun
menyia-nyiakan istrinya, dia pun segera menjemput mereka dan
ditampung di pulau terpencil itu.
Akibatnya pamor perguruan Tay ki bun kian
hari kian bertambah suram dan merosot, sementara Siang cun-to makin
lama semakin berjaya.
Sementara itu Hong-hujin yang lebih lemah
pendiriannya, tidak sanggup menahan siksaan batin yang menahun,
akhirnya dia tewas secara mengenaskan.
Adik Hong-hujin merasa sedih bercampur gusar
melihat kakaknya mati tragis, dalam gusarnya dia berniat membalas
dendam sakit hati ini.
Namun bagaimanapun juga dia masih mempunyai
hubungan dekat dengan pihak perguruan Tay ki bun, tentu saja tidak
mungkin baginya untuk tampil sendiri, maka dia pun mengumpulkan
murid-muridnya dari marga Seng, Leng, Pek, Hek dan Suto untuk
membentuk persekutuan Ngo hok beng dan memerintahkan mereka untuk
berontak.
Sejak itu persekutuan Ngo-hok-beng
bermusuhan dengan perguruan Tay ki bun, secara diam-diam jagoan
perguruan Hong membantu usaha mereka, sementara pihak Siang cun-to
berpeluk tangan tidak mencampuri urusan itu.
Walaupun leluhur Ngo hok beng pernah
berhutang budi kepada Im dan Thiat, namun budi yang diberikan kedua
orang Hujin itu jauh melebihi kedua orang itu, karenanya sewaktu
mereka membangun kuil untuk menyatakan rasa terima
kasih, mereka pun membuat ruang kuil yang tidak kalah megahnya untuk
memperingati kedua orang Hujin itu.
Justru karena sikapnya itu, keluarga Hong
baru bersedia membantu mereka secara diam-diam.
Tapi kekuatan perguruan Tay ki bun waktu itu
sangat hebat, kepopuleran mereka sedang pada puncaknya, dengan
mengandalkan kekuatan beberapa orang, jelas tidak akan berhasil
menghancur-kannya.
Untuk keberhasilan rencana ini, keluarga
Hong pun menghubungi beberapa orang tokoh sakti pada waktu itu untuk
membantu mereka, kawanan jago itu tidak lain adalah para leluhur
Lui-pian Lojin, Coh Sam-nio, Hoa Bu-soat serta Siang-tok Thaysu
Ketika menurun sampai generasi berikutnya,
meskipun beberapa keluarga persilatan ini tidak lagi ikut memusuhi
perguruan Tay ki bun, namun mereka tetap menyimpan rapat rahasia
besar itu, bahkan segera menunjukkan sikap tidak mencampuri urusan
ini.
Adapun leluhur Kaisar malam tidak lain
adalah keluarga dekat Cu-hujin....
Maka pertikaian perguruan Tay ki bun pun
melibatkan banyak sekali jagoan lihai dunia persilatan, hanya saja
karena tidak ingin kejadian itu menimbulkan gelombang yrang lebih
besar, leluhur perguruan Tay ki bun maupun Ngo hok beng tidak pernah
menjelaskan rahasia ini kepada anak cucunya.
Kini setelah Im-toanio dengan kalimat yang
paling sederhana menceritakan semua kejadian ini, sekalipun belum
mengungkap detil yang lebih dalam, namun sudah lebih dari cukup
untuk membuat para jago yang hadir bermandikan keringat dingin.
Terdengar Im-toanio berkata:
"Jit ho Nio nio yang berada di Pulau Siang
cun-to saat ini tidak lain adalah istri Im Gi di masa lalu, ketika
beliau mendengar tentang badai yang sedang berlangsung di sini,
meski belum jelas duduknya persoalan, namun dia bisa menduga pasti
ada sangkut-pautnya dengan perguruan Tay ki bun, maka beliau
menitahkan aku datang kemari untuk memberi penjelasan, siapa tahu
...aaaai! Ternyata sudah terjadi perubahan yang begini tragis,
sekalipun aku menguasai jalan pintas gua rahasia ini, akhirnya toh
datang terlambat juga."
Kuil persembahan di tempat itu merupakan
kuil untuk menyembah leluhur para penghuni pulau Siang cun-to, tidak
heran Jit ho Nio nio pun mengetahui rahasia lorong rahasia ini,
sementara Leng Cing-soat begitu tahu persoalan itu menyangkut
perselisihannya dengan perguruan Tay ki bun, segera merengek kepada
Im-toanio agar mengajaknya....
Ketika selesai mendengar penjelasan itu,
tiba-tiba Im Kiu-siau berseru dengan air mata berlinang:
"Kalau memang pulau Siang cun-to tidak
pernah mau mencampuri urusan perguruan Tay ki bun, kenapa
sekarang......
"Sebab Jit ho Nio nio pernah bersumpah,"
tukas Im toa-nio cepat, "asal ada seorang anak murid dari perguruan
Tay ki bun yang mau mengorbankan nyawanya demi istrinya, maka dia
akan...."
Belum selesai perkataan itu diucapkan,
tiba-tiba dari bawah altar terdengar seseorang menangis
tersedu-sedu, ternyata orang itu tidak lain adalah Un Tay-tay yang
telah ditotok jalan darahnya oleh Suto Siau.
Im-toanio segera membebaskan totokan jalan
darahnya sambil berkata dengan lembut:
"Anak baik, jangan menangis... bukankah Jit
ho Nio nio adalah ibu kandung Im Ceng? Siapa tahu dia tidak tega
membiarkan putranya benar-benar mati? Siapa tahu di bawah tebing
jurang itu ada tuan penolong yang menyelamatkan jiwanya..."
"Sesungguhnya dia... dia masih hidup atau
sudah mati?" tanya Un Tay-tay sambil terisak.
Im Toa-nio termenung beberapa saat lamanya,
kemudian baru berkata:
"Mati atau hidup, lebih baik pergilah
periksa sendiri!"
Kemudian sambil melompat naik lagi ke atas
meja altar, ujarnya seraya menghela napas:
"Kini urusanku sudah selesai, sudah saatnya
aku harus pergi."
"Terima kasih untuk perjalanan Hujin," bisik
Im Kiu-siau sambil menahan rasa sedih:
"Hujin, kau...."
Tampaknya Im-toanio tidak kuasa menahan diri
untuk menengok sekejap ke arahnya, dia seperti ingin mengucapkan
sesuatu, namun akhirnya tidak sepatah kata pun yang diucapkan.
Ketika berpaling ke arah lain, tidak tahan
air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Akhirnya perempuan yang hidup dalam
kepedihan ini pergi dari situ, pergi dengan perasaan remuk.
Kalau toh Im Kiu-siau sudah tidak
mengenalinya, buat apa dia harus melemparkan perasaan cintanya
lagi? Kalau kekasih sudah berubah jadi orang asing, daripada bersua
lebih baik tidak bertemu muka, berjumpa hanya meninggalkan kepahitan
dan kegetiran.
Ketika patung dewa menutup kembali, Leng
Cing-soat pun berlarian menghampiri Im Kian.
Setiap kejadian yang berlangsung saat ini,
kalau bukan kesedihan yang luar biasa tentu merupakan kegembiraan
yang luar biasa, ketika kesedihan bertautan dengan kegembiraan,
manusia mana yang mampu menahan diri?
Akhirnya suasana menjadi tenang kembali,
yang tersisa kini hanya kegetiran dan kepahitan yang membekas.
Saat itulah Hoa Ling-ling memohon kepada
semua orang untuk mencarikan jejak Lui-pian Lojin dan putranya.
Benar saja, di bawah reruntuhan bebatuan
cadas, mereka menemukan tubuh Lui-pian Lojin dan putranya serta
tubuh Liu Ji-uh dan Liong Kian-sik.
Lui-pian Lojin dan putranya duduk
berhimpitan di bawah sudut gua yang tidak runtuh, ternyata tidak
menderita luka parah.
Perjumpaan sepasang kekasih yang lama
berpisah tentu saja dilalui dalam suasana yang tidak terlukiskan.
Sui Leng-kong yang baru tersadar dari
pingsannya hanya bisa duduk sedih menyaksikan adegan itu.
Melihat sepasang kekasih yang saling
bertemu, melihat ibu anak yang berkumpul kembali, lalu melihat pula
Gi Beng yang bersandar di pundak Thiat Cing-su, tiba-tiba satu
perasaan pedih muncul di hatinya.
Akhirnya meledaklah isak tangis gadis itu,
teriaknya:
"Tiong-tong... Tiong-tong... Thiat
Tiong-tong.. kenapa justru kau seorang yang mati!"
"Thiat Tiong-tong tidak mati!" tiba-tiba Lui
Siau-tiau berbisik.
"Apa... apa kau bilang?" jerit Sui Leng-kong
sambil mencengkeram bajunya.
"Sewaktu berbaring di atas tanah tadi, aku
sempat mendengar ada suara pembicaraan bergema dari bawah tanah,
ada seorang kakek berkata, ”Thiat Tiong-tong, aku telah menyusahkan
dirimu, apakah kau menyesal?”. Seorang yang lain, aku rasa pasti
Thiat Tiong-tong segera menjawab, “Mati hidup ditentukan Thian,
kenapa aku harus menyalahkan kau orang tua? Selama hidup aku Thiat
Tiong-tong tidak pernah memalukan langit dan bumi, kenapa mesti
takut menghadapi kematian?”
Sui Leng-kong segera melompat bangun,
jeritnya gemetar:
"Sung... sungguh?"
Sambil tertawa tergelak Hay Tay-sau berseru.
"Hahaha, aku yakin pasti benar, kecuali
Thiat Tiong-tong, manusia mana lagi di dunia ini yang sanggup
berbicara segagah itu? Hahaha... Thiat Tiong-tong, wahai Thiat
Tiong-tong, aku sudah menduga kau tidak bakal mati, jika kau mampus,
akan jadi apa dunia ini? Hahaha, semua peristiwa yang tragis sudah
lewat, yang tersisa sekarang hanya kegembiraan. Suatu hari nanti,
aku pasti akan membujuk Bi Lek-hwe untuk kembali jadi orang preman
dan ikut aku mengembara dalam dunia persilatan, jadi orang biasa
pasti lebih enak daripada jadi Hwesio...."
Berita yang baru diterima membuat semua
orang terkejut bercampur gembira, tanpa membuang waktu lagi semua
orang bekerja keras menggali tanah.
Dengan tenaga gabungan beberapa orang jago
tangguh ini, tidak sampai setanakan nasi mereka telah berhasil
menggali hingga mencapai gua bawah tanah dimana Kaisar malam berada.
Tapi yang mereka jumpai di sana hanya
hancuran batu yang berserakan bagai kuburan, sama sekali tidak
nampak bayangan manusia pun.
Kemana perginya mereka? Kenapa tidak ada
manusia di situ?
Semua orang menelusuri setiap jengkal
lorong, namun tetap tidak ditemukan sesosok bayangan manusia pun....
Kemana perginya Kaisar malam, Thiat
Tiong-tong serta kawanan gadis itu? Kemana mereka pergi?
Kegembiraan yang datang kelewat cepat,
selalu mendatangkan kekecewaan yang berat.
Kembali semua orang bahu membahu menggali
reruntuhan bebatuan itu, namun yang mereka jumpai tetap lorong
rahasia yang kosong.
Kemana perginya Thiat Tiong-tong? Kenapa
jejaknya tidak ditemukan?
Di antara sekian banyak orang, hubungan Im
Kiu-siau, Im Ting-ting, Thiat Cing-su serta Im Kian terbatas hanya
hubungan persaudaraan dengan Thiat Tiong-tong, sedang hubungan Sui
Leng-kong adalah hubungan cinta yang mendalam, sebaliknya Un Tay-tay
menganggap pemuda itu sebagai idola yang susah dilupakan.
Bukan hanya mereka, Hay Tay-sau, Leng
Cing-soat, Hoa Ling-ling serta Seng Cun-hau pun merasa pernah
berhutang budi pada pemuda ini.
Kegagalan mereka menemukan jejak Thiat
Tiong-tong seketika mendatangkan pukulan batin yang berat bagi
orang-orang itu, untuk sesaat semua terpekur murung, isak tangis
bergema memecah keheningan.
Dengan air mata bercucuran, ujar Gi Beng:
"Aku tidak pernah punya keinginan apa-apa
dalam hidupku, tapi sekarang ada satu keinginan yang mencekam
perasaanku, aku menyesal kenapa tidak punya kesempatan bersua
dengan Thiat Tiong-tong, aku...."
"Tidak usah bicara lagi," tiba-tiba Hay
Tay-sau membentak nyaring:
"Thiat Tiong-tong toh belum mati, kita masih
punya kesempatan untuk bertemu lagi dengannya, dia... dia tidak
mungkin mati, siapa tahu saat ini dia sudah berada di luar samudra,
hidup bagaikan seorang dewa...."
"Bisa jadi dia masih terkurung dalam gua
ini," sambung Sui Leng-kong sambil menangis, "tidak berhasil
menemukan jalan keluar, harus menahan lapar, menahan dahaga...."
"Kalian semua pergilah" sela Im Kian, "biar
aku tetap tinggal disini, biar aku yang pergi mencari."
"Aku pun akan tetap tinggal di sini"
serentak Sui Leng-kong, Un Tay-tay, Im Ting-ting, Thiat Cing-su, Hay
Tay-sau serta Leng Cing-soat berseru.
"Baik," ucap Im Kiu-siau dengan air mata
berlinang, "aku tahu, inilah keinginan kalian, sayang aku masih ada
urusan lain yang harus diselesaikan, aku tidak bisa menemani kalian,
semoga tiga bulan kemudian ketika aku balik kemari lagi, kalian
telah berhasil menemukannya, bila saat itu kalian... kalian tidak
menemukannya ... maka aku...."
Isak tangis membuatnya tidak mampu
melanjutkan perkataannya.
Sebenarnya Thiat Tiong-tong masih hidup atau
sudah mati? Dalam tiga bulan mendatang apakah mereka berhasil
menemukannya?
Persoalan semacam ini memang amat pelik,
susah untuk menemukan jawabannya.
Tapi bagaimanapun juga, bila pemuda berhati
baja ini masih hidup, dia pasti akan
Melakukan karya lain yang lebih
menggemparkan, bila sudah mati, diapun akan menjadi seorang setan
berjiwa ksatria.
Badai yang melanda padang rumput akhirnya
mereda, kini yang tersisa hanya selembar panji sakti yang berkibar
dibawah timpaan cahaya sang surya.
Tamat