pendekar panji sakti 13 **

BAB 39

Langit Ambruk Bumi Merekah.

 

Angin masih berhembus sepoi, jilatan api obor masih memancarkan cahayanya.

Semua orang menahan napas, mengawasi perubahan mimik muka Hek Seng-thian setelah dicekoki obat, sementara air muka Hek Seng-thian pucat-pias bagai mayat, peluh sebesar kedelai jatuh bercucuran membasahijidatnya.

Entah berapa saat sudah lewat, mendadak terdengar Hek Seng-thian menjerit kesakitan, dia mulai memegangi perutnya dengan kedua belah tangan dan meringis menahan rasa sakit.

"Kenapa kau?" tegur Lui-pian Lojin dengan wajah berubah.

"Aduh, sakit... sakit.. racun!" keluh Hek Seng-thian dengan suara gemetar.

Begitu mendengar kata "racun", paras muka Liu Ji-uh serta Im Ting-ting segera berubah hebat, bagai disambar petir di siang hari bolong tubuh mereka gemetar keras.

Tiba-tiba Lui-pian Lojin mendongakkan kepala dan tertawa keras, suaranya menggaung sampai lama sekali.

Pada mulanya Un Tay-tay merasa kecewa, menyusul kemudian tercengang dan akhirnya ikut tersenyum.

"Jadi obat itu beracun?" tandasnya sambil tertawa.

"Beracun... racun jahat... aaah, sudah menembus ususku, aku ... aduuuh, perutku sakit sekali seperti dililit, ...aaah, mungkin aku... aku tidak bisa hidup lebih lama lagi."

Mendadak Lui-pian  Lojin  menghentikan gelak tawanya dan berteriak keras:

"Ambilkan pisau!"

"Ambil pisau buat apa?" tanya Un Tay-tay sambil mengedipkan matanya.

"Kalau memang dia sudah keracunan, sudah pasti sebentar lagi nyawanya akan hilang, daripada dia menderita lebih lama, lebih baik Lohu bantu dia, agar matinya tidak usah tersiksa."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, Hek Seng-thian sudah melompat bangun sambil berteriak:

"Tidak ada racunnya... aku tidak keracunan.....”

Semua orang merasa terkejut bercampur gembira, mereka masih belum paham apa yang sebenarnya telah terjadi.

Sambil tertawa, ujar Un Tay-tay:

"Agar kami semua tidak berani menelan pil pemunah itu, kau sengaja berlagak keracunan hebat, dasar berhati busuk, kau memang kejam setengah mati. Padahal kau lupa bahwa racun yang dimiliki Siang-tok Thaysu bukan sembarang racun, tidak mungkin racunnya bisa dibandingkan racun biasa. Boleh saja kau berlagak sakit perut, padahal sejak awal sandiwaramu sudah ketahuan, kalau aku saja sulit dibohongi, mana mungkin kau bisa menipu dia orang tua?"

Paras muka Hek Seng-thian pucat-pias, dengan kepala tertunduk dia bungkam dalam seribu bahasa.

Sambil tertawa, kembali Un Tay-tay berkata:

"Sekarang sisa obat penawar ini persis enam butir, ayo, kita telan dulu bersama-sama!"

Sambil  berkata, diambilnya sebutir pil pemunah racun itu dan disodorkan ke hadapan Liu Ji-uh.

Tidak lama setelah menelan pil penawar racun itu, semua sudah mulai menunjukkan reaksinya.

Liong Kian-sik keracunan paling ringan, mula-mula dia memuntahkan segumpal air berwarna hijau, setelah kejang beberapa saat, lambat-laun tubuhnya mulai dapat bergerak, kesadaran yang semula hilang pun perlahan pulih kembali.

Dengan air mata berlinang Liu Ji-uh menanti dengan tenang, akhirnya dia tidak mampu menahan diri lagi dan segera memeluk tubuh suaminya erat-erat, serunya dengan nada gemetar:

"Kian-sik... Kian-sik... kau telah kembali, kau telah kembali...."

Jangan dilihat di hari biasa perempuan ini berpenampilan dingin dan angkuh, sekali perasaan hatinya terbuka, maka tampaklah kobaran api cintanya yang membara....

Bukankah bara lahar panas gunung berapi selalu tersembunyi di balik bebatuan yang dingin dan kaku?

Menyusul Lui Siau-tiau, Im Gi, Im Kiu-siau menunjukkan reaksinya, sekalipun kekuatan mereka belum pulih seperti sedia kala, namun masalah itu hanya soal waktu saja.

Liu Ji-uh, Im Ting-ting, Thiat Cing-su serta Un Tay-tay semuanya diliputi perasaan gembira yang meluap, sedemikian girangnya hingga untuk sesaat melupakan rasa benci dan dendamnya terhadap Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu.

"Ternyata kepandaian Siang-tok Thaysu dalam memunahkan racun memang nomor satu di kolong langit," gumam Un Tay-tay lirih, "kecuali dia, mungkin tidak ada orang lain yang sanggup memunahkan pengaruh racun Coat cing hoa"

"Mimpi pun aku tidak menyangka racun Coat cing hoa ternyata bisa dipunahkan, kusangka kusangka Kian-sik, dia... dia...."

Tidak menyelesaikan perkataannya, Liu Ji-uh telah sesenggukan dan memeluk tubuh suami­nya semakin kencang.

Mendadak terdengar Im Ting-ting berteriak keras:

"Coba kalian lihat, Lui... Lui-locianpwe...." Dari nada teriakannya, dapat ditangkap betapa kaget dan ngerinya nona itu.

Dengan perasaan terperanjat semua orang berpaling, ternyata Lui-pian Lojin yang semula berdiri tegar bagaikan malaikat langit itu, entah sejak kapan sudah roboh terkapar di tanah.

Paras mukanya yang mula-mula merah bercahaya, sekarang telah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.

Ketika berpaling ke arah Seng Cun-hau, maka tampak sekujur badannya sedang mengejang keras, keringat sebesar kacang kedelai bercucuran membasahi jidatnya.

"Apa... apa yang sebenarnya terjadi?" jerit Un Tay-tay kaget.

Baru dia berteriak, dari luar gua celah berkumandang suara gelak tertawa latah membetot sukma.

Menyusul terdengar Siang-tok Thaysu berkata dengan suara menyeramkan:

"Apa yang telah terjadi? Hanya aku yang bisa menjelaskan kepadamu."

Melihat bayangan tubuhnya, semua merasa colah melihat bayangan setan saja, tubuh Im Ting-ting segera gemetar keras, Thiat Cing-su mesti merangkul gadis itu kencang-kencang, tidak urung dia sendiri pun gemetar juga.

Liu Ji-uh mendekap pula tubuh Liong Kian-sik dengan kencang, jeritnya ngeri:

"Pergi... pergi kau!"

"Pergi?" Siang-tok Thaysu tertawa latah, "kali ini aku tidak bakal pergi lagi, bila aku tidak mau pergi, siapa manusia di kolong langit ini yang bisa memerintahkan aku bergeser setengah langkah pun dari sini?"

Un Tay-tay memaksakan diri mengendali­kan perasaannya yang bergejolak, dengan memberanikan diri dia balas tertawa dingin, jengeknya:

"Huuh, tadi saja sudah kabur terbirit-birit mirip tikus terjepit, tidak disangka sekarang berani tebalkan muka muncul lagi di sini, memangnya kau tidak kuatir kehilangan pamormu sebagai seorang pemimpin perguruan?"

"Budak cilik, tahu apa kau?" sahut Siang-tok Thaysu sambil tertawa, "tadi aku memang mengundurkan diri sementara waktu, tindakanku tidak lebih hanya merupakan taktik 'mundur untuk maju', aku memang ingin menyaksikan kalian satu per satu kehilangan nyawa tanpa aku mesti membuang banyak tenaga."

Selesai bicara, kembali dia tertawa latah, lagaknya nampak begitu puas, begitu gembira.

"Jadi... jadi pil tadi benar-benar obat beracun?" bisik Liu Ji-uh dengan suara parau

Gelak tertawa Siang-tok Thaysu semakin bangga.

"Hahaha, kalau obat itu racun, masa kalian bersedia menelannya? Lagi pula jika aku harus mencabut nyawa kalian dengan mengandalkan racun, hal ini tidak mencerminkan kemampuanku yang sesungguhnya, tapi sekarang, aku justru dapat mencabut nyawa kalian dengan mengandalkan obat penawar racun, nah, dari sini kalian bisa membuktikan betapa hebatnya tindakanku, bukankah begitu? He, orang she Lui, sekarang kau sudah benar-benar takluk bukan?"

"Obat penawar racun?" tidak tahan Liu Ji-uh berseru, "kenapa jika obat penawar racun bereaksi begini?"

"Tentu saja teori di balik semua ini sangat rumit dan rahasia, kau tidak bakal mengerti, kecuali tokoh macam aku, manusia mana di kolong langit saat ini yang bisa memahami rahasia di balik semua itu?"

Setelah tertawa latah berulang kali, lanjutnya:

"Sewaktu menemukan buli-buli berisi obat tadi, perasaan kalian pasti sangat gembira bukan? Tahukah kalian bahwa buli-buli itu memang sengaja kujatuhkan?"

"Kenapa... kenapa kau sengaja berbuat begitu?"

"Walau obat mujarab itu bisa memunahkan racun, namun setelah memunahkan satu jenis racun, maka sifat obatnya akan ikut lenyap bersama dengan lenyapnya racun yang bersarang di tubuh, dan akan berubah jadi segumpal air hijau yang dimuntahkan keluar."

Tanpa terasa Liu Ji-uh melirik sekejap gumpalan air hijau di tanah, tanyanya lagi:

"Kemudian?"

"Tapi sayang racun yang bersarang di tubuh orang she Lui itu terdiri dari dua jenis racun jahat yang berbeda, walaupun obat pemunah itu berhasil memunahkan salah satu sifat racun yang ada, namun tetap meninggalkan jenis racun yang lain di dalam tubuhnya, semestinya dia harus mengandalkan pertentangan kedua racun di dalam tubuhnya untuk mempertahankan diri, sayangnya begitu salah satu jenis racun lenyap, maka jenis racun yang lain pun mulai bekerja, apalagi sifat racun itu sudah kelewat lama dikendalikan dalam tubuhnya, tidak heran begitu kambuh maka keadaan sulit dibendung lagi."

"Aaah, ternyata begitu," seru Liu Ji-uh ketakutan.

"Hahaha, kalau aku tidak menghitung secara tepat akan hal ini, untuk apa obat penawar racun itu sengaja kutinggal di sini? Bagaimana mungkin tua bangka she Lui ini mampu merobek saku bajuku?"

Sementara dia tertawa tergelak dengan latahnya, paras muka semua jago justru berubah jadi pucat keabu-abuan.

"Tapi... tapi orang lain toh tidak terkena dua jenis racun ...." seru Liu Ji-uh.

"Asal tua bangka she Lui itu tidak mampu melawan racun yang bersarang di tubuhnya, kenapa aku musti merisaukan yang lain? Memangnya orang-orang itu sanggup menghadapi gempuran Dewa racun, kendatipun kekuatan tenaga dalam mereka telah pulih kembali?"

Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kembali dia menambahkan sambil tertawa tergelak:

"Lagi pula mereka baru terbebas dari pengaruh racun, tenaga dalam yang dimiliki pun belum pulih seperti sedia kala, bila aku ingin mencabut nyawa mereka, semuanya bisa kulaku­kan segampang merogoh saku sendiri."

"Makhluk tua beracun, wahai, makhluk tua beracun, ternyata hatimu lebih beracun ketimbang racunmu, padahal kami tidak punya dendam denganmu, kenapa kau turun tangan sekeji ini?"

"Hahaha, kalau soal itu lebih baik kau tanyakan sendiri kepada raja akhirat setelah mampus nanti, paling tidak aku sudah memberi-kan sedikit pertanggung jawaban kepadamu dengan menjelaskan   rahasia ini, kalau tidak, mampus pun kau akan menjadi setan kebingung­an."

Tiba-tiba dia membalikkan tubuh sambil membentak:

"Mana Dewa racun?"

Semua orang merasakan napasnya jadi sesak, mereka sadar bila Dewa racun muncul di situ, maka semua orang yang berada dalam gua akan kehilangan nyawa.

Dan kali ini mustahil akan muncul kemukjizatan lagi seperti tadi.

Siapa tahu walaupun Siang-tok Thaysu sudah berteriak berulang kali, namun dari luar gua sama sekali tidak nampak sesuatu gerakan pun.

Berubah paras muka Siang-tok Thaysu, sekali lagi hardiknya:

"Dewa racun, ada dimana kau?" Suara bentakan yang menggelegar bagai guntur membelah bumi, membuat seluruh dinding gua bergetar dan mendengung tiada hentinya.

Namun di luar gua sama sekali tidak terdengar suara, Dewa racun pun tidak menam­pakkan diri.

Semua orang kembali dibuat tercengang, girang serta tidak habis mengerti.

Paras muka Siang-tok Thaysu berubah semakin hebat, dia terlebih tidak habis mengerti dengan kejadian ini, kalau dibilang Dewa racun membangkang perintahnya, jelas hal ini merupa­kan satu peristiwa yang mustahil.

Tapi kenyataan, kendatipun dia sudah berteriak berulang kali, namun Dewa racun tetap tidak muncul.

"Siapa tahu Dewa racun sama seperti kau tadi, kabur terbirit-birit" ejek Un Tay-tay sambil tertawa dingin.

"Budak sialan, kau jangan bicara sembarangan,"teriak Siang-tok Thaysu gusar, "bila Dewa racun muncul nanti, pertama-tama nyawamu yang akan kucabut."

Sambil mementang mulutnya, untuk ketiga kalinya dia berteriak:

"Dewa racun, dimanakau?"

Suaranya keras dan menggaung sampai ke tempat jauh, sampai lama kemudian suara itu baru sirap dan lenyap dari pendengaran.

Baru saja Siang-tok Thaysu menggerakkan tubuhnya dan siap menerjang keluar dari gua untuk melihat keadaan, mendadak terdengar suara tertawa yang merdu bagaikan suara keleningan berkumandang dari luar gua.

"Dewa racun berada di sini," terdengar suara merdu seorang wanita bergema.

Begitu suara merdu itu berkumandang, semua jago yang berada dalam gua kembali dibuat terkesiap.

"Siapa kau?" bentak Siang-tok Thaysu dengan wajah berubah hebat.

"Coba perhatikan siapakah aku," jawab orang di luar gua sambil tertawa ringan.

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, seorang wanita cantik berdandan istana sudah melayang masuk ke dalam gua.

Semua orang merasakan pandangan mata­nya jadi silau, penampilan perempuan cantik bak putri istana yang memancarkan cahaya berkilauan itu membuat suasana dalam gua yang gelap gulita seakan berubah jadi gemerlapan, gemerlapan seperti dalam istana.

"Hoa Bu-soat!" jerit Siang-tok Thaysu dengan perasaan kaget.

Sambil membelalakkan mata, Lui-pian Lojin ikut menjerit kaget:

"Aaah kau! Ternyata kau ikut datang?"

"Betul, aku telah datang," si Hujan gerimis Hoa Bu-soat tersenyum lebar.

Kemudian sambil menatap wajah Siang-tok Thaysu, lanjutnya:

"Kau tidak menyangka bukan kalau aku bakal kemari, sedang Dewa racunmu...."

"Kemana perginya Dewa racun?" tanya Siang-tok Thaysu dengan wajah berubah.

"Sudah digiring pergi seseorang, sekarang entah sudah kabur kemana."

"Kurangajar," teriak Siang-tok Thaysu gusar, "Dewa racun hanya menuruti perintahku seorang, mana mungkin bisa digiring pergi orang lain?"

"Mungkin saja orang lain tidak mampu menggiringnya pergi, sayang orang yang meng­giringnya pergi barusan secara kebetulan memiliki ilmu pembetot sukma yang sangat hebat, ilmu pembetot sukma yang jauh berbeda dengan kemampuan orang lain."

"Hong Lo-su? Kau maksudkan Hong Lo-su?" seru Siang-tok Thaysu terperanjat.

"Tepat sekali."

"Bukankah dia sudah terkena racun ganas­ku, masakah tidak mampus?"

"Coat cing hoa, masa kau lupa Coat cing hoa?" Hoa Bu-soat tersenyum.

Siang-tok Thaysu tertegun sesaat, kemu­dian sambil menghentak kan kaki dia berseru:

"Takdir... takdir...."

"Benar, memang kehendak takdir, takdir menghendaki Coat cing hoa tumbuh di tempat ini, takdir pula yang menghendaki Hong Lo-su tidak tewas di tempat ini, karena dia dibutuhkan untuk memancing kepergian si Dewa racun "

Senyuman yang semula menghiasi ujung bibirnya mendadak hilang tidak berbekas, selapis hawa pembunuhan yang mendekati gila mulai menyelimuti wajahnya, sambil berbicara, selang­kah demi selangkah perempuan itu menghampiri Siang-tok Thaysu.

Tanpa sadar Siang-tok Thaysu mundur dua langkah.

"Kau...."

Hoa Bu-soat sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk bicara, kembali bentaknya:

"Takdir menghendak Dewa racun tersingkir, agar aku dapat mencabut nyawamu."

"Memangnya kau sudah gila?" teriak Siang-tok Thaysu gusar, "antara kau dan aku tidak pernah terikat dendam sakit hati, kenapa kau sengaja memusuhi aku?"

"Sengaja memusuhimu?" Hoa Bu-soat tertawa dingin, "tidak punya dendam sakit hati? Hmmm, hmmm! Putriku tidak punya dendam sakit hati denganmu, kenapa tanpa sebab kau meracuninya hingga mati?"

"Putrimu? Ketemu saja belum pernah, mana mungkin aku meracuninya sampai mati?" sanggah Siang-tok Thaysu keheranan, "kau jangan percaya fitnahan jahat orang lain, kalau belum ada bukti jangan tanpa sebab mencari aku!"

Bagaikan orang gila Hoa Bu-soat tertawa tergelak, jeritnya:

"Kentut! Dalam tubuh putriku jelas ditemu­kan racunmu, memangnya ada orang lain yang bisa melepaskan racunmu? Jadi kau masih menyangkal? Kalau bukan Coat cing hoa yang menutupi tubuh nya, putri mestikaku itu... Ling-ling, anakku mungkin sudah mati keracunan sekarang."

Sepasang matanya merah, wajahnya penuh diselimuti hawa napsu membunuh, kecantikan serta keanggunannya seolah sudah lenyap, keayu-annya bagai bidadari kini telah berubah menjadi iblis pembetot sukma yang ganas.

Siang-tok Thaysu semakin tercengang dan heran ditambah ketakutan setelah melihat betapa mendalamnya rasa benci perempuan itu terhadap dirinya, dia mundur satu langkah dan berseru:

"Kapan aku bertemu putrimu? Atas dasar apa kau mengatakan begitu?"

"Kau masih belum mau mengakui? Baik! Akan kusuruh kau lihat sendiri."

Sambil membalikkan badan, dia berteriak keras:

"Muridku, bopong masuk Sucimu."

Seseorang menyahut dari luar gua, kemudian terlihat Sim Sin-pek dengan membopong Sui Leng-kong berjalan masuk dengan langkah lebar, kelihatannya jalan darah tidur Sui Leng-kong sudah tertotok hingga saat itu dia berada dalam kondisi tertidur nyenyak.

Mengetahui Hoa Bu-soat berniat mencabut nyawa Siang-tok Thaysu, atau dengan perkataan lain, nyawa semua orang yang ada di situ bakal terselamatkan, diam-diam Un Tay-tay merasa sangat kegirangan.

Tapi begitu tahu murid Hoa Bu-soat ternyata adalah Sim Sin-pek, sedang gadis yang dibopong Sim Sin-pek adalah Sui Leng-kong. Tidak terlukiskan rasa terperanjat perempuan ini.

Kebalikannya, Pek Seng-bu sekalian justru merasa kegirangan setengah mati.

Sebenarnya mereka berada dalam posisi yang terjelek, bukan saja Siang-tok Thaysu akan mencabut nyawanya, Lui-pian Lojin pun ingin merenggut jiwa mereka, apalagi orang-orang perguruan Tay ki bun, rasa benci mereka ibarat ingin makan dagingnya dan menguliti tubuh mereka.

Bagi mereka, biar dihitung dengan cara bagaimanapun, terlepas siapa menang siapa kalah, diri sendiri tetap sulit lolos dari bahaya maut.

Tapi kini situasi berubah secara tiba-tiba, kemunculan si Hujan gerimis Hoa Bu-soat yang di luar dugaan segera berhasil menguasai keadaan, sementara Sim Sin-pek telah menjadi murid barunya.

Dengan terjadinya perubahan ini, maka posisi pun kembali berubah secara drastis, sekali­pun Pek Seng-bu sekalian diliputi perasaan gembira yang luar biasa, namun mereka tetap tidak bisa menebak kenapa bisa terjadi perubahan seperti ini.

Terdengar Hoa Bu-soat menjerit lagi sambil menuding ke arah Sui Leng-kong:

“Cepat katakan! Cepat katakan! Apakah dia keracunan di tanganmu?"

"Benar, tapi... bagaimana mungkin dia adalah putrimu?"

Hoa Bu-soat mulai mencak-mencak macam orang kesurupan, jeritnya:

"Siapa bilang dia bukan putriku? Orang she Lui, aku mau tanya, benarkah dia adalah putriku? Ayo, katakan, kenapa? Kau pun tidak berani mengatakannya?"

Lui-pian Lojin hanya memejamkan mata tanpa menjawab.

Sejujurnya, Lui-pian Lojin ingin sekali Hoa Bu-soat membantai Siang-tok Thaysu secepatnya, tentu saja dia enggan membongkar rahasia itu, namun dengan nama serta statusnya, mustahil baginya untuk berbohong, itulah sebabnya untuk sesaat dia gelagapan dan tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Tiba-tiba Hoa Bu-soat menarik Lui Siau-tiau dari atas tanah, kembali jeritnya:

"Ling-ling... putri mustikaku, kau kenal dengannya bukan? Betul, kau lebih kenal daripada siapa pun, ayo, cepat jawab, benarkah dia adalah Ling-ling putri kesayanganku?"

Lui Siau-tiau melirik ayahnya sekejap, kemudian sahutnya:

"Rasanya... rasanya memang dia."

Siang-tok Thaysu menyapu pandang sekejap sekeliling tempat itu, dia sadar masalah yang dihadapinya hari ini tidak mungkin bisa diselesaikan secara baik-baik, bagaimanapun juga pertarungan tidak bisa dihindari lagi, timbul pikiran untuk turun tangan terlebih dahulu, siapa yang menyerang lebih dulu, dia yang akan kuat.

Dalam pada itu Hoa Bu-soat telah tertawa terkekeh-kekeh, teriaknya:

"Itulah  dia...... itulah  dia, makhluk tua beracun, apa lagi yang ingin kau katakan? Ling-ling.... oooh, Ling-lingku sayang, ibu akan membalaskan dendam sakit hatimu."

Siang-tok Thaysu sama sekali tidak berbicara, diam-diam tangannya dimasukkan ke dalam saku....

Tiba-tiba Sim Sin-pek berteriak dengan mata berkilat:

"Suhu, kau orang tua jangan lupa, biarpun Siang-tok Thaysu yang meracuni, namun dalang­nya orang lain, kenapa kau orang tua tidak membasmi dulu dalangnya?"

Sebetulnya Siang-tok Thaysu sudah bersiap sedia melancarkan serangan, begitu mendengar perkataan itu, sepasang matanya ikut berkilat, cepat dia menarik kembali tangannya dari dalam saku.

Hoa Bu-soat sendiri yang sudah siap menerjang Siang-tok Thaysu ikut menghentikan gerakan tubuhnya, serunya sambil mengertak gigi:

"Betul, yang paling memuakkan adalah dalangnya, dia harus dibantai lebih dulu."

Sinar matanya yang kalap dan penuh kebencian segera dialihkan ke wajah Lui-pian Lojin.

"Dalangnya?" gumam Lui-pian Lojin melengak, "siapa dalangnya?"

"Kau!"

"Kau sudah edan?" teriak Lui-pian Lojin terkejut bercampur gusar, "aku... mana mungkin aku

"Lui-loheng," sela Siang-tok Thaysu tiba-tiba sambil tertawa dingin, "urusan telah berkembang jadi begini, buat apa kau masih menyangkal? Lagi pula buat apa aku mesti mencelakai putrinya dengan racun? Toh putrinya tidak ada urusan denganku."

Berubah hebat paras muka Lui-pian Lojin.

"Hoa Ji-nio!" teriaknya penuh amarah, "kau jangan mempercayai fitnahan busuk bajingan tua itu, dia sengaja menggigit aku agar kau ber­musuhan denganku, coba bayangkan sendiri, apa alasanku untuk mencelakai putrimu?"

Kembali Siang-tok Thaysu tertawa dingin, sindirnya:

"Sudah, jangan mungkir lagi, bukankah karena putramu sudah punya gadis idaman lain dan segera akan menikah, maka kalian ayah beranak kuatir nona Hoa akan menjadi batu sandungan dan ingin cepat-cepat menghilangkan duri dalam daging?"

Kehebatan ilmu racunnya memang tiada duanya di kolong langit, ternyata bukan itu saja, kebusukan hatinya terbukti jauh lebih beracun dari segala jenis kalajengking paling beracun sekalipun.

Diam-diam Sim Sin-pek bertepuk tangan kegirangan setelah menyaksikan adegan ini.

Begitu meyakinkan cara bicara Siang-tok Thaysu, sampai Im Ting-ting serta Thiat Cing-su sekalian nyaris ikut percaya dengan perkataannya, kini tinggal Lui-pian Lojin ayah beranak serta Un Tay-tay tiga orang yang kebingungan kalang-kabut, paras muka mereka berubah hebat.

"Bagus sekali," terdengar Hoa Bu-soat berteriak gusar, "hei, orang she Lui, ternyata putramu sudah mempunyai simpanan lain! Makhluk tua beracun, coba katakan, siapa perempuan yang disukai putranya? Dimana dia sekarang?"

"Itu dia orangnya!" ujar Siang-tok Thaysu sambil menuding ke arah Un Tay-tay.

Tidak terlukiskan rasa kaget Un Tay-tay, cepat dia kabur dari dalam gua.

Baru saja kakinya bergeser, tahu-tahu Hoa Bu-soat sudah tiba di hadapannya, jari tangannya yang lentik bersih secepat kilat melancarkan sebuah cengkeraman menyongsong kedatangan-nya.

Untuk sesaat Un Tay-tay kebingungan dan tidak tahu bagaimana harus berkelit dari cengkeraman itu, tahu-tahu Hoa Bu-soat telah menjambak rambutnya dan membanting wanita itu hingga jatuh terpelanting.

Im Ting-ting serta Lui Siau-tiau kontan saja menjerit kaget.

"Pelacur busuk," umpat Hoa Bu-soat penuh kebencian, "kau memang rase kecil, berani benar merebut pacar Ling-ling? Memangnya kau sudah makan nyali macan?"

"Ploook!", sebuah tempelengan keras langsung dilontarkan ke wajah Un Tay-tay.

"Tahan!" hardik Lui-pian Lojin tidak tahan, "urusan ini tidak ada sangkut paut dengannya, lepaskan dia"

"Oooh, melihat aku menamparnya, kalian ayah beranak sakit hati? Tidak tega? Baik, aku sengaja akan menggaploknya lagi, bahkan akan kutempeleng lebih keras, lebih buas, agar kalian ayah beranak bisa menikmati lebih seksama."

Tangannya bekerja cepat, dalam waktu singkat dia sudah menghadiahkan tujuh delapan tempelengan ke wajah Un Tay-tay.

Sekalipun tamparan itu tidak menggunakan tenaga penuh, namun kekuatannya cukup meng­gidikkan hati, begitu ketujuh delapan tamparan itu selesai dilontarkan, wajah Un Tay-tay yang semula putih halus telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Sebesar apapun daya tahan Un Tay-tay, kini dia tidak kuasa lagi menahan diri hingga menjerit keras.

Seng Toa-nio sekalian benar-benar merasa puas menyaksikan kejadian ini, diam-diam mereka bersorak sambil berteriak dalam hati:

"Bagus, tamparan yang bagus, ayo, hajar lagi!"

Sebaliknya Im Ting-ting sekalian tidak tega menyaksikan lebih lanjut, diam-diam mereka berpaling ke arah lain.

Tidak terlukiskan rasa gusar Lui-pian Lojin, dalam hati dia ingin sekali bangkit berdiri dan balas menghajar perempuan itu, sayang tubuhnya tidak memiliki kekuatan untuk bangkit.

Air mata telah berlinang membasahi wajah Un Tay-tay, ujarnya dengan suara gemetar:

"Kalau ingin memukul, ayo, pukullah terus! Toh aku perempuan bernasib buruk, tidak masalah kau  hajar aku sampai mati, tapi  ...  tapi... kami benar-benar tidak pernah mencelakai putrimu, lagi pula dia bukan putrimu."

Sebetulnya Hoa Bu-soat telah menghenti­kan tamparannya, tapi begitu mendengar ucapan itu, dengan kalap dia menampar lagi sekuatnya.

Sambil tangannya diayunkan berulang kali, tiada hentinya dia mencaci-maki:

"Kalau putriku bukan dia lantas siapa? Dasar siluman rase cilik, kau masih berani membohongi aku... hari ini... hari ini aku harus menghajarmu sampai mampus."

"Dia tidak berbohong, putrimu memang tidak ada di sini," teriak Lui-pian Lojin nyaring.

"Kentut!" Hoa Bu-soat menyeringai seram, "sudah jelas tadi kau telah mengakuinya, percuma mungkir sekarang...."

Tamparannya makin lama semakin keras, makin cepat dan makin berat, katanya lagi sambil tertawa seram:

"Lui Siau-tiau, aku mau tanya, bagian mana dari pelacur busuk ini yang paling menarik bagimu? Bagian mana dari tubuh pelacur ini yang lebih bagus dari putriku, kau... apakah kau tertarik dengan sepasang mata siluman rase ini?"

"Kau salah paham," sahut Lui Siau-tiau cepat, "keponakan...."

"Hmm! Aku tahu, kau pasti sudah tertarik dengan sepasang mata jeli siluman rase ini, baik, hari ini aku akan mencongkelnya, akan kulihat dia akan menggunakan apa lagi untuk memikat hatimu?"

Sambil berkata dia menggunakan kedua jari tangannya yang panjang dan tajam untuk bersiap mencongkel sepasang mata Un Tay-tay yang basah oleh linangan air mata.

Lui Siau-tiau tidak tega melihat lebih jauh, cepat dia memejamkan mata, sedang Un Tay-tay hanya bisa menjerit ngeri sambil memejamkan sepasang matanya, dia dapat merasakan ujung jari tangan Hoa Bu-soat yang dingin bagaikan es telah menyentuh kelopak matanya.

Di luar gua, di tanah padang rumput yang luas, hanya ada Suto Siau seorang yang berjaga-jaga sambil tersenyum, dia sedang mengawasi Sun Siau-kiau serta Gi Beng dan Gi Teng yang sudah tertotok.

Sementara mereka yang berada dalam gua, kalau bukan kehilangan tenaga karena keracunan, tentulah musuh bebuyutan Un Tay-tay, atau mungkin akan muncul lagi manusia dari langit atau bawah tanah?

Dalam keadaan dan suasana seperti ini, pada hakikatnya mustahil ada orang bisa menye­lamatkan dirinya lagi, kelihatannya sepasang mata yangjeli itu segera akan tercongkel keluar

Dalam situasi yang amat drastis ini, hanya ada satu nama yang terlintas dalam benak wanita itu.

"Im Ceng... Im Ceng... tunggulah aku di alam baka, aku segera akan menyusulmu!"

Ujung jari Hoa Bu-soat telah menyentuh mata Un Tay-tay....

 

Telapak tangan Suto Siau yang kasar sudah mulai meraba dan membelai wajah Sun Siau-kiau yang halus. .

Gi Beng serta Gi Teng hanya bisa menyaksi­kan adegan itu dengan mata terbelalak.

"Orang mampus," terdengar Sun Siau-kiau mengumpat sambil tertawa, "apa lagi yang ingin kau raba? Tidak kuatir Che Toa-ho akan mengulitimu?"

"Situasi telah terubah, kondisi pun telah berubah," sahut Suto Siau sambil tersenyum, "mulai hari ini, seluruh kolong langit sudah menjadi milik kita, apa lagi yang musti ditakuti? Hahaha ... aku tidak bakal takut terhadap siapa pun."

"Huuh, tidak tamu malu, pandai amat membual, kalau memang kau hebat, punya pengaruh, kenapa lagakmu masih mirip babi mampus yang bergulingan di tanah, melihat perempuan miliknya masih tertotok jalan darahnya, kenapa kau tidak berani membebaskan aku?"

"Hahaha, belum saatnya, lagi pula...." Sinar matanya segera dialihkan ke tubuh Gi Beng, terusnya sambil tertawa:

"Orang tua itu sudah menyodorkan si cantik kecil yang tidak mampu bergerak itu ke hadapanku, kenapa tidak kumanfaatkan kesem-patan yang baik ini untuk menikmati kehangatan tubuhnya? Bagaimana? Betul bukan?"

"Apa... apa kau bilang?" jerit Gi Beng kaget.

Suto Siau tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, masa kau tidak paham maksud­ku?" katanya.

Sambil membalikkan tubuh, dia segera menghampiri gadis itu.

"Dasar lelaki bau, lelaki busuk," umpat Sun Siau-kiau mendongkol, "sudah punya mangkuk nasi sendiri pun masih melirik periuk nasi milik orang. Aaaaii! Baiklah, toh aku pun tidak bisa kawin resmi denganmu, biar aku jadi mak comblangmu dengan adik dari keluarga Gi."

"Hahaha, sudah seharusnya begitu...sudah seharusnya begitu..."

Dia membungkukkan tubuh dan tangannya mulai menggerayangi payudara Gi Beng.

"Bajingan laknat!" teriak Gi Teng penuh amarah, "kau berani ... cepat hentikan perbuatan busukmu!"

"Kau... kau tidak boleh menyentuh aku!" jerit Gi Beng pula.

"Tidak boleh menyentuhmu?" ejek Suto Siau sambil menyeringai, "boleh... boleh disentuh... siapa bilang tidak boleh...."

Bukan hanya menggerayangi saja, kini jari tangannya mulai bekerja cepat mengendorkan kancing baju di depan dada Gi Beng.

Pakaian Gi Beng pun sudah terlepas, payudaranya yang putih bersih telah menongol keluar dari balik pakaian ....

Sekonyong-konyong terdengar suara ledak­an yang luar biasa, diikuti getaran gempa yang dahsyat menggoncang seluruh permukaan bumi.

Begitu keras goncangan itu, membuat tubuh Suto Siau mencelat jauh ke belakang.

Pada saat yang sama jari tangan milik Hoa Bu-soat yang sudah siap ditusukkan ke bawah, siap mencongkel mata Un Tay-tay pun tergeser dari wajah korbannya, tergeser karena goncangan maha dahsyat itu.

Jeritan kaget bergema dari empat penjuru, suara getaran bagai guntur dan menggelegar tiada hentinya. Dinding batu di sekeliling gua mulai retak dan berhamburan jatuh, debu pasir beterbangan bagai hujan deras.

Paras muka semua orang yang berada di dalam gua berubah jadi pucat-pias bagai mayat, bahkan Hoa Bu-soat sendiri pun berdiri melongo saking kagetnya, otomatis tusukan kedua jarinya pun ikut berhenti.

"Apa ...  apa yang telah terjadi?" tanya Siang-tok Thaysu agak tertegun.

Dengan mengerahkan segenap kekuatan yang tersisa, Lui-pian Lojin berteriak keras:

"Bukit ini segera akan runtuh, cepat melarikan diri, tinggalkan gua ini!"

Cepat Lui Siau-tiau meronta bangun, dia menggelinding ke sisi ayahnya dan segera mem­bopong tubuh orang tua itu.

Sambil menjerit kaget, Liu Ji-uh meng­gendong Liong Kian-sik.

Im Ting-ting dan Thiat Cing-su membopong Im Gi serta Im Kiu-siau.

Sim Sin-pek memeluk kencang tubuh Sui Leng-kong, sementara Pek Seng-bu menarik tangan saudaranya, HekSeng-thian.

Seng Toa-nio sendiri menghentakkan kaki berulang kali menahan kecewa, akhirnya dia pun membopong Seng Cun-hau.

Hoa Bu-soat segera mengempit tubuh Un Tay-tay yang jatuh pingsan dan membawanya kabur.

Kawanan jago persilatan yang di hari biasa selalu tampil tenang dan percaya diri, kini dalam sedetik semuanya berubah seperti burung yang dipanah, kabur terbirit-birit meninggalkan gua, lari menyelamatkan diri.

Pada saat itulah kembali terjadi getaran yang sangat kuat.

Getaran kali ini jauh lebih kencang ketimbang yang pertama, bahkan suara ledakan yang terjadi pun lebih memekakkan telinga.

"Muridku, cepat bopong Ling-ling, kita jangan berpencar," teriak Hoa Bu-soat cepat.

"Paman Hek, cepat ikuti aku," jerit Sim Sin-pek pula.

"Suko... Suko... ada dimana kau?" teriak Im Ting-ting pula.

"Ngomoay, hati-hati teriak Thiat Cing-su memperingatkan.

Tapi sayang waktu itu telinga semua orang sudah dibuat tuli dan kaku lantaran suara ledakan yang memekakkan telinga, karena itu siapa pun tidak dapat mendengar teriakan kawannya secara jelas.

Batu cadas sebesar gajah jatuh berbongkah bongkah, debu dan pasir beterbangan membuat kabur pandangan, siapa pun yang kejatuhan batu sebesar itu, bisa dipastikan kepalanya bakal hancur berantakan.

Mendadak terdengar Liu Ji-uh menjerit kesakitan sambil berteriak:

"Tolongaku ... tolong! Tolong...."

Rupanya dia kejatuhan batu besar hingga jatuh  terjerembab  ke  tanah, sekalipun telah berusaha meronta, namun gagal bangun kembali.

Tapi sayang suasana ketika itu sedang panik, semua orang hanya memikirkan keselamatan sendiri, jangankan suara jeritannya memang tenggelam oleh hiruk-pikuk jatuhnya bebatuan, seandainya terdengar pun belum tentu ada orang yang mau menolongnya.

Semua orang hanya memikirkan diri sendiri, berusaha mencari jalan keluar untuk meloloskan diri, tidak satu pun yang mau mengurusi orang lain, jangankan pikiran untuk menolong orang, niatan untuk mencelakai lawan pun sudah terlupakan untuk sementara.

Sim Sin-pek yang sebenarnya berdiri di mulut gua sambil membopong Sui Leng-kong kini melarikan diri terlebih dulu.

Bagaikan hembusan angin Hoa Bu-soat menyusul di belakangnya, sambil lari dia mendorong Pek Seng-bu dan Hek Seng-thian yang sedang berusaha menyerobot jalan untuk melari­kan diri, akhirnya kedua orang itu berhasil juga menerjang keluar.

Waktu itu sebetulnya Siang-tok Thaysu sudah berada di luar gua, tiba-tiba sambil menyeringai seram dia balik masuk ke dalam lagi.

Lui Siau-tiau yang kabur sekuat tenaga sudah hampir mencapai sisi luar gua, betapa terperanjatnya dia sewaktu mendongakkan kepala, tahu-tahu Siang-tok Thaysu sambil menyeringai seram sudah menghadang jalan perginya.

Suto Siau yang berada di luar gua, meski tidak berada dalam kondisi bahaya, tidak urung hatinya kebat-kebit juga saking takut dan kagetnya, dia langsung kabur dari situ, tapi baru beberapa langkah sudah balik kembali.

"Orang baik, cepat bopong aku!" Sun Siau-kiau segera berteriak manja.

Jangankan membopong, melirik sekejap pun tidak, Suto Siau langsung menghampiri Gi Beng dan menggendongnya.

"Bajingan tengik," teriak Gi Teng penuh amarah, "lepaskan dia... lepaskan dia...."

"Setan berhati hitam," umpat Sun Siau-kiau pula sedih, "bajingan berhati busuk... kau... kau... aku sumpahi kau biar mampus secara mengenaskan!"

Suto Siau sama sekali tidak berpaling, ketika berlari beberapa langkah dari tempat itu, dia mendengar suara gemuruh yang amat memekakkan telinga, hal ini membuatnya tidak kuasa berpaling ke belakang....

Ternyata seluruh tebing batu telah ambruk, berguguran dan berserakan kemana-mana

Pasir dan debu yang bertebaran di udara nyaris menyelimuti separoh jagad, di tengah remang-remangnya suasana, terlihat ada beberapa sosok bayangan manusia melesat keluar dari timbunan bebatuan dengan kecepatan tinggi.

Pasir dan debu yang menyelimuti udara begitu rapat bagai kabut tebal, Suto Siau tidak dapat melihat jelas siapa saja bayangan manusia yang sedang kabur dari onggokan bebatuan... padahal dia memang tidak berminat untuk memperhatikan dengan seksama, tanpa banyak membuang waktu dia langsung kabur menuju ke tengah rerumputan.

Di saat dia berpaling sambil melirik itulah ujung matanya seolah melihat di antara bayangan manusia yang sedang melarikan diri, ada dua orang di antaranya roboh tertimpa bebatuan, tapi dia tidak berniat memperhatikan lebih jauh.

Umpatan dan makian Gi Teng serta Sun Siau-kiau seolah tertelan suara gemuruh yang memekakkan telinga, sementara Gi Beng yang panik, ketakutan, malu dan jengkel sudah tidak sadarkan diri sejak tadi.

Sambil memeluk kencang Gi Beng, Suto Siau herlari sekuat tenaga masuk ke balik rerumputan, sementara suara gemuruh yang bergema di belakang sana masih berkumandang tiada hentinya, gempa bumi masih menggoyang seluruh permukaan, bebatuan seakan setiap saat dapat menindih tubuhnya.

Dalam keadaan begini, mana mungkin dia berani menghentikan langkahnya.

Berlarian di tengah rerumputan yang lebat bukanlah satu pekerjaan yang mudah, tapi dia berlari terus dengan sempoyongan, tanpa mengetahui arah mata angin, tidak tahu kemana dia berlari, dia berusaha menyingkir sejauh mungkin dari tempat bencana, dia baru memperlambat langkahnya ketika napas sudah mulai tersengal-sengal.

Dia mencoba memasang telinga dan mendengarkan situasi di seputar sana, walaupun suara gemuruh masih bergema di seluruh tebing, kelihatannya ledakan dan gempa dahsyat sudah mulai reda, gaung suara yang memantul pun lambat laun bertambah lirih.

Saat itulah Suto Siau baru menghembuskan napas lega, duduk bersila sambil mengatur pernapasan.

Setelah terjadinya bencana dahsyat, masih ada berapa orang yang hidup? Siapa pula yang menemui ajal? Dia tidak bisa membayangkan, dia pun tidak berani berbalik untuk melihat keadaan.

"Kalau sampai Hoa Bu-soat, Sim Sin-pek, Seng Toa-nio, Hek Seng-thian sekalian menemui ajalnya dalam bencana ini, sementara orang-orang perguruan Tay ki bun justru hidup, apa yang harus kulakukan?" gumamnya.

Berpikir sampai di situ, perasaan ngeri bercampur bergidik seketika menyelimuti hatinya.

Tapi ingatan lain segera melintas, kembali gumamnya:

"Sebaliknya kalau orang-orang perguruan Tay ki bun sudah mampus, yang hidup tinggal Sim Sin-pek, Un Tay-tay dan Sui Leng-kong, bukankah dalam perjalanan berikut tinggal aku seorang yang menjadi lakon? Bukankah harta kekayaan persekutuan Ngo hok beng akan menjadi milikku?"

Membayangkan berlimpahnya harta karun yang bakal menjadi miliknya, dia merasa sangat gembira, jantungnya berdebar keras.

Namun bagaimanapun juga, dia tetap tidak berani balik ke tempat semula dan memeriksa keadaan, seorang diri dia hanya duduk termenung di situ, sebentar keningnya berkerut, sebentar menebar senyum karena gembira.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya suara rintihan Gi Beng menyadarkan dia dari lamunan.

Suto Siau berpaling sambil memandangnya sekejap, menyaksikan separah tubuhnya yang telanjang, memandang sepasang payudaranya yang putih dan montok, sekulum senyum kebanggaan segera tersungging di ujung bibirnya.

Sambil tertawa menyeringai, dia bergumam:

"Bagaimanapun juga aku masih tetap hidup, apalagi ditemani seorang nona muda yang cantik dan bahenol, oooh ... kapan pun aku ingin menidurinya, saat ini juga aku bisa menikmatinya"

Membayangkan kembali bagaimana nona itu sudah menjadi barang dalam genggamannya, daging di atas meja yang setiap saat dapat dicicipi, tidak tahan lagi dia tertawa tergelak.

Kini semua rasa ngeri dan takut telah lenyap, yang tersisa hanya segumpal api panas yang membara dari Tan-tiam menyebar ke seluruh tubuh, api panas yang membuat tubuhnya terasa hangat, membuat dia kegerahan, membuatnya hampir saja melepas seluruh pakaian yang dikenakannya.

Sekali lagi dia melirik sekeliling tempat itu, membasahi bibirnya yang mulai mengering dan bergumam:

"Bagaimanapun juga, aku harus menikmati dulu gadis ini sebelum bicara lain."

Semenjak jagoan perguruan Tay ki bun muncul kembali dalam dunia persilatan, dia selalu menekan dan mengendalikan napsu paling purba yang dimilikinya dalam hati, dia merasa tidak punya waktu untuk memikirkannya, dia pun tidak berani memikirkannya.

Tapi sekarang dalam situasi serba bahaya ini, api napsunya yang sudah lama terkekang, entah kenapa tiba-tiba saja tidak  terkendalikan lagi, mendadak meledak dengan hebatnya.

Begitu napsunya meledak, dia tidak kuasa lagi mengendalikan diri.

Kini hawa panas yang muncul karena perasaan panik tadi mempercepat aliran darah dalam tubuhnya... tiba-tiba tangannya bekerja keras, merobek dan mencabik hancur seluruh pakaian yang dikenakan Gi Beng.

"Breeet, breeet...!", tidak selang beberapa saat kemudian tubuh Gi Beng yang halus, putih dengan membawa warna semu merah seorang gadis perawan telah tampil bugil di hadapan Suto Siau.

Kini mukanya bertambah merah, sinar matanya memancarkan cahaya kebuasan seekor binatang liar.

Biji tenggorokannya naik turun seperti bola yang berlarian, akhirnya dia tidak kuasa lagi menahan diri, tanpa membuang waktu, tubuhnya langsung menubruk ke arah Gi Beng.

Tiba-tiba "Braaaak!", di antara rerumputan yang bergoyang, tampak dua sosok bayangan manusia menerjang datang dengan langkah sempoyongan.

"Siapa?" dengan perasaan terkesiap Suto Siau menghardik.

Padahal tidak usah menghardik pun dia sudah melihat dengan jelas siapa yang telah datang.

 

Lambat-laun racun yang mengeram dalam tubuh Im Gi mulai punah, kekuatannya baru saja pulih.

Tapi Thiat Cing-su masih memayangnya sambil bergerak cepat, kedua orang itu berlari di antara rerumputan yang tinggi.

Di tengah jalan, dengan wajah berubah, tiba-tiba Im Gi berseru:

"Mana adikmu? Mana adikmu? Kenapa kau tidak berada bersamanya? Sekarang kita berdua harus kemana mencarinya?"

Thiat Cing-su menundukkan kepala tidak berani menjawab ... padahal sewaktu terjadi tanah runtuh tadi, hampir semua orang berusaha menyelamatkan diri, dalam keadaan begini, mana mungkin memikirkan orang lain? Bagaimana mungkin hal ini bisa menyalahkan dia?

Im Gi mencoba mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan men-dongkol mendengus dingin.

Belum sampai mengucapkan sesuatu, tiba-tiba dia seperti mendengar sesuatu, buru-buru tangannya dibekapkan ke mulut sendiri sambil memberi tanda agar tidak berisik.

Rupanya setelah berada di balik rerumput­an, dia teringat tempat semacam itu merupakan tempat yang sangat berbahaya karena setiap saat bisa muncul musuh yang menyerang, bila dia berisik atau bersuara keras, bisa jadi suara itu akan memancing datangnya musuh tangguh.

Orang perguruan Tay ki bun sudah ter­sohor karena pandai menahan diri, persoalan apapun bisa menahan diri karena mereka beranggapan nyawa adalah sesuatu yang sangat berharga, mana boleh nyawa yang berharga dikorbankan begitu saja?

Di saat itulah dari balik rerumputan terdengar suara rintihan seorang gadis muda.

Dengan cepat Im Gi dan Thiat Cing-su saling berpandangan   sekejap, kemudian tidak tahan mereka menerobos ke arah sumber suara tadi.

"Siapa?" tiba-tiba seseorang melompat bangun dari balik semak.

Tentu saja orang itu tidak lain adalah Suto Siau.

Musuh bebuyutan ternyata saling berha­dapan muka, baik Im Gi dan Thiat Cing-su maupun Suto Siau, semuanya merasa terperanjat hingga termangu beberapa saat.

"Ternyata kau!" bentak Im Gi dengan mata merah darah.

"Kau... kau..." tiba-tiba Suto Siau membalik-kan badan, kemudian melarikan diri terbirit-birit.

"Dasar binatang tidak berguna," kembali Im Gi mengumpat, "ayo, kabur... ayo, kabur...."

Sambil berteriak dia mencoba melakukan pengejaran, sayang tenaga dalamnya belum pulih seratus persen, tubuhnya sempoyongan dan langsung roboh terjungkal ke tanah.

Buru-buru Thiat Cing-su menerjang mendekati sambil berseru kaget:

"Kenapa kau orang tua?"

"Bagus... bagus...."

Napasnya yang tersengal-sengal membuat dia tidak sangup melanjutkan kata-katanya.

Cepat Thiat Cing-su menepuk punggungnya berulang kali, beberapa saat kemudian mendadak dia merasa di sisi tubuhnya seperti tergeletak sebuah benda yang halus, lembut dan kenyal.

Dengan perasaan terkesiap buru-buru dia berpaling, apa yang kemudian terlihat seketika membuat anak muda itu terbelalak dengan terperana, ternyata dia menemukan tubuh bugil Gi Beng yang tergeletak di tanah, bugil tanpa selembar benang pun.

Pemuda ini boleh dibilang baru meningkat dewasa, selama hidup jangankan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, membayangkan adegan itupun belum pernah, tapi sekarang ... tubuh bugil seorang gadis muda yang begitu montok, begitu menawan hati, begitu halus dan merangsang hawa napsu telah terbentang jelas di depan mata....

Thiat Cing-su merasa jantungnya nyaris melompat keluar dari rongga dadanya, dengan mata terbelalak lebar dan mulut melongo dia mengawasi tubuh gadis itu tanpa berkedip, untuk sesaat dia hanya termangu dan sama sekali tidak mampu bergerak.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya sambil merintih lirih Gi Beng tersadar dari pingsannya.

Begitu membuka mata, si nona pun segera menyaksikan wajah seorang pemuda yang sedang terkejut menatapnya, dia saksikan pemuda itu sedang memandangnya dengan sorot mata bingung, ingin tahu serta rasa gembira.

Ternyata bukan Suto Siau! Gadis itu agak melengak.

Menyusul kemudian rasa malu seketika menyelimuti perasaannya, rasa malu yang mem­buat sepasang pipinya berubah semu merah.

"Bajingan cilik," umpatnya gusar, "apa... apa yang sedang kau lihat?"

"Aku...aku...."

"Kenapa masih memandangi aku?" kembali Gi Beng menegur.

Kontan Thiat Cing-su merasa kepalanya seperti dipukul martil, darah panas langsung memenuhi kepalanya, bukan cuma wajahnya terasa panas, pipinya pun ikut berubah merah padam, buru-buru dia memejamkan mata.

Melihat pemuda itu meski berwajah keras namun membawa sifat kekanak-kanakan, di balik kematangan masih terselip kejujuran, khususnya setelah melihat dia memejamkan mata rapat-rapat, sekilas senyuman segera tersungging di ujung bibir nona itu.

"Sebenarnya siapakah kau?" sapanya kemudian dengan lembut.

"Harap nona... nona mengenakan dulu pakaianmu kemudian baru berbicara."

"Kalau aku bisa mengenakan sendiri, buat apa mesti berbicara denganmu?"

Thiat Cing-su tertegun, serunya kemudian tergagap:

"Lalu... apa... apa yang bisa kulakukan?"

"Jalan darahku tertotok."

"Kau minta aku membebaskan dulu totokan jalan darahmu?"

Belum sempat Gi Beng menjawab, dengan suara keras Im Gi telah menghardik:

"Tanyai dulu siapakah dia, jangan sembarangan turun tangan."

Biarpun selama ini orang tua itu tidak pernah berpaling, namun pembicaraan yang dilakukan kedua orang itu dapat didengar olehnya dengan jelas.

Buru-buru Thiat Cing-su berdehem, kemudian tanyanya:

"Boleh tahu siapa nama nona?"

Berputar sepasang biji mata Gi Beng, tiba-tiba serunya tertahan:

"Jangan-jangan kalian... kalian berasal dari perguruan Tay ki bun?"

"Benar!" sahut Im Gi dengan suara berat, "siapa kau?"

Diam-diam Gi Beng menghembuskan napas lega, sahutnya:

"Boanpwe bernama Gi Beng, salah satu dari tujuh pedang pelangi

"Tujuh pedang pelangi?"

"Benar."

Setelah berhenti sejenak untuk menarik napas, lanjutnya, "Walaupun di antara tujuh pedang pelangi ada yang bermusuhan dengan perguruan Tay ki bun, tapi kami dua bersaudara tidak termasuk di antaranya, malahan kami punya seorang sahabat karib yang berasal dari perguruan Tay ki bun."

Tiba-tiba nona itu merasa salah bicara, tapi sayang keadaan sudah terlambat, perkataan pun sudah telanjur meluncur keluar.

Terdengar Im Gi bertanya dengan keheranan:

"Kau punya sahabat yang berasal dari perguruan Tay ki bun? Siapa dia?"

"Soal ini... soal ini...."

Sekarang dia baru teringat rahasia yang menyangkut Im Kian tidak boleh diucapkan sembarangan.

"Siapa? Cepat katakan!" hardik Im Gi tak sabar.

"Aku... tiba-tiba aku tidak teringat nama­nya..."

"Omong kosong!"

Cepat dia melepas jubah luarnya dan dilembar ke depan, pakaian itu jatuh persis di atas tubuh Gi Beng.

Dengan sekali lompatan Im Gi bangkit berdiri, ditatapnya wajah gadis itu dengan sorot mata tajam, kembali hardiknya:

"Kenapa kau tidak berani menyebutkan nama orang itu? Jangan-jangan ada tipu muslihat di balik pengakuanmu itu?"

"Jangan-jangan orang itu adalah Jiko... atau Im-samko...." bisik Thiat Cing-su tergagap.

"Kentut!" tukas Im Gi gusar, "kalau memang kedua orang itu, kenapa dia ragu menyebutnya?"

"Wah, sungguh lihai orang tua ini!" pikir Gi Beng sambil menghembuskan napas dingin.

Terdengar Im Gi berkata lagi:

"Nona Gi, di antara kita berdua tidak punya ikatan dendam sakit hati, sebenarnya aku pun tidak akan menyulitkan dirimu, tapi bila kau masih enggan menjelaskan persoalan ini, jangan salahkan kalau Lohu akan bersikap kurang sopan."

Dari mimik mukanya terpancar sinar kewibawaan yang menggidikkan hati, membuat siapa pun merasa seram memandangnya.

Tidak tahan Gi Beng bersin berulang kali, hampir saja dia tidak kuasa menahan diri untuk bicara sejujurnya.

Tapi akhirnya sambil mengertak gigi, pikirnya, 'Aku tidak boleh bicara, aku tidak boleh bicara... kalau aku mengatakan sesungguhnya, bukankah sama artinya telah mencelakai Thiat Tiong-tong? Dia adalah kekasih Enci Sui, mana boleh aku mencelakainya?"

Tapi ingatan lain kembali melintas, pikirnya lagi, Aaah, benar! Bagaimanapun toh Thiat Tiong-tong sudah mati, kalau kuceritakan hal yang sesungguhnya, mungkin saja hal ini justru akan memunculkan rasa menyesal di hati mereka."

Berpikir demikian, dia pun berseru keras:

"Dia adalah Im Kian!"

"Im Kian?" Im Gi tertegun sejenak lalu berteriak.

Thiat Cing-su sendiri pun melengak.

"Toako?" jeritnya.

"Benar."

"Perempuan tidak tahu diri, besar amat nyalimu, berani kau membohongi Lohu?" ujar Im Gi gusar, "Im Kian si binatang kecil yang tidak berbakti itu sudah mati lama, mana mungkin kau bisa kenal dengannya?"

"Walaupun kalian mengira dia sudah mati, padahal dia belum mati."

"Omong kosong! Omong kosong! Dengan mata kepala sendiri Lohu saksikan, kematiannya, mana mungkin salah?"

"Benarkah kau menyaksikan dengan mata kepala sendiri atas kematiannya?"

"Soal ini kembali Im Gi tertegun.

Perlahan Gi Beng menghela napas panjang, ujarnya:

"Terus terang kuberitahu, hari itu kau memang memberi perintah kepada Thiat Tiong-tong untuk melaksanakan eksekusi, tapi kenyataan Thiat Tiong-tong sama sekali tidak menghukum mati dirinya, dia mengirimnya ke tempat lain untuk merawat luka, sementara jenazah orang lain yang mewakilinya melaksanakan hukuman dipisah lima ekor kuda."

Begitu tahu kejadian yang sebenarnya, Im Gi maupun Thiat Cing-su semakin tertegun dibuatnya.

Thiat Cing-su merasa terkejut bercampur girang, gumamnya:

"Ternyata Thian maha kasih... ternyata Thian sangat bijaksana, rupanya Toako belum meninggal

Hawa amarah mulai menyelimuti wajah Im Gi, tiba-tiba bentaknya:

"Sekarang binatang kecil itu berada... berada dimana?"

"Aku tidak tahu."

"Mana mungkin kau tidak tahu? Cepat katakan!" hardik Im Gi semakin gusar.

"Jejak anggota perguruan Tay ki bun selalu rahasia dan sukar dilacak, kehebatan kalian menghilangkan diri tiada tandingannya di kolong langit, bahkan manusia macam Hek Seng-thian dan Suto Siau kawanan rase tua pun susah menemukan mereka, apalagi aku?"

Im Gi termenung beberapa saat lamanya, kemudian manggut-manggut.

"Masuk akal juga perkataanmu itu ...."

Tapi sejenak kemudian kembali bentaknya marah:

"Tapi bagaimanapun aku harus menemu­kan kembali jejak binatang cilik itu, boleh saja nasibnya beruntung bisa lolos dari eksekusi yang dilakukan tempo hari, tapi kali ini Lohu akan melaksanakan sendiri eksekusi itu, akan kuperintahkan mayatnya dipisahkan lima ekor kuda!"

Gi Beng yang mendengar perkataan itu merasakan hatinya bergidik, pikirnya, 'Ternyata nama besar Ciangbunjin Thiat hiat tay ki bun memang bukan nama kosong belaka, dia benar-benar galak sekali.'

Dengan wajah hijau kemerah-merahan, Thiat Cing-su seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tidak berani mengungkapkan, sampai lama kemudian dia baru membesarkan nyali dan berkata:

"Suhu, bukankah selama ini kau selalu teringat Toako? Bukankah kau orang tua sering pula menyinggung tentang segala kebaikan yang dimiliki Toako?"

Dada Im Gi naik turun tidak beraturan, tampaknya sedang menahan gejolak emosi yang menggelora, sepasang kepalannya tergenggam kencang, bentaknya:

"Tutup mulut!"

Gemetar keras sekujur badan Thiat Cing-su saking takutnya, tapi dia tetap memberanikan diri berkata lagi:

"Ananda tidak pernah membangkang perkataan kau orang tua, tapi kali ini ananda harus menyampaikan semua uneg-uneg yang sudah lama tersimpan dalam hati sanubariku, sekalipun kau orang tua akan menghajarku sampai mampus, ananda tetap akan mengatakan-nya juga."

Hawa amarah masih menyelimuti wajah Im Gi, namun kali ini dia tidak bersuara atau menghalangi niat muridnya untuk bicara.

"Jiko dan Samko telah tertimpa musibah, kekuatan perguruan Tay ki bun kita boleh dibilang semakin lemah dan sedikit, beruntung sekarang kita mendapat tahu Toako masih hidup, sesungguhnya inilah berita baik untuk perguruan kita, dengan kepandaian silat serta kecerdasan yang dimiliki Toako, tidak sulit baginya untuk membangkitkan kembali kejayaan perguruan Tay ki bun, tapi ... aaaai! Kenapa kau orang tua justru menginginkan pula kematiannya?"

Im Gi berdiri sambil mengelus jenggot, tubuhnya gemetar keras karena menahan tekanan batin yang berat, jelas perang batin sedang terjadi dalam hatinya, di samping gembira dan penuh luapan emosi, dia pun merasa sedih, pedih dan serba salah.

Ternyata orang tua ini memiliki hati sekeras baja! Dia seperti tidak bergeming dari keputusan-nya.

"Bagaimanapun juga," katanya kemudian, "hukum perguruan Thiat hiat tay ki bun harus tetap ditegakkan, orang yang sudah dijatuhi hukuman mati, tidak mungkin dibiarkan tetap hidup di dunia ini."

Dengan sedih Thiat Cing-su tertunduk lemas, air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

Gi Beng sendiri pun amat menyesal, dia membenci diri sendiri, menyesal dan benci kepada diri sendiri karena banyak mulut.

Tiba-tiba dari kejauhan berkumandang suara pekikan yang amat keras, suara pekikan itu bagai lolongan serigala malam, seperti juga tangisan setan gentayangan, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa bergidik dan ngeri.

Berubah paras muka Im Gi, Thiat Cing-su serta Gi Beng, mereka dapat menangkap suara pekikan ngeri itu sedang bergerak semakin mendekat, bahkan bergeser menghampiri tempat mereka.

Tidak terlukiskan rasa kaget Suto Siau ketika melihat kemunculan Im Gi dan Thiat Cing-su secara tiba-tiba.

Biarpun dia tahu Im Gi belum seratus persen sembuh dari lukanya, namun nama besar Ciangbunjin perguruan Tay ki bun sudah cukup membuat hatinya keder.

Sejujurnya dia merasa tidak bernyali untuk menghadapinya seorang diri, tidak berani ber­tarung satu lawan satu.

Karena itu tanpa banyak bicara dia langsung putar badan dan melarikan diri.

Padang rumput yang luas dan lebat memang tempat yang paling cocok untuk melarikan diri Bambil menyembunyikan diri.

Setelah kabur sejauh puluhan langkah, dia sudah kehilangan jejak Im Gi, ketika mencoba pasang telinga, dia pun tidak mendengar ada suara langkah kaki yang sedang melakukan pengejaran.

Saat itulah dia baru bisa menghembuskan napas lega sambil mengumpat lirih:

"Dasar iblis tua macam sukma gentayangan saja, ternyata ambruknya bukit karang tidak sampai membikin mampus dirinya, kenapa kalau mau muncul justru di saat aku hendak menikmati tubuh molek? Sialan!"

Paling tidak sekarang dia sudah tahu jika di pihak perguruan Tay ki bun ada dua orang tidak mampus dalam bencana tadi, kenyataan ini mem­buatnya semakin tidak berani bertindak gegabah, sambil berusaha tahan napas dia bergerak terus ke depan.

Kini dia benar-benar kebingungan, tidak tahu ke arah mana harus pergi, keadaannya tidak jauh berbeda dengan orang buta yang mencari jalan, dalam hati dia hanya bisa berdoa, semoga jangan sampai bertemu lagi dengan para jago perguruan Tay ki bun.

Sepeminuman teh lamanya dia berjalan, seluruh tubuh sudah bermandikan keringat, tapi dia masih bingung, tidak tahu apa yang bakal dihadapi di depan sana, bisa dibayangkan betapa panik dan takutnya saat itu.

Tiba-tiba dari balik rerumputan di depan sana terdengar suara baju yang tersampuk angin.

Dengan perasaan terkesiap Suto Siau siap kabur meninggalkan tempat itu, tapi setelah berpikir sebentar, akhirnya dengan memberanikan diri dan menahan napas perlahan-lahan dia bergerak maju ke depan.

Sebetulnya dia sudah berjalan sambil setengah berjongkok, ketika hampir tiba di tempat itu, tubuhnya bertiarap di tanah, bagaikan seekor ular berbisa dia bergerak maju dengan melata.

Angin masih berhembus sepoi, rerumputan bergoyang meninggalkan suara berisik.

Dari balik rerumputan yang bergoyang dia mencoba mengintip, benar saja, di sana terlihat bayangan manusia.

Tapi sayang Suto Siau masih belum dapat melihat wajah kedua orang itu dengan jelas, sambil mengertak gigi dia merangkak maju lagi dua langkah, tiba-tiba dari balik rerumputan muncul lagi wajah seseorang.

Ternyata secara kebetulan orang itupun sedang merangkak ke arahnya.

Begitu saling bertatap muka, kedua orang itu sama-sama terperanjat hingga nyaris menjerit tertahan, tapi dalam waktu singkat mereka sudah dapat melihat jelas wajah lawan, maka masing-masing pun saling mendekap mulut sendiri.

Sambil menghembuskan napas lega, bisik Suto Siau:

"Saudara Hek, rupanya kau."

Ternyata dua orang yang sedang merangkak itu tidak lain adalah Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu.

Tidak terlukiskan rasa girang ketiga orang itu, mereka tidak menyangka setelah merasakan ketegangan sekian lama, akhirnya mereka dapat berkumpul kembali.

"Wah, Thian memang maha pengasih, ternyata kalian berdua tidak mati," kata Suto Siau.

Hek Seng-thian tertawa getir.

"Biarpun tidak mampus, tapi sudah hampir," katanya.

"Suto-heng," kata Pek Seng-bu pula, "selama ini kau selalu berjaga di luar gua, tahu tidak siapa saja yang berhasil melarikan diri dari dalam gua?"

Ternyata apa yang menjadi kekuatiran kedua orang ini sama persis seperti apa yang dipikirkan Suto Siau.

"Situasi waktu itu sangat kalut, susah menyaksikan dengan jelas," sambil menghela napas Suto Siau menggeleng.

"Semoga saja Im Gi si tua bangkotan itu mampus tertindih batu," seru Hek Seng-thian penuh kebencian.

"Sayangnya justru tua bangka itu masih segar bugar," kata Suto Siau sambil tertawa getir.

"Jadi kau telah bertemu dengannya?" tanya Hek Seng-thian berdua hampir berbareng.

"Benar!" secara ringkas dia pun mencerita­kan pengalaman yang barusan dialaminya, tentu saja soal yang menyangkut Gi Beng sama sekali tidak disinggung.

Hek Seng-thian saling pandang sekejap dengan Pek Seng-bu, kelihatannya mereka gegetun sekali dengan kenyataan itu.

Lewat sesaat kemudian Hek Seng-thian baru berkata:

"Biarpun tua bangka Im panjang umur, tapi aku rasa Lui-pian Lojin dan anaknya pasti sudah mampus."

"Kau melihatnya?"

"Ketika Pek-jite mengajakku keluar tadi, sebelum meninggalkan gua kami lihat Siang-tok Thaysu bukan saja telah menghadang jalan pergi Lui-pian Lojin, bahkan dia sempat mengayunkan telapak tangannya mendorong masuk kedua orang itu, padahal waktu itu bukit karang sedang runtuh, dengan luka yang belum sembuh, mana mungkin Lui-pian Lojin berdua sanggup meloloskan diri?"

"Haah? Tidak disangka Lui-pian Lojin, seorang jagoan yang tangguh harus mati secara mengenaskan di tempat ini!"

"Seharusnya kita gembira dengan kematian-nya, kenapa Suto-heng justru menghela napas?"

"Biarpun Lui-pian Lojin menjengkelkan, paling tidak dia masih terhitung sejalan dengan kita, kematiannya hanya mendatangkan kerugian, bukan keberuntungan, kenapa aku tidak boleh menghela napas?"

Pek Seng-bu tersenyum.

"Lantaran Suto-heng tidak menyaksikan sendiri semua peristiwa yang telah terjadi dalam gua tadi, tidak heran kau masih menaruh simpati kepadanya dan mengucapkan kata-kata seperti itu."

"Apa yang telah terjadi dalam gua?"

Hek Seng-thian menghela napas panjang.

"Aaai, Suto-heng belum tahu, tadi Lui-pian Lojin sudah bersekongkol dengan orang perguruan Tay ki bun, kalau dia tidak mampus, berarti kita bakal mendapat tambahan seorang musuh tangguh lagi."

"Ooh, begitu kejadiannya? Aaai, ternyata perubahan yang terjadi bagaikan perubahan cuaca, sukar diramalkan, siapa yang mengira dalam setengah hari saja dapat terjadi perubahan sedrastis ini."

Setelah berhenti sejenak, tanyanya lagi:

"Bagaimana dengan Sim Sin-pek?"

"Dia kabur paling dulu sambil membopong Sui Leng-kong!"

"Dan si Hujan gerimis?" tanya Suto Siau lagi setelah menghembuskan napas lega.

"Dengan kepandaiannya yang hebat, memangnya dia tidak sanggup meloloskan diri?"

"Seng Toa-nio?"

"Seng Toa-nio? Aaaai, susah dibilang, tapi paling tidak  enam puluh persen mereka ibu beranak punya kesempatan untuk tetap hidup, sedang Liu Ji-uh dan Liong Kian-sik bisa dipastikan mampus."

"Benar," Hek Seng-thian menandaskan, "sewaktu masih berada dalam gua, aku sempat mendengar jerit kesakitannya, dia seperti kejatuhan batu besar. Aaaai! Sayang juga, masih muda sudah harus mati."

"Kalau Che Toa-ho?"

"Sebelum terjadi longsor, dia sudah mati lebih dulu, mati keracunan."

Dalam hati kecil Suto Siau merasa sangat gembira, tapi di luar dia pura-pura menghela napas panjang.

"Aaaai, tidak kusangka ada begitu banyak orang yang harus tewas dalam bencana kali ini

"Suto-heng, kau tidak merasa agak aneh dengan bencana alam yang barusan terjadi?" sela Pek Seng-bu tiba-tiba.

"Aneh? Apanya yang aneh?"

"Tanah longsor dan gempa itu terjadi sangat mendadak."

"Tanah longsor dan gempa bumi merupakan bencana alam, itulah gejala alam yang sukar diramalkan, apanya yang aneh?"

"Tapi gempa dan longsor yang terjadi kali ini sepertinya perbuatan manusia," kata Pek Seng-bu serius.

"Perbuatan manusia?"

"Benar, 90% hasil perbuatan manusia."

Suto Siau tertegun beberapa saat lamanya, tapi kemudian katanya sambil tertawa geli:

"Pek-heng, mungkin dugaanmu keliru, manusia mana di dunia ini yang mampu membuat gempa dan tanah longsor?"

"Bahan peledak!" sela Hek Seng-thian, "masa saudara Suto lupa tentang bahan peledak?"

Sekali lagi Suto Siau tertegun, gumamnya, "Benar, bahan peledak

"Ketika pertama kali mendengar suara ledakan tadi, lamat-lamat aku sempat mengendus bau belerang dan mesiu, tampaknya ledakan itu berasal dari dalam bumi, tapi aku tidak begitu yakin."

"Sayang Bi Lek-hwe si tua bangka itu tidak berada di sini, kalau tidak, dia dapat memastikan suara ledakan itu berasal dari mana," kata Hek Seng-thian sambil menghela napas.

"Bi Lek-hwe?" Suto Siau berpikir sejenak, "jangan-jangan dia?"

"Aku rasa bukan, biarpun watak Bi Lek-hwe agak bau dan jelek, dia paling pantang melakukan perbuatan seperti itu, jadi mustahil ledakan tadi hasil perbuatannya."

"Tapi selain Bi Lek-hwe, siapa lagi yang memiliki kemampuan untuk meledakkan mesiu sedahsyat itu?"

"Siaute sendiri pun kurang tahu, tapi dunia persilatan memang isinya sarang naga gua harimau, apalagi menguasai bahan peledak bukan merupakan suatu kejadian yang luar biasa."

"Bila ledakan itu hasil ulah tokoh silat, buat apa dia mesti meledakkan bukit karang? Apalagi ledakan itu berasal dari bawah tanah, memangnya orang itu bersembunyi di dalam bumi?"

"Siaute pun merasa bingung, tidak habis mengerti dengan kejadian ini."

Pada saat itulah dari kejauhan kembali terdengar suara pekikan nyaring yang amat keras... suara pekikan itu sama seperti suara pekikan yang terdengar oleh Gi Beng dan Im Gi sekalian.

 

BAB 40.

Tewasnya Sang Bidadari.

 

Ledakan itu memang berasal dari dalam bumi, tentu saja di bawah tanah terdapat manusia, karena obat mesiu itu memang diledak-kan dari dalam perut bumi.

Peristiwa semacam ini merupakan peristiwa langka, kejadian yang tidak umum, tidak heran manusia licik macam Suto Siau pun tidak bisa menduga apa gerangan yang telah terjadi.

Terlebih lagi mereka tidak menyangka orang yang berada di dalam perut bumi tidak lain adalah jagoan yang paling mereka segani... Thiat Tiong-tong dan Kaisar malam.

Selama beberapa waktu belakangan, kehidupan Thiat Tiong-tong dan Kaisar malam yang berada dalam perut bumi boleh dibilang ibarat hidup dalam neraka, bukan hanya penderitaan secara lahiriah, yang lebih menderita adalah siksaan yang datang dari dalam batin.

Setiap hari mereka hanya bisa mengawasi bongkahan batu raksasa yang membukit tanpa bisa banyak bicara maupun berbuat, yang dapat mereka lakukan hanya duduk tanpa bergerak, duduk termangu sambil mengawasi bebatuan itu, duduk mendelong hingga lupa makan, minum apalagi tidur.

Batuan cadas raksasa itulah yang telah memisahkan mereka dengan dunia luar, memutus­kan jalan keluar mereka, melenyapkan seluruh harapan mereka, juga melenyapkan sisa kekuatan hidup yang mereka miliki.

Dalam keadaan begini, mereka sudah tidak tahu apa arti kepedihan, tidak tahu bagaimana harus marah, yang bisa dilakukan hanya termangu sambil mengawasi bongkahan batu raksasa itu, dengan tenang menunggu saat lenyapnya kehidupan mereka....

Bukan hanya Kaisar malam seorang, bah­kan Thiat Tiong-tong pun sudah kehilangan semangat juangnya, semangat untuk memper­tahankan diri.

Sebenarnya anak muda ini memiliki hati sekuat baja, betapa pun besarnya kekecewaan, pukulan batin, mara bahaya maupun kegagalan, hatinya tidak pernah berubah, keuletannya tidak pernah mengendor.

Tapi sekarang dia harus melalui kehidupan penuh kegalauan, hidup dalam situasi pelik yang sulit tertolong lagi, dalam keadaan begini terpaksa dia harus membuang jauh seluruh harapannya, dia harus memendam semua semangatnya.

Kaisar malam pun nampak sangat kusut, bila saat itu ada orang yang bertemu dengannya, mereka tidak bakal percaya orang tua ini tidak lain adalah jagoan nomor wahid yang pernah menggetarkan sungai telaga, kakek romantis yang memiliki banyak pacar dan tidak terkalahkan kungfunya.

Terkadang dia sempat bergumam seorang diri:

"Kesalahan apa yang telah kulakukan? Kesalahan apa yang telah kulakukan? Aku bersalah.. aku bersalah...

Nada ucapannya dipenuhi rasa sedih dan penyesalan, membuat pedih perasaan hati siapa pun yang mendengar.

Tapi kawanan gadis yang menawan itu seolah sudah kehilangan senyuman mereka yang menawan, sudah kehilangan kecantikan wajah mereka di masa lampau.

Wajah yang semula putih, halus dan ayu, kini berubah jadi layu dan kusut, kerlingan matanya yang genit, kini jadi buram tidak bercahaya, bahkan rambut panjang mereka yang dulu hitam berkilat, kini sudah pudar.

Mereka sudah menyingkirkan bedak dan gincu, mereka membuang cermin untuk ber­dandan, mereka tinggalkan khim dan catur, mereka singkirkan pit dan kertas, namun mereka tidak pernah bisa menyingkirkan rasa sesal yang luar biasa.

Hingga suatu hari, San-san menghembus­kan napas yang terakhir.

Gadis romantis yang lincah dan penuh rasa cinta itu akhirnya pergi untuk selamanya dengan membawa semua penyesalan, kepedihan dan penderitaan... cinta yang berlebihan akhirnya memusnahkan seluruh kehidupannya.

Sebelum menghembuskan napas yang terakhir, dia sudah dalam kondisi yang mengenas­kan, pipinya yang semula halus lembut bagaikan buah apel, kini tinggal kulit pembungkus tulang, tinggal selapis kulit yang pucat dan tidak bercahaya.

Sebelum menghembuskan napas yang terakhir, semua gadis berdiri mengelilinginya, hanya Kaisar malam seorang yang duduk menjauh, jangankan menghampiri, melirik sekejap pun tidak.

Sesaat sebelum ajalnya, dia masih memohon pengampunan Kaisar malam.

"Ampunilah kesalahanku, aku mohon....ampunilah kesalahanku," pintanya dengan suara gemetar.

Kaisar malam sama sekali tidak ambil peduli dia seolah tidak mendengar permohonan itu, seakan tidak mendengar apa-apa.

"Aku... aku tahu... dia... selamanya dia tidak akan memaafkan diriku," bisik San-san lagi dengan air mata berlinang, "tapi Thiat-kongcu, maukah kau... maukah kau memaafkan aku?"

Dengan hati pedih Thiat Tiong-tong meng­angguk, sahutnya sambil menghela napas panjang:

"Semua ini memang bukan salahmu, cinta yang berlebihan... aaaai! Tidak pernah ada yang menyalahkan seorang yang memiliki cinta berlebihan, kalau ingin menyalahkan... Thian lah yang salah, aaaai...! Thian... wahai, Thian!"

Akhirnya sekulum senyuman tersungging di ujung bibir San-san.

Itulah senyumannya yang terakhir, senyuman yang membuat wajahnya yang kurus kering menampilkan secercah cahaya aneh... itulah cahaya terakhir menjelang sekarat.

Inilah berkah yang diberikan Thian kepada seorang yang sekarat.

Dari balik mata San-san pun memancarkan sekilas cahaya aneh, perlahan-lahan dia menyapu wajah semua gadis yang berada di sekelilingnya ... setiap orang, tak ada yang tertinggal.

Kemudian dia bertanya lagi:

"Adik-adikku, kalian... kalian mau memaaf­kan aku bukan?"

Kawanan gadis itu tidak mampu mengen­dalikan diri lagi, semua orang menangis tersedu-sedu.

Menangis pun merupakan pemberian maaf yang paling tulus.

"Bila kalian telah bersedia memaafkan aku, ada satu permintaan terakhir yang ingin ku­sampaikan kepada kalian," kata San-san kemudian: "aku berharap kalian bersedia mengabul-kan permintaanku  itu ... katakan!  Kalian  bersedia mengabulkan permintaanku bukan?"

"Apapun permintaanmu, kami pasti akan mengabulkan," sahut Min-ji sambil menangis terisak.

"Kami kabulkan permintaanmu," serentak kawanan gadis yang lain ikut menyahut.

"Baiklah San-san tertawa pedih, "setelah aku mati nanti, ledakkan jenasahku dengan obat peledak hingga hancur berkeping, aku... aku ...."

Belum selesai dia berkata, mendadak napasnya sesak dan gadis itupun menghembus­kan napasnya yang terakhir.

Sekalipun dia belum selesai berkata, namun semua orang dapat menangkap betapa menyesalnya gadis itu, rasa penyesalan yang luar biasa, rasa sesal yang membuatnya menderita....

Dia ingin nyawa dan tubuhnya hancur berkeping, hancur menjadi abu, dia tidak ingin lagi menyisakan dirinya, menyisakan bagian mana pun dari tubuhnya di dunia ini....

Meledaklah isak tangis yang memilukan hati

Obat mesiu telah diangkut ke situ, bungkus demi bungkus obat mesiu telah menumpuk di sekeliling jenazah San-san.

Min-ji sambil mengangkat obor tinggi-tinggi selangkah demi selangkah berjalan mendekat, cahaya api menyinari wajahnya, memantulkan butiran air mata di wajah semua orang, menyinari pula jenazah yang membujur kaku di tanah menyinari seluruh gua yang penuh misteri itu ....

Pemandangan saat itu terasa begitu pedih, tragis dan menggetarkan sukma.

Tiba-tiba Cui-ji berlari ke depan, berlari sambil berseru:

"Cici sekalian, cepat menyingkir, hati-hati jangan sampai kalian ikut diledakkan."

"Bagaimana dengan kau?" tanya kawanan gadisku.

"Aku telah memutuskan untuk menemani Enci San-san, aku ingin mati bersamanya, karena itu telah kugunakan begitu banyak bahan peledak, semoga obat mesiu itu cukup untuk menghancur leburkan tubuh kami bertiga...."

"Tunggu sebentar!" tiba-tiba Thiat Tiong-tong melompat bangun sambil berteriak.

Dengan tertegun semua gadis berpaling, mereka dapat menangkap rasa girang yang terlintas di wajah pemuda itu.

"Thiat-kongcu, kau... kau tidak perlu menghalangi kami," kata Min-ji sambil tertawa pedih, "sudah kami putuskan.....”

Obornya mulai diturunkan, mulai men­dekati sumbu bahan peledak itu....

Saat itu Thiat Tiong-tong masih berada beberapa langkah darinya, di tangannya tiada benda, ingin menyambar tangannya pun sudah tidak sempat lagi, bahkan ingin menimpuk jatuh obor itupun mustahil.

Tidak ada gunanya obor itu ditimpuk jatuh, karena bahan mesiu itu pasti akan segera meledak, kalau sampai begitu, dapat dipastikan tubuh Min-ji dan Cui-ji pun akan turut hancur jadi abu.

Sejujurnya dia sama sekali tidak memikir­kan keselamatan Min-ji serta Cui-ji, tindakannya itu bukan lantaran menguatirkan mereka, dia panik karena obat mesiu itu.

Obat mesiu yang tersisa merupakan kesempatan terakhir bagi mereka, dia tidak ingin benda itu dibuang percuma.

Dalam gugup dan paniknya, tanpa mempedulikan segala resiko dia lepaskan sebuah pukulan.

Belum lagi tubuhnya mencapai sasaran, angin pukulan sudah dilontarkan ke muka, menumbuk tubuh Min-ji yang lemah dan membuat gadis itu mencelat ke belakang.

Tidak ampun badannya yang lemah menumbuk dinding batu, roboh terjungkal ke tanah, obor yang berada dalam genggaman pun padam seketika.

Dengan langkah cepat, Thiat Tiong-tong meluncur ke tepi tumpukan obat mesiu, dadanya naik turun tidak beraturan, napasnya tersengal, sementara dia hanya berdiri tertegun, berdiri tanpa sadar kalau ada belasan mata sedang mengawasi­nya dengan ter peranjat, merasa tercengang oleh tindakannya, kaget oleh kehebatan tenaga pukulannya.

Padahal dia sendiri pun merasa terperanjat... mimpi pun tidak mengira ayunan tangannya bisa menghasilkan tenaga pukulan sedahsyat itu.

Dia seolah tidak sadar, sejak berhasil mempelajari ilmu Ka ih sin kang, tenaga dalamnya sudah amat dahsyat, kekuatannya sudah bisa disejajarkan dengan jagoan nomor wahid manapun.

Kalau dulu dia ibarat sebuah batu pualam yang belum terasah, batu pualam yang belum memantulkan cahayanya, belum sanggup memperlihatkan kemampuan terpendamnya.

Tapi sekarang dia ibarat batu pualam yang sudah terasah, indah bercahaya, semua kemampuan terpendamnya telah tergali... dari sebongkah baja telah berubah menjadi sebilah pedang tajam.

Saat itu Kaisar malam sedang mengawasi pula ke arahnya.

Untuk pertama kalinya secercah cahaya tajam melintas di wajahnya yang kusut dan murung.

Dapat menyaksikan keberhasilan anak didiknya yang terasah olehnya, jelas merupakan kejadian yang menggembirakan, kejadian yang membanggakan.

Min-ji sudah tidak sadarkan diri, roboh terkapar di sisi Cui-ji, sementara gadis itu dengan suara gemetar menegur:

"Thiat-kongcu, kenapa kau... kenapa kau berbuat begitu? Kenapa kau harus berbuat begitu? Apakah kau pun melarang kami orang-orang bernasib burukuntuk mati?"

"Kau tidak perlu mati... semua orang tidak perlu mati," tukas Thiat Tiong-tong.

"Apakah kau... sudah mendapat akal?"

"Bahan peledak... obat mesiu...."

Sekarang dia sudah berhasil mengendalikan diri, wajahnya dipenuhi senyum kegembiraan, mendadak dia ambil sebungkus obat mesiu, sambil disodorkan ke hadapan Cui-ji, teriaknya:

"Obat mesiu ini berhasil meledakkan lorong bawah tanah, kenapa tidak kita gunakan lagi untuk meledakkan bongkahan batu raksasaku?"

Cui-ji tertegun sejenak, kemudian teriaknya sambil berjingkrak:

"Betul! Betul! Kenapa tidak terpikir sejak dulu...."

Sementara kawanan gadis itu bersorak-sorai, Thiat Tiong-tong telah membalikkan tubuh menghampiri Kaisar malam.

Tapi sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, Kaisar malam telah bangkit berdiri sambil berseru:

"Cepat, cepat pindahkan semua bahan mesiu yang ada kemari!"

Dia sendiri sudah lupa, sudah berapa lama tidak bangkit dari tempat duduknya sekarang, namun sekarang dia merasa begitu bersemangat, begitu bertenaga.

Suasana kehidupan tumbuh kembali di dalam liang gua itu.

Hampir semua bahan mesiu yang tersedia dalam gudang telah dipindahkan keluar semua.

"Cu... cukupkah itu?" dengan perasaan sangsi Thiat Tiong-tong bertanya.

Kaisar malam tertawa tergelak. "Kalau diganti dengan bahan mesiu lainnya, biar ditambah sepuluh kali lipat pun belum tentu cukup, tapi bahan mesiu itu... hahaha... cukup.. cukup... lebih dari cukup."

"Apa bedanya dengan bahan peledak lain?" tak tahan Thiat Tiong-tong bertanya.

"Coba kau perhatikan lagi dengan seksama, masa tidak bisa menemukan perbedaannya?"

"Tecu sama sekali tidak paham tentang bahan mesiu, tapi... seingatku dulu, obat mesiu yang dijual di toko mercon biasanya berwarna kuning."

"Coba kau perhatikan sekarang, obat mesiu itu berwarna apa?"

"Hitam!"

"Nah, itulah dia, bubuk mesiu berwarna kuning hanya bisa digunakan untuk membuat mercon, sedang bubuk mesiu berwarna hitam dapat digunakan untuk meledakkan batu dan bukit, setiap orang punya resep untuk membuat ramuan bubuk mesiu kuning, tapi ramuan bubuk hitam hanya Lohu seorang yang tahu, bubuk mesiu yang tersedia sekarang tidak lain adalah hasil buatanku sendiri."

Kini orang tua itu sudah memperoleh kembali semangat serta  kehebatannya di masa lalu, sinar matanya tajam bagai pisau, wajahnya penuh pancaran cahaya hidup, cara bicaranya pun lebih bersemangat.

"Kenapa terdapat perbedaan yang besar antara bubuk kuning dengan bubuk hitam?" tidak tahan kembali Thiat Tiong-tong bertanya.

"Perbedaannya bukan hanya terletak dalam hal warna, bahan ramuannya pun jauh berbeda."

Setelah memperoleh kembali semangat hidupnya, rasa ingin tahu Thiat Tiong-tong pun tumbuh kembali, dia memang sangat tertarik dengan segala yang baru, semua pengetahuan yang diperoleh selalu ditanya hingga detil.

"Apa pula perbedaan bahan ramuannya?" kembali ia bertanya.

"Ramuan untuk bubuk mesiu kuning tersedia di negeri ini sejak zaman kuno, bahan utamanya adalah belerang, sewaktu meledak menimbulkan suara keras, namun daya ledaknya tidak mampu menghancurkan benda keras."

"Kalau yang hitam?"

"Kalau bubuk mesiu hitam beda sekali, bubuk itu baru berhasil Lohu buat setelah melalui eksperimen yang sangat lama, jarang orang di kolong langit yang mengetahui rahasia ramuan ini."

"Bolehkah Tecu... Tecu...."

"Sayang, kau pun tidak boleh tahu."

"Ooh ...." Thiat Tiong-tong tertunduk lesu dan tidak bicara lagi.

Sementara berbincang-bincang, sepasang tangan Kaisar malam bekerja tiada hentinya, dengan alat bantu sebilah pisau kecil ia membuat banyak sekali sumbu mesiu yang disambung menjadi satu.

Cukup lama Thiat Tiong-tong memperhati­kan orang tua itu bekerja, lama kelamaan dia tidak tahan juga untuk bertanya:

"Apa yang sedang kau buat? Untuk apa benda itu?"

"Aku sedang membuat sumbu untuk memicu api itu meledakkan bahan mesiu lainnya."

"Dengan alat pemicu itu, semua bahan mesiu bisa meledak?"

Kaisar malam tertawa lebar.

"Asal kita sulut mesiu itu dengan api, sudah pasti semua bahan yang ditumpuk di situ akan meledak, tapi ledakan yang bakal terjadi sangat mengerikan, kita semua bisa mati konyol karenanya."

"Aaah, belum pernah Tecu memikirkan hal itu," kata Thiat Tiong-tong sambil tertawa jengah.

"Nah, untuk menghindari mati konyol, sengaja kubuat sumbu pemicu yang panjang, kita bisa menyulutnya dari jarak sekian puluh kaki, bukan Lohu sengaja membual, dalam hal pembuatan sumbu pemicu inipun belum ada orang yang mampu menandingiku di kolong langit saat ini."

"Apakah di balik pembuatan inipun terdapat rahasia lain?"

"Tentu saja ada rahasianya... kau mesti tahu, bubuk hitam adalah bahan mesiu yang gampang meledak, salah-salah bisa mendatangkan bencana kematian buat diri sendiri, bahan sensitif semacam ini tidak setiap orang bisa membuatnya.

Bi lek tong bisa tersohor di kolong langit karena mereka pun punya resep untuk meracik bubuk mesiu semacam ini, namun bila dibandingkan dengan kemampuan Lohu, hahaha... mereka masih ketinggalan jauh."

"Tentu saja!" Thiat Tiong-tong ikut tertawa.

"Untuk meracik bahan mesiu semacam ini, selain dibutuhkan tehnik tingkat tinggi, kau mesti memiliki sepasang tangan yang tenang dan mantap, harus menguasai tindakan apa yang mesti dilakukan bila menjumpai suatu keadaan, dengan ketrampilan semacam inilah bubuk mesiu itu baru bisa menciptakan daya ledak semaksimal mungkin."

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang. "Aaaai! Tecu tidak pernah menyangka kalau untuk meracik bahan mesiu pun dibutuhkan pengetahuan sedemikian luasnya, sayang... sayang Tecu tidak berjodoh untuk mempelajarinya."

"Kau mulai merasa kecewa? Menyesal?" Kaisar malam menatapnya sekejap dan tertawa.

"Tecu ...Tecu...."

"Padahal semua kepandaian yang kumiliki telah kuwariskan kepadamu, kenapa justru ilmu meracik bahan peledak tidak kuwariskan? Coba pikir sendiri dengan lebih seksama, apa alasanku menolak permintaanmu itu?"

"Tecu tidak mengerti."

"Karena bubuk mesiu adalah sebuah benda yang mendatangkan bencana, barang haram yang membuat sial."

Dia mendongakkan kepala dan menghela napas, lanjutnya:

"Ketika untuk pertama kalinya aku berhasil menciptakan rahasia ini, tidak terlukiskan rasa girangku, aku ingin segera menyiarkan kabar gembira ini ke seluruh kolong langit, tapi setelah berpikir dua hari, makin kubayangkan hatiku semakin bergidik, bukan saja rahasia racikan itu seketika kumusnahkan, bahkan aku bersumpah tidak bakal mewariskan ilmu rahasia ini kepada siapa pun, aku tidak ingin ada orang menggunakan resep rahasiaku untuk mencelakai orang lain."

"Memang betul benda itu bisa digunakan untuk mencelakai orang, tapi bila digunakan untuk membuka jalan baru, bukankah hal itu justru memberi manfaat yang menguntungkan?" kata Thiat Tiong-tong setelah berpikir sejenak.

"Betul, benda itu memang mendatangkan manfaat kecil bagi umat manusia, tapi jika diguna­kan untuk kepentingan yang salah, bencana yang ditimbulkan sangat mengerikan, bahkan lebih menakutkan daripada datangnya air bah."

"Soal ini... lagi-lagi Tecu tidak mengerti."

"Coba bayangkan, bila benda ini digunakan untuk peperangan, untuk membantai sekelompok manusia, apa jadinya? Pertarungan antar umat persilatan memang masalah kecil, bila digunakan dalam peperangan antar negara? Bukankah akibatnya bisa fatal?"

Kembali Thiat Tiong-tong termenung, kemudian teriaknya:

"Aaah, betul juga."

Setelah menghela napas panjang, kembali Kaisar malam berkata:

"Sejak zaman kuno, manusia selalu memiliki ambisi, bila ada ambisi pasti terjadi peperangan, sejak kaisar pertama melakukan peperangan, selama ribuan tahun lamanya kapan peperangan berhenti? Kapan tidak terjadi pertempuran lagi?"

"Betul juga perkataan ini," Thiat Tiong-tong manggut-manggut.

"Dalam pertempuran yang terjadi di zaman kuno, orang hanya menggunakan batu dan kayu sebagai senjata, maka tidak banyak korban yang berjatuhan, menyusul kemudian manusia mulai belajar menggunakan besi, pisau, parang...."

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Senjata yang bertambah ampuh membuat orang jadi kesemsem, siapa tahu makin banyak senjata tajam ditempa makin besar ambisi orang untuk menguasai jagad, makin banyak pula manusia yang tewas di ujung senjata, kemudian diciptakan panah, lalu panah api digunakan dimana-mana, bila terjadi pertempuran, bangkai pasti membukit, darah pasti mengalir menganak sungai.

"Dalam setiap medan pertempuran, nyawa manusia ibarat sampah, sama sekali tidak ada nilainya.

"Itulah dia, aku kuatir bila ciptaan bubuk hitamku sampai diwariskan ke dunia, orang akan berlomba-lomba membuat benda berbahaya ini, jika sampai terjadi pertempuran, bisa dipastikan korban yang berjatuhan akan beribu kali lipat lebih mengerikan daripada korban hujan panah berapi."

Thiat Tiong-tong tidak berani membayang­kan lebih lanjut, diam-diam dia bergidik, tapi dia pun merasa kagum dengan kebijaksanaan orang tua ini, tidak nyana Kaisar malam bisa berpandangan begitu jauh.

Lewat beberapa saat kemudian, kembali Kaisar malam berkata:

"Untung bahan racikan itu tidak gampang dibuat, sekalipun bisa cara meraciknya, namun kalau tidak tahu bahan ramuan serta kadar yang dibutuhkan, hasilnya juga tidak mengerikan, bila lohu mati nanti, rahasia ini akan lenyap untuk selamanya dari kolong langit, paling tidak selama ratusan tahun ke depan belum tentu ada orang mampu menciptakan benda yang sama."

"Tapi...." sebenarnya Thiat Tiong-tong ingin mengucapkan sesuatu lagi, namun setelah melirik Kaisar malam sekejap, dia urungkan niatnyaitu.

Kelihatannya Kaisar malam dapat menebak apa yang ingin ditanyakan, dengan sedih dia menghela napas panjang.

"Betul, manusia macam aku pun bisa menciptakan benda itu, cepat atau lambat suatu saat nanti orang lain pun bisa menciptakannya pula, tapi... aku pikir sehari bisa kita hambat penemuan itu, biarlah sehari pula dunia lewat dalam ketenangan."

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.

"Semoga saja rahasia itu tidak pernah ditemukan manusia," katanya.

Dalam pada itu Kaisar malam telah menyusun rapi bungkusan berisi bubuk mesiu itu, kemudian dengan seksama pula dia menghubung­kan satu kelompok bungkusan dengan kelompok bungkusan lainnya melalui sumbu yang telah dipersiapkan.

"Kenapa bungkusan itu mesti dibagi jadi dua kelompok?" tanya Thiat Tiong-tong.

"Sebetulnya hanya satu kelompok yang kecil pun sudah cukup untuk meledakkan batu itu, namun setelah terjadi ledakan, hancuran batu pasti akan berguguran kembali ke tanah, bahkan bisa jadi akan menyumbat jalan keluar itu. Nah, dalam keadaan begitulah kita mesti meledakkan bungkusan yang besar, agar batu yang menyumbat hancur berantakan."

Tidak lama kemudian Kaisar malam bekerja sama dengan Thiat Tiong-tong membuat sebuah celah di bawah batu raksasa itu, lalu dengan sangat hati-hati Kaisar malam memasukkan bubuk mesiu ke bawah lubang itu.

Sumbu pun mulai dipasang, menghubung­kan bungkusan berisi bubuk mesiu itu dengan sisi paling dalam liang gua itu.

Kaisar malam, Thiat Tiong-tong beserta kawanan gadis lain   segera memindahkan bungkusan bubuk mesiu yang lebih besar itu itu ke dalam gua.

Setelah membuat obor, Kaisar malam menyerahkan benda itu ke tangan Thiat Tiong-tong, katanya:

"Semuanya ini berkat jasamu, jadi kau saja yang menyulutnya."

"Baik!" sahut Thiat Tiong-tong girang, sambil memegang obor, diam-diam ia berdoa, "Thian, semoga kali ini berhasil dengan gemilang."

"Wesss!", ujung sumbu mulai disulut, api pun mulai menjalar membakar tali sumbu yang panjang itu.

Tidak jelas Kaisar malam menggunakan bahan apa untuk membuat tali sumbu itu, tapi jelas di dalamnya diisi bubuk mesiu, percikan bunga api segera menyebar kemana-mana.

Semua orang mengalihkan perhatiannya ke atas tali sumbu itu, mereka merasa di balik setiap kerdipan bunga api itu seolah mengandung kegembiraan yang tidak terkirakan, mengandung harapan yang tiada batasnya.

Ledakan dahsyat yang memekakkan telinga akhirnya berkumandang!

Sebenarnya suara ledakan itu merupakan saat yang paling dinantikan semua orang, paling diharapkan setiap penghuni gua itu, namun ledakan dahsyat yang memekakkan telinga tidak urung membuat mereka terkesiap, tercekat.

Biarpun beberapa nona itu telah menutup lubang telinga mereka dengan tangan, namun suara ledakan masih membuat gendang telinga mereka jadi kaku dan mendengung keras, bahkan untuk beberapa saat mereka seolah tidak bisa mendengar suara lain.

Gelombang getaran yang dahsyat ibarat gempa bumi yang menggetarkan jagad, dinding batu yang kokoh mulai bergoncang keras, hancuran batu, guguran pasir, hamburan debu menyelimuti seluruh ruangan, membuat mata siapa pun terasa pedas, tidak sanggup dibuka kembali.

Meja batu, bangku batu, semua peralatan yang tersedia....

Bahkan setiap benda yang diciptakan Kaisar malam dengan susah payah, setiap barang antik yang tidak ternilai harganya, bergetar, berjatuhan dan hancur berantakan.

Namun waktu itu, pada keadaan seperti itu, tidak seorang pun yang mau menggubris, mempedulikan hal-hal seperti itu.

Ketika getaran mulai mereda, di saat kabut abu mulai berkurang, berbondong-bondong semua orang berlari keluar, mereka ingin tahu bagaimana hasil ledakan itu, ingin secepatnya tahu apakah bongkahan batu raksasa itu sudah hancur berkeping.

Semakin ke ujung lorong, debu semakin bertambah tebal. Bahkan ketika tiba di titik ledakan, suasana terasa begitu gelap, kabur, membuat orang susah membuka mata, membuat mereka tidak mampu melihat dengan jelas benda yang berada di sekeliling situ.

Lewat sepeminuman teh kemudian, akhirnya hancuran batu dan debu mulai mereda... ketika melongok dari balik kabut, tampak bongkahan batu raksasa yang semula menyumbat jalan, kini sudah lenyap tidak berbekas.

Tidak tahan semua nona menjerit histerius, bersorak kegirangan.

"Berhasil, berhasil, akhirnya berhasil" gumam Kaisar malam dengan air mata berlinang.

Pengalaman yang diterima Kaisar malam selama ini memang banyak, namun belum pernah dia dihadapkan dalam suasana yang begitu mengharukan, rasa terharu, gembira, puas bercampur aduk menjadi satu, membuat dia seolah tak dapat mengendalikan emosinya lagi, membiarkan air matanyajatuh berlinang.

Begitu pula keadaan Thiat Tiong-tong waktu itu, terkejut, girang, puas bercampur aduk jadi satu, membuatnya hampir sesenggukan.

"Lihai, sungguh lihai...." gumamnya seperti orang kesurupan.

Bongkahan batu cadas sebesar dan sekeras itupun dapat dihancurkan, bisa dibayangkan apa jadinya bila digunakan terhadap manusia yang terdiri dari darah daging. Jika senjata sedahsyat ini digunakan dalam pertempuran, berapa banyak nyawa manusia yang harus melayang? Berapa banyak keluarga yang harus kehilangan anggotanya?

Semoga di dunia ini tidak pernah ada benda pemusnah semacam ini.

“Jika ada umat manusia yang menciptakan kembali benda laknat semacam ini, dia pasti akan menyesal setelah melihat hasil ciptaannya merenggut begitu banyak nyawa manusia, menghancur-leburkan begitu banyak keluarga,” dia berpikir.

Tapi kemudian pikirnya lebih lanjut, “Orang yang bisa menciptakan benda dahsyat semacam ini, dia pasti akan bermandikan uang, tapi di saat usianya telah lanjut, ketika rasa menyesal mulai limbul, dia pasti akan berusaha menggunakan hasil ciptaannya   untuk kesejahteraan orang banyak, namun apapun yang dia lakukan, belum cukup rasanya untuk menebus dosa dan kesalahan yang telah dilakukan terhadap umat manusia."

Apa yang diduga memang tepat sekali, apa yang kemudian terjadi sesuai dengan apa yang dia duga.

Di kemudian hari memang ada umat manusia yang berhasil menciptakan benda itu, orang itu akhirnya sangat menyesal, dia benar-benar melimpahkan seluruh kekayaannya untuk membangun kesejahteraan manusia.

Kalau dibilang menciptakan benda itu merupakan satu kejahatan, kenyataan benda itu telah mendatangkan banyak perubahan yang menguntungkan manusia, tapi kalau dibilang menciptakan benda itu merupakan tindakan benar, kenyataan nyawa manusia jadi begitu tidak berarti.

Ada kelebihan pasti ada kekurangan, siapa yang berani memvonis itu benar atau salah?

Thiat Tiong-tong sendiri pun tidak habis mengerti, kenapa pada saat dan situasi seperti ini dia bisa membayangkan persoalan yang tidak masuk akal, padahal keadaan tidak mengizinkan dia berpikir banyak.

Kantong bubuk mesiu kelompok kedua sudah diangkat datang, sudah dipendam di balik reruntuhan batu.

Untuk kedua kalinya semua orang mengundurkan diri.

Sumbu telah disulut, percikan bunga api kembali meletup, ledakan dahsyat kembali bergema, menciptakan getaran dan ledakan  yang menggidikkan hati.

Di tengah sorak-sorai gembira, kawanan nona itu kembali berlarian ke titik ledak.

"Tunggu sebentar," tiba-tiba Kaisar malam menghardik.

Dengan perasaan tertegun, kawanan nona itu berhenti.

"Apa lagi yang mesti ditunggu?" ada yang mulai bertanya.

Menanti suara ledakan telah reda, Kaisar malam baru berkata dengan suara dalam:

"Tidak ada gunanya kita keluar dalam keadaan begini, tidak ada yang bisa dilihat, apa salahnya kalau kita menunggu sejenak lagi."

Nada suaranya terdengar begitu tenang, damai, sayang kabut tebal masih menyelimuti ruangan, susah untuk melihat jelas bagaimana perubahan mimiknya saat itu.

Meski agak keheranan, ternyata kawanan gadis itu menurut juga, mentaati apa yang dia ucapkan.

Namun perasaan mereka sudah diliputi kegembiraan yang tidak terlukiskan, gejolak emosi yang tidak terkirakan, bahkan sampai akhirnya tubuh mereka mulai gemetar.

Semua penderitaan, siksaan segera akan berakhir, cahaya terang yang sudah lama mereka nantikan kini sudah muncul di depan mata, tapi... mereka harus menunggu lagi di situ, menanti....

Sebuah penantian yang begitu lama, sebuah penantian yang membuat orang panik, gelisah....

Lambat-laun debu dan kabut mulai menipis, Kaisar malam masih duduk tidak bergeming di situ.

"Harus menunggu lagi? Kenapa?" tidak tahan kawanan gadis itu bertanya.

"Makin lama kau menanti, makin besar kegembiraan yang akan kau nikmati," jawab Kaisar malam perlahan.

Walaupun dia berkata begitu, namun Thiat Tiong-tong dapat menebak perasaannya saat itu.

Perasaannya saat itu seperti seseorang yang sedang dihadapkan pada ujian berat, ujian yang sangat menentukan, ujian yang menentukan segalanya, dia seperti tidak percaya diri, dia merasa takut menghadapi kenyataan, takut menghadapi kegagalan, dia tidak berani menerima kenyataan seperti itu, maka selama bisa ditunda, dia ingin sekali menundanya lebih lama.

Dia memang tidak yakin akan berhasil dengan tindakannya ini, dia tidak yakin bisa menyingkirkan semua rintangan yang ada, dia takut gagal, dia sudah tidak sanggup lagi menghadapi pukulan batin sekecil apapun!

Sejujurnya, siapa pula yang sanggup menghadapi pukulan batin yang datang sekali lagi?

Pukulan batin yang mematikan, pada akhirnya tetap akan terjatuh ke tubuh sekawanan manusia apes, segelintir manusia tak beruntung.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Kaisar malam menghela napas panjang.

"Pergilah!" ujarnya lirih

Di tengah sorak-sorai, kawanan gadis itu berhamburan keluar, sementara Thiat Tiong-tong tetap menemani Kaisar malam, berjalan paling akhir.

Tampaknya kedua orang itu mempunyai pikiran yang sama, maka mereka berjalan sangat lambat... ketika tiba di titik ledakan, mereka jumpai kawanan gadis itu ternyata masih tetap di situ, hanya tidak seorang pun dalam kondisi berdiri.

Di antara mereka ada yang tidak sadarkan diri, ada pula yang berbaring di tanah sambil menangis tersedu-sedu.

Bongkahan batu besar telah hancur, jalan keluar pun sudah terbuka, tapi sayang Kaisar malam lupa memperhitungkan sesuatu, dia seperti lupa memperhitungkan daya ledak yang dimiliki bubuk mesiu ramuannya, dia pun tidak menyangka bubuk mesiu itu bisa menghasilkan ledakan sedemikian dahsyatnya.

Ketika terjadi ledakan pertama, dinding batu bagian atas sudah banyak yang merekah dan berguguran, ketika terjadi ledakan kedua, seluruh bongkahan batu besar itu hancur berantakan.

Tapi ledakan yang maha dahsyat itu ikut merobohkan seluruh dinding gua itu, berton-ton bongkahan batu seketika gugur dan longsor ke bawah, membuat mulut gua yang baru terbuka, kembali tersumbat.

Padahal mereka sudah tidak punya persediaan bubuk mesiu lagi.

Salah perhitungan yang dilakukan menda­tangkan pukulan mematikan yang telak! Semua harapan, semua kegembiraan seketika sirna tidak berbekas.

 

BAB 41

Perburuan di Padang Rumput.

 

Suara pekikan nyaring berkumandang di padang rumput.

Suara pekikan itu bergerak bagaikan larinya kuda jempolan, dalam sekejap mata sudah makin mendekat, para jago yang masih dicekam rasa ngeri, kembali dibuat bergidik, berdebar jantungnya sesudah mendengar pekikan nyaring itu.

Tanpa sadar Gi Beng mulai menggeser tubuhnya, bergerak mendekati Thiat Cing-su.

"Si... siapa itu?" bisik Thiat Cing-su dengan wajah berubah.

"Sssttt, tutup mulut, cepat tiarap bentak Im Gi cepat.

Belum selesai dia menegur, suara pekikan itu sudah tiba di atas kepala mereka.

Thiat Cing-su tidak sempat berpikir panjang lagi, cepat dia tarik tangan Gi Beng dan menjatuh­kan diri ke tanah, dengan menggunakan tubuhnya dia tindih badan Gi Beng.

Pada saat dan keadaan seperti itu, dia hanya berpendapat melindungi gadis yang berada di sampingnya merupakan tanggung jawab yang sepantasnya dia lakukan, tentang masalah perbedaan antara laki dan perempuan, dia sudah melupakannya.

"Weesss!", sesosok bayangan manusia, diiringi suara pekikan panjang melintas di atas kepalanya, menyusul kemudian "Weesss!", lagi-lagi sesosok bayangan manusia melintas.

Kedua orang itu, yang satu melarikan diri sementara yang lain mengejar, gerakan tubuh mereka cepat bagaikan sambaran petir, itulah sebabnya suara ujung baju mereka yang tersampuk angin menimbulkan suara lengkingan tajam yang menusuk pendengaran.

Walaupun Thiat Cing-su tidak sempat melihat gerakan tubuh kedua orang itu, namun cukup didengar dari ujung baju mereka yang tersampuk angin bisa diduga mereka adalah jago-jago silat dunia persilatan yang memiliki ilmu meringankan tubuh sangat tinggi.

Dalam pada itu meski Im Gi memerintahkan muridnya tiarap, dia sendiri justru masih tetap berdiri tegak, sama sekali tidak bergerak.

Sepasang kaki kedua sosok bayangan manusia itu nyaris menginjak kepalanya, namun jangankan memiringkan kepala, orang tua itu justru masih berdiri tegak sambil melotot besar.

Dengan cepat dia dapat mengenali kedua sosok bayangan manusia itu adalah Hong Lo-su yang sedang kabur dan Leng It-hong yang telah berubah jadi Dewa racun mengejar di belakangnya.

Menanti suara pekikan itu menjauh, Thiat Cing-su baru mendengar suara rintihan lirih berkumandang dari bawah tubuhnya, sekarang dia baru sadar badannya sedang menindih tubuh seorang gadis molek.

Kontan saja pipinya merah dan panas, jantungnya berdebar keras, buru-buru dia bangun terduduk, meski masih menundukkan kepala, tidak urung sorot matanya secara diam-diam melirik ke arah gadis yang berada di sisinya.

Gi Beng masih berbaring di atas tanah, bahunya bergoncang keras, dadanya naik turun dengan kerasnya, jelas jantungnya masih berdebar kencang, tidak jelas dia sedang jengah, mendongkol, keberatan atau memang tidak berani bangkit?

Thiat Cing-su sendiri pun merasa detak jantungnya berdebar sangat kencang, seolah-olah hendak menjebol dadanya dan melompat keluar.

Lewat sesaat kemudian, tidak tahan dia menyapa:

"Nona...."

"Ehmm...."

"Harap nona jangan marah," ujar pemuda itu tergagap, "barusan Cayhe hanya... hanya...."

Tiba-tiba Gi Beng bangkit berdiri, sahutnya sambil menundukkan kepala dan tertawa:

"Kau telah mempertaruhkan segalanya demi melindungi keselamatanku, masa aku marah padamu?"

Sesungguhnya dia adalah seorang gadis periang dan sangat terbuka, ketika secara tiba-tiba tubuhnya ditindih tubuh seorang pemuda yang gagah dan kekar, entah mengapa dalam hati justru muncul sebuah perasaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, dia tidak tahu apakah itu lantaran jengah atau perasaan lain? Sekarang meskipun dia telah berusaha berlagak seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu, tidak urung merah jengah juga pipinya, sepasang matanya yang bening bagaikan air di musim gugur tidak pernah terangkat kembali.

Walaupun kedua orang itu sama-sama tidak berani mendongakkan kepala, namun dengus napas mereka terdengar jelas, perasaan hangat dan manis sama-sama timbul dalam hati mereka berdua, apalagi Thiat Cing-su, dia merasakan hatinya kebat-kebit tidak keruan, sukmanya serasa melayang meninggalkan raga, nyaris terkesima dan dibuat bodoh....

Mendadak terdengar Im Gi membentak nyaring:

"Cing-su, angkat wajahmu!"

Thiat Cing-su terkesiap, sekarang dia baru teringat mereka masih berada di hadapan gurunya, dalam keadaan begini dia semakin tidak berani mengangkat wajah, hanya dengan suara gemetar jawabnya:

"Tecu berada di sini."

"Kau sudah lupa sekarang kita berada dimana? Dalam suasana apa?"

"Te... tecu tidak berani."

Im Gi mendengus dingin, sambil berpaling, kembali tegurnya:

"Nona Gi!"

Dengan kepala tertunduk rendah dan mempermainkan ujung bajunya, Gi Beng mengiakan.

Dengan suara berat Im Gi berkata lebih jauh:

"Setiap murid perguruan Tay ki bun memikul tanggung jawab  membalas dendam kesumat sedalam lautan, semangat juang mereka tidak boleh terkikis oleh cinta kasih muda-mudi."

"Aku... aku tahu."

"Kalau sudah tahu, kenapa kau belum pergi dari sini?" bentak Im Gi lebih jauh.

Gi Beng tertegun, sambil mengangkat wajah dia berseru:

"Tapi... tapi...."

"Tidak usah banyak bicara, cepat tinggalkan tempat ini!"

"Tapi... tapi saat ini mara bahaya sedang mengancam, masa kau ... kau orang tua tega membiarkan dia seorang gadis muda pergi begitu saja? Dia harus pergi kemana?" protes Thiat Cing-su.

"Kau anggap urusan pribadinya jauh lebih penting daripada membalas dendam kesumat perguruan kita?" bentak Im Gi semakin gusar.

"Tapi... baru saja dia nyaris

"Kau tidak usah bicara lagi," tukas Gi Beng sambil melompat bangun, "aku segera akan pergi. Biar cuma seorang gadis muda, sudah lama aku berkelana dalam dunia persilatan, masa kau kuatir aku bakal ditelan orang lain?"

Waktu itu pengaruh totokan jalan darahnya telah bebas, lambat-laun peredaran darah tubuhnya juga telah berjalan lancar, sekalipun gerakan tubuhnya masih belum lancar, paling tidak dia sudah mampu bangkit berdiri.

Im Gi sama sekali tidak berpaling, kembali serunya:

"Paling bagus memang begitu, sekarang cepat pergi dari sini!"

"Kalau aku sudah bilang akan pergi, aku pasti akan pergi."

Kelihatan sekali perasaan gadis itu penuh diliputi gejolak emosi, nada suaranya agak parau dan sesenggukan, setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dia berpaling lagi dan ujarnya sambil tertawa dingin:

"Sebelum pergi, ada beberapa persoalan ingin kutanyakan kepadamu"

"Cepat katakan!"

"Kau suruh aku meninggalkan tempat ini, memangnya kau takut aku akan merayu dan menggaet muridmu?"

Im Gi sama sekali tidak menyangka gadis yang dihadapinya begitu terbuka dan berani bicara blak-blakan, bahkan langsung menyodorkan pertanyaan yang terus terang kepadanya.

Untuk sejenak dia tertegun:

"Soal ini...."

"Hmm, kalau begitu kuberitahu padamu, meski cinta muda-mudi dapat mengikis semangat juang  seseorang, sebaliknya cinta pun  bisa membangkitkan semangat juang, memangnya kau anggap dengan menjadikan setiap murid perguruan Tay ki bun bagai Hwesio, maka mereka akan punya semangat untuk membalas dendam? Hmmm, keliru besar jika kau berpendapat begitu, ingat, tidak seorang manusia pun di dunia ini yang bisa mencegah muda-mudi bercinta."

"Tutup mulutmu!" hardik Im Gi gusar.

Gi Beng tidak peduli, ujarnya lebih lanjut:

"Apalagi sejak mula aku memang tidak pernah pandang sebelah mata terhadap anak murid perguruan Tay ki bun, sudah terlalu banyak perempuan yang disakiti hatinya oleh anggota perguruan Tay ki bun."

Kemudian setelah tertawa dingin, lanjutnya:

"Kalian bukan saja tidak tahu bagaimana harus melindungi anak bini sendiri, membiarkan anak bini sendiri dianiaya orang, disiksa orang, bahkan tindak-tanduk serta ulah sendiri pun mendatangkan banyak kesedihan buat mereka, terhitung Enghiong Hohan macam apa kalian itu? Hmmm, aku lihat dendam sakit hati ini lebih baik tidak usah dibalas, urus dulu anak bini sendiri, selamatkan dulu mereka sebelum memikirkan hal lain!"

Tidak terlukiskan rasa kaget dan gusar Im Gi setelah dicaci-maki seperti itu, mimpi pun dia tidak menyangka ada orang berani bicara semacam itu di hadapannya.

"Aku telah selesai berbicara dan sudah waktunya pergi," kata Gi Beng lebih lanjut, "coba pikirkan kembali perkataanku tadi dengan seksama!"

Tanpa berpaling lagi dia segera beranjak pergi dari situ.

Thiat Cing-su hanya mengawasi bayangan punggungnya dengan  termangu, dia ingin memanggil namun tidak berani.

Pada saat itulah suara pekikan aneh itu tiba-tiba berbalik lagi ke arah mereka.

Kali ini suara pekikan aneh itu datang jauh lebih cepat, bahkan jauh lebih menggetarkan sukma.

Mendadak tubuh Gi Beng terhuyung, lalu terjatuh ke tanah.

Thiat Cing-su tidak ambil peduli lagi, cepat dia menerkam ke depan, kali ini mereka berdua sudah bersiap, mereka ingin tahu siapa gerangan yang sedang melintas, maka walaupun menjatuh­kan diri ke tanah, mereka masih menyempatkan untuk berpaling.

Dua sosok bayangan manusia yang saling mengejar itu kembali melintas di atas kepala Im Gi, melintas bagaikan meteor saja, jika mereka melintas beberapa inci lebih ke bawah, niscaya batok kepala orang tua itu akan tertendang.

"Kenapa kau ... kau orang tua tidak tiarap?" seru Thiat Cing-su ketakutan.

"Binatang, memangnya kau lupa siapa gurumu dan apa kedudukanku dalam dunia persilatan?" seru Im Gi gusar, "kau sangka aku boleh sembarangan bertiarap? Hmmm, sebagai anggota perguruan Tay ki bun, aku lebih suka mampus...."

Mendadak suara pekikan aneh itu hilang tak berbekas, suasana di sekeliling tempat itupun kembali dicekam dalam keheningan yang luar biasa.

Keheningan ini muncul sangat mendadak, jauh lebih menggetarkan sukma dibanding ketika mendengar suara pekikan tadi, bahkan Im Gi sendiri pun mau tidak mau seketika menghentikan pembicaraannya dan tidak berani bersuara lagi.

Tidak lama kemudian terdengar suara Hong Lo-su yang parau tapi melengking tajam berkumandang lagi.

Terdengar dia membentak nyaring:

"Aku tahu kau sudah datang, kenapa tidak berani menampakkan diri? Aku percaya barang yang kau pinjam dariku pun sudah kau bawa, cepat kembalikan kepadaku... cepat...."

Suara itu bergema sebentar dari kiri sebentar dari kanan, sebentar dari belakang sebentar pula dari depan, jelas selama pembicaraan berlangsung, tubuhnya sama sekali tidak pernah berhenti bergerak.

Tiada jawaban, suasana tetap hening.

Kembali semua orang dibuat tercengang dan tidak habis mengerti, tanpa terasa pikirnya, “Siapa yang telah datang? Sebenarnya Hong Lo-su sedang berbicara dengan siapa?”

Setelah menunggu sesaat tanpa jawaban, akhirnya Hong Lo-su mulai mencaci-maki kalang-kabut.

"Dasar nenek sihir berhati busuk, kau bersembunyi dimana?" umpatnya gusar, "Lohu dikejar sampai hampir putus napas, kenapa kau belum juga menampakkan diri menolong aku? Memangnya kau si nenek busuk ingin melihat aku mampus? Agar kau bisa mengangkangi barang yang kau pinjam? Kau toh tahu, hanya 'dia' yang sanggup membendung si burung beracun itu!"

"Jangan-jangan yang sedang dimaki adalah Hoa Ji-nio?" gumam Im Gi tanpa terasa.

"Dari nada bicaranya, aku rasa bukan," ahut Gi Beng, "tapi bisa dipastikan orang yang jadi sasaran makiannya adalah seorang wanita, bahkan wanita itu pernah meminjam sebuah barang penting darinya."

Kini semua orang sedang dicekam perasaan ingin tahu, seakan mereka sudah melupakan ganjalan yang baru saja terjadi.

Im Gi termenung beberapa saat, kembali ujarnya:

"Benda apa di dunia ini yang bisa membendung Dewa racun?"

"Pertanyaan ini sulit rasanya untuk dijawab."

"Yang dimaksud 'dia' rasanya bukan barang, melainkan manusia," tiba-tiba Thiat Cing-su menyela.

"Ehmm, rasanya begitu...."

Tapi siapa di dunia saat ini yang sanggup membendung Dewa racun?" kata Im Gi dengan kening berkerut:

"Bila orang itu betul-betul memiliki kemampuan semacam itu, kenapa pula bisa saling pinjam oleh kedua orang itu?"

Semua orang berusaha menduga dan menebak, namun akhirnya tiada jawaban yang ditemukan.

Dalam pada itu suara makian telah bergeser ke sisi kiri.

"Sreeet!", terdengar desingan angin tajam bergema, Hong Lo-su telah melintas dari rerumputan di sisi mereka, sementara si Dewa racun Leng It-hong mengejar ketat di belakangnya.

Tapi anehnya, kini di belakang Dewa racun telah bertambah lagi dengan sesosok bayangan manusia.

Bayangan itu memiliki perawakan tubuh yang kecil mungil, namun kelihaian ilmu meringankan tubuhnya sungguh menggidikkan hati, dia menempel terus di belakang Dewa racun tanpa menimbulkan suara, walaupun jaraknya tidak kelewat jauh, ternyata Dewa racun tidak menyadari akan hal itu.

Tiga sosok bayangan manusia melintas dan lenyap kembali di balik rerumputan.

Im Gi termenung sejenak, lalu bisiknya:

"Jangan-jangan orang itu yang sedang dimaki Hong Lo-su?"

"Ehmm, kelihatannya orang itu mirip seorang wanita."

Berubah paras muka Im Gi.

"Perempuan di kolong langit, rasanya hanya satu orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh sangat tangguh, mungkin termasuk si Hujan gerimis Hoa Bu-soat pun belum tentu tidak dapat menandinginya."

"Siapa yang kau orang tua maksud?" tanya Thiat Cing-su agak tertarik.

"Si Sambaran petir Coh Sam-nio!"

Thiat Cing-su dan Gi Beng segera saling pandang, diam-diam  mereka menghembuskan napas dingin.

"Sekarang Angin, Hujan, Kilat dan Guntur, empat jagoan dari Bi lok hu telah muncul lengkap di sini, satu kejadian yang tidak akan dipercaya siapa pun," lanjut Im Gi dengan suara dalam.

Perlu diketahui, siapa pun dari Angin, Hujan, Kilat maupun Guntur yang menampakkan diri, kejadian itu sudah cukup menggetarkan seluruh dunia persilatan, apalagi sekarang mereka muncul berempat, muncul bersama-sama, jelas peristiwa semacam ini sangat menghebohkan.

Gi Beng segera bergumam:

"Waaah, dengan kehadiran mereka berempat, lembah ini bakal lebih ramai lagi, aaaai! Siapa pun dari mereka berempat sudah lebih dari cukup untuk memporak-porandakan tempat ini."

"Kalau begitu lebih baik... lebih baik kita pergi saja," ajak Thiat Cing-su tergagap, "dengan kehadiran mereka berempat di sini...."

Tapi setelah melirik Im Gi sekejap, dia segera menelan kembali perkataan yang belum sempat diucapkan.

Biarpun perkataan berikut tidak berani dia ucapkan, tapi orang lain pun bisa menebak apa yang hendak dia katakan:

"Dengan kehadiran mereka berempat, apa arti kepandaian silat yang kita miliki? Apa pula yang bisa kita lakukan?".

Tentu saja jika kungfu yang mereka miliki dibandingkan dengan kemampuan Coh Sam-nio berempat, boleh dibilang ibarat cahaya kunang-kunang dibandingkan dengan sinar rembulan.

"Betul," bisik Gi Beng, "mumpung saat ini mereka sedang cakar, kenapa kita tidak segera meloloskan diri? Andai...."

"Jangan mengungkit soal pergi lagi!" tukas Im Gi tiba-tiba dengan penuh amarah.

"Tapi meski tidak pergi, apa...."

"Saat ini mereka sedang gontok-gontokan, bisa dipastikan   tidak sempat buat mereka memperhatikan urusan orang lain, inilah kesempatan paling baik buat kita untuk bertindak."

"Bertindak?" Gi Beng mengedipkan mata.

"Betul, bertindak! Aku yakin orang-orang Ngo-hok-beng pasti sedang bersembunyi di balik padang rumput ini, tadi mereka kabur terbirit birit, berarti saat ini belum sempat berkumpul jadi satu."

"Betul, kawanan manusia itu merupakan kelompok manusia busuk yang takut mampus," Gi Beng manggut-manggut, "dalam keadaan seperti ini mereka pasti tidak berani sembarangan bergerak, mereka pun belum tentu akan berkumpul jadi satu di tempat yang sama."

Mendengar nona itu ikut mengumpat musuh besarnya, tanpa   terasa timbul perasaan simpati Im Gi terhadapnya, setelah melirik sekejap, katanya sambil tertawa:

"Betul sekali, inilah saat mereka berada dalam kondisi tercerai-berai, saat paling tepat buat kita untuk menggempurnya, bila ada di antara mereka yang bertemu Lohu, itulah saat orang itu harus mampus, akan kubuat mereka ketemu satu mati satu, ketemu dua mampus sepasang!"

"Bagus sekali!" sorak Gi Beng sambil bertepuk tangan, "tinggalkan Suto Siau si bajingan mogor itu untukku."

"Bagus, kebetulan Lohu memang ingin menyaksikan kehebatan tujuh pedang pelangi!"

Melihat hubungan antar kedua orang itu telah berjalan normal kembali, diam-diam Thiat Cing-su merasa girang, tapi setelah melirik Im Gi sekejap, keningnya kembali berkerut. Ujarnya tergagap:

"Tapi kekuatan kau orang tua...."

"Melihat batok kepala musuh sudah berada di depan mata golok, semua racun yang mengeram di tubuh Lohu lenyap tidak berbekas," kata Im Gi dengan suara berat, "yang tersisa sekarang hanya rasa dahaga, haus untuk menghirup darah segar mereka."

"Dibandingkan arak tua yang berusia ratusan tahun pun, darah segar musuh pasti lebih mantap," sambung Gi Beng sambil tertawa.

"Anak pintar, ternyata kau mengerti sekali soal seleraku."

"Tapi barusan aku sempat memakimu!"

"Huuh, apalah arti makian, hanya orang berjiwa terbuka yang berani memaki orang tanpa tedeng aling-aling, jauh lebih bagus ketimbang mereka yang tahunya mengikut, menurut, segala mengiakan, seperti orang yang tidak punya pendirian saja, ayo, jalan!"

Tanpa membuang waktu dia segera beranjak pergi dari situ dengan langkah lebar.

Mengawasi bayangan punggungnya yang menjauh, diam-diam Gi Beng menjulurkan lidah, kemudian sambil berpaling ke arah Thiat Cing-su, bisiknya sambil tertawa:

"Orang tua ini betul-betul manusia aneh, kalau dia sudah tidak senang denganmu, segala perbuatanmu dianggapnya salah, tapi begitu dia merasa cocok denganmu, biar dimaki pun tidak jadi masalah."

"Jangan-jangan umpatanmu tadi sangat mengena, kalau tidak...."

"Kalau tidak kenapa?"

Thiat Cing-su menghela napas panjang, bisiknya:

"Kalau tidak, mungkin aku tidak bisa bertemu lagi denganmu."

"Apa... apa hubungannya denganku?" paras muka Gi Beng kontan bersemu merah.

"Mungkin buatmu tidak masalah, tapi sangat bermasalah bagiku," bisik Thiat Cing-su sambil menundukkan kepala.

Beberapa patah kata itu diucapkan tanpa sadar, apa yang diungkapkan pun merupakan pengakuan yang paling jujur dari sanubarinya.

Perlu diketahui, bila orang berada dalam posisi senasib, biasanya saat seperti itulah paling gampang mengungkap perasaan hati dengan sejujurnya, tidak kecuali Thiat Cing-su dan Gi Beng waktu itu.

Tanpa terasa Gi Beng melirik sekejap ke arahnya, menyaksikan ketulusan dan keseriusan pemuda itu, tanpa terasa dia pun ikut mengutarakan perkataan yang seharusnya enggan diucapkan.

"Kemudian bisiknya dengan lembut, "padahal aku pun merasa ikut bersalah."

Begitu selesai bicara, bagaikan sedang terbang saja dia langsung meluncur maju ke depan.

Tidak terlukiskan rasa gembira Thiat Cing-su setelah mendengar perkataan itu, dia merasa tubuhnya seolah berubah lebih enteng, cepat dia menyusul di belakangnya dengan ketat, atas semua bencana dan mara bahaya yang mengancam di depan mata pun dia merasa seolah sudah lupa.

Im Gi bergerak lebih dulu paling depan, terhadap pembicaraan yang dilakukan sepasang muda-mudi itu dia seolah sama sekali tidak mendengar, bahkan berpaling pun tidak.

Semenjak bertemu Un Tay-tay dan Gi Beng... sejak mendengar berita kematian Thiat Tiong-tong dan Im Ceng, watak orang tua ini seakan benar-benar telah tejadi perubahan, perubahan yang amat drastis.

Berlarian di tengah padang rumput sesungguhnya merupakan tindakan yang berba­haya, karena tidak gampang menghindari pengamatan orang lain, masih untung waktu itu Hong Lo-su sedang saling kejar sehingga banyak membantu kelancaran gerak ketiga orang itu.

Mendadak terlihat cahaya tajam berkilat, sebilah pedang tahu-tahu menusuk keluar dari balik rerumputan langsung mengancam dada Im Gi, serangan itu datang sangat cepat, ganas dan sama sekali tidak menimbulkan suara.

"Ternyata datang juga!" bentak Im Gi nyaring. Kelihatannya dia sudah membuat persiap­an, walaupun tusukan pedang itu muncul secara tiba-tiba, meski serangannya ganas dan telengas, namun bagi Ciang bunjin Thiat hiat tay ki bun ini, erangan itu sama sekali tidak dipandang sebelah mata pun.

Tampak dia menekuk pinggangnya ke samping, tahu-tahu tusukan itu sudah menyambar lewat di sampingnya, menyusul dia pentang kesepuluh jari tangannya yang tajam bagai kaitan dan langsung mencengkeram pergelangan tangan lawan yang menggenggam pedang.

“Bajingan busuk, hebat juga kau," bentak orang di balik rerumputan gusar.

Tampak seseorang menerjang keluar dari tempat persembunyiannya sambil memutar pedang dengan kalap, ternyata dia adalah Gi Teng.

Dengan perasaan terkejut bercampur girang, Gi Beng segera berseru:

"Im-locianpwe, ampuni jiwanya!" Im Gi tertegun, cepat dia menarik kembali serangannya sambil mundur.

Gi Teng menarik pula pedangnya sambil melompat mundur, untuk sesaat dia pun hanya berdiri tertegun dengan mata terbelalak.

Ketika kakak beradik saling bertemu, tidak terlukiskan rasa terkejut dan gembira mereka berdua.

Sun Siau-kiau yang mengintil di belakang Gi Teng segera berseru pula:

"Adikku, ternyata kau, hampir saja kami mengalami bencana besar, betul-betul air bah menghanyutkan kuil raja naga."

Tiba-tiba terdengar seseorang berseru pula dari balik rerumputan, berkata sambil tertawa ringan:

"Sun Siau-kiau, saudara Gi, kenapa kalian kabur? Memangnya aku benar-benar akan mencelakai kalian? Cepat kemari, cepat kemari, asal kita berkumpul, makin banyak jumlahnya semakin enak cara kerjanya."

Perkataan itu disampaikan dengan suara rendah dan perlahan, jelas cara kerja orang itu amat teliti dan berhati-hati.

"Su...." berubah hebat paras muka Gi Beng. Baru saja dia mengucapkan sepatah kata, mulutnya sudah dibekap Gi Teng.

"Betul," bisik Sun Siau-kiau di samping telinganya, "dia memang Suto Siau, sewaktu aku bersama kakakmu berusaha menyusup masuk ke dalam padang rumput, kami telah bertemu dengan ketiga orang bajingan tengik itu, ternyata dia... dia tidak mempedulikan hubungan di masa lalu...."

Ketika bicara sampai di situ, tiba-tiba dia bungkam, paras mukanya berubah merah jengah.

Terpaksa Gi Beng berlagak seolah tidak paham, katanya lirih:

"Kebetulan sekali kedatangan kalian."

Sementara itu Im Gi dengan sinar mata berkilat dan wajah diliputi napsu membunuh telah berkata:

"Pancing mereka kemari."

Beberapa orang itu bukan manusia bodoh, begitu mendengar perkataan itu, Gi Beng dan Thiat Cing-su segera mengikuti Im Gi membaringkan diri bersembunyi, sementara Gi Teng dengan pedang terhunus bersiap sedia.

Dengan cepat Sun Siau-kiau menghampiri Suto Siau, serunya manja:

"Kau sungguh tidak akan mencelakaiku?"

"Tentu saja sungguh," sahut Suto Siau sambil tertawa, "dimana mereka sekarang?"

"Ada di sini, masa kalian belum men­dengar?"

"Baiklah, kali ini kalian jangan kabur secara sembarangan, apa yang kucapkan tadi tidak lebih hanya mengajak kalian bergurau saja.."

Belum habis perkataan itu berkumandang, Suto Siau, Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu telah menyusup tiba, mereka langsung mengurung Sun Siau-kiau dan Gi Teng di tengah arena.

Paras muka mereka sama sekali tidak dihiasi senyuman, apalagi wajah Suto Siau, dia nampak dingin, kaku bagaikan bongkahan salju, seakan perkataan yang barusan diucapkan bukan berasal dari mulutnya.

"Akhirnya kalian tertipu juga," kata Pek Seng-bu ketus.

"Akan kulihat, kali ini kalian akan kabur kemana lagi?" sambung Hek Seng-thian.

Sun Siau-kiau pura-pura terkejut, jeritnya tergagap:

"Mau apa... mau apa kalian?"

"Tidak mau apa-apa, hanya ingin mencabut nyawa kalian berdua," kata Suto Siau perlahan.

"Apakah kau... kau sedang bergurau?"

Suto Siau tertawa dingin.

"Dalam keadaan begini, siapa yang punya selera mengajak kalian bergurau? Hek-heng, Pek-heng, kenapa tidak segera turun tangan? Mau menunggu sampai kapan lagi?"

"Tunggu sebentar!" bentak Sun Siau-kiau cepat.

"Apa lagi yang ingin kau katakan?" jengek Pek Seng-bu dingin.

"Kedatangan tujuh pedang pelangi khusus untuk membantu kalian, kenapa kalian malah......”

"Hmmm, tujuh pedang pelangi hanya sekelompok manusia yang pagar makan tanaman," ujar Suto Siau sambil tertawa dingin, "sudah lama aku berniat membasmi kalian, kini saatnya sangat tepat, inilah kesempatan emas yang diberikan Thian kepadaku."

"Tapi... tapi... masa kau sudah mengabaikan hubungan lama kita....”

"Tutup mulut!" tukas Suto Siau gusar.

Sun Siau-kiau tertawa terkekeh.

"Sekarang aku mengerti," katanya, "ternyata kau memang berniat membungkam mulutku untuk selamanya, karena itu timbul niat untuk menghabisi nyawaku, dasar bajingan tengik berhati busuk, kau memang pantas mampus."

"Kalau memang begitu, mau apa kau? Mulutmu yang banyak bicara memang sudah waktunya untuk dibungkam selamanya," kata Suto Siau sambil tertawa seram.

"Memang sudah waktunya untuk tutup mulut, cuma ada satu persoalan perlu kusampai­kan."

"Soal apa?"

"Belalang menubruk tonggeret, burung nuri mengintai dari belakang. Masa kau lupa dengan perkataan ini? Kalau kurang percaya, tidak ada salahnya berpaling dan periksa sendiri, coba lihat siapa sajayangberdiri di belakangmu?"

"Hahaha, kau pun ingin membohongi aku dengan permainan anak-anak semacam itu?" Suto Siau tertawa tergelak.

Ketiga orang itu benar-benar licik dan banyak akal muslihat, ternyata tidak seorang pun yang bersedia berpaling.

Serentak mereka bertiga tertawa terbahak-bahak, katanya:

"Kami tidak bakal menoleh, dan kau pun jangan harap bisa kabur...."

Belum selesai mereka tertawa, tiba-tiba dari belakang tubuh terdengar seseorang berkata dingin:

"Lebih baik kalian berpaling." Begitu ucapan itu berkumandang, tanpa berpaling pun mereka tahu siapa gerangan yang berada di belakang, tidak tahan hawa dingin seketika muncul dari tulang belakang dan bulu kuduk pun berdiri.

Suto Siau berdehem berulang kali, kemudian ujarnya sambil tertawa paksa:

"Bagus sekali, kebetulan sekali, ternyata kita bersua kembali."

"Betul, sangat kebetulan kita bisa bersua lagi...." ujar Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu pula sambil tertawa paksa.

Sementara berbicara, tubuh mereka secara diam-diam bergeser ke samping dan berusaha pindah ke arah lain.

"Berhenti!" bentak Im Gi nyaring.

"Kau tidak usah kuatir, sekalipun kau tidak datang mencari kami, kami tetap akan mencarimu, setelah saling berjumpa, kenapa kami mesti menyingkir?"

"Kalau begitu, balik tubuhmu, mari kita berduel sampai mati."

Suto Siau memandang sekeliling tempat itu sekejap, lalu ejeknya dengan licik:

"Kalian berlima sementara kami bertiga, dengan lima lawan tiga pihak kalian ingin meraih kemenangan dengan jumlah banyak, hehehe ... masa orang perguruan Tay ki bun akan berbuat begitu?"

"Buat apa membicarakan peraturan dunia persilatan dengan bajingan tidak tahu malu macam kalian," hardik Gi Beng gusar, "Enci Sun, mari kita bersama-sama meringkus dan menghabisi nyawa anjingtuaini!"

"Memang sejak lama aku ingin menjagal bajingan tua ini."

Serentak kedua orang itu merangsek ke muka, satu di depan dan yang lain dari belakang, langsung menyerang Suto Siau dengan garang.

Gi Teng mengayunkan pedangnya ikut menusuk Pek Seng-bu, sedang Thiat Cing-su setelah sangsi sejenak akhirnya ikut menerjang maju, secara beruntun dia melancarkan tiga serangan berantai sambil berteriak:

"Heng-tay, aku datang membantumu."

"Hahaha, bagus! Bagus sekali!" seru Hek Seng-thian sambil mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, "tinggalkan ketua pergu­ruan Tay ki bun ini untukku!"

Meskipun gelak tertawanya amat nyaring, namun dapat terdengar suara tawanya agak gemetar.

"Kau masih belum mau membalikkan badan?" tegur Im Gi.

"Cepat atau lambat toh pasti akan bertarung juga, buat apa kau terburu napsu?"

Perlu diketahui, walaupun jawabannya masih ketus dan keras, namun hatinya sudah mengkeret, rasa takut yang luar biasa telah mencekam hatinya, dia sadar, begitu berpaling maka pertarungan mati hidup segera akan berlangsung, bayangkan saja, mana mungkin dia berani cepat-cepat berpaling?

"Hmm, kau anggap tanpa berpaling lantas Lohu tidak berani menyerangmu?" tegur Im Gi lantang.

"Ma... masakah Ciangbunjin perguruan Tay ki bun akan membokong orang dari belakang" sahut Hek Seng-thian, tapi belum selesai dia berkata, tahu-tahu pandangan matanya kabur dan Im Gi sudah berdiri tegak persis di hadapannya.

"Hehehe, kau tidak berani berpaling, memangnya Lohu tidak bisa muncul sendiri di hadapanmu? Ayo, cepat bertarung," terdengar Im Gi tertawa seram, sebuah pukulan dahsyat langsung dilontarkan ke arah dadanya.

Belum lagi bertarung, Hek Seng-thian sudah ciut hatinya, apalagi menghadapi serangan yang begitu dahsyat dengan kekuatan yang menggetarkan sukma, lima gebrakan kemudian dia sudah bermandikan keringat dingin.

Di pihak lain, walaupun Suto Siau harus seorang diri melawan Sun Siau-kiau dan Gi Beng, namun pertarungan masih berjalan seimbang, justru posisi Pek Seng-bu yang paling berbahaya, dia sudah terdesak hebat hingga berulang kali harus menghadapi situasi yang amat berbahaya, panik dan takut membuat dia bermandikan peluh dingin.

Cahaya pedang, angin pukulan, tenaga serangan menggetarkan sekeliling tempat itu, membuat rerumputan tumbang tidak keruan, terpapas kutung sebagian dan beterbangan di angkasa, ada di antaranya yang terbang dan melekat di wajah Suto Siau sekalian yang berkeringat, ada pula yang beterbangan di seputar tubuh mereka yang sedang bertarung, membuat orang-orang itu nampak amat mengenaskan.

Melihat ketiga orang musuh besarnya yang paling dibenci sudah tercecar hebat dan hampir kehilangan nyawa, Im Gi merasa semangatnya semakin berkobar, makin bertarung dia pun semakin perkasa.

Tampak jenggot panjangnya berkibar terhembus angin, sepasang kepalannya melepas­kan pukulan bagai hujan badai, angin pukulan yang menderu-deru ibarat tindihan bukit karang yang berat, membuat Hek Seng-thian susah bernapas, membuat ia terengah-engah.

"Sungguh memuaskan! Sungguh meng­gembirakan tidak tahan Im Gi berseru sambil tertawa nyaring.

Jika ketiga orang itu mampus, berarti persekutuan Ngo hok beng ikut tumbang, rasa benci dan dendam kesumat yang sudah tersimpan selama puluhan tahun pun akhirnya bisa terlampiaskan, dalam kondisi seperti ini, tentu saja dia merasa sangat puas dan gembira.

"Hmm, apa yang kau gembirakan?" tiba-tiba Suto Siau menjengek sambil tertawa dingin, "sekalipun hari ini aku Suto Siau bakal mampus, toh bukan mati di tangan anggota perguruan Tay ki bun, siapa bilang dendam kesumatmu sudah terbalaskan?"

Im Gi melengak, tapi segera teriaknya gusar:

"Kau...."

Sebelum dia melanjutkan perkataannya, Gi Beng sudah menyela lebih dulu, "Siapa bilang kau bukan mampus di tangan anggota perguruan Tay ki bun?"

"Hehehe, memangnya kau anggota pergu­ruan Tay ki bun?" ejek Suto Siau sambil tertawa dingin.

"Siapa bilang bukan!"

Kontan Suto Siau mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Pelacur cilik, sejak kapan kau jadi anggota perguruan Tay ki bun?" jengeknya, "kecuali dalam waktu relatif singkat, kau menjadi bini si bocah dungu perguruan Tay ki bun."

Walaupun saat itu Thiat Cing-su sedang bertempur melawan musuh, namun semua pembicaraan dapat didengarnya dengan jelas.

Dalam gusarnya dia siap melontarkan umpatan, namun Gi Beng sudah berkata lebih dulu:

"Dugaanmu tepat sekali, aku memang sudah menikah dengan murid perguruan Tay ki bun, itulah sebabnya sekarang aku pun terhitung anggota perguruan Tay ki bun,  apa lagi yang hendak kau ucapkan? Serahkan nyawa anjingmu!"

Begitu perkataan itu diutarakan, Suto Siau kontan melengak, sementara Im Gi merasa terkejut bercampur kegirangan.

Rasa girang dan kaget yang dialami Thiat Cing-su pun tidak terlukiskan dengan perkataan.

Gi Teng mula-mula tertegun, kemudian dengan perasaan girang serunya:

"Kionghi, kionghi...."

"Terima kasih," sahut Thiat Cing-su dengan wajah memerah.

Tanpa terasa semangat kedua orang pemuda itupun makin berkobar, tiga gebrakan kemudian Pek Seng-bu sudah tercecar hebat hingga napasnya tersengal-sengal.

Di pihak lain Suto Siau juga berhasil didesak Gi Beng hingga mulai menunjukkan tanda terdesak.

Posisi Hek Seng-thian yang paling gawat, dia sudah tercecar hebat dan terjerumus dalam posisi bahaya.

Andai ketiga tonggak utama persekutuan Ngo hok beng ini tumbang, niscaya kekuatan persekutuan itupun akan hancur berantakan.

Di saat yang amat kritis itulah sekonyong-konyong terlihat sesosok bayangan manusia meluncur datang.

Padahal sebelum munculnya bayangan manusia itu, suara bentakan dan umpatan mereka sudah berkumandang lebih dulu, hanya sayang beberapa orang itu sedang asyik terlibat dalam pertarungan seru sehingga siapa pun tidak mendengar kedatangan mereka.

Bayangan manusia itu tidak lain adalah Hong Lo-su, ketika melintas di sana, dia segera melihat pertarungan yang sedang berlangsung, tiba-tiba tubuhnya berjumpalitan di udara, lalu dengan cepat meluncur ke arah Im Gi.

Dalam terkesiapnya, buru-buru Im Gi melepaskan sebuah pukulan, siapa tahu Hong Lo-su menggeser kakinya ke samping dan secepat kilat berputar ke belakang tubuhnya, mengguna-kan kesempatan itu dia mendorong tubuh lawan-nya ke depan.

Im Gi terkejut, cepat dia melejit ke tengah udara dan berusaha menghindari dorongan yang datang dari belakang.

Pada saat bersamaan Dewa racun telah mengejar tiba, karena Im Gi melejit ke udara, maka tindakan ini sama artinya dia menyongsong kedatangannya, menanti sadar akan mara bahaya yang mengancam dan berusaha menghindar, keadaan sudah terlambat.

Tampak Dewa racun menyodokkan tangannya ke depan mengarah dada lawan, dalam posisi begini Im Gi tidak sanggup menghindar lagi.

Gi Teng, Gi Beng maupun Thiat Cing-su terkesiap melihat kejadian itu, cepat mereka tinggalkan lawan masing-masing sambil menerjang ke depan, tapi siapa di antara mereka yang mampu membendung pukulan maut Dewa racun?

Untunglah di saat yang amat kritis, kembali terlihat bayangan manusia berkelebat lewat, rupanya bayangan manusia yang berada di belakang Dewa racun telah melampaui tubuhnya dan mendorong tubuh Im Gi ke samping.

Gerakan itu kelihatannya saja amat gampang dan sederhana, padahal tanpa ilmu meringankan tubuh yang sempurna, jangan harap orang lain bisa melakukannya.

Terdengar Hong Lo-su mengumpat dengan rasa kaget:

"Perempuan sialan, ternyata selama ini kau mengintil terus di belakangku."

Kini di hadapan Dewa racun tidak ada penghalang lagi, dia pun kembali mengejar Hong Lo-su.

Dalam kondisi demikian, Hong Lo-su tidak sempat lagi memaki lebih jauh, buru-buru dia melejit ke udara dan kembali melarikan diri.

Dewa racun pun segera mengejar kembali dari belakang.

Baru saja Im Gi meluncur turun ke atas tanah, dia segera mendengar suara tertawa ringan seorang wanita sambil berseru:

"Akulah yang telah menyelamatkan nyawa­mu, jangan lupa hal ini."

Baru saja ucapan itu bergema, tubuh perempuan itu kembali meluncur ke depan, bahkan suara tawanya berasal dari sana.

"Coh Sam-nio, tunggu sebentar," teriak Im Gi, "bukankah kau adalah Coh Sam-nio?"

Waktu itu bayangan manusia tadi sudah lenyap di balik rerumputan, tapi terdengar suara yang halus dan lembut, diiringi suara tertawa ringan bergema dari kejauhan sana:

"Benar, aku memang Coh Sam-nio."

Im Gi mencoba memandang ke tempat jauh, namun tidak melihat apa-apa.

Dalam pada itu Gi Beng, Gi Teng, Thiat Cing-su serta Sun Siau-kiau sudah mengerubung datang sambil bertanya:

"Kau orang tua tidak apa-apa bukan?"

Im Gi menghela napas panjang, sahutnya dengan gegetun:

"Biarpun aku tidak kekurangan sesuatu apapun, tapi bagaimana caraku membayar budi pertolongan ini?"

Setelah berhenti sejenak, sambil menengok sekitar sana, tiba-tiba serunya lagi dengan wajah berubah:

"Celaka!"

Ketika semua orang ikut berpaling, mereka baru tahu Suto Siau, Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu telah memanfaatkan kesempatan ketika terjadi kekalutan tadi untuk melarikan diri.

Keadaan Gi Beng dan Gi Teng masih agak mending, Im Gi serta Thiat Cing-su justru merasa gusar, kaget, kecewa serta perasaan campur aduk lain yang susah dilukiskan dengan perkataan.

"Kejar!" bentak Im Gi kemudian dengan wajah memerah, merah karena marah.

Dengan Im Gi dan Thiat Cing-su berjalan paling depan, Gi Beng serta Gi Teng melakukan perlindungan dari kedua sisi dan Sun Siau-kiau berada di barisan paling belakang, berangkatlah kelima orang itu untuk melakukan pengejaran, bergerak dalam formasi kipas.

Anggota perguruan Tay ki bun memang tidak malu disebut Hohan berhati tegar bersemangat baja, walaupun berada dalam kondisi gusar bercampur kecewa, ternyata gerak-gerik mereka tetap tidak gegabah.

Berada di padang rumput yang luas dan lebat, posisi pemburu serta mereka yang diburu sama sekali tidak ada bedanya, siapa pun di antara mereka berani bertindak ceroboh, niscaya akan mengalami celaka di tangan lawan.

Pekikan aneh serta umpatan gusar Hong Lo-su masih bergema tiada hentinya, kelihatannya permainan petak umpetnya dengan Coh Sam-nio masih berlangsung seru, namun sayang dia tidak mampu berbuat banyak.

Yang membuat semua orang tercengang adalah teriakan serta umpatannya yang begitu keras dan nyaring kenapa tidak memancing kemunculan si Hujan gerimis Hoa Bu-soat serta Siang-tok Thaysu?

Kemana perginya kedua orang jago silat itu? Apa yang sedang mereka lakukan?

Sebenarnya persoalan ini patut dicurigai dan perlu dibahas lebih mendalam, tapi sayang Im Gi sekalian sedang dibakar api dendam dan amarah yang tidak terlukiskan, kobaran api amarah dan dendam itu membuat mereka seolah melupakan segalanya.

Gi Beng berjalan di sisi Thiat Cing-su, berulang kali mereka saling pandang dengan mesra, kerlingan demi kerlingan membuat wajah mereka memerah dan buru-buru melengos ke arah lain.

Didera api dendam dan api asmara yang sama-sama membara, pemuda yang baru pertama kali terjun ke dunia persilatan ini benar-benar sangat menderita dan tersiksa.

Mendadak Im Gi berjongkok dengan gerakan cepat.

Walaupun orang lain tidak mendengar suara apapun, tidak pula melihat sesuatu, namun Im Gi adalah pemimpin mereka, melihat sang pemimpin berjongkok, otomatis orang lain pun serentak ikut berjongkok.

Terdengar Im Gi berbisik dengan suara lirih:

"Hati-hati, di depan sana ada jejak musuh."

Suara itu sangat lirih, biarpun Gi Beng, Gi Teng serta Sun Siau-kiau tidak mendengar dengan jelas, namun tanpa mendengar pun mereka dapat menebak apa yang terjadi, kontan jantung mereka berdebar keras.

Dengan perasaan dag-dig-dug, mereka mulai bergerak ke depan, bergerak dengan merangkak.

Sebenarnya posisi mereka saat ini sebagai pemburu atau yang diburu? Mereka sedang mengurung orang lain sebagai buruan, atau justru sedang bergerak masuk ke dalam perangkap lawan? Mereka tidak tahu, mereka pun tidak jelas posisi sendiri, bahkan tidak seorang pun berani berpikir ke situ.

Dalam kondisi yang serba tidak jelas dan penuh kontradiksi ini, semua orang merasa ketegangan perasaan mereka sudah mencapai puncaknya.

Akhirnya terdengar suara manusia bergema dari balik rerumputan, meski tidak keras namun sudah lebih dari cukup membuat semua orang merasa terkesiap.

Terdengar salah seorang di antaranya menjerit:

"Seng Toa-nio, kau benar-benar ingin bermusuhan denganku?"

"Tepat sekali, aku memang ingin bermusuhan denganmu," jawab seorang wanita dengan suara aneh.

Im Gi dapat mengenali suara orang terakhir adalah suara Seng Toa-nio, sedang suara orang pertama meski tidak dikenalnya, namun bisa diduga orang itupun berasal satu kelompok dengannya.

Im Gi mulai mengertak gigi, wajahnya mulai mengejang kencang, emosi dan rasa dendam membuatnya nyaris tak kuasa mengendalikan diri.

Musuh besar berada di depan mata, seharusnya dia menerjang maju dan membunuh­nya, tapi ingatan lain segera melintas, bukan saja dia berjongkok makin  rendah,  bahkan  gerak-gerik serta tindak-tanduknya makin berhati-hati.

Ketika orang tua itu tidak bergerak, dengan sendirinya semua orang semakin tidak berani bertindak gegabah.

Kini Im Gi benar-benar sudah bertiarap di tanah, dia mencoba mengintip dari sela-sela rerumputan yang lebat.

Seorang pemuda berwajah tampan tapi penuh kelicikan duduk di sana, tangan kanannya menggenggam pedang sementara tangan kirinya membopong tubuh seorang gadis.

Gadis itu berbaring membujur di situ, rambutnya yang panjang berwarna hitam terkulai di atas tanah, meski dadanya naik turun namun berada dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Seng Toa-nio berada lebih kurang lima kaki di depan mereka, rerumputan yang memisahkan mereka pun kelihatan sudah hampir rata karena terinjak-injak, kelihatannya di tempat itu pernah terjadi pertarungan yang amat sengit.

Perempuan tua itu menggenggam toya baja di tangan kanannya dan membopong seorang gadis di tangan kirinya, gadis itu berada dalam keadaan tudak sadar, ternyata dia tidak lain adalah Im Ting-ting.

Seng Cun-hau pun belum mendusin, dia masih berbaring di sampingnya, tapi di sisi Seng Cun-hau berbaring pula seseorang yang lain, orang itu berambut putih dan berjenggot panjang.

Im Gi tidak perlu melirik untuk kedua kalinya karena dia segera mengenalinya sebagai Im Kiu-siau.

Begitu pemandangan itu melintas di depan mata Im Gi, mencorong sinar merah dari mata orang tua itu.

Kini saudara serta putri kesayangannya sudah terjatuh ke tangan musuh besarnya dan sama sekali tidak berkutik, bagaimana mungkin orang tua ini berani bertindak gegabah meski rasa gusar dan sedih telah mencekam benaknya?

Thiat Cing-su, Gi Beng serta Gi Teng pun telah menyaksikan hal itu, mereka ikut kaget, gusar dan berubah hebat wajahnya.

Yang dikuatirkan Gi Beng dan Gi Teng adalah keselamatan Sui Leng-kong, sementara yang dikuatirkan anggota perguruan Tay ki bun adalah paman serta keponakannya, walaupun sasarannya beda, namun kecemasan dan rasa panik yang mereka alami tidak jauh berbeda.

Terdengar pemuda licik itu, Sim Sin-pek, berkata:

"Tadi kita masih sempat bekerja sama membekuk tuan muda anggota perguruan Tay ki bun, masa sekarang sudah berganti memusuhi kami?"'

"Hmm, lain tadi lain sekarang, masa kau tidak paham perkataan itu?" ujar Seng Toa-nio sambil tertawa dingin, "cukup melihat sikapmu yang tidak sopan, tidak tahu membedakan mana lebih tua mana lebih muda dan seenaknya membahasakan kau-aku, sudah cukup beralasan bagiku untuk mencabut nyawa anjingmu."

"Kau... kau juga melupakan persekutuan Ngo hok beng?"

"Betul, gara-gara urusan ini maka sampai sekarang aku belum juga turun tangan, asal kau bersedia melepaskan gadis itu, aku akan segera memberi jalan hidup untukmu."

"Perempuan itu adalah musuh besar kita bersama, kenapa kau ...." paras muka Sim Sin-pek berubah hebat.

"Binatang, kau sangka aku tidak dapat menebak pikiran busukmu?" bentak Seng Toa-nio penuh gusar, "cukup melihat  sepasang mata bangsatmu, aku sudah tahu pikiran cabul apa yang sedang melintas dalam benakmu."

Dengan mata jalangnya Sim Sin-pek melirik sekejap tubuh Sui Leng-kong yang molek, kemudian sahutnya:

"Betul, aku memang berniat menggagahi gadis ini...."

"Binatang! Kau ..." Seng Toa-nio semakin gusar.

"Bila aku berhasil menggagahi gadis ini, pertama, bisa melampiaskan semua rasa benci dan dendamku, agar Thiat Tiong-tong si bajingan cilik itu jadi setan pun tetap harus memakai topi hijau."

Mendengar sampai di sini baik Im Gi maupun Thiat Cing-su sekalian merasa gusar, saking jengkelnya mereka harus mengertak gigi untuk menahan diri... menahan siksaan batin yang sangat menyakitkan.

Terdengar Sim Sin-pek berkata lebih lanjut:

"Kedua, gadis ini sudah dianggap Hoa Bu-soat sebagai putrinya, jika berhasil kugagahi hingga nasi menjadi bubur, mau tidak mau Hoa Bu-soat tentu akan menerima aku menjadi menantunya."

Dia mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, lanjutnya:

"Kalau aku sudah menjadi menantu Hoa Bu-soat, dapat dipastikan Hoa Bu-soat akan mendukung persekutuan Ngo hok beng, berarti sekali timpuk dapat dua, kenapa kau malah melarang aku melakukannya?"

Seng Toa-nio termenung beberapa saat, mendadak bentaknya lagi dengan penuh amarah:

"Tidak bisa, tidak bisa, bagaimanapun juga gadis itu dilahirkan oleh menantu keluarga Seng, siapa pun tidak boleh menggagahinya."

Sebetulnya semua orang sedang heran, mereka tidak habis mengerti kenapa Seng Toa-nio begitu melindungi Sui Leng-kong, tapi setelah mendengar penjelasannya, semua orang pun menjadi sadar.

Paras muka Sim Sin-pek sama sekali tidak berubah, katanya kalem:

"Sekalipun dia adalah anggota keluarga Seng, memangnya kawin denganku berarti mempermalukan dia?"

"Dasar binatang, kau lebih rendah dan busuk ketimbang anjing," umpat Seng Toa-nio sewot.

"Tidak masalah kau ingin mengumpat dengan kata-kata kotor macam apapun, cuma aku ingatkan saja, kalau sampai terdengar guruku, hehehe... kau bakal mendapat kesulitan."

Semakin pemuda itu berlagak santai dan acuh, hawa amarah Seng Toa-nio semakin menjadi-jadi, hanya saja dia tidak ingin Suto Siau sekalian kehilangan muka, maka hingga saat itu masih enggan turun tangan.

Tapi ejekannya yang terakhir sangat menyinggung perasaannya, sekarang dia tidak ambil peduli urusan lain lagi, dengan penuh amarah bentaknya:

"Baik, hari ini juga aku akan menjagal kau si bangsat cilik, bajingan busuk yang tidak tahu malu, akan kulihat apa yang bisa diperbuat Suto Siau sekalian terhadapku?"

Toyanya langsung dihantamkan ke atas kepalanya.

Melihat kejadian itu, semua merasa girang, mereka berharap pertarungan yang berlangsung bisa makin seru dan ganas, dengan begitu mereka akan mendapatkan kesempatan bagus untuk menyelamat kan Im Ting-ting sekalian.

"Wesss!", desingan angin tajam membuat rerumputan bergoncang keras.

Biar Seng Toa-nio sudah tua, serangan tuanya sama sekali tidak ikut tua, kekuatan pukulan yang dilontarkan saat ini boleh dibilang luar biasa dahsyatnya.

Sim Sin-pek tidak berani ayal, apalagi menghadapi serangan itu dengan keras lawan keras, cepat dia melompat mundur.

Waktu itu tubuhnya sudah menyusup kembali ke balik rerumputan, ini membuat gerak-geriknya kembali tidak leluasa, Im Gi sekalian segera bersiap, mereka menunggu sampai Seng Toa-nio mengejar sambil melepaskan serangan lagi baru ikut maju mengembut.

Betul saja, Seng Toa-nio kembali mengayun toyanya siap melancarkan serangan lagi.

Kali ini Sim Sin-pek tidak menghindar maupun menangkis, tiba-tiba bentaknya:

"Tunggu sebentar! Ada satu perkataan harus kusampaikan dulu."

"Baik, akan kudengarkan dulu perkataan­mu," Seng Toa-nio menarik kembali serangannya.

Memang tidak sia-sia dia menekuni ilmu toyanya selama puluhan tahun, begitu pergelangan tangannya yang kurus digetarkan, toya baja seberat puluhan kati itu sudah ditarik kembali.

"Kau mengandalkan umur tuamu untuk menganiaya aku yang muda, jelas aku bukan tandinganmu."

"Kalau sudah tahu, lebih baik segera menyerah," tukas Seng Toa-nio sambil tertawa dingin.

Sim Sin-pek balas tertawa dingin.

"Tapi bila kau nekad mengayunkan toyamu lagi, hmm, biar bakal terhajar toyamu pun akan kutusuk mampus anakmu terlebih dulu, kemudian akan kubantai putrimu ini, aku mau lihat apa yang bisa kau perbuat?"

Seng Toa-nio melengak, toya yang sudah terangkat di tengah udara pun segera diturunkan kembali, "Bluuuk!", ujung toya segera ditancapkan ke dalam tanah.

"Kau.. kau berani?" tegur Seng Toa-nio dengan nada gemetar, rambutnya yang beruban nampak bergetar keras karena menahan emosi.

"Kenapa aku tidak berani?"

"Kau... kau...."

Tiba-tiba Im Kiu-siau yang sedang berbaring di atas tanah melejit ke tengah udara, kemudian secepat kilat secara beruntun dia menotok tujuh buah jalan darah penting di punggung Seng Toa-nio.

Waktu itu Im Gi sekalian sedang kecewa karena Seng Toa-nio urung melancarkan serangan, perubahan yang terjadi secara tiba-tiba itu membuat mereka kegirangan setengah mati, tanpa membuang waktu serentak mereka meluruk maju ke depan.

Waktu itu tubuh Seng Toa-nio baru saja roboh terjungkal ke tanah.

Tatkala Sim Sin-pek masih dibuat terperana oleh perubahan yang terjadi secara mendadak, tahu-tahu dari balik rerumputan telah muncul beberapa sosok bayangan manusia, kenyataan ini membuat dia semakin tercekat hingga sepasang kakinya lemas.

Menanti dia berniat melarikan diri, keadaan sudah terlambat, Gi Teng, Thiat Cing-su serta Gi Beng telah mengepungnya dari tiga penjuru, menyusul kemudian terlihat cahaya pedang berkelebat dan bayangan pukulan menderu-deru.

Tidak ampun Sim Sin-pek seketika roboh terkapar di tanah.

Kemenangan ini diraih begitu cepat, Im Kiu­ siau seketika dibuat kegirangan setengah mati.

Sambil menepuk bahu saudaranya, Im Gi turut berkata sambil tertawa tergelak:

"Samte, kau memang hebat, kusangka kau benar-benar tidak mampu bergerak lagi, siapa tahu rupanya kau sedang berlagak bodoh, kemampuanmu sungguh membuat Toako sangat gembira."

"Kemunculan Toako yang tiba-tiba ibarat malaikat langit turun dari kahyangan, Siaute pun amat kagum," seru Im Kiu-siau sambil tertawa.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Cepat kau ceritakan."

"Sewaktu aku dan Ting-ting terpisah dari Toako, sebenarnya aku berencana memulihkan kembali kekuatanku sebelum bergabung, siapa tahu muncul kedua orang itu secara tiba-tiba dan melancarkan serangan bokongan...."

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Waktu itu kondisi tubuhku belum pulih, tenaga dalam juga belum balik, aku sadar biar melawan pun pada akhirnya bakal kalah juga, maka aku pura-pura tidak mampu bergerak dan membiarkan binatang kecil she Sim itu menotok jalan darahku."

"Kalau memang jalan darahmu sudah tertotok, kenapa tiba-tiba bisa melancarkan serangan?" tanya Im Gi keheranan.

Dengan senyum menghiasi bibir, sahut Im Kiu-siau:

"Waktu itu secara diam-diam aku memper­hatikan gerak serangannya, melihat dia berniat menotok jalan darah Khi hay hiatku maka secara diam-diam aku sembunyikan tanganku ke sisi jalan darah tadi dan siap membebaskannya, maka sewaktu dia menotok, aku pun menggunakan kesempatan di saat jalan darahku  belum tersumbat untuk menotok bebas jalan darah itu, maka biar dia sudah menotok jalan darahku, padahal sebenarnya tidak menotok apa-apa."

Im Gi segera bertepuk tangan memuji, serunya:

"Sejak dulu aku sudah bilang, Samte adalah orang paling cerdas dalam perguruan kami, ternyata dugaan itu tidak salah, Cing-su, kau mesti mencontoh kehebatan paman ketigamu Ini."

Gembira karena dapat berkumpul kembali, ditambah rasa bangga karena berhasil meraih kemenangan mutlak, untuk sesaat meredam rasa benci dan dendam di dada setiap orang.

Tapi di saat sorot mata Im Gi beralih kembali ke wajah Seng Toa-nio, senyum di wajahnya seketika hilang tidak berbekas.

Waktu itu Gi Beng dan Gi Teng telah merebut Sui Leng-kong dari pelukan Sim Sin-pek, sedang Thiat Cing-su juga telah membebaskan jalan darah Im Ting-ting yang tertotok.

Im Kiu-siau menendang tubuh Sim Sin-pek hingga mencelat ke samping Seng Toa-nio, kemudian tanyanya:

"Toako, mau kita apakan kedua orang ini?"

"Bunuh! Bunuh! Bunuh! Kecuali dibunuh, apa lagi yang bisa kita lakukan?"

"Mau dibantai di sini juga?"

"Benar, di sini juga dan sekarang."

Pada saat itulah semacam hubungan batin antara ibu dan anak membuat Seng Cun-hau yang selalu berbakti kepada orang tuanya, tiba-tiba tersadar kembali dari pingsannya.

Walaupun selama ini dia berada dalam keadaan tidak sadar, namun seolah menyadari akan terjadinya perubahan itu, maka begitu sadar dari pingsannya, dia langsung merangkak bangun sambil berteriak:

"Kalau ingin membunuh ibuku, bunuhlah aku terlebih dulu!"

Belum sempat Im Gi menanggapi, Gi Beng dan Gi Teng sudah bersama-sama menjatuhkan diri berlutut.

Dengan suara serius, ujar Gi Teng:

"Walaupun nasib Seng-toako kurang beruntung hingga musti dilahirkan sebagai musuh bebuyutan perguruan Tay ki bun, namun selama ini dia tidak pernah melakukan perbuatan jahat atau busuk terhadap anggota perguruan Tay ki bun, harap Locianpwe sudi mengampuninya."

"Benar," kata Gi Beng pula, "bukan saja Seng-toako tidak bisa dianggap sebagai musuh besar perguruan Tay ki bun, sebaliknya dia justru sahabat karib Thiat Tiong-tong. Locianpwe, memandang wajah Thiat Tiong-tong, kau tidak boleh melukainya."

Im Gi mengepal sepasang tinjunya kuat-kuat, dia berdiri mematung tanpa bergerak.

Dengan suara lirih Thiat Cing-su ikut berkata:

"Kebaikan putranya masih belum cukup untuk menebus kejahatan yang pernah dilakukan ibunya."

"Bila kau ingin membunuhnya, bunuhlah aku terlebih dulu!" ancam Gi Beng.

Dengan jengkel Thiat Cing-su menghentak-kan kaki berulang kali dan tidak bicara lagi.

Untuk sesaat semua jago hanya berdiri dengan mulut membungkam, tampak dada Im Gi naik turun dengan kerasnya, terdengar dengusan napasnya makin lama semakin bertambah berat dan kasar.

Mendadak terlihat seseorang membelah rerumputan dan berjalan mendekat.

Waktu itu pikiran semua orang sedang dicekam gejolak emosi yang luar biasa, ternyata tidak seorang pun yang menaruh perhatian dengan cara apa orang itu muncul di situ, ketika tahu-tahu melihat kehadiran orang itu, dengan perasaan terkejut serentak mereka mundur selangkah ke belakang.

Orang itu mengenakan baju berwarna hijau, rambutnya yang panjang nampak kusut, walaupun paras mukanya terhitung cantik dan menawan, namun mimik mukanya seperti orang bloon, bagai orang kehilangan ingatan.

Ketika melihat ada begitu banyak orang berkumpul di situ, dia tidak nampak gembira, tidak kaget juga tidak ketakutan, sebaliknya sambil memiringkan kepala mengawasi seputar arena, katanya sambil tertawa:

"Waah, ternyata di sini terdapat banyak orang!"

"Ooh, rupanya kau," seru Gi Beng kemudian sambil menghembuskan napas lega.

"Betul," nona itu manggut-manggut dan tertawa, "memang aku, kalau bukan aku siapa lagi?"

"Siapa kau?" tegur Im Gi dengan nyaring.

"Siapa aku? Ooh, betul, aku bernama Leng Cing-peng."

"Leng Cing-peng?" berubah paras muka Im Gi, "jangan-jangan kau adalah putri Leng It-hong?"

Sekarang dia baru teringat gadis itu tidak lain adalah orang yang menyampaikan berita di kuil kuno beberapa tahun berselang, bila dibandingkan saat itu, kini nona itu kelihatan jauh lebih tua, sayu dan kusut, sehingga untuk sesaat sulit baginya untuk mengenalinya.

"Leng It-hong?" terlihat Leng Cing-peng menyahut dengan wajah kebingungan, "Ehmmm, betul, dia adalah ayahku, baru saja aku melecutinya dengan cambuk, hehehe... lucu sekali, mana ada anak menggebuki bapak sendiri? Menarik tidak? Menarik tidak?"

Selesai berkata, kembali dia tertawa cekikikan.

Sayang orang lain sama sekali tidak ingin tertawa, semua orang hanya bisa mengawasinya dengan tertegun, mereka tidak tahu harus merasa iba atau terperanjat.

Sambil mengedipkan matanya berulang kali, kembali Leng Cing-peng berkata sambil tertawa:

"Siapa sih kalian? Aku... aku seperti merasa pernah kenal... tapi seperti juga tidak pernah kenal, aku... aku merasa seperti pernah bertemu dengan kalian, tapi sepertinya belum pernah bertemu

Tiba-tiba dia mengayunkan tangannya memukul kepala sendiri, memukul dengan sepenuh tenaga, lalu serunya dengan jengkel:

"Kepala, kepala, kau memang kepala yang menjengkelkan! Terkadang kau sepertinya bisa mengingat banyak urusan, kenapa tiba-tiba bisa melupakan semuanya? Biar kuhajar kau, kuhajar kau...."

Semakin memukul semakin keras, makin menghantam makin nyaring, akhirnya Im Ting-ting merasa tidak tega, cepat dia melompat ke depan, menggenggam tangannya dan berseru:

"Kau pernah bertemu kami, waktu itu kita berada dalam sebuah kuil kuno, bila kau tidak datang, mungkin kami...."

"Ya, betul, betul, kuil kuno, kuil kuno...." tiba-tiba Leng Cing-peng bersorak sambil bertepuk tangan.

"Kuil kuno, kau masih ingat?"

"Tentu saja masih ingat, kuil kuno itu sangat menyenangkan! Ada banyak benda aneh dan lucu, juga ada dua orang sedang berkelahi, mereka terbang ke sana kemari...."

"Yang aku maksud bukan kuil kuno seperti itu, dulu...."

"Betul, betul, aku tidak berbohong, kuil kuno itu sangat menyenangkan, dindingnya merah, atapnya kuning, kuning sekali seperti... seperti kuning emas."

Kembali semua orang saling pandang tanpa bicara sepatah kata pun, namun di hati mereka terasa kecewa bercampur iba, khususnya Im Ting-ting, dia tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi hingga air mata jatuh berlinang membasahi pipi.

Sambil menghela napas, ujar Im Gi:

"Kelihatannya gadis ini sudah gila, mengingat budi kebaikannya di masa lalu, aaaai! Biarlah dia pergi! Walau mengajaknya bicara lebih banyak pun tidak bakal bisa diperoleh keterangan apapun."

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Im Kiu-siau, serunya:

"Tunggu sebentar'"

"Kau ingin menahannya? Kenapa?" tanya Im Gi keheranan.

"Orang yang ingatannya sedang terganggu, kadang perkataannya justru paling bisa dipercaya."

"Maksudmu?" tanya Im Gi keheranan.

Im Kiu-siau tidak menjawab pertanyaan itu, dia berbalik sambil menegur:

"Nona Leng, apakah kau pernah pergi ke kuil kuno itu?"

"Tentu saja, malah aku baru saja keluar dari situ," sahut Leng Cing-peng sambil tertawa dan manggut-manggut.

"Mana mungkin di padang rumput yang begini luas terdapat kuil kuno?" sambil menghela napas Im Gi menggelengkan kepala berulang kali:

"Aku rasa dia...."

Cepat Im Kiu-siau menggoyangkan tangan menukas perkataannya, kemudian tanyanya:

"Apakah kau melihat dengan jelas orang yang sedang berkelahi dalam kuil kuno itu?"

"Tentu saja aku melihatnya dengan jelas, bahkan jelas sekali!"

"Bagaimana bentuk dandanan mereka?" Leng Cing-peng memiringkan kepala sambil termenung sejenak, setelah itu sahutnya:

"Mereka... ahh, betul, mereka adalah seorang lelaki dan seorang wanita, yang laki malah masih terhitung guru ayahku! Aku tidak boleh memberitahukan kepada orang lain...."

Padahal dia sudah memberitahukan kepada orang lain, tapi mulutnya masih mengoceh tidak boleh memberitahu orang lain, jelas kesadaran gadis ini memang sudah hilang, di samping merasa iba, mereka pun merasa terkejut, kaget karena Siang-tok Thaysu ternyata berada di situ.

Tergerak perasaan Im Gi, cepat katanya:

"Jangan-jangan wanita yang sedang ber­tarung melawannya adalah Hoa Bu-soat? Tidak heran mereka berdua tidak muncul, nona... nona Leng, berada dimana kuil kuno itu?"

"Ada di sana," seru Leng Cing-peng sambil tertawa, "belok kiri, belok kanan, lalu belok kiri lagi, belok kanan lagi

Setelah berpikir sejenak, lanjutnya:

"Kemudian belok lagi ke kiri, belok lagi ke kiri, dan tetap belok lagi ke kiri...."

"Jangan belok melulu, cepat ajak kami ke situ!" tukas Im Gi akhirnya sambil tertawa getir.

Mendadak Leng Cing-peng menutup wajah sendiri dengan kedua belah tangannya sambil berteriak:

"Aku tidak mau ke situ, aku tidak mau ke situ... aku tidak mau pergi ke sana lagi."

"Kenapa tidak mau ke situ?"

"Biarpun tempat itu menyenangkan, tapi menakutkan sekali, aku merasa seakan dari empat penjuru muncul setan... setan! Ya, setan! Banyak sekali setannya! Aku tidak mau ke situ... aku tidak mau...."

"Ini... ini... aaaai!" dengan mendongkol Im Gi menghentakkan kaki berulang kali.

Tiba-tiba Im Kiu-siau berseru sambil tertawa:

"Aaah, aku tahu, kau sedang berbohong bukan?"

"Tidak, tidak... aku tidak membohongi mu."

"Sudah jelas kau tidak pernah ke situ, malah sama sekali tidak tahu dimana letak kuil itu, karena sedang berbohong, maka kau enggan mengajak kami ke situ bukan? Aaah, ternyata dia pembohong, ayo, kita tidak usah menggubris dia lagi."

"Aku bukan pembohong, baik, baik... aku... aku akan mengajak kalian ke situ, tapi... aku tidak mau masuk ke dalam, boleh bukan aku hanya menunggu di depan pintu?"

"Asal mau mengajak kami ke situ, ikut masuk atau tidak terserah padamu," sahut Im Kiu-siau kegirangan.

"Baik, ayo, kita berangkat!"

Perlahan dia membalikkan tubuh, beranjak menelusuri padang rumput.

Kini secara lamat-lamat semua orang dapat menduga di balik kuil kuno misterius itu pasti tersimpan sejumlah rahasia luar biasa, melihat gadis itu beranjak pergi, tanpa terasa semua orang mengintil di belakangnya.

"Bagaimana dengan kedua orang ini...." bisik Im Kiu-siau, "Seng Toa-nio...."

Im Gi termenung dan berpikir sejenak, kemudian sambil menghentakkan kaki dan menghela napas, sahutnya:

"Sekalipun ingin mencabut nyawanya, tidak mungkin kita lakukan di hadapan anak berbakti-nya."

"Siaute juga berpendapat begitu," sahut Im Kiu-siau.

Perlahan dia memandang sekejap sekitar sana, dilihatnya Gi Beng telah membopong Sui Leng­kong, Gi Teng juga sudah memayang Seng Cun-hau, dia pun melihat seorang wanita lain... Sun Siau-kiau, dia sedang mengawasi Sim Sin-pek dengan terkesima.

Sejenak kemudian dia pun berseru:

"Cing-su, kemari kau!"

Sambil membalikkan badan, tanya Thiat Cing-su:

"Paman ketiga, kau ada perintah apa?"

"Kau saja yang membopong Seng Toa-nio, bila terjadi perubahan di luar dugaan,...."

Bicara sampai di situ dia pun membuat gerakan menggorok, lanjutnya:

"Mengerti?"

"Tecu mengerti," tanpa banyak bicara pemuda itupun membopong Seng Toa-nio.

"Terima kasih, Hengtai," seru Seng Cun-hau cepat, "terima kasih pula para Cianpwe, Cayhe... Cayhe...."

Setelah menghela napas panjang, dia menundukkan kepala dan tanpa bicara lagi berjalan mengintil di belakang Gi Teng.

Kini sinar mata Im Kiu-siau beralih ke wajah Sun Siau-kiau, sapanya:

"Nona ini...."

"Kau suruh aku membopongnya? Baik!" kata Sun Siau-kiau sambil tertawa.

Tanpa menunggu Im Kiu-siau berbicara, dia langsung membopong tubuh Sim Sin-pek dan berjalan di belakang dua bersaudara Gi.

"Kenapa kau suruh dia...." bisik Im Gi dengan kening berkerut.

"Toako tidak usah kuaur," tukas Im Kiu-siau sambil tertawa, "Siaute akan mengintil ketat di belakangnya."

Sambil menyingkirkan rumput dengan kedua belah tangannya, Leng Cing-peng berjalan paling depan, walaupun sedang berjalan di tengah padang rumput yang penuh dengan ancaman bahaya, ternyata dia menelusurinya dengan santai dan tenang, seolah-olah sedang berjalan di taman saja.

Justru orang-orang yang mengikut di belakangnya yang merasa kuatir dan kebat-kebit hatinya, tapi kejadian sudah makin berkembang, terpaksa mereka pun mengikut tanpa banyak bicara.

Setelah berjalan sekian lama, akhirnya gadis itu mulai berbelok.

"Berjalan di tengah padang rumput, buat apa dia mesti berbelok?" tanya Im Gi dengan kening berkerut.

Im Kiu-siau tertawa getir.

"Bukankah kita yang meminta dia sebagai penunjuk jalan? Ikuti saja kemauannya."

Sambil menghela napas Im Gi tidak bicara lagi.

Tidak selang beberapa saat kemudian, suara pekikan dan makian Hong Lo-su kembali bergema semakin mendekat, terdengar iblis itu berteriak lantang:

"Coh Sam-ci, aku mengaku kalah, sebenarnya apa maumu? Cepat katakan!"

"Sudah cukup umpatanmu?" tegur Coh Sam-nio dengan suara lembut tapi melengking.

"Sejak kapan Siaute berani mengumpat Sam-ci? Siaute...."

"Kalau bukan sedang memaki aku, siapa pula yang sedang kau maki?"

"Tadi... tadi... aku sedang memaki diriku sendiri, aku memang bangsat, binatang, aku bukan manusia baik-baik, aku memang bajingan tengik, bajingan busuk...."

"Selanjutnya?"

"Selanjutnya apapun yang Sam-ci katakan, Siaute pasti akan menurut, bila Sam-ci menyuruh aku berjumpalitan, aku segera akan jumpalitan, bila Sam-ci menyuruh aku makan tahi, aku akan makan tahi."

"Kalau kau ingkar janji, tidak pegang ucapanmu, apa yang akan kuperbuat?"

"Terserah ... terserah apapun yang hendak Sam-ci lakukan."

"Terserah aku? Aku tidak memaksamu, kau yang berjanji sendiri...."

"Betul, aku berjanji, aku sendiri yang berjanji, Sam-ci, nyonya besarku, ampunilah aku! Makhluk itu bukan manusia, sedang aku... jelek-jelek begini juga manusia, aku tidak sanggup menangkan larinya...."

"Baiklah, kalau begitu ikuti aku!" ujar Coh Sam-nio sambil tertawa.

Semua pembicaraan itu berkumandang datang mengikuti hembusan angin, terkadang terasa jauh sekali, terkadang terasa sangat dekat, tak bisa diketahui dengan jelas berasal darimana suara itu.

Ketika mendengar sampai di situ, semua orang hanya sempat   menangkap bayangan punggung Dewa racun yang berwarna abu-abu melesat ke depan dan tahu-tahu sudah mendahului di depan Hong Lo-su.

Menanti semua orang melihat dengan lebih jelas, ternyata ketiga orang itu sudah lenyap dari pandangan.

Sambil menghela napas, ujar Im Gi, "Ternyata nama besar si Sambaran petir Coh Sam-nio memang bukan nama kosong belaka, bicara kehebatan ilmu meringankan tubuhnya, mungkin termasuk Kaisar malam pun belum tentu bisa mengunggulinya."

"Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki si Sambaran petir Coh Sam-nio memang tiada dua-nya di kolong langit," Im Kiu-siau manggut-manggut, "kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa mempermainkan Hong Lo-su semaunya?"

"Hanya saja... benda apa yang sebenarnya dia pinjam dari Hong Lo-su? Kalau dibilang benda itu adalah manusia, manusia mana di kolong langit yang sanggup menghadapi racun si Dewa racun?"

"Kalau bukan manusia, lalu benda aneh apakah itu?"

"Aaaai, hanya Thian yang tahu benda setan apakah itu."

 

BAB 42

Cahaya Mentari Menyinari Panji Sakti.

 

Padang rumput teramat luas, berjalan di tempat seperti ini semua orang merasa seolah berjalan di alam yang tidak bertepian.

Rombongan itu masih berjalan mengintil di belakang Leng Cing-peng, entah sudah berapa lama mereka bergerak.

Akhirnya habis sudah kesabaran Im Gi, ujarnya:

"Jangan-jangan budak ini sedang mempermainkan kita?"

"Aku rasa tidak begitu," jawab Im Kiu-siau sambil tertawa.

Im Gi mendengus dingin, setelah termenung beberapa saat, mendadak ujarnya lagi:

"Tapi... andaikata kita berhasil menemukan kuil kuno itu, lalu apa gunanya?"

"Di tengah padang rumput yang berada dalam lembah terpencil, terdapat sebuah kuil kuno, bisa diduga dalam kuil kuno itu tentu tersimpan banyak sekali kejadian misterius, bila rahasia itu menyangkut urusan dunia persilatan, aku percaya rahasia itu tentu ada sangkut-pautnya pula dengan perguruan kita," ujar Im Kiu-siau.

"Benar, hampir semua rahasia yang beredar dalam dunia persilatan selama puluhan tahun terakhir, sedikit banyak tentu ada sangkut-pautnya dengan perguruan Tay ki bun kita, khususnya rahasia persilatan yang beredar di enam propinsi utara sungai Huang-ho."

Setelah mengernyitkan alis matanya yang tebal, dia melanjutkan:

"Tapi sekarang Hoa Bu-soat serta Siang-tok Thaysu berada di situ, padahal kedua orang itu bukan sahabat dan juga bukan musuh kita, bukankah kehadiran kita di tempat itu hanya mencari penyakit sendiri?"

Im Kiu-siau menghela napas panjang.

"Toako, menurut pendapat Siaute, budi dendam perguruan kita menyangkut sebuah rangkaian besar dan rumit, masalahnya tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan selama ini."

"Tentanghal ini... aku pun tahu."

"Oleh sebab itu bila kita ingin membalas dendam hanya mengandalkan kekuatan perguruan sendiri, rasanya hal ini mustahil bisa berhasil, lagi pula amat sulit... aaaai! Ditambah lagi dalam setahun terakhir, kekuatan perguruan kita semakin tercerai-berai...."

"Semoga saja Thian mau membantu kita..." sela Im Gi sambil tertawa.

Berkilat sepasang mata Im Kiu-siau, ujarnya:

"Sekarang dengan situasi semacam inilah kesempatan emas yang dilimpahkan Thian untuk kita."

"Apa maksudmu?"

"Kini hampir semua tokoh silat berilmu tinggi telah berkumpul di sini, mereka ada yang otaknya kurang waras, ada yang banyak curiga dan busuk akalnya, di antara mereka sendiri juga terlibat banyak pertikaian dan sengketa, kenapa kita tidak memanfaatkan situasi yang tidak menentu ini untuk menciptakan situasi yang menguntungkan pihak kita?"

"Walaupun perkataanmu benar, tapi...."

"Sepintas kawanan jago itu nampaknya memang bukan sahabat kita, melainkan musuh yang menakutkan, namun bila kita hadapi secara baik-baik, bukan saja mereka tidak akan memusuhi kita, sebaliknya bisa jadi akan membantu kita secara diam-diam, misalkan saja Hoa Bu-soat, putri kesayangannya telah berada dalam genggaman kita, kenapa kita tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksanya melakukan beberapa hal yang menguntungkan kita."

"Tapi... tindakan semacam ini rasanya...."

"Siaute memahami maksud Toako," tukas Im Kiu-siau sambil menghela napas, "kau ingin mengatakan tindakan semacam ini tidak gagah, tidak mencerminkan perbuatan seorang ksatria, namun kita memikul beban dan tanggung jawab yang berat, kita harus membalas dendam kesumat perguruan, demi keberhasilan balas dendam ini, apa salahnya kita pun menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan?"

"Hanya saja cara ini...."

Tiba-tiba terdengar Leng Cing-peng berseru:

"Sudah sampai...."

Dengan perasaan girang semua orang segera mengalihkan pandangan ke depan, betul saja, di tepi padang rumput yang tidak bertepian itu muncul sebuah tanah perbukitan batu, bukit itu berdiri tegar tanpa terpengaruh oleh getaran dahsyat yang terjadi tadi.

Tapi bukit cadas itu nampak gundul dan gersang, tiada rerumputan yang tumbuh di situ, tiada pula pepohonan yang nampak, apalagi bayangan kuil kuno.

"Mana kuil kunonya?" tegur Im Gi gusar

"Ada di bawah bukit sana."

"Bawah bukit? Kuil kuno itu berada di bawah bukit?" tanya Gi Beng keheranan.

Leng Cing-peng tertawa cekikikan.

"Aku belum selesai bicara," katanya, "adikku, kenapa kau tidak sabar?"

"Aku mohon, cepat jelaskan, aku sudah hampir mampus karena tidak sabar."

"Di bawah bukit terdapat sebuah gua kecil, asal menundukkan kepala, kau dapat segera masuk ke dalam, setelah masuk, maka kau harus membelok ke kiri, kemudian belok ke kiri lagi dan belok ke kiri lagi."

"Biar aku pergi memeriksanya," seru Im Gi tidak sabar, dengan cepat dia bergerak maju lebih dulu.

Semua orang pun segera mengintil di belakang, ketika tiba di bawah tebing, terlihat rumput tumbuh dengan lebatnya mengelilingi sekeliling tanah perbukitan itu, sekilas pandang tak nampak ada tanda-tanda gua di seputar situ

Tapi setelah diperiksa dengan lebih seksama, terlihatlah di sekitar sana terdapat sebagian rerumputan seperti bekas terinjak manusia, bahkan secara lamat-lamat terdengar suara hembusan angin yang muncul dari arah tebing di belakang rerumputan itu.

"Kemungkinan besar berada di sini," kata Im Kiu-siau kemudian.

"Benar, memang berada di situ," seru Leng Cing-peng sambil berdiri di tempat jauh, "kalian masuklah, aku akan pergi dari sini."

Sambil membenahi rambutnya yang kusut dan menyisihkan rerumputan, gadis itu benar-benar beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Mengawasi bayangan punggungnya yang semakin menjauh, semua orang hanya bisa berdiri termangu.

"Jangan-jangan di belakang sana terdapat jebakan?" kata Im Gi dengan suara berat.

"Benar," kata Thiat Cing-su pula, "siapa tahu gua itu hanya sebuah perangkap yang sengaja dipersiapkan untuk menjebak kita? Bisa juga gadis itu hanya berlagak gila, agar kita tertipu dan masuk perangkap."

"Tidak mungkin," bantah Gi Beng sambil menggeleng, "dia bukan gadis semacam itu."

"Kalau dia adalah gadis semacam itu, buat apa pula dia mempertaruhkan nyawa memberi peringatan kepada kita waktu itu," ujar Im Ting-ting pula dengan sedih, "bahkan dia menaruh perasaan cinta terhadap Thiat-jiko, mana mungkin dia mencelakai kita."

"Siapa tahu jiwanya sudah terpengaruh oleh ilmu pembetot sukma dan kedatangannya kali ini untuk melaksanakan perintah?" kata Thiat Cing-su cepat, "bukankah dia berada satu rombongan dengan Siang-tok Thaysu? Aku... aku rasa besar sekali kemungkinan semacam ini."

Im Ting-ting nampak tertegun, serunya kemudian dengan tergagap:

"Kalau soal ini.... Aaaai!" Semua orang saling pandang tanpa bicara, mereka merasa apa yang diucapkan Gi Beng maupun Im Ting-ting ada benarnya, tapi mereka pun berpendapat perkataan Thiat Cing-su sangat masuk akal, untuk sesaat semua orang jadi bimbang, tidak seorang pun bisa mengambil kesimpulan dan keputusan.

Akhirnya sinar mata semua orang dialihkan ke wajah Im Gi, menunggu orang tua ini mengambil keputusan.

Sambil berpaling ke arah Im Kiu-siau, tanya Im Gi kemudian:

"Samte, bagaimana menurut pendapatmu?"

Im Kiu-siau termenung, berpikir sejenak, lalu memutuskan:

"Bagaimanapun kita sudah tiba di sini, biar perangkap sekalipun kita harus masuk untuk memeriksanya."

"Betul, kalau tidak memasuki sarang macan, bagaimana mungkin bisa mendapatkan anak harimau!" sambung Im Gi bersemangat.

Tinggi mulut gua di balik rerumputan itu hanya empat kaki, benar saja, semua orang harus menundukkan kepala sebelum menerobos masuk ke dalam, biar tidak luas, namun jelas kelihatan mulut gua itu hasil karya manusia.

Di balik dinding gua yang sudah dipenuhi lumut hijau, lamat-lamat terlihat bekas pahatan.

Waktu itu Im Kiu-siau sudah siap melangkah masuk, cepat dia mundur kembali, dengan merobek secarik kain dia gosok lumut di atas dinding gua itu kuat-kuat, tidak selang beberapa saat, ukiran yang tertera di atas dinding pun nampak lebih jelas, benar saja, ternyata ukiran yang tertera di situ sangat indah.

Di atas dinding gua seluas empat kaki yang mengelilingi mulut gua itu, hampir semuanya dihiasi ukiran tokoh manusia berdandan Busu, ada yang sedang menunggang kuda, menjajal pedang, ada pula yang sedang terlibat pertempuran sengit

Sekalipun ukiran itu hasil pahatan yang sudah lama, hingga ada bagian yang mulai kabur, namun sekilas pandang setiap tokoh yang terpahat di sana hampir semuanya nampak hidup, seolah tokoh silat itu sedang menjebol dinding untuk tampil keluar.

"Toako, coba lihat," kata Im Kiu-siau dengan suara berat, "ternyata tempat ini memang ada hubungannya dengan dunia persilatan "

"Aku akan masuk lebih dulu, kau lindungi aku dari samping," bisik Im Gi.

Begitu selesai bicara, dia langsung membungkukkan tubuh dan menerobos masuk ke dalam gua.

Im Kiu-siau sekalian segera mengintil di belakangnya, Gi Beng sambil membopong Sui Leng­kong berjalan paling belakang. Tiba-tiba dia jumpai Im Ting-ting tidak ikut masuk, rupanya nona itu masih mengamati ukiran di atas dinding dengan terpesona.

"Ayo, masuk, apa bagusnya ukiran itu?" ujar Gi Beng sambil tertawa.

"Aku merasa ukiran ini sedikit aneh," sahut Im Ting-ting serius.

"Rada aneh?" gumam Gi Beng, tanpa terasa dia ikut memperhatikan.

Biarpun tokoh silat yang terukir di atas dinding itu sangat banyak, namun ketika diamati lebih seksama, ternyata raut muka yang ditampilkan tidak jauh berbeda, dari sekian ratus tokoh yang tertera, paling hanya mewakili wajah empat lima orang.

"Sudah dapat menangkap arti di balik ukiran itu?" tanya Im Ting-ting kemudian.

"Ehmmm! Kelihatannya pahatan ini berhubungan satu dengan lainnya, seperti sedang menceritakan sebuah kisah, pada lukisan pertama dikisahkan ada seorang lelaki dibokong orang dan menderita kekalahan, lalu pada lukisan kedua.....”

Mendadak dari dalam gua terdengar Gi Teng berteriak:

"Ji-moay, cepat masuk!"

"Ayo, jalan!" ujar Gi Beng sambil tertawa, "sekalipun pahatan ini mengisahkan sebuah cerita, tidak mungkin cerita itu ada hubungan atau sangkut-pautnya dengan kita...."

Dia segera menarik tangan Im Ting-ting dan diajak masuk ke dalam gua.

Im Ting-ting yang ditarik tangannya mau tidak mau ikut masuk ke dalam gua, namun berulang kali dia masih menoleh mengawasi pahatan itu, seakan pahatan kuno itu sudah mendatangkan semacam daya tarik yang aneh baginya.

Mengapa begitu? Dia sendiri pun tidak tahu.

Setelah memasuki gua, di hadapan mereka terbentang sebuah lorong rahasia yang berliku-liku dan gelap.

Untuk membangun lorong bawah tanah yang begitu berliku-liku menembus perut bukit, bisa dibayangkan berapa banyak orang dan tenaga yang dilibatkan tempo dulu, dinding sepanjang lorong itu halus dan berkilat, setiap belasan langkah terdapat sebuah lentera tembaga yang berbentuk aneh dan antik menghiasi dinding batu.

Hanya sayang, waktu yang tidak berperasaan telah menelanjangi lapisan luarnya yang dulu mungkin berkilat indah, yang tersisa kini hanya bekas noda minyak yang mirip sisik ikan.

Tapi justru karena itu suasana dalam lorong rahasia itu jadi terkesan misterius, mengenaskan serta penuh  dicekam hawa pembunuhan yang menggidikkan.

Ketika semua orang memasuki tempat itu, pemandangan yang muncul di hadapan mereka adalah suasana mengenaskan yang penuh diliputi kemisteriusan, hidung mereka pun mengendus bau lembab yang busuk dan basah.

Perasaan ini persis sama seperti orang yang berjalan memasuki kompleks kuburan, begitu berat, dingin dan menyesakkan napas.

Bukan hanya muda-mudi itu saja, bahkan Im Gi yang berpengalaman pun mau tak mau harus memperlambat langkahnya.

Dari dasar hatinya yang paling dalam dia seolah mendapat firasat jelek... seolah-olah di dalam kuil kuno, di ujung lorong rahasia itu sudah ada semacam nasib yang paling tragis sedang menanti kedatangannya.

Sayangnya walaupun dia sudah tahu begitu, namun mustahil baginya untuk berbalik lagi, dari dalam tubuhnya seolah terdapat semacam kekuatan iblis yang sedang mendorong-nya, minta dia jangan menghentikan langkah, memacu dia meneruskan perjalanan menuju ke sana.

Biar langkah kakinya sangat lamban, sekalipun mimik mukanya menunjukkan keseriusan dan murung, namun jantungnya justru berdebar penuh keriangan, berdetak dengan rasa gembira yang luar biasa....

Sekalipun nasib sangat tragis sedang menantinya di perjalanan berikut, namun entah mengapa, bukan saja dia enggan menghindar, malahan justru terburu-buru ingin segera menghadapinya, menjumpainya....

Perasaan Im Kiu-siau, Thiat Cing-su serta Im Ting-ting tidak jauh berbeda, perasaan aneh seakan menyelimuti hati mereka....

Kuil kuno di dalam gua rahasia ini bagi anggota perguruan Tay ki bun seakan memiliki semacam daya tarik yang aneh dan sesat, daya tarik ini membuat mereka dapat menghadapi nasib tragis dengan perasaan gembira, sekalipun harus menghadapi kematian.

Akhirnya mereka tiba di ujung lorong rahasia.

Lagi-lagi selapis pintu tebal... pintu dengan ornamen penuh pahatan indah.

Ketika tiba di situ, Im Gi sudah tidak mampu mengendalikan   gejolak emosi, dia tidak ambil peduli apakah di balik pintu terdapat orang lain atau tidak, dia pun tidak peduli ruang macam apa yang terdapat di balik pintu itu, tiba-tiba saja dia seperti lupa segala-galanya, sambil membentak keras langsung menerobos masuk dengan kalap.

Kakek yang di waktu biasa selalu bersikap tenang, tiba-tiba saja berubah jadi begitu emosi dan tidak sabar, sudah tahu berada di tempat rahasia yang berbahaya dan penuh dengan ancaman maut, dia bukan hanya berteriak keras, bahkan menerjang masuk bagai orang kalap, kenyataan ini membuat semua orang terperanjat, serentak mereka ikut menerobos masuk ke dalam.

Ruang kuil kuno penuh diliputi debu yang beterbangan karena getaran suara teriakannya, Im Gi berdiri kaku di tengah ruangan dengan wajah tertegun, tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

Ternyata ruangan itu berada dalam keadaan sepi, tidak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Diam-diam Gi Beng menarik napas dingin, gumamnya:

"Ternyata Hoa Bu-soat maupun Siang-tok Thaysu tidak berada di sini... masakah nona Leng benar-benar telah membohongi kita?"

Dia tidak tahu harus merasa kecewa atau bersyukur, tapi setelah mengawasi seluruh ruangan beberapa saat lamanya, sesudah memeriksa setiap sudut ruangan itu, kembali gumamnya:

"Ternyata dia tidak berbohong... dia tidak membohongi aku."

Kalau dibilang tempat itu adalah sebuah ruang kuil kuno, lebih cocok kalau dikatakan tempat itu merupakan sebuah ruang yang bobrok dan kotor.

Ruang itu berbentuk setengah lingkaran, di bawah atap bulat yang penuh ukiran, terpancang delapan tiang batu yang sangat besar, luasnya mencapai belasan kaki, di belakang undak-undakan batu yang sangat rapi terdapat sebuah meja altar yang megah, di atas meja altar berjajar dua buah patung dewa yang nampak angker.

Biarpun debu yang melapisi tempat itu sangat tebal, meskipun lumut hijau amat tebal, bahkan di setiap sudut ruangan yang gelap tersisa bekas sarang burung dan hewan yang kotor, sarang laba-laba yang tebal, namun semua itu tidak menutupi kemegahan ruangan itu di masa lalu, hingga kini siapa pun yang berada di sana akan muncul rasa hormat dan segan luar biasa, perasaan haru yang membuat mereka nyaris menjatuhkan diri untuk menyembah.

Tapi ketika debu mulai mereda, ketika suasana sudah terang benderang, mereka menjumpai hampir setiap tonggak, dinding batu dan sekeliling meja altar, penuh bertaburkan butiran benda yang memancarkan cahaya berkilauan.

Kilauan cahaya yang gemerlapan rasanya tidak sebanding dengan bangunan kuil yang kuno dan kotor, bagaimana mungkin di balik suasana yang gelap dan lembab bisa bertaburkan cahaya berkilauan yang begitu indah?

Tanpa sadar semua orang mulai memper­hatikan benda itu dengan lebih seksama, tidak lama kemudian mereka tahu bahwa setiap benda yang berkilauan itu ternyata tidak lain adalah senjata rahasia yang mematikan.

Senjata rahasia itu terdiri dari aneka bentuk yang berbeda, ada mutiara Ngo bong cu, ada jarum Bwe hoa ciam, ada duri beracun Gin ji li, ada pasir Toh hun sah... biarpun senjata rahasia itu terdiri dari berbagai jenis, namun Im Kiu-siau sekalian masih dapat mengenali bentuk-nya satu per satu.

Namun selain bentuk yang diketahui, ternyata di situ pun terdapat puluhan jenis senjata rahasia lain yang berbentuk aneh, ada senjata rahasia mirip gembrengan terbang, gunting, golok, pedang, gangsingan, malah ada pula yang berbentuk lembut sebesar butiran beras, bentuk yang sedemikian kecil hingga susah dilihat dengan jelas.

Biarpun Im Kiu-siau sekalian sudah lama berkelana dalam dunia persilatan, walaupun pengetahuan dan pengalaman mereka sangat luas, namun selama hidup bukan saja tidak pernah menyaksikan senjata rahasia semacam ini, bahkan mendengar pun belum pernah.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah benda lembut dan kecil yang nampaknya begitu ringan, bahkan untuk menembus kain tebal pun belum tentu sanggup, kini justru menghujam dalam di atas batu cadas. Dari sini dapat diketahui orang yang melepaskan senjata rahasia itu bukan saja memiliki kepandaian yang hebat, tenaga dalamnya pun amat sempurna.

Semua orang saling berpandangan sambil berpikir:

"Dalam dunia persilatan, kecuali si Hujan gerimis Hoa Bu-soat, siapa pula yang sanggup melepaskan berbagai jenis senjata rahasia yang aneh itu serta mampu menghujamkan senjata rahasia itu menembus batu dan kayu?"

"Ternyata nona Leng memang tidak membohongi kita," kata Gi Beng, "rupanya si Hujan gerimis Hoa Bu-soat memang pernah bertarung habis-habisan di sini melawan Siang-tok Thaysu, cuma...."

"Cuma... entah mereka berdua saat ini telah pergi kemana?" lanjut Thiat Cing-su.

"Kira-kira siapa yang berhasil memenang­kan pertarungan ini?" kata Im Kiu-siau dengan kening berkerut.

Sinar matanya kembali menyapu sekejap senjata rahasia yang berkilauan itu, kemudian pikirnya, “Bila Siang-tok Thaysu ingin meloloskan diri dari kepungan hujan Am-gi si Hujan gerimis, rasanya lebih sulit daripada memanjat ke langit.”

Biarpun para jago tidak sempat menyaksi­kan sendiri jalannya pertempuran yang mendebar­kan hati itu, namun ditinjau dari bekas yang tertinggal di medan pertempuran, bisa dibayangkan betapa seru dan dahsyatnya pertarungan tadi.

Terdengar Gi Beng menghela napas sambil bergumam:

"Sayang kedatangan kita terlambat satu langkah, sayang terlambat selangkah...."

Tiba-tiba nampak Im Ting-ting berlari cepat menaiki anak tangga, sekalipun dia berlari dengan kecepatan tinggi, namun sepasang matanya mengawasi terus kedua patung dewa yang ada di meja altar tanpa berkedip.

Wajah kedua patung dewa itu sudah tertelan di balik lumut yang tebal, boleh dibilang sama sekali tidak terlihat raut muka sebenarnya, namun Im Ting-ting tetap mengawasinya dengan kesemsem, bahkan sewaktu lututnya terantuk sisi meja altar yang keras pun dia seolah tidak merasa kesakitan.

Dengan sekali lompatan dia naik ke atas meja altar, kemudian  merobek ujung bajunya dan merangkak naik lagi ke atas bahu patung dewa raksasa itu.

"Ting-ting, apa yang hendak kau lakukan?" tegur Im Kiu-siau dengan kening berkerut.

Im Ting-ting sama sekali tidak berpaling, dia seolah tidak mendengar teguran itu, dengan tangannya yang gemetar dia mulai mengusap wajah patung dewa yang kotor dan membersihkan semua lumut tebal yang ada.

Baru saja Im Kiu-siau hendak menegur, tiba-tiba dia menyaksikan Im Gi berdiri pula dengan sikap yang aneh... sepasang mata orang tua itu sedang menatap wajah patung dewa itu tanpa berkedip, bahkan dia mengamatinya dengan begitu terpesona.

Dalam waktu singkat hati Im Kiu-siau bergetar keras, darah panas langsung memenuhi kepalanya, secara tiba-tiba dia ikut melupakan segalanya, yang dia lakukan saat itu hanya mengawasi wajah patung dewa itu dengan terkesima.

Gi Beng bersaudara yang menyaksikan perubahan aneh wajah orang-orang itu segera merasakan hatinya bergidik, semacam firasat jelek seketika melintas di hati mereka, seolah-olah sebentar lagi akan terjadi satu peristiwa yang menyeramkan.

Lumut tebal akhirnya berhasil dibersihkan, kini wajah patung dewa itupun tampil lebih jelas.

Selembar wajah angker, berwibawa, pemberani dan ulet, alis matanya kelihatan begitu tebal, menampilkan sebuah tekad dan ambisi yang luar biasa.

Hanya sekilas pandang Gi Teng segera merasakan hatinya berdebar keras... dia merasa wajah patung dewa itu begitu dikenal, seperti belum lama menjumpainya.

Mendadak terdengar Gi Beng berteriak keras:

"Bukan., bukankah itu wajah Im-locianpwe"

Baru saja dia menjerit, terlihat Im Gi dan Im Kiu-siau telah menjatuhkan diri berlutut.

Dalam waktu singkat, paras muka kedua orang ini telah terjadi perubahan yang luar biasa, perubahan yang sulit dilukiskan... mimik muka itu seperti terkejut, gembira, sedih, seperti juga diliputi gejolak emosi yang luar biasa.

Malah butiran air mata telah jatuh berlinang membasahi wajah Im Ting-ting.

Sambil menggigit bibir, kembali dia menyeka lumut yang menodai wajah patung dewa itu, ketika hendak berjongkok, tiba-tiba lututnya lemas dan dia pun terjatuh tertelungkup di atas meja altar, tepat di depan patung raksasa itu.

Sun Siau-kiau yang menyaksikan kejadian itu jadi melongo, diam-diam dia menghampiri Gi Beng sambil berbisik:

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Aku sendiri pun kurang tahu," sahut Gi Beng sambil menggeleng, padahal secara lamat-lamat dia sudah dapat menebak apa gerangan yang telah terjadi.

Hanya saja untuk sesaat dia tidak berani menerima hal itu sebagai kenyataan, susah baginya untuk percaya bahwa di dunia ini ada kejadian yang begitu kebetulan.

Semua anggota perguruan Tay ki bun telah menjatuhkan diri berlutut, wajah mereka basah oleh air mata.

"Ternyata benar... ternyata benar...." bisik Im Ting-ting dengan nada gemetar.

"Betul... betul...." ucap Im Kiu-siau pula dengan air mata berlinang.

"Sebenarnya apa...." tidak tahan Sun Siau kiau berseru.

Belum selesai pertanyaan itu diajukan, terdengar Im Gi telah berseru sambil menengadah ke atas:

"Thian... oooh, Thian, mimpi pun Tecu tidak menyangka akan berjumpa dengan wajah Cosuya berdua di tempat ini, tampaknya sudah saatnya bagi perguruan Tay ki bun untuk membalas dendam."

Bergetar hati Sun Siau-kiau, gumamnya dengan perasaan-tercekat:

"Jangan-jangan... jangan-jangan kedua orang Cianpwe itu adalah Cosuya mereka yang mendirikan perguruan Tay ki bun?"

Kini semua orang merasa bahwa wajah patung dewa yang berada di sebelah kiri sangat mirip dengan wajah Im Gi, Ciang bunjin perguruan Tay ki bun yang sedang berlutut di tanah.

Serentak Gi Beng maupun Gi Teng ikut berlutut.

Paras muka Seng Cun-hau berubah hebat, gumamnya pula:

"Kemauan takdir... kehendak takdir...."

Sementara itu Im Ting-ting sudah merang­kak bangun dari atas meja altar, tiba-tiba jeritnya:

"Ayah, di atas meja terdapat ukiran tulisan"

"Apa yang dikatakan?"

Sambil menyeka tulisan itu dengan kain agar nampak lebih jelas, baca Im Ting-ting:

"Dipersembahkan untuk Im, Thiat dua orang Inkong, semoga anak cucu turun temurun, keluarga makmur keturunan sentosa."

"Semoga anak cucu turun temurun, keluarga makmur keturunan sentosa," Im Gi mengulang perkataan itu sambil tertawa getir.

Terbayang bagaimana keturunannya tercerai-berai, keluarganya hancur berantakan, tidak kuasa lagi air mata berlinang membasahi wajah tuanya.

Terdengar Im Ting-ting dengan nada gemetar melanjutkan:

"Di bawahnya tertera tanda tangan beberapa orang, mereka adalah...."

Tiba-tiba nada suaranya dipenuhi rasa benci, dan rasa dendam kesumat yang sangat mendalam, lanjutnya:

"Keluarga Seng, Lui, Leng, Pek, Hek dan Suto enam orang!"

Ketika nama itu diucapkan, Seng Cun-hau tidak kuasa menahan rasa bergidiknya lagi, bulu kuduknya berdiri.

"Enam keluarga mempersembahkan ucapan yang hebat, hahaha... semoga anak cucu turun temurun, keluarga makmur keturunan sentosa ... aku tahu, kalian enam keluarga justru sangat membenci keluarga Im dan Thiat, kalian berharap kami tertumpas dari muka bumi... tertumpas untuk selamanya...." teriak Im Gi sambil tertawa pedih.

Di tengah gelak tertawa yang menyeramkan, dia melompat bangun sambil mencengkeram Seng Toa-nio, jeritnya:

"Takdir... kehendak takdir... takdirlah yang menghendaki kalian datang kemari hari ini, agar kalian menyaksikan dengan mata kepala sendiri apa yang ditinggalkan leluhur kalian, sekarang... apa yang hendak kau katakan lagi?"

Seng Toa-nio memejamkan mata rapat-rapat, sambil mengertak gigi dia membungkam.

"Seng Cun-hau!" kembali Im Gi berteriak keras, "kalau kau memang seorang anak berbakti, tahukah kau bila hari ini kau masih berbakti kepada ibumu, hal ini sama artinya tidak berbakti kepada leluhurmu?"

"Boanpwe... Boanpwe...." dengan sedih Seng Cun-hau menghela napas, "aaaai! Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi."

"Kalau memang tidak bisa berkata lagi... bagus, Seng Toa-nio, memandang wajah anakmu hari ini, Lohu berikan satu kesempatan lagi kepadamu...."

Setelah menepuk bebas jalan darah Seng Toa-nio, bentaknya gusar:

"Bangun, mari kita selesaikan persoalan hari ini dengan berduel!"

Dia mundur dua langkah, berbalik tubuh menghadap ke arah dua patung dewa itu dan ujarnya lagi dengan suara gemetar:

"Suco berdua, hari ini Tecu Im Gi sengaja akan menyelesaikan semua dendam kesumat perguruan Tay ki bun di hadapan kalian berdua, akan Tecu gunakan darah segar musuh untuk menyembah arwah kalian di alam baka!"

Selesai berkata dia rentangkan sepasang tangannya dan siap membalikkan badan....

Mendadak terdengar suara seseorang berkumandang datang dari atas patung dewa itu.

Suara itu datang mengalun dan terdengar sangat misterius, seakan-akan suara yang berasal dari roh gentayangan.

Sekata demi sekata dia berkata:

"Im Gi, wahai Im Gi, kau keliru besar, jangan dianggap pertikaian dan dendam kesumat yang dialami perguruan Tay ki bun bisa diselesaikan segampang itu, sekalipun Seng Toa-nio berhasil kau bunuh, tapi apa gunanya?"

Begitu ucapan itu bergema, semua jago dibuat terkesiap dan tercekat perasaannya.

Siapa yang tidak kaget? Siapa yang tidak bergidik ketika secara tiba-tiba di tengah ruang kuil yang misterius, dari  belakang patung Dewa yang antik dan kuno, tiba-tiba muncul suara manusia?

Sekujur tubuh Im Gi gemetar keras, dia mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, serunya tergagap:

"Kau... kau...."

Saking kaget dan tercekatnya dia sampai tidak mampu melanjutkan kembali perkataannya.

Terdengar suara itu kembali bergema:

"Kerumitan serta kekalutan di balik semua pertikaian dan dendam kesumat yang menimpa perguruan Tay ki bun tidak semudah dan sesederhana yang kau bayangkan, untung di antara mereka yang terlibat masih banyak yang hidup, hari ini mereka akan berdatangan semua ke tempat ini."

"Darimana kau tahu?" dengan memberani­kan diri Im Gi berteriak.

"Darimana aku tahu?" jawab suara itu, "urusan apa lagi di dunia ini yang tidak kuketahui?"

"Siapa kau?" tiba-tiba Im Kiu-siau mem­bentak nyaring.

Sekarang dia sudah tahu suara itu berasal dari belakang patung dewa, di tengah bentakan nyaring, tubuhnya melambung ke udara dan secepat kilat menubruk ke belakang patung itu.

Siapa tahu, belum lagi tubuhnya mencapai tempat itu, tiba-tiba segulung desingan angin meluncur keluar dari belakang patung, meskipun gulungan angin itu tidak terlampau kuat, namun sudah lebih dari cukup untuk menggetarkan tubuh Im Kiu-siau hingga mesti bersalto beberapa kali di udara dan sewaktu melayang turun, mundur lagi dengan sempoyongan.

Terkejut bercampur gusar, kembali Im Gi membentak:

"Sebenarnya siapa kau?"

Suara itu tertawa terkekeh, sahutnya:

"Hahaha,  baru  saja aku menyelamatkan nyawamu, masa sekarang kau sudah lupa?"

"Coh Sam-nio!" seru Im Gi terperanjat.

"Betul, aku adalah Coh Sam-nio, karena tadi aku telah menyelamatkan nyawamu, tentu saja sekarang pun aku tidak berniat mencelakai-mu, kenapa kau tidak percaya dengan nasehat serta bujukanku?"

"Apa... apa yang kau inginkan?"

"Bila kau  sungguh  ingin  menyelesaikan semua pertikaian dan  dendam kesumat yang menimpa perguruan Tay ki bun, ikutlah aku."

Di tengah pembicaraan, terlihat sesosok bayangan manusia melintas keluar dari balik patung dewa, tubuhnya bagaikan naga terbang, seperti juga sambaran halilintar, hanya berkelebat sekejap di depan semua orang dan tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tidak berbekas.

Tapi di saat yang amat singkat itulah semua orang telah melihat sebuah lorong rahasia dari balik kedua patung dewa itu, dari tempat itulah Coh Sam-nio muncul.

Besar kemungkinan di balik lorong rahasia itu tersimpan ancaman bahaya maut yang lebih besar dan menakutkan, namun bagi Im Gi sekalian tidak punya pilihan lain kecuali mempertaruhkan nyawa ikut menerobos masuk ke dalam.

"Semua anggota perguruan Tay ki bun, ikut aku!" bentak Im Gi nyaring.

Tanpa membuang waktu, dia menerobos masuk terlebih dulu.

Sebelum ikut masuk, Im Kiu-siau berpaling memandang Seng Toa-nio sekejap, tegurnya:

"Apakah kau masih...."

Sambil tertawa dingin Seng Toa-nio menukas:

"Tidak perlu kau kuatirkan, setelah urusan berkembang jadi begini, memangnya aku bakal kabur?"

Setelah sangsi sejenak, dia membungkuk­kan tubuh membopong tubuh putra kesayangan­nya, kemudian beranjak mengintil di belakang Im Gi sekalian.

Benar saja, di belakang patung dewa terdapat sebuah lorong rahasia.

Tentu saja lorong rahasia itupun berliku-liku bahkan jauh lebih gelap dan lembab, menelusuri lorong rahasia itu, perasaan Im Gi sekalian terasa jauh lebih bergolak, gejolak emosinya makin membara.

Bayangan tubuh Coh Sam-nio sudah lenyap, tapi gelak tawanya tiada henti berkuman-dang dari balik kegelapan di depan sana, kelihatannya suara tertawa itu digunakannya untuk memberi petunjuk jalan bagi rombongan ini.

Semua orang merasakan hawa dingin yang menggidikkan makin lama semakin bertambah mencekam, ketika berjalan beberapa saat kemudian, tiba-tiba dari depan sana terdengar suara bentakan serta pekikan tajam yang menusuk pendengaran.

Pekikan tajam itu tampaknya berasal dari Dewa racun Leng It-hong.

Menyusul terdengar suara Coh Sam-nio yang berseru dari kejauhan:

"Sudah hampir sampai, ayo, besarkan nyali dan cepat kemari!"

Kemudian dari arah depan sana lamat-lamat mulai terlihat ada cahaya terang.

Saat ini tidak seorang pun buka suara, yang terdengar hanya debaran jantung yang makin lama semakin bertambah nyaring,   langkah kaki semua orang pun tanpa terasa diayunkan makin cepat....

Mendadak pemandangan di depan sana mulai bertambah lebar dan cerah.

Sebuah lapisan pintu yang lebih tinggi dan besar terbentang di depan mata.

Suasana di balik pintu itu sangat terang, rupanya sebuah ruang pertemuan yang lebar, bangunan ini jauh lebih megah, mentereng dan mewah ketimbang bangunan pertama, di belakang meja altar terdapat pula dua buah patung dewa yang tinggi besar, sekalipun raut wajahnya sudah tertutup oleh lapisan lumut tebal, namun anehnya ternyata kedua patung itu berupa patung wanita, sisi kiri ruangan yang sangat megah itu ternyata sudah roboh sebagian, tumpukan batu berserakan dimana-mana, dari celah dinding yang roboh itulah cahaya matahari memancar masuk ke dalam dan menerangi seluruh sudut.

Biarpun banyak hal aneh yang dijumpai di situ, namun semua orang tidak sempat memper­hatikan dengan seksama, karena di tengah ruangan terdapat kejadian mengejutkan lain yang jauh lebih menarik perhatian mereka.

Suara bentakan yang menggetarkan pendengaran, suara pekikan yang tinggi meleng­king serta suara deru angin yang bergelombang sedang menyelimuti seluruh ruang megah bak istana itu.

Dua sosok bayangan manusia bergerak cepat kian kemari, mereka sedang terlibat pertarungan yang amat seru, seluruh suara aneh itu tidak lain berasal dari tubuh kedua orang yang sedang terlibat pertarungan sengit ini.

Kedua orang itu, seorang di antaranya berpekik nyaring tiada hentinya sambil melompat kian kemari bagaikan sesosok mayat hidup, tanpa melihat raut mukanya pun semua orang tahu dia tidak lain adalah Dewa racun.

Sementara yang lain membentak gusar tiada hentinya, sebilah kapak raksasa yang diputar dalam genggamannya menimbulkan bayangan kapak yang berlapis bagai bukit dan suara deru angin yang memekakkan telinga, begitu kerasnya suara deruan itu hingga ujung baju Im Gi sekalian yang berdiri puluhan tombak dari situ pun ikut berkibar kencang.

Tubuh orang itu seakan memiliki tenaga sakti yang tiada habisnya, kapak raksasa yang berada dalam genggamannya diputar bagaikan roda kereta, begitu rapat dan berlapis-lapis hingga angin dan hujan susah menembus.

Biarpun Dewa racun berteriak gusar, namun jangan harap sepasang cakar racunnya mampu menyentuh tubuh orang itu, dia hanya bisa berpekik nyaring berulang kali sambil berputar mengelilingi bayangan manusia itu dan menanti bayangan kapaknya muncul celah kosong.

Sayang orang itu seolah memiliki kekuatan alam yang luar biasa, kekuatan yang membuatnya tidak pernah lelah, begitu dahsyat dan kuatnya orang itu seakan dia memiliki kemampuan untuk memutar kapak itu selamanya.

Selama hidup belum pernah kawanan jago itu menyaksikan pertarungan sedahsyat ini, tanpa terasa semua orang berdiri melongo dengan pandangan terbelalak.

Seakan menyadari akan sesuatu, Gi Beng segera berseru:

"Ternyata 'benda' yang disebut Hong Lo-su adalah orang ini, tapi siapakah dia? Kenapa bisa memiliki tenaga sesakti itu? Jangan-jangan dia pun bukan... bukan manusia?"

Ketika berpaling, dia jumpai Im Gi sedang mengawasi bayangan manusia itu tanpa berkedip, begitu besar dia melotot sampai biji matanya seolah-olah mau melompat keluar.

Setelah mengamati beberapa saat, akhirnya dia berteriak nyaring:

"Sim-te! Dia adalah Sim-te!"

"Sim-te!" terdengar Im Kiu-siau ikut berteriak keras, "kenapa kau bisa berada di sini?"

Dipengaruhi gejolak emosi yang meluap, kedua orang itu hampir saja menubruk maju ke depan, tapi sebelum melangkah, tiba-tiba pandangan jadi kabur, tahu-tahu Coh Sam-nio sudah merintangi jalan pergi mereka sambil merentangkan sepasang tangannya.

Terdengar dia berkata dengan suara berat:

"Betul, dia memang adik Sim kalian, dan dia pula satu-satunya orang di dunia ini yang mampu membendung keganasan Dewa racun, aku sengaja mengajaknya kemari tidak lain karena ingin menggunakan kemampuannya untuk bertarung melawan Dewa racun."

"Tapi adik Sim, dia... kelihatannya...."

"Benar," tukas Coh Sam-nio sambil tertawa, "kesadarannya memang kelihatan tidak beres, karena jiwanya memang sudah dibetot dengan ilmu pembetot sukma, karena tidak sadar maka dialah yang paling cocok bertarung menghadapi si Dewa racun."

"Aku sebagai Ciangbunjin perguruan Tay ki bun tidak bisa membiarkan dia menderita, apalagi membiarkan dia bertarung seorang diri, Lohu... biar mempertaruhkan nyawa pun harus..."

"Orang yang sudah kehilangan kesadaran mana mungkin tahu menderita? Sekarang dia telah mengeluarkan seluruh tenaganya yang tersembunyi untuk melakukan pertarungan, saat ini dia justru telah   menjadi satu-satunya jago paling tangguh dari perguruan Tay ki bun, sementara si Dewa racun Leng It-hong tidak dapat disangkal telah menjadi jagoan yang paling tangguh pula dari persekutuan Ngo hok beng, pertarungan yang berlangsung saat ini pada hakikatnya merupakan pertempuran antara perguruan Tay ki bun melawan persekutuan Ngo hok beng, apa salahnya membiarkan dia bertempur? Dengan kemampuan silatmu sekarang, ikut dalam pertarungan itu hanya merupakan tindakan ceroboh, membuang tenaga dengan percuma."

Biarpun ucapan yang terakhir disampaikan dengan bahasa yang sopan, namun maksudnya jelas sekali:

"Jika kau ikut campur, pada hakikatnya hanya mengantar nyawa dengan percuma".

Im Gi termangu beberapa saat, akhirnya sambil menghentakkan kaki dan menghela napas panjang, dia membungkam.

Akhirnya sorot mata semua orang pun dialihkan ke tubuh Dewa racun dan lelaki bertelanjang kaki itu.

Sementara itu Gi Beng menyapu pandang sekejap sekeliling tempat itu, dia lihat di bawah meja altar dan di bawah patung dewa yang berjarak tiga kaki, duduk bersila dua orang, orang yang bersila di sebelah kiri ternyata adalah Hong Lo-su, kelihatannya dia sudah menggunakan tenaga kelewat banyak hingga sekarang perlu duduk mengatur pernapasan.

Sementara di sampingnya duduk bersila pula seseorang, ternyata dia adalah Siang-tok Thaysu, wajahnya yang semula merah darah kini telah berubah jadi hijau keabu-abuan, hal ini menandakan dia sudah menderita luka dalam.

Mereka berdua sebenarnya adalah musuh bebuyutan, tapi kini justru duduk berdampingan di atas meja altar yang sama, kejadian ini semakin menunjukkan kedua orang ini sudah bertarung habis-habisan hingga tak punya tenaga lagi untuk bergerak, kalau masih punya kekuatan, mana mungkin mereka duduk tenang? Mungkin pertarungan mati hidup kembali akan berkobar dengan serunya.

Ketika memeriksa lagi ke belakang meja altar, tampak ada tiga kepala manusia muncul dari balik kegelapan, saat itu mereka sedang mengawasi Im Gi dengan penuh kebencian, ternyata ketiga orang itu adalah Hek Seng-thian, Pek Seng-bu dan Suto Siau.

Begitu melihat kehadiran ketiga orang itu, tidak tahan Gi Beng berseru keheranan:

"Aneh, mereka bertiga bisa muncul di sini, kenapa Hoa Bu-soat...."

"Hoa Bu-soat sedang pergi mencari putri­nya," terdengar Coh Sam-nio menyela sambil tertawa.

"Lalu nona Un?"

"Un Tay-tay sudah terjatuh ke tangan Suto Siau."

"Aduh! Bagaimana baiknya!" Gi Beng menjerit tertahan.

Coh Sam-nio tersenyum.

"Dulu Un Tay-tay memang bini muda Suto Siau, kalau sekarang dia balik lagi ke samping Suto Siau juga bukan suatu kejadian yang aneh, itu lumrah, kenapa kau mesti cemas pada keselamatannya?"

Gi Beng menjadi tertegun beberapa saat, tapi setelah menghela napas panjang, dia pun tidak berbicara lagi... kalau kejadian sudah begini, perkataaan apa lagi yang bisa disampaikan?

Im Kiu-siau yang ikut memandang sekejap sekeliling tempat itu diam-diam merasa girang.

Kini Hoa Bu-soat sudah pergi, Hong Lo-su dan Siang-tok Thaysu sudah terluka, jago lihai yang tersisa pun tinggal Coh Sam-nio seorang, padahal dilihat dari sikapnya, jelas Coh Sam-nio tidak menaruh niat jahat terhadap perguruan Tay ki bun.

Ketika mencoba menganalisa kekuatan musuh, dari pihak lawan Seng Toa-nio sudah terjatuh ke tangan mereka, Seng Cun-hau sudah tidak bisa bertarung dan tidak mau bertarung lagi, sisanya Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Suto Siau sudah bukan ancaman yang menguatirkan lagi, berarti asal lelaki bertelanjang kaki itu tidak kalah, dendam kesumat sedalam lautan perguruan Tay ki bun bisa terbalaskan hari ini.

Berpikir sampai di situ, tanpa terasa sekulum senyuman menghiasi bibirnya.

Tidak membuang waktu lagi dia segera menarik ujung baju Im Gi sambil berbisik dengan suara dalam:

"Kesempatan emas sudah di depan mata dan peluang ini segera akan lenyap bila tidak dimanfaatkan, kalau tidak turun tangan sekarang, kita mau menunggu kapan lagi?"

"Benar!" seru Im Gi dengan semangat berkobar.

Dia segera memberi tanda sambil terusnya:

"Cing-su, Ting-ting, kalian menghadapi Pek Seng-bu, aku menghadapi Suto Siau, sedang Hek Seng-thian kuserahkan kepadamu Samte!"

Baru selesai bicara, dia sudah melesat ke depan.

Angin serangan kapak dan bayangan manusia nyaris menyelimuti seluruh ruangan itu, terpaksa Im Gi harus menelusuri pinggir ruangan.

Thiat Cing-su, Im Kiu-siau serta Im Ting­ ting cepat menyusul dari belakang.

Keempat orang itu penuh diliputi gejolak hawa darah yang menggelora, napsu membunuh menghiasi wajah semua orang, bahkan Im Ting-ting yang biasanya halus lembut pun kini sudah diliputi hawa napsu membunuh yang menakutkan, dia seolah ingin segera membunuh musuhnya dan memadamkan kobaran api dendamnya dengan darah lawan.

Menyaksikan bayangan punggung beberapa orang itu, sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibir Coh Sam-nio, ujarnya sambil manggut-manggut dan tertawa:

"Bagus, bagus, memang seharusnya begitu, memang seharusnya begitu

Kemudian sambil menarik kembali pandangan serta senyumannya, dia melanjutkan dengan nada dalam:

"Tapi persoalan ini merupakan pertikaian orang-orang perguruan Tay ki bun dan Ngo hok beng, kecuali kalian yang terlibat langsung, siapa pun tidak boleh ikut campur dalam persoalan ini, mengerti?"

"Aku toh boleh ikut terlibat," sela Seng Toa-nio sambil tertawa dingin.

Baru saja dia menurunkan tubuh Seng Cun-hau, mendadak tubuhnya gemetar keras, di tengah jeritan kagetnya, mendadak tubuhnya terjungkal ke atas tanah. Rupanya Seng Cun-hau dengan mengerahkan segenap sisa kekuatan yang dimilikinya telah menotok jalan darah ibunya.

Ibu dan anak pun sama-sama jatuh bergulingan di atas tanah.

Tidak terlukiskan rasa kaget bercampur gusar Seng Toa-nio, jeritnya histeris:

"Cun-hau! Apa-apaan kau?"

Dengan air mata bercucuran, sahut Seng Cun-hau memelas:

"Ananda memang pantas dibunuh, tapi... tapi ananda...."

"Binatang!" umpat Seng Toa-nio makin gusar, "dasar binatang yang tidak berbakti!"

"Kau tidak perlu memakinya," kata Coh Sam-nio sambil tertawa, "bocah itu berbuat begitu juga demi kebaikanmu sendiri, dengan begitu, siapa yang akan keluar sebagai pemenang, di kemudian hari kau boleh cuci tangan dan berdiri sebagai penonton, apa tidak lebih menyenangkan?"

Terdengar suara bentakan nyaring meng­gelegar memecah keheningan, kepalan baja Im Gi telah dilontarkan ke depan menghantam dada Suto Siau.

"Bagus, orang she Im, kau sangka aku Suto Siau benar-benar takut kepadamu?" seru Suto Siau sambil tertawa keras.

Karena sadar tidak mungkin bisa meng­hindari pertarungan itu, terpaksa dia harus membesarkan nyali dan menyambut datangnya serangan itu.

Di arena lain, Hek Seng-thian dan Im Kiu-siau sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun, begitu bertemu, masing-masing pihak saling melancarkan tujuh jurus serangan, sedang Thiat Cing-su bekerja sama dengan Im Ting-ting terlibat pula dalam pertempuran seru melawan Pek Seng-bu.

Dendam kesumat yang sudah tersimpan selama belasan tahun dalam dada mereka seketika dilampiaskan keluar semua, jurus demi jurus serangan yang digunakan pun ganas, telengas dan sama sekali tidak kenal ampun, tampaknya mereka ingin secepatnya menghabisi nyawa musuh bebuyutannya.

Pek Seng-bu bertiga pun sadar, bila dalam pertarungan kali ini tidak berhasil ditentukan hidup-mati, mustahil pertempuran akan disudahi begitu saja, dalam keadaan seperti ini, kecuali mengadu jiwa, memang tiada pilihan lain lagi bagi mereka.

Dalam waktu singkat, tampak angin pukulan bayangan kepalan menderu dan menggulung di udara, suara pekikan keras bagai gulungan ombak di samudra serasa membawa hawa pembunuhan yang menakutkan, sedemikian hebatnya pertarungan yang berlangsung sampai Gi Beng yang berdiri belasan kaki dari arena pun dapat merasakan betapa menekannya hawa pembunuhan itu.

Biarpun ilmu silat yang dimiliki beberapa orang itu belum bisa dibilang sangat luar biasa, namun hawa pembunuhan yang terpancar justru cukup membuat hati orang berdebar, apalagi bagi Gi Beng, jantungnya berdebar keras, diam-diam dia selalu berdoa demi keselamatan Thiat Cing-su.

Coh Sam-nio melirik sekejap ke arahnya sambil tersenyum, tiba-tiba ujarnya:

"Kelihatannya walaupun bukan anggota perguruan Tay ki bun, namun kau ingin sekali membantu pihak mereka, bukankah begitu?"

"Siapa pun wajib membela dan menegakkan kebenaran!"

"Ehmmm, membela dan menegakkan kebenaran! Sebuah perkataan yang bagus, hanya sayang... aaaai!" Coh Sam-nio menghela napas panjang.

Dia sengaja menghentikan perkataannya dan tidak dilanjutkan kembali.

Betul saja, Gi Beng tidak kuasa menahan diri, segera tanyanya:

"Sayang kenapa?"

"Sayang kelompok jago yang membela dan menegakkan kebenaran ini mungkin akan tertumpas untuk selamanya pada hari ini."

Berubah paras muka Gi Beng setelah mendengar perkataan itu, tapi sejenak kemudian sambil tertawa dia menggeleng, katanya:

"Kalau hanya mengandalkan kemampuan Hek Seng-thian dan Suto Siau bertiga, bagaimana mungkin mereka mampu menandingi kekuatan mereka? Mungkin kelompok Ngo-hok-beng yang bakal tertumpas untuk selamanya!"

"Oya... lantas bagaimana dengan Dewa racun itu?"

"Bukankah sudah ada orang yang mampu menghadang si Dewa racun?"

"Betul," Coh Sam-nio tersenyum, "memang ada orang lain yang mampu membendung sepak terjang Dewa racun, tapi si lelaki bertelanjang kaki itu hanya mampu membendung, itupun sudah menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya, ingin melenyapkan dirinya? Mustahil bisa dia lakukan. Lagi pula tenaga manusia itu ada batasnya, paling setengah jam lagi dia pun tidak akan mampu membendung serangan mautnya."

"Lalu... lalu bagaimana baiknya?" seru Gi Beng terkejut.

"Pada saat itulah kelompok yang akan membela dan menegakkan kebenaran ini akan tertumpas dan musnah untuk selamanya."

"Kalau sampai terjadi seperti ini, apapun yang bakal terjadi kita harus mencari cara untuk menghadapi Dewa racun...." seru Gi Beng sambil menggigit bibir.

Tiba-tiba Coh Sam-nio menarik wajahnya seraya menegur:

"Hanya mereka yang terlibat langsung dalam pertikaian ini yang boleh ikut campur, kau sudah lupa dengan perkataan itu?"

"Tapi... tapi... masa akan kau biarkan mereka mati konyol?" seru Gi Beng dengan wajah berubah.

"Cara kerjaku selalu menjunjung tinggi keadilan, bila aku tidak mengizinkan orang lain membantu pihak Ngo hok beng, tentu saja aku pun akan melarang siapa pun membantu pihak perguruan Tay ki bun, bila ada yang berani turun tangan secara sembarangan, dia mesti melewati dulu aku Coh Sam-nio."

Gi Beng tertegun beberapa saat, kemudian jeritnya:

"Kau sengaja berkata begitu karena tahu pihak perguruan Tay ki bun bakal mengalami bencana tragis, kau jelas berat sebelah, katanya saja bersikap adil, tapi nyatanyakau ... kau...."

"Besar amat nyalimu," hardik Coh Sam-nio keras, "di hadapan Sam-nio pun berani bicara kurangajar, memangnya kau sangka aku tidak mampu membungkam mulutmu?"

Sekali lagi Gi Beng dibuat melengak, akhirnya dia berpaling ke arah lain, sementara butiran air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Gi Teng sendiri pun merasa sangat gusar dan mendongkol, tapi selama berada di hadapan jago lihai dunia persilatan ini, selain bersabar dan menahan diri, apa lagi yang bisa mereka lakukan? Memangnya mereka ingin mengantar kematian dengan percuma?

Lewat beberapa saat kemudian terdengar Coh Sam-nio berkata lagi:

"Keadaan sudah berkembang jadi begini, apa gunanya kau menangis? Coba lihat ke arah sana!"

Tidak tahan Gi Beng segera berpaling ke arah yang ditunjuk,   tampak Im Gi masih menyerang dengan garangnya, tapi sayang walaupun semua serangannya ganas dan hebat, Suto Siau dengan mengandalkan gerakan tubuhnya yang lincah dan gesit berhasil berkelit dari semua ancaman itu, untuk sesaat nampaknya dia belum akan terkalahkan.

Im Kiu-siau sendiri walaupun berhasil merebut posisi di atas angin, namun dia pun mengalami kesulitan menyelesaikan pertarungan dalam waktu singkat.

Hanya keadaan Pek Seng-bu yang paling mengenaskan, dikerubut dua orang jago dari kiri kanan, posisinya makin lama semakin tercecar dan terjerumus dalam keadaan sangat berbahaya.

Im Ting-ting serta Thiat Cing-su ibarat dua ekor harimau yang baru turun gunung, jurus serangan macam apapun yang digunakan Pek Seng-bu, ternyata mereka berdua selalu meng-hadapinya dengan keras lawan keras.

Peluh sebesar kacang kedelai telah membasahi seluruh tubuh Pek Seng-bu, tiba-tiba dia melepaskan sebuah pukulan, sementara iga kirinya dibiarkan terbuka dari pertahanan.

Melihat datangnya kesempatan emas, Thiat Cing-su tidak mau melepaskannya dengan sia-sia, sambil membentak dia merangsek maju.

Siapa tahu walaupun Pek Seng-bu bukan tandingan mereka, namun pengalamannya dalam pertarungan jauh mengungguli lawan, kali ini dia memang sengaja membuka pertahanannya agar pihak lawan masuk perangkap.

Ketika Thiat Cing-su merangsek maju, mendadak tangan kiri Pek Seng-bu melepaskan sebuah pukulan, padahal waktu itu si anak muda itu sudah telanjur merangsek setengah jalan, sulit baginya untuk menghindarkan diri.

"Aduh celaka!" pekik Gi Beng kaget.

Baru dia berteriak, Thiat Cing-su sudah termakan sebuah pukulan hingga tubuhnya mencelat ke belakang.

Biarpun serangan itu bersarang di tubuh Thiat Cing-su, namun seakan menghajar dada Gi Beng, seketika membuat gadis itu menjerit kaget dan kesakitan, hampir saja tanpa mempedulikan segala sesuatunya dia akan menerkam ke depan.

Tampak tubuh Thiat Cing-su bergulingan di atas tanah, tapi segera melompat bangun lagi.

Rupanya walaupun pukulan Pek Seng-bu tadi bersarang telak, namun karena hadangan Im Ting-ting, serangan itu tidak sampai menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya.

Im Gi yang menyaksikan kejadian itu segera membentak keras:

"Anak baik, ayo, maju lagi!"

"Baik!" sahut Thiat Cing-su tidak kalah kerasnya.

Benar saja, dia langsung merangsek maju lagi, biarpun pukulan tadi membuatnya kesakitan hingga wajahnya berubah dan bermandikan keringat dingin, namun rasa sakit sama sekali tidak melenyapkan semangat tempurnya yang luar biasa.

Gi Beng yang melihat hal itu merasa hatinya pedih bercampur girang... perempuan mana di dunia ini yang tidak senang menyaksikan pujaan hatinya seorang lelaki berhati baja?

"Kelihatannya perhatianmu terhadap anak muda itu sangat besar," kata Coh Sam-nio sambil tertawa.

"Hmmm!" Gi Beng mendengus sambil melengos ke arah lain, mendadak dia lihat di belakang tubuhnya telah berkurang dua orang ... rupanya menggunakan kesempatan terjadinya kekalutan tadi, secara diam-diam Sun Siau-kiau telah membopong Sim Sin-pek kabur dari situ.

Tapi saat itu dia tidak punya waktu untuk menggubris Sun Siau-kiau lagi, karena pada waktu bersamaan Hong Lo-su yang semula duduk bersemedi tiba-tiba melompat bangun.

Gi Beng serta Gi Teng seketika terkesiap.

"Hong Lo-su pun tidak termasuk salah satu orang yang terlibat dalam pertikaian ini, kau harus mencegahnya untuk ikut terlibat dalam pertarungan ini," buru-buru Gi Beng berseru.

"Tidak usah kuatir," Coh Sam-nio ter­senyum, "dia tidak bakal turun tangan."

Benar saja, Hong Lo-su sama sekali tidak menengok ke arah arena pertarungan, setelah bangkit berdiri, perlahan-lahan dia berjalan menuju kehadapan Siang-tok Thaysu.

Menyaksikan hal itu, Gi Beng pun meng­hembuskan napas lega.

Tampak sekilas senyuman puas yang misterius terlintas di wajah Coh Sam-nio. Rupanya dia sudah menduga Hong Lo-su bakal melakukan satu perbuatan yang mengejutkan.

Sewaktu melihat Hong Lo-su berjalan menuju ke hadapannya, paras muka Siang-tok Thaysu berubah hebat, kelihatannya dia belum siap untuk menghadapi serangan, bila Hong Lo-su sampai melancarkan serangan, niscaya Siang-tok Thaysu tidak akan sanggup melakukan perlawan­an.

Anehnya ternyata Hong Lo-su tidak melancarkan serangan.

Dengan sekulum senyuman aneh dia menatap wajah Siang-tok Thaysu lekat-lekat, ujarnya perlahan:

"Angkat wajahmu!"

"Mau... mau apa kau?"

"Tatap wajahku!" kembali  Hong Lo-su berkata.

Tanpa sadar Siang-tok Thaysu mengangkat wajahnya, dan dia pun segera menyaksikan sepasang biji mata Hong Lo-su memancarkan cahaya aneh.

"Celaka...." pekiknya dalam hati. Dia ingin menghindar, tapi sayang keadaan sudah terlambat.

"Dalam pertarungan yang terjadi tempo hari," ujar Hong Lo-su, "walaupun aku terkena racunmu, kau pun terpengaruh ilmu pembetot sukmaku, saat itu jiwa dan pikiranmu masih kuat, karenanya tidak sampai terpengaruh terlalu mendalam, kau masih sanggup mempertahankan diri meski tingkah lakumu sudah setengah gila, waktu itu orang lain dapat melihat tingkah gilamu, tapi kau sendiri sama sekali tidak merasakannya."

Tiba-tiba nada ucapannya berubah sangat halus, ramah dan hangat, seperti seorang tua yang ramah sedang memberi wejangan kepada anak muridnya yang paling disayang.

Siang-tok Thaysu membelalakkan matanya lebar-lebar, mengawasinya tanpa berkedip, dia mendengarkan semua perkataan itu tanpa membantah, bagaikan seorang anak penurut yang sedang mendengarkan wejangan gurunya.

Terdengar Hong Lo-su berkata lagi:

"Tapi sekarang, kau sudah terluka oleh senjata rahasia Hoa Bu-soat, biarpun kau sangat menguasai ilmu racun, namun tidak mampu memunahkan racun senjata rahasia yang dilepaskan Hoa Bu-soat, benar begitu?"

Tanpa  sadar  Siang-tok  Thaysu  meng­anggukkan kepala.

"Oleh sebab itu, kini kau sedang memusatkan seluruh pikiran dan perhatianmu untuk mencegah agar racun jahat itu tidak menyerang jantungmu, karena itu niat dan ketegaran jiwamu sangat lemah, sangat rapuh, kau sudah tidak mampu melawan aku lagi."

Siang-tok Thaysu menghela napas panjang, tanpa terasa kembali dia mengangguk.

"Nah, itulah dia, kini jalan pikiran dan kesadaranmu sudah berada dalam kendaliku, sekarang kau tidak akan mampu mengambil keputusan lagi, kau hanya mampu menuruti semua perkataanku, benar bukan?"

Nada suara Hong Lo-su makin lama semakin lembut, halus dan hangat.

Dengan termangu Siang-tok Thaysu menatap wajahnya  beberapa  saat, tapi akhirnya dia menundukkan kepala seraya mengangguk:

"Benar!"

"Mulai sekarang kau hanya mempunyai seorang majikan, apapun yang akan dia katakan, kau tidak akan melawan dan membangkang... tahukah kau, siapa majikanmu?"

"Kau adalah majikanku," sahut Siang-tok Thaysu seperti orang mengigau.

"Bagus, apa jadinya bila kau berani membangkang majikanmu?" kata Hong Lo-su lagi.

"Siap menjalani hukuman yang ditimpakan majikan kepadaku."

"Mulai sekarang racun yang mengeram dalam tubuhmu sudah terbendung oleh kekuatan saktiku, racun itu tidak bakal kambuh lagi."

Perlu diketahui, ilmu pembetot sukma yang digunakan di masa lalu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ilmu hipnotis zaman sekarang, ilmu ini berkhasiat juga untuk menyembuhkan penyakit.

Tampak sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibir Siang-tok Thaysu, katanya:

"Terima kasih banyak."

"Tapi kau harus ingat," kata Hong Lo-su lebih jauh, "bila kau berani membangkang perintah majikanmu, racun itu segera akan bekerja lagi, dan bila sampai terjadi hal semacam ini, tidak ada lagi manusia di dunia ini yang sanggup menyelamatkan jiwamu, mengerti?"

Senyuman di wajah Siang-tok Thaysu seketika hilang tidak berbekas, kembali dia menundukkan kepala seraya menyahut:

"Mengerti!"

Saat itulah senyum kepuasan terlintas di wajah Hong Lo-su, katanya perlahan:

"Bagus, sekarang kau boleh memanggil balik si Dewa racun, beritahu kepadanya siapa saja yang menjadi anggota perguruan Tay ki bun, kemudian perintahkan kepadanya untuk membantai habis semua orang itu."

"Terima perintah," sahut Siang-tok Thaysu.

Tiba-tiba Hong Lo-su membalikkan tubuh sambil membentak:

"Kapak sakti, ada dimana kau?"

Sementara Siang-tok Thaysu berteriak pula dengan lantang:

"Dewa racun, ada dimana kau?"

Diiringi suara nyaring, deruan angin kapak dan bayangan manusia seketika reda dan lenyap.

Tampak si Dewa racun meluncur ke sisi Siang-tok Thaysu dengan kecepatan bagaikan hembusan angin, sedang si lelaki bertelanjang kaki itu berjalan menghampiri Hong Lo-su dengan langkah lebar.

Gi Beng serta Gi Teng yang berdiri di kejauhan hanya bisa menyaksikan perubahan mimik muka Siang-tok Thaysu, mereka sama sekali tidak mendengar perkataan apa yang diucapkan Hong  Lo-su    tentu saja perubahan yang terjadi sekarang membuat mereka jadi tercengang dan berdiri tertegun.

Mereka semakin bingung dan tidak habis mengerti ketika melihat Dewa racun maupun lelaki bertelanjang kaki itu dipanggil balik.

Sepasang muda-mudi ini hanya bisa saling bertukar pandang dengan wajah keheranan, siapa pun tidak dapat menebak dengan pasti peristiwa apa yang sebenarnya telah terjadi.

Umpama waktu itu mereka berdua dapat mendengar perkataan Hong Lo-su, rasa kaget, keheranan dan tidak habis mengerti yang mencekam hati mereka pasti akan berlipat ganda.

Waktu itu Hong Lo-su telah berkata kepada lelaki berkapak sakti itu:

"Tahukah kau, sebenarnya kau adalah anggota perguruan Tay ki bun?"

"Tahu!" sahut lelaki kekar itu.

Sambil menuding ke arah Pek Seng-bu, Hek Seng-thian dan Suto Siau, kembali Hong Lo-su berkata:

"Ketiga orang yang kutuding itu adalah musuh bebuyutanmu, sekarang juga cepat kau cabut nyawa mereka bertiga."

"Baik!"

Dalam pada itu si Dewa racun kembali berpekik aneh, bagaikan hembusan angin kencang dia merangsek ke sisi tubuh Im Gi, lalu dengan sepasang cakar beracunnya dia serang tubuh orang tua itu.

Im Kiu-siau yang kebetulan menyaksikan kejadian itu jadi kaget setengah mati, segera jeritnya:

"Toako, hati-hati!"

Cepat Im Gi menjatuhkan diri meng­gelinding di atas tanah, dalam waktu singkat dia sudah berkelit sejauh beberapa tombak.

Gagal dengan serangannya, kembali Dewa racun melesat maju, kali ini sepasang cakar setannya mengancam tubuh Im Kiu-siau.

Dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, dengan tergopoh-gopoh Im Kiu-siau menghindarkan diri, teriaknya kemudian:

"Cing-su, Ting-ting, hentikan serangan dan cepat mundur!"

Keempat orang itu segera melarikan diri dengan berpencar ke empat penjuru, namun Dewa racun tidak tinggal diam, sambil berpekik nyaring dia mengejar terus di belakang mereka.

Melihat kejadian ini, Gi Beng dan Gi Teng kaget setengah mati, sebaliknya Suto Siau sekalian justru merasa amat girang

Sayang sebelum mereka sempat tertawa terbahak-bahak karena kegirangan, lelaki ber­telanjang kaki dengan kapak mautnya telah muncul di hadapan mereka, bahkan kapak raksasanya diputar bagaikan pusingan roda dan disertai deru angin tajam langsung dibacokkan ke arah kepala mereka.

Kekuatan kapak maut tidak jauh berbeda dengan cakar beracun Dewa racun, tiada kekuatan manusia di dunia ini yang sanggup menandingi-nya.

Suto Siau, Pek Seng-bu serta Hek Seng-thian pun terpaksa melarikan diri terbirit-birit ke empat penjuru, namun deru angin kapak yang tajam dan dahsyat seolah tidak pernah meninggalkan belakang tubuh mereka.

Dalam waktu singkat dalam ruangan itu terlihat delapan sembilan sosok bayangan saling menerjang ke kiri, menerobos ke kanan diiringi teriakan, jeritan serta pekikan aneh yang menusuk pendengaran.

"Menarik, menarik, sangat menarik...." seru Hong Lo-su sambil bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak.

"Hong-locianpwe," jerit Suto Siau dengan perasaan kaget, "kenapa kau... kenapa kau

"Hahaha, lelaki bertelanjang kaki itu memang anggota perguruan Tay ki bun," seru Hong Lo-su sambil tertawa tergelak, "tentu saja dia akan mencari kalian untuk membuat perhitungan, buat apa kau berteriak-teriak memanggil aku... ?"

Di pihak lain Gi Beng pun berteriak keras:

"Coh... Coh-locianpwe... kenapa kau.....”

Coh Sam-nio tertawa terkekeh.

"Hahaha, Leng It-hong memang anggota Ngo hok beng, apa salahnya kalau dia mencari anggota perguruan Tay ki bun untuk menuntut balas? Buat apa kau berteriak memanggil aku? Coba lihat, mereka yang terlibat dalam pertarungan saat ini, siapa yang tidak terlibat langsung dalam pertikaian dan perselisihan itu? Orang luar mana yang terlibat dalam pertarungan itu? Bukankah cara kerja Sam-nio sangat adil?"

Gi Beng merasa terkejut bercampur gusar, jeritnya:

"Kau memang betul-betul keji! Kalian semua memang jahat dan kejam! Bukan saja kalian menghendaki seluruh anggota perguruan Tay ki bun punah, kalian pun berharap semua anggota Ngo hok beng mampus, sebenarnya apa maksud kalian melakukan hal ini?"

"Bila mereka semua sudah mampus, bukankah kolong langit akan jauh lebih aman dan tenteram?" sahut Coh Sam-nio sambil tersenyum.

Gi Beng menarik napas dingin, kini dia benar-benar tidak tahu perkataan apa lagi yang bisa dikatakan.

Mendadak dari luar celah dinding yang roboh terdengar seseorang membentak nyaring:

"He, apa-apaan kalian semua? Mau memberontak? Semuanya berhenti!"

Sesosok bayangan manusia meluncur masuk dengan kecepatan tinggi, ternyata dia adalah Hoa Bu-soat.

"Hoa Bu-soat, kau tidak boleh ikut campur dalam urusan itu, cepat kemari," Coh Sam-nio segera membentak keras.

Di tengah suara bentakan itu, mendadak dia turun tangan secepat sambaran petir, Gi Beng hanya merasakan pandangan matanya kabur, belum sempat melihat jelas apa yang terjadi, tahu-tahu Sui Leng-kong yang berada dalam pelukannya telah direbut Coh Sam-nio.

Hoa Bu-soat membalikkan tubuh dan meluncur ke hadapan Coh Sam-nio, tegurnya sambil tertawa dingin:

"Budak ketiga, rupanya kau, sejak kapan kau berani memberi perintah kepadaku?"

"Jici, baik-baikkah kau?" sahut Coh Sam-nio sambil tertawa, "coba kau perhatikan, siapa-kah dia?"

Begitu menyaksikan Sui Leng-kong yang berada dalam pelukannya, berubah hebat paras muka Hoa Bu-soat, teriaknya:

"Putriku... kembalikan kepadaku, putriku.."

Dalam pada itu Coh Sam-nio sudah mundur sejauh beberapa tombak dari posisi semula, katanya sambil tertawa:

"Asal Jici tidak ikut campur persoalan ini, tentu saja Siaumoay akan segera mengembalikan putrimu."

Hoa Bu-soat seperti akan menubruk lagi ke muka, tapi akhirnya dia urungkan niatnya, ujarnya sambil tertawa terkekeh:

"Hahaha, bagus, budak ketiga, aku turuti perkataanmu, tapi jangan kau lukai putriku walau seujung rambut pun."

"Aku saja senang melihat bocah perempuan ini, mana mungkin melukainya, Jici, kau tak usah kuatir, coba lihatlah, betapa menariknya pertarungan mereka."

Dewa racun mengejar ketat anggota perguruan Tay ki bun, kecuali anak murid perguruan ini, dia tidak pernah menengok sasaran lain.

Begitu pula dengan lelaki bertelanjang kaki itu, dia hanya mengejar Suto Siau bertiga, sementara mati hidup orang lain dia tidak peduli.

Ketika anggota perguruan Tay ki bun saling bersimpangan dengan Suto Siau sekalian dalam kaburnya, setiap kali bersua, dalam kerepotan mereka masih sempat saling melepaskan pukulan untuk merobohkan lawan.

Pemandangan waktu itu boleh dibilang sangat kalut, suasana pun terasa mengerikan dan menakutkan.

Mendadak terlihat langkah Pek Seng-bu sempoyongan, diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati dia termakan bacokan maut kapak raksasa lelaki itu hingga tubuhnya terbelah jadi dua bagian.

Sekalipun Gi Beng menaruh kesan jelek terhadap Pek Seng-bu, tidak urung kematiannya yang begitu mengenaskan membuat bulu kuduk-nya berdiri, dia merasakan segulung hawa dingin muncul dari dasar kakinya dan menyusup hingga ke atas kepala.

Sementara itu lelaki bertelanjang kaki dengan mengayunkan kapak raksasanya yang penuh berlepotan darah sedang mengejar Hek Seng-thian.

Biarpun Hek Seng-thian keji, jahat dan tidak berperasaan,   namun kematian saudara angkatnya yang sudah mati hidup ber saman ya selama puluhan tahun seketika membuat matanya memerah, jeritnya pilu:

"Jite,kau...."

Belum selesai dia menjerit, percikan darah segar Pek Seng-bu yang menempel di mata kapak telah menodai seluruh pakaiannya, menyusul kemudian sebuah ayunan kapak langsung menghajar batok kepalanya.

Belum selesai dia menjerit ngeri, batok kepalanya sudah terpenggal hingga mencelat jauh ke sudut ruangan.

Suto Siau yang menyaksikan kejadian itu bergidik, nyalinya pecah berantakan, tiba-tiba dia mendongakkan kepala dan tertawa keras, tertawa kalap seperti orang gila.

"Bagus sekali suara tawamu, bagus sekali suara tawamu ejek Hong Lo-su sambil tertawa aneh.

Mendadak Suto Siau menerjang maju ke depan, lalu secepat kilat tubuhnya menerkam ke muka dan dia memeluk sepasang kaki Hong Lo-su kencang-kencang.

Tindakan ini sama sekali di luar dugaan Hong Lo-su, mimpi pun dia tidak pernah mengira Suto Siau bakal berbuat begitu.

Sekalipun kepandaian silat yang dimilikinya sepuluh kali lipat lebih hebat daripada kepandaian yang dimiliki Suto Siau, namun sepasang kakinya yang secara di luar dugaan dipeluk dan ditubruk orang kuat-kuat, membuat tubuhnya limbung dan tidak ampun seketika jatuh terguling ke bawah meja altar.

Dalam waktu singkat kedua orang itu saling bergulingan di atas tanah.

Terdengar Suto Siau berteriak sambil tertawa seram:

"Kau menginginkan kematianku? Baik, aku pun menginginkan kematianmu...."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, kapak maut lelaki bertelanjang kaki itu sudah diayunkan ke bawah, langsung membacok batok kepala Suto Siau dan sisa kekuatannya masih sempat membacok kutung sepasang kaki Hong Lo-su.

Diiringi jerit kesakitan yang memilukan hati, Hong Lo-su roboh tidak sadarkan diri, kelihatannya dia pun tidak bisa hidup lebih lanjut.

Sungguh tragis nasib jagoan yang tangguh dan berhati keji ini, pada akhirnya dia harus tewas di ujung senjata hambanya.

Dalam waktu relatip singkat, sudah empat orang tewas dalam keadaan mengenaskan, bahkan kematian mereka yang satu jauh lebih tragis daripada yang lain, semuanya mati dengan tubuh hancur dan tidak utuh....

Menyaksikan percikan darah segar yang muncrat ke empat penjuru dan menggenangi permukaan lantai, tidak kuasa lagi Gi Beng bergidik dengan bulu kuduk berdiri, biarpun sudah cukup lama dia berkelana dalam dunia persilatan, namun baru pertama kali ini dia saksikan pertempuran yang demikian seru dan mengerikan.

Tidak kuasa menahan gejolak emosi dalam dada, gadis itu merasakan kakinya jadi lemas dan roboh terjengkang ke tanah.

Coh Sam-nio sendiri pun tidak melangka akan terjadinya peristiwa tragis semacam itu, dengan wajah berubah hebat dia hentakkan kakinya berulang kali ke lantai, serunya:

"Losu... Losu, kau... kau...." Untuk  sesaat  dia pun  tidak  sanggup melanjutkan perkataannya.

Begitu menyaksikan tubuh Hong Lo-su roboh terjungkal, tiba-tiba Siang-tok Thaysu merasakan tubuhnya bergetar keras, sukmanya seakan-akan untuk sesaat kehilangan kendali, dia bangkit berdiri dengan wajah kebingungan.

Lelaki bertelanjang dada pun ikut menghentikan gerakan tubuhnya dan berdiri mematung di tempat, mengawasi tetesan darah segar yang mengalir dari mata kapaknya, tiba-tiba sekulum senyuman bodoh tersungging di ujung bibirnya.

Melihat semua musuh besarnya sudah tewas mengerikan di tangan saudaranya, Im Gi merasa terkejut bercampur girang, tapi melihat Dewa racun masih mengejar terus tiada hentinya, mendadak sambil menggigit bibir dia membentak keras:

"Semua anggota perguruan Tay ki bun cepat berkumpul kemari."

Im Kiu-siau, Im Ting-ting serta Thiat Cing-su serentak berlarian mendekat.

Terdengar Im Gi berteriak lebih jauh:

"Dendam kesumat perguruan Tay ki bun sudah terbalas, kini aku orang she Im bisa pergi tanpa sesal, aku tidak mau lagi dikejar dan dihina orang terus menerus, Leng It-hong, kemari kau!"

Mendadak dia menghentikan langkahnya sambil membalikkan tubuh, kemudian secepat kilat menerjang ke hadapan Dewa racun.

"Toako! Jangan....” jerit Kiu-siau kaget.

Tapi sayang, waktu itu cakar beracun Dewa racun telah tiba di hadapan Im Gi.

Sambil tertawa seram, teriak Im Gi:

"Dialah musuh besar terakhir perguruan Tay ki bun kita, biar aku mengadu jiwa dengannya."

Bukannya menghindar, dia justru memapak datangnya serangan itu, sambil merentangkan sepasang lengannya dia menerkam ke depan dan memeluk tubuh Dewa racun kuat-kuat.

Tubuh kedua orang itupun jatuh ke lantai dan saling bergulingan.

Menyaksikan adegan yang menegangkan ini, semua orang merasakan anggota tubuhnya jadi dingin dan kaku, sukma seraya melayang meninggalkan raga.

Tampak kedua orang jago itu bergulingan beberapa saat kian kemari, namun tiba-tiba mereka tidak bergerak lagi.

Dengan nada pedih Im Kiu-siau segera menjerit:

"Toako...Toako...."

Im Ting-ting serta Thiat Cing-su ikut menangis tersedu-sedu, mereka tidak tahan menyaksikan keadaan gurunya.

Baru saja ketiga orang itu siap menubruk ke depan jenazah Im Gi, tiba-tiba tubuh Dewa racun melejit dan berdiri kembali, berdiri bagai mayat hidup dengan sepasang cakar beracunnya diluruskan ke depan.

Dalam waktu singkat suasana jadi hening, semua napas seolah berhenti secara tiba-tiba, sepasang cakar maut Dewa racun seakan-akan telah mencekik tenggorokan semua orang.

Pada saat bersamaan itulah tiba-tiba dari luar pintu berkumandang suara tertawa seseorang yang merdu:

"Aku tidak berbohong, di dalam sana pasti ada orang... Cihuku sayang, cepatlah ikut aku!"

Biarpun suara tawanya merdu merayu, namun bagi pendengaran semua orang serasa mengandung nada misterius yang aneh.

Di tengah gelak tertawa, empat orang berjalan masuk ke dalam ruangan dengan Leng Cing-peng berjalan paling depan, di belakangnya mengikut Im Kian, Hay Tay-sau yang jarang menampakkan diri serta Liu Ho-ih, si nona berbaju hijau yang ada di desa pandai besi.

Kemunculan mereka bertiga di tempat ini sungguh di luar dugaan siapa pun, mereka tidak mengira akan terjadi hal seperti ini.

Rupanya dalam pengembaraannya, Hay Tay-sau telah bertemu dengan Im Kian di padepokannya, perjumpaan yang tidak terduga ini membuat mereka berdua merasa cocok satu dengan lainnya.

Hubungan mereka berdua semakin bertambah erat setiap kali Hay Tay-sau menying­gung soal Thiat Tiong-tong serta memuji kegagahan serta jiwa kependekarannya.

Biarpun Hay Tay-sau orang yang tinggi hati, boleh dibilang dia amat mengagumi kehebatan Thiat Tiong-tong, padahal hubungan batin Im Kian dengan Thiat Tiong-tong pun amat akrab, maka kedua orang inipun sering bersulang demi kesela-matan anak muda itu.

Im Kian yang cetek takaran minumnya sering dibuat mabuk kepayang, suatu ketika dalam mabuknya, sambil melelehkan air mata dia membeberkan rahasia besar pribadinya....

Mengetahui rahasia itu, Hay Tay-sau yang tinggi hati kontan mencaci-maki Im Kian habis-habisan, dia menganggap tidak seharusnya Im Kian sebagai seorang lelaki sejati hidup meng-asingkan diri, apapun yang bakal terjadi, apapun yang bakal menimpa dirinya, seharusnya dia berani tampil ke depan....

Di bawah desakan yang berulang kali, akhirnya Im Kian membuang jauh semua sikapnya selama ini, dia pun keluar dari pondoknya yang telah dihuni  selama ini dan bersama Hay Tay-sau terjun kembali ke dunia persilatan.

Dalam perjalanan mengarungi dunia Kangouw, suatu hari kedua orang itu lewat di dusun pandai besi, di sana mereka bertemu Liu Ho-ih yang kehilangan akal dan kesadarannya sedang berdiri seorang diri di bawah pohon. Berdiri dengan termangu seperti orang gila.

Tiba-tiba suara guntur yang menggelegar membelah pohon besar itu jadi dua bagian, Liu Ho-ih pun jatuh tidak sadarkan diri.

Menyaksikan kejadian ini, tentu saja Im Kian dan Hay Tay-sau tidak berpangku tangan, cepat mereka menyelamatkan Liu Ho-ih yang pingsan dan menyelamatkan jiwanya dengan memberi pil mujarab.

Siapa sangka gara-gara bencana itu Liu Ho-ih justru memperoleh keberuntungan, sambaran geledek yang menggetarkan tubuhnya justru memulihkan kembali kesadaran serta ingatannya.

Dia pun mulai teringat dirinya adalah Hoa Ling-ling, putri kesayangan si Hujan Gerimis Hoa Bu-soat, dia pun teringat ketika kabur dari rumah gara-gara perkawinannya yang tidak disetujui.

Suatu hari, di tengah hujan guntur yang deras, dia berdiri termenung di bawah pohon sambil membayangkan kekasihnya, sambaran petir saat itu membuatnya jatuh tak sadarkan diri.

Ketika mendusin kembali, dia seakan lupa segalanya, maka semenjak itulah setiap kali berjumpa dengan hujan geledek, dia tak tahan untuk berlari keluar dari rumah dan berdiri di bawah pohon, dia seperti menantikan datangnya sesuatu.

Sampai hari itu, kesadaran dan ingatannya yang sudah terenggut oleh sambaran petir, akhirnya balik lagi kepadanya....

Mendengar kisah semacam ini, Im Kian serta Hay Tay-sau hanya bisa menggelengkan kepala sambil berdecak.

Hoa Ling-ling yang berhasil memperoleh kembali ingatan serta kesadarannya pun tidak menetap lagi di dusun pandai besi, setelah berpamitan dengan saudara-saudara angkatnya, dia pun ikut Hay Tay-sau berdua mengembara dalam dunia persilatan.

Sebenarnya dia masih tidak ingin pulang, dia hanya berharap bisa berjumpa lagi dengan Lui Siau-tiau.

Ketika tiba di seputar tempat itu, dia pun mendengar berita yang tersiar dalam dunia persilatan bahwa Lui-pian Lojin pernah diketahui jejaknya muncul di seputar bukit itu.

Dengan cepat mereka bertiga naik bukit sambil melakukan pencarian, ketika sedang melakukan pelacakan, secara kebetulan mereka jumpai Sun Siau-kiau dengan membopong Sim Sin-pek sedang melarikan diri keluar dari celah bukit rahasiaku.

Hay Tay-sau langsung membekuk Sim Sin-pek, Sun Siau-kiau yang pintar melihat gelagat buru-buru menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi.

Maka mereka bertiga pun memasuki padang rumput, dimana mereka menjumpai Leng Cing-peng sedang mengembara seorang diri.

Tentu saja Leng Cing-peng kenal Im Kian, tapi kesadaran dan ingatannya yang terganggu membuat dia seolah lupa bahwa Im Kian pernah mati, dia hanya tahu dia adalah iparnya, maka Im Kian pun menanyakan kejadian di tengah padang rumput itu.

Akhirnya dia pun mengajak mereka memasuki gua rahasia itu.

Begitu masuk ke dalam gua, Hoa Ling-ling langsung berteriak keras:

"Ibu!"

Im Kian dengan mata memerah berteriak pula:

"Ayah!"

Sedang Leng Cing-peng sambil tertawa berseru pula:

"Ayah, ternyata kau berada di sini."

Suara ketiga orang itu bercampur-baur tidak jelas, tapi masing-masing segera berlarian menuju ke arah orang yang di kasihnya.

Mula-mula Hoa Bu-soat nampak tertegun, menyusul kemudian serunya sambil tertawa tergelak:

"Hahaha, ternyata kaulah Ling-hng, gadis itu bukan... gadis itu bukan... oooh, Ling-ling putriku sayang, ibu amat merindukanmu."

Im Kian yang menubruk ke atas jenazah Im Gi telah menangis tersedu-sedu.

Bagaimana dengan Leng Cing-peng yang menubruk ke atas tubuh Dewa racun?

Tentu saja Dewa racun Leng It-hong tidak mengenali putrinya lagi, ketika merasa ada orang menerkam tubuhnya, dia langsung mengayunkan telapak tangannya sambil melepaskan satu pukulan.

"Duuuk!", diiringi suara benturan keras, Leng Cing-peng roboh terjungkal ke tanah, ternyata dia telah membunuh putri kesayangan-nya.

Menjelang ajalnya, Leng Cing-peng sempat berseru sambil tertawa:

"Ooh, ayah! Kau telah membunuh putrimu sendiri.... kau telah membunuh putri kandungmu sendiri..... menyenangkan..... sungguh menyenangkan"

Suara gelak tertawanya terdengar begitu memilukan hati, membuat perasaan orang hancur lebur.

Genangan darah kental mulai meleleh membasahi permukaan lantai, namun kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya memang jauh melebihi kekuatan apapun.

Gelak tertawa yang kalap dan mengenaskan membuat Dewa racun yang sebenarnya sudah mati rasa dan hilang pikiran merasakan tubuhnya bergetar keras, perlahan-lahan dia membalikkan tubuh, dengan mata melotot besar diawasinya wajah Siang-tok Thaysu tanpa berkedip.

Begitu Siang-tok Thaysu pulih kembali pikirannya, racun yang mengeram dalam tubuh-nya pun mulai kambuh, begitu racun mulai bekerja, kesadarannya semakin terang.

Tiba-tiba dia mendongakkan kepala dan tertawa keras, teriaknya:

"Bagus, bagus, aku hampir mati, Dewa racun perguruanku juga tidak boleh dipergunakan siapa pun...."

Ketika dia melompat turun dari atas altar, kebetulan Dewa racun sedang berjalan menghampirinya, dalam waktu singkat kedua orang itu saling bergumul, mereka berguling, saling menghantam, saling mencakar... akhirnya suara tertawa pun makin melemah sebelum akhirnya sama sekali tidak bergerak lagi.

Kali ini mereka benar-benar tidak bergerak lagi, mereka mati karena senjata makan tuan, Siang-tok Thaysu yang selama hidup bermain racun, akhirnya harus tewas di tangan Dewa racun, perguruan racun yang sudah lama membawa bencana dan sengsara bagi umat persilatan pun punah semenjak itu.

Dalam waktu singkat suasana dalam ruangan itu jadi kalut. Kekacauan, kepedihan, kengerian, kesedihan bercampur-aduk jadi satu, suasana ketika itu betul-betul tidak bisa dilukiskan dengan ucapan.

Paras muka Coh Sam-nio pucat pias tidak berdarah, tiba-tiba sambil tertawa seram dia berjalan menghampiri anggota perguruan Tay ki bun.

Padahal saat itu semua anggota perguruan Tay ki bun masih berdiri dengan wajah tertegun, melongo dan tidak tahu harus berbuat apa, kematian Im Gi sang Ciangbunjin yang tiba-tiba, kemunculan Im Kian yang di luar dugaan, ditambah semua kengerian, kepedihan yang terjadi secara tiba-tiba telah membuat semangat mereka hancur berantakan.

Jangankan manusia yang terdiri dari darah daging, manusia baja pun tidak akan tahan menghadapi perubahan seperti ini.

Gi Beng jadi kaget melihat hal itu, dengan sigap teriaknya:

"Hati-hati...Coh Sam-nio akan......”

Sekonyong-konyong...

"Kraaaak!", diiringi suara keras, dua buah patung dewa raksasa itu membelah jadi dua, disusul kemudian terlihat dua orang manusia berjalan keluar dari belahan patung itu.

Orang yang berjalan paling depan adalah nenek tua berambut putih yang wajahnya penuh keriput, dia tidak lain adalah si nenek yang membawa sampan penyeberang di pulau Siang cun-to... Im Toa-nio, di sisi tubuhnya mengikut seseorang sambil membopong putrinya, dia tidak lain adalah Leng Cing-soat.

Kembali terjadi kegaduhan, kembali terjadi kekalutan....

Im Toa-nio memandang sekejap sekeliling tempat itu, memandang pula Im Kiu-siau yang selalu dicintainya, biarpun pemandangan   tragis terpampang di hadapannya membuat emosinya bergelora, namun mimik mukanya sama sekali tidak menampilkan perubahan apapun.

Dengan suara perlahan dia menegur:

"Coh Sam-nio, kau masih tidak mau menghentikan langkahmu?"

Coh Sam-nio berpaling, kemudian sahutnya sambil tertawa sedih:

"Bagus, bagus, akhirnya penghuni pulau Siang cun-to datang juga kemari...."

Mendadak tubuhnya jadi lemas, tidak tahu kenapa tiba-tiba dia roboh ke tanah.

"Biarpun aku sudah datang, sayang kedatanganku kelewat terlambat," kata Im Toa-nio perlahan, "dendam kesumat perguruan Tay ki bun sudah terbalas, tapi begini tragis akhirnya... semua anggota perguruan Tay ki bun dengarkan baik-baik, apakah kalian tahu dengan pasti asal-muasal perselisihan ini?"

Sambil menahan rasa sedih yang luar biasa, Im Kiu-siau maju ke depan, ujarnya sambil memberi hormat:

"Mohon diberi petunjuk."

Im Toa-nio tak berani menatapnya, sambil mengertak gigi, ujarnya:

"Untuk mengetahui kejadian ini, aku harus bercerita mulai awal

Ternyata Im dan Thiat sebagai cikal-bakal pendiri perguruan Tay ki bun meski sepak terjangnya gagah dan berjiwa ksatria, namun sikap mereka terhadap istri masing-masing justru sangat buruk.

Im-hujin berasal dari marga Cu, sedang Thiat-hujin bermarga Hong, kedua orang Hujin ini bukan saja berjiwa saleh, mereka pun memiliki kepandaian silat tangguh.

Cu-hujin mempunyai watak yang lebih keras, ketika hubungan suami istri kurang harmonis, dia pun mengembara jauh ke luar lautan dengan mendirikan perguruan sendiri, yakni Siang cun-to.

Saat setiap anggota perguruan Tay ki bun menyia-nyiakan istrinya, dia pun segera menjem­put mereka dan ditampung di pulau terpencil itu.

Akibatnya pamor perguruan Tay ki bun kian hari kian bertambah suram dan merosot, sementara Siang cun-to makin lama semakin berjaya.

Sementara itu Hong-hujin yang lebih lemah pendiriannya, tidak sanggup menahan siksaan batin yang menahun, akhirnya dia tewas secara mengenaskan.

Adik Hong-hujin merasa sedih bercampur gusar melihat kakaknya mati tragis, dalam gusarnya dia berniat membalas dendam sakit hati ini.

Namun bagaimanapun juga dia masih mempunyai hubungan dekat dengan pihak perguruan Tay ki bun, tentu saja tidak mungkin baginya untuk tampil sendiri, maka dia pun mengumpulkan murid-muridnya dari marga Seng, Leng, Pek, Hek dan Suto untuk membentuk persekutuan Ngo hok beng dan memerintahkan mereka untuk berontak.

Sejak itu persekutuan Ngo-hok-beng ber­musuhan dengan perguruan Tay ki bun, secara diam-diam jagoan perguruan Hong membantu usaha mereka, sementara pihak Siang cun-to berpeluk tangan tidak mencampuri urusan itu.

Walaupun leluhur Ngo hok beng pernah berhutang budi kepada Im dan Thiat, namun budi yang diberikan kedua orang Hujin itu jauh melebihi kedua orang itu, karenanya sewaktu mereka membangun   kuil untuk menyatakan rasa terima kasih, mereka pun membuat ruang kuil yang tidak kalah megahnya untuk memperingati kedua orang Hujin itu.

Justru karena sikapnya itu, keluarga Hong baru bersedia membantu mereka secara diam-diam.

Tapi kekuatan perguruan Tay ki bun waktu itu sangat hebat, kepopuleran mereka sedang pada puncaknya, dengan mengandalkan kekuatan beberapa orang, jelas tidak akan berhasil menghancur-kannya.

Untuk keberhasilan rencana ini, keluarga Hong pun menghubungi beberapa orang tokoh sakti pada waktu itu untuk membantu mereka, kawanan jago itu tidak lain adalah para leluhur Lui-pian Lojin, Coh Sam-nio, Hoa Bu-soat serta Siang-tok Thaysu

Ketika menurun sampai generasi berikut­nya, meskipun beberapa keluarga persilatan ini tidak lagi ikut memusuhi perguruan Tay ki bun, namun mereka tetap menyimpan rapat rahasia besar itu, bahkan segera menunjukkan sikap tidak mencampuri urusan ini.

Adapun leluhur Kaisar malam tidak lain adalah keluarga dekat Cu-hujin....

Maka pertikaian perguruan Tay ki bun pun melibatkan banyak sekali jagoan lihai dunia persilatan, hanya saja karena tidak ingin kejadian itu menimbulkan gelombang yrang lebih besar, leluhur perguruan Tay ki bun maupun Ngo hok beng tidak pernah menjelaskan rahasia ini kepada anak cucunya.

Kini setelah Im-toanio dengan kalimat yang paling sederhana menceritakan semua kejadian ini, sekalipun belum mengungkap detil yang lebih dalam, namun sudah lebih dari cukup untuk membuat para jago yang hadir bermandikan keringat dingin.

Terdengar Im-toanio berkata:

"Jit ho Nio nio yang berada di Pulau Siang cun-to saat ini tidak lain adalah istri Im Gi di masa lalu, ketika beliau mendengar tentang badai yang sedang berlangsung di sini, meski belum jelas duduknya persoalan, namun dia bisa menduga pasti ada sangkut-pautnya dengan perguruan Tay ki bun, maka beliau menitahkan aku datang kemari untuk memberi penjelasan, siapa tahu ...aaaai! Ternyata sudah terjadi perubahan yang begini tragis, sekalipun aku menguasai jalan pintas gua rahasia ini, akhirnya toh datang terlambat juga."

Kuil persembahan di tempat itu merupakan kuil untuk menyembah leluhur para penghuni pulau Siang cun-to, tidak heran Jit ho Nio nio pun mengetahui rahasia lorong rahasia ini, sementara Leng Cing-soat begitu tahu persoalan itu menyangkut perselisihannya dengan perguruan Tay ki bun, segera merengek kepada Im-toanio agar mengajaknya....

Ketika selesai mendengar penjelasan itu, tiba-tiba Im Kiu-siau berseru dengan air mata berlinang:

"Kalau memang pulau Siang cun-to tidak pernah mau mencampuri urusan perguruan Tay ki bun, kenapa sekarang......

"Sebab Jit ho Nio nio pernah bersumpah," tukas Im toa-nio cepat, "asal ada seorang anak murid dari perguruan Tay ki bun yang mau mengorbankan nyawanya demi istrinya, maka dia akan...."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba dari bawah altar terdengar seseorang menangis tersedu-sedu, ternyata orang itu tidak lain adalah Un Tay-tay yang telah ditotok jalan darahnya oleh Suto Siau.

Im-toanio segera membebaskan totokan jalan darahnya sambil berkata dengan lembut:

"Anak baik, jangan menangis... bukankah Jit ho Nio nio adalah ibu kandung Im Ceng? Siapa tahu dia tidak tega membiarkan putranya benar-benar mati? Siapa tahu di bawah tebing jurang itu ada tuan penolong yang menyelamatkan jiwanya..."

"Sesungguhnya dia... dia masih hidup atau sudah mati?" tanya Un Tay-tay sambil terisak.

Im Toa-nio termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata:

"Mati atau hidup, lebih baik pergilah periksa sendiri!"

Kemudian sambil melompat naik lagi ke atas meja altar, ujarnya seraya menghela napas:

"Kini urusanku sudah selesai, sudah saatnya aku harus pergi."

"Terima kasih untuk perjalanan Hujin," bisik Im Kiu-siau sambil menahan rasa sedih:

"Hujin, kau...."

Tampaknya Im-toanio tidak kuasa menahan diri untuk menengok sekejap ke arahnya, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun akhirnya tidak sepatah kata pun yang diucapkan.

Ketika berpaling ke arah lain, tidak tahan air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Akhirnya perempuan yang hidup dalam kepedihan ini pergi dari situ, pergi dengan perasaan remuk.

Kalau toh Im Kiu-siau sudah tidak menge­nalinya, buat apa dia harus melemparkan perasaan cintanya lagi? Kalau kekasih sudah berubah jadi orang asing, daripada bersua lebih baik tidak bertemu muka, berjumpa hanya meninggalkan kepahitan dan kegetiran.

Ketika patung dewa menutup kembali, Leng Cing-soat pun berlarian menghampiri Im Kian.

Setiap kejadian yang berlangsung saat ini, kalau bukan kesedihan yang luar biasa tentu merupakan kegembiraan yang luar biasa, ketika kesedihan bertautan dengan kegembiraan, manusia mana yang mampu menahan diri?

Akhirnya suasana menjadi tenang kembali, yang tersisa kini hanya kegetiran dan kepahitan yang membekas.

Saat itulah Hoa Ling-ling memohon kepada semua orang untuk mencarikan jejak Lui-pian Lojin dan putranya.

Benar saja, di bawah reruntuhan bebatuan cadas, mereka menemukan tubuh Lui-pian Lojin dan putranya serta tubuh Liu Ji-uh dan Liong Kian-sik.

Lui-pian Lojin dan putranya duduk berhimpitan di bawah sudut gua yang tidak runtuh, ternyata tidak menderita luka parah.

Perjumpaan sepasang kekasih yang lama berpisah tentu saja dilalui dalam suasana yang tidak terlukiskan.

Sui Leng-kong yang baru tersadar dari pingsannya hanya bisa duduk sedih menyaksikan adegan itu.

Melihat sepasang kekasih yang saling bertemu, melihat ibu anak yang berkumpul kembali, lalu melihat pula Gi Beng yang bersandar di pundak Thiat Cing-su, tiba-tiba satu perasaan pedih muncul di hatinya.

Akhirnya meledaklah isak tangis gadis itu, teriaknya:

"Tiong-tong... Tiong-tong... Thiat Tiong-tong.. kenapa justru kau seorang yang mati!"

"Thiat Tiong-tong tidak mati!" tiba-tiba Lui Siau-tiau berbisik.

"Apa... apa kau bilang?" jerit Sui Leng-kong sambil mencengkeram bajunya.

"Sewaktu berbaring di atas tanah tadi, aku sempat mendengar ada suara pembicaraan ber­gema dari bawah tanah, ada seorang kakek berkata, ”Thiat Tiong-tong, aku telah menyusahkan dirimu, apakah kau menyesal?”. Seorang yang lain, aku rasa pasti Thiat Tiong-tong segera menjawab, “Mati hidup ditentukan Thian, kenapa aku harus menyalahkan kau orang tua? Selama hidup aku Thiat Tiong-tong tidak pernah memalukan langit dan bumi, kenapa mesti takut menghadapi kematian?”

Sui Leng-kong segera melompat bangun, jeritnya gemetar:

"Sung... sungguh?"

Sambil tertawa tergelak Hay Tay-sau berseru.

"Hahaha, aku yakin pasti benar, kecuali Thiat Tiong-tong, manusia mana lagi di dunia ini yang sanggup berbicara segagah itu? Hahaha... Thiat Tiong-tong, wahai Thiat Tiong-tong, aku sudah menduga kau tidak bakal mati, jika kau mampus, akan jadi apa dunia ini? Hahaha, semua peristiwa yang tragis sudah lewat, yang tersisa sekarang hanya kegembiraan. Suatu hari nanti, aku pasti akan membujuk Bi Lek-hwe untuk kembali jadi orang preman dan ikut aku mengembara dalam dunia persilatan, jadi orang biasa pasti lebih enak daripada jadi Hwesio...."

Berita yang baru diterima membuat semua orang terkejut bercampur gembira, tanpa mem­buang waktu lagi semua orang bekerja keras menggali tanah.

Dengan tenaga gabungan beberapa orang jago tangguh ini, tidak sampai setanakan nasi mereka telah berhasil menggali hingga mencapai gua bawah tanah dimana Kaisar malam berada.

Tapi yang mereka jumpai di sana hanya hancuran batu yang berserakan bagai kuburan, sama sekali tidak nampak bayangan manusia pun.

Kemana perginya mereka? Kenapa tidak ada manusia di situ?

Semua orang menelusuri setiap jengkal lorong, namun tetap tidak ditemukan sesosok bayangan manusia pun....

Kemana perginya Kaisar malam, Thiat Tiong-tong serta kawanan gadis itu? Kemana mereka pergi?

Kegembiraan yang datang kelewat cepat, selalu mendatangkan kekecewaan yang berat.

Kembali semua orang bahu membahu menggali reruntuhan bebatuan itu, namun yang mereka jumpai tetap lorong rahasia yang kosong.

Kemana perginya Thiat Tiong-tong? Kenapa jejaknya tidak ditemukan?

Di antara sekian banyak orang, hubungan Im Kiu-siau, Im Ting-ting, Thiat Cing-su serta Im Kian terbatas hanya hubungan persaudaraan dengan Thiat Tiong-tong, sedang hubungan Sui Leng-kong adalah hubungan cinta yang mendalam, sebaliknya Un Tay-tay menganggap pemuda itu sebagai idola yang susah dilupakan.

Bukan hanya mereka, Hay Tay-sau, Leng Cing-soat, Hoa Ling-ling serta Seng Cun-hau pun merasa pernah berhutang budi pada pemuda ini.

Kegagalan mereka menemukan jejak Thiat Tiong-tong seketika mendatangkan pukulan batin yang berat bagi orang-orang itu, untuk sesaat semua terpekur murung, isak tangis bergema memecah keheningan.

Dengan air mata bercucuran, ujar Gi Beng:

"Aku tidak pernah punya keinginan apa-apa dalam hidupku, tapi sekarang ada satu keinginan yang mencekam perasaanku, aku  menyesal kenapa tidak punya kesempatan bersua dengan Thiat Tiong-tong, aku...."

"Tidak usah bicara lagi," tiba-tiba Hay Tay-sau membentak nyaring:

"Thiat Tiong-tong toh belum mati, kita masih punya kesempatan untuk bertemu lagi dengannya, dia... dia tidak mungkin mati, siapa tahu saat ini dia sudah berada di luar samudra, hidup bagaikan seorang dewa...."

"Bisa jadi dia masih terkurung dalam gua ini," sambung Sui Leng-kong sambil menangis, "tidak berhasil menemukan jalan keluar, harus menahan lapar, menahan dahaga...."

"Kalian semua pergilah" sela Im Kian, "biar aku tetap tinggal disini, biar aku yang pergi mencari."

"Aku pun akan tetap tinggal di sini" serentak Sui Leng-kong, Un Tay-tay, Im Ting-ting, Thiat Cing-su, Hay Tay-sau serta Leng Cing-soat berseru.

"Baik," ucap Im Kiu-siau dengan air mata berlinang, "aku tahu, inilah keinginan kalian, sayang aku masih ada urusan lain yang harus diselesaikan, aku tidak bisa menemani kalian, semoga tiga bulan kemudian ketika aku balik kemari lagi, kalian telah berhasil menemukannya, bila saat itu kalian... kalian tidak menemukannya ... maka aku...."

Isak tangis membuatnya tidak mampu melanjutkan perkataannya.

Sebenarnya Thiat Tiong-tong masih hidup atau sudah mati? Dalam tiga bulan mendatang apakah mereka berhasil menemukannya?

Persoalan semacam ini memang amat pelik, susah untuk menemukan jawabannya.

Tapi bagaimanapun juga, bila pemuda berhati baja ini masih hidup, dia pasti akan

Melakukan karya lain yang lebih menggemparkan, bila sudah mati, diapun akan menjadi seorang setan berjiwa ksatria.

Badai yang melanda padang rumput akhirnya mereda, kini yang tersisa hanya selembar panji sakti yang berkibar dibawah timpaan cahaya sang surya.

 

 

Tamat