pendekar panji sakti 12
BAB 35.
Cinta Kasih Sejati.
Un Tay-tay menyingkap rerumputan, dari balik
rumput yang lebat dilihatnya ada lima butir biji catur berwarna
hitam, empat ditumpuk jadi satu pada posisi belakang dengan sebiji
catur paling depan, arah yang ditunjuk adalah timur.
Rupanya itulah tanda rahasia yang
ditinggalkan Suto Siau sekalian untuk menunjukkan arah, dulu Un
Tay-tay cukup lama bergaul dengan Suto Siau, bahkan hubungan mereka
terhitung cukup akrab, tidak heran perempuan ini sangat menguasai
kode rahasia itu.
Sejak tadi sebetulnya dia sudah melihat
tanda rahasia itu, hanya saja karena waktu itu pikirannya sedang
dilanda kesedihan dan kekalutan sehingga tidak terlalu
memperhatikan.
Tapi sekarang dia sudah mengambil keputusan,
apapun yang bakal terjadi, dia harus menemukan jejak Lui-pian Lojin
serta Suto Siau sekalian.
Lama dia mengawasi kode rahasia itu,
akhirnya dia ambil biji catur yang terakhir dan menggesernya dari
depan menuju ke belakang, dia telah memindahkan dari arah ke timur
menjadi arah barat.
Kemudian sambil bertepuk tangan dia bergerak
menuju ke timur, membayangkan bagaimana Suto Siau sekalian bakal
dibuat bingung oleh arah yang salah, tanpa terasa sekulum senyuman
tersungging di ujung bibirnya.
Sepanjang perjalanan kembali dia jumpai
empat lima buah tanda rahasia, serta merta dia memutar balik arah
yang dituju, dengan harapan Suto Siau sekalian semakin kabur dari
arah yang sebenarnya.
Akhirnya tibalah dia di sebuah lembah bukit
yang amat gersang, walaupun di depan sana terlihat ada jalan
setapak, namun kiri kanannya merupakan tebing setinggi beberapa
ratus kaki yang tegak lurus dan curam. Sementara arah yang dituju
adalah ke sisi kanan.
Un Tay-tay tertegun, dia mencoba
mendongakkan kepala, terlihat dinding tebing itu sangat tinggi
hingga menjulang ke angkasa, sekalipun sepanjang dinding terlihat
ada rotan yang bisa dipakai untuk merambat, namun ditinjau dari
medan yang begitu sulit, rasanya seekor monyet pun tidak mudah untuk
melewati tempat itu.
Dia semakin tercengang bercampur kaget,
pikirnya:
"Jangan-jangan ada orang yang datang lebih
awal dari aku dan mengacau arah yang ditinggalkan tanda rahasia
itu?"
Namun dia tahu kode rahasia itu hanya
diketahui Suto Siau sekalian yang berjumlah beberapa gelintir,
mustahil orang lain mengetahui rahasia itu, tapi kenapa mereka bisa
mengacau arah yang ditinggalkan?
Un Tay-tay memeras otak berusaha memecahkan
persoalan ini, namun sampai lama kemudian dia masih belum berhasil
memecahkannya.
Dengan termangu dia berdiri mematung di
situ, angin berhembus kencang mengibarkan ujung bajunya....
Waktu itu dia berdiri menghadap ke arah
dinding tebing, lalu darimana munculnya hembusan angin itu?
Mungkinkah angin itu berhembus dari balik dinding?
Penemuan tidak terduga ini seketika
menggerakkan akalnya, cepat dia berjalan menghampiri dinding tebing
dimana angin itu berasal, biarpun dalam keadaan tergopoh, dia tidak
lupa mengubah arah yang ditinggalkan tanda rahasia itu, kali ini dia
mengubahnya ke arah jurang.
Benar saja, di antara dinding tebing yang
licin terdapat beberapa buah celah, sekalipun celah itu tersembunyi
di balik tumbuhan rotan yang cukup lebat, akan tetapi setelah dicari
Un Tay-tay secara seksama, akhirnya celah itu berhasil juga
ditemukan.
Dalam keadaan seperti ini dia benar-benar
sudah melupakan semua rasa takut dan ngeri, sekalipun di balik celah
adalah sarang naga atau gua harimau, dia tidak ambil peduli, begitu
berhasil menyingkirkan rotan yang menutupi seputar celah, perempuan
ini langsung menerobos masuk ke dalam.
Di balik celah merupakan sebuah lorong yang
sempit dan gelap, ditinjau dari rerumputan yang tumbuh di seputar
sana, jelas terlihat tanda-tanda bekas diinjak manusia, untung Un
Tay-tay sangat teliti dan seksama, sebab kalau tidak diperiksa
secara khusus, pertanda itu memang sulit ditemukan.
Dengan susah payah dia menerobos lorong
sempit itu sejauh puluhan kaki sebelum akhirnya tiba di sebuah
tempat yang jauh lebih luas dan terang.
Tempat itu merupakan sebuah lembah yang
sangat luas, sinar matahari menyinari seluruh jagad, angin pun
terasa berhembus sepoi menggoyangkan tumbuhan dan rerumputan.
Mimpipun Un Tay-tay tidak menyangka di balik
celah yang sempit ternyata terdapat tanah lembah yang begitu luas
dan lebar.
Untuk sesaat dia seakan terpukau menyaksikan
keindahan alam yang sangat cantik dan luas ini, sampai lama sekali
dia berdiri termangu, tertegun, tanpa bergerak sedikitpun.
Di tengah padang rumput yang sangat luas
terlihat rerumputan tumbuh setinggi manusia, ketika berjalan di
antara rumput nan hijau itu, Un Tay-tay merasa dirinya seolah
terombang-ambing di tengah gelombang samudra yang luas, membuat
pening kepalanya, membuat kabur pandangan matanya.
Dia sama sekali tidak dapat melihat
pemandangan di sekeliling sana, dia pun tidak bisa menentukan arah
mata angin, kalau semula dia menyangka begitu memasuki celah tebing,
maka Lui-pian Lojin segera akan ditemukan, kini dia sadar bahwa
pendapatnya itu keliru besar.
Mencari seorang di tengah padang rumput yang
begitu luas, ibarat mencari sebatang jarum di tengah samudra, bukan
saja teramat sulit, bahkan boleh dibilang mustahil.
Untuk berteriak atau menjerit pun dia tidak
berani, karena dia merasa ngeri untuk berteriak di tengah padang
rumput tanpa tepian ini.
Mungkinkah ada ular beracun atau hewan buas
yang mengintai dari balik rerumputan? Mungkinkah ada musuh tangguh
yang sedang mengawasinya? Un Tay-tay sama sekali tidak mau
memikirkannya, dia berjalan terus menerobos rerumputan dengan
langkah lebar.
Namun rerumputan yang tumbuh di situ
benar-benar kelewat tebal, kelewat rimbun, dalam keadaan seperti
ini, biar ada orang yang berjalan mendekatinya pun belum tentu dia
tahu, bahkan sekalipun dia sudah berjalan dengan langkah cepat pun,
dia tidak berhasil bergerak lebih cepat lagi.
Sudah dua tiga peminuman teh dia berjalan,
namun suasana di sekitar sana tetap hening dan sepi, dia belum
berhasil juga menemukan sesuatu.
Yang terdengar hanya angin yang
menggoyangkan rerumputan, hanya desingan angin yang menerpa sisi
telinganya.
Meskipun hanya suara angin, Un Tay-tay
merasa suara itu lama kelamaan mulai membuatnya gugup, membuatnya
panik.
Akhirnya dia tidak kuasa menahan diri lagi,
sambil menghimpun tenaga, tubuhnya melambung ke tengah udara,
melampaui rerumputan dan memeriksa seputar sana.
Namun sejauh mata memandang, hanya gelombang
rerumputan yang bergoyang beriring, jangankan seseorang, bahkan
bayangannya pun tidak nampak.
Dia ingin sekali memeriksa dengan lebih
seksama, sayang hawa murninya telah buyar sehingga tubuhnya terpaksa
meluncur kembali ke bawah.
Di saat tubuhnya meluncur turun ke bawah
itulah mendadak dia merasakan suatu gerakan yang sangat aneh muncul
dari padang rumput sebelah kiri, tapi sayang, ketika dia melambung
sekali lagi ke tengah udara, tiada sesuatu yang berhasil disaksikan.
Berjalan di tengah padang rumput yang luas
dan lebat, sebenarnya merupakan satu tindakan yang berbahaya, karena
di balik rerumputan bisa jadi terdapat berbagai jebakan dan
perangkap, bisa pula terdapat penghadangan yang bisa mengancam
keselamatan jiwanya.
Andaikata orang lain, belum tentu mereka
berani bertindak secara gegabah dan ngawur dalam situasi seperti
ini.
Namun Un Tay-tay merasa yakin dalam lembah
itu hanya terdapat Lui-pian Lojin dan komplotannya, sekalipun sudah
muncul jejak manusia di sisi kiri, dia menduga orang itu pastilah
salah satu di antara komplotannya.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung
menerobos maju ke depan.
Baru berjalan puluhan kaki, tiba-tiba
perempuan itu menghentikan kembali langkahnya, dari arah depan dia
seperti mendengar suara desingan angin lirih, seperti suara baju
yang bergesek dengan rerumputan.
"Siapa di situ?" hardik Un Tay-tay.
Begitu suara bentakan berkumandang, suara
desingan angin lirih itu seketika hilang tidak berbekas.
Dengan kening berkerut, perlahan-lahan Un
Tay-tay bergeser maju ke depan. Siapa tahu begitu dia mulai
bergerak, suara lirih itu kembali bergema, bahkan sedang beringsut
mundur dari situ, namun begitu dia menghentikan langkahnya, suara
itu seketika ikut berhenti juga.
Keadaannya ketika itu persis seperti orang
sedang bermain petak-umpet, namun beratus kali lipat lebih
berbahaya, di tengah keheningan yang mencekam, hanya suara hembusan
angin yang terdengar.
Sekalipun Un Tay-tay sudah tidak memikirkan
keselamatan sendiri, tidak urung bergidik juga perasaannya waktu
itu.
Rasa takut yang muncul secara spontan
terhitung salah satu titik kelemahan yang dimiliki manusia dan tidak
mungkin bisa dihindari.
Sekali lagi Un Tay-tay menghentikan
langkahnya sambil membentak:
"Siapakah kau?"
Hanya ada suara angin yang menggoyang
rerumputan, suasana di sekeliling situ tetap sepi, hening,
tiadajawaban.
"Kedatanganku tidak bermaksud buruk,"
kembali Un Tay-tay berkata, "siapa pun dirimu, tolong tampil, mari
kita bersua muka."
Kali ini dia berbicara dengan suara yang
lebih keras, tapi suasana tetap hening, tiadajawaban yang terdengar
di sekeliling sana.
Sepanjang perjalanan hidupnya, sudah cukup
banyak tempat berbahaya yang dikunjungi, namun betapa berbahayanya
tempat itu, ancaman bahaya yang muncul selalu dapat dia lihat dan
saksikan secara jelas.
Sebaliknya berada di balik padang rumput
yang begitu lebat, meski sepintas tempat itu nampak aman tenteram,
padahal setiap jengkal tanah yang ada di situ tersimpan ancaman
bahaya maut yang menakutkan, mara bahaya yang tidak terlihat dan
tidak gampang ditebak itu sesungguhnya jauh lebih berbahaya
ketimbang tempat yang paling berbahaya sekalipun.
Tidak tahan lagi dia mulai bergumam dan
memaki:
"Sialan benar rerumputan di sini, kenapa
tumbuh begitu lebat dan tinggi...."
"Sreeet!", belum selesai dia bergumam, suara
desingan lirih kembali bergema dari balik rerumputan.
Un Tay-tay terkesiap, tanpa mempedulikan
wajahnya tersayat oleh ujung rumput, dengan cepat dia melesat maju
ke depan, begitu cepat gerakan tubuhnya membuat rerumputan berdesis
nyaring.
Suasana tetap hening, tidak nampak sesosok
bayangan manusia pun.
Dua mencoba memperhatikan sekeliling tempat
itu, namun tubuhnya kembali terkurung di balik rerumputan yang
tinggi dan lebat, kinLmau tak mau bergidik juga perasaan Un Tay-tay.
Tidak kuasa menahan gejolak perasaannya,
kembali dia berteriak:
"Apakah kau tidak dapat mengenali suaraku?
Aku adalah Un Tay-tay! Apakah kau adalah Hek Seng-thian? Pek
Seng-bu? Suto Siau? Seng Cun-hau?"
Secara beruntun dia menyebut beberapa nama,
tapi masih tidak ada jawaban.
Dengan kening berkerut kembali dia berpikir,
“Jangan-jangan memang tidak ada manu sia di depan sana?
Jangan-jangan aku yang salah mendengar? Tapi bagaimana pun hanya ada
jalan maju bagiku, apapun yang bakal terjadi aku harus tetap
menerjang maju ke depan.”
Berpikir sampai di situ, sambil mengertak
gigi ia menerjang maju ke depan.
Langit lambat laun bertambah gelap, angin
berhembus makin lama semakin kencang.
Mendadak Un Tay-tay menginjak tempat kosong,
rupanya dia sudah terperosok ke dalam perangkap, tidak ampun
tubuhnya langsung roboh terjungkal ke bawah.
Jangan dilihat usianya masih muda,
pengalamannya dalam dunia persilatan justru amat luas dan matang,
dalam keadaan seperti ini meski hatinya tercekat, namun tidak
membuat pikirannya kalut, cepat sepasang lengannya digetarkan ke
samping, dia memaksakan diri melambung ke udara dan menjatuhkan diri
ke sisi lain.
Siapa tahu baru saja ujung kakinya menyentuh
permukaan tanah, mendadak muncul dua batang ranting pohon yang
melejit dari samping rerumputan, ranting pohon yang tajam bagaikan
sebilah pedang, dengan membawa desingan tajam langsung melesat ke
arah tubuhnya.
Sambil memutar tangannya melepaskan
gempuran, Un Tay-tay merangsek maju ke depan, dengan gerakan
Liong heng it sih (gerakan naga sakti) dia menyusup ke muka.
Siapa tahu kakinya kembali menginjak tempat
kosong, tubuhnya jadi lemas dan tidak ampun sekali lagi dia roboh
tertelungkup.
Kali ini dia telah menggunakan seluruh
kemampuan yang dimiliki, sulit baginya untuk melambung lagi ke
udara.
Tahu-tahu pandangan matanya jadi gelap,
sebuah karung kain hitam sudah ditutupkan ke atas kepalanya hingga
ke separoh tubuh, sepasang lengannya ikut terkerudung yang
membuatnya tidak mampu berkutik lagi.
Un Tay-tay benar-benar mati kutu, begitu
masuk perangkap, bukan saja dia tidak sempat melakukan perlawanan,
bahkan langsung berhasil diringkus lawan.
Dengan perasaan kaget segera jeritnya:
"Siapa...."
Belum sempat kata "kau"
diucapkan, sebuah tangan yang besar dan kuat sudah membekap
mulutnya, diikuti tubuhnya sudah dicengkeram dan diangkat orang itu.
Un Tay-tay mencoba meronta sekuat tenaga,
sepasang kakinya menendang kian kemari.
Namun orang itu benar-benar memiliki tenaga
yang luar biasa, sepasang tangannya kekar dan kuat bagaikan terbuat
dari baja, jangankan melepaskan diri, mau meronta pun susahnya bukan
kepalang.
Tahu-tahu ketiaknya terasa kesemutan,
kemudian tubuhnya nyaris tidak mampu bergerak lagi, dia merasa
tubuhnya seperti dipanggul orang di atas bahu dan dibawa pergi dari
situ dengan langkah lebar.
"Siapa gerangan orang ini?" pikir Un
Tay-tay, “Mau diapakan aku olehnya? Jangan-jangan orang ini punya
dendam sakit hati denganku sehingga dia berani membokong aku?”
Menurut arah yang ditinggalkan tanda
rahasia, seharusnya lembah ini merupakan tempat persembunyian yang
digunakan Suto Siau sekalian, atau dengan perkataan lain Lui-pian
Lojin pun berada di sini, lalu siapa pula yang berani bercokol di
tempat ini selain mereka?
Setelah berpikir beberapa saat lamanya, Un
Tay-tay seperti menyadari akan sesuatu, segera pikirnya, “Aaah,
benar, sudah pasti Suto Siau masih teringat dendam sakit hatinya di
masa lampau maka secara diam-diam membokong aku, dia pasti bermaksud
hendak mempermalukan diriku.”
Berpikir begitu, dia malahan merasa jauh
lebih lega.
Selang berapa saat kemudian, tiba-tiba
terdengar suara teguran seseorang, suara seorang wanita.
"Suko, kau benar-benar telah turun tangan?"
terdengar perempuan itu bertanya.
Walaupun suara seorang wanita, namun nadanya
jauh lebih kuat dan tegas ketimbang suara seorang pria.
Orang yang menggendong Un Tay-tay tidak
menjawab, dia hanya mendengus.
Kembali perempuan itu berkata:
"Bukankah ayah berulang kali sudah berpesan,
sebelum mengetahui asal-usul lawan, jangan sekali-kali kita turun
tangan, jangan sampai tindakan kita malah “menggebuk rumput
mengejutkan ular”, gara gara masalah kecil malah merusak rencana
besar."
"Kau tahu siapakah perempuan ini?" terdengar
lelaki itu bertanya dengan suara parau.
"Mana aku tahu, kenal pun tidak."
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, logat
suaranya yang semula kecut dan hambar kini berubah jauh lebih
lembut, selembut suara seorang gadis muda.
Sambil mendengus, kata lelaki itu:
"Perempuan ini datang untuk mencari Suto
Siau."
Biarpun hanya beberapa patah kata yang
sederhana, namun mengandung rasa benci dan dendam yang luar biasa,
seakan dia sudah membenci Suto Siau hingga merasuk ke tulang sumsum.
Terdengar gadis itu berseru tertahan,
kemudian tidak berbicara lagi.
Selanjutnya suasana pun kembali hening,
kedua orang itu tidak bercakap-cakap lagi.
Keheningan yang luar biasa sekali lagi
menyelimuti udara, kecuali hembusan angin yang menimbulkan gelombang
pada rerumputan, tak terdengar suara lain lagi,
keheningan yang menakutkan segera membuat hati Un Tay-tay
makin tercekat.
"Siapa gerangan lelaki perempuan ini? Apakah
mereka adalah musuh besar" “atau mungkin dia membenciku karena aku
datang mencari Suto Siau? Atau takut aku datang mencari balas
terhadap Suto Siau maka dia membekuk diriku lebih dulu?”
Hingga kini Un Tay-tay belum berhasil
menebak siapa gerangan muda-mudi itu? Dia pun tak bisa menebak
hendak dibawa kemana dirinya? Dan apa pula yang hendak mereka
lakukan?
Tapi ia bisa merasakan betapa cepatnya
gerakan tubuh kedua orang itu, kalau dilihat dari cara mereka
bergerak dengan leluasa, dapat diduga mereka sudah cukup lama
tinggal di situ sehingga bukan masalah bagi kedua orang itu untuk
menentukan arah meski berada di tengah rimba rerumputan.
Setelah berjalan beberapa saat, tiba-tiba
terdengar gadis itu berseru lirih:
"Berhenti!"
Un Tay-tay merasakan tubuhnya tenggelam ke
bawah, ternyata pemuda itu sudah berjongkok bahkan sambil menahan
napas.
Tidak lama kemudian dari balik rerumput-an
di sebelah kanan terdengar suara langkah manusia diikuti suara
gesekan ujung baju dengan rumput.
Un Tay-tay yang berada dalam punggung pemuda
itu dapat merasakan debaran jantungnya yang berdetak kencang.
“Aneh” pikirnya keheranan, “kenapa pemuda
ini nampak begitu tegang? Jelas dia kuatir si pendatang mengetahui
kehadirannya, atau mungkin yang datang adalah musuh tangguhnya?”
“Betul-betul satu kejadian yang di luar
dugaan, ternyata di tengah padang rumput yang begitu rahasia,
terdapat dua aliran kekuatan yang saling bertentangan bagaikan air
dan api, tapi selain kelompok Lui-pian Lojin, siapa pula kelompok
yang lain? Berarti sepasang muda-mudi ini berasal dari kelompok yang
bertentangan dengan Lui-pian Lojin.”
Begitu dicekam rasa ingin tahu, untuk sesaat
dia malah melupakan keselamatan sendiri, sekarang dia hanya berharap
orang yang berada dalam semak itu segera tampil agar dia tahu
manusia macam apa yang telah datang.
Siapa tahu suara langkah itu tiba-tiba
berhenti dan tidak terdengar lagi ketika mereka berada beberapa
jengkal dari sumber suara, menyusul kemudian terdengar seorang
wanita dengan nada suara tinggi melengking dan aneh berkata:
"Kalau kita berbicara di sini, sudah pasti
tidak akan ada orang lain yang ikut mendengar."
Nada suara orang ini seperti suara orang
muda, tapi seperti juga suara orang yang sudah tua.
Begitu mendengar suara itu, kontan jantung
Un Tay-tay berdebar keras, pikirnya, “Ternyata Seng Toa-nio pun
sudah tiba di sini!”
Suara yang mirip orang muda tapi mirip juga
suara orang tua ini memang suara khas Seng Toa-nio, siapa pun
orangnya, asal pernah mendengar suaranya satu kali saja, maka
selamanya tak bakal melupakannya.
Walaupun Un Tay-tay tahu Seng Toa-nio pasti
berada di balik rerumputan itu, tak urung hatinya tercekat juga
mendengar suaranya.
Terdengar suara yang lain menyahut sambil
menghela napas:
"Tidak nyana Lui-pian Lojin dapat menemukan
tempat yang begini rahasia, sungguh menggelikan, sudah begini
tersembunyi tempat ini, dia masih berkata di tempat ini pasti ada
orang sedang mengintainya."
Sekali lagi Un Tay-tay merasa terperanjat
setelah mendengar suara itu, pikirnya, "Ternyata Hek Seng-thian pun
sudah muncul di sini.”
Dengan rasa ingin tahu yang makin membara,
kembali dia berpikir:
"Sungguh aneh, kenapa Seng Toa-nio harus
mengajak Hek Seng-thian untuk berbicara secara rahasia di sini?
Rahasia apa yang hendak mereka bicarakan? Aku harus mendengarkan
dengan seksama."
Di tengah hembusan angin yang menggoyang
rerumputan, suara pembicaraan kedua orang itu terdengar semakin
lirih.
Terdengar Seng Toa-nio berkata sambil
tertawa dingin:
"Menurut pendapatku, belakangan kesadaran
si tua bangka itu makin lama semakin tidak jelas, kalau kita harus
mengikutinya terus menerus pergi tanpa tujuan, bagaimana mungkin
pekerjaan besar dapat dilaksanakan?"
Hek Seng-thian turut menghela napas panjang.
"Aaaai... sayang posisi kita sekarang ibarat
menunggang di punggung harimau, ingin kabur pun rasanya mustahil."
"Bagaimana jika umpamanya dia mampus?"
Kelihatannya Hek Seng-thian sangat terkejut
oleh perkataan itu, sampai lama sekali dia baru berkata lagi:
"Siaute rada tidak paham dengan ucapan
Toa-nio."
"Kau mengerti, kau pasti mengerti, malah
sejak tadi aku sudah tahu di antara beberapa orang yang tersisa,
hanya kau seorang yang paling pantas disebut lelaki sejati, itulah
sebabnya aku hanya mengajakmu seorang."
Hek Seng-thian terbungkam dalam seribu
bahasa.
Kembali Seng Toa-nio berkata:
"Walaupun tua bangka itu banyak curiga,
namun sama sekali tidak menaruh rasa was was terhadap kita, asalkan
kita campuri arak dalam buli-bulinya dengan obat racun, hehehe...."
Hek Seng-thian menarik napas dingin,
bisiknya tergagap:
"Tapi... tapi... sekarang kita masih butuh
kekuatannya sebagai sandaran, khususnya untuk membalas dendam, jika
dia mati... bukankah keadaan ini malah merugikan kita semua?"
Kontan Seng Toa-nio tertawa dingin.
"Masa tidak kau lihat kedua jilid kitab yang
berada dalam buntalannya? Di situlah dia telah mewariskan semua ilmu
silat yang dimilikinya, asal dia mampus, maka kitab itu akan menjadi
milik kita berdua."
Tergerak juga hati Hek Seng-thian sehabis
mendengar perkataan itu, bisiknya tergagap:
"Tapi...."
"Sekarang si Ratu matahari sudah
mengasingkan diri, Ya-te pun hilang jejaknya," tukas Seng Toa-nio
cepat. "Asal kita berhasil mempelajari ilmu silat si Pecut geledek,
dapat dipastikan kita pun bisa malang melintang dalam dunia
persilatan tanpa tandingan, apa lagi yang kau ragukan?"
Hek Seng-thian menghembuskan napas panjang,
katanya:
"Cuma... putranya itu meski kelihatan agak
bloon, dia sangat cerdas, aku kuatir kemampuannya malah
jauh di atas kemampuan si tua bangka, aku kuatir sulit
menghadapinya."
"Asal yang tua sudah mampus, masa kita masih
takut dengan yang muda? Tidak usah menyebut orang lain, dengan
mengandalkan sepasang tangan bajamu ditambah sekantung jarum
bidadari langitku, ditambah lagi sebilah pedang dari Hau-ji, rasanya
sudah lebih dari cukup untuk mencabut nyawanya!"
Kembali Hek Seng-thian membungkam tanpa
menjawab.
Lewat beberapa saat kemudian Seng Toa-nio
kembali bertanya:
"Bagaimana?"
"Asal Toa-nio mulai bertindak, Siaute pasti
akan membantu."
Seng Toa-nio tertawa ringan, tiba-tiba
tanyanya lagi:
"Menurutmu, bagaimana dengan Suto Siau?"
Hek Seng-thian nampak tertegun, sahutnya
kemudian:
"Soal ini... Siaute...."
"Hmm! Orang ini sok pintar, dalam hal apapun
dia ingin lebih menonjol dari siapa pun," kata Seng Toa-nio sengit,
"bukan saja dia tidak pernah memandang sebelah mata terhadapku, dia
pun tidak pernah memandang sebelah mata terhadap kalian semua, lihat
saja, sampai muridmu pun direbut olehnya, masa kau tidak acuh
terhadap semua ini?"
Untuk kesekian kalinya Hek Seng-thian
menghembuskan napas panjang.
"Sebetulnya sejak lama Siaute sudah menaruh
perasaan tidak suka terhadap orang ini, tapi mengingat kita semua
berasal dari satu persekutuan yang sama, maka aku tidak ingin turun
tangan terhadapnya."
"Asal kita sudah pelajari ilmu silat milik
Lui-pian, buat apa manusia macam begitu?"
Hek Seng-thian termenung sejenak, kata-nya
kemudian:
"Biarpun ilmu silat yang dimiliki orang ini
tidak tangguh, tapi kelicikannya justru jauh melebihi seekor rase,
rasanya tidak gampang menyingkirkan manusia macam begini."
"Kalau soal itu tidak perlu kuatir, aku
sudah mempunyai rencana yang matang."
"Apa siasat Toa-nio? Bolehkan Siaute tahu?"
"Siasat ini tergantung pada Che Toa-ho serta
Sun Siau-kiau."
"Sun Siau-kiau?" kelihatannya Hek Seng-thian
tidak habis mengerti.
"Masa kau masih belum tahu manusia macam
apakah Sun Siau-kiau itu?"
"Perempuan ini memang seorang yang amat
berbahaya," Hek Seng-thian tertawa, "kelihatannya, kecuali
suaminya, asal di kolong langit terdapat lelaki yang dianggap
tampan, dia pasti akan berusaha untuk mencicipinya."
"Itulah dia, bukan saja dia telah berbuat
tidak senonoh dengan Sim Sin-pek, bahkan berusaha pula menggaet
putra Lui-pian, padahal orang yang benar-benar sudah terpikat oleh
rayuan mautnya adalah Suto Siau, si rase tua itu."
"Ooh... benarkah itu?" seru Hek Seng-thian
tercengang.
"Bukan baru satu dua hari mereka melakukan
perzinahan, selama ini aku hanya mengawasi terus secara diam-diam,
untuk sementara tidak bakal kusinggung rahasia ini, tapi bila
kesempatan telah tiba...."
"Apa yang hendak kau lakukan bila kesempatan
telah tiba?"
"Begitu kesempatan telah tiba, akan kuajak
Che Toa-ho menyaksikan permainan busuk mereka, hmmm... hmmm... kalau
sudah begitu, mana mungkin dia akan melepaskan Suto Siau begitu
saja?"
"Tapi... tapi... belum tentu Che Toa-ho
sanggup menghadapi Suto Siau."
Kontan Seng Toa-nio tertawa terkekeh.
"Mungkin saja Che Toa-ho bukan
tandingannya, tapi tujuh pendekar pelangi sehidup semati, jika
Liong Kian-sik menyaksikan kejadian itu, memangnya dia hanya akan
berpeluk tangan?"
"Betul," seru Hek Seng-thian sambil tertawa
pula, "sehebat apapun kepandaian silat yang dimiliki Suto Siau, bila
sudah dikerubut dua jago pedang, niscaya dia akan mampus di tangan
mereka. Sementara kita cukup berpeluk tangan sambil menonton...."
"Tepat sekali, ternyata kau sudah mengerti."
Hek Seng-thian menghela napas panjang.
"Aaai... baru hari ini Siaute sadar,
ternyata kecerdasan Toa-nio memang luar biasa, betapapun licik dan
busuknya pikiran Suto Siau, kali ini dia bakal kenyang dijejali air
bekas cuci kaki Toa-nio."
"Itulah yang disebut orang, jahe semakin tua
semakin pedas, jangan lupa dengan pepatah ini."
"Siaute berharap Toa-nio bisa sukses besar
dengan rencana besar ini, agar Siaute pun ikut kecipratan rezekinya"
"Begitu berhasil, semua keuntungan dapat
kita nikmati bersama. Aaai, Cun-hau si bocah itu kelewat keras
kepala, maka dalam hal ini aku pun telah mengelabui dirinya, aku
berharap kau jangan membocorkan dulu rahasia ini kepadanya."
Hek Seng-thian tertawa lebar, katanya:
"Siaute belum gila, tidak nanti kubocorkan
rahasia besar ini."
"Bagus sekali, kalau begitu kita putuskan
kesepakatan ini."
Bicara punya bicara, dengan membawa senyum
kepuasan, berlalulah kedua orang itu dari situ.
Un Tay-tay sendiri pun ikut menghembuskan
napas dingin sehabis mendengar pembicaraan itu, tanpa sadar telapak
tangannya telah basah oleh peluh dingin, selain terkejut, dia pun
kegirangan, pikirnya:
“Tampaknya Thian memang sengaja mengatur
segalanya agar aku ikut mendengar rencana keji itu, asalkan aku
belum mati, asal aku masih dapat berjumpa dengan mereka, berdasarkan
apa yang telah kudengar, pasti akan kubuat mereka babak-belur.”
Dalam pada itu suara langkah Seng Toa-nio
dan Hek Seng-thian sudah semakin jauh dari sana sebelum akhirnya
lenyap dari pendengaran.
Pada saat itulah si anak muda itu baru
menghembuskan napas lega sambil berkata:
"Ternyata perkataan Samsiok memang benar,
asal kita bisa bersabar dan menahan diri, suatu saat kawanan tikus
dan ular berbisa itu pasti akan saling cakar dan gontok sendiri."
"Sejak kapan perkataan Samsiok pernah
keliru," sahut si nona dengan suara sedih, "hanya saja... hanya saja
dia orang tua berkata, Jiko dan Samko itu orang baik, orang baik
selalu dilindungi Thian, cepat atau lambat mereka pasti akan
kembali, aku ragu... benarkah perkataannya itu...? Aaaai! Kekuatan
yang kita miliki sangat sedikit, bila Jiko dan Samko tidak kembali,
aku kuatir... aku kuatir...."
Apa yang dia kuatirkan? Kelihatannya gadis
itu tidak berani melanjutkan kembali kata-katanya.
Pemuda itupun menghela napas panjang, dia
hanya membungkam dalam seribu bahasa.
Un Tay-tay yang mendengarkan pembicaraan
itu tergerak hatinya, cepat dia berpikir, “Jiko? Samko? Siapa yang
dimaksud?”
Sementara itu sang pemuda kembali
menggotongnya pergi, dalam keadaan begini dia tak sempat lagi
berpikir lebih seksama, hanya secara lamat-lamat dia mulai merasakan
sesuatu yang tidak beres dengan persoalan ini.
Persoalan apa yang tidak beres? Dia sendiri
tidak bisa menjawab.
Kembali mereka menempuh perjalanan selama
setanakan nasi lamanya, tiba-tiba Un Tay-tay mengendus bau lembab
yang sangat menusuk hidung menembus kain karung dan menyusup ke
lubang hidungnya, kalau diendus dari baunya, kelihatan mereka sedang
berjalan menelusuri sebuah lorong bawah tanah.
Dia dapat merasakan permukaan tanah yang
sedang dilalui makin lama semakin rendah, bau lembab yang menusuk
hidung pun terasa semakin menyengat.
Mendadak terdengar suara seseorang yang tua
tapi penuh bertenaga sedang menegur:
"Siapa itu?"
"Ananda yang telah balik," sahut pemuda itu
cepat.
"Kemana saja kalian telah pergi? Ayo, cepat
masuk!"
Tiba-tiba terdengar lagi orang tua itu
berseru tertahan, kemudian hardiknya:
"Tampaknya lagi-lagi kau sembarangan turun
tangan? Siapa yang kau bopong?"
Sewaktu tidak marah pun suara orang tua itu
sudah terdengar keras penuh wibawa, apalagi ketika naik darah,
suaranya benar-benar menggidikkan hati.
Biarpun Un Tay-tay belum sempat bertemu
orang itu, tapi dia bisa membayangkan betapa angker dan seramnya
wajah orang tua itu.
Terdengar pemuda itu menyahut:
"Dia punya hubungan erat dengan Suto Siau
"Kalau memang musuh, tidak seharusnya kau
turun tangan sembarangan!" tukas kakek itu gusar.
"Perempuan ini datang untuk mencari Suto
Siau dan rombongan, tapi tidak berhasil menemukan mereka, maka
ananda pikir ada baiknya membekuk dia, paling tidak jangan sampai
mengganggu orang lain."
"Pikirmu?" ujar kakek itu semakin gusar,
"kau anggap dalam menghadapi persoalan ini kau boleh berpikir
sembarangan? Apakah tidak kau bayangkan bagaimana kondisi dan
keadaan yang sedang kita hadapi sekarang? Apakah tidak kau bayangkan
aku harus menggigit bibir dan berjuang mati-matian untuk bersabar
hingga hari ini? Tahukah kau kenapa aku berbuat begini? Apakah tidak
kau bayangkan kenapa paman Sim kalian bisa terjatuh ke tangan musuh?
Sekarang ... sekarang kau berani berbuat semaunya, kau... kau anak
tidak tahu diri, apakah kau benar-benar ingin mengubur semua jerih
parah dan darah keringat yang telah kukorbankan selama ini di
tanganmu seorang?"
Makin bicara dia semakin gusar, Un Tay-tay
dapat merasakan tubuh anak muda itu mulai gemetar keras, gemetar
karena takut.
Terdengar suara seseorang segera berkata:
"Harap Toako jangan marah dulu, mari kita
bicarakan setelah memeriksa siapa gerangan perempuan yang dia
tangkap."
Biarpun suara ini rendah, berat dan
berwibawa namun nadanya jauh lebih lembut dan halus.
Kakek itu segera mendengus dingin.
"Kenapa masih belum diturunkan!" hardiknya.
Dengan nada gemetar pemuda itu mengiakan,
kemudian dia menurunkan tubuh Un Tay-tay ke atas tanah.
Kembali kakek itu berseru:
"Kalian berdua berjaga di depan pintu,
Samte, kau bebaskan totokan jalan darahnya."
Belum selesai ia berbicara, sudah ada sebuah
tangan menepuk tubuh Un Tay-tay.
Begitu tertotok bebas jalan darahnya, Un
Tay-tay menghela napas perlahan sambil menggeliat.
Terdengar kakek itu kembali membentak gusar:
"Sudah tiba di sini kau masih berani berbuat
latah, memangnya sudah bosan hidup?"
"Benar, aku memang sudah bosan hidup," jawab
Un Tay-tay pedih.
Kelihatannya kakek itu dibuat tertegun,
sesaat kemudian kembali bentaknya:
"Siapa kau?"
Un Tay-tay tidak langsung menjawab, perlahan
dia melepaskan karung goni yang menutupi kepalanya.
Ternyata tempat dimana ia berada sekarang
adalah sebuah gua yang tidak terlalu kecil, sebatang opor yang
menancap di atas dinding menerangi seluruh ruangan.
Di antara kilatan cahaya yang redup,
terlihat seorang kakek berwajah penuh wibawa mengenakan
jubah dengan warna yang sudah luntur dan berwajah penuh cambang
bagaikan malaikat geledek, berdiri tegak persis di hadapannya.
Di samping kakek itu berdiri pula seorang
kakek lain, dia berperawakan tinggi dengan wajah yang lembut dan
gagah, bisa dibayangkan semasa mudanya dulu dia pasti seorang pemuda
tampan.
Sementara muda-mudi yang menangkapnya tadi
berdiri di sisi ruangan, yang lelaki bertubuh pendek kecil tapi
kekar dan nampak gagah, sedangkan yang wanita meski berwajah cantik
namun penampilannya tampak keras dan penuh semangat.
Pakaian yang dikenakan keempat orang itu
nampak amat buruk, penampilan wajah mereka pun nampak agak sayu,
tapi sinar matanya tetap tajam penuh semangat, mendatangkan perasaan
bergidik bagi yang melihatnya.
Un Tay-tay memandang kakek itu sekejap,
setelah menghela napas, ujarnya:
"Ternyata apa yang kuduga tidak salah."
"Apa yang kau duga?" hardik kakek itu
"Ternyata tampang dan penampilanmu persis
seperti apa yang kuduga."
Kakek itu kembali tertegun, paras mukanya
kontan berubah hebat.
Begitu pula dengan ketiga orang lainnya, air
muka mereka ikut berubah.
Kakek itu kembali maju selangkah, dengan
sorot mata setajam sembilu ditatapnya Un Tay-tay lekat-lekat,
bentaknya:
"Kau bisa membayangkan tampangku? Jadi kau
sudah tahu siapakah Lohu?"
"Benar, aku sudah mengetahui siapakah kau
orang tua."
"Siapa? Cepat katakan!"
"Aku rasa kau orang tua adalah Ciang bunjin
Thiat hiat tay ki bun...."
Belum selesai ia berkata, kakek itu sudah
menerkam ke depan, dengan tangan sebelah menarik tubuh Un Tay-tay,
tangan yang lain diayunkan siap menampar wajah perempuan itu.
Un Tay-tay sama sekali tidak meronta, dia
pun tidak berusaha melawan, ditunggunya kakek itu menampar wajahnya
dan ditatapnya kakek itu dengan pandangan tenang, lembut, sama
sekali tak terlintas sedikit rasa takut pun.
Ketika sampai di tengah jalan, mendadak
kakek itu menarik kembali telapak tangannya, dengan suara keras
kembali bentaknya:
"Cepat katakan! Siapa kau? Darimana tahu
asal-usulku? Hmmm, kalau berani bicara bohong, akan kusuruh kau
menikmati siksaan yang paling keji dari Thiat hiat tay ki bun!"
Di balik nada suaranya yang nyaring bagai
guntur, terselip hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati!
Tapi Un Tay-tay sama sekali tidak jeri,
malah sedikitpun tidak ada rasa takut atau seram, sekulum senyuman
manis tersungging di ujung bibirnya.
"Sudah banyak kudengar tentang kehebatan
siksaan yang berlaku dalam perguruan Tay ki bun, bahkan keseramannya
sudah tersohor di seantero jagad, sayangnya, mati pun aku tidak
takut, apa lagi yang mesti kutakuti? Bila kau mengancam dengan
siksaan, biar sampai mati pun aku tak bakal bicara."
Kakek itu tidak lain adalah Ciang bunjin
Thiat hiat tay ki bun yang tersohor karena ketegasan serta watak
keras kepalanya, Im Gi.
Selama ini keangkeran serta kewibawaannya
selalu membuat ciut hati siapa pun, belum pernah ada seorang pun
yang tidak dibuat pecah nyali oleh perkataannya, tapi sekarang, dia
benar-benar tidak menyangka perempuan di hadapannya begitu bernyali,
berani membangkang perintahnya.
Biarpun perasaannya sekarang penuh diliputi
rasa gusar bercampur tercengang, tidak urung muncul juga suatu
perasaan aneh di hatinya, dengan sorot mata berapi ditatapnya Un
Tay-tay tanpa berkedip, kemudian ancamnya:
"Jadi kau benar-benar tidak mau bicara?"
Un Tay-tay mengedipkan mata sambil balik
menatap kakek itu, lalu sambil tersenyum dia menggeleng.
"Baik!" bentak Im Gi gusar.
Untuk kedua kalinya dia mengangkat telapak
tangannya, tapi tindakannya itu segera dicegah kakek berwajah
tampan.
Dengan gusar teriak Im Gi:
"Bukan saja perempuan ini datang sebagai
mata-mata untuk mencari berita, dia bahkan begitu berani
terhadapku... kau... kenapa kau menarikku? Memangnya kau masih ingin
mempertahankan hidupnya?"
Kakek berwajah tampan yang tidak lain adalah
Im Kiu-siau, segera menyahut:
"Kalaupun ingin turun tangan, rasanya belum
terlambat bila kita tanyai dulu maksud kedatangannya."
Orang ini selalu tampil tenang, halus, sama
sekali tanpa emosi, sangat bertolak belakang bila dibandingkan watak
Im Gi yang keras dan gampang naik darah.
Kelihatannya Im Gi sangat menurut pada
perkataannya, benar saja, dia segera menarik kembali tangannya
sambil mundur tiga langkah ke belakang.
Perlahan-lahan Im Kiu-siau berpaling kearah
Un Tay-tay, kemudian katanya dengan lembut:
"Bila kami gunakan cara kekerasan dan alat
siksa, kau enggan berbicara, sebaliknya kalau kami perlakukan dirimu
dengan baik, tentunya kau bersedia untuk bicara bukan?"
"Benar", sambil tersenyum Un Tay-tay
manggut-manggut.
"Kalau memang begitu, kau boleh berbicara
sekarang."
Un Tay-tay menghela napas panjang, katanya:
"Biar aku tidak pernah bersua dengan kalian,
namun sudah sering mendengar dari orang lain tentang tindak-tanduk
serta cara kalian bersikap, itulah sebabnya begitu bersua muka hari
ini, aku segera dapat menebak siapakah kalian sebenarnya."
Kemudian setelah tertawa, lanjutnya:
"Aku yakin kau pastilah Im Kiu-siau, tokoh
paling cerdas dan paling berakal dalam perguruan Tay ki bun,
sementara dua orang yang ada di belakang pastilah Im Ting-ting serta
Thiat Cing-su."
Tampaknya Im Kiu-siau sendiri pun tidak
menyangka gadis di hadapannya begitu menguasai tentang orang-orang
perguruan Tay ki bun, paras mukanya sedikit berubah, ujarnya dengan
suara berat:
"Siapa yang mengatakan semua itu kepadamu?"
"Im Ceng... Thiat Tiong-tong...."
Paras muka Im Kiu-siau berubah makin hebat,
sementara Im Ting-ting serta Thiat Cing-su menjerit tertahan.
Paras muka Im Gi kelihatan berubah hebat,
gejolak emosi, umpatnya:
"Dasar binatang! Binatang! Tidak kusangka
kedua orang binatang ini berani membocorkan rahasia perguruan kepada
orang lain, Losam, sudah kubilang lebih baik kita cabut nyawa
mereka, tapi kau selalu menampik, coba lihat sekarang... aaai!
Akhirnya mereka lakukan juga perbuatan terkutuk ini, kau... kau...
apa lagi yang hendak kau katakan?"
Im Kiu-siau menghela napas panjang, ia
menundukkan kepala dan tidak bicara lagi.
"Mereka mau bicara denganku, karena aku pun
bukan orang luar," ujar Un Tay-tay lembut.
"Apa... apa kau bilang?" bentak Im Gi gusar.
"Karena aku adalah istri Im Ceng!"
Begitu perkataan itu diucapkan, semua orang
tertegun dan berdiri bodoh, untuk beberapa saat mereka tidak mampu
bergerak, bahkan mengucapkan sepatah kata pun tidak sanggup.
Sekali lagi Im Gi membentak gusar, serunya
sambil menghentakkan kaki berulang kali:
"Berontak! Berontak! Dendam berdarah
perguruan pun belum terbalas, binatang ini malah berani mencari bini
di luaran, bedebah!"
Dengan satu lompatan dia merangsek ke
hadapan Un Tay-tay, kembali sebuah pukulan siap dilontarkan.
Im Ting-ting menjerit kaget, cepat dia
melompat ke muka dan menghadang di hadapan Un Tay-tay.
"Minggir kau!" bentak Im Gi semakin sewot.
"Kalau dia memang bini Samko, kau... kau
orang tua seharusnya...."
"Lohu tidak mengakui perkawinan ini!
Binatang, mau minggir tidak?"
Tapi Im Ting-ting tetap menghadang
dihadapannya, sementara air mata telah bercucuran membasahi pipinya.
Sambil memeluk kaki ayahnya, gadis itu
merengek dengan air mata berderai:
"Bila kau orang tua tidak mau mengakui
perkawinan ini, suruh saja mereka bercerai, kenapa mesti menghabisi
nyawanya?"
"Siapa bilang aku bersedia cerai
dengannya?" tiba-tiba Un Tay-tay berkata.
Biarpun perkataan itu diucapkan dengan
lembut, namun terkandung keteguhan hatinya yang sudah bulat.
Im Gi semakin gusar, belum sempat
mengucapkan sesuatu, Im Ting-ting sudah berkata lebih dulu:
“Kau... buat apa kau memaksakan diri...."
Un Tay-tay tertawa pedih, katanya:
"Tidak seorang pun di dunia ini yang bisa
merebutnya dari sisiku... selamanya dia akan menjadi milikku,
tahukah kalian? Selamanya... selamanya...."
Belum lagi orang lain memahami maksud
perkataannya, dengan wajah berubah hebat Im Kiu-siau telah menjerit
kaget:
"Jangan-jangan dia... dia sudah...."
Perlahan-lahan Un Tay-tay memejamkan mata,
untaian air mata kembali berderai membasahi pipinya.
"Selamanya kalian tidak bakal bisa bertemu
lagi dengannya," gumamnya seperti orang sedang mengigau dalam mimpi.
Kontan saja Im Ting-ting menjerit lengking,
Thiat Cing-su roboh terduduk ke lantai, paras muka Im Kiu-siau
pucat-pias bagai mayat, sementara Im Gi seperti kepalanya dipukul
martil besar, seolah tertancap di tanah tanpa berkutik.
Lewat lama kemudian tubuhnya yang tinggi
kekar bagaikan bukit karang itu mulai gemetar keras, tiba-tiba dia
menjerit lengking, sambil merobek pakaian di bagian dada, dia
membentak nyaring:
"Siapa yang telah mencelakainya?"
Un Tay-tay menggeleng, dia hanya memejamkan
mata tanpa menjawab.
Dengan sekali sambaran, Im Gi mencengkeram
rambut perempuan itu, jeritnya lagi:
"Katakan! Cepat katakan! Hutang darah ini
harus ditebus dengan lelehan darah!"
Un Tay-tay masih tetap mengertak gigi, tidak
sepatah kata pun yang diucapkan.
Tiba-tiba Im Ting-ting menjatuhkan diri
berlutut di hadapannya, dengan air mata berlinang, pintanya:
"Kumohon... kumohon kepadamu, katakanlah
nama musuh besar pembunuh Samkoku, kalau tidak... kalau tidak, aku
akan segera bunuh diri di hadapanmu."
Air mata mulai bercucuran membasahi wajah Un
Tay-tay, katanya pedih:
"Bukan aku enggan menyebutkan nama musuh
besarnya, justru karena sudah kukatakan pun tidak ada gunanya...."
"Kenapa? Kenapa tidak berguna?" teriak Thiat
Cing-su nyaring.
"Karena tidak seorang pun di dunia ini yang
sanggup membalaskan dendam sakit hatinya," kata Un Tay-tay sambil
roboh ke tanah:
"karena orang yang memaksanya mati adalah...
adalah Jit ho Nio nio dari pulau Siang cun-to yang tak ada
tandingannya."
Sambil menjerit keras Im Gi mundur tiga
langkah ke belakang, dia jatuh terduduk di atas sebuah batu hijau.
Dengan wajah pucat keabu-abuan, seru Im
Kiu-siau pula:
"Dia sudah mati? Apakah Tiong-tong tahu?"
Tiba-tiba Un Tay-tay mendongakkan kepala,
sekarang dia sendiri pun tidak tahu yang meleleh di wajahnya itu air
mata atau darah?
"Thiat Tiong-tong sama sekali tidak tahu,"
sahutnya dengan suara parau:
"karena... karena Thiat Tiong-tong sudah
mati lebih dulu!"
Sekalipun kawanan jago perguruan Tay ki bun
terhitung manusia dengan hati sekuat baja pun, tak urung mereka
sangat terpukul juga setelah mendengar berita ini.
Ketika Un Tay-tay selesai berkata,
perubahan mimik muka Im Gi sekalian benar-benar tak terlukiskan
dengan perkataan apapun... memang tidak seorang pun yang tega
melukiskan perubahan wajah orang-orang itu.
Lama dan lama kemudian, Im Gi baru bertanya:
"Ke... kenapa dia bisa mati?"
Kakek yang selama ini tampil gagah dan ulet
bagaikan lempengan baja itu sekarang gemetaran keras, semua
kewibawaan dan keangkerannya seolah tersapu bersih oleh air mata.
"Aku terlebih tidak boleh menyebut nama
orang yang telah mencelakainya," jawab Un Tay-tay kaku.
Mendadak Im Ting-ting melolos sebilah golok
tajam dari balik bajunya, lalu ditempelkan di atas dada sendiri.
Dengan air mata bercucuran dan mata memerah
bagaikan darah, sepatah demi sepatah dia mengancam:
"Kalau kau enggan bicara, aku segera akan
bunuh diri!"
Sambil mengertak gigi dan air mata berlinang
Un Tay-tay tetap menggeleng.
"Baiklah!" mendadak Im Ting-ting menekan
tangannya ke dalam, ujung golok pun seketika menghujam di atas
dadanya, percikan darah segar berhamburan kemana mana, asal dia
menghujam sedikit lebih ke dalam, niscaya ujung golok itu akan
merobek jantungnya.
Mati-matian Un Tay-tay menarik tangannya
sambil menangis tersedu, jeritnya:
"Apakah kalian ingin aku mengatakannya?
Baik, akan kukatakan, orang yang telah mencelakai Thiat Tiong-tong
adalah... adalah... Im Ceng...!"
"Trangg!", golok itu jatuh rontok ke tanah.
Im Ting-ting langsung jatuh tidak sadarkan
diri, sementara Thiat Cing-su tidak sanggup bangkit berdiri.
"Apa? Im Ceng?" seru Im Kiu-siau pula
seperti kehilangan sukma:
"benarkah begitu?"
"Tidak! Bukan begitu, kalian... lebih baik
bunuhlah aku!"
Sambil berseru dia segera menjatuhkan diri
ke tanah.
Cepat Im Kiu-siau membimbingnya bangun,
katanya dengan nada mengenaskan:
"Hidup sekian tahun memangnya aku belum bisa
membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Aku., aku hanya
merasa sayang, semestinya Tiong-tong adalah... adalah seorang bocah
yang mempunyai kemampuan hebat...."
"Betul," sambung Im Gi pula sambil
manggut-manggut, "dia adalah seorang anak baik, bila Thian
membiarkan dia hidup lebih lama lagi, niscaya dia akan melakukan
karya maha besar untuk perguruan Tay ki bun kita, hanya sayang...
hanya sayang...."
Mendadak ia mendongakkan kepala sambil
berteriak kesal:
"Thian, oooh Thian! Kenapa kau biarkan dia
mati muda? Perguruan Tay ki bun sangat membutuhkan tenaganya, kenapa
kau biarkah dia mati? Bagaimana dengan kami sekarang? Selama hidup
dia memang banyak melakukan kesalahan, tapi semua kesalahan, dia
lakukan demi orang lain, kesalahan yang pantas dimaafkan... selama
hidup dia belum pernah melakukan kesalahan karena urusan
pribadi...."
"Betul," ujar Un Tay-tay pula sambil
menangis, "kalian semua telah salah menuduhnya, kalian sudah tahu
bahwa dia itu orang baik, semasa hidupnya kenapa kalian selalu
memojok-kan dirinya?"
Sambil memukul tanah dengan tangannya, dia
berteriak lebih jauh:
"Bila kalian tahu semua perbuatannya selama
ini hanya demi orang lain, demi perguruan Tay ki bun, kenapa semasa
hidupnya kalian justru menuduhnya sebagai murid murtad, pengkhianat
perguruan? Sekarang dia sudah mati, percuma kalian mengucapkan
perkataan semacam itu, sudah kelewat terlambat! Selamanya dia... dia
tidak akan mendengar lagi."
Im Gi mengepal sepasang tinjunya kuat-kuat,
meski tidak berbicara maupun bergerak, namun sorot matanya telah
berubah jadi merah darah, rambutnya berdiri kaku bagai landak,
tampangnya saat itu benar-benar menakutkan.
Pada saat itulah, mendadak dari luar gua
berkumandang suara pekikan nyaring yang menusuk pendengaran....
Walaupun saat itu Thiat Tiong-tong belum
mati, keadaannya sudah tidak berbeda jauh dengan orang mati.
Istana bawah tanah yang semula indah dan
megah, kini telah berubah menjadi neraka dunia yang amat
mengenaskan, gelak tertawa, teriakan canda yang dulu mewarnai
suasana di situ kini hanya tersisa isak tangis yang memedihkan hati.
Tidak seorang pun di antara kawanan wanita
itu yang bisa menghentikan isak tangisnya.
Luka yang diderita San-san sebetulnya sudah
mulai membaik, tapi sekarang tambah hari lukanya bertambah parah dan
berat, sampai akhirnya dia kurus kering tinggal kulit pembungkus
tulang, setiap hari kondisinya semakin memburuk dan tidak pernah
sadar.
Setiap kali mendusin dari pingsannya, dia
pun mulai berteriak:
"Tolong, maafkan aku... maafkan aku... aku
mohon...."
Dia berusaha sekuat tenaga bergelut melawan
maut, karena dia tahu, begitu mati maka selamanya tidak ada
kesempatan lagi baginya untuk menebus dosa.
Hanya dikarenakan dorongan emosinya, semua
orang harus menanggung akibatnya, terkubur hidup-hidup dalam ruang
bawah tanah yang lebih mengenaskan daripada neraka, apakah kesalahan
besar yang telah dilakukannya bisa ditebus hanya dengan sebuah
kematian?
Tapi yang membuatnya paling menyesal adalah
gara-gara ulahnya Thiat Tiong-tong ikut terkurung dalam ruang bawah
tanah, dia lebih suka pemuda itu mencincangnya hingga hancur
berkeping-keping ketimbang menanggung rasa sesal yang membuatnya
sangat tersiksa.
Tapi sikap Thiat Tiong-tong terhadapnya
justru amat tenang, pemuda itu malah menghiburnya:
"Semuanya ini merupakan kehendak Thian, kau
tidak perlu menyesal."
Penampilan anak muda itu memang sangat
tenang dan sama sekali tidak nampak panik, padahal siapa yang bisa
membayangkan betapa menderita dan tersiksanya perasaan pemuda itu?
Masa hidupnya belum terlalu lama, saat itu
dia masih harus berjuang untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan besar,
sementara orang yang paling dikasihi pun sedang menjalankan nasib
tragis di luar sana.
Tapi kini dia sama sekali tidak berdaya, dia
tidak memiliki kemampuan untuk membantunya.
Dia tidak boleh mati, dia pun tidak ingin
mati, tapi sayang dia tidak berhasil menemukan cara yang tepat untuk
hidup lebih jauh, dia pun tidak berhasil menemukan alasan yang tepat
untuk hidup terus....
Kalau diharuskan hidup terus dalam ruangan
bagaikan neraka ini, bukankah jauh lebih baik mati ketimbang hidup?
Di samping semua itu, masih ada satu
penyesalan besar yang masih mengganjal hatinya.
Dia sempat bertanya kepada Ya-te, memohon
penjelasan dari si Kaisar malam:
"Aku mohon kepada kau orang tua, katakanlah
rahasia yang menyelimuti perguruan Tay ki bun kami, bila kau orang
tua enggan mengatakannya, aku betul-betul akan mati tidak meram!"
Tapi jawaban dari Kaisar malam sungguh di
luar dugaannya.
"Rahasia apa? Siapa bilang ada rahasia?"
Thiat Tiong-tong segera menjatuhkan diri
berlutut, memohon kepadanya.
Kaisar malam pun menjawab:
"Sekalipun ada sesuatu rahasia, aku sendiri
pun tidak tahu, lebih baik kau tidak usah mencari tahu, dengan
begitu kau bisa mati dengan perasaan tenang, sebab kalau tidak, kau
bisa menjadi gila, jadi sinting karena persoalan ini."
Thiat Tiong-tong tidak paham maksud
perkataannya itu, dia pun tidak mampu bertanya lagi.
Sebab sekalipun dia mengulang pertanyaan
yang sama, belum tentu Kaisar malam bersedia menanggapi.
Kakek maha sakti yang di masa lalu
menggetarkan kolong langit itu, kini hanya duduk melongo siang
maupun malam, bukan cuma tidak bergerak, makan pun enggan.
Ketika dia enggan melakukan sesuatu, maka
tidak seorang pun di kolong langit yang dapat memaksanya. Ketika dia
enggan mengucap-kan sesuatu, siapa pula manusia di kolong langit ini
yang bisa memaksanya mengucapkan sepatah kata saja?
Kulit tubuhnya yang semula kencang penuh
berotot, kian hari kian bertambah kusut dan layu, mulai muncul
banyak kerutan, sorot matanya yang semula tajam bagaikan sembilu pun
makin lama semakin rendup, semakin tidak bercahaya....
Tampaknya kekuatan hidup yang cemerlang
sudah berlalu seiring berjalannya sang waktu, seinci demi seinci
bergerak lenyap dari dalam tubuhnya.
Pelapukan yang terjadi tanpa suara dan tanpa
wujud ini nampaknya segera akan memusnahkan seluruh kehidupannya,
tiada seorang pun di dunia ini yang bisa menghalanginya, tidak
seorang pun dapat menolongnya.
Manusia luar biasa kelihatannya segera akan
roboh.
Tidak jauh berbeda dengan keadaan yang
dialami Thiat Tiong-tong, kekuatan apa pula yang dia miliki untuk
menopang kehidupan ini?
Kalau seseorang sudah kehilangan harapan,
mungkinkah akan tumbuh semangat juang dalam dirinya?
Di tengah keputus asaan, kematian makin lama
semakin mendekat!
Thiat Tiong-tong hanya bisa berdoa kepada
Thian, "Oooh, Thian, kumohon kepadamu berilah kehidupan yang layak
untuk Im Ceng, dialah satu-satunya harapan untuk membangkitkan
kembali kejayaan perguruan Tay ki bun, semua harapan yang tersisa
kini hanya ada di atas pundaknya."
Tapi... dimanakah Im Ceng sekarang? Apakah
dia pun masih hidup?
Thiat Tiong-tong rela mengorbankan
segalanya asal bisa memperoleh berita tentang Im Ceng, tapi
seandainya saat itu dia benar-benar memperoleh berita tentang Im
Ceng, mungkin pemuda ini sudah membenturkan kepalanya ke atas batu
cadas dan bunuh diri.
BAB 36.
Badai di Padang Rumput.
Pintu gua menuju ke markas besar perguruan
Tay ki bun sebenarnya terletak sangat rahasia dan tertutup rapat,
tapi suara pekikan nyaring yang berkumandang saat itu justru
bersumber dari luar gua, begitu nyaring suaranya membuat semua orang
merasa bergetar, membuat gendang telinga semua orang terasa sakit.
"Sungguh amat sempurna tenaga dalam yang
dimiliki orang ini!" batin Un Tay-tay dengan perasaan terkesiap.
Baru saja ingatan itu melintas, pikiran lain
kembali menyelimuti perasaannya, dia teringat kembali suara pekikan
panjang Lui-pian Lojin sewaktu menggetarkan pintu gerbang kuil
Siau-lim-si tempo hari, pikirnya, “Jangan-jangan yang datang adalah
Lui-pian Lojin? Tapi kenapa pula dia berpekik nyaring seorang diri
di luar sana?”
Apa yang sebenarnya terjadi? Un Tay-tay
tidak perlu berpikir lebih jauh karena segera diperoleh jawabannya.
Selesai berpekik nyaring, Lui-pian Lojin
berseru:
"Hei, manusia yang bersembunyi dalam gua,
cepat menggelinding keluar!"
Semua orang terperanjat, tiba-tiba Im Gi
melompat bangun, dengan satu gerakan cepat dia tampar wajah Thiat
Cing-su dengan keras.
Dengan perasaan kaget bercampur ketakutan,
teriak Thiat Cing-su gemetar:
"Kau... kau orang tua
"Kalau bukan gara-gara kau membocorkan jejak
kita, mana mungkin dia bisa menemukan kita di sini?" teriak Im Gi
gusar.
Pucat keabu-abuan wajah Thiat Cing-su saking
takutnya, bibirnya gemetar keras seperti ingin mengucapkan sesuatu,
namun tidak sepatah kata pun sanggup diucapkan.
"Samte, segera laksanakan hukum
perguruan..." tukas Im Gi lagi.
Baru saja dia menyebut soal hukuman, suara
pekikan yang bergema di luar gua kembali sudah berkumandang.
"Kenapa kalian belum juga menggelinding
keluar?" teriak Lui-pian Lojin dari luar gua, "hemmm... hemmm ....
Lohu sudah menduga di balik padang rumput pasti bersembunyi sesuatu,
percuma saja kalian bersembunyi terus...."
Begitu mendengar perkataan itu, Im Kiu-siau
segera menghembuskan napas lega, ujarnya sambil menghela napas:
"Ternyata dia belum berhasil menemukan jejak
kita, saat ini dia baru menaruh curiga saja, pekikan nyaring yang
dia lakukan tak lebih hanya gertak sambal belaka, untuk
menakut-nakuti kita."
Diam-diam Thiat Cing-su ikut menghembuskan
napas lega, dia berdiri sambil menundukkan kepala.
Im Gi berdiri mematung dengan sepasang
kepalannya menggenggam kencang, wajahnya nampak tersiksa dan penuh
penderitaan.
Melihat mimik muka orang tua itu, Un Tay-tay
ikut menghela napas, pikirnya, “Kelihatannya orang tua ini mulai
menyesal karena salah menghajar Thiat Cing-su, tapi dengan tabiatnya
yang keras.... Aaaai, dia lebih suka batinnya tersiksa ketimbang
menghibur orang lain, orang macam begini tak nanti mau mengakui
kesalahan sendiri”
Ternyata dugaannya keliru, tiba-tiba Im Gi
dengan tangan gemetar keras mulai membelai kepala Thiat Cing-su.
Pemuda ini lahir dalam perguruan Tay ki bun,
tumbuh dewasa di Tay ki bun, selama dua puluh tahun belum pernah ia
lihat Ciang bunjin melakukan tindakan seperti ini, untuk sesaat dia
malah berdiri tertegun dibuatnya.
Dia sangka Ciang bunjin ingin menghukum
dirinya lagi, tubuhnya gemetar keras saking takutnya, meski begitu
dia tetap berdiri di tempat sambil mengertak gigi, sama sekali tidak
berani menghindar.
Im Gi semakin tersiksa batinnya setelah
melihat kejadian ini, sambil menghela napas panjang, katanya:
"Kau tak usah takut, nak, aku... aku
hanya....Aaaai!"
Setelah menghentakkan kaki berulang kali,
lanjutnya:
"Aku telah salah bersikap terhadap saudara
tuamu, kini sudah seharusnya aku bersikap lebih baik terhadapmu,
tapi... aaai! Watak kerasku tidak pernah bisa berubah."
Perkataan semacam inipun belum pernah
didengar Thiat Cing-su sebelumnya, dia nyaris tidak percaya dengan
pendengaran sendiri, wajah-nya segera menampilkan perasaan terkejut
bercampur gembira.
Sepasang mata Im Gi pun menampilkan cahaya
berkilat, dadanya nampak naik turun tidak beraturan, lewat beberapa
saat kemudian akhirnya dia berkata kembali:
"Nak, aku telah salah menuduhmu... kau
jangan membenciku."
Thiat Cing-su segera menjatuhkan diri
berlutut ke atas tanah, katanya dengan suara parau:
"Sudah sepantasnya bila kau orang tua
melakukan suatu tindakan terhadap anak-anak, kau tidak usah berkata
begitu... setelah ananda mendengar perkataan kau orang tua hari ini,
sekalipun harus segera mati pun aku... aku tetap merasa gembira...."
Pemuda keras kepala yang sebenarnya
mempunyai watak keras bagaikan seekor kerbau ini kontan mengucurkan
air mata sehabis mendengar perkataan itu.
Im Gi berdiri mematung bagaikan sebuah arca,
diam-diam dia melelehkan juga air matanya, air mata sedih.
Sementara Im Kiu-siau diam-diam manggut
manggut, dia ikut terharu menyaksikan adegan itu, sedang Im
Ting-ting mengawasi wajah ayahnya dengan penuh rasa hormat, sikapnya
begitu santun seakan sedang memandang malaikat dari langit.
Un Tay-tay sendiri pun ikut terhanyut oleh
suasana itu, untuk sesaat dia tak tahu haruskah merasa sedih,
girang, manis atau getir?
"Berubah, berubah ...." gumamnya dalam hati,
“akhirnya orang tua ini berubah juga, tapi apa alasannya hingga
orang tua yang keras kepala ini tiba-tiba berubah?”
Terdengar Im Gi berkata dengan suara
perlahan:
"Kini anggota Thiat hiat tay ki bun tinggal
kita berempat, mulai sekarang sampai hari kematianku, aku pasti akan
bersikap baik kepada kalian, karena...."
Mendadak dia melengos ke arah lain sambil
memejamkan mata, setelah mengatur napas beberapa saat, akhirnya dia
berhasil juga menahan air matanya yang nyaris meleleh keluar.
Katanya dengan sedih:
"Karena mulai sekarang, keadaan kita akan
semakin sulit, kehidupan kita pun akan lebih sengsara ketimbang
dulu, penderitaan yang harus kalian terima sudah lebih dari
cukup...."
"Toako, lebih baik pergilah beristirahat
dulu!" bujuk Im Kiu-siau sambil menghela napas. Im Gi tertawa getir.
"Bagaimanapun juga, aku harus menyampaikan
dulu perkataan ini," katanya.
"Tapi... tapi... biar tidak Toako katakan
pun, kami semua sudah tahu."
"Kau tahu... aaai! Tahukah kau, dalam
menghadapi pertarungan yang sudah di depan mata, berapa besar
kemungkinan kita untuk meraih kemenangan? Nyaris boleh dikata tanpa
harapan
Tiba-tiba nada suaranya berubah penuh emosi,
lanjutnya:
"Tapi mustahil bagi kita untuk menghindari
pertarungan itu, biar tahu bukan tandingannya pun kita tetap akan
bertarung sampai titik darah penghabisan. Inilah kewajiban yang
harus kita berempat laksanakan sebagai anggota Thiat hiat-Tay ki bun
yang penuh semangat...."
"Bukan berempat, tapi berlima!" mendadak Un
Tay-tay menyela.
Perkataan itu kontan membuat paras muka hn
Gi, Im Kiu-siau, Im Ting-ting maupun Thiat Cing-su berubah hebat.
"Siapa bilang kau anggota perguruan Tay ki
bun?" hardik Im Gi.
"Aku adalah bini Im Ceng, tentu saja
termasuk anggota perguruan Tay ki bun, semasa hidupnya dulu Im Ceng
belum mengucurkan darahnya demi perguruan Tay ki bun, apa salahnya
sekarang aku mewakilinya berjuang."
"Kau sungguh akan melakukannya?" Im Gi
menatap tajam wajahnya sampai lama sekali sebelum bertanya.
Un Tay-tay tertawa sendu, sahutnya:
"Kalau bukan lantaran ingin berbuat begitu,
mungkin sejak dulu aku sudah menyusul Im Ceng ke alam baka!"
Baru saja ia bicara sampai di situ, Im
Ting-ting serta Thiat Cing-su sudah mengucurkan air mata.
Im Gi sendiri pun seketika terpengaruh oleh
gejolak emosinya, serunya:
"Kau pasti sudah mengetahui apa yang barusan
kukatakan, perguruan Thi (Thiat) hiat tay ki bun bakal memasuki masa
yang paling sengsara dan tersiksa, apakah kau sanggup menerima
penderitaan semacam itu?"
"Kalau kuatir sengsara, aku sudah bunuh diri
sejak dulu."
Tiba-tiba Im Gi melototkan sepasang matanya,
bentaknya:
"Kau benar-benar rela mengorbankan nyawa
demi perguruan Tay ki bun?"
"Un Tay-tay hidup sebagai anggota perguruan
Tay ki bun, mati pun ingin jadi setan perguruan Tay ki bun."
"Apakah kau tahu apa arti Thiat-hiat (darah
baja) dari perguruan kami?"
Mula-mula Un Tay-tay tertegun, tapi dengan
cepat dia menyadari apa artinya, tanpa banyak bicara dia sambar
golok milik Im Ting-ting yang terjatuh di tanah dan langsung
dibabatkan ke atas bahu sendiri.
Dimana mata golok menyambar, percikan darah
segera menyembur kemana-mana.
Tanpa berubah wajahnya, bahkan berkerut
kening pun tidak, Un Tay-tay menyahut lantang:
"Inilah arti Thiat-hiat!"
Baru selesai dia bicara, Im Ting-ting sudah
memburu maju dan menegur dengan suara gemetar:
"Enso... kau... kau sangat menderita."
Kembali Un Tay-tay tertawa getir.
"Setelah mendengar sebutan Enso darimu, biar
lebih sengsara pun apa artinya?"
Dengan pandangan mata yang lembut,
ditatapnya luka di atas dada Im Ting-ting, sebaliknya Im Ting-ting
memperhatikan pula luka di bahunya.
Luka yang diderita kedua orang ini tidak
terlampau parah, tapi babatan yang telah mereka lakukan bukan saja
memperlihatkan keberanian serta tekad mereka yang melebihi orang
lain, bahkan disertai pula kobaran emosi yang membara.
Mendadak Im Gi mendongakkan kepala dan
tertawa keras, gumamnya:
"Perempuan hebat! Perempuan bagus! Hanya
perempuan dengan semangat semacam ini yang pantas menjadi anggota
Thiat hiat tay ki bun kami. Biarpun nasib perguruan sedang
mengenaskan, tidak disangka justru dapat bertemu perempuan
bersemangat macam kalian."
"Di masa lampau, ananda pun sudah banyak
melakukan kesalahan," bisik Un Tay-tay lirih.
"Manusia bukan nabi, siapa sih yang tidak
pernah melakukan kesalahan? Kesalahan di masa lampau tidak perlu
dipikirkan lagi, yang penting mulai sekarang tidak melakukan
tindakan yang melanggar peraturan perguruan."
Pada saat itulah suara pekikan panjang
kembali bergema memekakkan telinga, bahkan berasal dari suatu tempat
yang dekat sekali dari tempat mereka.
Terdengar Lui-pian Lojin berteriak:
"Jadi kalian benar-benar tidak mau keluar?
Baiklah, Lohu sendiri pun tidak berminat tetap tinggal di padang
rumput ini, akan Lohu hitung sampai empat, jika kalian belum mau
keluar juga, Lohu segera akan membakar habis padang rumput ini...
akan kulihat tokoh macam apakah kalian?"
Setelah berhenti sejenak, dengan suara
menggelegar bagai guntur dia mulai menghitung:
"Satu...."
Apabila padang rumput itu sampai dibakar,
maka dapat dipastikan kebakaran hebat akan melanda tempat itu,
sekali kebakaran terjadi, siapa pun tidak akan mampu
menyelamatkannya, terlebih tidak seorang pun mampu bersembunyi lagi
di balik rerumputan.
Berubah hebat paras muka Im Kiu-siau,
katanya:
"Celaka, didengar dari suara menggelegar
yang memekakkan telinga, jelas orang ini memiliki tenaga dalam yang
amat sempurna, biasanya orang semacam ini akan melaksanakan
ancaman-nya bila tidak dituruti."
"Jadi kalian belum tahu siapakah orang itu?"
tanya Un Tay-tay.
"Sudah cukup lama kami bersembunyi di balik
padang rumput, baru semalam kami mendapat tahu Suto Siau sekalian
telah tiba di sini, tapi kami tidak mengira mereka memiliki jago
silat setangguh ini, kami pun tidak tahu siapa gerangan orang itu?"
"Dia tidak lain adalah Lui-pian Lojin!"
bisik Un Tay-tay sambil menarik napas panjang.
Begitu mendengar nama itu, sekujur tubuh Im
Gi sekalian gemetar keras.
Dengan wajah berubah, kata Im Kiu-siau:
"Rupanya tokoh silat yang di masa lalu hanya
mendengar namanya dari cerita dongeng, kini sudah bermunculan di
depan mata, bahkan sejalan dengan Suto Siau sekalian?"
"Aaaai... panjang untuk diceritakan sebab
musabab di balik semua itu, tapi ananda yakin kawanan jago tangguh
itu sedikit banyak pasti tersangkut urusan dendam dengan perguruan
Tay ki bun kita."
Baru bicara sampai disitu, kembali suara
hitungan menggelegar:
"Dua...."
Sambil menundukkan kepala, Im Kiu-siau
menghela napas.
"Apabila Lui-pian Lojin sejalan dengan Suto
Siau sekalian, berarti harapan menang bagi kita semakin tipis, kini
apa yang harus kita lakukan? Toako, silakan menurunkan perintah."
Im Gi ragu-ragu sejenak, kemudian serunya:
"Terjang...keluar!"
Biar hanya kata yang singkat, namun
terkandung perasaan gusar, sedih dan putus asa yang kental.
Sambil mengertak gigi, ujar Im Kiu-siau
pula:
"Daripada kita semua dipaksa keluar oleh
kobaran api, lebih baik sekarang juga kita menyerbu keluar, toh
sama-sama bakal mati, kenapa tidak mati dalam kondisi yang lebih
gagah."
Sambil tertawa Im Gi menggeleng, tukasnya:
"Bagus! Kau memang tidak malu menjadi
Samteku."
Un Tay-tay tidak menyangka Im Kiu-siau yang
begitu lembut penampilannya ternyata memiliki semangat begitu gagah,
diam-diam dia merasa kagum.
Dalam pada itu Im Kiu-siau telah melirik
sekejap ke arah perempuan itu, kemudian katanya sambil menghela
napas:
"Hanya saja... nona... nona Un, kau baru
bergabung dengan perguruan kami, tapi kini harus berhadapan dengan
situasi yang sangat tidak mengenakkan, kau... apakah kau tidak
sangat menderita?"
"Kenapa mesti dirisaukan? Belum tentu kita
bakal mati dalam pertarungan hari ini."
"Kalau bukan mati dalam pertarungan,
memangnya kita mesti menyerah?" sela Im Gi gusar.
Buru-buru Un Tay-tay berseru:
"Ananda bukan bermaksud begitu, walaupun
saat ini Lui-pian Lojin berada satu rombongan dengan Suto Siau
sekalian, namun ananda punya akal untuk memecah belah mereka menjadi
beberapa kelompok."
Kejut bercampur girang hati Im Gi sehabis
mendengar perkataan itu, katanya:
"Asal Lui-pian Lojin bersedia tidak
mencampuri urusan ini, kekuatan kita masih lebih dari cukup untuk
bertarung melawan Suto Siau sekalian... tapi bagaimana caramu?"
Belum sempat Un Tay-tay menjawab, suara
hitungan di luar telah bergema lagi:
"Tiga...."
Dengan perasaan terkejut Im Gi segera
berseru:
"Waktu sudah tidak banyak lagi, cepat
katakan caramu itu!"
"Di balik akal yang hendak ananda
laksanakan, masih terkandung hubungan yang sangat pelik, persoalan
ini tak mungkin bisa dijelaskan dalam sepatah dua patah kata, tapi
ananda yakin akal ini tak bakalan meleset."
"Lantas apa yang harus kami lakukan?" tanya
Im Gi dengan kening berkerut.
"Ananda tidak berani bicara."
"Urusan telah berkembang jadi begini, kenapa
kau tidak berani menjelaskan?" seru Im Gi gusar.
Un Tay-tay menundukkan kepala semakin
rendah, katanya:
"Ananda hanya berharap kau orang tua diam,
apapun yang akan kukatakan, apapun yang hendak kulakukan, harap kau
orang tua tidak melakukan tindakan apapun."
Belum selesai dia memberi penjelasan, Im Gi
lelah menunjukkan kemurkaan yang luar biasa, bentaknya:
"Jadi kau suruh kami menjadi bonekamu?"
Buru-buru Im Kiu-siau menimbrung:
"Biarpun kita baru saja bertemu dengan bocah
ini, tapi dapat kulihat kecerdasannya tidak berada di bawah
Tiong-tong, aku percaya dia pasti punya alasan yang kuat sebelum
mengucapkan perkataan itu."
"Tapi... bagaimana mungkin perguruan Tay ki
bun kita...."
Im Kiu-siau menghela napas panjang.
"Asal Tay ki bun masih punya kesempatan
untuk menuntut balas, biarpun hari ini kita harus tersiksa dan
menerima penghinaan pun, semuanya berharga untuk dilakukan, apalagi
bocah ini sudah menjadi anggota perguruan kita."
Im Gi terbungkam beberapa saat, akhirnya
sambil menghentakkan kaki, dia berseru:
"Kalau begitu, baiklah!"
Dalam pada itu suara
hitungan telah bergema lagi dari luar gua:
"Empat...."
Tidak membuang waktu, Un Tay-tay segera
melejit dan meluncur keluar dari gua dengan kecepatan luar biasa.
Dia kurang menguasai situasi jalan dalam
lorong gua itu, sepanjang perjalanan entah sudah beberapa kali
tubuhnya dibuat lecet oleh gesekan batu cadas, namun perempuan itu
sama sekali tidak merasa sakit, dengan cepat dia berlari keluar dari
mulut gua sambil berteriak keras:
"Kami sudah keluar!”
Di antara rerumputan yang bergelombang
karena hembusan angin, suasana terasa hening, tak nampak sesosok
bayangan manusia pun di sana.
"Bagus!" mendadak terdengar gelak tertawa
Lui-pian Lojin bergema kembali, "akhirnya muncul juga... hehehe...
kalian selalu berkeras mengatakan padang rumput ini tidak ada
penghuninya, masih untung Lohu orang yang banyak curiga, coba lihat,
buktinya ada orangnya bukan?"
Di tengah gelak tertawanya, terlihat sesosok
bayangan manusia melayang keluar dari balik rerumputan.
Rumput yang tumbuh di sana tingginya
melampaui manusia, apalagi tangkainya kecil dan sangat lentur, bukan
sembarang manusia dapat meluncur melalui atas rerumputan itu dengan
mudah, dari sini bisa diketahui ilmu meringankan tubuh yang dimiliki
orang itu benar-benar luar biasa.
Tampak bayangan manusia itu bergerak di atas
rerumputan bagaikan sedang berjalan di tanah datar, tanpa dipandang
raut mukanya lagi juga Un Tay-tay segera tahu orang yang muncul
adalah Lui-pian Lojin.
Lui-pian Lojin pun nampak sangat terperanjat
setelah mengetahui yang muncul adalah Un Tay-tay, begitu
tubuhnya meluncur turun ke atas tanah, teriaknya keras:
"Aaaah, ternyata kau!"
"Kau masih mengenali aku?" tegur Un Tay-tay
sambil tertawa.
Lui-pian Lojin tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kau adalah bakal menantu yang
kupilih sendiri, tentu saja aku masih mengenali-mu, tapi... bukankah
kau berada di pulau Siang cun-to? kenapa bisa muncul di sini?"
"Terus terang aku tidak kerasan tinggal di
pulau Siang cun-to, di situ hidup menyendiri dan selalu kesepian,
aku benar-benar tidak betah, karena itu aku... aku pun diam-diam
minggat."
"Bagus! Bagus sekali! Memang tepat kau
minggat dari situ!" Lui-pian Lojin kembali tertawa tergelak.
Pada saat itulah dari balik rerumputan
kembali terdengar suara manusia.
Un Tay-tay segera memutar biji matanya,
ujarnya cepat:
"Saat ini aku mempunyai banyak masalah yang
ingin kubicarakan dengan kau orang tua, tapi... tapi aku tidak ingin
didengar orang lain, menurut kau bagaimana baiknya?"
Tidak sampai perempuan itu menyelesaikan
perkataannya, Lui-pian Lojin telah membentak nyaring:
"Balik, balik semua!"
Dari balik rerumputan segera terdengar suara
orang menyahut, tidak lama kemudian suara berisik itu sudah semakin
menjauh.
Sepeninggal suara itu, kembali dia
mengalihkan sorot matanya ke wajah Un Tay-tay, sekulum senyuman
segera tersungging di ujung bibirnya, ujarnya:
"Biarpun kau telah berbuat tidak pantas
terhadapku, namun aku masih tetap menyukaimu, sebab setelah
kuperhatikan lebih seksama, kecuali kau, rasanya di kolong langit
saat ini belum ada orang kedua yang lebih pantas menjadi menantu-ku,
hanya saja... apakah sekarang kau sudah berubah pikiran?"
Un Tay-tay mengerling genit.
"Tentu saja aku sangat gembira bisa menjadi
menantumu," katanya, "tapi sebelum itu aku ingin tahu dulu, apakah
kau orang tua pun bersedia melenyapkan musuh besarku dan melindungi
sahabat-sahabatku?"
"Tentu saja aku bersedia," sahut Lui-pian
Lojin kegirangan, "bila kau menjadi menantuku, berarti musuhmu
adalah musuh Lohu juga, sahabatmu pun akan menjadi sahabatku."
Baru selesai ia bicara, tiba-tiba dilihatnya
Im Gi dan rombongan berjalan keluar dari balik gua dengan langkah
lebar, paras mukanya seketika berubah, dengan sorot mata setajam
sembilu, tegurnya:
"Siapakah orang-orang itu?"
"Mereka adalah sahabatku," sahut Un Tay-tay
sambil tersenyum.
"Oooh," Lui-pian Lojin tertawa tertahan,
"budak kecil, rupanya kau sudah sedia payung sebelum hujan, kalau
memang mereka adalah sahabatmu, tentu saja Lohu pun tidak akan
menyusahkan mereka... tapi paling tidak suruhlah mereka datang
mendekat dan memberi hormat kepadaku."
Sembari berkata dia mengawasi tajam wajah Im
Gi.
Sementara itu Im Gi dengan sorot mata yang
tajam sedang mengawasi pula dirinya... biarpun sinar mata itu sangat
tajam, namun hawa membunuh pada diri Im Gi justru jauh lebih
mengerikan.
Dua orang kakek yang sama-sama garang dan
penuh wibawa saling berhadapan dengan sinar mata tajam, walaupun
yang seorang berpakaian perlente sementara yang lain berbaju
rombeng, namun kewibawaan serta keangkeran yang terpancar tidak jauh
berbeda.
Oleh karena kedua orang ini sama-sama
berstatus seorang ketua perguruan, tidak heran penampilan mereka
sama-sama keras dan kaku, begitu sinar mata mereka saling beradu,
terjadilah gesekan hebat seolah-olah menimbulkan percikan bunga api.
Dengan satu gerakan cepat Lui-pian Lojin
langsung meluruk maju ke hadapan Im Gi.
Sedemikian cepat gerakan tubuhnya, membuat
siapa pun yang melihat merasa terperanjat, namun paras muka Im Gi
yang kaku bagaikan sebuah baja itu sama sekali tidak berubah, bahkan
sepasang matanya pun sama sekali tidak berkedip.
Begitu tiba di hadapan Im Gi, dengan suara
garang Lui-pian Lojin segera menghardik:
"He, aku suruh kau memberi hormat kepadaku,
dengar tidak?"
Dada Im Gi kelihatan naik turun menahan
emosi, dia tetap membungkam.
"He, jangan-jangan si tua bangka ini tuli?"
kembali Lui-pian Lojin menegur dengan gusar.
Tiba-tiba Im Gi balas membentak:
"Kenapa Lohu mesti memberi hormat kepadamu?"
Bentakan itu sungguh dahsyat, suaranya keras
bagaikan guntur yang membelah bumi di siang liari bolong, bukan saja
membuat semua orang terkejut, bahkan Lui-pian Lojin pun ikut
terperanjat.
Sesaat kemudian, dengan penuh amarah dia
membentak:
"Kalau kau enggan memberi hormat, Lohu akan
memberi pelajaran kepadamu."
Sepanjang hidup, jarang ada orang berani
turun tangan melawannya, ini disebabkan sekalipun orang lain tidak
mengetahui identitas-nya, paling tidak mereka dibuat keder oleh
penampilannya yang angker.
Apalagi dilihat dari sorot matanya yang
tajam bagai sembilu serta nada suaranya yang keras bagai bunyi
genta, orang langsung tahu dia memiliki tenaga dalam yang amat
sempurna.
Tapi kini, bukan saja Im Gi tidak dibuat
keder, malahan dengan suara lantang segera menyahut:
"Coba saja!"
Begitu selesai bicara, sebuah gempuran
sedahsyat sambaran guntur telah dilontarkan, meski jurus serangan
yang digunakan tidak terlalu istimewa, namun tenaga pukulannya
benar-benar menakutkan.
Dengan perasaan terperanjat Lui-pian Lojin
mundur tiga langkah, bentaknya:
"Tua bangka, berani amat kau turun tangan,
sudah tahu siapakah Lohu?"
"Coba kalau bukan Lui-pian, kau tidak pantas
bertarung melawanku," Im Gi balas menghardik.
Di satu pihak kedua orang tua itu sudah
saling berhadapan sambil saling mengancam, di pihak lain Im Kiu-siau
tiada hentinya memberi kode kedipan mata kepada Un Tay-tay dan
memintanya untuk mencegah pertarungan antara kedua orang itu.
Siapa tahu Un Tay-tay berlagak seolah tidak
melihat, dia hanya menonton sambil tersenyum.
Tidak terlukiskan rasa kaget, gusar dan
panik yang dirasakan Im Kiu-siau, namun dia pun tidak berani turun
tangan membantu....
Ketika Im Gi sedang bertarung melawan
seseorang, sampai mati pun dia enggan menerima bantuan dari orang
lain.
Tentu saja Im Kiu-siau tidak tahu Un Tay-tay
sesungguhnya sudah mengenal sangat jelas watak Lui-pian Lojin, orang
ini lebih suka dihadapi secara kekerasan ketimbang cara halus, orang
semacam ini memang perlu ditaklukkan oleh kekerasan watak manusia
macam Im Gi.
Perempuan inipun tahu, walaupun kungfu yang
dimiliki Im Gi masih bukan tandingan Lui-pian Lojin, namun wataknya
yang keras kepala dan berangasan sama sekali tidak di bawah
kekerasan watak kakek cambuk geledek ini.
Jiwa keras orang-orang Thiat hiat tay ki bun
memang tiada duanya di kolong langit.
Benar saja, begitu Im Gi selesai membentak,
Lui-pian Lojin malah mendongakkan kepala dan lertawa terbahak-bahak,
tertawa keras yang membuat orang-orang perguruan Tay ki bun
lertegun.
Terdengar Lui-pian Lojin berkata:
"Pepatah mengatakan, burung rajawali tidak
akan berkelompok dengan burung walet, Kilin tidak akan berkawan
dengan rase, ternyata teman-teman Un Tay-tay memang bukan bangsa
kurcaci."
Kemudian sambil menepuk bahu Im Gi, katanya
pula:
"Mari, mari, mari, kita dua orang tua
bangkotan memang pantas saling berkenalan, ayo ikut aku, kita harus
meneguk beberapa cawan arak dan minum sampai mabuk."
Satu ingatan segera melintas dalam benak Un
Tay-tay, mendadak tanyanya:
"Bukankah kau orang tua memiliki sebuah
buli-buli?"
"Benar," sahut Lui-pian Lojin setelah
tertegun sejenak.
"Apakah buli-bulimu saat ini berisi arak?"
"Kalau tidak berisi arak, buat apa Lohu
menggembol buli-buli kosong?"
"Mana buli-bulimu itu?"
"Eeei, budak cilik, pertanyaanmu makin lama
terasa makin aneh, mana mungkin Lohu meniru gaya orang sinting yang
tiap hari memegang buli-buli arak di tangan, buli-buliku tentu saja
kugantung di atas dinding, tapi kenapa kau mesti menanyakan
persoalan ini?"
Sekalipun sudah cukup lama berkenalan, namun
dia masih belum bisa menebak maksud di balik pertanyaan Un Tay-tay
itu.
Un Tay-tay hanya mengedipkan matanya
berulang kali dan tersenyum tanpa menjawab.
"Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, kenapa
tidak kau katakan segera?" tanya Lui-pian Lojin lagi keheranan.
"Aku masih belum bisa menjelaskan sekarang."
"Harus menunggu sampai kapan?"
"Sampai bertemu dengan Seng Toa-nio."
Lui-pian Lojin menggelengkan kepala berulang
kali sambil tertawa.
"Dasar budak yang banyak akal," serunya,
"terkadang Lohu pun bisa kau tipu habis-habisan, sudah, tidak usah
menggubris dia lagi, ayo kita teguk tiga cawan arak."
Sekali lagi dia menepuk bahu Im Gi, lalu
membalikkan tubuh dan beranjak pergi dengan langkah lebar.
Memandang bayangan punggungnya, Im Gi pada
sangsi sejenak, tapi akhirnya dia mengikut dari belakang dengan
langkah lebar.
Kedua orang ini bukan saja memiliki
perawakan tubuh yang sama, gaya, watak maupun penampilannya pun
tidak banyak berbeda, jadi tidak aneh kalau mereka berdua saling
tertarik.
Bedanya, Lui-pian Lojin selalu hidup santai
dan mengembara dalam dunia persilatan sebagai orang yang latah, dia
tidak pernah memandang sebelah mata pun terhadap umat persilatan di
dunia, karena itu sikapnya lebih terbuka dan seenaknya.
Berbeda dengan Im Gi yang mesti memikul
dendam kesumat perguruan, bertanggung jawab atas keselamatan serta
keutuhan perguruan Tay-ki-hun, dalam keadaan seperti ini, tidak aneh
dia selalu tampil serius dan jarang sekali tertawa.
Begitulah, rombongan manusia itu berangkat
menerobos masuk ke balik padang rumput, sepanjang jalan hanya
rerumputan lebat yang terbentang di depan mata, tidak nampak sesosok
bayangan manusia pun.
Mendadak Lui-pian Lojin menghentikan
langkahnya sambil memasang telinga mendengarkan sesuatu, paras
mukanya seketika berubah jadi serius, agaknya dia berhasil mendengar
sesuatu suara yang mencurigakan.
Diam-diam Un Tay-tay tertawa geli, pikirnya,
Mana mungkin ada seseorang di situ? Jangankan manusia, bayangan
setan pun mungkin tidak ada, tidak heran semua orang mengatakan
sepanjang hari dia hanya curiga melulu.
Berpikir sampai di situ, tidak tahan
serunya:
"Kau...."
Tapi belum sempat dia menyelesaikan
perkataannya, tahu-tahu mulutnya sudah dibekap oleh Lui-pian Lojin.
Terdengar kakek itu berbisik di sisi
telinganya:
"Di sana ada manusia yang sangat
mencurigakan, entah apa yang sedang mereka bicarakan, ayo kita
tengok ke situ."
Dia baru saja berbicara dengan menggunakan
ilmu Coan im ji bit (ilmu menyampaikan gelombang suara),
sebuah kepandaian tingkat tinggi dalam dunia persilatan, kecuali Un
Tay-tay, siapa pun tidak mendengar apa yang sedang dia katakan.
Pada saat bersamaan, kembali dia berbisik
pula ke telinga semua orang yang lain:
"Harap kalian menunggu sejenak di sini,
jangan bicara, jangan bergerak, Lohu segera akan balik lagi kemari."
Suara itu meski dikirim dengan ilmu
menyampaikan gelombang suara, namun setiap patah kata dapat didengar
Im Gi sekalian dengan jelas sekali.
Tanpa terasa Im Gi saling bertukar pandang
sekejap dengan Im Kiu-siau, dengan perasaan kagum, pikirnya:
"Sebuah kepandaian yang sangat hebat,
ternyata nama besarnya bukan nama kosong belaka, tapi sekeliling
tempat ini sepi tidak nampak bayangan manusia pun, kenapa secara
tiba-tiba dia mengajak pergi Un Tay-tay? Apa yang hendak dia
perbuat?"
Sebaliknya Un Tay-tay juga sedang berpikir,
“Mana mungkin ada yang sedang berbicara di situ? Mungkin orang tua
ini salah dengar, mendingan tidak usah ke sana!”
Tapi lantaran mulutnya dibekap, maka
perkataan itu tidak mungkin diucapkan keluar.
Pada saat itulah terasa tubuhnya sudah
melayang meninggalkan permukaan tanah, hanya dalam dua tiga kali
lompatan saja mereka sudah meninggalkan Im Gi dan rombongan sejauh
belasan kaki lebih.
Gerakan tubuh Lui-pian Lojin sama sekali
tidak menimbulkan suara, selain ringan juga sangat cepat, baru saja
Un Tay-tay mengagumi kehebatan ilmu meringankan tubuhnya, mendadak
dari sisi kiri dia mendengar ada suara seperti orang sedang
berbicara.
Ternyata Lui-pian Lojin memang tidak salah
mendengar, di tempat itu benar-benar ada orang sedang
berkasak-kusuk, yang hebat adalah suara pembicaraan itu sangat lirih
bagaikan suara bisikan serangga, namun dia yang berada sejauh dua
puluhan kaki masih dapat mendengarnya dengan jelas.
Un Tay-tay semakin kagum, pikirnya, “Siapa
lagi yang sedang berbincang? Jangan-jangan Suto piau sekalian pun
sedang merundingkan siasat buruk? Wah, kalau dia pun mengundang Hek
Seng-thian untuk mencelakai Seng Toa-nio, ini baru hebat namanya!"
Tampak paras muka Lui-pian Lojin berubah
jadi serius, agaknya dia sedang menguping pembicaraan yang sedang
berlangsung.
Un Tay-tay mencoba ikut mendengarkan, sayang
dia hanya mampu menangkap suara pembicaraan yang kabur, sama sekali
tidak jelas apa yang sedang dibicarakan.
Dalam gelisahnya, satu ingatan cerdas
melintas dalam benaknya, cepat dia menempelkan telinganya ke atas
permukaan tanah, kebetulan kedua orang yang berada di seberang sana
pun sedang berbicara sambil menempelkan tubuh ke tanah, dengan
begitu dia dapat mengikuti jalannya pembicaraan itu dengan jelas.
Terdengar salah satu di antaranya sedang
berkata:
"Setelah berada di tempat yang begini
rahasia, sekalipun ada orang lain, rasanya kita pasti akan
mengetahui kehadirannya, kenapa Hengtai masih harus berbicara sambil
berbaring di tanah? Apakah Hengtai tidak merasa tindakanmu kelewat
berlebihan?"
Kalau didengar dari logat bicaranya, orang
itu seharusnya seorang anak muda, tapi Un Tay-tay belum pernah
mendengar nada suara orang ini sehingga dia tidak dapat menebak
siapa gerangan orangitu.
Terdengar seseorang yang lain segera
menjawab:
"Saudara Liong, kau tidak tahu, ketajaman
pendengaran ayahku luar biasa hebatnya, aku berani bilang
kehebatannya tiada duanya di kolong langit, bila kita bersikap
sedikit gegabah saja, biarpun dia berada puluhan kaki jauhnya dari
posisi kita, suara pembicaraan kita berdua pasti dapat kedengaran
olehnya."
Begitu mendengar suara orang ini, Un Tay-tay
betul-betul dibuat tertegun, mimpi pun dia tidak menyangka kalau
orang yang sedang berkasak-kusuk saat ini ternyata tidak lain adalah
putra Lui-pian Lojin sendiri.
Sebenarnya dia mempunyai rahasia apa? Kenapa
harus bicara secara sembunyi-sembunyi di tempat itu? Kenapa dia
harus mengelabui ayahnya? Manusia macam apa pula pemuda marga Liong
itu?
Sementara itu pemuda she Liong itu sudah
bertanya kembali:
"Apakah persoalan yang hendak Hengtai
sampaikan kepada Siaute tidak boleh diketahui ayahmu?"
"Betul, ayahku memang tidak boleh tahu."
Diam-diam Un Tay-tay mencoba melirik
sekejap, terlihat olehnya Lui-pian Lojin sedang berdiri dengan wajah
penuh amarah.
Walaupun timbul rasa ingin tahu di hati
kecilnya, tidak urung Un Tay-tay mulai kuatir juga atas keselamatan
pemuda itu, bagaimanapun juga pemuda ini pernah membantu dia dan Im
Ceng, dia merasa berhutang budi kepadanya.
Terdengar pemuda she Liong itu menghela
napas, ujarnya:
"Walaupun Siaute kurang tahu persoalan apa
yang membuat Hengtai harus mengelabui ayahmu, tapi asalkan Siaute
dapat menyumbangkan sedikit tenaga bagi Hengtai, Siaute pasti akan
melakukannya."
"Sebetulnya Siaute hanya ingin menanyakan
satu hal kepada Hengtai."
"Soal apa?" kelihatannya pemuda she Liong
itu agak keheranan.
Kembali putra Lui-pian Lojin menghela napas.
"Persoalan ini sudah tersimpan lama dalam
hati kecilku, persoalan yang membuat Siaute makan lidak enak tidur
pun tidak nyenyak, apa mau dikata justru Siaute tidak sanggup
menyelesaikan sendiri persoalan ini."
"Katakan saja Hengtai."
"Belakangan, nama besar tujuh pedang pelangi
sudah tersohor di seantero jagad, khususnya nama besar Hek liong
lan hong (angin biru naga hitam) yang sudah dikenal sampai
kemana-mana, karena itulah Siaute ingin mencari tahu kabar
seseorang."
Kini Un Tay-tay baru tahu pemuda she Liong
itu ternyata tidak lain adalah salah satu tokoh penting dalam
kelompok tujuh pedang pelangi... si jago pedang naga hitam Liong
Kian-sik.
"Kabar siapa yang ingin Hengtai ketahui?"
"Orang itu adalah seorang wanita, sahabat
karib Siaute di masa lalu, tapi selama beberapa tahun belakangan
Siaute justru kehilangan jejaknya, bahkan sama sekali tidak
kuketahui kabar beritanya lagi."
"Kalau toh dia adalah sahabat Hengtai,
kenapa Hengtai bisa kehilangan jejaknya?" tanya Liong Kian-sik
keheranan.
Untuk kesekian kalinya putra Lui-pian
menghela napas panjang.
"Aaaai! Bicara sejujurnya, antara dia dan
aku sebenarnya sudah terikat tali perkawinan, apa lacur... aaai!
Ibunya tidak pernah akur dengan ayahku, maka...."
"Maka perkawinan kalian pun terhalang?"
"Tepat sekali, dalam sedih dan kecewanya dia
pergi meninggalkan aku, aaai! Yang paling kusesali adalah tidak
seharusnya dia pergi tanpa pamit, bahkan memberi kabar pun tidak,
selama ini dia pun tidak pernah berkirim surat kepadaku, aaai...
dengan wataknya yang keras kepala, dapat dipastikan banyak
penderitaan dan kesedihan yang harus dia alami dalam dunia
persilatan."
Di balik nada suaranya yang rendah dan
berat, masih terselip perasaan cinta yang mendalam.
Diam-diam Un Tay-tay berpikir, “Tidak aneh
dia enggan mengawini aku, ternyata dia sudah mempunyai kekasih hati,
hanya saja... sikap dan tindakan yang diambil perempuan itu memang
sedikit kelewatan, selain pergi tanpa pamit, dia pun enggan mengirim
kabar, sementara pemuda ini... walaupun hatinya dibuat sedih, kecewa
dan gelisah, namun sama sekali tidak menggerutu ataupun menyalahkan
perempuan itu, sebaliknya dia justru menaruh rasa kuatir
terhadapnya, dari sini bisa disimpulkan bahwa pemuda ini memang
seorang lelaki yang romantis... aaaai, lelaki yang begitu teguh
memegang rasa cintanya."
Berpikir sampai di situ, tanpa terasa timbul
perasaan kasihan dan simpatik yang sangat mendalam terhadap putra
Lui-pian ini, selain itu dia pun dibuat trenyuh, orang lain masih
ada yang dirindukan, sementara dia sendiri? Kini dia harus hidup
sebatang kara bagaikan sukma gentayangan, jangankan orang yang
dicintai, seseorang yang pantas dipikirkan dan dirindukan pun tidak
ada.
Tampaknya Liong Kian-sik pun dibuat sangat
terharu oleh ucapan itu, setelah termenung beberapa saat, kembali
dia bertanya:
"Boleh aku tahu siapa nama nona itu?"
"Dia adalah putri Yan-yu (si Hujan gerimis)
Hoa Ji-nio!"
"Aaah, rupanya putri Yan-yu Hoa Ji-nio!"
"Betul, apakah belakangan Hengtai pernah
mendengar orang persilatan menyinggung tentang nama orang ini?"
"Tidak, tidak pernah."
Setelah berhenti sejenak, tambahnya:
"Kalau memang dia putri Hoa Ji-nio apalagi
kekasih Hengtai, kepandaian silat maupun status sosialnya jelas
tidak perlu diragukan lagi, bila nona semacam ini terjun ke dalam
dunia persilatan, aku yakin tidak sampai dua bulan nama besarnya
akan menggetarkan sungai, telaga, tapi hingga hari ini Siaute belum
pernah mendengar orang menyinggung nama ini, jadi aku kira...."
"Dengan tabiatnya yang keras, tidak mungkin
dia betah hidup menyendiri di tengah gunung yang terpencil dan jauh
dari pergaulan," tukas putra Lui-pian cepat, "Siaute sudah lama
bergaul dengannya, berdasarkan hal ini aku yakin dia bakal berganti
nama andai terjun ke dalam dunia persilatan, bila dia... dia sudah
melangkah keluar rumah, dapat dipastikan dia pun tidak ingin
ditemukan kembali oleh ibunya, Hoa Ji-nio."
"Waah, kalau dia sudah berganti nama, hal
ini semakin susah lagi," keluh Liong Kian-sik sambil menghela napas.
"Hengtai, coba kau pikir lagi dengan
seksama, apakah belakangan dalam dunia persilatan pernah muncul
seorang gadis yang gemar mengenakan baju berwarna hijau, berilmu
silat tinggi dan berwajah dingin, kaku dan angkuh?"
"Rasanya tidak ada," sahut Liong Kian-sik
setelah berpikir sejenak.
Dengan perasaan kecewa putra Lui-pian
menghela napas panjang.
"Sepanjang tahun Siaute selalu mengikuti
ayahku, meski hatiku gelisah, namun kurang leluasa bagiku untuk
pergi sendiri mencari jejaknya, aku berharap bila Hengtai berkelana
dalam dunia persilatan, tolong bantu aku memperhatikan soal ini,
untuk itu Siaute mengucapkan banyak terima kasih... aaaai! Sekalipun
Siaute beruntung menjadi putra Lui-pian, tapi... tapi... justru
karena itu aku tidak memiliki seorang sahabat pun
Semacam perasaan kesepian yang mendalam
terlintas di balik perkataannya itu.
Tiba-tiba Un Tay-tay teringat akan sesuatu,
dia jadi terbayang kembali wajah nona berbaju hijau yang meski
berwajah cantik namun dinginnya bagaikan es, nona yang pernah
dijumpai di dusun tukang besi.
Dengan perasaan girang segera pikirnya,
“Bukankah nona berbaju hijau itu cantik tapi dingin dan angkuh?
Bukankah dia gemar mengenakan baju hijau dan berilmu tinggi?
Jangan-jangan dia adalah... Hoa Ling-ling, putri Hoa Ji-nio yang
sedang dia cari?”
Dalam pada itu Liong Kian-sik telah berkata:
"Pesan dari Hengtai pasti akan Siaute
perhatikan."
"Kalau begitu Siaute ucapkan banyak terima
kasih, Hengtai, bila.....”
"Belum selesaikah pembicaraanmu?" tiba-tbia
Lui-pian Lojin menghardik dengan suara berat.
Tidak terlukiskan rasa kaget kedua orang
yang berada di balik semak itu, dengan hati tercekat mereka berdua
segera melompat bangun.
"Ayah... rupanya... rupanya kau?" seru putra
Lui-pian tergagap.
"Apa lagi yang kau tanyakan? Cepat kemari!"
hentak Lui-pian Lojin lagi.
Rerumputan disingkap orang, dengan kepala
tertunduk Liong Kian-sik dan putra Lui-pian berjalan keluar.
Diam-diam Un Tay-tay merasakan jantungnya
berdebar keras, dia ikut menguatirkan keselamatan kedua orang itu.
Tampak Lui-pian Lojin menatap tajam wajah
putranya, kemudian bertanya perlahan:
"Kau masih memikirkan dia?"
"Benar ayah," jawab pemuda itu tertunduk
lesu.
"Dia pergi tanpa pamit, selama ini menulis
secarik kertas pun tidak pernah, bahkan Hoa Ji-nio menganggap kau
seperti ular berbisa, tapi kenyataannya, kau masih memikirkan dia?"
"Benar ayah," kembali sahut putra Lui-pian
sambil menggigit bibir.
Tiba-tiba Lui-pian Lojin mendongakkan kepala
dan tertawa seram.
"Hahaha, bagus, Lui Siau-tiau wahai Lui
Siau-tiau, tidak kusangka kau memang benar-benar seorang lelaki
romantis sejati, aku sungguh merasa kagum kepadamu."
Un Tay-tay dapat menangkap rasa gusar yang
luar biasa di balik gelak tawa seram kakek itu, Lui Siau-tiau, putra
Lui-pian itu tertunduk semakin rendah, dia makin tidak berani
bicara.
Mendadak Lui-pian Lojin berhenti tertawa,
bentaknya:
"Cepat berlutut!"
Lui Siau-tiau tidak berani membantah, cepat
dia berlutut. Terpaksa Liong Kian-sik ikut menemaninya.
Sambil menuding ke arah Un Tay-tay, kembali
Lui-pian Lojin berseru:
"Sudah kau lihat dia?"
"Sudah, ananda sedang keheranan...."
"Apa yang kau herankan? Ingat, dia adalah
binimu, sejak hari ini kau tidak boleh memikirkan dia lagi, kecuali
dia ini, siapa pun tidak boleh kau pikirkan lagi!"
Berubah hebat paras muka Lui Siau-tiau,
serunya:
"Tapi dia... dia adalah...."
"Apa?" tukas Lui-pian Lojin gusar, "kau
tidak usah mencampuri urusan lain, cepat berdiri dan ikut aku,
berani membantah sepatah kata saja, akan kupatahkan kakimu!"
Habis berkata dia segera membalikkan tubuh
dan beranjak pergi dengan langkah lebar.
Lui Siau-tiau masih berlutut, dia seperti
ingin mengucapkan sesuatu, tapi dengan cepat Un Tay-tay
menarik bajunya sambil mengerling sekejap memberi tanda, Lui
Siau-tiau tertegun, namun akhirnya dia bangkit berdiri.
Sambil memiringkan kepala, Un Tay-tay
mengangkat tangannya dan digoyang sekejap, setelah menuding diri
sendiri, dia manggut-manggut.
Melihat itu Lui Siau-tiau kegirangan. Un
Tay-tay pun sambil tersenyum beranjak pergi dari situ.
BAB 37.
Rejeki dan Bencana.
Seonggok api unggun menyala di dalam sebuah
ruang gua yang gelap, lidah api yang bergoyang terhembus angin
menambah suasana misterius dalam gua itu.
Seng Toa-nio, Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu
duduk berkerumun di sekeliling api unggun, ketiga orang itu tidak
bicara maupun bergerak, mereka hanya mengawasi jilatan api dengan
termangu.
Jago pedang angin biru Liu Ji-wu duduk
dengan kepala menengadah, kening berkerut seakan sedang memikirkan
sesuatu... dia sedang berpikir, ada apa Lui Siau-tiau mengajak
keluar suaminya, apa yang sedang mereka lakukan?
Biarpun di dalam gua terdapat empat orang,
namun suasana terasa sangat hening dan tak terdengar sedikit suara
pun.
Di sudut ruang gua terlihat tumpukan
beberapa karung goni, tampaknya karung berisi rangsum, sementara di
atas sebuah batu yang cekung tergeletak sebuah buli-buli arak besar
berwarna merah darah.
Mendadak terdengar suara langkah kaki
manusia, Seng Toa-nio segera berseru:
"Aaah, mereka sudah kembali!"
Dengan cepat Liu Ji-wu berpaling ke arah
mulut gua, betul saja yang muncul memang suami kesayangannya, cuma
orang yang berjalan masuk paling dulu adalah Lui-pian Lojin serta Un
Tay-tay.
Di belakangnya mengikut Im Gi, Im Kiu-siau,
Im Ting-ting, Thiat Cing-su, Liong Kian-sik serta Lui Siau-tiau
berenam. Wajah keenam orang ini semuanya murung dan dingin
bagaikan es.
Begitu melihat kemunculan Un Tay-tay, Seng
Toa-nio kelihatan terkejut sekali, hatinya semakin tercekat setelah
menyaksikan semua kekuatan perguruan Tay ki bun muncul di situ,
saking kagetnya dia seakan merasa nyawanya ikut terbang.
Dengan cepat ketiga orang itu melompat
bangun, berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo, untuk
sesaat mereka tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Orang-orang perguruan Tay ki bun sebenarnya
sudah menduga mereka pasti berada di situ, namun begitu saling
berhadapan dengan musuh bebuyutannya, tidak kuasa lagi darah mereka
terasa mendidih, wajah berubah hebat.
Terlihat dada Im Gi naik turun tidak
beraturan, mukanya merah padam bagai orang mabuk, sinar berapi-api
memancar keluar dari balik matanya, dia butuh mengeluarkan banyak
tenaga untuk bisa menahan diri dan tidak turun tangan secara
gegabah.
"He, apa yang terjadi?" tegur Lui-pian Lojin
dengan mata berkilat.
Cepat Seng Toa-nio berseru:
"Kenapa mereka bisa...
"Orang-orang itu seru Hek Seng-thian.
"Kenapa kau orang tua...." teriak Pek
Seng-bu pula.
Karena mereka bertiga berebut bicara,
perkataan yang terucap pun jadi berbaur menjadi satu, akibatnya
perkataan dari ketiga orang itu tidak dapat didengar dengan jelas.
"Semuanya tutup mulut!" bentak Lui-pian
lojin gusar.
Kemudian sambil berpaling ke arah Un
Tay-tay, katanya:
"Kau saja yang bicara!"
Bukan menjawab, sebaliknya Un Tay-tay malah
balik bertanya:
"Apakah kau orang tua sudah lupa dengan apa
yang telah kau katakan tadi?"
"Mana mungkin Lohu lupa...." sahut Lui-pian
Lojin gusar, "cepat jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi?"
Un Tay-tay tersenyum, dengan jari jemarinya
yang ramping bagai ujung pisau dia menuding ke arah Seng Toa-nio
sekalian dan sepatah demi sepatah kata ujarnya:
"Merekalah musuh besarku, bukankah kau orang
tua berjanji akan membantu ananda untuk melenyapkan mereka!"
Semua orang semakin terkesiap sehabis
mendengar ucapan itu, tidak terkecuali para jago perguruan Tay ki
bun, sebab hingga kini mereka masih belum bisa meraba hubungan apa
yang sebenarnya terjalin antara Un Tay-tay dengan Lui-pian Lojin?
Paras muka Seng Toa-nio bertiga berubah,
kembali mereka mundur beberapa langkah.
"Jadi mereka... mereka adalah musuh
besarmu?" seru Lui-pian Lojin setelah termangu beberapa saat.
"Tepat sekali, kenapa kau orang tua belum
juga turun tangan?"
Timbul perasaan serba salah salah di wajah
Lui-pian Lojin, dengan posisi dan kedudukannya saat ini, bagaimana
mungkin dia bisa turun tangan keji terhadap orang yang sudah
berhari-hari berkumpul bersamanya?
Dengan suara gemetar Hek Seng-thian segera
berseru:
"Sudah cukup lama Boanpwe mengikuti kau
orang tua, selama inipun aku selalu bersikap hormat dan menurut atas
semua perintahmu. Tidak seharusnya kau membantu orang-orang
perguruan Tay ki bun untuk menghadapi kami."
Tiba-tiba Lui-pian Lojin berpaling,
ditatapnya Im Gi lekat-lekat, kemudian tegurnya:
"Jadi kau bermarga Im?"
"Benar," jawab Im Gi dengan suara berat.
"Hahaha, seharusnya bisa kuduga sejak awal,
kecuali Ciang bunjin dari Thiat hiat tay ki bun, siapa lagi manusia
di kolong langit saat ini yang memiliki jiwa dan kegagahan macam
kau!"
"Apakah kau akan menuruti perkataan orang di
kanan kirimu dengan mengabaikan janji?" sela Un Tay-tay dengan nada
sedih, "apa yang telah kau kabulkan, semestinya dilakukan terlebih
dulu, masalah lain bisa dibicarakan nanti saja."
"Soal ini...." dengan perasaan serba salah
Lui-pian Lojin mengelus jenggotnya.
Tiba-tiba dia tertawa tergelak, terusnya:
"Hahaha, saat ini kau toh belum menjadi
menantuku, apa salahnya aku baru membantumu turun tangan setelah kau
menjadi menantuku nanti, sedang saat ini... Lohu tidak bisa
membantumu."
Un Tay-tay tertegun, baru saja akan
mengucapkan sesuatu, mendadak terlihat olehnya buli-buli merah itu,
akhirnya dia urung bicara lebih jauh.
Sementara itu Hek Seng-thian telah berseru
kegirangan:
"Tepat sekali, asalkan kau orang tua tidak
membantunya, maka kami pun...."
"Selama Lohu tidak turun tangan, siapa pun
yang berada di sini tidak boleh turun tangan! Mengerti?" hardik
Lui-pian Lojin gusar, "semuanya duduk, saksikan Lohu meneguk
beberapa cawan arak bersama Im-ciangbunjin."
Im Gi mengepalkan sepasang tinjunya
kuat-kuat sambil berdiri mematung, saat itulah Lui-pian Lojin telah
mengambil buli-buli yang berisi arak.
"Arak itu tidak boleh diminum!" tiba-tiba Un
Tay-tay berteriak.
"Apa maksudmu?" tanya
Lui-pian Lojin gusar.
"Bila kau orang tua ingin minum arak ini,
ada baiknya suruh Seng Toa-nio dan Hek Seng-thian mencicipi seteguk
lebih dulu."
Perempuan ini yakin Seng Toa-nio serta Hek
Seng-thian pasti sudah melakukan perbuatan busuknya di kala semua
orang tidak berada di tempat.
Dengan kening berkerut Lui-pian Lojin
berpaling dan menatap tajam wajah Seng Toa-nio maupun Hek
Seng-thian.
Tidak terlukiskan rasa takut Seng Toa-nio
dan Hek Seng-thian waktu itu, paras mukanya berubah pucat pasi,
tubuhnya menggigil keras.
Berkilat sorot mata Lui-pian Lojin,
selangkah demi selangkah dia berjalan menghampiri mereka, langkahnya
selain berat juga terasa sangat lambat, tapi akhirnya sampai juga di
hadapan mereka berdua.
Dalam keadaan begini, Seng Toa-nio maupun
Hek Seng-thian sudah tidak sanggup berdiri tegak lagi, tubuh mereka
gontai seolah-olah setiap saat bakal roboh terjengkang.
Perlahan-lahan Lui-pian Lojin menyodorkan
buli-buli araknya, mendadak dia membentak:
"Ayo, minum satu teguk!"
Hek Seng-thian bermandikan keringat dingin,
dia tergagap sampai tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Dengan menggunakan segenap kekuatan dan
berupaya semampu mungkin dia membuka mulutnya, apa lacur, perkataan
yang diutarakan justru tidak berwujud perkataan, siapa pun tidak
idayang tahu perkataan apa yang dia ucapkan
"Ayo, diminum!" bentak Lui-pian Lojin lagi.
"Blukkk!", mendadak tubuh Hek Seng-thian
roboh terjungkal ke tanah, tapi sebelum mencium lantai tubuhnya
sudah dicengkeram lebih dulu oleh Lui-pian Lojin sembari hardiknya
lagi:
"Mau minum tidak?"
Pertanyaan itu diulang sampai beberapa kali,
namun Hek Seng-thian tidak juga menyahut, keempat anggota tubuhnya
lemas terkulai, badannya sama sekali tidak bergerak, ternyata dia
sudah jatuh pingsan saking takutnya.
"Budak anjing yang tidak berguna!" maki
Lui-pian Lojin gusar, dengan satu ayunan dia lemparkan tubuh Hek
Seng-thian keluar.
"Blaaamm!", tubuhnya menumbuk di atas
dinding batu dan tidak bergerak lagi.
Pek Seng-bu seperti ingin maju menolong,
namun setelah melirik Lui-pian Lojin sekejap dia tidak berani
melanjutkan langkahnya.
Kini Lui-pian Lojin menyodorkan buli-buli
arak itu ke hadapan Seng Toa-nio, bentaknya:
"Kau saja yang minum!"
Pucat pasi wajah Seng Toa-nio.
"Boanpwe tidak berani...." sahutnya
tergagap.
"Kenapa tidak berani?" tukas Lui-pian Lojin
gusar, "apakah kau tahu arak ini beracun? Jangan-jangan kau yang
meracuni arak ini? Bicara! Ayo, cepat mengaku!"
"Mana berani Boanpwe meracuni arak milik
Cianpwe?"
"Kalau memang arak ini tidak beracun, coba
minumlah satu tegukan."
"Boanpwe tidak berani mencicipi arak milik
Cianpwe."
"Kentut!" umpat orang tua itu gusar, "hari
ini kau harus meneguk habis arak ini, tidak mau pun tetap harus
diminum!"
Sambil berkata dia melemparkan buli-buli
arak itu ke hadapan Seng Toa-nio, lanjutnya:
"Akan kuhitung sampai tiga, kalau tidak kau
habiskan, akan kucabut nyawamu!"
Dari sikap maupun perubahan wajah kedua
orang itu, semua orang segera tahu Seng Toa-nio dan Hek Seng-thian
pasti sudah mencampuri arak itu dengan racun, dalam keadaan begini,
siapa lagi yang berani tampil ke depan membantu Seng Toa-nio bicara.
Dengan sorot mata mohon dikasihani Seng
Toa-nio mencoba menengok ke orang lain, tapi semua orang segera
berlagak seolah tidak melihat, apalagi Pek Seng-bu, dia sudah
berdiri jauh-jauh dari arena, bahkan berusaha tampil seolah tidak
ada sangkut-pautnya dengan persoalan ini.
"Satu...." Lui-pian Lojin mulai menghitung.
Seng Toa-nio mencoba memandang ke empat
penjuru, teriaknya dengan suara parau:
"Aku sudah tua, badanku lemah, tidak kuat
lagi meneguk arak keras. Kian-sik, Seng-bu, memandang wajah Cun-hau,
tolong wakili aku meneguk arak itu!"
Tampaknya Liong Kian-sik tidak sanggup
menahan diri lagi, baru saja tubuhnya bergerak, Liu Ji-wu telah
menarik lengannya kuat-kuat, sekalipun dia terhitung seorang
pendekar wanita, namun rasa setia kawannya tidak terlalu mendalam,
bagaimanapun dia tidak tega membiarkan kekasih hatinya mewakili
orang lain meneguk arak beracun.
Di saat yang kritis itulah tiba-tiba
terdengar hembusan ujung baju tersampuk angin, terlihat seseorang
berlari masuk ke dalam ruang gua dengan langkah lebar.
Orang itu berwajah merah, beralis tebal dan
berperawakan tinggi besar, rupanya Seng Cun-hau lelah muncul persis
pada saatnya.
Kelihatannya dia sudah mendengar semua
pembicaraan semenjak masih berada di mulut gua, itulah sebabnya dia
berlari masuk dengan sepenuh tenaga.
Kini dengan napas tersengal dia berlari
mendekat, merampas buli-buli arak itu dan teriaknya:
"Biar aku yang mewakili ibu meneguk arak
ini."
Berubah paras muka Seng Toa-nio, serunya
kaget:
"Kau... kau tidak boleh meneguknya...." Tapi
belum selesai dia berkata, Seng Cun-h iu telah meneguk dua tiga
tegukan isi buli-buli itu, menyaksikan hal ini Seng Toa-nio menjerit
keras dan roboh tidak sadarkan diri.
Pada saat itulah kembali muncul seorang, dia
adalah Che Toa-ho, tapi lantaran semua orang sedang memusatkan
perhatian pada Seng Cun-hau, maka tidak seorang pun yang
memperhatikan kehadirannya.
Tubuh Seng Cun-hau berdiri tegak bagaikan
sebatang toya, tiada penderitaan di wajahnya, tiada pula rasa ngeri
atau takut, yang tertinggal hanya perasaan sedih, malu dan menyesal
yang mendalam.
Dengan termangu Un Tay-tay memperhatikan
wajahnya, tidak kuasa lagi dia berkeluh sambil menghela napas:
"Dasar bodoh... dasar bodoh... kenapa kau
memaksa diri meneguk arak itu...."
"Kenapa kau harus meneguk arak itu?" bentak
Lui-pian Lojin pula.
"Karena ibuku enggan meneguknya, maka Tecu
harus mewakilinya."
"Apakah kau tahu arak ini beracun?"
Kembali Seng Cun-hau tertawa pedih.
"Apalagi kalau arak ini benar-benar beracun,
Tecu wajib meneguknya," dia berkata, "dilahirkan sebagai putranya,
sudah menjadi kewajibanku untuk berbakti kepadanya, aku rasa
tindakanku ini sangat lumrah."
Im Gi yang selama ini hanya berdiri kaku
tiba-tiba ikut menghela napas, ujarnya:
"Orang bilang jago pedang berhati merah
adalah seorang pendekar yang sangat berbakti, ternyata berita itu
bukan berita kosong... Cing-su, Ting-ting, mulai hari ini dan
seterusnya, kalian tidak boleh menyusahkan orang ini."
"Tapi dia... dia pun...." kata Thiat Cing-su
tergagap.
"Selama hidup, Lohu paling menghormati
lelaki yang berbakti dan orang yang setia," tukas Im Gi keras, "aku
melarang anggota perguruan Tay ki bun memusuhi manusia setia dan
berbakti, aku harap kalian semua mengingatnya baik-baik!"
"Bagus... ucapan yang bagus!" Lui-pian Lojin
ikut manggut-manggut.
Seng Cun-hau berpaling memandang Im Gi,
sepasang matanya nampak mulai berkaca-kaca, ujarnya sedih:
"Bicara soal tiong (setia) dan gi (setia
kawan), Cayhe masih jauh tertinggal dibandingkan Thiat Tiong-tong,
hanya sayang... hanya sayang aku tidak berjodoh bertemu lagi
dengannya."
Mengungkit kembali soal Thiat Tiong-tong,
semua anggota perguruan Tay ki bun kembali tercekam dalam kepedihan
mendalam.
"Thiat Tiong-tong?" seru Lui-pian Lojin,
"aku rasa dia pasti seorang Enghiong."
"Betul," sahut Un Tay-tay, "darimana kau
orangtua tahu tentang dirinya?"
"Biarpun Lohu tidak tahu tentang dia, namun
kalau dia bukan seorang Enghiong, mana mungkin musuhnya pun memuji
kehebatannya? Dimanakah dia sekarang?"
Dengan sedih Un Tay-tay berdiam diri,
sementara anggota perguruan Tay ki bun yang lain tertunduk lesu.
"Jangan-jangan dia sudah mati?" agak berubah
wajah Lui-pian Lojin.
"Betul!" dengan sedih Im Gi manggut-manggut,
kemudian menghela napas panjang.
Lui-pian Lojin segera menghentakkan kaki
berulang kali, kembali dia berpaling ke arah Seng Cun-hau dan
bentaknya gusar:
"Heran, kenapa para jago muda yang ada dalam
dunia persilatan saat ini tidak berumur panjang? Sebaliknya kawanan
manusia kurcaci yang tidak tahu malu justru dibiarkan hidup sampai
tua...."
Kelihatannya dia sangat emosi, dadanya naik
turun tidak beraturan, untuk sesaat hanya terdengar suara napas yang
berat dan memburu dari orangtua itu.
"Aaah, tidak benar!" mendadak terdengar Liu
Ji-uh berseru tertahan.
"Apanya yang tidak benar?" tanya Lui-pian
lojin dengan kening berkerut.
Sambil memandang ke arah Seng Cun-hau,
kembali Liu Ji-uh berkata:
"Bila bibi Seng berniat mencelakai
Lui-locianpwe, semestinya racun yang dia campurkan ke dalam arak
adalah racun yang paling ganas.....”
"Seharusnya begitu," kata Lui-pian Lojin
sambil tertawa seram:
"kalau racunnya tidak keras, mana mungkin
dia bisa mencelakai aku?"
"Kalau begitu, sepantasnya racun itu sudah
mulai bekerja begitu Seng-toako meneguk arak beracun dari
buli-buli," tukas Liu Ji-uh lagi, "tapi kenyataan hingga sekarang
Seng-toako masih dalam keadaan baik-baik."
Semua orang segera mengalihkan sorot matanya
ke wajah Seng Cun-hau, betul saja, paras mukanya masih nampak merah
bersinar, sorot matanya berkilat tajam, sama sekali tidak nampak
gejala keracunan.
"Kalau begitu arak itu tidak beracun?" tanya
Lui-pian Lojin dengan wajah berubah, sinar matanya segera beralih ke
wajah Un Tay-tay.
"Tapi... tapi...." Un Tay-tay sendiri pun
merasa terkejut bercampur heran.
"Hmm! Apa lagi yang bisa kau ucapkan?" tukas
Lui-pian Lojin gusar, "Sana, segera menyingkir ke samping. Kalau
lain kali kau berani bicara sembarangan lagi, Lohu pasti akan
memberi pelajaran kepadamu!"
Sikapnya terhadap Un Tay-tay memang sama
sekali berbeda... andaikata orang lain yang berbuat begitu,
sekalipun dia adalah putranya, mungkin saat ini dia sudah turun
tangan memberi pelajaran, tidak mungkin menunggu sampai lain kali.
Sekalipun begitu, kejadian itu cukup membuat
Un Tay-tay merasa sesak napas dan serba salah.
Seng Cun-hau menghembuskan napas lega, kini
dia menghampiri ibunya dan memayangnya bangun, begitu juga dengan
Pek Seng-bu, dia tidak bersembunyi lagi di sudut gua dan segera
membangunkan Hek Seng-thian.
Suasana yang semula tegang pun berangsur
mengendor kembali, Lui-pian Lojin sekali lagi mengambil buli-buli
berisi araknya, tapi sebelum diteguk, kembali dia mengawasi Seng
Cun-hau beberapa kejap, agaknya dia ingin memastikan apakah lelaki
itu keracunan atau tidak.
Setelah yakin aman, Lui-pian Lojin baru
meneguk arak dalam buli-buli itu, kemudian dia sodorkan buli-buli
tadi ke hadapan Im Gi dan bertanya sambil tertawa:
"Bagaimana?"
Im Gi tidak menjawab, disambutnya buli-buli
itu, kemudian meneguknya, kemudian dia melirik sekejap ke arah Im
Kiu-siau.
Sambil tertawa Im Kiu-siau menyambutnya dan
ikut meneguk pula.
Un Tay-tay sendiri meski tidak percaya arak
itu tidak beracun, namun setelah menyaksikan paras muka Seng
Cun-hau, mau tidak mau dia lurus mempercayainya juga, kendatipun
hati kecilnya sangat gelisah, namun dia tidak berani banyak bicara
lagi.
"Ananda juga ingin meneguk arak itu," ujar
Lui Siau-tiau sambil tertawa.
Lui-pian Lojin tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kepandaianku yang lain enggan
dipelajari, kemampuan minum arakku justru sudah kau pelajari dengan
sempurna, baiklah, si rakus cilik, kau boleh minum satu tegukan,"
katanya.
Sambil tersenyum Lui Siau-tiau menerima
buli-buli itu dan meneguknya, kemudian secara diam-diam dia sodorkan
buli-buli itu ke hadapan Liong Kian-sik, maka Liong Kian-sik pun
ikut minum satu tegukan.
Jago persilatan mana yang tidak suka arak?
Melihat orang lain meneguknya dengan nikmat, siapa pun tidak tahan
untuk ikut minum, menanti Liong Kian-sik selesai meneguknya, isi
arak dalam buli-buli itu sudah tidak tersisa lagi.
"Waah, gede amat mulut orang ini," teriak
Lui-pian Lojin sambil tertawa, "hanya sayang...."
"Celaka!!" mendadak terdengar Liu Ji-uh
berteriak lagi.
"Apa yang terjadi?" tegur Lui-pian Lojin
dengan kening berkerut.
"Kenapa Che... Che sam-ko berubah jadi
begini?" seru Liu Ji-uh dengan wajah memucat.
Kembali sorot mata semua orang dialihkan ke
wajah Che Toa-ho.
Waktu itu Che Toa-ho sudah tidak sanggup
berdiri tegak lagi, dia berdiri sambil bersandar di dinding batu,
mukanya yang kurus kering kini sudah berubah hitam pekat, sinar
matanya sama sekali tidak bercahaya lagi.
Semua yang hadir boleh dibilang merupakan
jago persilatan yang sudah lama berkelana dalam dunia persilatan,
sekilas pandang saja semua orang tahu apa yang terjadi.
Paras muka Seng Cun-hau maupun Liong
Kian-sik seketika berubah hebat.
"Apakah dia... dia keracunan?" tanya Liu
Ji-uh tergagap.
"Tidak disangkal lagi, dia pasti keracunan!"
sahut Lui Siau-tiau dengan suara berat.
"Tapi... tapi apa yang telah terjadi? Yang
minum arak beracun tidak keracunan, yang tidak minum justru
keracunan, darimana datangnya racun itu?"
Lui-pian Lojin termenung sambil berpikir
sebentar, kemudian tanyanya:
"Apakah sepanjang perjalanan, kalian berdua
telah menjumpai sesuatu? Kenapa Suto Siau dan Sun Siau-kiau sekalian
hingga kini belum sampai di sini?"
"Sewaktu dalam perjalanan tadi, Tecu
sekalian memang telah berjumpa dengan satu kejadian aneh," sahut
Seng Cun-hau cepat, "gara-gara terhadang peristiwa yang barusan
terjadi, hampir saja Tecu lupa melaporkan."
"Kalau begitu cepat katakan."
"Biasanya Tecu selalu menempuh perjalanan
bersama Siau-kiau sekalian, berhubung kali ini Tecu dan Toa-ho ada
urusan lain, maka kami minta Siau-kiau melakukan perjalanan bersama
dua bersaudara Gi...."
"Siapa pula dua bersaudara Gi itu?" bentak
Lui-pian Lojin.
"Mereka adalah saudara satu persekutuan
dengan Tecu, mereka datang terlambat karena ada urusan lain...."
"Hmm!" Lui-pian Lojin mendengus,
"lanjutkan!"
"Tecu bisa datang lebih cepat karena
sebelumnya sudah mengantar Cianpwe datang kemari lebih dulu,
sedangkan Siau-kiau sekalian harus mengikuti petunjuk rahasia yang
ditinggalkan, itulah sebabnya Tecu bisa sampai di sini lebih dulu."
Mendengar sampai di situ, satu ingatan
segera melintas dalam benak Un Tay-tay, pikirnya, “Tak heran Suto
Siau dan Sun Siau-kiau sekalian belum sampai di sini, mereka tidak
tahu kalau petunjuk jalan sudah kukacaukan, biar ditunggu sehari
semalam lagi pun belum tentu mereka dapat menemukan lorong rahasia
ini”
Biarpun dalam hati merasa geli, tentu saja
dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Terdengar Seng Cun-hau berkata lebih lanjut:
"Sewaktu Tecu dan Toa-ho berjalan separoh
jalan, tiba-tiba dari sisi jalan di balik hutan melompat keluar
seorang Thauwto berbaju merah, tanpa sebab dia langsung menghadang
jalan pergi kami...."
"Seorang Thauwto berbaju merah?" berubah
paras muka Lui-pian Lojin, "apakah kungfunya sangat hebat?"
"Kehebatan ilmu silat yang dimiliki orang
ini sungguh menggidikkan hati, biarpun Tecu dan Toa-ho sudah
beberapa kali berganti gerakan tubuh, usaha kami untuk berkelit
darinya selalu gagal, terpaksa kami pun menegur, mengapa dia
menghadang jalan pergi kami?"
"Benar, apa alasannya menghadang jalan pergi
kalian?"seru Liu Ji-uh pula.
"Thauwto berbaju merah itu hanya
mengucapkan sepatah kata, “Ikuti aku!”, dengan perasaan apa boleh
buat Tecu berdua pun mengintil di belakangnya, setiba di dalam
hutan, kami menemukan lagi kejadian lain yang lebih mencengangkan!"
Kelihatannya apa yang terlihat waktu itu
memang satu kejadian yang mencengangkan, sebab ketika bercerita
sampai di situ, paras mukanya kembali berubah.
Tidak tahan Lui Siau-tiau serta Liong
Kian-sik bertanya hampir bersamaan:
"Kejadian aneh apa?"
Seng Cun-hau menghembuskan napas panjang,
katanya:
"Kejadian itu adalah...."
Ternyata sewaktu Seng Cun-hau dan Che Toa-ho
masuk ke dalam hutan, mereka lihat ada seseorang tergantung di atas
dahan pohon, orang itu berkulit hitam bagai baja dan mengenakan
celana pendek.
Di bawah pohon itu berdiri seorang gadis
dengan rambut awut-awutan dan wajah penuh air mata, dilihat
lagaknya, dia mirip seorang gadis yang tidak waras otaknya, dengan
sebatang rotan tidak hentinya dia melecuti tubuh orang yang
tergantung di atas pohon.
Yang aneh, setiap kali dia melecuti tubuh
orang itu, air matanya kembali bercucuran, jelas hatinya amat sedih
dan tersiksa, namun pecutnya masih tidak hentinya dicambukkan ke
tubuh orang itu, bahkan caranya memukul pun tanpa belas kasihan.
Yang lebih aneh lagi, orang yang tergantung
di atas pohon itu meski tubuhnya sudah kaku dan matanya terbelalak
lebar, namun setiap kali rotan itu mencambuk tubuhnya, dia sama
sekali tidak terlihat kesakitan atau menderita.
Biarpun Seng Cun-hau dan Che Toa-ho udah
lama berkelana dalam dunia persilatan, tidak urung mereka dibuat
tertegun juga setelah menyaksikan kejadian ini, untuk sesaat mereka
hanya bisa saling berpandangan tanpa mengucap-k in sepatah kata pun
Lewat beberapa saat kemudian, akhirnya Seng
Cun-hau bertanya:
"Thaysu, apakah kau ada petunjuk? Sebenarnya
karena persoalan apa kau membawa kami kemari? Maaf, Cayhe berdua
masih ada urusan lain, kami harus segera pergi dari sini."
"Kalau ingin pergi dari sini gampang sekali,
setiap saat aku bisa membebaskan kalian, cuma kalian berdua harus
menyanggupi dulu satu permintaanku."
"Soal apa? Asal...."
"Persoalan ini sama sekali tidak merugikan
kalian berdua," tukas Thauwto berbaju merah itu.
"Kalau memang begitu, silakan Thaysu memberi
petunjuk."
"Asal kalian berdua mau menggunakan seluruh
tenaga dalam yang kalian miliki dan menghantam dengan keras tubuh
orang yang tergantung di atas pohon itu, setiap saat kalian boleh
pergi."
Permintaan ini jauh di luar dugaan Seng
Cun-hau serta Che Toa-ho, kedua orang itu malah melongo.
Sesaat kemudian kembali Seng Cun-hau
berkata:
"Cayhe tidak punya dendam sakit hati dengan
orang ini, mana tega aku melukainya? Lagipula dia sudah Thaysu
tangkap, kenapa bukan Thaysu sendiri yang turun tangan?"
"Kau tahu apa hubunganku dengannya?"
"Tentu saja musuh besarnya."
"Keliru, dia adalah satu-satunya muridku."
Sekali lagi Seng Cun-hau tertegun, tanyanya
keheranan:
"Apakah dia telah melanggar peraturan
perguruan? Kalau memang begitu, seharusnya Thaysulah yang
melaksanakan hukuman itu, kenapa mesti Cayhe yang turun tangan?"
Bukan menjawab, Thauwto berbaju merah itu
malah balik bertanya:
"Tahukah kau, siapa gadis yang sedang
melecutinya sekarang?"
Senyuman misterius yang selalu tersungging
di ujung bibirnya kini nampak semakin kentara dan jelas.
"Kalau soal ini... Cayhe semakin tidak bisa
menebak."
"Gadis itu adalah putrinya," ujar Thauwto
berbaju merah itu.
Tidak terlukiskan rasa terperanjat Seng
Cun-hau serta Che Toa-ho, mereka berdua sampai berdiri terbelalak
dengan mulut melongo, tidak sepatah kata pun mampu
diucapkan
Sambil tersenyum, kembali Thauwto berbaju
merah itu berkata:
"Dari sini bisa dibuktikan permintaanku
kepada kalian bukan muncul atas niat jahat, apa lagi yang kalian
pertimbangkan? Ayo, cepatlah turun tangan."
Che Toa-ho tertegun beberapa saat, gumamnya:
"Kalau sampai putrinya pun menghajar dia,
kenapa tidak kita lakukan?"
Betul saja, dia segera meluncur maju ke
depan dan langsung melepaskan sebuah pukulan dengan sepenuh tenaga.
Dia bukanlah seorang jagoan tanpa nama, bisa
dibayangkan betapa dahsyat dan luar biasanya serangan itu. Meski
badan orang itu terlempar karena tenaga getaran, ternyata dia sama
sekali tidak menunjukkan kesakitan.
Menyaksikan keadaan itu, otomatis Seng
Cun-hau tidak bisa menghindar lagi, terpaksa dia pun melepaskan
sebuah pukulan.
Ketika Seng Cun-hau bercerita sampai di
sini, paras muka semua orang berubah hebat... bagaimanapun peristiwa
ini penuh mengandung keanehan, kecurigaan dan kemisteriusan yang
membuat orang susah untuk menduga.
Terdengar Seng Cun-hau menghela napas
panjang, kembali ujarnya:
"Setelah Tecu melepaskan sebuah pukulan,
betul saja, Thauwto berbaju merah itu benar-benar melepaskan Tecu
berdua, tapi... tapi sampai sekarang pun Tecu belum bisa menduga apa
maksud dan tujuannya berbuat begitu?"
Dengan kening berkerut
Lui-pian Lojin termenung sambil berpikir, kalau dia saja tidak
inggup menjawab, tentu saja orang lain semakin tidak sanggup
menjawab persoalan itu.
Dalam pada itu Seng Toa-nio dan Hek
Seng-thian telah mendusin dari pingsannya, mereka berdua hanya duduk
tertegun, tertegun karena kaget bercampur takut.
Di bawah cahaya api, tampak peluh sebesar
kacang kedelai bercucuran membasahi wajah Un Tay-tay, bibirnya
gemetar seperti ingin mengatakan sesuatu, namun dia tidak berani
bicara.
Melirik sekejap wajah perempuan itu,
Lui-pian Lojin segera menegur:
"Apa yang ingin kau katakan?"
Un Tay-tay menarik napas dingin, gumamnya:
"Tubuh Dewa racun."
Berubah hebat paras muka Lui-pian Lojin,
cepat dia menarik ujung bajunya sambil membentak nyaring:
"Apa kau bilang? Coba ulangi sekali lagi."
"Tubuh Dewa racun!" sepatah demi sepatah Un
Tay-tay berucap.
Mendadak sekujur badan Lui-pian Lojin
gemetar keras, perlahan dia mengendorkan tangannya, lalu mundur
sejauh tiga langkah, sepasang matanya melotot, rambutnya bergetar
seperti dihembus angin, gumamnya:
"Tubuh Dewa racun... betul, tubuh Dewa
racun, seharusnya sudah terpikir olehku sejak tadi."
Tiba-tiba dia membalikkan badannya menghadap
ke arah Seng Cun-hau, lanjutnya:
"Apakah Thauwto berbaju merah itu
berperawakan tinggi dengan kepala yang amat besar, selain kepalanya
bahkan sepasang alis mata pun berwarna merah darah?"
"Betul, tapi... darimana Cianpwe tahu?"
tanya Seng Cun-hau keheranan.
"Lohu kenal orang ini."
"Siapakah dia?"
"Dia adalah rasul dari selaksa racun,
Siang-lok Thaysu."
Beberapa patah kata itu begitu diucapkan,
setiap patah kata seolah mempunyai berat ribuan kati, membuat semua
orang merasa tertindih, sesak napas, mukanya mengejang dan tidak
sanggup htrkata-kata.
Mendadak Lui-pian Lojin menghentakkan kaki
ke atas tanah, serunya:
"Lohu tidak tahu sejak kapan “tubuh Dewa
Racun” berhasil terbentuk, tapi kalau memang “tubuh Dewa racun”
sudah terbentuk, ini bahaya jadinya, aku ... aku pun tidak tahu
bagaimana baiknya?"
Ketika semua orang menyaksikan Lui-pian lojn
yang terhitung seorang jagoan ampuh dan tidak pernah takut terhadap
masalah apapun kini menunjukkan perasaan ngeri dan kaget yang luar
biasa setelah mendengar tentang “tubuh Dewa Racun”, tidak urung
semua orang pun ikut terkesiap dan merasa ngeri.
"Sebenarnya apa yang disebut “tubuh Dewa
Racun?" tidak tahan Seng Cun-hau bertanya.
Lui-pian Lojin memandang sekeliling tempat
itu sekejap, kemudian sahutnya dengan suara dalam:
"Tubuh Dewa racun merupakan dewa dari segala
racun, kedahsyatan racun yang terkandung tiada taranya, barang siapa
tersentuh oleh tubuhnya, maka tanpa sadar dia akan keracunan hebat,
sebab racun itu tanpa wujud, tanpa bentuk maupun tanpa rasa."
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Liu
Ji-uh menjerit kaget, menjerit sekeras-kerasnya. Ternyata
tubuh Liong Kian-sik secara mendadak mengejang keras, kemudian
roboh terjungkal ke tanah.
Dengan satu gerakan cepat Lui-pian Lojin
melompat ke depan, lalu bagaikan sambaran petir secara beruntun dia
totok delapan belas jalan darah penting di nadi sebelah kiri Lui
Siau-tiau dan Liong Kian-sik.
Im Gi dan Im Kiu-siau ikut menjatuhkan diri
bersila, raut muka mereka mengejang kencang.
Dengan kecepatan luar biasa Lui-pian Lojin
melayang di hadapan kedua orang itu, kembali tangan kiri dan
kanannya bekerja cepat, dalam waktu singkat dia telah menotok pula
jalan darah penting di tubuh mereka berdua.
Semua peristiwa itu berlangsung dalam waktu
singkat, seketika suasana dalam ruang gua itu kacau-balau, Pek
Seng-bu, Hek Seng-thian maupun Seng Toa-nio serentak melompat bangun
dan berdiri saling berdempetan.
Che Toa-ho dengan buih meleleh dari mulutnya
sudah berada dalam keadaan tidak sadar semenjak tadi, sementara
Thiat Cing-su dan Im Ting-ting berdiri dengan air mata berlinang.
Lama sekali Lui-pian Lojin berdiri mematung,
akhirnya dia membalikkan tubuhnya perlahan-lahan, dengan sorot mata
berapi-api penuh amarah, ditatapnya wajah Seng Toa-nio sekalian
tanpa berkedip.
"Arak itu beracun...." gumam Un Tay-tay
dengan suara gemetar, "ternyata dalam arak itu benar-benar beracun."
"Kalau... kalau arak itu beracun, kenapa aku
tidak keracunan?" tanya Seng Cun-hau.
"Aku sendiri pun kurang jelas, mungkin saja
karena dalam tubuhmu sudah terdapat racun dari “tubuh Dewa
racun”, maka sehabis meneguk arak beracun itu terjadi bentrok
antara racun yang itu dengan racun yang lain, akibatnya semua racun
tidak bisa bekerja lagi. Gara-gara bencana, kau malah mendapat
keberuntungan, hanya sayang.....”
Dia memandang sekejap ke arah Lui-pian lojin
ayah beranak serta dua bersaudara Im, kemudian dengan sedih menutup
mulutnya kembali.
Seng Cun-hau berdiri termangu, rasa sedih
dan duka yang mendalam menghiasi wajahnya, gumamnya:
"Kalau begitu, justru akulah yang telah
mencelakai mereka."
Sementara itu terdengar suara isak tangis
Liu Ji-uh yang amat memilukan hati bergema memecah keheningan,
perempuan itu hanya meratapi Liong Kian-sik tanpa mempedulikan yang
lain.
Menyaksikan Lui Siau-tiau, Im Gi serta Im
Kiu-siau yang duduk kaku bagaikan patung, kontan saja dia merasa
amat sedih, dengan perasaan hancur-lebur, teriaknya:
"Aku pantas mati! Aku pantas mati!"
Ketika selesai mengucapkan perkataan yang
terakhir, darah segar menyembur keluar dari mulutnya, seketika
lelaki itu roboh terkapar ke tanah dan tidak sadarkan diri.
Diam-diam Un Tay-tay mencoba untuk melakukan
analisa, dalam liang gua saat itu tinggal tujuh orang yang belum
keracunan, mereka adalah Seng Toa-nio, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu,
Im Ting-ting, Thiat Cing-su, Liu Ji-uh serta dirinya.
Dari ketujuh orang itu, tiga di antaranya
merupakan musuh besar yang cukup tangguh, berdasarkan analisa yang
dia buat, dengan kepandaian silat yang dimiliki keempat
orang yang ada sekarang, betapapun hebatnya kungfu yang dimilikinya,
rasanya masih bukan tandingan lawan.
Apalagi posisi Liu Ji-uh masih tanda tanya
besar, apakah dia musuh atau sahabat? Sampai sekarang dia tidak
tahu.
Sedangkan Im Ting-ting serta Thiat Cing-su
masih berada dalam kondisi sedih dan terpukul batinnya, kesadaran
mereka jelas terganggu, hal ini akan menyebabkan kehebatan ilmu
silat mereka pun melemah.
Menyadari situasi yang sangat tidak
menguntungkan, perasaan bergidik seketika menyelimuti hatinya, kini
dia hanya bisa berdoa, berharap Lui-pian Lojin dapat mengendalikan
racun yang bersarang dalam tubuhnya dan tidak ikut roboh.
Benar saja, Lui-pian Lojin berhasil
mempertahankan diri, dia tidak sampai roboh terjungkal.
Waktu itu Seng Toa-nio, Hek Seng-thian
maupun Pek Seng-bu sudah merasa kegirangan setengah mati, sedemikian
girangnya hingga sulit untuk melukiskan perasaan mereka.
Semula mereka berharap hanya Lui-pian Lojin
seorang yang roboh keracunan, seorang pun sudah membuat meraka amat
puas, siapa tahu kenyataan bicara lain, bukan saja orang tua itu
berhasil mereka racuni, bahkan dua bersaudara Im yang merupakan
musuh bebuyutan pun ikut keracunan.
Sudah lama mereka berupaya melenyapkan musuh
bebuyutannya itu dari muka bumi, tapi usahanya tidak pernah
berhasil, sebaliknya setiap tahun mereka harus menghadapi sergapan
mematikan dari sisa kekuatan perguruan Tay ki bun.
Maka begitu rancangan mereka membuahkan
hasil yang di luar dugaan, bisa dibayangkan betapa girangnya
orang-orang itu, nyaris mereka bertiga tertawa terbahak-bahak saking
gembiranya.
Tapi begitu mereka bertiga menyaksikan tubuh
Lui-pian Lojin yang masih berdiri tegar, perasaan girang yang
berkecamuk dalam benak mereka seketika lenyap tidak berbekas.
Sebetulnya sejak tadi mereka bertiga sudah
siap menerkam ke depan, namun berhubung Lui-pian Lojin masih berdiri
tegar, maka mereka jadi ragu untuk melancarkan serangan, bagi mereka
bertiga, pengorbanan sebesar apapun tetap akan mereka bayar asalkan
Lui-pian Lojin roboh terjungkal.
Kenyataan bukan saja Lui-pian Lojin tidak
loboh, sebaliknya selangkah demi selangkah justru berjalan
menghampiri mereka.
Perasaan bergidik bercampur ngeri seketika
berkecamuk dalam benak Seng Toa-nio bertiga, tanpa sadar mereka
mundur terus berulang kali, mundur hingga punggung mereka menempel
di dinding batu yang dingin
"Benarkah kalian yang meracuni arakku?
Katakan! Racun apa yang kalian gunakan?" hardik Lui-pian Lojin
dengan mata berapi-api.
Seng Toa-nio tertawa terkekeh. "Racun apa?
Aduh mak, aku sudah lupa jengeknya.
Walaupun dia ingin sekali memperdengarkan
suara gelak tertawa penuh kebanggaan, namun di bawah ancaman serius
Lui-pian Lojin, dia betul-betul tidak mampu tertawa, yang muncul
justru suara aneh mirip suara katak yang sedang meraung.
Tapi berada dalam situasi dan keadaan
seperti ini, suara semacam itu justru terdengar sangat menyeramkan,
suara yang membuat bulu roma berdiri.
Lui-pian Lojin mengepal tinjunya semakin
kencang, kembali hardiknya:
"Mau bicara tidak?"
Suara bentakan yang menggelegar bagai bunyi
geledek itu kini terdengar agak sumbang, hal ini menunjukkan bahwa
meski dia berhasil mengendalikan bekerjanya racun dengan
mengandalkan tenaga dalam hasil latihannya selama puluhan tahun,
namun racun jahat itu sudah mulai merasuk ke dalam isi perutnya.
Akibat susupan racun jahat, tubuhnya yang
kekar bagai terbuat dari baja dan kekuatannya yang dahsyat bagai
guntur membelah bumi itu mulai terkikis oleh pengaruh racun yang
tidak berwujud itu dan mulai melemah.
Nyali Seng Toa-nio bertambah besar, ejeknya:
"Kalau aku tidak bicara, kau mau apa?"
"Kalau tidak mau bicara, kucabut nyawamu!"
"Memangnya setelah aku katakan, kau akan
membebaskan diriku begitu saja? Hehehe, omongan yang cuma bisa
membohongi anak kecil pun ingin kau gunakan untuk membohongi aku?"
Un Tay-tay tahu, bila Lui-pian Lojin dapat
segera mengetahui sifat racun yang mengeram dalam tubuhnya,
kemungkinan besar dia akan segera menemukan obat penawarnya, bila
ditunda lebih lama lagi, apabila racun sudah menyerang makin ke
dalam, sulit baginya untuk menyelamatkan jiwa.
Sayang perempun ini hanya bisa panik, dia
sendiri pun tidak berdaya menghadapi situasi seperti ini.
Sambil menyeringai licik, kembali Seng
Toa-nio berkata:
"Apalagi saat ini kau sedang menggunakan
seluruh kekuatanmu untuk mendesak keluar racun yang mengeram di
dalam tubuh, mana mungkin memiliki sisa kekuatan untuk menyerangku?
Hmmm, padahal kau tahu dengan jelas, bila berani menggunakan hawa
murnimu secara sembarangan, kau segera akan mati keracunan."
"Sekalipun harus mengalami nasib tragis,
akan kugunakan sisa kekuatan yang Lohu miliki untuk menggempur
kalian bertiga hingga hancur lebur! Kalau tidak percaya, ayo, segera
majulah untuk mencoba."
Seng Toa-nio tertawa tergelak.
"Hahaha, kalau aku bertiga turun tangan
bersama, memangnya kau berani menyerang? Hehehe, lagi pula buat apa
kami mesti bersusah payah menggempurmu? Bukankah lebih enak menunggu
kau mati keracunan sebelum turun tangan?"
Perkataannya ini memang merupakan titik
kelemahan yang dimiliki setiap manusia... siapa pun, sebelum tiba
pada saat yang paling kritis, mereka tidak akan melepaskan setiap
harapan yang ada untuk mempertahankan hidup.
Paras muka Lui-pian Lojin sebentar berubah
merah sebentar berubah hijau, sepasang kepalannya yang menggenggam
kencang terlihat gemetar saking emosi, tapi dia tidak berani turun
tangan secara gegabah. Saat ini keselamatan jiwanya sudah menyangkut
keselamatan banyak orang, jika dia sampai tertimpa sesuatu, dapat
dipastikan nyawa orang lain pun akan turut melayang.
Mendadak Liu Ji-uh menjatuhkan
diri berlutut, pintanya dengan gemetar:
"Seng Toa-nio, aku mohon kepadamu,
katakanlah racun apa yang telah kau gunakan, kami suami istri tidak
ada dendam sakit hati denganmu, kenapa... kenapa kau harus mencabut
nyawanya?"
Seng Toa-nio tertawa terkekeh.
"Waaah... waaah... waaaah... Lan hong kiam
khek yang selalu tampil angkuh pun hari ini memohon kepada orang
lain? Bila tahu bakal ada kejadian begini, kenapa sejak dulu kau
tidak bersikap lebih sopan kepadaku?"
Liu Ji-uh menggigit bibirnya
kencang-kencang, sekuat tenaga dia berusaha menahan penghinaan, rasa
sedih dan gusar yang berkecamuk... sebetulnya perbuatan semacam ini
tidak nanti akan dia lakukan, tapi hari ini, demi orang yang
dicintainya, dia tidak segan untuk mengorbankan segalanya.
Dengan kepala tertunduk, kembali ujarnya
gemetar:
"Bagaimanapun kumohon kau orang tua bersedia
menyelamatkan jiwanya, selama... selama hidup aku tidak akan
melupakan budi kebaikanmu."
Seng Toa-nio menatapnya sekejap, tiba-tiba
dia tertawa seram, dari balik matanya terpancar sinar kebencian,
kedengkian dan rasa iri yang mendekati kalap.
"Woow, sepasang suami istri yang begitu
mesra," ejeknya sambil menyeringai seram, "demi dia, kau benar-benar
rela mengorbankan segalanya? Kau benar-benar mencintainya dengan
sepenuh hati?"
"Asal dia bisa hidup, aku... aku rela mati!"
dengan kepala tertunduk dan air berlinang Liu Ji-uh menyahut.
Biarpun hanya sepatah kata yang sederhana,
namun terkandung rasa cinta yang tidak terkirakan
Cinta kasih yang begitu dalam, begitu mesra
dan kuat, sudah lebih dari cukup untuk menggoyahkan hati manusia
sekeras baja sekalipun.
Tapi sorot mata kedengkian yang mencorong
keluar dari balik mata Seng Toa-nio justru nampak bertambah
mengental, mimik mukanya semakin mendekati gila, berteriak sambil
menye-ringai seram:
"Sebetulnya aku berniat menolongnya, tapi
setelah menyaksikan cinta kasih kalian berdua yang begitu mendalam,
aku justru tidak ingin menolongnya... aku... aku akan berdiri di
sisi kalian dan menikmati penderitaan yang dia alami, akan
kusaksikan dengan perlahan bagaimana dia mati karena tersiksa dan
menderita."
"Ke... kenapa kau harus berbuat begitu?"
keluh Liu Ji-uh sedih.
Seng Toa-nio mengalihkan sorot matanya yang
penuh kebencian ke tempat jauh, lama kemudian dia baru menjawab:
"Karena selama hidup aku paling benci
menyaksikan suami istri yang bisa hidup bahagia, bisa hidup saling
mencintai macam kalian, aku... aku benci, kenapa suami istri yang
lain bisa hidup saling mencintai, bisa hidup penuh kebahagiaan
sementara kehidupan suami istri dalam keluarga Heng justru amburadul
dan berantakan tidak keruan, aku... aku benci dan menyesal kenapa
tidak mampu memporak-porandakan kehidupan suami istri di dunia ini
yang hidup saling mencintai."
Liu Ji-uh gemetar keras, ucapan itu sangat
memukul perasaan hatinya, diiringi jeritan tertahan dia
roboh terjungkal.
Dengan geram Lui-pian Lojin segera
mengumpat:
"Kau... dasar perempuan busuk berhati keji,
sekalipun Thian telah mengganjar kau putus keturunan, rasanya masih
belum cukup untuk menebus semua dosa dan kejahatan yang pernah kau
lakukan."
Seng Toa-nio semakin naik pitam, jeritnya:
"Betul, aku keluarga Seng memang putus
keturunan! Tapi bagaimana dengan keluarga Lui kalian? Toh kau pun
bakal putus keturunan... hahaha... kalian ayah beranak sudah terkena
Coat cing hoa tok (racun bunga pemutus cinta), memangnya
masih ingin hidup terus?"
"Coat cing hoa?" jerit Lui-pian Lojin
terkesiap.
Terdorong oleh rasa sakit, sedih dan emosi
yang meluap, secara tidak sengaja Seng Toa-nio telah menyebutkan
nama racun yang digunakan, kini mau mungkir pun sudah terlambat,
maka sahutnya keras:
"Betul! Aku memang menggunakan racun Coat
cing hoa! Bunga pemutus cinta milik tokoh sakti yang disebut orang
sebagai Bong tiong Siancu (dewi dalam impian), kau tentu
pernah dengar nama ini bukan? Kau pun tahu bukan racun dari bunga
ini tak ada penawarnya?"
Dia kuatir Lui-pian Lojin dalam
keputus-asaannya tiba-tiba melancarkan serangan mematikan
kepadanya, maka secara diam-diam dia himpun tenaga dalamnya dan
bersiap sedia.
Siapa tahu pukulan itu memang kelewat berat,
bahkan Lui-pian Lojin sendiri pun tidak sanggup menerima kenyataan
itu... tidak tahan lagi dia jatuh terduduk ke tanah, untuk sesaat
diahanya bisa duduk termangu.
Un Tay-tay pun tidak kalah kagetnya, kini
pihaknya boleh dibilang sudah menderita kekalahan lotal, tidak
seorang pun di kolong langit yang sanggup menyelamatkan mereka.
Lui-pian Lojin yang nama besarnya
menggetarkan sungai telaga, kini keselamatan jiwanya sudah di ujung
tanduk, sementara tujuh jago pedang pelangi yang tersohor pun sudah
tercerai-berai. Tapi yang paling memedihkan hati adalah para tokoh
Thiat hiat tay ki bun yang selama ini berusaha menghindar dari
kepunahan, kini justru sudah dihadapkan pada pilihan yang paling
tragis.
Siapa pernah menduga, racun arak dalam ebuah
buli-buli kecil ternyata memiliki kekuatan penghancur yang demikian
dahsyatnya, siapa pula yang pernah menduga seorang tokoh maha sakti
dunia persilatan, harus kehilangan nyawa di tangan manusia kurcaci,
Siaujin tidak tahu malu macam Seng Toa-nio, Hek Seng-thian dan Pek
Seng-bu... kalau dibilang inilah kemauan takdir, maka kemauan takdir
ini betul-betul keji dan sangat tiagis.
Dengan perasaan hampa Lui-pian Lojin
bergumam:
"Racun bunga pemutus cinta merupakan benda
paling beracun di alam semesta, racun tubuh Dewa racun justru
merupakan racun paling jahat ciptaan manusia... yang satu merupakan
benda paling beracun di alam semesta, sedang yang lain merupakan
benda paling beracun ciptaan manusia, bila dua jenis racun saling
bertemu, hanya racun Coat cing hoa yang bisa mengatasi Tok-sin, dan
hanya Tok-sin yang bisa mengendalikan racun Coat cing hoa... tapi...
tapi... kenapa semuanya bisa terjadi begitu kebetulan? Kenapa
keduanya bisa muncul bersamaan?"
"Hahaha ...." Seng Toa-nio tertawa seram,
"kalau bukan sangat kebetulan, mana mungkin aku bisa mencelakaimu?"
Mendadak Lui-pian Lojin mendongakkan kepala
dan bertanya:
"Coat cing hoa disebut juga dewi dalam
impian, ini disebabkan bunga itu tumbuh di suatu tempat yang sulit
ditemukan, darimana kau memperoleh benda beracun ini?"
Seng Toa-nio kembali tertawa terkekeh.
"Hahaha, dewi dalam impian! Sebuah nama yang
tepat sekali, ketika kau berniat berjumpa dewi dalam impian, kau
justru tidak pernah bermimpi, sebaliknya ketika kau tidak berhasrat
menjumpainya, sang dewi justru muncul dalam impianmu... Coat cing
hoa, sesuai dengan nama dewi dalam impian, tentu saja begitu pula
kenyataan."
"Tapi kami harus berterima kasih kepadamu,"
kata Hek Seng-thian pula, "kalau bukan gara-gara kau, tidak mungkin
bisa kami peroleh bunga langka itu."
"Berterima kasih kepadaku?"
"Betul, harus berterima kasih kepadamu,
kalau bukan gara-gara kau memaksa kami melakukan pemeriksaan di
sekeliling sini, mustahil kami bisa tiba di tanah berawa-rawa yang
begitu rahasia letaknya, apa mau dikata, ternyata Coat cing hoa yang
diimpikan setiap orang itu justru tumbuh di tengah tanah berawa-rawa
itu."
"Tanah berawa-rawa?" seru Un Tay-tay
tertahan, satu ingatan segera melintas dalam benaknya.
Dia segera teringat kembali tanah berawa
dimana dia kebumikan Sui Leng-kong di tengah tumpukan bunga, dia pun
teringat bunga-bunga bercahaya aneh yang tumbuh memenuhi tanah
berawa itu.
Tiba-tiba terdengar Hek Seng-thian
membentak gusar:
"Buat apa banyak bicara lagi dengannya? Biar
kucabut nyawanya, agar semua Enghiong di kolong langit tahu Lui-pian
Lojin tewas di tangan siapa."
Belum selesai bicara, dia sudah melolos
pedang yang tersoreng di pinggang Seng Cun-hau dan menerkam ke
depan, di antara kilatan cahaya pedang bagaikan sambaran petir, dia
langsung menusuk tenggorokan Lui-pian Lojin.
Un Tay-tay sadar, biarpun Lui-pian Lojin
memiliki kepandaian silat yang amat dahsyat pun sulit rasanya
menangkis atau meloloskan diri, di tengah jeritan kaget, dia siap
menerkam ke depan untuk membendung serangan itu.
Siapa tahu belum sempat dia bergerak,
terdengar Lui-pian Lojin membentak nyaring, tangannya dikebaskan ke
depan, di antara alunan ujung bajunya yang melayang bagai segulung
awan, dia sudah menyongsong datangnya cahaya pedang itu.
Biarpun hanya selembar ujung baju yang tipis
dan ringan, saat itu justru memiliki kekuatan ribuan kati.
Hek Seng-thian merasakan tangannya bergetar
keras, dadanya terasa panas sekali, segulung kekuatan yang sukar
dibendung telah menumbuk dadanya, menyusul tubuhnya mencelat jauh ke
belakang.
Cahaya hijau berkelebat, pedangnya sudah
terpental hingga meluncur keluar dari mulut gua.
Berubah hebat paras muka Seng Toa-nio serta
Pek Seng-bu.
Tampak Hek Seng-thian berjumpalitan beherapa
kali di tengah udara sebelum melayang turun ke bawah, lagi-lagi dia
mundur beberapa langkah dengan sempoyongan sebelum akhirnya berdiri
tegak dengan menempel dinding.
Paras mukanya saat itu pucat-pias seperti
mayat, pedang dalam genggamannya sudah mencelat entah kemana, masih
untung ketika melancarkan serangan tadi dia masih menyisihkan jalan
mundur bagi dirinya, bagaimanapun dia masih tetap menaruh rasa jeri
dan ngeri terhadap Lui-pian Lojin, kalau tidak, mungkin nyawanya
saat itu sudah melayang meninggalkan raga.
Dalam keadaan seperti ini, pecah sudah nyali
orang itu, jangankan melancarkan serangan, bergerak pun tidak berani
lagi.
Ulat berkaki seribu tidak pernah mati
kaku... kehebatan Lui-pian Lojin memang sungguh mengagumkan,
sekalipun sudah keracunan, namun serangannya masih dahsyat dan
mematikan... gempuran ini sudah lebih dari cukup untuk menggetarkan
perasaan setiap orang.
Lui-pian Lojin sendiri pun agak kepayahan
sehabis melancarkan gempuran itu, dia berdiri dengan napas
terengah-engah.
"Kematian sudah di depan mata, buat apa kau
ngotot ingin mengadu nyawa?" ejek Seng Toa-nio sambil tertawa
dingin.
"Hmm! Sekalipun hari ini Lohu harus tewas di
tempat ini, tidak nanti kubiarkan kalian budak-budak busuk yang
tidak tahu malu menyentuh seujung bajuku, selembar rambutku!"
"Hahaha, bagus, bagus sekali," kembali Seng
Toa-nio tertawa terkekeh, "kami tidak akan menyentuhmu, akan
kubiarkan kau mampus dengan sendirinya, tapi bila kau sudah mampus,
kami akan mencincang tubuhmu hingga hancur, akan kucabik-cabik
tubuhmu, meludahi wajahmu... hmmmm, bisa apa kau? Memangnya waktu
itu kau sanggup menghalangi ulah kami?"
Suara tertawanya begitu menyeramkan, seperti
jeritan kuntilanak dari dalam kubur.
Saking gusarnya sepasang gigi Lui-pian Lojin
gemerutuk keras, hampir saja dia mempertaruhkan jiwanya untuk
melancarkan gempuran terakhir, untung saja niat itu segera
diurungkan.
Berkilat sepasang mata Pek Seng-bu, katanya
pula sambil tertawa dingin:
"Kalau sudah marah, kenapa tidak segera
turun tangan? Apa lagi yang kau tunggu? Memangnya menunggu orang
lain datang menyelamatkan dirimu?"
"Sayang letak tempat ini kelewat rahasia,"
sambung Seng Toa-nio sinis, "tidak mungkin orang lain bisa menemukan
tempat ini, sudahlah, tak usah bermimpi lagi, tidak nanti ada orang
datang me nolongmu."
"Yang lebih menggelikan lagi adalah tempat
ini kau pilih sendiri," Pek Seng-bu menambahkan lagi, "kau anggap
dirimu seorang jagoan nomor wahid di kolong langit, tidak tahunya
kau justru memilih tempat ini untuk mengubur mayat sendiri."
"Hehehe ... apalagi racun Coat
cing hoa memang tidak mungkin dipunahkan oleh siapa pun, tidak
seorang pun sanggup menyelamatkan jiwamu lagi, meski ada orang yang
muncul sekarang, belum tentu dia mampu menolong dirimu."
Tanya jawab yang dilakukan kedua orang ini
dipenuhi sindiran, ejekan serta umpatan, mereka sangka perbuatan itu
pasti akan membuat Lui-pian loin semakin emosi, semakin naik darah.
Siapa tahu bukan saja Lui-pian Lojin sama
sekali tidak menggubris, dia justru menundukkan kepala sambil
memejamkan mata.
Orang tua yang pernah menggetarkan sungai
telaga ini memang memiliki kemampuan yang luar biasa, sekalipun
nyawanya di ujung tanduk, namun dia masih bersikeras mempertahankan
pendiriannya dengan kukuh.
Sebelum mencapai titik darah terakhir, dia
tidak akan melepaskan setiap kesempatan untuk mempertahankan hidup,
sekalipun dadanya hampir meledak karena terpengaruh emosi, dia tetap
mengertak gigi sambil menahan diri.
Un Tay-tay yang mendengar pembicaraan kedua
orang itu, justru timbul perasaan menyesal di hati kecilnya.
Dia menyesal kenapa memutar balikkan
petunjuk jalan rahasia yang ditinggalkan sepanjang jalan, andaikata
dia tidak berbuat begitu, kemungkinan besar Gi Beng, Gi Teng serta
Sun Siau-kiau telah menyusul ke situ, kendatipun mereka tidak
sanggup memunahkan racun jahat itu, paling tidak dengan kekuatan
mereka masih bisa menyelamatkan nyawa Thiat Cing-su serta Im
Ting-ting.
Dia sadar, begitu tenaga dalam yang dimiliki
Lui-pian Lojin punah terkikis oleh pengaruh racun, tubuhnya segera
akan roboh terkapar, dalam keadaan demikian tidak nanti Seng Toa-nio
sekalian akan melepaskan Thiat Cing-su dan Im Ting-ting begitu saja.
Padahal robohnya Lui-pian Lojin sudah
tinggal menghitung waktu.
Berpikir sampai di situ, tanpa terasa sorot
mata Un Tay-tay dialihkan ke wajah Thiat Cing-su serta Im Ting-ting,
di balik sorot matanya terpancar perasaan sayang, kasihan serta rasa
sesal yang mendalam.
Waktu itu Im Ting-ting serta Thiat Cing-su
sedang berlutut mematung di samping Im Gi serta Im Kiu-siau yang
tidak sadarkan diri, wajah mereka basah oleh air mata, wajah mereka
pun diliputi perasaan sedih, gusar dan rasa dendam yang mendalam.
Keempat buah mata mereka mengawasi terus
wajah Seng Toa-nio dengan sinar berapi-api, sekalipun cahaya api
seolah sudah membakar mata mereka berdua, namun sepasang muda-mudi
ini masih mampu mengendalikan diri, tidak melakukan tindakan secara
gegabah.
Un Tay-tay benar-benar menaruh perasaan
sayang terhadap mereka berdua di samping rasa kagum yang luar
biasa... biar masih muda, namun mereka sanggup mengendalikan
perasaan, satu sikap yang patut dikagumi.
Siksaan, penderitaan, cambukan serta
pelatihan yang ber langsung bertahun-tahun telah menciptakan
ketegaran yang luar biasa bagi setiap anggota Thiat hiat tay ki bun,
membuat mereka sanggup bertahan, sanggup menahan diri.
Oleh sebab itu walaupun usia Thiat Cing-su
dan Im Ting-ting masih muda, mereka sudah mempelajari bagaimana
mengendalikan diri, bagaimana bersikap tegar, bagaimana harus
mempertahankan hidup dan sebelum mencapai kesempatan terakhir tidak
akan mengadu nyawa.
Perlahan-lahan Pek Seng-bu mengalihkan sinar
matanya menatap kedua orang itu, tiba-tiba ejeknya pula sambil
tertawa dingin:
"Apa lagi yang kalian nantikan? Kenapa belum
turun tangan juga?"
Sambil tertawa dingin Seng
Toa-nio menimpali:
"Orang bilang anggota perguruan Tay ki bun
adalah jago berdarah panas berhati baja, ternyata kalian berdua
tidak lebih hanya budak lemah yang takut mampus, baiklah, bila
kalian takut mati, cepat berlutut dan minta ampun."
"Kalau kalian tidak berlutut minta ampun,
aku...."
Belum selesai Pek Seng-bu berbicara,
mendadak Thiat Cing-su membentak nyaring:
"Tutup mulut anjingmu!"
"Hahaha, kalau tidak tutup mulut, mau apa
kau?" ejek Seng Toa-nio sambil tertawa terkekeh.
Tiba-tiba Thiat Cing-su melompat bangun,
jeritnya dengan suara parau:
"Aku... aku...."
"Mau apa?" Seng Toa-nio tertawa dingin,
"memangnya kau masih berani turun tangan? Ayo, kemari... cepat
kemari... cepat atau lambat toh bakal mampus, apa lagi yang mesti
kau takuti?"
Thiat Cing-su menggigit bibir hingga
berdarah, dia mengepal sepasang tinjunya kencang kencang.
"Kau... kau sudah lupa nasehat ayah?" bisik
Im Ting-ting pedih.
Thiat Cing-su menjerit keras, sekali lagi
dia menjatuhkan diri berlutut.
"Lelaki lemah! Manusia yang tidak berguna!"
ejek Seng Toa-nio sambil tertawa sinis, "ternyata kau tidak berani,
baiklah, bagaimanapun toh kau bakalan mampus, apa salahnya kuberi
sedikit kesempatan lagi bagimu untuk hidup?"
Berkilat sepasang mata Pek Seng-bu, mendadak
ujarnya sambil tertawa dingin:
"Gampang sekali kalau kita ingin dia segera
mati."
Seng Toa-nio melirik Lui-pian Lojin sekejap,
bisiknya:
"Tapi... dia... dia...."
Dengan kening berkerut Pek Seng-bu memberi
kode dengan gerakan tangan, Un Tay-tay yang melihat gerakan tangan
itu segera berpikir,
Aduh celaka! Dia hendak menggunakan senjata
rahasia.
Sementara ingatan itu melintas, sambil
tertawa Seng Toa-nio telah berkata:
"Betul, memang seharusnya kita berbuat
begitu, hampir saja aku lupa!"
Cepat tangannya merogoh ke dalam saku dan
mengambil segenggam jarum Thian li ciam yang sangat mematikan.
Kebetulan waktu itu Seng Cun-hau baru sadar
dari pingsannya, melihat tindakan yang dilakukan ibunya, cepat dia
menggelinding ke depan dan mencengkeram tangan perempuan tua itu
sambil teriaknya:
"Tidak boleh, kau tidak boleh berbuat
begitu."
"Kenapa tidak boleh," Seng Toa-nio
menyeringai seram, "ketika anggota perguruan Tay ki bun ingin
membunuh kami, perbuatan apapun sanggup mereka lakukan, kenapa kita
tidak boleh? Lepas tangan... cepat lepas tangan!"
Namun mati-matian Seng Cun-hau menggenggam
tangan ibunya dan tidak mau dilepas, pintanya:
"Aku mohon, aku mohon kau orang tua...."
"Binatang yang tidak berbakti!" umpat Seng
Toa-nio penuh amarah, "sudah kupelihara kau dengan susah payah
hingga dewasa, sekarang malah membantu orang lain memohon kepadaku,
enyah kau dari sini!"
Dengan penuh amarah dia melontarkan sebuah
tendangan ke tubuh Seng Cun-hau.
Sambil menggigit bibir menahan rasa sakit,
Seng Cun-hau tetap menggengam tangan ibunya dan tidak mau dilepas.
Seng Toa-nio makin gusar, makinya:
"Dasar binatang, anakjadah!"
Sambil memaki kalang kabut, kembali dia
melepaskan tendangan berulang kali.
Seng Cun-hau tidak berani berkelit, dia pun
tidak berani membalas, darah segar mulai bercucuran membasahi ujung
bibirnya, air mukanya berubah semakin pucat, lambat-laun tubuhnya
bertambah lemas dan mulai gontai tidak menentu.
Agaknya Pek Seng-bu tidak tega menyaksikan
siksaan itu, buru-buru bujuknya sambil tertawa:
"Enso, sudahlah, biar dia lepas tangan,
kenapa mesti...."
"Hmm, kalau tidak kubunuh anak jadah ini,
percuma dia dibiarkan hidup!" teriak Seng Toa-nio gusar.
Lagi-lagi dia melepaskan dua kali tendangan
dan satu pukulan.
Akhirnya Seng Cun-hau tidak kuasa menahan
diri lagi, dia mundur sempoyongan hingga ke sudut gua, lalu jatuh
terperosok ke bawah.
Menggunakan peluang itu Un Tay-tay
menyelinap ke samping Thiat Cing-su dan Im Ting-ting, mereka bertiga
mengepal tinjunya kuat-kuat... kini keadaan sudah semakin gawat,
situasi sudah berada di ujung tanduk, terpaksa mereka harus bersiap
mengadu jiwa.
"Binatang kecil, serahkan nyawamu!" bentak
Seng Toa-nio sambil tertawa seram.
Di tengah teriakan keras, telapak tangan-nya
diayunkan ke depan...
Mendadak terdengar desingan angin tajam
menyambar, sekilas cahaya tajam tahu-tahu sudah meluncur masuk dari
luar gua bagaikan bianglala membelah angkasa:
"Triing!", diiringi dentingan nyaring,
sebuah benda sudah terpantek di dinding batu.
Ternyata sebilah pedang telah menembus batu
cadas, hal ini membuktikan betapa sempurnanya tenaga dalam yang
dimiliki pelempar pedang itu.
Walaupun saat itu Seng Toa-nio telah
mengayunkan tangannya, namun rasa kaget membuat dia seakan lupa
melepaskan Thian li ciam, begitu pula dengan Hek Seng-thian, Pek
Seng-bu, Seng Cun-hau, Un Tay-tay... hampir semua yang ada dalam gua
berdiri terperana.
Malahan Lui-pian Lojin pun membuka kembali
sepasang matanya, memandang keluar gua dengan pandangan terperanjat.
Untuk sesaat suasana dalam gua terasa
hening, sepi, tidak terdengar sedikit suara pun.
"Siapa di luar?" akhirnya Seng Toa-nio tidak
mampu menahan diri dan segera menegur.
Tiada jawaban dari luar gua, di tengah
keheningan hanya terdengar suara langkah kaki yang sangat berat
bergerak mendekat... makin lama semakin dekat.
Suara langkah kaki tunggal, tapi dalam
uasana dan keadaan seperti ini justru memiliki daya pengaruh
membetot sukma, membuat hati siapa pun tercekat, bergidik.
Langkah kaki itu semakin mendekat, semakin
nyaring.
Semua orang merasakan jantungnya berdebar
keras, makin lama berdetak makin kencang, hampir semuanya
membelalakkan mata, mengawasi mulut gua tanpa berkedip.
Akhirnya sesosok bayangan manusia tinggi
kekar, mengikuti suara langkah yang berat dan nyaring, muncul dari
balik kegelapan, semakin mendekati orang-orang itu....
Mendadak langkah itu berhenti, tiba-tiba
saja bayangan manusia itu berhenti di tengah kegelapan.
Jilatan api obor sulit menjangkau tempatnya
berdiri, tidak seorang pun dapat melihat raut mukanya dengan jelas,
mereka hanya merasa semacam hawa sesat yang menggidikkan hati seolah
terpancar keluar dari tubuh orang itu.
Dua kali Seng Toa-nio menggerakkan mulutnya,
namun tidak sepotong suara pun yang muncul.
Saat itulah sebuah suara yang dingin
membetot sukma berkumandang dari balik kegelapan.
Terdengar orang itu berkata perlahan:
"Bagus sekali, ternyata di sini ada orang...
bagus sekali, ternyata Lui-pian Lojin pun hadir di sini... inilah
yang dinamakan mencari sampai sepatu bobrok tidak ketemu, justru
ditemukan tanpa sengaja."
"Si... siapa kau?" tanya Lui-pian Lojin.
Bayangan manusia itu tertawa.
"Lui-pian Lojin yang menggetarkan sungai
telaga ternyata tidak sanggup mengenali suara sahabat lama yang baru
berpisah beberapa tahun, sungguh kejadian yang aneh."
Mendadak bibir Lui-pian Lojin mengejang
keras, tubuhnya ikut bergetar kencang, seolah badannya secara
tiba-tiba dililit seekor ular berbisa yang dingin dan menyeramkan.
Sampai lama dan lama sekali, dia baru
menghembuskan napas panjang:
"Ternyata kau
"Benar, memang aku."
"Mau apa kau datang kemari?"
"Tentu saja mencari dirimu," jawab bayangan
manusia itu dengan suara menyeramkan.
"Darimana kau ... kau bisa menemukan tempat
ini?"
Bayangan manusia itu tertawa.
"Bagaimana caraku menemukan tempat ini?
Sebuah pengalaman yang sangat menarik, sebenarnya aku hanya tahu
daerah seputar bukit Lau-san, aku hanya tahu tempat itu lebat dan
penuh dengan tebing curam, walaupun sudah mencari berhari-hari, aku
belum juga menemukan jejakmu, sampai akhirnya tadi tanpa sengaja
kutemukan dua orang yang mencurigakan sedang mencari sesuatu di
balik semak...."
"Dua orang macam apa?" tak tahan Lui-pian
lojin bertanya.
"Yang satu berusia empat puluh tahunan,
berwajah licik dan penuh senyuman busuk, sedang yang lain masih muda
tapi tampangnya licik dan jahat, hehehe... kelihatannya mereka
berdua bukan manusia baik-baik."
Sekalipun orang itu menggambarkan secara
singkat, namun semua tahu siapakah kedua orang yang dimaksud.
"Hmm, mereka pastilah Suto Siau dan Sim
sun-pek, dua orang budak laknat," kata Lui-pian lojin gusar.
Kembali bayangan manusia itu tertawa.
"Walaupun aku tidak kenal siapakah mereka,
namun setelah melihat gerak-geriknya, timbul perasaan ingin tahuku,
maka secara diam-diam aku menguntit dari belakang, ternyata di balik
semak terdapat beberapa biji buah catur, tampaknya benda itu
dipergunakan sebagai kode rahasia petunjuk jalan. Melihat cara kerja
mereka yang begitu rahasia dan misterius, aku semakin ingin tahu apa
gerangan yang hendak mereka lakukan."
"Selama kau menguntit di belakang mereka,
apakah mereka tidak menyadari?"
"Huuh, kalau hanya mengandalkan kemampuan
mereka berdua, mana mungkin bisa menangkap gerak-gerikku. Hmmm ...
hmmmm! Kecuali kau, siapa lagi manusia di kolong langit saat ini
yang bisa tahu jejakku?"
"Manusia mampus! Betul-betul dua orang
mampus!" maki Lui-pian Lojin gusar.
"Sepanjang jalan aku mengikuti terus sampai
di luar dinding tebing, akhirnya kedua orang itu menghentikan
perjalanan, tidak usah ditanya pun sudah jelas kalau telah tiba di
tempat tujuan, tapi kedua orang itu masih nampak ragu, yang muda
bertanya:
"Aneh, kenapa penunjuk jalan mengarahkan
kita ke dasar jurang?"
Mendengar sampai di sini, Lui-pian Lojin pun
ikut merasa keheranan.
Kecuali Un Tay-tay yang menggeser posisi
petunjuk jalan, hampir semua orang yang hadir dalam gua itu merasa
tercengang dan tidak habis mengerti.
Terdengar bayangan manusia itu berkata lagi:
"Kedua orang itupun mulai berunding, sampai
akhirnya lelaki berwajah licik itu berkata, “Seharusnya tempat
persembunyian yang dipilih tua bangka itu sangat rahasia dan
tersembunyi letaknya, kemungkinan besar letaknya di dasar jurang,
apapun yang terjadi kita harus berusaha untuk menuruninya"
Setelah tertawa tergelak, terusnya:
"Waktu itu aku pun merasa tercengang
bercampur keheranan, siapa yang mereka sebut si “tua bangka" itu,
hahaha... sekarang aku baru tahu, ternyata tua bangka yang dimaksud
adalah kau."
"Kenapa kau tidak mengikuti mereka berdua
turun ke dasar jurang?" tanya Lui-pian Lojin gusar.
"Kau mesti menyalahkan kedua orang itu,
tampaknya mereka punya niat jahat, sebelum turun kebawah, arah jalan
telah mereka alihkan ke posisi yang lain, yaitu menunjuk ke dinding
bukit sebelah ini.
"Sebelum bergerak turun, pemuda itu sempat
berkata sambil tertawa, “Asal kita pindah arah petunjuk jalan ini,
kawanan manusia dungu itu bakal mengenaskan nasibnya!”. Maka sambil
Tertawa licik mereka berdua pun merangkak turun kebawah. Aku tidak
ingin jejakku ketahuan mereka, maka aku pun menunggu dulu berapa
saat."
Un Tay-tay yang mengikuti pembicaraan itu
diam-diam menghela napas, pikirnya, “Ternyata segala sesuatunya
sudah ditentukan oleh takdir, tidak kusangka arah petunjuk jalan
yang sudah kurubah, kini dirubah lagi oleh orang lain dan menunjuk
ke arah yang betul.”
Terdengar bayangan manusia itu kembali
berkata:
"Siapa tahu baru saja aku menunggu beberapa
saat, tiba-tiba muncul lagi dua orang gadis dan seorang pemuda,
mereka berjalan sambil bergurau...."
"Aaah, mereka adalah Sun Siau-kiau, Gi Beng
dan Gi Teng," tidak tahan Un Tay-tay berseru, kalau mereka bertiga
sudah sampai di sini, kenapa tidak nampak batang hidungnya? Mereka
bertiga kini... kini berada dimana?"
Bayangan manusia itu tidak menjawab, dia
berkata lebih lanjut:
"Ternyata mereka bertiga pun sedang mencari
petunjuk jalan, kusangka kali ini mereka bakal salah alamat, siapa
tahu kejadian di dunia ini memang aneh dan mukjizat, yang salah
ternyata benar, yang benar ternyata malah salah. Setelah mencari
setengah harian, akhirnya ketiga orang itu berhasil menemukan lorong
rahasia ini, kalau bukan lantaran mereka bertiga, mana mungkin aku
bisa menemukan padang rumput yang sangat langka seperti ini, kalau
bukan lantaran pedang itu menancap di luar gua, mana mungkin aku
tahu di balik padang rumput yang luas dan lebat ternyata terdapat
sebuah gua yang begini rahasia?"
Bicara sampai di sini, tidak tahan lagi dia
tertawa terbahak-bahak.
Semua orang mendengarkan dengan mata
terbelalak dan mulut melongo, siapa pun tidak menyangka kedua
kejadian yang tidak sengaja justru mendatangkan perubahan yang luar
biasa besarnya, bahkan akan merubah segala sesuatunya.
Di tengah keheningan yang mencekam, akhirnya
selangkah demi selangkah bayangan manusia itu muncul.
Di bawah cahaya api, terlihat dia
mengenakan jubah berwarna merah darah dan berwajah merah bagaikan
kobaran api.
"Siang-tok Thaysu!" begitu melihat
wajahnya, semua orang menjerit kaget.
Terdengar Un Tay-tay berteriak keras:
"Kau telah apakan Gi Beng bertiga? Kau sudah
turun tangan menyelamatkan mereka bersaudara, tidak sepantasnya kau
mencelakai mereka sampai mati."
"Hmmm, hanya andalkan kemampuan mereka
bertiga masih belum pantas bagiku untuk mencabut nyawanya," sahut
Siang-tok Thaysu dingin, "saat ini mereka bertiga masih hidup, hanya
untuk sementara waktu tidak mampu bergerak."
Kemudian sambil memandang Seng Cun-hau dan
Che Toa-ho yang tergeletak di sudut gua, kembali ujarnya sambil
tertawa seram:
"Tidak kusangka dua orang kelinci percobaan
yang telah membantu aku menjajal tubuh Dewa racun masih berada di
sini, tapi ... kenapa sampai sekarang kalian belum mampus?"
Sekali lagi dia memandang sekejap orang
orang yang keracunan dalam gua itu, mendadak wajahnya berubah, cepat
dia berjongkok, memeriksa kelopak mata Lui Siau-tiau dan
mengawasinya beberapa saat.
Tiba-tiba paras mukanya berubah makin hebat,
teriaknya tertahan:
"Coat cing hoa... Coat cing hoa! Siapa yang
telah membuat racun dari Coat cing hoa? Orang she Lui, jangan-jangan
kau pun sudah terkena racun Coat cing hoa?"
Lui-pian Lojin hanya mendengus dingin.
Tiba-tiba Siang-tok Thaysu membentak:
"Dewa racun ada dimana?"
Baru selesai dia berteriak, sesosok bayangan
manusia bagaikan sukma gentayangan telah muncul di hadapan semua
orang.
Sekujur tubuhnya kaku bagai baja, mukanya
kaku, sorot matanya tajam bagaikan dua kaitan yang siap membetot
sukma siapa pun.
Kelihatannya tubuh orang itu sudah kaku
secara keseluruhan, bukan saja tidak bisa ditekuk, bahkan caranya
bergerak sangat bebal dan kaku,
Biarpun begitu, gerakan tubuhnya cepat tanpa
menimbulkan suara apapun, dalam satu kelebatan tahu-tahu sudah
muncul di depan semua orang.
Hawa dingin yang menggidikkan hati seketika
muncul dari dasar kaki semua orang dan mencekam perasaan siapa pun,
namun semua orang berusaha membuka matanya lebar-lebar, siapa pun
ingin melihat macam apakah makhluk aneh itu.
Namun begitu memandang, sorot mata mereka
seolah sudah melekat di tubuh orang itu dan tak mampu digeser
kembali.
Seng Toa-nio memandang beberapa saat,
tiba-tiba dengan perasaan bergidik, bisiknya lirih:
"Leng It-hong!"
Siang-tok Thaysu tertawa seram.
"Leng It-hong sudah mampus, yang muncul
sekarang hanya tubuh kasarnya...."
Setelah mundur setengah langkah, dia tepuk
punggung Dewa racun itu sambil menghardik nyaring:
"Dewa racun, dengarkan perintah."
Begitu tapukan itu dilontarkan, tubuh si
Dewa racun segera bergetar aneh, jelas dibalik tepukan itu
tersembunyi daya pengaruh yang luar biasa, daya pengaruh yang bisa
mengendalikan pikiran Dewa racun.
Terdengar Siang-tok Thaysu berseru dengan
suara dalam:
"Tubuh Dewa racun muncul, tiada tandingan
di kolong langit, perguruan pemakan racun, malang melintang di
sungai telaga... Dewa racun, cepat bunuh semua orang yang berada
dalam gua ini! Jangan pedulikan lelaki perempuan, tua muda, semuanya
bantai sampai ludes, jangan biarkan seorang pun tetap hidup...
pergi!"
Sambil berkata dia mundur sejauh tujuh
langkah lebih, sementara si Dewa racun perlahan-lahan mengangkat
sepasang tangannya.
BAB 38
Gara-gara Bencana Mendapat Rezeki.
Tebing curam itu tidak terlalu terjal,
ketinggiannya pun tidak terlalu menjulang, namun Suto Siau serta Sim
Sin-pek harus menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk
mencapai dasar jurang itu.
Ketika tiba di dasar jurang, pakaian yang
mereka kenakan sudah compang-camping tidak keruan, topi yang
dikenakan pun entah sudah lenyap entah kemana, selain tubuhnya
dekil, rambut pun sudah kotor oleh semak, keadaannya sangat
mengenaskan.
"Tua bangka itu benar-benar rada aneh," seru
Suto Siau jengkel, "kenapa memilih tempat macam begini untuk
bertemu, bikin susah kita saja."
Sim Sin-pek menghela napas panjang, ujarnya:
"Kalau Tecu menengadah memandang ke atas,
aku benar-benar tidak percaya kalau tadi kita turun dari tempat itu,
kalau sekarang Tecu disuruh merangkak sekali lagi, mungkin Tecu
bakal jatuh terpeleset."
"Itulah sebabnya aku suruh kau merangkak
tanpa memandang ke bawah, kalau tidak, mungkin kau sudah mati
terpeleset sejak tadi."
Begitulah, dua manusia busuk yang sehati itu
melanjutkan perjalanannya sambil bergurau dan berbincang.
Dasar jurang itu merupakan bentangan hutan
yang berpohon rendah, daunnya sangat rimbun.
Dengan pedang terhunus Sim
Sin-pek berjalan lebih dulu membuka jalan, sementara Suto Siau
membuntuti dari belakang, perjalanan itu boleh dibilang amat sulit
dilalui, sepanjang jalan mereka berdua harus menembus semak lebat
dan menerobos onak tajam, tidak heran pakaian mereka semakin
compang-camping tidak keruan.
Selesai menembus hutan belukar itu, mereka
berdua belum juga menemukan sesuatu tanda atau jejak manusia.
"Sialan!" umpat Suto Siau dengan kening
berkerut, "dimana tua bangka itu menyembunyikan diri?"
"Jangan-jangan kita salah jalan?"
Suto Siau mendengus dingin, dia berebut
berjalan lebih dulu untuk membuka jalan, tapi sepertanakan nasi
kemudian mereka makin merasa gelagat tidak benar.
Satu ingatan segera melintas dalam benak
Suto Siau, cepat dia menghentikan larinya sambil berseru:
"Celaka, kita benar-benar salah jalan!"
"Tapi petunjuk jalan itu jelas mengarah
kemari, mana mungkin...."
"Kita pun bisa mengalihkan petunjuk jalan
itu, memangnya orang lain tidak bisa melakukan hal yang sama?" tukas
Suto Siau cepat, "besar kemungkinan ada orang yang tiba lebih dulu
di situ dan mengalihkan petunjuk jalan itu ke arah lain."
Sim Sin-pek tertegun, serunya kemudian:
"Benar juga, pasti begitu kejadiannya."
Memandang penampilan sendiri yang amat
mengenaskan, tidak kuasa lagi dia mencaci-maki kalang-kabut:
"Manusia terkutuk mana yang telah melakukan
perbuatan tidak tahu malu ini, bikin susah kami saja, tidak ada
hujan tidak ada angin kami mesti menderita banyak siksaan dan
penderitaan dengan percuma."
Dia seolah lupa dirinya sendiri pun seorang
lelaki terkutuk yang tidak tahu malu, bahkan kebusukannya tidak di
bawah orang lain. Terbukti mereka pun ikut memindahkan tanda
petunjuk jalan itu ke arah lain, hanya bedanya perbuatan mereka
belum sempat mencelakai orang lain, awak sendiri yang menderita
terlebih dulu.
Setelah menghela napas panjang dan tertawa
getir, kembali Suto Siau berkata:
"Tadi kita telah mengubah posisi petunjuk
jalan itu ke arah lain, ternyata kesalahan yang sengaja kita lakukan
justru menunjukkan ke arah yang benar."
"Bagaimana baiknya sekarang?"
"Bagaimana baiknya? Tentu saja harus
secepatnya balik ke atas."
Baru saja mereka berdua hendak membalikkan
tubuh, mendadak dari kejauhan terdengar suara orang berteriak keras,
kedua orang itu segera saling berpandangan sekejap, kemudian tanpa
membuang waktu, mereka bergerak cepat menuju ke arah sumber teriakan
itu.
Tapi suasana di sekeliling tempat itu sangat
hening, suara jeritan yang terdengar tadi pun tiba-tiba lenyap tidak
berbekas.
Kembali kedua orang itu menempuh perjalanan
beberapa saat lamanya, tapi tidak selang lama, kembali mereka berdua
kehilangan arah dan tidak tahu lagi posisi mata angin.
Sim Sin-pek tidak tahan segera berseru:
"Kalau kita berjalan lagi terus ke depan,
mungkin arah untuk balik pun bakal tidak ketemu, menurut pendapat
Tecu, lebih baik sekarang juga kita balik ke tempat semula!"
"Tapi suara teriakan itu terdengar sangat
aneh," kata Suto Siau dengan kening berkerut.
Mengikuti pandangan matanya, Sim Sin-pek
ikut berpaling, tampak olehnya sebuah hutan bunga merah bagaikan
kobaran api telah muncul di depan mata, cahaya aneh yang menyilaukan
mata serasa memancar keluar dari balik pepohonan itu.
Sekalipun dia bukan termasuk orang yang suka
bunga, tidak urung pujinya juga:
"Ooh, sungguh indah... Tecu tidak pernah
menyangka di kolong langit terdapat bunga segar seindah dan secantik
ini."
Berbeda dengan Sim Sin-pek, Suto Siau justru
mengernyitkan kening makin kencang, sesudah termenung sesaat,
ujarnya:
"Aneh, kenapa di tengah hutan dan rawa-rawa
yang begini terpencil dan berbahaya justru tumbuh bunga segar
seindah dan secantik ini, aku yakin pasti ada yang tidak beres
dengan bunga itu, mari kita tengok ke sana."
Sebagai orang yang sangat berhati-hati,
begitu masuk ke dalam hutan bunga, dia segera memperlambat
langkahnya, bukan saja ayunan kakinya bertambah lambat, bahkan makin
ringan, seolah-olah kuatir suara langkahnya akan mengagetkan
seseorang.
Sim Sin-pek memandang sekejap sekeliling
tempat itu, tidak tahan serunya:
"Tempat ini...."
"Ssttt!" tidak sampai kata berikut
diucapkan, Suto Siau sudah menempelkan jari tangannya ke atas
mulut.
Terpaksa Sim Sin-pek memperkecil nada
suaranya dan berbisik:
"Dalam hutan bunga itu tidak nampak bayangan
manusia, kenapa mesti berhati-hati?"
Suto Siau tertawa dingin.
"Hutan bunga ini amat luas, darimana kau
bisa yakin disini tidak ada orang lain?" tegurnya.
Sim Sin-pek tertegun, serunya kemudian
tergagap:
"Tecu... Tecu tidak yakin."
"Nah, itulah dia, bila di dalam hutan bunga
yang amat misterius ini terdapat seseorang, dapat dipastikan dia
adalah seorang tokoh yang misterius pula, apa salahnya kita
bertindak lebih hati-hati."
"Benar juga perkataan kau orang tua," Sim
Sin-pek tertawa paksa.
Belum lagi perkataan itu selesai diucapkan,
mendadak dari bawah tumpukan bunga muncul sepasang telapak tangan
seperti cakar burung, satu dari kiri yang lain dari kanan, secepat
petir langsung menyambar tungkai kaki kedua orang itu.
Kontan saja tubuh kedua orang itu jatuh
terjerembab, dalam kaget dan terkesiapnya, mereka menjerit keras.
Tapi kedua belah tangan aneh itu telah
bergeser naik, dari tungkai kaki kini secepat kilat membekap mulut
mereka, kemudian terdengar suara seseorang meski agak menyeramkan
namun terasa sangat dikenal bergema di sisi telinga:
"Jangan berisik!"
Tanpa terasa kedua orang itu memutar biji
matanya dan menengok, dari balik kerumunan bunga terlihat orang itu
bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, matanya tajam
bagai mata elang, ternyata dia bukan lain adalah Hong Lo-su.
"Kenapa kau orang tua bisa berada di sini?"
tegur Suto Siau keheranan.
"Sstt, jangan berisik, cepat bersembunyi
kemari," bisik Hong Lo-su dengan suara lirih.
"kalau sampai terdengar gembong iblis lain
yang berada di seberang sana, kita bakal mampus semua."
Dengan cepat Suto Siau dan Sim Sin-pek
bersembunyi ke balik pepohonan bunga, meski begitu, timbul juga
perasaan sangsi bercampur heran di hati mereka, tidak mereka sangka
manusia macam Hong Lo-su pun bisa menunjuk-kan perasaan ketakutan
semacam ini, bisa dibayangkan betapa lihainya gembong iblis yang
dimaksud....
Kedua orang itu semakin tidak berani
bersuara, bahkan napas pun nyaris ikut ditahan.
Sambil menahan panas, ketiga orang itu
menunggu beberapa saat lamanya.
Mendadak terdengar suara senandung
berkumandang dari balik pepohonan di seberang sana.
"Melarikan kuda menuju pintu timur, jauh
memandang pepohonan nan hijau.
Pohon siong di pinggir jalan raya, di
bawah pohon telentang orang mati....
Tidur nyenyak di alam baka, selamanya
tidak pernah mendusin kembali...."
Suara nyanyian itu merdu dan memikat hati,
membuat siapa pun yang mendengar ikut merasa sedih, bahkan Suto Siau
sekalian pun ikut termangu dibuatnya, mereka tidak tahu harus ikut
sedih atau gembira.
Terlepas harus merasa sedih atau gembira,
rasa tercengang yang menyelimuti perasaan mereka jauh melebihi rasa
sedih dan gembira.
Mimpi pun Suto Siau dan Sim Sin-pek tidak
menyangka kalau gembong iblis yang membuat Hong Lo-su begitu
ketakutan ternyata tidak lain hanya seorang gadis yang menyanyikan
senandung sedih itu.
Walaupun suara nyanyian telah berhenti,
namun masih bergaung di tengah pepohonan bunga.
Tiba-tiba Hong Lo-su berbisik lagi:
"Jangan bergerak, sudah datang, sudah
datang!"
Terasa angin lembut berhembus lewat, terjadi
gelombang kecil di tengah kerumunan bunga.
Dari balik rimbunnya pepohonan terlihat
seorang wanita cantik berbaju indah, berambut hitam dengan tusuk
konde mutiara menghiasi kepalanya, perlahan-lahan berjalan mendekat,
tangan kirinya membawa sebuah keranjang bunga, sedang tangan kanan
membawa sebuah cangkul kecil.
Dipandang dari kejauhan, terlihat wajahnya
cantik bagaikan lukisan, kulitnya putih bersih bagai salju,
gerak-geriknya anggun bagai bidadari, bahkan setiap langkahnya
seolah mengandung daya tarik yang luar biasa.
Ketika cahaya bunga bertatapan dengan wajah
perempuan itu, meski sang bunga terlihat indah, namun tidak dapat
mengungguli kecantikan wanita itu.
Kembali terjadi riak kecil di tengah
bebungaan, dia berjalan menembus bebungaan dengan begitu santai dan
indahnya, walaupun gelombang bunga memancarkan suasana alami, namun
dibandingkan daya tarik yang terpancar dari tubuhnya, terasa wanita
itu jauh lebih alami, jauh lebih menarik beribu kali lipat.
Hampir terperana Suto Siau dan Sim Sin-pek
menyaksikan keanggunan wanita itu, perasaan tercengang pun seketika
menyelimuti hatinya.
"Wanita ini cantik bak bidadari dari langit,
aneh, kenapa Hong Lo-su begitu ketakutan? Mungkinkah wanita lemah
lembut ini justru memiliki kepandaian silat yang maha dahsyat?
Siapakah dia?"
Wanita cantik berbaju indah itu masih
berjalan santai, mimik mukanya menunjukkan kesepian, keriangan yang
terpancar membawa keseriusan yang luar biasa, seolah perasaannya
selalu tercekam dalam kemurungan yang berkepanjangan dan tiada
putusnya.
Namun sepasang matanya yang jeli, bergerak
tiada hentinya ke sekeliling tempat itu, setiap kali bertemu bunga
yang bentuknya kelewat besar atau warnanya kelewat cerah, dia selalu
mengayunkan cangkulnya dan memindahkan sang bunga merah itu ke dalam
keranjangnya.
Caranya memacul kelihatan begitu lincah,
begitu indah, tapi Suto Siau dapat menangkap, sekalipun hanya sebuah
gerakan mencangkul yang ringan, paling tidak telah disertai tenaga
dalam hasil latihan selama puluhan tahun lamanya.
Ayunan tangannya nampak begitu tepat,
penggunaan tenaganya begitu berimbang... hanya meleset setengah inci
saja mana bisa bunga segar itu melayang masuk ke dalam keranjang
dengan tepat?
Perlahan dia berjalan mendekat, berjalan
mendekati tempat dimana mereka bersembunyi.
Kembali Suto Siau lihat biarpun wanita itu
cantik bak bidadari, namun kecantikannya sudah mulai dimakan usia,
rona ketuaan mulai muncul di wajahnya yang halus, di ujung kelopak
mata terlihat pula kerutan yang mulai menumpuk. Biarpun usianya
bertambah tua, namun tidak menutup daya tariknya yang luar biasa,
daya tarik yang dapat membuat orang rela mengeluarkan tenaga, rela
mengorbankan segalanya demi perempuan itu.
Kecantikannya yang luar biasa, seakan
berhasil mengatasi berjalannya usia, berhasil mengalahkan ketuaan
yang tidak berperasaan.
Waktu itu telapak tangan Hong Lo-su masih
menggenggam pergelangan tangan kanan Suto Siau, kini Suto Siau dapat
merasakan jari tangannya yang dingin bagai es mulai gemetar seperti
orang kedinginan.
Suto Siau serta Sim Sin-pek sendiri meski
tidak merasakan sesuatu yang menakutkan pada diri perempuan cantik
itu, namun terpengaruh oleh sikap Hong Lo-su, tanpa terasa timbul
juga perasaan bergidik.
Mereka bertiga berbaring di atas tanah
berlumpur, tidak berani bernapas keras, tidak berani pula bergerak.
Entah sejak kapan seekor semut merayap naik
ke ujung hidung Hong Lo-su, tapi sambil menggigit bibir Hong Lo-su
menahan rasa gatal yang luar biasa, dia tidak berani menggerakkan
tangannya untuk membunuh semut itu.
Langkah perempuan cantik berbaju indah itu
sangat lambat, tapi akhirnya berjalan lewat juga dari hadapan
mereka... biarpun hanya beberapa menit, namun bagi Suto Siau, saat
penantian itu sungguh lebih lama ketimbang menunggu selama sepuluh
tahun.
Kembali Suto Siau menemukan sesuatu yang
luar biasa, tanah lumpur bekas dilalui perempuan cantik itu ternyata
sama sekali tidak meninggalkan bekas, ujung gaun serta sepatunya
yang indah tidak nampak kotor, bahkan terkena sedikit noda pun
tidak.
Padahal tanah rawa itu penuh dengan lumpur
becek...
Andaikata dia bergerak cepat dengan
mengandalkan ilmu meringankan tubuh, hal itu bukanlah sesuatu
kejadian yang aneh, tapi sekarang dia berjalan begitu santai,
mengayunkan langkahnya dengan begitu lambat....
Tidak tahan Suto Siau menghembuskan napas
dingin, bisiknya:
"Kungfu yang hebat! Kungfu yang luar biasa!"
"Omong kosong," sahut Hong Lo-su dingin,
"kalau dia tidak lihai, kenapa aku begitu takut kepadanya? Terus
terang saja, selama hidup Lohu tidak pernah takut langit dan bumi,
tapi yang paling kutakuti adalah nenek busuk itu."
Suto Siau menggerakkan bibirnya seperti
ingin menanyakan sesuatu, namun niat itu diurungkan, sampai pada
akhirnya dia tidak tahan dan bertanya juga:
"Sebenarnya siapakah dia?"
Waktu itu perempuan cantik misterius itu
sudah pergi sangat jauh, itulah sebabnya dia baru berani mengajukan
pertanyaan itu, namun suaranya tetap sangat lirih.
Sedemikian lirihnya suara bisikan itu sampai
Sim Sin-pek yang berada di sisinya pun tidak dapat mendengar dengan
jelas.
Siapa tahu, baru saja dia selesai bicara,
segulung hembusan angin lirih telah menyambar lewat, gaun indah
perempuan cantik itu tahu-tahu sudah meluncur balik persis di
hadapannya.
Saking takutnya, kontan saja Suto Siau
merasakan detak jantungnya nyaris berhenti berdebar.
Terdengar perempuan cantik itu membuka suara
dan bertanya dari balik bebungaan, suaranya amat merdu:
"Siapakah kau?"
Suto Siau mendekam semakin rapat di atas
tanah, jangankan bergerak, menjawab pertanyaan itupun tak berani.
Hong Lo-su yang berada di sisinya dengan
cepat mencubit pahanya dengan keras, sekalipun tidak mengucapkan
sepatah kata pun, namun maksudnya sangat jelas, artinya:
"Kau yang mencari gara-gara, kau juga yang
harus bertanggung jawab, kenapa masih mendekam di situ?"
Bisa dibayangkan betapa keras dan kuatnya
cubitan Hong Lo-su, saking sakitnya hampir saja Suto Siau melompat
bangun, tapi sebelum dia melakukan sesuatu, sebuah cangkul tahu-tahu
sudah menyambar tiba dan menggaet baju bagian dadanya.
Tidak ampun lagi tubuhnya tergaet keluar
dari tempat persembunyian, Suto Siau mencoba meronta namun tidak
berhasil, mau kabur pun gagal, bahkan usahanya untuk mendekam
kembali ke tanah pun tidak mampu, terpaksa dia hanya bisa berdiri
mematung.
Perempuan cantik itu mengernyitkan alis
matanya, seperti murung dan juga marah, tapi suara tegurannya masih
terdengar begitu halus dan lembut:
"Ayo, bicaralah!"
"Boanpwe... Boanpwe...."
Walaupun dia ingin sekali berbicara, apa
daya sepasang giginya beradu keras saking takutnya, dalam
keadaan begini, mana mungkin dia anggup mengucapkan sesuatu?
Kembali perempuan cantik itu menghela napas,
katanya:
"Masih ada dua orang lagi, silakan keluar
semua!"
Baru selesai suara teguran itu
berkumandang, sesosok bayangan manusia telah meluncur
keluar dari balik bebungaan dengan kecepatan luar biasa, bayangan
itu diiringi jeritan kaget langsung menerjang ke tubuh perempuan
cantik itu, sementara bayangan manusia yang lain terlihat kabur ke
arah belakang.
Siapa tahu pada saat bersamaan perempuan
cantik itu sudah menggeser tubuhnya tiga langkah ke samping, begitu
cangkulnya diayunkan, tubuh Suto Siau malah meluncur ke depan
menyongsong kedatangan tubuh Sim Sin-pek.
"Bruukk”, diiringi suara benturan, dua orang
itu seketika roboh terjungkal ke tanah.
Terdengar perempuan cantik itu berseru:
"Oooh, rupanya Hong Lo-su, ayo, balik
kemari!"
Sekilas benang berwarna keperak-perakan
kembali meluncur dari balik ujung bajunya.
Benang perak itu meluncur ke depan dengan
kecepatan luar biasa, arah yang ditujupun sangat lurus, tapi bukan
tubuh Hong Lo-su yang dituju, dalam sekejap mata tahu-tahu benang
perak tadi sudah melampaui tubuh Hong Lo-su.
Dalam gugupnya Suto Siau masih menyempatkan
diri mencuri lihat, baru saja dia keheranan, tahu-tahu benang perak
yang sudah melampaui tubuh Hong Lo-su itu meledak dan memercikkan
selapis hujan berwarna keperak-perakan.
Cahaya hujan keperak-perakan itu bagaikan
bunga api yang memencar ke empat penjuru, ada yang menyebar ke
samping memotong jalan pergi Hong Lo-su, ada pula yang menyongsong
wajah Hong Lo-su.
Ternyata benang perak yang lurus bagai toya
itu tidak lain adalah bintang perak sebesar kacang kedelai yang
dirangkai menjadi satu, ujung depan serta ujung ekor meluncur
berhimpitan dan menyerang hampir berbareng.
Walaupun sekilas pandang kecepatannya hampir
sama, padahal terdapat selisih waktu cukup banyak... ujung depan
meluncur jauh lebih lambat ketimbang ujung ekor, hanya saja selisih
waktunya begitu kecil hingga mustahil bisa ditangkap dengan mata
telanjang.
Karena ada selisih kecepatan antara bintang
perak yang di depan dan belakang, sewaktu melampaui tubuh Hong
Lo-su, bintang perak yang da di belakang menumbuk bintang perak di
depannya, sekilas cahaya perak pun meledak menjadi selapis hujan
perak yang menyilaukan mata.
Ketika terjadi benturan keras, bila
kekuatan-nya meleset ke samping, maka bintang perak itu akan
menyebar kedua belah sisi, sebaliknya bila kekuatan bintang perak
sebelah belakang agak lemah, maka cahaya itu akan terbentur cahaya
depan yang memantul hingga meluncur ke arah tubuh Hong Lo-su.
Kelihatannya saja perempuan cantik itu
mengayunkan senjata rahasia sekenanya, padahal arah, sasaran,
kecepatan, kekuatan serta ketepatan yang dia lakukan terhadap setiap
untaian bintang perak itu benar-benar luar biasa, boleh dibilang
kemampuannya mengendalikan setiap senjata rahasianya sudah mencapai
tingkat kesempurnaan, tidak terbayangkan.
Tidak terlukiskan rasa kaget Suto Siau
setelah menyaksikan kehebatan perempuan cantik lu, dia berdiri
terbelalak dengan mulut melongo, lagaknya persis ayam dari batu.
Cahaya perak berkilat, hujan cahaya
berhamburan ke empat penjuru, sambil meraung keras, sekuat tenaga
Hong Lo-su melontarkan sepasang tangannya ke depan, tubuhnya
berjumpalitan di tengah udara, maksudnya ingin melewati kerumunan
tanaman bunga itu.
Perempuan cantik itu segera menggetarkan
cangkulnya, hujan cahaya perak yang berada puluhan kaki jauhnya itu
seakan bernyawa saja, tahu-tahu berbalik arah dan semuanya meluruk
ke belakang tubuh Hong Lo-su.
Begitu mendengar desingan angin tajam
berkumandang dari belakang tubuhnya, pecah nyali Hong Lo-su saking
takutnya, tubuhnya yang masih melambung di udara tidak sanggup lagi
menghindarkan diri, "Brukkk!", dia langsung jatuh terjerembab di
tengah bebungaan.
Kalau tidak melihat dengan mata kepala
sendiri, Suto Siau tidak bakal percaya di kolong langit terdapat
senjata rahasia yang begitu hebat dan mengerikan... gerakan senjata
rahasia seakan dikendalikan tenaga iblis, sanggup bergerak dan
berputar sekehendak hati.
"Triiing, traaang, trriing... traaang....”
di tengah dentingan nyaring, tiba-tiba cahaya perak itu lenyap tidak
berbekas, hujan cahaya pun mereda.
Bagaikan rombongan lebah yang pulang sarang,
puluhan titik cahaya perak itu tiba-tiba meluncur balik ke arah
cangkul bunga itu, ternyata di balik cangkul itu terdapat besi
magnit yang berkekuatan besar, daya tarik itu berhasil menarik
kembali seluruh senjata rahasia yang telah dipancarkan.
Begitu menyimpan kembali semua senjata
rahasianya ke dalam saku, perempuan cantik itu menghela napas dan
berseru:
"Hong Lo-su, ayo bangun!"
Hong Lo-su masih berbaring di
atas tumpukan bunga, sama sekali tak bergerak.
"Hong Lo-su, kenapa kau berlagak mampus?"
kembali perempuan cantik itu menegur.
Hong Lo-su masih belum bergerak.
"Aaaai!" perempuan cantik itu menghela napas
panjang, "kalau kau memang ingin cepat mampus, baiklah, biar aku
tambahi dengan satu cangkulan lagi."
Sambil berkata, dia mengayunkan cangkulnya
dan langsung dibabatkan ke tubuh Hong Lo-su yang masih tergeletak
kaku.
Begitu diancam, Hong Lo-su baru menjerit
keras sambil melompat bangun dari tumpukan bunga, sembari membenahi
pakaiannya yang compang-camping dan penuh lumpur, dia tertawa
cekikikan dan berkata:
"Jici, baik-baikkah kau? Siaute memberi
salam untukmu."
Lagaknya persis seperti seorang badut kecil,
keangkeran dan kewibawaannya sebagai seorang tokoh aneh dunia
persilatan seolah sudah punah sama sekali.
"Untung masih agak baikan, tidak mati
lantaran dibuat jengkel oleh ulah kalian," sahut perempuan itu lagi
sambil menghela napas.
"Kapan siaute pernah membuat jengkel Jici?"
"Baiklah, kalau begitu aku ingin tanya,
setelah melihat aku, kenapa kau justru bersembunyi macam kadal
ketakutan dan tidak berani menjumpai aku?"
Hong Lo-su menggaruk kepalanya yang tidak
gatal sambil tertawa paksa, sahutnya tergagap:
"Soal ini... soal ini...."
"Kenapa? Cepat jawab!"
Tiba-tiba Hong Lo-su menuding ke arah Suto
Siau dan serunya:
"Dia yang menyuruh aku bersembunyi."
Saking terperanjatnya, Suto Siau sampai
merangkak bangun, jeritnya:
"Boanpwe... aku...."
Biasanya dia pandai bersilat lidah, tapi
setelah berhadapan dengan wanita cantik bak bidadari dari kahyangan
ini, entah mengapa mulutnya seperti susah dibuka, jangankan
membantah, mau bersuara pun susah.
"Tidak usah takut," kata perempuan cantik
itu, "aku tahu memang bukan kau."
"Tapi jelas dia... dia yang menyuruh... ya,
dia yang menyuruh ...."teriak Hong Lo-su.
"Hong Lo-su, lagi-lagi kau membohongi aku,
dia sama sekali tidak mengenali siapa aku, itulah sebabnya dia
bersuara untuk bertanya padamu... benar bukan?"
Kelihatannya perasaan perempuan ini dipenuhi
oleh kemurungan dan kemasgulan, setiap kali selesai mengucapkan
sesuatu dia selalu menghela napas panjang, namun helaan napas yang
penuh kemasgulan itu bagi pendengaran Suto Siau justru jauh lebih
menyeramkan ketimbang jeritan ngeri seseram apapun.
Hong Lo-su yang di hari biasa tampil garang
dan galak pun saat ini dibuat lemas badannya karena ngeri oleh suara
helaan napas itu, ujarnya tergagap:
"Jici...Siaute...."
"Hanya kau seorang yang tahu kalau aku
adalah Jicimu, hanya kau yang tahu aku memetik bunga di sini karena
sedang meramu senjata rahasia yang sangat beracun."
"Aku tidak tahu... aku tidak tahu...."
sekuat tenaga Hong Lo-su menggelengkan kepala berulang kali.
Untuk kesekian kalinya perempuan cantik itu
menghela napas.
"Kau tahu dan kau sangat tahu, bahkan kau
pun tahu, setiap kali aku sedang melakukan pekerjaan yang
berhubungan dengan senjata rahasia, aku paling pantang ada orang
mengintip, bila kutemukan ada orang sedang mengawasi pekerjaanku,
dia pasti akan kubunuh!"
Tercekat perasaan Suto Siau, tanpa sadar dia
latuh berlutut.
"Aku tidak mencuri lihat... aku tidak
mencuri lihat...." jerit Hong Lo-su keras
Perempuan cantik itu menghela napas sedih,
katanya:
"Coat cing hoa memang butuh darah segar
untuk diramu jadi obat, dengan campuran itu sifat racunnya baru
bekerja prima, hanya sayang.... aaaii! Darahmu masih kelewat sedikit
"
"Betul! Betul! Betul!" seru Hong Lo-su
cepat, darahku memang kelewat sedikit, bahkan bau sekali... darah
yang dimiliki dua orang muda itu pasti lebih banyak dan lebih
segar...."
Suto Siau jadi ketakutan setengah mati,
jeritnya dengan suara gemetar:
"Darah... darahku pun sedikit dan... dan
sangat bau...."
"Aaaai!”, darah dari lelaki tidak tahu malu
macam kalian memang semuanya bau dan dingin, memakai darah yang bau
dan dingin untuk meramu obat racun justru sangat bagus hasilnya."
"Darahku harum... ehm, harum sekali..."
jerit Hong Lo-su.
Tiba-tiba dia menggigit lengan
sendiri, percikan darah segar segera berhamburan, sambil menyodorkan
lengannya yang hitam dan kurus itu dihadapan si perempuan cantik,
katanya lagi sambil tertawa terkekeh:
"Betul-betul harum, kalau tidak percaya coba
enduslah, ehmmm ... harum... sungguh harum
Lagaknya sekarang sudah tidak mirip badut
lagi, tapi sudah seperti seorang gila.
"Ehmm, ternyata memang harum... lebih bagus
lagi kalau harum baunya," ujar perempuan cantik itu perlahan.
Bergetar keras sekujur badan Hong Lo-su,
secara beruntun dia mundur tiga langkah, jeritnya:
"Kau...kau....”
"Apakah kalian ingin memaksa aku turun
tangan sendiri?"
Tiba-tiba Hong Lo-su melompat bangun,
umpatnya:
"Dasar perempuan siluman, perempuan berhati
busuk, kau memang edan, sinting... tidak waras otaknya, memang kau
sangka aku Hong Lo-su betul-betul takut kepadamu? Boleh saja orang
lain takut, tapi aku Hong Lo-su justru tahu, kau tidak lebih hanya
orang sinting... kau... biarpun penampilanmu kelihatan waras,
padahal sejak putrimu kabur meninggalkan dirimu, kau sudah sinting,
sudah edan!"
Sambil melompat bangun dan memukul dada
sendiri, dia mencaci-maki kalang-kabut, begitu asyiknya dia
mengumpat sampai air liur pun ikut beterbangan kemana-mana, bahkan
semakin memaki, perkataan yang digunakan semakin jahat, kotor dan
sadis.
Waktu itu Suto Siau sudah ketakutan setengah
mati hingga kaki dan tangannya dingin bagaikan es, wajahnya
pucat-pias bagai mayat, menurut perkiraannya, kali ini perempuan
cantik itu pasti tidak akan melepaskan mereka begitu saja.
Siapa tahu begitu mendengar umpatan itu,
bukan saja perempuan cantik itu tidak menjadi marah, sebaliknya
secara tiba-tiba dia malah mulai menangis terisak, butiran air
matanya jatuh berlinang bagaikan seuntai kalung mutiara yang putus
tali.
Hong Lo-su yang mencaci-maki kalang-kabut
akhirnya merasa kelelahan, dia berhenti memaki sambil mengatur
napasnya yang tersengal, tapi begitu melihat perempuan cantik itu
malah menangis, dia jadi tertegun hingga berdiri melongo dengan mata
terbelalak.
Makin menangis, perempuan cantik itu cmakin
sedih, akhirnya dia menutupi wajah sendiri dengan kedua belah tangan
dan menangis tersedu-sedu, bukan cuma cangkulnya saja yang sudah
terlepas dari genggaman, bahkan keranjang bunga berikut bunga segar
yang ada dalam keranjang pun ikut berserakan di tanah.
"Ling-ling! Oooh... anakku, putri sayangku,"
jeritnya sambil menangis, "ucapan pria busuk itu benar juga, sejak
kepergianmu, ibu sudah jadi gila....”
Saat ini kecantikannya yang anggun bagai
bidadari dan penampilannya yang menawan hati seolah hilang tidak
berbekas, dia tidak jauh berbeda dengan perempuan mana pun di dunia
ini yang sedang dicekam perasaan sedih.
Mendadak dari balik tumpukan bunga segar
terdengar suara rintihan.
Suara rintihan itu terdengar begitu lirih,
lemah, membuat iba hati siapa pun yang mendengar.
Suto Siau maupun Sim Sin-pek yang masih
tercekam perasaan ngeri, semakin tertegun dibuatnya.
Perempuan cantik itu segera menerjang maju,
ujung bajunya dikebaskan berulang kali, di antara bebungaan yang
beterbangan di udara, terlihat dari balik tumpukan bunga merah
muncul selembar wajah cantik.
Mula-mula perempuan cantik itu kelihatan
terkejut, kemudian sesudah tertegun, isak tangisnya kontan berhenti,
dia mundur tiga langkah sambil mendongakkan kepala, lalu tertawa
keras, cepat dia menubruk maju dan membopong tubuh orang yang berada
di balik tumpukan bunga.
Walaupun orang yang berada di balik tumpukan
bunga itu merintih lirih, namun dia masih berada dalam keadaan tidak
sadar.
Dengan penuh kegembiraan wanita cantik itu
menciumi tangannya, mencium pipinya, sambil menangis bercampur
tertawa, jeritnya seperti orang gila:
"Ling-ling... Ling-ling... ooh, putriku,
putriku sayang, anakku sayang... ternyata selama ini kau bersembunyi
di balik tumpukan bunga, tidak heran ibu tidak menemukan dirimu....”
Saat ini Suto Siau maupun Sim Sin-pek sudah
melihat dengan jelas orang yang baru dikeluarkan dari tumpukan bunga
itu tidak lain adalah Sui Leng-kong, mereka berdua saling pandang
dan berdiri terperangah.
Akhirnya Suto Siau tidak mampu menahan diri
lagi, tegurnya:
"Jadi...jadi Sui Leng-kong adalah putrinya?"
"Bukan," Hong Lo-su menggeleng sambil
tertawa licik, "dia jadi edan karena memikirkan anaknya."
Waktu itu sebenarnya dia sudah siap
mengeluyur pergi, tapi perubahan yang terjadi di luar dugaan ini
membuatnya menghentikan langkahnya, kini dia malah berdiri menonton
sambil tertawa dingin.
Kembali perempuan cantik itu menangis
bercampur tertawa, sebentar dia membelai sebentar dia mencium,
setelah beberapa saat lamanya tubuh Sui Leng-kong baru dibaringkan
kembali ke atas tumpukan bunga yang digunakan sebagai pembaringan.
Paras muka Sui Leng-kong pucat-pias bagaikan
mayat, giginya terkatup kencang, nona ini masih dalam kondisi tidak
sadarkan diri.
Perempuan cantik itu menundukkan kepala dan
menempelkan wajahnya di atas pipi Sui Lengkong, lalu ujarnya dengan
lembut:
"Anakku sayang, setelah bertemu ibu, kenapa
kau masih tidak mau bicara?"
Berputar biji mata Hong Lo-su, mendadak
serunya:
"Putrimu sudah terkena serangan racun jahat,
untung aku segera menolongnya dan membawa dia kemari, aku memang
sengaja menguburnya di bawah Coat cing hoa, agar racun yang ada di
dalam tubuhnya saling berlawanan dtngan racun bunga itu, coba kalau
bukan begitu, dia sudah mati sejak tadi, tapi kelihatannya dia sudah
keracunan hebat, sekalipun nyawanya bisa diselamatkan, namun sulit
rasanya untuk bisa bicara lagi."
Perempuan cantik itu segera melompat bangun,
bentaknya:
"Keracunan? Siapa yang berani meracuni
putriku?"
"Soal ini ... aaaai! Lebih baik tidak usah
dibicarakan lagi!"
Dengan satu gerakan kilat perempuan cantik
itu mencengkeram tubuhnya, lalu teriaknya nyaring:
"Mau bicara tidak?"
Hong Lo-su menghela napas panjang.
"Bukannya Siaute enggan bicara, tapi...
aaai! orang orang yang melepaskan racun jahat itu kelewat lihai, aku
rasa Jici sendiri pun belum tentu mampu menandingi mereka."
"Kentut!" umpat perempuan cantik itu gusar,
"cepat katakan!"
"Tapi setelah Siaute katakan, lebih baik
Jici jangan mencari mereka untuk menuntut balas, kalau tidak, bila
sampai Jici pun ikut dicelakai, bukankah Siaute akan merasa sangat
tidak tenang?"
Makin mendengar, perempuan cantik itu
semakin gusar, jeritnya:
"Kentut busuk, kentut busuk! Cepat katakan,
katakan!"
Akhirnya Hong Lo-su menghela napas panjang.
"Dia adalah Siang-tok Thaysu...."
Mula-mula perempuan cantik itu agak
tertegun, kemudian sambil menghentakkan kaki, dia berseru gemas:
"Bagus sekali, ternyata ulah si makhluk tua
beracun itu, padahal aku tidak punya dendam tidak punya sakit hati
dengannya, kenapa dia... dia... mencelakai putriku dengan racun?"
"Yang meracuni memang Siang-tok Thaysu, tapi
otak yang memberi perintah adalah orang lain."
"Siapa?"
"Coh Sam-nio, Lui-pian Lojin, lalu Jit ho
Nio nio...."
"Bagus, bagus sekali," perempuan cantik itu
semakin menjerit lengking, "ternyata kawanan makhluk tua itu yang
bersekongkol menganiaya putriku, anakku manis, kau benar-benar
sangat menderita."
Kembali dia membopong tubuh Sui Leng kong,
katanya lagi:
"Putriku sayang, kau tidak perlu takut,
sekalipun sudah terkena racun si makhluk tua beracun itu, asal
bertemu ibu, segala sesuatunya akan beres, di kolong langit hanya
ibu seorang yang sanggup memunahkan racun makhluk jahat itu."
Dari dalam sakunya dia mengeluarkan ebuah
kotak pualam kecil, dari dalam kotak pualam itu dikeluarkan empat
lima butir pil berwarna merah darah, dia masukkan semua pil itu
kedalam mulutnya, kemudian setelah dikunyah hingga hancur, obat itu
baru dilolohkan ke mulut Sui Leng-kong.
Kemudian ujarnya lagi dengan lembut:
"Ling-ling, anakku sayang, setelah minum
obat mujarab buatan ibu dan tidur sebentar, kau akan segera segar
kembali... kemudian ibu akan membalaskan dendam."
"Bagus, bagus sekali," gumam Hong Lo-su, tak
kusangka karena menghadapi bencana, budak kecil itu malah dapat
rezeki, bukan saja berhasil mtndapatkan kembali nyawanya, bahkan
mendapat pula seorang ibu sehebat ini."
"Apa kau bilang?" mendadak perempuan cantik
itu menoleh.
Buru-buru Hong Lo-su tertawa paksa sambil
menyahut:
"Ooh, Siaute sedang berpikir, kalau Jici
saja tidak tahu kawanan makhluk tua itu berada dimana, bagaimana
mungkin bisa membalaskan dendam bagi keponakan sayangku?"
"Aku bisa menemukan mereka... aku pasti
dapat menemukan mereka!"
Kemudian sambil mengulapkan tangannya, dia
berkata lebih lanjut:
"Berhubung hari ini aku berhasil menemukan
putriku, aku pun tidak ingin menyusahkan kalian, cepat pergi, biar
dia bisa beristirahat sejenak dengan tenang."
Hong Lo-su sama sekali tidak bergeser,
begitu pula Sim Sin-pek dan Suto Siau, mereka hanya saling pandang
tanpa bicara. Kalau tadi mereka kuatir tidak sanggup meloloskan
diri, maka sekarang mereka justru tidak ingin pergi
"Kenapa kalian belum juga pergi?" tegur
perempuan cantik itu dengan kening berkerut.
"Siaute yang telah menyelamatkan nyawa
Ling-ling, apa Jici sudah lupa?"
"Jasamu bisa dipakai untuk menutup
kesalahan, sekarang kita sudah impas, kalau masih cerewet lagi
hingga membangunkan putriku, hmmm, jangan salahkan aku tidak akan
berlaku sungkan lagi!"
Hong Lo-su menjulurkan lidah sambil tertawa
licik.
"Kalau memang begitu, Siaute...."
Belum selesai dia bicara, mendadak Sim
Sin-pek menerjang maju ke muka dan segera menjatuhkan diri berlutut
di hadapan perempuan cantik itu, sesudah menyembah tiga kali,
katanya:
"Tecu memberi hormat kepada Suhu."
Perempuan cantik itu tertegun, teriaknya
kemudian dengan gusar:
"Siapa yang menjadi gurumu? Kau anggap
dirimu itu siapa? Memangnya pantas jadi muridku?"
"Biarpun Tecu bukan siapa-siapa, paling
tidak masih ada gunanya."
"Apa kegunaanmu?" tidak tahan perempuan itu
bertanya.
Sekulum senyuman licik segera tersunging di
ujung bibir Sim Sin-pek, katanya:
"Bila bukan Tecu yang membuka jalan, entah
sampai kapan Suhu baru bisa menemukan musuh besar putrimu, tapi bila
Tecu yang menjadi petunjuk jalan...."
"Jadi kau tahu jejak mereka?" tiba-tiba
perempuan cantik itu bangkit berdiri sambil menukas.
"Bila Tecu tidak tahu, mana berani bicara
sembarangan di sini?"
"Kalau begitu cepat bawa aku ke sana!"
"Jadi kau orang tua pun sudah bersedia
menerima Tecu yang tidak becus ini menjadi muridmu?" tanya Sim
Sin-pek sambil mengedipkan matanya.
"Kau berani mengancam aku?" bentak perempuan
itu gusar.
Sambil membenturkan kepalanya di atas tanah,
jawab Sim Sin-pek:
"Biar Tecu punya nyali macan pun tidak
berani melakukan ancaman, hanya saja bila Tecu mengajak kau orang
tua pergi ke sana, pasti banyak orang akan membenci Tecu hingga
merasuk tulang sumsum, padahal kepandaian silat yang kumiliki sangat
cetek, bukankah kepergianku hanya akan mengantar kematian saja? Beda
kalau Tecu menjadi murid kau orang tua, biar bernyali pun belum
tentu mereka berani bertindak sembarangan."
Perkataan itu disampaikan disertai alasan
yang sangat masuk akal, lagi pula kepandaian jilat pantatnya telah
digunakan tepat pada sasaran.
Benar saja, perempuan cantik itu segera
manggut-manggut.
"Benar juga!" katanya, "perkataanmu memang
sangat masuk akal, baik! Bangunlah, aku akan melindungi
keselamatanmu, selamanya tidak mungkin ada orang yang berani
menganiaya dirimu lagi"
"Terima kasih banyak Insu," dengan
kegirangan kembali Sim Sin-pek menyembah beberapa kali.
Suto Siau yang menyaksikan kejadian itu
hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa getir, gumamnya:
"Luar biasa, luar biasa, bocah ini meski
masih muda ternyata pandai sekali memanfaatkan kesempatan, di
kemudian hari... aaai! Di kemudian hari dia bisa sangat menakutkan!"
"Betul," kata Hong Lo-su pula, "aku lihat
bukan saja bocah itu lebih licik ketimbang kau, bahkan tiga bagian
lebih busuk daripada aku sendiri, sekarang dia sudah punya tulang
punggung yang sangat tangguh, nampaknya termasuk kita berdua pun
tidak berani mengusik-nya lagi."
Kemudian sambil menepuk bahu Sim Sin-pek,
katanya:
"Bocah muda, kini kau sudah menjadi
muridnya, tapi sudah tahu belum nama gurumu?"
"Biarpun Tecu belum tahu, tapi sudah dapat
kutebak," sahut Sim Sin-pek sambil tertawa.
"Coba katakan."
"Tecu tidak berani menyebut langsung nama
guru."
"Tidak masalah," ujar perempuan cantik itu
pula, "katakan saja, aku tidak akan menegurmu."
Sim Sin-pek menarik napas, ujarnya:
"Kecantikannya tiada duanya, kehebatan
senjata rahasianya tiada tandingan, ketajaman mata dan
pendengarannya tiada lawan, manusia paling aneh di daratan
Tionggoan... dialah guruku, Yan-yu (si Hujan gerimis) Hoa Bu-soat."
"Baik laki maupun perempuan, biar tua maupun
muda, bunuh semuanya tanpa kecuali'"
Ketika ucapan terakhir Siang-tok Thaysu
meluncur dari mulutnya, sepasang tangan Dewa racun sudah diayunkan
ke depan berulang kali.
Di bawah cahaya api, terlihat sepasang
telapak tangannya yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang
memancarkan cahaya merah di balik warna kehitaman, cahaya ungu di
balik sinar merah, bahkan di balik cahaya ungu terkandung warna
siluman yang sukar dilukiskan dengan perkataan.
Sepasang telapak tangannya kelihatan jauh
lebih menakutkan daripada cakar setan.
Tanpa terasa Un Tay-tay, Im Ting-ting serta
Thiat Cing-su saling berdempetan satu dengan lainnya, tubuh mereka
gemetar keras karena ketakutan.
Tubuh Seng Toa-nio, Hek Seng-thian serta Pek
Seng-bu gemetar jauh lebih keras ketimbang mang lain.
Liu Ji-uh memeluk kencang tubuh suaminya,
sementara sepasang matanya melotot besar mengawasi telapak tangan
yang menakutkan itu, rsa sedih yang mencapai puncaknya membuat
perempuan ini seolah lupa dengan rasa takut.
Lui-pian Lojin mengepal sepasang tinjunya
kuat-kuat, sepasang matanya memancarkan sinar kemerahan yang
menakutkan.
Dia mengawasi terus sepasang cakar setan
Dewa racun, sementara mulutnya berteriak berulang kali:
"Kalian yang bisa kabur, cepatlah melarikan
diri, bisa selamatkan satu nyawa cepat selamatkan itu nyawa!"
Siang-tok Thaysu tertawa dingin.
"Bantai semua sampai ludes, jangan biarkan
seorang pun tetap hidup, aku akan berjaga di mulut gua, jangan harap
seorang pun di antara kalian bisa melarikan diri dari sini, serahkan
nyawamu!"
Dalam pada itu Dewa racun telah merentangkan
sepasang cakar mautnya ke atas batok kepala Che Toa-ho, "Craaat!",
diiringi suara tertahan, kelima jari tangannya yang lebih tajam dari
baja itu sudah menembus tulang kepala korbannya.
Tidak ampun isi otak Che Toa-ho berhamburan
kemana-mana disertai percikan darah segar, belum sempat menjerit
kesakitan dia sudah roboh terjungkal ke tanah.
Im Ting-ting menjerit kaget, peristiwa
mengerikan yang terbentang di hadapannya membuat dia ketakutan
setengah mati.
Dewa racun menarik kembali cakar setannya,
sekali lagi dia melancarkan serangan maut.
Waktu itu Pek Seng-bu sekalian ingin sekali
melarikan diri, namun keempat anggota badan mereka menjadi lemas
saking takutnya, jangankan kabur, mau bergeser satu langkah pun
tidak mampu.
Tiba-tiba Lui-pian Lojin meraung keras,
teriaknya:
"Lohu akan mengadu jiwa denganmu!"
Ulat berkaki seribu memang tidak kuatir mati
kaku! Biarpun kakek yang luar biasa ini sudah keracunan hebat, namun
dia telah mempersiapkan sisa kekuatan yang dimilikinya untuk
menerjang ke arah Dewa racun.
Belum sampai tubuhnya menerkam ke muka,
segulung desingan angin tajam telah menyambar.
Pukulan itu benar-benar luar biasa
dahsyatnya, bahkan disertai kekuatan untuk membelah batu cadas.
Tampaknya Siang-tok Thaysu tidak menyangka
dalam detik terakhir lawannya masih memiliki tenaga pukulan
sedahsyat itu, tanpa sadar leriaknyakaget:
"Dewa racun, hati-hati!"
"Blaaaam!", di tengah benturan dahsyat,
pukulan terakhir yang dilontarkan Lui-pian Lojin lelah bersarang
telak di tubuh Dewa racun.
Walaupun tubuh Dewa racun keras bagai
lempengan baja, ternyata dia tidak mampu menahan gempuran yang maha
dahsyat itu, tubuhnya mencelat ke belakang hingga membentur dinding
batu, dinding yang kena ditumbuk pun retak dan hancur berantakan,
batu dan debu beterbangan memenuhi angkasa.
Sementara itu tubuh Lui-pian Lojin sendiri
pun ikut terpental hingga mundur beberapa langkah dengan
sempoyongan, meskipun sekuat tenaga dia berusaha berdiri tegar,
namun akhirnya tidak tahan dan roboh terjungkal ke tanah.
Un Tay-tay sekalian merasakan tekanan yang
luar biasa menyelimuti seluruh ruangan, sedemikian sesaknya hingga
napas seakan ikut berhenti, kini mereka hanya berharap Lui-pian
Lojin masih memiliki sisa tenaga, mereka pun berharap Dewa racun
yang roboh terjungkal tidak pernah bangkit lagi untuk selamanya.
Siapa tahu dengan sekali lompatan si Dewa
Racun telah melompat bangun kembali, bukan saja tubuhnya tidak
menderita luka, bahkan cahaya siluman yang terpancar keluar dari
matanya pun sama sekali tidak berkurang.
Siang-tok Thaysu tertawa terbahak-bahak,
ejeknya:
"Wahai, orang she Lui, hari ini kau sudah
tahu kelihaian si Dewa racun bukan? Sekalipun kau pertaruhkan nyawa
tuamu pun sulit mencederai Dewa racun."
"Hmm, ayo, maju lagi...." seru Lui-pian
Lojin dengan napas terengah.
Kembali Siang-tok Thaysu tertawa dingin.
"Begitu tanganmu menyentuh tubuh Dewa racun,
racun jahat segera akan menyerang jantung mu, buat apa mesti mengadu
jiwa? Baiklah, biar aku kabulkan permintaanmu, memberi kematian yang
lebih memuaskan untukmu!"
Kembali dia tepuk punggung Dewa racun sambil
bentaknya:
"Maju!"
Angin berhawa dingin kembali menderu, di
tengah kilatan cahaya api, sekali lagi Dewa racun menerjang ke depan
Lui-pian Lojin.
Biarpun Seng Toa-nio sekalian amat membenci
Lui-pian Lojin, bahkan rasa benci mereka sudah merasuk ke tulang
sumsum, namun saat ini mau tidak mau mereka harus ikut berdoa,
mereka berharap Lui-pian Lojin bisa sekali lagi bangkit berdiri dan
secara mukjizat melancarkan pukulan maut lagi.
Bagaimanapun kini Lui-pian Lojin sudah
menjadi harapan terakhir mereka, asal Lui-pian Lojin tewas, maka
jangan harap siapa pun yang hadir dalam gua saat ini bisa pergi
dalam keadaan selamat.
Suasana amat hening, sedemikian heningnya
sampai napas setiap orang pun serasa ikut berhenti
Dada Lui-pian Lojin masih berombak naik
turun, napasnya masih tersengal, mengawasi Dewa racun yang selangkah
demi selangkah berjalan makin dekat, tangan dan kakinya terasa mulai
mendingin, sementara butiran keringat sebesar kedelai
jatuh bercucuran.
Sejak ternama dan menghadapi pertempuran
selama puluhan tahun, sudah beratus kali pertarungan besar maupun
kecil yang dia alami, tapi tidak sekali pun pernah merasakan
penghinaan dan kehilangan muka seperti yang dialaminya hari ini,
mimpi pun dia tidak menyangka dengan posisi serta statusnya saat
ini, dia masih bisa dijagai orang tanpa mampu membalas.
Baginya kematian bukan masalah, tapi
penghinaan dan kehilangan muka sulit diterima begitu saja.
Tiba-tiba Siang-tok Thaysu tertawa
terbahak-bahak, ejeknya:
"Asal Dewa racun maju satu langkah lagi,
niscaya kau akan kehilangan nyawa!"
Lui-pian Lojin seketika merasa hawa amarah
yang mendidih menerjang naik ke atas kepalanya, sambil meraung keras
tubuhnya yang tinggi kekar tiba-tiba bangkit berdiri... berdiri
tegak bagaikan sebatang tombak.
Un Tay-tay sekalian merasa terkejut
bercampur girang, saking terperananya mereka seperti lupa untuk
bersorak-sorai.
Siang-tok Thaysu seperti terkena pukulan
dahsyat, tanpa sadar dia mundur selangkah dari posisi semula.
Dalam waktu yang amat singkat itu,
sesungguhnya Lui-pian Lojin sendiri pun dibuat tertegun, bahkan dia
sendiri pun tidak tahu darimana datangnya kekuatan itu, tapi saat
dan situasi yang dihadapinya sekarang tidak memberi kesempatan
baginya untuk berpikir lebih jauh.
Cakar setan Dewa racun telah menyerang
kembali.
Lui-pian Lojin membentak keras, sepasang
kepalannya dilontarkan bersama, "Blaaaam!", kembali sebuah pukulan
dahsyat bersarang telak di dada si Dewa racun.
Kembali sekujur tubuh Dewa racun bergetar
keras, tubuhnya mencelat ke udara dan menumbuk lagi di atas dinding
batu.
Kelihatannya tenaga pukulan yang dia
lontarkan kali ini jauh lebih dahsyat ketimbang serangan yang
pertama tadi, namun kali inipun tubuh Lui-pian Lojin terpental
mundur ke belakang dengan sempoyongan sebelum akhirnya roboh
terduduk di tanah.
Berubah hebat paras muka Siang-tok Thaysu,
tapi sambil tertawa paksa serunya lagi:
"Manusia she Lui, apakah kau masih memiliki
tenaga untuk bangkit kembali?"
Sambil mengertak gigi, diam-diam Lui-pian
Lojin mencoba mengatur pernapasan, mendadak dia menjumpai aliran
tenaga dalamnya makin lama semakin bertambah lancar, bahkan jauh
lebih lancar ketimbang waktu sebelum bertarung melawan Dewa racun.
Waktu itu Dewa racun telah berdiri kembali,
berhadapan dengan musuh tangguh membuat Lui-pian Lojin tidak sanggup
berpikir lebih jauh apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.
Un Tay-tay ikut termenung sambil memutar
otak, sesaat kemudian dia pun menjadi sadar kembali apa yang
sebenarnya telah terjadi.
Tak tahan serunya dengan gembira:
"Rupanya racun Coat cing hoa telah bertemu
dengan racun dari si Dewa racun, pertarungan antara dua jenis racun
membuat kekuatan racun yang ada di tubuhmu jadi punah. Semakin
banyak kau menerima racun dari Dewa racun, semakin cepat pula tenaga
murnimu pulih kembali."
Kontan Lui-pian Lojin merasakan semangat nya
berkobar kembali, dia mendongakkan kepala dan berpekik panjang,
serunya:
"Benar! Wahai makhluk tua beracun, ayo,
suruh saja Dewa racunmu menyerangku, coba buktikan Lohu menjadi
takut atau tidak!"
Sambil bicara dia kembali melompat bangun.
Sebenarnya Siang-tok Thaysu sudah siap
menepuk punggung Dewa racun, namun setelan mendengar perkataan itu,
dia jadi ragu untuk melanjutkan tepukannya, tanpa terasa peluh
dingin mulai bercucuran membasahi jidatnya.
Sementara itu Lui-pian Lojin sudah mulai
menerjang lagi ke depan.
Sambil menggigit bibir, terpaksa Siang-tok
Thaysu menepuk kembali punggung Dewa racun ambil berteriak:
"Maju!"
Semua orang hanya merasakan pandangannya
kabur, tahu-tahu... "Blaaaam!", benturan dahsyat bergema memenuhi
seluruh ruangan, terlihat dua sosok bayangan manusia kembali
terpental ke belakang.
Untuk kesekian kalinya tubuh Dewa racun
mencelat ke udara dan kembali menumbuk dinding batu.
Walaupun Lui-pian Lojin ikut terhuyung
mundur beberapa langkah, namun kali ini tubuhnya cuma sekali tidak
roboh, sementara si Dewa racun meski mampu bangkit berdiri lagi,
namun gerakan tubuhnya sudah jauh lebih lamban.
Perubahan situasi yang di luar dugaan ini
membuat Seng Toa-nio, Thiat Cing-su, Pek Seng-bu, Im Ting-ting...
menjadi kebingungan sendiri, mereka tidak tahu harus
gembira atau sedih, mereka pun tidak tahu pihaknya sebagai teman
atau lawan.
Dengan wajah gembira, gumam Un Tay-tay:
"Karena bencana malah dapat rezeki... karena
bencana malah dapat rezeki, kalau dia tidak terkena racun Coat cing
hoa terlebih dulu, mungkin tidak seorang pun di antara kita sekarang
masih bisa hidup bugar."
Di tengah kilatan cahaya api, tampak
Lui-pian Lojin berdiri tegar dengan wajah angker dan penuh wibawa,
kegagahannya di masa lampau kini sudah tumbuh kembali di tubuhnya.
Di bawah cahaya obor, dia gagah bagaikan
malaikat langit.
Siang-tok Thaysu berdiri dengan wajah pucat,
keringat dingin bercucuran membasahi seluruh wajahnya.
Padahal kepandaian silat yang dimilikinya
sekarang boleh dibilang sangat tangguh, bila ditambah kekuatan Dewa
racun, belum tentu Lui-pian Lojin sanggup menandingi kerubutannya,
apalagi tenaga dalamnya belum seratus persen pulih kembali.
Namun semua perubahan yang terjadi kelewat
cepat dan di luar dugaan, kekuatan Lui-pian Lojin terlalu cepat
pulih kembali, hal ini membuat Siang-tok Thaysu menjadi keder
terlebih dulu sebelum sempat melakukan pertarungan.
"Ayo, maju!" terdengar Lui-pian Lojin
membentak lagi dengan suara menggelegar, "ayo, maju lagi!"
Tiba-tiba Siang-tok Thaysu membalikkan tubuh
Dewa racun dan berteriak nyaring:
"Kabur!"
Belum habis dia menghardik, tubuh Dewa racun
sudah melesat keluar meninggalkan gua.
Sambil mementangkan sepasang cakarnya,
Lui-pian Lojin merangsek keluar gua, tubuhnya melambung bagaikan
seekor rajawali raksasa, cakar tajamnya langsung mencekik
tenggorokan Siang-tok Thaysu.
Tampaknya Siang-tok Thaysu tidak berani
menangkis datangnya ancaman itu, cepat dia membalikkan tubuh sambil
kabur keluar, biarpun sudah cukup cepat dia menghindar, ternyata
masih belum cukup cepat untuk menghindari datangnya ancaman.
"Breeett... !", jubah berwarna merah yang
dikenakan Siang-tok Thaysu segera tersambar oleh cakar maut yang
dilancarkan Lui-pian Lojin dan sobek sebagian.
Traaaang!", sebuah benda terjatuh dari balik
saku bajunya yang robek dan menggelinding beberapa jengkal ke
samping, di bawah timpaan cahaya api, tampak benda itu memantulkan
cahaya terang.
Sebenarnya Lui-pian Lojin hendak mengejar
lebih jauh, namun baru saja kakinya bergerak, akhirnya dia urungkan
kembali niatnya itu.
Lama sekali dia memandang keluar gua dengan
tubuh mematung, akhirnya sesudah menghela napas panjang dia berjalan
balik lagi ke dalam gua, dadanya nampak naik turun dengan cepat,
dengus napas yang memburu sampai lama kemudian baru reda.
Sekalipun pertarungan yang barusan
berlangsung tidak nampak seru, namun bukan saja pertarungan itu
merupakan pertarungan habis-habisan, bahkan mempertaruhkan
keselamatan jiwa semua orang yang ada di dalam gua saat itu.
Kini bukan hanya Lui-pian Lojin saja yang
berdiri dengan napas tersengal, semua orang yang menonton pun sudah
basah kuyup tubuhnya karena keringat dingin, begitu tegang dan
paniknya mereka seolah terlibat langsung dalam pertempuran tadi
Akhirnya sambil membesut keringat yang
membasahi jidatnya, Lui-pian Lojin bergumam:
"Berbahaya! Sungguh berbahaya!"
"Mungkinkah dia... dia akan balik lagi?"
gumam Un Tay-tay gemetar.
"Selama ini makhluk tua bangkotan itu selalu
mundur teratur bila gempurannya tidak mendatangkan hasil, aku rasa
kali inipun tidak terkecuali, bisa jadi dia tidak akan balik kemari
lagi."
Walaupun ucapan itu disampaikan dengan
tegas, padahal dalam hati tidak terlalu yakin dugaannya benar.
Dia memang sengaja bicara begitu, tujuannya
tidak lain adalah untuk menghibur serta menenteramkan hati orang
lain, di samping tentu saja untuk menenteramkan hati sendiri, dia
sadar, bila Siang-tok Thaysu sampai balik kembali, belum tentu dia
memiliki keberanian yang cukup untuk menghadapinya.
Un Tay-tay menghela napas panjang.
"Semoga saja dia memang tidak balik lagi..."
gumamnya.
Mendadak sorot matanya terbentur benda
berkilat di sudut ruang gua, benda yang memancarkan cahaya silau
ketika tertimpa sinar obor.
"Benda apa itu?" serunya tak tahan.
Mengikuti arah yang ditunjuk, semua orang
berpaling. Ternyata benda itu mirip sekali dengan sebuah buli-buli
arak, hanya besarnya sekepalan dan terbuat dari batu kemala hijau.
"Dari mana datangnya benda itu?" tegur
Lui-pian Lojin dengan mata berkilat.
"Kelihatannya terjatuh dari saku Siang-tok
Thaysu."
Mendadak wajah Lui-pian Lojin berubah jadi
sangat tegang, dia seperti terkejut dan juga
kegirangan, kembali tanyanya dengan suara dalam:
"Kau sempat melihatnya dengan jelas?"
"Benar, aku melihatnya dengan jelas," Un
Tay-tay mengangguk.
Mendadak satu ingatan melintas, kemudian
serunya pula dengan girang:
"Jangan-jangan buli-buli itu berisi obat
penawar racun?"
Tidak menunggu perempuan itu selesai bicara,
Lui-pian Lojin telah menerjang maju ke depan dan memungut benda
kemala itu, setelah diperiksa sejenak di bawah cahaya api, mimik
girang segera tersungging di wajahnya.
"Apakah ada... ada tulisan di sana?" tanya
Un Tay-tay.
Lui-pian Lojin mendongakkan kepala dan
tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, Thian memang maha adil, akhirnya
kita mendapatkan kesempatan untuk hidup terus, hahaha... mimpi pun
Lohu tidak menyangka kalau secara tanpa sengaja bisa menemukan benda
penolong nyawa"
Sambil tertawa terus, dia pun menggapai;
"Kemarilah, coba kau ikut memeriksa."
Sebetulnya Un Tay-tay sudah tidak sabar
untuk ikut memeriksa benda itu, cepat dia maju mendekat, berita
gembira yang muncul di sela-sela putus harapan ini seketika
mendatangkan tenaga kehidupan yang lebih segar di tubuhnya.
Betul saja, di atas buli-buli batu kemala
itu tertera beberapa huruf kecil, huruf itu berbunyi: "obat mestika,
penawar segala racun".
Ternyata dugaanku tidak salah...." dengan
penuh kegembiraan Un Tay-tay segera bersorak, "tak nyana dugaanku
tepat sekali, isi buli-buli itu memang obat mustika penawar segala
racun ramuan makhluk tua beracun itu, sekarang semua orang bakal
tertolong."
Im Ting-ting, Thiat Cing-su maupun Liu Ji-uh
seketika merasakan semangatnya berkobar kembali, mereka sangat
gembira, sementara Pek Seng-bu, Hek Seng-thian serta Seng Toa-nio
hanya bisa saling pandang dengan wajah lesu, sedih bercampur kecewa.
"Semoga saja obat penawar racun ini bisa
memunahkan pengaruh jahat racun Coat cing hoa," gumam Liu Ji-uh
dengan suara gemetar. Lui-pian Lojin tertawa.
"Walaupun Siang-tok Thaysu si makhluk tua
beracun itu edan dan tidak tahu malu, namun kemampuannya menggunakan
racun harus diakui sebagai jago nomor wahid di kolong langit,
kemampuannya memang tanpa tandingan...." katanya.
"Setiap orang yang pandai menggunakan racun,
pasti pandai pula memunahkan pengaruh racun," sela Un Tay-tay tidak
tahan, "kalau memang kepandaian makhluk tua beracun itu dalam
menggunakan racun merupakan jago nomor wahid di kolong langit,
semestinya kemampuan nya untuk menawarkan segala racun pun bisa
diandalkan."
"Betul, kalau dia sampai berani mengatakan
obat mujarabnya bisa menawarkan segala racun, aku rasa ucapan itu
sudah pasti bukan omongan sembarangan."
Tidak menunggu sampai perkataan itu selesai,
Liu Ji-uh sudah menubruk ke depan, berlutut di lantai dan memeluk
sepasang kaki Lui pian Lojin dengan air mata bercucuran, jangan
dilihat di hari biasa dia tampil angkuh dan dingin, saat ini
wajahnya penuh diliputi rasa terharu dan gembira yang luar biasa.
Buru-buru Lui-pian Lojin berseru:
"Kalau ada yang ingin dibicarakan, bicaralah
baik-baik, buat apa kau mesti bersikap begitu?"
"Aku mohon kepada kau orang tua, berilah
sebutir pil mujarab itu untuk menolong Kian-sik, boanpwe... selama
hidup Boanpwe tidak akan melupakan budi kebaikanmu," kata Liu Ji-uh
dengan nada parau.
Lui-pian Lojin kembali tertawa
terbahak-bahak.
"Hahaha, sekalipun kau tidak memohon
kepadaku, aku tetap akan memberinya... setiap orang yang hadir di
sini dan keracunan, berhak memperoleh sebutir. Tidak ada
pengecualian."
"Tapi bagaimana kalau jumlah obatnya tidak
cukup?"
Tiba-tiba saja Lui-pian Lojin tertegun.
"Soal ini... soal ini...."
Saking gembiranya, dia seolah sudah
melupakan akan hal ini.
Paras muka Un Tay-tay berubah makin hebat
sesudah mendengar perkataan itu, sebab ucapan itu telah menyentuh
kembali luka dalam hatinya, dia teringat pengalaman getir yang
pernah dialaminya, dia pun teringat akan Sui Leng-kong.
Dengan wajah mengejang karena menahan rasa
sedih dan penderitaan yang mendalam, dia berbisik dengan suara
gemetar:
"Benar, kalau obatnya tidak cukup, apa yang
harus kita lakukan? Siapa yang akan ditolong? Siapa pula yang tidak
akan ditolong? Siapa yang harus ditolong? Siapa pula yang tidak
pantas ditolong?"
Perlahan sinar matanya menyapu sekejap
orang-orang yang berada di sana, Im Gi, Im Kiu-siau, Lui Siau-tiau,
Liong Kian-sik... hampir semuanya dalam kondisi kritis, napasnya
sangat lemah dan setiap orang perlu obat penawar untuk secepatnya
menyelamatkan nyawa mereka.
Bukan cuma beberapa orang itu, Lui-pian
Lojin sendiri pun masih perlu obat penawar, lalu Seng Cun-hau...
bukankah kondisi orang inipun sama seperti Lui-pian Lojin?
Tiba-tiba Un Tay-tay menjerit keras:
"Siapa yang harus ditolong? Siapa pula yang
tidak harus ditolong?"
Benaknya seolah sudah dipenuhi oleh berbagai
masalah, yang membuatnya pening, membuatnya berkunang-kunang, hampir
saja dia tidak sadarkan diri.
Terdengar Liu Ji-uh berkata lagi dengan
gemetar:
"Itulah sebabnya Boanpwe mohon kepada kau
orang tua, bagaimanapun hadiahkan sebutir pil penawar racun untuk
Kian-sik, dia... dia tidak boleh mati."
"Dia tidak boleh mati, siapa pun tidak boleh
mati, memangnya hanya Cun-hau yang pantas mati?" mendadak terdengar
Seng Toa-nio ikut berteriak keras.
"Bila Kian-sik mati, aku pun tidak ingin
hidup sendiri," ujar Liu Ji-uh lagi dengan air mata bercucuran,
"nyawa orang lain hanya selembar, tapi nyawa kami adalah dua lembar
yang tergabung jadi satu."
"Kentut! Kentut! Kau...." teriakan Seng
Toa-nio makin keras.
"Bila ayah mati, aku pun tidak ingin hidup,"
teriak Im Ting-ting pula.
Liu Ji-uh menangis semakin keras, rengeknya:
"Aku mohon kepadamu... aku mohon...."
Suara teriakan histeris ditambah suara isak
tangis yang memedihkan hati seketika menyelimuti seluruh ruang gua,
membuat suasana di situ jadi sangat kalut.
Lui-pian Lojin menghentakkan kaki berulang
kali, hardiknya:
"Tutup mulut! Semuanya tutup mulut!"
Setelah menyapu pandang sekejap sekeliling
tempat itu dan menunggu hingga suasana reda, dia berkata lebih jauh:
"Kita masih belum tahu berapa biji obat yang
tersimpan di situ, buat apa kalian ribut lebih dahulu?"
Kemudian setelah sedikit sangsi, dia
sodorkan buli-buli kemala itu ke tangan Un Tay-tay, katanya lagi:
"Coba kau periksa, ada berapa butir obat di
situ?"
Bukannya menerima, Un Tay-tay malah menutupi
wajah sendiri dengan kedua belah tangan sambil menjerit sedih:
"Aku tidak mau lihat... aku tidak mau lihat"
"Di sini hanya posisimu
yang paling istimewa," tegur Lui-pian Lojin gusar, "hampir
semua orang yang keracunan tidak punya hubungan khusus denganmu,
kalau bukan kau yang memeriksa, memangnya siapa yang pantas
memeriksa?"
"Aku... aku air mata makin deras berlinang
membasahi wajah Un Tay-tay.
Dia benar-benar merasa sangat terpukul, dia
merasa pendiriannya telah hancur berantakan, dia tidak ingin memikul
kembali beban yang sangat berat itu.
Tapi waktu itu Lui-pian Lojin telah
menyodorkan buli-buli kemala itu ke tangannya.
Bersentuhan dengan batu kemala yang halus
dan lembut, bagi Un Tay-tay seolah bersentuhan dengan ular atau
kalajengking berbisa, tubuhnya gemetar keras, bahkan perasaannya pun
ikut tergetar.
"Semoga saja jumlah obat penawarnya cukup...
semoga cukup dibagi..." doanya dalam hati.
Padahal di hari biasa sia tidak percaya
dengan segala dewa dan Buddha, tapi kini dalam kondisi kritis dan
terdesak, tiba-tiba saja dia seperti teringat untuk berdoa, mohon
bantuan para dewa untuk memenuhi keinginannya, asal jumlah obat
penawar itu cukup dibagi, dia rela untuk menanggung segala
penderitaan orang-orang itu.
Setelah dituang, ternyata ada tujuh butir
pil penawar racun.
Tujuh butir pil berwarna merah darah
bergulingan di atas telapak tangan Un Tay-tay yang dingin bagaikan
es dan gemetar keras karena tekanan batin, bergulingan dengan
memancarkan selapis cahaya aneh.
Un Tay-tay menggenggam kencang semua pil
penawar racun itu, ketika semua syarafnya mulai mengendor, setelah
ketegangannya men-capai puncak, dia merasa seluruh kekuatan tubuhnya
seolah lenyap, hampir saja dia roboh terjungkal.
Tapi air mata masih bercucuran tiada
hentinya, dia tidak tahu itu air mata kegirangan atau kesedihan,
sambil merangkap tangannya di depan dada, dia menengadah dan mulai
menjerit:
"Thian... oooh, Thian...." Menyaksikan
perubahan wajahnya itu, semua orang merasa deg-degan, semua orang
merasa tegang, paras muka mereka ikut berubah hebat.
"Ada... ada berapa butir?" dengan suara
gemetar Lui-pian Lojin bertanya.
"Tujuh butir... tujuh butir...."jawab Un
Tay-tay dengan air mata berlinang.
Lui-pian Lojin mundur tiga langkah, dia
beolah tertegun secara tiba-tiba.
Sampai lama kemudian orang tua itu baru
menghela napas panjang, serunya:
"Cukup! Cukup!"
"Cukup... cukup...." Liu Ji-uh, Im
Ting-ting, semuanya ikut bersorak-sorai kegirangan.
"Benar, bukan cuma cukup, malah kelebihan
satu butir," Un Tay-tay menambahkan
Seluruh ketegangan, semua kepedihan, dalam
waktu singkat berubah jadi kegembiraan yang meluap.
Hek Seng-thian memutar biji matanya,
tiba-tiba dia berkata sambil tertawa dingin:
"Tujuh butir? Hehehe... rasanya begitu
kebetulan."
"Hahaha, inilah yang dinamakan Thian
mengabulkan permintaan umatnya, kejadian yang patut digembirakan."
"Aku hanya merasa kejadian ini sangat
kebetulan."
"Apa maksud perkataanmu itu?" berubah paras
muka Lui-pian Lojin.
"Kenapa Cianpwe tidak berpikir, siapa tahu
obat penawar itu memang sengaja ditinggalkan Siang-tok Thaysu dengan
maksud agar kalian masuk perangkapnya."
"Betul," sambung Pek Seng-bu pula, "di luar
botolnya memang tertulis obat mustika penawar racun, tapi siapa yang
berani menjamin kalau isinya justru obat racun
penghancur usus? Tanpa harus bersusah payah, dia mampu
merobohkan kalian, hehehe... satu siasat yang hebat! Siasat yang
amat jitu!"
"Kentut!" bentak Lui-pian Lojin gusar,
"kau... kau... kalian berdua telah meracuni arakku, belum lagi Lohu
membikin perhitungan, sekarang kau malah berani bicara sembarangan."
Sekalipun di luar dia menuduh ucapan itu
sembarangan, padahal dalam hati dia tahu dengan pasti bahwa
kemungkinan semacam itu tetap ada, kembali paras muka Un Tay-tay dan
Liu Ji-uh sekalian berubah hebat.
Sambil tertawa dingin, kembali Hek
Seng-thian berkata:
"Aku sengaja mengingatkan kalian karena
tumbuh dari niat baik saja, soal mau percaya atau tidak terserah
kalian sendiri, kenapa aku malah dituduh bicara sembarangan?"
Lui-pian Lojin tidak bicara apapun, mendadak
dia melompat maju dan mencengkeram bajunya.
"Mau... mau apa kau?" teriak Hek Seng-thian
terperanjat.
"Lohu akan membunuh dirimu!"
"Tapi aku... aku kan berniat baik."
"Kentut!" hardik Lui-pian Lojin gusar, "kau
memang sengaja bicara begitu agar kami semua tidak berani menelan
obat penawar itu, agar kami menunggu mati di sini. Kau memang
berhati busuk, berhati keji, memangnya Lohu tidak tahu niatmu?"
"Kalau Cianpwe memang tidak percaya, kenapa
tidak dicoba saja?"
"Kentut!" kembali Lui-pian Lojin mengumpat
marah, "persoalan yang menyangkut mati hidup memangnya boleh dicoba
semaunya?"
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak
Un Tay-tay, segera teriaknya:
"Ada akal!"
"Apa akalmu?" Lui-pian Lojin segera
berpaling.
"Bukankah kita punya kelebihan sebutir obat
penawar?"
"Kalau ingin mengatakan sesuatu, cepat
katakan, tidak usah berputar-putar lagi."
"Kalau memang kita memiliki kelebihan
sebutir obat penawar, kenapa tidak kita cekokkan saja kepadanya?
Kalau obat itu betul-betul penawar racun, sudah pasti dia tetap
sehat, kalau memang racun... aaaai! Manusia macam dia tidak perlu
disayangkan kalau mampus, kalau memang keracunan, biarkan saja
diamati."
"Hahaha, bagus! Bagus sekali! Akal bagus!
Akal bagus!"
Tidak terlukiskan rasa gusar Hek Seng-thian
sesudah mendengar perkataan itu, kontan saja dia mencaci-maki
kalang-kabut:
"Dasar wanita bejat, perempuan jadah berhati
busuk, pelacur tidak laku kawin, semenjak jadi gundik Suto Siau, aku
sudah tahu manusia macam kau memang bukan manusia baik-baik."
Bukan saja dia mencaci-maki dengan suara
keras, bahkan bahasa yang digunakan pun amat kasar dan busuk, untuk
sesaat Im Ting-ting, Thiat ling-su maupun Lui-pian Lojin hanya bisa
mendengarkan dengan mata terbelalak dan mulut melongo, beberapa saat
lamanya mereka hanya berdiri mematung.
Hingga saat itu mereka baru tahu asal-usul
Un Tay-tay yang sebenarnya, mimpi pun mereka tak mengira perempuan
itu dulunya adalah gundik kesayangan Suto Siau.
Menyaksikan reaksi itu, Hek Seng-thian
semakin senang dan makiannya pun semakin kotor dan tidak sedap
didengar.
Terdengar dia mengumpat kembali:
"Sejak waktu itu aku sudah tahu kau sering
main serong dengan lelaki lain, apalagi ketika masih muda dan
berpipi putih, kau lahap semua dengan rakus, karena itulah orang she
Im itu...."
"Tutup mulut!" tiba-tiba Lui-pian Lojin
membentak keras.
Di tengah suara bentakan, dia langsung
mengayunkan tangannya dan menampar wajah Hek Seng-thian dengan
keras.
"Ploook!", kontan separoh wajah Hek
Seng-thian merah bengkak, beberapa biji giginya ikut rontok.
Tapi dia masih belum mau berhenti mengoceh,
kembali teriaknya:
"Tapi... tapi aku bicara sejujurnya."
"Tidak peduli ucapanmu benar atau tidak,
tidak peduli dulunya Un Tay-tay manusia macam apa, setelah hari ini
Lohu menginginkan dia menjadi menantuku, siapa pun tidak dapat
merubahnya lagi."
Berlinang air mata Un Tay-tay setelah
mendengar perkataan itu, selain terharu, dia pun sangat berterima
kasih.
Namun Im Ting-ting dan Thiat Cing-su yang
mendengar ucapan itu kembali tertegun dibuatnya.
Diam-diam mereka berdua saling pandang,
sedang dalam hati berpikir, “Bukankah dia sudah berjanji akan tetap
menjanda? Kenapa sekarang malah jadi menantu Lui-pian Lojin?”
Terdengar Lui-pian Lojin kembali berkata
dengan suara keras:
"Mulai hari ini, barang siapa
berani mengungkit kembali masa lalu Un Tay-tay, Lohu bersumpah akan
mencincangnya hingga hancur berkeping-keping!"
Dia, segera mengambil sebutir pil dan
dijejalkan ke mulut Hek seng-thian, kemudian dengan sekali tepukan
ditenggorokannya, mau tak mau Hek seng-thian segera menelan pil itu
kedalam perutnya.
Dalam keadaan begini, hilang sudah nyali Hek
seng-thian, dia terperosok lemas dan roboh terkapar diatas tanah.