pendekar panji sakti 12

BAB 35.

Cinta Kasih Sejati.

 

Un Tay-tay menyingkap rerumputan, dari balik rumput yang lebat dilihatnya ada lima butir biji catur berwarna hitam, empat ditumpuk jadi satu pada posisi belakang dengan sebiji catur paling depan, arah yang ditunjuk adalah timur.

Rupanya itulah tanda rahasia yang ditinggalkan Suto Siau sekalian untuk menunjuk­kan arah, dulu Un Tay-tay cukup lama bergaul dengan Suto Siau, bahkan hubungan mereka terhitung cukup akrab, tidak heran perempuan ini sangat menguasai kode rahasia itu.

Sejak tadi sebetulnya dia sudah melihat tanda rahasia itu, hanya saja karena waktu itu pikirannya sedang dilanda kesedihan dan kekalutan sehingga tidak terlalu memperhatikan.

Tapi sekarang dia sudah mengambil keputusan, apapun yang bakal terjadi, dia harus menemukan jejak Lui-pian Lojin serta Suto Siau sekalian.

Lama dia mengawasi kode rahasia itu, akhirnya dia ambil biji catur yang terakhir dan menggesernya dari depan menuju ke belakang, dia telah memindahkan dari arah ke timur menjadi arah barat.

Kemudian sambil bertepuk tangan dia bergerak menuju ke timur, membayangkan bagaimana Suto Siau sekalian bakal dibuat bingung oleh arah yang salah, tanpa terasa sekulum senyuman tersungging di ujung bibirnya.

Sepanjang perjalanan kembali dia jumpai empat lima buah tanda rahasia, serta merta dia memutar balik arah yang dituju, dengan harapan Suto Siau sekalian semakin kabur dari arah yang sebenarnya.

Akhirnya tibalah dia di sebuah lembah bukit yang amat gersang, walaupun di depan sana terlihat ada jalan setapak, namun kiri kanannya merupakan tebing setinggi beberapa ratus kaki yang tegak lurus dan curam. Sementara arah yang dituju adalah ke sisi kanan.

Un Tay-tay tertegun, dia mencoba mendongakkan kepala, terlihat dinding tebing itu sangat tinggi hingga menjulang ke angkasa, sekalipun sepanjang dinding terlihat ada rotan yang bisa dipakai untuk merambat, namun ditinjau dari medan yang begitu sulit, rasanya seekor monyet pun tidak mudah untuk melewati tempat itu.

Dia semakin tercengang bercampur kaget, pikirnya:

"Jangan-jangan ada orang yang datang lebih awal dari aku dan mengacau arah yang ditinggalkan tanda rahasia itu?"

Namun dia tahu kode rahasia itu hanya diketahui Suto Siau sekalian yang berjumlah beberapa gelintir, mustahil orang lain mengetahui rahasia itu, tapi kenapa mereka bisa mengacau arah yang ditinggalkan?

Un Tay-tay memeras otak berusaha memecahkan persoalan ini, namun sampai lama kemudian dia masih belum berhasil memecahkan­nya.

Dengan termangu dia berdiri mematung di situ, angin berhembus kencang mengibarkan ujung bajunya....

Waktu itu dia berdiri menghadap ke arah dinding tebing, lalu darimana munculnya hembusan angin itu? Mungkinkah angin itu berhembus dari balik dinding?

Penemuan tidak terduga ini seketika menggerakkan akalnya, cepat dia berjalan menghampiri dinding tebing dimana angin itu berasal, biarpun dalam keadaan tergopoh, dia tidak lupa mengubah arah yang ditinggalkan tanda rahasia itu, kali ini dia mengubahnya ke arah jurang.

Benar saja, di antara dinding tebing yang licin terdapat beberapa buah celah, sekalipun celah itu tersembunyi di balik tumbuhan rotan yang cukup lebat, akan tetapi setelah dicari Un Tay-tay secara seksama, akhirnya celah itu berhasil juga ditemukan.

Dalam keadaan seperti ini dia benar-benar sudah melupakan semua rasa takut dan ngeri, sekalipun di balik celah adalah sarang naga atau gua harimau, dia tidak ambil peduli, begitu berhasil menyingkirkan rotan yang menutupi seputar celah, perempuan ini langsung menerobos masuk ke dalam.

Di balik celah merupakan sebuah lorong yang sempit dan gelap, ditinjau dari rerumputan yang tumbuh di seputar sana, jelas terlihat tanda-tanda bekas diinjak manusia, untung Un Tay-tay sangat teliti dan seksama, sebab kalau tidak diperiksa secara khusus, pertanda itu memang sulit ditemukan.

Dengan susah payah dia menerobos lorong sempit itu sejauh puluhan kaki sebelum akhirnya tiba di sebuah tempat yang jauh lebih luas dan terang.

Tempat itu merupakan sebuah lembah yang sangat luas, sinar matahari menyinari seluruh jagad, angin pun terasa berhembus sepoi meng­goyangkan tumbuhan dan rerumputan.

Mimpipun Un Tay-tay tidak menyangka di balik celah yang sempit ternyata terdapat tanah lembah yang begitu luas dan lebar.

Untuk sesaat dia seakan terpukau menyaksikan keindahan alam yang sangat cantik dan luas ini, sampai lama sekali dia berdiri termangu, tertegun, tanpa bergerak sedikitpun.

Di tengah padang rumput yang sangat luas terlihat rerumputan tumbuh setinggi manusia, ketika berjalan di antara rumput nan hijau itu, Un Tay-tay merasa dirinya seolah terombang-ambing di tengah gelombang samudra yang luas, membuat pening kepalanya, membuat kabur pandangan matanya.

Dia sama sekali tidak dapat melihat pemandangan di sekeliling sana, dia pun tidak bisa menentukan arah mata angin, kalau semula dia menyangka begitu memasuki celah tebing, maka Lui-pian Lojin segera akan ditemukan, kini dia sadar bahwa pendapatnya itu keliru besar.

Mencari seorang di tengah padang rumput yang begitu luas, ibarat mencari sebatang jarum di tengah samudra, bukan saja teramat sulit, bahkan boleh dibilang mustahil.

Untuk berteriak atau menjerit pun dia tidak berani, karena dia merasa ngeri untuk berteriak di tengah padang rumput tanpa tepian ini.

Mungkinkah ada ular beracun atau hewan buas yang mengintai dari balik rerumputan? Mungkinkah ada musuh tangguh yang sedang mengawasinya? Un Tay-tay sama sekali tidak mau memikirkannya, dia berjalan terus menerobos rerumputan dengan langkah lebar.

Namun rerumputan yang tumbuh di situ benar-benar kelewat tebal, kelewat rimbun, dalam keadaan seperti ini, biar ada orang yang berjalan mendekatinya pun belum tentu dia tahu, bahkan sekalipun dia sudah berjalan dengan langkah cepat pun, dia tidak berhasil bergerak lebih cepat lagi.

Sudah dua tiga peminuman teh dia berjalan, namun suasana di sekitar sana tetap hening dan sepi, dia belum berhasil juga menemukan sesuatu.

Yang terdengar hanya angin yang menggoyangkan rerumputan, hanya desingan angin yang menerpa sisi telinganya.

Meskipun hanya suara angin, Un Tay-tay merasa suara itu lama kelamaan mulai membuat­nya gugup, membuatnya panik.

Akhirnya dia tidak kuasa menahan diri lagi, sambil menghimpun tenaga, tubuhnya melambung ke tengah udara, melampaui rerumputan dan memeriksa seputar sana.

Namun sejauh mata memandang, hanya gelombang rerumputan yang bergoyang beriring, jangankan seseorang, bahkan bayangannya pun tidak nampak.

Dia ingin sekali memeriksa dengan lebih seksama, sayang hawa murninya telah buyar sehingga tubuhnya terpaksa meluncur kembali ke bawah.

Di saat tubuhnya meluncur turun ke bawah itulah mendadak dia merasakan suatu gerakan yang sangat aneh muncul dari padang rumput sebelah kiri, tapi sayang, ketika dia melambung sekali lagi ke tengah udara, tiada sesuatu yang berhasil disaksikan.

Berjalan di tengah padang rumput yang luas dan lebat, sebenarnya merupakan satu tindakan yang berbahaya, karena di balik rerumputan bisa jadi terdapat berbagai jebakan dan perangkap, bisa pula terdapat penghadangan yang bisa mengancam keselamatan jiwanya.

Andaikata orang lain, belum tentu mereka berani bertindak secara gegabah dan ngawur dalam situasi seperti ini.

Namun Un Tay-tay merasa yakin dalam lembah itu hanya terdapat Lui-pian Lojin dan komplotannya, sekalipun sudah muncul jejak manusia di sisi kiri, dia menduga orang itu pastilah salah satu di antara komplotannya.

Tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung menerobos maju ke depan.

Baru berjalan puluhan kaki, tiba-tiba perempuan itu menghentikan kembali langkahnya, dari arah depan dia seperti mendengar suara desingan angin lirih, seperti suara baju yang bergesek dengan rerumputan.

"Siapa di situ?" hardik Un Tay-tay.

Begitu suara bentakan berkumandang, suara desingan angin lirih itu seketika hilang tidak berbekas.

Dengan kening berkerut, perlahan-lahan Un Tay-tay bergeser maju ke depan. Siapa tahu begitu dia mulai bergerak, suara lirih itu kembali bergema, bahkan sedang beringsut mundur dari situ, namun begitu dia menghentikan langkahnya, suara itu seketika ikut berhenti juga.

Keadaannya ketika itu persis seperti orang sedang bermain petak-umpet, namun beratus kali lipat lebih berbahaya, di tengah keheningan yang mencekam, hanya suara hembusan angin yang terdengar.

Sekalipun Un Tay-tay sudah tidak memikir­kan keselamatan sendiri, tidak urung bergidik juga perasaannya waktu itu.

Rasa takut yang muncul secara spontan terhitung salah satu titik kelemahan yang dimiliki manusia dan tidak mungkin bisa dihindari.

Sekali lagi Un Tay-tay menghentikan langkahnya sambil membentak:

"Siapakah kau?"

Hanya ada suara angin yang menggoyang rerumputan, suasana di sekeliling situ tetap sepi, hening, tiadajawaban.

"Kedatanganku tidak bermaksud buruk," kembali Un Tay-tay berkata, "siapa pun dirimu, tolong tampil, mari kita bersua muka."

Kali ini dia berbicara dengan suara yang lebih keras, tapi suasana tetap hening, tiadajawaban yang terdengar di sekeliling sana.

Sepanjang perjalanan hidupnya, sudah cukup banyak tempat berbahaya yang dikunjungi, namun betapa berbahayanya tempat itu, ancaman bahaya yang muncul selalu dapat dia lihat dan saksikan secara jelas.

Sebaliknya berada di balik padang rumput yang begitu lebat, meski sepintas tempat itu nampak aman tenteram, padahal setiap jengkal tanah yang ada di situ tersimpan ancaman bahaya maut yang menakutkan, mara bahaya yang tidak terlihat dan tidak gampang ditebak itu sesungguhnya jauh lebih berbahaya ketimbang tempat yang paling berbahaya sekalipun.

Tidak tahan lagi dia mulai bergumam dan memaki:

"Sialan benar rerumputan di sini, kenapa tumbuh begitu lebat dan tinggi...."

"Sreeet!", belum selesai dia bergumam, suara desingan lirih kembali bergema dari balik rerumputan.

Un Tay-tay terkesiap, tanpa mempedulikan wajahnya tersayat oleh ujung rumput, dengan cepat dia melesat maju ke depan, begitu cepat gerakan tubuhnya membuat rerumputan berdesis nyaring.

Suasana tetap hening, tidak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Dua mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, namun tubuhnya kembali terkurung di balik rerumputan yang tinggi dan lebat, kinLmau tak mau bergidik juga perasaan Un Tay-tay.

Tidak kuasa menahan gejolak perasaannya, kembali dia berteriak:

"Apakah kau tidak dapat mengenali suara­ku? Aku adalah Un Tay-tay! Apakah kau adalah Hek Seng-thian? Pek Seng-bu? Suto Siau? Seng Cun-hau?"

Secara beruntun dia menyebut beberapa nama, tapi masih tidak ada jawaban.

Dengan kening berkerut kembali dia berpikir, “Jangan-jangan memang tidak ada manu sia di depan sana? Jangan-jangan aku yang salah mendengar? Tapi bagaimana pun hanya ada jalan maju bagiku, apapun yang bakal terjadi aku harus tetap menerjang maju ke depan.”

Berpikir sampai di situ, sambil mengertak gigi ia menerjang maju ke depan.

Langit lambat laun bertambah gelap, angin berhembus makin lama semakin kencang.

Mendadak Un Tay-tay menginjak tempat kosong, rupanya dia sudah terperosok ke dalam perangkap, tidak ampun tubuhnya langsung roboh terjungkal ke bawah.

Jangan dilihat usianya masih muda, pengalamannya dalam dunia persilatan justru amat luas dan matang, dalam keadaan seperti ini meski hatinya tercekat, namun tidak membuat pikirannya kalut, cepat sepasang lengannya digetarkan ke samping, dia memaksakan diri melambung ke udara dan menjatuhkan diri ke sisi lain.

Siapa tahu baru saja ujung kakinya menyentuh permukaan tanah, mendadak muncul dua batang ranting pohon yang melejit dari samping rerumputan, ranting pohon yang tajam bagaikan sebilah pedang, dengan membawa desingan tajam langsung melesat ke arah tubuhnya.

Sambil memutar tangannya melepaskan gempuran, Un Tay-tay merangsek maju ke depan, dengan gerakan Liong heng it sih (gerakan naga sakti) dia menyusup ke muka.

Siapa tahu kakinya kembali menginjak tempat kosong, tubuhnya jadi lemas dan tidak ampun sekali lagi dia roboh tertelungkup.

Kali ini dia telah menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki, sulit baginya untuk melambung lagi ke udara.

Tahu-tahu pandangan matanya jadi gelap, sebuah karung kain hitam sudah ditutupkan ke atas kepalanya hingga ke separoh tubuh, sepasang lengannya ikut terkerudung yang membuatnya tidak mampu berkutik lagi.

Un Tay-tay benar-benar mati kutu, begitu masuk perangkap, bukan saja dia tidak sempat melakukan perlawanan, bahkan langsung berhasil diringkus lawan.

Dengan perasaan kaget segera jeritnya:

"Siapa...."

Belum   sempat  kata "kau"  diucapkan, sebuah tangan yang besar dan kuat sudah membekap mulutnya, diikuti tubuhnya sudah dicengkeram dan diangkat orang itu.

Un Tay-tay mencoba meronta sekuat tenaga, sepasang kakinya menendang kian kemari.

Namun orang itu benar-benar memiliki tenaga yang luar biasa, sepasang tangannya kekar dan kuat bagaikan terbuat dari baja, jangankan melepaskan diri, mau meronta pun susahnya bukan kepalang.

Tahu-tahu ketiaknya terasa kesemutan, kemudian tubuhnya nyaris tidak mampu bergerak lagi, dia merasa tubuhnya seperti dipanggul orang di atas bahu dan dibawa pergi dari situ dengan langkah lebar.

"Siapa gerangan orang ini?" pikir Un Tay-tay, “Mau diapakan aku olehnya? Jangan-jangan orang ini punya dendam sakit hati denganku sehingga dia berani membokong aku?”

Menurut arah yang ditinggalkan tanda rahasia, seharusnya lembah ini merupakan tempat persembunyian yang digunakan Suto Siau sekalian, atau dengan perkataan lain Lui-pian Lojin pun berada di sini, lalu siapa pula yang berani bercokol di tempat ini selain mereka?

Setelah berpikir beberapa saat lamanya, Un Tay-tay seperti menyadari akan sesuatu, segera pikirnya, “Aaah, benar, sudah pasti Suto Siau masih teringat dendam sakit hatinya di masa lampau maka secara diam-diam membokong aku, dia pasti bermaksud hendak mempermalukan diriku.”

Berpikir begitu, dia malahan merasa jauh lebih lega.

Selang berapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar suara teguran seseorang, suara seorang wanita.

"Suko, kau benar-benar telah turun tangan?" terdengar perempuan itu bertanya.

Walaupun suara seorang wanita, namun nadanya jauh lebih kuat dan tegas ketimbang suara seorang pria.

Orang yang menggendong Un Tay-tay tidak menjawab, dia hanya mendengus.

Kembali perempuan itu berkata:

"Bukankah ayah berulang kali sudah berpesan, sebelum mengetahui asal-usul lawan, jangan sekali-kali kita turun tangan, jangan sampai tindakan kita malah “menggebuk rumput mengejutkan ular”, gara gara masalah kecil malah merusak rencana besar."

"Kau tahu siapakah perempuan ini?" terdengar lelaki itu bertanya dengan suara parau.

"Mana aku tahu, kenal pun tidak."

Sewaktu mengucapkan perkataan itu, logat suaranya yang semula kecut dan hambar kini berubah jauh lebih lembut, selembut suara seorang gadis muda.

Sambil mendengus, kata lelaki itu:

"Perempuan ini datang untuk mencari Suto Siau."

Biarpun hanya beberapa patah kata yang sederhana, namun mengandung rasa benci dan dendam yang luar biasa, seakan dia sudah membenci Suto Siau hingga merasuk ke tulang sumsum.

Terdengar gadis itu berseru tertahan, kemudian tidak berbicara lagi.

Selanjutnya suasana pun kembali hening, kedua orang itu tidak bercakap-cakap lagi.

Keheningan yang luar biasa sekali lagi menyelimuti udara, kecuali hembusan angin yang menimbulkan gelombang pada rerumputan, tak terdengar  suara  lain  lagi,  keheningan  yang menakutkan segera membuat hati Un Tay-tay makin tercekat.

"Siapa gerangan lelaki perempuan ini? Apakah mereka adalah musuh besar" “atau mungkin dia membenciku karena aku datang mencari Suto Siau? Atau takut aku datang mencari balas terhadap Suto Siau maka dia membekuk diriku lebih dulu?”

Hingga kini Un Tay-tay belum berhasil menebak siapa gerangan muda-mudi itu? Dia pun tak bisa menebak hendak dibawa kemana dirinya? Dan apa pula yang hendak mereka lakukan?

Tapi ia bisa merasakan betapa cepatnya gerakan tubuh kedua orang itu, kalau dilihat dari cara mereka bergerak dengan leluasa, dapat diduga mereka sudah cukup lama tinggal di situ sehingga bukan masalah bagi kedua orang itu untuk menentukan arah meski berada di tengah rimba rerumputan.

Setelah berjalan beberapa saat, tiba-tiba terdengar gadis itu berseru lirih:

"Berhenti!"

Un Tay-tay merasakan tubuhnya tenggelam ke bawah, ternyata pemuda itu sudah berjongkok bahkan sambil menahan napas.

Tidak lama kemudian dari balik rerumput-an di sebelah kanan terdengar suara langkah manusia diikuti suara gesekan ujung baju dengan rumput.

Un Tay-tay yang berada dalam punggung pemuda itu dapat merasakan debaran jantungnya yang berdetak kencang.

“Aneh” pikirnya keheranan, “kenapa pemuda ini nampak begitu tegang? Jelas dia kuatir si pendatang mengetahui kehadirannya, atau mungkin yang datang adalah musuh tangguhnya?”

“Betul-betul satu kejadian yang di luar dugaan, ternyata di tengah padang rumput yang begitu rahasia, terdapat dua aliran kekuatan yang saling bertentangan bagaikan air dan api, tapi selain kelompok Lui-pian Lojin, siapa pula kelompok yang lain? Berarti sepasang muda-mudi ini berasal dari kelompok yang bertentangan dengan Lui-pian Lojin.”

Begitu dicekam rasa ingin tahu, untuk sesaat dia malah melupakan keselamatan sendiri, sekarang dia hanya berharap orang yang berada dalam semak itu segera tampil agar dia tahu manusia macam apa yang telah datang.

Siapa tahu suara langkah itu tiba-tiba berhenti dan tidak terdengar lagi ketika mereka berada beberapa jengkal dari sumber suara, menyusul kemudian terdengar seorang wanita dengan nada suara tinggi melengking dan aneh berkata:

"Kalau kita berbicara di sini, sudah pasti tidak akan ada orang lain yang ikut mendengar."

Nada suara orang ini seperti suara orang muda, tapi seperti juga suara orang yang sudah tua.

Begitu mendengar suara itu, kontan jantung Un Tay-tay berdebar keras, pikirnya, “Ternyata Seng Toa-nio pun sudah tiba di sini!”

Suara yang mirip orang muda tapi mirip juga suara orang tua ini memang suara khas Seng Toa-nio, siapa pun orangnya, asal pernah mendengar suaranya satu kali saja, maka selamanya tak bakal melupakannya.

Walaupun Un Tay-tay tahu Seng Toa-nio pasti berada di balik rerumputan itu, tak urung hatinya tercekat juga mendengar suaranya.

Terdengar suara yang lain menyahut sambil menghela napas:

"Tidak nyana Lui-pian Lojin dapat menemukan tempat yang begini rahasia, sungguh menggelikan, sudah begini tersembunyi tempat ini, dia masih berkata di tempat ini pasti ada orang sedang mengintainya."

Sekali lagi Un Tay-tay merasa terperanjat setelah mendengar suara itu, pikirnya, "Ternyata Hek Seng-thian pun sudah muncul di sini.”

Dengan rasa ingin tahu yang makin membara, kembali dia berpikir:

"Sungguh aneh, kenapa Seng Toa-nio harus mengajak Hek Seng-thian untuk berbicara secara rahasia di sini? Rahasia apa yang hendak mereka bicarakan? Aku harus mendengarkan dengan seksama."

Di tengah hembusan angin yang meng­goyang rerumputan, suara pembicaraan kedua orang itu terdengar semakin lirih.

Terdengar Seng Toa-nio berkata sambil tertawa dingin:

"Menurut pendapatku, belakangan kesadar­an si tua bangka itu makin lama semakin tidak jelas, kalau kita harus mengikutinya terus menerus pergi tanpa tujuan, bagaimana mungkin pekerjaan besar dapat dilaksanakan?"

Hek Seng-thian turut menghela napas panjang.

"Aaaai... sayang posisi kita sekarang ibarat menunggang di punggung harimau, ingin kabur pun rasanya mustahil."

"Bagaimana jika umpamanya dia mampus?"

Kelihatannya Hek Seng-thian sangat terkejut oleh perkataan itu, sampai lama sekali dia baru berkata lagi:

"Siaute rada tidak paham dengan ucapan Toa-nio."

"Kau mengerti, kau pasti mengerti, malah sejak tadi aku sudah tahu di antara beberapa orang yang tersisa, hanya kau seorang yang paling pantas disebut lelaki sejati, itulah sebabnya aku hanya mengajakmu seorang."

Hek Seng-thian terbungkam dalam seribu bahasa.

Kembali Seng Toa-nio berkata:

"Walaupun tua bangka itu banyak curiga, namun sama sekali tidak menaruh rasa was was terhadap kita, asalkan kita campuri arak dalam buli-bulinya dengan obat racun, hehehe...."

Hek Seng-thian menarik napas dingin, bisiknya tergagap:

"Tapi... tapi... sekarang kita masih butuh kekuatannya sebagai sandaran, khususnya untuk membalas dendam, jika dia mati... bukankah keadaan ini malah merugikan kita semua?"

Kontan Seng Toa-nio tertawa dingin.

"Masa tidak kau lihat kedua jilid kitab yang berada dalam buntalannya? Di situlah dia telah mewariskan semua ilmu silat yang dimilikinya, asal dia mampus, maka kitab itu akan menjadi milik kita berdua."

Tergerak juga hati Hek Seng-thian sehabis mendengar perkataan itu, bisiknya tergagap:

"Tapi...."

"Sekarang si Ratu matahari sudah mengasingkan diri, Ya-te pun hilang jejaknya," tukas Seng Toa-nio cepat. "Asal kita berhasil mempelajari ilmu silat si Pecut geledek, dapat dipastikan kita pun bisa malang melintang dalam dunia persilatan tanpa tandingan, apa lagi yang kau ragukan?"

Hek Seng-thian menghembuskan napas panjang, katanya:

"Cuma... putranya itu meski kelihatan agak bloon, dia sangat   cerdas, aku kuatir kemampuannya malah jauh di atas kemampuan si tua bangka, aku kuatir sulit menghadapinya."

"Asal yang tua sudah mampus, masa kita masih takut dengan yang muda? Tidak usah menyebut orang lain, dengan mengandalkan sepasang tangan bajamu ditambah sekantung jarum bidadari langitku, ditambah lagi sebilah pedang dari Hau-ji, rasanya sudah lebih dari cukup untuk mencabut nyawanya!"

Kembali Hek Seng-thian membungkam tanpa menjawab.

Lewat beberapa saat kemudian Seng Toa-nio kembali bertanya:

"Bagaimana?"

"Asal Toa-nio mulai bertindak, Siaute pasti akan membantu."

Seng Toa-nio tertawa ringan, tiba-tiba tanyanya lagi:

"Menurutmu, bagaimana dengan Suto Siau?"

Hek Seng-thian nampak tertegun, sahutnya kemudian:

"Soal ini... Siaute...."

"Hmm! Orang ini sok pintar, dalam hal apapun dia ingin lebih menonjol dari siapa pun," kata Seng Toa-nio sengit, "bukan saja dia tidak pernah memandang sebelah mata terhadapku, dia pun tidak pernah memandang sebelah mata terhadap kalian semua, lihat saja, sampai muridmu pun direbut olehnya, masa kau tidak acuh terhadap semua ini?"

Untuk kesekian kalinya Hek Seng-thian menghembuskan napas panjang.

"Sebetulnya sejak lama Siaute sudah menaruh perasaan tidak suka terhadap orang ini, tapi mengingat kita semua berasal dari satu persekutuan yang sama, maka aku tidak ingin turun tangan terhadapnya."

"Asal kita sudah pelajari ilmu silat milik Lui-pian, buat apa manusia macam begitu?"

Hek Seng-thian termenung sejenak, kata-nya kemudian:

"Biarpun ilmu silat yang dimiliki orang ini tidak tangguh, tapi kelicikannya justru jauh melebihi seekor rase, rasanya tidak gampang menyingkirkan manusia macam begini."

"Kalau soal itu tidak perlu kuatir, aku sudah mempunyai rencana yang matang."

"Apa siasat Toa-nio? Bolehkan Siaute tahu?"

"Siasat ini tergantung pada Che Toa-ho serta Sun Siau-kiau."

"Sun Siau-kiau?" kelihatannya Hek Seng-thian tidak habis mengerti.

"Masa kau masih belum tahu manusia macam apakah Sun Siau-kiau itu?"

"Perempuan ini memang seorang yang amat berbahaya," Hek Seng-thian tertawa, "kelihatan­nya, kecuali suaminya, asal di kolong langit terdapat lelaki yang dianggap tampan, dia pasti akan berusaha untuk mencicipinya."

"Itulah dia, bukan saja dia telah berbuat tidak senonoh dengan Sim Sin-pek, bahkan berusaha pula menggaet putra Lui-pian, padahal orang yang benar-benar sudah terpikat oleh rayuan mautnya adalah Suto Siau, si rase tua itu."

"Ooh... benarkah itu?" seru Hek Seng-thian tercengang.

"Bukan baru satu dua hari mereka melakukan perzinahan, selama ini aku hanya mengawasi terus secara diam-diam, untuk sementara tidak bakal kusinggung rahasia ini, tapi bila kesempatan telah tiba...."

"Apa yang hendak kau lakukan bila kesempatan telah tiba?"

"Begitu kesempatan telah tiba, akan kuajak Che Toa-ho menyaksikan permainan busuk mereka, hmmm... hmmm... kalau sudah begitu, mana mungkin dia akan melepaskan Suto Siau begitu saja?"

"Tapi... tapi... belum tentu Che Toa-ho sanggup menghadapi Suto Siau."

Kontan Seng Toa-nio tertawa terkekeh.

"Mungkin saja Che Toa-ho bukan tanding­annya, tapi tujuh pendekar pelangi sehidup semati, jika Liong Kian-sik menyaksikan kejadian itu, memangnya dia hanya akan berpeluk tangan?"

"Betul," seru Hek Seng-thian sambil tertawa pula, "sehebat apapun kepandaian silat yang dimiliki Suto Siau, bila sudah dikerubut dua jago pedang, niscaya dia akan mampus di tangan mereka. Sementara kita cukup berpeluk tangan sambil menonton...."

"Tepat sekali, ternyata kau sudah mengerti."

Hek Seng-thian menghela napas panjang.

"Aaai... baru hari ini Siaute sadar, ternyata kecerdasan Toa-nio memang luar biasa, betapapun licik dan busuknya pikiran Suto Siau, kali ini dia bakal kenyang dijejali air bekas cuci kaki Toa-nio."

"Itulah yang disebut orang, jahe semakin tua semakin pedas, jangan lupa dengan pepatah ini."

"Siaute berharap Toa-nio bisa sukses besar dengan rencana besar ini, agar Siaute pun ikut kecipratan rezekinya"

"Begitu berhasil, semua keuntungan dapat kita nikmati bersama. Aaai, Cun-hau si bocah itu kelewat keras kepala, maka dalam hal ini aku pun telah mengelabui dirinya, aku berharap kau jangan membocorkan dulu rahasia ini kepadanya."

Hek Seng-thian tertawa lebar, katanya:

"Siaute belum gila, tidak nanti kubocorkan rahasia besar ini."

"Bagus sekali, kalau begitu kita putuskan kesepakatan ini."

Bicara punya bicara, dengan membawa senyum kepuasan, berlalulah kedua orang itu dari situ.

Un Tay-tay sendiri pun ikut menghembus­kan napas dingin sehabis mendengar pembicaraan itu, tanpa sadar telapak tangannya telah basah oleh peluh dingin, selain terkejut, dia pun kegirangan, pikirnya:

 “Tampaknya Thian memang sengaja mengatur segalanya agar aku ikut mendengar rencana keji itu, asalkan aku belum mati, asal aku masih dapat berjumpa dengan mereka, berdasarkan apa yang telah kudengar, pasti akan kubuat mereka babak-belur.”

Dalam pada itu suara langkah Seng Toa-nio dan Hek Seng-thian sudah semakin jauh dari sana sebelum akhirnya lenyap dari pendengaran.

Pada saat itulah si anak muda itu baru menghembuskan napas lega sambil berkata:

"Ternyata perkataan Samsiok memang benar, asal kita bisa bersabar dan menahan diri, suatu saat kawanan tikus dan ular berbisa itu pasti akan saling cakar dan gontok sendiri."

"Sejak kapan perkataan Samsiok pernah keliru," sahut si nona dengan suara sedih, "hanya saja... hanya saja dia orang tua berkata, Jiko dan Samko itu orang baik, orang baik selalu dilindungi Thian, cepat atau lambat mereka pasti akan kembali, aku ragu... benarkah perkataannya itu...? Aaaai! Kekuatan yang kita miliki sangat sedikit, bila Jiko dan Samko tidak kembali, aku kuatir... aku kuatir...."

Apa yang dia kuatirkan? Kelihatannya gadis itu tidak berani melanjutkan kembali kata-katanya.

Pemuda itupun menghela napas panjang, dia hanya membungkam dalam seribu bahasa.

Un Tay-tay yang mendengarkan pembicara­an itu tergerak hatinya, cepat dia berpikir, “Jiko? Samko? Siapa yang dimaksud?”

Sementara itu sang pemuda kembali menggotongnya pergi, dalam keadaan begini dia tak sempat lagi berpikir lebih seksama, hanya secara lamat-lamat dia mulai merasakan sesuatu yang tidak beres dengan persoalan ini.

Persoalan apa yang tidak beres? Dia sendiri tidak bisa menjawab.

Kembali mereka menempuh perjalanan selama setanakan nasi lamanya, tiba-tiba Un Tay-tay mengendus bau lembab yang sangat menusuk hidung menembus kain karung dan menyusup ke lubang hidungnya, kalau diendus dari baunya, kelihatan mereka sedang berjalan menelusuri sebuah lorong bawah tanah.

Dia dapat merasakan permukaan tanah yang sedang dilalui makin lama semakin rendah, bau lembab yang menusuk hidung pun terasa semakin menyengat.

Mendadak terdengar suara seseorang yang tua tapi penuh bertenaga sedang menegur:

"Siapa itu?"

"Ananda yang telah balik," sahut pemuda itu cepat.

"Kemana saja kalian telah pergi? Ayo, cepat masuk!"

Tiba-tiba terdengar lagi orang tua itu berseru tertahan, kemudian hardiknya:

"Tampaknya lagi-lagi kau sembarangan turun tangan? Siapa yang kau bopong?"

Sewaktu tidak marah pun suara orang tua itu sudah terdengar keras penuh wibawa, apalagi ketika naik darah, suaranya benar-benar meng­gidikkan hati.

Biarpun Un Tay-tay belum sempat bertemu orang itu, tapi dia bisa membayangkan betapa angker dan seramnya wajah orang tua itu.

Terdengar pemuda itu menyahut:

"Dia punya hubungan erat dengan Suto Siau

"Kalau memang musuh, tidak seharusnya kau turun tangan sembarangan!" tukas kakek itu gusar.

"Perempuan ini datang untuk mencari Suto Siau dan rombongan, tapi tidak berhasil menemu­kan mereka, maka ananda pikir ada baiknya membekuk dia, paling tidak jangan sampai mengganggu orang lain."

"Pikirmu?" ujar kakek itu semakin gusar, "kau anggap dalam menghadapi persoalan ini kau boleh berpikir sembarangan? Apakah tidak kau bayangkan bagaimana kondisi dan keadaan yang sedang kita hadapi sekarang? Apakah tidak kau bayangkan aku harus menggigit bibir dan berjuang mati-matian untuk bersabar hingga hari ini? Tahukah kau kenapa aku berbuat begini? Apakah tidak kau bayangkan kenapa paman Sim kalian bisa terjatuh ke tangan musuh? Sekarang ... sekarang kau berani berbuat semaunya, kau... kau anak tidak tahu diri, apakah kau benar-benar ingin mengubur semua jerih parah dan darah keringat yang telah kukorbankan selama ini di tanganmu seorang?"

Makin bicara dia semakin gusar, Un Tay-tay dapat merasakan tubuh anak muda itu mulai gemetar keras, gemetar karena takut.

Terdengar suara seseorang segera berkata:

"Harap Toako jangan marah dulu, mari kita bicarakan setelah memeriksa siapa gerangan perempuan yang dia tangkap."

Biarpun suara ini rendah, berat dan berwibawa namun nadanya jauh lebih lembut dan halus.

Kakek itu segera mendengus dingin.

"Kenapa masih belum diturunkan!" hardik­nya.

Dengan nada gemetar pemuda itu mengiakan, kemudian dia menurunkan tubuh Un Tay-tay ke atas tanah.

Kembali kakek itu berseru:

"Kalian berdua berjaga di depan pintu, Samte, kau bebaskan totokan jalan darahnya."

Belum selesai ia berbicara, sudah ada sebuah tangan menepuk tubuh Un Tay-tay.

Begitu tertotok bebas jalan darahnya, Un Tay-tay menghela napas perlahan sambil menggeliat.

Terdengar kakek itu kembali membentak gusar:

"Sudah tiba di sini kau masih berani berbuat latah, memangnya sudah bosan hidup?"

"Benar, aku memang sudah bosan hidup," jawab Un Tay-tay pedih.

Kelihatannya kakek itu dibuat tertegun, sesaat kemudian kembali bentaknya:

"Siapa kau?"

Un Tay-tay tidak langsung menjawab, perlahan dia melepaskan karung goni yang menutupi kepalanya.

Ternyata tempat dimana ia berada sekarang adalah sebuah gua yang tidak terlalu kecil, sebatang opor yang menancap di atas dinding menerangi seluruh ruangan.

Di antara kilatan cahaya yang redup, terlihat seorang kakek   berwajah penuh wibawa mengenakan jubah dengan warna yang sudah luntur dan berwajah penuh cambang bagaikan malaikat geledek, berdiri tegak persis di hadapan­nya.

Di samping kakek itu berdiri pula seorang kakek lain, dia berperawakan tinggi dengan wajah yang lembut dan gagah, bisa dibayangkan semasa mudanya dulu dia pasti seorang pemuda tampan.

Sementara muda-mudi yang menangkapnya tadi berdiri di sisi ruangan, yang lelaki bertubuh pendek kecil tapi kekar dan nampak gagah, sedangkan yang wanita meski berwajah cantik namun penampilannya tampak keras dan penuh semangat.

Pakaian yang dikenakan keempat orang itu nampak amat buruk, penampilan wajah mereka pun nampak agak sayu, tapi sinar matanya tetap tajam penuh semangat, mendatangkan perasaan bergidik bagi yang melihatnya.

Un Tay-tay memandang kakek itu sekejap, setelah menghela napas, ujarnya:

"Ternyata apa yang kuduga tidak salah."

"Apa yang kau duga?" hardik kakek itu

"Ternyata tampang dan penampilanmu persis seperti apa yang kuduga."

Kakek itu kembali tertegun, paras mukanya kontan berubah hebat.

Begitu pula dengan ketiga orang lainnya, air muka mereka ikut berubah.

Kakek itu kembali maju selangkah, dengan sorot mata setajam sembilu ditatapnya Un Tay-tay lekat-lekat, bentaknya:

"Kau bisa membayangkan tampangku? Jadi kau sudah tahu siapakah Lohu?"

"Benar, aku sudah mengetahui siapakah kau orang tua."

"Siapa? Cepat katakan!"

"Aku rasa kau orang tua adalah Ciang bunjin Thiat hiat tay ki bun...."

Belum selesai ia berkata, kakek itu sudah menerkam ke depan, dengan tangan sebelah menarik tubuh Un Tay-tay, tangan yang lain diayunkan siap menampar wajah perempuan itu.

Un Tay-tay sama sekali tidak meronta, dia pun tidak berusaha melawan, ditunggunya kakek itu menampar wajahnya dan ditatapnya kakek itu dengan pandangan tenang, lembut, sama sekali tak terlintas sedikit rasa takut pun.

Ketika sampai di tengah jalan, mendadak kakek itu menarik kembali telapak tangannya, dengan suara keras kembali bentaknya:

"Cepat katakan! Siapa kau? Darimana tahu asal-usulku? Hmmm, kalau berani bicara bohong, akan kusuruh kau menikmati siksaan yang paling keji dari Thiat hiat tay ki bun!"

Di balik nada suaranya yang nyaring bagai guntur, terselip hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati!

Tapi Un Tay-tay sama sekali tidak jeri, malah sedikitpun tidak ada rasa takut atau seram, sekulum senyuman manis tersungging di ujung bibirnya.

"Sudah banyak kudengar tentang kehebat­an siksaan yang berlaku dalam perguruan Tay ki bun, bahkan keseramannya sudah tersohor di seantero jagad, sayangnya, mati pun aku tidak takut, apa lagi yang mesti kutakuti? Bila kau mengancam dengan siksaan, biar sampai mati pun aku tak bakal bicara."

Kakek itu tidak lain adalah Ciang bunjin Thiat hiat tay ki bun yang tersohor karena ketegasan serta watak keras kepalanya, Im Gi.

Selama ini keangkeran serta kewibawaan­nya selalu membuat ciut hati siapa pun, belum pernah ada seorang pun yang tidak dibuat pecah nyali oleh perkataannya, tapi sekarang, dia benar-benar tidak menyangka perempuan di hadapannya begitu bernyali, berani membangkang perintahnya.

Biarpun perasaannya sekarang penuh diliputi rasa gusar bercampur tercengang, tidak urung muncul juga suatu perasaan aneh di hatinya, dengan sorot mata berapi ditatapnya Un Tay-tay tanpa berkedip, kemudian ancamnya:

"Jadi kau benar-benar tidak mau bicara?"

Un Tay-tay mengedipkan mata sambil balik menatap kakek itu, lalu sambil tersenyum dia menggeleng.

"Baik!" bentak Im Gi gusar.

Untuk kedua kalinya dia mengangkat telapak tangannya, tapi tindakannya itu segera dicegah kakek berwajah tampan.

Dengan gusar teriak Im Gi:

"Bukan saja perempuan ini datang sebagai mata-mata untuk mencari berita, dia bahkan begitu berani terhadapku... kau... kenapa kau menarikku? Memangnya kau masih ingin mempertahankan hidupnya?"

Kakek berwajah tampan yang tidak lain adalah Im Kiu-siau, segera menyahut:

"Kalaupun ingin turun tangan, rasanya belum terlambat bila kita tanyai dulu maksud kedatangannya."

Orang ini selalu tampil tenang, halus, sama sekali tanpa emosi, sangat bertolak belakang bila dibandingkan watak Im Gi yang keras dan gampang naik darah.

Kelihatannya Im Gi sangat menurut pada perkataannya, benar saja, dia segera menarik kembali tangannya sambil mundur tiga langkah ke belakang.

Perlahan-lahan Im Kiu-siau berpaling kearah Un Tay-tay, kemudian katanya dengan lembut:

"Bila kami gunakan cara kekerasan dan alat siksa, kau enggan berbicara, sebaliknya kalau kami perlakukan dirimu dengan baik, tentunya kau bersedia untuk bicara bukan?"

"Benar", sambil tersenyum Un Tay-tay manggut-manggut.

"Kalau memang begitu, kau boleh berbicara sekarang."

Un Tay-tay menghela napas panjang, katanya:

"Biar aku tidak pernah bersua dengan kalian, namun sudah sering mendengar dari orang lain tentang tindak-tanduk serta cara kalian bersikap, itulah sebabnya begitu bersua muka hari ini, aku segera dapat menebak siapakah kalian sebenarnya."

Kemudian setelah tertawa, lanjutnya:

"Aku yakin kau pastilah Im Kiu-siau, tokoh paling cerdas dan paling berakal dalam perguruan Tay ki bun, sementara dua orang yang ada di belakang pastilah Im Ting-ting serta Thiat Cing-su."

Tampaknya Im Kiu-siau sendiri pun tidak menyangka gadis di hadapannya begitu menguasai tentang orang-orang perguruan Tay ki bun, paras mukanya sedikit berubah, ujarnya dengan suara berat:

"Siapa yang mengatakan semua itu kepadamu?"

"Im Ceng... Thiat Tiong-tong...."

Paras muka Im Kiu-siau berubah makin hebat, sementara Im Ting-ting serta Thiat Cing-su menjerit tertahan.

Paras muka Im Gi kelihatan berubah hebat, gejolak emosi, umpatnya:

"Dasar binatang! Binatang! Tidak kusangka kedua orang binatang ini berani membocorkan rahasia perguruan kepada orang lain, Losam, sudah kubilang lebih baik kita cabut nyawa mereka, tapi kau selalu menampik, coba lihat sekarang... aaai! Akhirnya mereka lakukan juga perbuatan terkutuk ini, kau... kau... apa lagi yang hendak kau katakan?"

Im Kiu-siau menghela napas panjang, ia menundukkan kepala dan tidak bicara lagi.

"Mereka mau bicara denganku, karena aku pun bukan orang luar," ujar Un Tay-tay lembut.

"Apa... apa kau bilang?" bentak Im Gi gusar.

"Karena aku adalah istri Im Ceng!"

Begitu perkataan itu diucapkan, semua orang tertegun dan berdiri bodoh, untuk beberapa saat mereka tidak mampu bergerak, bahkan mengucapkan sepatah kata pun tidak sanggup.

Sekali lagi Im Gi membentak gusar, serunya sambil menghentakkan kaki berulang kali:

"Berontak! Berontak! Dendam berdarah perguruan pun belum terbalas, binatang ini malah berani mencari bini di luaran, bedebah!"

Dengan satu lompatan dia merangsek ke hadapan Un Tay-tay, kembali sebuah pukulan siap dilontarkan.

Im Ting-ting menjerit kaget, cepat dia melompat ke muka dan menghadang di hadapan Un Tay-tay.

"Minggir kau!" bentak Im Gi semakin sewot.

"Kalau dia memang bini Samko, kau... kau orang tua seharusnya...."

"Lohu tidak mengakui perkawinan ini! Binatang, mau minggir tidak?"

Tapi Im Ting-ting tetap  menghadang dihadapannya, sementara air mata telah bercucuran membasahi pipinya.

Sambil memeluk kaki ayahnya, gadis itu merengek dengan air mata berderai:

"Bila kau orang tua tidak mau mengakui perkawinan ini, suruh saja mereka bercerai, kenapa mesti menghabisi nyawanya?"

"Siapa bilang aku bersedia cerai dengan­nya?" tiba-tiba Un Tay-tay berkata.

Biarpun perkataan itu diucapkan dengan lembut, namun terkandung keteguhan hatinya yang sudah bulat.

Im Gi semakin gusar, belum sempat mengucapkan sesuatu, Im Ting-ting sudah berkata lebih dulu:

“Kau... buat apa kau memaksakan diri...."

Un Tay-tay tertawa pedih, katanya:

"Tidak seorang pun di dunia ini yang bisa merebutnya dari sisiku... selamanya dia akan menjadi milikku, tahukah kalian? Selamanya... selamanya...."

Belum lagi orang lain memahami maksud perkataannya, dengan wajah berubah hebat Im Kiu-siau telah menjerit kaget:

"Jangan-jangan dia... dia sudah...."

Perlahan-lahan Un Tay-tay memejamkan mata, untaian air mata kembali berderai membasahi pipinya.

"Selamanya kalian tidak bakal bisa bertemu lagi dengannya," gumamnya seperti orang sedang mengigau dalam mimpi.

Kontan saja Im Ting-ting menjerit lengking, Thiat Cing-su roboh terduduk ke lantai, paras muka Im Kiu-siau pucat-pias bagai mayat, sementara Im Gi seperti kepalanya dipukul martil besar, seolah tertancap di tanah tanpa berkutik.

Lewat lama kemudian tubuhnya yang tinggi kekar bagaikan bukit karang itu mulai gemetar keras, tiba-tiba dia menjerit lengking, sambil merobek pakaian di bagian dada, dia membentak nyaring:

"Siapa yang telah mencelakainya?"

Un Tay-tay menggeleng, dia hanya meme­jamkan mata tanpa menjawab.

Dengan sekali sambaran, Im Gi menceng­keram rambut perempuan itu, jeritnya lagi:

"Katakan! Cepat katakan! Hutang darah ini harus ditebus dengan lelehan darah!"

Un Tay-tay masih tetap mengertak gigi, tidak sepatah kata pun yang diucapkan.

Tiba-tiba Im Ting-ting menjatuhkan diri berlutut di hadapannya, dengan air mata berlinang, pintanya:

"Kumohon... kumohon kepadamu, katakan­lah nama musuh besar pembunuh Samkoku, kalau tidak... kalau tidak, aku akan segera bunuh diri di hadapanmu."

Air mata mulai bercucuran membasahi wajah Un Tay-tay, katanya pedih:

"Bukan aku enggan menyebutkan nama musuh besarnya, justru karena sudah kukatakan pun tidak ada gunanya...."

"Kenapa? Kenapa tidak berguna?" teriak Thiat Cing-su nyaring.

"Karena tidak seorang pun di dunia ini yang sanggup membalaskan dendam sakit hatinya," kata Un Tay-tay sambil roboh ke tanah:

"karena orang yang memaksanya mati adalah... adalah Jit ho Nio nio dari pulau Siang cun-to yang tak ada tandingannya."

Sambil menjerit keras Im Gi mundur tiga langkah ke belakang, dia jatuh terduduk di atas sebuah batu hijau.

Dengan wajah pucat keabu-abuan, seru Im Kiu-siau pula:

"Dia sudah mati? Apakah Tiong-tong tahu?"

Tiba-tiba Un Tay-tay mendongakkan kepala, sekarang dia sendiri pun tidak tahu yang meleleh di wajahnya itu air mata atau darah?

"Thiat Tiong-tong sama sekali tidak tahu," sahutnya dengan suara parau:

"karena... karena Thiat Tiong-tong sudah mati lebih dulu!"

Sekalipun kawanan jago perguruan Tay ki bun terhitung manusia dengan hati sekuat baja pun, tak urung mereka sangat terpukul juga setelah mendengar berita ini.

Ketika Un Tay-tay selesai berkata, perubah­an mimik muka Im Gi sekalian benar-benar tak terlukiskan dengan perkataan apapun... memang tidak seorang pun yang tega melukiskan perubahan wajah orang-orang itu.

Lama dan lama kemudian, Im Gi baru bertanya:

"Ke... kenapa dia bisa mati?"

Kakek yang selama ini tampil gagah dan ulet bagaikan lempengan baja itu sekarang gemetaran keras, semua kewibawaan dan keangkerannya seolah tersapu bersih oleh air mata.

"Aku terlebih tidak boleh menyebut nama orang yang telah mencelakainya," jawab Un Tay-tay kaku.

Mendadak Im Ting-ting melolos sebilah golok tajam dari balik bajunya, lalu ditempelkan di atas dada sendiri.

Dengan air mata bercucuran dan mata memerah bagaikan darah, sepatah demi sepatah dia mengancam:

"Kalau kau enggan bicara, aku segera akan bunuh diri!"

Sambil mengertak gigi dan air mata berlinang Un Tay-tay tetap menggeleng.

"Baiklah!" mendadak Im Ting-ting menekan tangannya ke dalam, ujung golok pun seketika menghujam di atas dadanya, percikan darah segar berhamburan kemana mana, asal dia menghujam sedikit lebih ke dalam, niscaya ujung golok itu akan merobek jantungnya.

Mati-matian Un Tay-tay menarik tangannya sambil menangis tersedu, jeritnya:

"Apakah kalian ingin aku mengatakannya? Baik, akan kukatakan, orang yang telah mencelakai Thiat Tiong-tong adalah... adalah... Im Ceng...!"

"Trangg!", golok itu jatuh rontok ke tanah.

Im Ting-ting langsung jatuh tidak sadarkan diri, sementara Thiat Cing-su tidak sanggup bangkit berdiri.

"Apa? Im Ceng?" seru Im Kiu-siau pula seperti kehilangan sukma:

"benarkah begitu?"

"Tidak! Bukan begitu, kalian... lebih baik bunuhlah aku!"

Sambil berseru dia segera menjatuhkan diri ke tanah.

Cepat Im Kiu-siau membimbingnya bangun, katanya dengan nada mengenaskan:

"Hidup sekian tahun memangnya aku belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Aku., aku hanya merasa sayang, semestinya Tiong-tong adalah... adalah seorang bocah yang mempunyai kemampuan hebat...."

"Betul," sambung Im Gi pula sambil manggut-manggut, "dia adalah seorang anak baik, bila Thian membiarkan dia hidup lebih lama lagi, niscaya dia akan melakukan karya maha besar untuk perguruan Tay ki bun kita, hanya sayang... hanya sayang...."

Mendadak ia mendongakkan kepala sambil berteriak kesal:

"Thian, oooh Thian! Kenapa kau biarkan dia mati muda? Perguruan Tay ki bun sangat membutuhkan tenaganya, kenapa kau biarkah dia mati? Bagaimana dengan kami sekarang? Selama hidup dia memang banyak melakukan kesalahan, tapi semua kesalahan, dia lakukan demi orang lain, kesalahan yang pantas dimaafkan... selama hidup dia belum pernah melakukan kesalahan karena urusan pribadi...."

"Betul," ujar Un Tay-tay pula sambil menangis, "kalian semua telah salah menuduhnya, kalian sudah tahu bahwa dia itu orang baik, semasa hidupnya kenapa kalian selalu memojok-kan dirinya?"

Sambil memukul tanah dengan tangannya, dia berteriak lebih jauh:

"Bila kalian tahu semua perbuatannya selama ini hanya demi orang lain, demi perguruan Tay ki bun, kenapa semasa hidupnya kalian justru menuduhnya sebagai murid murtad, pengkhianat perguruan? Sekarang dia sudah mati, percuma kalian mengucapkan perkataan semacam itu, sudah kelewat terlambat! Selamanya dia... dia tidak akan mendengar lagi."

Im Gi mengepal sepasang tinjunya kuat-kuat, meski tidak berbicara maupun bergerak, namun sorot matanya telah berubah jadi merah darah, rambutnya berdiri kaku bagai landak, tampangnya saat itu benar-benar menakutkan.

Pada saat itulah, mendadak dari luar gua berkumandang suara pekikan nyaring yang menusuk pendengaran....

 

Walaupun saat itu Thiat Tiong-tong belum mati, keadaannya sudah tidak berbeda jauh dengan orang mati.

Istana bawah tanah yang semula indah dan megah, kini telah berubah menjadi neraka dunia yang amat mengenaskan, gelak tertawa, teriakan canda yang dulu mewarnai suasana di situ kini hanya tersisa isak tangis yang memedihkan hati.

Tidak seorang pun di antara kawanan wanita itu yang bisa menghentikan isak tangisnya.

Luka yang diderita San-san sebetulnya sudah mulai membaik, tapi sekarang tambah hari lukanya bertambah parah dan berat, sampai akhirnya dia kurus kering tinggal kulit pembung­kus tulang, setiap hari kondisinya semakin memburuk dan tidak pernah sadar.

Setiap kali mendusin dari pingsannya, dia pun mulai berteriak:

"Tolong, maafkan aku... maafkan aku... aku mohon...."

Dia berusaha sekuat tenaga bergelut melawan maut, karena dia tahu, begitu mati maka selamanya tidak ada kesempatan lagi baginya untuk menebus dosa.

Hanya dikarenakan dorongan emosinya, semua orang harus menanggung akibatnya, terkubur hidup-hidup dalam ruang bawah tanah yang lebih mengenaskan daripada neraka, apakah kesalahan besar yang telah dilakukannya bisa ditebus hanya dengan sebuah kematian?

Tapi yang membuatnya paling menyesal adalah gara-gara ulahnya Thiat Tiong-tong ikut terkurung dalam ruang bawah tanah, dia lebih suka pemuda itu mencincangnya hingga hancur berkeping-keping ketimbang menanggung rasa sesal yang membuatnya sangat tersiksa.

Tapi sikap Thiat Tiong-tong terhadapnya justru amat tenang, pemuda itu malah menghibur­nya:

"Semuanya ini merupakan kehendak Thian, kau tidak perlu menyesal."

Penampilan anak muda itu memang sangat tenang dan sama sekali tidak nampak panik, padahal siapa yang bisa membayangkan betapa menderita dan tersiksanya perasaan pemuda itu?

Masa hidupnya belum terlalu lama, saat itu dia masih harus berjuang untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan besar, sementara orang yang paling dikasihi pun sedang menjalankan nasib tragis di luar sana.

Tapi kini dia sama sekali tidak berdaya, dia tidak memiliki kemampuan untuk membantunya.

Dia tidak boleh mati, dia pun tidak ingin mati, tapi sayang dia tidak berhasil menemukan cara yang tepat untuk hidup lebih jauh, dia pun tidak berhasil menemukan alasan yang tepat untuk hidup terus....

Kalau diharuskan hidup terus dalam ruangan bagaikan neraka ini, bukankah jauh lebih baik mati ketimbang hidup?

Di samping semua itu, masih ada satu penyesalan besar yang masih mengganjal hatinya.

Dia sempat bertanya kepada Ya-te, memohon penjelasan dari si Kaisar malam:

"Aku mohon kepada kau orang tua, katakanlah rahasia yang menyelimuti perguruan Tay ki bun kami, bila kau orang tua enggan mengatakannya, aku betul-betul akan mati tidak meram!"

Tapi jawaban dari Kaisar malam sungguh di luar dugaannya.

"Rahasia apa? Siapa bilang ada rahasia?"

Thiat Tiong-tong segera menjatuhkan diri berlutut, memohon kepadanya.

Kaisar malam pun menjawab:

"Sekalipun ada sesuatu rahasia, aku sendiri pun tidak tahu, lebih baik kau tidak usah mencari tahu, dengan begitu kau bisa mati dengan perasaan tenang, sebab kalau tidak, kau bisa menjadi gila, jadi sinting karena persoalan ini."

Thiat Tiong-tong tidak paham maksud perkataannya itu, dia pun tidak mampu bertanya lagi.

Sebab sekalipun dia mengulang pertanyaan yang sama, belum tentu Kaisar malam bersedia menanggapi.

Kakek maha sakti yang di masa lalu menggetarkan kolong langit itu, kini hanya duduk melongo siang maupun malam, bukan cuma tidak bergerak, makan pun enggan.

Ketika dia enggan melakukan sesuatu, maka tidak seorang pun di kolong langit yang dapat memaksanya. Ketika dia enggan mengucap-kan sesuatu, siapa pula manusia di kolong langit ini yang bisa memaksanya mengucapkan sepatah kata saja?

Kulit tubuhnya yang semula kencang penuh berotot, kian hari kian bertambah kusut dan layu, mulai muncul banyak kerutan, sorot matanya yang semula tajam bagaikan sembilu pun makin lama semakin rendup, semakin tidak bercahaya....

Tampaknya kekuatan hidup yang cemerlang sudah berlalu seiring berjalannya sang waktu, seinci demi seinci bergerak lenyap dari dalam tubuhnya.

Pelapukan yang terjadi tanpa suara dan tanpa wujud ini nampaknya segera akan memus­nahkan seluruh kehidupannya, tiada seorang pun di dunia ini  yang bisa menghalanginya, tidak seorang pun dapat menolongnya.

Manusia luar biasa kelihatannya segera akan roboh.

Tidak jauh berbeda dengan keadaan yang dialami Thiat Tiong-tong, kekuatan apa pula yang dia miliki untuk menopang kehidupan ini?

Kalau seseorang sudah kehilangan harapan, mungkinkah akan tumbuh semangat juang dalam dirinya?

Di tengah keputus asaan, kematian makin lama semakin mendekat!

Thiat Tiong-tong hanya bisa berdoa kepada Thian, "Oooh, Thian, kumohon kepadamu berilah kehidupan yang layak untuk Im Ceng, dialah satu-satunya harapan untuk membangkitkan kembali kejayaan perguruan Tay ki bun, semua harapan yang tersisa kini hanya ada di atas pundaknya."

Tapi... dimanakah Im Ceng sekarang? Apakah dia pun masih hidup?

Thiat Tiong-tong rela mengorbankan segala­nya asal bisa memperoleh berita tentang Im Ceng, tapi seandainya saat itu dia benar-benar memper­oleh berita tentang Im Ceng, mungkin pemuda ini sudah membenturkan kepalanya ke atas batu cadas dan bunuh diri.

 

BAB 36.

Badai di Padang Rumput.

 

Pintu gua menuju ke markas besar perguruan Tay ki bun sebenarnya terletak sangat rahasia dan tertutup rapat, tapi suara pekikan nyaring yang berkumandang saat itu justru bersumber dari luar gua, begitu nyaring suaranya membuat semua orang merasa bergetar, membuat gendang telinga semua orang terasa sakit.

"Sungguh amat sempurna tenaga dalam yang dimiliki orang ini!" batin Un Tay-tay dengan perasaan terkesiap.

Baru saja ingatan itu melintas, pikiran lain kembali menyelimuti perasaannya, dia teringat kembali suara pekikan panjang Lui-pian Lojin sewaktu menggetarkan pintu gerbang kuil Siau-lim-si tempo hari, pikirnya, “Jangan-jangan yang datang adalah Lui-pian Lojin? Tapi kenapa pula dia berpekik nyaring seorang diri di luar sana?”

Apa yang sebenarnya terjadi? Un Tay-tay tidak perlu berpikir lebih jauh karena segera diperoleh jawabannya.

Selesai berpekik nyaring, Lui-pian Lojin berseru:

"Hei, manusia yang bersembunyi dalam gua, cepat menggelinding keluar!"

Semua orang terperanjat, tiba-tiba Im Gi melompat bangun, dengan satu gerakan cepat dia tampar wajah Thiat Cing-su dengan keras.

Dengan perasaan kaget bercampur ketakutan, teriak Thiat Cing-su gemetar:

"Kau... kau orang tua

"Kalau bukan gara-gara kau membocorkan jejak kita, mana mungkin dia bisa menemukan kita di sini?" teriak Im Gi gusar.

Pucat keabu-abuan wajah Thiat Cing-su saking takutnya, bibirnya gemetar keras seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tidak sepatah kata pun sanggup diucapkan.

"Samte, segera laksanakan hukum perguru­an..." tukas Im Gi lagi.

Baru saja dia menyebut soal hukuman, suara pekikan yang bergema di luar gua kembali sudah berkumandang.

"Kenapa kalian belum juga menggelinding keluar?" teriak Lui-pian Lojin dari luar gua, "hemmm... hemmm .... Lohu sudah menduga di balik padang rumput pasti bersembunyi sesuatu, percuma saja kalian bersembunyi terus...."

Begitu mendengar perkataan itu, Im Kiu-siau segera menghembuskan napas lega, ujarnya sambil menghela napas:

"Ternyata dia belum berhasil menemukan jejak kita, saat ini dia baru menaruh curiga saja, pekikan nyaring yang dia lakukan tak lebih hanya gertak sambal belaka, untuk menakut-nakuti kita."

Diam-diam Thiat Cing-su ikut menghem­buskan napas lega, dia berdiri sambil menunduk­kan kepala.

Im Gi berdiri mematung dengan sepasang kepalannya menggenggam kencang, wajahnya nampak tersiksa dan penuh penderitaan.

Melihat mimik muka orang tua itu, Un Tay-tay ikut menghela napas, pikirnya, “Kelihatannya orang tua ini mulai menyesal karena salah menghajar Thiat Cing-su, tapi dengan tabiatnya yang keras.... Aaaai, dia lebih suka batinnya tersiksa ketimbang menghibur orang lain, orang macam begini tak nanti mau mengakui kesalahan sendiri”

Ternyata dugaannya keliru, tiba-tiba Im Gi dengan tangan gemetar keras mulai membelai kepala Thiat Cing-su.

Pemuda ini lahir dalam perguruan Tay ki bun, tumbuh dewasa di Tay ki bun, selama dua puluh tahun belum pernah ia lihat Ciang bunjin melakukan tindakan seperti ini, untuk sesaat dia malah berdiri tertegun dibuatnya.

Dia sangka Ciang bunjin ingin menghukum dirinya lagi, tubuhnya gemetar keras saking takutnya, meski begitu dia tetap berdiri di tempat sambil mengertak gigi, sama sekali tidak berani menghindar.

Im Gi semakin tersiksa batinnya setelah melihat kejadian ini, sambil menghela napas panjang, katanya:

"Kau tak usah takut, nak, aku... aku hanya....Aaaai!"

Setelah menghentakkan kaki berulang kali, lanjutnya:

"Aku telah salah bersikap terhadap saudara tuamu, kini sudah seharusnya aku bersikap lebih baik terhadapmu, tapi... aaai! Watak kerasku tidak pernah bisa berubah."

Perkataan semacam inipun belum pernah didengar Thiat Cing-su sebelumnya, dia nyaris tidak percaya dengan pendengaran sendiri, wajah-nya segera menampilkan perasaan terkejut bercampur gembira.

Sepasang mata Im Gi pun menampilkan cahaya berkilat, dadanya nampak naik turun tidak beraturan, lewat beberapa saat kemudian akhirnya dia berkata kembali:

"Nak, aku telah salah menuduhmu... kau jangan membenciku."

Thiat Cing-su segera menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah, katanya dengan suara parau:

"Sudah sepantasnya bila kau orang tua melakukan suatu tindakan terhadap anak-anak, kau tidak usah berkata begitu... setelah ananda mendengar perkataan kau orang tua hari ini, sekalipun harus segera mati pun aku... aku tetap merasa gembira...."

Pemuda keras kepala yang sebenarnya mempunyai watak keras bagaikan seekor kerbau ini kontan mengucurkan air mata sehabis mendengar perkataan itu.

Im Gi berdiri mematung bagaikan sebuah arca, diam-diam dia melelehkan juga air matanya, air mata sedih.

Sementara Im Kiu-siau diam-diam manggut manggut, dia ikut terharu menyaksikan adegan itu, sedang Im Ting-ting mengawasi wajah ayahnya dengan penuh rasa hormat, sikapnya begitu santun seakan sedang memandang malaikat dari langit.

Un Tay-tay sendiri pun ikut terhanyut oleh suasana itu, untuk sesaat dia tak tahu haruskah merasa sedih, girang, manis atau getir?

"Berubah, berubah ...." gumamnya dalam hati, “akhirnya orang tua ini berubah juga, tapi apa alasannya hingga orang tua yang keras kepala ini tiba-tiba berubah?”

Terdengar Im Gi berkata dengan suara perlahan:

"Kini anggota Thiat hiat tay ki bun tinggal kita berempat, mulai sekarang sampai hari kematianku, aku pasti akan bersikap baik kepada kalian, karena...."

Mendadak dia melengos ke arah lain sambil memejamkan mata, setelah mengatur napas beberapa saat, akhirnya dia berhasil juga menahan air matanya yang nyaris meleleh keluar. Katanya dengan sedih:

"Karena mulai sekarang, keadaan kita akan semakin sulit, kehidupan kita pun akan lebih sengsara ketimbang dulu, penderitaan yang harus kalian terima sudah lebih dari cukup...."

"Toako, lebih baik pergilah beristirahat dulu!" bujuk Im Kiu-siau sambil menghela napas. Im Gi tertawa getir.

"Bagaimanapun juga, aku harus menyampaikan dulu perkataan ini," katanya.

"Tapi... tapi... biar tidak Toako katakan pun, kami semua sudah tahu."

"Kau tahu... aaai! Tahukah kau, dalam menghadapi pertarungan yang sudah di depan mata, berapa besar kemungkinan kita untuk meraih kemenangan? Nyaris boleh dikata tanpa harapan

Tiba-tiba nada suaranya berubah penuh emosi, lanjutnya:

"Tapi mustahil bagi kita untuk menghindari pertarungan itu, biar tahu bukan tandingannya pun kita tetap akan bertarung sampai titik darah penghabisan. Inilah kewajiban yang harus kita berempat laksanakan sebagai anggota Thiat hiat-Tay ki bun yang penuh semangat...."

"Bukan berempat, tapi berlima!" mendadak Un Tay-tay menyela.

Perkataan itu kontan membuat paras muka hn Gi, Im Kiu-siau, Im Ting-ting maupun Thiat Cing-su berubah hebat.

"Siapa bilang kau anggota perguruan Tay ki bun?" hardik Im Gi.

"Aku adalah bini Im Ceng, tentu saja termasuk anggota perguruan Tay ki bun, semasa hidupnya dulu Im Ceng belum mengucurkan darahnya demi perguruan Tay ki bun, apa salahnya sekarang aku mewakilinya berjuang."

"Kau sungguh akan melakukannya?" Im Gi menatap tajam wajahnya sampai lama sekali sebelum bertanya.

Un Tay-tay tertawa sendu, sahutnya:

"Kalau bukan lantaran ingin berbuat begitu, mungkin sejak dulu aku sudah menyusul Im Ceng ke alam baka!"

Baru saja ia bicara sampai di situ, Im Ting-ting serta Thiat Cing-su sudah mengucurkan air mata.

Im Gi sendiri pun seketika terpengaruh oleh gejolak emosinya, serunya:

"Kau pasti sudah mengetahui apa yang barusan kukatakan, perguruan Thi (Thiat) hiat tay ki bun bakal memasuki masa yang paling sengsara dan tersiksa, apakah kau sanggup menerima pen­deritaan semacam itu?"

"Kalau kuatir sengsara, aku sudah bunuh diri sejak dulu."

Tiba-tiba Im Gi melototkan sepasang matanya, bentaknya:

"Kau benar-benar rela mengorbankan nyawa demi perguruan Tay ki bun?"

"Un Tay-tay hidup sebagai anggota perguruan Tay ki bun, mati pun ingin jadi setan perguruan Tay ki bun."

"Apakah kau tahu apa arti Thiat-hiat (darah baja) dari perguruan kami?"

Mula-mula Un Tay-tay tertegun, tapi dengan cepat dia menyadari apa artinya, tanpa banyak bicara dia sambar golok milik Im Ting-ting yang terjatuh di tanah dan langsung dibabatkan ke atas bahu sendiri.

Dimana mata golok menyambar, percikan darah segera menyembur kemana-mana.

Tanpa berubah wajahnya, bahkan berkerut kening pun tidak, Un Tay-tay menyahut lantang:

"Inilah arti Thiat-hiat!"

Baru selesai dia bicara, Im Ting-ting sudah memburu maju dan menegur dengan suara gemetar:

"Enso... kau... kau sangat menderita."

Kembali Un Tay-tay tertawa getir.

"Setelah mendengar sebutan Enso darimu, biar lebih sengsara pun apa artinya?"

Dengan pandangan mata yang lembut, ditatapnya luka di atas dada Im Ting-ting, sebalik­nya Im Ting-ting memperhatikan pula luka di bahunya.

Luka yang diderita kedua orang ini tidak terlampau parah, tapi babatan yang telah mereka lakukan bukan saja memperlihatkan keberanian serta tekad mereka yang melebihi orang lain, bahkan disertai pula kobaran emosi yang membara.

Mendadak Im Gi mendongakkan kepala dan tertawa keras, gumamnya:

"Perempuan hebat! Perempuan bagus! Hanya perempuan dengan semangat semacam ini yang pantas menjadi anggota Thiat hiat tay ki bun kami. Biarpun nasib perguruan sedang mengenaskan, tidak disangka justru dapat bertemu perempuan bersemangat macam kalian."

"Di masa lampau, ananda pun sudah banyak melakukan kesalahan," bisik Un Tay-tay lirih.

"Manusia bukan nabi, siapa sih yang tidak pernah melakukan kesalahan? Kesalahan di masa lampau tidak perlu dipikirkan lagi, yang penting mulai sekarang tidak melakukan tindakan yang melanggar peraturan perguruan."

Pada saat itulah suara pekikan panjang kembali bergema memekakkan telinga, bahkan berasal dari suatu tempat yang dekat sekali dari tempat mereka.

Terdengar Lui-pian Lojin berteriak:

"Jadi kalian benar-benar tidak mau keluar? Baiklah, Lohu sendiri pun tidak berminat tetap tinggal di padang rumput ini, akan Lohu hitung sampai empat, jika kalian belum mau keluar juga, Lohu segera akan membakar habis padang rumput ini... akan kulihat tokoh macam apakah kalian?"

Setelah berhenti sejenak, dengan suara menggelegar bagai guntur dia mulai menghitung:

"Satu...."

Apabila padang rumput itu sampai dibakar, maka dapat dipastikan kebakaran hebat akan melanda tempat itu, sekali kebakaran terjadi, siapa pun tidak akan mampu menyelamatkannya, terlebih tidak seorang pun mampu bersembunyi lagi di balik rerumputan.

Berubah hebat paras muka Im Kiu-siau, katanya:

"Celaka, didengar dari suara menggelegar yang memekakkan telinga, jelas orang ini memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, biasanya orang semacam ini akan melaksanakan ancaman-nya bila tidak dituruti."

"Jadi kalian belum tahu siapakah orang itu?" tanya Un Tay-tay.

"Sudah cukup lama kami bersembunyi di balik padang rumput, baru semalam kami mendapat tahu Suto Siau sekalian telah tiba di sini, tapi kami tidak mengira mereka memiliki jago silat setangguh ini, kami pun tidak tahu siapa gerangan orang itu?"

"Dia tidak lain adalah Lui-pian Lojin!" bisik Un Tay-tay sambil menarik napas panjang.

Begitu mendengar nama itu, sekujur tubuh Im Gi sekalian gemetar keras.

Dengan wajah berubah, kata Im Kiu-siau:

"Rupanya tokoh silat yang di masa lalu hanya mendengar namanya dari cerita dongeng, kini sudah bermunculan di depan mata, bahkan sejalan dengan Suto Siau sekalian?"

"Aaaai... panjang untuk diceritakan sebab musabab di balik semua itu, tapi ananda yakin kawanan jago tangguh itu sedikit banyak pasti tersangkut urusan dendam dengan perguruan Tay ki bun kita."

Baru bicara sampai disitu, kembali suara hitungan menggelegar:

"Dua...."

Sambil menundukkan kepala, Im Kiu-siau menghela napas.

"Apabila Lui-pian Lojin sejalan dengan Suto Siau sekalian, berarti harapan menang bagi kita semakin tipis, kini apa yang harus kita lakukan? Toako, silakan menurunkan perintah."

Im Gi ragu-ragu sejenak, kemudian serunya:

"Terjang...keluar!"

Biar hanya kata yang singkat, namun terkandung perasaan gusar, sedih dan putus asa yang kental.

Sambil mengertak gigi, ujar Im Kiu-siau pula:

"Daripada kita semua dipaksa keluar oleh kobaran api, lebih baik sekarang juga kita menyerbu keluar, toh sama-sama bakal mati, kenapa tidak mati dalam kondisi yang lebih gagah."

Sambil tertawa Im Gi menggeleng, tukasnya:

"Bagus! Kau memang tidak malu menjadi Samteku."

Un Tay-tay tidak menyangka Im Kiu-siau yang begitu lembut penampilannya ternyata memiliki semangat begitu gagah, diam-diam dia merasa kagum.

Dalam pada itu Im Kiu-siau telah melirik sekejap ke arah perempuan itu, kemudian katanya sambil menghela napas:

"Hanya saja... nona... nona Un, kau baru bergabung dengan perguruan kami, tapi kini harus berhadapan dengan situasi yang sangat tidak mengenakkan, kau... apakah kau tidak sangat menderita?"

"Kenapa mesti dirisaukan? Belum tentu kita bakal mati dalam pertarungan hari ini."

"Kalau bukan mati dalam pertarungan, memangnya kita mesti menyerah?" sela Im Gi gusar.

Buru-buru Un Tay-tay berseru:

"Ananda bukan bermaksud begitu, walaupun saat ini Lui-pian Lojin berada satu rombongan dengan Suto Siau sekalian, namun ananda punya akal untuk memecah belah mereka menjadi beberapa kelompok."

Kejut bercampur girang hati Im Gi sehabis mendengar perkataan itu, katanya:

"Asal Lui-pian Lojin bersedia tidak mencampuri urusan ini, kekuatan kita masih lebih dari cukup untuk bertarung melawan Suto Siau sekalian... tapi bagaimana caramu?"

Belum sempat Un Tay-tay menjawab, suara hitungan di luar telah bergema lagi:

"Tiga...."

Dengan perasaan terkejut Im Gi segera berseru:

"Waktu sudah tidak banyak lagi, cepat katakan caramu itu!"

"Di balik akal yang hendak ananda laksana­kan, masih terkandung hubungan yang sangat pelik, persoalan ini tak mungkin bisa dijelaskan dalam sepatah dua patah kata, tapi ananda yakin akal ini tak bakalan meleset."

"Lantas apa yang harus kami lakukan?" tanya Im Gi dengan kening berkerut.

"Ananda tidak berani bicara."

"Urusan telah berkembang jadi begini, kenapa kau tidak berani menjelaskan?" seru Im Gi gusar.

Un Tay-tay menundukkan kepala semakin rendah, katanya:

"Ananda hanya berharap kau orang tua diam, apapun yang akan kukatakan, apapun yang hendak kulakukan, harap kau orang tua tidak melakukan tindakan apapun."

Belum selesai dia memberi penjelasan, Im Gi lelah menunjukkan kemurkaan yang luar biasa, bentaknya:

"Jadi kau suruh kami menjadi bonekamu?"

Buru-buru Im Kiu-siau menimbrung:

"Biarpun kita baru saja bertemu dengan bocah ini, tapi dapat kulihat kecerdasannya tidak berada di bawah Tiong-tong, aku percaya dia pasti punya alasan yang kuat sebelum mengucapkan perkataan itu."

"Tapi... bagaimana mungkin perguruan Tay ki bun kita...."

Im Kiu-siau menghela napas panjang.

"Asal Tay ki bun masih punya kesempatan untuk menuntut balas, biarpun hari ini kita harus tersiksa dan menerima penghinaan pun, semuanya berharga untuk dilakukan, apalagi bocah ini sudah menjadi anggota perguruan kita."

Im Gi terbungkam beberapa saat, akhirnya sambil menghentakkan kaki, dia berseru:

"Kalau begitu, baiklah!"

Dalam  pada itu  suara  hitungan  telah bergema lagi dari luar gua:

"Empat...."

Tidak membuang waktu, Un Tay-tay segera melejit dan meluncur keluar dari gua dengan kecepatan luar biasa.

Dia kurang menguasai situasi jalan dalam lorong gua itu, sepanjang perjalanan entah sudah beberapa kali tubuhnya dibuat lecet oleh gesekan batu cadas, namun perempuan itu sama sekali tidak merasa sakit, dengan cepat dia berlari keluar dari mulut gua sambil berteriak keras:

"Kami sudah keluar!”

Di antara rerumputan yang bergelombang karena hembusan angin, suasana terasa hening, tak nampak sesosok bayangan manusia pun di sana.

"Bagus!" mendadak terdengar gelak tertawa Lui-pian Lojin bergema kembali, "akhirnya muncul juga... hehehe... kalian selalu berkeras mengata­kan padang rumput ini tidak ada penghuninya, masih untung Lohu orang yang banyak curiga, coba lihat, buktinya ada orangnya bukan?"

Di tengah gelak tertawanya, terlihat sesosok bayangan manusia melayang keluar dari balik rerumputan.

Rumput yang tumbuh di sana tingginya melampaui manusia, apalagi tangkainya kecil dan sangat lentur, bukan sembarang manusia dapat meluncur melalui atas rerumputan itu dengan mudah, dari sini bisa diketahui ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu benar-benar luar biasa.

Tampak bayangan manusia itu bergerak di atas rerumputan bagaikan sedang berjalan di tanah datar, tanpa dipandang raut mukanya lagi juga Un Tay-tay segera tahu orang yang muncul adalah Lui-pian Lojin.

Lui-pian Lojin pun nampak sangat terperanjat setelah  mengetahui yang muncul adalah Un Tay-tay, begitu tubuhnya meluncur turun ke atas tanah, teriaknya keras:

"Aaaah, ternyata kau!"

"Kau masih mengenali aku?" tegur Un Tay-tay sambil tertawa.

Lui-pian Lojin tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, kau adalah bakal menantu yang kupilih sendiri, tentu saja aku masih mengenali-mu, tapi... bukankah kau berada di pulau Siang cun-to? kenapa bisa muncul di sini?"

"Terus terang aku tidak kerasan tinggal di pulau Siang cun-to, di situ hidup menyendiri dan selalu kesepian, aku benar-benar tidak betah, karena itu aku... aku pun diam-diam minggat."

"Bagus! Bagus sekali! Memang tepat kau minggat dari situ!" Lui-pian Lojin kembali tertawa tergelak.

Pada saat itulah dari balik rerumputan kembali terdengar suara manusia.

Un Tay-tay segera memutar biji matanya, ujarnya cepat:

"Saat ini aku mempunyai banyak masalah yang ingin kubicarakan dengan kau orang tua, tapi... tapi aku tidak ingin didengar orang lain, menurut kau bagaimana baiknya?"

Tidak sampai perempuan itu menyelesaikan perkataannya, Lui-pian Lojin telah membentak nyaring:

"Balik, balik semua!"

Dari balik rerumputan segera terdengar suara orang menyahut, tidak lama kemudian suara berisik itu sudah semakin menjauh.

Sepeninggal suara itu, kembali dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Un Tay-tay, sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibirnya, ujarnya:

"Biarpun kau telah berbuat tidak pantas terhadapku, namun aku masih tetap menyukaimu, sebab setelah kuperhatikan lebih seksama, kecuali kau, rasanya di kolong langit saat ini belum ada orang kedua yang lebih pantas menjadi menantu-ku, hanya saja... apakah sekarang kau sudah berubah pikiran?"

Un Tay-tay mengerling genit.

"Tentu saja aku sangat gembira bisa menjadi menantumu," katanya, "tapi sebelum itu aku ingin tahu dulu, apakah kau orang tua pun bersedia melenyapkan musuh besarku dan melindungi sahabat-sahabatku?"

"Tentu saja aku bersedia," sahut Lui-pian Lojin kegirangan, "bila kau menjadi menantuku, berarti musuhmu adalah musuh Lohu juga, sahabatmu pun akan menjadi sahabatku."

Baru selesai ia bicara, tiba-tiba dilihatnya Im Gi dan rombongan berjalan keluar dari balik gua dengan langkah lebar, paras mukanya seketika berubah, dengan sorot mata setajam sembilu, tegurnya:

"Siapakah orang-orang itu?"

"Mereka adalah sahabatku," sahut Un Tay-tay sambil tersenyum.

"Oooh," Lui-pian Lojin tertawa tertahan, "budak kecil, rupanya kau sudah sedia payung sebelum hujan, kalau memang mereka adalah sahabatmu, tentu saja Lohu pun tidak akan menyusahkan mereka... tapi paling tidak suruhlah mereka datang mendekat dan memberi hormat kepadaku."

Sembari berkata dia mengawasi tajam wajah Im Gi.

Sementara itu Im Gi dengan sorot mata yang tajam sedang mengawasi pula dirinya... biarpun sinar mata itu sangat tajam, namun hawa membunuh pada diri Im Gi justru jauh lebih mengerikan.

Dua orang kakek yang sama-sama garang dan penuh wibawa saling berhadapan dengan sinar mata tajam, walaupun yang seorang berpakaian perlente sementara yang lain berbaju rombeng, namun kewibawaan serta keangkeran yang terpancar tidak jauh berbeda.

Oleh karena kedua orang ini sama-sama berstatus seorang ketua perguruan, tidak heran penampilan mereka sama-sama keras dan kaku, begitu sinar mata mereka saling beradu, terjadilah gesekan hebat seolah-olah menimbulkan percikan bunga api.

Dengan satu gerakan cepat Lui-pian Lojin langsung meluruk maju ke hadapan Im Gi.

Sedemikian cepat gerakan tubuhnya, mem­buat siapa pun yang melihat merasa terperanjat, namun paras muka Im Gi yang kaku bagaikan sebuah baja itu sama sekali tidak berubah, bahkan sepasang matanya pun sama sekali tidak berkedip.

Begitu tiba di hadapan Im Gi, dengan suara garang Lui-pian Lojin segera menghardik:

"He, aku suruh kau memberi hormat kepadaku, dengar tidak?"

Dada Im Gi kelihatan naik turun menahan emosi, dia tetap membungkam.

"He, jangan-jangan si tua bangka ini tuli?" kembali Lui-pian Lojin menegur dengan gusar.

Tiba-tiba Im Gi balas membentak:

"Kenapa Lohu mesti memberi hormat kepadamu?"

Bentakan itu sungguh dahsyat, suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi di siang liari bolong, bukan saja membuat semua orang terkejut, bahkan Lui-pian Lojin pun ikut terperanjat.

Sesaat kemudian, dengan penuh amarah dia membentak:

"Kalau kau enggan memberi hormat, Lohu akan memberi pelajaran kepadamu."

Sepanjang hidup, jarang ada orang berani turun tangan melawannya, ini disebabkan sekalipun orang lain tidak mengetahui identitas-nya, paling tidak mereka dibuat keder oleh penampilannya yang angker.

Apalagi dilihat dari sorot matanya yang tajam bagai sembilu serta nada suaranya yang keras bagai bunyi genta, orang langsung tahu dia memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.

Tapi kini, bukan saja Im Gi tidak dibuat keder, malahan dengan suara lantang segera menyahut:

"Coba saja!"

Begitu selesai bicara, sebuah gempuran sedahsyat sambaran guntur telah dilontarkan, meski jurus serangan yang digunakan tidak terlalu istimewa, namun tenaga pukulannya benar-benar menakutkan.

Dengan perasaan terperanjat Lui-pian Lojin mundur tiga langkah, bentaknya:

"Tua bangka, berani amat kau turun tangan, sudah tahu siapakah Lohu?"

"Coba kalau bukan Lui-pian, kau tidak pantas bertarung melawanku," Im Gi balas menghardik.

Di satu pihak kedua orang tua itu sudah saling berhadapan sambil saling mengancam, di pihak lain Im Kiu-siau tiada hentinya memberi kode kedipan mata kepada Un Tay-tay dan memintanya untuk mencegah pertarungan antara kedua orang itu.

Siapa tahu Un Tay-tay berlagak seolah tidak melihat, dia   hanya menonton sambil tersenyum.

Tidak terlukiskan rasa kaget, gusar dan panik yang dirasakan Im Kiu-siau, namun dia pun tidak berani turun tangan membantu....

Ketika Im Gi sedang bertarung melawan seseorang, sampai mati pun dia enggan menerima bantuan dari orang lain.

Tentu saja Im Kiu-siau tidak tahu Un Tay-tay sesungguhnya sudah mengenal sangat jelas watak Lui-pian Lojin, orang ini lebih suka dihadapi secara kekerasan ketimbang cara halus, orang semacam ini memang perlu ditaklukkan oleh kekerasan watak manusia macam Im Gi.

Perempuan inipun tahu, walaupun kungfu yang dimiliki Im Gi masih bukan tandingan Lui-pian Lojin, namun wataknya yang keras kepala dan berangasan sama sekali tidak di bawah kekerasan watak kakek cambuk geledek ini.

Jiwa keras orang-orang Thiat hiat tay ki bun memang tiada duanya di kolong langit.

Benar saja, begitu Im Gi selesai membentak, Lui-pian Lojin malah mendongakkan kepala dan lertawa terbahak-bahak, tertawa keras yang membuat orang-orang perguruan Tay ki bun lertegun.

Terdengar Lui-pian Lojin berkata:

"Pepatah mengatakan, burung rajawali tidak akan berkelompok dengan burung walet, Kilin tidak akan berkawan dengan rase, ternyata teman-teman Un Tay-tay memang bukan bangsa kurcaci."

Kemudian sambil menepuk bahu Im Gi, katanya pula:

"Mari, mari, mari, kita dua orang tua bangkotan memang pantas saling berkenalan, ayo ikut aku, kita harus meneguk beberapa cawan arak dan minum sampai mabuk."

Satu ingatan segera melintas dalam benak Un Tay-tay, mendadak tanyanya:

"Bukankah kau orang tua memiliki sebuah buli-buli?"

"Benar," sahut Lui-pian Lojin setelah tertegun sejenak.

"Apakah buli-bulimu saat ini berisi arak?"

"Kalau tidak berisi arak, buat apa Lohu menggembol buli-buli kosong?"

"Mana buli-bulimu itu?"

"Eeei, budak cilik, pertanyaanmu makin lama terasa makin aneh, mana mungkin Lohu meniru gaya orang sinting yang tiap hari memegang buli-buli arak di tangan, buli-buliku tentu saja kugantung di atas dinding, tapi kenapa kau mesti menanyakan persoalan ini?"

Sekalipun sudah cukup lama berkenalan, namun dia masih belum bisa menebak maksud di balik pertanyaan Un Tay-tay itu.

Un Tay-tay hanya mengedipkan matanya berulang kali dan tersenyum tanpa menjawab.

"Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, kenapa tidak kau katakan segera?" tanya Lui-pian Lojin lagi keheranan.

"Aku masih belum bisa menjelaskan sekarang."

"Harus menunggu sampai kapan?"

"Sampai bertemu dengan Seng Toa-nio."

Lui-pian Lojin menggelengkan kepala berulang kali sambil tertawa.

"Dasar budak yang banyak akal," serunya, "terkadang Lohu pun bisa kau tipu habis-habisan, sudah, tidak usah menggubris dia lagi, ayo kita teguk tiga cawan arak."

Sekali lagi dia menepuk bahu Im Gi, lalu membalikkan tubuh dan beranjak pergi dengan langkah lebar.

Memandang bayangan punggungnya, Im Gi pada sangsi sejenak, tapi akhirnya dia mengikut dari belakang dengan langkah lebar.

Kedua orang ini bukan saja memiliki perawakan tubuh yang sama, gaya, watak maupun penampilannya pun tidak banyak berbeda, jadi tidak aneh kalau mereka berdua saling tertarik.

Bedanya, Lui-pian Lojin selalu hidup santai dan mengembara dalam dunia persilatan sebagai orang yang latah, dia tidak pernah memandang sebelah mata pun terhadap umat persilatan di dunia, karena itu sikapnya lebih terbuka dan seenaknya.

Berbeda dengan Im Gi yang mesti memikul dendam kesumat perguruan, bertanggung jawab atas keselamatan serta keutuhan perguruan Tay-ki-hun, dalam keadaan seperti ini, tidak aneh dia selalu tampil serius dan jarang sekali tertawa.

Begitulah, rombongan manusia itu berangkat menerobos masuk ke balik padang rumput, sepanjang jalan hanya rerumputan lebat yang terbentang di depan mata, tidak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Mendadak Lui-pian Lojin menghentikan langkahnya sambil memasang telinga mendengar­kan sesuatu, paras mukanya seketika berubah jadi serius, agaknya dia berhasil mendengar sesuatu suara yang mencurigakan.

Diam-diam Un Tay-tay tertawa geli, pikirnya, Mana mungkin ada seseorang di situ? Jangankan manusia, bayangan setan pun mungkin tidak ada, tidak heran semua orang mengatakan sepanjang hari dia hanya curiga melulu.

Berpikir sampai di situ, tidak tahan serunya:

"Kau...."

Tapi belum sempat dia menyelesaikan perkataannya, tahu-tahu mulutnya sudah dibekap oleh Lui-pian Lojin.

Terdengar kakek itu berbisik di sisi telinganya:

"Di sana ada manusia yang sangat mencurigakan, entah apa yang sedang mereka bicarakan, ayo kita tengok ke situ."

Dia baru saja berbicara dengan mengguna­kan ilmu Coan im ji bit (ilmu menyampaikan gelombang suara), sebuah kepandaian tingkat tinggi dalam dunia persilatan, kecuali Un Tay-tay, siapa pun tidak mendengar apa yang sedang dia katakan.

Pada saat bersamaan, kembali dia berbisik pula ke telinga semua orang yang lain:

"Harap kalian menunggu sejenak di sini, jangan bicara, jangan bergerak, Lohu segera akan balik lagi kemari."

Suara itu meski dikirim dengan ilmu menyampaikan gelombang suara, namun setiap patah kata dapat didengar Im Gi sekalian dengan jelas sekali.

Tanpa terasa Im Gi saling bertukar pandang sekejap dengan Im Kiu-siau, dengan perasaan kagum, pikirnya:

"Sebuah kepandaian yang sangat hebat, ternyata nama besarnya bukan nama kosong belaka, tapi sekeliling tempat ini sepi tidak nampak bayangan manusia pun, kenapa secara tiba-tiba dia mengajak pergi Un Tay-tay? Apa yang hendak dia perbuat?"

Sebaliknya Un Tay-tay juga sedang berpikir, “Mana mungkin ada yang sedang berbicara di situ? Mungkin orang tua ini salah dengar, mendingan tidak usah ke sana!”

Tapi lantaran mulutnya dibekap, maka perkataan itu tidak mungkin diucapkan keluar.

Pada saat itulah terasa tubuhnya sudah melayang meninggalkan permukaan tanah, hanya dalam dua tiga kali lompatan saja mereka sudah meninggalkan Im Gi dan rombongan sejauh belasan kaki lebih.

Gerakan tubuh Lui-pian Lojin sama sekali tidak menimbulkan suara, selain ringan juga sangat cepat, baru saja Un Tay-tay mengagumi kehebatan ilmu meringankan tubuhnya, mendadak dari sisi kiri dia mendengar ada suara seperti orang sedang berbicara.

Ternyata Lui-pian Lojin memang tidak salah mendengar, di tempat itu benar-benar ada orang sedang berkasak-kusuk, yang hebat adalah suara pembicaraan itu sangat lirih bagaikan suara bisikan serangga, namun dia yang berada sejauh dua puluhan kaki masih dapat mendengarnya dengan jelas.

Un Tay-tay semakin kagum, pikirnya, “Siapa lagi yang sedang berbincang? Jangan-jangan Suto piau sekalian pun sedang merundingkan siasat buruk? Wah, kalau dia pun mengundang Hek Seng-thian untuk mencelakai Seng Toa-nio, ini baru hebat namanya!"

Tampak paras muka Lui-pian Lojin berubah jadi serius, agaknya dia sedang menguping pembicaraan yang sedang berlangsung.

Un Tay-tay mencoba ikut mendengarkan, sayang dia hanya mampu menangkap suara pembicaraan yang kabur, sama sekali tidak jelas apa yang sedang dibicarakan.

Dalam gelisahnya, satu ingatan cerdas melintas dalam benaknya, cepat dia menempelkan telinganya ke atas permukaan tanah, kebetulan kedua orang yang berada di seberang sana pun sedang berbicara sambil menempelkan tubuh ke tanah, dengan begitu dia dapat mengikuti jalannya pembicaraan itu dengan jelas.

Terdengar salah satu di antaranya sedang berkata:

"Setelah berada di tempat yang begini rahasia, sekalipun ada orang lain, rasanya kita pasti akan mengetahui kehadirannya, kenapa Hengtai masih harus berbicara sambil berbaring di tanah? Apakah Hengtai tidak merasa tindakanmu kelewat berlebihan?"

Kalau didengar dari logat bicaranya, orang itu seharusnya seorang anak muda, tapi Un Tay-tay belum pernah mendengar nada suara orang ini sehingga dia tidak dapat menebak siapa gerangan orangitu.

Terdengar seseorang yang lain segera menjawab:

"Saudara Liong, kau tidak tahu, ketajaman pendengaran ayahku luar biasa hebatnya, aku berani bilang kehebatannya tiada duanya di kolong langit, bila kita bersikap sedikit gegabah saja, biarpun dia berada puluhan kaki jauhnya dari posisi kita, suara pembicaraan kita berdua pasti dapat kedengaran olehnya."

Begitu mendengar suara orang ini, Un Tay-tay betul-betul dibuat tertegun, mimpi pun dia tidak menyangka kalau orang yang sedang berkasak-kusuk saat ini ternyata tidak lain adalah putra Lui-pian Lojin sendiri.

Sebenarnya dia mempunyai rahasia apa? Kenapa harus bicara secara sembunyi-sembunyi di tempat itu? Kenapa dia harus mengelabui ayahnya? Manusia macam apa pula pemuda marga Liong itu?

Sementara itu pemuda she Liong itu sudah bertanya kembali:

"Apakah persoalan yang hendak Hengtai sampaikan kepada Siaute tidak boleh diketahui ayahmu?"

"Betul, ayahku memang tidak boleh tahu."

Diam-diam Un Tay-tay mencoba melirik sekejap, terlihat olehnya Lui-pian Lojin sedang berdiri dengan wajah penuh amarah.

Walaupun timbul rasa ingin tahu di hati kecilnya, tidak urung Un Tay-tay mulai kuatir juga atas keselamatan pemuda itu, bagaimanapun juga pemuda ini pernah membantu dia dan Im Ceng, dia merasa berhutang budi kepadanya.

Terdengar pemuda she Liong itu menghela napas, ujarnya:

"Walaupun Siaute kurang tahu persoalan apa yang membuat Hengtai harus mengelabui ayahmu, tapi asalkan Siaute dapat menyumbang­kan sedikit tenaga bagi Hengtai, Siaute pasti akan melakukannya."

"Sebetulnya Siaute hanya ingin menanya­kan satu hal kepada Hengtai."

"Soal apa?" kelihatannya pemuda she Liong itu agak keheranan.

Kembali putra Lui-pian Lojin menghela napas.

"Persoalan ini sudah tersimpan lama dalam hati kecilku, persoalan yang membuat Siaute makan lidak enak tidur pun tidak nyenyak, apa mau dikata justru Siaute tidak sanggup menyelesaikan sendiri persoalan ini."

"Katakan saja Hengtai."

"Belakangan, nama besar tujuh pedang pelangi sudah tersohor di seantero jagad, khususnya nama besar Hek liong lan hong (angin biru naga hitam) yang sudah dikenal sampai kemana-mana, karena itulah Siaute ingin mencari tahu kabar seseorang."

Kini Un Tay-tay baru tahu pemuda she Liong itu ternyata tidak  lain adalah salah satu tokoh penting dalam kelompok tujuh pedang pelangi... si jago pedang naga hitam Liong Kian-sik.

"Kabar siapa yang ingin Hengtai ketahui?"

"Orang itu adalah seorang wanita, sahabat karib Siaute di masa lalu, tapi selama beberapa tahun belakangan Siaute justru kehilangan jejaknya, bahkan sama sekali tidak kuketahui kabar beritanya lagi."

"Kalau toh dia adalah sahabat Hengtai, kenapa Hengtai bisa kehilangan jejaknya?" tanya Liong Kian-sik keheranan.

Untuk kesekian kalinya putra Lui-pian menghela napas panjang.

"Aaaai! Bicara sejujurnya, antara dia dan aku sebenarnya sudah terikat tali perkawinan, apa lacur... aaai! Ibunya tidak pernah akur dengan ayahku, maka...."

"Maka perkawinan kalian pun terhalang?"

"Tepat sekali, dalam sedih dan kecewanya dia pergi meninggalkan aku, aaai! Yang paling kusesali adalah tidak seharusnya dia pergi tanpa pamit, bahkan memberi kabar pun tidak, selama ini dia pun tidak pernah berkirim surat kepadaku, aaai... dengan wataknya yang keras kepala, dapat dipastikan banyak penderitaan dan kesedihan yang harus dia alami dalam dunia persilatan."

Di balik nada suaranya yang rendah dan berat, masih terselip perasaan cinta yang mendalam.

Diam-diam Un Tay-tay berpikir, “Tidak aneh dia enggan mengawini aku, ternyata dia sudah mempunyai kekasih hati, hanya saja... sikap dan tindakan yang diambil perempuan itu memang sedikit kelewatan, selain pergi tanpa pamit, dia pun enggan mengirim kabar, sementara pemuda ini... walaupun hatinya dibuat sedih, kecewa dan gelisah, namun sama sekali tidak menggerutu ataupun menyalahkan perempuan itu, sebaliknya dia justru menaruh rasa kuatir terhadapnya, dari sini bisa disimpulkan bahwa pemuda ini memang seorang lelaki yang romantis... aaaai, lelaki yang begitu teguh memegang rasa cintanya."

Berpikir sampai di situ, tanpa terasa timbul perasaan kasihan dan simpatik yang sangat mendalam terhadap putra Lui-pian ini, selain itu dia pun dibuat trenyuh, orang lain masih ada yang dirindukan, sementara dia sendiri? Kini dia harus hidup sebatang kara bagaikan sukma gentayangan, jangankan orang yang dicintai, seseorang yang pantas dipikirkan dan dirindukan pun tidak ada.

Tampaknya Liong Kian-sik pun dibuat sangat terharu oleh ucapan itu, setelah termenung beberapa saat, kembali dia bertanya:

"Boleh aku tahu siapa nama nona itu?"

"Dia adalah putri Yan-yu (si Hujan gerimis) Hoa Ji-nio!"

"Aaah, rupanya putri Yan-yu Hoa Ji-nio!"

"Betul, apakah belakangan Hengtai pernah mendengar orang persilatan menyinggung tentang nama orang ini?"

"Tidak, tidak pernah."

Setelah berhenti sejenak, tambahnya:

"Kalau memang dia putri Hoa Ji-nio apalagi kekasih Hengtai, kepandaian silat maupun status sosialnya jelas tidak perlu diragukan lagi, bila nona semacam ini terjun ke dalam dunia persilatan, aku yakin tidak sampai dua bulan nama besarnya akan menggetarkan sungai, telaga, tapi hingga hari ini Siaute belum pernah mendengar orang menyinggung nama ini, jadi aku kira...."

"Dengan tabiatnya yang keras, tidak mungkin dia betah hidup menyendiri di tengah gunung yang terpencil dan jauh dari pergaulan," tukas putra Lui-pian cepat, "Siaute sudah lama bergaul dengannya, berdasarkan hal ini aku yakin dia bakal berganti nama andai terjun ke dalam dunia persilatan, bila dia... dia sudah melangkah keluar rumah, dapat dipastikan dia pun tidak ingin ditemukan kembali oleh ibunya, Hoa Ji-nio."

"Waah, kalau dia sudah berganti nama, hal ini semakin susah lagi," keluh Liong Kian-sik sambil menghela napas.

"Hengtai, coba kau pikir lagi dengan seksama, apakah belakangan dalam dunia persilatan pernah muncul seorang gadis yang gemar mengenakan baju berwarna hijau, berilmu silat tinggi dan berwajah dingin, kaku dan angkuh?"

"Rasanya tidak ada," sahut Liong Kian-sik setelah berpikir sejenak.

Dengan perasaan kecewa putra Lui-pian menghela napas panjang.

"Sepanjang tahun Siaute selalu mengikuti ayahku, meski hatiku gelisah, namun kurang leluasa bagiku untuk pergi sendiri mencari jejaknya, aku berharap bila Hengtai berkelana dalam dunia persilatan, tolong bantu aku memperhatikan soal ini, untuk itu Siaute mengucapkan banyak terima kasih... aaaai! Sekalipun Siaute beruntung menjadi putra Lui-pian, tapi... tapi... justru karena itu aku tidak memiliki seorang sahabat pun

Semacam perasaan kesepian yang mendalam terlintas di balik perkataannya itu.

Tiba-tiba Un Tay-tay teringat akan sesuatu, dia jadi terbayang kembali wajah nona berbaju hijau yang meski berwajah cantik namun dinginnya bagaikan es, nona yang pernah dijumpai di dusun tukang besi.

Dengan perasaan girang segera pikirnya, “Bukankah nona berbaju hijau itu cantik tapi dingin dan angkuh? Bukankah dia gemar mengenakan baju hijau dan berilmu tinggi? Jangan-jangan dia adalah... Hoa Ling-ling, putri Hoa Ji-nio yang sedang dia cari?”

Dalam pada itu Liong Kian-sik telah berkata:

"Pesan dari Hengtai pasti akan Siaute perhatikan."

"Kalau begitu Siaute ucapkan banyak terima kasih, Hengtai, bila.....”

"Belum selesaikah pembicaraanmu?" tiba-tbia Lui-pian Lojin menghardik dengan suara berat.

Tidak terlukiskan rasa kaget kedua orang yang berada di balik semak itu, dengan hati tercekat mereka berdua segera melompat bangun.

"Ayah... rupanya... rupanya kau?" seru putra Lui-pian tergagap.

"Apa lagi yang kau tanyakan? Cepat kemari!" hentak Lui-pian Lojin lagi.

Rerumputan disingkap orang, dengan kepala tertunduk Liong Kian-sik dan putra Lui-pian berjalan keluar.

Diam-diam Un Tay-tay merasakan jantung­nya berdebar keras, dia ikut menguatirkan keselamatan kedua orang itu.

Tampak Lui-pian Lojin menatap tajam wajah putranya, kemudian bertanya perlahan:

"Kau masih memikirkan dia?"

"Benar ayah," jawab pemuda itu tertunduk lesu.

"Dia pergi tanpa pamit, selama ini menulis secarik kertas pun tidak pernah, bahkan Hoa Ji-nio menganggap kau seperti ular berbisa, tapi kenyataannya, kau masih memikirkan dia?"

"Benar ayah," kembali sahut putra Lui-pian sambil menggigit bibir.

Tiba-tiba Lui-pian Lojin mendongakkan kepala dan tertawa seram.

"Hahaha, bagus, Lui Siau-tiau wahai Lui Siau-tiau, tidak kusangka kau memang benar-benar seorang lelaki romantis sejati, aku sungguh merasa kagum kepadamu."

Un Tay-tay dapat menangkap rasa gusar yang luar biasa di balik gelak tawa seram kakek itu, Lui Siau-tiau, putra Lui-pian itu tertunduk semakin rendah, dia makin tidak berani bicara.

Mendadak Lui-pian Lojin berhenti tertawa, bentaknya:

"Cepat berlutut!"

Lui Siau-tiau tidak berani membantah, cepat dia berlutut. Terpaksa Liong Kian-sik ikut menemaninya.

Sambil menuding ke arah Un Tay-tay, kembali Lui-pian Lojin berseru:

"Sudah kau lihat dia?"

"Sudah, ananda sedang keheranan...."

"Apa yang kau herankan? Ingat, dia adalah binimu, sejak hari ini kau tidak boleh memikirkan dia lagi, kecuali dia ini, siapa pun tidak boleh kau pikirkan lagi!"

Berubah hebat paras muka Lui Siau-tiau, serunya:

"Tapi dia... dia adalah...."

"Apa?" tukas Lui-pian Lojin gusar, "kau tidak usah mencampuri urusan lain, cepat berdiri dan ikut aku, berani membantah sepatah kata saja, akan kupatahkan kakimu!"

Habis berkata dia segera membalikkan tubuh dan beranjak pergi dengan langkah lebar.

Lui Siau-tiau masih berlutut, dia seperti ingin mengucapkan  sesuatu, tapi dengan cepat Un Tay-tay menarik bajunya sambil mengerling sekejap memberi tanda, Lui Siau-tiau tertegun, namun akhirnya dia bangkit berdiri.

Sambil memiringkan kepala, Un Tay-tay mengangkat tangannya dan digoyang sekejap, setelah menuding diri sendiri, dia manggut-manggut.

Melihat itu Lui Siau-tiau kegirangan. Un Tay-tay pun sambil tersenyum beranjak pergi dari situ.

BAB 37.

Rejeki dan Bencana.

 

Seonggok api unggun menyala di dalam sebuah ruang gua yang gelap, lidah api yang bergoyang terhembus angin menambah suasana misterius dalam gua itu.

Seng Toa-nio, Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu duduk berkerumun di sekeliling api unggun, ketiga orang itu tidak bicara maupun bergerak, mereka hanya mengawasi jilatan api dengan termangu.

Jago pedang angin biru Liu Ji-wu duduk dengan kepala menengadah, kening berkerut seakan sedang memikirkan sesuatu... dia sedang berpikir, ada apa Lui Siau-tiau mengajak keluar suaminya, apa yang sedang mereka lakukan?

Biarpun di dalam gua terdapat empat orang, namun suasana terasa sangat hening dan tak terdengar sedikit suara pun.

Di sudut ruang gua terlihat tumpukan beberapa karung goni, tampaknya karung berisi rangsum, sementara di atas sebuah batu yang cekung tergeletak sebuah buli-buli arak besar berwarna merah darah.

Mendadak terdengar suara langkah kaki manusia, Seng Toa-nio segera berseru:

"Aaah, mereka sudah kembali!"

Dengan cepat Liu Ji-wu berpaling ke arah mulut gua, betul saja yang muncul memang suami kesayangannya, cuma orang yang berjalan masuk paling dulu adalah Lui-pian Lojin serta Un Tay-tay.

Di belakangnya mengikut Im Gi, Im Kiu-siau, Im Ting-ting, Thiat Cing-su, Liong Kian-sik serta Lui Siau-tiau berenam. Wajah   keenam orang ini semuanya murung dan dingin bagaikan es.

Begitu melihat kemunculan Un Tay-tay, Seng Toa-nio kelihatan terkejut sekali, hatinya semakin tercekat setelah menyaksikan semua kekuatan perguruan Tay ki bun muncul di situ, saking kagetnya dia seakan merasa nyawanya ikut terbang.

Dengan cepat ketiga orang itu melompat bangun, berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo, untuk sesaat mereka tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Orang-orang perguruan Tay ki bun sebenarnya sudah menduga mereka pasti berada di situ, namun begitu saling berhadapan dengan musuh bebuyutannya, tidak kuasa lagi darah mereka terasa mendidih, wajah berubah hebat.

Terlihat dada Im Gi naik turun tidak beraturan, mukanya merah padam bagai orang mabuk, sinar berapi-api memancar keluar dari balik matanya, dia butuh mengeluarkan banyak tenaga untuk bisa menahan diri dan tidak turun tangan secara gegabah.

"He, apa yang terjadi?" tegur Lui-pian Lojin dengan mata berkilat.

Cepat Seng Toa-nio berseru:

"Kenapa mereka bisa...

"Orang-orang itu seru Hek Seng-thian.

"Kenapa kau orang tua...." teriak Pek Seng-bu pula.

Karena mereka bertiga berebut bicara, perkataan yang terucap pun jadi berbaur menjadi satu, akibatnya perkataan dari ketiga orang itu tidak dapat didengar dengan jelas.

"Semuanya tutup mulut!" bentak Lui-pian lojin gusar.

Kemudian sambil berpaling ke arah Un Tay-tay, katanya:

"Kau saja yang bicara!"

Bukan menjawab, sebaliknya Un Tay-tay malah balik bertanya:

"Apakah kau orang tua sudah lupa dengan apa yang telah kau katakan tadi?"

"Mana mungkin Lohu lupa...." sahut Lui-pian Lojin gusar, "cepat jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi?"

Un Tay-tay tersenyum, dengan jari jemari­nya yang ramping bagai ujung pisau dia menuding ke arah Seng Toa-nio sekalian dan sepatah demi sepatah kata ujarnya:

"Merekalah musuh besarku, bukankah kau orang tua berjanji akan membantu ananda untuk melenyapkan mereka!"

Semua orang semakin terkesiap sehabis mendengar ucapan itu, tidak terkecuali para jago perguruan Tay ki bun, sebab hingga kini mereka masih belum bisa meraba hubungan apa yang sebenarnya terjalin antara Un Tay-tay dengan Lui-pian Lojin?

Paras muka Seng Toa-nio bertiga berubah, kembali mereka mundur beberapa langkah.

"Jadi mereka... mereka adalah musuh besarmu?" seru Lui-pian Lojin setelah termangu beberapa saat.

"Tepat sekali, kenapa kau orang tua belum juga turun tangan?"

Timbul perasaan serba salah salah di wajah Lui-pian Lojin, dengan posisi dan kedudukannya saat ini, bagaimana mungkin dia bisa turun tangan keji terhadap orang yang sudah berhari-hari berkumpul bersamanya?

Dengan suara gemetar Hek Seng-thian segera berseru:

"Sudah cukup lama Boanpwe mengikuti kau orang tua, selama inipun aku selalu bersikap hormat dan menurut atas semua perintahmu. Tidak seharusnya kau membantu orang-orang perguruan Tay ki bun untuk menghadapi kami."

Tiba-tiba Lui-pian Lojin berpaling, ditatap­nya Im Gi lekat-lekat, kemudian tegurnya:

"Jadi kau bermarga Im?"

"Benar," jawab Im Gi dengan suara berat.

"Hahaha, seharusnya bisa kuduga sejak awal, kecuali Ciang bunjin dari Thiat hiat tay ki bun, siapa lagi manusia di kolong langit saat ini yang memiliki jiwa dan kegagahan macam kau!"

"Apakah kau akan menuruti perkataan orang di kanan kirimu dengan mengabaikan janji?" sela Un Tay-tay dengan nada sedih, "apa yang telah kau kabulkan, semestinya dilakukan terlebih dulu, masalah lain bisa dibicarakan nanti saja."

"Soal ini...." dengan perasaan serba salah Lui-pian Lojin mengelus jenggotnya.

Tiba-tiba dia tertawa tergelak, terusnya:

"Hahaha, saat ini kau toh belum menjadi menantuku, apa salahnya aku baru membantumu turun tangan setelah kau menjadi menantuku nanti, sedang saat ini... Lohu tidak bisa membantumu."

Un Tay-tay tertegun, baru saja akan mengucapkan sesuatu, mendadak terlihat olehnya buli-buli merah itu, akhirnya dia urung bicara lebih jauh.

Sementara itu Hek Seng-thian telah berseru kegirangan:

"Tepat sekali, asalkan kau orang tua tidak membantunya, maka kami pun...."

"Selama Lohu tidak turun tangan, siapa pun yang berada di sini tidak boleh turun tangan! Mengerti?" hardik Lui-pian Lojin gusar, "semuanya duduk, saksikan Lohu meneguk beberapa cawan arak bersama Im-ciangbunjin."

Im Gi mengepalkan sepasang tinjunya kuat-kuat sambil berdiri mematung, saat itulah Lui-pian Lojin telah mengambil buli-buli yang berisi arak.

"Arak itu tidak boleh diminum!" tiba-tiba Un Tay-tay berteriak.

"Apa  maksudmu?"  tanya  Lui-pian  Lojin gusar.

"Bila kau orang tua ingin minum arak ini, ada baiknya suruh Seng Toa-nio dan Hek Seng-thian mencicipi seteguk lebih dulu."

Perempuan ini yakin Seng Toa-nio serta Hek Seng-thian pasti sudah melakukan perbuatan busuknya di kala semua orang tidak berada di tempat.

Dengan kening berkerut Lui-pian Lojin berpaling dan menatap tajam wajah Seng Toa-nio maupun Hek Seng-thian.

Tidak terlukiskan rasa takut Seng Toa-nio dan Hek Seng-thian waktu itu, paras mukanya berubah pucat pasi, tubuhnya menggigil keras.

Berkilat sorot mata Lui-pian Lojin, selangkah demi selangkah dia berjalan menghampiri mereka, langkahnya selain berat juga terasa sangat lambat, tapi akhirnya sampai juga di hadapan mereka berdua.

Dalam keadaan begini, Seng Toa-nio maupun Hek Seng-thian sudah tidak sanggup berdiri tegak lagi, tubuh mereka gontai seolah-olah setiap saat bakal roboh terjengkang.

Perlahan-lahan Lui-pian Lojin menyodorkan buli-buli araknya, mendadak dia membentak:

"Ayo, minum satu teguk!"

Hek Seng-thian bermandikan keringat dingin, dia tergagap sampai tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Dengan menggunakan segenap kekuatan dan berupaya semampu mungkin dia membuka mulutnya, apa lacur, perkataan yang diutarakan justru tidak berwujud perkataan, siapa pun tidak idayang tahu perkataan apa yang dia ucapkan

"Ayo, diminum!" bentak Lui-pian Lojin lagi.

"Blukkk!", mendadak tubuh Hek Seng-thian roboh terjungkal ke tanah, tapi sebelum mencium lantai tubuhnya sudah dicengkeram lebih dulu oleh Lui-pian Lojin sembari hardiknya lagi:

"Mau minum tidak?"

Pertanyaan itu diulang sampai beberapa kali, namun Hek Seng-thian tidak juga menyahut, keempat anggota tubuhnya lemas terkulai, badannya sama sekali tidak bergerak, ternyata dia sudah jatuh pingsan saking takutnya.

"Budak anjing yang tidak berguna!" maki Lui-pian Lojin gusar, dengan satu ayunan dia lemparkan tubuh Hek Seng-thian keluar.

"Blaaamm!", tubuhnya menumbuk di atas dinding batu dan tidak bergerak lagi.

Pek Seng-bu seperti ingin maju menolong, namun setelah melirik Lui-pian Lojin sekejap dia tidak berani melanjutkan langkahnya.

Kini Lui-pian Lojin menyodorkan buli-buli arak itu ke hadapan Seng Toa-nio, bentaknya:

"Kau saja yang minum!"

Pucat pasi wajah Seng Toa-nio.

"Boanpwe tidak berani...." sahutnya tergagap.

"Kenapa tidak berani?" tukas Lui-pian Lojin gusar, "apakah kau tahu arak ini beracun? Jangan-jangan kau yang meracuni arak ini? Bicara! Ayo, cepat mengaku!"

"Mana berani Boanpwe meracuni arak milik Cianpwe?"

"Kalau memang arak ini tidak beracun, coba minumlah satu tegukan."

"Boanpwe tidak berani mencicipi arak milik Cianpwe."

"Kentut!" umpat orang tua itu gusar, "hari ini kau harus meneguk habis arak ini, tidak mau pun tetap harus diminum!"

Sambil berkata dia melemparkan buli-buli arak itu ke hadapan Seng Toa-nio, lanjutnya:

"Akan kuhitung sampai tiga, kalau tidak kau habiskan, akan kucabut nyawamu!"

Dari sikap maupun perubahan wajah kedua orang itu, semua orang segera tahu Seng Toa-nio dan Hek Seng-thian pasti sudah mencampuri arak itu dengan racun, dalam keadaan begini, siapa lagi yang berani tampil ke depan membantu Seng Toa-nio bicara.

Dengan sorot mata mohon dikasihani Seng Toa-nio mencoba menengok ke orang lain, tapi semua orang segera berlagak seolah tidak melihat, apalagi Pek Seng-bu, dia sudah berdiri jauh-jauh dari arena, bahkan berusaha tampil seolah tidak ada sangkut-pautnya dengan persoalan ini.

"Satu...." Lui-pian Lojin mulai menghitung.

Seng Toa-nio mencoba memandang ke empat penjuru, teriaknya dengan suara parau:

"Aku sudah tua, badanku lemah, tidak kuat lagi meneguk arak keras. Kian-sik, Seng-bu, memandang wajah Cun-hau, tolong wakili aku meneguk arak itu!"

Tampaknya Liong Kian-sik tidak sanggup menahan diri lagi, baru saja tubuhnya bergerak, Liu Ji-wu telah menarik lengannya kuat-kuat, sekalipun dia terhitung seorang pendekar wanita, namun rasa setia kawannya tidak terlalu mendalam, bagaimanapun dia tidak tega membiarkan kekasih hatinya mewakili orang lain meneguk arak beracun.

Di saat yang kritis itulah tiba-tiba terdengar hembusan ujung baju tersampuk angin, terlihat seseorang berlari masuk ke dalam ruang gua dengan langkah lebar.

Orang itu berwajah merah, beralis tebal dan berperawakan tinggi besar, rupanya Seng Cun-hau lelah muncul persis pada saatnya.

Kelihatannya dia sudah mendengar semua pembicaraan semenjak masih berada di mulut gua, itulah sebabnya dia berlari masuk dengan sepenuh tenaga.

Kini dengan napas tersengal dia berlari mendekat, merampas buli-buli arak itu dan teriaknya:

"Biar aku yang mewakili ibu meneguk arak ini."

Berubah paras muka Seng Toa-nio, serunya kaget:

"Kau... kau tidak boleh meneguknya...." Tapi belum selesai dia berkata, Seng Cun-h iu telah meneguk dua tiga tegukan isi buli-buli itu, menyaksikan hal ini Seng Toa-nio menjerit keras dan roboh tidak sadarkan diri.

Pada saat itulah kembali muncul seorang, dia adalah Che Toa-ho, tapi lantaran semua orang sedang memusatkan perhatian pada Seng Cun-hau, maka tidak seorang pun yang memperhatikan kehadirannya.

Tubuh Seng Cun-hau berdiri tegak bagaikan sebatang toya, tiada penderitaan di wajahnya, tiada pula rasa ngeri atau takut, yang tertinggal hanya perasaan sedih, malu dan menyesal yang mendalam.

Dengan termangu Un Tay-tay memperhati­kan wajahnya, tidak kuasa lagi dia berkeluh sambil menghela napas:

"Dasar bodoh... dasar bodoh... kenapa kau memaksa diri meneguk arak itu...."

"Kenapa kau harus meneguk arak itu?" bentak Lui-pian Lojin pula.

"Karena ibuku enggan meneguknya, maka Tecu harus mewakilinya."

"Apakah kau tahu arak ini beracun?"

Kembali Seng Cun-hau tertawa pedih.

"Apalagi kalau arak ini benar-benar beracun, Tecu wajib meneguknya," dia berkata, "dilahirkan sebagai putranya, sudah menjadi kewajibanku untuk berbakti kepadanya, aku rasa tindakanku ini sangat lumrah."

Im Gi yang selama ini hanya berdiri kaku tiba-tiba ikut menghela napas, ujarnya:

"Orang bilang jago pedang berhati merah adalah seorang pendekar yang sangat berbakti, ternyata berita itu bukan berita kosong... Cing-su, Ting-ting, mulai hari ini dan seterusnya, kalian tidak boleh menyusahkan orang ini."

"Tapi dia... dia pun...." kata Thiat Cing-su tergagap.

"Selama hidup, Lohu paling menghormati lelaki yang berbakti dan orang yang setia," tukas Im Gi keras, "aku melarang anggota perguruan Tay ki bun memusuhi manusia setia dan berbakti, aku harap kalian semua mengingatnya baik-baik!"

"Bagus... ucapan yang bagus!" Lui-pian Lojin ikut manggut-manggut.

Seng Cun-hau berpaling memandang Im Gi, sepasang matanya nampak mulai berkaca-kaca, ujarnya sedih:

"Bicara soal tiong (setia) dan gi (setia kawan), Cayhe masih jauh tertinggal dibandingkan Thiat Tiong-tong, hanya sayang... hanya sayang aku tidak berjodoh bertemu lagi dengannya."

Mengungkit kembali soal Thiat Tiong-tong, semua anggota perguruan Tay ki bun kembali tercekam dalam kepedihan mendalam.

"Thiat Tiong-tong?" seru Lui-pian Lojin, "aku rasa dia pasti seorang Enghiong."

"Betul," sahut Un Tay-tay, "darimana kau orangtua tahu tentang dirinya?"

"Biarpun Lohu tidak tahu tentang dia, namun kalau dia bukan seorang Enghiong, mana mungkin musuhnya pun memuji kehebatannya? Dimanakah dia sekarang?"

Dengan sedih Un Tay-tay berdiam diri, sementara anggota perguruan Tay ki bun yang lain tertunduk lesu.

"Jangan-jangan dia sudah mati?" agak berubah wajah Lui-pian Lojin.

"Betul!" dengan sedih Im Gi manggut-manggut, kemudian menghela napas panjang.

Lui-pian Lojin segera menghentakkan kaki berulang kali, kembali dia berpaling ke arah Seng Cun-hau dan bentaknya gusar:

"Heran, kenapa para jago muda yang ada dalam dunia persilatan saat ini tidak berumur panjang? Sebaliknya kawanan manusia kurcaci yang tidak tahu malu justru dibiarkan hidup sampai tua...."

Kelihatannya dia sangat emosi, dadanya naik turun tidak beraturan, untuk sesaat hanya terdengar suara napas yang berat dan memburu dari orangtua itu.

"Aaah, tidak benar!" mendadak terdengar Liu Ji-uh berseru tertahan.

"Apanya yang tidak benar?" tanya Lui-pian lojin dengan kening berkerut.

Sambil memandang ke arah Seng Cun-hau, kembali Liu Ji-uh berkata:

"Bila bibi Seng berniat mencelakai Lui-locianpwe, semestinya racun yang dia campurkan ke dalam arak adalah racun yang paling ganas.....”

"Seharusnya begitu," kata Lui-pian Lojin sambil tertawa seram:

"kalau racunnya tidak keras, mana mungkin dia bisa mencelakai aku?"

"Kalau begitu, sepantasnya racun itu sudah mulai bekerja begitu Seng-toako meneguk arak beracun dari buli-buli," tukas Liu Ji-uh lagi, "tapi kenyataan hingga sekarang Seng-toako masih dalam keadaan baik-baik."

Semua orang segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Seng Cun-hau, betul saja, paras mukanya masih nampak merah bersinar, sorot matanya berkilat tajam, sama sekali tidak nampak gejala keracunan.

"Kalau begitu arak itu tidak beracun?" tanya Lui-pian Lojin dengan wajah berubah, sinar matanya segera beralih ke wajah Un Tay-tay.

"Tapi... tapi...." Un Tay-tay sendiri pun merasa terkejut bercampur heran.

"Hmm! Apa lagi yang bisa kau ucapkan?" tukas Lui-pian Lojin gusar, "Sana, segera menyingkir ke samping. Kalau lain kali kau berani bicara sembarangan lagi, Lohu pasti akan memberi pelajaran kepadamu!"

Sikapnya terhadap Un Tay-tay memang sama sekali berbeda... andaikata orang lain yang berbuat begitu, sekalipun dia adalah putranya, mungkin saat ini dia sudah turun tangan memberi pelajaran, tidak mungkin menunggu sampai lain kali.

Sekalipun begitu, kejadian itu cukup membuat Un Tay-tay merasa sesak napas dan serba salah.

Seng Cun-hau menghembuskan napas lega, kini dia menghampiri ibunya dan memayangnya bangun, begitu juga dengan Pek Seng-bu, dia tidak bersembunyi lagi di sudut gua dan segera membangunkan Hek Seng-thian.

Suasana yang semula tegang pun berangsur mengendor kembali, Lui-pian Lojin sekali lagi mengambil buli-buli berisi araknya, tapi sebelum diteguk, kembali dia mengawasi Seng Cun-hau beberapa kejap, agaknya dia ingin memastikan apakah lelaki itu keracunan atau tidak.

Setelah yakin aman, Lui-pian Lojin baru meneguk arak dalam buli-buli itu, kemudian dia sodorkan buli-buli tadi ke hadapan Im Gi dan bertanya sambil tertawa:

"Bagaimana?"

Im Gi tidak menjawab, disambutnya buli-buli itu, kemudian meneguknya, kemudian dia melirik sekejap ke arah Im Kiu-siau.

Sambil tertawa Im Kiu-siau menyambutnya dan ikut meneguk pula.

Un Tay-tay sendiri meski tidak percaya arak itu tidak beracun, namun setelah menyaksikan paras muka Seng Cun-hau, mau tidak mau dia lurus mempercayainya juga, kendatipun hati kecilnya sangat gelisah, namun dia tidak berani banyak bicara lagi.

"Ananda juga ingin meneguk arak itu," ujar Lui Siau-tiau sambil tertawa.

Lui-pian Lojin tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, kepandaianku yang lain enggan dipelajari, kemampuan minum arakku justru sudah kau pelajari dengan sempurna, baiklah, si rakus cilik, kau boleh minum satu tegukan," katanya.

Sambil tersenyum Lui Siau-tiau menerima buli-buli itu dan meneguknya, kemudian secara diam-diam dia sodorkan buli-buli itu ke hadapan Liong Kian-sik, maka Liong Kian-sik pun ikut minum satu tegukan.

Jago persilatan mana yang tidak suka arak? Melihat orang lain meneguknya dengan nikmat, siapa pun tidak tahan untuk ikut minum, menanti Liong Kian-sik selesai meneguknya, isi arak dalam buli-buli itu sudah tidak tersisa lagi.

"Waah, gede amat mulut orang ini," teriak Lui-pian Lojin sambil tertawa, "hanya sayang...."

"Celaka!!" mendadak terdengar Liu Ji-uh berteriak lagi.

"Apa yang terjadi?" tegur Lui-pian Lojin dengan kening berkerut.

"Kenapa Che... Che sam-ko berubah jadi begini?" seru Liu Ji-uh dengan wajah memucat.

Kembali sorot mata semua orang dialihkan ke wajah Che Toa-ho.

Waktu itu Che Toa-ho sudah tidak sanggup berdiri tegak lagi, dia berdiri sambil bersandar di dinding batu, mukanya yang kurus kering kini sudah berubah hitam pekat, sinar matanya sama sekali tidak bercahaya lagi.

Semua yang hadir boleh dibilang merupa­kan jago persilatan yang sudah lama berkelana dalam dunia persilatan, sekilas pandang saja semua orang tahu apa yang terjadi.

Paras muka Seng Cun-hau maupun Liong Kian-sik seketika berubah hebat.

"Apakah dia... dia keracunan?" tanya Liu Ji-uh tergagap.

"Tidak disangkal lagi, dia pasti keracunan!" sahut Lui Siau-tiau dengan suara berat.

"Tapi... tapi apa yang telah terjadi? Yang minum arak beracun tidak keracunan, yang tidak minum justru keracunan, darimana datangnya racun itu?"

Lui-pian Lojin termenung sambil berpikir sebentar, kemudian tanyanya:

"Apakah sepanjang perjalanan, kalian berdua telah menjumpai sesuatu? Kenapa Suto Siau dan Sun Siau-kiau sekalian hingga kini belum sampai di sini?"

"Sewaktu dalam perjalanan tadi, Tecu sekalian memang telah berjumpa dengan satu kejadian aneh," sahut Seng Cun-hau cepat, "gara-gara terhadang peristiwa yang barusan terjadi, hampir saja Tecu lupa melaporkan."

"Kalau begitu cepat katakan."

"Biasanya Tecu selalu menempuh perjalan­an bersama Siau-kiau sekalian, berhubung kali ini Tecu dan Toa-ho ada urusan lain, maka kami minta Siau-kiau melakukan perjalanan bersama dua bersaudara Gi...."

"Siapa pula dua bersaudara Gi itu?" bentak Lui-pian Lojin.

"Mereka adalah saudara satu persekutuan dengan Tecu, mereka datang terlambat karena ada urusan lain...."

"Hmm!" Lui-pian Lojin mendengus, "lanjut­kan!"

"Tecu bisa datang lebih cepat karena sebelumnya sudah mengantar Cianpwe datang kemari lebih dulu, sedangkan Siau-kiau sekalian harus mengikuti petunjuk rahasia yang ditinggal­kan, itulah sebabnya Tecu bisa sampai di sini lebih dulu."

Mendengar sampai di situ, satu ingatan segera melintas dalam benak Un Tay-tay, pikirnya, “Tak heran Suto Siau dan Sun Siau-kiau sekalian belum sampai di sini, mereka tidak tahu kalau petunjuk jalan sudah kukacaukan, biar ditunggu sehari semalam lagi pun belum tentu mereka dapat menemukan lorong rahasia ini”

Biarpun dalam hati merasa geli, tentu saja dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Terdengar Seng Cun-hau berkata lebih lanjut:

"Sewaktu Tecu dan Toa-ho berjalan separoh jalan, tiba-tiba dari sisi jalan di balik hutan melompat keluar seorang Thauwto berbaju merah, tanpa sebab dia langsung menghadang jalan pergi kami...."

"Seorang Thauwto berbaju merah?" berubah paras muka Lui-pian Lojin, "apakah kungfunya sangat hebat?"

"Kehebatan ilmu silat yang dimiliki orang ini sungguh menggidikkan hati, biarpun Tecu dan Toa-ho sudah beberapa kali berganti gerakan tubuh, usaha kami untuk berkelit darinya selalu gagal, terpaksa kami pun menegur, mengapa dia menghadang jalan pergi kami?"

"Benar, apa alasannya menghadang jalan pergi kalian?"seru Liu Ji-uh pula.

"Thauwto berbaju merah itu hanya meng­ucapkan sepatah kata, “Ikuti aku!”, dengan perasaan apa boleh buat Tecu berdua pun mengintil di belakangnya, setiba di dalam hutan, kami menemukan lagi kejadian lain yang lebih mencengangkan!"

Kelihatannya apa yang terlihat waktu itu memang satu kejadian yang mencengangkan, sebab ketika bercerita sampai di situ, paras mukanya kembali berubah.

Tidak tahan Lui Siau-tiau serta Liong Kian-sik bertanya hampir bersamaan:

"Kejadian aneh apa?"

Seng Cun-hau menghembuskan napas panjang, katanya:

"Kejadian itu adalah...."

Ternyata sewaktu Seng Cun-hau dan Che Toa-ho masuk ke dalam hutan, mereka lihat ada seseorang tergantung di atas dahan pohon, orang itu berkulit hitam bagai baja dan mengenakan celana pendek.

Di bawah pohon itu berdiri seorang gadis dengan rambut awut-awutan dan wajah penuh air mata, dilihat lagaknya, dia mirip seorang gadis yang tidak waras otaknya, dengan sebatang rotan tidak hentinya dia melecuti tubuh orang yang tergantung di atas pohon.

Yang aneh, setiap kali dia melecuti tubuh orang itu, air matanya kembali bercucuran, jelas hatinya amat sedih dan tersiksa, namun pecutnya masih tidak hentinya dicambukkan ke tubuh orang itu, bahkan caranya memukul pun tanpa belas kasihan.

Yang lebih aneh lagi, orang yang tergantung di atas pohon itu meski tubuhnya sudah kaku dan matanya terbelalak lebar, namun setiap kali rotan itu mencambuk tubuhnya, dia sama sekali tidak terlihat kesakitan atau menderita.

Biarpun Seng Cun-hau dan Che Toa-ho udah lama berkelana dalam dunia persilatan, tidak urung mereka dibuat tertegun juga setelah menyaksikan kejadian ini, untuk sesaat mereka hanya bisa saling berpandangan tanpa mengucap-k in sepatah kata pun

Lewat beberapa saat kemudian, akhirnya Seng Cun-hau bertanya:

"Thaysu, apakah kau ada petunjuk? Sebenarnya karena persoalan apa kau membawa kami kemari? Maaf, Cayhe berdua masih ada urusan lain, kami harus segera pergi dari sini."

"Kalau ingin pergi dari sini gampang sekali, setiap saat aku bisa membebaskan kalian, cuma kalian berdua harus menyanggupi dulu satu permintaanku."

"Soal apa? Asal...."

"Persoalan ini sama sekali tidak merugikan kalian berdua," tukas Thauwto berbaju merah itu.

"Kalau memang begitu, silakan Thaysu memberi petunjuk."

"Asal kalian berdua mau menggunakan seluruh tenaga dalam yang kalian miliki dan menghantam dengan keras tubuh orang yang tergantung di atas pohon itu, setiap saat kalian boleh pergi."

Permintaan ini jauh di luar dugaan Seng Cun-hau serta Che Toa-ho, kedua orang itu malah melongo.

Sesaat kemudian kembali Seng Cun-hau berkata:

"Cayhe tidak punya dendam sakit hati dengan orang ini, mana tega aku melukainya? Lagipula dia sudah Thaysu tangkap, kenapa bukan Thaysu sendiri yang turun tangan?"

"Kau tahu apa hubunganku dengannya?"

"Tentu saja musuh besarnya."

"Keliru, dia adalah satu-satunya muridku."

Sekali lagi Seng Cun-hau tertegun, tanyanya keheranan:

"Apakah dia telah melanggar peraturan perguruan? Kalau memang begitu, seharusnya Thaysulah yang melaksanakan hukuman itu, kenapa mesti Cayhe yang turun tangan?"

Bukan menjawab, Thauwto berbaju merah itu malah balik bertanya:

"Tahukah kau, siapa gadis yang sedang melecutinya sekarang?"

Senyuman misterius yang selalu tersung­ging di ujung bibirnya kini nampak semakin kentara dan jelas.

"Kalau soal ini... Cayhe semakin tidak bisa menebak."

"Gadis itu adalah putrinya," ujar Thauwto berbaju merah itu.

Tidak terlukiskan rasa terperanjat Seng Cun-hau serta Che Toa-ho, mereka berdua sampai berdiri terbelalak dengan mulut melongo,   tidak sepatah kata pun mampu diucapkan

Sambil tersenyum, kembali Thauwto berbaju merah itu berkata:

"Dari sini bisa dibuktikan permintaanku kepada kalian bukan muncul atas niat jahat, apa lagi yang kalian pertimbangkan? Ayo, cepatlah turun tangan."

Che Toa-ho tertegun beberapa saat, gumamnya:

"Kalau sampai putrinya pun menghajar dia, kenapa tidak kita lakukan?"

Betul saja, dia segera meluncur maju ke depan dan langsung melepaskan sebuah pukulan dengan sepenuh tenaga.

Dia bukanlah seorang jagoan tanpa nama, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan luar biasanya serangan itu. Meski badan orang itu terlempar karena tenaga getaran, ternyata dia sama sekali tidak menunjukkan kesakitan.

Menyaksikan keadaan itu, otomatis Seng Cun-hau tidak bisa menghindar lagi, terpaksa dia pun melepaskan sebuah pukulan.

Ketika Seng Cun-hau bercerita sampai di sini, paras muka semua orang berubah hebat... bagaimanapun peristiwa ini penuh mengandung keanehan, kecurigaan dan kemisteriusan yang membuat orang susah untuk menduga.

Terdengar Seng Cun-hau menghela napas panjang, kembali ujarnya:

"Setelah Tecu melepaskan sebuah pukulan, betul saja, Thauwto berbaju merah itu benar-benar melepaskan Tecu berdua, tapi... tapi sampai sekarang pun Tecu belum bisa menduga apa maksud dan tujuannya berbuat begitu?"

Dengan  kening  berkerut  Lui-pian  Lojin termenung sambil berpikir, kalau dia saja tidak inggup menjawab, tentu saja orang lain semakin tidak sanggup menjawab persoalan itu.

Dalam pada itu Seng Toa-nio dan Hek Seng-thian telah mendusin dari pingsannya, mereka berdua hanya duduk tertegun, tertegun karena kaget bercampur takut.

Di bawah cahaya api, tampak peluh sebesar kacang kedelai bercucuran membasahi wajah Un Tay-tay, bibirnya gemetar seperti ingin mengatakan sesuatu, namun dia tidak berani bicara.

Melirik sekejap wajah perempuan itu, Lui-pian Lojin segera menegur:

"Apa yang ingin kau katakan?"

Un Tay-tay menarik napas dingin, gumamnya:

"Tubuh Dewa racun."

Berubah hebat paras muka Lui-pian Lojin, cepat dia menarik ujung bajunya sambil membentak nyaring:

"Apa kau bilang? Coba ulangi sekali lagi."

"Tubuh Dewa racun!" sepatah demi sepatah Un Tay-tay berucap.

Mendadak sekujur badan Lui-pian Lojin gemetar keras, perlahan dia mengendorkan tangannya, lalu mundur sejauh tiga langkah, sepasang matanya melotot, rambutnya bergetar seperti dihembus angin, gumamnya:

"Tubuh Dewa racun... betul, tubuh Dewa racun, seharusnya sudah terpikir olehku sejak tadi."

Tiba-tiba dia membalikkan badannya menghadap ke arah Seng Cun-hau, lanjutnya:

"Apakah Thauwto berbaju merah itu berperawakan tinggi dengan kepala yang amat besar, selain kepalanya bahkan sepasang alis mata pun berwarna merah darah?"

"Betul, tapi... darimana Cianpwe tahu?" tanya Seng Cun-hau keheranan.

"Lohu kenal orang ini."

"Siapakah dia?"

"Dia adalah rasul dari selaksa racun, Siang-lok Thaysu."

Beberapa patah kata itu begitu diucapkan, setiap patah kata seolah mempunyai berat ribuan kati, membuat semua orang merasa tertindih, sesak napas, mukanya mengejang dan tidak sanggup htrkata-kata.

Mendadak Lui-pian Lojin menghentakkan kaki ke atas tanah, serunya:

"Lohu tidak tahu sejak kapan “tubuh Dewa Racun” berhasil terbentuk, tapi kalau memang “tubuh Dewa racun” sudah terbentuk, ini bahaya jadinya, aku ... aku pun tidak tahu bagaimana baiknya?"

Ketika semua orang menyaksikan Lui-pian lojn yang terhitung seorang jagoan ampuh dan tidak pernah takut terhadap masalah apapun kini menunjukkan perasaan ngeri dan kaget yang luar biasa setelah mendengar tentang “tubuh Dewa Racun”, tidak urung semua orang pun ikut terkesiap dan merasa ngeri.

"Sebenarnya apa yang disebut “tubuh Dewa Racun?" tidak tahan Seng Cun-hau bertanya.

Lui-pian Lojin memandang sekeliling tempat itu sekejap, kemudian sahutnya dengan suara dalam:

"Tubuh Dewa racun merupakan dewa dari segala racun, kedahsyatan racun yang terkandung tiada taranya, barang siapa tersentuh oleh tubuhnya, maka tanpa sadar dia akan keracunan hebat, sebab racun itu tanpa wujud, tanpa bentuk maupun tanpa rasa."

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Liu Ji-uh menjerit  kaget, menjerit sekeras-kerasnya. Ternyata tubuh Liong Kian-sik  secara mendadak mengejang keras, kemudian roboh terjungkal ke tanah.

Dengan satu gerakan cepat Lui-pian Lojin melompat ke depan, lalu bagaikan sambaran petir secara beruntun dia totok delapan belas jalan darah penting di nadi sebelah kiri Lui Siau-tiau dan Liong Kian-sik.

Im Gi dan Im Kiu-siau ikut menjatuhkan diri bersila, raut muka mereka mengejang kencang.

Dengan kecepatan luar biasa Lui-pian Lojin melayang di hadapan kedua orang itu, kembali tangan kiri dan kanannya bekerja cepat, dalam waktu singkat dia telah menotok pula jalan darah penting di tubuh mereka berdua.

Semua peristiwa itu berlangsung dalam waktu singkat, seketika suasana dalam ruang gua itu kacau-balau, Pek Seng-bu, Hek Seng-thian maupun Seng Toa-nio serentak melompat bangun dan berdiri saling berdempetan.

Che Toa-ho dengan buih meleleh dari mulutnya sudah berada dalam keadaan tidak sadar semenjak tadi, sementara Thiat Cing-su dan Im Ting-ting berdiri dengan air mata berlinang.

Lama sekali Lui-pian Lojin berdiri mematung, akhirnya dia membalikkan tubuhnya perlahan-lahan, dengan sorot mata berapi-api penuh amarah, ditatapnya wajah Seng Toa-nio sekalian tanpa berkedip.

"Arak itu beracun...." gumam Un Tay-tay dengan suara gemetar, "ternyata dalam arak itu benar-benar beracun."

"Kalau... kalau arak itu beracun, kenapa aku tidak keracunan?" tanya Seng Cun-hau.

"Aku sendiri pun kurang jelas, mungkin saja karena dalam tubuhmu sudah terdapat racun dari “tubuh  Dewa racun”, maka  sehabis meneguk arak beracun itu terjadi bentrok antara racun yang itu dengan racun yang lain, akibatnya semua racun tidak bisa bekerja lagi. Gara-gara bencana, kau malah mendapat keberuntungan, hanya sayang.....”

Dia memandang sekejap ke arah Lui-pian lojin ayah beranak serta dua bersaudara Im, kemudian dengan sedih menutup mulutnya kembali.

Seng Cun-hau berdiri termangu, rasa sedih dan duka yang mendalam menghiasi wajahnya, gumamnya:

"Kalau begitu, justru akulah yang telah mencelakai mereka."

Sementara itu terdengar suara isak tangis Liu Ji-uh yang amat memilukan hati bergema memecah keheningan, perempuan itu hanya meratapi Liong Kian-sik tanpa mempedulikan yang lain.

Menyaksikan Lui Siau-tiau, Im Gi serta Im Kiu-siau yang duduk kaku bagaikan patung, kontan saja dia merasa amat sedih, dengan perasaan hancur-lebur, teriaknya:

"Aku pantas mati! Aku pantas mati!"

Ketika selesai mengucapkan perkataan yang terakhir, darah segar menyembur keluar dari mulutnya, seketika lelaki itu roboh terkapar ke tanah dan tidak sadarkan diri.

Diam-diam Un Tay-tay mencoba untuk melakukan analisa, dalam liang gua saat itu tinggal tujuh orang yang belum keracunan, mereka adalah Seng Toa-nio, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Im Ting-ting, Thiat Cing-su, Liu Ji-uh serta dirinya.

Dari ketujuh orang itu, tiga di antaranya merupakan musuh besar yang cukup tangguh, berdasarkan analisa yang dia buat,   dengan kepandaian silat yang dimiliki keempat orang yang ada sekarang, betapapun hebatnya kungfu yang dimilikinya, rasanya masih bukan tandingan lawan.

Apalagi posisi Liu Ji-uh masih tanda tanya besar, apakah dia musuh atau sahabat? Sampai sekarang dia tidak tahu.

Sedangkan Im Ting-ting serta Thiat Cing-su masih berada dalam kondisi sedih dan terpukul batinnya, kesadaran mereka jelas terganggu, hal ini akan menyebabkan kehebatan ilmu silat mereka pun melemah.

Menyadari situasi yang sangat tidak menguntungkan, perasaan bergidik seketika menyelimuti hatinya, kini dia hanya bisa berdoa, berharap Lui-pian Lojin dapat mengendalikan racun yang bersarang dalam tubuhnya dan tidak ikut roboh.

Benar saja, Lui-pian Lojin berhasil memper­tahankan diri, dia tidak sampai roboh terjungkal.

Waktu itu Seng Toa-nio, Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu sudah merasa kegirangan setengah mati, sedemikian girangnya hingga sulit untuk melukiskan perasaan mereka.

Semula mereka berharap hanya Lui-pian Lojin seorang yang roboh keracunan, seorang pun sudah membuat meraka amat puas, siapa tahu kenyataan bicara lain, bukan saja orang tua itu berhasil mereka racuni, bahkan dua bersaudara Im yang merupakan musuh bebuyutan pun ikut keracunan.

Sudah lama mereka berupaya melenyapkan musuh bebuyutannya itu dari muka bumi, tapi usahanya tidak pernah berhasil, sebaliknya setiap tahun mereka harus menghadapi sergapan mematikan dari sisa kekuatan perguruan Tay ki bun.

Maka begitu rancangan mereka membuahkan hasil yang di luar dugaan, bisa dibayangkan betapa girangnya orang-orang itu, nyaris mereka bertiga tertawa terbahak-bahak saking gembiranya.

Tapi begitu mereka bertiga menyaksikan tubuh Lui-pian Lojin yang masih berdiri tegar, perasaan girang yang berkecamuk dalam benak mereka seketika lenyap tidak berbekas.

Sebetulnya sejak tadi mereka bertiga sudah siap menerkam ke depan, namun berhubung Lui-pian Lojin masih berdiri tegar, maka mereka jadi ragu untuk melancarkan serangan, bagi mereka bertiga, pengorbanan sebesar apapun tetap akan mereka bayar asalkan Lui-pian Lojin roboh terjungkal.

Kenyataan bukan saja Lui-pian Lojin tidak loboh, sebaliknya selangkah demi selangkah justru berjalan menghampiri mereka.

Perasaan bergidik bercampur ngeri seketika berkecamuk dalam benak Seng Toa-nio bertiga, tanpa sadar mereka mundur terus berulang kali, mundur hingga punggung mereka menempel di dinding batu yang dingin

"Benarkah kalian yang meracuni arakku? Katakan! Racun apa yang kalian gunakan?" hardik Lui-pian Lojin dengan mata berapi-api.

Seng Toa-nio tertawa terkekeh. "Racun apa? Aduh mak, aku sudah lupa jengeknya.

Walaupun dia ingin sekali memperdengar­kan suara gelak tertawa penuh kebanggaan, namun di bawah ancaman serius Lui-pian Lojin, dia betul-betul tidak mampu tertawa, yang muncul justru suara aneh mirip suara katak yang sedang meraung.

Tapi berada dalam situasi dan keadaan seperti ini, suara semacam itu justru terdengar sangat menyeramkan, suara yang membuat bulu roma berdiri.

Lui-pian Lojin mengepal tinjunya semakin kencang, kembali hardiknya:

"Mau bicara tidak?"

Suara bentakan yang menggelegar bagai bunyi geledek itu kini terdengar agak sumbang, hal ini menunjukkan bahwa meski dia berhasil mengendalikan bekerjanya racun dengan meng­andalkan tenaga dalam hasil latihannya selama puluhan tahun, namun racun jahat itu sudah mulai merasuk ke dalam isi perutnya.

Akibat susupan racun jahat, tubuhnya yang kekar bagai terbuat dari baja dan kekuatannya yang dahsyat bagai guntur membelah bumi itu mulai terkikis oleh pengaruh racun yang tidak berwujud itu dan mulai melemah.

Nyali Seng Toa-nio bertambah besar, ejeknya:

"Kalau aku tidak bicara, kau mau apa?"

"Kalau tidak mau bicara, kucabut nyawa­mu!"

"Memangnya setelah aku katakan, kau akan membebaskan diriku begitu saja? Hehehe, omongan yang cuma bisa membohongi anak kecil pun ingin kau gunakan untuk membohongi aku?"

Un Tay-tay tahu, bila Lui-pian Lojin dapat segera mengetahui sifat racun yang mengeram dalam tubuhnya, kemungkinan besar dia akan segera menemukan obat penawarnya, bila ditunda lebih lama lagi, apabila racun sudah menyerang makin ke dalam, sulit baginya untuk menyelamat­kan jiwa.

Sayang perempun ini hanya bisa panik, dia sendiri pun tidak berdaya menghadapi situasi seperti ini.

Sambil menyeringai licik, kembali Seng Toa-nio berkata:

"Apalagi saat ini kau sedang menggunakan seluruh kekuatanmu untuk mendesak keluar racun yang mengeram di dalam tubuh, mana mungkin memiliki sisa kekuatan untuk menyerangku? Hmmm, padahal kau tahu dengan jelas, bila berani menggunakan hawa murnimu secara sembarangan, kau segera akan mati keracunan."

"Sekalipun harus mengalami nasib tragis, akan kugunakan sisa kekuatan yang Lohu miliki untuk menggempur kalian bertiga hingga hancur lebur! Kalau tidak percaya, ayo, segera majulah untuk mencoba."

Seng Toa-nio tertawa tergelak.

"Hahaha, kalau aku bertiga turun tangan bersama, memangnya kau berani menyerang? Hehehe, lagi pula buat apa kami mesti bersusah payah menggempurmu? Bukankah lebih enak menunggu kau mati keracunan sebelum turun tangan?"

Perkataannya ini memang merupakan titik kelemahan yang dimiliki setiap manusia... siapa pun, sebelum tiba pada saat yang paling kritis, mereka tidak akan melepaskan setiap harapan yang ada untuk mempertahankan hidup.

Paras muka Lui-pian Lojin sebentar berubah merah sebentar berubah hijau, sepasang kepalannya yang menggenggam kencang terlihat gemetar saking emosi, tapi dia tidak berani turun tangan secara gegabah. Saat ini keselamatan jiwanya sudah menyangkut keselamatan banyak orang, jika dia sampai tertimpa sesuatu, dapat dipastikan nyawa orang lain pun akan turut melayang.

Mendadak Liu Ji-uh  menjatuhkan  diri berlutut, pintanya dengan gemetar:

"Seng Toa-nio, aku mohon kepadamu, katakanlah racun apa yang telah kau gunakan, kami suami istri tidak ada dendam sakit hati denganmu, kenapa... kenapa kau harus mencabut nyawanya?"

Seng Toa-nio tertawa terkekeh.

"Waaah... waaah... waaaah... Lan hong kiam khek yang selalu tampil angkuh pun hari ini memohon kepada orang lain? Bila tahu bakal ada kejadian begini, kenapa sejak dulu kau tidak bersikap lebih sopan kepadaku?"

Liu Ji-uh menggigit bibirnya kencang-kencang, sekuat tenaga dia berusaha menahan penghinaan, rasa sedih dan gusar yang berkecamuk... sebetulnya perbuatan semacam ini tidak nanti akan dia lakukan, tapi hari ini, demi orang yang dicintainya, dia tidak segan untuk mengorbankan segalanya.

Dengan kepala tertunduk, kembali ujarnya gemetar:

"Bagaimanapun kumohon kau orang tua bersedia menyelamatkan jiwanya, selama... selama hidup aku tidak akan melupakan budi kebaikan­mu."

Seng Toa-nio menatapnya sekejap, tiba-tiba dia tertawa seram, dari balik matanya terpancar sinar kebencian, kedengkian dan rasa iri yang mendekati kalap.

"Woow, sepasang suami istri yang begitu mesra," ejeknya sambil menyeringai seram, "demi dia, kau benar-benar rela mengorbankan segala­nya? Kau benar-benar mencintainya dengan sepenuh hati?"

"Asal dia bisa hidup, aku... aku rela mati!" dengan kepala tertunduk dan air berlinang Liu Ji-uh menyahut.

Biarpun hanya sepatah kata yang sederhana, namun terkandung rasa cinta yang tidak terkirakan

Cinta kasih yang begitu dalam, begitu mesra dan kuat, sudah lebih dari cukup untuk menggoyahkan hati manusia sekeras baja sekalipun.

Tapi sorot mata kedengkian yang mencorong keluar dari balik mata Seng Toa-nio justru nampak bertambah mengental, mimik mukanya semakin mendekati gila, berteriak sambil menye-ringai seram:

"Sebetulnya aku berniat menolongnya, tapi setelah menyaksikan cinta kasih kalian berdua yang begitu mendalam, aku justru tidak ingin menolongnya... aku... aku akan berdiri di sisi kalian dan menikmati penderitaan yang dia alami, akan kusaksikan dengan perlahan bagaimana dia mati karena tersiksa dan menderita."

"Ke... kenapa kau harus berbuat begitu?" keluh Liu Ji-uh sedih.

Seng Toa-nio mengalihkan sorot matanya yang penuh kebencian ke tempat jauh, lama kemudian dia baru menjawab:

"Karena selama hidup aku paling benci menyaksikan suami istri yang bisa hidup bahagia, bisa hidup saling mencintai macam kalian, aku... aku benci, kenapa suami istri yang lain bisa hidup saling mencintai, bisa hidup penuh kebahagiaan sementara kehidupan suami istri dalam keluarga Heng justru amburadul dan berantakan tidak keruan, aku... aku benci dan menyesal kenapa tidak mampu memporak-porandakan kehidupan suami istri di dunia ini yang hidup saling mencintai."

Liu Ji-uh gemetar keras, ucapan itu sangat memukul  perasaan  hatinya, diiringi jeritan tertahan dia roboh terjungkal.

Dengan geram Lui-pian Lojin segera mengumpat:

"Kau... dasar perempuan busuk berhati keji, sekalipun Thian telah mengganjar kau putus keturunan, rasanya masih belum cukup untuk menebus semua dosa dan kejahatan yang pernah kau lakukan."

Seng Toa-nio semakin naik pitam, jeritnya:

"Betul, aku keluarga Seng memang putus keturunan! Tapi bagaimana dengan keluarga Lui kalian? Toh kau pun bakal putus keturunan... hahaha... kalian ayah beranak sudah terkena Coat cing hoa tok (racun bunga pemutus cinta), memangnya masih ingin hidup terus?"

"Coat cing hoa?" jerit Lui-pian Lojin terkesiap.

Terdorong oleh rasa sakit, sedih dan emosi yang meluap, secara tidak sengaja Seng Toa-nio telah menyebutkan nama racun yang digunakan, kini mau mungkir pun sudah terlambat, maka sahutnya keras:

"Betul! Aku memang menggunakan racun Coat cing hoa! Bunga pemutus cinta milik tokoh sakti yang disebut orang sebagai Bong tiong Siancu (dewi dalam impian), kau tentu pernah dengar nama ini bukan? Kau pun tahu bukan racun dari bunga ini tak ada penawarnya?"

Dia kuatir Lui-pian Lojin dalam keputus-asaannya tiba-tiba melancarkan serangan memati­kan kepadanya, maka secara diam-diam dia himpun tenaga dalamnya dan bersiap sedia.

Siapa tahu pukulan itu memang kelewat berat, bahkan Lui-pian Lojin sendiri pun tidak sanggup menerima kenyataan itu... tidak tahan lagi dia jatuh terduduk ke tanah, untuk sesaat diahanya bisa duduk termangu.

Un Tay-tay pun tidak kalah kagetnya, kini pihaknya boleh dibilang sudah menderita kekalahan lotal, tidak seorang pun di kolong langit yang sanggup menyelamatkan mereka.

Lui-pian Lojin yang nama besarnya meng­getarkan sungai telaga, kini keselamatan jiwanya sudah di ujung tanduk, sementara tujuh jago pedang pelangi yang tersohor pun sudah tercerai-berai. Tapi yang paling memedihkan hati adalah para tokoh Thiat hiat tay ki bun yang selama ini berusaha menghindar dari kepunahan, kini justru sudah dihadapkan pada pilihan yang paling tragis.

Siapa pernah menduga, racun arak dalam ebuah buli-buli kecil ternyata memiliki kekuatan penghancur yang demikian dahsyatnya, siapa pula yang pernah menduga seorang tokoh maha sakti dunia persilatan, harus kehilangan nyawa di tangan manusia kurcaci, Siaujin tidak tahu malu macam Seng Toa-nio, Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu... kalau dibilang inilah kemauan takdir, maka kemauan takdir ini betul-betul keji dan sangat tiagis.

Dengan perasaan hampa Lui-pian Lojin bergumam:

"Racun bunga pemutus cinta merupakan benda paling beracun di alam semesta, racun tubuh Dewa racun justru merupakan racun paling jahat ciptaan manusia... yang satu merupakan benda paling beracun di alam semesta, sedang yang lain merupakan benda paling beracun ciptaan manusia, bila dua jenis racun saling bertemu, hanya racun Coat cing hoa yang bisa mengatasi Tok-sin, dan hanya Tok-sin yang bisa mengendalikan racun Coat cing hoa... tapi... tapi... kenapa semuanya bisa terjadi begitu kebetulan? Kenapa keduanya bisa muncul bersamaan?"

"Hahaha ...." Seng Toa-nio tertawa seram, "kalau bukan sangat kebetulan, mana mungkin aku bisa mencelakaimu?"

Mendadak Lui-pian Lojin mendongakkan kepala dan bertanya:

"Coat cing hoa disebut juga dewi dalam impian, ini disebabkan bunga itu tumbuh di suatu tempat yang sulit ditemukan, darimana kau memperoleh benda beracun ini?"

Seng Toa-nio kembali tertawa terkekeh.

"Hahaha, dewi dalam impian! Sebuah nama yang tepat sekali, ketika kau berniat berjumpa dewi dalam impian, kau justru tidak pernah bermimpi, sebaliknya ketika kau tidak berhasrat menjumpainya, sang dewi justru muncul dalam impianmu... Coat cing hoa, sesuai dengan nama dewi dalam impian, tentu saja begitu pula kenyataan."

"Tapi kami harus berterima kasih kepadamu," kata Hek Seng-thian pula, "kalau bukan gara-gara kau, tidak mungkin bisa kami peroleh bunga langka itu."

"Berterima kasih kepadaku?"

"Betul, harus berterima kasih kepadamu, kalau bukan gara-gara kau memaksa kami melakukan pemeriksaan di sekeliling sini, mustahil kami bisa tiba di tanah berawa-rawa yang begitu rahasia letaknya, apa mau dikata, ternyata Coat cing hoa yang diimpikan setiap orang itu justru tumbuh di tengah tanah berawa-rawa itu."

"Tanah berawa-rawa?" seru Un Tay-tay tertahan, satu ingatan segera melintas dalam benaknya.

Dia segera teringat kembali tanah berawa dimana dia kebumikan Sui Leng-kong di tengah tumpukan bunga, dia pun teringat bunga-bunga bercahaya aneh yang tumbuh memenuhi tanah berawa itu.

Tiba-tiba terdengar Hek Seng-thian mem­bentak gusar:

"Buat apa banyak bicara lagi dengannya? Biar kucabut nyawanya, agar semua Enghiong di kolong langit tahu Lui-pian Lojin tewas di tangan siapa."

Belum selesai bicara, dia sudah melolos pedang yang tersoreng di pinggang Seng Cun-hau dan menerkam ke depan, di antara kilatan cahaya pedang bagaikan sambaran petir, dia langsung menusuk tenggorokan Lui-pian Lojin.

Un Tay-tay sadar, biarpun Lui-pian Lojin memiliki kepandaian silat yang amat dahsyat pun sulit rasanya menangkis atau meloloskan diri, di tengah jeritan kaget, dia siap menerkam ke depan untuk membendung serangan itu.

Siapa tahu belum sempat dia bergerak, terdengar Lui-pian Lojin membentak nyaring, tangannya dikebaskan ke depan, di antara alunan ujung bajunya yang melayang bagai segulung awan, dia sudah menyongsong datangnya cahaya pedang itu.

Biarpun hanya selembar ujung baju yang tipis dan ringan, saat itu justru memiliki kekuatan ribuan kati.

Hek Seng-thian merasakan tangannya bergetar keras, dadanya terasa panas sekali, segulung kekuatan yang sukar dibendung telah menumbuk dadanya, menyusul tubuhnya mencelat jauh ke belakang.

Cahaya hijau berkelebat, pedangnya sudah terpental hingga meluncur keluar dari mulut gua.

Berubah hebat paras muka Seng Toa-nio serta Pek Seng-bu.

Tampak Hek Seng-thian berjumpalitan beherapa kali di tengah udara sebelum melayang turun ke bawah, lagi-lagi dia mundur beberapa langkah dengan sempoyongan sebelum akhirnya berdiri tegak dengan menempel dinding.

Paras mukanya saat itu pucat-pias seperti mayat, pedang dalam genggamannya sudah mencelat entah kemana, masih untung ketika melancarkan serangan tadi dia masih menyisihkan jalan mundur bagi dirinya, bagaimanapun dia masih tetap menaruh rasa jeri dan ngeri terhadap Lui-pian Lojin, kalau tidak, mungkin nyawanya saat itu sudah melayang meninggalkan raga.

Dalam keadaan seperti ini, pecah sudah nyali orang itu, jangankan melancarkan serangan, bergerak pun tidak berani lagi.

Ulat berkaki seribu tidak pernah mati kaku... kehebatan Lui-pian Lojin memang sungguh mengagumkan, sekalipun sudah keracunan, namun serangannya masih dahsyat dan mematikan... gempuran ini sudah lebih dari cukup untuk menggetarkan perasaan setiap orang.

Lui-pian Lojin sendiri pun agak kepayahan sehabis melancarkan gempuran itu, dia berdiri dengan napas terengah-engah.

"Kematian sudah di depan mata, buat apa kau ngotot ingin mengadu nyawa?" ejek Seng Toa-nio sambil tertawa dingin.

"Hmm! Sekalipun hari ini Lohu harus tewas di tempat ini, tidak nanti kubiarkan kalian budak-budak busuk yang tidak tahu malu menyentuh seujung bajuku, selembar rambutku!"

"Hahaha, bagus, bagus sekali," kembali Seng Toa-nio tertawa terkekeh, "kami tidak akan menyentuhmu, akan kubiarkan kau mampus dengan sendirinya, tapi bila kau sudah mampus, kami akan mencincang tubuhmu hingga hancur, akan kucabik-cabik tubuhmu, meludahi wajahmu... hmmmm, bisa apa kau? Memangnya waktu itu kau sanggup menghalangi ulah kami?"

Suara tertawanya begitu menyeramkan, seperti jeritan kuntilanak dari dalam kubur.

Saking gusarnya sepasang gigi Lui-pian Lojin gemerutuk keras, hampir saja dia mempertaruhkan jiwanya untuk melancarkan gempuran terakhir, untung saja niat itu segera diurungkan.

Berkilat sepasang mata Pek Seng-bu, katanya pula sambil tertawa dingin:

"Kalau sudah marah, kenapa tidak segera turun tangan? Apa lagi yang kau tunggu? Memangnya menunggu orang lain datang menyelamatkan dirimu?"

"Sayang letak tempat ini kelewat rahasia," sambung Seng Toa-nio sinis, "tidak mungkin orang lain bisa menemukan tempat ini, sudahlah, tak usah bermimpi lagi, tidak nanti ada orang datang me nolongmu."

"Yang lebih menggelikan lagi adalah tempat ini kau pilih sendiri," Pek Seng-bu menambahkan lagi, "kau anggap dirimu seorang jagoan nomor wahid di kolong langit, tidak tahunya kau justru memilih tempat ini untuk mengubur mayat sendiri."

"Hehehe ...  apalagi racun  Coat cing hoa memang tidak mungkin dipunahkan oleh siapa pun, tidak seorang pun sanggup menyelamatkan jiwamu lagi, meski ada orang yang muncul sekarang, belum tentu dia mampu menolong dirimu."

Tanya jawab yang dilakukan kedua orang ini dipenuhi sindiran, ejekan serta umpatan, mereka sangka perbuatan itu pasti akan membuat Lui-pian loin semakin emosi, semakin naik darah.

Siapa tahu bukan saja Lui-pian Lojin sama sekali tidak menggubris, dia justru menundukkan kepala sambil memejamkan mata.

Orang tua yang pernah menggetarkan sungai telaga ini memang memiliki kemampuan yang luar biasa, sekalipun nyawanya di ujung tanduk, namun dia masih bersikeras mempertahankan pendiriannya dengan kukuh.

Sebelum mencapai titik darah terakhir, dia tidak akan melepaskan setiap kesempatan untuk mempertahankan hidup, sekalipun dadanya hampir meledak karena terpengaruh emosi, dia tetap mengertak gigi sambil menahan diri.

Un Tay-tay yang mendengar pembicaraan kedua orang itu, justru timbul perasaan menyesal di hati kecilnya.

Dia menyesal kenapa memutar balikkan petunjuk jalan rahasia yang ditinggalkan sepanjang jalan, andaikata dia tidak berbuat begitu, kemungkinan besar Gi Beng, Gi Teng serta Sun Siau-kiau telah menyusul ke situ, kendatipun mereka tidak sanggup memunahkan racun jahat itu, paling tidak dengan kekuatan mereka masih bisa menyelamatkan nyawa Thiat Cing-su serta Im Ting-ting.

Dia sadar, begitu tenaga dalam yang dimiliki Lui-pian Lojin punah terkikis oleh pengaruh racun, tubuhnya segera akan roboh terkapar, dalam keadaan demikian tidak nanti Seng Toa-nio sekalian akan melepaskan Thiat Cing-su dan Im Ting-ting begitu saja.

Padahal robohnya Lui-pian Lojin sudah tinggal menghitung waktu.

Berpikir sampai di situ, tanpa terasa sorot mata Un Tay-tay dialihkan ke wajah Thiat Cing-su serta Im Ting-ting, di balik sorot matanya terpancar perasaan sayang, kasihan serta rasa sesal yang mendalam.

Waktu itu Im Ting-ting serta Thiat Cing-su sedang berlutut mematung di samping Im Gi serta Im Kiu-siau yang tidak sadarkan diri, wajah mereka basah oleh air mata, wajah mereka pun diliputi perasaan sedih, gusar dan rasa dendam yang mendalam.

Keempat buah mata mereka mengawasi terus wajah Seng Toa-nio dengan sinar berapi-api, sekalipun cahaya api seolah sudah membakar mata mereka berdua, namun sepasang muda-mudi ini masih mampu mengendalikan diri, tidak melakukan tindakan secara gegabah.

Un Tay-tay benar-benar menaruh perasaan sayang terhadap mereka berdua di samping rasa kagum yang luar biasa... biar masih muda, namun mereka sanggup mengendalikan perasaan, satu sikap yang patut dikagumi.

Siksaan, penderitaan, cambukan serta pelatihan yang ber langsung bertahun-tahun telah menciptakan ketegaran yang luar biasa bagi setiap anggota Thiat hiat tay ki bun, membuat mereka sanggup bertahan, sanggup menahan diri.

Oleh sebab itu walaupun usia Thiat Cing-su dan Im Ting-ting masih muda, mereka sudah mempelajari bagaimana mengendalikan diri, bagaimana bersikap tegar, bagaimana harus mempertahankan hidup dan sebelum mencapai kesempatan terakhir tidak akan mengadu nyawa.

Perlahan-lahan Pek Seng-bu mengalihkan sinar matanya menatap kedua orang itu, tiba-tiba ejeknya pula sambil tertawa dingin:

"Apa lagi yang kalian nantikan? Kenapa belum turun tangan juga?"

Sambil  tertawa  dingin  Seng Toa-nio menimpali:

"Orang bilang anggota perguruan Tay ki bun adalah jago berdarah panas berhati baja, ternyata kalian berdua tidak lebih hanya budak lemah yang takut mampus, baiklah, bila kalian takut mati, cepat berlutut dan minta ampun."

"Kalau kalian tidak berlutut minta ampun, aku...."

Belum selesai Pek Seng-bu berbicara, mendadak Thiat Cing-su membentak nyaring:

"Tutup mulut anjingmu!"

"Hahaha, kalau tidak tutup mulut, mau apa kau?" ejek Seng Toa-nio sambil tertawa terkekeh.

Tiba-tiba Thiat Cing-su melompat bangun, jeritnya dengan suara parau:

"Aku... aku...."

"Mau apa?" Seng Toa-nio tertawa dingin, "memangnya kau masih berani turun tangan? Ayo, kemari... cepat kemari... cepat atau lambat toh bakal mampus, apa lagi yang mesti kau takuti?"

Thiat Cing-su menggigit bibir hingga berdarah, dia mengepal sepasang tinjunya kencang kencang.

"Kau... kau sudah lupa nasehat ayah?" bisik Im Ting-ting pedih.

Thiat Cing-su menjerit keras, sekali lagi dia menjatuhkan diri berlutut.

"Lelaki lemah! Manusia yang tidak berguna!" ejek Seng Toa-nio sambil tertawa sinis, "ternyata kau tidak berani, baiklah, bagaimanapun toh kau bakalan mampus, apa salahnya kuberi sedikit kesempatan lagi bagimu untuk hidup?"

Berkilat sepasang mata Pek Seng-bu, mendadak ujarnya sambil tertawa dingin:

"Gampang sekali kalau kita ingin dia segera mati."

Seng Toa-nio melirik Lui-pian Lojin sekejap, bisiknya:

"Tapi... dia... dia...."

Dengan kening berkerut Pek Seng-bu memberi kode dengan gerakan tangan, Un Tay-tay yang melihat gerakan tangan itu segera berpikir,

Aduh celaka! Dia hendak menggunakan senjata rahasia.

Sementara ingatan itu melintas, sambil tertawa Seng Toa-nio telah berkata:

"Betul, memang seharusnya kita berbuat begitu, hampir saja aku lupa!"

Cepat tangannya merogoh ke dalam saku dan mengambil segenggam jarum Thian li ciam yang sangat mematikan.

Kebetulan waktu itu Seng Cun-hau baru sadar dari pingsannya, melihat tindakan yang dilakukan ibunya, cepat dia menggelinding ke depan dan mencengkeram tangan perempuan tua itu sambil teriaknya:

"Tidak boleh, kau tidak boleh berbuat begitu."

"Kenapa tidak boleh," Seng Toa-nio menyeringai seram, "ketika anggota perguruan Tay ki bun ingin membunuh kami, perbuatan apapun sanggup mereka lakukan, kenapa kita tidak boleh? Lepas tangan... cepat lepas tangan!"

Namun mati-matian Seng Cun-hau meng­genggam tangan ibunya dan tidak mau dilepas, pintanya:

"Aku mohon, aku mohon kau orang tua...."

"Binatang yang tidak berbakti!" umpat Seng Toa-nio penuh amarah, "sudah kupelihara kau dengan susah payah hingga dewasa, sekarang malah membantu orang lain memohon kepadaku, enyah kau dari sini!"

Dengan penuh amarah dia melontarkan sebuah tendangan ke tubuh Seng Cun-hau.

Sambil menggigit bibir menahan rasa sakit, Seng Cun-hau tetap menggengam tangan ibunya dan tidak mau dilepas.

Seng Toa-nio makin gusar, makinya:

"Dasar binatang, anakjadah!"

Sambil memaki kalang kabut, kembali dia melepaskan tendangan berulang kali.

Seng Cun-hau tidak berani berkelit, dia pun tidak berani membalas, darah segar mulai bercucuran membasahi ujung bibirnya, air mukanya berubah semakin pucat, lambat-laun tubuhnya bertambah lemas dan mulai gontai tidak menentu.

Agaknya Pek Seng-bu tidak tega menyaksikan siksaan itu, buru-buru bujuknya sambil tertawa:

"Enso, sudahlah, biar dia lepas tangan, kenapa mesti...."

"Hmm, kalau tidak kubunuh anak jadah ini, percuma dia dibiarkan hidup!" teriak Seng Toa-nio gusar.

Lagi-lagi dia melepaskan dua kali tendangan dan satu pukulan.

Akhirnya Seng Cun-hau tidak kuasa menahan diri lagi, dia mundur sempoyongan hingga ke sudut gua, lalu jatuh terperosok ke bawah.

Menggunakan peluang itu Un Tay-tay menyelinap ke samping Thiat Cing-su dan Im Ting-ting, mereka bertiga mengepal tinjunya kuat-kuat... kini keadaan sudah semakin gawat, situasi sudah berada di ujung tanduk, terpaksa mereka harus bersiap mengadu jiwa.

"Binatang kecil, serahkan nyawamu!" bentak Seng Toa-nio sambil tertawa seram.

Di tengah teriakan keras, telapak tangan-nya diayunkan ke depan...

Mendadak terdengar desingan angin tajam menyambar, sekilas cahaya tajam tahu-tahu sudah meluncur masuk dari luar gua bagaikan bianglala membelah angkasa:

"Triing!", diiringi dentingan nyaring, sebuah benda sudah terpantek di dinding batu.

Ternyata sebilah pedang telah menembus batu cadas, hal ini membuktikan betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki pelempar pedang itu.

Walaupun saat itu Seng Toa-nio telah mengayunkan tangannya, namun rasa kaget membuat dia seakan lupa melepaskan Thian li ciam, begitu pula dengan Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Seng Cun-hau, Un Tay-tay... hampir semua yang ada dalam gua berdiri terperana.

Malahan Lui-pian Lojin pun membuka kembali sepasang matanya, memandang keluar gua dengan pandangan terperanjat.

Untuk sesaat suasana dalam gua terasa hening, sepi, tidak terdengar sedikit suara pun.

"Siapa di luar?" akhirnya Seng Toa-nio tidak mampu menahan diri dan segera menegur.

Tiada jawaban dari luar gua, di tengah keheningan hanya terdengar suara langkah kaki yang sangat berat bergerak mendekat... makin lama semakin dekat.

Suara langkah kaki tunggal, tapi dalam uasana dan keadaan seperti ini justru memiliki daya pengaruh membetot sukma, membuat hati siapa pun tercekat, bergidik.

Langkah kaki itu semakin mendekat, semakin nyaring.

Semua orang merasakan jantungnya berdebar keras, makin lama berdetak makin kencang, hampir semuanya membelalakkan mata, mengawasi mulut gua tanpa berkedip.

Akhirnya sesosok bayangan manusia tinggi kekar, mengikuti suara langkah yang berat dan nyaring, muncul dari balik kegelapan, semakin mendekati orang-orang itu....

Mendadak langkah itu berhenti, tiba-tiba saja bayangan manusia itu berhenti di tengah kegelapan.

Jilatan api obor sulit menjangkau tempatnya berdiri, tidak seorang pun dapat melihat raut mukanya dengan jelas, mereka hanya merasa semacam hawa sesat yang menggidikkan hati seolah terpancar keluar dari tubuh orang itu.

Dua kali Seng Toa-nio menggerakkan mulutnya, namun tidak sepotong suara pun yang muncul.

Saat itulah sebuah suara yang dingin membetot sukma berkumandang dari balik kegelapan.

Terdengar orang itu berkata perlahan:

"Bagus sekali, ternyata di sini ada orang... bagus sekali, ternyata Lui-pian Lojin pun hadir di sini... inilah yang dinamakan mencari sampai sepatu bobrok tidak ketemu, justru ditemukan tanpa sengaja."

"Si... siapa kau?" tanya Lui-pian Lojin.

Bayangan manusia itu tertawa.

"Lui-pian Lojin yang menggetarkan sungai telaga ternyata tidak sanggup mengenali suara sahabat lama yang baru berpisah beberapa tahun, sungguh kejadian yang aneh."

Mendadak bibir Lui-pian Lojin mengejang keras, tubuhnya ikut bergetar kencang, seolah badannya secara tiba-tiba dililit seekor ular berbisa yang dingin dan menyeramkan.

Sampai lama dan lama sekali, dia baru menghembuskan napas panjang:

"Ternyata kau

"Benar, memang aku."

"Mau apa kau datang kemari?"

"Tentu saja mencari dirimu," jawab bayangan manusia itu dengan suara menyeramkan.

"Darimana kau ... kau bisa menemukan tempat ini?"

Bayangan manusia itu tertawa.

"Bagaimana caraku menemukan tempat ini? Sebuah pengalaman yang sangat menarik, sebenarnya aku hanya tahu daerah seputar bukit Lau-san, aku hanya tahu tempat itu lebat dan penuh dengan tebing curam, walaupun sudah mencari berhari-hari, aku belum juga menemukan jejakmu, sampai akhirnya tadi tanpa sengaja kutemukan dua orang yang mencurigakan sedang mencari sesuatu di balik semak...."

"Dua orang macam apa?" tak tahan Lui-pian lojin bertanya.

"Yang satu berusia empat puluh tahunan, berwajah licik dan penuh senyuman busuk, sedang yang lain masih muda tapi tampangnya licik dan jahat, hehehe... kelihatannya mereka berdua bukan manusia baik-baik."

Sekalipun orang itu menggambarkan secara singkat, namun semua tahu siapakah kedua orang yang dimaksud.

"Hmm, mereka pastilah Suto Siau dan Sim sun-pek, dua orang budak laknat," kata Lui-pian lojin gusar.

Kembali bayangan manusia itu tertawa.

"Walaupun aku tidak kenal siapakah mereka, namun setelah melihat gerak-geriknya, timbul perasaan ingin tahuku, maka secara diam-diam aku menguntit dari belakang, ternyata di balik semak terdapat beberapa biji buah catur, tampaknya benda itu dipergunakan sebagai kode rahasia petunjuk jalan. Melihat cara kerja mereka yang begitu rahasia dan misterius, aku semakin ingin tahu apa gerangan yang hendak mereka lakukan."

"Selama kau menguntit di belakang mereka, apakah mereka tidak menyadari?"

"Huuh, kalau hanya mengandalkan kemampuan mereka berdua, mana mungkin bisa menangkap gerak-gerikku. Hmmm ... hmmmm! Kecuali kau, siapa lagi manusia di kolong langit saat ini yang bisa tahu jejakku?"

"Manusia mampus! Betul-betul dua orang mampus!" maki Lui-pian Lojin gusar.

"Sepanjang jalan aku mengikuti terus sampai di luar dinding tebing, akhirnya kedua orang itu menghentikan perjalanan, tidak usah ditanya pun sudah jelas kalau telah tiba di tempat tujuan, tapi kedua orang itu masih nampak ragu, yang muda bertanya:

"Aneh, kenapa penunjuk jalan mengarah­kan kita ke dasar jurang?"

Mendengar sampai di sini, Lui-pian Lojin pun ikut merasa keheranan.

Kecuali Un Tay-tay yang menggeser posisi petunjuk jalan, hampir semua orang yang hadir dalam gua itu merasa tercengang dan tidak habis mengerti.

Terdengar bayangan manusia itu berkata lagi:

"Kedua orang itupun mulai berunding, sampai akhirnya lelaki berwajah licik itu berkata, “Seharusnya tempat persembunyian yang dipilih tua bangka itu sangat rahasia dan tersembunyi letaknya, kemungkinan besar letaknya di dasar jurang, apapun yang terjadi kita harus berusaha untuk menuruninya"

Setelah tertawa tergelak, terusnya:

"Waktu itu aku pun merasa tercengang bercampur keheranan, siapa yang mereka sebut si “tua bangka" itu, hahaha... sekarang aku baru tahu, ternyata tua bangka yang dimaksud adalah kau."

"Kenapa kau tidak mengikuti mereka berdua turun ke dasar jurang?" tanya Lui-pian Lojin gusar.

"Kau mesti menyalahkan kedua orang itu, tampaknya mereka punya niat jahat, sebelum turun kebawah, arah jalan telah mereka alihkan ke posisi yang lain, yaitu menunjuk ke dinding bukit sebelah ini.

"Sebelum bergerak turun, pemuda itu sempat berkata sambil tertawa, “Asal kita pindah arah petunjuk jalan ini, kawanan manusia dungu itu bakal mengenaskan nasibnya!”. Maka sambil Tertawa licik mereka berdua pun merangkak turun kebawah. Aku tidak ingin jejakku ketahuan mereka, maka aku pun menunggu dulu berapa saat."

Un Tay-tay yang mengikuti pembicaraan itu diam-diam menghela napas, pikirnya, “Ternyata segala sesuatunya sudah ditentukan oleh takdir, tidak kusangka arah petunjuk jalan yang sudah kurubah, kini dirubah lagi oleh orang lain dan menunjuk ke arah yang betul.”

Terdengar bayangan manusia itu kembali berkata:

"Siapa tahu baru saja aku menunggu beberapa saat, tiba-tiba muncul lagi dua orang gadis dan seorang pemuda, mereka berjalan sambil bergurau...."

"Aaah, mereka adalah Sun Siau-kiau, Gi Beng dan Gi Teng," tidak tahan Un Tay-tay berseru, kalau mereka bertiga sudah sampai di sini, kenapa tidak nampak batang hidungnya? Mereka bertiga kini... kini berada dimana?"

Bayangan manusia itu tidak menjawab, dia berkata lebih lanjut:

"Ternyata mereka bertiga pun sedang mencari petunjuk jalan, kusangka kali ini mereka bakal salah alamat, siapa tahu kejadian di dunia ini memang aneh dan mukjizat, yang salah ternyata benar, yang benar ternyata malah salah. Setelah mencari setengah harian, akhirnya ketiga orang itu berhasil menemukan lorong rahasia ini, kalau bukan lantaran mereka bertiga, mana mungkin aku bisa menemukan padang rumput yang sangat langka seperti ini, kalau bukan lantaran pedang itu menancap di luar gua, mana mungkin aku tahu di balik padang rumput yang luas dan lebat ternyata terdapat sebuah gua yang begini rahasia?"

Bicara sampai di sini, tidak tahan lagi dia tertawa terbahak-bahak.

Semua orang mendengarkan dengan mata terbelalak dan mulut melongo, siapa pun tidak menyangka kedua kejadian yang tidak sengaja justru mendatangkan perubahan yang luar biasa besarnya, bahkan akan merubah segala sesuatu­nya.

Di tengah keheningan yang mencekam, akhirnya selangkah demi selangkah bayangan manusia itu muncul.

Di bawah cahaya api, terlihat dia mengena­kan jubah berwarna merah darah dan berwajah merah bagaikan kobaran api.

"Siang-tok Thaysu!" begitu melihat wajah­nya, semua orang menjerit kaget.

Terdengar Un Tay-tay berteriak keras:

"Kau telah apakan Gi Beng bertiga? Kau sudah turun tangan menyelamatkan mereka bersaudara, tidak sepantasnya kau mencelakai mereka sampai mati."

"Hmmm, hanya andalkan kemampuan mereka bertiga masih belum pantas bagiku untuk mencabut nyawanya," sahut Siang-tok Thaysu dingin, "saat ini mereka bertiga masih hidup, hanya untuk sementara waktu tidak mampu bergerak."

Kemudian sambil memandang Seng Cun-hau dan Che Toa-ho yang tergeletak di sudut gua, kembali ujarnya sambil tertawa seram:

"Tidak kusangka dua orang kelinci percobaan yang telah membantu aku menjajal tubuh Dewa racun masih berada di sini, tapi ... kenapa sampai sekarang kalian belum mampus?"

Sekali lagi dia memandang sekejap orang orang yang keracunan dalam gua itu, mendadak wajahnya berubah, cepat dia berjongkok, memeriksa kelopak mata Lui Siau-tiau dan mengawasi­nya beberapa saat.

Tiba-tiba paras mukanya berubah makin hebat, teriaknya tertahan:

"Coat cing hoa... Coat cing hoa! Siapa yang telah membuat racun dari Coat cing hoa? Orang she Lui, jangan-jangan kau pun sudah terkena racun Coat cing hoa?"

Lui-pian Lojin hanya mendengus dingin.

Tiba-tiba Siang-tok Thaysu membentak:

"Dewa racun ada dimana?"

Baru selesai dia berteriak, sesosok bayangan manusia bagaikan sukma gentayangan telah muncul di hadapan semua orang.

Sekujur tubuhnya kaku bagai baja, muka­nya kaku, sorot matanya tajam bagaikan dua kaitan yang siap membetot sukma siapa pun.

Kelihatannya tubuh orang itu sudah kaku secara keseluruhan, bukan saja tidak bisa ditekuk, bahkan caranya bergerak sangat bebal dan kaku,

Biarpun begitu, gerakan tubuhnya cepat tanpa menimbulkan suara apapun, dalam satu kelebatan tahu-tahu sudah muncul di depan semua orang.

Hawa dingin yang menggidikkan hati seketika muncul dari dasar kaki semua orang dan mencekam perasaan siapa pun, namun semua orang berusaha membuka matanya lebar-lebar, siapa pun ingin melihat macam apakah makhluk aneh itu.

Namun begitu memandang, sorot mata mereka seolah sudah melekat di tubuh orang itu dan tak mampu digeser kembali.

Seng Toa-nio memandang beberapa saat, tiba-tiba dengan perasaan bergidik, bisiknya lirih:

"Leng It-hong!"

Siang-tok Thaysu tertawa seram.

"Leng It-hong sudah mampus, yang muncul sekarang hanya tubuh kasarnya...."

Setelah mundur setengah langkah, dia tepuk punggung Dewa racun itu sambil menghardik nyaring:

"Dewa racun, dengarkan perintah."

Begitu tapukan itu dilontarkan, tubuh si Dewa racun segera bergetar aneh, jelas dibalik tepukan itu tersembunyi daya pengaruh yang luar biasa, daya pengaruh yang bisa mengendalikan pikiran Dewa racun.

Terdengar Siang-tok Thaysu berseru dengan suara dalam:

"Tubuh Dewa racun muncul, tiada tanding­an di kolong langit, perguruan pemakan racun, malang melintang di sungai telaga... Dewa racun, cepat bunuh semua orang yang berada dalam gua ini! Jangan pedulikan lelaki perempuan, tua muda, semuanya bantai sampai ludes, jangan biarkan seorang pun tetap hidup... pergi!"

Sambil berkata dia mundur sejauh tujuh langkah lebih, sementara si Dewa racun perlahan-lahan mengangkat sepasang tangannya.

 

BAB 38

Gara-gara Bencana Mendapat Rezeki.

 

Tebing curam itu tidak terlalu terjal, ketinggiannya pun tidak terlalu menjulang, namun Suto Siau serta Sim Sin-pek harus menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk mencapai dasar jurang itu.

Ketika tiba di dasar jurang, pakaian yang mereka kenakan sudah compang-camping tidak keruan, topi yang dikenakan pun entah sudah lenyap entah kemana, selain tubuhnya dekil, rambut pun sudah kotor oleh semak, keadaannya sangat mengenaskan.

"Tua bangka itu benar-benar rada aneh," seru Suto Siau jengkel, "kenapa memilih tempat macam begini untuk bertemu, bikin susah kita saja."

Sim Sin-pek menghela napas panjang, ujarnya:

"Kalau Tecu menengadah memandang ke atas, aku benar-benar tidak percaya kalau tadi kita turun dari tempat itu, kalau sekarang Tecu disuruh merangkak sekali lagi, mungkin Tecu bakal jatuh terpeleset."

"Itulah sebabnya aku suruh kau merangkak tanpa memandang ke bawah, kalau tidak, mungkin kau sudah mati terpeleset sejak tadi."

Begitulah, dua manusia busuk yang sehati itu melanjutkan perjalanannya sambil bergurau dan berbincang.

Dasar jurang itu merupakan bentangan hutan yang berpohon rendah, daunnya sangat rimbun.

Dengan  pedang  terhunus  Sim  Sin-pek berjalan lebih dulu membuka jalan, sementara Suto Siau membuntuti dari belakang, perjalanan itu boleh dibilang amat sulit dilalui, sepanjang jalan mereka berdua harus menembus semak lebat dan menerobos onak tajam, tidak heran pakaian mereka semakin compang-camping tidak keruan.

Selesai menembus hutan belukar itu, mereka berdua belum juga menemukan sesuatu tanda atau jejak manusia.

"Sialan!" umpat Suto Siau dengan kening berkerut, "dimana tua bangka itu menyembunyikan diri?"

"Jangan-jangan kita salah jalan?"

Suto Siau mendengus dingin, dia berebut berjalan lebih dulu untuk membuka jalan, tapi sepertanakan nasi kemudian mereka makin merasa gelagat tidak benar.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Suto Siau, cepat dia menghentikan larinya sambil berseru:

"Celaka, kita benar-benar salah jalan!"

"Tapi petunjuk jalan itu jelas mengarah kemari, mana mungkin...."

"Kita pun bisa mengalihkan petunjuk jalan itu, memangnya orang lain tidak bisa melakukan hal yang sama?" tukas Suto Siau cepat, "besar kemungkinan ada orang yang tiba lebih dulu di situ dan mengalihkan petunjuk jalan itu ke arah lain."

Sim Sin-pek tertegun, serunya kemudian:

"Benar juga, pasti begitu kejadiannya."

Memandang penampilan sendiri yang amat mengenaskan, tidak kuasa lagi dia mencaci-maki kalang-kabut:

"Manusia terkutuk mana yang telah melakukan perbuatan tidak tahu malu ini, bikin susah kami saja, tidak ada hujan tidak ada angin kami mesti menderita banyak siksaan dan penderitaan dengan percuma."

Dia seolah lupa dirinya sendiri pun seorang lelaki terkutuk yang tidak tahu malu, bahkan kebusukannya tidak di bawah orang lain. Terbukti mereka pun ikut memindahkan tanda petunjuk jalan itu ke arah lain, hanya bedanya perbuatan mereka belum sempat mencelakai orang lain, awak sendiri yang menderita terlebih dulu.

Setelah menghela napas panjang dan tertawa getir, kembali Suto Siau berkata:

"Tadi kita telah mengubah posisi petunjuk jalan itu ke arah lain, ternyata kesalahan yang sengaja kita lakukan justru menunjukkan ke arah yang benar."

"Bagaimana baiknya sekarang?"

"Bagaimana baiknya? Tentu saja harus secepatnya balik ke atas."

Baru saja mereka berdua hendak mem­balikkan tubuh, mendadak dari kejauhan terdengar suara orang berteriak keras, kedua orang itu segera saling berpandangan sekejap, kemudian tanpa membuang waktu, mereka bergerak cepat menuju ke arah sumber teriakan itu.

Tapi suasana di sekeliling tempat itu sangat hening, suara jeritan yang terdengar tadi pun tiba-tiba lenyap tidak berbekas.

Kembali kedua orang itu menempuh perjalanan beberapa saat lamanya, tapi tidak selang lama, kembali mereka berdua kehilangan arah dan tidak tahu lagi posisi mata angin.

Sim Sin-pek tidak tahan segera berseru:

"Kalau kita berjalan lagi terus ke depan, mungkin arah untuk balik pun bakal tidak ketemu, menurut pendapat Tecu, lebih baik sekarang juga kita balik ke tempat semula!"

"Tapi suara teriakan itu terdengar sangat aneh," kata Suto Siau dengan kening berkerut.

Mengikuti pandangan matanya, Sim Sin-pek ikut berpaling, tampak olehnya sebuah hutan bunga merah bagaikan kobaran api telah muncul di depan mata, cahaya aneh yang menyilaukan mata serasa memancar keluar dari balik pepohonan itu.

Sekalipun dia bukan termasuk orang yang suka bunga, tidak urung pujinya juga:

"Ooh, sungguh indah... Tecu tidak pernah menyangka di kolong langit terdapat bunga segar seindah dan secantik ini."

Berbeda dengan Sim Sin-pek, Suto Siau justru mengernyitkan kening makin kencang, sesudah termenung sesaat, ujarnya:

"Aneh, kenapa di tengah hutan dan rawa-rawa yang begini terpencil dan berbahaya justru tumbuh bunga segar seindah dan secantik ini, aku yakin pasti ada yang tidak beres dengan bunga itu, mari kita tengok ke sana."

Sebagai orang yang sangat berhati-hati, begitu masuk ke dalam hutan bunga, dia segera memperlambat langkahnya, bukan saja ayunan kakinya bertambah lambat, bahkan makin ringan, seolah-olah kuatir suara langkahnya akan mengagetkan seseorang.

Sim Sin-pek memandang sekejap sekeliling tempat itu, tidak tahan serunya:

"Tempat ini...."

"Ssttt!" tidak sampai kata berikut diucap­kan, Suto Siau sudah menempelkan jari tangannya ke atas mulut.

Terpaksa Sim Sin-pek memperkecil nada suaranya dan berbisik:

"Dalam hutan bunga itu tidak nampak bayangan manusia, kenapa mesti berhati-hati?"

Suto Siau tertawa dingin.

"Hutan bunga ini amat luas, darimana kau bisa yakin disini tidak ada orang lain?" tegurnya.

Sim Sin-pek tertegun, serunya kemudian tergagap:

"Tecu... Tecu tidak yakin."

"Nah, itulah dia, bila di dalam hutan bunga yang amat misterius ini terdapat seseorang, dapat dipastikan dia adalah seorang tokoh yang misterius pula, apa salahnya kita bertindak lebih hati-hati."

"Benar juga perkataan kau orang tua," Sim Sin-pek tertawa paksa.

Belum lagi perkataan itu selesai diucapkan, mendadak dari bawah tumpukan bunga muncul sepasang telapak tangan seperti cakar burung, satu dari kiri yang lain dari kanan, secepat petir langsung menyambar tungkai kaki kedua orang itu.

Kontan saja tubuh kedua orang itu jatuh terjerembab, dalam kaget dan terkesiapnya, mereka menjerit keras.

Tapi kedua belah tangan aneh itu telah bergeser naik, dari tungkai kaki kini secepat kilat membekap mulut mereka, kemudian terdengar suara seseorang meski agak menyeramkan namun terasa sangat dikenal bergema di sisi telinga:

"Jangan berisik!"

Tanpa terasa kedua orang itu memutar biji matanya dan menengok, dari balik kerumunan bunga terlihat orang itu bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, matanya tajam bagai mata elang, ternyata dia bukan lain adalah Hong Lo-su.

"Kenapa kau orang tua bisa berada di sini?" tegur Suto Siau keheranan.

"Sstt, jangan berisik, cepat bersembunyi kemari," bisik Hong Lo-su dengan suara lirih.

"kalau sampai terdengar gembong iblis lain yang berada di seberang sana, kita bakal mampus semua."

Dengan cepat Suto Siau dan Sim Sin-pek bersembunyi ke balik pepohonan bunga, meski begitu, timbul juga perasaan sangsi bercampur heran di hati mereka, tidak mereka sangka manusia macam Hong Lo-su pun bisa menunjuk-kan perasaan ketakutan semacam ini, bisa dibayangkan betapa lihainya gembong iblis yang dimaksud....

Kedua orang itu semakin tidak berani bersuara, bahkan napas pun nyaris ikut ditahan.

Sambil menahan panas, ketiga orang itu menunggu beberapa saat lamanya.

Mendadak terdengar suara senandung ber­kumandang dari balik pepohonan di seberang sana.

"Melarikan kuda menuju pintu timur, jauh memandang pepohonan nan hijau.

Pohon siong di pinggir jalan raya, di bawah pohon telentang orang mati....

Tidur nyenyak di alam baka, selamanya tidak pernah mendusin kembali...."

Suara nyanyian itu merdu dan memikat hati, membuat siapa pun yang mendengar ikut merasa sedih, bahkan Suto Siau sekalian pun ikut termangu dibuatnya, mereka tidak tahu harus ikut sedih atau gembira.

Terlepas harus merasa sedih atau gembira, rasa tercengang yang menyelimuti perasaan mereka jauh melebihi rasa sedih dan gembira.

Mimpi pun Suto Siau dan Sim Sin-pek tidak menyangka kalau gembong iblis yang membuat Hong Lo-su begitu ketakutan ternyata tidak lain hanya seorang gadis yang menyanyikan senandung sedih itu.

Walaupun suara nyanyian telah berhenti, namun masih bergaung di tengah pepohonan bunga.

Tiba-tiba Hong Lo-su berbisik lagi:

"Jangan bergerak, sudah datang, sudah datang!"

Terasa angin lembut berhembus lewat, terjadi gelombang kecil di tengah kerumunan bunga.

Dari balik rimbunnya pepohonan terlihat seorang wanita cantik berbaju indah, berambut hitam dengan tusuk konde mutiara menghiasi kepalanya, perlahan-lahan berjalan mendekat, tangan kirinya membawa sebuah keranjang bunga, sedang tangan kanan membawa sebuah cangkul kecil.

Dipandang dari kejauhan, terlihat wajahnya cantik bagaikan lukisan, kulitnya putih bersih bagai salju, gerak-geriknya anggun bagai bidadari, bahkan setiap langkahnya seolah mengandung daya tarik yang luar biasa.

Ketika cahaya bunga bertatapan dengan wajah perempuan itu, meski sang bunga terlihat indah, namun tidak dapat mengungguli kecantikan wanita itu.

Kembali terjadi riak kecil di tengah bebungaan, dia berjalan menembus bebungaan dengan begitu santai dan indahnya, walaupun gelombang bunga memancarkan suasana alami, namun dibandingkan daya tarik yang terpancar dari tubuhnya, terasa wanita itu jauh lebih alami, jauh lebih menarik beribu kali lipat.

Hampir terperana Suto Siau dan Sim Sin-pek menyaksikan keanggunan wanita itu, perasaan tercengang pun seketika menyelimuti hatinya.

"Wanita ini cantik bak bidadari dari langit, aneh, kenapa Hong Lo-su begitu ketakutan? Mungkinkah wanita lemah lembut ini justru memiliki kepandaian silat yang maha dahsyat? Siapakah dia?"

Wanita cantik berbaju indah itu masih berjalan santai, mimik mukanya menunjukkan kesepian, keriangan yang terpancar membawa keseriusan yang luar biasa, seolah perasaannya selalu tercekam dalam kemurungan yang berke­panjangan dan tiada putusnya.

Namun sepasang matanya yang jeli, bergerak tiada hentinya ke sekeliling tempat itu, setiap kali bertemu bunga yang bentuknya kelewat besar atau warnanya kelewat cerah, dia selalu mengayunkan cangkulnya dan memindahkan sang bunga merah itu ke dalam keranjangnya.

Caranya memacul kelihatan begitu lincah, begitu indah, tapi Suto Siau dapat menangkap, sekalipun hanya sebuah gerakan mencangkul yang ringan, paling tidak telah disertai tenaga dalam hasil latihan selama puluhan tahun lamanya.

Ayunan tangannya nampak begitu tepat, penggunaan tenaganya begitu berimbang... hanya meleset setengah inci saja mana bisa bunga segar itu melayang masuk ke dalam keranjang dengan tepat?

Perlahan dia berjalan mendekat, berjalan mendekati tempat dimana mereka bersembunyi.

Kembali Suto Siau lihat biarpun wanita itu cantik bak bidadari, namun kecantikannya sudah mulai dimakan usia, rona ketuaan mulai muncul di wajahnya yang halus, di ujung kelopak mata terlihat pula kerutan yang mulai menumpuk. Biarpun usianya bertambah tua, namun tidak menutup daya tariknya yang luar biasa, daya tarik yang dapat membuat orang rela mengeluarkan tenaga, rela mengorbankan segalanya demi perempuan itu.

Kecantikannya yang luar biasa, seakan berhasil mengatasi berjalannya usia, berhasil mengalahkan ketuaan yang tidak berperasaan.

Waktu itu telapak tangan Hong Lo-su masih menggenggam pergelangan tangan kanan Suto Siau, kini Suto Siau dapat merasakan jari tangannya yang dingin bagai es mulai gemetar seperti orang kedinginan.

Suto Siau serta Sim Sin-pek sendiri meski tidak merasakan sesuatu yang menakutkan pada diri perempuan cantik itu, namun terpengaruh oleh sikap Hong Lo-su, tanpa terasa timbul juga perasaan bergidik.

Mereka bertiga berbaring di atas tanah berlumpur, tidak berani bernapas keras, tidak berani pula bergerak.

Entah sejak kapan seekor semut merayap naik ke ujung hidung Hong Lo-su, tapi sambil menggigit bibir Hong Lo-su menahan rasa gatal yang luar biasa, dia tidak berani menggerakkan tangannya untuk membunuh semut itu.

Langkah perempuan cantik berbaju indah itu sangat lambat, tapi akhirnya berjalan lewat juga dari hadapan mereka... biarpun hanya beberapa menit, namun bagi Suto Siau, saat penantian itu sungguh lebih lama ketimbang menunggu selama sepuluh tahun.

Kembali Suto Siau menemukan sesuatu yang luar biasa, tanah lumpur bekas dilalui perempuan cantik itu ternyata sama sekali tidak meninggalkan bekas, ujung gaun serta sepatunya yang indah tidak nampak kotor, bahkan terkena sedikit noda pun tidak.

Padahal tanah rawa itu penuh dengan lumpur becek...

Andaikata dia bergerak cepat dengan meng­andalkan ilmu meringankan tubuh, hal itu bukanlah sesuatu kejadian yang aneh, tapi sekarang dia berjalan begitu santai, mengayunkan langkahnya dengan begitu lambat....

Tidak tahan Suto Siau menghembuskan napas dingin, bisiknya:

"Kungfu yang hebat! Kungfu yang luar biasa!"

"Omong kosong," sahut Hong Lo-su dingin, "kalau dia tidak lihai, kenapa aku begitu takut kepadanya? Terus terang saja, selama hidup Lohu tidak pernah takut langit dan bumi, tapi yang paling kutakuti adalah nenek busuk itu."

Suto Siau menggerakkan bibirnya seperti ingin menanyakan sesuatu, namun niat itu diurungkan, sampai pada akhirnya dia tidak tahan dan bertanya juga:

"Sebenarnya siapakah dia?"

Waktu itu perempuan cantik misterius itu sudah pergi sangat jauh, itulah sebabnya dia baru berani mengajukan pertanyaan itu,  namun suaranya tetap sangat lirih.

Sedemikian lirihnya suara bisikan itu sampai Sim Sin-pek yang berada di sisinya pun tidak dapat mendengar dengan jelas.

Siapa tahu, baru saja dia selesai bicara, segulung hembusan angin lirih telah menyambar lewat, gaun indah perempuan cantik itu tahu-tahu sudah meluncur balik persis di hadapannya.

Saking takutnya, kontan saja Suto Siau merasakan detak jantungnya nyaris berhenti berdebar.

Terdengar perempuan cantik itu membuka suara dan bertanya dari balik bebungaan, suaranya amat merdu:

"Siapakah kau?"

Suto Siau mendekam semakin rapat di atas tanah, jangankan bergerak, menjawab pertanyaan itupun tak berani.

Hong Lo-su yang berada di sisinya dengan cepat mencubit pahanya dengan keras, sekalipun tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun maksudnya sangat jelas, artinya:

"Kau yang mencari gara-gara, kau juga yang harus bertanggung jawab, kenapa masih mendekam di situ?"

Bisa dibayangkan betapa keras dan kuatnya cubitan Hong Lo-su, saking sakitnya hampir saja Suto Siau melompat bangun, tapi sebelum dia melakukan sesuatu, sebuah cangkul tahu-tahu sudah menyambar tiba dan menggaet baju bagian dadanya.

Tidak ampun lagi tubuhnya tergaet keluar dari tempat persembunyian, Suto Siau mencoba meronta namun tidak berhasil, mau kabur pun gagal, bahkan usahanya untuk mendekam kembali ke tanah pun tidak mampu, terpaksa dia hanya bisa berdiri mematung.

Perempuan cantik itu mengernyitkan alis matanya, seperti murung dan juga marah, tapi suara tegurannya masih terdengar begitu halus dan lembut:

"Ayo, bicaralah!"

"Boanpwe... Boanpwe...."

Walaupun dia ingin sekali berbicara, apa daya sepasang  giginya beradu keras saking takutnya, dalam keadaan begini, mana mungkin dia anggup mengucapkan sesuatu?

Kembali perempuan cantik itu menghela napas, katanya:

"Masih ada dua orang lagi, silakan keluar semua!"

Baru selesai suara teguran itu berku­mandang,  sesosok bayangan  manusia telah meluncur keluar dari balik bebungaan dengan kecepatan luar biasa, bayangan itu diiringi jeritan kaget langsung menerjang ke tubuh perempuan cantik itu, sementara bayangan manusia yang lain terlihat kabur ke arah belakang.

Siapa tahu pada saat bersamaan perempuan cantik itu sudah menggeser tubuhnya tiga langkah ke samping, begitu cangkulnya diayunkan, tubuh Suto Siau malah meluncur ke depan menyongsong kedatangan tubuh Sim Sin-pek.

"Bruukk”, diiringi suara benturan, dua orang itu seketika roboh terjungkal ke tanah.

Terdengar perempuan cantik itu berseru:

"Oooh, rupanya Hong Lo-su, ayo, balik kemari!"

Sekilas benang berwarna keperak-perakan kembali meluncur dari balik ujung bajunya.

Benang perak itu meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa, arah yang ditujupun sangat lurus, tapi bukan tubuh Hong Lo-su yang dituju, dalam sekejap mata tahu-tahu benang perak tadi sudah melampaui tubuh Hong Lo-su.

Dalam gugupnya Suto Siau masih menyempatkan diri mencuri lihat, baru saja dia keheranan, tahu-tahu benang perak yang sudah melampaui tubuh Hong Lo-su itu meledak dan memercikkan selapis hujan berwarna keperak-perakan.

Cahaya hujan keperak-perakan itu bagai­kan bunga api yang memencar ke empat penjuru, ada yang menyebar ke samping memotong jalan pergi Hong Lo-su, ada pula yang menyongsong wajah Hong Lo-su.

Ternyata benang perak yang lurus bagai toya itu tidak lain adalah bintang perak sebesar kacang kedelai yang dirangkai menjadi  satu, ujung depan serta ujung ekor meluncur berhimpitan dan menyerang hampir berbareng.

Walaupun sekilas pandang kecepatannya hampir sama, padahal terdapat selisih waktu cukup banyak... ujung depan meluncur jauh lebih lambat ketimbang ujung ekor, hanya saja selisih waktunya begitu kecil hingga mustahil bisa ditangkap dengan mata telanjang.

Karena ada selisih kecepatan antara bintang perak yang di depan dan belakang, sewaktu melampaui tubuh Hong Lo-su, bintang perak yang da di belakang menumbuk bintang perak di depannya, sekilas cahaya perak pun meledak menjadi selapis hujan perak yang menyilaukan mata.

Ketika terjadi benturan keras, bila kekuatan-nya meleset ke samping, maka bintang perak itu akan menyebar kedua belah sisi, sebaliknya bila kekuatan bintang perak sebelah belakang agak lemah, maka cahaya itu akan terbentur cahaya depan yang memantul hingga meluncur ke arah tubuh Hong Lo-su.

Kelihatannya saja perempuan cantik itu mengayunkan senjata rahasia sekenanya, padahal arah, sasaran, kecepatan, kekuatan serta ketepatan yang dia lakukan terhadap setiap untaian bintang perak itu benar-benar luar biasa, boleh dibilang kemampuannya mengendalikan setiap senjata rahasianya sudah mencapai tingkat kesempurnaan, tidak terbayangkan.

Tidak terlukiskan rasa kaget Suto Siau setelah menyaksikan kehebatan perempuan cantik lu, dia berdiri terbelalak dengan mulut melongo, lagaknya persis ayam dari batu.

Cahaya perak  berkilat, hujan cahaya berhamburan ke empat penjuru, sambil meraung keras, sekuat tenaga Hong Lo-su melontarkan sepasang tangannya ke depan, tubuhnya ber­jumpalitan di tengah udara, maksudnya ingin melewati kerumunan tanaman bunga itu.

Perempuan cantik itu segera menggetarkan cangkulnya, hujan cahaya perak yang berada puluhan kaki jauhnya itu seakan bernyawa saja, tahu-tahu berbalik arah dan semuanya meluruk ke belakang tubuh Hong Lo-su.

Begitu mendengar desingan angin tajam berkumandang dari belakang tubuhnya, pecah nyali Hong Lo-su saking takutnya, tubuhnya yang masih melambung di udara tidak sanggup lagi menghindarkan diri, "Brukkk!", dia langsung jatuh terjerembab di tengah bebungaan.

Kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri, Suto Siau tidak bakal percaya di kolong langit terdapat senjata rahasia yang begitu hebat dan mengerikan... gerakan senjata rahasia seakan dikendalikan tenaga iblis, sanggup bergerak dan berputar sekehendak hati.

"Triiing, traaang, trriing... traaang....” di tengah dentingan nyaring, tiba-tiba cahaya perak itu lenyap tidak berbekas, hujan cahaya pun mereda.

Bagaikan rombongan lebah yang pulang sarang, puluhan titik cahaya perak itu tiba-tiba meluncur balik ke arah cangkul bunga itu, ternyata di balik cangkul itu terdapat besi magnit yang berkekuatan besar, daya tarik itu berhasil menarik kembali seluruh senjata rahasia yang telah dipancarkan.

Begitu menyimpan kembali semua senjata rahasianya ke dalam saku, perempuan cantik itu menghela napas dan berseru:

"Hong Lo-su, ayo bangun!"

Hong Lo-su  masih  berbaring di  atas tumpukan bunga, sama sekali tak bergerak.

"Hong Lo-su, kenapa kau berlagak mampus?" kembali perempuan cantik itu menegur.

Hong Lo-su masih belum bergerak.

"Aaaai!" perempuan cantik itu menghela napas panjang, "kalau kau memang ingin cepat mampus, baiklah, biar aku tambahi dengan satu cangkulan lagi."

Sambil berkata, dia mengayunkan cangkul­nya dan langsung dibabatkan ke tubuh Hong Lo-su yang masih tergeletak kaku.

Begitu diancam, Hong Lo-su baru menjerit keras sambil melompat bangun dari tumpukan bunga, sembari membenahi pakaiannya yang compang-camping dan penuh lumpur, dia tertawa cekikikan dan berkata:

"Jici, baik-baikkah kau? Siaute memberi salam untukmu."

Lagaknya persis seperti seorang badut kecil, keangkeran dan kewibawaannya sebagai seorang tokoh aneh dunia persilatan seolah sudah punah sama sekali.

"Untung masih agak baikan, tidak mati lantaran dibuat jengkel oleh ulah kalian," sahut perempuan itu lagi sambil menghela napas.

"Kapan siaute pernah membuat jengkel Jici?"

"Baiklah, kalau begitu aku ingin tanya, setelah melihat aku, kenapa kau justru bersembunyi macam kadal ketakutan dan tidak berani menjumpai aku?"

Hong Lo-su menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa paksa, sahutnya tergagap:

"Soal ini... soal ini...."

"Kenapa? Cepat jawab!"

Tiba-tiba Hong Lo-su menuding ke arah Suto Siau dan serunya:

"Dia yang menyuruh aku bersembunyi."

Saking terperanjatnya, Suto Siau sampai merangkak bangun, jeritnya:

"Boanpwe... aku...."

Biasanya dia pandai bersilat lidah, tapi setelah berhadapan dengan wanita cantik bak bidadari dari kahyangan ini, entah mengapa mulutnya seperti susah dibuka, jangankan membantah, mau bersuara pun susah.

"Tidak usah takut," kata perempuan cantik itu, "aku tahu memang bukan kau."

"Tapi jelas dia... dia yang menyuruh... ya, dia yang menyuruh ...."teriak Hong Lo-su.

"Hong Lo-su, lagi-lagi kau membohongi aku, dia sama sekali tidak mengenali siapa aku, itulah sebabnya dia bersuara untuk bertanya padamu... benar bukan?"

Kelihatannya perasaan perempuan ini dipenuhi oleh kemurungan dan kemasgulan, setiap kali selesai mengucapkan sesuatu dia selalu menghela napas panjang, namun helaan napas yang penuh kemasgulan itu bagi pendengaran Suto Siau justru jauh lebih menyeramkan ketimbang jeritan ngeri seseram apapun.

Hong Lo-su yang di hari biasa tampil garang dan galak pun saat ini dibuat lemas badannya karena ngeri oleh suara helaan napas itu, ujarnya tergagap:

"Jici...Siaute...."

"Hanya kau seorang yang tahu kalau aku adalah Jicimu, hanya kau yang tahu aku memetik bunga di sini karena sedang meramu senjata rahasia yang sangat beracun."

"Aku tidak tahu... aku tidak tahu...." sekuat tenaga Hong Lo-su menggelengkan kepala berulang kali.

Untuk kesekian kalinya perempuan cantik itu menghela napas.

"Kau tahu dan kau sangat tahu, bahkan kau pun tahu, setiap kali aku sedang melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan senjata rahasia, aku paling pantang ada orang mengintip, bila kutemukan ada orang sedang mengawasi pekerjaanku, dia pasti akan kubunuh!"

Tercekat perasaan Suto Siau, tanpa sadar dia latuh berlutut.

"Aku tidak mencuri lihat... aku tidak mencuri lihat...." jerit Hong Lo-su keras

Perempuan cantik itu menghela napas sedih, katanya:

"Coat cing hoa memang butuh darah segar untuk diramu jadi obat, dengan campuran itu sifat racunnya baru bekerja prima, hanya sayang.... aaaii! Darahmu masih kelewat sedikit "

"Betul! Betul! Betul!" seru Hong Lo-su cepat, darahku memang kelewat sedikit, bahkan bau sekali... darah yang dimiliki dua orang muda itu pasti lebih banyak dan lebih segar...."

Suto Siau jadi ketakutan setengah mati, jeritnya dengan suara gemetar:

"Darah... darahku pun sedikit dan... dan sangat bau...."

"Aaaai!”, darah dari lelaki tidak tahu malu macam kalian memang semuanya bau dan dingin, memakai darah yang bau dan dingin untuk meramu obat racun justru sangat bagus hasilnya."

"Darahku harum... ehm, harum sekali..." jerit Hong Lo-su.

Tiba-tiba dia menggigit lengan  sendiri, percikan darah segar segera berhamburan, sambil menyodorkan lengannya yang hitam dan kurus itu dihadapan si perempuan cantik, katanya lagi sambil tertawa terkekeh:

"Betul-betul harum, kalau tidak percaya coba enduslah, ehmmm ... harum... sungguh harum

Lagaknya sekarang sudah tidak mirip badut lagi, tapi sudah seperti seorang gila.

"Ehmm, ternyata memang harum... lebih bagus lagi kalau harum baunya," ujar perempuan cantik itu perlahan.

Bergetar keras sekujur badan Hong Lo-su, secara beruntun dia mundur tiga langkah, jeritnya:

"Kau...kau....”

"Apakah kalian ingin memaksa aku turun tangan sendiri?"

Tiba-tiba Hong Lo-su melompat bangun, umpatnya:

"Dasar perempuan siluman, perempuan berhati busuk, kau memang edan, sinting... tidak waras otaknya, memang kau sangka aku Hong Lo-su betul-betul takut kepadamu? Boleh saja orang lain takut, tapi aku Hong Lo-su justru tahu, kau tidak lebih hanya orang sinting... kau... biarpun penampilanmu kelihatan waras, padahal sejak putrimu kabur meninggalkan dirimu, kau sudah sinting, sudah edan!"

Sambil melompat bangun dan memukul dada sendiri, dia mencaci-maki kalang-kabut, begitu asyiknya dia mengumpat sampai air liur pun ikut beterbangan kemana-mana, bahkan semakin memaki, perkataan yang digunakan semakin jahat, kotor dan sadis.

Waktu itu Suto Siau sudah ketakutan setengah mati hingga kaki dan tangannya dingin bagaikan es, wajahnya pucat-pias bagai mayat, menurut perkiraannya, kali ini perempuan cantik itu pasti tidak akan melepaskan mereka begitu saja.

Siapa tahu begitu mendengar umpatan itu, bukan saja perempuan cantik itu tidak menjadi marah, sebaliknya secara tiba-tiba dia malah mulai menangis terisak, butiran air matanya jatuh berlinang bagaikan seuntai kalung mutiara yang putus tali.

Hong Lo-su yang mencaci-maki kalang-kabut akhirnya merasa kelelahan, dia berhenti memaki sambil mengatur napasnya yang tersengal, tapi begitu melihat perempuan cantik itu malah menangis, dia jadi tertegun hingga berdiri melongo dengan mata terbelalak.

Makin menangis, perempuan cantik itu cmakin sedih, akhirnya dia menutupi wajah sendiri dengan kedua belah tangan dan menangis tersedu-sedu, bukan cuma cangkulnya saja yang sudah terlepas dari genggaman, bahkan keranjang bunga berikut bunga segar yang ada dalam keranjang pun ikut berserakan di tanah.

"Ling-ling! Oooh... anakku, putri sayangku," jeritnya sambil menangis, "ucapan pria busuk itu benar juga, sejak kepergianmu, ibu sudah jadi gila....”

Saat ini kecantikannya yang anggun bagai bidadari dan penampilannya yang menawan hati seolah hilang tidak berbekas, dia tidak jauh berbeda dengan perempuan mana pun di dunia ini yang sedang dicekam perasaan sedih.

Mendadak dari balik tumpukan bunga segar terdengar suara rintihan.

Suara rintihan itu terdengar begitu lirih, lemah, membuat iba hati siapa pun yang mendengar.

Suto Siau maupun Sim Sin-pek yang masih tercekam perasaan ngeri, semakin tertegun dibuat­nya.

Perempuan cantik itu segera menerjang maju, ujung bajunya dikebaskan berulang kali, di antara bebungaan yang beterbangan di udara, terlihat dari balik tumpukan bunga merah muncul selembar wajah cantik.

Mula-mula perempuan cantik itu kelihatan terkejut, kemudian sesudah tertegun, isak tangisnya kontan berhenti, dia mundur tiga langkah sambil mendongakkan kepala, lalu tertawa keras, cepat dia menubruk maju dan membopong tubuh orang yang berada di balik tumpukan bunga.

Walaupun orang yang berada di balik tumpukan bunga itu merintih lirih, namun dia masih berada dalam keadaan tidak sadar.

Dengan penuh kegembiraan wanita cantik itu menciumi tangannya, mencium pipinya, sambil menangis bercampur tertawa, jeritnya seperti orang gila:

"Ling-ling... Ling-ling... ooh, putriku, putriku sayang, anakku sayang... ternyata selama ini kau bersembunyi di balik tumpukan bunga, tidak heran ibu tidak menemukan dirimu....”

Saat ini Suto Siau maupun Sim Sin-pek sudah melihat dengan jelas orang yang baru dikeluarkan dari tumpukan bunga itu tidak lain adalah Sui Leng-kong, mereka berdua saling pandang dan berdiri terperangah.

Akhirnya Suto Siau tidak mampu menahan diri lagi, tegurnya:

"Jadi...jadi Sui Leng-kong adalah putrinya?"

"Bukan," Hong Lo-su menggeleng sambil tertawa licik, "dia jadi edan karena memikirkan anaknya."

Waktu itu sebenarnya dia sudah siap mengeluyur pergi, tapi perubahan yang terjadi di luar dugaan ini membuatnya menghentikan langkahnya, kini dia malah berdiri menonton sambil tertawa dingin.

Kembali perempuan cantik itu menangis bercampur tertawa, sebentar dia membelai sebentar dia mencium, setelah beberapa saat lamanya tubuh Sui Leng-kong baru dibaringkan kembali ke atas tumpukan bunga yang digunakan sebagai pembaringan.

Paras muka Sui Leng-kong pucat-pias bagaikan mayat, giginya terkatup kencang, nona ini masih dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Perempuan cantik itu menundukkan kepala dan menempelkan wajahnya di atas pipi Sui Leng­kong, lalu ujarnya dengan lembut:

"Anakku sayang, setelah bertemu ibu, kenapa kau masih tidak mau bicara?"

Berputar biji mata Hong Lo-su, mendadak serunya:

"Putrimu sudah terkena serangan racun jahat, untung aku segera menolongnya dan membawa dia kemari, aku memang sengaja menguburnya di bawah Coat cing hoa, agar racun yang ada di dalam tubuhnya saling berlawanan dtngan racun bunga itu, coba kalau bukan begitu, dia sudah mati sejak tadi, tapi kelihatannya dia sudah keracunan hebat, sekalipun nyawanya bisa diselamatkan, namun sulit rasanya untuk bisa bicara lagi."

Perempuan cantik itu segera melompat bangun, bentaknya:

"Keracunan? Siapa yang berani meracuni putriku?"

"Soal ini ... aaaai! Lebih baik tidak usah dibicarakan lagi!"

Dengan satu gerakan kilat perempuan cantik itu mencengkeram tubuhnya, lalu teriaknya nyaring:

"Mau bicara tidak?"

Hong Lo-su menghela napas panjang.

"Bukannya Siaute enggan bicara, tapi... aaai! orang orang yang melepaskan racun jahat itu kelewat lihai, aku rasa Jici sendiri pun belum tentu mampu menandingi mereka."

"Kentut!" umpat perempuan cantik itu gusar, "cepat katakan!"

"Tapi setelah Siaute katakan, lebih baik Jici jangan mencari mereka untuk menuntut balas, kalau tidak, bila sampai Jici pun ikut dicelakai, bukankah Siaute akan merasa sangat tidak tenang?"

Makin mendengar, perempuan cantik itu semakin gusar, jeritnya:

"Kentut busuk, kentut busuk! Cepat katakan, katakan!"

Akhirnya Hong Lo-su menghela napas panjang.

"Dia adalah Siang-tok Thaysu...."

Mula-mula perempuan cantik itu agak tertegun, kemudian sambil menghentakkan kaki, dia berseru gemas:

"Bagus sekali, ternyata ulah si makhluk tua beracun itu, padahal aku tidak punya dendam tidak punya sakit hati dengannya, kenapa dia... dia... mencelakai putriku dengan racun?"

"Yang meracuni memang Siang-tok Thaysu, tapi otak yang memberi perintah adalah orang lain."

"Siapa?"

"Coh Sam-nio, Lui-pian Lojin, lalu Jit ho Nio nio...."

"Bagus, bagus sekali," perempuan cantik itu semakin menjerit lengking, "ternyata kawanan makhluk tua itu yang bersekongkol menganiaya putriku, anakku manis, kau benar-benar sangat menderita."

Kembali dia membopong tubuh Sui Leng­ kong, katanya lagi:

"Putriku sayang, kau tidak perlu takut, sekalipun sudah terkena racun si makhluk tua beracun itu, asal bertemu ibu, segala sesuatunya akan beres, di kolong langit hanya ibu seorang yang sanggup memunahkan racun makhluk jahat itu."

Dari dalam sakunya dia mengeluarkan ebuah kotak pualam kecil, dari dalam kotak pualam itu dikeluarkan empat lima butir pil berwarna merah darah, dia masukkan semua pil itu kedalam mulutnya, kemudian setelah dikunyah hingga hancur, obat itu baru dilolohkan ke mulut Sui Leng-kong.

Kemudian ujarnya lagi dengan lembut:

"Ling-ling, anakku sayang, setelah minum obat mujarab buatan ibu dan tidur sebentar, kau akan segera segar kembali... kemudian ibu akan membalaskan dendam."

"Bagus, bagus sekali," gumam Hong Lo-su, tak kusangka karena menghadapi bencana, budak kecil itu malah dapat rezeki, bukan saja berhasil mtndapatkan kembali nyawanya, bahkan mendapat pula seorang ibu sehebat ini."

"Apa kau bilang?" mendadak perempuan cantik itu menoleh.

Buru-buru Hong Lo-su tertawa paksa sambil menyahut:

"Ooh, Siaute sedang berpikir, kalau Jici saja tidak tahu kawanan makhluk tua itu berada dimana, bagaimana mungkin bisa membalaskan dendam bagi keponakan sayangku?"

"Aku bisa menemukan mereka... aku pasti dapat menemukan mereka!"

Kemudian sambil mengulapkan tangannya, dia berkata lebih lanjut:

"Berhubung hari ini aku berhasil menemu­kan putriku, aku pun tidak ingin menyusahkan kalian, cepat pergi, biar dia bisa beristirahat sejenak dengan tenang."

Hong Lo-su sama sekali tidak bergeser, begitu pula Sim Sin-pek dan Suto Siau, mereka hanya saling pandang tanpa bicara. Kalau tadi mereka kuatir tidak sanggup meloloskan diri, maka sekarang mereka justru tidak ingin pergi

"Kenapa kalian belum juga pergi?" tegur perempuan cantik itu dengan kening berkerut.

"Siaute yang telah menyelamatkan nyawa Ling-ling, apa Jici sudah lupa?"

"Jasamu bisa dipakai untuk menutup kesalahan, sekarang kita sudah impas, kalau masih cerewet lagi hingga membangunkan putriku, hmmm, jangan salahkan aku tidak akan berlaku sungkan lagi!"

Hong Lo-su menjulurkan lidah sambil tertawa licik.

"Kalau memang begitu, Siaute...."

Belum selesai dia bicara, mendadak Sim Sin-pek menerjang maju ke muka dan segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan perempuan cantik itu, sesudah menyembah tiga kali, katanya:

"Tecu memberi hormat kepada Suhu."

Perempuan cantik itu tertegun, teriaknya kemudian dengan gusar:

"Siapa yang menjadi gurumu? Kau anggap dirimu itu siapa? Memangnya pantas jadi murid­ku?"

"Biarpun Tecu bukan siapa-siapa, paling tidak masih ada gunanya."

"Apa kegunaanmu?" tidak tahan perempuan itu bertanya.

Sekulum senyuman licik segera tersunging di ujung bibir Sim Sin-pek, katanya:

"Bila bukan Tecu yang membuka jalan, entah sampai kapan Suhu baru bisa menemukan musuh besar putrimu, tapi bila Tecu yang menjadi petunjuk jalan...."

"Jadi kau tahu jejak mereka?" tiba-tiba perempuan cantik itu bangkit berdiri sambil menukas.

"Bila Tecu tidak tahu, mana berani bicara sembarangan di sini?"

"Kalau begitu cepat bawa aku ke sana!"

"Jadi kau orang tua pun sudah bersedia menerima Tecu yang tidak becus ini menjadi muridmu?" tanya Sim Sin-pek sambil mengedipkan matanya.

"Kau berani mengancam aku?" bentak perempuan itu gusar.

Sambil membenturkan kepalanya di atas tanah, jawab Sim Sin-pek:

"Biar Tecu punya nyali macan pun tidak berani melakukan ancaman, hanya saja bila Tecu mengajak kau orang tua pergi ke sana, pasti banyak orang akan membenci Tecu hingga merasuk tulang sumsum, padahal kepandaian silat yang kumiliki sangat cetek, bukankah kepergianku hanya akan mengantar kematian saja? Beda kalau Tecu menjadi murid kau orang tua, biar bernyali pun belum tentu mereka berani bertindak sembarangan."

Perkataan itu disampaikan disertai alasan yang sangat masuk akal, lagi pula kepandaian jilat pantatnya telah digunakan tepat pada sasaran.

Benar saja, perempuan cantik itu segera manggut-manggut.

"Benar juga!" katanya, "perkataanmu memang sangat masuk akal, baik! Bangunlah, aku akan melindungi keselamatanmu, selamanya tidak mungkin ada orang yang berani menganiaya dirimu lagi"

"Terima kasih banyak Insu," dengan kegirangan kembali Sim Sin-pek menyembah beberapa kali.

Suto Siau yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa getir, gumamnya:

"Luar biasa, luar biasa, bocah ini meski masih muda ternyata pandai sekali memanfaatkan kesempatan, di kemudian hari... aaai! Di kemudian hari dia bisa sangat menakutkan!"

"Betul," kata Hong Lo-su pula, "aku lihat bukan saja bocah itu lebih licik ketimbang kau, bahkan tiga bagian lebih busuk daripada aku sendiri, sekarang dia sudah punya tulang punggung yang sangat tangguh, nampaknya termasuk kita berdua pun tidak berani mengusik-nya lagi."

Kemudian sambil menepuk bahu Sim Sin-pek, katanya:

"Bocah muda, kini kau sudah menjadi muridnya, tapi sudah tahu belum nama gurumu?"

"Biarpun Tecu belum tahu, tapi sudah dapat kutebak," sahut Sim Sin-pek sambil tertawa.

"Coba katakan."

"Tecu tidak berani menyebut langsung nama guru."

"Tidak masalah," ujar perempuan cantik itu pula, "katakan saja, aku tidak akan menegurmu."

Sim Sin-pek menarik napas, ujarnya:

"Kecantikannya tiada duanya, kehebatan senjata rahasianya tiada tandingan, ketajaman mata dan pendengarannya tiada lawan, manusia paling aneh di daratan Tionggoan... dialah guruku, Yan-yu (si Hujan gerimis) Hoa Bu-soat."

 

"Baik laki maupun perempuan, biar tua maupun muda, bunuh semuanya tanpa kecuali'"

Ketika ucapan terakhir Siang-tok Thaysu meluncur dari mulutnya, sepasang tangan Dewa racun sudah diayunkan ke depan berulang kali.

Di bawah cahaya api, terlihat sepasang telapak tangannya yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang memancarkan cahaya merah di balik warna kehitaman, cahaya ungu di balik sinar merah, bahkan di balik cahaya ungu terkandung warna siluman yang sukar dilukiskan dengan perkataan.

Sepasang telapak tangannya kelihatan jauh lebih menakutkan daripada cakar setan.

Tanpa terasa Un Tay-tay, Im Ting-ting serta Thiat Cing-su saling berdempetan satu dengan lainnya, tubuh mereka gemetar keras karena ketakutan.

Tubuh Seng Toa-nio, Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu gemetar jauh lebih keras ketimbang mang lain.

Liu Ji-uh memeluk kencang tubuh suami­nya, sementara sepasang matanya melotot besar mengawasi telapak tangan yang menakutkan itu, rsa sedih yang mencapai puncaknya membuat perempuan ini seolah lupa dengan rasa takut.

Lui-pian Lojin mengepal sepasang tinjunya kuat-kuat, sepasang matanya memancarkan sinar kemerahan yang menakutkan.

Dia mengawasi terus sepasang cakar setan Dewa racun, sementara mulutnya berteriak berulang kali:

"Kalian yang bisa kabur, cepatlah melarikan diri, bisa selamatkan satu nyawa cepat selamatkan itu nyawa!"

Siang-tok Thaysu tertawa dingin.

"Bantai semua sampai ludes, jangan biarkan seorang pun tetap hidup, aku akan berjaga di mulut gua, jangan harap seorang pun di antara kalian bisa melarikan diri dari sini, serahkan nyawamu!"

Dalam pada itu Dewa racun telah merentangkan sepasang cakar mautnya ke atas batok kepala Che Toa-ho, "Craaat!", diiringi suara tertahan, kelima jari tangannya yang lebih tajam dari baja itu sudah menembus tulang kepala korbannya.

Tidak ampun isi otak Che Toa-ho berhamburan kemana-mana disertai percikan darah segar, belum sempat menjerit kesakitan dia sudah roboh terjungkal ke tanah.

Im Ting-ting menjerit kaget, peristiwa mengerikan yang terbentang di hadapannya membuat dia ketakutan setengah mati.

Dewa racun menarik kembali cakar setannya, sekali lagi dia melancarkan serangan maut.

Waktu itu Pek Seng-bu sekalian ingin sekali melarikan diri, namun keempat anggota badan mereka menjadi lemas saking takutnya, jangankan kabur, mau bergeser satu langkah pun tidak mampu.

Tiba-tiba Lui-pian Lojin meraung keras, teriaknya:

"Lohu akan mengadu jiwa denganmu!"

Ulat berkaki seribu memang tidak kuatir mati kaku! Biarpun kakek yang luar biasa ini sudah keracunan hebat, namun dia telah mempersiapkan sisa kekuatan yang dimilikinya untuk menerjang ke arah Dewa racun.

Belum sampai tubuhnya menerkam ke muka, segulung desingan angin tajam telah menyambar.

Pukulan itu benar-benar luar biasa dahsyatnya, bahkan disertai kekuatan untuk membelah batu cadas.

Tampaknya Siang-tok Thaysu tidak menyangka dalam detik terakhir lawannya masih memiliki tenaga pukulan sedahsyat itu, tanpa sadar leriaknyakaget:

"Dewa racun, hati-hati!"

"Blaaaam!", di tengah benturan dahsyat, pukulan terakhir yang dilontarkan Lui-pian Lojin lelah bersarang telak di tubuh Dewa racun.

Walaupun tubuh Dewa racun keras bagai lempengan baja, ternyata dia tidak mampu menahan gempuran yang maha dahsyat itu, tubuhnya mencelat ke belakang hingga membentur dinding batu, dinding yang kena ditumbuk pun retak dan hancur berantakan, batu dan debu beterbangan memenuhi angkasa.

Sementara itu tubuh Lui-pian Lojin sendiri pun ikut terpental hingga mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, meskipun sekuat tenaga dia berusaha berdiri tegar, namun akhirnya tidak tahan dan roboh terjungkal ke tanah.

Un Tay-tay sekalian merasakan tekanan yang luar biasa menyelimuti seluruh ruangan, sedemikian sesaknya hingga napas seakan ikut berhenti, kini mereka hanya berharap Lui-pian Lojin masih memiliki sisa tenaga, mereka pun berharap Dewa racun yang roboh terjungkal tidak pernah bangkit lagi untuk selamanya.

Siapa tahu dengan sekali lompatan si Dewa Racun telah melompat bangun kembali, bukan saja tubuhnya tidak menderita luka, bahkan cahaya siluman yang terpancar keluar dari matanya pun sama sekali tidak berkurang.

Siang-tok Thaysu tertawa terbahak-bahak, ejeknya:

"Wahai, orang she Lui, hari ini kau sudah tahu kelihaian si Dewa racun bukan? Sekalipun kau pertaruhkan nyawa tuamu pun sulit mencederai Dewa racun."

"Hmm, ayo, maju lagi...." seru Lui-pian Lojin dengan napas terengah.

Kembali Siang-tok Thaysu tertawa dingin.

"Begitu tanganmu menyentuh tubuh Dewa racun, racun jahat segera akan menyerang jantung mu, buat apa mesti mengadu jiwa? Baiklah, biar aku kabulkan permintaanmu, memberi kematian yang lebih memuaskan untukmu!"

Kembali dia tepuk punggung Dewa racun sambil bentaknya:

"Maju!"

Angin berhawa dingin kembali menderu, di tengah kilatan cahaya api, sekali lagi Dewa racun menerjang ke depan Lui-pian Lojin.

Biarpun Seng Toa-nio sekalian amat membenci Lui-pian Lojin, bahkan rasa benci mereka sudah merasuk ke tulang sumsum, namun saat ini mau tidak mau mereka harus ikut berdoa, mereka berharap Lui-pian Lojin bisa sekali lagi bangkit berdiri dan secara mukjizat melancarkan pukulan maut lagi.

Bagaimanapun kini Lui-pian Lojin sudah menjadi harapan terakhir mereka, asal Lui-pian Lojin tewas, maka jangan harap siapa pun yang hadir dalam gua saat ini bisa pergi dalam keadaan selamat.

Suasana amat hening, sedemikian hening­nya sampai napas setiap orang pun serasa ikut berhenti

Dada Lui-pian Lojin masih berombak naik turun, napasnya masih tersengal, mengawasi Dewa racun yang selangkah demi selangkah berjalan makin dekat, tangan dan kakinya terasa mulai mendingin,   sementara butiran keringat sebesar kedelai jatuh bercucuran.

Sejak ternama dan menghadapi pertem­puran selama puluhan tahun, sudah beratus kali pertarungan besar maupun kecil yang dia alami, tapi tidak sekali pun pernah merasakan penghinaan dan kehilangan muka seperti yang dialaminya hari ini, mimpi pun dia tidak menyangka dengan posisi serta statusnya saat ini, dia masih bisa dijagai orang tanpa mampu membalas.

Baginya kematian bukan masalah, tapi penghinaan dan kehilangan muka sulit diterima begitu saja.

Tiba-tiba Siang-tok Thaysu tertawa terbahak-bahak, ejeknya:

"Asal Dewa racun maju satu langkah lagi, niscaya kau akan kehilangan nyawa!"

Lui-pian Lojin seketika merasa hawa amarah yang mendidih menerjang naik ke atas kepalanya, sambil meraung keras tubuhnya yang tinggi kekar tiba-tiba bangkit berdiri... berdiri tegak bagaikan sebatang tombak.

Un Tay-tay sekalian merasa terkejut bercampur girang, saking terperananya mereka seperti lupa untuk bersorak-sorai.

Siang-tok Thaysu seperti terkena pukulan dahsyat, tanpa sadar dia mundur selangkah dari posisi semula.

Dalam waktu yang amat singkat itu, sesungguhnya Lui-pian Lojin sendiri pun dibuat tertegun, bahkan dia sendiri pun tidak tahu darimana datangnya kekuatan itu, tapi saat dan situasi yang dihadapinya sekarang tidak memberi kesempatan baginya untuk berpikir lebih jauh.

Cakar setan Dewa racun telah menyerang kembali.

Lui-pian Lojin membentak keras, sepasang kepalannya dilontarkan bersama, "Blaaaam!", kembali sebuah pukulan dahsyat bersarang telak di dada si Dewa racun.

Kembali sekujur tubuh Dewa racun bergetar keras, tubuhnya mencelat ke udara dan menumbuk lagi di atas dinding batu.

Kelihatannya tenaga pukulan yang dia lontarkan kali ini jauh lebih dahsyat ketimbang serangan yang pertama tadi, namun kali inipun tubuh Lui-pian Lojin terpental mundur ke belakang dengan sempoyongan sebelum akhirnya roboh terduduk di tanah.

Berubah hebat paras muka Siang-tok Thaysu, tapi sambil tertawa paksa serunya lagi:

"Manusia she Lui, apakah kau masih memiliki tenaga untuk bangkit kembali?"

Sambil mengertak gigi, diam-diam Lui-pian Lojin mencoba mengatur pernapasan, mendadak dia menjumpai aliran tenaga dalamnya makin lama semakin bertambah lancar, bahkan jauh lebih lancar ketimbang waktu sebelum bertarung melawan Dewa racun.

Waktu itu Dewa racun telah berdiri kembali, berhadapan dengan musuh tangguh membuat Lui-pian Lojin tidak sanggup berpikir lebih jauh apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Un Tay-tay ikut termenung sambil memutar otak, sesaat kemudian dia pun menjadi sadar kembali apa yang sebenarnya telah terjadi.

Tak tahan serunya dengan gembira:

"Rupanya racun Coat cing hoa telah bertemu dengan racun dari si Dewa racun, pertarungan antara dua jenis racun membuat kekuatan racun yang ada di tubuhmu jadi punah. Semakin banyak kau menerima racun dari Dewa racun, semakin cepat pula tenaga murnimu pulih kembali."

Kontan Lui-pian Lojin merasakan semangat nya berkobar kembali, dia mendongakkan kepala dan berpekik panjang, serunya:

"Benar! Wahai makhluk tua beracun, ayo, suruh saja Dewa racunmu menyerangku, coba buktikan Lohu menjadi takut atau tidak!"

Sambil bicara dia kembali melompat bangun.

Sebenarnya Siang-tok Thaysu sudah siap menepuk punggung Dewa racun, namun setelan mendengar perkataan itu, dia jadi ragu untuk melanjutkan tepukannya, tanpa terasa peluh dingin mulai bercucuran membasahi jidatnya.

Sementara itu Lui-pian Lojin sudah mulai menerjang lagi ke depan.

Sambil menggigit bibir, terpaksa Siang-tok Thaysu menepuk kembali punggung Dewa racun ambil berteriak:

"Maju!"

Semua orang hanya merasakan pandangan­nya kabur, tahu-tahu... "Blaaaam!", benturan dahsyat bergema memenuhi seluruh ruangan, terlihat dua sosok bayangan manusia kembali terpental ke belakang.

Untuk kesekian kalinya tubuh Dewa racun mencelat ke udara dan kembali menumbuk dinding batu.

Walaupun Lui-pian Lojin ikut terhuyung mundur beberapa langkah, namun kali ini tubuhnya cuma sekali tidak roboh, sementara si Dewa racun meski mampu bangkit berdiri lagi, namun gerakan tubuhnya sudah jauh lebih lamban.

Perubahan situasi yang di luar dugaan ini membuat Seng Toa-nio, Thiat Cing-su, Pek Seng-bu, Im Ting-ting...  menjadi  kebingungan  sendiri, mereka tidak tahu harus gembira atau sedih, mereka pun tidak tahu pihaknya sebagai teman atau lawan.

Dengan wajah gembira, gumam Un Tay-tay:

"Karena bencana malah dapat rezeki... karena bencana malah dapat rezeki, kalau dia tidak terkena racun Coat cing hoa terlebih dulu, mungkin tidak seorang pun di antara kita sekarang masih bisa hidup bugar."

Di tengah kilatan cahaya api, tampak Lui-pian Lojin berdiri tegar dengan wajah angker dan penuh wibawa, kegagahannya di masa lampau kini sudah tumbuh kembali di tubuhnya.

Di bawah cahaya obor, dia gagah bagaikan malaikat langit.

Siang-tok Thaysu berdiri dengan wajah pucat, keringat dingin bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

Padahal kepandaian silat yang dimilikinya sekarang boleh dibilang sangat tangguh, bila ditambah kekuatan Dewa racun, belum tentu Lui-pian Lojin sanggup menandingi kerubutannya, apalagi tenaga dalamnya belum seratus persen pulih kembali.

Namun semua perubahan yang terjadi kelewat cepat dan di luar dugaan, kekuatan Lui-pian Lojin terlalu cepat pulih kembali, hal ini membuat Siang-tok Thaysu menjadi keder terlebih dulu sebelum sempat melakukan pertarungan.

"Ayo, maju!" terdengar Lui-pian Lojin membentak lagi dengan suara menggelegar, "ayo, maju lagi!"

Tiba-tiba Siang-tok Thaysu membalikkan tubuh Dewa racun dan berteriak nyaring:

"Kabur!"

Belum habis dia menghardik, tubuh Dewa racun sudah melesat keluar meninggalkan gua.

Sambil mementangkan sepasang cakarnya, Lui-pian Lojin merangsek keluar gua, tubuhnya melambung bagaikan seekor rajawali raksasa, cakar tajamnya langsung mencekik tenggorokan Siang-tok Thaysu.

Tampaknya Siang-tok Thaysu tidak berani menangkis datangnya ancaman itu, cepat dia membalikkan tubuh sambil kabur keluar, biarpun sudah cukup cepat dia menghindar, ternyata masih belum cukup cepat untuk menghindari datangnya ancaman.

"Breeett... !", jubah berwarna merah yang dikenakan Siang-tok Thaysu segera tersambar oleh cakar maut yang dilancarkan Lui-pian Lojin dan sobek sebagian.

Traaaang!", sebuah benda terjatuh dari balik saku bajunya yang robek dan menggelinding beberapa jengkal ke samping, di bawah timpaan cahaya api, tampak benda itu memantulkan cahaya terang.

Sebenarnya Lui-pian Lojin hendak mengejar lebih jauh, namun baru saja kakinya bergerak, akhirnya dia urungkan kembali niatnya itu.

Lama sekali dia memandang keluar gua dengan tubuh mematung, akhirnya sesudah menghela napas panjang dia berjalan balik lagi ke dalam gua, dadanya nampak naik turun dengan cepat, dengus napas yang memburu sampai lama kemudian baru reda.

Sekalipun pertarungan yang barusan berlangsung tidak nampak seru, namun bukan saja pertarungan itu merupakan pertarungan habis-habisan, bahkan mempertaruhkan keselamatan jiwa semua orang yang ada di dalam gua saat itu.

Kini bukan hanya Lui-pian Lojin saja yang berdiri dengan napas tersengal, semua orang yang menonton pun sudah basah kuyup tubuhnya karena keringat dingin, begitu tegang dan paniknya mereka seolah terlibat langsung dalam pertempuran tadi

Akhirnya sambil membesut keringat yang membasahi jidatnya, Lui-pian Lojin bergumam:

"Berbahaya! Sungguh berbahaya!"

"Mungkinkah dia... dia akan balik lagi?" gumam Un Tay-tay gemetar.

"Selama ini makhluk tua bangkotan itu selalu mundur teratur bila gempurannya tidak mendatangkan hasil, aku rasa kali inipun tidak terkecuali, bisa jadi dia tidak akan balik kemari lagi."

Walaupun ucapan itu disampaikan dengan tegas, padahal dalam hati tidak terlalu yakin dugaannya benar.

Dia memang sengaja bicara begitu, tujuan­nya tidak lain adalah untuk menghibur serta menenteramkan hati orang lain, di samping tentu saja untuk menenteramkan hati sendiri, dia sadar, bila Siang-tok Thaysu sampai balik kembali, belum tentu dia memiliki keberanian yang cukup untuk menghadapinya.

Un Tay-tay menghela napas panjang.

"Semoga saja dia memang tidak balik lagi..." gumamnya.

Mendadak sorot matanya terbentur benda berkilat di sudut ruang gua, benda yang memancarkan cahaya silau ketika tertimpa sinar obor.

"Benda apa itu?" serunya tak tahan.

Mengikuti arah yang ditunjuk, semua orang berpaling. Ternyata benda itu mirip sekali dengan sebuah buli-buli arak, hanya besarnya sekepalan dan terbuat dari batu kemala hijau.

"Dari mana datangnya benda itu?" tegur Lui-pian Lojin dengan mata berkilat.

"Kelihatannya terjatuh dari saku Siang-tok Thaysu."

Mendadak wajah Lui-pian Lojin berubah jadi sangat tegang,  dia  seperti  terkejut  dan juga kegirangan, kembali tanyanya dengan suara dalam:

"Kau sempat melihatnya dengan jelas?"

"Benar, aku melihatnya dengan jelas," Un Tay-tay mengangguk.

Mendadak satu ingatan melintas, kemudian serunya pula dengan girang:

"Jangan-jangan buli-buli itu berisi obat penawar racun?"

Tidak menunggu perempuan itu selesai bicara, Lui-pian Lojin telah menerjang maju ke depan dan memungut benda kemala itu, setelah diperiksa sejenak di bawah cahaya api, mimik girang segera tersungging di wajahnya.

"Apakah ada... ada tulisan di sana?" tanya Un Tay-tay.

Lui-pian Lojin mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, Thian memang maha adil, akhir­nya kita mendapatkan kesempatan untuk hidup terus, hahaha... mimpi pun Lohu tidak menyangka kalau secara tanpa sengaja bisa menemukan benda penolong nyawa"

Sambil tertawa terus, dia pun menggapai;

"Kemarilah, coba kau ikut memeriksa."

Sebetulnya Un Tay-tay sudah tidak sabar untuk ikut memeriksa benda itu, cepat dia maju mendekat, berita gembira yang muncul di sela-sela putus harapan ini seketika mendatangkan tenaga kehidupan yang lebih segar di tubuhnya.

Betul saja, di atas buli-buli batu kemala itu tertera beberapa huruf kecil, huruf itu berbunyi: "obat mestika, penawar segala racun".

Ternyata dugaanku tidak salah...." dengan penuh kegembiraan Un Tay-tay segera bersorak, "tak nyana dugaanku tepat sekali, isi buli-buli itu memang obat mustika penawar segala racun ramuan makhluk tua beracun itu, sekarang semua orang bakal tertolong."

Im Ting-ting, Thiat Cing-su maupun Liu Ji-uh seketika merasakan semangatnya berkobar kembali, mereka sangat gembira, sementara Pek Seng-bu, Hek Seng-thian serta Seng Toa-nio hanya bisa saling pandang dengan wajah lesu, sedih bercampur kecewa.

"Semoga saja obat penawar racun ini bisa memunahkan pengaruh jahat racun Coat cing hoa," gumam Liu Ji-uh dengan suara gemetar. Lui-pian Lojin tertawa.

"Walaupun Siang-tok Thaysu si makhluk tua beracun itu edan dan tidak tahu malu, namun kemampuannya menggunakan racun harus diakui sebagai jago nomor wahid di kolong langit, kemampuannya memang tanpa tandingan...." katanya.

"Setiap orang yang pandai menggunakan racun, pasti pandai pula memunahkan pengaruh racun," sela Un Tay-tay tidak tahan, "kalau memang kepandaian makhluk tua beracun itu dalam menggunakan racun merupakan jago nomor wahid di kolong langit, semestinya kemampuan nya untuk menawarkan segala racun pun bisa diandalkan."

"Betul, kalau dia sampai berani mengatakan obat mujarabnya bisa menawarkan segala racun, aku rasa ucapan itu sudah pasti bukan omongan sembarangan."

Tidak menunggu sampai perkataan itu selesai, Liu Ji-uh sudah menubruk ke depan, berlutut di lantai dan memeluk sepasang kaki Lui pian Lojin dengan air mata bercucuran, jangan dilihat di hari biasa dia tampil angkuh dan dingin, saat ini wajahnya penuh diliputi rasa terharu dan gembira yang luar biasa.

Buru-buru Lui-pian Lojin berseru:

"Kalau ada yang ingin dibicarakan, bicaralah baik-baik, buat apa kau mesti bersikap begitu?"

"Aku mohon kepada kau orang tua, berilah sebutir pil mujarab itu untuk menolong Kian-sik, boanpwe... selama hidup Boanpwe tidak akan melupakan budi kebaikanmu," kata Liu Ji-uh dengan nada parau.

Lui-pian Lojin kembali tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, sekalipun kau tidak memohon kepadaku, aku tetap akan memberinya... setiap orang yang hadir di sini dan keracunan, berhak memperoleh sebutir. Tidak ada pengecualian."

"Tapi bagaimana kalau jumlah obatnya tidak cukup?"

Tiba-tiba saja Lui-pian Lojin tertegun.

"Soal ini... soal ini...."

Saking gembiranya, dia seolah sudah melupakan akan hal ini.

Paras muka Un Tay-tay berubah makin hebat sesudah mendengar perkataan itu, sebab ucapan itu telah menyentuh kembali luka dalam hatinya, dia teringat pengalaman getir yang pernah dialaminya, dia pun teringat akan Sui Leng-kong.

Dengan wajah mengejang karena menahan rasa sedih dan penderitaan yang mendalam, dia berbisik dengan suara gemetar:

"Benar, kalau obatnya tidak cukup, apa yang harus kita lakukan? Siapa yang akan ditolong? Siapa pula yang tidak akan ditolong? Siapa yang harus ditolong? Siapa pula yang tidak pantas ditolong?"

Perlahan sinar matanya menyapu sekejap orang-orang yang berada di sana, Im Gi, Im Kiu-siau, Lui Siau-tiau, Liong Kian-sik... hampir semuanya dalam kondisi kritis, napasnya sangat lemah dan setiap orang perlu obat penawar untuk secepatnya menyelamatkan nyawa mereka.

Bukan cuma beberapa orang itu, Lui-pian Lojin sendiri pun masih perlu obat penawar, lalu Seng Cun-hau... bukankah kondisi orang inipun sama seperti Lui-pian Lojin?

Tiba-tiba Un Tay-tay menjerit keras:

"Siapa yang harus ditolong? Siapa pula yang tidak harus ditolong?"

Benaknya seolah sudah dipenuhi oleh berbagai masalah, yang membuatnya pening, membuatnya berkunang-kunang, hampir saja dia tidak sadarkan diri.

Terdengar Liu Ji-uh berkata lagi dengan gemetar:

"Itulah sebabnya Boanpwe mohon kepada kau orang tua, bagaimanapun hadiahkan sebutir pil penawar racun untuk Kian-sik, dia... dia tidak boleh mati."

"Dia tidak boleh mati, siapa pun tidak boleh mati, memangnya hanya Cun-hau yang pantas mati?" mendadak terdengar Seng Toa-nio ikut berteriak keras.

"Bila Kian-sik mati, aku pun tidak ingin hidup sendiri," ujar Liu Ji-uh lagi dengan air mata bercucuran, "nyawa orang lain hanya selembar, tapi nyawa kami adalah dua lembar yang tergabung jadi satu."

"Kentut! Kentut! Kau...." teriakan Seng Toa-nio makin keras.

"Bila ayah mati, aku pun tidak ingin hidup," teriak Im Ting-ting pula.

Liu Ji-uh menangis semakin keras, rengeknya:

"Aku mohon kepadamu... aku mohon...."

Suara teriakan histeris ditambah suara isak tangis yang memedihkan hati seketika menyelimuti seluruh ruang gua, membuat suasana di situ jadi sangat kalut.

Lui-pian Lojin menghentakkan kaki berulang kali, hardiknya:

"Tutup mulut! Semuanya tutup mulut!"

Setelah menyapu pandang sekejap sekeliling tempat itu dan menunggu hingga suasana reda, dia berkata lebih jauh:

"Kita masih belum tahu berapa biji obat yang tersimpan di situ, buat apa kalian ribut lebih dahulu?"

Kemudian setelah sedikit sangsi, dia sodorkan buli-buli kemala itu ke tangan Un Tay-tay, katanya lagi:

"Coba kau periksa, ada berapa butir obat di situ?"

Bukannya menerima, Un Tay-tay malah menutupi wajah sendiri dengan kedua belah tangan sambil menjerit sedih:

"Aku tidak mau lihat... aku tidak mau lihat"

"Di  sini  hanya  posisimu  yang  paling istimewa," tegur Lui-pian Lojin gusar, "hampir semua orang yang keracunan tidak punya hubungan khusus denganmu, kalau bukan kau yang memeriksa, memangnya siapa yang pantas memeriksa?"

"Aku... aku air mata makin deras berlinang membasahi wajah Un Tay-tay.

Dia benar-benar merasa sangat terpukul, dia merasa pendiriannya telah hancur berantakan, dia tidak ingin memikul kembali beban yang sangat berat itu.

Tapi waktu itu Lui-pian Lojin telah menyodorkan buli-buli kemala itu ke tangannya.

Bersentuhan dengan batu kemala yang halus dan lembut, bagi Un Tay-tay seolah bersentuhan dengan ular atau kalajengking berbisa, tubuhnya gemetar keras, bahkan perasaannya pun ikut tergetar.

"Semoga saja jumlah obat penawarnya cukup... semoga cukup dibagi..." doanya dalam hati.

Padahal di hari biasa sia tidak percaya dengan segala dewa dan Buddha, tapi kini dalam kondisi kritis dan terdesak, tiba-tiba saja dia seperti teringat untuk berdoa, mohon bantuan para dewa untuk memenuhi keinginannya, asal jumlah obat penawar itu cukup dibagi, dia rela untuk menanggung segala penderitaan orang-orang itu.

Setelah dituang, ternyata ada tujuh butir pil penawar racun.

Tujuh butir pil berwarna merah darah bergulingan di atas telapak tangan Un Tay-tay yang dingin bagaikan es dan gemetar keras karena tekanan batin, bergulingan dengan memancarkan selapis cahaya aneh.

Un Tay-tay menggenggam kencang semua pil penawar racun itu, ketika semua syarafnya mulai mengendor, setelah ketegangannya men-capai puncak, dia merasa seluruh kekuatan tubuhnya seolah lenyap, hampir saja dia roboh terjungkal.

Tapi air mata masih bercucuran tiada hentinya, dia tidak tahu itu air mata kegirangan atau kesedihan, sambil merangkap tangannya di depan dada, dia menengadah dan mulai menjerit:

"Thian... oooh, Thian...." Menyaksikan perubahan wajahnya itu, semua orang merasa deg-degan, semua orang merasa tegang, paras muka mereka ikut berubah hebat.

"Ada... ada berapa butir?" dengan suara gemetar Lui-pian Lojin bertanya.

"Tujuh butir... tujuh butir...."jawab Un Tay-tay dengan air mata berlinang.

Lui-pian Lojin mundur tiga langkah, dia beolah tertegun secara tiba-tiba.

Sampai lama kemudian orang tua itu baru menghela napas panjang, serunya:

"Cukup! Cukup!"

"Cukup... cukup...." Liu Ji-uh, Im Ting-ting, semuanya ikut bersorak-sorai kegirangan.

"Benar, bukan cuma cukup, malah kelebihan satu butir," Un Tay-tay menambahkan

Seluruh ketegangan, semua kepedihan, dalam waktu singkat berubah jadi kegembiraan yang meluap.

Hek Seng-thian memutar biji matanya, tiba-tiba dia berkata sambil tertawa dingin:

"Tujuh butir? Hehehe... rasanya begitu kebetulan."

"Hahaha, inilah yang dinamakan Thian mengabulkan permintaan umatnya, kejadian yang patut digembirakan."

"Aku hanya merasa kejadian ini sangat kebetulan."

"Apa maksud perkataanmu itu?" berubah paras muka Lui-pian Lojin.

"Kenapa Cianpwe tidak berpikir, siapa tahu obat penawar itu memang sengaja ditinggalkan Siang-tok Thaysu dengan maksud agar kalian masuk perangkapnya."

"Betul," sambung Pek Seng-bu pula, "di luar botolnya memang tertulis obat mustika penawar racun, tapi siapa yang berani menjamin kalau isinya justru  obat racun  penghancur  usus?  Tanpa harus bersusah payah, dia mampu merobohkan kalian, hehehe... satu siasat yang hebat! Siasat yang amat jitu!"

"Kentut!" bentak Lui-pian Lojin gusar, "kau... kau... kalian berdua telah meracuni arakku, belum lagi Lohu membikin perhitungan, sekarang kau malah berani bicara sembarangan."

Sekalipun di luar dia menuduh ucapan itu sembarangan, padahal dalam hati dia tahu dengan pasti bahwa kemungkinan semacam itu tetap ada, kembali paras muka Un Tay-tay dan Liu Ji-uh sekalian berubah hebat.

Sambil tertawa dingin, kembali Hek Seng-thian berkata:

"Aku sengaja mengingatkan kalian karena tumbuh dari niat baik saja, soal mau percaya atau tidak terserah kalian sendiri, kenapa aku malah dituduh bicara sembarangan?"

Lui-pian Lojin tidak bicara apapun, mendadak dia melompat maju dan mencengkeram bajunya.

"Mau... mau apa kau?" teriak Hek Seng-thian terperanjat.

"Lohu akan membunuh dirimu!"

"Tapi aku... aku kan berniat baik."

"Kentut!" hardik Lui-pian Lojin gusar, "kau memang sengaja bicara begitu agar kami semua tidak berani menelan obat penawar itu, agar kami menunggu mati di sini. Kau memang berhati busuk, berhati keji, memangnya Lohu tidak tahu niatmu?"

"Kalau Cianpwe memang tidak percaya, kenapa tidak dicoba saja?"

"Kentut!" kembali Lui-pian Lojin mengumpat marah, "persoalan yang menyangkut mati hidup memangnya boleh dicoba semaunya?"

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Un Tay-tay, segera teriaknya:

"Ada akal!"

"Apa akalmu?" Lui-pian Lojin segera berpaling.

"Bukankah kita punya kelebihan sebutir obat penawar?"

"Kalau ingin mengatakan sesuatu, cepat katakan, tidak usah berputar-putar lagi."

"Kalau memang kita memiliki kelebihan sebutir obat penawar, kenapa tidak kita cekokkan saja kepadanya? Kalau obat itu betul-betul penawar racun, sudah pasti dia tetap sehat, kalau memang racun... aaaai! Manusia macam dia tidak perlu disayangkan kalau mampus, kalau memang keracunan, biarkan saja diamati."

"Hahaha, bagus! Bagus sekali! Akal bagus! Akal bagus!"

Tidak terlukiskan rasa gusar Hek Seng-thian sesudah mendengar perkataan itu, kontan saja dia mencaci-maki kalang-kabut:

"Dasar wanita bejat, perempuan jadah berhati busuk, pelacur tidak laku kawin, semenjak jadi gundik Suto Siau, aku sudah tahu manusia macam kau memang bukan manusia baik-baik."

Bukan saja dia mencaci-maki dengan suara keras, bahkan bahasa yang digunakan pun amat kasar dan busuk, untuk sesaat Im Ting-ting, Thiat ling-su maupun Lui-pian Lojin hanya bisa mendengarkan dengan mata terbelalak dan mulut melongo, beberapa saat lamanya mereka hanya berdiri mematung.

Hingga saat itu mereka baru tahu asal-usul Un Tay-tay yang sebenarnya, mimpi pun mereka tak mengira perempuan itu dulunya adalah gundik kesayangan Suto Siau.

Menyaksikan reaksi itu, Hek Seng-thian semakin senang dan makiannya pun semakin kotor dan tidak sedap didengar.

Terdengar dia mengumpat kembali:

"Sejak waktu itu aku sudah tahu kau sering main serong dengan lelaki lain, apalagi ketika masih muda dan berpipi putih, kau lahap semua dengan rakus, karena itulah orang she Im itu...."

"Tutup mulut!" tiba-tiba Lui-pian Lojin membentak keras.

Di tengah suara bentakan, dia langsung mengayunkan tangannya dan menampar wajah Hek Seng-thian dengan keras.

"Ploook!", kontan separoh wajah Hek Seng-thian merah bengkak, beberapa biji giginya ikut rontok.

Tapi dia masih belum mau berhenti mengoceh, kembali teriaknya:

"Tapi... tapi aku bicara sejujurnya."

"Tidak peduli ucapanmu benar atau tidak, tidak peduli dulunya Un Tay-tay manusia macam apa, setelah hari ini Lohu menginginkan dia menjadi menantuku, siapa pun tidak dapat merubahnya lagi."

Berlinang air mata Un Tay-tay setelah mendengar perkataan itu, selain terharu, dia pun sangat berterima kasih.

Namun Im Ting-ting dan Thiat Cing-su yang mendengar ucapan itu kembali tertegun dibuatnya.

Diam-diam mereka berdua saling pandang, sedang dalam hati berpikir, “Bukankah dia sudah berjanji akan tetap menjanda? Kenapa sekarang malah jadi menantu Lui-pian Lojin?”

Terdengar Lui-pian Lojin kembali berkata dengan suara keras:

"Mulai  hari  ini, barang siapa berani mengungkit kembali masa lalu Un Tay-tay, Lohu bersumpah akan mencincangnya hingga hancur berkeping-keping!"

Dia, segera  mengambil sebutir pil dan dijejalkan ke mulut Hek seng-thian, kemudian dengan sekali tepukan ditenggorokannya, mau tak mau Hek seng-thian segera menelan pil itu kedalam perutnya.

Dalam keadaan begini, hilang sudah nyali Hek seng-thian, dia terperosok lemas dan roboh terkapar diatas tanah.

 

 

[bersambung]