pendekar panji sakti 11
BAB 31
Masa Silam Yang Kelam.
Gelak tertawa di halaman luar menembus pintu
gerbang dan bergema di ruang belakang.
Ruang belakang merupakan kamar pengantin,
tentu saja tempat itu dihias dengan aneka ornamen berwarna merah,
Sui Leng-kong dengan mahkota pengantinnya sedang duduk di tepi
mejarias.
Perlengkapan maupun perabot yang tersedia di
tempat itu tidak kalah dengan perlengkapan perabot yang dimiliki
putri tunggal anak pejabat tinggi atau hartawan kaya raya, bahkan
perhiasan yang dikenakan pengantin wanita pun merupakan perhiasan
mahal yang indah dan menawan.
Tapi sayangnya, di balik kamar pengantin
yang indah, megah dan penuh kemewahan itu justru diliputi suasana
dingin, sepi dan kedukaan yang mendalam, bahkan wajah sang pengantin
yang cantik pun diliputi perasaan sedih serta duka nestapa.
Para dayang yang dikirim keluarga Gi untuk
melayani sang pengantin sudah diusir sejak tadi, sebab Sui Leng-kong
tidak ingin orang lain mengetahui kepedihan hatinya, terlebih lagi
menyaksikan air matanya berlinang.
Gelak tertawa di ruang depan bertambah
nyaring, sebentar-sebentar Sui Leng-kong menghentakkan kakinya,
sebentar keningnya berkerut-kerut, terkadang dia harus menyumbati
telinganya dengan jari tangan....
Makin gembira suara gelak tertawa yang|
bergema, semakin pedih perasaannya.
Dari wajah sedihnya yang penuh air mata,
tiba-tiba terlintas sebuah tekad yang amat kuat, sesudah
menghentakkan kembali kakinya, dia melepas mahkota dari kepalanya,
kemudian mem bantingnya ke atas ranjang.
Dia mencoba bercermin, memandang paras muka
sendiri yang pucat-pias, memandang sinar mata yang sayu, biarpun
pupur dan gincu telah menghiasi wajahnya, namun tidak dapat menutupi
kemurungan dan kesayuan dirinya.
Sambil menggigit bibir, akhirnya dia melepas
pakaian pengantin yang dikenakan, mengenakan kembali pakaian sehari
hari, lalu melompat ke depan jendela dan membukanya lebar-lebar
Cahaya senja memancar masuk dari luar
jendela, selapis cahaya keemas-emasan menghiasi seluruhjagad.
Kembali dia menggigit bibir, tubuhnya sudah
siap melompat keluar melalui daun jendela.......
Andaikata dia benar-benar melompat keluar
saat ini, ibarat burung walet yang terlepas dari sangkar, dia bisa
terbang bebas kemana-mana.
Tapi pada saat itulah kembali dia berkerut
kening, tubuhnya yang sudah siap melompat keluar kembali diurungkan,
dia balik kembali ke depan cermin, berdiri termangu-mangu sambil
menghela napas panjang.
Lama kemudian, akhirnya nona itu mengambil
keputusan, dengan jari tangannya yang gemetar dia memoles ujung
jarinya dengan gincu, kemudian mulai meninggalkan pesan di atas
cermin.
"Maafkan aku Toako, aku harus pergi".
Ujung jarinya kelihatan gemetar keras,
goresan tulisannya kacau tidak lurus. Tapi tulisan berwarna merah
yang tertera di atas cermin nampak begitu menyolok, nampak begitu
segar membuat siapa pun yang lewat, pasti akan tertarik untuk
memandangnya.
Maka sekali lagi dia mendekati jendela,
sekali lagi bersiap melompat keluar....
Andaikata waktu itu dia benar-benar melompat
keluar, tragedi yang memilukan hati pun segera akan berakhir.
Tapi... tampaknya nona itu tidak memiliki
keberanian untuk melompat keluar, tiba-tiba dia menghela napas
panjang dan kembali berdiri termangu.
Sepasang alis matanya berkerut kencang, air
matanya jatuh bercucuran, dia merasa serba salah, perasaannya kalut,
terjadi pertentangan batin yang hebat, dia tidak sanggup mengambil
keputusan ... haruskah kabur? Atau jangan?
Dia benar-benar menderita, benar-benar
tersiksa... dia tidak mampu memutuskan pilihannya....
Pada saat itulah dari luar pintu
berkumandang lagi suara Im Kian yang harus dan lembut:
"Adikku, sudah selesai kau berdandan? Semua
teman sedang menunggumu!"
Sui Leng-kong merasakan tubuhnya bergetar
keras, perlahan dia membalikkan tubuh dan sahutnya dengan nada
gemetar:
"Aku... aku...."
"Kalau kau sudah selesai berdandan, akan
kusuruh mak comblang menjemputmu."
Sui Leng-kong mencoba memejamkan matanya
sebentar, lalu menghela napas panjang, sahutnya:
"Suruh mereka menungguku di luar pintu...aku
segera ke... keluar."
Diam-diam dia membesut air mata, lalu
mengenakan kembali pakaian pengantin.
Sebelum meninggalkan ruangan, dengan sorot
mata yang sayu dan pedih ditatapnya sekali lagi tulisan yang tertera
di atas cermin ... tulisan itu kabur, tidak terlihat jelas, karena
matanya sudah dipenuhi air mata.
Pada akhirnya dia tidak mampu mengambil
keputusan untuk melakukan perlawanan, terpaksa dengan kepala
tertunduk dia menerima pilihan nasib yang menimpa dirinya....
Wahai wanita lemah yang hidup di dunia ini,
mengapa sebagian besar dari kalian bersikap begitu?
Diambilnya selembar saputangan dan
dihapusnya tulisan yang tertera di atas cermin. Di atas saputangan
yang putih segera ternoda titik merah bagaikan cucuran darah,
seperti juga bunga tho yang berguguran....
Dia tidak ingin memandang lagi wajah sendiri
yang sayu, tidak ingin menatap lagi sorot mata sendiri yang penuh
kepedihan... segera teriaknya keras:
"Aku sudah siap, kalian boleh masuk!"
Seorang perempuan gemuk dengan wajah berseri
segera mengayunkan langkahnya keluar ruangan, sambil bertepuk tangan
serunya:
"Pengantin wanita telah datang."
Kembali gelak tertawa bergema memecah
keheningan.
Buru-buru Gi Teng melompat bangun, membantu
Cu Cau mengancingkan pakaiannya, kemudian katanya sambil tertawa:
"Hengtay, biarpun kau tidak suka terikat
segala adat, paling tidak sewaktu upacara perkawinan kau harus
bersikap lebih sopan" "Aaah, kendorkan sedikit... baiklah, tiba-tiba
Cu Cau menghela napas panjang.
Kembali semua orang dibuat tercengang,
bukankah hari ini adalah hari baik, hari perkawinan? Mengapa
pengantin lelaki malah menghela napas?
Kembali Cu Cau menghela napas, ujarnya
sambil menggeleng:
"Hiante, terus terang aku... aku merasa...
aku merasa sedikit gugup, bagiku melangsungkan upacara perkawinan
baru pertama kali ini."
Kembali gelak tertawa bergema dalam ruangan,
kini semua orang sudah tahu, putra kesayangan Kaisar malam inipun
seorang manusia biasa, bahkan seorang manusia biasa yang menarik.
Sambil tertawa Sun Siau-kiau segera
mengejek:
"Coba kalian dengar, betapa kasihannya orang
ini... dia bilang baru pertama kali... seolah-olah baginya belum
cukup satu kali saja... hahaha... betul, kalau sudah berulang kali,
dia tidak bakal gugup."
Waktu itu Gi Beng sudah tertawa
terpingkal-pingkal sampai terbungkuk tubuhnya, dengan napas
terengah, serunya:
"Dalam sejarah hidup, upacara perkawinan
hanya akan dilangsungkan satu kali, memangnya kau ingin dua kali?"
Merah jengah selembar wajah Cu Cau,
buru-buru dia berdehem berulang kali.
"Hiante, bagaimana kalau menemani aku?"
"Jangan kuatir, segala sesuatunya biar
Siaute yang mendampingi," hibur Gi Teng sambi tertawa.
"Aaah, kau tahu apa?" ejek Gi Beng, "sekali
saja belum pernah."
"Itu namanya pengalaman, kalau sekarang
sudah berpengalaman, maka tiba giliranku nanti, aku pun tidak bakal
gugup."
Seraya berkata dia segera membimbing Cu Cau
menuju ke mimbar upacara.
"Hahaha, tidak tahu malu, siapa yang mau
kawin dengan bebek dungu macam kau... lain kali... huuuh, lain
kalipun belum tentu tiba giliranmu."
"Betul, tepat sekali perkataan itu," sambung
Sun Siau-kiau, "yang mendapat giliran berikutnya adalah nona cantik
dari keluarga Gi, tentu saja bukan orang lain."
Gi Beng segera mengayunkan tangannya untuk
memukul, tapi saking terpingkalnya dia tidak mampu mengayunkan
tangannya lagi.
Sementara itu Im Kian sudah muncul sambil
membimbing Sui Leng-kong yang mengenakan pakaian pengantin dengan
kain penutup kepala berwarna merah.
"Bagus, bagus...." teriak Gi Teng sambil
bertepuk tangan, "siapa yang akan bertindak sebagai saksi?"
Sun Siau-kiau segera mendorong suaminya, Che
Toa-ho, sambil serunya, "Suruh dia saja, bayangkan kalau dia
mengenakan topi tinggi, siapa lagi selain dia yang paling cocok
menjadi saksi."
"Betul, memang dia yang paling cocok...."
Akhirnya Che Toa-ho tampil ke depan setelah
di tarik dan didorong istrinya.
Che Toa-ho yang pada hari biasa selalu
tampil suram dan dingin, ternyata hari ini kelihatan gembira sekali,
sahutnya sambil tertawa:
"Baik, biar aku yang maju, kalian harap
tenang, sekarang juga upacara perkawinan akan di mulai."
Dalam pada itu Lan hong kiam khek Liu Ji-uh
yang selama ini mengamati terus wajah pengantin wanita, tiba-tiba
menyela sambil tersenyum:
"Coba lihat penampilan si pengantin wanita,
dapat dipastikan dia adalah seorang wanita cantik."
"Kalau bukan wanita cantik, mana pantas
mendampingi saudara Cu sebagai seorang Enghiong luar biasa," jawab
Liong Kian-sik si jago pedang naga hitam sambil tersenyum pula.
"Eeei, coba lihat," teriak Gi Beng tertawa
geli, "aneh tidak, kalau Enci Liu tidak bicara, dia pun tidak
bicara, begitu Enci Liu bicara, dia pun ikut-ikutan."
Sementara itu Che Toa-ho dengan suaranya
yang parau telah memimpin upacara, teriaknya:
"Persembahan pertama, menyembah langit dan
bumi!"
Cu Cau dan Sui Leng-kong sama sama
berlutut....
Dengan suara setengah berbisik, tanya Liu
Ji-uh:
"Semakin kulihat, wajah pengantin wanita ini
makin cantik dan menawan, dia dari keluarga mana dan siapa namanya?"
Sementara Che Toa-ho telah berseru kembali:
"Menyembah leluhur."
Maka sepasang pengantin pun kembali
menyembah.
Gi Beng yang sedang berdiri kesemsem baru
sadar kembali setelah Liu Ji-uh menarik ujung bajunya, sambil
tertawa sahutnya:
"Ooh, siapa pengantin wanita itu? Dia
bernama Sui Leng-kong!"
Saat itu Che Toa-ho sudah berteriak lagi:
"Persembahan ketiga" Tiba-tiba dia berhenti
berteriak karena bingung harus mengucapkan apa, saat itulah Seng
Cun-hau telah menarik tangan Gi Beng sambil menghardik:
"Apa kau bilang? Siapa namanya?"
Gi Beng merasa terkejut, keheranan dan
sedikit gugup setelah melihat perubahan wajah orang, sahutnya
tergagap:
"Dia... dia bernama... bernama Sui
Lengkong...."
"Apa?" teriak Seng Cun-hau dengan tubuh
gemetar, gumamnya, "Cu Cau... Sui Leng-kong....
Gi Beng semakin tertegun, dia berdiri
terbelalak dengan mulut melongo, disangkanya Seng Cun-hau tiba-tiba
terserang penyakit ayan atau kumat edannya.
Dalam pada itu Gi Teng telah membisikkan
sesuatu ke telinga Che Toa-ho, maka sambil manggut-manggut, kembali
Che Toa-ho berteriak:
"Persembahan ketiga...."
Tiba-tiba Seng Cun-hau membentak keras, dia
sambar poci arak, kemudian dilemparkan ke arah sepasang pengantin
itu.
"Braaaak...!", poci arak itu menimpa meja
upacara dan sepasang lilin merah itu pun roboh ke tanah.
Che Toa-ho tertegun, perubahan yang sama
sekali tidak terduga itu membuatnya berdiri melongo.
Terjadi kekalutan dan kegaduhan dalam ruang
upacara, suasana jadi kalut dan dicekam ketidakpastian.
Dengan wajah berubah, semua yang hadir
berteriak keras:
"Seng-toako... apa yang terjadi? Mengapa kau
berbuat begitu?"
Gi Teng dan Gi Beng pun saling bertukar
pandang, mereka berdua menyangka Seng Cun-hau sudah tahu kalau Im
Kian adalah anggota perguruan Tay ki bun hingga ia mengumbar hawa
amarahnya.
Dengan satu kali lompatan Cu Cau menerjang
ke hadapan Seng Cun-hau, kemudian bentaknya gusar:
"Antara kau dan aku tidak terikat dendam
sakit hati, mengapa kau mengacau pada hari perkawinanku ?"
Walaupun pada hari biasa dia selalu berjiwa
besar dan tidak gampang tersinggung, akan tetapi pesta perkawinan
ini merupakan satu-satunya kejadian besar bagi dirinya, satu
kejadian yang sangat menyentuh perasaannya, hingga tidak heran paras
mukanya berubah hebat ketika melihat ada orang datang mengacau
secara tiba-tiba.
Paras muka Seng Cun-hau yang dasarnya sudah
merah, kini berubah semakin merah, jeritnya:
"Aku... aku...."
Kalau pada hari biasa dia selalu tegar dan
tenang, ibarat ada gunung yang ambruk di hadapannya pun paras
mukanya tidak berubah, sekarang dia begitu panik, dia malah tidak
mampu mengucapkan separah kata pun.
Perubahan sikap semacam ini segera
mengundang rasa tercengang dan bingung si Naga hitam, Burung hong
biru serta Rembulan hijau.
Im Kian telah memburu maju, paras mukanya
kelihatan ikut berubah.
"Seng Cun-hau!" terdengar Cu Cau membentak
lagi, "sebenarnya apa tujuan perbuatanmu hari ini? Kalau tidak
segera kau jelaskan, aku... aku akan...."
"Mau apa kau?" tantang Seng Cun-hau yang
nampaknya dicekam rasa gusar yang luar biasa.
Bagaimanapun juga dia terhitung seorang jago
kenamaan dalam dunia persilatan, tentu saja ia tak tahan
diperlakukan orang secara kasar, apalagi dalam keadaan naik darah,
sekalipun ada alasan yang kuat pun dia enggan mengatakan begitu
saja.
Hawa amarah yang berkobar dalam benak Cu Cau
makin memuncak, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya dan tertawa
seram.
"Hahaha, bagus, bagus, kalau memang begitu,
biar hari ini kuberi pelajaran kepadamu!"
Di tengah gelak tertawa seram yang
memekakkan telinga, secara perlahan dan lembut dia lepaskan sebuah
pukulan.
Serangan yang dilancarkan dalam keadaan
gusar itu meski kelihatannya halus dan lembut, namun terkandung
perubahan yang tiada taranya, jelas merupakan sebuah jurus pamungkas
yang menakutkan.
Tanpa berpikir panjang Seng Cun-hau
menyambut datangnya pukulan itu, tapi sayang kepandaian silat yang
dimiliki orang ini selisih kelewat jauh, di bawah benturan angin
pukulan, kelihatannya si jago pedang berhati merah segera akan roboh
bersimbah darah.
Seandainya terjadi keadaan seperti ini,
dapat dipastikan tujuh jago pedang pelangi tidak bisa berpeluk
tangan, bukan saja akan melibatkan diri dalam pertarungan, bahkan
kesalah pahaman yang terjadi mungkin tak akan terhapus untuk
selamanya.
Sebab di dunia saat ini hanya Seng Cun-hau
seorang yang mengetahui rahasia di balik seluk beluk peristiwa itu,
seandainya dia tewas, besar kemungkinan tujuh jago pedang pelangi
pun akan turut punah dalam pertarungan hari ini, otomatis dalam
dunia persilatan kembali akan terjadi pergolakan yang luar biasa, Cu
Cau maupun Sui Leng-kong pun akan hidup dalam penderitaan dan
siksaan batin... akibat dari peristiwa ini sungguh di luar akal
sehat.
Terdengar tujuh jago pedang pelangi menjerit
bersama, tidak sempat bagi mereka untuk melakukan pertolongan.
Untung Im Kian sudah mempersiapkan diri
dengan sebaik-baiknya, begitu mendengar Cu Cau tertawa seram, dia
sudah menduga akan terjadi perubahan di luar dugaan.
Belum lagi pukulan dari Cu Cau sempat
dilontarkan, Im Kian telah merangkul tubuhnya kuat-kuat sembari
berteriak keras:
"Harap kalian berdua jangan berkelahi
dulu... harap jangan berkelahi dulu."
"Criiing!", terdengar suara gemerincingan
nyaring, si jago pedang naga hitam Liong Kian-sik telah melolos
pedangnya dari sarung dan berkata dingin:
"Seng-toako, apapun alasanmu, sekarang sudah
tidak perlu kau jelaskan lagi."
Orang ini jarang berbicara di waktu biasa,
tapi begitu buka suara, setiap perkataannya sangat berbobot.
Biarpun hanya beberapa patah kata yang
singkat, namun dia sudah menjelaskan posisinya, yakni baik Seng
Cun-hau benar atau salah dengan perbuatannya hari ini, asal rekannya
turun tangan, maka dia akan turut melolos pedangnya.
Lan hong kiam khek Liu Ji-uh ikut melesat
maju ke depan dan berdiri di belakang suaminya, walaupun dia tak
mengucapkan sepatah kata pun, namun jari tangannya yang halus telah
menggenggam gagang pedangnya.
Ui koan kiam khek Che Toa-ho ikut membentak
nyaring:
"Siapa saja yang berani mengusik selembar
bulu Seng-toako, aku ... aku ...."
Tapi begitu melirik wajah Cu Cau sekejap,
seketika itu juga dia menghentikan perkataannya.
Sejujurnya, dalam hati kecilnya dia menaruh
perasaan jeri terhadap kemampuan silat yang dimiliki Cu Cau, tapi
pada saat dan situasi seperti ini, tidak memberi kesempatan baginya
untuk memilih, akhirnya sambil menghentakkan kakinya berulang kali
dia melanjutkan:
"Aku akan mengadu jiwa dengannya."
Bi gwe kiam khek Sun Siau-kiau yang masih
dipengaruhi arak malah sudah mencabut pedangnya sambil berteriak:
"Gi Beng, Gi Teng, apakah kalian berdua
hanya akan menjadi penonton?"
Tubuhnya maju menerjang meja, kemudian
mengobrak-abrik cawan dan hidangan yang tertata di atas meja.
Menyaksikan semua ini Cu Cau kembali
mendongakkan kepalanya sambil tertawa seram.
"Bagus, bagus sekali," teriaknya, "jadi
kalian ingin mengandalkan jumlah banyak untuk mengembut aku? Bagus,
hari ini akan kusaksikan siapa yang lebih tangguh antara aku dengan
tujuh jago pedang pelangi?"
"Mau menang kalah, mau mati hidup, semuanya
bukan masalah," tukas Liong Kian-sik ketus.
Pada hari biasa dia kelihatan paling dingin
dan hambar, padahal orang ini dipenuhi darah panas yang bergolak,
begitu selesai mengucapkan perkataan itu, suasana pembunuhan pun
seketika menyelimuti seluruh ruangan.
Im Kian berusaha mencegah dan menghalangi
niat orang-orang itu, namun dalam keadaan seperti ini, siapa pun
enggan menuruti perkataannya, semua orang sudah dipengaruhi emosi,
mata mereka sudah berubah jadi merah, kelihatannya pertempuran tak
bisa dihindari lagi.
Mendadak terlihat sesosok bayangan manusia
berkelebat, kemudian terdengar dia berseru:
"Bila kalian ingin turun tangan, bunuhlah
aku terlebih dulu!"
Ternyata orang itu tidak lain adalah Sui
Lengkong, sang pengantin wanita.
Saat itu kain kerudung mukanya telah
ditanggalkan hingga nampak jelas paras mukanya yang pucat-pias bagai
mayat, tapi justru karena wajahnya nampak pucat, kecantikan wajahnya
kelihatan semakin menggetar sukma.
Entah karena terpengaruh oleh kecantikan
wajahnya ataukah terpengaruh oleh nada bicaranya yang dingin
menggidikkan, tanpa sadar suasana berubah menjadi tenang kembali.
Kembali Sui Leng-kong berpaling ke arah Cu
Cau, bujuknya lembut:
"Bagaimana kalau kau pun duduk dulu?"
Di balik suaranya yang lembut
seolah terkandung semacam daya pengaruh yang sukar ditentang,
membuat Cu Cau, si jagoan yang tangguh ini tanpa terasa duduk
kembali.
Kembali Sui Leng-kong menghela napas sedih,
katanya:
"Jago pedang berhati merah Seng Cun-hau
bukan orang gegabah yang tidak tahu sopan santun, aku yakin
perbuatannya hari ini pasti didasari satu alasan yang kuat, bukankah
begitu?"
Menyaksikan sorot mata si nona yang sayu dan
penuh kesedihan, tanpa terasa hawa amarah Seng Cun-hau padam
sebagian, dia mendongak-kan kepala dan menghela napas panjang,
sahutnya:
"Benar, aku terpaksa berbuat begitu karena
mempunyai alasan yang kuat."
"Bersediakah kau untuk menjelaskan
alasannya?"
"Aku... aku...."
Kalau dilihat dari wajahnya yang dicekam
pula oleh perasaan sedih dan duka, dapat diketahui alasan yang
hendak dikemukakan sebetulnya merupakan alasan yang tak ingin
diungkap, namun dia pun tak mampu menampik permintaan Sui Lengkong.
Paras mukanya sebentar menghijau sebentar
memerah, akhirnya setelah menghentak-kan kakinya berulang kali, dia
pun berkata:
"Sebenarnya aku merasa amat sedih untuk
mengungkap rahasia ini, tapi...."
Kembali dia mendongakkan kepala sambil
menghela napas panjang, lanjutnya:
"Tapi kalau tidak kuungkap, maka nona Sui
dan Cu... Cu-tayhiap pasti akan menyesal sepanjang hidup."
Berubah paras muka semua orang setelah
mendengar perkataan itu.
Dengan wajah berubah, Im Kian segera
berseru:
"Kalau memang begitu, harap Hengtay jelaskan
alasannya, kami akan berterima kasih sekali atas kesediaanmu itu."
Dengan wajah serius, Seng Cun-hau berkata:
"Siapa pun boleh menikah dengan nona Sui,
tapi Cu-tayhiap ... kau tidak boleh menikah dengannya."
"Omong kosong, memangnya kenapa?" tidak
lahan Cu Cau membentak nyaring.
"Karena ... karena ...." sambil menahan
amarahnya, Seng Cun-hau menghela napas panjang:
"Aaaai, sebelum kujelaskan alasannya, lebih
baik dengarkan dulu ceritaku."
"Baik, berceritalah, kami semua akan
mendengarkan dengan tenang."
Dengan kening berkerut sebenarnya Cu Cau
ingin membantah, namun setelah mendengar ucapan Sui Leng-kong yang
lembut, mau tidak mau terpaksa dia harus menahan diri dan ikut
mendengarkan.
Lama sekali Seng Cun-hau tertunduk sedih,
tampaknya dia sedang berpikir bagaimana harus mulai dengan
ceritanya, kejadian itu kelewat membuatnya sedih hingga untuk sesaat
dia merasa tidak sanggup untuk berbicara.
Lebih kurang sepeminuman teh kemudian,
akhirnya dia pun mulai mengisahkan cerita yang memedihkan hati itu.
"Dahulu ada... dahulu ada seorang yang
tergila-gila belajar silat sejak kecil, tapi dia hanya seorang
manusia biasa, manusia dengan bakat apa adanya, maka dari itu
walaupun dia berlatih giat siang dan malam, namun hasil yang
diperoleh tidak seberapa. Ibu orang itu sangat berharap putranya
bisa berhasil, bisa menjadi seekor naga sakti, dia selalu memandang
putranya itu bagai manusia berbakat alam, dia berharap suatu saat
nanti putranya bisa menjadi seorang pendekar pedang kenamaan.
"Orang itu tidak tega menyaksikan ibunya
kecewa, sementara dia sendiri justru tidak mampu melatih diri dengan
kepandaian silat yang tangguh, bisa dibayangkan betapa sedih dan
tersiksanya batin orang itu, dalam situasi tertekan inilah suatu
hari dia memutuskan untuk melatih ilmu Toan coat sin kang
(ilmu sakti putus keturunan) yang belum pernah ada yang berani
melatihnya."
Baru saja dia bercerita sampai di situ,
semua orang sudah tidak sanggup menahan diri lagi, teriaknya hampir
berbareng:
"Toan coat sin kang? Besar... besar
amat nyali orang ini, berani betul dia melatih ilmu pemutus
keturunan itu."
Sebagaimana diketahui, hampir semua yang
hadir saat ini merupakan jago-jago tangguh dari dunia persilatan,
mereka semua tahu akan asal-usul ilmu Toan coat sin kang ini,
mereka pun sadar bila seseorang berlatih ilmu sakti ini, maka dia
akan kehilangan kemampuannya untuk meneruskan keturunan, bukan cuma
begitu, salah-salah bisa cau hwe jip mo (jalan api menuju
neraka) yang berakibat kematian.
Oleh sebab itu walaupun tidak sedikit umat
persilatan yang mengetahui cara berlatih Toan coat sin kang,
namun belum ada seorang manusia pun yang rela mengorbankan
kebahagiaan hidupnya dengan berlatih ilmu itu.
Im Kian menghela napas sedih, ujarnya:
"Terkadang cinta seorang ibu yang berlebihan malah akan mencelakakan
putranya sendiri, bila orang ini bukan merasa didesak ibunya, mana
mungkin dia rela melatih Toan coat sin kang yang membuat
dirinya impoten sehingga tidak bisa menghasilkan keturunan!"
"Setelah mengorbankan kejantanannya, apakah
orang itu berhasil melatih ilmu silatnya sehingga mencapai tingkat
kesempurnaan?" tanya Gi Beng dengan nada gemetar.
Seng Cun-hau termenung sedih beberapa saat
lamanya, kemudian baru melanjutkan:
"Bakat yang dimiliki orang ini benar-benar
bebal dan goblok, biarpun sudah berlatih tekun hampir tiga tahun
lamanya, namun hasilnya tetap nihil... tapi... tapi yang jelas dia
sudah mengorbankan kejantanannya, sudah mengorbankan kemampuannya
untuk menghasilkan keturunan. Ketika tanpa disengaja ibunya
mengetahui akan kejadian ini, dalam sedih bercampur kagetnya,
disamping dia menggembleng putranya dengan ilmu silat, dia pun
buru-buru mengawinkan putranya."
"Waah... bukankah hal ini akan
menyengsarakan perempuan itu ...." teriak Gi Beng tanpa sadar, tapi
begitu tahu dia sudah salah bicara, buru-buru gadis ini membungkam
dengan pipi berubah merah.
Kembali Seng Cun-hau menghela napas panjang.
"Walaupun orang itu tidak ingin merusak masa
depan dan kebahagiaan seorang wanita dengan tubuhnya yang cacad,
akan tetapi dia pun tidak berani membangkang perintah ibunya. Sebab
ibunya selalu menyimpan secercah harapan. Namun... sesudah
perkawinan berjalan dua tahun lamanya, bukan saja mereka tidak
berputra, bahkan istrinya makin lama semakin layu dan murung.
"Waktu itu perasaan orang itu semakin
tertekan dan tersiksa, tapi harapan sang ibu terhadap putranya belum
pupus, dia justru melimpahkan tanggung jawab kemandulan itu pada
menantunya."
Semua orang menjerit tertahan, Gi Beng pun
melelehkan air mata sambil bergumam:
"Kasihan benar perempuan itu, ternyata dia
harus mengalami kejadian yang amat tragis!"
Sepasang mata Sun Siau-kiau pun ikut berubah
jadi merah, sembari mengucek mata, dengan gemas dia mengumpat:
"Dasar kaum lelaki mau menang sendiri, yang
selalu sengsara adalah kita kaum wanita."
"Bee... belum tentu," tukas Che Toa-ho, "ada
juga wanita yang...."
"Siapa suruh kau ikut bicara," bentak Sun
Siau-kiau sambil mendelik, "bagaimana nasib selanjutnya wanita itu?
Apakah dia pun diceraikan oleh mertuanya?"
Raut muka Seng Cun-hau dicekam kesedihan
yang luar biasa, katanya dengan sedih, "Mereka adalah keluarga
persilatan kenamaan dalam dunia persilatan, mana mungkin bisa kawin
cerai seenaknya, memangnya tidak kuatir ditertawakan sahabat
Kangouw?"
Dengan gemas Gi Beng berseru: "Dia pasti
kuatir menantunya menguarkan sebab musabab kejadian itu
sehingga...."
Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba dengan
wajah berubah serunya:
"Dalam situasi seperti ini, jangan-jangan...
jangan-jangan ibu orang itu telah membunuh menantunya?"
Seng Cun-hau membungkam diri dengan wajah
semakin sedih, walau tidak menjawab, namun dia tidak menyangkal akan
hal itu.
Sambil menggertak gigi menahan emosi, jerit
Sun Siau-kiau, "Apakah dia berbuat begitu agar putranya bisa kawin
lagi?"
"Benar...." Seng Cun-hau tertunduk lesu.
"Apa? Setelah mencelakai satu orang, dia
masih ingin mencelakai seorang lagi...." teriak Sun Cun-hau
terperanjat, "bila putranya masih punya lengsim, seharusnya dia
tolak perkawinan itu."
"Tapi orang itu adalah seorang anak
berbakti," ucap Seng Cun-hau pelan, "jangankan Ibunya hanya minta
dia menikah lagi, andaikata dia diharuskan mati pun akan dia akan
lakukan seketika."
"Apakah berbakti macam begini tidak sedikit
kelewatan?" tanya Im Kian sambil menghela napas
"Tiada orang tua tiada dunia," kata Seng
Cun-hau serius, "budi yang diberikan ibu kepada kita tiada taranya,
sebagai anaknya apakah kita tega membangkang perintahnya?"
Cu Cau tidak kuasa menahan diri lagi,
tiba-tiba teriaknya:
"Sekalipun berbakti, jelas cara berbakti
semacam ini adalah tindakan tolol, setia secara tolol, berbakti
secara tolol bukan perbuatan seorang lelaki sejati, sekalipun
orang... orang itu menuruti keinginan ibunya, apakah dia lupa kalau
perbuatannya justru telah mencelakai nasib seorang wanita? Aku
rasa... bukan saja perbuatan semacam ini kelewat tolol, bahkan...
bahkan konyol."
Semakin berbicara dia semakin emosi, pada
akhirnya orang ini mulai mencaci-maki habis-habisan.
Dengan sedih Sui Leng-kong berkata:
"Sekalipun cara berbakti yang dilakukan
orang ini sedikit... sedikit kelewatan, namun aku tetap mengagumi
orang berbakti macam dia."
Dengan penuh rasa terima kasih Seng Cun-hau
melirik sekejap ke arahnya, berbeda dengan Cu Cau, dia tunjukkan
sikap yang lebih gusar, dia tidak habis mengerti kenapa Sui
Leng-kong selalu membantu Seng Cun-hau.
Tentu saja dia tidak menyangka kalau
hubungan antara Sui Leng-kong dan Seng Cun-hau sebenarnya amat pelik
dan unik... ibu Sui Lengkong tidak lain adalah bini Seng Cun-hau.
Sekalipun dalam hati Sui Leng-kong menaruh
rasa jengkel terhadap Seng Cun-hau karena dia telah mencelakai
kehidupan ibunya, namun dia pun menaruh semacam perasaan dekat yang
berbeda dengan perasaannya terhadap orang lain.
Perasaan itu sangat sensitif dan pelik, yang
tak mungkin bisa dipahami orang lain....
Akhirnya Seng Cun-hau melanjutkan kembali
kisahnya:
"Setelah menikah untuk kedua kalinya, orang
itu kuatir ibunya kembali... aaaai, maka dia pun selalu berusaha
melindunginya, setiap saat selalu mengintainya, namun betapapun
sayang dan perhatiannya orang itu, apa yang mampu dia berikan masih
belum sepadan dengan hilangnya masa remaja perempuan itu... dia
tidak pernah mampu memberi kepuasan kepadanya, maka lambat-laun
kondisi istrinya pun berubah makin murung dan tersiksa."
Ketika menyinggung soal "kepuasan",
sebenarnya dia sudah menggunakan perkataan yang paling halus, namun
tidak urung merah jengah juga wajah Liu Ji-uh, Gi Beng dan Sun
Siau-kiau. Dengan jengkel Sun Siau-kiau berseru: "Mungkin
perlindungan yang dilakukan orang itu terhadap bininya sama seperti
dia sedang melindungi sesuatu benda berharga atau seekor hinatang
peliharaan, pasti tidak ada kasih sayang, tidak ada cumbu rayu,
bukankah begitu?"
Bagaimanapun juga dia adalah seorang wanita
yang telah menikah, dia cukup memahami kebutuhan seorang wanita
sebagai istri seseorang, kalau bukan disebabkan perasaan tidak puas,
mustahil wajah perempuan itu akan murung dan berubah sayu.
Seng Cun-hau termenung beberapa saat,
setelah menghela napas panjang, sahutnya:
"Benar, oleh karena orang itu menderita
cacad, merasa rendah diri dan kehilangan rasa percaya diri, dia
tidak pernah bercumbu rayu dengan bininya, yang dilakukan hanya
melindunginya dari kejauhan.
"Dua tahun berlalu tanpa terjadi sesuatu
apapun, suatu hari musuh besar kelompok keluarga itu datang
menyerang secara besar-besaran, pertempuran sengit pun segera
berkobar.
"Menantu orang itu berasal dari keturunan
keluarga persilatan kenamaan, ilmu silatnya amat tangguh, apalagi
sepasang Wan yo kiam andalannya boleh dibilang jarang ada yang
mampu menandingi. Oleh karena keluarga besar diserang orang, tentu
saja sebagai menantu dia tidak bisa berpeluk tangan saja, maka
dengan mengandalkan sepasang Wan yo kiam, dia bertarung
habis-habisan melawan seorang pemuda dari pihak musuh.
"Walaupun sepanjang pertempuran berlangsung
orang itu sangat menguatirkan keselamatan bininya, karena dia tahu
bininya belum banyak pengalaman, namun saat itu dia sendiri sedang
dikerubut dua orang musuh sehingga untuk sesaat tidak mampu
mengurusi orang lain.
"Betul orang itu memiliki bakat yang
pas-pasan sehingga kungfunya tidak mampu mencapai kesempurnaan,
namun ilmu silat yang dipelajarinya waktu itu sudah cukup matang,
sayang ilmu pedangnya yang terbilang cukup mantap tapi kehilangan
kemampuannya dalam hal ganas, tepat dan telengas. Dalam keadaan
begini, dia hanya mampu bertahan dengan susah payah, hanya mampu
mempertahan diri sendiri.
"Untunglah di saat yang kritis, teman-teman
dari persekutuan nya datang membantu, sepak terjang kawanan
musuh besar itu sungguh aneh dan cara kerjanya juga unik, ketika
mengetahui gempurannya tidak berhasil, mereka segera mengundurkan
diri secara serentak. Pada saat itulah orang itu mengetahui bininya
telah lenyap dari arena pertarungan, dalam cemas dan gelisahnya,
orang itupun melakukan pencarian.
"Dia tidak ingin mengganggu ketenangan orang
lain, sebab dia cukup tahu ibunya menaruh perasaan curiga terhadap
menantunya, kalau dia sampai tahu menantunya telah hilang, bisa
dipastikan dia akan melarang orang melakukan pencarian.
"Begitulah, dengan mengandalkan kekuatan
sendiri yang amat terbatas, setengah jam kemudian dia baru berhasil
sampai di luar sebuah hutan bunga tho... ya, sebuah hutan bunga
tho...."
Bicara sampai di sini, paras mukanya nampak
lebih sedih dan tertekan, malah nada suaranya terdengar ikut
gemetaran, hal ini memperlihatkan kalau kisah lama yang akan
diceritakan merupakan satu kejadian besar yang hingga kini pun masih
menusuk perasaannya.
Setelah lewat beberapa saat, dia baru
melanjutkan kembali kisahnya dengan suara perlahan:
"Hari itu cahaya rembulan menyinari seluruh
angkasa, membiaskan bayangan pohon dan menyinari putih bunga yang
berguguran... dalam suasana seperti itulah dari balik pepohonan
bunga tho justru terdengar... terdengar suara rintihan yang
menggetar sukma, biarpun orang itu bukan seorang Kuncu, dia pun
tidak termasuk Siaujin, begitu mendengar suara yang membetot sukma,
seketika dia menghentikan langkahnya, belum sempat membalikkan
badan, suara rintihan di balik pepohonan itu telah berubah menjadi
suara panggilan dan teriakan."
Sesungguhnya kisah yang dia ceritakan
merupakan satu kejadian yang amat sensitif dan memalukan, tapi
justru dia sampaikan dengan nada penuh kesedihan dan amarah yang
meluap.
Sementara itu kawanan wanita yang hadir di
situ meski wajahnya telah berubah menjadi merah lantaran malu, tidak
urung perhatian mereka bersedot juga oleh gaya bicaranya yang penuh
emosi itu.
Terdengar Seng Cun-hau berkisah kembali:
"Begitu mendengar suara teriakan itu, orang
tadi segera mengenalinya sebagai suara teriakan istrinya, sementara
nama yang dipanggil bininya justru adalah nama sang pemuda musuh
keluarganya."
Mendengar sampai di sini, kembali semua
orang menjerit kaget, kalau sebelumnya rasa simpati mereka tertuju
pada sang istri orang itu, maka rasa simpati itu kini beralih kepada
orang yang bersangkutan.
Dengan wajah mengejang keras dan suara makin
gemetar, Seng Cun-hau bercerita lagi:
"Dalam terkejut, sedih dan gusarnya, orang
itu siap menerjang masuk ke dalam hutan bunga tho, tapi baru
melangkah tidak seberapa jauh, rasa sedih dan gusarnya telah berubah
menjadi rasa penyesalan. Dia sadar semua peristiwa yang terjadi
tidak terlepas dari kesalahan sendiri, sekalipun tindakan yang
dilakukan istrinya juga salah, akan tetapi bukan seratus persen
kesalahannya seorang, karena sang suami pun sebenarnya ikut
bertanggung jawab. Berpikir sampai di situ, dia pun merasakan
seluruh tubuhnya menjadi lemas, dia tidak punya keberanian lagi
untuk menerjang masuk ke dalam hutan, dia malah tergeletak diluar
hutan dan tidak sanggup merangkak bangun lagi."
Perlahan-lahan sorot matanya dialihkan
keluar jendela, paras mukanya tampak begitu duka, tertekan dan tua.
Keheningan mencekam seluruh ruangan, semua
yang hadir ikut merasakan tekanan batin yang berat.
Lama kemudian Sun Siau-kiau baru menghela
napas panjang, gumamnya:
"Sekarang aku baru tahu, walaupun bininya
menderita, namun dia sendiri jauh lebih menderita, jauh lebih
tersiksa."
Setelah menghela napas sedih, lanjutnya:
"Dalam situasi dan keadaan seperti itupun
dia masih memikirkan kepentingan orang lain, hal ini membuktikan
kebesaran jiwa serta kebajikan hatinya sukar ditandingi oleh siapa
pun."
Diam-diam Gi Beng menyeka air matanya,
dengan suara parau dia bertanya: "Bagaimana selanjutnya?"
"Walaupun dia merasa penat, walaupun hatinya
tersiksa, namun tanpa disadari pandangan matanya tetap dialihkan ke
balik hutan, menyaksikan pemandangan di situ, begitu dilihat... dia
pun terperangah.
"Ternyata, walaupun nama yang disebut
bininya adalah nama sang pemuda musuh besarnya, tapi orang yang
sedang begituan dengan bininya... ternyata bukan pemuda itu...."
"Lantas siapa?" tanpa sadar serentak semua
orang bertanya.
"Orang yang sedang begituan dengan bininya
ternyata adalah seorang tokoh silat maha sakti yang namanya amat
tersohor dan sudah dikenal sebagai jagoan romantis.
"Sekalipun usia orang itu sudah terhitung
lanjut, namun nama serta kedudukannya tidak tertandingi oleh siapa
pun. Orang itu bisa mengenali wajahnya karena di masa mudanya dulu,
suatu ketika dia pernah bersua dengan tokoh sakti ini dan kesannya
sangat mendalam, karena itu meski sudah berpisah lama, dia masih
dapat mengenalinya dalam sekilas pandang. Begitu tahu siapakah tokoh
sakti itu, tidak terlukiskan lagi rasa kaget dan tercengangnya orang
itu.
"Dia betul-betul tidak habis mengerti kenapa
sang pemuda bisa berubah jadi tokoh silat itu, dia pun tidak bisa
menduga perubahan apa yang sebenarnya terjadi di situ, untuk sesaat
dia malah tertegun. Menanti sadar kembali dari lamunan, dilihatnya
tokoh silat itu seolah teringat akan satu hal yang penting, secara
tiba-tiba dia pergi dari situ dengan kecepatan luar biasa.
"Perasaan orang itu amat kalut, sedih,
gusar, malu dan tercengang bercampur aduk jadi satu, dia tidak bisa
merasakan kejut atau getirnya kehidupan waktu itu. Melihat bininya
masih tergeletak di tanah dalam keadaan bugil, melihat dia seakan
tertidur begitu nyenyak... aaaaai! Perasaan cinta dan benci
bercampur aduk dalam benak orang itu, tiba-tiba saja dia melompat
bangun dan menyerbu masuk ke dalam hutan...."
"Apakah dia... dia bunuh istrinya?" Gi
Bengmenjerit kaget.
Seng Cun-hau menghela napas sedih.
"Waktu itu sebenarnya dia memang ingin
menjagal istrinya, tapi ... di saat itulah dalam mimpinya sang istri
mengigau, memanggil nama suaminya. Panggilan itu meski lirih namun
bagi pendengaran orang itu justru bagaikan guntur yang menggelegar
di siang hari bolong.
"Saat itulah dia baru sadar, sesungguhnya
sang istri masih amat mencintainya, hanya saja...karena dia tidak
mampu, karena dia impoten, memang tidak sepantasnya dia menyalahkan
perbuatan istrinya."
Ketika bicara sampai di situ, mendadak dia
menggebrak meja keras-keras, menghancurkan cawan, membuat piring
beterbangan, tapi dia tidak peduli, dia membiarkan pecahan cawan
melukai tangannya, membiarkan darah segar meleleh keluar dengan
derasnya.
Tapi dia seakan tidak merasa sakit, setelah
menghela napas panjang dan tertunduk sedih, perlahan lanjutnya:
"Waktu itu dia merasa, kalau toh diri
sendiri sudah menanggung begitu besar kesalahan dan dosa, mengapa
dia tidak berusaha memaafkan istrinya yang telah serong? Maka tanpa
mengucapkan sepatah kata pun dia bopong bininya dan diajak pulang,
sejak kejadian itu dia tidak pernah lagi mengungkap peristiwa itu
kepada siapa pun."
Semua orang terbungkam dalam seribu bahasa,
para wanita melelehkan air mata sedih sementara Sui Leng-kong sudah
terisak dengan pedihnya, sebab dari kisah cerita itu dia sudah dapat
menebak apa yang telah terjadi.
"Ternyata... ternyata orang itu memang
seorang lelaki sejati ...." puji Sun Siau-kiau sambil menyeka air
mata.
"Sudah selesai ceritanya?" tanya Gi Beng
pula.
Dengan air mata membasahi pipi, Seng Cun-hau
melanjutkan:
"Sebetulnya aku tidak ingin mengungkit
kembali kejadian masa lampau, aku ingin peristiwa itu kukubur
selamanya dalam dasar hatiku, siapa tahu lewat beberapa bulan
kemudian kujumpai... kujumpai dia... ternyata dia sudah hamil"
Sampai pada akhir cerita, dia tidak bisa
menyimpan rahasia lagi dan meluncur kata "aku", begitu sadar akan
kesalahan ini, tubuhnya bergetar keras dan seketika terbungkam
kembali.
Padahal sekalipun tidak dia sebut pun orang
lain sudah menduga akan hal itu, semenjak tadi sorot mata penuh
simpati sudah terpancar dari wajah semua orang.
Seng Cun-hau memandang sekejap sekeliling
tempat itu, kemudian katanya dengan sedih:
"Aku rasa tidak perlu menjelaskan lagi
siapakah orang itu, aku yakin kalian sudah bisa menebaknya sendiri."
Semua orang menghela napas panjang dan
menundukkan kepalanya, siapa pun merasa tidak tega untuk memandang
wajahnya yang sedih, hanya Cu Cau seorang tetap duduk tidak
bergerak, wajahnya menunjukkan pula kepedihan yang luar biasa.
Tiba-tiba Gi Beng berseru:
"Tapi... tapi... apa hubungannya cerita itu
dengan Enci Sui?"
"Tahukah kau siapa biniku itu?" tanya Seng
Cun-hau.
Gi Beng tertegun, lalu menggeleng.
"Aku tidak tahu...."
"Biniku tidak lain adalah ibu Sui Leng-kong,
waktu itu benih yang ada dalam rahimnya tidak lain adalah Sui
Leng-kong...."
Sekujur tubuh Sui Leng-kong bergetar keras,
sambil mengeluh dia jatuh tidak sadarkan diri.
Dengan air mata bercucuran, cepat Gi Beng
memayang tubuhnya.
Sun Siau-kiau kelihatan agak ragu, bisiknya
pula:
"Tapi... apa hubungannya dengan Cu ...."
Dia melirik Cu Cau sekejap, mendadak seperti
teringat akan sesuatu, jeritnya terperanjat:
"Jangan-jangan... tokoh silat itu adalah...
adalah...."
Ketika berpaling lagi ke arah Cu Cau, dia
saksikan sepasang mata lelaki itu telah berubah jadi merah darah,
tubuhnya gemetar keras, mimik mukanya kelihatan sangat menakutkan.
Sun Siau-kiau terkesiap, buru-buru dia
membungkam diri.
"Benar," sahut Seng Cun-hau, "tokoh
persilatan itu tidak lain adalah Kaisar malam, jadi Sui Leng-kong
sebenarnya saudara kandung Cu Cau, karena itu mereka tidak bisa
menikah."
Biarpun semua orang sudah menduga akan
kenyataan itu, tidak urung hati mereka bergetar juga setelah
mendengar pengakuan itu, Sun Siau-kiau buru-buru memejamkan matanya,
dia kuatir dirinya ikut jatuh semaput lantaran kelewat sedih.
Mendadak terdengar Cu Cau berpekik nyaring.
Suaranya keras bagai pekikan naga, membuat seluruh jagad bergetar,
membuat daun jendela dan ruangan serasa bergoncang keras.
Belum habis dia berpekik, tubuhnya sudah
melambung ke udara dan menerobos keluar melalui jendela, hanya dalam
dua kali kilatan cahaya saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari
pandangan.
Sebetulnya Im Kian ingin menyusul, tapi
keadaan sudah terlambat, terpaksa dia hanya bisa menjejakkan kakinya
berulang kali sambil menghela napas panjang.
Suasana hening mencekam dalam ruangan, tiada
orang yang mampu tersenyum lagi, helaan napas, lelehan air mata
hampir menyelimuti setiap orang, pondok Cay-seng yang semula
dipenuhi gelak tertawa, kini serasa tercekam dalam kemurungan dan
kedukaan yang mendalam.
Dengan sedih Seng Cun-hau menundukkan
kepala.
"Aku pantas mati," bisiknya, "aku ...."
"Kau tidak perlu menyesal," tukas Im Kian
sambil menghela napas pula, "masih untung Hengtay datang tepat waktu
sehingga kesalahan tragis tidak sampai terjadi, budi kebaikan ini...
aaaai! Terimalah hormatku sebagai tanda terima kasih yang tidak
terhingga."
Habis berkata dia benar-benar menjatuhkan
diri berlutut.
Buru-buru Seng Cun-hau ikut berlutut,
cucuran air mata makin deras membasahi pipinya.
Semua orang yang menyaksikan kejadian inipun
tidak sanggup mengendalikan diri, helaan napas sedih kembali bergema
memecah keheningan.
Coba kalau Seng Cun-hau tidak membuat
keonaran tanpa sengaja, mungkin saat itu nasi sudah menjadi bubur,
keadaan yang lebih tragis pun mungkin sudah terjadi.
Bagaimanapun juga kejadian ini merupakan
satu keberuntungan di tengah ketidak beruntungan, sepantasnya hal
ini dirayakan dengan gembira, tapi siapa pula yang bisa bergembira
dalam situasi seperti ini?
Untuk beberapa saat semua orang tidak tahu
harus sedih atau gembira, mereka hanya bisa berdiri mematung dengan
wajah termenung.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Sun
Siau-kiau tersadar kembali dari lamunannya, dia tarik ujung baju Che
Toa-ho dan bisiknya:
"Mari kita pergi!"
"Pergi?" bisik Che Toa-ho bingung.
"Kalau tidak pergi... aku bisa gila."
Che Toa-ho memandang sekejap sekeliling
tempat itu, kemudian gumamnya:
"Betul, lebih baik pergi dari sini."
Dalam pada itu si jago pedang naga hitam
Liong Kian-sik telah membangunkan Seng Cun-hau dan berkata:
"Kalau toh sudah tidak ada keramaian lagi di
sini, lebih baik kita mohon diri."
"Tapi...." bisik Im Kian.
Sebetulnya dia ingin menahan tamunya, namun
setelah membayangkan keadaan saat itu, dimana menahan tamunya
berarti hanya akan menambah suasana sedih, maka niat itu segera
ditelan kembali.
GiTeng dan Gi Beng saling bertukar pandang
sekejap, pikir mereka:
"Bila Seng-toako sampai mengetahui identitas
Im-toako yang sebenarnya, mungkin bakal terjadi keributan lagi."
Berpikir sampai di situ, kedua orang itupun
berseru hampir berbareng:
"Benar, lebih baik Seng-toako segera pergi!"
"Apakah kalian tidak ikut bersama Toako?"
tanya Liong Kian-sik dengan kening berkerut.
"Tentu saja Siaute akan turut serta," jawab
Gi Teng sambil menunduk, "hanya saja...."
"Hanya saja Enci Sui... dia...." sambung Gi
Heng, "aku tidak tega meninggalkan dia dalam keadaan begini, lebih
baik... lebih baik kalian saja yang berangkat duluan, kami akan
menyusul belakangan."
"Begitupun baik juga...." sahut Liong
Kian-sik setelah berpikir sejenak.
"Tapi Seng-toako hendak kemana? Supaya kami
gampang mencarinya."
"Kuil Sang-cing-to-koan di bukit Lau-san!"
Seng Cun-hau memandang Im Kian sekejap, kelihatannya dia
seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ketika disadari kalau banyak
bicara pun tidak ada gunanya, setelah menghela napas panjang, dia
pun menjura dan mohon diri.
Tidak lama kemudian bayangan tubuh beberapa
orang itu sudah lenyap dari pandangan.
Setelah melakukan perjalanan setanakan nasi
lamanya, Sun Siau-kiau yang pertama tidak bisa menahan diri, ujarnya
sambil menghela napas:
"Heran, kenapa ada kejadian yang begitu
kebetulan? Kenapa Thian selalu mengatur perjalanan nasib seseorang
dengan cara yang tidak terduga."
Liong Kian-sik ikut menghela napas.
"Nasib memang mempermainkan manusia, hal
semacam ini susah untuk diterangkan dengan akal sehat."
Tiba-tiba Che Toa-ho menimbrung:
"Siaute merasa sedikit heran dengan
asal-usul pemilik pondok Cay-seng, aku tidak tahu siapakah dia?"
"Aku yakin dia adalah anggota perguruan Tay
ki bun," jawab Seng Cun-hau.
"Dari mana Toako bisa tahu?" teriak semua
orang hampir berbareng.
Seng Cun-hau menarik napas panjang,
katanya:
"Biarpun aku bodoh dan bebal, namun memiliki
kemampuan untuk mengamati perubahan mimik orang, dilihat dari
hubungannya yang begitu akrab dengan Sui Leng-kong, bisa kutebak
kalau dugaanku tidak bakal salah."
Sun Siau-kiau menghela napas.
"Di waktu biasa," katanya, "aku selalu
berpendapat, meskipun kungfuku masih belum mampu menandingi Toako,
namun kecerdasanku masih jauh lebih unggul, tapi hari ini aku baru
sadar, ternyata Toako adalah orang pandai."
"Toako mempunyai pengalaman dan pengetahuan
yang luas, tentu saja kami semua bukan tandingannya," kata Liu Ji-uh
pula, "di hari biasa, dia memang lebih suka menyembunyikan
kelebihannya."
Perkataan ini bukan kata pujian tapi memang
berdasarkan kenyataan, sebagaimana diketahui, biarpun Seng Cun-hau
bukan termasuk orang pintar, namun caranya berpikir amat cermat,
tindak-tanduknya juga tenang, satu kelebihan yang sulit ditandingi
rekannya.
"Toako," teriak Che Toa-ho kemudian, "kalau
sudah tahu dia adalah anggota perguruan Tay ki bun, kenapa tidak
segera turun tangan?"
Pikiran dan jiwa orang ini paling picik,
semenjak dikalahkan Thiat Tiong-tong, hingga hari ini dia masih
menaruh perasaan dendam.
Kembali Seng Cun-hau menghela napas,
sahutnya:
"Biarpun angkatan tua kita mempunyai dendam
permusuhan dengan perguruan Tay ki bun, kenyataan hingga sekarang
kita pun belum tahu seluk beluk serta latar belakang permusuhan yang
sebenarnya."
"Jadi Toako ingin menyudahi saja permusuhan
ini?"
"Aku hanya berharap permusuhan yang telah
berjalan hampir seabad ini bisa disudahi pada generasi kita, apa
gunanya saling membunuh? Kenapa kita mesti menyusahkan generasi
berikutnya?"
Setelah berhenti sejenak dan tertawa pedih,
lanjutnya:
"Sekalipun aku tidak punya keturunan, namun
aku tetap berharap generasi kita berikut bisa hidup aman damai dan
sentosa. Sebab ... sebab aku sudah merasakan betapa menderita dan
tersiksanya hidup dalam suasana permusuhan, selain itu aku pun yakin
banyak anggota perguruan Tay ki bun yang berjiwa ksatria, seperti
misalnya Thiat Tiong-tong... aaai, jalan pikirannya persis sama
seperti jalan pikiranku."
Che Toa-ho merasa sangat tidak puas setelah
mendengar rekannya memuji Thiat Tiong-tong, wajahnya kontan
bersungut-sungut.
Liong Kian-sik segera berkata:
"Pemahaman Toako sungguh membuat Siaute
merasa kagum, apabila setiap umat persilatan bisa memiliki pandangan
macam Toako, dunia pasti akan aman tenteram."
Liu Ji-uh serta Sun Siau-kiau mesti tidak
bicara, namun dari mimik mukanya dapat diketahui mereka pun sangat
mengagumi jalan pikiran Seng Cun-hau.
"Kalau memang begitu, buat apa kita menyusul
ke sana?" seru Che Toa-ho jengkel.
"Kali ini aku mengundang kalian turun
gunung, bukan karena berharap Hiante sekalian membantuku dalam
pertarungan berdarah," tukas Seng Cun-hau cepat.
"Lantas untuk apa?"
"Aku hanya berharap Hiante sekalian mau
memberi dukungan semangat kepada kami, agar perselisihan yang telah
berlangsung seabad ini bisa disudahi sampai di sini."
Kemudian setelah menghela napas lagi,
lanjutnya:
"Seharusnya Hiante juga tahu, kalau sampai
kita membuat generasi berikutnya menderita hanya gara-gara dendam
pribadi, kejadian itu merupakan satu tindakan yang sangat keji."
Che Toa-ho berpikir sejenak, akhirnya dia
pun menghela napas sambil menundukkan kepala.
Sui Leng-kong telah sadar dari pingsannya,
dia masih mendekam dalam pelukan Gi Beng sambil menangis terisak.
Gi Beng tiada hentinya menghibur, namun air
mata ikut berlinang membasahi pipinya.
Sambil tertawa paksa, Im Kian berkata:
"Kejadian masa lampau telah berlalu, buat
apa Hianmoay masih menangis? Berpikirlah hal positip yang bakal kau
peroleh di kemudian hari, dengan begitu aku pun ikut merasa lega."
Perkataan itu mengandung makna yang
mendalam, meski orang lain belum tentu paham, namun Sui Leng-kong
sangat memahaminya.
Setelah kenyataan membuktikan dia masih
bersaudara dengan Cu Cau, berarti cinta kasihnya dengan Thiat
Tiong-tong sudah tidak terhambat lagi dengan masalah lain, bila
suatu ketika kelak hubungan mereka semakin berkembang, tidak
tertutup kemungkinan mereka akan naik ke pelaminan.
Tapi entah mengapa, Sui Leng-kong tetap
merasakan hatinya amat sedih, untuk sesaat bagaimana mungkin air
matanya bisa berhenti berlinang?
Malam yang kelam akhirnya berlalu dalam
suasana sedih bercampur gembira, tanpa terasa fajar telah
menyingsing di ufuk timur.
Maka Sui Leng-kong pun menyatakan
keinginannya untuk pergi.
Dia ingin mencari Thiat Tiong-tong, dia pun
ingin mencari saudara kandungnya, Cu Cau....
Dari dasar hatinya yang paling dalam, dia
pun berharap bisa berjumpa dengan ayahnya, ayahnya yang konon
merupakan jagoan paling tersohor di kolong langit.
Melihat bujukannya tidak berhasil mencegah
kepergian gadis itu, dengan sedih Im Kian pun berkata:
"Aaai... sayang aku tidak bisa mendampingi
perjalanan adik...”
Bicara sampai di situ, dia pun melirik
sekejap ke arah Gi Beng dan Gi Teng.
Buru-buru Gi Teng berseru:
"Kalau begitu biar Siaute yang mewakili
Toako mendampingi perjalanannya."
"Benar," ujar Gi Beng pula sambil tertawa,
"dengan didampingi kami berdua, tanggung Enci Sui tidak akan
menjumpai masalah, Im-toako tidak perlu kuatir lagi."
"Aaah, bila kalian bersedia menemami, tentu
saja aku merasa lega," sahut Im Kian berseri.
Setelah berpamitan dan meninggalkan pondok
Cay-seng, Gi Teng berdua baru teringat kalau mereka telah
menyanggupi permintaan Seng Cun-hau, sekarang masalahnya adalah
bagaimana mungkin mereka bisa melakukan dua tugas bersamaan?
Matahari telah memancarkan sinarnya
menerangi seluruh jagad.
Dua bersaudara ini hanya berharap sepanjang
jalan mereka tidak menjumpai halangan, Sui Leng-kong bisa segera
menemukan orang yang dicari dan permusuhan yang telah terjalin di
masa lalu lambat-laun bisa dipunahkan.
Sayangnya, perjalanan mereka bertiga tidak
mungkin bisa dilalui tanpa masalah.
Kecantikan Sui Leng-kong, kelincahan Gi
Beng, kegagahan Gi Teng... banyak menarik perhatian orang.
Menyadari akan hal itu, Gi Teng dan Gi Beng
mulai bertindak lebih hati-hati....
Mereka menghindari kereta kuda yang kelewat
mewah, mereka pun tidak menunggang kuda, tap, perjalanan ditempuh
dengan menunggang sebuah kereta kuda yang amat biasa dan umum.
Maka sementara waktu perjalanan pun bisa
ditempuh tanpa banyak kesulitan.
BAB 32.
Nyanyian di Tengah Malam.
Hari itu mereka bertiga tiba di seputar
bukit Lau-san, dua bersaudara Gi serta Sui Leng-kong tidak berani
menginap di dalam kota, maka mereka pun memerintahkan kusir kereta
untuk melewati kota besar dan beristirahat di sebuah dusun yang amat
kecil.
Selesai makan malam, Gi Beng yang suka
bergerak tidak bisa menahan diri untuk tidak berkeliling dusun, dia
ajak Sui Leng-kong menemaninya berjalan-jalan, terpaksa Gi Teng pun
mengintil di belakang.
Dalam suasana penuh kegembiraan, sepanjang
jalan mereka bertiga berpesiar sambil berbincang hingga tanpa sadar
telah berjalan meninggalkan dusun itu.
Di sisi sebuah bukit, mereka saksikan ada
cahaya lentera yang menerangi kegelapan, meski terlihat ada bayangan
manusia yang hilir mudik, namun suasana sangat hening, selain suara
hembusan angin yang menggoyangkan dedaunan, tidak terdengar suara
lain, suasana di sekeliling sana terasa diliputi kemisteriusan.
Timbul rasa ingin tahu Gi Beng, dengan suara
berat bisiknya:
"Aneh, apa yang sedang mereka lakukan?
Kelihatannya mencurigakan, Cici Sui, bagaimana kalau kita selidiki?"
Dia memang sengaja tidak mengajak Gi Teng,
melainkan mengajak Sui Leng-kong, karena dia tahu gadis itu lembut
dan penurut, ajakannya tidak bakal ditampik, asal Sui Leng-kong
bersedia, Gi Teng pasti akan mengintil juga.
"Baiklah, mari kita tengok," sahut Sui
Leng-kong sambil manggut-manggut.
Gi Teng berniat mencegah, namun kedua orang
itu sudah pergi jauh, dalam keadaan begini, terpaksa Gi Beng
mengikuti di belakang sambil menghela napas panjang.
Dengan ketajaman mata mereka bertiga, tidak
selang beberapa saat kemudian terlihat di balik semak belukar tampak
bersembunyi beberapa sosok bayangan manusia, orang-orang itu
mendekam tanpa bergerak dan sama sekali tidak menimbulkan suara.
Berubah wajah Gi Teng menyaksikan hal itu,
bisiknya:
"Hati hati, nampaknya.....”
Belum selesai dia memperingatkan, mendadak
terlihat sesosok bayangan manusia menerjang keluar dari balik semak,
tangan kiri orang itu memegang sejenis senjata berbentuk tameng,
sementara tangan kanannya membawa lembing pendek, sambil menerjang
dia mem-bentak:
"Akan kulihat mau kabur kemana lagi?"
Dalam terperanjatnya buru-buru Gi Teng
menarik tangan Gi Beng dan Sui Leng-kong sambil mundur tiga langkah.
Tampak bayangan manusia itu menubruk ke atas
tanah, tameng di tangan kirinya seperti menekan sesuatu dan serunya
sambil tertawa:
"Sudah tertangkap... sudah tertangkap."
Waktu itu, sebenarnya Gi Teng sudah siap
melancarkan serangan, tapi dengan cepat dia dapat mengenali orang
itu hanya seorang lelaki dusun, yang dikira senjata tameng ternyata
hanya sebuah keranjang bambu, sedang senjata yang dikira lembing
ternyata hanya sebuah tongkat.
Orang itu mendongakkan kepala, begitu
mengenali Gi Teng bertiga, ujarnya sambil tertawa:
"Ooh, rupanya Khek-koan bertiga ingin ikut
menonton keramaian, hati-hati, tempat ini sangat berbahaya."
"Bahaya? Apa yang kalian tangkap?" tanya Gi
Beng keheranan.
Orang itu tidak menjawab, dia hanya
memperlihatkan keranjang bambunya, sewaktu dipukul dengan tongkat,
maka terlihatlah seekor ular berbisa muncul dari balik keranjang
itu.
Di bawah remangnya cuaca, tampak ular itu
menongolkan kepala sambil mengeluarkan lidahnya yang bercabang,
bentuknya sangat menakutkan.
Gi Beng menjerit kaget, seketika itu juga
dia merasa senyuman orang dusun itu penuh diliputi kemisteriusan,
tanpa sadar dia mundur dua langkah, bentaknya:
"Mau... mau apa kau?"
Orang dusun itu tertawa.
"Hamba hanya ingin memperlihatkan ular ini
kepadamu."
Kembali dia pukul kepala ular itu dengan
tongkatnya, ular tadi seketika menarik kembali tubuhnya ke dalam
keranjang bambu.
"Di tengah malam buta begini menangkap ular
berbisa, kelihatannya kau bukan orang baik," bentak Gi Beng nyaring,
kemudian sambil menyikut Gi Teng, lanjutnya:
"Tangkap dia, kita periksa berasal dari mana
orang ini?"
Orang dusun itu seketika terkesiap,
buru-buru sahutnya dengan gemetar:
"Tunggu... tunggu sebentar, di tengah malam
buta begini hamba sengaja menangkap ular berbisa, karena... karena
ingin mendapat tambahan beberapa tahil perak."
459
"Uang apa? Dari siapa? Bicara yang jelas."
"Di atas bukit di depan sana telah
kedatangan seorang Budha hidup, bukan saja dia memiliki kemampuan
menaklukkan naga menundukkan harimau, bahkan makanan sehari-harinya
adalah ular berbisa, konon dia orang tua pernah berjanji di depan
Hudco sewaktu berada di barat untuk menghabiskan seratus ribu ekor
ular berbisa sebelum berhasil dengan ilmunya, oleh karena itu setiap
hari Budha hidup itu bersantap ular, dia bersedia membayar satu
tahil perak untuk seekor ular berbisa, itulah sebabnya hamba
sekalian menangkap ular sebagai pekerjaan sambilan."
Walaupun penjelasan itu telah dibumbui
dengan dongeng, namun Gi Teng bertiga segera dapat menduga kalau
'Budha hidup' pemangsa ular berbisa itu pastilah seorang jagoan
tangguh dari dunia persilatan yang sedang mempelajari sejenis ilmu
beracun.
"Macam apa tampang Budha hidup itu?" tanya
Gi Teng dengan kening berkerut.
"Hamba semua hanya manusia biasa yang tidak
kasat mata, mana berani memperhatikan wajah dia orang tua? Kami
hanya tahu beliau berdiam di sebuah kuil dewa gunung yang ada di
atas bukit dan setiap hari hanya duduk bersemedi."
"Kalau tidak pernah bersua muka, bagaimana
cara kalian menerima uang perak?" tanya Gi Beng.
"Ular berbisa yang berhasil hamba tangkap,
cukup dimasukkan ke dalam sebuah keranjang bambu dan diantar ke
depan kuil, keesokan harinya ketika hamba terbangun dari tidur, akan
ditemukan keranjang itu sudah tergeletak di atas meja, ular dalam
keranjang telah lenyap, sementara isi keranjang itu telah berubah
menjadi uang perak. Selama beberapa hari terakhir, kejadian itu
selalu terulang."
Gi Beng seperti ingin mengatakan sesuatu
lagi, tapi kedipan mata Gi Teng mencegahnya untuk bicara lebih jauh.
"Aaa... apakah Khek-koan ingin menanyakan
sesuatu lagi?" kembali orang dusun itu bertanya.
"Tidak, kalian boleh segera menangkap ular.
kemudian cepatlah pulang dan beristirahat," sahut Gi Teng cepat. Dia
segera menarik tangan Gi Beng dan berlalu dari situ dengan langkah
lebar.
Diam-diam Sui Leng-kong keheranan juga
melihat Gi Beng begitu menuruti perkataan kakaknya tanpa berusaha
menyelidiki persoalan yang nampaknya amat mencurigakan ini, tak
tahan ejeknya sambil tertawa:
"Aku lihat cuaca hari ini kurang begitu
baik."
"Kenapa kurang baik?" tanya Gi Beng
keheranan, matanya terbelalak lebar.
"Kalau cuaca amat bagus, mana mungkin kau
terburu-buru ingin pulang beristirahat?" kata Sui Leng-kong sambil
tersenyum.
Gi Beng tertawa cekikikan.
"Kau sangka Engkohku tidak suka mencari
keramaian? Orang alim? Sejak kecil dia sudah nakalnya setengah mati,
bertemu siapa saja selalu berkelahi, betul, sekarang dia memang
berlagak sok sopan, sok alim, lihat saja, kepura-puraannya tidak
bakal berlangsung lama, kau sangka dia mau pulang untuk
beristirahat? Jangan mimpi, itulah taktiknya untuk menghindari
perhatian orang-orang dusun itu, dapat dipastikan dia bakal
mengambil jalan lain untuk secara diam-diam menyelinap naik ke atas
bukit."
"Benarkah begitu?" tanya Sui Leng-kong
sambil melirik Gi Teng sekejap.
Gi Teng menoleh dan tertawa tergelak.
"Susah jadi seorang Engkoh, apalagi kalau
segala taktik sudah ketahuan sang adik," katanya.
Bukan saja dia tidak berani beradu pandang
dengan Sui Leng-kong, bahkan begitu dipandang gadis itu, kontan
pipinyajadi merah jengah, untung saja gadis itu tidak menaruh
perhatian.
Setelah berputar ke arah lain, betul saja,
sekali lagi mereka bertiga naik ke atas bukit.
Dengan mata berkilat dan penuh bersemangat
Gi Beng bergumam:
"Si Budha hidup itu tentu memiliki tampang
wajah yang aneh."
Geli juga Sui Leng-kong setelah menyaksikan
rekannya kegirangan seperti seorang bocah, padahal dia sendiri pun
merasa keheranan, rasa ingin tahunya meluap-luap setelah mendengar
ada orang bisa makan puluhan ekor ular dalam beberapa hari, tanpa
disadari dia pun turut mempercepat langkahnya.
Bagaimanapun ketiga orang itu adalah
anak-anak muda, begitu mendengar ada hal yang aneh, mereka hanya
teringat untuk melakukan penyelidikan dan lupa kalau langkah itu
sesungguhnya berbahaya dan penuh dengan intaian maut.
Budha hidup itu bisa hidup mengasingkan diri
di tengah kuil bobrok di tengah gunung, hal ini menunjukkan bahwa
dia berusaha menyembunyikan jejaknya, mana mungkin dia akan
membiarkan orang datang mengusut dan menyelidiki rahasianya?
Dilihat dari makanan sehari-harinya berupa
ular beracun, inipun membuktikan dia sedang melatih sejenis ilmu
beracun yang menakutkan, dengan kepandaian silat yang dimiliki Gi
Teng bertiga, bukan jaminan mereka bisa lolos dari ancaman.
Suasana di atas gunung amat hening, sepi,
selain rembulan yang mengintip dari balik awan dan suara serangga
malam yang memadukan musik, tiada suara lain yang terdengar, rasa
seram dan penuh misteri seolah mencekam sekeliling tempat itu.
Wajah Gi Beng yang bulat telur meski panas,
namun kaki dan tangannya justru dingin kaku, sepanjang jalan tiada
hentinya dia menghibur diri sendiri:
"Jangan takut, dalam semak tidak bakal
muncul ular berbisa."
Dia menghibur orang lain agar jangan takut,
padahal dia sendiri sudah ketakutan setengah mati, sepanjang jalan
hatinya kebat-kebit, nona itu kuatir kalau secara tiba-tiba muncul
ular berbisa dari balik semak dan mendadak mematuk kakinya.
Menyaksikan itu diam-diam Sui Leng-kong
merasageli, tiba-tiba jeritnya tertahan:
"Ular!"
Sambil menjerit Gi Beng menjatuhkan diri ke
dalam pelukan Sui Leng-kong, wajahnya pucat-pias seperti mayat,
bisiknya gemetar:
"Ular... ada dimana ularnya?"
"Ular? Ooh... ada dalam perut si Budha
hidup," sahut Sui Leng-kong sambil tertawa cekikikan.
"Ooh... rupanya kau memang nona jahat,
semoga saja kau yang benar-benar digigit ular berbisa...."
"Sst! Jangan berisik!" tiba-tiba Gi Teng
menghardik.
Sui Leng-kong dan Gi Beng segera berpaling,
di antara pepohonan dekat tanah perbukitan, lamat-lamat terlihatlah
sebuah bangunan kuil.
Cahaya lentera yang redup memancar keluar
dari balik dinding kuil yang bobrok, hal ini menambah kemisteriusan
dan keseraman bangunan itu, seakan-akan kuil itu betul-betul
merupakan tempat tinggal setan atau siluman jahat.
Tanpa sadar ketiga orang itu menghentikan
langkahnya dan mulai maju dengan tubuh merunduk.
Mendadak terdengar suara langkah manusia
berkumandang datang dari bawah bukit.
Ketiga orang itu sangat terperanjat,
tergopoh-gopoh mereka menyembunyikan diri ke balik pepohonan.
Terlihat sebuah lampu lentera yang terbuat
dari kertas putih bergerak mendekat dari bawah bukit, setelah
berjalan semakin dekat, tampaklah empat orang manusia berbaju hijau
yang mengikuti di belakang lentera itu, empat lelaki dengan empat
keranjang bambu.
Keempat orang itu berjalan dengan kepala
tertunduk, tidak ada yang celingukan ke sana kemari, tidak ada juga
yang mengangkat wajahnya, setelah tiba di depan pintu kuil, mereka
menghentikan langkahnya jauh dari bangunan.
Setelah meletakkan keranjang bambu itu ke
tanah, serentak keempat orang itu menjatuhkan diri berlutut dan
menyembah sebanyak tiga kali dengan sikap penuh hormat, malah mulut
mereka terlihat komat-kamit seakan sedang membaca doa.
Sinar lentera yang membias dari balik
lentera putih membuat paras muka keempat orang itu nampak
hijau membesi, menghijau saking
takutnya, membuat penampilan mereka terasa lebih aneh dan
menakutkan, apalagi dalam suasana seperti itu.
Di bawah kabut yang mulai menyelimuti
permukaan, di tengah hembusan angin malam yang dingin, di tengah
goyangan cahaya lentera berwarna putih, keempat orang manusia
berbaju hijau itu berlutut di depan kuil dengan sikap amat
menghormat.
Jelas pemandangan semacam ini nampak sangat
aneh dan penuh diliputi misteri!
Tanpa sadar Gi Beng menggenggam tangan Sui
Leng-kong erat-erat, ujung jari tangannya terasa mulai gemetar,
telapak tangannya basah oleh peluh dingin. Sekalipun perasaan ngeri
dan seram mencekam perasaannya, gadis itupun merasa tegang bercampur
gembira.
"Pergilah!" tiba-tiba terdengar seseorang
berseru dari balik kuil.
Biarpun hanya sepatah kata, namun nada
suaranya rendah, berat dan disertai satu kekuatan yang sangat aneh,
ucapan itu seolah sebuah martil besar yang menghantam perasaan
setiap orang, membuat dada terasa sesak dan napas menjadi tersengal.
"Sungguh hebat tenaga dalam yang dimiliki
orang ini!" pikir Gi Beng bertiga dengan perasaan terkesiap.
Dalam pada itu keempat orang berbaju hijau
itu sudah merangkak bangun dan mundur beberapa langkah, kemudian
tergopoh-gopoh kabur meninggalkan tempat itu.
Tidak lama kemudian pintu kuil dibuka orang.
Seorang kakek bertopi bambu, berjubah
abu-abu dan bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang
menyelinap keluar dari balik pintu, gerakan tubuhnya cepat dan
enteng, jelas merupakan seorang tokoh hebat dari dunia persilatan.
Dua kali dia bolak-balik keluar masuk kuil,
hanya dalam waktu singkat keempat buah keranjang bambu itu sudah
dibawa masuk ke dalam, kemudian "Ciiittt!", pintu kuil kembali
tertutup rapat, suara keriut pintu seakan helaan napas iblis keji.
Tidak lama kemudian terdengar suara
pembicaraan yang lirih berkumandang dari balik kuil, sayang suara
itu amat perlahan hingga tidak jelas apa yang sedang dibicarakan.
Gi Beng segera berbisik ke sisi telinga Sui
Leng-kong:
"Di dalam kuil terdapat dua orang,"
"Berarti yang satu adalah si Budha hidup,"
sahut Sui Leng-kong.
"Entah... entah macam apa tampangnya?"
Kedua orang itu berbisik dengan suara lirih,
Gi Teng tidak tahu apa yang sedang mereka berdua bicarakan, tapi
setelah melirik Sui Leng-kong sekejap, tiba-tiba dia bangkit
berdiri.
Buru-buru Gi Beng menarik ujung bajunya.
Dengan setengah berbisik Gi Teng berkata:
"Kita toh sudah berada di sini, paling tidak
mesti mengintip dulu tokoh macam apakah si Budha hidup itu."
"Aneh," bisik Gi Beng keheranan, "sejak
kapan nyali Koko jadi begitu besar?"
"Kalau takut, lebih baik kau tetap tinggal
disini."
Sambil menggertak gigi Gi Beng segera
bangkit berdiri, sambil menahan napas mereka bertiga bergerak maju,
siapa pun tidak berani menggunakan ilmu meringankan tubuh, kuatir
suara desiran angin akan mengusik ketenangan tokoh sakti yang berada
dalam kuil.
Bangunan kuil itu sangat bobrok, banyak
dinding yang sudah retak atau berlubang, ketiga orang itu segera
mencari retakan di dinding dan mengintip ke dalam.
Biarpun bobrok, ternyata ruang dalam kuil
itu sudah disapu amat bersih, selain tidak nampak ada debu, meja
altar berikut patung pujaan pun sudah disingkirkan sehingga ruang
kuil itu nampak kosong melompong.
Satu-satunya benda yang masih tersisa adalah
sebuah lampu lentera yang diletakkan di tengah ruangan, lentera
dengan setitik cahaya yang redup.
Di bawah kerlipan cahaya api, tampak seorang
pendeta berbaju merah membara duduk bersila di atas sebuah tikar,
wajahnya menghadap ke arah pintu, tubuhnya sama sekali tidak
bergerak, dia mirip sekali dengan sebuah patung Budha.
Orang itu mempunyai perawakan tinggi besar
dan kekar, kepalanya amat besar, mukanya merah membara dan
memancarkan cahaya merah yang aneh dan menyilaukan mata, bukan cuma
kepalanya, bahkan alis matanya pun berwarna merah darah Satu-satunya
yang berwarna hitam putih hanya sepasang biji matanya yang tajam.
Sebenarnya bentuk wajah orang itu tidak
terlalu aneh atau menyeramkan, keanehannya justru terletak pada
warna merah darah yang menyelimuti sekujur badan orang itu, dari
ujung kepala hingga ke ujung kakinya berwarna merah membara.
Gi Beng hanya memperhatikan beberapa kejap,
dia segera merasakan matanya amat sakit karena silau.
Kakek berjubah abu-abu yang mengambil
keranjang ular tadi, kini duduk bersila di sampingnya, dilihat dari
posisi duduknya, tampaknya kakek berjubah abu-abu itu adalah murid
pendeta berbaju merah itu.
Sui Leng-kong bertiga tidak sempat melihat
jelas raut muka kakek berbaju abu-abu itu, mereka hanya melihat si
kakek sedang sibuk menarik keluar ular-ular berbisa itu dari dalam
keranjang.
Ular-ular berbisa yang kelihatan garang dan
menakutkan itu, begitu berada dalam cengkeraman tangannya yang kurus
berwarna hitam, seketika berubah jadi lemas tidak bertenaga, bukan
saja binatang melata itu tidak melakukan perlawanan, bahkan mandah
saja dibolak-balik semaunya.
Dalam waktu singkat kakek berjubah abu-abu
itu sudah memilih sepuluh ekor ular berbisa yang terbesar dan
dimasukkan ke dalam keranjang, lalu setelah dipersembahkan ke
hadapan pendeta berjubah merah itu, dengan hormat dia mundur kembali
ke tempat duduknya.
Kini Gi Beng bertiga sudah dapat menduga
pemandangan ngeri apa yang bakal mereka saksikan, wajah mereka
bertiga segera berubah hebat, tubuh mereka pun mulai gemetar.
Sementara itu pendeta aneh berjubah merah
itu telah menangkap seekor ular berbisa dan dimasukkan ke dalam
mulut, dengan satu gigitan dia melahap kepala ular itu dan
mengunyahnya dengan penuh kenikmatan.
Gi Beng bertiga merasa hatinya bergidik,
tiba-tiba saja perut mereka mual.
Pendeta berjubah merah itu sama sekali tidak
melakukan sesuatu gerakan, yang tampak hanya dadanya yang naik
turun.
Ular berbisa yang besar itupun
perlahan-lahan menyusut mengecil mengikuti gerakan dadanya yang
naik turun, dalam waktu singkat hanya tersisa selembar kulit ular
yang kosong, sementara daging serta darahnya telah terhisap masuk ke
dalam perut pendeta itu.
Gi Beng sekalian merasa sangat mual,
andaikata tidak mengertak gigi, mungkin mereka sudah muntah saking
tidak tahannya.
Kalau dilihat mimik muka pendeta aneh
berjubah merah itu, dia seolah menganggap ular berbisa itu sebagai
hidangan terlezat yang ada di kolong langit, tidak sampai
sepeminuman teh, keenam tujuh ekor ular berbisa itu sudah berpindah
ke dalam perutnya.
Caranya makan ular berbisa secara
hidup-hidup sudah merupakan satu kejadian yang mengerikan, tapi
kemampuan tenaga dalamnya untuk menghisap daging dan darah ular itu
sampai lolos dari kulitnya justru membuat perasaan orang bergidik.
Cahaya merah aneh yang memancar dari sekujur
tubuhnya terlihat makin lama semakin menyolok dan berkilauan, sinar
matanya makin tajam bersemangat, tampaknya setiap kali dia makan
seekor ular berbisa lebih banyak, tenaga dalamnya pun ikut bertambah
maju satu tingkat.
Gi Beng benar-benar merasa terkejut
bercampur takut, dia tidak kuasa untuk melihat lebih jauh, diam-diam
gadis itu menarik ujung baju Sui Leng-kong dan mengajaknya pergi
dari situ.
Sui Leng-kong manggut-manggut, secara
diam-diam dia pun menarik ujung baju Gi Teng.
Tapi belum sempat ketiga orang itu bangkit
berdiri, mendadak kakek berjubah abu-abu itu membalikkan tubuhnya,
seolah tanpa sengaja dia melirik sekejap ke tempat persembunyian
ketiga orang itu.
Gi Teng bertiga sekali lagi merasa
terkesiap, terlebih Sui Leng-kong, rasa kagetnya jauh melebihi dua
bersaudara Gi, karena dia segera mengenali kakek berbaju abu-abu itu
sebagai tokoh yang sangat dikenal olehnya.
Untunglah pada saat yang bersamaan si
pendeta berjubah merah itu membisikkan sesuatu, kakek berbaju
abu-abu itu segera berpaling lagi ke arah lain.
Dalam keadaan begini, tentu saja Sui
Leng-kong bertiga tidak berani berdiam lebih lama lagi di situ.
Tanpa membuang banyak waktu ketiga orang itu
balik tubuh dan kabur dari situ, sampai cahaya lentera dalam kuil
tidak nampak lagi mereka baru menghembuskan napas lega.
"Waah, sungguh lihai!" gumam Gi Beng dengan
napas tersengal.
"Kelihatannya ilmu beracun yang dilatih
pendeta berjubah merah itu sudah mencapai puncak kesempurnaan," kata
Gi Teng pula dengan nada berat, "andaikata sampai ketahuan mereka,
mungkin susah bagi siapa pun untuk kabur dari bukit ini dalam
keadaan selamat."
"Siapa sih orang itu? Apakah kau mengenali
mereka?"
"Jejak jagoan silat amat sulit dilacak,"
sahut Gi Teng sambil menghela napas, "sekalipun aku merasa agak
asing, tapi jelas dia adalah seorang gembong iblis yang sudah lama
hidup mengasingkan diri... aaai! Lebih baik kita tidak usah mengenal
mereka."
"Tapi aku mengenali muridnya itu," tiba-tiba
Sui Leng-kong menyela.
"Siapa dia?" tanya Gi Beng sambil
membe-lalakkan matanya.
"Dia adalah Pocu benteng Han hong-po, Leng
It-hong."
Sampai tiba kembali di tempat pondokannya
dalam dusun, Gi Beng masih diliputi perasaan tercengang dan tidak
habis mengerti, gumamnya berulang kali:
"Leng It-hong? Kenapa dia bisa menjadi murid
gembong iblis itu?"
"Kalau sampai manusia macam Leng It-hong pun
bersedia menjadi muridnya, jelas kungfu yang dimiliki orang ini
sangat menakutkan, lebih baik kita jangan mengusiknyalagi."
"Siapa yang bilang mau mengusiknya? Aku
hanya ingin....”
"Lebih baik lagi kalau dipikir pun jangan,"
tukas Gi Teng cepat.
Kemudian setelah menatap sekejap Sui
Leng-kong, tiba-tiba katanya lagi:
"Bukan bermaksud takut atau tidak punya
nyali, tapi bukankah tujuan kepergian kita kali ini adalah untuk
mencari orang? Buat apa mesti mencampuri urusan orang lain?"
Kontan Gi Beng tertawa cekikikan, katanya:
"Aku justru melihat kau tidak bernyali, cuma
malu untuk mengakuinya... bukan begitu Enci Sui?"
Sambil tersenyum Sui Leng-kong melirik Gi
Teng sekejap.
Dengan wajah bersemu merah, buru-buru Gi
Teng berdehem, katanya:
"Sudahlah, besok pagi kita harus
melanjut-kan perjalanan, lebih baik cepat tidur!"
Dia tidak berani memandang wajah Sui
Leng-kong lagi, cepat pemuda itu mengundurkan diri dari ruangan.
Kembali Gi Beng mengomel panjang lebar
sebelum akhirnya tertidur.
Sedang Sui Leng-kong merasa sulit untuk
memejamkan mata, walaupun sudah bolak-balik tubuhnya, namun rasa
mengantuk seakan sudah jauh meninggalkan tubuhnya.
Biarpun di hari biasa dia selalu tampil
dengan wajah penuh senyuman, namun begitu keheningan malam mulai
menjelang, dia selalu akan terombang-ambing oleh pikiran yang kalut,
dia merasa banyak masalah yang sulit dihilangkan dari benaknya.
Sepanjang malam berulang kali Gi Beng
mengigau sambil berteriak-teriak:
"Ular...ular...."
Menyaksikan hal itu, Sui Leng-kong menghela
napas panjang, sambil mengenakan mantel diam-diam dia membuka
jendela ruangan.
Di luar jendela tampak langit amat cerah,
rembulan dan bintang menghiasi malam yang gelap, di tengah hembusan
angin yang dingin, tiada hentinya dia memanggil nama Thiat
Tiong-tong.
Dalam keheningan yang mencekam itulah
mendadak dia mendengar suara isak tangis yang amat memedihkan hati,
isak tangis itu sayup-sayup terhembus lewat mengikuti angin malam,
suara tangisan yang begitu sedih dan memilukan hati, serasa hati
tersayat, usus terburai....
Tanpa terasa air mata ikut berlinang
membasahi wajah Sui Leng-kong, tanpa sadar dia melompat keluar dari
dalam kamar dan berjalan menuju ke sumber isak tangis itu.
Dia tidak sadar, selain dirinya ternyata
masih ada orang lain yang ikut berada di sisi jendela.
Orang itu tidak lain adalah Gi Teng.
Pemuda itu dapat melihat dengan jelas
kemunculan Sui Leng-kong yang berambut panjang sebahu dan mengenakan
baju berwarna putih di bawah cahaya rembulan....
Sui Leng-kong nampak begitu cantik, cantik
bak bidadari dari kahyangan.
Tanpa terasa pemuda itu termangu, serta
merta dia ikut melompat keluar jendela.
Saat itu Sui Leng-kong sudah melesat keluar
dari dinding pekarangan.
Baru saja Gi Teng hendak mengejar, satu
ingatan kembali melintas, cepat dia balik ke dalam kamar dan
membangunkan Gi Beng yang masih terlelap tidur.
Dengan terkejut Gi Beng melompat bangun dari
tidurnya seraya berteriak keras:
"Ular...."
Tapi setelah melihat jelas orang yang
berdiri di hadapannya adalah Gi Teng, dengan perasaan lebih tenang
tegurnya:
"Ada apa?"
"Ketika mendengar isak tangis, nona Sui
keluar rumah seorang diri, aku... aku sangat kuatir, bagaimana kalau
kau mengintil di belakangnya?"
"Kalau toh kau yang kuatir, kenapa tidak
pergi sendiri? Aku mau tidur saja...." sahut Gi Beng sambil
cemberut, selesai bicara kembali dia merebahkan diri.
Buru-buru Gi Teng menarik tangannya dan
berseru sambil tertawa paksa:
"Kalau yang menangis seorang wanita, berarti
dia menangis dari kamar tidurnya, masa aku seorang lelaki harus
masuk ke dalam kamar wanita lain?"
Gi Beng menghela napas panjang dan
menggeleng.
"Aaai, siapa suruh aku jadi adikmu dan siapa
suruh kau adalah kakakku?"
Buru-buru dia bangun dan mengenakan pakaian
luar.
Menanti dia mengejar keluar, Sui Leng-kong
sudah berada jauh sekali, masih untung nona itu berjalan tidak
terlalu cepat, pakaian putihnya kelihatan sangat menyolok di tengah
kegelapan malam.
Akhirnya Gi Beng berhasil menemukan
Jejaknya, sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia menyusul ke depan
dan rencananya hendak menegur, namun niat itu segera diurungkan
begitu melihat raut muka Sui Leng-kong yang dicekam kesedihan.
Ketika mengetahui kedatangan Gi Beng, sambil
tertawa sedih kata Sui Leng-kong:
"Coba dengar!"
Sekarang Gi Beng baru merasa kalau isak
tangis itu memang sangat menyedihkan, tanpa terasa tergerak hatinya.
Dengan kening berkerut, bisiknya:
"Ya, betul, anak perempuan siapa yang sedang
dianiaya orang? Mari kita tengok ke sana."
Siapa sangka suara tangisan yang
kedengarannya berasal dari tempat dekat itu kenyataan jauhnya
setengah mati, harap maklum suasana malam di dusun itu memang
kelewat sepi sehingga tidak heran suara isak tangis yang berasal
dari tempat jauh pun terdengar sangat jelas.
Sui Leng-kong yang semula masih berjalan
santai, tanpa sadar segera mempercepat langkahnya dan pada akhirnya
kedua orang itu sama-sama mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya
untuk bergerak.
Tempat ini adalah bukit Lau-san, di kaki
bukit terlihat setitik cahaya hio yang berkedip-kedip bagaikan
bintang kesepian, dari arah situlah suara isak tangis
itu berasal.
Ketika Sui Leng-kong dan Gi Beng berjalan
semakin dekat, di bawah cahaya bintang tampaklah sebatang hio
tertancap di atas sebatang batu hijau di kaki bukit, ada dua orang
gadis berbaju hitam yang bertubuh ramping sedang berlutut di hadapan
hio itu sambil menangis tersedu-sedu, sayang wajah mereka tertutup
oleh kain cadar berwarna hitam, jelas kedua orang itu enggan wajah
asli mereka ketahuan orang.
Gi Beng segera menghentikan langkahnya,
dengan kening berkerut dia berbisik:
"Ternyata mereka bukan sedang dianiaya orang
lain, tapi sedang melampiaskan rasa sedihnya di sini."
"Kalau didengar dari isak tangis yang begitu
mengenaskan, kelihatannya orang yang sedang mereka tangisi adalah
orang yang sangat dekat dengan kedua orang ini, entah orang itu
sempat tidak mendengar suara tangisannya?" kata Sui Leng-kong pula
dengan sedih.
Berbicara sampai di situ, air mata telah
membasahi wajahnya.
Menyaksikan sikap rekannya, diam-diam Gi
Beng menghela napas panjang, pikirnya, "Ternyata Enci Sui adalah
orang yang sensitif perasaannya ...
Sementara di luar, dia berkata:
"Jika orang itu sudah mati dan ternyata ada
orang yang begitu sedih atas kematiannya, boleh dibilang kematian
orang itu cukup berharga."
"Tapi... tapi...."
"Tapi bila orang itu belum mati dan
gara-gara dia orang lain mesti begitu sedih," tukas Gi Beng cepat,
"maka orang itu kalau bukan kentut busuk, pastilah seorang lelaki
goblok yang memuakkan."
Pembicaraan kedua orang ini mesti tidak
menggunakan suara yang keras, namun tidak pula terhitung lirih,
sayang dalam sedihnya yang luar biasa ternyata tidak seorang pun di
antara kedua orang gadis berbaju hitam itu yang mendengar.
Kelihatannya hembusan angin malam pun
menemani suara isak tangis mereka, berbaur menjadi satu dan
menciptakan seuntai irama lagu yang menyayat hati.
Sui Leng-kong yang sudah dibasahi air mata,
kini terisak makin menjadi.
Sekali lagi Gi Beng menghela napas, sambil
menggelengkan kepala dan tertawa getir, ujarnya:
"Siapa orangnya yang mereka tangisi kau
tidak tahu, masa kau menemani mereka menangis sesedih ini?"
Dengan air mata masih bercucuran, sahut Sui
Leng-kong:
"Mereka menangisi orang yang dikasihi,
sementara aku menangisi masalahku yang menyedihkan, kalau kami
sama-sama sedang bersedih hati, apa salahnya menangis bersama,"
Gi Beng tertegun, sambil menggosok matanya
dia berseru:
"Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan,
tapi... kalau kau masih menangis terus, aku... aku pun tidak tahan
untuk tidak menangis."
"Baik, kalau begitu menangislah...
menangislah... semoga semua orang yang sedang bersedih hati dapat
berkumpul semua di sini dan menangis bersama... bisa menangis, jauh
lebih lega ketimbang menyimpannya di dalam hati."
"Kalian menangis karena ada yang ditangisi,
sementara aku... tidak seorang manusia pun yang perlu kutangisi, aku
... bukankah aku jauh lebih mengenaskan ketimbang kalian?"
Makin berbicara dia merasa makin sedih,
sampai akhirnya dia pun ikut menangis tersedu-sedu, malah suara
tangisannya paling keras.
Entah sudah berapa lama keempat orang itu
menangis, akhirnya dua orang gadis berbaju hitam itu berpaling
secara tiba-tiba dan berseru:
"Cici berdua ... kalian ... kalian jangan
menangis lagi!"
"Kalian sendiri menangis dengan begitu
sedihnya, kenapa kami tidak boleh menangis," sahut Gi Beng, "asal
kalian tidak menangis, tentu kami pun tidak akan menangis lagi."
"Kami... mana mungkin kami tidak menangis?
Tapi bila Cici berdua tidak ada masalah yang benar-benar
menyedihkan, lebih baik janganlah menangis lagi."
"Masalah apa pula yang membuat kalian
amatbersedih?"
Gadis berbaju hitam itu mendongakkan kepala
memandang ke angkasa, kemudian ujamya sedih:
"Seseorang telah mati, padahal sepanjang
hidupnya dia sudah banyak berkorban demi orang banyak, namun tidak
seorang pun yang mengetahui pengorbanannya itu."
"Benar, dia telah mengorbankan
segala-galanya." lanjut gadis yang lain, "namun tidak seorang
saudara dan sanaknya pun yang memahami pengorbanan itu, bahkan
sampai gurunya pun menuduh dia sebagai seorang murid murtad, seorang
pengkhianat."
"Dia dilahirkan tanpa ibu, ayahnya juga
telah mati, satu-satunya orang di dunia ini yang paling dekat
dengannya ternyata...."
"Akhirnya dia harus tewas di tangan orang
yang paling dekat dengannya," kembali gadis yang lain menambahkan.
Walaupun hanya serangkai pembicaraan
yang sederhana namun telah menceritakan sebuah kisah kehidupan yang
amat tragis, dalam keadaan begini, siapa yang tidak merasa bersedih?
Gi Beng berdiri tertegun, lama sekali dia
termangu oleh kisah cerita itu, gumamnya:
"Kalau dia benar-benar manusia macam begini,
aku... aku pasti akan turut menangisi kepergiannya."
Sui Leng-kong yang selama ini hanya
tertunduk sambil menangis, tiba-tiba mendongakkan kepala, selesai
membesut air mata, tanyanya dengan gemetar:
"Si... siapa yang kau maksud?"
Kedua orang gadis berbaju hitam itu serentak
berpaling, memandang ke arahnya.
Di bawah cahaya bintang, terlihat nona itu
berdiri dengan wajah pucat-pias, wajahnya sayu, meskipun
kecantikannya sudah terselubung di balik kepedihan, namun sorot
matanya tampak tetap jeli dan indah.
Kedua orang gadis berbaju hitam itu
tertegun, sampai lama sekali tak mampu berkata.
"Kenapa ... kenapa kalian tidak bicara?"
tanya Sui Leng-kong.
Tiba-tiba kedua orang gadis berbaju hitam
itu berangkulan kembali dan menangis semakin sedih.
"Kau... kau ...." paras muka Sui Leng-kong
semakin pucat.
"Sebenarnya Cici... Cici pun kenal dengan
orang... orang yang kami tangisi ...." ujar gadis berbaju hitam itu
terbata-bata.
"Siapa? Siapakah dia?" suara Sui Leng-kong
makin gemetar.
"Thiat... Tiong... Tong!"
"Thiat Tiong-tong?" Gi Beng ikut menjerit
keras.
Sementara itu Sui Leng-kong sudah
mencengkeram baju gadis itu sembari menjerit:
"Thiat Tiong-tong? Kau... yang kau maksud
benar-benar Thiat Tiong-tong?"
"Benar! Mana ada orang lain yang jauh lebih
banyak berkorban daripada Thiat Tiong-tong?" kata gadis berbaju
hitam itu sedih, "kecuali untuk Thiat Tiong-tong, mana mungkin aku
akan begitu bersedih."
Sekujur badan Sui Leng-kong mulai gemetar
keras, tubuhnya mendadak jadi rapuh bagai selembar daun kering yang
dihembus angin kencang, jeritnya:
"Kau bohong... Thiat Tiong-tong tak mungkin
mati, dia tak mungkin mati
"Dia memang tak pantas mati, tapi dia... dia
benar-benar telah mati... Enci Sui, kau anggap aku tega menipumu?"
"Kau... kau kenal aku? Siapa kau?"
"Leng... Cing-peng...."
Sambil menjerit keras Sui Leng-kong
berpaling ke arah gadis yang lain.
Perlahan-lahan gadis berkerudung hitam itu
melepaskan kain cadarnya dan menampilkan wajahnya yang cantik
jelita, wajah yang telah basah oleh air mata....
Dia tidak lain adalah UnTay-tay.
Tubuh Sui Leng-kong tampak gontai, mendadak
dia merasa pikirannya kosong, tidak ada lagi secuwil kekuatan pun
yang menopang tubuhnya.
Dia cukup mengerti, perkataan orang lain
mungkin saja bohong, tapi kedua orang ini tidak nanti akan
membohongi dirinya... tubuhnya mulai roboh lemas.
Buru-buru Gi Beng memeluk tubuhnya sambil
berteriak:
"Siapa yang telah membunuh Thiat Tiong-tong?
Siapa yang telah membunuh Thiat Tiong-tong? Cepat beritahukan
kepadaku."
"Orang itu adalah adik angkatnya, Im Ceng!"
sahut Un Tay-tay dengan kepala tertunduk.
Sekali lagi tubuh Sui Leng-kong bergetar
keras.
Gi Beng ikut tertegun, lama kemudian dia
baru bergumam:
"Im Ceng... Im Ceng... dimana dia sekarang?"
"Dia pun telah mati!"
Jiwa Sui Leng-kong yang sudah melemah
bagaimana mungkin bisa menerima pukulan batin seberat ini? Belum
sempat berteriak, kembali dia jatuh tidak sadarkan diri.
Gi Beng mendongakkan kepala memandang
langit, jeritnya amat sedih:
"Ooh, Thian... sudah terjadi tragedi yang
begitu mengenaskan di dunia ini, kenapa kau tidak mencampurinya?"
Tentu saja dia tidak tahu kalau pada saat
yang bersamaan telah terjadi peristiwa yang menyedihkan di tempat
lain.
Walaupun Thiat Tiong-tong belum mati, namun
dia jauh lebih menderita dan tersiksa dari pada mati.
Penderitaan dan siksaan yang dialaminya
selama ini, kecuali dia pribadi, mungkin tidak ada orang kedua di
dunia ini yang bisa menerimanya, hati dan perasaannya benar-benar
sudah dipoles menjadi lebih tangguh daripada lempengan baja.
Sambil menggertak gigi, dia usir jauh-jauh
semua persoalan yang tidak patut dipikirkan, semua masalah yang
sulit dilupakan ....
Andaikata dia sendiri pun tidak memiliki
masalah masa lalu yang memedihkan hati dan sukar terlupakan, tidak
mungkin dia bisa mengetahui betapa sulit dan susahnya untuk
"melupakan" semuanya itu.
Tapi Thiat Tiong-tong yang ulet dan gigih
berhasil melakukannya, dia berhasil menghimpun semua semangat,
pikiran dan tenaganya untuk berlatih siang malam.
Dia mati-matian menyiksa diri, mati-matian
melecuti diri sendiri, dia tidak memberi waktu yang cukup bagi diri
sendiri untuk beristirahat, karena begitu dia berhenti berlatih,
siksaan itupun mulai menggigit dan menyiksa batinnya lagi, menyiksa
tubuhnya bagai pagutan ular berbisa.
Sementara itu sepanjang hari Kaisar malam
hanya duduk termenung bagaikan sebuah patung batu.
Lorong rahasia itu meski tetap tampil indah
dan mewah, namun sudah kehilangan gelak tawa yang riang dan ramai,
semuanya berubah jadi gelap tidak bersinar, sepi, hening hingga
susah tertahankan oleh siapa pun.
Kawanan gadis yang lincah dan menyenangkan
pun telah kehilangan senyuman mereka yang menawan, terkadang sewaktu
memandang dari balik cermin pun, mereka seolah lupa bagaimana
tampang sendiri ketika sedang tertawa.
Mereka tiada hentinya melecuti diri sendiri,
siang malam tanpa berhenti berusaha menyingkirkan guguran bebatuan
yang menyumbat lorong itu, mereka berusaha secepatnya menyelesaikan
pekerjaan itu, membuat sebuah jalan tembus.
Akhirnya sampailah pada hari ini, hari
dimana menurut perkiraan mereka sudah berada sangat dekat dengan
pintu keluar, tinggal bekerja setengah hari lagi, seluruh lorong
rahasia itu sudah dapat di tembus.
Waktu itu wajah mereka sudah sayu dan kucal,
rambut mereka sudah kehilangan cahayanya, pakaian indah yang mereka
kenakan pun sudah robek dan compang-camping.
Jari jemari mereka yang semula halus dan
ramping, kini sudah berubah kasar dan penuh ditumbuhi kulit keras,
kerlingan mata mereka yang jeli pun dipenuhi butiran air mata.
Tentu saja air mata mereka adalah air mata
kegembiraan. Setelah berjuang dan bersusah payah sekian lama, pada
akhirnya jerih-payah mereka membuahkan hasil.
Khusus hari ini, Thiat Tiong-tong pun ikut
meninggalkan latihannya untuk bergabung dengan mereka, malah Kaisar
malam yang selama ini bagaikan patung pun sudah mulai nampak
bergairah hidup.
Tampaknya lorong rahasia itu segera akan
tembus, perasaan mereka ketika itu sangat gembira, sangat senang,
perasaan yang tidak terlukiskan dengan perkataan apapun.
Sayangnya, di saat yang terakhir itulah....
Mendadak mereka jumpai ada sebuah batu raksasa seberat ratusan ribu
kati menghadang jalan terakhir mereka, memisahkan harapan mereka
yang terbesar, menghancurkan kegembiraan mereka yang terbesar,
membuat seluruh jerih-payah berlalu dengan begitu saja.
Kini semua senyuman, semua kegembiraan telah
berubah, berubah jadi derai air mata....
Dalam waktu singkat semua orang tertegun,
semua orang berdiri melongo, seluruh kekuatan tubuh kawanan gadis
itupun ikut berubah jadi kekosongan, kehampaan.
Satu per satu mereka berlutut di tanah
sambil menangiS tersedu-sedu, mereka merasa seakan tidak punya
tenaga lagi untuk bangkit berdiri.
Sepasang mata Kaisar malam telah berubah
jadi merah membara, tubuhnya gemetar keras, rambutnya berdiri kaku
bagai landak, sepasang kepalannya mengepal kuat-kuat, seolah sedang
menggenggam semua kesedihan dan kegusaran yang tak mampu diucapkan.
Thiat Tiong-tong sendiri pun berdiri
tertegun sambil mengawasi batu raksasa yang mustahil bisa digeser
dengan tenaga manusia, pikirnya dengan sedih, "Thian... wahai,
Thian... apakah kau benar-benar hendak memerangkap kami di tempat
ini? Mengurung kami sampai mati?"
BAB 33.
Rahasia si Dewa Racun.
Tapi pada saat itulah di dunia persilatan
telah tersiar sebuah berita yang menggemparkan: "Kaisar Malam telah
muncul kembali!"
Tentu saja berita ini tersiar dari pulau
Siang-cun-to, Un Tay-tay pun ikut mendengarnya.
Ketika Sui Leng-kong tersadar kembali dari
pingsannya, secara ringkas Un Tay-tay mengisahkan kejadian yang
telah berlangsung... bercerita dengan air mata berlinang.
Sui Leng-kong maupun Gi Beng mendengarkan
kisah itu dengan air mata mengucur pula.
Terdengar Un Tay-tay berkata lebih lanjut:
"Mereka telah mati, aku merasa tidak berarti
hidup seorang diri, sebenarnya aku pun ingin menyusul mereka berdua,
tapi...."
Ditatapnya Sui Leng-kong dengan pandangan
mendalam, kemudian terusnya:
"Bila kita harus mati dalam keadaan begini,
jelas kematian kita sama sekali tidak berharga, paling tidak kita
harus melakukan sesuatu terlebih dulu demi mereka, kemudian baru
mati. Dengan begitu kematian kita ada nilainya, karena kita mati
dengan membawa jasa, maka tidak sia-sia kematian kita ini."
Walaupun perkataan itu seakan ditujukan
kepada diri sendiri, tidak disangkal yang menjadi sasaran
pembicaraan adalah Sui Leng-kong.
Dengan pandangan sayu Sui Leng-kong
memandang setitik cahaya bintang nun di ujung dunia sana, gumamnya:
"Betul, kalau mati pun, harus ada
nilainya......aku tidak akan mati dengan percuma."
Diam-diam Un Tay-tay menghela napas, katanya
lagi:
"Aku tidak mampu berdiam lebih lama di pulau
Siang cun-to, bila aku dipaksa mengendon terus di sana, kalau tidak
mati sengsara pasti akan edan jadinya."
Di antara beberapa orang gadis itu,
kesedihan yang dialami Gi Beng paling enteng, pikiran dan
perasaannya seketika diliputi rasa ingin tahu yang besar.
Sesudah mengedipkan mata berulang kali,
tidak tahan dia bertanya:
"Aku dengar orang yang berdiam di pulau
Siang cun-to sudah putus hubungan dengan keramaian duniawi,
bagaimana ceritanya sehingga Jit ho Nio nio mengizinkan kau pergi
meninggalkan pulau itu?"
"Dia tidak pernah menyetujui permintaanku,
aku yang pergi sendiri," jawab Un Tay-tay.
Gi Beng membelalakkan matanya lebar-lebar,
teriaknya terkejut:
"Oooh, jadi kau melarikan diri? Konon pulau
Siang cun-to ibarat sarang naga gua harimau, dengan cara apa kau
melarikan diri?"
"Walaupun peraturan yang berlaku di pulau
Siang cun-to sangat ketat dan keras, namun belakangan telah terjadi
berbagai peristiwa di situ, khususnya ada satu kejadian yang membuat
suasana di pulau Siang cun-to jadi kalut."
"Kejadian yang bisa menggemparkan pulau
Siang cun-to sudah pasti merupakan satu peristiwa yang luar biasa...
aaah! Benar, jangan-jangan gara-gara kedatangan Lui-pian Lojin yang
ingin menuntut balas?"
"Lui-pian Lojin terhitung jagoan macam
apa? Kenapa nona menganggapnya sebagai manusia luar biasa? Masih
mending kalau dia tidak datang, bila berani menginjakkan kakinya di
pulau itu, dapat dipastikan dia tidak bakal bisa balik lagi!"
"Lantas lantaran siapa?" tanya Gi Beng
dengan kening berkerut, "masa di kolong langit saat ini masih ada
jagoan lain yang lebih tangguh ketimbang Lui-pian Lojin? Aaah!
Betul, masih ada seorang lagi."
Kedua orang itu saling berpandangan sekejap,
tentu saja dalam hati mereka sudah tahu siapa yang dimaksud.
"Tapi...." kembali Gi Beng berseru, "tapi
dia... sudah lama dia tidak pernah muncul."
Walaupun tidak ada yang menyinggung tentang
nama tokoh itu, namun Sui Leng-kong pun dapat menebak siapa yang
dimaksud, tiba-tiba perasaan gembira dan terharu yang aneh melintas
dalam benaknya.
Terdengar Un Tay-tay berkata: "Benar, selama
ini Kaisar malam memang tidak pernah tampil di depan umum, hal
ini dikarenakan dia sudah dikurung oleh Jit ho Nio nio di dalam
sebuah gua di tepi pesisir laut."
Sui Leng-kong tidak kuasa menahan diri lagi,
sambil menjerit kaget, tanyanya dengan suara gemetar:
"Di... ada dimana gua itu? Apakah kau.. kau
tahu?"
"Sekalipun tahu juga tidak ada gunanya,
karena belum lama berselang Kaisar malam telah berhasil meloloskan
diri dari dalam gua itu."
"Jadi dia orang tua sudah muncul kembali
dalam dunia persilatan?" seru Gi Beng dengan wajah berubah.
"Aaaai ...." Un Tay-tay menghela napas
panjang, "kini dunia persilatan sedang dilanda kekacauan, mana
mungkin bisa kekurangan dia?"
"Tidak heran pulau Siang-cun-to menjadi
heboh...." gumam Gi Beng, dia berpaling memandang Sui Leng-kong
sekejap.
Tampak wajah gadis itu sedang diliputi
pergolakan emosi, setengahnya menunjukkan perasaan kecewa dan
setengahnya lagi merasa gembira.
Yang membuatnya kecewa adalah setelah sang
ayah terjun kembali ke dalam dunia persilatan, keadaannya pasti
bagaikan naga sakti yang terbang ke angkasa, sampai kapan lagi dia
baru bisa mendengar kabar berita tentang dirinya.
Yang membuatnya gembira adalah ternyata sang
ayah masih hidup sehat walafiat di kolong langit, bagaimanapun juga
suatu saat nanti mereka pasti punya kesempatan untuk saling
berjumpa.
Namun kegembiraan sesaat seketika tenggelam
kembali oleh perasaan sedih yang luar biasa, perasaan sedih yang
selamanya akan melekat di dalam hatinya.
Thiat Tiong-tong telah pergi!
Selamanya dia tidak akan bisa menyaksikan
senyumannya yang lembut dan tegas, selamanya tidak dapat menyaksikan
cahaya matanya yang berapi walau terkadang nampak begitu lembut dan
halus.
Semua itu sudah terlalu banyak menempati
ruang hatinya, dan kini perasaan itu tinggal lembaran kosong, dia
menyesal, dia kecewa, karena tiada sesuatu apapun di dunia ini yang
bisa menggantikan dan memperbaiki kekosongan hatinya itu.
Padahal bukan hanya dia seorang yang
merasakan hal itu, Un Tay-tay, Leng Cing-peng, semuanya ikut
merasakan hati yang pedih, perasaan yang hancur lebur, air mata yang
berderai....
Pada saat semua orang sedang dirundung
kepedihan hati yang membetot sukma, di saat semua orang hampir tak
kuasa menahan diri, tiba-tiba terdengar Gi Beng menjerit kaget:
"Ular... ular...."
Walaupun dalam kegelapan malam tidak nampak
raut wajahnya, namun bisa diduga wajahnya saat itu pucat-pias bagai
mayat, dengan jari tangan yang gemetar dia menuding ke arah batu
cadas persis di hadapannya.
Di atas batu cadas, di bawah hio yang masih
mengepulkan asap harum, tampak seekor ular kecil yang berbentuk aneh
dengan warna yang aneh pula sedang meliukkan tubuhnya, setiap kali
menggerakkan badan, sekilas cahaya keemas-emasan segera membias
keluar.
Panjang ular itu tidak lebih hanya satu
jengkal, tubuhnya sebesar ibu jari, boleh dibilang kecil
menggemaskan, namun lidah merahnya yang menjulur keluar masuk justru
mendatangkan perasaan seram bagi siapa pun.
Sebenarnya Un Tay-tay ikut terperanjat,
namun setelah tahu ular itu hanya seekor ular yang sangat kecil,
dengan kening berkerut dia siap mengambil tindakan.
Belum sempat tangannya melancarkan serangan,
dengan cepat Sui Leng-kong telah menariknya, bahkan dia sempat
merasakan jari tangannya yang gemetar keras, hal yang membuktikan
betapa ngeri dan seramnya perasaan gadis itu.
Tergerak perasaan Un Tay-tay, cepat dia
berpaling, dilihatnya nona itu sedang membelalakkan matanya
dengan perasaan ngeri, dengan keheranan dia pun
bertanya:
"Ular itu sangat kecil, apa yang kau
takuti?"
"Ular itu pasti sangat beracun, jangan kau
usik dia," sahut Sui Leng-kong cepat.
Sejak kecil dia memang dibesarkan di wilayah
rawa-rawa, tempat yang paling ideal untuk hidup ular berbisa, namun
selama ini belum pernah sekalipun dia jumpai ular berbisa dengan
bentuk sedemikian aneh dan seramnya.
Dalam pada itu, ular emas itupun hanya
melingkarkan tubuhnya di atas batu tanpa bergerak, seakan-akan
binatang itu sama sekali tidak pandang sebelah mata pun terhadap
keempat manusia yang berada di hadapannya.
Makin dilihat Gi Beng merasa semakin
ketakutan, tanyanya lagi dengan gemetar:
"Ba... bagaimana sekarang?"
Sui Leng-kong memandang sekeliling tempat
itu sekejap, kemudian sahutnya:
"Aku percaya ular berbisa ini memiliki
kemampuan yang luar biasa, jarang terdapat ular semacam ini walau di
tengah hutan belantara sekali pun."
"Ke... kenapa binatang itu bisa muncul di
sini?" tanya Gi Beng tergagap.
"Pasti ada orang yang sengaja melepaskannya
di sini!" kata Sui Leng-kong.
Gi Beng menarik napas dingin, ketika
mendongakkan kepala, segera terlihat olehnya di atas bukit di bawah
rindangnya pepohonan, berdiri sesosok bayangan manusia.
"Itu... itu dia, orang... orangnya ada di
situ!" teriak Gi Beng dengan hati tercekat.
Terdengar orang yang berada di balik
kegelapan itu tertawa dingin, ejeknya:
"Masih untung budak itu luas
pengetahuannya, kalau tidak, hmmmm... saat ini kalian berempat
sudah pergi menghadap raja akhirat."
Orang itu mengenakan topi caping yang
terbuat dari bambu dan berjubah pendeta, kalau dilihat sepintas, dia
mirip sekali dengan seorang Tosu, sayang di tengah kegelapan malam
sulit untuk melihat jelas raut mukanya.
"Kami tidak punya dendam sakit hati
denganmu, kenal pun tidak, kenapa kau... kau melepaskan ular beracun
itu untuk mencelakai kami?" tegur Gi Beng.
Kembali orang itu tertawa dingin.
"Betul, kalian empat orang budak cilik
memang tidak ada dendam sakit hati dengan Lohu, tapi orang yang
sedang kalian tangisi adalah musuh besarku!"
"Maksudmu... maksudmu Thiat Tiong-tong?"
tanya Gi Beng tercengang.
Orang itu tertawa seram:
"Thiat Tiong-tong... wahai, Thiat
Tiong-tong, kau bajingan laknat, manusia bedebah, kau adalah
binatang yang bukan dilahirkan manusia! Kau.....”
Sambil bicara, dia mengertak gigi kuat-kuat
hingga berbunyi gemerutuk, nada ucapannya dipenuhi rasa benci dan
dendam yang merasuk tulang.
Tiba-tiba Leng Cing-peng melompat maju ke
depan, teriaknya gemetar:
"Dia sudah mati, buat apa kau masih
mengumpatnya? Kau...."
Hawa napsu membunuh mendadak terpancar dari
balik mata orang itu, bentaknya:
"Kim-nu, serang!"
Tiba-tiba sekilas cahaya emas berkelebat,
suara pembicaraan Leng Cing-peng pun seketika terhenti di tengah
jalan.
Sui Leng-kong menyaksikan tubuhnya
bergetar keras, kemudian paras mukanya berubah hebat, dia ingin
menarik tangannya, namun sayang tak sempat, segera jeritnya kaget:
"Kau... kau tidak apa-apa?"
Di bawah sinar bintang, tampak kain cadar
hitam yang menutupi wajah Leng Cing-peng bergelombang tidak
beraturan, keempat anggota tubuhnya mulai mengejang keras, dia
seperti ingin mengatakan sesuatu, namun sayang tidak punya tenaga
lagi untuk mengutarakannya keluar.
Ketika berpaling lagi ke arah ular emas itu,
ternyata binatang melata itu sudah balik kembali ke atas batu,
ternyata hanya sedikit melejitkan tubuhnya, ular itu sudah mematuk
tubuh Leng Cing-peng, kecepatan serangannya sungguh luar biasa.
Pucat-pias wajah Sui Leng-kong, baru saja
dia bersama Un Tay-tay hendak merangkul tubuhnya, Leng Cing-peng
sudah roboh tergeletak di tanah sambil berseru:
"Kau... kau sungguh... sungguh keji!"
Orang itu tertawa seram.
"Hmrnm, siapa suruh kau cari mampus, jangan
salahkan aku. Kini Kim-nu sudah meninggalkan bekas gigitan di atas
pergelangan tanganmu, berarti tiada obat pemunah lagi di dunia ini
yang bisa menolong nyawamu, tunggu saja saatmu bertemu raja
akhirat!"
"Ti... tidak salah," kata Leng Cing-peng
pula, "aku... aku segera akan bertemu... bertemu dengan Thiat
Tiong-tong... kau... kabulkanlah keinginanku ayah...."
Begitu sebutan 'ayah' diucapkan, semua orang
terperanjat
"Apa? Dia adalah ayahmu?" tanya Gi Beng
setengah menjerit.
"Benar," sahut Leng Cing-peng sambil tertawa
sedih.
Kelihatannya bayangan manusia itupun merasa
amat terperanjat, tanyanya:
"Si... siapa kau?"
"Putrimu... Leng Cing-peng...."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, orang
itu sudah membentak keras sambil berlari naik ke atas bukit bagai
orang kesurupan, dengan tangan sebelah dia menarik lengan Leng
Cing-peng sementara tangan yang lain digunakan untuk merobek kain
kerudung wajahnya.
Sinar bintang yang bertaburan di angkasa
membiaskan cahayanya menyinari wajah Leng Cing-peng yang pucat-pasi,
perempuan itu berdiri dengan wajah senyum tidak senyum, meski air
mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Tampak sekujur tubuh orang itu gemetar
keras, sambil roboh ke tanah teriaknya gemetar:
"Peng-ji... ternyata kau memang Peng-ji...."
Orang itu memiliki kening tinggi dengan
hidung bengkok seperti paruh elang.
Dia, tidak lain adalah Leng It-hong!
Sekali lagi sebuah tragedi berlangsung di
depan mata. Un Tay-tay, Sui Leng-kong maupun Gi Beng tidak kuasa
menahan rasa sedih, semua orang berdiri mematung dengan air mata
berlinang, untuk sesaat mereka tidak tahu harus berbuat bagaimana.
Terdengar Leng Cing-peng berkata lagi sambil
tertawa sedih:
"Ayah... biarpun kau tidak bisa mengenali
putrimu, tapi... tapi putrimu sudah mengenali suara ayah."
"Ke... kenapa tidak kau katakan sejak tadi?"
bentak Leng It-hong keras.
"Apakah ayah pernah memberi kesempatan
kepada putrimu untuk bicara? Setiap kali
menyinggung tentang Thiat Tiong-tong, hatimu selalu terbakar oleh
rasa benci dan dendam, pernahkah kau mendengarkan suara orang lain?"
Leng It-hong mengepal sepasang tinjunya
kuat-kuat, giginya saling beradu hingga menimbulkan suara gemerutuk,
tiba-tiba dia mendongakkan kepala dan menjerit keras:
"Thian... oooh, Thian... aku benci... aku
sangat benci!"
"Dia sudah mati, apakah kau masih
membencinya?" kata Leng Cing-peng.
"Kalau bukan gara-gara dia, tidak akan
terjadi peristiwa seperti hari ini... akan kucari mayatnya, akan ku
cincang tubuhnya hingga hancur berkeping-keping, aku tidak akan puas
sebelum berhasil melumat tubuhnya!"
Di wajah Leng Cing-peng yang pucat-pias
tiba-tiba tersungging sekulum senyuman aneh, katanya:
"Sebentar lagi putrimu akan bertemu
dengannya."
"Kau... kau berani?" hardik Leng It-hong.
"Putrimu berani... tidak seorang manusia pun
di dunia ini yang mampu menghalangi aku lagi... selama hidup belum
pernah aku merasakan ketenangan dan kegembiraan seperti saat ini,
aku....
Perlahan-lahan dia memejamkan mata, sekulum
senyuman mulai menghiasi ujung bibirnya, senyuman yang amat sayu dan
mengenaskan
Tiba-tiba nada suaranya berubah jadi sangat
halus dan lembut, katanya lagi:
"Coba lihat... coba lihat... dia sedang
menggapai kepadaku... apakah kalian telah melihatnya?"
Sekujur tubuh Leng It-hong gemetar keras,
gemetar sangat hebat.
"Aaaai! Sayang kalian tidak dapat
melihatnya...." bisik Leng Cing-peng lagi, "begitu lembut
senyumannya, begitu hangat tawanya ... aaaai! Tidak kusangka,
sebelum mati... aku... aku dapat merasakan kegembiraaan ini."
Un Tay-tay yang semenjak tadi sudah
bermandikan air mata, kini tak sanggup mengendalikan diri lagi, dia
mulai menangis sesenggukan.
"Jangan menangis... jangan mengganggu
ketenanganku... coba lihat, kegelapan yang indah makin lama semakin
dekat... senyumannya... senyumannya makin lama pun makin mendekat."
Suaranya makin lama semakin lemah dan lirih,
dia benar-benar mulai terlelap dalam tidurnya.
Raut muka Leng It-hong yang kurus kering,
kini telah berubah hijau membesi, sinar matanya berubah bagaikan
merah darah.
Tiba-tiba dia membalikkan tubuh, berhadapan
langsung dengan ular emasnya yang memancarkan sinar aneh, tampaknya
dia telah melimpahkan semua kesalahan itu pada binatang
peliharaannya, menyalahkan ular emasnya.
"Kau... semua ini gara-gara kau!" dengan
suara bagaikan raungan binatang liar dia menjerit.
Mendadak dia menggerakkan telapak tangannya
dan mencengkeram ular emas itu.
Agaknya si ular emas itupun tidak menyangka,
tuan yang selama ini dibela mati-matian malah berbalik melampiaskan
rasa dendamnya, dalam gusar dan kagetnya, secepat kilat dia berbalik
memagut pergelangan tangan Leng It-hong.
Pagutan ular berbisa ini sangat mengerikan,
pagutan yang mematikan!
Leng It-hong merasa ulu hatinya bagai
tertusuk jarum tajam, sekujur tubuhnya mengejang keras,
cengkeramannya atas ular berbisa itupun semakin bertambah kencang.
Otot hijau yang menonjol dari punggung
tangannya yang kurus kering membuat jari jemarinya berubah makin
memucat
Pada mulanya ular emas itu masih berusaha
meronta, tapi lambat-laun tidak mampu berkutik lagi... perlahan tapi
pasti, kepala ular itu tertunduk lemas, sekulum senyum kepuasan yang
sadis pun tersungging di ujung bibir Leng It-hong.
Un Tay-tay sekalian merasakan tangan dan
kakinya dingin kaku, pemandangan seram yang terpampang di depan mata
membuat sekujur tubuh mereka basah kuyup oleh keringat dingin.
Mendadak Leng It-hong membuka tangannya,
telapak tangannya sudah robek dan hancur berlepotan darah kental,
gigitan ular emas yang kuat bagai jepitan baja telah mengubah
telapak tangannya jadi hancuran daging, memusnahkan hasil jerih
payahnya selama ini.
Gi Beng tidak tahan melihat kengerian itu,
dia menjerit tertahan kemudian roboh tidak sadarkan diri.
Leng It-hong mendongakkan kepala tertawa
seram, gelak tertawanya penuh dengan rasa bangga dan puas, seluruh
badannya pun mulai berubah hitam pekat, warna hitam yang
menyeramkan.
Tanpa terasa Sui Leng-kong berdiri
berhimpitan dengan Un Tay-tay, tubuhnya gemetar, hatinya tercekat,
kalau bisa mereka ingin membalikkan tubuh kabur sejauh-jauhnya dari
tempat itu, sayang sepasang kakinya sudah lemas, sudah tidak mau
menurut perintah lagi.
Tawa Leng It-hong bertambah lemah.....makin
lama semakin rendah dan berat... badannya gontai sebelum akhirnya
roboh terjungkal... roboh lemas persis di atas tubuh putrinya.
Suasana amat hening, tidak terdengar sedikit
suara pun, langit hening bagaikan mati, hanya asap hio yang masih
menari dan beterbangan, sekalipun begitu, tarian asap hio pun serasa
membawa udara kematian yang mengerikan, seperti hawa yang memancar
dari malaikat elmaut, berputar di kegelapan malam, siap mencabut
nyawa manusia.
Sui Leng-kong dan Un Tay-tay berdiri
mematung, sampai ujung jari pun serasa tidak sanggup bergerak, hanya
rambut mereka yang masih berkibar karena hembusan angin,
satu-satunya kehidupan di tengah kematian.
Angin, tiada hentinya berhembus, daun dan
ranting tiada hentinya menjerit, menjerit dipermainkan angin.
Entah berapa lama sudah lewat, dengan tangan
yang gemetar Un Tay-tay ingin menarik tubuh Leng It-hong, tubuh yang
menindih di atas Leng Cing-peng, gadis yang mengenaskan.
Pada saat itulah mendadak dari sisi tubuhnya
telah bertambah dengan sesosok bayangan hitam, bayangan itu muncul
tanpa menimbulkan sedikit suara pun, seolah-olah dia adalah roh
halus yang muncul dari dasar bumi.
Dengan perasaan terkesiap Un Tay-tay dan Sui
Leng-kong membalikkan badan, di bawah cahaya bintang terlihat orang
itu berperawakan tinggi besar seperti iblis yang datang dari neraka,
tahu-tahu dia sudah berdiri di belakang mereka berdua, orang itu
tidak lain adalah sang pendeta pemakan ular.
Jubah pendetanya yang berwarna merah menyala
nampak begitu menyolok seram di tengah kegelapan malam yang
mencekam, ditatapnya Leng It-hong sekejap dengan pandangan dingin,
sinar matanya terasa begitu menyeramkan, seram hingga tidak
terlukiskan dengan perkataan.
Un Tay-tay maupun Sui Leng-kong sudah
kelewat banyak dibuat terkejut oleh kejadian malam ini, kini mereka
tidak sanggup lagi menjerit kaget, yang bisa dilakukan hanya berdiri
termangu sambil mengawasi orang itu, tidak sepatah kata pun mampu
diucapkan.
Dengan sorot mata aneh pendeta berbaju merah
itu masih mengawasi terus Leng It-hong yang tidak jelas mati
hidupnya, sekulum senyuman aneh, penuh misterius dan rasa gembira
tiba-tiba tersungging di ujung bibirnya.
Terdengar dia bergumam tiada hentinya:
"Dewa racun menampakkan diri, tiada
tandingan di kolong langit, perguruan Cia-tok (pemakan racun) malang
melintang sampai ujung dunia... Dewa racun menampakkan diri, tiada
tandingan di kolong langit, perguruan Cia-tok malang melintang
sampai ujung dunia...."
Perkataan itu diucapkan berulang kali, tapi
yang diulang hanya berapa patah kata itu saja.
Walaupun Sui Leng-kong dan Un Tay-tay tidak
paham apa yang sedang dimaksud, namun dapat mereka rasakan di balik
kata-kata yang pendek itu pasti mengandung satu rahasia yang
menakutkan.
Tiba-tiba pendeta berbaju hitam itu
berpaling ke arah Un Tay-tay dan Sui Leng-kong, kemudian
tanyanya:"Apakah kalian paham dengan perkataanku? Dewa racun
menampakkan diri, tiada tandingan di kolong langit, perguruan
Cia-tok malang melintang sampai ujung dunia...."
Walaupun pendeta itu punya tampang yang
menakutkan, kelihatannya tidak bermaksud buruk terhadap Sui
Leng-kong dan Un Tay-tay.
Terpaksa Un Tay-tay menggeleng.
"Kami tidak paham."
"Benar, mana mungkin dua orang bocah itu
mengerti...jangankan mereka, berapa banyak orang di kolong langit
yang mengerti?"
Kelihatannya makin bicara dia semakin
bangga, sampai akhirnya tidak kuasa lagi dia mendongakkan kepala dan
tertawa terbahak-bahak.
Gelak tawanya nyaring bagai guntur yang
menggelegar di angkasa, bagaikan juga gulungan ombak yang memecah
tepian, membuat daun dan ranting berguguran, membuat gendang telinga
Sui Leng-kong serta Un Tay-tay terasa sakit.
Sepeminuman teh kemudian gelak tertawa itu
baru melemah, tapi gendang telinga Un Tay-tay serta Sui Leng-kong
sudah terasa kaku dan kesemutan, tidak sanggup menangkap suara lain
lagi.
Pada saat itulah dari balik remangnya cuaca
mendadak terdengar seseorang tertawa dingin sambil menyela:
"Dewa racun menampakkan diri, tiada
tandingan di kolong langit, perguruan Cia-tok malang melintang
sampai ujung dunia... hnnnm, apa susahnya memahami perkataan semacam
itu?"
Dari balik kegelapan, terlihat seseorang
berjalan keluar dengan langkah yang sangat lamban.
Dia adalah seorang pemuda tampan berbaju
perlente, sekalipun sorot matanya sedikit menyeramkan, meski air
mukanya sedikit memucat, namun perawakan tubuhnya lurus bagai
sebatang pit.
Begitu tahu siapa yang datang, lagi-lagi Sui
Leng-kong menjerit kaget, dia tidak menyangka kalau orang itu adalah
Gi Teng, terlebih tidak menyangka kalau Gi Teng bakal muncul secara
tiba-tiba pada saat sekarang.
Yang membuatnya tidak habis mengerti adalah
darimana Gi Teng tahu tentang rahasia "Dewa racun menampakkan diri,
tiada tandingan di kolong langit"?
Pendeta berbaju merah itu pun kelihatan agak
tercengang setelah mengetahui yang muncul hanya seorang pemuda,
kontan saja ia tertawa dingin.
"Usiamu masih begitu muda, tahu apa kau?"
"Darimana kau tahu kalau
aku tidak paham?"
Saat ini bukan hanya wajahnya kelihatan
kaku, gerak-geriknya pun nampak kaku macam orang tidak sadar,
jawaban yang diucapkan terdengar datar tanpa emosi, jauh berbeda
dengan kelincahan dan kegarangannya di waktu biasa.
Un Tay-tay tidak terlalu tercengang
kendatipun dia dapat menangkap keanehan dari sikap pemuda ini,
sebaliknya Sui Leng-kong kelihatan amat terperanjat.
Dalam pandangan gadis ini, penampilan Gi
Teng sekarang seolah bukan berasal dari Gi Teng di hari biasa, dia
seperti sudah kehilangan kesadaran, seakan sudah disihir atau
ditenung orang lain.
"Kalau memang mengerti, tahukah kau siapa
aku?" kembali pendeta berbaju merah itu bertanya.
"Cia tok kaucu (ketua perkumpulan pemakan
racun), Siang-tok Thaysu!"
Tidak terlukiskan rasa kaget Un Tay-tay,
pikirnya, "Aaah, ternyata dia adalah jago lihai nomor satu dari
golongan Mo kau, Siang-tok Thaysu yang sudah tiga puluh tahun
hilang dari dunia persilatan!"
Walaupun Un Tay-tay belum lahir ketika nama
besar Siang-tok Thaysu menggetarkan kolong langit, namun bukan satu
dua kali dia pernah mendengar nama besar orang ini.
Sekalipun dia belum pernah menyaksikan
dengan mata kepala sendiri bagaimana kelihaian kungfu Siang-tok
Thaysu, namun semua orang yang pernah dijumpai, pasti akan tercekat
dan terkesiap hatinya begitu mendengar nama orang itu disebut
Dan kini Un Tay-tay telah saling berhadapan
dengan tokoh ampuh yang menggetarkan sungai telaga itu, tidak heran
hawa dingin seketika mencekam seluruh tubuhnya.
Terdengar Siang-tok Thaysu berkata lagi
dengan kening berkerut:
"Tidak kusangka dengan usiamu yang masih
begitu muda, ternyata tahu akan nama Loceng (pendeta tua), coba aku
bertanya sekali lagi, apa yang dimaksud dengan tubuh Dewa racun?"
"Tubuh Dewa racun merupakan salah satu dari
dua ilmu sakti yang dimiliki perguruan Cia tok kau."
"Benar!"
"Bila Dewa racun sudah terlihat di badan,
seluruh tubuhnya akan berubah jadi sangat beracun, sekalipun seorang
jago dengan taraf ilmu silat yang sempurna pun akan keracunan hebat
bila tersentuh tubuhnya!"
"Benar!" kembali Siang-tok Thaysu manggut
manggut.
"Tapi untuk bisa melatih tubuh Dewa racun,
seseorang harus mengorbankan dulu nyawa seorang murid Cia tok kau
yang sudah memiliki ilmu beracun tingkat lima."
"Benar!"
"Sayangnya anggota perguruan Cia tok kau
sangat minim, ini disebabkan karena tidak gampang untuk menjadi
pemula yang melatih ilmu beracun ini, bahkan lebih sulit daripada
memanjat ke langit, kendatipun begitu, berhasil menguasai ilmu itu
maka akan sangat mudah untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi.
Sepanjang sejarah, dari sepuluh orang yang belajar ilmu beracun ini
ada sembilan orang di antaranya sudah tewas duluan ketika mulai
belajar ilmu itu sehingga amat langka untuk bisa menemukan seorang
murid yang memiliki kemampuan racun tingkat lima, itulah sebabnya
belum pernah seorang manusia pun yang mampu belajar hingga mencapai
taraf Dewa racun dalam badan."
"Betul!" lagi-lagi Siang-tok Thaysu
manggut-manggut.
Setelah untuk kesekian kalinya mengatakan
"betul", paras mukanya yang semula dingin sadis kini mulai diliputi
perasaan tercengang dan rasa tidak percaya, malah nada suaranya pun
ikut sedikit berubah.
Dia benar-benar tidak habis mengerti,
darimana anak muda di hadapannya ini bukan cuma tahu tentang rahasia
"Dewa racun dalam tubuh", bahkan bisa menguraikan secara jelas dan
terperinci.
"Tapi kondisi Leng It-hong sekarang justru
sudah mencapai taraf Dewa racun dalam tubuh!" ujar Gi Teng lebih
jauh.
Begitu perkataan itu diutarakan, bukan hanya
ketiga orang pendengar itu saja yang terperanjat, bahkan Un Tay-tay
dan Sui Leng-kong pun ikut berubah wajah.
Tidak aneh bila mereka amat terkesiap, baru
saja mereka merasa bergidik karena mendengar uraian tentang Dewa
racun dalam tubuh, kini diketahui Leng It-hong telah berhasil
mencapai tingkatan yang luar biasa itu, mereka tidak menyangka kalau
semua ini telah menjadi satu kenyataan.
Terdengar Gi Teng berkata lebih jauh:
"Ini dikarenakan ilmu Ngo tok sin kang yang
dipelajari Leng It-hong telah mencapai tingkat kelima, seluruh darah
yang beredar dalam tubuhnya telah mengandung racun jahat, selain
itu, dia pun setiap hari harus menelan makhluk beracun untuk
mengendalikan pengaruh racun yang telah bersarang di tubuhnya, agar
tidak perlu menderita siksaan rasa sakit yang luar biasa, maka
kandungan racun yang bersarang di tubuhnya pun makin hari makin
bertambah berat, meski pukulan beracunnya semakin mematikan, namun
siksaan racun di tubuhnya pun ikut bertambah menghebat.
"Sekalipun dengan cara racun melawan racun
dia dapat mengatasi kesulitan ini, namun tanpa terjadinya satu
peristiwa besar, mustahil dia bisa lolos dari rongrongan racun yang
bersarang di tubuhnya, dan sekarang dia telah mengalami perubahan
maha besar itu."
Uraian Gi Teng bukan cuma terperinci, bahkan
mengalir keluar dengan lancar, seakan dia sedang menceritakan sebuah
rahasia pribadinya saja, kejadian ini bukan cuma membuat Siang tok
Thaysu amat terperanjat, Sui Leng-kong pun ikut tercengang
dibuatnya.
Dia mencoba berpaling, dilihatnya Gi Beng
sedang mengawasi Gi Teng dengan mata terbelalak ebar, terbelalak
dengan rasa keheranan yang luar biasa.
Ternyata dia sudah sadar semenjak tadi,
bahkan ikut mendengarkan uraian itu dengan terpesona, ditinjau dari
mimik mukanya, jelas gadis inipun sedang keheranan, darimana
kakaknya bisa mengetahui rahasia besar dunia persilatan itu dengan
begitu terperincinya.
Diam-diam Sui Leng-kong berpikir, "Kalau Gi
Teng bisa mengetahui rahasia besar ini, kenapa Gi Beng tidak tahu?
Kalau dibilang mereka memang tidak tahu, kenapa saat ini Gi Teng
bisa menguraikan secara terperinci?"
Menghadapi persoalan yang penuh misteri ini,
jangankan sekarang dia memang tidak punya waktu untuk memikirkannya,
sekalipun dipikir secara cermat pun belum tentu dia mengetahui
jawabannya.
Dalam pada itu Gi Teng telah berkata
kembali:
"Ular emas itu bukan cuma amat beracun,
bahkan memiliki kecerdasan yang luar biasa, binatang itu merupakan
salah satu di antara tujuh jenis ular paling beracun yang ada di
kolong langit. Berdasarkan rahasia melatih ilmu dari perkumpulan
Cia tok kau, setiap hari Leng It-hong wajib menggunakan sari
darah dalam tubuhnya untuk memberi makan ular itu, agar ular dan
dirinya bisa seia sehati, kalau menurut catatan yang ada dalam kitab
pusaka Tok kau mo keng, ular emas itu sudah menjadi kekuatan inti
Leng It-hong, sudah menjadi jiwa keduanya. Meski kedengarannya agak
tidak masuk akal, bukan berarti teori ini tanpa alasan yang jelas."
Mendengar penjelasan yang lebih mirip
dongeng ini, Un Tay-tay, Sui Leng-kong serta Gi Beng bertiga merasa
hatinya makin tercekat, tanpa sadar mereka berdiri semakin
berhimpitan.
Khususnya Gi Beng, biarpun di waktu biasa
dia paling lincah dan terbuka, padahal nyalinya terhitung paling
kecil, kini dia berdiri dengan tubuh nyaris menggigil.
Kembali Gi Teng menerangkan:
"Barusan Leng It-hong terpagut oleh ular
emas itu, padahal racun dalam tubuhnya sudah mempunyai reaksi yang
peka terhadap racun ular emas, ketika dua jenis racun saling
bertemu, bukan saja seluruh sifat racun yang ada dalam tubuh Leng
It-hong terpancing keluar, bahkan terbentuklah racun yang
kekuatannya sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari gabungan kedua
racun itu, itulah sebabnya racun yang dimiliki Leng It-hong saat ini
sudah meningkat puluhan kali ketimbang kekuatan racun ular emas,
bukan hanya pukulannya yang berbisa, setiap pori badan, setiap bulu
badannya pun amat beracun dan sangat mematikan.
"Padahal kita semua tahu, ular emas itu
termasuk salah satu makhluk paling beracun di kolong langit,
sementara racun yang dimiliki Leng It-hong saat ini sudah berpuluh
kali lipat lebih dahsyat, kalau setetes liur ular beracun cukup
mencabut nyawa seseorang, maka garukan kuku jari Leng It-hong saat
ini sudah lebih dari cukup untuk merenggut puluhan nyawa manusia!"
Bicara sampai di sini, dia pun berhenti
sejenak untuk tarik napas.
Dalam pada itu Un Tay-tay sekalian sudah
menggigil karena ngeri, saking takutnya gigi mereka sampai saling
beradu.
"Sekalipun begitu, namun belum cukup untuk
membentuk 'Dewa racun dalam tubuh'," kata Gi Teng lebih lanjut, "ini
dikarenakan dalam tubuh Leng It-hong masih mengeram racun jahat.
Namun jika ada jagoan silat yang tersentuh oleh
tubuhnya, bisa dipastikan dia bakal mampus."
Paras muka Siang-tok Thaysu yang semula
merah kini telah berubah jadi hijau membesi, tegurnya dengan suara
berat:
"Bagaimana caranya supaya berhasil mencapai
taraf Dewa racun dalam tubuh? Kau juga tahu?"
"Setiap umat persilatan pasti tahu, bila
seseorang sudah keracunan, terlepas seberapa beratnya racun
bersarang di tubuh, maka ketika racun itu mulai bekerja, dia pasti
memiliki kekuatan sepuluh kali lebih hebat dari keadaan biasa.
Padahal racun yang bersarang di tubuh Leng It-hong sekarang jauh
lebih berat dari siapa pun, bisa dibayangkan betapa mengerikannya
tenaga yang dia keluarkan sewaktu racun itu mulai bekerja.
"Oleh sebab itu asal dia memanfaatkan
kelebihan ini, dengan kekuatan pukulan Ngo tok ciang untuk
merangsang kekuatan tersembunyi paling akhir yang dia miliki dan
mengubah dirinya menjadi sebuah tubuh beracun, lalu dengan
menggunakan obat pemabuk dari perguruanmu merubahnya menjadi sesosok
boneka hidup, maka jadilah sebuah alat pembunuh yang hanya menuruti
perintahmu seorang. Waktu itu biar dia tidak bisa berpikir lagi
secara waras, tapi kekuatan ilmu silatnya sepuluh kali lebih hebat
dari kungfunya dulu, ditambah racun jahat yang terkandung dalam
tubuhnya, siapa yang sanggup menghadapi kalian lagi? Dengan
mengandalkan kekuatan ini, kau pun akan malang melintang di kolong
langit tanpa tandingan!"
Begitu perkataan itu selesai diucapkan, Un
Tay-tay sekalian langsung merasakan detak jantungnya berdebar keras.
Siang-tok Thaysu berdiri termangu bagai
patung, sinar tajam tiba-tiba memancar keluar dari matanya, dengan
suara keras hardiknya:
"Darimana kau tahu rahasia perkumpulan
kami?"
"Berdirilah lebih dekat, akan kuberitahu,"
sahut Gi Teng cepat.
Siang-tok Thaysu agak ragu sejenak, akhirnya
dengan langkah lebar dia berjalan mendekat.
"Lebih dekat lagi!"
Alis mata Siang-tok Thaysu bekernyit,
katanya sambil tertawa dingin:
"Biarpun kau sedang merencanakan siasat
busuk, jangan sangka aku takut kepadamu?"
Benar saja, kembali dia maju dua langkah.
Pada saat itulah mendadak terlihat sesosok
bayangan manusia melompat keluar dari belakang tubuh Siang-tok
Thaysu, begitu cepat gerakan tubuhnya sehingga susah terlihat dengan
mata telanjang.
Sui Leng-kong merasakan pandangan matanya
kabur, tahu-tahu bayangan manusia itu sudah tiba di hadapannya,
dalam tangan orang itu tergenggam sepotong baju besar dan batu besar
itu sudah siap dihantamkan ke atas batok kepala Leng It-hong.
Un Tay-tay segera menyadari apa yang
terjadi, pikirnya:
"Ternyata pemuda itu sejalan dengan orang
ini, dia sengaja memberi uraian yang panjang lebar karena tujuannya
untuk memecahkan perhatian Siang-tok Thaysu hingga orang ini
berkesempatan untuk membunuh Leng It-hong dan melenyapkan ancaman di
masa mendatang."
Di sini pikirannya baru lewat, di sebelah
sana batu besar sudah dihantamkan ke bawah.
Jika batu itu sampai dihantamkan sungguhan,
dapat dipastikan batok kepala Leng It-hong bakal hancur berantakan,
berarti nyawa Leng Cing-peng pun tidak bakal tertolong lagi, wajah
cantiknya pasti akan berubah jadi gumpalan daging yang hancur.
Waktu itu Siang-tok Thaysu sudah menyadari
apa yang terjadi, sambil membentak gusar dia membalikkan tubuh untuk
menolong, sayang keadaan sudah tidak sempat lagi.
Pada saat yang kritis itulah mendadak Sui
Leng-kong melompat bangun, dia hantam batu besar itu hingga bergeser
tiga jengkal ke samping dan... "Blaaam!", diiringi suara keras, batu
itu rontok ke tanah, meninggalkan liang yang sangat dalam.
Sui Leng-kong sendiri langsung berdiri
melongo selesai melakukan aksinya itu.
Demi Thiat Tiong-tong, tanpa disadari dia
menaruh kesan yang cukup baik terhadap Leng Cing-peng, karenanya
terlepas hidup atau mati, Sui Leng-kong tidak tega menyaksikan wajah
cantiknya hancur oleh pukulan batu raksasa itu, karenanya tanpa
berpikir panjang dia pentalkan batu itu dan menyelamatkan nyawa Leng
Cing-peng.
Tapi setelah pukulan dilepas, secara
tiba-tiba dia baru teringat akan akibat dari tindakannya itu, tidak
tahan perasaannya bergidik.
Orang yang melempar batu cadas itu sama
sekali tidak menghentikan gerakan tubuhnya, secepat kilat dia
melesat lewat dari situ.
Menanti dia berpaling ketika mendengar suara
benturan keras, terdengar orang itu menjerit kaget, tampaknya dia
tidak menyangka kalau Sui Leng-kong bakal turun tangan menyelamatkan
Siang-tok Thaysu dari kesulitan.
Sedikit dia ragu, Siang-tok Thaysu sudah
menghadang jalan perginya, dari balik perawakan tubuhnya yang tinggi
besar terpancar hawa pembunuhan yang mengerikan.
Bayangan manusia itu melompat tiga depa ke
samping, kelihatannya dia sadar kalau sulit kabur dari situ, maka
setelah berhenti bergerak, dia langsung berdiri saling berhadapan
dengan Siang-tokThaysu dalam posisi siaga penuh.
Ternyata orang itu mengenakan jubah berwarna
hitam yang panjangnya menyentuh tanah, dari balik jubahnya yang
berkibar terhembus angin, kelihatan jelas perawakan tubuhnya kurus
kering, karena bercadar hitam maka sulit untuk melihat raut muka
aslinya.
Empat buah mata yang memancarkan sinar
setajam pisau belati saling berpandangan tanpa berkedip, tidak ada
yang bicara, tidak ada pula yang bergerak.
Namun dari balik keheningan yang mencekam
itulah terasa hawa pembunuhan yang makin lama semakin bertambah
berat.
Bukan cuma mereka yang terlibat, bahkan Un
Tay-tay sekalian yang menonton dari samping arena pun merasa dadanya
sesak dan sulit untuk bernapas.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba
Siang-tok Thaysu berseru:
"Ternyata kau!"
"Sekarang baru tahu?" orang berbaju hitam
itu balik bertanya.
Nada suaranya datar tanpa emosi seakan tak
ada keistimewaan apapun, tapi begitu perkataan itu selesai
diucapkan, terasalah satu tenaga getaran yang amat memekakkan
telinga.
"Seharusnya sudah kuduga sejak tadi," kata
Siang-tok Thaysu.
"Betul, seharusnya sudah kau duga."
"Kecuali kau, siapa lagi yang mengetahui
rahasia perguruanku sedemikian jelasnya? Pemuda itu tidak lebih
hanya bonekamu, mewakili kau berbicara."
“Benar, kecuali aku, siapa lagi yang
mengetahui rahasiamu? Aku hanya bertemu pemuda itu secara kebetulan,
jangankan namanya, siapa marganya pun aku tidak tahu."
Dalam waktu singkat kedua orang itu telah
saling berbincang dengan santainya, bukan cuma nadanya datar tanpa
emosi, bahkan cara berbicara pun seakan terhadap rekan lama sendiri.
Tapi entah kenapa pembicaraan yang amat
biasa itu justru berubah jadi luar biasa ketika muncul dari mulut
kedua orang itu.
Oleh karena kedua orang itu merupakan
manusia aneh, orang lain menyangka pembicaraan mereka pasti penuh
misteri dan keanehan, itulah sebabnya semua orang bertambah
tercengang ketika pembicaraan mereka berdua ternyata biasa dan tidak
ada yang istimewa.
"Baguslah kalau kau sudah datang," kata
Siang-tok Thaysu lagi.
"Betul, memang bagus sekali."
"Kalau begitu jangan pergi dulu!"
"Lebih baik kau saja yang tidak
pergi duluan."
"Mana, mana."
"Terima kasih, terima kasih." Tiba-tiba
kedua orang itu bicara sungkan, hal ini semakin membuat Sui
Leng-kong tercengang.
Di antara mereka hanya Un Tay-tay yang
paling berpengalaman, sejak awal dia sudah tahu kalau kedua orang
ini bukan saja berakal busuk dan licik, bahkan keji, munafik
dan jahat, jelas kedua orang ini saling bermusuhan dan merupakan
musuh bebuyutan yang dibenci hingga merasuk ke tulang sumsum, hanya
saja kedua belah pihak sama-sama bersikap waspada dan menunggu
keteledoran lawan.
Biarpun sepintas kelihatannya kedua orang
itu sedang berbincang, padahal secara diam-diam mereka telah
menghimpun tenaga dalamnya sambil menunggu kesempatan dan peluang
baik, begitu muncul titik kelemahan di tubuh lawan, gempuran
mematikan segera akan dilancarkan.
Dalam keadaan seperti ini, seluruh perhatian
mereka berdua sudah terpusat jadi satu, bukan saja sudah
tidak punya sisa tenaga untuk memperhatikan
pembicaraan lawan, bahkan apa yang diucapkan sendiri pun diutarakan
sekenanya, oleh sebab itu pembicaraan yang berlangsung pun kelihatan
sangat biasa... bahkan omong kosong "Bagus benar tempat ini."
"Tinggallah di sini!" Tentu, bersama kau." "Sama-sama, sama-sama."
Sui Leng-kong sekalian makin mendengar semakin kebingungan, tapi Un
Tay-tay yang pandai melihat keadaan semakin sadar kalau
situasi semakin gawat, karena semakin membingungkan bahan
pembicaraan kedua orang itu berarti hawa pembunuhan semakin tebal.
Un Tay-tay mulai mengukur jarak, dari tempat
dimana dia dan Sui Leng-kong berada, paling tidak masih selisih
delapan depa lebih dari posisi manusia berbaju hitam serta Siang-tok
Thaysu, berarti bentrokan yang terjadi di antara kedua orang itu,
sebesar apapun daya kekuatannya, tidak bakal sampai membuat cidera
mereka.
Kini Un Tay-tay boleh merasa lega, dia dapat
menonton jalannya pertarungan dengan perasaan tenang, harapannya
kini, bentrokan itu bisa terjadi dalam kekuatan yang paling hebat,
bahkan semakin dahsyat semakin menguntungkan.
Tampak paras muka Siang-tok Thaysu makin
lama kelihatan makin serius, sementara hawa napsu membunuh yang
terpancar dari balik mata manusia berbaju hitam itu makin lama
semakin menyeramkan.
Tapi anehnya gempuran yang menentukan tidak
pernah dilontarkan....
Sampai lama sekali kedua orang itu masih
belum juga bergerak.
Kembali lewat beberapa saat... kedua orang
itu masih juga berdiam diri.
Un Tay-tay mulai gelisah, pikirnya, "Mereka
berdua mau bertahan sampai kapan? Kenapa gempuran yang mematikan
belum juga dilontarkan?"
Belum selesai ingatan itu melintas, mendadak
dadanya terasa sesak seolah tertindih benda yang sangat berat,
keempat anggota tubuh pun terasa dingin membeku.
Pada mulanya dia tidak terlalu menaruh
perhatian, tapi begitu mencoba menggerakkan tangan dan kakinya,
seketika dia merasakan keempat anggota tubuhnya terasa linu dan
kaku, sama sekali tidak mampu digerakkan lagi dengan leluasa.
Sekarang dia baru terkejut, cepat tenaga
dalamnya dihimpun ke dalam Tan-tian, sayang usahanya kembali gagal,
tenaga dalamnya sudah tidak mampu digerakkan lagi, tidak terlukiskan
rasa kaget perempuan itu, saking ngerinya hampir saja dia menjerit
keras.
Dia mencoba berpaling, sekalipun dalam
kegelapan malam, sulit baginya untuk melihat jelas paras muka Sui
Leng-kong dan Gi Beng, namun dia dapat menangkap bahwa sepasang biji
mata mereka berdua sudah kehilangan cahaya serta gairahnya.
Un Tay-tay hanya berharap kehilangan gairah
yang diperlihatkan kedua orang itu hanya disebabkan baru saja
menangis, maka setelah berusaha menenangkan diri, bisiknya:
"Kenapa kalian berdua?"
"Kenapa?" Gi Beng balik bertanya dengan
wajah tertegun.
"Apakah kalian berdua merasakan tubuhmu
kurang sehat?"
Tampaknya Gi Beng sangat keheranan.
"Tidak, aku tidak merasakan apa apa...
aaah.....”
Mendadak perkataannya terpotong setengah
jalan, di bawah cahaya rembulan tampak matanya terbelalak lebar
dengan wajah dicekam rasa ngeri bercampur seram.
"Bagaimana?" tanya Un Tay-tay kaget, "apakah
merasa ada yang tidak beres?"
"Aku... dadaku terasa... agak sesak,
bahkan... panasnya setengah mati... aku... tangan dan kakiku...
semuanya linu, kaku dan kesemutan."
Bukan hanya tubuhnya yang gemetar, suaranya
pun terdengar gemetar, jelas perasaan-nya sudah dicekam perasaan
takut dan ngeri yang luar biasa
Tidak terlukiskan rasa ngeri Un Tay-tay
setelah menyaksikan kenyataan itu, dia mencoba menengok ke arah Sui
Leng-kong sambil berbisik:
"Bagaimana perasaanmu nona Sui?"
Sorot mata Sui Leng-kong mulai kalut dan
tidak beraturan, jawabnya tergagap, "Sama seperti dia...."
Un Tay-tay berdiri terbelalak, untuk sesaat
dia tidak sanggup lagi mengucapkan sepatah kata pun.
"Sebe... sebenarnya apa yang telah terjadi?"
tanya Gi Beng gelisah.
"Kita... kita semua sudah... sudah
keracunan."
Bibirnya terasa mulai kaku dan sakit, untuk
mengucapkan perkataan itu dia harus menggunakan seluruh kekuatan
yang dimiliki.
"Keracunan?" teriak Sui Leng-kong dan Gi
Beng hampir berbareng.
"Bukan hanya keracunan, bahkan racun sudah
merasuk ke tubuh kita semua."
Gi Beng dan Sui Leng-kong mencoba
memperhatikan sekeliling tempat itu, tampak Siang-tok Thaysu maupun
orang berbaju hitam itu masih belum juga bergerak, sementara
sekeliling tempat itu sudah tidak nampak manusia lain.
Ketika menengok kembali ke arah Gi Teng,
terlihat pemuda itu masih berdiri kaku di situ bagaikan sebuah
patung, jelas dia tidak mirip orang yang melepaskan racun.
"Sebenarnya racun apa yang dimaksud?" tidak
tahan Gi Beng bertanya, "siapa yang telah melepaskan racun?"
Belum sempat Un Tay-tay menjawab, satu
ingatan telah melintas dalam benak Sui Leng-kong, seolah teringat
akan sesuatu yang sangat menakutkan, dia menjerit:
"Jangan-jangan... jangan-jangan ulah dia?"
Ternyata sorot matanya ditujukan ke arah
Siang-tok Thaysu.
"Dia?" seru Gi Beng keheranan, "mana mungkin
bisa dia? Betulkah ulah dia?"
"Betul!" sahut Un Tay-tay sambil menghela
napas panjang.
"Tapi... dia sama sekali tidak menggerakkan
jari tangannya."
"Setiap jago di kolong langit tahu kalau
Siang-tok Thaysu adalah jago nomor wahid dalam hal ilmu melepaskan
racun, sementara kita justru menunggu dia melepaskan gempuran,
aaaai... perbuatan kita bertiga betul-betul sangat dungu," kembali
Un Tay-tay menghela napas.
"Masa dalam posisi hanya berdiri tanpa
bergerak pun dia mampu melepaskan racun?" teriak Gi Beng
terperanjat.
"Benar, yang lebih hebat lagi adalah racun
yang dia lepas bukan saja tanpa wujud tanpa bentuk, bahkan mampu
membuat korbannya keracunan hebat tanpa dia sadari."
"Menunggu korbannya sadar, dia sudah
keracunan hebat," sambung Sui Leng-kong sedih, "kungfunya sudah
lenyap separuh bagian, kalau menyadari pada saat seperti ini,
keadaan sudah terlambat, sudah tidak berguna lagi."
"Sungguh lihai... sungguh lihai...." gumam
Gi Beng terkesiap.
Untuk kesekian kalinya, kembali Un Tay-tay
menghela napas panjang.
"Sudah seharusnya kita menduga akan hal
itu," katanya, "bagi seorang jago lihai dalam ilmu melepas racun,
buat apa dia mesti gunakan ilmu silat?"
"Tidak heran hanya berdiri melulu... dia...
ternyata tanpa bergerak pun dia sanggup melancarkan serangan
mematikan, aaai... seharusnya sudah kita duga sejak awal, sudah
seharusnya kita waspada dan bersiap diri sejak tadi
Makin bicara suaranya makin lirih, semakin
tidak bertenaga.
"Sekilas pandang, kedua orang itu seperti
lagi berdiri tanpa bergerak, padahal mereka sudah terlibat dalam
pertarungan mati hidup, hanya saja orang lain tidak mengetahuinya."
"Apa... apa kau bilang?" tanya Gi Beng
sambil berkerut kening.
Un Tay-tay tertegun, teriaknya keras:
"Kau tidak mendengar ana yang kukatakan?"
"Kau...." wajah Gi Beng tampak semakin
kebingungan.
Un Tay-tay hanya sempat mendengar kata
"kau", sedang ucapan berikut sama sekali tidak terdengar lagi, dia
hanya melihat bibir Gi Beng sedang bergetar seakan sedang
mengucapkan sesuatu, namun sama sekali tidak terdengar suara apapun.
Tidak kuasa lagi ketiga orang perempuan itu
tercekam perasaan cemas, takut dan ngeri yang luar biasa, tangan
mereka pun tanpa terasa saling bergandengan tangan....
Ternyata telapak tangan mereka terasa dingin
bagaikan salju, keringat dingin telah membasahi tangan mereka,
bahkan mulai gemetar keras....
Mereka sudah tidak dapat mendengar suara
pembicaraan orang, mereka tidak tahu, telinga sendiri atau telinga
rekannya yang sudah kehilangan fungsi, atau mungkin mereka sudah
kehilangan kemampuan untuk berbicara?
Angin kencang berhembus lewat, mengibarkan
ujung baju yang dikenakan manusia berbaju hitam itu.
Mendadak ujung baju itu terobek sebagian
oleh hembusan angin, di balik angin yang berhembus lewat seakan-akan
tersembunyi sebilah pisau yang amat tajam, pisau yang menyambar
ujung baju dan merobeknya.
Menyusul kemudian ujung baju yang terobek
kembali terbelah jadi dua bagian, dari dua bagian berubah jadi empat
bagian dan akhirnya terurai jadi benang yang berhelai-helai dan
tersebar kemana-mana.
Kembali segulung angin berhembus lewat dan
merobek dua lembar ujung baju manusia berbaju hitam itu. Dalam waktu
singkat, lagi-lagi lembaran kain itu hancur berkeping dan tersebar
ke empat penjuru.
Tidak sampai beberapa saat kemudian seluruh
pakaian yang dikenakan manusia berbaju hitam itu sudah berubah jadi
hancuran kain yang tidak keruan bentuknya, di sisi kiri robek
sebagian, di sisi kanan robek pula sebagian....
Ternyata pakaian yang dikenakan telah
berubah jadi lapuk karena terserang racun jahat tanpa wujud tanpa
bau itu sehingga tidak mampu menahan hembusan angin, dari sini bisa
dibayangkan betapa lihainya sifat racun itu.
Biarpun pakaian yang dikenakan sebagian
sudah hancur, manusia berbaju hitam itu masih tetap berdiri tegak
bagai sebatang tombak, sorot matanya masih tajam bagaikan kilat,
kain kerudung hitam yang dikenakan pun sama sekali tidak nampak
rusak atau robek.
Bukan saja sama sekali tidak robek, bahkan
selembar kain sutera yang tipis dan halus itu bagaikan sebuah
lapisan baja saja, hembusan angin yang lebih kuat pun rasanya tidak
mungkin bisa merusak atau menghancurkannya.
Dari sini bisa dilihat betapa lihai dan
sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki manusia berbaju hitam itu!
Jelas seluruh tubuhnya sudah keras bagaikan
baja, tidak mempan serangan racun, bahkan di balik kain cadar
hitamnya sudah dipenuhi tenaga dalam yang luar biasa untuk
melindungi panca inderanya.
Biarpun tubuh mereka berdua sama sekali
tidak bergerak, namun pertarungan sengit antara mati dan hidup yang
sedang berlangsung sudah cukup mencekam hati setiap penonton yang
berada di sekeliling arena.
Dengan perasaan terkesiap, pikir Un Tay-tay,
"Mati hidup manusia berbaju hitam ini sudah berada di ujung tanduk
dan tinggal masalah waktu, sementara Siang-tok Thaysu sama sekali
tidak terancam mara bahaya, kelihatannya pertarungan ini berhasil
dia menangkan."
Perlu diketahui, sekalipun Un Tay-tay
bertiga tidak kenal siapa gerangan manusia berbaju hitam itu, namun
mereka tetap berharap manusia berbaju hitam itulah yang menang,
tidak heran mereka mulai kebat-kebit setelah menyaksikan jagoan yang
mereka harapkan ternyata tidak ada peluang untuk meraih kemenangan,
bahkan cenderung terancam pula jiwanya.
Genggaman tangan mereka bertiga semakin
bertambah kencang, telapak tangan Un Tay-tay berada pada urutan yang
paling buncit.
Dia dapat merasakan telapak tangan Sui
Leng-kong maupun Gi Beng basah dan dingin, seperti dua ekor ikan
yang baru saja ditangkap dari dalam air, bahkan gemetar tiada
hentinya.
Mendadak dia merasa kedua buah telapak
tangan itu sudah bergeser dari atas tangannya, namun ketika Un
Tay-tay mencoba memeriksa, dengan jelas dan pasti dia saksikan
tangan-tangan itu masih menindih di atas tangannya.
Ternyata apa yang dia saksikan
jauh berbeda dengan apa yang bisa dia rasakan di tubuhnya.
Penemuan yang sangat menakutkan ini kontan
membuat lambung dan usus Un Tay-tay berkerut kencang, coba kalau dia
tidak menggigit bibir dengan sepenuh tenaga, mungkin saat itu juga
dia sudah memuntahkan seluruh isi perutnya.
Kembali dia menengok ke arah Gi Beng dan Sui
Leng-kong, ternyata pancaran mata mereka mulai membersitkan sinar
kekalapan yang aneh, seperti dua ekor kucing liar yang kepanasan di
atas atap rumah.
"Blammmm!", Gi Teng sudah roboh terjungkal
ke atas tanah.
Dia berdiri paling jauh, keracunan pun
paling akhir, tapi anehnya ternyata paras muka pemuda itu masih
tetap kaku seperti orang mati, bukan saja sama sekali tidak ada
perubahan, sampai tubuhnya roboh terjungkal pun mimik mukanya masih
tetap tidak berubah.
Keadaan Siang-tok Thaysu masih tetap seperti
sedia kala, namun sekarang Un Tay-tay telah menemukan sesuatu yang
aneh, dari balik sorot matanya ternyata mulai memancarkan cahaya
ketidak tenanganyang aneh dan membingungkan
Kalau dia sudah pegang kendali keadaan, bila
kemenangan sudah di pihaknya, kenapa dia menunjukkan sikap tidak
tenang yang membingungkan?
Un Tay-tay semakin keheranan, tidak tahan
dia berpaling ke wajah manusia berbaju hitam itu, kini dia baru
tahu, ternyata sinar mata orang itu membawa semacam hawa sesat yang
aneh sekali.
Dia mencoba memperhatikan dengan lebih
seksama lagi, ternyata orang itu memiliki biji mata yang delapan
puluh persen lebih besar ketimbang biji mata biasa, warna mata yang
seharusnya hitam ternyata orang itu memiliki mata berwarna biru yang
terkesan misterius.
Satu ingatan segera melintas dalam benak Un
Tay-tay, tiba-tiba dia teringat pada sebuah dongeng yang banyak
beredar dalam dunia persilatan.
"Orang yang pandai menggunakan ilmu
hipnotis, biasanya memiliki sinar mata yang jauh berbeda dari
manusia biasa".
Dengan hati tercekat, pikirnya lebih jauh,
"Jangan-jangan manusia berbaju hitam itu sedang menggunakan ilmu
hipnotis Sit sim ci sut? Kelihatannya saja dia seperti pasrah, sama
sekali tidak melakukan perlawanan, rupanya orang itu sedang
menggunakan ilmu hipnotisnya untuk mengendalikan jalan pikiran
Siang-tok Thaysu!"
Kedua orang tokoh silat ini memang sangat
luar biasa, yang satu menyerang dengan mengandalkan ilmu beracunnya
yang tanpa wujud tanpa bau, sementara yang lain menggunakan ilmu
pembetot sukma Sit sin ci sut yang sudah lama punah dari dunia
persilatan untuk mengendalikan pikiran lawan
Sekalipun kedua belah pihak sama-sama tidak
bergerak, namun serunya pertempuran yang sedang berlangsung justru
sepuluh kali lipat lebih sengit dan berbahaya ketimbang pertarungan
biasa.
Asalkan konsentrasi manusia berbaju hitam
itu sedikit saja kendor, bisa jadi racun tanpa wujud itu akan
memanfaatkan peluang itu untuk menyusup masuk, menyusup ke dalam
peredaran darahnya, menyusup dan melumat keselamatan jiwanya.
Sebaliknya bila Siang-tok Thaysu sedikit
mengendor konsentrasinya, maka jalan pikirannya segera akan terbetot
oleh ilmu hipnotis lawan, selamanya dia akan tenggelam di balik
kegelapan yang menakutkan dan tidak mungkin bisa hidup bebas
kembali.
Keselamatan jiwa mereka berdua benar-benar
berada di ujung tanduk, mati hidup mereka hanya ditentukan dalam
sekali tarikan napas, dalam situasi yang demikian kritis dan
berbahaya, sudah barang tentu kedua belah pihak sama-sama tidak
ingin bergerak secara sembarangan.
Un Tay-tay sendiri mimpi pun tidak menyangka
kalau dalam kehidupannya kali ini dapat menyaksikan dengan mata
kepala sendiri sebuah pertempuran maha dahsyat yang tidak pernah
didengar, tidak pernah disaksikan sebelumnya.
Yang lebih menakutkan lagi adalah posisi
kedua orang itu sekarang ibarat orang yang sudah menunggang di
punggung harimau, kecuali salah satu di antara mereka roboh
terkapar, siapa pun jangan harap bisa menyudahi pertempuran itu
begitu saja.
Oleh sebab itu pertempuran itu bukan saja
merupakan pertempuran antara ilmu beracun tanpa wujud melawan ilmu
pembetot sukma, bahkan merupakan pula ajang ujian bagi semangat,
niat, keberanian serta kesabaran mereka berdua.
Siapa yang lebih teguh niatnya, siapa yang
lebih hebat daya tahannya, dialah yang akan memperoleh kesempatan
menang paling besar.
Siapa yang tidak mampu menghimpun
konsentrasinya, siapa yang muncul rasa takut dan ngeri dalam
hatinya, dialah yang bakal musnah dan lenyap dari peredaran
dunia....
Walaupun dalam dunia persilatan banyak
terjadi pertarungan mati hidup yang menakutkan, tapi belum pernah
ada pertarungan yang begini serius, begitu menakutkan seperti
pertarungan antara Siang-tok Thaysu melawan manusia berbaju hitam
itu sekarang.
Semakin menonton, Un Tay-tay merasa makin
tercekat hatinya, makin dipikir semakin ngeri perasaannya... dalam
pikiran yang makin kalut itulah mendadak satu ingatan melintas.
Biarpun ingatan itu hanya ibarat secercah
cahaya redup di tengah kegelapan yang mencekam, hanya sebuah titik
remang di tengah kekalutan yang melanda, namun Un Tay-tay tidak
ingin melepaskannya begitu saja, dia segera memegangnya ku at-kuat.
Sekuat tenaga dia berusaha mengendalikan
perasaan girang yang meluap, sekali lagi dia membayangkan semua
peristiwa yang telah berlangsung, kemudian menganalisanya dengan
seksama, "Kepandaian silat yang digunakan kedua orang ini ibarat air
raksa yang menyusup ke dalam setiap pori, sudah pasti mereka tidak
berani bertindak gegabah atau ceroboh, karena setiap kecerobohan
sekecil apapun sudah lebih dari cukup untuk merenggut nyawa mereka,
dalam hal ini mestinya mereka berdua jauh lebih paham ketimbang aku.
Dalam situasi dan kondisi seperti ini, bila muncul orang ketiga yang
ingin mencabut nyawa mereka berdua, bukankah hal ini bisa dilakukan
segampang membalikkan tangan? Kenapa aku... aku tidak memanfaatkan
kesempatan ini?"
Berpikir sampai di situ, dia tidak berani
ayal lagi, cepat tubuhnya meronta dan berusaha bangkit berdiri.
Tapi sayang racun jahat tanpa wujud itu
telah melumat habis seluruh kekuatan yang dimilikinya,
kendatipun perempuan itu sudah mengerahkan segenap kekuatan yang
dimilikinya, ternyata dia tidak mampu bangkit berdiri.
Un Tay-tay tidak ingin melepaskan setitik
harapan hidup yang baru muncul dalam benaknya, setelah mengatur
napasnya yang tersengal, sekali lagi dia mencoba meronta bangun, dia
gunakan seluruh sisa kekuatan yang dimilikinya.
Dengan susah payah akhirnya seinci demi
seinci dia berhasil bangkit berdiri, tapi sekarang dia baru sadar,
ternyata setiap kali dia menggunakan tenaganya maka dari keempat
anggota badannya segera muncul rasa sakit yang luar biasa, rasa
sakit bagaikan ditusuk oleh beribu batang jarum tajam.
Dia mengertak gigi kuat-kuat, sekuat tenaga
berusaha menahan diri, sekuat tenaga berusaha melawan rasa sakit
yang luar biasa.
Sepanjang hidup sudah terlalu banyak siksaan
batin serta penderitaan hidup yang pernah dialaminya, siksaan tubuh
yang dialaminya saat ini sudah dianggap satu penderitaan kecil,
tentu saja dia masih mampu menghadapinya, masih mampu menahan
siksaan itu.
Keheningan malam semakin memudar, setitik
cahaya fajar mulai muncul di ufuk timur, saat inilah saat paling
dingin dalam perjalanan satu hari, tapi Un Tay-tay justru
bermandikan peluh, keringat sebesar kacang kedelai membasahi sekujur
tubuhnya.
Dengan giginya yang putih bersih dia
menggigit bibirnya yang pucat tanpa rona darah, sekalipun dia sedang
menahan penderitaan dan rasa sakit yang amat menyiksa, namun pada
akhirnya perempuan itu berhasil bangkit berdiri, akhirnya berhasil
mengayunkan langkahnya.
Siang-tok Thaysu serta manusia berbaju hitam
itu masih belum bergerak, siapa pun seakan tidak sadar kalau di
samping mereka telah muncul seorang wanita lemah yang mulai
melancarkan serangan, melancarkan ancaman maut yang bisa mematikan
mereka.
Seluruh tubuh Un Tay-tay seolah terbakar
oleh jilatan api yang membara, jilatan api untuk mempertahankan
hidup, jilatan api yang membakar dan memunculkan seluruh kekuatan
terpendam yang dimiliki, merubahnya menjadi sebuah kekuatan luar
biasa yang sulit dipercaya oleh siapa pun.
Dengan mengandalkan kekuatan itu dia mencoba
menopang tubuhnya, mengarahkan ayunan kakinya melangkah maju ke
depan.
Kini dia sudah maju empat langkah, tinggal
selangkah lagi tangan kirinya sudah dapat menggapai iga kiri
Siang-tok Thaysu, tangan kanannya dapat menyentuh iga kanan manusia
berbaju hitam itu.
Bila ujung jarinya berhasil menyentuh tubuh
mereka berdua, konsentrasi kedua orang jagoan itu pasti akan
terganggu, pada saat konsentrasi mereka terganggu itulah....
Dapat dipastikan racun tanpa wujud milik
Siang-tok Thaysu akan segera menyusup masuk ke dalam tubuh manusia
berbaju hitam itu, sementara ilmu pembetot sukma milik manusia
berbaju hitam itu pasti dapat mengendalikan pula pikiran serta
kesadaran Siang-tok Thaysu.
Bila manusia berbaju hitam itu tewas
lantaran keracunan, Siang-tok Thaysu juga akan kehilangan kendali,
dengan matinya manusia berbaju hitam maka Siang-tok Thaysu bakal
menjadi gila, satu akibat yang jauh lebih menakutkan ketimbang
kematian.
Sayang... walau tinggal selangkah, ternyata
Un Tay-tay tidak sanggup lagi untuk maju ke depan.
Kini kekuatan maupun tenaga dalamnya telah
digunakan hingga pada titik terakhir, telah mencapai puncaknya,
ibarat seseorang yang hanya berkemampuan memikul beban seberat
seribu kati, bila ditambah sekati lagi, niscaya tubuhnya akan segera
tumbang.
Langkah terakhir itu bukan saja tidak mampu
diselesaikan Un Tay-tay, tiba-tiba tubuhnya malah roboh terjungkal
ke atas tanah.
Dia sudah mempertaruhkan seluruh
kemampuannya, dia pun sudah berusaha menahan semua siksaan dan
penderitaan yang terberat, padahal kemenangan sudah berada di depan
mata, namun sampai pada saat terakhir dia tidak berhasil mencapai
cita-citanya, tidak mampu menyelesaikan keinginannya.
Dalam waktu singkat dia hanya merasakan
kesedihan, kegusaran serta rasa kecewa yang luar biasa, perasaan
sedih yang tak terlukiskan.
Mendadak hawa panas terasa bergolak di
dadanya dan menerjang naik ke atas kepala, wanita itu jatuh tidak
sadarkan diri.
Menanti sadar kembali dari pingsannya, Un
Tay-tay menyaksikan awan putih telah menyelimuti angkasa.
Sesaat sebelum jatuh tidak sadarkan diri,
dia mengira pingsannya bakal berlangsung untuk selamanya, maka dia
sedikit tidak percaya ketika dapat mendusin kembali.
Saat itulah terdengar seseorang berseru dari
sisi telinganya:
"Bagus, ternyata kau adalah orang pertama
yang sadar."
Begitu mendengar suara itu, Un Tay-tay
segera mengenalinya sebagai suara Siang-tok Thaysu, kontan
jantungnya berdebar keras.
"Aduh celaka!" pekiknya dalam hati.
Ternyata Siang-tok Thaysu tidak kehilangan
nyawa dalam pertempuran sengit tadi, malahan sekarang dia sudah
terjatuh ke dalam cengkeraman pendeta pemakan ular ini. Sekalipun
tidak sampai mati, tapi apa bedanya dengan kematian?
Berpikir sampai di situ, dia merasa kecewa
bercampur putus asa, matanya kembali dipejamkan rapat-rapat.
"Kalau sudah sadar, kenapa tidak bangkit
berdiri?" terdengar Siang-tok Thaysu menegur lagi.
Sekalipun tidak bicara, namun dalam hati
kembali Un Tay-tay berpikir, "Aku sudah kau racuni hingga kepayahan,
mana mungkin bisa bangkit kembali? Rupanya kau malah berlagak
pilon...."
Mendadak dia merasa pikirannya terang dan
segar, pandangan matanya jelas, tanda-tanda mata buram, kehilangan
kekuatan seperti apa yang dirasakan sebagai korban keracunan sama
sekali hilang tidak berbekas. Dengan perasaan girang, cepat dia
bangkit dan duduk.
Rupanya dia sudah dipindahkan ke atas sebuah
bukit, sementara Sui Leng-kong, Leng Cing-peng, Gi Beng, Gi Teng dan
Leng It-hong masih berbaring di sampingnya, hanya tidak diketahui
apakah mereka masih hidup atau sudah mati?
Ketika dia melirik kembali ke arah Siang-tok
Thaysu, dilihatnya pendeta pemakan ular itu sedang duduk bersila di
bawah sebatang pohon, walaupun dipandang pada siang hari dia tidak
seseram kemarin malam, namun paras mukanya tetap kelihatan dingin
bagaikan salju.
"Bukankah aku keracunan hebat...." gumam Un
Tay-tay terkejut bercampur keheranan.
"Racun yang Loceng gunakan sudah pasti dapat
kupunahkan secara gampang," jawab Siang-tok Thaysu dingin.
"Kenapa kau ... kau menolong aku?"
"Kau telah menyelamatkan Loceng, tentu saja
Loceng pun menyelamatkan dirimu."
"Aku... aku telah menolongmu?" Un Tay-tay
tertegun.
Sekulum senyuman aneh tersungging di ujung
bibir Siang-tok Thaysu, katanya:
"Ketika tubuhmu roboh terjungkal tadi,
kebetulan jatuh persis di sisi kaki musuh Loceng, begitu dia
terperanjat, maka tenaga Sinkangnya pun ikut buyar, kalau tidak,
belum tentu semudah ini Loceng mampu mengalahkan dirinya."
Un Tay-tay terkesiap, saking kagetnya dia
duduk tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo, sampai lama
kemudian dia baru tertawa keras, teriaknya:
"Ternyata aku malah membantumu, membantumu
mengusir lawan tangguh...."
Semakin nyaring suara tawanya, makin deras
air mata bercucuran membasahi waj ahnya.
"Bukan hanya membantu Loceng saja," ujar
Siang-tok Thaysu lebih jauh, "kalau bukan dorongan tanganmu, mungkin
tubuh Dewa racun milik Loceng pun sudah musnah terhajar lemparan
batu cadas."
"Siapakah manusia berbaju hitam itu?" tanya
Un Tay-tay kemudian sambil membesut air mata.
"Buat apa kau menanyakan soal ini?"
"Aku ingin menemukan orang itu, berlutut di
hadapannya, minta kepadanya untuk mencincang tubuhku hingga hancur
berkeping, kalau tidak, selamanya aku tak bakal hidup
tenang."
Siang-tok Thaysu tertawa dingin.
"Sekalipun kusebut nama orang itupun belum
tentu kau akan mengenalinya, apalagi sekalipun kau dapat menemukan
dirinya, mungkin yang kau jumpai tidak lebih hanya sesosok mayat."
Kembali Un Tay-tay tertegun, akhirnya dia
tidak sanggup menahan diri lagi, meledaklah isak tangisnya yang amat
menyedihkan hati. Selama hidup baru kali ini dia menangis dengan
begitu sedihnya.
Siang-tokThaysu segera mendengus dingin.
"Rupanya kau menyesal karena telah menolong
Loceng?" tegurnya.
"Benar, lebih baik bunuhlah aku...."
Perlahan Siang-tok Thaysu mendongakkan
kepala memandang keatas, kemudian katanya lagi:
"Walaupun Loceng tahu kau memang tidak
berniat membantuku, namun sepanjang hidup baru pertama kali ini
kuterima pertolongan dari orang lain, bagaimanapun juga hutang budi
ini tetap harus ku bayarkan kepadamu."
Un Tay-tay sama sekali tidak menggubris
perkataan itu, dia masih mendekam di tanah sambil menangis
tersedu-sedu, sepeminuman teh kemudian isak tangisnya baru mulai
mereda, lambat-laun kesadarannya pulih kembali, tiba-tiba dia
melompat bangun.
Jika berganti Gi Beng atau Im Ceng sekalian,
begitu tahu tanpa sengaja mereka telah membantu kaum laknat dan
manusia jahat, bisa jadi mereka segera akan menumbukkan kepalanya di
dinding untuk bunuh diri.
Tapi Un Tay-tay bukan manusia semacam itu,
sekalipun tadi dia menangis sedih karena luapan emosinya, namun
kesadaran otaknya jauh mengungguli gejolak emosi, begitu berhasil
menguasai diri, teriaknya:
"Baik, kau bilang mau membayar hutang budi
ini? Dengan cara apa kau hendak membayarnya?"
"Apapun permintaanmu, asal bisa Loceng
lakukan, pasti tidak akan kutampik permintaanmu itu."
"Kau sendiri yang berjanji?"
"Selama hidup Loceng pantang mengobral
janji, tapi kau pun mesti ingat, tadi kau hanya dua kali membantu
Loceng, maka mulai sekarang Loceng pun hanya akan menuruti
permintaanmu sebanyak dua kali."
"Paling tidak kau harus menyelamatkan
rekan-rekanku terlebih dulu."
"Baik... tinggal satu permintaan." Sekarang
Un Tay-tay baru merasa sedikit lega, bagaimanapun juga dia telah
menyelamatkan nyawa beberapa orang rekannya, paling tidak
pertolongan ini bisa digunakan untuk menebus dosanya hari ini.
Siapa tahu setelah lewat beberapa saat
kemudian Siang-tok Thaysu masih tetap duduk tanpa bergerak.
Un Tay-tay tidak mampu menahan diri lagi,
segera tegurnya:
"Kenapa kau belum juga turun tangan?"
Siang-tok Thaysu mendengus dingin.
"Hmmm, kau belum menunjuk siapa yang harus
kutolong, bagaimana mungkin Loceng bisa turun tangan?"
Tercekat perasaan Un Tay-tay, jeritnya:
"Menunjuk yang mana? Tentu saja kau harus
menolong mereka bertiga."
Dia memang sengaja hanya menyebut tiga
orang, karena perempuan ini tahu Leng Cing-peng sudah tidak punya
harapan lagi untuk ditolong.
Kembali Siang-tok Thaysu tertawa dingin.
"Ketiga orang itu tidak ada sangkut-pautnya
dengan diriku, kenapa Loceng mesti mengobral tenaga menyelamatkan
mereka semua?"
"Tapi... bukankah kau telah berjanji?"
"Benar, Loceng memang berjanji akan turun
tangan dua kali untuk membayar hutang budi ini, tapi jangan lupa,
hanya dua kali, sementara di sini ada tiga orang."
"Jadi kau... kau hanya bersedia menolong dua
orang? Begitu? Benar?" suara Un Tay-tay terdengar sedikit gemetar.
Siang-tok Thaysu manggut-manggut,
pelan-pelan dia memejamkan mata dan tidak bicara lagi.
"Tapi di sini terdapat tiga orang, kau suruh
aku tidak memilih yang mana? Kau... kau... kau biarkan seseorang
yang tiada dendam sakit hati denganku harus tewas secara mengenaskan
di hadapanmu?"
Sekalipun dia menjerit dengan suara yang
mengenaskan, namun paras muka Siang-tok Thaysu tetap kaku bagaikan
patung, sama sekali tidak tersentuh perasaannya, bagaimanapun
perempuan itu merengek atau memohon, Siang-tok Thaysu tetap berlagak
seolah tidak mendengar.
Akhirnya Un Tay-tay jatuh terduduk ke
lantai, gumamnya dengan suara gemetar:
"Keji... kau sungguh keji, tidak kusangka
hatimu jahat, buas dan beracun, walaupun banyak manusia jahat yang
pernah kujumpai selama ini, tapi kau adalah orang pertama...."
Bicara sampai di situ, tiba-tiba satu
ingatan kembali melintas dalam benaknya, dengan hati gembira
teriaknya:
"Orang pertama, tadi kau bilang 'kau adalah
orang pertama yang sadar', itu berarti masih ada orang kedua, orang
ketiga yang bakal sadar, padahal kau sudah menyelamatkan
mereka semua, hanya sekarang secara sengaja membohongi aku,
menakut-nakuti aku, agar aku merengek kepadamu, memohon kepadamu,
agar aku semakin berterima kasih kepadamu, bukan-kah begitu?
Katakan, bukankah begitu?"
Perlahan-lahan Siang-tok Thaysu membuka
matanya kembali, menatapnya dengan sorot mata tajam, sampai lama dan
lama kemudian, sekulum senyuman aneh dan misterius kembali
tersungging di ujung bibirnya.
Walaupun Un Tay-tay merasa senyuman itu
sedikit kalap, sedikit menakutkan, tapi begitu melihat senyuman itu,
setitik harapan yang semula masih mengambang, kini terasa makin
mantap dan meyakinkan.
Akhirnya Siang-tok Thaysu berkata: "Benar,
masih ada orang kedua, orang ketiga yang akan sadar."
Un Tay-tay segera melompat bangun, serunya
kegirangan:
"Siapakah dia? Siapakah dia?"
"Orang kedua adalah dia!" kata Siang-tok
Thaysu sambil menuding ke arah Leng Cing-peng.
"Dia? Dia... bukankah dia sudah tiada
harapan lagi!"
Senyuman di ujung bibir Siang-tok Thaysu
nampak semakin kentara, sahutnya:
"Jika orang lain tidak sanggup
menyelamatkan jiwanya, memangnya Loceng pun tidak sanggup? Apalagi
dia masih terhitung cucu muridku, tentu saja aku harus menyelamatkan
dia."
Kejut bercampur girang mencekam perasaan Un
Tay-tay, lewat sesaat dia bertanya lagi:
"Lalu siapa... siapa orang ketiga?"
"Dia!" kali ini Siang-tok Thaysu menuding ke
arah Leng It-hong.
"Dia?" jerit Un Tay-tay tercekat,
"tapi...tapi"
Siang-tok Thaysu mendongakkan kepalanya
tertawa seram.
"Tubuh Dewa racun segera akan terwujud”
teriaknya, "sekarang Loceng akan menjadi jagoan tidak terkalahkan di
kolong langit, akulah yang akan memegang kekuasaan mati hidup setiap
umat persilatan, hahaha...."
Semakin tertawa dia semakin bangga, makin
tertawa semakin kalap.
Untuk kesekian kalinya Un Tay-tay jatuh
terkapar, jatuh untuk tidak mampu berdiri lagi.
Dalam pada itu paras muka Sui Leng-kong, Gi
Beng serta Gi Teng telah berubah jadi hijau keabu-abuan, jelas nyawa
mereka sudah berada di tepi jurang kematian.
Un Tay-tay sadar, hanya dibutuhkan sepatah
kata darinya maka dua orang di antara rekannya akan lolos dari
bahaya maut, tapi haruskah dia mengorbankan rekannya yang ketiga?
Siapa yang harus dikorbankan?
Dalam kondisi seperti ini, bagaimana mungkin
dia sanggup buka suara?
Terdengar Siang-tok Thaysu berkata lagi
dengan suara dingin:
"Ketiga orang itu sudah keracunan hebat,
jika kau terlambat mengambil keputusan untuk menolong yang mana, aku
kuatir nyawa mereka sudah keburu melayang lebih dahulu."
Un Tay-tay menarik napas dingin, air mata
kembali berlinang membasahi pipinya.
Selama hidup sudah terlalu sering dia
mengambil keputusan penting, tapi keputusan yang harus diambil
sekarang justru punya keterkaitan yang besar dengan mati hidup
sese-orang, dia merasa terjerumus dalam perangkap yang sangat
dalam, belum pernah dia jumpai kesulitan yang demikian besarnya
seperti sekarang.
Siapa yang harus ditolong? Siapa yang tidak
seharusnya ditolong?
Sambil menggigit bibir dia mencoba
memberitahu kepada diri sendiri:
"Bagaimanapun juga aku harus menyelamatkan
nyawa Sui Leng-kong, karena dua orang ini sama sekali tidak kukenal,
sudahlah, kalau begitu aku tolong salah satu di antara mereka."
Dia berpaling ke arah Gi Beng dan Gi Teng,
kemudian bertanya lagi kepada diri sendiri:
"Tapi di antara mereka berdua, siapa yang
harus kutolong?"
Dengan termangu dia mengawasi wajah kedua
orang itu, dilihat dari raut mukanya, mereka berdua nampak begitu
ramah, begitu baik, walaupun berada dalam ketidak berdayaan, setitik
harapan masih tersungging di ujung bibir mereka.
Terbayang kembali bagaimana dia harus segera
mengambil keputusan, memutuskan nyawa mana di antara mereka berdua
yang harus segera ditolong, kembali Un Tay-tay merasakan goncang-an
jiwa yang luar biasa, tubuhnya sampai menggigil keras.
Tanggung jawab moral yang terbeban di
pundaknya kelewat berat, keputusan yang harus diambil kelewat
menyiksa batin.
Sekali lagi dia bertanya kepada diri
sendiri:
"Terlepas siapa yang bakal hidup, ketika
orang tahu kehidupannya diperoleh dari kematian rekannya, dapatkah
dia menerima kenyataan itu? Sanggupkah dia melanjutkan hidup?"
Tanpa sadar sorot matanya kembali dialihkan
ke wajah Sui Leng-kong.
Di bawah cahaya rembulan, wajah Sui
Leng-kong nampak begitu tenang, kelihatan begitu cantik dan
menawan....
Kecantikan yang luar biasa, ibarat bidadari
yang turun dari kahyangan, kecantikan yang tidak seharusnya hidup di
alam dunia.
Un Tay-tay merasa hatinya pedih, pikirnya,
"Thiat Tiong-tong telah mati, Im Ceng pun telah mati, cepat atau
lambat aku juga bakal mati, apa senangnya dia hidup seorang diri?
Membiarkan dia tetap hidup hanya akan membuatnya makin sengsara,
makin menderita!"
Sekali lagi dia menengok ke arah Sui
Lengkong, terlihat gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat, bulu
matanya yang panjang terkatup pada kelopak matanya yang lembut,
seluruh kesedihan, semua penderitaan seolah sudah jauh meninggalkan
dirinya.
Un Tay-tay ikut memejamkan matanya.
"Dia persis seperti aku," gumamnya, "hanya
akan memperoleh kedamaian dalam kematian, sementara dua orang yang
lain perlu hidup terus untuk saling menunjang. Membiarkan dia hidup
terus hanya akan menambah penderitaannya, sedang dua orang yang lain
masih punya kebahagiaan dan kegembiraan dalam perjalanan hidup
mereka, kebahagiaan dan kegembiraan yang mustahil bisa aku maupun
dia rasakan lagi."
Sementara dia masih termenung, Siang-tok
Thaysu kembali bertanya:
"Sudah kau putuskan?"
"Sudah, sudah kuputuskan!" jawab Un Tay-tay
sambil menarik napas panjang.
Cahaya kegembiraan yang aneh kembali
terbesit di balik sorot mata Siang-tok Thaysu, dia seolah berharap
bisa memperoleh sedikit kepuasan yang? sadis dari balik keputusan
yang diambil Un Tay-tay.
Dengan penuh rasa ingin tahu dia ingin
segera tahu siapa yang akan dikorbankan Un Tay-tay, rasa ingin tahu
kebinatangannya segera menyelimuti seluruh pikiran dan perasaannya.
Dengan lantang dia berteriak:
"Siapa? Siapa yang akan kau tolong?" Un
Tay-tay masih memejamkan mata, namun dia sudah menuding
kedua arah ....
Yang ditunjuk adalah Gi Beng serta Gi Teng,
dua bersaudara keluarga Gi.
Setelah Siang-tok Thaysu selesai mencekoki
Gi Beng dan Gi Teng dengan obat penawar racun, Un Tay-tay masih
duduk kaku tanpa bergerak, dia tetap duduk bagaikan sebuah patung
batu, sama sekali tidak bergerak, sama sekali tidak mambuka matanya.
Sambil bertepuk tangan, kata Siang-tok
Thaysu:
"Tidak seberapa lama lagi mereka berdua akan
segera tersadar kembali."
"Ooh, benarkah?" Un Tay-tay mengangguk
dengan wajah linglung, menyahut dengan nada hambar.
Dengan wajah keheranan dan rasa ingin tahu,
Siang-tok Thaysu menatap wajahnya, mendadak ujarnya sambil tertawa:
"Loceng sama sekali tidak menyangka kau
tidak menyelamatkan gadis itu, sebaliknya malah menyelamatkan pria
ini, dapatkah kau menjelaskan apa alasanmu memutuskan begitu?"
Un Tay-tay menggetarkan bibirnya, namun tak
ada suara yang muncul, dia hanya menggeleng dengan wajah linglung.
Lewat beberapa saat kemudian, akhirnya dia
buka suara juga, sahutnya:
"Masa tidak kau lihat, dia mati dengan
begitu tenang dan damai, sementara kedua orang ini
justru amat berharap bisa hidup terus...."
Sebetulnya dia enggan mengucapkan perkataan
itu, namun entah mengapa akhirnya diucapkan juga, dia bahkan tidak
bisa membedakan sebetulnya perkataan itu tertuju kepada Siang-tok
Thaysu atau justru ditujukan kepada diri sendiri.
Siang-tok Thaysu memandang sekejap Gi Beng
serta Gi Teng yang belum sadar, kemudian menengok Sui Leng-kong dan
akhirnya memandang wajah Un Tay-tay, tiba-tiba dia mendongakkan
kepala dan tertawa terbahak-bahak.
Un Tay-tay membuka kembali matanya tapi
segera dipejamkan kembali, sekali lagi dia membuka matanya, menengok
ke arah Siang-tok Thaysu.
Akhirnya dia tidak kuasa menahan diri,
tegurnya:
"Apa yang kau tertawakan?"
"Padahal wajah ketiga orang itu sama satu
dengan lainnya, tapi kau bersikeras mengatakan gadis itu meram
dengan tenang sedang dua orang yang lain menderita, bukankah alasan
itu hanya kau gunakan untuk mengungkap jalan pemikiran-mu sendiri?"
Perkataan itu bagaikan tusukan jarum tajam,
tusukan yang menghujam ke dasar lubuk hati Un Tay-tay.
Tiba-tiba sekujur tubuhnya gemetar keras,
teriaknya:
"Kau... kau ngaco-belo!"
"Hahaha, dulu Loceng pun pernah hidup
bergelimpangan dalam keduniawian, rahasia yang ada di dasar hatimu
mungkin saja dapat mengelabui orang lain, tapi jangan harap bisa
mengelabui diriku."
"Rahasia... rahasia apa yang ada di dasar
hatiku?"
"Kau pasti pernah menaruh perasaan iri dan
cemburu kepadanya," ujar Siang-tok Thaysu sambil tertawa, "oleh
sebab itu kau berharap dia bisa mati, mati dengan tenang? Bebas dari
segala penderitaan? Itu semua hanya alasan yang kau buat-buat untuk
membohongi diri sendiri."
Gelak tawanya dipenuhi perasaan bangga,
sebab dia menganggap berhasil menelanjangi lawannya, lagi-lagi dia
memperoleh sebuah kepuasan, kepuasan yang diperoleh secara sadis.
Gelak tawanya bagaikan sebuah cambuk, cambuk
berduri yang menderai di tubuh Un Tay-tay, mencambuk hatinya,
mencambuk sukmanya hingga sama sekali tak mampu bergerak.
"Benarkah aku iri kepadanya?" terdengar dia
bergumam, "benarkah aku cemburu kepada-nya? Kenapa aku harus iri?
Kenapa aku harus cemburu?"
Tiba-tiba dia tertawa keras, tertawa seperti
orang kalap, jeritnya:
"Aku iri kepadanya? Kenapa aku harus iri
kepadanya?"
Gelak tawanya makin lama makin bertambah
seram... semakin tidak bisa dibedakan antara tangis dan suara
tertawa... akhirnya dia menubruk tubuh Sui Leng-kong, menangis
secara kalap, menangis tersedu-sedu.
"Di masa lalu kalian berdua pasti pernah
mencintai seorang lelaki yang sama," ujar Siang-tok Thaysu lagi,
"dan pria itu ternyata hanya mencintai dia seorang, maka kau
membencinya, kau iri kepadanya....”
Walaupun nada suaranya rendah dan berat,
namun terdengar begitu tajam, begitu melengking, setiap patah kata
bagaikan tusukan jarum yang menghujam hatinya,
bila kau berusaha menutupi telingamu dengan
tangan, maka dia akan menembus telapak tanganmu dan menyusup masuk
ke dalam.
Terdengar dia berkata lagi:
"Kemudian... setelah lewat lama sekali, rasa
cintamu terhadap pria itu makin memudar, tapi perasaan benci,
perasaan irimu tidak pernah ikut memudar, tahukah kau mengapa bisa
begitu?"
"Kau setan...." jerit Un Tay-tay penuh
penderitaan, "iblis busuk! Tutup mulutmu!"
Sekali lagi Siang-tok Thaysu tertawa sadis,
lanjutnya:
"Karena iri dan benci merupakan luapan emosi
yang paling kuat, khususnya di dalam hati seorang wanita, perasaan
itu jauh lebih kuat daripada perasaan cinta. Sebab sedalam apapun
cinta seorang wanita, perasaan itu gampang berubah, biarpun kau
mencintainya secara khusuk namun tidak akan langgeng, sama seperti
cinta seorang lelaki, walaupun dapat berlangsung langgeng, namun
tidak akan bisa mencintai secara khusus."
"Tolong... jangan kau lanjutkan," pinta Un
Tay-tay dengan wajah memelas.
Siang-tok Thaysu menyeringai seram,
terusnya:
"Oleh sebab itu seorang pria bisa mencintai
banyak wanita pada saat yang bersamaan, namun tidak mungkin bagi
seorang wanita, ketika seorang wanita mencintai seorang pria, dia
pasti mencintainya hingga tergila-gila, tidak mungkin dia bisa
mencintai lelaki kedua. Menanti dia mulai mencintai lelaki kedua,
saat itu perasaan cintanya terhadap pria pertama pasti sudah hilang
lenyap tidak berbekas."
"Setelah tertawa seram
berulang kali, lanjutnya:
"Sayang, rasa dengki, rasa iri, rasa cemburu
seorang wanita terhadap wanita lain tidak pernah bisa lenyap untuk
selamanya, jika seorang wanita membenci wanita yang lain, maka dia
akan membencinya sepanjang masa!"
"Aku tidak mau mendengarkan... tidak mau
mendengarkan!" jerit Un Tay-tay sambil berusaha menutupi sepasang
telinga dengan tangannya.
Siang-tok Thaysu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, tentu saja kau tidak mau
mendengarkan, sebab selain kau tahu bahwa teori ini seratus persen
benar, kau pun sadar, rasa iri yang kau anggap sudah terlupakan
sesungguhnya sudah berakar di dasar hatimu, maka...."
Tiba-tiba Un Tay-tay menjerit keras, sambil
membopong tubuh Sui Leng-kong, dia kabur secepatnya meninggalkan
tempat itu.
Memandang bayangan punggungnya yang makin
menjauh, Siang-tok Thaysu kembali tertawa keras, tertawa seperti
orang gila. Dia tahu, perbuatannya telah berhasil menghancur
lumat-kan perasaan perempuan itu.
Sepanjang hidup, dia baru bisa merasa sangat
gembira ketika menyaksikan seorang perempuan hancur lebur hatinya,
sebab dahulu, dia pun pernah dibuat hancur lebur hatinya karena ulah
seorang wanita....
BAB 34.
Irama Sedih Pelumat hati.
Un Tay-tay kabur dengan kalap, kabur seperti
seorang gila....
Mengapa dia harus kabur? Sedang kabur dari
siapa? Dia sendiri... dia sendiri pun tidak jelas.
Pikirannya terasa kosong melompong karena
dia tidak ingin memikirkan persoalan apapun, dia pun tidak memilih
arah perjalanan, yang dituju hanya tempat yang paling sepi, tempat
yang paling terpencil, jauh dari keramaian dunia, jauh dari
kerumunan manusia.
Air matanya kini mulai mengering, sepasang
kakinya mulai terasa kesemutan dan kaku....
Medan yang dilalui pun makin lama semakin
terjal dan sepi....
Rawa-rawa, hutan belantara, lembah terjal...
mendadak sebuah hutan bunga yang sangat indah muncul di hadapannya.
Aneka bunga yang mekar segar, memancarkan
bau harum semerbak yang memikat hati, di bawah cahaya sang surya,
hutan itu bagaikan sebuah halaman rumah yang amat luas, tiada
halaman rumah lain yang bisa mengalahkan keindahan tempat itu.
Ternyata hutan bunga yang begitu indah
justru tumbuh di tengah lembah yang terjal, di antara rawa-rawa, di
antara bukit yang terpencil, seakan-akan keindahan yang luar biasa
itu memang sengaja diciptakan di tempat yang paling busuk dan jelek.
Un Tay-tay tak tahu bagaimana dia bisa lari
ke tempat itu, tapi setelah sampai di sana dia pun tidak sanggup
mengayunkan langkahnya lagi... dia roboh terkapar di tanah.
Dia sama sekali tidak menyadari kalau di
balik pepohonan masih ada sesosok bayangan manusia lain, dia pun
tidak mendengar orang itu sedang merintih kesakitan, sedang
bergulingan di tanah berlumpur sambil mengerang penuh penderitaan.
Namun orang itu mengetahui kehadiran-nya.
Pakaian yang dikenakan orang itu nyaris
hancur tidak keruan, tubuhnya yang kurus kering tinggal kulit
pembungkus tulang kotor berlepotan lumpur, wajahnya menyeringai
seram karena sedang menahan siksaan dan penderitaan yang luar biasa.
Dia nampak seperti iblis yang muncul dari
balik rawa-rawa, bagaikan binatang buas yang terluka parah.
Dia berguling di atas tanah berlumpur, dia
meronta sambil mengerang, sebab hanya tanah becek berlumpur yang
dingin dapat mengurangi siksaan dan penderitaan kobaran api yang
sedang membakar dalam tubuhnya.
Jika Un Tay-tay sempat memandang sekejap ke
arahnya, dia akan segera mengetahui kalau orang itu tidak lain
adalah manusia berbaju hitam yang telah bertarung sengit melawan
Siang-tok Thaysu
Hong Lo-su, gembong iblis yang licik, busuk
dan berhati binatang itu meski berada dalam keadaan tersiksa dan
menderita, namun ketajaman pendengarannya masih lebih sensitif
ketimbang telinga binatang serigala, begitu mendengar suara manusia,
dia segera berguling ke balik semak belukar.
Lewat beberapa saat kemudian dia tidak kuasa
menahan diri untuk melongok keluar dari balik semak, memperhatikan
sekejap sekeliling tempat itu, akhirnya dia dapat mengenali orang
yang secara tiba-tiba menerobos masuk ke balik hutan bunga itu tidak
lain adalah Un Tay-tay.
Sudah dua kali Un Tay-tay menggagalkan
rencana besarnya, bagi pandangan orang lain, dendam kesumat ini
boleh dibilang sesuatu yang luar biasa, apalagi bagi manusia
berpikiran sempit macam Hong Lo-su!
Begitu tahu siapa yang muncul, hawa napsu
membunuh seketika menyelimuti seluruh Wajahnya, sambil mengertak
gigi diam-diam pikirnya, "Jalan menuju ke surga tidak kau pilih,
jalan menuju ke neraka justru kau lewati, budak busuk, wahai budak
busuk, akan kulihat nyawa kecilmu bisa kabur kemana lagi hari ini?"
Andaikata Un Tay-tay dapat melihat raut muka
iblisnya pada saat itu, dapat dipastikan dia akan jatuh semaput
saking kagetnya, sekalipun Hong Lo-su ingin membunuh atau mencincang
dirinya pun belum tentu dia sanggup melawan.
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak
Hong Lo-su, dia teringat saat itu racun jahat sedang bekerja dalam
tubuhnya, andaikata dia muncul saat itu, belum tentu kemampuannya
mampu menandingi ilmu silat yang dimiliki Un Tay-tay.
Seandainya berganti orang lain, mereka pasti
tidak sanggup menahan diri apalagi setelah menyaksikan orang yang
dibencinya hingga merasuk ke tulang sumsum telah berdiri di depan
mata, mereka tentu akan menerjang keluar dan berusaha membunuhnya.
Tapi Hong Lo-su memang jauh berbeda
dibandingkan orang lain, kalau bukan lantaran terdesak hingga sulit
dihindari, dia tidak pernah mau melakukan pertarungan yang tidak
yakin bisa dimenangkan.
Setelah memutar otak sejenak, pikirnya,
"Hong Lo-su, wahai Hong Lo-su, kau harus pandai mengendalikan diri,
baru saja lolos dari cengkeraman maut si makhluk beracun, kalau kini
harus mati di tangan seorang budak busuk, kau akan mati dengan
penasaran. Toh tidak lama kemudian racunmu bakal punah, sedang budak
pun tidak akan kabur sementara waktu, cepat atau lambat dia pasti
akan mampus di tanganmu."
Berpikir sampai di situ, dia semakin enggan
bergerak, hanya sepasang matanya mengawasi terus gerak-gerik Un
Tay-tay, dia hanya berharap perempuan itu jangan pergi dari situ.
Ternyata Un Tay-tay memang tidak
meninggalkan tempat itu, dia hanya memeluk tubuh Sui Leng-kong
sambil menangis terisak, sambil menangis pikirnya, "Benarkah apa
yang dikatakan makhluk tua beracun itu? Benarkah aku iri dan cemburu
kepadanya?
Benar? Tidak benar? Benar...? Tidak benar?
Pertanyaan itu bagaikan cambuk yang melecut
tubuhnya, bagaikan sebuah gilingan batu yang melindas tubuhnya, dia
merasa hatinya hancur lebur, tidak tahu bagaimana harus menjawab
pertanyaan itu?
Tidak tahan dia mendongakkan kepala dan
menjerit:
"Un Tay-tay, wahai Un Tay-tay... kau adalah
perempuan paling busuk, Sui Leng-kong telah kau celakai, kenapa kau
masih tetap hidup? Kenapa kau masih tetap hidup?"
Terbelalak sepasang mata Hong Lo-su, dia
merasa terkejut bercampur girang, pikirnya:
"Rupanya budak busuk itu menyangka tempat
ini tidak ada penghuninya sehingga mengutarakan rahasia hatinya,
hahaha, tidak dia sangka Locu justru sudah mendengar setiap patah
katanya dengan jelas."
Andaikata dia mampu bicara waktu itu, sudah
pasti akan dikatakan demikian, "Tepat, tepat sekali, kau memang
tidak pantas hidup, lebih baik mampus saja!"
Sayang dia tidak berani bersuara, sedang Un
Tay-tay pun bukan perempuan lemah yang gampang mencari mati begitu
saja.
Kalau dia harus mati, perempuan itu pasti
akan memilih sebuah kematian yang ada nilainya.
Sambil melelehkan air mata, dia memetik
kuntum demi kuntum bunga dari atas pohon, kemudian menatanya kuntum
demi kuntum di atas tanah, membentuk sebuah pembaringan yang terbuat
dari bunga.
Akhirnya dia membaringkan tubuh Sui
Lengkong di atas pembaringan bunga itu, membaringkan dengan
perlahan dan lembut.
"Adik cilik," bisiknya dengan air mata
berlinang, "beristirahatlah dengan tenang, tidak ada lumpur di dunia
ini yang bisa mengubur tubuhmu yang bersih, terpaksa aku akan
menguburmu di antara bunga yang segar."
Sembari menaburi tubuh Sui Leng-kong dengan
bunga segar, kembali dia bergumam:
"Kumbang, kupu-kupu, burung walet, datanglah
semua kemari ... temanilah adikku beristirahat di sini! Ooh, angin,
bawalah awan ke tempat ini, agar adikku dapat menunggang awan,
terbang jauh ke angkasa, tubuhnya memang tidak layak dijamah tanah
berdebu, dia lebih pantas tinggal di nirwana, hidup di antara dewi
dan bidadari."
Ucapannya lebih mirip senandung yang
indah... tapi senandung mana di kolong langit yang bisa
mengungkapkan perasaan sedih di hati Un Tay-tay?
Hong Lo-su yang menyaksikan kejadian itu
diam-diam berpikir, "Jangan-jangan budak busuk ini sudah gila? Masa
dia bersenandung untuk orang yang sudah mati? Hei, budak busuk,
kalau ingin menyanyi, bawakan lagu yang gembira, paling tidak bisa
menghilangkan rasa jemu di hatiku."
Di samping mengumpat, dia pun merasa
kegirangan setengah mati, kalau dilihat dari wajah sedih budak busuk
itu, mustahil dia akan pergi meninggalkan tempat itu dalam waktu
singkat, budak busuk, apakah kau sedang menunggu kematian di situ?
Dari mana dia tahu kalau saat itu Un Tay-tay
sudah mengambil satu keputusan di hati kecilnya.
Terdengar perempuan itu berbisik lagi:
"Adikku, berbaringlah dengan tenang di sini,
biar burung walet dan bunga segar yang melenyapkan kesepianmu, kau
tidak usah kuatir, aku tidak akan membiarkan kau mati dengan
sia-sia."
Mendadak dia bangkit berdiri, kemudian
berlari secepatnya menuju ke arah dimana dia datang tadi.
Hong Lo-su dibuat melongo, dia hanya bisa
mengawasi perempuan itu meninggalkan hutan bunga dengan mata
terbelalak, dia merasa mendongkol, merasa gelisah, namun tidak ada
yang bisa dilakukannya.
Kini di dalam hutan bunga tinggal dua orang.
Kedua orang itu, yang satu hidup yang lain
sudah mati, yang satu jeleknya setengah mati dan yang lain cantik
bak bidadari, kalau yang satu busuk bagai iblis keji, maka yang lain
adalah malaikat dari surga.
Malaikat cantik yang telah mati terjatuh ke
dalam cengkeraman iblis jahat yang buruk rupa dan masih hidup, satu
kejadian yang amat ironis, amat memedihkan hati dan membuat orang
menghela napas....
Langkah kaki Un Tay-tay makin lama semakin
melambat, sepasang alis matanya berkerut kencang, dia seperti sedang
memikirkan sesuatu.
Jalan pikirannya memang lincah dan penuh
akal muslihat, bila dia sudah mengambil satu keputusan, maka biar
orang lain menebaknya sampai mati pun jangan harap mampu menebak isi
hatinya.
Kini dia tidak memilih jalanan yang harus
ditempuh, langkah kakinya diayunkan menelusuri jalan perbukitan,
sorot matanya memandang ke tempat kejauhan, seakan sudah dibuat
terpesona oleh jalan pikirannya.
Lama kemudian, tiba-tiba sekulum senyuman
aneh terbesit di ujung bibirnya, dia mengangkat wajah, mencoba
memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, kemudian dia berbelok ke
arah timur dan kembali berjalan cepat.
Saat itu cahaya sang surya belum mencapai
tengah angkasa, dia berjalan menyongsong datangnya cahaya fajar,
langkahnya masih diayunkan lambat, kemudian diambilnya sebatang
ranting, kemudian mulai membongkar semak belukar yang berada di sisi
jalan.
Di tengah tanah perbukitan yang sepi dan
terpencil itu, dia seolah sedang mencari harta karun yang tidak
ternilai harganya, mencari dengan teliti, memeriksa
dengan seksama....
Ya, tindak-tanduk nona ini memang sangat
aneh, sukar diduga apa maunya.
Mendadak dia menjumpai beberapa ikat rumput
ilalang yang terikat menjadi satu, diikat dengan sebuah serat yang
sangat halus dan lembut, andaikata tidak diperhatikan lebih seksama,
sulit rasanya untuk menemukan keanehan itu.
Tali pengikat berwarna hitam, sebuah benda
yang sangat umum dan tidak ada yang aneh.
Tapi bagi Un Tay-tay, dia seolah berhasil
menemukan harta karun, wajahnya kontan berseri, sambil membungkukkan
tubuh dia mulai melakukan pemeriksaan di seputar tumpukan rumput
ilalang itu.
Benar saja, di antara tumpukan rumput
terdapat beberapa macam benda yang berbentuk aneh.
Tapi... danmana dia tahu kalau di balik
tumpukan rumput ilalang terdapat benda yang berbentuk aneh?
Akhirnya Gi Beng dan Gi Teng mendusin
kembali dari pingsannya.
Yang sadar terlebih dulu adalah Gi Beng, dia
mengucek matanya berulang kali sambil mengawasi sekeliling tempat
itu, tampak cahaya matahari menyinari seluruh bumi, tempat itu masih
sama pemandangannya seperti apa yang terlihat sebelum ia memejamkan
matanya tadi.
Secara lamat-lamat dia mencoba untuk
mengingat kembali kejadian semalam, dia masih ingat secara tiba-tiba
dirinya tidak bisa mendengar, kemudian tidak bisa melihat, apa yang
terjadi bagaikan sebuah impian yang buruk
Tapi kemana perginya kawanan iblis jahat
yang dijumpai dalam mimpi buruknya itu? Kemana pula perginya kedua
orang perempuan yang sedang menangisi Thiat Tiong-tong? Kemana pula
perginya Enci Sui?
Keringat dingin mulai bercucuran membasahi
tubuhnya, masih untung kakaknya masih berada di sisinya, sekuat
tenaga dia menggoncang tubuh GiTeng, lalu teriaknya:
"Ayo, sadar, cepat sadar...."
Dengan perasaan terperanjat Gi Teng melompat
bangun, dia baru menghembuskan napas lega setelah melihat Gi Beng
berada di sana, tapi setelah memandang sekejap seputar sana, dengan
wajah bingung dan tak habis mengerti, tanyanya:
"Kenapa aku bisa berada di sini?"
"Kenapa kau bisa berada di sini?" seru Gi
Beng jengkel:
"masa kau sendiri pun tidak tahu?"
"Aku... aku tidak ingat jelas...." Gi Teng
menggeleng.
"Memangnya kau orang mati?" teriak Gi Beng
sambil menghentakkan kakinya, "semalam kau...."
"Semalam... aaah, betul, semalam sepeninggal
kau dan Sui Leng-kong, aku menunggu lama sekali, ketika tidak
melihat kalian segera kembali, maka aku pun menyusul mencari
kalian."
"Aaaai, seharusnya kau sudah melakukan
pencarian sejak awal," Gi Beng menghela napas panjang.
Gi Teng mengernyitkan sepasang alis
matanya, seakan sedang berusaha mengingat kembali kejadian yang
telah dialami, katanya:
"Aku sudah mencari kalian cukup lama, namun
tidak berhasil, pada saat itulah tiba-tiba kudengar ada suara
manusia maka segera ku hampiri, ternyata dia adalah seorang manusia
berbaju serba hitam yang bercakar hitam, hanya sepasang mata
iblisnya yang kelihatan, dia muncul dari balik kegelapan dan
menghalangi perjalananku sambil merentangkan tangannya."
"Aaah, betul, dialah orangnya," jerit Gi
Beng kaget.
"Jadi kau... kau pun sudah bertemu
dengannya?" tanya GiTeng terperanjat.
"Jangan kau tanya dulu persoalan itu,
katakan bagaimana selanjutnya?"
"Dalam terperanjatnya aku segera
menghardik, siapa tahu orang itu hanya menatapku dengan sepasang
mata iblisnya, begitu dipandang beberapa saat, entah kenapa mendadak
timbul perasaan takut di hatiku, aku ingin kabur, tapi... kakiku
seakan sudah kabur dari tubuhku, aku tidak sanggup bergerak, aku
ingin menghindar dari tatapan matanya, itupun tidak berhasil,
sepasang mataku seolah melekat dengan tatapan matanya, seperti tidak
tahan untuk menengok ke arahnya terus."
"Ke... kemudian?" Gi Beng semakin tercekat.
Dengan wajah kebingungan, semakin tidak
mengerti Gi Teng melanjutkan:
"Kemudian entah bagaimana ceritanya aku
berubah makin kebingungan, seakan menjadi tidak sadar, aku tidak
paham apa yang telah kulakukan, aku pun tidak tahu apa yang telah
kuucapkan, bahkan aku juga tidak habis mengerti kenapa bisa tiba di
sini."
"Adah... ilmu pembetot sukma!" bisik Gi Teng
sambil menarik napas dingin.
"Betul," sahut Gi Teng sambil tertawa getir,
"kelihatannya aku bakal mendapat rezeki, kungfu yang ingin dilihat
orang lain pun susahnya setengah mati, ternyata malah sudah kucicipi
kehebatannya
Setelah memandang sekejap sekitar sana,
tiba-tiba dia menjerit kaget:
"Kemana perginya Sui... Sui Leng-kong?"
Begitu menyinggung soal Sui Leng-kong, air
mata kembali berderai membasahi pipi Gi Beng.
"Dia... dia...."
Baru terucap dua kata, dia sudah menubruk Gi
Teng sambil menangis tersedu-sedu.
Gi Teng makin terperanjat setelah
menyaksikan ulah adiknya, bisiknya gemetar:
"Jangan-jangan dia sudah...."
Diiringi isak tangis yang amat sedih, Gi
Beng menuturkan kembali kisah pengalaman yang dialami mereka selama
ini.
Belum selesai mendengarkan kisah pengalaman
itu, tangan dan kaki Gi Teng sudah menjadi dingin bagaikan es, dia
merasa seakan tubuhnya dilempar orang ke dalam kubangan salju yang
sangat dingin, membuatnya menggigil kedinginan.
Mereka berdua mencoba untuk menduga, mengapa
bisa jatuh tidak sadarkan diri? Mengapa tinggal mereka berdua di
situ? Peristiwa apa pula yang telah terjadi sehabis mereka jatuh
tidak sadarkan diri.
Saat itu mereka berdua berada di tengah
tanah perbukitan yang terpencil, selain tidak dapat menentukan arah,
tubuh mereka pun terasa masih sangat lemas, dua bersaudara yang
belum pernah merasa panik dan gelisah itu, kini nyaris dibuat gila
saking bingungnya.
"Bagaimanapun, kita harus segera menemukan
dirinya," bisik GiTeng kemudian.
"Tapi... ke mana kita harus mencari?" tanya
Gi Beng dengan air mata berlinang.
Gi Teng berdiri termangu, dia sendiri pun
tak tahu apa yang harus diperbuat.
Sampai lama kemudian, satu ingatan baru
melintas dalam benak Gi Beng, segera serunya:
"Aaah, ada akal, lebih baik kita temui
Seng-toako sekalian, minta mereka membantu kita melakukan pelacakan,
dengan jumlah yang lebih banyak, mungkin hasilnya juga beda."
Usul ini memang usul terbaik di antara usul
lainnya, tapi dimanakah posisi mereka sekarang? Kuil Sang-cing-koan
di bukit Lau-san berada dimana? Kedua orang itu tidak mengerti.
Sekarang mereka hanya berharap bisa bertemu
seseorang untuk ditanyai arah yang benar.
Maka dengan langkah lebar mereka pun
berjalan meninggalkan tempat itu, namun sudah sekian lama berjalan,
belum juga dijumpai seorang manusia pun.
Gi Beng sudah mulai merasakan matanya
berkunang, kakinya lemas tidak bertenaga, kini dia betul-betul
merasa sangat kecewa.
Saat itulah mendadak terdengar suara
bentakan nyaring berkumandang dari balik bukit di depan sana,
terdengar seseorang mengumpat dengan penuh amarah:
"Sudah lama aku mencarimu dan kau pun tahu
akan hal ini, buat apa masih berlagak pilon?"
Terdengar seorang yang lain menyahut sambil
tertawa:
"Cayhe sungguh tidak habis mengerti, ada
urusan apa Cianpwe mencari aku?"
Walaupun Gi Beng dan Gi Teng tidak dapat
mengenali suara siapa orang yang menjawab belakangan, tapi mereka
segera mengenali suara bentakan yang pertama tadi berasal dari Che
Toa-ho.
Tidak terlukiskan rasa girang dua
bersaudara ini, tanpa ragu lagi cepat mereka berlari menghampiri
sumber suara itu.
Terdengar Che Toa-ho kembali membentak
gusar:
"Biar kau tidak tahu pun, hari ini aku tetap
akan berusaha melenyapkan kau si bangsat cabul dari muka bumi, akan
kulihat apakah kau masih berani merusak pagar ayu orang lain lagi."
Menyusul suara bentakan nyaring,
terdengarlah suara bentrokan senjata yang sangat ramai.
Dengan perasaan girang Gi Beng serta Gi Teng
mempercepat langkah kakinya, tidak lama kemudian tibalah mereka di
depan sebuah hutan, dari kejauhan sudah terdengar deru angin
serangan yang memekakkan telinga
Begitu asyiknya pertarungan itu
berlangsung, hingga dua bersaudara Gi tiba di sisi arena pun Che
Toa-ho masih belum menyadarinya.
Dengan mengandalkan ilmu pedangnya yang
ganas dan telengas, setiap serangan yang dilancarkan saat itu boleh
dibilang semuanya merupakan jurus-jurus mematikan, seolah dia
mempunyai dendam kesumat sedalam lautan dengan lawannya hingga ingin
secepatnya menghabisi nyawa musuh.
Musuh yang sedang dihadapi adalah seorang
pemuda berbaju perlente, seorang pemuda yang tidak dikenal Gi Beng
maupun Gi Teng.
Walaupun kungfu yang dimiliki pemuda itu
cukup tangguh, nampak jelas dia masih bukan tandingan salah satu
jago pedang pelangi itu, permainan pedangnya makin lama semakin
kacau dan tercecar hebat, kini dia hanya mampu bertahan
Dua bersaudara Gi merasa kurang leluasa
untuk turut campur dalam pertarungan itu, mereka pun tidak berusaha
mencegah, karenanya hanya berdiri menonton di sisi arena.
Kelihatannya kedua orang yang sedang
bertarung itu sama sekali tidak sadar akan kehadiran pihak ketiga,
mereka masih terlibat dalam pertarungan yang amat seru.
Khususnya Che Toa-ho, semakin bertarung dia
semakin naik pitam, bukan cuma rambutnya berdiri bagai landak,
sepasang matanya ikut berubah merah padam.
Sudah cukup lama Gi Beng dan Gi Teng kenal
jagoan ini, mereka pun seringkah menyaksi-kan dia bertarung melawan
orang lain, namun selama ini belum pernah menyaksikan dia menyerang
dengan begitu buas, kejam dan telengas seperti hari ini.
Kini dia sudah mengembangkan ilmu pedangnya
hingga mencapai puncaknya, setiap serangan yang dilancarkan ibarat
pelangi yang membelah angkasa, membuat daun dan ranting berguguran,
hawa pedang menyelimuti seluruh angkasa, pemandangan saat itu
betul-betul membetot sukma dan menggetarkan hati.
Mendadak Che Toa-ho membentak nyaring, di
tengah getaran cahaya pedang, satu tusukan kilat dilontarkan ke
muka.
Tidak sempat menghindarkan diri, bahu pemuda
itu segera tersambar hingga muncul sebuah luka memanjang yang cukup
dalam.
Sambil menjerit kesakitan, kontan pemuda itu
mengumpat:
"Che Toa-ho, apa maksudmu menghalangi
perjalananku dan memaksa aku bertarung melawanmu? Kalau beraninya
hanya menganiaya kaum muda, terhitung Enghiong macam apa dirimu
itu?"
"Jika hari ini aku tidak mampu melenyapkan
bajingan cabul macam kau, nama besarku sebagai jago pedang berkopiah
kuning baru terhitung hancur di tangan binatang macam dirimu," balas
CheToa-ho penuh amarah.
Sementara berbicara, secepat kilat dia
melancarkan kembali tujuh tusukan maut.
Kembali muncul beberapa luka dalam di dada
kiri pemuda itu, darah segar segera bercucuran membasahi tubuhnya,
darah yang membentuk kuntum bunga merah di atas jubah suteranya yang
halus.
Dengan rasa takut bercampur ngeri, pemuda
itu berteriak keras:
"Suhu! Susiok! Cepat kemari, tolong aku... !
Che Toa-ho kumat edannya, dia ingin membunuhku ...."
"Ayo, berteriaklah!" jengek CheToa-ho sambil
tertawa seram, "teriak lagi yang keras.... Hmmm, biar kau berteriak
sampai serak pun jangan harap Hek Seng-thian serta Suto Siau datang
menolongmu."
Sekarang Gi Teng serta Gi Beng baru tahu
kalau pemuda perlente itu ternyata adalah murid Hek Seng-thian serta
Suto Siau, mereka saling bertukar pandang sekejap sambil berpikir,
"Bukankah Sim Sin-pek satu aliran dengan Hek Seng-thian maupun Suto
Siau? Kenapa Che Toa-ho begitu membenci pemuda itu seakan punya
dendam kesumat sedalam lautan dan bersikeras ingin menghabisi
nyawanya?"
Baru saja ingatan itu melintas, tiba-tiba
terdengar seseorang membentak nyaring:
"Tahan!"
Tiga sosok bayangan manusia menyusup masuk
ke dalam hutan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, di antara
cahaya pedang yang berkilauan:
"Traangg!", tahu-tahu serangan pedang Che
Toa-ho sudah ditangkis.
"Laute, kau sudah edan?" terdengar seseorang
membentak keras.
Suaranya berat dan dalam, dia tidak lain
adalah si jago pedang berhati merah Seng Cun-hau.
Dua orang yang lain menerjang pula ke dalam
arena, yang seorang dengan senyum di kulum melindungi tubuh pemuda
itu, sementara seorang yang lain, berperawakan kecil mungil,
memegangi lengan CheToa-ho dengan wajah gelisah.
Orang yang tersenyum tidak lain adalah Suto
Siau, sementara yang bertubuh kecil mungil adalah Sun Siau-kiau.
Tidak terlukiskan rasa gusar Che Toa-ho,
saking marahnya, paras muka lelaki ini berubah jadi merah padam
seperti kepiting rebus, jeritnya:
"Siau-kiau, cepat lepas tanganmu! Toako, kau
tidak usah mencampuri urusan ini, apapun yang terjadi, hari ini aku
harus menjagal si cabul busuk ini, dia binatang busuk!"
"Saudara Che, tolong redakan amarahmu," kata
Suto Siau pula sambil tersenyum, "jika Sim Sin-pek memang berbuat
salah atau kurang sopan, katakan saja terus terang, biar Siaute yang
mengganjar hukuman berat kepadanya, buat apa saudara Che mesti
bersusah payah ingin men-cabut nyawanya?"
Melihat orang itu berbicara sambil
tersenyum, Che Toa-ho jadi semakin mendongkol, saking jengkelnya
dia sampai tidak mampu berkata.
Dalam pada itu Suto Siau sudah berpaling ke
arah pemuda itu sambil membentak:
"Kenapa kau menyalahi paman Che? Ayo, cepat
mengaku terus terang."
Pemuda itu tidak lain adalah Sim Sin-pek,
begitu melihat bala bantuan sudah tiba, kontan nyalinya bertambah
besar, setelah memutar biji matanya, dengan lagak seperti orang kena
fitnah dia berkata:
"Kapan murid pernah berbuat salah kepada
paman Che? Justru pamanlah yang berulang kali mengumpatku sebagai
bajingan cabul, padahal murid sendiri juga tidak jelas kenapa bisa
dituduh begitu?"
Dalam pada itu Seng Cun-hau telah menegur
pula dengan suara dalam:
"Laute, sebenarnya apa yang terjadi? Katakan
saja."
Che Toa-ho sama sekali tidak menjawab, hanya
tubuhnya kelihatan gemetar keras, dia tak sanggup mengemukakan
alasannya.
Tiba-tiba Suto Siau menarik wajahnya, sambil
tertawa dingin ujarnya:
"Sim Sin-pek masih muda, dia masih cukup
lama hidup mengembara dalam dunia persilatan, masih mending kalau
hari ini dia terbunuh di tangan saudara Che, tapi tuduhan sebagai
'bajingan cabul', satu tuduhan yang berat dan susah dipikul siapa
pun. Cun-hau, kau sebagai ketua tujuh pedang pelangi mesti
menyelesaikan persoalan ini dengan sebaik-baiknya, jika saudara Che
tidak menerangkan sejelasnya, aku akan minta pertanggungjawabanmu."
Baru pertama kali ini dua bersaudara Gi
bertemu dengan Suto Siau, menyaksikan sikap maupun caranya
bertindak, mereka berdua serentak berteriak dalam hati:
"Sungguh lihai manusia ini."
Benar saja, Seng Cun-hau betul-betul
dipojokkan oleh ucapan itu, dia dipaksa tidak mampu berbicara,
sesudah berdehem berulang kali, akhirnya dia berpaling ke arah Che
Toa-ho dan bisiknya tergagap:
"Laute, kau...."
Belum selesai dia berbicara, dengan suara
keras Che Toa-ho sudah berteriak lebih dulu:
"Baik! Akan kukatakan terus terang, Suto
Siau, dengarkan baik-baik, murid bajinganmu yang tidak tahu malu itu
berani berbuat tidak senonoh terhadap biniku, coba katakan, pantas
tidak kalau dia dijagai?"
Seketika itu juga Seng Cun-hau serta Suto
Siau berdiri tertegun.
Sekarang Gi Beng dan Gi Teng baru mengerti
kejadian sebenarnya.
"Ohh, ternyata urusan beginian, tidak heran
sulit bagi Che Toa-ho untuk buka suara."
Sebetulnya Sun Siau-kiau hanya berdiri
bengong di situ, tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu.
"Sin-pek, benarkah ada kejadian seperti
ini?" bentak Suto Siau keras.
Sim Sin-pek memutar biji matanya berulang
kali, kemudian sahutnya dengan kepala tertunduk:
"Mana mungkin ada kejadian seperti ini?
Sekalipun murid berniat menggaet Che-hujin, tapi Che-hujin kan
seorang wanita suci dan berhati bersih, mana mungkin dia mau berbuat
tidak senonoh dengan murid?"
"Kentut! Kau binatang jahanam masih ingin
mengelak...." bentak Che Toa-ho penuh amarah.
Belum selesai dia bicara, pipinya sudah
ditampar Sun Siau-kiau keras-keras, dia terkejut bercampur gusar,
tapi belum sempat berbuat sesuatu, Sun Siau-kiau sudah berguling di
tanah sambil menangis keras.
Sembari menarik pakaian yang dikenakan dan
memukul dada sendiri, perempuan itu menjerit sambil menangis:
"Aku tidak mau hidup... aku tidak mau
hidup... bunuhlah aku ... bunuh saja aku! Kalau tidak berani
membunuhku, kau memang kura-kura kepala busuk, binatang goblok.....”
Biarpun pada hari biasa Che Toa-ho terhitung
seorang Enghiong, namun begitu bininya mulai sewot dan menangis,
sama seperti pria kebanyakan, kontan dia jadi kelabakan dan tidak
tahu apa yang mesti dilakukan.
Dalam waktu singkat tubuhnya sudah termakan
tiga bogem mentah ditambah lima tendangan Sun Siau-kiau, begitu
keras gebukan itu membuat mukanya semakin merah padam.
"Ayo, bangun!" teriaknya sambil
menghentakkan kaki berulang kali, "cepat bangun, ada urusan kita
bicarakan baik-baik."
Sambil memukul dan menangis, Sun Siau-kiau
mengumpat tiada hentinya:
"Apalagi yang bisa dibicarakan, orang lain
mengatakan binimu suci bersih sebaliknya kau justru menuduh binimu
main serong dan melakukan hal yang tidak senonoh, huuuh... orang
lain begitu percaya kepada binimu, sebaliknya kau malah tidak
percaya... teman-teman semua, coba lihat, mana ada manusia di kolong
langit yang ngotot mengenakan topi hijau untuk diri sendiri?"
Seng Cun-hau berdiri tersipu-sipu, dia
merasa serba salah, mau menarik salah, mau mencegah pun rikuh, untuk
sesaat dia malah berdiri kebingungan.
Suto Siau hanya menggendong tangan sambil
memandang langit, tiada hentinya dia tertawa dingin, sementara Sim
Sin-pek diam-diam melengos ke arah lain, seolah tidak tahan geli dan
ingin tertawa terbahak-bahak.
Mendadak Sun Siau-kiau melompat bangun,
sambil merobek pakaian yang dikenakan Che Toa-ho, makinya:
"Baik, kau menuduh aku telah menjadikan
dirimu seekor kura-kura dungu, kenapa tidak kau bunuh saja diriku?
Ayo, cepat turun tangan... kalau memang bernyali, cepat bunuh
aku...."
Paras muka Che Toa-ho merah padam bagaikan
kepiting rebus, pakaian yang dikenakan robek hingga compang-camping
karena ditarik bininya, dia berusaha mendorong istrinya, namun tidak
berhasil, mau menghindar juga gagal, terpaksa jeritnya:
"Seng-toako, cepat tarik dia!" Seng
Cun-hau menghentakkan kakinya berulang kali, serunya:
"Aaaai! Dasar pikun, mana mungkin aku bisa
menariknya?"
Untunglah Gi Beng tidak tahan menyaksikan
adegan itu, cepat dia melompat ke muka merangkul pinggang Sun
Siau-kiau, lalu sambil menepuk bahunya, dia berseru:
"Ensoku yang baik, ayo,
sudahlah, beristirahatlah dulu!"
Sambil membalikkan tubuh, Sun Siau-kiau siap
menggebuk, tapi begitu tahu orang yang merangkulnya adalah Gi Beng,
dia pun mengurungkan niatnya, sambil memeluk tengkuk gadis itu, dia
menangis tersedu-sedu.
"Adikku," teriaknya, "untung kau yang
datang, tahukah kau, Ensomu sudah dituduh yang bukan-bukan... oooh,
Thian... oooh, Thian... mau ditaruh kemana mukaku selanjutnya?"
"Ya, Che-toako memang sudah salah bicara,
tidak seharusnya dia menuduh yang bukan-bukan," sahut Gi Beng
tergagap.
Mendengar perkataan itu, isak tangis Sun
Siau-kiau malah semakin menjadi, katanya dengan sedih:
"Adikku, ternyata hanya kau yang memahami
jiwaku.... He, manusia she Che, sudah kau dengar perkataan adik
keluarga Gi ini? Dasar lelaki tidak punya liangsim, lelaki dungu,
kau memang binatang goblok!"
Melihat kehadiran Gi Beng, diam-diam Che
Toa-ho menghembuskan napas lega, sementara itu dia sudah menyingkir
jauh dari arena.
Saat itulah Gi Beng mengedipkan mata ke
arahnya sambil berkata:
"Che toako, kau telah sembarangan menuduh
Enso, cepat kemari, minta maaf kepadanya."
Sejujurnya Che Toa-ho ingin sekali maju
mendekat dan minta maaf, tapi begitu sorot matanya bertemu pandangan
Sim Sin-pek yang nampak berdiri sambil menyengir, kontan dia
menghentikan kembali langkahnya.
Tiba-tiba Suto Siau berdehem berulang kali,
kemudian katanya:
"Kalau toh persoalan ini hanya timbul karena
kesalah pahaman, baiklah, kita sudahi sampai di sini saja. Cun-hau,
temani rekan-rekanmu berbincang, aku dan Sin-pek akan jalan lebih
dulu."
Padahal dia sendiri pun tahu dengan pasti
kalau, Sim Sin-pek memang telah berbuat tidak senonoh dengan Sun
Siau-kiau, karena itu kalau bukan kabur sekarang juga, dia mau
menunggu sampai kapan?
Maka setelah memberi kode kepada Sim
Sin-pek, buru-buru dia berlalu dari situ.
Saat itulah Che Toa-ho baru berjalan
mendekat dan menjura berulang kali sambil minta maaf, dia mesti
berusaha mati-matian sebelum akhirnya Sun Siau-kiau menghentikan
isak tangisnya.
Sambil menampar wajah lelaki itu, kembali
Sun Siau-kiau berseru:
"Di kemudian hari apakah kau masih berani
menuduh aku berbuat tidak senonoh?"
"Tidak berani, tidak berani," sahut Che
Toa-ho dengan kepala tertunduk lesu.
Melihat tampang suaminya, Sun Siau-kiau pun
tertawa cekikikan.
"Dasar kura-kura tolol, memandang wajah adik
Gi Beng, kuampuni kesalahanmu kali ini."
Seng Cun-hau yang menyaksikan dari samping
hanya bisa menggelengkan kepala berulang kali sambil menghela napas,
dia benar-benar tidak tega menonton lebih lanjut, cepat dia
berpaling ke arah lain dan menatap wajah Gi Teng.
Cepat Gi Teng maju ke depan sambil menjura,
katanya:
"Siaute memang sedang mencari Toako, sayang
selama ini tidak kuketahui dimana letak kuil Sang-cing-koan,
untunglah kita bersua tanpa sengaja di sini...."
"Kedatangan kalian pun sungguh kebetulan,"
Seng Cun-hau menghela napas panjang, "kalau tidak, sekalipun
berhasil menemukan letak kuil Sang-cing-koan, belum tentu bisa
bertemu kami, karena kami sudah meninggalkan tempat itu sejak awal."
"Meninggalkan tempat itu?" tanya Gi Teng
keheranan, "mau pergi kemana kalian?"
"Tempat tinggal kami saat ini boleh dibilang
selalu berpindah-pindah, terkadang dalam sehari kami bisa tiga kali
berpindah tempat. Masih untung tidak banyak perbekalan yang kami
bawa, jadi begitu dia mengajak pergi... aaaai, kami pun segera
berangkat."
Gi Teng semakin keheranan, tak tahan
tanyanya:
"Kenapa begitu?"
Seng Cun-hau mendongakkan kepala menghela
napas panjang, sampai lama sekali dia tidak mampu mengucapkan
sepatah kata pun.
Sun Siau-kiau segera menimbrung:
"Lui-pian Lojin betul-betul seorang manusia
yang susah dilayani, dia kuatir ada orang lain mengintip rahasianya,
maka seringkah dia berpindah tempat tinggal, bahkan saban hari
memaksa kami melakukan patroli di sekitar tempat tinggalnya,
terkadang sewaktu kami balik lagi ke tempat semula, dia sudah angkat
kaki dan berpindah ke tempat lain."
Sekalipun wajahnya masih dibasahi air mata,
namun begitu bercerita, dia pun berbicara panjang lebar dengan
santainya.
Kontan Gi Teng berkerut kening, ujarnya:
"Aaaai, tidak nyana manusia ternama dan
terhormat macam Lui-pian Lojin pun selalu berpindah tempat macam
setan gentayangan ... dengan watak anehnya itu, mana mungkin kalian
bisa sabar menghadapinya?"
"Biar tidak tahan pun apa boleh buat, ibu
Seng-toako...."
Mendadak perempuan itu melirik Seng Cun-hau
sekejap, akhirnya dia pun urung melanjutkan perkataannya.
Rasa sedih yang luar biasa seketika
menyelimuti wajah Seng Cun-hau, dia mendongakkan kepala memandang
angkasa sambil menghela napas panjang, melihat itu Gi Teng pun tidak
banyak bicara, dia hanya tertunduk dengan sedih.
Tiba-tiba Gi Beng bertanya:
"Jika kita balik ke sana dan ternyata dia
sudah berpindah tempat lagi, dengan cara apa kita menemukan
jejaknya?"
"Itu bukan masalah besar," jawab Sun
Siau-kiau tertawa, "bukankah Suto Siau punya kode rahasia untuk
saling berhubungan? Ketika mencari jejaknya, kami pun memanfaatkan
kode rahasia itu untuk saling berhubungan dan menjalin kontak,
itulah sebab-nya kemana pun mereka pergi, kami pasti berhasil
menemukan kembali, adikku, mari, biar kuajak kau menengok keadaan
yang sebenarnya."
Tanpa membuang waktu dia segera menarik
tangan Gi Beng dan diajak pergi dari situ
Terpaksa Seng Cun-hau sekalian mengikutnya
di belakang.
Kini Che Toa-ho baru tahu, rupanya rombongan
itu bisa menemukan jejaknya karena sudah mengikuti tanda rahasia
yang secara diam-diam ditinggalkan Sim Sin-pek, dengan termangu
diawasinya bayangan punggung Sun Siau-kiau yang menjauh, untuk
sesaat dia tidak bisa mengatakan bagaimana perasaan hatinya kini....
Sejak itu persekutuan lima keluarga besar
dari Suto Siau dengan tujuh pedang pelangi pun sudah tertanam
sebutir bibit ketidak beruntungan yang membawa firasat buruk.