pendekar panji sakti 11

BAB 31

Masa Silam Yang Kelam.

 

Gelak tertawa di halaman luar menembus pintu gerbang dan bergema di ruang belakang.

Ruang belakang merupakan kamar pengantin, tentu saja tempat itu dihias dengan aneka ornamen berwarna merah, Sui Leng-kong dengan mahkota pengantinnya sedang duduk di tepi mejarias.

Perlengkapan maupun perabot yang tersedia di tempat itu tidak kalah dengan perlengkapan perabot yang dimiliki putri tunggal anak pejabat tinggi atau hartawan kaya raya, bahkan perhiasan yang dikenakan pengantin wanita pun merupakan perhiasan mahal yang indah dan menawan.

Tapi sayangnya, di balik kamar pengantin yang indah, megah dan penuh kemewahan itu justru diliputi suasana dingin, sepi dan kedukaan yang mendalam, bahkan wajah sang pengantin yang cantik pun diliputi perasaan sedih serta duka nestapa.

Para dayang yang dikirim keluarga Gi untuk melayani sang pengantin sudah diusir sejak tadi, sebab Sui Leng-kong tidak ingin orang lain mengetahui kepedihan hatinya, terlebih lagi menyaksikan air matanya berlinang.

Gelak tertawa di ruang depan bertambah nyaring, sebentar-sebentar Sui Leng-kong menghentakkan kakinya, sebentar keningnya berkerut-kerut, terkadang dia harus menyumbati telinganya dengan jari tangan....

Makin gembira suara gelak tertawa yang| bergema, semakin pedih perasaannya.

Dari wajah sedihnya yang penuh air mata, tiba-tiba terlintas sebuah tekad yang amat kuat, sesudah menghentakkan kembali kakinya, dia melepas mahkota dari kepalanya, kemudian mem bantingnya ke atas ranjang.

Dia mencoba bercermin, memandang paras muka sendiri yang pucat-pias, memandang sinar mata yang sayu, biarpun pupur dan gincu telah menghiasi wajahnya, namun tidak dapat menutupi kemurungan dan kesayuan dirinya.

Sambil menggigit bibir, akhirnya dia melepas pakaian pengantin yang dikenakan, mengenakan kembali pakaian sehari hari, lalu melompat ke depan jendela dan membukanya lebar-lebar

Cahaya senja memancar masuk dari luar jendela, selapis cahaya keemas-emasan menghiasi seluruhjagad.

Kembali dia menggigit bibir, tubuhnya sudah siap melompat keluar melalui daun jendela.......

Andaikata dia benar-benar melompat keluar saat ini, ibarat burung walet yang terlepas dari sangkar, dia bisa terbang bebas kemana-mana.

Tapi pada saat itulah kembali dia berkerut kening, tubuhnya yang sudah siap melompat keluar kembali diurungkan, dia balik kembali ke depan cermin, berdiri termangu-mangu sambil menghela napas panjang.

Lama kemudian, akhirnya nona itu mengambil keputusan, dengan jari tangannya yang gemetar dia memoles ujung jarinya dengan gincu, kemudian mulai meninggalkan pesan di atas cermin.

"Maafkan aku Toako, aku harus pergi".

Ujung jarinya kelihatan gemetar keras, goresan tulisannya kacau tidak lurus. Tapi tulisan berwarna merah yang tertera di atas cermin nampak begitu menyolok, nampak begitu segar membuat siapa pun yang lewat, pasti akan tertarik untuk memandangnya.

Maka sekali lagi dia mendekati jendela, sekali lagi bersiap melompat keluar....

Andaikata waktu itu dia benar-benar melompat keluar, tragedi yang memilukan hati pun segera akan berakhir.

Tapi... tampaknya nona itu tidak memiliki keberanian untuk melompat keluar, tiba-tiba dia menghela napas panjang dan kembali berdiri termangu.

Sepasang alis matanya berkerut kencang, air matanya jatuh bercucuran, dia merasa serba salah, perasaannya kalut, terjadi pertentangan batin yang hebat, dia tidak sanggup mengambil keputusan ... haruskah kabur? Atau jangan?

Dia benar-benar menderita, benar-benar tersiksa... dia tidak mampu memutuskan pilihannya....

Pada saat itulah dari luar pintu berkumandang lagi suara Im Kian yang harus dan lembut:

"Adikku, sudah selesai kau berdandan? Semua teman sedang menunggumu!"

Sui Leng-kong merasakan tubuhnya bergetar keras, perlahan dia membalikkan tubuh dan sahutnya dengan nada gemetar:

"Aku... aku...."

"Kalau kau sudah selesai berdandan, akan kusuruh mak comblang menjemputmu."

Sui Leng-kong mencoba memejamkan matanya sebentar, lalu menghela napas panjang, sahutnya:

"Suruh mereka menungguku di luar pintu...aku segera ke... keluar."

Diam-diam dia membesut air mata, lalu mengenakan kembali pakaian pengantin.

Sebelum meninggalkan ruangan, dengan sorot mata yang sayu dan pedih ditatapnya sekali lagi tulisan yang tertera di atas cermin ... tulisan itu kabur, tidak terlihat jelas, karena matanya sudah dipenuhi air mata.

Pada akhirnya dia tidak mampu mengambil keputusan untuk melakukan perlawanan, terpaksa dengan kepala tertunduk dia menerima pilihan nasib yang menimpa dirinya....

Wahai wanita lemah yang hidup di dunia ini, mengapa sebagian besar dari kalian bersikap begitu?

Diambilnya selembar saputangan dan dihapusnya tulisan yang tertera di atas cermin. Di atas saputangan yang putih segera ternoda titik merah bagaikan cucuran darah, seperti juga bunga tho yang berguguran....

Dia tidak ingin memandang lagi wajah sendiri yang sayu, tidak ingin menatap lagi sorot mata sendiri yang penuh kepedihan... segera teriaknya keras:

"Aku sudah siap, kalian boleh masuk!"

Seorang perempuan gemuk dengan wajah berseri segera mengayunkan langkahnya keluar ruangan, sambil bertepuk tangan serunya:

"Pengantin wanita telah datang."

Kembali gelak tertawa bergema memecah keheningan.

Buru-buru Gi Teng melompat bangun, membantu Cu Cau mengancingkan pakaiannya, kemudian katanya sambil tertawa:

"Hengtay, biarpun kau tidak suka terikat segala adat, paling  tidak sewaktu upacara perkawinan kau harus bersikap lebih sopan" "Aaah, kendorkan sedikit... baiklah, tiba-tiba Cu Cau menghela napas panjang.

Kembali semua orang dibuat tercengang, bukankah hari ini adalah hari baik, hari perkawinan? Mengapa pengantin lelaki malah menghela napas?

Kembali Cu Cau menghela napas, ujarnya sambil menggeleng:

"Hiante, terus terang aku... aku merasa... aku merasa sedikit gugup, bagiku melangsungkan upacara perkawinan baru pertama kali ini."

Kembali gelak tertawa bergema dalam ruangan, kini semua orang sudah tahu, putra kesayangan Kaisar malam inipun seorang manusia biasa, bahkan seorang manusia biasa yang menarik.

Sambil tertawa Sun Siau-kiau segera mengejek:

"Coba kalian dengar, betapa kasihannya orang ini... dia bilang baru pertama kali... seolah-olah baginya belum cukup satu kali saja... hahaha... betul, kalau sudah berulang kali, dia tidak bakal gugup."

Waktu itu Gi Beng sudah tertawa terpingkal-pingkal sampai terbungkuk tubuhnya, dengan napas terengah, serunya:

"Dalam sejarah hidup, upacara perkawinan hanya akan dilangsungkan satu kali, memangnya kau ingin dua kali?"

Merah jengah selembar wajah Cu Cau, buru-buru dia berdehem berulang kali.

"Hiante, bagaimana kalau menemani aku?"

"Jangan kuatir, segala sesuatunya biar Siaute yang mendampingi," hibur Gi Teng sambi tertawa.

"Aaah, kau tahu apa?" ejek Gi Beng, "sekali saja belum pernah."

"Itu namanya pengalaman, kalau sekarang sudah berpengalaman, maka tiba giliranku nanti, aku pun tidak bakal gugup."

Seraya berkata dia segera membimbing Cu Cau menuju ke mimbar upacara.

"Hahaha, tidak tahu malu, siapa yang mau kawin dengan bebek dungu macam kau... lain kali... huuuh, lain kalipun belum tentu tiba giliranmu."

"Betul, tepat sekali perkataan itu," sambung Sun Siau-kiau, "yang mendapat giliran berikutnya adalah nona cantik dari keluarga Gi, tentu saja bukan orang lain."

Gi Beng segera mengayunkan tangannya untuk memukul, tapi saking terpingkalnya dia tidak mampu mengayunkan tangannya lagi.

Sementara itu Im Kian sudah muncul sambil membimbing Sui Leng-kong yang mengenakan pakaian pengantin dengan kain penutup kepala berwarna merah.

"Bagus, bagus...." teriak Gi Teng sambil bertepuk tangan, "siapa yang akan bertindak sebagai saksi?"

Sun Siau-kiau segera mendorong suaminya, Che Toa-ho, sambil serunya, "Suruh dia saja, bayangkan kalau dia mengenakan topi tinggi, siapa lagi selain dia yang paling cocok menjadi saksi."

"Betul, memang dia yang paling cocok...."

Akhirnya Che Toa-ho tampil ke depan setelah di tarik dan didorong istrinya.

Che Toa-ho yang pada hari biasa selalu tampil suram dan dingin, ternyata hari ini kelihatan gembira sekali, sahutnya sambil tertawa:

"Baik, biar aku yang maju, kalian harap tenang, sekarang juga upacara perkawinan akan di mulai."

Dalam pada itu Lan hong kiam khek Liu Ji-uh yang selama ini mengamati terus wajah pengantin wanita, tiba-tiba menyela sambil tersenyum:

"Coba lihat penampilan si pengantin wanita, dapat dipastikan dia adalah seorang wanita cantik."

"Kalau bukan wanita cantik, mana pantas mendampingi saudara Cu sebagai seorang Enghiong luar biasa," jawab Liong Kian-sik si jago pedang naga hitam sambil tersenyum pula.

"Eeei, coba lihat," teriak Gi Beng tertawa geli, "aneh tidak, kalau Enci Liu tidak bicara, dia pun tidak bicara, begitu Enci Liu bicara, dia pun ikut-ikutan."

Sementara itu Che Toa-ho dengan suaranya yang parau telah memimpin upacara, teriaknya:

"Persembahan pertama, menyembah langit dan bumi!"

Cu Cau dan Sui Leng-kong sama sama berlutut....

Dengan suara setengah berbisik, tanya Liu Ji-uh:

"Semakin kulihat, wajah pengantin wanita ini makin cantik dan menawan, dia dari keluarga mana dan siapa namanya?"

Sementara Che Toa-ho telah berseru kembali:

"Menyembah leluhur."

Maka sepasang pengantin pun kembali menyembah.

Gi Beng yang sedang berdiri kesemsem baru sadar kembali setelah Liu Ji-uh menarik ujung bajunya, sambil tertawa sahutnya:

"Ooh, siapa pengantin wanita itu? Dia bernama Sui Leng-kong!"

Saat itu Che Toa-ho sudah berteriak lagi:

"Persembahan ketiga" Tiba-tiba dia berhenti berteriak karena bingung harus mengucapkan apa, saat itulah Seng Cun-hau telah menarik tangan Gi Beng sambil menghardik:

"Apa kau bilang? Siapa namanya?"

Gi Beng merasa terkejut, keheranan dan sedikit gugup setelah melihat perubahan wajah orang, sahutnya tergagap:

"Dia... dia bernama... bernama Sui Leng­kong...."

"Apa?" teriak Seng Cun-hau dengan tubuh gemetar, gumamnya, "Cu Cau... Sui Leng-kong....

Gi Beng semakin tertegun, dia berdiri terbelalak dengan mulut melongo, disangkanya Seng Cun-hau tiba-tiba terserang penyakit ayan atau kumat edannya.

Dalam pada itu Gi Teng telah membisikkan sesuatu ke telinga Che Toa-ho, maka sambil manggut-manggut, kembali Che Toa-ho berteriak:

"Persembahan ketiga...."

Tiba-tiba Seng Cun-hau membentak keras, dia sambar poci arak, kemudian dilemparkan ke arah sepasang pengantin itu.

"Braaaak...!", poci arak itu menimpa meja upacara dan sepasang lilin merah itu pun roboh ke tanah.

Che Toa-ho tertegun, perubahan yang sama sekali tidak terduga itu membuatnya berdiri melongo.

Terjadi kekalutan dan kegaduhan dalam ruang upacara, suasana jadi kalut dan dicekam ketidakpastian.

Dengan wajah berubah, semua yang hadir berteriak keras:

"Seng-toako... apa yang terjadi? Mengapa kau berbuat begitu?"

Gi Teng dan Gi Beng pun saling bertukar pandang, mereka berdua menyangka Seng Cun-hau sudah tahu kalau Im Kian adalah anggota perguruan Tay ki bun hingga ia mengumbar hawa amarahnya.

Dengan satu kali lompatan Cu Cau menerjang ke hadapan Seng Cun-hau, kemudian bentaknya gusar:

"Antara kau dan aku tidak terikat dendam sakit hati, mengapa kau mengacau pada hari perkawinanku ?"

Walaupun pada hari biasa dia selalu berjiwa besar dan tidak gampang tersinggung, akan tetapi pesta perkawinan ini merupakan satu-satunya kejadian besar bagi dirinya, satu kejadian yang sangat menyentuh perasaannya, hingga tidak heran paras mukanya berubah hebat ketika melihat ada orang datang mengacau secara tiba-tiba.

Paras muka Seng Cun-hau yang dasarnya sudah merah, kini berubah semakin merah, jeritnya:

"Aku... aku...."

Kalau pada hari biasa dia selalu tegar dan tenang, ibarat ada gunung yang ambruk di hadapannya pun paras mukanya tidak berubah, sekarang dia begitu panik, dia malah tidak mampu mengucapkan separah kata pun.

Perubahan sikap semacam ini segera mengundang rasa tercengang dan bingung si Naga hitam, Burung hong biru serta Rembulan hijau.

Im Kian telah memburu maju, paras mukanya kelihatan ikut berubah.

"Seng Cun-hau!" terdengar Cu Cau membentak lagi, "sebenarnya apa tujuan perbuatanmu hari ini? Kalau tidak segera kau jelaskan, aku... aku akan...."

"Mau apa kau?" tantang Seng Cun-hau yang nampaknya dicekam rasa gusar yang luar biasa.

Bagaimanapun juga dia terhitung seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, tentu saja ia tak tahan diperlakukan orang secara kasar, apalagi dalam keadaan naik darah, sekalipun ada alasan yang kuat pun dia enggan mengatakan begitu saja.

Hawa amarah yang berkobar dalam benak Cu Cau makin memuncak, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

"Hahaha, bagus, bagus, kalau memang begitu, biar hari ini kuberi pelajaran kepadamu!"

Di tengah gelak tertawa seram yang memekakkan telinga, secara perlahan dan lembut dia lepaskan sebuah pukulan.

Serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar itu meski kelihatannya halus dan lembut, namun terkandung perubahan yang tiada taranya, jelas merupakan sebuah jurus pamungkas yang menakutkan.

Tanpa berpikir panjang Seng Cun-hau menyambut datangnya pukulan itu, tapi sayang kepandaian silat yang dimiliki orang ini selisih kelewat jauh, di bawah benturan angin pukulan, kelihatannya si jago pedang berhati merah segera akan roboh bersimbah darah.

Seandainya terjadi keadaan seperti ini, dapat dipastikan tujuh jago pedang pelangi tidak bisa berpeluk tangan, bukan saja akan melibatkan diri dalam pertarungan, bahkan kesalah pahaman yang terjadi mungkin tak akan terhapus untuk selamanya.

Sebab di dunia saat ini hanya Seng Cun-hau seorang yang mengetahui rahasia di balik seluk beluk peristiwa itu, seandainya dia tewas, besar kemungkinan tujuh jago pedang pelangi pun akan turut punah dalam pertarungan hari ini, otomatis dalam dunia persilatan kembali akan terjadi pergolakan yang luar biasa, Cu Cau maupun Sui Leng-kong pun akan hidup dalam penderitaan dan siksaan batin... akibat dari peristiwa ini sungguh di luar akal sehat.

Terdengar tujuh jago pedang pelangi menjerit bersama, tidak sempat bagi mereka untuk melakukan pertolongan.

Untung Im Kian sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, begitu mendengar Cu Cau tertawa seram, dia sudah menduga akan terjadi perubahan di luar dugaan.

Belum lagi pukulan dari Cu Cau sempat dilontarkan, Im Kian telah merangkul tubuhnya kuat-kuat sembari berteriak keras:

"Harap kalian berdua jangan berkelahi dulu... harap jangan berkelahi dulu."

"Criiing!", terdengar suara gemerincingan nyaring, si jago pedang naga hitam Liong Kian-sik telah melolos pedangnya dari sarung dan berkata dingin:

"Seng-toako, apapun alasanmu, sekarang sudah tidak perlu kau jelaskan lagi."

Orang ini jarang berbicara di waktu biasa, tapi begitu buka suara, setiap perkataannya sangat berbobot.

Biarpun hanya beberapa patah kata yang singkat, namun dia sudah menjelaskan posisinya, yakni baik Seng Cun-hau benar atau salah dengan perbuatannya hari ini, asal rekannya turun tangan, maka dia akan turut melolos pedangnya.

Lan hong kiam khek Liu Ji-uh ikut melesat maju ke depan dan berdiri di belakang suaminya, walaupun dia tak mengucapkan sepatah kata pun, namun jari tangannya yang halus telah menggenggam gagang pedangnya.

Ui koan kiam khek Che Toa-ho ikut membentak nyaring:

"Siapa saja yang berani mengusik selembar bulu Seng-toako, aku ... aku ...."

Tapi begitu melirik wajah Cu Cau sekejap, seketika itu juga dia menghentikan perkataannya.

Sejujurnya, dalam hati kecilnya dia menaruh perasaan jeri terhadap kemampuan silat yang dimiliki Cu Cau, tapi pada saat dan situasi seperti ini, tidak memberi kesempatan baginya untuk memilih, akhirnya sambil menghentakkan kakinya berulang kali dia melanjutkan:

"Aku akan mengadu jiwa dengannya."

Bi gwe kiam khek Sun Siau-kiau yang masih dipengaruhi arak malah sudah mencabut pedangnya sambil berteriak:

"Gi Beng, Gi Teng, apakah kalian berdua hanya akan menjadi penonton?"

Tubuhnya maju menerjang meja, kemudian mengobrak-abrik cawan dan hidangan yang tertata di atas meja.

Menyaksikan semua ini Cu Cau kembali mendongakkan kepalanya sambil tertawa seram.

"Bagus, bagus sekali," teriaknya, "jadi kalian ingin mengandalkan jumlah banyak untuk mengembut aku? Bagus, hari ini akan kusaksikan siapa yang lebih tangguh antara aku dengan tujuh jago pedang pelangi?"

"Mau menang kalah, mau mati hidup, semuanya bukan masalah," tukas Liong Kian-sik ketus.

Pada hari biasa dia kelihatan paling dingin dan hambar, padahal orang ini dipenuhi darah panas yang bergolak, begitu selesai mengucapkan perkataan itu, suasana pembunuhan pun seketika menyelimuti seluruh ruangan.

Im Kian berusaha mencegah dan menghalangi niat orang-orang itu, namun dalam keadaan seperti ini, siapa pun enggan menuruti perkataannya, semua orang sudah dipengaruhi emosi, mata mereka sudah berubah jadi merah, kelihatannya pertempuran tak bisa dihindari lagi.

Mendadak terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat, kemudian terdengar dia berseru:

"Bila kalian ingin turun tangan, bunuhlah aku terlebih dulu!"

Ternyata orang itu tidak lain adalah Sui Leng­kong, sang pengantin wanita.

Saat itu kain kerudung mukanya telah ditanggalkan hingga nampak jelas paras mukanya yang pucat-pias bagai mayat, tapi justru karena wajahnya nampak pucat, kecantikan wajahnya kelihatan semakin menggetar sukma.

Entah karena terpengaruh oleh kecantikan wajahnya ataukah terpengaruh oleh nada bicaranya yang dingin menggidikkan, tanpa sadar suasana berubah menjadi tenang kembali.

Kembali Sui Leng-kong berpaling ke arah Cu Cau, bujuknya lembut:

"Bagaimana kalau kau pun duduk dulu?"

Di  balik suaranya yang lembut  seolah terkandung semacam daya pengaruh yang sukar ditentang, membuat Cu Cau, si jagoan yang tangguh ini tanpa terasa duduk kembali.

Kembali Sui Leng-kong menghela napas sedih, katanya:

"Jago pedang berhati merah Seng Cun-hau bukan orang gegabah yang tidak tahu sopan santun, aku yakin perbuatannya hari ini pasti didasari satu alasan yang kuat, bukankah begitu?"

Menyaksikan sorot mata si nona yang sayu dan penuh kesedihan, tanpa terasa hawa amarah Seng Cun-hau padam sebagian, dia mendongak-kan kepala dan menghela napas panjang, sahutnya:

"Benar, aku terpaksa berbuat begitu karena mempunyai alasan yang kuat."

"Bersediakah kau untuk menjelaskan alasannya?"

"Aku... aku...."

Kalau dilihat dari wajahnya yang dicekam pula oleh perasaan sedih dan duka, dapat diketahui alasan yang hendak dikemukakan sebetulnya merupakan alasan yang tak ingin diungkap, namun dia pun tak mampu menampik permintaan Sui Leng­kong.

Paras mukanya sebentar menghijau sebentar memerah, akhirnya setelah menghentak-kan kakinya berulang kali, dia pun berkata:

"Sebenarnya aku merasa amat sedih untuk mengungkap rahasia ini, tapi...."

Kembali dia mendongakkan kepala sambil menghela napas panjang, lanjutnya:

"Tapi kalau tidak kuungkap, maka nona Sui dan Cu... Cu-tayhiap pasti akan menyesal sepanjang hidup."

Berubah paras muka semua orang setelah mendengar perkataan itu.

Dengan wajah berubah, Im Kian segera berseru:

"Kalau memang begitu, harap Hengtay jelaskan alasannya, kami akan berterima kasih sekali atas kesediaanmu itu."

Dengan wajah serius, Seng Cun-hau berkata:

"Siapa pun boleh menikah dengan nona Sui, tapi Cu-tayhiap ... kau tidak boleh menikah dengannya."

"Omong kosong, memangnya kenapa?" tidak lahan Cu Cau membentak nyaring.

"Karena ... karena ...." sambil menahan amarahnya, Seng Cun-hau menghela napas panjang:

"Aaaai, sebelum kujelaskan alasannya, lebih baik dengarkan dulu ceritaku."

"Baik, berceritalah, kami semua akan mendengarkan dengan tenang."

Dengan kening berkerut sebenarnya Cu Cau ingin membantah, namun setelah mendengar ucapan Sui Leng-kong yang lembut, mau tidak mau terpaksa dia harus menahan diri dan ikut mendengarkan.

Lama sekali Seng Cun-hau tertunduk sedih, tampaknya dia sedang berpikir bagaimana harus mulai dengan ceritanya, kejadian itu kelewat membuatnya sedih hingga untuk sesaat dia merasa tidak sanggup untuk berbicara.

Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, akhirnya dia pun mulai mengisahkan cerita yang memedihkan hati itu.

"Dahulu ada... dahulu ada seorang yang tergila-gila belajar silat sejak kecil, tapi dia hanya seorang manusia biasa, manusia dengan bakat apa adanya, maka dari itu walaupun dia berlatih giat siang dan malam, namun hasil yang diperoleh tidak seberapa. Ibu orang itu sangat berharap putranya bisa berhasil, bisa menjadi seekor naga sakti, dia selalu memandang putranya itu bagai manusia berbakat alam, dia berharap suatu saat nanti putranya bisa menjadi seorang pendekar pedang kenamaan.

"Orang itu tidak tega menyaksikan ibunya kecewa, sementara dia sendiri justru tidak mampu melatih diri dengan kepandaian silat yang tangguh, bisa dibayangkan betapa sedih dan tersiksanya batin orang itu, dalam situasi tertekan inilah suatu hari dia memutuskan untuk melatih ilmu Toan­ coat sin kang (ilmu sakti putus keturunan) yang belum pernah ada yang berani melatihnya."

Baru saja dia bercerita sampai di situ, semua orang sudah tidak sanggup menahan diri lagi, teriaknya hampir berbareng:

"Toan coat sin kang? Besar... besar amat nyali orang ini, berani betul dia melatih ilmu pemutus keturunan itu."

Sebagaimana diketahui, hampir semua yang hadir saat ini merupakan jago-jago tangguh dari dunia persilatan, mereka semua tahu akan asal-usul ilmu Toan coat sin kang ini, mereka pun sadar bila seseorang berlatih ilmu sakti ini, maka dia akan kehilangan kemampuannya untuk meneruskan keturunan, bukan cuma begitu, salah-salah bisa cau hwe jip mo (jalan api menuju neraka) yang berakibat kematian.

Oleh sebab itu walaupun tidak sedikit umat persilatan yang mengetahui cara berlatih Toan coat sin kang, namun belum ada seorang manusia pun yang rela mengorbankan kebahagiaan hidupnya dengan berlatih ilmu itu.

Im Kian menghela napas sedih, ujarnya: "Terkadang cinta seorang ibu yang berlebihan malah akan mencelakakan putranya sendiri, bila orang ini bukan merasa didesak ibunya, mana mungkin dia rela melatih Toan coat sin kang yang membuat dirinya impoten sehingga tidak bisa menghasilkan keturunan!"

"Setelah mengorbankan kejantanannya, apakah orang itu berhasil melatih ilmu silatnya sehingga mencapai tingkat kesempurnaan?" tanya Gi Beng dengan nada gemetar.

Seng Cun-hau termenung sedih beberapa saat lamanya, kemudian baru melanjutkan:

"Bakat yang dimiliki orang ini benar-benar bebal dan goblok, biarpun sudah berlatih tekun hampir tiga tahun lamanya, namun hasilnya tetap nihil... tapi... tapi yang jelas dia sudah mengorbankan kejantanannya, sudah mengorban­kan kemampuannya untuk menghasilkan keturunan. Ketika tanpa disengaja ibunya mengetahui akan kejadian ini, dalam sedih bercampur kagetnya, disamping dia menggembleng putranya dengan ilmu silat, dia pun buru-buru mengawinkan putranya."

"Waah... bukankah hal ini akan menyengsarakan perempuan itu ...." teriak Gi Beng tanpa sadar, tapi begitu tahu dia sudah salah bicara, buru-buru gadis ini membungkam dengan pipi berubah merah.

Kembali Seng Cun-hau menghela napas panjang.

"Walaupun orang itu tidak ingin merusak masa depan dan kebahagiaan seorang wanita dengan tubuhnya yang cacad, akan tetapi dia pun tidak berani membangkang perintah ibunya. Sebab ibunya selalu menyimpan secercah harapan. Namun... sesudah perkawinan berjalan dua tahun lamanya, bukan saja mereka tidak berputra, bahkan istrinya makin lama semakin layu dan murung.

"Waktu itu perasaan orang itu semakin tertekan dan tersiksa, tapi harapan sang ibu terhadap putranya belum pupus, dia justru melimpahkan tanggung jawab kemandulan itu pada menantunya."

Semua orang menjerit tertahan, Gi Beng pun melelehkan air mata sambil bergumam:

"Kasihan benar perempuan itu, ternyata dia harus mengalami kejadian yang amat tragis!"

Sepasang mata Sun Siau-kiau pun ikut berubah jadi merah, sembari mengucek mata, dengan gemas dia mengumpat:

"Dasar kaum lelaki mau menang sendiri, yang selalu sengsara adalah kita kaum wanita."

"Bee... belum tentu," tukas Che Toa-ho, "ada juga wanita yang...."

"Siapa suruh kau ikut bicara," bentak Sun Siau-kiau sambil mendelik, "bagaimana nasib selanjutnya wanita itu? Apakah dia pun diceraikan oleh mertuanya?"

Raut muka Seng Cun-hau dicekam kesedih­an yang luar biasa, katanya dengan sedih, "Mereka adalah keluarga persilatan kenamaan dalam dunia persilatan, mana mungkin bisa kawin cerai seenaknya, memangnya tidak kuatir ditertawakan sahabat Kangouw?"

Dengan gemas Gi Beng berseru: "Dia pasti kuatir menantunya menguarkan sebab musabab kejadian itu sehingga...."

Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba dengan wajah berubah serunya:

"Dalam situasi seperti ini, jangan-jangan... jangan-jangan ibu orang itu telah membunuh menantunya?"

Seng Cun-hau membungkam diri dengan wajah semakin sedih, walau tidak menjawab, namun dia tidak menyangkal akan hal itu.

Sambil menggertak gigi menahan emosi, jerit Sun Siau-kiau, "Apakah dia berbuat begitu agar putranya bisa kawin lagi?"

"Benar...." Seng Cun-hau tertunduk lesu.

"Apa? Setelah mencelakai satu orang, dia masih ingin mencelakai seorang lagi...." teriak Sun Cun-hau terperanjat, "bila putranya masih punya lengsim, seharusnya dia tolak perkawinan itu."

"Tapi orang itu adalah seorang anak berbakti," ucap Seng Cun-hau pelan, "jangankan Ibunya hanya minta dia menikah lagi, andaikata dia diharuskan mati pun akan dia akan lakukan seketika."

"Apakah berbakti macam begini tidak sedikit kelewatan?" tanya Im Kian sambil menghela napas

"Tiada orang tua tiada dunia," kata Seng Cun-hau serius, "budi yang diberikan ibu kepada kita tiada taranya, sebagai anaknya apakah kita tega membangkang perintahnya?"

Cu Cau tidak kuasa menahan diri lagi, tiba-tiba teriaknya:

"Sekalipun berbakti, jelas cara berbakti semacam ini adalah tindakan tolol, setia secara tolol, berbakti secara tolol bukan perbuatan seorang lelaki sejati, sekalipun orang... orang itu menuruti keinginan ibunya, apakah dia lupa kalau perbuatannya justru telah mencelakai nasib seorang wanita? Aku rasa... bukan saja perbuatan semacam ini kelewat tolol, bahkan... bahkan konyol."

Semakin berbicara dia semakin emosi, pada akhirnya orang ini mulai mencaci-maki habis-habisan.

Dengan sedih Sui Leng-kong berkata:

"Sekalipun cara berbakti yang dilakukan orang ini sedikit... sedikit kelewatan, namun aku tetap mengagumi orang berbakti macam dia."

Dengan penuh rasa terima kasih Seng Cun-hau melirik sekejap ke arahnya, berbeda dengan Cu Cau, dia tunjukkan sikap yang lebih gusar, dia tidak habis mengerti kenapa Sui Leng-kong selalu membantu Seng Cun-hau.

Tentu saja dia tidak menyangka kalau hubungan antara Sui Leng-kong dan Seng Cun-hau sebenarnya amat pelik dan unik... ibu Sui Leng­kong tidak lain adalah bini Seng Cun-hau.

Sekalipun dalam hati Sui Leng-kong menaruh rasa jengkel terhadap Seng Cun-hau karena dia telah mencelakai kehidupan ibunya, namun dia pun menaruh semacam perasaan dekat yang berbeda dengan perasaannya terhadap orang lain.

Perasaan itu sangat sensitif dan pelik, yang tak mungkin bisa dipahami orang lain....

Akhirnya Seng Cun-hau melanjutkan kembali kisahnya:

"Setelah menikah untuk kedua kalinya, orang itu kuatir ibunya kembali... aaaai, maka dia pun selalu berusaha melindunginya, setiap saat selalu mengintainya, namun betapapun sayang dan perhatiannya orang itu, apa yang mampu dia berikan masih belum sepadan dengan hilangnya masa remaja perempuan itu... dia tidak pernah mampu memberi kepuasan kepadanya, maka lambat-laun kondisi istrinya pun berubah makin murung dan tersiksa."

Ketika menyinggung soal "kepuasan", sebenarnya dia sudah menggunakan perkataan yang paling halus, namun tidak urung merah jengah juga wajah Liu Ji-uh, Gi Beng dan Sun Siau-kiau. Dengan jengkel Sun Siau-kiau berseru: "Mungkin perlindungan yang dilakukan orang itu terhadap bininya sama seperti dia sedang melindungi sesuatu benda berharga atau seekor hinatang peliharaan, pasti tidak ada kasih sayang, tidak ada cumbu rayu, bukankah begitu?"

Bagaimanapun juga dia adalah seorang wanita yang telah menikah, dia cukup memahami kebutuhan seorang wanita sebagai istri seseorang, kalau bukan disebabkan perasaan tidak puas, mustahil wajah perempuan itu akan murung dan berubah sayu.

Seng Cun-hau termenung beberapa saat, setelah menghela napas panjang, sahutnya:

"Benar, oleh karena orang itu menderita cacad, merasa rendah diri dan kehilangan rasa percaya diri, dia tidak pernah bercumbu rayu dengan bininya, yang dilakukan hanya melindunginya dari kejauhan.

"Dua tahun berlalu tanpa terjadi sesuatu apapun, suatu hari musuh besar kelompok keluarga itu datang menyerang secara besar-besaran, pertempuran sengit pun segera berkobar.

"Menantu orang itu berasal dari keturunan keluarga persilatan kenamaan, ilmu silatnya amat tangguh, apalagi sepasang Wan yo kiam andalan­nya boleh dibilang jarang ada yang mampu menandingi. Oleh karena keluarga besar diserang orang, tentu saja sebagai menantu dia tidak bisa berpeluk tangan saja, maka dengan mengandalkan sepasang Wan yo kiam, dia bertarung habis-habisan melawan seorang pemuda dari pihak musuh.

"Walaupun sepanjang pertempuran ber­langsung orang itu sangat menguatirkan keselamatan bininya, karena dia tahu bininya belum banyak pengalaman, namun saat itu dia sendiri sedang dikerubut dua orang musuh sehingga untuk sesaat tidak mampu mengurusi orang lain.

"Betul orang itu memiliki bakat yang pas-pasan sehingga kungfunya tidak mampu mencapai kesempurnaan, namun ilmu silat yang dipelajari­nya waktu itu sudah cukup matang, sayang ilmu pedangnya yang terbilang cukup mantap tapi kehilangan kemampuannya dalam hal ganas, tepat dan telengas. Dalam keadaan begini, dia hanya mampu bertahan dengan susah payah, hanya mampu mempertahan diri sendiri.

"Untunglah di saat yang kritis, teman-teman dari  persekutuan nya datang membantu, sepak terjang kawanan musuh besar itu sungguh aneh dan cara kerjanya juga unik, ketika mengetahui gempurannya tidak berhasil, mereka segera mengundurkan diri secara serentak. Pada saat itulah orang itu mengetahui bininya telah lenyap dari arena pertarungan, dalam cemas dan gelisahnya, orang itupun melakukan pencarian.

"Dia tidak ingin mengganggu ketenangan orang lain, sebab dia cukup tahu ibunya menaruh perasaan curiga terhadap menantunya, kalau dia sampai tahu menantunya telah hilang, bisa dipastikan dia akan melarang orang melakukan pencarian.

"Begitulah, dengan mengandalkan kekuatan sendiri yang amat terbatas, setengah jam kemudian dia baru berhasil sampai di luar sebuah hutan bunga tho... ya, sebuah hutan bunga tho...."

Bicara sampai di sini, paras mukanya nampak lebih sedih dan tertekan, malah nada suaranya terdengar ikut gemetaran, hal ini memperlihatkan kalau kisah lama yang akan diceritakan merupakan satu kejadian besar yang hingga kini pun masih menusuk perasaannya.

Setelah lewat beberapa saat, dia baru melanjutkan kembali kisahnya dengan suara perlahan:

"Hari itu cahaya rembulan menyinari seluruh angkasa, membiaskan bayangan pohon dan menyinari putih bunga yang berguguran... dalam suasana seperti itulah dari balik pepohonan bunga tho justru terdengar... terdengar suara rintihan yang menggetar sukma, biarpun orang itu bukan seorang Kuncu, dia pun tidak termasuk Siaujin, begitu mendengar suara yang membetot sukma, seketika dia menghentikan langkahnya, belum sempat membalikkan badan, suara rintihan di balik pepohonan itu telah berubah menjadi suara panggilan dan teriakan."

Sesungguhnya kisah yang dia ceritakan merupakan satu kejadian yang amat sensitif dan memalukan, tapi justru dia sampaikan dengan nada penuh kesedihan dan amarah yang meluap.

Sementara itu kawanan wanita yang hadir di situ meski wajahnya telah berubah menjadi merah lantaran malu, tidak urung perhatian mereka bersedot juga oleh gaya bicaranya yang penuh emosi itu.

Terdengar Seng Cun-hau berkisah kembali:

"Begitu mendengar suara teriakan itu, orang tadi segera mengenalinya sebagai suara teriakan istrinya, sementara nama yang dipanggil bininya justru adalah nama sang pemuda musuh keluarganya."

Mendengar sampai di sini, kembali semua orang menjerit kaget, kalau sebelumnya rasa simpati mereka tertuju pada sang istri orang itu, maka rasa simpati itu kini beralih kepada orang yang bersangkutan.

Dengan wajah mengejang keras dan suara makin gemetar, Seng Cun-hau bercerita lagi:

"Dalam terkejut, sedih dan gusarnya, orang itu siap menerjang masuk ke dalam hutan bunga tho, tapi baru melangkah tidak seberapa jauh, rasa sedih dan gusarnya telah berubah menjadi rasa penyesalan. Dia sadar semua peristiwa yang terjadi tidak terlepas dari kesalahan sendiri, sekalipun tindakan yang dilakukan istrinya juga salah, akan tetapi bukan seratus persen kesalahannya seorang, karena sang suami pun sebenarnya ikut bertanggung jawab. Berpikir sampai di situ, dia pun merasakan seluruh tubuhnya menjadi lemas, dia tidak punya keberanian lagi untuk menerjang masuk ke dalam hutan, dia malah tergeletak diluar hutan dan tidak sanggup merangkak bangun lagi."

Perlahan-lahan sorot matanya dialihkan keluar jendela, paras mukanya tampak begitu duka, tertekan dan tua.

Keheningan mencekam seluruh ruangan, semua yang hadir ikut merasakan tekanan batin yang berat.

Lama kemudian Sun Siau-kiau baru menghela napas panjang, gumamnya:

"Sekarang aku baru tahu, walaupun bininya menderita, namun dia sendiri jauh lebih menderita, jauh lebih tersiksa."

Setelah menghela napas sedih, lanjutnya:

"Dalam situasi dan keadaan seperti itupun dia masih memikirkan kepentingan orang lain, hal ini membuktikan kebesaran jiwa serta kebajikan hatinya sukar ditandingi oleh siapa pun."

Diam-diam Gi Beng menyeka air matanya, dengan suara parau dia bertanya: "Bagaimana selanjutnya?"

"Walaupun dia merasa penat, walaupun hatinya tersiksa, namun tanpa disadari pandangan matanya tetap dialihkan ke balik hutan, menyaksikan pemandangan di situ, begitu dilihat... dia pun terperangah.

"Ternyata, walaupun nama yang disebut bininya adalah nama sang pemuda musuh besarnya, tapi orang yang sedang begituan dengan bininya... ternyata bukan pemuda itu...."

"Lantas siapa?" tanpa sadar serentak semua orang bertanya.

"Orang yang sedang begituan dengan bininya ternyata adalah seorang tokoh silat maha sakti yang namanya amat tersohor dan sudah dikenal sebagai jagoan romantis.

"Sekalipun usia orang itu sudah terhitung lanjut, namun nama serta kedudukannya tidak tertandingi oleh siapa pun. Orang itu bisa mengenali wajahnya karena di masa mudanya dulu, suatu ketika dia pernah bersua dengan tokoh sakti ini dan kesannya sangat mendalam, karena itu meski sudah berpisah lama, dia masih dapat mengenalinya dalam sekilas pandang. Begitu tahu siapakah tokoh sakti itu, tidak terlukiskan lagi rasa kaget dan tercengangnya orang itu.

"Dia betul-betul tidak habis mengerti kenapa sang pemuda bisa berubah jadi tokoh silat itu, dia pun tidak bisa menduga perubahan apa yang sebenarnya terjadi di situ, untuk sesaat dia malah tertegun. Menanti sadar kembali dari lamunan, dilihatnya tokoh silat itu seolah teringat akan satu hal yang penting, secara tiba-tiba dia pergi dari situ dengan kecepatan luar biasa.

"Perasaan orang itu amat kalut, sedih, gusar, malu dan tercengang bercampur aduk jadi satu, dia tidak bisa merasakan kejut atau getirnya kehidupan waktu itu. Melihat bininya masih tergeletak di tanah dalam keadaan bugil, melihat dia seakan tertidur begitu nyenyak... aaaaai! Perasaan cinta dan benci bercampur aduk dalam benak orang itu, tiba-tiba saja dia melompat bangun dan menyerbu masuk ke dalam hutan...."

"Apakah dia... dia bunuh istrinya?" Gi Bengmenjerit kaget.

Seng Cun-hau menghela napas sedih.

"Waktu itu sebenarnya dia memang ingin menjagal istrinya, tapi ... di saat itulah dalam mimpinya sang istri mengigau, memanggil nama suaminya. Panggilan itu meski lirih namun bagi pendengaran orang itu justru bagaikan guntur yang menggelegar di siang hari bolong.

"Saat itulah dia baru sadar, sesungguhnya sang istri masih amat mencintainya, hanya saja..­.karena dia tidak mampu, karena dia impoten, memang tidak sepantasnya dia menyalahkan perbuatan istrinya."

Ketika bicara sampai di situ, mendadak dia menggebrak meja keras-keras, menghancurkan cawan, membuat piring beterbangan, tapi dia tidak peduli, dia membiarkan pecahan cawan melukai tangannya, membiarkan darah segar meleleh keluar dengan derasnya.

Tapi dia seakan tidak merasa sakit, setelah menghela napas panjang dan tertunduk sedih, perlahan lanjutnya:

"Waktu itu dia merasa, kalau toh diri sendiri sudah menanggung begitu besar kesalahan dan dosa, mengapa dia tidak berusaha memaafkan istrinya yang telah serong? Maka tanpa mengucap­kan sepatah kata pun dia bopong bininya dan diajak pulang, sejak kejadian itu dia tidak pernah lagi mengungkap peristiwa itu kepada siapa pun."

Semua orang terbungkam dalam seribu bahasa, para wanita melelehkan air mata sedih sementara Sui Leng-kong sudah terisak dengan pedihnya, sebab dari kisah cerita itu dia sudah dapat menebak apa yang telah terjadi.

"Ternyata... ternyata orang itu memang seorang lelaki sejati ...." puji Sun Siau-kiau sambil menyeka air mata.

"Sudah selesai ceritanya?" tanya Gi Beng pula.

Dengan air mata membasahi pipi, Seng Cun-hau melanjutkan:

"Sebetulnya aku tidak ingin mengungkit kembali kejadian masa lampau, aku ingin peristiwa itu kukubur selamanya dalam dasar hatiku, siapa tahu lewat beberapa bulan kemudian kujumpai... kujumpai dia... ternyata dia sudah hamil"

Sampai pada akhir cerita, dia tidak bisa menyimpan rahasia lagi dan meluncur kata "aku", begitu sadar akan kesalahan ini, tubuhnya bergetar keras dan seketika terbungkam kembali.

Padahal sekalipun tidak dia sebut pun orang lain sudah menduga akan hal itu, semenjak tadi sorot mata penuh simpati sudah terpancar dari wajah semua orang.

Seng Cun-hau memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya dengan sedih:

"Aku rasa tidak perlu menjelaskan lagi siapakah orang itu, aku yakin kalian sudah bisa menebaknya sendiri."

Semua orang menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya, siapa pun merasa tidak tega untuk memandang wajahnya yang sedih, hanya Cu Cau seorang tetap duduk tidak bergerak, wajahnya menunjukkan pula kepedihan yang luar biasa.

Tiba-tiba Gi Beng berseru:

"Tapi... tapi... apa hubungannya cerita itu dengan Enci Sui?"

"Tahukah kau siapa biniku itu?" tanya Seng Cun-hau.

Gi Beng tertegun, lalu menggeleng.

"Aku tidak tahu...."

"Biniku tidak lain adalah ibu Sui Leng-kong, waktu itu benih yang ada dalam rahimnya tidak lain adalah Sui Leng-kong...."

Sekujur tubuh Sui Leng-kong bergetar keras, sambil mengeluh dia jatuh tidak sadarkan diri.

Dengan air mata bercucuran, cepat Gi Beng memayang tubuhnya.

Sun Siau-kiau kelihatan agak ragu, bisiknya pula:

"Tapi... apa hubungannya dengan Cu ...."

Dia melirik Cu Cau sekejap, mendadak seperti teringat akan sesuatu, jeritnya terperanjat:

"Jangan-jangan... tokoh silat itu adalah... adalah...."

Ketika berpaling lagi ke arah Cu Cau, dia saksikan sepasang mata lelaki itu telah berubah jadi merah darah, tubuhnya gemetar keras, mimik mukanya kelihatan sangat menakutkan.

Sun Siau-kiau terkesiap, buru-buru dia membungkam diri.

"Benar," sahut Seng Cun-hau, "tokoh persilatan itu tidak lain adalah Kaisar malam, jadi Sui Leng-kong sebenarnya saudara kandung Cu Cau, karena itu mereka tidak bisa menikah."

Biarpun semua orang sudah menduga akan kenyataan itu, tidak urung hati mereka bergetar juga setelah mendengar pengakuan itu, Sun Siau-kiau buru-buru memejamkan matanya, dia kuatir dirinya ikut jatuh semaput lantaran kelewat sedih.

Mendadak terdengar Cu Cau berpekik nyaring. Suaranya keras bagai pekikan naga, membuat seluruh jagad bergetar, membuat daun jendela dan ruangan serasa bergoncang keras.

Belum habis dia berpekik, tubuhnya sudah melambung ke udara dan menerobos keluar melalui jendela, hanya dalam dua kali kilatan cahaya saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Sebetulnya Im Kian ingin menyusul, tapi keadaan sudah terlambat, terpaksa dia hanya bisa menjejakkan kakinya berulang kali sambil menghela napas panjang.

Suasana hening mencekam dalam ruangan, tiada orang yang mampu tersenyum lagi, helaan napas, lelehan air mata hampir menyelimuti setiap orang, pondok Cay-seng yang semula dipenuhi gelak tertawa, kini serasa tercekam dalam kemurungan dan kedukaan yang mendalam.

Dengan sedih Seng Cun-hau menundukkan kepala.

"Aku pantas mati," bisiknya, "aku ...."

"Kau tidak perlu menyesal," tukas Im Kian sambil menghela napas pula, "masih untung Hengtay datang tepat waktu sehingga kesalahan tragis tidak sampai terjadi, budi kebaikan ini... aaaai! Terimalah hormatku sebagai tanda terima kasih yang tidak terhingga."

Habis berkata dia benar-benar menjatuhkan diri berlutut.

Buru-buru Seng Cun-hau ikut berlutut, cucuran air mata makin deras membasahi pipinya.

Semua orang yang menyaksikan kejadian inipun tidak sanggup mengendalikan diri, helaan napas sedih kembali bergema memecah keheningan.

Coba kalau Seng Cun-hau tidak membuat keonaran tanpa sengaja, mungkin saat itu nasi sudah menjadi bubur, keadaan yang lebih tragis pun mungkin sudah terjadi.

Bagaimanapun juga kejadian ini merupakan satu keberuntungan di tengah ketidak beruntungan, sepantasnya hal ini dirayakan dengan gembira, tapi siapa pula yang bisa bergembira dalam situasi seperti ini?

Untuk beberapa saat semua orang tidak tahu harus sedih atau gembira, mereka hanya bisa berdiri mematung dengan wajah termenung.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Sun Siau-kiau tersadar kembali dari lamunannya, dia tarik ujung baju Che Toa-ho dan bisiknya:

"Mari kita pergi!"

"Pergi?" bisik Che Toa-ho bingung.

"Kalau tidak pergi... aku bisa gila."

Che Toa-ho memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian gumamnya:

"Betul, lebih baik pergi dari sini."

Dalam pada itu si jago pedang naga hitam Liong Kian-sik telah membangunkan Seng Cun-hau dan berkata:

"Kalau toh sudah tidak ada keramaian lagi di sini, lebih baik kita mohon diri."

"Tapi...." bisik Im Kian.

Sebetulnya dia ingin menahan tamunya, namun setelah membayangkan keadaan saat itu, dimana menahan tamunya berarti hanya akan menambah suasana sedih, maka niat itu segera ditelan kembali.

GiTeng dan Gi Beng saling bertukar pandang sekejap, pikir mereka:

"Bila Seng-toako sampai mengetahui identitas Im-toako yang sebenarnya, mungkin bakal terjadi keributan lagi."

Berpikir sampai di situ, kedua orang itupun berseru hampir berbareng:

"Benar, lebih baik Seng-toako segera pergi!"

"Apakah kalian tidak ikut bersama Toako?" tanya Liong Kian-sik dengan kening berkerut.

"Tentu saja Siaute akan turut serta," jawab Gi Teng sambil menunduk, "hanya saja...."

"Hanya saja Enci Sui... dia...." sambung Gi Heng, "aku tidak tega meninggalkan dia dalam keadaan begini, lebih baik... lebih baik kalian saja yang berangkat duluan, kami akan menyusul belakangan."

"Begitupun baik juga...." sahut Liong Kian-sik setelah berpikir sejenak.

"Tapi Seng-toako hendak kemana? Supaya kami gampang mencarinya."

"Kuil Sang-cing-to-koan di bukit Lau-san!" Seng Cun-hau  memandang Im Kian sekejap, kelihatannya dia seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ketika disadari kalau banyak bicara pun tidak ada gunanya, setelah menghela napas panjang, dia pun menjura dan mohon diri.

Tidak lama kemudian bayangan tubuh beberapa orang itu sudah lenyap dari pandangan.

Setelah melakukan perjalanan setanakan nasi lamanya, Sun Siau-kiau yang pertama tidak bisa menahan diri, ujarnya sambil menghela napas:

"Heran, kenapa ada kejadian yang begitu kebetulan? Kenapa Thian selalu mengatur perjalanan nasib seseorang dengan cara yang tidak terduga."

Liong Kian-sik ikut menghela napas.

"Nasib memang mempermainkan manusia, hal semacam ini susah untuk diterangkan dengan akal sehat."

Tiba-tiba Che Toa-ho menimbrung:

"Siaute merasa sedikit heran dengan asal-usul pemilik pondok Cay-seng, aku tidak tahu siapakah dia?"

"Aku yakin dia adalah anggota perguruan Tay ki bun," jawab Seng Cun-hau.

"Dari mana Toako bisa tahu?" teriak semua orang hampir berbareng.

Seng Cun-hau  menarik napas panjang, katanya:

"Biarpun aku bodoh dan bebal, namun memiliki kemampuan untuk mengamati perubahan mimik orang, dilihat dari hubungannya yang begitu akrab dengan Sui Leng-kong, bisa kutebak kalau dugaanku tidak bakal salah."

Sun Siau-kiau menghela napas.

"Di waktu biasa," katanya, "aku selalu berpendapat, meskipun kungfuku masih belum mampu menandingi Toako, namun kecerdasanku masih jauh lebih unggul, tapi hari ini aku baru sadar, ternyata Toako adalah orang pandai."

"Toako mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang luas, tentu saja kami semua bukan tandingannya," kata Liu Ji-uh pula, "di hari biasa, dia memang lebih suka menyembunyikan kelebihannya."

Perkataan ini bukan kata pujian tapi memang berdasarkan kenyataan, sebagaimana diketahui, biarpun Seng Cun-hau bukan termasuk orang pintar, namun caranya berpikir amat cermat, tindak-tanduknya juga tenang, satu kelebihan yang sulit ditandingi rekannya.

"Toako," teriak Che Toa-ho kemudian, "kalau sudah tahu dia adalah anggota perguruan Tay ki bun, kenapa tidak segera turun tangan?"

Pikiran dan jiwa orang ini paling picik, semenjak dikalahkan Thiat Tiong-tong, hingga hari ini dia masih menaruh perasaan dendam.

Kembali Seng Cun-hau menghela napas, sahutnya:

"Biarpun angkatan tua kita mempunyai dendam permusuhan dengan perguruan Tay ki bun, kenyataan hingga sekarang kita pun belum tahu seluk beluk serta latar belakang permusuhan yang sebenarnya."

"Jadi Toako ingin menyudahi saja per­musuhan ini?"

"Aku hanya berharap permusuhan yang telah berjalan hampir seabad ini bisa disudahi pada generasi kita, apa gunanya saling membunuh? Kenapa kita mesti menyusahkan generasi berikutnya?"

Setelah berhenti sejenak dan tertawa pedih, lanjutnya:

"Sekalipun aku tidak punya keturunan, namun aku tetap berharap generasi kita berikut bisa hidup aman damai dan sentosa. Sebab ... sebab aku sudah merasakan betapa menderita dan tersiksanya hidup dalam suasana permusuhan, selain itu aku pun yakin banyak anggota perguruan Tay ki bun yang berjiwa ksatria, seperti misalnya Thiat Tiong-tong... aaai, jalan pikirannya persis sama seperti jalan pikiranku."

Che Toa-ho merasa sangat tidak puas setelah mendengar rekannya memuji Thiat Tiong-tong, wajahnya kontan bersungut-sungut.

Liong Kian-sik segera berkata:

"Pemahaman Toako sungguh membuat Siaute merasa kagum, apabila setiap umat persilatan bisa memiliki pandangan macam Toako, dunia pasti akan aman tenteram."

Liu Ji-uh serta Sun Siau-kiau mesti tidak bicara, namun dari mimik mukanya dapat diketahui mereka pun sangat mengagumi jalan pikiran Seng Cun-hau.

"Kalau memang begitu, buat apa kita menyusul ke sana?" seru Che Toa-ho jengkel.

"Kali ini aku mengundang kalian turun gunung, bukan karena berharap Hiante sekalian membantuku dalam pertarungan berdarah," tukas Seng Cun-hau cepat.

"Lantas untuk apa?"

"Aku hanya berharap Hiante sekalian mau memberi dukungan semangat kepada kami, agar perselisihan yang telah berlangsung seabad ini bisa disudahi sampai di sini."

Kemudian setelah menghela napas lagi, lanjutnya:

"Seharusnya Hiante juga tahu, kalau sampai kita membuat generasi berikutnya menderita hanya gara-gara dendam pribadi, kejadian itu merupakan satu tindakan yang sangat keji."

Che Toa-ho berpikir sejenak, akhirnya dia pun menghela napas sambil menundukkan kepala.

Sui Leng-kong telah sadar dari pingsannya, dia masih mendekam dalam pelukan Gi Beng sambil menangis terisak.

Gi Beng tiada hentinya menghibur, namun air mata ikut berlinang membasahi pipinya.

Sambil tertawa paksa, Im Kian berkata:

"Kejadian masa lampau telah berlalu, buat apa Hianmoay masih menangis? Berpikirlah hal positip yang bakal kau peroleh di kemudian hari, dengan begitu aku pun ikut merasa lega."

Perkataan itu mengandung makna yang mendalam, meski orang lain belum tentu paham, namun Sui Leng-kong sangat memahaminya.

Setelah kenyataan membuktikan dia masih bersaudara dengan Cu Cau, berarti cinta kasihnya dengan Thiat Tiong-tong sudah tidak terhambat lagi dengan masalah lain, bila suatu ketika kelak hubungan mereka semakin berkembang, tidak tertutup kemungkinan mereka akan naik ke pelaminan.

Tapi entah mengapa, Sui Leng-kong tetap merasakan hatinya amat sedih, untuk sesaat bagaimana mungkin air matanya bisa berhenti berlinang?

Malam yang kelam akhirnya berlalu dalam suasana sedih bercampur gembira, tanpa terasa fajar telah menyingsing di ufuk timur.

Maka Sui Leng-kong pun menyatakan keinginannya untuk pergi.

Dia ingin mencari Thiat Tiong-tong, dia pun ingin mencari saudara kandungnya, Cu Cau....

Dari dasar hatinya yang paling dalam, dia pun berharap bisa berjumpa dengan ayahnya, ayahnya yang konon merupakan jagoan paling tersohor di kolong langit.

Melihat bujukannya tidak berhasil mence­gah kepergian gadis itu, dengan sedih Im Kian pun berkata:

"Aaai... sayang aku tidak bisa mendampingi perjalanan adik...”

Bicara sampai di situ, dia pun melirik sekejap ke arah Gi Beng dan Gi Teng.

Buru-buru Gi Teng berseru:

"Kalau begitu biar Siaute yang mewakili Toako mendampingi perjalanannya."

"Benar," ujar Gi Beng pula sambil tertawa, "dengan didampingi kami berdua, tanggung Enci Sui tidak akan menjumpai masalah, Im-toako tidak perlu kuatir lagi."

"Aaah, bila kalian bersedia menemami, tentu saja aku merasa lega," sahut Im Kian berseri.

Setelah berpamitan dan meninggalkan pondok Cay-seng, Gi Teng berdua baru teringat kalau mereka telah menyanggupi permintaan Seng Cun-hau, sekarang masalahnya adalah bagaimana mungkin mereka bisa melakukan dua tugas bersamaan?

Matahari telah memancarkan sinarnya menerangi seluruh jagad.

Dua bersaudara ini hanya berharap sepanjang jalan mereka tidak menjumpai halangan, Sui Leng-kong bisa segera menemukan orang yang dicari dan permusuhan yang telah terjalin di masa lalu lambat-laun bisa dipunahkan.

Sayangnya, perjalanan mereka bertiga tidak mungkin bisa dilalui tanpa masalah.

Kecantikan Sui Leng-kong, kelincahan Gi Beng, kegagahan Gi Teng... banyak menarik perhatian orang.

Menyadari akan hal itu, Gi Teng dan Gi Beng mulai bertindak lebih hati-hati....

Mereka menghindari kereta kuda yang kelewat mewah, mereka pun tidak menunggang kuda, tap, perjalanan ditempuh dengan menunggang sebuah kereta kuda yang amat biasa dan umum.

Maka sementara waktu perjalanan pun bisa ditempuh tanpa banyak kesulitan.

 

BAB 32.

Nyanyian di Tengah Malam.

 

Hari itu mereka bertiga tiba di seputar bukit Lau-san, dua bersaudara Gi serta Sui Leng-kong tidak berani menginap di dalam kota, maka mereka pun memerintahkan kusir kereta untuk melewati kota besar dan beristirahat di sebuah dusun yang amat kecil.

Selesai makan malam, Gi Beng yang suka bergerak tidak bisa menahan diri untuk tidak berkeliling dusun, dia ajak Sui Leng-kong menemaninya berjalan-jalan, terpaksa Gi Teng pun mengintil di belakang.

Dalam suasana penuh kegembiraan, sepanjang jalan mereka bertiga berpesiar sambil berbincang hingga tanpa sadar telah berjalan meninggalkan dusun itu.

Di sisi sebuah bukit, mereka saksikan ada cahaya lentera yang menerangi kegelapan, meski terlihat ada bayangan manusia yang hilir mudik, namun suasana sangat hening, selain suara hembusan angin yang menggoyangkan dedaunan, tidak terdengar suara lain, suasana di sekeliling sana terasa diliputi kemisteriusan.

Timbul rasa ingin tahu Gi Beng, dengan suara berat bisiknya:

"Aneh, apa yang sedang mereka lakukan? Kelihatannya mencurigakan, Cici Sui, bagaimana kalau kita selidiki?"

Dia memang sengaja tidak mengajak Gi Teng, melainkan mengajak Sui Leng-kong, karena dia tahu gadis itu lembut dan penurut, ajakannya tidak bakal ditampik, asal Sui Leng-kong bersedia, Gi Teng pasti akan mengintil juga.

"Baiklah, mari kita tengok," sahut Sui Leng-kong sambil manggut-manggut.

Gi Teng berniat mencegah, namun kedua orang itu sudah pergi jauh, dalam keadaan begini, terpaksa Gi Beng mengikuti di belakang sambil menghela napas panjang.

Dengan ketajaman mata mereka bertiga, tidak selang beberapa saat kemudian terlihat di balik semak belukar tampak bersembunyi beberapa sosok bayangan manusia, orang-orang itu mendekam tanpa bergerak dan sama sekali tidak menimbulkan suara.

Berubah wajah Gi Teng menyaksikan hal itu, bisiknya:

"Hati hati, nampaknya.....”

Belum selesai dia memperingatkan, mendadak terlihat sesosok bayangan manusia menerjang keluar dari balik semak, tangan kiri orang itu memegang sejenis senjata berbentuk tameng, sementara tangan kanannya membawa lembing pendek, sambil menerjang dia mem-bentak:

"Akan kulihat mau kabur kemana lagi?"

Dalam terperanjatnya buru-buru Gi Teng menarik tangan Gi Beng dan Sui Leng-kong sambil mundur tiga langkah.

Tampak bayangan manusia itu menubruk ke atas tanah, tameng di tangan kirinya seperti menekan sesuatu dan serunya sambil tertawa:

"Sudah tertangkap... sudah tertangkap."

Waktu itu, sebenarnya Gi Teng sudah siap melancarkan serangan, tapi dengan cepat dia dapat mengenali orang itu hanya seorang lelaki dusun, yang dikira senjata tameng ternyata hanya sebuah keranjang bambu, sedang senjata yang dikira lembing ternyata hanya sebuah tongkat.

Orang itu mendongakkan kepala, begitu mengenali Gi Teng bertiga, ujarnya sambil tertawa:

"Ooh, rupanya Khek-koan bertiga ingin ikut menonton keramaian, hati-hati, tempat ini sangat berbahaya."

"Bahaya? Apa yang kalian tangkap?" tanya Gi Beng keheranan.

Orang itu tidak menjawab, dia hanya memperlihatkan keranjang bambunya, sewaktu dipukul dengan tongkat, maka terlihatlah seekor ular berbisa muncul dari balik keranjang itu.

Di bawah remangnya cuaca, tampak ular itu menongolkan kepala sambil mengeluarkan lidahnya yang bercabang, bentuknya sangat menakutkan.

Gi Beng menjerit kaget, seketika itu juga dia merasa senyuman orang dusun itu penuh diliputi kemisteriusan, tanpa sadar dia mundur dua langkah, bentaknya:

"Mau... mau apa kau?"

Orang dusun itu tertawa.

"Hamba hanya ingin memperlihatkan ular ini kepadamu."

Kembali dia pukul kepala ular itu dengan tongkatnya, ular tadi seketika menarik kembali tubuhnya ke dalam keranjang bambu.

"Di tengah malam buta begini menangkap ular berbisa, kelihatannya kau bukan orang baik," bentak Gi Beng nyaring, kemudian sambil menyikut Gi Teng, lanjutnya:

"Tangkap dia, kita periksa berasal dari mana orang ini?"

Orang dusun itu seketika terkesiap, buru-buru sahutnya dengan gemetar:

"Tunggu... tunggu sebentar, di tengah malam buta begini hamba sengaja menangkap ular berbisa, karena... karena ingin mendapat tambahan beberapa tahil perak."

459

"Uang apa? Dari siapa? Bicara yang jelas."

"Di atas bukit di depan sana telah kedatangan seorang Budha hidup, bukan saja dia memiliki kemampuan menaklukkan naga menundukkan harimau, bahkan makanan sehari-harinya adalah ular berbisa, konon dia orang tua pernah berjanji di depan Hudco sewaktu berada di barat untuk menghabiskan seratus ribu ekor ular berbisa sebelum berhasil dengan ilmunya, oleh karena itu setiap hari Budha hidup itu bersantap ular, dia bersedia membayar satu tahil perak untuk seekor ular berbisa, itulah sebabnya hamba sekalian menangkap ular sebagai pekerjaan sambilan."

Walaupun penjelasan itu telah dibumbui dengan dongeng, namun Gi Teng bertiga segera dapat menduga kalau 'Budha hidup' pemangsa ular berbisa itu pastilah seorang jagoan tangguh dari dunia persilatan yang sedang mempelajari sejenis ilmu beracun.

"Macam apa tampang Budha hidup itu?" tanya Gi Teng dengan kening berkerut.

"Hamba semua hanya manusia biasa yang tidak kasat mata, mana berani memperhatikan wajah dia orang tua? Kami hanya tahu beliau berdiam di sebuah kuil dewa gunung yang ada di atas bukit dan setiap hari hanya duduk bersemedi."

"Kalau tidak pernah bersua muka, bagaimana cara kalian menerima uang perak?" tanya Gi Beng.

"Ular berbisa yang berhasil hamba tangkap, cukup dimasukkan ke dalam sebuah keranjang bambu dan diantar ke depan kuil, keesokan harinya ketika hamba terbangun dari tidur, akan ditemukan keranjang itu sudah tergeletak di atas meja, ular dalam   keranjang telah lenyap, sementara isi keranjang itu telah berubah menjadi uang perak. Selama beberapa hari terakhir, kejadian itu selalu terulang."

Gi Beng seperti ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi kedipan mata Gi Teng mencegahnya untuk bicara lebih jauh.

"Aaa... apakah Khek-koan ingin menanyakan sesuatu lagi?" kembali orang dusun itu bertanya.

"Tidak, kalian boleh segera menangkap ular. kemudian cepatlah pulang dan beristirahat," sahut Gi Teng cepat. Dia segera menarik tangan Gi Beng dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Diam-diam Sui Leng-kong keheranan juga melihat Gi Beng begitu menuruti perkataan kakaknya tanpa berusaha menyelidiki persoalan yang nampaknya amat mencurigakan ini, tak tahan ejeknya sambil tertawa:

"Aku lihat cuaca hari ini kurang begitu baik."

"Kenapa  kurang baik?" tanya Gi Beng keheranan, matanya terbelalak lebar.

"Kalau cuaca amat bagus, mana mungkin kau terburu-buru ingin pulang beristirahat?" kata Sui Leng-kong sambil tersenyum.

Gi Beng tertawa cekikikan.

"Kau sangka Engkohku tidak suka mencari keramaian? Orang alim? Sejak kecil dia sudah nakalnya setengah mati, bertemu siapa saja selalu berkelahi, betul, sekarang dia memang berlagak sok sopan, sok alim, lihat saja, kepura-puraannya tidak bakal berlangsung lama, kau sangka dia mau pulang untuk beristirahat? Jangan mimpi, itulah taktiknya untuk menghindari perhatian orang-orang dusun itu, dapat dipastikan dia bakal mengambil jalan lain untuk secara diam-diam menyelinap naik ke atas bukit."

"Benarkah begitu?" tanya Sui Leng-kong sambil melirik Gi Teng sekejap.

Gi Teng menoleh dan tertawa tergelak.

"Susah jadi seorang Engkoh, apalagi kalau segala taktik sudah ketahuan sang adik," katanya.

Bukan saja dia tidak berani beradu pandang dengan Sui Leng-kong, bahkan begitu dipandang gadis itu, kontan pipinyajadi merah jengah, untung saja gadis itu tidak menaruh perhatian.

Setelah berputar ke arah lain, betul saja, sekali lagi mereka bertiga naik ke atas bukit.

Dengan mata berkilat dan penuh bersemangat Gi Beng bergumam:

"Si Budha hidup itu tentu memiliki tampang wajah yang aneh."

Geli juga Sui Leng-kong setelah menyaksikan rekannya kegirangan seperti seorang bocah, padahal dia sendiri pun merasa keheranan, rasa ingin tahunya meluap-luap setelah mendengar ada orang bisa makan puluhan ekor ular dalam beberapa hari, tanpa disadari dia pun turut mempercepat langkahnya.

Bagaimanapun ketiga orang itu adalah anak-anak muda, begitu mendengar ada hal yang aneh, mereka hanya teringat untuk melakukan penyelidikan dan lupa kalau langkah itu sesungguhnya berbahaya dan penuh dengan intaian maut.

Budha hidup itu bisa hidup mengasingkan diri di tengah kuil bobrok di tengah gunung, hal ini menunjukkan bahwa dia berusaha menyembunyikan jejaknya, mana mungkin dia akan membiarkan orang datang mengusut dan menyelidiki rahasianya?

Dilihat dari makanan sehari-harinya berupa ular beracun, inipun membuktikan dia sedang melatih sejenis ilmu beracun yang menakutkan, dengan kepandaian silat yang dimiliki Gi Teng bertiga, bukan jaminan mereka bisa lolos dari ancaman.

Suasana di atas gunung amat hening, sepi, selain rembulan yang mengintip dari balik awan dan suara serangga malam yang memadukan musik, tiada suara lain yang terdengar, rasa seram dan penuh misteri seolah mencekam sekeliling tempat itu.

Wajah Gi Beng yang bulat telur meski panas, namun kaki dan tangannya justru dingin kaku, sepanjang jalan tiada hentinya dia menghibur diri sendiri:

"Jangan takut, dalam semak tidak bakal muncul ular berbisa."

Dia menghibur orang lain agar jangan takut, padahal dia sendiri sudah ketakutan setengah mati, sepanjang jalan hatinya kebat-kebit, nona itu kuatir kalau secara tiba-tiba muncul ular berbisa dari balik semak dan mendadak mematuk kakinya.

Menyaksikan itu diam-diam Sui Leng-kong merasageli, tiba-tiba jeritnya tertahan:

"Ular!"

Sambil menjerit Gi Beng menjatuhkan diri ke dalam pelukan Sui Leng-kong, wajahnya pucat-pias seperti mayat, bisiknya gemetar:

"Ular... ada dimana ularnya?"

"Ular? Ooh... ada dalam perut si Budha hidup," sahut Sui Leng-kong sambil tertawa cekikikan.

"Ooh... rupanya kau memang nona jahat, semoga saja kau yang benar-benar digigit ular berbisa...."

"Sst! Jangan berisik!" tiba-tiba Gi Teng menghardik.

Sui Leng-kong dan Gi Beng segera berpaling, di antara pepohonan dekat tanah perbukitan, lamat-lamat terlihatlah sebuah bangunan kuil.

Cahaya lentera yang redup memancar keluar dari balik dinding kuil yang bobrok, hal ini menambah kemisteriusan dan keseraman bangunan itu, seakan-akan kuil itu betul-betul merupakan tempat tinggal setan atau siluman jahat.

Tanpa sadar ketiga orang itu menghentikan langkahnya dan mulai maju dengan tubuh merunduk.

Mendadak terdengar suara langkah manusia berkumandang datang dari bawah bukit.

Ketiga orang itu sangat terperanjat, tergopoh-gopoh mereka menyembunyikan diri ke balik pepohonan.

Terlihat sebuah lampu lentera yang terbuat dari kertas putih bergerak mendekat dari bawah bukit, setelah berjalan semakin dekat, tampaklah empat orang manusia berbaju hijau yang mengikuti di belakang lentera itu, empat lelaki dengan empat keranjang bambu.

Keempat orang itu berjalan dengan kepala tertunduk, tidak ada yang celingukan ke sana kemari, tidak ada juga yang mengangkat wajahnya, setelah tiba di depan pintu kuil, mereka menghentikan langkahnya jauh dari bangunan.

Setelah meletakkan keranjang bambu itu ke tanah, serentak keempat orang itu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah sebanyak tiga kali dengan sikap penuh hormat, malah mulut mereka terlihat komat-kamit seakan sedang membaca doa.

Sinar lentera yang membias dari balik lentera putih membuat paras muka keempat orang itu nampak  hijau   membesi,   menghijau   saking takutnya, membuat penampilan mereka terasa lebih aneh dan menakutkan, apalagi dalam suasana seperti itu.

Di bawah kabut yang mulai menyelimuti permukaan, di tengah hembusan angin malam yang dingin, di tengah goyangan cahaya lentera berwarna putih, keempat orang manusia berbaju hijau itu berlutut di depan kuil dengan sikap amat menghormat.

Jelas pemandangan semacam ini nampak sangat aneh dan penuh diliputi misteri!

Tanpa sadar Gi Beng menggenggam tangan Sui Leng-kong erat-erat, ujung jari tangannya terasa mulai gemetar, telapak tangannya basah oleh peluh dingin. Sekalipun perasaan ngeri dan seram mencekam perasaannya, gadis itupun merasa tegang bercampur gembira.

"Pergilah!" tiba-tiba terdengar seseorang berseru dari balik kuil.

Biarpun hanya sepatah kata, namun nada suaranya rendah, berat dan disertai satu kekuatan yang sangat aneh, ucapan itu seolah sebuah martil besar yang menghantam perasaan setiap orang, membuat dada terasa sesak dan napas menjadi tersengal.

"Sungguh hebat tenaga dalam yang dimiliki orang ini!" pikir Gi Beng bertiga dengan perasaan terkesiap.

Dalam pada itu keempat orang berbaju hijau itu sudah merangkak bangun dan mundur beberapa langkah, kemudian tergopoh-gopoh kabur meninggalkan tempat itu.

Tidak lama kemudian pintu kuil dibuka orang.

Seorang kakek bertopi bambu, berjubah abu-abu dan bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang menyelinap keluar dari balik pintu, gerakan tubuhnya cepat dan enteng, jelas merupakan seorang tokoh hebat dari dunia persilatan.

Dua kali dia bolak-balik keluar masuk kuil, hanya dalam waktu singkat keempat buah keranjang bambu itu sudah dibawa masuk ke dalam, kemudian "Ciiittt!", pintu kuil kembali tertutup rapat, suara keriut pintu seakan helaan napas iblis keji.

Tidak lama kemudian terdengar suara pembicaraan yang lirih berkumandang dari balik kuil, sayang suara itu amat perlahan hingga tidak jelas apa yang sedang dibicarakan.

Gi Beng segera berbisik ke sisi telinga Sui Leng-kong:

"Di dalam kuil terdapat dua orang,"

"Berarti yang satu adalah si Budha hidup," sahut Sui Leng-kong.

"Entah... entah macam apa tampangnya?"

Kedua orang itu berbisik dengan suara lirih, Gi Teng tidak tahu apa yang sedang mereka berdua bicarakan, tapi setelah melirik Sui Leng-kong sekejap, tiba-tiba dia bangkit berdiri.

Buru-buru Gi Beng menarik ujung bajunya.

Dengan setengah berbisik Gi Teng berkata:

"Kita toh sudah berada di sini, paling tidak mesti mengintip dulu tokoh macam apakah si Budha hidup itu."

"Aneh," bisik Gi Beng keheranan, "sejak kapan nyali Koko jadi begitu besar?"

"Kalau takut, lebih baik kau tetap tinggal disini."

Sambil menggertak gigi Gi Beng segera bangkit berdiri, sambil menahan napas mereka bertiga bergerak maju, siapa pun tidak berani menggunakan ilmu meringankan tubuh, kuatir suara desiran angin akan mengusik ketenangan tokoh sakti yang berada dalam kuil.

Bangunan kuil itu sangat bobrok, banyak dinding yang sudah retak atau berlubang, ketiga orang itu segera mencari retakan di dinding dan mengintip ke dalam.

Biarpun bobrok, ternyata ruang dalam kuil itu sudah disapu amat bersih, selain tidak nampak ada debu, meja altar berikut patung pujaan pun sudah disingkirkan sehingga ruang kuil itu nampak kosong melompong.

Satu-satunya benda yang masih tersisa adalah sebuah lampu lentera yang diletakkan di tengah ruangan, lentera dengan setitik cahaya yang redup.

Di bawah kerlipan cahaya api, tampak seorang pendeta berbaju merah membara duduk bersila di atas sebuah tikar, wajahnya menghadap ke arah pintu, tubuhnya sama sekali tidak bergerak, dia mirip sekali dengan sebuah patung Budha.

Orang itu mempunyai perawakan tinggi besar dan kekar, kepalanya amat besar, mukanya merah membara dan memancarkan cahaya merah yang aneh dan menyilaukan mata, bukan cuma kepalanya, bahkan alis matanya pun berwarna merah darah Satu-satunya yang berwarna hitam putih hanya sepasang biji matanya yang tajam.

Sebenarnya bentuk wajah orang itu tidak terlalu aneh atau menyeramkan, keanehannya justru terletak pada warna merah darah yang menyelimuti sekujur badan orang itu, dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya berwarna merah membara.

Gi Beng hanya memperhatikan beberapa kejap, dia segera merasakan matanya amat sakit karena silau.

Kakek berjubah abu-abu yang mengambil keranjang ular tadi, kini duduk bersila di sampingnya, dilihat dari posisi duduknya, tampaknya kakek berjubah abu-abu itu adalah murid pendeta berbaju merah itu.

Sui Leng-kong bertiga tidak sempat melihat jelas raut muka kakek berbaju abu-abu itu, mereka hanya melihat si kakek sedang sibuk menarik keluar ular-ular berbisa itu dari dalam keranjang.

Ular-ular berbisa yang kelihatan garang dan menakutkan itu, begitu berada dalam cengkeraman tangannya yang kurus berwarna hitam, seketika berubah jadi lemas tidak bertenaga, bukan saja binatang melata itu tidak melakukan perlawanan, bahkan mandah saja dibolak-balik semaunya.

Dalam waktu singkat kakek berjubah abu-abu itu sudah memilih sepuluh ekor ular berbisa yang terbesar dan dimasukkan ke dalam keranjang, lalu setelah dipersembahkan ke hadapan pendeta berjubah merah itu, dengan hormat dia mundur kembali ke tempat duduknya.

Kini Gi Beng bertiga sudah dapat menduga pemandangan ngeri apa yang bakal mereka saksikan, wajah mereka bertiga segera berubah hebat, tubuh mereka pun mulai gemetar.

Sementara itu pendeta aneh berjubah merah itu telah menangkap seekor ular berbisa dan dimasukkan ke dalam mulut, dengan satu gigitan dia melahap kepala ular itu dan mengunyahnya dengan penuh kenikmatan.

Gi Beng bertiga merasa hatinya bergidik, tiba-tiba saja perut mereka mual.

Pendeta berjubah merah itu sama sekali tidak melakukan sesuatu gerakan, yang tampak hanya dadanya yang naik turun.

Ular berbisa yang besar itupun perlahan­-lahan menyusut mengecil mengikuti gerakan dadanya yang naik turun, dalam waktu singkat hanya tersisa selembar kulit ular yang kosong, sementara daging serta darahnya telah terhisap masuk ke dalam perut pendeta itu.

Gi Beng sekalian merasa sangat mual, andaikata tidak mengertak gigi, mungkin mereka sudah muntah saking tidak tahannya.

Kalau dilihat mimik muka pendeta aneh berjubah merah itu, dia seolah menganggap ular berbisa itu sebagai hidangan terlezat yang ada di kolong langit, tidak sampai sepeminuman teh, keenam tujuh ekor ular berbisa itu sudah berpindah ke dalam perutnya.

Caranya makan ular berbisa secara hidup-hidup sudah merupakan satu kejadian yang mengerikan, tapi kemampuan tenaga dalamnya untuk menghisap daging dan darah ular itu sampai lolos dari kulitnya justru membuat perasaan orang bergidik.

Cahaya merah aneh yang memancar dari sekujur tubuhnya terlihat makin lama semakin menyolok dan berkilauan, sinar matanya makin tajam bersemangat, tampaknya setiap kali dia makan seekor ular berbisa lebih banyak, tenaga dalamnya pun ikut bertambah maju satu tingkat.

Gi Beng benar-benar merasa terkejut bercampur takut, dia tidak kuasa untuk melihat lebih jauh, diam-diam gadis itu menarik ujung baju Sui Leng-kong dan mengajaknya pergi dari situ.

Sui Leng-kong manggut-manggut, secara diam-diam dia pun menarik ujung baju Gi Teng.

Tapi belum sempat ketiga orang itu bangkit berdiri, mendadak kakek berjubah abu-abu itu membalikkan tubuhnya, seolah tanpa sengaja dia melirik sekejap ke tempat persembunyian ketiga orang itu.

Gi Teng bertiga sekali lagi merasa terkesiap, terlebih Sui Leng-kong, rasa kagetnya jauh melebihi dua bersaudara Gi, karena dia segera mengenali kakek berbaju abu-abu itu sebagai tokoh yang sangat dikenal olehnya.

Untunglah pada saat yang bersamaan si pendeta berjubah merah itu membisikkan sesuatu, kakek berbaju abu-abu itu segera berpaling lagi ke arah lain.

Dalam keadaan begini, tentu saja Sui Leng-kong bertiga tidak berani berdiam lebih lama lagi di situ.

Tanpa membuang banyak waktu ketiga orang itu balik tubuh dan kabur dari situ, sampai cahaya lentera dalam kuil tidak nampak lagi mereka baru menghembuskan napas lega.

"Waah, sungguh lihai!" gumam Gi Beng dengan napas tersengal.

"Kelihatannya ilmu beracun yang dilatih pendeta berjubah merah itu sudah mencapai puncak kesempurnaan," kata Gi Teng pula dengan nada berat, "andaikata sampai ketahuan mereka, mungkin susah bagi siapa pun untuk kabur dari bukit ini dalam keadaan selamat."

"Siapa sih orang itu? Apakah kau mengenali mereka?"

"Jejak jagoan silat amat sulit dilacak," sahut Gi Teng sambil menghela napas, "sekalipun aku merasa agak asing, tapi jelas dia adalah seorang gembong iblis yang sudah lama hidup mengasingkan diri... aaai! Lebih baik kita tidak usah mengenal mereka."

"Tapi aku mengenali muridnya itu," tiba-tiba Sui Leng-kong menyela.

"Siapa dia?" tanya Gi Beng sambil membe-lalakkan matanya.

"Dia adalah Pocu benteng Han hong-po, Leng It-hong."

Sampai tiba kembali di tempat pondokannya dalam dusun, Gi Beng masih diliputi perasaan tercengang dan tidak habis mengerti, gumamnya berulang kali:

"Leng It-hong? Kenapa dia bisa menjadi murid gembong iblis itu?"

"Kalau sampai manusia macam Leng It-hong pun bersedia menjadi muridnya, jelas kungfu yang dimiliki orang ini sangat menakutkan, lebih baik kita jangan mengusiknyalagi."

"Siapa yang bilang mau mengusiknya? Aku hanya ingin....”

"Lebih baik lagi kalau dipikir pun jangan," tukas Gi Teng cepat.

Kemudian setelah menatap sekejap Sui Leng-kong, tiba-tiba katanya lagi:

"Bukan bermaksud takut atau tidak punya nyali, tapi bukankah tujuan kepergian kita kali ini adalah untuk mencari orang? Buat apa mesti mencampuri urusan orang lain?"

Kontan Gi Beng tertawa cekikikan, katanya:

"Aku justru melihat kau tidak bernyali, cuma malu untuk mengakuinya... bukan begitu Enci Sui?"

Sambil tersenyum Sui Leng-kong melirik Gi Teng sekejap.

Dengan wajah bersemu merah, buru-buru Gi Teng berdehem, katanya:

"Sudahlah, besok pagi kita harus melanjut-kan perjalanan, lebih baik cepat tidur!"

Dia tidak berani memandang wajah Sui Leng-kong lagi, cepat pemuda itu mengundurkan diri dari ruangan.

Kembali Gi Beng mengomel panjang lebar sebelum akhirnya tertidur.

Sedang Sui Leng-kong merasa sulit untuk memejamkan mata, walaupun sudah bolak-balik tubuhnya, namun rasa mengantuk seakan sudah jauh meninggalkan tubuhnya.

Biarpun di hari biasa dia selalu tampil dengan wajah penuh senyuman, namun begitu keheningan malam mulai menjelang, dia selalu akan terombang-ambing oleh pikiran yang kalut, dia merasa banyak masalah yang sulit dihilangkan dari benaknya.

Sepanjang malam berulang kali Gi Beng mengigau sambil berteriak-teriak:

"Ular...ular...."

Menyaksikan hal itu, Sui Leng-kong menghela napas panjang, sambil mengenakan mantel diam-diam dia membuka jendela ruangan.

Di luar jendela tampak langit amat cerah, rembulan dan bintang menghiasi malam yang gelap, di tengah hembusan angin yang dingin, tiada hentinya dia memanggil nama Thiat Tiong-tong.

Dalam keheningan yang mencekam itulah mendadak dia mendengar suara isak tangis yang amat memedihkan hati, isak tangis itu sayup-sayup terhembus lewat mengikuti angin malam, suara tangisan yang begitu sedih dan memilukan hati, serasa hati tersayat, usus terburai....

Tanpa terasa air mata ikut berlinang membasahi wajah Sui Leng-kong, tanpa sadar dia melompat keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju ke sumber isak tangis itu.

Dia tidak sadar, selain dirinya ternyata masih ada orang lain yang ikut berada di sisi jendela.

Orang itu tidak lain adalah Gi Teng.

Pemuda itu dapat melihat dengan jelas kemunculan Sui Leng-kong yang berambut panjang sebahu dan mengenakan baju berwarna putih di bawah cahaya rembulan....

Sui Leng-kong nampak begitu cantik, cantik bak bidadari dari kahyangan.

Tanpa terasa pemuda itu termangu, serta merta dia ikut melompat keluar jendela.

Saat itu Sui Leng-kong sudah melesat keluar dari dinding pekarangan.

Baru saja Gi Teng hendak mengejar, satu ingatan kembali melintas, cepat dia balik ke dalam kamar dan membangunkan Gi Beng yang masih terlelap tidur.

Dengan terkejut Gi Beng melompat bangun dari tidurnya seraya berteriak keras:

"Ular...."

Tapi setelah melihat jelas orang yang berdiri di hadapannya adalah Gi Teng, dengan perasaan lebih tenang tegurnya:

"Ada apa?"

"Ketika mendengar isak tangis, nona Sui keluar rumah seorang diri, aku... aku sangat kuatir, bagaimana kalau kau mengintil di belakangnya?"

"Kalau toh kau yang kuatir, kenapa tidak pergi sendiri? Aku mau tidur saja...." sahut Gi Beng sambil cemberut, selesai bicara kembali dia merebahkan diri.

Buru-buru Gi Teng menarik tangannya dan berseru sambil tertawa paksa:

"Kalau yang menangis seorang wanita, berarti dia menangis dari kamar tidurnya, masa aku seorang lelaki harus masuk ke dalam kamar wanita lain?"

Gi Beng menghela napas panjang dan menggeleng.

"Aaai, siapa suruh aku jadi adikmu dan siapa suruh kau adalah kakakku?"

Buru-buru dia bangun dan mengenakan pakaian luar.

Menanti dia mengejar keluar, Sui Leng-kong sudah berada jauh sekali, masih untung nona itu berjalan tidak terlalu cepat, pakaian putihnya kelihatan sangat menyolok di tengah kegelapan malam.

Akhirnya Gi Beng berhasil menemukan Jejaknya, sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia menyusul ke depan dan rencananya hendak menegur, namun niat itu segera diurungkan begitu melihat raut muka Sui Leng-kong yang dicekam kesedihan.

Ketika mengetahui kedatangan Gi Beng, sambil tertawa sedih kata Sui Leng-kong:

"Coba dengar!"

Sekarang Gi Beng baru merasa kalau isak tangis itu memang sangat menyedihkan, tanpa terasa tergerak hatinya. Dengan kening berkerut, bisiknya:

"Ya, betul, anak perempuan siapa yang sedang dianiaya orang? Mari kita tengok ke sana."

Siapa sangka suara tangisan yang kedengarannya berasal dari tempat dekat itu kenyataan jauhnya setengah mati, harap maklum suasana malam di dusun itu memang kelewat sepi sehingga tidak heran suara isak tangis yang berasal dari tempat jauh pun terdengar sangat jelas.

Sui Leng-kong yang semula masih berjalan santai, tanpa sadar segera mempercepat langkahnya dan pada akhirnya kedua orang itu sama-sama mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk bergerak.

Tempat ini adalah bukit Lau-san, di kaki bukit terlihat setitik cahaya hio yang berkedip-kedip bagaikan  bintang kesepian,   dari arah situlah suara isak tangis itu berasal.

Ketika Sui Leng-kong dan Gi Beng berjalan semakin dekat, di bawah cahaya bintang tampaklah sebatang hio tertancap di atas sebatang batu hijau di kaki bukit, ada dua orang gadis berbaju hitam yang bertubuh ramping sedang berlutut di hadapan hio itu sambil menangis tersedu-sedu, sayang wajah mereka tertutup oleh kain cadar berwarna hitam, jelas kedua orang itu enggan wajah asli mereka ketahuan orang.

Gi Beng segera menghentikan langkahnya, dengan kening berkerut dia berbisik:

"Ternyata mereka bukan sedang dianiaya orang lain, tapi sedang melampiaskan rasa sedihnya di sini."

"Kalau didengar dari isak tangis yang begitu mengenaskan, kelihatannya orang yang sedang mereka tangisi adalah orang yang sangat dekat dengan kedua orang ini, entah orang itu sempat tidak mendengar suara tangisannya?" kata Sui Leng-kong pula dengan sedih.

Berbicara sampai di situ, air mata telah membasahi wajahnya.

Menyaksikan sikap rekannya, diam-diam Gi Beng menghela napas panjang, pikirnya, "Ternyata Enci Sui adalah orang yang sensitif perasaannya ...

Sementara di luar, dia berkata:

"Jika orang itu sudah mati dan ternyata ada orang yang begitu sedih atas kematiannya, boleh dibilang kematian orang itu cukup berharga."

"Tapi... tapi...."

"Tapi bila orang itu belum mati dan gara-gara dia orang lain mesti begitu sedih," tukas Gi Beng cepat, "maka orang itu kalau bukan kentut busuk, pastilah seorang lelaki goblok yang memuakkan."

Pembicaraan kedua orang ini mesti tidak menggunakan suara yang keras, namun tidak pula terhitung lirih, sayang dalam sedihnya yang luar biasa ternyata tidak seorang pun di antara kedua orang gadis berbaju hitam itu yang mendengar.

Kelihatannya hembusan angin malam pun menemani suara isak tangis mereka, berbaur menjadi satu dan menciptakan seuntai irama lagu yang menyayat hati.

Sui Leng-kong yang sudah dibasahi air mata, kini terisak makin menjadi.

Sekali lagi Gi Beng menghela napas, sambil menggelengkan kepala dan tertawa getir, ujarnya:

"Siapa orangnya yang mereka tangisi kau tidak tahu, masa kau menemani mereka menangis sesedih ini?"

Dengan air mata masih bercucuran, sahut Sui Leng-kong:

"Mereka menangisi orang yang dikasihi, sementara aku menangisi masalahku yang menyedihkan, kalau kami sama-sama sedang bersedih hati, apa salahnya menangis bersama,"

Gi Beng tertegun, sambil menggosok matanya dia berseru:

"Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan, tapi... kalau kau masih menangis terus, aku... aku pun tidak tahan untuk tidak menangis."

"Baik, kalau begitu menangislah... menangislah... semoga semua orang yang sedang bersedih hati dapat berkumpul semua di sini dan menangis bersama... bisa menangis, jauh lebih lega ketimbang menyimpannya di dalam hati."

"Kalian menangis karena ada yang ditangisi, sementara aku... tidak seorang manusia pun yang perlu kutangisi, aku ... bukankah aku jauh lebih mengenaskan ketimbang kalian?"

Makin berbicara dia merasa makin sedih, sampai akhirnya dia pun ikut menangis tersedu-sedu, malah suara tangisannya paling keras.

Entah sudah berapa lama keempat orang itu menangis, akhirnya dua orang gadis berbaju hitam itu berpaling secara tiba-tiba dan berseru:

"Cici berdua ... kalian ... kalian jangan menangis lagi!"

"Kalian sendiri menangis dengan begitu sedihnya, kenapa kami tidak boleh menangis," sahut Gi Beng, "asal kalian tidak menangis, tentu kami pun tidak akan menangis lagi."

"Kami... mana mungkin kami tidak menangis? Tapi bila Cici berdua tidak ada masalah yang benar-benar menyedihkan, lebih baik janganlah menangis lagi."

"Masalah apa pula yang membuat kalian amatbersedih?"

Gadis berbaju hitam itu mendongakkan kepala memandang ke angkasa, kemudian ujamya sedih:

"Seseorang telah mati, padahal sepanjang hidupnya dia sudah banyak berkorban demi orang banyak, namun tidak seorang pun yang mengetahui pengorbanannya itu."

"Benar, dia telah mengorbankan segala-galanya." lanjut gadis yang lain, "namun tidak seorang saudara dan sanaknya pun yang memahami pengorbanan itu, bahkan sampai gurunya pun menuduh dia sebagai seorang murid murtad, seorang pengkhianat."

"Dia dilahirkan tanpa ibu, ayahnya juga telah mati, satu-satunya orang di dunia ini yang paling dekat dengannya ternyata...."

"Akhirnya dia harus tewas di tangan orang yang paling dekat dengannya," kembali gadis yang lain menambahkan.

Walaupun  hanya serangkai pembicaraan yang sederhana namun telah menceritakan sebuah kisah kehidupan yang amat tragis, dalam keadaan begini, siapa yang tidak merasa bersedih?

Gi Beng berdiri tertegun, lama sekali dia termangu oleh kisah cerita itu, gumamnya:

"Kalau dia benar-benar manusia macam begini, aku... aku pasti akan turut menangisi kepergiannya."

Sui Leng-kong yang selama ini hanya tertunduk sambil menangis, tiba-tiba mendongak­kan kepala, selesai membesut air mata, tanyanya dengan gemetar:

"Si... siapa yang kau maksud?"

Kedua orang gadis berbaju hitam itu serentak berpaling, memandang ke arahnya.

Di bawah cahaya bintang, terlihat nona itu berdiri dengan wajah pucat-pias, wajahnya sayu, meskipun kecantikannya sudah terselubung di balik kepedihan, namun sorot matanya tampak tetap jeli dan indah.

Kedua orang gadis berbaju hitam itu tertegun, sampai lama sekali tak mampu berkata.

"Kenapa ... kenapa kalian tidak bicara?" tanya Sui Leng-kong.

Tiba-tiba kedua orang gadis berbaju hitam itu berangkulan kembali dan menangis semakin sedih.

"Kau... kau ...." paras muka Sui Leng-kong semakin pucat.

"Sebenarnya Cici... Cici pun kenal dengan orang... orang yang kami tangisi ...." ujar gadis berbaju hitam itu terbata-bata.

"Siapa? Siapakah dia?" suara Sui Leng-kong makin gemetar.

"Thiat... Tiong... Tong!"

"Thiat Tiong-tong?" Gi Beng ikut menjerit keras.

Sementara itu Sui Leng-kong sudah mencengkeram baju gadis itu sembari menjerit:

"Thiat Tiong-tong? Kau... yang kau maksud benar-benar Thiat Tiong-tong?"

"Benar! Mana ada orang lain yang jauh lebih banyak berkorban daripada Thiat Tiong-tong?" kata gadis berbaju hitam itu sedih, "kecuali untuk Thiat Tiong-tong, mana mungkin aku akan begitu bersedih."

Sekujur badan Sui Leng-kong mulai gemetar keras, tubuhnya mendadak jadi rapuh bagai selembar daun kering yang dihembus angin kencang, jeritnya:

"Kau bohong... Thiat Tiong-tong tak mungkin mati, dia tak mungkin mati

"Dia memang tak pantas mati, tapi dia... dia benar-benar telah mati... Enci Sui, kau anggap aku tega menipumu?"

"Kau... kau kenal aku? Siapa kau?"

"Leng... Cing-peng...."

Sambil menjerit keras Sui Leng-kong berpaling ke arah gadis yang lain.

Perlahan-lahan gadis berkerudung hitam itu melepaskan kain cadarnya dan menampilkan wajahnya yang cantik jelita, wajah yang telah basah oleh air mata....

Dia tidak lain adalah UnTay-tay.

Tubuh Sui Leng-kong tampak gontai, mendadak dia merasa pikirannya kosong, tidak ada lagi secuwil kekuatan pun yang menopang tubuhnya.

Dia cukup mengerti, perkataan orang lain mungkin saja bohong, tapi kedua orang ini tidak nanti akan membohongi dirinya... tubuhnya mulai roboh lemas.

Buru-buru Gi Beng memeluk tubuhnya sambil berteriak:

"Siapa yang telah membunuh Thiat Tiong-tong? Siapa yang telah membunuh Thiat Tiong-tong? Cepat beritahukan kepadaku."

"Orang itu adalah adik angkatnya, Im Ceng!" sahut Un Tay-tay dengan kepala tertunduk.

Sekali lagi tubuh Sui Leng-kong bergetar keras.

Gi Beng ikut tertegun, lama kemudian dia baru bergumam:

"Im Ceng... Im Ceng... dimana dia sekarang?"

"Dia pun telah mati!"

Jiwa Sui Leng-kong yang sudah melemah bagaimana mungkin bisa menerima pukulan batin seberat ini? Belum sempat berteriak, kembali dia jatuh tidak sadarkan diri.

Gi Beng mendongakkan kepala memandang langit, jeritnya amat sedih:

"Ooh, Thian... sudah terjadi tragedi yang begitu mengenaskan di dunia ini, kenapa kau tidak mencampurinya?"

Tentu saja dia tidak tahu kalau pada saat yang bersamaan telah terjadi peristiwa yang menyedihkan di tempat lain.

Walaupun Thiat Tiong-tong belum mati, namun dia jauh lebih menderita dan tersiksa dari pada mati.

Penderitaan dan siksaan yang dialaminya selama ini, kecuali dia pribadi, mungkin tidak ada orang kedua di dunia ini yang bisa menerimanya, hati dan perasaannya benar-benar sudah dipoles menjadi lebih tangguh daripada lempengan baja.

Sambil menggertak gigi, dia usir jauh-jauh semua persoalan yang tidak patut dipikirkan, semua masalah yang sulit dilupakan ....

Andaikata dia sendiri pun tidak memiliki masalah masa lalu yang memedihkan hati dan sukar terlupakan, tidak mungkin dia bisa mengetahui betapa sulit dan susahnya untuk "melupakan" semuanya itu.

Tapi Thiat Tiong-tong yang ulet dan gigih berhasil melakukannya, dia berhasil menghimpun semua semangat, pikiran dan tenaganya untuk berlatih siang malam.

Dia mati-matian menyiksa diri, mati-matian melecuti diri sendiri, dia tidak memberi waktu yang cukup bagi diri sendiri untuk beristirahat, karena begitu dia berhenti berlatih, siksaan itupun mulai menggigit dan menyiksa batinnya lagi, menyiksa tubuhnya bagai pagutan ular berbisa.

Sementara itu sepanjang hari Kaisar malam hanya duduk termenung bagaikan sebuah patung batu.

Lorong rahasia itu meski tetap tampil indah dan mewah, namun sudah kehilangan gelak tawa yang riang dan ramai, semuanya berubah jadi gelap tidak bersinar, sepi, hening hingga susah tertahankan oleh siapa pun.

Kawanan gadis yang lincah dan menyenangkan pun telah kehilangan senyuman mereka yang menawan, terkadang sewaktu memandang dari balik cermin pun, mereka seolah lupa bagaimana tampang sendiri ketika sedang tertawa.

Mereka tiada hentinya melecuti diri sendiri, siang malam tanpa berhenti berusaha menyingkirkan guguran bebatuan yang menyumbat lorong itu, mereka berusaha secepatnya menyelesaikan pekerjaan itu, membuat sebuah jalan tembus.

Akhirnya sampailah pada hari ini, hari dimana menurut perkiraan mereka sudah berada sangat dekat dengan pintu keluar, tinggal bekerja setengah hari lagi, seluruh lorong rahasia itu sudah dapat di tembus.

Waktu itu wajah mereka sudah sayu dan kucal, rambut mereka sudah kehilangan cahayanya, pakaian indah yang mereka kenakan pun sudah robek dan compang-camping.

Jari jemari mereka yang semula halus dan ramping, kini sudah berubah kasar dan penuh ditumbuhi kulit keras, kerlingan mata mereka yang jeli pun dipenuhi butiran air mata.

Tentu saja air mata mereka adalah air mata kegembiraan. Setelah berjuang dan bersusah payah sekian lama, pada akhirnya jerih-payah mereka membuahkan hasil.

Khusus hari ini, Thiat Tiong-tong pun ikut meninggalkan latihannya untuk bergabung dengan mereka, malah Kaisar malam yang selama ini bagaikan patung pun sudah mulai nampak bergairah hidup.

Tampaknya lorong rahasia itu segera akan tembus, perasaan mereka ketika itu sangat gembira, sangat senang, perasaan yang tidak terlukiskan dengan perkataan apapun.

Sayangnya, di saat yang terakhir itulah.... Mendadak mereka jumpai ada sebuah batu raksasa seberat ratusan ribu kati menghadang jalan terakhir mereka, memisahkan harapan mereka yang terbesar, menghancurkan kegembiraan mereka yang terbesar, membuat seluruh jerih-payah berlalu dengan begitu saja.

Kini semua senyuman, semua kegembiraan telah berubah, berubah jadi derai air mata....

Dalam waktu singkat semua orang tertegun, semua orang berdiri melongo, seluruh kekuatan tubuh kawanan gadis itupun ikut berubah jadi kekosongan, kehampaan.

Satu per satu mereka berlutut di tanah sambil menangiS tersedu-sedu, mereka merasa seakan tidak punya tenaga lagi untuk bangkit berdiri.

Sepasang mata Kaisar malam telah berubah jadi merah membara, tubuhnya gemetar keras, rambutnya berdiri kaku bagai landak, sepasang kepalannya mengepal kuat-kuat, seolah sedang menggenggam semua kesedihan dan kegusaran yang tak mampu diucapkan.

Thiat Tiong-tong sendiri pun berdiri tertegun sambil mengawasi batu raksasa yang mustahil bisa digeser dengan tenaga manusia, pikirnya dengan sedih, "Thian... wahai, Thian... apakah kau benar-benar hendak memerangkap kami di tempat ini? Mengurung kami sampai mati?"

 

BAB 33.

Rahasia si Dewa Racun.

 

Tapi pada saat itulah di dunia persilatan telah tersiar sebuah berita yang menggemparkan: "Kaisar Malam telah muncul kembali!"

Tentu saja berita ini tersiar dari pulau Siang-cun-to, Un Tay-tay pun ikut mendengarnya.

Ketika Sui Leng-kong tersadar kembali dari pingsannya, secara ringkas Un Tay-tay mengisah­kan kejadian yang telah berlangsung... bercerita dengan air mata berlinang.

Sui Leng-kong maupun Gi Beng mendengarkan kisah itu dengan air mata mengucur pula.

Terdengar Un Tay-tay berkata lebih lanjut:

"Mereka telah mati, aku merasa tidak berarti hidup seorang diri, sebenarnya aku pun ingin menyusul mereka berdua, tapi...."

Ditatapnya Sui Leng-kong dengan pandangan mendalam, kemudian terusnya:

"Bila kita harus mati dalam keadaan begini, jelas kematian kita sama sekali tidak berharga, paling tidak kita harus melakukan sesuatu terlebih dulu demi mereka, kemudian baru mati. Dengan begitu kematian kita ada nilainya, karena kita mati dengan membawa jasa, maka tidak sia-sia kematian kita ini."

Walaupun perkataan itu seakan ditujukan kepada diri sendiri, tidak disangkal yang menjadi sasaran pembicaraan adalah Sui Leng-kong.

Dengan pandangan sayu Sui Leng-kong memandang setitik cahaya bintang nun di ujung dunia sana, gumamnya:

"Betul, kalau mati pun, harus ada nilainya......aku tidak akan mati dengan percuma."

Diam-diam Un Tay-tay menghela napas, katanya lagi:

"Aku tidak mampu berdiam lebih lama di pulau Siang cun-to, bila aku dipaksa mengendon terus di sana, kalau tidak mati sengsara pasti akan edan jadinya."

Di antara beberapa orang gadis itu, kesedihan yang dialami Gi Beng paling enteng, pikiran dan perasaannya seketika diliputi rasa ingin tahu yang besar.

Sesudah mengedipkan mata berulang kali, tidak tahan dia bertanya:

"Aku dengar orang yang berdiam di pulau Siang cun-to sudah putus hubungan dengan keramaian duniawi, bagaimana ceritanya sehingga Jit ho Nio nio mengizinkan kau pergi meninggalkan pulau itu?"

"Dia tidak pernah menyetujui permintaan­ku, aku yang pergi sendiri," jawab Un Tay-tay.

Gi Beng membelalakkan matanya lebar-lebar, teriaknya terkejut:

"Oooh, jadi kau melarikan diri? Konon pulau Siang cun-to ibarat sarang naga gua harimau, dengan cara apa kau melarikan diri?"

"Walaupun peraturan yang berlaku di pulau Siang cun-to sangat ketat dan keras, namun belakangan telah terjadi berbagai peristiwa di situ, khususnya ada satu kejadian yang membuat suasana di pulau Siang cun-to jadi kalut."

"Kejadian yang bisa menggemparkan pulau Siang cun-to sudah pasti merupakan satu peristiwa yang luar biasa... aaah! Benar, jangan-jangan gara-gara kedatangan Lui-pian Lojin yang ingin menuntut balas?"

"Lui-pian Lojin  terhitung jagoan macam apa? Kenapa nona menganggapnya sebagai manusia luar biasa? Masih mending kalau dia tidak datang, bila berani menginjakkan kakinya di pulau itu, dapat dipastikan dia tidak bakal bisa balik lagi!"

"Lantas lantaran siapa?" tanya Gi Beng dengan kening berkerut, "masa di kolong langit saat ini masih ada jagoan lain yang lebih tangguh ketimbang Lui-pian Lojin? Aaah! Betul, masih ada seorang lagi."

Kedua orang itu saling berpandangan sekejap, tentu saja dalam hati mereka sudah tahu siapa yang dimaksud.

"Tapi...." kembali Gi Beng berseru, "tapi dia... sudah lama dia tidak pernah muncul."

Walaupun tidak ada yang menyinggung tentang nama tokoh itu, namun Sui Leng-kong pun dapat menebak siapa yang dimaksud, tiba-tiba perasaan gembira dan terharu yang aneh melintas dalam benaknya.

Terdengar Un Tay-tay berkata: "Benar, selama ini Kaisar malam memang tidak pernah tampil di depan umum,  hal ini dikarenakan dia sudah dikurung oleh Jit ho Nio nio di dalam sebuah gua di tepi pesisir laut."

Sui Leng-kong tidak kuasa menahan diri lagi, sambil menjerit kaget, tanyanya dengan suara gemetar:

"Di... ada dimana gua itu? Apakah kau.. kau tahu?"

"Sekalipun tahu juga tidak ada gunanya, karena belum lama berselang Kaisar malam telah berhasil meloloskan diri dari dalam gua itu."

"Jadi dia orang tua sudah muncul kembali dalam dunia persilatan?" seru Gi Beng dengan wajah berubah.

"Aaaai ...." Un Tay-tay menghela napas panjang, "kini dunia persilatan sedang dilanda kekacauan, mana mungkin bisa kekurangan dia?"

"Tidak heran pulau Siang-cun-to menjadi heboh...." gumam Gi Beng, dia berpaling memandang Sui Leng-kong sekejap.

Tampak wajah gadis itu sedang diliputi pergolakan emosi, setengahnya menunjukkan perasaan kecewa dan setengahnya lagi merasa gembira.

Yang membuatnya kecewa adalah setelah sang ayah terjun kembali ke dalam dunia persilatan, keadaannya pasti bagaikan naga sakti yang terbang ke angkasa, sampai kapan lagi dia baru bisa mendengar kabar berita tentang dirinya.

Yang membuatnya gembira adalah ternyata sang ayah masih hidup sehat walafiat di kolong langit, bagaimanapun juga suatu saat nanti mereka pasti punya kesempatan untuk saling berjumpa.

Namun kegembiraan sesaat seketika tenggelam kembali oleh perasaan sedih yang luar biasa, perasaan sedih yang selamanya akan melekat di dalam hatinya.

Thiat Tiong-tong telah pergi!

Selamanya dia tidak akan bisa menyaksikan senyumannya yang lembut dan tegas, selamanya tidak dapat menyaksikan cahaya matanya yang berapi walau terkadang nampak begitu lembut dan halus.

Semua itu sudah terlalu banyak menempati ruang hatinya, dan kini perasaan itu tinggal lembaran kosong, dia menyesal, dia kecewa, karena tiada sesuatu apapun di dunia ini yang bisa menggantikan dan memperbaiki kekosongan hatinya itu.

Padahal bukan hanya dia seorang yang merasakan hal itu, Un Tay-tay, Leng Cing-peng, semuanya ikut merasakan hati yang pedih, perasaan yang hancur lebur, air mata yang berderai....

Pada saat semua orang sedang dirundung kepedihan hati yang membetot sukma, di saat semua orang hampir tak kuasa menahan diri, tiba-tiba terdengar Gi Beng menjerit kaget:

"Ular... ular...."

Walaupun dalam kegelapan malam tidak nampak raut wajahnya, namun bisa diduga wajahnya saat itu pucat-pias bagai mayat, dengan jari tangan yang gemetar dia menuding ke arah batu cadas persis di hadapannya.

Di atas batu cadas, di bawah hio yang masih mengepulkan asap harum, tampak seekor ular kecil yang berbentuk aneh dengan warna yang aneh pula sedang meliukkan tubuhnya, setiap kali menggerakkan badan, sekilas cahaya keemas-emasan segera membias keluar.

Panjang ular itu tidak lebih hanya satu jengkal, tubuhnya sebesar ibu jari, boleh dibilang kecil menggemaskan, namun lidah merahnya yang menjulur keluar masuk justru mendatangkan perasaan seram bagi siapa pun.

Sebenarnya Un Tay-tay ikut terperanjat, namun setelah tahu ular itu hanya seekor ular yang sangat kecil, dengan kening berkerut dia siap mengambil tindakan.

Belum sempat tangannya melancarkan serangan, dengan cepat Sui Leng-kong telah menariknya, bahkan dia sempat merasakan jari tangannya yang gemetar keras, hal yang membuktikan betapa ngeri dan seramnya perasaan gadis itu.

Tergerak perasaan Un Tay-tay, cepat dia berpaling, dilihatnya nona itu sedang membelalak­kan  matanya  dengan  perasaan  ngeri,  dengan keheranan dia pun bertanya:

"Ular itu sangat kecil, apa yang kau takuti?"

"Ular itu pasti sangat beracun, jangan kau usik dia," sahut Sui Leng-kong cepat.

Sejak kecil dia memang dibesarkan di wilayah rawa-rawa, tempat yang paling ideal untuk hidup ular berbisa, namun selama ini belum pernah sekalipun dia jumpai ular berbisa dengan bentuk sedemikian aneh dan seramnya.

Dalam pada itu, ular emas itupun hanya melingkarkan tubuhnya di atas batu tanpa bergerak, seakan-akan binatang itu sama sekali tidak pandang sebelah mata pun terhadap keempat manusia yang berada di hadapannya.

Makin dilihat Gi Beng merasa semakin ketakutan, tanyanya lagi dengan gemetar:

"Ba... bagaimana sekarang?"

Sui Leng-kong memandang sekeliling tempat itu sekejap, kemudian sahutnya:

"Aku percaya ular berbisa ini memiliki kemampuan yang luar biasa, jarang terdapat ular semacam ini walau di tengah hutan belantara sekali pun."

"Ke... kenapa binatang itu bisa muncul di sini?" tanya Gi Beng tergagap.

"Pasti ada orang yang sengaja melepaskannya di sini!" kata Sui Leng-kong.

Gi Beng menarik napas dingin, ketika mendongakkan kepala, segera terlihat olehnya di atas bukit di bawah rindangnya pepohonan, berdiri sesosok bayangan manusia.

"Itu... itu dia, orang... orangnya ada di situ!" teriak Gi Beng dengan hati tercekat.

Terdengar orang yang berada di balik kegelapan itu tertawa dingin, ejeknya:

"Masih untung budak itu luas pengetahu­annya, kalau tidak, hmmmm... saat ini kalian berempat sudah pergi menghadap raja akhirat."

Orang itu mengenakan topi caping yang terbuat dari bambu dan berjubah pendeta, kalau dilihat sepintas, dia mirip sekali dengan seorang Tosu, sayang di tengah kegelapan malam sulit untuk melihat jelas raut mukanya.

"Kami tidak punya dendam sakit hati denganmu, kenal pun tidak, kenapa kau... kau melepaskan ular beracun itu untuk mencelakai kami?" tegur Gi Beng.

Kembali orang itu tertawa dingin.

"Betul, kalian empat orang budak cilik memang tidak ada dendam sakit hati dengan Lohu, tapi orang yang sedang kalian tangisi adalah musuh besarku!"

"Maksudmu... maksudmu Thiat Tiong-tong?" tanya Gi Beng tercengang.

Orang itu tertawa seram:

"Thiat Tiong-tong... wahai, Thiat Tiong-tong, kau bajingan laknat, manusia bedebah, kau adalah binatang yang bukan dilahirkan manusia! Kau.....”

Sambil bicara, dia mengertak gigi kuat-kuat hingga berbunyi gemerutuk, nada ucapannya dipenuhi rasa benci dan dendam yang merasuk tulang.

Tiba-tiba Leng Cing-peng melompat maju ke depan, teriaknya gemetar:

"Dia sudah mati, buat apa kau masih mengumpatnya? Kau...."

Hawa napsu membunuh mendadak terpancar dari balik mata orang itu, bentaknya:

"Kim-nu, serang!"

Tiba-tiba sekilas cahaya emas berkelebat, suara pembicaraan Leng Cing-peng pun seketika terhenti di tengah jalan.

Sui  Leng-kong menyaksikan tubuhnya bergetar keras, kemudian paras mukanya berubah hebat, dia ingin menarik tangannya, namun sayang tak sempat, segera jeritnya kaget:

"Kau... kau tidak apa-apa?"

Di bawah sinar bintang, tampak kain cadar hitam yang menutupi wajah Leng Cing-peng bergelombang tidak beraturan, keempat anggota tubuhnya mulai mengejang keras, dia seperti ingin mengatakan sesuatu, namun sayang tidak punya tenaga lagi untuk mengutarakannya keluar.

Ketika berpaling lagi ke arah ular emas itu, ternyata binatang melata itu sudah balik kembali ke atas batu, ternyata hanya sedikit melejitkan tubuhnya, ular itu sudah mematuk tubuh Leng Cing-peng, kecepatan serangannya sungguh luar biasa.

Pucat-pias wajah Sui Leng-kong, baru saja dia bersama Un Tay-tay hendak merangkul tubuhnya, Leng Cing-peng sudah roboh tergeletak di tanah sambil berseru:

"Kau... kau sungguh... sungguh keji!"

Orang itu tertawa seram.

"Hmrnm, siapa suruh kau cari mampus, jangan salahkan aku. Kini Kim-nu sudah meninggalkan bekas gigitan di atas pergelangan tanganmu, berarti tiada obat pemunah lagi di dunia ini yang bisa menolong nyawamu, tunggu saja saatmu bertemu raja akhirat!"

"Ti... tidak salah," kata Leng Cing-peng pula, "aku... aku segera akan bertemu... bertemu dengan Thiat Tiong-tong... kau... kabulkanlah keinginanku ayah...."

Begitu sebutan 'ayah' diucapkan, semua orang terperanjat

"Apa? Dia adalah ayahmu?" tanya Gi Beng setengah menjerit.

"Benar," sahut Leng Cing-peng sambil tertawa sedih.

Kelihatannya bayangan manusia itupun merasa amat terperanjat, tanyanya:

"Si... siapa kau?"

"Putrimu... Leng Cing-peng...."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, orang itu sudah membentak keras sambil berlari naik ke atas bukit bagai orang kesurupan, dengan tangan sebelah dia menarik lengan Leng Cing-peng sementara tangan yang lain digunakan untuk merobek kain kerudung wajahnya.

Sinar bintang yang bertaburan di angkasa membiaskan cahayanya menyinari wajah Leng Cing-peng yang pucat-pasi, perempuan itu berdiri dengan wajah senyum tidak senyum, meski air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Tampak sekujur tubuh orang itu gemetar keras, sambil roboh ke tanah teriaknya gemetar:

"Peng-ji... ternyata kau memang Peng-ji...."

Orang itu memiliki kening tinggi dengan hidung bengkok seperti paruh elang.

Dia, tidak lain adalah Leng It-hong!

Sekali lagi sebuah tragedi berlangsung di depan mata. Un Tay-tay, Sui Leng-kong maupun Gi Beng tidak kuasa menahan rasa sedih, semua orang berdiri mematung dengan air mata berlinang, untuk sesaat mereka tidak tahu harus berbuat bagaimana.

Terdengar Leng Cing-peng berkata lagi sambil tertawa sedih:

"Ayah... biarpun kau tidak bisa mengenali putrimu, tapi... tapi putrimu sudah mengenali suara ayah."

"Ke... kenapa tidak kau katakan sejak tadi?" bentak Leng It-hong keras.

"Apakah ayah pernah memberi kesempatan kepada  putrimu  untuk  bicara? Setiap kali menyinggung tentang Thiat Tiong-tong, hatimu selalu terbakar oleh rasa benci dan dendam, pernahkah kau mendengarkan suara orang lain?"

Leng It-hong mengepal sepasang tinjunya kuat-kuat, giginya saling beradu hingga menimbulkan suara gemerutuk, tiba-tiba dia mendongakkan kepala dan menjerit keras:

"Thian... oooh, Thian... aku benci... aku sangat benci!"

"Dia sudah mati, apakah kau masih membencinya?" kata Leng Cing-peng.

"Kalau bukan gara-gara dia, tidak akan terjadi peristiwa seperti hari ini... akan kucari mayatnya, akan ku cincang tubuhnya hingga hancur berkeping-keping, aku tidak akan puas sebelum berhasil melumat tubuhnya!"

Di wajah Leng Cing-peng yang pucat-pias tiba-tiba tersungging sekulum senyuman aneh, katanya:

"Sebentar lagi putrimu akan bertemu dengannya."

"Kau... kau berani?" hardik Leng It-hong.

"Putrimu berani... tidak seorang manusia pun di dunia ini yang mampu menghalangi aku lagi... selama hidup belum pernah aku merasakan ketenangan dan kegembiraan seperti saat ini, aku....

Perlahan-lahan dia memejamkan mata, sekulum senyuman mulai menghiasi ujung bibirnya, senyuman yang amat sayu dan mengenaskan

Tiba-tiba nada suaranya berubah jadi sangat halus dan lembut, katanya lagi:

"Coba lihat... coba lihat... dia sedang menggapai kepadaku... apakah kalian telah melihatnya?"

Sekujur tubuh Leng It-hong gemetar keras, gemetar sangat hebat.

"Aaaai! Sayang kalian tidak dapat melihatnya...." bisik Leng Cing-peng lagi, "begitu lembut senyumannya, begitu hangat tawanya ... aaaai! Tidak kusangka, sebelum mati... aku... aku dapat merasakan kegembiraaan ini."

Un Tay-tay yang semenjak tadi sudah bermandikan air mata, kini tak sanggup mengendalikan diri lagi, dia mulai menangis sesenggukan.

"Jangan menangis... jangan mengganggu ketenanganku... coba lihat, kegelapan yang indah makin lama semakin dekat... senyumannya... senyumannya makin lama pun makin mendekat."

Suaranya makin lama semakin lemah dan lirih, dia benar-benar mulai terlelap dalam tidurnya.

Raut muka Leng It-hong yang kurus kering, kini telah berubah hijau membesi, sinar matanya berubah bagaikan merah darah.

Tiba-tiba dia membalikkan tubuh, berha­dapan langsung dengan ular emasnya yang memancarkan sinar aneh, tampaknya dia telah melimpahkan semua kesalahan itu pada binatang peliharaannya, menyalahkan ular emasnya.

"Kau... semua ini gara-gara kau!" dengan suara bagaikan raungan binatang liar dia menjerit.

Mendadak dia menggerakkan telapak tangannya dan mencengkeram ular emas itu.

Agaknya si ular emas itupun tidak menyangka, tuan yang selama ini dibela mati-matian malah berbalik melampiaskan rasa dendamnya, dalam gusar dan kagetnya, secepat kilat dia berbalik memagut pergelangan tangan Leng It-hong.

Pagutan ular berbisa ini sangat mengerikan, pagutan yang mematikan!

Leng It-hong merasa ulu hatinya bagai tertusuk jarum tajam, sekujur tubuhnya mengejang keras, cengkeramannya atas ular berbisa itupun semakin bertambah kencang.

Otot hijau yang menonjol dari punggung tangannya yang kurus kering membuat jari jemarinya berubah makin memucat

Pada mulanya ular emas itu masih berusaha meronta, tapi lambat-laun tidak mampu berkutik lagi... perlahan tapi pasti, kepala ular itu tertunduk lemas, sekulum senyum kepuasan yang sadis pun tersungging di ujung bibir Leng It-hong.

Un Tay-tay sekalian merasakan tangan dan kakinya dingin kaku, pemandangan seram yang terpampang di depan mata membuat sekujur tubuh mereka basah kuyup oleh keringat dingin.

Mendadak Leng It-hong membuka tangan­nya, telapak tangannya sudah robek dan hancur berlepotan darah kental, gigitan ular emas yang kuat bagai jepitan baja telah mengubah telapak tangannya jadi hancuran daging, memusnahkan hasil jerih payahnya selama ini.

Gi Beng tidak tahan melihat kengerian itu, dia menjerit tertahan kemudian roboh tidak sadarkan diri.

Leng It-hong mendongakkan kepala tertawa seram, gelak tertawanya penuh dengan rasa bangga dan puas, seluruh badannya pun mulai berubah hitam pekat, warna hitam yang menyeramkan.

Tanpa terasa Sui Leng-kong berdiri berhimpitan dengan Un Tay-tay, tubuhnya gemetar, hatinya tercekat, kalau bisa mereka ingin membalikkan tubuh kabur sejauh-jauhnya dari tempat itu, sayang sepasang kakinya sudah lemas, sudah tidak mau menurut perintah lagi.

Tawa Leng It-hong bertambah lemah.....makin lama semakin rendah dan berat... badannya gontai sebelum akhirnya roboh terjungkal... roboh lemas persis di atas tubuh putrinya.

Suasana amat hening, tidak terdengar sedikit suara pun, langit hening bagaikan mati, hanya asap hio yang masih menari dan beterbangan, sekalipun begitu, tarian asap hio pun serasa membawa udara kematian yang mengerikan, seperti hawa yang memancar dari malaikat elmaut, berputar di kegelapan malam, siap mencabut nyawa manusia.

Sui Leng-kong dan Un Tay-tay berdiri mematung, sampai ujung jari pun serasa tidak sanggup bergerak, hanya rambut mereka yang masih berkibar karena hembusan angin, satu-satunya kehidupan di tengah kematian.

Angin, tiada hentinya berhembus, daun dan ranting tiada hentinya menjerit, menjerit dipermainkan angin.

Entah berapa lama sudah lewat, dengan tangan yang gemetar Un Tay-tay ingin menarik tubuh Leng It-hong, tubuh yang menindih di atas Leng Cing-peng, gadis yang mengenaskan.

Pada saat itulah mendadak dari sisi tubuhnya telah bertambah dengan sesosok bayangan hitam, bayangan itu muncul tanpa menimbulkan sedikit suara pun, seolah-olah dia adalah roh halus yang muncul dari dasar bumi.

Dengan perasaan terkesiap Un Tay-tay dan Sui Leng-kong membalikkan badan, di bawah cahaya bintang terlihat orang itu berperawakan tinggi besar seperti iblis yang datang dari neraka, tahu-tahu dia sudah berdiri di belakang mereka berdua, orang itu tidak lain adalah sang pendeta pemakan ular.

Jubah pendetanya yang berwarna merah menyala nampak begitu menyolok seram di tengah kegelapan malam yang mencekam, ditatapnya Leng It-hong sekejap dengan pandangan dingin, sinar matanya terasa begitu menyeramkan, seram hingga tidak terlukiskan dengan perkataan.

Un Tay-tay maupun Sui Leng-kong sudah kelewat banyak dibuat terkejut oleh kejadian malam ini, kini mereka tidak sanggup lagi menjerit kaget, yang bisa dilakukan hanya berdiri termangu sambil mengawasi orang itu, tidak sepatah kata pun mampu diucapkan.

Dengan sorot mata aneh pendeta berbaju merah itu masih mengawasi terus Leng It-hong yang tidak jelas mati hidupnya, sekulum senyuman aneh, penuh misterius dan rasa gembira tiba-tiba tersungging di ujung bibirnya.

Terdengar dia bergumam tiada hentinya:

"Dewa racun menampakkan diri, tiada tandingan di kolong langit, perguruan Cia-tok (pemakan racun) malang melintang sampai ujung dunia... Dewa racun menampakkan diri, tiada tandingan di kolong langit, perguruan Cia-tok malang melintang sampai ujung dunia...."

Perkataan itu diucapkan berulang kali, tapi yang diulang hanya berapa patah kata itu saja.

Walaupun Sui Leng-kong dan Un Tay-tay tidak paham apa yang sedang dimaksud, namun dapat mereka rasakan di balik kata-kata yang pendek itu pasti mengandung satu rahasia yang menakutkan.

Tiba-tiba pendeta berbaju hitam itu berpaling ke arah Un Tay-tay dan Sui Leng-kong, kemudian tanyanya:"Apakah kalian paham dengan perkataanku? Dewa racun menampakkan diri, tiada tandingan di kolong langit, perguruan Cia-tok malang melintang sampai ujung dunia...."

Walaupun pendeta itu punya tampang yang menakutkan, kelihatannya tidak bermaksud buruk terhadap Sui Leng-kong dan Un Tay-tay.

Terpaksa Un Tay-tay menggeleng.

"Kami tidak paham."

"Benar, mana mungkin dua orang bocah itu mengerti...jangankan mereka, berapa banyak orang di kolong langit yang mengerti?"

Kelihatannya makin bicara dia semakin bangga, sampai akhirnya tidak kuasa lagi dia mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

Gelak tawanya nyaring bagai guntur yang menggelegar di angkasa, bagaikan juga gulungan ombak yang memecah tepian, membuat daun dan ranting berguguran, membuat gendang telinga Sui Leng-kong serta Un Tay-tay terasa sakit.

Sepeminuman teh kemudian gelak tertawa itu baru melemah, tapi gendang telinga Un Tay-tay serta Sui Leng-kong sudah terasa kaku dan kesemutan, tidak sanggup menangkap suara lain lagi.

Pada saat itulah dari balik remangnya cuaca mendadak terdengar seseorang tertawa dingin sambil menyela:

"Dewa racun menampakkan diri, tiada tandingan di kolong langit, perguruan Cia-tok malang melintang sampai ujung dunia... hnnnm, apa susahnya memahami perkataan semacam itu?"

Dari balik kegelapan, terlihat seseorang berjalan keluar dengan langkah yang sangat lamban.

Dia adalah seorang pemuda tampan berbaju perlente, sekalipun sorot matanya sedikit menyeramkan, meski air mukanya sedikit memucat, namun perawakan tubuhnya lurus bagai sebatang pit.

Begitu tahu siapa yang datang, lagi-lagi Sui Leng-kong menjerit kaget, dia tidak menyangka kalau orang itu adalah Gi Teng, terlebih tidak menyangka kalau Gi Teng bakal muncul secara tiba-tiba pada saat sekarang.

Yang membuatnya tidak habis mengerti adalah darimana Gi Teng tahu tentang rahasia "Dewa racun menampakkan diri, tiada tandingan di kolong langit"?

Pendeta berbaju merah itu pun kelihatan agak tercengang setelah mengetahui yang muncul hanya seorang pemuda, kontan saja ia tertawa dingin.

"Usiamu masih begitu muda, tahu apa kau?"

"Darimana kau  tahu  kalau  aku  tidak paham?"

Saat ini bukan hanya wajahnya kelihatan kaku, gerak-geriknya pun nampak kaku macam orang tidak sadar, jawaban yang diucapkan terdengar datar tanpa emosi, jauh berbeda dengan kelincahan dan kegarangannya di waktu biasa.

Un Tay-tay tidak terlalu tercengang kendatipun dia dapat menangkap keanehan dari sikap pemuda ini, sebaliknya Sui Leng-kong kelihatan amat terperanjat.

Dalam pandangan gadis ini, penampilan Gi Teng sekarang seolah bukan berasal dari Gi Teng di hari biasa, dia seperti sudah kehilangan kesadaran, seakan sudah disihir atau ditenung orang lain.

"Kalau memang mengerti, tahukah kau siapa aku?" kembali pendeta berbaju merah itu bertanya.

"Cia tok kaucu (ketua perkumpulan pema­kan racun), Siang-tok Thaysu!"

Tidak terlukiskan rasa kaget Un Tay-tay, pikirnya, "Aaah, ternyata dia adalah jago lihai nomor satu dari golongan Mo kau, Siang-tok Thaysu yang sudah tiga puluh tahun hilang dari dunia persilatan!"

Walaupun Un Tay-tay belum lahir ketika nama besar Siang-tok Thaysu menggetarkan kolong langit, namun bukan satu dua kali dia pernah mendengar nama besar orang ini.

Sekalipun dia belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kelihaian kungfu Siang-tok Thaysu, namun semua orang yang pernah dijumpai, pasti akan tercekat dan terkesiap hatinya begitu mendengar nama orang itu disebut

Dan kini Un Tay-tay telah saling berhadapan dengan tokoh ampuh yang menggetarkan sungai telaga itu, tidak heran hawa dingin seketika mencekam seluruh tubuhnya.

Terdengar Siang-tok Thaysu berkata lagi dengan kening berkerut:

"Tidak kusangka dengan usiamu yang masih begitu muda, ternyata tahu akan nama Loceng (pendeta tua), coba aku bertanya sekali lagi, apa yang dimaksud dengan tubuh Dewa racun?"

"Tubuh Dewa racun merupakan salah satu dari dua ilmu sakti yang dimiliki perguruan Cia tok kau."

"Benar!"

"Bila Dewa racun sudah terlihat di badan, seluruh tubuhnya akan berubah jadi sangat beracun, sekalipun seorang jago dengan taraf ilmu silat yang sempurna pun akan keracunan hebat bila tersentuh tubuhnya!"

"Benar!" kembali Siang-tok Thaysu manggut manggut.

"Tapi untuk bisa melatih tubuh Dewa racun, seseorang harus mengorbankan dulu nyawa seorang murid Cia tok kau yang sudah memiliki ilmu beracun tingkat lima."

"Benar!"

"Sayangnya anggota perguruan Cia tok kau sangat minim, ini disebabkan karena tidak gampang untuk menjadi pemula yang melatih ilmu beracun ini, bahkan lebih sulit daripada memanjat ke langit, kendatipun begitu, berhasil menguasai ilmu itu maka akan sangat mudah untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi. Sepanjang sejarah, dari sepuluh orang yang belajar ilmu beracun ini ada sembilan orang di antaranya sudah tewas duluan ketika mulai belajar ilmu itu sehingga amat langka untuk bisa menemukan seorang murid yang memiliki kemampuan racun tingkat lima, itulah sebabnya belum pernah seorang manusia pun yang mampu belajar hingga mencapai taraf Dewa racun dalam badan."

"Betul!" lagi-lagi Siang-tok Thaysu manggut-manggut.

Setelah untuk kesekian kalinya mengatakan "betul", paras mukanya yang semula dingin sadis kini mulai diliputi perasaan tercengang dan rasa tidak percaya, malah nada suaranya pun ikut sedikit berubah.

Dia benar-benar tidak habis mengerti, darimana anak muda di hadapannya ini bukan cuma tahu tentang rahasia "Dewa racun dalam tubuh", bahkan bisa menguraikan secara jelas dan terperinci.

"Tapi kondisi Leng It-hong sekarang justru sudah mencapai taraf Dewa racun dalam tubuh!" ujar Gi Teng lebih jauh.

Begitu perkataan itu diutarakan, bukan hanya ketiga orang pendengar itu saja yang terperanjat, bahkan Un Tay-tay dan Sui Leng-kong pun ikut berubah wajah.

Tidak aneh bila mereka amat terkesiap, baru saja mereka merasa bergidik karena mendengar uraian tentang Dewa racun dalam tubuh, kini diketahui Leng It-hong telah berhasil mencapai tingkatan yang luar biasa itu, mereka tidak menyangka kalau semua ini telah menjadi satu kenyataan.

Terdengar Gi Teng berkata lebih jauh:

"Ini dikarenakan ilmu Ngo tok sin kang yang dipelajari Leng It-hong telah mencapai tingkat kelima, seluruh darah yang beredar dalam tubuhnya telah mengandung racun jahat, selain itu, dia pun setiap hari harus menelan makhluk beracun untuk mengendalikan pengaruh racun yang telah bersarang di tubuhnya, agar tidak perlu menderita siksaan rasa sakit yang luar biasa, maka kandungan racun yang bersarang di tubuhnya pun makin hari makin bertambah berat, meski pukulan beracunnya semakin mematikan, namun siksaan racun di tubuhnya pun ikut bertambah menghebat.

"Sekalipun dengan cara racun melawan racun dia dapat mengatasi kesulitan ini, namun tanpa terjadinya satu peristiwa besar, mustahil dia bisa lolos dari rongrongan racun yang bersarang di tubuhnya, dan sekarang dia telah mengalami perubahan maha besar itu."

Uraian Gi Teng bukan cuma terperinci, bahkan mengalir keluar dengan lancar, seakan dia sedang menceritakan sebuah rahasia pribadinya saja, kejadian ini bukan cuma membuat Siang tok Thaysu amat terperanjat, Sui Leng-kong pun ikut tercengang dibuatnya.

Dia mencoba berpaling, dilihatnya Gi Beng sedang mengawasi Gi Teng dengan mata terbelalak ebar, terbelalak dengan rasa keheranan yang luar biasa.

Ternyata dia sudah sadar semenjak tadi, bahkan ikut mendengarkan uraian itu dengan terpesona, ditinjau dari mimik mukanya, jelas gadis inipun sedang keheranan, darimana kakaknya bisa mengetahui rahasia besar dunia persilatan itu dengan begitu terperincinya.

Diam-diam Sui Leng-kong berpikir, "Kalau Gi Teng bisa mengetahui rahasia besar ini, kenapa Gi Beng tidak tahu? Kalau dibilang mereka memang tidak tahu, kenapa saat ini Gi Teng bisa menguraikan secara terperinci?"

Menghadapi persoalan yang penuh misteri ini, jangankan sekarang dia memang tidak punya waktu untuk memikirkannya, sekalipun dipikir secara cermat pun belum tentu dia mengetahui jawabannya.

Dalam pada itu Gi Teng telah berkata kembali:

"Ular emas itu bukan cuma amat beracun, bahkan memiliki kecerdasan yang luar biasa, binatang itu merupakan salah satu di antara tujuh jenis ular paling beracun yang ada di kolong langit. Berdasarkan rahasia melatih ilmu dari perkumpulan Cia tok kau, setiap hari Leng It-hong wajib menggunakan sari darah dalam tubuhnya untuk memberi makan ular itu, agar ular dan dirinya bisa seia sehati, kalau menurut catatan yang ada dalam kitab pusaka Tok kau mo keng, ular emas itu sudah menjadi kekuatan inti Leng It-hong, sudah menjadi jiwa keduanya. Meski kedengarannya agak tidak masuk akal, bukan berarti teori ini tanpa alasan yang jelas."

Mendengar penjelasan yang lebih mirip dongeng ini, Un Tay-tay, Sui Leng-kong serta Gi Beng bertiga merasa hatinya makin tercekat, tanpa sadar mereka berdiri semakin berhimpitan.

Khususnya Gi Beng, biarpun di waktu biasa dia paling lincah dan terbuka, padahal nyalinya terhitung paling kecil, kini dia berdiri dengan tubuh nyaris menggigil.

Kembali Gi Teng menerangkan:

"Barusan Leng It-hong terpagut oleh ular emas itu, padahal racun dalam tubuhnya sudah mempunyai reaksi yang peka terhadap racun ular emas, ketika dua jenis racun saling bertemu, bukan saja seluruh sifat racun yang ada dalam tubuh Leng It-hong terpancing keluar, bahkan terbentuklah racun yang kekuatannya sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari gabungan kedua racun itu, itulah sebabnya racun yang dimiliki Leng It-hong saat ini sudah meningkat puluhan kali ketimbang kekuatan racun ular emas, bukan hanya pukulannya yang berbisa, setiap pori badan, setiap bulu badannya pun amat beracun dan sangat mematikan.

"Padahal kita semua tahu, ular emas itu termasuk salah satu makhluk paling beracun di kolong langit, sementara racun yang dimiliki Leng It-hong saat ini sudah berpuluh kali lipat lebih dahsyat, kalau setetes liur ular beracun cukup mencabut nyawa seseorang, maka garukan kuku jari Leng It-hong saat ini sudah lebih dari cukup untuk merenggut puluhan nyawa manusia!"

Bicara sampai di sini, dia pun berhenti sejenak untuk tarik napas.

Dalam pada itu Un Tay-tay sekalian sudah menggigil karena ngeri, saking takutnya gigi mereka sampai saling beradu.

"Sekalipun begitu, namun belum cukup untuk membentuk 'Dewa racun dalam tubuh'," kata Gi Teng lebih lanjut, "ini dikarenakan dalam tubuh Leng It-hong masih mengeram racun jahat. Namun jika ada jagoan  silat yang tersentuh  oleh tubuhnya, bisa dipastikan dia bakal mampus."

Paras muka Siang-tok Thaysu yang semula merah kini telah berubah jadi hijau membesi, tegurnya dengan suara berat:

"Bagaimana caranya supaya berhasil mencapai taraf Dewa racun dalam tubuh? Kau juga tahu?"

"Setiap umat persilatan pasti tahu, bila seseorang sudah keracunan, terlepas seberapa beratnya racun bersarang di tubuh, maka ketika racun itu mulai bekerja, dia pasti memiliki kekuatan sepuluh kali lebih hebat dari keadaan biasa. Padahal racun yang bersarang di tubuh Leng It-hong sekarang jauh lebih berat dari siapa pun, bisa dibayangkan betapa mengerikannya tenaga yang dia keluarkan sewaktu racun itu mulai bekerja.

"Oleh sebab itu asal dia memanfaatkan kelebihan ini, dengan kekuatan pukulan Ngo tok ciang untuk merangsang kekuatan tersembunyi paling akhir yang dia miliki dan mengubah dirinya menjadi sebuah tubuh beracun, lalu dengan menggunakan obat pemabuk dari perguruanmu merubahnya menjadi sesosok boneka hidup, maka jadilah sebuah alat pembunuh yang hanya menuruti perintahmu seorang. Waktu itu biar dia tidak bisa berpikir lagi secara waras, tapi kekuatan ilmu silatnya sepuluh kali lebih hebat dari kungfunya dulu, ditambah racun jahat yang terkandung dalam tubuhnya, siapa yang sanggup menghadapi kalian lagi? Dengan mengandalkan kekuatan ini, kau pun akan malang melintang di kolong langit tanpa tandingan!"

Begitu perkataan itu selesai diucapkan, Un Tay-tay sekalian langsung merasakan detak jantungnya berdebar keras.

Siang-tok Thaysu berdiri termangu bagai patung, sinar tajam tiba-tiba memancar keluar dari matanya, dengan suara keras hardiknya:

"Darimana kau tahu rahasia perkumpulan kami?"

"Berdirilah lebih dekat, akan kuberitahu," sahut Gi Teng cepat.

Siang-tok Thaysu agak ragu sejenak, akhirnya dengan langkah lebar dia berjalan mendekat.

"Lebih dekat lagi!"

Alis mata Siang-tok Thaysu bekernyit, katanya sambil tertawa dingin:

"Biarpun kau sedang merencanakan siasat busuk, jangan sangka aku takut kepadamu?"

Benar saja, kembali dia maju dua langkah.

Pada saat itulah mendadak terlihat sesosok bayangan manusia melompat keluar dari belakang tubuh Siang-tok Thaysu, begitu cepat gerakan tubuhnya sehingga susah terlihat dengan mata telanjang.

Sui Leng-kong merasakan pandangan matanya kabur, tahu-tahu bayangan manusia itu sudah tiba di hadapannya, dalam tangan orang itu tergenggam sepotong baju besar dan batu besar itu sudah siap dihantamkan ke atas batok kepala Leng It-hong.

Un Tay-tay segera menyadari apa yang terjadi, pikirnya:

"Ternyata pemuda itu sejalan dengan orang ini, dia sengaja memberi uraian yang panjang lebar karena tujuannya untuk memecahkan perhatian Siang-tok Thaysu hingga orang ini berkesempatan untuk membunuh Leng It-hong dan melenyapkan ancaman di masa mendatang."

Di sini pikirannya baru lewat, di sebelah sana batu besar sudah dihantamkan ke bawah.

Jika batu itu sampai dihantamkan sungguhan, dapat dipastikan batok kepala Leng It-hong bakal hancur berantakan, berarti nyawa Leng Cing-peng pun tidak bakal tertolong lagi, wajah cantiknya pasti akan berubah jadi gumpalan daging yang hancur.

Waktu itu Siang-tok Thaysu sudah menyadari apa yang terjadi, sambil membentak gusar dia membalikkan tubuh untuk menolong, sayang keadaan sudah tidak sempat lagi.

Pada saat yang kritis itulah mendadak Sui Leng-kong melompat bangun, dia hantam batu besar itu hingga bergeser tiga jengkal ke samping dan... "Blaaam!", diiringi suara keras, batu itu rontok ke tanah, meninggalkan liang yang sangat dalam.

Sui Leng-kong sendiri langsung berdiri melongo selesai melakukan aksinya itu.

Demi Thiat Tiong-tong, tanpa disadari dia menaruh kesan yang cukup baik terhadap Leng Cing-peng, karenanya terlepas hidup atau mati, Sui Leng-kong tidak tega menyaksikan wajah cantiknya hancur oleh pukulan batu raksasa itu, karenanya tanpa berpikir panjang dia pentalkan batu itu dan menyelamatkan nyawa Leng Cing-peng.

Tapi setelah pukulan dilepas, secara tiba-tiba dia baru teringat akan akibat dari tindakannya itu, tidak tahan perasaannya bergidik.

Orang yang melempar batu cadas itu sama sekali tidak menghentikan gerakan tubuhnya, secepat kilat dia melesat lewat dari situ.

Menanti dia berpaling ketika mendengar suara benturan keras, terdengar orang itu menjerit kaget, tampaknya dia tidak menyangka kalau Sui Leng-kong bakal turun tangan menyelamatkan Siang-tok Thaysu dari kesulitan.

Sedikit dia ragu, Siang-tok Thaysu sudah menghadang jalan perginya, dari balik perawakan tubuhnya yang tinggi besar terpancar hawa pembunuhan yang mengerikan.

Bayangan manusia itu melompat tiga depa ke samping, kelihatannya dia sadar kalau sulit kabur dari situ, maka setelah berhenti bergerak, dia langsung berdiri saling berhadapan dengan Siang-tokThaysu dalam posisi siaga penuh.

Ternyata orang itu mengenakan jubah berwarna hitam yang panjangnya menyentuh tanah, dari balik jubahnya yang berkibar terhembus angin, kelihatan jelas perawakan tubuhnya kurus kering, karena bercadar hitam maka sulit untuk melihat raut muka aslinya.

Empat buah mata yang memancarkan sinar setajam pisau belati saling berpandangan tanpa berkedip, tidak ada yang bicara, tidak ada pula yang bergerak.

Namun dari balik keheningan yang mencekam itulah terasa hawa pembunuhan yang makin lama semakin bertambah berat.

Bukan cuma mereka yang terlibat, bahkan Un Tay-tay sekalian yang menonton dari samping arena pun merasa dadanya sesak dan sulit untuk bernapas.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Siang-tok Thaysu berseru:

"Ternyata kau!"

"Sekarang baru tahu?" orang berbaju hitam itu balik bertanya.

Nada suaranya datar tanpa emosi seakan tak ada keistimewaan apapun, tapi begitu perkataan itu selesai diucapkan, terasalah satu tenaga getaran yang amat memekakkan telinga.

"Seharusnya sudah kuduga sejak tadi," kata Siang-tok Thaysu.

"Betul, seharusnya sudah kau duga."

"Kecuali kau, siapa lagi yang mengetahui rahasia perguruanku sedemikian jelasnya? Pemuda itu tidak lebih hanya bonekamu, mewakili kau berbicara."

“Benar, kecuali aku, siapa lagi yang mengetahui rahasiamu? Aku hanya bertemu pemuda itu secara kebetulan, jangankan namanya, siapa marganya pun aku tidak tahu."

Dalam waktu singkat kedua orang itu telah saling berbincang dengan santainya, bukan cuma nadanya datar tanpa emosi, bahkan cara berbicara pun seakan terhadap rekan lama sendiri.

Tapi entah kenapa pembicaraan yang amat biasa itu justru berubah jadi luar biasa ketika muncul dari mulut kedua orang itu.

Oleh karena kedua orang itu merupakan manusia aneh, orang lain menyangka pembicaraan mereka pasti penuh misteri dan keanehan, itulah sebabnya semua orang bertambah tercengang ketika pembicaraan mereka berdua ternyata biasa dan tidak ada yang istimewa.

"Baguslah kalau kau sudah datang," kata Siang-tok Thaysu lagi.

"Betul, memang bagus sekali."

"Kalau begitu jangan pergi dulu!"

"Lebih  baik kau  saja yang tidak pergi duluan."

"Mana, mana."

"Terima kasih, terima kasih." Tiba-tiba kedua orang itu bicara sungkan, hal ini semakin membuat Sui Leng-kong tercengang.

Di antara mereka hanya Un Tay-tay yang paling berpengalaman, sejak awal dia sudah tahu kalau kedua orang ini bukan saja berakal busuk dan licik, bahkan  keji, munafik dan jahat, jelas kedua orang ini saling bermusuhan dan merupakan musuh bebuyutan yang dibenci hingga merasuk ke tulang sumsum, hanya saja kedua belah pihak sama-sama bersikap waspada dan menunggu keteledoran lawan.

Biarpun sepintas kelihatannya kedua orang itu sedang berbincang, padahal secara diam-diam mereka telah menghimpun tenaga dalamnya sambil menunggu kesempatan dan peluang baik, begitu muncul titik kelemahan di tubuh lawan, gempuran mematikan segera akan dilancarkan.

Dalam keadaan seperti ini, seluruh perhatian mereka berdua sudah terpusat jadi satu, bukan saja sudah   tidak  punya  sisa  tenaga  untuk memperhatikan pembicaraan lawan, bahkan apa yang diucapkan sendiri pun diutarakan sekenanya, oleh sebab itu pembicaraan yang berlangsung pun kelihatan sangat biasa... bahkan omong kosong "Bagus benar tempat ini." "Tinggallah di sini!" Tentu, bersama kau." "Sama-sama, sama-sama." Sui Leng-kong sekalian makin mendengar semakin kebingungan, tapi Un Tay-tay yang pandai melihat keadaan semakin  sadar kalau  situasi semakin gawat, karena semakin membingungkan bahan pembicaraan kedua orang itu berarti hawa pembunuhan semakin tebal.

Un Tay-tay mulai mengukur jarak, dari tempat dimana dia dan Sui Leng-kong berada, paling tidak masih selisih delapan depa lebih dari posisi manusia berbaju hitam serta Siang-tok Thaysu, berarti bentrokan yang terjadi di antara kedua orang itu, sebesar apapun daya kekuatannya, tidak bakal sampai membuat cidera mereka.

Kini Un Tay-tay boleh merasa lega, dia dapat menonton jalannya pertarungan dengan perasaan tenang, harapannya kini, bentrokan itu bisa terjadi dalam kekuatan yang paling hebat, bahkan semakin dahsyat semakin menguntungkan.

Tampak paras muka Siang-tok Thaysu makin lama kelihatan makin serius, sementara hawa napsu membunuh yang terpancar dari balik mata manusia berbaju hitam itu makin lama semakin menyeramkan.

Tapi anehnya gempuran yang menentukan tidak pernah dilontarkan....

Sampai lama sekali kedua orang itu masih belum juga bergerak.

Kembali lewat beberapa saat... kedua orang itu masih juga berdiam diri.

Un Tay-tay mulai gelisah, pikirnya, "Mereka berdua mau bertahan sampai kapan? Kenapa gempuran yang mematikan belum juga dilontar­kan?"

Belum selesai ingatan itu melintas, mendadak dadanya terasa sesak seolah tertindih benda yang sangat berat, keempat anggota tubuh pun terasa dingin membeku.

Pada mulanya dia tidak terlalu menaruh perhatian, tapi begitu mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, seketika dia merasakan keempat anggota tubuhnya terasa linu dan kaku, sama sekali tidak mampu digerakkan lagi dengan leluasa.

Sekarang dia baru terkejut, cepat tenaga dalamnya dihimpun ke dalam Tan-tian, sayang usahanya kembali gagal, tenaga dalamnya sudah tidak mampu digerakkan lagi, tidak terlukiskan rasa kaget perempuan itu, saking ngerinya hampir saja dia menjerit keras.

Dia mencoba berpaling, sekalipun dalam kegelapan malam, sulit baginya untuk melihat jelas paras muka Sui Leng-kong dan Gi Beng, namun dia dapat menangkap bahwa sepasang biji mata mereka berdua sudah kehilangan cahaya serta gairahnya.

Un Tay-tay hanya berharap kehilangan gairah yang diperlihatkan kedua orang itu hanya disebabkan baru saja menangis, maka setelah berusaha menenangkan diri, bisiknya:

"Kenapa kalian berdua?"

"Kenapa?" Gi Beng balik bertanya dengan wajah tertegun.

"Apakah kalian berdua merasakan tubuhmu kurang sehat?"

Tampaknya Gi Beng sangat keheranan.

"Tidak, aku tidak merasakan apa apa... aaah.....”

Mendadak perkataannya terpotong setengah jalan, di bawah cahaya rembulan tampak matanya terbelalak lebar dengan wajah dicekam rasa ngeri bercampur seram.

"Bagaimana?" tanya Un Tay-tay kaget, "apakah merasa ada yang tidak beres?"

"Aku... dadaku terasa... agak sesak, bahkan... panasnya setengah mati... aku... tangan dan kakiku... semuanya linu, kaku dan kesemutan."

Bukan hanya tubuhnya yang gemetar, suaranya pun terdengar gemetar, jelas perasaan-nya sudah dicekam perasaan takut dan ngeri yang luar biasa

Tidak terlukiskan rasa ngeri Un Tay-tay setelah menyaksikan kenyataan itu, dia mencoba menengok ke arah Sui Leng-kong sambil berbisik:

"Bagaimana perasaanmu nona Sui?"

Sorot mata Sui Leng-kong mulai kalut dan tidak beraturan, jawabnya tergagap, "Sama seperti dia...."

Un Tay-tay berdiri terbelalak, untuk sesaat dia tidak sanggup lagi mengucapkan sepatah kata pun.

"Sebe... sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Gi Beng gelisah.

"Kita... kita semua sudah... sudah keracunan."

Bibirnya terasa mulai kaku dan sakit, untuk mengucapkan perkataan itu dia harus menggunakan seluruh kekuatan yang dimiliki.

"Keracunan?" teriak Sui Leng-kong dan Gi Beng hampir berbareng.

"Bukan hanya keracunan, bahkan racun sudah merasuk ke tubuh kita semua."

Gi Beng dan Sui Leng-kong mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, tampak Siang-tok Thaysu maupun orang berbaju hitam itu masih belum juga bergerak, sementara sekeliling tempat itu sudah tidak nampak manusia lain.

Ketika menengok kembali ke arah Gi Teng, terlihat pemuda itu masih berdiri kaku di situ bagaikan sebuah patung, jelas dia tidak mirip orang yang melepaskan racun.

"Sebenarnya racun apa yang dimaksud?" tidak tahan Gi Beng bertanya, "siapa yang telah melepaskan racun?"

Belum sempat Un Tay-tay menjawab, satu ingatan telah melintas dalam benak Sui Leng-kong, seolah teringat akan sesuatu yang sangat menakutkan, dia menjerit:

"Jangan-jangan... jangan-jangan ulah dia?"

Ternyata sorot matanya ditujukan ke arah Siang-tok Thaysu.

"Dia?" seru Gi Beng keheranan, "mana mungkin bisa dia? Betulkah ulah dia?"

"Betul!" sahut Un Tay-tay sambil menghela napas panjang.

"Tapi... dia sama sekali tidak menggerakkan jari tangannya."

"Setiap jago di kolong langit tahu kalau Siang-tok Thaysu adalah jago nomor wahid dalam hal ilmu melepaskan racun, sementara kita justru menunggu dia melepaskan gempuran, aaaai... perbuatan kita bertiga betul-betul sangat dungu," kembali Un Tay-tay menghela napas.

"Masa dalam posisi hanya berdiri tanpa bergerak pun dia mampu melepaskan racun?" teriak Gi Beng terperanjat.

"Benar, yang lebih hebat lagi adalah racun yang dia lepas bukan saja tanpa wujud tanpa bentuk, bahkan mampu membuat korbannya keracunan hebat tanpa dia sadari."

"Menunggu korbannya sadar, dia sudah keracunan hebat," sambung Sui Leng-kong sedih, "kungfunya sudah lenyap separuh bagian, kalau menyadari pada saat seperti ini, keadaan sudah terlambat, sudah tidak berguna lagi."

"Sungguh lihai... sungguh lihai...." gumam Gi Beng terkesiap.

Untuk kesekian kalinya, kembali Un Tay-tay menghela napas panjang.

"Sudah seharusnya kita menduga akan hal itu," katanya, "bagi seorang jago lihai dalam ilmu melepas racun, buat apa dia mesti gunakan ilmu silat?"

"Tidak heran hanya berdiri melulu... dia... ternyata tanpa bergerak pun dia sanggup melancarkan serangan mematikan, aaai... seharusnya sudah kita duga sejak awal, sudah seharusnya kita waspada dan bersiap diri sejak tadi

Makin bicara suaranya makin lirih, semakin tidak bertenaga.

"Sekilas pandang, kedua orang itu seperti lagi berdiri tanpa bergerak, padahal mereka sudah terlibat dalam pertarungan mati hidup, hanya saja orang lain tidak mengetahuinya."

"Apa... apa kau bilang?" tanya Gi Beng sambil berkerut kening.

Un Tay-tay tertegun, teriaknya keras:

"Kau tidak mendengar ana yang kukata­kan?"

"Kau...." wajah Gi Beng tampak semakin kebingungan.

Un Tay-tay hanya sempat mendengar kata "kau", sedang ucapan berikut sama sekali tidak terdengar lagi, dia hanya melihat bibir Gi Beng sedang bergetar seakan sedang mengucapkan sesuatu, namun sama sekali tidak terdengar suara apapun.

Tidak kuasa lagi ketiga orang perempuan itu tercekam perasaan cemas, takut dan ngeri yang luar biasa, tangan mereka pun tanpa terasa saling bergandengan tangan....

Ternyata telapak tangan mereka terasa dingin bagaikan salju, keringat dingin telah membasahi tangan mereka, bahkan mulai gemetar keras....

Mereka sudah tidak dapat mendengar suara pembicaraan orang, mereka tidak tahu, telinga sendiri atau telinga rekannya yang sudah kehilang­an fungsi, atau mungkin mereka sudah kehilangan kemampuan untuk berbicara?

Angin kencang berhembus lewat, mengibar­kan ujung baju yang dikenakan manusia berbaju hitam itu.

Mendadak ujung baju itu terobek sebagian oleh hembusan angin, di balik angin yang berhembus lewat seakan-akan tersembunyi sebilah pisau yang amat tajam, pisau yang menyambar ujung baju dan merobeknya.

Menyusul kemudian ujung baju yang terobek kembali terbelah jadi dua bagian, dari dua bagian berubah jadi empat bagian dan akhirnya terurai jadi benang yang berhelai-helai dan tersebar kemana-mana.

Kembali segulung angin berhembus lewat dan merobek dua lembar ujung baju manusia berbaju hitam itu. Dalam waktu singkat, lagi-lagi lembaran kain itu hancur berkeping dan tersebar ke empat penjuru.

Tidak sampai beberapa saat kemudian seluruh pakaian yang dikenakan manusia berbaju hitam itu sudah berubah jadi hancuran kain yang tidak keruan bentuknya, di sisi kiri robek sebagian, di sisi kanan robek pula sebagian....

Ternyata pakaian yang dikenakan telah berubah jadi lapuk karena terserang racun jahat tanpa wujud tanpa bau itu sehingga tidak mampu menahan hembusan angin, dari sini bisa dibayangkan betapa lihainya sifat racun itu.

Biarpun pakaian yang dikenakan sebagian sudah hancur, manusia berbaju hitam itu masih tetap berdiri tegak bagai sebatang tombak, sorot matanya masih tajam bagaikan kilat, kain kerudung hitam yang dikenakan pun sama sekali tidak nampak rusak atau robek.

Bukan saja sama sekali tidak robek, bahkan selembar kain sutera yang tipis dan halus itu bagaikan sebuah lapisan baja saja, hembusan angin yang lebih kuat pun rasanya tidak mungkin bisa merusak atau menghancurkannya.

Dari sini bisa dilihat betapa lihai dan sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki manusia berbaju hitam itu!

Jelas seluruh tubuhnya sudah keras bagaikan baja, tidak mempan serangan racun, bahkan di balik kain cadar hitamnya sudah dipenuhi tenaga dalam yang luar biasa untuk melindungi panca inderanya.

Biarpun tubuh mereka berdua sama sekali tidak bergerak, namun pertarungan sengit antara mati dan hidup yang sedang berlangsung sudah cukup mencekam hati setiap penonton yang berada di sekeliling arena.

Dengan perasaan terkesiap, pikir Un Tay-tay, "Mati hidup manusia berbaju hitam ini sudah berada di ujung tanduk dan tinggal masalah waktu, sementara Siang-tok Thaysu sama sekali tidak terancam mara bahaya, kelihatannya pertarungan ini berhasil dia menangkan."

Perlu diketahui, sekalipun Un Tay-tay bertiga tidak kenal siapa gerangan manusia berbaju hitam itu, namun mereka tetap berharap manusia berbaju hitam itulah yang menang, tidak heran mereka mulai kebat-kebit setelah menyaksikan jagoan yang mereka harapkan ternyata tidak ada peluang untuk meraih kemenangan, bahkan cenderung terancam pula jiwanya.

Genggaman tangan mereka bertiga semakin bertambah kencang, telapak tangan Un Tay-tay berada pada urutan yang paling buncit.

Dia dapat merasakan telapak tangan Sui Leng-kong maupun Gi Beng basah dan dingin, seperti dua ekor ikan yang baru saja ditangkap dari dalam air, bahkan gemetar tiada hentinya.

Mendadak dia merasa kedua buah telapak tangan itu sudah bergeser dari atas tangannya, namun ketika Un Tay-tay mencoba memeriksa, dengan jelas dan pasti dia saksikan tangan-tangan itu masih menindih di atas tangannya.

Ternyata  apa yang dia  saksikan jauh berbeda dengan apa yang bisa dia rasakan di tubuhnya.

Penemuan yang sangat menakutkan ini kontan membuat lambung dan usus Un Tay-tay berkerut kencang, coba kalau dia tidak menggigit bibir dengan sepenuh tenaga, mungkin saat itu juga dia sudah memuntahkan seluruh isi perutnya.

Kembali dia menengok ke arah Gi Beng dan Sui Leng-kong, ternyata pancaran mata mereka mulai membersitkan sinar kekalapan yang aneh, seperti dua ekor kucing liar yang kepanasan di atas atap rumah.

"Blammmm!", Gi Teng sudah roboh terjung­kal ke atas tanah.

Dia berdiri paling jauh, keracunan pun paling akhir, tapi anehnya ternyata paras muka pemuda itu masih tetap kaku seperti orang mati, bukan saja sama sekali tidak ada perubahan, sampai tubuhnya roboh terjungkal pun mimik mukanya masih tetap tidak berubah.

Keadaan Siang-tok Thaysu masih tetap seperti sedia kala, namun sekarang Un Tay-tay telah menemukan sesuatu yang aneh, dari balik sorot matanya ternyata mulai memancarkan cahaya ketidak tenanganyang aneh dan membingungkan

Kalau dia sudah pegang kendali keadaan, bila kemenangan sudah di pihaknya, kenapa dia menunjukkan sikap tidak tenang yang mem­bingungkan?

Un Tay-tay semakin keheranan, tidak tahan dia berpaling ke wajah manusia berbaju hitam itu, kini dia baru tahu, ternyata sinar mata orang itu membawa semacam hawa sesat yang aneh sekali.

Dia mencoba memperhatikan dengan lebih seksama lagi, ternyata orang itu memiliki biji mata yang delapan puluh persen lebih besar ketimbang biji mata biasa, warna mata yang seharusnya hitam ternyata orang itu memiliki mata berwarna biru yang terkesan misterius.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Un Tay-tay, tiba-tiba dia teringat pada sebuah dongeng yang banyak beredar dalam dunia persilatan.

"Orang yang pandai menggunakan ilmu hipnotis, biasanya memiliki sinar mata yang jauh berbeda dari manusia biasa".

Dengan hati tercekat, pikirnya lebih jauh, "Jangan-jangan manusia berbaju hitam itu sedang menggunakan ilmu hipnotis Sit sim ci sut? Kelihatannya saja dia seperti pasrah, sama sekali tidak melakukan perlawanan, rupanya orang itu sedang menggunakan ilmu hipnotisnya untuk mengendalikan jalan pikiran Siang-tok Thaysu!"

Kedua orang tokoh silat ini memang sangat luar biasa, yang satu menyerang dengan mengandalkan ilmu beracunnya yang tanpa wujud tanpa bau, sementara yang lain menggunakan ilmu pembetot sukma Sit sin ci sut yang sudah lama punah dari dunia persilatan untuk mengendalikan pikiran lawan

Sekalipun kedua belah pihak sama-sama tidak bergerak, namun serunya pertempuran yang sedang berlangsung justru sepuluh kali lipat lebih sengit dan berbahaya ketimbang pertarungan biasa.

Asalkan konsentrasi manusia berbaju hitam itu sedikit saja kendor, bisa jadi racun tanpa wujud itu akan memanfaatkan peluang itu untuk menyusup masuk, menyusup ke dalam peredaran darahnya, menyusup dan melumat keselamatan jiwanya.

Sebaliknya bila Siang-tok Thaysu sedikit mengendor konsentrasinya, maka jalan pikirannya segera akan terbetot oleh ilmu hipnotis lawan, selamanya dia akan tenggelam di balik kegelapan yang menakutkan dan tidak mungkin bisa hidup bebas kembali.

Keselamatan jiwa mereka berdua benar-benar berada di ujung tanduk, mati hidup mereka hanya ditentukan dalam sekali tarikan napas, dalam situasi yang demikian kritis dan berbahaya, sudah barang tentu kedua belah pihak sama-sama tidak ingin bergerak secara sembarangan.

Un Tay-tay sendiri mimpi pun tidak menyangka kalau dalam kehidupannya kali ini dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebuah pertempuran maha dahsyat yang tidak pernah didengar, tidak pernah disaksikan sebelumnya.

Yang lebih menakutkan lagi adalah posisi kedua orang itu sekarang ibarat orang yang sudah menunggang di punggung harimau, kecuali salah satu di antara mereka roboh terkapar, siapa pun jangan harap bisa menyudahi pertempuran itu begitu saja.

Oleh sebab itu pertempuran itu bukan saja merupakan pertempuran antara ilmu beracun tanpa wujud melawan ilmu pembetot sukma, bahkan merupakan pula ajang ujian bagi semangat, niat, keberanian serta kesabaran mereka berdua.

Siapa yang lebih teguh niatnya, siapa yang lebih hebat daya tahannya, dialah yang akan memperoleh kesempatan menang paling besar.

Siapa yang tidak mampu menghimpun konsentrasinya, siapa yang muncul rasa takut dan ngeri dalam hatinya, dialah yang bakal musnah dan lenyap dari peredaran dunia....

Walaupun dalam dunia persilatan banyak terjadi pertarungan mati hidup yang menakutkan, tapi belum pernah ada pertarungan yang begini serius, begitu menakutkan seperti pertarungan antara Siang-tok Thaysu melawan manusia berbaju hitam itu sekarang.

Semakin menonton, Un Tay-tay merasa makin tercekat hatinya, makin dipikir semakin ngeri perasaannya... dalam pikiran yang makin kalut itulah mendadak satu ingatan melintas.

Biarpun ingatan itu hanya ibarat secercah cahaya redup di tengah kegelapan yang mencekam, hanya sebuah titik remang di tengah kekalutan yang melanda, namun Un Tay-tay tidak ingin melepaskannya begitu saja, dia segera memegangnya ku at-kuat.

Sekuat tenaga dia berusaha mengendalikan perasaan girang yang meluap, sekali lagi dia membayangkan semua peristiwa yang telah berlangsung, kemudian menganalisanya dengan seksama, "Kepandaian silat yang digunakan kedua orang ini ibarat air raksa yang menyusup ke dalam setiap pori, sudah pasti mereka tidak berani bertindak gegabah atau ceroboh, karena setiap kecerobohan sekecil apapun sudah lebih dari cukup untuk merenggut nyawa mereka, dalam hal ini mestinya mereka berdua jauh lebih paham ketimbang aku. Dalam situasi dan kondisi seperti ini, bila muncul orang ketiga yang ingin mencabut nyawa mereka berdua, bukankah hal ini bisa dilakukan segampang membalikkan tangan? Kenapa aku... aku tidak memanfaatkan kesempatan ini?"

Berpikir sampai di situ, dia tidak berani ayal lagi, cepat tubuhnya meronta dan berusaha bangkit berdiri.

Tapi sayang racun jahat tanpa wujud itu telah melumat habis   seluruh kekuatan yang dimilikinya, kendatipun perempuan itu sudah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, ternyata dia tidak mampu bangkit berdiri.

Un Tay-tay tidak ingin melepaskan setitik harapan hidup yang baru muncul dalam benaknya, setelah mengatur napasnya yang tersengal, sekali lagi dia mencoba meronta bangun, dia gunakan seluruh sisa kekuatan yang dimilikinya.

Dengan susah payah akhirnya seinci demi seinci dia berhasil bangkit berdiri, tapi sekarang dia baru sadar, ternyata setiap kali dia menggunakan tenaganya maka dari keempat anggota badannya segera muncul rasa sakit yang luar biasa, rasa sakit bagaikan ditusuk oleh beribu batang jarum tajam.

Dia mengertak gigi kuat-kuat, sekuat tenaga berusaha menahan diri, sekuat tenaga berusaha melawan rasa sakit yang luar biasa.

Sepanjang hidup sudah terlalu banyak siksaan batin serta penderitaan hidup yang pernah dialaminya, siksaan tubuh yang dialaminya saat ini sudah dianggap satu penderitaan kecil, tentu saja dia masih mampu menghadapinya, masih mampu menahan siksaan itu.

Keheningan malam semakin memudar, setitik cahaya fajar mulai muncul di ufuk timur, saat inilah saat paling dingin dalam perjalanan satu hari, tapi Un Tay-tay justru bermandikan peluh, keringat sebesar kacang kedelai membasahi sekujur tubuhnya.

Dengan giginya yang putih bersih dia menggigit bibirnya yang pucat tanpa rona darah, sekalipun dia sedang menahan penderitaan dan rasa sakit yang amat menyiksa, namun pada akhirnya perempuan itu berhasil bangkit berdiri, akhirnya berhasil mengayunkan langkahnya.

Siang-tok Thaysu serta manusia berbaju hitam itu masih belum bergerak, siapa pun seakan tidak sadar kalau di samping mereka telah muncul seorang wanita lemah yang mulai melancarkan serangan, melancarkan ancaman maut yang bisa mematikan mereka.

Seluruh tubuh Un Tay-tay seolah terbakar oleh jilatan api yang membara, jilatan api untuk mempertahankan hidup, jilatan api yang membakar dan memunculkan seluruh kekuatan terpendam yang dimiliki, merubahnya menjadi sebuah kekuatan luar biasa yang sulit dipercaya oleh siapa pun.

Dengan mengandalkan kekuatan itu dia mencoba menopang tubuhnya, mengarahkan ayunan kakinya melangkah maju ke depan.

Kini dia sudah maju empat langkah, tinggal selangkah lagi tangan kirinya sudah dapat menggapai iga kiri Siang-tok Thaysu, tangan kanannya dapat menyentuh iga kanan manusia berbaju hitam itu.

Bila ujung jarinya berhasil menyentuh tubuh mereka berdua, konsentrasi kedua orang jagoan itu pasti akan terganggu, pada saat konsentrasi mereka terganggu itulah....

Dapat dipastikan racun tanpa wujud milik Siang-tok Thaysu akan segera menyusup masuk ke dalam tubuh manusia berbaju hitam itu, sementara ilmu pembetot sukma milik manusia berbaju hitam itu pasti dapat mengendalikan pula pikiran serta kesadaran Siang-tok Thaysu.

Bila manusia berbaju hitam itu tewas lantaran keracunan, Siang-tok Thaysu juga akan kehilangan kendali, dengan matinya manusia berbaju hitam maka Siang-tok Thaysu bakal menjadi gila, satu akibat yang jauh lebih menakutkan ketimbang kematian.

Sayang... walau tinggal selangkah, ternyata Un Tay-tay tidak sanggup lagi untuk maju ke depan.

Kini kekuatan maupun tenaga dalamnya telah digunakan hingga pada titik terakhir, telah mencapai puncaknya, ibarat seseorang yang hanya berkemampuan memikul beban seberat seribu kati, bila ditambah sekati lagi, niscaya tubuhnya akan segera tumbang.

Langkah terakhir itu bukan saja tidak mampu diselesaikan Un Tay-tay, tiba-tiba tubuh­nya malah roboh terjungkal ke atas tanah.

Dia sudah mempertaruhkan seluruh kemampuannya, dia pun sudah berusaha menahan semua siksaan dan penderitaan yang terberat, padahal kemenangan sudah berada di depan mata, namun sampai pada saat terakhir dia tidak berhasil mencapai cita-citanya, tidak mampu menyelesaikan keinginannya.

Dalam waktu singkat dia hanya merasakan kesedihan, kegusaran serta rasa kecewa yang luar biasa, perasaan sedih yang tak terlukiskan.

Mendadak hawa panas terasa bergolak di dadanya dan menerjang naik ke atas kepala, wanita itu jatuh tidak sadarkan diri.

Menanti sadar kembali dari pingsannya, Un Tay-tay menyaksikan awan putih telah menyelimuti angkasa.

Sesaat sebelum jatuh tidak sadarkan diri, dia mengira pingsannya bakal berlangsung untuk selamanya, maka dia sedikit tidak percaya ketika dapat mendusin kembali.

Saat itulah terdengar seseorang berseru dari sisi telinganya:

"Bagus, ternyata kau adalah orang pertama yang sadar."

Begitu mendengar suara itu, Un Tay-tay segera mengenalinya sebagai suara Siang-tok Thaysu, kontan jantungnya berdebar keras.

"Aduh celaka!" pekiknya dalam hati.

Ternyata Siang-tok Thaysu tidak kehilangan nyawa dalam pertempuran sengit tadi, malahan sekarang dia sudah terjatuh ke dalam cengkeraman pendeta pemakan ular ini. Sekalipun tidak sampai mati, tapi apa bedanya dengan kematian?

Berpikir sampai di situ, dia merasa kecewa bercampur putus asa, matanya kembali dipejamkan rapat-rapat.

"Kalau sudah sadar, kenapa tidak bangkit berdiri?" terdengar Siang-tok Thaysu menegur lagi.

Sekalipun tidak bicara, namun dalam hati kembali Un Tay-tay berpikir, "Aku sudah kau racuni hingga kepayahan, mana mungkin bisa bangkit kembali? Rupanya kau malah berlagak pilon...."

Mendadak dia merasa pikirannya terang dan segar, pandangan matanya jelas, tanda-tanda mata buram, kehilangan kekuatan seperti apa yang dirasakan sebagai korban keracunan sama sekali hilang tidak berbekas. Dengan perasaan girang, cepat dia bangkit dan duduk.

Rupanya dia sudah dipindahkan ke atas sebuah bukit, sementara Sui Leng-kong, Leng Cing-peng, Gi Beng, Gi Teng dan Leng It-hong masih berbaring di sampingnya, hanya tidak diketahui apakah mereka masih hidup atau sudah mati?

Ketika dia melirik kembali ke arah Siang-tok Thaysu, dilihatnya pendeta pemakan ular itu sedang duduk bersila di bawah sebatang pohon, walaupun dipandang pada siang hari dia tidak seseram kemarin malam, namun paras mukanya tetap kelihatan dingin bagaikan salju.

"Bukankah aku keracunan hebat...." gumam Un Tay-tay terkejut bercampur keheranan.

"Racun yang Loceng gunakan sudah pasti dapat kupunahkan secara gampang," jawab Siang-tok Thaysu dingin.

"Kenapa kau ... kau menolong aku?"

"Kau telah menyelamatkan Loceng, tentu saja Loceng pun menyelamatkan dirimu."

"Aku... aku telah menolongmu?" Un Tay-tay tertegun.

Sekulum senyuman aneh tersungging di ujung bibir Siang-tok Thaysu, katanya:

"Ketika tubuhmu roboh terjungkal tadi, kebetulan jatuh persis di sisi kaki musuh Loceng, begitu dia terperanjat, maka tenaga Sinkangnya pun ikut buyar, kalau tidak, belum tentu semudah ini Loceng mampu mengalahkan dirinya."

Un Tay-tay terkesiap, saking kagetnya dia duduk tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo, sampai lama kemudian dia baru tertawa keras, teriaknya:

"Ternyata aku malah membantumu, membantumu mengusir lawan tangguh...."

Semakin nyaring suara tawanya, makin deras air mata bercucuran membasahi waj ahnya.

"Bukan hanya membantu Loceng saja," ujar Siang-tok Thaysu lebih jauh, "kalau bukan dorongan tanganmu, mungkin tubuh Dewa racun milik Loceng pun sudah musnah terhajar lemparan batu cadas."

"Siapakah manusia berbaju hitam itu?" tanya Un Tay-tay kemudian sambil membesut air mata.

"Buat apa kau menanyakan soal ini?"

"Aku ingin menemukan orang itu, berlutut di hadapannya, minta kepadanya untuk mencincang tubuhku hingga hancur berkeping,   kalau tidak, selamanya aku tak bakal hidup tenang."

Siang-tok Thaysu tertawa dingin.

"Sekalipun kusebut nama orang itupun belum tentu kau akan mengenalinya, apalagi sekalipun kau dapat menemukan dirinya, mungkin yang kau jumpai tidak lebih hanya sesosok mayat."

Kembali Un Tay-tay tertegun, akhirnya dia tidak sanggup menahan diri lagi, meledaklah isak tangisnya yang amat menyedihkan hati. Selama hidup baru kali ini dia menangis dengan begitu sedihnya.

Siang-tokThaysu segera mendengus dingin.

"Rupanya kau menyesal karena telah menolong Loceng?" tegurnya.

"Benar, lebih baik bunuhlah aku...."

Perlahan Siang-tok Thaysu mendongakkan kepala memandang keatas, kemudian katanya lagi:

"Walaupun Loceng tahu kau memang tidak berniat membantuku, namun sepanjang hidup baru pertama kali ini kuterima pertolongan dari orang lain, bagaimanapun juga hutang budi ini tetap harus ku bayarkan kepadamu."

Un Tay-tay sama sekali tidak menggubris perkataan itu, dia masih mendekam di tanah sambil menangis tersedu-sedu, sepeminuman teh kemudian isak tangisnya baru mulai mereda, lambat-laun kesadarannya pulih kembali, tiba-tiba dia melompat bangun.

Jika berganti Gi Beng atau Im Ceng sekalian, begitu tahu tanpa sengaja mereka telah membantu kaum laknat dan manusia jahat, bisa jadi mereka segera akan menumbukkan kepalanya di dinding untuk bunuh diri.

Tapi Un Tay-tay bukan manusia semacam itu, sekalipun tadi dia menangis sedih karena luapan emosinya, namun kesadaran otaknya jauh mengungguli gejolak emosi, begitu berhasil menguasai diri, teriaknya:

"Baik, kau bilang mau membayar hutang budi ini? Dengan cara apa kau hendak membayarnya?"

"Apapun permintaanmu, asal bisa Loceng lakukan, pasti tidak akan kutampik permintaanmu itu."

"Kau sendiri yang berjanji?"

"Selama hidup Loceng pantang mengobral janji, tapi kau pun mesti ingat, tadi kau hanya dua kali membantu Loceng, maka mulai sekarang Loceng pun hanya akan menuruti permintaanmu sebanyak dua kali."

"Paling tidak kau harus menyelamatkan rekan-rekanku terlebih dulu."

"Baik... tinggal satu permintaan." Sekarang Un Tay-tay baru merasa sedikit lega, bagaimanapun juga dia telah menyelamatkan nyawa beberapa orang rekannya, paling tidak pertolongan ini bisa digunakan untuk menebus dosanya hari ini.

Siapa tahu setelah lewat beberapa saat kemudian Siang-tok Thaysu masih tetap duduk tanpa bergerak.

Un Tay-tay tidak mampu menahan diri lagi, segera tegurnya:

"Kenapa kau belum juga turun tangan?"

Siang-tok Thaysu mendengus dingin.

"Hmmm, kau belum menunjuk siapa yang harus kutolong, bagaimana mungkin Loceng bisa turun tangan?"

Tercekat perasaan Un Tay-tay, jeritnya:

"Menunjuk yang mana? Tentu saja kau harus menolong mereka bertiga."

Dia memang sengaja hanya menyebut tiga orang, karena perempuan ini tahu Leng Cing-peng sudah tidak punya harapan lagi untuk ditolong.

Kembali Siang-tok Thaysu tertawa dingin.

"Ketiga orang itu tidak ada sangkut-pautnya dengan diriku, kenapa Loceng mesti mengobral tenaga menyelamatkan mereka semua?"

"Tapi... bukankah kau telah berjanji?"

"Benar, Loceng memang berjanji akan turun tangan dua kali untuk membayar hutang budi ini, tapi jangan lupa, hanya dua kali, sementara di sini ada tiga orang."

"Jadi kau... kau hanya bersedia menolong dua orang? Begitu? Benar?" suara Un Tay-tay terdengar sedikit gemetar.

Siang-tok Thaysu manggut-manggut, pelan-pelan dia memejamkan mata dan tidak bicara lagi.

"Tapi di sini terdapat tiga orang, kau suruh aku tidak memilih yang mana? Kau... kau... kau biarkan seseorang yang tiada dendam sakit hati denganku harus tewas secara mengenaskan di hadapanmu?"

Sekalipun dia menjerit dengan suara yang mengenaskan, namun paras muka Siang-tok Thaysu tetap kaku bagaikan patung, sama sekali tidak tersentuh perasaannya, bagaimanapun perempuan itu merengek atau memohon, Siang-tok Thaysu tetap berlagak seolah tidak mendengar.

Akhirnya Un Tay-tay jatuh terduduk ke lantai, gumamnya dengan suara gemetar:

"Keji... kau sungguh keji, tidak kusangka hatimu jahat, buas dan beracun, walaupun banyak manusia jahat yang pernah kujumpai selama ini, tapi kau adalah orang pertama...."

Bicara sampai di situ, tiba-tiba satu ingatan kembali melintas dalam benaknya, dengan hati gembira teriaknya:

"Orang pertama, tadi kau bilang 'kau adalah orang pertama yang sadar', itu berarti masih ada orang kedua, orang ketiga yang  bakal sadar, padahal kau sudah menyelamatkan mereka semua, hanya sekarang secara sengaja membo­hongi aku, menakut-nakuti aku, agar aku merengek kepadamu, memohon kepadamu, agar aku semakin berterima kasih kepadamu, bukan-kah begitu? Katakan, bukankah begitu?"

Perlahan-lahan Siang-tok Thaysu membuka matanya kembali, menatapnya dengan sorot mata tajam, sampai lama dan lama kemudian, sekulum senyuman aneh dan misterius kembali tersungging di ujung bibirnya.

Walaupun Un Tay-tay merasa senyuman itu sedikit kalap, sedikit menakutkan, tapi begitu melihat senyuman itu, setitik harapan yang semula masih mengambang, kini terasa makin mantap dan meyakinkan.

Akhirnya Siang-tok Thaysu berkata: "Benar, masih ada orang kedua, orang ketiga yang akan sadar."

Un Tay-tay segera melompat bangun, serunya kegirangan:

"Siapakah dia? Siapakah dia?"

"Orang kedua adalah dia!" kata Siang-tok Thaysu sambil menuding ke arah Leng Cing-peng.

"Dia? Dia... bukankah dia sudah tiada harapan lagi!"

Senyuman di ujung bibir Siang-tok Thaysu nampak semakin kentara, sahutnya:

"Jika orang lain tidak sanggup menyelamat­kan jiwanya, memangnya Loceng pun tidak sanggup? Apalagi dia masih terhitung cucu muridku, tentu saja aku harus menyelamatkan dia."

Kejut bercampur girang mencekam perasa­an Un Tay-tay, lewat sesaat dia bertanya lagi:

"Lalu siapa... siapa orang ketiga?"

"Dia!" kali ini Siang-tok Thaysu menuding ke arah Leng It-hong.

"Dia?" jerit Un Tay-tay tercekat, "tapi...tapi"

Siang-tok Thaysu mendongakkan kepalanya tertawa seram.

"Tubuh Dewa racun segera akan terwujud” teriaknya, "sekarang Loceng akan menjadi jagoan tidak terkalahkan di kolong langit, akulah yang akan memegang kekuasaan mati hidup setiap umat persilatan, hahaha...."

Semakin tertawa dia semakin bangga, makin tertawa semakin kalap.

Untuk kesekian kalinya Un Tay-tay jatuh terkapar, jatuh untuk tidak mampu berdiri lagi.

Dalam pada itu paras muka Sui Leng-kong, Gi Beng serta Gi Teng telah berubah jadi hijau keabu-abuan, jelas nyawa mereka sudah berada di tepi jurang kematian.

Un Tay-tay sadar, hanya dibutuhkan sepatah kata darinya maka dua orang di antara rekannya akan lolos dari bahaya maut, tapi haruskah dia mengorbankan rekannya yang ketiga? Siapa yang harus dikorbankan?

Dalam kondisi seperti ini, bagaimana mungkin dia sanggup buka suara?

Terdengar Siang-tok Thaysu berkata lagi dengan suara dingin:

"Ketiga orang itu sudah keracunan hebat, jika kau terlambat mengambil keputusan untuk menolong yang mana, aku kuatir nyawa mereka sudah keburu melayang lebih dahulu."

Un Tay-tay menarik napas dingin, air mata kembali berlinang membasahi pipinya.

Selama hidup sudah terlalu sering dia mengambil keputusan penting, tapi keputusan yang harus diambil sekarang justru punya keterkaitan yang besar dengan mati hidup sese-orang, dia merasa  terjerumus dalam perangkap yang sangat dalam, belum pernah dia jumpai kesulitan yang demikian besarnya seperti sekarang.

Siapa yang harus ditolong? Siapa yang tidak seharusnya ditolong?

Sambil menggigit bibir dia mencoba memberitahu kepada diri sendiri:

"Bagaimanapun juga aku harus menyela­matkan nyawa Sui Leng-kong, karena dua orang ini sama sekali tidak kukenal, sudahlah, kalau begitu aku tolong salah satu di antara mereka."

Dia berpaling ke arah Gi Beng dan Gi Teng, kemudian bertanya lagi kepada diri sendiri:

"Tapi di antara mereka berdua, siapa yang harus kutolong?"

Dengan termangu dia mengawasi wajah kedua orang itu, dilihat dari raut mukanya, mereka berdua nampak begitu ramah, begitu baik, walaupun berada dalam ketidak berdayaan, setitik harapan masih tersungging di ujung bibir mereka.

Terbayang kembali bagaimana dia harus segera mengambil keputusan, memutuskan nyawa mana di antara mereka berdua yang harus segera ditolong, kembali Un Tay-tay merasakan goncang-an jiwa yang luar biasa, tubuhnya sampai menggigil keras.

Tanggung jawab moral yang terbeban di pundaknya kelewat berat, keputusan yang harus diambil kelewat menyiksa batin.

Sekali lagi dia bertanya kepada diri sendiri:

"Terlepas siapa yang bakal hidup, ketika orang tahu kehidupannya diperoleh dari kematian rekannya, dapatkah dia menerima kenyataan itu? Sanggupkah dia melanjutkan hidup?"

Tanpa sadar sorot matanya kembali dialih­kan ke wajah Sui Leng-kong.

Di bawah cahaya rembulan, wajah Sui Leng-kong nampak begitu tenang, kelihatan begitu cantik dan menawan....

Kecantikan yang luar biasa, ibarat bidadari yang turun dari kahyangan, kecantikan yang tidak seharusnya hidup di alam dunia.

Un Tay-tay merasa hatinya pedih, pikirnya, "Thiat Tiong-tong telah mati, Im Ceng pun telah mati, cepat atau lambat aku juga bakal mati, apa senangnya dia hidup seorang diri? Membiarkan dia tetap hidup hanya akan membuatnya makin sengsara, makin menderita!"

Sekali lagi dia menengok ke arah Sui Leng­kong, terlihat gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat, bulu matanya yang panjang terkatup pada kelopak matanya yang lembut, seluruh kesedihan, semua penderitaan seolah sudah jauh meninggalkan dirinya.

Un Tay-tay ikut memejamkan matanya.

"Dia persis seperti aku," gumamnya, "hanya akan memperoleh kedamaian dalam kematian, sementara dua orang yang lain perlu hidup terus untuk saling menunjang. Membiarkan dia hidup terus hanya akan menambah penderitaannya, sedang dua orang yang lain masih punya kebahagiaan dan kegembiraan dalam perjalanan hidup mereka, kebahagiaan dan kegembiraan yang mustahil bisa aku maupun dia rasakan lagi."

Sementara dia masih termenung, Siang-tok Thaysu kembali bertanya:

"Sudah kau putuskan?"

"Sudah, sudah kuputuskan!" jawab Un Tay-tay sambil menarik napas panjang.

Cahaya kegembiraan yang aneh kembali terbesit di balik sorot mata Siang-tok Thaysu, dia seolah berharap bisa memperoleh sedikit kepuasan yang? sadis dari balik keputusan yang diambil Un Tay-tay.

Dengan penuh rasa ingin tahu dia ingin segera tahu siapa yang akan dikorbankan Un Tay-tay, rasa ingin tahu kebinatangannya segera menyelimuti seluruh pikiran dan perasaannya. Dengan lantang dia berteriak:

"Siapa? Siapa yang akan kau tolong?" Un Tay-tay masih  memejamkan  mata, namun dia sudah menuding kedua arah ....

Yang ditunjuk adalah Gi Beng serta Gi Teng, dua bersaudara keluarga Gi.

Setelah Siang-tok Thaysu selesai mencekoki Gi Beng dan Gi Teng dengan obat penawar racun, Un Tay-tay masih duduk kaku tanpa bergerak, dia tetap duduk bagaikan sebuah patung batu, sama sekali tidak bergerak, sama sekali tidak mambuka matanya.

Sambil bertepuk tangan, kata Siang-tok Thaysu:

"Tidak seberapa lama lagi mereka berdua akan segera tersadar kembali."

"Ooh, benarkah?" Un Tay-tay mengangguk dengan wajah linglung, menyahut dengan nada hambar.

Dengan wajah keheranan dan rasa ingin tahu, Siang-tok Thaysu menatap wajahnya, mendadak ujarnya sambil tertawa:

"Loceng sama sekali tidak menyangka kau tidak menyelamatkan gadis itu, sebaliknya malah menyelamatkan pria ini, dapatkah kau menjelas­kan apa alasanmu memutuskan begitu?"

Un Tay-tay menggetarkan bibirnya, namun tak ada suara yang muncul, dia hanya menggeleng dengan wajah linglung.

Lewat beberapa saat kemudian, akhirnya dia buka suara juga, sahutnya:

"Masa tidak kau lihat, dia mati dengan begitu tenang dan   damai, sementara kedua orang ini justru amat berharap bisa hidup terus...."

Sebetulnya dia enggan mengucapkan perkataan itu, namun entah mengapa akhirnya diucapkan juga, dia bahkan tidak bisa membedakan sebetulnya perkataan itu tertuju kepada Siang-tok Thaysu atau justru ditujukan kepada diri sendiri.

Siang-tok Thaysu memandang sekejap Gi Beng serta Gi Teng yang belum sadar, kemudian menengok Sui Leng-kong dan akhirnya meman­dang wajah Un Tay-tay, tiba-tiba dia mendongak­kan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

Un Tay-tay membuka kembali matanya tapi segera dipejamkan kembali, sekali lagi dia membuka matanya, menengok ke arah Siang-tok Thaysu.

Akhirnya dia tidak kuasa menahan diri, tegurnya:

"Apa yang kau tertawakan?"

"Padahal wajah ketiga orang itu sama satu dengan lainnya, tapi kau bersikeras mengatakan gadis itu meram dengan tenang sedang dua orang yang lain menderita, bukankah alasan itu hanya kau gunakan untuk mengungkap jalan pemikiran-mu sendiri?"

Perkataan itu bagaikan tusukan jarum tajam, tusukan yang menghujam ke dasar lubuk hati Un Tay-tay.

Tiba-tiba sekujur tubuhnya gemetar keras,

teriaknya:

"Kau... kau ngaco-belo!"

"Hahaha, dulu Loceng pun pernah hidup bergelimpangan dalam keduniawian, rahasia yang ada di dasar hatimu mungkin saja dapat mengela­bui orang lain, tapi jangan harap bisa mengelabui diriku."

"Rahasia... rahasia apa yang ada di dasar hatiku?"

"Kau pasti pernah menaruh perasaan iri dan cemburu kepadanya," ujar Siang-tok Thaysu sambil tertawa, "oleh sebab itu kau berharap dia bisa mati, mati dengan tenang? Bebas dari segala penderitaan? Itu semua hanya alasan yang kau buat-buat untuk membohongi diri sendiri."

Gelak tawanya dipenuhi perasaan bangga, sebab dia menganggap berhasil menelanjangi lawannya, lagi-lagi dia memperoleh sebuah kepuasan, kepuasan yang diperoleh secara sadis.

Gelak tawanya bagaikan sebuah cambuk, cambuk berduri yang menderai di tubuh Un Tay-tay, mencambuk hatinya, mencambuk sukmanya hingga sama sekali tak mampu bergerak.

"Benarkah aku iri kepadanya?" terdengar dia bergumam, "benarkah aku cemburu kepada-nya? Kenapa aku harus iri? Kenapa aku harus cemburu?"

Tiba-tiba dia tertawa keras, tertawa seperti orang kalap, jeritnya:

"Aku iri kepadanya? Kenapa aku harus iri kepadanya?"

Gelak tawanya makin lama makin bertam­bah seram... semakin tidak bisa dibedakan antara tangis dan suara tertawa... akhirnya dia menubruk tubuh Sui Leng-kong, menangis secara kalap, menangis tersedu-sedu.

"Di masa lalu kalian berdua pasti pernah mencintai seorang lelaki yang sama," ujar Siang-tok Thaysu lagi, "dan pria itu ternyata hanya mencintai dia seorang, maka kau membencinya, kau iri kepadanya....”

Walaupun nada suaranya rendah dan berat, namun terdengar begitu tajam, begitu melengking, setiap patah kata bagaikan tusukan jarum yang menghujam  hatinya,   bila  kau   berusaha menutupi telingamu dengan tangan, maka dia akan menembus telapak tanganmu dan menyusup masuk ke dalam.

Terdengar dia berkata lagi:

"Kemudian... setelah lewat lama sekali, rasa cintamu terhadap pria itu makin memudar, tapi perasaan benci, perasaan irimu tidak pernah ikut memudar, tahukah kau mengapa bisa begitu?"

"Kau setan...." jerit Un Tay-tay penuh penderitaan, "iblis busuk! Tutup mulutmu!"

Sekali lagi Siang-tok Thaysu tertawa sadis, lanjutnya:

"Karena iri dan benci merupakan luapan emosi yang paling kuat, khususnya di dalam hati seorang wanita, perasaan itu jauh lebih kuat daripada perasaan cinta. Sebab sedalam apapun cinta seorang wanita, perasaan itu gampang berubah, biarpun kau mencintainya secara khusuk namun tidak akan langgeng, sama seperti cinta seorang lelaki, walaupun dapat berlangsung langgeng, namun tidak akan bisa mencintai secara khusus."

"Tolong... jangan kau lanjutkan," pinta Un Tay-tay dengan wajah memelas.

Siang-tok Thaysu menyeringai seram, terusnya:

"Oleh sebab itu seorang pria bisa mencintai banyak wanita pada saat yang bersamaan, namun tidak mungkin bagi seorang wanita, ketika seorang wanita mencintai seorang pria, dia pasti mencintainya hingga tergila-gila, tidak mungkin dia bisa mencintai lelaki kedua. Menanti dia mulai mencintai lelaki kedua, saat itu perasaan cintanya terhadap pria pertama pasti sudah hilang lenyap tidak berbekas."

"Setelah  tertawa  seram  berulang kali, lanjutnya:

"Sayang, rasa dengki, rasa iri, rasa cemburu seorang wanita terhadap wanita lain tidak pernah bisa lenyap untuk selamanya, jika seorang wanita membenci wanita yang lain, maka dia akan membencinya sepanjang masa!"

"Aku tidak mau mendengarkan... tidak mau mendengarkan!" jerit Un Tay-tay sambil berusaha menutupi sepasang telinga dengan tangannya.

Siang-tok Thaysu tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, tentu saja kau tidak mau mendengarkan, sebab selain kau tahu bahwa teori ini seratus persen benar, kau pun sadar, rasa iri yang kau anggap sudah terlupakan sesungguhnya sudah berakar di dasar hatimu, maka...."

Tiba-tiba Un Tay-tay menjerit keras, sambil membopong tubuh Sui Leng-kong, dia kabur secepatnya meninggalkan tempat itu.

Memandang bayangan punggungnya yang makin menjauh, Siang-tok Thaysu kembali tertawa keras, tertawa seperti orang gila. Dia tahu, perbuatannya telah berhasil menghancur lumat-kan perasaan perempuan itu.

Sepanjang hidup, dia baru bisa merasa sangat gembira ketika menyaksikan seorang perempuan hancur lebur hatinya, sebab dahulu, dia pun pernah dibuat hancur lebur hatinya karena ulah seorang wanita....

 

BAB 34.

Irama Sedih Pelumat hati.

 

Un Tay-tay kabur dengan kalap, kabur seperti seorang gila....

Mengapa dia harus kabur? Sedang kabur dari siapa? Dia sendiri... dia sendiri pun tidak jelas.

Pikirannya terasa kosong melompong karena dia tidak ingin memikirkan persoalan apapun, dia pun tidak memilih arah perjalanan, yang dituju hanya tempat yang paling sepi, tempat yang paling terpencil, jauh dari keramaian dunia, jauh dari kerumunan manusia.

Air matanya kini mulai mengering, sepasang kakinya mulai terasa kesemutan dan kaku....

Medan yang dilalui pun makin lama semakin terjal dan sepi....

Rawa-rawa, hutan belantara, lembah terjal... mendadak sebuah hutan bunga yang sangat indah muncul di hadapannya.

Aneka bunga yang mekar segar, memancar­kan bau harum semerbak yang memikat hati, di bawah cahaya sang surya, hutan itu bagaikan sebuah halaman rumah yang amat luas, tiada halaman rumah lain yang bisa mengalahkan keindahan tempat itu.

Ternyata hutan bunga yang begitu indah justru tumbuh di tengah lembah yang terjal, di antara rawa-rawa, di antara bukit yang terpencil, seakan-akan keindahan yang luar biasa itu memang sengaja diciptakan di tempat yang paling busuk dan jelek.

Un Tay-tay tak tahu bagaimana dia bisa lari ke tempat itu, tapi setelah sampai di sana dia pun tidak sanggup mengayunkan langkahnya lagi... dia roboh terkapar di tanah.

Dia sama sekali tidak menyadari kalau di balik pepohonan masih ada sesosok bayangan manusia lain, dia pun tidak mendengar orang itu sedang merintih kesakitan, sedang bergulingan di tanah berlumpur sambil mengerang penuh penderitaan.

Namun orang itu mengetahui kehadiran-nya.

Pakaian yang dikenakan orang itu nyaris hancur tidak keruan, tubuhnya yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang kotor berlepotan lumpur, wajahnya menyeringai seram karena sedang menahan siksaan dan penderitaan yang luar biasa.

Dia nampak seperti iblis yang muncul dari balik rawa-rawa, bagaikan binatang buas yang terluka parah.

Dia berguling di atas tanah berlumpur, dia meronta sambil mengerang, sebab hanya tanah becek berlumpur yang dingin dapat mengurangi siksaan dan penderitaan kobaran api yang sedang membakar dalam tubuhnya.

Jika Un Tay-tay sempat memandang sekejap ke arahnya, dia akan segera mengetahui kalau orang itu tidak lain adalah manusia berbaju hitam yang telah bertarung sengit melawan Siang-tok Thaysu

Hong Lo-su, gembong iblis yang licik, busuk dan berhati binatang itu meski berada dalam keadaan tersiksa dan menderita, namun ketajaman pendengarannya masih lebih sensitif ketimbang telinga binatang serigala, begitu mendengar suara manusia, dia segera berguling ke balik semak belukar.

Lewat beberapa saat kemudian dia tidak kuasa menahan diri untuk melongok keluar dari balik semak, memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, akhirnya dia dapat mengenali orang yang secara tiba-tiba menerobos masuk ke balik hutan bunga itu tidak lain adalah Un Tay-tay.

Sudah dua kali Un Tay-tay menggagalkan rencana besarnya, bagi pandangan orang lain, dendam kesumat ini boleh dibilang sesuatu yang luar biasa, apalagi bagi manusia berpikiran sempit macam Hong Lo-su!

Begitu tahu siapa yang muncul, hawa napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh Wajahnya, sambil mengertak gigi diam-diam pikirnya, "Jalan menuju ke surga tidak kau pilih, jalan menuju ke neraka justru kau lewati, budak busuk, wahai budak busuk, akan kulihat nyawa kecilmu bisa kabur kemana lagi hari ini?"

Andaikata Un Tay-tay dapat melihat raut muka iblisnya pada saat itu, dapat dipastikan dia akan jatuh semaput saking kagetnya, sekalipun Hong Lo-su ingin membunuh atau mencincang dirinya pun belum tentu dia sanggup melawan.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Hong Lo-su, dia teringat saat itu racun jahat sedang bekerja dalam tubuhnya, andaikata dia muncul saat itu, belum tentu kemampuannya mampu menandingi ilmu silat yang dimiliki Un Tay-tay.

Seandainya berganti orang lain, mereka pasti tidak sanggup menahan diri apalagi setelah menyaksikan orang yang dibencinya hingga merasuk ke tulang sumsum telah berdiri di depan mata, mereka tentu akan menerjang keluar dan berusaha membunuhnya.

Tapi Hong Lo-su memang jauh berbeda dibandingkan orang lain, kalau bukan lantaran terdesak hingga sulit dihindari, dia tidak pernah mau melakukan pertarungan yang tidak yakin bisa dimenangkan.

Setelah memutar otak sejenak, pikirnya, "Hong Lo-su, wahai Hong Lo-su, kau harus pandai mengendalikan diri, baru saja lolos dari cengkeraman maut si makhluk beracun, kalau kini harus mati di tangan seorang budak busuk, kau akan mati dengan penasaran. Toh tidak lama kemudian racunmu bakal punah, sedang budak pun tidak akan kabur sementara waktu, cepat atau lambat dia pasti akan mampus di tanganmu."

Berpikir sampai di situ, dia semakin enggan bergerak, hanya sepasang matanya mengawasi terus gerak-gerik Un Tay-tay, dia hanya berharap perempuan itu jangan pergi dari situ.

Ternyata Un Tay-tay memang tidak meninggalkan tempat itu, dia hanya memeluk tubuh Sui Leng-kong sambil menangis terisak, sambil menangis pikirnya, "Benarkah apa yang dikatakan makhluk tua beracun itu? Benarkah aku iri dan cemburu kepadanya?

Benar? Tidak benar? Benar...? Tidak benar?

Pertanyaan itu bagaikan cambuk yang melecut tubuhnya, bagaikan sebuah gilingan batu yang melindas tubuhnya, dia merasa hatinya hancur lebur, tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu?

Tidak tahan dia mendongakkan kepala dan menjerit:

"Un Tay-tay, wahai Un Tay-tay... kau adalah perempuan paling busuk, Sui Leng-kong telah kau celakai, kenapa kau masih tetap hidup? Kenapa kau masih tetap hidup?"

Terbelalak sepasang mata Hong Lo-su, dia merasa  terkejut  bercampur girang, pikirnya:

"Rupanya budak busuk itu menyangka tempat ini tidak ada penghuninya sehingga mengutarakan rahasia hatinya, hahaha, tidak dia sangka Locu justru sudah mendengar setiap patah katanya dengan jelas."

Andaikata dia mampu bicara waktu itu, sudah pasti akan dikatakan demikian, "Tepat, tepat sekali, kau memang tidak pantas hidup, lebih baik mampus saja!"

Sayang dia tidak berani bersuara, sedang Un Tay-tay pun bukan perempuan lemah yang gampang mencari mati begitu saja.

Kalau dia harus mati, perempuan itu pasti akan memilih sebuah kematian yang ada nilainya.

Sambil melelehkan air mata, dia memetik kuntum demi kuntum bunga dari atas pohon, kemudian menatanya kuntum demi kuntum di atas tanah, membentuk sebuah pembaringan yang terbuat dari bunga.

Akhirnya dia membaringkan tubuh Sui Leng­kong di atas pembaringan bunga itu, membaringkan dengan perlahan dan lembut.

"Adik cilik," bisiknya dengan air mata berlinang, "beristirahatlah dengan tenang, tidak ada lumpur di dunia ini yang bisa mengubur tubuhmu yang bersih, terpaksa aku akan menguburmu di antara bunga yang segar."

Sembari menaburi tubuh Sui Leng-kong dengan bunga segar, kembali dia bergumam:

"Kumbang, kupu-kupu, burung walet, datanglah semua kemari ... temanilah adikku beristirahat di sini! Ooh, angin, bawalah awan ke tempat ini, agar adikku dapat menunggang awan, terbang jauh ke angkasa, tubuhnya memang tidak layak dijamah tanah berdebu, dia lebih pantas tinggal di nirwana, hidup di antara dewi dan bidadari."

Ucapannya lebih mirip senandung yang indah... tapi senandung mana di kolong langit yang bisa mengungkapkan perasaan sedih di hati Un Tay-tay?          

Hong Lo-su yang menyaksikan kejadian itu diam-diam berpikir, "Jangan-jangan budak busuk ini sudah gila? Masa dia bersenandung untuk orang yang sudah mati? Hei, budak busuk, kalau ingin menyanyi, bawakan lagu yang gembira, paling tidak bisa menghilangkan rasa jemu di hatiku."

Di samping mengumpat, dia pun merasa kegirangan setengah mati, kalau dilihat dari wajah sedih budak busuk itu, mustahil dia akan pergi meninggalkan tempat itu dalam waktu singkat, budak busuk, apakah kau sedang menunggu kematian di situ?

Dari mana dia tahu kalau saat itu Un Tay-tay sudah mengambil satu keputusan di hati kecilnya.

Terdengar perempuan itu berbisik lagi:

"Adikku, berbaringlah dengan tenang di sini, biar burung walet dan bunga segar yang melenyapkan kesepianmu, kau tidak usah kuatir, aku tidak akan membiarkan kau mati dengan sia-sia."

Mendadak dia bangkit berdiri, kemudian berlari secepatnya menuju ke arah dimana dia datang tadi.

Hong Lo-su dibuat melongo, dia hanya bisa mengawasi perempuan itu meninggalkan hutan bunga dengan mata terbelalak, dia merasa mendongkol, merasa gelisah, namun tidak ada yang bisa dilakukannya.

Kini di dalam hutan bunga tinggal dua orang.

Kedua orang itu, yang satu hidup yang lain sudah mati, yang satu jeleknya setengah mati dan yang lain cantik bak bidadari, kalau yang satu busuk bagai iblis keji, maka yang lain adalah malaikat dari surga.

Malaikat cantik yang telah mati terjatuh ke dalam cengkeraman iblis jahat yang buruk rupa dan masih hidup, satu kejadian yang amat ironis, amat memedihkan hati dan membuat orang menghela napas....

Langkah kaki Un Tay-tay makin lama semakin melambat, sepasang alis matanya berkerut kencang, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.

Jalan pikirannya memang lincah dan penuh akal muslihat, bila dia sudah mengambil satu keputusan, maka biar orang lain menebaknya sampai mati pun jangan harap mampu menebak isi hatinya.

Kini dia tidak memilih jalanan yang harus ditempuh, langkah kakinya diayunkan menelusuri jalan perbukitan, sorot matanya memandang ke tempat kejauhan, seakan sudah dibuat terpesona oleh jalan pikirannya.

Lama kemudian, tiba-tiba sekulum senyuman aneh terbesit di ujung bibirnya, dia mengangkat wajah, mencoba memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, kemudian dia berbelok ke arah timur dan kembali berjalan cepat.

Saat itu cahaya sang surya belum mencapai tengah angkasa, dia berjalan menyongsong datangnya cahaya fajar, langkahnya masih diayunkan lambat, kemudian diambilnya sebatang ranting, kemudian mulai membongkar semak belukar yang berada di sisi jalan.

Di tengah tanah perbukitan yang sepi dan terpencil itu, dia seolah sedang mencari harta karun yang tidak ternilai harganya,   mencari dengan teliti, memeriksa dengan seksama....

Ya, tindak-tanduk nona ini memang sangat aneh, sukar diduga apa maunya.

Mendadak dia menjumpai beberapa ikat rumput ilalang yang terikat menjadi satu, diikat dengan sebuah serat yang sangat halus dan lembut, andaikata tidak diperhatikan lebih seksama, sulit rasanya untuk menemukan keanehan itu.

Tali pengikat berwarna hitam, sebuah benda yang sangat umum dan tidak ada yang aneh.

Tapi bagi Un Tay-tay, dia seolah berhasil menemukan harta karun, wajahnya kontan berseri, sambil membungkukkan tubuh dia mulai melakukan pemeriksaan di seputar tumpukan rumput ilalang itu.

Benar saja, di antara tumpukan rumput terdapat beberapa macam benda yang berbentuk aneh.

Tapi... danmana dia tahu kalau di balik tumpukan rumput ilalang terdapat benda yang berbentuk aneh?

 

Akhirnya Gi Beng dan Gi Teng mendusin kembali dari pingsannya.

Yang sadar terlebih dulu adalah Gi Beng, dia mengucek matanya berulang kali sambil mengawasi sekeliling tempat itu, tampak cahaya matahari menyinari seluruh bumi, tempat itu masih sama pemandangannya seperti apa yang terlihat sebelum ia memejamkan matanya tadi.

Secara lamat-lamat dia mencoba untuk mengingat kembali kejadian semalam, dia masih ingat secara tiba-tiba dirinya tidak bisa mendengar, kemudian tidak bisa melihat, apa yang terjadi bagaikan sebuah impian yang buruk

Tapi kemana perginya kawanan iblis jahat yang dijumpai dalam mimpi buruknya itu? Kemana pula perginya kedua orang perempuan yang sedang menangisi Thiat Tiong-tong? Kemana pula perginya Enci Sui?

Keringat dingin mulai bercucuran memba­sahi tubuhnya, masih untung kakaknya masih berada di sisinya, sekuat tenaga dia menggoncang tubuh GiTeng, lalu teriaknya:

"Ayo, sadar, cepat sadar...."

Dengan perasaan terperanjat Gi Teng melompat bangun, dia baru menghembuskan napas lega setelah melihat Gi Beng berada di sana, tapi setelah memandang sekejap seputar sana, dengan wajah bingung dan tak habis mengerti, tanyanya:

"Kenapa aku bisa berada di sini?"

"Kenapa kau bisa berada di sini?" seru Gi Beng jengkel:

"masa kau sendiri pun tidak tahu?"

"Aku... aku tidak ingat jelas...." Gi Teng menggeleng.

"Memangnya kau orang mati?" teriak Gi Beng sambil menghentakkan kakinya, "semalam kau...."

"Semalam... aaah, betul, semalam sepeninggal kau dan Sui Leng-kong, aku menunggu lama sekali, ketika tidak melihat kalian segera kembali, maka aku pun menyusul mencari kalian."

"Aaaai, seharusnya kau sudah melakukan pencarian sejak awal," Gi Beng menghela napas panjang.

Gi Teng mengernyitkan sepasang alis mata­nya, seakan sedang berusaha mengingat kembali kejadian yang telah dialami, katanya:

"Aku sudah mencari kalian cukup lama, namun tidak berhasil, pada saat itulah tiba-tiba kudengar ada suara manusia maka segera ku hampiri, ternyata dia adalah seorang manusia berbaju serba hitam yang bercakar hitam, hanya sepasang mata iblisnya yang kelihatan, dia muncul dari balik kegelapan dan menghalangi perjalananku sambil merentangkan tangannya."

"Aaah, betul, dialah orangnya," jerit Gi Beng kaget.

"Jadi kau... kau pun sudah bertemu dengannya?" tanya GiTeng terperanjat.

"Jangan kau tanya dulu persoalan itu, katakan bagaimana selanjutnya?"

"Dalam terperanjatnya aku segera meng­hardik, siapa tahu orang itu hanya menatapku dengan sepasang mata iblisnya, begitu dipandang beberapa saat, entah kenapa mendadak timbul perasaan takut di hatiku, aku ingin kabur, tapi... kakiku seakan sudah kabur dari tubuhku, aku tidak sanggup bergerak, aku ingin menghindar dari tatapan matanya, itupun tidak berhasil, sepasang mataku seolah melekat dengan tatapan matanya, seperti tidak tahan untuk menengok ke arahnya terus."

"Ke... kemudian?" Gi Beng semakin tercekat.

Dengan wajah kebingungan, semakin tidak mengerti Gi Teng melanjutkan:

"Kemudian entah bagaimana ceritanya aku berubah makin kebingungan, seakan menjadi tidak sadar, aku tidak paham apa yang telah kulakukan, aku pun tidak tahu apa yang telah kuucapkan, bahkan aku juga tidak habis mengerti kenapa bisa tiba di sini."

"Adah... ilmu pembetot sukma!" bisik Gi Teng sambil menarik napas dingin.

"Betul," sahut Gi Teng sambil tertawa getir, "kelihatannya aku bakal mendapat rezeki, kungfu yang ingin dilihat orang lain pun susahnya setengah mati, ternyata malah sudah kucicipi kehebatannya

Setelah memandang sekejap sekitar sana, tiba-tiba dia menjerit kaget:

"Kemana perginya Sui... Sui Leng-kong?"

Begitu menyinggung soal Sui Leng-kong, air mata kembali berderai membasahi pipi Gi Beng.

"Dia... dia...."

Baru terucap dua kata, dia sudah menubruk Gi Teng sambil menangis tersedu-sedu.

Gi Teng makin terperanjat setelah menyaksikan ulah adiknya, bisiknya gemetar:

"Jangan-jangan dia sudah...."

Diiringi isak tangis yang amat sedih, Gi Beng menuturkan kembali kisah pengalaman yang dialami mereka selama ini.

Belum selesai mendengarkan kisah penga­laman itu, tangan dan kaki Gi Teng sudah menjadi dingin bagaikan es, dia merasa seakan tubuhnya dilempar orang ke dalam kubangan salju yang sangat dingin, membuatnya menggigil kedinginan.

Mereka berdua mencoba untuk menduga, mengapa bisa jatuh tidak sadarkan diri? Mengapa tinggal mereka berdua di situ? Peristiwa apa pula yang telah terjadi sehabis mereka jatuh tidak sadarkan diri.

Saat itu mereka berdua berada di tengah tanah perbukitan yang terpencil, selain tidak dapat menentukan arah, tubuh mereka pun terasa masih sangat lemas, dua bersaudara yang belum pernah merasa panik dan gelisah itu, kini nyaris dibuat gila saking bingungnya.

"Bagaimanapun, kita harus segera menemukan dirinya," bisik GiTeng kemudian.

"Tapi... ke mana kita harus mencari?" tanya Gi Beng dengan air mata berlinang.

Gi Teng berdiri termangu, dia sendiri pun tak tahu apa yang harus diperbuat.

Sampai lama kemudian, satu ingatan baru melintas dalam benak Gi Beng, segera serunya:

"Aaah, ada akal, lebih baik kita temui Seng-toako sekalian, minta mereka membantu kita melakukan pelacakan, dengan jumlah yang lebih banyak, mungkin hasilnya juga beda."

Usul ini memang usul terbaik di antara usul lainnya, tapi dimanakah posisi mereka sekarang? Kuil Sang-cing-koan di bukit Lau-san berada dimana? Kedua orang itu tidak mengerti.

Sekarang mereka hanya berharap bisa bertemu seseorang untuk ditanyai arah yang benar.

Maka dengan langkah lebar mereka pun berjalan meninggalkan tempat itu, namun sudah sekian lama berjalan, belum juga dijumpai seorang manusia pun.

Gi Beng sudah mulai merasakan matanya berkunang, kakinya lemas tidak bertenaga, kini dia betul-betul merasa sangat kecewa.

Saat itulah mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang dari balik bukit di depan sana, terdengar seseorang mengumpat dengan penuh amarah:

"Sudah lama aku mencarimu dan kau pun tahu akan hal ini, buat apa masih berlagak pilon?"

Terdengar seorang yang lain menyahut sambil tertawa:

"Cayhe sungguh tidak habis mengerti, ada urusan apa Cianpwe mencari aku?"

Walaupun Gi Beng dan Gi Teng tidak dapat mengenali suara siapa orang yang menjawab belakangan, tapi mereka segera mengenali suara bentakan yang pertama tadi berasal dari Che Toa-ho.

Tidak terlukiskan rasa girang dua ber­saudara ini, tanpa ragu lagi cepat mereka berlari menghampiri sumber suara itu.

Terdengar Che Toa-ho kembali membentak gusar:

"Biar kau tidak tahu pun, hari ini aku tetap akan berusaha melenyapkan kau si bangsat cabul dari muka bumi, akan kulihat apakah kau masih berani merusak pagar ayu orang lain lagi."

Menyusul suara bentakan nyaring, ter­dengarlah suara bentrokan senjata yang sangat ramai.

Dengan perasaan girang Gi Beng serta Gi Teng mempercepat langkah kakinya, tidak lama kemudian tibalah mereka di depan sebuah hutan, dari kejauhan sudah terdengar deru angin serangan yang memekakkan telinga

Begitu asyiknya pertarungan itu berlang­sung, hingga dua bersaudara Gi tiba di sisi arena pun Che Toa-ho masih belum menyadarinya.

Dengan mengandalkan ilmu pedangnya yang ganas dan telengas, setiap serangan yang dilancarkan saat itu boleh dibilang semuanya merupakan jurus-jurus mematikan, seolah dia mempunyai dendam kesumat sedalam lautan dengan lawannya hingga ingin secepatnya meng­habisi nyawa musuh.

Musuh yang sedang dihadapi adalah seorang pemuda berbaju perlente, seorang pemuda yang tidak dikenal Gi Beng maupun Gi Teng.

Walaupun kungfu yang dimiliki pemuda itu cukup tangguh, nampak jelas dia masih bukan tandingan salah satu jago pedang pelangi itu, permainan pedangnya makin lama semakin kacau dan tercecar hebat, kini dia hanya mampu bertahan

Dua bersaudara Gi merasa kurang leluasa untuk turut campur dalam pertarungan itu, mereka pun tidak berusaha mencegah, karenanya hanya berdiri menonton di sisi arena.

Kelihatannya kedua orang yang sedang bertarung itu sama sekali tidak sadar akan kehadiran pihak ketiga, mereka masih terlibat dalam pertarungan yang amat seru.

Khususnya Che Toa-ho, semakin bertarung dia semakin naik pitam, bukan cuma rambutnya berdiri bagai landak, sepasang matanya ikut berubah merah padam.

Sudah cukup lama Gi Beng dan Gi Teng kenal jagoan ini, mereka pun seringkah menyaksi-kan dia bertarung melawan orang lain, namun selama ini belum pernah menyaksikan dia menyerang dengan begitu buas, kejam dan telengas seperti hari ini.

Kini dia sudah mengembangkan ilmu pedangnya hingga mencapai puncaknya, setiap serangan yang dilancarkan ibarat pelangi yang membelah angkasa, membuat daun dan ranting berguguran, hawa pedang menyelimuti seluruh angkasa, pemandangan saat itu betul-betul membetot sukma dan menggetarkan hati.

Mendadak Che Toa-ho membentak nyaring, di tengah getaran cahaya pedang, satu tusukan kilat dilontarkan ke muka.

Tidak sempat menghindarkan diri, bahu pemuda itu segera tersambar hingga muncul sebuah luka memanjang yang cukup dalam.

Sambil menjerit kesakitan, kontan pemuda itu mengumpat:

"Che Toa-ho, apa maksudmu menghalangi perjalananku dan memaksa aku bertarung melawanmu? Kalau beraninya hanya menganiaya kaum muda, terhitung Enghiong macam apa dirimu itu?"

"Jika hari ini aku tidak mampu melenyap­kan bajingan cabul macam kau, nama besarku sebagai jago pedang berkopiah kuning baru terhitung hancur di tangan binatang macam dirimu," balas CheToa-ho penuh amarah.

Sementara berbicara, secepat kilat dia melancarkan kembali tujuh tusukan maut.

Kembali muncul beberapa luka dalam di dada kiri pemuda itu, darah segar segera bercucuran membasahi tubuhnya, darah yang membentuk kuntum bunga merah di atas jubah suteranya yang halus.

Dengan rasa takut bercampur ngeri, pemuda itu berteriak keras:

"Suhu! Susiok! Cepat kemari, tolong aku... ! Che Toa-ho kumat edannya, dia ingin membunuh­ku ...."

"Ayo, berteriaklah!" jengek CheToa-ho sambil tertawa seram, "teriak lagi yang keras.... Hmmm, biar kau berteriak sampai serak pun jangan harap Hek Seng-thian serta Suto Siau datang menolongmu."

Sekarang Gi Teng serta Gi Beng baru tahu kalau pemuda perlente itu ternyata adalah murid Hek Seng-thian serta Suto Siau, mereka saling bertukar pandang sekejap sambil berpikir, "Bukankah Sim Sin-pek satu aliran dengan Hek Seng-thian maupun Suto Siau? Kenapa Che Toa-ho begitu membenci pemuda itu seakan punya dendam kesumat sedalam lautan dan bersikeras ingin menghabisi nyawanya?"

Baru saja ingatan itu melintas, tiba-tiba terdengar seseorang membentak nyaring:

"Tahan!"

Tiga sosok bayangan manusia menyusup masuk ke dalam hutan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, di antara cahaya pedang yang berkilauan:

"Traangg!", tahu-tahu serangan pedang Che Toa-ho sudah ditangkis.

"Laute, kau sudah edan?" terdengar seseorang membentak keras.

Suaranya berat dan dalam, dia tidak lain adalah si jago pedang berhati merah Seng Cun-hau.

Dua orang yang lain menerjang pula ke dalam arena, yang seorang dengan senyum di kulum melindungi tubuh pemuda itu, sementara seorang yang lain, berperawakan kecil mungil, memegangi lengan CheToa-ho dengan wajah gelisah.

Orang yang tersenyum tidak lain adalah Suto Siau, sementara yang bertubuh kecil mungil adalah Sun Siau-kiau.

Tidak terlukiskan rasa gusar Che Toa-ho, saking marahnya, paras muka lelaki ini berubah jadi merah padam seperti kepiting rebus, jeritnya:

"Siau-kiau, cepat lepas tanganmu! Toako, kau tidak usah mencampuri urusan ini, apapun yang terjadi, hari ini aku harus menjagal si cabul busuk ini, dia binatang busuk!"

"Saudara Che, tolong redakan amarahmu," kata Suto Siau pula sambil tersenyum, "jika Sim Sin-pek memang berbuat salah atau kurang sopan, katakan saja terus terang, biar Siaute yang mengganjar hukuman berat kepadanya, buat apa saudara Che mesti bersusah payah ingin men-cabut nyawanya?"

Melihat orang itu berbicara sambil ter­senyum, Che Toa-ho jadi semakin mendongkol, saking jengkelnya dia sampai tidak mampu berkata.

Dalam pada itu Suto Siau sudah berpaling ke arah pemuda itu sambil membentak:

"Kenapa kau menyalahi paman Che? Ayo, cepat mengaku terus terang."

Pemuda itu tidak lain adalah Sim Sin-pek, begitu melihat bala bantuan sudah tiba, kontan nyalinya bertambah besar, setelah memutar biji matanya, dengan lagak seperti orang kena fitnah dia berkata:

"Kapan murid pernah berbuat salah kepada paman Che? Justru pamanlah yang berulang kali mengumpatku sebagai bajingan cabul, padahal murid sendiri juga tidak jelas kenapa bisa dituduh begitu?"

Dalam pada itu Seng Cun-hau telah menegur pula dengan suara dalam:

"Laute, sebenarnya apa yang terjadi? Katakan saja."

Che Toa-ho sama sekali tidak menjawab, hanya tubuhnya kelihatan gemetar keras, dia tak sanggup mengemukakan alasannya.

Tiba-tiba Suto Siau menarik wajahnya, sambil tertawa dingin ujarnya:

"Sim Sin-pek masih muda, dia masih cukup lama hidup mengembara dalam dunia persilatan, masih mending kalau hari ini dia terbunuh di tangan saudara Che, tapi tuduhan sebagai 'bajingan cabul', satu tuduhan yang berat dan susah dipikul siapa pun. Cun-hau, kau sebagai ketua tujuh pedang pelangi mesti menyelesaikan persoalan ini dengan sebaik-baiknya, jika saudara Che tidak menerangkan sejelasnya, aku akan minta pertanggungjawabanmu."

Baru pertama kali ini dua bersaudara Gi bertemu dengan Suto Siau, menyaksikan sikap maupun caranya bertindak, mereka berdua serentak berteriak dalam hati:

"Sungguh lihai manusia ini."

Benar saja, Seng Cun-hau betul-betul dipojokkan oleh ucapan itu, dia dipaksa tidak mampu berbicara, sesudah berdehem berulang kali, akhirnya dia berpaling ke arah Che Toa-ho dan bisiknya tergagap:

"Laute, kau...."

Belum selesai dia berbicara, dengan suara keras Che Toa-ho sudah berteriak lebih dulu:

"Baik! Akan kukatakan terus terang, Suto Siau, dengarkan baik-baik, murid bajinganmu yang tidak tahu malu itu berani berbuat tidak senonoh terhadap biniku, coba katakan, pantas tidak kalau dia dijagai?"

Seketika itu juga Seng Cun-hau serta Suto Siau berdiri tertegun.

Sekarang Gi Beng dan Gi Teng baru mengerti kejadian sebenarnya.

"Ohh, ternyata urusan beginian, tidak heran sulit bagi Che Toa-ho untuk buka suara."

Sebetulnya Sun Siau-kiau hanya berdiri bengong di situ, tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu.

"Sin-pek, benarkah ada kejadian seperti ini?" bentak Suto Siau keras.

Sim Sin-pek memutar biji matanya berulang kali, kemudian sahutnya dengan kepala tertunduk:

"Mana mungkin ada kejadian seperti ini? Sekalipun murid berniat menggaet Che-hujin, tapi Che-hujin kan seorang wanita suci dan berhati bersih, mana mungkin dia mau berbuat tidak senonoh dengan murid?"

"Kentut! Kau binatang jahanam masih ingin mengelak...." bentak Che Toa-ho penuh amarah.

Belum selesai dia bicara, pipinya sudah ditampar Sun Siau-kiau keras-keras, dia terkejut bercampur gusar, tapi belum sempat berbuat sesuatu, Sun Siau-kiau sudah berguling di tanah sambil menangis keras.

Sembari menarik pakaian yang dikenakan dan memukul dada sendiri, perempuan itu menjerit sambil menangis:

"Aku tidak mau hidup... aku tidak mau hidup... bunuhlah aku ... bunuh saja aku! Kalau tidak berani membunuhku, kau memang kura-kura kepala busuk, binatang goblok.....”

Biarpun pada hari biasa Che Toa-ho terhitung seorang Enghiong, namun begitu bininya mulai sewot dan menangis, sama seperti pria kebanyakan, kontan dia jadi kelabakan dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan.

Dalam waktu singkat tubuhnya sudah termakan tiga bogem mentah ditambah lima tendangan Sun Siau-kiau, begitu keras gebukan itu membuat mukanya semakin merah padam.

"Ayo, bangun!" teriaknya sambil meng­hentakkan kaki berulang kali, "cepat bangun, ada urusan kita bicarakan baik-baik."

Sambil memukul dan menangis, Sun Siau-kiau mengumpat tiada hentinya:

"Apalagi yang bisa dibicarakan, orang lain mengatakan binimu suci bersih sebaliknya kau justru menuduh binimu main serong dan melakukan hal yang tidak senonoh, huuuh... orang lain begitu percaya kepada binimu, sebaliknya kau malah tidak percaya... teman-teman semua, coba lihat, mana ada manusia di kolong langit yang ngotot mengenakan topi hijau untuk diri sendiri?"

Seng Cun-hau berdiri tersipu-sipu, dia merasa serba salah, mau menarik salah, mau mencegah pun rikuh, untuk sesaat dia malah berdiri kebingungan.

Suto Siau hanya menggendong tangan sambil memandang langit, tiada hentinya dia tertawa dingin, sementara Sim Sin-pek diam-diam melengos ke arah lain, seolah tidak tahan geli dan ingin tertawa terbahak-bahak.

Mendadak Sun Siau-kiau melompat bangun, sambil merobek pakaian yang dikenakan Che Toa-ho, makinya:

"Baik, kau menuduh aku telah menjadikan dirimu seekor kura-kura dungu, kenapa tidak kau bunuh saja diriku? Ayo, cepat turun tangan... kalau memang bernyali, cepat bunuh aku...."

Paras muka Che Toa-ho merah padam bagaikan kepiting rebus, pakaian yang dikenakan robek hingga compang-camping karena ditarik bininya, dia berusaha mendorong istrinya, namun tidak berhasil, mau menghindar juga gagal, terpaksa jeritnya:

"Seng-toako, cepat tarik dia!" Seng  Cun-hau  menghentakkan  kakinya berulang kali, serunya:

"Aaaai! Dasar pikun, mana mungkin aku bisa menariknya?"

Untunglah Gi Beng tidak tahan menyaksi­kan adegan itu, cepat dia melompat ke muka merangkul pinggang Sun Siau-kiau, lalu sambil menepuk bahunya, dia berseru:

"Ensoku  yang  baik, ayo, sudahlah, beristirahatlah dulu!"

Sambil membalikkan tubuh, Sun Siau-kiau siap menggebuk, tapi begitu tahu orang yang merangkulnya adalah Gi Beng, dia pun mengurungkan niatnya, sambil memeluk tengkuk gadis itu, dia menangis tersedu-sedu.

"Adikku," teriaknya, "untung kau yang datang, tahukah kau, Ensomu sudah dituduh yang bukan-bukan... oooh, Thian... oooh, Thian... mau ditaruh kemana mukaku selanjutnya?"

"Ya, Che-toako memang sudah salah bicara, tidak seharusnya dia menuduh yang bukan-bukan," sahut Gi Beng tergagap.

Mendengar perkataan itu, isak tangis Sun Siau-kiau malah semakin menjadi, katanya dengan sedih:

"Adikku, ternyata hanya kau yang memahami jiwaku.... He, manusia she Che, sudah kau dengar perkataan adik keluarga Gi ini? Dasar lelaki tidak punya liangsim, lelaki dungu, kau memang binatang goblok!"

Melihat kehadiran Gi Beng, diam-diam Che Toa-ho menghembuskan napas lega, sementara itu dia sudah menyingkir jauh dari arena.

Saat itulah Gi Beng mengedipkan mata ke arahnya sambil berkata:

"Che toako, kau telah sembarangan menu­duh Enso, cepat kemari, minta maaf kepadanya."

Sejujurnya Che Toa-ho ingin sekali maju mendekat dan minta maaf, tapi begitu sorot matanya bertemu pandangan Sim Sin-pek yang nampak berdiri sambil menyengir, kontan dia menghentikan kembali langkahnya.

Tiba-tiba Suto Siau berdehem berulang kali, kemudian katanya:

"Kalau toh persoalan ini hanya timbul karena kesalah pahaman, baiklah, kita sudahi sampai di sini saja. Cun-hau, temani rekan-rekanmu berbincang, aku dan Sin-pek akan jalan lebih dulu."

Padahal dia sendiri pun tahu dengan pasti kalau, Sim Sin-pek memang telah berbuat tidak senonoh dengan Sun Siau-kiau, karena itu kalau bukan kabur sekarang juga, dia mau menunggu sampai kapan?

Maka setelah memberi kode kepada Sim Sin-pek, buru-buru dia berlalu dari situ.

Saat itulah Che Toa-ho baru berjalan mendekat dan menjura berulang kali sambil minta maaf, dia mesti berusaha mati-matian sebelum akhirnya Sun Siau-kiau menghentikan isak tangisnya.

Sambil menampar wajah lelaki itu, kembali Sun Siau-kiau berseru:

"Di kemudian hari apakah kau masih berani menuduh aku berbuat tidak senonoh?"

"Tidak berani, tidak berani," sahut Che Toa-ho dengan kepala tertunduk lesu.

Melihat tampang suaminya, Sun Siau-kiau pun tertawa cekikikan.

"Dasar kura-kura tolol, memandang wajah adik Gi Beng, kuampuni kesalahanmu kali ini."

Seng Cun-hau yang menyaksikan dari samping hanya bisa menggelengkan kepala berulang kali sambil menghela napas, dia benar-benar tidak tega menonton lebih lanjut, cepat dia berpaling ke arah lain dan menatap wajah Gi Teng.

Cepat Gi Teng maju ke depan sambil menjura, katanya:

"Siaute memang sedang mencari Toako, sayang selama ini tidak kuketahui dimana letak kuil Sang-cing-koan, untunglah kita bersua tanpa sengaja di sini...."

"Kedatangan kalian pun sungguh kebetul­an," Seng Cun-hau menghela napas panjang, "kalau tidak, sekalipun berhasil menemukan letak kuil Sang-cing-koan, belum tentu bisa bertemu kami, karena kami sudah meninggalkan tempat itu sejak awal."

"Meninggalkan tempat itu?" tanya Gi Teng keheranan, "mau pergi kemana kalian?"

"Tempat tinggal kami saat ini boleh dibilang selalu berpindah-pindah, terkadang dalam sehari kami bisa tiga kali berpindah tempat. Masih untung tidak banyak perbekalan yang kami bawa, jadi begitu dia mengajak pergi... aaaai, kami pun segera berangkat."

Gi Teng semakin keheranan, tak tahan tanyanya:

"Kenapa begitu?"

Seng Cun-hau mendongakkan kepala menghela napas panjang, sampai lama sekali dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Sun Siau-kiau segera menimbrung:

"Lui-pian Lojin betul-betul seorang manusia yang susah dilayani, dia kuatir ada orang lain mengintip rahasianya, maka seringkah dia berpindah tempat tinggal, bahkan saban hari memaksa kami melakukan patroli di sekitar tempat tinggalnya, terkadang sewaktu kami balik lagi ke tempat semula, dia sudah angkat kaki dan berpindah ke tempat lain."

Sekalipun wajahnya masih dibasahi air mata, namun begitu bercerita, dia pun berbicara panjang lebar dengan santainya.

Kontan Gi Teng berkerut kening, ujarnya:

"Aaaai, tidak nyana manusia ternama dan terhormat macam Lui-pian Lojin pun selalu berpindah tempat macam setan gentayangan ... dengan watak anehnya itu, mana mungkin kalian bisa sabar menghadapinya?"

"Biar tidak tahan pun apa boleh buat, ibu Seng-toako...."

Mendadak perempuan itu melirik Seng Cun-hau sekejap, akhirnya dia pun urung melanjutkan perkataannya.

Rasa sedih yang luar biasa seketika menyelimuti wajah Seng Cun-hau, dia mendongak­kan kepala memandang angkasa sambil menghela napas panjang, melihat itu Gi Teng pun tidak banyak bicara, dia hanya tertunduk dengan sedih.

Tiba-tiba Gi Beng bertanya:

"Jika kita balik ke sana dan ternyata dia sudah berpindah tempat lagi, dengan cara apa kita menemukan jejaknya?"

"Itu bukan masalah besar," jawab Sun Siau-kiau tertawa, "bukankah Suto Siau punya kode rahasia untuk saling berhubungan? Ketika mencari jejaknya, kami pun memanfaatkan kode rahasia itu untuk saling berhubungan dan menjalin kontak, itulah sebab-nya kemana pun mereka pergi, kami pasti berhasil menemukan kembali, adikku, mari, biar kuajak kau menengok keadaan yang sebenarnya."

Tanpa membuang waktu dia segera menarik tangan Gi Beng dan diajak pergi dari situ

Terpaksa Seng Cun-hau sekalian mengikut­nya di belakang.

Kini Che Toa-ho baru tahu, rupanya rombongan itu bisa menemukan jejaknya karena sudah mengikuti tanda rahasia yang secara diam-diam ditinggalkan Sim Sin-pek, dengan termangu diawasinya bayangan punggung Sun Siau-kiau yang menjauh, untuk sesaat dia tidak bisa mengatakan bagaimana perasaan hatinya kini....

Sejak itu persekutuan lima keluarga besar dari Suto Siau dengan tujuh pedang pelangi pun sudah tertanam sebutir bibit ketidak beruntungan yang membawa firasat buruk.

 

 

[bersambung]