pendekar panji sakti 10
BAB 28.
Kaisar malam.
Tapi Thiat Tiong-tong belum mati, untung dia
belum mati!
Saat ini dia sedang duduk diatas batu
karang, batu karang ditepi laut dengan arus dan gulungan ombak yang
sangat deras.
Tebing karang itu tingginya mencapai ratusan
kaki, sekalipun Thiat Tiong-tong memiliki kekuatan tubuh yang luar
biasa pun mustahil baginya untuk bisa merangkak naik dalam waktu
singkat, oleh sebab itulah dia duduk diatas batu sambil
beristirahat.
Ketika terhantam pukulan hingga tercebur ke
dalam laut tadi, meski pukulan yang dilepaskan Im Ceng terhitung
kuat, namun dengan kemampuan yang dimiliki Thiat Tiong-tong, apalagi
dia bergerak melambung mengikuti angin pukulan yang diarahkan ke
tubuhnya maka luka yang dideritanya kendatipun tidak terlalu parah,
tapi tubuhnya yang tercebur ke bawah nyaris menumbuk diatas batu
karang yang menonjol dari bawah air laut.
Untung saja reaksinya cukup cepat, sebuah
pukulan yang dihantamkan ke atas batu karang itu membuat tubuhnya
terpelanting ke sisi kanan batu karang itu meski ujung bajunya
terkait disudut karangyang tajam hingga tergelantung.
Pukulan yang saling beradu dengan batu
karang membuat tubuhnya mengalami getaran keras, getaran yang cukup
membuatnya jatuh tidak sadarkan diri diatas permukaan laut, masih
untung ujung bajunya terkait diujung karang sehingga tubuhnya
tertahan dan tetap berada dalam keadaan terapung.
Itulah sebabnya Im Ceng dan Un Tay-tay yang
melongok dari atas hanya sempat melihat ujung bajunya yang terkait
di ujung karang namun tidak melihat tubuhnya yang terapung.
Mereka sangka pemuda itu sudah terkubur
didasar laut hingga tidak dilakukan pencarian lagi
Thiat Tiong-tong yang terendam dalam air
laut tersadar kembali dari pingsannya karena air dingin yang
membasahi tubuhnya, waktu itu dia kehilangan hampir seluruh kekuatan
tubuhnya, dalam keadaan begini terpaksa anak muda itu hanya bisa
merangkak naik ke atas batu karang untuk beristirahat.
Saat itulah lm Ceng dan Un Tay-tay dengan
menumpang di perahu Yin Siok melakukan pelacakan, Thiat Tiong-tong
yang tidak ingin segera berjumpa dengan mereka berdua segera
menyembunyikan diri di belakang batu karang.
Menanti Im Ceng dan Un Tay-tay berlalu
dengan kecewa karena gagal menemukan dirinya, Thiat Tiong-tong baru
munculkan diri lagi dari balik bebatuan karang.
Waktu itu napas Thiat Tiong-tong tersengkal,
dadanya naik turun tidak beraturan, dalam keadaan begitulah
tiba-tiba dia menyaksikan ada sebuah perahu bergerak menuju ke
tempatnya berada.
Perahu itu meluncur datang dengan mengikuti
arus ombak, tidak heran kalau gerakannya cepat sekali.
Thiat Tiong-tong tidak dapat menebak asal
usul perahu itu, namun sebagai pemuda yang selalu bertindak cermat
dan hati-hati, apalagi dalam kondisi tidak bertenaga seperti saat
ini, dia tidak ingin bertindak gegabah.
Melihat perahu itu meluncur datang semakin
dekat, cepat dia menyelinap ke balik batu karang dan menyembunyikan
diri.
Perahu makin lama makin mendekat, sekarang
dia dapat mengenali orang yang berada di perahu tersebut, ternyata
dia tidak lain adalah nenek berambut putih yang mendayung sampan
bersama Im Ceng dan Un Tay-tay tadi.
Biar sudah tua ternyata nenek itu masih
memiliki tenaga yang luar biasa untuk melawan arus, kemunculannya
bersama sampan itu sudah merupakan satu kejadian yang aneh, tapi
yang membuat Thiat Tiong-tong lebih tercengang adalah kemunculannya
kembali di situ, apa maksud dan tujuan kedatangannya kali ini?
Sementara itu si nenek sudah memungut
segulung tali dari atas geladak, selesai membuat tali simpul, dia
lempar gulungan tali itu ke arah kumpulan batu karang, ternyata tali
tersebut dengan tepat sekali tergaet diatas sebuah batu.
Dengan cepat nenek itu mengikat ujung tali
yang lain ke atas sampannya, kemudian dengan satu lompatan dia
meluncur ke udara dan melayang turun diatas kumpulan batu karang
itu.
Di kiri kanan tangannya masing-masing
membawa sebuah keranjang bambu, sekalipun sedang bergerak diantara
batu karang yang licin, tajam lagi tidak rata, dia dapat bergerak
cepat dan mantap.
Dalam berapa kali lompatan saja nenek itu
sudah meluncur ke arah batu karang dimana Thiat Tiong-tong sedang
menyembunyikan diri saat itu.
Dengan perasaan terkesiap Thiat Tiong-tong
segera berpikir:
"Jangan-jangan dia sudah mengetahui tempat
persembunyianku?"
Dalam waktu singkat nenek itu sudah melayang
naik ke atas batu karang itu, namun dia tidak menuju ke arah tempat
persembunyian Thiat Tiong-tong, melainkan dengan menelusuri tepi
karang dia bergerak ke sisi lain, lalu setelah meletakkan keranjang
bambu itu, dengan kedua belah tangannya dia cengkeram sebuah batu
karang yang berbentuk runcing dan mendorongnya ke samping.
Diluar dugaan, batu karang berbentuk runcing
yang sama sekali tidak mencolok itu segera bergerak ke samping dan
muncullah sebuah liang gua yang dalam.
Karena bersembunyi di posisi atas, dengan
sangat jelas Thiat Tiong-tong dapat melihat keadaan dibagian
bawahnya, ternyata mulut gua itu luasnya sekitar tiga meter, tapi
dia tidak dapat melihat keadaan didalamnya karena suasana disana
gelap gulita.
Tampak nenek itu berjongkok di pintu gua dan
berteriak keras:
"Kiriman nasi sudah datang!"
Menyusul teriakan itu, dari dasar gua
terdengar suara gemerincing besi yang saling beradu, suara itu
muncul dari balik kegelapan hingga mendatangkan perasaan
menyeramkan.
Thiat Tiong-tong semakin tercengang, dia
tidak berniat mencuri tahu rahasia orang lain, maka sambil menahan
napas tubuhnya semakin tidak berani berkutik.
Begitu mendengar suara gemerincing besi yang
beradu, dari dalam keranjang bambunya nenek itu mengeluarkan dua
buah bungkusan kertas, kembali serunya:
"Terima ini!"
Dia pun melemparkan bungkusan tadi ke dalam
liang gua.
Kelihatannya nenek ini merasa takut sekali
terhadap orang yang berada dalam gua, begitu selesai melemparkan
bungkusan kertas itu, cepat dia menutup kembali mulut gua itu dengan
batu karang.
Dari balik liang gua terdengar seseorang
berseru dengan suaranya yang parau:
"Balik dan beritahu kepada Jit ho,
dia.........."
Tapi batu karang itu sudah merapat kembali,
kata berikut pun seketika terputus ditengah jalan.
Tampak nenek itu menghembuskan napas lega,
kembali gumamnya:
"Kasihan! Sungguh kasihan! Seorang enghiong
gagah ternyata.... aaai, inilah akibat dari ulahnya sendiri, kini
harapannya pudar sudah!"
Kalau didengar dari nada pembicaraan itu,
bisa diduga kalau si nenek sedang merasa sayang untuk masa depan
orang didalam gua itu, namun walaupun dia merasa sayang, diapun
menyalahkan orang itu karena hukuman yang diterimanya sekarang
merupakan akibat dari ulahnya sendiri.
Memandang hingga bayangan sampan itu lenyap
dari pandangan, Thiat Tiong-tong baru berpikir:
"Kelihatannya nenek itu penghuni Pulau Siang
cun-to, itulah sebabnya penghuni gua itu menyinggung soal Jit ho!"
Apalagi sewaktu teringat kalau Im Ceng dan
Un Tay-tay pun pernah menumpang perahu itu untuk mencari jejaknya,
dapat dipastikan si nenek berasal dari Pulau Siang cun-to.
Ketika perempuan berkerudung hitam berpesan
kepada Un Tay-tay agar menggunakan peluit untuk memanggil perahu
penyeberang, Thiat Tiong-tong sempat mendengarnya pula, karena itu
dia berkesimpulan kalau Un Tay-tay dan Im Ceng pada saat itu pasti
telah tiba di Pulau Siang cun-to dan tidak kuatir dicelakai orang
lagi.
Karena kedua orang itu sudah lolos dari
bahaya, Thiat Tiong-tong pun merasakan hatinya sangat lega.
Tapi siapa pula orang yang disekap dalam gua
misterius itu?
Orang itu berani menyebut langsung nama Jit
ho, lagi pula meski si nenek itu nampak menaruh sikap waspada namun
tetap menganggapnya sebagai orang kosen, ini menunjukkan kalau dia
memiliki asal-usul yang luar biasa.
Jit ho telah mengurungnya didalam gua
lembab, hal ini membuktikan kalau dia amat membenci orang ini, tapi
mengapa bukannya dibunuh langsung?
Thiat Tiong-tong mencoba untuk berpikir
sambil menganalisa, semakin dipikir dia merasa kejadian ini semakin
misterius, asal-usul penghuni gua itu pun terasa makin menarik
perhatian.
Diliputi rasa ingin tahu yang tidak
terbendung, Thiat Tiong-tong segera mendekati tempat itu dan membuka
penutup liang gua.
Namun diapun tidak berani membuka terlalu
lebar, pemuda itu kuatir bila penghuni gua itu akan menggunakan
kesempatan itu untuk melarikan diri, andainya dia bukan penjahat
keji, keadaan masih mendingan, andaikata dia adalah manusia laknat
sementara kemampuannya tidak sanggup mengendalikan orang itu,
bukankah kejadian ini akan menimbulkan bencana besar?
Maka diapun membuka sedikit pintu liang dan
mencoba mengintip ke dalam, andaikata situasi tidak menguntungkan,
dia berencana untuk segera merapatkan kembali gua itu.
Dengan meminjam cahaya matahari yang
menyorot masuk ke dalam liang gua, Thiat Tiong-long mulai melongok
ke bawah, ternyata dibalik mulut gua terbentang sebuah lorong bawah
tanah yang bentuknya terliku-liku.
Suara gemerincingnya besi kembali
berkumandang dari balik lorong, menyusul kemudian tampak sesosok
bayangan manusia muncul dari balik kegelapan sambil menegur:
"Siapa diluar? Mau apa datang mengusik tidur
orang?"
Thiat Tiong-tong tidak sempat melihat jelas
raut muka orang itu, dia hanya merasa biarpun tubuh orang itu
dibelenggu rantai besi, namun cara bicara maupun gayanya amat
berwibawa, lamat-lamat membawa sikap dan wibawa seorang kaisar.
Sebagai seorang kaisar, sekalipun berada
dalam penjara pun seringkali tidak akan kehilangan kewibawaannya.
Tentu saja mustahil kalau orang itu adalah
seorang kaisar benaran, tapi sikap dan wibawa yang ditampilkan orang
tersebut dalam keadaan seperti ini segera membuat perasaan hati
Thiat Tiong-tong tergerak, cepat dia membentang lebar liang gua itu.
Tampak orang itu mendongakkan kepalanya dan
memandang sekejap, kemudian tegurnya penuh amarah:
"Manusia latah dari mana yang telah datang?
Kenapa tidak segera menjawab pertanyaanku?"
Orang itu berperawakan tinggi besar,
rambutnya kusut lagi awut-awutan tidak karuan, namun sikap serta
penampilannya tetap gagah dan penuh wibawa.
Thiat Tiong-tong tidak menjawab teguran
orang, sebaliknya malah berkata tenang:
"Kini pintu gua sudah terbuka lebar, mengapa
kau tidak manfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri?"
Kelihatannya orang itupun tidak menyangka
kalau akan di hadapkan dengan pertanyaan semacam ini, sesaat dia pun
berdiri tertegun.
Tapi kemudian sambil tertawa keras sahutnya:
"Selama hidup kapan aku pernah melarikan
diri? Anak busuk yang tidak tahu diri. kau anggap aku adalah manusia
macam apa?"
Gelak tertawanya keras dan nyaring,
sedemikian kerasnya hingga menggetarkan gendang telinga.
Kembali satu ingatan melintas dalam benak
Thiat Tiong-tong, teriaknya lantang: "Kau kenal dengan Cu Cau?"
"Cu....... Cu Cau?" tubuh orang itu
kelihatan bergetar keras.
"Benar, Cu Cau, putra kaisar malam"
"Cu Cau...... Cu cau.........." gumam orang
itu, dia kelihatan agak tertegun dan berdiri bodoh, selang berapa
saat kemudian tiba-tiba bentaknya, "kau kenal dengan dia?"
"Tentu saja kenal"
"Berada......berada di mana
dia sekarang?
Apakah.......apakah dia pun ikut kemari?"
Nada suaranya mulai gemetar, jelas sedang
terjadi gejolak yang luar biasa didalam hatinya.
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas
panjang, dia sudah dapat menduga siapa gerangan orang ini.
Tanpa sengaja dia telah bertemu dengan orang
ini, walaupun pertemuan tersebut membuatnya terkejut bercampur
girang, namun tidak urung timbul juga perasaan terharu dan pedihnya
setelah menyaksikan penampilannya sekarang.
Kelihatan sekali orang itu sangat gelisah,
kembali dia membentak:
"Cepat katakan, apakah diapun ikut datang?"
Kembali Thiat Tiong-tong menghela napas
panjang, sahutnya:
"Sekalipun dia tidak ikut datang, namun
setiap saat setiap detik dia selalu merindukan kau orang tua,
hanya...... hanya saja dia tidak tahu berada dimanakah kau orang tua
sekarang"
"Darimana..... darimana kau tahu kalau dia
selalu merindukan aku?” kembali orang itu bertanya dengan tubuh
bergetar keras.
Thiat Tiong-tong tertawa sedih, tiba-tiba
dia membuka lebar pintu gua kemudian melompat masuk ke dalam.
"Mau apa kau?" bentak orang itu.
Belum selesai dia membentak, Thiat
Tiong-tong telah berlutut dihadapannya sambil memberi hormat,
kemudian dengan kepala tertunduk katanya:
"Keponakan Thiat Tiong-tong memberi hormat
untuk kau orang tua"
Orang itu membelalakkan matanya semakin
lebar, dengan perasaan tercengang bercampur ragu tegurnya:
"Sebenarnya siapa kau? Dari mana bisa tahu
tentang aku? Kenapa harus memberi hormat kepadaku?"
"Siautit adalah saudara angkat Cu Cau, tentu
saja aku harus memberi hormat setelah berjumpa kau orang tua"
Tiba-tiba bahunya terasa sakit sekali,
ternyata dia sudah dicengkeram orang itu.
Thiat Tiong-tong segera merasakan betapa
kuat dan kerasnya telapak tangan orang itu, tenaga cengkeramannya
begitu kuat dan dahsyat, boleh dibilang belum pernah dijumpai
sebelumnya.
Padahal kepandaian silat yang dimiliki Thiat
Tiong-tong saat ini telah mencapai taraf yang luar biasa, menghadapi
serangan dari siapa pun, secara otomatis dari dalam tubuhnya akan
timbul tenaga perlawanan, tidak gampang bagi orang lain untuk
mencengkeram tubuhnya.
Tapi orang ini bukan saja dapat melancarkan
serangan tanpa menimbulkan suara, Thiat Tiong-tong baru menyadari
akan hal itu setelah lawan berhasil mencengkeraman tubuhnya, hal ini
membuktikan betapa cepat dan luar biasanya kungfu yang dimiliki
orang itu.
Dengan kekuatan tubuh yang dimiliki Thiat
Tiong-tong sekarang, ibarat tubuh baja otot kawat, ternyata tidak
tahan juga dia menghadapi cengkeraman itu, dasar kepala batu,
biarpun sakitnya setengah mati, pemuda itu tetap menggertak gigi
menahan diri, jangankan menjerit, keningpun sama sekali tidak
berkenyit.
Orang itu masih mencengkeram bahu lawan
dengan kuatnya, sementara sorot matanya yang tajam mengawasi wajah
Thiat Tiong-tong tanpa berkedip.
Thiat Tiong-tong balas mendongakkan
kepalanya, balas memandang tenang ke arahnya.
Ternyata orang itu mengenakan sebuah jubah
yang lebar, jubah yang semula indah kini sudah penuh dengan tambal
sulam, rambutnya yang panjang nampak kacau dan terurai sebahu, sinar
matanya meski tajam berkilat namun memancarkan keadaan yang
mengenaskan.
Khususnya lagi borgol serta rantai besar
yang membelenggu tubuhnya, kehadiran benda itu segera menimbulkan
perasaan sedih, terharu di hati kecil anak muda itu.
"Jadi kau sudah tahu, siapakah aku?"
perlahan orang itu menegur lagi.
"Benar, siautit sudah tahu siapa kau orang
tua"
"Bagus, bagus, kau memang pantas menjadi
saudara angkatnya Cu Cau" gumam orang itu lirih.
Tiba-tiba dia mengendorkan cengkeramannya,
kemudian setelah tertawa tergelak ujarnya:
"Kalau sudah tahu siapa diriku, sepantasnya
kau panggil aku dengan sebutan empek!"
Sekarang Thiat Tiong-tong baru benar-benar
yakin bila dugaannya tidak salah, ternyata orang tua yang dipenuhi
borgol dan rantai besar ini tidak lain adalah Ya te Kaisar malam
yang nama besarnya telah menggetarkan seluruh kolong langit.
Kejut bercampur girang, sekali lagi Thiat
Tiong-tong menyembah memberi hormat, sapanya:
"Empek.........."
"Hahahaha....... Cau-ji tinggi hati dan
selamanya tidak pernah pandang sebelah mata terhadap orang lain,
orang macam begitu bisa angkat saudara denganmu, hal ini sudah lohu
duga, dia tidak bakal salah pilih"
"Terima kasih atas pujian empek"
"Kau bisa mengenaliku dalam sekali pandang,
hal ini bukan termasuk hal yang aneh dan luar biasa, justru yang
luar biasa adalah kemampuanmu menahan cengkeramanku tanpa berubah
wajah atau menjerit, ini baru hebat, membuktikan kalau kau memang
lelaki jantan!"
Thiat Tiong-tong semakin kagum terhadap
orang ini, dia tidak mengira meski sudah terperosok dalam situasi
macam begini, ternyata sikap kakek itu masih sangat terbuka, kalau
bukan jago sungguhan, mustahil dia dapat bersikap ksatria macam
begini.
"Tidak kusangka ternyata Cau-ji masih
teringat akan diriku! Baik-baikkah dia?" tanya Kaisar malam, "tempat
kediamanku pasti sudah dia bangun makin luas, lebar dan
megah......."
Rasa sedih seketika menyelimuti perasaan
Thiat liong-tong, tapi sesaat kemudian dia paksakan diri untuk
mengendalikan rasa pedih itu, dengan kepala tertunduk balik
tanyanya:
"Sudah berapa lama empek tidak pernah pulang
ke rumah?"
"Siapa perduli sudah berapa lama waktu
berlalu, tapi rasanya sudah puluhan tahun lama-nya!"
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas,
pikirnya:
"Kalau orang lain yang merasakan penghidupan
semacam ini, sehari pasti dirasakan bagai setahun, mereka pasti akan
mencatat setiap harinya dengan sangat jelas. Tapi orang ini........
berapa lama pun sudah terlupakan bahkan mengakunya tidak ingat lagi,
kebesaran jiwanya sungguh mengagumkan" Berpikir begitu ujarnya
kemudian dengan sedih:
"Waktu memang selalu berjalan, dalam belasan
tahun betapa besarnya perubahan yang terjadi di dunia ini........"
"Tapi tempat tinggalku jauh dari keramaian"
kata Kaisar malam tertawa, "aku
rasa........."
"Tempat itu........tempat itu........."
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.
Dia benar-benar tidak tega untuk
menceritakan keadaan yang sebenarnya, bahwa tempat tersebut sudah
ludas dimakan api.
"Tempat itu kenapa?" tanya Kaisar Malam
dengan wajah berubah.
Thiat Tiong-tong sadar, tidak mungkin dia
bisa membohongi kejadian itu lagi, maka dengan kepala tertunduk
sedih sahutnya:
"Tempat itu sudah.......sudah ludas dilalap
api"
Dia sangat kuatir orang tua itu tidak
sanggup menerima pukulan batin yang berat, diapun tidak tega
menyaksikan kepedihan yang bakal diderita kakek itu, maka selesai
bicara diapun tundukkan kepalanya rendah-rendah, tidak sekejap pun
berani menengok ke arahnya.
Siapa tahu Kaisar Malam malah mendongak-kan
kepalanya dan tertawa keras, sahutnya:
"Sudah terbakar habis.......? hahahah... ada
baiknya juga terbakar habis, sejak belasan tahun berselangpun lohu
sudah punya pikiran untuk membakar ludas tempat itu"
"Ke.....kenapa?"
"Sejak kecil Cau-ji sudah terbiasa hidup
mewah dan suka foya-foya, ada baiknya kalau tempat itu sudah dibakar
orang, paling tidak bisa merangsang dia untuk membangun lagi sebuah
istana mewah yang lain, ketimbang tahunya hidup mewah dan bersenang
senang melulu, cara ini bisa melatihnya menerima kenyataan
.......padahal dalam segala bidang bocah ini sudah cukup lumayan,
satu-satunya kelemahan padanya adalah kelewat malas!"
"Analisa dari empek benar-benar luar biasa"
puji Thiat Tiong-tong sambil menghela napas.
Kembali Kaisar Malam tertawa.
"Kau sebagai saudara angkatnya Cau-ji tentu
tahu juga bukan bahwa keluarga Cu memang senang hidup mewah, senang
menikmati keduniawian dalam kondisi dan keadaan seperti apapun,
anggota keluarga Cu paling tidak tahan hidup menderita"
"Benar......"
"Kalau ingin menikmati hidup, dia mesti
mendapatkannya dengan berjuang, berusaha, jika kau ingin hidup lebih
nikmat, hidup lebih mewah ketimbang orang lain maka perjuanganmu
musti lebih hebat daripada orang"
"Nasehat ini akan siautit ukir dalam
sanubariku!"
"Aku mempercayai kemampuan Cau-ji, dalam
kondisi sejelek apa pun, dia masih mampu untuk melakukan perubahan,
oleh sebab itu aku selalu percaya dengan kemampuannya, hanya
saja........"
Mendadak senyuman yang semula tersungging
diujung bibirnya lenyap tidak berbekas, setelah menghela napas
katanya:
"Hanya saja...... entah bagaimana
keadaan ibunya sekarang?"
Perasaan Thiat Tiong-tong bergetar keras,
dia tertunduk semakin rendah.
"Dia sudah kelewat menderita, kelewat
tersiksa batinnya" ujar Kaisar Malam lebih lanjut sambil menghela
napas, "selama ini dia selalu ingin mengungguli kemampuanku, tapi
berlatih silat dengan cara seperti yang dia lakukan kelewat
menyiksa, apakah dia telah menyelesaikan pula semua siksaan dan
penderitaannya?"
"Yaa, beliau telah menyelesaikan semua
penderitaannya ......." jawab Thiat Tiong-tong lirih, dia tidak
berani mendongakkan kepalanya.
"Bagus, bagus, memang sudah saatnya dia
menikmati hidupnya"
Thiat Tiong-tong semakin sedih, hatnya
semakin pedih, diapun semakin tak berani mengangkat wajahnya.
"Di dalam sana tersedia arak dan hidangan
lezat" kata Kaisar Malam lagi, "kini kau sudah tiba disini,
seharusnya pula temani aku berbincang sambil minum arak, tidak usah
buru-buru pergi, mengerti? Ayoh ikut aku masuk!"
Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur
keheranan, saking herannya nyaris sampai tidak mampu bersuara,
setelah tertegun berapa saat kemudian dia baru berkata agak
tergagap:
"Jadi empek...... masih ingin masuk ke dalam
lagi?"
"Tentu saja harus masuk ke dalam"
"Sekarang siautit sudah membuka lebar pintu
rahasia, kenapa empek belum juga pergi? Lebih baik siautit bersihkan
dulu semua beban yang ada ditubuh empek kemudian baru........"
"Ooh, rupanya kau hendak menyelamatkan aku"
"Siautit......siautit hanya........."
Kaisar Malam segera mendongakkan kepalanya
dan tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahaha.....kalau ingin kabur, sudah
sejak dulu aku kabur dari sini, memangnya menunggu sampai
kedatanganmu? Bocah, kau kelewat pandang rendah kemampuanku"
"Lantas kenapa.... kenapa empek belum
pergi?"
"Tentu saja ada alasannya, nanti kau juga
akan tahu sendiri" sahut Kaisar Malam sambil tertawa.
Dia segera menarik tangan Thiat Tiong-tong
dan diajaknya menelusuri jalan lorongyang berliku.
Untuk kesekian kalinya Thiat Tiong-tong
menghela napas, pikirnya:
"Tabiat orang tua ini memang mirip jahe
semakin tua semakin pedas, sudah seusia dia sifat keras kepalanya
belum juga berubah, padahal keadaan sudah begini rupa, masa dia
masih enggan menerima bantuan orang. Kelihatannya aku mesti
membujuknya secara perlahan-lahan, siapa tahu suatu saat nanti dia
bersedia untuk pergi"
Tentu saja ucapan semacam ini tidak berani
dia kemukakan, terpaksa pemuda itu mengintil di belakangnya.
Ternyata gua batu karang itu sangat dalam,
bukan saja jalannya berliku-liku bahkan penuh bercabang seperti
barisan Pat-kwa-tin milik Cukat liong.
Thiat Tiong-tong sadar, seandainya tidak
dibimbing orang tua itu, mustahil baginya untuk lusa balik lagi ke
tempat semula.
Semakin ke dalam, lorong bawah tanah itu
makin gelap dan lembab hingga akhirnya mereka memasuki suatu daerah
yang gelap gulita, sedemikian gelapnya sampai melihat ke lima jari
tangan sendiripun susah.
Thiat Tiong-tong tidak menyangka kalau ayah
saudara angkatnya hidup selama puluhan tahun dilempat macam neraka
seperti ini, dia semakin bertekad akan membujuk orang tua itu agar
mau meninggalkan tempat ini.
Entah sudah berapa lama mereka berjalan,
akhirnya Kaisar Malam menghentikan langkahnya.
"Triiiing.......!" tiba-tiba Thiat
Tiong-tong mendengar suara dentingan lirih diikuti berkilatnya
cahaya api, pemandangan dihadapannya mendadak jadi terang benderang,
ternyata orang tua itu telah menyulut sebuah lentera.
Dinding karang dihadapannya telah dipahat
orang hingga berbentuk sebuah lentera batu, belasan sumbu api
berkumpul jadi satu disana, ketika Kaisar Malam mengetukkan batu
apinya, dalam waktu singkat semua sumbu itu terbakar dan memancarkan
cahaya terang.
Thiat Tiong-tong agak melongo menyaksikan
kesemuanya itu, dia bukan heran bagaimana cara memahat batu karang
itu, yang membuatnya tidak habis mengerti adalah darimana kakek itu
peroleh minyak bakar?
Kalau sepanjang lorong rahasia tadi
kondisinya becek, lembab dan gelap, maka tempat ini selain lebar,
kondisinya sangat kering. Disisi kiri terdapat sebuah ranjang batu,
disisi kanan terdapat sebuah meja batu dengan berapa bangku yang
terbuat dari batu juga.
Disisi meja batu terdapat pula sebuah kolam
yang terbuat dari batu dengan ukiran sepasang naga berebut mutiara,
pancuran air bersih mengalir tiada hentinya dari mulut sang naga,
memenuhi kolam batu itu lalu dari kolam mengalir keluar ke arah
lain, namun kolam itu selalu dalam kondisi penuh air bersih.
Disisinya lagi tersedia peralatan lengkap
mandi dan sisir, semuanya terpelihara dalam kondisi bersih dan
kering.
"Bagus bukan tempat tinggalku?" tanya Kaisar
Malam sambil tertawa.
"Biarpun bagus, tidak pantas untuk
ditinggali kelewat lama"
"Hahahaha....ucapan yang
bagus......perkataan yang bagus....."
Sambil tertawa dia mulai merobek kantung
kertas yang dibawanya.
Hidangan yang tersedia dalam kantung kertas
itu terhitung lezat, semula Thiat Tiong-tong mengira dia akan
dibujuk untuk ikut makan, siapa tahu Kaisar Malam membawa kedua
kantung kertas itu ke sisi selokan kemudian membuang seluruh isinya.
"Empek.....apa yang kau lakukan?" tanya
Thiat Tiong-tong terperanjat.
"Ada apa? Kau sangka aku akan berpuasa atau
boikot tidak mau makan?"
"Tapi.......tapi........"
"Hahahaha.......jangan kuatir, sekalipun
ingin mati, lohu akan mencari tempat yang nyaman untuk mati, tidak
bakalan aku pilih mati kelaparan"
"Lalu, kenapa empek membuang semua makanan
itu?" Thiat Tiong-tong semakin keheranan.
"Hidangan semacam itu mah cocoknya untuk
rangsum kuda, lohu toh bukan keledai, apalagi kuda, kalau tidak
dibuang lantas untuk apa?"
Thiat Tiong-tong tertegun berapa saat
lamanya.... sampai lama kemudian, akhirnya tidak tahan tanyanya
lagi:
"Lalu dihari biasa.....apa yang empek
makan?"
Kaisar Malam tidak menjawab pertanyaan itu,
sebaliknya malah bertanya:
"Tadi, lohu pernah bilang, seandainya mau
pergi dari sini, sejak banyak tahun berselang aku sudah meninggalkan
tempat ini, apakah kau kurang percaya?"
"Siautit memang sedikit kurang percaya"
"Hahahahaha.....ternyata kau sangat
jujur....... baiklah! Harap kau menahan diri selama setengah jam,
dalam setengah jam mendatang, apa pun yang kau saksikan, tolong
jangan berbicara"
Thiat Tiong-tong semakin dibuat kebingungan,
ragu dan ingin tahu, terpaksa jawabnya:
"Siautit akan turut perintah"
"Hahahaha.... baik!"
Ditengah gelak tertawa yang amat nyaring,
tiba-tiba dia merentangkan tangannya ke samping sambil menggetarkan
tubuh, tahu-tahu semua rantai besi dan borgol yang membelenggu
tubuhnya rontok dan bertebaran kemana-mana.
"Kau........." dengan terperanjat Thiat
Tiong-tong berseru.
"Jangan lupa, kau berjanji tidak buka
suara!" tukas Kaisar Malam sambil tertawa.
Walaupun perasaan hatinya dipenuhi rasa
tercengang, kaget bercampur ingin tahu, terpaksa pemuda itu harus
menelan kembali semua pertanyaannya.
Dengan amat santai Kaisar Malam berjalan
menuju ke depan bak air, kemudian mencuci muka, menyisir rambut dan
melepaskan jubah luarnya yang lebar, ternyata dibalik jubah iebar
itu dia mengenakan satu stel pakaian sutera yang lembut, halus dan
sangat indah.
Menanti dia membalikkan kembali tubuhnya,
kakek yang tampil dihadapannya sudah bukan kakek mengenaskan yang
dijumpainya tadi, bukan saja tidak dekil dan kusut, bahkan tampang
suram pun sama sekali tidak kelihatan.
Kini kakek tersebut tampil begitu rapi,
begitu bersih, bukan saja rambutnya tertata rapi, pakaian yang
dikenakan pun mewah dan indah, selain tampil perkasa, terpancar pula
sinar wibawa yang luar biasa.
Thiat Tiong-tong nyaris menjerit keras,
walaupun dia berhasil menahan diri, tidak urung mulutnya yang
terlanjur melongo tidak mampu lagi dirapatkan kembali.
Sambil tersenyum Kaisar Malam berjalan
menuju ke depan ranjang batunya kemudian mendorongnya ke samping.
Begitu ranjang batu itu bergeser, segera
muncullah sebuah liang gua lain, bedanya gua itu terang benderang,
lorong rahasia yang ada dibalik gua pun nampak bersih dan terang.
"Ikuti aku!" perintah Kaisar Malam.
Seakan sedang berada dalam alam impian,
bagaikan orang bodoh Thiat Tiong-tong mengintil dibekakangnya.
Sebetulnya dia termasuk seorang pemuda
berbakat yang cerdas, biasanya sebelum orang melakukan sesuatu, dia
sudah bisa meramalkan secara tepat delapan-sembilan bagian
diantara-nya. Tapi hari ini, jangan lagi menduga, bahkan setiap
tindakan dan perbuatan yang dilakukan Kaisar Malam boleh dibilang
jauh di luar dugaan-nya.
Sepanjang lorong rahasia, setiap jarak
sepuluh langkah terdapat sebuah lentera batu, setelah menelusuri
puluhan langkah kemudian mereka baru tiba didepan sebuah pintu batu
berbentuk bulan sabit yang tertutup sebuah tirai berwarna hijau
pupus.
Tiba-tiba Kaisar Malam berpaling dan berkata
sambil tertawa:
"Pejamkan matamu, kau baru boleh membuka
matamu bila kusuruh nanti"
Kini, Thiat Tiong-tong sudah takluk seratus
persen terhadap orang tua ini, tanpa membantah dia segera pejamkan
matanya.
Kaisar Malam mengajaknya memasuki pintu
bertirai itu, baru berjalan lagi berapa langkah, secara lamat-lamat
dia sudah mengendus bau harum semerbak yang memabukkan.
Bau harum itu menyelimuti seluruh ruangan,
lain itu, udara disitupun terasa jauh lebih hangat. Lewat berapa
saat kemudian Kaisar Malam baru berseru lagi sambil tertawa:
"Baiklah, sekarang buka matamu!"
Thiat Tiong-tong menarik napas dalam dalam,
perlahan dia membuka matanya.......
Masih mending kalau dia tetap pejamkan
matanya, begitu membuka lebar sepasang matanya.......hampir saja
dia jatuh terjerembab saking kagetnya.
Ternyata tempat dimana dia berdiri sekarang
adalah sebuah gua batu berbentuk bulat, biapun hanya sebuah gua
batu, namun sekeliling tempat itu terbungkus dalam sebuah tenda yang
sangat indah dengan aneka kulit berbulu yang mahal harganya.
Dibandingkan ruang utama rumah orang kaya,
tempat ini justru jauh lebih megah dan mewah, bahkan meja dan bangku
yang tersedia disitupun terbuat dari pahatan batu hijau dengan
ornamen yang indah dan hasil karya tukang pahat kenamaan.
Ada meja yang berbentuk seperti gedung
megah, ada kursi tidur yang berbentuk jembatan panjang, ada pula
bangku rendah yang mirip rumah pertanian, malah ada sebuah meja
bulat dengan pahatan wajah Kaisar Malam dibagian tengahnya.
Setiap cawan, setiap piring yang tersedia
diatas meja batu pun rata-rata berbentuk pahatan aneh dan indah, ada
yang berbentuk seperti burung merak, ada yang berbentuk kebau, kuda,
ada pula yang berbentuk Busu, bahkan ada pula yang berbentuk wanita
telanjang.
Setiap benda yang berada disana nyaris
merupakan hasil karya tangan seorang ahli, karya tukang pahat
kenamaan yang bisa mewujudkan setiap hasil karyanya lebih hidup dari
benda aslinya.
Bukan begitu saja........
Dibalik tenda mewah, disisi meja batu,
didepan bangku rendah, ternyata berdiri pula belasan orang gadis
cantik yang rupawan.
Kawanan gadis cantik itu ada yang
mengenakan baju sutera tipis, ada pula yan mengenakan gaun indah,
ada yang sedang bergurau, ada yang sedang bermain catur, ada pula
yang sedang menyisir rambutnya dan berdandan, malahan ada pula yang
sedang melukis.
Saat itu semua orang telah menghentikan
kegiatannya, semua orang memandang ke arah ihiat Tiong-tong dengan
terperangah, wajah mereka dicekam rasa terkejut bercampur keheranan,
tidak ada yang tahu dari mana datangnya pemuda itu
Thiat Tiong-tong sendiripun merasakan
pandangan matanya kabur, selama hidup walaupun sudah seringkali dia
jumpai kejadian aneh, namun belum pernah dia alami peristiwa yang
lebih aneh dari kejadian hari ini.
Untuk sesaat dia berdiri termangu, masih
untung Kaisar Malam melarangnya berbicara, andaikata dia bebas
berkata pun belum tentu pemuda itu sanggup mengucapkan sepatah kata
pun dalam kondisi seperti ini.
"Bagaimana dengan tempat ini?" terdengar
Kaisar Malam bertanya.
Thiat Tiong-tong terbungkam dalam seribu
bahasa, dia memang tidak mampu menjawab.
"Kini kau sudah boleh berbicara" kata Kaisar
Malam lagi sambil tertawa.
Thiat Tiong-tong menarik napas panjang,
kemudian sahutnya:
"Siautit benar-benar tidak sanggup menjawab
pertanyaan itu"
"Hahahahaha.......bagus! bagus!" Kaisar
Malam tertawa tergelak, kemudian sambil berpaling ke arah kawanan
gadis itu, ujarnya lagi, "dia adalah saudara angkat Cau-ji, putraku,
ayoh kemari, kalian boleh berkenalan"
Kawanan gadis itu tertawa ringan, malah ada
pula yang segera menundukkan kepalanya. Kembali Kaisar Malam
tertawa, katanya:
"Sudah terlalu lama aku tidak menerima tamu
ditempat ini, tidak heran kalau kawanan budak itu jadi malu-malu
kucing, harap keponakan jangan mentertawakan"
Thiat Tiong-tong sendiripun tertunduk
rendah, tidak sepatah katapun sanggup dia ucapkan.
"Kenapa kalian masih berdiri melongo"
terdengar Kaisar Malam menegur lagi, "cepat sediakan sayur dan
arak, aku akan menjamu keponakanku ini"
Diiringi suara tertawa cekikikan yang ramai,
serentak kawanan gadis itu bangkit berdiri dan beranjak pergi.
"Duduklah!" ujar Kaisar Malam kemudian.
Thiat Tiong-tong pun mengambil tempat duduk.
"Setibanya disini, bagaimana perasaanmu?"
Thiat Tiong-tong mendongakkan kepalanya
memandang sekeliling tempat itu sekejap, lamat-lamat dia mendengar
suara cekikikan bergema dari balik tirai.
Maka setelah menghela napas panjang,
sahutnya tergagap:
"Hingga kini siautit bahkan belum bisa
percaya, sesungguhnya aku sedang di alam nyata atau berada dalam
alam impian?"
"Hahahaha..... bukankah lohu pernah bilang,
berada dalam situasi dan kondisi seperti apa pun orang-orang
keluarga Cu pasti bisa berusaha untuk menikmati hidupnya"
"Empek memang terbukti memiliki kemampuan
yang luar biasa" Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, "tapi
dalam hati kecil siautit terdapat banyak pertanyaan yang tidak
terjawab, bersediakah empek untuk memberitahu?"
"Pertanyaan apa? Tanyakan saja!"
"Bagaimana ceritanya empek bisa terdampar
disini, lalu bagaimana pula kejadiannya sampai bisa.......sampai
bisa memiliki segalanya?"
Dia memang gagal menemukan perkataan yang
paling cocok untuk mengemukakan rasa tercengang dan kagetnya,
karena itu sambil tertawa getir dia menuding ke sekeliling tempat
itu.
Sudah jelas pada mulanya tempat itu
merupakan sebuah penjara bawah tanah, penjara yang dipersiapkan Ratu
matahari untuk mengurung kakek itu, tapi sekarang, sebuah penjara
bawah tanah telah berubah menjadi istana megah yang penuh dengan
kemewahan, bukankah kenyataan ini patut dipertanyakan?
Kaisar Malam tersenyum, sahutnya:
"Biarpun pertanyaan yang kau ajukan hanya
terdiri dari berapa patah kata, namun panjang sekali untuk
dijelaskan, apakah kau punya kesabaran untuk mendengarkan?"
"Siautit siap mendengarkan" Kaisar Malam
tersenyum, dicarinya dulu sebuah tempat tidur yang empuk untuk
tempat duduk, kemudian ia mulai berkisah:
"Selama hidup aku yakin semua sepak
terjangku benar dan tidak pernah merugikan siapa pun, hanya dalam
satu hal, seluruh umat manusia mengutuk dan mencaci maki diriku,
tahukah kau persoalan apa yang kumaksud?
"Bagus! Kalau dilihat dari wajah senyummu,
aku tahu, kau pasti sudah paham apa yang kumaksud hanya kurang
leluasa atau sungkan untuk mengutarakannya keluar bukan? Padahal mau
dikatakan pun tidak masalah.
"Biarpun pemogoran dianggap orang satu
perbuatan yang memalukan, padahal asal niatmu tidak cabul, apa
salahnya kalau kita menabur bibit cinta terhadap kaum wanita yang
ada di kolong langit?
"Sepanjang hidup, hal yang paling membuatku
tergila-gila hanyalah para wanita yang cantik jelita lagi cerdas,
sebab hanya merekalah sumber kehidupan bagi langit dan bumi, coba
perhatikan, ada sementara perempuan yang bertampang buruk berbodi
kasar, ada pula sementara perempuan yang lembut halus dan cantik bak
bidadari dari langit, perbedaan mereka sangat besar dan mencolok,
bukankah hal ini membuktikan kalau langit pun sudah membedakan mana
buruk mana bagus?
"Jikalau langit telah meletakkan segala
sumber kehidupan ditubuh kaum wanita, itu berarti umat manusia harus
menikmati dan menyayanginya, seperti juga terhadap pepohonan dan
bunga-bungaan, kalau ingin menikmati keindahannya, wajib kita pupuk
dan peliharanya secara seksama.
"Bila ada orang tidak mau menikmati, tidak
tahu menyayangi atas semua keindahan yang tersedia, itu berarti dia
adalah manusia kasar, lelaki goblok yang dungu dan tidak tahu arti
hidup"
Setelah mendongakkan kepalanya dan tertawa
terbahak-bahak, lanjutnya:
"Hahahaha,.....untung aku bukan orang kasar,
apalagi lelaki goblok yang dungu dan tidak mengerti arti kehidupan,
aku tidak pernah menyia-nyiakan kelebihan yang disediakan langit,
akupun tidak pernah menyia-nyiakan perempuan cantik yang kujumpai,
aku merasa wajib untuk mencintai mereka, menyayangi mereka seperti
aku menyayangi harta mestika.
"Yang lebih beruntung lagi adalah biniku pun
bukan manusia sembarangan, dia cukup memahami kegemaranku ini, dia
tahu kalau aku hanya berniat melindungi dan merawat kaum wanita
cantik dikolong langit agar mereka tidak dianiaya orang, tidak
disia-siakan orang.
"Tapi yang paling membuatku beruntung adalah
asalkan dia seorang gadis baik maka dia pasti akan mengetahui
perasaanku, padahal hanya wanita baik yang bisa mengetahui
perasaan-ku, dan harapan terbesarku sepanjang hidup adalah
berkenalan dan bersahabat dengan semua wanita cantik yang ada
dikolong langit, aku berharap semua wanita cantik dikolong langitpun
mau menganggap aku sebagai sahabatnya, dengan begitu tujuan hidup
seorang manusia baru mendekati sempurna"
Tampaknya dia sudah menganggap Thiat
Tiong-long sebagai keponakan sendiri, karena itu caranya berbicara
pun sangat terbuka tanpa tedeng aling-aling, hal ini membuat anak
muda itu hanya bisa mendengarkan dengan wajah melongo dan tertawa
getir.
Bagaimana tidak? Apa yang dia katakan bukan
saja belum pernah didengar Thiat Tiong-tong sebelumnya, bahkan
merupakan teori yang belum pernah diketahui sebelumnya, pemuda itu
tidak tahu apakah perkataan itu benar atau sebenarnya keliru besar.
Ketika mencoba berpaling ke arah lain,
dijumpai kawanan gadis itu sudah menghidangkan sayur dan arak
kemudian secara diam-diam duduk disekeliling tempat itu, mereka
duduk dengan wajah penuh senyuman dan ikut mendengarkan kisah
tersebut dengan seksama.
Padahal kisah cerita semacam itu entah sudah
berapa kali mereka dengar, tapi kini mereka masih tetap mendengarkan
dengan seksama, hal ini membuktikan kalau cara Kaisar Malam
bercerita memang sangat mempersonakan siapapun.
Ternyata hidangan sayur dan arak yang
tersedia sangat bagus kwalitasnya, selesai meneguk habis secawan
arak kembali Kaisar Malam menghela napas panjang, katanya lagi:
"Tapi sayang diantara sekian banyak
perempuan baik yang ada dikolong langit, ternyata masih ada
perempuan lain yang jauh lebih bagus, jauh lebih hebat lagi, bukan
saja perempuan itu tidak pernah mau menganggap aku sebagai
sahabatnya, menggubris akupun tidak. Peristiwa ini betul-betul
merupakan persoalan yang paling kusesali, kejadian yang paling
menjengkelkan hatiku, gara-gara persoalan ini, aku pernah puasa
makan puasa tidur selama tujuh hari tujuh malam, dalam berapa bulan
penghidupanku selanjutnya hatiku sungguh tersiksa, makan tidak enak,
tidurpun tidak nyenyak, setiap kali teringat akan dirinya, hatiku
terasa sakit bagaikan ditusuk beribu-ribu batang jarum tajam, apakah
kau bisa membayang-kan perasaan hatiku waktu itu?
"Bagus, kau masih tersenyum tanpa bicara,
itu berarti kaupun sangat memahami perasaan hatiku saat itu.
"Aaaai, berbicara dengan bocah pintar macam
kau boleh dibilang merupakan satu kejadian yang menyenangkan juga,
coba kalau mesti berbicara dengan orang-orang kasar, mungkin lebih
mendingan aku memetik khiem didepan kerbau"
Sejak awal hingga kini dia hanya
mengemukakan teori yang seakan berisi falsafah mendalam, padahal
kalau ditelaah lebih mendalam, tidak jelas falsafah apa yang ingin
dia kemukakan.
Sekarang, lagi-lagi dia mengalihkan
pembicaraan bahkan mengundang Thiat Tiong-tong untuk makan minum,
itulah sebabnya anak muda itu jadi tidak tahan untuk bertanya satu
kali lagi:
"Bagaimana ceritanya hingga cianpwee tiba di
sini?"
Kaisar Malam menghela napas panjang,
sahutnya:
"Kau jangan terburu napsu, biarpun apa yang
aku ceritakan barusan kedengarannya seperti tidak ada sangkut
pautnya dengan persoalanku, padahal itulah yang menjadi alasan utama
kenapa aku bisa tiba disini.
"Tahukah kau siapakah perempuan yang tidak
pernah mengubris aku? Dia adalah......
"Bagus, lagi-lagi kau berhasil menebaknya,
dia memang Jit ho Nio nio, pemilik Pulau Siang cun-to, seandainya
dia hanya tidak menggubrisku, itu mah masih mendingan, paling banter
aku hidup dengan perasaan masgul.
"Siapa sangka bukan saja dia tidak
menggubrisku, bahkan dengan segala upaya dia berusaha membujuk
perempuan-perempuan yang berada disekitarku agar pergi menjauhi aku,
akibatnya sembilan puluh persen perempuan-perempuanku kabur
meninggalkan aku.
"Dia menuduhku tidak setia dalam bercinta,
suka pemogoran, suka hidup romantis, aku tidak lebih hanya seorang
hidung belang, padahal dia mana tahu betapa mendalamnya perasaan
cintaku, dia mana tahu betapa seriusnya niatku.
"Apakah dia anggap orang yang punya
kegemaran menanam bunga hanya menanam sebatang bunga didalam
kebunnya? Apakah orang yang hanya menanam sebatang bunga di kebunnya
udah pasti orang yang bukan menyukai bunga?
"Teori tersebut persis sama seperti aku,
kalau aku tidak menaruh hati terhadap wanita, buat apa mesti
berupaya dengan segala macam cara agar mereka mau mendampingiku,
bersusah payah melindungi mereka, tidak membiarkan mereka menderita,
tersiksa atau diganggu orang? Orang yang gemar bunga pasti akan
menyayangi bunganya, membawa bunga-bunganya ke dalam ruang hangat
disaat musim dingin tiba, menyirami air dimusim kemarau, agar bunga
itu selalu tumbuh indah, dikerumuni serangga, disukai burung liar,
aaai......... kalau bukan seseorang yang gemar bunga, mana mungkin
dia bisa memahami betapa sulitnya untuk memelihara bunga!"
Satu penjelasan yang sangat aneh dan belum
pernah terdengar sebelumnya, tidak heran Thiat Tiong-tong dibuat
tertegun sampai melongo dengan mata terbelalak, biarpun kalau
ditelaah teori tersebut sangat masuk diakal, akan tetapi dia
sendiripun tidak bisa menjelasan dibagian mana yang masuk akal.
Sementara kawanan gadis cantik masih
mendengarkan dengan terpesona, bagai orang yang kesemsem atau mabuk
berat, mereka masih termangu tanpa bergerak, malah ada yang secara
diam-diam melelehkan air matanya.
Maka dengan cepat Thiat Tiong-tong menyela:
"Itukah sebabnya empek mendatangi Pulau
Siang cun-to?"
"Betul, waktu itu usia Cau-ji sudah tidak
termasuk kecil, bibimu juga sudah menutup diri untuk berlatih,
karena tidak kuasa menahan perasaan akhirnya akupun berangkat ke
Pulau Siang cun-to.
"Kelihatannya Jit ho Nio nio sudah
memperhitungkan langkahku ini, ternyata dia tidak berani melayani
duel melawan aku, sebaliknya malah mengerahkan beratus orang jagoan
yang menghuni di pulau ini untuk membentang ilmu barisan Toa ciu
thiat coat sintin dan menantiku ditepi pantai, begitu aku
menginjakkan kakiku di Pulau Siang cun-to, diapun segera mengambil
sumpah, katanya kalau aku berhasil menjebol ilmu barisannya maka dia
akan menuruti semua permintaanku, sebaliknya bila dalam tiga jam aku
gagal menjebol ilmu barisan itu maka akulah yang harus menuruti
perkataannya.
"Hari itu angin dan ombak sangat besar,
sewaktu turun dari perahu aku sudah merasa sedikit kelelahan, selain
itu akupun merasa waktu selama tiga jam tidak cukup, biarpun aku
merasa sumpahnya tidak adil, toh hatiku terpikat juga untuk mencoba,
akhirnya pertarunganpun berlangsung...... aaaai, dan akupun
terjerumus di tempat ini"
Thiat Tiong-tong turut menghela napas
panjang, setelah termenung sejenak katanya lagi:
"Sebelum pergi, apakah empek memberitahukan
tujuan kepergianmu kepada Cu toako?"
"Tidak pernah, tapi bibimu sangat memahami
perasaan hatiku, biarpun tidak kukatakan, dia pasti tahu kemana aku
pergi"
"Dia orang tua memang tahu" kata Thiat
Tiong-long sedih, "hanya saja....."
Sebenarnya dia ingin berkata: "hanya saja
belum sempat mengatakan, dia sudah mati", namun akhirnya dia telan
kembali perkataan itu.
"Hanya saja kenapa?" tanya Kaisar Malam.
"Hanya saja dia orang tua tidak
memberitahukan hal ini kepada siautit" jawab Thiat Tiong-ong sambil
tertawa paksa.
Kaisar Malam mengambil cawan araknya sambil
duduk termangu, lama kemudian dia baru bergumam sambil menghela
napas:
"Walaupun sudah belasan tahun aku tidak
kembali, ternyata diapun tidak mengijinkan Cau-ji datang mencariku"
"Kali ini tebakanmu keliru besar" pikir
Thiat Tiong-tong didalam hati.
Selang berapa saat kemudian Kaisar Malam
baru melanjutkan kata katanya:
"Setibanya ditempat ini, tidak sampai
setengah tahun aku telah berhasil menelusuri semua pelosok tempat
disini dan menghapalnya diluar kepala, tapi belasan bulan kemudian
aku berhasil menemukan kalau tempat ini sebenarnya bukan jalan
buntu, kecuali pintu keluar yang satu tadi masih terdapat celah lain
yang bisa berhubungan dengan dunia luar, bila aku ingin pergi waktu
itu, sebetulnya aku bisa segera kabur"
"Lantas kenapa empek tidak pergi?”
"Sebagai seorang lelaki sejati, walaupun
kita tidak perlu menggubris soal tetek bengek, tapi masalah
kejujuran, kesetiaan dan tata krama tetap harus kita pegang kuat
kuat"
"Betul!" sahut Thiat Tiong-tong serius.
"Asal tidak kutinggalkan tempat ini berarti
aku tidak ingkar janji, sementara dengan cara apa kulanjutkan
kehidupanku, itu masalah lain, hal itu menyangkut kemampuanku untuk
memanjakan diri, selama aku memiliki kemampuan itu, meski tiap hari
hidup bersenang-senang pun bukan masalah, toh bukan berarti aku
mesti hidup sengsara di tempat ini baru dianggap pegang janji"
"Siautit paham" kembali Thiat Tiong-tong
mengangguk, sementara dihati kecilnya diam-diam dia menghela napas,
pikirnya:
“Empekku ini walaupun agak mata keranjang,
terkadang pandangannya juga agak eksentrik namun jiwa ksatrianya
tetap ada, dia memang tidak malu disebut jagoan paling romantis
dalam dunia persilatan”
Berpikir sampai disitu, tampa terasa muncul
sikap hormat diatas wajahnya.
Kaisar Malam tersenyum, katanya:
"San-san, cerita selanjutnya sudah pernah
kalian dengar, lebih baik kau saja yang melanjutkan kisah menarik
ini"
Seorang gadis berusia dua puluh tujuh,
delapan tahunan, berwajah bulat telur, beralis mata lembut,
berperawakan tinggi besar, berkulit hitam tapi sehat dan penuh
gairah melemparkan sekulum senyuman kearah pemuda itu, kemudian
sahutnya:
"Peristiwa ini sudah terjadi belasan tahun
berselang, tapi bagiku, satu kejadian yang tidak mungkin bisa
kulupakan"
Sambil pejamkan matanya seolah sedang
membayangkan kembali kejadian itu, dia melanjutkan:
"Waktu itu menjelang musim semi, setiap hari
aku bersama Cui-ji selalu pergi mengembala sekelompok kambing,
mencari tempat yang ada air, ada rumput, sembari mengembara kami pun
bisa membaca sejumlah buku.
"Suatu hari, menjelang senja ketika aku siap
pulang ke rumah, tiba-tiba dari bawah bukit berkumandang suara orang
sedang berpantun, yang dibawakan adalah Pie pa heng gubahan Pek Kit.
"Tentu saja aku sangat terperanjat ketika
mendengar ada suara orang berpantun dibawah bukit sana.
"Tapi suara orang itu sangat indah dan
menawan, bait syair yang dibawakan juga merupakan syair yang amat
kukenal, maka setelah mendengar beberapa saat, aku pun terperana
dibuatnya.
"Waktu itu aku berpikir, andaikata dibawah
bukit ada setannya, dia pasti setan yang tahu seni, maka dengan
membesarkan nyali kuajak Cui-ji turun ke bawah bukit menuju ke
sumber suara itu"
Senyumannya semakin menawan hati,
lanjutnya:
"Kau pasti tahu bukan, khayalan seorang
gadis selalu lebih banyak ketimbang orang lain, itulah sebabnya kami
nekad pergi mencari setan seniman itu, coba kalau berganti sekarang,
mustahil berani kami lakukan.
"Setelah mencari setengah harian akhirnya
dari balik celah batu yang penuh ditumbuhi rumput ilalang kusaksikan
ada sepasang mata sedang mengawasi kami.
"Sorot mata itu kelihatan sangat lembut dan
halus, sama sekali tidak mengandung niat jahat, keberanian kamipun
bertambah besar, akupun mulai mengajaknya bercakap cakap.
"Semenjak hari itu, saban hari kami pasti ke
situ untuk mengajaknya berbicara, karena semua yang dia bicarakan
belum pernah kami dengar sebelumnya, tanpa sadar kami dibuat
terpesona olehnya.
"Setiap hari kami selalu membawakan susu
domba baginya, diapun sering menghadiahkan benda pahatan dari batu
untuk kami berdua, sampai pada akhirnya aku dan Cui-ji pun
menaruh....... menaruh........"
Ketika berbicara sampai disini, selapis
warna merah menghiasi pipinya, warna merah yang justru membuat dia
nampak bertambah cantik.
Sesudah menundukkan kepalanya sesaat dan
tertawa, kembali lanjutnya:
"Sampai pada akhirnya, ketika kami merasa
tidak mampu meninggalkan dirinya lagi maka dengan berbekal alat
tulis dan pakaian kamipun ikut masuk ke dalam gua itu dan tinggal
bersama-nya.
"Waktu itu, meski keadaan didalam gua tidak
semegah sekarang namun termasuk bersih sekali, saban hari kami
menemaninya bersenandung pantun, bermain catur dan melukis.
"Suatu hari tiba-tiba dia minta kepada kami
untuk membawa lukisan-lukisan tersebut dan menjualnya ke pasar, lalu
dengan uang hasil penjualan membeli barang keperluan lainnya, tapi
diapun berpesan agar lukisan itu hanya dijual kepada para gadis
saja.
"Tapi sangat jarang kaum gadis yang
berbelanja di pasar apalagi berjalan jalan diluar rumah, untung
kamipun wanita sehingga dapat bergerak bebas di rumah mereka, dengan
mudah kamipun berhasil menjual habis ke tujuh, delapan buah lukisan
itu, bahkan menjualnya dengan harga tinggi. Dengan uang hasil
penjualan itu kami pun dapat membeli kain sutera, batu permata,
gading dan lain-lain.
"Kali ini bukan saja dia membuat lukisan,
bahkan lukisannya dihiasi dengan batu permata, gading dan lain
sebagainya hingga terbentuk satu benda antik, maka kamipun membawa
barang barang itu untuk dijual di pasar.
"Sewaktu kami tiba di pasar, ternyata berapa
orang wanita yang pernah membeli lukisan dulu telah mengutus para
dayangnya untuk setiap hari menunggu kami disana.
"Rupanya mereka dibuat kesemsem oleh lukisan
yang dibeli, setiap hari kerja mereka hanya memandang lukisan sambil
melamun, konon mereka merasa makan tidak enak tidurpun tidak
nyenyak"
Ketika bercerita sampai disini, ke tiga
empat orang gadis yang berada disampingnya segera saling bertukar
pandangan sekejap sambil tersenyum.
San-san ikut tersenyum, lanjutnya:
"Begitu bertemu aku, mereka nampak
kegirangan setengah mati, mereka paksa aku mengajaknya bertemu
dengan sang pelukis, karena didesak terus menerus akhirnya akupun
kehabisan daya, kasihan melihat kepanikan mereka......”
"Huuh, siapa yang patut dikasihani?"
tiba-tiba seorang gadis berbaju hijau pupus berteriak keras, "justru
kau yang pantas dikasihani!"
San-san tertawa geli.
"Jadi kau tidak patut dikasihani?" godanya,
"padahal waktu itu mata kalian sudah bengkak saking sedihnya
menangis, coba kalau tidak kuajak kemari, mungkin kalian benar-benar
mati karena panik"
Nona itu melirik sekejap beberapa orang
rekannya, kemudian ikut tertawa cekikikan.
"Sekalipun aku panik, toh jauh lebih
mendingan ketimbang yang lain!"
"Yaa, benar juga perkataanmu"
Berapa orang nona itupun ribut sendiri
dengan ramainya, tapi setelah melirik Thiat Tiong-tong sekejap,
mereka pun kembali tundukkan kepala dengan wajah memerah.
"Bagus! Bagus!" tukas Kaisar Malam kemudian
sambil tertawa tergelak, "kalian semua tidak ada yang panik, aku
yang panik......."
Sampai disini, Thiat Tiong-tong merasa tidak
perlu mendengar lagi karena dia sudah menduga apa kejadian
selanjutnya.
Rupanya beberapa orang gadis itu dibuat
mabuk kepayang setelah menyaksikan lukisan Kaisar Malam, mereka tak
bisa mengendalikan diri untuk segera dapat menjumpai sang pelukis.
Menanti mereka telah bertemu Kaisar Malam,
kembali gadis gadis itu terbuai oleh kegagahan dan keperkasaannya,
maka mereka pun memutuskan untuk tetap tinggal disana.
Maka dengan kerja sama beberapa orang itu,
Kaisar Malam berhasil mengubah gua karang menjadi sebuah istana
nirwana.
Sambil tertawa kembali San-san berkata:
"Sembilan puluh persen gadis yang pernah
melihat lukisan itu pasti akan terpikat dan tergila-gila, mereka
akan berusaha untuk datang kemari.
"Akhirnya kami kuatir, bila keadaan
berlangsung terus maka gua ini akan penuh sesak dengan kehadiran
gadis cantik, maka kamipun tidak berani lagi membawa lukisan itu
dijual keluar"
"Bukannya tidak berani, tapi tidak rela!"
timbrung Kaisar Malam sambil tersenyum.
Merah jengah selembar wajah San-san, serunya
manja:
"Sudah, aku tidak mau bercerita lagi...."
"Baiklah, kau boleh beristirahat dulu" kata
Kaisar Malam sambil tertawa tergelak, "Cui-ji, kau saja yang
melanjutkan"
Seorang gadis muda lain yang berdandan mirip
San-san menyahut sambil tertawa:
"Baik, biar aku yang bercerita, kalau enci
San cemburu, tidak mungkin dia akan mengajak kemari gadis-gadis
lain, dia tahu setiap wanita yang membeli lukisan itu pastilah gadis
berbakat yang pintar, kalau tidak pintar mana mungkin mereka akan
terpikat oleh lukisan? Tapi, bagaimana pun toh jumlahnya tetap harus
dibatasi!"
"Kelihatannya Cui-ji lebih memahami tentang
diriku" kata San-san sambil tertawa.
"Bukan Cuma enci San saja" kata Cui-ji lebih
lanjut sambil tertawa, "saudara lainnya pun mengatakan agar lukisan
itu jangan dijual lagi keluar, mending disimpan untuk dinikmati
sendiri.
"Biarpun aku dan enci San berasal dari
keluarga miskin, tapi saudara lainnya masih terhitung gadis-gadis
keluarga kaya, sewaktu datang kemari, mereka membawa serta barang
berharga miliknya, terutama Min-ji, nyaris dia boyong seluruh harta
kekayaannya kemari”
Si nona berbaju hijau pupus itu segera
mengumpat sambil tertawa:
"Aku tidak pernah mengusikmu, buat apa kau
berceloteh terus tentang aku!"
"Tapi aku toh tidak berbohong" seru Cui-ji
sambil tertawa.
"Yaa, aku bersaksi ketika Min-ji datang
kemari, memboyong harta kekayaannya sampai tiga kereta besar"
sambung San-san sambil tertawa pula, "harta karun miliknya seorang
sudah lebih dari cukup bagi kami semua hidup sepanjang masa"
"Itulah sebabnya tanpa menjual lukisan pun
kami masih bisa hidup bermewah-mewah, selain mengisi perut, setiap
hari kami semua disibukkan untuk mengubah tempat ini menjadi sebuah
istana" kata Cu-ji melanjutkan.
"Cukup......" potong Kaisar Malam tiba-tiba
sambil tertawa, "Tiong-tong, sekarang kau sudah mengerti bukan"
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang:
"Andaikata siautit tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri,
kisah cerita tersebut tentu akan kuanggap sebagai isapan jempol
belaka...... aaaai! seandainya bukan manusia aneh macam empek, mana
mungkin bisa mengalami kejadian yang aneh pula!"
"Betul" kata Cui-ji sambil tertawa, "kalau
dia tidak pandai berpantun dan melukis, mana mungkin bisa terjadi
peristiwa semacam ini?"
Kaisar Malam tertawa lebar, katanya:
"Aku tidak ingin Jit ho Nio nio mengetahui
kejadian ini, maka setiap hari ketika waktu mengirim nasi tiba,
akupun selalu berdandan macam orang mengenaskan untuk menyambut
kedatangan mereka"
"Hahahaha.....bahkan siautit pun ikut
tertipu" sambung Thiat Tiong-tong sambil tertawa geli.
Didalam gua tidak jelas berjalannya sang
waktu, entah sudah berapa lama mereka berbincang sambil bersenda
gurau
Tiba-tiba San-san berseru sambil tertawa:
"Kalian kaum lelaki tentu punya persoalan yang tidak ingin diketahui
orang lain, khususnya wanita, buat apa kita tetap tinggal disini,
ayo jalan!"
"Betul, setelah lelah seharian, sudah
waktunya kita tidur" sambung Cui-ji sambil beranjak pergi.
Maka berduyun duyung kawanan gadis itu
berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggung mereka hingga
lenyap dari pandangan, Kaisar Malam baru berkata sambil tertawa:
"Coba kau lihat lagak mereka, benar-benar
berotak cerdas, belum lagi kau bicara, mereka sudah dapat menebak
suara hatimu"
"Betul, mereka memang sangat memahami jalan
pikiran manusia......" sahut Thiat Tiong-tong,
setelah menghela napas panjang, lanjutnya, "siautit memang ada
berapa persoalan yang tidak ingin didengar orang lain, harap empek
mau menjawabnya"
"Apa masalahnya? Katakan saja!" Thiat
Tiong-tong termenung berapa saat lamanya, dia
seakan merasa serba salah dan tidak tahu harus mulai dari mana.
Setelah menengok sekejap sekeliling tempat
itu, akhirnya dia mengambil alat tulis, menulis beberapa huruf
diatas kertas dan disodorkan kehadapan Kaisar
Malam.
Kakek itu membacanya sebentar, tiba-tiba
paras mukanya berubah hebat. Setelah lama sekali termenung, akhirnya
dia pun mengucapkan sepatah kata.
Begitu mendengar perkataan itu, paras muka
Thiat Tiong-tong ikut berubah hebat, tidak jelas dia merasa terkejut
atau girang.
Tidak lama kemudian dengan air mata
bercucuran gumamnya:
"Ternyata begitu... ternyata
begitu...Lengkong.... Cu toako.... kalian.... kalian terlalu baik!"
Apa yang sebenarnya ditulis Thiat
Tiong-tong?
Apa pula yang diucapkan Kaisar Malam?
Mengapa secara tiba-tiba Thiat Tiong-tong
menyinggung nama Sui Leng-kong dan Cu Cau?
BAB 29.
Salah Langkah.
Waktu itu Cu Cau dan Sui Leng-kong berada di
bawah kaki bukit Ong wo san, berjarak ribuan li dari gua istana,
yang mereka dengar saat itu hanya hembusan angin gunung yang
menggoyang dedaunan pohon siong, tentu saja mereka tidak akan
mendengar teriakan Thiat Tiong-tong.
Bukit Ong wo san bukan sebuah gunung yang
tinggi, namun sejak dulu bukit ini sudah tersohor sebagai tempat
pertapa para dewa.
Ketika Cu Cau dan Sui Leng-kong tiba di kaki
bukit, benar saja, mereka segera merasa suasana yang sangat berbeda
di tempat itu, hanya saja tidak diketahui terletak dimanakah rumah
pondok yang dimaksud.
Cukup lama mereka menelusuri seluruh tanah
perbukitan itu, akhirnya dengan kening berkerut, Cu Cau berkata:
"Mana ada rumah pondok di sekitar sini?
Jangan-jangan... jangan-jangan….”
"Jangan-jangan kenapa?" tanya Sui Leng-kong
cepat.
Cu Cau menghela napas panjang, katanya:
"Jangan-jangan Thiat-toakomu hanya
membohongi kita berdua?"
Sui Leng-kong mendongakkan kepala memandang
awan di angkasa, setelah termenung lama sekali, sahutnya:
"Semenjak berkenalan dengan Thiat
Tiong-tong, belum pernah sekali pun dia membohongi aku."
Walaupun sudah cukup lama dia meninggalkan
lembah berawan, namun perjalan-annya dari bukit Lau-san ke bukit Ong
wo san baru benar-benar membawanya ke alam dunia
keramaian.
Sepanjang perjalanan dia menyaksikan banyak
kejadian yang dulu tidak pernah dilihat olehnya, menjumpai berbagai
lapisan manusia yang beraneka ragam, walaupun selama ini dia tidak
pernah memandang rendah siapapun, namun siapa pun yang bertemu
dengannya pasti akan terbuai dan terpesona dibuatnya.
Pengalamannya selama berhari-hari membuat
gadis itu makin tumbuh dewasa, dia semakin percaya diri, penyakit
gagap yang dideritanya pun lambat-laun sembuh dengan sendirinya.
Kini bukan saja cara berbicara, caranya
bertindak jauh pun lebih percaya diri, dia pun yakin Thiat
Tiong-tong tidak bakal membohongi dirinya, dia percaya di sekitar
sana pasti terdapat rumah pondok yang dimaksud.
"Tentu saja Thiat-jite tidak bermaksud jahat
membohongi kita berdua," ujar Cu Cau sambil menghela napas:
"Dia hanya...."
"Tidak usah kau lanjutkan, aku sangat
memahami maksud hati Tiong-tong," tukas Sui Leng-kong sedih.
Cu Cau tertegun, tegurnya:
"Kau sepantasnya memanggil Toako.....”
"Tidak, aku sengaja memanggilnya
Tiong-tong... Tiong-tong, Tiong-tong...."
Cu Cau mendongakkan kepala tertawa
terbahak-bahak.
"Hahaha, dasar bocah bengal, Jite bisa
memiliki adik perempuan macam kau, dapat dipastikan hidupnya akan
sengsara.....”
Sui Leng-kong tertawa lebar, katanya:
"Aku selalu berpendapat, hanya kau seorang
yang mirip Toako ku, Cu-toako, kau jadi Toako ku saja, aku tidak
ingin kakak macam liong-tong."
Cu Cau tertawa getir, buru-buru dia
mengalihkan pembicaraan:
"Ehmm, ehm, cuaca hari ini bagus juga ...."
"Sudah, tidak usah mengalihkan pembicaraan,
sekalipun kau tidak mau mengakui aku sebagai adikmu, aku tetap akan
menganggap kau sebagai kakak ku."
Sambil menghela napas panjang Cu Cau
menggelengkan kepala berulang kali, keluhnya:
"Aaai, belasan hari berselang kau masih
seorang gadis yang lemah lembut, tidak disangka hari ini telah
berubah jadi nakal dan susah diatur."
"Tahukah Toako apa sebabnya bisa begini?"
"Tidak."
"Karena Toako yang mengajarkan kepada-ku,"
seru Sui Leng-kong tertawa. "Dasar
Mendadak terlihat ada dua sosok bayangan
manusia meluncur datang dari balik tebing, ilmu meringankan tubuh
mereka sangat tangguh, tapi begitu melihat di situ ada orang lain,
seketika kedua orang itu memperlambat langkahnya.
Orang yang berjalan paling depan adalah
seorang pemuda tampan dengan baju ringkas berwarna hitam, sebuah
angkin merah melilit di pinggangnya, sekalipun dia telah
memperlambat langkahnya, namun sikap maupun penampilannya tetap
gagah dari perkasa, sebilah pedang panjang bersarung hitam
tergantung di punggungnya, sebuah pita merah terikat di ujung gagang
pedang itu.
Sementara rekannya adalah seorang gadis muda
bertubuh langsing dengan pakaian hijau pupus, sebilah pedang juga
tersoreng pula di punggungnya.
Selain cantik, dia pun memiliki sepasang
mata yang besar dan bening, kedua orang itu boleh dibilang merupakan
sepasang muda-mudi yang serasi.
Menyaksikan kemunculan kedua orang itu,
diam-diam Cu Cau serta Sui Leng-kong bersorak memuji, mereka tidak
tahu kalau sepasang muda mudi itu jauh lebih terpesona ketika
melihat mereka.
Bahkan setelah berjalan lewat di sisi mereka
berdua pun, sepasang muda-mudi itu masih menyempatkan diri berpaling
beberapa kali.
Satu ingatan segera melintas dalam benak Cu
Cau, sambil menjura sapanya:
"Bisa minta tolong?"
Pemuda berpakaian ketat itu segera
membalikkan tubuhnya sambil balas menjura.
Ada urusan apa?" dia bertanya.
"Apakah saudara kenal daerah seputar ini?"
"Cayhe sudah lama tinggal di sini, sedikit
banyak mengetahui juga seluk-beluk tempat ini”
"Bagus sekali... boleh aku bertanya tentang
buah tempat?"
"Tempat mana yang kau maksud?"
“Pondok Cay-seng.....”
Baru empat kata disebut, paras muka pemuda
itu telah berubah hebat, tanpa terasa dia mundur selangkah.
Sebenarnya waktu itu si nona berbaju hijau
pupus sedang mengawasi Sui Leng-kong sambil tersenyum, begitu
mendengar keempat kata tadi, serentak dia membalikkan tubuh sambil
membentak:
"Siapa yang kau cari? Buat apa mencari tahu
tempat itu?"
Dengan wajah tidak berubah Cu Cau tersenyum,
jawabnya:
"Ooh, aku mendapat titipan sepucuk surat
yang harus diserahkan kepada pemilik pondok Cay-seng, padahal kami
tidak kenal siapa pemilik pondok itu, jadi... terpaksa harus mencari
tahu."
Sepasang muda-mudi itu saling berpandangan
sekejap, paras muka mereka lambat-laun berubah kembali jadi lembut
Setelah termenung beberapa saat, kembali
pemuda itu bertanya:
"Boleh tahu nama margamu?"
"Aku dari marga Cu."
"Ooh, kalau memang bermarga Cu berarti kau
boleh ke situ," kata sang pemuda sambil tertawa lebar.
"Apa maksud perkataanmu itu?" tanya Cu Cau
tercengang.
"Sekalipun pondok Cay-seng bukan sebuah
tempat yang rahasia, tapi bila saudara berasal dari marga Im atau
marga Thiat, maka sulit bagi siaute untuk memberi petunjuk."
"Benar," sambung si nona sambil tertawa
pula, "tadi kusangka kalian berdua dari marga Im, itulah sebabnya
kami merasa sangat kaget, harap kalian berdua jangan marah."
Sui Leng-kong segera saling bertukar pandang
sekejap dengan Cu Cau, sementara dalam hatinya timbul kecurigaan dan
rasa tercengang yang besar.
Siapakah pemilik pondok Cay-seng? Dia musuh
atau sahabat? Mengapa orang itu berusaha menghindari orang-orang
dari marga Im dan Thiat?
Kalau orang ini adalah seorang musuh,
mengapa pula Thiat Tiong-tong minta kepadanya untuk memandang orang
itu sebagai saudara sendiri? Bahkan pesan itu sampai diulang
beberapa kali....
Jelas kejadian im merupakan sebuah kenyataan
yang saling bertentangan, biar Cu Cau amat cerdas pun tidak urung
dibuat kebingungan sendiri.
Dalam pada itu si nona berbaju hijau itu
telah menarik tangan Sui Leng-kong dan memuji sambil tertawa:
"Cici, kenapa wajahmu begitu cantik?"
"Aaah, yang cantik itu dirimu..." jawab Sui
Leng-kong pula sambil tertawa.
Sedang pemuda berpakaian ringkas itu berkata
kepada Cu Cau sambil menghela napas:
"Saudara, kau nampak begitu gagah, perkasa
dan berwibawa, belum pernah Siaute menjumpai manusia sehebat dirimu,
coba kalau bukan begitu, tidak mungkin Siaute akan mempercayai
begitu saja perkataanmu..."
"Hahaha, andaikata kau tidak tampan, tidak
mungkin aku akan menegur dirimu."
Kedua orang itupun saling berpandangan
sambil tertawa tergelak.
Setelah melirik Sui Leng-kong sekejap,
tiba-tiba pemuda itu berbisik sambil tertawa ringan:
"Kalian berdua benar-benar ibarat naga dan
burung hong, pasangan yang amat serasi...."
Biarpun perkataan itu sangat lirih, ternyata
Sui Leng-kong sempat mendengarnya dengan jelas, cepat dia menukas:
"Dia adalah Toakoku...."
Kemudian setelah mengerling sekejap dan
tertawa, lanjutnya:
"Aku lihat jusru kalian berdualah...."
Nona berbaju hijau itu segera tertawa,
ujarnya:
"Siaumoay bernama Gi Beng, dia adalah
kakakku bernama Gi Teng, kami adalah dua bersaudara."
Maka mereka berempat pun tertawa
terbahak-bahak, hanya saja suara tawa Cu Cau terdengar sedikit
dipaksakan.
"Kebetulan kami berdua pun sedang dalam
perjalanan menuju pondok Cay-seng," kata Gi Teng kemudian:
"Mari kita menempuh perjalanan bersama."
"Bagus sekali," sorak Cu
Cau sambil bertepuk tangan.
Di tengah gelak tertawa, Gi Teng sudah
berjalan lebih dulu memimpin paling depan, sekalipun dia tidak lagi
menggunakan ilmu meringankan tubuh, namun langkahnya enteng dan
cepat, jelas pemuda ini sudah termasuk seorang jagoan kelas satu
dalam dunia persilatan.
Ternyata Gi Beng, adik perempuannya pun
memiliki gerakan tubuh yang tidak kalah enteng-nya, saat itu sambil
menarik tangan Sui Leng-kong mereka berjalan sambil bersenda gurau,
kelihatan sekali kedua orang ini cocok satu dengan lainnya.
Cu Cau sendiri pun diam-diam memuji akan
kehebatan kedua orang bersaudara ini, dia tidak menyangka dengan
usia mereka yang masih begitu muda ternyata sudah memiliki kungfu
yang hebat, tidak tertahan ingin sekali dia mencari tahu asal-usul
kedua orang ini.
Kelihatannya Gi Teng sendiri pun mempunyai
pemikiran yang sama, tiba-tiba dia berkata sambil menghela napas
panjang:
"Sudah lama Siaute berkelana dalam dunia
persilatan, tapi dengan kemampuan silat yang kau miliki, bukan saja
Siaute belum pernah menjumpainya, mendengar pun belum pernah, jika
sepasang mata Siaute belum buta, semestinya kau pun seorang jago
lihai dari dunia persilatan!"
Perkataan itu bukan kata pujian, sebab
walaupun Cu Cau tidak menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, namun
caranya berjalan sudah menunjukkan kalau dia memiliki kepandaian
hebat.
Sambil tersenyum, sahut Cu Cau:
"Aaah, mana mungkin kepandaian silatku bias
menandingi Go bi sim hoat yang kau miliki?"
Walau hanya kalimat yang sederhana, namun
secara jitu dia telah menebak asal-usul ilmu silat kedua orang ini.
Betapa terkejutnya Gi Teng sesudah mendengar
perkataan itu, pujinya:
"Tajam benar pandangan matamu!"
"Kelihatannya aku sudah ketinggalan banyak,
lantaran malas berkelana aku sampai tidak tahu kalau partai Go bi
telah memiliki jagoan hebat macam kalian dua bersaudara."
"Aaah, tidak heran kalau Cayhe gagal
mengenali dirimu, rupanya Hengtay sudah lama hidup mengasingkan
diri."
"Mungkin saja dia hanya enggan menyebut nama
besarnya," sela Gi Beng sambil tertawa, "darimana kau tahu kalau dia
sudah lama hidup mengasingkan diri?"
"Biarpun saudara ini berhasil menebak asal
aliran silat kita, namun tidak berhasil menduga siapa kita berdua,
hal ini membuktikan dia memang sudah lama tidak pernah berkelana
dalam dunia persilatan."
"Huuuh, tidak tahu malu," umpat Gi Beng
tertawa, "memangnya kau sangka nama besarmu sudah tersohor di kolong
langit? Memangnya setiap orang yang berkelana dalam dunia persilatan
tentu mengenali dirimu?"
Gi Teng tertawa terbahak-bahak, kendati pun
tidak menjawab, namun dari balik gelak lawanya, ketahuan kalau dia
amat bangga dengan kemampuan sendiri.
Diam-diam Cu Cau tertawa geli, pikirnya,
"Kedua orang bersaudara ini kelewat polos, kalau dilihat dari
lagaknya, kemungkinan besar mereka sudah tersohor sejak muda, kalau
tidak, mana mungkin sikapnya begitu latah."
Perlu diketahui, orang yang sudah tersohor
sejak muda, biasanya memiliki pandangan sangat tinggi, terhadap
urusan apapun kebanyakan mereka suka berterus terang dan bicara
blak-blakan.
Tiba-tiba Gi Teng berbelok memasuki sebuah
jalan setapa kyang amat sempit dan kecil.
Jalan setapak itu berliku-liku langsung
menuju ke atas bukit, baru berjalan beberapa lingkah, di sisi jalan
sudah terlihat ada sebuah papan nama yang bertuliskan, "Pondok
Cay-seng".
Bila ada orang khusus datang ke situ untuk
mencari pondok Cay-seng, biasanya mereka akan menelusuri jalan
besar, siapa pun tidak akan memperhatikan jalan setapak sekecil itu.
Sayangnya walaupun Sui Leng-kong dan Cu Ciu
termasuk orang yang teliti, namun pengalaman mereka dalam dunia
persilatan sangat cetek, mereka belum terbiasa memperhatikan hal-hal
yang kecil.
Jika kedua orang ini diwajibkan membangun
satu usaha besar, merekalah pilihan yang paling cocok, tapi kalau
suruh mereka berdua pergi mencari jalan, jelas pilihan ini merupakan
satu tindakan yang keliru besar.
Bagi orang lain, tugas yang belum tentu bisa
diselesaikan dalam tiga tahun, mungkin mereka hanya butuh tiga hari
untuk menyelesaikannya, sebaliknya bagi orang lain yang butuh waktu
singkat untuk menemukan satu tempat, mungkin bagi mereka butuh tiga
tahun untuk menemukannya.
Cu Cau berpaling memandang Sui Leng-kong
sekejap, kemudian keluhnya sambil tertawa getir:
"Ternyata berada di sini!"
"Siaute toh sudah bilang," ucap Gi Teng
sambil tertawa, "Pondok Cay-seng bukan sebuah tempat yang sangat
rahasia, setiap orang boleh mendatanginya, hanya saja......”
"Hanya saja tempat ini terlarang bagi mereka
yang she Im dan Thiat?" sambung Cu Cau.
"Benar!"
"Kenapa?"
"Aku sendiri pun kurang jelas apa alasannya
"Hahaha, aku lihat kalian berdua sudah
terbiasa bersikap takabur," ejek Cu Cau lagi sambil tertawa.
Gi Beng tertawa cekikikan, balasnya:
"Menurut pandanganku, kalian berdua pun tidak jauh berbeda."
Mendadak dari balik hutan bambu di sisi
jalan terdengar seseorang tertawa nyaring sambil berseru:
"Hanya Enghiong Hohan dari kolong langit
yang pantas disebut orang-orang takabur."
"Ucapan yang tepat," Cu Cau tertawa nyaring,
"kalau bukan seorang Enghiong, mana mungkin bisa mengucapkan
perkataan seperti itu ... kelihatannya kau adalah pemilik pondok
Cay-seng."
Tiba-tiba terlihat seseorang berjalan keluar
dari balik hutan bambu sambil tertawa tergelak, dipandang dari
kejauhan, orang itu nampak keren penuh wibawa, gerak-geriknya
menyerupai dewa yang baru turun dari kahyangan.
Setelah berjalan mendekat barulah ketahuan
kalau orang ini memiliki keanehan yang jauh berbeda dari orang
biasa.
Rambutnya panjang terutai, jenggotnya mulai
kelihatan memutih, namun sorot matanya justru terasa masih amat
muda, membuat orang susah untuk menebak berapa usia sebenarnya.
Sekalipun gerak-geriknya lembut penuh
wibawa, namun dari tubuhnya justru memancarkan hawa kekerasan yang
tidak terlukis dengan kata-kata, dua sifat yang bertolak belakang
justru muncul dari tubuh seorang yang sama, hal ini menciptakan
semacam daya pikat yang kuat dan aneh.
Biarpun senyumannya amat cerah, dalam orot
matanya justru tersimpan selapis cahaya aneh yang mencerminkan
kemurungan.
Dua macam perasaan yang berbeda pun muncul
di wajah orang yang sama, hal ini membuat setiap orang dapat menduga
orang ini pasti memiliki pengalaman hidup yang tidak biasa.
Sebelum bertemu orang itu, Cu Cau sudah
merasa perkataan orang ini jauh berbeda dari perkataan orang biasa,
apalagi setelah bertatap muka, dia merasa orang ini memiliki
keunikan yang tidak akan ditemui di wajah orang lain, tatapan
matanya pun seolah sukar dialihkan lagi ke tempat.
Sementara itu pemilik pondok Cay-seng pun
terus menatapnya tanpa berkedip, kemudian serunya sambil tertawa:
"Dua bersaudara Gi, kenapa tidak kalian
kenalkan tamu agung yang datang bersama kalian?"
"Tamu tidak diundang, apakah kau merasa
kedatangan kami sedikit di luar dugaan?" sela Cu Cau sambil tertawa.
"Hahaha, sebelum bertatap muka pun sudah
kurasakan hawa lain, apalagi setelah bersua sekarang ... maafkan
kekerdilan pengetahuan Siaute."
"Kau memang gagah dan penuh daya pikat,
tidak heran Jiteku selalu berkata kalau kau adalah seorang pria aneh
di kolong langit."
"Siapa adikmu? Dia kenal aku?" tanya pemilik
pondok Cay-seng keheranan.
Mendadak terdengar Gi Beng berseru sambil
tertawa merdu:
"Cici, coba lihat ulah mereka berdua, begitu
bersua lantas berbincang tidak ada habisnya, membiarkan kita
kedinginan di tempat ini, masa tidak mempersilakan tamunya duduk
lebih dulu."
Pemilik pondok Cay-seng melirik Sui
Leng-kong sekejap, kemudian sahutnya sambil tertawa:
"Aaah, hampir saja Cayhe lupa kalau di sini
masih ada tamu agung lainnya, silakan! Silakan...."
Setelah memasuki hutan bambu, terlihatlah
lima buah bangunan pondok berdiri di atas tebing bukit, di muka
rumah terbentang tan ah rerumputan dengan selokan yang berair
jernih, sedang di bagian belakang rumah terbentang kebun sayuran
yang luas, sebuah tempat pertapaanyang indah.
Perabot yang tersedia di dalam pertapaan ini
sangat lengkap dan bersih, dua orang bocah segera muncul
menghidangkan air teh, teh wangi dari merek kenamaan, bahkan cawan
pun terbuat dari batu pualam.
Sejak kecil Cu Cau sudah terbiasa hidup
dalam suasana bangsawan, namun begitu duduk dalam pondok itu, dia
segera dapat merasa tempat ini bukan sebuah tempat pertapaan biasa.
Sekilas pandang dia sudah melihat setiap
benda yang berada dalam pertapaan ini merupakan benda mestika yang
tidak ternilai harganya, hal ini membuatnya sangat keheranan,
pikirnya, "Setelah hidup mengasingkan diri, pemilik pertapaan ini
masih tidak meninggalkan segala kemewahan dan kenikmatan hidup,
jelas kalau bukan berasal dari keluarga kaya raya, mustahil dia bisa
melakukannya. Jangan-jangan sebelum mengasingkan diri, dia adalah
seorang perampok ulung? Tapi kalau ditinjau dari tampangnya, dia pun
tidak bertampang kriminal...."
Dalam pada itu pemilik pondok Cay-seng sudah
bertanya lagi sambil tertawa:
"Boleh tahu adikmu adalah...."
Sambil tersenyum potong Cu Cau:
"Jite minta aku menyampaikan sepucuk surat,
itulah sebabnya secara khusus kami datang kemari...."
Sambil berkata dia mengeluarkan sepucuk
surat, katanya lebih jauh sambil tertawa:
"Padahal aku sendiri pun tidak tahu apakah
lite benar-benar kenal denganmu atau tidak."
"Ohhh ...." pemilik pondok Cay-seng
berteriak aneh, kemudian sambil tersenyum diterimanya surat itu dan
dipandang sekejap, tiba-tiba dengan wajah berubah, teriaknya keras:
"Ooh, rupanya Jite...."
Dari nada suaranya dapat diketahui dia
merasa terkejut bercampur girang.
"Kelihatannya Hengtay sangat kenal dengan
liteku itu," sela Cu Cau sambil tertawa.
"Ya, kenal sekali ... kenal sekali ... malah
ingat kenal ...." sahut pemilik pondok Cay-seng cepat.
Mendadak dia menghentikan perkataannya dan
berseru sambil menjura:
"Maaf, maaf, aku mesti mohon diri sejenak."
Habis berkata, dengan tergopoh-gopoh dia
mengundurkan diri.
"Tampaknya pemilik pondok Cay-seng ini rada
misterius," bisik Sui Leng-kong lirih.
"Benar," Gi Beng membenarkan seraya tertawa,
"memang teramat misterius, sekalipun kami dua bersaudara sudah cukup
lama kenal dengannya, namun kami sama sekali tidak tahu tentang
dirinya."
"Bagaimana ceritanya sampai kalian kenal
dengannya?"
"Bertemu tanpa sengaja, karena pembicaraan
saling mencocoki, maka kami pun menjadi sahabat...."
Setelah tertawa, lanjutnya:
"Persis seperti perkenalanku dengan Cici."
"Dia dari marga apa?"
"Aku sendiri pun kurang tahu...."
"Aku lihat kalian berdua pun sangat aneh,"
seru Sui Leng-kong tertawa geli, "masa berkenalan dengan orang pun
tidak tahu nama marganya, bahkan aku lihat kalian anggap kejadian
semacam ini sangat lumrah."
"Aku pun tahu kejadian semacam ini tidak
lumrah, tapi bagiku, asal dia orang baik dan kita sudah menjadi
sahabat, peduli amat dia bernama siapa, bukankah begitu?"
Sementara kedua orang nona ini
berkasak-kusuk sambil tertawa, di pihak lain Cu Cau pun sedang
membicarakan keanehan pemilik pondok Cay-seng itu dengan Gi Teng.
"Dalam setahun belakangan, dia memang sudah
banyak berkenalan dengan para jago dan orang gagah dari dunia
persilatan," Gi Teng menerangkan, "tapi dari sekian banyak
sahabatnya, ternyata tidak seorang pun yang tahu nama serta
asal-usulnya."
"Kalau memang begitu, kenapa masih ada
begitu banyak Enghiong Hohan yang bersedia berkenalan dengan-nya?"
"Orang ini Bun bu coan cay, pandai
berbicara, pandai bergaul, bahkan memandang harta bagai sampah, asal
ada sahabat yang kesulitan dan mohon bantuan, dia tidak pernah
menampik. Sementara dia sendiri tidak pernah mohon bantuan orang
lain, tentu saja siapa pun bersedia berkenalan dengan tokoh semacam
ini."
"Lelaki aneh... benar-benar lelaki paling
aneh dikolong langit...."
"Eei ... apakah adikmu tahu tentang
asal-usulnya?" tiba-tiba Gi Teng bertanya.
"Kalau ditinjau dari keadaannya, Jiteku
pasti mengetahui asal-usulnya," sahut Cu Cau sambil tertawa, "hanya
sayang sebelum bertanya jelas, aku udah buru-buru dating kemari."
"Aku percaya adikmu pastilah seorang tokoh
luar biasa dalam dunia persilatan?"
"Bukan Cayhe sengaja
mengunggulkan kemampuan adikku, aku rasa jarang di kolong langit
saat ini ada jagoan yang memiliki kepintaran dan keberanian macam
dia."
"Aaai ... bukankah satu penyesalan yang amat
dalam bila Siaute tidak dapat berkenalan dengan jagoan semacam ini?"
ujar Gi Teng sambil menghela napas.
Cu Cau tertawa lebar.
"Jangan kuatir," janjinya, "suatu saat aku
janji akan memperkenalkan kalian berdua, hanya......”
Sesudah tertawa getir lanjutnya: "Hanya
saja jejak Jiteku susah diikuti, mungkin aku sendiri pun tidak
tahu saat ini dia berada dimana....”
Berbicara sampai di situ, tanpa terasa
bayangan wajah Thiat Tiong-tong muncul kembali dalam benaknya.
Sebenarnya apa yang ditulis Thiat Tiong-tong
dalam secarik kertas itu? Ternyata dia menulis:
"Sui Ji-song, tahun Keng-cu, bulan empat
tanggal enam belas".
Tulisan itu terbaca olehnya sewaktu berada
dalam ruang rahasia di belakang istana Kaisar malam.
Begitu membaca beberapa tulisan itu, paras
muka Kaisar malam berubah hebat, sampai lama kemudian dia baru
bertanya dengan suara dalam:
"Mengapa kau menanyakan persoalan ini
kepadaku?"
"Sebab masalah ini sangat mempengaruhi
kehidupan Siautit, itulah sebabnya ... aaai! Di balik persoalan ini
sesungguhnya terdapat masalah yang amat pelik, Siautit sendiri pun
dibuat kebingungan.....”
"Kalau kau sendiri pun kebingungan, kenapa
mesti aku yang memberi penjelasan?" bentak Kaisar malam keras.
"Siautit hanya ingin tahu, apa yang
sebenarnya telah terjadi dalam hutan bunga tho di luar perkampungan
Seng keh cung pada tahun Kengcu bulan empat tanggal enam belas?"
"Hutan bunga tho ... darimana kau tahu
tentang hutan bunga tho?" seru Kaisar malam dengan tubuh bergetar.
"Sesungguhnya Siautit......”
Tiba-tiba Kaisar malam mendongakkan kepala
dan tertawa keras, tukasnya:
"Baiklah! Kau tidak usah bicara lagi,
terlepas kenapa kau bertanya tentang persoalan ini, aku akan
menjelaskan kepadamu."
Setelah berhenti tertawa, sekilas perasaan
sedih menghiasi raut mukanya, perlahan dia berkata:
"Peristiwa ini merupakan salah satu kejadian
yang paling kusesali, cepat atau lambat aku tetap akan
membicarakannya pada seseorang."
Thiat Tiong-tong hanya menahan napas dan
tidak berani menimbrung.
Kembali Kaisar malam berkata: "Dua puluh
tahun berselang, suatu hari, tiba-tiba muncul keinginanku untuk
berpesiar, jika aku pun melakukan perjalanan menuju kearah Kanglam,
pada bulan keempat aku telah tiba didaratan Tionggoan.
"Kau kan tahu aku paling benci terikat oleh
segala peraturan dan adat, karena itu aku tidak punya teman
seperjalanan, aku pun tidak sudi menginap di rumah penginapan sambil
melihat tampang jelek orang-orang kota. Setiap kali lelah menempuh
perjalanan, maka aku pun menggunakan langit sebagai kelambu,
menggunakan bumi sebagai alas tidurku, bukan saja hidup bebas
merdeka, bahkan bisa menikmati pula keindahan alam.
"Hari itu, yakni hari tanggal enam besar,
menjelang senja ketika aku mulai kelelahan, tiba-tiba kujumpai
sebuah hutan bunga tho yang sangat luas terbentang di depan mata.
Senja di bulan empat memang masa yang indah untuk bunga tho, dibawah
cahaya senja yang kemerah-merahan, hutan bunga tho itu
nampak sangat indah dan menawan, indah bagaikan nirwana."
Sekulum senyuman kembali menghiasi wajahnya,
seolah-olah suasana indah kala itu masih memabukkan dirinya, tapi
sekejap kemudian senyuman itu kembali lenyap, terusnya:
"Ketika tanpa sengaja kujumpai pemandangan
seindah ini, tentu saja hatiku girang, maka aku pun beristirahat
dalam hutan bunga tho itu sambil minum arak dan menikmati ayam
panggang.
"Di saat itulah tiba-tiba dari luar hutan
terdengar suara bentakan gusar diiringi makian keras, kelihatannya
ada seorang lelaki sedang melarikan diri dikejar seorang wanita.
"Sebenarnya aku enggan mencampuri urusan
orang dan tidak ingin melibatkan diri dalam pertikaian dunia
persilatan, sekalipun aku agak jengkel karena kehadiran kedua orang
itu telah merusak suasana, namun dorongan rasa ingin tahu membuatku
pergi mengintip, aku ingin tahu siapa gerangan wanita itu, aaaai
...! Gara-gara mengintip inilah akhirnya aku harus terlibat dalam
berbagai persoalan yang seharusnya tidak perlu kualami."
Tampaknya ada ganjalan yang masih mencekam
perasaannya, setelah menghela napas beberapa saat dia baru berkata
lebih jauh:
"Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua
orang itu cukup tangguh, gerak-geriknya pun cukup cekatan, baru saja
aku melesat masuk ke balik pepohonan dan menyembunyikan diri di
balik ranting pohon, sementara sayur dan arakku belum sempat
kusembunyikan, mereka sudah muncul di tempat itu.
"Ternyata orang yang melarikan diri adalah
seorang pemuda berpakaian ringkas yang rambutnya kusut dan
napasnya ngos-ngosan, keadaannya amat mengenaskan, pedang dalam
genggamannya tinggal setengah potong, kelihatannya telah melalui
pertarungan yang amat seru, dia sudah terdesak hebat, sedangkan
pengejarnya adalah seorang nyonya muda berwajah cantik yang
mengenakan baju sutera halus, dia bersenjatakan sepasang pedang Wan
yo kiam, waktu itu kondisinya pun cukup lelah, bukan cuma napasnya
tersengal, sekujur tubuhnya telah basah oleh keringat.
"Ketika memasuki hutan, tampaknya pemuda
berpakaian ringkas itu sudah tidak mampu menahan diri lagi, tubuhnya
sempoyongan, meski berhasil melangkah beberapa meter, pada akhirnya
dia roboh juga ke tanah. Nyonya muda itu seketika menubruk maju,
pedang wan-yo kiamnya secara beruntun melancarkan beberapa tusukan.
"Dengan ketakutan pemuda
berpakaian ringkas itu menjerit:
“Ampuni jiwaku, dengarkan dulu beberapa
perkataanku...”
"Nyonya muda itu segera menghentikan
tusukan-nya, sambil menempelkan ujung pedangnya di atas dada pemuda
itu, bentaknya dingin:
“Kau sudah terjatuh ke tanganku, apa lagi
yang hendak kau sampaikan!”
“Hari ini aku baru pertama kali berjumpa
denganmu," kata sang pemuda dengan suara gemetar, “kenapa kau
menyerangku sekeji ini...?"
Bercerita sampai di sini, sang Kaisar malam
menghela napas panjang,ujarnya:
"Hingga hari ini aku masih teringat dengan
setiap patah kata yang mereka ucapkan, tidak sepatah kata pun yang
ketinggalan."
"Tidak kusangka Empek masih teringat
sedemikian jelasnya," kata Thiat Tiong-tong dengan kepala tertunduk.
"Ya, hal ini disebabkan kejadian itu amat
berkesan bagiku, karena kau menanyakan persoalan ini, tentunya kau
sudah tahu bukan siapakah laki perempuan itu?"
"Benar...."
Tapi saat itu aku masih belum tahu,
peristiwa itu membuat aku keheranan, kalau memang pemuda itu baru
pertama kali bersua dengannya, kenapa wanita itu ingin membunuhnya?
"Terdengar wanita muda itu menyahut dengan
suara dingin, “Betul, kita memang baru bertemu pertama kali ini
bersua, namun dendam kesumat di antara kita lebih dalam dari
samudra, setelah hari ini kau terjatuh ke tanganku, kenapa aku tidak
boleh membunuhmu?”
"Tanpa berkedip pemuda itu menatap wajahnya,
sesaat kemudian dia berkata lagi, “Seandainya kau yang terjatuh ke
tanganku, aku ... bagaimanapun aku tidak akan tega membunuhmu!”
"Sekalipun ucapan ini mengandung nada
menggoda, namun bagaimanapun dia adalah seorang pemuda tampan,
khususnya sewaktu mengucapkan perkataan itu, dia tampil lebih
istimewa, lebih gampang meluluhkan perasaan kaum wanita.
"Dengan gusar wanita cantik itu membentak,
“Dasar lelaki hidung bangor, kau sudah bosan hidup?” Sekalipun nada
bentakannya gusar, namun diam-diam perasaannya sudah mulai luluh.
"Jika perasaannya tidak luluh, bisa saja dia
ayunkan ujung pedangnya ke bawah dan menghabisi nyawa pemuda itu,
buat apa dia mesti banyak bicara lagi? Memangnya aku tidak tahu
jalan pikiran kaum wanita?
"Tampaknya pemuda itupun dapat membaca jalan
pikiran wanita itu, dia jadi lebih berani, sambil menghela napas
panjang ujarnya lagi, “Bukan aku sengaja mengumpak, sejujurnya
selama hidup belum pernah kujumpai nona secantik dirimu”
"Lalu setelah menarik napas panjang
lanjutnya, “Apalagi kerlingan mata nona yang begitu indah bagai
bintang di langit, senyummu yang manis bagai hembusan angin di musim
semi....”
"Sambil berbicara, perlahan-lahan dia mulai
mendorong ujung pedang itu dari atas dadanya.
"Paras muka nona cantik itu berubah semakin
memerah, nampaknya dia sudah terbuai oleh bualan pemuda itu.
"Melihat mangsanya sudah terperangkap,
pemuda itu semakin kegirangan, tiba-tiba dia melompat bangun dan
memeluk wanita itu erat-erat, gumannya, “Ooh nona, aku benar-benar
tidak mampu mengendalikan diri....”
"Ucapannya makin lama semakin jorok, makin
lama makin tidak sedap didengar, bahkan aku sendiri pun jadi malu
oleh perkataannya.
"Tampaknya wanita cantik itu merasa malu
bercampur gusar, tiba-tiba sebuah tonjokan memmbuat pemuda itu jatuh
terjungkal, kusangka kali ini dia tentu akan mencabut nyawanya,
siapa tahu ujung pedangnya masih tetap ditempelkan di atas dada
pemuda itu dan tidak pernah ditusukkan lebih ke dalam.
"Terdengar dia membentak dengan gusar, Kau
... kau sangka manusia macam apa diriku?” dengan gemetar jawab
pemuda itu, “Aku ... aku benar-benar tidak sanggup menahan
diri...jika nona mau bermesraan denganku, aku... aku... biar harus
mati pun aku rela”. Walaupun nada suaranya seperti orang ketakutan,
bahkan sampai gemetaran, namun sorot matanya sama sekali tidak
menunjukkan perasaan takut, rupanya dia telah memperhitungkan wanita
cantik itu tidak bakal membunuhnya.
"Benar saja, perasaan wanita cantik itu
benar-benar luluh, kembali pemuda itu menyingkirkan ujung pedang
dari hadapannya, tapi kali ini dia tidak memeluknya lagi, melainkan
sambil berlutut memohon, “Bila nona tidak bersedia, lebih baik
tusuklah dadaku agar aku segera mati, bisa mati di tangan nona pun
hatiku sudah merasa sangat puas”
"Caranya berbicara kali ini sungguh membuat
hati orang trenyuh, ditambah lagi lagak dan nada suaranya yang
mengharukan, tidak heran kaum wanita gampang tergerak perasaan-nya.
"Perempuan cantik itu menundukkan kepalanya
semakin rendah, paras mukanya juga berubah makin memerah, lewat
beberapa saat kemudian dia baru berkata perlahan, “Kau toh sudah
tahu kalau aku bukan seorang nona lagi”
“Tapi bagiku, kau selamanya adalah seorang
nona yang suci bersih” jawab sang pemuda.
"Betapa trenyuhnya perasaan wanita cantik
itu sehabis mendengar perkataan itu, tanpa disadari tetesan air mata
jatuh berlinang membasahi wajahnya.
"Dengan nada yang jauh lebih lembut, kembali
pemuda itu berkata, “Sudah lama kudengar sikap mertua dan suamimu
kurang baik, aaaai, aku benar-benar tidak habis mengerti, kenapa
begitu tega mereka bersikap demikian terhadapmu....”
“Siapa yang bilang begitu?” si wanita cantik
itu membentak, mereka ... mereka bersikap baik sekali... baik sekali
terhadapku ....” Sekalipun dia berusaha menyangkal, namun sikap
serta gerak-geriknya telah mengakui kebenaran hal itu.
"Kembali pemuda itu berkata sambil menghela
napas panjang, “Saudara-saudaraku pun bersikap kurang baik
terhadapku ... padahal tiada dendam atau permusuhan apapun yang
terjalin di antara kita, kenapa kita berdua harus saling membenci
dan saling membunuh....”
"Terdengar suara 'Tranggg!', ternyata pasang
Wan yo kiam yang berada dalam genggaman nyonya muda itu sudah
terjatuh ke tanah, kemudian terdengar dia bergumam, “Mereka bersikap
tidak baik terhadapku, buat apa aku mesti mengadu jiwa demi
mereka....”
“Benar...”teriak pemuda itu kegirangan, tapi
kembali dia menghela napas sambil melanjutkan, dalam hidupku, aku
selalu berharap bisa berjumpa dengan seorang nona cantik, tapi
sepasang matamu...bibirmu... ternyata beribu kali lebih indah, lebih
cantik daripada apa yang kuimpikan selama ini, andai aku tidak
bersua denganmu, mungkin aku tidak akan percaya kalau di kolong
langit benar-benar terdapat nona secantik dirimu....”
“Benarkah?” tanya wanita cantik itu.
”Buat apa aku membohongimu?'.
"Perempuan cantik itu menghela napas sedih,
perlahan-lahan dia memejamkan matanya sambil berbisik, “Kenapa sejak
dulu belum pernah ada orang mengatakan hal ini kepadaku?”.
“Karena mereka adalah sekawanan lelaki kasar
yang tidak mengerti keindahan,” jawab pemuda itu sambil menghela
napas, “yang mereka ketahui hanya saling gontok, saling membunuh,
kalau setiap hari yang dipikirkan hanya tindakan kasar, mana mungkin
mereka mengenal arti kelembutan dan kemesraan, tidak heran mereka
menyia-nyiakan masa remaja seorang gadis yang cerdik dan rupawan.
Aaai ... kenapa Thian selalu tidak adil terhadap umatnya?”
"Perkataan itu sangat menusuk perasaan
wanita itu, dengan mata menjadi merah karena terharu, tiba-tiba dia
menjatuhkan diri ke dalam pelukan pemudaitu...."
Mendengar sampai di sini, Thiat Tiong-tong
seolah-olah mendengar kembali gelak tawa menyeramkan Sui Ji-song
ketika berkata kepada Thiat Cing-kian:
"Dua puluh tahun berselang, kau pernah
berlutut di hadapanku, mengatakan aku adalah gadis tercantik, gadis
terlembut yang pernah kau jumpai... dua puluh tahun berselang,
nyawamu pernah terjatuh ke tanganku, sungguh menyesal waktu itu aku
percaya dengan rayuan gombalmu, bukan saja telah mengampuni nyawamu,
bahkan di dalam hutan bunga tho....".
Kini Thiat Tiong-tong sudah dapat menebak
duduk perkara yang sebenarnya, hanya saja dia tidak tahu bagaimana
kejadian yang sesungguhnya.
Diam-diam dia menghela napas panjang,
pikirnya, "Seng Cun-hau mempunyai cacad tubuh yang tidak bisa
diceritakan kepada orang luar, dia pun seorang lelaki sejati,
bagaimana mungkin lelaki semacam dia sanggup mengucapkan kata-kata
rayuan? Padahal Sui Ji-song masih muda dan kesepian, tidak heran dia
terpikat oleh rayuan gombal Thiat Cing-kian."
Tampak Kaisar malam memperlihatkan sekulum
senyuman yang sangat aneh, katanya:
"Waktu itu meski aku sangat gusar dan benci
terhadap pemuda itu, namun aku pun membenci suami nyonya cantik itu,
karenanya aku hanya menonton sambil berpeluk tangan, aku tidak
berencana mencampuri urusan ini. Kulihat kedua orang itu berbicara
amat mesra, nyonya cantik itu terkadang menangis, terkadang tertawa,
jelas pikirannya dibuat kalut oleh rayuan hingga kehilangan kendali.
Tiba-tiba pemuda itu menemukan sayur dan
arak yang kutinggalkan di bawah pohon bunga tho, katanya sambil
tertawa terbahak-bahak, “Hahaha, sungguh tidak nyana Thian memang
mengaturkan segala sesuatunya, coba lihat di sana tersedia sayur dan
arak”
"Tanpa berusaha mencari tahu darimana
datangnya sayur dan arak itu, mereka mulai btrsantap dan minum arak
dengan santainya, waktu itu malam semakin kelam, suasana dalam hutan
bunga tho pun terasa makin hangat dan mesra.
"Melihat kedua orang itu menikmati
hidanganku sementara aku harus makan angin di atas pohon, dalam hati
aku hanya bisa tertawa getir.
Takaran minum perempuan muda itu sangat
cetek, ditambah lagi arak yang tersedia ndalah arak keras, maka baru
saja meneguk beberapa cawan, bukan saja dia sudah mabuk, bahkan
mabuk berat.
"Waktu itu dia sudah berada dalam kondisi
tengah bugil, pengaruh arak membuatnya dicekam hawa napsu yang
tidak ter kendalikan, ibarat air bah sungai Huangho yang menjebol
tanggul, birahinya sudah tidak terkirakan lagi.
"Melihat kejadian ini, kusangka sebentar
lagi mereka berdua akan melakukan hubungan intim. “Siapa tahu
tiba-tiba pemuda itu menyambar sepasang wan yo kiam yang
tergeletak di tanah, lalu bergumam sambil tertawa dingin, “Perempuan
rendah, kau tidak tega membunuhku, tapi aku tega untuk menghabisi
nyawamu....”
"Sementara nyonya muda itu masih merintih di
atas tanah karena terangsang napsu birahi, pemuda itu justru
mengangkat pedangnya langsung dihujamkan ke hulu hati wanita itu."
Thiat Tiong-tong sama sekali tidak mengira
akan terjadinya perubahan ini, tidak tahan dia menjerit kaget.
"Kau tidak menyangka bukan?" tanya Kaisar
malam.
"Ya, Siautit tidak pernah membayangkan akan
terjadi peristiwa semacam ini," sahut Thiat Tiong-tong sambil
menghela napas.
"Waktu itu aku sendiri pun sangat
terperanjat, semula kusangka pemuda itu meski licik dan busuk
hatinya, dia tetap seorang pemuda romantis yang tahu menyayangi
wanita. Saat itulah aku baru sadar, ternyata pemuda itu selain
sadis, dia pun keji dan tidak berperasaan, aku tidak tega membiarkan
dia melakukan tindakan sebusuk itu terhadap wanita itu! Terlepas
apapun alasannya, aku tidak bisa membiarkan kejadian seperti ini
terjadi di depan mataku, maka sambil membentak aku pun melompat
turun dari atas pohon.
"Tentu saja pemuda itu sangat terperanjat,
dia membalikkan pedangnya menusuk tubuhku, tapi dengan sekali
sambaran, senjata itu sudah berhasil kurampas, hal ini membuat
pemuda itu semakin terkesiap."
Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa geli,
pikirnya, "Dengan kepandaian silat yang dimiliki Kaisar malam, tentu
saja mimpi pun Thiat Cing-kian tidak menyangka, tidak heran
kalau dia terperanjat setengah mati."
Terdengar Kaisar malam berkata lebih jauh:
"Walaupun saat itu aku membencinya karena
tidak pantas menipu wanita itu dengan cara sekeji itu, karena
perempuan itu bukan wanita cabul, dia tidak lebih hanya seorang
wanita kesepian yang tergoda oleh rayuan gombalnya hingga tidak
kuasa menahan diri, tapi aku kasihan dengan usianya yang masih muda,
meski dalam keadaan marah, aku tidak sampai hati mencabut nyawanya.
"Pemuda itu termangu beberapa saat, melihat
aku tidak berniat membunuhnya, maka tanpa mengucapkan sepatah kata
pun dia segera melarikan diri terbirit-birit, dalam waktu singkat
bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
"Sebenarnya aku ingin mengejar pemuda itu,
namun ketika melihat perempuan muda itu masih merintih di tanah,
seakan dia tidak sadar atas kejadian yang berlangsung di
sekelilingnya, aku tahu dia sudah tidak sadarkan diri. Maka aku
dekati perempuan itu dan bermaksud menenangkan hatinya, siapa
tahu... siapa tahu, baru saja kubangunkan tubuhnya, dia malah justru
memelukku erat-erat, dia sangka aku adalah pemuda itu.
"Saat itu sedang bulan purnama, cahaya
lembulan menyinari tubuhnya yang indah... tubuh setengah bugil yang
panas tiada hentinya gemetar dalam pelukanku, bau harum bunga yang
terhembus angin membuat aku... aku tidak kuasa menahan napsuku
lagi...."
Apa yang terjadi kemudian benar-benar
merupakan satu peristiwa yang sangat mengejutkan hati.
Bagi Thiat Tiong-tong, selain perasaan
terperanjat dia pun merasa sangat girang, untuk sesaat perasaannya
jadi kalut hingga tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Kaisar malam memejamkan mata seakan sedang
membayangkan kembali adegan malam itu, sekulum senyuman tersungging
di bibirnya, sampai lama kemudian dia baru melanjutkan kembali
kisahnya.
Terdengar Kaisar malam berkata lagi:
"Setelah selesai berhubungan intim, wanita
muda itu terlelap tidur dengan nyenyaknya, dia tidur dengan senyuman
puas tersungging di ujung bibirnya, bahkan mengigau dengan memanggil
nama pemuda itu.
"Sebetulnya aku ingin menunggunya hingga
mendusin dari tidurnya, tiba-tiba kulihat pada gagang pedang yang
ditinggalkan pemuda itu terukir empat huruf besar, ketika kuamati
ternyata bertuliskan Thiat hiat tay ki. Saat itulah aku baru
tahu kalau dia adalah anggota perguruan Tay ki bun. Padahal waktu
itu aku memang sedang mencari jejak ketua perguruan itu, karena
jejak mereka sukar terlacak, maka hingga detik itu keinginanku belum
tercapai.
"Mengetahui pemuda itu adalah anggota
perguruan Tay ki bun, dalam terkejut bercampur girangnya, tanpa
berpikir panjang lagi aku segera melakukan pengejaran, aku sangka
dengan ilmu meringankan tubuhku tentu tidak sulit untuk menyusulnya.
"Siapa tahu pemuda itu sangat licik dan
teliti, kuatir terkejar, maka sepanjang jalan dia telah mengatur
berbagai jebakan dan memancingku mengejar ke arah yang berlawanan.
"Menanti aku gagal mengejarnya dan balik
lagi ke hutan bunga tho, waktu itu hari sudah terang, wanita cantik
itupun sudah pergi, tapi keadaan di dalam hutan itu kacau
berantakan, banyak ranting dan dahan pohon yang bertumbangan,
kelihatannya wanita itu mengumbar amarahnya dengan mengobrak-abrik
tempat itu.
"Aku amat sedih, walaupun ingin sekali
kususul dirinya, apa daya... dalam suasana begitu, aku bahkan tidak
tahu siapa namanya."
Mendengar sampai di situ, selain merasa
terkejut bercampur girang, Thiat Tiong-tong pun merasa terharu.
Sejak awal hingga akhir Sui Ji-song selalu
beranggapan dia sudah dinodai Thiat Cing-kian, apalagi sewaktu
mendusin dia tidak berhasil menemukan jejaknya, tidak heran
sepanjang hidup perempuan ini membencinya hingga merasuk ke dalam
tulang.
Thiat Cing-kian sendiri meski tahu wanita
itu bukan ternoda olehnya, namun sewaktu berada dalam gua harta
karun dia pun tidak berani mengatakannya secara terus terang, dia
ingin menggunakan alasan 'pernah jadi suami istri semalam' untuk
meluluhkan hatinya, maka dia pun mengakui anak itu adalah darah
dagingnya dengan harapan Sui Ji-song tidak membunuhnya.
Siapa tahu gara-gara pikiran semacam itu,
dia harus mengorbankan nyawanya dengan percuma, sementara Sui
Ji-song sendiri pun harus menanggung penderitaan sepanjang hidupnya
gara-gara tindakannya yang keliru.
Peristiwa ini boleh dibilang merupakan satu
kejadian salah langkah, seandainya Kaisar malam tidak secara
kebetulan bertemu dengan peristiwa itu, kejadian pun tidak akan
berakibat seperti saat ini.
Seandainya Kaisar malam adalah seorang
penjahat pemogoran, lelaki hidung belang yang suka main perempuan,
dia pun pasti tidak akan membiarkan Thiat Cing-kian kabur
dalam keadaan hidup.
Dalam pada itu Thiat Tiong-tong merasa
sangat kegirangan, akhirnya dia tahu Sui Leng-kong bukan saudaranya,
simpul mati yang bakal membuatnya sengsara seumur hidup ternyata
berhasil diurai secara mukjizat.
Lewat beberapa saat kemudian kembali Kaisar
malam bertutur:
"Sepanjang perjalanan aku berusaha mencari
tahu identitas wanita itu, aku tidak ingin kejadian ini menjadi
beban sepanjang hidupku.
"Selesai berhubungan intim, aku baru sadar
perempuan muda itu ternyata masih perawan, sekalipun statusnya
adalah bini orang, namun dia belum pernah terjamah oleh lelaki
manapun. Aku sadar, biarpun di antara kami berdua tidak pernah punya
bibit cinta, namun aku punya tanggung jawab moral terhadapnya,
paling tidak bertanggung jawab atas kehidupannya, sayang sejak
kejadian itu aku tidak pernah bersua lagi dengannya."
Rasa menyesal yang sangat mendalam tampak
melintas di wajahnya.
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang,
katanya perlahan:
"Masih ada satu hal lagi... andaikata Empek
mengetahuinya, mungkin kau... kau akan bertambah
sedih."
"Soal apa?"
"Dia telah melahirkan seorang anak."
Dengan tubuh bergetar lantaran kaget, Kaisar
malam menceng-keram bahu Thiat Tiong-tong kuat-kuat,jeritnya:
"Sungguh? Darimana kau tahu? Anak... anak
itu berada dimana sekarang?"
"Bocah itu bernama Sui Leng-kong jawab Thiat
Tiong-tong sambil menghela napas.
Secara ringkas dia pun bercerita bagaimana
dia terjerumus ke dalam jurang, bertemui Sui Leng-kong dan ibunya
hingga berjumpa dengan Cu Cau.
Biarpun Kaisar malam termasuk jagoan yang
banyak pengalaman, tidak urung dia terbelalak juga sehabis mendengar
kisah cerita itu, selain terperanjat, dia pun merasa sedih dan
sedikit perasaan girang.
Terdengar dia bergumam seorang diri:
"Leng-kong... Leng-kong... ternyata dia
telah dewasa... apakah dia... dia berwajah menarik?"
Thiat Tiong-tong sendiri pun tidak tahu
bagaimana perasaannya sekarang, apakah kecut, manis atau getir, yang
pasti semuanya muncul dari lubuk hatinya, setelah tertawa getir dia
pun mengangguk.
Kaisar malam memandangnya beberapa kejap,
tidak tahan dia mendongakkan kepala dan menghela napas panjang,
katanya:
"Takdir... takdir... mimpi pun aku tidak
menyangka ternyata kau adalah anak murid perguruan Tay ki bun!"
Tiba-tiba Thiat Tiong-tong bertanya:
"Siautit ingin sekali bertanya kepada
Cianpwe, sebenarnya ada rahasia besar apa di balik permusuhan dunia
persilatan dengan perguruan Tay ki bun?"
Berubah paras muka Kaisar malam sehabis
mendengar pertanyaan itu, gumamnya:
"Benar... di balik peristiwa itu memang
terdapat sebuah rahasia yang besar sekali, aku tahu akan rahasia itu
tapi sekarang belum bisa kukatakan kepadamu."
"Kenapa Siautit tidak boleh mengetahui
rahasia itu?"
"Kau bukan tidak boleh mengetahui rahasia
itu, sebab... sebab saat ini kau harus memusatkan perhatianmu untuk
belajar silat, selama berlatih, lebih baik pikiranmu jangan
terganggu oleh persoalanlain."
"Kenapa Siautit harus memusatkan diri
berlatih?"
"Karena aku berencana akan mewariskan
seluruh kepandaian silatku kepadamu, dengan bakat alam yang kau
miliki, aku yakin dalam tiga bulan mendatang pasti sudah nampak
hasilnya, bila pikiranmu bercabang, otomatis keberhasilan-mu akan
terpengaruh."
Thiat Tiong-tong merasa hatinya bergetar
keras, dia tidak tahu harus merasa terkejut atau gembira, katanya
tergagap.
Tapi...."
"Asal kau bersedia memusatkan seluruh
perhatian untuk belajar silat," tukas Kaisar malam cepat, "tiga
bulan kemudian, aku pasti akan membeberkan rahasia besar dunia
persilatan yang hampir punah ini kepadamu."
"Tapi... kenapa Empek ingin mewariskan
seluruh ilmu silatmu kepadaku?"
Kaisar malam tersenyum, sahutnya:
"Kau adalah saudara angkat Cau-ji, kau pun
terhitung sahabat senasib dengan... dengan Leng-kong, kalau tidak
kuwariskan ilmu silatku kepadamu, memangnya harus kuwariskan kepada
orang lain?"
Buru-buru Thiat Tiong-tong menjatuhkan diri
berlutut, serunya dengan kepala tertunduk:
"Terima kasih Empek!"
Sambil mengelus jenggotnya Kaisar malam
tertawa tergelak, beberapa saat kemudian setelah menghela napas
panjang dia baru berkata lagi:
"Seandainya Cau-ji dan... dan Leng-kong
berada di sini... aaaai! Entah apa yang sedang mereka lakukan
sekarang?"
Mendadak paras muka Thiat Tiong-tong berubah
hebat, jeritnya:
"Aduuuh celaka! Aku telah melakukan
kesalahan besar!"
"Kejadian apa yang membuatmu gugup dan
kaget?"
"Toako dan Leng-kong adalah saudara!"
Keringat sebesar kacang kedelai jatuh
bercucuran membasahi wajah Thiat Tiong-tong, serunya lebih jauh:
"Tapi... tapi... Siautit telah berusaha
memohon bantuan orang untuk menjodohkan mereka berdua, saat ini...
bila mereka berdua telah ...telah...."
Dia merasa dadanya sesak, perkataan
selanjutnya tidak sanggup lagi diutarakan.
Paras muka Kaisar malam ikut berubah,
jenggot panjangnya bergoyang meski tidak terhembus angin, sepasang
kepalannya digenggam kuat-kuat, ujung jarinya terasa dingin membeku,
gumamnya:
"Bagaimana... bagaimana baiknya sekarang?"
Cahaya lentera telah menerangi pondok
Cay-seng di bawah bukit Ong wo san.
Pemilik pondok yang misterius sedang membuka
surat yang diberikan Thiat Tiong-tong dan membaca isinya.
Sudah beberapa kali dia membaca ulang isi
surat itu, kini dia hanya duduk terpekur sambil memandang surat itu
dengan pandangan mendelong, lama kemudian sekulum senyuman baru
tersungging di ujung bibirnya, meski kerutan dahinya menunjukkan
perasaan sedih yang mendalam.
Surat itu jelas ditulis dalam keadaan
terburu-buru, bukan saja tulisannya tidak jelas, kalimatnya pun amat
singkat, tapi pemilik pondok Cay-seng dapat memahami artinya.
Surat itu berbunyi:
"Surat yang lampau tentu sudah kau
terima, aku dalam keadaan sehat, berhubung sesuatu persoalan aku
tidak bisa datang, waktu sudah hampir tiba, harap semua saudara
bersabar, tunggu saatnya.
"Pembawa surat adalah putra Kaisar malam
bernama Cu Cau, saudara angkatku, orang ini berbakat aneh, bisa
dipercaya, harap dilayani sebaik-baiknya, yang seorang lagi adalah
Sui Leng-kong, sahabatku, sayang aku tidak bisa mendampinginya
sepanjang hidup.
"Kali ini sengaja kuminta mereka datang
bersama, harap aturkan perkawinan untuk kedua orang ini, bila Sui
Leng-kong menolak, bujuklah, bila perlu katakan kalau aku tidak akan
bertemu lagi dengannya.
"Rindu dengan enso dan keponakan, semoga
kalian jaga diri baik-baik.
Tertanda, Tiong-tong".
Waktu itu Cu Cau, Sui Leng-kong dan dua
bersaudara Gi sedang membicarakan tentang asal-usul pemilik pondok
Cay-seng yang misterius, secara tiba-tiba orang yang bersangkutan
muncul di hadapan mereka.
Sambil tersenyum dia memandang Cu Cau dan
Sui Leng-kong sekejap, sorot matanya jauh lebih hangat ketimbang
tadi, mendadak setibanya di hadapan Cu Cau, dia menjatuhkan diri
berlutut.
Dengan perasaan terperanjat Cu Cau menegur:
"Saudaraku, mengapa kau menjalankan
penghormatan sebesar ini?"
Baru saja dia bangkit berdiri untuk membalas
hormat, tapi pemilik pondok Cay-seng telah menekan bahunya agar
tetap duduk.
Dua bersaudara Gi maupun Sui Leng-kong ikut
tercengang melihat kejadian ini, mereka tidak habis mengerti apa
sebabnya pemilik pondok Cay-seng yang misterius melakukan
penghormatan besar.
Terdengar pemilik pondok berkata dengan
hormat:
"Harap saudara jangan menyebut Hengtay lagi
kepadaku, karena kau adalah Toako Thiat Tiong-tong, otomatis
merupakan Toakoku juga."
Cu Cau mengawasi rambutnya yang beruban
tanpa menjawab.
Dalam pada itu Gi Teng telah berseru dengan
wajah berubah:
"Thiat Tiong-tong? Apakah yang dimaksud
adalah anggota perguruan Tay ki bun yang belakangan menggetarkan
sungai telaga dengan julukan sebagai jago pedang tercepat?"
"Benar...."jawab Cu Cau dan pemilik pondok
Cay-seng hampir berbareng, mereka ikut merasa bangga setelah
mendengar pujian orang.
"Jadi kau kenal dengannya?" tanya Sui
Leng-kong pula dengan mata terbelalak.
"Walaupun belum pernah bersua, namun sudah
lama kudengar nama besarnya ...." jawab Gi Teng setelah berpikir
sejenak.
Kemudian setelah berhenti sesaat, tidak
tahan kembali lanjutnya:
"Aku dengar Thiat Tiong-tong pernah
mengalahkan si jago pedang berhati ungu Seng-toako serta Ui koan bi
gwe, sebetulnya kami berdua pun ingin sekali menjajal kemampuannya."
Satu ingatan segera melintas dalam benak Cu
Cau, serunya tidak tahan:
"Jadi kalian dua bersaudara adalah...."
"Mereka adalah Ang eng kiam khek (Jago
pedang elang merah) Gi Teng dan saudaranya Cui yan kiam khek (jago
pedang walet hijau) Gi Beng, dua jago ternama di antara tujuh jago
pedang pelangi lainnya, masa Toako belum tahu akan hal inP"
"Dulu kami memang berniat suatu hari nanti
akan mencarinya untuk mengadu kepandaian," ujar Gi Teng sambil
tertawa getir, "tapi setelah menyaksikan kemampuan silat yang
Hengtay miliki, aku baru sadar bahwa nama kami sebenarnya hanya
kosong belaka."
"Hengtay terlalu merendah."
"Sungguh," sahut Gi Beng cepat, "terus
terang sampai bermimpi pun kepandaian silat kami masih bukan
tandingan Toako, bisa diduga kemampuan silat Jite pun pasti amat
tangguh, aku pikir pertarungan ini tidak perlu dilangsungkan lagi."
"Kelihatannya adikku cukup tahu diri...."
ucap Gi Teng sambil tersenyum.
Pemilik pondok Cay-seng tertawa tergelak,
serunya:
"Hahaha, kalian berdua sungguh polos dan
jujur, padahal secepat apapun ilmu pedang yang dimiliki Tiong-tong,
belum tentu kemampuannya lebih hebat dari kalian berdua...."
"Bukan Cayhe sengaja membesar-besarkan
kemampuan orang," sela Cu Cau sambil tersenyum,
"belakangan ilmu silat yang dimiliki Jite sudah mengalami kemajuan
hampir sepuluh kali lipat daripada kemampuannya dulu!"
"Sungguh?" teriak pemilik pondok Cay-seng
kegirangan.
"Buat apa Cayhe membohongi kalian?"
Dengan wajah penuh kegembiraan pemilik
pondok itu mendongakkan kepala dan tertawa tergelak, gumamnya:
"Thian maha pengasih... harapan membangun
kembali kejayaan perguruan sudah terbuka...."
Sui Leng-kong terperanjat, serunya tanda
sadar:
"Jadi... jadi kau... kau satu perguruan
dengan... dengan Tiong-tong!"
Pemilik pondok tidak langsung menjawab, dia
termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru mengangguk.
"Benar."
Tidak terlukiskan rasa kaget Cu Cau, Sui
Leng-kong serta dua bersaudara Gi, hampir berbareng mereka
berteriak:
"Jadi Hengtay adalah anggota perguruan Tay
ki bun!"
Pemilik pondok memandang dua bersaudara Gi
sekejap, kemudian sahutnya sambil tertawa getir:
"Bukan Cayhe sengaja merahasiakan
identitasku, hanya saja ... aaaai! Di balik semua ini masih
tersimpan rahasia lain."
Dua bersaudara Gi saling bertukar pandang
sekejap, lewat sesaat kemudian Gi Beng baru berkata sambil tertawa
paksa:
"Ooh, jadi kau kuatir kami bocorkan rahasia
itu hingga selama ini mengelabui kami berdua?"
"Aaah, tajam amat perkataan kalian...."
"Sekalipun kami berdua banyak bicara," tukas
Gi Beng lagi, "tapi kalau persoalan itu benar-benar sebuah rahasia
besar, tidak nanti rahasia itu akan bocor dari mulut kami."
Pemilik pondok Cay-seng menghela napas
panjang.
"Kalau memang begitu, bila aku masih
merahasiakan hal ini, berarti aku tidak menganggap kalian sebagai
sahabatku."
"Benar," Gi Beng tertawa merdu, "kau tidak
boleh merahasiakan lagi di hadapan kami."
"Se... sebenarnya siapakah kau?" tanya Sui
Leng-kong tergagap.
Pemilik pondok Cay-seng menarik kembali
senyumannya, dengan wajah berubah serius dan berat, sepatah demi
sepatah sahutnya:
"Akulah murid murtad perguruan Tay ki
bun...."
"Traaang!", cawan yang berada di tangan Sui
Leng-kong tiba-tiba terjatuh hingga hancur berkeping, ditatapnya
pemilik pondok itu dengan mata terbelalak, kemudian serunya gemetar:
"Jadi kau... kau adalahToako Tiong-tong?"
"Benar...." jawab pemilik pondok sambil
tertunduk sedih.
Paras muka Gi Teng ikut berubah, jeritnya
kaget:
"Berarti Hengtay adalah Im Kian, Im-tayhiap
yang... yang mengikat tali perkawinan dengan nona Leng... Toasiocia
dari benteng Han hong po?"
Perlu diketahui, peristiwa itu sudah beredar
dalam dunia persilatan dan menjadi bahan pembicaraan setiap umat
persilatan, bahkan menjadi dongeng yang dipenuhi masalah cinta,
petualangan dan tragedi sebuah keluarga.
Pemilik pondok termenung sejenak, sesudah
menghela napas berat, sahutnya:
"Betul, aku adalah Im Kian!" Dengan termangu
Gi Beng mengawasi wajah orang itu, lamat-lamat cahaya semu merah
menghiasi pipinya.
"Sudah lama kami mendengar tentang kisah
ini," gumamnya, "tak nyana ternyata kau... ternyata kau adalah Im
Kian!"
Perlu diketahui, dalam benak kaum wanita,
khususnya para gadis muda, kisah romantis yang dipenuhi
kemisteriusan apalagi berakhir secara tragis merupakan satu kisah
yang amat mempesona.
Entah sudah berapa banyak gadis yang
melelehkan air mata karena kisah percintaan itu....
Tapi setelah termenung sejenak, dengan wajah
berubah serunya lagi:
"Tapi... tapi... bukankah Im Kian...
bukankah dia sudah tewas karena dijatuhi hukuman mati oleh perguruan
Tay ki bun?"
"Benar!"
Kembali terjadi kehebohan, paras muka semua
orang kembali berubah hebat.
"Lalu... kenapa kau masih... masih hidup
hingga kini?"
Im Kian menghela napas panjang, ujarnya:
"Tiong-tong Jite yang telah menyelamatkan
jiwaku, coba kalau bukan dia, mungkin saat ini mayatku sudah hancur
ditarik lima ekor kuda."
Semua orang menghembuskan napas panjang,
mereka hanya bisa saling pandang tanpa mampu mengucapkan sepatah
katapun.
"Hari itu," cerita Im Kian, "kalau bicara
berdasarkan peraturan perguruan, maka aku pasti akan kehilangan
nyawaku, itulah sebabnya sebelum ayahku turun tangan, aku
telah menghantam ubun-ubunku sendiri dengan harapan bisa menghabisi
nyawaku secepatnya."
Gi Beng menghela napas sedih, katanya:
"Kau... masa kau tega turun tangan terhadap
diri sendiri? Coba kalau aku... aaai! Tidak nanti aku mampu
melakukan tindakan sebrutal itu!"
"Kau anggap anak murid perguruan Tay ki bun
adalah manusia macam apa?" seru Gi Teng dengan suara dalam,
"bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan seorang nona kecil yang
tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi."
Im Kian tertawa getir, ujarnya lebih lanjut:
"Siapa sangka ketika telapak tangan hampir
menyentuh ubun-ubunku, mendadak tanganku jadi lemas... aaaai!
Ternyata pukulan itu gagal mencabut nyawaku sendiri!"
"Biar berganti orang lain pun belum tentu
mereka mampu, bagaimana mungkin bisa menyalahkan dirimu?"
"Namun saat itu aku sudah bertekad untuk
mati, oleh karena itu sepeninggal ayahku, meski aku tersadar
kembali, tapi aku tetap memohon kepada Thiat Tiong-tong agar memberi
sebuah kematian untukku."
"Jadi Thiat Tiong-tong adalah pelaksana
hukuman mati itu?" tanya Gi Beng.
"Betul," sahut Im Kian dengan wajah sedih,
"Jiteku ini jarang berbicara dan dia kelihatannya paling dingin,
paling sadis di antara kami semua, mungkin ayahku kuatir orang lain
tidak tega melaksanakan hukuman itu, maka dia yang diberi wewenang
padanya menjadi sang algojo."
"Terkadang orang yang nampaknya dingin dan
sadis justru memiliki perasaan yang hangat, hanya saja perasaan itu
jarang diperlihatkan di hadapan orang banyak."
Tepat sekali," sambung Cu Cau, "semakin
dingin wajahnya, perasaannya justru makin hangat, semakin setia
kawan, sekalipun dia jarang memperlihatkan emosinya di hadapan
orang, tapi bila emosinya mulai berkobar, maka dia akan jauh lebih
hangat ketimbang orang lain."
Perlahan-lahan Sui Leng-kong menunduk-kan
kepala dan berpikir dengan sedih:
"Tapi sikapnya kepadaku mengapa begitu tidak
berperasaan, begitu dingin dan hambar...."
Berpikir sampai di situ, tidak kuasa lagi
butiran air matanya jatuh berlinang.
Dari mana dia tahu, ketika cinta sudah
mencapai puncaknya, maka perasaan itu akan semakin menipis, tidak
berperasaan justru menunjukkan kalau dia sangat perasa.
Im Kian menghela napas panjang, katanya:
"Perkataan kalian berdua tepat sekali, Jiteku memang sangat perasa
dan setia kawan, biarpun aku memohon kepadanya untuk menghabisi
nyawaku, dia justru memaksa aku untuk tetap hidup."
"Dengan begitu... bukankah dia pun telah
melanggar peraturan perguruan Tay ki bun?" tanya GiBeng.
"Tidak melaksanakan tugas sebagai pelaksana
hukuman memang merupakan salah satu pelanggaran besar dalam
perguruan Tay ki bun, dosanya sama beratnya dengan sebuah
pengkhianatan atau bersekutu dengan musuh!"
"Berarti hukumannya Ngo be hun si (lima kuda
memisahkan badan)?"
"Benar!"
Tanpa terasa semua orang menghembuskan napas
dingin.
"Jadi dia... dia tidak segan menerima
hukuman ditarik lima kuda dan tetap menolong nyawamu?" seru Gi Beng
tertegun, "besar amat nyalinya!"
Im Kian termenung beberapa saat, kemudian
baru menjawab:
"Hal ini disebabkan hubungan persaudaran di
antara kami berdua memang sangat mendalam, tapi selain itu masih ada
alasan lain yang lebih besar."
"Masih ada alasan lain? Alasan apa?" dengan
perasaan tercengang semua orang bertanya.
"Karena dia tidak tega menyaksikan anggota
perguruan Tay ki bun secara turun temurun harus menjalani nasib yang
sama, menciptakan tragedi yang sama. Dia mengambil keputusan akan
mengubah jalan hidup serta nasib perguruan Tay ki bun, dia ingin
seluruh dendam permusuhan yang telah berlangsung puluhan tahun,
berakhir di tangannya! Dia berharap tragedi paling memilukan yang
pernah terjadi dalam dunia persilatan bisa terhapus untuk
selamanya...."
Semua orang tertegun, terperangah dibuatnya,
hingga kini semua orang termasuk Cu Cau dan Sui Leng-kong baru tahu,
ternyata Thiat Tiong-tong sedang memikul tanggung jawab dan beban
yang begitu berat.
"Itulah sebabnya dia minta kepadaku untuk
hidup terus," kata Im Kian lebih jauh, "paling tidak menunggu sampai
menyaksikan sendiri berakhirnya drama memilukan ini."
"Dan kau... kau mengabulkan permintaan-nya?"
tanya Gi Beng.
"Aaaai, sekalipun aku sudah bertekad untuk
mati, walaupun aku tidak berani melanggar peraturan perguruan, namun
setelah mendengar harapannya, bagaimana mungkin permintaannya bias
ku tolak?"
Gi Beng menghembuskan napas lega, pujinya
dengan tersenyum:
"Benar, tindakan semacam inilah baru pantas
disebut tindakan seorang lelaki sejati!"
"Tapi saat itu luka yang kuderita sangat
parah, dia pun tidak mampu membagi diri untuk merawat lukaku, dia
harus berlagak seolah-olah sudah menjalankan hukuman mati itu dan
memberi pertanggung jawaban kepada ayahku."
"Lantas apa daya?" tanya Gi Beng dengan
kening berkerut.
"Waktu itu hujan sedang turun dengan
derasnya, dengan menempuh hujan deras dia berlari sejauh puluhan li
untuk mencari sebuah kereta besar, kemudian dengan kereta itu dia
mengantar aku ke sebuah rumah penginapan kecil yang berada puluhan
li jauhnya, sepanjang jalan secara beruntun dia merampok enam belas
rumah dan nengumpulkan uang sebanyak tiga ribu tahil perak dan lima
ratus tahil emas murni. Dengan bekal itu dia minta kepadaku untuk
berdiam di kaki bukit Ong wo san, mengobati luka di situ sambil
nenunggu kabar beritanya, selesai mengatur segala tesuatunya dia
baru kembali ke perguruan untuk nemberi laporan. Aaaai! Dalam
semalaman dia udah bolak-balik melakukan pekerjaan berat, aku telah
membuatnya tersiksa."
"Apa?" teriak Sui Leng-kong kaget, "dia...
dia sudah merampok enam belas rumah?"
Im Kian tertawa getir, katanya:
"Bukan saja telah merampok enam belas rumah,
bahkan telah membunuh seorang tuan rumah setempat dan menggunakan
mayatnya untuk menggantikan posisiku, menjalani hukuman dipisah
dengan lima ekor kuda!"
"Tapi ini... ini...." seru Sui Leng-kong
gemetar.
"Begitulah baru pantas disebut tindakan
seorang Toa-enghiong, Toa-hokiat," tukas Gi Beng sambil menghela
napas, "kalau ingin melakukan tindakan yang menggemparkan, kita
memang tidak boleh terikat oleh segala macam peraturan tetek
bengek."
"Bagus, bagus sekali!" seru Cu Cau pula
sambil tertawa tergelak dan bertepuk tangan, "tindakan yang
dilakukan Jiteku memang sangat memuaskan, perkataan nona pun amat
memuaskan! Benar-benar tidak malu disebut Li-hokiat (orang gagah
wanita), aku sungguh merasa kagum!"
"Hanya sayang perkataannya kelewat banyak,"
sela Gi Teng sambil tersenyum, "orang lain baru berbicara sepatah
kata, dia sudah bertanya sepuluh persoalan."
Tampaknya dia sendiri pun tidak tahan untuk
mengetahui kejadian selanjutnya, tanyanya: "Lantas bagaimana
selanjutnya?"
"Dengan melarikan kereta kuda tanpa
berhenti, akhirnya tibalah aku di kaki bukit Ong wo san dan menetap
di sini, tapi saat itu rumah yang kugunakan hanya dua buah gubuk
bekas milik tukang penebang kayu yang sudah reyot, yang kubeli
dengan uang tiga ratus tahil perak, dengan uang penjualan rumah itu
si tukang penebang kayu membuka sebuah rumah makan kecil di sisi
bukit sana, tampaknya kehidupannya cukup bahagia, sampai belakangan,
dia masih sering datang kemari untuk mengobrol sambil membawa lima
kati arak wangi untukku."
Berbicara sampai di sini, sekulum senyuman
tampak tersungging di wajahnya yang murung.
"Dengan tiga ratus tahil
perak untuk membeli dua buah gubuk reyot, tidak aneh jika kakek itu
sangat berterima kasih kepadamu ujar Gi Beng sambil tertawa, "tapi
siapa pula yang merombak rumah gubuk reyot menjadi rumah pertapaan
semacam sekarang ini?"
"Sejak berdiam di sini, hampir dua bulan
lamanya aku tidak berhasil mendapat kabar berita darinya... aaai!
Waktu itu aku benar-benar menguatirkan keselamatan jiwanya."
Sekulum senyuman tersungging di wajah Sui
Leng-kong, ujarnya perlahan:
"Waktu itu... waktu itu dia terjerumus ke
dalam jurang dan bertemu aku."
"Benar," Im Kian mengangguk, "setelah
kejadian, dia sempat menceritakan peristiwa itu kepadaku, saat
itulah perasaanku jadi lega, sewaktu datang dia pun menghadiahkan
sejumlah harta yang tidak temilai harganya untukku."
Setelah berhenti sejenak, terusnya sambil
tertawa:
"Konon harta karun itu pun diperoleh dari
tempat tinggalmu."
"Benar. Dia membagi harta itu menjadi
beberapa bagian dan memberitahukan kepadaku kegunaan dari setiap
bagian itu, tapi hanya ada satu bagian harta yang tidak pernah
dijelaskan kepadaku, sampai sesaat sebelum kau bercerita, aku masih
belum tahu apa kegunaannya, karena dia tidak pernah mau menjelaskan
hal itu, tapi sekarang....”
Sui Leng-kong tertawa manis, terusnya:
"Sekarang aku baru tahu apa gunanya."
"Hahaha, sekarang aku pun sudah tahu kenapa
pondok tempat tinggalmu nampak begini indah dan mewah, semula
kusangka kau adalah pensiunan perampok yang hidup mengasingkan
diri," seru Cu Cau sambil tertawa tergelak.
"Dia yang memaksa aku menggunakan uang itu
untuk membangun rumah ini serta bergaul dengan sahabat dunia
persilatan," kata Im Kian sambil tersenyum, "bahkan sebagai
pelengkapnya dia mengirim juga dua orang bocah lelaki untuk melayani
keperluan tamu."
"Kedua bocah itu dia beli dari Hun
Kiok-hoa," Sui Leng-kong menjelaskan sambil tertawa.
Tiba-tiba Im Kian menghela napas panjang,
katanya:
"Semenjak berpisah di tengah hujan deras
malam itu, hingga sekarang aku belum pernah bersua lagi dengannya,
entah saat ini dia...."
"Saat ini, bukan saja ilmu silatnya
bertambah maju, kesehatan tubuhnya juga bagus sekali," kata Cu Cau
sambil tertawa.
"Sebenarnya dia sudah berjanji, dalam dua
hari mendatang akan datang menengokku, persoalan apa sih yang
membuat kedatangannya tertunda?"
Secara ringkas Cu Cau pun menceritakan kisah
perjumpaannya dengan Thiat Tiong-tong hingga dia diminta datang ke
situ.
Kisah ini penuh dengan liku-liku, yang
membuat Im Kian menghela napas berulang kali, sedang dua bersaudara
Gi pun hanya bisa mendengarkan dengan mata terbelalak dan mulut
melongo.
Lewat beberapa saat kemudian, Gi Teng baru
berkata sambil tertawa getir:
"Tokoh semacam ini memang tidak malu disebut
seorang lelaki sejati, sungguh menggelikan, ternyata aku malah ingin
mencarinya untuk berduel."
"Beruntung kita kenal dulu dengan Im-toako
serta Cu-toako," sambung Gi Beng sambil tertawa, "seandainya
benar-benar terjadi pertarungan, mungkin pihak kami berdualah yang
bakal menderita kerugian besar."
Maka Im Kian pun menyajikan sayur dan arak
untuk menjamu tamu-tamunya.
Malam itu, ketika semua orang telah pergi
beristirahat, seorang diri Im Kian mengajak Sui Leng-kong bertemu di
dalam hutan bambu.
"Nona," ujarnya, "Jite berharap kau bersedia
melakukan satu hal untuknya, apakah kau sudah tahu?"
"Tidak," sahut Sui Leng-kong keheranan.
Im Kian tertawa getir, katanya lagi:
"Sekalipun di mulut kau mengatakan tidak
tahu, padahal dalam hati kecilmu sudah tahu dengan jelas bukan."
Tiba-tiba sepasang mata Sui Leng-kong
berubah jadi merah, bisiknya dengan kepala tertunduk:
"Apapun yang dia minta, aku pasti akan
menyetujuinya, tapi... tapi aku tidak bakal kawin dengan oranglain!"
"Cu-toako adalah seorang berbakat hebat, dia
Bun bu coan cay, boleh dibilang...."
"Aku tidak pernah mengatakan Cu-toako tidak
baik, tapi... biar dia sepuluh kali, seratus kali lebih hebat pun,
aku tidak bakal kawin dengannya!"
Im Kian tertegun sehabis mendengar perkataan
itu, sesudah menghela napas, katanya kemudian:
"Aku pun tahu cintamu terhadap Jite sangat
mendalam, tapi... aaaai! Nasib mempermainkan manusia, siapa suruh
kalian berdua masih terhitung saudara."
Akhirnya Sui Leng-kong tidak sanggup menahan
rasa sedihnya lagi, dia menangis terisak.
"Lelaki dewasa akan menikah, wanita dewasa
akan dinikahkan, kalau kalian berdua...."
"Apapun alasannya aku tidak bakal kawin
dengannya!" tukas Sui Leng-kong sambil menghentakkan kakinya.
Kembali Im Kian termenung beberapa saat.
"Jangan lupa," katanya kembali, "saat ini
kau pun terhitung anggota perguruan Tay ki bun, sudah sepantasnya
kau memikirkan masa depan perguruan...."
"Apa urusannya aku tidak kawin dengan masa
depan perguruan?"
"Sekalipun tidak ada urusannya, tapi demi
membangun kejayaan perguruan Tay ki bun, kita butuh bantuan para
Enghiong dari seluruh kolong langit, tokoh silat macam Cu-toako
jelas merupakan bantuan yang luar biasa."
"Jadi maksudmu, aku... aku harus kawin
dengannya demi kepentingan perguruan Tay ki bun, agar dia mau
membantu kita membela perguruan?" seru Sui Leng-kong dengan mata
terbelalak.
"Benar! Jika Kaisar malam mau bergabung
dengan perguruan Tay ki bun, maka situasi akan berubah total, banyak
rahasia yang selama ini tertutup pun akan segera tersingkap."
"Atas dasar apa aku harus berkorban demi
perguruan Tay ki bun?" air mata makin deras bercucuran membasahi
pipi nona itu.
"Karena kau adalah keturunan keluarga Thiat,
karena kau adalah putra-putri perguruan Tay ki bun, inilah kehendak
Thian!"
Sekujur tubuh Sui Leng-kong gemetar keras,
dengan kepala tertunduk dia menangis makin sedih.
Im Kian sendiri pun merasa dadanya berombak,
lewat sesaat kemudian dia baru berkata lagi sambil menghela napas:
"Ketahuilah, gara-gara pertikaian ini, sudah
banyak anggota perguruan yang mengorbankan diri generasi demi
generasi. Selama seratus tahun terakhir, belum pernah ada keturunan
perguruan Tay ki bun yang kabur atau bersembunyi dari kenyataan, kau
sebagai keturunan Tay ki bun, anggap saja hal ini merupakan ketidak
beruntunganmu."
Isak tangis Sui Leng-kong bertambah keras,
nadanya bertambah sedih.
Sepasang mata Im Kian turut berkaca-kaca,
kembali dia menghela napas panjang.
"Apalagi kau adalah kekasih Jite, sudah
seharusnya kau pun memahami maksud hatinya, kau berkewajiban
membantunya agar apa yang dicita-citakan dapat tercapai."
Tapi...tapi...."
"Dengan berbuat begitu, bukan saja kau telah
menyelesaikan tugasmu sebagai keturunan Tay ki bun, kau pun telah
melaksanakan keinginannya, jika kau memang mencintainya, mengapa
ragu untuk berkorban deminya? Lagi pula pengorbananmu tidak
terhitung seberapa bila dibandingkan pengorbanan orang lain, masa
kau tidak bisa membayangkan penderitaan dan siksaan yang dialami
anggota perguruan Tay ki bun lainnya? Sejarah Tay ki bun memang
tertulis di atas genangan darah dan cucuran air mata
putra-putrinya!"
Perkataan itu ibarat pecut yang menghajar
setiap bagian tubuh Sui Leng-kong, bagai tusukan jarum tajam yang
menghujam di lubuk hatinya.
Siapa yang tidak luluh perasaannya setelah
disodori kenyataan semacam ini?
Sui Leng-kong tertunduk sambil menangis,
lama dan lama kemudian ia baru mendongakkan kepala.
"Baiklah!" dia berseru.
Kelihatannya Im Kian tidak menyangka kalau
secepat itu si nona akan menyanggupi permintaannya, dia malah
tertegun.
"Apa?"
"Aku menyanggupi perrnintaanmu!" sekali lagi
Sui Leng-kong tertunduk sedih.
Sebetulnya kejadian ini merupakan satu
peristiwa yang menggembirakan, namun Im Kian justru merasa hatinya
kecut dan pedih.
Sampai lama sekali dia baru dapat berbicara
lagi:
"Nah, begitulah baru anak baik, tidak
menyia-nyiakan pengharapan Jite... terhadapmu, selama hidup dia akan
berterima kasih kepadamu....”
Mendadak terdengar suara langkah kaki
manusia berkumandang dari luar hutan bambu.
Menyusul kemudian terdengar Cu Cau berseru
sambil tertawa tergelak:
"Di tengah malam secerah ini, siapa yang
bisa terlelap tidur? Bagaimana pendapat kalian berdua?"
"Entah tuan rumah sudah tertidur belum?"
terdengar pula Gi Beng berkata sambil tertawa.
Buru-buru Im Kian berdehem, sahutnya cepat:
"Tidak nyana kalian masih begadang,
kebetulan aku pun belum tertidur."
"Hahaha, bagus, bagus sekali," Cu Cau
tertawa tergelak:
"Ternyata tuan rumah berada di sini. Orang
kuno bilang, paling asyik berpesiar di tengah malam dengan membawa
lilin, meski kami tidak membawa lilin, rasanya tidak akan mengurangi
keindahan malam bukan?"
Di tengah gelak tertawa, terlihat Cu Cau
bersama Gi Teng dan Gi Beng melangkah masuk ke dalam hutan.
Setelah memandang sekejap
sekeliling tempat itu, kembali Gi Beng berseru sambil tertawa:
"Ternyata Enci Sui juga berada di sini,
hayo, apa yang sedang kalian bicarakan? Boleh kami ikut
mendengarnya?"
Diam-diam Sui Leng-kong menyeka air matanya,
lalu tertawa paksa.
"Aaah, tidak ada yang dibicarakan!"
buru-buru sahutnya.
Tergerak pikiran Im Kian, cepat selanya:
"Benar, kami berdua sedang membicarakan satu
masalah besar."
"Masalah besar apa?" sepasang mata Gi Beng
terbelalak makin lebar.
"Membicarakan masalah perkawinan adikku
ini," ujar Im Kian sambil melirik Sui Leng-kong sekejap.
Gi Beng dan Gi Teng segera bertepuk tangan
sambil bersorak, serunya sambil tergelak:
"Dalam suasana malam seindah ini, memang
paling cocok digunakan untuk membicarakan soal perkawinan, kalian
berdua tidak seharusnya merahasiakan lagi persoalan ini."
Sementara paras muka Cu Cau kelihatan agak
berubah, setelah berpikir sejenak, ujarnya:
"Kalau begitu kedatangan kami yang ceroboh
telah mengganggu pembicaraan kalian berdua?"
"Justru persoalan ini menyangkut dirimu,"
seru Im Kian tertawa.
Gi Beng segera memandang Sui Leng-kong
sekejap, kemudian memandang pula wajah Cu Cau, akhirnya sambil
mengedipkan matanya berulang kali ia bergumam:
"Jangan-jangan antara dia... dengan dia?"
Tiba-tiba Sui Leng-kong menutup wajahnya,
lalu kabur meninggalkan tempat itu.
Tampaknya Cu Cau sendiri pun tidak tahu
harus merasa kaget atau girang, teriaknya pula:
"Adikku, masa kau menggoda aku?"
Memandang bayangan tubuh Sui Leng-kong yang
menjauh, perasaan kecut dan sedih kembali menyelimuti hati Im Kian,
tapi di luar katanya sambil tertawa:
"Mana berani Siaute menggoda Toako, aku
justru ingin menagih secawan arak kegirangan darimu."
"Bagus, bagus" kembali Gi Beng bertepuk
tangan sambil tertawa:
"Cu-toako memang merupakan pasangan yang
paling ideal buat Enci Sui."
"Boleh tahu, perkawinan ini kapan baru
diselenggarakan?" tanya Gi Teng.
Im Kian berpikir sejenak, sahutnya kemudian:
"Sekalipun belum ditentukan, tapi makin
cepat semakin baik."
"Memang seharusnya begitu, toh kita semua
adalah orang persilatan, buat apa mesti mengurus segala
tetek-bengek, mau hari baik atau tidak, rasanya tidak jadi soal,
lebih baik kita tetapkan saja pada...."
"Bagaimana kalau kita tetapkan tiga hari
kemudian?" usul Gi Teng tiba-tiba.
Im Kian melirik Cu Cau sekejap, katanya
sambil tertawa:
"Soal ini...."
Waktu itu Cu Cau benar-benar tertegun,
saking tertegunnya sampai tak mampu bicara.
Sampai lama kemudian dia baru tertawa
tergelak, katanya:
"Mana mungkin aku menjadi pria yang sok
malu-malu kucing, baik, tiga hari kemudian...."
"Puas, puas, Cu-toako memang seorang lelaki
sejati," puji Gi Beng sambil bertepuk tangan, "memang hanya lelaki
macam kau yang pantas mendampingi nona Sui."
"Kebetulan tempat tinggalku berada tidak
jauh dari sini," kata Gi Teng sambil tertawa, "bagaimana kalau
Siaute segera memerin-tahkan orang untuk mempersiapkan segala
keperluan perkawinan, hahaha, tentu saja ditambah beberapa guci arak
wangi untuk kita tenggak sampai mabuk."
"Kalau begitu... merepotkan kalian berdua
untuk mempersiapkan nya," sahut Im Kian.
"Aaah, merepotkan apa, kami justru tidak
menyangka kalau kedatangan kali ini bakal menghadiri satu pesta
perkawinan akbar, sungguh bagus... bagus sekali...."
Tiga hari kemudian, pondok Cay-seng sudah
dihiasi dengan berbagai pernik perkawinan, suasana dalam ruang utama
pun amat meriah dengan lilin merah yang memancarkan cahaya terang.
Sebentar lagi sepasang pengantin baru akan
menjalani upacara perkawinan.
Tapi siapa yang menduga bahwa di balik
meriahnya suasana perkawinan justru tersimpan sebuah tragedi yang
menyedihkan?
Cu Cau dan "Cu" Leng-kong segera akan
menjadi suami istri, sementara Thiat Tiong-tong dan Kaisar malam
masih berada ribuan li jauhnya dari tempat itu, meski mereka
menempuh perjalanan siang malam, waktu sudah tidak sempat lagi.
Apalagi saat itu mereka berdua memang
mustahil bisa tiba di sana!
Kecuali mereka berdua, siapa lagi yang
mengetahui rahasia di balik semua ini?
Kecuali mereka berdua, siapa pula yang bisa
mencegah terjadinya drama yang amat tragis ini?