pendekar panji sakti 08
BAB 22.
Keunikan dibalik pukulan.
Li Lok-yang duduk
disudut ruangan sambil mengawasi seluruh ruangan, dia saksikan Sui
Lengkong masih bersandar dipelukan perempuan bercadar itu, bukan
saja posisi tubuhnya sama sekali tidak berubah, bahkan sepasang
matanya sama sekali tidak berkedip.
Gerakan tubuh Coh Sam-nio masih seperti
seutas benang perak yang bergerak cepat kesana kemari, biarpun
lelaki raksasa itu tidak sanggup menyusulnya, tapi gerakan tubuhnya
sama sekali tidak mengendor kendatipun sudah ratusan kali dia
mengitari ruangan itu sambil mengayunkan kapak raksasanya, tubuhnya
masih tegar bagaikan baja, seakan-akan dia tidak pernah mengenal
arti dari kelelahan.
Pertarungan antara Hong Lo-su melawan
manusia aneh itu kembali berlangsung empat, lima puluh gebrakan.
Sambil tertawa aneh Hong Lo-su pun berseru:
"Dua puluh jurus, yaa, dua puluh jurus lagi
sudah cukup!"
"Baik, aku akan menghitungnya untukmu" kata
Coh Sam-nio sambil tertawa, "satu, dua...... aaah, jurus siang
hong jiu (sepasang puncak tangan)mu sangat bagus......empat,
ehmm, hampir sudah.....”
Biarpun sedang menghitung, perempuan itu
sama sekali tidak menghentikan gerakan tubuhnya, semakin lambat
gerak serangan dari manusia aneh itu, paras mukanya pun ikut makin
serius.
"Sebelas......dua belas....... aaah, celaka,
dua puluh jurus masih tidak cukup. Hey
Hong Lo-su, bagaimana kalau kubantu dengan satu jurus
serangan!"
Kebetulan waktu itu tubuhnya sedang bergerak
lewat dari sisi manusia aneh itu, tangan kirinya segera dikebaskan,
ke lima ujung jari tangannya yang runcing langsung mengancam tubuh
lawan.
Tampak ibu jari dan jari telunjuknya ditekuk
membentuk satu lingkaran, sementara jari tengah, jari manis dan
kelingkingnya setengah dipentang, mengancam tiga buah jalan darah
penting dibawah iga musuh.
Pada saat yang bersamaan Hong Lo-su dengan
kelima jari tangannya yang mirip cakar burung mencengkeram ke arah
dada lawan.
Manusia aneh itu sadar, seandainya dia
sampai dicengkeram ke lima jari tangan itu, niscaya dadanya akan
berlubang tembus sampai ke tulang, apalagi jika terkena sambaran
tiga jari tangan Coh Sam nio, dapat dipastikan dia akan terluka
parah.
Disaat yang kritis itulah tiba-tiba terlihat
dia menarik tubuhnya ke belakang, tidak jelas bagaimana caranya,
tahu-tahu jubah lebarnya itulah dilepas dari tubuh dan dikebaskan ke
muka bagaikan selapis awan mendung yang menyelimuti angkasa.
Biarpun pun hanya sebuah baju blacu, namun
ditangannya benda itu sudah berubah menjadi sebuah senjata yang
dipenuhi tenaga dalam.
Hong Lo-su tidak berani bertindak gegabah,
segera membentak:
“Jurus bagus!"
Sambil membalikkan tubuh, dia menyingkir ke
samping.
"Ternyata hebat juga!” seru Coh Sam-nio pula
sambil tertawa, sambil memutar pinggang kembali pergelangan
tangannya digetarkan, jari tengah, jari manis dan kelingkingnya
ditarik balik sementara ibu jarinya mendadak berganti arah dan cepat
menyentil keluar.
Sekalipun jari tangannya tidak pernah
menyentuh tubuh manusia aneh itu,
tapi......"Wessss!" ternyata muncul segulung hawa murni dari ujung
jarinya langsung mengancam jalan darah thay yang hiat di atas kening
lawan.
Manusia aneh itu bergetar keras, bahunya
terasa dingin, rupanya angin serangan itu menimbulkan sebuah mulut
luka yang memanjang, darah segar bercucuran dari luka itu.
"Haaaah.... Sian thian ceng khie!" pekiknya
terperanjat.
"Benar sekali, rupanya kau mengerti juga
kwalitas barang!" jengek Coh Sam-nio sambil tertawa, waktu itu tubuh
lawannya lagi-lagi sudah ngeloyor pergi.
Mendadak terasa segulung angin kencang
bagaikan bukit thay-san menindih kepala langsung menghantam kepala
manusia aneh itu, rupanya si lelaki raksasa itu telah menghadang
jalan lewatnya sambil menghadiahkan sebuah bacokan.
Merasa betapa dahsyatnya bacokan tersebut,
manusia aneh itu tidak berani menyambut keras melawan keras, cepat
dia mengegos ke samping.
"Hey, jangan lupa masih ada aku!" mendadak
terdengar suara tertawa menyeramkan berkumandang dari belakang,
ternyata Hong Lo-su telah menyusup tiba sambil melepaskan satu
pukulan.
Dalam posisi demikian, seandainya dia ingin
menghindari serangan tersebut maka tubuhnya akan terjerumus dalam
bacokan maut kapak raksasa itu, posisi yang demikian gawat seketika
membuat hati semua orang tercekat.
Manusia aneh itu tidak jadi kalut menghadapi
kejadian tersebut, tanpa menimbulkan sedikit suara pun dia lepaskan
sebuah tendangan ke depan sementara jubah ditangannya langsung
menggulung ke atas senjata kapak lawan.
Dengan kelembutan jubah itu dia hadapi sifat
keras senjata kapak lawan, ternyata lilitannya berhasil mengunci
gerakan senjata itu.
Dengan geram lelaki raksasa itu berusaha
membetot balik senjatanya, namun gagal.
Jubah itu sudah terbetot hingga lurus
menegang, tiba-tiba tampak sekilas cahaya perak berkelebat lewat,
jubah itu seketika terbelah jadi dua, baik lelaki raksasa itu maupun
si manusia aneh sama-sama terhuyung mundur satu langkah.
Hong Lo-su yang baru saja lolos dari
tendangan maut manusia aneh itu segera melihat datangnya peluang
bagus, begitu menjumpai tubuh lawan terhuyung mundur, sambil
menyeringai seram dia membentak:
"Inilah jurus ke sembilan belas!" Sepasang
kepalannya di ayunkan berbareng kedepan.
Tatkala melihat manusia aneh itu lagi-lagi
terancam pukulan maut, diantara kawanan jago yang hadir ada yang
bersorak girang, ada yang menjerit kaget, ada pula yang segera
pejamkan matanya, tidak tega untuk menyaksikan lebih jauh.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara
pekikan keras bergema bagaikan suara guntur:
"Hong Lo-su, kau berani!"
Seorang pemuda berbaju hitam telah
munculdari balik tirai hitam, siapa lagi orang ini kalau bukan Thiat
Tiong-tong?
Biarpun Hong Lo-su tidak takut langit tidak
takut bumi, tidak urung wajahnya berubah juga, kepalan
tangannya yang hampir menyentuh tubuh manusia aneh itu segera
ditarik balik lagi.
Jeritan kaget kembali bergema diseluruh
ruangan, ada yang berteriak girang, ada pula yang mengeluh kecewa,
yang sedang berdiri seketika terduduk saking kagetnya sementara yang
sedang duduk bersentak berdiri saking terperanjatnya.
"Kau belum mati.........” jerit mereka
hampir berbareng.
"Aaah, kau belum mati!" teriak Sui Leng-kong
pula kegirangan.
Tapi saking kegirangannya, belum sempat nona
itu berdiri tegak, lagi-lagi tubuhnya roboh lemas, ternyata dia
kembali jatuh pingsan.
Diantara sekian jago yang hadir disitu,
hanya Coh Sam-nio seorang yang tidak berani menghentikan gerakan
tubuhnya, sebab si lelaki raksasa dengan kapak mautnya masih
mengejar ketat di belakangnya.
Si kapak sakti ini hanya tahu melaksanakan
perintah Hong Lo-su, kecuali titah darinya, perkataan siapa pun
tidak akan dia gubris.
Thiat Tiong-tong berjalan menuju ke tengah
ruangan dengan langkah lebar, sikapnya amat santai seolah tidak
pernah terjadi sesuatu, bukan saja tidak nampak bekas terluka
malahan sinar wajahnya kelihatan jauh lebih cerah dan bercahaya.
"Hey anak muda, bukankah kau sudah terhajar
pukulan maut dari Kapak sakti? Kenapa masih bisa muncul dengan
langkah lebar?" teriak Hong Lo-su sambil mengucak matanya, "boleh
tahu apa alasannya?"
Kemudian sambil memberi tanda, hardiknya:
"Hey raksasa, hentikan ulahmu!"
Kapak sakti segera menyahut dan
menghentikan langkahnya.
Thiat Tiong-tong tidak menanggapi pertanyaan
itu, sebaliknya dia balik menegur:
"Paman Sim adalah seorang enghiong hohan,
Kenapa kau buat dia seperti patung, apa yang terjadi?
Cepatjelaskan!"
"Kurangajar amat kau si bocah busuk" Hong Lo
su tertawa seram, "Hong toaya sedang bertanya kepadamu, semestinya
jawab dulu dengan sopan, kini malah berani badik bertanya!"
"Hmmm, jika hari ini kau mau mengaku terus
terang apa yang telah kau lakukan terhadap paman Sim kemudian
memulihkan kembali kesadarannya, mungkin urusan akan kusudahi sampai
disini, jika tidak, hmmm! Hmmm!"
Mendengar ucapan anak muda itu, Coh Sam-nio
segera berteriak sambil bertepuk tangan:
"Hahahaha..... banyak amat
kejadian aneh ditahun ini, ternyata ada juga anak muda yang
berani bicara macam begitu terhadap Hong Lo-su, hebat, hebat
sekali!"
"Kalau tidak kenapa?" terdengar Hong Lo-su
meraung gusar.
"Kalau tidak, akan kuberi pertunjukkan
menarik untukmu!" ancam Thiat Tiong-tong, lalu sambil berpaling ke
arah Coh Sam-nio tambahnya, "hey kau, jika nona Sui tidak segera kau
kembalikan kepadaku, hmmm! Tunggu saja bagianmu!"
Diam-diam para jago mengusap keringat
dingin, luapan pemuda itu sama artinya sudah bosan hidup, bahkan
manusia aneh itu pun diam-diam ikut mengguatirkan keselamatannya,
dia bersiap turun tangan menolong.
Siapa tahu Hong Lo-su maupun Coh Sam-nio
hanya saling bertukar pandangan sekejap, bukan saja tidak gusar,
gejala naik darah pun tidak kelihatan.
Rupanya kedua orang ini adalah manusia
manusia licik yang banyak pengalaman, mereka sudah keheranan ketika
tahu Thiat Tiong-tong tidak mampus, kecurigaannya makin tebal
setelah melihat kepongahan yang ditunjukkan pemuda itu, mereka tahu
pemuda itu berani bersikap garang karena punya backing yang kuat,
sedang backingnya justru merupakan orang yang paling mereka takuti.
Tanpa terasa sorot mata mereka berulang kali
melirik ke balik tirai hitam, ketika tidak menjumpai sesuatu
gerak-gerik yang mencurigakan, kedua orang itu makin tercengang
dibuatnya.
Akhirnya Coh Sam-nio tidak dapat menahan
diri, segera menegur:
"Bocah busuk ini kelewat tidak tahu adat,
Hong Lo-su, lebih baik berilah sedikit pelajaran kepadanya!"
"Hahahaha.......” Hong Lo-su tertawa
tergelak, "selama ada Sam-nio disini, mana berani siaute bertindak
lancang"
Dengan suara lantang kembali Thiat
Tiong-tong berseru:
"Pertanyaan yang kuajukan kepada kalian
berdua lebih baik segera dijawab dan dilaksanakan, kalau tidak,
jangan salahkan aku tidak sungkan lagi!"
Alis matanya mulai berkerenyit menunjukkan
muka gusar, tampangnya kelihatan angker menakutkan.
Li Kiam-pek merasa kagum bercampur terkesan
menyaksikan hal itu, kalau bisa diapun ingin turut menunjukkan
kebolehannya.
Sementara Hek Seng-thian sekalian meski
licik dan banyak akal, namun sejak berulang kali dipermainkan pemuda
itu, mereka sudah membencinya hingga merasuk tulang, melihat
lagaknya sekarang, mereka masih mengira pemuda itu sedang membuat
tipu muslihat.
Diam-diam Suto Siau menarik tangan Hek
Seng-ihian sambil bisiknya:
"Kelihatannya Hong locianpwee belum tahu
seluk beluk pemuda bangsat itu hingga kena gertak, padahal kita tahu
dengan jelas sampai dimana kemampuan kungfu bajingan itu"
"Betul" Hek Seng-thian mengiakan, "sudah
berulang kali bajingan itu menipu kita, kali ini kita tidak boleh
sampai tertipu lagi. Saudara Suto, kau yang akan maju duluan atau
aku?"
Belum sempat Suto Siau menjawab, terdengar
Neng Toa-nio telah berseru duluan:
"Hong locianpwee, jika kau tidak sudi
bertarung melawan monyet itu, biar aku saja yang memberi pelajaran
kepadanya, agar dia tahu apa artinya menghormati angkatan tua!"
Ternyata sejak tadi dia sudah merasa
mendongkol bercampur gusar terhadap Thiat Tiong-tong.
Melihat ada yang mau menggantikan posisi
mereka, tentu saja Hong Lo-su serta Coh Sam-nio jadi kegirangan
setengah mati, serentak mereka menyahut:
"Bagus sekali!"
Sambil menghentakkan toyanya Seng Toa-nio
melompat maju ke depan, Seng Cun-hau yang membuntuti dari
belakangnya buru-buru berseru:
"Ibu, biarlah ananda saja yang maju!"
Kuatir ibunya menghadapi mara bahaya, cepat
dia mendahului ibunya.
Siapa tahu Seng Toa-nio memang ibarat jahe,
makin tua makin pedas, teriaknya:
"Tidak, kali ini kau jangan ikut campur!"
Lagi-lagi dia menerobos maju mendahului
putranya, dengan toya disilangkan di depan dada tantangnya:
"Ayoh maju!"
Seng Cun-hau panik bercampur cemas, sambil
menengok ke arah Thiat Tiong-tong pintanya: "Thiat-heng......."
Biarpun dia tidak melanjutkan kata-katanya,
namun kerdipan matanya sudah mengartikan kalau dia minta Thiat
Tiong-tong mengampuni ibunya.
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas
panjang, diapun mengangguk.
"Ayoh maju, apa lagi yang kau tunggu?"
terdengar Coh Sam-nio berteriak keras.
"Tidak usah menunggu!" jawab Seng Toa-nio
sambil mengayunkan toyanya melancarkan satu sapuan.
Jangan dilihat dia sudah tua, ternyata
tenaganya sama sekali tidak tua, ketika toyanya menyapu keluar,
lamat-lamat terdengar suara gemuruh angin dan guntur yang kencang.
Secara beruntun Thiat Tiong-tong mengalah
sebanyak tiga jurus, sambil menghela napas pikirnya:
"Memandang wajah anakmu, biarlah hari ini
kuampuni nyawa mu satu kali!"
Secara sembarangan diapun balas melancarkan
berapa buah pukulan.
Bila dibandingkan dulu, tenaga dalam yang
dimilikinya sekarang sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari semula,
biarpun berapa buah pukulan itu dilancarkan sekenanya namun terasa
kalau kekuatan pukulannya jauh diatas kemampuannya dulu.
"Bangsat, rupanya kepandaianmu maju pesat!"
bentak Seng Toa-nio keras.
Dia tidak tahu kalau tenaga dalam Thiat
Tiong-long sudah mencapai tingkatan yang menakutkan, maka dia sama
sekali tidak jeri, kembali toyanya dihantamkan keatas kepala lawan.
Tiba-tiba Thiat Tiong-tong membalik
tangannya sambil mencengkeram, belum sempat semua orang melihat
jurus apa yang dia gunakan, tahu-tahu ujung toya Seng Toa-nio telah
ditangkapnya kuat-kuat.
Hanya manusia aneh itu yang tahu, jurus itu
tidak lain adalah jurus silat yang tertera diatas dinding.
Dalam waktu singkat Seng Toa-nio merasakan
segulung tenaga yang sangat kuat merembes masuk melalui toyanya,
sadar kalau dia tidak akan mampu melawan kekuatan tersebut dengan
perasaan kaget dia siap melepaskan senjata andalannya.
Siapa tahu pada saat yang bersamaan Thiat
Tiong-tong mengendorkan juga tangannya, hanya saja sisa kekuatan
yang berada dalam toya itu belum hilang sama sekali, Seng Toa-nio
merasakan pergelangan tangannya sakit sekali, tidak ampun senjata
toya itu segera terlepas dan jatuh ke tanah.
"Kenapa Seng Toa-nio?" ejek Thiat Tiong-tong
sambil tersenyum, "tiba-tiba kejang otot?"
Biarpun Seng Toa-nio makin tua rasa ingin
menangnya makin menjadi, namun dia cukup pandai membaca situasi,
sadar kalau kemampuan-nya mustahil bisa menghadapi lawan, cepat dia
manfaatkan kesempatan itu untuk mengundurkan diri.
Sengaja gumamnya berulang kali:
"Aaai, sudah tua, sudah tua..... sudah tidak
berguna lagi......."
Kemudian sambil memungut kembali toyanya
kembali dia berkata:
"Bagaimana? Mau diteruskan lagi pertarungan
nya?"
Satu pertanyaan yang mencerminkan keraguan
hatinya, menunjuk kan ketidak yakinan dirinya, andaikata dia
benar-benar mau bertarung terus, buat apa mesti mengajukan
pertanyaan semacam itu?
Buru-buru Seng Cun-hau maju melerai sambil
membujuk:
"Ibu, lebih baik kau beristirahat dulu!"
Tentu saja dia tahu apa yang telah terjadi,
tanpa terasa dia melirik sekejap ke arah Thiat Tiong-tong dengan
senyum terima kasih.
Thiat Tiong-tong membalas dengan senyuman
pula, biar tidak berkata-kata namun senyuman itu sudah menunjukkan
perasaan kagum masing-masing orang kepada lawannya.
Suto Siau sekalian walaupun termasuk orang
licik dan banyak akal, agaknya mereka belum tahu kalau Seng Toa-nio
sudah menderita kerugian, sebab sampai matipun mereka tidak mengira
kalau tenaga dalam yang dimiliki Thiat Tiong-tong sudah mencapai
puncak kesempurnaan.
"Biar aku orang she-Hek beri pelajaran yang
setimpal kepada bangsat ini" teriak Hek Seng-thian lantang.
Waktu itu Hong Lo-su maupun Coh Sam-nio
sedang merasa sangsi, sebab mereka belum bisa melihat ampuh tidaknya
kepandaian silat yang dimiliki Thiat Tiong-tong, mendengar ucapan
tersebut segera serunya dengan girang:
"Bagus, cepat kasih pelajaran kepadanya!"
"Thiat Tiong-tong" seru Hek Seng-thian
kemudian, "kendatipun kau licik dan banyak akal, kali ini akan
kuhadapi dirimu dengan bersungguh hati, akan kulihat permainan busuk
apa lagi yang bisa kau lakukan!"
Thiat Tiong-tong segera merasakan
semangatnya bangkit kembali, pikirnya:
"Bila arwah leluhur perguruan mengetahui,
saksikanlah muridmu akan membantai musuh besar pertama perguruan
kita ini!"
Sambil berpikir dia maju selangkah,
bentaknya dengan suara berat:
"Kalau pingin menghantar kematianmu, ayohlah
cepat turun tangan!"
Tampak Hek Seng-thian mulai melangkah maju
kedepan, biarpun wajahnya masih memperlihatkan perasaan bangga
namun langkahnya berat dan sangat berhati-hati.
Satu ingatan segera melintas dalam benak
Thiat Tiang tong, sambil mengendalikan hawa amarah yang membara di
dadanya, dia berpikir:
"Aaah keliru besar, saat ini suhu maupun
susiok tidak hadir disini, bila aku langsung membunuhnya, tentu
kelewat enak buat bajingan ini, ke dua tidak akan melampiaskan rasa
benci dan dendam suhu serta susiok terhadapnya, lagipula aku tidak
boleh ‘menggebuk rumput mengejutkan ular', jadi merangsang Suto Siau
sekalian untuk merancang siasat busuk lain"
Melihat perubahan wajah anak muda itu, Hek
Seng thian sangka lawannya takut kepadanya, semangat dan
keberaniannya kontan meningkat, sambil tertawa terbahak katanya:
"Kalau aku mengalah tiga jurus, belum tentu
kau bersedia menerimanya, lihat serangan!"
Jurus serangannya sungguh amat cepat, begitu
dilancarkan, dalam waktu singkat dia telah melepaskan dua jurus
serangan berantai.
Hmm, biar aku saja yang mengalah tiga jurus
untukmu” jengek Thiat Tiong-tong dingin.
Betul saja, dia sama sekali tidak membalas,
secara beruntun pemuda itu menghindarkan diri dari ke tiga jurus
serangan lawan.
Sebagaimana diketahui dia telah berlatih
tekun mempelajari jurus serangan yang tertera diatas dinding
ruangan, selama tujuh hari, kemajuan dan manfaat yang diraihnya
boleh dibilang luar biasa, jurus yang tertera diatas dinding itu
kebanyakan berupa jurus bertahan dan jurus menghindar, itulah
sebabnya tidak sulit bagi Thiat Tiong-tong untuk menghindari ke tiga
jurus serangan lawan.
Padahal serangan dari Hek Seng-thian amat
cepat dan ganas, sayangnya jangan lagi melukai lawan, menyentuh
ujung bajunya pun tidak mampu.
Bagi Hong Lo-su sekalian yang berilmu
tinggi, gerakan itu masih tidak seberapa. Berbeda dengan Suto Siau
sekalian, diam-diam mereka terkesiap dibuatnya, terlebih bagi Li
Kiam-pek, tidak tahan dia berseru memuji.
Cukup banyak pengalaman Hek Seng-thian dalam
menghadapi pelbagai pertarungan, meski saat ini dia merasa
terperanjat namun tidak membuatnya panik, cepat telapak tangannya
dibalik kemudian serangkaian serangan dahsyat kembali dilontarkan.
Thiat Tiong-tong memang berniat menggunakan
lawannya itu sebagai pasangan berlatih, khususnya mempraktekkan ilmu
silat yang berhasil dipelajari dari dinding ruangan, semua gerakan
mengunci, membendung, menghindar, melejit nyaris dikeluarkan semua,
selama pertarungan berlangsung boleh dibilang dia hanya bertahan
sambil menghindar, tidak setengah jurus serangan pun yang
dilancarkan.
Sebagaimana diketahui, jurus silat itu
khusus dirancang untuk menghadapi barisan tujuh dewi yang tangguh,
dengan sendirinya sangat berlebihan ketika menghadapi Hek
Seng-thian.
Puluhan gebrakan kemudian tampak serangan
yang dilancarkan Hek Seng-thian makin lama makin bertambah cepat,
peluh pun mulai bercucuran membasahi jidatnya, kelihatan sekali
kalau dia mulai gugup bercampur panik menghadapi gerakan labuh lawan
yang aneh.
Tiba-tiba terdengar Suto Siau berseru keras:
"Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu selalu turun
tangan bersama, sekalipun menghadapi musuh dalam jumlah yang lebih
banyak pun tidak pernah mengubah kebiasaan. Hari ini tidak
seharusnya Hek tayhiap maju seorang diri, bukan begitu Pekji-te?"
Walaupun perkataan itu ditujukan kepada Pek
Seng bu, namun karena suaranya lantang, boleh dihilang hampir semua
yang hadir ikut mendengarnya, jelas dia bermaksud mengambil
kesempatan bagi Pek Seng-bu untuk turun tangan.
Tidak menunggu sampai ucapan itu selesai
diutarakan, Pek Seng-bu sudah melompat maju sambil berseru:
"Tepat sekali perkataan itu"
Dengan sekali lompatan dia sudah terjun ke
arena pertarungan dan melepaskan pukulan maut.
Kembali Suto Siau berkata sambil tertawa:
"Sayang ditempat dan saat seperti ini sulit
bagi bocah keparat itu mencari bantuan, padahal semakin banyak yang
terlibat pertarungan, kehebatan kungfu dua bintang putih dan hitam
baru nampak kehebatannya!"
Dia tahu, dengan posisi manusia aneh itu
mustahil baginya untuk melibatkan diri dalam pertarungan ini, Li
Lok-yang sebagai jagoan yang sangat
hati-hati tidak mungkin akan terlibat pula di dalam air keruh, oleh
sebab itu perkataan tersebut tampaknya sengaja tertuju pada Li
Kiam-pek seorang.
Benar saja, kelihatannya Li Kiam-pek memang
ada niat untuk melibatkan diri dalam pertarungan itu, namun setelah
mengamati berapa saat, kembali dia mengurungkan niatnya.
Tampak olehnya meski dikerubuti dua jagoan
tangguh, namun Thiat Tiong-tong masih dapat bertahan dengan
santainya, bukan saja tidak melancarkan serangan balasan, bahkan dia
seolah sedang mempermainkan ke dua orang lawannya itu.
Kenyataan ini bukan saja membuat Li Kiam-pek
keheranan, kawanan jago lain pun mulai tercengang dibuatnya.
Sebagaimana diketahui, kerja sama antara Hek
Seng-thian dengan Pek Seng-bu boleh dibilang sangat hebat dan
serasi, bukan saja jurus serangan mereka saling mengisi bahkan
manusia macam Liong bun ngo pa (lima manusia bengis dari
pintu naga) yang begitu hebatpun keok ditangan mereka, apa yang
dikatakan Suto Siau memang bukan bualan saja.
Tapi kenyataannya sekarang, Thiat
Tiong-tong, seorang pemuda tidak ternama, bukan saja mampu
menghadapi serangan mereka berdua bahkan sama sekali tidak
melacarkan serangan balasan, sampai setua ini belum pernah Suto Siau
sekalian menyaksikan ketangguhan ilmu silat semacam ini, tidak heran
bila mereka mulai terperangah dan melongo dibuatnya.
Diam-diam Suto Siau berpikir:
"Jarang ada jagoan yang peroleh kemajuan
pesat dalam waktu sedemikian singkat, bila hari ini tidak berusaha
melenyapkannya, berapa lama kemudian kami semua pasti akan dibikin
kerepotan!"
Berpikir begitu, tiba-tiba teriaknya keras:
"Lima rejeki (ngo-hok) selalu bersekutu dan
mati hidup bersama, aku Suto Siau tidak bisa membiarkan dua
saudaraku bertarung sendirian...”
Meskipun perkataan itu seolah sedang
bergumam seorang diri, dalam kenyataan memang sengaja ditujukan
kepada semua orang.
Kontan Li Kiam-pek mengumpat dengan gusar:
"Oooh... sampai disitukah kehebatan Ngo hok
beng (persekutuan lima rejeki), rupanya kalian tidak lebih hanya
kelompok yang mencari kemenangan dengan andalkan jumlah banyak"
Suto Siau berlagak seolah tidak mendengar,
sambil melompat maju teriaknya keras:
"Hek toako, Pek jiko, beristiralaht dulu
kalian berdua, biar siaute yang kasih pelajaran kepada bangsat ini!"
Dia tahu Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu
tidak bakalan mundur dari arena pertarungan, maka sambil berteriak
dia pun melepaskan berapa jurus serangan ke arah Thiat Tiong-tong.
Betul saja, baik Hek Seng-thian maupun Pek
Seng-bu tidak ada yang berniat mundur, sebaliknya jurus serangan
yang dilancarkan malah jauh lebih gencar dan ganas.
"Huuh, jagoan macam apaan itu!" teriak Li
Kiam-pek gusar.
Sambil menggulung bajunya dia siap terjun
kearena, tapi segera dicegah oleh Li Lok-yang sambil berbisik:
"Kita saksikan dulu kebolehannya, andaikata
tidak sanggup, belum terlambat untuk menolongnya"
Menanti Li Kiam-pek menengok kembali ke
arena, terlihat olehnya meski sudah ketambahan satu orang ternyata
situasi pertarungan sama sekali tidak berubah.
Kalau semula Thiat Tiong-tong harus
berjongkok sambil berkelit ke sana kemari sebelum lolos dari ancaman
lawan, mana sekarang langkah kakinya bertambah kacau, dia
seakan-akan sempoyongan kesana-kemari, gerakannya makin lemas tidak
bertenaga, macam orang yang mengidap penyakit parah, tapi anehnya
betapapun dahsyat dan hebatnya serangan lawan, asal dia menggerakkan
tubuhnya, semua ancaman hilang lenyap seketika.
Terkadang pihak lawan tiga orang dengan enam
kepalan melancarkan serangan berbareng, pukulan dari enam buah
tangan yang tampaknya segera akan mengenai sasaran dan mustahil
dihindari lagi itu, hanya dengan satu geseran kaki saja, semua
ancaman terhindar dengan begitu saja.
Dengan mata terbelalak saking kagetnya gumam
Li Kiam-pek:
"Ilmu pukulan apaan ini?"
"Itulah Ping wi mo ciang (ilmu
pukulan penyakitan)!"
"Apa.....apa yang disebut Ping wi mo
ciang?"
"Salah satu ilmu pukulan yang tertera diatas
dinding"
Li Kiam-pek terbelalak tidak habis mengerti,
sementara Coh Sam-nio, Hong Lo-su maupun perempuan bercadar sekalian
tanpa terasa berpaling dan mengawasi sekejap gerakan jurus yang
tertera diatas dinding.
Tapi beberapa orang itu hanya memperhatikan
berapa kejap kemudian bersama-sama berpaling lagi ke arah lain.
Sambil tertawa dingin manusia aneh itu
segera mengejek:
"Aku tahu kalian adalah jago-jago ternama
yang tinggi statusnya, sekalipun mukanya cukup tebal pun
tidak bakalan mencuri belajar ilmu pukulanku itu, kalau bukan
begitu, masa akan kukatakan secara terbuka!"
"Kau memang sangat cerdik" ucap Coh Sam-nio
sambil tertawa.
"Betul" Hong Lo-su menimpali, "aku toh tidak
ingin menderita sakit, buat apa mesti mempelajari ilmu penyakitan!"
"Hahahaha.... kau ngerti apa" seru manusia
aneh itu sambil tertawa tergelak, "padahal ilmu penyakitan ini
diambil dari........."
Mendadak dia tersentak kaget, sadar kalau
ucapan Hong Lo-su bermaksud menjebaknya agar menerangkan lebih
banyak tentang ilmu pukulan itu, seketika dia membungkam diri.
Tidak wajar bagi seseorang dengan ilmu silat
dan status seperti Hong Lo-su untuk mengucapkan perkataan yang tidak
berbobot macam begitu.
Kali ini Hong Lo-su yang tertawa tergelak.
"Hahahaha...... rupanya kau
cerdik sekali!" pujinya.
Ternyata ilmu pukulan penyakitan ini
mengambil makna dari perkataan yang berbunyi 'bidadari langit
menyebar bunga, tiada sentuhan yang meninggalkan noda’, artinya
gerakan dari jurus serangan itu mirip hujan bunga yang datang dari
langit, tapi jangan harap ada sekuntum kelopak bunga pun yang bisa
menyentuhnya.
Ilmu penyakitan merupakan ilmu tandingan
dari barisan bidadari, kelebihan dari ilmu pukulan itu adalah
mengandalkan jumlah yang sedikit untuk mengendalikan yang banyak,
dengan ketenangan mengatasi gerakan, biarpun harus menghadapi
kerubutan musuh seorang diri, ketangguhannya justru semakin
berkembang.
Thiat Tiong-tong telah mempelajarinya secara
tekun selama tujuh hari, boleh dibilang seluruh inti sari dari ilmu
pukulan itu sudah diingatnya tanpa disadari, yang tersisa sekarang
hanya membiasakan diri dalam perubahan setiap gerakan.
Andaikata sejak awal Hek Seng-thian, Pek
Seng-bu dan Suto Siau turun tangan berbareng, Thiat Tiong-tong yang
belum terlalu hapal menggunakan jurus serangan itu niscaya akan
menderita kekalahan total.
Tapi pada awal pertarungan justru hanya Hek
Seng-thian seorang yang turun tangan, hal ini sama artinya memberi
pasangan berlatih bagi Thiat Tiong-tong untuk membiasakan diri
dengan gerak serangan barunya.
Menanti Thiat Tiong-tong sudah mulai
terbiasa dengan jurus barunya, lagi lagi muncul Pek Seng-bu yang
menjadi sasaran latihannya.
Menanti Suto Siau terjun ke arena
pertempuran, bukan saja Thiat Tiong-tong sudah mampu menahan
serangan ke tiga orang itu, bahkan diapun telah berhasil memahami
banyak inti perubahan dari jurus serangan barunya dan menggunakan
rahasia ilmu penyakitan itu dengan sebaik-baiknya.
Maka gerakan tubuhnya dari berkelit kian
kemari pun berubah menjadi berdiri tenang, sekalipun begitu, semua
serangan lawan tidak satu pun yang mampu menyentuhnya.
Setelah menyaksikan berapa saat, terdengar
Hong Lo-su berkata sambil tertawa dingin:
"Benar, ilmu pukulan ini memang agak aneh,
tapi aku rasa hanya bocah bodoh yang cocok mempelajari ilmu pukulan
semacam ini"
Bertarung melawan orang hanya mengandalkan
pertahanan tanpa menyerang, bagaimana mungkin bisa meraih
kemenangan? Tampaknya itulah yang dimaksud Hong Lo-su.
Manusia aneh itu segera tertawa, sahutnya:
"Sabar dulu, tunggu saja saat pertunjukan!"
Belum selesai dia berseru, terdengar Suto
Siau kembali berteriak:
"Seng Toa-nio, keponakan Seng, memangnya
kedatangan kalian berdua hari ini hanya untuk menonton keramaian?"
Baru saja Seng Cun-hau hendak menampik
dengan berdalih 'mencari kemenangan dengan andalkan jumlah banyak
bukan watakku', siapa tahu Seng Toa-nio telah melompat maju duluan.
Rupanya sejak menderita kerugian tadi, Seng
Toa-nio selalu merasa jengkel bercampur gusar, ketika mendengar
teriakan tadi diapun berpikir:
"Dengan empat melawan satu, masa tidak mampu
menjagal bocah busuk itu!"
Maka sambil mengayunkan toyanya, dia
langsung menghantam batok kepala Thiat Tiong-tong.
Menanti Seng Cun-hau berusaha mencegah,
keadaan sudah terlambat.
Terdengar Suto Siau kembali berseru sambil
tertawa:
"Seng Toa-nio, kau khusus menyerang dari
jarak jauh sementara kami akan menyerang dari jarak dekat, kita
kepung dia dari kiri, kanan, atas, bawah, jauh dan dekat, saksikan
saja nanti mau kabur ke mana lagi bocah keparat ini!"
Ke empat orang itu segera merasakan
semangatnya bangkit kembali, bentaknya hampir berbareng:
"Mau kabur kemana kau!"
Perlu diketahui, ke empat orang itu
merupakan tokoh tokoh kenamaan didalam dunia persilatan, tindakan
main keroyoknya sudah terhitung perbuatan yang sangat
memalukan, andaikata kerubutan itu gagal merobohkan Thiat
Tiong-tong, jelas kejadian itu akan semakin menghancurkan reputasi
mereka semua.
itulah sebabnya ke empat orang ini bertekad
untuk membinasakan Thiat Tiong-tong secepatnya untuk selamatkan
reputasi sendiri, tidak heran kalau serangan yang dilancarkan pun
terhitung jurus jurus ganas dan telengas yang sangat mematikan.
Dengan satu langkah sempoyongan tubuh Thiat
Tiong-tong seolah jatuh terjerembab ke tanah, tapi begitu pukulan
dan sambaran toya lawan menyambar lewat dari tubuhnya, mendadak dia
sapu tubuh Hek Seng-thian dengan tangan kirinya, menyusul kemudian
mengunci jurus serangan dari Pek Seng-bu, sementara telapak kanannya
menahan toya Seng Toa-nio dengan satu dorongan ke atas, satu
dorongan lemah yang seolah-olah tanpa disertai tenaga.
Namun begitu terkena dorongan lemah itu,
toya Seng Toa-nio langsung berganti sasaran dan menghantam ke arah
Suto Siau serta Hek Seng-thian.
Tenaga serangan dari toya itu pada dasarnya
sudah sangat kuat, ketika ditambah dengan tenaga dorongan dari Thiat
Tiong-tong kali ini, kekuatannya jadi sangat mengerikan.
Suto Siau dan Hek Seng-thian tahu kehebatan
serangan itu, mereka tidak berani menerima dengan kekerasan,
tergopoh-gopoh ke dua orang itu melompat mundur hampir tujuh meter
jauhnya.
"Hei, apa apaan kau ini!” umpat Hek
Seng-thian gusar.
Merah padam selembar wajah Seng Toa-nio,
untuk sesaat dia tidak mampu berkata-kata.
Suto Siau sadar, serangan itu bukan timbul
atas kemauan Seng Toa-nio pribadi, cepat tukasnya:
"Sudah, jangan banyak bicara, ayoh kita
serang lagi"
Kini mereka bertiga semakin membenci Thiat
Tiong-tong, dengan garang kawanan jago itu kembali meluruk maju
melakukan pengerubutan.
Sambil tertawa tergelak manusia aneh itu
berseru:
"Hahahaha...... sudah tahu bukan sekarang,
inilah kehebatan dari taktik dengan sedikit mengungguli banyak,
dengan bertahan mematahkan serangan. Siapa bilang ilmu pukulan ini
tidak bisa meraih kemenangan?”
Tampaknya diapun sudah meniru cara Suto
Siau, walaupun perkataan tersebut seolah sedang mengejek Hong Lo-su,
padahal dia sedang memberi petunjuk kepada Thiat Tiong-tong.
Pada dasarnya pemuda itu memang cerdas dan
punya daya tangkap yang mengagumkan, begitu mendengar ucapan
tersebut, dia segera memahami maksudnya.
Saat itu Pek Seng-bu dengan jurus Tok coa
sin hiat (ular beracun mencari liang) sedang menyerang tiba,
Thiat Tiong-tong segera membalik tangan kirinya sambil melepaskan
serangan balasan, ketika tenaga dalamnya disalurkan, gerak serangan
dari Pek Seng-bu tanpa disadari berbelok sasaran dan secara
kebetulan menghadang ancaman toya dari Seng Toa-nio.
Dengan perasaan kaget kedua orang itu cepat
buyarkan serangannya, kebetulan tangan kiri Thiat Tiong-tong sudah
menempel diujung toya Seng Toa-nio, begitu dihisap sambil mendorong,
toya maut dari Seng Toa-nio itu langsung menyapu ke tubuh Suto Siau.
Pada saat yang bersamaan tangan kanan Thiat
Tiong-tong berhasil juga menggiring pukulan dari Hek Seng-thian
untuk menghantam tubuh Suto Siau.
Ketika Suto Siau melihat ayunan toya Seng
Toa-nio serta pukulan Hek Seng-thian ternyata ditujukan ke tubuhnya,
dalam kaget dan ngerinya tanpa berpikir panjang lagi dengan jurus
Ya be hun cong (kuda liar merentangkan bulu) dia balas
menggempur ke dua orang rekannya.
"Blaaamm!" diiringi benturan keras Suto Siau
telah saling beradu pukulan dengan Hek Seng-thian hingga
masing-masing mundur berapa langkah, Seng Toa-nio sendiri mesti
tergopoh-gopoh menarik kembali serangannya, tidak urung ujung
senjata itu menyapu juga diatas bahu Suto Siau.
Sapuan itu cukup dahsyat, akibatnya Suto
Siau menjerit kesakitan, tubuhnya roboh terjungkal, peluh dingin
membasahi seluruh tubuhnya, rasa sakit yang luar biasa terasa hingga
merasuk ke tulang sumsum.
Para jago tidak menyangka kalau jurus
serangan yang dimiliki Thiat Tiong-tong ternyata begitu hebat, tanpa
melakukan serangan nyatanya dia sanggup memaksa ke empat orang
lawannya saling membunuh bahkan satu diantaranya roboh terluka,
kenyataan ini bukan saja membuat semua orang terkesiap bahkan cukup
menggelikan.
Li Kiam-pek tidak sanggup menahan diri lagi,
sambil bertepuk tangan tertawa terbahak-bahak teriaknya:
"Hei, kalau toh merasa rikuh lantaran empat
orang mengerubuti satu orang, tidak perlu kalian saling
gontok-gontokan sendiri!”
Sambil mengggigit bibir menahan sakit, Suto
Siau segera melompat bangun, serunya:
"Aku tidak apa-apa, jangan kita dikerjai
bajingan ini"
Dengan wajah hijau membesi kembali ke empat
orang itu maju melancarkan serangannya.
Tapi saat itu Thiat Tiong-tong telah
berhasil menguasahi inti sari dari ilmu pukulan tersebut, bukan saja
dia semakin percaya diri, semangat pun semakin berkobar, dia cukup
menggunakan tehnik membendung, menangkis dan menggiring, ke empat
musuhnya telah berhasil dipancing untuk saling menyerang dan saling
gontok gontokan sendiri.
Melihat itu manusia aneh tersebut tertawa
terbahak-bahak, teriaknya:
"Hahahaha..... betul, betul sekali,
begitulah intinya, kalau tadi kau sudah mampu berlatih hingga taraf
ini, tanpa melepas pakaian pun barisan tujuh bidadari pasti dapat
kau jebol”
Sekarang Thiat Tiong-tong baru tahu,
ternyata beginilah caranya untuk menjebol pertahanan ilmu barisan
tujuh bidadari, membayangkan kembali bagaimana dia harus melepaskan
pakaian yang di kenakan, tidak tahan merah padam selembar wajahnya.
"Terima kasih cianpwee atas petunjukmu!"
serunya tanpa terasa.
"Kau tidak perlu berterima kasih kepadaku,
terima kasih saja pada dirimu sendiri!" tukas manusia aneh itu.
Tanya jawab yang berlangsung antara kedua
orang ini hanya dipahami oleh mereka berdua, para jago lainnya hanya
berdiri kebingungan tidak habis mengerti.
Dalam pada itu jurus serangan yang digunakan
Suto Siau berempat kian lama kian bertambah lemah, oleh karena semua
serangan yang mereka gunakan dalam kenyataan sebagian besar tertuju
pada orang sendiri, maka siapa pun tidak berani lagi menggunakan
jurus mematikan.
Tiba-tiba Seng Toa-nio menghentakkan kakinya
sambil membuang senjata toyanya ke lantai, teriaknya:
"Hei bocah busuk, ternyata kau punya ilmu
hitam!"
Kemudian tanpa membuang waktu dia
membalikkan tubuh dan beranjak pergi dengan langkah lebar.
Kini dalam arena tinggal Hek Seng-thian
serta Suto Siau berdua, sedang Suto Siau sudah terluka bahunya,
kendatipun serangan masih dilancarkan namun hati kecil mereka
benar-benar sudah dibuat tergidik dan pecah nyalinya.
Mendadak terdengar Hong Lo-su menjengek:
"Cara begini juga dianggap berkelahi? Huuuh,
sungguh memalukan!"
Begitu perkataan terakhir diucapkan,
tubuhnya yang kurus kering bagaikan bambu itu sudah meluncur ke
depan, tidak jelas bagaimana cara-nya, terdengar dua kali jeritan
ngeri bergema, tahu tahu tubuh Suto Siau dan Hek Seng-thian sudah
terlempar keluar.
Masih untung lemparan itu menggunakan tenaga
yang sangat diperhitungkan, Suto Siau maupun Hek Seng-thian berhasil
hinggap ditanah tanpa cedera, kedua orang jagoan itu hanya bisa
saling bertukar pandangan, siapa pun tidak bisa mengutarakan
bagaimana perasaan hatinya sekarang.
Dengan sorot mata tajam Hong Lo-su
memperhatikan Thiat Tiong-tong berapa kejap, katanya kemudian:
"Heehehe...... ternyata dalam dunia
persilatan telah muncul seorang jagoan muda, kenapa aku Hong Lo-su
bisa tidak tahu? Sungguh memalukan!"
"Anda terlalu memuji!" sahut Thiat
Tiong-tong singkat.
"Hmm, kalau berita ini sampai tersiar
keluar, aku bisa malu dibuatnya" ujar Hong Lo-su lebih jauh dengan
nada dingin, "tampaknya hari ini aku mesti membunuhmu, agar dalam
dunia persilatan tidak pernah ada manusia macam kau!"
Berbicara sampai disini diapun mendongakkan
kepalanya dengan perasaan bangga dan tertawa terbahak-bahak.
"Kalau memang mau begitu, silahkan turun
tangan!" tantang Thiat Tiong-tong sambil tersenyum.
Diam-diam Hong Lo-su terkejut juga melihat
kemampuan pemuda itu mengendalikan diri, dia tidak menyangka
ejekannya sama sekali tidak memancing kemarahan lawan.
Setelah mengamati kembali berapa kejap,
pujinya:
"Luar biasa........luar biasa!"
"Hei apanya yang luar biasa?" ejek Coh
Sam-nio.
"Coba lihat tampangnya, tidak salah jadi
pentolan Khong tong pay, selewat berapa tahun lagi, bukankah dia
akan muncul sebagai Kaisar malam ke dua? Aaai, kita mesti
menjagalnya hari ini"
"Kau berani? Kau tidak malu?" kembali Coh
Sam nio mengejek sambil tertawa.
Hong Lo-su tertawa terkekeh.
"Kau sangka aku tidak tahu kalau dirimu
lebih berhasrat menjagalnya ketimbang aku? Bocah busukk, kalau
sampai si peluru angin sambaran petir pun ingin menggorok lehermu,
lebih baik bunuh diri saja”
"Kalau memang begitu, apa salahnya kalau
kalian berdua maju bersama!” kata Thiat Tiong-tong.
"Huuuh, kalau hanya mengandalkan sedikit
kemampuanmu itu mah baru cukup menghadapi berapa gelintir boanpwee
yang tidak becus.... kalau ingin menghadapi kami berdua.......hmmm,
hmmm, percumalah!"
"Sudah, tidak usah banyak bicara lagi, kalau
ingin bertarung, cepat turun tangan!" tukas Thiat Tiong-tong cepat.
Kendatipun hatinya kebat kebit juga, perasaan itu sama sekali tidak
ditampilkan keluar.
"Celaka" pikir Hong Lo-su setelah melihat
ketenangan lawannya, "kalau dilihat gayanya yang sangat tenang,
jangan-jangan dia masih memiliki kepandaian simpanan?"
Tiba-tiba dia tertawa tergelak, serunya:
"Bocah busuk, kalau Hong Lo-su mesti
bertarung sendiri denganmu, itu mah namanya yang tua menganiaya
yang muda.....begini saja, muridku, coba kau mewakili aku untuk
memberi sedikit pelajaran kepada cecunguk ini”
Rupanya orang ini termasuk orang yang
menganiaya kaum lemah tapi takut menghadapi yang kuat, dia tidak
pernah mau bertarung jika sama sekali tidak yakin menang.
"Betul" seru Coh Sam-nio kembali mengejek,
"kalau muridnya keok nanti, gurunya baru maju"
Siucay muda itu benar-benar ganas, begitu
diperintahkan untuk menyerang, dia langsung menerjang ke muka sambil
melepaskan pukulan, dalam waktu singkat dia telah melancarkan tujuh
buah pukulan berantai.
"Hahahaha.... kalau gurunya lambat seperti
orang penyakitan, muridnya justru cepat macam orang kebelet" teriak
Coh Sam-nio sambil tertawa, "hahaha..... tidak kusangka bocah muda
itu pun ingin jadi pemimpin"
Biarpun serangan yang dilancarkan pemuda
siucay itu cepat, gerakan tubuh Thiat Tiong-tong jauh lebih cepat,
begitu pergelangan tangannya digetarkan, dia sudah berganti tiga
jurus serangan, dua tangkisan ditambah satu tendangan.
"Sebuah gerakan yang hebat" puji semua jago
tanpa terasa.
Pertarungan pun berlangsung makin lama
semakin bertambah cepat, begitu cepatnya hingga membuat pandangan
mata semua orang jadi kabur.
Hong Lo-su melirik Coh Sam-nio sekejap,
katanya kemudian sambil tertawa seram:
"Hei, kita tidak usah berbincang soal lain,
coba lihat, lewat berapa tahun kemudian, julukanmu sebagai si
sambaran petir harus kau serahkan kepada orang itu"
Coh Sam-nio segera menarik wajahnya,
senyuman yang semula menghiasi bibirnya hilang lenyap seketika.
Hong Lo-su yang berulang kali diejek
perempuan itu tanpa bisa menjawab, sekarang menjadi sangat bangga
setelah melihat lawannya dibuat membungkam diri, sekali lagi dia
tertawa terbahak bahak.
Cepat Hong Lo-su mengalihkan perhatiannya ke
tengah arena, begitu mengetahui keadaan yang sesungguhnya, seketika
gelak tertawanya jadi melemah.
Sebagaimana diketahui, ilmu pukulan
penyakitan yang diyakini Thiat Tiong-tong merupakan ilmu yang khusus
diciptakan untuk menjebol ilmu barisan tujuh bidadari, sekarang
pemuda itu berhasil menguasahi seluruh inti sari dan rahasia ilmu
pukulan itu, secara otomatis diapun sangat memahami gerakan jurus
yang digunakan ke tujuh bidadari didalam barisannya.
Sekarang jurus serangan yang digunakan sudah
bukan jurus pertahanan lagi, dia mulai melancarkan serangan balasan
dengan gaya melepaskan baju lawan, kendatipun dia tidak benar-benar
melucuti pakaian musuh, namun sasaran dan gerakan yang digunakan
justru amat pas dan disertai perubahan yang diluar dugaan.
Biarpun biasanya jurus serangan itu
digunakan oleh tujuh orang sekaligus, tapi Thiat Tiong-tong justru
berhasil menggabungkannya menjadi satu, malah kecepatannya berapa
kali lipat diatas kecepatan kawanan gadis itu.
Kini gerak serangannya ibarat serangan yang
dilakukan beberapa orang secara bersama-sama, biarpun ada serangan
yang lebih awal dan lebih belakangan, namun ketika mendekati sasaran
justru seolah serangan yang datang secara serentak.
Siucay muda itu sendiri meski berasal dari
perguruan kenamaan, mimpipun dia tidak mengira kalau dikolong langit
terdapat gerakan jurus sedemikian anehnya, terpaksa dia harus
mengandalkan ilmu meringankan tubuh untuk berkelit kian kemari..
Hingga detik itu, walaupun serangan yang
dilancarkan Thiat Tiong-tong amat cepat, dalam hal ilmu meringankan
tubuh dia masih belum mampu melampaui musuhnya, padahal sebelum ini
ilmu meringankan tubuh merupakan kepandaian andalannya.
Setelah memperoleh kemajuan yang pesat dalam
tenaga dalam serta ilmu silatnya, ilmu meringankan tubuh malah
sebaliknya menjadi bagian yang terlemah, itulah sebabnya walaupun
berhasil merebut posisi diatas angin, untuk sesaat lamanya belum
berhasil mengendalikan lawan.
Kembali manusia aneh itu berkata dengan
lambat:
"Bertahan tanpa menyerang, kelembekan
menimbulkan kerugian, menyerang tanpa bertahan, keberangasan
menimbulkan kerugian. Mau menyerang atau bertahan, diam dan gerak
harus saling mengisi, kemenangan tentu bisa diraih"
Satu ingatan segera melintas dalam benak
Thiat Tiong-tong, tangan kanannya dari dalam berputar setengah busur
ke arah luar, lima jarinya dipentangkan lebar, sementara tangan
kirinya bagaikan ranting bunga yang lembut menggiring serangan lawan
bergerak ke arah luar kemdian memunahkannya.
Tiba-tiba siucay muda itu merasakan tenaga
dalamnya hilang lenyap tidak berbekas disusul datangnya ancaman
serangan dari lawan, dalam terperanjatnya buru-buru dia merangkap
sepasang kepalannya sambil dihentak keluar.
Jurus serangan ini dari posisi menyerang
berubah jadi posisi bertahan, kekuatannya luar biasa dan sangat
tepat sasaran. Hong Lo-su kontan bertepuk tangan dan berseru sambil
tertawa:
"Hahahaha.... muridku, bagus sekali jurus
Jian kun it kie (gempuran alam semesta) mu itu!"
Belum selesai dia tertawa, tampak tangan
kanan Thiat Tiong-tong menyusut sambil menggiring, tahu-tahu tenaga
musuh yang amat dahsyat itu berhasil digiring ke samping, ketika
tangan kirinya berputar dari kanan ke arah kiri, sepasang iga lawan
mulah berada dalam ancaman maut.
Dua serangan yang digabung jadi satu ini
lagi lagi merupakan penggabungan jurus serangan ilmu penyakitan
serta barisan tujuh bidadari, satu ancaman yang sangat berbahaya.
Terhuyung-huyung siucay muda itu mundur
berapa langkah, peluh dingin bercucuran membasahi wajahnya,
sementara paras muka Hong Lo-su ikut berubah hebat.
Terdengar manusia aneh itu tertawa terbahak
bahak, teriaknya:
"Ooh, ternyata murid peluru angin cuma
begitu kemampuannya!"
Paras muka siucay muda itu dari pucat
berubah jadi menghijau, dari hijau berubah jadi merah, tiba-tiba dia
membentak nyaring, kepalan-nya disodok ke depan diikuti serudukan
tubuhnya, rasa malu bercampur marah membuat pemuda siucay itu jadi
nekad dan berniat adu jiwa
Kembali satu ingatan melintas lewat dalam
benak Thiat Tiong-tong, dia tidak menghindar, tidak berkelit ataupun
menangkis, sambil melangkah maju dia sambut datangnya serangan lawan
dengan ke dua telapak tangannya.
Ternyata saking asyiknya bertarung, dia
sudah lupa untuk menyembunyikan kehebatannya, kini dia berhasrat
untuk menjajal tenaga dalamnya.
Melihat tindakan pemuda itu, paras muka para
jago berubah hebat, manusia aneh itu pun menjerit kaget:
"Celaka!"
Dia tahu tenaga dalam yang dimiliki Thiat
Tiong-tong tidak terhitung tangguh, bagaimana mungkin dia sanggup
menghadapi murid andalan dari perguruan peluru angin?
Sadar kalau sudah tidak mungkin lagi
mencegah terjadinya bentrokan itu, manusia aneh itu hanya bisa
menghentakkan kakinya dengan gegetun, diam-diam dia mengomel, Thiat
Tiong-tong betul- betul tidak tahu diri, bukannya menggunakan
kelebihan yang dimiliki untuk mengarahkan lawan, sebaliknya malah
mengambil resiko besar.....
Siapa tahu belum selesai ingatan tersebut
melintas........
"Blaaaam!" terjadi benturan keras yang
mnnekikkan telinga menyusul jerit kesakitan seseorang, sesosok
bayangan manusia mencelat ke tengah udara mengikuti semburan darah
segar yang ber ceceran kemana-mana.
Ternyata Thiat Tiong-tong masih berdiri
tegak dengan sorot mata bersinar tajam, kenyataan ini bukan saja
diluar dugaan manusia aneh itu, para jago yang hadir di arena pun
sama-sama terkesiap dibuatnya.
Diam-dam manusia aneh itu berpikir:
"Jurus serangannya mengalami kemajuan pesat
lantaran dia telah mempelajari rahasia jurus diatas dinding ruangan,
tapi......kenapa tenaga dalamnya pun mengalami kemajuan sepesat ini?
Apa yang telah terjadi?"
Alasan tersebut bukan saja tidak dipahami
olehnya, bahkan terpikir pun tidak.
Dalam pada itu siucay muda tadi sudah
terkapar tidak sadarkan diri, darah segar membasahi seluruh
tubuhnya.
Hong Lo-su tahu kalau muridnya terluka
parah, tapi dia melirik sekejap pun tidak.
"Tidak kau tengok keadaan dari murid
kesayanganmu itu?" ejek Coh Sam-nio sambil tertawa.
Hong Lo-su mendengus dingin.
"Hmmm, ilmu tenaga dalam perguruan kami
hebat dan luar biasa, tapi dia enggan mempelajarinya, yang diajari
justru ilmu sebangsa beradu nyawa, manusia macam begini memang
pantas untuk mampus, buat apa ditengok lagi!"
"Kejam amat guru semacam ini" pikir Thiat
Tiong-tong, "hanya manusia sebangsa Sim Sin-pek yang cocok menjadi
muridnya!"
Ketika menengok ke sekeliling tempat itu,
dia baru sadar ternyata Sim Sin-pek sudah tidak nampak lagi batang
hidungnya.
Padahal belum lama berselang dia masih
menjumpai orang itu, kenapa tahu-tahu dia sudah lenyap tidak
berbekas?
Diam-diam dia terperanjat, sebab dia sadar
walaupun kungfu yang dimiliki Sim Sin-pek tidak terhitung tinggi,
namun kelicikan dan kebusukan hatinya betul-betul menakutkan.
Pada saat itulah mendadak terdengar manusia
aneh itu membentak keras:
"Celaka!"
Menyusul kemudian terasa segulung angin
pukulan lunak yang berhawa dingin menyergap tiba tanpa menimbulkan
sedikit suara pun.
Thiat Tiong-tong terkesiap, sadar kalau ia
sedang dibohongi Hong Lo-su, dalam kagetnya cepat dia mundur
beberapa langkah, kemudian tanpa menggubris keadaan disekelilingnya
lagi dia duduk bersila ditanah.
Terdengar manusia aneh itu berteriak gusar:
"Sungguh memalukan, kau sebagai seorang
ketua perguruan besar, ternyata perbuatanmu lebih busuk dari seorang
kurcaci, kau tidak malu dengan perlakukan busukmu itu?"
Terdengar Hong Lo-su tertawa seram.
"Hehehehe.....aku Hong Lo-su tidak lebih
hanya ingin menjajal kemampuannya, kalau sudah berani muncul dalam
dunia persilatan, mata mesti awas dan telinga mesti perhatikan empat
arah delapan penjuru, siapa suruh dia begitu tidak becus?"
Menyusul perkataan itu terasa angin pukulan
menderu-deru, tampaknya kedua orang itu sudah terlibat dalam
pertarungan yang amat seru.
Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur
gusur, dia pun merasa sangat menyesal dan malu, tapi saat ini
tubuhnya seolah terjerumus ke dalam liang salju yang amat dingin,
bukan saja sekujur tubuhnya gemetar keras, bahkan saking kedinginan
nya sepasang gigi saling beradu tiada hentinya.
"Sungguh lihay ilmu pukulan Kiu yu im hong
miliknya......" demikian ia berpikir.
Dalam keadaan begini, anak muda itu tidak
berani berpikir yang lain lagi, kini dia hanya berharap bisa
secepatnya memaksa keluar pengaruh hawa dingin dari tubuhnya, cepat
dia bersemedi mengatur pernapasan.
Dia mengatakan tidak berani berpikir, tapi
mana mungkin anak muda itu bisa tidak berpikir? Mula-mula dia
teringat bagaimana sang hujin sedang menantinya didalam sampan, lalu
teringat bagaimana dia sudah terluka sementara situasi di arena
pertempuran sudah nampak jelas hasilnya, di mana manusia aneh itu
kemungkinan besar terancam jiwanya, kemudian teringat pula bagaimana
Suto Siau sekalian yang sedang menanti kesempatan untuk membalas
dendam, dalam posisi begini, mana mungkin dia bisa bersemedi dengan
tenang?
Tiba-tiba terdengar Coh Sam-nio berkata
sambil tertawa:
"Kungfu yang dimliki Hong Lo-su memang tidak
hebat, dia bisanya cuma main bokong, dengan kungfu macam begini mana
mungkin kau bisa menandingi sang pangeran? Kelihatannya aku mesti
membantu dia"
Sekalipun umpatannya tertuju kepada manusia
aneh itu, jurus serangannya justru diarahkan ke tubuh manusia aneh.
"Hahahaha......" Hong Lo-su tertawa
terbahak, "makian yang bagus, makian yang bagus........"
Ke dua orang tokoh ampuh ini segera bekerja
sama melancarkan serangan secara bertubi-tubi, mereka berniat
menghabisi dulu manusia aneh itu sebelum tokoh lihay yang ada
didalam gua itu munculkan diri.
Dengan satu melawan dua, belasan gebrakan
kemudian manusia aneh itu sudah terjerumus ke dalam posisi yang amat
berbahaya.
Dalam pada itu Sui Leng-kong berada dalam
keadaan tidak sadarkan diri, rupanya perempuan bercadar itu kuatir
si nona kelewat terpukul batinnya maka dia totok jalan darah
tidurnya agar gadis itu dapat berisitrahat dengan tenang.
Si siucay muda itu masih tergeletak tidak
sadarkan diri, sedang lelaki raksasa bertelanjang kaki berdiri kaku
dengan mata melotot.
Suto Siau dan Hek Seng-thian saling bertukar
pandangan sekejap, tanpa mengucapkan sepatah kata pun kedua orang
itu mulai menggeserkan tubuhnya bergerak menghampiri Thiat
Tiong-tong yang masih duduk bersemedi.
Ketika mendengar ada suara langkah kaki
menghampirinya, Thiat Tiong-tong segera tahu kalau Suto Siau
sekalian sedang berniat membokongnya, waktu itu dia sama sekali
tidak bertenaga untuk melakukan perlawanan, maka sambil menghela
napas pikirnya:
"Aaai, sudahlah!"
Disaat yang kritis itulah mendadak terdengar
seorang perempuan bercadar menghardik keras:
"Hey, apa yang hendak kalian berdua
lakukan?"
"Aaah, tidak melakukan apa-apa!" sahut Suto
Siau cepat sambil tertawa.
"Kalau tidak melakukan apa-apa, lebih baik
diam diri ditempat, jangan bergerak sembarangan!"
Dalam hati Suto Siau mengumpat
habis-habisan, dia tahu bila kesempatan baik ini terbuang percuma
maka jangan harap mereka punya peluang lagi untuk membuat
perhitungan dengan Thiat Tiong-tong.
Sekalipun begitu, mereka tidak berani
bertindak gegabah, sebab mereka tahu kepandaian silat yang dimiliki
perempuan bercadar itu masih jauh diatas kemampuan mereka, oleh
sebab itu meski dalam hati mereka memendam rasa benci dan dendam
namun senyuman paksa tetap ditampilkan diatas wajah.
Baru saja Thiat Tiong-tong menghembuskan
napas lega, tiba-tiba dari sisi telinganya terdengar seseorang
berbisik:
"Cepat atur pernapasanmu!"
Menyusul kemudian terasa ada sebuah telapak
tangan menempel diatas punggungnya.
Rupanya sewaktu mengundurkan diri tadi,
secara kebetulan dia mundur ke tengah kerumunan perempuan bercadar
itu, telapak tangan yang membantunya sekarang tidak lain berasal
dari perempuan bercadar itu.
Dalam waktu singkat dia merasa ada segulung
hawa panas mengalir masuk melalui punggungnya kemudian membaur
dengan tenaga dalamnya dan berputar mengitari tubuh.
Perlu diketahui, tenaga dalam yang
dimilikinya termasuk aliran hawa Yang, itulah sebabnya ketika sang
Hujin mengalirkan tenaga dalamnya, dengan cepat hawa murni itu
terserap ke dalam tubuhnya.
Dengan tenaga dalam yang dimilikinya waktu
itu, sesungguhnya sudah lebih dari cukup baginya untuk mengusir hawa
dingin yang menyusup ke dalam tubuhnya, apalagi dengan dibantunya
tenaga dalam oleh perempuan bercadar itu, dalam waktu singkat asap
putih telah mengepul keluar dari ubun-ubunnya.
Suto Siau sekalian yang menyaksikan kejadian
itu merasa terkejut bercampur gusar, mereka tahu sesaat kemudian
hawa dingin beracun akan tersapu bersih dari tubuh anak muda itu,
yang membuat mereka gemas adalah kenapa perempuan bercadar itu
membantunya?
Tidak selang berapa saat kemudian Thiat
Tiong-tong telah dua kali menjalankan hawa murninya mengelilingi
seluruh tubuh, kini paras mukanya telah berubah jadi merah segar,
tapi rasa tercengang melintas dalam benaknya:
"Aneh, kenapa perempuan bercadar itu
membantuku?"
Tapi sebelum dia mengajukan pertanyaan,
terdengar seseorang kembali berbisik:
"Kau tidak usah terkejut maupun keheranan,
kaupun tidak perlu banyak bertanya, asal kau menyusul ke pulau Siang
cun to, segala sesuatunya akan jelas dengan sendirinya"
Dengan sekali lompatan Thiat Tiong-tong
bangkit berdiri, dia ingin bertanya lagi, tapi kawanan perempuan
bercadar itu telah duduk mematung, karena wajahnya bercadar, tidak
jelas bagaimana mimik muka mereka saat itu.
"Pulau Siang-cun-to......... pulau
Siang-cun-to........."
Secara lamat-lamat Thiat Tiong-tong merasa
seolah pernah mendengar nama pulau itu, namun lupa mendengar dari
siapa dan ditempat mana, melihat sikap kawanan perempuan bercadar
itu, dia tidak berani banyak bertanya lagi.
Ketika menengok kembali ke arena
pertarungan, dia jumpai manusia aneh itu sudah basah kuyup
bermandikan keringat, posisinya amat berbahaya dan jiwanya dalam
keadaan kritis.
Melihat itu Thiat Tiong-tong segera
membentak gusar:
"Hong Lo-su, buktikan kalau kau mampu
melukai aku!"
Tidak terlukiskan rasa kaget Hong Lo-su
melihat kemunculan anak muda itu, belum sempat berpikir lebih jauh,
Thiat Tiong-tong sudah melesat maju ke depan, tangan kirinya
membabat ke samping sementara tangan kanannya menusuk lurus kemuka,
dalam waktu sekejap dia sudah melepaskan dua jurus serangan kilat.
Manusia aneh itu seketika merasakan
semangatnya bangkit kembali, tapi saat ini tenaga dalamnya telah
menderita kerugian besar, walaupun Hong Lo-su berhasil disingkirkan
oleh serangan maut Thiat Tiong-tong, namun dia tetap kewalahan
menghadapi gempuran Coh Sam-nio.
Bagaikan sambaran petir tubuh Coh Sam-nio
gentayangan disekeliling tubuhnya, sebentar ke sana sebentar kemari,
bagaikan sukma gentayangan saja perempuan itu menempel ketat disisi
tubuh manusia aneh itu.
Tiba-tiba dia berseru sambil tertawa:
"Hong Lo-su, si raksasa mu sudah mampus?"
Saat itu Hong Lo-su masih dicekam perasaan
kaget bercampur ragu, dia tidak menyangka secepat itu Thiat
Tiong-tong dapat memulihkan kembali kekuatannya, karena sangsi
diapun tidak berani menyerang pemuda itu secara sembarangan.
Ketika mendengar teriakan
Coh Sam-nio, dengan perasaan girang segera hardiknya:
"Kapak sakti, ada dimana kau? Cepat bantu
aku membantai bajingan ini!"
Lelaki raksasa itu mengiakan dan langsung
maju menyerbu sambil mengayunkan kapak raksasanya.
Kembali Hong Lo-su berseru sambil tertawa
seram:
"Untuk menghadapi manusia macam kau, tidak
perlu aku mengerubuti kalian berdua!"
Cepat tubuhnya melejit ke samping, lagi-lagi
dia membantu Coh Sam-nio menyerang manusia aneh itu.
Bagaikan banteng terluka lelaki raksasa itu
menerjang maju ke depan, kapak raksasanya diayunkan kesan kemari
melancarkan serangan ke tubuh Thiat Tiong-tong secara bertubi tubi.
Thiat Tiong-tong cemas bercampur kaget,
dengan nada gemetar serunya:
"Paman Sim....... paman Sim......
kau......kau........."
Kendatipun dia memiliki kemampuan yang luar
biasa dengan jurus serangan yang mematikan pun mustahil bagi pemuda
ini untuk menghadapi paman Sim nya, padahal serangan kapak maut dari
manusia raksasa itu boleh dibilang semuanya merupakan jurus
mematikan, asal Thiat Tiong-tong terbentur sedikit saja, niscaya
tubuhnya akan hancur lebur dan nyawanya melayang.
Dalam pertarungan ini jelas posisi Thiat
Tiong-tong sangat dirugikan.
Sambil bertepuk tangan dan tertawa tergelak
Suto Siau mengejek:
"Horee.......bagus, bagus sekali, keponakan
dan paman saling gontok-gontokan sendiri, sungguh sebuah
pertunjukkan yang menarik!"
Semakin Thiat Tiong-tong merasa panik
bercampur cemas, jurus serangannya makin bertambah kacau,
dipihak lain keadaan manusia aneh itu lebih mengenaskan lagi, dalam
sepuluh gebrakan yang berlangsung dia tidak mampu melepaskan sebuah
jurus serangan balasan pun.
Jago pedang berhati merah Seng Cun-hau tidak
tega menyaksikan keadaan itu, cepat dia buang muka ke arah lain,
sementara Li Lok-yang ayah beranak meski pingin turun tangan
membantu, apa mau dikata kungfu mereka kelewat cetek, punya kemauan
tidak punya kekuatan, tentu saja mereka tidak berani bertindak
sembarangan.
Dalam keadaan seperti inilah tiba-tiba dari
balik tirai hitam berkumandang suara tertawa yang manis lagi lembut,
kemudian terdengar seseorang berkata:
"Sebelum aku turun tangan, siapa yang berani
turun tangan secara sembarangan!"
Biarpun suaranya lembut, halus dan sedap
didengar namun reaksinya justru melebihi suara guntur yang
menggelegar disiang hari bolong, membuat hati semua orang tercekat.
Dengan cepat Hong Lo-su dan Coh Sam-nio
berjumpalitan di udara sambil mundur sejauh berapa kaki, dengan
suara keras Hong Lo-su segera menghardik:
"Kapak sakti, ada dimana kau? Cepat hentikan
seranganmu!"
Waktu itu lelaki raksasa tersebut sedang
mengayunkan kapaknya setengah jalan, begitu mendengar bentakan,
seketika itu juga dia menghentikan bacokannya, coba lengannya tidak
memiliki tenaga luar biasa, mustahil dia mampu melakukan hal itu.
Dalam waktu singkat perhatian semua orang
tertuju ke satu arah, belasan pasang mata bersama-sama
memandang ke balik tirai hitam itu, tidak seorangpun berani berisik
atau bersuara.
Hanya Thiat Tiong-tong seorang yang
diam-diam menghela napas, dia tahu tenaga dalam yang dimiliki hujin
itu sudah nyaris punah, apa yang bisa dilakukan perempuan itu paling
hanya menggertak dari balik tirai dan mustahil berani menampilkan
diri.
Siapa tahu tirai hitam itu mendadak
disingkap orang, dari balik ruangan muncullah tubuh seseorang.
Dia mengenakan jubah panjang hingga ke
lantai, rambutnya disanggul tinggi, matanya bening bagai kaca,
pinggangnya ramping bagai ranting pohon liu, wajahnya cantik jelita
bak bidadari yang turun dari kahyangan, selain cantik, perempuan itu
anggun dan penuh wibawa, membuat siapa pun tidak berani menatap
wajahnya kelewat lama.
Diiringi jeritan tertahan serentak semua
jago bangkit berdiri, manusia aneh itu segera menjatuhkan diri
berlutut, sementara kawanan perempuan bercadar yang selama ini hanya
duduk pun serentak bangkit berdiri.
Terlebih Thiat Tiong-tong, dia nyaris tidak
percaya dengan apayang dilihatnya.
Yang membuat semua orang terkejut adalah
wajahnya yang sama sekali tidak nampak tua atau keriputan kendatipun
nyonya ini sudah puluhan tahun hidup mengasingkan diri, andaikata
tenaga dalamnya tidak mencapai puncak kesempurnaan, darimana mungkin
dia bisa tampil awet muda?
Sebaliknya yang membuat Thiat Tiong-tong
kaget adalah penampilan nyonya ini, jelas penampilannya sewaktu
bersua tadi bukan begini, kenapa secara tiba-tiba wajahnya berubah
awet muda dan cantik?
Semakin dipikir dia semakin tidak habis
mengerti, akhirnya setelah memandang lagi berapa kejap, dia tidak
berani memandang lebih jauh, buru-buru anak muda ini jatuhkan diri
berlutut.
"Coh Sam-nio" dengan suara lembut Hujin itu
menegur, "lama tidak bersua, apakah kau masih berada dalam keadaan
baik?"
"Berkat berkah dari hujin!" sahut Coh
Sam-nio sambil tundukan kepalanya rendah-rendah.
Kalau diwaktu biasa dia pandai bicara, maka
sekarang, untuk menyampaikan berapa patah kata pun dibutuhkan tenaga
ekstra.
"Bagaimana dengan Hong Lo-su?" kembali Hujin
itu menegur.
"Berkat......berkat........" sebetulnya Hong
Lo-su ingin meniru jawaban dari Coh Sam-nio, namun kata berikut
ternyata tidak sanggup dia ucapkan.
"Siapa yang barusan bertarung? Rasanya bukan
kalian berdua bukan?" kata hujin itu tertawa.
"Ooh bu....bukan...." buru-buru Hong Lo-su
menyahut.
"Aku percaya para dewi dibawah pimpinan Jit
ho (Ratu matahari) tidak akan berani bertindak sembrono!"
"Ucapan hujin tepat sekali" jawab perempuan
bercadar itu cepat.
Meskipun jawaban itu disampaikan dengan nada
datar dan tenang, namun gerak-gerik mereka mulai menunjukkan sikap
tidak tenang.
Sambil menarik wajahnya kembali sang hujin
berpaling ke arah Suto Siau sekalian, tegurnya ketus:
"Berarti kalian?"
"Bu......bukan......." jawab Suto Siau
gelagapan, saking gugup dan takutnya dia tidak sanggup bicara lebih
jauh karena sepasang giginya terlanjur saling beradu.
"Kalau memang tidak ada yang berkelahi,
berarti aku sudah salah mendengar" ujar nyonya itu lembut.
Semua orang menundukkan kepalanya tanpa
bersuara, tidak ada yang berani mengatakan "hujin tidak salah
dengar", apalagi mengatakan" hujin telah salah dengar".
Setelah tertawa hambar, nyonya itu berkata
lagi:
"Hong Lo-su, Coh Sam-nio, sudah banyak tahun
tidak bersua, rasanya kalian telah berhasil mempelajari berapa jurus
baru, apakah hari ini ingin mempamerkan kelebihan kalian itu?"
"Hong Lo-su yang ingin kemari, siaumoay
tidak tahu masalahnya!" buru-buru Coh Sam-nio menghindar.
Hong Lo-su jadi terperanjat, teriaknya
panik:
"Kau.......kau........."
Dalam kaget dan gusarnya meski dia ingin
menyangkal, namun saking paniknya bukan saja tidak mampu
berkata-kata bahkan seluruh otot hijaunya pada menonjol keluar.
Kembali nyonya itu menghela napas panjang,
katanya lebih jauh:
"Setelah datang kemari, tentunya kalian
enggan pulang dengan tangan hampa bukan? Tapi akupun percaya kalian
tidak ingin bertarung melawanku, bagaimana baiknya sekarang?"
Semua orang membungkam, tidak seorangpun
berani bersuara.
Setelah termenung berapa saat kembali nyonya
itu berkata:
"Begini saja, biar kusuruh Thiat Tiong-tong
yang baru hari ini kuterima sebagai muridku untuk
melayani kalian barang satu dua jurus, bagaimana?"
Setelah berhenti sejenak, tambahnya lagi
sambil tertawa:
"Tentu saja dia masih bukan tandingan kalian
karena baru hari ini kuajarkan ilmu silat kepadanya, harap kalian
jangan melukainya"
Ketika semua orang mendengar Thiat
Tiong-tong yang baru sehari belajar silat darinya ternyata sudah
memiliki kepandaian sehebat itu, diam-diam merasa terkejut bercampur
ngeri.
"Tiong-tong!" terdengar nyonya itu berseru,
"ayoh bangun. Layani kedua orang cianpwee ini barang satu dua jurus"
Thiat Tiong-tong menyahut dan segera bangkit
berdiri, kini dia merasakan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan tenaga
segar, apalagi mendengar nyonya yang cantik bagai bidadari itu
memanggilnya sebagai murid, rasa gembiranya tidak terlukiskan
dengan perkataan.
Hong Lo-su segera berpikir:
"Kalau muridnya saja sudah begini ampuh
apalagi gurunya, sekalipun aku mampu mengalahkan muridnya, kalau
sampai gurunya maju sendiri, bukankah bakal habis riwayatku"
Setelah melirik Coh Sam-nio sekejap,
mendadak dia mendekap perut sendiri sambil berteriak keras:
"Aduh celaka, perutku sakit..... aku
mau.......mau.........."
Sembari berteriak dia segera kabur sipat
kuping meninggalkan tempat itu.
"Dasar manusia tidak becus!" diam-diam Coh
Sam nio mengumpat.
Terdengar sang hujin berkata sambil tertawa:
"Kalau Hong Lo-su sedang sakit perut, kau
minta pelajaran dari Coh Sam-nio saja!"
"Aaah hujin sedang bergurau" buru-buru Coh
Sam-nio berkata, "mana berani siaumoay bertarung melawan keponakan
Thiat"
Bagaimana pun dia jauh lebih berani
ketimbang Hong Lo-su, sesudah tertawa paksa, ujarnya lebih jauh:
"Sebetulnya siaumoay ingin menemani hujin
berapa saat lagi, apa daya......aaai, biarlah siaumoay mohon diri
lebih dulu"
Walaupun dia masih mampu berbicara, namun
begitu selesai berkata tubuhnya sudah kabur dari ruangan itu.
Kawanan perempuan bercadar itu pun saling
memberi tanda, setelah membaringkan Sui Leng kong ke lantai, tanpa
mengucapkan sepatah kata pun mereka ikut mengundurkan diri dari
situ.
Melihat semua orang sudah kabur, Suto Siau
sekalian tentu saja tidak berani bercokol lebih lama disitu, dengan
sempoyongan mereka kabur terbirit-birit meninggalkan ruangan itu.
Dari kejauhan terdengar Hong Lo-su berteriak
keras:
"Kapak sakti, berada dimana kau?"
"Siap!" sahut lelaki raksasa itu sambil siap
berlalu.
"Paman Sim, tunggu sebentar" dengan
perasaan terkesiap Thiat Tiong-tong menghadang jalan perginya.
Siapa tahu lelaki raksasa itu langsung
membalikkan tubuh sambil melepaskan sebuah bacokan maut, mau tidak
mau terpaksa Thiat Tiong-tong harus berkelit ke samping.
Begitu dia menghindar, lelaki raksasa itupun
berlari meninggalkan ruangan.
Thiat Tiong-tong sangat menguatirkan
keselamatan saudara seperguruannya ini, dia tidak rela membiarkan
pamannya terjatuh ke tangan Hong Lo-su, baru saja siap melakukan
pengejaran......
"Tiong-tong, balik kemari" tiba-tiba
terdengar nyonya itu berseru.
Biarpun hanya berapa patah kata namun
mendatangkan daya pengaruh yang luar biasa bagi Thiat Tiong-tong,
seketika itu juga dia berhenti.
"Kau tetap tinggal disini, biar aku yang
berjaga-jaga diluar" manusia aneh itu segera berbisik.
"Tapi........"
"Kalian berdua tetap
tinggal disini........" perintah sang hujin cepat.
Baru selesai bicara, peluh telah membasahi
seluruh tubuhnya, tidak ampun perempuan itu roboh lemas ke tanah.
"Ibu, kenapa......kenapa kau?" manusia aneh
itu menjerit kaget.
"Hujin, kau.....kau......." Thiat Tiong-tong
menjerit pula tertahan.
Ditengah teriakan kaget kedua orang itu
segera lari mendekat.
Tampak nyonya itu tergeletak dengan wajah
pucat pias bagai mayat, napasnya sangat lemah dan tinggal satu dua
diantara tenggorokannya, dia sudah berada dalam keadaan sekarat.
Tanpa membuang waktu Thiat Tiong-tong maupun
manusia aneh itu segera menempelkan telapak tangannya diatas jalan
darah penting ditubuh sang hujin dan menyalurkan hawa murninya.
Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga
gabungan kedua orang ini, sekalipun nyonya itu tidak mampu lagi
menyerap tenaga murni tersebut, namun berapa saat kemudian paras
mukanya nampak jauh lebih cerah.
Sambil membuka matanya dan tertawa pedih,
bisik nyonya itu:
"Setelah tenaga sinkang ku buyar, raut
wajahku lambat laun pulih kembali seperti sedia kala, tapi aku tahu
inilah secercah cahaya terakhirku sebelum padam, tidak lama lagi aku
akan meninggalkan dunia ini!"
Thiat Tiong-tong mengerti apa yang dimaksud,
lain dengan manusia aneh itu, dia dibuat kebingungan dan tidak habis
mengerti oleh perkataan ibunya. Waktu itu sebetulnya dia pingin
bertanya: "Tenaga sinkang apa? Kenapa bisa buyar?" namun dalam
suasana begini, mana mungkin dia mampu mengutarakannya keluar?
Terdengar nyonya itu berkata lagi:
"Kalian berdua tidak usah bersedih hati,
Thian menghendaki kematianku dalam keadaan seperti ini sudah
merupakan satu kemurahan yang luar biasa, aku berharap dikemudian
hari kalian bisa saling menganggap sebagai saudara sendiri"
Kedua orang itu, yang satu adalah putra
kandung darah dagingnya sendiri, sementara yang lain adalah orang
yang mewarisi seluruh jerih payahnya, seluruh hasil karya latihan
tekunnya selama banyak tahun.
Thiat Tiong-tong saling berpandangan sekejap
dengan manusia aneh itu, dengan sedih mereka saling mengangguk.
Dengus napas nyonya itu mulai memburu,
ujarnya lagi:
"Sementara waktu meski Coh Sam-nio dan Hong
Lo-su kabur karena takut kepadaku, tapi mereka berdua adalah orang
yang banyak curiga, tidak mungkin mereka akan pergi dengan begitu
saja, tidak lama kemudian pasti akan balik lagi kemari"
"Ibu tidak usah kuatir, ananda sekalian
yakin masih mampu membendungnya" sahut manusia aneh itu cepat.
Nyonya itu menggeleng, ujarnya sambil
tertawa sedih:
"Saat ini kalian berdua masih bukan
tandingan mereka berdua, tidak usah beradu nyawa, aku masih
membutuhkan kalian berdua untuk melanjutkan generasi"
Thiat Tiong-tong serta manusia aneh itu
menundukkan kepalanya, mereka tidak berani banyak bicara lagi.
Terdengar nyonya itu berkata lebih jauh:
"Coba kalian berdua perhatikan lukisan yang
tertera di dinding sekeliling ruangan ini, diantara pemandangan alam
yang sangat indah, disitulah tempat aku dikebumikan, ditempat itu
masih...... masih terdapat pula banyak rahasia, bukan saja Coh
Sam-nio dan Hong Lo-su selalu ingin mengetahuinya, orang
lain pun.. uhuuh..uhuuu.....kalian berdua harus berjanji kepadaku,
kalian....kalian harus menunggu...... menunggu selama dua puluh hari
sebelum keluar dari situ...... uhuuu uhuuu.....jangan bertarung...
bertarung lagi dengan Hong........"
Bukan saja dia batuk semakin keras, napasnya
pun semakin sesak hingga susah untuk melanjutkan kembali
perkataannya.
Dalam keadaan dan situasi seperti ini
betapapun sulitnya persoalan, biarpun diancam dengan golok atau
kapak, terpaksa mereka harus mengabulkan permintaannya itu.
Dengan sedih kedua orang itu mengiakan.
Nyonya itu berkata lagi:
"Selama hidup aku..... aku telah malang
melintang di kolong langit, sebelum mati bisa.....bisa mendapat
pewaris, aku.... aku akan mati dengan mata meram, tapi..... tapi
masih ada.......masih ada........."
Buru-buru Thiat Tiong-tong dan manusia aneh
itu menyalurkan tenaga murninya untuk menunjang perempuan itu.
Setelah menghela napas nyonya itu berkata
lagi:
"Aku tidak bisa banyak bicara lagi, kalian
perhatikan....... perhatikan lukisan itu....perhatikan
diujung jalan buntu, jangan lupa.....rahasia dari.....dari pakaian
pengantin dari......dari Perguruan Tay ki bun........ budi
atau dendam hanya...... hanya ayahmu seorang yang...... yang
tahu..... dia belum mati...... belum mati hingga kini.......dia bisa
membohongimu......jangan harap bisa membohongi aku.........."
Perlahan-lahan sekulum senyuman tersungging
diujung bibirnya.
"Apa? Ayah belum mati?" teriak manusia aneh
itu terperanjat, "berada dimana dia........"
Tapi ucapannya segera terpotong ditengah
jalan, mendadak matanya terbelalak lebar, mulutnya melongo besar....
tiba-tiba kedua orang itu menangis tersedu-sedu, ternyata sebelum
menyelesaikan perkataannya, nyonya itu sudah pergi menghadap ke
langit barat, berangkat dengan diiringi sekulum senyuman.
Nyonya itu pergi dengan wajah yang tetap
cantik dan menawan hati, matanya terpejam rapat, walaupun Thian
telah mencabut kembali nyawanya namun tidak merenggut kecantikan
wajahnya yang rupawan.
Bagaimana pun Thiat Tiong-tong serta manusia
aneh itu adalah manusia luar biasa, kesedihan yang luar biasa tidak
membuat mereka kehilangan akal dan kecerdasan, sambil menahan rasa
sedih manusia aneh itu segera membopong jenasah ibunya.
Thiat Tiong-tong membalikkan tubuhnya
membopong Sui Leng-kong, sementara siucay muda itu masih tergeletak
tidak sadarkan diri, tidak seorangpun yang memperdulikan nasibnya.
Manusia aneh itu menghela napas panjang,
dari dalam saku dia mengambil sebungkus obat dan dilempar ke samping
tubuhnya, kemudian dia baru berkata:
"Saudaraku, mari ikut aku"
Panggilan "saudaraku" itu seketika membuat
Thiat Tiong-tong terharu, gejolak perasaan dalam dadanya nyaris
membuatnya tidak mampu mengendalikan diri, sampai sesaat kemudian
dia buru menyusul di belakangnya.
Kedua orang itu menutup kembali pintu batu,
melewati lorong rahasia dan balik lagi ke tepi kolam dengan
pemandangan alam yang indah, saat itu sampan sudah bersandar
ditepian, walaupun tirai halus masih berkibar seperti sedia kala,
namun pemiliknya sudah pergi jauh diujung langit sana.
Setelah naik keatas sampan, Thiat Tiong-tong
menyembunyikan kitab pusaka itu ke dalam sakunya, kemudian mereka
berdua mulai meneliti lukisan yang terbentang diatas dinding
ruangan.
Tampak empat penjuru merupakan bukit nan
hijau dengan pepohonan yang rindang diantara mega berwarna putih,
lukisan itu tidak mirip pemandangan di alam manusia melainkan
pemandangan diatas langit, sebuah sungai kecil mengalir tenang
diantara pepohonan dan awan.
Kedua orang itu merupakan orang yang berotak
cerdas dan luar biasa, mereka cukup mengerti apa yang dimaksudkan
dengan "perhatikan diujung jalan buntu", maka perhatian mereka mulai
ditujukan ke arah aliran sungai itu, kemudian menelusuri ke
bawah, melewati pepohonan, mengelilingi bangunan pagoda lalu dari
sudut bangunan berputar berliku-liku sampai suatu ujung yang
tiba-tiba lenyap tidak berbekas, ujung itu merupakan sebuah bukit
tinggi dengan lapisan awan yang sangat tebal.
Kedua orang itu segera saling berpandangan
sekejap, mereka tahu, "perhatikan diujung jalan buntu" yang dimaksud
sang hujin pastilah tempat diseputar sana.
Tapi dinding batu diseputar sana kelihatan
rata berkilat, sama sekali tidak nampak tombol rahasia atau sesuatu
benda yang mencurigakan, kendati kedua orang ini cerdas dan tajam
matanya, tidak urung untuk sesaat dibuat kebingungan juga.
Mereka mencoba mendayung sampan itu lebih
mendekati dinding batu, namun belum berhasil juga menemukan sesuatu
pertanda.
Tiba-tiba Thiat Tiong-tong berkata:
"Lukisan disekeliling dinding ini tampak
indah dan sangat hidup kecuali lukisan yang menggambarkan aliran
sungai itu, coba lihat lukisan dibagian itu kelihatan kaku dan mati,
sama sekali tidak menarik, nampaknya bukan berasal dari hasil karya
seseorang yang sama”
"Betul juga perkataanmu itu, pasti ada
sesuatu yang tidak beres dibalik kesemuanya ini" sahut manusia aneh
itu, "Cuma........"
Belum selesai dia berkata, mendadak tampak
Thiat Tiong-tong mengambil air kolam kemudian diguyurkan keatas
dinding batu itu, ketika air mengalir sepanjang dinding, mendadak
terlihat warna diseputar lukisan sungai itu berubah warna dan
muncullah riak air yang bersisik, seakan dalam air terdapat ikan
yang sedang berenang.
Lukisan semacam inilah baru mirip lukisan
seorang seniman hebat, sementara lukisan pepohonan yang
ada dibawah bukit itu mendadak lenyap tidak berbekas setelah terkena
guyuran air, kini muncullah sebuah pintu berwarna kuning emas,
diatas pintu terlukis dua buah gelang lembaga, diantara gelang itu
terlihat pula berapa bulatan kecil.
Thiat Tiong-tong sangat kegirangan, segera
serunya:
"Tidak heran kalau lukisan diseputar aliran
sungai nampak kaku dan mati, ternyata ada orang yang telah
menambahkan warna lain untuk menutupi lukisan asli, kalau begitu
rahasianya pasti berada disini"
Manusia aneh itu menghela napas panjang,
pujinya:
"Aaai, tidak kusangka selain bernyali besar
dan pemberani, kau pun sangat teliti dan cermat, bisa jadi kunci
rahasia untuk membuka pintu rahasia tersebut terletak pada ke dua
gelang tembaga itu"
"Benar, kau punya pisau belati?"
Manusia aneh itu menggeleng, dengan kening
berkerut Thiat Tiong-tong berpikir sejenak, tiba-tiba dia mencabut
sebatang tusuk konde emas dari rambut Sui Leng-kong kemudian
melakukan guratan melingkar diseputar gelang tembaga itu.
Tapi tidak nampak sesuatu gejala pun
kendatipun sudah mengguratnya berapa saat.
Tiba-tiba terdengar manusia aneh itu
berkata:
"Biasanya yang lurus akan berubah jadi
kebalikan, coba kau gurat dengan berlawanan arah jam"
Thiat Tiong-tong menurut dan menggurat
berlawanan jarum jam, benar saja diantara dinding batu segera
berkumandang suara gemerincing nyaring.
Menyusul kemudian diatas dinding batu dengan
lukisan pintu itu mulai bergerak ke samping dan
muncullah sebuah liang gua setinggi satu setengah meter.
Tidak terlukiskan rasa girang kedua orang
itu, tanpa ragu lagi mereka segera menerobos masuk ke dalam liang
gua itu.
Siapa tahu begitu didorong dari arah dalam,
pintu itu segera merapat kembali bahkan sama sekali tidak
meninggalkan bekas, terutama ketika noda air sudah mengering, pintu
emas itu lenyap seketika, dalam keadaan begini siapa pun jangan
harap bisa menemukan sesuatu pertanda.
Dibelakang dinding merupakan sebuah lorong,
meski sempit namun tidak terlalu panjang, diujung lorong merupakan
sebuah ruang batu yang sangat lebar, mutiara sebesar kelengkeng
tersebar disekeliling ruangan dan memancarkan sinar yang sangat
terang.
Andaikata ditempat lain Thiat Tiong-tong
menjumpai ruangan semacam ini, niscaya dia akan keheranan dibuatnya,
karena dia cukup mengerti akan keunikan dan kehebatan tuan rumah
disini, oleh sebab itu semua keanehan yang ada disana sudah berada
dalam dugaannya.
Ditengah ruangan tersedia dua buah peti mati
yang ternyata terbuat dari tembaga hijau, ketika tersorot sinar
terang dari mutiara-mutiara itu, terlihat dengan jelas garis-garis
pahatan yang tertera diatas peti mati itu.
Kecuali dua buah peti mati tembaga, didalam
ruangan pun tersedia lengkap aneka perabot layaknya rumah tinggal
seorang bangsawan kaya raya, ada meja, bangku, almari, khiem, catur,
buku, lukisan serta perlengkapan lainnya, bahkan setiap benda yang
tersedia terbuat dari bahan berkwalitas nomor satu.
Kain tirai halus melapisi sisi ruangan lain,
indah, mewah dan sangat mentereng.
Justru kehadiran ke dua buah peti mati
tembaga ditengah ruang batu itulah membuat suasana disitu terasa
aneh dan penuh kemisteriusan.
Manusia aneh itu telah membuka tutup peti
mati dan membaringkan jenasah ibunya ke dalam, air mata telah
membasahi seluruh wajahnya, meski tangisannya tidak bersuara namun
nampak jelas betapa sedihnya orang itu.
Sementara itu Thiat Tiong-tong pun telah
menyadarkan kembali Sui Leng-kong, secara ringkas dia menceritakan
pengalamannya selama ini, Sui Leng-kong kaget bercampur tercengang,
dia pun girang bercampur sedih.
Akhirnya mereka bertiga pun berlutut didepan
peti mati itu dan melakukan penghormatan terakhir.
Dalam suasana sedih ke tiga orang itu hanya
berlutut didepan peti mati tanpa memperhatikan keadaan di
sekelilingnya, sampai entah berapa lama kemudian, mungkin satu hari
sudah lewat, mereka bertiga baru merasa lapar bercampur dahaga, saat
ituiah mereka baru menjumpai kalau didalam gua tersedia aneka macam
jinsom dan benda mestika lainnya yang bisa digunakan untuk menangsal
perut.
Tapi mereka kesulitan menemukan air minum,
disaat sedang kebingungan kembali mereka bertiga menemukan berapa
puluh guci arak wangi. Asal ada arak berarti masalah dahaga pun
dapat teratasi pula.
Hagi Thiat Tiong-tong biar minum seribu
cawan pun tidak masalah, apalagi manusia aneh itu, dengan takaran
minumnya yang luar biasa mereka hanya minum terus tanpa bicara.
Hanya Sui Leng-kong seorang yang kepayahan,
baru secawan, paras mukanya telah berubah jadi merah padam.
"Arak ini benar-benar keras!" tiba-tiba
manusia aneh itu bergumam.
Dalam seharian penuh, mereka bertiga sama
sekali tidak berbicara, kali ini merupakan kali pertama dia
berbicara, namun selesai bergumam lagi-lagi dia membungkam diri.
Sebetulnya Sui Leng-kong enggan untuk minum
arak lagi, tapi rasa dahaga yang luar biasa memaksanya secara
diam-diam meneguk lagi dua cawan.
Sampai lama kemudian Thiat Tiong-tong baru
buka suara, tanyanya:
"Toa.......toako, boleh tahu siapa namamu?"
"Aku dari marga Cu bernama Cau"
"Boleh tahu toako adalah........"
"Putra kaisar malam"
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang,
ujarnya lebih jauh:
"Sudah siaute duga sejak awal, hanya
saja....."
Ketika menyaksikan wajahnya hijau membesi
lantaran rasa duka yang mendalam, tidak tahan dia pun menghentikan
perkataannya dan tidak bicara lagi.
Cu Cau sama sekali tidak menghentikan
tegukan araknya, secawan demi secawan dia minum terus tiada
hentinya, tiba-tiba sambil tertawa tergelak ujarnya:
"Putra kaisar malam, sebuah julukan yang
keren bukan?"
Kembali dia menenggak tiga cawan arak,
mendadak sambil membuang cawannya dia mulai menangis tersedu-sedu.
Thiat Tiong-tong sadar, kendatipun lelaki
itu berusaha tampil dengan wajah senyuman, sesungguhnya banyak
kedukaan yang dia alami, pikirnya:
"Lebih baik biarkan saja dia menangis
sepuasnya”
Karena berpendapat begitu diapun tidak
berusaha membujuk atau menghibur.
Tiba-tiba terdengar Sui Leng-kong menghela
napas perlahan, bisiknya:
"Menangislah, menangislah sepuasnya, kalau
bisa kepedihan didalam hati, keluarkan saja semuanya lewat
tangisan......."
Cu Cau tidak menggubris, dengan tangannya
menepuk diatas bahu tiba-tiba dia bersenandung lantang:
"Jalan kesana, jalan kemari, yang dicari
hanya bunga dan pohon liu, jalan kesana, jalan kemari, lidak lepas
dari cawan emas berisi arak, hahahaha......cawan emas berisi arak!"
Sebetulnya Thiat Tiong-tong ingin
menghiburnya, tapi ingatan lain segera melintas lewat:
"Kami bertiga sama-sama sedang murung dan
sedih, apa salahnya menggunakan kesempatan ini untuk minum sampai
mabuk"
Berpikir begitu, sambil tertawa nyaring dia
pun mulai meneguk arak cawan demi cawan.
"Saudara cilik" kata Cu Cau kemudian,
"perselisihan kita dimasa lampau tidak perlu disinggung kembali,
sejak kini kita adalah saudara, bukan begitu.....? baik, asal kau
mengangguk, mari kita habiskan secawan arak ini"
Kembali ke dua orang itu menghabiskan
secawan arak.
Mendadak Cu Cau berkata lagi:
"Saudara cilik, tahukah kau betapa sedihnya
perasaan koko..... hahaha.....ayoh minum secawan lagi"
Begitulah sambil meneguk arak, Cu Cau tiada
hentinya bersenandung sambil berteriak keras.
Sui Leng-kong menghela napas panjang,
bisiknya:
"Hanya seorang pendekar sejati yang bisa
menangis bisa bersenandung semau hati, biar romantis asal berhati
lurus dia tetap seorang pendekar, Cu.....Cu toako, aku kagum
kepadamu"
"Kau.....kau memanggil toako kepadaku?"
bisik Cu Cau.
"Karena Thiat Tiong-tong memanggilmu begitu,
tentu saja aku pun akan melakukan hal yang sama"
"Aaaai, ternyata kau memanggil aku toako
lantaran dia?"
"Tidak, sebutan toako muncul dari hati
sanubariku sendiri"
"Tampaknya kau sama sekali tidak menaruh
kesan jelek terhadapku"
"Sejak awal sudah kuketahui kalau kau memang
orang baik" kata Sui Leng-kong agak mabuk, kemudian sambil menuding
ke arah Thiat Tiong-tong lanjutnya, "bila tidak ada dia, mungkin
saja..... mungkin saja aku dapat mencintaimu"
"Bagus! Bagus! Kalau kau bisa, kenapa aku
tidak........." teriak Cu Cau sambil tertawa keras, tapi gelak
tertawanya lambat laun makin sirna, sehabis meneguk lagi berapa
cawan arak kembali dia menangis tersedu sambil bersenandung:
"Ingin bertanya, takut bertanya, bertanya
hanya menambah kepedihan, ketika musim semi menyelimuti kolam, kupu
dan bangau saling bersua, kenapa tiada kesempatan untuk
bertautan......."
Dengan sedikit mabuk sahut Sui Leng-kong:
"Kalau memang takut bertanya, mengapa masih
bertanya?"
Menyaksikan betapa terpikatnya Cu Cau
terhadap Sui Leng-kong, diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas
panjang, katanya tiba-tiba:
"Adik Leng-kong, aku tahu kau memang sangat
baik terhadapku"
"jadi kau..... kau benar-benar tahu?" tanya
Sui Leng-kong kegirangan.
"Benar, tapi perasaan kita berdua hanya
terbatas hubungan antara kakak dan adik, jangan lupa kau adalah
adikku"
Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, dia
sendiripun mengeluh didalam hati, mengapa nasib selalu mempermainkan
orang.
Perlu diketahui, peraturan adat waktu itu
masih berlalu sangat ketat, antara saudara Tong pun dilarang untuk
mengikat tali perkawinan.
Isak tangis Sui Leng-kong semakin menjadi,
jeritnya:
"Tidak, aku tidak mau jadi adikmu, aku tidak
mau jadi adikmu!"
Tiba-tiba serunya kepada Cu Cau:
"Maukah kau menerima aku sebagai adikmu?"
"Tidak, aku tidak mau kau menjadi adikku!"
tampik Cu Cau.
"Kenapa?"
"Kenapa pula kau tidak mau jadi adiknya?"
Sui Leng-kong tertegun, akhirnya setelah
menghela napas uj arnya:
"Betul, betul, ternyata alasannya
sama........"
Lama sekali dia termangu, kelopak matanya
terasa makin lama semakin berat sebelum akhirnya dia tertidur
nyenyak.
Dalam pada itu Cu Cau hanya memandang
kejahuan dengan pandangan mendelong, dalam waktu sekejap dia seolah
telah berubah semakin tua.
Thiat Tiong-tong tidak tega untuk memandang
lebih jauh, cepat dia membalikkan tubuh dan mulai membolak-balik
buku yang ada dimeja.
Kini didalam hatinya sudah mengambil
keputusan, dia bertekad untuk menjodohkan Sui Leng-kong dengan Cu
Cau, pertama karena lelaki itu belum hilang jiwa pendekarnya, ke dua
untuk membalas budi kebaikan ibunya yang telah tiada.
Begitu mengambil keputusan, Thiat Tiong-tong
tidak mau berpikir lebih jauh lagi kendatipun perasaan hatinya amat
pedih, dia mulai memeriksa kitab yang ada dimeja, ternyata isinya
hanya kitab kitab syair dan sejarah.
Mendadak dia jumpai sejilid kitab tipis yang
bersambul kain kuning terselip diantara kitab pujangga, ketika
dibuka terbacanya berapa huruf yang berbunyi:
"Wan Siu-tin dari Hangciu, tahun Kengcu
bulan satu tanggal delapan.
Kho siok-cu dari Siokciu, tahun Kengcu bulan
satu tanggal sepuluh........"
Ternyata isinya adalah deretan nama
perempuan serta saat terjadinya pertemuan, tanpa keterangan lain.
Diam-diam Thiat Tiong-tong keheranan, ketika
membalik ke halaman dua, terbacalah:
"Sui Ji-song dari Ho-pan, Tahun Kengcu bulan
empat tanggal enam belas"
Kontan saja Thiat Tiong-tong merasakan
tubuhnya bergetar keras, cepat dia sembunyikan kitab itu ke dalam
sakunya, sementara hatinya berdebar keras, dia tidak mengira kalau
nama Sui Ji-song tercantum pula disitu, khususnya dia tidak ingin
Sui Leng-kong melihat akan hal itu.
Pada saat itulah mendadak terjadi goncangan
keras diatas dinding batu diikuti suara ledakan, meski suaranya
tidak terlalu keras namun tidak lama kemudian hawa panas dan pengab
mulai menyelimuti ruangan dalam.
Baru saja Thiat Tiong-tong mengernyitkan
alis matanya, terdengar Cu Cau berseru:
"Saudaraku, terima ini!"
Ternyata diapun sedang membalik balik
tumpukan buku dan menemukan sejilid kitab ilmu pedang yang ditulis
ibunya, maka sambil dilempar ke arah Thiat Tiong-tong katanya:
"Kitab itu berisi ilmu pedang Siau hiang
kiam hoat, pelajari baik-baik!"
Sudah cukup lama Thiat Tiong-tong tahu kalau
dalam dunia persilatan terdapat sebuah ilmu pedang itmpuh yang
bernama Siau hiang (penyayat harum), konon ilmu tersebut
sudah lama punah, tidak nyana aku justru mendapatkannya hari ini.
Dalam kaget bercampur girangnya dia berseru:
"Toako, bagaimana dengan kau?"
Cu Cau tertawa pedih, ujarnya:
"Ilmu pedang Siau hiang kiam sut
mengutamakan kecepatan gerak dan perubahan jurus, kecepatannya
tiada duanya dikolong langit, dengan kelincahan pergelangan
tanganmu, cocok sekali untuk mempelajari kepandaian semacam
ini, sedang aku........ aaaai, aku sudah tidak berniat belajar
pedang lagi"
Sambil duduk kembali dia meneguk arak,
terkadang sambil memegangi peti mati dia menangis tersedu-sedu,
kadangkala dia bersenandung sambil tertawa terbahak-bahak.
Sui Leng-kong sendiri meski tidak berani
mabuk lagi namun dia pun tidak pernah betul-betul sadar, hanya Thiat
Tiong-tong seorang yang masih berkobar semangatnya, dia tidak ingin
membuang waktu dengan percuma, maka waktunya benar-benar
dimanfaatkan untuk mempelajari ilmu pedang itu.
Entah berapa lama sudah lewat, menurut
perhitungan Thiat Tiong-tong kalau bukan dua puluh hari paling tidak
setengah bulan sudah lewat, maka diapun berniat untuk meninggalkan
tempat itu.
Saat itulah Cu Cau baru membenahi pakaiannya
sambil bangkit berdiri, mereka bertiga saling berpandangan dengan
murung, tampak raut muka rekannya kelihatan jauh lebih kucal dan
lusuh.
Maka setelah bersama-sama menyembah
dihadapan peti mati, mereka pun bersama-sama meninggalkan tempat
itu.
Membuka pintu batu dari arah dalam ternyata
jauh lebih mudah, namun Thiat Tiong-tong segera merasakan tangannya
menyentuh bebatuan yang panas, padahal seharusnya batuan disitu
dingin, satu ingatan melintas dalam benaknya.
Dalam waktu singkat pintu sudah terbuka
lebar, mereka bertiga pun secara beruntun keluar dari gua, tapi
dengan cepat mereka semua berdiri tertegun.
Air kolam yang semula hijau bening kini
sudah mengering setengah, dinding batu sekitar ruangan yang hijau
penuh lumut sekarang sudah hangus hitam, sampan ditengah kolam
lenyap tidak berbekas, sebagai gantinya tersisa berapa keping kayu
hangus yang terapung diatas permukaan air.
Dalam sekilas pandang mereka bertiga tahu
kalau kebakaran dahsyat baru saja padam ditempat itu, buru-buru
mereka keluar dari lorong rahasia, sepanjang mata memandang yang
terlihat hanya kayu hangus serta puing yang berserakan
dimana-mana.
Semua keindahan, semua kemegahan dan
kemewahan telah punah tidak berbekas, yang tersisa kini hanya sebuah
bangunan batu, bangunan kosong yang berdiri sendu dihembus angin
barat.
Keluar dari bangunan batu, aneka bunga,
tanah berumput, pohon liu, maupun jembatan kecil kini tersisa
seonggok abu, tempat indah bak surgawi yang dulu menyelimuti tempat
itu, kini hilang lenyap tidak berbekas bahkan suasananya jauh lebih
mengenaskan ketimbang neraka gersang.
Untuk sesaat semua orang berdiri tertegun,
berdiri melongo, seolah tidak percaya dengan pandangan mata sendiri.
Mendadak Cu Cau menepuk bahunya dan menegur
sambil tertawa:
"Saudara cilik, apa yang sedang kau
pikirkan?"
"Aku ingin tahu siapa yang telah melakukan
perbuatan keji ini!" bisik Thiat Tiong-tong sambil menghela napas.
"Memangnya kau kuatir dia akan bersembunyi
sepanjang masa, buat apa mesti disedihkan" sahut Cu Cau cepat.
Kemudian setelah mendongakkan kepalanya
tertawa lantang, katanya lebih jauh:
"Apalagi semua benda itu hanya benda
duniawi, dibakar habis pun tidak jadi masalah, toh tempat ini
dibangun oleh manusia, harta pun dikumpulkan manusia, dia bisa
membakarnya sampai habis, memangnya aku tidak bisa membangunnya
kembali? Hahahaha.... saudara cilik, yang penting kita punya
kemampuan, apa susahnya untuk mengumpulkan kembali harta yang
tercecer"
Melihat betapa lapangnya pikiran dan hati
lelaki ini, kontan Thiat Tiong-tong menaruh kesan yang sangat baik
terhadapnya, kembali dia berpikir:
"Jika adik Leng-kong bisa memperoleh suami
macam dia, aku akan lega sekali, cuma......."
Tiba-tiba serunya sambil tertawa:
"Dengan memberanikan diri siaute ingin
menasehati satu dua patah kata kepada toako"
"Katakan saja!"
"Toako, dalam segala hal kau sangat
mengagumkan, hanya sifat pemogoranmu yang bikin orang tidak tahan"
"Hahahaha......orang suka pemogoran disaat
dia masih muda, apalagi aku......." mendadak dia menarik
kembali senyumannya, "kalau tidak menjumpai kekasih hati yang
mencocoki, apa yang bisa kuperbuat selain cari kesenangan di
luar...."
"Berarti jika toako sudah menemukan gadis
yang mencocoki hatimu maka kau tidak akan main perempuan lagi?"
"Betul, bila aku sudah menemukan gadis yang
cocok maka sejak itu tidak akan bermain perempuan lagi......hei,
kenapa kau bertanya begitu?"
"Aaah tidak apa-apa......." sahut Thiat
Tiong-tong samon tertawa, "bagus, bagus sekali!
Tanpa membuang waktu lagi dia berjalan dulu
keluar dari lembah.
Diluar lembah masih merupakan sebuah dunia
yang tenang dan penuh kedamaian, tiba-tiba Thiat Tiong-tong memaksa
Cu Cau untuk duduk diatas sebuah batu gunung, kemudian ujarnya:
"Toako, harap menerima tiga kali sembah
sujudku"
"Aaah, tidak ada urusan apa-apa kenapa kau
mesti bersujud kepadaku?" kata Cu Cau tertawa.
Dengan wajah serius sahut Thiat Tiong-tong:
"Sujudku yang pertama untuk berterima kasih
atas budi kebaikan dari ibunda, sujud ke dua karena toako mau
menerima aku sebagai saudara......"
Sambil bicara dia sudah mulai bersujud.
Sekilas perasaan sedih melintas diwajah Cu
Cau, tapi sebentar kemudian dia sudah berkata lagi sambil tertawa:
"Baiklah, dua persembahanmu akan toako
terima semua, tapi untuk apa sujudmu yang ke tiga?"
"Siaute mohon toako mau berkunjung ke sebuah
rumah gubuk dibawah bukit Ong wo san yang disebut gubuk cay seng
cau gwa (tumbuh lagi diladang lain) untuk menjumpai seseorang,
tolong sampaikan surat siaute kepadanya"
Sambil berkata dia mengeluarkan sepucuk
surat yang tampaknya telah dipersiapkan semenjak masih berada dalam
ruang rahasia tadi.
"Itu mah gampang, kenapa kau mesti bersujud
kepadaku?" tanya Cu Cau.
"Siaute berharap toako mau memandangnya
sebagai saudara sendiri serta merawat dirinya, tapi siaute berani
jamin orang ini adalah seorang lelaki luar biasa di dunia ini!"
"Kalau dibilang dia adalah seorang lelaki
luar biasa, biar kau tidak bicara apapun surat ini pasti akan
kusampaikan"
"Terima kasih toako" sekali lagi Thiat
Tiong-tong bersujud dihadapan lelaki itu.
Kemudian sambil menarik tangan Sui
Lengkong, ujarnya pula:
"Adik Leng-kong, aku pun ingin memohon
sesuatu kepadamu, apakah kau bersedia mengabulkan?"
Sui Leng-kong menghela napas panjang.
"Aaai.... apa pun permintaanmu, yang baik
atau yang jelek, asal sudah kau sampaikan maka aku pasti akan
mengabulkannya"
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas,
ujarnya cepat:
"Aku minta kau mengikuti Cu toako menuju ke
bukit Ong wo san, minta kepadamu untuk bersikap baik terhadap Cu
toako, juga bersikap baik terhadap orang yang berada di rumah gubuk
itu"
Berubah paras muka Sui Leng-kong, katanya
perlahan:
"Karena sudah kau sampaikan, aku pasti akan
mengabulkan, tapi...... tapi.....jangan kau sangka aku tidak
memahami niatmu"
"Apa yang kau pahami?" tanya Thiat
Tiong-tong sambil tertawa paksa.
"Aku tidak ambil perduli apa yang kau
pikirkan" ucap Sui Leng-kong sepatah demi sepatah, "asal kau tahu
saja, apa pun yang bakal terjadi aku tidak bakal kawin dengan orang
lain dalam hidupku kali ini kecuali dengan kau seorang"
Biarpun perkataan itu disampaikan secara
tegas namun wajahnya masih tenang tanpa emosi, jelas entah sudah
berapa kali perkataan itu diucapkan olehnya didalam hati.
Berubah paras muka Thiat Tiong-tong.
"Tapi......tapi.... kau.....aku......."
Sui Leng-kong tertawa hambar, tukasnya:
"Akupun tahu saudara itu tidak mungkin jadi
suami istri, aku hanya menyesal kenapa nasibku begini jelek, aku
bertekad selama hidup tidak akan menikah.....Cu toako, mari kita
berangkat!"
Dari sikap serta mimik mukanya, Thiat
Tiong-tong tahu kalau gadis itu tidak akan mengubah keputusannya
walau dalam keadaan seperti apa pun, dia merasa sedih bercampur
murung, cepat pemuda itu membuang wajahnya ke arah lain.
Tampak Cu Cau berdiri sambil bergendong
tangan, wajahnya senyum tidak senyum, andaikata dia bukan
manusia luar biasa, batinnya pasti akan tersiksa setelah mendengar
perkataan dari Sui Leng-kong itu.
Setelah menghela napas sedih kata Thiat
Tiong-tong lagi:
"Toako, kau..... sebenarnya kau hidup santai
dan penuh kecerian, gara-gara siaute, sekarang kau mesti berkelana
dalam dunia persilatan!"
Padahal bukan perkataan itu yang ingin
disampaikan, hanya saja setelah ucapan itu sampai di bibir, dia
tidak tega untuk mengucap-kannya.
Cu Cau tertawa, sahutnya:
"Aku memang sudah lama berniat berkelana
dalam dunia persilatan, ingin melihat dunia sambil menambah
pengalaman, inilah kesempatan baik untukku, hanya saja....aku tetap
merasa keheranan"
"Apa yang toako herankan?"
"Kau minta aku menuju ke bukit Ong wo san,
sementara kau sendiri hendak ke mana?"
"Sebetulnya siaute yang punya janji di bukit
Ong wo san, apa daya saat ini siaute mempunyai persoalan lain yang
jauh lebih penting sehingga mau lidak mau harus minta toako......"
"Apakah urusan pentingmu itu tidak bisa kau
utarakan?"
Thiat Tiong-tong tertawa pedih, ujarnya:
"Persoalan ini panjang untuk
diceritakan....tapi siaute berjanji, begitu urusan itu selesai pasti
akan segera menyusul ke sana dan bertemu kembali dengan toako dan
adik Leng-kong"
"Sudahlah, kalau kau enggan membicarakannya,
tidak usah disinggung lagi, yang penting aku tetap mempercayaimu!"
sambil bangkit berdiri serunya:
"Baik, Sui Leng-kong, kita berangkat!"
Tanpa membuang waktu dia segera beranjak
pergi meninggalkan tempat itu diikuti Sui Leng-kong di belakangnya.
Hingga bayangan tubuh kedua orang itu lenyap
dari pandangan, Sui Leng-kong tidak pernah berpaling walau
sekejappun.
Thiat Tiong-tong merasa sedih sekali, dia
tahu bila Sui Leng-kong masih mau berpaling, urusan agak mendingan.
Dalam kenyataan dia sama sekali tidak menengok, hal ini menunjukkan
kalau rasa sedihnya sudah mencapai puncak tertinggi.
Diam-diam dia menghela napas, gumamnya:
"Toako, Leng-kong, bukannya aku enggan
membicarakan urusan penting itu, aku justru kuatir bila kuutarakan
maka kalian berdua tidak bakalan meninggalkan diriku lagi, semoga
sejak kini kalian berdua bisa hidup bahagia..... bila beruntung aku
berhasil menyelesaikan ke dua tugasku itu, kita masih punya
kesempatan untuk bersua lagi dikemudian hari, sebaliknya bila
aku gagal......berarti.....”
Perlahan dia mengangkat tangannya sambil
menggosok matanya, lalu selangkah demi selangkah berjalan menelusuri
jalan bukit menuju ke bawah gunung.
BAB 23.
Saling punya rencana.
Padahal persoalan penting yang memenuhi
benak Thiat Tiong-tong saat ini bukan hanya dua hal saja.
Kenapa paman Sim nya bisa terjatuh ke tangan
liong Lo-su? Bagaimana keselamatan perguruannya? Apakah sudah
dihabisi oleh si tangan beracun itu?
Rahasia apa yang terdapat dibalik budi dendam
perguruan Tay ki bun?
Duduk perkara yang sebenarnya dari beberapa
masalah itu merupakan hal penting baginya untuk
segera ditelusuri, dia bahkan merasa
sedetikpun tidak bisa menahan diri lagi, namun sebelum melakukan
penyelidikan atas ke tiga masalah tersebut, pertama-tama dia harus
menemukan Hong lo su serta
paman Sim nya terlebih dulu, sedang mengenai masalahnya yang
terakhir, dia masih teringat dengan ucapan Cu hujin kepada Cu Cau
menjelang ajalnya:
"Semua budi dendam serta rahasia yang
menyangkut Perguruan Tay ki bun hanya diketahui
secara jelas oleh ayahmu seorang,
dia belum mati......sekalipun
Kaisar malam belum mati, tapi dimanakah
dia? Siapa yang tahu akan hal ini?
Pertolongan serta bantuan dari kawanan perempuan
bercadar itu jauh diluar dugaan siapa pun,
bukan cuma membantu, mereka
bahkan mengundangnya untuk berkunjung ke pulau Siang
cun-to.
Salah satu dari tiga permintaan Cu hujin
yang harus dia laksanakan adalah menemukan wanita penghantar nasi
yang buta matanya itu, padahal seluruh gadis itu kemungkinan besar
sudah diangkut balik ke pulau Siang cun-to oleh perempuan-perempuan
bercadar itu, karenanya pulau Siang cun-to telah menjadi salah satu
target yang wajib dikunjungi, siapa tahu di pulau tersebut dia akan
berhasil mendapatkan berita tentang Hong Lo-su serta kaisar malam.
Setelah melakukan pembenahan secara kilat
atas semua masalah pelik yang sedang dihadapi, Thiat Tiong-tong
segera mengambil keputusan, bagaimana pun juga dia harus berkunjung
dulu ke pulau Siang cun-to.
Ketika sinar senja belum hilang sama sekali
dari cakrawala, Thiat Tiong-tong sudah duduk disebuah batu cadas
dikaki gunung, tempat dimana dia pernah duduk sebelum naik gunung
tempo hari.
Dengan termangu dia duduk disitu, menerawang
kejauhan dengan mata sayu, dia tidak tahu dimanakah letak pulau
Siang cun-to, apakah ada umat persilatan yang mengetahui tempat itu?
"Kalau ditinjau dari makna namanya, jelas
pulau Siang cun-to berada di tengah lautan!" demikian dia berpikir.
Maka setelan membenahi bajunya,
berangkatlah pemuda itu menuju ke arah timur.
Ketika tiba di pesisir pantai, walaupun dia
sudah berulang kali mencari berita dari para nelayan yang sudah
puluhan tahun hidup di lautan, tapi ternyata todak seorang pun yang
pernah mendengar tentang pulau Siang cun-to.
Seorang nelayan tua yang wajahnya penuh
keriput berkata begini:
"Sudah hampir lima puluhan tahun aku hidup
dilautan, asal disini terdapat sebuah pulau yang bernama Siang
cun-to, mutahil aku tidak mengetahuinya"
Mendengar jawaban itu, Thiat Tiong-tong
percaya apa yang dikatakan bukan omong kosong belaka, tidak tahan
diapun menghela napas panjang.
"Aaai, apabila kau orang tua pun tidak tahu,
rasanya memang tidak ada
pulau tersebut di luar lautan"
"Perkataan siauya tepat sekali"
Thiat Tiong-tong menghabiskan dua hari
lamanya untuk menelusuri
sepanjang pesisir pantai, namun hasilnya tetap nihil, yang dia
peroleh tidak lebih hanya bau asin air laut yang menempel diatas
pakaiannya.
Dengan perasaan masgul dan putus asa
terpaksa dia berbalik lagi menuju ke
arah barat, tidak sampai satu
hari dia sudah melewati bukit Go-uau dan tiba di kota Meh-shia.
Setelah menempuh perjalanan seharian penuh,
saat itu Thiat Tiong-tong
berencana mencari tempat penginapan, baru saja dia melahap semangkuk
mie, mendadak terdengar ada orang berteriak keras:
"Cepat lihat, cepat lihat, kawanan Seng-kou
(bibi suci) kembali melewati
tempat ini!"
Sebagian besar orang yang berada dalam
warung itu serentak berlarian
keluar, bahkan satu demi satu menjatuhkan diri berlutut ditepi
jalan.
Terdorong rasa heran dan ingin tahu, tidak
tahan Thiat Tiong-tong ikut
berjalan keluar dari warung.
Tiba-tiba dia merasa ada orang menarik ujung
bajunya sambil berbisik:
"Seng kou sudah tiba, kenapa kau tidak
berlutut?"
Thiat Tiong-tong tidak ingin membantah,
terpaksa dia pun ikut berlutut.
Tidak selang berapa saat kemudian terdengar
orang-orang diujung jalanan mulai bersorak sorai:
"Seng kou........seng kou.........”
Ditengah teriakan dan sorak sorai yang gegap
gempita tampak ada enam, tujuh orang
perempuan berjubah panjang warna hitam dan mengenakan kain cadar
berwarna hitam berjalan lewat.
Gaya mereka sewaktu berjalan aneh sekali,
bahunya tidak nampak bergerak, tangan pun tidak nampak diangkat,
asal sepasang kakinya menutul
diatas tanah maka tubuh mereka pun bergerak dengan sangat ringan.
Sekalipun begitu, ternyata mereka dapat
bergerak cepat sekali, cepat dan ringan bagaikan sedang menunggang
angin.
Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur
kegirangan, bukankah mereka adalah para utusan yang dikirim Ratu
matahari dari pulau Siang cun-to?
Tapi kalau dilihat dari potongan tubuh orang
orang itu, kelihatannya mereka bukan kawanan wanita yang muncul di
tempat kediaman Cu Cau tempo hari.
Diam-diam Thiat Tiong-tong pun berpikir:
"Perduli mereka adalah rombongan yang tempo
hari atau bukan, asal mereka sedang balik ke pulau Siang cun-to, aku
dapat mengintil dari belakangnya"
Dibelakang rombongan wanita bercadar hitam
itu mengikuti sebuah kereta kuda yang tertutup rapat pintu serta
jendelanya.
Saat itulah terdengar orang yang menariknya
agar berlutut itu berbisik:
"Kelihatannya kau berasal dari luar daerah,
tahukah kau, bukan saja kawanan Seng kou itu berwelas asih bahkan
memiliki ilmu yang luar biasa"
Thiat Tiong-tong tahu kawanan orang dusun
itu telah memandang kawanan
perempuan bercadar itu bagaikan malaikat, itulah sebabnya mereka
menaruh sikap yang begitu menghormat.
Namun kalau didengar dari nada bicaranya,
besar kemungkinan para wanita bercadar itu pasti pernah melakukan
perbuatan terpuji, entah mengapa, ternyata secara diam-diam Thiat
Tiong-tong ikut merasa gembira.
Tidak selang berapa saat kemudian kawanan
wanita bercadar itu sudah melewati jalanan itu, selama ini tidak
seorangpun diantara mereka yang pernah celingukan kesana-kemari,
mereka berjalan secara teratur dengan mata memandang ujung
hidung, hidung memandang ke hati.
Kini sorak sorai telah berakhir, semua orang
pun telah bangkit berdiri.
Diam-diam Thiat Tiong-tong melampaui kerumunan orang banyak dan
mulai menguntit jauh di belakang kawanan wanita bercadar itu.
Untung saat itu malam sudah menjelang tiba
sehingga gerak-geriknya sama sekali tidak menimbulkan perhatian
orang.
Tapi Thiat Tiong-tong tidak berani menempel
kelewat dekat, diakuatir jejaknya ketahuan.
Tiba-tiba seorang perempuan bercadar yang
berjalan paling belakang menghentikan langkah-nya dan menengok ke
belakang.
Dengan hati tercekat Thiat Tiong-tong segera
berpikir:
"Jangan-jangan jejakku ketahuan mereka dan
dianggap punya niat jahat"
Dia tidak ingin terjadi bentrokan secara
langsung dengan kawanan wanita bercadar itu, maka cepat tubuhnya
menyelinap ke samping siap menyembunyikan diri.
Siapa tahu perempuan bercadar yang berdiri
ditengah remang remangnya cuaca itu ternyata menggapai ke arahnya.
Sadar kalau tidak mungkin bersembunyi lagi,
terpaksa sambil bulatkan tekad Thiat Tiong-tong berjalan
menghampiri.
"Kemari!" bisik perempuan bercadar itu
sambil menyelinap ke sisi jalan dan bersembunyi ke balik pepohonan.
Thiat Tiong-tong semakin keheranan,
pikirnya:
"Kalau dibilang dia adalah salah satu
diantara kawanan perempuan yang pernah kujumpai berapa waktu
berselang, kenapa tindak tanduknya begitu sok rahasia? Kalau
dibilang dia berasal dari kelompok lain, dari mana bisa kenal aku?"
Walaupun pelbagai kecurigaan menyelimuti
perasaan hatinya toh pemuda itu tetap berjalan mendekatnya.
Bagaikan sukma gentayangan perempuan berbaju
hitam itu berdiri di bawah rindangnya pepohonan, kembali dia
berbisik:
"Kemarilah lebih dekat"
"Cianpwee" ujar Thiat Tiong-tong sedikit
sangsi, "apakah kau ada sesuatu petunjuk? Cayhe........."
Tiba-tiba perempuan berbaju hitam itu
tertawa ringan, tegurnya:
"Masa kau sudah tidak mengenali suaraku
lagi?"
Suaranya manis, indah, lembut dan penuh daya
tarik.
"Un Tay-tay!" teriak Thiat Tiong-tong,
menjerit lantaran kaget.
"Betul!" dengan jari tangannya yang lentik
perempuan berbaju hitam itu melepaskan kain cadar penutup wajahnya,
maka terlihatlah sebuah raut muka yang cantik bak bunga mekar dengan
mata yang bening bagai permukaan air danau.
Siapa lagi dia kalau bukan Un Tay-tay?
Terkejut bercampur girang seru Thiat
Tiong-tong lagi:
"Kenapa.....kenapa kau bisa bergabung dengan
mereka?"
Kemudian seakan teringat akan sesuatu,
tanyanya lagi terperanjat:
"Bagaimanakeadaan Im samteku?"
Sekilas rasa murung bercampur sedih melintas
dibalik mata Un Tay-tay, sahutnya setelah menghela napas:
"Aaai... panjang untuk menceritakan kejadian
ini, aku hanya bisa memberitahukan secara ringkas"
"Samte, dia.....apakah lukanya telah
sembuh?"
"Bukan hanya lukanya sudah sembuh, malah
kungfu nya maju sangat pesat"
"Si.... siapa yang telah menolongnya?" tanya
Thiat Tiong- tong kegirangan.
"Bu-si thaysu!"
"Ketua Siau-lim-pay?" Thiat Tiong-tong
semakin girang, "aaah, tampaknya samte memang punya
rejeki baik, tidak nyana Bu-si
thaysu mau meringankan tangan mengajarinya ilmu silat"
Ternyata Bu-si thaysu dari Siau-lim-pay ini
bukan saja merupakan Pendeta sakti nomor satu
dijagad saat itu, nama maupun
kedudukannya dalam dunia persilatan pun amat tinggi dan terhormat,
jarang ada yang bisa menandinginya.
Tapi sudah cukup lama pendeta itu hidup
mengasingkan diri, dalam belasan tahun terakhir nyaris belum pernah
ada yang berjumpa dengan-nya,
tidak heran kalau Thiat Tiong-tong kegirangan setengah mati setelah
mendengar kabar itu.
"Hari itu dengan susah payah akhirnya aku
berhasil membawanya keluar dari lorong bawah tanah" cerita Un
Tay-tay, "sesuai dengan nasehatmu, akupun langsung menghantarnya ke
kuil Siau-lim-sie di bukit Siong-san"
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.
"Kuil Siau-lim amat ketat penjagaannya, aku
tidak habis mengerti dengan cara apa kau bisa masuk ke dalam kuil
dan berjumpa dengan Bu-si thaysu?"
"Kau tidak perlu tahu dngan cara apa aku
berhasil masuk ke dalam kuil" sahut Un Tay-tay sambil tertawa sedih,
"pokoknya aku berusaha masuk, berusaha bertemu Bu-si thaysu dan
minta kepadanya untuk mengobati luka Im Ceng"
Dari tertawanya yang begitu pedih, Thiat
Tiong-tong segera tahu kalau pengalaman yang dialaminya selama itu
pasti penuh kegetiran dan kesedihan, sebab dia tahu kendatipun
perjalanan dari pintu kuil Siau-lim hingga ke depan kamar Hong tiang
kelihatannya datar dan halus, dalam kenyataan jauh lebih sulit
ketimbang mendaki bukit terjal atau menuruni jurang curam.
Tapi berhubung Un Tay-tay nampaknya enggan
bercerita, tentu saja Thiat Tiong-tong kurang leluasa untuk
mendesaknya lebih jauh, tentu saja dia tidak menyangka kalau
kegetiran dan kesulitan yang harus dilaluinya selama ini kecuali Un
Tay-tay seorang, mungkin orang lain tidak akan mampu melampauinya.
Rupanya hari itu ketika Un Tay-tay dengan
membopong Im Ceng tiba di kuil siau-lim, dia sudah berada dalam
keadaan lelah dan kehabisan tenaga, dengan segala daya dan upaya dia
ingin bertemu tianglo kuil tapi selalu ditolak oleh para pendeta
penerima tamu diluar pintu.
Menyaksikan pintu kuil tertutup rapat Un
Tay-tay hanya bisa berlutut didepan pintu sambil menangis dan
merengek, sebesar apa pun nyalinya tidak mungkin dia berani
menerjang masuk secara paksa.
Sayangnya walaupun dia sudah berlutut
setengah malaman, walau suara tangisannya telah membuat dia jadi
parau, namun penghuni kuil Siau-lim tetap tidak ambil perduli,
menggubris pun tidak.
Hal ini bukan disebabkan jiwa para pendeta
Siau-lim yang kelewat keji dan tega, masalahnya nama dan pamor
Siau-lim-pay kelewat besar, kelewat termashur, dalam ratusan tahun
terakhir ada begitu banyak orang yang naik gunung mohon bantuan.
Menghadapi permintaan yang begitu meluber
tentu saja pihak Siau-lim-pay tidak bisa mengabulkannya, apalagi
diantara mereka yang datang, banyak diantaranya merupakan penjahat
kambuh atau tokoh jahat yang kabur kesitu karena sedang diburu
petugas negara atau para penegak keadilan.
Malah ada banyak diantaranya yang pura-pura
berlagak sakit atau terluka, padahal sebetulnya berniat mencuri
belajar ilmu silat partai itu, jika pihak Siau-lim-pay menerima
semua permintaan itu,
bukankah tempat suci sang Buddha bakal berubah jadi tempat yang
nista, kotor dan penuh dosa.
Itulah sebabnya pihak Siau-lim-sie
menerapkan peraturan yang sangat ketat, kecuali ada yang
merekomendasi atau orang itu benar-benar seorang pendekar sejati,
jangan harap yang lain bisa melangkah masuk ke dalam kuil.
Un Tay-tay tidak ada yang memberi
rekomendasi, diapun bukan seorang pendekar kenamaan, bukan hal yang
aneh jika permintaannya ditampik mentah-mentah.
Entah suatu keberuntungan atau justru
merupakan satu musibah, disaat yang amat menyulitkan itulah mendadak
terasa ada angin berhembus lewat, entah sejak kapan, tahu-tahu
dibelakang tubuhnya telah muncul seorang kakek berjubah ungu.
Biarpun angin yang ditimbulkan sewaktu
datang amat ringan ternyata dia memiliki perawakan tubuh tinggi
besar, sekilas pandang, kakek itu mirip malaikat raksasa yang datang
dari langit.
Dia mempunyai alis mata yang tebal dengan
mata yang tajam, dagunya memelihara cambang berwarna merah
keungu-unguan, setelah memperhatikan Un Tay-tay beberapa saat lalu
menegur:
"Nona cilik, kenapa kau menangis?"
Ternyata dia memiliki suara yang keras bagai
guntur yang menggelegar di angkasa.
Melihat kemunculan orang itu Un Tay-tay
nampak terperanjat, namun setelah melihat kakek itu tidak berniat
jahat, secara ringkas dia pun menuturkan kisah kejadiannya.
Selesai mendengar penuturan itu, si kakek
tinggi besar itu kontan tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha...... kalau ingin bertemu Bu-si
hweesio mah gampang sekali, tapi aku tidak pernah mau membantu orang
tanpa imbalan, kecuali setelah berhasil nanti kaupun berjanji mau
memberi upah kepadaku"
"Walaupun siauli tidak punya apa-apa, tapi
masih memiliki sedikit uang"
"Hahahaha...... buat apa uang? Aku sudah
memiliki banyak sekali, lagipula buat apa aku mesti menolongmu kalau
cuma gara-gara sedikit barang
rongsok? Aaah, masa kau pandang begitu tidak berharga diriku?"
"Tapi kecuali uang, siauli benar benar
tidak......tidak memiliki benda lain sebagai imbalan"
"Kalau begitu lanjutkan saja berlututmu!"
kata si kakek sambil berjalan menuju ke arah pintu.
Melihat kondisi Im Ceng yang makin lama
semakin bertambah parah, Un Tay-tay sadar bila tidak diberi
pertolongan secepat mungkin, bisa jadi keadaan akan terlambat.
Akhirnya sambil menggigit bibir dia
berteriak keras:
"Cianpwee, tunggu sebentar"
"Apakah kau sudah teringat ada benda lain
yang bisa diberikan kepadaku?" tanya kakek berjubah ungu itu sambil
membalikkan tubuh.
"Benar!"
"Apa itu?" berkilat sepasang mata si kakek.
"Tubuhku!"
Kakek berjubah ungu itu segera mendongak-kan
kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha,....... betul, betul
sekali! Kalau bukan lantaran menunggu jawaban ini, buat apa aku
mesti membuang banyak waktu, biarpun jawaban sedikit agak terlambat,
paling tidak toh membuktikan kau memang perempuan pintar"
Tiba-tiba dia menghentikan gelak tertawanya,
kemudian ujarnya lagi dengan nada keras:
"Tapi ingat, kau sendiri yang rela
menjanjikan hal itu, aku tidak pernah berusaha memaksamu, jadi
sampai waktunya kau jangan mencoba ingkar janji"
"Bagaimana kalau sebaliknya kau gagal
mengajak kami masuk ke dalam?" Un Tay-tay balik bertanya, meski
wajahnya tetap tenang, meski pancaran matanya tetap hangat namun
perasaan hatinya telah mendingin, mati!
"Kalau tidak sanggup membawamu masuk, akan
kuserahkan batok kepalaku ini"
"Tapi.... sekalipun kau dapat membawa masuk
kami berdua, akupun tidak bisa langsung........."
"Aku tahu, kau masih ingin menemani bocah
muda setengah mampus itu berapa hari lagi bukan" tukas kakek
berjubah ungu itu cepat.
"Bukan berapa hari, tapi berapa puluh hari"
Kembali kakek berjubah ungu itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha....... perempuan yang sangat
lihay, sebelum ini belum pernah kujumpai perempuan macam kau,
baiklah, kuberi waktu selama empat puluh hari, selewat empat puluh
hari, tubuhmu akan menjadi milikku"
"Tapi perasaan hatiku tetap akan menjadi
milikku sendiri" sambung Un Tay-tay segera.
Kakek berjubah ungu itu agak tertegun,
tanyanya tanpa terasa:
"Berapa nilai hatimu itu?"
"Harus ditukar dengan nyawamu!"
"Hahahaha...... bagus, bagus sekali" kembali
kakek berjubah ungu itu tertawa tergelak, "tidak nyana di usia senja
aku bisa bertemu perempuan macam kau, sayang perjumpaan kita tidak
terjadi lebih awal"
"Sekalipun perjumpaan terjadi lebih awal,
kau tetap tidak akan peroleh apa-apa"
Arti perkataan itu jelas sekali, maksudnya
andaikata aku bukan sedang memohon bantuanmu, mana mungkin akan
kuserahkan tubuhku kepadamu?
Kembali kakek berjubah ungu itu tertawa
terbahak-bahak.
"Bagus, bagus sekali....... cepat sebut,
siapa namamu"
"Un Tay-tay!"
Sekali lagi kakek berjubah ungu itu
memperhatikan tubuhnya berapa kejap, mendadak dia membalikkan tubuh
dan berteriak keras:
"Hei, apakah ada hwesio didalam kuil? Kalau
masih ada yang hidup, cepat keluar!"
Suaranya yang keras bagai guntur membuat
daun jarum pohon siong yang tumbuh disekitar sana rontok berguguran.
Tidak selang berapa saat kemudian, pintu
kuil dibuka orang dan muncul seorang pendeta berjubah abu-abu,
tampaknya dia dibuat terperanjat oleh suara teriakan itu.
Walau masih nampak kaget namun sambil
menahan diri pendeta itu segera memberi hormat seraya bertanya:
"Sicu ada urusan apa?"
"Aku ingin bertemu Bu-si!"
Sekali lagi paras muka pendeta itu sedikit
berubah, apalagi melihat orang itu begitu berani menyebut langsung
nama hongtiang nya.
"Cousu sudah banyak tahun tidak menerima
tamu!" kembali sahutnya dengan kening berkerut.
"Hmm, orang lain boleh saja tidak dijumpai,
tapi dia harus bertemu aku"
"Boleh tahu nama sicu?" tanya pendeta itu
dingin.
"Hmm, kau belum berhak untuk mengetahui
namaku!" bentak kakek berjubah ungu itu keras.
Tiba-tiba dia membalikan tubuh, sepasang
tangan dilontar keluar dari balik bajunya dan.....
"Blaaaam!" sebatang pohon siong yang tumbuh
disisi pintu kuil seketika terhajar patah jadi dua bagian, separuh
bagian diantaranya berikut daun dan ranting langsung roboh ke arah
pendeta itu.
Menyaksikan betapa dahsyatnya kemampuan
lawan, rasa ngeri bercampur takut segera memancar keluar dari balik
wajah pendeta itu, tanpa banyak bicara lagi tergopoh-gopoh dia lari
masuk ke dalam kuil.
Un Tay-tay sendiripun berdiri terbelalak
menyaksikan kehebatan kakek itu.
Terdengar si kakek kembali berseru sambil
tertawa tergelak:
"Hahahaha..... kalau aku tidak sedikit
mendemonstrasikan kemampuanku, pendeta itu pasti tidak akan memberi
laporan"
Tidak selang berapa saat kemudian tampak
seorang pendeta berjenggot putih muncul dari balik ruangan, tapi
begitu bertemu dengan kakek berjubah ungu itu, paras mukanya
seketika berubah hebat.
"Hui-keng, kau masih kenali aku?" bentak
kakek berjubah ungu itu.
"Aaah, rupanya cianpwee yang datang"
buru-buru Hui-keng, pendeta berjenggot putih itu menjura dalam
dalam, "pinceng segera akan memberi kabar kepada guru, pinceng rasa
suhu pasti akan segera datang menyambut"
"Cepat, cepat!"
"Baik, baik!" kembali Hui-keng masuk ke
dalam kuil dengan tergesa-gesa.
Sudah cukup lama Un Tay-tay tahu kalau
Hui-keng thaysu termasuk salah satu pendeta kenamaan dari
Siau-lim-pay, dia tidak menyangka kalau hwesio itu menaruh rasa
takut, jeri bercampur hormat terhadap kakek berjubah ungu itu,
kenyataan tersebut membuat perasaan hatinya makin tercekat.
Tidak selang berapa saat kemudian, pintu
kuil dibuka lebar-lebar dan muncullah tujuh orang pendeta beralis
putih, sambil memberi hormat serentak mereka berseru:
"Hongtiang mempersilahkan sicu untuk masuk"
Kakek berjubah ungu itu mendengus dingin.
"Hmmm, aku lihat lagak si hwesio tua itu
makin lama semakin besar" serunya, "dia berani tidak menyambut
kedatanganku.......Un Tay-tay, bopong dia dan ikut aku masuk!"
Benar saja, para pendeta Siau-lim itu tidak
ada yang berani menghalangi, mereka membiarkan Un Tay-tay dengan
membopong Im Ceng masuk ke dalam ruang kuil.
Tampak dua baris pendeta berdiri berjajar
sepanjang jalan, diantara asap dupa yang harum, paras muka mereka
nampak serius, sepasang tangan dirangkap didepan dada, tubuh mereka
sama sekali tidak bergerak, dalam sekilas pandang wajah mereka mirip
patung patung Buddha yang terbuat dari batu cadas, membuat suasana
terasa makin mencekam.
Un Tay-tay mencoba untuk melirik sekejap,
tapi setelah menyaksikan suasana tersebut dia tundukkan kepalanya
semakin rendah, tidak berani memandang lagi.
Mereka berjalan jauh sekali ke dalam halaman
kuil, dari jalan beralas batu berubah jadi jalan beralas pasir
halus, lalu dari pasir halus beruba jadi jalan berbatu kerikil.
Entah berapa lama mereka sudah berjalan,
akhirnya tibalah disebuah tempat dengan alas rerumputan yang hijau
dan lembut, lamat-lamat terendus bau kayu cendana yang harum, dia
tahu mereka sudah tiba di ruang Hongtiang, hal ini membuatnya
semakin tidak berani celingukan.
"Bu-si lo-hweesio, apakah kau ada di dalam?"
terdengar kakek berjubah ungu itu menegur.
Dari balik ruangan yang tertutup tirai
bambu, tirai yang sudah berubah menjadi warna kuning karena asap
dupa, terdengar seseorang menyahut dengan suara berat dan mantap:
"Tamu lama yang datang berkunjung, silahkan
masuk"
"Selamanya aku tidak akan mengunjungi
ruangan yang dipenuhi bau cendana" tampik kakek berjubah ungu itu
cepat.
"Harap maklum, lolap pun tidak pernah keluar
ruangan untuk menyambut sendiri kedatangan tamu!"
"Kau tidak perlu keluar, aku hanya ingin
bertanya satu hal"
"Tanyakah saja!" ucap orang dibalik tirai
bambu.
"Kau masih akan mengurusi persoalan itu atau
tidak?"
"Persoalan yang mana?"
Kakek berjubah ungu itu kontan tertawa
dingin.
"Persoalan yang mana tidak perlu lagi
dijelaskan, kita sama-sama sudah tahu dengan sangat jelas. Selama
puluhan tahun, persoalan itu tidak pernah mengusik kau maupun aku,
sekarang sebetulnya kau masih mau mengurusi atau tidak?"
Orang dibalik tirai bambu itu termenung
berapa saat, kemudian ia baru menjawab:
"Mengurus adalah tidak mengurus, tidak
mengurus adalah mengurus, sicu mendesak terus untuk menanyai hal
ini, apakah kau sudah mulai merasa asor!"
"Hey hwesio tua, permainan busuk apa yang
sedang kau lakukan, aku tidak paham" seru kakek berjubah ungu itu
sambil berkerut kening.
"Mengerti adalah tidak paham, tidak paham
adalah mengerti"
"Hahahahaha.....bagus.....bagus, kini aku
telah datang sia-sia, tidak datang juga tidak sia-sia, urusan itu
mau meledak juga boleh, tidak meledak pun juga boleh"
"Omintohud, akhirnya sicu memahami juga"
Sekali lagi kakek berjubah ungu itu terbahak
bahak:
"Panji besar adalah panji kecil, panji kecil
adalah tiada panji, cinta adalah dendam, cinta adalah
benci......perkataanku benar bukan?"
"Kau sudah mengerti......kau sudah
mengerti!"
Kakek berjubah ungu itu mendongakkan
kepalanya tertawa terbahak-bahak, mendadak ujarnya lagi:
"Ada seseorang yang setengah mampus mohon
pertolonganmu, kini sudah kubawa kemari, mau ditolong atau tidak
terserah kau sendiri, mau membiarkan dia mampus didepan kamar
Hongtiang mu pun tidak ada sangkut pautnya denganku......pergilah!"
Ketika mengucapkan kata yang terakhir tiba-tiba
dia tangkap tubuh Un Tay-tay serta Im Ceng kemudian melemparnya ke
dalam kamar Hongtiang. Serunya lagi sambil tertawa tergelak:
"Empat puluh hari kemudian, kemana pun kau
pergi, aku tetap bisa menemukan dirimu kembali"
Un Tay-tay hanya merasakan desingan angin
berhembus lewat dari sisi telinganya, tahu-tahu tubuhnya sudah
meluncur masuk ke dalam ruangan melalui jendela.
Dia sangka bantingannya kali ini paling
tidak akan membuatnya kesakitan setengah mati, siapa tahu penggunaan
tenaga yang dilakukan kakek berjubah ungu itu ternyata sangat tepat.
Baru saja Un Tay-tay terkesiap, tahu-tahu
tubuhnya sudah berdiri tegap didalam ruangan, sementara gelak
tertawa kakek berjubah ungu itu kedengaran semakin jauh, sesaat
kemudian suasana sudah pulih kembali dalam keheningan.
Suasana didalam kamar hongtiang amat hening
dan sepi, Bu-si thaysu duduk bersila bagaikan sebuah patung dewa.
Un Tay-tay tidak berani menatap wajahnya,
dia hanya berlutut sambil memohon.
"Siapa kau? Siapa pula dia?" tanya Bu-si
thaysu.
"Siauli Un Tay-tay, dia adalah Im Ceng,
murid Perguruan Tay ki bun"
Begitu mendengar kata Tay ki bun, sepasang
alis mata Bu-si thaysu nampak sedikit bergetar, katanya lagi dengan
suara dalam:
"Apakah sebelumnya kalian berdua tidak
pernah kenal dengan manusia berbaju ungu itu?"
Mendengar pertanyaan itu dengan keheranan Un
Tay-tay berpikir:
“Thaysu ini sama
sekali tidak pernah meninggalkan pintu kamar, dari mana dia tahu
kalau orang tua itu mengenakan baju ungu, dari mana pula bisa tahu
kalau aku tidak kenal dengannya?'
Meski terperanjat bercampur keheranan, dia
tidak berani berbohong, apayang dialaminya selama ini pun
diceritakan secara ringkas.
Selesai mendengar penuturan itu, Bu-si
Thaysu mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang, katanya:
"Buddha maha pengasih, Buddha maha
penyayang.....ternyata dia yang menghantar murid Tay ki bun untuk
berobat disini .......takdir, takdir!"
Makin didengar Un Tay-tay semakin
keheranan, namun dia tidak berani banyak bertanya.
"Baik!" ujar Bu-si Thaysu kemudian, "pinceng
akan mengobati lukanya, kau boleh pergi!"
Mimpi pun Un Tay-tay tidak menyangka kalau
pendeta sakti dari Siau-lim-pay ini dengan begitu mudah menyanggupi
permintaannya, dia merasa terkejut bercampur kegirangan, namun
ketika mendengar dia diharuskan pergi, dengan agak gugup serunya:
"Tapi siauli......."
"Ajaran Buddha mengutamakan hukum sebab
akibat" tukas Bu-si Thaysu cepat, "kau telah menyanggupi
permintaannya berarti kau telah menanamkan sebab, karena ada sebab
tentu ada akibat, akibat yang harus kau selesaikan sendiri, jangan
mengurusi orang lain"
"Siauli telah menyanggupi permintaannya,
tentu masalah ini akan kuselesaikan sendiri" kata Un Tay-tay dengan
air mata bercucuran, "siauli hanya memohon kepada thaysu, ijinkan
lah siauli berdiam selama berapa hari disini, menunggunya hingga dia
sembuh dari lukanya"
Bu-si Thaysu pejamkan mata sambil termenung
berapa saat, gumamnya kemudian:
"Orang yang kelewat romantis pasti akan
tersiksa karena cinta...... aaai..... dihalaman luar sana terdapat
sebuah kamar kayu bakar, tinggallah disana, setiap hari kau hanya
boleh masuk halaman ini selama setengah jam"
"Terima kasih Thaysu" Un Tay-tay berseru
sambil menyembah.
"Pinceng hanya bisa melanggar peraturan
sampai disini, sekarang pergilah!"
Ketika selesai mengisahkan pengalamannya,
kembali Un Tay-tay tertawa getir, dia tidak ingin orang lain ikut
bersedih hati atas kemalangan yang menimpa dirinya.
Terdengar Un Tay-tay berkata lebih jauh:
"Sebenarnya kuil Siau-lim-sie tidak
menampung kaum wanita, tapi kali ini Bu-si Thaysu telah
melanggar kebiasaan, dia ijinkan aku tinggal disitu bahkan setiap
hari aku diijinkan menengok Im Ceng satu kali"
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang,
ujarnya:
"Sikap baik Bu-si Thaysu terhadapmu sama
artinya kalau kau telah berhutang budi kepadanya"
Darimana dia tahu penderitaan yang harus
dialami Un Tay-tay selama berdiam dalam gudang kayu bakar, darimana
dia tahu kalau perempuan itu hanya berdiam dalam sebuah gudang kayu
bakar?
"Ternyata Bu-si Thaysu bukan saja memiliki
ilmu silat yang hebat, diapun memiliki ilmu pertabiban yang luar
biasa, tiga hari kemudian luka yang diderita Im Ceng sama sekali
telah sembuh, bahkan dia dapat bergerak"
Setelah tertawa pedih, lanjut perempuan itu:
"Melihat lukanya begitu cepat telah sembuh,
tentu saja aku merasa amat girang, apalagi ketika mendengar Bu-si
Thaysu akan mengajarinya ilmu silat, rasa senang ku tidak
terlukiskan, tapi.......tapi........"
"Tapi kenapa?" tanya Thiat Tiong-tong ketika
melihat perubahan aneh di wajahnya.
"Sejak awal hingga akhir, ternyata Im Ceng
tidak pernah mengajakku bicara, walau hanya sekecap pun"
Thiat Tiong-tong tertegun.
"Kenapa.....kenapa bisa begitu......."
bisiknya.
Membayangkan kembali bagaimana pengorbanan
yang dilakukan Un Tay-tay demi selamatkan nyawa Im Ceng, melihat
nasib tragis yang menimpanya sekarang tidak urung pemuda itupun ikut
merasa sedih.
"Dia bahkan tidak menengok sekejappun ke
arahku" ujar Un Tay-tay sambil tertawa pedih, "tapi aku tahu kalau
dulu sudah kelewat melukai hatinya, maka aku tidak menyalahkan dia"
"Apakah sekarang kau sudah benar-benar jatuh
hati kepadanya?"
Un Tay-tay hanya tutup mulutnya tanpa
menjawab, sementara air matanya berurai makin deras.
"Apakah karena dia tidak menggubrismu maka
kau enggan menceritakan semua kedukaan dan penderitaan yang kau
alami kepadaku? Apakah lantaran itu kau menguraikan kejadian ini
secara ringkas?"
Tidak kusangka ternyata dia memahami
perasaan hatiku, hanya dia yang memahami perasaan hatiku!”
batin Un Tay-tay dengan air mata berurai.
Sekarang dia merasa sedih, diapun merasa
berterima kasih, entah kenapa, perasaan hatinya terhadap Thiat
Tiong-tong saat ini tinggal perasaan sayang seorang adik terhadap
kakaknya, sama sekali tidak ada perasaan cinta muda mudi.
Perlu diketahui, bila seorang wanita yang
sudah kenyang pengalamannya dalam hal bercinta jatuh hati atau
tergerak hatinya terhadap seseorang, maka perasaan cintanya itu akan
lebih teguh dan murni daripada emas.
Dulu, walaupun dia pernah tertarik oleh
penampilan Thiat Tiong-tong, namun rasa tertariknya itu hanya
merupakan rangsangan yang bersifat sementara, berbeda dengan Im
Ceng, pemuda itu benar-benar telah meluluhkan perasaan hatinya,
perubahan yang terjadi saat itu mungkin hanya dia seorang yang
memahaminya.
Tiba-tiba dia tertawa, sambil mengalihkan
pokok pembicaran katanya:
"Siapa bilang aku menderita dan tersiksa?
Kehidupanku selama ini selalu enak dan bahagia, aku......aku hanya
tidak bisa melupakan sorot mata Im Ceng sewaktu terluka dulu,
pandangan matanya terhadapku, sekalipun setelah sembuh dia tidak
menggubrisku, tapi perasaan hatinya tidak bisa berbohong, Thiat
toako.....kau tentu bisa memahami perasaan hatiku ini bukan? Biarpun
sejak kini aku tidak bisa bertemu lagi dengannya, aku tidak akan
perduli"
Begitu mendengar dia merubah panggilan
terhadap dirinya menjadi toako, Thiat Tiong-tong tahu kalau perasaan
hatinya sekarang sudah kembali ke jalan benar. Tidak tahan diapun
bertanya:
"Siapa bilang kau tidak bisa bertemu lagi
dengannya?"
"Sebab aku sudah akan pergi jauh sekali!"
kata Un Tay-tay sedih.
Ternyata setiap malam dia tidur dalam gudang
kayu bakar, sementara siang hari selalu berada dalam halaman dalam
selama setengah jam, terkadang dia malah tidak bersua dengan Im
Ceng, sekalipun bertemu, Im Ceng tidak pernah mau ambil perduli
terhadapnya.
Dalam keadaan begini terpaksa Un Tay-tay
harus menahan linangan air matanya, begitu setengah jam berlalu, dia
harus segera balik ke gudang kayu, untuk mengisi waktu yang senggang
dan menghibur hati yang murung, diapun tiap hari memotong kayu.
Dia tinggal di kuil Siau-lim hampir dua
puluhan hari, dalam waktu yang relatip singkat dia telah memotong
hampir setiap potong kayu bakar menjadi ranting yang kecil, membuat
ke lima jari tangannya yang lentik berubah jadi kasar penuh dengan
lapisan kulit tebal.
Kalau dia makin hari semakin sayu dan lusuh
sebaliknya Im Ceng makin hari semakin bercahaya terang, wajahnya
makin merah, dari caranya berlatih silat dapat diketahui kalau ilmu
silatnya telah memperoleh kemajuan yang pesat.
Kendatipun Im Ceng nyaris tidak
menggubrisnya, namun Un Tay-tay tidak pernah mau menyia-nyiakan
waktu selama setengah jam yang dimilikinya, setiap hari dia selalu
muncul di sana, mengawasi wajah Im Ceng yang makin segar, memandang
sikapnya yang makin dingin.
Terlepas dia sedih atau gembira, Un Tay-tay
selalu berusaha tampil dengan senyuman menghiasi wajahnya, walaupun
di masa lalu dia sudah terlalu sering berpura-pura mencintai lelaki,
menipu kaum pria, tapi kini cinta yang tumbuh dalam hatinya adalah
cinta sejati, hanya sayangnya cinta yang sejati justru tidak ingin
dia perlihatkan secara terang-terangan.
Hari itu, dengan susah payah dia menanti
hingga tiba saatnya kunjungan, dengan membawa secercah pengharapan
dia memasuki halaman dalam, dia berharap hari ini Im Ceng mulai mau
memperdulikan dirinya.
Siapa tahu ketika tiba di dalam halaman,
tiba-tiba dia jumpai Im Ceng telah pergi meninggalkan tempat itu.
Dia merasa terkejut, tercekat, ngeri
bercampur masgul, tanpa berpikir panjang diapun menyerbu masuk ke
dalam kamar Hong tiang.
Tampaknya Bu-si Thaysu sudah menduga maksud
kedatangannya, dengan suara dalam ujarnya:
"Ooh, kau sudah datang, bagus, bagus,
duduklah dahulu, dengarkan berapa patah kataku"
Menyaksikan sikap dari Bu-si Thaysu ini, Un
Tay-tay tidak berani bertindak sembrono, terpaksa dia duduk sambil
menahan lelehan air mata.
Dengan suara berat kembali Bu-si Thaysu
berkata:
"Tentunya kau sudah tahu bukan kalau dia
telah pergi, lolap yang menghantarnya pergi, demi suatu persoalan
yang maha besar dan berat, mau tidak mau dia harus pergi"
"Meng.....mengapa dia tidak
mengucapkan sepatah kata pun kepadaku?”
tanya Un Tay-tay dengan berurai air mata.
Bu-si Thaysu menghela napas panjang.
"Ketika hendak pergi, lolap pun pernah
bertanya apakah dia ingin bertemu denganmu, diapun sudah
mempertimbangkan masalah ini cukup lama, tapi akhirnya memutuskan
untuk tidak bertemu"
"Ke.....kenapa dia begitu tega?"
"Tiada rasa cinta berarti cinta,
aaaai......... dari pada cinta lebih baik tiada cinta, justru karena
setiap benda di dunia ini memiliki rasa cinta maka kehidupan manusia
terjerumus dalam pelbagai kemurungan dan siksaan"
"Thaysu, boleh tahu dia telah pergi ke
mana?" tanya Un Tay-tay lagi sambil menangis.
"Pulau Siang cun-to!" Bu-si Thaysu menghela
napas, "sekalipun sudah lolap katakan pun belum tentu kau akan
mengetahuinya"
"Siang-cun-to, di mana letaknya?"
"Lolap sendiripun tidak tahu, dia harus
mencari sendiri letak tempat itu, dengan tabiatnya, tidak
mungkin dia akan berbalik ditengah
jalan sebelum menemukan tempat itu........."
Tiba-tiba sekulum senyuman menghiasi
wajahnya, dia melanjutkan:
"Dimana pun adalah tempat tujuan, dimana pun
bukan tempat tujuan, aaai.... lagi-lagi lolap berfilsafat....."
"Thaysu, karena urusan apa dia harus pergi
ke Siang cun-to?"
"Ada sebab tentu menimbulkan akibat, ada
akibat tentu karena ada sebab, akibat yang muncul hari ini
dikarenakan sebab dimasa lalu, tentu saja dia punya alasan untuk
kesana, tentu ada persoalan hingga mesti ke sana........"
Perlahan-lahan pendeta itu memejamkan
matanya dan tidak berbicara lagi.
Un Tay-tay tahu banyak bertanya pun tidak
ada gunanya, maka setelah memberi hormat, dengan sedih dia
meninggalkan kamar Hongtiang dan berjalan keluar dari pintu kecil
halaman belakang.
Baru saja dia melangkah keluar dari pintu,
pintu kecil itu sudah tertutup rapat, kalau selama berapa hari ini
pintu tersebut hanya setengah tertutup maka kini pintu itu tertutup
rapat sekali.
Un Tay-tay sadar, setelah hari ini dia
berjalan keluar dari kuil Siau-lim maka jangan harap dia bisa masuk
lagi ke tempat itu, dengan membawa rasa sedih yang luar biasa dia
pun menelusuri jalan setapak menuju ke depan sana.
Dia tidak tahu ke arah mana dia pergi,
terlebih tidak tahu harus kemana dia pergi.
Lama sekali dia berjalan hingga tiba disisi
sebuah sungai kecil, saat itulah Un Tay-tay baru berjongkok,
mengambil air dan membasahi tenggorokanya.
Waktu itu sinar matahari senja telah
menyelimuti angkasa, cahaya keemas emasan memantul diatas permukaan
air, menyinari wajahnya.
Ketika sinar senja semakin redup, seluruh
cahaya pun mulai menghilang, tak ada yang terlihat lagi disekeliling
permukaan air.
Mengawasi kegelapan yang mulai menyelimuti
angkasa, dengan sedih Un Tay-tay bergumam:
"Mengapa kehidupan manusia bagaikan aliran
air sungai, keindahan selalu berlangsung cepat, kenapa aku harus
hidup terus di dunia ini? Apakah sedang menanti saat menjadi
gundiknya makhluk berjubah ungu itu?"
Ditengah hembusan angin malam yang semakin
dingin, Un Tay-tay merasa hatinya makin pedih, makin putus asa,
akhirnya dia mendongak-kan kepalanya menghela napas panjang, dia
siap mengambil keputusan pendek.
Tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar
seseorang menegur:
"Benarkah kau ingin mati?"
Suaranya dingin dan sangat hambar.
Dengan cepat Un Tay-tay membalikkan tubuh,
seketika itu juga dia merasakan munculnya hawa dingin dari telapak
kaki menerjang naik ke ubun ubunnya.
Ternyata dibelakang tubuhnya, lebih kurang
sejauh satu depa, entah sejak kapan telah berdiri sesosok bayangan
wanita berbaju hitam, kecuali ujung gaunnya yang berkibar ketika
terhembus angin, dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya sama
sekali tidak nampak bergerak.
Kemunculannya ditempat dan saat seperti ini
bukan saja menimbulkan perasaan seram, bahkan mudah menimbulkan
prasangka lain yang lebih mengerikan.
Dengan perasaan bergidik Un Tay-tay segera
berpikir:
"Dia......sebenarnya dia ini manusia, atau
setan gentayangan?"
Tapi ingatan lain segera melintas lewat,
pikirnya lebih jauh:
"Perduli amat, toh aku bakal segera amati,
mau siluman rase, mau setan gentayangan, kenapa aku mesti takut"
Maka dengan memberanikan diri diapun
menyahut:
"Benar, aku memang ingin mati, mau apa kau?"
Dengan nada yang sedih perempuan berbaju
hitam itu menyahut:
"Usiamu masih sangat muda, sekarang kau
berkata ingin mati, ini dikarenakan dorongan emosimu sesaat, padahal
sebentar lagi belum tentu kau masih ingin mati"
"Apalah arti dari kehidupan, kenapa aku
masih ingin hidup"
"Kalau begitu kau pasti sedang dirundung
perasaan sedih yang luar biasa! Apakah orang yang kau cintai telah
menyia-nyiakan dirimu, meninggalkan dirimu dengan begitu saja?"
Rasa sedih kembali menusuk perasaan Un
Tay-tay, sambil menghentakkan kakinya dia menjerit keras:
"Kau tidak usah ikut campur!"
Kemudan sambil menutup wajah sendiri dia
lari secepatnya meninggalkan tempat itu.
Siapa tahu baru saja dia berlarian beberapa
saat, tiba-tiba dijumpai perempuan berbaju hitam itu bagaikan sukma
gentayangan saja, tanpa menimbulkan sedikit suara pun kembali sudah
menghadang dihadapannya.
"Kau........ kau........ sebenarnya apa mau
mu!" teriak Un Tay-tay.
"Aku pun orang yang sedang bersedih hati,
sedang ingin mati, kalau kau memang bertekad ingin mati, lebih baik
kita mati bersama-sama saja" ujar perempuan berbaju hitam itu
perlahan.
Diam diam Un Tay-tay berpikir:
"Ooh, rupanya kau sedang menjajal apakah aku
benar-benar ingin mati? Bila kemudian mengetahui aku tidak ingin
mati maka kau akan mengejekku, mempermalukanku? Baik, aku akan mati
dihadapannya"
Maka sambil sengaja tertawa tergelak
serunya:
"Baik, tidak kusangka dalam perjalanan
menuju ke alam baka, aku bakal punya teman......"
"Ikut aku!" bisik perempuan itu tiba-tiba,
sambil menarik tangan Un Tay-tay dia segera bergerak menuju ke
barat.
Un Tay-tay merasakan tangan perempuan itu
dingin bagaikan es, persis tangan orang yang sudah mati, selain
dingin diapun merasakan munculnya semacam tenaga aneh yang membawa
tubuhnya, tanpa kuasa dia ikut berlarian mengintil di belakangnya.
Sepanjang perjalanan diapun merasa ujung
kakinya nyaris tidak menempel tanah, ketika memperhatikan pula
pakaian hitam dan cadar hitamnya yang berkibar terhembus angin,
nyaris tubuh perempuan itu seakan sedang melayang di angkasa saja.
Biarpun Un Tay-tay bertekad ingin mati,
tidak urung berdiri juga bulu kuduknya setelah menyaksikan kejadian
ini.
Jalan perbukitan makin lama semakin curam
dan berbahaya, diantara tebing-tebing tinggi yang terjal terbentang
jurang yang tidak terkira dalamnya, asal terpeleset sedikit saja
niscaya tubuhnya akan hancur lebur.
Tiba-tiba perempuan berbaju hitam itu
menghentikan langkahnya sambil berkata: "Sudah sampai, disinilah
tempatnya"
Ditengah kegelapan malam yang mencekam, Un
Tay-tay menjumpai dirinya berdiri diatas sebuah batu gunung yang
besar di puncak tebing yang tinggi lagi curam, dibawah tebing
terbentang kegelapan yang luar biasa, tidak jelas seberapa dalam
jurang dihadapannya itu.
"Apa lagi yang kau tunggu?" tanya perempuan
berbaju hitam itu lagi, "ayohlah cepat melompat!"
Un Tay-tay tertawa pedih, sahutnya:
"Sebuah tempat mencari mati yang
indah........"
Mendadak raut muka banyak orang yang pernah
dikenalnya dulu satu per satu melintas dibenaknya, tidak kuasa lagi
tubuhnya mulai gemetar keras......
"Bila kau enggan mati, masih sempat untuk
kembali" kembali perempuan berbaju hitam itu berkata dingin.
"Aku...... aku......." mendadak
wajah seram kakek berjubah ungu itu serta wajah Im Ceng yang
begitu dingin kaku terlintas kembali dalam benaknya, sambil
menggigit bibir segera teriaknya:
"Kenapa aku harus kembali!"
Sambil pejamkan mata dia segera melompat ke
dalam jurang.
Begitu tubuhnya meluncur ditengah udara,
benaknya seketika terasa bagaikan mau pingsan, lamat-lamat terdengar
perempuan berbaju hitam itu berkata sambil tertawa:
"Tidak salah lagi, kau........"
Kata berikut sudah tidak sempat terdengar
lagi, karena dia merasa tubuhnya terjatuh ke dalam pelukan
seseorang.
Un Tay-tay merasa terkejut bercampur
terkesiap, selain itu diapun merasa keheranan, sampai lama kemudian
dia baru berani membuka matanya kembali, tampak enam orang wanita
berbaju hitam dengan dandanan yang sama telah berdiri
disekelilingnya.
Ketika dia mendongakkan kepalanya, batu dari
mana dia melompat tadi ternyata persis berada diatas kepalanya,
jarak dengan permukaan tanah paling sepuluh depa, tentu saja yang
terlihat olehnya dari atas hanya kegelapan malam yang mencekam
karena saat itu memang ditengah malam buta.
"Tampaknya kau sudah dibuat kaget" kata
perempuan berbaju hitam yang membopongnya dengan perlahan, meski
suaranya dingin dan hambar namun jelas memperlihatkan perasaan
kuatir.
Un Tay-tay segera meronta sambil melompat
turun, serunya dengan marah:
"Aku sudah bertekad untuk mati, kenapa
kalian masih mempermainkan orang bernasib buruk macam aku!"
Perempuan berbaju hitam itu menghela napas
panjang, sahutnya:
"Justru kau adalah orang yang bernasib
jelek, maka kami pun melakukan hal ini"
"Kenapa?"
"Sebab kami semua adalah orang yang bernasib
jelek, maka kami akan menampung semua perempuan bernasib jelek, tapi
bila dia belum bertekad untuk mencari mati, berarti nasibnya belum
betul-betul jelek"
"Oleh sebab itu kalian ingin menjajal aku
bukan? Tapi kalian....."
Perempuan berbaju hitam itu tertawa pedih,
tukasnya:
"Kami semua pernah mati satu kali, maka
kaupun harus mati satu kali sebelum dapat bergabung ke dalam
kelompok kami"
Perempuan yang lain menyambung dengan nada
dingin:
"Kini kita semua adalah orang yang sudah
mati, lewat beberapa hari kau akan tahu bahwa rasanya menjadi orang
mati ternyata jauh lebih enak dari pada menjadi orang hidup"
Dengan perasaan bergidik Un Tay-tay
celingukan memandang sekejap sekeliling tempat itu, dia tidak jelas
saat ini sebenarnyia sudah mati atau masih hidup, tiba-tiba
jeritnya:
"Aku tidak ingin jadi orang mati...... aku
tidak ingin jadi orang mati......."
"Kau telah mati satu kali, memangnya ingin
hidup lagi?" perempuan berbaju hitam itu menegur ketus.
Dengan bulu kuduk pada berdiri dan perasaan
ngeri yang luar biasa, Un Tay-tay mundur dua langkah, serunya:
"See....sebenarnya siapa kalian?
Ke......kenapa aku harus bergabung ke dalam kelompokmu?"
"Setelah menjadi orang mati, kau dapat
menjadi utusan langit, dapat menuntutkan keadilan bagi wanita-wanita
lain dikolong langit yang menderita, masa kau tidak bersedia?"
Dalam menuturkan kisahnya kali ini, Un
Tay-tay bercerita secara jelas dan mendetil, membuat Thiat
Tiong-tong yang mendengarkan jadi bergidik.
Sampai disini, dia tidak tahan lagi untuk
menghela napas seraya berkata:
"Tidak heran kalau tindak-tanduk serta cara
berbicara mereka begitu dingin dan hambar, rupanya meski mereka
belum mati namun perasaan mereka sudah mati..... bagaimana
selanjutnya? Apakah kau......"
Setelah menghela napas lanjut Un Tay-tay:
"Perasaan hatiku telah mati, tentu saja
akupun bergabung dengan mereka, lihatlah sekarang akupun mengenakan
jubah hitam dengan kain cadar hitam, walaupun banyak keraguan muncul
dihatiku, namun mereka melarangku banyak bertanya, hanya ujarnya:
kalau perasaanmu sudah mati, buat apa mesti memikirkan urusan lain!
Maka akupun terpaksa mengikuti mereka, sepanjang jalan asal bertemu
wanita yang teraniaya, mereka pasti turun tangan menolong hingga
akhirnya tiba disini"
"Tahukah kau, ke mana mereka hendak pergi?"
"Pulang......."jawab Un Tay-tay sambil
menghela napas, "seandainya dalam kereta tidak terdapat dua orang
yang menderita sakit aneh, mungkin aku sudah sejak kemarin tiba
ditempat mereka dan mungkin...... mungkin selama hidup tidak akan
berjumpa lagi denganmu"
Thiat Tiong-tong tersenyum, katanya: "Tempat
dimana kalian tuju kebetulan merupakan tempat yang akan
kudatangi, hanya saja....... seandainya tidak bertemu kau, akupun
tidak tahu harus kemana untuk mencarinya"
"Dari mana kau bisa tahu hendak kemana kami
pergi?" tanya Un Tay-tay keheranan.
"Panjang untuk diceritakan, tapi aku tahu
kalian hendak balik ke pulau Siang cun-to!"
"Siang cun-to......." seakan terperanjat,
sekujur tubuh Un Tay-tay bergetar keras, "ternyata pulau Siang
cun-to!"
Tiba-tiba dia seperti teringat kalau tempat
yang hendak dituju Im Ceng pun pulau Siang cun-to, tanpa terasa
sekujur tubuhnya gemetar keras.
Menyaksikan perubahan sikap perempuan itu,
dengan keheranan Thiat Tiong-tong segera bermanya:
"Memangnya kau belum tahu dengan nama pulau
Siang cun-to ini?"
"Mereka hanya menyatakan hendak pulang, tapi
tidak pernah menjelaskan mau pulang ke mana? Terkadang aku malah
mengira mereka hendak mengajakku pulang ke atas langit atau ke dasar
bumi"
Thiat Tiong-tong terbungkam beberapa saat
lamanya, kemudian ujarnya setelah menghela napas:
"Bagaimana pun juga, kau........."
Mendadak diantara hembusan angin
berkumandang suara aneh seperti suara seruling yang ditiup kencang,
paras muka Un Tay-tay segera berubah hebat, cepat bisiknya:
"Mereka sedang mendesakku agar segera
kembali"
"Bagaimana kalau aku mengikutimu?" buru buru
Thiat Tiong-tong bertanya.
Dengan kening berkerut Un Tay-tay berpikir
sejenak, sahutnya kemudian sambil menghela napas:
"Baiklah! Tapi kami berencana akan
beristirahat sejenak dalam kuil Seng bo bio di depan sana hingga
kentongan ke empat sebelum berangkat, datang saja diwaktu itu, Cuma
gerak-gerikmu mesti sangat hati-hati, kalau sampai ketahuan mereka,
bisaberabe!"
Ketika menyelesaikan katanya yang terakhir,
dia sudah pergi sangat jauh.
Secara tidak sengaja Thiat Tiong-tong telah
bertemu dengan Un Tay-tay, diapun sudah mengetahui banyak peristiwa
yang terjadi, walaupun dibalik kisah tersebut terdapat beberapa
kejadian yang sangat menyedihkan hati, bagaimana pun jauh lebih
banyak berita gembiranya daripada kejadian duka.
Khususnya setelah mendengar kabar kalau Im
Ceng bukan saja sudah sembuh dari lukanya bahkan telah diajari ilmu
silat oleh Bu-si Thaysu, seorang pendeta sakti disaat itu, kenyataan
yang betul-betul membuat Thiat Tiong-tong merasa amat gembira.
Diam-diam dia berpikir:
"Masih cukup waktu hingga kentongan ke
empat, kenapa aku tidak minum dulu beberapa cawan arak di rumah
makan, anggap saja untuk merayakan keberhasilan samte!"
Dengan cepat dia pun berjalan menuju ke arah
rumah makan.
Waktu itu kerumunan orang disepanjang jalan
raya telah bubar, tapi dalam rumah makan masih ada orang sedang
memperbincangkan kehadiranan wanita suci itu, ketika dari kejauhan
Thiat Tiong-tong melihat papan nama didepan warung, dia pun
mempercepat langkahnya.
Tiba-tiba dia saksikan ada dua sosok
bayangan manusia yang sangat dikenalnya sedang berangkulan memasuki
rumah makan itu, meski hanya sekilas namun Thiat Tiong-tong segera
kenal mereka sebagai Sim Sin-pek dan Im Ceng.
Kedua orang ini sangat dikenalnya, dia
merasa tidak mungkin salah melihat, tapi mengapa mereka berdua bisa
memasuki rumah makan sambil berangkulan, bahkan kelihatannya akrab
sekali? Satu kenyataan yang mimpi pun tidak pernah disangka Thiat
Tiong-tong.
Dengan perasaan heran bercampur cemas cepat
dia menghentikan langkahnya, pelbagai ingatan segera berkecamuk
dalam benaknya:
"Kenapa mereka berdua bisa jalan bersama?
Pasti Sim Sin-pek dengan lidah berbisanya telah membohongi samte
hingga dia menaruh kepercayaan penuh terhadapnya, dibalik
kesemuanya ini pasti terdapat intrik serta rencana busuk!"
Membayangkan apa yang bakal terjadi, tanpa
terasa peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuh Thiat
Tiong-tong, pikirnya:
"Beruntung kejadian ini segera kuketahui,
anggap saja nasib samte memang belum sial benaran"
Seandainya berganti orang lain, niscaya akan
segera menerjang masuk dan melabrak mereka.
Tapi Thiat Tiong-tong adalah orang yang
sangat hati-hati dan berpikiran cermat, dia tahu kesalahan paham Im
Ceng terhadapnya sudah kelewat mendalam, seandainya dia menerjang
masuk sekarang, bukan saja Im Ceng tidak bakal mempercayai
perkataannya, bisa jadi dia malah akan menyerang dirinya
habis-habisan.
Sekalipun berada dalam posisi yang amat
pelik, tapi otak Thiat Tiong-tong berputar cepat, tiba-tiba dia
menyelinap ke balik sebuah lorong gelap, dari sudut lorong menemukan
seorang lelaki miskin dan segera serunya:
"Hei, ingin kau mendapat rejeki tidak?"
Lelaki miskin itu memang sedang kelaparan
saking miskinnya, tentu saja dia kegirangan setengah mati, sahutnya
sambil melompat bangun:
"Mau berkelahi, mau menggertak orang, urusan
apa pun silahkan tuan perintahkan"
"Aku tidak meminta kau melakukan apa pun"
sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa, "asal kau bersedia
menanggalkan pakaianmu itu!"
Tidak selang beberapa saat kemudian, Thiat
Tiong-tong telah muncul kembali dari balik lorong sambil mengenakan
pakaian milik lelaki miskin itu, wajahnya telah dilumuri lumpur,
rambutnya ditutupi sebuah topi kumuh dan ditangannya menenteng
setengah renteng uang receh.
Sekalipun dia tidak pandai menyaru muka,
tapi kemampuannya menirukan lagak orang memang cukup mengagumkan.
Dengan mata setengah juling dan tangan kiri
garuk-garuk bawah ketiaknya, selangkah demi selangkah dia berjalan
masuk ke dalam rumah makan, "Tringg!" dia melemparkan setengah
renteng uang receh itu ke meja kasir, kemudian teriaknya:
"Tauke, cepat siapkan kacang goreng dan
arak, aku minta arak bagus!"
Sambil berteriak, diam-diam dia melirik
sekejap ke arah Im Ceng dan Sim Sin-pek, kemudian dengan gaya yang
dibuat-buat sengaja duduk di meja samping mereka berdua.
Dengan gaya seakan kuatir tertukar kutu
busuk dari atas uang receh itu, sang ciangkwee memungut uang
tersebut dengan kedua jari tangannya, kemudian dengan kening
berkerut dan menggelengkan kepalanya berulang kali dia bergumam:
"Aaaai, dasar kere, hidangan enam ketip pun
tidak mampu order, tahunya minum, minum melulu... masih minta arak
bagus lagi, kenapa semua kere dikolong langit selalu lagaknya bau...
pelayan, siapkan arak bagus untuk tuan kere itu!"
Thiat Tiong-tong yang mendengar omelan itu
hanya tertawa geli tanpa komentar.
Dia tidak berani duduk menghadap Im Ceng
serta Sim Sin-pek, maka dicarinya tempat duduk yang membelakangi
mereka, betul juga, dia segera mendengar Sim Sin-pek sedang menjilat
pantat.
Selang beberapa saat kemudian tiba-tiba
terdengar Im Ceng berteriak keras:
"Sebetulnya kau tahu tidak dimana letak
pulau Siang cun-to? Kau harus bicara jujur, persoalan ini bukan
masalah yang bisa dibuat main-main"
Terdengar Sim Sin-pek segera menyahut sambil
tertawa dibuat-buat:
"Bila siaute tidak tahu, buat apa mesti
membohongi toako"
"Aaaai, ternyata kau lumayan juga orangnya,
tidak disangka meski kita tidak pernah kenal tapi kau baik sekali
terhadapku, sementara saudaraku sendiri justru manusia busuk berhati
binatang!"
"Toako, buat apa kau singgung lagi manusia
she Thiat itu" kata Sim Sin-pek sambil tertawa, "menyinggung kembali
manusia busuk, bangsat pemogoran macam dia hanya akan menghilangkan
selera minum kita saja"
"Benar" jawab Im Ceng dengan suara lantang,
"mari, aku harus menghukum diriku dengan secawan arak"
Kemudian setelah meneguk habis isi
cawan-nya, mendadak ia menggebrak meja dan menghela napas berulang
kali, menggunakan kesempatan itu Sim Sin-pek segera membujuknya agar
meneguk lagi beberapa cawan arak.
Thiat Tiong-tong yang mendengar pembicaraan
itu diam-diam hanya bisa tertawa getir, pikirnya:
"Tampaknya Im Ceng sedang dalam perjalanan
menuju pulau Siang cun-to dan tanpa sengaja telah bersua dengan Sim
Sin-pek sekalian, maka mereka menggunakan pulau Siang-cun-to sebagai
umpan untuk memancingnya masuk perangkap, tapi aneh, kenapa Sim
Sin-pek tidak mencoba membokongnya, tidak nampak juga dia berusaha
mengorek rahasia lainnya, rencana busuk apa lagi yang sedang dia
lakukan?"
Karena berhasrat untuk membongkar rencana
busuk yang sedang dilakukan Sim Sin-pek terhadap Im Ceng, maka
diapun tidak melakukan sesuatu tindakan.
Selama ini Sim Sin-pek hanya berbicara ke
sana kemari, sekalipun inti pembicaraan tidak berarti namun
kemampuan orang ini berbicara memang luar biasa, sampai Thiat
Tiong-tong sendiripun ikut terpikat untuk mendengarnya.
Tiba-tiba Sim Sin-pek mengalihkan
pembicaraan ke soal lain, katanya perlahan:
"Padahal kalau mesti bicara jujur, siaute
sendiripun tidak terlalu jelas dimana letak pulau Siang cun-to"
"Jadi...... jadi kau sengaja mempermainkan
aku?" tegur Im Ceng dengan wajah berubah.
"Toako jangan gelisah dulu" buru-buru Sim
Sin-pek membujuk sambil tertawa dibuat-buat, "sekalipun siaute tidak
terlalu jelas, tapi kujamin pasti dapat menghantar toako tiba di
Siang cun-to dengan aman!"
"Bagaimana caranya?"
"Hari ini silahkan toako minum arak
sepuasnya, besok kita ke pesisir pantai, akan siaute cari beberapa
orang tukang perahu yang sering pergi ke pulau Siang cun-to, asal
ombak tenang angin lancar, lusa pagi kita sudah akan tiba di pulau
Siang cun-to dengan selamat"
"Kau memang saudaraku yang hebat" puji Im
Ceng sambil tertawa, "mari kita bersulang!"
Thiat Tiong-tong yang menyaksikan peristiwa
itu, diam-diam menghela napas, pikirnya:
"Tidak nyana walaupun kungfu yang dimiliki
samte telah mencapai kemajuan yang pesat, tapi sepak terjangnya
masih gegabah, berangasan dan terburu napsu, ucapan bajingan tengik
macam begitu pun dia percaya"
Dia sadar tidak ada seorang tukang perahu
pun di pesisir yang pernah berlayar ke pulau Siang cun-to, tapi dia
pun kesulitan untuk membongkar kebohongan tersebut
disaat seperti ini, diam-diam dia mulai cemas bercampur gelisah.
Waktu minum arak berlalu sangat cepat,
ketika bubaran, waktu sudah menunjukkan tengah malam, waktu itu Im
Ceng sudah mabuk berat, selesai membayar rekening Sim Sin-pek
memayangnya keluar dari rumah makan.
Thiat Tiong-tong kaget bercampur cemas,
kembali pikirnya:
"Samte memang selalu gegabah, masa dalam
keadaan beginipun dia masih berani minum sampai mabuk berat,
seandainya Sim Sin-pek menggunakan kesempatan ini untuk
mencelakainya, mungkin dia bakal mati tanpa sadar"
Maka secara diam-diam dia pun mengintil di
belakang Sim Sin-pek.
Meskipun saat ini dia sanggup merobohkan Sim
Sin-pek secara gampang dan selamatkan Im Ceng, tapi dia yakin
disamping Sim Sin-pek seorang, dia pasti masih memiliki komplotan
lain di seputar sana.
Untuk menyelidiki rencana busuk apa yang
sedang direncanakan manusia busuk ini, maka Thiat Tiong-tong pun
tidak segera turun tangan, sebab kungfu yang dimilikinya sekarang
sudah jauh diatas kemampuan Sim Sin-pek, bila orang itu berniat
mencelakai saudara seperguruannya, dia percaya secara gampang
rencana keji itu dapat digagalkan.
Sekalipun begitu, tidak sekejap mata pun dia
berani mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
Jalan raya itu amat hening, tidak kedengaran
suara apun, tidak terlihat sesosok bayangan manusia pun, sewaktu Sim
Sin-pek dengan mema-yang Im Ceng tiba di ujung jalan, tiba-tiba dia
menghentikan langkahnya dan mulai celingukan kesana-kemari.
Cepat Thiat Ticng-tcng menyelinap ke samping
jalan dan menyembunyikan diri dibalik kegelapan, saat itulah
terdengar suara kereta kuda berkumandang ditengah keheningan malam,
sebuah kereta berlari cepat dari sudut kiri jalan dan melaju ke arah
depan.
Berkilat sepasang mata Sim Sin-pek, dia
segera bersuit nyaring. Belum selesai bersuit, sebuah kereta besar
lain yang dihela dua ekor kuda telah muncul disana dan seketika
berhenti didepan kedua orang itu.
Dengan satu gerakan cepat Sim Sin-pek
menarik tubuh Im Ceng masuk ke dalam ruang kereta itu, kereta pun
kembali berlarian meninggalkan tempat itu, satu kerja sama yang
sangat bagus, nyaris tidak ada sedikit waktupun yang terbuang dengan
percuma.
Dari sini dapat disimpulkan kalau cara kerja
Sim Sin-pek memang sangat rapi dengan perencanaan yang sempurna, ada
atau tidak orang yang menguntit, sejak awal dia sudah persiapkan
orang untuk mengelabuhinya.
Bila saat itu ada yang menguntit, tentu
orang itu akan terpedaya hingga lolos penguntitannya.
Untung Thiat Tiong-tong bukan manusia bodoh,
begitu mendengar suara kereta kuda, dia segera menduga kalau ada
hubungannya dengan Sim Sin-pek, maka sebelum kereta tiba ditempat
tujuan, dia sudah bergerak duluan.
Ketika kereta berhenti sejenak memberi
peluang Sim Sin-pek untuk naik ke dalam kereta, Thiat Tiong-tong pun
ikut menyusup ke sisi kereta sambil berpegangan kencang.
BAB 24.
Rahasia yang makin berlapis.
Bersama dengan suara ringkikan kuda serta
debu yang beterbangan, tiba-tiba dari dalam kereta terdengar
seseorang berbicara, rupanya dalam ruang kereta telah menanti
seseorang.
Thiat Tiong-tong segera menempelkan
telinganya disisi dinding kereta dan memperhatikan dengan seksama.
Terdengar orang itu berkata:
"Ehmmm, cara kerjamu kali ini bagus sekali,
sama sekali tidak meninggalkan jejak"
Dari suara pembicaraan orang itu, Thiat
Tiong-tong segera mengenalinya "sebagai suara dari Han-hong Pocu,
Leng It-hong, sudah cukup lama orang ini tidak pernah ada kabar
beritanya, sekarang secara tiba-tiba muncul disitu secara misterius,
jelas dibalik kesemuanya ini tentu terdapat intrik serta rencana
besar lainnya.
Baru saja ingatan tersebut melintas lewat,
terdengar Leng It-hong telah berkata lebih jauh:
"Secara diam-diam kau telah meninggalkan Hek
Seng-thian dan bergabung dengan lohu, hal ini membuktikan kalau
ketajaman matamu sungguh mengagumkan, pilihanmu memang sangat tepat,
bila persoalan ini berhasil, lohu pasti tidak akan melupakan semua
jasamu!"
"Terima kasih banyak atas binaan serta
perhatian loya!"
"Dewasa ini, ada begitu banyak jago tangguh
yang bermunculan dalam dunia persilatan, dengan kungfu yang dimiliki
Hek Seng-thian, paling banter mereka hanya bisa berteriak
dipinggiran, mana mungkin punya kesempatan untuk melakukan usaha
besar"
Ketika berbicara sampai disitu, Leng It-hong
tidak kuasa menahan rasa gelinya lagi, dia segera tertawa terbahak
bahak.
"Perkataan loya memang sangat tepat" sahut
Sim Sin-pek sambil tertawa pula, "bukan saja mereka tidak akan mampu
berbuat apa-apa, bahkan manusia macam Hong Lo-su pun belum tentu
mampu menandingi kehebatan ilmu silat yang dimiliki kau orang tua!"
"Bocah cilik sudah pandai jilat pantat"
umpat Leng It-hong sambil tertawa, "hehhehehe..... asal kau jujur
dan mau bekerja untukku, apa salahnya lohu akan wariskan kepandaian
sinkang tersebut kepadamu"
Sim Sin-pek tahu, meski sedang mengumpat
padahal hati kecilnya bangga sekali, cepat dia mendesak lebih jauh:
"Asal boanpwee bisa mempelajari satu persen
saja kepandaian yang kau orang tua miliki, hatiku sudah akan merasa
puas sekali!"
Jilatan pantat ini benar-benar membuat Leng
It-hong kegirangan setengah mati, kembali dia tertawa tergelak.
"Bagus, bagus, bagus, selama beberapa hari
ini kau pasti sangat lelah, sekarang beristirahatlah dulu, besok
masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan"
"Baik, terima kasih atas perhatian kau orang
tua"
Pembicaraan yang berlangsung membuat Thiat
Tiong-tong kaget bercampur tercengang, kejadian ini sungguh diluar
dugaan, dia tidak mengira kalau Leng It-hong sudah bentrok dengan
Hek Seng-thian sekalian bahkan secara diam-diam berdiri sebagai
pihak lawan.
Sim Sin-pek kembali menghianati gurunya
dengan bergabung ke pihak Leng It-hong, dengan kelicikan serta
kepintaran Sim Sin-pek, andaikata kekuatan serta daya pengaruh pihak
Leng It-hong tidak jauh melebihi Hek Seng-thian sekalian, mana
mungkin Sim Sin-pek bersedia bergabung dengannya?
Padahal kelompok Hek Seng-thian didukung
oleh Hong Lo-su, kekuatan mereka boleh dibilang sangat tangguh,
kalau sekarang posisi Leng It-hong bisa jauh melebihi kelompok
mereka, bukankah kejadian ini terasa lebih aneh lagi?
Thiat Tiong-tong merasa sangat keheranan,
pikirnya:
"Jangan-jangan Leng It-hong memang memiliki
kepandaian silat maha sakti yang dihari biasa jarang
diperlihatkan........ahh tidak mungkin, tidak betul, kalau dilihat
caranya bergerak serta sorot matanya, sekalipun kungfu yang dimiliki
mungkin lebih tangguh ketimbang Hek Seng-thian, Pek Seng-bu
sekalian, kehebatannya juga tidak seberapa, tidak mungkin bisa
mengungguli Hong Lo-su, tapi kenapa Sim Sin-pek bersekongkol
dengannya......? aaaah, betul, bisa jadi ada tokoh sakti yang
mendukung Leng It-hong, tapi siapa pula orang itu......?"
Hanya membutuhkan waktu singkat dia telah
berhasil menganalisa persoalan ini secara terperinci dan jelas,
sekalipun ada selisihpun dia percaya selisihnya tidak terlalu jauh.
Kereta kuda masih berjalan terus tiada
hentinya, sambil menarik hawa murninya Thiat Tiong-tong mulai
mengatur pernapasan, dalam waktu sekejap dia sudah merasakan
tubuhnya enteng bagai kapas.
Ketika semedinya sudah mencapai puncak, dia
merasa tubuhnya sudah seolah tidak berada diatas kereta lagi,
melainkan berbaring dibalik awan tebal yang empuk, sama sekali tidak
terasa letih.
Kereta itu berlarian hampir tiga jam
lamanya, waktu itu bintang yang bertaburan di angkasa telah lenyap
dari pandangan, ke dua ekor kuda jempolan itupun sudah mengeluarkan
buih putih diujung mulutnya.
Thiat Tiong-tong tahu saat ini dia sudah
melewati waktu perjumpaannya dengan si iblis jahat, tapi demi
keselamatan Im Ceng, terpaksa dia harus mengabaikan semua persoalan
untuk semen tara waktu.
Mendadak terdengar Leng It-hong membentak
nyaring:
"Berhenti!"
Ketika kereta sudah berhenti, kembali Leng
It-hong berkata:
"Kau tetap tinggal disini menjaga keparat
she Im itu, jangan teledor, jangan lengah!"
"Kau orang tua tidak usah kuatir"
"Setelah kepergianku nanti, kau baru boleh
membebaskan totokan jalan darahnya dan berusaha mententeramkan
hatinya"
Sim Sin-pek tertawa.
"Waktu itu dia sedang mabuk berat, bagaimana
mungkin tahu kalau jalan darahnya sudah tertotok, asal tecu
berbicara satu dua patah kata, tanggung dia akan takluk seratus
persen"
"Baik, perhatikan kembang api yang akan
kulepas nanti, begitu melihat kembang api, kau segera mengajak orang
she-Im itu menyusul ke situ, sebelum melihat kembang api, jangan
sekali kali turun dari kereta"
"Baik!"
Cepat Thiat Tiong-tong menaik tubuhnya dan
menyembunyikan diri di dasar kereta, terlihat sepasang kaki
melangkah turun dari atas kereta, sepasang kaki dengan sepatu rumput
yang nyaris terbuka hingga kelihatan seperti bertelanjang kaki saja,
tampaknya aneh sekali.
Setelah sepasang kaki yang melangkah turun
tadi, tidak nampak orang lain ikut turun dari kereta, diam-diam
Thiat Tiong-tong berpikir keheranan:
"Jangan-jangan dia adalah Leng It-hong? Tapi
aneh, kenapa macam begitu dandanannya?"
Diambilnya beberapa biji batu dari tanah
kemudian disambit ke arah perut ke dua ekor kuda itu, karena
kesakitan kedua ekor kuda itu meringkik panjang lalu berlarian ke
muka, terjadi kehebohan dan kepanikan.
"apa yang terjadi?" terdengar Sim Sin-pek
menegur dari dalam kereta.
"Mungkin kedua ekor kuda itu sedang edan,
tidak ada masalah!" jawab sang kusir cepat.
Sementara pembicaraan berlangsung, Thiat
Tiong-tong telah manfaatkan saat kekalutan itu untuk menyusup keluar
dari tempat persembunyiannya, sambil tertawa geli pikirnya:
"Untung Sim Sin-pek sangat penurut dan tidak
ikut turun, dengan begitu aku dapat bertindak lebih leluasa"
Bayangan manusia yang sedang bergerak di
depan sana adalah seseorang yang mengenakan jubah lebar yang pendek,
rambutnya disanggul macam seorang tosu, kakinya mengenakan sepatu
rumput dan membawa sebuah keranjang bambu yang besar.
Thiat Tiong-tong semakin tercengang setelah
mengetahui orang itu adalah seorang tosu, dia mulai sangsi, dirinya
yang salah mengenali suara orang, atau Leng It-hong memang
betul-betul sudah menjadi seorang tosu?
Dia tidak berani bergerak kelewat dekat,
karena itu hanya mengintil terus agak jauhan, gerakan tubuh tosu itu
sangat enteng, dapat dilihat kalau kepandaian yang dimilikinya
memang cukup tangguh.
Walaupun saat ini tenaga dalam yang dimiliki
Thiat Tiong-tong sangat tangguh, namun dia belum sempat melatih ilmu
meringankan tubuh yang hebat, masih untung hawa murninya cukup
sempurna sehingga gerakan tubuhnya lebih enteng.
Setelah menguntit kurang lebih seperminum
teh lamanya, lamat-lamat dia mulai mendengar suara deburan ombak
dikejauhan sana, disusul terlihatlah cahaya lentera diatas perahu
nelayan dibalik kegelapan.
Kehidupan kaum nelayan memang amat susah,
fajar belum lagi menyingsing mereka sudah berlayar ke tengah samudra
untuk menangkap ikan, titik cahaya lentera diatas perahu justru
menimbulkan pemandangan yang mengesankan ditengah kegelapan malam.
Tosu itu masih bergerak terus dengan
cepatnya, berjalan menuju ke pesisir.
Tanpa ragu Thiat Tiong-tong mengikuti di
belakangnya, dia tahu Im Ceng tidak akan terancam bahaya dalam
keadaan seperti ini, satu hal yang membuat perasaan hatinya jadi
lega.
Tosu itu bergerak menuju ke sebuah perahu
besar yang menggantungkan dua lentera merah ditambah sebuah lentera
berwarna hijau, perahu tersebut berlabuh kurang lebih dua kaki dari
tepi pantai, dengan sekali lompatan tosu itu langsung meluncur naik
ke atas geladak.
"Siapa yang datang?" dari balik ruang perahu
terdengar seseorang menegur.
"Leng It-hong!" sahut tosu itu cepat.
Mendengar itu Thiat Tiong-tong segera
berpikir:
"Tidak kusangka ternyata Leng It-hong betul
betul sudah menjadi seorang pendeta!"
Seandainya berganti orang lain, mereka tentu
mengira Leng It-hong bisa menjadi seorang tosu lantaran kecewa
dengan perbuatan kedua orang putrinya yang pergi meninggalkan rumah.
Tapi Thiat Tiong-tong yakin Leng It-hong
bukan seseorang yang kelewat emosional, dengan cepat diapun menduga
kalau tokoh sakti yang mendukung dibelakangnya tentu seorang tosu
pula, itulah sebabnya dia pun ikut menjadi seorang tosu.
Pintu perahu dibuka orang, dengan cepat Leng
It-hong menyelinap masuk ke dalam ruangan.
Thiat Tiong-tong tidak tahu apakah tubuhnya
akan menimbulkan suara sewaktu melompat naik ke atas perahu nanti,
dengan perasaan ragu diapun mendekam beberapa saat ditepi pantai
sambil mengatur pernapasan, tapi akhirnya diapun ikut melompat naik
keatas perahu.
Mau tidak mau pemuda itu harus melompat naik
keatas perahu, sebab bila harus menceburkan diri ke dalam air,
niscaya pakaiannya akan basah kuyup.
Ternyata ketika menginjak diatas geladak
perahu, gerakan tubuhnya sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara
pun, terbukti ilmu meringankan tubuhnya beberapa tingkat lebih hebat
ketimbang Leng It-hong.
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghembuskan
napas lega, pikirnya:
"Aneh, kalau ditinjau dari kemampuan Leng
It-hong, rasanya kepandaian yang dimiliki masih terhitung berimbang
dengan kemampuan Hek Seng-thian sekalian, tapi kenapa caranya
berbicara justru begitu tekebur? Sungguh aneh"
Seandainya dihari biasa Leng It-hong sudah
terbiasa takabur, saat ini Thiat Tiong-tong pasti tidak akan
keheranan, tapi setahu pemuda ini, Leng It-hong selalu bersikap
tertutup dan tidak pernah menonjolkan diri, hal itulah yang membuat
anak muda ini sadar bahwa dibalik kesemuanya itu pasti ada alasan
lain.
Sebenarnya tidak ada tempat persembunyian
disekeliling ruang perahu itu, masih untung layar perahu belum
dinaikkan, tiang layar serta segulung tali besar masih tergeletak
diatas geladak, ditambah lagi bayangan gelap yang ditimbulkan layar
besar, membuat tempat persembunyiannya saat ini benar-benar
tertutup, andaikata tidak diperhatikan dengan seksama, sulit untuk
menemukan tempat persembunyian-nya itu.
Thiat Tiong-tong cukup melongok sedikit ke
depan, dari celah-celah lubang hawa yang terdapat dibawah wuwungan
ruangan, dia dapat melihat dengan jelas pemandangan dalam perahu
itu.
Sebuah meja perjamuan sudah disiapkan dalam
ruangan, Leng It-hong duduk di bangku utama, sekeliling meja
terlihat Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Suto Siau, Seng Toa-nio dan
Seng Cun-hau duduk menemani.
Seng Cun-hau kelihatan duduk tidak tenang,
sepasang alis matanya yang tebal berkerut kencang, sementara Suto
Siau sekalian dengan senyuman gadungannya membujuk Leng It-hong
untuk minum arak.
Paras muka Leng It-hong saat itu nampak jauh
lebih serius ketimbang diwaktu biasa, tidak jelas dia sedang gusar
ataukah merasa gembira.
Thiat Tiong-tong dapat melihat dengan jelas,
diatas wajahnya yang kurus kering kini seolah dilapisi oleh selapis
hawa hitam, dibawah cahaya lentera, dia nampak sangat menakutkan.
"Ternyata kalian semua pegang janji"
terdengar Leng It-hong berkata, "mau menunggu aku ditempat ini"
Sambil tersenyum buru-buru Suto Siau
menjawab:
"Setelah menerima undangan dari Leng-heng,
mana berani kami datang terlambat?"
"Bagus, bagus......." kembali
Leng It-hong tertawa kaku, "tahukah kalian, karena urusan apa
kuundang kalian semua berkumpul ditempat ini?"
"Saudara Leng" sambil mengambil sumpit buru-buru
Suto Siau menukas, "kau baru datang dari kejauhan, mari makan dan
minum arak dulu sebelum membicarakan persoalan utama"
Dia segera menyumpit sekerat daging dan
dihantar ke dalam mangkuk yang ada dihadapan Leng It-hong.
Siapa tahu Leng It-hong mendorong sumpit itu
sambil ujarnya dingin:
"Belakangan aku sudah tidak mendahar
hidangan manusia, sudah kubawa bekalku sendiri, kau tidak perlu
repot"
Diambilnya keranjang bambu yang ada dilantai
dan diletakkan dihadapannya.
Sambil tertawa sinis Hek Seng-thian segera
menyindir:
"Leng-heng, boleh tahu makhluk dewa apa yang
kau bawa sebagai teman arak? Apakah siaute punya rejeki untuk ikut
menikmatinya?"
Meskipun perkataan itu disampaikan secara
halus dan sungkan, namun penuh dengan nada sindiran dan ejekan.
Leng It-hong kontan tertawa terkekeh.
"Hahahaha......tentu saja ada!"
Setelah membuka penutup keranjangnya, dia
tangkap seekor ular belang kemudian disodorkan ke hadapan Hek
Seng-thian.
Tidak terlukis rasa kaget Hek Seng-thian
menghadapi kejadian itu, buru-buru dia mundur ke belakang, nyaris
tubuh berikut bangkunya roboh terjungkal ke belakang.
Ketika ular belang itu ditangkap oleh Leng
It-hong, walaupun masih hidup dan menggeliat tiada hentinya namun
binatang itu seolah sudah kehilangan tenaga, sama sekali tidak mampu
melakukan penyerangan.
Hek Seng-thian benar-benar merasa sangat
muak, saking mualnya hampir saja arak dan hidangan yang baru masuk
ke dalam perutnya tertumpah keluar lagi.
Sambil tertawa seram terdengar Leng It-hong
berkata:
"Inilah makhluk dewa teman arakkku, kalau
memang Hek-heng ingin minta jatah, silahkan, ambil saja dan tidak
usah sungkan-sungkan, silahkan.....silahkan....."
Sambil berkata, dia sodorkan ular belang itu
ke hadapan Hek Seng-thian.
Berubah hebat paras muka Seng Toa-nio
sekalian, air muka Hek Seng-thian malah sudah berubah pucat pias,
terpaksa sahutnya sambil tertawa paksa:
"Tampaknya siaute........siaute tidak punya
hokki itu, silahkan.......silahkan Leng-heng
gunakan sendiri!"
"Kalau begitu aku tidak sungkan-sungkan
lagi" sahut Leng It-hong sambil tertawa seram.
Dengan satu hentakan tangan kiri, dia sudah
mematahkan kepala ular itu hidup-hidup kemudian dimasukkan ke dalam
cawan araknya, sementara tangan kanannya mencengkeram ekor sang ular
dan mengulitinya dengan cepat, daging ular yang merah berdarah pun
segera muncul didepan mata.
Leng It-hong segera mendongakkan kepalanya
dan dengan begitu nikmat dia melahap daging ular merah itu hingga
habis.
Semua orang duduk terbelalak dengan mulut
melongo, tidak seorang pun bersuara.
"Ehmmm, bagus, nikmat, sedap........"
terdengar Leng It-hong bergumam tiada hentinya.
Jangan lagi mereka yang berada dalam
ruangan, Thiat Tiong-tong yang bersembunyi diluar jendela pun
seketika merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Mendadak terlihat Seng Toa-nio melompat
bangun kemudian meluncur keluar dari ruangan dengan kecepatan
tinggi.
Thiat Tiong-tong terkesiap, dia sangka Seng
Toa-nio telah menemukan tempat persembunyian-nya.
Siapa tahu begitu tiba diluar ruangan, Seng
Toa-nio langsung muntah-muntah hebat, bagaimana pun dia adalah
seorang wanita, bagaimana mungkin dia bisa menyaksikan orang lain
melahap daging ular hidup-hidup, rasa mual yang luar biasa
membuatnya tidak sanggup menahan diri lagi.
Menanti Leng It-hong selesai melahap habis
daging ular itu, Seng Toa-nio baru berani duduk kembali.
Leng It-hong berlagak seolah tidak melihat
semua kejadian itu, dengan santainya dia menyeka mulutnya yang penuh
noda darah, lalu katanya sambil tertawa:
"Aku sudah melahap hidanganku, mari sekarang
kita membicarakan masalah utama"
"Tentu saja, tentu saja......" kata Suto
Siau sambil tertawa paksa, dia segera melirik sekejap ke arah Pek
Seng-bu.
Mendadak Pek Seng-bu bertanya:
"Apakah kepala ular itu juga bisa dimakan?"
Leng It-hong mengerling sekejap ke arahnya
tanpa menjawab, dia mengangkat cawan araknya lalu meneguk isi cawan
berikut kepala ular itu ke dalam mulutnya, bagaikan sedang makan
kacang goreng saja dia mengunyah kepala ular itu dengan penuh
kenikmatan.
Thiat Tiong-tong yang melihat kejadian itu
segera berpikir lagi dengan perasaan terkesiap:
"Belakangan ini Leng It-hong pasti sudah
memplajari sejenis ilmu beracun yang maha sakti sehingga santapan
hariannya pun berubah dari hidangan biasa menjadi makhluk-makhluk
beracun, jelas ini bertujuan untuk meningkatkan sifat racun didalam
tubuhnya. Tidak heran kalau selapis hawa hitam selalu menyelimuti
wajahnya, sesat betul kepandaian semacam ini, entah dia belajar dari
mana?"
Dari lima orang yang hadir dimeja perjamuan,
ada empat diantaranya segera membuang muka begitu menyaksikan cara
makan Leng It-hong, hanya Seng Cun-hau seorang tetap duduk tidak
bergerak di posisinya semula.
Sambil menyeringai tertawa kembali Leng
It-hong berkata:
"Kepala ular itu bisa dimakan, tentunya
saudara Pek sudah tahu bukan sekarang?"
"Ta.......tahu" jawab Pek Seng-bu tergagap.
"Kalau memang sudah tahu, mari kita......."
Belum habis ia berkata, Suto Siau sudah
menjawil Hek Seng-thian dari bawah meja. Hek Seng-thian pun segera
berkata:
"Bo.....boleh tahu apa lagi isi keranjang
bambu milik saudara Leng......."
Hingga kini rasa ngeri dan mualnya masih
belum hilang seratus persen, tidak heran perkata-annya tidak jelas.
"Ada apa?" Leng It-hong tertawa seram,
"apakah saudara Hek juga ingin minta bagian?"
"Bukan.....bukan...... siaute hanya ingin
tahu saja"
"Hahahaha.....baik, kalau ingin bertanya,
cepat tanyakan"
Walaupun sedang tertawa tergelak, paras
mukanya sama sekali tidak melintas secerca senyuman pun, Thiat
Tiong-tong yang melihat dari atas tentu saja dapat melihat dengan
jelas sekali.
Ternyata dorongan Suto Siau dibawah meja
tadi meski tidak terlihat oleh Leng It-hong, namun Thiat Tiong-tong
dapat menyaksikan dengan jelas sekali, seakan menyadari akan sesuatu
segera pikirnya:
"Ternyata Suto Siau sekalian sengaja sedang
mengulur waktu, tampaknya mereka sedang menanti kedatangan seseorang
hingga selalu berusaha mencegah Leng It-hong menyinggung masalah
utama"
Semula dia sangka Leng It-hong belum tentu
mengetahui hal ini, tapi sesudah melihat perubahan sikap kakek itu,
dia segera mengerti bahwa Leng It-hong sesungguhnya sudah
memperkirakan hal itu. Melihat pertikaian yang terjadi diantara
kelompok itu, diam-diam Thiat Tiong-tong merasa amat girang.
Tampak Leng It-hong mendongakkan kepalanya
tertawa tergelak, menggunakan kesempatan itu Suto Siau sekalian
saling mengedipkan mata memberi tanda, menanti Leng It-hong
menghentikan tertawanya,
Suto Siau sekalian pun ikut duduk dengan rapi.
Dengan pandangan dingin Leng It-hong menyapu
sekejap wajah Suto Siau sekalian, tiba-tiba dia bertanya:
"Kalian berencana hendak mengulur waktu
sampai kapan sebelum kita bisa bicara serius?"
"Siaute semua tidak tahu urusan serius apa
yang hendak Leng-heng bicarakan, mana mungkin sengaja mengulur
waktu?" sahut Suto Siau cepat.
"Betul-betul tidak tahu?" tanya Leng It-hong
sambil menyeringai seram.
"Siaute mana berani berbohong......."
Sekali lagi Leng It-hong mendongakkan
kepalanya tertawa keras.
"Aku Leng It-hong sudah puluhan tahun hidup
malang melintang dalam dunia persilatan, pertempuran macam apapun
pernah kujumpai, tidak disangka pada hari ini masih ada orang
memandangku sebagai orang goblok!"
Suto Siau tidak sanggup menahan diri, paras
mukanya berubah hebat, tegurnya:
"Apakah saudara Leng tidak merasa kalau
perkataanmu sedikit kelewatan? Selama ini siaute selalu menaruh
hormat kepadamu, kenapa saudara Leng malah berkata begitu!"
Leng It-hong seketika menghentikan gelak
tertawanya, sambil menggebrak meja teriaknya:
"Kalau tidak berkata begitu, apa lagi yang
mesti kulakukan? Dalam gudang penyimpanan di benteng Han hong po
tersimpan berjuta tahil emas murni, bukankah kalian yang telah
merampoknya?"
"Emas apa?" Suto Siau berlagak bingung,
setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, lanjutnya, "saudara
Hek, saudara Pek, Seng Toa nio, apakah kalian pernah melihat uang
emas milik saudara Leng?"
Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Seng
Toa-nio serentak menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya
hampir berbareng:
"Uang emas apa?"
Walaupun mereka pun berusaha meniru lagak
Suto Siau, sayang kelicikan mereka tidak setara dengan Suto Siau,
bukan saja mereka tidak bisa meniru secara benar bahkan kelihatan
sangat menggelikan.
Perlahan-lahan Leng It-hong berkata:
"Ada segerombol bajingan yang punya mata
tidak berbiji, menggunakan kesempatan disaat aku tidak ada di
benteng ternyata telah merampok berjuta tahil emas murni dari
gudangku, aku sangka itu perbuatan kalian semua......."
"Saudara Leng tentu salah paham" sela Suto
Siau cepat sambil tertawa paksa.
Leng It-hong sengaja berkerut kening,
katanya:
"Tapi kalau bukan perbuatan kalian, siapa
pula yang melakukan? Jangan-jangan perbuatan dari kawanan bajingan
cecunguk yang tidak tahu malu?"
Seng Cun-hau yang selama ini hanya duduk
termenung tiba-tiba melompat bangun, teriaknya:
"Tak usah mengumpat lagi, aku Seng Cun-hau
yang telah mengambil uang emasmu itu!"
Berubah paras muka Seng Toa-nio, teriaknya:
"Hau-ji, kau......kau sudah edan?"
Kembali Leng It-hong tertawa keras, ujarnya:
"Bagaimana pun Seng Cun-hau berani berbuat
berani bertanggung jawab, tapi pengakuanmu apa tidak kelewat bodoh?
Sudah jelas ada otak lain yang menjadi motornya, kenapa tanggung
jawab mesti dilimpahkan ke pundakmu sendiri"
"Semua perbuatan itu kulakukan seorang diri,
tentu saja aku seorang yang akan bertanggung jawab" jawab Seng
Cun-hau dengan suara dalam.
"Benar hanya kau seorang?" Leng It-hong
mulai menarik wajahnya.
"Benar!"
"Kalau begitu lohu patut memberi pelajaran
kepadamu!" seru Leng It-hong sambil bangkit berdiri, perlahan-lahan
dia merentangkan telapak tangannya yang kurus kering bagai bambu.
Telapak tangannya yang memang berwarna
hitam, tiba-tiba memancarkan selapis hawa hitam yang nyaris tidak
terpandang dengan mata telanjang.
Dalam sekilas pandang semua orang sudah tahu
kalau telapak tangannya telah terlatih dengan semacam ilmu beracun
yang sangat menakutkan, meski Seng Cun-hau tidak gentar
menghadapinya, namun Seng Toa-nio dengan wajah berubah segera
berteriak:
"Tunggu sebentar!"
"Kenapa?" jengek Leng It-hong sambil
melirik, "jangan-jangan kaupun ikut mengambil bagian?"
Seng Toa-nio tidak menanggapi pertanyaan
itu, sebaliknya malah berteriak keras:
"Suto Siau, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu,
kalian sudah melihat putraku tampil mengakui perbuatan itu, masa
kalian semua masih bisa duduk dengan begitu santainya?"
Benar saja, Suto Siau sekalian tidak bisa
duduk lagi dengan tenang, satu per satu mereka berseru sambil
tertawa:
"Seng Toa-nio, buat apa kau mesti cemas,
cepat atau lambat akhirnya toh kami akan mengatakannya kepada
saudara Leng"
"Hahahaha......ternyata kalian semua pun
tidak malu disebut lelaki sejati!" Leng It-hong tertawa tergelak.
Jelas maksud dari perkataan itu adalah
mengumpat mereka sebagai bukan lelaki sejati.
"Tanpa seijin Leng-heng, kami telah
mengangkut semua uang emas milikmu, ini disebabkan kami pun tahu,
asal dapat memberikan alasan yang tepat, niscaya saudara Leng pun
akan menyetujuinya" ujar Suto Siau kemudian.
Bicara sampai disitu, dia melirik Hek
Seng-thian sekejap.
Dengan cepat Hek Seng-thian melanjutkan:
"Kami berpendapat, pada akhirnya Leng-heng
pun pasti akan menyetujui langkah yang kami ambil, jadi diambil
duluan pun tidak menjadi masalah!"
"Maka kami pun mengangkut dulu semua uang
emas itu" Pek Seng-bu menambahkan.
Leng It-hong kembali mendongakkan kepala-nya
tertawa tergelak:
"Hahahaha..... menggelikan, sungguh
menggelikan, tidak disangka ternyata kalian bertiga jauh lebih
memahami jalan pikiran lohu ketimbang diriku sendiri!"
Setelah berhenti tertawa, hardiknya:
"Apa alasannya? Cepat katakan!"
Sesudah berbatuk beberapa saat, kata Suto
Siau:
"Selama puluhan tahun, walaupun berulang
kali Perguruan Tay –ki bun menuntut balas terhadap kita lima
keluarga besar, namun setiap kali selalu mundur dengan menderita
kekalahan besar, tahukah Leng-heng apa sebabnya?"
"Karena kepandaian silat yang kita miliki
jauh lebih tangguh ketimbang mereka, hingga setiap kali berhasil
mengalahkan mereka"
"Kelihatannya saudara Leng sedang bergurau"
ucap Suto Siau sambil tertawa dingin, "padahal kita semua tahu kalau
ilmu silat yang dimiliki kita lima keluarga besar sesungguhnya masih
ketinggalan bila dibandingkan dengan kungfu Perguruan Tay ki bun"
"Perkataanmu memang tidak salah, khususnya
karena dari lima keluarga besar terlalu banyak manusia pengecut yang
takut mati, bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan keperkasaan
serta keberanian lawan!"
Suto Siau berlagak seolah tidak mendengar,
ujarnya lebih lanjut:
"Sebetulnya siaute sendiripun tidak jelas
apa sebabnya pihak yang lemah bisa mengalahkan pihak yang kuat,
sampai kemunculan Perguruan Tay ki bun untuk kesekian kalinya,
sesuai pesan terakhir ayahku, siaute pun membuka sepucuk surat
wasiatnya, setelah siaute baca isinya baru ketahuan sebab musabab
yang sesungguhnya....... bicara sampai disini, tentunya
saudara Leng keheranan bukan, kenapa dalam persekutuan lima rejeki
hanya keluarga Suto yang mengetahui sebab musababnya sementara orang
lain tidak tahu........."
"Benar, lohu memang sedang keheranan"
"Meskipun sekarang persekutuan lima keluarga
dikomandani saudara Leng, tapi dimasa lampau mendiang ayahkulah yang
menjadi bengcu dan persekutuan lima rejeki"
"Perkataanmu kelewat sungkan, dalam perbagai
hal kalian selalu mengelabuhi aku Leng It-hong, dengan cara
mengelabuhi inikah kalian mengangkat aku sebagai ketuamu?"
Kembali Suto Siau berlagak seolah tidak
mendengar, terusnya:
"Dulu, kebanyakan mendiang ayahku seorang
yang merencanakan siasat untuk memukul mundur serangan musuh, karena
itu ayahku lah yang meninggalkan surat wasiat itu, sementara
mendiang ayahku berpesan, surat wasiat itu baru boleh dibuka jika
pihak Perguruan Tay ki bun melancarkan serangan kembali, karena isi
surat itu adalah cara untuk menanggulanginya"
Hek Seng-thian menghela napas panjang,
katanya pula:
"Cara kerja Suto cianpwee memang selalu
cermat dan berhati hati, suatu ketelitian yang jarang bisa dilampaui
orang lain. Karena dia orang tua kuatir rahasia dibalik kesemuanya
ini ketahuan orang, maka hanya dia seoranglah yang bertanggung jawab
meninggalkan surat wasiat itu, bahkan menentukan kalau surat
tersebut baru boleh dibuka jika pihak Perguruan Tay ki bun menyerang
lagi dimasa mendatang. Semua tindakan ini dilakukan agar rahasia ini
tidak sampai terbongkar dan ketahuan orang luar"
Dia kuatir Leng It-hong tidak memahami
kebaikan dari tindakan tersebut, maka penjelasan itu diutarakan
diiringi helaan napas panjang.
Siapa tahu Leng It-hong segera tertawa,
katanya:
"Kenapa rencana kita untuk memukul mundur
serangan musuh harus dijaga kerahasiaannya, apakah semua rencana
tersebut merupakan siasat yang malu ketahuan orang?"
Ternyata jawaban dari Suto Siau sangat
tepat, terdengar dia menghela napas panjang seraya berkata:
"Saudara Leng, terus terang saja rencana
besar yang dipersiapkan mendiang leluhur persekutuan lima keluarga
untuk memukul mundur musuh memang sedikit memalukan"
Dengan menyinggung soal "mendiang leluhur
persekutuan lima keluarga besar", secara otomatis dia telah
menyertakan leluhur Leng It-hong didalam hal tersebut, tentu saja
Leng It-hong tidak bisa marah karena soal 'memalukan' memang dia
sendiri yang kemukakan.
Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa geli,
tapi pikirannya juga dengan perasaan keheranan:
"Ternyata berulang kali lima keluarga besar
berhasil mengungguli Perguruan Tay ki bun bukan dikarenakan kungfu
mereka yang lebih hebat, tapi rencana busuk apa yang telah mereka
persiapkan?"
Tanpa terasa diapun pasang telinga dan
mendengarkan dengan lebih seksama.
Terdengar Suto Siau berkata:
"Ternyata sejak dulu, setiap kali menghadapi
penyerbuan dari Perguruan Tay ki bun, pihak persekutuan lima
keluarga besar selalu memohon bantuan orang lain. Kalau kita analisa
kembali, pihak Perguruan Tay ki bun selalu memandang serius masalah
balas dendam, mereka selalu menyerang tanpa memperdulikan
keselamatan sendiri, ditambah lagi orang orang Perguruan Tay ki bun
hampir semuanya pemberani, perkasa dan rata-rata berkungfu tinggi,
sebaliknya kita lima keluarga besar jarang bergaul diwaktu biasa,
belum tentu ada jago persilatan yang sudi membantu pihak kita dengan
mengambil resiko bermusuhan melawan Perguruan Tay ki bun.
"Untungnya kejadian dikolong langit tidak
selalu berlangsung secara wajar, dalam dunia persilatan justru
terdapat sebuah partai besar yang khusus membantu lima keluarga kita
untuk memusuhi Perguruan Tay ki bun, anggota perguruan ini bukan
saja misterius sepak terjangnya, selain berkungfu hebat sikap
mereka turun temurun pun selalu tidak berubah. Asal Perguruan Tay ki
bun datang mencari balas terhadap persekutuan lima keluarga, dan
kita mengirim orang untuk minta bantuan, mereka tidak pernah
menampik permintaan kita, yang lebih hebat lagi adalah anggota
perguruan tersebut tidak pernah mencari nama, kedudukan maupun jasa,
anggota perguruan mereka yang dikirim tidak segan menurunkan derajat
sendiri dengan bergabung dalam anak buah kita semua.
"Selama puluhan tahun, setiap kali Perguruan
Tay ki bun datang menuntut balas maka anggota perguruan itulah yang
menggembur mundur serbuan itu, jangankan dunia persilatan tahu
rahasia ini, bahkan pihak Perguruan Tay ki bun sendiripun selalu
menyangka jago-jago lima keluarga besar yang telah berhasil memukul
mundur mereka, akibatnya mereka menilai kelewat tinggi atas
kemampuan dari lima keluarga besar. Itulah sebabnya ketika mereka
datang menyerbu lagi kali ini, begitu melihat lima keluarga besar
menyambut serbuan mereka dengan sepenuh tenaga, mereka langsung
kabur terbirit-birit!"
Berbicara sampai disitu Suto Siau baru
menghentikan kata-katanya sambil menarik napas panjang.
"Kalau begitu jika pihak Perguruan Tay ki
bun tidak menarik diri waktu itu maka pertempuran berdarah yang
berlangsung akan berakibat kita lima keluarga besar punah seratus
persen?" tanya Leng It-hong.
"Aaaai, meski memalukan, memang begitulah
dalam kenyataan" ucap Suto Siau.
Kemudian setelah menghela napas panjang,
terusnya:
"Bukan cuma begitu, bahkan nama serta posisi
kita lima keluarga besar dalam dunia persilatan pun sebagian besar
diperoleh karena jasa serta perjuangan anggota perguruan itu, inilah
alasannya kenapa mendiang leluhur kita selalu merahasiakan kejadian
ini, meski anak kandung sendiripun kalau bukan terdesak, tidak
mungkin mereka membocorkan rahasia itu. Sebaliknya orang-orang dari
perguruan itupun selalu datang tanpa suara, pergi pun tanpa bicara,
belum pernah mereka membicarakan masalah ini kepada siapa pun"
Tiba-tiba Hek Seng-thian ikut bicara:
"Meskipun kejadian ini memang cukup
memalukan, tapi meski memalukan pun kita tetap harus melakukannya,
bukan begitu saudara Leng?"
Leng It-hong hanya mendengus dingin sebagai
jawaban.
Kembali Suto Siau berkata:
"Dalam surat wasiat itu, mendiang ayahku
telah menjelaskan secara terperinci bagaimana caranya melakukan
hubungan kontak dengan perguruan itu, beliau minta siaute berkunjung
ke sana. Tapi perguruan ini meski tidak mencari nama dan kedudukan,
mereka sangat menyukai barang-barang berharga. Jika menginginkan
bantuan mereka, kita mesti persembahkan berjuta tahil emas sebagai
upetinya"
"Oleh sebab itu kaupun merampok uang emasku
untuk dipersembahkan kepada mereka" sela Leng It-hong.
Suto Siau menghela napas panjang.
"Demi keselamatan anggota keluarga kita
semua, mau tidak mau terpaksa siaute harus berbuat demikian, kalau
bukan keadaan mendesak tidak nanti akan kulakukan hal semacam ini,
jadi tolong Leng-heng sudi memakluminya, apalagi...."
Setelah tertawa getir, lanjutnya:
"Apalagi waktu itu Leng-heng tidak berada
dalam benteng, sekalipun siaute ingin menjelaskan dulu duduknya
persoalan, apa mau dibilang kalau tidak ketahuan dimana kau berada"
"Yaa, waktu itu keadaan mendesak dan tidak
bisa ditunda lagi" sambung Hek Seng-thian pula, "terpaksa kamipun
memutuskan untuk bertindak dulu baru bicara belakangan, apalagi
kamipun sadar kalau Leng-heng tidak bakalan pelit dalam hal semacam
ini"
"Hmmm hmmm.......jadi kalian anggap aku Leng
It-hong adalah seorang dermawan yang baik hati? Padahal akupun sama
seperti kalian, paling sayang dengan uang emas milik sendiri!"
"Saudara Leng sedang bergurau......"
Leng It-hong segera menarik wajahnya, dengan
suara berat katanya lagi:
"Aku ingin bertanya kepadamu, kalau memang
waktu itu keadaan sangat mendesak, kenapa kalian tidak menggunakan
harta sendiri sebagai upeti, kenapa malah merampok uang milikku?"
"Soal ini....... soal ini........" Hek
Seng-thian tertegun dan gelagapan.
"Ini dikarenakan siaute sekalian benar-benar
tidak memiliki uang emas yang bisa dipersembahkan"
"Hahahaha..... menggelikan, sungguh
menggelikan, kalau dibilang benteng keluarga Seng tidak memiliki
sisa harta, lohu mah masih percaya sebab Cun-hau memang sangat
dermawan sehingga banyak hartanya disumbangkan kepada orang lain,
sekalipun usaha yang dimiliki Seng Toa-nio lebih besarpun, hartanya
tetap sudah berkurang banyak, tapi........"
Setelah tertawa dingin berulang kali,
lanjutnya:
"Tapi kalau dibilang peternakan Lok-jit dan
perusahaan ekspedisi Thian-bu piaukiok ikut jatuh
miskin.....hehehehe...... sungguh bikin orang tidak percaya!"
Suto Siau kembali tertawa getir.
"Biarpun sekilas pandang usaha kami nampak
makmur, padahal......."
"Sudah, tidak usah banyak bicara lagi"
bentak Leng It-hong keras, "lohu paling benci melihat orang berlagak
sok kere"
"Bila Leng-heng bisa memaklumi, hal ini
lebih bagus lagi" kata Suto Siau dengan wajah tidak berubah.
"Aku ingin bertanya lagi kepadamu, kalau
memang alasan perbuatan kalian begitu masuk diakal dan bisa
dipertanggung jawabkan, kenapa setelah kejadian kalian tidak pernah
menyinggung dihadapanku bahkan secara licik dan munafik berusaha
berkelit? Hmmm, hmmm, kalau bukan gara-gara Cun-hau tidak bisa
menahan diri, sampai sekarang pun belum tentu kalian mau
mengakuinya!"
"Soal ini...... soal ini......"
Suto Siau jadi gelagapan, walaupun licik dan banyak akal, dia
dibikin tergagap juga oleh pertanyaan Leng It-hong itu sehingga
untuk sesaat tak sanggup menjawab.
"Hmm, baiklah" ujar Leng It-hong lebih jauh,
"jikalau kau tidak sanggup menjawab, biar lohu yang membantumu
menjawab!
"Pertama, perguruan misterius yang kau
maksudkan tidak lain adalah si Peluru angin Hong Lo-su dari kelompok
Bi lok hu.
"Kedua, sewaktu kalian merampok uang emasku
guna minta bantuan kepadanya, dia sama sekali tidak turun tangan
sendiri melainkan hanya mengirim ke dua orang muridnya.
"Ketiga, orang itu bernama So Huan, biasanya
suka berdandan seorang siucay muda, orangnya romantis dan jago
pemogoran, tapi dia sama sekali tidak pandang sebelah mata pun
terhadap kalian semua"
Ketika sekaligus dia dapat menyebut ke tiga
hal tersebut, paras muka Suto Siau sekalian kontan berubah hebat.
Sambil bertepuk tangan memuji, seru Suto
Siau cepat:
"Tidak kusangka ternyata ketajaman
pendengaran Leng-heng sangat mengagumkan, hehehe...
hahahaha..... sungguh membuat siaute sekalian merasa sangat kagum"
Sekalipun sedang tertawa keras namun nada
suaranya justru amat tidak sedap didengar.
Leng It-hong mendengus dingin, lanjutnya:
"Ketika mengetahui Hong Lo-su tidak datang
sendiri, sebenarnya perasaan kalian sangat kecewa, tapi setelah
melihat So Huan memamerkan kemampuannya dan ternyata memang cukup
tangguh, perasaan kalian pun kembali diliputi rasa girang, dalam
perkiraan kalian, cukup mengandalkan So Huan seorang pun sudah
lebih dari cukup untuk menghajar Perguruan Tay ki bun habis-habisan.
"siapa tahu belum sampai So Huan bertarung
melawan para jago dari Perguruan Tay ki bun, dia sudah keok duluan
ditangan seorang gadis tidak ternama dari sebuah dusun pandai besi,
bahkan menderita kekalahan yang parah.
"Maka kalian pun kembali gugup, tapi saat
itulah So Huan bertepuk dada dengan berjanji, apa pun caranya dia
akan mengundang kehadiran gurunya, Hong Lo-su.
"Ternyata janjinya bukan hanya janji kosong,
Hong Lo-su betul-betul sudah munculkan diri.
"Waktu itu, entah apa sebabnya lelaki
berkaki telanjang dari Perguruan Tay ki bun ternyata sudah datang ke
daratan Tionggoan, dengan tampang serta perawakan
tubuhnya yang istimewa, tentu saja kemunculannya menarik perhatian
orang banyak, jejaknya segera ketahuan para piausu dari perusahaan
Thian-bu piaukiok, ketika mendapat kabar itu dan sewaktu kalian
sedang berunding bagaimana cara menanggulanginya, ternyata Hong
Lo-su ikut mendengar berita itu, maka diapun turun tangan sendiri
untuk membekuknya, yang lebih hebat lagi ternyata dia dengan
menggunakan ilmu pembetot sukma Si-hun thay hoat berhasil
melenyapkan kesadarannya, seorang lelaki gagah berani pun berubah
jadi seorang budak dan tanpa syarat tunduk dibawah perintah Hong
Lo-su!
"Kejadian inipun membuat kalian takluk
seratus persen atas pekerkasaan Hong Lo-su.
"Ketika So Huan hendak naik gunung untuk
minta bantuan gurunya, secara tidak disengaja kalian berhasil
membekuk Sui Leng-kong, kalian pun berencana hendak menggunakan Sui
Lengkong sebagai sandera untuk memaksa Thiat Tiong-tong tunduk pada
perintah kalian.
"Tatkala Thiat Tiong-tong hampir saja tunduk
pada ancaman, siapa tahu muncul seorang manusia aneh yang berilmu
tinggi, bukan saja dia berhasil mengusir kalian semua, malah
berhasil pula merebut Sui Leng-kong.
"Maka kalian pun melaporkan kejadian ini
kepada Hong Lo-su, tampaknya Hong Lo-su tahu dengan jelas asal-usul
manusia aneh itu tapi belum pernah mengungkitnya dihadapan kalian.
"Rupanya hal ini dikarenakan dia punya
maksud tujuan tertentu terhadap manusia aneh itu, kelihatannya saja
dia sedang bekerja untuk kalian, padahal dia sedang berusaha untuk
diri sendiri. Sungguh mengenaskan, ternyata tidak seorangpun
diantara kalian yang tahu ke mana perginya manusia aneh itu.
"Tidak disangka pada saat yang bersamaan Kiu
cu Kui bo kakak beradik sedang menyebar undangan atas nama manusia
aneh itu, kalian pun kebetulan memperoleh undangan tersebut.
"Dalam girangnya Hong Lo-su pun mengajak
kalian menyerbu ke sana, kalian sangka dengan mengandalkan kungfu
yang dimiliki Hong Lo-su, segala sesuatunya akan berjalan dengan
lancar.
"Siapa tahu diluar langit masih ada langit,
biarpun kungfu yang dimiliki Hong Lo-su sangat hebat, ternyata masih
ada orang lain yang memiliki kungfu jauh lebih hebat dari
kemampuannya.
"Ditempat itulah kalian benar-benar terbuka
matanya, selain bertemu dengan permaisurinya Kaisar malam, kalian
pun telah bertemu dengan putra kaisar malam serta si sambaran petir
Coh Sam-nio sekalian, tokoh-tokoh silat yang dihari biasa jarang
bisa dijumpai.
"Khususnya kawanan gadis suci berbaju hitam
yang mengaku sebagai utusan langit, sepak terjang mereka membuat
kalian makin tercengang, apalagi setelah melihat manusia macam Coh
Sam-nio dan Hong Lo-su pun tidak berani mencari gara-gara dengan
mereka, akibatnya kalian pun tidak bisa berbuat banyak ketika
melihat orang-orang itu menolong Thiat Tiong-tong.
"Kemajuan ilmu silat Thiat Tiong-tong yang
begitu pesat pun tidak pernah kalian mimpikan sebelumnya, kalau dulu
dia hanya prajurit yang pernah keok ditangan kalian maka hari itu
kalian berlima lah yang dihajar hingga amat mengenaskan.
"Hasil pertarungan di bukit Lau-san adalah
Coh Sam-nio dan Hong Lo-su kabur ketakutan, So Huan mampus ditempat
itu sementara Kiu cu Kui bo kakak beradik beserta anak buahnya
diboyong pulang semua ke pulau Siang cun-to oleh rombongan wanita
suci itu.
"Keadaan kalian pun tentu saja amat
mengenaskan, tapi melihat Thiat Tiong-tong sekalian masih berada
diatas bukit, kalian pun enggan melepaskannya dengan begitu saja,
maka diputuskan untuk menunggu dibawah bukit.
"Sehari kemudian ternyata Hong Lo-su muncul
lagi di bukit Lau-san, tampaknya kedatangannya kali ini disertai
bala bantuan yang tangguh, maka diapun berkoar-koar menantang
bertarung.
"Siapa tahu ratu dari kaisar malam, putra
kaisar malam beserta Thiat Tiong-tong dan Sui Leng-kong sekalian
telah bersembunyi didalam ruang rahasia, umpatan Hong Lo-su nyaris
tidak terdengar mereka.
"Ketika gagal menemukan jejak orang-orang
itu, kalian pun segera melepaskan api dan membakar istana itu hingga
rata dengan tanah, sementara harta kekayaannya kalian rampok habis
habisan.
"Dalam kejadian ini kalian berhasil
mengelabuhi Hong Lo-su, kalian pun tidak ingin ada orang lain yang
tahu akan rahasia ini, sebab makin banyak yang tahu berarti harta
rampokan itu harus dibagikan lebih banyak.
"Begitu juga ketika kalian merampok uang
emas milikku, kalian sangka karena punya alasan yang cukup kuat maka
lohu pasti tidak bisa banyak membantah.
"Tapi setelah memperoleh hasil rampokan yang
terakhir, kalian pun segera berubah pikiran, kalian berencana
mengembalikan uang milikku seandainya lohu tahu akan keadian ini.
"Maka dengan segala tipu daya kalian pun
berusaha mengelabuhi lohu, siapa tahu justru lohu telah berhasil
menyelidiki kejadian ini dengan sejelas jelasnya"
Bicara sampai disitu diapun mendongakkan
kepalanya tertawa seram, jengeknya:
"Suto Siau, Hek Seng-thian, apakah
perkataanku ada yang salah?"
Sementara itu Suto Siau sekalian sudah
berdiri dengan wajah hijau membesi, penjelasan itu membuat mereka
semakin terkesiap, untuk sesaat mereka hanya bisa berdiri tertegun
dengan mata terbelalak dan mulut melongo, wajahnya semakin memucat
bagai mayat.
Siapa pun tidak menyangka kalau Leng It-hong
dapat membongkar semua rahasia besar mereka sedemikian jelasnya,
bahkan seolah-olah dia ikut hadir didalam semua peristiwa ini. Satu
kejadian yang mimpi pun tidak pernah mereka duga.
Begitu pula dengan Thiat Tiong-tong yang
bersembunyi diluar ruang perahu, tubuhnya nyaris terjatuh dari
tempat persembunyian.
Penuturan dari Suto Siau membuatnya
tercengang, dia tidak menyangka kalau kekalahan yang diderita
Perguruan Tay ki bun selama puluhan tahun terakhir bukan dikarenakan
kungfu mereka kalah dibandingkan persekutuan lima keluarga,
sebaliknya mereka justru kalah ditangan perguruan yang dipimpin Hong
Lo-su.
Rahasia besar ini betul-betul telah menipu
Perguruan Tay ki bun selama banyak tahun, menipunya habis habisan.
Walaupun Thiat Tiong-tong merasa sedih
bercampur gusar, anehnya ternyata diapun merasa girang, sebab dia
tidak mengira kalau rahasia yang begitu besar dapat terdengar
olehnya tanpa sengaja.
Sekali pun sebagian besar dari penuturan
Leng It-hong itu melibatkan pula dirinya, dimana dia bahkan langsung
berada ditempat kejadian, namun liku-liku dibalik semua peristiwa
itu sama sekali tidak terduga olehnya.
Khususnya mengenai tertangkapnya lelaki
berkaki telanjang, kepergian Kiu cu Kui bo sekalian, sebab musabab
kenapa Hong Lo-su memusuhi Perguruan Tay ki bun serta siapa yang
telah membakar serta merampok istana di bukit Lau-san........
Padahal semua rahasia itu merupakan rahasia
yang wajib diketahui olehnya walau dengan mengorbankan nyawanya
sekalipun, tidak disangka saat ini Leng It-hong telah menjelaskan
semua kepadanya, tanpa bayaran bahkan tanpa pengorbanan apa pun.
Inilah yang disebut: dicari sampai sepatu
jebol pun tidak ketemu, tanpa membuang tenaga segalanya langsung
ditemukan. Dia harus berterima kasih kepada Leng It-hong, khususnya
terhadap Sim Sin-pek.
Dia sudah menduga, semua rahasia besar ini
pasti diketahui Leng It-hong dari pengakuan Sim Sin-pek, dan hanya
manusia macam Sim Sin-pek saja yang mengetahui begitu banyak rahasia
dari Suto Siau sekalian.
Kini tinggal satu masalah yang belum
diketahui Thiat Tiong-tong, siapakah pembantu yang diundang Hong
Lo-su secara diam-diam? Tapi satu hal dia tahu pasti, kungfu yang
dimiliki orang itu pasti luar biasa hebatnya.
"Da....darimana kau.... kau bisa tahu semua
kejadian ini?" tanya Hek Seng-thian dengan nada gemetar.
"Hmmm...hmmm...... kalau tidak ingin orang
lain tahu, janganlah kau lakukan!" sahut Leng It-hong sambil tertawa
dingin.
"Tapi.....tapi.... dalam peristiwa
ini......"
"Hek-heng tidak perlu banyak bertanya lagi"
tukas Suto Siau tiba-tiba dengan suara dalam, "masa kau masih belum
bisa menduga, siapa yang telah membocorkan semua rahasia ini kepada
Leng-heng?"
"Siapa orang itu?" berubah paras muka Hek
Seng-thian.
"Hmm, kecuali murid kesayanganmu itu, ada
siapa lagi!"
"Ternyata bajingan itu.........." teriak Hek
Seng-thian gusar, dia melirik Leng It-hong sekejap, tiba-tiba
tambahnya sambil tertawa terkekeh, "Sin-pek, dia memang anak pintar,
penjelasan yang bagus sekali, sebetulnya siaute sekalian memang
sedang kebingungan bagaimana caranya menjelaskan peristiwa ini
kepada Leng-heng, ternyata bocah itu mengerti kesulitan gurunya
dengan membeberkan dulu masalahnya kepada saudara Leng, hahahah
....... bagus, bagus sekali......."
Kalau Suto Siau termashur karena kelicikan
hatinya, maka kecepatan Hek Seng-thian berubah sikap jauh diluar
dugaan siapa pun.
Leng It-hong kembali mendongakkan kepalanya
tertawa keras.
"Hek Seng-thian!" jengeknya, "kejadian sudah
berkembang jadi begini, buat apa kau mesti menipu orang membohongi
diri sendiri, memangnya kau sangka aku Leng It-hong hanya seorang
bocah usia tiga tahun yang bisa dibohongi secara mudah?"
Lantaran malu Hek Seng-thian jadi naik
pitam, sambil menggebrak meja teriaknya:
"Leng-heng, kau sangka aku Hek Seng-thian
betul-betul takut kepadamu? Hmm, kalau bukan lantaran mengingkat
kita pernah punya hubungan dimasa lalu, kau kira aku mau mengalah
terus"
"Kalau tidak mengalah lantas kenapa?" ejek
Leng It-hong tanpa berubah muka.
Perlahan-lahan Suto Siau berkata pula:
"Perkataan saudara Hek ada benarnya juga,
kalau tidak..... hahahaha..... masa sepuluh pasang kepalan tangan
takut dengan sepasang tanganmu!"
"Hahahaha..... sepuluh
pasang kepalan tangan........." Leng It-hong tertawa seram.
Kebetulan waktu itu ada seorang lelaki
berbaju hitam berjalan lewat di samping Leng It-hong sambil membawa
sepoci arak, tiba-tiba Leng It-hong menepuk bahu lelaki itu
perlahan, sapanya sambil tertawa:
"Apa kabar? Baik-baik kau?"
"Baik......" jawab lelaki itu tertegun
dan kebingungan.
Baru selesai dia menjawab, tiba-tiba sekujur
tubuhnya gemetar keras, "Braaaak!" poci arak yang berada dalam
genggamannya terlepas dari genggaman dan hancur berantakan dilantai.
Lelaki itu adalah seorang piausu dari
perusahaan ekspedisi Thian bu piaukiok, ketika Hek Seng-thian
menyaksikan anak buahnya gugup, dengan cepat dia melompat bangun
sambil membentak gusar:
"Budak yang pingin mampus, cepat dibersihkan
lalu.......”
Perlahan-lahan lelaki itu membalikkan
tubuhnya, dibawah sinar lentera tampak paras mukanya telah berubah
jadi merah kehitam hitaman, alis matanya berkutat jadi satu, tampang
wajahnya kelihatan amat mengerikan.
“Ke...... kenapa kau?" tanya Hek Seng-thian
terperanjat.
Peluh sebesar kacang kedele jatuh bercucuran
membasahi wajah lelaki itu, dia hanya sanggup mengucapkan sepatah
kata.
Sambil menuding ke
arah Leng It-hong, teriaknya parau:
"Dia........"
Tiba-tiba tubuhnya roboh terjungkal ke
tanah, perawakan rubuhnya yang tinggi besar kini sudah melingkar
satu satu.
Semua orang baru tahu, ternyata lelaki itu
sudah terkena racun jahat yang ada ditelapak tangan Leng It-hong.
Padahal barusan Leng It-hong hanya menepuk
perlahan bahu orang itu, tidak disangka dalam waktu singkat seorang
lelaki tinggi besar yang begitu gagah perkasa telah merenggang nyawa
gara-gara keracunan, kekejamannya serta keganasan racun itu
betul-betul menggidikkan hati semua orang.
Seketika itu juga Hek Seng-thian terduduk
kembali ke bangkunya, tentu saja dia tidak berani mengumbar hawa
amarahnya lagi.
Tidak menunggu Leng It-hong bicara, Pek
Seng-bu segera berbicara duluan, katanya:
"Kalau memang peristiwa ini tidak bisa
mengelabuhi saudara Leng lagi, lebih baik kita rundingkan secara
terbuka"
Dia sama sekali tidak menyinggung kembali
masalah yang baru lewat, bagaimana dia bentrok dengan Hek
Seng-thian, mengancam Suto Siau maupun melukai seorang anak buah
mereka......
seolah-olah tidak pernah terjadi peristiwa
semacam itu disana, bahkan permintaan kali ini disampaikan secara
jujur.
Thiat Tiong-tong yang meyaksikan kejadian
ini kembali menghela napas, pikirnya:
"Walaupun kungfu yang dimiliki orang-orang
itu tidak terlalu menakutkan, tapi kebusukan serta kelicikan mereka
sangat mengerikan, jauh lebih menakutkan ketimbang ilmu silat macam
apa pun"
Sementara itu terdengar Leng It-hong
berkata:
"Memang seharusnya sedari tadi persoalan ini
dibicarakan secara terbuka, apakah kalian tidak merasa sudah
terlambat untuk mengucapkan perkataan semacam itu sekarang?"
Pek Seng-bu berlagak seolah sama sekali
tidak mendengar ejekan itu, ujarnya lebih jauh:
"Kami memang sepantasnya mengembalikan uang
sejumlah jutaan tahil emas itu kepada Leng-heng, tapi kamipun
berharap Leng-heng mau mementingkan masalah secara keseluruhan untuk
tidak menaruh curiga serta prasangka jelek terhadap kami semua. Kita
mesti bersatu padu bersama Hong locianpwee dalam usaha menumpas
Perguruan Tay ki bun........"
Mula-mula dia berusaha menggerakkan
perhatian Leng It-hong dengan menawarkan pengembalian uang emas
miliknya, kemudian baru membangkitkan semangat kesatuannya dengan
menyinggung masalah Perguruan Tay ki bun, boleh dibilang cara
diplomasi yang dilakukan orang ini sangat lihay.
Siapa tahu Leng It-hong segera tertawa
dingin, katanya:
"Uang emas sejumlah jutaan tahil hanya
berupa benda keduniawian, sekalipun tidak diperoleh kembali, bagi
lohu juga bukan masalah, tapi kalau suruh aku bekerja sama dengan
Hong Lo-su, hal ini tidak mungkin bisa terjadi!"
"Apakah saudara Leng memandang enteng
kemampuan silatnya?" tanya Pek Seng-bu agak tertegun.
"Ilmu silat yang dimiliki Hong Lo-su sangat
tangguh, nama besarnya pun termasuk dalam deretan sepuluh tokoh
silat paling tangguh dikolong langit, bagaimana mungkin Leng It-hong
berani pandang enteng kemampuannya?"
"Bila pihak kita mendapat bantuan dari Hong
locianpwee, niscaya kemampuannya akan berlipat ganda, boleh tahai
apa alasan saudara Leng sehingga enggan bekerja sama dengannya?"
"Walaupun dalam sekilas pandangan pertikaian
antara Perguruan Tay ki bun dengan persekutuan lima keluarga hanya
merupakan sebuah kasus sederhana, padahal keruwetan yang ada dibalik
kesemuanya ini jauh dari dugaan dan sangkaan kita semua!"
"Kalau didengar dari perkataan Leng-heng,
jangan-jangan dalam kasus pertikaian ini selain melibatkan Hong
locianpwee, juga melibatkan jago jago silat lainnya?" tanya Pek
Seng-bu keheranan.
"Bukan hanya melibatkan jago lain bahkan
mereka yang terlibat dalam persoalan ini merupakan tokoh-tokoh
silat maha sakti yang sudah lama hidup mengasingkan diri dari urusan
dunia persilatan"
Walaupun hanya beberapa patah perkataan yang
sederhana namun sudah cukup membuat jantung Thiat Tiong-tong seakan
hendak melompat keluar dari rongga dadanya.
Pek Seng-bu sekalian pun kelihatan ikut
tertegun sehabis mendengar ucapan itu, wajah mereka berubah hebat.
Sambil tertawa Suto Siau segera berkata:
"Ternyata dibalik kasus ini masih tersimpan
rahasia lain, sampai siaute sendiripun tidak tahu akan hal ini, tapi
bagaimana mungkin saudara Leng bisa mengetahuinya?"
"Hmm, masih banyak persoalan yang tidak kau
ketahui!"
"Siaute sekalian akan pasang telinga
baik-baik untuk mendengarkan penjelasan dari Leng-heng" buru-buru
Pek Seng-bu menyambut. Cepat dia mengambil poci arak dan memenuhi
sebuah cawan untuk Leng It-hong.
Tanpa sungkan Leng It-hong meneguk habis isi
cawan itu, kemudian baru ujarnya:
"Suto cianpwee bisa menyiapkan surat wasiat
yang ditujukan kepada Suto Siau, begitu juga dengan mendiang ayahku,
beliau pun meninggalkan sepucuk surat wasiat untukku!"
"Apa isi surat wasiat itu?" seru Suto Siau
dengan wajah berubah.
Leng It-hong sama sekali tidak menengok
sekejapun ke arahnya, ia berkata lebih jauh:
"Walaupun surat wasiat yang dimiliki Suto
Siau berisi hal-hal yang sangat rahasia, tapi rahasia yang diungkap
mendiang ayahku jauh lebih banyak lagi......"
Ketika berbicara sampai disini, mendadak
paras mukanya yang merah kehitam-hitaman berubah jadi pucat pasi,
peluh sebesar kacang pun butir demi butir membasahi jidatnya.
Diam-diam Suto Siau tertawa, tapi diluar dia
berlagak seolah kaget, teriaknya:
"Leng-heng, kenapa kau?"
Sekujur tubuh Leng It-hong gemetar keras,
tampaknya dia sedang berusaha menahan siksaan dan penderitaan yang
luar biasa hingga tidak sempat menjawab pertanyaan itu, dari dalam
keranjang bambunya dengan cepat dia mengambil seekor kalajengking
kemudian dimasukkan ke mulut dan dikunyahnya hidup-hidup.
Selesai menghabiskan seekor kalajengking,
Leng It-hong baru menghembuskan napas lega, paras mukanya pulih
kembali seperti sedia kala, selapis hawa hitam pun kembali
menyelimuti mimik wajahnya.
Suto Siau sekalian adalah jago-jago kawakan
yang banyak pengalaman, dalam sekilas pandang mereka sudah tahu
kalau Leng It-hong telah mempertaruhkan keselamatan jiwanya demi
mempelajari ilmu sesat itu, jelas dia ingin cepat lihay sehingga
menempuh segala resiko.
Walaupun pada akhirnya dia berhasil
mempelajari ilmu sesat itu, namun seluruh nadi dan peredaran
darahnya telah dipenuhi racun keji, setiap saat dia wajib menelan
makhluk-makhluk beracun untuk melawan serangan racun dari tubuhnya,
jika tidak menggunakan metode racun melawan racun maka sekujur
tubuhnya akan sangat menderita.
Sebaliknya setiap kali dia menelan seekor
makhluk beracun maka sifat racun dalam tubuhnya akan satu tingkat
lebih mendalam, tenaga pukulannya pun makin beracun, tapi sebagai
akibatnya serangan racun ditubuhnya akan bertambah hebat, waktu
kambuh pun makin bertambah cepat.
Maka diapun butuh menelan makhluk beracun
semakin banyak, begitulah keadaannya, keadaan itu baru terhenti jika
dia tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan makhluk beracunnya.
Diam-diam Suto Siau kegirangan, pikirnya:
"Leng It-hong wahai Leng It-hong, walaupun
saat ini aku takut menghadapimu, tapi suatu saat nanti akan
kusaksikan kau mampus karena pukulan beracunmu sendiri, itu baru
senjata makan tuan namanya!"
Dalam pada itu Leng It-hong telah meneguk
kembali secawan arak sambil berkata:
"Didalam surat wasiatnya, hal pertama yang
diingatkan mendiang ayahku adalah jangan terlalu mengandalkan
kekuatan Hong Lo-su, sebab bila kita harus tergantung terus dengan
kekuatan mereka, selama hidup jangan harap kita bisa tumpas
Perguruan Tay ki bun, bila Perguruan Tay ki -bun
tidak tumpas, anak keturunan kita yang akan hidup menderita. Oleh
sebab itu bila ingin mempertahankan kelangsungan hidup anak cucu
kita semua, kita harus pergi minta bantuan seorang tokoh sakti
lainnya, jangan sekali-kali mencari Hong Lo-su!"
"Kenapa?" mendadak terdengar seseorang
bertanya.
"Alasannya terlalu melebar" jawab Leng It-hong,
"tapi diantaranya yang paling penting adalah kehadiran Siang cun-to.
Perguruan yang dipimpin Hong Lo-su tidak mungkin berani menghadapi
para wanita suci berbaju hitam anak buah Ratu matahari........"
Ketika berbicara sampai disini, tiba-tiba
dia menjumpai keanehan yang terlintas diwajah Suto Siau, Hek
Seng-thian, Pek Seng-bu serta Seng Toa-nio sekalian.
Ternyata pertanyaan "kenapa" tadi bukan
berasal dari mulut ke lima orang itu!
Dalam terkejutnya cepat Leng It-hong
membalikkan tubuhnya sambil membentak:
"Siapa?"
Arah yang dituju pandangan matanya ternyata
tidak lain adalah tempat dimana Thiat Tiong-tong sedang
menyembunyikan diri.