pendekar panji sakti 05
BAB 13.
Enghiong memesan pedang.
Mendadak dari balik hujan angin terdengar
suara bentrokan senjata yang ramai.
Kemudian terdengar suara seorang wanita
berteriak dengan suara tinggi melengking:
"Hau-ji, kurung dia, jangan kau lukai
jiwanya, asal dia mau mengakui darimana bisa kenali Thiat Tiong-tong
dan mengatakan dimana Thiat Tiong-tong berada, jangan kau persulit
dia"
Thiat Tiong-tong tercekat, cepat dia
menyelinap ke belakang punggung Hay Tay-sau yang tinggi besar dan
bersembunyi disitu.
Ditengah hujan dan angin terlihat ada
segulung hawa pedang bercahaya hijau sedang mengurung dua sosok
bayangan manusia, selain itu terlihat pula sesosok bayangan manusia
yang lain bergerak mengikuti hawa pedang.
Ketika mereka semakin mendekat barulah
tampak bayangan manusia yang berada ditengah hawa pedang itu adalah
seorang lelaki berbaju ungu serta seorang manusia berkerudung hitam
yang ditangan kirinya memegang golok, tangan kanannya memegang
tongkat.
Disamping arena pertarungan tampak seorang
nenek berambut putih yang membawa tongkat berkepala bangau sedang
mengikuti jalannya pertarungan dengan seksama.
Ilmu pedang yang dikembangkan lelaki berbaju
ungu itu mantap dan gencar, semuanya merupakan jurus pedang aliran
lurus, dimana pedangnya berputar boleh dibilang tidak setetes air
pun yang bisa menembusinya.
Sementara jurus serangan yang digunakan
lelaki bergolok dan bertongkat itu meski ganas dan telengas namun
langkah kakinya sama sekali tidak leluasa, kelihatannya dia pincang.
Ilmu golok yang dipergunakan pun tampak
sedikit kaku dan asing, jelas ilmu tersebut baru dipelajarinya
hingga kurang begitu hapal dan lancar.
Saat ini dia sudah terdesak hebat, seluruh
tubuhnya sudah terkepung oleh cahaya pedang lelaki berbaju ungu itu
hingga sama sekali tak mampu membalas, andaikata lelaki berbaju ungu
itu memang tidak berniat melukainya, mungkin saat ini dia sudah
roboh bermandikan darah.
Baru saja lelaki setengah umur dan nona
berbaju hijau itu siap-siap memberikan pertolongan, mendadak
terdengar Bi lek Hwee menghardik keras:
"Seng Toa-nio, cepat suruh keponakan Hau
menghentikan serangannya!"
Semua orang tertegun, lelaki setengah umur
itupun seketika menghentikan langkahnya.
Ternyata nenek berambut putih dan lelaki
berbaju ungu itu tidak lain adalah Seng Toa-nio serta Seng Cun-hau.
Nenek itu segera berpaling, kemudian ujarnya
sambil tertawa:
"Ooh, rupanya kau si kakek pun berada
disini, kenapa suruh lo-cici menghentikan serangan? Tunggu sebentar,
aku mesti paksa orang ini untuk memberitahukan jejak orang she-Thiat
itu terlebih dulu sebelum kita bisa bercakap cakap"
"Tidak usah ditanya lagi" tukas Bi lek Hwee
lantang, "siaute tahu jelas kabar berita dari Thiat Tiong-tong"
Kelihatan orang berbaju hitam itu tergetar
hatinya hingga muncul titik kelemahan dalam jurus serangannya,
beruntung Seng Cun-hau memang berniat melepaskan dia hingga
kesempatan itu tidak dimanfaatkan.
Terdengar Seng Toa-nio bertanya dengan
keheranan:
"Kau tahu dia ada dimana?"
"Sekarang dia sudah termakan bujuk rayu Suto
Siau si rase licik itu dan mengkhianati Perguruan Tay ki bun, kalau
ingin mencarinya, bisa jadi saat ini dia sedang berada bersama Suto
Siau serta Hek Seng-thian berdua"
"Sungguh?" teriak Seng Toa-nio makin
tercengang.
Bi lek Hwee tertawa.
"Sejak kapan siaute bisa membohongi Seng
Toa-nio? Dengan mata kepala sendiri siaute saksikan Thiat Tiong-tong
pergi bersama Suto Siau, malahan mereka pergi sambil bergurau, bisa
jadi saat ini mereka sudah berada di peternakan Lok jit san ceng"
Seng Toa-nio termangu berapa saat, kemudian
sambil gelengkan kepala dan tertawa katanya:
"Baru saja aku pergi sejenak ketempat
luaran, tidak disangka sudah terjadi banyak perubahan disini,
hau-ji, hentikan seranganmu!"
Seng Cun-hau segera menarik kembali
pedangnya sambil mundur tiga langkah, perasaan kecewa sempat
melintas diwajahnya, tampaknya dia merasa kecewa karena mendengar
Thiat Tiong-tong telah menghianati perguruannya.
Thiat Tiong-tong sendiri yang bersembunyi
dibelakang Hay Tay-sau ikut merasa amat sedih, pelbagai perasaan
berkecamuk jadi satu dalam benaknya.
Hujan angin turun semakin deras, malam hari
pun menjelang tiba, dalam situasi serba kalut seperti ini, walaupun
Seng Toa-nio memiliki ketajaman mata yang luar biasa pun rupanya
tidak sempat memperhatikan ke situ.
Manusia berkerudung hitam itupun berdiri
sambil menurunkan senjatanya, kendatipun tidak dapat dilihat
bagaimana perubahan wajahnya, namun dari sikapnya yang sedih dia
seakan seperti kehilangan sesuatu.
Setelah menyapu sekejap seluruh arena, Seng
Toa-nio kembali berkata sambil tertawa:
"Tidak kusangka ternyata kaupun sudah jadi
seorang pentolan begal, hebat benar kekuatanmu, baik, memandang
wajah Bi lek lote, kubebaskan kalian semua!"
Waktu itu si nona berbaju hijau itu sudah
tiba disamping manusia berbaju hitam itu tiba-tiba selanya pula
sambil tertawa dingin:
"Baik, memandang diatas wajahnya, akupun
bersedia membebaskan kalian berdua!"
"Apa kau bilang?" dengan wajah berubah Seng
Toa-nio membentak gusar.
"Walaupun aku enggan bertarung melawan kaum
lelaki, tapi masih beruntung kau adalah seorang wanita"
Meskipun sorot matanya tetap dingin hambar,
namun nada ucapannya lebih tajam dari mata golok.
Tiba-tiba Seng Toa-nio tertawa terkekeh.
"Nona cilik" serunya, "jadi kau ingin
mencoba kehebatan Seng Toa-nio?"
"Rupanya kau pintar sekali, dapat menebak
maksud hatiku" jengek nona berbaju hijau itu sambil tertawa dingin.
"Aduh mak, tajam amat mulutmu, bila
kemampuanmu bisa lebih hebat separuh saja dari ketajaman mulutmu,
itu sudah lebih dari cukup, tapi sayangnya......."
Sambil tertawa dia sengaja menghela napas
ringan, perlahan-lahan tubuhnya bergerak menghampiri nona berbaju
hijau itu.
Bi lek Hwee sekalian tahu bahwa Seng Toa-nio
adalah perempuan keji yang berhati telengas, kini mereka jadi
menguatirkan keselamatan nona berbaju hijau itu, hanya saja semua
orang merasa rikuh untuk menghalanginya.
Yang aneh, ternyata orang-orang dari pihak
nona berbaju hijau itu tetap bersikap tenang, seakan mereka sangat
yakin dengan kehebatan nona itu.
Terdengar SengToa-nio berkata lebih jauh:
"Cuma sayangnya, hehehe.... Coba kau periksa
sepasang tanganmu, mana putih, halus, ramping lagi. Mending dipakai
untuk menyulam atau menjahit, ingin bertarung melawan orang? Hmmm,
hmmm......"
Diiringi senyuman dia memegang tangan gadis
itu dan menggenggamnya erat-erat.
Nona berbaju hijau itu bukan saja tidak
menghindar, dia malah menyambut genggaman itu dengan balas
menggenggam tangan Seng Toa-nio, ujarnya sambil tertawa dingin:
"Hmm, aku lihat tanganmu pun tidak terlalu
kasar!”
Begitu sepasang tangan mereka saling
berjabatan tangan, tiba-tiba terdengar Seng Toa-nio berteriak keras:
"Aduuh, tanganmu........."
Ucapannya seketika terhenti, sekujur
tubuhnya nampak bergetar keras, paras mukanya berubah pucat pias.
"Bagaimana? Tanganku tidak terlalu halus
bukan?" jengek nona berbaju hijau itu sambil tertawa, perlahan dia
lepaskan genggamannya.
Seng Toa-nio melotot sekejap ke arahnya,
mendadak tanpa mengucapkan sepatah katapun dia membalikkan tubuh dan
ngeloyor pergi.
"Hau-ji, kita pergi!"
Ucapan terakhir diutarakan dari jarak sejauh
lima meter lebih.
Semua orang tercekat bercampur keheranan,
tidak ada yang tahu kenapa Seng Toa-nio pergi secara tiba-tiba,
kalau dibilang kungfu gadis itu dapat menggetarkan perasaan Seng
Toa-nio hingga membuatnya kabur, rasanya tidak seorangpun yang
mempercayainya.
Seng Cun-hau sendiripun nampak tertegun,
serunya cepat:
"Kita tidak menunggu Thian-heng?"
"Kalau tidak menemukan kita, toh dia bisa
pulang sendiri" sahut Seng Toa-nio tanpa menghentikan langkahnya.
Seng Cun-hau sendiripun menampilkan perasaan
heran bercampur sangsi, buru-buru dia menjura kepada Bi lek Hwee
lalu menyusul ke arah Seng Toa-nio pergi, mungkin lantaran
terburu-buru, tanpa sengaja sebuah kantung sutera kecil terjatuh
dari sakunya.
Menanti Bi lek Hwee memungut kantung sutera
itu, bayangan tubuh Seng Cun-hau sudah pergi jauh.
Tidak tahan dia segera membuka kantung
sutera itu dan memeriksa isinya, ternyata kantung itu berisi sebutir
pil, Bi lek Hwee pun mengenali pil itu sebagai obat pemunah racun
senjata rahasia Thian li ciam milik SengToa-nio.
Penemuan ini membuatnya semakin keheranan,
gumamnya tanpa terasa:
"Aneh sekali, selama ini Cun-hau selalu
bertindak hati-hati dan cermat, mustahil rasanya dia bisa kehilangan
obat pemunah tanpa disadari"
Perlu diketahui, obat pemunah dari senjata
andalan suatu perguruan biasanya dianggap sebagai benda mestika yang
tidak ternilai harganya, jadi mustahil kalau benda mestika semacam
ini bisa terjatuh dari tangan seorang jagoannya tanpa diketahui.
Ketika dia berpaling, tampak nona berbaju
hijau itu sedang memegangi pergelangan tangan kanannya dengan wajah
memucat, sekujur tubuhnya mulai gemetaran keras, itulah gejala
terkena jarum Thian li ciam.
Satu ingatan segera melintas dalam benak Bi
lek Hwee, sekarang dia baru tahu, rupanya Seng Cun-hau pun mengerti
kalau ibunya secara diam-diam telah sembunyikan jarum thian li ciam
dibalik telapak tangannya, oleh sebab itu sewaktu berjabatan tangan
tadi, kendatipun Seng Toa-nio terluka oleh getaran tenaga dalam
lawan, sebaliknya nona berbaju hijau itupun terluka oleh jarum
Thian li ciam.
Rupanya Seng Cun-hau tidak tega membiarkan
gadis itu kehilangan nyawa, maka dia sengaja menjatuhkan obat
pemunah racun itu.
Gara-gara ingatan yang bijak itulah bukan
saja dia telah selamatkan jiwa nona berbaju hijau itu, diapun telah
menolong ibunya.
Rupanya manusia pincang berbaju hitam serta
lelaki tinggi besar Bu Ceng-hiong telah menyaksikan pula gejala
yang dialami gadis itu, dalam terkejutnya serentak mereka maju
mendekat.
Nona berbaju hijau itu tertawa, sambil
pejamkan mata katanya perlahan:
"Sungguh hebat racun dalam jarumnya. Mungkin
aku......aku tidak tertolong lagi”
Lelaki pincang serta Bu Ceng-hiong berseru
tertahan, paras muka mereka ikut berubah.
"Jangan kuatir" mendadak terdengar Bi lek
Hwee berteriak keras, "lohu mempunyai obat pemunahnya"
"Sung......sungguh?" seru lelaki pincang itu
terkejut bercampur girang, "kau memiliki obat pemunah racun dari
Thian li ciam milik Seng Toa-nio?"
"Mana mungkin lohu memilikinya" Bi lek Hwee
menghela napas panjang, "obat ini sengaja ditinggalkan Seng Cun-hau"
Lelaki pincang itu agak tertegun tapi dia
segera menyambut obat pemunah itu.
Tiba-tiba nona berbaju hijau itu membuka
matanya sambil bertanya:
"Kenapa dia ingin menolongku?"
"Biarpun Seng toaci kejam dan berhati
telengas" kata Bi lek Hwee sambil tertawa getir, "namun putranya
adalah seorang Hiap-gi, seorang pendekar sejati yang tiada duanya
dikolong langit"
"Kalau berganti orang lain, mungkin saat ini
akupun sudah tidak bernyawa lagi" ucap lelaki pincang itu sambil
menundukkan kepala dan menghela napas panjang.
"Haaah, tidak kusangka Ci sim kiam khek
(pendekar pedang berhati merah) adalah seorang lelaki sejati" teriak
Hay Tay-sau tiba-tiba sambil mengacungkan jempolnya, "bagaimana pun
aku harus berkenalan dengan dirinya"
Setelah menerima obat penawar racun itu, si
nona berbaju hijau itupun mengeluarkan sebuah benda dan diserahkan
ke tangan Bi lek Hwee seraya berkata:
“Pil ini adalah obat pemunahku, berikanlah
kepadanya!"
Kemudian setelah menelan pil pemunah, dia
pun duduk dibawah curah hujan dan mulai mengatur pernapasan.
Sambil menerima botol kayu dari tangan si
nona, untuk berapa saat Bi lek Hwee berdiri termangu, lama kemudian
dia baru menghela napas panjang seraya berkata:
"Orang bilang, menolong orang lain sama
seperti menolong diri sendiri, ternyata perkataan ini memang tepat
sekali"
"Meskipun Seng Toa-nio mencari penyakit buat
diri sendiri, tapi memandang diatas wajah Seng Cun-hau, seharusnya
kau berikan obat penawar itu secepatnya" kata Hay Tay-sau lantang,
"kenapa masih berdiri melongo di situ?"
"Aaah betul juga!" seru Bi lek Hwee, tapi
baru berjalan berapa langkah kembali dia berhenti sambil menegok
kearah Hay Tay-sau, terusnya dengan tertawa getir, "tapi kemana dia
pergi? Lohu mana tahu dia kabur ke mana?"
"Soal ini...... waah,
bagaimana baiknya sekarang? Kalau terlambat mungkin bisa tidak
sempat lagi"
Tiba-tiba dari balik hujan angin terlihat
dua sosok bayangan manusia bergerak mendekat dengan langkah
terburu-buru.
Pemuda yang berada didepan meski masih
mengenakan pakaian ringkas warna hitam namun kain kerudung mukanya
telah terepas, dia berlarian dengan napas tersengkal-sengkal,
keadaannya sangat mengenaskan.
Di belakangnya mengikuti seorang pemuda
pelajar bertubuh jangkung dengan wajah dingin dan kaku, dipandang
ditengah malam, dia mirip sekali dengan setan gentayangan.
Bagaikan bayangan tubuh saja dia menempel
terus dibelakang pemuda didepannya, ketika orang yang berada didepan
menghentikan larinya, pemuda pelajar itu ikut menghentikan pula
gerakan tubuhnya.
Dengan napas tersengkal pemuda berbaju hitam
itu berlarian mendekat, serunya sambil tertawa:
"Berbahaya, sungguh berbahaya, masih untung
aku cukup cekatan, akhirnya berhasil juga aku lepas dari cengkeraman
pelajar rudin itu"
"Kau pulang seorang diri?" Tanya Bu
Ceng-hiong dengan wajah berubah.
"Tentu saja seorang diri" jawab pemuda
berbaju hitam itu dengan bangganya.
Padahal semua orang tahu kalau dia datang
berduaan, tapi pemuda itu bersikeras mengatakan seorang diri,
kenyataan ini membuat semua orang terkesiap.
Hal ini semakin membuktikan kalau ilmu
meringankan tubuh yang dimiliki pemuda berdandan pelajar itu sudah
mencapai tingkat ke sempurnaan.
Bu Ceng-hiong mendongakkan kepalanya tertawa
keras.
"Hahahaha..... siangkong, hebat benar
ilmu gerakan tubuhmu!"
"Suhu, kau sedang berbicara dengan siapa?"
Tanya pemuda berbaju hitam itu kebingungan.
"Dengan aku!" suara tertawa ringan tiba-tiba
bergema dari belakang tubuhnya.
Dengan perasaan terkejut pemuda berbaju
hitam itu membalikkan tubuh, tapi lagi-lagi pemuda siucay itu sudah
menyelinap di belakangnya, begitu cepat dia bergerak tidak ubahnya
seperti gerakan setan gentayangan.
"Cepat berbaring!" bentak Bu Ceng-hiong
lantang.
Buru-buru pemuda berbaju hitam itu
menjatuhkan diri ke tanah, ketika berpaling, dia pun menjumpai
pemuda siucay itu baru saja bergerak lewat dari sisi tubuhnya,
sekarang dia baru tahu kalau orang ternyata mengintil terus dari
belakang, tanpa sadar peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya.
Walaupun seluruh tubuh pemuda siucay itu
basah kuyup oleh air hujan, bahkan disana sini ternoda Lumpur, namun
sikap maupun gerak-geriknya seakan masih mengenakan pakaian yang
paling kering dan bersih, sedikitpun tidak nampak mengenaskan.
Setelah menyapu sekejap sekeliling arena,
diapun tertawa nyaring.
"Bagus, bagus, bagus sekali"
Diam-diam Hay Tay-sau merasa amat mendongkol
melihat kejumawaan pemuda pelajar itu, tidak tahan umpatnya:
"Apanya yang bagus? Kentutmu yang bagus!"
"Huuh, bau benar!" sambung Bi lek Hwee
sambil tertawa.
Senyuman diujung bibir pemuda pelajar itu
lenyap seketika, ujarnya ketus:
"Kalau dipandang dari tampang kalian,
nampaknya saja gagah dan perkasa, aneh, kenapa mulut kalian begitu
bau!"
Hay Tay-sau pura-pura tidak mendengar, dia
sengaja menarik napas panjang kemudian sambil berpaling dan menghela
napas, katanya:
"Waaah, ternyata benar juga, bau! Bau
sekali, bukan cuma bau, bahkan sedikit rada tengik!"
"Jangan-jangan ada kentut busuk yang susah
dibuang selama banyak tahun!" Bi lek Hwee menambahkan dengan serius.
Meskipun kawanan jago dibuat terperanjat
oleh kehebatan kungfu pemuda siucay itu, tidak urung mereka tertawa
geli juga setelah menyaksikan ulah Hay Tay-sau dan Bi lek Hwee.
Dalam pada itu Thiat Tiong-tong sudah
menyelinap ke belakang kawanan lelaki berpakaian ringkas itu.
Kini hanya dia seorang yang merasa kuatir,
setelah menyaksikan kehebatan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki
pemuda siucay itu, dia sadar kemampuan yang dimiliki Hay Tay-sau
serta Bi lek Hwee masih bukan tandingan orang.
Sementara itu pemuda siucay tadi sudah
melirik berapa kejap ke arah mereka berdua, hawa napsu membunuh
telah memancar dari balik matanya, tiba-tiba dia berkata sambil
tertawa:
"Menurut wejangan guruku, aku orang she
Thian tidak diperbolehkan melancarkan serangan terlebih dulu kepada
orang lain"
Kemudian setelah tertawa menghina,
tambahnya:
"Apakah kalian berdua berani melancarkan
serangan terlebih dulu kepadaku?"
Tiba-tiba Hay Tay-sau mengambil botol kayu
itu dari tangan Bi lek Hwee, setelah diletakkan diatas tanah, dengan
menirukan gaya bicara pemuda itu katanya pula dengan nada dingin:
"Botol kayu inipun tidak pernah menyerang
lebih dulu kepada orang lain, beranikah kau menyentuhnya terlebih
dulu?"
Dasar logat bicaranya jelas dan nyaring,
ketika sekarang berbicara dengan nada yang sengaja ditinggikan,
kontan saja suara orang ini jadi kedengaran sangat aneh, sekali lagi
semua orang tertawa terpingkal pingkal.
Rupanya pemuda siucay itu memang berbicara
dengan logat menggigit bibir, logat yang biasa digunakan kaum
terpelajar, tapi setelah diejek berulang kali, dia tidak kuasa
menahan rasa gusarnya lagi, bentaknya penuh amarah:
"Aku sengaja akan memusnahkannya, akan
kulihat dia bisa berubah jadi apa!"
Ditengah bentakan nyaring, tangannya sudah
dijulurkan ke muka siap menghantam botol kayu itu, tapi lantaran
kuatir kalau isi botol adalah obat beracun atau sebangsanya, maka
gerak geriknya jadi ragu dan tidak berani gegabah.
Kembali Hay Tay-sau tertawa tergelak.
"Hahahaha,....... Tidak usah takut, botol
kayu itu bukan berisi yang aneh-aneh, isinya adalah obat penawar
untuk menyelamatkan jiwa Seng Toa-nio, bila kau menghancurkannya,
nyawa Seng Toa-nio akan turut melayang"
Waktu itu ujung telapak tangan pemuda siucay
itu sudah hampir menyentuh botol kayu itu, tenaga pukulan pun sudah
terlanjur dilontarkan, tapi begitu mendengar perkataan tersebut, dia
segera menghentikan serangan dan menarik kembali tenaga pukulannya
mentah-mentah.
Ketika hawa murninya ditarik balik, botol
kayu itupun ikut terhisap ke dalam tangannya.
Thiat Tiong-tong semakin terkesiap, apalagi
setelah menyaksikan kemampuannya menghisap benda sekehendak hati
sendiri, cepat dia putar otak dan berusaha menebak asal-usul orang
itu.
Terdengar Hay Tay-sau berseru setelah
tertawa tergelak:
"Hahahaha.... Kusangka dengan kemampuan yang
hebat, nyalimu pun termasuk hebat juga. Tidak tahunya hanya sebuah
botol kecil pun tidak berani menyentuhnya......."
"Terakhir ini memang banyak orang yang
berlagak sok hebat, tapi nyatanya bernyali tikus" Bi lek Hwee
menambahkan.
Pemuda siucay itu berlagak tidak mendengar,
dia membuka penutup botol itu dan mengendusnya berapa kali, kemudian
dengan wajah berubah serunya:
"Haaah? Can hoa swang? Memangnya Seng
Toa-nio telah terluka dalam?"
Kemudian sambil berpaling katanya lagi:
"Masa di dunia saat ini masih ada orang yang
mampu membuat Seng Toa-nio terluka dalam? Hmmm, semisal ada pun aku
rasa pasti bukan kalian semua karena kalian tidak bakal mampu
melakukannya......"
"Hahahaha..... kalau orang she Thian mungkin
saja tidak mirip, aku rasa yang paling pantas adalah si tikus sawah
(thian Sut)!"
"Aku rasa justru kalian berdua yang lebih
mirip sepasang kura-kura hidup" balas pemuda siucay itu perlahan.
Dengan sikapnya yang terpelajar, semua orang
tidak menyangka kalau secara tiba-tiba dia bakal mengumpat orang
sebagai kura kura, kejadian ini membuat semua orang melongo.
Hay Tay-sau sama sekali tidak dibuat gusar
oleh umpatan itu, baru saja dia akan balas mengejek, terdengar Bi
lek Hwee yang sudah terlanjur naik darah membentak nyaring:
"Bocah keparat, kau sangka lohu benar-benar
tidak berani menyerangmu?"
"Jika kau berani menyerang, berarti kau
sudah bosan hidup" ejek pemuda siucay itu sambil tertawa tergelak.
Bi lek Hwee membentak nyaring, sepasang
lengannya direntangkan lalu maju dengan langkah lebar, ruas
tulangnya berbunyi gemerutuk, kelihatannya dia sudah menghimpun
seluruh kekuatan yang dimiliki.
Pemuda siucay itupun segera menarik kembali
senyuman diwajahnya, hawa napsu membunuh terlintas diwajahnya.
Thiat Tiong-tong benar-benar merasa tercekat
hatinya, dia sangat kuatir nama besar Hay Tay-sau dan Bi lek Hwee
yang dibinanya selama puluhan tahun bakal musnah dalam sekejap.
Disaat yang kritis itulah tiba-tiba nona
berbaju hijau yang sedang duduk bersemedi itu melompat bangun, tidak
terlihat jelas gerakan apa yang dilakukan, tahu-tahu dia sudah
menghadang dihadapan Bi lek Hwee.
Menyaksikan gerakan tubuh yang begitu cepat,
siucay itu nampak terkesiap.
"Nona, minggir kau!" bentak Bi lek Hwee
cepat.
"Orang ini adalah musuh keluargaku" ucap
nona berbaju hijau itu dingin, "Seng Toa-nio pun terluka olehku,
kenapa kau malah suruh aku menyingkir"
Sikapnya tetap dingin dan hambar, melirik
sekejap ke arah Bi lek Hwee pun tidak.
Bi lek Hwee sendiripun agak tertegun setelah
mendengar ucapan tadi, terpaksa sambil menahan rasa mendongkol dia
mundur kembali.
Dengan sorot mata yang tajam siucay itu
memperhatikan si nona berapa kejap, sekilas perasaan heran bercampur
tidak percaya melintas diwajahnya.
"Betulkah Seng Toa-nio terluka ditanganmu?"
"Hmm, kalau tidak percaya, dicoba saja!"
Kembali siucay itu memperhatikannya
beberapa saat, tiba-tiba dia tertawa tergelak.
"Sebetulnya aku mau turun tangan, tapi
setelah melihat sepasang mata nona yang bening bagaikan air, aku
jadi tidak tega"
"Benar-benar tidak kusangka setelah bajingan
ini bertemu cewek, dia seolah berubah jadi orang lain" umpat Hay
Tay-sau jengkel, "coba lihat, macam tulang belulangnya lebih ringan
empat kati saja"
"Hmmm! Dia memang dasarnya manusia tengik"
lanjut Bi lek Hwee sambil mendengus dingin.
Siucay itu sama sekali tidak menggubris,
sepasang matanya menatap terus sorot mata si nona tanpa berkedip,
seolah dia sama sekali tidak mendengar umpatan tersebut.
Terdengar nona berbaju hijau itu berkata
ketus: "Kalau memang begitu, lebih baik hantar obat luka itu
secepatnya, kalau sedikit terlambat Seng (hidup) Toa-nio bisa
berubah jadi Si (mampus) Toa-nio!"
"Hahahaha... apa urusanku dia mau hidup atau
mati, sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganku, aku diundang
bukan untuk mengurusi dia, kedatanganku khusus untuk menghadapi
berapa orang teman dari Perguruan Tay ki bun!"
Kembali Thiat Tiong-tong merasa terkesiap,
pikirnya:
"Jika kedatangan orang ini khusus untuk
menghadapi Perguruan Tay ki bun, dia benar-benar akan menjadi
seorang musuh yang tangguh"
Dia mencoba berpikir, kira-kira jagoan mana
dari perguruannya yang mampu menghadapi pemuda ini! Tapi hatinya
semakin bimbang, sekali pun ada yang mampu mengunggulinya, bagaimana
dengan guru pemuda ini?
Makin dipikir dia makn terkesiap, sekarang
dia hanya ingin tahu darimana Seng Toa-nio bisa mengundang kehadiran
orang ini.
Sementara itu nona berbaju hijau tadi sudah
balas menatap pemuda siucay itu, kemudian tegurnya:
"Kalau begitu kau tidak ingin pergi dari
sini?"
"Benar, sementara waktu masih tidak ingin
pergi"
"Apa yang kau inginkan?"
Siucay itu menyapu sekejap seluruh arena,
lalu tertawa keras.
"Hahahaha..... aku hanya ingin membuktikan,
sobat-sobat yang pandai melukai orang dengan mulut, apakah mampu
juga melukai orang dengan kemampuan silatnya?"
Kontan nona berbaju hijau itu tertawa
dingin.
"Keinginanmu itu tidak ada sangkut pautnya
denganku, tapi sebelum berbuat begitu, kau mesti membuktikan dulu
apakah kau pantas untuk tetap tinggal disini!"
"Dalam soal berbicara, bisa saja aku
mengalah kepada nona, tapi kalau sudah menyinggung soal ilmu silat,
aku tidak berani mengalah lagi"
"Jadi kau anggap kungfumu hebat?"
""Hebat sih tidak, cuma lebih dari cukup"
sahut siucay itu tertawa.
"Kalau begitu akan kucoba ilmu tanganmu,
bila kau sanggup melakukan apa yang kulakukan, kau boleh berbuat apa
maumu" ujar nona berbaju hijau itu dingin.
Siucay itu mengernyitkan alis matanya, tapi
sejenak kemudian sudah tertawa tergelak.
"Hahahaha.....benarkah aku boleh berbuat apa
mauku?"
"Hmm! Benar!" nona itu mendengus.
Tiba-tiba dia melepaskan seutas tali
pinggang sutera dari pinggangnya, begitu tangan digetarkan, tali
pinggang itu seketika menegang lurus ke depan.
"Hahahaha.... itu sih gampang sekali" teriak
siucay itu sambil tertawa, "nona, kelihatannya kau bisa berbuat apa
mauku"
Mendadak gelak tertawanya terhenti ditengah
jalan dan dia tidak mampu tersenyum lagi.
Rupanya disaat itulah si nona telah
menggetarkan pergelangan tangannya, ikat pinggang sutera itu
langsung meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi, berbareng itu
si nona berkelebat maju bagaikan segumpal angin dan berjalan berapa
langkah diatas ikat pinggangnya yang membentang di angkasa itu.
Menanti ikat pinggang tadi mulai meluncur ke
bawah, dia baru menggetarkan kembali tangannya sambil melayang turun
ke bawah.
"Inikah yang kau sebut gampang?" jengeknya,
"kalau begitu, coba lakukan!"
Perlahan-lahan dia sodorkan ikat pinggang
sutra itu ke hadapan siucay tersebut.
Waktu itu si siucay sudah berdiri terkesiap
dengan mata terbelalak mulut melongo, mana berani dia terima ikat
pinggang itu?
Hay Tay-sau maupun Bi lek Hwee saling
bertukar pandangan dengan perasaan kagum, sekalipun mereka termasuk
orang-orang yang tidak mau tunduk kepada orang lain, tidak urung
kedua orang itu harus mengakui juga kehebatan ilmu meringankan tubuh
tersebut.
Si siucay tadi hanya mengawasi ikat pinggang
sutera yang berada dihadapannya tanpa bicara, peluh dingin makin
membasahi jidatnya.
"Bukankah kau anggap gampang?" kembali nona
berbaju hijau itu mengejek sambil tertawa dingin, "kenapa tidak
berani kau lakukan?"
Sambil tertawa paksa siucay itu membesut
butiran keringat dari jidatnya, ujarnya:
"Ilmu meringankan tubuh yang nona miliki
benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaan, aku sama sekali
tidak menyangka diwilayah padang rumput di daratan Tionggoan masih
ada orang memiliki kemampuan sehebat ini, peristiwa ini sungguh
diluar dugaan aku orang she Thian!"
"Hmm, ini membuktikan padang rumput
merupakan sarang naga gua harimau, makanya jangan sok jumawa dan
berlagak" kata nona berbaju hijau itu sambil tertawa dingin, "jika
kau tidak berani mencoba, lebih baik cepat pergi dari sini!"
"Nona, boleh tahu asal usulmu?"
"Kau tidak berhak mengetahui asal usulku"
hardik si nona dengan wajah berubah.
"Menurut apa yang kuketahui, dikolong langit
saat ini rasanya hanya orang dari utara dan orang dari selatan
berdua yang mampu melatih nona dengan kungfu sehebat ini......."
Tiba-tiba pemuda berbaju hitam itu membentak
keras, sambil menerjang maju bentaknya:
"Buat apa kau nerocos terus disini? Cepat
enyah!"
Ditengah bentakan, secara beruntun pemuda
itu melancarkan lima buah serangan, meski jurusnya tidak hebat namun
angin pukulannya menderu deru, jelas dia memiliki kekuatan pukulan
seberat ribuan kati.
Tanpa berpaling siucay itu melangkah ke
samping sambil mengebaskan ujung bajunya, dengan sangat gampang dia
sudah menghindari beberapa pukulan itu.
Terdengar dia berkata lebih jauh:
"Mengenai dua orang dari utara selatan ini,
menurut apa yang kutahu...."
Tampaknya pemuda berbaju hitam itu semakin
gelisah, serangan kepalannya makin ganas dan keras, bentakan nyaring
yang berulang kali membuat perkataan siucay itu jadi tidak jelas
terdengar.
Tiba-tiba nona berbaju hijau itu menghela
napas sedih, katanya:
"Sim-ko, biarkan dia berbicara"
Walaupun nada ucapannya halus dan lembut,
namun mendatangkan daya pengaruh yang besar bagi pemuda berbaju
hitam itu, dia segera melompat mundur ke belakang meski rasa
gusar lamat-lamat masih menghiasi wajahnya.
Hay Tay-sau sekalian kembali dibuat
keheranan, mereka tidak tahu rahasia apa yang terselip dibalik
kesemuanya ini, ketika mencoba berpaling, tampak wajah Bu Ceng-hiong
maupun manusia cacad itupun menunjukkan sikap tegang.
Terlihat sinar mata gadis berbaju hijau itu
semakin memancarkan cahaya tajam, tanyanya dengan nada berat:
"Siapa itu manusia dari utara dan selatan?"
"Walaupun nama sebenarnya kedua
orang manusia aneh itu tidak banyak diketahui orang, tapi dengan
kungfu yang nona miliki, masa kaupun tidak tahu nama mereka?"
Nona berbaju hijau itu kembali berkerut
kening, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.
Terdengar siucay itu berkata lagi:
"Terlepas nona adalah murid siapa dari kedua
orang manusia aneh itu, mereka memiliki hubungan yang sangat
mendalam denganku, kenapa tidak kau jelaskan saja asal usulmu"
Nona berbaju hijau itu
masih termenung, pandangan matanya mulai bimbang.
Siucay itu menatap semakin tajam, tiba-tiba
senandungnya:
"Ruyung guntur merontokkan
bintang dan hujan, peluru angin memutuskan sukma........."
"Ruyung guntur....... Peluru
angin........." gumam nona berbaju hijau itu.
"Masa nona tidak kenal dengan dua patah kata
itu?"
Gadis berbaju hijau itu menggeleng, dia
memandang sekejap sekeliling tempat itu, melihat semua orang sedang
ikut mengulang ke dua patah kata itu, wajahnya terlihat makin
bimbang.
Setelah tertegun sesaat, siucay itu
menunjukkan wajah yang amat kecewa, dia menggeleng sambil menghela
napas.
"Kalau dibilang nona bukan berasal dari
perguruan mereka berdua, sesungguhnya aku merasa tidak percaya"
Mendadak terlihat nona berbaju hijau itu
seakan sangat emosi, jeritnya lengking:
"Apa itu peluru angin, apa itu ruyung
guntur..... aku tidak pernah mendengarnya, kau cepat pergi dari
sini!"
"Tapi ilmu silat nona........"
"Cepat pergi, cepat pergi" teriak si nona
sambil menghentakkan kakinya, "aku tidak mau mendengarkan
perkataanmu lagi!"
Kembali siucay itu termangu berapa saat,
akhirnya diapun menghela napas panjang dan berkata dengan lantang:
"Kalau begitu, setahun kemudian aku pasti
akan datang lagi untuk minta petunjuk!"
Sambil berkata dia mengebaskan lengan
bajunya dan menerobos hujan angin untuk menjauh, tidak selang
berapa saat kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Tiba-tiba butiran air mata jatuh berlinang
membasahi pipi nona berbaju hijau itu, dia membalikkan tubuh dan
mulai menangis tersedu, seolah ada satu kejadian memedihkan yang
membuatnya amat berduka.
"Sim-ji, cepat hibur enci Ho......." Bisik
Bu Ceng-hiong kemudian sedih.
Dengan kepala tertunduk tukas pemuda berbaju
hitam itu:
"Enci Ho hanya ingin secepatnya mengetahui
asal usulnya dan meninggalkan kita semua, percuma ananda
menghiburnya"
"Omong kosong!" bentak Bu Ceng-hiong dengan
suara berat.
Mendadak nona berbaju hijau itu membalikkan
tubuhnya dan berkata dengan suara keras:
"Ananda sudah berhutang budi kepada gi-hu
(ayah angkat) serta paman, biarpun sudah mengetahui asal usulku,
tidak mungkin punya pikiran untuk pergi dari sini"
Orang cacad itu menghela napas sedih,
selanya:
"Kau tidak usah mendengarkan omongan Sim-ji,
dia..... dia......"
"Lagipula........ mungkin selama hidup
ananda tidak akan membayangkan lagi kejadian di masa lalu........."
Tiba-tiba nona itu menutupi wajah sendiri
dengan tangannya kemudian kembali menangis terisak.
Pemuda berbaju hitam itu hanya mengawasi
nona itu dengan termangu, kelihatan sepasang matanya mulai
berkaca-kaca.
Hay Tay-sau maupun Bi lek Hwee ikut merasa
terkesiap, mereka tidak menyangka gadis yang memiliki kungfu sangat
dahsyat ini ternyata sama sekali tidak mengetahui asal usul sendiri.
Bu Ceng-hiong mendeham berapa kali, lalu
sambil menjura kepada ke dua orang itu katanya sambil tertawa:
"Bantuan yang kalian berdua berikan tidak
akan kulupakan untuk selamanya, suatu saat nanti pasti akan kubalas,
bersediakah kalian mampir sejenak di rumahku sekalian meneguk tiga
cawan arak kasar?"
Bi lek Hwee menengok rekannya, sambil
tertawa sahut Hay Tay-sau:
"Kita telah merubah musuh jadi sahabat,
kejadian ini memang patut dirayakan dengan meneguk tiga cawan arak"
"Bagus sekali" seru Bu Ceng-hiong
kegirangan, "ternyata Thian-sat-seng yang tersohor adalah seorang
lelaki sejati!"
"Memangnya aku bukan lelaki sejati?" protes
Bi lek Hwee sambil tertawa, "ayoh berangkat, hari ini lohu akan
membuktikan siapa yang bakal mabuk duluan!"
Sambil membalikkan tubuh diapun berteriak
memanggil:
"Saudara cilik, saudara cilik........."
Mendadak dengan wajah berubah teriaknya:
"Hay lote, ke mana kaburnya saudara cilik
kita? Kenapa tidak nampak batang hidungnya?"
Ditengah hujan angin, bayangan tubuh Thiat
Tiong-tong benar-benar sudah tidak nampak, tidak diketahui sejak
kapan dia tinggalkan tempat itu, tadi, perhatian semua orang sedang
tersita karena terkagum-kagum oleh kehebatan ilmu meringankan tubuh
nona itu sehingga tidak ada yang memperhatikan kemana perginya anak
muda itu.
Sambil menghentakkan kakinya kontan saja Bi
lek Hwee mengumpat:
"Bocah ini benar-benar lupa budi, lohu sudah
selamatkan jiwanya, eeeh tidak tahunya dia ngeloyor pergi tanpa
pamit"
"Aaah, api emosimu memang kelewatan sedikit"
sela Hay Tay-sau sambil tertawa, "aku lihat pemuda itu tidak mirip
orang yang tidak tahu budi, bisa jadi dia pergi duluan karena ada
urusan lain"
Lalu sambil menarik bahu Bi lek Hwee
tambahnya:
"Ayoh kita pergi meneguk berapa cawan arak
lebih dulu, jika pemuda itu benar-benar lupa budi dan tidak datang
mencarimu lagi, aku bersedia mentraktir arak kepadamu"
Biarpun dimulut Bi lek Hwee masih mengumpat
terus menerus, namun langkah kakinya tetap mengikuti rekannya
beranjak pergi dari situ.
Bu Ceng-hiong bersama manusia cacad itu
berjalan paling depan untuk membuka jalan.
Sementara pemuda berbaju hitam itu diam-diam
menghampiri nona berbaju hijau itu dan berbisik sambil menundukkan
kepalanya:
"Enci Ho, kalau aku salah bicara, harap kau
jangan marah!"
Nona berbaju hijau itu manggut-manggut,
tiba-tiba dia menarik lengan pemuda itu dan berkata lembut:
"Kau adalah saudara baikku, mana mungkin aku
marah?"
Berbinar sepasang mata pemuda berbaju hitam
itu, tampak sekali dia amat kegirangan.
Hay Tay-sau menengok kedua orang itu
sekejap, lalu bisiknya sambil tertawa:
"Loko, coba lihat itu...... kelihatannya
anak muda tadi sudah mencintai nona tersebut hingga kuatir dia pergi
meninggalkannya"
"Sstt, jangan mencampuri urusan orang" tukas
Bi lek Hwee sambil tertawa, "ayoh kita pergi minum arak!"
Di tengah malam yang hujan dan berangin,
melakukan perjalanan diudara terbuka terasa sulit dan berat.
Rombongan itu membutuhkan waktu hampir
setengah jam lamanya sebelum tiba disebuah dusun kecil, dimulut
dusun terpampang sebuah papan nama, pada papan nama itu tertulis:
"Dusun pandai besi".
"Disinilah kami menetap, harap kalian jangan
mentertawakan kejelekan rumah kami" kata Bu Ceng-hiong sambil
tertawa.
Bi lek Hwee mengerdipkan matanya berapa
kali, dia seakan ingin mengucapkan sesuatu namun akhirnya
diurungkan.
Dusun itu amat teratur dan bersih, setiap
bangunan rumah nampak seakan baru dibangun, saat itu terlihat ada
berapa orang wanita dan bocah sedang menunggu didepan pintu, seakan
sedang menunggu pulangnya suami mereka.
Sementara kawanan lelaki berkerudung hitam
itupun serentak memberi hormat kepada Bu Ceng-hiong dan manusia
cacad itu sebelum bubaran dan kembali ke rumah masing masing.
Semakin dipandang Bi lek Hwee semakin
keheranan, akhirnya tidak tahan dia berseru:
"Aneh, sungguh aneh!"
"Aku sendiripun keheranan........" sambung
Hay Tay-sau sambil tertawa.
"Apakah kalian berdua merasa tempat ini
tidak mirip sarang perampok?" tukas Bu Ceng-hiong.
"Ya betul, sama sekali tidak mirip" sahut Bi
lek Hwee sambil tertawa tergelak, "justru itulah lohu merasa
keheranan"
Bu Ceng-hiong tertawa lebar.
"Biarpun kami adalah kawanan liok-lim yang
kerjanya membegal, namun kami sama sekali tidak menikmati harta
tersebut, seluruh hasil begal kami gunakan untuk menolong kaum fakir
miskin"
"Lantas dengan apa kalian membiayai hidup?"
"Tukang besi! Seluruh anggota kami adalah
pandai besi yang handal, itulah sebabnya meski hidup di dusun yang
terpencil namun order pekerjaan yang kami terima banyak sekali. Kami
tidak akan sembarangan membegal, kalau ada kambing gemuk yang
kebetulan lewat di seputar wilayah ini dan harta yang dibawa adalah
harta tidak halal, kami baru mengenakan kain kerudung hitam dan
mengubah profesi kami dari tukang besi menjadi kawanan rimba hijau"
"Bagus, bagus sekali" puji Bi lek Hwee
sambil bertepuk tangan, "begal semacam ini memang jarang sekali
dijumpai dalam dunia persilatan, kalau ada berapa kelompok lagi, itu
jauh lebih bagus"
"Waah, kalau begitu julukan pendekar budiman
yang selama ini kusandang, mulai hari ini harus kuhadiahkan
kepadamu!" kata Hay Tay-sau pula sambil tergelak.
Ditengah gelak tertawa yang nyaring, tibalah
mereka didepan sebuah bangunan rumah yang cukup lebar.
Walaupun bangunan itu cukup luas namun
bentuknya amat sederhana dan jelek, didepan pintu ruangan tergantung
sebuah papan nama, diatas papan nama itu bertuliskan:
"Tangan sakti pandai besi, khusus membuat
berbagai macam perkakas"
Dibelakang pintu gerbang merupakan sebuah
ruangan yang lebarnya berapa meter, dalam ruangan itu dipenuhi
berbagai peralatan pandai besi serta perkakas yang telah selesai
dibuat, ada golok, ada pedang, peralatan pertanian dan lain lain.
Setelah melalui ruangan yang merupakan
bengkel kerja itu, orang baru tiba disebuah ruangan lain yang
merupakan ruang tamu, diseluruh ruangan tampak tumpukan guci arak.
Menyaksikan hal itu Hay Tay-sau segera
berteriak sambil tertawa:
"Waah,..... tempat semacam ini benar-benar
mencocoki seleraku!"
"Betul" sambung Bi lek Hwee sambil tertawa
pula, "setibanya ditempat ini, lohu jadi tidak ingin pergi
kemana-mana lagi"
Setelah menyuguhkan air teh panas, Bu
Ceng-hiong memper-kenalkan juga pemuda berbaju hitam tadi kepada
mereka seraya berkata:
"Dia adalah putraku Bu Bong, sedikit rada
blo'on, harap kalian berdua sudi memberi petunjuk!"
Bi lek Hwee memperhatikan sekejap pemuda
itu, tampak olehnya dia memiliki alis mata yang tebal dengan mata
yang lebar, tubuhnya tinggi kekar dan penuh berotot.
Menyaksikan itu katanya sambil gelengkan
kepala dan tertawa getir:
"Betapa senang bila lohu pun memiliki
seorang putra macam dia"
Sampai tua dia tidak berputra, tidak heran
kalau hatinya sedih setiap kali melihat kegagahan putra orang.
Waktu itu Hay Tay-sau sudah memandang
sekeliling tempat itu sekejap, tiba-tiba serunya:
"Rasanya tadi ada seorang rekan yang
memiliki kungfu golok bercampur ilmu toya yang hebat, kenapa
sekarang tidak nampak?"
"Dan nona berbaju hijau itu" sambung Bi lek
Hwee, "kemampuannya betul-betul membuat lohu sangat kagum!"
Bu Ceng-hiong tertawa getir, sahutnya:
"Oleh karena asal usul nona Liu sedikit rada
aneh, wataknya juga turut antik dan rada nyentrik, tapi dia........"
Mendadak dia menghela napas panjang dan
menghentikan kata-katanya.
Pada saat itulah si orang cacad tadi
munculkan diri, bukan saja tubuhnya cacad, wajahnya pun
dipenuhi dengan mulut luka hingga kelihatan amat mengenaskan.
Bu Ceng-hiong segera memperkenalkan Bi lek
Hwee dan Hay Tay-sau kepadanya, entah disengaja atau tidak, ternyata
orang cacad yang dipanggil "Tio toako" itu sama sekali tidak
menyinggung soal namanya.
Bercawan-cawan arak telah diteguk, tubuh pun
mulai terasa hangat dan segar, sementara hujan angin ditempat luaran
turun semakin deras.
Mendadak Tio toako berkata:
"Tadi kalian berdua bilang, Thiat Tiong-tong
sudah memasuki peternakan Lok-jit, benarkah ucapan itu?"
"Lohu menyaksikan dengan mata kepala
sendiri, tentu saja kejadian yang benar" sahut Bi lek Hwee.
Tio toako kelihatan agak tertegun, gumamnya
kemudian sambil menghela napas:
"Benarkah itu? Mana mungkin bisa begitu?"
Berbinar sepasang mata Bi lek Hwee.
"Jadi hengtay pun kenal dengan Thiat
Tiong-tong?" tanyanya.
"Ooh tidak, tidak, cayhe hanya secara
kebetulan pernah mendengar nama ini, aku sama sekali tidak
mengenalnya" buru-buru Tio toako membantah.
Dengan pandangan yang tajam Bi lek Hwee
memperhatikan wajah Tio toako yang penuh luka itu berapa kejap,
mendadak sambil menggebrak meja teriaknya:
"Lohu selalu punya perasaan seakan kenal
dengan anda, heran, dmana kita pernah bertemu?"
Paras muka Tio toako tampak agak berubah, Bu
Ceng-hiong segera mengangkat cawannya mengajak kedua tamunya meneguk
arak.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar suara
ringkikkan kuda dan putaran roda kereta, kelihatannya ada kereta
kuda yang berhenti didepan sana.
Menyusul kemudian terdengar seseorang
berseru lantang:
"Apakah tuan rumah ada? In hujin dan kongcu
khusus kemari untuk memesan berapa macam perkakas!"
Bu Ceng-hiong berkerut kening, cepat dia
menjura seraya berbisik:
"Maaf, terpaksa sementara aku tidak
menemani"
"Ditengah hujan angin seperti inipun masih
ada yang datang memesan peralatan, Bu-heng, aku lihat pekerjaanmu
cukup sukses" kata Hay Tay-sau sambil tertawa.
Sementara itu Bu Ceng-hiong sudah melangkah
keluar dari pintu ruangan, benar saja, didepan gerbang telah
berhenti sebuah kereta kuda yang indah, dari kusir maupun bentuk
kereta yang indah, dapat diketahui kalau mereka berasal dari
keluarga berada.
Si kusir kereta yang telah berdiri disisi
pintu segera bertanya:
"Apakah toako adalah penguru s tukang besi?"
"Betul" jawab Bu Ceng-hiong tertawa, "boleh
tahu anda ingin memesan apa?"
"Tunggulah sejenak, ada pembeli besar yang
akan memberi order kepadamu" ujar sang kusir sembari membukakan
pintu kereta, sepasang lelaki perempuan yang mengenakan pakaian
mewah segera muncul dari balik ruang kereta mewah itu.
Dalam pada itu Bu Bong yang ada dalam
ruangan sedang menemani para tamunya minum arak.
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita
berkumandang dari luaran sana, suaranya halus dan merdu:
"Apakah disini terdapat bahan baja yang
bagus untuk ditempa menjadi sebilah pedang? Kami datang karena
mengagumi nama anda, jadi jangan kau gunakan bahan jelek untuk
menempa pedangku"
Bi lek Hwee segera bergumam:
"Perempuan jaman sekarang pun ikut-ikutan
memesan pedang, tampaknya jaman telah berubah"
Terdengar Bu Ceng-hiong menjawab:
"Apa yang ingin nyonya pesan? Katakan saja
bentuk serta ukurannya, ditanggung barang akan terwujud dengan
kwalitas tinggi"
"Sebetulnya pesananku bukan yang aneh aneh,
hanya barang sederhana saja, coba ambillah kertas dan catat ukuran
yang kuinginkan, jangan sampai salah membuat"
Diikuti kemudian suara orang sedang
menggosok tinta bak.
Kembali tedengar perempuan itu berkata:
"Kau buatkan dulu sepasang pedang jantan
betina, panjangnya delapan puluh senti dengan lebar satu koma tujuh
senti, berat pedang yang satu sembilan kati sementara yang lain
delapan kati, Cuma kau mesti perhatikan secara khusus, kedua bilah
pedang ini tidak boleh ada perbedaan, gagang pedangnya harus dibuat
dengan bentuk melengkung dan diberi pelindung tangan yang cukup
kuat, sedang ujung gagang pedang mesti dibuat kosong dalamnya, agar
bisa diisi dengan dua tabung jarum lembut........sudah kau catat
dengan jelas?"
Hay Tay-sau yang berada dalam ruangan
menghembuskan napas panjang sambil berkata pula:
"Perempuan itu selain seorang ahli,
tampaknya kungfu yang dimiliki hebat juga, kalau tidak, buat apa dia
pesan senjata semacam ini!"
"Tapi kalau didengar suaranya, dia lebih
mirip seorang penjual suara" sambung Bi-lek Hwee.
Sementara itu Bu Ceng-hiong yang berada
diluar telah berkata lagi:
"Semuanya telah tercatat dengan jelas, apa
lagi yang ingin hujin pesan?"
"Aku ingin memesan berapa tabung jarum bwee
hoa ciam, semua contoh gambarnya ada disini, biarpun bukan termasuk
senjata rahasia khusus, tapi kau tidak boleh menggunakan lagi gambar
tersebut untuk membuatkan bagi orang lain"
"Jual beli pun ada peraturannya, perusahaan
kami tidak ingin melanggar aturan yang berlaku"
"Bagus sekali, adikku, kau ingin memesan apa
lagi, cepat katakan sendiri" seru perempuan itu kemudian sambil
tertawa.
Menyusul kemudian terdengar seorang pemuda
berkata:
"Pedang, aku butuh sebilah pedang, beratnya
harus tiga puluh enam kati dengan panjang satu meter sembilan inci,
masalah yang lain boleh sesukamu!"
Kalau nada suara perempuan tadi lembut dan
enak didengar, maka suara pemuda ini berat dan amat menyesakkan
napas.
Sekali lagi Hay Tay-sau yang berada didalam
ruangan menghembuskan napas panjang, gumamnya:
"Pedang yang sangat berat, aku rasa lelaki
ini pasti lebih jagoan, aku jadi ingin tahu macam apa tampangnya"
"Dibelakang tumpukan guci arak itu terdapat
jendela kecil, kau bisa mengintip dari situ" saran Bu Bong sambil
tertawa.
Sembari berkata dia segera singkirkan berapa
guci arak dari tumpukan, benar saja, disitu terdapat sebuah jendela
kecil, diluar jendela adalah berapa peralatan besi hingga sewaktu
mengintip, orang yang berada diluar tidak akan mengetahuinya karena
tertutup oleh peralatan tersebut, sebaliknya orang yang ada didalam
ruangan dapat melihat keadaan diluar dengan jelas sekali.
Hay Tay-sau maupun Bi lek Hwee segera
mengintip ke luar ruangan.
Saat itu Bu Ceng-hiong sedang duduk didepan
meja sambil menulis, terdengar dia berseru keheranan:
"Pedang seberat tiga puluh tujuh kati?
Selama hidup belum pernah kutempa pedang seberat itu, masa tidak
keberatan?"
Seorang pemuda berbaju perlente berdiri
membelakangi jendela, dia berdiri persis disamping Bu Ceng-hiong.
"Aku memang butuh pedang yang berat"
terdengar pemuda itu menyahut.
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya
lagi seperti orang bergumam:
"Kalau tidak kugunakan pedang yang berat,
mana mungkin bisa mengungguli pergelangan tangannya yang gesit dan
lincah"
Hay Tay-sau yang mendengar perkataan itu
segera berpikir:
"Dengan berat mengatasi kecepatan, dengan
kekakuan menangkan kelincahan, tidak nyana pemuda itu memiliki
kemampuan yang berat, tapi siapakah orang ini?"
Ketika mencoba menengok lagi, kebetulan si
wanita berbaju indah dan bersanggul tinggi itu sedang memalingkan
wajahnya dari sudut ruangan.
Dibawah cahaya lentera, terlihat perempuan
itu memiliki senyuman yang manis dengan sepasang mata yang bening,
membawa daya pikat yang luar biasa.
Namun Hay Tay-sau maupun Bi lek Hwee nyaris
menjerit kaget setelah menyaksikan raut mukanya yang cantik.
Ternyata perempuan cantik itu tidak lain
adalah Un Tay-tay.
Dengan kerlingan matanya yang genit dan
suara tertawanya yang merdu, dia berkata:
"Sudah kulihat berapa jenis senjata buatan
sini, ternyata memang sangat bagus, adikku, apa lagi yang kau
inginkan?"
Pemuda berbaju perlente itu sama sekali
tidak berpaling, hanya sahutnya dengan suara berat:
"Aku butuh tujuh pasang borgol tangan dan
kaki, borgol itupun harus dibuat seberat mungkin dan ditempa dengan
bahan baja berkwalitas tinggi, agar tidak mudah patah"
"Borgol tangan dan kaki?" seru Bu Ceng-hiong
dengan perasaan terkejut.
"Yaa betul" jawab pemuda itu sambil tertawa
dingin, "untuk memborgol orang hutan yang buas"
Dibalik suara tertawanya terkandung nada
dingin, sinis dan penuh kebencian, membuat Bu Ceng-hiong kembali
tertegun.
Perlahan pemuda itu berjalan meninggalkan
ruangan, langkah kakinya ringan nyaris tidak membawa sedikit
suarapun.
Sekali lagi Bu Ceng-hiong terkesiap, buru
buru serunya sambil tertawa:
"Siapa namamu tuan, kapan akan mengambil
barang pesanan ini?"
"Kau tidak perlu mengetahui namaku" jawab
pemuda itu sambil membalikkan tubuhnya, sorot mata yang tajam
mengawasi wajah Bu Ceng-hiong lekat-lekat, "yang penting cepat
selesaikan pesanan itu"
Dibawah cahaya lentera tampak sorot matanya
tajam bagai mata pisau, meski wajahnya putih memucat namun raut
mukanya terhitung tampan, hanya sayang terselip perasaan sedih,
gusar dan dendam kesumat yang mengerikan.
Diam-diam Bu Ceng-hiong menghela napas,
pikirnya:
"Sungguh tampan lelaki ini!"
Sementara itu Hay Tay-sau dan Bi lek Hwee
kembali dibuat terperanjat setelah menyaksikan wajah tampan itu.
"Aaah, rupanya dia!" pikir mereka hampir
berbareng.
Ternyata orang itu tidak lain adalah Im
Ceng.
Waktu itu mereka berdua tidak menyadari
kalau paras muka Tio toako yang berada dibelakang mereka pun
mengalami perubahan yang luar biasa.
Ternyata Tio toako ini tidak lain adalah Tio
Ki-kong, lelaki yang telah pertaruhkan nyawanya untuk selamatkan Im
Ceng dari dalam hutan.
Setelah menyelamatkan Im Ceng, dia hantar
pemuda itu ke tempat tinggal Bu Ceng-hiong, siapa sangka Im Ceng
yang sok pintar malah menaruh kesalahan paham sehingga akhirnya
melarikan diri.
Waktu itu Tio Ki-kong sedang menangisi Thiat
Tiong-tong yang terjatuh ke dalam jurang......
Thiat Tiong-tong sendiri yang berada didasar
jurang, lamat-lamat juga mendengar suara isak tangisnya.
Tidak lama kemudian dia bertemu dengan
kawanan jago dari Han hong po, dalam pertarungan yang sengit
kendatipun kawanan jago dari Han hong po berhasil ditumpas, namun
dia sendiripun menderita luka yang cukup parah.
Menanti dia berjuang mati-matian balik ke
tempat tinggal Bu Ceng-hiong, waktu itu Im Ceng telah melarikan
diri.
Sadar kalau tempat persembunyian mereka
tidak bisa di pertahankan lagi, maka dia pun mengajak Bu Ceng-hiong
kabur ke situ.
Ditempat yang baru mereka membangun sebuah
pedesaan dengan mengumpulkan anak buah, Tio Ki-kong yang cacad pun
berlatih mati matian untuk menguasahi ilmu golok dan tongkatnya guna
mengimbangi kecacatan tubuhnya.
Untuk menunjang hidup, dia bergabung dengan
Bu Ceng-hiong membuka usaha pandai besi, sementara untuk menyalurkan
jiwa kependekarannya mereka merampok dan membagikan uang jarahannya
kepada fakir miskin.
Sekarang, setelah berjumpa lagi dengan Im
Ceng, sebenarnya dia ingin menerjang keluar untuk menjelaskan semua
kesalaham paham yang terjadi, dia ingin menerangkan betapa setia
kawannya Thiat Tiong-tong terhadap anak muda itu.
......Seandainya saat itu dia benar-benar
tampil untuk menerangkan kesalah pahaman tersebut kepada Im Ceng,
mungkin peristiwa selanjutnya akan mengalami perubahan besar, Thiat
Tiong-tong pun tidak perlu lagi menanggung tuduhan yang menyakitkan
hati.
Tapi sayang Tio Ki-kong mengurungkan niatnya
setelah melirik Bi lek Hwee sekejap, dia kuatir kejadian tersebut
justru akan mencelakai jiwa Im Ceng dan membongkar identitas dirinya
yang sebenarnya.
Pikirnya kemudian:
"Lebih baik kukuntit Im Ceng secara
diam-diam........"
Dalam pada itu Un Tay-tay sudah berjalan
mendekati Bu Ceng-hiong sambil tertawa, katanya:
"Tabiat adikku memang kurang baik, harap kau
jangan marah, asal barang pesanan kami diselesaikan secara baik, aku
tidak akan melupakan kebaikanmu"
Sambil berkata tiba-tiba dia mencubit lengan
Bu Ceng-hiong sambil katanya lagi:
"Kekar amat ototmu, binimu pasti amat
bahagia memiliki suami macam dirimu"
Bu Ceng-hiong agak tertegun, paras mukanya
seketika berubah jadi merah padam.
Sambil tertawa merdu, kembali Un Tay-tay
menggoyangkan pinggulnya berulang kali di hadapannya.
Im Ceng berdiri dengan wajah masam, dia
seperti sengaja tidak memandang ke arahnya, tapi akhirnya tidak
tahan dia berjalan menghampiri dan mendorong perempuan itu ke
samping.
"Hey, apa apaan kau ini?" tegur Un Tay-tay
sambil tertawa merdu.
Im Ceng sama sekali tidak memandang ke
arahnya, dengan wajah hijau membesi ujarnya:
"Tukang besi, tulis yang jelas, diatas ke
tujuh borgol itu harus diukir nama"
"Nama apa?" Tanya Bu Ceng-hiong sambil
mendehem.
"Borgol pertama diberi nama Thiat
Tiong-tong”, borgol ini harus dibuat sangat berat, agar dia tidak
mampu bangkit lagi untuk selamanya!"
Bu Ceng-hiong yang siap menulis kelihatan
bergetar keras hatinya, nyaris dia tidak mampu menulis nama itu.
Im Ceng berlagak seolah tidak melihat,
kembali lanjutnya:
“Ke enam nama lainnya adalah Leng It-hong,
Pek Seng-bu, Hek Seng-thian, Suto Siau, Seng Cun-hau dan.......Bi
lek Hwee!"
Kebanyakan orang persilatan hanya tahu nama
Bi lek Hwee, dan tidak seorang pun yang mengetahui nama asli orang
tua itu, tidak heran kalau Im Ceng agak berhenti sejenak sebelum
menyebutkan namanya.
Kembali semua orang yang berada dalam
ruangan terperanjat, terlebih Bi lek Hwee, dengan penuh amarah dia
siap menggempur jendela itu.
Untung Hay Tay-sau sudah menduga ke situ,
buru-buru dia tangkap pergelangan tangannya.
"Kau jangan........."
Belum sempat Bi lek Hwee menyelesaikan
perkataannya, lagi-lagi mulutnya sudah didekap tangan Hay Tay-sau.
"Bukannya aku banyak urusan" ujar Hay
Tay-sau kemudian, "aku rasa perselisihanmu dengan pihak Perguruan
Tay ki bun harus diselesaikan secara baik-baik, apa sih manfaatnya
bergabung dengan kawanan manusia macam Hek Seng-thian?"
Merah padam selembar wajah Bi lek Hwee,
serunya:
"Tapi bocah keparat itu telah menyiapkan
sebuah borgol untukku, bukankah kejadian ini keterlaluan?"
"Soal ini......soal ini........." untuk
sesaat Hay Tay-sau tergagap.
Tapi setelah memandang sekeliling tempat itu
sekejap, ujarnya lagi sambil tertawa:
"Coba kau lihat siapa yang telah datang,
urusanmu lebih baik nanti saja dibicarakan lagi"
"Baik, baik, kau memang gembong iblis yang
menyusahkan aku saja" keluh Bi lek Hwee sambil menghela napas,
"sekarang lepaskan tanganku dulu, lohu berjanji tidak akan
sembarangan berulah!"
Kini, diapun telah menyaksikan perubahan
yang terjadi diluar sana.....
Rupanya disaat Im Ceng sedang menyebutkan ke
enam nama itu dan Un Tay-tay sedang mengawasi Bu Ceng-hiong yang
sedang menulis sambil tertawa, mendadak terdengar bentakan keras
berkumandang dari luar pintu.
Menyusul suara bentakan itu tampak sesosok
bayangan manusia melesat masuk ke dalam ruangan dengan kecepatan
tinggi.
"Hahahaha....... Ternyata
berada disini" terdengar orang itu berseru sambil tertawa
keras.
Belum sempat Un Tay-tay membalikkan
tubuhnya, orang itu sudah melayang turun disampingnya, menarik
tangannya dan mengawasinya tanpa berkedip, ternyata dia tidak lain
adalah bocah pincang itu.
Sekali lagi Im Ceng berkerut kening,
sebaliknya senyuman lebar segera menghiasi wajah Un Tay-tay.
Dengan cepat dia menowel pipi bocah pincang
itu dan menegur sambil tertawa:
"Hey setan cilik, darimana kau tahu kalau
cici berada disini?"
Bocah pincang itu mengerdipkan matanya
sambil menarik napas panjang, sambil menggenggam tangan
perempuan itu makin kencang, katanya sambil tertawa:
"Aduuh.... Kau makin lama semakin harum,
makin dipandang makin cantik, aku ingin sekali menciummu"
"Dasar setan cilik" seru Un Tay-tay sambil
menepuk tubuhnya, "cici sedang bertanya padamu, sudah kau dengar
belum? Darimana kau tahu kalau cici berada disini?"
"Ada yang memberitahukan kepadaku!"
"Siapa?" Tanya Un Tay-tay dengan mata
terbelalak semakin lebar.
"Ditengah jalan tadi aku telah bertemu
seseorang, dia yang beritahu kalau kau berada disini, malah dia
sempat menitipkan sesuatu dan minta aku untuk menyerahkannya kepada
si bibit cinta buta"
"Siapa itu bibit cinta buta? Siapa pula
orang itu?" seru Un Tay-tay sambil tertawa.
Bocah pincang itu mengeluarkan sepucuk surat
dari sakunya dan sambil tertawa menuding ke arah Im Ceng.
"Aduh......dasar setan cilik, masa kau beri
nama seburuk itu untuknya!" Un Tay-tay tertawa terpingkal-pingkal.
Paras muka Im Ceng berubah hebat.
Bocah pincang itu tidak bicara lagi, sambil
tertawa dia sodorkan surat itu ke hadapannya.
Im Ceng berdiri dengan wajah penuh amarah,
diapun tidak menerima sodoran surat itu.
"Kalau dia tidak mau menerima, biar aku saja
yang menerimanya!" seru Un Tay-tay kemudian sambil tertawa.
Tapi begitu sampul surat dibuka dan
mengeluarkan isinya, kembali perempuan itu menjerit kaget:
"Aduh mak.......Uang senilai satu juta lima
ratus tahil perak!"
Ternyata isi surat itu adalah sepuluh lembar
uang kertas yang bernilai satu juta lima ratus ribu tahil perak!
Kendatipun dalam ruangan dihadiri oleh
kawanan jago yang selama ini menganggap uang bagai tinja, tidak
urung mereka terkesiap juga setelah mendengar nilai uang tersebut.
Sambil membasahi bibirnya dengan ludah,
bocah pincang itu membelalakkan matanya bulat-bulat, lama kemudian
dia baru menghela napas dan bergumam sambil tertawa:
"Aduh mak, tahu ada duit senilai satu juta
setengah, akan kusimpan lebih lama lagi dalam sakuku"
"Kalau aku jadi kau, uang tersebut tidak
bakalan kuserahkan" seru Un Tay-tay pula sambil tertawa, "hei setan
cilik, kau jangan keliru, uang itu untuk diserahkan kepadaku atau
untuk dia?"
"Kalau duit itu milikku, pasti akan
kuserahkan kepadamu!"
Un Tay-tay segera berpaling kearah Im Ceng,
tanyanya pula sambil tertawa terkekeh:
"Bagaimana dengan kau? Akan kau berikan
kepadaku atau tidak?"
"Uang yang tidak tahu asal usulnya tidak
pernah aku maui!" jawab Im Ceng dengan nada berat.
"Aduh.... Kalau kau tidak mau, berikan saja
kepadaku, tapi..... eeei, disini ada sepucuk surat yang ditujukan
kepadamu!"
Dia mengambil secarik kertas warna kuning
dan diserahkan kepada Im Ceng.
Diatas surat itu tertera berapa tulisan yang
berbunyi:
"Uang sebesar satu juta lima ratus ribu
tahil perak, dipersiapkan bagi Perguruan Tay ki bun untuk membalas
dendam dan membangun kembali kejayaan perguruan, jangan ditanya uang
ini berasal dari mana, harap kau, Im Ceng pergunakan sebaik-baiknya"
Berubah hebat paras muka Im Ceng selesai
membaca tulisan itu, bentaknya:
"Siapa yang serahkan surat ini kepadamu?"
"Buat apa kau banyak bertanya, pokoknya
ambil saja uang itu, kalau tidak mau ... hehehehe.....pasti ada
orang lain yang mau menerimanya" seru bocah pincang itu.
Sementara Im Ceng masih tertegun, tiba-tiba
Un Tay-tay memanggil lembut:
"Adik cilik, kemarikan telingamu, cici ingin
mengajukan pertanyaan kepadamu"
Sambil cengar cengir kegirangan bocah
pincang itu berjalan mendekat dan menyandarkan tubuhnya dalam
pelukan perempuan itu.
"Ayoh terus terang kepadaku" bisik Un
Tay-tay kemudian, "bukankah uang ini berasal dari.......Dia, Thiat
Tiong-tong yang suruh kau serahkan kepadanya?"
Bocah pincang itu mengerdipkan matanya
berapa kali, tapi akhirnya dia tertawa juga.
"Benar, dugaanmu memang sangat tepat"
Un Tay-tay segera menghembuskan napas
panjang, bisiknya lagi:
"Orang ini memang rada aneh......."
"Coba kemarikan telingamu" kata bocah
pincang itu kemudian, "akupun ingin bertanya sesuatu kepadamu"
Un Tay-tay membungkukkan tubuhnya, bocah
pincang itu segera menempelkan bibirnya diatas telinga perempuan
itu, setelah menarik napas panjang, serunya sambil tertawa:
"Terus terang beritahu kepadaku, kenapa kau
begitu harum?"
"Dasar setan cilik!" umpat Un Tay-tay sambil
memukul kepalanya.
Mendadak tampak Im Ceng menggerakkan
tubuhnya dan menyelinap ke samping bocah pincang itu, secepat kilat
dia cengkeram perge-langan tangannya sambil membentak:
"Apa kau bilang?"
"Kau tidak usah ikut campur!" sahut bocah
pincang itu keras, sekuat tenaga dia mencoba meronta, tapi sayang
cengkeraman Im Ceng begitu kuat bagai japitan baja, bagaimanapun dia
meronta tetap tidak berhasil melepaskan diri.
"Persoalan ini ada hubungannya dengan aku,
tentu saja aku harus ikut campur!" kata Im Ceng gusar.
"Ooh, rupanya cemburu nih yaa? Hehehehe....
.Jangan kelewat banyak makan cuka (cemburu maksudnya), masa lelaki
macam kau pun besar rasa cemburunya, aku punya mata, aku toh boleh
bebas melihat. Cepat lepaskan tanganmu"
Bukan mengendorkan cengkeramannya, ke lima
jari tangan Im Ceng malah menjepit makin kuat, ujarnya gusar:
"Coba kalau bukan usiamu masih muda, hari
ini aku tidak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja....... Hmm!
Jika kau tidak mengaku, jangan harap kulepaskan dirimu!"
Saking sakitnya peluh telah bercucuran
membasahi jidat bocah pincang itu, tapi teriaknya pula sambil
tertawa paksa:
"Biar usiaku masih kecil, tapi aku lebih
hebat ketimbang kau, tidak macam dirimu itu......tahunya hanya sakit
rindu!"
"Kurangajar, tajam amat mulutmu!" bentak Im
ceng semakin gusar.
"Kau mau lepas tangan tidak?" teriak bocah
pincang itu.
Im Ceng tertawa dingin, belum sempat dia
mengucapkan sesuatu, terdengar bocah pincang itu telah berteriak
keras:
"Toako, cepat kemari, ada orang menganiaya
aku!"
Belum selesai dia berteriak, terasa hembusan
angin menyambar lewat, diantara cahaya api yang bergoyang tahu-tahu
didepan pintu telah bertambah dengan seorang manusia berbaju hitam.
Sepasang ujung bajunya dibiarkan berkibar ke
bawah, tubuhnya tegak bagai sebatang tongkat baja, mukanya kaku
seperti patung, meski tiada pancaran cahaya namun membawa daya
kekuatan yang menggidikkan.
Im Ceng terkesiap, menggunakan kesempatan
itu bocah pincang tadi sudah meronta dari cengkeramannya sambil
berteriak:
"Kalau memang punya kemampuan, ayo
bertarunglah melawan toako ku, berani ngak?"
Dia segera menyelinap ke belakang manusia
berbaju hitam itu dan bersembunyi dibalik Ai Thian-hok.
"Hmm, rupanya murid pertama kui bo, aku
memang ingin menjajal kemampuanmu" kata Im Ceng dingin.
"Kalau begitu turun tangan saja, aku akan
mengalah dua jurus untukmu!" sahut Ai Thian-hok dingin.
Kata katanya singkat, pendek dan dingin.
Pada saat itulah Un Tay-tay sudah menyelinap
maju dan berdiri diantara Im Ceng dengan dirinya. Setelah menghadang
didepan Ai Thian-hok, katanya sambil tertawa lembut:
"Urusan kanak-kanak biarlah diselesaikan
sendiri oleh kanak-kanak, buat apa kita orang dewasa mencampurinya!"
Paras muka Ai Thian-hok tetap dingin dan
kaku, sama sekali tidak menunjukkan reaksi.
"Padahal tidak ada urusan yang kelewat
serius antara mereka berdua" kata Un Tay-tay lebih jauh, "lebih baik
kita pergi saja, aku punya arak wangi, bagaimana kalau kau temani
aku meneguk berapa tawan"
Tiba-tiba Ai Thian-hok mengebaskan bajunya
sambil membentak: "Minggir kau!"
Segulung deruan angin pukulan menyambar
keluar, membuat cahaya lentera dalam ruangan berkedip-kedip.
Un Tay-tay merasakan tubuhnya tergetar keras
hingga mundur dengan sempoyongan, tapi dia masih berkata sambil
tertawa:
"Semoga kau bisa melihat aku, dengan begitu
kau tidak akan membangkang perkataanku!"
"Seorang lelaki dewasa menganiaya anak
kecil, bahkan minta dilindungi perempuan, huuuh! Orang ini
betul-betul bikin hati kecewa!"
Tiba tiba bentaknya:
"Ayoh kemari, kita bertarung!"
Sementara Un Tay-tay seakan masih ingin
mengucapkan sesuatu, Im Ceng sudah menerobos lewat dari samping
tubuhnya sambil membentak:
"Kalau berani, kita bertarung diluar!"
Sambil membentak dia langsung menerobos
keluar dan berdiri dibawah hujan angin.
Ai Thian-hok mengebaskan bajunya, diantara
api yang bergoyang, diapun sudah menyelinap keluar.
"hey setan cilik" Un Tay-tay segera
berteriak, "cepat bujuk toako ku, jangan berkelahi"
"Kenapa aku harus membujuknya" sahut bocah
pincang itu sambil tertawa ringan, "kalau keparat itu sudah mati
terbunuh, bukankah uang itu akan menjadi milikmu"
"Kalau sampai toakomu membunuhnya, selama
hidup aku tidak akan menggubrismu lagi!" ancam Un Tay-tay sambil
menghentakkan kakinya.
"Aaaai.... Ternyata kau mencintainya"
"Bukan, bukan mencintai, kau tidak bakal
tahu, selamanya kau tidak bakal tahu"
Bocah pincang itu tertegun, tiba-tiba
serunya sambil tertawa:
"Ooh, aku tahu, bukankah kau cemas lantaran
dia adalah adik seperguruannya Thiat Tiong-tong?"
Kemudian sambil bertepuk tangan lanjutnya:
"Baiklah, aku merasa cocok juga dengan orang
she Thiat itu, memandang diatas wajahnya, biar aku minta kepada
toako untuk mengampuni jiwanya!"
"Nah, begitulah baru anak baik-baik" seru Un
Tay-tay sambil tertawa lebar.
Mereka berdua pun bersama sama menyusul
keluar pintu.
Bu Ceng-hiong hanya memandang mereka dengan
mulut melongo dan mata terbelalak, sedang Bi lek Hwee, Hay Tay-sau,
Tio Ki-kong maupun Bu Bong segera menyusul keluar.
Kembali Tio Ki-kong menghela napas,
pikirnya:
"Setelah kepergiannya kali ini, entah sampai
kapan salah paham ini baru bisa diselesaikan"
Terdengar Bi lek Hwee berseru sambil
menghela napas:
"Sayang, sayang!"
"Apanya yang sayang?" Tanya Hay Tay-sau.
"Bocah muda itu bukan tandingan Ai
Thian-hok, kalau dia sampai mampus ditangan Ai Thian hok, bukankah
aku tidak bisa melampiaskan rasa mendongkolku"
"Haah, jadi orang tadi.......Orang tadi
adalah Ai Thian-hok?" seru Tio Ki-kong pula terperanjat.
"Benar, orang ini telengas, sudah lama lohu
mengetahui tentang dirinya!"
"Celaka!" jerit Tio Ki-kong dengan wajah
berubah, tiba-tiba teriaknya keras:
"Ho-ji,Ho-ji!"
Baru saja ia berteriak, nona berbaju hijau
itu sudah muncul dengan cepat sekali, gerakan tubuhnya yang secepat
kilat ditambah wajahnya yang dingin kaku membuat dia seakan
terbungkus oleh selapis misteri.
"Anak Sim, kau tetap disini melayani tamu"
seru Bu Ceng-hiong kemudian, diapun ikut melompat keluar dari pintu.
Bu Bong membalikkan tubuhnya, tiba-tiba dia
menjura dan berseru:
"Harap kalian berdua menunggu sebentar, biar
keponakan pergi membantu ayah"
Begitu selesai bicara, diapun segera
berlalu.
Kini tinggal Bi lek Hwee saling berpandangan
dengan Hay Tay-sau.
"Dasar bocah!" gumam Bi lek Hwee kemudian
sambil tertawa getir dan menggeleng,.
"Kelihatannya Tio toako itu punya hubungan
yang cukup dekat dengan Perguruan Tay ki bun" kata Hay Tay-sau, "tak
heran dia buru buru pergi memmbantu setelah mengetahui anak muda itu
dalam keadaan berbahaya!"
Bi lek Hwee berkerut kening, katanya pula:
"Ilmu silat yang dimiliki nona itu sangat
tangguh, dia cukup mampu menghadapi Ai Thian-hok. Lohu jadi ingin
ikut nonton keramaian"
"Benar, pertemanan akbar semacam ini memang
tidak boleh dilewatkan dengan begitu saja!"
"Tapi kedai ini......."
Tiba-tiba Hay Tay-sau menghampiri sang
kusir, sambil menepuk bahunya dia berseru:
"Kau baik-baik jaga kedai ini, jangan ke
mana-mana"
Pukulan itu membuat sang kusir terbungkuk
kesakitan, sahutnya dengan wajah getir: "Baa...baik......."
Hay Tay-sau tertawa tergelak, dia segera
menarik tangan Bi lek Hwee dan beranjak pergi dari situ.
Menanti bayangan tubuh kedua orang itu sudah
pergi jauh, sang kusir baru membanting topinya keras-keras sambil
mengumpat:
"Mereka perintah kalian, sekarang kalian
perintah aku, dasar aku yang lagi sial!"
Tiba-tiba terlihat ada sesosok bayangan
manusia melompat naik ke atas kereta kuda lalu mencemplak kudanya
kuat-kuat.
Dengan perasaan kaget kusir itu menjerit:
"Perampok, berani amat kau rampas kudaku!"
Dengan cepat dia memburu ke depan sambil
berusaha merebut kembali kudanya, tapi sebuah ayunan cambuk dengan
telak menghajar diatas wajahnya.
Sambil menjerit kesakitan buru-buru dia
menutupi wajahnya, menanti dia membuka matanya kembali, kereta kuda
itu sudah lenyap dari depan mata.
BAB 14
Cinta seorang wanita cantik.
Dengan darah mendidih didada Im Ceng
berlarian kencang ditengah hujan angin, dibelakangnya menyusul Ai
Thian-hok.
Karena kuatir Un Tay-tay menghalangi
niatnya, dia sengaja berlarian hingga keluar dari dusun sebelum
menghentikan langkahnya.
"Jadi kau akan bertarung disini?" tegur Ai
Thian-hok dingin.
"Benar!" dari sakunya Im Ceng mencabut
keluar sebilah pisau kemudian membuat garis lingkaran selebar empat
meter keliling.
"Kau tidak merasa garis lingkaran ini
kelewat lebar?" kembali Ai Thian-hok mengejek.
"Perduli lingkaran yang kubuat kelewat besar
atau kecil, pokoknya hari ini sebelum menang kalah ditentukan, siapa
pun jangan harap bisa meninggalkan lingkaran ini barang setengah
langkah pun!" ujar Im Ceng gusar.
Ditengah kilauan cahaya tajam, tahu-tahu
pisau belati itu sudah menancap diatas tanah.
"Baik, aku akan mengalah tiga jurus untukmu,
cepatlah turun tangan!"
"Hahahaha....... Kau sangka aku orang she-Im
nkan menyerang orang buta duluan!" Im Ceng tertawa seram.
Mendadak sekujur tubuh Ai Thian-hok gemetar
keras, begitu kerasnya hingga rambut panjang yang terurai hingga ke
pundak pun ikut bergetar keras, mukanya yang sudah menyeramkan, kini
semakin mengerikan hingga mirip setan gentayangan yang muncul
ditengah hujan angin.
Si bocah pincang yang kebetulan baru tiba
disitu dan mendengar ucapan dari Im Ceng, paras mukanya seketika
berubah hebat, serunya sambil menghentakkan kakinya berulang kali:
"Celaka, celaka, kali ini siapa pun tidak
ada yang bisa selamatkan dia lagi!"
"Kenapa?" Tanya Un Tay-tay terkejut.
Setelah menghembuskan napas panjang, bisik
bocah itu:
"Toako ku paling benci kalau ada orang
memakinya buta, selama ini belum pernah ada yang lolos dalam keadaan
hidup"
Un Tay-tay terkesiap, ketika menatap wajah
Ai Thian-hok yang mengerikan, tanpa terasa hawa dingin menyusup
keluar dari lubuk hatinya, untuk sesaat dia tidak mampu mengucapkan
sepatah kata pun.
Tiba-tiba terdengar Im Ceng membentak
lantang:
"Bila ada siapa pun berani melangkah masuk
ke dalam lingkaran ini untuk membantu Im Ceng, aku orang she-Im
segera akan bunuh diri dihadapannya!"
"Bagus sekali" seru Ai Thian-hok dengan
suara dalam, "kita tidak perlu berhenti sebelum ada yang mampus!"
Un Tay-tay yang mendengar perkataan itu
kembali menghentakkan kakinya berulang kali, keluhnya:
"Heran, kenapa kalian kaum lelaki selalu
bersikap aneh, padahal tiada dendam sakit hati apa pun diantara
mereka berdua, kenapa harus bertarung sampai mati?"
Si bocah pincang itupun ikut berseru dengan
wajah masam:
"Toako, hajar saja dia dengan berapa
tonjokkan, buat apa mesti mencabut nyawanya? Dia.....dia toh tidak
menganiaya aku.......”
"Kalau kau berani cerewet lagi, akan
kupotong lidahmu terlebih dulu!" ancam Ai Thian-hok.
Si bocah pincang itu bergidik, sambil
merentangkan tangannya tanda menyerah, dia hanya gelengkan kepalanya
berulang kali.
Kini Ai Thian-hok telah berdiri saling
berhadapan dengan Im Ceng, ditengah hujan angin, pakaian yang mereka
kenakan telah basah kuyup, meski kedua belah pihak sama-sama menanti
lawannya melancarkan serangan lebih dulu, namun suasana sudah
mencapai puncak ketegangan, setiap saat pertarungan dapat berkobar.
Terdengar suara langkah kaki yang ramai
bergema mendekat, ternyata Tio Ki-kong dan nona berbaju hijau itu
telah menyusul tiba.
"Toa-tia, kau suruh aku membantu pemuda
itu?" terdengar nona berbaju hijau itu bertanya.
"Benar, cepatlah tolong dia!"
Nona berbaju hijau itu menghela napas
panjang, gumamnya:
"Walaupun aku enggan bertarung melawan kaum
lelaki, tapi aku tidak ingin membangkang perintah dari toa-tia"
Perlahan-lahan dia berjalan mendekati garis
lingkaran.
Dengan cepat Un Tay-tay menghadang
dihadapannya, ujarnya setelah menghela napas:
"Bila kau membantunya, dia akan segera bunuh
diri, aku paling paham tentang tabiatnya, apa yang telah diucapkan
tidak pernah akan dirubah kembali"
Nona berbaju hijau itu tertegun, dia
berpaling menengok Tio Ki-kong sekejap, tapi Tio Ki-kong sendiripun
hanya berdiri kaku, sampai lama sekali tidak mampu mengucapkan
sepatah kata pun.
"Hei setan cilik" Un Tay-tay berpaling ke
arah bocah pincang itu, "benarkah kau sudah kehabisan akal?"
"Satu satunya jalan untuk mencegah
pertarungan ini adalah minta kepada orang she-Im itu agar tidak
melancarkan serangan duluan, toako ku tidak pernah menyerang duluan"
Belum selesai dia berkata, terlihat Im Ceng
sudah menerjang maju sambil melontarkan sebuah pukulan ke depan.
Melihat itu sekali lagi Un Tay-tay menghela
napas.
"Aaai, seandainya kau tidak berkata begitu,
belum tentu dia akan melancarkan serangan, tapi begitu mendengar
perkataanmu, dia pasti akan menyerang duluan"
"Darimana kau bisa mengetahui wataknya itu?"
Tanya si bocah pincang itu dengan mata terbelalak.
Sementara pembicaraan masih berlangsung, Im
Ceng sudah melancarkan tiga jurus serangan.
Ai Thian-hok berdiri tegak, dia menunggu
sampai ke tiga jurus serangan itu selesai dilancarkan, sepasang
ujung bajunya baru dikebaskan berulang kali di udara.
Kembali bocah pincang itu berkata:
"Apa yang telah toako katakan, dia pun tidak
pernah akan meru bahnya, kalau berjanji akan mengalah tiga jurus,
dia tetap akan mengalah sebanyak tiga jurus!"
Selama ini sepasang tangan Ai Thian-hok
selalu disembunyikan dibalik bajunya, sepasang lengan bajunya itu
berputar bagaikan naga sakti di angkasa, dalam waktu singkat dia pun
telah balas melancarkan tiga jurus serangan.
Biarpun ke tiga jurus serangan itu ganas dan
dahsyat, ternyata Im Ceng pun hanya menempelkan sepasang kepalannya
diatas pinggang sambil berkelit kian kemari.
Ketika tiga jurus serangan itu lewat,
terdengar Im Ceng membentak keras:
"Aku telah membayar lunas ketiga jurus
serangan mu itu!"
Si bocah pincang tertegun melihat hal itu,
sementara Un Tay-tay menengok sekejap ke arahnya lalu tertawa
ringan.
"Aku mengalah tiga jurus lagi untukmu!"
terdengar Ai Thian-hok menghardik.
Betul saja, dia menanti sampai Im Ceng
selesai melancarkan tiga jurus serangan sebelum balas melancarkan
pukulan.
Hmmm, aku justru akan mengalah lagi
untukmu!" teriak Im Ceng gusar.
Ditengah bentakan, Ai Thian-hok telah
melancarkan tiga jurus serangan dengan gerakan Siang go peng gwee
(Siang-go kabur ke bulan), Hong tiong liu im (angin bergerak
awan mengalir) dan Im po jit lay (awan buyar matahari
muncul), terasa angin pukulan berpusing dengan dahsyatnya.
Selewat ke tiga jurus serangan itu,
semestinya dia harus melanjutkan dengan jurus Gwee gi seng huan
(rembulan bergeser bintang berpindah), Kim Jim po hu (roda
emas memecah kabut) dan Tiang liong koan jit (bianglala
menembusi sang surya), karena rangkaian jurus itu merupakan enam
jurus serangan berantai.
Tapi begitu selesai menggunakan jurus Im
po jit lay tadi, Ai Thian-hok sama sekali tidak melanjutkan
kembali serangannya, dia seolah dengan sengaja mengalah kepada
Im Ceng.
Benar saja, kepalan Im Ceng langsung
menyambar tiba, serangan keatas mengarah wajah, serangan bawah
mengancam lambung, angin pukulan yang menderu-deru membuat ujung
jubah Ai Thian-hok beterbangan kencang.
Meski Ai Thian-hok berilmu tinggi pun tidak
urung tubuhnya terdesak mundur juga sejauh dua langkah.
Kejadian ini langsung menyulut api
amarahnya, wajah yang dingin kaku berubah hebat, bentaknya:
"Sambut lagi ke tiga jurus seranganku ini!"
Gulungan angin pukulan dahsyat segera
dilontarkan dari balik lengan bajunya.
Ke tiga jurus serangan ini meski jauh lebih
dahsyat, namun dibalik gerak serangan itu dia sengaja membuka garis
pertahanannya, khususnya pada jurus serangan yang ke tiga, sepasang
lengannya malah dipentangkan lebar sehingga pertahanan dibagian
dadanya terbuka sekali.
Siapa tahu Im Ceng tetap tidak memanfaatkan
kesempatan itu untuk melontarkan pukulan mautnya, dia bersikeras
menunggu sampai ke tiga jurus serangan itu lewat baru melancarkan
balasan.
Sewaktu melancarkan serangan pun dia sama
sekali tidak memusingkan soal pertahanan, hampir segenap tenaga
pukulan yang dimilikinya digunakan untuk menghimpit musuh.
Dalam keadaan seperti ini, kendatipun Ai
Thian-hok sangat marah pun tidak ada gunanya, karena dia memang
tidak bisa berbuat banyak terhadap pemuda keras kepala ini.
Sekalipun ilmu silat yang dimilikinya jauh
lebih unggul ketimbang Im Ceng, tapi jurus serangan yang berulang
kali tidak dapat digunakan secara tuntas membuat kemampuan silatnya
menderita banyak kerugian, sebaliknya Im Ceng yang nekad justru
menyerang jauh lebih girang dan ganas.
Sebagaimana wataknya yang berangasan, kasar
dan gampang naik darah, diwaktu biasapun dia tidak pernah memikirkan
soal pertahanan apalagi dalam menghadapi pertarungan semacam ini.
Tidak heran kalau untuk sesaat menang kalah
sulit ditentukan.
Si bocah pincang yang menonton jalannya
pertarungan itu jadi berdiri terbelalak dengan mulut melongo, tidak
tahan dia gelengkan kepalanya sambil tertawa getir.
"Benar-benar watak baunya memuakkan, belum
pernah kujumpai orang berwatak sebau itu!" gumamnya.
"Hari ini kau telah menjumpainya bukan?"
sahut Un Tay-tay tertawa, "nah, bagi anak kecil macam kau, anggap
saja menambah pengetahuanmu!"
Sekalipun senyuman masih menghiasi
bibirnya, padahal dalam hatinya perempuan ini merasa tegang sekali.
Ke tiga jurus serangan yang dilancarkan Ai
Thian-hok kian lama kian bertambah susah untuk dihadapi, Im Ceng
harus mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk
menghindarkan diri, meski beruntung dapat lolos dari ancaman, tidak
urung butiran keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya.
Waktu itu Bi lek Hwee serta Hay Tay-sau
telah menyusul tiba disitu, mereka berdua pun ikut tercekat setelah
menyaksikan jalannya pertarungan.
Tiba-tiba terdengar Ai Thian-hok berpekik
nyaring, sepasang tangannya yang selama ini disembunyikan dibalik
lengan baju, tiba-tiba keluar dan secepat kilat melepaskan tiga
pukulan.
Kalau tadi deraan angin dari lengan bajunya
sudah dahsyat, maka angin pukulan yang dilepaskan saat ini jauh
lebih hebat lagi.
Im Ceng berhasil menghindar dari pukulan
yang pertama, tapi pukulan ke dua sempat menyambar ujung bahunya,
membuat dia terpental ke belakang dan harus berjumpalitan berapa
kali agar tidak roboh terjengkang.
Ai Thian-hok tidak melanjutkan dengan
serangan ke tiga, bahkan dia sengaja membuka pertahanan tubuh bagian
bawahnya.
Jika Im Ceng gunakan kesempatan itu untuk
menyerang dari tengah udara, kendatipun belum tentu bisa unggul,
paling tidak dia masih bisa merebut posisi yang lebih menguntungkan.
Tapi dasar kepala batu, dia lebih baik mati
konyol daripada memanfaatkan kesempatan itu, sambil menggigit bibir
dia meluncur turun ke bawah.
Tatkala tubuhnya menyentuh permukaan tanah,
hawa murninya yang kalut belum sempat dihimpun kembali, saat itulah
sepasang tangan Ai Thian-hok menyerang dengan jurus Bai jut to
hay (mendorong keluar tumpahan samudra) sudah menyodok kearah
lambungnya.
Buru-buru Im Ceng berusaha menjejakkan
kakinya untuk melambung kembali ke udara, sayang Ai Thian-hok tidak
memberi kesempatan kepadanya untuk berganti napas, angin pukulan
yang kuat seketika menghantam tubuhnya, membuat dia roboh
terjengkang ke tanah.
Tanpa terasa jeritan kaget bergema dari sisi
arena.
Baru saja Ai Thian-hok menggerakkan
langkahnya, Un Tay-tay segera berteriak keras:
"Sekarang giliran dia......."
Sambil tertawa dingin Ai Thian-hok segera
membatalkan langkahnya.
Im Ceng yang terjengkang ke tanah cepat
merangkak bangun, biarpun dia menggertak gigi menahan rasa sakit,
namun noda darah terlihat membasahi ujung bibirnya.
"Pemuda ini betul-betul kepala batu!" gumam
Hay Tay-sau sambil menghela napas.
Bi lek Hwee ikut menggeleng pula sambil
menghela napas.
"Aku tidak menyangka Perguruan Tay ki bun
memiliki murid sekeras itu, kelihatannya dia jauh lebih kepala batu
ketimbang watakku!"
Si bocah pincang turut bergumam pula:
"Sudah banyak tahun toakoku tidak pernah
menggunakan sepasang tangannya, tapi kali ini dia dipaksa untuk
menggunakannya, meskipun dia kalah, seharusnya dia kalah dengan
bangga"
"Kalah yaa kalah, apanya yang perlu menjadi
bangga!" seru Un Tay-tay sambil melotot.
Im Ceng dengan langkah sempoyongan dan
sepasang mata merah membara, selangkah demi melangkah mendekati Ai
Thian-hok, lengan kirinya tampak terkulai ke bawah, jelas luka
dibahu kanannya cukup parah.
Sekalipun terluka, semangatnya sama sekali
tidak berkurang, begitu tiba dihadapan Ai Thian-hok, bentaknya:
"Hati hati kau!"
Dia mengayunkan tangannya dan langsung
disodokkan ke depan.
Biarpun pukulan ini sudah mengerahkan
segenap kekuatan yang dimilikinya, sayang tenaga yang dimiliki sudah
teramat minim, sekalipun pihak lawan tidak pandai silat pun, belum
tentu serangan ini sebut dapat merobohkan dirinya.
Tentu saja secara mudah Ai Thian-hok
berhasil menghindarkan diri dari ke tiga serangan itu.
"Apakah ke tiga jurus serangan berikut masih
akan kau lancarkan?" terdengar Hay Tay-sau menegur dengan suara
keras.
Ai Thian-hok tidak menanggapi, wajahnya
tetap hambar tanpa perubahan apapun.
"Tua bangka sialan" umpat Hay Tay-sau gusar,
"lebih baik bertarung satu babak dulu melawanku sebelum bicara lain"
Baru saja dia hendak menggerakkan tubuh-nya,
tiba-tiba Im Ceng berpaling seraya mengancam:
"Kalau kau berani maju membantu, sekarang
juga aku akan bunuh diri dihadapanmu"
"Tapi jurus keduanya tidak mungkin bisa kau
hindari!" seru Hay Tay-sau cemas.
Im Ceng tertawa seram.
"Dari mana kau tahu kalau aku tidak sanggup
menghindari..... sekali pun tidak mampu kuhindari, apa urusannya
denganmu!"
Kemudian sambil membusungkan dada,
hardiknya:
"Orang she-Ai, ayoh maju!"
"Hmm, memandang kau sebagai seorang lelaki,
kuberi waktu lagi bagimu untuk mengatur napas" kata Ai Thian-hok
dingin.
Kontan Im Ceng mendelik, tapi sebelum dia
menjawab, Un Tay-tay sudah berteriak lebih dahulu:
"Im lote, kau tidak boleh mati, uangmu
sebesar satu juta lima ratus ribu tahil perak masih berada
ditanganku, dan lagi kau..... kau masih begitu muda, masih banyak
waktu bagimu untuk menikmati keduniawian, biarlah orang lain
membantumu, boleh bukan? Setelah ini aku.....aku pasti akan
baik-baik melayanimu........"
Ucapan tersebut disampaikan dengan nada
pedih dan penuh kepiluan, tapi Im Ceng jangan lagi menuruti,
menengok sekejap ke arahnya pun tidak.
"Jadi.... Jadi kau tidak menyukai aku?"
kembali Un Tay-tay berseru, "tahukah kau betapa sukaku kepadamu,
bila kau mati, apa..... apa yang harus kuperbuat?"
Perkataan sendu yang disampaikan ditengah
hujan angin begini, betul-betul membuat perasaan siapa pun merasa
iba.
Paras muka Im Ceng turut berubah, tiba-tiba
dia muntahkan darah segar, tapi segera teriaknya:
"Aku telah mengatur napasku, kenapa kau
belum juga turun tangan?"
Otot wajah Ai Thian-hok nampak mengejang
keras, ujarnya perlahan:
"Tadi kau mengatakan buta, apakah sedang
mengumpatku?"
"Bukan mengumpatmu, bukan mengumpatmu, yang
dia maki bukan kau!" buru-buru Un Tay-tay berteriak.
Baru habis perempuan itu menjerit, Im Ceng
dengan nada berat telah berteriak:
"Kau memang buta, tentu saja kau yang
kumaki!"
Paras muka Ai Thian-hok berubah makin suram,
kembali tegurnya:
"Apakah sekarang kau siap menarik kembali
ucapanmu?"
"Aku toh tidak salah bicara, kau memang
buta" teriak Im Ceng semakin gusar, kemudian sambil bertepuk dada
lanjutnya, "perkataan seorang lelaki yang telah diucapkan, sampai
mati pun tidak akan ditarik balik!"
"Baik........” Ai Thian-hok
menarik napas panjang, perlahan-lahan dia mengangkat tangannya.
Butir air mata tanpa terasa bercucuran
membasahi pipi Un Tay-tay, teriaknya sambil menghentakkan kaki:
"Kenapa kau..... kau begitu bodoh,
apa....apa salahnya menarik balik perkataanmu tadi, bila kau
mencabut makianmu, dia tidak bakal mencelakaimu lagi!"
"Hahahahaha......" Im Ceng mendongakkan
kepalanya dan tertawa seram, "bagi seorang lelaki sejati, hidup
tidak menyesal kenapa harus takut menghadapi mati! Hari ini bisa
melihat kau menangis, hatiku sudah teramat gembira. Hei orang
she-Ai, cepat turun tangan!"
Begitu dia selesai bicara, telapak tangan Ai
Thian-hok telah tiba dihadapannya, begitu cepat gerak serangan yang
dilancarkan, dalam waktu singkat dia sudah melepaskan tiga jurus
pukulan.
"Blaaaam!" sekali lagi bahu kanan Im Ceng
termakan sebuah pukulan.
Begitu kuat dan kerasnya pukulan tersebut,
kontan tubuh pemuda itu mencelat ke belakang dan terguling di tanah.
Keadaan yang begitu mengenaskan membuat para
penonton tidak tega untuk menyaksikannya lebih lanjut, sebagian
diantara mereka segera pejamkan mata atau membuang pandangan kearah
lain.
Tapi Im Ceng memang bandel, kembali dia
merangkak bangun dan bergerak mendekati Ai Thian-hok.
"Kau masih ingin bertarung terus?" tegur Ai
Thian-hok dengan wajah sedikit berubah.
"Belum pernah ada anggota Perguruan Tay ki
bun yang minta ampun kepada orang lain!" sahut Im Ceng dengan napas
tersengkal.
Telapak tangannya bergerak ke depan
menggunakan jurus Sin liong tam jiau (naga sakti pentangkan
cakar), tapi sayang sepasang bahunya sudah terluka hingga sulit
baginya untuk mengangkat lengannya.
Tidak heran kalau serangan itu dilancarkan
sangat lambat, tidak ubahnya seperti seorang kakek yang sedang
memberikan sesuatu benda kepada seorang bocah bayi, serangan yang
mustahil dapat mengenai sasarannya.
Semua orang menghela napas sedih, melihat Im
ceng sudah tidak sanggup mengangkat lengannya, jelas sudah mustahil
baginya untuk menyelesaikan ke tiga juru sserangannya.
Akhirnya setelah bersusah payah Im Ceng
berhasil juga mengangkat lengannya, tangan itu inci demi inci
diangkat keatas, inci demi inci mendekati A i Thian-hok... mendadak,
"Plaaaak!" ternyata serangan dari Im Ceng itu bersarang telak di
wajah Ai Thian-hok.
.....Sebagaimana diketahui, sepasang mata Ai
Thian-hok sama sekali buta, selama ini dia hanya mengandalkan suara
angin untuk menentukan gerak serangan lawan, tapi kali ini, serangan
dari Im ceng dilakukan sangat lamban, bahkan sama sekali tidak
menimbulkan sedikit suara pun.
Ai Thian-hok sangka dia sudah tidak mampu
mengangkat lengannya lagi hingga sama sekali tidak berjaga, selain
itu diapun merasa susah untuk melanjutkan pertarungan itu, sehingga
akhirnya pukulan itu malah bersarang telak.
Dalam waktu singkat semua orang dibuat
terkesima dan termangu untuk berapa saat lamanya.
Im Ceng sendiripun nampak agak tertegun,
tapi kemudian dia tertawa tergelak, teriaknya:
"Hei orang she-Ai, akhirnya aku...aku
berhasil menghajarmu..."
Tiba-tiba hawa murninya buyar, dia pun roboh
tidak sadarkan diri.
Un Tay-tay tidak tahu harus terkejut atau
gembira, cepat dia menubruk maju ke depan.
Hay Tay-sau pun ikut tertawa keras,
bentak-nya:
"Ai Thian-hok, apakah kau masih punya muka
untuk melanjutkan pertarungan ini? Kalau bernyali, ayoh tarung
melawan aku!"
Tapi Ai Thian-hok hanya berdiri kaku
ditempat, dia seolah tidak mendengar tantangan itu.
Diatas wajah Tio Ki-kong yang penuh bekas
luka bacokan, lamat-lamat muncul juga cahaya merah, sambil berpaling
ke arah nona berbaju hijau itu, katanya:
"Demi anak muda semacam ini, apakah cukup
berharga bagimu untuk turun tangan?"
Diatas wajah si nona berbaju hijau yang
putih pucat, kini muncul pula cahaya merah karena luapan emosi,
tiba-tiba teriaknya keras:
"Ai Thian-hok, beranikah kau menerima berapa
jurus serangan dari aku Liu Ho-ie?"
Bi lek Hwee sendiripun merasakan napasnya
tidak teratur, saat itu dia ikut berkata pula:
"Meskipun lohu bermusuhan dengan Perguruan
Tay ki bun, namun hari inipun aku akan bertarung juga demi dirinya!"
Akan tetapi Ai Thian-hok masih tetap berdiri
kaku tanpa bergerak, dia membiarkan air hujan dan angin menerpa
wajahnya, raut muka yang semula dingin kaku kini berubah semakin
dingin, sama sekali tidak nampak secerca cahaya kehangatan sedikit
pun.
Bergidik perasaan hati bocah pincang itu
setelah melihat perubahan mimik muka toakonya yang menyeramkan,
tidak tahan panggilnya dengan nada gemetar:
"Toako......."
Perlahan-lahan Ai Thian-hok mendongakkan
kepalanya, kemudian sambil menggapai bisiknya: "Kemari kau!"
Dengan wajah getir bocah pincang itu
berjalan mendekat, katanya dengan nada gemetar:
"Toako, kau..... bila kau enggan
bertarung melawan mereka, siaute bersedia menggantikan posisimu"
"Tidak usah banyak bicara lagi" tukas Ai
Thian-hok sambil tertawa pedih, "berdiri dihadapanku"
Dengan perasaan sangsi selangkah demi
selangkah bocah pincang itu maju mendekat.
Mendadak Ai Thian-hok membenahi pakaiannya
kemudian menjatuhkan diri berlutut dihadapannya dan menyembah
berapakali.
Tindakan yang sama sekali diluar dugaan ini
bukan saja membuat bocah pincang itu terbelalak dengan mulut
melongo, orang lain pun ikut terperanjat dibuatnya.
Setelah tertegun berapa saat akhirnya bocah
pincang itu turut berlutut pula dengan air mata bercucuran, serunya
gemetar:
"Toako, kau......apa yang kau lakukan?"
"Sembah sujudku ini kutujukan untuk suhu,
tolong sampaikan kepada dia orang tua, katakan, tecu Ai Thian-hok
sudah tidak bisa membalas budi kebaikannya lagi"
"Toako, kau.....kau......." bocah pincang
itu semakin terkesiap.
Ai Thian-hok tertawa getir.
"Setelah hidup malang melintang dalam dunia
persilatan, hari ini wajahku telah kena dihajar orang tanpa terasa,
apakah aku masih punya muka untuk hidup terus di dunia ini?"
"Tapi......tapi..... toako, kau toh berhasil
melukainya terlebih dulu!"
Ai Thian-hok melompat bangun dari tanah,
dengan wajah berat tukasnya:
"Keputusanku sudah bulat, kau tidak usah
banyak bicara lagi, tolong sampaikan juga kepada semua saudara yang
lain, katakan kalau toako mohon diri terlebih dulu!"
Bocah pincang itu mendekap ditanah sambil
menangis tersedu sedu, begitu sedihnya bocah itu membuat kawanan
jago lain pun ikut terharu.
Pada saat itulah mendadak dari kejauhan
muncul sesosok bayangan manusia, orang itu berhenti ditempat
kegelapan dan segera menyembunyikan diri.
Sayang waktu itu semua orang sedang berdiri
terperanjat hingga tidak seorang pun yang menyadari akan
kehadirannya.
Terdengar Ai Thian-hok tertawa tergelak
berulang kali, kemudian ujarnya lantang:
"Orang she-Im itu bisa memandang kematian
sebagai hal yang lumrah, kenapa aku Ai Thian-hok tidak bisa? Kiu-te,
jangan lupa, disaat seorang lelaki sejati menjelang ajal, dia harus
mati sebagai seorang enghiong!"
Selesai bicara ia segera mengayunkan telapak
tangannya siap dihantamkan keatas ubun ubun sendiri.
Sambil menangis terisak bocah pincang itu
segera menubruk ke depan, memeluk pinggangnya kuat-kuat, membuat
toakonya mundur berapa langkah dengan terhuyung, kemudian teriaknya
keras:
"Toako, kau tidak boleh mati......."
Tiba tiba Hay Tay-sau ikut berteriak
lantang:
"Memangnya kau anggap mati dalam keadaan
begini merupakan kematian seorang enghiong? Huuuh, kalau memang
bernyali, ayoh lanjutkan hidupmu, tahukah kau masih ada berapa
banyak orang yang ingin menantangmu bertarung?"
Ai Thian-hok menangkap sepasang lengan bocah
pincang itu, sambil berusaha melepaskan cengkeramannya, dia
menghardik:
"Kiu-te, lepaskan tanganmu!"
Tapi sampai mati pun bocah pincang itu
enggan melepaskan cengkeramannya.
Sekonyong-konyong dari kejauhan sana
terdengar seseorang tertawa dingin.
Lalu terdengar seseorang dengan nada sinis
menjengek:
"Buat apa kalian membujuknya? Manusia buta
macam dia memang tidak berarti hidup terus di dunia ini, kenapa
tidak biarkan dia pergi mampus saja!"
Semua orang terperanjat, terlebih Ai
Thian-hok, dengan tubuh bergetar keras dan wajah berubah hebat,
bentaknya:
"Siapa yang berani mencaci maki aku?"
Sesosok bayangan manusia tampak berdiri
berapa meter dari arena pertarungan, berdiri di tengah hujan angin,
sahutnya sambil tertawa dingin:
"Kalau aku sedang mengumpatmu lantas kenapa?
Hahahaha..... kau tidak lebih cuma seorang lelaki buta yang
hampir mampus"
Waktu itu malam sudah kelap, ditambah hujan
angin sedang ber langsung membuat suasana diseputar sana cukup
gelap, siapa pun tidak ada yang melihat jelas siapa gerangan orang
itu?
Sekujur tubuh Ai Thian-hok gemetar keras,
tiba-tiba teriaknya:
"Kemari kau, sekalipun aku ingin mati,
paling tidak aku baru mati setelah berhasil membunuhmu!"
"Bagaimana kalau kau tidak sanggup
membunuhku?" jengek bayangan itu sambil tertawa dingin.
"Sehari aku tidak mampu membunuhmu, sehari
pula aku orang she-Ai tidak akan mati!" teriak Ai Thian-hok gusar.
Tiba-tiba dia kebaskan sepasang lengan
bajunya dan melesat ke arah bayangan manusia itu dengan kecepatan
tinggi.
Bayangan manusia itu segera tertawa
tergelak.
"Hahahaha......kau tidak bakal sanggup
membunuhku!"
Kata terakhir diucapkan dari tempat yang
cukup jauh, namun Ai Thian-hok bagaikan bayangan tubuh saja,
mengintil ketat dibelakangnya.
"Toako,......" bocah pincang itu segera
berteriak keras, "toako........"
Cepat dia menyusul dari belakang.
"Entah siapakah orang itu" kata Hay Tay-sau
kemudian sambil tertawa, "dia betul betul sangat hebat, hanya
menggunakan beberapa patah kata saja telah berhasil selamatkan
selembar nyawa Ai Thian-hok dari kematian!"
"Apakah kita perlu menyusulnya?" tanya Bi
Lek-hwee.
Mengawasi kegelapan malam yang mencekam
seluruh jagad, Hay Tay-sau gelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak mungkin terkejar, tidak mungkin
terkejar....."
Dalam pada itu Un Tay-tay telah membopong
tubuh Im Ceng dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Semua orang mengikuti dibelakangnya tanpa
bicara, perasaan hati mereka rata-rata berat dan murung.
Setelah memasuki perkampungan dan tiba
dipintu gerbang kedai tukang besi, mereka tidak menemukan kereta
kuda disitu, sang kusir yang tahu gelagat tidak menguntungkan juga
ikut raib dari sana.
Air muka Un Tay-tay yang murung nampak
sedikit berubah, gumamnya tanpa terasa:
"Ba.....bagaimana sekarang?"
"Lebih baik nona tetap tinggal disini......"
Bu Ceng hiong mengusulkan.
"Biar aku periksakan keadaan lukanya" kata
Liu ho-ie, si nona berbaju hijau itu pula.
Ketika Un Tay-tay mencoba menengok, orang
yang berada dalam pelukannya memejamkan matanya dengan wajah pucat
pasi, sekilas pandangnya seolah sudah tidak bernapas lagi.
Rasa sedih yang berkecamuk dalam benaknya
membuat air mata perempuan itu bercucuran tanpa terasa, butiran air
mata meleleh dari pipinya dan jatuh membasahi sepasang mata Im Ceng
yang ter tutup rapat.
Begitu basah oleh air mata, mendadak
terdengar Im Ceng merintih perlahan lalu membuka kembali mulanya.
Secara lamat-lamat dia merasa ada sesosok
bayangan manusia sedang berdiri dihadapannya, bayangan itu semula
kabur tapi lambat laun makin bertambah jelas........ saat itulah
Liu Ho-ie sedang berdiri dihadapannya sambil memeriksa keadaan
luka yang dideritanya.
Begitu melihat jelas paras muka perempuan
itu, Im Ceng segera meronta bangun sambil berteriak:
"Dia......dia.......dia adalah orang Han
hong po, Tay-tay......cepat.... cepat pergi dari sini......."
Dia tidak pernah melupakan paras muka Liu
Ho-ie yang dingin tanpa perubahan mimik itu, tapi dia hanya teringat
kalau perempuan berwajah dingin ini adalah anggota benteng Han hong
po yang hendak menginterogasi dirinya.
Tio Kie-kong yang kebetulan berjalan masuk
buru-buru menjelaskan sambil menghela napas:
"Kongcu, kau salah paham, hari itu........."
Tapi sayang waktu itu Im Ceng yang sedang
terluka dalam berada dalam keadaan setengah sadar, bukan saja dia
tidak mendengar penjelasan itu, sebaliknya malah berteriak sambil
meronta dalam pelukan Un Tay-tay:
"Bagus......bagus, Han hong po, aku akan
beradu jiwa denganmu.... aku akan beradu jiwa!"
Tangannya mulai memukul kian kemari
diimbangi tendangan yang membabi buta, seolah olah dia memang siap
beradu jiwa.
Un Tay-tay memeluknya semakin kencang,
serunya dengan air mata bercucuran:
"Baik, kita pergi, kita pergi........"
Dia segera bangkit berdiri dan berlarian
dibawah hujan angin sambil membopong pemuda itu.
Melihat itu Tio Kie-kong menghentakkan
kakinya berulang kali sambil menghela napas, teriaknya:
"Ini.....ini.......Ho-ji, kita kejar......."
"Toa-tia tidak usah kuatir" tukas Liu Ho-ie
sambil memandang dingin bayangan tubuh yang makin menjauh itu, "dia
tidak bakalan mampus!"
Selesai bicara dia membalikkan tubuh dan
masuk kembali ke dalam kamarnya.
Hay Tay-sau serta Bi Lek-hwee hanya bisa
saling bertukar pandangan tanpa bicara, mereka mendongakkan
kepalanya dan menghela napas panjang.
Fajar sudah mulai nampak menyingsing diufuk
timur, suara ayam berkokok pun lamat lamat kedengaran memecahkan
keheningan, hujan angin semalaman suntuk pun berakhir juga.
Un Tay-tay berlarian dengan sepenuh tenaga
sambil membopong tubuh Im Ceng.
Sepanjang jalan tiada hentinya dia menengok
keadaan orang yang berada dalam pelukannya, mengawasi pemuda yang
masih tidak sadarkan diri itu, untuk pertama kalinya dia menyadari
kalau anak muda yang tergila-gila kepadanya itu ternyata seorang
lelaki baja yang berhati sekeras batu karang.
Untuk sesaat dia merasa sedih bercampur
menyesal, dulu dia sudah menyia-nyiakan cinta kasih pemuda ini,
perempuan itu tidak tahu, apakah dikemudian hari masih ada
kesempatan baginya untuk membayar hutangnya ini?
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah
jam, akhirnya terlihat cahaya terang mulai muncul di langit timur,
tapi suasana disekelilingnya terasa tetap hening dan sepi, dengus
napas Un Tay-tay mulai berat dan tersengkal-sengkal.
Selama tahun terakhir dia lebih banyak
memperhatikan keindahan tubuh ketimbang kehebatan kungfunya, tidak
heran kalau saat ini dia sudah kehabisan tenaga.
Sekalipun begitu dia sama sekali tidak
memperlambat langkahnya, perempuan itu ingin secepatnya tiba di
rumah dan mengobati luka yang diderita Im Ceng, bila dapat menolong
pemuda itu, apalah artinya kelelahan dan kehabisan tenaga baginya?
Permukaan tanah makin lama semakin tinggi,
kini mereka sudah berada di daerah pegunngan.
Sepertanak nasi kemudian mereka sudah tiba
di dataran rata diatas perbukitan itu, dibalik hutan yang lebat
lamat-lamat terlihat cahaya lentera memancar keluar dari remangnya
cuaca.
Sambil menghembuskan napas lega Un Tay-tay
bergerak menuju ke dalam hutan itu.
Ditengah hutan terdapat sebuah bangunan
rumah, sekilas mirip sebuah kuil, inilah tempat persembunyian yang
digunakan Un Tay-tay untuk menghindari pencarian orang, memang
jarang orang luar yang mengetahui letak tempat ini.
Perempuan ini selain pintar, diapun memiliki
kemampuan luar biasa yang jarang dimiliki orang lain.
Hanya dalam waktu yang relatip singkat bukan
saja dia berhasil menemukan tempat itu, bahkan telah mengubah kuil
bobrok itu menjadi sebuah tempat tinggal yang nyaman, malah dia
sempat pula membeli dua orang dayang yang jujur dan setia.
Satu-satunya persoalan yang membuat dia
menyesal adalah masalah kusir kereta itu.......
Tapi begitu dia menerobos masuk ke dalam
hutan, sorot matanya segera terhenti pada sebuah kereta kuda yang
diparkir persis didepan pintu rumahnya, kereta mewah miliknya!
Dengan perasaan girang ia pun berpikir:
"Ooh, ternyata kusir itu tidak sabar
menunggu hingga balik duluan kemari!"
Maka tanpa sempat berteriak memanggil
dayangnya, dia langsung menerobos masuk ke dalam.
Cahaya lentera masih menyinari ruangan,
sambil mengatur napasnya yang tersengkal Un Tay-tay pun berteriak
memanggil:
"Ying-ji, Yan-ji, apakah kalian belum tidur?
cepat siapkan air panas..."
Sambil berteriak dia menerobos masuk ke
dalam ruangan, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya berdiri
terbelalak, dibawah sinar lentera, tampak ke dua orang dayang
setianya sudah mati membujur kaku dilantai.
Tidak ada benda yang berantakan dalam
ruangan, tapi dua gumpalan darah masih nampak mengembang, seakan
peristiwa berdarah ini belum luma terjadi.
Un Tay-tay merasakan hatinya bergidik, tidak
tahan dia bersin berulang kali, pikirnya:
"Jangan-jangan Suto Siau berhasil menemukan
tempat ini?"
"Blaaaam!" mendadak pintu ruangan tertutup
kembali.
Telapak tangan Un Tay-tay sudah basah oleh
keringat dingin, untuk sesaat dia tidak berani membalikkan tubuhnya,
tiba-tiba dia mendengar suara dengus napas yang berat bergema dari
arah belakang.
Tergopoh-gopoh dia lari maju berapa langkah
hingga tiba disudut dinding, kemudian dengan cepat membalikkan
tubuh, berdiri dengan menempelkan punggungnya diatas dinding yang
dingin dan mendongakkan kepalanya.
Seorang pemuda berpakaian kusut berdiri
dengan menempel dipintu, tangannya menggenggam sebilah pisau
belati, mukanya penuh dicekam perasaan gugup, panik dan takut.
Begitu sepasang mata mereka saling bertemu,
kedua orang itu sama-sama terperanjat sambil menjerit tertahan:
"Aaah, rupanya kau!"
Un Tay-tay kenal dengan pemuda berpakaian
lusuh itu, begitu pula dengan pemuda itu.
Ternyata lelaki dengan pakaian yang amat
kusut ini tidak lain adalah Sim Si-pek!
Walaupun dia ditendang Hay Tay-sau hingga
tercebur ke sungai, ternyata nyawanya tidak sampai tamat, setelah
bersusah payah mencapai daratan, diapun mulai melarikan diri
terbirit-birit.
Dalam keadaan yang mengenaskan, mula-mula
dia ingin mencari dulu rumah penduduk, mencari pakaian kering dan
makanan.
Apa mau dikata ternyata dia tiba di
perkampungan pandai besi itu, maka dicarilah rumah penduduk yang
terbesar, pemuda itu berniat merampas pakaian, uang dan hidangan
yang tersedia disana.
Siapa tahu begitu melongok lewat jendela,
dia saksikan Hay Tay-sau sedang duduk sambil meneguk arak, kejadian
ini membuatnya terkesiap dan ketakutan setengah mati.
Dalam keadaan begini dia tidak berani
bergerak lagi, dengan tubuh gemetar cepat dia menyelinap ke balik
kegelapan dan menyem-bunyikan diri.
Kemudian datang Un Tay-tay sekalian dan
terjadilah keributan, semua peristiwa itu dapat dia ikuti dari balik
kegelapan dengan jelas, perasaan hatinya sempat terkesiap ketika
mendengar Un Tay-tay datang bersama adik seperguruan Thiat
Tiong-tong, masih untung malam itu hujan angin sedang berlangsung
hingga kehadirannya disana sama sekali tidak diketahui siapa pun.
Menanti semua orang mengejar Ai Thian-hok
dan Im Ceng yang hendak bertarung, dia baru secara diam-diam
melompat keluar dari tempat persembunyian, merampas kereta kuda dan
melarikan diri.
Tapi rasa lapar, kaget, kedinginan dan letih
yang menyiksa dirinya membuat dia tidak mampu mcnguasahi diri lagi,
setelah menempuh perjalanan berapa saat diapun jatuh tidak sadarkan
diri dalam ruang kereta.
Kedua ekor kuda penghela kereta itu memang
kuda-kuda jempolan, biarpun tidak dikendalikan orang, mereka dapat
berjalan balik ke tempat semula secara otomatis, maka Sim Si-pek pun
dibawa menuju ke tempat tinggal Un Tay-tay.
Ketika tersadar kembali dari pingsannya, Sim
Si-pek menjumpai kereta itu sudah diparkir didepan pintu rumah,
karena tidak ada tujuan lain maka dia pun menerobos masuk ke dalam
gedung itu, disitu dia menjumpai ada dua orang dayang tersebut.
Tentu saja dayang-dayang itu menjerit kaget,
maka tanpa banyak bicara dia membunuh mereka berdua, mimpi pun dia
tidak menyangka secara tiba-tiba Un Tay-tay bakal muncul pula
disitu.
Un Tay-tay sendiripun tidak menyangka murid
Hek Seng-thian bisa muncul di tempat persembunyiannya, begitu
berhasil mengen-dalikan rasa kiigetnya diapun menegur:
"Kenapa kau datang kemari? Bahkan membunuh
ke dua orang dayangku?"
Sim Si-pek memandang perempuan itu sekejap,
buru-buru dia menjura dan menyahut dengan senyuman dibuat-buat:
"Mana berani keponakan membunuh dayang duri
bibi, sewaktu tiba disini aku jumpai mereka sudah mati"
Un Tay-tay tahu kalau dia sedang bohong,
tapi tidak berusaha untuk mengungkapnya, setelah mengiakan diapun
membaringkan Im Ceng keatas bangku.
Kemudian dengan senyum dikulum perlahan dia
menghampiri Sim Si-pek, katanya sambil tertawa:
"Kenapa pakaianmu begitu kusut dan
mengenaskan, bagaimana kalau bibi mencarikan pakaian kering
untukmu?"
Sim Si-pek berpikir sejenak kemudian tertawa
dingin, pikirnya:
"Tampaknya dia sembunyikan golok dibalik
senyuman, berarti sekarang juga dia ingin membunuhku"
Perlu diketahui, tindakan Suto Siau yang
menyimpan bini muda ditempat lain meski berhasil mengelabuhi
istrinya, bukan berarti bisa mengelabuhi rekan-rekannya, malah dia
sering mengundang Hek Seng-thian sekalian minum arak ditempat
tinggal Un Tay-tay, tentu saja dalam setiap kunjungan Sim Si-pek
selalu turut serta bersama gurunya, oleh sebab itu boleh dibilang
dia sangat mengetahui watak istri muda Suto Siau ini.
Maka tidak menanti Un Tay-tay datang
mendekat, dia sudah berkelit berapa langkah ke belakang, katanya
lagi sambil tertawa:
"Tecu mendapat perintah guru untuk
menyampaikan salam kepada bibi, mana berani merepotkanmu dengan
pekerjaan sepele...."
Dalam hati kecilnya Un Tay-tay merasa
terkesiap, tapi perasaan itu tidak ditampilkan diwajahnya, malah
sambil tertawa merdu kata-nya:
"Suhumu menyuruh kau datang menjenguk?
Kenapa dia tidak datang sendiri? Apa takut Suto Siau cemburu?"
Sekalipun dia pintar dan pandai menyesuaikan
diri, namun mimpi pun tidak menyangka kalau waktu itu Sim Sin-pek
telah menghianati Hek Seng-Ihian, karenanya meski senyuman masih
tersungging diujung bibir, jantungnya justru berdebar keras.
Sambil berusaha membaca situasi, kembali Sim
Sin-pek menyahut seraya bertanya:
"Guru minta keponakan datang lebih awal,
maksudnya untuk meninjau dulu apakah ada tempat disini, sebentar dia
orang tua akan menyusul kemari"
Tampaknya dia bermaksud menggunakan kata
ancaman itu untuk mengendalikan Un Tay-tay, agar tidak berani
melancarkan serangan kepadanya.
Un Tay-tay mengerlingkan matanya berulang
kali, katanya sambil tertawa manja:
"Aaah, siapa bilang tidak ada tempat? Aduh,
tentu saja disini amat leluasa untuk menampung kalian semua,
cepatlah pulang dan suruh dia kemari!"
Dalam hati Sim Sin-pek tertawa dingin,
pikirnya:
"Asal kaki depanku pergi dari sini, mungkin
kaupun akan mengikuti jejakku kabur dari tempat Ini. Hmmm! Biarpun
kau terhitung pintar, tapi jangan disangka aku Sim Sin-pek pun orang
bodoh, mana mungkin akan kulepaskan kesempatan baik ini dengan
begitu saja!"
Maka sambil tertawa katanya:
"Tapi aku lihat tempat tinggal bibi kurang
leluasa, masa siautit berani melaporkan kepada suhu?"
"Waaah, dimana letak ketidak leluasaan itu?"
Sambil melirik Im Ceng yang tidak sadarkan diri di bangku sekejap,
kata Sim Sin-pek:
"Siautit kenal juga dengan murid dari
Perguruan Tay ki bun ini, setelah disini melihat kehadirannya, masa
siautit berani membohongi guru?"
"Aduh mak, kau maksudkan dia?" Un Tay-tay
tertawa cekikikan, "cepat pulang dan beritahu kepada Hek Seng-thian,
katakan kalau aku sudah bosan dengan dia dan kini bermaksud
menyerahkan kembali kepadanya"
"Sungguh?"
"Setiap kali bertemu, sepasang mata suhumu
tiada hentinya memperhatikan gerak-gerikku, memangnya aku tidak tahu
apa maksud dia mengirim kau kemari? Paling-paling juga lantaran
ingin...... ingin berbuat begituan denganku!"
Sim Sin-pek mmutar biji matanya berulang
kali, lalu katanya sambil tertawa:
"Siapa sih yang tidak tertarik dengan
perempuan cantik macam bibi? Siapa pun tentu ingin berbuat begituan
setelah berjumpa dengan-mu"
"Bagaimana dengan kau? ingin begituan
tidak?" Tanya Un Tay-tay sambil membusungkan dadanya dan tertawa
genit.
Saat itu seluruh pakaian yang dikenakan
basah kuyup oleh air hujan hingga nyaris menempel lekat ditubuhnya,
dibawah cahaya lentera, tampak jelas setiap lekukan tubuhnya yang
montok dan menggiurkan itu.
Sim Sin-pek tidak kuasa menahan dirinya,
ditatapnya setiap lekukan tubuh perempuan itu dengan mata melotot,
kemudian sembari diam diam menelan air liur katanya jengah:
"Siautit pun termasuk orang lelaki, siapa
bilang tidak ingin? Aku ingin sekali.....cuma tidak berani!"
Kembali Un Tay-tay mengerling genit, sesudah
memperhatikan Sim Sin-pek berapa saat, tangannya mulai meraba ke
pakaiannya dan perlahan-lahan melepaskan kancing
bajunya, satu......dua.......
Gerak geriknya dilakukan begitu halus,
begitu lembut dan begitu naluri, membuat mata orang urakan tidak
melihat gerak tangannya yang sedang melepas kancing, membuat
perhatian orang seratus persen tertuju pada pakaiannya yang mulai
melorot ke bawah kaki.........
Tiba-tiba dia membuka lebar seluruh
pakaiannya, tubuh bugilnya yang putih, lembut dan montok seketika
tampil dihadapan Sim Sin-pek.
"Apakah sekarang kau masih tidak berani?"
tanyanya lembut.
Sim Sin-pek berdiri terkesima, berdiri
terbelalak dengan mulut melongo, dia hanya merasa biji
tenggorokannya naik turun......
"Kemarilah, apa lagi yang kau tunggu?" bisik
Un Tay tay sambil mengerling nakal.
Perlahan-lahan Sim Sin-pek melangkah maju ke
depan, seakan sama sekali tidak mampu membangkang, dia maju mendekat
dengan wajah iri kesima.
Senyuman Un Tay-tay semakin menggiurkan,
lapi didalam hati dia mulai mengghitung langkah kakinya:
"Selangkah, dua langkah......asal kau maju
tiga langkah lagi, maju dua langkah lagi........"
Sementara itu Sim Sin-pek yang melangkah
maju dengan wajah terkesima pun secara diam-diam menghitung pula
langkah kaki sendiri:
"Selangkah, dua langkah....... aku cukup
maju selangkah lagi...... hahahaha... Un Tay-tay,
permainan busukmu mungkin bisa membohongi orang lain, namun jangan
harap bisa menipuku, selama ini kau tidak berani turun tangan
sebaliknya malah memikatku dengan cara begini, jelas hal ini
dikarenakan kau sudah kehabisan tenaga bukan? Kau ingin aku masuk
perangkap? Huuuh, baiklah, aku akan gunakan siasat untuk kontra
siasat busukmu itu......."
Sekali lagi dia awasi tubuh bugil yang indah
lagi montok itu, kemudian bukannya maju dia malah mundur satu
langkah.
Thiat Tiong-tong segera menyembunyikan diri
begitu melihat si nona berbaju hijau itu mendemonstrasikan ilmu
meringankan tubuhnya yang hebat, orang lain gagal menemukan
jejaknya, padahal secara diam-diam dia justru memperhatikan
gerak-gerik setiap orang.
Tatkala semua rombongan memasuki
perkampungan pandai besi, diapun mengikuti semua peristiwa itu
secara jelas, justru kemunculan Un Tay-tay serta Im Ceng yang
mendadak jauh diluar dugaannya.
Tapi dalam sekilas pandang dia sudah
mengenali si manusia cacad itu adalah Tio Kie-kong, oleh karena
kuatir Tio Kie-kong membuka identitas dirinya dihadapan Bi Lek-hwee,
maka secara diam-diam dia kabur menyembunyikan diri.
Dia mengikuti rombongan sampai disitupun
gara-gara ingin bertemu dengan Tio Kie-kong, perasaan hatinya jadi
lega setelah tahu bahwa ditempat itu selain hadir Tio Kie-kong juga
terdapat nona berbaju hijau itu, dia tahu Im Ceng tidak bakalan
menderita kerugian.
Dan pada saat itulah matanya yang tajam
dapat melihat ada dua sosok bayangan manusia sendang bergerak diluar
hutan, ketika dia menyusul kesana maka diketahui bahwa kedua orang
itu tidak lain. adalah Ai Thian-hok serta si bocah pincang.
Maka diapun menghentikan kedua orang itu.
Betapa terkejut dan girangnya bocah pincang
itu setelah tahu kalau dia belum mati, secara ringkas diapun
menceritakan keadaan Sui Leng-kong dan dua bersaudara Lengyang
mengenaskan.
Thiat Tiong-tong merasa amat terharu setelah
mengetahui kejadian tersebut, dia bertekad akan pergi mencari
mereka, setelah bertanya arah kepergian gadis-gadis itu, dia pun
serahkan selembar uang kertas dan minta si bocah pincang untuk
menyampaikannya kepada Im Ceng.
Ketika bocah pincang itu pergi menjumpai Un
Tay lay, dia sendiri berangkat mencari Sui Leng.
Tapi bagaimanapun dia merasa tidak berlega
hati memikirkan keselamatan Im Ceng, maka setelah berjalan berapa
saat dia balik kembali ke tempat semula, secara kebetulan dia pun
mendengar ucapan dari Ai Thian-hok yang ingin mati.
Muka dengan menggunakan ucapan yang tajam
dia membangkitkan amarah serta keinginan hidup Al Titian hok.
Dalam pikirannya, asal bisa lolos dari
pengejaran Ai Thian-hok maka orang buta itu tidak mungkin tahu siapa
yang telah membuatnya marah, begitu Ai Thian-hok pun tidak mungkin
bisa membunuhnya.
Tanpa sangka Ai Thian-hok selain memiliki
gerakan tubuh yang cepat, ketajaman pendengarannya pun diluar dugaan
Thiat Tiong-tong, meski pemuda itu telah mengerahkan segenap
kemampuan yang dimilikipun dia tidak pernah berhasil lolos dari
pengejaran lawan.
Ke arah mana pun Thiat Tiong-tong lari, Ai
Thian-hok dengan lengan bajunya yang menderu deru selalu menempel
ketat di belakangnya, dalam keadaan begini dia tidak berani
berpaling, apalagi memperlambat gerak larinya.
Kejar mengejarpun berlangsung hampir satu
jam lamanya, sekujur tubuh Thiat Tiong-tong telah basah kuyup oleh
keringat, saat itu mereka berdua sudah memasuki wilayah pegunungan.
Diantara pepohonan yang lebat akhirnya Thiat
Tiong-tong berhasil menemukan bangunan rumah yang terpencil itu.
Berada dalam posisi seperti ini dia tidak
punya pilihan lain kecuali menerobos masuk ke dalam bangunan, dia
ingin menggunakan bangunan rumah itu untuk menyembunyikan suara
angin yang terbawa ketika melarikan diri, dia berusaha ingin
melepaskan diri dari pengejaran si kelelawar buta itu.
Pada saat itulah Sim Sin-pek sedang maju
untuk langkahnya yang terakhir.
Mendadak terasa cahaya lentera jadi redup,
sesosok bayangan manusia sudah menerobos masuk lewat jendela.
Baik Sim Sin-pek maupun Un Tay-tay sama sama
tercekat, buru-buru mereka mundur dua langkah.
Tapi begitu tahu kalau orang yang muncul
adalah Thiat Tiong-tong, serentak merekapun menjerit kaget.
Thiat Tiong-tong sendiripun tidak kalah
kagetnya, tapi dengan kemampuan menyesuaikan dirinya yang tidak
tertandingi cepat dia bereaksi, begitu kakinya melayang turun ke
lantai, secepat kilat tangannya mencengkeram baju Sim Sin-pek.
Waktu itu sebenarnya Sim Sin-pek sudah
ketakutan setengah mati, paras mukanya berubah makin pucat setelah
melihat datangnya ancaman, bibirnya gemetar dan giginya saling
beradu, meski ingin mohon ampun namun tidak sepatah kata pun mampu
diucapkan.
Thiat Tiong-tong dengan sorot matanya
setajam pisau mengawasi wajahnya tanpa berkedip.
Meski hanya sekejap, namun bagi perasaan Sim
sin pek, pandangan itu terasa lama sekali.
Kini dia hanya bisa menanti Thiat Tiong-tong
melancarkan serangan untuk mencabut nyawanya.
Siapa tahu pemuda itu tidak melakukannya,
malah berbisik:
"Cepat enyah dari sini! Kalau sampai
terkejar lagi olehku, akan kucabut nyawa anjingmu"
Sambil berkata dia benar-benar melepaskan
cengkeramannya.
Untuk sesaat Sim Sin-pek berdiri tertegun,
dia tidak mengira akan lolos dari kematian, tanpa berpikir panjang
lagi dia segera melompat keluar melalui jendela dan melarikan diri
terbirit-birit.
Meski Un Tay-tay pintar pun dia tidak
mengerti apa maksud Thiat Tiong-tong dengan tindakannya itu, dengan
mata terbelalak lebar tanyanya keheranan:
"Kenapa kau.....kau........"
Belum selesai ia bertanya, Thiat Tiong-tong
sudah membekap mulutnya sambil menarik perempuan itu ke sudut
ruangan, bahkan dia segera tutup napas dan tidak berani
menghembuskan napasnya secara keras.
Ternyata pemuda itu sedang menggunakan
siasat keong emas kabur dari cangkangnya.
Dengan dia menerobos masuk ke dalam ruangan
sementara Sim Sin-pek kabur keluar, Ai Thian-hok yang buta
diharapkan tidak bisa membedakan kalau orang tersebut bukan dirinya.
Menanti Ai Thian-hok sadar akan
kekeliruannya, Thiat Tiong-tong bisa manfaatkan kesempatan itu
untuk lari ke arah lain.
Un Tay-tay mengawasinya dengan mata
terbelalak lebar, mengawasinya dengan terkejut, pakaian dibagian
dadanya masih dalam keadaan terbuka lebar, bau harum semerbak
terendus dari balik tubuhnya.
Dengan kening berkerut Thiat Tiong-tong
segera berpaling ke arah lain.
Pada saat itulah dari luar ruangan terdengar
suara Ai Thian-hok sedang berseru dengan nada dingin:
"Hmm, jangan harap kau bisa membohongi aku,
gerak tubuh yang digunakan orang itu sama sekali tidak mirip dengan
gerakan tubuhmu!"
Suara yang dingin hambar itu diucapkan
dengan tenaga yang kuat dan menggema dari empat arah delapan
penjuru, membuat orang susah untuk menduga berasal dari manakah
suara itu.
"Ai Thian-hok!" pekik Un Tay-tay dengan
wajah berubah.
Sekarang dia baru tahu kalau orang yang
semalam membangkitkan amarah Ai Thian-hok ternyata adalah Thiat
Tiong-tong.
Sementara itu sang pemuda itupun tercekat
hatinya.
"Ai Thian-hok memang sungguh lihay" pikirnya
dihati, "ternyata dia bisa membedakan dari suara angin yang terbawa
oleh gerakan Sim Sin-pek sama sekali berbeda dengan gerakan tubuhku"
Baru saja ingatan itu melintas, dengan suara
dingin kembali Ai Thian-hok berkata:
"Aku akan menghitung sampai angka tiga, bila
kau belum keluar juga, akan kubakar ludas rumah ini, sampai waktunya
jangan harap siapa pun bisa keluar dari sini!"
Thiat Tiong-tong terkesiap, buru-buru dia
bergesar menuju ke depan pintu.
Baru saja Un Tay-tay akan menarik tangannya,
Thiat Tiong-tong sudah membuka pintu depan dan melangkah keluar
menuju halaman.
"Satu........" terdengar suara Ai Thian-hok
yang dingin kaku mulai menghitung.
Thiat Tiong-tong langsung berjalan menuju ke
tengah halaman, dia berjalan tanpa bersuara.
"Dua........"
Kembali Thiat Tiong-tong berjalan maju dua
langkah, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya.
"Kalau sekarang aku kabur tanpa diketahui
jejaknya oleh Ai Thian-hok, dia pasti menyangka aku masih
bersembunyi dalam ruangan, kalau sampai dia bakar rumah ini,
bukankah aku akan mencelakai jiwa Im Ceng serta Un Tay-tay?"
Berpikir sampai disitu, diapun berteriak
lantang:
"Aku berada disini!"
Ketika berteriak, tubuhnya sudah berada
lebih kurang empat meter dari posisi semula.
Ketika Un Tay-tay menyusul keluar dari
pintu, terasa ada hembusan angin kuat meluncur turun dari atas
wuwungan rumah, sesosok bayangan manusia bagaikan kelelawar telah
meluncur kedepan dengan kecepatan tinggi, dalam waktu singkat
bayangan tubuh itu sudah lenyap dibalik kegelapan.
Dia memandang termangu hujan angin yang
masih berderai di depan mata, lalu memandang pula Im Ceng yang masih
tidak sadarkan diri, mendadak dia berlutut didepan undak-undakan,
air mata bercucuran membasahi pipinya.
Baru pertama kali ini dia merasakan begitu
kesepian, begitu kesendirian, begitu menderita dan tersiksa.
Dia seakan merasa balik pada jaman masa
kecilnya dulu, masa dimana tiada orang yang memperhatikan, memberi
bantuan bahkan menggubrisnya, seluruh rasa percaya diri, seluruh
kekuatan yang dimiliki seakan lenyap dengan begitu saja.
Dia merasa pemandangan yang terbentang
didepan mata seakan hanya selapis kegelapan.
Untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa
memiliki uang banyak pun tidak ada gunanya jika tiada orang mau
menaruh perhatian pada dirinya, harta tidak menjamin
kebahagiaan......
Menanti perempuan itu balik kembali ke
kamarnya, saat itu Thiat Tiong-tong sudah berada jauh dari situ.
BAB 15.
Siau-lim-sie kecil.
Thiat Tiong-tong belum berhasil lolos dari
pengejaran Ai Thian-hok yang menempel lekat bagaikan bayangan,
pakaiannya yang basah kuyup membuat langkah kakinya kian lama kian
bertambah berat.
Sekalipun selama ini dia tidak pernah
berpaling, namun pemuda itu dapat merasakan telapak tangan lawan
yang berada hanya berapa inci di belakang tubuhnya, kenyataan
tersebut menambah beban tekanannya yang besar, paling tidak
membuatnya bergidik.
Meskipun beberapa kali dia ingin membalikkan
tubuh untuk bertempur, namun setiap kali terbayang apapun hasil
pertarungan tersebut, yang ada hanya siksaan..... bila dia berhasil
mengungguli lawannya, Ai Thian-hok pasti akan bunuh diri, sebaliknya
jika dia kalah dan mati, Ai thian hok pun tetap akan bunuh
diri.....padahal tujuannya melarikan diri kali ini adalah demi
menyelamatkan nyawa orang yang sedang mengejarnya, yang bisa dia
lakukan kini hanya tertawa getir.
Orang yang sedang melarikan diri ternyata
kabur demi menyelamatkan nyawa orang yang mengejarnya, mungkin sejak
dulu hingga sekarang belum pernah terjadi peristiwa semacam ini.
Ditengah hujan angin, suasana ditanah
perbukitan itu nampak amat sendu, jalan setapak yang
semula hanya berlumut dan licin, makin keatas jalan
semakin susah ditempuh, bukan saja terdiri dari
tanah perbukitan yang terjal bahkan terasa gersang dan
gundul.
Makin lama Thiat Tiong-tong semakin sulit
untuk menentukan arah, ditanah perbukitan yang terjal dia hanya bisa
belok ke kiri menikung ke kanan dengan harapan bisa meninggalkan Ai
Thian-hok makin jauh.
Siapa tahu deruan angin tajam yang
ditimbulkan Ai Thian-hok dari ke dua lengan bajunya masih menderu
disamping telinga, jangan dilihat tanah tebing itu curam, licin dan
terjal, ternyata dia sanggup melaluinya jauh lebih cekatan daripada
orangyang bermata normal.
Tanpa terasa ke dua orang itu semakin dalam
menembusi tanah pegunungan itu, kini mereka sudah mencapai pinggang
gunung.
Posisi Thiat Tiong-tong sekarang ibarat
menunggang di punggung harimau, hatinya makin gelisah bercampur
cemas, setelah melewati sebuah tikungan terjal tibalah dia disebuah
tanah yang dikelilingi tebing tinggi, tempat itu mirip sekali dengan
sebuah jalan buntu.
"Mati akui" keluhnya didalam hati. Tapi dia
tidak bisa berhenti begitu saja, betul juga ternyata ia telah tiba
disebuah lembah yang sekelilingnya penuh dtumbuhi pepohonan.
Dibalik pepohonan yang rimbun tampak berdiri
tiga buah bangunan rumah, didepan bangunan itu terpampang sebuah
papan nama, hanya sayang Thiat Tiong-tong tidak punya waktu untuk
meneliti tulisan tersebut.
Bau harum daging rebus yang menusuk hidung
mengepul keluar dari balik bangunan rumah itu, tampaknya ada
seseorang melongokkan kepalanya dari balik jendela dan mengamati
Thiat Tiong-tong beberapa kejap.
Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan
nyaring ber kumandang keluar dari balik ruangan, begitu nyaring
bentakan itu membuat sepasang telinga Thiat Tiong-tong mendengung
keras.
Menyusul kemudian pintu rumah dibuka orang
dan muncullah seorang lelaki tinggi besar, gemuk penuh lemak,
berambut panjang dan mengenakan baju pendeta yang sudah penuh noda
minyak, celananya digulung tinggi-tinggi hingga nampak kakinya yang
penuh berbulu.
"Berhenti!" bentaknya sambil melotot besar
ke arah anak muda itu.
Dari suara bentakan yang begitu bertenaga,
Thiat Tiong-tong tahu kalau orang ini pasti memiliki kungfu yang
hebat, tapi dia tidak bisa menduga asal-usul orang itu apalagi
melihat dandanannya yang setengah padri setengah orang awam.
Dalam hati dia berkeluh, dari belakang
muncul Ai Thian-hok yang menempel terus secara ketat sementara
dihadapannya muncul seorang makhluk aneh yang menakutkan.
Berada dalam keadaan begini dia tidak berani
banyak urusan, cepat tubuhnya berputar dan melintas lewat dari
sisinya.
Siapa tahu orang itu lagi-lagi mendelik
lebar, tubuhnya yang gemuk bergerak cepat dan kembali dia sudah
menghadang jalan lewat Thiat Tiong-tong, ternyata gerakan tubuhnya
cepat bagaikan hembusan angin.
Posisi Thiat Tiong-tong saat ini benar-benar
amat kritis, didepan menjumpai penghadang sementara dibelakang
menghadapi musuh yang mengejar.
Pemuda itu segera merasa, walaupun orang
yang berada dihadapannya berdiri dengan mata melotot, namun sama
sekali tidak menunjukkan sikap marah, maka buru-buru serunya sambil
menjura:
"Tolong, berilah jalan lewat!"
Kembali dia bergeser ke samping dan siap
melintas dari sisi tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar manusia aneh itu
berteriak keras sambil tertawa terbahak bahak:
"Hahahahaha...... anak muda, kau betul-betul
tidak becus, masa karena tidak sanggup melawan orang lantas sipat
telinga kabur terbirit-birit!"
Sementara dia berbicara, Thiat Tiong-tong
sudah mencoba menerobos ke kiri dan ke kanan sebanyak tiga kali,
tapi ilmu meringankan tubuh yang dimiliki manusia aneh ini
betul-betul sudah mencapai puncak kesempurnaan, biar ke mana pun
anak muda itu menerobos, dia selalu dapat menghalanginya secara
tepat.
Dalam pada itu Ai Thian-hok telah tiba juga
ditempat kejadian, tapi dia hanya berdiri jauh dari ke dua orang
itu, berdiri lebih kurang sepuluh meter dari sang pemuda, katanya
dingin:
"Biarkan dia lewat!"
"Aneh" gumam manusia aneh itu keheranan,
"kau tidak mampu mengejarnya sementara aku telah membantumu
menghalangi jalan perginya, masa sekarang kau malah suruh aku
membebaskannya lagi? Memangnya kalian sedang bermain petak umpat?
Hahahaha.... bagus, bagus sekali, kalau memang sedang bermain petak
umpat, bagaimana kalau aku ikut ambil bagian?"
Habis berkata kembali dia tertawa terbahak
bahak.
Tingkah pola orang aneh itu sungguh membuat
Thiat Tiong-tong kheki bercampur geli, pikirnya:
"Jangan-jangan aku bertemu orang sinting?"
Maka sembari menjura katanya lantang:
"Kenapa kau halangi jalan pergiku?"
"Kenapa kau mesti kabur?"
"Aku melarikan diri atau tidak, apa sangkut
pautnya denganmu?" tanya Thiat Tiong-tong tertegun.
Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak.
"Selama hidup pinceng paling tidak betah
melihat orang melarikan diri, siapa suruh kau kabur ke sini? Anggap
saja memang lagi apes!"
"Darimana kau tahu kalau aku sedang kabur?"
Manusia aneh itu tertegun, kemudian sahutnya
sambil tertawa:
"Aaah! Betul, betul, darimana pinceng tahu
kalau kau sedang kabur? Siapa tahu kalian memang sedang bermain
petak umpet? Kalau bukan begitu,masa diapun minta aku
membebaskanmu?"
Dia berpaling dan memandang sekejap wajah Ai
Thian hok yang dingin, kaku, penuh diliputi hawa napmi membunuh,
tidak tahan tanyanya lagi:
"Hey, kenapa kau mengejarnya terus,
sebetulnya untuk apa?"
"Untuk mencabut nyawanya!" jawab Ai
Thian-hok dingin.
Tiba-tiba dia merangsek maju ke depan, ujung
bajunya dikebaskan berulang kali mengancam tiga bilah jalan darah
penting di dadanya, kembali hardiknya:
"Kau mau bebaskan dia atau tidak?"
"Aneh, betul-betul sangat aneh........"
gumam manusia aneh itu lagi sambil mengegos ke samping.
Sebenarnya dia sama sekali tidak pandang
sebelah matapun terhadap kemampuan orang, siapa nangka ilmu menotok
jalan darah yang dimiliki Ai Thian-hok benar-benar sangat hebat,
begitu serangan dilancarkan, gerakan demi gerakan saling menyusul.
Kendatipun manusia aneh ini memiliki kungfu
yang hebat, tak urung dibuat kelabakan juga, selain repot
menghindarkan diri, kata berikutpun tidak sanggup lagi dilanjutkan.
Sambil melancarkan seangkaian ancaman maut,
terdengar Ai Thian-hok berteriak keras:
"Thiat Tiong-tong! Kenapa kau masih belum
kabur?"
"Aduh celaka!" pekik Thiat Tiong-tong
didalam hati, kini Ai Thian-hok sudah mengenali suaranya, berarti
persoalannya tidak mungkin bisa diselesaikan dengan begitu saja.
Dalam pikiran yang kalut dia siap bergerak
melarikan diri dari situ.
Tiba-tiba manusia aneh itu membentak
nyaring, sepasang lengannya direntangkan ke kedua sisi, tangan
kirinya mencengkeram bahu Thiat Tiong-tong sementara tangan kanannya
bergerak secara berantai menerobos masuk ke balik bayangan lengan
baju Ai Thian-hok.
Melihat gerak serangan yang digunakan amat
sederhana dan bersahaja, Thiat Tiong-tong sangka dengan mudah dia
bisa menerobos lewat, sementara tangan kirinya menangkis, tubuhnya
melanjutkan terobosannya ke depan.
Siapa sangka diantara berkelebatnya bayangan
tangan, entah dengan cara apa, mendadak jari tangan manusia aneh itu
sudah menempel diatas bahunya.
Dalam terkejut bercampur ngerinya Thiat
Tiong-tong mundur ke belakang sejauh empat meter lebih, lamat-lamat
dia merasa bahunya agak sakit.
"Sreeet.....!" lagi lagi terdengar suara
kain robek, kali ini lengan baju milik Ai Thian-hok yang tersambar
hingga sobek.
Dengan perasaan terkesiap Ai Thian-hok
berjumpalitan di tengah udara dan melayang turun tiga meter dari
sisi tubuh anak muda itu.
Mereka berdua beranggapan kungfu yang
dimilikinya sudah amat hebat dan sempurna, tapi mereka tidak
menyangka kalau dikolong langit ternyata terdapat jurus serangan
yang demikian aneh sehingga satu gebrakan pun tidak sanggup mereka
hadapi.
Khususnya bagi Ai Thian-hok, sudah banyak
tahun dia menjelajahi dunia persilatan, dengan mengandalkan sepasang
lengan bajunya entah berapa banyak jago pernah dihadapi, dan selama
ini belum pernah ada yang mampu bertanding seru melawannya.
Tapi sekarang, cukup hanya dalam satu
gebrakan manusia aneh itu berhasil merobek lengan bajunya, kenyataan
ini selain membuat-nya terkesiap, diapun merasa amat sedih.
Lama setelah termenung akhirnya dia menghela
napas sedih sambil bergumam:
"Kungfu yang hebat!"
"Jangan kau ambil perduli kungfuku hebat
atau tidak, pinceng ingin tahu saja, kenapa kau ingin mencabut
nyawanya, kenapa kau minta pula kepadaku untuk membiarkan dia
kabur?"
Dengan gusar Ai Thian-hok menjawab:
"Selama hidup aku orang she-Ai........."
Sebetulnya dia ingin bilang kalau selama
hidup tidak suka orang lain menolongnya, tapi secara tiba-tiba
teringat pula kalau kungfu yang dimiliki orang Itu jauh diatas
kemampuannya, buat apa pula dia sok jagoan dihadapannya?
Berpikir sampai disitu diapun menutup
kembali mulutnya dan menghela napas panjang.
"Hei, kenapa hanya bicara separuh?" tegur
orang aneh itu gelisah, "kenapa tidak kau lanjutkan perkataanmu?"
Sambil tertawa getir Ai Thian-hok siap
membalikkan tubuh untuk berlalu dari situ.
Buru-buru manusia aneh itu goyangkan
tangannya seraya berseru:
"Tunggu dulu, tunggu dulu, kau mengejarnya
dan dia melarikan diri, kemudian aku menghadang jalan larinya
sementara kaupun paksa aku untuk membiarkan dia kabur, sebenarnya
kenapa kau mengejarnya? Dan kenapa pula kau mesti melarikan diri?"
Jelas pertanyaan terakhir ditujukan kepada
Thiat Tiong-tong.
Sambil tertawa getir sahut Thiat Tiong-tong:
"Aku kabur lantaran ingin menyelamatkan
jiwanya!l"
Seandainya bukan lantaran Ai Thian-hok sudah
mengenali suaranya, tidak mungkin dia aka mengucapkan perkataan
tersebut, tapi sekarang mau tidak mau dia harus berbuat begitu,
sebab kalau tidak, kemungkinan besar antara mereka berdua akan
terikat dendam sakit hati yang berkepanjangan.
Paras muka Ai Thian-hok berubah hebat
seketika dia menghentikan langkahnya seray membalikkan tubuh.
Sambil membenahi rambutnya yang kacau,
manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak:
"Hahahaha.....kau kabur lantaran ingin
menolongnya? Hahahaha ..... ungguh satu kejadian yang aneh, belum
pernah kujumpai peristiwa semacam ini"
Tiba-tiba sambil menarik wajahnya dia
melanjutkan:
"Hari ini, bila kalian berdua tidak
menerangkan kejadian ini dengan sejelas-jelasnya, jangan harap bisa
kabur dengan begitu saja dari sini"
Kontan Ai Thian-hok naik pitam, tegurnya:
"Memangnya kau anggap dengan andalkan
kemampuanmu, lantas kau boleh mencampuri urusan orang lain dengan
seenaknya........"
Mendadak ia teringat kalau kungfu orang itu
memang luar biasa hebatnya, maka setelah menghela napas cepat dia
tutup mulut.
Perlu diketahui, walaupun wataknya angkuh
dan nyentrik namun semakin nyentrik seseorang, biasanya dia makin
suka berterus terang, kalau menang akan bilang menang, kalau kalah
pun akan mengakui kekalahan, orang semacam ini tidak nanti akan
tebalkan muka dengan berjaga gengsi.
Karena sangat bisa menerima kenyataan, maka
kendatipun hawa amarah masih membara dalam dadanya, terpaksa dia
harus menahan diri.
Manusia aneh itu berpaling dan memandangnya
sekejap, kembali dia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha..... apakah kalian berdua merasa
amat tersiksa dan tidak berani bicara banyak lantaran kungfu yang
pinceng miliki kelewat tangguh?"
Thiat Tiong-tong segera berpaling ke arah Ai
Thian-hok, dalam dugaannya tidak mungkin orang itu akan mengakuinya.
Siapa tahu Ai Thian-hok dengan lantang
segera mengakui:
"Benar!"
Seketika Thiat Tiong-tong tertegun, tanpa
terasa timbul perasaan kagum dihati kecilnya:
"Nah, beginilah gaya seorang lelaki sejati,
tidak malu dia menjadi seorang pendekar hebat!"
Terdengar manusia aneh itu tertawa tergelak.
"Sebetulnya kalian berdua tidak usah
bersedih hati, sebab kungfu sehebat tadi hanya pinceng kuasai dua
tiga jurus belaka, itupun dapat belajar dari mencuri!"
Ai Thian-hok termenung berapa saat lamanya,
kemudian menjawab:
"Biar cuma dua tiga jurus, sebetulnya sudah
lebih dari cukup, siapa lagi manusia di dunia ini yang mampu
menghadapinya!"
"Betul!" sambung Thiat Tiong-tong pula
sambil menghela napas.
Dia telah membayangkan kungfu dari jago-jago
persilatan yang pernah dijumpainya selama ini, dan rasanya
memang tidak seorangpun sanggup menghindarkan diri
dari jurus serangan aneh itu. Manusia aneh itu segera tertawa
tergelak.
"Hahahaha.......padahal banyak sekali jagoan
di kolong langit yang sanggup mengungguli pinceng, malah ada tiga
sampai lima orang yang mampu merobohkan aku hanya dalam satu
gebrakan"
"Sungguh?" seru Ai Thian-hok dengan wajah
berubah.
"Buat apa pinceng berbohong?" "Tapi menurut
apa yang kudengar, jagoan nomor wahid di kolong langit...."
"Menurut apa yang kau ketahui, ada berapa
banyak jagoan kelas satu?" tukas manusia aneh itu.
Setelah termenung sejenak sahut Ai
Thian-hok:
"Tujuh partai besar dunia persilatan sudah
memiliki sejarah yang panjang, kendatipun ciangbunjin dari ke tujuh
partai sudah lama menutup diri, namun mereka semua terhitung jagoan
kelas satu dalam dunia persilatan"
"Betul, masih ada yang lain?"
"Lu Ji-long dari Kwan-gwa, meski tidak
pernah masuk perbatasan namun nama pendekarnya sudah lama
menghebohkan dunia persilatan, kemudian keluarga Su dari Thay-gwan,
Cu bu kiam dari Kanglam, Giok Na-cha dari Siong-yang, Tham It-lui
dari Ho pan. Meski kungfu ke empat partai ini lebih mengutamakan
tehnik, namun kepiawian mereka sangat luar biasa. Jika ilmu silat
Giok-Nacha dari Siong-yang lebih mengutamakan kelincahan serta
kecepatan berganti jurus, maka keluarga Tham dari Ho-pan lebih
mengutamakan ilmu tendangan, mereka mendapat julukan 'Seutas cambuk
dari Sin-kui, mengungguli dewa hidup', kehebatannya tidak
terbantahkan!"
"Betul. Beberapa orang itu memang patut
disebut jagoan kelas satu!"
"Ilmu Pat-ki-si dari perguruan Lak-hap di
An-hui, ilmu pukulan mayat hidup keluarga Yan dari Seng-ciu, ilmu
pedang Hui hong Wu liu kiam dari bukit Pa-san semuanya memiliki
kelebihan yang tidak boleh dianggap enteng" sambung Ai Thian-hok
lebih lanjut.
Biarpun dihari biasa dia jarang bicara, tapi
begitu menyinggung masalah ilmu silat, ternyata pengetahuannya yang
sangat luas.
Kembali lanjutnya setelah menarik napas
panjang:
"Selain itu masih ada lagi Thiat hiat dari
Perguruan Tay ki bun yang paling misterius jejaknya dan paling ganas
ilmu pukulannya, anak murid mereka pun rata-rata memiliki kungfu
yang hebat!"
Mendengar orang itu menyinggung soal
perguruannya, tanpa terasa Thiat Tiong-tong merasakan semangatnya
berkobar kembali.
"Betul" terdengar manusia aneh itu menghela
napas panjang, "Thiat hiat Tay ki bun memang sempat menghebohkan
dunia persilatan, bahkan tiada tandingan dikolong langit, tapi
sayang........"
"Tapi sayang apa?" tanpa terasa Thiat
Tiong-tong bertanya.
Manusia aneh itu meliriknya sekejap,
kemudian baru melanjutkan:
"Tapi sayang ilmu silat Perguruan Tay ki bun
sudah banyak yang punah, kungfu yang dimiliki anak muridnya sekarang
paling banter hanya satu dua persen dibandingkan para cianpwee nya
dulu"
Tergerak hati Thiat Tiong-tong setelah
mendengar perkataan itu, tapi sebelum ia sempat berbicara, Ai
Thian-hok sudah berkata duluan:
"Walaupun ilmu silat dari Perguruan Tay ki
bun cukup tangguh, namun ilmu silat dari Ngo hok lian huan, lima
keluarga turun temurun yang bermusuhan dengan mereka pun terhitung
sangat hebat, ilmu pukulan tenaga yin dari Leng It-hong khusus
diciptakan untuk menghadapi ciangbunjin dari Perguruan Tay ki bun,
akibatnya jarang sekali dia menampilkan kungfu simpanannya itu. Hek
Seng-thian dan Pek Seng-bu merupakan pasangan kerjasama yang hebat,
lalu siang-seng-piau-ki boleh dibilang juga jarang ada yang
menandingi kehebatannya"
"Hmm, kalau main keroyok apa hebatnya? Biar
menangpun tidak gagah" dengus orang aneh itu.
Ai Thian-hok tidak menanggapi, ujarnya lebih
jauh:
"Kalau berbicara soal senjata rahasia,
peluru api dari Bi lek tong maupun jarum Thian li ciam milik Seng
Toa-nio terhitung jagoan nomor wahid dalam dunia persilatan"
"Cari kemenangan dengan andalkan amgi? itu
lebih parah!"
"Seng Toa-nio memang termashur, namun kalah
jauh bila dibandingkan putranya, Seng Cun-hau, putranya ini
merupakan salah satu anggota dalam deretan kelompok Jay hong kun
kiam (kelompok pedang pelangi), dia menjadi tenar berbareng
dengan Ang-eng (elang merah), Bi-gwat (rembulan hijau), Mo-liong
(naga hitam), Lan-hong (angin biru), Ui-koan (mahkota kuning) dan
Cui-yan (walet hijau pupus), walaupun ke tujuh orang ini usianya
rata-rata masih muda, tenaga dalamnya masih terbatas, namun ilmu
pedangnya cukup meyakinkan, asal ditempa berapa saat lagi, tidak
sulit bagi mereka untuk menjadi jago kenamaan"
"Betul" manusia aneh itu manggut manggut,
"analisamu memang sangat tepat, masih ada yang lain?"
Thiat Tiong-tong yang berada disamping tidak
bisa menahan diri lagi, selanya:
"Kiu cu Kui bo beserta murid muridnya
memiliki kungfu yang hebat, namanya termasuk dalam deretan nomor
wahid dan boleh dibilang merupakan jagoan tangguh saat ini, kenapa
kau lupa menyinggungnya?"
"Betul, betul" seru manusia aneh itu sambil
bertepuk tangan, "pada tiga puluh tahun berselang, ilmu silat yang
dimiliki Yin Gi sudah terhitung hebat, aku percaya tiga puluh tahun
kemudian kungfunya pasti jauh lebih maju"
"Siapa itu Yin Gi?" tanya Thiat Tiong-tong
tercengang.
Ternyata meski nama besar Kiu cu Kui bo
termashur dalam dunia persilatan, namun nama aslinya Yin Gi jarang
diketahui orang, bagaimana Ai Thian-hok tidak kaget setelah
mendengar manusia aneh itu mampu menyebut nama gurunya secara tepat?
Terdengar manusia aneh itu tertawa terkekeh
kekeh.
"Ooh rupanya kau murid Kui bo? Biarpun
pinceng tahu namanya tapi tidak kenal dengan orangnya!"
Dari senyuman orang yang kelewat dipaksakan,
lalu mendengar manusia aneh itu buru-buru melamur, Thiat Tiong-tong
tahu dibalik kesemuanya itu pasti ada teka teki yang tidak beres.
Tampaknya Ai Thian-hok pun tidak bisa
menebak rahasia dibalik manusia aneh itu, setelah termenung sejenak
ujarnya:
"Aku rasa tidak ada jagoan lagi dalam dunia
persilatan yang lebih tangguh ketimbang nama-nama tadi"
"Hahahaha...... menurut pendapatmu
bagaimana dengan kungfu yang pinceng miliki?" tiba-tiba manusia
aneh itu bertanya sambil tertawa tergelak.
Ai Thian-hok menghela napas panjang.
"Kecuali ketujuh ciangbunjin dari tujuh
partai besar serta guruku yang memiliki ilmu silat sangat hebat,
mungkin kemampuanmu pun susah dicarikan tandingannya dalam dunia
persilatan"
"Hahahaha..... terima kasih, terima
kasih......" seru manusia aneh itu tertawa tergelak.
Tiba tiba dia berhenti tertawa, dengan
serius lanjutnya:
"Tapi kami semua tidak akan mampu menandingi
sebuah ujung jari saja milik seseorang!"
"Siapa dia?" tanya Ai Thian-hok terperanjat.
Sebelum manusia aneh itu menjawab, mendadak
Thiat Tiong-tong menyela:
"Ruyung guntur merontokkan bintang dan
hujan, peluru angin memutuskan sukma, thaysu, kau pernah mendengar
ucapan ini?"
Berubah paras muka manusia aneh itu, serunya
sambil menatap tajam wajah anak muda itu:
"Kau kenal dengan mereka berdua?"
Dari perubahan mimik muka manusia aneh itu,
Thiat Tiong-tong dapat menduga kalau ke dua orang yang disebut pasti
memiliki asal-usul yang luar biasa, tidak tahan diapun menghela
napas panjang.
"Cayhe sendiripun hanya sempat mendengar
nama itu dari cerita orang"
"Kau ingin tahu soal ke dua orang itu?"
"Kalau thaysu bersedia menerangkan, tentu
saja cayhe siap mendengarkan"
Manusia aneh itu berpikir sebentar, kemudian
ujarnya:
"Kalau ingin mendengar kisahnya, ayoh ikut
aku masuk ke dalam"
Selesai bicara diapun beranjak menuju ke ke
tiga rumah pondokan itu.
Tanpa terasa Thiat Tiong-tong dan Ai
Thian-hok mengikuti dari belakang.
Sekarang Thiat Tiong-tong baru dapat melihat
dengan jelas tulisan yang tertera diatas papan nama ilu:
"Kuil siau-lim-sie kecil"
Melihat tulisan ini anak muda tersebut
kontan merasa terkejut, keheranan bercampur geli, pikirnya nambil
tertawa getir:
"Aneh betul manusia ini, masa ke tiga rumah
pondokannya juga disebut Kuil Siau-lim-sie kecil, entah bagaimana
reaksi para pendeta Siau-lim jika membaca tulisan itu?"
Tapi pikiran lain segera melintas, mendadak
tningat olehnya kalau tempat itu letaknya di belakang bukit
Siong-san, jaraknya dengan kuil Siau-lim-sie tidak terlampau jauh,
kalau dilihat dari keberanian manusia aneh ini mencantumkan nama
tersebut, bisa diduga kalau kemungkinan besar dia mempunyai hubungan
yang akrab dengan kuil tersebut.
Ruangan di bangunan tengah cukup besar dan
luas, tapi sayang acak-acakan, semua barang nyaris ditumpuk menjadi
satu, dari buku, pedang, catur, khiem sampai sumpit, mangkuk, kuali,
semuanya berada di satu tempat yang sama.
Disudut sebelah kiri terdapat rak kayu
tempat buku, didalam rak itu berjajar berapa jilid kitab sementara
diatas rak terpampang tulisan besar yang berbunyi:
"Cong keng khek" (ruang penyimpan kitab).
Disamping rak buku itu tergeletak berapa
batang golok dan pedang yang dianggapnya sebagai ruang Lohan.
Diruang bagian tengah terdapat sebuah meja
bobrok, diatas meja terletak sepasang lampu minyak, sedang dibagian
tengahnya terpampang tulisan "Toa hiong po tien".
Sementara disudut kanan ruangan terdapat
sebuah anglo kecil, diatas anglo terdapat kuali yang mengepulkan uap
panas, bau harum semerbak memancar keluar dari kuali itu, rupanya
disitulah letak dapur.
Menyaksikan kesemuanya itu Thiat Tiong-tong
merasa heran, kaget bercampur geli, hampir semua ruangan yang ada di
kuil Siau-lim, terdapat pula disitu, hanya saja bukan cuma kadarnya
yang begitu rendah, pada hakekatnya bikin orang merasa geli saja.
Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak,
katanya:
"Tempo hari, setelah pinceng diusir dari
perguruan maka akupun membangun kui Siau lim-sie kecil-kecilan
disini sebagai pertanda protes, bagaimana menurut pendapatmu?"
Thiat Tiong-tong hanya bisa mengiakan,
karena dia memang tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaanku.
Mendadak dengan wajah serius manusia aneh
itu berkata lagi:
"Kalian harus tahu, kendatipun pinceng makan
daging minum arak, namun Buddha tetap berada dalam hatiku, selama
Buddha masih berada dalam hatiku, maka apa salahnya bila kupandang
tempat ini sebagai kuil Siau-lim-sie kecil-kecilan?"
Dari kata gurauan, Thiat Tiong-tong dapat
menangkap makna lain dari perkataannya itu, maka sahutnya sambil
tertawa:
"Perkataan thaysu betul juga, Bodhi bukan
terletak pada pohonnya melainkan rasa percaya dihati, jika kita mau
bersungguh hati maka semuanya pasti bermakna"
"Bagus, bagus sekali, pandangan yang
tepat.." manusia aneh itu segera bertepuk tangan sambil tertawa.
"Boleh tahu siapa saja yang menurut thaysu
betul-betul tokoh silat yang luar biasa itu?"
"Boleh saja bila kau berharap pinceng
menceritakan kisah besar ini, cuma kalianpun mesti jelaskan dulu
peristiwa yang sedang kalian berdua lakukan, kalau tidak pinceng
betul-betul bisa mati karena sesak napas"
Thiat Tiong-tong tahu watak orang ini selain
aneh, rasa ingin tahunya juga sangat besar, terpaksa diapun menghela
napas panjang, katanya:
"Sebenarnya antara aku dengan Ai thayhiap
tidak ada dendam sakit hati atau permusuhan apapun, hanya
saja........"
Secara ringkas diapun menceritakan apa yang
sebenarnya telah terjadi.
Kendatipun penjelasan itu seolah ditujukan
kepada manusia aneh itu, padahal yang benar dia ingin memberi
penjelasan kepada Ai Thian-hok, agar orang itupun mengetahui
kejadian yang sesungguhnya.
Didalam ruangan itu hanya terdapat sebuah
bangku bobrok, itupun sudah ditempati manusia aneh itu, terpaksa
Thiat Tiong-tong harus berbicara sambil berjalan mondar-mandir,
diam-diam diapun mengawasi perubahan wajah dari Ai Thian-hok.
Ketika menyaksikan paras muka Ai Thian-hok
berubah jadi sedih, seakan sudah merasa tenteram dan dingin
perasaannya, sama sekali enggan mencari gara-gara lagi, diam-diam
pemuda itu merasa kegirangan.
Tiba-tiba terdengar manusia aneh itu
membentak nyaring, tubuhnya melompat bangun dari atas bangku lalu
menubruk ke arah Thiat Tiong-tong sambil merentangkan sepasang
lengannya.
Dengan perasaan kaget bercampur terkesiap,
buru-buru anak muda itu mundur sejauh tiga langkah.
Terdengar manusia aneh itu berkata dengan
nada berat:
"Kalian boleh berkeliaran ke mana pun dalam
kuil Siau-lim-sie kecil ini, tapi jangan sekali-kali kalian sentuh
pintu ke ruangan tersebut"
Rupanya sewaktu berjalan mondar mandir tadi,
tanpa disadari Thiat Tiong-tong telah bersandar disebuah pintu yang
ada disisi kiri.
Mendengar peringatan itu, dengan perasaan
heran anak muda itu berpikir:
"Apa anehnya dengan ruangan ini?"
Tapi dia memang sudah terbiasa pandai
mengendalikan diri, walaupun wajahnya sama sekali tidak berubah,
sambil melanjutkan penuturannya diam diam dia mulai awasi pintu
sempit itu dengan lebih seksama.
Pintu itu tertutup rapat dan sama sekali
tidak ada celahnya sehingga tidak nampak apa isinya, hingga dia
selesai bercerita pun pemuda itu tetap tidak berhasil menemukan
apa-apa.
Waktu itu si manusia aneh tadi sudah balik
dan duduk kembali di bangkunya, sambil mengipasi anglo kecilnya
kembali dia berkata sambil tertawa keras:
"Beruntung kalian berdua tiba disini, kalau
sampai bertarung habis-habisan, bukankah kejadian ini malah akan
meninggalkan rasa penyesalan?"
Paras muka Ai Thian-hok masih tetap tanpa
perasaan, dia tidak menanggapi perkataan itu, hanya tanyanya dengan
nada dingin:
"Siapa saja yang menjagoi dunia persilatan
selama ini?"
"Ruyung guntur merontokkan bintang dan
hujan, peluru angin memutuskan sukma.........." gumam manusia aneh
itu sambil memejamkan matanya.
Mendadak dia membuka matanya kembali dan
melanjutkan:
"Hek Seng-thian, Pek Seng-bu maupun Bi gwat
kiam khek sudah menjadi jagoan tenar dikolong langit saat ini,
tahukah kalian berdua siapa guru mereka semua?"
Thiat Tiong-tong ingin memberi kesempatan
kepada Ai Thian-hok untuk berbicara, sebab dia tahu kalau banyak
bicara maka ke inginannya untuk tetap hidup akan semakin
tumbuh, oleh sebab itu meski dia tahu jawabannya namun tetap tutup
mulut.
Benar saja, Ai Thian-hok segera menjawab:
"Walaupun Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu
mengaku kalau kungfu mereka berasal dari warisan keluarga, padahal
yang benar mereka mempelajari ilmu silatnya dari Kok thian seng,
seorang begal budiman yang tersohor namanya dimasa lalu!”
"Betul, walaupun Kok Thian-seng memiliki
kungfu yang sangat hebat, sayang nama dan pamornya kurang sedap,
itulah sebabnya Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu enggan mengaku
sebagai muridnya!"
"Aku dengar Bi gwat kiam-khek selain
berwajah cantik, hatinya telengas, orang ini berasal dari aliran
lurus, hanya sayang memiliki watak yang tidak berbeda dengan
gurunya, Gwat-hoa Siancu!"
"Betul sekali, tidak nyana kau sangat
menguasahi kejadian-kejadian lama. Tapi tahu-kah kau bagaimana nasib
selanjutnya dari Kok thian-seng serta Gwat-hoa siancu?"
"Kedua orang ini satu hidup di selatan yang
lain hidup di utara, boleh dibilang saat itu tiada tandingannya,
tapi justru disaat nama mereka terorbit hingga puncaknya, tiba-tiba
kabar beritanya hilang lenyap tidak berbekas, oleh sebab itu Hek
Seng-thian, Pek Seng-bu serta Bi-gwat kiam-khek hanya sempat
mempelajari tiga puluh persen kemampuan guru-gurunya, banyak berita
dan dugaan yang kemudian muncul dan beredar dalam dunia persilatan
karena hilangnya ke dua tokoh ini, ada yang bilang mereka berdua
telah pulang ke langit barat........."
Setelah merandek sejenak dan termangu,
dengan wajah agak berubah gumam Ai Thian-hok lebih jauh:
"Ruyung guntur merontokkan bintang dan
hujan, peluru angin memutuskan sukma.........."
Manusia aneh itu ikut menghela napas.
"Itulah dia, kejadian yang benar adalah Kok
Thian-seng serta Gwat-hoa siancu telah dipecundangi oleh si Ruyung
guntur dan Peluru angin, meski tidak jelas bagaimana nasibnya, namun
aku duga lebih banyak bahayanya ketimbang selamat!"
Thiat Tiong-tong merasa tercekat hatinya,
dia tahu Kok thian-seng dan Gwat-hoa siancu adalah jago-jago yang
tanpa tandingan selama puluhan tahun, tidak disangka ternyata mereka
telah dikalahkan orang.
Sebagaimana diketahui, Hek Seng-thian, Pek
Seng-bu serta Bi-gwat kiam-khek yang baru menguasahi tiga bagian
kungfu gurunya saja sudah dapat menjagoi kolong langit, bisa
dibayangkan betapa lihaynya Kok Thian-seng dan Gwat-hoa siancu itu.
Agak berubah juga paras muka Ai Thian-hok,
lewat sesaat kemudian dia baru berkata lagi:
"Heran, kenapa cayhe tidak pernah dengar
orang membicarakan soal si Ruyung guntur dan Peluru angin?"
Manusia aneh itu menghela napas panjang.
"Kalau Kui-bo saja enggan menyinggung nama
busuk ke dua orang malaikat buas itu, mana berani orang lain
membicarakannya?"
Berubah hebat paras muka Ai Thian-hok, dia
segera membungkam diri dalam seribu bahasa.
Thiat Tiong-tong pun merasakan hatinya
terkesiap, pikirnya:
"Jika Seng Toa-nio sampai bisa mengundang ke
dua orang itu untuk menghadapi Perguruan Tay ki bun, bukankah nasib
kami semua bakal habis secara tragis?"
Dalam pada itu si orang aneh itu sudah
membuka penutup kualinya untuk memeriksa apakah masakannya sudah
matang, kemudian ujarnya pula:
"Biarpun ilmu silat yang dimiliki Ruyung
guntur dan Peluru angin sangat hebat, namun mereka pun amat takut
terhadap seseorang"
"Siapa dia?" tanya Ai Thian-hok dengan tubuh
tergetar.
Manusia aneh itu tidak menjawab, hanya
gumamnya:
"Bila kau bergerak, hujan angin bagai langit
gelap, guntur kilat jalan beriring. Bila kau tenang, langit cerah
bagai cermin, bintang bersinar rembulan bercahaya!"
"Apa maksud perkataanmu itu?" tanya Ai
Thian-hok melongo.
Manusia aneh itu seolah tidak mendengar,
dengan mata terpejam gumamnyalebih jauh:
"Ombak samudra serasa suram, bukit dan
pepohonan serasa tidak berwarna, sebagai pimpinan dari semua
kehidupan, kepentingan umum harus diutamakan!"
Tiba-tiba dia membuka matanya kembali,
dengan sorot mata setajam bintang malam tanyanya:
"Kau pernah mendengar pantun dari Bi lok
bu?"
"Apa hubungannya Bi lok-bu dengan jago jago
hebat dalam dunia persilatan?" batin Ai Thian-hok.
Manusia aneh itu tertawa tergelak, katanya:
"Justru isi dari Bi lok-bu menceritakan
berapa tokoh aneh dalam dunia persilatan, makna yang terkandung
dalam setiap patah katanya memang susah untuk diterangkan secara
ringkas"
Thiat Tiong-tong maupun Ai Thian-hok meski
merupakan jago silat yang pandai mengendalikan emosi dan jalan
pikirannya, tidak urung dibuat keheranan juga oleh ungkapan
tersebut, tanpa terasa dengan perasaan ingin tahu tanyanya:
"Makna apa? Siapa pula tokoh silat yang
dimaksud?"
Manusia aneh itu mengambil semangkuk daging
yang sudah matang dari kuali kemudian berkata:
"Pantun itu sebenarnya berisi pujian
terhadap keindahan alam jagad, tapi sejak puluhan tahun berselang
seseorang telah menggunakan potongan bait syait itu untuk melukiskan
beberapa orang tokoh silat, kata-kata tersebut adalah: tokoh silat
yang menghebohkan dunia jagad, semuanya terhimpun dalam Bi-lok-bu!"
Ketika mengendus bau harum semerbak dari
daging rebus itu, Thiat Tiong-tong serta Ai Thian-hok segera merasa
perutnya jadi lapar, tapi lantaran tuan rumah tidak mengundang
mereka untuk bersantap, tentu saja mereka tidak bisa mengambil
Hendiri hidangan yang ada.
Tampak manusia aneh itu bangkit berdiri,
sambil membawa mangkuk berisi daging katanya lagi sambil tertawa:
"Biar pinceng hantar dulu mangkuk berisi
daging ini kemudian baru kita lanjutkan pembicaraan"
Thiat Tiong-tong tertegun, meski ingin
mendengar secepatnya namun diapun tidak dapat berbuat apa-apa.
Perlahan-lahan dia berjalan menuju ke pintu
sempit itu, berjalan dengan sangat hati-hati, seolah kuatir kalau
kuah daging itu tumpah dari mangkuk, senyuman yang semula
menghiasi wajahnya kini sudah lenyap, mimik mukanya berubah jadi
sangat serius.
Thiat Tiong-tong semakin keheranan,
pikir-nya: "Entah siapa yang berada disitu? Kenapa sikap manusia
aneh itu jadi begitu hormat dan serius?" Ai Thian-hok tidak bisa
melihat, tapi dengan telinganya dia berusaha mendengarkan dengan
seksama.
Begitu tiba di depan pintu ruangan, mendadak
manusia aneh itu berbisik lirih:
"Meong.....meong....." ternyata dia
menirukan suara kucing.
Thiat Tiong-tong semakin keheranan,
pikir-nya:
"Masa dalam ruangan itu hanya berisi
kucing?"
Tampak manusia aneh itu dengan sangat
hati-hati mendorong pintu ruangan dan berjalan masuk, serunya sambil
tertawa:
"Kau........"
Mendadak terdengar jeritan kaget bergema
memecahkan keheningan disusul suara mangkuk yang pecah, terlihat
daging kuah itu berhamburan diatas tanah..
Disusul kemudian, "Blaaaam!" pintu ruangan
dibuka lebar.
Tanpa sadar Thiat Tiong-tong melongok ke
dalam, ternyata dibalik pintu merupakan sebuah ruangan kecil, biar
kecil namun peralatannya sangat lengkap, ada pembaringan, ada kaca
berhias, diatas ranjang bertumpuk pakaian, disisi cermin terlihat
sisir kayu wanita, bahkan diatas sisir masih tertinggal berapa helai
rambut.
Waktu itu orang aneh tersebut masih berdiri
disisi cermin dengan wajah terperanjat, tertegun dan melongo,
bagaikan orang yang tersambar petir saja.
Siapa yang menyangka didalam kuil
Siau-lim-sie kecil ternyata terdapat kamar tidur wanita, kenyataan
ini benar-benar membuat orang terkesima.
Tapi ruangan mungil itu dalam keadaan
kosong, tidak nampak bayangan manusia atau makhluk lainnya, kain
tirai yang bergoyang terhembus angin hanya membiaskan dinding
dibaliknya.
Dengan ketajaman mata Thiat Tiong-tong,
sekali pandang dia sudah tahu kalau dinding itu terbuat dari tembaga
hijau, hanya sebagai kamuflase maka diluarnya ditambah dengan
lapisan kapur dan tanah hingga orang yang tidak berpengalaman akan
menyangka ruangan itu hanya sebuah ruangan biasa.
Tapi siapa pun yang tersekap dalam ruangan
itu, jangan harap dia bisa lolos dengan mudah.
Dengan wajah kebingungan manusia aneh itu
celingukan kian kemari, gumamnya:
"Ke mana dia pergi, ke mana dia
pergi........"
Tiba-tiba dia menjumpai sebuah liang disudut
ruangan, liang itu menjorok jauh ke dalam tanah.
Sambil membentak dia segera menendang
ranjang itu hingga tersingkir, ternyata bawah ranjang sudah dipenuhi
dengan tumpukan tanah.
Tampaknya orang yang berada dalam ruangan
Itu telah menyusun rencana pelarian yang matang, secara diam-diam
dia telah menggali lorong bawah tanah, untuk menampung tanah bekas
galiannya maka dia sembunyikan dibawah kolong ranjang.
Thiat Tiong-tong hanya bisa berdiri melongo
dengan penuh tanda tanya.
Terdengar manusia aneh itu berteriak lagi:
"Dia telah pergi, dia....... bahkan
dia pun mengajak serta Ping-nu......."
Mendadak dia melompat kehadapan Thiat
Tiong-tong, mencengkeram bahunya dan pinta-nya: "Bila kau bersedia
membantuku, dikemudian hari aku pasti tidak akan melupakan
kebaikan-mu!"
"Katakan saja!" jawab pemuda itu tergagap.
"Dia telah melarikan diri, bakal terjadi
keonaran besar diluar sana, bagaimana pun pinceng harus membekuknya
kembali, untuk sementara tolong urusi tempatku ini!"
Dia tidak menunggu pemuda itu bersedia atau
tidak, begitu selesai bicara tubuhnya langsung menerobos masuk ke
dalam liang bawah tanah itu.
Menanti Thiat Tiong-tong menyusul ke sana,
bayangan tubuhnya sudah lenyap tidak berbekas.
Untuk sesaat Thiat Tiong-tong hanya bisa
berdiri tertegun dimuka lorong bawah tanah, dia tidak tahu apa yang
harus dilakukan.
Terdengar Ai Thian-hok berkata:
"Kini hatiku sudah sangat kecewa, ambisiku
telah padam dan aku tidak ingin kembali ke dunia keramaian, aku bisa
mewakilimu untuk merawat tempat ini, jika ingin pergi, pergilah!"
Thiat Tiong-tong tertawa pedih, dia
membalikkan tubuh sambil berjalan balik, bisiknya:
"Soal kejadian semalam........"
"Yang sudah lewat biarlah lewat, apa gunanya
dibicarakan lagi" tukas Ai Thian-hok cepat, "dengan kemampuan silat
yang kumiliki, andaikata diumpat si ruyung guntur atau peluru angin
pun aku tidak bisa berbuat apa kecuali menelan ludah!"
Thiat Tiong-tong tahu kalau jalan pikirannya
sudah terbuka, saat ini dia tidak tahu harus gembira atau terharu?
Belum sempat menjawab sesuatu, tiba-tiba dia
jumpai ada sepucuk surat tertindih dibawah meja hias, surat itu
tidak ditemukan manusia aneh itu karena saat tadi dia sedang panik
bercampur kaget.
Surat itu berbunyi begini:
"Akhirnya aku peroleh kebebasan, tidak
mungkin kau bisa temukan jejakku, matikan saja niatmu itu, kau
menderita lantaran aku, tapi semuanya itu atas keikhlasanmu sendiri,
rasain!
Tertanda: Yin Ping"
Walaupun surat itu ditujukan untuk manusia
aneh itu, tapi Thiat Tiong-tong tahu Ai Thian-hok pasti mengetahui
latar belakang dari semua kejadian itu, maka sewaktu menemukan surat
tadi dia sengaja membacanya agak keras.
Benar saja, paras muka Ai Thian-hok yang
semula tenang seketika berubah hebat setelah mendengar nama "Yin
Ping" disebut, jeritnya keras:
"Yin Ping, Yin Ping........ ternyata dia
berada disini!"
"Siapa itu Yin Ping?" pikir Thiat Tiong-tong
keheranan, satu ingatan melintas dalam benak-nya, segera teriaknya:
"Yin..... Yin Ping...... jangan jangan dia
ada hubungannya dengan gurumu....."
"Benar, Yin Ping adalah sam-moay guruku!"
jawab Ai Thian-hok perlahan, wajahnya yang semula dingin hambar,
segera terlintas perasaan ngeri, geram bercampur dendam.
Thiat Tiong-tong tahu orang ini aneh
watak-nya dan sudah terbiasa hidup menyendiri, dia menganggap
kematian sebagai sesuatu hal yang lumrah, tapi kenyataannya saat ini
dia justru menunjukkan rasa takut dan seram yang tebal, dibalik
kesemuanya itu jelas terdapat alasan tertentu.
Semakin dipikir dia merasa semakin
keheranan, ujarnya kemudian:
"Tidak aneh kalau manusia aneh itu
mengetahui nama asli Kiu cu Kui -bo, ternyata dia pun punya hubungan
dengan adiknya......."
Tiba-tiba dia mengalihkan pokok pembicaraa,
lanjutnya:
"Aku dengar gurumu punya tiga bersaudara,
dulu mereka tersohor karena kecantikan wajahnya bahkan selalu
mengembara bersama, kemu-dian kenapa masing-masing berjalan secara
terpisah?"
Ai Thian-hok hanya mendengus tanpa menjawab.
Thiat Tiong-tong tahu, dia pasti mengetahui
rahasia dibalik kejadian ini, maka dengan nada menyelidik katanya:
"Menurut berita yang tersiar dalam dunia
persilatan, katanya diantara tiga bersaudara keluarga Yin, adik ke
tiga dibilang tercantik tapi juga terkeji......"
Belum selesai dia berbicara, mendadak
terdengar suara seorang wanita yang halus lembut berkumandang datang
diiringi suara tertawanya yang merdu.
"Terima kasih atas pujianmu, tapi aku tidak
berani menerima semua pujian itu.....!"
Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang
manis dan merdu, jangankan lelaki lain, Thiat Tiong-tong yang
berhati baja dan susah tergoda pun tidak urung goyah juga perasaan
hatinya setelah mendengar ucapan tadi.
Dia celingukan kian kemari namun empat
penjuru sepi tidak nampak sesosok bayangan manusia pun, jangan lagi
sang pembicara, darimana asal suara itupun tidak ketahuan olehnya,
hal mana membuat Thiat Tiong-tong amat terperanjat, bahkan paras
muka Ai Thian-hok pun ikut berubah.
Kedua orang itu hanya bisa mengepal tinjunya
tanpa bersuara, ditengah keheningan yang mencekam itulah tiba-tiba
dari balik almari kayu kecil disisi meja rias berkumandang suara
Kemerutuk yang nyaring.
Kemudian diikuti pintu almari terbuka
perlahan, dan muncullah sebuah tangan yang halus lembut dengan jari
jemari yang panjang, lentik dan indah.
Thiat Tiong-tong tidak pernah menyangka
kalau didunia ini ternyata terdapat jari tangan sedemikian indahnya,
terlebih tidak mengira kalau dari balik sebuah almari kecil bisa
menerobos keluar tubuh seseorang, untuk sesaat dia hanya bisa
berdiri mematung saking kagetnya.
Pintu almari itu terbuka makin lebar, suara
lertawa yang bergema dari balik almari pun semakin menggetarkan
sukma.
Tiba-tiba terdengar Ai Thian-hok membentak
nyaring, secepat kilat dia menghadang dihadapan Thiat Tiong-tong dan
menghalangi pandangannya, kemudian dengan nada gemetar teriaknya:
"Cepat berpaling ke arah lain, jangan kau
pandang perempuan itu!"
Teriakan panik, kaget bercampur ngeri itu
belum pernah didengar Thiat Tiong-tong sebelumnya, untuk sesaat dia
hanya berdiri tertegun.
Menanti dia siap membalikkan tubuh,
terdengar perempuan yang berada dalam almari itu sudah berkata
sambil tertawa merdu:
"Keponakanku, kau tidak perlu takut, aku
sudah mengerudungi wajahku hingga meski terlihat pun juga tidak
menjadi masalah"
Ditengah pembicaraan, terendus bau harum
semerbak yang tebal dari balik almari.
Disusul kemudian, Thiat Tiong-tong hanya
merasakan matanya jadi kabur, tahu-tahu dalam ruangan telah
bertambah dengan seorang wanita cantik bergaun merah yang bertubuh
tinggi semampai, berpinggang ramping dan berambut disanggul tinggi.
Dia mengenakan kain kerudung merah
diwajahnya, meski tersamar namun masih dapat terlihat kecantikan
wajahnya yang menggiuran, kecantikan wanita ini sungguh mengejutkan
bagaikan menyaksikan sekuntum bunga indah yang muncul dari balik
kabut.
Kain cadar tipis itu membuat wajah cantiknya
nampak makin misterius, semakin memiliki daya tarik yang luar biasa,
membuat setiap orang tanpa sadar semakin ingin melihat, ingin tahu
sejauh mana kecantikan wajah perempuan itu dari balik kain cadarnya.
Thiat Tiong-tong merasakan sorot matanya
seolah tidak bisa dikendalikan, seakan ingin sekali melihat wajah
perempuan itu, dia tidak mampu melawan hasratnya yang besar untuk
menatap wajahnya. Hal ini membuat hatinya terkesiap, pikirnya:
"Almari itu amat kecil lagi sempit,
jangankan orang dewasa, seorang bocah pun belum tentu mampu
bersembunyi disitu, tapi nyatanya dia dapat bersembunyi disana, ini
membuktikan kalau ilmu penyusut tulangnya Sut-kut-hoat sudah
mencapai tingkatan yang luar biasa!"
Ketika mencoba berpaling ke arah rekannya,
kembali dia tertegun. Ternyata Ai Thian-hok
sendiripun berdiri mematung ditempatnya, sama sekali tidak bergerak.
Perempuan cantik itu masih saja tertawa
merdu, setelah mengerling pada Thiat Tiong-tong sekejap, tiba-tiba
dia menghadap ke arah Ai Thian-hok Kembari menyapa:
"Sudah lama tidak bertemu, baik-baikkan
kau?"
Meski Ai Thian-hok berusaha keras
mengendalikan gejolak emosinya, tidak urung ujung jarinya krlihatan
mulai gemetar keras.
Kembali perempuan cantik itu mengerling
sekejap kesekeliling ruangan, katanya lebih jauh sambil tertawa:
"Rupanya si goblok telah pergi, melihat
lorong bawah tanah yang kugali, dia sangka aku sudah kubur lewat
terowongan itu, hahahaha..... siapa sangka aku justru masih tetap
tinggal disini, biar dia mau menebakpun tidak bisa, mau ditemukan
pun tidak dapat. Hey, menurut kau, cerdik tidak tindakan yang telah
dilakukan enso cilikmu ini?"
"Benar benar seorang perempuan licik!" batin
Thiat Tiong-tong dengan hati tercekat.
Dia tahu, perempuan inilah Yin Ping, tapi
dia tidak menyangka kalau penampilan perempuan ini justru nampak
jauh lebih muda ketimbang Kiu cu Kui bo.
Ai Thian-hok masih berdiri tanpa bergerak,
butiran keringat telah membasahi jidatnya.
Dengan selembar saputangan yang diambil dari
sakunya, Yin Ping menyeka peluh dijidatnya itu, kemudian setelah
menowel pipinya kembali dia bei kata sambil tertawa:
"Bocah bodoh, kenapa berdiri termangu?
Kenapa tidak memanggil enso mu?"
Ai Thian-hok masih tidak bicara, tidak
bergerak maupun melawan, dia seakan benar-benar tertegun dibuatnya.
Sementara Thiat Tiong-tong masih tercengang
bercampur keheranan, tiba-tiba terlihat Yin Ping berpaling ke
arahnya dan berseru sambil tertawa:
"Hei, tolonglah aku, betulkan letak
pembaringan itu, mau bukan?"
Ucapannya merdu, senyumannya manis, penuh
daya pikat, membuat orang lain merasa tidak tega untuk menampik
permintaannya. Benar saja, Thiat Tiong-tong benar-benar membantunya
menggeser pembaringan itu dan diletakkan pada posisi yang benar.
"Dasar bocah pintar........" kembali Yin
Ping berkata sambil tertawa, dia segera melepaskan Ai Thian-hok dan
duduk diatas ranjang.
Langkah tubuhnya halus dan lembut, goyangan
pinggulnya menawan, setiap gerakan, setiap tingkah polanya seakan
mengandung daya pikat yang luar biasa, tidak tahan kembali Thiat
Tiong-tong menengok ke arahnya.
"Bocah bodoh, apa yang kau lihat?" tegur
perempuan itu sambil tertawa.
Merah jengah selembar wajah anak muda itu,
buru-buru dia berpaling ke arah lain.
"Bagaimana kalau kulepas kain cadarku ini,
agar kau bisa melihat wajahku lebih jelas?" kembali Yin Ping berkata
sambil tertawa.
Baru saja Thiat Tiong-tong ingin
mengucap-kan kata "baiklah", mendadak terdengar Ai Thian-hok
membentak nyaring:
"Kau tidak boleh melihat wajahnya!"
Suara bentakan itu sangat parau, paras
mukanya berubah sangat menakutkan.
Yin Ping segera tertawa terkekeh kekeh.
"Hahahaha..... oya, aku hampir lupa beritahu
kepadamu, setiap lelaki yang pernah melihat wajahku, akan kucongkel
matanya hingga buta, agar dalam benaknya selalu tersimpan kesan
wajahku, tapi jangan kuatir, meski sedang mencongkel matamu, kau
tidak akan merasa tersiksa atau kesakitan, menderita sedikitpun
tidak, bayangkan sendiri betapa baiknya hatiku bukan?"
Semua perkataan itu disampaikan dengan tutur
kata yang lembut dan mesra, seakan dia sedang menceritakan satu
kejadian yang penuh dengan kelembutan dan kehangatan, seperti juga
seorang kekasih yang sedang mengutarakan isi hatinya.
Kontan saja Thiat Tiong-tong merasakan hawa
dingin muncul dari lubuk hatinya, membuat dia tercekat, membuat dia
merinding.
Sambil mempermainkan ujung bajunya dengan
jari tangan yang lentik, kembali Yin Ping berkata:
"Kalau memang ingin melihat wajahku,
lihatlah, sekalipun berakibat buta matanya, toh cukup berharga
untuk dilakukannya"
Suaranya yang begitu merdu dan indah,
wajahnya yang begitu cantik, bau harum yang begitu memikat,
benar-benar membuat orang rela menjadi buta asal dapat memandang
sekejap saja ke tuahnya.
Thiat Tiong-tong sudah merasakan keringat
dingin membasahi telapak tangannya, sementara jari tangan Yin Ping
yang lentik sudah mulai menyingkap ujung cadarnya, memperlihatkan
sedikit dagunya yang putih halus bagai pahatan pualam.
Ai Thian-hok bermandikan keringat dingin,
walaupun sepasang matanya telah buta, namun dia seolah dapat
menyaksikan kejadian saat itu, karena dulu dia sendiripun
pernah mengalami peristiwa semacam ini.
Tanpa terasa dalam benaknya terlintas
kembali semua kejadian lama yang pernah dia alami.........
Saat itu adalah sebuah malam yang indah,
seorang perempuan cantik dengan mengenakan kain sutera yang tipis
berjalan menghampiri seorang pemuda, wajahnya mengenakan sebuah
cadar tipis.
"Kau ingin melihat?" dia bertanya lembut.
Telapak tangan pemuda itu sudah basah oleh
peluh dingin, akhirnya dengan gemetar dia mengangguk, maka pemuda
itupun menyaksikan selembar wajah yang membuatnya tidak pernah
melupakan untuk selamanya.
Semenjak saat itu, selamanya dia tidak dapat
melihat lagi benda-benda lain!
Mungkinkah sejarah akan berulang kembali?
Dia tahu Yin Ping sedang mendekati Thiat
Tiong-tong selangkah demi selangkah, daya pikat yang terpancar dari
tubuhnya memang sulit untuk dilawan.
Tiba-tiba terdengar Thiat Tiong-tong berkata
dengan nada dingin :
"Seandainya kau lebih muda dua, tiga puluh
tahun, aku pasti akan melihatnya, sayang kau sudah tua, sudah jadi
nenek tua, sekalipun memiliki ilmu awet muda, tapi kalau dibayangkan
justru amat memuakkan!"
Sekujur tubuh Yin Ping gemetar keras,
senyuman diwajahnya lenyap seketika, kali ini giliran dia yang jadi
tertegun! Mimpi pun dia tidak menyangka kalau pemuda itu ternyata
begitu dingin, perasaannya begitu beku dan perkataan-nya begitu
tajam.
Tidak tahan Ai Thian-hok ikut membesut
butiran keringat yang membasahi jidatnya, diam-diam dia menghela
napas, pikirnya:
"Perasaan pemuda ini benar-benar terbuat
dari batu cadas dan baja, kalau tidak, mana mungkin dia bisa melawan
godaan!"
Hanya orang yang pernah mengalami peristiwa
itu yang tahu, betapa besar dan hebatnya daya pikat yang dimiliki
Yin Ping, juga hanya mereka yang tahu betapa misterius, betapa
kuatnya rangsangan yang terpancar keluar dari kerlingan mata dibalik
kain cadarnya.
Yin Ping sendiripun dibuat kelabakan, daya
pikat yang misterius ibarat lapisan baja yang melindungi tubuhnya,
tapi sekarang lapisan baja itu berhasil ditembusi secara gampang
oleh tusukan Thiat Tiong-tong yang dingin dan sinis.
Dia semakin kalut, Thiat Tiong-tong justru
semakin tenang, kembali ujarnya sambil tertawa dingin:
"Waktu berlalu bagaikan air yang mengalir,
selamanya tidak akan balik kembali, tahukah kau, selanjutnya kau
sudah tidak mampu memikat orang lain lagi?"
Yin Ping mundur berapa langkah, duduk
kembali ditepi pembaringan.
"Aku anjurkan kepadamu, lebih baik pergilah
dari sini, makin jauh makin baik" kata Thiat Tiong-tong lebih
lanjut, "bukan saja tempat ini sudah tidak cocok untuk menampung
dirimu, bahkan diseluruh kolong langit sudah tidak ada tempat lagi
untukmu!"
Diam-diam Ai Thian-hok bersorak gembira,
seluruh dendam, sakit hati dan kebencian yang dipendamnya selama
banyak tahun seolah sudah terlampiaskan.
Tidak seorang korban buta ditangan Yin Ping
yang pernah menuntut balas kepada perempuan itu, karena kebutaan
mereka disebabkan kerelaan dan keikhlasan sendiri, tapi sekarang,
Thiat Tiong-tong telah mewakili orang orang itu untuk membuat
pembalasan.
Siapa sangka tiba-tiba saja Yin Ping tertawa
cekikikan, katanya:
"Anak baik, bagus sekali perkataanmu,
ternyata ada orang berani mengumpatku dengan kata muak, satu
kejadian yang belum pernah kubayangkan sebelumnya!"
"Aku justru kuatir dikemudian hari akan
semakin banyak orang yang akan memakimu dengan kata-kata tersebut!"
"Aduh, tidak kusangka ciciku bisa menerima
seorang murid yang begitu bagus macam dia!"
"Orang itu murid Perguruan Tay ki bun!" sela
Ai Thian-hok tiba-tiba.
Kali ini paras muka Yin Ping yang berubah
hebat, gumamnya:
"Tay ki bun....Tay ki bun....hehehe...
sayangnya semua anggota Perguruan Tay ki bun hanya punya ayah tidak
punya ibu!"
Thiat Tiong-tong merasakan telinganya
mendengung keras, tubuhnya bergetar bagai tersambar petir dan
guntur, hawa panas bergelora dalam rongga dadanya, dengan suara
gemetar dia berteriak:
"Apa......apa kau bilang?"
"Bukankah apa yang kukatakan telah kau
dengar dengan sangat jelas?" ejek Yin Ping sambil tertawa cekikikan,
saking kerasnya dia tertawa sampai tubuhnya pun ikut bergoyang.
Thiat Tiong-tong tidak dapat menjaga
ketenangan hatinya lagi, tapi semakin dia kehilangan kendali,
tertawa Yin Ping semakin menggetarkan hati.
Dengan penuh amarah Thiat Tiong-tong
membentak:
"Jika kau berani bicara sembarangan
lagi......".
"Kalau dibilang kau beribu, coba tunjukkan
di mana ibumu?" ejek Yin Ping lagi sambil tertawa lerkekeh.
Tubuh Thiat Tiong-tong mulai gontai,
akhirnya dia jatuh terduduk diatas bangku.
Ternyata tujuan utama dari Perguruan Tay ki
bun adalah balas dendam, lantaran kuatir kasih sayang seorang ibu
dapat memperlemah semangat inang anak didiknya, maka sejak
dilahirkan setiap anggota perguruan sudah dipisahkan dari kasih
sayang seorang ibu, bahkan sejak dapat berjalan mereka sudah
mendapat pendidikan ketat untuk belajar silat, hingga boleh dibilang
mereka tidak kenal macam apakah kasih sayang seorang ibu, malah
tidak tahu bagaimana wajah ibunya.
Yin Ping sengaja menghela napas panjang,
katanya lagi sambil tertawa:
"Seekor anak domba saja merasakan kasih
sayang induknya, tapi sayang anggota Perguruan Tay ki bun tidak ada
yang tahu dimanakah ibu mereka, benar-benar lebih mengenaskan
nasibnya ketimbang seekor binatang......"
"Tutup mulut!" bentak Thiat Tiong-tong
sewot.
"Aah, betul, aku benar-benar minta
maaf, padahal hanya iseng saja menyinggung soal itu, aku tidak
bermaksud melukai hatimu"
"Darimana kau bisa mengetahui
masalah tentang Perguruan Tay ki bun?"
"Bila kau ingin tahu darimana aku bisa
mengetahui kesemuanya ini, lebih baik pulang dulu dan tanyakan
kepada........."
Mendadak terdengar suara ketukan pintu yang
amat ramai berkumandang dari luar rumah.
Lalu terdengar suara seorang wanita berseru
dengan napas tersengkal:
"Adakah seseorang dalam rumah? Bolehkah aku
masuk untuk bersembunyi?"
Nada suaranya panik dan penuh ketakutan,
tapi Thiat Tiong-tong merasa sangat mengenal suara itu.
Perasaan hatinya tercekat, untuk sesaat dia
tidak tahu harus berbuat apa, mendengarkan perkataan Yin Ping dulu
sampai selesai baru keluar membuka pintu atau buka pintu dulu tanpa
menggubris perkataan perempuan ini.
Siapa tahu Yin Ping hanya tersenyum dan
tidak melanjutkan kembali kata-katanya.
Thiat Tiong-tong merasakan otaknya sangat
kalut, tanpa membuang waktu lagi dia melompat keluar ruangan menuju
ke pintu depan.
Terdengar Yin Ping yang berada dibelakangnya
kembali memuji sambil tertawa:
"Hebat juga ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki bocah ini!"
Ketika menengok ke luar, dia menjumpai ada
seorang wanita yang menggendong tubuh seseorang berdiri di depan
pintu, perempuan itu tiada hentinya menengok ke belakang dengan
wajah gelisah bercampur cemas.
Ternyata mereka tidak lain adalah Un Tay-tay
dan Im Ceng.