pendekar panji sakti 05

BAB 13.

Enghiong memesan pedang.

 

Mendadak dari balik hujan angin terdengar suara bentrokan senjata yang ramai.

Kemudian terdengar suara seorang wanita berteriak dengan suara tinggi melengking:

"Hau-ji, kurung dia, jangan kau lukai jiwanya, asal dia mau mengakui darimana bisa kenali Thiat Tiong-tong dan mengatakan dimana Thiat Tiong-tong berada, jangan kau persulit dia"

Thiat Tiong-tong tercekat, cepat dia menyelinap ke belakang punggung Hay Tay-sau yang tinggi besar dan bersembunyi disitu.

Ditengah hujan dan angin terlihat ada segulung hawa pedang bercahaya hijau sedang mengurung dua sosok bayangan manusia, selain itu terlihat pula sesosok bayangan manusia yang lain bergerak mengikuti hawa pedang.

Ketika mereka semakin mendekat barulah tampak bayangan manusia yang berada ditengah hawa pedang itu adalah seorang lelaki berbaju ungu serta seorang manusia berkerudung hitam yang ditangan kirinya memegang golok, tangan kanannya memegang tongkat.

Disamping arena pertarungan tampak seorang nenek berambut putih yang membawa tongkat berkepala bangau sedang mengikuti jalannya pertarungan dengan seksama.

Ilmu pedang yang dikembangkan lelaki berbaju ungu itu mantap dan gencar, semuanya merupakan jurus pedang aliran lurus, dimana pedangnya berputar boleh dibilang tidak setetes air pun yang bisa menembusinya.

Sementara jurus serangan yang digunakan lelaki bergolok dan bertongkat itu meski ganas dan telengas namun langkah kakinya sama sekali tidak leluasa, kelihatannya dia pincang.

Ilmu golok yang dipergunakan pun tampak sedikit kaku dan asing, jelas ilmu tersebut baru dipelajarinya hingga kurang begitu hapal dan lancar.

Saat ini dia sudah terdesak hebat, seluruh tubuhnya sudah terkepung oleh cahaya pedang lelaki berbaju ungu itu hingga sama sekali tak mampu membalas, andaikata lelaki berbaju ungu itu memang tidak berniat melukainya, mungkin saat ini dia sudah roboh bermandikan darah.

Baru saja lelaki setengah umur dan nona berbaju hijau itu siap-siap memberikan pertolong­an, mendadak terdengar Bi lek Hwee menghardik keras:

"Seng Toa-nio, cepat suruh keponakan Hau menghentikan serangannya!"

Semua orang tertegun, lelaki setengah umur itupun seketika menghentikan langkahnya.

Ternyata nenek berambut putih dan lelaki berbaju ungu itu tidak lain adalah Seng Toa-nio serta Seng Cun-hau.

Nenek itu segera berpaling, kemudian ujarnya sambil tertawa:

"Ooh, rupanya kau si kakek pun berada disini, kenapa suruh lo-cici menghentikan serangan? Tunggu sebentar, aku mesti paksa orang ini untuk memberitahukan jejak orang she-Thiat itu terlebih dulu sebelum kita bisa bercakap cakap"

"Tidak usah ditanya lagi" tukas Bi lek Hwee lantang, "siaute tahu jelas kabar berita dari Thiat Tiong-tong"

Kelihatan orang berbaju hitam itu tergetar hatinya hingga muncul titik kelemahan dalam jurus serangannya, beruntung Seng Cun-hau memang berniat melepaskan dia hingga kesempatan itu tidak dimanfaatkan.

Terdengar Seng Toa-nio bertanya dengan keheranan:

"Kau tahu dia ada dimana?"

"Sekarang dia sudah termakan bujuk rayu Suto Siau si rase licik itu dan mengkhianati Perguruan Tay ki bun, kalau ingin mencarinya, bisa jadi saat ini dia sedang berada bersama Suto Siau serta Hek Seng-thian berdua"

"Sungguh?" teriak Seng Toa-nio makin tercengang.

Bi lek Hwee tertawa.

"Sejak kapan siaute bisa membohongi Seng Toa-nio? Dengan mata kepala sendiri siaute saksikan Thiat Tiong-tong pergi bersama Suto Siau, malahan mereka pergi sambil bergurau, bisa jadi saat ini mereka sudah berada di peternakan Lok jit san ceng"

Seng Toa-nio termangu berapa saat, kemudian sambil gelengkan kepala dan tertawa katanya:

"Baru saja aku pergi sejenak ketempat luaran, tidak disangka sudah terjadi banyak perubahan disini, hau-ji, hentikan seranganmu!"

Seng Cun-hau segera menarik kembali pedangnya sambil mundur tiga langkah, perasaan kecewa sempat melintas diwajahnya, tampaknya dia merasa kecewa karena mendengar Thiat Tiong-tong telah menghianati perguruannya.

Thiat Tiong-tong sendiri yang bersembunyi dibelakang Hay Tay-sau ikut merasa amat sedih, pelbagai perasaan berkecamuk jadi satu dalam benaknya.

Hujan angin turun semakin deras, malam hari pun menjelang tiba, dalam situasi serba kalut seperti ini, walaupun Seng Toa-nio memiliki ketajaman mata yang luar biasa pun rupanya tidak sempat memperhatikan ke situ.

Manusia berkerudung hitam itupun berdiri sambil menurunkan senjatanya, kendatipun tidak dapat dilihat bagaimana perubahan wajahnya, namun dari sikapnya yang sedih dia seakan seperti kehilangan sesuatu.

Setelah menyapu sekejap seluruh arena, Seng Toa-nio kembali berkata sambil tertawa:

"Tidak kusangka ternyata kaupun sudah jadi seorang pentolan begal, hebat benar kekuatanmu, baik, memandang wajah Bi lek lote, kubebaskan kalian semua!"

Waktu itu si nona berbaju hijau itu sudah tiba disamping manusia berbaju hitam itu tiba-tiba selanya pula sambil tertawa dingin:

"Baik, memandang diatas wajahnya, akupun bersedia membebaskan kalian berdua!"

"Apa kau bilang?" dengan wajah berubah Seng Toa-nio membentak gusar.

"Walaupun aku enggan bertarung melawan kaum lelaki, tapi masih beruntung kau adalah seorang wanita"

Meskipun sorot matanya tetap dingin hambar, namun nada ucapannya lebih tajam dari mata golok.

Tiba-tiba Seng Toa-nio tertawa terkekeh.

"Nona cilik" serunya, "jadi kau ingin mencoba kehebatan Seng Toa-nio?"

"Rupanya kau pintar sekali, dapat menebak maksud hatiku" jengek nona berbaju hijau itu sambil tertawa dingin.

"Aduh mak, tajam amat mulutmu, bila kemampuanmu bisa lebih hebat separuh saja dari ketajaman mulutmu, itu sudah lebih dari cukup, tapi sayangnya......."

Sambil tertawa dia sengaja menghela napas ringan, perlahan-lahan tubuhnya bergerak meng­hampiri nona berbaju hijau itu.

Bi lek Hwee sekalian tahu bahwa Seng Toa-nio adalah perempuan keji yang berhati telengas, kini mereka jadi menguatirkan keselamatan nona berbaju hijau itu, hanya saja semua orang merasa rikuh untuk menghalanginya.

Yang aneh, ternyata orang-orang dari pihak nona berbaju hijau itu tetap bersikap tenang, seakan mereka sangat yakin dengan kehebatan nona itu.

Terdengar SengToa-nio berkata lebih jauh:

"Cuma sayangnya, hehehe.... Coba kau periksa sepasang tanganmu, mana putih, halus, ramping lagi. Mending dipakai untuk menyulam atau menjahit, ingin bertarung melawan orang? Hmmm, hmmm......"

Diiringi senyuman dia memegang tangan gadis itu dan menggenggamnya erat-erat.

Nona berbaju hijau itu bukan saja tidak menghindar, dia malah menyambut genggaman itu dengan balas menggenggam tangan Seng Toa-nio, ujarnya sambil tertawa dingin:

"Hmm, aku lihat tanganmu pun tidak terlalu kasar!”

Begitu sepasang tangan mereka saling berjabatan tangan, tiba-tiba terdengar Seng Toa-nio berteriak keras:

"Aduuh, tanganmu........."

Ucapannya seketika terhenti, sekujur tubuhnya nampak bergetar keras, paras mukanya berubah pucat pias.

"Bagaimana? Tanganku tidak terlalu halus bukan?" jengek nona berbaju hijau itu sambil tertawa, perlahan dia lepaskan genggamannya.

Seng Toa-nio melotot sekejap ke arahnya, mendadak tanpa mengucapkan sepatah katapun dia membalikkan tubuh dan ngeloyor pergi.

"Hau-ji, kita pergi!"

Ucapan terakhir diutarakan dari jarak sejauh lima meter lebih.

Semua orang tercekat bercampur keheranan, tidak ada yang tahu kenapa Seng Toa-nio pergi secara tiba-tiba, kalau dibilang kungfu gadis itu dapat menggetarkan perasaan Seng Toa-nio hingga membuatnya kabur, rasanya tidak seorangpun yang mempercayainya.

Seng Cun-hau sendiripun nampak tertegun, serunya cepat:

"Kita tidak menunggu Thian-heng?"

"Kalau tidak menemukan kita, toh dia bisa pulang sendiri" sahut Seng Toa-nio tanpa menghentikan langkahnya.

Seng Cun-hau sendiripun menampilkan perasaan heran bercampur sangsi, buru-buru dia menjura kepada Bi lek Hwee lalu menyusul ke arah Seng Toa-nio pergi, mungkin lantaran terburu-buru, tanpa sengaja sebuah kantung sutera kecil terjatuh dari sakunya.

Menanti Bi lek Hwee memungut kantung sutera itu, bayangan tubuh Seng Cun-hau sudah pergi jauh.

Tidak tahan dia segera membuka kantung sutera itu dan memeriksa isinya, ternyata kantung itu berisi sebutir pil, Bi lek Hwee pun mengenali pil itu sebagai obat pemunah racun senjata rahasia Thian li ciam milik SengToa-nio.

Penemuan ini membuatnya semakin keheran­an, gumamnya tanpa terasa:

"Aneh sekali, selama ini Cun-hau selalu bertindak hati-hati dan cermat, mustahil rasanya dia bisa kehilangan obat pemunah tanpa disadari"

Perlu diketahui, obat pemunah dari senjata andalan suatu perguruan biasanya dianggap sebagai benda mestika yang tidak ternilai harganya, jadi mustahil kalau benda mestika semacam ini bisa terjatuh dari tangan seorang jagoannya tanpa diketahui.

Ketika dia berpaling, tampak nona berbaju hijau itu sedang memegangi pergelangan tangan kanannya dengan wajah memucat, sekujur tubuhnya mulai gemetaran keras, itulah gejala terkena jarum Thian li ciam.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Bi lek Hwee, sekarang dia baru tahu, rupanya Seng Cun-hau pun mengerti kalau ibunya secara diam-diam telah sembunyikan jarum thian li ciam dibalik telapak tangannya, oleh sebab itu sewaktu berjabatan tangan tadi, kendatipun Seng Toa-nio terluka oleh getaran tenaga dalam lawan, sebalik­nya nona berbaju hijau itupun terluka oleh jarum Thian li ciam.

Rupanya Seng Cun-hau tidak tega membiarkan gadis itu kehilangan nyawa, maka dia sengaja menjatuhkan obat pemunah racun itu.

Gara-gara ingatan yang bijak itulah bukan saja dia telah selamatkan jiwa nona berbaju hijau itu, diapun telah menolong ibunya.

Rupanya manusia pincang berbaju hitam serta lelaki tinggi besar Bu Ceng-hiong telah menyaksi­kan pula gejala yang dialami gadis itu, dalam terkejutnya serentak mereka maju mendekat.

Nona berbaju hijau itu tertawa, sambil pejamkan mata katanya perlahan:

"Sungguh hebat racun dalam jarumnya. Mungkin aku......aku tidak tertolong lagi”

Lelaki pincang serta Bu Ceng-hiong berseru tertahan, paras muka mereka ikut berubah.

"Jangan kuatir" mendadak terdengar Bi lek Hwee berteriak keras, "lohu mempunyai obat pemunahnya"

"Sung......sungguh?" seru lelaki pincang itu terkejut bercampur girang, "kau memiliki obat pemunah racun dari Thian li ciam milik Seng Toa-nio?"

"Mana mungkin lohu memilikinya" Bi lek Hwee menghela napas panjang, "obat ini sengaja ditinggalkan Seng Cun-hau"

Lelaki pincang itu agak tertegun tapi dia segera menyambut obat pemunah itu.

Tiba-tiba nona berbaju hijau itu membuka matanya sambil bertanya:

"Kenapa dia ingin menolongku?"

"Biarpun Seng toaci kejam dan berhati telengas" kata Bi lek Hwee sambil tertawa getir, "namun putranya adalah seorang Hiap-gi, seorang pendekar sejati yang tiada duanya dikolong langit"

"Kalau berganti orang lain, mungkin saat ini akupun sudah tidak bernyawa lagi" ucap lelaki pincang itu sambil menundukkan kepala dan menghela napas panjang.

"Haaah, tidak kusangka Ci sim kiam khek (pendekar pedang berhati merah) adalah seorang lelaki sejati" teriak Hay Tay-sau tiba-tiba sambil mengacungkan jempolnya, "bagaimana pun aku harus berkenalan dengan dirinya"

Setelah menerima obat penawar racun itu, si nona berbaju hijau itupun mengeluarkan sebuah benda dan diserahkan ke tangan Bi lek Hwee seraya berkata:

“Pil ini adalah obat pemunahku, berikanlah kepadanya!"

Kemudian setelah menelan pil pemunah, dia pun duduk dibawah curah hujan dan mulai mengatur pernapasan.

Sambil menerima botol kayu dari tangan si nona, untuk berapa saat Bi lek Hwee berdiri termangu, lama kemudian dia baru menghela napas panjang seraya berkata:

"Orang bilang, menolong orang lain sama seperti menolong diri sendiri, ternyata perkataan ini memang tepat sekali"

"Meskipun Seng Toa-nio mencari penyakit buat diri sendiri, tapi memandang diatas wajah Seng Cun-hau, seharusnya kau berikan obat penawar itu secepatnya" kata Hay Tay-sau lantang, "kenapa masih berdiri melongo di situ?"

"Aaah betul juga!" seru Bi lek Hwee, tapi baru berjalan berapa langkah kembali dia berhenti sambil menegok kearah Hay Tay-sau, terusnya dengan tertawa getir, "tapi kemana dia pergi? Lohu mana tahu dia kabur ke mana?"

"Soal  ini......   waah,   bagaimana  baiknya sekarang? Kalau terlambat mungkin bisa tidak sempat lagi"

Tiba-tiba dari balik hujan angin terlihat dua sosok bayangan manusia bergerak mendekat dengan langkah terburu-buru.

Pemuda yang berada didepan meski masih mengenakan pakaian ringkas warna hitam namun kain kerudung mukanya telah terepas, dia berlarian dengan napas tersengkal-sengkal, keadaannya sangat mengenaskan.

Di belakangnya mengikuti seorang pemuda pelajar bertubuh jangkung dengan wajah dingin dan kaku, dipandang ditengah malam, dia mirip sekali dengan setan gentayangan.

Bagaikan bayangan tubuh saja dia menempel terus dibelakang pemuda didepannya, ketika orang yang berada didepan menghentikan larinya, pemuda pelajar itu ikut menghentikan pula gerakan tubuhnya.

Dengan napas tersengkal pemuda berbaju hitam itu berlarian mendekat, serunya sambil tertawa:

"Berbahaya, sungguh berbahaya, masih untung aku cukup cekatan, akhirnya berhasil juga aku lepas dari cengkeraman pelajar rudin itu"

"Kau pulang seorang diri?" Tanya Bu Ceng-hiong dengan wajah berubah.

"Tentu saja seorang diri" jawab pemuda berbaju hitam itu dengan bangganya.

Padahal semua orang tahu kalau dia datang berduaan, tapi pemuda itu bersikeras mengatakan seorang diri, kenyataan ini membuat semua orang terkesiap.

Hal ini semakin membuktikan kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pemuda berdandan pelajar itu sudah mencapai tingkat ke sempurnaan.

Bu Ceng-hiong mendongakkan kepalanya tertawa keras.

"Hahahaha.....  siangkong, hebat benar ilmu gerakan tubuhmu!"

"Suhu, kau sedang berbicara dengan siapa?" Tanya pemuda berbaju hitam itu kebingungan.

"Dengan aku!" suara tertawa ringan tiba-tiba bergema dari belakang tubuhnya.

Dengan perasaan terkejut pemuda berbaju hitam itu membalikkan tubuh, tapi lagi-lagi pemuda siucay itu sudah menyelinap di belakangnya, begitu cepat dia bergerak tidak ubahnya seperti gerakan setan gentayangan.

"Cepat berbaring!" bentak Bu Ceng-hiong lantang.

Buru-buru pemuda berbaju hitam itu menjatuhkan diri ke tanah, ketika berpaling, dia pun menjumpai pemuda siucay itu baru saja bergerak lewat dari sisi tubuhnya, sekarang dia baru tahu kalau orang ternyata mengintil terus dari belakang, tanpa sadar peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya.

Walaupun seluruh tubuh pemuda siucay itu basah kuyup oleh air hujan, bahkan disana sini ternoda Lumpur, namun sikap maupun gerak-geriknya seakan masih mengenakan pakaian yang paling kering dan bersih, sedikitpun tidak nampak mengenaskan.

Setelah menyapu sekejap sekeliling arena, diapun tertawa nyaring.

"Bagus, bagus, bagus sekali"

Diam-diam Hay Tay-sau merasa amat mendongkol melihat kejumawaan pemuda pelajar itu, tidak tahan umpatnya:

"Apanya yang bagus? Kentutmu yang bagus!"

"Huuh, bau benar!" sambung Bi lek Hwee sambil tertawa.

Senyuman diujung bibir pemuda pelajar itu lenyap seketika, ujarnya ketus:

"Kalau dipandang dari tampang kalian, nampaknya saja gagah dan perkasa, aneh, kenapa mulut kalian begitu bau!"

Hay Tay-sau pura-pura tidak mendengar, dia sengaja menarik napas panjang kemudian sambil berpaling dan menghela napas, katanya:

"Waaah, ternyata benar juga, bau! Bau sekali, bukan cuma bau, bahkan sedikit rada tengik!"

"Jangan-jangan ada kentut busuk yang susah dibuang selama banyak tahun!" Bi lek Hwee menambahkan dengan serius.

Meskipun kawanan jago dibuat terperanjat oleh kehebatan kungfu pemuda siucay itu, tidak urung mereka tertawa geli juga setelah menyaksikan ulah Hay Tay-sau dan Bi lek Hwee.

Dalam pada itu Thiat Tiong-tong sudah menyelinap ke belakang kawanan lelaki berpakaian ringkas itu.

Kini hanya dia seorang yang merasa kuatir, setelah menyaksikan kehebatan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pemuda siucay itu, dia sadar kemampuan yang dimiliki Hay Tay-sau serta Bi lek Hwee masih bukan tandingan orang.

Sementara itu pemuda siucay tadi sudah melirik berapa kejap ke arah mereka berdua, hawa napsu membunuh telah memancar dari balik matanya, tiba-tiba dia berkata sambil tertawa:

"Menurut wejangan guruku, aku orang she Thian tidak diperbolehkan melancarkan serangan terlebih dulu kepada orang lain"

Kemudian setelah tertawa menghina, tambahnya:

"Apakah kalian berdua berani melancarkan serangan terlebih dulu kepadaku?"

Tiba-tiba Hay Tay-sau mengambil botol kayu itu dari tangan Bi lek Hwee, setelah diletakkan diatas tanah, dengan menirukan gaya bicara pemuda itu katanya pula dengan nada dingin:

"Botol kayu inipun tidak pernah menyerang lebih dulu kepada orang lain, beranikah kau menyentuhnya terlebih dulu?"

Dasar logat bicaranya jelas dan nyaring, ketika sekarang berbicara dengan nada yang sengaja ditinggikan, kontan saja suara orang ini jadi kedengaran sangat aneh, sekali lagi semua orang tertawa terpingkal pingkal.

Rupanya pemuda siucay itu memang berbicara dengan logat menggigit bibir, logat yang biasa digunakan kaum terpelajar, tapi setelah diejek berulang kali, dia tidak kuasa menahan rasa gusarnya lagi, bentaknya penuh amarah:

"Aku sengaja akan memusnahkannya, akan kulihat dia bisa berubah jadi apa!"

Ditengah bentakan nyaring, tangannya sudah dijulurkan ke muka siap menghantam botol kayu itu, tapi lantaran kuatir kalau isi botol adalah obat beracun atau sebangsanya, maka gerak geriknya jadi ragu dan tidak berani gegabah.

Kembali Hay Tay-sau tertawa tergelak.

"Hahahaha,....... Tidak usah takut, botol kayu itu bukan berisi yang aneh-aneh, isinya adalah obat penawar untuk menyelamatkan jiwa Seng Toa-nio, bila kau menghancurkannya, nyawa Seng Toa-nio akan turut melayang"

Waktu itu ujung telapak tangan pemuda siucay itu sudah hampir menyentuh botol kayu itu, tenaga pukulan pun sudah terlanjur dilontarkan, tapi begitu mendengar perkataan tersebut, dia segera menghentikan serangan dan menarik kembali tenaga pukulannya mentah-mentah.

Ketika hawa murninya ditarik balik, botol kayu itupun ikut terhisap ke dalam tangannya.

Thiat Tiong-tong semakin terkesiap, apalagi setelah menyaksikan kemampuannya menghisap benda sekehendak hati sendiri, cepat dia putar otak dan berusaha menebak asal-usul orang itu.

Terdengar Hay Tay-sau berseru setelah tertawa tergelak:

"Hahahaha.... Kusangka dengan kemampuan yang hebat, nyalimu pun termasuk hebat juga. Tidak tahunya hanya sebuah botol kecil pun tidak berani menyentuhnya......."

"Terakhir ini memang banyak orang yang berlagak sok hebat, tapi nyatanya bernyali tikus" Bi lek Hwee menambahkan.

Pemuda siucay itu berlagak tidak mendengar, dia membuka penutup botol itu dan mengendusnya berapa kali, kemudian dengan wajah berubah serunya:

"Haaah? Can hoa swang? Memangnya Seng Toa-nio telah terluka dalam?"

Kemudian sambil berpaling katanya lagi:

"Masa di dunia saat ini masih ada orang yang mampu membuat Seng Toa-nio terluka dalam? Hmmm, semisal ada pun aku rasa pasti bukan kalian semua karena kalian tidak bakal mampu melakukannya......"

"Hahahaha..... kalau orang she Thian mungkin saja tidak mirip, aku rasa yang paling pantas adalah si tikus sawah (thian Sut)!"

"Aku rasa justru kalian berdua yang lebih mirip sepasang kura-kura hidup" balas pemuda siucay itu perlahan.

Dengan sikapnya yang terpelajar, semua orang tidak menyangka kalau secara tiba-tiba dia bakal mengumpat orang sebagai kura kura, kejadian ini membuat semua orang melongo.

Hay Tay-sau sama sekali tidak dibuat gusar oleh umpatan itu, baru saja dia akan balas mengejek, terdengar Bi lek Hwee yang sudah terlanjur naik darah membentak nyaring:

"Bocah keparat, kau sangka lohu benar-benar tidak berani menyerangmu?"

"Jika kau berani menyerang, berarti kau sudah bosan hidup" ejek pemuda siucay itu sambil tertawa tergelak.

Bi lek Hwee membentak nyaring, sepasang lengannya direntangkan lalu maju dengan langkah lebar, ruas tulangnya berbunyi gemerutuk, kelihatannya dia sudah menghimpun seluruh kekuatan yang dimiliki.

Pemuda siucay itupun segera menarik kembali senyuman diwajahnya, hawa napsu membunuh terlintas diwajahnya.

Thiat Tiong-tong benar-benar merasa tercekat hatinya, dia sangat kuatir nama besar Hay Tay-sau dan Bi lek Hwee yang dibinanya selama puluhan tahun bakal musnah dalam sekejap.

Disaat yang kritis itulah tiba-tiba nona berbaju hijau yang sedang duduk bersemedi itu melompat bangun, tidak terlihat jelas gerakan apa yang dilakukan, tahu-tahu dia sudah menghadang dihadapan Bi lek Hwee.

Menyaksikan gerakan tubuh yang begitu cepat, siucay itu nampak terkesiap.

"Nona, minggir kau!" bentak Bi lek Hwee cepat.

"Orang ini adalah musuh keluargaku" ucap nona berbaju hijau itu dingin, "Seng Toa-nio pun terluka olehku, kenapa kau malah suruh aku menyingkir"

Sikapnya tetap dingin dan hambar, melirik sekejap ke arah Bi lek Hwee pun tidak.

Bi lek Hwee sendiripun agak tertegun setelah mendengar ucapan tadi, terpaksa sambil menahan rasa mendongkol dia mundur kembali.

Dengan sorot mata yang tajam siucay itu memperhatikan si nona berapa kejap, sekilas perasaan heran bercampur tidak percaya melintas diwajahnya.

"Betulkah Seng Toa-nio terluka ditanganmu?"

"Hmm, kalau tidak percaya, dicoba saja!"

Kembali siucay itu memperhatikannya bebe­rapa saat, tiba-tiba dia tertawa tergelak.

"Sebetulnya aku mau turun tangan, tapi setelah melihat sepasang mata nona yang bening bagaikan air, aku jadi tidak tega"

"Benar-benar tidak kusangka setelah bajingan ini bertemu cewek, dia seolah berubah jadi orang lain" umpat Hay Tay-sau jengkel, "coba lihat, macam tulang belulangnya lebih ringan empat kati saja"

"Hmmm! Dia memang dasarnya manusia tengik" lanjut Bi lek Hwee sambil mendengus dingin.

Siucay itu sama sekali tidak menggubris, sepasang matanya menatap terus sorot mata si nona tanpa berkedip, seolah dia sama sekali tidak mendengar umpatan tersebut.

Terdengar nona berbaju hijau itu berkata ketus: "Kalau memang begitu, lebih baik hantar obat luka itu secepatnya, kalau sedikit terlambat Seng (hidup) Toa-nio bisa berubah jadi Si (mampus) Toa-nio!"

"Hahahaha... apa urusanku dia mau hidup atau mati, sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganku, aku diundang bukan untuk mengurusi dia, kedatanganku khusus untuk menghadapi berapa orang teman dari Perguruan Tay ki bun!"

Kembali Thiat Tiong-tong merasa terkesiap, pikirnya:

"Jika kedatangan orang ini khusus untuk menghadapi Perguruan Tay ki bun, dia benar-benar akan menjadi seorang musuh yang tangguh"

Dia mencoba berpikir, kira-kira jagoan mana dari perguruannya yang mampu menghadapi pemuda ini! Tapi hatinya semakin bimbang, sekali pun ada yang mampu mengunggulinya, bagaimana dengan guru pemuda ini?

Makin dipikir dia makn terkesiap, sekarang dia hanya ingin tahu darimana Seng Toa-nio bisa mengundang kehadiran orang ini.

Sementara itu nona berbaju hijau tadi sudah balas menatap pemuda siucay itu, kemudian tegurnya:

"Kalau begitu kau tidak ingin pergi dari sini?"

"Benar, sementara waktu masih tidak ingin pergi"

"Apa yang kau inginkan?"

Siucay itu menyapu sekejap seluruh arena, lalu tertawa keras.

"Hahahaha..... aku hanya ingin membuktikan, sobat-sobat yang pandai melukai orang dengan mulut, apakah mampu juga melukai orang dengan kemampuan silatnya?"

Kontan nona berbaju hijau itu tertawa dingin.

"Keinginanmu itu tidak ada sangkut pautnya denganku, tapi sebelum berbuat begitu, kau mesti membuktikan dulu apakah kau pantas untuk tetap tinggal disini!"

"Dalam soal berbicara, bisa saja aku mengalah kepada nona, tapi kalau sudah menyinggung soal ilmu silat, aku tidak berani mengalah lagi"

"Jadi kau anggap kungfumu hebat?"

""Hebat sih tidak, cuma lebih dari cukup" sahut siucay itu tertawa.

"Kalau begitu akan kucoba ilmu tanganmu, bila kau sanggup melakukan apa yang kulakukan, kau boleh berbuat apa maumu" ujar nona berbaju hijau itu dingin.

Siucay itu mengernyitkan alis matanya, tapi sejenak kemudian sudah tertawa tergelak.

"Hahahaha.....benarkah aku boleh berbuat apa mauku?"

"Hmm! Benar!" nona itu mendengus.

Tiba-tiba dia melepaskan seutas tali pinggang sutera dari pinggangnya, begitu tangan digetarkan, tali pinggang itu seketika menegang lurus ke depan.

"Hahahaha.... itu sih gampang sekali" teriak siucay itu sambil tertawa, "nona, kelihatannya kau bisa berbuat apa mauku"

Mendadak gelak tertawanya terhenti ditengah jalan dan dia tidak mampu tersenyum lagi.

Rupanya disaat itulah si nona telah menggetar­kan pergelangan tangannya, ikat pinggang sutera itu langsung meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi, berbareng itu  si nona berkelebat maju bagaikan segumpal angin dan berjalan berapa langkah diatas ikat pinggangnya yang membentang di angkasa itu.

Menanti ikat pinggang tadi mulai meluncur ke bawah, dia baru menggetarkan kembali tangannya sambil melayang turun ke bawah.

"Inikah yang kau sebut gampang?" jengeknya, "kalau begitu, coba lakukan!"

Perlahan-lahan dia sodorkan ikat pinggang sutra itu ke hadapan siucay tersebut.

Waktu itu si siucay sudah berdiri terkesiap dengan mata terbelalak mulut melongo, mana berani dia terima ikat pinggang itu?

Hay Tay-sau maupun Bi lek Hwee saling bertukar pandangan dengan perasaan kagum, sekalipun mereka termasuk orang-orang yang tidak mau tunduk kepada orang lain, tidak urung kedua orang itu harus mengakui juga kehebatan ilmu meringankan tubuh tersebut.

Si siucay tadi hanya mengawasi ikat pinggang sutera yang berada dihadapannya tanpa bicara, peluh dingin makin membasahi jidatnya.

"Bukankah kau anggap gampang?" kembali nona berbaju hijau itu mengejek sambil tertawa dingin, "kenapa tidak berani kau lakukan?"

Sambil tertawa paksa siucay itu membesut butiran keringat dari jidatnya, ujarnya:

"Ilmu meringankan tubuh yang nona miliki benar-benar sudah mencapai puncak kesempurna­an, aku sama sekali tidak menyangka diwilayah padang rumput di daratan Tionggoan masih ada orang memiliki kemampuan sehebat ini, peristiwa ini sungguh diluar dugaan aku orang she Thian!"

"Hmm, ini membuktikan padang rumput merupakan sarang naga gua harimau, makanya jangan sok jumawa dan berlagak" kata nona berbaju hijau itu sambil tertawa dingin, "jika kau tidak berani mencoba, lebih baik cepat pergi dari sini!"

"Nona, boleh tahu asal usulmu?"

"Kau tidak berhak mengetahui asal usulku" hardik si nona dengan wajah berubah.

"Menurut apa yang kuketahui, dikolong langit saat ini rasanya hanya orang dari utara dan orang dari selatan berdua yang mampu melatih nona dengan kungfu sehebat ini......."

Tiba-tiba pemuda berbaju hitam itu membentak keras, sambil menerjang maju bentaknya:

"Buat apa kau nerocos terus disini? Cepat enyah!"

Ditengah bentakan, secara beruntun pemuda itu melancarkan lima buah serangan, meski jurusnya tidak hebat namun angin pukulannya menderu deru, jelas dia memiliki kekuatan pukulan seberat ribuan kati.

Tanpa berpaling siucay itu melangkah ke samping sambil mengebaskan ujung bajunya, dengan sangat gampang dia sudah menghindari beberapa pukulan itu.

Terdengar dia berkata lebih jauh:

"Mengenai dua orang dari utara selatan ini, menurut apa yang kutahu...."

Tampaknya pemuda berbaju hitam itu semakin gelisah, serangan kepalannya makin ganas dan keras, bentakan nyaring yang berulang kali membuat perkataan siucay itu jadi tidak jelas terdengar.

Tiba-tiba nona berbaju hijau itu menghela napas sedih, katanya:

 "Sim-ko, biarkan dia berbicara"

Walaupun nada ucapannya halus dan lembut, namun mendatangkan daya pengaruh yang besar bagi pemuda berbaju  hitam itu, dia  segera melompat mundur ke belakang meski rasa gusar lamat-lamat masih menghiasi wajahnya.

Hay Tay-sau sekalian kembali dibuat keheranan, mereka tidak tahu rahasia apa yang terselip dibalik kesemuanya ini, ketika mencoba berpaling, tampak wajah Bu Ceng-hiong maupun manusia cacad itupun menunjukkan sikap tegang.

Terlihat sinar mata gadis berbaju hijau itu semakin memancarkan cahaya tajam, tanyanya dengan nada berat:

"Siapa itu manusia dari utara dan selatan?"

"Walaupun  nama  sebenarnya kedua orang manusia aneh itu tidak banyak diketahui orang, tapi dengan kungfu yang nona miliki, masa kaupun tidak tahu nama mereka?"

Nona berbaju hijau itu kembali berkerut kening, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.

Terdengar siucay itu berkata lagi:

"Terlepas nona adalah murid siapa dari kedua orang manusia aneh itu, mereka memiliki hubungan yang sangat mendalam denganku, kenapa tidak kau jelaskan saja asal usulmu"

Nona berbaju  hijau  itu  masih  termenung, pandangan matanya mulai bimbang.

Siucay itu menatap semakin tajam, tiba-tiba senandungnya:

"Ruyung  guntur  merontokkan  bintang  dan hujan, peluru angin memutuskan sukma........."

"Ruyung guntur....... Peluru angin........." gumam nona berbaju hijau itu.

"Masa nona tidak kenal dengan dua patah kata itu?"

Gadis berbaju hijau itu menggeleng, dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, melihat semua orang sedang ikut mengulang ke dua patah kata itu, wajahnya terlihat makin bimbang.

Setelah tertegun sesaat, siucay itu menunjuk­kan wajah yang amat kecewa, dia menggeleng sambil menghela napas.

"Kalau dibilang nona bukan berasal dari perguruan mereka berdua, sesungguhnya aku merasa tidak percaya"

Mendadak terlihat nona berbaju hijau itu seakan sangat emosi, jeritnya lengking:

"Apa itu peluru angin, apa itu ruyung guntur..... aku tidak pernah mendengarnya, kau cepat pergi dari sini!"

"Tapi ilmu silat nona........"

"Cepat pergi, cepat pergi" teriak si nona sambil menghentakkan kakinya, "aku tidak mau mendengarkan perkataanmu lagi!"

Kembali siucay itu termangu berapa saat, akhirnya diapun menghela napas panjang dan berkata dengan lantang:

"Kalau begitu, setahun kemudian aku pasti akan datang lagi untuk minta petunjuk!"

Sambil berkata dia mengebaskan lengan baju­nya dan menerobos hujan angin untuk menjauh, tidak selang berapa saat kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Tiba-tiba butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipi nona berbaju hijau itu, dia membalikkan tubuh dan mulai menangis tersedu, seolah ada satu kejadian memedihkan yang membuatnya amat berduka.

"Sim-ji, cepat hibur enci Ho......." Bisik Bu Ceng-hiong kemudian sedih.

Dengan kepala tertunduk tukas pemuda berbaju hitam itu:

"Enci Ho hanya ingin secepatnya mengetahui asal usulnya dan meninggalkan kita semua, percuma ananda menghiburnya"

"Omong kosong!" bentak Bu Ceng-hiong dengan suara berat.

Mendadak nona berbaju hijau itu membalikkan tubuhnya dan berkata dengan suara keras:

"Ananda sudah berhutang budi kepada gi-hu (ayah angkat) serta paman, biarpun sudah mengetahui asal usulku, tidak mungkin punya pikiran untuk pergi dari sini"

Orang cacad itu menghela napas sedih, selanya:

"Kau tidak usah mendengarkan omongan Sim-ji, dia..... dia......"

"Lagipula........ mungkin selama hidup ananda tidak akan membayangkan lagi kejadian di masa lalu........."

Tiba-tiba nona itu menutupi wajah sendiri dengan tangannya kemudian kembali menangis terisak.

Pemuda berbaju hitam itu hanya mengawasi nona itu dengan termangu, kelihatan sepasang matanya mulai berkaca-kaca.

Hay Tay-sau maupun Bi lek Hwee ikut merasa terkesiap, mereka tidak menyangka gadis yang memiliki kungfu sangat dahsyat ini ternyata sama sekali tidak mengetahui asal usul sendiri.

Bu Ceng-hiong mendeham berapa kali, lalu sambil menjura kepada ke dua orang itu katanya sambil tertawa:

"Bantuan yang kalian berdua berikan tidak akan kulupakan untuk selamanya, suatu saat nanti pasti akan kubalas, bersediakah kalian mampir sejenak di rumahku sekalian meneguk tiga cawan arak kasar?"

Bi lek Hwee menengok rekannya, sambil tertawa sahut Hay Tay-sau:

"Kita telah merubah musuh jadi sahabat, kejadian ini memang patut dirayakan dengan meneguk tiga cawan arak"

"Bagus sekali" seru Bu Ceng-hiong kegirangan, "ternyata Thian-sat-seng yang tersohor adalah seorang lelaki sejati!"

"Memangnya aku bukan lelaki sejati?" protes Bi lek Hwee sambil tertawa, "ayoh berangkat, hari ini lohu akan membuktikan siapa yang bakal mabuk duluan!"

Sambil membalikkan tubuh diapun berteriak memanggil:

"Saudara cilik, saudara cilik........."

Mendadak dengan wajah berubah teriaknya:

"Hay lote, ke mana kaburnya saudara cilik kita? Kenapa tidak nampak batang hidungnya?"

Ditengah hujan angin, bayangan tubuh Thiat Tiong-tong benar-benar sudah tidak nampak, tidak diketahui sejak kapan dia tinggalkan tempat itu, tadi, perhatian semua orang sedang tersita karena terkagum-kagum oleh kehebatan ilmu meringan­kan tubuh nona itu sehingga tidak ada yang memperhatikan kemana perginya anak muda itu.

Sambil menghentakkan kakinya kontan saja Bi lek Hwee mengumpat:

"Bocah ini benar-benar lupa budi, lohu sudah selamatkan jiwanya, eeeh tidak tahunya dia ngeloyor pergi tanpa pamit"

"Aaah, api emosimu memang kelewatan sedikit" sela Hay Tay-sau sambil tertawa, "aku lihat pemuda itu tidak mirip orang yang tidak tahu budi, bisa jadi dia pergi duluan karena ada urusan lain"

Lalu sambil menarik bahu Bi lek Hwee tambahnya:

"Ayoh kita pergi meneguk berapa cawan arak lebih dulu, jika pemuda itu benar-benar lupa budi dan tidak datang mencarimu lagi, aku bersedia mentraktir arak kepadamu"

Biarpun dimulut Bi lek Hwee masih meng­umpat terus menerus, namun langkah kakinya tetap mengikuti rekannya beranjak pergi dari situ.

Bu Ceng-hiong bersama manusia cacad itu berjalan paling depan untuk membuka jalan.

Sementara pemuda berbaju hitam itu diam-diam menghampiri nona berbaju hijau itu dan berbisik sambil menundukkan kepalanya:

"Enci Ho, kalau aku salah bicara, harap kau jangan marah!"

Nona berbaju hijau itu manggut-manggut, tiba-tiba dia menarik lengan pemuda itu dan berkata lembut:

"Kau adalah saudara baikku, mana mungkin aku marah?"

Berbinar sepasang mata pemuda berbaju hitam itu, tampak sekali dia amat kegirangan.

Hay Tay-sau menengok kedua orang itu sekejap, lalu bisiknya sambil tertawa:

"Loko, coba lihat itu...... kelihatannya anak muda tadi sudah mencintai nona tersebut hingga kuatir dia pergi meninggalkannya"

"Sstt, jangan mencampuri urusan orang" tukas Bi lek Hwee sambil tertawa, "ayoh kita pergi minum arak!"

Di tengah malam yang hujan dan berangin, melakukan perjalanan diudara terbuka terasa sulit dan berat.

Rombongan itu membutuhkan waktu hampir setengah jam lamanya sebelum tiba disebuah dusun kecil, dimulut dusun terpampang sebuah papan nama, pada papan nama itu tertulis: "Dusun pandai besi".

"Disinilah kami menetap, harap kalian jangan mentertawakan kejelekan rumah kami" kata Bu Ceng-hiong sambil tertawa.

Bi lek Hwee mengerdipkan matanya berapa kali, dia seakan ingin mengucapkan sesuatu namun akhirnya diurungkan.

Dusun itu amat teratur dan bersih, setiap bangunan rumah nampak seakan baru dibangun, saat itu terlihat ada berapa orang wanita dan bocah sedang menunggu didepan pintu, seakan sedang menunggu pulangnya suami mereka.

Sementara kawanan lelaki berkerudung hitam itupun serentak memberi hormat kepada Bu Ceng-hiong dan manusia cacad itu sebelum bubaran dan kembali ke rumah masing masing.

Semakin dipandang Bi lek Hwee semakin keheranan, akhirnya tidak tahan dia berseru:

"Aneh, sungguh aneh!"

"Aku sendiripun keheranan........" sambung Hay Tay-sau sambil tertawa.

"Apakah kalian berdua merasa tempat ini tidak mirip sarang perampok?" tukas Bu Ceng-hiong.

"Ya betul, sama sekali tidak mirip" sahut Bi lek Hwee sambil tertawa tergelak, "justru itulah lohu merasa keheranan"

Bu Ceng-hiong tertawa lebar.

"Biarpun kami adalah kawanan liok-lim yang kerjanya membegal, namun kami sama sekali tidak menikmati harta tersebut, seluruh hasil begal kami gunakan untuk menolong kaum fakir miskin"

"Lantas dengan apa kalian membiayai hidup?"

"Tukang besi! Seluruh anggota kami adalah pandai besi yang handal, itulah sebabnya meski hidup di dusun yang terpencil namun order pekerjaan yang kami terima banyak sekali. Kami tidak akan sembarangan membegal, kalau ada kambing gemuk yang kebetulan lewat di seputar wilayah ini dan harta yang dibawa adalah harta tidak halal, kami baru mengenakan kain kerudung hitam dan mengubah profesi kami dari tukang besi menjadi kawanan rimba hijau"

"Bagus, bagus sekali" puji Bi lek Hwee sambil bertepuk tangan, "begal semacam ini memang jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan, kalau ada berapa kelompok lagi, itu jauh lebih bagus"

"Waah, kalau begitu julukan pendekar budiman yang selama ini kusandang, mulai hari ini harus kuhadiahkan kepadamu!" kata Hay Tay-sau pula sambil tergelak.

Ditengah gelak tertawa yang nyaring, tibalah mereka didepan sebuah bangunan rumah yang cukup lebar.

Walaupun bangunan itu cukup luas namun bentuknya amat sederhana dan jelek, didepan pintu ruangan tergantung sebuah papan nama, diatas papan nama itu bertuliskan:

"Tangan sakti pandai besi, khusus membuat berbagai macam perkakas"

Dibelakang pintu gerbang merupakan sebuah ruangan yang lebarnya berapa meter, dalam ruangan itu dipenuhi berbagai peralatan pandai besi serta perkakas yang telah selesai dibuat, ada golok, ada pedang, peralatan pertanian dan lain lain.

Setelah melalui ruangan yang merupakan bengkel kerja itu, orang baru tiba disebuah ruangan lain yang merupakan ruang tamu, diseluruh ruangan tampak tumpukan guci arak.

Menyaksikan hal itu Hay Tay-sau segera berteriak sambil tertawa:

"Waah,..... tempat semacam ini benar-benar mencocoki seleraku!"

"Betul" sambung Bi lek Hwee sambil tertawa pula, "setibanya ditempat ini, lohu jadi tidak ingin pergi kemana-mana lagi"

Setelah menyuguhkan air teh panas, Bu Ceng-hiong memper-kenalkan juga pemuda berbaju hitam tadi kepada mereka seraya berkata:

"Dia adalah putraku Bu Bong, sedikit rada blo'on, harap kalian berdua sudi memberi petunjuk!"

Bi lek Hwee memperhatikan sekejap pemuda itu, tampak olehnya dia memiliki alis mata yang tebal dengan mata yang lebar, tubuhnya tinggi kekar dan penuh berotot.

Menyaksikan itu katanya sambil gelengkan kepala dan tertawa getir:

"Betapa senang bila lohu pun memiliki seorang putra macam dia"

Sampai tua dia tidak berputra, tidak heran kalau hatinya sedih setiap kali melihat kegagahan putra orang.

Waktu itu Hay Tay-sau sudah memandang sekeliling tempat itu sekejap, tiba-tiba serunya:

"Rasanya tadi ada seorang rekan yang memiliki kungfu golok bercampur ilmu toya yang hebat, kenapa sekarang tidak nampak?"

"Dan nona berbaju hijau itu" sambung Bi lek Hwee, "kemampuannya betul-betul membuat lohu sangat kagum!"

Bu Ceng-hiong tertawa getir, sahutnya:

"Oleh karena asal usul nona Liu sedikit rada aneh, wataknya juga turut antik dan rada nyentrik, tapi dia........"

Mendadak dia menghela napas panjang dan menghentikan kata-katanya.

Pada saat itulah si orang cacad tadi munculkan diri, bukan  saja tubuhnya cacad, wajahnya pun dipenuhi dengan mulut luka hingga kelihatan amat mengenaskan.

Bu Ceng-hiong segera memperkenalkan Bi lek Hwee dan Hay Tay-sau kepadanya, entah disengaja atau tidak, ternyata orang cacad yang dipanggil "Tio toako" itu sama sekali tidak menyinggung soal namanya.

Bercawan-cawan arak telah diteguk, tubuh pun mulai terasa hangat dan segar, sementara hujan angin ditempat luaran turun semakin deras.

Mendadak Tio toako berkata:

"Tadi kalian berdua bilang, Thiat Tiong-tong sudah memasuki peternakan Lok-jit, benarkah ucapan itu?"

"Lohu menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu saja kejadian yang benar" sahut Bi lek Hwee.

Tio toako kelihatan agak tertegun, gumamnya kemudian sambil menghela napas:

"Benarkah itu? Mana mungkin bisa begitu?"

Berbinar sepasang mata Bi lek Hwee.

"Jadi hengtay pun kenal dengan Thiat Tiong-tong?" tanyanya.

"Ooh tidak, tidak, cayhe hanya secara kebetulan pernah mendengar nama ini, aku sama sekali tidak mengenalnya" buru-buru Tio toako membantah.

Dengan pandangan yang tajam Bi lek Hwee memperhatikan wajah Tio toako yang penuh luka itu berapa kejap, mendadak sambil menggebrak meja teriaknya:

"Lohu selalu punya perasaan seakan kenal dengan anda, heran, dmana kita pernah bertemu?"

Paras muka Tio toako tampak agak berubah, Bu Ceng-hiong segera mengangkat cawannya mengajak kedua tamunya meneguk arak.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar suara ringkikkan kuda dan putaran roda kereta, kelihat­annya ada kereta kuda yang berhenti didepan sana.

Menyusul kemudian terdengar seseorang berseru lantang:

"Apakah tuan rumah ada? In hujin dan kongcu khusus kemari untuk memesan berapa macam perkakas!"

Bu Ceng-hiong berkerut kening, cepat dia menjura seraya berbisik:

"Maaf, terpaksa sementara aku tidak menemani"

"Ditengah hujan angin seperti inipun masih ada yang datang memesan peralatan, Bu-heng, aku lihat pekerjaanmu cukup sukses" kata Hay Tay-sau sambil tertawa.

Sementara itu Bu Ceng-hiong sudah melangkah keluar dari pintu ruangan, benar saja, didepan gerbang telah berhenti sebuah kereta kuda yang indah, dari kusir maupun bentuk kereta yang indah, dapat diketahui kalau mereka berasal dari keluarga berada.

Si kusir kereta yang telah berdiri disisi pintu segera bertanya:

"Apakah toako adalah penguru s tukang besi?"

"Betul" jawab Bu Ceng-hiong tertawa, "boleh tahu anda ingin memesan apa?"

"Tunggulah sejenak, ada pembeli besar yang akan memberi order kepadamu" ujar sang kusir sembari membukakan pintu kereta, sepasang lelaki perempuan yang mengenakan pakaian mewah segera muncul dari balik ruang kereta mewah itu.

Dalam pada itu Bu Bong yang ada dalam ruangan sedang menemani para tamunya minum arak.

Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berkumandang dari luaran sana, suaranya halus dan merdu:

"Apakah disini terdapat bahan baja yang bagus untuk ditempa menjadi sebilah pedang? Kami datang karena mengagumi nama anda, jadi jangan kau gunakan bahan jelek untuk menempa pedangku"

Bi lek Hwee segera bergumam:

"Perempuan jaman sekarang pun ikut-ikutan memesan pedang, tampaknya jaman telah berubah"

Terdengar Bu Ceng-hiong menjawab:

"Apa yang ingin nyonya pesan? Katakan saja bentuk serta ukurannya, ditanggung barang akan terwujud dengan kwalitas tinggi"

"Sebetulnya pesananku bukan yang aneh aneh, hanya barang sederhana saja, coba ambillah kertas dan catat ukuran yang kuinginkan, jangan sampai salah membuat"

Diikuti kemudian suara orang sedang menggosok tinta bak.

Kembali tedengar perempuan itu berkata:

"Kau buatkan dulu sepasang pedang jantan betina, panjangnya delapan puluh senti dengan lebar satu koma tujuh senti, berat pedang yang satu sembilan kati sementara yang lain delapan kati, Cuma kau mesti perhatikan secara khusus, kedua bilah pedang ini tidak boleh ada perbedaan, gagang pedangnya harus dibuat dengan bentuk melengkung dan diberi pelindung tangan yang cukup kuat, sedang ujung gagang pedang mesti dibuat kosong dalamnya, agar bisa diisi dengan dua tabung jarum lembut........sudah kau catat dengan jelas?"

Hay Tay-sau yang berada dalam ruangan menghembuskan napas panjang sambil berkata pula:

"Perempuan itu selain seorang ahli, tampaknya kungfu yang dimiliki hebat juga, kalau tidak, buat apa dia pesan senjata semacam ini!"

"Tapi kalau didengar suaranya, dia lebih mirip seorang penjual suara" sambung Bi-lek Hwee.

Sementara itu Bu Ceng-hiong yang berada diluar telah berkata lagi:

"Semuanya telah tercatat dengan jelas, apa lagi yang ingin hujin pesan?"

"Aku ingin memesan berapa tabung jarum bwee hoa ciam, semua contoh gambarnya ada disini, biarpun bukan termasuk senjata rahasia khusus, tapi kau tidak boleh menggunakan lagi gambar tersebut untuk membuatkan bagi orang lain"

"Jual beli pun ada peraturannya, perusahaan kami tidak ingin melanggar aturan yang berlaku"

"Bagus sekali, adikku, kau ingin memesan apa lagi, cepat katakan sendiri" seru perempuan itu kemudian sambil tertawa.

Menyusul kemudian terdengar seorang pemuda berkata:

"Pedang, aku butuh sebilah pedang, beratnya harus tiga puluh enam kati dengan panjang satu meter sembilan inci, masalah yang lain boleh sesukamu!"

Kalau nada suara perempuan tadi lembut dan enak didengar, maka suara pemuda ini berat dan amat menyesakkan napas.

Sekali lagi Hay Tay-sau yang berada didalam ruangan menghembuskan napas panjang, gumamnya:

"Pedang yang sangat berat, aku rasa lelaki ini pasti lebih jagoan, aku jadi ingin tahu macam apa tampangnya"

"Dibelakang tumpukan guci arak itu terdapat jendela kecil, kau bisa mengintip dari situ" saran Bu Bong sambil tertawa.

Sembari berkata dia segera singkirkan berapa guci arak dari tumpukan, benar saja, disitu terdapat sebuah jendela kecil, diluar jendela adalah berapa peralatan besi hingga sewaktu mengintip, orang yang berada diluar tidak akan mengetahuinya karena tertutup oleh peralatan tersebut, sebaliknya orang yang ada didalam ruangan dapat melihat keadaan diluar dengan jelas sekali.

Hay Tay-sau maupun Bi lek Hwee segera mengintip ke luar ruangan.

Saat itu Bu Ceng-hiong sedang duduk didepan meja sambil menulis, terdengar dia berseru keheranan:

"Pedang seberat tiga puluh tujuh kati? Selama hidup belum pernah kutempa pedang seberat itu, masa tidak keberatan?"

Seorang pemuda berbaju perlente berdiri membelakangi jendela, dia berdiri persis disamping Bu Ceng-hiong.

"Aku memang butuh pedang yang berat" terdengar pemuda itu menyahut.

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya lagi seperti orang bergumam:

"Kalau tidak kugunakan pedang yang berat, mana mungkin bisa mengungguli pergelangan tangannya yang gesit dan lincah"

Hay Tay-sau yang mendengar perkataan itu segera berpikir:

"Dengan berat mengatasi kecepatan, dengan kekakuan menangkan kelincahan, tidak nyana pemuda itu memiliki kemampuan yang berat, tapi siapakah orang ini?"

Ketika mencoba menengok lagi, kebetulan si wanita berbaju indah dan bersanggul tinggi itu sedang memalingkan wajahnya dari sudut ruangan.

Dibawah cahaya lentera, terlihat perempuan itu memiliki senyuman yang manis dengan sepasang mata yang bening, membawa daya pikat yang luar biasa.

Namun Hay Tay-sau maupun Bi lek Hwee nyaris menjerit kaget setelah menyaksikan raut mukanya yang cantik.

Ternyata perempuan cantik itu tidak lain adalah Un Tay-tay.

Dengan kerlingan matanya yang genit dan suara tertawanya yang merdu, dia berkata:

"Sudah kulihat berapa jenis senjata buatan sini, ternyata memang sangat bagus, adikku, apa lagi yang kau inginkan?"

Pemuda berbaju perlente itu sama sekali tidak berpaling, hanya sahutnya dengan suara berat:

"Aku butuh tujuh pasang borgol tangan dan kaki, borgol itupun harus dibuat seberat mungkin dan ditempa dengan bahan baja berkwalitas tinggi, agar tidak mudah patah"

"Borgol tangan dan kaki?" seru Bu Ceng-hiong dengan perasaan terkejut.

"Yaa betul" jawab pemuda itu sambil tertawa dingin, "untuk memborgol orang hutan yang buas"

Dibalik suara tertawanya terkandung nada dingin, sinis dan penuh kebencian, membuat Bu Ceng-hiong kembali tertegun.

Perlahan pemuda itu berjalan meninggalkan ruangan, langkah kakinya ringan nyaris tidak membawa sedikit suarapun.

Sekali lagi Bu Ceng-hiong terkesiap, buru buru serunya sambil tertawa:

"Siapa namamu tuan, kapan akan mengambil barang pesanan ini?"

"Kau tidak perlu mengetahui namaku" jawab pemuda itu sambil membalikkan tubuhnya, sorot mata yang tajam mengawasi wajah Bu Ceng-hiong lekat-lekat, "yang penting cepat selesaikan pesanan itu"

Dibawah cahaya lentera tampak sorot matanya tajam bagai mata pisau, meski wajahnya putih memucat namun raut mukanya terhitung tampan, hanya sayang terselip perasaan sedih, gusar dan dendam kesumat yang mengerikan.

Diam-diam Bu Ceng-hiong menghela napas, pikirnya:

"Sungguh tampan lelaki ini!"

Sementara itu Hay Tay-sau dan Bi lek Hwee kembali dibuat terperanjat setelah menyaksikan wajah tampan itu.

"Aaah, rupanya dia!" pikir mereka hampir berbareng.

Ternyata orang itu tidak lain adalah Im Ceng.

Waktu itu mereka berdua tidak menyadari kalau paras muka Tio toako yang berada dibelakang mereka pun mengalami perubahan yang luar biasa.

Ternyata Tio toako ini tidak lain adalah Tio Ki-kong, lelaki yang telah pertaruhkan nyawanya untuk selamatkan Im Ceng dari dalam hutan.

Setelah menyelamatkan Im Ceng, dia hantar pemuda itu ke tempat tinggal Bu Ceng-hiong, siapa sangka Im Ceng yang sok pintar malah menaruh kesalahan paham sehingga akhirnya melarikan diri.

Waktu itu Tio Ki-kong sedang menangisi Thiat Tiong-tong yang terjatuh ke dalam jurang......

Thiat Tiong-tong sendiri yang berada didasar jurang, lamat-lamat juga mendengar suara isak tangisnya.

Tidak lama kemudian dia bertemu dengan kawanan jago dari Han hong po, dalam pertarung­an yang sengit kendatipun kawanan jago dari Han hong po berhasil ditumpas, namun dia sendiripun menderita luka yang cukup parah.

Menanti dia berjuang mati-matian balik ke tempat tinggal Bu Ceng-hiong, waktu itu Im Ceng telah melarikan diri.

Sadar kalau tempat persembunyian mereka tidak bisa di pertahankan lagi, maka dia pun mengajak Bu Ceng-hiong kabur ke situ.

Ditempat yang baru mereka membangun sebuah pedesaan dengan mengumpulkan anak buah, Tio Ki-kong yang cacad pun berlatih mati matian untuk menguasahi ilmu golok dan tongkatnya guna mengimbangi kecacatan tubuhnya.

Untuk menunjang hidup, dia bergabung dengan Bu Ceng-hiong membuka usaha pandai besi, sementara untuk menyalurkan jiwa kepende­karannya mereka merampok dan membagikan uang jarahannya kepada fakir miskin.

Sekarang, setelah berjumpa lagi dengan Im Ceng, sebenarnya dia ingin menerjang keluar untuk menjelaskan semua kesalaham paham yang terjadi, dia ingin menerangkan betapa setia kawannya Thiat Tiong-tong terhadap anak muda itu.

......Seandainya saat itu dia benar-benar tampil untuk menerangkan kesalah pahaman tersebut kepada Im Ceng, mungkin peristiwa selanjutnya akan mengalami perubahan besar, Thiat Tiong-tong pun tidak perlu lagi menanggung tuduhan yang menyakitkan hati.

Tapi sayang Tio Ki-kong mengurungkan niatnya setelah melirik Bi lek Hwee sekejap, dia kuatir kejadian tersebut justru akan mencelakai jiwa Im Ceng dan membongkar identitas dirinya yang sebenarnya.

Pikirnya kemudian:

"Lebih baik kukuntit Im Ceng secara diam-diam........"

Dalam pada itu Un Tay-tay sudah berjalan mendekati Bu Ceng-hiong sambil tertawa, katanya:

"Tabiat adikku memang kurang baik, harap kau jangan marah, asal barang pesanan kami diselesaikan secara baik, aku tidak akan melupa­kan kebaikanmu"

Sambil berkata tiba-tiba dia mencubit lengan Bu Ceng-hiong sambil katanya lagi:

"Kekar amat ototmu, binimu pasti amat bahagia memiliki suami macam dirimu"

Bu Ceng-hiong agak tertegun, paras mukanya seketika berubah jadi merah padam.

Sambil tertawa merdu, kembali Un Tay-tay menggoyangkan pinggulnya berulang kali di hadapannya.

Im Ceng berdiri dengan wajah masam, dia seperti sengaja tidak memandang ke arahnya, tapi akhirnya tidak tahan dia berjalan menghampiri dan mendorong perempuan itu ke samping.

"Hey, apa apaan kau ini?" tegur Un Tay-tay sambil tertawa merdu.

Im Ceng sama sekali tidak memandang ke arahnya, dengan wajah hijau membesi ujarnya:

"Tukang besi, tulis yang jelas, diatas ke tujuh borgol itu harus diukir nama"

"Nama apa?" Tanya Bu Ceng-hiong sambil mendehem.

"Borgol pertama diberi nama Thiat Tiong-tong”, borgol ini harus dibuat sangat berat, agar dia tidak mampu bangkit lagi untuk selamanya!"

Bu Ceng-hiong yang siap menulis kelihatan bergetar keras hatinya, nyaris dia tidak mampu menulis nama itu.

Im Ceng berlagak seolah tidak melihat, kembali lanjutnya:

“Ke enam nama lainnya adalah Leng It-hong, Pek Seng-bu, Hek Seng-thian, Suto Siau, Seng Cun-hau dan.......Bi lek Hwee!"

Kebanyakan orang persilatan hanya tahu nama Bi lek Hwee, dan tidak seorang pun yang mengetahui nama asli orang tua itu, tidak heran kalau Im Ceng agak berhenti sejenak sebelum menyebutkan namanya.

Kembali semua orang yang berada dalam ruangan terperanjat, terlebih Bi lek Hwee, dengan penuh amarah dia siap menggempur jendela itu.

Untung Hay Tay-sau sudah menduga ke situ, buru-buru dia tangkap pergelangan tangannya.

"Kau jangan........."

Belum sempat Bi lek Hwee menyelesaikan perkataannya, lagi-lagi mulutnya sudah didekap tangan Hay Tay-sau.

"Bukannya aku banyak urusan" ujar Hay Tay-sau kemudian, "aku rasa perselisihanmu dengan pihak Perguruan Tay ki bun harus diselesaikan secara baik-baik, apa sih manfaatnya bergabung dengan kawanan manusia macam Hek Seng-thian?"

Merah padam selembar wajah Bi lek Hwee, serunya:

"Tapi bocah keparat itu telah menyiapkan sebuah borgol untukku, bukankah kejadian ini keterlaluan?"

"Soal ini......soal ini........." untuk sesaat Hay Tay-sau tergagap.

Tapi setelah memandang sekeliling tempat itu sekejap, ujarnya lagi sambil tertawa:

"Coba kau lihat siapa yang telah datang, urusanmu lebih baik nanti saja dibicarakan lagi"

"Baik, baik, kau memang gembong iblis yang menyusahkan aku saja" keluh Bi lek Hwee sambil menghela napas, "sekarang lepaskan tanganku dulu, lohu berjanji tidak akan sembarangan berulah!"

Kini, diapun telah menyaksikan perubahan yang terjadi diluar sana.....

Rupanya disaat Im Ceng sedang menyebutkan ke enam nama itu dan Un Tay-tay sedang mengawasi Bu Ceng-hiong yang sedang menulis sambil tertawa, mendadak terdengar bentakan keras berkumandang dari luar pintu.

Menyusul suara bentakan itu tampak sesosok bayangan manusia melesat masuk ke dalam ruangan dengan kecepatan tinggi.

"Hahahaha.......   Ternyata  berada  disini" terdengar orang itu berseru sambil tertawa keras.

Belum sempat Un Tay-tay membalikkan tubuhnya, orang itu sudah melayang turun disampingnya, menarik tangannya dan meng­awasinya tanpa berkedip, ternyata dia tidak lain adalah bocah pincang itu.

Sekali lagi Im Ceng berkerut kening, sebaliknya senyuman lebar segera menghiasi wajah Un Tay-tay.

Dengan cepat dia menowel pipi bocah pincang itu dan menegur sambil tertawa:

"Hey setan cilik, darimana kau tahu kalau cici berada disini?"

Bocah pincang itu mengerdipkan matanya sambil menarik napas  panjang, sambil meng­genggam tangan perempuan itu makin kencang, katanya sambil tertawa:

"Aduuh.... Kau makin lama semakin harum, makin dipandang makin cantik, aku ingin sekali menciummu"

"Dasar setan cilik" seru Un Tay-tay sambil menepuk tubuhnya, "cici sedang bertanya padamu, sudah kau dengar belum? Darimana kau tahu kalau cici berada disini?"

"Ada yang memberitahukan kepadaku!"

"Siapa?" Tanya Un Tay-tay dengan mata terbelalak semakin lebar.

"Ditengah jalan tadi aku telah bertemu sese­orang, dia yang beritahu kalau kau berada disini, malah dia sempat menitipkan sesuatu dan minta aku untuk menyerahkannya kepada si bibit cinta buta"

"Siapa itu bibit cinta buta? Siapa pula orang itu?" seru Un Tay-tay sambil tertawa.

Bocah pincang itu mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya dan sambil tertawa menuding ke arah Im Ceng.

"Aduh......dasar setan cilik, masa kau beri nama seburuk itu untuknya!" Un Tay-tay tertawa terpingkal-pingkal.

Paras muka Im Ceng berubah hebat.

Bocah pincang itu tidak bicara lagi, sambil tertawa dia sodorkan surat itu ke hadapannya.

Im Ceng berdiri dengan wajah penuh amarah, diapun tidak menerima sodoran surat itu.

"Kalau dia tidak mau menerima, biar aku saja yang menerimanya!" seru Un Tay-tay kemudian sambil tertawa.

Tapi begitu sampul surat dibuka dan menge­luarkan isinya, kembali perempuan itu menjerit kaget:

"Aduh mak.......Uang senilai satu juta lima ratus tahil perak!"

Ternyata isi surat itu adalah sepuluh lembar uang kertas yang bernilai satu juta lima ratus ribu tahil perak!

Kendatipun dalam ruangan dihadiri oleh kawanan jago yang selama ini menganggap uang bagai tinja, tidak urung mereka terkesiap juga setelah mendengar nilai uang tersebut.

Sambil membasahi bibirnya dengan ludah, bocah pincang itu membelalakkan matanya bulat-bulat, lama kemudian dia baru menghela napas dan bergumam sambil tertawa:

"Aduh mak, tahu ada duit senilai satu juta setengah, akan kusimpan lebih lama lagi dalam sakuku"

"Kalau aku jadi kau, uang tersebut tidak bakalan kuserahkan" seru Un Tay-tay pula sambil tertawa, "hei setan cilik, kau jangan keliru, uang itu untuk diserahkan kepadaku atau untuk dia?"

"Kalau duit itu milikku, pasti akan kuserahkan kepadamu!"

Un Tay-tay segera berpaling kearah Im Ceng, tanyanya pula sambil tertawa terkekeh:

"Bagaimana dengan kau? Akan kau berikan kepadaku atau tidak?"

"Uang yang tidak tahu asal usulnya tidak pernah aku maui!" jawab Im Ceng dengan nada berat.

"Aduh.... Kalau kau tidak mau, berikan saja kepadaku, tapi..... eeei, disini ada sepucuk surat yang ditujukan kepadamu!"

Dia mengambil secarik kertas warna kuning dan diserahkan kepada Im Ceng.

Diatas surat itu tertera berapa tulisan yang berbunyi:

"Uang sebesar satu juta lima ratus ribu tahil perak, dipersiapkan bagi Perguruan Tay ki bun untuk membalas dendam dan membangun kembali kejayaan perguruan, jangan ditanya uang ini berasal dari mana, harap kau, Im Ceng pergunakan sebaik-baiknya"

Berubah hebat paras muka Im Ceng selesai membaca tulisan itu, bentaknya:

"Siapa yang serahkan surat ini kepadamu?"

"Buat apa kau banyak bertanya, pokoknya ambil saja uang itu, kalau tidak mau ... hehehehe.....pasti ada orang lain yang mau menerimanya" seru bocah pincang itu.

Sementara Im Ceng masih tertegun, tiba-tiba Un Tay-tay memanggil lembut:

"Adik cilik, kemarikan telingamu, cici ingin mengajukan pertanyaan kepadamu"

Sambil cengar cengir kegirangan bocah pincang itu berjalan mendekat dan menyandarkan tubuhnya dalam pelukan perempuan itu.

"Ayoh terus terang kepadaku" bisik Un Tay-tay kemudian, "bukankah uang ini berasal dari.......Dia, Thiat Tiong-tong yang suruh kau serahkan kepadanya?"

Bocah pincang itu mengerdipkan matanya berapa kali, tapi akhirnya dia tertawa juga.

"Benar, dugaanmu memang sangat tepat"

Un Tay-tay segera menghembuskan napas panjang, bisiknya lagi:

"Orang ini memang rada aneh......."

"Coba kemarikan telingamu" kata bocah pincang itu kemudian, "akupun ingin bertanya sesuatu kepadamu"

Un Tay-tay membungkukkan tubuhnya, bocah pincang itu segera menempelkan bibirnya diatas telinga perempuan itu, setelah menarik napas panjang, serunya sambil tertawa:

"Terus terang beritahu kepadaku, kenapa kau begitu harum?"

"Dasar setan cilik!" umpat Un Tay-tay sambil memukul kepalanya.

Mendadak tampak Im Ceng menggerakkan tubuhnya dan menyelinap ke samping bocah pincang itu, secepat kilat dia cengkeram perge-langan tangannya sambil membentak:

"Apa kau bilang?"

"Kau tidak usah ikut campur!" sahut bocah pincang itu keras, sekuat tenaga dia mencoba meronta, tapi sayang cengkeraman Im Ceng begitu kuat bagai japitan baja, bagaimanapun dia meronta tetap tidak berhasil melepaskan diri.

"Persoalan ini ada hubungannya dengan aku, tentu saja aku harus ikut campur!" kata Im Ceng gusar.

"Ooh, rupanya cemburu nih yaa? Hehehehe.... .Jangan kelewat banyak makan cuka (cemburu maksudnya), masa lelaki macam kau pun besar rasa cemburunya, aku punya mata, aku toh boleh bebas melihat. Cepat lepaskan tanganmu"

Bukan mengendorkan cengkeramannya, ke lima jari tangan Im Ceng malah menjepit makin kuat, ujarnya gusar:

"Coba kalau bukan usiamu masih muda, hari ini aku tidak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja....... Hmm! Jika kau tidak mengaku, jangan harap kulepaskan dirimu!"

Saking sakitnya peluh telah bercucuran membasahi jidat bocah pincang itu, tapi teriaknya pula sambil tertawa paksa:

"Biar usiaku masih kecil, tapi aku lebih hebat ketimbang kau, tidak macam dirimu itu......tahunya hanya sakit rindu!"

"Kurangajar, tajam amat mulutmu!" bentak Im ceng semakin gusar.

"Kau mau lepas tangan tidak?" teriak bocah pincang itu.

Im Ceng tertawa dingin, belum sempat dia mengucapkan sesuatu, terdengar bocah pincang itu telah berteriak keras:

"Toako, cepat kemari, ada orang menganiaya aku!"

Belum selesai dia berteriak, terasa hembusan angin menyambar lewat, diantara cahaya api yang bergoyang tahu-tahu didepan pintu telah ber­tambah dengan seorang manusia berbaju hitam.

Sepasang ujung bajunya dibiarkan berkibar ke bawah, tubuhnya tegak bagai sebatang tongkat baja, mukanya kaku seperti patung, meski tiada pancaran cahaya namun membawa daya kekuatan yang menggidikkan.

Im Ceng terkesiap, menggunakan kesempatan itu bocah pincang tadi sudah meronta dari cengkeramannya sambil berteriak:

"Kalau memang punya kemampuan, ayo bertarunglah melawan toako ku, berani ngak?"

Dia segera menyelinap ke belakang manusia berbaju hitam itu dan bersembunyi dibalik Ai Thian-hok.

"Hmm, rupanya murid pertama kui bo, aku memang ingin menjajal kemampuanmu" kata Im Ceng dingin.

"Kalau begitu turun tangan saja, aku akan mengalah dua jurus untukmu!" sahut Ai Thian-hok dingin.

Kata katanya singkat, pendek dan dingin.

Pada saat itulah Un Tay-tay sudah menyelinap maju dan berdiri diantara Im Ceng dengan dirinya. Setelah menghadang didepan Ai Thian-hok, katanya sambil tertawa lembut:

"Urusan kanak-kanak biarlah diselesaikan sendiri oleh kanak-kanak, buat apa kita orang dewasa mencampurinya!"

Paras muka Ai Thian-hok tetap dingin dan kaku, sama sekali tidak menunjukkan reaksi.

"Padahal tidak ada urusan yang kelewat serius antara mereka berdua" kata Un Tay-tay lebih jauh, "lebih baik kita pergi saja, aku punya arak wangi, bagaimana kalau kau temani aku meneguk berapa tawan"

Tiba-tiba Ai Thian-hok mengebaskan bajunya sambil membentak: "Minggir kau!"

Segulung deruan angin pukulan menyambar keluar, membuat cahaya lentera dalam ruangan berkedip-kedip.

Un Tay-tay merasakan tubuhnya tergetar keras hingga mundur dengan sempoyongan, tapi dia masih berkata sambil tertawa:

"Semoga kau bisa melihat aku, dengan begitu kau tidak akan membangkang perkataanku!"

"Seorang lelaki dewasa menganiaya anak kecil, bahkan minta dilindungi perempuan, huuuh! Orang ini betul-betul bikin hati kecewa!"

Tiba tiba bentaknya:

"Ayoh kemari, kita bertarung!"

Sementara Un Tay-tay seakan masih ingin mengucapkan sesuatu, Im Ceng sudah menerobos lewat dari samping tubuhnya sambil membentak:

"Kalau berani, kita bertarung diluar!"

Sambil membentak dia langsung menerobos keluar dan berdiri dibawah hujan angin.

Ai Thian-hok mengebaskan bajunya, diantara api yang bergoyang, diapun sudah menyelinap keluar.

"hey setan cilik" Un Tay-tay segera berteriak, "cepat bujuk toako ku, jangan berkelahi"

"Kenapa aku harus membujuknya" sahut bocah pincang itu sambil tertawa ringan, "kalau keparat itu sudah mati terbunuh, bukankah uang itu akan menjadi milikmu"

"Kalau sampai toakomu membunuhnya, selama hidup aku tidak akan menggubrismu lagi!" ancam Un Tay-tay sambil menghentakkan kakinya.

"Aaaai.... Ternyata kau mencintainya"

"Bukan, bukan mencintai, kau tidak bakal tahu, selamanya kau tidak bakal tahu"

Bocah pincang itu tertegun, tiba-tiba serunya sambil tertawa:

"Ooh, aku tahu, bukankah kau cemas lantaran dia adalah adik seperguruannya Thiat Tiong-tong?"

Kemudian sambil bertepuk tangan lanjutnya:

"Baiklah, aku merasa cocok juga dengan orang she Thiat itu, memandang diatas wajahnya, biar aku minta kepada toako untuk mengampuni jiwanya!"

"Nah, begitulah baru anak baik-baik" seru Un Tay-tay sambil tertawa lebar.

Mereka berdua pun bersama sama menyusul keluar pintu.

Bu Ceng-hiong hanya memandang mereka dengan mulut melongo dan mata terbelalak, sedang Bi lek Hwee, Hay Tay-sau, Tio Ki-kong maupun Bu Bong segera menyusul keluar.

Kembali Tio Ki-kong menghela napas, pikirnya:

"Setelah kepergiannya kali ini, entah sampai kapan salah paham ini baru bisa diselesaikan"

Terdengar Bi lek Hwee berseru sambil menghela napas:

"Sayang, sayang!"

"Apanya yang sayang?" Tanya Hay Tay-sau.

"Bocah muda itu bukan tandingan Ai Thian-hok, kalau dia sampai mampus ditangan Ai Thian­ hok, bukankah aku tidak bisa melampiaskan rasa mendongkolku"

"Haah, jadi orang tadi.......Orang tadi adalah Ai Thian-hok?" seru Tio Ki-kong pula terperanjat.

"Benar, orang ini telengas, sudah lama lohu mengetahui tentang dirinya!"

"Celaka!" jerit Tio Ki-kong dengan wajah berubah, tiba-tiba teriaknya keras:

"Ho-ji,Ho-ji!"

Baru saja ia berteriak, nona berbaju hijau itu sudah muncul dengan cepat sekali, gerakan tubuhnya yang secepat kilat ditambah wajahnya yang dingin kaku membuat dia seakan terbungkus oleh selapis misteri.

"Anak Sim, kau tetap disini melayani tamu" seru Bu Ceng-hiong kemudian, diapun ikut melompat keluar dari pintu.

Bu Bong membalikkan tubuhnya, tiba-tiba dia menjura dan berseru:

"Harap kalian berdua menunggu sebentar, biar keponakan pergi membantu ayah"

Begitu selesai bicara, diapun segera berlalu.

Kini tinggal Bi lek Hwee saling berpandangan dengan Hay Tay-sau.

"Dasar bocah!" gumam Bi lek Hwee kemudian sambil tertawa getir dan menggeleng,.

"Kelihatannya Tio toako itu punya hubungan yang cukup dekat dengan Perguruan Tay ki bun" kata Hay Tay-sau, "tak heran dia buru buru pergi memmbantu setelah mengetahui anak muda itu dalam keadaan berbahaya!"

Bi lek Hwee berkerut kening, katanya pula:

"Ilmu silat yang dimiliki nona itu sangat tangguh, dia cukup mampu menghadapi Ai Thian-hok. Lohu jadi ingin ikut nonton keramaian"

"Benar, pertemanan akbar semacam ini memang tidak boleh dilewatkan dengan begitu saja!"

"Tapi kedai ini......."

Tiba-tiba Hay Tay-sau menghampiri sang kusir, sambil menepuk bahunya dia berseru:

"Kau baik-baik jaga kedai ini, jangan ke mana-mana"

Pukulan itu membuat sang kusir terbungkuk kesakitan, sahutnya dengan wajah getir: "Baa...baik......."

Hay Tay-sau tertawa tergelak, dia segera me­narik tangan Bi lek Hwee dan beranjak pergi dari situ.

Menanti bayangan tubuh kedua orang itu sudah pergi jauh, sang kusir baru membanting topinya keras-keras sambil mengumpat:

"Mereka perintah kalian, sekarang kalian perintah aku, dasar aku yang lagi sial!"

Tiba-tiba terlihat ada sesosok bayangan manusia melompat naik ke atas kereta kuda lalu mencemplak kudanya kuat-kuat.

Dengan perasaan kaget kusir itu menjerit:

"Perampok, berani amat kau rampas kudaku!"

Dengan cepat dia memburu ke depan sambil berusaha merebut kembali kudanya, tapi sebuah ayunan cambuk dengan telak menghajar diatas wajahnya.

Sambil menjerit kesakitan buru-buru dia menutupi wajahnya, menanti dia membuka matanya kembali, kereta kuda itu sudah lenyap dari depan mata.

 

BAB 14

Cinta seorang wanita cantik.

 

Dengan darah mendidih didada Im Ceng berlarian kencang ditengah hujan angin, dibelakangnya menyusul Ai Thian-hok.

Karena kuatir Un Tay-tay menghalangi niatnya, dia sengaja berlarian hingga keluar dari dusun sebelum menghentikan langkahnya.

"Jadi kau akan bertarung disini?" tegur Ai Thian-hok dingin.

"Benar!" dari sakunya Im Ceng mencabut keluar sebilah pisau kemudian membuat garis lingkaran selebar empat meter keliling.

"Kau tidak merasa garis lingkaran ini kelewat lebar?" kembali Ai Thian-hok mengejek.

"Perduli lingkaran yang kubuat kelewat besar atau kecil, pokoknya hari ini sebelum menang kalah ditentukan, siapa pun jangan harap bisa meninggalkan lingkaran ini barang setengah langkah pun!" ujar Im Ceng gusar.

Ditengah kilauan cahaya tajam, tahu-tahu pisau belati itu sudah menancap diatas tanah.

"Baik, aku akan mengalah tiga jurus untukmu, cepatlah turun tangan!"

"Hahahaha....... Kau sangka aku orang she-Im nkan menyerang orang buta duluan!" Im Ceng tertawa seram.

Mendadak sekujur tubuh Ai Thian-hok gemetar keras, begitu kerasnya hingga rambut panjang yang terurai hingga ke pundak pun ikut bergetar keras, mukanya yang sudah menyeramkan, kini semakin mengerikan hingga mirip setan gentayangan yang muncul ditengah hujan angin.

Si bocah pincang yang kebetulan baru tiba disitu dan mendengar ucapan dari Im Ceng, paras mukanya seketika berubah hebat, serunya sambil menghentakkan kakinya berulang kali:

"Celaka, celaka, kali ini siapa pun tidak ada yang bisa selamatkan dia lagi!"

"Kenapa?" Tanya Un Tay-tay terkejut.

Setelah menghembuskan napas panjang, bisik bocah itu:

"Toako ku paling benci kalau ada orang memakinya buta, selama ini belum pernah ada yang lolos dalam keadaan hidup"

Un Tay-tay terkesiap, ketika menatap wajah Ai Thian-hok yang mengerikan, tanpa terasa hawa dingin menyusup keluar dari lubuk hatinya, untuk sesaat dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Tiba-tiba terdengar Im Ceng membentak lantang:

"Bila ada siapa pun berani melangkah masuk ke dalam lingkaran ini untuk membantu Im Ceng, aku orang she-Im segera akan bunuh diri dihadapannya!"

"Bagus sekali" seru Ai Thian-hok dengan suara dalam, "kita tidak perlu berhenti sebelum ada yang mampus!"

Un Tay-tay yang mendengar perkataan itu kembali menghentakkan kakinya berulang kali, keluhnya:

"Heran, kenapa kalian kaum lelaki selalu bersikap aneh, padahal tiada dendam sakit hati apa pun diantara mereka berdua, kenapa harus bertarung sampai mati?"

Si bocah pincang itupun ikut berseru dengan wajah masam:

"Toako, hajar saja dia dengan berapa tonjokkan, buat apa mesti mencabut nyawanya? Dia.....dia toh tidak menganiaya aku.......”

"Kalau kau berani cerewet lagi, akan kupotong lidahmu terlebih dulu!" ancam Ai Thian-hok.

Si bocah pincang itu bergidik, sambil merentangkan tangannya tanda menyerah, dia hanya gelengkan kepalanya berulang kali.

Kini Ai Thian-hok telah berdiri saling berhadapan dengan Im Ceng, ditengah hujan angin, pakaian yang mereka kenakan telah basah kuyup, meski kedua belah pihak sama-sama menanti lawannya melancarkan serangan lebih dulu, namun suasana sudah mencapai puncak ketegangan, setiap saat pertarungan dapat berkobar.

Terdengar suara langkah kaki yang ramai bergema mendekat, ternyata Tio Ki-kong dan nona berbaju hijau itu telah menyusul tiba.

"Toa-tia, kau suruh aku membantu pemuda itu?" terdengar nona berbaju hijau itu bertanya.

"Benar, cepatlah tolong dia!"

Nona berbaju hijau itu menghela napas panjang, gumamnya:

"Walaupun aku enggan bertarung melawan kaum lelaki, tapi aku tidak ingin membangkang perintah dari toa-tia"

Perlahan-lahan dia berjalan mendekati garis lingkaran.

Dengan cepat Un Tay-tay menghadang dihadapannya, ujarnya setelah menghela napas:

"Bila kau membantunya, dia akan segera bunuh diri, aku paling paham tentang tabiatnya, apa yang telah diucapkan tidak pernah akan dirubah kembali"

Nona berbaju hijau itu tertegun, dia berpaling menengok Tio Ki-kong sekejap, tapi Tio Ki-kong sendiripun hanya berdiri kaku, sampai lama sekali tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

"Hei setan cilik" Un Tay-tay berpaling ke arah bocah pincang itu, "benarkah kau sudah kehabisan akal?"

"Satu satunya jalan untuk mencegah pertarungan ini adalah minta kepada orang she-Im itu agar tidak melancarkan serangan duluan, toako ku tidak pernah menyerang duluan"

Belum selesai dia berkata, terlihat Im Ceng sudah menerjang maju sambil melontarkan sebuah pukulan ke depan.

Melihat itu sekali lagi Un Tay-tay menghela napas.

"Aaai, seandainya kau tidak berkata begitu, belum tentu dia akan melancarkan serangan, tapi begitu mendengar perkataanmu, dia pasti akan menyerang duluan"

"Darimana kau bisa mengetahui wataknya itu?" Tanya si bocah pincang itu dengan mata terbelalak.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Im Ceng sudah melancarkan tiga jurus serangan.

Ai Thian-hok berdiri tegak, dia menunggu sampai ke tiga jurus serangan itu selesai dilancarkan, sepasang ujung bajunya baru dikebaskan berulang kali di udara.

Kembali bocah pincang itu berkata:

"Apa yang telah toako katakan, dia pun tidak pernah akan meru bahnya, kalau berjanji akan mengalah tiga jurus, dia tetap akan mengalah sebanyak tiga jurus!"

Selama ini sepasang tangan Ai Thian-hok selalu disembunyikan dibalik bajunya, sepasang lengan bajunya itu berputar bagaikan naga sakti di angkasa, dalam waktu singkat dia pun telah balas melancarkan tiga jurus serangan.

Biarpun ke tiga jurus serangan itu ganas dan dahsyat, ternyata Im Ceng pun hanya menempel­kan sepasang kepalannya diatas pinggang sambil berkelit kian kemari.

Ketika tiga jurus serangan itu lewat, terdengar Im Ceng membentak keras:

"Aku telah membayar lunas ketiga jurus serangan mu itu!"

Si bocah pincang tertegun melihat hal itu, sementara Un Tay-tay menengok sekejap ke arahnya lalu tertawa ringan.

"Aku mengalah tiga jurus lagi untukmu!" terdengar Ai Thian-hok menghardik.

Betul saja, dia menanti sampai Im Ceng selesai melancarkan tiga jurus serangan sebelum balas melancarkan pukulan.

Hmmm, aku justru akan mengalah lagi untukmu!" teriak Im Ceng gusar.

Ditengah bentakan, Ai Thian-hok telah melancarkan tiga jurus serangan dengan gerakan Siang go peng gwee (Siang-go kabur ke bulan), Hong tiong liu im (angin bergerak awan mengalir) dan Im po jit lay (awan buyar matahari muncul), terasa angin pukulan berpusing dengan dahsyatnya.

Selewat ke tiga jurus serangan itu, semestinya dia harus melanjutkan dengan jurus Gwee gi seng huan (rembulan bergeser bintang berpindah), Kim Jim po hu (roda emas memecah kabut) dan Tiang liong koan jit (bianglala menembusi sang surya), karena rangkaian jurus itu merupakan enam jurus serangan berantai.

Tapi begitu selesai menggunakan jurus Im po jit lay tadi, Ai Thian-hok sama sekali tidak melanjutkan kembali serangannya, dia  seolah dengan sengaja mengalah kepada Im Ceng.

Benar saja, kepalan Im Ceng langsung menyambar tiba, serangan keatas mengarah wajah, serangan bawah mengancam lambung, angin pukulan yang menderu-deru membuat ujung jubah Ai Thian-hok beterbangan kencang.

Meski Ai Thian-hok berilmu tinggi pun tidak urung tubuhnya terdesak mundur juga sejauh dua langkah.

Kejadian ini langsung menyulut api amarahnya, wajah yang dingin kaku berubah hebat, bentaknya:

"Sambut lagi ke tiga jurus seranganku ini!"

Gulungan angin pukulan dahsyat segera dilontarkan dari balik lengan bajunya.

Ke tiga jurus serangan ini meski jauh lebih dahsyat, namun dibalik gerak serangan itu dia sengaja membuka garis pertahanannya, khusus­nya pada jurus serangan yang ke tiga, sepasang lengannya malah dipentangkan lebar sehingga pertahanan dibagian dadanya terbuka sekali.

Siapa tahu Im Ceng tetap tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk melontarkan pukulan mautnya, dia bersikeras menunggu sampai ke tiga jurus serangan itu lewat baru melancarkan balasan.

Sewaktu melancarkan serangan pun dia sama sekali tidak memusingkan soal pertahanan, hampir segenap tenaga pukulan yang dimilikinya digunakan untuk menghimpit musuh.

Dalam keadaan seperti ini, kendatipun Ai Thian-hok sangat marah pun tidak ada gunanya, karena dia memang tidak bisa berbuat banyak terhadap pemuda keras kepala ini.

Sekalipun ilmu silat yang dimilikinya jauh lebih unggul ketimbang Im Ceng, tapi jurus serangan yang berulang kali tidak dapat digunakan secara tuntas membuat kemampuan silatnya menderita banyak kerugian, sebaliknya Im Ceng yang nekad justru menyerang jauh lebih girang dan ganas.

Sebagaimana wataknya yang berangasan, kasar dan gampang naik darah, diwaktu biasapun dia tidak pernah memikirkan soal pertahanan apalagi dalam menghadapi pertarungan semacam ini.

Tidak heran kalau untuk sesaat menang kalah sulit ditentukan.

Si bocah pincang yang menonton jalannya pertarungan itu jadi berdiri terbelalak dengan mulut melongo, tidak tahan dia gelengkan kepalanya sambil tertawa getir.

"Benar-benar watak baunya memuakkan, belum pernah kujumpai orang berwatak sebau itu!" gumamnya.

"Hari ini kau telah menjumpainya bukan?" sahut Un Tay-tay tertawa, "nah, bagi anak kecil macam kau, anggap saja menambah pengetahuanmu!"

Sekalipun senyuman masih menghiasi bibir­nya, padahal dalam hatinya perempuan ini merasa tegang sekali.

Ke tiga jurus serangan yang dilancarkan Ai Thian-hok kian lama kian bertambah susah untuk dihadapi, Im Ceng harus mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menghindar­kan diri, meski beruntung dapat lolos dari ancaman, tidak urung butiran keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya.

Waktu itu Bi lek Hwee serta Hay Tay-sau telah menyusul tiba disitu, mereka berdua pun ikut tercekat setelah menyaksikan jalannya pertarungan.

Tiba-tiba terdengar Ai Thian-hok berpekik nyaring, sepasang tangannya yang selama ini disembunyikan dibalik lengan baju, tiba-tiba keluar dan secepat kilat melepaskan tiga pukulan.

Kalau tadi deraan angin dari lengan bajunya sudah dahsyat, maka angin pukulan yang dilepaskan saat ini jauh lebih hebat lagi.

Im Ceng berhasil menghindar dari pukulan yang pertama, tapi pukulan ke dua sempat menyambar ujung bahunya, membuat dia terpental ke belakang dan harus berjumpalitan berapa kali agar tidak roboh terjengkang.

Ai Thian-hok tidak melanjutkan dengan serangan ke tiga, bahkan dia sengaja membuka pertahanan tubuh bagian bawahnya.

Jika Im Ceng gunakan kesempatan itu untuk menyerang dari tengah udara, kendatipun belum tentu bisa unggul, paling tidak dia masih bisa merebut posisi yang lebih menguntungkan.

Tapi dasar kepala batu, dia lebih baik mati konyol daripada memanfaatkan kesempatan itu, sambil menggigit bibir dia meluncur turun ke bawah.

Tatkala tubuhnya menyentuh permukaan tanah, hawa murninya yang kalut belum sempat dihimpun kembali, saat itulah sepasang tangan Ai Thian-hok menyerang dengan jurus Bai jut to hay (mendorong keluar tumpahan samudra) sudah menyodok kearah lambungnya.

Buru-buru Im Ceng berusaha menjejakkan kakinya untuk melambung kembali ke udara, sayang Ai Thian-hok tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berganti napas, angin pukulan yang kuat seketika menghantam tubuhnya, membuat dia roboh terjengkang ke tanah.

Tanpa terasa jeritan kaget bergema dari sisi arena.

Baru saja Ai Thian-hok menggerakkan langkahnya, Un Tay-tay segera berteriak keras:

"Sekarang giliran dia......."

Sambil tertawa dingin Ai Thian-hok segera membatalkan langkahnya.

Im Ceng yang terjengkang ke tanah cepat merangkak bangun, biarpun dia menggertak gigi menahan rasa sakit, namun noda darah terlihat membasahi ujung bibirnya.

"Pemuda ini betul-betul kepala batu!" gumam Hay Tay-sau sambil menghela napas.

Bi lek Hwee ikut menggeleng pula sambil menghela napas.

"Aku tidak menyangka Perguruan Tay ki bun memiliki murid sekeras itu, kelihatannya dia jauh lebih kepala batu ketimbang watakku!"

Si bocah pincang turut bergumam pula:

"Sudah banyak tahun toakoku tidak pernah menggunakan sepasang tangannya, tapi kali ini dia dipaksa untuk menggunakannya, meskipun dia kalah, seharusnya dia kalah dengan bangga"

"Kalah yaa kalah, apanya yang perlu menjadi bangga!" seru Un Tay-tay sambil melotot.

Im Ceng dengan langkah sempoyongan dan sepasang mata merah membara, selangkah demi melangkah mendekati Ai Thian-hok, lengan kirinya tampak terkulai ke bawah, jelas luka dibahu kanannya cukup parah.

Sekalipun terluka, semangatnya sama sekali tidak berkurang, begitu tiba dihadapan Ai Thian-hok, bentaknya:

"Hati hati kau!"

Dia mengayunkan tangannya dan langsung disodokkan ke depan.

Biarpun pukulan ini sudah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, sayang tenaga yang dimiliki sudah teramat minim, sekalipun pihak lawan tidak pandai silat pun, belum tentu serangan ini sebut dapat merobohkan dirinya.

Tentu saja secara mudah Ai Thian-hok berhasil menghindarkan diri dari ke tiga serangan itu.

"Apakah ke tiga jurus serangan berikut masih akan kau lancarkan?" terdengar Hay Tay-sau menegur dengan suara keras.

Ai Thian-hok tidak menanggapi, wajahnya tetap hambar tanpa perubahan apapun.

"Tua bangka sialan" umpat Hay Tay-sau gusar, "lebih baik bertarung satu babak dulu melawanku sebelum bicara lain"

Baru saja dia hendak menggerakkan tubuh-nya, tiba-tiba Im Ceng berpaling seraya mengancam:

"Kalau kau berani maju membantu, sekarang juga aku akan bunuh diri dihadapanmu"

"Tapi jurus keduanya tidak mungkin bisa kau hindari!" seru Hay Tay-sau cemas.

Im Ceng tertawa seram.

"Dari mana kau tahu kalau aku tidak sanggup menghindari..... sekali pun tidak mampu ku­hindari, apa urusannya denganmu!"

Kemudian sambil membusungkan dada, hardiknya:

"Orang she-Ai, ayoh maju!"

"Hmm, memandang kau sebagai seorang lelaki, kuberi waktu lagi bagimu untuk mengatur napas" kata Ai Thian-hok dingin.

Kontan Im Ceng mendelik, tapi sebelum dia menjawab, Un Tay-tay sudah berteriak lebih dahulu:

"Im lote, kau tidak boleh mati, uangmu sebesar satu juta lima ratus ribu tahil perak masih berada ditanganku, dan lagi kau..... kau masih begitu muda, masih banyak waktu bagimu untuk menikmati  keduniawian, biarlah orang lain membantumu, boleh bukan? Setelah ini aku.....aku pasti akan baik-baik melayanimu........"

Ucapan tersebut disampaikan dengan nada pedih dan penuh kepiluan, tapi Im Ceng jangan lagi menuruti, menengok sekejap ke arahnya pun tidak.

"Jadi.... Jadi kau tidak menyukai aku?" kembali Un Tay-tay berseru, "tahukah kau betapa sukaku kepadamu, bila kau mati, apa..... apa yang harus kuperbuat?"

Perkataan sendu yang disampaikan ditengah hujan angin begini, betul-betul membuat perasaan siapa pun merasa iba.

Paras muka Im Ceng turut berubah, tiba-tiba dia muntahkan darah segar, tapi segera teriaknya:

"Aku telah mengatur napasku, kenapa kau belum juga turun tangan?"

Otot wajah Ai Thian-hok nampak mengejang keras, ujarnya perlahan:

"Tadi kau mengatakan buta, apakah sedang mengumpatku?"

"Bukan mengumpatmu, bukan mengumpat­mu, yang dia maki bukan kau!" buru-buru Un Tay-tay berteriak.

Baru habis perempuan itu menjerit, Im Ceng dengan nada berat telah berteriak:

"Kau memang buta, tentu saja kau yang ku­maki!"

Paras muka Ai Thian-hok berubah makin suram, kembali tegurnya:

"Apakah sekarang kau siap menarik kembali ucapanmu?"

"Aku toh tidak salah bicara, kau memang buta" teriak Im Ceng semakin gusar, kemudian sambil bertepuk dada lanjutnya, "perkataan seorang lelaki yang telah diucapkan, sampai mati pun tidak akan ditarik balik!"

"Baik........”  Ai  Thian-hok menarik napas panjang, perlahan-lahan dia mengangkat tangan­nya.

Butir air mata tanpa terasa bercucuran membasahi pipi Un Tay-tay, teriaknya sambil menghentakkan kaki:

"Kenapa kau..... kau begitu bodoh, apa....apa salahnya menarik balik perkataanmu tadi, bila kau mencabut makianmu, dia tidak bakal mencelakaimu lagi!"

"Hahahahaha......" Im Ceng mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, "bagi seorang lelaki sejati, hidup tidak menyesal kenapa harus takut menghadapi mati! Hari ini bisa melihat kau menangis, hatiku sudah teramat gembira. Hei orang she-Ai, cepat turun tangan!"

Begitu dia selesai bicara, telapak tangan Ai Thian-hok telah tiba dihadapannya, begitu cepat gerak serangan yang dilancarkan, dalam waktu singkat dia sudah melepaskan tiga jurus pukulan.

"Blaaaam!" sekali lagi bahu kanan Im Ceng termakan sebuah pukulan.

Begitu kuat dan kerasnya pukulan tersebut, kontan tubuh pemuda itu mencelat ke belakang dan terguling di tanah.

Keadaan yang begitu mengenaskan membuat para penonton tidak tega untuk menyaksikannya lebih lanjut, sebagian diantara mereka segera pejamkan mata atau membuang pandangan kearah lain.

Tapi Im Ceng memang bandel, kembali dia merangkak bangun dan bergerak mendekati Ai Thian-hok.

"Kau masih ingin bertarung terus?" tegur Ai Thian-hok dengan wajah sedikit berubah.

"Belum pernah ada anggota Perguruan Tay ki bun yang minta ampun kepada orang lain!" sahut Im Ceng dengan napas tersengkal.

Telapak tangannya bergerak ke depan meng­gunakan jurus Sin liong tam jiau (naga sakti pentangkan cakar), tapi sayang sepasang bahunya sudah terluka hingga sulit baginya untuk mengangkat lengannya.

Tidak heran kalau serangan itu dilancarkan sangat lambat, tidak ubahnya seperti seorang kakek yang sedang memberikan sesuatu benda kepada seorang bocah bayi, serangan yang mustahil dapat mengenai sasarannya.

Semua orang menghela napas sedih, melihat Im ceng sudah tidak sanggup mengangkat lengannya, jelas sudah mustahil baginya untuk menyelesaikan ke tiga juru sserangannya.

Akhirnya setelah bersusah payah Im Ceng berhasil juga mengangkat lengannya, tangan itu inci demi inci diangkat keatas, inci demi inci mendekati A i Thian-hok... mendadak, "Plaaaak!" ternyata serangan dari Im Ceng itu bersarang telak di wajah Ai Thian-hok.

.....Sebagaimana diketahui, sepasang mata Ai Thian-hok sama sekali buta, selama ini dia hanya mengandalkan suara angin untuk menentukan gerak serangan lawan, tapi kali ini, serangan dari Im ceng dilakukan sangat lamban, bahkan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun.

Ai Thian-hok sangka dia sudah tidak mampu mengangkat lengannya lagi hingga sama sekali tidak berjaga, selain itu diapun merasa susah untuk melanjutkan pertarungan itu, sehingga akhirnya pukulan itu malah bersarang telak.

Dalam waktu singkat semua orang dibuat terkesima dan termangu untuk berapa saat lamanya.

Im Ceng sendiripun nampak agak tertegun, tapi kemudian dia tertawa tergelak, teriaknya:

"Hei orang she-Ai, akhirnya aku...aku berhasil menghajarmu..."

Tiba-tiba hawa murninya buyar, dia pun roboh tidak sadarkan diri.

Un Tay-tay tidak tahu harus terkejut atau gembira, cepat dia menubruk maju ke depan.

Hay Tay-sau pun ikut tertawa keras, bentak-nya:

"Ai Thian-hok, apakah kau masih punya muka untuk melanjutkan pertarungan ini? Kalau bernyali, ayoh tarung melawan aku!"

Tapi Ai Thian-hok hanya berdiri kaku ditempat, dia seolah tidak mendengar tantangan itu.

Diatas wajah Tio Ki-kong yang penuh bekas luka bacokan, lamat-lamat muncul juga cahaya merah, sambil berpaling ke arah nona berbaju hijau itu, katanya:

"Demi anak muda semacam ini, apakah cukup berharga bagimu untuk turun tangan?"

Diatas wajah si nona berbaju hijau yang putih pucat, kini muncul pula cahaya merah karena luapan emosi, tiba-tiba teriaknya keras:

"Ai Thian-hok, beranikah kau menerima berapa jurus serangan dari aku Liu Ho-ie?"

Bi lek Hwee sendiripun merasakan napasnya tidak teratur, saat itu dia ikut berkata pula:

"Meskipun lohu bermusuhan dengan Perguru­an Tay ki bun, namun hari inipun aku akan bertarung juga demi dirinya!"

Akan tetapi Ai Thian-hok masih tetap berdiri kaku tanpa bergerak, dia membiarkan air hujan dan angin menerpa wajahnya, raut muka yang semula dingin kaku kini berubah semakin dingin, sama sekali tidak nampak secerca cahaya kehangatan sedikit pun.

Bergidik perasaan hati bocah pincang itu setelah melihat perubahan mimik muka toakonya yang menyeramkan, tidak tahan panggilnya dengan nada gemetar:

"Toako......."

Perlahan-lahan Ai Thian-hok mendongakkan kepalanya, kemudian sambil menggapai bisiknya: "Kemari kau!"

Dengan wajah getir bocah pincang itu berjalan mendekat, katanya dengan nada gemetar:

"Toako, kau..... bila kau  enggan bertarung melawan mereka, siaute bersedia menggantikan posisimu"

"Tidak usah banyak bicara lagi" tukas Ai Thian-hok sambil tertawa pedih, "berdiri dihadapanku"

Dengan perasaan sangsi selangkah demi selangkah bocah pincang itu maju mendekat.

Mendadak Ai Thian-hok membenahi pakaian­nya kemudian menjatuhkan diri berlutut dihadapannya dan menyembah berapakali.

Tindakan yang sama sekali diluar dugaan ini bukan saja membuat bocah pincang itu terbelalak dengan mulut melongo, orang lain pun ikut terperanjat dibuatnya.

Setelah tertegun berapa saat akhirnya bocah pincang itu turut berlutut pula dengan air mata bercucuran, serunya gemetar:

"Toako, kau......apa yang kau lakukan?"

"Sembah sujudku ini kutujukan untuk suhu, tolong sampaikan kepada dia orang tua, katakan, tecu Ai Thian-hok sudah tidak bisa membalas budi kebaikannya lagi"

"Toako, kau.....kau......." bocah pincang itu semakin terkesiap.

Ai Thian-hok tertawa getir.

"Setelah hidup malang melintang dalam dunia persilatan, hari ini wajahku telah kena dihajar orang tanpa terasa, apakah aku masih punya muka untuk hidup terus di dunia ini?"

"Tapi......tapi..... toako, kau toh berhasil melukainya terlebih dulu!"

Ai Thian-hok melompat bangun dari tanah, dengan wajah berat tukasnya:

"Keputusanku sudah bulat, kau tidak usah banyak bicara lagi, tolong sampaikan juga kepada semua saudara yang lain, katakan kalau toako mohon diri terlebih dulu!"

Bocah pincang itu mendekap ditanah sambil menangis tersedu sedu, begitu sedihnya bocah itu membuat kawanan jago lain pun ikut terharu.

Pada saat itulah mendadak dari kejauhan muncul sesosok bayangan manusia, orang itu berhenti ditempat kegelapan dan segera menyem­bunyikan diri.

Sayang waktu itu semua orang sedang berdiri terperanjat hingga tidak seorang pun yang menyadari akan kehadirannya.

Terdengar Ai Thian-hok tertawa tergelak berulang kali, kemudian ujarnya lantang:

"Orang she-Im itu bisa memandang kematian sebagai hal yang lumrah, kenapa aku Ai Thian-hok tidak bisa? Kiu-te, jangan lupa, disaat seorang lelaki sejati menjelang ajal, dia harus mati sebagai seorang enghiong!"

Selesai bicara ia segera mengayunkan telapak tangannya siap dihantamkan keatas ubun ubun sendiri.

Sambil menangis terisak bocah pincang itu segera menubruk ke depan, memeluk pinggangnya kuat-kuat, membuat toakonya mundur berapa langkah dengan terhuyung, kemudian teriaknya keras:

"Toako, kau tidak boleh mati......."

Tiba tiba Hay Tay-sau ikut berteriak lantang:

"Memangnya kau anggap mati dalam keadaan begini merupakan kematian seorang enghiong? Huuuh, kalau memang bernyali, ayoh lanjutkan hidupmu, tahukah kau masih ada berapa banyak orang yang ingin menantangmu bertarung?"

Ai Thian-hok menangkap sepasang lengan bocah pincang itu, sambil berusaha melepaskan cengkeramannya, dia menghardik:

"Kiu-te, lepaskan tanganmu!"

Tapi sampai mati pun bocah pincang itu enggan melepaskan cengkeramannya.

Sekonyong-konyong dari kejauhan sana terdengar seseorang tertawa dingin.

Lalu terdengar seseorang dengan nada sinis menjengek:

"Buat apa kalian membujuknya? Manusia buta macam dia memang tidak berarti hidup terus di dunia ini, kenapa tidak biarkan dia pergi mampus saja!"

Semua orang terperanjat, terlebih Ai Thian-hok, dengan tubuh bergetar keras dan wajah berubah hebat, bentaknya:

"Siapa yang berani mencaci maki aku?"

Sesosok bayangan manusia tampak berdiri berapa meter dari arena pertarungan, berdiri di tengah hujan angin, sahutnya sambil tertawa dingin:

"Kalau aku sedang mengumpatmu lantas kenapa? Hahahaha.....  kau tidak lebih cuma seorang lelaki buta yang hampir mampus"

Waktu itu malam sudah kelap, ditambah hujan angin sedang  ber langsung membuat suasana diseputar sana cukup gelap, siapa pun tidak ada yang melihat jelas siapa gerangan orang itu?

Sekujur tubuh Ai Thian-hok gemetar keras, tiba-tiba teriaknya:

"Kemari kau, sekalipun aku ingin mati, paling tidak aku baru mati setelah berhasil membunuh­mu!"

"Bagaimana kalau kau tidak sanggup membu­nuhku?" jengek bayangan itu sambil tertawa dingin.

"Sehari aku tidak mampu membunuhmu, sehari pula aku orang she-Ai tidak akan mati!" teriak Ai Thian-hok gusar.

Tiba-tiba dia kebaskan sepasang lengan baju­nya dan melesat ke arah bayangan manusia itu dengan kecepatan tinggi.

Bayangan manusia itu segera tertawa tergelak.

"Hahahaha......kau tidak bakal sanggup membunuhku!"

Kata terakhir diucapkan dari tempat yang cukup jauh, namun Ai Thian-hok bagaikan bayangan tubuh saja, mengintil ketat dibelakangnya.

"Toako,......" bocah pincang itu segera berteriak keras, "toako........"

Cepat dia menyusul dari belakang.

"Entah siapakah orang itu" kata Hay Tay-sau kemudian sambil tertawa, "dia betul betul sangat hebat, hanya menggunakan beberapa patah kata saja telah berhasil selamatkan selembar nyawa Ai Thian-hok dari kematian!"

"Apakah kita perlu menyusulnya?" tanya Bi Lek-hwee.

Mengawasi kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, Hay Tay-sau gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak mungkin terkejar, tidak mungkin terkejar....."

Dalam pada itu Un Tay-tay telah membopong tubuh Im Ceng dan berjalan meninggalkan tempat itu.

Semua orang mengikuti dibelakangnya tanpa bicara, perasaan hati mereka rata-rata berat dan murung.

Setelah memasuki perkampungan dan tiba dipintu gerbang kedai tukang besi, mereka tidak menemukan kereta kuda disitu, sang kusir yang tahu gelagat tidak menguntungkan juga ikut raib dari sana.

Air muka Un Tay-tay yang murung nampak sedikit berubah, gumamnya tanpa terasa:

"Ba.....bagaimana sekarang?"

"Lebih baik nona tetap tinggal disini......" Bu Ceng hiong mengusulkan.

"Biar aku periksakan keadaan lukanya" kata Liu ho-ie, si nona berbaju hijau itu pula.

Ketika Un Tay-tay mencoba menengok, orang yang berada dalam pelukannya memejamkan matanya dengan wajah pucat pasi, sekilas pandangnya seolah sudah tidak bernapas lagi.

Rasa sedih yang berkecamuk dalam benaknya membuat air mata perempuan itu bercucuran tanpa terasa, butiran air mata meleleh dari pipinya dan jatuh membasahi sepasang mata Im Ceng yang ter tutup rapat.

Begitu basah oleh air mata, mendadak terdengar Im Ceng merintih perlahan lalu membuka kembali mulanya.

Secara lamat-lamat dia merasa ada sesosok bayangan manusia sedang berdiri dihadapannya, bayangan itu semula kabur tapi lambat laun makin bertambah jelas........ saat itulah  Liu  Ho-ie sedang berdiri dihadapannya sambil memeriksa keadaan luka yang dideritanya.

Begitu melihat jelas paras muka perempuan itu, Im Ceng segera meronta bangun sambil berteriak:

"Dia......dia.......dia adalah orang Han hong po, Tay-tay......cepat.... cepat pergi dari sini......."

Dia tidak pernah melupakan paras muka Liu Ho-ie yang dingin tanpa perubahan mimik itu, tapi dia hanya teringat kalau perempuan berwajah dingin ini adalah anggota benteng Han hong po yang hendak menginterogasi dirinya.

Tio Kie-kong yang kebetulan berjalan masuk buru-buru menjelaskan sambil menghela napas:

"Kongcu, kau salah paham, hari itu........."

Tapi sayang waktu itu Im Ceng yang sedang terluka dalam berada dalam keadaan setengah sadar, bukan saja dia tidak mendengar penjelasan itu, sebaliknya malah berteriak sambil meronta dalam pelukan Un Tay-tay:

"Bagus......bagus, Han hong po, aku akan beradu jiwa denganmu.... aku akan beradu jiwa!"

Tangannya mulai memukul kian kemari diimbangi tendangan yang membabi buta, seolah olah dia memang siap beradu jiwa.

Un Tay-tay memeluknya semakin kencang, serunya dengan air mata bercucuran:

"Baik, kita pergi, kita pergi........"

Dia segera bangkit berdiri dan berlarian dibawah hujan angin sambil membopong pemuda itu.

Melihat itu Tio Kie-kong menghentakkan kakinya berulang kali sambil menghela napas, teriaknya:

"Ini.....ini.......Ho-ji, kita kejar......."

"Toa-tia tidak usah kuatir" tukas Liu Ho-ie sambil memandang dingin bayangan tubuh yang makin menjauh itu, "dia tidak bakalan mampus!"

Selesai bicara dia membalikkan tubuh dan masuk kembali ke dalam kamarnya.

Hay Tay-sau serta Bi Lek-hwee hanya bisa saling bertukar pandangan tanpa bicara, mereka mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang.

Fajar sudah mulai nampak menyingsing diufuk timur, suara ayam berkokok pun lamat lamat kedengaran memecahkan keheningan, hujan angin semalaman suntuk pun berakhir juga.

Un Tay-tay berlarian dengan sepenuh tenaga sambil membopong tubuh Im Ceng.

Sepanjang jalan tiada hentinya dia menengok keadaan orang yang berada dalam pelukannya, mengawasi pemuda yang masih tidak sadarkan diri itu, untuk pertama kalinya dia menyadari kalau anak muda yang tergila-gila kepadanya itu ternyata seorang lelaki baja yang berhati sekeras batu karang.

Untuk sesaat dia merasa sedih bercampur menyesal, dulu dia sudah menyia-nyiakan cinta kasih pemuda ini, perempuan itu tidak tahu, apakah dikemudian hari masih ada kesempatan baginya untuk membayar hutangnya ini?

Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, akhirnya terlihat cahaya terang mulai muncul di langit timur, tapi suasana disekelilingnya terasa tetap hening dan sepi, dengus napas Un Tay-tay mulai berat dan tersengkal-sengkal.

Selama tahun terakhir dia lebih banyak memperhatikan keindahan tubuh ketimbang kehebatan kungfunya, tidak heran kalau saat ini dia sudah kehabisan tenaga.

Sekalipun begitu dia sama sekali tidak memperlambat langkahnya, perempuan itu ingin secepatnya tiba di rumah dan mengobati luka yang diderita Im Ceng, bila dapat menolong pemuda itu, apalah artinya kelelahan dan kehabisan tenaga baginya?

Permukaan tanah makin lama semakin tinggi, kini mereka sudah berada di daerah pegunngan.

Sepertanak nasi kemudian mereka sudah tiba di dataran rata diatas perbukitan itu, dibalik hutan yang lebat lamat-lamat terlihat cahaya lentera memancar keluar dari remangnya cuaca.

Sambil menghembuskan napas lega Un Tay-tay bergerak menuju ke dalam hutan itu.

Ditengah hutan terdapat sebuah bangunan rumah, sekilas mirip sebuah kuil, inilah tempat persembunyian yang digunakan Un Tay-tay untuk menghindari pencarian orang, memang jarang orang luar yang mengetahui letak tempat ini.

Perempuan ini selain pintar, diapun memiliki kemampuan luar biasa yang jarang dimiliki orang lain.

Hanya dalam waktu yang relatip singkat bukan saja dia berhasil menemukan tempat itu, bahkan telah mengubah kuil bobrok itu menjadi sebuah tempat tinggal yang nyaman, malah dia sempat pula membeli dua orang dayang yang jujur dan setia.

Satu-satunya persoalan yang membuat dia menyesal adalah masalah kusir kereta itu.......

Tapi begitu dia menerobos masuk ke dalam hutan, sorot matanya segera terhenti pada sebuah kereta kuda yang diparkir persis didepan pintu rumahnya, kereta mewah miliknya!

Dengan perasaan girang ia pun berpikir:

"Ooh, ternyata kusir itu tidak sabar menunggu hingga balik duluan kemari!"

Maka tanpa sempat berteriak memanggil dayangnya, dia langsung menerobos masuk ke dalam.

Cahaya lentera masih menyinari ruangan, sambil mengatur napasnya yang tersengkal Un Tay-tay pun berteriak memanggil:

"Ying-ji, Yan-ji, apakah kalian belum tidur? cepat siapkan air panas..."

Sambil berteriak dia menerobos masuk ke dalam ruangan, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya berdiri terbelalak, dibawah sinar lentera, tampak ke dua orang dayang setianya sudah mati membujur kaku dilantai.

Tidak ada benda yang berantakan dalam ruangan, tapi dua gumpalan darah masih nampak mengembang, seakan peristiwa berdarah ini belum luma terjadi.

Un Tay-tay merasakan hatinya bergidik, tidak tahan dia bersin berulang kali, pikirnya:

"Jangan-jangan Suto Siau berhasil menemukan tempat ini?"

"Blaaaam!" mendadak pintu ruangan tertutup kembali.

Telapak tangan Un Tay-tay sudah basah oleh keringat dingin, untuk sesaat dia tidak berani membalikkan tubuhnya, tiba-tiba dia mendengar suara dengus napas yang berat bergema dari arah belakang.

Tergopoh-gopoh dia lari maju berapa langkah hingga tiba disudut dinding, kemudian dengan cepat membalikkan tubuh, berdiri dengan menempelkan punggungnya diatas dinding yang dingin dan mendongakkan kepalanya.

Seorang pemuda berpakaian kusut berdiri dengan menempel dipintu, tangannya menggeng­gam sebilah pisau belati, mukanya penuh dicekam perasaan gugup, panik dan takut.

Begitu sepasang mata mereka saling bertemu, kedua orang itu sama-sama terperanjat sambil menjerit tertahan:

"Aaah, rupanya kau!"

Un Tay-tay kenal dengan pemuda berpakaian lusuh itu, begitu pula dengan pemuda itu.

Ternyata lelaki dengan pakaian yang amat kusut ini tidak lain adalah Sim Si-pek!

Walaupun dia ditendang Hay Tay-sau hingga tercebur ke sungai, ternyata nyawanya tidak sampai tamat, setelah bersusah payah mencapai daratan, diapun mulai melarikan diri terbirit-birit.

Dalam keadaan yang mengenaskan, mula-mula dia ingin mencari dulu rumah penduduk, mencari pakaian kering dan makanan.

Apa mau dikata ternyata dia tiba di perkampungan pandai besi itu, maka dicarilah rumah penduduk yang terbesar, pemuda itu berniat merampas pakaian, uang dan hidangan yang tersedia disana.

Siapa tahu begitu melongok lewat jendela, dia saksikan Hay Tay-sau sedang duduk sambil meneguk arak, kejadian ini membuatnya terkesiap dan ketakutan setengah mati.

Dalam keadaan begini dia tidak berani bergerak lagi, dengan tubuh gemetar cepat dia menyelinap ke balik kegelapan dan menyem-bunyikan diri.

Kemudian datang Un Tay-tay sekalian dan terjadilah keributan, semua peristiwa itu dapat dia ikuti dari balik kegelapan dengan jelas, perasaan hatinya sempat terkesiap ketika mendengar Un Tay-tay datang bersama adik seperguruan Thiat Tiong-tong, masih untung malam itu hujan angin sedang berlangsung hingga kehadirannya disana sama sekali tidak diketahui siapa pun.

Menanti semua orang mengejar Ai Thian-hok dan Im Ceng yang hendak bertarung, dia baru secara diam-diam melompat keluar dari tempat persembunyian, merampas kereta kuda dan melarikan diri.

Tapi rasa lapar, kaget, kedinginan dan letih yang menyiksa dirinya membuat dia tidak mampu mcnguasahi diri lagi, setelah menempuh perjalanan berapa saat diapun jatuh tidak sadarkan diri dalam ruang kereta.

Kedua ekor kuda penghela kereta itu memang kuda-kuda jempolan, biarpun tidak dikendalikan orang, mereka dapat berjalan balik ke tempat semula secara otomatis, maka Sim Si-pek pun dibawa menuju ke tempat tinggal Un Tay-tay.

Ketika tersadar kembali dari pingsannya, Sim Si-pek menjumpai kereta itu sudah diparkir didepan pintu rumah, karena tidak ada tujuan lain maka dia pun menerobos masuk ke dalam gedung itu, disitu dia menjumpai ada dua orang dayang tersebut.

Tentu saja dayang-dayang itu menjerit kaget, maka tanpa banyak bicara dia membunuh mereka berdua, mimpi pun dia tidak menyangka secara tiba-tiba Un Tay-tay bakal muncul pula disitu.

Un Tay-tay sendiripun tidak menyangka murid Hek Seng-thian bisa muncul di tempat persem­bunyiannya, begitu berhasil mengen-dalikan rasa kiigetnya diapun menegur:

"Kenapa kau datang kemari? Bahkan membunuh ke dua orang dayangku?"

Sim Si-pek memandang perempuan itu sekejap, buru-buru dia menjura dan menyahut dengan senyuman dibuat-buat:

"Mana berani keponakan membunuh dayang duri bibi, sewaktu tiba disini aku jumpai mereka sudah mati"

Un Tay-tay tahu kalau dia sedang bohong, tapi tidak berusaha untuk mengungkapnya, setelah mengiakan diapun membaringkan Im Ceng keatas bangku.

Kemudian dengan senyum dikulum perlahan dia menghampiri Sim Si-pek, katanya sambil tertawa:

"Kenapa pakaianmu begitu kusut dan menge­naskan, bagaimana kalau bibi mencarikan pakaian kering untukmu?"

Sim Si-pek berpikir sejenak kemudian tertawa dingin, pikirnya:

"Tampaknya dia sembunyikan golok dibalik senyuman, berarti sekarang juga dia ingin membunuhku"

Perlu diketahui, tindakan Suto Siau yang menyimpan bini muda ditempat lain meski berhasil mengelabuhi istrinya, bukan berarti bisa mengelabuhi rekan-rekannya, malah dia sering mengundang Hek Seng-thian sekalian minum arak ditempat tinggal Un Tay-tay, tentu saja dalam setiap kunjungan Sim Si-pek selalu turut serta bersama gurunya, oleh sebab itu boleh dibilang dia sangat mengetahui watak istri muda Suto Siau ini.

Maka tidak menanti Un Tay-tay datang mendekat, dia sudah berkelit berapa langkah ke belakang, katanya lagi sambil tertawa:

"Tecu mendapat perintah guru untuk menyampaikan salam kepada bibi, mana berani merepotkanmu dengan pekerjaan sepele...."

Dalam hati kecilnya Un Tay-tay merasa terkesiap, tapi perasaan itu tidak ditampilkan diwajahnya, malah sambil tertawa merdu kata-nya:

"Suhumu menyuruh kau datang menjenguk? Kenapa dia tidak datang sendiri? Apa takut Suto Siau cemburu?"

Sekalipun dia pintar dan pandai menyesuaikan diri, namun mimpi pun tidak menyangka kalau waktu itu Sim Sin-pek telah menghianati Hek Seng-Ihian, karenanya meski senyuman masih tersungging diujung bibir, jantungnya justru berdebar keras.

Sambil berusaha membaca situasi, kembali Sim Sin-pek menyahut seraya bertanya:

"Guru minta keponakan datang lebih awal, maksudnya untuk meninjau dulu apakah ada tempat disini, sebentar dia orang tua akan menyusul kemari"

Tampaknya dia bermaksud menggunakan kata ancaman itu untuk mengendalikan Un Tay-tay, agar tidak berani melancarkan serangan kepadanya.

Un Tay-tay mengerlingkan matanya berulang kali, katanya sambil tertawa manja:

"Aaah, siapa bilang tidak ada tempat? Aduh, tentu saja disini amat leluasa untuk menampung kalian semua, cepatlah pulang dan suruh dia kemari!"

Dalam hati Sim Sin-pek tertawa dingin, pikirnya:

"Asal kaki depanku pergi dari sini, mungkin kaupun akan mengikuti jejakku kabur dari tempat Ini. Hmmm! Biarpun kau terhitung pintar, tapi jangan disangka aku Sim Sin-pek pun orang bodoh, mana mungkin akan kulepaskan kesempatan baik ini dengan begitu saja!"

Maka sambil tertawa katanya:

"Tapi aku lihat tempat tinggal bibi kurang leluasa, masa siautit berani melaporkan kepada suhu?"

"Waaah, dimana letak ketidak leluasaan itu?" Sambil melirik Im Ceng yang tidak sadarkan diri di bangku sekejap, kata Sim Sin-pek:

"Siautit kenal juga dengan murid dari Perguruan Tay ki bun ini, setelah disini melihat kehadirannya, masa siautit berani membohongi guru?"

"Aduh mak, kau maksudkan dia?" Un Tay-tay tertawa cekikikan, "cepat pulang dan beritahu kepada Hek Seng-thian, katakan kalau aku sudah bosan dengan dia dan kini bermaksud menyerah­kan kembali kepadanya"

"Sungguh?"

"Setiap kali bertemu, sepasang mata suhumu tiada hentinya memperhatikan gerak-gerikku, memangnya aku tidak tahu apa maksud dia mengirim kau kemari? Paling-paling juga lantaran ingin...... ingin berbuat begituan denganku!"

Sim Sin-pek mmutar biji matanya berulang kali, lalu katanya sambil tertawa:

"Siapa sih yang tidak tertarik dengan perempuan cantik macam bibi? Siapa pun tentu ingin berbuat begituan setelah berjumpa dengan-mu"

"Bagaimana dengan kau? ingin begituan tidak?" Tanya Un Tay-tay sambil membusungkan dadanya dan tertawa genit.

Saat itu seluruh pakaian yang dikenakan basah kuyup oleh air hujan hingga nyaris menempel lekat ditubuhnya, dibawah cahaya lentera, tampak jelas setiap lekukan tubuhnya yang montok dan menggiurkan itu.

Sim Sin-pek tidak kuasa menahan dirinya, ditatapnya setiap lekukan tubuh perempuan itu dengan mata melotot, kemudian sembari diam diam menelan air liur katanya jengah:

"Siautit pun termasuk orang lelaki, siapa bilang tidak ingin? Aku ingin sekali.....cuma tidak berani!"

Kembali Un Tay-tay mengerling genit, sesudah memperhatikan Sim Sin-pek berapa saat, tangan­nya mulai meraba ke pakaiannya dan perlahan-lahan  melepaskan kancing  bajunya, satu......dua.......

Gerak geriknya dilakukan begitu halus, begitu lembut dan begitu naluri, membuat mata orang urakan tidak melihat gerak tangannya yang sedang melepas kancing, membuat perhatian orang seratus persen tertuju pada pakaiannya yang mulai melorot ke bawah kaki.........

Tiba-tiba dia membuka lebar seluruh pakaiannya, tubuh bugilnya yang putih, lembut dan montok seketika tampil dihadapan Sim Sin-pek.

"Apakah sekarang kau masih tidak berani?" tanyanya lembut.

Sim Sin-pek berdiri terkesima, berdiri terbelalak dengan mulut melongo, dia hanya merasa biji tenggorokannya naik turun......

"Kemarilah, apa lagi yang kau tunggu?" bisik Un Tay tay sambil mengerling nakal.

Perlahan-lahan Sim Sin-pek melangkah maju ke depan, seakan sama sekali tidak mampu membangkang, dia maju mendekat dengan wajah iri kesima.

Senyuman Un Tay-tay semakin menggiurkan, lapi didalam hati dia mulai mengghitung langkah kakinya:

"Selangkah, dua langkah......asal kau maju tiga langkah lagi, maju dua langkah lagi........"

Sementara itu Sim Sin-pek yang melangkah maju dengan wajah terkesima pun secara diam-diam menghitung pula langkah kaki sendiri:

"Selangkah, dua langkah....... aku cukup maju selangkah  lagi......  hahahaha... Un  Tay-tay, permainan busukmu mungkin bisa membohongi orang lain, namun jangan harap bisa menipuku, selama ini kau tidak berani turun tangan sebaliknya malah memikatku dengan cara begini, jelas hal ini dikarenakan kau sudah kehabisan tenaga bukan? Kau ingin aku masuk perangkap? Huuuh, baiklah, aku akan gunakan siasat untuk kontra siasat busukmu itu......."

Sekali lagi dia awasi tubuh bugil yang indah lagi montok itu, kemudian bukannya maju dia malah mundur satu langkah.

 

Thiat Tiong-tong segera menyembunyikan diri begitu melihat si nona berbaju hijau itu mendemonstrasikan ilmu meringankan tubuhnya yang hebat, orang lain gagal menemukan jejaknya, padahal secara diam-diam dia justru memper­hatikan gerak-gerik setiap orang.

Tatkala semua rombongan memasuki perkam­pungan pandai besi, diapun mengikuti semua peristiwa itu secara jelas, justru kemunculan Un Tay-tay serta Im Ceng yang mendadak jauh diluar dugaannya.

Tapi dalam sekilas pandang dia sudah mengenali si manusia cacad itu adalah Tio Kie-kong, oleh karena kuatir Tio Kie-kong membuka identitas dirinya dihadapan Bi Lek-hwee, maka secara diam-diam dia kabur menyembunyikan diri.

Dia mengikuti rombongan sampai disitupun gara-gara ingin bertemu dengan Tio Kie-kong, perasaan hatinya jadi lega setelah tahu bahwa ditempat itu selain hadir Tio Kie-kong juga terdapat nona berbaju hijau itu, dia tahu Im Ceng tidak bakalan menderita kerugian.

Dan pada saat itulah matanya yang tajam dapat melihat ada dua sosok bayangan manusia sendang bergerak diluar hutan, ketika dia menyusul kesana maka diketahui bahwa kedua orang itu tidak lain. adalah Ai Thian-hok serta si bocah pincang.

Maka diapun menghentikan kedua orang itu.

Betapa terkejut dan girangnya bocah pincang itu setelah tahu kalau dia belum mati, secara ringkas diapun menceritakan keadaan Sui Leng-kong dan dua bersaudara Lengyang mengenaskan.

Thiat Tiong-tong merasa amat terharu setelah mengetahui kejadian tersebut, dia bertekad akan pergi mencari mereka, setelah bertanya arah kepergian gadis-gadis itu, dia pun serahkan selembar uang kertas dan minta si bocah pincang untuk menyampaikannya kepada Im Ceng.

Ketika bocah pincang itu pergi menjumpai Un Tay lay, dia sendiri berangkat mencari Sui Leng.

Tapi bagaimanapun dia merasa tidak berlega hati memikirkan keselamatan Im Ceng, maka setelah berjalan berapa saat dia balik kembali ke tempat semula, secara kebetulan dia pun mendengar ucapan dari Ai Thian-hok yang ingin mati.

Muka dengan menggunakan ucapan yang tajam dia membangkitkan amarah serta keinginan hidup Al Titian hok.

Dalam pikirannya, asal bisa lolos dari pengejaran Ai Thian-hok maka orang buta itu tidak mungkin tahu siapa yang telah membuatnya marah, begitu Ai Thian-hok pun tidak mungkin bisa membunuhnya.

Tanpa sangka Ai Thian-hok selain memiliki gerakan tubuh yang cepat, ketajaman pendengarannya pun diluar dugaan Thiat Tiong-tong, meski pemuda itu telah mengerahkan segenap kemam­puan yang dimilikipun dia tidak pernah berhasil lolos dari pengejaran lawan.

Ke arah mana pun Thiat Tiong-tong lari, Ai Thian-hok dengan lengan bajunya yang menderu deru selalu menempel ketat di belakangnya, dalam keadaan begini dia tidak berani berpaling, apalagi memperlambat gerak larinya.

Kejar mengejarpun berlangsung hampir satu jam lamanya, sekujur tubuh Thiat Tiong-tong telah basah kuyup oleh keringat, saat itu mereka berdua sudah memasuki wilayah pegunungan.

Diantara pepohonan yang lebat akhirnya Thiat Tiong-tong berhasil menemukan bangunan rumah yang terpencil itu.

Berada dalam posisi seperti ini dia tidak punya pilihan lain kecuali menerobos masuk ke dalam bangunan, dia ingin menggunakan bangunan rumah itu untuk menyembunyikan suara angin yang terbawa ketika melarikan diri, dia berusaha ingin melepaskan diri dari pengejaran si kelelawar buta itu.

Pada saat itulah Sim Sin-pek sedang maju untuk langkahnya yang terakhir.

Mendadak terasa cahaya lentera jadi redup, sesosok bayangan manusia sudah menerobos masuk lewat jendela.

Baik Sim Sin-pek maupun Un Tay-tay sama sama tercekat, buru-buru mereka mundur dua langkah.

Tapi begitu tahu kalau orang yang muncul adalah Thiat Tiong-tong, serentak merekapun menjerit kaget.

Thiat Tiong-tong sendiripun tidak kalah kagetnya, tapi dengan kemampuan menyesuaikan dirinya yang tidak tertandingi cepat dia bereaksi, begitu kakinya melayang turun ke lantai, secepat kilat tangannya mencengkeram baju Sim Sin-pek.

Waktu itu sebenarnya Sim Sin-pek sudah ketakutan setengah mati, paras mukanya berubah makin pucat setelah melihat datangnya ancaman, bibirnya gemetar dan giginya saling beradu, meski ingin mohon ampun namun tidak sepatah kata pun mampu diucapkan.

Thiat Tiong-tong dengan sorot matanya setajam pisau mengawasi wajahnya tanpa berkedip.

Meski hanya sekejap, namun bagi perasaan Sim sin pek, pandangan itu terasa lama sekali.

Kini dia hanya bisa menanti Thiat Tiong-tong melancarkan serangan untuk mencabut nyawanya.

Siapa tahu pemuda itu tidak melakukannya, malah berbisik:

"Cepat enyah dari sini! Kalau sampai terkejar lagi olehku, akan kucabut nyawa anjingmu"

Sambil berkata dia benar-benar melepaskan cengkeramannya.

Untuk sesaat Sim Sin-pek berdiri tertegun, dia tidak mengira akan lolos dari kematian, tanpa berpikir panjang lagi dia segera melompat keluar melalui jendela dan melarikan diri terbirit-birit.

Meski Un Tay-tay pintar pun dia tidak mengerti apa maksud Thiat Tiong-tong dengan tindakannya itu, dengan mata terbelalak lebar tanyanya keheranan:

"Kenapa kau.....kau........"

Belum selesai ia bertanya, Thiat Tiong-tong sudah membekap mulutnya sambil menarik perempuan itu ke sudut ruangan, bahkan dia segera tutup napas dan tidak berani menghembuskan napasnya secara keras.

Ternyata pemuda itu sedang menggunakan siasat keong emas kabur dari cangkangnya.

Dengan dia menerobos masuk ke dalam ruangan sementara Sim Sin-pek kabur keluar, Ai Thian-hok yang buta diharapkan tidak bisa membedakan kalau orang tersebut bukan dirinya.

Menanti Ai Thian-hok sadar akan kekeliruan­nya, Thiat Tiong-tong bisa manfaatkan kesempatan itu untuk lari ke arah lain.

Un Tay-tay mengawasinya dengan mata terbelalak lebar, mengawasinya dengan terkejut, pakaian dibagian dadanya masih dalam keadaan terbuka lebar, bau harum semerbak terendus dari balik tubuhnya.

Dengan kening berkerut Thiat Tiong-tong segera berpaling ke arah lain.

Pada saat itulah dari luar ruangan terdengar suara Ai Thian-hok sedang berseru dengan nada dingin:

"Hmm, jangan harap kau bisa membohongi aku, gerak tubuh yang digunakan orang itu sama sekali tidak mirip dengan gerakan tubuhmu!"

Suara yang dingin hambar itu diucapkan dengan tenaga yang kuat dan menggema dari empat arah delapan penjuru, membuat orang susah untuk menduga berasal dari manakah suara itu.

"Ai Thian-hok!" pekik Un Tay-tay dengan wajah berubah.

Sekarang dia baru tahu kalau orang yang semalam membangkitkan amarah Ai Thian-hok ternyata adalah Thiat Tiong-tong.

Sementara itu sang pemuda itupun tercekat hatinya.

"Ai Thian-hok memang sungguh lihay" pikirnya dihati, "ternyata dia bisa membedakan dari suara angin yang terbawa oleh gerakan Sim Sin-pek sama sekali berbeda dengan gerakan tubuhku"

Baru saja ingatan itu melintas, dengan suara dingin kembali Ai Thian-hok berkata:

"Aku akan menghitung sampai angka tiga, bila kau belum keluar juga, akan kubakar ludas rumah ini, sampai waktunya jangan harap siapa pun bisa keluar dari sini!"

Thiat Tiong-tong terkesiap, buru-buru dia bergesar menuju ke depan pintu.

Baru saja Un Tay-tay akan menarik tangannya, Thiat Tiong-tong sudah membuka pintu depan dan melangkah keluar menuju halaman.

"Satu........" terdengar suara Ai Thian-hok yang dingin kaku mulai menghitung.

Thiat Tiong-tong langsung berjalan menuju ke tengah halaman, dia berjalan tanpa bersuara.

"Dua........"

Kembali Thiat Tiong-tong berjalan maju dua langkah, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya.

"Kalau sekarang aku kabur tanpa diketahui jejaknya oleh Ai Thian-hok, dia pasti menyangka aku masih bersembunyi dalam ruangan, kalau sampai dia bakar rumah ini, bukankah aku akan mencelakai jiwa Im Ceng serta Un Tay-tay?"

Berpikir sampai disitu, diapun berteriak lantang:

"Aku berada disini!"

Ketika berteriak, tubuhnya sudah berada lebih kurang empat meter dari posisi semula.

Ketika Un Tay-tay menyusul keluar dari pintu, terasa ada hembusan angin kuat meluncur turun dari atas wuwungan rumah, sesosok bayangan manusia bagaikan kelelawar telah meluncur kedepan dengan kecepatan tinggi, dalam waktu singkat bayangan tubuh itu sudah lenyap dibalik kegelapan.

Dia memandang termangu hujan angin yang masih berderai di depan mata, lalu memandang pula Im Ceng yang masih tidak sadarkan diri, mendadak dia berlutut didepan undak-undakan, air mata bercucuran membasahi pipinya.

Baru pertama kali ini dia merasakan begitu kesepian, begitu kesendirian, begitu menderita dan tersiksa.

Dia seakan merasa balik pada jaman masa kecilnya dulu, masa dimana tiada orang yang memperhatikan, memberi bantuan bahkan menggubrisnya, seluruh rasa percaya diri, seluruh kekuatan yang dimiliki seakan lenyap dengan begitu saja.

Dia merasa pemandangan yang terbentang didepan mata seakan hanya selapis kegelapan.

Untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa memiliki uang banyak pun tidak ada gunanya jika tiada orang mau menaruh perhatian pada dirinya, harta tidak menjamin kebahagiaan......

Menanti perempuan itu balik kembali ke kamarnya, saat itu Thiat Tiong-tong sudah berada jauh dari situ.

 

BAB 15.

Siau-lim-sie kecil.

 

Thiat Tiong-tong belum berhasil lolos dari pengejaran Ai Thian-hok yang menempel lekat bagaikan bayangan, pakaiannya yang basah kuyup membuat langkah kakinya kian lama kian bertambah berat.

Sekalipun selama ini dia tidak pernah berpaling, namun pemuda itu dapat merasakan telapak tangan lawan yang berada hanya berapa inci di belakang tubuhnya, kenyataan tersebut menambah beban tekanannya yang besar, paling tidak membuatnya bergidik.

Meskipun beberapa kali dia ingin membalikkan tubuh untuk bertempur, namun setiap kali terbayang apapun hasil pertarungan tersebut, yang ada hanya siksaan..... bila dia berhasil mengungguli lawannya, Ai Thian-hok pasti akan bunuh diri, sebaliknya jika dia kalah dan mati, Ai thian hok pun tetap akan bunuh diri.....padahal tujuannya melarikan diri kali ini adalah demi menyelamatkan nyawa orang yang sedang mengejarnya, yang bisa dia lakukan kini hanya tertawa getir.

Orang yang sedang melarikan diri ternyata kabur demi menyelamatkan nyawa orang yang mengejarnya, mungkin sejak dulu hingga sekarang belum pernah terjadi peristiwa semacam ini.

Ditengah hujan angin, suasana ditanah perbukitan itu nampak amat sendu, jalan setapak yang semula hanya berlumut dan licin, makin keatas jalan semakin susah ditempuh, bukan saja terdiri dari tanah perbukitan yang terjal bahkan terasa gersang dan gundul.

Makin lama Thiat Tiong-tong semakin sulit untuk menentukan arah, ditanah perbukitan yang terjal dia hanya bisa belok ke kiri menikung ke kanan dengan harapan bisa meninggalkan Ai Thian-hok makin jauh.

Siapa tahu deruan angin tajam yang ditimbul­kan Ai Thian-hok dari ke dua lengan bajunya masih menderu disamping telinga, jangan dilihat tanah tebing itu curam, licin dan terjal, ternyata dia sanggup melaluinya jauh lebih cekatan daripada orangyang bermata normal.

Tanpa terasa ke dua orang itu semakin dalam menembusi tanah pegunungan itu, kini mereka sudah mencapai pinggang gunung.

Posisi Thiat Tiong-tong sekarang ibarat menunggang di punggung harimau, hatinya makin gelisah bercampur cemas, setelah melewati sebuah tikungan terjal tibalah dia disebuah tanah yang dikelilingi tebing tinggi, tempat itu mirip sekali dengan sebuah jalan buntu.

"Mati akui" keluhnya didalam hati. Tapi dia tidak bisa berhenti begitu saja, betul juga ternyata ia telah tiba disebuah lembah yang sekelilingnya penuh dtumbuhi pepohonan.

Dibalik pepohonan yang rimbun tampak berdiri tiga buah bangunan rumah, didepan bangunan itu terpampang sebuah papan nama, hanya sayang Thiat Tiong-tong tidak punya waktu untuk meneliti tulisan tersebut.

Bau harum daging rebus yang menusuk hidung mengepul keluar dari balik bangunan rumah itu, tampaknya ada seseorang melongokkan kepalanya dari balik jendela dan mengamati Thiat Tiong-tong beberapa kejap.

Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan nyaring ber kumandang keluar dari balik ruangan, begitu nyaring bentakan itu membuat sepasang telinga Thiat Tiong-tong mendengung keras.

Menyusul kemudian pintu rumah dibuka orang dan muncullah seorang lelaki tinggi besar, gemuk penuh lemak, berambut panjang dan mengenakan baju pendeta yang sudah penuh noda minyak, celananya digulung tinggi-tinggi hingga nampak kakinya yang penuh berbulu.

"Berhenti!" bentaknya sambil melotot besar ke arah anak muda itu.

Dari suara bentakan yang begitu bertenaga, Thiat Tiong-tong tahu kalau orang ini pasti memiliki kungfu yang hebat, tapi dia tidak bisa menduga asal-usul orang itu apalagi melihat dandanannya yang setengah padri setengah orang awam.

Dalam hati dia berkeluh, dari belakang muncul Ai Thian-hok yang menempel terus secara ketat sementara dihadapannya muncul seorang makhluk aneh yang menakutkan.

Berada dalam keadaan begini dia tidak berani banyak urusan, cepat tubuhnya berputar dan melintas lewat dari sisinya.

Siapa tahu orang itu lagi-lagi mendelik lebar, tubuhnya yang gemuk bergerak cepat dan kembali dia sudah menghadang jalan lewat Thiat Tiong-tong, ternyata gerakan tubuhnya cepat bagaikan hembusan angin.

Posisi Thiat Tiong-tong saat ini benar-benar amat kritis, didepan menjumpai penghadang sementara dibelakang menghadapi musuh yang mengejar.

Pemuda itu segera merasa, walaupun orang yang berada dihadapannya berdiri dengan mata melotot, namun sama sekali tidak menunjukkan sikap marah, maka buru-buru serunya sambil menjura:

"Tolong, berilah jalan lewat!"

Kembali dia bergeser ke samping dan siap melintas dari sisi tubuhnya.

Tiba-tiba terdengar manusia aneh itu berteriak keras sambil tertawa terbahak bahak:

"Hahahahaha...... anak muda, kau betul-betul tidak becus, masa karena tidak sanggup melawan orang lantas sipat telinga kabur terbirit-birit!"

Sementara dia berbicara, Thiat Tiong-tong sudah mencoba menerobos ke kiri dan ke kanan sebanyak tiga kali, tapi ilmu meringankan tubuh yang dimiliki manusia aneh ini betul-betul sudah mencapai puncak kesempurnaan, biar ke mana pun anak muda itu menerobos, dia selalu dapat menghalanginya secara tepat.

Dalam pada itu Ai Thian-hok telah tiba juga ditempat kejadian, tapi dia hanya berdiri jauh dari ke dua orang itu, berdiri lebih kurang sepuluh meter dari sang pemuda, katanya dingin:

"Biarkan dia lewat!"

"Aneh" gumam manusia aneh itu keheranan, "kau tidak mampu mengejarnya sementara aku telah membantumu menghalangi jalan perginya, masa sekarang kau malah suruh aku membebas­kannya lagi? Memangnya kalian sedang bermain petak umpat? Hahahaha.... bagus, bagus sekali, kalau memang sedang bermain petak umpat, bagaimana kalau aku ikut ambil bagian?"

Habis berkata kembali dia tertawa terbahak bahak.

Tingkah pola orang aneh itu sungguh membuat Thiat Tiong-tong kheki bercampur geli, pikirnya:

"Jangan-jangan aku bertemu orang sinting?"

Maka sembari menjura katanya lantang:

"Kenapa kau halangi jalan pergiku?"

"Kenapa kau mesti kabur?"

"Aku melarikan diri atau tidak, apa sangkut pautnya denganmu?" tanya Thiat Tiong-tong tertegun.

Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak.

"Selama hidup pinceng paling tidak betah melihat orang melarikan diri, siapa suruh kau kabur ke sini? Anggap saja memang lagi apes!"

"Darimana kau tahu kalau aku sedang kabur?"

Manusia aneh itu tertegun, kemudian sahutnya sambil tertawa:

"Aaah! Betul, betul, darimana pinceng tahu kalau kau sedang kabur? Siapa tahu kalian memang sedang bermain petak umpet? Kalau bukan begitu,masa diapun minta aku membebaskanmu?"

Dia berpaling dan memandang sekejap wajah Ai Thian hok yang dingin, kaku, penuh diliputi hawa napmi membunuh, tidak tahan tanyanya lagi:

"Hey, kenapa kau mengejarnya terus, sebetul­nya untuk apa?"

"Untuk mencabut nyawanya!" jawab Ai Thian-hok dingin.

Tiba-tiba dia merangsek maju ke depan, ujung bajunya dikebaskan berulang kali mengancam tiga bilah jalan darah penting di dadanya, kembali hardiknya:

"Kau mau bebaskan dia atau tidak?"

"Aneh, betul-betul sangat aneh........" gumam manusia aneh itu lagi sambil mengegos ke samping.

Sebenarnya dia sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap kemampuan orang, siapa nangka ilmu menotok jalan darah yang dimiliki Ai Thian-hok benar-benar sangat hebat, begitu serangan dilancarkan, gerakan demi gerakan saling menyusul.

Kendatipun manusia aneh ini memiliki kungfu yang hebat, tak urung dibuat kelabakan juga, selain repot menghindarkan diri, kata berikutpun tidak sanggup lagi dilanjutkan.

Sambil melancarkan seangkaian ancaman maut, terdengar Ai Thian-hok berteriak keras:

"Thiat Tiong-tong! Kenapa kau masih belum kabur?"

"Aduh celaka!" pekik Thiat Tiong-tong didalam hati, kini Ai Thian-hok sudah mengenali suaranya, berarti persoalannya tidak mungkin bisa diselesai­kan dengan begitu saja.

Dalam pikiran yang kalut dia siap bergerak melarikan diri dari situ.

Tiba-tiba manusia aneh itu membentak nyaring, sepasang lengannya direntangkan ke kedua sisi, tangan kirinya mencengkeram bahu Thiat Tiong-tong sementara tangan kanannya bergerak secara berantai menerobos masuk ke balik bayangan lengan baju Ai Thian-hok.

Melihat gerak serangan yang digunakan amat sederhana dan bersahaja, Thiat Tiong-tong sangka dengan mudah dia bisa menerobos lewat, sementara tangan kirinya menangkis, tubuhnya melanjutkan terobosannya ke depan.

Siapa sangka diantara berkelebatnya bayangan tangan, entah dengan cara apa, mendadak jari tangan manusia aneh itu sudah menempel diatas bahunya.

Dalam terkejut bercampur ngerinya Thiat Tiong-tong mundur ke belakang sejauh empat meter lebih, lamat-lamat dia merasa bahunya agak sakit.

"Sreeet.....!" lagi lagi terdengar suara kain robek, kali ini lengan baju milik Ai Thian-hok yang tersambar hingga sobek.

Dengan perasaan terkesiap Ai Thian-hok berjumpalitan di tengah udara dan melayang turun tiga meter dari sisi tubuh anak muda itu.

Mereka berdua beranggapan kungfu yang dimilikinya sudah amat hebat dan sempurna, tapi mereka tidak menyangka kalau dikolong langit ternyata terdapat jurus serangan yang demikian aneh sehingga satu gebrakan pun tidak sanggup mereka hadapi.

Khususnya bagi Ai Thian-hok, sudah banyak tahun dia menjelajahi dunia persilatan, dengan mengandalkan sepasang lengan bajunya entah berapa banyak jago pernah dihadapi, dan selama ini belum pernah ada yang mampu bertanding seru melawannya.

Tapi sekarang, cukup hanya dalam satu gebrakan manusia aneh itu berhasil merobek lengan bajunya, kenyataan ini selain membuat-nya terkesiap, diapun merasa amat sedih.

Lama setelah termenung akhirnya dia menghela napas sedih sambil bergumam:

"Kungfu yang hebat!"

"Jangan kau ambil perduli kungfuku hebat atau tidak, pinceng ingin tahu saja, kenapa kau ingin mencabut nyawanya, kenapa kau minta pula kepadaku untuk membiarkan dia kabur?"

Dengan gusar Ai Thian-hok menjawab:

"Selama hidup aku orang she-Ai........."

Sebetulnya dia ingin bilang kalau selama hidup tidak suka orang lain menolongnya, tapi secara tiba-tiba teringat pula kalau kungfu yang dimiliki orang Itu jauh diatas kemampuannya, buat apa pula dia sok jagoan dihadapannya?

Berpikir sampai disitu diapun menutup kembali mulutnya dan menghela napas panjang.

"Hei, kenapa hanya bicara separuh?" tegur orang aneh itu gelisah, "kenapa tidak kau lanjutkan perkataanmu?"

Sambil tertawa getir Ai Thian-hok siap membalikkan tubuh untuk berlalu dari situ.

Buru-buru manusia aneh itu goyangkan tangannya seraya berseru:

"Tunggu dulu, tunggu dulu, kau mengejarnya dan dia melarikan diri, kemudian aku menghadang jalan larinya sementara kaupun paksa aku untuk membiarkan dia kabur, sebenarnya kenapa kau mengejarnya? Dan kenapa pula kau mesti melarikan diri?"

Jelas pertanyaan terakhir ditujukan kepada Thiat Tiong-tong.

Sambil tertawa getir sahut Thiat Tiong-tong:

"Aku kabur lantaran ingin menyelamatkan jiwanya!l"

Seandainya bukan lantaran Ai Thian-hok sudah mengenali suaranya, tidak mungkin dia aka mengucapkan perkataan tersebut, tapi sekarang mau tidak mau dia harus berbuat begitu, sebab kalau tidak, kemungkinan besar antara mereka berdua akan terikat dendam sakit hati yang berkepanjangan.

Paras muka Ai Thian-hok berubah hebat seketika dia menghentikan langkahnya seray membalikkan tubuh.

Sambil membenahi rambutnya yang kacau, manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak:

"Hahahaha.....kau kabur lantaran ingin menolongnya? Hahahaha ..... ungguh satu kejadian yang aneh, belum pernah kujumpai peristiwa semacam ini"

Tiba-tiba sambil menarik wajahnya dia melanjutkan:

"Hari ini, bila kalian berdua tidak menerangkan kejadian ini dengan sejelas-jelasnya, jangan harap bisa kabur dengan begitu saja dari sini"

Kontan Ai Thian-hok naik pitam, tegurnya:

"Memangnya kau anggap dengan andalkan kemampuanmu, lantas kau boleh mencampuri urusan orang lain dengan seenaknya........"

Mendadak ia teringat kalau kungfu orang itu memang luar biasa hebatnya, maka setelah menghela napas cepat dia tutup mulut.

Perlu diketahui, walaupun wataknya angkuh dan nyentrik namun semakin nyentrik seseorang, biasanya dia makin suka berterus terang, kalau menang akan bilang menang, kalau kalah pun akan mengakui kekalahan, orang semacam ini tidak nanti akan tebalkan muka dengan berjaga gengsi.

Karena sangat bisa menerima kenyataan, maka kendatipun hawa amarah masih membara dalam dadanya, terpaksa dia harus menahan diri.

Manusia aneh itu berpaling dan memandang­nya sekejap, kembali dia tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha..... apakah kalian berdua merasa amat tersiksa dan tidak berani bicara banyak lantaran kungfu yang pinceng miliki kelewat tangguh?"

Thiat Tiong-tong segera berpaling ke arah Ai Thian-hok, dalam dugaannya tidak mungkin orang itu akan mengakuinya.

Siapa tahu Ai Thian-hok dengan lantang segera mengakui:

"Benar!"

Seketika Thiat Tiong-tong tertegun, tanpa terasa timbul perasaan kagum dihati kecilnya:

"Nah, beginilah gaya seorang lelaki sejati, tidak malu dia menjadi seorang pendekar hebat!"

Terdengar manusia aneh itu tertawa tergelak.

"Sebetulnya kalian berdua tidak usah bersedih hati, sebab kungfu sehebat tadi hanya pinceng kuasai dua tiga jurus belaka, itupun dapat belajar dari mencuri!"

Ai Thian-hok termenung berapa saat lamanya, kemudian menjawab:

"Biar cuma dua tiga jurus, sebetulnya sudah lebih dari cukup, siapa lagi manusia di dunia ini yang mampu menghadapinya!"

"Betul!" sambung Thiat Tiong-tong pula sambil menghela napas.

Dia telah membayangkan kungfu dari jago-jago persilatan yang pernah dijumpainya selama ini, dan rasanya  memang  tidak  seorangpun  sanggup menghindarkan diri dari jurus serangan aneh itu. Manusia aneh itu segera tertawa tergelak.

"Hahahaha.......padahal banyak sekali jagoan di kolong langit yang sanggup mengungguli pinceng, malah ada tiga sampai lima orang yang mampu merobohkan aku hanya dalam satu gebrakan"

"Sungguh?" seru Ai Thian-hok dengan wajah berubah.

"Buat apa pinceng berbohong?" "Tapi menurut apa yang kudengar, jagoan nomor wahid di kolong langit...."

"Menurut apa yang kau ketahui, ada berapa banyak jagoan kelas satu?" tukas manusia aneh itu.

Setelah termenung sejenak sahut Ai Thian-hok:

"Tujuh partai besar dunia persilatan sudah memiliki sejarah yang panjang, kendatipun ciangbunjin dari ke tujuh partai sudah lama menutup diri, namun mereka semua terhitung jagoan kelas satu dalam dunia persilatan"

"Betul, masih ada yang lain?"

"Lu Ji-long dari Kwan-gwa, meski tidak pernah masuk perbatasan namun nama pendekarnya sudah lama menghebohkan dunia persilatan, kemudian keluarga Su dari Thay-gwan, Cu bu kiam dari Kanglam, Giok Na-cha dari Siong-yang, Tham It-lui dari Ho pan. Meski kungfu ke empat partai ini lebih mengutamakan tehnik, namun kepiawian mereka sangat luar biasa. Jika ilmu silat Giok-Nacha dari Siong-yang lebih mengutamakan kelincahan serta kecepatan berganti jurus, maka keluarga Tham dari Ho-pan lebih mengutamakan ilmu tendangan, mereka mendapat julukan 'Seutas cambuk dari Sin-kui, mengungguli dewa hidup', kehebatannya tidak terbantahkan!"

"Betul. Beberapa orang itu memang patut disebut jagoan kelas satu!"

"Ilmu Pat-ki-si dari perguruan Lak-hap di An-hui, ilmu pukulan mayat hidup keluarga Yan dari Seng-ciu, ilmu pedang Hui hong Wu liu kiam dari bukit Pa-san semuanya memiliki kelebihan yang tidak boleh dianggap enteng" sambung Ai Thian-hok lebih lanjut.

Biarpun dihari biasa dia jarang bicara, tapi begitu menyinggung masalah ilmu silat, ternyata pengetahuannya yang sangat luas.

Kembali lanjutnya setelah menarik napas panjang:

"Selain itu masih ada lagi Thiat hiat dari Perguruan Tay ki bun yang paling misterius jejaknya dan paling ganas ilmu pukulannya, anak murid mereka pun rata-rata memiliki kungfu yang hebat!"

Mendengar orang itu menyinggung soal perguruannya, tanpa terasa Thiat Tiong-tong merasakan semangatnya berkobar kembali.

"Betul" terdengar manusia aneh itu menghela napas panjang, "Thiat hiat Tay ki bun memang sempat menghebohkan dunia persilatan, bahkan tiada tandingan dikolong langit, tapi sayang........"

"Tapi sayang apa?" tanpa terasa Thiat Tiong-tong bertanya.

Manusia aneh itu meliriknya sekejap, kemu­dian baru melanjutkan:

"Tapi sayang ilmu silat Perguruan Tay ki bun sudah banyak yang punah, kungfu yang dimiliki anak muridnya sekarang paling banter hanya satu dua persen dibandingkan para cianpwee nya dulu"

Tergerak hati Thiat Tiong-tong setelah mendengar perkataan itu, tapi sebelum ia sempat berbicara, Ai Thian-hok sudah berkata duluan:

"Walaupun ilmu silat dari Perguruan Tay ki bun cukup tangguh, namun ilmu silat dari Ngo hok lian huan, lima keluarga turun temurun yang bermusuhan dengan mereka pun terhitung sangat hebat, ilmu pukulan tenaga yin dari Leng It-hong khusus diciptakan untuk menghadapi ciangbunjin dari Perguruan Tay ki bun, akibatnya jarang sekali dia menampilkan kungfu simpanannya itu. Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu merupakan pasangan kerjasama yang hebat, lalu siang-seng-piau-ki boleh dibilang juga jarang ada yang menandingi kehebatannya"

"Hmm, kalau main keroyok apa hebatnya? Biar menangpun tidak gagah" dengus orang aneh itu.

Ai Thian-hok tidak menanggapi, ujarnya lebih jauh:

"Kalau berbicara soal senjata rahasia, peluru api dari Bi lek tong maupun jarum Thian li ciam milik Seng Toa-nio terhitung jagoan nomor wahid dalam dunia persilatan"

"Cari kemenangan dengan andalkan amgi? itu lebih parah!"

"Seng Toa-nio memang termashur, namun kalah jauh bila dibandingkan putranya, Seng Cun-hau, putranya ini merupakan salah satu anggota dalam deretan kelompok Jay hong kun kiam (kelompok pedang pelangi), dia menjadi tenar berbareng dengan Ang-eng (elang merah), Bi-gwat (rembulan hijau), Mo-liong (naga hitam), Lan-hong (angin biru), Ui-koan (mahkota kuning) dan Cui-yan (walet hijau pupus), walaupun ke tujuh orang ini usianya rata-rata masih muda, tenaga dalamnya masih terbatas, namun ilmu pedangnya cukup meyakinkan, asal ditempa berapa saat lagi, tidak sulit bagi mereka untuk menjadi jago kenamaan"

"Betul" manusia aneh itu manggut manggut, "analisamu memang sangat tepat, masih ada yang lain?"

Thiat Tiong-tong yang berada disamping tidak bisa menahan diri lagi, selanya:

"Kiu cu Kui bo beserta murid muridnya memiliki kungfu yang hebat, namanya termasuk dalam deretan nomor wahid dan boleh dibilang merupakan jagoan tangguh saat ini, kenapa kau lupa menyinggungnya?"

"Betul, betul" seru manusia aneh itu sambil bertepuk tangan, "pada tiga puluh tahun berselang, ilmu silat yang dimiliki Yin Gi sudah terhitung hebat, aku percaya tiga puluh tahun kemudian kungfunya pasti jauh lebih maju"

"Siapa itu Yin Gi?" tanya Thiat Tiong-tong tercengang.

Ternyata meski nama besar Kiu cu Kui bo termashur dalam dunia persilatan, namun nama aslinya Yin Gi jarang diketahui orang, bagaimana Ai Thian-hok tidak kaget setelah mendengar manusia aneh itu mampu menyebut nama gurunya secara tepat?

Terdengar manusia aneh itu tertawa terkekeh kekeh.

"Ooh rupanya kau murid Kui bo? Biarpun pinceng tahu namanya tapi tidak kenal dengan orangnya!"

Dari senyuman orang yang kelewat dipaksakan, lalu mendengar manusia aneh itu buru-buru melamur, Thiat Tiong-tong tahu dibalik kesemua­nya itu pasti ada teka teki yang tidak beres.

Tampaknya Ai Thian-hok pun tidak bisa menebak rahasia dibalik manusia aneh itu, setelah termenung sejenak ujarnya:

"Aku rasa tidak ada jagoan lagi dalam dunia persilatan yang lebih tangguh ketimbang nama-nama tadi"

"Hahahaha...... menurut pendapatmu bagai­mana dengan kungfu yang pinceng miliki?" tiba-tiba manusia aneh itu bertanya sambil tertawa tergelak.

Ai Thian-hok menghela napas panjang.

"Kecuali ketujuh ciangbunjin dari tujuh partai besar serta guruku yang memiliki ilmu silat sangat hebat, mungkin kemampuanmu pun susah dicari­kan tandingannya dalam dunia persilatan"

"Hahahaha..... terima kasih, terima kasih......" seru manusia aneh itu tertawa tergelak.

Tiba tiba dia berhenti tertawa, dengan serius lanjutnya:

"Tapi kami semua tidak akan mampu menandingi sebuah ujung jari saja milik seseorang!"

"Siapa dia?" tanya Ai Thian-hok terperanjat.

Sebelum manusia aneh itu menjawab, mendadak Thiat Tiong-tong menyela:

"Ruyung guntur merontokkan bintang dan hujan, peluru angin memutuskan sukma, thaysu, kau pernah mendengar ucapan ini?"

Berubah paras muka manusia aneh itu, serunya sambil menatap tajam wajah anak muda itu:

"Kau kenal dengan mereka berdua?"

Dari perubahan mimik muka manusia aneh itu, Thiat Tiong-tong dapat menduga kalau ke dua orang yang disebut pasti memiliki asal-usul yang luar biasa, tidak tahan diapun menghela napas panjang.

"Cayhe sendiripun hanya sempat mendengar nama itu dari cerita orang"

"Kau ingin tahu soal ke dua orang itu?"

"Kalau thaysu bersedia menerangkan, tentu saja cayhe siap mendengarkan"

Manusia aneh itu berpikir sebentar, kemudian ujarnya:

"Kalau ingin mendengar kisahnya, ayoh ikut aku masuk ke dalam"

Selesai bicara diapun beranjak menuju ke ke tiga rumah pondokan itu.

Tanpa terasa Thiat Tiong-tong dan Ai Thian-hok mengikuti dari belakang.

Sekarang Thiat Tiong-tong baru dapat melihat dengan jelas tulisan yang tertera diatas papan nama ilu:

"Kuil siau-lim-sie kecil"

Melihat tulisan ini anak muda tersebut kontan merasa terkejut, keheranan bercampur geli, pikirnya nambil tertawa getir:

"Aneh betul manusia ini, masa ke tiga rumah pondokannya juga disebut Kuil Siau-lim-sie kecil, entah bagaimana reaksi para pendeta Siau-lim jika membaca tulisan itu?"

Tapi pikiran lain segera melintas, mendadak tningat olehnya kalau tempat itu letaknya di belakang bukit Siong-san, jaraknya dengan kuil Siau-lim-sie tidak terlampau jauh, kalau dilihat dari keberanian manusia aneh ini mencantumkan nama tersebut, bisa diduga kalau kemungkinan besar dia mempunyai hubungan yang akrab dengan kuil tersebut.

Ruangan di bangunan tengah cukup besar dan luas, tapi sayang acak-acakan, semua barang nyaris ditumpuk menjadi satu, dari buku, pedang, catur, khiem sampai sumpit, mangkuk, kuali, semuanya berada di satu tempat yang sama.

Disudut sebelah kiri terdapat rak kayu tempat buku, didalam rak itu berjajar berapa jilid kitab sementara diatas rak terpampang tulisan besar yang berbunyi:

"Cong keng khek" (ruang penyimpan kitab).

Disamping rak buku itu tergeletak berapa batang golok dan pedang yang dianggapnya sebagai ruang Lohan.

Diruang bagian tengah terdapat sebuah meja bobrok, diatas meja terletak sepasang lampu minyak, sedang dibagian tengahnya terpampang tulisan "Toa hiong po tien".

Sementara disudut kanan ruangan terdapat sebuah anglo kecil, diatas anglo terdapat kuali yang mengepulkan uap panas, bau harum semerbak memancar keluar dari kuali itu, rupanya disitulah letak dapur.

Menyaksikan kesemuanya itu Thiat Tiong-tong merasa heran, kaget bercampur geli, hampir semua ruangan yang ada di kuil Siau-lim, terdapat pula disitu, hanya saja bukan cuma kadarnya yang begitu rendah, pada hakekatnya bikin orang merasa geli saja.

Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak, katanya:

"Tempo hari, setelah pinceng diusir dari perguruan maka akupun membangun kui Siau­ lim-sie kecil-kecilan disini sebagai pertanda protes, bagaimana menurut pendapatmu?"

Thiat Tiong-tong hanya bisa mengiakan, karena dia memang tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaanku.

Mendadak dengan wajah serius manusia aneh itu berkata lagi:

"Kalian harus tahu, kendatipun pinceng makan daging minum arak, namun Buddha tetap berada dalam hatiku, selama Buddha masih berada dalam hatiku, maka apa salahnya bila kupandang tempat ini sebagai kuil Siau-lim-sie kecil-kecilan?"

Dari kata gurauan, Thiat Tiong-tong dapat menangkap makna lain dari perkataannya itu, maka sahutnya sambil tertawa:

"Perkataan thaysu betul juga, Bodhi bukan terletak pada pohonnya melainkan rasa percaya dihati, jika kita mau bersungguh hati maka semuanya pasti bermakna"

"Bagus, bagus sekali, pandangan yang tepat.." manusia aneh itu segera bertepuk tangan sambil tertawa.

"Boleh tahu siapa saja yang menurut thaysu betul-betul tokoh silat yang luar biasa itu?"

"Boleh saja bila kau berharap pinceng menceritakan kisah besar ini, cuma kalianpun mesti jelaskan dulu peristiwa yang sedang kalian berdua lakukan, kalau tidak pinceng betul-betul bisa mati karena sesak napas"

Thiat Tiong-tong tahu watak orang ini selain aneh, rasa ingin tahunya juga sangat besar, terpaksa diapun menghela napas panjang, katanya:

"Sebenarnya antara aku dengan Ai thayhiap tidak ada dendam sakit hati atau permusuhan apapun, hanya saja........"

Secara ringkas diapun menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Kendatipun penjelasan itu seolah ditujukan kepada manusia aneh itu, padahal yang benar dia ingin memberi penjelasan kepada Ai Thian-hok, agar orang itupun mengetahui kejadian yang sesungguhnya.

Didalam ruangan itu hanya terdapat sebuah bangku bobrok, itupun sudah ditempati manusia aneh itu, terpaksa Thiat Tiong-tong harus berbicara sambil berjalan mondar-mandir, diam-diam diapun mengawasi perubahan wajah dari Ai Thian-hok.

Ketika menyaksikan paras muka Ai Thian-hok berubah jadi sedih, seakan sudah merasa tenteram dan dingin perasaannya, sama sekali enggan mencari gara-gara lagi, diam-diam pemuda itu merasa kegirangan.

Tiba-tiba terdengar manusia aneh itu mem­bentak nyaring, tubuhnya melompat bangun dari atas bangku lalu menubruk ke arah Thiat Tiong-tong sambil merentangkan sepasang lengannya.

Dengan perasaan kaget bercampur terkesiap, buru-buru anak muda itu mundur sejauh tiga langkah.

Terdengar manusia aneh itu berkata dengan nada berat:

"Kalian boleh berkeliaran ke mana pun dalam kuil Siau-lim-sie kecil ini, tapi jangan sekali-kali kalian sentuh pintu ke ruangan tersebut"

Rupanya sewaktu berjalan mondar mandir tadi, tanpa disadari Thiat Tiong-tong telah bersandar disebuah pintu yang ada disisi kiri.

Mendengar peringatan itu, dengan perasaan heran anak muda itu berpikir:

"Apa anehnya dengan ruangan ini?"

Tapi dia memang sudah terbiasa pandai mengendalikan diri, walaupun wajahnya sama sekali tidak berubah, sambil melanjutkan penuturannya diam diam dia mulai awasi pintu sempit itu dengan lebih seksama.

Pintu itu tertutup rapat dan sama sekali tidak ada celahnya sehingga tidak nampak apa isinya, hingga dia selesai bercerita pun pemuda itu tetap tidak berhasil menemukan apa-apa.

Waktu itu si manusia aneh tadi sudah balik dan duduk kembali di bangkunya, sambil mengipasi anglo kecilnya kembali dia berkata sambil tertawa keras:

"Beruntung kalian berdua tiba disini, kalau sampai bertarung habis-habisan, bukankah kejadian ini malah akan meninggalkan rasa penyesalan?"

Paras muka Ai Thian-hok masih tetap tanpa perasaan, dia tidak menanggapi perkataan itu, hanya tanyanya dengan nada dingin:

"Siapa saja yang menjagoi dunia persilatan selama ini?"

"Ruyung guntur merontokkan bintang dan hujan, peluru angin memutuskan sukma.........." gumam manusia aneh itu sambil memejamkan matanya.

Mendadak dia membuka matanya kembali dan melanjutkan:

"Hek Seng-thian, Pek Seng-bu maupun Bi gwat kiam khek sudah menjadi jagoan tenar dikolong langit saat ini, tahukah kalian berdua siapa guru mereka semua?"

Thiat Tiong-tong ingin memberi kesempatan kepada Ai Thian-hok untuk berbicara, sebab dia tahu kalau banyak bicara maka ke inginannya untuk tetap  hidup akan semakin tumbuh, oleh sebab itu meski dia tahu jawabannya namun tetap tutup mulut.

Benar saja, Ai Thian-hok segera menjawab:

"Walaupun Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu mengaku kalau kungfu mereka berasal dari warisan keluarga, padahal yang benar mereka mempelajari ilmu silatnya dari Kok thian seng, seorang begal budiman yang tersohor namanya dimasa lalu!”

"Betul, walaupun Kok Thian-seng memiliki kungfu yang sangat hebat, sayang nama dan pamornya kurang sedap, itulah sebabnya Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu enggan mengaku sebagai muridnya!"

"Aku dengar Bi gwat kiam-khek selain berwajah cantik, hatinya telengas, orang ini berasal dari aliran lurus, hanya sayang memiliki watak yang tidak berbeda dengan gurunya, Gwat-hoa Siancu!"

"Betul sekali, tidak nyana kau sangat menguasahi kejadian-kejadian lama. Tapi tahu-kah kau bagaimana nasib selanjutnya dari Kok thian-seng serta Gwat-hoa siancu?"

"Kedua orang ini satu hidup di selatan yang lain hidup di utara, boleh dibilang saat itu tiada tandingannya, tapi justru disaat nama mereka terorbit hingga puncaknya, tiba-tiba kabar berita­nya hilang lenyap tidak berbekas, oleh sebab itu Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Bi-gwat kiam-khek hanya sempat mempelajari tiga puluh persen kemampuan guru-gurunya, banyak berita dan dugaan yang kemudian muncul dan beredar dalam dunia persilatan karena hilangnya ke dua tokoh ini, ada yang bilang mereka berdua telah pulang ke langit barat........."

Setelah merandek sejenak dan termangu, dengan wajah agak berubah gumam Ai Thian-hok lebih jauh:

"Ruyung guntur merontokkan bintang dan hujan, peluru angin memutuskan sukma.........."

Manusia aneh itu ikut menghela napas.

"Itulah dia, kejadian yang benar adalah Kok Thian-seng serta Gwat-hoa siancu telah dipecundangi oleh si Ruyung guntur dan Peluru angin, meski tidak jelas bagaimana nasibnya, namun aku duga lebih banyak bahayanya ketimbang selamat!"

Thiat Tiong-tong merasa tercekat hatinya, dia tahu Kok thian-seng dan Gwat-hoa siancu adalah jago-jago yang tanpa tandingan selama puluhan tahun, tidak disangka ternyata mereka telah dikalahkan orang.

Sebagaimana diketahui, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Bi-gwat kiam-khek yang baru menguasahi tiga bagian kungfu gurunya saja sudah dapat menjagoi kolong langit, bisa dibayangkan betapa lihaynya Kok Thian-seng dan Gwat-hoa siancu itu.

Agak berubah juga paras muka Ai Thian-hok, lewat sesaat kemudian dia baru berkata lagi:

"Heran, kenapa cayhe tidak pernah dengar orang membicarakan soal si Ruyung guntur dan Peluru angin?"

Manusia aneh itu menghela napas panjang.

"Kalau Kui-bo saja enggan menyinggung nama busuk ke dua orang malaikat buas itu, mana berani orang lain membicarakannya?"

Berubah hebat paras muka Ai Thian-hok, dia segera membungkam diri dalam seribu bahasa.

Thiat Tiong-tong pun merasakan hatinya terkesiap, pikirnya:

"Jika Seng Toa-nio sampai bisa mengundang ke dua orang itu untuk menghadapi Perguruan Tay ki bun, bukankah nasib kami semua bakal habis secara tragis?"

Dalam pada itu si orang aneh itu sudah membuka penutup kualinya untuk memeriksa apakah masakannya sudah matang, kemudian ujarnya pula:

"Biarpun ilmu silat yang dimiliki Ruyung guntur dan Peluru angin sangat hebat, namun mereka pun amat takut terhadap seseorang"

"Siapa dia?" tanya Ai Thian-hok dengan tubuh tergetar.

Manusia aneh itu tidak menjawab, hanya gumamnya:

"Bila kau bergerak, hujan angin bagai langit gelap, guntur kilat jalan beriring. Bila kau tenang, langit cerah bagai cermin, bintang bersinar rembulan bercahaya!"

"Apa maksud perkataanmu itu?" tanya Ai Thian-hok melongo.

Manusia aneh itu seolah tidak mendengar, dengan mata terpejam gumamnyalebih jauh:

"Ombak samudra serasa suram, bukit dan pepohonan serasa tidak berwarna, sebagai pimpinan dari semua kehidupan, kepentingan umum harus diutamakan!"

Tiba-tiba dia membuka matanya kembali, dengan sorot mata setajam bintang malam tanyanya:

"Kau pernah mendengar pantun dari Bi lok bu?"

"Apa hubungannya Bi lok-bu dengan jago jago hebat dalam dunia persilatan?" batin Ai Thian-hok.

Manusia aneh itu tertawa tergelak, katanya:

"Justru isi dari Bi lok-bu menceritakan berapa tokoh aneh dalam dunia persilatan, makna yang terkandung dalam setiap patah katanya memang susah untuk diterangkan secara ringkas"

Thiat Tiong-tong maupun Ai Thian-hok meski merupakan jago silat yang pandai mengendalikan emosi dan jalan pikirannya, tidak urung dibuat keheranan juga oleh ungkapan tersebut, tanpa terasa dengan perasaan ingin tahu tanyanya:

"Makna apa? Siapa pula tokoh silat yang dimaksud?"

Manusia aneh itu mengambil semangkuk daging yang sudah matang dari kuali kemudian berkata:

"Pantun itu sebenarnya berisi pujian terhadap keindahan alam jagad, tapi sejak puluhan tahun berselang seseorang telah menggunakan potongan bait syait itu untuk melukiskan beberapa orang tokoh silat, kata-kata tersebut adalah: tokoh silat yang menghebohkan dunia jagad, semuanya terhimpun dalam Bi-lok-bu!"

Ketika mengendus bau harum semerbak dari daging rebus itu, Thiat Tiong-tong serta Ai Thian-hok segera merasa perutnya jadi lapar, tapi lantaran tuan rumah tidak mengundang mereka untuk bersantap, tentu saja mereka tidak bisa mengambil Hendiri hidangan yang ada.

Tampak manusia aneh itu bangkit berdiri, sambil membawa mangkuk berisi daging katanya lagi sambil tertawa:

"Biar pinceng hantar dulu mangkuk berisi daging ini kemudian baru kita lanjutkan pembica­raan"

Thiat Tiong-tong tertegun, meski ingin men­dengar secepatnya namun diapun tidak dapat berbuat apa-apa.

Perlahan-lahan dia berjalan menuju ke pintu sempit itu, berjalan dengan sangat hati-hati, seolah kuatir kalau kuah  daging itu tumpah dari mangkuk, senyuman yang semula menghiasi wajahnya kini sudah lenyap, mimik mukanya berubah jadi sangat serius.

Thiat Tiong-tong semakin keheranan, pikir-nya: "Entah siapa yang berada disitu? Kenapa sikap manusia aneh itu jadi begitu hormat dan serius?" Ai Thian-hok tidak bisa melihat, tapi dengan telinganya dia berusaha mendengarkan dengan seksama.

Begitu tiba di depan pintu ruangan, mendadak manusia aneh itu berbisik lirih:

"Meong.....meong....." ternyata dia menirukan suara kucing.

Thiat Tiong-tong semakin keheranan, pikir-nya:

"Masa dalam ruangan itu hanya berisi kucing?"

Tampak manusia aneh itu dengan sangat hati-hati mendorong pintu ruangan dan berjalan masuk, serunya sambil tertawa:

"Kau........"

Mendadak terdengar jeritan kaget bergema memecahkan keheningan disusul suara mangkuk yang pecah, terlihat daging kuah itu berhamburan diatas tanah..

Disusul kemudian, "Blaaaam!" pintu ruangan dibuka lebar.

Tanpa sadar Thiat Tiong-tong melongok ke dalam, ternyata dibalik pintu merupakan sebuah ruangan kecil, biar kecil namun peralatannya sangat lengkap, ada pembaringan, ada kaca berhias, diatas ranjang bertumpuk pakaian, disisi cermin terlihat sisir kayu wanita, bahkan diatas sisir masih tertinggal berapa helai rambut.

Waktu itu orang aneh tersebut masih berdiri disisi cermin dengan wajah terperanjat, tertegun dan melongo, bagaikan orang yang tersambar petir saja.

Siapa yang menyangka didalam kuil Siau-lim-sie kecil ternyata terdapat kamar tidur wanita, kenyataan ini benar-benar membuat orang terkesima.

Tapi ruangan mungil itu dalam keadaan kosong, tidak nampak bayangan manusia atau makhluk lainnya, kain tirai yang bergoyang terhembus angin hanya membiaskan dinding dibaliknya.

Dengan ketajaman mata Thiat Tiong-tong, sekali pandang dia sudah tahu kalau dinding itu terbuat dari tembaga hijau, hanya sebagai kamuflase maka diluarnya ditambah dengan lapisan kapur dan tanah hingga orang yang tidak berpengalaman akan menyangka ruangan itu hanya sebuah ruangan biasa.

Tapi siapa pun yang tersekap dalam ruangan itu, jangan harap dia bisa lolos dengan mudah.

Dengan wajah kebingungan manusia aneh itu celingukan kian kemari, gumamnya:

"Ke mana dia pergi, ke mana dia pergi........"

Tiba-tiba dia menjumpai sebuah liang disudut ruangan, liang itu menjorok jauh ke dalam tanah.

Sambil membentak dia segera menendang ranjang itu hingga tersingkir, ternyata bawah ranjang sudah dipenuhi dengan tumpukan tanah.

Tampaknya orang yang berada dalam ruangan Itu telah menyusun rencana pelarian yang matang, secara diam-diam dia telah menggali lorong bawah tanah, untuk menampung tanah bekas galiannya maka dia sembunyikan dibawah kolong ranjang.

Thiat Tiong-tong hanya bisa berdiri melongo dengan penuh tanda tanya.

Terdengar manusia aneh itu berteriak lagi:

"Dia telah pergi, dia.......  bahkan dia pun mengajak serta Ping-nu......."

Mendadak dia melompat kehadapan Thiat Tiong-tong, mencengkeram bahunya dan pinta-nya: "Bila kau bersedia membantuku, dikemudian hari aku pasti tidak akan melupakan kebaikan-mu!"

"Katakan saja!" jawab pemuda itu tergagap.

"Dia telah melarikan diri, bakal terjadi keonaran besar diluar sana, bagaimana pun pinceng harus membekuknya kembali, untuk sementara tolong urusi tempatku ini!"

Dia tidak menunggu pemuda itu bersedia atau tidak, begitu selesai bicara tubuhnya langsung menerobos masuk ke dalam liang bawah tanah itu.

Menanti Thiat Tiong-tong menyusul ke sana, bayangan tubuhnya sudah lenyap tidak berbekas.

Untuk sesaat Thiat Tiong-tong hanya bisa berdiri tertegun dimuka lorong bawah tanah, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Terdengar Ai Thian-hok berkata:

"Kini hatiku sudah sangat kecewa, ambisiku telah padam dan aku tidak ingin kembali ke dunia keramaian, aku bisa mewakilimu untuk merawat tempat ini, jika ingin pergi, pergilah!"

Thiat Tiong-tong tertawa pedih, dia membalik­kan tubuh sambil berjalan balik, bisiknya:

"Soal kejadian semalam........"

"Yang sudah lewat biarlah lewat, apa gunanya dibicarakan lagi" tukas Ai Thian-hok cepat, "dengan kemampuan silat yang kumiliki, andaikata diumpat si ruyung guntur atau peluru angin pun aku tidak bisa berbuat apa kecuali menelan ludah!"

Thiat Tiong-tong tahu kalau jalan pikirannya sudah terbuka, saat ini dia tidak tahu harus gembira atau terharu?

Belum sempat menjawab sesuatu, tiba-tiba dia jumpai ada sepucuk surat tertindih dibawah meja hias, surat itu tidak ditemukan manusia aneh itu karena saat tadi dia sedang panik bercampur kaget.

Surat itu berbunyi begini:

"Akhirnya aku peroleh kebebasan, tidak mungkin kau bisa temukan jejakku, matikan saja niatmu itu, kau menderita lantaran aku, tapi semuanya itu atas keikhlasanmu sendiri, rasain!

Tertanda: Yin Ping"

Walaupun surat itu ditujukan untuk manusia aneh itu, tapi Thiat Tiong-tong tahu Ai Thian-hok pasti mengetahui latar belakang dari semua kejadian itu, maka sewaktu menemukan surat tadi dia sengaja membacanya agak keras.

Benar saja, paras muka Ai Thian-hok yang semula tenang seketika berubah hebat setelah mendengar nama "Yin Ping" disebut, jeritnya keras:

"Yin Ping, Yin Ping........ ternyata dia berada disini!"

"Siapa itu Yin Ping?" pikir Thiat Tiong-tong keheranan, satu ingatan melintas dalam benak-nya, segera teriaknya:

"Yin..... Yin Ping...... jangan jangan dia ada hubungannya dengan gurumu....."

"Benar, Yin Ping adalah sam-moay guruku!" jawab Ai Thian-hok perlahan, wajahnya yang semula dingin hambar, segera terlintas perasaan ngeri, geram bercampur dendam.

Thiat Tiong-tong tahu orang ini aneh watak-nya dan sudah terbiasa hidup menyendiri, dia menganggap kematian sebagai sesuatu hal yang lumrah, tapi kenyataannya saat ini dia justru menunjukkan rasa takut dan seram yang tebal, dibalik kesemuanya itu jelas terdapat alasan tertentu.

Semakin dipikir dia merasa semakin keheran­an, ujarnya kemudian:

"Tidak aneh kalau manusia aneh itu mengetahui nama asli Kiu cu Kui -bo, ternyata dia pun punya hubungan dengan adiknya......."

Tiba-tiba dia mengalihkan pokok pembicaraa, lanjutnya:

"Aku dengar gurumu punya tiga bersaudara, dulu mereka tersohor karena kecantikan wajahnya bahkan selalu mengembara bersama, kemu-dian kenapa masing-masing berjalan secara terpisah?"

Ai Thian-hok hanya mendengus tanpa menjawab.

Thiat Tiong-tong tahu, dia pasti mengetahui rahasia dibalik kejadian ini, maka dengan nada menyelidik katanya:

"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya diantara tiga bersaudara keluarga Yin, adik ke tiga dibilang tercantik tapi juga terkeji......"

Belum selesai dia berbicara, mendadak terdengar suara seorang wanita yang halus lembut berkumandang datang diiringi suara tertawanya yang merdu.

"Terima kasih atas pujianmu, tapi aku tidak berani menerima semua pujian itu.....!"

Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang manis dan merdu, jangankan lelaki lain, Thiat Tiong-tong yang berhati baja dan susah tergoda pun tidak urung goyah juga perasaan hatinya setelah mendengar ucapan tadi.

Dia celingukan kian kemari namun empat penjuru sepi tidak nampak sesosok bayangan manusia pun, jangan lagi sang pembicara, darimana asal suara itupun tidak ketahuan olehnya, hal mana membuat Thiat Tiong-tong amat terperanjat, bahkan paras muka Ai Thian-hok pun ikut berubah.

Kedua orang itu hanya bisa mengepal tinjunya tanpa bersuara, ditengah keheningan yang mencekam itulah tiba-tiba dari balik almari kayu kecil disisi meja rias berkumandang suara Kemerutuk yang nyaring.

Kemudian diikuti pintu almari terbuka perlahan, dan muncullah sebuah tangan yang halus lembut dengan jari jemari yang panjang, lentik dan indah.

Thiat Tiong-tong tidak pernah menyangka kalau didunia ini ternyata terdapat jari tangan sedemikian indahnya, terlebih tidak mengira kalau dari balik sebuah almari kecil bisa menerobos keluar tubuh seseorang, untuk sesaat dia hanya bisa berdiri mematung saking kagetnya.

Pintu almari itu terbuka makin lebar, suara lertawa yang bergema dari balik almari pun semakin menggetarkan sukma.

Tiba-tiba terdengar Ai Thian-hok membentak nyaring, secepat kilat dia menghadang dihadapan Thiat Tiong-tong dan menghalangi pandangannya, kemudian dengan nada gemetar teriaknya:

"Cepat berpaling ke arah lain, jangan kau pandang perempuan itu!"

Teriakan panik, kaget bercampur ngeri itu belum pernah didengar Thiat Tiong-tong sebelumnya, untuk sesaat dia hanya berdiri tertegun.

Menanti dia siap membalikkan tubuh, terdengar perempuan yang berada dalam almari itu sudah berkata sambil tertawa merdu:

"Keponakanku, kau tidak perlu takut, aku sudah mengerudungi wajahku hingga meski terlihat pun juga tidak menjadi masalah"

Ditengah pembicaraan, terendus bau harum semerbak yang tebal dari balik almari.

Disusul kemudian, Thiat Tiong-tong hanya merasakan matanya jadi kabur, tahu-tahu dalam ruangan telah bertambah dengan seorang wanita cantik bergaun merah yang bertubuh tinggi semampai, berpinggang ramping dan berambut disanggul tinggi.

Dia mengenakan kain kerudung merah diwajahnya, meski tersamar namun masih dapat terlihat kecantikan wajahnya yang menggiuran, kecantikan wanita ini sungguh mengejutkan bagaikan menyaksikan sekuntum bunga indah yang muncul dari balik kabut.

Kain cadar tipis itu membuat wajah cantiknya nampak makin misterius, semakin memiliki daya tarik yang luar biasa, membuat setiap orang tanpa sadar semakin ingin melihat, ingin tahu sejauh mana kecantikan wajah perempuan itu dari balik kain cadarnya.

Thiat Tiong-tong merasakan sorot matanya seolah tidak bisa dikendalikan, seakan ingin sekali melihat wajah perempuan itu, dia tidak mampu melawan hasratnya yang besar untuk menatap wajahnya.  Hal ini membuat hatinya terkesiap, pikirnya:

"Almari itu amat kecil lagi sempit, jangankan orang dewasa, seorang bocah pun belum tentu mampu bersembunyi disitu, tapi nyatanya dia dapat bersembunyi disana, ini membuktikan kalau ilmu penyusut tulangnya Sut-kut-hoat sudah mencapai tingkatan yang luar biasa!"

Ketika mencoba berpaling ke arah rekannya, kembali  dia  tertegun.  Ternyata Ai  Thian-hok sendiripun berdiri mematung ditempatnya, sama sekali tidak bergerak.

Perempuan cantik itu masih saja tertawa merdu, setelah mengerling pada Thiat Tiong-tong sekejap, tiba-tiba dia menghadap ke arah Ai Thian-hok Kembari menyapa:

"Sudah lama tidak bertemu, baik-baikkan kau?"

Meski Ai Thian-hok berusaha keras mengen­dalikan gejolak emosinya, tidak urung ujung jarinya krlihatan mulai gemetar keras.

Kembali perempuan cantik itu mengerling sekejap kesekeliling ruangan, katanya lebih jauh sambil tertawa:

"Rupanya si goblok telah pergi, melihat lorong bawah tanah yang kugali, dia sangka aku sudah kubur lewat terowongan itu, hahahaha..... siapa sangka aku justru masih tetap tinggal disini, biar dia mau menebakpun tidak bisa, mau ditemukan pun tidak dapat. Hey, menurut kau, cerdik tidak tindakan yang telah dilakukan enso cilikmu ini?"

"Benar benar seorang perempuan licik!" batin Thiat Tiong-tong dengan hati tercekat.

Dia tahu, perempuan inilah Yin Ping, tapi dia tidak menyangka kalau penampilan perempuan ini justru nampak jauh lebih muda ketimbang Kiu cu Kui bo.

Ai Thian-hok masih berdiri tanpa bergerak, butiran keringat telah membasahi jidatnya.

Dengan selembar saputangan yang diambil dari sakunya, Yin Ping menyeka peluh dijidatnya itu, kemudian setelah menowel pipinya kembali dia bei kata sambil tertawa:

"Bocah bodoh, kenapa berdiri termangu? Kenapa tidak memanggil enso mu?"

Ai Thian-hok masih tidak bicara, tidak bergerak maupun melawan, dia seakan benar-benar tertegun dibuatnya.

Sementara Thiat Tiong-tong masih tercengang bercampur keheranan, tiba-tiba terlihat Yin Ping berpaling ke arahnya dan berseru sambil tertawa:

"Hei, tolonglah aku, betulkan letak pemba­ringan itu, mau bukan?"

Ucapannya merdu, senyumannya manis, penuh daya pikat, membuat orang lain merasa tidak tega untuk menampik permintaannya. Benar saja, Thiat Tiong-tong benar-benar membantunya menggeser pembaringan itu dan diletakkan pada posisi yang benar.

"Dasar bocah pintar........" kembali Yin Ping berkata sambil tertawa, dia segera melepaskan Ai Thian-hok dan duduk diatas ranjang.

Langkah tubuhnya halus dan lembut, goyangan pinggulnya menawan, setiap gerakan, setiap tingkah polanya seakan mengandung daya pikat yang luar biasa, tidak tahan kembali Thiat Tiong-tong menengok ke arahnya.

"Bocah bodoh, apa yang kau lihat?" tegur perempuan itu sambil tertawa.

Merah jengah selembar wajah anak muda itu, buru-buru dia berpaling ke arah lain.

"Bagaimana kalau kulepas kain cadarku ini, agar kau bisa melihat wajahku lebih jelas?" kembali Yin Ping berkata sambil tertawa.

Baru saja Thiat Tiong-tong ingin mengucap-kan kata "baiklah", mendadak terdengar Ai Thian-hok membentak nyaring:

"Kau tidak boleh melihat wajahnya!"

Suara bentakan itu sangat parau, paras mukanya berubah sangat menakutkan.

Yin Ping segera tertawa terkekeh kekeh.

"Hahahaha..... oya, aku hampir lupa beritahu kepadamu, setiap lelaki yang pernah melihat wajahku, akan kucongkel matanya hingga buta, agar dalam benaknya selalu tersimpan kesan wajahku, tapi jangan kuatir, meski sedang mencongkel matamu, kau tidak akan merasa tersiksa atau kesakitan, menderita sedikitpun tidak, bayangkan sendiri betapa baiknya hatiku bukan?"

Semua perkataan itu disampaikan dengan tutur kata yang lembut dan mesra, seakan dia sedang menceritakan satu kejadian yang penuh dengan kelembutan dan kehangatan, seperti juga seorang kekasih yang sedang mengutarakan isi hatinya.

Kontan saja Thiat Tiong-tong merasakan hawa dingin muncul dari lubuk hatinya, membuat dia tercekat, membuat dia merinding.

Sambil mempermainkan ujung bajunya dengan jari tangan yang lentik, kembali Yin Ping berkata:

"Kalau memang ingin melihat wajahku, lihat­lah, sekalipun berakibat buta matanya, toh cukup berharga untuk dilakukannya"

Suaranya yang begitu merdu dan indah, wajahnya yang begitu cantik, bau harum yang begitu memikat, benar-benar membuat orang rela menjadi buta asal dapat memandang sekejap saja ke tuahnya.

Thiat Tiong-tong sudah merasakan keringat dingin membasahi telapak tangannya, sementara jari tangan Yin Ping yang lentik sudah mulai menyingkap ujung cadarnya, memperlihatkan sedikit dagunya yang putih halus bagai pahatan pualam.

Ai Thian-hok bermandikan keringat dingin, walaupun sepasang matanya telah buta, namun dia seolah dapat menyaksikan kejadian  saat itu, karena dulu dia sendiripun pernah mengalami peristiwa semacam ini.

Tanpa terasa dalam benaknya terlintas kembali semua kejadian lama yang pernah dia alami.........

Saat itu adalah sebuah malam yang indah, seorang perempuan cantik dengan mengenakan kain sutera yang tipis berjalan menghampiri seorang pemuda, wajahnya mengenakan sebuah cadar tipis.

"Kau ingin melihat?" dia bertanya lembut.

Telapak tangan pemuda itu sudah basah oleh peluh dingin, akhirnya dengan gemetar dia meng­angguk, maka pemuda itupun menyaksikan selembar wajah yang membuatnya tidak pernah melupakan untuk selamanya.

Semenjak saat itu, selamanya dia tidak dapat melihat lagi benda-benda lain!

Mungkinkah sejarah akan berulang kembali?

Dia tahu Yin Ping sedang mendekati Thiat Tiong-tong selangkah demi selangkah, daya pikat yang terpancar dari tubuhnya memang sulit untuk dilawan.

Tiba-tiba terdengar Thiat Tiong-tong berkata dengan nada dingin :

"Seandainya kau lebih muda dua, tiga puluh tahun, aku pasti akan melihatnya, sayang kau sudah tua, sudah jadi nenek tua, sekalipun memiliki ilmu awet muda, tapi kalau dibayangkan justru amat memuakkan!"

Sekujur tubuh Yin Ping gemetar keras, senyuman diwajahnya lenyap seketika, kali ini giliran dia yang jadi tertegun! Mimpi pun dia tidak menyangka kalau pemuda itu ternyata begitu dingin, perasaannya begitu beku dan perkataan-nya begitu tajam.

Tidak  tahan Ai Thian-hok ikut membesut butiran keringat yang membasahi jidatnya, diam-diam dia menghela napas, pikirnya:

"Perasaan pemuda ini benar-benar terbuat dari batu cadas dan baja, kalau tidak, mana mungkin dia bisa melawan godaan!"

Hanya orang yang pernah mengalami peristiwa itu yang tahu, betapa besar dan hebatnya daya pikat yang dimiliki Yin Ping, juga hanya mereka yang tahu betapa misterius, betapa kuatnya rangsangan yang terpancar keluar dari kerlingan mata dibalik kain cadarnya.

Yin Ping sendiripun dibuat kelabakan, daya pikat yang misterius ibarat lapisan baja yang melindungi tubuhnya, tapi sekarang lapisan baja itu berhasil ditembusi secara gampang oleh tusukan Thiat Tiong-tong yang dingin dan sinis.

Dia semakin kalut, Thiat Tiong-tong justru semakin tenang, kembali ujarnya sambil tertawa dingin:

"Waktu berlalu bagaikan air yang mengalir, selamanya tidak akan balik kembali, tahukah kau, selanjutnya kau sudah tidak mampu memikat orang lain lagi?"

Yin Ping mundur berapa langkah, duduk kembali ditepi pembaringan.

"Aku anjurkan kepadamu, lebih baik pergilah dari sini, makin jauh makin baik" kata Thiat Tiong-tong lebih lanjut, "bukan saja tempat ini sudah tidak cocok untuk menampung dirimu, bahkan diseluruh kolong langit sudah tidak ada tempat lagi untukmu!"

Diam-diam Ai Thian-hok bersorak gembira, seluruh dendam, sakit hati dan kebencian yang dipendamnya selama banyak tahun seolah sudah terlampiaskan.

Tidak seorang korban buta ditangan Yin Ping yang pernah menuntut balas kepada perempuan itu, karena kebutaan mereka disebabkan kerelaan dan keikhlasan sendiri, tapi sekarang, Thiat Tiong-tong telah mewakili orang orang itu untuk membuat pembalasan.

Siapa sangka tiba-tiba saja Yin Ping tertawa cekikikan, katanya:

"Anak baik, bagus sekali perkataanmu, ternyata ada orang berani mengumpatku dengan kata muak, satu kejadian yang belum pernah kubayangkan sebelumnya!"

"Aku justru kuatir dikemudian hari akan semakin banyak orang yang akan memakimu dengan kata-kata tersebut!"

"Aduh, tidak kusangka ciciku bisa menerima seorang murid yang begitu bagus macam dia!"

"Orang itu murid Perguruan Tay ki bun!" sela Ai Thian-hok tiba-tiba.

Kali ini paras muka Yin Ping yang berubah hebat, gumamnya:

"Tay ki bun....Tay ki bun....hehehe... sayang­nya semua anggota Perguruan Tay ki bun hanya punya ayah tidak punya ibu!"

Thiat Tiong-tong merasakan telinganya mendengung keras, tubuhnya bergetar bagai tersambar petir dan guntur, hawa panas bergelora dalam rongga dadanya, dengan suara gemetar dia berteriak:

"Apa......apa kau bilang?"

"Bukankah apa yang kukatakan telah kau dengar dengan sangat jelas?" ejek Yin Ping sambil tertawa cekikikan, saking kerasnya dia tertawa sampai tubuhnya pun ikut bergoyang.

Thiat Tiong-tong tidak dapat menjaga ketenangan hatinya lagi,  tapi semakin dia kehilangan kendali, tertawa Yin Ping semakin menggetarkan hati.

Dengan penuh amarah Thiat Tiong-tong membentak:

"Jika kau berani bicara sembarangan lagi......".

"Kalau dibilang kau beribu, coba tunjukkan di mana ibumu?" ejek Yin Ping lagi sambil tertawa lerkekeh.

Tubuh Thiat Tiong-tong mulai gontai, akhirnya dia jatuh terduduk diatas bangku.

Ternyata tujuan utama dari Perguruan Tay ki bun adalah balas dendam, lantaran kuatir kasih sayang seorang ibu dapat memperlemah semangat inang anak didiknya, maka sejak dilahirkan setiap anggota perguruan sudah dipisahkan dari kasih sayang seorang ibu, bahkan sejak dapat berjalan mereka sudah mendapat pendidikan ketat untuk belajar silat, hingga boleh dibilang mereka tidak kenal macam apakah kasih sayang seorang ibu, malah tidak tahu bagaimana wajah ibunya.

Yin Ping sengaja menghela napas panjang, katanya lagi sambil tertawa:

"Seekor anak domba saja merasakan kasih sayang induknya, tapi sayang anggota Perguruan Tay ki bun tidak ada yang tahu dimanakah ibu mereka, benar-benar lebih mengenaskan nasibnya ketimbang seekor binatang......"

"Tutup mulut!" bentak Thiat Tiong-tong sewot.

"Aah, betul,  aku benar-benar minta maaf, padahal hanya iseng saja menyinggung soal itu, aku tidak bermaksud melukai hatimu"

"Darimana kau  bisa mengetahui  masalah tentang Perguruan Tay ki bun?"

"Bila kau ingin tahu darimana aku bisa mengetahui kesemuanya ini, lebih baik pulang dulu dan tanyakan kepada........."

Mendadak terdengar suara ketukan pintu yang amat ramai berkumandang dari luar rumah.

Lalu terdengar suara seorang wanita berseru dengan napas tersengkal:

"Adakah seseorang dalam rumah? Bolehkah aku masuk untuk bersembunyi?"

Nada suaranya panik dan penuh ketakutan, tapi Thiat Tiong-tong merasa sangat mengenal suara itu.

Perasaan hatinya tercekat, untuk sesaat dia tidak tahu harus berbuat apa, mendengarkan perkataan Yin Ping dulu sampai selesai baru keluar membuka pintu atau buka pintu dulu tanpa menggubris perkataan perempuan ini.

Siapa tahu Yin Ping hanya tersenyum dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya.

Thiat Tiong-tong merasakan otaknya sangat kalut, tanpa membuang waktu lagi dia melompat keluar ruangan menuju ke pintu depan.

Terdengar Yin Ping yang berada dibelakangnya kembali memuji sambil tertawa:

"Hebat juga ilmu meringankan tubuh yang dimiliki bocah ini!"

Ketika menengok ke luar, dia menjumpai ada seorang wanita yang menggendong tubuh seseorang berdiri di depan pintu, perempuan itu tiada hentinya menengok ke belakang dengan wajah gelisah bercampur cemas.

Ternyata mereka tidak lain adalah Un Tay-tay dan Im Ceng.

 

 

[bersambung]