pendekar panji sakti 04

BAB 10.

Sampan harum di sungai Han-sui.

 

Kegelapan malam menjelang tibanya fajar terasa amat hening, sepi dan dingin menggigil.

Lidah api yang berkobar hebat membuat pemandangan disekeliling tempat itu berubah jadi ungu kepucat-pucatan.

Sambil mengempit tubuh Thiat Tiong-tong, Sim sin-pek melarikan diri sekuatnya. Sebelum fajar menyingsing dia telah kabur keluar dari balik hutan menuju ke arah kuil.

Pada saat yang bersamaan kebetulan Im Ceng dan Un Tay-tay baru saja meninggalkan tempat itu.

Takdir yang mengatur perjalanan hidup Thiat Tiong-tong ternyata begitu aneh dan kejam. Andaikata Im Ceng dan Un Tay-tay sedikit lebih lambat meninggalkan tempat itu, mungkin nasib yang dialami Thiat Tiong-tong pun akan berubah secara drastis.

Kini kuil bobrok itu terasa hening, sepi dan amat dingin.

Cahaya yang redup menyinari kain tirai yang berlapis sarang laba-laba, ruang kuil yang dipenuhi rumput ilalang membuat suasana terasa begitu sendu dan mengenaskan.

Sim Sin-pek mencabut keluar pisau belati dari dadanya, lalu membungkus mulut lukanya dengan kain, dia buang jubah pendetanya yang berlu­muran darah dan berganti satu stel jubah pendeta berwarna biru.

Rupanya untuk menghindari pengejaran Hek Seng-thian, didalam piauhoknya telah tersedia berbagai macam pakaian, hari ini menyamar jadi hwesio, mungkin besok sudah berganti jadi seorang tosu.

Kemudian dia totok jalan darah penting di ruas ke empat anggota tubuh Thiat Tiong-tong, mem­buat pemuda itu dapat ber bicara, kesadaran tetap utuh namun ke empat anggota tubuhnya sama sekali tidak mampu bergerak.

Dengan pandangan dingin Thiat Tiong-tong mengawasi wajahnya, kemudian ujarnya perlahan:

"Jadi kau tidak segan melumuri tanganmu dengan darah lantaran ingin memaksa aku mengatakan dimana harta karun itu kusembu­nyikan?"

"Hahahaha tepat sekali, ternyata kau memang sangat pintar!" sahut Sim Sin-pek sambil tertawa tergelak.

"Kalau begitu kuanjurkan kepadamu, lebih baik matikan saja harapanmu itu!"

Sekulum senyuman licik segera menghiasi wajah Sim Sin-pek yang tampan, katanya pula:

"Kau tidak takut mati? Hmmm, tahukah kau, dibalik ke empat patah kata itu sebenarnya terkandung maksud yang buas dan jahat?"

"Kau tidak akan berani membunuhku!"

"Hahahahaha kelihatannya kau yakin sekali dengan ucapanmu itu" Sim Sin-pek tertawa latah, "kenapa aku tidak berani membunuhmu?"

"Selama aku masih hidup, paling tidak masih terdapat pengharapan dihati kecilmu untuk memaksa aku tunjukkan tempat penyimpanan harta karun itu, bila kau membunuhku, selama hidup jangan harap bisa tahu dimana harta karun itu tersimpan"

Sim Sin-pek segera menarik kembali senyumannya, sikap Thiat Tiong-tong yang begitu dingin dan tenang telah membuatnya terbelalak kagum, membuatnya tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Kembali Thiat Tiong-tong berkata:

"Tentu saja kau dapat menggunakan pelbagai cara siksaan untuk memaksa aku mengatakan dimana harta karun itu tersimpan, tapi jangan harap memperoleh sepatah kata pengakuanpun dari mulutku, selama aku masih hidup, suatu hari kau pasti tidak akan lolos dari cengkeramanku, sampai waktunya aku pasti akan menggunakan penyiksaan yang sepuluh kali lipat lebih mengerikan untuk balas dendam, bila tidak percaya, silahkan saja dicoba!"

Dia mengucapkan perkataan itu dengan wajah tenang, nada suaranya juga amat tenang, tapi justru ketenangan sikapnya membuat perkataan itu kedengaran lebih menakutkan.

Sim Sin-pek segera tertawa seram:

"Hahahahaha.... kau sangka perkataanmu akan membuat aku ketakutan? Tentu saja akan kucoba, harus dibuktikan dulu bagaimana caramu untuk lolos dari cengkeramanku!"

"Hmm, kalau tidak takut, kenapa kau gunakan suara tertawamu untuk menutupi perasaan takut dihatimu?"

"Plook!" Sim Sin-pek langsung menampar wajah Thiat Tiong-tong keras-keras, kemudian sambil menyeringai seram ejeknya:

"Aku telah menghajarmu, ayoh tunjukkan, apa yang bisa kau perbuat?"

Thiat Tiong-tong sama sekali tidak bergerak, ejeknya:

"Makin keras kau memukul, semakin memper­lihatkan betapa takutnya hatimu saat ini"

Sebuah tendangan keras kontan membuat Thiat Tiong-tong mencelat sejauh satu setengah meter lebih, Sim Sin-pek membungkuk kan tubuhnya dan mencengkeram bahu anak muda itu, teriaknya:

"Thiat Tiong-tong, aku beritahu, bagaimana­pun aku tetap akan memaksamu untuk menun­jukkan dimana harta karun itu tersimpan, tidak ada yang bisa menghalangiku, dan sebelum matahari terbenam jika kau tetap tidak menjawab, akan kupotong lenganmu terlebih dulu, hmmm, akan kubuktikan kau yang lebih tangguh atau aku yang lebih tangguh!"

Thiat Tiong-tong hanya tertawa dingin, ia pejamkan matanya dan tidak berbicara lagi.

Mendadak Sim Sin-pek bangkit berdiri, membopong tubuh Thiat Tiong-tong dipunggungnya kemudian menggunakan kesempatan disaat kabut pagi masih menyelimuti permukaan, dia ngeloyor keluar dari dalam kuil dan bergerak menuju ke utara.

Sesudah berjalan sekian lama, terdengar suara riak air yang memecah ditepian sungai, tampaknya mereka sudah berada di tepi selatan sungai Huangho.

Kabut tebal masih menyelimuti sepanjang tepi sungai, tumbuhan gelugu yang tinggi bergoyang ditengah kabut dan menimbulkan suara gemerisik yang riuh.

Kelihatannya Sim Sin-pek sedang mencari perahu untuk menyeberang, dia berdiri ditepi sungai sambil berteriak-teriak, namun suara teriakannya yang nyaring seakan tidak mampu menembusi lapisan kabut yang tebal dan berat.

Lewat lama kemudian baru terdengar suara gemericik air, terlihat sebuah sampan muncul dari balik kabut.

"Pemilik perahu, bersediakah kau membawa­ku menyeberang ke dermaga Beng-shia?" teriak Sim Sin-pek.

"Ayoh naiklah!" sahut nelayan yang berada dijung sampan sambil memberi tanda.

Ditengah pembicaraan, sampan itu telah menepi, Sim Sin-pek melompat naik ke buritan perahu dan membaringkan Thiat Tiong-tong, kata­nya:

"Temanku ini mengidap penyakit parah, dapatkah kau mendayung lebih cepat?"

"Cepat, cepat sekali" sahut pemilik sampan itu sambil tertawa.

Suara tertawanya merdu dan lembut, mirip sekali dengan suara seorang wanita.

Tergerak perasaan hati Sim Sin-pek, dengan wajah agak berubah tegurnya:

"Kau seorang wanita?"

"Kenapa?" sahut pemilik perahu sambil tertawa, "memangnya kalau perempuan lantas tidak bisa mendayung?"

Dia berpaling sambil menekan gala panjangnya ke dasar sungai, sampan pun bergerak menuju ke tengah sungai itu.

Arus sungai Huangho sangat deras dan besar, sebetulnya tidak cocok untuk menyeberang dengan menggunakan sampan kecil seperti ini. Sambil berdiri diujung sampan, mengawasi gelombang yang tinggi dan arus air yang deras, Sim Sin-pek merasa dirinya seakan berdiri ditengah awan, dia merasa hawa dingin mulai menyusup melalui dasar kakinya dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

Sepasang keningnya mulai berkerut kencang, dia tidak tahan kembali bertanya:

"Apa sampan ini bisa digunakan untuk mencapai dermaga Beng-shia?"

"Tidak bakal sampai!" jawab si nona.

"Kalau tidak bakal sampai, kenapa kau suruh aku naik?" teriak Sim Sin-pek dengan wajah berubah.

Nona itu tertawa cekikikan.

"Kau sendiri yang paksa naik, siapa sih yang mengundangmu naik ke sampan ini?"

"Cepat bawa aku balik ke daratan!" hardik Sim Sin-pek.

Nona itu perlahan-lahan berpaling, sambil tertawa cekikikan kembali ujarnya:

"Meskipun perahu ini tidak bisa membawamu menyeberang ke dermaga Beng-shia, namun masih ada perahu yang lain!"

Sim Sin-pek merasa sepasang matanya yang muncul dari balik topi, topi bambu yang lebar, tampak sangat indah bagaikan air di musim gugur, senyumannya manis bagai bunga yang mekar, dipandang dari balik kabut, nona itu kelihatan cantik sekali.

Dia dilahirkan dari wilayah utara dan sama sekali tidak pandai berenang, berdiri diujung sampan membuat kepalanya mulai pening dan pandangan matanya berkunang, sekalipun muncul kecurigaan dihati kecilnya namun dia tidak berani bertindak gegabah.

Terpaksa dia bertanya lagi:

Tapi dimana perahu yang akan membawaku ke kota Beng-shia?"

"Itu dia, bukankah berada disitu?" sahut nona itu sambil mendayung dengan tangan kirinya dan menuding dengan tangan kanannya.

Benar saja, dari balik kabut terlihat ada bayangan sebuah perahu berlayar, cahaya lentera yang memancar keluar dari perahu itu membuat suasana disitu tampak bagaikan selapis cahaya kuning keemas-emasan.

"Sam-ci (kakak ke tiga)!" teriak nona itu sambil menggoyangkan tangannya, "ada tamu yang ingin menyeberang!"

"Persilahkan dia naik kemari!" sahut suara merdu dari atas perahu berlayar itu.

"Baik, aku segera akan merapat ke sisi perahu!"

Walaupun perasaan curiga Sim Sin-pek makin meningkat, namun dia berusaha mengendalikan diri, cepat dia bungkukkan tubuh membopong Thiat Tiong-tong dan secara diam-diam menotok jalan darah pingsannya.

"Waaah, kabut hari ini sungguh besar" terdengar nona itu bergumam, "Sam-ci, cepat turunkan tali"

Terlihat bayangan tali segera dilempar turun dari atas perahu, ternyata sebuah tangga yang terbuat dari tali.

"Kekoan, kau bisa merangkak naik?" tanya si nona kemudian sambil tertawa.

"Tidak usah merepotkan!" sahut Sim Sin-pek cepat.

Ujung kakinya segera menutul permukaan sampan dan tubuhnya sudah melambung ke udara, dia memang sengaja akan mempamerkan kehebatan kungfunya, agar pemilik perahu itu tidak sembarangan mengusiknya.

Oleh sebab itu meski harus membopong seseorang, namun gerakan tubuhnya tetap enteng dan lincah, dalam sekali lompatan tubuhnya sudah mencapai ketinggian satu setengah meter lebih, tahu-tahu dia sudah melayang turun di ujung perahu dengan ringan.

"Kepandaian yang sangat hebat!" terdengar seseorang memuji dari ujung perahu sambil tertawa.

Seorang nona berpakaian ketat warna hijau sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum, kulit tubuh yang putih, potongan badannya yang ramping membuat dia nampak cantik menawan.

Perabot serta dekorasi yang ada dalam ruang perahu pun nampak indah, mewah dan megah.

Cahaya yang terpancar dari lentera tembaga menyinari tirai yang terbuat dari sutera halus, vas bunga hijau kemala serta gorden yang indah, dari dekorasi yang ada, dapat disimpulkan kalau pemiliknya adalah sebuah keluarga ternama atau orang kaya.

Tampaknya nona berpakaian ketat itu dapat menebak kecurigaan Sim Sin-pek, tapi dia tidak memberi kesempatan kepada tamunya untuk berbicara, ujarnya sambil tertawa ringan:

"Silahkan kekoan bersitirahat disini, biar aku ambilkan air teh"

Suara tertawanya masih menggema, tubuhnya sudah menyelinap masuk ke ruang belakang.

Sim Sin-pek segera merasa dirinya seakan terjerumus ke dalam sebuah perangkap yang misterius, dia seolah merasakan datangnya ancaman mara bahaya dari sekeliling ruang perahu yang mewah.

Gadis yang berada diperahu itu memiliki kulit tubuh yang putih dan halus, suaranya merdu bagaikan kicauan burung nuri, jelas bukan gadis yang biasa hidup kasar, apalagi menjadi nelayan atau tukang dayung perahu.

Jangankan di sungai yang sepi, biar di telaga See-ow pun jarang dijumpai perahu semegah ini, apalagi sekarang berada di sungai Huangho yang sepi dengan arus yang begitu deras.

Perasaan hatinya terkejut bercampur curiga, dia tidak tahu apa yang bakal dilakukan kawanan gadis itu terhadapnya.

Sementara itu dari balik ruang perahu kembali terdengar suara tertawa seseorang yang merdu, seorang gadis berbaju putih dengan pinggang yang ramping bagai ranting pohon liu, dengan membawa nampan berisi poci teh berjalan keluar.

Poci hijau dan cawan kemala yang berada diatas nampan kemala, semuanya merupakan benda-benda antik yang mahal harganya.

Dengan matanya yang jeli nona berbaju putih itu memperhatikan Sim Sin-pek berapa saat, kemudian ujarnya lembut:

"Silahkan minum teh!"

Sesudah meletakkan nampak teh diatas meja, kembali dia berjalan masuk dengan langkah yang lemah gemulai.

"Nona, jangan pergi dulu!" tiba-tiba Sim Sin-pek melompat bangun sambil berteriak.

"Ada urusan apa?"

"Aku hanya berniat menyeberang ke dermaga kota Beng-shia, kemudian menuju ke timur.....”

"Aku tahu"

"Tapi..... tapi.... tempat ini....."

"Apa jeleknya dengan tempat ini?" ujar nona berbaju putih itu sambil berpaling dan tersenyum, ketika tubuhnya lenyap dibelakang ruangan, lamat-lamat terdengarlah alunan musik yang merdu.

Sim Sin-pek semakin gelisah, dia tahu ada mara bahaya ditempat itu, tapi dia tidak tahu dimanakah letak mara bahaya tersebut, terlebih dia tidak tahu kapan bahaya itu baru mengancam.

Padahal sebelum datangnya mara bahaya itu, dia tidak berani bertindak sembarangan, apalagi sebagai orang yang licik dan berakal bulus, dia tidak nanti akan menghadapi pertarungan yang tidak yakin bisa dimenangkan.

Sekeliling ruang perahu tertutup oleh tirai sutera yang halus, Sim Sin-pek seakan merasa ada banyak pasang mata sedang mengawasinya dari balik tirai, membuat dia sangat tidak leluasa, membuatnya amat tidak tenang.

Dia mengambil poci air teh dan memenuhi cawannya, air teh berwarna hijau lembut dan memancarkan bau harum semerbak.

Tapi baru saja dia tempelkan cawan itu diatas bibir, kembali dia meletakkannya kembali.

"Kekoan tidak usah kuatir" seseorang segera berseru lembut dari balik ruangan, "air teh yang berada dalam poci tidak akan mengandung racun"

Tirai disingkap orang, Sim Sin-pek segera merasakan pandangan matanya jadi silau, seorang perempuan cantik bersanggul tinggi dengan pakaian yang indah telah muncul dari balik ruangan dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.

Gerak-geriknya seakan membawa semacam tenaga gaib yang tidak terlukiskan dengan kata, membuat orang sulit untuk memperhatikan usianya, bahkan sama sekali tidak dapat menebak berapa usianya sekarang.

Tanpa terasa Sim Sin-pek bangkit berdiri.

Terdengar perempuan itu dengan suara lembut berkata lagi:

"Adik-adikku telah mengundang kedatangan siangkong, bila sikap siangkong masih begitu kikuk, aku jadi merasa sangat tidak enak hati"

"Hujin tidak perlu bersikap sungkan terhadap aku orang beribadah, pinto hanya berharap hujin mau menghantarku ke dermaga Beng-shia, soal lain pinto tidak berani mengganggu"

Dengan sepasang matanya yang jeli perem­puan cantik itu memperhatikan Sim Sin-pek berapa saat, tiba-tiba dia tertawa ringan.

"Siangkong, bila kau mengaku sebagai orang beribadah, terpaksa aku pun harus membahasai diri sebagai pinnie!"

Berubah paras muka Sim Sin-pek.

Sementara itu perempuan cantik itu sudah duduk dibangku disampingnya, kembali ujarnya sambil tertawa:

"Siangkong tidak perlu banyak curiga, kami tidak punya maksud mencelakai siangkong"

Dia menuang secawan teh lalu diteguknya satu tegukan, kemudian katanya lebih jauh sambil tertawa:

"Didalam air teh tidak ada racunnya, kami tidak pernah punya ingatan untuk mencelakai orang dengan menggunakan obat beracun, hanya saja soal ongkos menyeberang mungkin kami menarik sedikit lebih banyak daripada ongkos yang ditarik perahu lain"

Kembali sekulum senyuman yang menawan tersungging diujung bibirnya, sambil menatap Sim Sin-pek ujarnya:

"Biarpun agak mahal, tapi kami jamin tidak akan membuat tamu kami kecewa, pasti akan kami buat para tamu merasa rela untuk menge­luarkan ongkos sebesar itu"

Kembali perasaan hati Sim Sin-pek tercekat, serunya:

"Darimana hujin tahu kalau cayhe memiliki banyak uang? Siapa tahu aku justru tidak memiliki setengik uang pun, kalau sampai tidak punya uang lantas bagaimana?"

Perempuan cantik itu segera tertawa terkekeh.

"Mata pat-moay (adik ke 8) ku paling jahat, dia pandai membedakan mana orang kaya mana orang miskin, penilaiannya tidak pernah meleset"

Sim Sin-pek segera mengambil ketetapan hati, ujarnya:

"Hahahaha tampaknya aku memang sedang ketimpa rejeki, ternyata tempat ini adalah sarang perempuan yang berubah bentuk, setelah datang, tentu saja aku harus menikmati semua kesenang­an yang tersedia"

Dari sakunya dia mengeluarkan sekeping perak dan diletakkan diatas nampan air teh, kemudian setelah meneguk habis isi cawannya, dia menoleh ke arah perempuan cantik itu dan berkata sambil tertawa:

"Kalau memang begitu, silahkan hujin memberi petunjuk bagaimana supaya cayhe merasa ikhlas mengeluarkan uang banyak"

Ternyata dia cukup royal, uang yang diletakkan diatas baki itu paling tidak beratnya mencapai sepuluh tahil perak, tentu saja dia harus berusaha mencari balik modalnya.

Perempuan cantik itu sama sekali tidak memandang ke arah uang perak itu, melirikpun tidak, katanya hambar:

"Sebetulnya air teh itu dihidangkan gratis, tapi bila siangkong bersedia memberi sedikit imbalan, tentu saja aku harus mewakili para dayang untuk mengucapkan terima kasih"

Dia bertepuk tangan perlahan, seorang dayang kecil berusia dua, tiga belas tahunan, berbaju hijau, muncul dari balik ruangan dengan senyum­an menghiasi wajahnya.

"Singkirkan baki teh dan ucapkan terima kasih kepada siangkong" perintah perempuan cantik itu.

"Terima kasih siangkong atas tip yang diberikan" dayang cilik itu memberi hormat lalu dengan membawa baki itu mundur ke ruang belakang.

Sim Sin-pek hanya berdiri bingung, matanya terbelalak dan mulutnya terbungkam.

Tampak nyonya cantik berbaju mewah itu kembali berpaling, katanya sambil tertawa ringan:

"Segala kenikmatan duniawi tersedia didalam perahu ini, walaupun wajah para adikku biasa-biasa saja, namun mereka pandai menyanyi maupun menari"

Dia menengok wajah Sim Sin-pek, tertawanya nampak begitu menggetarkan sukma.

Diam-diam Sim Sin-pek tertawa dingin, pikirnya:

"Kelihatannya perempuan ini hendak memeras sejumlah uangku, hmm, biarkan saja dia sediakan hidangan atau nyanyian atau tarian, tapi setibanya di daratan nanti, hmmm! Hmmm!"

Dengan kerlingan mata yang indah nyonya cantik itu kembali bertepuk tangan tiga kali.

Diiringi suara tertawa cekikikan yang merdu, dari balik tirai muncul tujuh delapan orang gadis berbaju indah.

Tiga orang gadis yang tadi mendayung sampan, melempar tali dan menyuguhkan teh, sekarang telah berganti dengan pakaian indah dan berbaur diantara gadis gadis itu.

Suara tertawa yang memikat, kerlingan mata yang menggoda ditambah bau harum semerbak yang mengggelitik..... tanpa terasa Sim Sin-pek duduk terperangah dibuatnya, saking tertegunnya hingga sejak kapan hidangan disiapkan pun tidak dia rasakan.

"Siangkong, coba lihat, apakah semuanya ini cukup memuaskan?" terdengar nyonya berwajah cantik itu bertanya sambil tertawa.

"Memuaskan apa?" tanya Sim Sin-pek sambil matanya tetap menatap kawanan gadis cantik itu.

"Cukup memuaskan hatimu untuk membayar seribu tahil perak!"

"Apa? Seribu tahil perak?" teriak Sim Sin-pek sambil tertawa seram, "hujin, rupanya kau sedang bergurau?"

Padahal diapun tahu kalau perkataan itu bukan gurauan, karena itu gelak tertawanya kontan terhenti.

Kembali nyonya cantik itu berkata lagi dengan nada hambar:

"Segala sesuatu yang berada disini harus kau lakukan secara ikhlas, bila di anggap tidak setara dengan nilai uang yang dibayar, setiap saat kau bisa memerintahkan mereka untuk singkirkan semua hidangan yang ada"

Sim Sin-pek tertegun berapa saat, dia mencoba memandang sekeliling ruangan itu, terasa olehnya, sorot mata kawanan gadis tersebut tiba-tiba berubah jadi dingin bagaikan salju.

Terpaksa sahutnya sambil tertawa serak:

"Tidak, cayhe sama sekali tidak bermaksud begitu"

"Kalau memang tidak bermaksud begitu, silahkan siangkong lunasi dulu ongkos yang harus dibayar"

"Aku sedang melakukan perjalanan jauh, mana mungkin kugembol uang sebanyak itu?"

Nyonya cantik itu tertawa hambar.

"Pat-moay!" serunya, "dia bilang tidak menggembol uang sebanyak itu"

Gadis yang mendayung sampan tadi, kini muncul dengan mengenakan gaun berwarna ungu, dengan senyuman dikulum sorot matanya yang bening mengawasi sekejap Sim Sin-pek, seolah dia sudah dapat menebak rahasia hati orang itu.

"Meski usiamu masih muda namun sorot matamu tajam, langkah kakimu ringan, jelas memiliki kungfu yang sangat tangguh dan pernah mendapat petunjuk dari guru kenamaan" katanya lembut, "tingkah lakumu, sepak terjangmu selalu menampilkan rasa percaya diri yang kuat, ini menandakan asal usul keluargamu pasti ternama. Tapi sekarang, selain sudah menyamar jadi seorang tosu bahkan wajahmu nampak gugup dan tergesa-gesa, ini menunjukkan kalau kau sedang kabur dari pengejaran dan siap bergelandangan dalam dunia persilatan. Dengan latar belakang keluarga serta perguruanmu, masa kau mau hidup bergelandangan dalam kondisi susah dan tersiksa? Itu berarti sebelum melarikan diri, kau pasti sudah menggembol sejumlah uang sebagai bekal, bukan begitu?"

Hanya dengan berapa kalimat yang sederhana dia berhasil membongkar rahasia Sim Sin-pek, kenyataan ini seketika membuat pemuda itu tertegun dan sampai lama sekali tidak mampu berbicara.

Tampaknya gadis berbaju ungu itu dapat menebak apa yang sedang dipikirkan pemuda itu, sambil menatap wajahnya lekat-lekat dan senyum­an masih tersungging diujung bibirnya dia bertanya lagi:

"Bukan begitu?.......bukan begitu?....."

Akhirnya Sim Sin-pek menghela napas panjang.

"Hujin, silahkan suruh orang menyingkirkan semua hidangan itu" katanya perlahan, "cayhe hanya pingin menumpang sampai di dermaga Beng-shia"

Gadis berbaju ungu itu segera tertawa cekikikan.

"Pelit amat kau.......hahahaha.......semua rahasiamu berhasil kutebak, tapi aku benar-benar tidak menduga kalau watakmu amat pelit!"

Dari atas meja, tangan kirinya mengambil poci perak sementara tangan kanannya mengambil sepasang sumpit, senyuman masih menghiasi wajahnya, dengan cepat dia masukkan sumpit perak itu ke dalam poci perak, katanya:

"Saudaraku semua, kalau toh orang tidak sudi memberi muka kepada kita semua, buat apa kita tetap tinggal disini? Ayoh pergi!"

Diiringi suara tertawa yang merdu, kawanan gadis itu mengundurkan diri ke balik tirai.

Nyonya cantik itupun berkata sambil tertawa ringan:

"Silahkan siangkong menikmati air teh, kami akan mengundurkan diri!"

Dengan penuh sopan santun mereka telah mengundurkan diri, dalam waktu singkat disitu hanya tinggal Sim Sin-pek seorang yang masih berdiri terpaku bagai patung, perasaan hatinya makin tercekat bercampur keheranan.

Ketika menyaksikan gadis bergaun ungu itu memperlihatkan kungfunya yang hebat, dia sangka kejadian itu pasti akan berkembang lebih jauh, siapa sangka mereka semua justru mengundurkan diri dengan sikap yang sopan, bukan saja tidak berniat memaksa bahkan tidak menunjukkan perasaan tidak puas.

Setelah termangu sesaat dengan perasaan bercampur aduk, akhirnya dia menghembuskan napas lega.

Ketika menengok kembali ke atas meja, terlihat hidangan lezat dan arak wangi masih tertata rapi disitu, bau harum yang menusuk hidung membuat selera makannya tiba-tiba muncul.

Tapi Sim Sin-pek segera mengingatkan diri sendiri:

"Mereka sama sekali tidak memaksa aku, berarti akupun tidak boleh menyentuh hidangan tersebut. Hmmm! Akan kulihat, kalau aku enggan menyentuh hidangan kalian, dengan cara apa kalian akan merampok uang milikku"

Kemudian pikirnya lebih jauh:

"Mungkin saja mereka tidak berani menyu­sahkan aku lantaran mengetahui kalau latar belakangku berasal dari keluarga, kenamaan. Aaai! Kalian memang kawanan gadis cantik bedebah, coba kalau saat ini aku masih ada urusan lain, tidak nanti akan kulepaskan kalian semua dengan begitu saja"

Dipandangnya Thiat Tiong-tong sekejap, kemudian pikirnya lagi:

"Setibanya di Beng-shia, aku harus membeli sebuah perahu dan berlayar menuju ke timur, setelah berada di perahu pasti akan kuberi pelajaran kepadanya, akan kulihat apakah dia tidak akan mengungkap tempat penyimpanan harta karun itu?"

Terbayang betapa gembiranya kehidupan dia setelah mendapatkan harta karun itu, makin dipikir Sim Sin-pek merasa semakin senang, entah berapa lama sudah lewat, mendadak perutnya mulai keroncongan, sekarang dia baru teringat kalau sudah cukup lama tidak menangsal perutnya.

Begitu ingatan tersebut muncul, makin dibayangkan perutnya terasa makin lapar, sampai pada akhirnya dia benar-benar tidak kuasa menahan rasa laparnya lagi.

"Aneh" demikian dia berpikir, "di hari biasa, walaupun sehari semalam tidak makan pun tidak pernah kurasakan kelaparan seperti sekarang, kenapa keadaanku hari ini aneh sekali?"

Memandang hidangan lezat yang tertata rapi didepan mata, kepalanya semakin pusing dan matanya makin berkunang, dia seakan tidak bisa memikirkan persoalan lain lagi kecuali rasa lapar yang semakin menyengsarakan.

Dia berusaha keras mengalihkan sorot mata­nya ke arah lain, apa mau dikata sepasang matanya seolah tidak mau menurut perintah, setiap saat setiap detik pikirannya membayang-kan terus betapa lezatnya menggigit ayam goreng dan hidangan lezat lainnya.

Membayangkan kecutnya buah bwee mungkin saja bisa mencegah dahaga, tapi membayangkan sayap ayam goreng bukan berarti bisa menangsal perutnya yang lapar, semakin dilihat dia merasa semakin kelaparan, sekarang permukaan lambungnya seolah mau robek saking laparnya.

Sambil menelan air liur kembali pikirnya: "Kenapa aku tidak menyumpit setiap hidangan satu sumpitan saja? Siapa tahu dengan cara begitu mereka tidak tahu kalau aku sudah dahar"

Berpikir begitu diam-diam dia menggerakkan tangannya menghampiri hidangan dimeja.

Tiba-tiba terdengar seseorang tertawa ringan sambil nyelutuk dari balik tirai:

"Kelihatannya uang perak yang dimiliki orang ini memang dimasak dengan air obat, sudah kelaparan seperti itupun masih tidak rela merogoh kocek"

"Aku hanya berharap disaat dia sudah tidak tahan dengan rasa laparnya secara diam-diam

"Jarang sekali kujumpai manusia persilatan yang begitu pelit macam kau" seru Yo Pat-moay sambil tertawa, dia berpaling sambil tepuk tangan, serunya, "Ciu-koh, bawa masuk arak dan hidangan, hangatkan sebentar"

"Tidak usah, tidak usah dihangatkan" seru Sim Sin-pek cepat.

Tapi pada saat itulah telah muncul seorang koki berwajah pucat, berambut awut-awutan dengan membawa sebuah baki dan dipinggangnya terikat selembar celemek, dia masuk dengan kepala tertunduk rendah.

Perlahan-lahan dia meletakkan setiap hidang­an dan arak keatas baki, kemudian dengan kepala tertunduk masuk kembali ke ruang belakang, sejak awal hingga akhir dia tidak pernah mendongakkan kepalanya barang sekali pun, sambil berjalan tiada hentinya dia terbatuk ringan.

Memandang semua hidangan sudah dibawa masuk, tidak tahan Sim Sin-pek menghela napas panjang.

Gadis yang ada dipaling depan segera berseru sambil tertawa:

"Kau telah mengeluarkan uang, maka biarlah aku senandungkan sebuah lagu untukmu!"

Diambilnya alat musik pie-pa lalu disentilnya dengan halus, sebuah lagu yang merdu pun disenandungkan dengan indahnya.

Sambil menyanyi, dia meliuk-liukkan tubuh nya berjalan mendekat, kemudian duduk didalam pangkuan Sim Sin-pek.

Senyuman menghiasi terus wajahnya, seakan senyuman itu selalu tampil polos dan suci, tapi tingkah lakunya justru begitu jalang dan cabul.

Walaupun berada dihadapan orang banyak, namun dia tidak canggung untuk duduk dalam pelukan pemuda itu, baginya, tingkah   laku semacam itu seakan dianggapnya satu kejadian yang lumrah.

Gadis lainnya pun ikut mengelilingi Sim Sin-pek sambil tertawa cekikikan, mereka dengan menggunakan sikap yang paling polos dan suci, melakukan perbuatan yang paling jalang dan cabul, bukan saja tidak rikuh atau malu, mereka seolah menganggap hal semacam ini adalah wajar.

Seorang gadis yang tampaknya sangat alim, dengan pinggang yang ramping dan kulit, tubuh yang halus berseru secara tiba-tiba:

"Yau su-moay, percepat permainan pie-pa mu!"

"Waah, rupanya Li ji-ci akan mulai dengan pertunjukkannya" teriak Yau Su-moay sambil tertawa cekikikan, "hey anak muda, kau memang sedang hokki besar!"

Sentilan ke lima jari tangannya diatas senar pun dipercepat, lagu yang dibawakan pun makin cepat.

Gadis yang dipanggil Li ji-ci itu merentangkan lengannya ke samping, perlahan-lahan dia mem­buka pakaian dibagian dadanya, sementara pinggangnya yang ramping mulai meliuk-liuk mengikuti irama musik pie-pa yang berirama cepat.

Wajahnya tampil begitu anggun, halus dan sopan, bahkan tidak secerca senyuman pun yang menghiasi bibirnya, tapi liukan tubuhnya begitu panas, begitu cepat dan begitu jalang.

Wajah suci dengan tubuh jalang, biasanya perempuan semacam ini yang paling cepat membangkitkan birahi kaum lelaki, Sim Sin-pek duduk dengan terperana, mulutnya melongo, matanya terbelalak lebar, dia seolah sudah kesemsem dibuatnya.

"Blaaaam!" tiba-tiba dari luar ruang perahu terdengar suara benturan keras, mendadak pintu ruangan dibuka orang secara paksa, kemudian tampak seorang lelaki tinggi besar penuh bercambang melangkah masuk sambil tertawa nyaring.

Kawanan gadis itu segera menjerit kaget, tarian, nyanyian seketika terhenti semua.

Dengan sorot mata yang berapi lelaki bercambang itu memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian serunya sambil tertawa keras:

"Hahahaha......rupanya di tempat ini sedang diselenggarakan hiburan yang menawan, tampak­nya kedatanganku sebagai tamu tidak diundang tepat waktu"

Yau Su-moay segera melompat bangun dari pangkuan Sim Sin-pek, dengan mata melotot hardiknya:

"Hay Tay-sau, mau apa kau kemari?"

Dengan langkah lebar Hay Tay-sau berjalan masuk ke ruang perahu, begitu duduk dikursi utama, dia naikkan kaki kirinya keatas bangku sambil berseru:

"Kenapa kalian belum pulang?"

Kelihatannya Yau Su-moay masih menaruh dendam kepada orang ini, kontan dia tertawa dingin.

"Kami mau pulang atau tidak, apa urusanmu!"

"Hahahaha......sarang lebah liar yang biasanya malang melintang di sungai Tiangkang kenapa bisa pindah wilayah operasinya ke sungai Huangho? Masa kalian benar benar telah diusir oleh bocah cilik dari Siok-siu hingga tidak punya tempat berteduh?"

"Kau tidak usah mencampuri urusan kami!" teriak Yau Su-moay makin gusar.

"Hey cewek, sekalipun aku pernah menolakmu, toh kau tidak perlu begitu dendam kepadaku, belajarlah bersikap lebih lembut dan halus, siapa tahu aku akan berubah pikiran"

Ditengah tertawa cekikikan para lebah yang lain, Yau Su-moay menghentakkan kakinya berulang kali dengan jengkel, teriaknya:

"Hey si berewot, kelihatannya kau ingin mampus"

Dengan menggunakan senjata Pie-pa dia langsung hantam batok kepala Hay Tay-sau.

Belum sempat serangan itu dilancarkan, sebuah tangan yang lembut telah menggenggam pergelangan tangannya.

Yau Su-moay semakin jengkel, teriaknya:

"Toaci, berewok ini sangat memuakkan, kau mesti bantu aku untuk balas dendam!"

Nyonya cantik itu hanya tertawa hambar, sama sekali tidak ambil perduli teriakan saudaranya, setelah meletakkan alat pie-pa ke meja, dia berpaling dan ujarnya kepada Hay Tay-sau sambil tertawa:

"Lama tidak bersua, tidak kusangka kau masih seperti sedia kala"

Berubah paras muka Hay Tay-sau bertemu perempuan ini, gelak tertawanya yang keras seketika sirna, katanya perlahan:

"Setiap orang tahu, toaci dari Heng kang it wo li ong hong (segerombol raja lebah) adalah seorang wanita misterius, akupun sudah lama mendengar nama besarnya, tidak kusangka ternyata kaulah orangnya!" Ucapan tersebut sangat tenang dan halus.

Kalau seorang lelaki kasar tiba-tiba berbicara secara halus dan tenang, perkataannya malah kedengaran sedikit menyeramkan.

Kawanan gadis lainnya segera saling bertatap muka dengan wajah tertegun, siapa pun tidak menyangka, bukan saja toaci mereka kenal dengan Hay Tay-sau bahkan ternyata mereka berdua adalah sahabat lama.

Sekarang Sim Sin-pek baru tahu kalau rombongan wanita itu tidak lain adalah Heng kang it wo li ong hong gerombolan lebah yang paling memusingkan kepala, diam-diam dia mengeluh pahit, kali ini dia benar-benar telah mengusik sarang lebah yang paling ganas.

Seorang wanita koki berbaju hijau, dengan membawa senampan hidangan lezat muncul kembali didalam ruangan dengan kepala tertunduk rendah.

Begitu meletakkan semua hidangan diatas meja, kembali dia membalikkan tubuh berlalu, kepalanya bukan saja tidak pernah didongakkan, mata pun tidak pernah melirik, seakan dia sama sekali tidak memikirkan semua peristiwa yang sedang terjadi dalam ruang perahu.

Dengan tangannya yang besar Hay Tay-sau menarik semua hidangan itu kehadapannya, lalu dengan rakus melahap semua hidangan yang ada.

Sim Sin-pek sendiri meski kelaparan setengah mati, namun dalam keadaan dan situasi seperti ini dia tidak dapat turun tangan berebut, terpaksa sambil menahan air liur dia hanya awasi orang itu menghabiskan semua hidangan yang ada.

Sekarang matanya sudah berkunang-kunang, hawa amarah telah membakar hatinya, masih untung dia masih dapat mengendalikan diri sehingga tidak sepatah katapun diucapkan.

Nyonya cantik itupun hanya mengawasinya dengan tenang, karena dia tidak bersuara, tentu saja rekan yang lain semakin tidak berani berkicau, untuk sesaat semua orang hanya mengawasi Hay Tay-sau menghabiskan seluruh hidangan dimeja tanpa bicara.

Akhirnya Sim Sin-pek tidak kuasa menahan diri lagi, dia menghela napas panjang.

Sambil  tertawa  ringan  nyonya  cantik  itu berkata:

"Jika kedatanganmu untuk menengok aku, sekarang sudah saatnya untuk berbicara bukan?"

Sambil membesut mulutnya yang berminyak, Hay Tay-sau mendongakkan kepalanya tertawa latah, teriaknya:

"Aku datang menengokmu? Kenapa aku harus menengokmu......?"

Mendadak dia menghentikan tertawanya, sambil bangkit berdiri ujarnya lagi:

"Aku  sengaja datang kemari karena ingin memberitahu kepada   kalian, meski keluarga Ouyang dari Kanglam mempunyai keturunan yang tidak becus, namun keluarga kenamaan ini merupakan sebuah keluarga yang menjunjung tinggi kejujuran serta kesetiaan,   pemiliknya Ouyang Li adalah seorang ciankwee yang berbudi luhur dan pantas dihormati, aku harap kalian jangan sampai mencelakai Ouyang hengte"

"Mereka yang datang menghantar diri, apa sangkut pautnya dengan kami?" jengek Yau Su-moay sambil tertawa dingin.

"Sekalipun mereka terpikat oleh godaan wanita, sepantasnya kalian pun tahu diri, setelah mendapatkan harta orang, tidak seharusnya mencelakai nyawa mereka"

Nyonya cantik itu segera tersenyum, katanya:

"Aku tidak menyangka si perampok ulung yang sudah lama  tersohor dalam dunia persilatan, Thian sat seng (bintang   pembunuh) ternyata sekarang berhati penuh welas asih"

"Bila kau enggan menuruti nasehatku, cepat atau lambat pasti akan menyesal" ujar Hay Tay-sau gusar, "sedang hubungan antara kita berdua, baik budi maupun kesetia kawanan sudah lama putus, jadi tidak ada lagi persoalan yang perlu dibicarakan lagi!"

Mendadak dia membalikkan tubuh, diatas wajahnya yang keras lamat-lamat terlintas perasaan sedih yang mendalam.

Tiba-tiba Sim Sin-pek ikut bangkit berdiri, teriaknya:

"Jangan pergi dulu!"

"Anak muda, mau apa kau teriaki aku?" tegur Hay Tay-sau seraya berpaling.

"Akupun akan pergi mengikuti Hay tayhiap" sahut Sim Sin-pek sambil tertawa paksa.

"Kalau begitu ayohlah!"

Mendadak nyonya cantik itu membalikkan tubuhnya dengan ringan, tidak nampak gerakan apa yang dilakukan, tahu-tahu dia sudah menghadang didepan pintu, tanyanya sambil tertawa lembut:

"Siapa yang mau pergi?"

"Mau apa kau?" hardik Hay Tay-sau dengan mata melotot.

Nyonya cantik itu tersenyum.

"Siapa pun tidak boleh membawa pergi tamu dari kami bersaudara, apalagi kau pun sudah datang kemari, aku masih ingin berbincang-bincang denganmu!"

"Kalau aku ingin membawa pergi seseorang, siapa pun jangan harap bisa menghalangi!" teriak Hay Tay-sau semakin gusar.

Ucapan nyonya cantik itu makin lama semakin lembut, katanya sambil tertawa merdu:

"Kalau aku tidak mau menghindar, masa kau tega melancarkan serangan kepadaku?"

Hay Tay-sau memperhatikannya berapa saat, tiba-tiba dia tertawa seram.

"Caramu itu sudah lama tidak mempan bagiku!" teriaknya.

Mendadak dia mengayunkan tangannya, langsung membabat tenggorokan nyonya cantik itu.

Paras muka nyonya cantik itu sama sekali tidak berubah, kelihatannya dia sudah menduga akan hal itu, tampak pinggangnya ditekuk, dengan satu gerakan yang ringan tubuhnya sudah lolos dari babatan maut itu.

Sepasang tangan Hay Tay-sau melancarkan serangkaian serangan berantai, dalam waktu singkat dia sudah lepaskan tujuh buah pukulan, semua serangan dilancarkan cepat dan ringan, seolah-olah bukan muncul dari seorang lelaki kasar macam dia.

"Hey, kenapa aliran ilmu silatmu kembali berubah?" ejek nyonya cantik itu sambil tertawa.

Ditengah pembicaraan, kembali pinggangnya meliuk-liuk bagaikan seekor ular, tubuhnya bergerak lincah ditengah kilauan bayangan serangan, tanpa bergeser setengah inci pun dia sudah menghindari ke tujuh buah serangan itu.

Sim Sin-pek yang menyaksikan jalannya pertarungan itu kontan merasa hatinya bergidik.

Yau Su-moay yang berdiri disampingnya segera berbisik:

"Kau tidak bakal lolos dari sini, lebih baik duduklah kembali!"

Mendadak terdengar Hay Tay-sau membentak keras, sepasang tangannya didorong berbareng ke depan.

Gerak serangannya tiba-tiba berubah, jurus serangan yang digunakan juga ikut berubah, pukulan yang dilontarkan dari ke dua belah tangannya benar-benar memiliki daya kekuatan yang luar biasa, angin pukulan yang dahsyat membuat semua tirai dalam ruang perahu bergetar keras.

"Aduh mak, kau benar-benar ingin memukul­ku?" teriak nyonya cantik itu nyaring.

Mengikuti deruan angin pukulan yang kuat, tubuhnya mundur ke arah pintu perahu.

Melihat ada kesempatan baik, Hay Tay-sau segera menyusul ke depan sambil merangsek maju.

Terasa pandangan matanya kabur, tahu-tahu nyonya cantik itu sudah melompat masuk lagi bagai sehelai daun kering, ejeknya sambil tertawa:

"Lama tidak bersua, kelihatannya sekarang kau bertambah gemuk!"

Sambil berkata dengan tangannya dia seolah hendak menowel pipi Hay Tay-sau.

Sebetulnya Hay Tay-sau sudah menyiapkan serangannya untuk dilancarkan, tapi bila dia lanjutkan serangan tersebut, maka sasarannya akan persis menghantam sepasang payudara nyonya cantik itu.

Setelah sedikit agak sangsi, tubuhnya yang tinggi besar mundur kembali ke belakang.

Tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar seseorang berseru sambil tertawa merdu:

"Hey, kenapa kau malah ingin jatuhkan diri ke dalam pelukanku?"

Terlihat dua pasang telapak tangan telah menyambar tiba dari kiri dan kanan dengan kecepatan bagaikan petir, itulah serangan yang dilancarkan Yau Su-moay serta Yo Pat-moay. Meski jurus serangan kedua orang itu cepat, namun tenaga pukulannya sangat ringan, seakan mereka berdua hanya ingin bercanda saja.

Hay Tay-sau rentangkan sepasang tangannya dengan jurus burung hong pentang sayap, sebuah tendangan dilontarkan menghajar ketiak kiri nyonya cantik itu.

Yau Su-moay kembali menggerakkan tubuh­nya, kali ini dia menyelinap ke belakang tubuh­nya.

Hay Tay-sau membalikkan tangannya sambil mencengkeram, "Praaang!" mangkuk dan cawan yang ada di meja segera berhamburan ke empat penjuru, saling bertumbukan hingga hancur sementara sisa hidangan yang ada segera berhamburan ke arah kawanan gadis lainnya.

Diiringi jeritan kaget kawanan lebah itu berhamburan ke samping untuk menghindar, tapi sayang ruang perahu tidak terlalu lebar, tidak urung tubuh mereka ternoda juga oleh ceceran minyak dan hidangan.

Kontan saja Yau Su-moay menjerit keras:

"Dia telah mengotori pakaian kita, harus minta ganti kerugian!"

Tujuh, delapan orang gadis berbaju warna warni itu serentak meluruk ke depan melakukan pengepungan.

Kembali Hay Tay-sau mengayunkan tangan kanannya merontokkan sebuah lentera, sementara tangan kirinya memutar meja itu bagaikan gangsingan, hardiknya nyaring:

"Hey anak muda, bukankah kau ingin melarikan diri? Kenapa tidak membantu aku melancarkan serangan?"

Sim Sin-pek masih berdiri melongo, tampaknya untuk sesaat dia belum tahu apa yang harus dilakukan.

Dengan nada dingin Yo Pat-moay segera berkata:

"Masih agak mending jika kau hanya menonton pertarungan dari samping arena, bila berani sembarangan turun tangan, hmm! Akan kubuat kau tidak pernah bisa turun lagi dari perahu ini!"

Baru saja akan mengayunkan langkahnya, seketika Sim Sin-pek mengurungkan niatnya dan mundur kembali tanpa membantah.

Melihat itu dengan kening berkerut Hay Tay-sau kontan mengumpat gusar:

"Anak jadah, setan pengecut, demi kau aku rela berkelahi, tidak nyana kau justru macam cucu kura-kura, menyembunyikan kepalamu dibalik batok!"

Sim Sin-pek hanya berdiri sambil bergendong tangan, dia berdiri disisi Thiat Tiong-tong yang bersandar dibangku sambil tertawa, seakan umpatan tersebut bukan ditujukan kepadanya.

Saat itulah terlihat bayangan manusia bergerak lewat, dari balik ruang perahu telah bermunculan aneka macam bunga, tujuh orang nona dengan tujuh macam warna berdiri berjajar disekeliling tempat itu.

Nyonya cantik tadi masih berjaga didepan pintu ruangan dengan senyuman dikulum, katanya:

"Adik-adikku, kalian tidak perlu melukainya, toh cepat atau lambat dia bakal roboh juga"

Tercekat perasaan hati Hay Tay-sau sehabis mendengar perkataan itu, pikirnya:

"Aaah, jangan jangan hidangan tadi beracun!"

Sambil meraung keras dia langsung menerjang kepungan kawanan lebah cantik itu dan menerkam ke tubuh nyonya cantik didepan pintu.

"Waah, kau ingin beradu jiwa?" ejek nyonya cantik itu tertawa.

"Bila hari ini kau celakai nyawaku...."

"Aku mencelakai apa?" tukas nyonya cantik itu sambil tertawa ringan.

Kendatipun Hay Tay-sau masih menyerang dengan sepenuh tenaga, namun dia sudah mulai merasakan rasa letih yang susah dilawan.

Setelah bertarung belasan gebrakan kemudian tiba-tiba nyonya cantik itu berseru:

"Adik-adikku, obat yang ada dalam tubuhnya sudah mulai kambuh, kemarilah kalian!"

Serentak para gadis lebah dari Heng-kang meluruk maju bersama, diiringi suara tertawa cekikikan mereka membanting tubuh Hay Tay-sau yang tinggi besar keatas lantai kemudian menindihnya beramai-ramai.

Sambil tertawa terkekeh seru Yau Su-moay:

"Hey berewok, aku mau lihat apakah kau bisa galak lagi? Akan kucabuti berewokmu sampai gundul!"

Tiba-tiba nyonya cantik itu menarik kembari senyumannya dan berkata:

"Adik-adik, jangan kalian usik dia, lebih baik dikirim dulu ke gudang bagian bawah"

Yau Su-moay dan Yo Pat-moay saling bertukar pandangan sekejap, sementara gadis lebah lainnya pun ikutan mengerdipkan mata secara diam-diam, entah siapa yang berteriak duluan, tiba-tiba ada yang berseru sambil tertawa:

"Wah, rupanya toaci sudah jatuh hati dengan berewok itu!"

"Dasar setan cilik......" umpat nyonya cantik itu tertawa.

Dia berjalan menuju ke belakang ruangan, tapi secara tiba-tiba menghentikan kembali langkah­nya, sembari menuding ke arah Sim Sin-pek, ujarnya:

"Pat-moay, coba tebak benda paling berharga apakah yang dimiliki siangkong ini?"

Yo Pat-moay memutar biji matanya berulang kali, lalu sahutnya:

"Dia bilang sedang menghantar orang sakit, padahal orang sakit itu jelas sudah ditotok jalan darahnya, tapi setiap saat setiap detik dia tidak pernah lupa memperhatikan orang itu, seakan kuatir secara mendadak orang itu bangkit berdiri dan melarikan diri, maka menurut aku......."

Setelah menuding ke arah Sim Sin-pek yang wajahnya berubah hebat, dia menuding pula ke arah Thiat Tiong-tong yang masih semaput diatas bangku, terusnya:

"Jadi menurut aku, barang paling berharga yang dia bawa adalah dia!"

"Hahahaha....Pat-moay, ternyata kau memang cerdik" puji nyonya cantik itu sambil terkekeh.

Dalam pada itu sudah ada berapa orang menggotong tubuh Hay Tay-sau ke ruang belakang, sambil tersenyum perempuan itupun menyusul di belakangnya.

Ruang perahu yang acak-acakan seketika tercekam dalam keheningan yang luar biasa, kini yang tersisa hanya Yo pat-moay dan Yau Su-moay.

Yau Su-moay memandang Sim Sin-pek sekejap, lalu memandang pula ke arah Thiat Tiong-tong     

Sim Sin-pek tidak kuasa menahan diri lagi, tanpa sadar dia menghadang didepan Thiat Tiong-tong dengan wajah hijau membesi, namun senyuman paksa masih tampil dibibirnya.

"Bukankah kau sedang berkelana dalam dunia persilatan karena ingin menghindari pengejaran? Kenapa memandang begitu penting orang sakit itu? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Yo Pat-moay kemudian.

Sim Sin-pek tertegun berapa saat, dia agak tergagap:

"Soal ini....soal ini......"

"Tidak usah kuatir" tukas Yo Pat-moay sambil tertawa, "asal kau menurut, kamipun tidak akan menanyai urusan tentang dia lagi, bukan begitu Su-ci?"

"Benar" sahut Yau Su-moay, "sekarang kau sudah menjadi milik kami berdua, jadi paling baik bila kau menuruti semua perkataan kami"

"Ruangan ini sangat kacau, lebih baik kau ikut aku menuju ke bawah!" ajak Yo Pat-moay kemudian sambil tertawa.

"Tapi....tapi.... bukankah kita hampir tiba di dermaga Beng-shia?"

"Perahu ini tidak akan menuju dermaga Beng-shia"

"Lantas perahu ini akan menuju ke mana?" agak berubah paras muka Sim Sin-pek.

"Tidak akan kemana-mana!"

"Nona, rupanya kau sedang bergurau?" dengan hati mendelu Sim Sin-pek tertawa paksa.

"Siapa yang lagi bergurau?" sahut Yau Su-moay sambil tertawa, "dilihat dari jauh perahu ini adalah perahu, dilihat dari dekatpun tetap sebuah perahu, sayangnya meski perahu namun tidak mampu bergeser, jangan lagi berlayar, bergeser setengah inci pun tidak mungkin"

Dalam pada itu Yo Pat-moay sudah tertawa terpingkal-pingkal.

Sim Sin-pek pun ingin ikut tertawa, sayang dia tidak mampu tertawa lagi, tanyanya tergagap:

"Apa maksud perkataanmu?"

"Arus sungai Huangho sangat deras, hanya perahu kecil yang bisa menyeberanginya, jika perahu sebesar ini yang mesti menyeberang, belum berapa langkah mungkin perahunya sudah karam duluan"

"Oleh sebab itu perahu ini tidak akan bergeser" sambung Yau Su-moay, "karena perahu ini bukan perahu melainkan sebuah bangunan rumah yang dibangun diatas air!"

"Kalau memang perahu ini tidak bisa bergerak, bagaimana caranya bisa sampai disini?"

"Perahu ini adalah rumah tinggal kami bersaudara di sungai Tiangkang, ketika kami pindah ke sungai Huangho, sayang rasanya untuk meninggalkan bangunan tersebut maka dengan segala cara kami berusaha memindahkannya kemari"

"Kenapa tidak membangun sebuah yang baru? Kenapa mesti bersusah payah mengangkutnya kemari?" tanya Sim Sin-pek keheranan.

"Memangnya perahu ini bisa dibangun dengan seenaknya?" kata Yo Pat-moay sambil tertawa.

"Coba turunlah ke bawah" saran Yau Su-moay, "maka kau segera akan mengetahuinya"

Kini Sim Sin-pek sudah tidak bebas, terpaksa dia menggendong Thiat Tiong-tong dan diiringi dua orang gadis itu turun ke bawah geladak.

Ternyata ruang belakang perahu itu merupa­kan sebuah kamar baca, empat dindingnya di penuhi rak buku.

Yo Pat-moay mendorong perlahan rak buku yang berada didinding sebelah kiri, rak tersebut segera bergeser ke samping dan terbukalah sebuah lorong bawah tanah yang rapi dan bersih.

Dibawah lorong itu berjajar ruangan ruangan yang banyak sekali, semua bangunan sangat indah dan rapi, tidak ada sedikit tempat luang pun yang dibiarkan kosong.

Kini semua pintu ruangan berada dalam keadaan tertutup rapat, dari balik kamar lamat-lamat terdengar suara tertawa yang merdu.

Sambil menarik ujung baju Sim Sin-pek, Yau Su-moay membawanya memasuki ruang kamar nomor empat.

Tempat itu merupakan sebuah ruangan yang kecil tapi rapi, disitu tersedia ranjang terbuat dari gading,  meja bulat,  gorden  sutera, hampir semua perapot rumah tangga tersusun rapi dalam ruang yang sempit itu.

Bagaikan orang yang kehilangan akal sehat Sim Sin-pek duduk hampir setengah jam lamanya dalam ruangan itu sebelum akhirnya suara keleningan nyaring bergema dari dinding sebelah.

Paras muka Yau Su-moay dan Yang Pat-moay berubah hebat, tergesa gesa mereka lari keluar ke pintu ruangan.

Sebelum meninggalkan tempat itu Yau su-moay menyempatkan diri berpaling seraya berseru:

"Kau tunggu saja disitu, jangan sembarangan bergerak"

Belum habis perkataan itu diucapkan, mereka berdua sudah pergi entah ke mana.

Pintu ruangan kembali tertutup rapat, kini Sim Sin-pek baru teringat kalau dia sedang kelaparan, dengan perasaan heran pikirnya:

"Apa yang telah terjadi? Mengapa mereka nampak gugup dan tergesa-gesa?"

Rasa curiga itu hanya melintas sejenak didalam benaknya, segera pikirannya dirisaukan kembali oleh keadaan yang sedang menimpa dirinya.

Enta berapa lama sudah lewat, tiba-tiba dia mendengar ada seseorang mengetuk pintu.

Sim Sin-pek tidak tahu siapa yang sedang mengetuk pintu, tapi sahutnya dengan cepat:

"Masuk!"

Koki yang berbaju hijau itu muncul kembali dengan kepala tertunduk, ditangannya membawa baki berisi sayur dan arak, setelah meletakkan diatas meja, kembali dia berlalu dengan kepala tertunduk.

Sim Sin-pek kegirangan setengah mati, diam-diam pikirnya:

"Sayang aku tidak sempat melihat dengan jelas raut muka koki itu, dia cantik atau jelek? Kalau cantik, aku mesti berterima kasih kepada-nya secara baik-baik"

Dalam waktu singkat dia telah melahap seluruh hidangan itu hingga ludas, tapi tidak setetes arakpun yang disentuhnya, satu-satunya kebanggaan baginya selama hidup adalah tidak pernah menyentuh arak.

Pertama, dia menganggap minum arak dapat mengacaukan pikiran.

Kedua, dia menganggap arak tidak seharum dan selezat sari buah.

Sayangnya, meski tidak setetes arakpun yang disentuh, namun belum lama dia letakkan sumpitnya, kepala sudah terasa pusing sekali, matanya berkunang-kunang dan kepalanya terasa sangat berat.

Dia sadar gelagat tidak beres, dalam terperanjat dia segera melompat bangun.

Belum sempat tubuhnya berdiri tegak, dia sudah roboh terjungkal keatas tanah, begitu roboh tubuhnya tidak mampu bergerak lagi.

Setelah keadaan berkembang seperti ini, ternyata dalam hidanganpun masih dicampuri obat pemabuk, mimpi pun dia tidak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti ini.

Belum sampai seperminum teh dia tidak sadarkan diri, perempuan berdandan koki itu sudah membuka kembali pintu ruangan, setelah menengok sekejap perlahan-lahan dia menyelinap masuk ke dalam.

Akhirnya pada saat itulah dia mendongakkan kepalanya, dalam ruang perahu tidak nampak cahaya sang surya, yang ada hanya cahaya lentera, ketika sinar lentera menyinari wajahnya, terlihatlah sebuah raut muka yang amat cantik, namun dibalik wajah cantik dan nampak masih muda itu terselip rasa sedih yang mendalam.

Dia seakan-akan pemah jadi sangat tua dalam satu waktu yang singkat, perasaan hatinya seakan pernah hancur lebur karena suatu persoalan, oleh sebab itu usianya mesti masih muda namun wajahnya nampak selalu murung dan duka.

Begitu masuk ke dalam ruangan, tanpa ragu dia langsung menghampiri Thiat Tiong-tong dengan langkah cepat, kemudian menotok bebas jalan darahnya.

Perasaan ketika tertotok jalan darahnya memang merupakan sebuah pengalaman yang aneh.

Tapi perasaan itu jauh berbeda dengan perasaan orang yang baru mendusin dari pingsan, bila mendusin dari pingsan maka ada jangka waktu tertentu kesadaran orang masih buram, sebaliknya orang yang tersadar setelah jalan darahnya dibebaskan, dia akan seketika tersadar kembali.

Begitu membuka matanya, Thiat Tiong-tong segera melihat ada selembar wajah cantik yang amat dikenalnya muncul didepan mata, ternyata dia tidak lain adalah Leng Cing-peng.

Dengan perasaan terperanjat dia segera melompat bangun, ditatapnya wajah Leng Cing-peng dengan termangu, untuk sesaat dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Leng Cing-peng pun hanya memandangnya sambil tersenyum, dia tidak berbicara, sambil menarik ujung baju pemuda itu tubuhnya segera menyelinap keluar dari ruangan.

Suara tertawa cekikikan sudah tidak kedengaran lagi, dengan gerakan paling cepat Leng Cing-peng menerobos lorong sempit yang berliku­liku dan sepi langsung menuju ke buritan perahu disana letak dapur tempatnya bekerja.

Disisi anglo terdapat sebuah pintu rahasia, sebetulnya pintu itu dipakai untuk membuang air kotor dan sampah, setelah membuka pintu, diatas permukaan air tampak tertambat sebuah sampan kecil.

Waktu itu hari menunjukkan tengah hari, awan tebal menyelimuti angkasa, ombak disungai pun terasa amat besar.

Tatkala Thiat Tiong-tong melompat ke ujung sampan, dia  merasa  seakan berdiri ditengah awan sejak dibius bocah pincang, apa yang kemudian terjadi dirasakan bagaikan sebuah impian.

Dengan cekatan Leng Cing-peng memutuskan tali pengikat sampan, perahu kecil itupun bergerak mengikuti ombak, kemudian dia mengambil dua buah dayung kayu dan mendayung dengan sepenuh tenaga menuju ke pantai seberang.

Dalam keadaan seperti ini dia seolah-olah tidak ada yang bisa dibicarakan, dia pun seolah-olah tidak ingin banyak bicara, sambil duduk membelakangi Thiat Tiong-tong yang duduk diujung sampan, dia hanya mendayung dengan sepenuh tenaga.

Ayunan dayung menimbulkan percikan air, percikan airpun membasahi tubuh Thiat Tiong-tong, tapi pemuda itu hanya mengawasi bayangan punggungnya yang kurus dengan termangu.

Sampai lama kemudian dia baru menyapa:

"Nona Leng, baik-baikkah kau?"

Leng Cing-peng sama sekali tidak membalik­kan tubuhnya, dia hanya mengangguk perlahan.

Dengan termangu Thiat Tiong-tong mengawasi gadis yang sudah dua kali menyelamatkan jiwanya itu, dia membayangkan pula betapa mendalamnya rasa cinta nona itu kepadanya, tapi kemudian dia membayangkan pula ikatan permusuhan yang terjalin antara dia dengan keluarga Leng......      

Sampan bergerak diombang-ambingkan ombak, pikirannya sama persis seperti gelombang ombak itu, bergelora, bergejolak dan tidak pernah tenang.

Sampai lama kemudian dia baru bertanya lagi dengan sedih:

"Nona, mengapa kau lakukan perbuatan ini?”

"Aku telah dilupakan orang, dilupakan masya­rakat luas, kalau tidak kulakukan pekerjaan ini, apa yang harus kuperbuat?" sahut Leng Cing-peng tanpa berpaling.

Dia lebih suka hidup sebagai orang bawahan, lebih suka menyiksa diri untuk mengurangi kepedihan dan kesedihan yang menyayat hatinya, dia lebih rela hidup tersiksa daripada diperbudak laki-laki.

Oleh sebab itu setelah melarikan diri dari kuil terpencil, meninggalkan Thiat Tiong-tong, dia pun mulai mengembara kemana-mana hingga suatu ketika berjumpa dengan kawanan gadis lebah, diapun bergabung dengan mereka.

Meskipun kawanan lebah itu bersikap hangat dan mesra terhadap kaum lelaki, namun sikap mereka terhadap gadis yang hidup sebatang kara ini sangat dingin dan hambar, andaikata Leng Cing-peng tidak berjumpa lagi dengan Thiat Tiong-tong, mungkin sisa hidupnya harus dilewatkan dalam penderitaan dan siksaan.

Kini dia tidak ingin berpaling, tidak berani berpaling, karena wajahnya telah dibasahi butiran air mata.

Thiat Tiong-tong sendiripun merasa amat pedih setelah membayangkan betapa sepi dan menderita­nya kehidupan gadis itu, ujarnya lirih:

"Nona Leng, apa rencanamu selanjutnya?"

"Jangan kuatir" sahut Leng Cing-peng sedih, "aku cukup mengetahui kesulitanmu, aku tidak akan merecoki mu lagi, apalagi menjadi bebanmu"

Thiat Tiong-tong merasakan hatinya berge­jolak, tidak tahan dia ingin membelai rambutnya dengan tangan yang gemetar.

Seandainya dia benar benar menyentuh bahu gadis itu, dapat dipastikan nona itu akan membalikkan tubuhnya dan menubruk ke dalam pelukannya.

Tapi sebelum jari tangannya menyentuh, sambil menghela napas dia menarik kembali tangannya.

Sejauh mata memandang, hanya ombak menggulung yang terpampang di depan mata, sama sekali tidak nampak daratan ditanah seberang.

Tiba-tiba Thiat Tiong-tong merogoh ke dalam sakunya, lalu melepaskan sebuah anak kunci dari segerombol kunci lainnya, kemudian ujarnya perlahan:

"Di rumah uang Kwan-gwan dikota Kayhong, aku menyimpan sebuah peti besi, peti itu sebenarnya hendak kuhadiahkan kepada cicimu, tapi sekarang akan kuserahkan anak kunci ini untukmu, ambillah peti besi itu dan selanjutnya kau tidak perlu berkelana lagi"

"Kenapa tidak kau serahkan sendiri kepada­nya?" tanya Leng Cing-peng dengan kepala tertunduk, "akupun sudah lama tidak pernah bersua dengannya"

Sekali lagi Thiat Tiong-tong merasakan hatinya amat pedih, katanya tergagap:

"Cicimu......cicimu dia....."

Tiba tiba Leng Cing-peng berpaling, dengan wajah berubah serunya:

"Kenapa dengan dia?"

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, belum sempat menjawab, tiba-tiba dari balik gulungan ombak terlihat ada sebuah sampan sedang bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi.

Ternyata sampan itu adalah sebuah rakit yang terbuat dari kulit kambing, sebuah benda paling ringan yang dapat bergerak cepat ditengah arus sungai Huangho yang deras.

Dalam waktu singkat rakit itu sudah berhasil menyusul sampan kayu yang ditumpangi Leng Cing-peng.

Berubah hebat paras muka Leng Cing-peng, tampak olehnya ada tiga lima sosok bayangan manusia berdiri diatas rakit kulit kambing itu, semuanya adalah wanita.

Ditengah gulungan ombak sungai yang berarus deras, dalam waktu singkat kedua sampan itu sudah makin mendekat.

"Kau cepat kabur dengan menumpang sampan ini, biar aku yang menghadang mereka" bisik Leng Cing-peng cepat.

Thiat Tiong-tong segera berpikir:

"Bagaimana pun juga, aku tidak akan membiarkan kau menderita gara-gara aku!"

Meski tidak mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba dia melambung ke tengah udara.

Ketika rakit kulit kambing itu semakin mendekat, dia dapat melihat kalau berapa orang gadis berbaju warna warni itu tidak lain adalah kawanan lebah dari Heng-kang Li ong hong, hanya saja kawanan lebah itu tidak ada yang mengenalinya.

Terdengar Yau Su-moay mencaci maki dari atas rakitnya dengan nada geram:

"Ciu-koh, kami selalu bersikap baik kepada­mu, melihat kau sebatang kara maka kami menampungmu, siapa tahu kau berani membawa kabur orang yang berhasil kami tangkap, hmmm, tampaknya kau sudah bosan hidup?"

Li Ji-ci, si nona berwajah suci bertubuh jalang berdiri dengan wajah sedingin salju, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia melemparkan seutas tali panjang ke arah sampan, diujung tali terikat sebuah jangkar kecil.

"Triiing!" diiringi dentingan nyaring, jangkar itu langsung terpantek diatas sampan kayu, meng­gunakan peluang itu rakit kulit tadi segera melesat maju lebih dekat, Yau Su-moay mengayunkan tangannya berulang kali, tiga titik cahaya tajam langsung menyambar ke tubuh Leng Cing-peng.

Dengan dayungnya Leng Cing-peng berusaha menangkis datangnya kilatan cahaya itu, tapi sebelum dia bertindak, kilatan cahaya tadi sudah dihajar miring oleh pukulan yang dilancarkan Thiat Tiong-tong dan tercebur ke dalam sungai.

Yo Pat-moay segera melompat maju dari belakang tubuh Li Ji-ci, telapak tangannya secepat kilat menangkis dayung kayu yang diayun oleh Leng Cing-peng.

"Praaak!" dayung itu patah jadi dua bagian.

Ternyata tangan Yo Pat-moay telah mengena­kan sebuah sarung tangan yang terbuat dari serat perak.

Benturan keras yang membuat dayungnya patah ini membuat Leng Cing-peng kehilangan keseimbangan, apalagi berada ditengah gulungan ombak yang besar dan arus yang deras, tubuhnya tidak mampu lagi berdiri tegak, buru-buru dia melejit setinggi berapa meter ke udara.

"Hmm, rupanya kau ingin mampus!" bentak Yo Pat-moay sambil tertawa dingin.

Tiba-tiba dari balik ujung bajunya meluncur keluar seutas tali panjang, bagaikan seekor ular sanca langsung melilit sepasang kaki gadis itu.

Leng Cing-peng bertubuh lemah dan bukan seorang gadis yang suka banyak bergerak, bukan saja dia tidak pernah melatih ketahanan tubuh, ilmu silat yang dipelajari pun tidak cukup tinggi.

Hatinya jadi amat gugup setelah kehilangan tenaga sewaktu tubuhnya masih melambung di udara, melihat datangnya ancaman tersebut, cepat dia buang tubuhnya ke samping.

Walaupun dia berhasil menghindari ancaman itu, namun si nona jadi semakin gugup ketika melihat tidak ada tempat berpijak lagi baginya.

Waktu itu Thiat Tiong-tong sedang bertarung puluhan jurus banyaknya melawan Yau Su-moay.

Ombak menggulung makin keras, sampan dan rakit pun terombang ambing dimainkan arus air yang deras.

Mereka berdua, seorang berdiri diujung sampan, yang lain berdiri diatas rakit, sama-sama bergerak diantara gulungan ombak, serangan yang dilancarkan meski sama-sama hebatnya, namun karena permukaan selalu bergelombang membuat jurus serangan pun tidak pernah tepat pada sasaran.

Apalagi bagi Thiat Tiong-tong yang dibesarkan diwilayah gurun, boleh dibilang dia tidak pandai ilmu berenang. Kini kepalanya mulai terasa pening, matanya berkunang-kunang dan perutnya mulai mual. Sekalipun kepandaian silatnya hebat pun, paling banter hanya tiga bagian yang bisa digunakan.

Li Ji-ci dengan menggunakan jangkarnya berusaha menahan laju sampan itu, serunya:

"Su-moay, aku lihat kungfu bocah ini cukup tangguh, apakah perlu aku membantumu?"

"Tidak perlu" sahut Yau su-moay sambil tertawa, kemudian ujarnya lagi, "hey anak muda, kami tidak berniat jahat kepadamu, kenapa tidak balik saja bersama kami?"

Belum sempat Thiat Tiong-tong menjawab, mendadak  terdengar  seseorang menjerit kaget, diikuti "Byuuurrr!" suara seseorang tercebur ke dalam air.

Ternyata Leng Cing-peng gagal menemukan tempat berpijak hingga tidak ampun tubuhnya tercebur ke dalam sungai.

Thiat Tiong-tong sangat terperanjat, tanpa menggubris musuhnya lagi dia siap menerjang ke muka untuk memberi pertolongan.

Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak, terlihat ada dua titik cahaya perak menyongsong kedatangannya, cahaya itu bergerak sangat cepat bahkan membawa desingan angin yang tajam bagaikan suara rentetan mercon.

Thiat Tiong-tong tidak berusaha menghindar, dia menyongsong datangnya serangan itu dengan keras melawan keras.

Siapa tahu kedua titik cahaya perak itu ternyata benda hidup, tahu-tahu arah sasarannya berubah dan kali ini mengancam lambung anak muda itu.

Thiat Tiong-tong yang menghadapi serangan dari muka belakang, apalagi diapun tidak berani melambung ke udara, terpaksa melepaskan satu pukulan lewat bawah ketiaknya, seluruh kekuatan dicurahkan ke dalam pukulan itu, dia sambut datangnya serangan Yau Su-moay dengan keras lawan keras.

Meskipun serangan ini dilancarkan belakang­an, ternyata tiba lebih duluan daripada serangan dari Yau Su-moay.

Mimpipun Yau Su-moay tidak menyangka kalau gerak pergelangan tangannya begitu lincah dan hidup, perubahan jurus pun dapat dilakukan sangat cepat.

Tidak sempat membatalkan serangan sebelum­nya, terpaksa dia terima ancaman itu dengan keras lawan keras.

"Duuuk!" benturan keras membuat kuda-kudanya limbung, tubuhnya kontan terjengkang ke belakang.

Masih untung Li Ji-ci berada di belakangnya, cepat-cepat dia memeluk tubuhnya kencang-kencang.

Sekalipun serangan tangan kirinya mendatang­kan hasil, ternyata gerak tangan kanannya untuk menangkap cahaya perak dihadapannya sedikit agak lamban.

Baru saja tangannya bergerak, "Triiing!" tahu-tahu kedua cahaya perak itu sudah saling membentur lalu terbang berpisah ke arah yang berlawanan, kemudian setelah membentuk setengah lingkaran busur, cahaya itu menghimpit datang lagi dari kiri dan kanan.

Demikian cepatnya perubahan yang terjadi pada cahaya perak itu membuat orang susah untuk mengetahui senjata apakah itu.

Ternyata benda itu adalah tali panjang yang berada ditangan Yo Pat-moay, hanya saja dikedua ujung tali masing-masing terikat sebatang senjata macam Poan koan pit, mirip juga mata tombak yang tajam.

Dengan hadirnya ke dua jenis senjata itu, bukan saja ketika berada dalam genggaman bisa digunakan senjata genggam, dapat pula dipakai sebagai senjata pelontar yang mematikan.

Waktu itu Thiat Tiong-tong sedang pening kepalanya oleh ayunan ombak, begitu melihat ada cahaya perak berkilat dihadapannya, dia jadi merasa amat silau, oleh sebab itu serangan yang dilancarkan pun ikut sedikit lambat.

Ketika secara tiba-tiba muncul dua cahaya perak yang menggencet dari kiri kanan langsung mengancam jalan darah Thay-yang-hiat nya, cepat dia tekuk pinggangnya menengadah ke belakang, sementara sepasang lengannya direntang ke samping.

Siapa tahu begitu jurus serangannya berubah, gerak ancaman dari ke dua cahaya perak itupun ikut berubah, mendadak dari dua cahaya berubah jadi satu cahaya, dengan jurus Pek hong koan jit (bianglala putih menembusi matahari) cahaya itu langsung menggempur ke arah bawah.

Walau menghadapi bahaya Thiat Tiong-tong tidak menjadi kalut, cepat dia menarik kembali tangannya, lalu dengan gerakan Tong cu Pay kwan im (bocah cilik menyembah Kwan-Im) dia tangkap cahaya perak itu dengan kedua belah tangannya.

Tapi dia lupa kalau tubuhnya masih berdiri diatas sampan, jelas keadaannya jauh berbeda bila dibandingkan bertarung di tanah daratan, ketika segulung ombak menggoncangkan sampannya, posisi tubuhnya pun ikut terlempar ke atas, kini seluruh dadanya malah membusung ke muka menyongsong datangnya ancaman maut itu.

Tampaknya sulit bagi pemuda itu untuk menghindarkan diri...

Setelah berulang kali berganti jurus dengan gerakan yang begitu cepat, kini jarak tubuhnya dengan posisi Leng Cing-peng tinggal sejangka lagi.

Sebaliknya Yau Su-moay sedang memeluk tubuh Li Ji-ci yang hampir roboh, sedang lengan kiri Li Ji-ci pun sedang menahan tubuh saudara­nya, otomatis kekuatan yang tersalur di lengan kanannya sedikit lebih lemah.

Akibatnya tarikan tali pun jadi kendor, rakit itu segera dihantam ombak hingga berpisah lagi sejauh berapa meter.

Ketika cahaya perak menggempur ditubuh Thiat Tiong-tong tadi, kebetulan ada ombak menggulung tiba, hal ini membuat tubuh Thiat Tiong-tong maju menyongsong cahaya perak itu, tapi rakitpun ikut tergulung hingga terpisah berapa meter, akibatnya sewaktu cahaya perak itu menyentuh tubuh Thiat Tiong-tong, tubuh Yo Pat-moay ikut terlempar mundur ke belakang.

Dari rangkaian peristiwa yang terjadi dalam waktu singkat, serangan Liang gin siang hui cha (cahaya perak terbang menyilang) yang dilancar­kan gadis itu meski sempat menyentuh pakaian Thiat Tiong-tong, namun tenaga serangannya pun ikut lenyap tidak berbekas.

Berhasil lolos dari bahaya maut membuat Thiat Tiong-tong kontan saja bermandikan keringat dingin.

Arus air mengalir sangat deras, waktu itu tubuh Leng Cing-peng masih terapung diatas permukaan air, rupanya nona itupun tidak mengerti ilmu dalam air, akibatnya tubuhnya makin terpisah jauh dari sampan. Dia mencoba meraih buritan sampan dengan sepasang tangannya, sayang kekuatan yang dimilikinya tidak mampu untuk berbuat begitu.

Ditengah hembusan angin dan gulungan ombak, gadis itu mulai berteriak minta tolong, jeritannya bercampur aduk diantara suara air dan angin, membuat suaranya kedengaran amat mengenaskan.

Begitu berhasil lolos dari serangan musuh, Thiat Tiong-tong tidak ambil perduli urusan apa pun, dia segera membalikkan tubuh siap terjun ke sungai untuk menolong gadis itu.

Tapi Li Ji-ci segera menarik kembali talinya kuat-kuat, rakit kulit pun bergeser lagi lebih mendekat, Yo Pat-moay serta Yo Su-moau sekali lagi mengepungnya rapat-rapat membuat anak muda itu sama sekali tidak mampu bergerak.

Thiat Tiong-tong tahu kepandaian silat yang dimiliki kawanan gadis lebah itu masih jauh dibawah kemampuannya, menurut analisa paling banter dalam tiga lima jurus kemudian dia sudah mampu menghajar mereka hingga tercebur ke air.

Apa mau dikata begitu serangan dilancarkan, ternyata semua perhitungannya meleset jauh, bukan saja serangannya tidak sehebat disaat biasa, bahkan ketepatan sasaran maupun besar­nya kekuatan yang dia gunakan jauh dari bayangannya semula.

Tentu saja dia lupa bahwa dirinya saat itu sedang mabuk laut, jangan lagi menyerang dengan sepenuh tenaga, mengangkat barang seberat sepuluh kati pun belum tentu dia mampu melaku­kan.

Begitu tahu apa yang diharapkan sulit ter­capai, Thiat Tiong-tong merasa gelisah bercampur gusar.

Sambil tertawa dingin Yau Su-moay segera mengejek:

"Asal kau bersumpah mau menuruti perkataan kami dan segera balik bersama kami, kamipun akan segera menolongnya!"

Thiat Tiong-tong tidak menjawab, sambil menggertak gigi sekuat tenaga dia melancarkan tiga jurus serangan.

Ditengah hembusan angin dan gulungan ombak, suara teriakan minta tolong itu makin lama makin bertambah lemah.

Kembali Yo Pat-moay berkata dengan nada dingin:

"Bukan kami bersaudara tidak mau turun tangan menolong, justru kaulah yang enggan memberi pertolongan"

Sepasang tangannya melancarkan serangan lebih ganas, secara beruntun dia pun melepaskan lima jurus serangan.

"Betul" seru Yau Su-moay pula sambil tertawa ringan, "asal kau bersedia, cukup Yo Pat-moay menggerakkan tangannya maka dia akan segera tertolong, padahal kamipun tidak bersikap........"

"Baiklah!" mendadak Thiat Tiong-tong mem­bentak keras.

"Jadi kau bersedia?" tandas Yau su-moay sambil angkat bahunya.

"Yaa, aku bersedia"

Sambil berkata dia segera menurunkan sepasang tangannya.

Dengan gerakan cepat Yo Pat-moay mengguna­kan senjata peraknya untuk menotok jalan darah Ji swan, ciang tay dan Ki bun hiat didepan dada­nya.

Demi selamatkan jiwa Leng Cing-peng, sekali pun kawanan gadis lebah itu akan segera mencabut nyawanya pun dia tidak akan melawan.

Sebagaimana diketahui, pemuda ini adalah seorang lelaki yang pandai mengendalikan diri, berotak dingin dan cerdas, semua keputusan yang dia ambil tentu sudah melalui pertimbangan yang sangat matang, dia tidak ingin mengambil kepu­tusan karena dorongan emosi sehingga harus menyesal dikemudian hari.

Terdengar Yau Su-moay berseru sambil tertawa dingin:

"Ciu-koh pagar makan tanaman, kenapa kita mesti selamatkan nyawanya? Lebih baik biarkan saja dia mati tenggelam"

"Tapi kita sudah menyanggupi permintaan­nya!" tukas Yo Pat-moay.

"Hmmm, kalau kita tidak menolong, dia bisa apa?" jengek Yau su-moay sambil berpaling.

Tampak olehnya Thiat Tiong-tong sedang berdiri sambil pejamkan mata, wajahnya nampak sangat dingin.

Wajahnya yang teguh seakan patung dewa yang mendatangkan daya pikat amat besar.

Yau su-moay tidak menyangka dalam situasi seperti inipun anak muda itu tidak menunjukkan perasaan gusar.

Darimana dia tahu kalau Thiat Tiong-tong tidak pernah mengumbar amarahnya demi sesuatu masalah yang tidak mungkin bisa dia hadapi.

Setelah memutar biji matanya berulang kali, ujarnya sambil tertawa:

"Yaa sudah, mari kita tolong dia, tadi aku hanya bergurau.... masa janji yang sudah dipenuhi mesti diingkari kembali?"

Baru selesai ia berkata, tali panjang Yo Pat-moay sudah dilemparkan ke depan.

Saat itu seluruh tubuh Leng Cing-peng nyaris hampir tenggelam, kini yang terlihat diatas permukaan air tinggal sedikit wajahnya serta ke sepuluh jari tangannya yang mencakar kian kemari, keadaannya amat mengenaskan.

Ketika Yo Pat-moay melemparkan talinya, dengan tepat tali itu melilit pergelangan tangan­nya, gadis itu segera membalikkan tangan sambil mencengkeramnya mati-matian, tampaknya dia tidak ingin melepaskan cengkeramannya lagi.

Maka Yo Pat-moay pun segera menarik talinya dan menarik tubuh Leng Cing-peng keluar dari dalam air sungai.

Saat itu dia sudah berada dalam keadaan tidak sadar, giginya terkatup kencang, wajahnya kuning bagai kertas. Yo Pat-moay segera membaringkan tubuhnya diatas rakit, sementara Yau Su-moay pun telah memindahkan tubuh Thiat Tiong-tong.

Dengan sekali tendangan Li Ji-ci menarik kembali jangkarnya, mereka bertiga pun mulai mendayung rakit itu menembusi ombak sungai.

Tampaknya ke tiga orang gadis ini sudah terbiasa dengan arus deras, meskipun harus melawan arus dan ombak, ternyata mereka dapat mengendalikan rakit itu dengan santai.

Sembari mendayung, Yau su-moay tiada hentinya mengawasi wajah Thiat Tiong-tong, akhirnya sambil tertawa ringan dia menegur:

"Hey, siapa namamu?"

Thiat Tiong-tong tidak menjawab, dia hanya pejamkan matanya.

"Hey, kenapa kau tidak bicara?" kembali Yau su-moay menegur, "aku toh tidak menotok jalan darah bisumu, kenapa kau malah jadi bisu?"

Melihat anak muda itu tetap tidak menggu­bris, dengan kening berkerut Yau su-moay segera berteriak:

"Kau tidak perduli pertanyaanku? Baik, kalau kau tetap membisu, jangan salahkan kalau sekari tendang kubuang perempuan itu ke dalam sungai!"

Tiba-tiba Thiat Tiong-tong membuka matanya lebar-lebar, cahaya kegusaran memancar keluar dengan buasnya.

Kontan Yau su-moay tertawa dingin, ejeknya:

"Mau apa kau? Bisa apa kau?"

Akhirnya Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, dengan perasaan apa boleh buat katanya:

"Cayhe Thiat Tiong-tong, apa lagi yang nona inginkan?"

Sambil picingkan matanya yang bulat Yau Su-moay melirik pemuda itu sekejap, kemudian katanya:

"Aku.....? apa yang aku inginkan? Aku.... aku menginginkan kau...."

Sambil tertawa cekikikan dia segera menghen­tikan ucapannya.

Li Ji-ci ikut tertawa cekikikan, serunya:

"Lo-su, aku rasa kau tidak usah banyak mulut, yang penting harus mendayung terus, toaci sedang menunggu kita!"

Benar saja, Yau su-moay segera mendayung dengan lebih cepat lagi, namun sepasang matanya masih mengawasi Thiat Tiong-tong tanpa berkedip, tiba-tiba dia menendang pemuda itu perlahan.

Melihat itu Li Ji-ci segera menegur sambil tertawa:

"Hey budak setan, kelihatannya penyakit lamamu kambuh lagi, sampai kapan sifatmu itu baru akan berubah?"

Yau Su-moay hanya menggigit bibirnya sambil tertawa cekikikan.

Selama ini hanya Yo Pat-moay yang tidak banyak bicara, pandangan matanya memandang terus ke depan, meski usianya paling muda namun kawanan gadis lebah lainnya seperti agak jeri kepadanya.

Saat itulah tiba-tiba dia berpaling sambil berkata:

"Sudah sampai!"

 

BAB 11.

Pasukan gadis lebah.

 

Diantara kabut yang tebal, benar saja terlihat bayangan perahu yang besar muncul didepan mata, meski berada disiang hari namun perahu itu masih bermandikan cahaya lentera, membuat permukaan sungai tampak berkilauan tajam.

Diujung perahu lamat-lamat kelihatan berdiri sesosok bayangan manusia yang tiada hentinya melongok ke tempat kejauhan, begitu melihat rakit kulit itu bergerak mendekat dengan menerjang ombak, mendadak dia lari masuk ke ruang perahu.

Ketika rakit kulit semakin mendekat, tiba-tiba Yau Su-moay menubruk ke depan dan memeluk tubuh Thiat Tiong-tong, begitu rapat dia memeluk membuat anak muda itu menghela napas didalam hati dan segera pejamkan matanya.

Kini semakin banyak bayangan manusia yang muncul dari balik ruang perahu, namun suasana tetap hening.

Saat itulah Yau Su-moay berbisik disisi telinga pemuda itu:

"Aku akan bebaskan dua buah jalan darahmu, agar kau bisa berjalan masuk sendiri........."

Lalu setelah menggigit ujung telinga Thiat Tiong-tong, tambahnya sambil tertawa ringan:

"Setan cilik, lihatlah, betapa sayangku kepada­mu!"

Sambil berkata dia segera menotok bebas dua buah jalan darah ditubuh pemuda itu.

Dalam keadaan begini, Thiat Tiong-tong tidak tahu harus tertawa atau marah, sekalipun sepasang kakinya bisa menginjak tanah akan tetapi sepasang tangannya masih belum mampu bergerak, kekuatan tubuh pun hilang lenyap tidak berbekas, kini dia hanya bisa berdiri dengan badan lemas.

Dalam pada itu Yau Su-moay telah menarik kembali senyuman diwajahnya, selesai membetul­kan letak pakaian dan membereskan rambutnya, sambil mendongakkan kepala dia berjalan menuju ke ruang perahu dengan langkah lebar.

Tergerak perasaan hati Thiat Tiong-tong setelah melihat kejadian itu, pikirnya:

"Kalau dilihat sikapnya yang begitu serius, jangan-jangan di perahu sudah kedatangan seseorang?"

Waktu itu Yau Su-moay sudah tiba didepan pintu ruangan, sambil setengah menyingkap tirai pintu, ujarnya dengan nada berat:

"Toaci, bocah itu telah berhasil kutangkap kembali, apakah boleh membawanya masuk?"

"Bawa masuk kedalam!" seseorang segera menyahut dari balik ruang perahu.

Yau Su-moay berpaling, bisiknya sambil menggapai:

"Masuklah!"

Setelah sangsi sejenak akhirnya Thiat Tiong-tong melangkah maju ke depan, dia yakin perahu itu pasti sudah kedatangan seseorang, hanya tidak bisa ditebak siapakah orang itu.

"Orangnya sudah datang!" seru Yau Su-moay lagi sambil menyingkap lebar tirai didepan pintu.

Cahaya lentera yang bening memancar keluar dari balik ruang perahu, menyinari wajah Thiat Tiong-tong yang angkuh, menyinari pula tubuhnya yang berdiri tegap.

Beberapa pasang mata jeli yang ada dalam perahu, kini tertuju semua ke tubuh Thiat Tiong-tong, mata-mata yang indah itu seketika terbelalak semakin besar dan lebar.

Sorot mata Thiat Tiong-tong dingin bagaikan salju, tapi dibalik sikapnya yang dingin justru terselip daya tarik yang luar biasa besarnya.

Tatapan matanya seakan sama sekali tidak bergeser, namun setiap sudut dalam ruang perahu itu, setiap lembar wajah, setiap gerakan, seakan tidak ada yang lolos dari perhatiannya.

Ruang perahu yang kacau dan acak-acakan karena ulah Hay Tay-sau tadi, sekarang telah tertata rapi, bersih dan indah seperti sedia kala.

Kawanan lebah duduk mengelilingi nyonya cantik itu, duduk disisi kiri dan kanann, pada sisi kanan ruang perahu duduk juga tiga orang gadis yang bersandar diatas selembar permadani.

Kawanan lebah yang biasanya riang dan penuh gelak tertawa, kini tampil dengan wajah tegang dan serius, sebaliknya ke tiga orang gadis cantik yang duduk diatas permadani itu justru bersikap amat santai dan kemalas-malasan.

Mimpipun Thiat Tiong-tong tidak menduga kalau salah satu diantara ke tiga orang gadis cantik itu tidak lain adalah Sui Leng-kong!

Disaat sorot matanya bertemu dengan sinar mata Sui Leng-kong yang bening itulah, sedikit perubahan terjadi diatas wajahnya yang kaku bagaikan arca, perubahan tersebut sangat kecil dan sulit ditemukan siapa pun.

Sementara Sui Leng-kong sendiripun tidak kuasa menahan diri, dia telah bangkit berdiri.

Meskipun dia berusaha mengendalikan gejolak perasaan hatinya, namun tidak dapat menutupi rasa girang dan kaget yang terlintas diwajahnya.

"Apakah orang ini yang nona sekalian maksudkan?" nyonya cantik itu segera bertanya sambil tertawa.

Sui Leng-kong manggut-manggut.

Nona cantik yang duduk disamping kiri Sui Leng-kong segera berkata sambil tertawa:

"Hoa Toa-koh, tidak disangka kalian sangat jujur, betul, dialah yang kami inginkan!"

Hoa Toa-koh, nyonya cantik itu segera tertawa tergelak.

"Hahahaha.... sejak kapan Hoa Toa-koh pernah berbohong kepada kalian semua? Apalagi yang datang adalah saudara-saudara dari perguruan Kui bo"

Rupanya nona cantik itu tidak lain adalah pimpinan tujuh iblis wanita dari perguruan Kui bo, dia tertawa pula.

"Aku Gi Peng-bwee selalu bicara blak-blakan, asal kau ijinkan kami membawanya pulang, persoalan apapun kami akan anggap beres dan tidak akan dipersoalkan lagi"

Hoa Toa-koh memutar biji matanya berulang kali, tiba-tiba ujarnya:

"Adikku, kalau tidak salah aku hanya pernah berkata kalau ditempat kami nampaknya ada seseorang macam begitu, bukankah aku tidak pemah berjanji akan melepaskannya bukan?"

Paras muka Gi Peng-bwee seketika berubah hebat, selapis hawa dingin menyelimuti wajahnya.

Tapi Hoa Toa-koh berlagak seolah tidak melihat, ujarnya lebih jauh:

"Kalau nona Gi suka bicara blak-blakan maka Hoa Toa-koh pun tidak suka bicara berbelit-belit, ketika Kui bo cianpwee minta orang, seharusnya kami segera menyerahkan orang tersebut, tapi asal usul pemuda ini sedikit rada aneh, setiap orang menganggapnya sebagai harta yang tidak ternilai harganya, maka kami pun merasa agak berat hati untuk membiarkannya pergi, bila aku mengabul­kan permintaan nona Gi, bagaimana pula pertanggungan jawabku terhadap mereka?"

 

"Lantas.....lantas kau.....kau........." Sui Leng­kong membela-lakkan matanya lebar lebar.

Saking panik dan gelisahnya, penyakit gagap­nya kembali kambuh.

"Adikku" tukas Hoa Toa-koh cepat, "bicaramu tidak jelas, lebih baik biar nona Gi saja yang berbicara!"

Terpaksa Sui Leng-kong duduk kembali, tapi butir air mata telah membasahi matanya karena jengkel. Sejak kecil dia sudah terbiasa menderita, maka walaupun hatinya sangat mendongkol namun dia sanggup mengendalikannya, kendati­pun saat ini seharusnya rasa sabarnya telah mencapai pada batas toleransi.

Gi Peng-bwee dengan wajah dingin belum sempat mengucapkan sesuatu, iblis wanita yang lain telah bangkit berdiri sambil tertawa.

Gadis ini tidak biasa sembarangan bicara, namun senyuman selalu menghiasi wajahnya, terdengar dia berkata perlahan:

"Hoa Toa-koh, bila kau tidak mau membebas­kan dia, bagaimana cara kami memberikan pertanggungan jawab kepada guru? Tolonglah, bebaskan dia!"

Tubuhnya yang lemah lembut, nada suaranya yang lembut tidak bertenaga ditambah tubuhnya yang kurus kering membuat kawanan lebah Heng kang li ong hong segera merasakan hatinya iba dan penuh rasa kasihan.

Hoa Toa-koh segera tertawa, serunya:

"Aduhh..... tidak heran orang bilang Gi Cing-kiok lebih cantik dari bunga seruni, sampai aku Hoa Toa-koh pun merasa tidak tega untuk menolak permintaan nona"

"Kalau begitu Toa-koh bersedia membebaskan dia bukan?" tanya Gi Cing-kiok sambil tertawa.

"Kalau aku bebaskan dia, adikku pasti marah kepadaku, bila tidak kubebaskan dia, nona sekalian pun pasti akan mendendam kepadaku, kalau begitu lebih baik begini saja........"

Senyuman diwajahnya nampak lebih lembut, lanjutnya:

"Bagaimana kalau nona semua memperlihat­kan sedikit kepandaian, agar kami pun dapat mengaguminya"

"Aduuh..... bicara pulang pergi ternyata Hoa Toa-koh menginginkan kami bersaudara pamer­kan kejelekan, itu mah gampang sekali, kenapa tidak Toa-koh perintahkan sejak tadi"

"Perintah sih tidak berani, Cuma........"

Mendadak Yau Su-moay tampil ke depan, tukasnya:

"Toaci, lebih baik biar adik yang temani nona Gi bermain berapa gebrakan, bila adik beruntung bisa menangkan partai ini, bagaimana kalau kongcu itu serahkan kepadaku?"

"Bagaimana kalau kau kalah?" tanya Gi Cing-kiok.

Yau Su-moay memutar biji matanya berulang kali kemudian tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalau aku kalah, biarlah saudaraku yang lain menemani rekan-rekan nona Gi untuk bermain berapa gebrakan!"

"Aduh...nonaku, pintar amat kalian" seru Gi Cing-kiok sambil tertawa ringan, "kalau begitu bukankah kalian yang lebih diuntungkan?"

"Ciciku, pandanglah usiaku yang masih kelewat muda, mengalahlah sedikit untuk kami!"

Gi Cing-kiok tertawa cekikikan.

"Bagus sih memang bagus, Cuma sayang ada satu hal yang kurang bagus" katanya.

"Apa yang kurang bagus?"

"Kau begitu lemah lembut bagaikan sekuntum bunga yang tumbuh diair, kalau sampai cici salah sasaran hingga melukaimu, hatiku pasti akan amat sedih!"

Yau Su-moay gelengkan kepalanya berulang kali, serunya:

"Tidak mungkin, aku tahu cici baik hati, kau tidak mungkin tega melukai orang lain"

Li Ji-ci yang berdiri dibelakang Thiat Tiong-tong diam-diam menjawil tangan Yo Pat-moay, bisiknya sambil tertawa:

"Untung kita punya Yau Su-moay, kalau tidak, entah siapa yang sanggup menghadapi Gi Cing-kiok!"

"Sekalipun Yau Su-moay sudah tampilkan diri, belum tentu dia sanggup menghadapinya!" sahut Yo Pat-moay sambil tertawa hambar.

Sementara itu Gi Cing-kiok telah berkata lagi sambil tertawa ringan:

"Benar juga perkataanmu, aku memang tidak tega melukaimu, tapi ada baiknya kita mencoba dulu, tapi.....kita harus bertarung di mana?"

Yau Su-moay memutar biji matanya berulang kali, katanya kemudian:

"Bagaimana pun pertarungan kita toh cuma main main, jadi bertarung dimana pun sama saja, bagaimana kalau diujung perahu saja?"

Tidak menunggu jawaban orang lain dia beranjak dulu menuju ke luar ruangan, ketika lewat disisi Thiat Tiong-tong, tidak lupa dia menowel pipi anak muda itu.

Ujung depan perahu luasnya hanya sekitar sepuluh sampai lima belas meter, dengan sebuah kapur Yau Su-moay segera membuat sebuah lingkaran seluas lima meteran.

Melihat tingkah laku gadis itu, Gi Peng-bwee segera berbisik:

"Perempuan itu amat licik, kau mesti berhati hati"

"Masa aku kalah licik darinya?" sahut Gi cing-kiok sambil tertawa.

Waktu itu Sui Leng-kong sudah berada didepan Thiat Tiong-tong, dia seakan ingin mengu­capkan sesuatu, melihat ada dua gadis lain berdiri di belakangnya, akhirnya sambil tertawa ringan katanya:

"Kau tidak usah kuatir........"

Kemudian mengikuti rombongannya berjalan menuju ke luar.

Selesai membuat lingkaran dengan kapur, sambil bertepuk tangan kata Yau Su-moay:

"Bagaimana kalau kita bertarung dalam lingkaran ini? Siapa yang keluar duluan dari lingkaran itu, dialah yang kalah"

Diam diam Hoa Toa-koh tertawa geli, pikirnya:

“Ternyata Su-moay memang pintar sekali, dia tahu kawanan iblis wanita dari perguruan Kui bo rata-rata berhati bengis dan telengas, dengan membuat garis lingkaran tersebut sama artinya dia telah mempersiapkan jalan mundur, bila dalam pertarungan nanti dia tidak sanggup melawan, asal keluar dari garis maka jiwanya tidak akan sampai melayang, apalagi dengan senjata andalan-nya, dalam pertarunganpun dia akan mendapat-kan banyak keuntungan”

Berpikir begitu, tentu saja dia segera tertawa tanda setuju.

Gi Cing-kiok sendiripun hanya mengerdipkan mata tanpa menunjukkan keberatan, malah dengan langkah santai segera berjalan masuk ke dalam lingkaran.

"Enci Gi, kau tidak menggunakan senjata?" tanya Yo Pat-moay kemudian sambil tertawa.

"Adikku, kau saja yang gunakan senjata!" sahut Gi Cing-kiok sambil tertawa.

"Terima kasih banyak cici"

Begitu selesai berbicara, mendadak dari balik bajunya meluncur keluar dua titik cahaya keperak-perakan, diiringi desingan angin tajam cahaya itu langsung menghantam bahu dan lutut Gi Cing-kiok.

Ternyata senjata yang digunakan kawanan gadis lebah itu adalah benda yang diikatkan diujung tali, ada senjata yang berbentuk seperti sebuah pit, ada yang seperti jangkar, sementara senjata yang digunakan Yau Su-moay adalah sepasang kait perak berbentuk bulan sabit.

Senjata semacam ini dapat digunakan untuk menyerang jarak jauh, dapat pula dipakai untuk pertarungan jarak dekat, memiliki kelebihan dari serangan senjata rahasia namun tidak memiliki kelemahan sebagai senjata amgi, kini dalam satu jurus serangan dia gunakan dua gerakan yang berbeda, semuanya dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat.

"Aduuuh....lebah yang sangat lihay" teriak Gi Cing-kiok sambil tertawa, "begitu mengatakan akan menyerang, langsung saja melancar kan serangan, baik, cici akan mengalah tiga gebrakan"

Pinggangnya ditekuk ke samping, dengan mudah dia menghindari ancaman itu.

Diam-diam Hoa Toa-koh ikut merasa girang, pikirnya:

"Jika dia langsung melancarkan serangan balasan sehingga Su-moay tidak punya peluang untuk mengembangkan senjatanya, mungkin harapannya untuk menang masih ada, tapi jika dia membiarkan Su-moay melancarkan serangan duluan, dapat dipastikan tubuhnya akan segera dipaksa keluar dari lingkaran"

Tampak Yau Su-moay menghentakkan tangannya, cahaya perak segera berputar kencang, ke kiri dia menyerang dengan jurus Soat lok han bwee (salju turun bunga bwee membeku), ke kanan menyerang dengan jurus Han bwee toh coat (bunga bwee berkembang indah), sementara ke arah bawah secara beruntun melancarkan dua serangan berantai dengan jurus Sam cun hui soh (tiga bunga terbang melayang) serta Ping hun tho hoa (bunga tho bersimpang siur).

Begitu ke dua jurus serangan itu berlalu, maka seluruh kehebatan senjata kait terbang nya pun segera berkembang lebih luas.

Perlu diketahui satu satunya kelemahan yang dimiliki senjata semacam ini adalah tidak bisa mengembangkan serangan dalam keadaan tergesa-gesa, maka ketika Gi Cing-kiok mengatakan akan mengalah, tiga jurus kepadanya, hal ini justru sesuai dengan kehendak hatinya, dalam gembira­nya dia pun mengembangkan permainan jurusnya dengan perasaan lega.

Siapa tahu tiba-tiba Gi cing-kiok berseru sambil tertawa:

"Aduh... aku tidak bisa mengalah tiga jurus kepadamu, dua jurus saja!"

Ditengah gelak tertawanya dia langsung menerobos masuk ke tengah cahaya perak.

Waktu itu jurus serangan Han bwee toh coat dari Yau su-moay sudah mencapai diujungnya sementara jurus berikut Sam cun hui soh belum lagi dimulai, disaat tenaga lama habis sementara tenaga baru belum muncul, itulah titik kelemahan yang paling menakutkan.

Belum hilang rasa terperanjat Yau su-moay, Gi cing-kiok telah menerobos masuk melalui celah kelemahan itu.

Senjata kait terbang itu tangguh dalam serangan jarak jauh tapi lemah diserangan jarak dekat, dengan tangan kirinya Gi Cing-kiok langsung mencengkeram tali panjang itu sedang tangan kanannya langsung dihantamkan ke dada Yau Su-moay.

Biar terkesiap didalam hati, Yau su-moay masih tampil dengan senyuman dibibir, teriaknya:

"Cici, ternyata aku tertipu oleh akal muslihat­mu!"

Sebuah tendangan langsung diarahkan ke pergelangan tangan lawan.

Gi Cing-kiok segera mengubah tabokan menjadi babatan, kini dia membabat pergelangan kaki Yau su-moay sementara tangan kanannya segera memotong tali panjang itu hingga putus.

Tiba tiba terdengar desingan angin tajam menyambar lewat dari arah belakang, rupanya sebatang kait perak sedang membacok dari belakang tubuhnya.

Mengikuti gerak serangan itu, Yau su-moay dengan gaya Burung belibis terbang bersama menjejakkan kaki kanannya ke tanah sementara kaki kirinya diayunkan ke muka, dalam satu jurus dengan tiga gerakan menghajar ke tubuh lawan.

Gi Cing-kiok sama sekali tidak bingung, tanpa berpaling mendadak tubuhnya menerobos maju ke muka, tahu-tahu tangan kanannya sudah meng­angkat kaki kiri lawan tinggi-tinggi.

"Sreeet!" kaitan perak itu menyapu lewat persis diatas kepalanya.

Saat ini asal telapak tangannya mendorong ke depan, niscaya tubuh Yau Su-moay akan roboh terjungkal.

Tapi saat itulah Yau su-moay telah menyam­bar kembali senjata kaitan peraknya yang meluncur balik, ke empat jari tangannya segera disusupkan ke dalam sarung pelindung tangan diujung senjata itu dengan meninggalkan ibu jari serta jati tengahnya.

Begitu pergelangannya berputar, dia sapu bahu dan tengkuk Gi cing-kiok.

Bila Gi Cing-kiok tetap mendorong telapak tangannya ke depan, niscaya dia sendiripun akan terluka diujung senjata kaitan.

Kedua orang itu sama-sama bertubuh ramping, sama-sama bertarung dengan senyuman dibibir, namun jurus serangan yang digunakan semuanya cepat lagi tepat, ganas lagi telengas, dalam waktu sekejap mereka telah saling menyerang berapa gebrakan.

Tatkala semua orang masih mengikuti jalannya pertarungan dengan perasaan tegang, mendadak... "Traaang!" sesosok bayangan manusia melompat ke tengah udara.

Rupanya disaat yang amat kritis itulah, ketika senjata kait ditangan Yau su-moay belum sempat dibacokkan ke bawah, Gi cing-kiok telah menyam­bar sebatang senjata kaitan yang lain.

Tali yang mengikat kaitan itu sudah dia patahkan, ujung tali masih berada dalam genggamannya.

Maka ketika dia dorong senjata kaitan itu ke depan, tubuhnya manfaatkan kesempatan itu miring ke samping kanan, akibatnya sewaktu Yau Su-moay membabatkan senjatanya ke bawah, bacokan itu persis ditangkis oleh senjata kaitan ditangan kirinya.

Begitu sepasang senjata kaitan saling membentur, tubuh Yau Su-moay bergetar keras dan mencelat sejauh tiga meter ke tengah udara, tampaknya dia segera akan tercebur ke dalam sungai.

Ditengah jeritan kaget, sekilas cahaya perak meluncur keluar dari tangan Yo Pat-moay, lagi lagi...."Triiing!" sambaran kait terbang itu langsung menggaet senjata kaitan rekannya.

Menggunakan kekuatan benturan itu Yau Su-moay berjumpalitan berapa kali di udara, lalu dengan kepala dibawah kaki diatas bagaikan seekor burung walet dia terbang balik ke posisi semula.

Sekalipun dia sudah kalah, namun gerakan tubuhnya yang indah dan menawan segera mengundang tampik sorak dari rekan rekannya.

"Bagus!" tidak tahan Sui Leng-kong ikut berteriak memuji.

Siapa tahu baru saja sepasang kakinya melayang turun diatas geladak, mendadak tubuh­nya mundur sempoyongan, ternyata dia tidak mampu berdiri tegak lagi.

Dengan wajah berubah Yo Pat-moay segera memayang tubuhnya.

"Su-ci, kenapa kau?" tegurnya. Paras muka Yau Su-moay pucat pias bagai mayat, peluh dingin bercucuran membasahi jidatnya, sambil menahan rasa sakit yang luar biasa ujarnya dengan nada gemetar:

"Ka......kakiku....... mungkin.....mungkin tidak bisa digunakan lagi!"

Cepat Yau Pat-moay berjongkok memeriksa lukanya, tampak darah segar meleleh keluar dari balik sepatu kainnya, cepat dia mencopot kaus kakinya, ternyata tulang kaki gadis itu sudah hancur berantakan.

Paras muka kawanan lebah lainnya seketika ikut berubah, sementara Gi cing-kiok tetap berdiri ditempat seakan tidak pernah terjadi sesuatu apapun, malah ujarnya sambil tertawa:

"Aduh adiku...... apakah seranganku kelewat keras hingga membuat kau terluka parah?"

Setelah memukul perlahan tubuh sendiri, lanjutnya:

"Tanganku ini memang agak kelewatan, masa membedakan keras atau enteng saja tidak bisa? Untung hanya kaki yang terluka, coba kalau wajah cantiknya yang tergores........"

Mendadak Hoa Toa-koh melompat bangun, katanya sambil tertawa paksa:

"Sekalipun tidak sampai menggores luka wajahnya, tapi kalau seorang nona jadi pincang kakinya, siapa lagi yang mau mengawininya di kemudian hari?"

Gi Cing-kiok tertawa terkekeh. "Aaah, tidak jadi soal, adik ku yang ke sembilanpun seorang pincang, bila adik ini benar-benar   jadi pincang, bukankah mereka jadi pasangan yang paling serasi?"

Gi Peng-bwee yang berdiri disamping menyam­bung pula dengan nada dingin:

"Biarpun kiu te pincang, tapi akalnya banyak dan amat cerdas, coba kalau bukan dia, belum tentu kami bisa melacak sampai disini"

Thiat Tiong-tong yang berdiri jauh diluar pintu seketika merasa hatinya amat lega, pikirnya:

"Ternyata dialah yang memberi petunjuk hingga gadis gadis itu dapat melacak sampai disini, bila dia tidak mati berarti Leng Cing-soat pun belum tentu mati"

Belum habis ingatan itu melintas, situasi diujung perahu kembali telah terjadi perubahan.

Rupanya kawanan gadis lebah itu sudah menyerbu ke depan dan mengepung rapat-rapat Gi Cing-kiok bertiga.

"Kenapa?" terdengar Gi Cing-kiok berseru sambil tertawa,  "memangnya kalian nona-nona cantik mau main kerubut? Hey Hoa Toa-koh, beginikah ajaranmu kepada mereka?"

"Siapa suruh kau melukai Su-moay mereka" kata Hoa Toa-koh sambil tertawa, "jika mereka ingin main kerubut untuk membalaskan dendam cicinya, akupun tidak bisa berbuat banyak"

Sembari membesut keringat dingin yang membasahi jidatnya, Yau Su-moay berkata pula sambil tertawa paksa:

"Cici yang baik, kalianpun jangan harap bisa kabur dari sini, paling tidak kau mesti membayar ganti rugi sebuah kaki juga untukku!"

"Baik, akan kuganti!" seru Gi Cing-kiok sambil tertawa.

Setelah memberi tanda kepada Sui Leng-kong, mendadak sepasang tangannya diayunkan ke depan menghajar enam buah jalan darah penting ditubuh tiga orang gadis lebah.

Bersamaan waktu Sui Leng-kong telah menye­linap ke depan Thiat Tiong-tong, dalam berapa gebrakan ia berhasil pukul mundur Li Ji-ci yang berada didepan pemuda itu, kemudian tanyanya:

"Jalan darah......jalan darah apa yang terluka ditubuhmu?"

"Jalan  darah siang-bun........"  sahut Thiat Tiong-tong.

Sementara mulutnya berbicara, tangannya sama sekali tidak berhenti bergerak, meski jurus serangannya tidak ganas namun gerakan tubuhnya lincah dan cepat.

Lagi-lagi dia memukul mundur Li Ji-ci hingga sejauh berapa langkah, kemudian tangan kanan­nya secepat kilat meluncur ke tubuh Thiat Tiong-tong dan berusaha membebaskan jalan darahnya.

Siapa tahu paras muka Thiat Tiong-tong tiba-tiba berubah hebat, ternyata ada dua desingan angin tajam membokong tiba dari belakang tubuh Sui Leng-kong.

"Leng-kong, cepat menyingkir!" teriak Thiat Tiong-tong tercekat.

Siapa tahu bagi Sui Leng-kong dia lebih rela tubuhnya terluka daripada mengurungkan niatnya untuk menotok bebas Thiat Tiong-tong, bukan saja dia tidak berkelit, bahkan dengan gerakan yang tidak berubah dia lanjutkan perbuatannya.

Jangan dilihat tubuhnya lemah gemulai, ternyata tabiatnya keras kepala dan sedikit kaku.

Dalam terperanjatnya tiba-tiba sepasang kaki Thiat Tiong-tong didorong lurus ke bawah, biarpun tenaga dalamnya telah punah namun pengalaman­nya dalam menghadapi musuh amat matang, arah yang ditujupun sama sekali tidak melenceng.

Karena gerakannya itu mau tidak mau tangan Sui Leng-kong pun ikut berputar ke bawah sementara badannya turut membungkuk ke depan.

Dua titik cahaya perak itu melesat lewat persis dari atas kepala gadis itu, tapi akibatnya tubuh Thiat Tiong-tong lagi-lagi diseret Li Ji-ci hingga terpisah agak jauh.

Dalam waktu singkat ke dua titik cahaya perak itu telah membelenggu seluruh gerakan tubuh Sui Leng-kong, gadis itu mencoba menerjang ke kiri maupun ke kanan, berusaha menghampiri Thiat Tiong-tong, namun begitu kesempatan baik lewat dengan begitu saja, diapun tidak ada peluang lagi untuk mendekati anak muda itu.

Dipihak lain Gi Cing-kiok telah terkepung juga ditengah kerubutan tujuh delapan macam senjata dari kawanan gadis lebah.

Ujung perahu itu tidak terlalu lebar, tampak­nya kawanan gadis lebah itu kuatir senjata mereka saling membentur diantara senjata rekannya hingga tidak berani menggunakan senjata jarak panjangnya, maka serangan yang dilancarkan pun hanya sebatas serangan jarak pendek.

Waktu itu sepasang pedang, sepasang senjata cakar, sepasang poan-koan-pit dan sepasang senjata kaitan mengepung Gi Cing-kiok rapat rapat, ditengah berkelebatnya cahaya keperak-perakan, terselip suara dentingan nyaring bagai irama dari surga.

Dalam pada itu Gi Peng-bwee telah mengham­piri Hoa Toa-koh, sambil menatap lawannya dia berkata dingin:

"Biarkan adik-adik kecil itu bertarung diujung perahu, lebih baik kita berdua bertarung didalam ruangan saja!"

Hoa Toa-koh berpaling menatap lawannya sekejap, kemudian sahutnya sambil tertawa ringan:

"Kenapa mesti didalam? Disini pun juga tidak apa-apa!"

"Ketika kita sedang bertarung, apakah ada orang lain yang akan membantu mu?"

"Hahahaha..... siapa lagi yang akan datang membantu!"

Gi Peng-bwee menyapu sekejap suasana di sekitar situ, kecuali Yau Su-moay yang sudah terluka serta Li Ji-ci yang masih menarik tubuh Thiat Tiong-tong, benar saja tidak seorang gadis lebah pun yang nampak menganggur.

Dia tidak berbicara lagi, dengan mata menatap tajam gerak-gerik lawannya, selangkah demi selangkah dia menghampiri Hoa Toa-koh.

"Kau maupun aku adalah toaci mereka semua" ujar Hoa Toa-koh sambil tertawa, "sudah sepantas­nya kita perlihatkan sikap sebagai seorang kakak paling tua, kalau gebuk-gebukan begitu saja apa tidak kuatir akan ditertawakan orang lain?"

"Apa yang kau hendaki? Katakan saja"

 

"Kalau begitu kemarilah!"

Dengan sekali jejak tubuh Hoa Toa-koh melambung ke tengah udara lalu meluncur ke arah tiang layar perahu. Diantara kibaran ujung baju, dia sudah mengambil posisi di sisi kiri.

Diam-diam Gi Peng-bwee mengernyitkan dahi­nya, namun tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera menyusul naik keatas dan mengambil posisi disisi kanan.

Dipandang dari bawah, kedua orang yang berdiri diatas tiang layar itu bagaikan dua bidadari yang siap terbang menuju ke atas awan.

Biarpun layar bergoyang kencang karena hembusan angin, ke dua orang itu saling berha­dapan tanpa bergerak.

"Apa yang akan ditandingkan?" tanya Gi Peng-bwee kemudian.

Sambil menuding ujung tiang yang berapa meter menjulang tinggi ke angkasa, ujar Hoa Toa-koh:

"Kita harus saling berebut naik ke puncak tiang itu, siapa yang mencapai duluan, dialah yang menang"

"Kalau siapapun tidak berhasil mencapai ke situ?" tanya Gi Peng-bwee sambil tertawa hambar.

"Yang tetap hidup dialah yang menang!"

"Kapan akan dimulai?"

"Kita sama-sama bergerak menuju ke tengah tiang lalu saling bertepuk tangan, begitu suara tepukan bergema, saat itulah pertarungan di mulai!"

"Baik! Jika pukulan tersebut dapat mem­bunuhmu, aku rasa pertandinganpun tidak perlu dilanjutkan"

"Hahahaha..... nona Gi, kau memang sangat pintar!"

Padahal pertarungan yang bakal berkobar merupakan pertarungan mati hidup, namun ke dua orang wanita cantik itu membicarakannya dengan begitu santai, seolah-olah sedang bercanda saja.

Perlu diketahui, walaupun pertarungan sema­cam ini nampaknya serba baru dan sangat menarik, padahal merupakan pertarungan yang menentukan mati hidup. Kedua orang itu butuh mengerahkan seluruh kepandaian silat, kecerdas­an serta kekuatan tersembunyi yang dimilikinya untuk saling beradu.

Bukan saja kesempatan untuk meraih kemenangan sama rata, siapa pun tidak dapat meraih posisi yang lebih menguntungkan.

Asal ada salah satu pihak lemah dalam hal tenaga dalam atau ilmu meringankan tubu, ilmu pukulan, ilmu pedang, senjata rahasia maupun kecerdasan, maka jangan harap dia bisa lolos dari per tarungan ini dalam keadaan hidup.

Perlahan-lahan kedua orang itu mulai menggeser tubuhnya bergerak menuju ke tengah tiang.

Meskipun senyuman masih menghiasi wajah mereka berdua, namun sorot matanya nampak begitu serius dan tegang.

Setiap mereka melangkah satu tindakan, selisih jarak makin mendekat, ketegangan pun nampak semakin bertambah tebal.

Ketika tubuh mereka berdua sudah berada pada jarak satu meter, dimana masing-masing pihak sudah dapat meraih tubuh lawan, tiba-tiba senyuman yang menghiasi wajah mereka hilang lenyap seketika.

Perlahan-lahan Gi Peng-bwee mendorong telapak tangannya ke muka, diantara jari jemari­nya yang lembut dan halus, terselip tenaga pukulan yang maha dahsyat.

Menyaksikan datangnya ancaman itu, menda­dak Hoa Toa-koh berseru sambil tertawa:

"Ooh sebuah tangan yang sangat indah!"

Mengiringi suara tertawanya, secepat kilat dia melepaskan pula sebuah pukulan.

Padahal kata "secepat kilat" rasanya masih belum cukup untuk melukiskan betapa cepatnya serangan yang dia lancarkan.

Ujung jari telunjuk, jari tengah dan jari kelingkingnya menepuk perlahan sendi jari kelingking Gi Peng-bwee, ketika terdengar suara "Bluuk!" tahu-tahu tubuhnya sudah melambung ke udara.

Waktu itu Gi Peng-bwee sudah menghimpun seluruh kekuatannya tapi belum sampai dilontar­kan keluar, perlu diketahui sendi jari kelingking merupakan bagian tangan yang terlemah, menanti Gi Peng-bwee siap melontarkan kekuatannya, tubuh Hoa Toa-koh sudah melambung berapa meter ke udara, tampaknya dia segera akan men­capai puncak tiang.

Perempuan lebah ini memang banyak akal dan sangat pintar, tampaknya dia tahu kalau Gi Peng-bwee hendak menjatuhkan dia dengan mengandal­kan kekuatan tenaga pukulannya, maka dia pun menghindari bentrokan tersebut dengan meng­ambil langkah lain yang sama sekali diluar dugaan.

Dari semua orang yang hadir di perahu itu, hanya Thiat Tiong-tong seorang yang dapat mendongakkan kepalanya mengikuti jalannya peristiwa itu.

Dia jadi amat terperanjat setelah menyaksikan kejadian itu, pikirnya:

"Sungguh lihay Hoa Toa-koh ini, dalam keadaan begini jika Gi Peng-bwee tidak ingin kalah maka hanya ada satu cara yang bisa dia lakukan......"

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, angin pukulan yang dilancarkan Gi Peng-bweee tiba-tiba berganti arah, "Blaaaam!" kali ini dia menghajar tiang layar itu kuat-kuat.

Serangan itu dilancarkan dengan seluruh kekuatan yang dimiliki, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan itu, tidak ampun tiang layar yang besarnya mencapai mulut mangkuk itu patah jadi dua.

Tenaga pukulan yang kuat membuat tiang layfer yang patah itu mencelat sejauh berapa meter kemudian setelah berpusing di udara, tiang itu langsung meluncur lurus ke bawah.......

"Blummmm!" langsung menghujam diatas atap bangunan perahu..

Waktu itu Hoa Toa-koh masih berada ditengah udara dalam usahanya mencapai puncak tiang, begitu tiang patah dan jatuh ke bawah, bukan saja dia langsung kehilangan sasaran, diapun kehilangan tempat untuk berpijak.

Ketika kekuatan tubuhnya lenyap, mau tidak mau terpaksa dia melayang turun kembali ke bawah, pujinya didalam hati:

"Sungguh cerdas gadis ini!"

Thiat Tiong-tong sendiripun segera memuji didalam hati:

"Tidak kusangka dalam keadaan yang gawat dia masih dapat menemukan cara sehebat ini, untung otaknya encer dan segera menemukan cara untuk menanggulangi, coba terlambat sedikit saja niscaya dia akan kalah"

Tidak menunggu tubuh Hoa Toa-koh menyentuh tanah, sekali lagi Gi Peng-bwee mendorong sepasang telapak tangannya ke depan, gulungan angin pukulan sedahsyat amukan gelombang samudra langsung menerjang tubuh perempuan lebah itu.

Saat itu Hoa Toa-koh belum sempat menyen­tuh tanah, termakan hembusan angin pukulan itu, tubuhnya bagaikan layang-layang yang putus benang langsung meluncur ke tengah sungai.

Begitu berhasil memukul mencelat musuhnya, Gi Peng-bwee sama sekali tidak memandang lagi ke arahnya, dengan gerakan cepat dia meluncur ke atas tiang layar yang menancap diatap bangunan itu.

"Celaka!" pekik Hoa Toa-koh dalam hati.

Sebuah tentangan segera dilancarkan keatas layar perahu, begitu layar itu tertendang robek, dia segera mengaitnya dengan ujung kaki.

Dengan meminjam kaitan ujung kakinya diatas layar sebagai titik berat, tubuhnya berputar bagai gangsingan, kemudian dengan meminjam tenaga pusaran itu secepat anak panah tubuhnya menubruk ke arah Gi Peng-bwee.

Belum sempat Gi Peng-bwee tiba ditempat tujuan, Hoa Toa-koh sudah menyusul tiba dari tengah udara.

Dalam kagetnya dia segera membalik tubuh sambil melepaskan sebuah pukulan.

"Blaaaam!" empat tangan saling beradu, kedua orang wanita itu sudah saling menggempur di tengah udara.

Kali ini Hoa Toa-koh menyerang dengan meminjam tenaga pusingan, sedang Gi Peng-bwee harus menyerang sambil melompat ke atas, ketika pukulan saling beradu, jelas dialah yang berada dipihak rugi, tubuhnya langsung terpental oleh tenaga getaran Hoa Toa-koh.

Kini giliran Hoa toa-koh yang berlarian menuju puncak tiang tanpa memperdulikan lawannya lagi.

Siapa sangka baru saja tubuhnya bergetar, lima titik cahaya tajam tiba-tiba menyergap datang dari depan mata.

Rupanya dibalik sepasang ujung baju Gi Peng-bwee tersembunyi senjata rahasia yang cukup lihay, meski tubuhnya terpental ke samping namun tangannya sama sekali tidak menganggur, hujan senjata rahasia pun menyelimuti angkasa.

Hoa Toa-koh menghentikan gerakan tubuhnya sambil menyampok runtuh ke lima titik cahaya tajam itu, tapi segera muncul lagi lima titik cahaya yang disertai desingan angin tajam mengancam tubuhnya.

Meskipun serangan dua tabung senjata rahasia yang dilancarkan Gi Peng-bwee dalam keadaan tergesa tidak seberapa akurat, namun tidak disangkal cukup membuat Hoa Toa-koh terhambat gerak majunya.

Sekalipun secara mudah Hoa Toa-koh mampu merontokkan senjata rahasia itu, namun ketika dia selesai merontokkan ancaman tersebut, Gi Peng-bwee sudah keburu menyusul tiba, sepa-sangan tangannya dengan disertai deruan angin pukulan segera meneternya habis-habisan.

Dalam waktu singkat kedua orang itu kembali bertarung belasan jurus banyaknya.

Jurus pukulan yang digunakan kedua orang ini sama-sama aneh, hebat dan gencarnya, sementara langkah kaki mereka pun tiada hentinya bergeser terus menuju ke arah patahan tiang layar yang menancap dipuncak bangunan.

Kedua orang ini bukan saja kepandaian silatnya hampir sejajar, kecerdasan mereka pun hampir berimbang.

Kedua orang itu sama-sama tahu, meskipun tiang layar itu sudah patah namun asal mereka dapat melompat ke atas puncak patahan kayu itu maka dialah yang akan dianggap sebagai pemenang, oleh sebab itu siapa pun tidak ingin membiarkan lawannya mendekati tiang tersebut.

Thiat Tiong-tong sendiripun merasakan hati­nya kebat kebit, walaupun pengalamannya dalam menghadapi pertarungan cukup banyak namun belum pernah dia jumpai pertarungan sesengit dan setegang ini.

Dalam waktu yang relatip singkat, sudah beberapa kali kedua orang itu memperoleh kesempatan untuk meraih kemenangan, tapi setiap kali selalu berhasil digagalkan pihak lawan.

Hoa Toa-koh melancarkan serangannya makin gencar, diiringi deruan angin pukulan yang menderu secara beruntun dia menggunakan jurus Pek nio tiau hong (ratusan burung menerpa angin), Huang hong si sim (lebah kalap mengeru­muni putik bunga) dan Sam cun hui soh (tiga bunga terbang melayang).

Ke tiga jurus serangan itu dilancarkan secara berantai, terkadang seperti rangkaian tali, terkadang mirip serat sutera, semuanya merupa­kan jurus serangan yang lincah dan mematikan.

Tapi begitu ke tiga jurus itu lewat, mendadak gerak serangannya berubah jadi keras dan ganas, seperti aliran air disungai kecil mendadak berubah jadi gulungan air bah yang muncul dari balik dam yang jebol.

Biarpun serangannya ganas dan dahsyat namun sesungguhnya dia mengambil sikap bergerak mundur, setiap kali akan mundur dia bergerak maju duluan, asal Gi Peng-bwee berkelit ke samping, dia pun berusaha mendesak maju lagi mendekati tiang itu.

Siapa tahu Gi Peng-bwee justru menggunakan taktik serangan dibalas serangan, mendadak dia menerobos masuk lewat deruan angin pukulan­nya, kemudian dengan jari tangannya yang tajam bagai pedang, dia sodok perut bagian bawah perempuan itu.

Jurus serangan ini ganas lagi licik, hanya kaum wanita yang akan menggunakannya, sementara dalam kalangan dunia persilatan pun kecuali kaum kurcaci atau karena terdesak keadaannya, mereka tidak akan sudi mengeluar­kan serangan semacam itu.

Hoa Toa-koh jarang sekali bertarung melawan kaum wanita, menghadapi serangan macam begini dia jadi terkesiap, dia tidak tahu apakah jurus berikut akan jauh lebih hebat daripada jurus sebelumnya.

Dalam keadaan seperti ini, dia tidak punya waktu untuk berpikir panjang, terlebih tidak ingin adu jiwa bersama lawannya, maka gerak serangannya ditekan lebih ke bawah dan menyam­but datangnya ancaman itu.

Tiba-tiba dia merasa serangan lawan disertai tenaga dalam yang sangat tajam dan hebat, begitu tangannya menyentuh jari tangan musuh, seketika tubuhnya terhisap kuat.

Dengan perasaan makin terkesiap pikirnya:

"Dia ingin beradu tenaga dengan aku?"

Saat ini dia tidak punya pilihan lain, terpaksa sambil mengerahkan tenaganya dia lawan tekanan kuat dari lawan.

Perlu diketahui, pertarungan semacam ini sangat menguras tenaga, sekali terjadi pertarung­an maka tidak akan berhenti sebelum ada yang tewas, oleh sebab itu jarang sekali orang persilatan mau melakukan pertarungan semacam ini kecuali benar-benar terjalin dendam kesumat yang sangat mendalam.

Melihat kejadian itu diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, dia tahu Gi Peng­ bwee pastilah termasuk seorang gadis yang besar rasa ingin menangnya.

Diapun mengerti pertarungan semacam ini tidak mungkin bisa diketahui menang kalahnya dalam setengah sampai satu jam, maka perhatian­nya kembali dialihkan kearena pertarungan yang ada diujung perahu.

Tampak cahaya perak berkilauan ditempat itu, sekeliling perahu seolah terbungkus dalam lapisan cahaya yang tebal.

Gi Cing-kiok dengan satu melawan empat bergerak kian kemari diantara kilauan cahaya senjata yang beraneka ragam, sekalipun tubuhnya lincah namun lambat laun gerakannya semakin melamban, jelas dia sudah kepayahan.

Berbeda dengan ke empat gadis lebah yang mengepungnya, mereka bergerak amat santai, maka sambil tertawa tegurnya:

"Adik-adik, jangan sampai kehilangan nyawa sendiri, biarkan saja tulang kakinya seorang yang remuk....."

Yau Su-moay amat geram mendengar ejekan itu, sambil memegangi kakinya yang sakit dia berteriak:

"Perketat serangan kalian, cari modal balik ditambah bunganya, kalian tebas kedua kaki miliknya”

Gi Cing-kiok tertawa terkekeh.

"Adikku, apakah kalian tidak kuatir saudara-saudaraku pun datang membuat perhitungan?"

Mendadak dengan babatan tangan dan sodokan jari tangannya dia lancarkan tujuh jurus serangan berantai.

Kini kawanan gadis lebah itu tidak sanggup tertawa lagi, mereka sadar perkataan itu bukan bualan belaka, sekalipun pertarungan berhasil mereka menangkan namun akibatnya bisa amat parah, perasaan kuatir pun mencekam hati semua orang.

Sui Leng-kong yang bertarung melawan dua orang pun sudah bertempur ratusan jurus lebih.

Kalau semula dia masih canggung mengguna­kan jurus serangan, lambat laun gerakannya bertambah mahir dan lancar, kini tubuhnya dapat bergerak cepat bagaikan sambaran petir, setiap jurus serangan yang dilancarkan pun cepat, ganas dan telengas.

Masih untung semua jurus serangan yang digunakan meski aneh dan sakti namun tidak termasuk ganas, biar hebat namun tidak telengas, kendatipun begitu kawanan gadis lebah itu keteter juga hingga berada di bawah angin.

Sebagaimana diketahui, Sui Leng-kong tumbuh dewasa didasar jurang yang gersang dan amat berbahaya, setiap saat dia selalu berkeinginan dapat keluar dari tempat itu, maka ilmu meringankan tubuhnya dilatih lebih khusus dan tekun hingga kehebatannya jauh diluar perkiraan siapa pun.

Oleh karena itu walaupun dalam pertarungan yang berlangsung dia rugi karena kekurangan pengalaman, namun gerakan tubuhnya yang cepat dan lincah boleh dibilang membuat orang lain susah menangkapnya.

Itulah sebabnya sekalipun jurus serangannya agak lemah, namun posisinya justru lebih kuat dan diatas angin.

Thiat Tiong-tong yang menyaksikan hal ini hati kecilnya merasa terkejut bercampur gembira, tidak tahan dia menghela napas panjang.

Tiga ratus gebrakan kemudian dua orang gadis lebah itu mulai tidak kuat menahan diri, serentak teriaknya:

"Saudara-saudaraku, kemarilah satu orang, bantulah kami!"

Yo Pat-moay yang sedang bertarung melawan Gi Cing-kiok segera melompat ke udara dan berlarian mendekat.

Pertarungan antara Gi Peng-bwee melawan Hoa Toa-koh juga sudah mencapai puncaknya, butiran keringat mulai bercucuran membasahi tubuh mereka.

Kedua orang itu berdiri saling berhadapan, kelopak mata mereka makin lama berkembang makin lebar sementara tempat pijakannya berbunyi gemerutukan, masih untung ruang perahu itu cukup kokoh, kalau tidak, mungkin sedari tadi mereka berdua sudah terjerumus jatuh ke bawah.

Kini mereka berdua sama-sama punya pikiran untuk melepaskan diri, maka yang dipikirkan adalah bagaimana secepatnya merobohkan lawan, bagaimana secepatnya menggapai puncak tiang.

Thiat Tiong-tong masih mengawasi jalannya pertarungan diatap bangunan perahu itu tanpa berkedip, sekalipun mimik mukanya tidak menam­pilkan perubahan namun perasaan hatinya ber­gejolak.

Orang-orang itu sesungguhnya tidak punya ikatan permusuhan ataupun dendam, tapi sekarang mereka bertarung mati-matian tidak lain karena dirinya.

Sekalipun bagaimana akhir dari pertarungan ini, siapa menang siapa kalah masih susah diramalkan, namun pihak mana pun yang menang atau kalah pasti akan membuatnya memikul beban yang sangat berat, dia sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka, tentu saja kecuali Sui Leng-kong.....

Kini Sui Leng-kong sudah terperosok dalam posisi dibawah angin, jurus serangan Yo Pat-moay yang ganas dan mantap, kaitan terbang yang sebentar menyerang dari jauh sebentar menyerang dari jarak dekat semakin menguasahi keadaan.

Dan kemampuan yang luar biasa itu sudah memaksa Sui Leng-kong berulang kali terperosok ke dalam lingkaran arus empat macam senjata tajam lainnya.

Meskipun dia dapat menghindari setiap ancaman dengan mengandalkan kelincahan rubuh nya, namun jurus serangan yang kelewat lembek dan ringan justru merupakan titik kelemahan yang mematikan.

Perasaan hati Thiat Tiong-tong mulai bergelora, paras mukanya mulai berubah, kini sorot matanya tidak memperhatikan orang lain lagi melainkan hanya berputar mengikuti gerakan badan Sui Leng-kong.

Setiap kali gadis itu terperosok dalam mara bahaya, paras mukanya segera berubah hebat, setiap kali Sui Leng-kong melepaskan kesempatan baik untuk meraih kemenangan, diapun menghela napas panjang...... perasaan cintanya yang tulus terhadap Sui Leng-kong, perlahan-lahan mulai tumbuh dan mengalir keluar, meski selama ini selalu terpendam dalam dasar hatinya.

Tapi sayang seluruh kekuatan tubuhnya sudah lenyap, walaupun melihat Sui Leng-kong berada dalam posisi berbahaya namun dia tidak mampu berbuat apa apa.

Padahal Sui Leng-kong pernah selamatkan jiwanya.

......Dia, seandainya tidak ada Sui Leng-kong, mungkin sudah sejak dulu mati di dasar jurang yang gersang.

Dia menarik napas panjang lalu bergumam:

"Aku harus berusaha......harus berusaha......"

Tapi dalam keadaan dan saat seperti ini, kecuali datang pasukan dari langit, apa lagi yang bisa dia lakukan?

Saat itu seluruh perhatian Li Ji-ci sedang tertuju pada tiga arena pertarungan yang sedang berlangsung.

Deruan angin serta desingan senjata ber­campur aduk menciptakan satu irama yang aneh, ditambah lagi deburan ombak yang menggulung membuat keadaan semakin mengerikan.

Thiat Tiong-tong mulai menggerakkan kaki­nya, perlahan-lahan berjalan menuju ke buritan perahu.

Dia seolah terbayang akan sesuatu, cahaya tajam sempat melintas diwajahnya.

Tiba-tiba........."Byuuuurr!" terdengar ada sesuatu benda tercebur ke dalam air.

Dengan perasaan terkejut Li Ji-ci segera berpaling, tapi dia sudah tidak nampak bayangan tubuh Thiat Tiong-tong.

Dalam kagetnya buru-buru dia lari menuju ke buritan perahu, diantara pusaran air sungai tampak tubuh Thiat Tiong-tong terapung diatas permukaan air.

Dengan wajah berubah hebat Li Ji-ci segera berseru:

"Aduh celaka, dia terjun ke air"

Kawanan gadis yang sedang bertarung serentak tersentak kaget, teriak mereka bersama:

"Siapa?"

"Dia.......Thiat......."

Belum selesai dia bicara, suara pertarungan seketika terhenti, Gi Cing-kiok, Sui Leng-kong maupun kawanan gadis lebah itu berbondong-bondong sudah berlarian menuju buritan perahu.

Seperti apa yang diduga Thiat Tiong-tong, siapa pun tidak ada yang bertarung lagi.

......Thiat Tiong-tong tahu, kini satu-satunya jalan untuk selamatkan Sui Leng-kong hanya berbuat begitu, maka dia terpaksa harus mengorbankan diri, menceburkan diri ke dalam air.

Arus sungai Huangho sangat deras, ombak pun cukup besar, sekalipun kawanan gadis lebah itu mengerti ilmu berenang namun tidak seorang pun berani turun ke dalam air, sementara Thiat Tiong-tong yang tercebur pun tidak nampak terapung kembali.

"Ka.....kalian......." dengan suara gemetar dan wajah berubah Sui Leng-kong berseru.

Kawanan gadis lebah itu hanya berpaling menengok wajahnya, tidak seorangpun melakukan sesuatu tindakan.

Mendadak Sui Leng-kong lari menuju ke tepi perahu, dia siap menceburkan diri ke dalam sungai, tapi perbuatannya itu segera dicegah Gi Cing-kiok.

Sambil memeluk erat pinggangnya perempuan itu berseru:

"Adikku, apakah kau bisa berenang?"

Sambil menggigit bibir dan pejamkan mata Sui Leng-kong menggeleng.

"Bocah goblok" seru Gi Cing-kiok sambil menghentakkan kakinya, "kalau tidak mengerti berenang, dengan cara apa kau hendak menolong­nya?"

Tiba-tiba air mata jatuh berlinang membasahi wajah Sui Leng-kong, katanya dengan suara gemetar:

"Aku......aku tidak bisa membiarkan dia......dia mati tanpa berusaha menolongnya......"

Gi Cing-kiok memeluk pinggang nona itu semakin kencang, sementara kepada kawanan gadis lebah itu umpatnya:

"Hei, apakah kalian orang mampus semua? Kenapa tidak ada yang terjun ke sungai untuk memberi pertolongan?"

Tiba-tiba terdengar seseorang menyahut dengan nada ketus:

"Kami tidak punya hubungan apa-apa dengan­nya, kenapa harus pertaruhkan nyawa untuk memberikan pertolongan?"

Gi Cing-kiok tidak tahu siapa yang mengucap­kan perkataan itu, kembali makinya:

"Perempuan keji berhati buas, kau! Ternyata hatimu begitu tega, melihat orang kalap pun enggan menolong!"

Terdengar Li Ji-ci berkata pula setelah menghela napas:

"Bila diapun tidak mengerti ilmu dalam air, setelah tercebur ke sungai, besar kemungkinan jiwanya tidak akan selamat, sekalipun kami berusaha menolongnya, paling banter juga hanya menaikkan jenasahnya"

"Tidak, dia belum mati" teriak Sui Leng-kong dengan wajah basah oleh air mata, "diapun tidak bakal mati......dia.....dia....  selamanya dia tidak akan mati...."

Tiba tiba terlihat Yo Pat-moay berjalan menuju ke tepi perahu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Pat-moay, apa yang hendak kau lakukan?" tegur Li Ji-ci dengan kening berkerut.

"Pergi menolongnya!" sahut Yo Pat-moay dengan wajah hijau membesi.

"Kau edan? Sekalipun kau mengerti ilmu dalam air, tapi arus di sungai Huangho berbeda jauh dengan arus di sungai Tiangkang, buat apa kau mesti menyerempet bahaya......."

Yo Pat-moay sama sekali tidak menengok sekejappun ke arahnya, dia segera menceburkan diri ke dalam sungai.

Sui Leng-kong merasakan lututnya jadi lemas, sambil berlutut dan air mata bercucuran keluh­nya:

"Ooh   Thian...... kumohon, lindungilah keselamatan jiwanya, dia.....dia adalah orang baik, jangan biarkan dia mati"

Gi Cing-kiok mengepal sepasang tinjunya kencang, sedemikian kencangnya hingga ruas jari tangannya nampak putih memucat.

Kembali Sui Leng-kong berbisik:

"Nona itupun seorang yang baik, nona, terlepas apakah kau berhasil menolongnya atau tidak, selama hidup aku akan berterima kasih kepada­mu"

Waktu itu hanya Gi Peng-bwee dan Hoa Toa-koh belum menghentikan pertarungan mereka, empat buah telapak tangan masih saling menempel, siapa pun tidak ada yang berniat menarik kembali tangannya.

Sekalipun mereka berdua dapat mengikuti perubahan yang terjadi, namun siapa pun diantara mereka berdua tidak ada yang mau mengalah.

Sebab mereka berdua telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya, disamping melindungi diri, mereka pun berusaha mendesak lawannya, siapa pun yang menarik tenaga dalamnya duluan, maka dia pasti akan diterjang oleh kekuatan lawannya.

Dalam keadaan seperti itu, biarpun ada bendungan di sungai Huangho yang jebol pun mereka tidak akan melepaskan diri, tentu saja terkecuali jika kedua orang itu menarik kembali tangannya bersamaan waktu.

Sudah barang tentu mereka tidak ingin melakukan pertaruhan itu, siapa pun tidak mau resiko menarik diri, maka sekalipun perasaan hati mereka dicekam kepanikan dan kegelisahan, namun empat tangan tetap menempel satu dengan lainnya.

Pada saat yang kritis itulah mendadak terdengar segulung desingan angin berkelebat lewat ditengah udara.

Dibalik desingan angin terlihat setitik bayang­an hitam bergerak cepat, "Bluuuk!" bayangan hitam itu menghajar telak diatas tiang layar.

Seketika itu juga terjadi kobaran api diatas tiang tersebut, api setan dengan cepat merambat diseluruh tiang dan menimbulkan kebakaran.

Gi Peng-bwee maupun Hoa Toa-koh sama sama terkesiap, tapi dengan adanya kejadian ini, secara tiba-tiba ke empat buah tangan mereka pun saling terpisah.....

Sebagaimana diketahui, sekalipun tangan mereka masih saling menempel, sesungguhnya perasaan hati kedua orang itu sudah dicekam kegelisahan dan rasa panik sehingga tanpa disadari tenaga dalam yang mereka kerahkan pun sudah semakin melemah.

Maka ketika terjadi kejutan yang diluar dugaan ini, tanpa sadar kekuatan tenaga dalam mereka pun semakin melemah, begitu tekanan melemah, telapak tangan mereka pun berpisah.

Bagaimana pun juga pertarungan mati-matian yang berlangsung bertujuan untuk memperebut­kan tiang layar itu.

Dan sekarang, tiang itu sudah terbakar hebat.

Tanpa terasa ke dua orang perempuan itu berdiri tertegun,   hembusan angin membuat kobaran api semakin membara, kini jilatan api yang membakar tiang itu makin membara.

Kontan saja kedua orang itu sama-sama melepaskan sebuah pukulan dan menghajar tiang yang terbakar itu hingga mencelat ke dalam sungai.

Sambil memandang ke arah Gi Peng-bwee, Hoa Toa-koh tertawa getir, ujarnya:

"Kita sudah melakukan pertarungan yang percuma hampir setengah harian lamanya, toh akhirnya tidak ada yang berhasil mencapai puncak tiang itu"

Gi Peng-bwee hanya menghela napas dan tidak berbicara.

Saat itulah dari tengah derasnya arus sungai Huangho, terlihat ada sebuah sampan bergerak mendekat sambil menembusi ombak.

Seorang lelaki bertubuh tinggi besar berdiri diujung sampan itu, ketika semakin mendekat terdengar dia membentak nyaring:

"Cepat bebaskan Hay Tay-sau, kalau tidak, peluru api Bi lek Liat hwee tan ku akan segera memusnahkan perahu kalian"

Sekalipun harus menentang angin, teriakan itu kedengaran nyaring dan penuh tenaga.

Hoa Toa-koh segera berkerut kening, gumam­nya:

"Ternyata Bi lek hwee pun ikut datang kemari"

Lelaki itu mengenakan pakaian ketat berwarna hitam, rambut dan jenggot putihnya berkibar terhembus angin, tangannya memegang sebuah gendawa emas sementara dipinggangnya ter­gantung sebuah kantung terbuat dari kulit macan.

Dalam pada itu Gi Peng-bwee sudah menghampiri Sui Leng-kong sambil menghiburnya, sedang Hoa Toa-koh pun telah berkumpul dengan saudara saudaranya, ketika  mendengar Thiat Tiong-tong menceburkan diri ke dalam sungai, diapun berkerut kening sambil menghela napas.

Kemudian dengan cepat dia mendekati Yau Su-moay, menanyainya beberapa patah kata dengan suara lirih, lalu sambil menuju ke ujung perahu teriaknya lantang:

"Apakah yang datang adalah Bi lek hwee locianpwee?"

"Kecuali lohu, masa ada yang lain?" sahut Bi lek hwee dengan suara keras.

"Apakah locianpwee datang untuk mengajak adik-adikku bermain?"

"Kentut!" teriak Bi lek hwee gusar, "cepat katakan, dimana Hay Tay-sau?"

"Hay Tay-sau? Tidak melihat dia datang kemari!"

"Pangbui!" kembali Bi lek hwee membentak gusar, "kalau tidak segera mengaku, jangan salahkan lohu akan membakar perahumu"

Tangan kirinya segera diangkat, tangan kanan menarik gendawa dan siap melepaskan peluru apinya.

Hoa Toa-koh segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Loya, kalau ingin dibakar, bakar sajalah, kalau perahuku sampai terbakar, biar aku meng­ajak serta seluruh saudaraku untuk pindah ke rumahmu!"

Bi lek hwee tertegun, sejak terjun ke dalam dunia persilatan belum pernah dia bertemu dengan perempuan macam begini, tentu saja dia pun tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.

Setelah mengerlingnya sekejap, kembali Hoa Toa-koh berkata:

"Loya, bila tidak ada urusan lain, silahkan duduk diatas perahu, kami sudah sediakan arak dan sayur, selain itu juga ada.........."

Setelah tertawa cekikikan, tiba-tiba dia merendahkan suaranya sambil menambahkan:

"Bila kau anggap adik adikku kurang cantik, disini pun terdapat murid wanita dari Kui bo........."

Bi lek hwee jengkel bercampur mendongkol, namun diapun tak dapat berbuat apa-apa.

Sementara itu sampan yang ditumpanginya telah bergerak semakin mendekat, tampaknya pendayung sampan itu sangat menguasahi medan, ilmu mendayungnya juga hebat, tidak lama kemudian dia sudah bersandar ditepi perahu besar itu.

Rupanya setelah meninggalkan perkampungan keluarga Li, Bi lek hwee yang bertemu dengan Hay Tay-sau ditengah jalan merasa saling mencocoki, maka merekapun melakukan perjalanan bersama, sebelum Hay Tay-sau berangkat duluan ke perahu itu, dia pernah berpesan kepada Bi lek hwee agar menunggunya di sampan.

Bi lek hwee dengan tabiatnya yang berangasan dan tidak sabaran merasa tidak tahan untuk menanti terlalu lama, sesudah menunggu sesaat akhirnya dia pun menyusul ke situ.

Melihat Bi lek hwee gusar setengah mati, Hoa Toa-koh tertawa semakin keras.

Perempuan inipun termasuk orang yang selamanya tidak pernah menampilkan perasaan hati diwajahnya, selama ini dia selalu sembunyi­kan perasaan hatinya dibalik senyuman, maka ketika semua orang melihat perempuan itu tertawa makin keras, siapa pun tidak bisa menduga kejadian apa yang bakal berlangsung di perahu itu. Terdengar dia berkata lagi sambil tertawa:

"Loya, kau akan naik kemari atau tidak?”

Bi lek hwee teramat gusar, dadanya naik turun menahan emosi, akhirnya sambil meraung gusar teriaknya:

"Kenapa, kau bukan seorang lelaki, kalau kau lelaki, hmmm... hmmm....hmmm...hmmm......"

"Maaf, akupun agak jengkel kenapa ibuku melahirkan aku sebagai seorang wanita, sayang­nya, mau dibatalkan pun sudah terlambat"

"Kalau kau berani mencelakai Hay Tay-sau, lohu akan......"

"Aduuh mak, Hay Tay-sau adalah jago kenamaan, kungfunya jauh lebih tangguh daripada kami semua, mana mungkin kami bisa mencelakainya, lagipula........"

Setelah tertawa lembut, terusnya:

"Dia begitu gagah, begitu berjiwa laki laki, mau menyukainya pun masih tidak sempat, masa kami tega mencelakai jiwanya?"

"Dia jelas datang kemari, kenapa sekarang tidak nampak?"

"Aduuh, loyacu, perkataanmu lebih aneh lagi, dia toh seorang lelaki tinggi besar dan lagi bukan anak-anak, akupun bukan ibunya, masa aku tahu ke mana ia telah pergi? loya, aku rasa kau tak perlu mencarinya lagi, ayoh naik dan beristi­rahatlah sejenak, toh kau juga bukan bapaknya, kenapa mesti bersusah susah untuk mencarinya?"

Ucapannya yang selalu dibumbui kata aduh membuat Bi lek hwee berdiri tertegun, setelah dipikir sejenak, diapun mulai merasa bahwa perkataannya ada benarnya juga.

Maka setelah berpikir sejenak, dengan kening berkerut diapun manggut-manggut, gumamnya:

"Yaa benar, mungkin saja dia telah pergi ke tempat lain, kawanan nona ini tidak ada permusuhan apapun dengannya, buat apa mesti mencelakai dirinya?"

"Nah, begitu baru benar loya" seru Hoa Toa-koh, "ayohlah, naik dan beristirahatlah sejenak"

"Tidak usah, lohu akan segera pergi mencari Hay Tay-sau, dia......."

Mendadak sambil menuding dia membentak nyaring:

"Itu dia, bukankah itu adalah dia!"

Hoa Toa-koh terperanjat, mengikuti arah yang ditunjuk dia berpaling.

Benar saja, didepan pintu ruangan telah berdiri sesosok bayangan tubuh yang tinggi besar, dia tidak lain adalah Hay Tay-sau! Hay Tay-sau yang sudah ditotok tiga buah jalan darahnya oleh Hoa Toa-koh.

Dia berdiri dengan tangan kiri mencekak pinggang sementara ditangan kanannya menjinjing tubuh seseorang, sorot matanya memancarkan sinar kegusaran yang membara, begitu membara­nya hingga cukup untuk melumat nyali siapa pun.

Bi lek hwee tidak sanggup menahan diri lagi, sambil membentak nyaring dia melompat naik ke ujung perahu.

"Saudara Hay, kau tidak apa-apa bukan?" tegurnya begitu tiba diatas perahu besar.

Mendadak Hay Tay-sau mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, sahutnya:

"Ada apa dengan aku?"

"Kalau tidak ada urusan yaa sudahlah, saudaraku, ayoh kita pergi saja!"

"Sebentar" seru Hay Tay-sau sambil meng­hentikan gelak tertawanya, "aku harus membuat perhitungan lebih dulu"

Hoa Toa-koh segera tertawa ringan, ujarnya:

"Gampang sekali bila kau ingin membuat perhitungan, tapi kau harus beritahu dulu, siapa yang telah selamatkan dirimu?"

Biarpun senyuman masih menghiasi wajahnya namun senyuman itu sudah kelewat dipaksakan.

Dengan tangan sendiri dia telah menotok jalan darah Hay Tay-sau bahkan menyembunyikan tubuhnya didalam sebuah ruang rahasia dibawah ruangan, perempuan ini benar-benar tidak habis mengerti, siapa yang sanggup selamatkan dirinya.

"Kalau ingin tahu, itu mah gampang sekali!" seru Hay Tay-sau sambil tertawa keras.

Mendadak dia menyingkir ke samping, memberi jalan lewat menuju ke pintu ruangan, katanya:

"Dia berada didalam ruangan"

Sekali lagi Hoa Toa-koh merasakan hatinya bergetar keras, paras mukanya semakin pucat, lewat berapa saat kemudian dia baru menyahut sambil tertawa paksa:

"Baik, akan kulihat tokoh macam apa yang memiliki tiga kepala enam lengan"

Sambil berkata dia berjalan masuk menuju ke dalam ruangan.

"Tunggu sebentar" tiba-tiba Hay Tay-sau menghadang jalan perginya.

Hoa Toa-koh menghela napas panjang, sambil mendongakkan kepalanya memandang lelaki kekar itu, ujarnya lembut:

"Masa kau sudah melupakan hubungan kita dimasa lalu? Benarkah kau hendak membuat perhitungan denganku hari ini?"

Paras muka Hay Tay-sau hijau membesi, ditatapnya perempuan itu dengan pandangan dingin.

Kembali Hoa Toa-koh menundukkan kepala­nya, setelah menghela napas sedih ujarnya lebih lanjut:

"Hari ini, ada begitu banyak orang yang berniat membunuhku, sekalipun kau enggan membantu­ku, tidak seharusnya kau bantu mereka itu!”

Meskipun Hay Tay-sau masih tetap mem­bungkam, namun wajahnya yang semula dingin kaku kini mulai mencair.

Setelah menghela napas sedih, kembali perempuan itu berkata:

"Bagaimana pun, dulu kita pernah punya hubungan khusus selama berapa waktu......aaaai, sekalipun kau ingin membuat perhitungan, kenapa harus dilakukan pada hari ini?"

"Baik!" mendadak Hay Tay-sau membentak keras, "akan kita perhitungkan dikemudian hari........."

"Waktu dikemudian hari masih panjang" sela perempuan itu lagi, "asal hari ini aku tidak mati, dikemudian hari aku pasti akan memberi kesem­patan kepadamu untuk melampiaskan semua rasa dendammu"

Hay Tay-sau segera mengangkat tubuh orang yang berada dalam cengkeramannya itu ke hadapan Hoa Toa-koh, ujarnya lantang:

"Bajingan ini telah menghianati aku, hari ini aku akan membawanya pergi"

"Kalau ingin kau bawa pergi, bawa sajalah!"

"Ayoh kita pergi!"

Habis berkata Hay Tay-sau bersama Bi lek hwee segera melompat turun ke sampannya, sewaktu melompat turun itulah dapat dilihat bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki perampok ulung ini memang sangat hebat.

Sekalipun dia memiliki perawakan tubuh tinggi besar dan berat, namun ketika melompat turun keatas sampan, perahu itu sama sekali bergeming.

Sambil gelengkan kepalanya berulang kali kata Bi lek hwee:

"Saudaraku, kelihatannya kau mirip sekali denganku, makan yang lembek pantang mengha­dapi yang keras, watak busukku juga tidak pernah berubah, begitu diajak bicara halus, hatiku pun langsung melumer"

"Tahukah kau siapakah perempuan itu?" tanya Hay Tay-sau sambil tertawa getir.

"Bukankah dia adalah pentolan dari kawanan lebah perempuan Heng kang li ong hong? Kemam­puan perempuan ini memang sangat hebat, lohu sendiripun dibuat mati kutu oleh ulahnya"

"Hari ini dia memang pentolan dari kawanan lebah itu" ucap Hay Tay-sau sambil menghela napas, "tapi dulu.......aaaai!"

"Kenapa dulu?"

Dengan geram Hay Tay-sau membanting tubuh orang yang berada dalam cengkeramannya itu ke lantai sampan, kemudian dengan mata berkilat dan menggertak gigi katanya:

"Dulu dia adalah biniku!"

Bi lek hwee terperangah, dia berdiri melongo dengan mata terbelalak, bisiknya tergagap:

"Jadi dia......dia......."

Hay Tay-sau mendongakkan kepalanya memandang awan yang bergerak di angkasa, lama kemudian dia baru berkata lagi:

"Sepanjang tahun aku selalu hidup mengem­bara, tapi dia........aaaai! kalau istri tidak setia, anak tidak berbakti, buat apa aku menyinggung dirinya lagi?"

Mereka berdua sama-sama tundukkan kepala­nya, perasaan hati terasa murung dan penuh kekesalan.

Pada saat itulah dari balik ruangan diatas sampan itu mendadak terdengar suara seseorang sedang merintih.........

Dalam pada itu Hoa Toa-koh telah melangkah masuk ke ruang perahu sesudah menarik napas panjang, ada berapa orang gadis lebah yang melihat gelagat tidak beres, buru-buru mengintil di belakangnya.

Sui Leng-kong masih menangis terisak, Gi Peng-bwee dan Gi Cing-kiok menanti penuh kecemasan, Yo Pat-moay pun masih berusaha melakukan pencarian diatas permukaan air, berulang kali dia munculkan diri dari balik air untuk berganti napas.

Waktu itu Hoa Toa-koh sudah melangkah masuk ke dalam ruangan, sembilan buah lentera yang semula menerangi seluruh ruangan kini tinggal satu lentera yang menyala, suasana terasa redup dan remang-remang.

Perempuan itu mencoba memeriksa sekeliling tempat itu, namun dia tidak menemukan sesosok manusia pun.

"Jangan-jangan Hay Tay-sau membohongi aku?" gumamnya setelah tertegun sesaat.

Belum habis dia berpikir, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar seseorang berkata dengan nada yang dingin, kaku, sama sekali tanpa emosi:

"Aku berada disini!"

Dalam kagetnya Hoa Toa-koh segera memba­likkan tubuh.

Dekat pintu ruangan, diatas bangku kayu berwarna merah duduk sesosok bayangan manusia, tubuhnya kelihatan kaku tanpa kehidupan hingga sepintas pandang mirip sekali dengan sesosok patung arca.

Sepasang tangan orang itu berada pada sandaran bangku, ujung bajunya yang lebar dibiarkan tergantung hingga lantai.

Walaupun wajannya sempurna, sepasang alis matanya tajam bagaikan pedang, kelopak matanya seperti kosong melompong, sama sekali tidak ada cahaya mata, juga tidak nampak bola mata yang berputar.

Raut muka orang itu luar biasa dingin dan tenangnya, seakan-akan perasaan orang ini terbentuk dari bongkahan salju abadi, rambut panjangnya yang terurai sebahu menambah kemisteriusan orang itu.

Dibelakangnya berdiri sesosok bayangan tubuh seorang wanita, wajahnya pucat pasi, tubuhnya ramping lembut, senyuman yang indah menghiasi bibirnya namun pandangan matanya penuh diliputi kedukaan.......

Dia tidak lain adalah Leng Cing-peng, gadis yang ditangkap dari dalam air dan selama ini disekap dalam ruangan.

Untuk sesaat Hoa Toa-koh berdiri tertegun saking kagetnya, tapi dengan cepat dia berhasil mengendalikan diri, dengan sikap acuh tidak acuh ditatapnya wajah Leng Cing-peng sekejap, kemudian sapanya:

"Adikku, rupanya kau telah mendusin, apakah tubuhmu sudah terasa agak enakan?"

Leng Cing-peng tertegun, tampaknya dia tidak mengira kalau perempuan itu akan bersikap begitu lembut terhadapnya, bibirnya kelihatan bergetar namun tidak sepatah kata pun yang diucapkan.

Sesudah menghela napas ringan, kembali Hoa Toa-koh berkata:

"Meskipun tidak seharusnya kau bersikap begitu terhadap cici, namun cici masih tetap menaruh perhatian kepadamu, aaai, kau mesti berganti pakaianmu, coba lihat tubuhmu basah kuyup, hawa dingin bisa merusak kesehatanmu"

Sambil berkata ia berjalan mendekat, sorot matanya sama sekali tidak memperhatikan orang berambut panjang itu, kembali ujarnya sambil tertawa ringan:

"Coba lihat, aku hanya memperhatikan dirimu sampai lupa kalau disini masih ada sahabatmu"

Setelah berpaling melemparkan sekulum senyuman, lanjutnya:

"Omong omong, siapa sih temanmu ini? Kau seharusnya perkenalkan dia kepada cici!"

"Dia.....dia......" Leng Cing-peng tergagap, "dia bukan temanku"

Bagaimanapun gadis ini masih muda, perasaan hatinya masih kelewat lembek, bukan saja perkataan dari Hoa Toa-koh membuat semua amarahnya jadi padam, bahkan dia masih menganggap perkataan perempuan itu sebagai ucapan yang tulus dan muncul dari sanubarinya yang paling dalam.

Hoa Toa-koh seperti terperangah, serunya tertahan:

"Aaah, jadi dia bukan sahabatmu? Kenapa bisa duduk didalam ruang perhuku?"

Leng Cing-peng menggeleng perlahan, bahkan mengerdipkan matanya berulang kali seakan melarangnya bicara lebih lanjut.

Namun Hoa Toa-koh berlagak seolah tidak melihat, ujarnya lebih jauh:

"Sobat, kau telah masuk ke rumahku tanpa diundang, boleh tahu apa tujuanmu? Apakah kau bersedia mengatakan sesuatu kepada aku sang pemilik rumah?"

Orang berambut panjang itu tetap duduk tidak bergerak, sepatah demi sepatah dia berkata:

"Aku adalah Ay Thian-hok"

Perkataannya amat singkat, seolah olah nama "Ay Thian-hok" sudah mewakili segalanya.

Benar saja, sekujur tubuh Hoa Toa-koh bergetar keras.

Belum sempat dia mengucapkan sesuatu, terdengar suara isak tangis bergema makin keras dari luar ruangan, terdengar Sui Leng-kong berseru sambil menangis tersedu sedu:

"Benarkah tidak ditemukan?"

"Tidak ditemukan" terdengar Yo Pat-moay menyahut dengan napas tersengkal, "tapi..semisal dia memang mati, seharusnya jenasahnya terapung diatas permukaan air!"

Kembali terdengar Sui Leng-kong menangis tersedu sedu:

"Thiat Tiong-tong.... wahai Thiat Tiong-tong ....kematianmu benar benar-mengenaskan..."

Paras muka Leng Cing-peng berubah hebat, tubuhnya ikut gemetar keras, setelah mundur berapa langkah dengan terhuyung.....

"Blaaaam!" tubuhnya menumbuk diatas dinding dibelakang tubuhnya.

Hoa Toa-koh sendiripun agak terperanjat, baru dia mendongakkan kepalanya, terasa pandangan matanya jadi kabur, tahu-tahu dia sudah kehilangan jejak bayangan tubuh Ay Thian-hok.

Menyusul kemudian terlihat Leng Cing-peng ikut pula memburu keluar dari ruangan.

Hoa Toa-koh ikut melangkah ke depan pintu, namun baru berapa langkah dia sudah membatalkan niatnya, sesudah termenung sejenak dengan kening berkerut tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan berjalan cepat menuju sudut ruangan sebelah kiri.

Ke empat dinding ruang perahu itu dilapisi gorden dan tirai. Dia langsung menyingkap tirai sambil merogoh sesuatu ke atas dinding, sebuah lubang selebar tiga inci segera muncul diatas dinding ruangan itu, dibalik lubang terlihat sebuah kristal yang bening.

Ketika melongok dari balik kristal bening itu, bukan saja pemandangan diluar ruangan terlihat amat jelas bahkan dapat terlihat lebih besar dan jelas.

Waktu itu Leng Cing-peng, Sui Leng-kong, Gi peng-bwee dan Gi Cing-kiok sudah berdiri dibelakang Ai Thian-hok, sedangkan Yo Pat-moay dengan tubuh basah kuyup berdiri didepan kawanan gadis lebah lainnya.

Mereka seperti sedang meributkan sesuatu, hanya sayang tidak terdengar apa yang sedang dibicarakan.

Dari kejauhan sana, dari balik jendela, tampak muncul lagi berapa titik bayangan sampan yang bergerak mendekat.

Melihat kesemuanya itu Hoa Toa-koh meng­hela napas panjang, gumamnya:

"Orang bilang pengaruh Kiu cu- kui bo tidak boleh dipandang enteng, sekarang aku benar-benar mempercayainya"

Setelah menghentakkan kakinya dengan gemas, dia lari menuju ke ruang belakang lalu turun ke ruang bawah, dengan tergesa-gesa dia kabur menuju ke ruang rahasianya.

Tampak pintu kamarnya yang kokoh dan kuat, kini sudah hancur berantakan dihajar orang.

Sekali lagi dia merasakan hatinya bergetar keras, gumamnya sambil menggertak gigi:

"Ai Thian-hok, sungguh dahsyat tenaga pukulanmu!"

Ketika menengok ke dalam ruangan, dia saksikan hanya seprei nya yang awut-awutan tidak karuan sementar benda lainnya tetap utuh seperti sedia kala.

Sekulum senyuman segera tersungging diujung bibirnya, dengan cepat dia singkirkan selimut dan sepreinya, lalu mendorong papan ranjangnya ke samping, sebuah lubang rahasia pun muncul dibalik pembaringan.

Dibalik ruang rahasia itu terlihat ada tumpukan berapa buah karung goni, dari balik karung goni lamat-lamat terlihat cahaya mestika yang berkilauan.

Dengan cepat dia bungkus semua karung goni itu dengan kain sepreinya, senyuman yang semula nampak lembut dan cantik, kini berubah jadi senyuman licik dan penuh kekejian.

Untuk sesaat dia nampak agak sangsi, tapi akhirnya sambil menggigit bibir dia memencet lagi sebuah tombol rahasia dibalik ruangan tersebut.

"Byuuurrr!" air sungai yang berwarna kuning dengan cepat mengalir masuk ke dalam ruangan, dalam waktu singkat menenggelamkan ruang rahasia itu dan mulai menggenangi seluruh ruangan.

Melihat air sungai mulai menggenangi permu­kaan, kembali Hoa Toa-koh bergumam:

"Selamat tinggal saudara-saudaraku, selamat tinggal perahuku!"

Sambil membopong buntalan besar itu, dengan cepat dia berlari keluar meninggalkan ruangan.

Dalam pada itu kembali ada empat buah rakit kulit bergerak mendekat, dalam waktu singkat rakit rakit itu sudah merapat disisi perahu.

Pada rakit yang pertama tampak berdiri empat orang, salah satu diantaranya adalah si bocah pincang.

Waktu itu rambutnya kelihatan sudah terbakar hangus sebagian, dia berdiri sambil menggertak gigi, wajahnya penuh diliputi perasaan gusar, dendam dan sakit hati.

Orang kedua adalah seorang wanita yang sebagian rambutnya terbakar hangus, wajahnya pucat, dia menggendong seorang bayi dan tiada hentinya terbatuk batuk.

Orang itu tidak lain adalah Leng Cing-soat yang belum sembuh dari lukanya.

Dibelakangnya berdiri dua orang gadis berbaju sutera, mereka nampak sibuk memeriksa tubuh Leng Cing-soat dan sepertinya sangat menguatir-kan keadaan luka gadis itu.

Pada rakit ke dua tampak sebuah kursi, diatas kursi duduk seorang nyonya tua berbaju hijau bersanggul tinggi, dia tidak lain adalah Kiu cu Kui bo yang sudah banyak tahun hidup mengasingkan diri.

Dibelakang nenek itupun berdiri dua orang gadis berbaju sutera, seorang membawa hudtim sedang yang lain membawa tempolong kemala, biarpun rakit terombang-ambing ditengah ombak, mereka tetap berdiri tegak sekokoh batu karang.

Tidak seorang manusiapun diatas perahu yang menyadari kalau tubuh perahu mereka mulai tenggelam, karena perhatian mereka sudah tersedot oleh kehadiran dua buah rakit itu.

Terdengar Gi Peng-bwee bergumam sambil menghembuskan napas panjang:

"Aaah, akhirnya suhu datang juga"

Belum selesai ia bicara, tampak Kiu cu kui bo sudah mengebaskan tangannya, tahu-tahu tubuh berikut bangkunya sudah melayang setinggi tiga meter lebih dan meluncur ke atas perahu besar.

Berubah hebat paras muka kawanan gadis lebah itu setelah menyaksikan kelihayan orang.

Leng Cing-peng ikut menjerit sedih setelah menyaksikan perempuan berambut panjang yang berdiri diatas rakit itu:

"Cici!"

Dia berlarian menuju ke buritan perahu, setelah sangsi sejenak, akhirnya dia melompat naik ke atas rakit.

Paras muka Leng Cing-soat pun sedikit berubah, bisiknya pedih:

"Adikku, kau.....kau........"

Walaupun dua bersaudara itu telah saling berjumpa, namun hubungan mereka serasa bagaikan hidup di dua dunia yang berbeda.

Dua orang gadis itu hanya saling bertatap muka dengan air mata berlinang, siapa pun tidak ada yang tahu, apakah pertemuan ini sebuah kenyataan atau hanya dalam impian? Biarpun ada berjuta-juta perkataan yang ingin disampaikan namun tidak sepatah kata pun yang mampu diucapkan keluar.

Kawanan gadis berbaju sutera itu sama-sama tertunduk sedih, mereka tidak tega untuk menyak­sikan lebih jauh.

Sementara itu si bocah pincang sambil mem­bentak nyaring ikut melompat naik ke atas perahu, begitu tiba disamping Gi Cing-kiok, bisiknya sambil menarik ujung baju gadis itu:

"Mana orangnya?"

Gi Cing-kiok menghela napas sedih.

"Thiat kongcu telah menceburkan diri ke dalam sungai, bahkan jenasahnya pun tidak ....tidak..."

Bicara sampai disini dia melirik sekejap ke arah Sui Leng-kong, kemudian dengan sedih menutup mulutnya kembali.

Bocah pincang itu merasakan hatinya bergetar, setelah termangu sejenak kembali tanyanya:

"Mana pula bajingan laknat itu?"

Gi Cing-kiok menggeleng.

"Saat itu pikiranku sedang kalut, tidak terlalu kuperhatikan"

"Kemungkinan besar telah dibawa pergi oleh Hay Tay-sau" sela Gi Peng-bwee.

Sekali lagi bocah pincang itu tertegun, sambil menghentakkan kakinya dengan jengkel, omelnya:

"Apa-apaan kalian ini? Masa disuruh menye­lesaikan persoalan ini saja tidak becus?"

"Hmm, seandainya kau yang melaksanakan tugas ini, mungkin keadaannya akan jauh lebih parah" seru Gi Cing-kiok gusar.

"Kalau bukan kalian bikin ulah, mana mungkin akan terjadi peristiwa semacam ini?" sambung Gi Peng-bwee pula dengan nada dingin.

Bocah pincang itu hanya bisa berdiri terbelalak dengan mulut melongo, dia tidak berani banyak bicara lagi.

Sementara itu Kiu cu Kui bo telah duduk dihadapan kawanan gadis lebah itu, dia duduk dengan wajah dingin bagaikan baja, agaknya nenek itu enggan berbicara dengan mereka dan sedang menunggu kemunculan pemimpinnya.

Tiba-tiba terlihat Li Ji-ci berlarian keluar dari ruangan sambil berteriak keras:

"Toaci.....dia telah melarikan diri, perahu ini....... perahu ini......."

"Kenapa dengan perahu ini?" tanya kawanan gadis lebah itu dengan wajah berubah.

Saking kalut dan paniknya Li Ji-ci tidak ambil perduli lagi apakah disitu hadir orang lain atau tidak.

Dengan napas tersengkal sengkal lanjutnya:

"Bukan saja toaci telah membawa kabur seluruh simpanan dan deposito kekayaan kita semua, bahkan membuka lubang penutup didasar perahu, sebentar lagi air akan menenggelamkan perahu ini"

Paras muka kawanan gadis lebah itu berubah makin hebat.

Sementara itu para jago anak buah Kiu cu Kui bo telah memeriksa pula keadaan perahu itu, sambil bertepuk tangan si bocah pincang itu segera berseru:

"Bagus, bagus sekali, perahu ini segera akan tenggelam"

Dengan wajah dingin menyeramkan Kiu cu Kui bo berkata:

"Kalau bukan sedang marah sekali, aku tidak akan kelewatan memojokkan orang, apalagi memaksa orang jadi anjing yang kecebur ke sungai, tapi......."

Dengan sorot mata setajam sembilu terusnya:

"Tapi kalian semua telah mencari gara-gara dengan perguruan kami, bila hari ini ingin kabur dari sini, paling tidak harus tinggalkan dulu sedikit tanda mata di tubuh masing masing"

"Tinggalkan apa?" tanya Yo Pat-moay.

"Karena pentolan kalian Hoa Toa-koh telah melarikan diri, sedang kalianpun hitung-hitung termasuk juga korban perbuatannya, aku tidak ingin kelewat menyusahkan kalian semua, masing-masing tinggalkan saja sebelah telinga kalian"

Berubah hebat paras muka kawanan lebah itu. Sambil tertawa seram Yau Su-moay berteriak:

"Kentut busuk! Nonamu akan pergi duluan" Waktu itu dia berada di buritan perahu, saat itu dia sudah bersiap siap terjun ke air untuk melarikan diri.

Siapa tahu baru saja tubuhnya hendak bergerak, tahu-tahu Ai Thian-hok yang tidak bermata itu sudah melayang melintas  diatas kepalanya....... orang ini seolah memiliki banyak mata diseluruh tubuhnya, gerak-gerik setiap orang yang hadir disana seolah tidak dapat lolos dari pandangan matanya.

Kawanan lebah itu hanya mendengar deruan angin berhembus, tahu-tahu Ai Thian-hok sudah terbang melintas dari atas kepalanya, diantara kebasan ujung bajunya tahu tahu dia sudah menyambar ujung baju Yau Su-moay.

Waktu itu tubuh Yau Su-moay sudah hampir menyentuh permukaan air, tahu-tahu dia sudah kena ditangkap dan diseret balik keatas perahu.

Kembali bocah pincang itu berteriak sambil bertepuk tangan:

"Hebat, hebat, nah bila ada diantara kalian yang mampu lolos dari cengkeraman toako ku, aku akan takluk kepadanya"

Tampak Ai Thian-hok menutulkan ujung kakinya diburitan perahu, kemudian setelah membanting tubuh Yau Su-moay diatas lantai, dia melayang balik ke depan Kiu cu Kui bo dengan melintasi kepala kawanan lebah itu.

Gerakan tubuhnya lincah, gesit dan cepat, ketika diimbangi dengan ujung bajunya yang berkibar ketika meluncur, gerak-geriknya tidak berbeda dengan seekor kelelawar raksasa.

Waktu itu paras muka Yau Su-moay telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, saking kagetnya nyaris dia jatuh semaput.

"Siapa lagi diantara kalian yang memaksa aku untuk turun tangan sendiri?" terdengar Kiu cu Kui bo kembali menegur dengan nada dingin.

Sambil berkata dia meraup tangannya ke muka dan menjawil perlahan wajah Yau Su-moay.

Terdengar Yau Su-moay menjerit kesakitan, telinga kirinya tahu-tahu sudah berada dalam genggaman Kiu cu Kui bo.

Kembali paras muka kawanan lebah itu berubah hebat, serentak mereka emosi dan berniat untuk beradu nyawa dengan nenek itu, diantara kilatan cahaya perak terdengar suara bentrokan senjata yang nyaring bergema di udara.

"Tunggu sebentar!" mendadak Yo Pat-moay membentak nyaring.

"Pat-moay.....kita......kita......" sekujur tubuh Li Ji-ci gemetar keras.

"Kita tidak akan mampu melawan mereka" tukas Yo Pat-moay dengan wajah hijau membesi.

"Sekalipun tidak mampu kita tetap harus......"

"Kalau melawanpun tidak mampu, apa lagi yang mau dilawan?" kembali Yo Pat-moay menghardik dengan suara nyaring, "hidup lebih mendingan daripada mati konyol, tapi.....tapi...... tahukah kalian, kenapa aku harus mempertahan­kan hidupku?"

Kelihatannya perkataan itu telah menggetar­kan perasaan hati kawanan lebah itu, serentak mereka tutup mulutnya rapat-rapat.

Setelah mendongakkan kepalanya dan meng­hela napas, ujar Yo Pat-moay lebih jauh:

"Kita harus tetap hidup karena kita akan balas dendam!"

Setelah memandang sekejap wajah kawanan gadis lebah itu, terusnya:

"Bagaimana pun juga kita harus temukan Hoa Toa-koh bukan? Dia tidak seharusnya tinggalkan kita semua dalam keadaan seperti ini!"

Sekarang dia langsung menyebut nama Hoa Toa-koh, hal ini menunjukkan kalau gadis ini sudah tidak mengakuinya sebagai toaci mereka lagi!

Kawanan gadis lebah itu tetap membungkam, namun mereka telah menundukkan kepalanya.

Mendadak Yo Pat-moay berpaling dan menatap wajah Kiu cu Kui bo tajam tajam, sepatah demi sepatah kata ucapnya:

"Akupun bersumpah akan mencari balas kepadamu!"

"Aku tahu!" jawab Kiu cu Kui bo perlahan.

"Kalau aku jadi kau, pasti akan membunuhku hari ini sebab kalau tidak, sekalipun hari ini kau hanya memotong sebelah telingaku, kemungkinan besar dikemudian hari aku akan memotong ke dua buah telingamu sekaligus!"

Secara lamat-lamat sekulum senyuman muncul menghiasi wajah Kiu cu Kui bo yang hijau dingin, sahutnya seraya mengangguk:

"Aku tahu, dan pasti akan kutunggu"

"Baik!"

Dia menengok sekejap sekeliling tempat itu, kini air sungai telah menggenangi permukaan geladak, tampaknya tidak lama kemudian perahu itu akan tenggelam.

Dengan satu gerakan cepat Yo Pat-moay mengiris sebuah telinga sendiri dan dilemparkan ke hadapan Kiu cu Kui bo, serunya:

"Seorang hanya sepotong telinga, kita tidak perlu berhutang kepadanya!"

Agaknya emosi kawanan gadis lebah itu dibangkitkan kembali oleh teriakan tersebut, diiringi teriakan keras kawanan gadis itu telah mengiris telinga masing-masing dan dilemparkan ke hadapan Kiu cu Kui bo.

"Dendam telah terikat, hutang telah terbayar, sekarang kita pergi!" teriak Yo Pat-moay lagi.

Tanpa banyak bicara serentak kawanan gadis lebah itu terjun ke dalam sungai.

"Gadis-gadis hebat!" puji Kiu cu Kui-bo kemudian sambil meng hela napas panjang.

Melihat perahu sudah hampir tenggelam, kembali Kiu cu Kui bo berseru: "Mari kita pun pergi!"

Tubuh berikut bangkunya kembali meluncur ke atas rakit.

Tidak selang berapa saat kemudian semua orang sudah melompat turun ke atas rakit, kini perahu telah tenggelam, kawanan gadis lebah pun sudah tidak nampak lagi batang hidungnya.

Berada diatas rakit, Leng Cing-peng serahkan anak kunci kepada Leng Cing-soat, sekalipun mereka tidak tahu kalau Thiat Tiong-tong telah menyerahkan sejumlah harta karun untuk mereka namun kejadian tersebut cukup membuat mereka sedih bercampur terharu.

Dengan air mata berlinang Leng Cing-peng berpaling dan mengawasi Sui Leng-kong tanpa bicara.

Sui Leng-kong sendiripun berdiri dengan mata penuh air mata, kini dia seolah tidak bisa melihat apa pun.

Tiba-tiba si bocah pincang itu berjalan menuju ke hadapan ke tiga orang itu, sambil menjura dalam dalam katanya dengan tergagap:

"Cici bertiga........siaute......siaute......."

Walaupun perkataan itu tidak lengkap, namun Sui Leng-kong, Leng Cing-soat maupun Leng Cing-peng tahu apa maksud perkataan itu... andaikata bukan gara-gara ulahnya, tidak mungkin Thiat Tiong-tong akan mati tenggelam di sungai Huangho.

Lama sekali bocah pincang itu berdiri termangu, akhirnya kepada Ai Thian-hok yang berada di rakit lain, berteriak keras-keras:

"Toako, bolehkah aku memohon sesuatu kepadamu?"

"Permainan busuk apa lagi yang akan kau lakukan?" tegur Ai Thian-hok dengan suara dalam.

Kelihatannya dia sangat menyayangi saudara seperguruannya   ini, sekalipun perkataan itu diucapkan tanpa senyuman, namun tanpa disadari sikapnya sudah menunjukkan kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya.

Dengan suara keras kembali bocah pincang itu berteriak:

"Aku mohon toako mau menemani aku mencari Sim Sin-pek, aku ingin mencincang tubuhnya menjadi dua puluh empat potong, kemudian sepotong demi sepotong diberikan kepada anjing"

"Kenapa harus aku yang menemani?"

Bocah pincang itu menghela napas panjang, sahutnya:

"Aku......aku kuatir tidak bisa menangkan dia, lagipula aku kuatir akan membuat gara-gara lagi, selama toako mendampingiku, akupun tidak usah kuatir lagi"

Sekulum senyuman ramah segera tersungging diwajah Ai Thian-hok, tegurnya:

"Jadi sekarang kau sudah mengerti arti takut?"

Dengan wajah merah jengah bocah pincang itu menundukkan kepalanya, ujarnya terbata-bata:

"Bukan.....bukannya aku takut, tapi...tapi....."

Setelah   tertawa  ringan   dia   menghentikan perkataannya.

"Kalau takut katakan takut, itu mah urusan biasa, kenapa mesti malu!" kata Ai Thian-hok serius.

"Tapi toako, kenapa kau tidak pernah takut?"

"Siapa bilang aku tidak pernah takut, kalau aku tidak takut mungkin sejak dulu sudah mati, hanya saja ada sementara persoalan biarpun kau takut toh tetap harus dilakukan"

"Ada sementara persoalan, biarpun kau tidak takutpun tidak boleh dilakukan, bukan begitu?"

Sekali lagi Ai Thian-hok tertawa lebar.

"Betul sekali, orang harus bisa memilah mana yang boleh dan mana yang tidak, hanya pendekar yang bisa memilah dalam tindakan, dia baru dihormati orang lain"

Tiba-tiba terdengar Kiu cu Kui bo menghela napas panjang, ujarnya:

"Aaaai, walaupun Thian-hok adalah muridku, namun ada banyak ajaran yang justru dia lebih paham ketimbang aku"

"Tecu tidak berani dibandingkan dengan suhu" cepat Ai Thian-hok menundukkan kepalanya.

Kiu cu Kui bo menggeleng, kembali ujarnya sambil menghela napas:

"Pada dasarnya watakmu memang begitu, bukan berarti aku tidak mengetahui ajaran tersebut, tapi harus diakui, selama ini tindakanku kelewat emosional, napsu membunuhku kelewat berat, selama ini aku bertindak hanya menuruti suara hati sendiri, karena itu sering aku tidak bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk"

Ai Thian-hok hanya tundukkan kepalanya tidak bicara, namun wajahnya kelihatan sangat terharu.

Kembali Kiu cu Kui bo berkata kepada bocah pincang itu:

"Lo-kiu, kau memang seharusnya banyak belajar dari toako mu"

"Tecu memang paling suka dengan toako" kata bocah pincang itu dengan kepala tertunduk.

Tanpa terasa sekulum senyuman menghiasi bibir Kiu cu Kui bo, gumamnya sambil meng­geleng:

"Dasar bocah, aku berharap dia akan mengalami beberapa kali kerugian lagi, agar rasa takutnya makin tumbuh"

Gadis yang berdiri disamping Kiu cu Kui bo segera menimbrung sambil tertawa:

"Asal suhu mengurangi rasa sayang kepada­nya, otomatis dia akan belajar makin sopan"

"Kau tidak boleh banyak bicara!" bentak Kiu cu Kui bo cepat, tapi tidak urung dia tertawa geli juga.

Diam-diam bocah pincang itu membuat muka setan kepada gadis tersebut, kemudian katanya lagi:

"Toako, sebetulnya kau bersedia tidak mene­mani aku?"

"Soal ini......." Ai Thian-hok kelihatan agak ragu.

"Thian-hok, pergilah temani dia!" perintah Kiu cu Kui bo kemudian.

Buru-buru Ai Thian-hok mengiyakan.

Terdengar gadis itu kembali berkata sambil tertawa:

"Coba lihat, suhu masih begitu memanjakan lo-kiu, tidak heran kalau dia masih ingin mencari gara-gara biar rambutnya nyaris habis terbakar"

"Bagus, rupanya kau iri, heei.... dasar perempuan julas!"

"Aaaai, dasar bocah, dia benar-benar tidak tahu aturan" gumam Kiu cu Kui bo sambil menggeleng.

Sekalipun dimulut dia menghela napas namun senyuman ramah justru menghiasi bibirnya.

Leng Cing-soat serta Leng Cing-peng hanya bisa mengawasi mereka dengan melongo, saking tertegunnya mereka seolah sampai lupa menangis.

Melihat canda gurau antara guru dan murid, tanpa terasa mereka berpikir dalam hati:

"Kusangka Kui bo itu kejam dan buas, apalagi terhadap anak muridnya, tidak disangka ternyata hubungan batin mereka amat akrab"

Tanpa sadar mereka pun jadi terbayang dengan keluarga mereka sendiri, titik air mata kembali berlinang membasahi pipinya.

Bocah pincang itu membalikkan tubuh menengok ke arah dua orang perempuan itu, sambil membusungkan dada teriaknya lantang:

"Nona berdua, kalian tidak usah menangis, aku pasti akan membalaskan dendam bagi kalian!"

"Aku.....aku......" Leng Cing-soat tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, dia menangis sejadi-jadinya.

"Kau kenapa? Kau ingin ikut serta?" seru bocah pincang itu cepat, "jangan, jangan berbuat begitu, kau sudah terluka, harus merawat pula anakmu, kau tidak boleh ikut"

"Aku......." serentak Leng Cing-peng dan Sui Leng-kong ikut berseru.

"Tidak bisa, tidak bisa" kembali bocah pincang itu berteriak keras, "kalian adalah nona dewasa, mana boleh melakukan perjalanan bersama kaum lelaki? Bisa tidak leluasa"

Leng Cing-peng maupun Sui Leng-kong segera menundukkan kepalanya, sekalipun mereka adalah gadis gadis berperasaan, namun bila permintaannya ditampik orang, mereka tidak pernah melakukan perlawanan atau protes.

Gadis berbaju sutera itu kontan mengumpat:

"Dasar tidak tahu malu, masih bocah saja sudah mengaku seperti orang dewasa...."

"Kau......kau......"  teriak  bocah  pincang  itu jengkel.

Dalam pada itu selisih jarak antara rakit itu dengan pantai tinggal berapa meter saja, tiba-tiba bocah pincang itu melompat ke arah rakit yang satu, kemudian sambil berlutut serunya:

"Suhu, bagaimana kalau tecu mohon diri lebih dulu?"

Belum sempat Kiu cu Kui bo menjawab, dia sudah melompat bangun sambil menowel pipi gadis berbaju sutera itu sambil berseru:

"Hei budak cilik!"

"Setan cilik" umpat gadis itu sambil tertawa

dan  mengumpat, "kau....... toako, coba  lihat perbuatannya, kalau kau tidak segera mengurusi­nya, mungkin dia tambah edan"

Tapi bocah pincang itu sudah melompat ke daratan dan kabur dari situ.

Dari kejauhan terdengar dia berteriak sambil tertawa:

"Toako, kau tidak usah menggubris budak itu, dialah si budak edan, Gi Siau-hong, aku beritahu, selama hidup kau tidak bakal laku kawin"

Si nona yang bernama Gi Siau-hong itu mencak-mencak semakin gusar, teriaknya:

"Suhu, coba lihat ulahnya, Siau-hoa dia........"

Kiu cu Kui bo segera menarik tangan nona itu sambil menukas:

"Coba lihat kalian semua, seharian ribut melulu, seakan tidak ada urusan di dunia ini yang bisa membuat kalian sedih"

Kemudian sambil berpaling katanya lagi:

"Thian-hok, cepatlah pergi, kau awasi baik-baik tingkah laku Siau-hoa!"

Ai Thian-hok mengiakan dan segera melompat ke udara, dalam berapa kali lompatan dia sudah lenyap dari pandangan mata.

Melihat itu Kiu cu Kui bo gelengkan kepalanya sambil menghela napas, ujarnya:

"Aku lihat belakangan ini tabiat Thian-hok makin lama makin pendiam, tapi kungfunya semakin tangguh ketimbang aku"

Dipihak lain Sui Leng-kong, Gi Cing-kiok, Gi Peng-bwee serta dua bersaudara Leng diam-diam berdoa, mereka berharap kedua orang itu bisa secepatnya menemukan Sim Sin-pek dan membalaskan dendam bagi orang yang telah meninggal.

BAB 12.

Antara budi dan dendam.

 

Waktu itu Sim Sin-pek sudah dibanting keras keras ke atas geladak perahu oleh Hay Tay-sau.

Secara lamat-lamat Hay Tay-sau menyaksikan ada tubuh seseorang yang basah kuyup berbaring melingkar ditengah ruang perahu, tampaknya tubuh orang itu baru saja diangkat dari dalam air, kesadarannya belum pulih.

Hay Tay-sau sama sekali tidak mengenalinya, bahkan Bi lek hwee yang menyelamatkan orang itupun tidak mengenali siapakah gerangan orang tersebut.

......Seandainya Bi lek hwee tahu, mungkin dia tidak bakalan menyelamatkan jiwanya.

Berbeda dengan Sim Sin-pek, dia kenali siapakah orang itu bahkan sangat mengenalinya.

Saat itu tubuh Sim Sin-pek sudah dibanting keras keras oleh Hay Tay-sau, kini dia berbaring dilantai sambil merintih kesakitan.

Baru saja Hay Tay-sau hendak bertanya siapa orang yang berada dalam ruang perahu, tiba-tiba terdengar Bi lek hwee membentak keras:

"Kenapa bisa kau!"

Hay Tay-sau segera berpaling, tampak Bi lek hwee sedang menuding ke arah Sim Sin-pek dengan kening berkerut.

"Bukankah kau adalah Sim Sin-pek? Kenapa bisa jadi begini?" tegurnya.

"Jadi kau kenali dia?" tanya Hay Tay-sau cepat.

Bi lek hwee manggut-manggut.

"Tentu saja kenal, dia adalah murid Hek Seng-thian, bagaimana ceritanya? Kenapa dia sampai mengusikmu?"

Kontan Hay Tay-sau mencaci maki, umpatnya:

"Orang ini pengecut dan berhati busuk, disaat bahaya dia tega menghianati teman sendiri, jelas dia bukan manusia baik-baik, manusia semacam ini hanya akan meninggalkan bencana bagi umat persilatan"

"Kalau begitu antara kalian berdua tidak ada ikatan dendam atau sakit hati?" tegas Bi lek hwee setelah tertegun sejenak.

"Hmm! Manusia semacam itu belum pantas punya ikatan dendam denganku" teriak Hay Tay-sau gusar.

"Hahahaha...... betul, betul sekali, jelek-jelek begini paling tidak hanya seorang lelaki sejati yang pantas mengikat tali permusuhan dengan Thian-sat-seng!"

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia menghela napas sambil berkata:

"Tapi sayangnya orang ini mempunyai sedikit hubungan dengan lohu"

"Hubungan apa?" kontan Hay Tay-sau mendelik.

"Kalau bukan dia yang datang ke Bi lek tong dan memberi laporan, lohu tidak bakal tahu kalau muridku yang tidak becus itu telah diajak pergi Hek Thian-seng!"

"Ooh, selain itu?"

"Dia tidak menerangkan kejadian sebenarnya secara terperinci, katanya dia sendiripun sedang berusaha melarikan diri, karena kasihan, lohu malah sempat memberi uang kepadanya"

"Apa? Hanya karena obrolannya yang tidak jelas, kau rela duitmu dibohongi? Inikah yang kau sebut ada sedikit hubungan?"

Bi lek Hwee sedikit tertegun, tapi segera sahutnya sambil tertawa:

"Hahaha...... bagaimana pun juga lohu tidak tega menyaksikan dia mampus karena dibunuh.."

"Baiklah! Hukuman mati boleh diabaikan, tapi hukuman hidup tidak bisa dihindari!"

Mendadak dia lancarkan sebuah tendangan keras membuat tubuh Sim Si-pek terpental keluar dari perahu, serunya sambil tertawa tergelak:

"Hahahaha.....mau hidup, mau mampus, terserah bagaimana nasib mu nanti"

Ketika Bi lek Hwee menyusul ke tepi perahu, dia sudah tidak menjumpai bayangan tubuh Sim Si-pek lagi, maka sambil membalikkan tubuh katanya agak geram:

"Inikah yang kau maksud mengampuni jiwanya?"

"Tentu saja" sahut Hay Tay-sau sambil tergelak, "toh tercebur ke sungai bukan berarti pasti mampus, bukankah kau pun telah selamat­kan seseorang dari dalam air?"

Beberapa saat Bi lek Hwee termangu, akhirnya sambil menepuk bahu Hay Tay-sau teriaknya lantang:

"Ternyata kau lebih cengli ketimbang aku, ayoh kita periksa bagaimana keadaan orang yang ada dalam ruang perahu"

Thiat Tiong-tong yang berada dalam ruang perahu sudah mulai mendusin dari pingsannya.

Secara lamat-lamat dia mendengar semua pembicaran yang berlangsung di luar ruang perahu, hatinya jadi terperanjat ketika mendengar murid Hek Seng-thian berada diluar saat itu.

Tapi hatinya kembali jadi lega setelah men­dengar suara tubuh seseorang yang tercebur ke dalam air.

Belum sempat ingatan lain melintas dalam benaknya, Hay Tay-sau dan Bi lek Hwee sudah melangkah masuk ke dalam ruangan.

Tentu saja dia mengenali ke dua orang itu, sebaliknya kedua orang itu sama sekali tidak mengenalinya.

Ketika melihat pemuda itu sudah tersadar kembali, sambil tertawa Bi lek Hwee segera berkata:

"Aaah, rupanya bukan saja tidak mati malahan sudah tersadar kembali!"

"Hahahaha......  aku  lihat  selama  hidupmu sudah kelewat banyak melukai orang, mungkin menolong orang lain baru pertama kali ini, bukan begitu? Kalau tidak, tidak mungkin kau menun­jukkan perasaan begitu gembira"

Bi lek Hwee ikut tertawa tergelak.

"Hahahaha..... tebakanmu tepat sekali, lohu sih pernah berbuat baik, cuma soal menolong orang lain..... hehehehe..... mungkin baru kali ini kulakukan"

Sambil membungkukkan tubuh dan menepuk punggung Thiat Tiong-tong, katanya lagi lembut:

"Anak muda, apakah sudah kau muntahkan semua air yang masuk ke dalam perutmu?"

"Terima kasih lotiang atas pertolonganmu" ujar Thiat Tiong-tong sambil tertawa getir, "budi kebaikanmu ini........"

Dia sendiripun tidak menyangka kalau selembar jiwanya ternyata telah diselamatkan musuh besarnya, tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan hatinya waktu itu.

Terdengar Bi lek Hwee kembali berkata dengan lembut:

"Setelah minum begitu banyak air sungai, perasaan tubuhmu saat ini tentu tidak karuan, tidak usah banyak bicara dulu, beristirahatlah baik-baik!"

Thiat Tiong-tong tidak membantah, dia benar-benar pejamkan matanya, bukan saja tidak bicara bahkan dadanya bergelombang tidak stabil, hal ini menunjukkan kalau pikiran dan perasaan hatinya amat kacau.

Selama ini Hay Tay-sau hanya menyaksikan dari samping tanpa bicara, sementara Bi lek Hwee sibuk mengambil cawan, menuang air dan mencampurkan bubuk obat ke dalam air itu.

Sesaat kemudian dia baru membangunkan Thiat Tiong-tong sambil melolohnya obat tersebut, katanya lembut:

"Makanya anak muda, lain kali mesti hati-hati kalau bertindak, bagaimana ceritanya sampai kau tercebur ke sungai?"

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, dia tutup mulutnya rapat-rapat tanpa menjawab.

Sebenarnya diapun ingin menolak untuk minum obat, tapi pikiran lain segera melintas, bagaimana pun jiwanya sudah diselamatkan orang ini, jadi tidak ada alasan baginya untuk menampik obat tersebut.

Mengawasi perubahan wajah pemuda itu, dengan kening berkerut Bi lek Hwee segera menegur:

"Kalau kulihat kau selalu menghela napas panjang lebar, keningpun selalu berkerut seakan ada sesuatu yang mengganjal dalam hatimu, sebetulnya persoalan apa sih yang sedang membebani dirimu?"

Thiat Tiong-tong hanya menghela napas sambil menggeleng.

Sambil menepuk bahu pemuda itu kembali Bi lek Hwee berkata sambil tertawa:

"Anak muda, kau masih muda dan gagah, sekalipun ada persoalan janganlah kelewat dimasukkan ke dalam hati, kenapa? Patah hati? Jangan putus asa, jangan kuatir, orang setua lohu saja masih mampu mencari tiga bini empat gundik, apalagi pemuda tampan macam kau! Kalau ada nona yang tidak mau denganmu berarti dia buta matanya, lohu janji pasti akan kucarikan nona yang kecantikannya sepuluh kali lipat lebih hebat dari dia"

"Kakek, kau keliru" sambil tertawa getir Thiat Tiong-tong menggeleng, "cayhe......."

"Haah, tebakanku salah?" tukas Bi lek Hwee dengan kening berkerut, "baik, biar lohu tebak sekali lagi, bila bukan urusan patah hati, jangan jangan......kau ada kesulitan soal ekonomi?"

Sambil menepuk bahu pemuda itu katanya lagi sambil tertawa:

"Jangan kuatir, jangan kuatir, kalau hanya persoalan ini, kau lebih tidak perlu kuatir lagi, anak muda suka foya-foya itu lumrah, apa artinya kehabisan duit?"

Sambil menuding ke arah Hay Tay-sau tambahnya lagi:

"Coba kau perhatikan tampangnya, dia itu duit kontan, berapa pun yang kau inginkan, asal bicara dengannya maka uang segera akan datang"

"Hahahaha...... hebat betul kau ini" teriak Hay Tay-sau sambil tertawa, "rupanya kau memang sangat dermawan"

"Hmm, kalau kau tidak mau beri juga tidak apa-apa, lohu juga punya" potong Bi lek Hwee gusar.

"Lotiang......." Thiat Tiong-tong menghela napas panjang seraya menggeleng.

"Jadi bukan?" Tanya Bi lek Hwee melongo, lama setelah termenung ia baru berteriak:

"Aaah, ditinjau dari potongan tubuhmu yang lemah lembut seperti pelajar, kau pasti sudah dibuat jengkel orang lain, jangan takut, jangan takut, katakan saja siapa orang itu, biar lohu hajar dia!"

"Lotiang keliru besar, cayhe cuma terpeleset lantaran kelewat mabuk"

"Hahahaha...... bagus, bagus sekali, terpeleset lantaran mabuk? Hay loheng, sudah kau dengar? Ternyata anak muda ini tidak beda jauh dengan kita, sama-sama setan arak"

"Kalau begitu kita mesti ajak dia minum sampai sepuasnya" seru Hay Tay-sau sambil tertawa pula.

Buru-buru Thiat Tiong-tong meronta untuk bangun, kembali teriaknya:

"Lotiang, terus terang aku mengakui, sebetulnya aku adalah seorang manusia rendah yang tidak tahu malu, secara diam-diam aku telah mencintai ibu guruku sendiri, itulah sebabnya aku jadi mabuk berat"

Kemudian sambil sengaja menundukkan kepalanya rendah dia melanjutkan:

"Sebenarnya aku tidak pingin menceritakan persoalan ini, tapi lantaran sikap lotiang yang membuatku terharu, maka dengan tebalkan muka terpaksa aku harus mengakuinya"

Untuk sesaat Bi lek Hwee berkerut kening, tapi sebentar kemudian dia sudah menyahut sambil tertawa:

“Tidak perlu kuatir, tidak perlu kuatir, bisa dimaklumi kalau anak muda gampang melakukan kekhilafan, apalagi kaupun berani mengakui kesalahanmu, orang yang berani mengaku salah, dialah yang pantas disebut seorang lelaki sejati"

Thiat Tiong-tong tertegun.

"Soal ini.....soal ini..."

Sikap Bi lek Hwee semakin baik kepadanya, dia merasa semakin sedih, diam-diam pikirnya:

"Lebih baik aku sengaja mengakui sebagai orang yang amat jahat agar dia benci dan marah kepadaku, dalam gusarnya bisa jadi dia akan memakiku atau bahkan menendangku ke dalam sungai, kalau sampai begitu, keadaan malah lebih mendingan"

Siapa tahu apa pun yang dia katakan selalu dijawab Bi lek Hwee dengan jawaban "tidak usah takut, tidak usah takut", dia seolah sama sekali tidak menganggap perbuatannya sebagai hal yang amat buruk.

Sikap semacam ini tentu saja membuat Thiat Tiong-tong makin tertegun hingga tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Hay Tay-sau hanya mengawasi semua tingkah laku Bi lek Hwee dengan senyuman dikulum.

"Hey tua bangka, apa yang kau tertawakan?" tegur Bi lek Hwee segera sambil mendongakkan kepalanya.

"Hahahaha....... Aku sedang mentertawakan dirimu, padahal dihari biasa kau selalu berangasan dan tinggi emosinya, kemana larinya keberangasanmu itu?"

Mendadak terdengar Thiat Tiong-tong berteriak gusar:

"Aku sudah mengakui semua perbuatanku yang rendah dan tidak tahu malu, tapi kau selalu menyuruhku tidak usah takut, Hmmm! Hal ini membuktikan kalau kaupun bukan manusia baik-baik!"

Anak muda ini betul betul kehabisan akal sehingga mau tidak mau terpaksa harus berlagak gusar, asal Bi lek Hwee sampai bangkit emosinya, mulai memakinya atau malah menghajarnya, maka dia akan menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari sana.

Siapa tahu bukannya marah sebaliknya Bi lek Hwee malah tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha,........anak baik, pada hakekatnya watakmu tidak jauh berbeda dengan watakku!"

Kemudian setelah menepuk bahu anak muda itu, ujarnya lagi sambil tertawa:

"Setelah mendengar perkataanmu itu, bukan saja lohu tidak akan marah, malah aku berpendapat apa benar kau telah melakukan perbuatan seperti itu, seandainya benar, aku yakin kau pasti punya alasan untuk dimaafkan"

Kontan Thiat Tiong-tong merasakan darah panas ditubuhnya bergelora keras, dengan sedih ia menundukkan kepalanya.

"Lotiang, kenapa kau  begitu....begitu baik kepadaku......." keluhnya.

Perasaan hati yang gejolak keras membuat suaranya sedikit agak sesenggukan.

Perlu diketahui, walaupun Bi lek Hwee telah selamatkan nyawanya namun dia sama sekali tidak merasa perlu berterima kasih, sebab dia tahu Bi lek Hwee bukan berniat menyelamatkan jiwanya.

Hingga Bi lek Hwee menunjukkan sikap yang begitu menaruh perhatian, dia baru betul-betul merasa terharu.

Tapi yang membuat dia benar benar merasa terharu adalah begitu percayanya Bi lek Hwee terhadap dirinya, sekalipun dia sudah mengakui telah melakukan perbuatan jahat, namun Bi lek Hwee tetap percaya kepadanya, malah berkata bahwa pasti ada alasan untuk memberi maaf kepadanya.

Sekalipun perasaan hatinya lebih keras dari baja pun tidak urung dia merasa terharu juga dibuatnya.

.....Perlu diketahui, sikap dan perhatian yang diberikan seseorang secara wajar, rasa percaya serta pengertian yang diberikan seseorang tanpa paksaan, sejak dulu memang paling gampang meluluhkan perasaan seorang lelaki sejati.

Bi lek Hwee sendiripun ikut tertegun berapa saat, akhirnya sambil mengelus jenggot sendiri yang memutih, dia berkata sambil tertawa:

"Kejadian ini memang agak aneh, lohu sendiripun tidak mengerti kenapa bisa bersikap macam begitu kepadamu"

Thiat Tiong-tong benar-benar merasakan hatinya terharu, sambil pejamkan mata dia berpikir:

"Walaupun Perkampungan keluarga Seng, Benteng Han hong po maupun Bi lek tong mem­punyai dendam kesumat denganku, tapi sulit bagiku untuk melupakan budi kebaikan Seng Cun-hau yang telah menolongku, akupun tidak bisa melupakan cinta kasih dua bersaudara Leng yang begitu baik dan cinta kepada kami bersaudara.......

Dan sekarang, apa mau dikata lagi lagi aku harus berhutang budi pertolongan dari Bi lek Hwee .... "

Untuk sesaat Thiat Tiong-tong terjebak dalam pemikiran yang kalut, sekarang dia telah disodorkan pada pilihan yang sulit, antara budi dan dendam, mana yang harus dia pilih?

"Ooh Thian......" keluhnya didalam hati, "apa yang harus Thiat Tiong-tong lakukan sekarang"

Mendadak terdengar Hay Tay-sau berseru sambil tertawa tergelak:

"Hahahaha..... bukan cuma kau yang heran, aku sendiripun merasa keheranan.

"Hey, apa yang sedang kau katakan?" tegur Bi lek Hwee, "masa bicarapun tidak ada ujung pangkalnya, bikin aku jadi bingung"

"Bukankah kau tidak tahu apa sebabnya sikapmu begitu baik   kepadanya? Aku tahu jawabannya"

"Hahahahaha......bagus,  bagus sekali, jika jawabanmu benar, lohu pasti akan men­traktirmu....... Paling tidak aku akan mengun­dangmu minum tiga ratus cawan arak"

"Ini disebabkan kau si tua bangka tidak pernah punya anak, baru saja mendapat seorang murid dengan susah payah, eeeh.. malah kabur dibohongi orang!"

Kemudian sambil menepuk bahu Thiat Tiong-tong, lanjutnya:

"Sementara selembar nyawa pemuda ini berhasil kau selamatkan dengan tanganmu sendiri, orang bilang: bila seseorang telah diselamatkan jiwanya, hubungan batin itu pasti melebihi hubungan orang tua. Biarpun kau tidak tahu bagaimana jalan pikiran orang, tapi kau si tua bangka secara diam-diam telah menganggap dia sebagai anak yang kau ciptaan"

"Anak yang aku ciptakan?" Bi lek Hwee berkerut kening, "ucapanmu benar-benar tidak enak didengar, dapatkah kau gunakan perkataan yang lebih halus?"

Sekalipun begitu, tak urung dia tertawa juga dengan nyaring, tertawa gembira!

"Hahahaha..... betul, perkataanku memang kasar dan tidak enak didengar, tapi bukankah sangat tepat? Kalau seorang kakek yang sudah enam puluh tahunan tiba-tiba bisa punya anak, tentu saja dia akan merasa gembira sekali"

Meskipun Bi lek Hwee ingin mengumpat, namun gelak tertawa gembiranya membuat dia tidak sanggup berbicara lagi.

Thiat Tiong-tong sendiripun dibuat menangis tidak bisa tertawa pun tidak dapat, dia hanya bisa membungkam dalam seribu bahasa.

Kembali Hay Tay-sau berkata sambil tertawa: "Kalau memang begitu, aku rasa lebih baik kau benar-benar menerimanya sebagai anak angkatmu saja, agar aku pun bisa ikut menikmati arak kegembiraan"

"Aaah kau si tua bangka, kecuali minum arak apa lagi yang bisa kau pikirkan?"

"Biarpun dimulut kau masih memakiku, padahal dalam hati kecilmu merasa sangat berterima kasih bukan?"

"Hahahaha....betul, betul sekali, lohu memang sangat berterima kasih kepadamu"

Thiat Tiong-tong yang mendengarkan pembica­raan tersebut hanya bisa berkeluh didalam hati.

Tiba-tiba Hay Tay-sau menepuk bahunya keras keras, kemudian serunya sambil tertawa tergelak:

"Kalau dia benar benar menganggapmu sebagai ayah, maka aku si tua bangka lah yang bakal dirugikan, kulihat dia masih muda, berbakat bagus dan merupakan bahan yang baik untuk dilatih ilmu silat, hey tua bangka, kenapa kau tidak mengangkatnya jadi muridmu saja?"

"Maaf, aku tidak bisa mengangkatnya menjadi guruku" tiba-tiba Thiat Tiong-tong berseru.

Bi lek Hwee segera menarik kembali senyumannya, dengan wajah berubah serunya: "Kenapa?"

Paras muka  Hay  Tay-sau ikut berubah, teriaknya pula:

"Masa kau tidak tahu kalau nama besar Bi lek tong sudah amat termashur dalam dunia persilatan?"

"Tentu saja aku tahu"

"Kalau sudah tahu kenapa menolak? Jangan-jangan......."

"Yaa, jangan-jangan kau merasa malu dengan nama Bi lek tong ku itu?" tukas Bi lek Hwee dengan wajah agak gusar.

"Aku sama sekali tidak punya pikiran begitu" sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa getir, "hanya saja.......hanya saja......."

"Hanya   saja   kenapa?  Lohu pingin tahu penjelasanmu"

Satu ingatan melintas dalam benak anak muda itu, tiba-tiba dia terawa nyaring:

"Hahahaha......   cayhe merasa cocok sekali dengan kalian berdua, sebetulnya aku pingin menjadi sobat minum arak, jika sekarang aku mesti menjadi muridnya, berarti tingkatanku akan satu tingkat lebih rendah, bukan saja gerak gerikku terbatas, bagaimana mungkin aku bisa menantang kalian berdua untuk minum sampai mabuk"

Hay Tay-sau tertegun sesaat kemudian diapun tertawa tergelak.

"Betul, betul sekali!"

"Yaa, masuk diakal, sangat masuk diakal" teriak Bi lek Hwee pula dengan wajah berseri, "seandainya lohu jadi kau, akupun tidak bakalan sudi menurunkan derajat sendiri dari seorang teman menjadi murid orang lain"

"Kalau begitu biar kau gagal mendapat seorang murid tapi justru mendapat seorang teman minum, bagus, bagus sekali........" seru Hay Tay-sau lagi.

Sementara gelak tertawa masih bergema, perahu telah merapat ditepian daratan.

Daratan itu bukan dermaga juga bukan kota, melainkan sebuah tempat yang sepi dan terpencil.

Dengan kening berkerut Bi lek Hwee segera berteriak kepada si tukang perahu itu:

"Lohu sedang buru-buru ingin minum arak, kenapa kau malah menepi disini?"

Tampaknya si tukang perahu itupun seorang anggota kangouw kawakan, mendengar pertanya­an itu dia segera tertawa, sahutnya:

"Arus sungai didepan sana amat deras, penumpang disampan ku juga kelewat banyak, kalau sampai sampan ini terbalik didepan situ, bukankah kalian akan gagal minum arak? Jadi lebih baik menepi disini saja, sekalipun lebih lambat tapi paling tidak masih ada kesempatan untuk menikmati arak"

"Aaai, pandai amat kau bersilat lidah, tahu kalau mulutmu tajam, lotoa tidak perlu menyewa perahu mu dengan ongkos lipat ganda"

"Hahahaha.... Siapa yang tidak kenal dengan aku si tukang perahu kilat Thio Sam dari sungai Huangho? Kalau kalian tidak menyewa perahuku, siapa lagi yang mampu membawa kalian melalui arus deras itu!"

Bi lek Hwee melotot besar, sampai lama sekali dia mengawasi tukang perahu itu, tiba-tiba kembali dia tertawa keras.

"Bagus, bagus sekali, anak muda, kau memang hebat, sekalipun sedikit agak jumawa tapi lohu tidak bakal marah"

"Kalau aku tidak punya kemampuan, masa berani sombong didepanmu" sahut si tukang perahu Thio Sam cepat.

"Kalau tidak mampu masih berani sombong, lotoa pasti sudah menendangmu sampai tercebur ke sungai" seru Bi lek Hwee sambil melompat naik ke daratan.

"Thio Sam" seru Hay Tay-sau pula sambil tertawa, "sekalipun kau sedikit jumawa namun aku merasa cocok denganmu, cepatlah pergi membawa sedikit uang perak ini untuk minum arak, kalau dikemudian hari menjumpai kesulitan, datanglah mencari aku"

Meskipun dia mengatakan "sedikit uang perak", namun yang dilemparkan justru sekeping uang emas yang cukup besar.

"Traaang!" uang emas itu jatuh diatas geladak perahu, namun si tukang perahu Thio Sam sama sekali tidak meliriknya, malahan kepada Thiat Tiong-tong katanya sambil tertawa:

"Mereka senang kepadaku, akupun senang kepadamu, bila dikemudian hari kau ada urusan di seputar sungai Huangho, datanglah mencari aku si tukang perahu Thio Sam"

Untuk sesaat Thiat Tiong-tong tidak tahu harus bicara apa, dengan perasaan berterima kasih dia segera menjura sambil melompat naik ke daratan.

Diiringi suara bentakan, si tukang perahu Thio Sam telah mendayung sampannya menjauh dari situ.

Waktu itu Hay Tay-sau sedang berdebat dengan Bi lek Hwee soal arah yang akan ditempuh untuk mencari kedai arak, tapi tempat diseputar sana amat sepi dan terpencil, jangan lagi kedai arak, bayangan manusia pun tidak kelihatan.

"Tahu begini........." keluh Hay Tay-sau dengan kening berkerut.

Belum selesai dia bicara, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda yang ramai berkumandang datang.

Seorang pemuda tampan dengan menunggang seekor kuda jempolan  terlihat bergerak lebih duluan dipaling depan diikuti rekan-rekan lainnya di belakang.

Ketika tiba ditepi sungai, lamat-lamat ter­dengar seseorang bergumam keheranan:

"Aneh sekali, kenapa perahu besar itu bisa lenyap secara tiba-tiba?"

"Losam" kedengaran seorang yang lain berkata, "kau tidak perlu gelisah, jangan-jangan masih berada di depan sana"

Ternyata rombongan manusia berkuda itu tidak lain adalah rombongan dari Ouyang bersaudara.

Dengan kening berkerut Hay Tay-sau segera menegur:

"Hey anak muda, mau ke mana kalian?" Begitu menjumpai Hay Tay-sau, paras muka Ouyang hengte pun berubah hebat, buru-buru mereka menjura lalu bukannya turun dari kuda, rombongan itu malah mempercepat lari kudanya untuk kabur lewat sisi mereka.

"Siapa sih rombongan anak muda itu? Begitu tidak tahu diri!" umpat Bi lek Hwee gusar.

Hay Tay-sau menghela napas panjang.

"Aaaai......! Siapa lagi kalau bukan Ouyang hengte yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, hidup gembira dikota tidak mau malahan mencari penyakit dengan mengusik sarang lebah,   untung perahu mereka sudah tenggelam, kalau tidak...... entah maksiat apa lagi yang bakal mereka perbuat, aaai..... memandang diatas wajah orang tuanya, lebih baik kita tidak usah mencampuri urusan mereka"

"Dasar kawanan lelaki hidung bangor" umpat Bi lek Hwee, "mentang mentang dari keluarga kaya, lantas mau berhura-hura semau sendiri, huuuh, kalau aku jadi lotoa, ogah mencampuri urusan tetek bengek macam begitu"

Hay Tay-sau kembali menghela napas panjang.

"Aaai, sebenarnya keluarga Ouyang adalah sebuah keluarga persilatan kenamaan, dalam perkampungan merekapun penuh dengan orang cantik, aku betul-betul tidak habis mengerti, kenapa mereka justru lebih suka mengusik sarang lebah liar di tempat ini?”

"Hahahaha..... Hay lote seperti tidak mengerti saja, orang selalu bilang bunga di kebun tetangga selalu lebih indah daripada bunga dikebun sendiri, karena sudah terbiasa dengan kawanan gadis lemah lembut, tentu saja mereka akan meng­anggap kurang terangsang, jadi tidak heran kalau pingin berganti selera dengan memburu bunga liar"

"Waah, tidak kusangka pengalamanmu sungguh hebat"

"Berapa banyak lelaki sih di dunia persilatan yang jarang bermain perempuan macam dirimu?”

Sambil tertawa tergelak dia segera berlalu dari situ.

Tanpa erasa mereka bertiga berjalan menuju ke arah mana rombongan kuda tadi berasal.

Walaupun mereka beralasan ingin secepatnya menemukan kedai untuk minum arak, padahal mereka berjalan amat santai, semuanya berjalan dengan langkah lebar dan sama sekali tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh.

Thiat Tiong-tong sendiripun merasa inilah kesempatan baginya untuk melarikan diri, namun dia merasa tidak tega untuk berbuat begitu hingga selama inipun hanya mengintil saja.

Entah berapa saat sudah lewat, mendadak terdengar suara desingan angin tajam bergema membelah angkasa.

Tiga batang anak panah dengan membawa keliningan emas melesat diudara menyambar ke depan Hay Tay-sau.

Melihat anak panah itu Hay Tay-sau kontan saja mengumpat:

"Dasar begal tidak tahu diri, berani amat mengincar yaya mu!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, terlihat dua sosok bayangan manusia bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi.

Sambil tertawa Hay Tay-sau berkata:

"Kalian berdua tidak usah panik, biar aku mencari kesenangan dulu dari orang itu"

Ke dua orang itu membawa golok besar dengan wajah ditutup kain hitam, pakaian yang dikenakan mewah dan indah.

Diam-diam Thiat Tiong-tong berpikir kehe­ranan:

"Orang bilang kawanan begal disepanjang pesisir Huangho miskin dan hidup susah, kenapa dua orang lelaki ini justru mengenakan pakaian yang begitu indah dan mewah?"

Baru berpikir sampai disitu, kedua orang lelaki berpakaian indah tadi sudah melintangkan goloknya sambil menghadang jalan pergi mereka bertiga.

Lelaki  yang  berada disebelah kiri segera berseru:

"Bila kalian bertiga sedang melakukan perjalanan, silahkan mengambil jalan berputar!"

Hay Tay-sau segera maju menyongsong, dengan lagak gugup bercampur ketakutan serunya:

"Lohan-ya, kami tidak membawa uang....kami tidak membawa uang"

"Siapa yang mau membegal uang kalian?" sahut lelaki itu sambil tertawa, "ayoh cepat pergi!"

"Kalau tidak mau duit, lantas mau apa datang kemari?" Tanya Hay Tay-sau keheranan.

"Memangnya kau sudah tuli? Kami hanya minta kalian mengambil jalan berputar, asal tidak melalui jalanan ini maka tidak ada urusan lagi"

"Waah, kelihatannya dia tidak jadi senang" bisik Bi lek Hwee kepada Thiat Tiong-tong. Anak muda itu tertawa lebar. Sementara itu Hay Tay-sau sambil garuk garuk kepala telah berkata lagi:

"Terus terang ..... sebetulnya aku membawa banyak uang"

"Mau punya uang banyak atau tidak bukan urusan kami, cepat pergi bersama uangmu itu"

"Aku bukan saja punya uang bahkan banyak sekali jumlahnya, bila hohan berdua ingin, ambil saja dan gunakan semaumu"

Iming-iming ini kontan saja membuat lelaki berbaju perlente itu tertegun, tanpa sadar dia awasi lawannya dengan mata mendelik, pikirnya:

"Jangan-jangan orang ini sudah edan?"

Lelaki yang berada disamping kanannya tidak tahan untuk gelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

"Manusia macam begini memang langka dan jarang dijumpai, orang tidak berniat merampok, dia malah sodorkan duitnya......."

Belum selesai dia bergumam, Hay Tay-sau sudah merogoh sakunya dan mengeluarkan segempok kertas, ternyata semuanya uang kertas dalam nominal besar.

Sambil diperlihatkan kepada dua orang lelaki itu, terdengar Hay Tay-sau berkata lagi:

"Jika kalian berdua mau, ambil saja uang ini, cayhe tidak bakal berani melawan"

Lelaki yang ada disebelah kanan menarik napas panjang, katanya kemudian:

"Sun loji, kalau toh orang ini paksa kita untuk membegal, rasanya kurang enak untuk menampik keinginannya"

"Tapi......" Sun loji yang berdiri disisi kiri agak sangsi, "tapi loya telah berpesan......"

"Aaah, toh dia sendiri yang menghantar diri, kalau tidak diambil rasanya kurang sopan, asal kita tidak membegal rasanya loya juga tidak bakalan marah kepada kita berdua!"

Sembari berkata dia segera menyambar tumpukan uang kertas itu.

Mendadak Hay Tay-sau membentak keras, sambil menyimpan kembali duitnya dia berteriak:

"Bajingan cilik, ternyata kalian memang begal, ingin merampok duit toaya mu? Dasar bajingan bermata buta"

Kembali lelaki berbaju perlente itu tertegun, kemudin bentaknya penuh amarah:

"Semula kukira kau hanya orang sinting yang tidak waras otaknya, ternyata memang sengaja hendak mencari gara-gara"

"Hahahaha....  Benar, aku memang berniat menghancurkan mangkuk dan kuali kalian!"

Diiringi gelak tertawa keras, Hay Tay-sau mementangkan ke lima jari tangannya lebar-lebar, diiringi desingan angin tajam dia langsung mencengkeram dada lelaki itu.

Tidak terlukiskan rasa gusar dan kaget lelaki perlente itu, buru-buru dia melancarkan pukulan disertai tendangan.

Menghadapi jago kampungan semacam ini, tentu saja Hay Tay-sau tidak pandang sebelah mata pun, bentaknya:

"Roboh kau!"

Begitu tangannya memotong, lelaki itu segera roboh terjungkal diiringi jerit kesakitan.

Sun Loji yang menyaksikan betapa hebatnya kepandaian silat yang dimiliki Hay Tay-sau tentu saja semakin tidak berani berkutik, diam-diam dia membalikkan tubuh kemudian kabur terbirit-birit.

Sesudah lari berapa jauh dia baru berani mengumpat:

"Bangsat, tunggu saja pembalasan dari kami!"

Siapa tahu baru selesai dia bicara, tahu-tahu tengkuknya sudah dicengkeram Hay Tay-sau sambil mengumpat:

"Bajingan cilik, kau berani mengumpat orang!"

Dengan cepat dia mengambil segenggam Lumpur kemudian di jejalkan ke dalam mulutnya.

Sun loji tidak mampu berkutik, Lumpur itu membuatnya ingin muntah tapi sayang tidak ada yang bisa ditumpahkan keluar.

"Aaah, permainanmu macam kampungan!" olok Bi lek Hwee sambil gelengkan kepalanya.

"Memangnya kau anggap aku beneran sedang mempermainkan mereka?"

"Kalau bukan lagi mempermainkan orang, buat apa mesti iming-imingi mereka dengan uangmu?"

"Keliru, keliru besar" ujar Hay Tay-saU serius, "mereka sengaja memaksa kita untuk berputar lewat jalan lain, tahukah kau karena apa? Masa tidak bisa kau tebak?"

Bi lek Hwee termenung sambil berpikir berapa saat, seakan baru sadar apa yang terjadi, serunya sambil bertepuk tangan:

"Aaah  betul, sudah pasti konco-konconya sedang melakukan kejahatan didepan sana, maka mereka tidak ingin ada orang luar   yang mengganggu pekerjaan itu" Hay Tay-sau tersenyum.

"Kedua orang ini enggan merampok duitku karena atasannya sudah memberi perintah agar mereka tidak membegal yang kecil hingga menggagalkan sasaran yang lebih besar"

"Betul, betul, hahahaha..... kalau sampai gara-gara urusan kecil, masalah besar jadi berantakan, itu namanya begal bloon!"

"Kawanan begal ini bukan saja tidak goblok bahkan mempunyai peraturan yang ketat, jelas kelompok mereka merupakan sebuah organisasi yang ketat, pentolannya pun tentu orang kenamaan"

"Waah, tidak kusangka kau yang nampaknya goblok ternyata memiliki otak yang jernih, kalau memang begitu, kenapa kita tidak langsung ke situ untuk menengok keadan yang sesungguhnya?”

Hay Tay-sau segera melepaskan ikat pinggang Sun Loji dan dipakai untuk mengikat tubuh ke dua orang itu kuat-kuat, katanya kemudian sambil tertawa:

"Mengingat kalian masih sempat bersikap hormat, kuampuni jiwa kalian kali ini"

Tampaknya Bi lek Hwee sudah tidak sabar untuk menanti, dia sudah menarik tangan Thiat Tiong-tong unuk bergerak duluan.

Waktu itu langit sudah mulai remang-remang, senja kembali menjelang tiba.

Ditengah angin yang berhembus kencang, tiba-liba hujan mulai turun semakin deras, ditengah hujan angin inilah mereka bertiga melanjutkan perjalanannya.

"Aaah  benar!"  mendadak Thiat Tiong-tong berseru.

"Apanya yang benar?" tidak tahan Hay Tay-sau bertanya.

"Ouyang hengte berpakaian perlente dan menunggang kuda jempolan, rombongan semacam ini paling mencolok mata bila melewati daerah pinggiran yang miskin, jika aku pingin membegal, merekalah yang pertama kali kucegat!"

Hay Tay-sau melongo sejenak, kemudian teriaknya:

"Aah betul juga omonganmu......."

Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia segera melesat maju ke depan.

"Hey anak muda,  kau  sanggup  menyusul lohu?" Tanya Bi lek Hwee seraya berpaling.

Dalam hati Thiat Tiong-tong tertawa geli, dia tahu orang tua inipun ingin cepat melihat keramaian, maka sahutnya:

"Ilmu meringankan  tubuhku  tidak  bagus, mana mungkin bisa menyusulmu?"

Belum selesai dia bicara, Bi lek Hwee sudah cengkeram bahunya dan menyeret anak muda itu untuk bergerak cepat ke depan.

Kelihatannya Hay Tay-sau sangat menguatirkan keselamatan Ouyang bersaudara, dia bergerak cepat bagaikan terbang, betul saja, tidak lama kemudian sudah terlihat cahaya golok bayangan pedang segera berkelebatan ditengah hujan angin.

Dia tahu keturunan keluarga kenamaan ini hanya kerjanya main perempuan, minum arak dan berfoya-foya, dapat dipastikan ilmu silat mereka sangat cetek.

Sekalipun pedang yang digembol adalah pedang kenamaan, namun ilmu pedangnya pasti tidak seberapa hebat, dengan kemampuan semacam itu tentu saja mereka tidak akan mampu menghadapi kawanan jago dari kalangan Liok-lim yang setiap hari kerjanya memang bergelimpangan diujung senjata.

Saking cemas dan gelisahnya, belum lagi tubuhnya tiba ditempat tujuan, dia sudah membentak nyaring:

"Thian sat seng berada disini, siapa yang masih berani bertarung dihadapanku!"

Ditengah jeritan kaget dan teriakan tertahan, suara beradunya senjata seketika terhenti.

Dengan sepasang tangan melindungi dada, Hay Tay-sau meluncur di tengah udara dan menerobos masuk ke tengah kerumunan orang banyak.

Seperti apa yang diduga Thiat Tiong-tong, ternyata orang yang sedang dikepung oleh puluhan lelaki berkerudung dengan senjata lengkap itu tidak lain adalah Ouyang bersaudara.

Kini kuda kuda jempolan mereka sudah dituntun orang lain, pakaian perlente mereka pun sudah kotor oleh keringat dan Lumpur, sekalipun dalam genggaman masih memegang pedang yang tajam dan indah, namun mereka semua sudah terengah-engah macam orang kehabisan napas, wajah mereka pucat pias dan keadaannya sangat mengenaskan.

Sebaliknya puluhan lelaki berkerudung yang mengepung mereka justru kelihatan gesit dan cekatan, dari gerak gerik yang masih begitu bersemangat dapat diketahui bahwa siapa menang siapa kalah sesungguhnya sudah tertera di depan mata.

Ouyang bersaudara kelihatan sangat kegirang­an begitu melihat kemunculan Hay Tay-sau, sorak mereka berbareng:

"Aaah, rupanya paman Hay telah datang! Hmm, bajingan kaum laknat, akan kulihat apakah kalian masih bisa berbangga diri?"

Belum selesai teriakan itu, tiba-tiba Hay Tay-sau sudah mengayunkan tangannya menampar wajah pemuda yang berada di paling depan, umpatnya penuh amarah:

"Kurang ajar, baru sekarang kalian mau mengakui paman Hay? Memangnya tadi kalian sudah buta semua?"

"Tadi......tadi........." Ouyang bersaudara tergagap tidak mampu melanjutkan katanya.

"Dasar budak yang tidak becus" umpat Hay Tay-sau semakin gusar, "sudah tahu tidak punya kemampuan, masih berani mencari keonaran diluaran, hmmm! Aku pun ikut dibuat malu oleh tingkah laku kalian!"

Ouyang bersaudara hanya tundukkan kepala­nya rendah-rendah, dalam keadaan begini tentu saja mereka semakin tidak berani banyak bicara.

Kembali Hay Tay-sau membalikkan tubuhnya, kepada kawanan lelaki berkerudung itu bentak­nya:

"Sekarang aku sudah datang, kenapa kalian masih berdiri melongo disitu? Sana, pergi, pergi, pergi!"

Kawanan lelaki berkerudung itu masih berdiri tidak bergerak.

"Kenapa belum pergi?" bentak Hay Tay-sau lagi gusar, "memangnya mau menunggu sampai aku turun tangan sendiri?"

Baru saja dia merentangkan sepasang lengannya, mendadak terdengar seseorang berkata dengan nada dingin:

"Mereka tidak mungkin berani pergi!"

Suaranya halus dan lembut, jelas suara seorang wanita, tapi sayang nadanya begitu dingin dan hambar, sama sekali tidak berperasaan.

Begitu bertemu dengan wanita tersebut, kawanan lelaki berkerudung itu serentak melu­ruskan tangannya ke bawah sambil membung­kukkan tubuh.

Dalam pada itu Ouyang bersaudara telah menuding kantung kain yang berada ditangan perempuan itu sambil berteriak:

"Paman Hay, kantung yang berada ditangan perempuan itu adalah perhiasan milik siautit”

"Minggir kalian semua, jangan banyak bicara lagi" tukas Hay Tay-sau sambil membentak marah.

Sementara itu gadis berbaju hijau itu sudah meletakkan kantungan kain tadi ke tanah, katanya perlahan:

"Benar, isi kantung ini adalah perhiasan mahal, apakah kalian akan mengambilnya kembali?"

"Mungkin mereka tidak mampu untuk memintanya balik, sayang masih ada orang lain yang akan memintanya" jengek Hay Tay-sau.

"Menurut pendapatku, toh barang perhiasan ini hendak disum-bangkan orang lain, kenapa mesti bersusah payah untuk memintanya balik?"

Seorang anggota Ouyang segera tampil dari belakang Hay Tay-sau seraya berteriak:

"Biarpun akan diberikan orang lain, bukan berarti akan di berikan kepadamu........"

Baru berapa patah kata dia berbicara, "Ploookk!" kembali Hay Tay-sau sudah meng­hadiahkan sebuah tempelengan ke atas wajahnya.

Dalam pada itu Bi lek Hwee dan Thiat Tiong-tong sudah menyusul tiba, masih berada dikejauhan orang tua itu sudah berteriak:

"Saudara Hay, kalau ingin berkelahi, silahkan saja berkelahi, masih ada lohu disini"

Dengan sepasang matanya yang jeli nona berbaju hijau itu menatap wajah Thiat Tiong-tong berapa kejap, anak muda itu segera merasakan betapa dingin dan bergidiknya sorot mata orang.

Hay Tay-sau tertawa keras.

"Hahahaha......betul, semestinya barang perhiasan itu hendak mereka persembahkan kepada kawanan lebah itu, mereka memang tidak pantas memintanya balik"

"Kalau begitu biar aku mewakili para saudara yang lain mengucapkan terima kasih kepadamu" sela si nona berbaju hijau itu cepat.

Tiba-tiba Hay Tay-sau menghentikan gelak tertawanya, dengan suara yang keras ucapnya:

"Sekalipun mereka tidak berhak memintanya kembali, bukan berarti akan diberikan kepadamu, piauhok itu sudah bertukar nama menjadi milik marga Hay!"

"Benarkah begitu? Coba kau panggil, apakah dia akan menyahut?"

Hay Tay-sau tertawa keras, mendadak dia membungkukkan tubuh menghampiri buntalan itu, setelah menepuknya perlahan bisiknya:

"Anakku sayang, anakku sayang, apakah kau sudah mendengar ayah sedang memanggilmu?"

Thiat Tiong-tong yang menyaksikan adegan itu diam-diam tertawa geli, pikirnya:

"Biarpun orang ini berangasan dan tinggi emosinya, ternyata dia memiliki hati yang polos, dalam melakukan perbuatan apapun tidak pernah lupa untuk bergurau"

Setelah berlagak seolah sedang mendengarkan jawaban, Hay Tay-sau kembali bangkit berdiri, katanya sambil tertawa:

"Ternyata dia sudah setuju, kalian semua ikut mendengar jawabannya?"

"Benar, aku mendengarnya, aku mendengar­nya, malah mendengar dengan jelas sekali" sahut Bi lek Hwee sambil tertawa tergelak.

"Tentu saja mendengar dengan jelas" kata Hay Tay-sau lagi sambil tertawa, "hanya orang tuli yang tidak mendengarnya"

Paras muka nona berbaju hijau itu tetap dingin dan hambar, setelah menatap lawannya sekejap, dia menyahut:

"Aku pun sudah mendengarnya dengan jelas, tapi dia bilang mau ikut aku saja, jadi percuma kau mengajaknya pergi, dia pasti akan menolak"

"Omong kosong......."

"Dia sudah menjawab dengan jelas, hanya orang goblok yang akan salah dengar"

"Berubah, berubah, ternyata dunia sudah berubah" umpat Bi lek Hwee sambil tertawa, "ternyata perempuan persilatan jauh lebih lihay daripada kaum lelakinya"

"Kalau begitu kau ingin paksa aku untuk turun tangan?" Tanya Hay Tay-sau marah.

Nona berbaju hijau itu tertawa dingin. "Selama hidup aku tidak pernah sudi berkelahi dengan lelaki kotor!"

"Hahahaha..... aku pun tidak sudi berkelahi dengan kaum wanita" seru Hay Tay-sau sambil tertawa keras, kepada kawanan lelaki berkeru­dung itu bentaknya lebih jauh, "kalian ingin maju secara bergantian, atau maju bersama-sama?"

Kembali nona berbaju hijau itu tertawa dingin. "Sedikit banyak Thiat-sat-seng masih punya nama dalam dunia persilatan, buat apa bertarung melawan kawanan manusia tidak ternama? Hmm, biar menang pun masa kau tidak malu untuk membawa pergi piauhok tersebut!"

"Bocah perempuan ini aneh benar" tidak tahan Bi lek Hwee ikut menimbrung, "dia sendiri segan turun tangan, diapun melarang orang orangnya berkelahi melawan saudara Hay........"

"Memangnya aku harus bertarung melawan diriku sendiri?" sela Hay Tay-sau cepat.

Mendadak nona berbaju hijau itu menuding kearah depan sambil serunya:

"Itu dia, orang yang akan bertarung melawan­mu telah datang!"

Mengikuti arah yang ditunjuk Hay Tay-sau berpaling, benar saja, terlihat ada dua orang lelaki tinggi besar bagaikan sebuah pagoda sedang berlarian mendekat.

Ke dua orang itupun mengenakan kain kerudung wajah, tapi pakaian dibagian dadanya dibiarkan terbuka lebar sehingga nampak dadanya yang kekar dengan bulu dada yang lebat.

Sekalipun tidak nampak jelas wajahnya, tapi gerak-gerik mereka amat mantap dan penuh semangat, dari balik wajah yang berkerudung tampak jenggotnya yang lebat.

Tampaknya mereka terdiri dari satu tua satu muda, senjata yang digunakan adalah sepasang gada berbentuk segi delapan.

Dari tempat kejauhan lelaki setengah umur itu sudah berteriak keras:

"Siapa yang berani mencari gara-gara disini!"

Hay Tay-sau memburu maju ke depan, setelah menengoknya sekejap tiba-tiba serunya sambil tertawa tergelak:

"Hahahaha..... ternyata memang seorang lelaki sejati, kau pantas untuk bertarung melawanku"

Lelaki setengah umur itupun bergerak mendekat, setelah memperhatikan lawannya beberapa kejap, sahutnya pula sambil tertawa:

"Hahahaha..... ternyata memang seorang lelaki sejati, tak heran berani mencari gara gara disini"

Sambil menggulung ujung bajunya kembali Hay Tay-sau tertawa keras, serunya:

"Sebelum bertarung melawan aku Thian-sat-seng, kuanjurkan lebih baik siapkan dulu obat-obatan dalam sakumu"

"Hahahahaha......." Lelaki setengah umur itu tertawa nyaring, "lama kudengar Thiat-sat-seng pandai mencuri dan membegal, kemampuannya cukup hebat, ingin tahu mampu tidak menghadapi senjata gadaku?"

Dalam pada itu si nona berbaju hijau itu sudah menarik sang pemuda tinggi besar itu sambil berbisik:

"Kenapa kalian berdua datang kemari? Apakah urusan disitu sudah dapat diatasi?"

"Keadaan disitu sudah terkendali, aku........"

Tiba-tiba terdengar lelaki setengah umur itu berteriak keras:

"Bang-ji, berikan gadamu kepada orang she-Hay itu!"

"Aku akan menghadapimu dengan tangan kosong, kenapa mesti menggunakan gadamu!” seru Hay Tay-sau cepat.

"Hahahaha..... kita semua adalah lelaki tinggi besar, apa artinya bertarung dengan tangan kosong? Kalau ingin bertarung, ayoh kita adu gada, coba lihat sampai dimana kekuatanku!"

"Hahahaha.... Bagus, bagus sekali, akupun sudah lama tidak menjumpai musuh tangguh, tangaku juga gatal sekali, kemari, berikan gadamu!"

Pemuda berpakaian ketat itu melompat ke depan sambil membentak: "Sambut gada ini!"

Dia segera melemparkan gada bersegi delapan miliknya ke arah Hay Tay-sau.

"Dicoba dulu, terlalu berat tidak benda itu?" seru lelaki setengah umur itu sambil tertawa.

Hay Tay-sau menimang sejenak senjata gada itu, lalu sahutnya sambil tertawa:

"Tidak berat, tidak berat, malah terasa agak enteng!"

Kemudian sambil melepas kancing baju bagian dadanya, dia pun perlihatkan dada kekarnya yang berwarna hitam mengkilat.

Bi-lek Hwee yang berada disisi arena jadi ikutan menggosok kepalannya, dia seakan turut merasa gatal tangan.

"Anak-anak, menyingkir kalian!" bentak lelaki setengah umur itu kemudian.

Serentak kawanan lelaki berkerudung itu menyingkir ke samping dan memberikan sebuah tanah lapang yang cukup luas, Ouyang bersaudara ikutan juga mundur ke samping.

"Terimalah serangan pembukaanku ini!" bentak lelaki setengah umur itu kemudian.

Dalam waktu singkat lengannya seakan lebih besar satu kali lipat, sambil mengayunkan tangan, senjata gadanya langsung di hantamkan kearah kepala lawan dengan jurus bukit thay-san menindih kepala.

Hay Tay-sau membentak keras, dia sambut datangnya ancaman itu dengan senjata gadanya.

"Kraakk.....!" diiringi benturan yang mengge­legar, tubuh kedua orang itu sama-sama mundur setengah langkah.

Kembali Hay Tay-sau menerobos maju ke muka, kali ini senjata gadanya menyapu miring ke samping.

Lelaki setengah umur itu cepat membalik senjatanya untuk menangkis.

"Blaaaamm!" sekali lagi terjadi benturan keras yang menukikkan telinga, sedemikian kerasnya hingga tubuh kawanan lelaki berpakaian ringkas yang berada diseputar situ ikut bergetar keras.

Tidak terkecuali Ouyang bersaudara, mereka berdiri terbelalak dengan mulut melongo dan wajah pucat pias.

"Bocah busuk, hebat juga kau" teriak Hay Tay-sau sambil tergelak, "nih, rasain kembali berapa pukulan gadaku!"

Tubuhnya bergerak cepat, senjata gadanya bagaikan hembusan puyuh curahan hujan badai langsung menghimpit tubuh lawan.

Kini sepasang kaki lelaki setengah umur itu sudah melesak ke dalam Lumpur, sambil busungkan dada dia sambut datangnya serangan itu dengan gagah berani.

"Traaang, traaaang, traaang.......!"

Lima kali benturan keras menggelegar di angkasa, ternyata kedua orang itu sudah saling menghantam sebanyak lima kali.

Begitu dahsyat dan kerasnya suara benturan itu membuat salah satu anggota Ouyang hengte yang berdiri paling dekat merasakan sepasang lututnya jadi  lemas,  tiba-tiba.....

"Bruuuk!" dia jatuh terduduk diatas Lumpur dan lupa untuk merangkak bangun kalau tidak cepat dibantu rekannya.

Paras muka Thiat Tiong-tong pun ikut berubah hebat, meskipun ilmu silat yang dimiliki lelaki setengah umur itu tidak terlampau hebat, namun kekuatan lengannya betul-betul mengagumkan.

Kini mereka berdua hanya saling menatap dengan mata melotot, sementara lengannya sama-sama terkulai lemas, tampaknya meski mereka rasakan lengannya linu dan kesemutan namun siapa pun enggan mundur setengah langkah pun.

Dengan napas tersengkal lelaki setengah umur itu tertawa tergelak, tantangnya:

"Hei orang she-Hay, bagaimana kalau kita beradu lagi?"

Walaupun gelak tertawanya masih nyaring, namun sudah jauh berkurang ketimbang tadi.

"Ayoh!" sahut Hay Tay-sau sambil membentak.

Sekali lagi mereka berdua saling beradu gada.

"Cukup!" si nona berbaju hijau yang selama ini berdiri tanpa berkedip itu tiba-tiba membentak pelan.

"Cukup? Menang kalah pun belum ketahuan, kenapa mesti berhenti?" teriak Hay Tay-sau tidak puas.

Kalau dia masih bisa bicara jelas, maka lelaki setengah umur itu sudah tersengkal-sengkal kehabisan tenaga.

Nona berbaju hijau itu memandangnya sekejap, lalu ujarnya:

"Mengingat kau sanggup menghadapi delapan serangan gada pamanku, aku bersedia berikan kantung perhiasan ini untukmu!"

"Aku hanya pingin beradu kemampuan dengannya, tidak peroleh kantung perhiasan itupun tidak masalah" seru Hay Tay-sau gusar.

Lelaki setengah umur itu mendongakkan kepalanya meneguk berapa tegukan air hujan, kini kain kerudung hitamnya sudah tersingkap hingga kelihatan separuh mukanya yang hitam pekat.

Sambil mengayunkan gadanya dia pun berteriak:

"Mari, mari mari, kita......."

"Kita beradu sepuluh gebrakan lagi!" sambung Hay Tay-sau sambil mengayunkan gadanya.

Untuk kesekian kalinya terjadi benturan keras yang memekikkan telinga, mendadak senjata gada kedua orang itu sama-sama rontok ke tanah.

Semua orang menjerit kaget, Hay Tay-sau sendiripun tertegun sesaat, tapi kemudian serunya sambil tertawa keras:

"Bagus, bagus, bagus, mengingat kehebatan senjata gadamu, aku sudah tidak mau kantung perhiasan itu lagi!"

"Kami juga tidak mau" teriak lelaki setengah umur itu keras.

Ouyang bersaudara yang masih duduk diatas tanah segera menyambung sambil tertawa paksa:

"Jika kalian berdua tidak mau, lebih baik serahkan saja kepada kami"

Sambil berkata dia sudah merangkak bangun dan siap memungut kantung tersebut.

Mendadak satu pukulan dari Bi lek Hwee membuatnya terjungkal kembali.

"Hay lote, kau jangan marah" terdengar Bi lek Hwee berkata, "aku betul-betul mendongkol melihat tingkah pola cecunguk busuk ini!"

"Satu pukulan yang hebat, satu pukulan yang tepat" sahut Hay Tay-sau sambil tertawa, "kalau berganti aku, pukulan tersebut pasti lebih berat lagi!"

Kemudian sambil membalikkan tubuh ujarnya lagi:

"Jika kau tidak mau, biar serahkan saja kepada saudara-saudaramu untuk minum arak"

Dengan mata melotot besar lelaki setengah umur itu mengawasinya berapa saat, akhirnya diapun ikut tertawa tergelak.

"Bagus!" sambil memberi tanda, teriaknya lagi, "saudara saudara sekalian, cepat ucapkan terima kasih kepada Hay Tay-sau, kita segera pergi!"

"Tunggu dulu!" bentak Bi lek Hwee.

"Ada apa lagi?" tegur lelaki setengah umur itu.

"Lohu pun merasa tanganku mulai gatal!" ujar Bi lek Hwee sambil tertawa keras.

Pemuda berpakaian ringkas itu segera melom­pat ke depan, sambil memungut senjata gada bajanya dari tanah, teriaknya lantang:

"Mari,  mari,  mari,  biar  siauya mengobati tangan gatalmu!"

Bi lek Hwee berpaling memandang kearah lelaki setengah umur itu, tegurnya sambil tertawa:

"Bocah ini anakmu atau muridmu? Tadi kau bertarung sendiri melawan Hay lote, masa sekarang kau suruh muridmu......"

Baru bicara sampai disitu tiba-tiba dia menghentikan perkataannya, dengan mata melotot besar dia awasi wajah lelaki setengah umur itu lekat lekat, kemudian perasaan kaget bercampur tercengang melintas diwajahnya, untuk sesaat dia berdiri tertegun.

"Kenapa kau?" Tanya Hay Tay-sau keheranan.

Sambil menuding lelaki setengah umur itu, Bi lek Hwee tertawa tergelak.

"Hahahaha..... lohu kenal kau, lohu kenal kau..."

Lelaki setengah umur itu bergetar keras, cepat dia menarik kain kerudung mukanya.

"Tidak usah ditutupi lagi" seru Bi lek Hwee sambil tertawa, "terlambat, sudah terlambat....."

"Mungkin kau salah melihat orang" "Kalau salah melihat, lohu bersedia men­congkel keluar sepasang biji mataku, bukankah kau adalah Bu lotoa yang bekerja sebagai pandai besi diluar Benteng Han hong po?"

Kemudian setelah tertawa tergelak, lanjutnya:

"Tidak heran tenagamu luar biasa besarnya, ternyata memang terlatih dari pekerjaan sehari harimu, tapi... sejak kapan kau berganti haluan? Lohu tidak tahu kalau sekarang kaupun jadi begal" Merasa identitasnya telah terbongkar lelaki setengah umur itu jadi gugup dan gelagapan.

"Biarpun dulu seorang tukang besi dan sekarang berganti haluan, apa salahnya?" ujar nona berbaju hijau itu ketus, "lagipula darimana kalian tahu kalau dulu menjadi tukang besi pun karena dipaksa ganti haluan oleh manusia macam kalian?"

Bi lek Hwee tertegun kemudian tertawa tergelak.

"Nona, tajam amat mulutmu......."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba terlihat dua orang lelaki berbaju hitam berlarian mendekat sambil menggotong tubuh seorang pemuda berpakaian ringkas.

Walaupun ditubuh pemuda itu tidak nampak noda darah, namun dia berada dalam keadaan tidak sadar, mukanya pucat bagai kertas, jelas sudah menderita luka parah.

Dengan wajah berubah lelaki setengah umur itu berseru:

"Bukankah tadi dia masih mampu melawan? Kenapa bisa berubah jadi begini?"

Lelaki berbaju hitam itu segera menyahut: "Sepeninggal toaya tadi, sebetulnya hamba sekalian tidak sampai terdesak dibawah angin, siapa tahu lelaki terpelajar yang tampaknya lemah lembut itu ternyata seorang jago silat berilmu tinggi, begitu dia turun tangan, Sam sauya pun langsung terluka parah, terpaksa hamba meng­gotongnya kemari"

Saking gugup dan paniknya dia seakan lupa kalau disitu masih hadir orang luar, ternyata semua kejadian dituturkan secara gamblang.

Buru-buru nona berbaju hijau bersama lelaki setengah umur itu memeriksa keadaan luka yang diderita pemuda itu.

"Benar-benar berhati keji" umpat nona berbaju hijau itu kemudian dengan perasaan dendam, "serangan yang amat ganas"

Diam-diam Hay Tay-sau menarik lengan Bi lek Hwee sambil bisiknya:

"Kita tidak punya ikatan dendam atau sakit hati dengan orang-orang itu, selagi mereka sedang menghadapi masalah, lebih baik kita tidak usah menyusahkan mereka lagi"

"Lohu memang tidak berniat menyusahkan mereka"

Kembali Hay Tay-sau berpaling ke arah Ouyang hengte sembari menghardik:

"Kenapa kalian masih berada disini?"

Dibentak dengan suara keras, Ouyang hengte buru-buru mundur berulang kali, akhirnya mereka pun kabur terbirit-birit meninggalkan pemuda yang masih terduduk di lantai, tampaknya dia merupakan anggota termuda yang paling lemah.

"Mau apa kau masih berada disini?" kembali Hay Tay-sau menghardik marah.

"Siautit harus ucapkan terima kasih dulu karena paman Hay telah selamatkan diriku" ucap pemuda itu sambil menjura.

Mula-mula Hay Tay-sau agak tertegun, kemudian dengan wajah berseri katanya:

"Gui-ji, kau sebetulnya anak yang baik, kenapa mesti bergaul dengan kawanan manusia tidak berguna itu?"

"Sebagai saudara, siautit harus maju mundur bersama mereka"

"Aaai, baiklah, cepat pulang, sampaikan juga salamku untuk Ik-ma kalian!"

Sekali lagi pemuda itu mengiakan dengan sopan.

"Oya, katakan juga kepada saudara saudaramu" ujar Hay Tay-sau lebih jaun, "perahu sarang lebah itu sudah tenggelam, suruh mereka jangan melakukan perbuatan amoral lagi"

Pemuda itu menyahut dan buru-buru berlalu.

Memandang bayangan punggung pemuda itu Hay Tay-sau menghela napas panjang, gumamnya:

"Diantara Ouyang bersaudara, hanya Ouyang Gui yang paling punya semangat, tampaknya semua karya besar Ouyang Kit dikemudian hari bakal terjatuh ke tangannya. Aaai, sudahlah, ayoh kita pun pergi!"

Waktu itu lelaki setengah umur itu sudah menjura ke arahnya sambil berseru:

"Sekarang kami sedang terburu buru hendak berangkat ke tempat lain hingga tidak sempat banyak bicara lagi, kejadian hari ini pasti akan Bu Ceng-wi catat didalam hati, bila ada kesempatan, budi kebaikanmu pasti akan kubalas"

"Pergilah saudara Bu" Hay Tay-sau tersenyum.

 

[bersambung]