pendekar panji sakti 04
BAB 10.
Sampan harum di sungai Han-sui.
Kegelapan malam menjelang tibanya fajar
terasa amat hening, sepi dan dingin menggigil.
Lidah api yang berkobar hebat membuat
pemandangan disekeliling tempat itu berubah jadi ungu
kepucat-pucatan.
Sambil mengempit tubuh Thiat Tiong-tong, Sim
sin-pek melarikan diri sekuatnya. Sebelum fajar menyingsing dia
telah kabur keluar dari balik hutan menuju ke arah kuil.
Pada saat yang bersamaan kebetulan Im Ceng
dan Un Tay-tay baru saja meninggalkan tempat itu.
Takdir yang mengatur perjalanan hidup Thiat
Tiong-tong ternyata begitu aneh dan kejam. Andaikata Im Ceng dan Un
Tay-tay sedikit lebih lambat meninggalkan tempat itu, mungkin nasib
yang dialami Thiat Tiong-tong pun akan berubah secara drastis.
Kini kuil bobrok itu terasa hening, sepi dan
amat dingin.
Cahaya yang redup menyinari kain tirai yang
berlapis sarang laba-laba, ruang kuil yang dipenuhi rumput ilalang
membuat suasana terasa begitu sendu dan mengenaskan.
Sim Sin-pek mencabut keluar pisau belati
dari dadanya, lalu membungkus mulut lukanya dengan kain, dia buang
jubah pendetanya yang berlumuran darah dan berganti satu stel jubah
pendeta berwarna biru.
Rupanya untuk menghindari pengejaran Hek
Seng-thian, didalam piauhoknya telah tersedia berbagai macam
pakaian, hari ini menyamar jadi hwesio, mungkin besok sudah berganti
jadi seorang tosu.
Kemudian dia totok jalan darah penting di
ruas ke empat anggota tubuh Thiat Tiong-tong, membuat pemuda itu
dapat ber bicara, kesadaran tetap utuh namun ke empat anggota
tubuhnya sama sekali tidak mampu bergerak.
Dengan pandangan dingin Thiat Tiong-tong
mengawasi wajahnya, kemudian ujarnya perlahan:
"Jadi kau tidak segan melumuri tanganmu
dengan darah lantaran ingin memaksa aku mengatakan dimana harta
karun itu kusembunyikan?"
"Hahahaha tepat sekali, ternyata kau memang
sangat pintar!" sahut Sim Sin-pek sambil tertawa tergelak.
"Kalau begitu kuanjurkan kepadamu, lebih
baik matikan saja harapanmu itu!"
Sekulum senyuman licik segera menghiasi
wajah Sim Sin-pek yang tampan, katanya pula:
"Kau tidak takut mati? Hmmm, tahukah kau,
dibalik ke empat patah kata itu sebenarnya terkandung maksud yang
buas dan jahat?"
"Kau tidak akan berani membunuhku!"
"Hahahahaha kelihatannya kau yakin sekali
dengan ucapanmu itu" Sim Sin-pek tertawa latah, "kenapa aku tidak
berani membunuhmu?"
"Selama aku masih hidup, paling tidak masih
terdapat pengharapan dihati kecilmu untuk memaksa aku tunjukkan
tempat penyimpanan harta karun itu, bila kau membunuhku, selama
hidup jangan harap bisa tahu dimana harta karun itu tersimpan"
Sim Sin-pek segera menarik kembali
senyumannya, sikap Thiat Tiong-tong yang begitu dingin dan tenang
telah membuatnya terbelalak kagum, membuatnya tidak mampu
mengucapkan sepatah kata pun.
Kembali Thiat Tiong-tong berkata:
"Tentu saja kau dapat menggunakan pelbagai
cara siksaan untuk memaksa aku mengatakan dimana harta karun itu
tersimpan, tapi jangan harap memperoleh sepatah kata pengakuanpun
dari mulutku, selama aku masih hidup, suatu hari kau pasti tidak
akan lolos dari cengkeramanku, sampai waktunya aku pasti akan
menggunakan penyiksaan yang sepuluh kali lipat lebih mengerikan
untuk balas dendam, bila tidak percaya, silahkan saja dicoba!"
Dia mengucapkan perkataan itu dengan wajah
tenang, nada suaranya juga amat tenang, tapi justru ketenangan
sikapnya membuat perkataan itu kedengaran lebih menakutkan.
Sim Sin-pek segera tertawa seram:
"Hahahahaha.... kau sangka perkataanmu akan
membuat aku ketakutan? Tentu saja akan kucoba, harus dibuktikan dulu
bagaimana caramu untuk lolos dari cengkeramanku!"
"Hmm, kalau tidak takut, kenapa kau gunakan
suara tertawamu untuk menutupi perasaan takut dihatimu?"
"Plook!" Sim Sin-pek langsung menampar wajah
Thiat Tiong-tong keras-keras, kemudian sambil menyeringai seram
ejeknya:
"Aku telah menghajarmu, ayoh tunjukkan, apa
yang bisa kau perbuat?"
Thiat Tiong-tong sama sekali tidak bergerak,
ejeknya:
"Makin keras kau memukul, semakin
memperlihatkan betapa takutnya hatimu saat ini"
Sebuah tendangan keras kontan membuat Thiat
Tiong-tong mencelat sejauh satu setengah meter lebih, Sim Sin-pek
membungkuk kan tubuhnya dan mencengkeram bahu anak muda itu,
teriaknya:
"Thiat Tiong-tong, aku beritahu,
bagaimanapun aku tetap akan memaksamu untuk menunjukkan dimana
harta karun itu tersimpan, tidak ada yang bisa menghalangiku, dan
sebelum matahari terbenam jika kau tetap tidak menjawab, akan
kupotong lenganmu terlebih dulu, hmmm, akan kubuktikan kau yang
lebih tangguh atau aku yang lebih tangguh!"
Thiat Tiong-tong hanya tertawa dingin, ia
pejamkan matanya dan tidak berbicara lagi.
Mendadak Sim Sin-pek bangkit berdiri,
membopong tubuh Thiat Tiong-tong dipunggungnya kemudian menggunakan
kesempatan disaat kabut pagi masih menyelimuti permukaan, dia
ngeloyor keluar dari dalam kuil dan bergerak menuju ke utara.
Sesudah berjalan sekian lama, terdengar
suara riak air yang memecah ditepian sungai, tampaknya mereka sudah
berada di tepi selatan sungai Huangho.
Kabut tebal masih menyelimuti sepanjang tepi
sungai, tumbuhan gelugu yang tinggi bergoyang ditengah kabut dan
menimbulkan suara gemerisik yang riuh.
Kelihatannya Sim Sin-pek sedang mencari
perahu untuk menyeberang, dia berdiri ditepi sungai sambil
berteriak-teriak, namun suara teriakannya yang nyaring seakan tidak
mampu menembusi lapisan kabut yang tebal dan berat.
Lewat lama kemudian baru terdengar suara
gemericik air, terlihat sebuah sampan muncul dari balik kabut.
"Pemilik perahu, bersediakah kau membawaku
menyeberang ke dermaga Beng-shia?" teriak Sim Sin-pek.
"Ayoh naiklah!" sahut nelayan yang berada
dijung sampan sambil memberi tanda.
Ditengah pembicaraan, sampan itu telah
menepi, Sim Sin-pek melompat naik ke buritan perahu dan membaringkan
Thiat Tiong-tong, katanya:
"Temanku ini mengidap penyakit parah,
dapatkah kau mendayung lebih cepat?"
"Cepat, cepat sekali" sahut pemilik sampan
itu sambil tertawa.
Suara tertawanya merdu dan lembut, mirip
sekali dengan suara seorang wanita.
Tergerak perasaan hati Sim Sin-pek, dengan
wajah agak berubah tegurnya:
"Kau seorang wanita?"
"Kenapa?" sahut pemilik perahu sambil
tertawa, "memangnya kalau perempuan lantas tidak bisa mendayung?"
Dia berpaling sambil menekan gala panjangnya
ke dasar sungai, sampan pun bergerak menuju ke tengah sungai itu.
Arus sungai Huangho sangat deras dan besar,
sebetulnya tidak cocok untuk menyeberang dengan menggunakan sampan
kecil seperti ini. Sambil berdiri diujung sampan, mengawasi
gelombang yang tinggi dan arus air yang deras, Sim Sin-pek merasa
dirinya seakan berdiri ditengah awan, dia merasa hawa dingin mulai
menyusup melalui dasar kakinya dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Sepasang keningnya mulai berkerut kencang,
dia tidak tahan kembali bertanya:
"Apa sampan ini bisa digunakan untuk
mencapai dermaga Beng-shia?"
"Tidak bakal sampai!" jawab si nona.
"Kalau tidak bakal sampai, kenapa kau suruh
aku naik?" teriak Sim Sin-pek dengan wajah berubah.
Nona itu tertawa cekikikan.
"Kau sendiri yang paksa naik, siapa sih yang
mengundangmu naik ke sampan ini?"
"Cepat bawa aku balik ke daratan!" hardik
Sim Sin-pek.
Nona itu perlahan-lahan berpaling, sambil
tertawa cekikikan kembali ujarnya:
"Meskipun perahu ini tidak bisa membawamu
menyeberang ke dermaga Beng-shia, namun masih ada perahu yang lain!"
Sim Sin-pek merasa sepasang matanya yang
muncul dari balik topi, topi bambu yang lebar, tampak sangat indah
bagaikan air di musim gugur, senyumannya manis bagai bunga yang
mekar, dipandang dari balik kabut, nona itu kelihatan cantik sekali.
Dia dilahirkan dari wilayah utara dan sama
sekali tidak pandai berenang, berdiri diujung sampan membuat
kepalanya mulai pening dan pandangan matanya berkunang, sekalipun
muncul kecurigaan dihati kecilnya namun dia tidak berani bertindak
gegabah.
Terpaksa dia bertanya lagi:
Tapi dimana perahu yang akan membawaku ke
kota Beng-shia?"
"Itu dia, bukankah berada disitu?" sahut
nona itu sambil mendayung dengan tangan kirinya dan menuding dengan
tangan kanannya.
Benar saja, dari balik kabut terlihat ada
bayangan sebuah perahu berlayar, cahaya lentera yang memancar keluar
dari perahu itu membuat suasana disitu tampak bagaikan selapis
cahaya kuning keemas-emasan.
"Sam-ci (kakak ke tiga)!" teriak nona itu
sambil menggoyangkan tangannya, "ada tamu yang ingin menyeberang!"
"Persilahkan dia naik kemari!" sahut suara
merdu dari atas perahu berlayar itu.
"Baik, aku segera akan merapat ke sisi
perahu!"
Walaupun perasaan curiga Sim Sin-pek makin
meningkat, namun dia berusaha mengendalikan diri, cepat dia
bungkukkan tubuh membopong Thiat Tiong-tong dan secara diam-diam
menotok jalan darah pingsannya.
"Waaah, kabut hari ini sungguh besar"
terdengar nona itu bergumam, "Sam-ci, cepat turunkan tali"
Terlihat bayangan tali segera dilempar turun
dari atas perahu, ternyata sebuah tangga yang terbuat dari tali.
"Kekoan, kau bisa merangkak naik?" tanya si
nona kemudian sambil tertawa.
"Tidak usah merepotkan!" sahut Sim Sin-pek
cepat.
Ujung kakinya segera menutul permukaan
sampan dan tubuhnya sudah melambung ke udara, dia memang sengaja
akan mempamerkan kehebatan kungfunya, agar pemilik perahu itu tidak
sembarangan mengusiknya.
Oleh sebab itu meski harus membopong
seseorang, namun gerakan tubuhnya tetap enteng dan lincah, dalam
sekali lompatan tubuhnya sudah mencapai ketinggian satu setengah
meter lebih, tahu-tahu dia sudah melayang turun di ujung perahu
dengan ringan.
"Kepandaian yang sangat hebat!" terdengar
seseorang memuji dari ujung perahu sambil tertawa.
Seorang nona berpakaian ketat warna hijau
sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum, kulit tubuh yang
putih, potongan badannya yang ramping membuat dia nampak cantik
menawan.
Perabot serta dekorasi yang ada dalam ruang
perahu pun nampak indah, mewah dan megah.
Cahaya yang terpancar dari lentera tembaga
menyinari tirai yang terbuat dari sutera halus, vas bunga hijau
kemala serta gorden yang indah, dari dekorasi yang ada, dapat
disimpulkan kalau pemiliknya adalah sebuah keluarga ternama atau
orang kaya.
Tampaknya nona berpakaian ketat itu dapat
menebak kecurigaan Sim Sin-pek, tapi dia tidak memberi kesempatan
kepada tamunya untuk berbicara, ujarnya sambil tertawa ringan:
"Silahkan kekoan bersitirahat disini, biar
aku ambilkan air teh"
Suara tertawanya masih menggema, tubuhnya
sudah menyelinap masuk ke ruang belakang.
Sim Sin-pek segera merasa dirinya seakan
terjerumus ke dalam sebuah perangkap yang misterius, dia seolah
merasakan datangnya ancaman mara bahaya dari sekeliling ruang perahu
yang mewah.
Gadis yang berada diperahu itu memiliki
kulit tubuh yang putih dan halus, suaranya merdu bagaikan kicauan
burung nuri, jelas bukan gadis yang biasa hidup kasar, apalagi
menjadi nelayan atau tukang dayung perahu.
Jangankan di sungai yang sepi, biar di
telaga See-ow pun jarang dijumpai perahu semegah ini, apalagi
sekarang berada di sungai Huangho yang sepi dengan arus yang begitu
deras.
Perasaan hatinya terkejut bercampur curiga,
dia tidak tahu apa yang bakal dilakukan kawanan gadis itu
terhadapnya.
Sementara itu dari balik ruang perahu
kembali terdengar suara tertawa seseorang yang merdu, seorang gadis
berbaju putih dengan pinggang yang ramping bagai ranting pohon liu,
dengan membawa nampan berisi poci teh berjalan keluar.
Poci hijau dan cawan kemala yang berada
diatas nampan kemala, semuanya merupakan benda-benda antik yang
mahal harganya.
Dengan matanya yang jeli nona berbaju putih
itu memperhatikan Sim Sin-pek berapa saat, kemudian ujarnya lembut:
"Silahkan minum teh!"
Sesudah meletakkan nampak teh diatas meja,
kembali dia berjalan masuk dengan langkah yang lemah gemulai.
"Nona, jangan pergi dulu!" tiba-tiba Sim
Sin-pek melompat bangun sambil berteriak.
"Ada urusan apa?"
"Aku hanya berniat menyeberang ke dermaga
kota Beng-shia, kemudian menuju ke timur.....”
"Aku tahu"
"Tapi..... tapi.... tempat ini....."
"Apa jeleknya dengan tempat ini?" ujar nona
berbaju putih itu sambil berpaling dan tersenyum, ketika tubuhnya
lenyap dibelakang ruangan, lamat-lamat terdengarlah alunan musik
yang merdu.
Sim Sin-pek semakin gelisah, dia tahu ada
mara bahaya ditempat itu, tapi dia tidak tahu dimanakah letak mara
bahaya tersebut, terlebih dia tidak tahu kapan bahaya itu baru
mengancam.
Padahal sebelum datangnya mara bahaya itu,
dia tidak berani bertindak sembarangan, apalagi sebagai orang yang
licik dan berakal bulus, dia tidak nanti akan menghadapi pertarungan
yang tidak yakin bisa dimenangkan.
Sekeliling ruang perahu tertutup oleh tirai
sutera yang halus, Sim Sin-pek seakan merasa ada banyak pasang mata
sedang mengawasinya dari balik tirai, membuat dia sangat tidak
leluasa, membuatnya amat tidak tenang.
Dia mengambil poci air teh dan memenuhi
cawannya, air teh berwarna hijau lembut dan memancarkan bau harum
semerbak.
Tapi baru saja dia tempelkan cawan itu
diatas bibir, kembali dia meletakkannya kembali.
"Kekoan tidak usah kuatir" seseorang segera
berseru lembut dari balik ruangan, "air teh yang berada dalam poci
tidak akan mengandung racun"
Tirai disingkap orang, Sim Sin-pek segera
merasakan pandangan matanya jadi silau, seorang perempuan cantik
bersanggul tinggi dengan pakaian yang indah telah muncul dari balik
ruangan dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.
Gerak-geriknya seakan membawa semacam tenaga
gaib yang tidak terlukiskan dengan kata, membuat orang sulit untuk
memperhatikan usianya, bahkan sama sekali tidak dapat menebak berapa
usianya sekarang.
Tanpa terasa Sim Sin-pek bangkit berdiri.
Terdengar perempuan itu dengan suara lembut
berkata lagi:
"Adik-adikku telah mengundang kedatangan
siangkong, bila sikap siangkong masih begitu kikuk, aku jadi merasa
sangat tidak enak hati"
"Hujin tidak perlu bersikap sungkan terhadap
aku orang beribadah, pinto hanya berharap hujin mau menghantarku ke
dermaga Beng-shia, soal lain pinto tidak berani mengganggu"
Dengan sepasang matanya yang jeli perempuan
cantik itu memperhatikan Sim Sin-pek berapa saat, tiba-tiba dia
tertawa ringan.
"Siangkong, bila kau mengaku sebagai orang
beribadah, terpaksa aku pun harus membahasai diri sebagai pinnie!"
Berubah paras muka Sim Sin-pek.
Sementara itu perempuan cantik itu sudah
duduk dibangku disampingnya, kembali ujarnya sambil tertawa:
"Siangkong tidak perlu banyak curiga, kami
tidak punya maksud mencelakai siangkong"
Dia menuang secawan teh lalu diteguknya satu
tegukan, kemudian katanya lebih jauh sambil tertawa:
"Didalam air teh tidak ada racunnya, kami
tidak pernah punya ingatan untuk mencelakai orang dengan menggunakan
obat beracun, hanya saja soal ongkos menyeberang mungkin kami
menarik sedikit lebih banyak daripada ongkos yang ditarik perahu
lain"
Kembali sekulum senyuman yang menawan
tersungging diujung bibirnya, sambil menatap Sim Sin-pek ujarnya:
"Biarpun agak mahal, tapi kami jamin tidak
akan membuat tamu kami kecewa, pasti akan kami buat para tamu merasa
rela untuk mengeluarkan ongkos sebesar itu"
Kembali perasaan hati Sim Sin-pek tercekat,
serunya:
"Darimana hujin tahu kalau cayhe memiliki
banyak uang? Siapa tahu aku justru tidak memiliki setengik uang pun,
kalau sampai tidak punya uang lantas bagaimana?"
Perempuan cantik itu segera tertawa
terkekeh.
"Mata pat-moay (adik ke 8) ku paling jahat,
dia pandai membedakan mana orang kaya mana orang miskin,
penilaiannya tidak pernah meleset"
Sim Sin-pek segera mengambil ketetapan hati,
ujarnya:
"Hahahaha tampaknya aku memang sedang
ketimpa rejeki, ternyata tempat ini adalah sarang perempuan yang
berubah bentuk, setelah datang, tentu saja aku harus menikmati semua
kesenangan yang tersedia"
Dari sakunya dia mengeluarkan sekeping perak
dan diletakkan diatas nampan air teh, kemudian setelah meneguk habis
isi cawannya, dia menoleh ke arah perempuan cantik itu dan berkata
sambil tertawa:
"Kalau memang begitu, silahkan hujin memberi
petunjuk bagaimana supaya cayhe merasa ikhlas mengeluarkan uang
banyak"
Ternyata dia cukup royal, uang yang
diletakkan diatas baki itu paling tidak beratnya mencapai sepuluh
tahil perak, tentu saja dia harus berusaha mencari balik modalnya.
Perempuan cantik itu sama sekali tidak
memandang ke arah uang perak itu, melirikpun tidak, katanya hambar:
"Sebetulnya air teh itu dihidangkan gratis,
tapi bila siangkong bersedia memberi sedikit imbalan, tentu saja aku
harus mewakili para dayang untuk mengucapkan terima kasih"
Dia bertepuk tangan perlahan, seorang dayang
kecil berusia dua, tiga belas tahunan, berbaju hijau, muncul dari
balik ruangan dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Singkirkan baki teh dan ucapkan terima
kasih kepada siangkong" perintah perempuan cantik itu.
"Terima kasih siangkong atas tip yang
diberikan" dayang cilik itu memberi hormat lalu dengan membawa baki
itu mundur ke ruang belakang.
Sim Sin-pek hanya berdiri bingung, matanya
terbelalak dan mulutnya terbungkam.
Tampak nyonya cantik berbaju mewah itu
kembali berpaling, katanya sambil tertawa ringan:
"Segala kenikmatan duniawi tersedia didalam
perahu ini, walaupun wajah para adikku biasa-biasa saja, namun
mereka pandai menyanyi maupun menari"
Dia menengok wajah Sim Sin-pek, tertawanya
nampak begitu menggetarkan sukma.
Diam-diam Sim Sin-pek tertawa dingin,
pikirnya:
"Kelihatannya perempuan ini hendak memeras
sejumlah uangku, hmm, biarkan saja dia sediakan hidangan atau
nyanyian atau tarian, tapi setibanya di daratan nanti, hmmm! Hmmm!"
Dengan kerlingan mata yang indah nyonya
cantik itu kembali bertepuk tangan tiga kali.
Diiringi suara tertawa cekikikan yang merdu,
dari balik tirai muncul tujuh delapan orang gadis berbaju indah.
Tiga orang gadis yang tadi mendayung sampan,
melempar tali dan menyuguhkan teh, sekarang telah berganti dengan
pakaian indah dan berbaur diantara gadis gadis itu.
Suara tertawa yang memikat, kerlingan mata
yang menggoda ditambah bau harum semerbak yang mengggelitik.....
tanpa terasa Sim Sin-pek duduk terperangah dibuatnya, saking
tertegunnya hingga sejak kapan hidangan disiapkan pun tidak dia
rasakan.
"Siangkong, coba lihat, apakah semuanya ini
cukup memuaskan?" terdengar nyonya berwajah cantik itu bertanya
sambil tertawa.
"Memuaskan apa?" tanya Sim Sin-pek sambil
matanya tetap menatap kawanan gadis cantik itu.
"Cukup memuaskan hatimu untuk membayar
seribu tahil perak!"
"Apa? Seribu tahil perak?" teriak Sim
Sin-pek sambil tertawa seram, "hujin, rupanya kau sedang bergurau?"
Padahal diapun tahu kalau perkataan itu
bukan gurauan, karena itu gelak tertawanya kontan terhenti.
Kembali nyonya cantik itu berkata lagi
dengan nada hambar:
"Segala sesuatu yang berada disini harus kau
lakukan secara ikhlas, bila di anggap tidak setara dengan nilai uang
yang dibayar, setiap saat kau bisa memerintahkan mereka untuk
singkirkan semua hidangan yang ada"
Sim Sin-pek tertegun berapa saat, dia
mencoba memandang sekeliling ruangan itu, terasa olehnya, sorot mata
kawanan gadis tersebut tiba-tiba berubah jadi dingin bagaikan salju.
Terpaksa sahutnya sambil tertawa serak:
"Tidak, cayhe sama sekali tidak bermaksud
begitu"
"Kalau memang tidak bermaksud begitu,
silahkan siangkong lunasi dulu ongkos yang harus dibayar"
"Aku sedang melakukan perjalanan jauh, mana
mungkin kugembol uang sebanyak itu?"
Nyonya cantik itu tertawa hambar.
"Pat-moay!" serunya, "dia bilang tidak
menggembol uang sebanyak itu"
Gadis yang mendayung sampan tadi, kini
muncul dengan mengenakan gaun berwarna ungu, dengan senyuman dikulum
sorot matanya yang bening mengawasi sekejap Sim Sin-pek, seolah dia
sudah dapat menebak rahasia hati orang itu.
"Meski usiamu masih muda namun sorot matamu
tajam, langkah kakimu ringan, jelas memiliki kungfu yang sangat
tangguh dan pernah mendapat petunjuk dari guru kenamaan" katanya
lembut, "tingkah lakumu, sepak terjangmu selalu menampilkan rasa
percaya diri yang kuat, ini menandakan asal usul keluargamu pasti
ternama. Tapi sekarang, selain sudah menyamar jadi seorang tosu
bahkan wajahmu nampak gugup dan tergesa-gesa, ini menunjukkan kalau
kau sedang kabur dari pengejaran dan siap bergelandangan dalam dunia
persilatan. Dengan latar belakang keluarga serta perguruanmu, masa
kau mau hidup bergelandangan dalam kondisi susah dan tersiksa? Itu
berarti sebelum melarikan diri, kau pasti sudah menggembol sejumlah
uang sebagai bekal, bukan begitu?"
Hanya dengan berapa kalimat yang sederhana
dia berhasil membongkar rahasia Sim Sin-pek, kenyataan ini seketika
membuat pemuda itu tertegun dan sampai lama sekali tidak mampu
berbicara.
Tampaknya gadis berbaju ungu itu dapat
menebak apa yang sedang dipikirkan pemuda itu, sambil menatap
wajahnya lekat-lekat dan senyuman masih tersungging diujung
bibirnya dia bertanya lagi:
"Bukan begitu?.......bukan begitu?....."
Akhirnya Sim Sin-pek menghela napas panjang.
"Hujin, silahkan suruh orang menyingkirkan
semua hidangan itu" katanya perlahan, "cayhe hanya pingin menumpang
sampai di dermaga Beng-shia"
Gadis berbaju ungu itu segera tertawa
cekikikan.
"Pelit amat kau.......hahahaha.......semua
rahasiamu berhasil kutebak, tapi aku benar-benar tidak menduga kalau
watakmu amat pelit!"
Dari atas meja, tangan kirinya mengambil
poci perak sementara tangan kanannya mengambil sepasang sumpit,
senyuman masih menghiasi wajahnya, dengan cepat dia masukkan sumpit
perak itu ke dalam poci perak, katanya:
"Saudaraku semua, kalau toh orang tidak sudi
memberi muka kepada kita semua, buat apa kita tetap tinggal disini?
Ayoh pergi!"
Diiringi suara tertawa yang merdu, kawanan
gadis itu mengundurkan diri ke balik tirai.
Nyonya cantik itupun berkata sambil tertawa
ringan:
"Silahkan siangkong menikmati air teh, kami
akan mengundurkan diri!"
Dengan penuh sopan santun mereka telah
mengundurkan diri, dalam waktu singkat disitu hanya tinggal Sim
Sin-pek seorang yang masih berdiri terpaku bagai patung, perasaan
hatinya makin tercekat bercampur keheranan.
Ketika menyaksikan gadis bergaun ungu itu
memperlihatkan kungfunya yang hebat, dia sangka kejadian itu pasti
akan berkembang lebih jauh, siapa sangka mereka semua justru
mengundurkan diri dengan sikap yang sopan, bukan saja tidak berniat
memaksa bahkan tidak menunjukkan perasaan tidak puas.
Setelah termangu sesaat dengan perasaan
bercampur aduk, akhirnya dia menghembuskan napas lega.
Ketika menengok kembali ke atas meja,
terlihat hidangan lezat dan arak wangi masih tertata rapi disitu,
bau harum yang menusuk hidung membuat selera makannya tiba-tiba
muncul.
Tapi Sim Sin-pek segera mengingatkan diri
sendiri:
"Mereka sama sekali tidak memaksa aku,
berarti akupun tidak boleh menyentuh hidangan tersebut. Hmmm! Akan
kulihat, kalau aku enggan menyentuh hidangan kalian, dengan cara apa
kalian akan merampok uang milikku"
Kemudian pikirnya lebih jauh:
"Mungkin saja mereka tidak berani
menyusahkan aku lantaran mengetahui kalau latar belakangku berasal
dari keluarga, kenamaan. Aaai! Kalian memang kawanan gadis cantik
bedebah, coba kalau saat ini aku masih ada urusan lain, tidak nanti
akan kulepaskan kalian semua dengan begitu saja"
Dipandangnya Thiat Tiong-tong sekejap,
kemudian pikirnya lagi:
"Setibanya di Beng-shia, aku harus membeli
sebuah perahu dan berlayar menuju ke timur, setelah berada di perahu
pasti akan kuberi pelajaran kepadanya, akan kulihat apakah dia tidak
akan mengungkap tempat penyimpanan harta karun itu?"
Terbayang betapa gembiranya kehidupan dia
setelah mendapatkan harta karun itu, makin dipikir Sim Sin-pek
merasa semakin senang, entah berapa lama sudah lewat, mendadak
perutnya mulai keroncongan, sekarang dia baru teringat kalau sudah
cukup lama tidak menangsal perutnya.
Begitu ingatan tersebut muncul, makin
dibayangkan perutnya terasa makin lapar, sampai pada akhirnya dia
benar-benar tidak kuasa menahan rasa laparnya lagi.
"Aneh" demikian dia berpikir, "di hari
biasa, walaupun sehari semalam tidak makan pun tidak pernah
kurasakan kelaparan seperti sekarang, kenapa keadaanku hari ini aneh
sekali?"
Memandang hidangan lezat yang tertata rapi
didepan mata, kepalanya semakin pusing dan matanya makin berkunang,
dia seakan tidak bisa memikirkan persoalan lain lagi kecuali rasa
lapar yang semakin menyengsarakan.
Dia berusaha keras mengalihkan sorot
matanya ke arah lain, apa mau dikata sepasang matanya seolah tidak
mau menurut perintah, setiap saat setiap detik pikirannya
membayang-kan terus betapa lezatnya menggigit ayam goreng dan
hidangan lezat lainnya.
Membayangkan kecutnya buah bwee mungkin saja
bisa mencegah dahaga, tapi membayangkan sayap ayam goreng bukan
berarti bisa menangsal perutnya yang lapar, semakin dilihat dia
merasa semakin kelaparan, sekarang permukaan lambungnya seolah mau
robek saking laparnya.
Sambil menelan air liur kembali pikirnya:
"Kenapa aku tidak menyumpit setiap hidangan satu sumpitan saja?
Siapa tahu dengan cara begitu mereka tidak tahu kalau aku sudah
dahar"
Berpikir begitu diam-diam dia menggerakkan
tangannya menghampiri hidangan dimeja.
Tiba-tiba terdengar seseorang tertawa ringan
sambil nyelutuk dari balik tirai:
"Kelihatannya uang perak yang dimiliki orang
ini memang dimasak dengan air obat, sudah kelaparan seperti itupun
masih tidak rela merogoh kocek"
"Aku hanya berharap disaat dia sudah tidak
tahan dengan rasa laparnya secara diam-diam
"Jarang sekali kujumpai manusia persilatan
yang begitu pelit macam kau" seru Yo Pat-moay sambil tertawa, dia
berpaling sambil tepuk tangan, serunya, "Ciu-koh, bawa masuk arak
dan hidangan, hangatkan sebentar"
"Tidak usah, tidak usah dihangatkan" seru
Sim Sin-pek cepat.
Tapi pada saat itulah telah muncul seorang
koki berwajah pucat, berambut awut-awutan dengan membawa sebuah baki
dan dipinggangnya terikat selembar celemek, dia masuk dengan kepala
tertunduk rendah.
Perlahan-lahan dia meletakkan setiap
hidangan dan arak keatas baki, kemudian dengan kepala tertunduk
masuk kembali ke ruang belakang, sejak awal hingga akhir dia tidak
pernah mendongakkan kepalanya barang sekali pun, sambil berjalan
tiada hentinya dia terbatuk ringan.
Memandang semua hidangan sudah dibawa masuk,
tidak tahan Sim Sin-pek menghela napas panjang.
Gadis yang ada dipaling depan segera berseru
sambil tertawa:
"Kau telah mengeluarkan uang, maka biarlah
aku senandungkan sebuah lagu untukmu!"
Diambilnya alat musik pie-pa lalu
disentilnya dengan halus, sebuah lagu yang merdu pun disenandungkan
dengan indahnya.
Sambil menyanyi, dia meliuk-liukkan tubuh
nya berjalan mendekat, kemudian duduk didalam pangkuan Sim Sin-pek.
Senyuman menghiasi terus wajahnya, seakan
senyuman itu selalu tampil polos dan suci, tapi tingkah lakunya
justru begitu jalang dan cabul.
Walaupun berada dihadapan orang banyak,
namun dia tidak canggung untuk duduk dalam pelukan pemuda itu,
baginya, tingkah laku semacam itu seakan dianggapnya
satu kejadian yang lumrah.
Gadis lainnya pun ikut mengelilingi Sim
Sin-pek sambil tertawa cekikikan, mereka dengan menggunakan sikap
yang paling polos dan suci, melakukan perbuatan yang paling jalang
dan cabul, bukan saja tidak rikuh atau malu, mereka seolah
menganggap hal semacam ini adalah wajar.
Seorang gadis yang tampaknya sangat alim,
dengan pinggang yang ramping dan kulit, tubuh yang halus berseru
secara tiba-tiba:
"Yau su-moay, percepat permainan pie-pa mu!"
"Waah, rupanya Li ji-ci akan mulai dengan
pertunjukkannya" teriak Yau Su-moay sambil tertawa cekikikan, "hey
anak muda, kau memang sedang hokki besar!"
Sentilan ke lima jari tangannya diatas senar
pun dipercepat, lagu yang dibawakan pun makin cepat.
Gadis yang dipanggil Li ji-ci itu
merentangkan lengannya ke samping, perlahan-lahan dia membuka
pakaian dibagian dadanya, sementara pinggangnya yang ramping mulai
meliuk-liuk mengikuti irama musik pie-pa yang berirama cepat.
Wajahnya tampil begitu anggun, halus dan
sopan, bahkan tidak secerca senyuman pun yang menghiasi bibirnya,
tapi liukan tubuhnya begitu panas, begitu cepat dan begitu jalang.
Wajah suci dengan tubuh jalang, biasanya
perempuan semacam ini yang paling cepat membangkitkan birahi kaum
lelaki, Sim Sin-pek duduk dengan terperana, mulutnya melongo,
matanya terbelalak lebar, dia seolah sudah kesemsem dibuatnya.
"Blaaaam!" tiba-tiba dari luar ruang perahu
terdengar suara benturan keras, mendadak pintu ruangan dibuka orang
secara paksa, kemudian tampak seorang lelaki tinggi besar penuh
bercambang melangkah masuk sambil tertawa nyaring.
Kawanan gadis itu segera menjerit kaget,
tarian, nyanyian seketika terhenti semua.
Dengan sorot mata yang berapi lelaki
bercambang itu memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian
serunya sambil tertawa keras:
"Hahahaha......rupanya di tempat ini sedang
diselenggarakan hiburan yang menawan, tampaknya kedatanganku
sebagai tamu tidak diundang tepat waktu"
Yau Su-moay segera melompat bangun dari
pangkuan Sim Sin-pek, dengan mata melotot hardiknya:
"Hay Tay-sau, mau apa kau kemari?"
Dengan langkah lebar Hay Tay-sau berjalan
masuk ke ruang perahu, begitu duduk dikursi utama, dia naikkan kaki
kirinya keatas bangku sambil berseru:
"Kenapa kalian belum pulang?"
Kelihatannya Yau Su-moay masih menaruh
dendam kepada orang ini, kontan dia tertawa dingin.
"Kami mau pulang atau tidak, apa urusanmu!"
"Hahahaha......sarang lebah liar yang
biasanya malang melintang di sungai Tiangkang kenapa bisa pindah
wilayah operasinya ke sungai Huangho? Masa kalian benar benar telah
diusir oleh bocah cilik dari Siok-siu hingga tidak punya tempat
berteduh?"
"Kau tidak usah mencampuri urusan kami!"
teriak Yau Su-moay makin gusar.
"Hey cewek, sekalipun aku pernah menolakmu,
toh kau tidak perlu begitu dendam kepadaku, belajarlah bersikap
lebih lembut dan halus, siapa tahu aku akan berubah pikiran"
Ditengah tertawa cekikikan para lebah yang
lain, Yau Su-moay menghentakkan kakinya berulang kali dengan
jengkel, teriaknya:
"Hey si berewot, kelihatannya kau ingin
mampus"
Dengan menggunakan senjata Pie-pa dia
langsung hantam batok kepala Hay Tay-sau.
Belum sempat serangan itu dilancarkan,
sebuah tangan yang lembut telah menggenggam pergelangan tangannya.
Yau Su-moay semakin jengkel, teriaknya:
"Toaci, berewok ini sangat memuakkan, kau
mesti bantu aku untuk balas dendam!"
Nyonya cantik itu hanya tertawa hambar, sama
sekali tidak ambil perduli teriakan saudaranya, setelah meletakkan
alat pie-pa ke meja, dia berpaling dan ujarnya kepada Hay Tay-sau
sambil tertawa:
"Lama tidak bersua, tidak kusangka kau masih
seperti sedia kala"
Berubah paras muka Hay Tay-sau bertemu
perempuan ini, gelak tertawanya yang keras seketika sirna, katanya
perlahan:
"Setiap orang tahu, toaci dari Heng kang it
wo li ong hong (segerombol raja lebah) adalah seorang wanita
misterius, akupun sudah lama mendengar nama besarnya, tidak kusangka
ternyata kaulah orangnya!" Ucapan tersebut sangat tenang dan halus.
Kalau seorang lelaki kasar tiba-tiba
berbicara secara halus dan tenang, perkataannya malah kedengaran
sedikit menyeramkan.
Kawanan gadis lainnya segera saling bertatap
muka dengan wajah tertegun, siapa pun tidak menyangka, bukan saja
toaci mereka kenal dengan Hay Tay-sau bahkan ternyata mereka berdua
adalah sahabat lama.
Sekarang Sim Sin-pek baru tahu kalau
rombongan wanita itu tidak lain adalah Heng kang it wo li ong hong
gerombolan lebah yang paling memusingkan kepala, diam-diam dia
mengeluh pahit, kali ini dia benar-benar telah mengusik sarang lebah
yang paling ganas.
Seorang wanita koki berbaju hijau, dengan
membawa senampan hidangan lezat muncul kembali didalam ruangan
dengan kepala tertunduk rendah.
Begitu meletakkan semua hidangan diatas
meja, kembali dia membalikkan tubuh berlalu, kepalanya bukan saja
tidak pernah didongakkan, mata pun tidak pernah melirik, seakan dia
sama sekali tidak memikirkan semua peristiwa yang sedang terjadi
dalam ruang perahu.
Dengan tangannya yang besar Hay Tay-sau
menarik semua hidangan itu kehadapannya, lalu dengan rakus melahap
semua hidangan yang ada.
Sim Sin-pek sendiri meski kelaparan setengah
mati, namun dalam keadaan dan situasi seperti ini dia tidak dapat
turun tangan berebut, terpaksa sambil menahan air liur dia hanya
awasi orang itu menghabiskan semua hidangan yang ada.
Sekarang matanya sudah berkunang-kunang,
hawa amarah telah membakar hatinya, masih untung dia masih dapat
mengendalikan diri sehingga tidak sepatah katapun diucapkan.
Nyonya cantik itupun hanya mengawasinya
dengan tenang, karena dia tidak bersuara, tentu saja rekan yang lain
semakin tidak berani berkicau, untuk sesaat semua orang hanya
mengawasi Hay Tay-sau menghabiskan seluruh hidangan dimeja tanpa
bicara.
Akhirnya Sim Sin-pek tidak kuasa menahan
diri lagi, dia menghela napas panjang.
Sambil tertawa ringan
nyonya cantik itu berkata:
"Jika kedatanganmu untuk menengok aku,
sekarang sudah saatnya untuk berbicara bukan?"
Sambil membesut mulutnya yang berminyak, Hay
Tay-sau mendongakkan kepalanya tertawa latah, teriaknya:
"Aku datang menengokmu? Kenapa aku harus
menengokmu......?"
Mendadak dia menghentikan tertawanya, sambil
bangkit berdiri ujarnya lagi:
"Aku sengaja datang kemari karena
ingin memberitahu kepada kalian, meski keluarga Ouyang
dari Kanglam mempunyai keturunan yang tidak becus, namun keluarga
kenamaan ini merupakan sebuah keluarga yang menjunjung tinggi
kejujuran serta kesetiaan, pemiliknya Ouyang Li adalah
seorang ciankwee yang berbudi luhur dan pantas dihormati, aku harap
kalian jangan sampai mencelakai Ouyang hengte"
"Mereka yang datang menghantar diri, apa
sangkut pautnya dengan kami?" jengek Yau Su-moay sambil tertawa
dingin.
"Sekalipun mereka terpikat oleh godaan
wanita, sepantasnya kalian pun tahu diri, setelah mendapatkan harta
orang, tidak seharusnya mencelakai nyawa mereka"
Nyonya cantik itu segera tersenyum, katanya:
"Aku tidak menyangka si perampok ulung yang
sudah lama tersohor dalam dunia persilatan, Thian sat seng
(bintang pembunuh) ternyata sekarang berhati penuh welas
asih"
"Bila kau enggan menuruti nasehatku, cepat
atau lambat pasti akan menyesal" ujar Hay Tay-sau gusar, "sedang
hubungan antara kita berdua, baik budi maupun kesetia kawanan sudah
lama putus, jadi tidak ada lagi persoalan yang perlu dibicarakan
lagi!"
Mendadak dia membalikkan tubuh, diatas
wajahnya yang keras lamat-lamat terlintas perasaan sedih yang
mendalam.
Tiba-tiba Sim Sin-pek ikut bangkit berdiri,
teriaknya:
"Jangan pergi dulu!"
"Anak muda, mau apa kau teriaki aku?" tegur
Hay Tay-sau seraya berpaling.
"Akupun akan pergi mengikuti Hay tayhiap"
sahut Sim Sin-pek sambil tertawa paksa.
"Kalau begitu ayohlah!"
Mendadak nyonya cantik itu membalikkan
tubuhnya dengan ringan, tidak nampak gerakan apa yang dilakukan,
tahu-tahu dia sudah menghadang didepan pintu, tanyanya sambil
tertawa lembut:
"Siapa yang mau pergi?"
"Mau apa kau?" hardik Hay Tay-sau dengan
mata melotot.
Nyonya cantik itu tersenyum.
"Siapa pun tidak boleh membawa pergi tamu
dari kami bersaudara, apalagi kau pun sudah datang kemari, aku masih
ingin berbincang-bincang denganmu!"
"Kalau aku ingin membawa pergi seseorang,
siapa pun jangan harap bisa menghalangi!" teriak Hay Tay-sau semakin
gusar.
Ucapan nyonya cantik itu makin lama semakin
lembut, katanya sambil tertawa merdu:
"Kalau aku tidak mau menghindar, masa kau
tega melancarkan serangan kepadaku?"
Hay Tay-sau memperhatikannya berapa saat,
tiba-tiba dia tertawa seram.
"Caramu itu sudah lama tidak mempan bagiku!"
teriaknya.
Mendadak dia mengayunkan tangannya, langsung
membabat tenggorokan nyonya cantik itu.
Paras muka nyonya cantik itu sama sekali
tidak berubah, kelihatannya dia sudah menduga akan hal itu, tampak
pinggangnya ditekuk, dengan satu gerakan yang ringan tubuhnya sudah
lolos dari babatan maut itu.
Sepasang tangan Hay Tay-sau melancarkan
serangkaian serangan berantai, dalam waktu singkat dia sudah
lepaskan tujuh buah pukulan, semua serangan dilancarkan cepat dan
ringan, seolah-olah bukan muncul dari seorang lelaki kasar macam
dia.
"Hey, kenapa aliran ilmu silatmu kembali
berubah?" ejek nyonya cantik itu sambil tertawa.
Ditengah pembicaraan, kembali pinggangnya
meliuk-liuk bagaikan seekor ular, tubuhnya bergerak lincah ditengah
kilauan bayangan serangan, tanpa bergeser setengah inci pun dia
sudah menghindari ke tujuh buah serangan itu.
Sim Sin-pek yang menyaksikan jalannya
pertarungan itu kontan merasa hatinya bergidik.
Yau Su-moay yang berdiri disampingnya segera
berbisik:
"Kau tidak bakal lolos dari sini, lebih baik
duduklah kembali!"
Mendadak terdengar Hay Tay-sau membentak
keras, sepasang tangannya didorong berbareng ke depan.
Gerak serangannya tiba-tiba berubah, jurus
serangan yang digunakan juga ikut berubah, pukulan yang dilontarkan
dari ke dua belah tangannya benar-benar memiliki daya kekuatan yang
luar biasa, angin pukulan yang dahsyat membuat semua tirai dalam
ruang perahu bergetar keras.
"Aduh mak, kau benar-benar ingin
memukulku?" teriak nyonya cantik itu nyaring.
Mengikuti deruan angin pukulan yang kuat,
tubuhnya mundur ke arah pintu perahu.
Melihat ada kesempatan baik, Hay Tay-sau
segera menyusul ke depan sambil merangsek maju.
Terasa pandangan matanya kabur, tahu-tahu
nyonya cantik itu sudah melompat masuk lagi bagai sehelai daun
kering, ejeknya sambil tertawa:
"Lama tidak bersua, kelihatannya sekarang
kau bertambah gemuk!"
Sambil berkata dengan tangannya dia seolah
hendak menowel pipi Hay Tay-sau.
Sebetulnya Hay Tay-sau sudah menyiapkan
serangannya untuk dilancarkan, tapi bila dia lanjutkan serangan
tersebut, maka sasarannya akan persis menghantam sepasang payudara
nyonya cantik itu.
Setelah sedikit agak sangsi, tubuhnya yang
tinggi besar mundur kembali ke belakang.
Tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar
seseorang berseru sambil tertawa merdu:
"Hey, kenapa kau malah ingin jatuhkan diri
ke dalam pelukanku?"
Terlihat dua pasang telapak tangan telah
menyambar tiba dari kiri dan kanan dengan kecepatan bagaikan petir,
itulah serangan yang dilancarkan Yau Su-moay serta Yo Pat-moay.
Meski jurus serangan kedua orang itu cepat, namun tenaga pukulannya
sangat ringan, seakan mereka berdua hanya ingin bercanda saja.
Hay Tay-sau rentangkan sepasang tangannya
dengan jurus burung hong pentang sayap, sebuah tendangan dilontarkan
menghajar ketiak kiri nyonya cantik itu.
Yau Su-moay kembali menggerakkan tubuhnya,
kali ini dia menyelinap ke belakang tubuhnya.
Hay Tay-sau membalikkan tangannya sambil
mencengkeram, "Praaang!" mangkuk dan cawan yang ada di meja segera
berhamburan ke empat penjuru, saling bertumbukan hingga hancur
sementara sisa hidangan yang ada segera berhamburan ke arah kawanan
gadis lainnya.
Diiringi jeritan kaget kawanan lebah itu
berhamburan ke samping untuk menghindar, tapi sayang ruang perahu
tidak terlalu lebar, tidak urung tubuh mereka ternoda juga oleh
ceceran minyak dan hidangan.
Kontan saja Yau Su-moay menjerit keras:
"Dia telah mengotori pakaian kita, harus
minta ganti kerugian!"
Tujuh, delapan orang gadis berbaju warna
warni itu serentak meluruk ke depan melakukan pengepungan.
Kembali Hay Tay-sau mengayunkan tangan
kanannya merontokkan sebuah lentera, sementara tangan kirinya
memutar meja itu bagaikan gangsingan, hardiknya nyaring:
"Hey anak muda, bukankah kau ingin melarikan
diri? Kenapa tidak membantu aku melancarkan serangan?"
Sim Sin-pek masih berdiri melongo, tampaknya
untuk sesaat dia belum tahu apa yang harus dilakukan.
Dengan nada dingin Yo Pat-moay segera
berkata:
"Masih agak mending jika kau hanya menonton
pertarungan dari samping arena, bila berani sembarangan turun
tangan, hmm! Akan kubuat kau tidak pernah bisa turun lagi dari
perahu ini!"
Baru saja akan mengayunkan langkahnya,
seketika Sim Sin-pek mengurungkan niatnya dan mundur kembali tanpa
membantah.
Melihat itu dengan kening berkerut Hay
Tay-sau kontan mengumpat gusar:
"Anak jadah, setan pengecut, demi kau aku
rela berkelahi, tidak nyana kau justru macam cucu kura-kura,
menyembunyikan kepalamu dibalik batok!"
Sim Sin-pek hanya berdiri sambil bergendong
tangan, dia berdiri disisi Thiat Tiong-tong yang bersandar dibangku
sambil tertawa, seakan umpatan tersebut bukan ditujukan kepadanya.
Saat itulah terlihat bayangan manusia
bergerak lewat, dari balik ruang perahu telah bermunculan aneka
macam bunga, tujuh orang nona dengan tujuh macam warna berdiri
berjajar disekeliling tempat itu.
Nyonya cantik tadi masih berjaga didepan
pintu ruangan dengan senyuman dikulum, katanya:
"Adik-adikku, kalian tidak perlu melukainya,
toh cepat atau lambat dia bakal roboh juga"
Tercekat perasaan hati Hay Tay-sau sehabis
mendengar perkataan itu, pikirnya:
"Aaah, jangan jangan hidangan tadi beracun!"
Sambil meraung keras dia langsung menerjang
kepungan kawanan lebah cantik itu dan menerkam ke tubuh nyonya
cantik didepan pintu.
"Waah, kau ingin beradu jiwa?" ejek nyonya
cantik itu tertawa.
"Bila hari ini kau celakai nyawaku...."
"Aku mencelakai apa?" tukas nyonya cantik
itu sambil tertawa ringan.
Kendatipun Hay Tay-sau masih menyerang
dengan sepenuh tenaga, namun dia sudah mulai merasakan rasa letih
yang susah dilawan.
Setelah bertarung belasan gebrakan kemudian
tiba-tiba nyonya cantik itu berseru:
"Adik-adikku, obat yang ada dalam tubuhnya
sudah mulai kambuh, kemarilah kalian!"
Serentak para gadis lebah dari Heng-kang
meluruk maju bersama, diiringi suara tertawa cekikikan mereka
membanting tubuh Hay Tay-sau yang tinggi besar keatas lantai
kemudian menindihnya beramai-ramai.
Sambil tertawa terkekeh seru Yau Su-moay:
"Hey berewok, aku mau lihat apakah kau bisa
galak lagi? Akan kucabuti berewokmu sampai gundul!"
Tiba-tiba nyonya cantik itu menarik kembari
senyumannya dan berkata:
"Adik-adik, jangan kalian usik dia, lebih
baik dikirim dulu ke gudang bagian bawah"
Yau Su-moay dan Yo Pat-moay saling bertukar
pandangan sekejap, sementara gadis lebah lainnya pun ikutan
mengerdipkan mata secara diam-diam, entah siapa yang berteriak
duluan, tiba-tiba ada yang berseru sambil tertawa:
"Wah, rupanya toaci sudah jatuh hati dengan
berewok itu!"
"Dasar setan cilik......" umpat nyonya
cantik itu tertawa.
Dia berjalan menuju ke belakang ruangan,
tapi secara tiba-tiba menghentikan kembali langkahnya, sembari
menuding ke arah Sim Sin-pek, ujarnya:
"Pat-moay, coba tebak benda paling berharga
apakah yang dimiliki siangkong ini?"
Yo Pat-moay memutar biji matanya berulang
kali, lalu sahutnya:
"Dia bilang sedang menghantar orang sakit,
padahal orang sakit itu jelas sudah ditotok jalan darahnya, tapi
setiap saat setiap detik dia tidak pernah lupa memperhatikan orang
itu, seakan kuatir secara mendadak orang itu bangkit berdiri dan
melarikan diri, maka menurut aku......."
Setelah menuding ke arah Sim Sin-pek yang
wajahnya berubah hebat, dia menuding pula ke arah Thiat Tiong-tong
yang masih semaput diatas bangku, terusnya:
"Jadi menurut aku, barang paling berharga
yang dia bawa adalah dia!"
"Hahahaha....Pat-moay, ternyata kau memang
cerdik" puji nyonya cantik itu sambil terkekeh.
Dalam pada itu sudah ada berapa orang
menggotong tubuh Hay Tay-sau ke ruang belakang, sambil tersenyum
perempuan itupun menyusul di belakangnya.
Ruang perahu yang acak-acakan seketika
tercekam dalam keheningan yang luar biasa, kini yang tersisa hanya
Yo pat-moay dan Yau Su-moay.
Yau Su-moay memandang Sim Sin-pek sekejap,
lalu memandang pula ke arah Thiat Tiong-tong
Sim Sin-pek tidak kuasa menahan diri lagi,
tanpa sadar dia menghadang didepan Thiat Tiong-tong dengan wajah
hijau membesi, namun senyuman paksa masih tampil dibibirnya.
"Bukankah kau sedang berkelana dalam dunia
persilatan karena ingin menghindari pengejaran? Kenapa memandang
begitu penting orang sakit itu? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya
Yo Pat-moay kemudian.
Sim Sin-pek tertegun berapa saat, dia agak
tergagap:
"Soal ini....soal ini......"
"Tidak usah kuatir" tukas Yo Pat-moay sambil
tertawa, "asal kau menurut, kamipun tidak akan menanyai urusan
tentang dia lagi, bukan begitu Su-ci?"
"Benar" sahut Yau Su-moay, "sekarang kau
sudah menjadi milik kami berdua, jadi paling baik bila kau menuruti
semua perkataan kami"
"Ruangan ini sangat kacau, lebih baik kau
ikut aku menuju ke bawah!" ajak Yo Pat-moay kemudian sambil tertawa.
"Tapi....tapi.... bukankah kita hampir tiba
di dermaga Beng-shia?"
"Perahu ini tidak akan menuju dermaga
Beng-shia"
"Lantas perahu ini akan menuju ke mana?"
agak berubah paras muka Sim Sin-pek.
"Tidak akan kemana-mana!"
"Nona, rupanya kau sedang bergurau?" dengan
hati mendelu Sim Sin-pek tertawa paksa.
"Siapa yang lagi bergurau?" sahut Yau
Su-moay sambil tertawa, "dilihat dari jauh perahu ini adalah perahu,
dilihat dari dekatpun tetap sebuah perahu, sayangnya meski perahu
namun tidak mampu bergeser, jangan lagi berlayar, bergeser setengah
inci pun tidak mungkin"
Dalam pada itu Yo Pat-moay sudah tertawa
terpingkal-pingkal.
Sim Sin-pek pun ingin ikut tertawa, sayang
dia tidak mampu tertawa lagi, tanyanya tergagap:
"Apa maksud perkataanmu?"
"Arus sungai Huangho sangat deras, hanya
perahu kecil yang bisa menyeberanginya, jika perahu sebesar ini yang
mesti menyeberang, belum berapa langkah mungkin perahunya sudah
karam duluan"
"Oleh sebab itu perahu ini tidak akan
bergeser" sambung Yau Su-moay, "karena perahu ini bukan perahu
melainkan sebuah bangunan rumah yang dibangun diatas air!"
"Kalau memang perahu ini tidak bisa
bergerak, bagaimana caranya bisa sampai disini?"
"Perahu ini adalah rumah tinggal kami
bersaudara di sungai Tiangkang, ketika kami pindah ke sungai
Huangho, sayang rasanya untuk meninggalkan bangunan tersebut maka
dengan segala cara kami berusaha memindahkannya kemari"
"Kenapa tidak membangun sebuah yang baru?
Kenapa mesti bersusah payah mengangkutnya kemari?" tanya Sim Sin-pek
keheranan.
"Memangnya perahu ini bisa dibangun dengan
seenaknya?" kata Yo Pat-moay sambil tertawa.
"Coba turunlah ke bawah" saran Yau Su-moay,
"maka kau segera akan mengetahuinya"
Kini Sim Sin-pek sudah tidak bebas, terpaksa
dia menggendong Thiat Tiong-tong dan diiringi dua orang gadis itu
turun ke bawah geladak.
Ternyata ruang belakang perahu itu
merupakan sebuah kamar baca, empat dindingnya di penuhi rak buku.
Yo Pat-moay mendorong perlahan rak buku yang
berada didinding sebelah kiri, rak tersebut segera bergeser ke
samping dan terbukalah sebuah lorong bawah tanah yang rapi dan
bersih.
Dibawah lorong itu berjajar ruangan ruangan
yang banyak sekali, semua bangunan sangat indah dan rapi, tidak ada
sedikit tempat luang pun yang dibiarkan kosong.
Kini semua pintu ruangan berada dalam
keadaan tertutup rapat, dari balik kamar lamat-lamat terdengar suara
tertawa yang merdu.
Sambil menarik ujung baju Sim Sin-pek, Yau
Su-moay membawanya memasuki ruang kamar nomor empat.
Tempat itu merupakan sebuah ruangan yang
kecil tapi rapi, disitu tersedia ranjang terbuat dari gading,
meja bulat, gorden sutera, hampir semua perapot rumah
tangga tersusun rapi dalam ruang yang sempit itu.
Bagaikan orang yang kehilangan akal sehat
Sim Sin-pek duduk hampir setengah jam lamanya dalam ruangan itu
sebelum akhirnya suara keleningan nyaring bergema dari dinding
sebelah.
Paras muka Yau Su-moay dan Yang Pat-moay
berubah hebat, tergesa gesa mereka lari keluar ke pintu ruangan.
Sebelum meninggalkan tempat itu Yau su-moay
menyempatkan diri berpaling seraya berseru:
"Kau tunggu saja disitu, jangan sembarangan
bergerak"
Belum habis perkataan itu diucapkan, mereka
berdua sudah pergi entah ke mana.
Pintu ruangan kembali tertutup rapat, kini
Sim Sin-pek baru teringat kalau dia sedang kelaparan, dengan
perasaan heran pikirnya:
"Apa yang telah terjadi? Mengapa mereka
nampak gugup dan tergesa-gesa?"
Rasa curiga itu hanya melintas sejenak
didalam benaknya, segera pikirannya dirisaukan kembali oleh keadaan
yang sedang menimpa dirinya.
Enta berapa lama sudah lewat, tiba-tiba dia
mendengar ada seseorang mengetuk pintu.
Sim Sin-pek tidak tahu siapa yang sedang
mengetuk pintu, tapi sahutnya dengan cepat:
"Masuk!"
Koki yang berbaju hijau itu muncul kembali
dengan kepala tertunduk, ditangannya membawa baki berisi sayur dan
arak, setelah meletakkan diatas meja, kembali dia berlalu dengan
kepala tertunduk.
Sim Sin-pek kegirangan setengah mati,
diam-diam pikirnya:
"Sayang aku tidak sempat melihat dengan
jelas raut muka koki itu, dia cantik atau jelek? Kalau cantik, aku
mesti berterima kasih kepada-nya secara baik-baik"
Dalam waktu singkat dia telah melahap
seluruh hidangan itu hingga ludas, tapi tidak setetes arakpun yang
disentuhnya, satu-satunya kebanggaan baginya selama hidup adalah
tidak pernah menyentuh arak.
Pertama, dia menganggap minum arak dapat
mengacaukan pikiran.
Kedua, dia menganggap arak tidak seharum dan
selezat sari buah.
Sayangnya, meski tidak setetes arakpun yang
disentuh, namun belum lama dia letakkan sumpitnya, kepala sudah
terasa pusing sekali, matanya berkunang-kunang dan kepalanya terasa
sangat berat.
Dia sadar gelagat tidak beres, dalam
terperanjat dia segera melompat bangun.
Belum sempat tubuhnya berdiri tegak, dia
sudah roboh terjungkal keatas tanah, begitu roboh tubuhnya tidak
mampu bergerak lagi.
Setelah keadaan berkembang seperti ini,
ternyata dalam hidanganpun masih dicampuri obat pemabuk, mimpi pun
dia tidak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti ini.
Belum sampai seperminum teh dia tidak
sadarkan diri, perempuan berdandan koki itu sudah membuka kembali
pintu ruangan, setelah menengok sekejap perlahan-lahan dia
menyelinap masuk ke dalam.
Akhirnya pada saat itulah dia mendongakkan
kepalanya, dalam ruang perahu tidak nampak cahaya sang surya, yang
ada hanya cahaya lentera, ketika sinar lentera menyinari wajahnya,
terlihatlah sebuah raut muka yang amat cantik, namun dibalik wajah
cantik dan nampak masih muda itu terselip rasa sedih yang mendalam.
Dia seakan-akan pemah jadi sangat tua dalam
satu waktu yang singkat, perasaan hatinya seakan pernah hancur lebur
karena suatu persoalan, oleh sebab itu usianya mesti masih muda
namun wajahnya nampak selalu murung dan duka.
Begitu masuk ke dalam ruangan, tanpa ragu
dia langsung menghampiri Thiat Tiong-tong dengan langkah cepat,
kemudian menotok bebas jalan darahnya.
Perasaan ketika tertotok jalan darahnya
memang merupakan sebuah pengalaman yang aneh.
Tapi perasaan itu jauh berbeda dengan
perasaan orang yang baru mendusin dari pingsan, bila mendusin dari
pingsan maka ada jangka waktu tertentu kesadaran orang masih buram,
sebaliknya orang yang tersadar setelah jalan darahnya dibebaskan,
dia akan seketika tersadar kembali.
Begitu membuka matanya, Thiat Tiong-tong
segera melihat ada selembar wajah cantik yang amat dikenalnya muncul
didepan mata, ternyata dia tidak lain adalah Leng Cing-peng.
Dengan perasaan terperanjat dia segera
melompat bangun, ditatapnya wajah Leng Cing-peng dengan termangu,
untuk sesaat dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Leng Cing-peng pun hanya memandangnya sambil
tersenyum, dia tidak berbicara, sambil menarik ujung baju pemuda itu
tubuhnya segera menyelinap keluar dari ruangan.
Suara tertawa cekikikan sudah tidak
kedengaran lagi, dengan gerakan paling cepat Leng Cing-peng
menerobos lorong sempit yang berlikuliku dan sepi langsung menuju
ke buritan perahu disana letak dapur tempatnya bekerja.
Disisi anglo terdapat sebuah pintu rahasia,
sebetulnya pintu itu dipakai untuk membuang air kotor dan sampah,
setelah membuka pintu, diatas permukaan air tampak tertambat sebuah
sampan kecil.
Waktu itu hari menunjukkan tengah hari, awan
tebal menyelimuti angkasa, ombak disungai pun terasa amat besar.
Tatkala Thiat Tiong-tong melompat ke ujung
sampan, dia merasa seakan berdiri ditengah awan sejak
dibius bocah pincang, apa yang kemudian terjadi dirasakan bagaikan
sebuah impian.
Dengan cekatan Leng Cing-peng memutuskan
tali pengikat sampan, perahu kecil itupun bergerak mengikuti ombak,
kemudian dia mengambil dua buah dayung kayu dan mendayung dengan
sepenuh tenaga menuju ke pantai seberang.
Dalam keadaan seperti ini dia seolah-olah
tidak ada yang bisa dibicarakan, dia pun seolah-olah tidak ingin
banyak bicara, sambil duduk membelakangi Thiat Tiong-tong yang duduk
diujung sampan, dia hanya mendayung dengan sepenuh tenaga.
Ayunan dayung menimbulkan percikan air,
percikan airpun membasahi tubuh Thiat Tiong-tong, tapi pemuda itu
hanya mengawasi bayangan punggungnya yang kurus dengan termangu.
Sampai lama kemudian dia baru menyapa:
"Nona Leng, baik-baikkah kau?"
Leng Cing-peng sama sekali tidak
membalikkan tubuhnya, dia hanya mengangguk perlahan.
Dengan termangu Thiat Tiong-tong mengawasi
gadis yang sudah dua kali menyelamatkan jiwanya itu, dia
membayangkan pula betapa mendalamnya rasa cinta nona itu kepadanya,
tapi kemudian dia membayangkan pula ikatan permusuhan yang terjalin
antara dia dengan keluarga Leng......
Sampan bergerak diombang-ambingkan ombak,
pikirannya sama persis seperti gelombang ombak itu, bergelora,
bergejolak dan tidak pernah tenang.
Sampai lama kemudian dia baru bertanya lagi
dengan sedih:
"Nona, mengapa kau lakukan perbuatan ini?”
"Aku telah dilupakan orang, dilupakan
masyarakat luas, kalau tidak kulakukan pekerjaan ini, apa yang
harus kuperbuat?" sahut Leng Cing-peng tanpa berpaling.
Dia lebih suka hidup sebagai orang bawahan,
lebih suka menyiksa diri untuk mengurangi kepedihan dan kesedihan
yang menyayat hatinya, dia lebih rela hidup tersiksa daripada
diperbudak laki-laki.
Oleh sebab itu setelah melarikan diri dari
kuil terpencil, meninggalkan Thiat Tiong-tong, dia pun mulai
mengembara kemana-mana hingga suatu ketika berjumpa dengan kawanan
gadis lebah, diapun bergabung dengan mereka.
Meskipun kawanan lebah itu bersikap hangat
dan mesra terhadap kaum lelaki, namun sikap mereka terhadap gadis
yang hidup sebatang kara ini sangat dingin dan hambar, andaikata
Leng Cing-peng tidak berjumpa lagi dengan Thiat Tiong-tong, mungkin
sisa hidupnya harus dilewatkan dalam penderitaan dan siksaan.
Kini dia tidak ingin berpaling, tidak berani
berpaling, karena wajahnya telah dibasahi butiran air mata.
Thiat Tiong-tong sendiripun merasa amat
pedih setelah membayangkan betapa sepi dan menderitanya kehidupan
gadis itu, ujarnya lirih:
"Nona Leng, apa rencanamu selanjutnya?"
"Jangan kuatir" sahut Leng Cing-peng sedih,
"aku cukup mengetahui kesulitanmu, aku tidak akan merecoki mu lagi,
apalagi menjadi bebanmu"
Thiat Tiong-tong merasakan hatinya
bergejolak, tidak tahan dia ingin membelai rambutnya dengan tangan
yang gemetar.
Seandainya dia benar benar menyentuh bahu
gadis itu, dapat dipastikan nona itu akan membalikkan tubuhnya dan
menubruk ke dalam pelukannya.
Tapi sebelum jari tangannya menyentuh,
sambil menghela napas dia menarik kembali tangannya.
Sejauh mata memandang, hanya ombak
menggulung yang terpampang di depan mata, sama sekali tidak nampak
daratan ditanah seberang.
Tiba-tiba Thiat Tiong-tong merogoh ke dalam
sakunya, lalu melepaskan sebuah anak kunci dari segerombol kunci
lainnya, kemudian ujarnya perlahan:
"Di rumah uang Kwan-gwan dikota Kayhong, aku
menyimpan sebuah peti besi, peti itu sebenarnya hendak kuhadiahkan
kepada cicimu, tapi sekarang akan kuserahkan anak kunci ini untukmu,
ambillah peti besi itu dan selanjutnya kau tidak perlu berkelana
lagi"
"Kenapa tidak kau serahkan sendiri
kepadanya?" tanya Leng Cing-peng dengan kepala tertunduk, "akupun
sudah lama tidak pernah bersua dengannya"
Sekali lagi Thiat Tiong-tong merasakan
hatinya amat pedih, katanya tergagap:
"Cicimu......cicimu dia....."
Tiba tiba Leng Cing-peng berpaling, dengan
wajah berubah serunya:
"Kenapa dengan dia?"
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang,
belum sempat menjawab, tiba-tiba dari balik gulungan ombak terlihat
ada sebuah sampan sedang bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi.
Ternyata sampan itu adalah sebuah rakit yang
terbuat dari kulit kambing, sebuah benda paling ringan yang dapat
bergerak cepat ditengah arus sungai Huangho yang deras.
Dalam waktu singkat rakit itu sudah berhasil
menyusul sampan kayu yang ditumpangi Leng Cing-peng.
Berubah hebat paras muka Leng Cing-peng,
tampak olehnya ada tiga lima sosok bayangan manusia berdiri diatas
rakit kulit kambing itu, semuanya adalah wanita.
Ditengah gulungan ombak sungai yang berarus
deras, dalam waktu singkat kedua sampan itu sudah makin mendekat.
"Kau cepat kabur dengan menumpang sampan
ini, biar aku yang menghadang mereka" bisik Leng Cing-peng cepat.
Thiat Tiong-tong segera berpikir:
"Bagaimana pun juga, aku tidak akan
membiarkan kau menderita gara-gara aku!"
Meski tidak mengucapkan sepatah katapun,
tiba-tiba dia melambung ke tengah udara.
Ketika rakit kulit kambing itu semakin
mendekat, dia dapat melihat kalau berapa orang gadis berbaju warna
warni itu tidak lain adalah kawanan lebah dari Heng-kang Li ong
hong, hanya saja kawanan lebah itu tidak ada yang mengenalinya.
Terdengar Yau Su-moay mencaci maki dari atas
rakitnya dengan nada geram:
"Ciu-koh, kami selalu bersikap baik
kepadamu, melihat kau sebatang kara maka kami menampungmu, siapa
tahu kau berani membawa kabur orang yang berhasil kami tangkap,
hmmm, tampaknya kau sudah bosan hidup?"
Li Ji-ci, si nona berwajah suci bertubuh
jalang berdiri dengan wajah sedingin salju, tanpa mengucapkan
sepatah kata pun dia melemparkan seutas tali panjang ke arah sampan,
diujung tali terikat sebuah jangkar kecil.
"Triiing!" diiringi dentingan nyaring,
jangkar itu langsung terpantek diatas sampan kayu, menggunakan
peluang itu rakit kulit tadi segera melesat maju lebih dekat, Yau
Su-moay mengayunkan tangannya berulang kali, tiga titik cahaya tajam
langsung menyambar ke tubuh Leng Cing-peng.
Dengan dayungnya Leng Cing-peng berusaha
menangkis datangnya kilatan cahaya itu, tapi sebelum dia bertindak,
kilatan cahaya tadi sudah dihajar miring oleh pukulan yang
dilancarkan Thiat Tiong-tong dan tercebur ke dalam sungai.
Yo Pat-moay segera melompat maju dari
belakang tubuh Li Ji-ci, telapak tangannya secepat kilat menangkis
dayung kayu yang diayun oleh Leng Cing-peng.
"Praaak!" dayung itu patah jadi dua bagian.
Ternyata tangan Yo Pat-moay telah
mengenakan sebuah sarung tangan yang terbuat dari serat perak.
Benturan keras yang membuat dayungnya patah
ini membuat Leng Cing-peng kehilangan keseimbangan, apalagi berada
ditengah gulungan ombak yang besar dan arus yang deras, tubuhnya
tidak mampu lagi berdiri tegak, buru-buru dia melejit setinggi
berapa meter ke udara.
"Hmm, rupanya kau ingin mampus!" bentak Yo
Pat-moay sambil tertawa dingin.
Tiba-tiba dari balik ujung bajunya meluncur
keluar seutas tali panjang, bagaikan seekor ular sanca langsung
melilit sepasang kaki gadis itu.
Leng Cing-peng bertubuh lemah dan bukan
seorang gadis yang suka banyak bergerak, bukan saja dia tidak pernah
melatih ketahanan tubuh, ilmu silat yang dipelajari pun tidak cukup
tinggi.
Hatinya jadi amat gugup setelah kehilangan
tenaga sewaktu tubuhnya masih melambung di udara, melihat datangnya
ancaman tersebut, cepat dia buang tubuhnya ke samping.
Walaupun dia berhasil menghindari ancaman
itu, namun si nona jadi semakin gugup ketika melihat tidak ada
tempat berpijak lagi baginya.
Waktu itu Thiat Tiong-tong sedang bertarung
puluhan jurus banyaknya melawan Yau Su-moay.
Ombak menggulung makin keras, sampan dan
rakit pun terombang ambing dimainkan arus air yang deras.
Mereka berdua, seorang berdiri diujung
sampan, yang lain berdiri diatas rakit, sama-sama bergerak diantara
gulungan ombak, serangan yang dilancarkan meski sama-sama hebatnya,
namun karena permukaan selalu bergelombang membuat jurus serangan
pun tidak pernah tepat pada sasaran.
Apalagi bagi Thiat Tiong-tong yang
dibesarkan diwilayah gurun, boleh dibilang dia tidak pandai ilmu
berenang. Kini kepalanya mulai terasa pening, matanya
berkunang-kunang dan perutnya mulai mual. Sekalipun kepandaian
silatnya hebat pun, paling banter hanya tiga bagian yang bisa
digunakan.
Li Ji-ci dengan menggunakan jangkarnya
berusaha menahan laju sampan itu, serunya:
"Su-moay, aku lihat kungfu bocah ini cukup
tangguh, apakah perlu aku membantumu?"
"Tidak perlu" sahut Yau su-moay sambil
tertawa, kemudian ujarnya lagi, "hey anak muda, kami tidak berniat
jahat kepadamu, kenapa tidak balik saja bersama kami?"
Belum sempat Thiat Tiong-tong menjawab,
mendadak terdengar seseorang menjerit kaget, diikuti
"Byuuurrr!" suara seseorang tercebur ke dalam air.
Ternyata Leng Cing-peng gagal menemukan
tempat berpijak hingga tidak ampun tubuhnya tercebur ke dalam
sungai.
Thiat Tiong-tong sangat terperanjat, tanpa
menggubris musuhnya lagi dia siap menerjang ke muka untuk memberi
pertolongan.
Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak,
terlihat ada dua titik cahaya perak menyongsong kedatangannya,
cahaya itu bergerak sangat cepat bahkan membawa desingan angin yang
tajam bagaikan suara rentetan mercon.
Thiat Tiong-tong tidak berusaha menghindar,
dia menyongsong datangnya serangan itu dengan keras melawan keras.
Siapa tahu kedua titik cahaya perak itu
ternyata benda hidup, tahu-tahu arah sasarannya berubah dan kali ini
mengancam lambung anak muda itu.
Thiat Tiong-tong yang menghadapi serangan
dari muka belakang, apalagi diapun tidak berani melambung ke udara,
terpaksa melepaskan satu pukulan lewat bawah ketiaknya, seluruh
kekuatan dicurahkan ke dalam pukulan itu, dia sambut datangnya
serangan Yau Su-moay dengan keras lawan keras.
Meskipun serangan ini dilancarkan
belakangan, ternyata tiba lebih duluan daripada serangan dari Yau
Su-moay.
Mimpipun Yau Su-moay tidak menyangka kalau
gerak pergelangan tangannya begitu lincah dan hidup, perubahan jurus
pun dapat dilakukan sangat cepat.
Tidak sempat membatalkan serangan
sebelumnya, terpaksa dia terima ancaman itu dengan keras lawan
keras.
"Duuuk!" benturan keras membuat kuda-kudanya
limbung, tubuhnya kontan terjengkang ke belakang.
Masih untung Li Ji-ci berada di belakangnya,
cepat-cepat dia memeluk tubuhnya kencang-kencang.
Sekalipun serangan tangan kirinya
mendatangkan hasil, ternyata gerak tangan kanannya untuk menangkap
cahaya perak dihadapannya sedikit agak lamban.
Baru saja tangannya bergerak, "Triiing!"
tahu-tahu kedua cahaya perak itu sudah saling membentur lalu terbang
berpisah ke arah yang berlawanan, kemudian setelah membentuk
setengah lingkaran busur, cahaya itu menghimpit datang lagi dari
kiri dan kanan.
Demikian cepatnya perubahan yang terjadi
pada cahaya perak itu membuat orang susah untuk mengetahui senjata
apakah itu.
Ternyata benda itu adalah tali panjang yang
berada ditangan Yo Pat-moay, hanya saja dikedua ujung tali
masing-masing terikat sebatang senjata macam Poan koan pit, mirip
juga mata tombak yang tajam.
Dengan hadirnya ke dua jenis senjata itu,
bukan saja ketika berada dalam genggaman bisa digunakan senjata
genggam, dapat pula dipakai sebagai senjata pelontar yang mematikan.
Waktu itu Thiat Tiong-tong sedang pening
kepalanya oleh ayunan ombak, begitu melihat ada cahaya perak
berkilat dihadapannya, dia jadi merasa amat silau, oleh sebab itu
serangan yang dilancarkan pun ikut sedikit lambat.
Ketika secara tiba-tiba muncul dua cahaya
perak yang menggencet dari kiri kanan langsung mengancam jalan darah
Thay-yang-hiat nya, cepat dia tekuk pinggangnya menengadah ke
belakang, sementara sepasang lengannya direntang ke samping.
Siapa tahu begitu jurus serangannya berubah,
gerak ancaman dari ke dua cahaya perak itupun ikut berubah, mendadak
dari dua cahaya berubah jadi satu cahaya, dengan jurus Pek hong
koan jit (bianglala putih menembusi matahari) cahaya itu
langsung menggempur ke arah bawah.
Walau menghadapi bahaya Thiat Tiong-tong
tidak menjadi kalut, cepat dia menarik kembali tangannya, lalu
dengan gerakan Tong cu Pay kwan im (bocah cilik menyembah
Kwan-Im) dia tangkap cahaya perak itu dengan kedua belah tangannya.
Tapi dia lupa kalau tubuhnya masih berdiri
diatas sampan, jelas keadaannya jauh berbeda bila dibandingkan
bertarung di tanah daratan, ketika segulung ombak menggoncangkan
sampannya, posisi tubuhnya pun ikut terlempar ke atas, kini seluruh
dadanya malah membusung ke muka menyongsong datangnya ancaman maut
itu.
Tampaknya sulit bagi pemuda itu untuk
menghindarkan diri...
Setelah berulang kali berganti jurus dengan
gerakan yang begitu cepat, kini jarak tubuhnya dengan posisi Leng
Cing-peng tinggal sejangka lagi.
Sebaliknya Yau Su-moay sedang memeluk tubuh
Li Ji-ci yang hampir roboh, sedang lengan kiri Li Ji-ci pun sedang
menahan tubuh saudaranya, otomatis kekuatan yang tersalur di lengan
kanannya sedikit lebih lemah.
Akibatnya tarikan tali pun jadi kendor,
rakit itu segera dihantam ombak hingga berpisah lagi sejauh berapa
meter.
Ketika cahaya perak menggempur ditubuh Thiat
Tiong-tong tadi, kebetulan ada ombak menggulung tiba, hal ini
membuat tubuh Thiat Tiong-tong maju menyongsong cahaya perak itu,
tapi rakitpun ikut tergulung hingga terpisah berapa meter, akibatnya
sewaktu cahaya perak itu menyentuh tubuh Thiat Tiong-tong, tubuh Yo
Pat-moay ikut terlempar mundur ke belakang.
Dari rangkaian peristiwa yang terjadi dalam
waktu singkat, serangan Liang gin siang hui cha (cahaya perak
terbang menyilang) yang dilancarkan gadis itu meski sempat
menyentuh pakaian Thiat Tiong-tong, namun tenaga serangannya pun
ikut lenyap tidak berbekas.
Berhasil lolos dari bahaya maut membuat
Thiat Tiong-tong kontan saja bermandikan keringat dingin.
Arus air mengalir sangat deras, waktu itu
tubuh Leng Cing-peng masih terapung diatas permukaan air, rupanya
nona itupun tidak mengerti ilmu dalam air, akibatnya tubuhnya makin
terpisah jauh dari sampan. Dia mencoba meraih buritan sampan dengan
sepasang tangannya, sayang kekuatan yang dimilikinya tidak mampu
untuk berbuat begitu.
Ditengah hembusan angin dan gulungan ombak,
gadis itu mulai berteriak minta tolong, jeritannya bercampur aduk
diantara suara air dan angin, membuat suaranya kedengaran amat
mengenaskan.
Begitu berhasil lolos dari serangan musuh,
Thiat Tiong-tong tidak ambil perduli urusan apa pun, dia segera
membalikkan tubuh siap terjun ke sungai untuk menolong gadis itu.
Tapi Li Ji-ci segera menarik kembali talinya
kuat-kuat, rakit kulit pun bergeser lagi lebih mendekat, Yo Pat-moay
serta Yo Su-moau sekali lagi mengepungnya rapat-rapat membuat anak
muda itu sama sekali tidak mampu bergerak.
Thiat Tiong-tong tahu kepandaian silat yang
dimiliki kawanan gadis lebah itu masih jauh dibawah kemampuannya,
menurut analisa paling banter dalam tiga lima jurus kemudian dia
sudah mampu menghajar mereka hingga tercebur ke air.
Apa mau dikata begitu serangan dilancarkan,
ternyata semua perhitungannya meleset jauh, bukan saja serangannya
tidak sehebat disaat biasa, bahkan ketepatan sasaran maupun
besarnya kekuatan yang dia gunakan jauh dari bayangannya semula.
Tentu saja dia lupa bahwa dirinya saat itu
sedang mabuk laut, jangan lagi menyerang dengan sepenuh tenaga,
mengangkat barang seberat sepuluh kati pun belum tentu dia mampu
melakukan.
Begitu tahu apa yang diharapkan sulit
tercapai, Thiat Tiong-tong merasa gelisah bercampur gusar.
Sambil tertawa dingin Yau Su-moay segera
mengejek:
"Asal kau bersumpah mau menuruti perkataan
kami dan segera balik bersama kami, kamipun akan segera
menolongnya!"
Thiat Tiong-tong tidak menjawab, sambil
menggertak gigi sekuat tenaga dia melancarkan tiga jurus serangan.
Ditengah hembusan angin dan gulungan ombak,
suara teriakan minta tolong itu makin lama makin bertambah lemah.
Kembali Yo Pat-moay berkata dengan nada
dingin:
"Bukan kami bersaudara tidak mau turun
tangan menolong, justru kaulah yang enggan memberi pertolongan"
Sepasang tangannya melancarkan serangan
lebih ganas, secara beruntun dia pun melepaskan lima jurus serangan.
"Betul" seru Yau Su-moay pula sambil tertawa
ringan, "asal kau bersedia, cukup Yo Pat-moay menggerakkan tangannya
maka dia akan segera tertolong, padahal kamipun tidak
bersikap........"
"Baiklah!" mendadak Thiat Tiong-tong
membentak keras.
"Jadi kau bersedia?" tandas Yau su-moay
sambil angkat bahunya.
"Yaa, aku bersedia"
Sambil berkata dia segera menurunkan
sepasang tangannya.
Dengan gerakan cepat Yo Pat-moay
menggunakan senjata peraknya untuk menotok jalan darah Ji swan,
ciang tay dan Ki bun hiat didepan dadanya.
Demi selamatkan jiwa Leng Cing-peng, sekali
pun kawanan gadis lebah itu akan segera mencabut nyawanya pun dia
tidak akan melawan.
Sebagaimana diketahui, pemuda ini adalah
seorang lelaki yang pandai mengendalikan diri, berotak dingin dan
cerdas, semua keputusan yang dia ambil tentu sudah melalui
pertimbangan yang sangat matang, dia tidak ingin mengambil
keputusan karena dorongan emosi sehingga harus menyesal dikemudian
hari.
Terdengar Yau Su-moay berseru sambil tertawa
dingin:
"Ciu-koh pagar makan tanaman, kenapa kita
mesti selamatkan nyawanya? Lebih baik biarkan saja dia mati
tenggelam"
"Tapi kita sudah menyanggupi
permintaannya!" tukas Yo Pat-moay.
"Hmmm, kalau kita tidak menolong, dia bisa
apa?" jengek Yau su-moay sambil berpaling.
Tampak olehnya Thiat Tiong-tong sedang
berdiri sambil pejamkan mata, wajahnya nampak sangat dingin.
Wajahnya yang teguh seakan patung dewa yang
mendatangkan daya pikat amat besar.
Yau su-moay tidak menyangka dalam situasi
seperti inipun anak muda itu tidak menunjukkan perasaan gusar.
Darimana dia tahu kalau Thiat Tiong-tong
tidak pernah mengumbar amarahnya demi sesuatu masalah yang tidak
mungkin bisa dia hadapi.
Setelah memutar biji matanya berulang kali,
ujarnya sambil tertawa:
"Yaa sudah, mari kita tolong dia, tadi aku
hanya bergurau.... masa janji yang sudah dipenuhi mesti diingkari
kembali?"
Baru selesai ia berkata, tali panjang Yo
Pat-moay sudah dilemparkan ke depan.
Saat itu seluruh tubuh Leng Cing-peng nyaris
hampir tenggelam, kini yang terlihat diatas permukaan air tinggal
sedikit wajahnya serta ke sepuluh jari tangannya yang mencakar kian
kemari, keadaannya amat mengenaskan.
Ketika Yo Pat-moay melemparkan talinya,
dengan tepat tali itu melilit pergelangan tangannya, gadis itu
segera membalikkan tangan sambil mencengkeramnya mati-matian,
tampaknya dia tidak ingin melepaskan cengkeramannya lagi.
Maka Yo Pat-moay pun segera menarik talinya
dan menarik tubuh Leng Cing-peng keluar dari dalam air sungai.
Saat itu dia sudah berada dalam keadaan
tidak sadar, giginya terkatup kencang, wajahnya kuning bagai kertas.
Yo Pat-moay segera membaringkan tubuhnya diatas rakit, sementara Yau
Su-moay pun telah memindahkan tubuh Thiat Tiong-tong.
Dengan sekali tendangan Li Ji-ci menarik
kembali jangkarnya, mereka bertiga pun mulai mendayung rakit itu
menembusi ombak sungai.
Tampaknya ke tiga orang gadis ini sudah
terbiasa dengan arus deras, meskipun harus melawan arus dan ombak,
ternyata mereka dapat mengendalikan rakit itu dengan santai.
Sembari mendayung, Yau su-moay tiada
hentinya mengawasi wajah Thiat Tiong-tong, akhirnya sambil tertawa
ringan dia menegur:
"Hey, siapa namamu?"
Thiat Tiong-tong tidak menjawab, dia hanya
pejamkan matanya.
"Hey, kenapa kau tidak bicara?" kembali Yau
su-moay menegur, "aku toh tidak menotok jalan darah bisumu, kenapa
kau malah jadi bisu?"
Melihat anak muda itu tetap tidak
menggubris, dengan kening berkerut Yau su-moay segera berteriak:
"Kau tidak perduli pertanyaanku? Baik, kalau
kau tetap membisu, jangan salahkan kalau sekari tendang kubuang
perempuan itu ke dalam sungai!"
Tiba-tiba Thiat Tiong-tong membuka matanya
lebar-lebar, cahaya kegusaran memancar keluar dengan buasnya.
Kontan Yau su-moay tertawa dingin, ejeknya:
"Mau apa kau? Bisa apa kau?"
Akhirnya Thiat Tiong-tong menghela napas
panjang, dengan perasaan apa boleh buat katanya:
"Cayhe Thiat Tiong-tong, apa lagi yang nona
inginkan?"
Sambil picingkan matanya yang bulat Yau
Su-moay melirik pemuda itu sekejap, kemudian katanya:
"Aku.....? apa yang aku inginkan? Aku....
aku menginginkan kau...."
Sambil tertawa cekikikan dia segera
menghentikan ucapannya.
Li Ji-ci ikut tertawa cekikikan, serunya:
"Lo-su, aku rasa kau tidak usah banyak
mulut, yang penting harus mendayung terus, toaci sedang menunggu
kita!"
Benar saja, Yau su-moay segera mendayung
dengan lebih cepat lagi, namun sepasang matanya masih mengawasi
Thiat Tiong-tong tanpa berkedip, tiba-tiba dia menendang pemuda itu
perlahan.
Melihat itu Li Ji-ci segera menegur sambil
tertawa:
"Hey budak setan, kelihatannya penyakit
lamamu kambuh lagi, sampai kapan sifatmu itu baru akan berubah?"
Yau Su-moay hanya menggigit bibirnya sambil
tertawa cekikikan.
Selama ini hanya Yo Pat-moay yang tidak
banyak bicara, pandangan matanya memandang terus ke depan, meski
usianya paling muda namun kawanan gadis lebah lainnya seperti agak
jeri kepadanya.
Saat itulah tiba-tiba dia berpaling sambil
berkata:
"Sudah sampai!"
BAB 11.
Pasukan gadis lebah.
Diantara kabut yang tebal, benar saja
terlihat bayangan perahu yang besar muncul didepan mata, meski
berada disiang hari namun perahu itu masih bermandikan cahaya
lentera, membuat permukaan sungai tampak berkilauan tajam.
Diujung perahu lamat-lamat kelihatan berdiri
sesosok bayangan manusia yang tiada hentinya melongok ke tempat
kejauhan, begitu melihat rakit kulit itu bergerak mendekat dengan
menerjang ombak, mendadak dia lari masuk ke ruang perahu.
Ketika rakit kulit semakin mendekat,
tiba-tiba Yau Su-moay menubruk ke depan dan memeluk tubuh Thiat
Tiong-tong, begitu rapat dia memeluk membuat anak muda itu menghela
napas didalam hati dan segera pejamkan matanya.
Kini semakin banyak bayangan manusia yang
muncul dari balik ruang perahu, namun suasana tetap hening.
Saat itulah Yau Su-moay berbisik disisi
telinga pemuda itu:
"Aku akan bebaskan dua buah jalan darahmu,
agar kau bisa berjalan masuk sendiri........."
Lalu setelah menggigit ujung telinga Thiat
Tiong-tong, tambahnya sambil tertawa ringan:
"Setan cilik, lihatlah, betapa sayangku
kepadamu!"
Sambil berkata dia segera menotok bebas dua
buah jalan darah ditubuh pemuda itu.
Dalam keadaan begini, Thiat Tiong-tong tidak
tahu harus tertawa atau marah, sekalipun sepasang kakinya bisa
menginjak tanah akan tetapi sepasang tangannya masih belum mampu
bergerak, kekuatan tubuh pun hilang lenyap tidak berbekas, kini dia
hanya bisa berdiri dengan badan lemas.
Dalam pada itu Yau Su-moay telah menarik
kembali senyuman diwajahnya, selesai membetulkan letak pakaian dan
membereskan rambutnya, sambil mendongakkan kepala dia berjalan
menuju ke ruang perahu dengan langkah lebar.
Tergerak perasaan hati Thiat Tiong-tong
setelah melihat kejadian itu, pikirnya:
"Kalau dilihat sikapnya yang begitu serius,
jangan-jangan di perahu sudah kedatangan seseorang?"
Waktu itu Yau Su-moay sudah tiba didepan
pintu ruangan, sambil setengah menyingkap tirai pintu, ujarnya
dengan nada berat:
"Toaci, bocah itu telah berhasil kutangkap
kembali, apakah boleh membawanya masuk?"
"Bawa masuk kedalam!" seseorang segera
menyahut dari balik ruang perahu.
Yau Su-moay berpaling, bisiknya sambil
menggapai:
"Masuklah!"
Setelah sangsi sejenak akhirnya Thiat
Tiong-tong melangkah maju ke depan, dia yakin perahu itu pasti sudah
kedatangan seseorang, hanya tidak bisa ditebak siapakah orang itu.
"Orangnya sudah datang!" seru Yau Su-moay
lagi sambil menyingkap lebar tirai didepan pintu.
Cahaya lentera yang bening memancar keluar
dari balik ruang perahu, menyinari wajah Thiat Tiong-tong yang
angkuh, menyinari pula tubuhnya yang berdiri tegap.
Beberapa pasang mata jeli yang ada dalam
perahu, kini tertuju semua ke tubuh Thiat Tiong-tong, mata-mata yang
indah itu seketika terbelalak semakin besar dan lebar.
Sorot mata Thiat Tiong-tong dingin bagaikan
salju, tapi dibalik sikapnya yang dingin justru terselip daya tarik
yang luar biasa besarnya.
Tatapan matanya seakan sama sekali tidak
bergeser, namun setiap sudut dalam ruang perahu itu, setiap lembar
wajah, setiap gerakan, seakan tidak ada yang lolos dari
perhatiannya.
Ruang perahu yang kacau dan acak-acakan
karena ulah Hay Tay-sau tadi, sekarang telah tertata rapi, bersih
dan indah seperti sedia kala.
Kawanan lebah duduk mengelilingi nyonya
cantik itu, duduk disisi kiri dan kanann, pada sisi kanan ruang
perahu duduk juga tiga orang gadis yang bersandar diatas selembar
permadani.
Kawanan lebah yang biasanya riang dan penuh
gelak tertawa, kini tampil dengan wajah tegang dan serius,
sebaliknya ke tiga orang gadis cantik yang duduk diatas permadani
itu justru bersikap amat santai dan kemalas-malasan.
Mimpipun Thiat Tiong-tong tidak menduga
kalau salah satu diantara ke tiga orang gadis cantik itu tidak lain
adalah Sui Leng-kong!
Disaat sorot matanya bertemu dengan sinar
mata Sui Leng-kong yang bening itulah, sedikit perubahan terjadi
diatas wajahnya yang kaku bagaikan arca, perubahan tersebut sangat
kecil dan sulit ditemukan siapa pun.
Sementara Sui Leng-kong sendiripun tidak
kuasa menahan diri, dia telah bangkit berdiri.
Meskipun dia berusaha mengendalikan gejolak
perasaan hatinya, namun tidak dapat menutupi rasa girang dan kaget
yang terlintas diwajahnya.
"Apakah orang ini yang nona sekalian
maksudkan?" nyonya cantik itu segera bertanya sambil tertawa.
Sui Leng-kong manggut-manggut.
Nona cantik yang duduk disamping kiri Sui
Leng-kong segera berkata sambil tertawa:
"Hoa Toa-koh, tidak disangka kalian sangat
jujur, betul, dialah yang kami inginkan!"
Hoa Toa-koh, nyonya cantik itu segera
tertawa tergelak.
"Hahahaha.... sejak kapan Hoa Toa-koh pernah
berbohong kepada kalian semua? Apalagi yang datang adalah
saudara-saudara dari perguruan Kui bo"
Rupanya nona cantik itu tidak lain adalah
pimpinan tujuh iblis wanita dari perguruan Kui bo, dia tertawa pula.
"Aku Gi Peng-bwee selalu bicara blak-blakan,
asal kau ijinkan kami membawanya pulang, persoalan apapun kami akan
anggap beres dan tidak akan dipersoalkan lagi"
Hoa Toa-koh memutar biji matanya berulang
kali, tiba-tiba ujarnya:
"Adikku, kalau tidak salah aku hanya pernah
berkata kalau ditempat kami nampaknya ada seseorang macam begitu,
bukankah aku tidak pemah berjanji akan melepaskannya bukan?"
Paras muka Gi Peng-bwee seketika berubah
hebat, selapis hawa dingin menyelimuti wajahnya.
Tapi Hoa Toa-koh berlagak seolah tidak
melihat, ujarnya lebih jauh:
"Kalau nona Gi suka bicara blak-blakan maka
Hoa Toa-koh pun tidak suka bicara berbelit-belit, ketika Kui bo
cianpwee minta orang, seharusnya kami segera menyerahkan orang
tersebut, tapi asal usul pemuda ini sedikit rada aneh, setiap orang
menganggapnya sebagai harta yang tidak ternilai harganya, maka kami
pun merasa agak berat hati untuk membiarkannya pergi, bila aku
mengabulkan permintaan nona Gi, bagaimana pula pertanggungan
jawabku terhadap mereka?"
"Lantas.....lantas kau.....kau........." Sui
Lengkong membela-lakkan matanya lebar lebar.
Saking panik dan gelisahnya, penyakit
gagapnya kembali kambuh.
"Adikku" tukas Hoa Toa-koh cepat, "bicaramu
tidak jelas, lebih baik biar nona Gi saja yang berbicara!"
Terpaksa Sui Leng-kong duduk kembali, tapi
butir air mata telah membasahi matanya karena jengkel. Sejak kecil
dia sudah terbiasa menderita, maka walaupun hatinya sangat
mendongkol namun dia sanggup mengendalikannya, kendatipun saat ini
seharusnya rasa sabarnya telah mencapai pada batas toleransi.
Gi Peng-bwee dengan wajah dingin belum
sempat mengucapkan sesuatu, iblis wanita yang lain telah bangkit
berdiri sambil tertawa.
Gadis ini tidak biasa sembarangan bicara,
namun senyuman selalu menghiasi wajahnya, terdengar dia berkata
perlahan:
"Hoa Toa-koh, bila kau tidak mau
membebaskan dia, bagaimana cara kami memberikan pertanggungan jawab
kepada guru? Tolonglah, bebaskan dia!"
Tubuhnya yang lemah lembut, nada suaranya
yang lembut tidak bertenaga ditambah tubuhnya yang kurus kering
membuat kawanan lebah Heng kang li ong hong segera merasakan hatinya
iba dan penuh rasa kasihan.
Hoa Toa-koh segera tertawa, serunya:
"Aduhh..... tidak heran orang bilang Gi
Cing-kiok lebih cantik dari bunga seruni, sampai aku Hoa Toa-koh pun
merasa tidak tega untuk menolak permintaan nona"
"Kalau begitu Toa-koh bersedia membebaskan
dia bukan?" tanya Gi Cing-kiok sambil tertawa.
"Kalau aku bebaskan dia, adikku pasti marah
kepadaku, bila tidak kubebaskan dia, nona sekalian pun pasti akan
mendendam kepadaku, kalau begitu lebih baik begini saja........"
Senyuman diwajahnya nampak lebih lembut,
lanjutnya:
"Bagaimana kalau nona semua memperlihatkan
sedikit kepandaian, agar kami pun dapat mengaguminya"
"Aduuh..... bicara pulang pergi ternyata Hoa
Toa-koh menginginkan kami bersaudara pamerkan kejelekan, itu mah
gampang sekali, kenapa tidak Toa-koh perintahkan sejak tadi"
"Perintah sih tidak berani, Cuma........"
Mendadak Yau Su-moay tampil ke depan,
tukasnya:
"Toaci, lebih baik biar adik yang temani
nona Gi bermain berapa gebrakan, bila adik beruntung bisa menangkan
partai ini, bagaimana kalau kongcu itu serahkan kepadaku?"
"Bagaimana kalau kau kalah?" tanya Gi
Cing-kiok.
Yau Su-moay memutar biji matanya berulang
kali kemudian tertawa terkekeh-kekeh.
"Kalau aku kalah, biarlah saudaraku yang
lain menemani rekan-rekan nona Gi untuk bermain berapa gebrakan!"
"Aduh...nonaku, pintar amat kalian" seru Gi
Cing-kiok sambil tertawa ringan, "kalau begitu bukankah kalian yang
lebih diuntungkan?"
"Ciciku, pandanglah usiaku yang masih
kelewat muda, mengalahlah sedikit untuk kami!"
Gi Cing-kiok tertawa cekikikan.
"Bagus sih memang bagus, Cuma sayang ada
satu hal yang kurang bagus" katanya.
"Apa yang kurang bagus?"
"Kau begitu lemah lembut bagaikan sekuntum
bunga yang tumbuh diair, kalau sampai cici salah sasaran hingga
melukaimu, hatiku pasti akan amat sedih!"
Yau Su-moay gelengkan kepalanya berulang
kali, serunya:
"Tidak mungkin, aku tahu cici baik hati, kau
tidak mungkin tega melukai orang lain"
Li Ji-ci yang berdiri dibelakang Thiat
Tiong-tong diam-diam menjawil tangan Yo Pat-moay, bisiknya sambil
tertawa:
"Untung kita punya Yau Su-moay, kalau tidak,
entah siapa yang sanggup menghadapi Gi Cing-kiok!"
"Sekalipun Yau Su-moay sudah tampilkan diri,
belum tentu dia sanggup menghadapinya!" sahut Yo Pat-moay sambil
tertawa hambar.
Sementara itu Gi Cing-kiok telah berkata
lagi sambil tertawa ringan:
"Benar juga perkataanmu, aku memang tidak
tega melukaimu, tapi ada baiknya kita mencoba dulu, tapi.....kita
harus bertarung di mana?"
Yau Su-moay memutar biji matanya berulang
kali, katanya kemudian:
"Bagaimana pun pertarungan kita toh cuma
main main, jadi bertarung dimana pun sama saja, bagaimana kalau
diujung perahu saja?"
Tidak menunggu jawaban orang lain dia
beranjak dulu menuju ke luar ruangan, ketika lewat disisi Thiat
Tiong-tong, tidak lupa dia menowel pipi anak muda itu.
Ujung depan perahu luasnya hanya sekitar
sepuluh sampai lima belas meter, dengan sebuah kapur Yau Su-moay
segera membuat sebuah lingkaran seluas lima meteran.
Melihat tingkah laku gadis itu, Gi Peng-bwee
segera berbisik:
"Perempuan itu amat licik, kau mesti berhati
hati"
"Masa aku kalah licik darinya?" sahut Gi
cing-kiok sambil tertawa.
Waktu itu Sui Leng-kong sudah berada didepan
Thiat Tiong-tong, dia seakan ingin mengucapkan sesuatu, melihat ada
dua gadis lain berdiri di belakangnya, akhirnya sambil tertawa
ringan katanya:
"Kau tidak usah kuatir........"
Kemudian mengikuti rombongannya berjalan
menuju ke luar.
Selesai membuat lingkaran dengan kapur,
sambil bertepuk tangan kata Yau Su-moay:
"Bagaimana kalau kita bertarung dalam
lingkaran ini? Siapa yang keluar duluan dari lingkaran itu, dialah
yang kalah"
Diam diam Hoa Toa-koh tertawa geli,
pikirnya:
“Ternyata Su-moay memang pintar sekali, dia
tahu kawanan iblis wanita dari perguruan Kui bo rata-rata berhati
bengis dan telengas, dengan membuat garis lingkaran tersebut sama
artinya dia telah mempersiapkan jalan mundur, bila dalam pertarungan
nanti dia tidak sanggup melawan, asal keluar dari garis maka jiwanya
tidak akan sampai melayang, apalagi dengan senjata andalan-nya,
dalam pertarunganpun dia akan mendapat-kan banyak keuntungan”
Berpikir begitu, tentu saja dia segera
tertawa tanda setuju.
Gi Cing-kiok sendiripun hanya mengerdipkan
mata tanpa menunjukkan keberatan, malah dengan langkah santai segera
berjalan masuk ke dalam lingkaran.
"Enci Gi, kau tidak menggunakan senjata?"
tanya Yo Pat-moay kemudian sambil tertawa.
"Adikku, kau saja yang gunakan senjata!"
sahut Gi Cing-kiok sambil tertawa.
"Terima kasih banyak cici"
Begitu selesai berbicara, mendadak dari
balik bajunya meluncur keluar dua titik cahaya keperak-perakan,
diiringi desingan angin tajam cahaya itu langsung menghantam bahu
dan lutut Gi Cing-kiok.
Ternyata senjata yang digunakan kawanan
gadis lebah itu adalah benda yang diikatkan diujung tali, ada
senjata yang berbentuk seperti sebuah pit, ada yang seperti jangkar,
sementara senjata yang digunakan Yau Su-moay adalah sepasang kait
perak berbentuk bulan sabit.
Senjata semacam ini dapat digunakan untuk
menyerang jarak jauh, dapat pula dipakai untuk pertarungan jarak
dekat, memiliki kelebihan dari serangan senjata rahasia namun tidak
memiliki kelemahan sebagai senjata amgi, kini dalam satu jurus
serangan dia gunakan dua gerakan yang berbeda, semuanya dilakukan
dengan kecepatan bagaikan kilat.
"Aduuuh....lebah yang sangat lihay" teriak
Gi Cing-kiok sambil tertawa, "begitu mengatakan akan menyerang,
langsung saja melancar kan serangan, baik, cici akan mengalah tiga
gebrakan"
Pinggangnya ditekuk ke samping, dengan mudah
dia menghindari ancaman itu.
Diam-diam Hoa Toa-koh ikut merasa girang,
pikirnya:
"Jika dia langsung melancarkan serangan
balasan sehingga Su-moay tidak punya peluang untuk mengembangkan
senjatanya, mungkin harapannya untuk menang masih ada, tapi jika dia
membiarkan Su-moay melancarkan serangan duluan, dapat dipastikan
tubuhnya akan segera dipaksa keluar dari lingkaran"
Tampak Yau Su-moay menghentakkan tangannya,
cahaya perak segera berputar kencang, ke kiri dia menyerang dengan
jurus Soat lok han bwee (salju turun bunga bwee membeku), ke
kanan menyerang dengan jurus Han bwee toh coat (bunga bwee
berkembang indah), sementara ke arah bawah secara beruntun
melancarkan dua serangan berantai dengan jurus Sam cun hui soh
(tiga bunga terbang melayang) serta Ping hun tho hoa (bunga
tho bersimpang siur).
Begitu ke dua jurus serangan itu berlalu,
maka seluruh kehebatan senjata kait terbang nya pun segera
berkembang lebih luas.
Perlu diketahui satu satunya kelemahan yang
dimiliki senjata semacam ini adalah tidak bisa mengembangkan
serangan dalam keadaan tergesa-gesa, maka ketika Gi Cing-kiok
mengatakan akan mengalah, tiga jurus kepadanya, hal ini justru
sesuai dengan kehendak hatinya, dalam gembiranya dia pun
mengembangkan permainan jurusnya dengan perasaan lega.
Siapa tahu tiba-tiba Gi cing-kiok berseru
sambil tertawa:
"Aduh... aku tidak bisa mengalah tiga jurus
kepadamu, dua jurus saja!"
Ditengah gelak tertawanya dia langsung
menerobos masuk ke tengah cahaya perak.
Waktu itu jurus serangan Han bwee toh coat
dari Yau su-moay sudah mencapai diujungnya sementara jurus berikut
Sam cun hui soh belum lagi dimulai, disaat tenaga lama habis
sementara tenaga baru belum muncul, itulah titik kelemahan yang
paling menakutkan.
Belum hilang rasa terperanjat Yau su-moay,
Gi cing-kiok telah menerobos masuk melalui celah kelemahan itu.
Senjata kait terbang itu tangguh dalam
serangan jarak jauh tapi lemah diserangan jarak dekat, dengan tangan
kirinya Gi Cing-kiok langsung mencengkeram tali panjang itu sedang
tangan kanannya langsung dihantamkan ke dada Yau Su-moay.
Biar terkesiap didalam hati, Yau su-moay
masih tampil dengan senyuman dibibir, teriaknya:
"Cici, ternyata aku tertipu oleh akal
muslihatmu!"
Sebuah tendangan langsung diarahkan ke
pergelangan tangan lawan.
Gi Cing-kiok segera mengubah tabokan menjadi
babatan, kini dia membabat pergelangan kaki Yau su-moay sementara
tangan kanannya segera memotong tali panjang itu hingga putus.
Tiba tiba terdengar desingan angin tajam
menyambar lewat dari arah belakang, rupanya sebatang kait perak
sedang membacok dari belakang tubuhnya.
Mengikuti gerak serangan itu, Yau su-moay
dengan gaya Burung belibis terbang bersama menjejakkan kaki kanannya
ke tanah sementara kaki kirinya diayunkan ke muka, dalam satu jurus
dengan tiga gerakan menghajar ke tubuh lawan.
Gi Cing-kiok sama sekali tidak bingung,
tanpa berpaling mendadak tubuhnya menerobos maju ke muka, tahu-tahu
tangan kanannya sudah mengangkat kaki kiri lawan tinggi-tinggi.
"Sreeet!" kaitan perak itu menyapu lewat
persis diatas kepalanya.
Saat ini asal telapak tangannya mendorong ke
depan, niscaya tubuh Yau Su-moay akan roboh terjungkal.
Tapi saat itulah Yau su-moay telah
menyambar kembali senjata kaitan peraknya yang meluncur balik, ke
empat jari tangannya segera disusupkan ke dalam sarung pelindung
tangan diujung senjata itu dengan meninggalkan ibu jari serta jati
tengahnya.
Begitu pergelangannya berputar, dia sapu
bahu dan tengkuk Gi cing-kiok.
Bila Gi Cing-kiok tetap mendorong telapak
tangannya ke depan, niscaya dia sendiripun akan terluka diujung
senjata kaitan.
Kedua orang itu sama-sama bertubuh ramping,
sama-sama bertarung dengan senyuman dibibir, namun jurus serangan
yang digunakan semuanya cepat lagi tepat, ganas lagi telengas, dalam
waktu sekejap mereka telah saling menyerang berapa gebrakan.
Tatkala semua orang masih mengikuti jalannya
pertarungan dengan perasaan tegang, mendadak... "Traaang!" sesosok
bayangan manusia melompat ke tengah udara.
Rupanya disaat yang amat kritis itulah,
ketika senjata kait ditangan Yau su-moay belum sempat dibacokkan ke
bawah, Gi cing-kiok telah menyambar sebatang senjata kaitan yang
lain.
Tali yang mengikat kaitan itu sudah dia
patahkan, ujung tali masih berada dalam genggamannya.
Maka ketika dia dorong senjata kaitan itu ke
depan, tubuhnya manfaatkan kesempatan itu miring ke samping kanan,
akibatnya sewaktu Yau Su-moay membabatkan senjatanya ke bawah,
bacokan itu persis ditangkis oleh senjata kaitan ditangan kirinya.
Begitu sepasang senjata kaitan saling
membentur, tubuh Yau Su-moay bergetar keras dan mencelat sejauh tiga
meter ke tengah udara, tampaknya dia segera akan tercebur ke dalam
sungai.
Ditengah jeritan kaget, sekilas cahaya perak
meluncur keluar dari tangan Yo Pat-moay, lagi lagi...."Triiing!"
sambaran kait terbang itu langsung menggaet senjata kaitan rekannya.
Menggunakan kekuatan benturan itu Yau
Su-moay berjumpalitan berapa kali di udara, lalu dengan kepala
dibawah kaki diatas bagaikan seekor burung walet dia terbang balik
ke posisi semula.
Sekalipun dia sudah kalah, namun gerakan
tubuhnya yang indah dan menawan segera mengundang tampik sorak dari
rekan rekannya.
"Bagus!" tidak tahan Sui Leng-kong ikut
berteriak memuji.
Siapa tahu baru saja sepasang kakinya
melayang turun diatas geladak, mendadak tubuhnya mundur
sempoyongan, ternyata dia tidak mampu berdiri tegak lagi.
Dengan wajah berubah Yo Pat-moay segera
memayang tubuhnya.
"Su-ci, kenapa kau?" tegurnya. Paras muka
Yau Su-moay pucat pias bagai mayat, peluh dingin bercucuran
membasahi jidatnya, sambil menahan rasa sakit yang luar biasa
ujarnya dengan nada gemetar:
"Ka......kakiku....... mungkin.....mungkin
tidak bisa digunakan lagi!"
Cepat Yau Pat-moay berjongkok memeriksa
lukanya, tampak darah segar meleleh keluar dari balik sepatu
kainnya, cepat dia mencopot kaus kakinya, ternyata tulang kaki gadis
itu sudah hancur berantakan.
Paras muka kawanan lebah lainnya seketika
ikut berubah, sementara Gi cing-kiok tetap berdiri ditempat seakan
tidak pernah terjadi sesuatu apapun, malah ujarnya sambil tertawa:
"Aduh adiku...... apakah seranganku kelewat
keras hingga membuat kau terluka parah?"
Setelah memukul perlahan tubuh sendiri,
lanjutnya:
"Tanganku ini memang agak kelewatan, masa
membedakan keras atau enteng saja tidak bisa? Untung hanya kaki yang
terluka, coba kalau wajah cantiknya yang tergores........"
Mendadak Hoa Toa-koh melompat bangun,
katanya sambil tertawa paksa:
"Sekalipun tidak sampai menggores luka
wajahnya, tapi kalau seorang nona jadi pincang kakinya, siapa lagi
yang mau mengawininya di kemudian hari?"
Gi Cing-kiok tertawa terkekeh. "Aaah, tidak
jadi soal, adik ku yang ke sembilanpun seorang pincang, bila adik
ini benar-benar jadi pincang, bukankah mereka jadi
pasangan yang paling serasi?"
Gi Peng-bwee yang berdiri disamping
menyambung pula dengan nada dingin:
"Biarpun kiu te pincang, tapi akalnya banyak
dan amat cerdas, coba kalau bukan dia, belum tentu kami bisa melacak
sampai disini"
Thiat Tiong-tong yang berdiri jauh diluar
pintu seketika merasa hatinya amat lega, pikirnya:
"Ternyata dialah yang memberi petunjuk
hingga gadis gadis itu dapat melacak sampai disini, bila dia tidak
mati berarti Leng Cing-soat pun belum tentu mati"
Belum habis ingatan itu melintas, situasi
diujung perahu kembali telah terjadi perubahan.
Rupanya kawanan gadis lebah itu sudah
menyerbu ke depan dan mengepung rapat-rapat Gi Cing-kiok bertiga.
"Kenapa?" terdengar Gi Cing-kiok berseru
sambil tertawa, "memangnya kalian nona-nona cantik mau main
kerubut? Hey Hoa Toa-koh, beginikah ajaranmu kepada mereka?"
"Siapa suruh kau melukai Su-moay mereka"
kata Hoa Toa-koh sambil tertawa, "jika mereka ingin main kerubut
untuk membalaskan dendam cicinya, akupun tidak bisa berbuat banyak"
Sembari membesut keringat dingin yang
membasahi jidatnya, Yau Su-moay berkata pula sambil tertawa paksa:
"Cici yang baik, kalianpun jangan harap bisa
kabur dari sini, paling tidak kau mesti membayar ganti rugi sebuah
kaki juga untukku!"
"Baik, akan kuganti!" seru Gi Cing-kiok
sambil tertawa.
Setelah memberi tanda kepada Sui Leng-kong,
mendadak sepasang tangannya diayunkan ke depan menghajar enam buah
jalan darah penting ditubuh tiga orang gadis lebah.
Bersamaan waktu Sui Leng-kong telah
menyelinap ke depan Thiat Tiong-tong, dalam berapa gebrakan ia
berhasil pukul mundur Li Ji-ci yang berada didepan pemuda itu,
kemudian tanyanya:
"Jalan darah......jalan darah apa yang
terluka ditubuhmu?"
"Jalan darah siang-bun........"
sahut Thiat Tiong-tong.
Sementara mulutnya berbicara, tangannya sama
sekali tidak berhenti bergerak, meski jurus serangannya tidak ganas
namun gerakan tubuhnya lincah dan cepat.
Lagi-lagi dia memukul mundur Li Ji-ci hingga
sejauh berapa langkah, kemudian tangan kanannya secepat kilat
meluncur ke tubuh Thiat Tiong-tong dan berusaha membebaskan jalan
darahnya.
Siapa tahu paras muka Thiat Tiong-tong
tiba-tiba berubah hebat, ternyata ada dua desingan angin tajam
membokong tiba dari belakang tubuh Sui Leng-kong.
"Leng-kong, cepat menyingkir!" teriak Thiat
Tiong-tong tercekat.
Siapa tahu bagi Sui Leng-kong dia lebih rela
tubuhnya terluka daripada mengurungkan niatnya untuk menotok bebas
Thiat Tiong-tong, bukan saja dia tidak berkelit, bahkan dengan
gerakan yang tidak berubah dia lanjutkan perbuatannya.
Jangan dilihat tubuhnya lemah gemulai,
ternyata tabiatnya keras kepala dan sedikit kaku.
Dalam terperanjatnya tiba-tiba sepasang kaki
Thiat Tiong-tong didorong lurus ke bawah, biarpun tenaga dalamnya
telah punah namun pengalamannya dalam menghadapi musuh amat matang,
arah yang ditujupun sama sekali tidak melenceng.
Karena gerakannya itu mau tidak mau tangan
Sui Leng-kong pun ikut berputar ke bawah sementara badannya turut
membungkuk ke depan.
Dua titik cahaya perak itu melesat lewat
persis dari atas kepala gadis itu, tapi akibatnya tubuh Thiat
Tiong-tong lagi-lagi diseret Li Ji-ci hingga terpisah agak jauh.
Dalam waktu singkat ke dua titik cahaya
perak itu telah membelenggu seluruh gerakan tubuh Sui Leng-kong,
gadis itu mencoba menerjang ke kiri maupun ke kanan, berusaha
menghampiri Thiat Tiong-tong, namun begitu kesempatan baik lewat
dengan begitu saja, diapun tidak ada peluang lagi untuk mendekati
anak muda itu.
Dipihak lain Gi Cing-kiok telah terkepung
juga ditengah kerubutan tujuh delapan macam senjata dari kawanan
gadis lebah.
Ujung perahu itu tidak terlalu lebar,
tampaknya kawanan gadis lebah itu kuatir senjata mereka saling
membentur diantara senjata rekannya hingga tidak berani menggunakan
senjata jarak panjangnya, maka serangan yang dilancarkan pun hanya
sebatas serangan jarak pendek.
Waktu itu sepasang pedang, sepasang senjata
cakar, sepasang poan-koan-pit dan sepasang senjata kaitan mengepung
Gi Cing-kiok rapat rapat, ditengah berkelebatnya cahaya
keperak-perakan, terselip suara dentingan nyaring bagai irama dari
surga.
Dalam pada itu Gi Peng-bwee telah
menghampiri Hoa Toa-koh, sambil menatap lawannya dia berkata
dingin:
"Biarkan adik-adik kecil itu bertarung
diujung perahu, lebih baik kita berdua bertarung didalam ruangan
saja!"
Hoa Toa-koh berpaling menatap lawannya
sekejap, kemudian sahutnya sambil tertawa ringan:
"Kenapa mesti didalam? Disini pun juga tidak
apa-apa!"
"Ketika kita sedang bertarung, apakah ada
orang lain yang akan membantu mu?"
"Hahahaha..... siapa lagi yang akan datang
membantu!"
Gi Peng-bwee menyapu sekejap suasana di
sekitar situ, kecuali Yau Su-moay yang sudah terluka serta Li Ji-ci
yang masih menarik tubuh Thiat Tiong-tong, benar saja tidak seorang
gadis lebah pun yang nampak menganggur.
Dia tidak berbicara lagi, dengan mata
menatap tajam gerak-gerik lawannya, selangkah demi selangkah dia
menghampiri Hoa Toa-koh.
"Kau maupun aku adalah toaci mereka semua"
ujar Hoa Toa-koh sambil tertawa, "sudah sepantasnya kita
perlihatkan sikap sebagai seorang kakak paling tua, kalau
gebuk-gebukan begitu saja apa tidak kuatir akan ditertawakan orang
lain?"
"Apa yang kau hendaki? Katakan saja"
"Kalau begitu kemarilah!"
Dengan sekali jejak tubuh Hoa Toa-koh
melambung ke tengah udara lalu meluncur ke arah tiang layar perahu.
Diantara kibaran ujung baju, dia sudah mengambil posisi di sisi
kiri.
Diam-diam Gi Peng-bwee mengernyitkan
dahinya, namun tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera
menyusul naik keatas dan mengambil posisi disisi kanan.
Dipandang dari bawah, kedua orang yang
berdiri diatas tiang layar itu bagaikan dua bidadari yang siap
terbang menuju ke atas awan.
Biarpun layar bergoyang kencang karena
hembusan angin, ke dua orang itu saling berhadapan tanpa bergerak.
"Apa yang akan ditandingkan?" tanya Gi
Peng-bwee kemudian.
Sambil menuding ujung tiang yang berapa
meter menjulang tinggi ke angkasa, ujar Hoa Toa-koh:
"Kita harus saling berebut naik ke puncak
tiang itu, siapa yang mencapai duluan, dialah yang menang"
"Kalau siapapun tidak berhasil mencapai ke
situ?" tanya Gi Peng-bwee sambil tertawa hambar.
"Yang tetap hidup dialah yang menang!"
"Kapan akan dimulai?"
"Kita sama-sama bergerak menuju ke tengah
tiang lalu saling bertepuk tangan, begitu suara tepukan bergema,
saat itulah pertarungan di mulai!"
"Baik! Jika pukulan tersebut dapat
membunuhmu, aku rasa pertandinganpun tidak perlu dilanjutkan"
"Hahahaha..... nona Gi, kau memang sangat
pintar!"
Padahal pertarungan yang bakal berkobar
merupakan pertarungan mati hidup, namun ke dua orang wanita cantik
itu membicarakannya dengan begitu santai, seolah-olah sedang
bercanda saja.
Perlu diketahui, walaupun pertarungan
semacam ini nampaknya serba baru dan sangat menarik, padahal
merupakan pertarungan yang menentukan mati hidup. Kedua orang itu
butuh mengerahkan seluruh kepandaian silat, kecerdasan serta
kekuatan tersembunyi yang dimilikinya untuk saling beradu.
Bukan saja kesempatan untuk meraih
kemenangan sama rata, siapa pun tidak dapat meraih posisi yang lebih
menguntungkan.
Asal ada salah satu pihak lemah dalam hal
tenaga dalam atau ilmu meringankan tubu, ilmu pukulan, ilmu pedang,
senjata rahasia maupun kecerdasan, maka jangan harap dia bisa lolos
dari per tarungan ini dalam keadaan hidup.
Perlahan-lahan kedua orang itu mulai
menggeser tubuhnya bergerak menuju ke tengah tiang.
Meskipun senyuman masih menghiasi wajah
mereka berdua, namun sorot matanya nampak begitu serius dan tegang.
Setiap mereka melangkah satu tindakan,
selisih jarak makin mendekat, ketegangan pun nampak semakin
bertambah tebal.
Ketika tubuh mereka berdua sudah berada pada
jarak satu meter, dimana masing-masing pihak sudah dapat meraih
tubuh lawan, tiba-tiba senyuman yang menghiasi wajah mereka hilang
lenyap seketika.
Perlahan-lahan Gi Peng-bwee mendorong
telapak tangannya ke muka, diantara jari jemarinya yang lembut dan
halus, terselip tenaga pukulan yang maha dahsyat.
Menyaksikan datangnya ancaman itu, mendadak
Hoa Toa-koh berseru sambil tertawa:
"Ooh sebuah tangan yang sangat indah!"
Mengiringi suara tertawanya, secepat kilat
dia melepaskan pula sebuah pukulan.
Padahal kata "secepat kilat" rasanya masih
belum cukup untuk melukiskan betapa cepatnya serangan yang dia
lancarkan.
Ujung jari telunjuk, jari tengah dan jari
kelingkingnya menepuk perlahan sendi jari kelingking Gi Peng-bwee,
ketika terdengar suara "Bluuk!" tahu-tahu tubuhnya sudah melambung
ke udara.
Waktu itu Gi Peng-bwee sudah menghimpun
seluruh kekuatannya tapi belum sampai dilontarkan keluar, perlu
diketahui sendi jari kelingking merupakan bagian tangan yang
terlemah, menanti Gi Peng-bwee siap melontarkan kekuatannya, tubuh
Hoa Toa-koh sudah melambung berapa meter ke udara, tampaknya dia
segera akan mencapai puncak tiang.
Perempuan lebah ini memang banyak akal dan
sangat pintar, tampaknya dia tahu kalau Gi Peng-bwee hendak
menjatuhkan dia dengan mengandalkan kekuatan tenaga pukulannya,
maka dia pun menghindari bentrokan tersebut dengan mengambil
langkah lain yang sama sekali diluar dugaan.
Dari semua orang yang hadir di perahu itu,
hanya Thiat Tiong-tong seorang yang dapat mendongakkan kepalanya
mengikuti jalannya peristiwa itu.
Dia jadi amat terperanjat setelah
menyaksikan kejadian itu, pikirnya:
"Sungguh lihay Hoa Toa-koh ini, dalam
keadaan begini jika Gi Peng-bwee tidak ingin kalah maka hanya ada
satu cara yang bisa dia lakukan......"
Baru saja ingatan tersebut melintas lewat,
angin pukulan yang dilancarkan Gi Peng-bweee tiba-tiba berganti
arah, "Blaaaam!" kali ini dia menghajar tiang layar itu kuat-kuat.
Serangan itu dilancarkan dengan seluruh
kekuatan yang dimiliki, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan
itu, tidak ampun tiang layar yang besarnya mencapai mulut mangkuk
itu patah jadi dua.
Tenaga pukulan yang kuat membuat tiang
layfer yang patah itu mencelat sejauh berapa meter kemudian setelah
berpusing di udara, tiang itu langsung meluncur lurus ke
bawah.......
"Blummmm!" langsung menghujam diatas atap
bangunan perahu..
Waktu itu Hoa Toa-koh masih berada ditengah
udara dalam usahanya mencapai puncak tiang, begitu tiang patah dan
jatuh ke bawah, bukan saja dia langsung kehilangan sasaran, diapun
kehilangan tempat untuk berpijak.
Ketika kekuatan tubuhnya lenyap, mau tidak
mau terpaksa dia melayang turun kembali ke bawah, pujinya didalam
hati:
"Sungguh cerdas gadis ini!"
Thiat Tiong-tong sendiripun segera memuji
didalam hati:
"Tidak kusangka dalam keadaan yang gawat dia
masih dapat menemukan cara sehebat ini, untung otaknya encer dan
segera menemukan cara untuk menanggulangi, coba terlambat sedikit
saja niscaya dia akan kalah"
Tidak menunggu tubuh Hoa Toa-koh menyentuh
tanah, sekali lagi Gi Peng-bwee mendorong sepasang telapak tangannya
ke depan, gulungan angin pukulan sedahsyat amukan gelombang samudra
langsung menerjang tubuh perempuan lebah itu.
Saat itu Hoa Toa-koh belum sempat menyentuh
tanah, termakan hembusan angin pukulan itu, tubuhnya bagaikan
layang-layang yang putus benang langsung meluncur ke tengah sungai.
Begitu berhasil memukul mencelat musuhnya,
Gi Peng-bwee sama sekali tidak memandang lagi ke arahnya, dengan
gerakan cepat dia meluncur ke atas tiang layar yang menancap diatap
bangunan itu.
"Celaka!" pekik Hoa Toa-koh dalam hati.
Sebuah tentangan segera dilancarkan keatas
layar perahu, begitu layar itu tertendang robek, dia segera
mengaitnya dengan ujung kaki.
Dengan meminjam kaitan ujung kakinya diatas
layar sebagai titik berat, tubuhnya berputar bagai gangsingan,
kemudian dengan meminjam tenaga pusaran itu secepat anak panah
tubuhnya menubruk ke arah Gi Peng-bwee.
Belum sempat Gi Peng-bwee tiba ditempat
tujuan, Hoa Toa-koh sudah menyusul tiba dari tengah udara.
Dalam kagetnya dia segera membalik tubuh
sambil melepaskan sebuah pukulan.
"Blaaaam!" empat tangan saling beradu, kedua
orang wanita itu sudah saling menggempur di tengah udara.
Kali ini Hoa Toa-koh menyerang dengan
meminjam tenaga pusingan, sedang Gi Peng-bwee harus menyerang sambil
melompat ke atas, ketika pukulan saling beradu, jelas dialah yang
berada dipihak rugi, tubuhnya langsung terpental oleh tenaga getaran
Hoa Toa-koh.
Kini giliran Hoa toa-koh yang berlarian
menuju puncak tiang tanpa memperdulikan lawannya lagi.
Siapa sangka baru saja tubuhnya bergetar,
lima titik cahaya tajam tiba-tiba menyergap datang dari depan mata.
Rupanya dibalik sepasang ujung baju Gi
Peng-bwee tersembunyi senjata rahasia yang cukup lihay, meski
tubuhnya terpental ke samping namun tangannya sama sekali tidak
menganggur, hujan senjata rahasia pun menyelimuti angkasa.
Hoa Toa-koh menghentikan gerakan tubuhnya
sambil menyampok runtuh ke lima titik cahaya tajam itu, tapi segera
muncul lagi lima titik cahaya yang disertai desingan angin tajam
mengancam tubuhnya.
Meskipun serangan dua tabung senjata rahasia
yang dilancarkan Gi Peng-bwee dalam keadaan tergesa tidak seberapa
akurat, namun tidak disangkal cukup membuat Hoa Toa-koh terhambat
gerak majunya.
Sekalipun secara mudah Hoa Toa-koh mampu
merontokkan senjata rahasia itu, namun ketika dia selesai
merontokkan ancaman tersebut, Gi Peng-bwee sudah keburu menyusul
tiba, sepa-sangan tangannya dengan disertai deruan angin pukulan
segera meneternya habis-habisan.
Dalam waktu singkat kedua orang itu kembali
bertarung belasan jurus banyaknya.
Jurus pukulan yang digunakan kedua orang ini
sama-sama aneh, hebat dan gencarnya, sementara langkah kaki mereka
pun tiada hentinya bergeser terus menuju ke arah patahan tiang layar
yang menancap dipuncak bangunan.
Kedua orang ini bukan saja kepandaian
silatnya hampir sejajar, kecerdasan mereka pun hampir berimbang.
Kedua orang itu sama-sama tahu, meskipun
tiang layar itu sudah patah namun asal mereka dapat melompat ke atas
puncak patahan kayu itu maka dialah yang akan dianggap sebagai
pemenang, oleh sebab itu siapa pun tidak ingin membiarkan lawannya
mendekati tiang tersebut.
Thiat Tiong-tong sendiripun merasakan
hatinya kebat kebit, walaupun pengalamannya dalam menghadapi
pertarungan cukup banyak namun belum pernah dia jumpai pertarungan
sesengit dan setegang ini.
Dalam waktu yang relatip singkat, sudah
beberapa kali kedua orang itu memperoleh kesempatan untuk meraih
kemenangan, tapi setiap kali selalu berhasil digagalkan pihak lawan.
Hoa Toa-koh melancarkan serangannya makin
gencar, diiringi deruan angin pukulan yang menderu secara beruntun
dia menggunakan jurus Pek nio tiau hong (ratusan burung
menerpa angin), Huang hong si sim (lebah kalap mengerumuni
putik bunga) dan Sam cun hui soh (tiga bunga terbang
melayang).
Ke tiga jurus serangan itu dilancarkan
secara berantai, terkadang seperti rangkaian tali, terkadang mirip
serat sutera, semuanya merupakan jurus serangan yang lincah dan
mematikan.
Tapi begitu ke tiga jurus itu lewat,
mendadak gerak serangannya berubah jadi keras dan ganas, seperti
aliran air disungai kecil mendadak berubah jadi gulungan air bah
yang muncul dari balik dam yang jebol.
Biarpun serangannya ganas dan dahsyat namun
sesungguhnya dia mengambil sikap bergerak mundur, setiap kali akan
mundur dia bergerak maju duluan, asal Gi Peng-bwee berkelit ke
samping, dia pun berusaha mendesak maju lagi mendekati tiang itu.
Siapa tahu Gi Peng-bwee justru menggunakan
taktik serangan dibalas serangan, mendadak dia menerobos masuk lewat
deruan angin pukulannya, kemudian dengan jari tangannya yang tajam
bagai pedang, dia sodok perut bagian bawah perempuan itu.
Jurus serangan ini ganas lagi licik, hanya
kaum wanita yang akan menggunakannya, sementara dalam kalangan dunia
persilatan pun kecuali kaum kurcaci atau karena terdesak keadaannya,
mereka tidak akan sudi mengeluarkan serangan semacam itu.
Hoa Toa-koh jarang sekali bertarung melawan
kaum wanita, menghadapi serangan macam begini dia jadi terkesiap,
dia tidak tahu apakah jurus berikut akan jauh lebih hebat daripada
jurus sebelumnya.
Dalam keadaan seperti ini, dia tidak punya
waktu untuk berpikir panjang, terlebih tidak ingin adu jiwa bersama
lawannya, maka gerak serangannya ditekan lebih ke bawah dan
menyambut datangnya ancaman itu.
Tiba-tiba dia merasa serangan lawan disertai
tenaga dalam yang sangat tajam dan hebat, begitu tangannya menyentuh
jari tangan musuh, seketika tubuhnya terhisap kuat.
Dengan perasaan makin terkesiap pikirnya:
"Dia ingin beradu tenaga dengan aku?"
Saat ini dia tidak punya pilihan lain,
terpaksa sambil mengerahkan tenaganya dia lawan tekanan kuat dari
lawan.
Perlu diketahui, pertarungan semacam ini
sangat menguras tenaga, sekali terjadi pertarungan maka tidak akan
berhenti sebelum ada yang tewas, oleh sebab itu jarang sekali orang
persilatan mau melakukan pertarungan semacam ini kecuali benar-benar
terjalin dendam kesumat yang sangat mendalam.
Melihat kejadian itu diam-diam Thiat
Tiong-tong menghela napas panjang, dia tahu Gi Peng bwee pastilah
termasuk seorang gadis yang besar rasa ingin menangnya.
Diapun mengerti pertarungan semacam ini
tidak mungkin bisa diketahui menang kalahnya dalam setengah sampai
satu jam, maka perhatiannya kembali dialihkan kearena pertarungan
yang ada diujung perahu.
Tampak cahaya perak berkilauan ditempat itu,
sekeliling perahu seolah terbungkus dalam lapisan cahaya yang tebal.
Gi Cing-kiok dengan satu melawan empat
bergerak kian kemari diantara kilauan cahaya senjata yang beraneka
ragam, sekalipun tubuhnya lincah namun lambat laun gerakannya
semakin melamban, jelas dia sudah kepayahan.
Berbeda dengan ke empat gadis lebah yang
mengepungnya, mereka bergerak amat santai, maka sambil tertawa
tegurnya:
"Adik-adik, jangan sampai kehilangan nyawa
sendiri, biarkan saja tulang kakinya seorang yang remuk....."
Yau Su-moay amat geram mendengar ejekan itu,
sambil memegangi kakinya yang sakit dia berteriak:
"Perketat serangan kalian, cari modal balik
ditambah bunganya, kalian tebas kedua kaki miliknya”
Gi Cing-kiok tertawa terkekeh.
"Adikku, apakah kalian tidak kuatir
saudara-saudaraku pun datang membuat perhitungan?"
Mendadak dengan babatan tangan dan sodokan
jari tangannya dia lancarkan tujuh jurus serangan berantai.
Kini kawanan gadis lebah itu tidak sanggup
tertawa lagi, mereka sadar perkataan itu bukan bualan belaka,
sekalipun pertarungan berhasil mereka menangkan namun akibatnya bisa
amat parah, perasaan kuatir pun mencekam hati semua orang.
Sui Leng-kong yang bertarung melawan dua
orang pun sudah bertempur ratusan jurus lebih.
Kalau semula dia masih canggung menggunakan
jurus serangan, lambat laun gerakannya bertambah mahir dan lancar,
kini tubuhnya dapat bergerak cepat bagaikan sambaran petir, setiap
jurus serangan yang dilancarkan pun cepat, ganas dan telengas.
Masih untung semua jurus serangan yang
digunakan meski aneh dan sakti namun tidak termasuk ganas, biar
hebat namun tidak telengas, kendatipun begitu kawanan gadis lebah
itu keteter juga hingga berada di bawah angin.
Sebagaimana diketahui, Sui Leng-kong tumbuh
dewasa didasar jurang yang gersang dan amat berbahaya, setiap saat
dia selalu berkeinginan dapat keluar dari tempat itu, maka ilmu
meringankan tubuhnya dilatih lebih khusus dan tekun hingga
kehebatannya jauh diluar perkiraan siapa pun.
Oleh karena itu walaupun dalam pertarungan
yang berlangsung dia rugi karena kekurangan pengalaman, namun
gerakan tubuhnya yang cepat dan lincah boleh dibilang membuat orang
lain susah menangkapnya.
Itulah sebabnya sekalipun jurus serangannya
agak lemah, namun posisinya justru lebih kuat dan diatas angin.
Thiat Tiong-tong yang menyaksikan hal ini
hati kecilnya merasa terkejut bercampur gembira, tidak tahan dia
menghela napas panjang.
Tiga ratus gebrakan kemudian dua orang gadis
lebah itu mulai tidak kuat menahan diri, serentak teriaknya:
"Saudara-saudaraku, kemarilah satu orang,
bantulah kami!"
Yo Pat-moay yang sedang bertarung melawan Gi
Cing-kiok segera melompat ke udara dan berlarian mendekat.
Pertarungan antara Gi Peng-bwee melawan Hoa
Toa-koh juga sudah mencapai puncaknya, butiran keringat mulai
bercucuran membasahi tubuh mereka.
Kedua orang itu berdiri saling berhadapan,
kelopak mata mereka makin lama berkembang makin lebar sementara
tempat pijakannya berbunyi gemerutukan, masih untung ruang perahu
itu cukup kokoh, kalau tidak, mungkin sedari tadi mereka berdua
sudah terjerumus jatuh ke bawah.
Kini mereka berdua sama-sama punya pikiran
untuk melepaskan diri, maka yang dipikirkan adalah bagaimana
secepatnya merobohkan lawan, bagaimana secepatnya menggapai puncak
tiang.
Thiat Tiong-tong masih mengawasi jalannya
pertarungan diatap bangunan perahu itu tanpa berkedip, sekalipun
mimik mukanya tidak menampilkan perubahan namun perasaan hatinya
bergejolak.
Orang-orang itu sesungguhnya tidak punya
ikatan permusuhan ataupun dendam, tapi sekarang mereka bertarung
mati-matian tidak lain karena dirinya.
Sekalipun bagaimana akhir dari pertarungan
ini, siapa menang siapa kalah masih susah diramalkan, namun pihak
mana pun yang menang atau kalah pasti akan membuatnya memikul beban
yang sangat berat, dia sama sekali tidak punya hubungan apa-apa
dengan mereka, tentu saja kecuali Sui Leng-kong.....
Kini Sui Leng-kong sudah terperosok dalam
posisi dibawah angin, jurus serangan Yo Pat-moay yang ganas dan
mantap, kaitan terbang yang sebentar menyerang dari jauh sebentar
menyerang dari jarak dekat semakin menguasahi keadaan.
Dan kemampuan yang luar biasa itu sudah
memaksa Sui Leng-kong berulang kali terperosok ke dalam lingkaran
arus empat macam senjata tajam lainnya.
Meskipun dia dapat menghindari setiap
ancaman dengan mengandalkan kelincahan rubuh nya, namun jurus
serangan yang kelewat lembek dan ringan justru merupakan titik
kelemahan yang mematikan.
Perasaan hati Thiat Tiong-tong mulai
bergelora, paras mukanya mulai berubah, kini sorot matanya tidak
memperhatikan orang lain lagi melainkan hanya berputar mengikuti
gerakan badan Sui Leng-kong.
Setiap kali gadis itu terperosok dalam mara
bahaya, paras mukanya segera berubah hebat, setiap kali Sui
Leng-kong melepaskan kesempatan baik untuk meraih kemenangan, diapun
menghela napas panjang...... perasaan cintanya yang tulus terhadap
Sui Leng-kong, perlahan-lahan mulai tumbuh dan mengalir keluar,
meski selama ini selalu terpendam dalam dasar hatinya.
Tapi sayang seluruh kekuatan tubuhnya sudah
lenyap, walaupun melihat Sui Leng-kong berada dalam posisi berbahaya
namun dia tidak mampu berbuat apa apa.
Padahal Sui Leng-kong pernah selamatkan
jiwanya.
......Dia, seandainya tidak ada Sui
Leng-kong, mungkin sudah sejak dulu mati di dasar jurang yang
gersang.
Dia menarik napas panjang lalu bergumam:
"Aku harus berusaha......harus
berusaha......"
Tapi dalam keadaan dan saat seperti ini,
kecuali datang pasukan dari langit, apa lagi yang bisa dia lakukan?
Saat itu seluruh perhatian Li Ji-ci sedang
tertuju pada tiga arena pertarungan yang sedang berlangsung.
Deruan angin serta desingan senjata
bercampur aduk menciptakan satu irama yang aneh, ditambah lagi
deburan ombak yang menggulung membuat keadaan semakin mengerikan.
Thiat Tiong-tong mulai menggerakkan
kakinya, perlahan-lahan berjalan menuju ke buritan perahu.
Dia seolah terbayang akan sesuatu, cahaya
tajam sempat melintas diwajahnya.
Tiba-tiba........."Byuuuurr!" terdengar ada
sesuatu benda tercebur ke dalam air.
Dengan perasaan terkejut Li Ji-ci segera
berpaling, tapi dia sudah tidak nampak bayangan tubuh Thiat
Tiong-tong.
Dalam kagetnya buru-buru dia lari menuju ke
buritan perahu, diantara pusaran air sungai tampak tubuh Thiat
Tiong-tong terapung diatas permukaan air.
Dengan wajah berubah hebat Li Ji-ci segera
berseru:
"Aduh celaka, dia terjun ke air"
Kawanan gadis yang sedang bertarung serentak
tersentak kaget, teriak mereka bersama:
"Siapa?"
"Dia.......Thiat......."
Belum selesai dia bicara, suara pertarungan
seketika terhenti, Gi Cing-kiok, Sui Leng-kong maupun kawanan gadis
lebah itu berbondong-bondong sudah berlarian menuju buritan perahu.
Seperti apa yang diduga Thiat Tiong-tong,
siapa pun tidak ada yang bertarung lagi.
......Thiat Tiong-tong tahu, kini
satu-satunya jalan untuk selamatkan Sui Leng-kong hanya berbuat
begitu, maka dia terpaksa harus mengorbankan diri, menceburkan diri
ke dalam air.
Arus sungai Huangho sangat deras, ombak pun
cukup besar, sekalipun kawanan gadis lebah itu mengerti ilmu
berenang namun tidak seorang pun berani turun ke dalam air,
sementara Thiat Tiong-tong yang tercebur pun tidak nampak terapung
kembali.
"Ka.....kalian......." dengan suara gemetar
dan wajah berubah Sui Leng-kong berseru.
Kawanan gadis lebah itu hanya berpaling
menengok wajahnya, tidak seorangpun melakukan sesuatu tindakan.
Mendadak Sui Leng-kong lari menuju ke tepi
perahu, dia siap menceburkan diri ke dalam sungai, tapi perbuatannya
itu segera dicegah Gi Cing-kiok.
Sambil memeluk erat pinggangnya perempuan
itu berseru:
"Adikku, apakah kau bisa berenang?"
Sambil menggigit bibir dan pejamkan mata Sui
Leng-kong menggeleng.
"Bocah goblok" seru Gi Cing-kiok sambil
menghentakkan kakinya, "kalau tidak mengerti berenang, dengan cara
apa kau hendak menolongnya?"
Tiba-tiba air mata jatuh berlinang membasahi
wajah Sui Leng-kong, katanya dengan suara gemetar:
"Aku......aku tidak bisa membiarkan
dia......dia mati tanpa berusaha menolongnya......"
Gi Cing-kiok memeluk pinggang nona itu
semakin kencang, sementara kepada kawanan gadis lebah itu umpatnya:
"Hei, apakah kalian orang mampus semua?
Kenapa tidak ada yang terjun ke sungai untuk memberi pertolongan?"
Tiba-tiba terdengar seseorang menyahut
dengan nada ketus:
"Kami tidak punya hubungan apa-apa
dengannya, kenapa harus pertaruhkan nyawa untuk memberikan
pertolongan?"
Gi Cing-kiok tidak tahu siapa yang
mengucapkan perkataan itu, kembali makinya:
"Perempuan keji berhati buas, kau! Ternyata
hatimu begitu tega, melihat orang kalap pun enggan menolong!"
Terdengar Li Ji-ci berkata pula setelah
menghela napas:
"Bila diapun tidak mengerti ilmu dalam air,
setelah tercebur ke sungai, besar kemungkinan jiwanya tidak akan
selamat, sekalipun kami berusaha menolongnya, paling banter juga
hanya menaikkan jenasahnya"
"Tidak, dia belum mati" teriak Sui Leng-kong
dengan wajah basah oleh air mata, "diapun tidak bakal
mati......dia.....dia.... selamanya dia tidak akan mati...."
Tiba tiba terlihat Yo Pat-moay berjalan
menuju ke tepi perahu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Pat-moay, apa yang hendak kau lakukan?"
tegur Li Ji-ci dengan kening berkerut.
"Pergi menolongnya!" sahut Yo Pat-moay
dengan wajah hijau membesi.
"Kau edan? Sekalipun kau mengerti ilmu dalam
air, tapi arus di sungai Huangho berbeda jauh dengan arus di sungai
Tiangkang, buat apa kau mesti menyerempet bahaya......."
Yo Pat-moay sama sekali tidak menengok
sekejappun ke arahnya, dia segera menceburkan diri ke dalam sungai.
Sui Leng-kong merasakan lututnya jadi lemas,
sambil berlutut dan air mata bercucuran keluhnya:
"Ooh Thian...... kumohon,
lindungilah keselamatan jiwanya, dia.....dia adalah orang baik,
jangan biarkan dia mati"
Gi Cing-kiok mengepal sepasang tinjunya
kencang, sedemikian kencangnya hingga ruas jari tangannya nampak
putih memucat.
Kembali Sui Leng-kong berbisik:
"Nona itupun seorang yang baik, nona,
terlepas apakah kau berhasil menolongnya atau tidak, selama hidup
aku akan berterima kasih kepadamu"
Waktu itu hanya Gi Peng-bwee dan Hoa Toa-koh
belum menghentikan pertarungan mereka, empat buah telapak tangan
masih saling menempel, siapa pun tidak ada yang berniat menarik
kembali tangannya.
Sekalipun mereka berdua dapat mengikuti
perubahan yang terjadi, namun siapa pun diantara mereka berdua tidak
ada yang mau mengalah.
Sebab mereka berdua telah mengerahkan
segenap tenaga dalamnya, disamping melindungi diri, mereka pun
berusaha mendesak lawannya, siapa pun yang menarik tenaga dalamnya
duluan, maka dia pasti akan diterjang oleh kekuatan lawannya.
Dalam keadaan seperti itu, biarpun ada
bendungan di sungai Huangho yang jebol pun mereka tidak akan
melepaskan diri, tentu saja terkecuali jika kedua orang itu menarik
kembali tangannya bersamaan waktu.
Sudah barang tentu mereka tidak ingin
melakukan pertaruhan itu, siapa pun tidak mau resiko menarik diri,
maka sekalipun perasaan hati mereka dicekam kepanikan dan
kegelisahan, namun empat tangan tetap menempel satu dengan lainnya.
Pada saat yang kritis itulah mendadak
terdengar segulung desingan angin berkelebat lewat ditengah udara.
Dibalik desingan angin terlihat setitik
bayangan hitam bergerak cepat, "Bluuuk!" bayangan hitam itu
menghajar telak diatas tiang layar.
Seketika itu juga terjadi kobaran api diatas
tiang tersebut, api setan dengan cepat merambat diseluruh tiang dan
menimbulkan kebakaran.
Gi Peng-bwee maupun Hoa Toa-koh sama sama
terkesiap, tapi dengan adanya kejadian ini, secara tiba-tiba ke
empat buah tangan mereka pun saling terpisah.....
Sebagaimana diketahui, sekalipun tangan
mereka masih saling menempel, sesungguhnya perasaan hati kedua orang
itu sudah dicekam kegelisahan dan rasa panik sehingga tanpa disadari
tenaga dalam yang mereka kerahkan pun sudah semakin melemah.
Maka ketika terjadi kejutan yang diluar
dugaan ini, tanpa sadar kekuatan tenaga dalam mereka pun semakin
melemah, begitu tekanan melemah, telapak tangan mereka pun berpisah.
Bagaimana pun juga pertarungan mati-matian
yang berlangsung bertujuan untuk memperebutkan tiang layar itu.
Dan sekarang, tiang itu sudah terbakar
hebat.
Tanpa terasa ke dua orang perempuan itu
berdiri tertegun, hembusan angin membuat kobaran api
semakin membara, kini jilatan api yang membakar tiang itu makin
membara.
Kontan saja kedua orang itu sama-sama
melepaskan sebuah pukulan dan menghajar tiang yang terbakar itu
hingga mencelat ke dalam sungai.
Sambil memandang ke arah Gi Peng-bwee, Hoa
Toa-koh tertawa getir, ujarnya:
"Kita sudah melakukan pertarungan yang
percuma hampir setengah harian lamanya, toh akhirnya tidak ada yang
berhasil mencapai puncak tiang itu"
Gi Peng-bwee hanya menghela napas dan tidak
berbicara.
Saat itulah dari tengah derasnya arus sungai
Huangho, terlihat ada sebuah sampan bergerak mendekat sambil
menembusi ombak.
Seorang lelaki bertubuh tinggi besar berdiri
diujung sampan itu, ketika semakin mendekat terdengar dia membentak
nyaring:
"Cepat bebaskan Hay Tay-sau, kalau tidak,
peluru api Bi lek Liat hwee tan ku akan segera memusnahkan perahu
kalian"
Sekalipun harus menentang angin, teriakan
itu kedengaran nyaring dan penuh tenaga.
Hoa Toa-koh segera berkerut kening,
gumamnya:
"Ternyata Bi lek hwee pun ikut datang
kemari"
Lelaki itu mengenakan pakaian ketat berwarna
hitam, rambut dan jenggot putihnya berkibar terhembus angin,
tangannya memegang sebuah gendawa emas sementara dipinggangnya
tergantung sebuah kantung terbuat dari kulit macan.
Dalam pada itu Gi Peng-bwee sudah
menghampiri Sui Leng-kong sambil menghiburnya, sedang Hoa Toa-koh
pun telah berkumpul dengan saudara saudaranya, ketika
mendengar Thiat Tiong-tong menceburkan diri ke dalam sungai, diapun
berkerut kening sambil menghela napas.
Kemudian dengan cepat dia mendekati Yau
Su-moay, menanyainya beberapa patah kata dengan suara lirih, lalu
sambil menuju ke ujung perahu teriaknya lantang:
"Apakah yang datang adalah Bi lek hwee
locianpwee?"
"Kecuali lohu, masa ada yang lain?" sahut Bi
lek hwee dengan suara keras.
"Apakah locianpwee datang untuk mengajak
adik-adikku bermain?"
"Kentut!" teriak Bi lek hwee gusar, "cepat
katakan, dimana Hay Tay-sau?"
"Hay Tay-sau? Tidak melihat dia datang
kemari!"
"Pangbui!" kembali Bi lek hwee membentak
gusar, "kalau tidak segera mengaku, jangan salahkan lohu akan
membakar perahumu"
Tangan kirinya segera diangkat, tangan kanan
menarik gendawa dan siap melepaskan peluru apinya.
Hoa Toa-koh segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Loya, kalau ingin dibakar, bakar sajalah,
kalau perahuku sampai terbakar, biar aku mengajak serta seluruh
saudaraku untuk pindah ke rumahmu!"
Bi lek hwee tertegun, sejak terjun ke dalam
dunia persilatan belum pernah dia bertemu dengan perempuan macam
begini, tentu saja dia pun tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.
Setelah mengerlingnya sekejap, kembali Hoa
Toa-koh berkata:
"Loya, bila tidak ada urusan lain, silahkan
duduk diatas perahu, kami sudah sediakan arak dan sayur, selain itu
juga ada.........."
Setelah tertawa cekikikan, tiba-tiba dia
merendahkan suaranya sambil menambahkan:
"Bila kau anggap adik adikku kurang cantik,
disini pun terdapat murid wanita dari Kui bo........."
Bi lek hwee jengkel bercampur mendongkol,
namun diapun tak dapat berbuat apa-apa.
Sementara itu sampan yang ditumpanginya
telah bergerak semakin mendekat, tampaknya pendayung sampan itu
sangat menguasahi medan, ilmu mendayungnya juga hebat, tidak lama
kemudian dia sudah bersandar ditepi perahu besar itu.
Rupanya setelah meninggalkan perkampungan
keluarga Li, Bi lek hwee yang bertemu dengan Hay Tay-sau ditengah
jalan merasa saling mencocoki, maka merekapun melakukan perjalanan
bersama, sebelum Hay Tay-sau berangkat duluan ke perahu itu, dia
pernah berpesan kepada Bi lek hwee agar menunggunya di sampan.
Bi lek hwee dengan tabiatnya yang berangasan
dan tidak sabaran merasa tidak tahan untuk menanti terlalu lama,
sesudah menunggu sesaat akhirnya dia pun menyusul ke situ.
Melihat Bi lek hwee gusar setengah mati, Hoa
Toa-koh tertawa semakin keras.
Perempuan inipun termasuk orang yang
selamanya tidak pernah menampilkan perasaan hati diwajahnya, selama
ini dia selalu sembunyikan perasaan hatinya dibalik senyuman, maka
ketika semua orang melihat perempuan itu tertawa makin keras, siapa
pun tidak bisa menduga kejadian apa yang bakal berlangsung di perahu
itu. Terdengar dia berkata lagi sambil tertawa:
"Loya, kau akan naik kemari atau tidak?”
Bi lek hwee teramat gusar, dadanya naik
turun menahan emosi, akhirnya sambil meraung gusar teriaknya:
"Kenapa, kau bukan seorang lelaki, kalau kau
lelaki, hmmm... hmmm....hmmm...hmmm......"
"Maaf, akupun agak jengkel kenapa ibuku
melahirkan aku sebagai seorang wanita, sayangnya, mau dibatalkan
pun sudah terlambat"
"Kalau kau berani mencelakai Hay Tay-sau,
lohu akan......"
"Aduuh mak, Hay Tay-sau adalah jago
kenamaan, kungfunya jauh lebih tangguh daripada kami semua, mana
mungkin kami bisa mencelakainya, lagipula........"
Setelah tertawa lembut, terusnya:
"Dia begitu gagah, begitu berjiwa laki laki,
mau menyukainya pun masih tidak sempat, masa kami tega mencelakai
jiwanya?"
"Dia jelas datang kemari, kenapa sekarang
tidak nampak?"
"Aduuh, loyacu, perkataanmu lebih aneh lagi,
dia toh seorang lelaki tinggi besar dan lagi bukan anak-anak, akupun
bukan ibunya, masa aku tahu ke mana ia telah pergi? loya, aku rasa
kau tak perlu mencarinya lagi, ayoh naik dan beristirahatlah
sejenak, toh kau juga bukan bapaknya, kenapa mesti bersusah susah
untuk mencarinya?"
Ucapannya yang selalu dibumbui kata aduh
membuat Bi lek hwee berdiri tertegun, setelah dipikir sejenak,
diapun mulai merasa bahwa perkataannya ada benarnya juga.
Maka setelah berpikir sejenak, dengan kening
berkerut diapun manggut-manggut, gumamnya:
"Yaa benar, mungkin saja dia telah pergi ke
tempat lain, kawanan nona ini tidak ada permusuhan apapun dengannya,
buat apa mesti mencelakai dirinya?"
"Nah, begitu baru benar loya" seru Hoa
Toa-koh, "ayohlah, naik dan beristirahatlah sejenak"
"Tidak usah, lohu akan segera pergi mencari
Hay Tay-sau, dia......."
Mendadak sambil menuding dia membentak
nyaring:
"Itu dia, bukankah itu adalah dia!"
Hoa Toa-koh terperanjat, mengikuti arah yang
ditunjuk dia berpaling.
Benar saja, didepan pintu ruangan telah
berdiri sesosok bayangan tubuh yang tinggi besar, dia tidak lain
adalah Hay Tay-sau! Hay Tay-sau yang sudah ditotok tiga buah jalan
darahnya oleh Hoa Toa-koh.
Dia berdiri dengan tangan kiri mencekak
pinggang sementara ditangan kanannya menjinjing tubuh seseorang,
sorot matanya memancarkan sinar kegusaran yang membara, begitu
membaranya hingga cukup untuk melumat nyali siapa pun.
Bi lek hwee tidak sanggup menahan diri lagi,
sambil membentak nyaring dia melompat naik ke ujung perahu.
"Saudara Hay, kau tidak apa-apa bukan?"
tegurnya begitu tiba diatas perahu besar.
Mendadak Hay Tay-sau mendongakkan kepalanya
dan tertawa seram, sahutnya:
"Ada apa dengan aku?"
"Kalau tidak ada urusan yaa sudahlah,
saudaraku, ayoh kita pergi saja!"
"Sebentar" seru Hay Tay-sau sambil
menghentikan gelak tertawanya, "aku harus membuat perhitungan lebih
dulu"
Hoa Toa-koh segera tertawa ringan, ujarnya:
"Gampang sekali bila kau ingin membuat
perhitungan, tapi kau harus beritahu dulu, siapa yang telah
selamatkan dirimu?"
Biarpun senyuman masih menghiasi wajahnya
namun senyuman itu sudah kelewat dipaksakan.
Dengan tangan sendiri dia telah menotok
jalan darah Hay Tay-sau bahkan menyembunyikan tubuhnya didalam
sebuah ruang rahasia dibawah ruangan, perempuan ini benar-benar
tidak habis mengerti, siapa yang sanggup selamatkan dirinya.
"Kalau ingin tahu, itu mah gampang sekali!"
seru Hay Tay-sau sambil tertawa keras.
Mendadak dia menyingkir ke samping, memberi
jalan lewat menuju ke pintu ruangan, katanya:
"Dia berada didalam ruangan"
Sekali lagi Hoa Toa-koh merasakan hatinya
bergetar keras, paras mukanya semakin pucat, lewat berapa saat
kemudian dia baru menyahut sambil tertawa paksa:
"Baik, akan kulihat tokoh macam apa yang
memiliki tiga kepala enam lengan"
Sambil berkata dia berjalan masuk menuju ke
dalam ruangan.
"Tunggu sebentar" tiba-tiba Hay Tay-sau
menghadang jalan perginya.
Hoa Toa-koh menghela napas panjang, sambil
mendongakkan kepalanya memandang lelaki kekar itu, ujarnya lembut:
"Masa kau sudah melupakan hubungan kita
dimasa lalu? Benarkah kau hendak membuat perhitungan denganku hari
ini?"
Paras muka Hay Tay-sau hijau membesi,
ditatapnya perempuan itu dengan pandangan dingin.
Kembali Hoa Toa-koh menundukkan kepalanya,
setelah menghela napas sedih ujarnya lebih lanjut:
"Hari ini, ada begitu banyak orang yang
berniat membunuhku, sekalipun kau enggan membantuku, tidak
seharusnya kau bantu mereka itu!”
Meskipun Hay Tay-sau masih tetap
membungkam, namun wajahnya yang semula dingin kaku kini mulai
mencair.
Setelah menghela napas sedih, kembali
perempuan itu berkata:
"Bagaimana pun, dulu kita pernah punya
hubungan khusus selama berapa waktu......aaaai, sekalipun kau ingin
membuat perhitungan, kenapa harus dilakukan pada hari ini?"
"Baik!" mendadak Hay Tay-sau membentak
keras, "akan kita perhitungkan dikemudian hari........."
"Waktu dikemudian hari masih panjang" sela
perempuan itu lagi, "asal hari ini aku tidak mati, dikemudian hari
aku pasti akan memberi kesempatan kepadamu untuk melampiaskan semua
rasa dendammu"
Hay Tay-sau segera mengangkat tubuh orang
yang berada dalam cengkeramannya itu ke hadapan Hoa Toa-koh, ujarnya
lantang:
"Bajingan ini telah menghianati aku, hari
ini aku akan membawanya pergi"
"Kalau ingin kau bawa pergi, bawa sajalah!"
"Ayoh kita pergi!"
Habis berkata Hay Tay-sau bersama Bi lek
hwee segera melompat turun ke sampannya, sewaktu melompat turun
itulah dapat dilihat bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki
perampok ulung ini memang sangat hebat.
Sekalipun dia memiliki perawakan tubuh
tinggi besar dan berat, namun ketika melompat turun keatas sampan,
perahu itu sama sekali bergeming.
Sambil gelengkan kepalanya berulang kali
kata Bi lek hwee:
"Saudaraku, kelihatannya kau mirip sekali
denganku, makan yang lembek pantang menghadapi yang keras, watak
busukku juga tidak pernah berubah, begitu diajak bicara halus,
hatiku pun langsung melumer"
"Tahukah kau siapakah perempuan itu?" tanya
Hay Tay-sau sambil tertawa getir.
"Bukankah dia adalah pentolan dari kawanan
lebah perempuan Heng kang li ong hong? Kemampuan perempuan ini
memang sangat hebat, lohu sendiripun dibuat mati kutu oleh ulahnya"
"Hari ini dia memang pentolan dari kawanan
lebah itu" ucap Hay Tay-sau sambil menghela napas, "tapi
dulu.......aaaai!"
"Kenapa dulu?"
Dengan geram Hay Tay-sau membanting tubuh
orang yang berada dalam cengkeramannya itu ke lantai sampan,
kemudian dengan mata berkilat dan menggertak gigi katanya:
"Dulu dia adalah biniku!"
Bi lek hwee terperangah, dia berdiri melongo
dengan mata terbelalak, bisiknya tergagap:
"Jadi dia......dia......."
Hay Tay-sau mendongakkan kepalanya memandang
awan yang bergerak di angkasa, lama kemudian dia baru berkata lagi:
"Sepanjang tahun aku selalu hidup
mengembara, tapi dia........aaaai! kalau istri tidak setia, anak
tidak berbakti, buat apa aku menyinggung dirinya lagi?"
Mereka berdua sama-sama tundukkan
kepalanya, perasaan hati terasa murung dan penuh kekesalan.
Pada saat itulah dari balik ruangan diatas
sampan itu mendadak terdengar suara seseorang sedang
merintih.........
Dalam pada itu Hoa Toa-koh telah melangkah
masuk ke ruang perahu sesudah menarik napas panjang, ada berapa
orang gadis lebah yang melihat gelagat tidak beres, buru-buru
mengintil di belakangnya.
Sui Leng-kong masih menangis terisak, Gi
Peng-bwee dan Gi Cing-kiok menanti penuh kecemasan, Yo Pat-moay pun
masih berusaha melakukan pencarian diatas permukaan air, berulang
kali dia munculkan diri dari balik air untuk berganti napas.
Waktu itu Hoa Toa-koh sudah melangkah masuk
ke dalam ruangan, sembilan buah lentera yang semula menerangi
seluruh ruangan kini tinggal satu lentera yang menyala, suasana
terasa redup dan remang-remang.
Perempuan itu mencoba memeriksa sekeliling
tempat itu, namun dia tidak menemukan sesosok manusia pun.
"Jangan-jangan Hay Tay-sau membohongi aku?"
gumamnya setelah tertegun sesaat.
Belum habis dia berpikir, mendadak dari
belakang tubuhnya terdengar seseorang berkata dengan nada yang
dingin, kaku, sama sekali tanpa emosi:
"Aku berada disini!"
Dalam kagetnya Hoa Toa-koh segera
membalikkan tubuh.
Dekat pintu ruangan, diatas bangku kayu
berwarna merah duduk sesosok bayangan manusia, tubuhnya kelihatan
kaku tanpa kehidupan hingga sepintas pandang mirip sekali dengan
sesosok patung arca.
Sepasang tangan orang itu berada pada
sandaran bangku, ujung bajunya yang lebar dibiarkan tergantung
hingga lantai.
Walaupun wajannya sempurna, sepasang alis
matanya tajam bagaikan pedang, kelopak matanya seperti kosong
melompong, sama sekali tidak ada cahaya mata, juga tidak nampak bola
mata yang berputar.
Raut muka orang itu luar biasa dingin dan
tenangnya, seakan-akan perasaan orang ini terbentuk dari bongkahan
salju abadi, rambut panjangnya yang terurai sebahu menambah
kemisteriusan orang itu.
Dibelakangnya berdiri sesosok bayangan tubuh
seorang wanita, wajahnya pucat pasi, tubuhnya ramping lembut,
senyuman yang indah menghiasi bibirnya namun pandangan matanya penuh
diliputi kedukaan.......
Dia tidak lain adalah Leng Cing-peng, gadis
yang ditangkap dari dalam air dan selama ini disekap dalam ruangan.
Untuk sesaat Hoa Toa-koh berdiri tertegun
saking kagetnya, tapi dengan cepat dia berhasil mengendalikan diri,
dengan sikap acuh tidak acuh ditatapnya wajah Leng Cing-peng
sekejap, kemudian sapanya:
"Adikku, rupanya kau telah mendusin, apakah
tubuhmu sudah terasa agak enakan?"
Leng Cing-peng tertegun, tampaknya dia tidak
mengira kalau perempuan itu akan bersikap begitu lembut terhadapnya,
bibirnya kelihatan bergetar namun tidak sepatah kata pun yang
diucapkan.
Sesudah menghela napas ringan, kembali Hoa
Toa-koh berkata:
"Meskipun tidak seharusnya kau bersikap
begitu terhadap cici, namun cici masih tetap menaruh perhatian
kepadamu, aaai, kau mesti berganti pakaianmu, coba lihat tubuhmu
basah kuyup, hawa dingin bisa merusak kesehatanmu"
Sambil berkata ia berjalan mendekat, sorot
matanya sama sekali tidak memperhatikan orang berambut panjang itu,
kembali ujarnya sambil tertawa ringan:
"Coba lihat, aku hanya memperhatikan dirimu
sampai lupa kalau disini masih ada sahabatmu"
Setelah berpaling melemparkan sekulum
senyuman, lanjutnya:
"Omong omong, siapa sih temanmu ini? Kau
seharusnya perkenalkan dia kepada cici!"
"Dia.....dia......" Leng Cing-peng tergagap,
"dia bukan temanku"
Bagaimanapun gadis ini masih muda, perasaan
hatinya masih kelewat lembek, bukan saja perkataan dari Hoa Toa-koh
membuat semua amarahnya jadi padam, bahkan dia masih menganggap
perkataan perempuan itu sebagai ucapan yang tulus dan muncul dari
sanubarinya yang paling dalam.
Hoa Toa-koh seperti terperangah, serunya
tertahan:
"Aaah, jadi dia bukan sahabatmu? Kenapa bisa
duduk didalam ruang perhuku?"
Leng Cing-peng menggeleng perlahan, bahkan
mengerdipkan matanya berulang kali seakan melarangnya bicara lebih
lanjut.
Namun Hoa Toa-koh berlagak seolah tidak
melihat, ujarnya lebih jauh:
"Sobat, kau telah masuk ke rumahku tanpa
diundang, boleh tahu apa tujuanmu? Apakah kau bersedia mengatakan
sesuatu kepada aku sang pemilik rumah?"
Orang berambut panjang itu tetap duduk tidak
bergerak, sepatah demi sepatah dia berkata:
"Aku adalah Ay Thian-hok"
Perkataannya amat singkat, seolah olah nama
"Ay Thian-hok" sudah mewakili segalanya.
Benar saja, sekujur tubuh Hoa Toa-koh
bergetar keras.
Belum sempat dia mengucapkan sesuatu,
terdengar suara isak tangis bergema makin keras dari luar ruangan,
terdengar Sui Leng-kong berseru sambil menangis tersedu sedu:
"Benarkah tidak ditemukan?"
"Tidak ditemukan" terdengar Yo Pat-moay
menyahut dengan napas tersengkal, "tapi..semisal dia memang mati,
seharusnya jenasahnya terapung diatas permukaan air!"
Kembali terdengar Sui Leng-kong menangis
tersedu sedu:
"Thiat Tiong-tong.... wahai Thiat Tiong-tong
....kematianmu benar benar-mengenaskan..."
Paras muka Leng Cing-peng berubah hebat,
tubuhnya ikut gemetar keras, setelah mundur berapa langkah dengan
terhuyung.....
"Blaaaam!" tubuhnya menumbuk diatas dinding
dibelakang tubuhnya.
Hoa Toa-koh sendiripun agak terperanjat,
baru dia mendongakkan kepalanya, terasa pandangan matanya jadi
kabur, tahu-tahu dia sudah kehilangan jejak bayangan tubuh Ay
Thian-hok.
Menyusul kemudian terlihat Leng Cing-peng
ikut pula memburu keluar dari ruangan.
Hoa Toa-koh ikut melangkah ke depan pintu,
namun baru berapa langkah dia sudah membatalkan niatnya, sesudah
termenung sejenak dengan kening berkerut tiba-tiba dia membalikkan
tubuh dan berjalan cepat menuju sudut ruangan sebelah kiri.
Ke empat dinding ruang perahu itu dilapisi
gorden dan tirai. Dia langsung menyingkap tirai sambil merogoh
sesuatu ke atas dinding, sebuah lubang selebar tiga inci segera
muncul diatas dinding ruangan itu, dibalik lubang terlihat sebuah
kristal yang bening.
Ketika melongok dari balik kristal bening
itu, bukan saja pemandangan diluar ruangan terlihat amat jelas
bahkan dapat terlihat lebih besar dan jelas.
Waktu itu Leng Cing-peng, Sui Leng-kong, Gi
peng-bwee dan Gi Cing-kiok sudah berdiri dibelakang Ai Thian-hok,
sedangkan Yo Pat-moay dengan tubuh basah kuyup berdiri didepan
kawanan gadis lebah lainnya.
Mereka seperti sedang meributkan sesuatu,
hanya sayang tidak terdengar apa yang sedang dibicarakan.
Dari kejauhan sana, dari balik jendela,
tampak muncul lagi berapa titik bayangan sampan yang bergerak
mendekat.
Melihat kesemuanya itu Hoa Toa-koh menghela
napas panjang, gumamnya:
"Orang bilang pengaruh Kiu cu- kui bo tidak
boleh dipandang enteng, sekarang aku benar-benar mempercayainya"
Setelah menghentakkan kakinya dengan gemas,
dia lari menuju ke ruang belakang lalu turun ke ruang bawah, dengan
tergesa-gesa dia kabur menuju ke ruang rahasianya.
Tampak pintu kamarnya yang kokoh dan kuat,
kini sudah hancur berantakan dihajar orang.
Sekali lagi dia merasakan hatinya bergetar
keras, gumamnya sambil menggertak gigi:
"Ai Thian-hok, sungguh dahsyat tenaga
pukulanmu!"
Ketika menengok ke dalam ruangan, dia
saksikan hanya seprei nya yang awut-awutan tidak karuan sementar
benda lainnya tetap utuh seperti sedia kala.
Sekulum senyuman segera tersungging diujung
bibirnya, dengan cepat dia singkirkan selimut dan sepreinya, lalu
mendorong papan ranjangnya ke samping, sebuah lubang rahasia pun
muncul dibalik pembaringan.
Dibalik ruang rahasia itu terlihat ada
tumpukan berapa buah karung goni, dari balik karung goni lamat-lamat
terlihat cahaya mestika yang berkilauan.
Dengan cepat dia bungkus semua karung goni
itu dengan kain sepreinya, senyuman yang semula nampak lembut dan
cantik, kini berubah jadi senyuman licik dan penuh kekejian.
Untuk sesaat dia nampak agak sangsi, tapi
akhirnya sambil menggigit bibir dia memencet lagi sebuah tombol
rahasia dibalik ruangan tersebut.
"Byuuurrr!" air sungai yang berwarna kuning
dengan cepat mengalir masuk ke dalam ruangan, dalam waktu singkat
menenggelamkan ruang rahasia itu dan mulai menggenangi seluruh
ruangan.
Melihat air sungai mulai menggenangi
permukaan, kembali Hoa Toa-koh bergumam:
"Selamat tinggal saudara-saudaraku, selamat
tinggal perahuku!"
Sambil membopong buntalan besar itu, dengan
cepat dia berlari keluar meninggalkan ruangan.
Dalam pada itu kembali ada empat buah rakit
kulit bergerak mendekat, dalam waktu singkat rakit rakit itu sudah
merapat disisi perahu.
Pada rakit yang pertama tampak berdiri empat
orang, salah satu diantaranya adalah si bocah pincang.
Waktu itu rambutnya kelihatan sudah terbakar
hangus sebagian, dia berdiri sambil menggertak gigi, wajahnya penuh
diliputi perasaan gusar, dendam dan sakit hati.
Orang kedua adalah seorang wanita yang
sebagian rambutnya terbakar hangus, wajahnya pucat, dia menggendong
seorang bayi dan tiada hentinya terbatuk batuk.
Orang itu tidak lain adalah Leng Cing-soat
yang belum sembuh dari lukanya.
Dibelakangnya berdiri dua orang gadis
berbaju sutera, mereka nampak sibuk memeriksa tubuh Leng Cing-soat
dan sepertinya sangat menguatir-kan keadaan luka gadis itu.
Pada rakit ke dua tampak sebuah kursi,
diatas kursi duduk seorang nyonya tua berbaju hijau bersanggul
tinggi, dia tidak lain adalah Kiu cu Kui bo yang sudah banyak tahun
hidup mengasingkan diri.
Dibelakang nenek itupun berdiri dua orang
gadis berbaju sutera, seorang membawa hudtim sedang yang lain
membawa tempolong kemala, biarpun rakit terombang-ambing ditengah
ombak, mereka tetap berdiri tegak sekokoh batu karang.
Tidak seorang manusiapun diatas perahu yang
menyadari kalau tubuh perahu mereka mulai tenggelam, karena
perhatian mereka sudah tersedot oleh kehadiran dua buah rakit itu.
Terdengar Gi Peng-bwee bergumam sambil
menghembuskan napas panjang:
"Aaah, akhirnya suhu datang juga"
Belum selesai ia bicara, tampak Kiu cu kui
bo sudah mengebaskan tangannya, tahu-tahu tubuh berikut bangkunya
sudah melayang setinggi tiga meter lebih dan meluncur ke atas perahu
besar.
Berubah hebat paras muka kawanan gadis lebah
itu setelah menyaksikan kelihayan orang.
Leng Cing-peng ikut menjerit sedih setelah
menyaksikan perempuan berambut panjang yang berdiri diatas rakit
itu:
"Cici!"
Dia berlarian menuju ke buritan perahu,
setelah sangsi sejenak, akhirnya dia melompat naik ke atas rakit.
Paras muka Leng Cing-soat pun sedikit
berubah, bisiknya pedih:
"Adikku, kau.....kau........"
Walaupun dua bersaudara itu telah saling
berjumpa, namun hubungan mereka serasa bagaikan hidup di dua dunia
yang berbeda.
Dua orang gadis itu hanya saling bertatap
muka dengan air mata berlinang, siapa pun tidak ada yang tahu,
apakah pertemuan ini sebuah kenyataan atau hanya dalam impian?
Biarpun ada berjuta-juta perkataan yang ingin disampaikan namun
tidak sepatah kata pun yang mampu diucapkan keluar.
Kawanan gadis berbaju sutera itu sama-sama
tertunduk sedih, mereka tidak tega untuk menyaksikan lebih jauh.
Sementara itu si bocah pincang sambil
membentak nyaring ikut melompat naik ke atas perahu, begitu tiba
disamping Gi Cing-kiok, bisiknya sambil menarik ujung baju gadis
itu:
"Mana orangnya?"
Gi Cing-kiok menghela napas sedih.
"Thiat kongcu telah menceburkan diri ke
dalam sungai, bahkan jenasahnya pun tidak ....tidak..."
Bicara sampai disini dia melirik sekejap ke
arah Sui Leng-kong, kemudian dengan sedih menutup mulutnya kembali.
Bocah pincang itu merasakan hatinya
bergetar, setelah termangu sejenak kembali tanyanya:
"Mana pula bajingan laknat itu?"
Gi Cing-kiok menggeleng.
"Saat itu pikiranku sedang kalut, tidak
terlalu kuperhatikan"
"Kemungkinan besar telah dibawa pergi oleh
Hay Tay-sau" sela Gi Peng-bwee.
Sekali lagi bocah pincang itu tertegun,
sambil menghentakkan kakinya dengan jengkel, omelnya:
"Apa-apaan kalian ini? Masa disuruh
menyelesaikan persoalan ini saja tidak becus?"
"Hmm, seandainya kau yang melaksanakan tugas
ini, mungkin keadaannya akan jauh lebih parah" seru Gi Cing-kiok
gusar.
"Kalau bukan kalian bikin ulah, mana mungkin
akan terjadi peristiwa semacam ini?" sambung Gi Peng-bwee pula
dengan nada dingin.
Bocah pincang itu hanya bisa berdiri
terbelalak dengan mulut melongo, dia tidak berani banyak bicara
lagi.
Sementara itu Kiu cu Kui bo telah duduk
dihadapan kawanan gadis lebah itu, dia duduk dengan wajah dingin
bagaikan baja, agaknya nenek itu enggan berbicara dengan mereka dan
sedang menunggu kemunculan pemimpinnya.
Tiba-tiba terlihat Li Ji-ci berlarian keluar
dari ruangan sambil berteriak keras:
"Toaci.....dia telah melarikan diri, perahu
ini....... perahu ini......."
"Kenapa dengan perahu ini?" tanya kawanan
gadis lebah itu dengan wajah berubah.
Saking kalut dan paniknya Li Ji-ci tidak
ambil perduli lagi apakah disitu hadir orang lain atau tidak.
Dengan napas tersengkal sengkal lanjutnya:
"Bukan saja toaci telah membawa kabur
seluruh simpanan dan deposito kekayaan kita semua, bahkan membuka
lubang penutup didasar perahu, sebentar lagi air akan menenggelamkan
perahu ini"
Paras muka kawanan gadis lebah itu berubah
makin hebat.
Sementara itu para jago anak buah Kiu cu Kui
bo telah memeriksa pula keadaan perahu itu, sambil bertepuk tangan
si bocah pincang itu segera berseru:
"Bagus, bagus sekali, perahu ini segera akan
tenggelam"
Dengan wajah dingin menyeramkan Kiu cu Kui
bo berkata:
"Kalau bukan sedang marah sekali, aku tidak
akan kelewatan memojokkan orang, apalagi memaksa orang jadi anjing
yang kecebur ke sungai, tapi......."
Dengan sorot mata setajam sembilu terusnya:
"Tapi kalian semua telah mencari gara-gara
dengan perguruan kami, bila hari ini ingin kabur dari sini, paling
tidak harus tinggalkan dulu sedikit tanda mata di tubuh masing
masing"
"Tinggalkan apa?" tanya Yo Pat-moay.
"Karena pentolan kalian Hoa Toa-koh telah
melarikan diri, sedang kalianpun hitung-hitung termasuk juga korban
perbuatannya, aku tidak ingin kelewat menyusahkan kalian semua,
masing-masing tinggalkan saja sebelah telinga kalian"
Berubah hebat paras muka kawanan lebah itu.
Sambil tertawa seram Yau Su-moay berteriak:
"Kentut busuk! Nonamu akan pergi duluan"
Waktu itu dia berada di buritan perahu, saat itu dia sudah bersiap
siap terjun ke air untuk melarikan diri.
Siapa tahu baru saja tubuhnya hendak
bergerak, tahu-tahu Ai Thian-hok yang tidak bermata itu sudah
melayang melintas diatas kepalanya....... orang ini seolah
memiliki banyak mata diseluruh tubuhnya, gerak-gerik setiap orang
yang hadir disana seolah tidak dapat lolos dari pandangan matanya.
Kawanan lebah itu hanya mendengar deruan
angin berhembus, tahu-tahu Ai Thian-hok sudah terbang melintas dari
atas kepalanya, diantara kebasan ujung bajunya tahu tahu dia sudah
menyambar ujung baju Yau Su-moay.
Waktu itu tubuh Yau Su-moay sudah hampir
menyentuh permukaan air, tahu-tahu dia sudah kena ditangkap dan
diseret balik keatas perahu.
Kembali bocah pincang itu berteriak sambil
bertepuk tangan:
"Hebat, hebat, nah bila ada diantara kalian
yang mampu lolos dari cengkeraman toako ku, aku akan takluk
kepadanya"
Tampak Ai Thian-hok menutulkan ujung kakinya
diburitan perahu, kemudian setelah membanting tubuh Yau Su-moay
diatas lantai, dia melayang balik ke depan Kiu cu Kui bo dengan
melintasi kepala kawanan lebah itu.
Gerakan tubuhnya lincah, gesit dan cepat,
ketika diimbangi dengan ujung bajunya yang berkibar ketika meluncur,
gerak-geriknya tidak berbeda dengan seekor kelelawar raksasa.
Waktu itu paras muka Yau Su-moay telah
berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, saking kagetnya nyaris dia
jatuh semaput.
"Siapa lagi diantara kalian yang memaksa aku
untuk turun tangan sendiri?" terdengar Kiu cu Kui bo kembali menegur
dengan nada dingin.
Sambil berkata dia meraup tangannya ke muka
dan menjawil perlahan wajah Yau Su-moay.
Terdengar Yau Su-moay menjerit kesakitan,
telinga kirinya tahu-tahu sudah berada dalam genggaman Kiu cu Kui
bo.
Kembali paras muka kawanan lebah itu berubah
hebat, serentak mereka emosi dan berniat untuk beradu nyawa dengan
nenek itu, diantara kilatan cahaya perak terdengar suara bentrokan
senjata yang nyaring bergema di udara.
"Tunggu sebentar!" mendadak Yo Pat-moay
membentak nyaring.
"Pat-moay.....kita......kita......" sekujur
tubuh Li Ji-ci gemetar keras.
"Kita tidak akan mampu melawan mereka" tukas
Yo Pat-moay dengan wajah hijau membesi.
"Sekalipun tidak mampu kita tetap
harus......"
"Kalau melawanpun tidak mampu, apa lagi yang
mau dilawan?" kembali Yo Pat-moay menghardik dengan suara nyaring,
"hidup lebih mendingan daripada mati konyol, tapi.....tapi......
tahukah kalian, kenapa aku harus mempertahankan hidupku?"
Kelihatannya perkataan itu telah
menggetarkan perasaan hati kawanan lebah itu, serentak mereka tutup
mulutnya rapat-rapat.
Setelah mendongakkan kepalanya dan menghela
napas, ujar Yo Pat-moay lebih jauh:
"Kita harus tetap hidup karena kita akan
balas dendam!"
Setelah memandang sekejap wajah kawanan
gadis lebah itu, terusnya:
"Bagaimana pun juga kita harus temukan Hoa
Toa-koh bukan? Dia tidak seharusnya tinggalkan kita semua dalam
keadaan seperti ini!"
Sekarang dia langsung menyebut nama Hoa
Toa-koh, hal ini menunjukkan kalau gadis ini sudah tidak mengakuinya
sebagai toaci mereka lagi!
Kawanan gadis lebah itu tetap membungkam,
namun mereka telah menundukkan kepalanya.
Mendadak Yo Pat-moay berpaling dan menatap
wajah Kiu cu Kui bo tajam tajam, sepatah demi sepatah kata ucapnya:
"Akupun bersumpah akan mencari balas
kepadamu!"
"Aku tahu!" jawab Kiu cu Kui bo perlahan.
"Kalau aku jadi kau, pasti akan membunuhku
hari ini sebab kalau tidak, sekalipun hari ini kau hanya memotong
sebelah telingaku, kemungkinan besar dikemudian hari aku akan
memotong ke dua buah telingamu sekaligus!"
Secara lamat-lamat sekulum senyuman muncul
menghiasi wajah Kiu cu Kui bo yang hijau dingin, sahutnya seraya
mengangguk:
"Aku tahu, dan pasti akan kutunggu"
"Baik!"
Dia menengok sekejap sekeliling tempat itu,
kini air sungai telah menggenangi permukaan geladak, tampaknya tidak
lama kemudian perahu itu akan tenggelam.
Dengan satu gerakan cepat Yo Pat-moay
mengiris sebuah telinga sendiri dan dilemparkan ke hadapan Kiu cu
Kui bo, serunya:
"Seorang hanya sepotong telinga, kita tidak
perlu berhutang kepadanya!"
Agaknya emosi kawanan gadis lebah itu
dibangkitkan kembali oleh teriakan tersebut, diiringi teriakan keras
kawanan gadis itu telah mengiris telinga masing-masing dan
dilemparkan ke hadapan Kiu cu Kui bo.
"Dendam telah terikat, hutang telah
terbayar, sekarang kita pergi!" teriak Yo Pat-moay lagi.
Tanpa banyak bicara serentak kawanan gadis
lebah itu terjun ke dalam sungai.
"Gadis-gadis hebat!" puji Kiu cu Kui-bo
kemudian sambil meng hela napas panjang.
Melihat perahu sudah hampir tenggelam,
kembali Kiu cu Kui bo berseru: "Mari kita pun pergi!"
Tubuh berikut bangkunya kembali meluncur ke
atas rakit.
Tidak selang berapa saat kemudian semua
orang sudah melompat turun ke atas rakit, kini perahu telah
tenggelam, kawanan gadis lebah pun sudah tidak nampak lagi batang
hidungnya.
Berada diatas rakit, Leng Cing-peng serahkan
anak kunci kepada Leng Cing-soat, sekalipun mereka tidak tahu kalau
Thiat Tiong-tong telah menyerahkan sejumlah harta karun untuk mereka
namun kejadian tersebut cukup membuat mereka sedih bercampur
terharu.
Dengan air mata berlinang Leng Cing-peng
berpaling dan mengawasi Sui Leng-kong tanpa bicara.
Sui Leng-kong sendiripun berdiri dengan mata
penuh air mata, kini dia seolah tidak bisa melihat apa pun.
Tiba-tiba si bocah pincang itu berjalan
menuju ke hadapan ke tiga orang itu, sambil menjura dalam dalam
katanya dengan tergagap:
"Cici
bertiga........siaute......siaute......."
Walaupun perkataan itu tidak lengkap, namun
Sui Leng-kong, Leng Cing-soat maupun Leng Cing-peng tahu apa maksud
perkataan itu... andaikata bukan gara-gara ulahnya, tidak mungkin
Thiat Tiong-tong akan mati tenggelam di sungai Huangho.
Lama sekali bocah pincang itu berdiri
termangu, akhirnya kepada Ai Thian-hok yang berada di rakit lain,
berteriak keras-keras:
"Toako, bolehkah aku memohon sesuatu
kepadamu?"
"Permainan busuk apa lagi yang akan kau
lakukan?" tegur Ai Thian-hok dengan suara dalam.
Kelihatannya dia sangat menyayangi saudara
seperguruannya ini, sekalipun perkataan itu diucapkan
tanpa senyuman, namun tanpa disadari sikapnya sudah menunjukkan
kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya.
Dengan suara keras kembali bocah pincang itu
berteriak:
"Aku mohon toako mau menemani aku mencari
Sim Sin-pek, aku ingin mencincang tubuhnya menjadi dua puluh empat
potong, kemudian sepotong demi sepotong diberikan kepada anjing"
"Kenapa harus aku yang menemani?"
Bocah pincang itu menghela napas panjang,
sahutnya:
"Aku......aku kuatir tidak bisa menangkan
dia, lagipula aku kuatir akan membuat gara-gara lagi, selama toako
mendampingiku, akupun tidak usah kuatir lagi"
Sekulum senyuman ramah segera tersungging
diwajah Ai Thian-hok, tegurnya:
"Jadi sekarang kau sudah mengerti arti
takut?"
Dengan wajah merah jengah bocah pincang itu
menundukkan kepalanya, ujarnya terbata-bata:
"Bukan.....bukannya aku takut,
tapi...tapi....."
Setelah tertawa ringan
dia menghentikan perkataannya.
"Kalau takut katakan takut, itu mah urusan
biasa, kenapa mesti malu!" kata Ai Thian-hok serius.
"Tapi toako, kenapa kau tidak pernah takut?"
"Siapa bilang aku tidak pernah takut, kalau
aku tidak takut mungkin sejak dulu sudah mati, hanya saja ada
sementara persoalan biarpun kau takut toh tetap harus dilakukan"
"Ada sementara persoalan, biarpun kau tidak
takutpun tidak boleh dilakukan, bukan begitu?"
Sekali lagi Ai Thian-hok tertawa lebar.
"Betul sekali, orang harus bisa memilah mana
yang boleh dan mana yang tidak, hanya pendekar yang bisa memilah
dalam tindakan, dia baru dihormati orang lain"
Tiba-tiba terdengar Kiu cu Kui bo menghela
napas panjang, ujarnya:
"Aaaai, walaupun Thian-hok adalah muridku,
namun ada banyak ajaran yang justru dia lebih paham ketimbang aku"
"Tecu tidak berani dibandingkan dengan suhu"
cepat Ai Thian-hok menundukkan kepalanya.
Kiu cu Kui bo menggeleng, kembali ujarnya
sambil menghela napas:
"Pada dasarnya watakmu memang begitu, bukan
berarti aku tidak mengetahui ajaran tersebut, tapi harus diakui,
selama ini tindakanku kelewat emosional, napsu membunuhku kelewat
berat, selama ini aku bertindak hanya menuruti suara hati sendiri,
karena itu sering aku tidak bisa memilah mana yang baik dan mana
yang buruk"
Ai Thian-hok hanya tundukkan kepalanya tidak
bicara, namun wajahnya kelihatan sangat terharu.
Kembali Kiu cu Kui bo berkata kepada bocah
pincang itu:
"Lo-kiu, kau memang seharusnya banyak
belajar dari toako mu"
"Tecu memang paling suka dengan toako" kata
bocah pincang itu dengan kepala tertunduk.
Tanpa terasa sekulum senyuman menghiasi
bibir Kiu cu Kui bo, gumamnya sambil menggeleng:
"Dasar bocah, aku berharap dia akan
mengalami beberapa kali kerugian lagi, agar rasa takutnya makin
tumbuh"
Gadis yang berdiri disamping Kiu cu Kui bo
segera menimbrung sambil tertawa:
"Asal suhu mengurangi rasa sayang
kepadanya, otomatis dia akan belajar makin sopan"
"Kau tidak boleh banyak bicara!" bentak Kiu
cu Kui bo cepat, tapi tidak urung dia tertawa geli juga.
Diam-diam bocah pincang itu membuat muka
setan kepada gadis tersebut, kemudian katanya lagi:
"Toako, sebetulnya kau bersedia tidak
menemani aku?"
"Soal ini......." Ai Thian-hok kelihatan
agak ragu.
"Thian-hok, pergilah temani dia!" perintah
Kiu cu Kui bo kemudian.
Buru-buru Ai Thian-hok mengiyakan.
Terdengar gadis itu kembali berkata sambil
tertawa:
"Coba lihat, suhu masih begitu memanjakan
lo-kiu, tidak heran kalau dia masih ingin mencari gara-gara biar
rambutnya nyaris habis terbakar"
"Bagus, rupanya kau iri, heei.... dasar
perempuan julas!"
"Aaaai, dasar bocah, dia benar-benar tidak
tahu aturan" gumam Kiu cu Kui bo sambil menggeleng.
Sekalipun dimulut dia menghela napas namun
senyuman ramah justru menghiasi bibirnya.
Leng Cing-soat serta Leng Cing-peng hanya
bisa mengawasi mereka dengan melongo, saking tertegunnya mereka
seolah sampai lupa menangis.
Melihat canda gurau antara guru dan murid,
tanpa terasa mereka berpikir dalam hati:
"Kusangka Kui bo itu kejam dan buas, apalagi
terhadap anak muridnya, tidak disangka ternyata hubungan batin
mereka amat akrab"
Tanpa sadar mereka pun jadi terbayang dengan
keluarga mereka sendiri, titik air mata kembali berlinang membasahi
pipinya.
Bocah pincang itu membalikkan tubuh menengok
ke arah dua orang perempuan itu, sambil membusungkan dada teriaknya
lantang:
"Nona berdua, kalian tidak usah menangis,
aku pasti akan membalaskan dendam bagi kalian!"
"Aku.....aku......" Leng Cing-soat tidak
sanggup melanjutkan kata-katanya, dia menangis sejadi-jadinya.
"Kau kenapa? Kau ingin ikut serta?" seru
bocah pincang itu cepat, "jangan, jangan berbuat begitu, kau sudah
terluka, harus merawat pula anakmu, kau tidak boleh ikut"
"Aku......." serentak Leng Cing-peng dan Sui
Leng-kong ikut berseru.
"Tidak bisa, tidak bisa" kembali bocah
pincang itu berteriak keras, "kalian adalah nona dewasa, mana boleh
melakukan perjalanan bersama kaum lelaki? Bisa tidak leluasa"
Leng Cing-peng maupun Sui Leng-kong segera
menundukkan kepalanya, sekalipun mereka adalah gadis gadis
berperasaan, namun bila permintaannya ditampik orang, mereka tidak
pernah melakukan perlawanan atau protes.
Gadis berbaju sutera itu kontan mengumpat:
"Dasar tidak tahu malu, masih bocah saja
sudah mengaku seperti orang dewasa...."
"Kau......kau......" teriak
bocah pincang itu jengkel.
Dalam pada itu selisih jarak antara rakit
itu dengan pantai tinggal berapa meter saja, tiba-tiba bocah pincang
itu melompat ke arah rakit yang satu, kemudian sambil berlutut
serunya:
"Suhu, bagaimana kalau tecu mohon diri lebih
dulu?"
Belum sempat Kiu cu Kui bo menjawab, dia
sudah melompat bangun sambil menowel pipi gadis berbaju sutera itu
sambil berseru:
"Hei budak cilik!"
"Setan cilik" umpat gadis itu sambil tertawa
dan mengumpat, "kau....... toako, coba
lihat perbuatannya, kalau kau tidak segera mengurusinya, mungkin
dia tambah edan"
Tapi bocah pincang itu sudah melompat ke
daratan dan kabur dari situ.
Dari kejauhan terdengar dia berteriak sambil
tertawa:
"Toako, kau tidak usah menggubris budak itu,
dialah si budak edan, Gi Siau-hong, aku beritahu, selama hidup kau
tidak bakal laku kawin"
Si nona yang bernama Gi Siau-hong itu
mencak-mencak semakin gusar, teriaknya:
"Suhu, coba lihat ulahnya, Siau-hoa
dia........"
Kiu cu Kui bo segera menarik tangan nona itu
sambil menukas:
"Coba lihat kalian semua, seharian ribut
melulu, seakan tidak ada urusan di dunia ini yang bisa membuat
kalian sedih"
Kemudian sambil berpaling katanya lagi:
"Thian-hok, cepatlah pergi, kau awasi
baik-baik tingkah laku Siau-hoa!"
Ai Thian-hok mengiakan dan segera melompat
ke udara, dalam berapa kali lompatan dia sudah lenyap dari pandangan
mata.
Melihat itu Kiu cu Kui bo gelengkan
kepalanya sambil menghela napas, ujarnya:
"Aku lihat belakangan ini tabiat Thian-hok
makin lama makin pendiam, tapi kungfunya semakin tangguh ketimbang
aku"
Dipihak lain Sui Leng-kong, Gi Cing-kiok, Gi
Peng-bwee serta dua bersaudara Leng diam-diam berdoa, mereka
berharap kedua orang itu bisa secepatnya menemukan Sim Sin-pek dan
membalaskan dendam bagi orang yang telah meninggal.
BAB 12.
Antara budi dan dendam.
Waktu itu Sim Sin-pek sudah dibanting keras
keras ke atas geladak perahu oleh Hay Tay-sau.
Secara lamat-lamat Hay Tay-sau menyaksikan
ada tubuh seseorang yang basah kuyup berbaring melingkar ditengah
ruang perahu, tampaknya tubuh orang itu baru saja diangkat dari
dalam air, kesadarannya belum pulih.
Hay Tay-sau sama sekali tidak mengenalinya,
bahkan Bi lek hwee yang menyelamatkan orang itupun tidak mengenali
siapakah gerangan orang tersebut.
......Seandainya Bi lek hwee tahu, mungkin
dia tidak bakalan menyelamatkan jiwanya.
Berbeda dengan Sim Sin-pek, dia kenali
siapakah orang itu bahkan sangat mengenalinya.
Saat itu tubuh Sim Sin-pek sudah dibanting
keras keras oleh Hay Tay-sau, kini dia berbaring dilantai sambil
merintih kesakitan.
Baru saja Hay Tay-sau hendak bertanya siapa
orang yang berada dalam ruang perahu, tiba-tiba terdengar Bi lek
hwee membentak keras:
"Kenapa bisa kau!"
Hay Tay-sau segera berpaling, tampak Bi lek
hwee sedang menuding ke arah Sim Sin-pek dengan kening berkerut.
"Bukankah kau adalah Sim Sin-pek? Kenapa
bisa jadi begini?" tegurnya.
"Jadi kau kenali dia?" tanya Hay Tay-sau
cepat.
Bi lek hwee manggut-manggut.
"Tentu saja kenal, dia adalah murid Hek
Seng-thian, bagaimana ceritanya? Kenapa dia sampai mengusikmu?"
Kontan Hay Tay-sau mencaci maki, umpatnya:
"Orang ini pengecut dan berhati busuk,
disaat bahaya dia tega menghianati teman sendiri, jelas dia bukan
manusia baik-baik, manusia semacam ini hanya akan meninggalkan
bencana bagi umat persilatan"
"Kalau begitu antara kalian berdua tidak ada
ikatan dendam atau sakit hati?" tegas Bi lek hwee setelah tertegun
sejenak.
"Hmm! Manusia semacam itu belum pantas punya
ikatan dendam denganku" teriak Hay Tay-sau gusar.
"Hahahaha...... betul, betul sekali,
jelek-jelek begini paling tidak hanya seorang lelaki sejati yang
pantas mengikat tali permusuhan dengan Thian-sat-seng!"
Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia
menghela napas sambil berkata:
"Tapi sayangnya orang ini mempunyai sedikit
hubungan dengan lohu"
"Hubungan apa?" kontan Hay Tay-sau mendelik.
"Kalau bukan dia yang datang ke Bi lek tong
dan memberi laporan, lohu tidak bakal tahu kalau muridku yang tidak
becus itu telah diajak pergi Hek Thian-seng!"
"Ooh, selain itu?"
"Dia tidak menerangkan kejadian sebenarnya
secara terperinci, katanya dia sendiripun sedang berusaha melarikan
diri, karena kasihan, lohu malah sempat memberi uang kepadanya"
"Apa? Hanya karena obrolannya yang tidak
jelas, kau rela duitmu dibohongi? Inikah yang kau sebut ada sedikit
hubungan?"
Bi lek Hwee sedikit tertegun, tapi segera
sahutnya sambil tertawa:
"Hahaha...... bagaimana pun juga lohu tidak
tega menyaksikan dia mampus karena dibunuh.."
"Baiklah! Hukuman mati boleh diabaikan, tapi
hukuman hidup tidak bisa dihindari!"
Mendadak dia lancarkan sebuah tendangan
keras membuat tubuh Sim Si-pek terpental keluar dari perahu, serunya
sambil tertawa tergelak:
"Hahahaha.....mau hidup, mau mampus,
terserah bagaimana nasib mu nanti"
Ketika Bi lek Hwee menyusul ke tepi perahu,
dia sudah tidak menjumpai bayangan tubuh Sim Si-pek lagi, maka
sambil membalikkan tubuh katanya agak geram:
"Inikah yang kau maksud mengampuni jiwanya?"
"Tentu saja" sahut Hay Tay-sau sambil
tergelak, "toh tercebur ke sungai bukan berarti pasti mampus,
bukankah kau pun telah selamatkan seseorang dari dalam air?"
Beberapa saat Bi lek Hwee termangu, akhirnya
sambil menepuk bahu Hay Tay-sau teriaknya lantang:
"Ternyata kau lebih cengli ketimbang aku,
ayoh kita periksa bagaimana keadaan orang yang ada dalam ruang
perahu"
Thiat Tiong-tong yang berada dalam ruang
perahu sudah mulai mendusin dari pingsannya.
Secara lamat-lamat dia mendengar semua
pembicaran yang berlangsung di luar ruang perahu, hatinya jadi
terperanjat ketika mendengar murid Hek Seng-thian berada diluar saat
itu.
Tapi hatinya kembali jadi lega setelah
mendengar suara tubuh seseorang yang tercebur ke dalam air.
Belum sempat ingatan lain melintas dalam
benaknya, Hay Tay-sau dan Bi lek Hwee sudah melangkah masuk ke dalam
ruangan.
Tentu saja dia mengenali ke dua orang itu,
sebaliknya kedua orang itu sama sekali tidak mengenalinya.
Ketika melihat pemuda itu sudah tersadar
kembali, sambil tertawa Bi lek Hwee segera berkata:
"Aaah, rupanya bukan saja tidak mati malahan
sudah tersadar kembali!"
"Hahahaha...... aku lihat
selama hidupmu sudah kelewat banyak melukai orang, mungkin
menolong orang lain baru pertama kali ini, bukan begitu? Kalau
tidak, tidak mungkin kau menunjukkan perasaan begitu gembira"
Bi lek Hwee ikut tertawa tergelak.
"Hahahaha..... tebakanmu tepat sekali, lohu
sih pernah berbuat baik, cuma soal menolong orang lain.....
hehehehe..... mungkin baru kali ini kulakukan"
Sambil membungkukkan tubuh dan menepuk
punggung Thiat Tiong-tong, katanya lagi lembut:
"Anak muda, apakah sudah kau muntahkan semua
air yang masuk ke dalam perutmu?"
"Terima kasih lotiang atas pertolonganmu"
ujar Thiat Tiong-tong sambil tertawa getir, "budi kebaikanmu
ini........"
Dia sendiripun tidak menyangka kalau
selembar jiwanya ternyata telah diselamatkan musuh besarnya, tidak
bisa dibayangkan bagaimana perasaan hatinya waktu itu.
Terdengar Bi lek Hwee kembali berkata dengan
lembut:
"Setelah minum begitu banyak air sungai,
perasaan tubuhmu saat ini tentu tidak karuan, tidak usah banyak
bicara dulu, beristirahatlah baik-baik!"
Thiat Tiong-tong tidak membantah, dia
benar-benar pejamkan matanya, bukan saja tidak bicara bahkan dadanya
bergelombang tidak stabil, hal ini menunjukkan kalau pikiran dan
perasaan hatinya amat kacau.
Selama ini Hay Tay-sau hanya menyaksikan
dari samping tanpa bicara, sementara Bi lek Hwee sibuk mengambil
cawan, menuang air dan mencampurkan bubuk obat ke dalam air itu.
Sesaat kemudian dia baru membangunkan Thiat
Tiong-tong sambil melolohnya obat tersebut, katanya lembut:
"Makanya anak muda, lain kali mesti
hati-hati kalau bertindak, bagaimana ceritanya sampai kau tercebur
ke sungai?"
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, dia
tutup mulutnya rapat-rapat tanpa menjawab.
Sebenarnya diapun ingin menolak untuk minum
obat, tapi pikiran lain segera melintas, bagaimana pun jiwanya sudah
diselamatkan orang ini, jadi tidak ada alasan baginya untuk menampik
obat tersebut.
Mengawasi perubahan wajah pemuda itu, dengan
kening berkerut Bi lek Hwee segera menegur:
"Kalau kulihat kau selalu menghela napas
panjang lebar, keningpun selalu berkerut seakan ada sesuatu yang
mengganjal dalam hatimu, sebetulnya persoalan apa sih yang sedang
membebani dirimu?"
Thiat Tiong-tong hanya menghela napas sambil
menggeleng.
Sambil menepuk bahu pemuda itu kembali Bi
lek Hwee berkata sambil tertawa:
"Anak muda, kau masih muda dan gagah,
sekalipun ada persoalan janganlah kelewat dimasukkan ke dalam hati,
kenapa? Patah hati? Jangan putus asa, jangan kuatir, orang setua
lohu saja masih mampu mencari tiga bini empat gundik, apalagi pemuda
tampan macam kau! Kalau ada nona yang tidak mau denganmu berarti dia
buta matanya, lohu janji pasti akan kucarikan nona yang
kecantikannya sepuluh kali lipat lebih hebat dari dia"
"Kakek, kau keliru" sambil tertawa getir
Thiat Tiong-tong menggeleng, "cayhe......."
"Haah, tebakanku salah?" tukas Bi lek Hwee
dengan kening berkerut, "baik, biar lohu tebak sekali lagi, bila
bukan urusan patah hati, jangan jangan......kau ada kesulitan soal
ekonomi?"
Sambil menepuk bahu pemuda itu katanya lagi
sambil tertawa:
"Jangan kuatir, jangan kuatir, kalau hanya
persoalan ini, kau lebih tidak perlu kuatir lagi, anak muda suka
foya-foya itu lumrah, apa artinya kehabisan duit?"
Sambil menuding ke arah Hay Tay-sau
tambahnya lagi:
"Coba kau perhatikan tampangnya, dia itu
duit kontan, berapa pun yang kau inginkan, asal bicara dengannya
maka uang segera akan datang"
"Hahahaha...... hebat betul kau ini" teriak
Hay Tay-sau sambil tertawa, "rupanya kau memang sangat dermawan"
"Hmm, kalau kau tidak mau beri juga tidak
apa-apa, lohu juga punya" potong Bi lek Hwee gusar.
"Lotiang......." Thiat Tiong-tong menghela
napas panjang seraya menggeleng.
"Jadi bukan?" Tanya Bi lek Hwee melongo,
lama setelah termenung ia baru berteriak:
"Aaah, ditinjau dari potongan tubuhmu yang
lemah lembut seperti pelajar, kau pasti sudah dibuat jengkel orang
lain, jangan takut, jangan takut, katakan saja siapa orang itu, biar
lohu hajar dia!"
"Lotiang keliru besar, cayhe cuma terpeleset
lantaran kelewat mabuk"
"Hahahaha...... bagus, bagus sekali,
terpeleset lantaran mabuk? Hay loheng, sudah kau dengar? Ternyata
anak muda ini tidak beda jauh dengan kita, sama-sama setan arak"
"Kalau begitu kita mesti ajak dia minum
sampai sepuasnya" seru Hay Tay-sau sambil tertawa pula.
Buru-buru Thiat Tiong-tong meronta untuk
bangun, kembali teriaknya:
"Lotiang, terus terang aku mengakui,
sebetulnya aku adalah seorang manusia rendah yang tidak tahu malu,
secara diam-diam aku telah mencintai ibu guruku sendiri, itulah
sebabnya aku jadi mabuk berat"
Kemudian sambil sengaja menundukkan
kepalanya rendah dia melanjutkan:
"Sebenarnya aku tidak pingin menceritakan
persoalan ini, tapi lantaran sikap lotiang yang membuatku terharu,
maka dengan tebalkan muka terpaksa aku harus mengakuinya"
Untuk sesaat Bi lek Hwee berkerut kening,
tapi sebentar kemudian dia sudah menyahut sambil tertawa:
“Tidak perlu kuatir, tidak perlu kuatir,
bisa dimaklumi kalau anak muda gampang melakukan kekhilafan, apalagi
kaupun berani mengakui kesalahanmu, orang yang berani mengaku salah,
dialah yang pantas disebut seorang lelaki sejati"
Thiat Tiong-tong tertegun.
"Soal ini.....soal ini..."
Sikap Bi lek Hwee semakin baik kepadanya,
dia merasa semakin sedih, diam-diam pikirnya:
"Lebih baik aku sengaja mengakui sebagai
orang yang amat jahat agar dia benci dan marah kepadaku, dalam
gusarnya bisa jadi dia akan memakiku atau bahkan menendangku ke
dalam sungai, kalau sampai begitu, keadaan malah lebih mendingan"
Siapa tahu apa pun yang dia katakan selalu
dijawab Bi lek Hwee dengan jawaban "tidak usah takut, tidak usah
takut", dia seolah sama sekali tidak menganggap perbuatannya sebagai
hal yang amat buruk.
Sikap semacam ini tentu saja membuat Thiat
Tiong-tong makin tertegun hingga tidak sanggup mengucapkan sepatah
katapun.
Hay Tay-sau hanya mengawasi semua tingkah
laku Bi lek Hwee dengan senyuman dikulum.
"Hey tua bangka, apa yang kau tertawakan?"
tegur Bi lek Hwee segera sambil mendongakkan kepalanya.
"Hahahaha....... Aku sedang mentertawakan
dirimu, padahal dihari biasa kau selalu berangasan dan tinggi
emosinya, kemana larinya keberangasanmu itu?"
Mendadak terdengar Thiat Tiong-tong
berteriak gusar:
"Aku sudah mengakui semua perbuatanku yang
rendah dan tidak tahu malu, tapi kau selalu menyuruhku tidak usah
takut, Hmmm! Hal ini membuktikan kalau kaupun bukan manusia
baik-baik!"
Anak muda ini betul betul kehabisan akal
sehingga mau tidak mau terpaksa harus berlagak gusar, asal Bi lek
Hwee sampai bangkit emosinya, mulai memakinya atau malah
menghajarnya, maka dia akan menggunakan kesempatan itu untuk kabur
dari sana.
Siapa tahu bukannya marah sebaliknya Bi lek
Hwee malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha,........anak baik, pada hakekatnya
watakmu tidak jauh berbeda dengan watakku!"
Kemudian setelah menepuk bahu anak muda itu,
ujarnya lagi sambil tertawa:
"Setelah mendengar perkataanmu itu, bukan
saja lohu tidak akan marah, malah aku berpendapat apa benar kau
telah melakukan perbuatan seperti itu, seandainya benar, aku yakin
kau pasti punya alasan untuk dimaafkan"
Kontan Thiat Tiong-tong merasakan darah
panas ditubuhnya bergelora keras, dengan sedih ia menundukkan
kepalanya.
"Lotiang, kenapa kau begitu....begitu
baik kepadaku......." keluhnya.
Perasaan hati yang gejolak keras membuat
suaranya sedikit agak sesenggukan.
Perlu diketahui, walaupun Bi lek Hwee telah
selamatkan nyawanya namun dia sama sekali tidak merasa perlu
berterima kasih, sebab dia tahu Bi lek Hwee bukan berniat
menyelamatkan jiwanya.
Hingga Bi lek Hwee menunjukkan sikap yang
begitu menaruh perhatian, dia baru betul-betul merasa terharu.
Tapi yang membuat dia benar benar merasa
terharu adalah begitu percayanya Bi lek Hwee terhadap dirinya,
sekalipun dia sudah mengakui telah melakukan perbuatan jahat, namun
Bi lek Hwee tetap percaya kepadanya, malah berkata bahwa pasti ada
alasan untuk memberi maaf kepadanya.
Sekalipun perasaan hatinya lebih keras dari
baja pun tidak urung dia merasa terharu juga dibuatnya.
.....Perlu diketahui, sikap dan perhatian
yang diberikan seseorang secara wajar, rasa percaya serta pengertian
yang diberikan seseorang tanpa paksaan, sejak dulu memang paling
gampang meluluhkan perasaan seorang lelaki sejati.
Bi lek Hwee sendiripun ikut tertegun berapa
saat, akhirnya sambil mengelus jenggot sendiri yang memutih, dia
berkata sambil tertawa:
"Kejadian ini memang agak aneh, lohu
sendiripun tidak mengerti kenapa bisa bersikap macam begitu
kepadamu"
Thiat Tiong-tong benar-benar merasakan
hatinya terharu, sambil pejamkan mata dia berpikir:
"Walaupun Perkampungan keluarga Seng,
Benteng Han hong po maupun Bi lek tong mempunyai dendam kesumat
denganku, tapi sulit bagiku untuk melupakan budi kebaikan Seng
Cun-hau yang telah menolongku, akupun tidak bisa melupakan cinta
kasih dua bersaudara Leng yang begitu baik dan cinta kepada kami
bersaudara.......
Dan sekarang, apa mau dikata lagi lagi aku
harus berhutang budi pertolongan dari Bi lek Hwee .... "
Untuk sesaat Thiat Tiong-tong terjebak dalam
pemikiran yang kalut, sekarang dia telah disodorkan pada pilihan
yang sulit, antara budi dan dendam, mana yang harus dia pilih?
"Ooh Thian......" keluhnya didalam hati,
"apa yang harus Thiat Tiong-tong lakukan sekarang"
Mendadak terdengar Hay Tay-sau berseru
sambil tertawa tergelak:
"Hahahaha..... bukan cuma kau yang heran,
aku sendiripun merasa keheranan.
"Hey, apa yang sedang kau katakan?" tegur Bi
lek Hwee, "masa bicarapun tidak ada ujung pangkalnya, bikin aku jadi
bingung"
"Bukankah kau tidak tahu apa sebabnya
sikapmu begitu baik kepadanya? Aku tahu jawabannya"
"Hahahahaha......bagus, bagus sekali,
jika jawabanmu benar, lohu pasti akan mentraktirmu....... Paling
tidak aku akan mengundangmu minum tiga ratus cawan arak"
"Ini disebabkan kau si tua bangka tidak
pernah punya anak, baru saja mendapat seorang murid dengan susah
payah, eeeh.. malah kabur dibohongi orang!"
Kemudian sambil menepuk bahu Thiat
Tiong-tong, lanjutnya:
"Sementara selembar nyawa pemuda ini
berhasil kau selamatkan dengan tanganmu sendiri, orang bilang: bila
seseorang telah diselamatkan jiwanya, hubungan batin itu pasti
melebihi hubungan orang tua. Biarpun kau tidak tahu bagaimana jalan
pikiran orang, tapi kau si tua bangka secara diam-diam telah
menganggap dia sebagai anak yang kau ciptaan"
"Anak yang aku ciptakan?" Bi lek Hwee
berkerut kening, "ucapanmu benar-benar tidak enak didengar, dapatkah
kau gunakan perkataan yang lebih halus?"
Sekalipun begitu, tak urung dia tertawa juga
dengan nyaring, tertawa gembira!
"Hahahaha..... betul, perkataanku memang
kasar dan tidak enak didengar, tapi bukankah sangat tepat? Kalau
seorang kakek yang sudah enam puluh tahunan tiba-tiba bisa punya
anak, tentu saja dia akan merasa gembira sekali"
Meskipun Bi lek Hwee ingin mengumpat, namun
gelak tertawa gembiranya membuat dia tidak sanggup berbicara lagi.
Thiat Tiong-tong sendiripun dibuat menangis
tidak bisa tertawa pun tidak dapat, dia hanya bisa membungkam dalam
seribu bahasa.
Kembali Hay Tay-sau berkata sambil tertawa:
"Kalau memang begitu, aku rasa lebih baik kau benar-benar
menerimanya sebagai anak angkatmu saja, agar aku pun bisa ikut
menikmati arak kegembiraan"
"Aaah kau si tua bangka, kecuali minum arak
apa lagi yang bisa kau pikirkan?"
"Biarpun dimulut kau masih memakiku, padahal
dalam hati kecilmu merasa sangat berterima kasih bukan?"
"Hahahaha....betul, betul sekali, lohu
memang sangat berterima kasih kepadamu"
Thiat Tiong-tong yang mendengarkan
pembicaraan tersebut hanya bisa berkeluh didalam hati.
Tiba-tiba Hay Tay-sau menepuk bahunya keras
keras, kemudian serunya sambil tertawa tergelak:
"Kalau dia benar benar menganggapmu sebagai
ayah, maka aku si tua bangka lah yang bakal dirugikan, kulihat dia
masih muda, berbakat bagus dan merupakan bahan yang baik untuk
dilatih ilmu silat, hey tua bangka, kenapa kau tidak mengangkatnya
jadi muridmu saja?"
"Maaf, aku tidak bisa mengangkatnya menjadi
guruku" tiba-tiba Thiat Tiong-tong berseru.
Bi lek Hwee segera menarik kembali
senyumannya, dengan wajah berubah serunya: "Kenapa?"
Paras muka Hay Tay-sau ikut
berubah, teriaknya pula:
"Masa kau tidak tahu kalau nama besar Bi lek
tong sudah amat termashur dalam dunia persilatan?"
"Tentu saja aku tahu"
"Kalau sudah tahu kenapa menolak?
Jangan-jangan......."
"Yaa, jangan-jangan kau merasa malu dengan
nama Bi lek tong ku itu?" tukas Bi lek Hwee dengan wajah agak gusar.
"Aku sama sekali tidak punya pikiran begitu"
sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa getir, "hanya saja.......hanya
saja......."
"Hanya saja kenapa?
Lohu pingin tahu penjelasanmu"
Satu ingatan melintas dalam benak anak muda
itu, tiba-tiba dia terawa nyaring:
"Hahahaha...... cayhe merasa
cocok sekali dengan kalian berdua, sebetulnya aku pingin menjadi
sobat minum arak, jika sekarang aku mesti menjadi muridnya, berarti
tingkatanku akan satu tingkat lebih rendah, bukan saja gerak gerikku
terbatas, bagaimana mungkin aku bisa menantang kalian berdua untuk
minum sampai mabuk"
Hay Tay-sau tertegun sesaat kemudian diapun
tertawa tergelak.
"Betul, betul sekali!"
"Yaa, masuk diakal, sangat masuk diakal"
teriak Bi lek Hwee pula dengan wajah berseri, "seandainya lohu jadi
kau, akupun tidak bakalan sudi menurunkan derajat sendiri dari
seorang teman menjadi murid orang lain"
"Kalau begitu biar kau gagal mendapat
seorang murid tapi justru mendapat seorang teman minum, bagus, bagus
sekali........" seru Hay Tay-sau lagi.
Sementara gelak tertawa masih bergema,
perahu telah merapat ditepian daratan.
Daratan itu bukan dermaga juga bukan kota,
melainkan sebuah tempat yang sepi dan terpencil.
Dengan kening berkerut Bi lek Hwee segera
berteriak kepada si tukang perahu itu:
"Lohu sedang buru-buru ingin minum arak,
kenapa kau malah menepi disini?"
Tampaknya si tukang perahu itupun seorang
anggota kangouw kawakan, mendengar pertanyaan itu dia segera
tertawa, sahutnya:
"Arus sungai didepan sana amat deras,
penumpang disampan ku juga kelewat banyak, kalau sampai sampan ini
terbalik didepan situ, bukankah kalian akan gagal minum arak? Jadi
lebih baik menepi disini saja, sekalipun lebih lambat tapi paling
tidak masih ada kesempatan untuk menikmati arak"
"Aaai, pandai amat kau bersilat lidah, tahu
kalau mulutmu tajam, lotoa tidak perlu menyewa perahu mu dengan
ongkos lipat ganda"
"Hahahaha.... Siapa yang tidak kenal dengan
aku si tukang perahu kilat Thio Sam dari sungai Huangho? Kalau
kalian tidak menyewa perahuku, siapa lagi yang mampu membawa kalian
melalui arus deras itu!"
Bi lek Hwee melotot besar, sampai lama
sekali dia mengawasi tukang perahu itu, tiba-tiba kembali dia
tertawa keras.
"Bagus, bagus sekali, anak muda, kau memang
hebat, sekalipun sedikit agak jumawa tapi lohu tidak bakal marah"
"Kalau aku tidak punya kemampuan, masa
berani sombong didepanmu" sahut si tukang perahu Thio Sam cepat.
"Kalau tidak mampu masih berani sombong,
lotoa pasti sudah menendangmu sampai tercebur ke sungai" seru Bi lek
Hwee sambil melompat naik ke daratan.
"Thio Sam" seru Hay Tay-sau pula sambil
tertawa, "sekalipun kau sedikit jumawa namun aku merasa cocok
denganmu, cepatlah pergi membawa sedikit uang perak ini untuk minum
arak, kalau dikemudian hari menjumpai kesulitan, datanglah mencari
aku"
Meskipun dia mengatakan "sedikit uang
perak", namun yang dilemparkan justru sekeping uang emas yang cukup
besar.
"Traaang!" uang emas itu jatuh diatas
geladak perahu, namun si tukang perahu Thio Sam sama sekali tidak
meliriknya, malahan kepada Thiat Tiong-tong katanya sambil tertawa:
"Mereka senang kepadaku, akupun senang
kepadamu, bila dikemudian hari kau ada urusan di seputar sungai
Huangho, datanglah mencari aku si tukang perahu Thio Sam"
Untuk sesaat Thiat Tiong-tong tidak tahu
harus bicara apa, dengan perasaan berterima kasih dia segera menjura
sambil melompat naik ke daratan.
Diiringi suara bentakan, si tukang perahu
Thio Sam telah mendayung sampannya menjauh dari situ.
Waktu itu Hay Tay-sau sedang berdebat dengan
Bi lek Hwee soal arah yang akan ditempuh untuk mencari kedai arak,
tapi tempat diseputar sana amat sepi dan terpencil, jangan lagi
kedai arak, bayangan manusia pun tidak kelihatan.
"Tahu begini........." keluh Hay Tay-sau
dengan kening berkerut.
Belum selesai dia bicara, tiba-tiba
terdengar suara derap kaki kuda yang ramai berkumandang datang.
Seorang pemuda tampan dengan menunggang
seekor kuda jempolan terlihat bergerak lebih duluan dipaling
depan diikuti rekan-rekan lainnya di belakang.
Ketika tiba ditepi sungai, lamat-lamat
terdengar seseorang bergumam keheranan:
"Aneh sekali, kenapa perahu besar itu bisa
lenyap secara tiba-tiba?"
"Losam" kedengaran seorang yang lain
berkata, "kau tidak perlu gelisah, jangan-jangan masih berada di
depan sana"
Ternyata rombongan manusia berkuda itu tidak
lain adalah rombongan dari Ouyang bersaudara.
Dengan kening berkerut Hay Tay-sau segera
menegur:
"Hey anak muda, mau ke mana kalian?" Begitu
menjumpai Hay Tay-sau, paras muka Ouyang hengte pun berubah hebat,
buru-buru mereka menjura lalu bukannya turun dari kuda, rombongan
itu malah mempercepat lari kudanya untuk kabur lewat sisi mereka.
"Siapa sih rombongan anak muda itu? Begitu
tidak tahu diri!" umpat Bi lek Hwee gusar.
Hay Tay-sau menghela napas panjang.
"Aaaai......! Siapa lagi kalau bukan Ouyang
hengte yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, hidup
gembira dikota tidak mau malahan mencari penyakit dengan mengusik
sarang lebah, untung perahu mereka sudah tenggelam,
kalau tidak...... entah maksiat apa lagi yang bakal mereka perbuat,
aaai..... memandang diatas wajah orang tuanya, lebih baik kita tidak
usah mencampuri urusan mereka"
"Dasar kawanan lelaki hidung bangor" umpat
Bi lek Hwee, "mentang mentang dari keluarga kaya, lantas mau
berhura-hura semau sendiri, huuuh, kalau aku jadi lotoa, ogah
mencampuri urusan tetek bengek macam begitu"
Hay Tay-sau kembali menghela napas panjang.
"Aaai, sebenarnya keluarga Ouyang adalah
sebuah keluarga persilatan kenamaan, dalam perkampungan merekapun
penuh dengan orang cantik, aku betul-betul tidak habis mengerti,
kenapa mereka justru lebih suka mengusik sarang lebah liar di tempat
ini?”
"Hahahaha..... Hay lote seperti tidak
mengerti saja, orang selalu bilang bunga di kebun tetangga selalu
lebih indah daripada bunga dikebun sendiri, karena sudah terbiasa
dengan kawanan gadis lemah lembut, tentu saja mereka akan
menganggap kurang terangsang, jadi tidak heran kalau pingin
berganti selera dengan memburu bunga liar"
"Waah, tidak kusangka pengalamanmu sungguh
hebat"
"Berapa banyak lelaki sih di dunia
persilatan yang jarang bermain perempuan macam dirimu?”
Sambil tertawa tergelak dia segera berlalu
dari situ.
Tanpa erasa mereka bertiga berjalan menuju
ke arah mana rombongan kuda tadi berasal.
Walaupun mereka beralasan ingin secepatnya
menemukan kedai untuk minum arak, padahal mereka berjalan amat
santai, semuanya berjalan dengan langkah lebar dan sama sekali tidak
menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Thiat Tiong-tong sendiripun merasa inilah
kesempatan baginya untuk melarikan diri, namun dia merasa tidak tega
untuk berbuat begitu hingga selama inipun hanya mengintil saja.
Entah berapa saat sudah lewat, mendadak
terdengar suara desingan angin tajam bergema membelah angkasa.
Tiga batang anak panah dengan membawa
keliningan emas melesat diudara menyambar ke depan Hay Tay-sau.
Melihat anak panah itu Hay Tay-sau kontan
saja mengumpat:
"Dasar begal tidak tahu diri, berani amat
mengincar yaya mu!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung,
terlihat dua sosok bayangan manusia bergerak mendekat dengan
kecepatan tinggi.
Sambil tertawa Hay Tay-sau berkata:
"Kalian berdua tidak usah panik, biar aku
mencari kesenangan dulu dari orang itu"
Ke dua orang itu membawa golok besar dengan
wajah ditutup kain hitam, pakaian yang dikenakan mewah dan indah.
Diam-diam Thiat Tiong-tong berpikir
keheranan:
"Orang bilang kawanan begal disepanjang
pesisir Huangho miskin dan hidup susah, kenapa dua orang lelaki ini
justru mengenakan pakaian yang begitu indah dan mewah?"
Baru berpikir sampai disitu, kedua orang
lelaki berpakaian indah tadi sudah melintangkan goloknya sambil
menghadang jalan pergi mereka bertiga.
Lelaki yang berada disebelah
kiri segera berseru:
"Bila kalian bertiga sedang melakukan
perjalanan, silahkan mengambil jalan berputar!"
Hay Tay-sau segera maju menyongsong, dengan
lagak gugup bercampur ketakutan serunya:
"Lohan-ya, kami tidak membawa uang....kami
tidak membawa uang"
"Siapa yang mau membegal uang kalian?" sahut
lelaki itu sambil tertawa, "ayoh cepat pergi!"
"Kalau tidak mau duit, lantas mau apa datang
kemari?" Tanya Hay Tay-sau keheranan.
"Memangnya kau sudah tuli? Kami hanya minta
kalian mengambil jalan berputar, asal tidak melalui jalanan ini maka
tidak ada urusan lagi"
"Waah, kelihatannya dia tidak jadi senang"
bisik Bi lek Hwee kepada Thiat Tiong-tong. Anak muda itu tertawa
lebar. Sementara itu Hay Tay-sau sambil garuk garuk kepala telah
berkata lagi:
"Terus terang ..... sebetulnya aku membawa
banyak uang"
"Mau punya uang banyak atau tidak bukan
urusan kami, cepat pergi bersama uangmu itu"
"Aku bukan saja punya uang bahkan banyak
sekali jumlahnya, bila hohan berdua ingin, ambil saja dan gunakan
semaumu"
Iming-iming ini kontan saja membuat lelaki
berbaju perlente itu tertegun, tanpa sadar dia awasi lawannya dengan
mata mendelik, pikirnya:
"Jangan-jangan orang ini sudah edan?"
Lelaki yang berada disamping kanannya tidak
tahan untuk gelengkan kepalanya berulang kali, katanya:
"Manusia macam begini memang langka dan
jarang dijumpai, orang tidak berniat merampok, dia malah sodorkan
duitnya......."
Belum selesai dia bergumam, Hay Tay-sau
sudah merogoh sakunya dan mengeluarkan segempok kertas, ternyata
semuanya uang kertas dalam nominal besar.
Sambil diperlihatkan kepada dua orang lelaki
itu, terdengar Hay Tay-sau berkata lagi:
"Jika kalian berdua mau, ambil saja uang
ini, cayhe tidak bakal berani melawan"
Lelaki yang ada disebelah kanan menarik
napas panjang, katanya kemudian:
"Sun loji, kalau toh orang ini paksa kita
untuk membegal, rasanya kurang enak untuk menampik keinginannya"
"Tapi......" Sun loji yang berdiri disisi
kiri agak sangsi, "tapi loya telah berpesan......"
"Aaah, toh dia sendiri yang menghantar diri,
kalau tidak diambil rasanya kurang sopan, asal kita tidak membegal
rasanya loya juga tidak bakalan marah kepada kita berdua!"
Sembari berkata dia segera menyambar
tumpukan uang kertas itu.
Mendadak Hay Tay-sau membentak keras, sambil
menyimpan kembali duitnya dia berteriak:
"Bajingan cilik, ternyata kalian memang
begal, ingin merampok duit toaya mu? Dasar bajingan bermata buta"
Kembali lelaki berbaju perlente itu
tertegun, kemudin bentaknya penuh amarah:
"Semula kukira kau hanya orang sinting yang
tidak waras otaknya, ternyata memang sengaja hendak mencari
gara-gara"
"Hahahaha.... Benar, aku memang
berniat menghancurkan mangkuk dan kuali kalian!"
Diiringi gelak tertawa keras, Hay Tay-sau
mementangkan ke lima jari tangannya lebar-lebar, diiringi desingan
angin tajam dia langsung mencengkeram dada lelaki itu.
Tidak terlukiskan rasa gusar dan kaget
lelaki perlente itu, buru-buru dia melancarkan pukulan disertai
tendangan.
Menghadapi jago kampungan semacam ini, tentu
saja Hay Tay-sau tidak pandang sebelah mata pun, bentaknya:
"Roboh kau!"
Begitu tangannya memotong, lelaki itu segera
roboh terjungkal diiringi jerit kesakitan.
Sun Loji yang menyaksikan betapa hebatnya
kepandaian silat yang dimiliki Hay Tay-sau tentu saja semakin tidak
berani berkutik, diam-diam dia membalikkan tubuh kemudian kabur
terbirit-birit.
Sesudah lari berapa jauh dia baru berani
mengumpat:
"Bangsat, tunggu saja pembalasan dari kami!"
Siapa tahu baru selesai dia bicara,
tahu-tahu tengkuknya sudah dicengkeram Hay Tay-sau sambil mengumpat:
"Bajingan cilik, kau berani mengumpat
orang!"
Dengan cepat dia mengambil segenggam Lumpur
kemudian di jejalkan ke dalam mulutnya.
Sun loji tidak mampu berkutik, Lumpur itu
membuatnya ingin muntah tapi sayang tidak ada yang bisa ditumpahkan
keluar.
"Aaah, permainanmu macam kampungan!" olok Bi
lek Hwee sambil gelengkan kepalanya.
"Memangnya kau anggap aku beneran sedang
mempermainkan mereka?"
"Kalau bukan lagi mempermainkan orang, buat
apa mesti iming-imingi mereka dengan uangmu?"
"Keliru, keliru besar" ujar Hay Tay-saU
serius, "mereka sengaja memaksa kita untuk berputar lewat jalan
lain, tahukah kau karena apa? Masa tidak bisa kau tebak?"
Bi lek Hwee termenung sambil berpikir berapa
saat, seakan baru sadar apa yang terjadi, serunya sambil bertepuk
tangan:
"Aaah betul, sudah pasti
konco-konconya sedang melakukan kejahatan didepan sana, maka mereka
tidak ingin ada orang luar yang mengganggu pekerjaan
itu" Hay Tay-sau tersenyum.
"Kedua orang ini enggan merampok duitku
karena atasannya sudah memberi perintah agar mereka tidak membegal
yang kecil hingga menggagalkan sasaran yang lebih besar"
"Betul, betul, hahahaha..... kalau sampai
gara-gara urusan kecil, masalah besar jadi berantakan, itu namanya
begal bloon!"
"Kawanan begal ini bukan saja tidak goblok
bahkan mempunyai peraturan yang ketat, jelas kelompok mereka
merupakan sebuah organisasi yang ketat, pentolannya pun tentu orang
kenamaan"
"Waah, tidak kusangka kau yang nampaknya
goblok ternyata memiliki otak yang jernih, kalau memang begitu,
kenapa kita tidak langsung ke situ untuk menengok keadan yang
sesungguhnya?”
Hay Tay-sau segera melepaskan ikat pinggang
Sun Loji dan dipakai untuk mengikat tubuh ke dua orang itu
kuat-kuat, katanya kemudian sambil tertawa:
"Mengingat kalian masih sempat bersikap
hormat, kuampuni jiwa kalian kali ini"
Tampaknya Bi lek Hwee sudah tidak sabar
untuk menanti, dia sudah menarik tangan Thiat Tiong-tong unuk
bergerak duluan.
Waktu itu langit sudah mulai remang-remang,
senja kembali menjelang tiba.
Ditengah angin yang berhembus kencang,
tiba-liba hujan mulai turun semakin deras, ditengah hujan angin
inilah mereka bertiga melanjutkan perjalanannya.
"Aaah benar!" mendadak Thiat
Tiong-tong berseru.
"Apanya yang benar?" tidak tahan Hay Tay-sau
bertanya.
"Ouyang hengte berpakaian perlente dan
menunggang kuda jempolan, rombongan semacam ini paling mencolok mata
bila melewati daerah pinggiran yang miskin, jika aku pingin
membegal, merekalah yang pertama kali kucegat!"
Hay Tay-sau melongo sejenak, kemudian
teriaknya:
"Aah betul juga omonganmu......."
Bagaikan anak panah yang terlepas dari
busurnya dia segera melesat maju ke depan.
"Hey anak muda, kau sanggup
menyusul lohu?" Tanya Bi lek Hwee seraya berpaling.
Dalam hati Thiat Tiong-tong tertawa geli,
dia tahu orang tua inipun ingin cepat melihat keramaian, maka
sahutnya:
"Ilmu meringankan tubuhku tidak
bagus, mana mungkin bisa menyusulmu?"
Belum selesai dia bicara, Bi lek Hwee sudah
cengkeram bahunya dan menyeret anak muda itu untuk bergerak cepat ke
depan.
Kelihatannya Hay Tay-sau sangat menguatirkan
keselamatan Ouyang bersaudara, dia bergerak cepat bagaikan terbang,
betul saja, tidak lama kemudian sudah terlihat cahaya golok bayangan
pedang segera berkelebatan ditengah hujan angin.
Dia tahu keturunan keluarga kenamaan ini
hanya kerjanya main perempuan, minum arak dan berfoya-foya, dapat
dipastikan ilmu silat mereka sangat cetek.
Sekalipun pedang yang digembol adalah pedang
kenamaan, namun ilmu pedangnya pasti tidak seberapa hebat, dengan
kemampuan semacam itu tentu saja mereka tidak akan mampu menghadapi
kawanan jago dari kalangan Liok-lim yang setiap hari kerjanya memang
bergelimpangan diujung senjata.
Saking cemas dan gelisahnya, belum lagi
tubuhnya tiba ditempat tujuan, dia sudah membentak nyaring:
"Thian sat seng berada disini, siapa yang
masih berani bertarung dihadapanku!"
Ditengah jeritan kaget dan teriakan
tertahan, suara beradunya senjata seketika terhenti.
Dengan sepasang tangan melindungi dada, Hay
Tay-sau meluncur di tengah udara dan menerobos masuk ke tengah
kerumunan orang banyak.
Seperti apa yang diduga Thiat Tiong-tong,
ternyata orang yang sedang dikepung oleh puluhan lelaki berkerudung
dengan senjata lengkap itu tidak lain adalah Ouyang bersaudara.
Kini kuda kuda jempolan mereka sudah
dituntun orang lain, pakaian perlente mereka pun sudah kotor oleh
keringat dan Lumpur, sekalipun dalam genggaman masih memegang pedang
yang tajam dan indah, namun mereka semua sudah terengah-engah macam
orang kehabisan napas, wajah mereka pucat pias dan keadaannya sangat
mengenaskan.
Sebaliknya puluhan lelaki berkerudung yang
mengepung mereka justru kelihatan gesit dan cekatan, dari gerak
gerik yang masih begitu bersemangat dapat diketahui bahwa siapa
menang siapa kalah sesungguhnya sudah tertera di depan mata.
Ouyang bersaudara kelihatan sangat
kegirangan begitu melihat kemunculan Hay Tay-sau, sorak mereka
berbareng:
"Aaah, rupanya paman Hay telah datang! Hmm,
bajingan kaum laknat, akan kulihat apakah kalian masih bisa
berbangga diri?"
Belum selesai teriakan itu, tiba-tiba Hay
Tay-sau sudah mengayunkan tangannya menampar wajah pemuda yang
berada di paling depan, umpatnya penuh amarah:
"Kurang ajar, baru sekarang kalian mau
mengakui paman Hay? Memangnya tadi kalian sudah buta semua?"
"Tadi......tadi........." Ouyang bersaudara
tergagap tidak mampu melanjutkan katanya.
"Dasar budak yang tidak becus" umpat Hay
Tay-sau semakin gusar, "sudah tahu tidak punya kemampuan, masih
berani mencari keonaran diluaran, hmmm! Aku pun ikut dibuat malu
oleh tingkah laku kalian!"
Ouyang bersaudara hanya tundukkan kepalanya
rendah-rendah, dalam keadaan begini tentu saja mereka semakin tidak
berani banyak bicara.
Kembali Hay Tay-sau membalikkan tubuhnya,
kepada kawanan lelaki berkerudung itu bentaknya:
"Sekarang aku sudah datang, kenapa kalian
masih berdiri melongo disitu? Sana, pergi, pergi, pergi!"
Kawanan lelaki berkerudung itu masih berdiri
tidak bergerak.
"Kenapa belum pergi?" bentak Hay Tay-sau
lagi gusar, "memangnya mau menunggu sampai aku turun tangan
sendiri?"
Baru saja dia merentangkan sepasang
lengannya, mendadak terdengar seseorang berkata dengan nada dingin:
"Mereka tidak mungkin berani pergi!"
Suaranya halus dan lembut, jelas suara
seorang wanita, tapi sayang nadanya begitu dingin dan hambar, sama
sekali tidak berperasaan.
Begitu bertemu dengan wanita tersebut,
kawanan lelaki berkerudung itu serentak meluruskan tangannya ke
bawah sambil membungkukkan tubuh.
Dalam pada itu Ouyang bersaudara telah
menuding kantung kain yang berada ditangan perempuan itu sambil
berteriak:
"Paman Hay, kantung yang berada ditangan
perempuan itu adalah perhiasan milik siautit”
"Minggir kalian semua, jangan banyak bicara
lagi" tukas Hay Tay-sau sambil membentak marah.
Sementara itu gadis berbaju hijau itu sudah
meletakkan kantungan kain tadi ke tanah, katanya perlahan:
"Benar, isi kantung ini adalah perhiasan
mahal, apakah kalian akan mengambilnya kembali?"
"Mungkin mereka tidak mampu untuk memintanya
balik, sayang masih ada orang lain yang akan memintanya" jengek Hay
Tay-sau.
"Menurut pendapatku, toh barang perhiasan
ini hendak disum-bangkan orang lain, kenapa mesti bersusah payah
untuk memintanya balik?"
Seorang anggota Ouyang segera tampil dari
belakang Hay Tay-sau seraya berteriak:
"Biarpun akan diberikan orang lain, bukan
berarti akan di berikan kepadamu........"
Baru berapa patah kata dia berbicara,
"Ploookk!" kembali Hay Tay-sau sudah menghadiahkan sebuah
tempelengan ke atas wajahnya.
Dalam pada itu Bi lek Hwee dan Thiat
Tiong-tong sudah menyusul tiba, masih berada dikejauhan orang tua
itu sudah berteriak:
"Saudara Hay, kalau ingin berkelahi,
silahkan saja berkelahi, masih ada lohu disini"
Dengan sepasang matanya yang jeli nona
berbaju hijau itu menatap wajah Thiat Tiong-tong berapa kejap, anak
muda itu segera merasakan betapa dingin dan bergidiknya sorot mata
orang.
Hay Tay-sau tertawa keras.
"Hahahaha......betul, semestinya barang
perhiasan itu hendak mereka persembahkan kepada kawanan lebah itu,
mereka memang tidak pantas memintanya balik"
"Kalau begitu biar aku mewakili para saudara
yang lain mengucapkan terima kasih kepadamu" sela si nona berbaju
hijau itu cepat.
Tiba-tiba Hay Tay-sau menghentikan gelak
tertawanya, dengan suara yang keras ucapnya:
"Sekalipun mereka tidak berhak memintanya
kembali, bukan berarti akan diberikan kepadamu, piauhok itu sudah
bertukar nama menjadi milik marga Hay!"
"Benarkah begitu? Coba kau panggil, apakah
dia akan menyahut?"
Hay Tay-sau tertawa keras, mendadak dia
membungkukkan tubuh menghampiri buntalan itu, setelah menepuknya
perlahan bisiknya:
"Anakku sayang, anakku sayang, apakah kau
sudah mendengar ayah sedang memanggilmu?"
Thiat Tiong-tong yang menyaksikan adegan itu
diam-diam tertawa geli, pikirnya:
"Biarpun orang ini berangasan dan tinggi
emosinya, ternyata dia memiliki hati yang polos, dalam melakukan
perbuatan apapun tidak pernah lupa untuk bergurau"
Setelah berlagak seolah sedang mendengarkan
jawaban, Hay Tay-sau kembali bangkit berdiri, katanya sambil
tertawa:
"Ternyata dia sudah setuju, kalian semua
ikut mendengar jawabannya?"
"Benar, aku mendengarnya, aku mendengarnya,
malah mendengar dengan jelas sekali" sahut Bi lek Hwee sambil
tertawa tergelak.
"Tentu saja mendengar dengan jelas" kata Hay
Tay-sau lagi sambil tertawa, "hanya orang tuli yang tidak
mendengarnya"
Paras muka nona berbaju hijau itu tetap
dingin dan hambar, setelah menatap lawannya sekejap, dia menyahut:
"Aku pun sudah mendengarnya dengan jelas,
tapi dia bilang mau ikut aku saja, jadi percuma kau mengajaknya
pergi, dia pasti akan menolak"
"Omong kosong......."
"Dia sudah menjawab dengan jelas, hanya
orang goblok yang akan salah dengar"
"Berubah, berubah, ternyata dunia sudah
berubah" umpat Bi lek Hwee sambil tertawa, "ternyata perempuan
persilatan jauh lebih lihay daripada kaum lelakinya"
"Kalau begitu kau ingin paksa aku untuk
turun tangan?" Tanya Hay Tay-sau marah.
Nona berbaju hijau itu tertawa dingin.
"Selama hidup aku tidak pernah sudi berkelahi dengan lelaki kotor!"
"Hahahaha..... aku pun tidak sudi berkelahi
dengan kaum wanita" seru Hay Tay-sau sambil tertawa keras, kepada
kawanan lelaki berkerudung itu bentaknya lebih jauh, "kalian ingin
maju secara bergantian, atau maju bersama-sama?"
Kembali nona berbaju hijau itu tertawa
dingin. "Sedikit banyak Thiat-sat-seng masih punya nama dalam dunia
persilatan, buat apa bertarung melawan kawanan manusia tidak
ternama? Hmm, biar menang pun masa kau tidak malu untuk membawa
pergi piauhok tersebut!"
"Bocah perempuan ini aneh benar" tidak tahan
Bi lek Hwee ikut menimbrung, "dia sendiri segan turun tangan, diapun
melarang orang orangnya berkelahi melawan saudara Hay........"
"Memangnya aku harus bertarung melawan
diriku sendiri?" sela Hay Tay-sau cepat.
Mendadak nona berbaju hijau itu menuding
kearah depan sambil serunya:
"Itu dia, orang yang akan bertarung
melawanmu telah datang!"
Mengikuti arah yang ditunjuk Hay Tay-sau
berpaling, benar saja, terlihat ada dua orang lelaki tinggi besar
bagaikan sebuah pagoda sedang berlarian mendekat.
Ke dua orang itupun mengenakan kain kerudung
wajah, tapi pakaian dibagian dadanya dibiarkan terbuka lebar
sehingga nampak dadanya yang kekar dengan bulu dada yang lebat.
Sekalipun tidak nampak jelas wajahnya, tapi
gerak-gerik mereka amat mantap dan penuh semangat, dari balik wajah
yang berkerudung tampak jenggotnya yang lebat.
Tampaknya mereka terdiri dari satu tua satu
muda, senjata yang digunakan adalah sepasang gada berbentuk segi
delapan.
Dari tempat kejauhan lelaki setengah umur
itu sudah berteriak keras:
"Siapa yang berani mencari gara-gara
disini!"
Hay Tay-sau memburu maju ke depan, setelah
menengoknya sekejap tiba-tiba serunya sambil tertawa tergelak:
"Hahahaha..... ternyata memang seorang
lelaki sejati, kau pantas untuk bertarung melawanku"
Lelaki setengah umur itupun bergerak
mendekat, setelah memperhatikan lawannya beberapa kejap, sahutnya
pula sambil tertawa:
"Hahahaha..... ternyata memang seorang
lelaki sejati, tak heran berani mencari gara gara disini"
Sambil menggulung ujung bajunya kembali Hay
Tay-sau tertawa keras, serunya:
"Sebelum bertarung melawan aku
Thian-sat-seng, kuanjurkan lebih baik siapkan dulu obat-obatan dalam
sakumu"
"Hahahahaha......." Lelaki setengah umur itu
tertawa nyaring, "lama kudengar Thiat-sat-seng pandai mencuri dan
membegal, kemampuannya cukup hebat, ingin tahu mampu tidak
menghadapi senjata gadaku?"
Dalam pada itu si nona berbaju hijau itu
sudah menarik sang pemuda tinggi besar itu sambil berbisik:
"Kenapa kalian berdua datang kemari? Apakah
urusan disitu sudah dapat diatasi?"
"Keadaan disitu sudah terkendali,
aku........"
Tiba-tiba terdengar lelaki setengah umur itu
berteriak keras:
"Bang-ji, berikan gadamu kepada orang
she-Hay itu!"
"Aku akan menghadapimu dengan tangan kosong,
kenapa mesti menggunakan gadamu!” seru Hay Tay-sau cepat.
"Hahahaha..... kita semua adalah lelaki
tinggi besar, apa artinya bertarung dengan tangan kosong? Kalau
ingin bertarung, ayoh kita adu gada, coba lihat sampai dimana
kekuatanku!"
"Hahahaha.... Bagus, bagus sekali, akupun
sudah lama tidak menjumpai musuh tangguh, tangaku juga gatal sekali,
kemari, berikan gadamu!"
Pemuda berpakaian ketat itu melompat ke
depan sambil membentak: "Sambut gada ini!"
Dia segera melemparkan gada bersegi delapan
miliknya ke arah Hay Tay-sau.
"Dicoba dulu, terlalu berat tidak benda
itu?" seru lelaki setengah umur itu sambil tertawa.
Hay Tay-sau menimang sejenak senjata gada
itu, lalu sahutnya sambil tertawa:
"Tidak berat, tidak berat, malah terasa agak
enteng!"
Kemudian sambil melepas kancing baju bagian
dadanya, dia pun perlihatkan dada kekarnya yang berwarna hitam
mengkilat.
Bi-lek Hwee yang berada disisi arena jadi
ikutan menggosok kepalannya, dia seakan turut merasa gatal tangan.
"Anak-anak, menyingkir kalian!" bentak
lelaki setengah umur itu kemudian.
Serentak kawanan lelaki berkerudung itu
menyingkir ke samping dan memberikan sebuah tanah lapang yang cukup
luas, Ouyang bersaudara ikutan juga mundur ke samping.
"Terimalah serangan pembukaanku ini!" bentak
lelaki setengah umur itu kemudian.
Dalam waktu singkat lengannya seakan lebih
besar satu kali lipat, sambil mengayunkan tangan, senjata gadanya
langsung di hantamkan kearah kepala lawan dengan jurus bukit
thay-san menindih kepala.
Hay Tay-sau membentak keras, dia sambut
datangnya ancaman itu dengan senjata gadanya.
"Kraakk.....!" diiringi benturan yang
menggelegar, tubuh kedua orang itu sama-sama mundur setengah
langkah.
Kembali Hay Tay-sau menerobos maju ke muka,
kali ini senjata gadanya menyapu miring ke samping.
Lelaki setengah umur itu cepat membalik
senjatanya untuk menangkis.
"Blaaaamm!" sekali lagi terjadi benturan
keras yang menukikkan telinga, sedemikian kerasnya hingga tubuh
kawanan lelaki berpakaian ringkas yang berada diseputar situ ikut
bergetar keras.
Tidak terkecuali Ouyang bersaudara, mereka
berdiri terbelalak dengan mulut melongo dan wajah pucat pias.
"Bocah busuk, hebat juga kau" teriak Hay
Tay-sau sambil tergelak, "nih, rasain kembali berapa pukulan
gadaku!"
Tubuhnya bergerak cepat, senjata gadanya
bagaikan hembusan puyuh curahan hujan badai langsung menghimpit
tubuh lawan.
Kini sepasang kaki lelaki setengah umur itu
sudah melesak ke dalam Lumpur, sambil busungkan dada dia sambut
datangnya serangan itu dengan gagah berani.
"Traaang, traaaang, traaang.......!"
Lima kali benturan keras menggelegar di
angkasa, ternyata kedua orang itu sudah saling menghantam sebanyak
lima kali.
Begitu dahsyat dan kerasnya suara benturan
itu membuat salah satu anggota Ouyang hengte yang berdiri paling
dekat merasakan sepasang lututnya jadi lemas,
tiba-tiba.....
"Bruuuk!" dia jatuh terduduk diatas Lumpur
dan lupa untuk merangkak bangun kalau tidak cepat dibantu rekannya.
Paras muka Thiat Tiong-tong pun ikut berubah
hebat, meskipun ilmu silat yang dimiliki lelaki setengah umur itu
tidak terlampau hebat, namun kekuatan lengannya betul-betul
mengagumkan.
Kini mereka berdua hanya saling menatap
dengan mata melotot, sementara lengannya sama-sama terkulai lemas,
tampaknya meski mereka rasakan lengannya linu dan kesemutan namun
siapa pun enggan mundur setengah langkah pun.
Dengan napas tersengkal lelaki setengah umur
itu tertawa tergelak, tantangnya:
"Hei orang she-Hay, bagaimana kalau kita
beradu lagi?"
Walaupun gelak tertawanya masih nyaring,
namun sudah jauh berkurang ketimbang tadi.
"Ayoh!" sahut Hay Tay-sau sambil membentak.
Sekali lagi mereka berdua saling beradu
gada.
"Cukup!" si nona berbaju hijau yang selama
ini berdiri tanpa berkedip itu tiba-tiba membentak pelan.
"Cukup? Menang kalah pun belum ketahuan,
kenapa mesti berhenti?" teriak Hay Tay-sau tidak puas.
Kalau dia masih bisa bicara jelas, maka
lelaki setengah umur itu sudah tersengkal-sengkal kehabisan tenaga.
Nona berbaju hijau itu memandangnya sekejap,
lalu ujarnya:
"Mengingat kau sanggup menghadapi delapan
serangan gada pamanku, aku bersedia berikan kantung perhiasan ini
untukmu!"
"Aku hanya pingin beradu kemampuan
dengannya, tidak peroleh kantung perhiasan itupun tidak masalah"
seru Hay Tay-sau gusar.
Lelaki setengah umur itu mendongakkan
kepalanya meneguk berapa tegukan air hujan, kini kain kerudung
hitamnya sudah tersingkap hingga kelihatan separuh mukanya yang
hitam pekat.
Sambil mengayunkan gadanya dia pun
berteriak:
"Mari, mari mari, kita......."
"Kita beradu sepuluh gebrakan lagi!" sambung
Hay Tay-sau sambil mengayunkan gadanya.
Untuk kesekian kalinya terjadi benturan
keras yang memekikkan telinga, mendadak senjata gada kedua orang itu
sama-sama rontok ke tanah.
Semua orang menjerit kaget, Hay Tay-sau
sendiripun tertegun sesaat, tapi kemudian serunya sambil tertawa
keras:
"Bagus, bagus, bagus, mengingat kehebatan
senjata gadamu, aku sudah tidak mau kantung perhiasan itu lagi!"
"Kami juga tidak mau" teriak lelaki setengah
umur itu keras.
Ouyang bersaudara yang masih duduk diatas
tanah segera menyambung sambil tertawa paksa:
"Jika kalian berdua tidak mau, lebih baik
serahkan saja kepada kami"
Sambil berkata dia sudah merangkak bangun
dan siap memungut kantung tersebut.
Mendadak satu pukulan dari Bi lek Hwee
membuatnya terjungkal kembali.
"Hay lote, kau jangan marah" terdengar Bi
lek Hwee berkata, "aku betul-betul mendongkol melihat tingkah pola
cecunguk busuk ini!"
"Satu pukulan yang hebat, satu pukulan yang
tepat" sahut Hay Tay-sau sambil tertawa, "kalau berganti aku,
pukulan tersebut pasti lebih berat lagi!"
Kemudian sambil membalikkan tubuh ujarnya
lagi:
"Jika kau tidak mau, biar serahkan saja
kepada saudara-saudaramu untuk minum arak"
Dengan mata melotot besar lelaki setengah
umur itu mengawasinya berapa saat, akhirnya diapun ikut tertawa
tergelak.
"Bagus!" sambil memberi tanda, teriaknya
lagi, "saudara saudara sekalian, cepat ucapkan terima kasih kepada
Hay Tay-sau, kita segera pergi!"
"Tunggu dulu!" bentak Bi lek Hwee.
"Ada apa lagi?" tegur lelaki setengah umur
itu.
"Lohu pun merasa tanganku mulai gatal!" ujar
Bi lek Hwee sambil tertawa keras.
Pemuda berpakaian ringkas itu segera
melompat ke depan, sambil memungut senjata gada bajanya dari tanah,
teriaknya lantang:
"Mari, mari, mari, biar
siauya mengobati tangan gatalmu!"
Bi lek Hwee berpaling memandang kearah
lelaki setengah umur itu, tegurnya sambil tertawa:
"Bocah ini anakmu atau muridmu? Tadi kau
bertarung sendiri melawan Hay lote, masa sekarang kau suruh
muridmu......"
Baru bicara sampai disitu tiba-tiba dia
menghentikan perkataannya, dengan mata melotot besar dia awasi wajah
lelaki setengah umur itu lekat lekat, kemudian perasaan kaget
bercampur tercengang melintas diwajahnya, untuk sesaat dia berdiri
tertegun.
"Kenapa kau?" Tanya Hay Tay-sau keheranan.
Sambil menuding lelaki setengah umur itu, Bi
lek Hwee tertawa tergelak.
"Hahahaha..... lohu kenal kau, lohu kenal
kau..."
Lelaki setengah umur itu bergetar keras,
cepat dia menarik kain kerudung mukanya.
"Tidak usah ditutupi lagi" seru Bi lek Hwee
sambil tertawa, "terlambat, sudah terlambat....."
"Mungkin kau salah melihat orang" "Kalau
salah melihat, lohu bersedia mencongkel keluar sepasang biji
mataku, bukankah kau adalah Bu lotoa yang bekerja sebagai pandai
besi diluar Benteng Han hong po?"
Kemudian setelah tertawa tergelak,
lanjutnya:
"Tidak heran tenagamu luar biasa besarnya,
ternyata memang terlatih dari pekerjaan sehari harimu, tapi... sejak
kapan kau berganti haluan? Lohu tidak tahu kalau sekarang kaupun
jadi begal" Merasa identitasnya telah terbongkar lelaki setengah
umur itu jadi gugup dan gelagapan.
"Biarpun dulu seorang tukang besi dan
sekarang berganti haluan, apa salahnya?" ujar nona berbaju hijau itu
ketus, "lagipula darimana kalian tahu kalau dulu menjadi tukang besi
pun karena dipaksa ganti haluan oleh manusia macam kalian?"
Bi lek Hwee tertegun kemudian tertawa
tergelak.
"Nona, tajam amat mulutmu......."
Sementara pembicaraan masih berlangsung,
tiba-tiba terlihat dua orang lelaki berbaju hitam berlarian mendekat
sambil menggotong tubuh seorang pemuda berpakaian ringkas.
Walaupun ditubuh pemuda itu tidak nampak
noda darah, namun dia berada dalam keadaan tidak sadar, mukanya
pucat bagai kertas, jelas sudah menderita luka parah.
Dengan wajah berubah lelaki setengah umur
itu berseru:
"Bukankah tadi dia masih mampu melawan?
Kenapa bisa berubah jadi begini?"
Lelaki berbaju hitam itu segera menyahut:
"Sepeninggal toaya tadi, sebetulnya hamba sekalian tidak sampai
terdesak dibawah angin, siapa tahu lelaki terpelajar yang tampaknya
lemah lembut itu ternyata seorang jago silat berilmu tinggi, begitu
dia turun tangan, Sam sauya pun langsung terluka parah, terpaksa
hamba menggotongnya kemari"
Saking gugup dan paniknya dia seakan lupa
kalau disitu masih hadir orang luar, ternyata semua kejadian
dituturkan secara gamblang.
Buru-buru nona berbaju hijau bersama lelaki
setengah umur itu memeriksa keadaan luka yang diderita pemuda itu.
"Benar-benar berhati keji" umpat nona
berbaju hijau itu kemudian dengan perasaan dendam, "serangan yang
amat ganas"
Diam-diam Hay Tay-sau menarik lengan Bi lek
Hwee sambil bisiknya:
"Kita tidak punya ikatan dendam atau sakit
hati dengan orang-orang itu, selagi mereka sedang menghadapi
masalah, lebih baik kita tidak usah menyusahkan mereka lagi"
"Lohu memang tidak berniat menyusahkan
mereka"
Kembali Hay Tay-sau berpaling ke arah Ouyang
hengte sembari menghardik:
"Kenapa kalian masih berada disini?"
Dibentak dengan suara keras, Ouyang hengte
buru-buru mundur berulang kali, akhirnya mereka pun kabur
terbirit-birit meninggalkan pemuda yang masih terduduk di lantai,
tampaknya dia merupakan anggota termuda yang paling lemah.
"Mau apa kau masih berada disini?" kembali
Hay Tay-sau menghardik marah.
"Siautit harus ucapkan terima kasih dulu
karena paman Hay telah selamatkan diriku" ucap pemuda itu sambil
menjura.
Mula-mula Hay Tay-sau agak tertegun,
kemudian dengan wajah berseri katanya:
"Gui-ji, kau sebetulnya anak yang baik,
kenapa mesti bergaul dengan kawanan manusia tidak berguna itu?"
"Sebagai saudara, siautit harus maju mundur
bersama mereka"
"Aaai, baiklah, cepat pulang, sampaikan juga
salamku untuk Ik-ma kalian!"
Sekali lagi pemuda itu mengiakan dengan
sopan.
"Oya, katakan juga kepada saudara saudaramu"
ujar Hay Tay-sau lebih jaun, "perahu sarang lebah itu sudah
tenggelam, suruh mereka jangan melakukan perbuatan amoral lagi"
Pemuda itu menyahut dan buru-buru berlalu.
Memandang bayangan punggung pemuda itu Hay
Tay-sau menghela napas panjang, gumamnya:
"Diantara Ouyang bersaudara, hanya Ouyang
Gui yang paling punya semangat, tampaknya semua karya besar Ouyang
Kit dikemudian hari bakal terjatuh ke tangannya. Aaai, sudahlah,
ayoh kita pun pergi!"
Waktu itu lelaki setengah umur itu sudah
menjura ke arahnya sambil berseru:
"Sekarang kami sedang terburu buru hendak
berangkat ke tempat lain hingga tidak sempat banyak bicara lagi,
kejadian hari ini pasti akan Bu Ceng-wi catat didalam hati, bila ada
kesempatan, budi kebaikanmu pasti akan kubalas"
"Pergilah saudara Bu" Hay Tay-sau tersenyum.