pendekar panji sakti 03
BAB 7.
Terjadi perubahan.
Langit yang sangat cerah dengan sinar
matahari berwarna kuning emas.
Tapi suasana dalam gedung utama keluarga Li
yang bermandikan cahaya matahari justru dicekam dalam ketegangan
yang berat dan meenyesakkan napas, bahkan setiap orang merasa
napasnya jadi berat.
Semua meja sudah terisi penuh manusia, semua
orang duduk dengan perasaan kebat kebit, wajah serius. Beratus
pasang mata sama sama tertuju ke wajah Li Lok-yang.
Waktu itu Li Lok-yang
sambil bergendong tangan, berkerut kening, berjalan mondar
mandir diantara kerumunan orang banyak, beberapa kali dia menengok
keluar pintu gedung sambil bertanya:
"Apakah semuanya telah hadir?"
Setiap orang duduk dengan pikiran yang
kalut, bahkan Phoa Seng-hong pun duduk saling berhadapan dengan Hay
Tay-sau, siapa pun yang mendonggakkan kepalanya, dia akan segera
terbentur dengan sorot mata lawan yang penuh dengan kebencian.
Tiba-tiba terlihat seorang pemuda berbaju
pulih yang berwajah sedih, berpakaian lusuh dan memegang sebilah
pedang melangkah masuk dengan sempoyongan, dia memandang
sekeliling ruangan sekejap kemudian duduk kembali kebangkunya,
penampilan orang ini pada hakekatnya seperti dua orang yang berbeda
bila dibandingkan berapa hari berselang.
"Ada apa dengan bajingan itu?" pikir Suto
Siau dengan kening berkerut, dia semakin keheranan ketika tidak
melihat Un Tay-tay berada bersamanya.
"Blaaam!" tiba-tiba Im Ceng meletakkan
pedangnya diatas meja keras keras, lalu teriaknya:
"Hey tuan rumah, apa punya arak? Aku ingin
minum sampai mabuk"
"Harap hengtay tunggu sebentar" jawab Li
Kiam-pek sambil mendekat.
Tiba-tiba dia saksikan paras muka pemuda itu
berubah hebat, dari balik matanya seakan memancar keluar sinar
berapi api.
Li Kiam-pek agak tertegun, tapi dengan cepat
dia sadar kalau kemarahan pemuda berbaju putih itu bukan tertuju
kepadanya, tapi diarahkan ke belakang tubuhnya.
Ketika berpaling, dia pun saksikan kakek
aneh itu muncul bersama perempuan cantik pasangan pemuda berbaju
putih itu.
Suto Siau terlebih kaget lagi, tanpa terasa
dia melompat bangun sambil melotot besar.
Un Tay-tay sama sekali tidak melirik
kearahnya, diapun tidak memandang ke arah Im Ceng, malah sambil
menggandeng tangan kakek aneh itu berjalan menuju ke tempat
duduknya.
Jarang ada yang tahu hubungan sesungguhnya
dari berapa orang itu, kebanyakan orang hanya merasa agak kaget
bercampur keheranan setelah melihat sikap Suto Siau dan Im Ceng yang
lepas kendali.
Pelayan keluarga Li yang berdiri dipintu
gerbang sudah mulai mencocokkan para tamu yang telah hadir dalam
ruangan dengan daftar tamunya, kemudian sambil memberi hormat dia
melaporkan:
"Semua tamu telah hadir!"
Li Lok-yang seketika menghentikan langkah
kakinya, kemudian dengan suara berat katanya:
"Aku merasa tidak enak karena sepagi ini
sudah mengganggu ketenangan anda semua"
Para tamu tahu pasti ada kelanjutan dari
perkataannya itu, maka semua orang hanya pasang telinga tanpa
menimbrung.
Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:
"Anda sekalian jauh-jauh datang kemari,
sebagai tuan rumah sudah seharusnya aku melayani kalian dengan
sebaik-baiknya, tapi sekarang, mau tidak mau terpaksa aku harus
mempersilahkan anda semua untuk segera pulang ke rumah
masing-masing"
Salah satu diantara Ouyang hengte segera
bangkit berdiri, teriaknya:
"Waktu selama sepuluh hari belum lewat,
kenapa tuan rumah sudah mengusir tamunya?"
Kawanan pemuda pemogoran ini memang khusus
datang untuk mencari peluang mendekati sekelompok ratu tawon, tentu
saja mereka jadi gelisah setelah tahu kalau pertemuan segera akan
dibubarkan.
Sekali lagi Li Lok-yang menghela napas
panjang.
"Betul, pertemuan selama sepuluh hari memang
belum lewat, tapi dalam berapa hari mendatang pasti akan terjadi
gelombang badai ditempat ini, cayhe betul-betul tidak tega
membiarkan kalian semua terlibas dalam pusaran dan pergolakan ini"
"Waah, apalagi kalau bakal ada pergolakan
ditempat ini" teriak salah satu anggota Ouyang hengte dengan suara
keras, "kami bersaudara tidak sepantasnya kabur dari sini, melarikan
diri disaat ancaman tiba bukan watak dari kami bersaudara"
Perkataan itu diucapkan dengan lantang dan
penuh dengan semangat kesatriaan, tidak tahan dia melirik sekejap ke
arah kawanan perempuan yang duduk disudut lain.
Tapi dengan suara berat Li Lok-yang segera
berkata:
"Kalian masih muda, mana tahu berbahayanya
dunia persilatan, bila sekali sampai terlibat dalam lingkaran setan
ini, selama hidup jangan harap bisa lolos kembali"
Sesudah menghela napas, lanjutnya:
"Apalagi musuhku ini sangat lihay, sulit
mencari orang yang mampu menandingi kemampuan mereka, sebentar lagi
banjir darah mungkin akan melanda tempat ini, jika kalian tidak
segera pergi, bila sampai orang orang itu tiba disini, aku mungkin
tidak berkesempatan lagi untuk melindungi keselamatan kalian. Terus
terang, orang itu buas dan kejam, belum pernah dia biarkan lawannya
hidup, begitu pertarungan berkobar, siapa hidup siapa mati susah
diramalkan, jadi aku harap kalian segera pergi dari sini"
Dari sikapnya yang amat serius, ucapannya
yang penuh diliputi rasa takut dan ngeri, semua orang tahu kalau
persoalan yang bakal terjadi amat berat, berubah paras muka setiap
orang, sedang kawanan pemuda dari keluarga Ouyang pun sama-sama
bergidik, serentak mereka duduk kembali dan tidak berani banyak
bicara.
Kembali Li Lok-yang menjura seraya berkata:
"Saudara sekalian, kereta kuda telah
disiapkan dan setiap saat anda semua dapat berangkat meninggalkan
tempat ini, karena keadaan mendesak dan cayhe sendiripun tidak bisa
berbuat lain, mohon kalian sudi memaafkan"
Semua orang tahu kalau setiap ucapan Li
Lok-yang lebih berat dari bukit karang, apa yang dia ucapkan tidak
pernah merupakan omong kosong tanpa dasar, oleh sebab itu tak
seorangpun yang buka suara untuk bertanya lagi.
Para pedagang sejati, para keluarga kecil,
para orang kaya yang takut urusan tergopoh-gopoh bangkit berdiri
meninggalkan tempat dan segera berbenah untuk angkat kaki dari situ.
Ada diantara mereka yang berpamitan dengan
Li lok-yang, ada pula yang tidak sempat berpamitan lagi, dalam
waktu singkat ruang gedung utama sudah berubah jadi sepi kembali.
Ada juga berapa orang jago silat serta
sahabat karib Li Lok-yang yang bicara soal setia kawan, mereka
enggan pergi dari situ. Namun setelah dibujuk rayu berulang kali
oleh Li Lok-yang, maka mereka pun ikut berlalu dari situ.
Muka gedung utama pun jadi amat hening dan
sepi, yang masih tersisa sekarang tinggal Hek Seng-thian, Pek
Seng-bu, Im Ceng yang masih tetap duduk sambil pelototi Un Tay-tay
serta Thiat liang hong.
"Saudara, kenapa kau masih belum pergi?"
tegur Li Kiam pek sambil menghampiri Im Ceng.
"Aku tidak bakal pergi!"
"Kenapa? Bukankah ayahku telah menerangkan
dengan sangat jelas?"
Sambil menuding ke arah Hek Seng-thian serta
Pek Seng-bu sekalian, Im Ceng berteriak:
"Kalau mereka tidak pergi, kenapa aku harus
pergi?”
Biarpun sedang memberi jawaban, namun sorot
matanya tidak pernah bergeser dari wajah Un Tay-tay.
Suto Siau saling bertukar pandangan sekejap
dengan Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu.
Sambil tersenyum Pek Seng-bu segera berseru:
"Saudara, tidak nyana kau bersedia mati
hidup bersama kami, kau memang tidak malu disebut seorang enghiong
hohan, cayhe ucapkan terima kasih terlebih dulu!"
"Mati hidup memang bukan sebuah kejadian
besar!" teriak Im Ceng.
"Sungguh?"
"Tentu saja sungguh" jawab Im Ceng gusar,
"memangnya kau tahu siapakah aku?"
Thiat Tiong-tong mulai merasa tegang, dia
kuatir Im Ceng benar-benar dipengaruhi emosi sehingga mengakui
identitas yang sebenarnya, jika sampai terjadi hal seperti itu tentu
saja sulit bagi Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu sekalian untuk
berlagak pilon lagi.
Perlu diketahui, situasi pada saat ini amat
sensitip, kedua belah pihak sama-sama mempunyai rencana, kedua
belah pihak pun menyangsikan sesuatu, hanya Im Ceng seorang yang
belum tahu kalau jejaknya sebetulnya sudah ketahuan orang semenjak
awal.
Untung saja Pek Seng-bu segera tersenyum
sambil menggelengkan kepalanya.
"Selama kalian tidak pergi, akupun tidak
bakal meninggalkan tempat ini" teriak Im Ceng lagi dengan suara
keras, "suatu saat nanti kalian bakal tahu siapakah aku!"
Dengan menggenggam kotak pedangnya, dia
berlalu dari situ dengan langkah lebar.
Sekali lagi Pek Seng-bu saling bertukar
pandangan dengan Suto Siau.
Kini Pek Seng-bu menjura ke arah Thiat
Tiong-tong sambil berkata:
"Situasi saat ini sangat gawat, kenapa
losianseng masih belum pergi?"
Thiat Tiong-tong mendongakkan kepalanya dan
tertawa tergelak.
"Hahahaha..... lohu telah
merebut kekasih pemuda itu, jika berjalan keluar dari sini, mungkin
pemuda itu segera akan datang mencari lohu untuk diajak beradu
nyawa"
Dalam pada itu Li Lok-yang telah perintahkan
anak buahnya untuk melakukan persiapan di empat penjuru, terdengar
suara bentakan lirih diikuti suara langkah kaki yang tegang
berkumandang tiba.
Perkampungan yang diwaktu biasa nampak tanpa
penjagaan, begitu terjadi perubahan segera berubah menjadi sebuah
benteng yang kokoh dengan penjagaan yang sangat kuat. Para pelayan
yang dihari biasa berlaku santun, dalam waktu singkat telah berubah
menjadi penjaga yang kosen.
Diluar pintu gerbang suara kuda dan kereta
bergema silih berganti, banyak orang mulai kabur meninggalkan
perkampungan itu.
Sambil bergendong tangan Thiat Tiong-tong
berjalan menuju keluar pintu gerbang. Dia seolah–olah sedang
memperhatikan situasi diluaran, padahal semua gerak gerik yang
terjadi di belakang tubuhnya tidak satu pun yang lolos dari
pengelihatannya.
Suto Siau menyangka dia tidak memperhatikan
keadaan di belakangnya, dengan satu langkah pelan dia menghampiri Un
Tay-tay, kemudian setelah melotot sekejap, tegurnya sambil menggigit
bibir.
"Kau sudah edan?"
Un Tay-tay tertawa terkekeh-kekeh, sengaja
dengan suara keras sapanya:
"Suto tayhiap, ada urusan apa?"
Suto Siau terkesiap, benar saja, Thiat
Tiong-tong segera berpaling.
Terpaksa sambil tertawa sahutnya:
"Ooh,.... tidak apa apa, tidak apa apa!"
Ketika berjalan balik, hatinya merasa gemas
sekali, saking jengkelnya ingin sekali dia menghajar mampus Un
Tay-tay dengan sekali pukulan.
Un Tay-tay segera menarik ujung baju Thiat
Tiong-tong sambil berseru:
"Lebih baik kita pulang saja, daripada
kelewat lama disini aku malah dipermainkan orang lain"
"Betul" Li Kiam-pek segera menimpali, "lebih
baik losianseng pulang saja!"
"Sementara waktu lohu akan kembali ke
halaman belakang" kata Thiat Tiong-tong dengan wajah serius, "tapi
bukan berarti aku akan pergi meninggalkan tempat ini, kalian tidak
bakalan bisa mengusir aku dari sini"
Sementara Li Kiam-pek masih termangu, Thiat
Tiong-tong sudah beranjak pergi.
Memandang bayangan punggung mereka hingga
lenyap dari pandangan, Phoa Seng-hong menggelengkan kepalanya sambil
menghela napas:
"Aaai, orang itu memang aneh sekali,
bukannya melarikan diri malah tetap tinggal disini menunggu
kematian"
"Masih untung tidak banyak manusia pengecut
yang takut mati macam dirimu di dunia ini" sindir Hay Tay-sau sambil
tertawa dingin.
"Apa kau bilang?" teriak Phoa Seng-hong
sambil menggebrak meja, dia gusar sekali.
"Mau apa kau?" balas Hay Tay-sau tidak kalah
kerasnya.
Li Lok-yang segera menarik wajahnya.
"Harap kalian berdua segera duduk kembali"
tegurnya dengan suara keras, "saat ini kita sedang berada disatu
perahu, jika tidak bekerja sama secara erat, mungkin perahu ini
bakal terbalik dan tenggelam!"
"Hahahaha....saudara Li tidak perlu
khawatir" kala Hay Tay-sau sambil tertawa tergelak, "kami hanya
bergurau saja"
"Braaak!" dia kembali ke bangkunya dan tidak
menengok lagi ke arah Phoa Seng-hong.
Semang pelayan berbaju hitam tiba-tiba
berlari masuk dengan wajah gugup bercampur ketakutan, napasnya
tersengkal-sengkal, telinga kanannya berlumuran darah, ternyata daun
telinganya telah dikutungi orang.
"Ada apa?" tegur Li Lok-yang dengan wajah
berubah.
Sambil memegangi telinganya yang berdarah
dan mengatur napasnya yang tersengkal, sahut pelayan itu:
"Hamba mengikuti perintah dengan numpang
kereta keluar dari sini, tapi belum sampai diujung jalan telah
muncul orang yang menghadang kereta tersebut serta melakukan
pemeriksaan"
"Aah, ternyata dugaanku tidak salah" seru
Pek Seng bu sambil menghela napas, "rupanya mereka telah melakukan
penjagaan yang ketat diseputar wilayah ini, mereka tidak mungkin
membiarkan kita menyelinap keluar dan melarikan diri"
"Bagaimana kemudian?" tanya Li Lok-yang
lebij jauh.
Sambil menahan rasa sakit sahut pelayan itu:
"Tampuknya mereka sangat hapal dengan identitas semua
orang yang berada di sini, mereka yang tidak tersangkut dibiarkan
jalan lewat, melihat keadaan tersebut hamba tidak
berani meneruskan perjalanan, sebenarnya hamba ingin kembali untuk
melaporkan kejadian ini kepada loya, siapa tahu satu diantara
mereka, yang semula seperti orang yang bisu lagi tuli, mendadak maju
ke depan menangkap hamba, tanpa banyak bicara dia segera mengurungi
daun telingaku"
"Orang yang bisu lagi tuli?" Phoa Seng-hong
menjerit kaget, "tidak disangka dia pun ikut datang kemari!"
Paras muka Hek Seng-thian ikut berubah
hebat, katanya:
"Aku dengar ke sembilan orang murid Kiu cu
kui bo (setan wanita berputra sembilan) adalah orang-orang yang
cacad, apa mungkin si manusia bisu tuli itu adalah salah satu
diantaranya?"
"Diantara deretan murid Kiu cu kui bo, orang
ini terhitung paling keji, buas dan telengas" sahut Phoa Seng-hong
sambil menghela napas, "bahkan dialah yang pernah membuat siaute
sangat menderita, kedatangannya kali ini....."
Mendadak dia bersin beberapa kali dan tidak
bicara lagi.
Hek Seng-thian menggelengkan kepalanya
berulang kali, katanya:
"Kiu cu Kui bo sudah banyak tahun tidak
pernah muncul dalam dunia persilatan, bagaimana mungkin kau bisa
berseteru dengannya? Apakah kau tidak merasa bahwa tindakanmu
seperti sekali tonjok menghantam diatas sarang lebah?"
"Soal ini...... aaai, tidak akan selesai
diceritakan dengan satu dua patah kata"
Hay Tay-sau mendengus dingin, gumamnya
sambil menggeleng:
"Susah diceritakan dalam sepatah dua patah
kata? Jika urusannya tidak menyangkut masalah wanita, aku manusia
she-Hay berani mengutungi batok kepala sendiri"
Semua orang mengira Phoa Seng-hong pasti
akan ribut lagi dengan orang itu, siapa sangka dia hanya tertunduk
lesu tanpa mengucapkan sepatah katapnun, tanpa terasa semua orang
saling bertukar pandangan, mereka tahu apa yang dikatakan Hay Tay
sau pasti benar.
Mendadak terjadi kegaduhan diluar pintu
gerbang, kawanan manusia yang semula antri memuat barang untuk kabur
dari situ, kini berbondong bondong menyingkir ke samping dan membuka
sebuah jalan lewat.
"Apa yang terjadi?" seru Li Lok-yang sambil
melompat keluar.
Tampak seorang lelaki botak dengan seluruh
tubuh dipenuhi kudis, dengan mengenakan baju kasar terbuat dari goni
yang aneh sekali bentuknya sambil menuntun seekor keledai kecil
perlahan-lahan berjalan mendekat.
Gerak gerik orang itu sangat bodoh macam
orang kebingungan, persis seperti orang idiot, bahkan keledai yang
dituntun pun berjalan dengan lesu tanpa semangat.
Di punggung keledai yang lemas itu justru
mengangkut sebuah karung goni yang besar lagi berat, membuat keledai
kecil yang kurus lemah macam sudah berapa bulan tidak pernah
mendapat ransum ini nyaris tidak dapat bernapas.
Walaupun manusia dengan keledainya nampak
sangat buruk dan tidak sedap dipandang, namun dalam situasi dan saat
seperti ini justru mendatangkan perasaan seram yang aneh dan penuh
diliputi misteri.
Sambil menghadang didepan pintu gerbang
hardik Li Lok yang:
"Sobat, siapa kau? Mau apa datang kemari?”
Manusia idiot itu tertawa lebar, sahutnya:
"Hartawan Li, kau berwajah toapan banyak
hokki, umurmu pasti panjang sekali, hamba hanya datang kemari untuk
minta sedekahmu"
Sesaat Li Lok-yang berkerut keningnya,
kemudian sambil mendongakkan kepala tertawa keras sahutnya:
"Sobat, kau sudah jauh-jauh datang kemari,
tentu saja aku tidak boleh membuat kau kecewa, ambillah!"
Ditengah bentakan dia mengayunkan tangannya
melemparkan sekeping perak ke arah orang itu, sambitan itu sangat
kuat dan cepat, desingan angin tajam menusuk pendengaran.
"Hahahaha.... terima kasih loya" seru si
idiot sambil tertawa terkekeh.
Sewaktu kepingan perak itu tiba
dihadapannya, tiba-tiba dia membalik telapak tangannya, mendadak
tenaga sambitan yang menyertai kepingan perak itu lenyap tidak
berbekas, dengan tenang dan lembut tahu-tahu benda tersebut sudah
mendarat diatas tangannya.
Berubah hebat paras muka Li Lok-yang. "Hebat
sekali kungfu mu sobat, cayhe masih ingin menjajal lagi"
"Waah...waaah.... tauke sudah memberi
persen, sekarang mau diminta kembali?" seru si idiot sambil tertawa,
"baik, baiklah... biar aku kembalikan dengan benda lain"
Mendadak dia hajar pantat keledai itu,
diiringi ringkikan kesakitan, keledai itu dengan kepala tertunduk
langsung menerjang ke tubuh Li Lok-yang, saking kesakitannya
terjangan binatang itu sangat cepat dan hebat.
Sambil mengebaskan ujung bajunya Li Lok-yang
mengegos ke samping, menanti dia berpaling lagi, ternyata si manusia
idiot itu sudah lenyap entah lari ke mana.
Keledai itu langsung menerjang masuk ke
ruang tengah, dua orang pelayan buru-buru lari mendekat sambil
mencoba menghentikan larinya binatang itu, meski kedua orang itu
bertubuh kekar, ternyata mereka tidak mampu menahan tubrukan keledai
itu, kontan tubuh mereka roboh terguling ke tanah.
Li Kiam-pek segera menghampiri keledai itu
sambil bentaknya:
“Jangan kalian sakiti binatang itu, cepat
buka bungkusan dipunggungnya, periksa apa isinya?"
Sementara itu semua orang sudah maju
mengerubung, ternyata isi karung goni yang terikat kencang diatas
pelana keledai itu adalah tiga sosok mayat dalam keadaan bugil.
Kulit tubuh ketiga sosok mayat itu telah
berubah warna, mimik mukanya nampak mmnyeringai seram, kulit dan
ototnya mengejang keras, tampaknya sebelum kematian mereka telah
mengalami siksaan dan penderitaan yang luar biasa, tapi anehnya
tidak dijumpai sebuah luka pun ditubuh mereka.
Ketika terendus bau busuk yang memualkan
menyeruak keluar dari karung goni itu, buru-buru semua orang mundur
berapa langkah.
"Mayat siapakah itu?" tanya Li Lok-yang
kemudian.
Semua orang hanya saling berpandangan
kemudian menggeleng.
Lama sekali Li Lok-yang termenung, akhirnya
dengan suara keras serunya:
“Bagaimanapun juga, kita harus kirim ke tiga
buah mayat itu ke halaman belakang, sediakan tiga buah peti mati dan
kubur mereka dengan layak"
Ayah beranak ini selama hidup tidak pernah
menyiksa hewan, merekapun tidak pernah memandang
enteng orang yang sudah mati, boleh dibilang jiwa ksatria dan
kebajikannya sangat mengagumkan.
Ketika semua orang balik kembali ke ruang
tengah, Phoa Seng-hong yang selama ini hanya duduk terpekur
tiba-tiba wajahnya berubah hebat, sambil mengangkat kepalanya dia
menjerit kaget:
"Celaka!"
"Apa yang terjadi?" tanya Hek Seng-thian dan
Suto Siau hampir bersamaan waktunya.
Dengan sorot mata penuh ketakutan Phoa
Seng-hong menuding keluar jendela, serunya dengan nada gemetar:
"Cepat! Cepat bakar ke tiga sosok mayat itu
hingga menjadi abu, harus dibakar sampai habis"
"Kenapa?" tanya Li Lok-yang keheranan.
"Kita semua sudah tertipu" teriak Phoa
Seng-hong sambil menghentakkan kakinya berulang kali, "lelaki idiot
itu tidak lain adalah Un sat kui cu (setan penyebar penyakit
menular) dari Kiu cu Kui bo!"
"Apa? Setan penyebar penyakit menular?"
seluruh tubuh Li Lok-yang bergoncang keras, "Konon kedatangan orang
itu selalu membawa penyakit menukar yang akan berakibat menjalarnya
penyakit endemi diseluruh wilayah kota......."
Phoa Seng-hong menghela napas panjang.
"Sepuluh tahun berselang, perkumpulan cap
pwee Lohan pang di kota Bu han yang begitu kosen dan besar
pengaruhnya runtuh karena seluruh anggotanya mati tertular penyakit
aneh, bisa dibayangkan betapa lihay dan menakutkan orang itu"
"Menjalarnya penyakit epidemi biasanya
disebabkan oleh bencana alam" sela Li Kiam-pek tidak tahan,
"kekuatan apa yang dimiliki setan penyebar penyakit menular itu
untuk menularkan penyakit jahat disebuah wilayah?"
Selama ini Bi lek hwee hanya membungkam
mulut, lama-kelamaan dia tidak sabar juga, segera teriaknya pula:
"Apa pula yang terjadi dengan ke tiga sosok
mayat itu? Kenapa kau minta membakarnya sampai ludas?"
"Setan penyebar penyakit menular pandai
menggunakan pelbagai macam obat beracun, sewaktu menyebarkan
penyakit menular, selain menggunakan air untuk media penularan,
terkadang dia pun menyebar racun lewat makanan dan mayat manusia"
"Lohu makin mendengar semakin keheranan"
"Ke tiga sosok mayat itu jelas merupakan
orang-orang yang tewas karena terjangkit penyakit sangat menular,
bila seseorang bersentuhan dengan tubuh jenasah itu maka dia akan
segera tertular pula jenis penyakit yang sama, seorang menulari
sepuluh orang, sepuluh orang menulari seratus manusia, tidak sampai
berapa hari kemudian semua manusia yang berada diwilayah ini dapat
terjangkit punyakit menular itu!"
Belum selesai dia berbicara, paras muka
semua jago telah berubah hebat.
Li yok yang yang segera maju selangkah
menghadang didepan pintu gerbang, serunya lantang:
"Cepat bakar jenasah jenasah itu sampai
menjadi abu, kemudian pendam abu mereka didalam tanah, gali yang
agak dalam!"
"Bukan cuma ke tiga sosok mayat itu yang
harus dibakar sampai habis, selain itu semua orang yang barusan
pernah bersentuhan dengan mayat itupun harus segera diusir dari
sini" sambung Phoa Seng hong.
"Mengusir dari sini?" mendadak Li Lok-yang
membalikkan tubuh sambil menghardik, "apakah kau minta aku mengusir
anak buahku agar mereka mati dibantai orang diluar sana?"
"Kalau tidak mengusir mereka dari sini, maka
kita semua hanya akan menunggu mati karena tertular penyakit jahat
itu, Kiu cu Kui bo pun tidak perlu susah susah turun tangan
sendiri!"
Li Lok-yang tertegun, sampai lama sekali dia
tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun sementara peluh sebesar
kacang kedele jatuh bercucuran.
Sorot mata semua orang sudah tertuju ke
arahnya, tahu akan gawat dan seriusnya masalah, semua orang
menantikan jawabannya.
Perlu diketahui, waktu itu ilmu pengobatan
belum semaju jaman sekarang, sebagian besar jago persilatan sama
sekali tidak mengetahui teori penyebaran sebuah wabah penyakit, oleh
karena itu semua orang menganggap kejadian ini sebagai suatu
peristiwa yang mengerikan dan penuh diliputi misteri.
Bila pada jaman itu ada orang terserang
penyakit kolera atau penyakit pes, dapat dipastikan nyawa mereka
pasti akan melayang tanpa ada kesempatan tertolong lagi.
Dengan menggunakan mayat dari orang yang
mati karena terserang wabah penyakit menular itulah si setan
penyebar penyakit menyebarkan bakteri jahat ke tubuh orang lain,
pengetahuannya yang lebih maju daripada orang lain menghantarkan
dirinya menjadi salah satu tokoh kenamaan dalam dunia persilatan.
Lama sekali Li Lok-yang termenung, tiba-tiba
dengan kening berkerut serunya:
"Apa pun yang bakal terjadi, aku tidak bisa
mengusir anak buahku untuk menghantar kematian diluar sana"
Air muka semua orang berubah makin hebat.
Sambll tertawa dingin, Suto Siau segera
berseru.
"Kalau begitu saudara Li memang berharap
kita semua ikut mati lantaran tertular penyakit jahat itu?"
"Mati hidup ada ditangan takdir, sekalipun
harus mati, kita tidak boleh meninggalkan nama busuk sebagai orang
yang tidak bijak dan tidak setia kawan, jelek-jelek kita harus mati
sebagai seorang lelaki ksatria"
"Dan pada mati dengan nama harum, mending
hidup dengan nama busuk" sela Suto Siau ketus, "bila saudara Li
pingin mati, silahkan saja mati sendirian, cayhe sekalian mah tidak
ingin menyumbangkan nyawa dengan percuma, saudara Hek, saudara Pek,
saudara Phoa, betulkan perkataan siaute?"
"Tepat sekali" jawab Hek Seng-thian, Pek
Seng-bu dan Phoa Seng-hong dengan wajah hijau membesi.
"Kalau begitu kau mau apa?" teriak Li
Lok-yang keras.
Suto Siau tertawa seram.
"Jika kau tidak segera menurunkan perintah,
terpaksa cayhe sekalian akan merampas
kekuasaanmu!"
Sambil berbicara dia memberi kode, lalu
bersama Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu mengepung Li Lok-yang di
tengah arena.
"Merampas kekuasaanku?" Li Lok-yang
berteriak keras, "memang nya kalian ingin membunuh ku?"
"Jika keadaan memaksa, terpaksa cayhe
sekalian harus berbuat begitu"
Mereka berempat mulai menggeser kakinya
perlahan-lahan mendekati Li Lok-yang.
"Criiiing!" terdengar dentingan nyaring
bergema memecahkan keheningan, Li Kiam-pek telah meloloskan
pedangnya.
Tiba tiba Hay
Tay-sau menggebrak meja keras keras, teriaknya:
"Barang siapa berani mengusik Li Lok-yang
ayah beranak, aku akan menghajarnya hingga terbelah dua"
Phoa Seng-hong membalikkan tubuhnya,
tiba-tiba dia melancarkan sebuah serangan menghantam dada
Hay Tay-sau.
"Bocah keparat" umpat
Hay Tay-sau sambil tertawa seram,
"sudah cukup lama aku ingin menjagal dirimu"
Ditengah gelak tertawa dia melancarkan lima
buah pukulan, tenaga serangannya keras lagi kuat bahkan disertai
tenaga yang bisa menjebol batu karang.
Phoa Seng-hong dengan mengandalkan
kelincahan tubuhnya berkelit ke samping, dalam waktu singkat diapun
telah melancarkan lima jurus serangan balasan.
Meskipun Phoa Seng-hong mempunyai julukan
yang tidak sedap didengar, ternyata ilmu silat maupun gerakan
tubuhnya sangat tangguh, langkah kakinya aneh tapi hebat, jauh
diluar dugaan siapa pun.
Dipihak lain Li Kiam-pek telah terlibat
pertarungan melawan Pek Seng-bu, terdengar angin pedang mendesir,
cahaya senjata menggulung, bagaikan diamuk angin puyuh dan hujan
lebat, seluruh angkasa diselimuti oleh cahaya tajam yang
menggidikkan hati.
Sesudah bertarung berapa gebrakan, Pek
Seng-bu merasa makin terkesiap, sekalipun dia tidak pernah memandang
rendah kemampuan silat dari putra keluarga Li ini, namun mimpi pun
dia tidak menyangka kalau kesempurnaan ilmu pedang yang dimiliki
pemuda itu sudah mencapai tingkatan yang begitu mengerikan.
Li Lok-yang masih berdiri dengan sepasang
lengan lurus ke bawah, mimik mukanya tetap tenang tanpa terdorong
gejolak emosi, namun hawa murninya telah dihimpun menyelimuti
seluruh tubuhnya.
Beberapa kali Hek Seng-thian dan Suto Siau
ingin melancarkan gempuran, namun setelah menyaksikan ketenangan
sikap yang di perlihatkan Li Lok-yang, untuk sesaat mereka jadi
ragu dan tidak berani sembarangan turun tangan.
Pada saat itulah kembali terdengar suara
langkah kaki berkumandang datang dari kejauhan, sebelas orang lelaki
berbaju hitam dengan wajah berat dan serius, seakan akan sedang
memikul beban ribuan kati melangkah naik ke atas undak undakan
rumah.
"Mau apa kalian datang kemari?" dengan
kening berkerut Li Lok-yang segera menegur.
Lelaki yang berada dipaling depan menjawab
dengan kepala tertunduk:
"Hamba sekalian telah membakar ketiga
jenasah itu dan menguburnya, tapi karena kurang berhati hati, hamba
semua telah bersentuhan dengan ketiga sosok mayat itu"
Lelaki ke dua segera menimpali:
"Kami minta kalian segera menghentikan
pertarungan, dengarkan dulu sepatah dua patah kata hamba"
Baru selesai dia bicara, pertarungan
seketika terhenti.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tegur Li
Lok-yang dengan nada berat, "ayo cepat mundur dari sini!"
Lelaki yang berada dipaling depan
menundukkan kepalanya makin rendah, katanya:
"Loya, kau tidak usah bertarung lagi melawan
mereka hanya gara-gara keselamatan hamba sekalian, sudah banyak
tahun hamba semua bekerja untuk loya, hamba semua tidak ingin
menyusahkan dirimu lagi"
"Apa yang hendak kalian lakukan?" bentak Li
Lok-yang dengan wajah berubah hebat.
"Kini hamba semua telah menjadi sumber
pembawa bencana, kami semua tidak berani hidup terus di dunia ini,
apalagi sebagai pembawa bencana yang akan mencelakai orang banyak”
bisik lelaki itu sedih.
Li Lok-yang semakin terharu, emosinya makin
gejolak, teriaknya lantang:
"Kalian segera mundur dari sini, apapun
akibatnya, aku akan pertaruhkan nyawaku untuk melindungi kalian
semua"
"Budi yang loya dan kongcu berikan kepada
hamba semua berat bagai bukit karang, hamba semua.........."
Tiba-tiba perkataan lelaki itu berubah jadi
sesenggukan, butiran air mata jatuh berlinang.
Lelaki yang ke tiga segera berkata pula:
"Sekarang posisi hamba sekalian sudah
terjepit, kami tidak bisa mengikuti loya dan kongcu lagi, kami
tidak bisa berbakti lagi......"
"Betul, betul sekali" timbrung Phoa
Seng-hong cepat, "jika kalian masih setia kepada Li toako, tidak
seharusnya mendatangkan kesulitan baginya, lebih baik cepatlah
pergi meninggalkan tempat ini!"
"Tidak perlu kau banyak ngebacot!" bentak Li
kiam pek gusar.
Tiba-tiba lelaki ke empat mengangkat
lengannya tinggi-tinggi, kemudian serunya:
"Loya dan kongcu berada diatas, terimalah
penghormatan terakhir dari hamba mu!"
Ditengah seruan nyaring, ke sebelas orang
lelaki itu serentak menjatuhkan diri berlutut.
"Mau apa kalian?" teriak Li Lok-yang pedih,
"tanpa perintahku, siapapun diantara kalian tidak boleh mati,
mengerti?"
"Maafkan kami loya, kali ini terhamba hamba
semua akan melawan perintahmu" ujar lelaki pertama sambil terisak,
"sekalipun hamba akan mati dan jadi setan, kami tetap akan berusaha
melindungi loya"
"Kalian segera bangkit berdiri" hardik Li
Lok-yang sambil menghentakkan kakinya.
Tiba-tiba terlihat raut wajah lelaki itu
mengeong keras, percikan darah segar menyembur keluar dari dada dan
lambungnya, sambil mundur dengan gontai dia tertawa seram:
"Saudara semua, aku berangkat duluan!"
Ke sepuluh orang lelaki sisanya ikut tertawa
sedih sambil berseru:
"Loya, hamba berangkat duluan"
Masing masing orang segera menghantam ke
dada sendiri dengan telapak" tangan, semburan darah segar pun
menggenangi permukaan lantai.
Rupanya sejak awal mereka telah sembunyikan
pisau belati tajam dibalik ujung bajunya, ketika pisau itu menghujam
ke dada hingga tinggal gagangnya, biar Li Lok-yang memiliki
kemampuan untuk menghidupkan kembali orang sekarat pun tidak mungkin
bisa selamat kan nyawa mereka lagi.
Li Kiam-pek tidak kuasa menahan rasa
sedihnya, dia peluk mayat anak buahnya sambil menangis tersedu sedu.
Li Lok-yang sendiripun berdiri kaku bagai
mayat hidup, hanya butiran air mata yang meleleh keluar membasahi
pipinya.
Suto Siau, Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu
hanya berdiri mematung, sikap ksatria yang diperlihatkan kawanan
lelaki itu membuat mereka terperana, sampai lama sekali, tidak mampu
mengucapkan sepatah kata pun.
Kini suasana amat hening, kecuali angin yang
berhembus lewat tak kedengaran suara yang lain.
Di tengah halaman luar terlihat gerombolan
manusia masih saling berdesakan disitu, ada yang merupakan pedagang
permata yang belum sempat pergi, ada pula anak buah keluarga Li.
Tapi sebagian besar orang orang itu berdiri
dengan mata berkaca, bahkan ada pula yang wajahnya telah basah oleh
air mata.
Thiat Tiong-tong berdiri jauh disudut
ruangan, kendatipun air mata tidak sampai meleleh keluar namun
pancaran sinar matanya penuh mengandung penderitaan yang dalam.
Sebuah pertikaian yang sebenarnya amat
sederhana telah dia ciptakan menjadi satu masalah yang pelik,
masalah yang membuat banyak nyawa tidak berdosa harus melayang
dengan percuma.
Sekalipun dia berbuat begitu demi
kesetiaannya terhadap perguruan, namun berbicara soal liangsim, dia
merasa amat menyesal dan bersedih hati.
Sekarang dia baru sadar, bunuh membunuh yang
terjadi dalam dunia persilatan ternyata merupakan satu peristiwa
yang kejam dan penuh penderitaan.
Sampai semua orang sudah pada bubaran, dia
masih berdiri kaku disitu, mengawasi sesosok demi sesosok mayat yang
berlumuran darah digotong pergi melalui hadapannya.
Sekonyong-konyong terdengar suara genta yang
dibunyikan bertalu-talu berkumandang dari kejauhan, suara itu tinggi
meleng-king dan tajam sekali.
Menyusul kemudian terdengar suara seorang
bocah bersenandung dari tempat kejauhan dengan suara yang nyaring:
"Bila lonceng kematian berdentang, ayam
anjing tersapu punah, Li Lok-yang wahai Li Lok-yang.....apakah
hatimu bimbang?"
"Aku akan beradu nyawa dengan kalian!"
bentak Li Kiam-pek nyaring.
Sambil memutar pedangnya dia siap menerjang
keluar, tapi belum sampai kakinya melangkah keluar dari pintu, dia
sudah ditarik kembali oleh seseorang.
Memandang dari tempat kejauhan, kembali
Thiat Tiong-tong melihat Phoa Seng-hong berjalan keluar ke
undak-undakan diluar pintu gerbang, lalu sambil bergendong tangan
dia memandang ke arahnya sambil tersenyum dan memberi hormat.
Sekali lagi pemuda ini merasakan hatinya
amat pedih, cepat dia membalikkan tubuh dan berjalan kembali ke
halaman belakang.
Waktu itu Im Ceng sedang berdiri dibawah
pohon waru tepat didepan halaman rumahnya, dia sedang mengawasi
tirai yang berada ditengah halaman, Thiat Tiong-tong dapat menangkap
sorot matanya yang pedih bercampur gusar, mendadak setelah meninju
batang pohon keras keras, pemuda itu membalikkan tubuh dan kabur
dari situ.
Thiat Tiong-tong termenung lama sekali, dia
baru tersadar ketika mendengar suara senandung bergema dari balik
tirai:
"Sunyi sepi loteng barat seorang diri,
rembulan bersinar bagai sabit,
Pohon tinggi halaman nan sepi,
Kugunting tidak putus, kuatur tetap
kalut,
Inikah kesenduan dari sebuah perpisahan?
Inilah perasaan yang menyiksa di hati?"
Itulah bait syair yang dipelajari Sui
Leng-kong sejak berapa hari berselang, bait lagu yang sedang
disenandungkan dengan nada yang begitu pedih dan menggetarkan hati,
mendatangkan suatu perasaan berpisah yang amat sedih dan pedih.
Thiat Tiong-tong merasa hatinya tercekat,
seakan-akan timbul sebuah firasat jelek dari dalam hatinya.
Dengan langkah lebar dia menerjang masuk ke
dalam tenda, segera terlihat olehnya Un Tay-tay sedang bersandar di
bangku utama sementara Sui Leng-kong dan Cian-jin berdiri jauh di
sudut ruangan.
Dibawah kaki mereka berdua terlihat dua buah
buntalan kecil, pakaian yang mereka kenakan pun amat sederhana,
malah tusuk konde mutiara yang semula dikenakan disanggul Sui
Leng-kong, kini sudah tidak nampak.
"Mau apa kalian?" tegur Thiat Tiong-tong
dengan wajah berubah.
"Nona mau pergi, maka akupun akan menemani
nona pergi dari sini" jawab Cian-jin dengan kepala tertunduk.
Thiat Tiong-tong menyerbu masuk ke dalam,
serunya lagi dengan nada gemetar:
"Kau benar-benar akan pergi?"
Sui Leng-kong manggut-manggut.
"Inilah surat yang ditinggalkan nona"
sambung Cian-jin sambil menyodorkan secarik kertas.
Thiat Tiong-tong segera merampas kertas itu
dnn membaca isinya:
"Aku sudah tidak kesepian lagi, aku ingin
pergi, aku tidak mau menjadi adikmu tapi aku hanya bisa menjadi
adikmu, bukankah lebih baik pergi dari sini?"
"Kenapa kau tidak mau menjadi adikku? Kenapa
kau harus pergi?" teriak Thiat Tiong-tong dengan suara keras.
Perlahan-lahan Sui Leng-kong mendongakkan
kepalanya, butir air mata meleleh dari kelopak matanya.
Meski dia tidak bicara namun dari tetesan
air matanya Thiat Tiong-tong dapat membaca suara hatinya, dapat
melihat rasa cinta yang mendalam dari gadis tersebut.
Perasaan hatinya mendadak bergetar keras,
dia mundur berapa langkah dan terduduk diatas bangku.
Benar, dia tidak ingin menjadi adiknya
karena yang dia butuhkan adalah semacam rasa cinta yang jauh lebih
mendalam.
Tapi, dia tidak sanggup memberikan apa yang
diharapkan semen-tara nona itupun tidak bisa menerima apa yang bisa
dia berikan.
Maka gadis itupun memutuskan untuk pergi,
pergi meninggalkan tempat itu.
Perlahan-lahan dia menggerakkan langkahnya,
ketika lewat disamping Un Tay-tay, bisiknya lirih.
"Kau..... kau harus baik baik
menjaga......menjaganya!"
Perkataan itu diucapkan dengan lelehan air
mata, ungkapan perasaan yang amat memedihkan.
"Adikku, kau tidak usah kuatir" jawab Un
Tay-tay sambil tertawa ringan, "enso pasti akan menjaganya
baik-baik"
Dengan kepala tertunduk Sui Leng-kong
berjalan keluar dari tenda.
Terdengar dia berkata lagi dengan nada
sesenggukan:
"Semua........semuanya ini memang... memang
milik..... milikmu......kau....kau......."
Ketika perkataan terakhir diucapkan, suara
itu sudah berada ditempat yang amat jauh.
Bagaikan seorang panglima perang yang baru
kalah dimedan laga, seluruh badan Thiat Tiong-tong terasa lemas
tidak bertenaga, perasaan kosong dan hampa yang dia rasakan sulit
diungkap dengan kata-kata dan tidak mungkin bisa dirasakan siapa
pun.
Lama, lama kemudian tiba-tiba Un Tay-tay
menegur sambil tertawa:
"Orangnya sudah pergi jauh, Thiat
Tiong-tong, apa lagi yang kau sedihkan?"
Kata ‘Thiat Tiong-tong' bagaikan guntur yang
membelah bumi disiang hari bolong.
Thiat Tiong-tong merasakan telinganya
mendengung keras, dengan kaget dia melompat bangun, sambil melompat
ke depan perempuan itu hardiknya:
"Darimana kau bisa mengetahui namaku?"
"Thiat Tiong-tong!" dengan tenang Un Tay-tay
mengupas jeruk sambil menikmatinya dengan santai, "keberhasilanmu
melawan si jago pedang berhati ungu dan kehebatanmu kabur dari
kepungan berlapis telah membuat namamu tersohor dalam dunia
persilatan, masa kau belum tahu?"
Dengan satu gerakan cepat Thiat Tiong-tong
menggerakkan telapak tangannya mencengkeram sepasang bahu wanita
itu, kembali hardiknya:
"Mau bicara tidak?"
Ketika cengkeramannya diperketat, sepasang
bahu Un Tay-tay seolah hendak remuk saja, jeruk yang berada dalam
genggamannya ikut terjatuh ke lantai.
Tapi dia masih tertawa santai, katanya
lembut: "Lepaskan dulu tanganmu, aku akan bicara"
"Kau berani menantangku?" Thiat Tiong-tong
semakin gusar, "aku bukan orang yang sudi
ditantang apalagi diancam, jika kau tidak segera menjawab, akan
kujagal dirimu hidup-hidup"
Un Tay-tay tertegun, dia merasakan sepasang
bahunya sakit bagaikan diiris-iris, dia memang malah terbiasa
mengancam orang bila menghadapi setiap persoalan, tidak disangka
hari ini dia justru bertemu dengan lelaki kaku yang tidak sudi
diancam.
Senyuman diwajahnya hilang lenyap seketika,
jawabnya dengan suara gemetar:
"Adikmu yang mengatakan"
"Apa yang dia katakan?" teriak Thiat
Tiong-tong gusar.
"Ketika kau sedang pergi tadi, dia selalu
bergumam memanggil namamu, begitu mendengar suara gumamannya, aku
segera menebak kalau kau adalah penyaruan dari Thiat Tiong-tong"
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas
panjang, perlahan dia mengendorkan cengkeramannya.
Sambil tertawa genit kembali Un Tay-tay
melanjutkan:
"Lagipula......seharusnya sejak awal aku
sudah bisa menduga kalau kau tidak mungkin seorang kakek peyot,
seluruh kulit, daging dan ototmu masih kencang dan keras, sama
sekali belum mengendor......."
Perempuan ini benar benar seorang perayu
lelaki yang ulung dan berpengalaman, dalam keadaan seperti ini dia
mampu menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Thiat Tiong-tong sambil
berbisik:
"Sebenarnya macam apa sih kenyataanmu, coba
biar kuperiksa......"
Belum selesai dia berkata, Thiat Tiong-tong
telah mengayunkan kembali tangannya menghadiahkan sebuah tamparan.
"Mau apa kau?" jerit Un Tay-tay kaget.
Kembali Thiat Tiong-tong mengayunkan
tangannya sekali lagi, bentaknya:
"Thiat Tiong-tong hanya ada ketika tidak ada
orang, mengerti?"
Mendadak Un Tay-tay tertawa cekikikan.
"Orang ganteng, kau memang bodoh. Mulai
sekarang aku akan mengikuti dirimu terus, masa aku tega
mencelakaimu?" katanya.
Thiat Tiong-tong mendengus dingin.
Tiba tiba dari luar tenda terdengar
seseorang berseru:
"Lo sianseng, apakah kau ada di dalam? Cayhe
Li Kiam-pek ingin minta petunjukmu"
Thiat Tiong-tong segera mendorong tubuh Un
Tay-tay sambil berseru:
"Silahkan masuk"
Li Kiam-pek menyingkap tirai sambil
melangkah masuk ke dalam, ujarnya lagi sambil menjura:
"Semua tamu telah pergi meninggalkan tempat
ini, cayhe mendapat perintah dari ayah untuk menghantar lo sianseng
berangkat meninggalkan tempat ini"
"Ooh, jadi kau sedang mengusir tamu?" tegur
Thiat Tiong-tong ketus.
"Bukan, bukan sedang mengusir tamu,
melainkan hanya niat baik dari ayahku saja" kata Li Kiam-pek sambil
menghela napas panjang, "Sebentar lagi pertempuran bakal berkobar,
bila lo sianseng tidak......."
"Hmmm! Maksud baik apa" tukas Thiat
Tiong-lung gusar, "Pentang matamu lebar-lebar, memangnya kau anggap
lohu adalah manusia yang bisa datang ketika diundang dan pergi waktu
diusir?" .
"Lo sianseng, ucapanmu kelewat serius!"
dengan kening berkerut Li Kiam-pek tertawa dingin.
Un Tay-tay segera menarik ujung baju Thiat
Tiang-tong sambil berbisik:
"Kenapa sih kau tidak mau pergi? tempat
ini...
"Kau tidak usah ikut campur" tukas Thiat
Tiong-tong sambil menyingkirkan tangannya, "lohu justru sengaja mau
tetap tinggal disini, mau apa kalian?"
"Yaa sudah, mau pergi atau tidak, urusanmu
sendiri"
Tiba-tiba dari kejauhan berkumandang lagi
bunyi genta yang dibunyikan bertalu-talu.
Menyusul suara genta tadi, teriakan si bocah
lelaki itu bergema kembali:
"Lonceng ke dua telah berbunyi, jalan
tertutup ransum terputus, setengah langkah keluar dari pintu,
ditanggung nyawa akan melayang!"
Berubah hebat paras muka Li Kiam-pek setelah
mendengar ucapan tersebut, katanya:
"Sekarang mau pergi pun jangan harap kau
bisa pergi lagi"
"Bagaimana baiknya sekarang?" seru Un
Tay-tay dengan wajah pucat, "kami adalah tamu kalian, sudah
sepantasnya bila keluarga Li berusaha melindungi keselamatan kami"
Li Kiam-pek menghela napas panjang sambil
berlalu dari situ.
Tampak ke dua orang bocah lelaki itu berlari
masuk dari luaran sambil berteriak gugup:
"Mereka telah pergi semua!"
"Siapa yang telah pergi?" tanya Un Tay-tay.
"Kusir kereta dan koki sudah pada kabur,
enci Cian-jin juga telah pergi, loya, kenapa kau belum pergi?"
Bocah lelaki yang lain segera menambahkan
dengan nada kuatir:
"Coba kau lihat halaman rumah yang lain,
kini hampir semuanya kosong tidak berpenghuni, hawa kematian serasa
menyelimuti setiap tempat, sungguh membuat hati ngeri dan takut"
Sambil menghentakkan kakinya dengan jengkel
Un Tay-tay ikut berkata:
"Padahal kau adalah orang pintar, kenapa
mesti melakukan tindakan yang amat bodoh? Asal kabur dari sini,
bukankah tidak ada urusan lagi, bahkan sambil bergendong tangan bisa
menyaksikan musuhmu satu per satu mampus dalam perkampungan ini,
sampai waktunya bukan cuma dendammu bisa terbalas, orang yang kau
inginkan pun dapat diperoleh, bukankah hal tersebut sangat
menyenangkan?"
Kemudian setelah menghela napas, lanjutnya:
"Siapa sangka kau justru bersikeras ingin
tetap tinggal disini, memangnya kau senang menemani musuh-musuh
besarmu itu untuk mati bersama?"
"Hmm! Jika disini hanya tersisa musuh-musuh
besarku, sejak awal aku sudah pergi meninggalkan tempat ini, jangan
lagi tetap tinggal disini, biar kau tarik lenganku pun jangan harap
aku mau berada disini" kata Thiat Tiong-tong dingin.
"Memangnya kau tinggal disini demi Li
Lok-yang, Hay Tay-sau sekalian"" seru Un Tay-tay keheranan, "waah,
ini aneh sekali namanya, masa kau mempunyai hubungan yang akrab
dengan mereka?"
"Sekalipun tidak mempunyai hubungan yang
akrab, tapi mereka adalah jago-jago berhati lurus dan bersih,
terhadap kawanan manusia jahat berhati busuk, aku bisa saja
menggunakan cara yang paling keji untuk menghadapi mereka, tapi
terhadap para ksatria berhati lurus, aku hanya mempunyai sebuah cara
saja"
"Apa caramu?"
"Menghadapi mereka dengan kejujuran dan
kesetiaan!"
Un Tay-tay tertegun berapa saat lamanya,
lama kemudian dia baru menghela napas sambil bergumam:
"Goblok, benar-benar goblok!"
Meskipun mulutnya bergumam terus, namun
tidak sepatah kata pun berani diucapkan.
Ke dua orang bocah lelaki itu hanya tertegun
sambil mengawasi perempuan itu dengan mata terbelalak besar.
Setelah tercekam dalam suasana yang amat
hening berapa saat lamanya, tiba-tiba terdengar lagi tiga kali
jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang di udara, disusul
kemudian suara hentakan manusia serta suara langkah kaki yang ramai,
bahkan secara lamat-lamat terdengar pula suaara desingan anak panah
yang memenuhi angkasa.
Terdengar seseorang dengan suara parau
berlarian sambil berteriak:
"Celaka, celaka, semua hewan yang berada
dalam kandang telah mati secara mengerikan!"
Teriakan tersebut penuh dicekam perasaan
ngeri bercampur seram, berkumandang dari arah belakang menuju ke
ruang depan.
Dua orang bocah lelaki itu saling bertukar
pandangan sekejap, kendatipun mereka berdua termasuk bocah cerdas
yang memiliki kepintaran luar biasa, bagaimana pun usia kedua orang
itu masih kelewat muda, setelah mendengar jeritan ngeri yang begitu
menyayat hati, tidak urung tubuh mereka gemetar juga saking
takutnya.
Dengan wajah pucat seru Un Tay-tay:
"Bagaimana baiknya sekarang? Hey,kenapa
kalian masih belum juga membenahi semua intan permata serta barang
barang berharga itu? Jika kekacauan sudah terjadi, kalian bakal
tidak sempat bebenah"
"Hmm! Kalau orang pun hampir mampus, apa
gunanya barang berharga itu?" dengus Thiat Tiong-tong dingin.
Un Tay-tay tertegun, tiba-tiba dia mulai
menangis, sambil menubruk ke dalam pelukan pemuda itu serunya
berulang kali:
"Aku tidak mau mati, aku tidak pingin mati,
kau harus menjamin agar aku tidak sampai mati........"
Thiat Tiong-tong sekali lagi mendengus
dingin, dia segera mendorong tubuh perempuan itu dari pelukannya.
Suara genta kembali bergema, sang bocah pun
kembali bersenandung:
"Bunyi genta untuk ke tiga kalinya, malaikat
maut telah tiba, persiapkan peti mati dan bersiaplah berangkat ke
tanah pekuburan!"
Dua orang bocah lelaki itu mulai menggigil
keras saking takutnya, mereka berdua berdiri saling merapatkan
badan.
Pada saat itulah Li Kiam-pek yang berpakaian
ringkas menyelinap masuk lagi sambil berseru:
"Kekacauan segera akan terjadi, semua orang
dipersilahkan berkumpul di ruang utama, kita harus bersatu padu
melakukan perlawanan"
Un Tay-tay seketika menghentikan isak
tangisnya, serunya:
"Kalau kami semua berkumpul di ruang Utama,
bagaimana dengan barang-barang ini?"
Biarpun kematian sudah didepan mata,
ternyata perempuan ini masih belum dapat melupakan intan permata dan
barang-barang ber harga itu.
"Semua barang yang tertinggal disini akan
kami uruskan" sahut Li Kiam-pek dingin, "asal kita semua belum mati,
kujamin barang kalian tidak bakal ada yang hilang"
Thiat Tiong-tong termenung sejenak, katanya
kemudian:
"Kalau begitu ayoh kita berkumpul!"
Maka berangkatlah mereka semua meninggalkan
tenda menuju ke ruang utama, waktu itu satu pasukan lelaki kekar
berbaju hitam bersenjata golok dan tombak telah mengepung sekeliling
ruangan itu rapat-rapat.
Li Lok-yang telah menghimpun seluruh
kekuatan yang dimilikinya ditempat tersebut.
Cahaya senja masih memancarkan sinarnya yang
kemerah-merahan, ketika cahaya itu menimpa ujung golok segera
terhiaslah sinar yang menyilaukan mata.
Paras muka semua orang nampak serius dan
berat, biarpun mendekati seratusan orang yang berkumpul diseputar
halaman gedung, namun tidak kedengaran suara apapun kecuali
suara langkah kaki yang bergeser.
Semua lampu yang ada di ruang utama telah
dinyalakan, ditengah senja yang redup, cahaya lentera itu kelihatan
suram, membuat ruang utama yang sangat luas nampak lebih
menyeramkan dan menggidikkan hati.
Meja kursi yang semula memenuhi ruang utama,
kini ada sebagian besar telah disingkirkan, Hek Seng-thian, Pek
Seng-bu, Suto Siau sedang berkumpul disebuah sudut ruangan sambil
berbisik-bisik merundingkan sesuatu, entah apa yang sedang mereka
bicarakan.
Bi lek hwee serta si bintang pembunuh sedang
menikmati arak langsung dari dalam guci, beberapa kali mereka
perdengarkan gelak tertawa yang amat keras, suara tertawa yang
memecahkan keheningan.
Phoa Seng-hong duduk seorang diri disisi
meja dari Li Lok-yang, saat itu dia sedang menggotong mata pedangnya
dengan seksama, entah berapa kali dia sudah menggosok hingga mata
pedangnya nampak berkilat tajam.
Im Ceng hanya berdiri didepan gedung tanpa
berbuat apa-apa, ketika melihat kemunculan Thiat Tiong-tong dan
rombongan, tiba-tiba dia membalikkan tubuh sambil masuk ke dalam,
mencabut keluar pedangnya, duduk persis dihadapan Phoa Seng-hong dan
mulai menggosok pedangnya.
Mendadak Li Lok-yang berkata dengan suara
dalam:
"Aku sudah bersiap-siap melakukan
pertahanan ditempat ini, meskipun tidak tahu bisa bertahan sampai
kapan, akupun tidak tahu apakah pertahanan ini bakal jebol atau
tidak, tapi sudah kuputuskan akan melawan mereka hingga titik darah
penghabisan"
Dengan sorot matanya yang tajam dia menyapu
sekejap wajah semua orang yang hadir, kemudian lanjutnya:
"Kini kalian semua berada ditempat ini,
berarti bukan saja akan menderita bersama bahkan akan mati hidup
bersamaku!"
"Memang seharusnya begitu!" seru Hay Tay-hau
sambil menggebrak meja keras-keras.
Dengan pandangan berterima kasih Li Lok-yang
memandang sekejap ke arahnya, kemudian lanjutnya:
"Oleh sebab itu disaat kesulitan belum
lewat, terpaksa kalian tidak akan peroleh pelayanan yang
sepantasnya"
"Apalah artinya tidak peroleh pelayanan yang
pantas!" seru Bi-lek hwee pula sambil menggebrak meja.
"Hahahahaha...... bagus, bagus sekali" seru
Li Lok yang sambil tertawa tergelak, "asal kita benar-benar dapat
bekerja sama dengan baik, biar menang kalah belum ketahuan hasilnya,
saudara sekalian, mari kita bersantap dulu, setelah kenyang
bersantap kita baru persiapkan diri untuk menghadapi pertarungan
berdarah!"
Suara jawaban bergema gegap gempita, tidak
lama kemudian muncul berapa orang lelaki berbaju hitam yang segera
menyiapkan meja berjamuan ditengah ruangan.
Sejak dicekam perasaan gelisah, ngeri dan
kuatir, sebagian besar orang seakan sudah lupa untuk bersantap, kini
begitu mengendus bau harumnya hidangan dan arak, kontan saja semua
orang mulai merasakan perutnya keroncongan.
Thiat Tiong-tong memandang keluar sekejap,
tiba-tiba ujarnya dengan suara dingin:
"Semua hewan yang ada di kandang telah mati
keracunan, jika dalam hidangan itupun dicampuri racun, bukankah kita
semua bakal mampus seperti hewan hewan di halaman belakang?"
"Semua hidangan dibuat dibawah pengawasan
serta penjagaan yang sangat ketat" sahut Li Kiam-pek cepat, "kecuali
Kiu cu Kui bo memiliki kepandaian yang luar biasa, kalau tidak,
dengan cara apa dia akan meracuninya?"
"Kiu cu Kui bo memiliki banyak macam cara
untuk menyebarkan racun jahatnya" kata Phoa Seng-hong pula,
"kemampuannya meracuni orang sangat hebat dan diluar dugaan, memang
lebih baik jika kita bersikap lebih berhati-hati!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung,
dari sakunya Li Lok-yang telah mengeluarkan sebatang jarum berwarna
perak dan dicelupkan pada hidangan tersebut, dalam waktu singkat
jarum perak itu berubah jadi hitam pekat.
Berubah hebat paras muka semua orang, Li
Lok-yang sendiripun nampak tertegun, akhirnya dengan wajah tidak
habis mengerti dia menengok ke arah Li Kiam-pek.
"Apa yang telah terjadi?" seru Li Kiam-pek
pula keheranan.
Phoa Seng-hong menghela napas panjang.
"Aaai, aku rasa mereka telah menebarkan
racun dalam setiap sumur yang ada disini" katanya.
"Biar kuperiksa" seru Li Kiam-pek sambil
berlari keluar.
Semua orang saling berpandangan tanpa
bicara, suasana hening pun mencekam seluruh ruang gedung.
Tidak selang berapa saat kemudian Li
Kiam-pek sudah muncul kembali dengan wajah gelisah bercampur cemas.
"Ternyata benar juga" serunya, "ke empat
sumur utama yang ada dalam gedung telah diracuni mereka!"
"Kalau begitu dalam nasi pun pasti ada
racunnya" sambung Phoa Seng-hong.
"Betul-betul manusia berhati iblis" umpat
Hek Heng thian gusar, "memangnya dia ingin kami semua mati kelaparan
disini? Saudara Li, bagaimana kalau kita sembelih ayam dan bebek
lalu dipanggang saja tanpa menggunakan air?"
Li Kiam-pek menghela napas panjang.
"Semua ayam, itik, babi dan kambing yang
kami miliki telah mati keracunan" katanya.
Sekujur tubuh Hek Seng-thian bergetar keras,
dia tidak banyak bicara lagi.
Mengawasi hidangan lezat yang menyiarkan bau
harum semerbak, namun tidak dapat di santap, kontan saja semua orang
merasa semakin kelaparan dan amat tersiksa.
Harus diketahui manusia adalah besi, nasi
adalah baja, biarpun seorang enghiong hohan, sulit baginya untuk
menahan rasa lapar.
Paras muka Li Lok-yang dingin bagaikan es,
setelah termenung sambil berpikir berapa saat mendadak teriaknya
keras:
"Kiam-pek, perintahkan orang untuk mencari
semua telur ayam dan telur itik yang masih tersisa, kemudian ambil
arak yang tersimpan di gudang bawah tanah!"
Li Kiam-pek menyahut dan segera berlalu.
"Bagus, bagus sekali" seru Hay Tay-sau pula
sambil tertawa, "telur ayam, telur itik, arak segelan di gudang
bawah tanah, benda seperti ini tidak mungkin bisa diracuni biar
dilakukan seorang malaikat pun. Hahahaha.... kalau begitu kita semua
tidak perlu mati kelaparan lagi!"
Dengan termangu Li Lok-yang mengawasi para
anak buahnya yang berada di halaman luar, air mukanya berubah makin
berat dan serius.
Tidak selang berapa saat kemudian Li
Kiam-pek telah mengangkut semua telur dan arak yang ada ke dalam
ruangan.
Keluarga Li merupakan sebuah keluarga kaya
raya, tentu saja simpanan araknya sangat banyak, ketika ditumpuk ke
dalam ruangan hampir memenuhi separuh ruangan lebih, tapi telur yang
berhasil dikumpulkan tidak lebih hanya dua keranjang, ditambah satu
keranjang besar berisi daging ayam asap serta ikan asin.
"Hanya sebanyak ini?" tanya Li Lok-yang
sambil menghela napas sedih.
"Semua sayuran yang akan dipergunakan di
dapur, sebagian besar dibeli pada hari itu juga........."
Li Lok-yang kembali menghela napas panjang,
tukasnya:
"Ada berapa banyak telur ayam yang berhasil
dikumpulkan?"
"Tadi sudah kusuruh orang menghitung, jumlah
keseluruhan ada lima ratus tujuh puluh dua butir!"
"Lima ratus tujuh puluh dua butir?" seru
Phoa Seng-hong sambil tertawa, "itu hanya cukup untuk menangsel
perut selama berapa hari!"
"Hengtay jangan lupa" sela Li Lok-yang
dingin, "Dihalaman luar masih terdapat seratus dua puluhan saudara,
mereka pun butuh telur itu untuk mengisi perutnya"
Phoa Seng-hong tertegun, akhirnya dia
terduduk kembali di bangkunya, sekujur tubuh terasa sangat lemas.
Setelah menghela napas kembali Li Lok-yang
berkata:
"Beruntung, setiap tahun keluargaku bersama
para dayang, tentu pergi ke kuil untuk pasang hio, kalau tidak,
aaai! Tidak bisa kubayangkan bagaimana situasinya saat itu"
Tiba-tiba Suto Siau menyela:
"Barusan cayhe telah membuat perhitungan,
disini terdapat seratus empat puluh orang, berarti setiap orang
mendapat jatah empat butir telur dan masih tersisa dua belas butir"
"Henglay, cermat amat perhitunganmu......."
seru Li Lok-yang sambil tertawa.
Mendadak Phoa Seng-hong bangkit berdiri,
teriaknyanya:
"Kami adalah tamu dari keluarga Li, apakah
kitapun harus mengalami nasib yang sama dengan para budak dan
pelayan itu?"
"Mereka semuapun dilahirkan oleh ayah dan
ibunya, sama seperti kita semua, kenapa mereka tidak pantas
memperoleh perlakuan yang sama dengan kita?"
"Sekalipun sama-sama manusia, toh tingkat
sosial kita jauh berbeda" teriak Phoa Seng-hong.
"Apanya yang beda?" sela Hay Tay-sau gusar,
"justru para saudara dari Li toako jauh lebih berperikemanusiaan
ketimbang dirimu, apalagi kalau dinilai dari jiwanya yang berbudi
serta kesetiaan mereka, Hmmm! Orang-orang itu justru jauh melebihi
watak busukmu"
Phoa Seng-hong tertawa dingin.
"Hmm, sudah tahu kalau dalam keadaan seperti
ini tidak mungkin orang lain membiarkan kita bertarung, kau sengaja
memanasi hatiku dengan kata-kata busukmu........"
"Sekalipun tidak berada dalam situasi
seperti sekarangpun, aku tetap akan mengucapkan perkataan itu"
"Sudahlah, kalian berdua tidak usah ribut
lagi" tukas Li Lok-yang sambil menghela napas, "sisanya yang dua
belas butir bisa dibagi rata khusus untuk mereka yang ada di ruangan
ini"
"Hahahaha......" Hay Tay-sau tertawa
tergelak, "aku bukan sedang rebutan jatah telur, aku hanya merasa
tidak tahan mendengar suara kentut busuk dari bajingan itu"
Li Lok-yang segera perintahkan orang untuk
membuat empat onggok api unggun ditengah halaman dan menumpangkan
empat buah wajan raksasa diatasnya, untuk menggodok telur mereka
tidak berani menggunakan air sumur yang sudah keracunan, maka
digunakan bekas air cuci muka yang dipergunakan kemarin.
Ketika telur sudah matang dan dihantar ke
ruang tengah, benar saja, setiap orang mendapat jatah lima butir.
Hay Tay-sau segera mengambil jatah telurnya
dan membuka guci arak, seteguk minum arak satu gigitan makan telur,
dalam waktu sekejap dia sudah menghabiskan ke lima butir telur
jatahnya.
Bi lek hwee kelihatan sedikit sangsi ketika
habis makan telur ke empat, tapi setelah meneguk berapa cawan arak,
akhirnya dia pun menghabiskan telur yang ke lima, setelah itu dia
mulai tidur diatas meja.
Sambil menghela napas Phoa Seng-hong
mengupas sebutir telur, diamatinya dulu dengan seksama lalu dipotong
jadi delapan bagian dan dimakan dengan perlahan, sementara ke empat
butir telur lainnya disimpan ke dalam saku dengan hati-hati.
Orang lain ada yang cuma makan dua butir,
ada pula yang makan tiga butir, kawanan jago yang sudah terbiasa
bersantap mewah ini meski hari ini mesti makan telur ayam yang tawar
tidak ada rasanya, ternyata semua orang bisa menaikmatinya dengan
puas.
Sambil tertawa tergelak kembali Hay Tay-sau
berseru:
"Hahahaha,.....baru hari ini aku tahu
ternyata telor ayam godok pun rasanya sangat nikmat"
Hanya Im Ceng seorang yang duduk sambil
makan sebutir telur, sorot matanya seakan tidak sengaja melirik
sekejap ke arah Un Tay-tay yang duduk disamping Thiat Tiong-tong,
akhirnya dia tidak sanggup lagi untuk makan butir telur ke dua.
Seorang diri dia menghabiskan separuh guci
arak, ketika paras mukanya mulai berubah jadi merah padam akhirnya
dia mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah Un Tay-tay dengan
main melotot.
Malam semakin larut, sudah tidak terdengar
suara pembicaraan manusia dalam ruang utama, api unggun di halaman
luarpun sudah padam, kegelapan malam yang sepi membuat suasana
ditempat itu terasa makin berat dan mencekam.
Sepintas lalu semua orang yang ada dalam
diruang utama seakan sudah terlelap tidur, padahal tidak seorangpun
benar-benar bisa memejamkan matanya. Berulang kali Phoa Seng-hong
merogoh kedalam sakunya meraba ke empat butir sisa telur ayamnya,
tapi setelah di keluarkan, dipandang sekejap akhirnya dimasukkan
kembali ke dalam saku.
Ketika tengah malam sudah lewat, akhirnya Im
Ceng roboh dalam keadaan mabuk berat, dia bersandar dimeja sementara
mulutnya mengigau berulang kali, ketika didengarkan dengan seksama,
lamat-lamat terdengar kalau dia sedang memanggil nama Un Tay-tay.
Thiat Tiong-tong duduk bersandar dibangku
dengan mata terpejam, namun hatinya terasa sedih dan amat tersiksa.
Dengan langkah kaki yang ringan Li Lok-yang
berpatroli kian kemari, tiba-tiba terdengar Li Kiam-pek bertanya:
"Ayah, kau tidak tidur sebentar?"
"Tidurlah, ayah tidak bisa tidur!"
"Ananda juga tidak bisa tidur, mungkinkah
mereka akan datang pada malam ini?"
Sambil menghela napas Li Lok-yang gelengkan
kepalanya berulang kali, dia berjalan menuruni undak-undakan didepan
gedung dan memandang sekejap sekawanan lelaki kekar yang hampir
semuanya sedang mengawasi dinding pekarangan dengan mata melotot.
"Semoga mereka melancarkan serangan pada
malam ini" mendadak terdengar Suto Siau berbisik dari belakang,
"mumpung kami semua masih punya semangat bertarung, kalau tidak,
cukup dua hari saja, mungkin......aaai!"
"Yaa, kalau dua hari lagi mereka belum
datang juga, terpaksa kita harus menyerbu keluar" jawab Li Lok-yang
sedih.
"Musuh berada di kegelapan sementara kita
berada ditempat terang, jika bersikeras hendak menyerbu keluar,
mungkin lebih banyak bahayanya daripada selamat,
lagipula....... bukankah saudara Li mempunyai harta kekayaan
yang amat banyak disini"
Li Lok-yang tertunduk lesu, sampai lama
sekali tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Dengan perasaan tidak tenang, hati berdebar
dan penuh kewaspadaan, semua orang melewatkan malam itu dengan
penuh penderitaan, akhirnya fajar pun mulai menyingsing.
Semua orang pun mulai bangkit berdiri dan
berjalan mondar mandir disekeliling ruangan, hanya saja karena
perasaan dan pikiran setiap orang terasa berat penuh beban, siapa
pun tidak ingin banyak bicara.
Im ceng yang baru sadar dari mabuk merasakan
kepalanya amat sakit dan pening, kembali dia membuka guci arak dan
mulai meneguk lagi dengan rakusnya.
Biarpun baru lewat satu malam, namun
wajahnya kelihatan jauh lebih lesu, kusam dan mengenaskan.
"Saudara Phoa" mendadak Thiat Tiong-tong
berjalan menghampiri Phoa Seng-hong sambil menepuk bahunya,
"bersedia menemani lohu untuk berjalan-jalan di halaman luar?"
"Tentu saja bersedia" jawab Phoa Seng-hong
Buru-bur Un Tay-tay ikut bangkit berdiri,
tapi Thiat Tiong-tong segera menghardik:
"Kau tetap tinggal disini!"
Dengan wajah masgul Un Tay-tay
manggut-mauggut, akhirnya dia duduk kembali.
"Tidak ada salahnya bila ingin
berjalan-jalan ditengah halaman, tapi kalian harus lebih
berhati-hati" Li Lok-yang mengingatkan.
Setelah keluar dari gedung, sambil tertawa
licik tanya Phoa Seng-hong:
"Loya-cu, apakah ada siasat busuk lagi yang
hendak kau suruh aku lakukan?"
"Dugaanmu tepat sekali!"
"Disini kelewat banyak orang, mari kita
berbicara di belakang saja" bisik Phoa Seng-hong dengan semangat
berkobar.
Berkilat sepasang mata Thiat Tiong-tong.
"Asal kau dapat memancing keluar Hay
Tay-hau, Li Lok-yang, Li Kiam-pek serta Im Ceng dari dalam gedung,
aku akan ajarkan sebuah siasat bagus untuk meloloskan diri dari
sini"
"Sungguh?" seru Phoa Seng-hong kegirangan.
"Kalau tidak percaya yaa sudahlah!"
"Apa susahnya untuk melakukan hal itu" seru
Phoa Seng-hong kemudian, dia membalikkan tubuh dan berjalan masuk ke
dalam ruangan.
Tidak lama kemudian tampak Hay Tay-sau
dengan menarik tangan Li Lok-yang dan Li Kiam-pek berjalan keluar
dari ruang gedung, mereka segera terlibat perbincangan dengan para
lelaki kekar ditengah halaman.
Menyusul kemudian Im Ceng dengan langkah
sempoyongan ikut berjalan keluar, sambil berjalan pemuda itu
bergumam tiada hentinya:
"Selama hidup aku tidak ingin melihatmu
lagi, selama hidup aku tidak ingin melihatmu....."
"Sekarang giringlah mereka menuju ke
belakang gedung, cari tempat persembunyian yang tertutup dan suruh
mereka menunggu disitu, persoalan lainnya biar aku yang selesaikan"
kata Thiat Tiong-tong lagi.
"Baik!"
Phoa Seng-hong segera mendekati Im Ceng dan
menggandeng lengannya.
Im Ceng yang mabuk segera meronta melepaskan
diri dari genggaman, teriaknya:
"Mau apa kau?"
Phoa Seng-hong dapat mengendus bau arak yang
menusuk penciuman, segera jawabnya:
"Kau sudah mabuk berat, mari kuajak kau
mencari angin"
Diam-diam dia menotok jalan darah lemas dan
jalan darah bisunya.
Im Ceng yang tidak bisa berkutik, mulutpun
tidak dapat berbicara langsung diseret menuju ke belakang gedung,
menanti Phoa Seng-hong berpaling lagi, dia sudah tidak
menjumpai jejak Thiat Tiong-tong.
Terpaksa dia mencari sebuah jendela yang
tersembunyi dan membuat sebuah lubang kecil diatas kertas jendela,
bisiknya:
"Cepat kau tengok ke arah dalam sana!"
Biarpun Im Ceng tidak mampu bicara namun
hati kecilnya merasa gusar sekali, pikirnya:
"Kau memaksa aku berbuat begitu? Hmm, aku
justru sengaja tidak mau melihat!"
Dia segera memejamkan matanya rapat-rapat.
Melihat itu Phoa Seng-hong kembali berpikir:
"Tampaknya pemuda ini benar-benar keras
kepala, biarpun kupaksa juga percuma, belum tentu dia mau membuka
matanya untuk melihat......"
Ketika dia sedang serba salah, tiba-tiba
Thiat tiong tong sudah muncul disampingnya sambil berkata dengan
suara berat:
"Coba lihat, dia sudah mabuk hebat sampai
mata pun tidak sanggup dibuka, masa kau masih menyuruhnya membuka
mata?"
Mendengar perkataan itu kontan Im Ceng naik
pitam, pikirnya:
"Siapa bilang aku mabuk? Hmm, aku justru mau
mementang mataku lebar-lebar"
Benar saja dia segera membuka matanya
lebar-lebar dan mengintip keluar melalui lubang diatas jendela.
Phoa Seng-hong benar-benar merasa kagum
bercampur geli, dia tidak menyangka dengan sepatah kata saja Thiat
Tiong-tong sudah dapat membuat Im Ceng membuka matanya kembali,
segra pikirnya:
"Tua bangka ini ternyata hebat, rupanya dia
bisa memahami perasaan hati seorang setan arak"
Perlu diketahui, orang yang semakin takut
mabuk biasanya dia semakin tidak mau mengakui bahwa dirinya sedang
mabuk.
Sambil menepuk bahu Phoa Seng-hong kata
Thiat Tiong-tong kemudian:
"Tugasmu telah selesai, sekarang pergilah
cepat!"
Walaupun rasa ingin tahu menyelimuti
perasaan Phoa Seng-hong, sekalipun dia ingin turut menyaksikan
pertunjukan apa yang bakal berlangsung ditengah ruangan, namun
menyaksikan sorot mata Thiat Tiong-tong yang mengerikan, pada
akhirnya dia pergi juga.
Kini Thiat Tiong-tong bersama Im Ceng
berdiri berjajar didepan jendela sambil mencuri lihat ke luar.......
Waktu itu Un Tay-tay sudah bangkit berdiri
siap berjalan keluar, tapi dia segera dihadang jalan perginya oleh
Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu.
"Mau apa kalian?" tegur Un Tay-tay kemudian.
"Saudara Suto ingin berbicara denganmu" kata
Pek Seng-bu ketus.
"Apa yang perlu dibicarakan, aku tidak
mengenalinya" seru Un Tay-tay dengan wajah berubah.
Tiba-tiba Suto Siau mencengkeram urat
nadinya dan mengejek sambil tertawa dingin:
"Perempuan rendah, kau berani mengatakan
tidak kenal aku? Sialan, aku sudah sepuluh tahun memeliharamu,
memelihara seekor anjing saja tahu balas budi, masa memelihara kau
tidak tahu budi?"
Un Tay-tay yang kena dicengkeram mulai
merasakan separuh tubuhnya linu dan kesemutan, buru-buru dia
tampilkan senyuman genitnya dan berseru sambil tertawa:
"Aaii, masa diajak bergurau pun kau
marah-marah. Jangan sok serius!"
Thiat Tiong-tong yang mengintip dari balik
jendela mulai tertawa dingin, pikirnya:
"Ternyata dugaanku tidak meleset, asal aku
tinggalkan ruang gedung, Suto Siau pasti tidak tahan untuk
menginterogasi perempuan rendah itu”
Dia mencoba menengok ke samping, dilihatnya
Im Ceng sedang mengintip dengan mata terbelalak besar dan wajah
diliputi perasaan terkejut, keheranan bercampur ngeri, jelas
pemandangan yang terbentang didepan matanya seketika memmbuat rasa
mabuknya hilang separuh.
Terdengar Suto Siau menegur lagi dengan
suara dingin:
"Aku suruh kau mengintil disamping pemuda
itu sambil mencari tahu sarangnya, kenapa setengah jalan kau
lepaskan dia dan malahan menempel disamping tua bangka sialan itu?"
Mendengar sampai disini, peluh dingin mulai
bercucuran membasahi seluruh tubuh Im Ceng.
Melihat perubahan sikap pemuda itu, Thiat
tiong tang segera berpikir:
"Aku rasa ini sudah lebih dari cukup, kalau
sampai Suto Siau mendesak lebih jauh, bisa jadi perempuan itu malah
sekalian menghianati aku"
Berpikir sampai disitu dia segera menghantam
daun jendela hingga bergetar keras, dengan cekatan dia sambar tubuh
Im Ceng lalu secepat kilat menyelinap ke dalam deretan bangunan
rumah disamping lain.
Jeritan kaget seketika berkumandang dari
dalam ruang tengah, Suto Siau, Hek Seng-thian sekalian secepat kilat
meluncur keluar dari ruangan.
Thiat Tiong-tong sama sekali tidak
menggubris mereka, sambil membopong Im Ceng menyembunyikan diri,
dia segera menepuk bebas totokan jalan darah ditubuh pemuda itu dan
menegur:
"Kau sudah mendengar dengan jelas?"
"Perempuan rendah!" umpat Im Ceng sambil
menyeka butiran keringat dari jidatnya.
"Kalau sudah tahu jika dia hanya seorang
perempuan rendah, tidak sepantasnya kau menderita lantaran dia. Jika
kau masih bersedih hati gara-gara perempuan itu, berarti kau memang
bukan seorang lelaki!"
Lama sekali Im Ceng tertunduk melamun,
akhirnya dia menghela napas panjang.
"Saat ini situasi sangat gawat" kembali
Thiat Tiong-tong berkata, "sekalipun mereka sudah tahu kalau kau
adalah anggota Perguruan Tay ki bun, tidak mungkin orang-orang itu
bakal turun tangan terhadapmu, cuma kau pun jangan melakukan
tindakan ngawur"
Im Ceng manggut-manggut, tiba-tiba dia
mendongakkan kepalanya, sambil menatap lurus wajah Thiat Tiong-tong,
tegurnya:
"Kau...... siapakah kau sebenarnya? Kenapa
segala persoalan seolah tidak dapat mengelabuhi dirimu?"
Sinar matanya penuh dengan perasaan
terkejut, keheranan bercampur perasaan hormat yang tinggi.
Thiat Tiong-tong tidak berani beradu mata
dengannya, sembari berpaling ujarnya:
"Siapakah aku? Suatu hari kelak kau pasti
akan tahu sendiri"
"Kenapa tidak kau katakan sekarang?"
"Sebab bila kuungkap sekarang, keadaan pasti
akan mengalami perubahan drastis"
Nada ucapannya dipenuhi rasa serius, berat
dan menyeramkan, membuat siapa pun yang mendengartidak berani banyak
bertanya lagi.
Mendadak terdengar seseorang membentak
nyaring.
"Siapa disitu?"
Ditengah bentakan keras,
terdengar suara ujung baju yang tersampok angin berkumandang
membelah angkasa.
Buru-buru Thiat Tiong-tong berbisik dengan
suara berat:
"Gunakan kesempatan ini untuk kabur, biar
aku yang menghadapi mereka"
Seraya berkata, dia berjalan keluar dengan
langkah lebar.
Secara beruntun Hek Seng-thian dan Pek
Seng-bu meluncur tiba ditempat itu, ketika menyaksikan thiat
Tiong-tong yang muncul dengan langkah santai, tidak kuasa mereka
berdua berteriak:
"Aaah, rupanya kau!"
"Betul, memang lohu, ada urusan?"
"Ditengah kekacauan, mau apa kau berada
disini?" tegur Hek Seng-thian dengan suara berat.
“Jalan-jalan......" sahut Thiat Tiong-tong
sambil tertawa dingin, kemudian tanpa perdulikan kedua orang itu
lagi dia melanjutkan perjalanannya sambil bergendong tangan.
"Aku lihat tua bangka ini makin lama semakin
bertambah aneh" gumam Hek Seng-thian dengan kening berkerut.
"Akupun merasakan kemisteriusan orang ini,
mula-mula aku curiga kalau dia adalah penyamaran dari anggota
Perguruan Tay ki bun, tapi setelah menyaksikan hubungannya dengan Im
ceng, aku pun merasa sepertinya tidak mirip"
"Jangan jangan mereka sedang bermain
sandiwara?" bisik Hek Seng-thian setelah termenung sejenak.
Dengan cepat Pek Seng-bu menggeleng.
"Pemuda she-Im itu emosinya tinggi dan
berangasan sekali, jika ditilik dari penderitaan hatinya, jelas
siksaan itu bukan cuma pura-pura, dalam hal ini siaute berani
menjamin"
Sekalipun ke dua orang ini termasuk jagoan
yang licik dan berakal banyak, namun mereka tidak berhasil juga
untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya dibalik kesemuanya itu.
Akhirnya Hek Seng-thian berkata:
"Sekalipun orang tua ini mempunyai rahasia,
selama tidak ada sangkut pautnya dengan kita, lebih baik tidak usah
kita campuri!"
Dalam pada itu ke dua belas orang centeng
keluarga Li yang sedang mendapat giliran bertugas pun nampak
bersiap-siap dengan wajah tegang, anak panah sudah dibentang diatas
busur, golok pun sudah diloloskan dari sarung, dengan perasaan
was-was mereka sedang melakukan penggeledahan disekeliling tempat
itu.
Li Kiam-pek muncul dari samping seraya
berseru:
"Silahkan saudara semua kembali ke ruang
tengah, saudara-saudara yang lain pun silahkan kembali ke pos masing
masing, jangan semba-rangan bergerak"
Ketika tidak menjumpai sesuatu yang
mencurigakan diseputar itu, semua orang pun balik kembali ke ruang
tengah.
Waktu itu sebenarnya Li Lok-yang sedang
berjalan mondar mandir didepan gedung, ketika melihat semua orang
sudah kembali, dia segera menghentikan langkahnya dan berkata dengan
suara dalam:
“Sekarang, kekuatan yang kita miliki harus
dihimpun jadi satu, pikiran dan perasaan harus tetap tenang, jangan
sampai hanya disebabkan sedikit suara yang mencurigakan, seluruh
kekuatan bubar kesana kemari, dalam situasi yang membingungkan,
musuh bisa manfaatkan kesempatan tersebut untuk melancarkan
serangan!"
"Tapi hanya bertahan melulu tanpa melakukan
perlawanan apapun jelas bukan cara terbaik" seru Bi lek hwee dengan
suara lantang.
"Apakah saudara mempunyai usul lain?" tanya
Li Lok yang.
Bi lek hwee tertegun, kontan dia tutup mulut
dan tidak buka suara lagi.
Matahari makin lama semakin meninggi,
perasaan semua orang pun semakin kalut bercampur gelisah, sisa telur
yang mereka simpan pun sudah mulai dikeluarkan untuk menangsal perut
yang lapar, dalam keadaan begini, biar diantara mereka
mempunyai hubungan persauda-raan pun, siapa saja sudah tidak saling
mengalah lagi.
Melihat orang lain makan telur, tiba-tiba
Hay tay sau merasakan perutnya berbunyi keras saking laparnya, suara
yang keras kedengaran semakin nyaring ditengah keheningan yang
mencekam sehingga tidak tahan banyak orang berpaling ke arahnya.
Sembari tertawa tergelak dan memegangi perut
sendiri, dia berseru:
"Hahahaha..... biarpun aku seorang enghiong,
apa mau dikata perutku tidak mau diajak kompromi"
"Dasar maling konyol" umpat Bi lek hwee
sambil mengambil guci araknya, "ternyata menahan lapar memang
merupakan siksaan yang sangat menderita, terus terang, perut lohu
pun sudah mulai berontak dan tidak mau menurut"
Phoa Seng-hong mengeluarkan sisa telur yang
dimilikinya dan sengaja berjalan mondar mandir dihadapan Hay
Tay-sau, sambil berjalan dia menggigit telurnya, mengunyah dengan
perlahan lalu menghela napas.
Dengan mata melotot sebesar gundu, Hay
Tay-sau mengikuti gerakan telurnya kian kemari, akhirnya saking
tidak tahannya dia meludah sembari mengumpat:
"Sialan, apa enaknya telur godokan?"
"Hahahaha.... memang tidak enak, memang
tidak enak" sahut Phoa Seng-hong sambil tertawa tergelak, dia
semakin menikmati telurnya dengan gaya yang dibuat-buat.
Dengan wajah merah padam Hay Tay-sau
melompat bangun, tanpa sadar Phoa Seng-hong ikut mundur satu
langkah.
"Jangan kuatir bocah busuk" Hay Tay-sau
segera tertawa tergelak, "tidak bakalan kurampas telur milikmu"
Kontan gelak tertawa bergema memecahkan
keheningan, suasana yang semula tegang pun sedikit lebih mengendor,
bahkan sekulum senyuman sempat menghiasi pula wajah Im Ceng.
Tapi sayang keadaan para lelaki kekar yang
berjaga diluar halaman sudah mulai layu dan lemas, kendatipun ilmu
silat yang mereka miliki diatas rata-rata, namun setelah kelaparan
seharian, tubuh mereka sudah mulai melemas, kepala pusing dan mata
pun mulai berkunang.
Mengawasi keadaan diluar halaman, Li
Lok-yang menghela napas panjang, gumamnya dengan alis mata
berkenyit:
"Senja...... paling banter hanya bisa
bertahan
sampai senja nanti......"
Sekonyong-konyong suara genta kembali
berdentang, suara si bocah pun kembali bersenandung:
"Genta berbunyi untuk ke empat kalinya, bila
perut mulai kelaparan, kuberi berapa kerat daging babi”
Ditengah suara senandung, tiba-tiba dari
luar tembok pekarangan bermunculan belasan batang bambu yang lebih
tinggi daripada dinding, diujung bambu terikat daging babi yang
sudah dipanggang matang, daging-daging itu mulai bergoyang dihembus
angin.
Kulit babi berwarna kuning tampak berkilauan
ketika tertimpa sinar matahari, bau harum yang semerbak tersebar
mengikuti hembusan angin, sekalipun semua orang tidak ingin
mengendus juga tidak sudi memandang, tidak urung tersiksa dalam
perasaan hatinya.
Langkah kaki kawanan lelaki dalam halaman
mulai kalut, sepasang mata mereka pun terbelalak semakin lebar.
Tiba-tiba terdengar seorang lelaki kekar
mengumpat:
"Sialan, maknya, ayam itik sudah terbiasa
bagi kami, apa anehnya dengan daging babi? Saudara sekalian, buat
apa kita perhatikan barang haram itu?"
Dia langsung mengambil sebatang anak panah
dan dibidikkan ke arah daging babi itu.
Siapa tahu ketika anak panah tiba diluar
dinding pekarangan, tiba-tiba arahnya berubah kemudian langsung
rontok ke atas tanah.
Melihat persiapan yang begitu ketat diluar
dinding sana, perasaan semua orang makin berat dan tercekam.
Thiat Tiong-tong ikut mengawasi daging babi
panggang berwarna kuning itu, mendadak dia jadi teringat dengan
senandung Sui Leng-kong tentang daging babi, tidak tahan diapun
bersenandung:
".......Kucicipi kulit babi yang
berminyak, sudah terpanggang hingga menguning, kuiris sekerat
daging, kupersilahkan kau mencicipi, kupersilahkan kau
mencicipi........"
Sekulum senyuman segera tersungging diujung
bibirnya, namun perasaan hatinya justru terasa lebih sendu dan
murung.
Hay Tay-sau yang masih berjalan mondar
mandir dalam ruangan tiba-tiba menghentikan langkahnya, setelah
meludah ke lantai, kembali umpatnya:
"Kujamin daging babi itu pasti masam
rasanya, lebih baik jangan dimakan! Lebih baik jangan dicicipi!"
"Biarpun belum tentu masam rasanya, kujamin
pasti beracun ......" sambung Li Lok-yang sambil tertawa.
Belum selesai dia bicara, mendadak tampak
ada belasan sosok bayangan manusia meluncur naik ke atas tiang bambu
itu.
BAB 8.
Sang mutiara pembetot sukma.
Ke sepuluh orang itu ada lelaki ada wanita,
ada lelaki berlengan tunggal ada pula manusia kudisan berkepala
botak, tapi ada juga gadis gadis cantik berpakaian warna warni.
Dalam genggaman mereka masing-masing
menggenggam sebilah pisau belati, gerakan tubuhnya ringan dan
cepat, dalam waktu singkat mereka sudah berdiri diujung bambu, tubuh
mereka bergoyang mengikuti hembusan angin, seakan-akan setiap saat
bisa terbang ke angkasa.
Dengan wajah berubah Phoa Seng-hong segera
berbisik:
"Orang orang itu adalah Kiu Kui cu (Sembilan
setan) serta Jit Moli (tujuh iblis wanita) dari perguruan Kiu cu Kui
bo, aneh, kenapa mereka menampakkan diri secara tiba-tiba? Permainan
busuk apa yang sedang mereka persiapkan?"
Setelah berdiri tegak diujung bambu,
mendadak kawanan manusia itu berjumpalitan dengan kepala dibawah
kaki diatas, gaya mereka bagaikan orang yang tiba-tiba terpeleset
hingga jatuh ke bawah.
Tapi pada saat itulah ujung kaki mereka
dengan cekatan menggaet kembali ujung bambu, lalu dengan pisau
belatinya mereka mulai mengiris daging babi tadi dan menikmatinya
dengan lahap.
Seorang lelaki berlengan tunggal segera
berseru sambil tertawa tergelak:
"Sudah kalian lihat, semua daging babi ini
tidak beracun, asal kalian punya nyali, silahkan saja dicicipi!"
"Lepas panah!" bentak Li Lok-yang keras.
Hujan anak panah kontan berhamburan di udara
menyambar tubuh sekawanan manusia tersebut.
Kawanan laki perempuan yang ada diujung
bambu tertawa ringan, tiba-tiba mereka melambung ke udara dan
menyongsong datangnya hujan anak panah itu.
Tampak bayangan manusia berkelebat di-tengah
hujan panah, ternyata semua anak panah yang dibidikkan telah mereka
tangkap semuanya, tidak satu pun dibiarkan rontok ke tanah.
Dalam waktu singkat hujan panah dan bayangan
manusia hilang lenyap tidak berbekas, yang tersisa hanya ke sepuluh
kerat daging babi panggang serta suara ejekan dari kawanan manusia
itu.
Berubah hebat paras muka Suto Siau,
gumamnya:
"Ilmu ginkang yang hebat, ilmu telapak
tangan yang tangguh, tampaknya kungfu yang dimiliki kawanan manusia
itu sama sekali tidak dibawah kemampuan kita semua"
Li Lok-yang menghela napas panjang.
"Dengan melakukan tindakan tersebut, bukan
saja mereka hendak membuktikan kalau daging babi itu tidak beracun
dan memancing semua orang untuk berebut, mereka pun ingin
memamerkan juga kebolehan ilmu silat yang dimilikinya!"
Hay Tay-sau memandang sekejap sekitarnya,
tiba-tiba dia melompat ke tengah halaman, dari sakunya dia
mengeluarkan seutas tali panjang, dibuatkan simpul hidup diujungnya
kemudian dilontarkan keluar.
"Dasar maling" kontan Phoa Seng-hong
mengejek sambil tertawa dingin, "tidak aneh kalau kamana pun pergi
selalu menggembol peralatan untuk mencuri!"
Sementara ejekan bergema, tali simpul itu
telah berhasil menjerat sepotong daging babi panggang.
Sambil membentak keras Hay Tay-sau segera
menarik kembali talinya, babi panggang itupun terpental dan lepas
dari ujung bambu.
Siapa tahu pada saat itulah terlihat sesosok
bayangan manusia melesat ke udara dari luar dinding, pisaunya
langsung membabat ke arah ujung tali itu.
"Kau berani!" hardik Hay Tay-sau gusar,
tubuhnya secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ikut melesat
ke udara, telapak tangan kirinya diayunkan cepat, dia langsung
membacok tubuh bayangan manusia itu, ternyata ilmu pukulannya sangat
mengerikan.
Bayangan manusia itu memiliki perawakan
tubuh kurus kering, cepat goloknya diputar membabat pergelangan
tangan Hay Tay-sau, gerakan tubuh yang dimiliki orang inipun sangat
hebat, kecepatannya berganti jurus diudara bagaikan ikan yang
berenang di air.
Dengan tangan kanannya Hay Tay-sau menyambut
daging babi itu, tangan kirinya diputar kembali dan kali ini
berusaha merampas senjata lawan.
Kembali terdengar seseorang mengejek sambil
tertawa dingin:
"Setelah keluar dari dinding pekarangan, kau
masih ingin balik?"
Seorang lelaki bermata tunggal melejit ke
udara bagaikan seekor burung rajawali, tangan kirinya diayun ke
depan menahan telapak kaki lelaki kurus kering tadi sementara tangan
kanannya menghajar dada Hay Tay-sau.
Tubuh lelaki kurus kering yang sedang
meluncur ke bawah itu seketika melambung lagi berapa meter ke udara,
kali ini dia mengayunkan kakinya menendang wajah Hay Tay-sau.
Menghadapi serangan dari kiri kanan, tenaga
dalam Hay Tay-sau mulai tersendat, meski dia berhasil menghindari ke
dua jurus serangan itu, tampak tubuhnya segera akan terjatuh ke luar
dinding pekarangan, kalau sampai terjadi begitu, jelas keadaannya
sangat berbahaya.
Dengan wajah berubah kawanan jago dalam
ruangan berbondong-bondong menerobos keluar halaman, Hek Seng-thian
dan Pek Seng-bu serentak turun tangan, diantara ayunan telapak
tangannya, puluhan titik cahaya bintang seketika disambitkan ke arah
dua orang yang berada diluar dinding.
Menggunakan kesempatan itu Hay Tay-sau
membentak keras, sembari membusungkan dada menyambut pukulan dari
lelaki bermata tunggal, dia meminjam tenaga serangan tersebut untuk
mencelat ke belakang, kemudian setelah berjumpalitan beberapa kali,
dia melayang turun ke dalam halaman rumah.
"Kau terluka?" Bi lek hwee segera menegur.
"Hahahaha.... kulit tubuhku mah lebih tebal
dari kulit badak, masa pukulan macam begitu bisa melukaiku? Satu
pukulan ditukar dengan sepotong daging babi, rasanya jual beli ini
tidak kelewat merugikan!"
Sambil mengacungkan jempolnya Bi lek hwee
berseru memuji:
"Lelaki hebat, lelaki jempolan! Hahahaha...
hey anak setan cucu setan yang berada diluar tembok, dengarkan
baik-baik! Pukulan kalian hanya dianggap orang sebagai sebuah
garukan!"
Waktu itu semua bayangan manusia yang semula
ada diujung bambu, kini sudah melompat turun bahkan tidak kedengaran
seorang pun yang menanggapi teriakan itu.
Dengan membawa babi panggang hasil
rampasannya Hay Tay-sau balik ke dalam ruangan, dia mengambil
sebilah pisau dan serunya sambil tertawa:
"Setiap orang dapat seiris daging, kecuali
sahabat yang tadi makan telur sambil mengejek dihadapanku!"
Sambil berkata dia mulai mengiris daging
babi itu.
Kemudian selesai mengiris, kembali Hay
Tay-sau berkata sambil tertawa:
"Bagaimana pun daging babi ini kuperoleh
dengan cara mencuri, rasanya ada orang memang tidak sudi makan
daging curian!"
Phoa Seng-hong mendengus dingin.
"Hmmm, daging yang mereka iris boleh saja
tidak beracun, memangnya kau anggap dibagian yang lain tidak
dibubuhi racun?"
Hay Tay-sau tertegun, kontan umpatnya:
"Sialan, memangnya lantaran tidak kebagian daging lantas kau mau
menakut-nakuti orang?" Sekalipun berkata begitu, tidak urung dia
hentikan juga irisannya.
Dari dalam saku Pek Seng-bu mengeluarkan
sebatang jarum perak dan ditusukkan ke dalam daging, seketika itu
juga jarum perak itu berubah jadi hitam pekat.
Paras muka Hay Tay-sau kontan berubah hebat,
saking tertegunnya dia sampai tidak mampu bicara.
Menyaksikan kejadian ini semua orang hanya
bisa menghela napas di hati. Suto Siau pun segera mendorong pergi
Phoa Seng-hong sambil ujarnya:
"Masih untung pukulan bajingan tadi tidak
kelewat berat, kalau tidak benar-benar rugi besar"
Dengan perasaan kaku Hay Tay-sau
manggut-manggut, mendadak percikan darah segar mulai meleleh keluar
dari ujung bibirnya. Ternyata pukulan lelaki bermata tunggal tadi
meski dilancarkan ditengah udara, namun tenaga serangannya sangat
tangguh.
Sejak awal Hay Tay-sau sudah merasakan
gelagat tidak menguntungkan, hanya saja karena dia tidak ingin
menghilangkan harapan rekan lainnya maka dia memaksakan diri menahan
rasa sakit, paling tidak luka dalamnya baru akan diperlihatkan
setelah semua orang mencicipi daging babi itu, siapa sangka daging
tersebut tetap tidak bisa terjamah.
Hanya Im Ceng seorang yang tidak banyak
bicara, dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke tengah halaman,
dari tangan kawanan jago disitu dia minta sebuah gendawa lalu panah
demi panah dibidikkan ke tengah udara.
Anak panah tampak meluncur bagaikan sambaran
kilat, dalam waktu singkat ke sepuluh kerat daging babi yang
tergantung diujung bambu sudah rontok semua ke tanah.
Sorak sorai segera bergema memecahkan
keheningan, Suto Siau sekalian yang menyaksikan kehebatan itu
diam-diam merasa terkejut, hanya Un Tay-tay seorang yang berlagak
seolah tidak melihat.
Baru berhenti suara sorakan, dari luar
dinding terdengar seseorang berseru dengan nada dingin:
"Bidikan yang jitu! Ilmu memanah yang hebat!
Kepandaian yang mengagumkan! Siapa yang melakukan bidikan? Apa
berani berdiri diatas dinding pekarangan?"
"Jangan terpancing!" bentak Thiat Tiong-tong
tanpa sadar.
Terdengar Im Ceng menyahut dengan lantang:
"Sauya berdiri ditengah halaman, kalau ingin
melihat, silahkan saja datang kemari!"
Dengan tangan kiri memegang busur, ditangan
kanannya telah disiapkan tiga batang anak panah.
"Bagus, biar kutengok manusia macam apakah
dirimu!" orang diluar dinding tertawa ringan.
Tampak sesosok bayangan tubuh seorang gadis
melayang di udara dan meluncur tiba, gerakan tubuh perempuan itu
sangat indah dan menawan, bagaikan bidadari yang turun dari
kahyangan.
"Perhatikan baik-baik!" bentak Im Ceng
nyaring.
Anak panah segera dibidikkan ke depan dalam
posisi segitiga, diiringi desing angin tajam serangan tersebut
langsung mengancam tubuh pendatang.
"Waah, ternyata hebat juga!" seru gadis itu
sambil tertawa merdu.
Sepasang tangannya diangkat
tinggi-tinggi untuk menyambut ke dua batang anak panah pertama,
sementara sebuah tendangan kilat menghadang anak panah ke tiga.
Gerak serangannya kembali dilakukan dengan
lemah gemulai, persis seperti bidadari yang sedang menari.
Siapa tahu saat itulah Im Ceng telah
menyiapkan bidikan berikut, hardiknya:
"Masih ada lagi!"
Kembali tiga anak panah melesat dengan
cepatnya, meskipun ke tiga serangan itu tidak dilepas berbarengan
namun selisih gerakan nya tidak berbeda banyak.
Semua orang hanya merasakan pandangan
matanya kabur, tahu-tahu terdengar gadis itu menjerit kaget dan
terjatuh ke luar pagar.
Sambil mengelus jenggotnya Bi lek hwee
tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha..... mereka telah melukai seorang
anggota kita, sekarang kita pun balas hadiah itu. Wah...waah....
pertarungan ini benar-benar menarik, betul-betul berarti!"
Rasa gembira hanya sejenak menyelimuti
perasaan semua orang, tidak lama kemudian suasana berubah hening
kembali, rasa lapar yang luar biasa seakan iblis keji yang sedang
mencekik leher mereka.
Menjelang senja, sudah banyak lelaki kekar
dihalaman luar yang tidak mampu menahan diri, mereka mulai bersandar
disudut dinding.
Dibawah sinar matahari senja, suasana
ditempat itu tampak lebih muram, kusam dan mengenaskan.
Mulut setiap orang sudah terjahit rapat
karena rasa lapar, tidak ada yang bicara, tidak ada yang minum arak.
Bahkan keinginan untuk minum arak pun sudah ikut lenyap.
Mengawasi matahari senja yang menyinari
jagad, tiba-tiba Li Lok-yang berkata dengan suara berat:
"Lohu sudah putuskan akan menyerbu ke luar,
adakah diantara kalian yang bersedia mengikutiku?"
Perkataan itu bagaikan sebuah lecut yang
mencambuk tubuh setiap orang, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Im Ceng
serta Bi lek-hwee seperti kena dihajar keras, serentak mereka
melompat bangun dari bangkunya.
"Mati hidup menang kalah tergantung pada
gempuran kali ini" kata Suto Siau sambil tertawa, "Li toako, sebelum
mengambil keputusan terakhir, lebih baik pertimbangkan lagi
masak-masak!"
"Selama hidup aku selalu bertindak sangat
hati-hati, tapi saat ini aku sudah tidak punya jalan lain kecuali
melakukan pertaruhan terakhir ini!"
Bicara sampai disitu tiba-tiba dengan sorot
mata setajam sembilu dia melanjutkan:
"Dari pada mati terkepung ditempat ini,
lebih baik tewas dalam pertempuran!"
Jika menunggu dua hari lagi, mungkin saja
akan datang bintang penolong......."
"Tidak, keputusanku sudah bulat, hengtay
tidak perlu banyak bicara lagi, bila ada orang yang ingin keluar
dari sini, silahkan saja bertahan ditempat ini, cayhe tidak bakalan
memaksa!"
Kalau diwaktu biasa dia selalu bicara halus,
lembut penuh kedamaian maka perkataannya sekarang lebih keras dari
baja. Setelah memandang sekejap seputar sana, tambahnya:
"Siapa yang bersedia mendampingi aku untuk
bertarung, silahkan acungkan tangan!"
Bi lek-hwee dan Im Ceng segera mengacungkan
tangannya, Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu saling bertukar pandangan
sekejap, akhirnya sambil angkat tangan serunya:
"Saudara Suto, kau......."
"Tentu saja siaute harus turut bergabung"
tukas Suto Siau sambil tertawa getir.
"Aaah, ada sekian banyak jago yang ikut
sudah lebih dari cukup, Hay Tay-sau masih terluka sedang lo sianseng
ini tidak pandai bersilat, tentu saja mereka harus tetap tinggal
disini"
"Masih untung Hay tayhiap sudah tertidur"
bisik Li Kiam-pek, "kalau sampai kedengaran dia.."
"Siapa bilang aku sudah terluka dan susah
bergerak?" tiba-tiba Hay Tay-sau melompat bangun sambil berteriak
keras, "siapa bilang aku sudah tertidur? Bila kalian ingin menyerbu
keluar, biar aku yang menjadi pembuka jalan"
"Seharusnya aku yang menjadi pembuka jalan!"
buru-buru Li Kiam-pek mengayunkan pedang siap melangkah pergi.
Bi lek hwee tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha..... tugas sebagai pembuka jalan
sudah menjadi milikku seorang, kalian tidak perlu berebut lagi
dengan lohu" serunya.
"Kenapa?" tanya Hay Tay-sau dan Im Ceng
hampir berbareng.
Sambil menepuk kantung kulit yang tergantung
dipinggangnya Bi lek hwee berkata:
"Didalam kantungku terdapat puluhan butir
Bi lek cu (peluru peledak), kekuatannya melampaui kehebatan
ribuan prajurit, dengan mengandalkan benda ini aku bisa membuka
sebuah jalan berdarah"
"Kalau memang begitu, tanggung jawab sebagai
pembuka jalan kuserahkan kepada hengtay" tukas Li Lok-yang segera,
"sementara sauhiap dan putraku biar menjadi pembantu"
Lalu sambil berpaling ke arah Hek Seng-thian
dan Pek Seng-bu, lanjutnya:
"Aku harap Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu
menjadi barisan paling belakang, sedang aku dan saudara Suto akan
berada dibarisan tengah, apapun yang terjadi dan bagaimanapun
sengitnya perta-rungan, aku harap bagian depan maupun barisan
belakang harus saling berhubungan, jangan sampai masing-masing
kelompok kehilangan kontak!"
"Bagaimana dengan aku?" teriak Hay Tay-sau
gusar, "memangnya kau sudah melupakan aku?"
Perlahan-lahan Li Lok-yang menghampirinya.
"Mengenai hengtay......." tiba tiba dia
menotok jalan darah dibahunya dan melanjutkan, "lukamu belum sembuh,
lebih baik jangan sembarangan bergerak"
Hay Tay-sau mendongkol bercampur jengkel,
namun dia sudah tidak mampu berdebat lagi.
Sembari berpaling, Li Lok-yang kembali
berkata dengan nada berat:
"Saudara-saudara yang berada diluar, siapkan
busur kalian, jangan biarkan siapa pun menerobos masuk kemari!"
"Biar cayhe yang berjaga disini!" Phoa
Seng-hung segera nyelutuk.
Sambil tertawa dingin Li Kiam-pek melirik
sekejap ke arahnya, kemudian jengeknya:
"Memang tidak ada orang yang suruh kau ikut
keluar!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung,
semua orang sudah mengencangkan tali pinggang dan meloloskan senjata
andalan.
Im Ceng sambil mengayunkan pedangnya
tiba-tiba berseru sambil menghela napas:
"Aaai, seandainya dia berada disini, keadaan
pasti lebih mendingan!"
"Siapa?" tanya Li Kiam-pek.
"Dia adalah suhengku, kecerdasan dan
kecekatannya seratus kali lipat lebih hebat ketimbang aku, meski
dalam situasi yang kalut pun dia dapat menghadapi dengan tenang,
hanya sayang......."
Dia melirik Suto Siau sekejap, lalu dengan
penuh perasaan dendam lanjutnya:
"Sayang dia sudah menghianati perguruan,
menganggap bajingan sebagai ayah, jika aku berjumpa lagi
dengannya, pasti akan kuhajar dia habis habisan!"
Thiat Tiong-tong merasakan timbulnya hawa
dingin dari dasar hatinya, diam-diam dia pejamkan mata.
Sambil menggenggam pedangnya kencang
kencang, Li Lok-yang berseru lagi:
"Sekarang matahari senja belum tenggelam,
inilah saat yang tepat untuk melangsungkan pertarungan berdarah,
ayoh teman, kita segera menyerbu ke luar!"
Seketika itu juga cahaya pedang dan hawa
pembunuhan menyelimuti seluruh ruang utama.
Mendadak Thiat Tiong-tong mengangkat
kepalanya dan berkata pula dengan suara dalam:
"Kini keadaan sudah berkembang makin gawat,
apa pun yang akan kalian lakukan diluar sana, lohu pasti akan
berjaga-jaga ditempat ini, tapi......."
Setelah menyapu sekejap wajah semua orang
yang hadir, dia menambahkan:
"Bila dalam setengah jam kemudian kalian
belum berhasil meraih kemenangan, kuanjurkan lebih baik cepatlah
balik kemari, hindari pengorbanan yang tidak berguna"
"Memang seharusnya begitu" sahut Suto Siau,
"bila dalam setengah jam kita tidak peroleh hasil, lebih baik
secepatnya mundur kemari dan kita membuat perencanaan yang lain"
"Baik!" kata Li Lok-yang kemudian setelah
termenung sejenak.
"Lohu akan menggunakan tambur sebagai tanda"
ujar Thiat Tiong-tong lagi, "bila suara tambur berhenti, itu berarti
waktu selama setengah jam telah tiba!"
Li Lok-yang manggut-manggut, Li Kiam-pek
segera perintahkan orang untuk mengambil tambur.
Semangat tempur kawanan lelaki kekar
ditengah halaman kembali berkobar, suasana keheningan yang semula
mencekam seluruh bangunan dalam waktu singkat terbakar kembali oleh
semangat tempur yang meluap.
Diiringi bentakan keras Bi lek hwee
menerjang keluar dari halaman, Im Ceng dan Li Kiam-pek dengan pedang
terhumus mengikuti di belakangnya
Kedua orang ini selain sama-sama masih muda,
tampan, gerak geriknya amat cekatan.
Bi lek-hwee menyambar sebuah busur, kemudian
sambil bersuit nyaring melayang ke atas dinding pekarangan.
Dalam waktu singkat dia telah merogoh
segenggam peluru Bi lek cu, dengan menggunakan Ilmu Bi lik
ciang Tan ta kim kiong (pukulan geledek menghamburkan gendewa
emas) dia melepaskan serangan mematikan.
Terdengar serangkaian suara desingan tajam
menggema membelah angkasa, belasan peluru peledak segera berhamburan
ke angkasa dan menimbulkan serangkaian ledakan dahsyat disekeliling
tempat itu.
Diluar dinding pekarangan merupakan sebuah
tanah lapang yang luas, pepohonan yang rimbun tumbuh dikejauhan
sana, sebuah jalan raya dengan alas batu membentang hingga ke dalam
hutan.
Tampak bayangan manusia bergerak kian kemari
diatas jalanan tersebut, ketika melihat datangnya serangan
mematikan, serentak mereka membubarkan diri ke empat penjuru.
Terdengar sibocah pincang itu berteriak
keras: "Yang meng hantar kematian sudah keluar, jangan biarkan
mereka balik kembali!"
Bayangan manusia kembali bergerak ditengah
hutan, seseorang menyahut sambil tertawa seram:
"Mereka tidak bakalan bisa balik lagi!"
"Setan cilik, kena kau!" mendadak Bi lek
hwee membentak nyaring.
Sekali lagi serangkaian peluru peledak
berhamburan di udara.
Bocah pincang itu tertawa tergelak.
"Hahahaha..... setan tua, kau tidak bakal
bisa menyentuh tubuhku......."
Sambil memutar tubuh dia melesat naik keatas
tiang bambu, kemudian ejeknya lagi:
"Hey setan tua, apa kau berani naik ke
atas?"
Belum selesai teriakan itu, hujan anak panah
telah beterbangan mengancam tubuhnya, buru-buru bocah pincang itu
merosot turun ke bawah dengan jurus "menenteng orang mati".
Tiba-tiba terlihat cahaya pedang berkelebat
lewat, tahu-tahu Im Ceng sudah merangsek maju ke depan sambil
melancarkan tiga jurus serangan pedang, seketika itu juga bocah
pincang tersebut terkurung dalam kepungan.
"Bocah busuk, hebat juga ilmu pedangmu!"
seru bocah pincang itu sambil mengerdipkan matanya.
Tubuhnya berputar beberapa lingkaran
mengelilingi cahaya pedang itu, dalam waktu sekejap dia melancarkan
pula tiga jurus serangan balasan.
Paras muka Im Ceng berubah berat dan serius,
permainan pedangnya makin berat dan penuh tenaga.
Kembali bocah pincang itu melayani
pertarungan sebanyak tiga gebrakan, kini wajah senyum nakalnya telah
lenyap, mendadak jeritnya:
"Bocah keparat ini lihay sekali, kalian
cepat datang membantu!"
Belum selesai dia berteriak, kembali muncul
dua sosok bayangan manusia dari sisi kiri dan kanan, seorang gadis
berbaju abu-abu dan seorang nona berbaju hijau, gerakan tubuh mereka
cepat sekali bagai sambaran kilat.
Sambil membalikkan tubuh dan menarik kembali
senjatanya, bocah pincang itu berseru sambil
tertawa: "aku sudah tidak tahan lagi, lebih baik kalian saja yang
menemaninya bermain!"
Dengan dua tiga kali jumpalitan, dia segera
menyingkir jauh jauh.
"Dasar setan cilik" umpat si nona berbaju
abu-abu sambil tertawa, "sudah kabur dari medan pertarungan, masih
banyak bicara....."
Ditengah suara tertawanya yang merdu, ujung
bajunya menari kian kemari, sekejap mata dia
sudah melancarkan berapa jurus serangan.
Dalam pada itu si nona berbaju hijau telah
meluluskan pula sebuah rantai perak sepanjang satu setengah meter,
serunya sambil tertawa:
"Ngo-moay, kau menyerang jarak dekat, aku
menyerang jarak jauh, coba kita lihat bocah ini dapat bertahan
berapa jurus!"
Walaupun Im Ceng tidak pernah suka bertarung
melawan perempuan, tapi sekarang dia sudah terkurung oleh jurus
serangan ke dua orang gadis yang aneh, sakti dan cepat sehingga
sulit baginya untuk menghindarkan diri.
Disisi lain, Li Kiam-pek telah bertarung
melawan seorang lelaki berewok bermata satu, orang itu bersenjatakan
sebatang golok panjang dan sebilah golok pendek, perawakan tubuhnya
tinggi besar bagaikan setengah bangunan pagoda.
Suara tambur begitu berkumandang,
pertarungan pun berlangsung makin seru.
Jurus serangan yang dipergunakan dua orang
itu sama-sama keras, cepat dan ganas, terdengar suara benturan
senjata berkumandang silih berganti, tiga titik cahaya tajam saling
menyambar dan saling membabat dengan serunya.
Biarpun lelaki bermata satu itu berperawakan
tinggi besar, namun gerak geriknya sama sekali tidak lamban ataupun
bebal, golok panjang dan golok pendeknya melancarkan serangan secara
bergantian, jurus serangan yang digunakan pun ganas, telengas dan
aneh.
Sebaliknya ilmu pedang Li Kiam-pek berasal
dari aliran lurus yang mengutamakan kemantapan dan ketenangan,
sekalipun harus menghadapi lelaki kekar yang banyak pengalaman,
namun dua ratus gebrakan kemudian menang kalah masih susah
ditentukan.
Sementara kedua orang itu masih asyik saling
menyerang, terdengar Bi lek hwee berteriak keras:
"Jangan melibatkan diri dalam pertarungan
berkepanjangan, cepat terjang! Cepat terjang!"
Ditengah bentakan nyaring, lagi-lagi dia
melontarkan serentetan peluru peledak.
Mendadak terdengar suara tertawa seram
bergema dari balik hutan, terlihat sesosok bayangan manusia meluncur
datang sambil mengebaskan bajunya berulang kali.
Ditengah deruan angin kencang, peluru
peledak yang beterbangan di angkasa itu seketika terpental balik ke
belakang, bukan Cuma terpental ke belakang bahkan segera berhamburan
di dalam halaman keluarga Li.
Ledakan demi ledakan pun bergetar diseluruh
gedung, jeritan kaget bergema memecahkan keheningan.
Berubah hebat paras muka Li Lok-yang,
teriaknya:
"Jangan kau gunakan lagi peledak Bi lek cu!"
Dengan pedang terhunus dia menyambut
kedatangan bayangan manusia itu.
Tampak bayangan manusia yang baru muncul
dari balik pepohonan itu segera melayang turun ke tanah, ke dua
ujung bajunya berkibar ketika terhembus angin, bentuknya persis
seperti sepasang sayap kelelawar, bahkan ketika sudah berdiri diatas
permukaan, ujung bajunya kelihatan makin panjang hingga terjulai
diatas tanah.
Dia memiliki perawakan tubuh yang tinggi
tapi kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, tulang jidatnya
menonjol tinggi, kelopak matanya mendelong ke dalam, bila diamati
sekilas pandang mirip sekali dengan seorang lelaki buta.
Begitu melihat kemunculan orang itu, si
bocah pincang segera bertepuk tangan sambil bersorak sorai,
teriaknya tertawa:
"Bagus, bagus sekali! Ternyata toako juga
telah datang, sekarang akan kulihat masih ada berapa banyak senjata
rahasia yang kalian miliki, ayoh keluarkan semua!"
Tercekat perasaan hati Bi lek hwee mendengar
seruan itu, dengan suara keras segera tegurnya:
"Apakah kau adalah Ai Thian-hok?"
Semua jago senjata rahasia yang ada dikolong
langit pasti bergidik hatinya bila mendengar nama Ai Thian-hok
disebut orang, bukan saja bergidik bahkan boleh dikata merasa takut
hingga bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Biarpun dia buta namun sangat ahli dalam
meluncurkan pelbagai jenis senjata rahasia yang ada dikolong langit,
ketajaman pendengarannya luar biasa, seakan-akan disekujur tubuhnya
memiliki mata yang tajam.
Dengan wajah yang dingin tanpa perasaan
orang itu menyahut:
"Benar, siapa yang akan menemani aku si buta
untuk bermain berapa gebrakan?"
Suaranya begitu ketus, dingin, kaku, sama
sekali tidak berperasaan.
Dengan satu langkah cepat Li Lok-yang
melompat melampaui Bi-lek hwee sambil menyelinap maju ke depan,
setelah memandang orang itu dari atas hingga ke bawah, katanya
dengan nada berat:
"Rupanya kaulah murid pertama dari Kiu cu
Kui bo!"
“Betul!” seru bocah pincang yang berdiri
jauh di belakang Ai Thian-hok, "dialah toa-suko kami!"
"Kehadiran suhengmu benar-benar merupakan
satu penghormatan bagiku"
"Li sianseng kelewat memuji" tukas Ai
Thian-hok ketus.
Li Lok-yang tertegun.
"Darimana kau bisa tahu kalau cayhe adalah
Li Lok-yang?"
Ai Thian-hok tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha......biarpun sepasang mataku buta,
hatiku tidak buta, dalam situasi dan keadaan seperti ini, siapa lagi
yang masih bisa bicara sopan dan penuh sungkan kepadaku kecuali Li
Lok-yang?"
"Orang bilang bintang pembunuh yang tidak
bermata biasanya tajam dalam perasaan, setelah perjumpaan hari ini,
nyata sekali kalau ucapan tersebut bukan kosong belaka"
"Li sianseng begitu memuji diriku, apakah
kau menginginkan Ai Thian-hok melakukan sesuatu untukmu?" tanya Ai
Thian-hok sambil menghentikan gelak tertawanya.
Sekalipun sedang tertawa, paras mukanya
tetap kaku tanpa perasaaan. Dan kini, begitu dia berhenti tertawa,
raut mukanya nampak semakin dingin menakutkan, seolah-olah perasaan
hatinya memang terbuat dari bongkahan salju abadi, siapa pun di
dunia ini tidak ada yang mampu menggerakkan perasaan hatinya.
"Betul" sahut Li Lok-yang sambil tertawa
keras, "cayhe memang ingin mengajak anda untuk bertaruh"
"Hmmm, setiap kali aku she-Ai sedang
menduduki posisi diatas angin, aku tidak pernah mau bertaruh dengan
siapa pun, Li sianseng, tampaknya keinginanmu itu tidak bakalan
terkabul!"
Sekali lagi Li Lok-yang tertegun, sebenarnya
dia ingin mempertaruhkan keselamatan dirinya untuk mengajak Ai
Thian-hok mempertaruhkan keselamatan saudara-saudara seperguruannya.
Terdengar si bocah pincang tertawa tergelak.
"Hahahaha..... bertaruh atau tidak kau tetap
berada di pihak yang kalah, apa lagi yang ingin kau pertaruhkan?"
serunya, "kau boleh saja membohongi orang lain, tapi jangan harap
bisa membohongi toako ku!"
"Li sianseng" kembali Ai Thian-hok berkata,
bila kau ingin bertarung, cayhe pasti akan menerima tantanganmu itu,
cuma ada baiknya kau bersihkan dulu bekas kulit telur yang menempel
didalam alas sepatumu, daripada mengganggu gerak-gerikmu nanti"
Tanpa sadar Li Lok-yang memeriksa alas
sepatu sendiri, benar saja, ternyata alas sepatunya memang tertempel
bekas kulit telur yang banyak, andaikata tidak diberitahu Ai
Thian-hok, mungkin dia sendiripun tidak bakal menyadari.
Ai Thian-hok yang buta sepasang matanya
ternyata memiliki ketajaman pandang melebihi manusia yang bermata
normal, padahal kalau dilihat kelopak matanya yang mendelong,
jangan lagi tidak nampak ada biji mata, cukup dilihat dari bentuknya
pun sudah menyeramkan sekali, jelas dia bukan orang yang berlagak
buta...... tapi, kenapa dia bisa tahu kalau alas sepatunya ada bekas
kulit telur?
Dalam waktu singkat perasaan hati Li
Lok-yang dicekam dalam ketakutan dan kengerian yang luar biasa.
"Kau tidak perlu keheranan darimana aku bisa
mengetahui akan hal tersebut" terdengar Ai Thian-hok berkata lagi,
"aku tahu karena dari suara langkah kakimu tadi dapat kudengar suara
kulit telur yang menempel di sol sepatumu"
"Darimana kau bisa tahu kalau suara tersebut
berasal dari kulit telur?"
Ai Thian-hok tertawa tergelak.
"Hahahaha..... semua bahan makanan sudah
keracunan, aku duga kalian pasti makan telur ayam untuk
memperpanjang umur, tidak aneh jika dalam situasi serba kalut, kulit
telur akan berceceran di mana-mana, oleh sebab itulah aku
menduganya, ternyata dugaanku memang benar"
Kembali Li Lok-yang menghela napas panjang,
pikirnya:
"Aai, ternyata Ai Thian-hok memang seorang
jagoan yang sangat hebat dan luar biasa"
Sebagaimana diketahui, pertempuran sengit
sedang berlangsung waktu itu, seluruh udara, diliputi suara
dentingan senjata yang nyaring, suara bentakan yang keras serta
suara tambur yang menggelegar bagai halilintar.
Tapi dalam keadaan seperti itu, ternyata di
dapat menangkap suara langkah kaki orang lain, ketajaman
pendengarannya boleh dibilang sangat mengerikan, ditambah lagi
kemampuannya untuk menganalisa serta mengambil kesimpulan, kehebatan
yang dimiliki orang ini benar-benar luar biasa.
Bi lek-hwee yang selama ini hanya berdiri
dibelakang Li Lok-yang sambil menahan diri, saat ini sudah tidak
mampu mengendalikan diri lagi, segera bentaknya nyaring:
"Ai Thian-hok, ternyata mulutmu hebat,
perasaanmu juga hebat, lohu ingin membuktikan apakah tanganmu juga
trampil dan hebat?"
Gendewanya digetarkan, dengan satu langkah
cepat dia menerobos maju ke depan, dengan ujung lamur dia totok
jalan darah Ciang tay hiat di antara dada dan lambung Ai Thian-hok.
Sambil berjumpalitan maju ke depan, si bocah
pincang itu menghardik:
"Toako ku hanya ingin bertarung melawan Li
lok yang, mau apa kau banyak urusan? Hmm, biar sauya saja yang
menemanimu bermain berapa gerakan!"
Ditengah bentakan, sepasang kakinya meluncur
datang dengan kecepatan tinggi, langsung menendang wajah lawannya.
Menghadapi serangan semacam ini terpaksa Bi
lek hwee harus selamatkan diri dengan mengegos ke samping, teriaknya
penuh amarah:
"Kau sudah tahu kalau selama hidup lohu
paling pantang bertarung melawan bocah dan kaum wanita, mau apa kau
datang kemari?"
Bocah pincang itu tertawa terkekeh.
"Hahaha.....kau tidak ingin bertarung
melawanku? Huuuh, ketahuilah, aku pun belum tentu sudi bertarung
melawanmu. Kalau toh kau belum menerima mutiara pengganti nyawa,
lebih baik menyingkir saja ke samping dan tidak usah turut campur
dalam persoalan ini!"
"Sialan!" umpat Bi lek hwee gusar.
Tinjunya langsung disodokkan ke depan dan
menghantam ke tubuh seseorang yang sedang bertarung melawan Hek
Seng-thian.
Biarpun dia berada dalam keadaan gusar,
namun orang ini tetap tidak ingin bertarung melawan anak-anak dan
kaum wanita, sekalipun wataknya agak kasar ternyata kekasarannya
cukup simpatik.
Sementara itu Pek Seng-bu serta Suto Siau
sekalian masing-masing sudah menemukan lawannya, pertarungan sengit
pun berkobar di tanah lapang diluar pagar dinding.
Dari balik pepohonan terlihat bayangan
manusia bergerak kian kemari, meskipun serangan yang mereka
lancarkan sangat tangguh, ternyata orang orang itu belum juga
berhasil membuka sebuah jalan berdarah ditempat itu.
Perlahan-lahan Li Lok-yang dan Ai Thian-hok
bergerak semakin mendekat, namun hingga detik ini mereka belum
sampai bertarung barang satu gebrakan pun.
Dengan wajah penuh senyuman si bocah pincang
itu memukul satu jurus kekiri, menendang kemudian
kekanan, tiba-tiba dia berjumpalitan lagi di udara dan balik ke
dalam hutan sambil berseru:
"Suhu telah tiba!"
Benar saja, terlihat Kiu cu Kui bo
didampingi dua orang gadis cantik telah munculkan diri dari balik
pepohonan.
Perempuan itu berjalan mendekat dengan
langkah tertatih, pakaian yang dikenakan pun amat sederhana.
Sebaliknya dua orang gadis yang mendampinginya justru berpakaian
amat mewah dan indah, dandanannya sangat mencolok mata.
Li Lok-yang sangat terkesiap......ternyata
wanita cantik yang saat itu berdiri
disamping Kiu cu Kui bo tidak lain adalah wanita cantik yang
mendampingi si kakek aneh tadi.
Tentu saja dia tidak memahami betapa
rumitnya hubungan mereka semua, timbul perasaan ragu dan curiga
dalam hatinya.
Siapa tahu disaat dia masih tertegun dan
bediri penuh keraguan itulah Ai Thian-hok sudah melambung ke tengah
udara, tampak sepasang ujung bajunya berkibar terhembus angin,
persis seperti seekor kelelawar yang sedang terbang di angkasa.
Ujung bajunya panjang lagi lebar, dibalik
kelembutan terselip kekerasan, inilah dua jenis senjata pembunuh
yang paling aneh dan hebat, ketika sepasang ujung bajunya diputar,
sehebat apapun kepandaian silat yang dimiliki lawan, jangan harap
bisa mendekati tubuhnya dalam waktu singkat.
Dalam pada itu kawanan lelaki kekar yang
bertahan dibalik halaman mulai merasa sangat gelisah, mereka hanya
bisa mendengar suara berlangsungnya pertarungan dari balik dinding
tanpa bisa mengikuti jalannya pertarungan.
Lama kelamaan ada sebagian centeng yang
tidak mampu menahan diri lagi, ada diantara mereka yang mulai
memanjat ke atas dinding pagar untuk menonton jalannya pertempuran.
Paras muka Thiat Tiong-tong sendiripun
nampak amat serius, dia masih memukul tambur tiada hentinya.
Un Tay-tay dengan wajah murung dan kesal
duduk mendampinginya, perempuan itupun sama sekali tidak berbicara.
Sepuluh orang lelaki kekar yang semula
berkumpul disudut halaman sambil berbisik-bisik, tiba-tiba berteriak
keras dan serentak mereka lari kedepan pintu gerbang yang tertutup
rapat.
Seseorang dengan cepat mengayunkan goloknya
membacok ke pintu gerbang....
"Mau apa kalian?" tegur Phoa Seng-hong
dengan wajah berubah.
"Kami akan menyerbu keluar!" sahut para
centeng.
Baru selesai mereka bicara, tiba-tiba suara
tambur berhenti berbunyi.
Tidak lama setelah bunyi tambur berhenti,
tampak Hek Seng-thian muncul terlebih dulu ke dalam ruangan, seluruh
tubuhnya basah oleh darah, dadanya naik turun tidak beraturan,
senjata andalannya juga telah hilang.
"Hengtay, kau terluka?" tegur Phoa Seng-hong
dengan wajah berubah.
Hek Seng-thian manggut manggut.
"Bahu.....bahu kiriku......."
Mendadak dia jatuh terduduk di lantai. Dari
luar dinding pagar kembali terdengar suara teriakan keras menyusul
kemudian tampak Pek Seng bu dan Suto Siau kabur masuk dengan gerakan
cepat, paras muka ke dua orang inipun nampak kusam dan kelelahan,
butiran keringat bercucuran membasahi jidatnya.
Walaupun Thiat Tiong-tong tidak dapat
mengikuti jalannya pertarungan diluar pagar, namun setelah
menyaksikan raut muka beberapa orang itu, dia dapat membayangkan
betapa sengit dan hebatnya pertarungan yang baru berlangsung diluar
sana.
Masih memegangi pemukul tambur dia segera
berlari keluar dari halaman, teriaknya keras: "Masih ada yang lain?"
Dengan peluh bercucuran Pek Seng-bu segera
menuding ke luar halaman.
Saat itulah terdengar Li Lok-yang yang
berada diluar halaman berteriak keras:
"Saudara sekalian, cepat mundur kembali,
biar cayhe yang melakukan penghadangan"
Menyusul kemudian terdengar seseorang
menyambung sambil tertawa dingin:
"Biarpun jalan keluar tersumbat, kalau ingin
mundur tidak bakalan dihadang orang, kau tidak perlu kuatir!"
Baru selesai ucapan tersebut bergema, Li
Lok-yang, Li Kiam-pek, Bi lek hwee dan Im Ceng secara beruntun telah
mundur balik ke dalam halaman, tapi wajah ke empat orang inipun
nampak sangat mengenaskan, baju yang mereka kenakan basah kuyup oleh
keringat.
Setelah mengatur pernapasan sejenak Li
Lok-yang baru menghela napas panjang, dengan kepala tertunduk dia
berjalan mondar mandir dalam ruangan. Ditinjau dari wajahnya yang
murung dan helaan napasnya yang sedih, bisa diketahui bahwa
persoalan yang sedang dihadapi sangat gawat.
Ketika tiba kembali dalam ruang tengah,
perasaan hati semua orang pun ikut nampak berat.
Setelah berjalan mondar mandir berapa saat,
akhirnya Li Lok-yang menuju ke depan undak-undakan batu dan berseru
dengan nada berat:
"Saudara sekalian, harap dengarkan dulu
perkataanku"
Perlahan-lahan para centeng yang berada
ditengah halaman bergeser mendekat dan berkumpul menjadi satu.
Menyaksikan kawanan jago yang di hari-hari
biasa selalu gesit dan cekatan bagai seekor harimau, kini, meskipun
berusaha tampil dengan penuh semangat namun tidak dapat menutupi
perasaan kecewa dan sedihnya, tidak kuasa lagi dia merasakan hatinya
sangat pedih.
"Kalian cepat buang senjata masing-masing!
dan mengangkat tinggi ke dua belah tangan, asal kalian tidak
melakukan perlawanan, sekeji dan sebuas apapun tidak mungkin Kiu cu
Kui -bo akan mencabut nyawa kalian semua. Aku tahu, kalian sudah
banyak tahun mengikuti aku, tapi hari ini, terus terang aku merasa
tidak sanggup melindungi keselamatan kalian lagi, harap kalian
jangan menyalahkan aku"
Belum selesai dia berkata sudah terjadi
kegaduhan diantara para centeng itu, maka ketika dia menyelesaikan
perkataannya, kawanan lelaki kekar itu segera teriak bersama:
"Biar harus matipun kami tidak akan pergi"
"Bila tetap tinggal disini, kalian hanya
akan menghantar kematian saja" kata Li Lok-yang sedih.
Seorang centeng segera melompat keluar
sambil berteriak:
"Loya selalu baik dan sayang kepada hamba
semua, biar harus mati pun hamba lebih rela mati bersama loya"
Seorang rekannya segera menimpali:
"Biarpun hamba sekalian hanya orang bodoh,
tapi kami bukan manusia kurcaci yang takut mati, jika loya memaksa
hamba semua untuk pergi, terpaksa hamba akan mati duluan disini"
Lama sekali Li Lok-yang berdiri tertegun
sambil mengawasi anak buahnya, mendadak sambil menghentakkan kakinya
dia berpaling dan beranjak pergi, lamat-lamat butiran air mata
nampak mengembang dalam kelopak matanya.
Un Tay-tay segera bertanya lirih:
"Masa kita benar-benar tidak punya harapan
untuk menyerbu keluar dari tempat ini?"
Selama ini dia hanya menguntil terus
disamping Thiat Tiong-tong, sedetik pun tidak ingin meninggalkan
dirinya.
Tanpa bicara Li Lok-yang mengangguk.
Un Tay-tay tertegun berapa saat, tiba-tiba
dia membalikkan tubuh dan berjalan keluar dari ruangan.
Suto Siau maupun Im Ceng nampak seakan
hendak menggerakkan tubuhnya, namun siapa pun tidak ada yang
mengejarnya.
Perlahan-lahan Li Lok-yang berjalan
mendekati Hay Tay sau, sembari membebaskan totokan jalan darahnya
dia berkata:
"hengtay, harap kau jangan marah!"
"Kenapa aku mesti menyalahkan dirimu?"
teriak Hay Tay-sau sambil bangkit berdiri, “mendengar perkataanmu
yang begitu patah semangat, hampir saja aku mati lantaran jengkel"
Li lok yang tertawa getir.
"Bukannya cayhe ingin mengucapkan kata-kata
yang patah semangat, hanya saja situasi dan keadaan yang kita hadapi
sekarang memang lebih banyak bahayanya daripada selamat"
Hay Tay-sau membelalakkan matanya
lebar-lebar, sementara orang yang lain seolah mengakui akan
kebenaran perkataan tersebut.
"Ayoh, kalian bicaralah" teriak Hay Tay-sau
kemudiann "sebenarnya kalian mampu tidak untuk bertempur melawan
mereka?"
Li lok yang mendongakkan kepalanya memandang
sekejap keadaan cuaca, kemudian katanya:
"Saudara Hay, saat ini kau tidak usah banyak
bertanya lagi, kita tunggu saja senja menjelang nanti, kita berdua
sekali lagi mencoba untuk menerjang keluar dari sini"
“Nah, itu baru kata-kata yang bersemangat"
teriak Hay tay-sau sambil menggebrak meja.
Perlahan-lahan Li Lok-yang mengalihkan sorot
matanya kewajah Thiat Tiong-tong, kemudian bertanya.
"Kami berhasil atau tidak meloloskan diri
dari sini, yang pasti anda tidak bakalan mati"
"Apa maksud perkataanmu itu?" tanya Thiat
Tiong-tong.
"Orang terdekat yang berada disamping Kiu cu
Kui bo saat ini tidak lain adalah istrimu yang lembut dan cantik
jelita itu!"
Berubah hebat paras muka Thiat Tiong-tong.
Sementara itu Li Lok-yang sudah berlalu dari
hadapannya, ucapan tersebut kembali menimbulkan kegaduhan bagi
kawanan jago lainnya, mereka memang tidak mengetahui asal usul Thiat
Tiong-tong yang sebenarnya, tanpa terasa pikirnya:
"Mungkinkah dia adalah jagoan yang dikirim
Kiu cu Kui bo untuk membantunya dari dalam?"
Waktu itu Li Lok-yang sudah berdiri didepan
gedungnya sambil bergendong tangan, dia saksikan disudut halaman ada
berapa orang centengnya sedang mencabut rumput dan menguliti kulit
pohon secara diam-diam.
Rasa pedih seketika menyelimuti perasaan
hatinya, buru-buru dia berpaling ke arah lain, tidak tega untuk
memandangnya lebih jauh.
"Ooh Thian!" keluhnya dihati, "aku Li
Lok-yang selalu berbuat baik terhadap siapa pun, kenapa nasibku
harus berakhir dalam keadaan yang begini tragis?"
Perasaan hatinya amat sakit dan tersiksa,
tanpa disadari apa yang sedang dia pikirpun terucapkan keluar secara
jelas, tentu saja nada keluhannya amat pedih dan memilukan hati.
Tiba-tiba Hay Tay-sau menggebrak meja sambil
mengumpat:
"Li toako selalu bersikap jujur dan setia
kawan, heran, kenapa ditempat ini justru muncul pengkhianat"
"Siapa pengkhianatnya?" tanya Li Kiam-pek
cepat.
"Dia!" sambil berteriak, Hay Tay-sau segera
menuding langsung ke arah Thiat Tiong-tong.
Sebenarnya semua orang sedang memikirkan
persoalan itu, tidak heran kalau kegaduhan segera terjadi setelah
mendengar teriakan itu.
Dengan suara keras Bi lek hwee segera
berteriak:
"Benar, orang ini sangat mencurigakan,
gerak-geriknya penuh misterius, dia pasti musuh yang sengaja
menyusup kemari"
Li Lok-yang segera berpaling menatap wajah
Thiat Tiong-tong, dia sangka pemuda itu pasti akan berusaha
menyangkal atau berkelit.
Siapa sangka Thiat Tiong-tong sama sekali
tidak menyangkal, dia hanya berdiri kaku disitu tanpa mengucapkan
sepatah kata pun.
Kembali Hay Tay-sau membentak nyaring:
"Terlepas bagaimana akhir dari pertempuran
yang bakal berlangsung hari ini, kita tidak boleh membiarkan
penghianat ini tetap hidup di kolong langit, mari kita bantai dulu
dirinya"
"Benar, harus kita bantai dulu bajingan itu"
serentak semua orang menyahut.
Sambil berteriak, semua orang mulai
menggeserkan langkahnya mengepung Thiat Tiong tong, rasa jengkel,
benci dan mendongkol yang selama ini menyelimuti perasaan semua
orang pun seketika dilampiaskan ke tubuh pemuda itu.
Saking takutnya ke dua orang bocah lelaki
itu sudah berdiri menggigil dengan wajah menghijau dan bibir pucat
pasi, sambil menarik baju Thiat Tiong-tong mereka berusaha menarik
pemuda itu untuk kabur.
Kembali Li Lok-yang menghela napas panjang,
ujarnya:
"Semua orang berkeinginan begitu, apa lagi
yang hendak kau katakan?"
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas
panjang, pikirnya:
"Siasat berantai yang kulakukan telah
menciptakan situasi berubah jadi begini rupa, boleh dibilang
harapanku sudah tercapai, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Suto Siau
maupun Bi lek hwee tidak ada yang bisa kabur lagi dalam keadaan
selamat, hanya sayang berapa lembar nyawa tidak bersalah harus ikut
menjadi korban, aaai! “Sebenarnya betulkah tindakanku ini? Benarkah
langkah yang kuambil?"
Berpikir sampai disitu, perasaan kecewa
segera menyelimuti hatinya, dia pun tidak ingin melakukan
perlawanan lagi.
"Betul" katanya kemudian sambil menghela
napas, "aku telah mencelakai kalian, bunuhlah aku!"
Tantangan ini justru membuat semua orang
termangu.
Tiba tiba terdengar seseorang berseru:
"Bila kalian ingin membunuhnya, lebih baik
sekalian bunuhlah aku!"
Dibawah sorot cahaya senja yang redup, Un
Tay-tay berjalan masuk dengan langkah perlahan.
Saat itu tubuhnya sudah dipenuhi dengan
aneka macam perhiasan serta intan permata yang memantulkan cahaya
berkilauan ketika tertimpa sinar senja, sambil tertawa ringan
lanjutnya:
"Aku dapat mengenakan intan permata yang
paling kusukai, dapat mati disisi orang yang paling kusayangi,
nasibku jauh lebih beruntung daripada nasib kalian yang harus mati
di medan pertempuran, bila kalian hendak turun tangan, ayohlah cepat
turun tangan!"
Ternyata dia kabur keluar dari ruang gedung
tadi tidak lebih hanya ingin mengambil perhiasan mahal itu dan
mengenakannya.
"Turun tangan yaa turun tangan, siapa
takut!" teriak Hay Tay-sau keras.
Waktu itu Un Tay-tay sudah berdiri disamping
Thiat Tiong-tong, kembali dia bertanya:
"Siapa yang akan turun tangan?"
Semua orang saling bertukar pandangan,
siapapun tidak ingin menghabisi nyawa dua orang yang sama sekali
tidak melakukan perlawanan disaat kematian mereka sendiri menjelang
tiba, tanpa sadar mereka malah mundur dua langkah.
Entah sejak kapan langit telah semakin redup
dan gelap, dalam keadaan seperti ini tidak ada orang lagi yang pergi
menyulut lilin, suasana dalam ruangan pun makin lama semakin gelap.
Pintu gerbang yang tadi sudah ditutup rapat
oleh Phoa Seng-hong, entah sejak kapan telah terbuka lebar kembali.
Ditengah remang-remangnya kegelapan,
tiba-tiba terlihat sesosok bayangan putih berjalan keluar dari balik
pintu, dalam kegelapan, bayangan Itu bagaikan sesosok sukma
gentayangan yang sedang bergerak mendekat.
Ketika bayangan itu semakin mendekat, semua
orang dapat melihat raut mukanya yang cantik jelita, ternyata dia
tidak lain adalah Sui Leng-kong.
Berubah paras muka Li Lok-yang, segea
ujarnya:
"Apakah nona datang untuk menyampaikan pesan
dari Kiu cu Kui bo?"
Sui Leng-kong sama sekali tidak menggubris,
melirik sekejap pun tidak, dia langsung berjalan menuju kehadapan
Thiat Tiong-tong.
"Kau sudah keluar dari sini, mau apa balik
lagi kemari?" tanya Thiat Tiong-tong sambil tertawa sedih.
"Jika kau hidup, akupun akan pergi dalam
keadaan hidup" sahut Sui Leng-kong perlahan, "bila kau benar-benar
ingin mati, akupun tidak ingin hidup, tentu saja aku harus datang
kemari untuk menemanimu"
Meskipun perkataan itu menyangkut masalah
mati hidupnya, namun dia ucapkan dengan santai dan tenang, perasaan
tenangnya yang luar biasa membuat setiap patah katanya pun dapat
diucapkan dengan lancar.
"Jadi kalian berdua bukan anak buah Kiu cu
Kui bo?" Hay Tay-sau segera menegur dengan kening berkerut.
"Walaupun dia ingin menerimaku sebagai
muridnya, tapi aku lebih suka mati!" jawab Sui Leng-kong perlahan.
Hay Tay-sau tertegun, peluh segera
bercucuran bagaikan air hujan, teriaknya kemudian:
"Wouw.... hampir saja aku salah membunuh!"
Dia segera menampar wajah sendiri dua kali,
kemudian katanya lagi:
"Lo sianseng, aku mohon maaf atas
kelancanganku tadi!"
Thiat Tiong-tong tertawa hambar, sahutnya:
"Bagaimana pun kita semua toh bakal mati, mati lebih cepat atau
lebih lambat sama sekali tidak ada bedanya, bila waktunya telah
tiba, silahkan saudara Li mencoba lagi untuk menerjang keluar!"
Kemudian dia berpaling ke arah Sui Leng-kong
dan menambahkan sambil menghela napas:
"Aaai, hanya sayang.....kau harus mati
penasaran"
Sui Leng-kong tertawa.
"Apakah kau berharap aku hidup terus?" dia
bertanya.
"Betul, aku lebih suka mengorbankan
segala-galanya demi kehidupanmu"
"Kau pun berharap semua orang yang berada
disini dapat hidup terus?" kembali Sui Leng-kong bertanya.
"Apa kau bilang?" Thiat Tiong-tong
terkesiap.
"Jika kau benar-benar ingin mengorbankan
segalanya, dapat melupakan semua budi dan dendam, aku pun punya cara
agar semua orang yang berada disini tetap hidup, apakah kau
tersedia?"
Dalam kegelapan meski tidak dapat melihat
jelas perubahan wajah semua orang, namun seluruh ruangan segera
timbul kegaduhan, jelas setiap orang yang hadir disitu sudah
tergerak hatinya oleh perkataan tersebut.
Thiat Tiong-tong sendiripun merasakan
seluruh tubuhnya jadi tegang, serunya:
"Sungguh perkataanmu itu?"
Sui Leng-kong manggut-manggut, dia segera
membalikkan badan sambil berbisik:
"Ikutilah aku!"
Dengan gerakan tubuh yang enteng dia
meninggalkan ruangan tengah, tanpa sadar Thiat tiong-tong mengikuti
di belakangnya.
Gadis cantik yang aneh ini seolah-olah
memiliki semacam daya kekuatan yang luar biasa didalam perkataan
maupun gerak-geriknya, membuat siapa pun merasa sangat percaya
dengan apa yang dia ucapkan.
Semua orang hanya mengawasi bayangan tubuh
mereka berdua berjalan keluar dari halaman lalu lenyap dibalik
kegelapan dengan mata terbelalak, tidak ada yang berusaha menegur,
lebih-lebih tidak ada yang berniat menghalangi.
Kegelapan malam diluar pintu terasa berat
bagai baja, keheningan dan kegelapan yang menyelimuti seluruh
permukaan bumi seakan menghimpit suasana ditempat itu hingga tidak
mampu mengeluarkan sedikit suarapun.
Tanpa bersuara Thiat Tiong-tong mengikuti di
belakang Sui Leng-kong, berjalan masuk ke dalam hutan yang gelap,
bahkan dibalik hutan pun sama sekali tidak terdengar suara apapun,
suara angin, suara jangkrik, seakan semuanya sudah tersumbat mati
oleh kegelapan malam yang mencekam.
Thiat Tiong-tong merasa hatinya tercekat,
perasaan bergidik muncul di dalam hatinya, langkah kakinya makin
ringan, makin cepat, akhirnya secercah cahaya yang lirih muncul
ditengah hutan itu.
Cahaya api berwarna hijau bagaikan api setan
menerangi seluruh hutan, bayangan manusia tampak bergerak kian
kemari dibalik pepohonan, seakan-akan disitu sedang diselenggarakan
pertemuan para sukma gentayangan.
"Apakah sudah datang?" mendadak terdengar
seseorang menegur dengan suara menyeramkan.
"Yaa, sudah datang!" jawab Sui Leng-kong,
Ditengah pepohonan yang rimbun terdapat
sebuah tanah lapang, berpuluh titik cahaya mutiara yang hijau
bergoyang disekeliling tempat itu, bergoyang bagaikan mata sukma
gentayangan yang sedang bergerak.
Dibawah cahaya mutiara hijau tampak bayangan
manusia sedang duduk mengelilingi seseorang, cahaya yang memantul
diwajah mereka, membiaskan sinar hijau yang menyeramkan di tubuh
kawanan manusia tersebut.
Orang yang duduk ditengah bukan lain adalah
Kiu cu Kui bo yang amat termasyur dikolong langit.
Waktu itu dia sudah berganti baju dengan
mengenakan sebuah gaun berwarna hijau pupus, rambutnya disanggul
tinggi, dia sedang duduk bersila.
Thiat Tiong-tong langsung berjalan menuju ke
hadapannya.
Kiu cu Kui bo memperhatikan berapa kejap
wajah pemuda itu, kemudian sambil tertawa seram ujarnya:
"Anak murid Perguruan Tay ki bun memang
selalu memiliki nyali yang jauh lebih besar daripada siapa pun!"
"Dari mana kau bisa tahu kalau aku adalah
anggota Perguruan Tay ki bun?" tanya Thiat Tiong-tong dengan wajah
berubah.
"Aku yang beritahu" kata Sui Leng-kong
perlahan.
"Dia bilang kau menggembol panji darah milik
Perguruan Tay ki bun, benarkah ucapannya?" lanya Kiu cu Kui bo lagi.
"Perkataannya tidak pernah bohong"
"Keluarkan dan perlihatkan kepadaku!"
Thiat Tiong-tong melirik Sui Leng-kong
sekejap, tiba-tiba dia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan
panji berdarah yang disimpan dalam sakunya, kemudian dengan sekali
getaran dia sudah mengibarkan panji tersebut.
Dengan satu gerakan cepat Kiu cu Kui bo
melompat bangun sambil mengawasi panji berdarah itu dengan sorot
mata yang tajam, dia mengawasi hampir setengah perminum teh lamanya,
mengamati tanpa berkedip sedikitpun juga.
"Sudah kau lihat dengan jelas?" tegur Thiat
Tiong-tong kemudian.
Mendadak Kiu cu Kui bo mendongakkan
kepalanya dan menghela napas panjang, setelah duduk kembali, katanya
perlahan:
"Ternyata memang panji darah yang dulu
pernah memerintah di seluruh kolong langit!"
Saat itulah Sui Leng-kong baru berkata lagi:
"Dia orang tua bilang, dikolong langit saat
ini hanya panji berdarah itu yang bisa menyelesaikan pengepungan
yang dilakukannya hari ini, karena itulah aku baru memanggilmu
datang kemari"
"Sungguh?" seru Thiat Tiong-tong dengan
penuh semangat.
"Benar" Kiu cu Kui bo manggut-manggut,
"dulu, perguruan kami pernah menerima budi dari panji ini, kamipun
pernah bersumpah, asal bertemu dengan panji darah sama seperti
bertemu dengan pemilik panji itu, maka semua yang dikatakan pemegang
panji akan ku taati tanpa membantah"
"Kalau begitu......" Thiat Tiong-tong jadi
sangat kegirangan.
"Tunggu sebentar" mendadak Kiu cu Kui bo
membentak keras sambil menukas, "sekalipun kau memiliki panji sakti
itu, tahukah kau peraturan apa yang harus dipegang oleh pemegang
panji?"
Thiat Tiong-tong kembali tertegun, dalam
benaknya dia seakan masih memiliki sedikit bayangan yang buram, tapi
sudah banyak tahun panji sakti tidak pernah munculkan diri,
kebanyakan anggota generasi terakhir Perguruan Tay ki bun boleh
dibilang telah melupakan akan hal ini.
Perlahan-lahan Kiu cu Kui bo berkata lagi:
"Dulu, meskipun Im dan Thiat dua orang cianpwee pernah
memimpin kolong langit dengan mengandalkan panji sakti itu, namun
karena kuatir kehadiran mereka akan sangat mengganggu umat
persilatan lainnya, maka mereka pun membentuk sebuah peraturan bagi
pemegang panji sakti!"
Pada hakekatnya Thiat Tiong-tong sama sekali
tidak mengetahui tentang peraturan itu, karenanya dia tidak berani
menimbrung.
Dengan suara dingin kembali Kiu cu Kui bo
melanjutkan:
"Panji sakti sudah banyak tahun tidak pernah
muncul dalam dunia persilatan, tentang peraturan yang berlaku,
apakah kau akan pulang dulu bertanya kepadanya, ataukah akan
mendengarkan lewat penuturanku sekarang?"
"Cianpwee adalah seorang tokoh persilatan
vang termashur, aku percaya kau tidak bakal membohongi orang"
"Sebutkah dulu nama dari pemegang panji
sakti!" kata Kiu cu Kui bo kemudian dengan nada lierat.
"Thiat Tiong-tong!"
"Thiat Tiong-tong!" bentak Kiu cu Kui bo
keras, "kau seharusnya memegang panji itu dengan kedua belah
tanganmu, berdiri tegap dan pejamkan mata, sejak itu maka setiap
ucapan yang kau katakan akan merupakan perintah dari panji sakti,
oleh sebab itu kau tidak boleh lagi berbicara sesuka hatimu tanpa
dipikirkan dulu, mengerti?" Kemudian setelah berhenti sejenak,
lanjutnya: "Ada satu hal lagi yang perlu kau ingat, perintah hanya
boleh diucapkan bila persoalan itu menyangkut mati hidup seseorang,
lagipula perintahmu tidak boleh melebihi sepuluh patah kata!"
Thiat Tiong-tong merasakan hatinya bergetar
keras, pikirnya:
Tidak boleh melampaui sepuluh patah kata?
Bagaimana caraku menurunkan perintah?"
Dia mencoba memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, suasana disitu dicekam dalam keheningan,
tampaknya semua orang sedang mendengarkan dengan seksama.
Paras muka Kiu cu Kui bo pun berubah amat
serius, dia tidak berkata apa-apa lagi.
Perlu diketahui, dulu para pendiri Perguruan
Tay ki bun selalu bertindak dengan berdasarkan jiwa ksatria,
walaupun panji sakti itu diciptakan dari lumuran darah para penjahat
dan kaum laknat, namun mereka sama sekali tidak pernah menggunakan
alasan balas budi untuk menguasai dan mengendalikan umat persilatan.
Sebagai ungkapan rasa terima kasih umat
persilatan kepada mereka berdua, maka ditetapkan peraturan yang
tidak pernah tertulis ini, yakni dimana panji sakti muncul maka
semua orang wajib mentaati perintahnya.
Im dan Thiat cianpwee berduapun sadar, bila
mereka tidak mengikat diri dengan peraturan maka lama-kelamaan
mereka akan menjadi jumawa dan memberi perintah semaunya sendiri.
Karenanya merekapun menetapkan, jika tidak
menyangkut mati hidup seseorang maka mereka tidak boleh memberi
perintah, sekalipun harus menurunkan perintah pun tidak boleh
melampaui sepuluh patah kata.
Peraturan ini berlaku turun-temurun dan
harus ditaati oleh setiap orang yang memegang panji sakti itu.
Hanya sayang karena belakangan Perguruan Tay
ki bun tertimpa bencana, daya pengaruhnya juga tidak sekuat dulu,
meski ada panji sakti pun belum tentu ada orang mau menuruti
perintahnya, oleh sebab itu para ciangbunjin nya tidak pernah juga
mewariskan peraturan ini kepada generasi berikut.
Dengan sepasang tangan memegang panji sakti
itu, perlahan-lahan Thiat Tiong-tong memejamkan matanya, berbagai
pikiran berkecamuk didalam benaknya, dia mulai bertanya kepada diri
sendiri:
"Apa yang harus kuucapkan dalam
perintahku?"
Bila dia mengatakan: "Harap lepaskan mereka
semua dalam keadaan hidup", ini berarti termasuk musuh besar
Perguruan Tay ki bun pun akan dibebaskan, dia tidak ingin
menggunakan panji sakti untuk menyelamatkan para musuh perguruannya.
Jika dia mengatakan: "Bebaskan saudara
seperguruanku!" maka semua orang yang ada dalam gedung keluarga Li
akan turut mati terkepung, dia tidak tega untuk mencelakai Li
Lok-yang dan putranya yang berjiwa ksatria dan amat seti kawan itu.
Sebaliknya bila dia mengatakan" "bebaskan
saudara seperguruan ku dan anggota keluarga Li" maka orang orang
seperti Hay Tay-sau serta para centeng yang bukan bermarga Li akan
tewas secara mengenaskan disitu.
Tentu saja dia tidak tega mencelakai kawanan
manusia yang tidak bersalah itu.
Untuk sesaat dia hanya berdiri kaku, tidak
sepatah kata pun mampu diucapkan keluar.
Mendadak terdengar Kiu cu Kui bo berseru:
"Bila tidak segera kau sampaikan, perintahmu
tidak berlaku lagi"
Setelah berhenti sejenak, kembali dia
menambahkan:
"Sebenarnya perintah inipun ada batas
waktunya yakni sampai hitungan ke sepuluh, biarpun aku tidak
menghitung tapi aku rasa waktunya sudah tiba!"
Dalam cemas dan gelisahnya buru-buru Thiat
Tiong-tong berseru:
"Menyingkir dan memberi jalan kebebasan,
segera mundur dari sini"
Perlahan-lahan Thiat Tiong-tong menurunkan
kembali tangannya, namun dia masih berdiri kaku, peluh dingin
membasahi jidatnya dan bercucuran membasahi seluruh pakaian yang
dikenakan.
Tiba-tiba terdengar Sui Leng-kong menghela
napas panjang sambil berkata:
"Kusangka kau akan mengucapkan kata-kata
itu"
"Perkataan apa?" tanya Thiat Tiong-tong
dengan wajah berubah.
"Bebaskan orang yang ingin kubebaskan!"
Sekujur tubuh Thiat Tiong-tong segera
gemetar keras, sepasang matanya terbelalak lebar, tiba-tiba dia
menjerit keras lalu muntahkan darah segar, darah yang segera menodai
panji sakti dalam genggamannya.
"Kee....kenapa kau?" tanya
Sui Leng-kong terperanjat.
Dengan air mata berlinang kata Thiat
Tiong-tong:
"Kenapa tidak terpikir olehku akan kalimat
perintah itu?"
Begitu selesai berkata, kembali dia
memuntahkan darah segar, tubuhnya ikut roboh terkapar ke atas tanah.
Buru-buru Sui Leng-kong memeluk tubuhnya dan
berseru dengan air mata bercucuran:
"Kau jangan menyalahkan diri sendiri, jangan
menyalahkan diri, dalam keadaan seperti ini, siapa pun pasti akan
merasa tegang"
Ai Thian-hok yang duduk disamping Kiu cu Kui
bo tiba-tiba menyindir sambil tertawa dingin:
"Jika seorang lelaki sejati ingin membalas
dendam, seharusnya andalkan kepandaian sendiri, jangan manfaatkan
kemampuan orang untuk hapuskan sakit hatimu, lelaki macam apa itu?"
Perkataan tersebut bagaikan sebuah lecut
yang menghajar tubuhnya.
Sekali lagi Thiat Tiong-tong merasakan
hatinya bergetar keras, bagaikan kepalanya diguyur dengan sebaskom
air dingin, dia ter-mangu berapa saat lamanya, kemudian sambil
melompat bangun serunya:
"Terima kasih banyak atas petunjukmu, akan
kuingat terus perkataan ini!"
Ai Thian-hok berseru nyaring:
"Menggunakan siasat bagus untuk menghadapi
orang baik, sekalipun kau lakukan itu dengan cara yang jujur dan
gagah, namun perbuatan semacam ini tidak patut dilakukan oleh
seorang lelaki macam kau....."
"Kata-kata yang indah ini akan selalu
kuingat dalam hati"
Perlahan-lahan Ai Thian-hok bangkit berdiri,
tambahnya dengan suara dalam:
"Oleh karena kuhormati kau sebagai seorang
lelaki sejati, maka aku baru berbicara begitu, Suhu, mari kita
pergi!"
"Boleh tahu siapa nama anda?" teriak Thiat
tiong-tong.
"Perguruan kami hanya satu kali
mendengarkan perintah dari panji sakti, itupun demi mewujudkan
sumpah yang pernah diucapkan dulu, bila kita bersua lagi dikemudian
hari mungkin kita akan berhadapan sebagai musuh, buat apa kau
tanyakan soal ini?"
Sambil mengebaskan ujung bajunya dia segera
bangkit berdiri.
Si bocah pincang buru-buru berjumpalitan dua
kali di udara dan melayang turun di sisinya, teriaknya:
"Suheng, aku ikut bersamamu"
"Bocah nakal" seru Ai Thian-hok sambil
tersenyum, "kenapa kau selalu berjumpalitan? Memangnya sudah tidak
bisa ilmu meringankan tubuh!"
Sambil menarik tangan bocah pincang itu, dia
segera meninggalkan hutan dengan langkah lebar.
Kawanan manusia berbaju hijau yang berada
diseputar hutan pun beramai-ramai bangkit berdiri, ketika berjalan
lewat dari samping Thiat Tiong-tong, satu per satu mereka mengawasi
pemuda itu dengan seksama.
Orang yang berjalan di belakang bocah
pincang itu adalah seorang lelaki berlengan tunggal yang memiliki
perawakan tinggi besar, wajahnya selalu muram tapi langkahnya ringan
bagaikan sedang melayang.
Dibelakang lelaki berlengan tunggal adalah
si manusia kudis yang mirip orang idiot, sambil menengok kearah
Thiat Tiong-tong dan tertawa, ujarnya:
"Kami telah membuatmu kelaparan hampir dua
hari, maaf, maaf.”
Lelaki bermata juling yang mengikuti di
belakangnya segera tertawa seram.
"Saudara Thiat" serunya, "lebih baik jangan
kelewat dekat dengan orang ini, hati-hati kalau sampai tertular
penyakit kudisnya"
Dibawah sinar mutiara berwarna hijau, raut
muka orang ini benar-benar lebih menakutkan daripada setan.
Tanpa sadar Thiat Tiong-tong mundur
selangkah kebelakang, melihat itu sambil tertawa tergelak ke dua
orang itu berjalan keluar meninggalkan hutan.
Dibelakang mereka adalah seorang lelaki
cebol yang berwajah kusut, bermata tikus, berbibir seperti babi dan
giginya bertaring, waktu itu dia sedang mengawasi Thiat Tiong-tong
bagaikan seekor ular berbisa.
Begitu menyaksikan tampang orang itu kontan
saja Thiat Tiong-tong merasakan hatinya bergidik dan sangat muak,
tidak kuasa dia mundur selangkah lagi.
Tiba-tiba dari belakang tubuhnya kedengaran
seorang menimpali sambil tertawa:
"Harap hengtay jangan berkerut kening,
meskipun wajah beberapa orang ini sedikit kurang sedap dipandang,
namun hati mereka jauh lebih haik ketimbang lelaki tampan"
Orang ini berdada ayam dan bungkuk
punggungnya, suaranya keras bagai gembrengan pecah.
Dibelakang orang ini adalah seorang lelaki
tinggi besar bagaikan sebuah pagoda, wajahnya kasar dan dipenuhi
burik sebesar mata uang emas.
Ke enam orang itu ditambah dengan Ai
Thian-hok yang buta serta si bocah pincang berjumlah persis delapan
orang, satu demi satu mereka berjalan lewat dibawah sinar mutiara
berwarna hijau sehingga kelihatan bagaikan sukma gentayangan.
Kembali Thiat Tiong-tong berpikir:
"Kiu cu Kui bo memang luar biasa, entah
darimana dia peroleh anak muridnya ini, masih ada satu orang lagi,
bagaimana pula tampangnya?"
Dia kembali berpaling, tampak seorang pemuda
berbaju putih yang berwajah tampan berjalan mendekat sambil menjura,
sambil menengok ke arahnya pemuda itu melemparkan sekulum senyuman.
Pemuda ini bukan cuma tampan, gerak geriknya
amat sopan, senyumannya sangat ramah.
Kenyataan ini jauh diluar perkiraan Thiat
Tiong-tong, buru buru dia balas memberi hormat seraya berkata:
"Hati hati dijalan hengtay!"
Tapi pemuda itu segera menggelengkan
kepalanya sambil menuding ke telinga dan mulut sendiri, ternyata
walaupun dia memiliki panca indera yang genap dan empat anggota
badan yang sempurna, namun selain tuli, diapun bisu.
Tidak perlu ditanya lagi ke sembilan orang
itu tidak lain adalah sembilan setan yang paling tersohor dan paling
misterius dalam dunia persilatan, sembilan jagoan andalan Kiu cu Kui
bo.
Setelah ke sembilan orang itu keluar dari
hutan, dibelakang mereka mengikuti enam orang gadis cantik berbaju
warna warni.
Biarpun ke sembilan orang setan adalah
kawanan manusia cacad yang berwajah aneh lagi jelek, tapi ke tujuh
iblis wanita justru cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, bukan
saja rambutnya disanggul indah, matanya bening, senyuman pun sangat
menawan hati.
Perempuan pertama adalah seorang gadis
berbaju ungu, sambil mendekati Thiat Tiong-tong katanya sambil
tertawa:
"Jit-moay kami menaruh perhatian yang begitu
besar terhadapmu, aku pikir kau tentu seorang pemuda yang tampan,
bersediakah kau tunjukkan wajah aslimu?"
Lima orang gadis cantik lainnya segera maju
mengerubung.
"Siapakah jit-moay kalian itu?" Tanya Thiat
l'iong-tong kaget.
"Dia!" seru gadis berbaju ungu itu sambil
menuding ke arah Sui Leng-kong.
Thiat Tiong-tong tercekat hatinya, tanpa
terasa dia berpaling kea rah Sui Leng-kong.
Kembali gadis berbaju ungu itu tertawa
cekikikan.
"Sebentar lagi dia akan pergi bersama kami,
sekarang per hatikan dulu wajahnya beberapa kejap!"
"Leng-kong, kau.......kau.......?"
"Sui Leng-kong sudah bergabung dalam
perguruan kami dan menempati urutan paling buncit dari Jit sian cu
(tujuh orang dewi)" kata Kiu cu Kui bo dingin, "berarti mulai saat
ini kau akan jarang sekali dapat bertemu dengannya"
"Tujuh dewi?"
"Betul, ke tujuh orang murid wanita ku
persis seperti tujuh dewi yang baru turun dari kahyangan, mereka
tidak bisa menjamah semua kehidupan keduniawian"
"Bukankah kau sudah mempunyai tujuh orang
murid yang persis menempati posisi tujuh wanita iblis, kenapa kau
harus memaksa dia bergabung denganmu?"
"Lo-jit sudah dinodai Phoa Seng-hong, dia
sudah bukan perawan lagi, kini Sui Leng-kong muncul, kebetulan
sekali dia bisa menempati tempat kosong itu"
"Apakah kau tidak akan mengakui muridmu yang
sudah ternoda?"
"Kalau dewi sudah ternoda oleh napsu
duniawi, tentu saja dia tidak berhak menempati posisi sebagai dewi
lagi" bentak Kiu cu Kui-bo dengan suaara nyaring, "sekalipun aku
harus mewakilinya melakukan pembalasan dendam, namun dia pun harus
diusir keluar dari perguruan"
"Hmm, aku tidak percaya kalau anak muridmu
benar-benar dapat menjaga keperawanan tubuh mereka" jengek Thiat
Tiong-tong sambil tertawa dingin.
Kiu cu Kui bo tertawa terbahak bahak:
"Hahahaha.... aku justru akan suruh
kau mempercayainya"
Ditengah gelak tertawa yang keras, dia
memberi tanda sambil serunya:
"Anak anak, tunjukkan kepadanya!"
Gadis berbaju merah itu segera tertawa
cekikikan, ujarnya:
"Thiat siangkong, pentang matamu lebar
lebar"
Sambil berkata dia menggulung lengan bajunya
dan mem perlihatkan pergelangan tangan-nya yang putih dan mulus.
Kelima orang gadis lainnya segera mengikuti
gerakannya dengan menggulung lengan baju masing-masing.
Thiat Tiong-tong segera memperhatikan dengan
seksama, biarpun hanya disinari cahaya hijau yang redup dari
mutiara, namun ke lima buah lengan tersebut kelihatan begitu putih,
halus dan lembut, bagaikan lengan orok yang baru lahir.
Pada ke enam lengan yang putih itu, tepatnya
dibawah bahu, terlihat ada sebuah tahi lalat berwarna merah cerah,
warna merah itu segar dan kontras dibalik kulit tubuh yang putih,
tapi jelas dapat dilihat kalau benda itu tidak lain adalah tahi
lalat tanda keperawanan.
Tidak kuasa lagi Thiat Tiong-tong menghela
napas panjang, pikirnya:
"Nama besar tujuh wanita iblis sudah
tersohor di seantero dunia persilatan, selama ini orang beranggapan
mereka adalah sekawanan iblis wanita yang cabul dan suka
merusak kaum pria, tak disangka ternyata mereka adalah gadis-gadis
suci yang bisa menjaga keperawanan masing-masing. Phoa Seng-hong
telah menodai seorang gadis suci bersih, tidak heran jika orang lain
datang mencarinya untuk membalas dendam"
Tiba-tiba terlihat ada sesosok bayangan
manusia melintas masuk ke dalam hutan, orang itu berbaju putih
dengan gerakan tubuh yang cepat dan lincah, dia tidak lain adalah Im
Ceng, anak murid Perguruan Tay ki bun.
Setibanya ditempat tersebut, dia segera
memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan cepat
berdiri dihadapan Thiat Tiong-tong dengan sikap melindungi.
"Im kongcu, mau apa kau datang kemari?"
tidak tahan Thiat Tiong-tong bertanya.
"Aku menguatirkan keselamatanmu, maka tidak
tahan untuk kemari menengokmu!"
Thiat Tiong-tong seketika merasakan hawa
panas bergolak dalam dadanya, serunya lagi:
"Aku sama sekali tidak kenal dengan Im
kmigcu, kenapa Im kongcu menaruh perhatian besar terhadapku?"
"Kau telah selamatkan aku dari jebakan
wanita busuk, tanpa pertolonganmu, mungkin aku akan menjadi manusia
paling berdosa bagi Perguruan Tay ki bun, budi ini sangat besar,
mana boleh aku tidak membalasnya?"
"Jadi kaupun anak murid Perguruan Tay ki
bin?" tegur Kiu cu Kui bo tiba-tiba sambil menarik muka.
"Benar" sahut Im Ceng sambil membusungkan
dada, "akulah Im Ceng, putra dari ciangbunjin perguruan Tay ki bun,
mau apa kau?"
"Kalian berdua sama-sama anggota Perguruan
Tay ki bun, kenapa bilang tidak saling mengenal?
Sebenarnya sandiwara apa yang sedang kalian
mainkan dihadapanku?" tegur Kiu cu Kui bo lagi dengan suara keras.
Thiat Tiong-tong merasakan tubuhnya bergetar
keras, sementara Im Ceng dengan perasaan terperanjat segera
berpaling, mengawasi rekannya tajam tajam sembari menghardik:
"Jadi kaupun anggota Perguruan Tay ki bun?
Siapa bilang kaupun anggota Perguruan Tay ki bun?"
Untuk sesaat Thiat Tiong-tong terbungkam,
tidak mampu berbicara.
Kiu cu Kui bo kembali berkata:
"Orang ini memiliki panji sakti dari
Perguruan Tay ki bun, mana mungkin dia bukan anggota Perguruan Tay
ki bun? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Cepat katakan!"
"Aku mempunyai kesulitan yang tidak bisa
diungkap........" Thiat Tiong-tong menghela napas sedih.
"Suhu" Sui Leng-kong segera menimbrung,
"lebih baik kau orang tua jangan mendesaknya lagi!"
Dengan pandangan dingin Kiu cu Kui bo
memandang Thiat Tiong-tong berapa kejap, kemudian ujarnya:
"Baiklah, sepuluh hari kemudian aku akan
mengundangmu untuk menjelaskan persoalan ini, sementara waktu aku
bebaskan dirimu"
"Terima kasih suhu" cepat Sui Leng-kong
menyembah.
Kiu cu Kui bo menarik lengan bajunya, dengan
sekulum senyuman ramah menghiasi bibirnya dia berbisik:
"Anak baik, ayoh kita pergi!"
Sui Leng-kong manggut-manggut, tanpa bicara
dia menengok mengawasi Thiat Tiong-tong sekejap, waktu itu Thiat
Tiong-tong juga sedang menatapnya, ketika empat mata saling
bertemu, mereka seolah merasa ada banyak perkataan yang hendak
disampaikan, namun tidak sepatah katapun mampu diutarakan.
Tatapan mata yang berlangsung cukup lama
seolah telah saling menjalin suatu perasaan cinta yang tidak
terhingga. Akhirnya Sui Leng-kong telah pergi, pergi dengan membawa
bau harum, pergi dengan meninggalkan perasaan kehilangan yang
mendalam.
Setelah bayangan tubuh ke dua orang itu
lmyap dari pandangan, Im Ceng baru melotot kearah Thiat
Tiong-tong, tiba-tiba dia mencengkeram bahunya sambil berteriak:
"Mereka telah pergi, bagaimana penjelasanmu
kepadaku?"
"Saat ini aku masih belum dapat memberi
penjelasan"
"Kau tidak dapat menjelaskan berarti kau
memang anggota Perguruan Tay ki bun gadungan, jika kau adalah
anggota Perguruan Tay ki bun gadungan, hari ini jangan harap bisa
meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat" hardik Im ceng.
Thiat Tiong-tong tertawa getir.
"Sekalipun aku hanya anggota Perguruan Tay
ki bun gadungan, tapi kulakukan hal ini toh demi menyelamatkan nyawa
kalian semua, kenapa kau malah ingin membunuhku? Membalas air susu
dengan air tuba?"
Dengan penuh amarah
kembali Im Ceng berteriak:
"Kau telah selamatkan nyawa dari begitu
banyak musuh besar Perguruan Tay ki bun dengan menggunakan panji
sakti milik perguruan kami, bagaimana mungkin aku bisa berterima
kasih kepadamu?"
"Walaupun aku telah selamatkan jiwa mereka,
tapi akupun telah selamatkan nyawa dari begitu banyak lelaki ksatria
dari gedung keluarga Li, apakah kau sudah melupakan akan hal ini?"
"Bagaimana pun juga, aku harus bertanya dulu
kepadamu, darimana kau dapatkah panji sakti itu?"
"Soal inipun kau tidak perlu tahu"
“Panji darah adalah panji sakti pusaka
perguruan, kenapa aku tidak berhak untuk mengetahuinya?" teriak Im
Ceng makin gusar.
"Walaupun kau tidak perlu tahu, namun kau
punya hak untuk mengambil balik"
"Panji sakti itu berada dimana sekarang?"
Dari dalam sakunya Thiat Tiong-tong
mengambil keluar panji darah itu, lalu dengan suara berat ujarnya:
"Panji sakti ini merupakan pusaka perguruan,
pemegangnya mempunyai kedudukan diatas posisi ciangbunjin, setelah
kau mendapatkan kembali panji ini, kuharap bertindaklah lebih
berhati-hati!"
Baru saja Im Ceng akan menerima panji sakti
itu, mendadak dia mundur selangkah sambil berseru:
"Bila kau bukan anggota Perguruan Tay ki
bun, tidak mungkin kau akan serahkan panji sakti itu kepadaku, pun
tidak akan mengetahui seluk beluk perguruan sejelas itu. Sebaliknya
bila kau adalah anggota Perguruan Tay ki bun, kenapa harus mengakui
bahwa dirimu gadungan? Tadinya aku benar-benar tidak habis mengerti
dengan persoalan ini, tapi sekarang aku sudah tahu"
"Karena apa?" tidak tahan Thiat Tiong-tong
berseru.
"Karena dalam Perguruan Tay ki bun terdapat
seorang murid murtad yang tidak berani berjumpa denganku" kata Im
Ceng sepatah demi sepatah kata, "karena merasa bersalah, dia jadi
malu sendiri"
"Apa yang telah dia lakukan?" tanya Thiat
Tiong-tong dengan perasaan terkesiap.
Sinar berapi api memancar keluar dari balik
mata Im Ceng, dia tertawa dingin.
"Hmm, disaat aku sedang terluka parah,
ketika nyawaku sedang diujung tanduk, dia telah meninggalkan aku,
bahkan dengan tebalkan muka mengaku musuh sebagai ayah"
"Kalau memang begitu, kenapa kau bisa hidup
hingga sekarang?"
"Untung lukaku waktu itu sangat parah hingga
tidak dijaga secara ketat, tampaknya mereka baru akan menginterogasi
setelah aku sadar dari pingsanku!"
"Benarkah perkataanmu itu?" berubah wajah
Thiat Tiong-tong.
"Buat apa aku berbohong?" teriak Im Ceng
gusar, "semua kejadian itu kualami sendiri, pelajaran itu kuperoleh
dari cucuran darah, buat apa aku mesti berbohong?"
"Aaai, kau salah paham!" Thiat Tiong-tong
menghela napas panjang.
"Salah paham?" Im Ceng tertawa seram, "kalau
salah paham, kenapa kau tidak berani bertemu aku?"
Thiat Tiong-tong tertegun.
"Aku..........."
"Thiat Tiong-tong!" teriak Im Ceng semakin
gusar, "urusan sudah jadi begini, buat apa kau masih berlagak pilon?
Kalau bukan Thian maha adil sehingga aku sempat mendengarkan
pembicaraanmu dengan Suto Siau, kalau bukan nasibku lagi mujur
hingga sempat kabur dari musibah itu, mungkin di kolong langit
benar-benar tidak ada yang tahu akan perbuatan terkutukmu yang telah
menghianati perguruan dan menjual rekan sendiri. Sekarang Thian
telah memberi kesempatan kepadaku untuk bisa bertemu lagi denganmu,
apa lagi yang hendak kau katakan? Thiat Tiong-tong, serahkan
nyawamu!"
Dengan cekatan Thiat Tiong-tong membalik
tubuhnya, mundur sejauh tiga langkah, serunya sambil menghela napas
sedih:
"Samte, sekalipun ingin membunuhku,
seharusnya dengarkan dulu penjelasanku"
Im Ceng tertawa dingin.
"Percuma, biar kau menjelaskan sampai
lidahmu berbunga pun tidak bakal aku percaya lagi kepadamu"
"Sebetulnya waktu itu aku hanya membohongi
Suto Siau agar dia percaya kepadaku, kemudian baru mencari
kesempatan untuk melarikan diri"
Dia tidak segan mempertaruhkan nyawa sendiri
untuk ditukar dengan keselamatan Im Ceng, tapi kini Im Ceng justru
menaruh kesalah pahaman yang begitu mendalam terhadapnya.
"Apakah waktu itu kaupun kabur dari sana?"
jengek Im Ceng sambil tertawa dingin.
Thiat Tiong-tong mengangguk sedih.
"Waktu itu aku kabur dengan penuh
penderitaan, bila kuceritakan, belum tentu kau mau percaya"
"Tentu saja aku tidak akan percaya" Im Ceng
tertawa seram, "jangan lagi persoalan lain, waktu itu kau terluka
parah bahkan sudah terjatuh ke tangan Suto Siau, bagaimana mungkin
masih sempat melarikan diri?"
"Tapi begitulah kenyataannya, kau ingin
bagaimana baru mau percaya?"
"Biar kau bunuh akupun, aku tetap tidak akan
percaya!" teriak Im Ceng nyaring.
Baru selesai perkataan itu diucapkan,
tiba-tiba dari luar hutan berkumandang suara gelak tertawa
seseorang.
Menyusul gelak tertawa itu, Suto Siau
melayang masuk ke dalam hutan, serunya lagi sambil tertawa:
"Tiong-tong, kalau toh dia tidak percaya yaa
sudahlah, buat apa kau mesti mengajaknya berdebat?"
"Betul-betul manusia berhati keji!" umpat
Thiat Tiong-tong dengan wajah berubah.
Dia sadar, dengan sikap dan perkataan Suto
Nian, kesalahan pahamnya dengan Im Ceng bakal bertambah mendalam.
Betul saja, Im Ceng kontan tertawa seram.
"Bagus, bagus sekali!" teriaknya, "Thiat Tiong-tong wahai
Thiat Tiong-tong, kendatipun kau berusaha
mungkir, kini Suto Siau sudah mewakilimu mengakui, apa lagi yang
akan kau katakan?"
Dengan sekali lompatan Thiat Tiong-tong
menyerbu ke hadapan Suto Siau.
"Hahahaha.... urusan telah berkembang jadi
begini, buat apa kau membohonginya lagi?" kembali Suto Siau berkata
sambil tertawa.
Sambil tersenyum dia segera menggapai ke
luar lilitan, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Phoa Seng hong
segera bermunculan dari balik pepohonan.
Kembali Suto Siau melanjutkan sambil
tertawa: "Bagaimana pun juga, semua orang yang hadir disini
adalah orang orang kita, apalagi yang mesti kautakuti?"
"Benar" sambung Pek Seng-bu sambil tertawa
pula, "asal kita habisi nyawanya, didunia ini tidak mungkin ada
orang yang mengetahui rahasiamu lagi, dan kau tetap bisa menjadi
mata-mata dalam Perguruan Tay ki bun!"
Dengan penuh kemarahan dan rasa dendam Thiat
Tiong-tong menggigit bibir sambil menutup rapat mulutnya, dia sadar,
fitnahan ini tidak mungkin bisa dibantah dengan alasan apa pun.
Dalam pada itu Im Ceng telah mengepal
tinjunya kencang kencang, setelah menyapu sekejap sekeliling tempat
itu mendadak teriaknya:
"Thiat Tiong-tong, aku beritahu padamu,
sekalipun harus pertaruhkan nyawa aku tetap akan berusaha kabur dari
sini!"
"Huuh, murid Perguruan Tay ki bun bisanya
kabur juga?" ejek Hek Seng-thian sambil tertawa dingin.
"Aku harus kabur dari sini karena aku ingin
menyiarkan penghianatannya ke seluruh dunia, agar semua orang tahu
akan perbuatan busuk yang dia lakukan" jerit Im Ceng makin gusar.
Begitu selesai bicara, dia langsung
menerjang ke arah Pek Seng-bu.
Dari kejauhan Suto Siau segera memberi
kerdipan mata kepada Pek Seng-bu, tampaknya Pek Seng-bu memahami
rencana rekannya .....saat itulah kepalan Im Ceng telah menyodok
tiba.
Saat ini dia hanya berniat meloloskan diri
secepatnya, tidak heran kalau tenaga pukulan yang dilontarkan sangat
dahsyat, dengan tangan kiri melindungi dada, kepalan kanannya
menyodok ke iga Pek Seng-bu, belum lagi serangannya tiba, angin
pukulan yang kuat sudah mengibarkan ujung baju lawan.
Cepat Pek Seng-bu mengayunkan tangannya dan
langsung membabat urat nadi di pergelangan tangan lawan.
Siapa tahu serangan dari Im Ceng itu hanya
serangan tipuan, baru sampai setengah jalan, kepalan kirinya
mendadak memutar keluar dari bawah ketiak kanannya dan menghantam
dagu Pek Seng-bu dengan jurus Sik po thian keng (batu hancur
langit bergetar).
Agaknya Pek Seng-bu tidak menyangka kalau
dia akan mengubah jurus serangannya secepat itu, sementara dia masih
kaget dan gugup, Im Ceng lelah melancarkan serangkaian tendangan
berantai, tiga jurus serangan seakan dilancarkan hampir berbareng.
Diantara deruan angin tendangan dan bayangan
pukulan, tubuh Pek Seng-bu terdorong maju sejauh berapa, langkah,
seolah termakan oleh pukulan dari Im Ceng, langkahnya jadi gontai
hingga terpaksa harus menyingkir ke samping dan memberi jalan lewat.
Pertarungan antara ke dua orang itu
berlangsung hanya sekejap mata, tujuan utama Im ceng memang ingin
cepat lolos dari kepungan, dia tidak mau bertarung lebih jauh,
setelah berputar di tengah udara secepat kilat tubuhnya melesat
keluar dari hutan.
Suto Siau dan Hek Seng-thian serentak
membentak nyaring:
"Kejar! Mau kabur ke mana kau!"
Tubuh mereka berdua tetap berdiri menggencet
disamping Thiat Tiong-tong, biar teriakannya nyaring, kaki mereka
sama sekali tidak bergeser.
Ketika Im Ceng sudah pergi jauh, Pek Seng-bu
buru berkata sambil tertawa tergelak:
"Hahahaha.... bagaimana dengan lagakku
pura-pura kalah? Sudah cukup persis belum?"
"Betul-betul mirip, betul-betul hebat" puji
Suto Siau sambil bertepuk tangan.
"Tapi sejujurnya, gerak serangan bajingan
itu cukup tangguh!"
"Sehebat secanggih apapun gerak
serangannya, memang dia benar benar mampu kabur dari sergapan
saudara Pek hanya dalam tiga gebrakan?" tukas Suto Siau sambil
tertawa.
Ke tiga orang itu saling berpandangan sambil
tertawa tergelak, suara tertawa mereka penuh diliputi perasaan
bangga dan puas.
Sesaat kemudian Suto Siau baru berpaling ke
arah Thiat Tiong-tong, katanya:
“Tahukah kau, apa sebabnya kami bertiga
tidak menghabisi nyawa Im Ceng, sebaliknya malah membiarkan dia
kabur?"
"Hmm. Kau memang berniat mengadu domba kami
berdua" dengus Thiat Tiong-tong sinis.
Sekali lagi Suto Siau tertawa
terbahak-bahak.
"Hahahaha...... tepat, tepat sekali"
katanya, "dengan membiarkan dia melarikan diri kali ini, sama
artinya aku telah menciptakan seorang musuh bebuyutan untukmu,
selama hidup jangan harap dia bisa melepaskan dirimu dengan begitu
saja"
Dalam hati kecilnya Thiat Tiong-tong merasa
sedih sekali, namun diluaran sahutnya dengan ketus:
"Hmmm, kami adalah sesama saudara
seperguruan, sekalipun timbul kesalahan paham, akhirnya toh akan
beres dengan sendirinya"
"Benarkah?" jengek Suto Siau sambil tertawa
licik, "mendengar kan perkataanmu saja tidak sudi, bahkan dalam
pikirannya hanya ingin menghabisi nyawa murid murtad secepatnya,
mana mungkin kesalahan paham ini bisa diselesaikan begitu saja"
Hampir meledak rasa mendongkol Thiat
Tiong-tong setelah mendengar perkataan itu, tidak tahan teriaknya:
"Bajingan laknat, kau......."
"Betul, aku memang bajingan laknat" tukas
Suto Siau lagi sambil tertawa, "tapi bila dibandingkan nama busukmu
dikemudian hari, mungkin posisiku jauh lebih mendingan ketimbang
kau"
Kemudian setelah berhenti sejenak,
lanjutnya: "Saudara Thiat, sekarang kau sudah menjadi murid murtad
dari Perguruan Tay ki bun, bukan saja Im Ceng ingin membunuhmu,
gurumu pasti akan berusaha menjalankan peraturan perguruan, kalau
dugaanku tidak salah, kawanan jago persilatan yang menganggap diri
mereka sebagai para pendekar sejati pun tidak
bakalan melepaskanmu dengan begitu saja. Hahahaha.....mulai sekarang
kau akan menghadapi ancaman di mana-mana, tidak ada tempat lagi
bagimu untuk tancapkan kaki dalam dunia persilatan, saudara Thiat,
aku pikir kau pasti menyadari akan hal ini bukan"
"Sekalipun begitu, tidak ada urusannya
denganmu!"
Kembali Suto Siau tertawa dingin.
"Seharusnya hengtay tahu diri, dengan
situasi yang kau hadapi sekarang semestinya paling cocok bila
bergabung dengan kami semua, kalau tidak......"
"Kalau tidak kenapa?" tukas Thiat
Tiong-tong.
"Hahahaha..... kalau tidak bakal terjadi
apa, masa hengtay sendiripun tidak tahu?"
"Betul" sambung Hek Seng-thian pula sambil
tertawa, "lebih baik kau ambil keluar semua harta karun yang
diperoleh dari dalam gua dan bersama kami membangun satu usaha
besar, tindakan ini lauh lebih menggembirakan daripada harus
menerima tekanan dari Perguruan Tay ki bun"
"Jangan didesak terus" cegah Pek Seng-bu
cepat, "apa salahnya kalau kita beri kesempatan lagi untuk saudara
Thiat agar bisa dipertimbangkan kembali usulan ini!"
"Betul, betul sekali" seru Phoa Seng-hong
pula sambil tertawa keras, "lebih baik kita balik dulu ke gedung
keluarga Li sambil menikmati hidangan dan arak, urusan lain toh bisa
kita bicarakan perlahan-lahan"
Ke empat orang ini benar benar telah
menggunakan semua cara mengancam, membujuk, merayu maupun memaksa
untuk menggiring pemuda itu masuk ke dalam perangkap. Tapi sikap
Thiat Tiong-tong justru berubah makin dingin, kaku, tanpa sedikit
perasaaanpun, siapa pun tidak dapat menduga apa gerangan yang sedang
dia pikirkan.
"Hengtay, mari kita pergi!" kata Suto Siau
kemudian sambil merangkul bahu pemuda itu.
Thiat Tiong-tong tidak bisa menyingkir,
terpaksa dia keluar dari dalam hutan mengikuti ke empat orang itu
dan menuju ke gedung keluarga Li.
Diluar pintu gerbang terlihat ada sesosok
bayangan manusia berkelebat lewat, agaknya Un Tay-tay sedang berdiri
didepan pintu sambil mengawasi situasi diseputar sana.
Sambil menuding bayangan manusia itu seru
Suto Siau seraya tersenyum:
"Sekarang kita sudah menjadi orang sendiri,
siaute pun tidak ingin merahasiakan sesuatu lagi kepadamu, tahukah
hengtay siapa sebenarnya Un Tay-tay ini?"
Tidak menunggu jawaban dari lawan, dia
segera menambahkan:
"Un Tay-tay sebenarnya adalah istri
simpanan-ku, tapi bila hengtay memang berminat dengannya, siaute
bersedia segera putus hubungan dengan perempuan ini!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, Un
Tay-tay sudah melompat keluar dari balik pintu dan mendekati mereka
semua, ketika melihat Thiat Tiong-tong berjalan berdampingan dengan
Suto Siau, bahkan mereka tampak berhubungan begitu akrab, perempuan
itu seketika menghentikan langkahnya dan berdiri termangu, saking
tertegunnya sampai perkataan yang hampir terucap keluar pun segera
ditelan kembali.
Sambil tertawa terbahak-bahak Suto Siau
segera berkata:
"Un Tay-tay, mulai sekarang saudara Thiat
adalah orang sendiri, kau tidak dilarang untuk berhubungan mesra
dengannya sekalipun berada dihadapanku"
Un Tay-tay mengangkat wajahnya, memandang
Thiat Tiong-tong dengan termangu.
Sorot mata Thiat Tiong-tong sama sekali
tanpa emosi, tiba-tiba Un Tay-tay menutupi wajah sendiri dan lari
masuk ke dalam sambil menangis tersedu-sedu, pakaian yang dikenakan
kelihatan bergelombang kencang ketika tertimpa cahaya malam.
"Hahahaha.... bagus, bagus sekali!" kembali
Suto Siau tertawa terbahak bahaka, "tidak kusangka ternyata dia
benar-benar sudah jatuh hati kepada saudara Thiat, benar-benar satu
peristiwa yang patut dirayakan"
Sekalipun gelak tertawanya nyaring, namun
tidak dapat menutupi rasa cemburunya yang meluap.
Perlu diketahui, dia sama sekali tidak
pernah menyukai Un Tay-tay namun diapun enggan ditinggalkan
perempuan itu, apalagi membiarkan dia jatuh cinta kepada lelaki
lain.
Tapi berhubung dia sendiri yang memutuskan
untuk meninggalkan Un Tay-tay, tentu saja tidak sebesar penderitaan
yang dialami dalam hatinya...... inilah keegoisan seorang lelaki,
lelaki mana pun tidak akan tahan menghadapi penderitaan karena
ditinggalkan perempuan, bahkan seringkah dia lebih suka membiarkan
penderitaan tersebut dirasakan oleh perempuan itu sendiri....
menikmati penderitaan orang lain, bagi orang tertentu justru
merupakan semacam kenikmatan.
Ditengah gelak tertawa nyaring, cahaya
lentera segera menerangi seluruh ruangan, Li Lok-yang dan Li
Kiam-pek berdua muncul dari balik pintu.
Bi lek hwee dan Hay Tay-sau mengikuti
dibelakangnya, hampir semua orang tampil dengan wajah tegang,
senjata masih terhunus, tampaknya mereka belum tahu kalau kepungan
diluar telah dibubarkan.
Ketika menyaksikan sikap Suto Siau sekalian
yang tampak begitu santai, Li Lok-yang tertegun, tanyanya keheranan:
"Apakah hengtay sekalian tidak apa apa?"
"Kalau disini ada saudara Thiat, semua
urusan tentu akan beres dengan sendirinya" sahut Suto Siau sambil
tertawa nyaring.
"Mana Kiu cu Kui bo?"
"Mungkin saat ini sudah berada setengah li
dari sini"
Wajah Li Lok-yang yang tegang pun
perlahan-lahan mengendor kembali, namun sorot matanya yang tajam
masih diliputi tanda tanya besar dan mengawasi wajah Suto Siau serta
Thiat Tiong-tong tanpa berkedip, jelas dia berharap bisa
mendengarkan kisah kejadian yang sebenarnya.
Namun Suto Siau sengaja tidak bicara,
sementara Thiat Tiong-tong pun seakan sudah menjadi orang bisu,
tidak sepotong perkataanpun yang diutarakan.
Hanya Pek Seng-bu yang berkata sambil
tersenyum:
"Kiu cu Kui bo pasti mempunyai alasan yang
kuat untuk memberi muka kepada kita semua, toh sekarang orangnya
sudah pergi, buat apa saudara Li banyak bertanya lagi"
Benar saja, Li Lok-yang tidak bertanya lagi,
lapi dia semakin menaruh curiga terhadap asal usul Thiat Tiong-tong,
dengan kening berkerut dia persilahkan tamunya untuk masuk ke dalam
mangan.
Gedung keluarga Li yang semula sunyi senyap
pun dalam waktu singkat muncul kembali
kehidupan..... perasaan hati yang selama ini
tertekan oleh bayang-bayang kematian, dalam waktu singkat telah
hilang tak berbekas.
Perasaan sedih dan iba seringkah merupakan
ungkapan perasaan yang paling nyata dalam setiap peristiwa.....
disaat manusia menghadapi rasa takut dan ngeri dalam menghadapi
kematian, biasanya perasaan mereka akan jadi kaku dan hilang rasa,
tapi sekarang semua orang mulai merasa sedih dan iba terhadap rekan
rekannya yang tewas, mulai merasa betapa berharganya nyawa yang
dimiliki.
Cara kerja keluarga kenamaan ini memang luar
biasa, tidak sampai berapa saat kemudian semua jenazah telah
dikubur, bahan makanan yang dibutuhkan pun sudah didatangkan, bahkan
pintu gerbang yang semula kotor oleh darah pun kini sudah berkilat
dan bersih sekali.
Sayang nyawa yang terlanjur melayang tetap
melayang, selamanya tidak bisa kembali lagi.
Selama ini Suto Siau, Hek Seng-thian serta
Pek Seng-bu tidak pernah bergeser setengah inci pun dari sisi Thiat
Tiong-tong.
Hay Tay-sau dengan matanya yang tajam bagai
elang juga mengawasi terus gerak gerik Phoa Seng-hong.
Bi lek hwee sambil bergandong tangan
sebentar duduk, sebentar berdiri, dia nampak tidak tenang, sedangkan
Li Lok-yang dan putranya meski nampak sangat repot namun keningnya
berkerut kencang, agaknya ada masalah berat yang mengganjal hati
mereka.
Tiba tiba Hay Tay-sau tertawa dingin sambil
menyindir:
"Ada sementara orang walaupun kelihatannya
pintar, padahal gobloknya setengah mati, semestinya ada peluang
untuk diam-diam kabur, dia justru hingga sekarang masih bercokol
disini"
Phoa Seng-hong sengaja berpaling ke arah
lain, dia berlagak seperti tidak mendengar perkataan itu.
Sebaliknya Bi lek hwee tidak bisa menahan,
diri, segera tegurnya:
"Siapa yang hengtay maksudkan?"
"Biarpun pertempuran sudah berlalu tapi
biang kerok yang menimbulkan musibah ini justru masih bercokol
dengan tenangnya, orang semacam ini masa kita biarkan berlagak
terus?"
Paras muka Phoa Seng-hong berubah hebat, Bi
lek hwee pun kelihatan mulai naik pitam, dengan penuh amarah dia
berpaling ke arah Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu lalu hardiknya:
"Betul, pertempuran sudah lewat, pertikaian
diantara kitapun sudah saatnya untuk diselesaikan!"
"Kita toh sesama saudara sendiri" ujar Hek
Seng-thian sambil tersenyum, "kalau memang ada persoalan, mari kita
bicarakan baik baik"
"Kembalikan dulu muridku sebelum
berbicara!" bentak Bi lek hwee nyaring.
"Bila hengtay mengajak aku ribut dalam
suasana dan situasi seperti ini, rasanya kaulah yang bakal rugi"
ujar Hek Seng-thian dengan tenangnya, kemudian sambil tersenyum dan
berpaling ke arah Suto Siau, lanjutnya, "bukan begitu saudara Suto?"
"Kelihatannya memang begitu" jawab Suto Siau
sambil tersenyum.
Berubah paras muka Bi lek hwee.
"Jadi saudara Suto akan membantunya?"
Suto Siau hanya tersenyum tanpa menjawab,
orang ini nyaris sepanjang hari hanya menampilkan senyuman
hambarnya, membuat orang susah menebak arti sesungguhnya dari
senyuman itu.
Bi lek hwee mencoba memandang sekejap
sekeliling tempat itu, agaknya berusaha mencari bantuan, tapi anak
buahnya sudah keburu pergi dari situ sedang orang lain pun sama
sekali tidak berminat untuk mencampuri urusan ini.
Diam-diam dia menghela napas, selain kecewa
hatinya panas dan marah.
Untunglah pada saat itu Li Lok-yang muncul
kembali dengan langkah lebar, dengan nyaring dia berseru:
"Jika kalian masih ada urusan lain, silahkan
dilanjutkan setelah mengisi perut!"
Kemudian setelah berhenti sejenak,
tambahnya:
"Waktu itu akupun ada berapa patah kata yang
ingin kusampaikan kepada kalian semua"
Tidak lama kemudian diatas meja telah ditata
hidangan yang meski tidak terlampau lezat namun cukup mengenyangkan
perut.
Dalam keadaan situasi seperti ini, biarpun
dia seorang. peminum juga tidak ada selera untuk minum arak, biarpun
dia banyak masalah pun untuk sesaat semuanya dikesampingkan dulu,
hidangan sudah berada didepan mata, sementara waktu mereka tidak
ingin mengurusi hal yang lain kecuali mengisi perut secepatnya.
Sejak dulu hingga sekarang, kelaparan
merupakan musuh paling besar bagi umat manusia, sehebat dan
setangguh apapun seorang enghiong, tidak nanti dia sanggup melawan
rasa lapar.
Kini suara yang terdengar dalam ruangan
hanyalah suara orang bersantap, selang sesaat kemudian tiba-tiba Hek
Seng-thian meletakkan kembali sumpitnya seraya berteriak kaget:
"Aduh celaka!" paras mukanya ikut berubah.
"Ada apa?" cepat Suto Siau bertanya.
"Ada seseorang yang tidak ikut bersantap!"
"Benarkah......ooh" Li Lok-yang
mengernyitkan alis matanya, setelah melirik Thiat Tiong-tong
sekejap, serunya sambil ber paling, "Kiam-pek, kenapa kau
tidak mengundang..... nyonya itu untuk ikut bersantap......"
Belum selesai dia berkata, Hek Seng-thian
sudah lari keluar.
"Sungguh aneh" gumam Hay Tay-sau dengan
kening berkenyit, "sejak kapan dia mencemaskan bini orang yang tidak
ikut bersantap, ini namanya kaisar tidak gelisah justru sang thaykam
yang panik"
Siapa tahu belum selesai dia berkata, Pek
Seng-bu sudah ikut berlarian pula meninggalkan ruangan.
Suto Siau meski lebih dapat mengendalikan
diri dan sama sekali tidak bergerak dari tempat duduknya, namun
kelihatan sekali kalau wajahnya berubah.
Tentu saja ke tiga orang ini kuatir Un
Tay-tay dengan membawa harta karun melarikan diri terlebih dulu,
sementara Bi lek hwee dan Hay Tay-sau sekalian sama sekali tidak
tahu duduknya persoalan, tentu saja mereka sangat keheranan setelah
melihat kegugupan ke tiga orang itu.
S
Setelah mendeham berapa kali, Suto Siau
berbisik ke sisi telinga Thiat Tiong-tong:
"Saudara Thiat, harta karun itu apakah kau
gembol dalam sakumu?"
Thiat Tiong-tong termenung sampai lama
sekali, kemudian baru ujarnya ketus:
"Bila kau jadi aku, akan kau simpan dimana
barang-barang itu? Mana ada tempat yang jauh lebih aman daripada
disisi diri sendiri?"
Suto Siau tertegun, akhirnya sambil
menghentakkan kakinya dia berseru:
"Waah, kalau begitu runyam sudah
urusannya!"
Buru-buru dia beranjak dari tempat duduknya
dan ikut lari keluar dari ruangan. Tapi baru setengah jalan, dia
sudah menghentikan kembali langkahnya.
Melihat itu Thiat Tiong-tong segera berseru:
"Aku sudah tidak punya tempat untuk dituju,
rasanya kau tidak perlu menjaga disisiku lagi"
Suto Siau segera mengerdipkan matanya
memberi kode kepada Phoa Seng-hong, kemudian baru melanjutkan
kembali perjalanannya keluar dari ruangan.
Perlu diketahui, ke tiga orang ini
menganggap harta karun adalah segala-galanya, oleh sebab itu
persoalan yang lain mereka anggap sudah tidak penting lagi.
Li Lok-yang dan Hay Tay-sau sekalian, hanya
bisa saling berpandangan dengan mulut melongo.
Sambil menggebrak meja Bi lek hwee kontan
mengumpat:
"Permainan busuk apa yang sebenarnya sedang
mereka bertiga lakukan? Benar-benar bikin hatiku mendongkol!"
"Kalau memang ingin tahu, kenapa tidak
segera menyusul mereka untuk memeriksa sendiri?" sela Thiat
Tiong-tong.
"Aaah, benar juga! Lohu memang seharusnya
menyusul ke sana!" seru Bi lek hwee.
Tanpa sadar Hay Tay-sau ikut pula beranjak
pergi.
Tiba-tiba Thiat Tiong-tong menghela napas
panjang, gumamnya:
"Manusia mati karena harta, burung mati
karena makanan, harta karun ku itu nampaknya akan merenggut beberapa
lembar nyawa manusia lagi"
Berubah hebat paras muka Li Lok-yang, cepat
dia melompat bangun sambil berseru:
"Sudah terlalu banyak manusia yang kukubur
hari ini, aku tidak ingin terjadi pembunuhan lagi ditempat ini,
Kiam-pek, ayoh ikut aku!"
Belum selesai bicara, tubuhnya sudah
melangkah keluar dari ruangan.
Li Kiam-pek melirik Thiat Tiong-tong dan
Phoa Seng-hong sekejap kemudian buru-buru keluar dari situ, ketika
tiba diluar pintu, dia membisikkan sesuatu ke telinga anak buahnya,
mungkin dia minta anak buahnya untuk memperhatikan gerak-gerik ke
dua orang itu.
Maka saat ini dalam ruangan hanya tersisa
Thiat Tiong-tong dan Phoa Seng-hong dua orang.
"Jadi kau diperintahkan mereka untuk
mengawasi aku?" tanya Thiat Tiong-tong kemudian.
"Cayhe hanya ingin menemani hengtay"
"Hmm, sekarang kau menjual tenaga untuk
mereka, tunggu saja ketika mereka berkeinginan untuk melenyapkan
biang keladi dari semua peristiwa ini, aku kuatir tidak ada orang
lagi yang mau menjual tenaga untukmu"
Phoa Seng-hong tersenyum.
"Aaah, belum tentu begitu"
Jelas antara dia dengan Hek Seng-thian, Pek
Seng-bu sekalian sudah ada perjanjian khusus sehingga dia nampak
begitu tenang.
"Jangan lupa" kata Thiat Tiong-tong lagi,
"Kiu cu Kui bo sedang menunggumu setiap saat, kau pun jangan lupa
kalau aku memiliki kekuatan yang bisa mengundurkan kekuatan Kiu cu
Kui bo dari sini"
Phoa Seng-hong tertunduk sambil termenung,
tapi wajahnya sudah sedikit berubah, lewat sejenak kemudian
tiba-tiba dia mendongak sambil berkata:
"Apa yang kau inginkan dariku? Coba
dijelaskan lebih dulu"
"Jika kau bersedia bekerja sama denganku,
bukan saja selanjutnya tidak ada ancaman jiwa bahkan dengan
kesempatan ini kau bisa mendapat nama serta keuntungan materi secara
bersamaan"
"Benarkah ada keuntungan semacam ini didunia
ini? Apa yang harus kulakukan?”
"Asal kau bersedia mengenakan topeng kulit
manusia yang kubeli dengan harga mahal ini, kemudian mengenakan juga
pakaianku, persoalan yang lain bisa dihadapi menurut keadaan"
"Apa yang harus kuperbuat?" tanya Phoa
Seng-hong dengan mata terbelalak lebar.
"Perawakan tubuhmu sembilan puluh persen
mirip tubuhku, asal kau bisa mengatakan alasan yang tepat, enggan
melepaskan topengmu, mereka pasti tak dapat mengenalimu lagi"
"Perawakan badan boleh mirip, tapi
suaraku..."
Thiat Tiong-tong segera tersenyum.
"Padahal logat suaraku sekarangpun bukan
suara asli, karena sudah kubuat-buat, jadi setiap orang dapat
menirukannya. Lagipula aku memang tidak suka bicara, asal kau
kurangi pembicaraan yang tidak penting maka semuanya akan beres"
Phoa Seng-hong kembali tertawa dingin,
katanya:
"Dengan menyamar jadi kau, meski aku
berhasil mengelabuhi mereka semua namun apa keuntungannya bagiku?
Hmm keuntungan bagimu jauh lebih banyak ketimbang bagiku"
"Siapa bilang tidak ada manfaatnya? Dengan
menyamar jadi aku berarti manusia yang bernama Phoa Seng-hong telah
lenyap, orang orang yang datang mencari balas harus pergi ke mana
untuk menemukan Phoa Seng-hong?"
"Apakah masih ada manfaat lain?" tanya Phoa
Seng-hong setelah berpikir sejenak.
"Setelah kau menyamar jadi Thiat Tiong-tong,
mereka pasti akan berusaha membaikimu karena mereka memang ingin
memperalat Thiat Tiong-tong, menggunakan kesempatan ini kau bisa
'mengaduk air menangkap ikan', aku percaya kau pasti sudah sangat
terbiasa dengan perbuatan semacam ini"
Akhirnya sekulum senyuman menghiasi ujung
bibir Phoa Seng-hong.
"Pada masa itu kau bahkan bisa menyelidiki
banyak rahasia, bukan cuma kau bisa mengancam mereka bahkan kau pun
bisa peroleh banyak keuntungan dariku" kembali Thiat Tiong-tong
berkata.
Meski Phoa Seng-hong belum menjawab, namun
dari senyuman diwajahnya dapat disimpulkan kalau dia sudah mulai
tertarik.
"Secara garis besar itulah yang kumaui" ujar
Thiat Tiong-tong lebih jauh, "tentu saja dalam perkembangan nanti
masih terdapat beribu macam perubahan, aku percaya dengan
kecerdasanmu, semua masalah pasti bisa teratasi, jadi akupun tidak
usah menerangkan lebih jauh"
"Sampai kapan sandiwara ini baru akan
berakhir?" tanya Phoa Seng-hong kemudian.
"Asal kau tidak membongkar rahasiaku,
setelah sampai suatu saat tertentu aku bakal muncul lagi mencarimu,
waktu itu kaupun bisa kabur untuk menyembunyikan diri"
Setelah dipikir punya pikir, Phoa Seng-hong
merasa bahwa dengan berbuat begitu sesungguhnya tiada kerugian apa
pun bagi dirinya, malah banyak manfaat dan keuntungan yang bisa
diperolehnya, tentu saja diapun tidak akan memikirkan sampai dimana
kerugian yang bakal diderita orang lain.
Walaupun ditengah halaman terdapat
sekawanan centeng sedang meronda, namun kelaparan yang telah
diderita banyak hari dan kini merekapun sudah makan kenyang, keadaan
tersebut membuat mereka mulai terkantuk-kantuk.
Thiat Tiong-tong segera menarik tangan Phoa
Seng-hong dan bersembunyi di belakang pembatas ruangan.
Tidak lama kemudian muncullah Thiat
Tiong-lang dengan wajah aslinya serta Phoa Seng-hong yang kini telah
berubah menjadi si kakek aneh.
"Mirip tidak suaraku?" tanya Phoa Seng-hong
kemudian dengan suara parau.
Thiat Tiong-tong tersenyum.
"Kalau suaramu lebih rendah sedikit lagi,
kujamin orang lain tidak bisa mengenalimu lagi" katanya.
Setelah melalui berapa hari penyaruan, kulit
wajahnya yang semula hitam berkilat kini terlihat sedikit putih
pucat dan kusut.
Phoa Seng-hong segera membetulkan letak
pakaiannya lalu berbisik:
"Bagaimana cara kita berhubungan dikemudian
hari?"
"Kita menggunakan kata sandi "Merubah wajah"
untuk melakukan kontak dan bintang bersegi tujuh sebagai tanda
rahasia, setiap saat kita bisa saling berhubungan"
"Baik! Kau boleh segera berangkat"
Sambil tertawa Thiat Tiong-tong menggeleng.
Ketika untuk pertama kalinya menyaksikan
senyuman pemuda itu, Phoa Seng-hong merasakan hatinya bergetar
keras, raut wajahnya yang tampan terasa memiliki daya pikat yang
susah dilawan. Tanpa terasa pikirnya:
"Aku sebagai seorang pria pun langsung
terpikat oleh senyuman wajahnya, apalagi seorang wanita......"
Sementara itu Thiat Tiong-tong sudah
melompat keluar melalui jendela sambil berbisik:
"Sementara waktu aku masih akan tetap
tinggal disini!"
Dengan sekali lompatan dia sudah menyusup
naik ke atas wuwungan rumah.
Gedung bangunan ini selain kuno dan tua,
luasnya bukan kepalang, tiang penglarinya sangat lebar dan luas,
cukup dapat menampung puluhan orang tanpa bisa diketahui orang yang
ada dibawahnya.
Diam-diam Phoa Seng-hong keheranan, dia
tidak habis mengerti kenapa pemuda itu belum juga kabur dari situ,
tapi dia tidak banyak membantah dan segera duduk dengan tenang
disana, karena sepak terjang serta kecerdasan otak anak muda itu
benar-benar telah membuat hatinya takluk.
Berapa saat kemudian terdengar suara
desingan angin tajam berkelebat lewat.
Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu telah berlari
masuk ke dalam ruangan dengan wajah gelisah, begitu tiba dihadapan
Phoa Seng-hong segera bentaknya nyaring:
"Dimana Un Tay-tay?"
Thiat Tiong-tong yang mengintip dari atas
tiang penglari diam-diam merasa kegirangan, dia tahu Pek Seng-thian
dan Pek Seng-bu telah menganggap Phoa Seng-hong sebagai dirinya.
Tapi diapun sedikit terkejut bercampur
keheranan setelah mendengar kalau Un Tay-tay benar-benar telah
pergi.
Dalam pada itu Phoa Seng-hong telah
menggeleng dengan wajah kaku, dia malah balik bertanya:
"Ooh, jadi dia sudah pergi?"
"Masa kau tidak membuat janji dengannya?"
bentak Hek Seng-thian lagi.
"Kenapa aku harus membuat janji dengannya?"
jawab Phoa Seng-hong dengan suara yang direndahkan dan sangat parau,
benar saja, logat bicaranya persis sekali dengan logat bicara Thiat
Tiong-tong.
Sambil menghentakkan kakinya berulang kali,
kembali Hek Seng-thian berseru:
"Tahukah kau, semua harta karun yang kau
miliki telah dibawa lari perempuan sundal itu? Kenapa kau tidak
nampak panik?"
"Aah, harta karun hanya barang keduniawian,
kenapa aku mesti panik?"
Hawa membunuh seketika melintas diwajah Pek
Seng-thian, teriaknya penuh amarah:
"Tahukah kau, semua harta karun itu milikku?
Semua ini gara gara ulahmu sehingga persoalan besar jadi kacau
balau!"
Didalam gusarnya hampir saja dia turun
tangan untuk melakukan pembunuhan.
Untung saja disaat yang kritis Suto Siau
telah muncul pula disana, dia memang melakukan pencarian dengan
lebih seksama sehingga baliknya lebih terlambat.
Melihat mimik muka Hek Seng-thian yang
diliputi kegusaran, dia tahu orang itu sedang sakit hati karena
kehilangan peluang untuk memiliki sejumlah harta yang tidak ternilai
harganya.
Cepat dia menariknya ke samping sambil
berbisik:
"Biarpun Un Tay-tay telah melarikan sejumlah
harta karun, namun orang she Thiat ini jauh lebih berharga lagi,
bila dia bersedia bergabung dengan kita, lebih banyak keuntungan
yang bakal kita peroleh, saudara Hek, kau tidak boleh
mencelakainya!"
Hek Seng-thian tertegun berapa saat,
akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.... siaute hanya merasa sakit hati
bagi kehilangan yang diderita saudara Thiat, masa harta karun
sebanyak itu dilarikan seorang perempuan sundal!"
"Dia tidak bakal bisa kabur terlalu jauh,
siaute jamin akan membantu saudara Thiat untuk menemukannya kembali"
janji Suto Siau dingin, lalu setelah memandang sekejap sekeliling
ruangan, tiba-tiba serunya lagi dengan wajah berubah, "kemana
perginya Phoa Seng-hong?"
"Dia sudah kabur!" jawab 'Phoa Seng-hong'
cepat.
Kebetulan Hay Tay-sau sedang melangkah masuk
ke dalam ruangan, mendengar itu segera teriaknya:
"Kabur kemana dia?"
"Kalian toh tidak pernah minta aku untuk
menjaganya, bagaimana mungkin aku bisa tahu kemana kaburnya orang
itu?"
Dengan kening berkerut Suto Siau segera
tertawa paksa, selanya:
"Cayhe pun merasa bangsat ini rada aneh,
kenapa........."
"Aku dengar bajingan ini paling pandai
menggaet kaum wanita" sela Hek Seng-thian dengan wajah berubah,
"jangan-jangan Un Tay-tay sudah tergaet juga olehnya sehingga mereka
berdua kabur bersama?"
Kontan Suto Siau tertawa dingin, selanya:
"Biarpun Un Tay-tay jalang, dia tidak
bakalan tertarik dengan lelaki busuk macam Phoa Seng-hong, jadi
saudara Hek tidak perlu kuatir"
'Phoa Seng-hong' merasa mendongkol sekali
setelah mendengar umpatan yang dialamatkan kepada dirinya itu, namun
dia tidak bisa berbicara apa-apa karena itu rasa jengkelnya hanya di
simpan didalam hati.
Diluaran dia malah manggut-manggut tanda
setuju, katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh:
"Umpatan yang bagus! Umpatan yang sangat
tepat!"
Dengan geram Hay Tay-sau berseru lagi:
"Mungkin bajingan itu tahu kalau aku tidak
akan mengampuninya, maka diam-diam kabur dari sini. Bajingan
keparat! Biar kau kabur ke langit atau menyusup ke dalam bumi, aku
tetap akan mencarimu hingga ketemu!"
Tabiat orang ini benar-benar keras dan
berangasan, begitu berkata akan pergi, belum lagi selesai bicara dia
benar-benar sudah beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
"Dalam kegelapan malam, aku rasa perempuan
jalang itupun tidak bakal pergi terlalu jauh" kata Suto Siau
kemudian, "asal kita lakukan pengejaran bersama, delapan puluh
persen kita pasti dapat menyusulnya"
"Memang seharusnya begitu!" sambung Hek
Seng-thian.
Suto Siau segera berpaling ke arah 'Phoa
Seng-hong' dan bertanya:
"Bagaimana pendapat saudara Thiat?"
Perlahan-lahan 'Phoa Seng-hong' bangkit
berdiri, sahutnya:
"Kalau bersatu kedua belah pihak sama-sama
untung, kalau tercerai berai kedua belah pihak sama-sama
buntung........"
"Aaah, saudara Thiat betul-betul seorang
manusia berbakat yang hebat, pandai sekali kau menilai situasi" seru
Suto Siau kegirangan, "saudara Hek, saudara Pek, urusan ini tidak
bisa ditunda lagi, ayoh kita segera berpamitan dengan tuan rumah!"
Ke tiga orang ini memang tidak membawa
perbekalan apa-apa, benar saja, mereka langsung berpamitan dengan
tuan rumah.
Meskipun dimulut Li Lok-yang berlagak
menahan mereka, namun tawarannya sudah tidak sehangat semula.
Thiat Tiong-tong yang bersembunyi diatas
tiang penglari menengok ke bawah, dia saksikan Li Lok-yang berdiri
termangu beberapa saat lamanya, kemudian dengan menyeret langkah
kakinya yang berat, dia padamkan lilin yang ada diseluruh ruangan.
Kini didalam ruang gedung yang luas hanya
tersisa sebuah lentera, cahaya lentera yang redup membuat suasana
disitu terasa amat sepi dan redup.
Setelah menanti beberapa saat lagi hingga
sama sekali tidak kedengaran ada suara, Thiat Tiong-tong baru
melompat turun dari atas tiang penglari dan menyelinap keluar
melalui jendela.
Malam semakin kelam, tapi dia masih menanti,
masih melakukan pencarian, tapi siapa yang dinantikan dan siapa pula
yang dicari?
Akhirnya dari sebuah sudut nun jauh disana,
dibalik kegelapan malam, diantara pepohonan terdengar suara
gemerisik yang lirih serta desingan angin lembut, meski suaranya
lirih namun Thiat Tiong-tong tidak mau melepaskannya dengan begitu
saja.
Terlihat sesosok bayangan manusia
menyelinap keluar dari balik pepohonan, lalu dengan sigap mengawasi
sekejap sekeliling tempat itu.
Setelah memperhatikan sekejap suasana
disitu, akhirnya orang itu munculkan diri, dia mengenakan baju
berwarna hitam dengan saputangan warna hitam membungkus kepalanya,
hanya sepasang matanya yang jeli nampak berkilauan.
Thiat Tiong-tong menahan napas, akhirnya dia
dapat melihat dengan jelas wajah bayangan itu, dia tidak lain adalah
Un Tay-tay.
Tangan kirinya membawa sebuah kotak peti
sementara tangan kanannya membawa karung goni, baru berjalan berapa
langkah kembali dia menghentikan tubuhnya sambil memasang telinga.
Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa dingin,
pikirnya:
"Ternyata Un Tay-tay memang sangat pintar,
sadar kalau sulit baginya kabur dari sini, dia putuskan untuk tetap
tinggal di tempat ini"
Dengan sangat berhati-hati Un Tay-tay
menyelinap keluar kemudian melompat naik ke atas wuwungan rumah,
tidak jauh dari tempat persembunyian Thiat Tiong-tong, sambil
mendekam diatas atap rumah, dia mengatur napasnya yang sedikit
tersengkal.
Waktu itu Thiat Tiong-tong sudah memilih
sebuah tempat yang paling tersembunyi untuk dirinya, oleh sebab itu
dia dapat mengikuti semua gerak-gerik Un Tay-tay, sebaliknya Un
Tay-tay sama sekali tidak dapat melihat tempat persembunyiannya.
Ketika napasnya yang tersengkal mulai tenang
kembali, dia segera mengikat karung goni itu di punggungnya, lalu
setelah membetulkan ikat pinggangnya diapun mengikat kencang
sepatunya.
Perlahan-lahan Thiat Tiong-tong mulai
menggerakkan tubuhnya, hawa murni telah dihimpun dalam lengannya,
dia siap melancarkan sergapan untuk membekuk perempuan itu dalam
sekali serangan.
Ketika sudah selesai bebenah ternyata Un
Tay-tay tidak langsung pergi dari situ, sebaliknya dia malah
mengendorkan tubuhnya sambil berbaring diatas atap, entah apa yang
sedang dipikirkan.
Mendadak sorot matanya memancarkan sinar
kesedihan bercampur amarah yang meluap, gumamnya lirih:
"Suto Siau, kau telah merusak hubunganku
dengannya, aku tidak akan mengampuni dirimu!"
Baru bicara sampai disitu, dia seakan
tersadar akan kesilafannya, buru-buru perempuan itu tutup mulutnya
kembali.
Thiat Tiong-tong bukan orang bodoh, tentu
saja dia dapat menangkap maksud dari perkataannya itu.
Dia telah memperhitungkan secara tepat bahwa
Un Tay-tay tidak bakalan berani kabur disaat seperti itu, maka dia
sengaja menunggunya disitu, rencananya akan dia tangkap perempuan
itu bahkan mungkin menghabisi nyawanya sambil mengambil balik harta
karun itu.
Tapi sekarang, secara tiba-tiba dia berganti
haluan.
"Harta karun yang ada disini paling banter
cuma satu bagian dari seluruh harta yang ada, bagian ini merupakan
bagianku, kenapa tidak kuserahkan sementara waktu kepadanya, agar
dia bisa menggunakan harta tadi untuk menghadapi Suto Siau sekalian?
Dengan kepintaran serta ketelengasannya, ditambah dengan kecantikan
wajahnya, bukankah dia justru merupakan musuh paling tangguh bagi
Suto Siau?"
Ternyata dia telah membagi harta karun itu
menjadi sepuluh bagian, diantaranya tiga bagian dia sisihkan sebagai
beaya dari sebuah misi rahasia..... apakah misi rahasia itu?
Tidak ada yang tahu kecuali dia sendiri, sebab hal ini merupakan
masalah paling rahasia yang dia miliki.
Dua bagian yang lain dia sisihkan untuk Im
Ceng, agar dia bisa menggunakan beaya tersebut untuk balas dendam.
Sui Leng-kong juga memperoleh dua bagian,
gadis ini pernah menjaga harta karun itu, pernah merawat dan
menemani kakek yang cacad lagi kesepian, sudah sewajarnya bila dia
peroleh bagian itu.
Untuk darah daging keluarga Im yang masih
dalam rahim Leng Cing-peng, diapun sisihkan satu bagian, sementara
sisanya yang satu bagian akan dia berikan kepada Tio Ki-kong yang
telah selamatkan jiwanya serta jiwa Im Ceng.
Akhirnya Un Tay-tay bangkit berdiri dan
melesat turun dari wuwungan rumah, wanita memang tidak pernah lebih
sabar dari kaum pria, walaupun saat itu dia merasa lapar, letih dan
lemah namun gerakan tubuhnya tetap lincah dan gesit.
Tidak selang berapa saat kemudian dia sudah
meninggalkan gedung perkampungan dan menyusup masuk ke dalam hutan.
Thiat Tiong-tong menguntil dari kejauhan,
walaupun dia tidak menyesal telah menyerahkan harta tersebut
kapadanya, namun sebenarnya diapun telah menyerahkan sebuah tugas
besar kepada perempuan itu.
Kini dia ingin menyaksikan semua tingkah
lakunya, apakah dia memang mampu memikul tanggung jawab besar itu?
Setibanya didalam hutan Un Tay-tay baru
memperlambat langkahnya dan menghembuskan napas panjang.
Baru saja dia akan beristirahat sejenak,
mendadak terlihat sesosok bayangan manusia melompat turun dari atas
pohon, melayang turun persis dihadapannya dan mengawasi perempuan
itu sambil tertawa.
Dalam terkejut dan gugupnya, paras muka Un
Tay-tay berubah hebat.
Bayangan manusia itu membawa sebuah buntalan
ditangan kirinya, dalam buntalan terlihat cahaya hijau yang
berkilauan, dengan wajah cengar-cengir orang itu sedang mengawasi
wajahnya tanpa berkedip.
Setelah berhasil mengendalikan diri, Un
Tay-tay baru dapat melihat jelas wajah orang itu, ternyata dia tidak
lain adalah si bocah pincang, anak murid Kiu cu Kui bo.
Tidak kuasa lagi dia segera menegur:
"Bukankah kalian sudah pergi semua? Kenapa
kau masih berada di sini?"
Bocah pincang itu tertawa terkekeh, sambil
menuding bungkusan ditangan kirinya dia menyahut:
"Mereka semua memang sudah pergi, aku datang
untuk mengumpulkan kembali mutiara hijau yang tergantung disekitar
hutan"
"Setelah semua mutiara hijau diambil, sudah
sepantasnya kau segera pulang" kata Un Tay-tay sambil menarik napas
dalam, "kenapa masih ada disini? Tidak kuatir dicari suhumu?"
Bocah pincang itu hanya mengawasi payudara
Un Tay-tay yang montok tanpa berkedip, sementara senyuman masih
menghiasi bibirnya.
"Ciss.... tidak tahu malu" umpat Un Tay-tay
sambil tertawa, "hey setan cilik, berapa usiamu tahun ini?'
"Empat belas"
"Wouw, baru berusia empat belas sudah pandai
melihat perempuan, siapa yang mengajari mu?"
Sambil membesut ingus dari hidungnya, bocah
pincang itu kembali tertawa terkekeh.
"Masa melihat wanita cantik pun harus
diajari orang?"
"Aku dengar kau mempunyai banyak suci yang
cantik-cantik, seharusnya kau segera pulang untuk menengok mereka,
kenapa masih menghalangi perjalananku disini?"
Dengan wajah bersungguh-sungguh bocah
pincang itu menghela napas panjang.
"Betul, aku memang mempunyai banyak suci,
tapi mereka semua masih kanak kanak, bukan wanita beneran"
"Ooh, jadi perempuan macam aku baru
terhitung wanita beneran?" kata Un Tay-tay sambil tertawa.
Menggunakan kesempatan itu kembali si bocah
pincang mengamati payudara Un Tay-tay yang montok, teriaknya sambil
bertepuk tangan:
"Waah, semuanya asli dan bukan
bohong-bohongan, kau memang seorang wanita yang seratus persen asli
dan mantap!"
Kontan saja Un Tay-tay tertawa
terpingkal-pingkal.
"Tidak kusangka dengan usia sekecil ini, kau
pandai juga menilai seorang wanita, sayang usiamu masih kelewat
muda"
"Siapa bilang aku kelewat muda?" teriak
bocah pincang itu dengan mata mendelik, "sekalipun usiaku baru empat
belas, namun kondisi tubuhku tidak beda jauh dengan lelaki berusia
dua puluh empat"
Dengan lembut Un Tay-tay meraba pipinya,
lalu berbisik:
"Ketika kau sudah berusia dua puluh empat,
mungkin aku sudah tua sekali, lebih baik lihatlah sekarang!"
"Betul, aku memang akan memperhatikan mu
baik-baik"
Benar saja, bocah itu langsung mengawasi
perempuan itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, bahkan
mengamatinya berulang kali.
Thiat Tiong-tong yang menyaksikan kejadian
itu dari dalam hutan diam-diam merasa mendongkol bercampur geli.
Bocah pincang itu tampaknya memang aneh dan
nakal, biar kecil orangnya tapi banyak akalannya, sampai Un Tay-tay
yang biasanya bertabiat anehpun dibuat tertawa terpingkal-pingkal.
Setelah memperhatikan wanita itu berapa
saat, tiba-tiba bocah pincang itu gelengkan kepalanya berulang kali
sambil menghela napas panjang, gumamnya:
"Aaai, aku menyesal kenapa perjumpaan ini
tidak terjadi disaat aku sudah dewasa nanti, yaa, apa lagi yang bisa
kukatakan!"
Un Tay-tay tidak kuasa menahan rasa gelinya
lagi, dia tertawa cekikikan, lama kemudian baru serunya:
"Sudah cukup belum kalau melihat? Sekarang
biarkan aku pergi!"
Setelah menghela napas lagi, bocah pincang
itu manggut-manggut dan beranjak pergi, tapi baru berapa langkah ia
sudah berpaling seraya berkata:
"Barusan aku melihat Im kongcu mu itu"
"Di mana?" tanya Un Tay-tay dengan wajah
berubah.
"Kau ingin kuajak menjumpainya?"
"Kau tahu dia berada dimana sekarang?"
"Tentu saja tahu!"
"Kau akan mengajakku ke sana?" kembali Un
Tay-tay bertanya sambil mempermainkan biji matanya.
Seketika si bocah pincang itu berkerut
kening.
"Kalau soal ini........tapi......."
“Tapi kenapa?" umpat Un Tay-tay sambil
tertawa, "bukankah kau yang akan mengajakku ke sana? Memangnya
sekarang jadi tidak berani? Sungguh memalukan!"
"Kenapa aku tidak berani mengajakmu?" si
bocah pincang itu segera membusungkan dadanya, "asal aku
diperbolehkan menciummu sekali saja, kita segera berangkat"
Un Tay-tay benar-benar terpingkal dibuatnya,
sambil menuding bocah itu umpatnya:
"Dasar setan cilik........dasar setan
cilik......."
Saking terpingkalnya, dia sampai tidak
sanggup melanjutkan perkataannya.
"Apa yang kau tertawakan? Kalau tidak mau
yaa sudah" seru bocah pincang itu sambil menarik muka.
"Baik, baiklah, cici akan membiarkan kau
menciumku!"
"Sungguh?" Teriak bocah itu kegirangan.
Sambil setengah memejamkan matanya Un
Tay-tay menyodorkan wajahnya ke hadapan bocah itu, serunya sambil
tertawa:
"Ayohlah!"
Mendadak bocah pincang itu menarik kembali
senyumannya, setelah meletakkan buntalan itu ke tanah dan menarik
napas panjang, dia pentang tangannya lebar-lebar dan segera memeluk
tubuh Un Tay-tay dengan kencangnya.
Dengan napas tersengkal sengkal seru Un
Tay-tay:
"Setan cilik! Perlahan sedikit......perlahan
sedikit.... aduh, kau....."
Tiba-tiba dia mendorong tubuh bocah itu
sementara paras mukanya berubah jadi merah padam.
Thiat Tiong-tong yang berada dalam hutan
kembali menghela napas panjang, pikirnya:
"Un Tay-tay memang seorang perempuan cantik
yang sangat langka, jangan lagi lelaki dewasa, sampai bocah cilik
pun terpikat oleh kecantikan wajahnya......"
Dia tidak tahu, justru semakin muda bocah
itu apalagi disaat menginjak usia puber, napsu birahi-nya semakin
berkobar, apalagi bertemu dengan wanita matang yang begitu cantik
dan montok.
Dengan sempoyongan bocah pincang itu mundur
berapa langkah lalu berdiri termangu-mangu, sepasang matanya menatap
kosong ke tempat kejauhan, dia seakan akan jadi bodoh secara
mendadak.
Sebaliknya Un Tay-tay mulai membenahi
rambutnya yang kusut.
Mendadak terdengar bocah pincang itu tertawa
tergelak, kemudian setelah bersalto beberapa kali di udara teriaknya
keras keras:
"Aku telah menciumnya, aku telah
menciumnya, ooh.....dia sungguh harum!"
"Hey setan cilik, kau sudah gila!" umpat Un
Tay-tay sambil tertawa.
"Betul, aku sudah gila, aku sudah gila.....
aku benar-benar sudah gila!" jerit bocah pincang itu sambil tertawa
dan melompat-lompat.
"Bila kau bersedia mengabulkan satu
permintaanku, aku akan mengijinkan kau untuk mencium sekali lagi"
"Sungguh?" bocah itu tertegun dan tergagap.
"Adik cilik, kapan cici pernah
membohongi-mu?"
"Cepat katakan, cepat katakan" teriak bocah
pincang itu sambil mencak mencak, "asal aku diijinkan mencium lagi,
apa pun permintaanmu pasti akan kukabulkan!"
"Kau harus berjanji mau membawaku ke sana,
tapi kau tidak boleh ikut masuk, dan kaupun harus berjanji tidak
akan menceritakan persoalan ini kepada siapa pun"
"Jangan lagi hanya permintaan begitu,
sepuluh kali lipat lebih sulitpun tetap akan kukabulkan"
"Bocah manis......." seru Un Tay-tay sambil
tertawa merdu, dia segera maju mendekat, memeluknya dan menciumi
wajahnya yang burik berulang kali.
Menanti Un Tay-tay melepaskan pelukannya,
tiba-tiba bocah pincang itu roboh terjungkal ke tanah.
"Hey, kenapa kau?" jerit Un Tay-tay kaget.
Belum habis ia berteriak, bocah pincang itu
sudah melompat bangun lagi sambil berjumpalitan berapa kali,
teriaknya sambil tertawa:
"Dalam tiga bulan mendatang, bila aku cuci
muka maka aku adalah seorang telur busuk"
"Tiga bulan tidak cuci muka? Waaah...
seperti apa baunya" Un Tay-tay terkekeh.
"Kalau aku bilang tidak mencuci, aku tidak
akan mencuci" sambil berteriak bocah pincang itu mengambil kembali
buntalannya dan menarik lengan Un Tay-tay sambil berseru, "ayoh kita
berangkat!"
Thiat Tiong-tong yang menyaksikan semua
kejadian merasa terkejut bercampur gusar, pikirnya:
"Mau apa perempuan busuk ini mencari jite?
Jangan-jangan dia akan mencelakainya lagi.
Tapi...... bukankah dia sudah berpisah
dengan Suto Siau, rasanya tidak mungkin dia akan mencelakai jite,
tapi jite begitu mencintainya, bila dia balik ke sana, dengan watak
jite, hubungan mereka berdua bisa jadi akan terjalin kembali.
Biarpun perempuan ini belum tentu akan mencelakai jite, tapi dengan
tabiatnya yang cabul dan nakal, cepat atau lambat dia bakal melukai
hati jite lagi......lagipula......."
Dalam pada itu si bocah pincang itu sudah
menarik Un Tay-tay untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Aku tidak boleh berpangku tangan dalam
persoalan ini" akhirnya Thiat Tiong-tong mengambil keputusan,
dengan cepat dia menyusul dari belakang.
Bocah pincang itu menarik tangan Un Tay-tay
menuju ke tengah hutan, arah yang dituju bukan ke arah kota besar
tapi tempat yang makin lama semakin terpencil dan sepi.
Lebih kurang setengah li kemudian, bocah
pincang itu baru menghentikan langkahnya.
"Sudah sampai?" tanya Un Tay-tay.
"Yaa, sudah sampai" dengan termangu bocah
itu mengangguk.
Un Tay-tay mengawasi sekejap sekeliling
tempat itu, namun diseputar sana hanya terlihat berapa batang pohon
yang rimbun, tidak sesosok bavanean manusia nun vane terlihat
disana.
"Dimana?" tanya perempuan itu lagi dengan
kening berkerut.
"Di depan sana"
"Kalau masih didepan sana, kenapa kau
berhenti?"
Bocah pincang itu termangu berapa saat
lamanya, mendadak dia menghela napas panjang.
"Setelah kepergianmu kali ini, aku tidak
tahu apakah masih berkesempatan untuk bertemu lagi denganmu"
"Bocah bodoh, jangan mengucapkan kata-kata
dungu" bujuk Un Tay-tay sambil tertawa, "aku toh bukan pergi untuk
mati, tentu saja kita masih bisa bertemu lagi"
Bocah pincang itu gelengkan kepalanya
berulang kali.
"Sekalipun bisa bertemu lagi, akupun tidak
tahu akan terjadi di bulan dan tahun berapa"
"Bila kau ingin bertemu aku, setiap saat kau
boleh datang mencariku"
"Perduli berada di mana pun kau bersedia
memberitahukan jejakmu itu kepadaku?" seru si bocah kegirangan.
Un Tay-tay manggut-manggut.
"Adikku sayang, perduli cici berada dimana
pun pasti akan kuberitahukan kepadamu, ayoh, tertawalah untuk cici"
Bocah pincang itu benar-benar tertawa lebar,
sambil membangkitkan kembali semangatnya dia berseru:
"Ayoh kita berangkat!"
"Tunggu sebentar" kali ini Un Tay-tay
gelengkan kepalanya berulang kali.
"Kau sungguh aneh........"
"Apanya yang aneh?" Un Tay-tay menghela
napas panjang, "terus terang kuberitahu, cici memang seorang manusia
aneh, selain aneh juga kesepian dan penuh derita......."
Dia mendongakkan kepalanya dan memandang ke
angkasa dengan pandangan sendu.
Bocah itu ikut menghela napas.
"Kau begitu cantik, entah berapa banyak
lelaki didunia ini yang menyukaimu, kenapa kau bisa kesepian? Aku
benar benar tidak mengerti"
"Aku sangat membenci semua orang yang
mencintaiku, tapi orang yang kucintai justru tidak suka kepadaku,
bagaimana mungkin aku tidak kesepian? Oleh sebab itu aku harus
berupaya dengan segala cara untuk menghilangkan rasa kesepian ini"
"Bukankah Im kongcu amat mencintaimu?"
"Bukan, bukan dia orangnya" Un Tay-tay
menggeleng.
"Lalu siapakah dia?"
Lama sekali Un Tay-tay termenung, akhirnya
sambil tertawa paksa ujarnya:
"Sudahlah, tidak usah dibicarakan lagi,
sekarang aku bukan saja sudah tidak mencintainya bahkan membencinya
setengah mati"
"Tidak masalah, bukankah masih ada aku yang
mencintaimu" teriak bocah pincang itu lantang.
Un Tay-tay balas tertawa.
"Aku pun menyukaimu, itulah sebabnya
sekarang aku bersedia menemanimu, kau adalah lelaki ke dua yang
pernah kucintai sepanjang hidupku ini"
"Sungguh?" berkilat sepasang mata bocah
pincang itu.
Dengan lembut Un Tay-tay mengelus lagi
wajahnya, katanya halus:
"Sayang kau hanya seorang bocah, sedang aku
sudah hampir tua, aku hanya bisa menyukaimu sebagai seorang adik,
mengerti?"
Dengan pandangan bodoh hocah pincang itu
mengangguk, tiba-tiba teriaknya:
"Bagaimanapun juga, setelah aku dewasa
nanti, jika kau belum juga kawin dengan orang lain, aku tetap akan
menikaimu"
Dia tidak berbicara lagi, sambil menarik
baju Un Tay-tay segera melanjutkan kembali perjalanannya.
Thiat Tiong-tong yang berdiri dibalik
kegelapan hanya berdiri termangu.
Berapa saat lamanya, dia mulai bertanya
kepada diri sendiri:
"Benarkah dia sangat aneh?"
Ketika mendongakkan kembali kepalanya,
terlihat ke dua orang itu sudah mulai menyusup masuk ke dalam hutan.
Thiat Tiong-tong tidak ragu lagi, dia segera
menyusul dari belakang.
Bab 9
Pembicaraan di kuil terpencil.
Dibalik hutan terlihat ada sebuah kuil, Un
Tay-tay dan bocah pincang itu sudah berhenti jauh di depan kuil
bobrok itu.
"Adikku, kau mesti ingat baik-baik" ujar Un
Tay-tay kemudian dengan suara ringan, "ada sementara wanita meski
tubuhnya kotor namun dia memiliki jiwa yang sangat bersih, meskipun
dia mencelakai orang, namun ini semua disebabkan orang-orang itu
memang tidak tahu diri, masih belum pantas menjadi lelaki, oleh
sebab itu apa yang akan terjadi dikemudian hari, kau harus menjadi
seorang lelaki sejati, mengerti?"
Dengan perasaan setengah mengerti setengah
tidak bocah pincang itu manggut-manggut.
"Bila aku telah memperoleh kediaman tetap
pasti akan datang mengabarimu" kata Un Tay-tay lagi, "sekarang kau
cepatlah pergi!"
Dengan sangat penurut bocah pincang itu
membalikkan tubuh, tiba-tiba dia berpaling lagi seraya bertanya:
"Kenapa sih kau bisa menyukai aku? Hingga
sekarang aku masih tidak habis mengerti, bersediakah kau
memberitahukan kepadaku?"
Un Tay-tay tersenyum.
"Karena kau menyukai aku dengan bersungguh
hati, tidak punya pikiran dan niat lain, maka akupun menyukaimu"
Bocah pincang itu tertegun berapa saat,
kemudian sambil bersorak-sorai baru beranjak pergi dari situ.
Memandang hingga bayangan tubuhnya lenyap
dari pandangan, kembali Un Tay-tay berdiri termangu, akhirnya
setelah menarik napas panjang, sambil menenteng peti itu
dia berjalan menuju ke arah kuil dengan langkah lebar.
Kuil itu sudah lama terlantar, dua belah
pintu gerbangnya juga entah sudah sejak kapan dicuri orang sebagai
bahan bakar, tanaman ilalang tumbuh liar disepanjang halaman, daun
kering berserakan memenuhi lantai, apalagi ketika terhembus angin
malam, segera menimbulkan suara gemersik yang ramai.
Ketika suara itu dipadukan dengan suara
jendela yang bergoyang, terciptalah sebuah irama malam yang sendu.
Setelah melalui halaman kuil yang dipenuhi
daun kering, menaiki undak-undakan batu yang dilapisi lumut dan
menembusi kosen pintu yang dipenuhi sarang laba laba, sampailah
perempuan itu dalam ruang kuil yang bobrok, lembab dan gelap.
Seketika itu juga Un Tay-tay mengendus bau
busuk yang tajam berhembus keluar dari ruang kuil, suasana disana
benar-benar mengenaskan, meja altar tampak sudah sangat bobrok, kain
tirai robek sana sini, entah sudah berapa lama tidak pernah dijamah
para jemaahnya.
Ditengah hembusan angin malam, hawa dingin
terasa semakin menggigilkan tubuh, angin yang berhembus masuk
melalui jendela, menggoyangkan kain tirai yang bobrok, ternyata
ruang kuil itu kosong tidak berpenghuni.
Un Tay-tay mulai ragu, pikirnya penuh
curiga:
"Jangan-jangan aku dibohongi setan cilik
itu?"
Tapi baru lewat ingatan tersebut, dia sudah
mendengar suara napas orang yang lirih berkumandang keluar dari
bawah meja altar bobrok itu.
Dia agak sangsi tapi kemudian melanjutkan
hngkahnya, per lahan-lahan menyingkap taplak meja altar dan
melongok ke bawah... Benar saja, dia menyaksikan Im Ceng sedang
tertidur di situ.
Menyaksikan hal ini, tidak tahan Un Tay-tay
menghela napas, pikirnya:
"Aaai, suhengnya begitu hati-hati dan selalu
waspada, sementara sutenya begitu sembrono, biarpun sangat lelah,
tidak seharusnya dia tidur di tempat seperti ini!"
Dia benar-benar tidak habis mengerti, kenapa
dua orang. seperguruan ternyata memiliki tabiat yang jauh berbeda,
Thiat Tiong-tong cekatan dan penuh waspada, berada dalam situasi
sekritis apa pun, bukan saja mampu melindungi diri bahkan masih
sempat menolong orang lain.
Sebaliknya Im Ceng begitu berangasan,
emosinya sangat tinggi dan sepak terjangnya begitu sembrono,
sekalipun dia berdarah panas dan selalu ingin membela hal hal yang
tidak adil, tapi dia justru tidak mengerti bagaimana harus menata
diri, bagaimana harus memikirkan diri sendiri.
Mungkin dia tidak tahu kalau dua bersaudara
seperguruan ini sebenarnya memiliki satu kesamaan yang paling besar
.... mereka berdua sama-sama berjiwa pendekar dan berhati ksatria,
sekalipun cara bertindak dan cara yang digunakan sangat berbeda
namun tujuan yang hendak mereka capai sebenarnya tidak jauh berbeda.
Dalam pada itu Thiat Tiong-tong yang
bersembunyi dibawah wuwungan rumah pun mulai merasa amat iba,
pikirnya:
"Ji-te wahai Ji-te, sekalipun kau memiliki
keberanian seperti Thiat Tiong-tong, meski memiliki kepandaian yang
tangguh, namun tabiatmu sangat menguatirkan, aku benar-benar tidak
tega membiarkan kau berkelana seorang diri di dalam dunia
persilatan!"
Tiba-tiba ia dengar Un Tay-tay menghela
napas panjang, kemudian menepuk bahu Im Ceng berulang kali.
"Siapa?" bentak Im Ceng sambil terjaga dari
tidurnya.
Sembari membentak dia melompat bangun,
tampaknya pemuda itu lupa kalau sedang tidur dibawah meja altar,
tidak ampun meja itu tertumbuk hingga mencelat ke belakang dan
hancur berserakan.
Un Tay-tay mundur selangkah, memandanginya
tanpa bicara.
Begitu tahu siapa yang datang, paras muka Im
ceng berubah hebat, hardiknya:
"Rupanya kau!"
"Benar, memang aku!"
"Mau apa kau datang kemari?"
"Datang mencarimu?”
"Hahahaha.... bagus, tidak nyana kau masih
punya muka untuk berjumpa denganku" Im Ceng mendongakkan kepalanya
tertawa seram.
Un Tay-tay tidak bicara apa apa, dia hanya
menatapnya berapa saat kemudian setelah menghela napas dia
membalikkan tubuh dan beranjak pergi dari situ.
Melihat wanita itu hampir mencapai pintu
keluar, tiba-tiba Im Ceng melejit ke udara dan mnighadang jalan
perginya.
"Kau sebentar datang sebentar pergi,
memangnya sudah edan!"
"Kusangka kau sudah tidak punya perasaan
apa-apa lagi terhadapku, maka aku datang mencarimu" kata Un Tay-tay
ketus, "tapi setelah menyaksikan tampangmu sekarang, aku tahu kau
belum bisa melupakan aku, terpaksa aku harus segera pergi dari sini"
"Siapa bilang aku tidak bisa melupakan
dirimu? Aku justru amat membencimu" seru Im Ceng gusar.
"Antara cinta dan benci sebenarnya hanya
dipisahkan oleh sebuah garis yang tipis, walaupun sekarang kau
membenciku, tidak lama kemudian kau bakal mencintaiku lagi"
"Kau sangka bisa menebak suara hatiku?"
Un Tay-tay tidak menanggapi pertanyaan itu,
kembali dia menghela napas panjang.
"Maukah kau mendengarkan kisah asal usulku?"
dia bertanya.
"Manusia macam apakah dirimu?" Im Ceng
tertawa dingin.
"Kalau ingin tahu, duduklah dulu, biar aku
bercerita"
Walaupun masih menunjukkan rasa gusar, Im
Ceng duduk juga ke lantai.
Un Tay-tay meletakkan petinya ke lantai
kemudian duduk diatas peti itu, ujarnya perlahan:
"Sejak kecil aku hidup tanpa ayah tanpa ibu,
aku dipelihara seorang ayah angkat, dia adalah seorang lelaki yang
berhati mulia namun selalu hidup dalam ketidak puasan, dia anggap
semua orang didunia ini bersalah kepadanya, maka setiap hari dia
hanya pergi minum arak bahkan minum sampai mabuk berat.
"Padahal orang di kolong langit tidak pernah
berbuat sesuatu terhadapnya, justru dia sendiri yang memandang
rendah kemampuan diri, karena watak tersebut bukan saja dia hidup
terasing, pekerjaan pun ikut terbengkelai"
Dia pejamkan mata sambil menghela napas
panjang, lama kemudian baru lanjutnya:
"Dia tidak memiliki keahlian apapun untuk
mencari nafkah, kepandaian silat pun tidak hebat, pekerjaan apapun
tidak mau dia lakukan, saban hari dia selalu berkata begini terhadap
dirinya: "manusia macam aku, mana boleh melakukan pekerjaan rendah
yang memalukan, kalau harus bekerja, aku harus melakukan satu usaha
besar", maka kerjanya setiap hari hanya luntang lantung kian kemari,
katanya mah ingin melakukan usaha besar, tapi usaha besar macam apa
yang akan dilakukan? Bahkan dia sendiripun tidak tahu, dia hanya
beritahu kepadaku, suatu hari nanti dia pasti akan kaya raya.
"Waktu itu usiaku masih sangat kecil, hidup
kami sangat menderita dan penuh siksaan, bukan saja harus berdiam
dalam kuil bobrok, makan pun tidak pernah kenyang, hingga mencapai
usia lima belas tahun, pakaian yang kukenakan pun masih selembar
pakaian yang sudah kukenakan sejak berumur sepuluh tahun.
"Padahal gadis berusia lima belas tahun
memiliki bagian tubuh yang tidak berbeda dengan wanita dewasa,
akibatnya setiap hari ada sekawanan pemuda pengangguran yang
melototi tubuhku, aku berusaha menutupi bagian yang satu namun tidak
dapat menutupi bagian yang lain, akhirnya akupun pasrah, biarkan
mereka menonton sepuasnya, maka....... tahun itu ada berapa orang
pemuda pengangguran yang meloloh ayah angkatku hingga mabuk berat,
menggunakan kesempatan itu mereka memperkosa aku secara bergilir,
keesokan harinya kulaporkan kejadian ini kepada ayah angkat, didalam
gusarnya dia mencari kawanan pemuda pengangguran itu dengan berbekal
golok, tentu saja tanpa hasil.
"Sejak itu ayah angkatku minum arak semakin
banyak, tentu saja semakin mabuk, dia tidak pernah mengurusi diriku
lagi, akhirnya dia pergi entah ke mana.
"Kemudian aku pun berkenalan dengan seorang
pelatih kuda dari peternakan Lok-jit, dia mengerti silat dan
terhitung seseorang yang punya duit dan punya pengaruh ditempat itu,
akupun berusaha memikatnya.
"Tentu saja dia langsung terpikat oleh
rayuanku, asal ada permintaanku, dia tidak pernah menampik, maka
mula-mula aku minta kepadanya untuk menghabisi nyawa kawanan pemuda
pengangguran yang pernah memperkosaku!"
"Manusia begundal macam itu memang pantas
dibunuh!" sela Im Ceng geram.
Un Tay-tay tertawa
hambar, lanjutnya: "Tapi setelah berjumpa dengan Suto Siau, pemilik
peternakan Lok-jit, akupun mengambil keputusan untuk mengail ikan
kakap ini.
"Dengan menggunakan pelbagai cara aku
berusaha mendekatinya, tatkala pada akhirnya dia mulai memperhatikan
aku, mulai merayuku, dengan air mata berlinang akupun berkata
kepadanya bahwa aku tidak bisa menghianati si pelatih kuda itu.
"Maka keesokan harinya Suto Siau
perintahkan pelatih kuda itu untuk menemaninya pergi mengembala
sekawanan kuda, mereka berangkat berdua tapi ketika balik tinggal
Suto Siau seorang.
"Kepadaku Suto Siau berkata bahwa si pelatih
kuda itu terjatuh dari kudanya karena kurang hati-hati hingga mati
terpijak kawanan kuda, tentu saja aku mengerti apa yang terjadi,
namun diluar aku berlagak sangat sedih.
"Maka ditengah suasana kesedihan itulah aku
menjadi perempuan simpanan Suto Siau.
"Aku bersumpah tidak akan hidup miskin lagi
dikemudian hari, dengan pelbagai cara aku berusaha membuat senang
Suto Siau, lambat laun aku pun memiliki gedung yang indah, memiliki
kebun yang luas, pakaian yang mewah dengan aneka perhiasan yang
mahal harganya, dari seorang wanita miskin berubah jadi wanita kaya
yang terhormat, melompat keluar dari kubangan lumpur dan hidup dalam
bangunan gedung yang indah, akhirnya apa yang kucita-citakan
terwujud sudah"
Ketika perempuan itu menghentikan
ceritanya, Im Ceng pun ikut terbungkam dalam seribu bahasa.
Angin masih berhembus lewat, cukup lama
suasana dicekam dalam keheningan yang luar biasa.
Lama kemudian, akhirnya sekulum senyuman
yang sangat dingin menghiasi wajah Un Tay-tay yang putih memucat,
terusnya:
"Sejak saat itu aku berusaha mengisi semua
kekuranganku, belajar membaca, belajar silat, aku tidak ingin
terperosok lagi ke lembah kenistaan, aku ingin terbang lebih tinggi
lagi.
"Menanti aku merasa kemampuanku sudah cukup
tangguh maka akupun mulai membalas dendam, mulai merayu lelaki,
mempermainkan mereka lalu membunuhnya.
"Dalam dua tiga tahun terakhir, entah sudah
berapa banyak lelaki yang tidak kuat menahan godaan tewas
ditanganku, tapi aku tidak pernah menyesali perbuatanku ini"
"Cukup, tidak usah dilanjutkan!" tiba tiba
Im Ceng berteriak keras.
Un Tay-tay mendengus dingin, katanya: "Aku
sengaja menceritakan semua pengalamanku ini dengan tujuan agar kau
tahu perempuan macam apakah diriku ini, tentang lelaki aku sudah
mengetahui kelewat banyak, terhadap lelaki semacam kau, tidak
mungkin aku pernah mencintainya, jadi kau harus putuskan semua
ingatanmu tentang aku, jangan berharap dan jangan menanti, sebab kau
bakal kecewa"
Im Ceng mengepal tinjunya kuat-kuat,
teriaknya:
“Terhadap dirimu, bukan saja aku sudah putus
asa, bahkan.... bahkan...."
"Bila kau pandang rendah aku, bila pandang
jijik tubuhku, hal ini jauh lebih bagus lagi" sela Un Tay-tay sambil
tertawa hambar.
Tiba tiba Im Ceng bangkit berdiri,
teriaknya: .
"Kalau tahu begini, kenapa kau masih datang
mencariku?"
"Sekarang Suto Siau sudah bersekongkol
dengan suhengmu Thiat Tiong-tong, Suto Siau amat membenciku, dia
tidak mungkin akan lepaskan aku maka terpaksa aku harus membunuhnya
terlebih dulu, sementara aku.....aku amat membenci Thiat
Tiong-tong, aku ingin membunuh mati dirinya"
"Kedua orang itu pun merupakan dua orang
yang harus kubunuh" ujar Im Ceng penuh kebencian.
“Tepat sekali" Un Tay-tay tertawa ringan. Im
Ceng segera mendongakkan kepalanya dan bertanya:
"Jadi kau ingin bekerja sama denganku untuk
menghadapi mereka?"
"Tepat sekali, bila ingin mengandalkan
kekuatan masing-masing untuk menghadapi mereka, jelas kepandaian
kita belum mampu mengungguli, terpaksa aku harus bekerja sama
denganmu, dengan begitu baru ada kesempatan untuk meraih kemenangan"
"Bagaimana mungkin aku bisa bekerja sama
denganmu?"
"Kenapa tidak mungkin? Kau bisa manfaatkan
kecerdasan dan kelicikanku sementara aku bisa memanfaatkan kekuatan
dan ilmu silatmu, tapi kau mesti ingat baik-baik, kita hanya saling
memanfaatkan, sama sekali tidak ada ikatan perasaan apapun, tatkala
urusan sudah selesai, kau boleh pergi menurut keinginanmu dan akupun
akan lewat melalui jalanku"
Im Ceng kembali berdiri termangu, jelas dia
sangat ragu dan tidak berani mengambil keputusan.
Melihat itu Un Tay-tay segera tertawa
dingin. "Kenapa? Apa lagi yang kau pikirkan? Tidak berani?"
"Siapa bilang aku takut!"
"Hmmm, mana aku tahu apa yang kau takuti?"
ejek perempuan itu makin ketus.
Dengan geram Im Ceng berteriak:
"Asal bisa membunuh Suto Siau, lalu
menangkap hidup-hidup murid murtad dari Perguruan Tay ki bun, agar
aku bisa menyaksikan dia mati mengerikan dibawah hukuman
siksaan..... mati seperti.... seperti toako ku dulu, apa pun tidak
perlu kutakuti, apa pun akan kulakukan"
Kelihatannya dia tidak pernah bisa melupakan
toakonya mati ditarik dengan lima ekor kuda, terlebih terhadap Thiat
Tiong-tong yang mendapat perintah untuk menjadi algojo, rasa
bencinya serasa merasuk hingga ke tulang sumsum.
"Nah, begitulah baru tampang seorang lelaki
bernyali" puji Un Tay-tay sambil tersenyum.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Kesempatan pasti akan datang, bila
kesempatan sudah tiba, tidak sedikit yang mesti dilakukan"
Thiat Tiong-tong yang bersembunyi diluar
jendela diam-diam tersenyum geli.
Pertama dia merasa yakin bahwa investasi
yang ditanamkan pada diri Un Tay-tay bukanlah penanaman modal yang
sia sia.... paling tidak Un Tay-tay sudah menunjukkan sikapnya untuk
menganggap Suto Siau sebagai musuh dan siap melawannya dengan
sepenuh tenaga.
Kedua dia merasa berterima kasih sekali
kepada Un Tay-tay karena bersedia mengemukakan sikapnya terhadap Im
Ceng, dengan didampingi Un Tay-tay yang licik paling tidak Im Ceng
yang berangasan akan peroleh banyak bantuan, satu hal yang
membuatnya sangat lega.
Mengenai perasaan Un Tay-tay terhadap
dirinya, Thiat Tiong-tong tidak ingin membahasnya lebih jauh,
diam-diam dia melompat turun dari wuwungan rumah.
Mendadak dia saksikan ada sesosok bayangan
manusia menyelinap mendekat dengan kecepatan tinggi.
Dalam terkejutnya dia mengira jejak mereka
sudah ketahuan oleh Suto Siau beserta komplotannya, cepat dia
melompat naik lagi ke atas wuwungan rumah.
Bayangan manusia itu kelihatan membalikkan
tubuhnya, ternyata dia tidak lain adalah si bocah pincang, murid Kiu
cu Kui bo..
Dengan kening berkerut Thiat Tiong-tong
segera berpikir:
"Ternyata setan cilik inipun bukan manusia
yang bisa dipercaya"
Maka dia pun menggapai ke arahnya sambil
membalikkan tubuh dan bergerak menjauhi bangunan kuil.
Baru tiba diluar pagar, bocah pincang itu
sudah menyusul tiba, tegurnya dengan mata melotot:
"Kenapa kau berkerut kening, mau apa mencari
aku?"
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.
"Aaai, bukankah kau sudah menyanggupi Un
Tay-tay? Tidak seharusnya kau datang mengintip"
Bocah pincang itu tertegun, mendadak dia
mengebaskan tangannya perlahan.
Thiat Tiong-tong segera mengendus bau harum
yang semerbak menerpa hidungnya, kontan kepalanya terasa pening
kemudian roboh terjungkal ke tanah, tidak sadarkan diri.
Dengan satu gerakan cepat bocah pincang itu
melepaskan ikat pinggangnya dan mengikat tubuh Thiat Tiong-tong
kuat-kuat, gumamnya:
"Jangan salahkan aku berbuat begitu
kepadamu, kalau mau disalahkan, salahkan dirimu sendiri kenapa tahu
kelewat banyak"
Selesai mengikat tubuh Thiat Tiong-tong, dia
panggul tubuh pemuda itu dipunggungnya, lalu bergumam lagi:
"Jika kau beritahu Un Tay-tay kalau aku
datang mengintip, dia pasti tidak akan suka kepadaku lagi, aku harus
mencari akal agar kau tidak berani mengatakannya"
Tapi diapun tidak tahu siapakah anak muda
ini dan darimana asal usulnya, dia tidak berpikir kenapa pemuda itu
bisa mengetahui begitu banyak persoalannya. Oleh sebab ragu maka dia
tidak berani turun tangan keji.
Dengan membopong Thiat Tiong-tong yang
lemas, secepatnya dia melesat pergi menjauhi tempat itu.
Tempat itu terletak diluar kota, setelah
menembusi hutan tibalah dia disebuah tanah pertanian yang luas.
Berhubung dia harus membawa seseorang, bocah
pincang itu tidak berani kembali ke tempat gurunya, sementara
otaknya berpikir keras bagaimana caranya mengatasi soal orang yang
diculik, langkah kakinya bergerak tiada hentinya.
Setelah berjalan berapa saat, perasaan
hatinya makin lama semakin bertambah gelisah, akhirnya tibalah
ditepi ladang pertanian, disitu terbentang sebuah jalan kecil menuju
ke arah tiga buah rumah gubuk.
Dalam rumah gubuk itu bukan saja ada cahaya
lentera bahkan terdengar suara gesekan roda penggiling yang berisik,
tampaknya rumah itu adalah sebuah kedai kecil yang menjual cairan
kedele.
Setelah ragu sesaat akhirnya bocah pincang
itu berpikir:
"Baiklah, biar kuteguk dulu semangkuk susu
kedele dan makan dua potong tahu panas sebelum melanjutkan
perjalanan"
Dengan langkah lebar dia mendekati bangunan
rumah itu.
Didepan rumah gubuk terdapat sebuah tenda
yang amat sederhana, dibawah tenda tersedia dua tiga buah meja kursi
yang lapuk.
Sebuah lentera yang tidak terlalu terang
tergantung ditengah tenda, menyinari wajah seorang kakek berambut
putih, berbadan bungkuk dan mengenakan pakaian amat sederhana, saat
itu dia sedang menggiling kedele dengan ogah-ogahan.
"Apakah ada yang dijual?" bocah pincang itu
segera bertanya lantang.
"Susu kelede yang harum, tahu yang hangat,
butuh berapa pun kami tersedia"
"Kalau begitu cepat hidangkan" seru si bocah
sambil membanting tubuh Thiat Tiong-tong ke tanah, kemudian sengaja
gumamnya lagi, "pencuri ini sungguh berat, setelah digelandang ke
kantor polisi, aku harus menghajarnya berapa kali"
"Ooh, rupanya tuan kecil adalah seorang
opas" sapa si kakek sambil memicingkan matanya dan tertawa.
"Benar, benar, dugaanmu tepat sekali!"
buru-buru bocah pincang itu menyahut.
Kakek itu segera berpaling seraya berseru:
"Toa-nio, ada tuan opas ingin minum susu kedele, cepat ambilkan
mangkuk yang agak bersih" Dari dalam guduk terdengar seseorang
menyahut, lalu terlihat seorang nyonya muda bergaun hijau, berikat
kepala hijau dengan menggendong bayinya yang masih merah berjalan
keluar.
Dia membawa sebuah mangkuk porselen yang
bersih, menuangnya dengan susu kedele lalu disodorkan ke hadapan
bocah pincang itu.
Melihat perempuan itu sembari menggendong
bayi harus bekerja melayaninya, bocah pincang itu merasa rikuh
sendiri, baru saja dia hendak bangkit membantu, tiba-tiba teringat
olehnya kalau dia adalah seorang 'opas', sepantasnya seorang opas
tidak berlaku sopan, akhirnya diapun duduk kembali dengan santainya.
Kelihatannya nyonya bergaun hijau itupun
merasa takut sekali berhadapan dengan opas, kepalanya tertunduk
sangat rendah, sambil berdiri dihadapan bocah pincang itu tanyanya
lembut: "Apakah thayjin masih ada perintah lain?"
"Siapkah dua potong tahu panas" jawab bocah
pincang itu sengaja memperberat nadanya.
Nyonya bergaun hijau itu mengiakan dan
segera berlalu, dia membisikkan sesuatu ke sisi telinga si kakek.
Sambil tertawa kakek itupun berkata: "Nyonya
kami bilang koanjin pasti sudah amat lelah karena memburu buronan,
karena itu harus dilayani dengan istimewa, dia suruh aku tambahkan
berapa macam bumbu dalam tahu ini"
Diam-diam bocah pincang itu tertawa geli,
pikirnya:
"Tidak nyana ada gunanya juga mengaku
sebagai seorang opas"
Dengan membawa semangkuk tahu kakek itu
masuk ke dalam gubuknya, tidak lama kemudian dia sudah muncul
kembali seraya berkata:
"Koanjin, cobalah semangkuk tahu ini"
Sambil berkata dia sodorkan semangkuk tahu
yang masih panas ke hadapan bocah pincang itu, benar saja, tahu itu
sudah diberi berapa bahan penyedap dan gorengan minyak hingga baunya
harum semerbak.
Dalam hati kecilnya bocah pincang itu
bertambah geli, pikirnya:
“Tampaknya mereka sangat takut kepadaku,
mungkin menagih uang pun tidak berani....."
Maka dengan lahapnya dia makan semangkuk
tahu itu hingga ludas bersih.
"Bagaimana rasanya?" tanya kakek itu
kemudian.
"Bagus, enak sekali"
"Semangkuk tahu itu memang semuanya bagus,
hanya ada satu hal yang kurang bagus" kakek itu berkata lagi sambil
tertawa.
"Apanya yang kurang bagus?"
"Siapa yang sudah makan tahu itu berarti dia
bakal kehilangan nyawa"
Berubah paras muka bocah pincang itu, sambil
mendorong meja dia melompat bangun dan melompat ke hadapan kakek
itu, teriaknya sambil mencengkeram baju kakek itu kuat-kuat:
"Jadi kedai ini sebuah kedai gelap?"
Kakek itu hanya menatapnya sambil tertawa
tergelak, sama sekali tidak berbicara.
Bocah pincang itu segera merasakan kepalanya
mulai pening dan pandangan matanya berkunang-kunang, ke empat
anggota tubuhnya lemas tidak bertenaga, dia sadar keadaan tidak
beres, dengan penuh kegusaran sebuah pukulan langsung dilontarkan ke
tubuh kakek itu.
Dengan cekatan si kakek mengigos ke samping
lalu mendorongnya perlahan, bocah pincang itu langsung roboh
terjungkal ke lantai.
Tatkala tubuhnya terjungkal, dengan penuh
rasa dendam pikirnya:
"Tidak nyana aku sebagai anggota perguruan
Kiu cu kui bo akhirnya harus roboh terjungkal ditangan orang"
Belum lagi ingatan itu selesai melintas, dia
sudah jatuh tidak sadarkan diri.
"Roboh kau, roboh kau........." seru si
kakek sambil bertepuk tangan, kemudian sambil berpaling tanyanya
dengan senyuman masih menghiasi wajahnya, "nona, sebenarnya siapakah
orang ini? Kenapa kau merobohkan dirinya?"
"Aku sendiri juga kurang tahu siapakah dia"
jawab perempuan bergaun hijau itu, "tapi aku kenal dengan orang yang
ditangkapnya itu, cepat kita gotong masuk ke dua orang itu!"
Dibawah cahaya lentera yang redup, tampak
wajah cantiknya sama sekali tidak berbedak maupun bergincu,
sekalipun pakaian yang dikenakan amat sederhana namun tidak menutupi
kecantikan wajahnya yang menawan.
Sikap maupun tingkah laku kakek itupun
kelihatan menaruh hormat terhadap si nona, dia tak berani banyak
bertanya lagi dan segera menggotong masuk Thiat Tiong-tong serta
bocah pincang itu.
Biarpun wajahnya sudah penuh keriput,
usianya sudah agak lanjut, namun kekuatan lengannya masih hebat,
biarpun sekaligus harus menggotong tubuh dua orang, dia tampak tidak
kepayahan.
Perabot yang ada dalam ruang gubuk itu amat
sederhana, tapi suasana amat bersih, tidak nampak ada setitik debu
pun.
Sambil menggendong bayinya, nyonya bergaun
hijau itu mengikuti di belakangnya, sambil menuding ke arah Thiat
Tiong-tong ujarnya:
"Coba kau periksa orang itu, apakah tertotok
jalan darahnya atau pingsan karena dicekoki obat pemabuk"
"Siangkong ini nampak lemas seperti kapas,
kelihatannya dia roboh karena obat pemabuk" jawab si kakek setelah
memeriksanya secepat, saat ini sorot matanya tajam sekali.
Setelah membaringkan bayinya diatas ayunan,
perempuan berbaju hijau itu mengambil semangkuk air dingin dan
mencoba dilolohkan ke mulut Thiat Tiong-tong, siapa tahu pemuda itu
tetap tidak sadarkan diri, bahkan ketika kepalanya diguyur air
dingin pun sang pemuda tetap pingsan.
"Lihay betul obat pemabuk ini!" gumam kakek
itu dengan kening berkerut.
Perempuan bergaun hijau itu menghela napas
panjang, ujarnya:
"Padahal orang ini selalu hati-hati dan
penuh kewaspadaan, ilmu silatnya terhitung tangguh, kenapa bisa
dikerjai bocah cilik?"
"Sebenarnya siapa sih siangkong ini? Kenapa
nona sangat menguatirkan dirinya?"
Kembali perempuan bergaun hijau itu
menghela napas.
"Dialah Thiat Tiong-tong dari Perguruan Tay
ki bun!" sahutnya.
Berubah paras muka kakek itu:
"Jadi dia.... dia adalah......nona ke
dua.....”
"Sstt tutup mulut! Ada orang datang"
mendadak perempuan itu menggoyangkan tangannya.
Baru selesai bicara, suara langkah manusia
sudah berjalan mendekat dari kejauhan, lalu terdengar seseorang
berkata dengan suara dalam:
"Omitohud, bolehkah aku si pendeta minta
sedekah semangkuk susu kedele untuk menghilangkan dahaga?"
"Kau jaga disini, biar aku yang tengok
keadaan diluar" bisik perempuan itu lirih.
Dengan cepat dia berjalan keluar dari
ruangan, sekalian merapatkan kembali pintunya.
Dalam remang remangnya kegelapan malam
terlihat ada seorang pendeka berjubah abu-abu yang mengenakan sepatu
rumput, berkaos kaki putih dan mengenakan sebuah topi bambu berdiri
disisi gilingan kedele.
Kelihatannya dia datang dari kejauhan, ini
terlihat dari pakaiannya yang penuh debu dan pasir, topi bambu
dikenakan rendah rendah sehingga menutupi separuh wajahnya, yang
terlihat hanya jenggot panjangnya yang hitam.
Dengan kepala tertunduk kembali orang itu
berkata:
"Li sicu, bersediakah kau memberi sedekah
untuk aku si pendeta?"
Perempuan berbaju hijau itu ingin pendeta
tersebut secepatnya pergi dari situ, maka setelah menuang semangkuk
susu kedele dan mengambil sepotong tahu, dia sodorkan didepan sang
pendeta seraya berkata:
"Thaysu, silahkan dicicipi!"
"Li sicu berhati mulia, Pousat tentu akan
melindungi mu" seru pendeta itu kemudian sambil tertawa.
"Terima kasih atas doa thaysu, silahkan
dicicipi"
Perlahan-lahan pendeta itu duduk di bangku,
kembali ujarnya:
"Pousat pasti akan melindungi Li-sicu selalu
banyak rejeki dan selamat, selamanya jejaknya tidak ketahuan orang"
"Thaysu, apa katamu?" berubah paras muka
nyonya berbaju hijau itu, "aku tidak mengerti maksudmu"
“Nona Leng, benarkah kau tidak mengerti?"
kata pendeta itu sama sekali tidak berpaling.
Sekujur badan perempuan berbaju hijau itu
bergetar keras, wajahnya berubah makin hebat, tapi dia masih
memaksakan diri untuk tertawa.
"Siapa sih nona Leng itu? Jangan-jangan
thaysu salah melihat orang!"
"Leng Cing-soat, nona Leng" kata pendeta itu
sambil tertawa, "sejak kepergianmu, semua orang berusaha menemukan
jejakmu, orang menyangka kau telah bersembunyi ditengah hutan lebat,
siapa sangka seorang putri cantik yang sudah biasa hidup dimanja,
kini bersembunyi disebuah dusun terpencil sambil menjual susu
kedele"
"Siapa kau sebenarnya?" bentak perempuan
berbaju hijau itu terperanjat.
Perlahan-lahan pendeta itu berpaling,
melepaskan topi bambunya dan perlihatkan sepasang alis matanya yang
tebal, sepasang matanya yang tajam serta hidung bengkoknya seperti
paruh burung elang.
Biarpun dibawah dagunya tumbuh jenggot
pendek, namun usianya masih sangat muda, walaupun bertampang
ganteng, sayang wajahnya yang pucat pasi menimbulkan kesan dingin
yang menggidikkan hati.
Leng Cing-soat memandang orang itu sekejap,
tiba-tiba ia mundur dua langkah.
"Nona Leng, apakah kau sudah mengenali
siaute?" tanya pendeta itu lagi sambil tersenyum.
Sekulum senyuman manis tiba-tiba
tersungging diujung bibir Leng Cing-soat, katanya sambil tertawa
ringan:
"Bukankah kau adalah Sim toate? Mana mungkin
aku tidak bisa mengenalimu?"
Ditengah senyuman manis mendadak tangannya
secepat kilat menyapu ke depan, sepuluh jari tangannya yang tajam
bagai pedang langsung membabat sepasang mata dan tenggorokan pendeta
itu, sementara kakinya melepaskan tendangan kilat menghajar
Tan-thian di perutnya.
Jurus serangan yang digunakan selain aneh
juga ganas dan telengas, apalagi selisih jarak mereka berdua sangat
dekat, asal tersambar ujung jarinya dapat dipastikan akan
mendatangkan bencana kematian.
Siapa sangka kelihatannya pendeta itu sudah
menaruh waspada sejak awal, sambil tertawa terbahak-bahak katanya:
"Hahahaha.....untung sejak awal siaute sudah
tahu kalau dibalik senyuman nona tersembunyi golok, kalau tidak,
mungkin aku sudah kehilangan nyawa saat ini"
Selesai tertawa tubuhnya sudah meloncat ke
udara dan menghindarkan diri.
"Hmm, sekarang pun kau tetap tidak punya
harapan untuk hidup!" ejek Leng Cing-soat sambil tertawa dingin.
Tubuhnya bagai bayangan saja langsung
menempel ketat disamping pendeta itu, sepasang tangannya berputar
kencang menciptakan bayangan pukulan yang menyelimuti angkasa.
Setelah memunahkan berapa jurus serangan
lawan, kembali pendeta itu berteriak keras:
"Nona, jangan menyerang dulu, kedatangan
siaute kali ini sama sekali tidak bermaksud jahat"
Berada ditengah udara, dengan jurus Si
jin ti (menjinjing orang mati) dia mencelat sejauh satu meter
lebih.
"Kalau memang tidak bermaksud jahat, kenapa
gerak gerikmu mencurigakan dan wajahmu tampil dengan menyamar?
Memangnya kau berharap nonamu akan membebaskan kau sehingga dapat
pulang menyampaikan berita?"
Pendeta itu menghela napas getir, ujarnya:
"Nona Leng, tahukah kau kalau nasib siaute
saat ini tidak beda jauh dengan nona? Kini aku sudah menjadi manusia
gelap yang takut bertemu orang, oleh sebab itulah terpaksa siaute
harus menyamar seperti ini"
Leng Cing-soat tampak agak ragu, dia
perhatikan sekejap pendeta itu kemudian katanya sambil tertawa
dingin:
"Sim Sin-pek, bagaimana mungkin aku bisa
mempercayai perkataanmu?"
"Seandainya Leng locianpwee berhasil
menemukan nona, paling banter dia akan minta nona untuk pulang ke
rumah" kata pandeta itu sambil menghela napas, "sebaliknya bila
guruku yang menemukan jejakku, dia bisa jadi akan mencabut nyawaku!"
"Hek Seng-thian hanya memiliki seorang
murid, kenapa ingin membunuhmu?"
"Sebab siaute telah menghianati guruku!"
sahut pendeta itu sambil tertawa getir.
Ternyata pendeta ini tidak lain adalah
pemuda yang ikut bersama Hek Seng-thian memasuki gua harta karun dan
kemudian menghianati gurunya dengan melarikan diri disaat bahaya
mengancam, dia bernama Sim Sin-pek.
Ketika mengetahui kalau Hek Seng-thian tidak
tewas didalam gua harta, pemuda ini segera tahu kalau gurunya tidak
nanti akan lepaskan dirinya dengan begitu saja.
Lantaran ketakutan, dia tidak berani tampil
lagi dalam dunia persilatan, untuk merahasiakan identitasnya maka
dia menyamar menjadi seorang pendeta yang berkelana kemana-mana.
Tidak nyana didalam pengembaraannya dia
bertemu dengan Leng Cing-soat.
Padahal sejak awal dia memang sudah punya
maksud jahat terhadap Leng Cing-soat, setelah memperoleh kesempatan,
agar menghilangkan kecurigaan orang maka diapun sengaja menciptakan
sebuah cerita untuk membohongi perempuan itu.
Dasar dia memang pandai bersilat lidah,
tidak heran kalau cerita karangannya segera membuat orang percaya.
Sebagai penutup kembali dia menghela napas
panjang, perlahan ujarnya:
"Itulah sebabnya guruku tidak ingin
membiarkan siaute hidup terus, kalau siaute tidak menyamar dan
kabur dari dunia persilatan, mungkin......"
"Hmmm, percuma kau bersilat lidah dengan
memutar balikkan dunia, aku tidak bakal percaya kepadamu" dengus
Leng Cing-soat ketus.
Bagaimana pun dia adalah seorang wanita,
melihat betapa ibanya orang itu, sekalipun dimulut mengatakan tidak
percaya, padahal dia sudah mempercayainya berapa bagian.
Tiba tiba Sim sin-pek berlutut, sumpahnya:
"Jika cayhe bohong, biar langit menghukum
dan menumpasku dari muka bumi!"
"Apa gunanya kau bersumpah?" jengek Leng
Cing-soat lagi sambil tertawa dingin.
"Kini siaute telah menghianati perguruan dan
kabur dari dunia persilatan" katanya, "jika nona pun menaruh curiga
kepadaku, biarlah siaute mati dihadapan nona saja daripada membuatmu
kuatir"
Leng Cing-soat tertawa dingin, dia membuang
muka dengan mendongakkan kepalanya memandang angkasa.
Kembali Sim Sin-pek berkata:
"Asal bisa cuci bersih nama siaute dari
segala tuduhan dan fitnahan, kenapa mesti takut mati? Siaute hanya
memohon agar nona menjadi saksi atas semua pengakuan ini, jangan
lupa siramlah kuburan siaute nanti dengan satu dua cawan arak
kegetiran"
"Kalau ingin mati, matilah! Tidak bakal ada
yang menghalangi niatmu"
Sim Sin-pek menghela napas panjang, dari
dalam sakunya dia cabut keluar sebilah pisau belati yang amat tajam
kemudian siap digorokkan keatas tenggorokan sendiri.
Tampaknya dia sudah memahami sifat Leng
Cing-soat yang ketus diwajah namun hangat didalam hati, dia yakin
gadis itu tidak akan membiarkan dirinya mati bunuh diri, oleh sebab
itu tusukan belatinya dilakukan dengan sepenuh tenaga.
Paras muka Leng Cing-soat agak berubah
ketika melihat pendeta itu mencabut pisau belati, maka begitu
melihat dia benar-benar menggorok leher sendiri, diiringi bentakan
nyaring tubuhnya melejit ke depan, secepat kUat tangannya menghajar
pergelangan tangan Sim Sin-pek yang menggenggam senjata.
"Triiing!" pisau belati itu terjatuh ke
tanah, namun mata pisau yang tajam tidak urung melukai juga leher
Sim Sin-pek hingga muncul sebuah mulut luka yang memanjang.
Darah segar meleleh keluar membasahi jubah
Sim Sin-pek yang abu-abu, terdengar dia menghela napas sedih.
"Aaaai, kalau toh nona pun tidak percaya
kepadaku, biarlah siaute mati dihadapanmu!"
Tampaknya Leng Cing-soat masih kuatir kalau
dia akan mencoba bunuh diri lagi, dengan satu tendangan dia menyepak
pisau belati itu hingga mencelat jauh, katanya kemudian:
"Aku percaya kepadamu!"
"Sungguh?" Sim Sin-pek kegirangan.
Leng Cing-soat menghela napas panjang.
"Luka mu tidak serius bukan? Cepat ikut aku
masuk ke dalam, biar kubalut lukamu itu"
"Siaute bersedia mati untuk membuktikan
ketulusan hatiku, asal nona percaya kepada siaute, biar harus mati
saja tidak masalah apalagi hanya luka sekecil ini"
Leng Cing-soat mengerdipkan matanya
berulang kali, tampaknya dia terharu oleh pernyataan itu.
Perlu diketahui, sudah sejak lama Sim
sin-pek menaruh rasa suka terhadapnya, setiap kali bertemu nona ini,
dia selalu bicara dengan lembut, sopan dan penuh keriangan.
Sebaliknya Leng Cing-soat sudah banyak tahun
hidup menjauh dari keluarganya, kemiskinan, kesepian membuatnya
sangat menderita, maka pertemuannya kali ini sama halnya seperti
bertemu sanak sendiri, tidak heran kalau dengan cepat dia menaruh
keper-cayaan penuh terhadap segala perkataannya.
Sim Sin-pek mengikuti dibelakangnya masuk ke
dalam ruangan, pikirnya dengan girang:
"Dia sudah lama hidup kesepian, sekarang-pun
menaruh simpatik kepadaku, menganggap aku senasib sependeritaan
dengannya, asal membuang sedikit waktu, tidak susah rasanya untuk
menggiring dia masuk ke dalam pelukanku"
Baru saja dia memandang sekejap sekeliling
ruangan, tiba-tiba terlihat ada sepasang mata yang tajam sedang
mengawasinya tanpa berkedip, sorot mata itu penuh dengan pengalaman,
sorot mata yang penuh kecurigaan serta rasa tidak percaya kepada
siapa pun.
Sim Sin-pek segera kenal sorot mata itu
sebagai pandangan mata dari Leng Cuan-hok, pengurus rumah tangga
benteng Han hong po di masa lampau.
Maka sambil tertawa licik sapanya:
"Lo-coongkoan, masa kau tidak kenal aku?"
Leng Coan-hok manggut perlahan, sorot
matanya kembali dialihkan ke wajah Leng Cing-soat.
Padahal secara lamat-lamat dia sudah
mengikuti semua pembicaraan dan kejadian yang berlangsung diluar
rumah tadi, hanya persoalannya tidak terlalu jelas.
Secara ringkas Leng Cing-soat menceritakan
apa yang terjadi, kembali tambahnya:
"Ketika aku sedang meninggalkan Han hong po
tempo hari, gerak gerikku ketahuan Hok-tia, tapi dia tidak mencegah
perbuatanku sebaliknya malah ikut aku melarikan diri"
Setelah menghela napas, terusnya:
"Selama berapa tahun belakangan, seandainya
tidak ada dia, mungkin akupun tidak bisa hidup hingga kini"
Membayangkan kembali rasa takut yang harus
dihadapinya ketika kabur dari pengejaran, perjuangannya untuk
mempertahankan hidup, penderitaannya karena membayangkan kematian
suaminya, keraguannya ketika mempertimbangkan tempat untuk
menyembunyikan diri serta siksaan batin yang harus dirasakannya
ketika hidup menyendiri, tidak kuasa lagi titik air mata jatuh
berlinang membasahi pipinya.
Saat itulah Sim Sin-pek telah menemukan
Thiat Tiong-tong serta bocah pincang yang tergeletak tidak sadarkan
diri dilantai, segera tanyanya:
"Siapa pula ke dua orang ini?"
"Yang seorang adalah Thiat Tiong-tong dari
Perguruan Tay ki bun, sedang yang lain adalah...."
Mendadak Leng Coan-hok terbatuk-batuk, jelas
dia hendak mencegah Leng Cing-soat menjelaskan persoalan itu.
Leng Cing-rsoat tertawa pedih, katanya:
"Mulai sekarang Sim-pek sudah menjadi
anggota keluarga kita, aku pikir persoalan apa pun yang sedang kita
hadapi, tidak perlu dirahasiakan kepadanya lagi"
"Tapi........"
"Sudah, tidak perlu banyak bicara lagi"
Terpaksa Leng Coan-hok menundukkan kepalanya sambil perlahan-lahan
membalikkan tubuh, sorot mata orang tua ini nampaknya sudah berhasil
menebak niat buruk dari Sim sin-pek, hanya untuk sesaat dia belum
bisa membuktikannya.
Dia berjalan mendekati ayunan, menundukkan
kepala dan mengawasi bocah yang sedang tertidur lelap.
Sambil tertawa paksa
kata Sim Sin-pek kemudian:
"Perkataan Hok-tia ada benarnya
juga........"
"Aaaai.... bagaimana pun kita adalah manusia
yang hidup bermasyarakat" tukas Leng Cing-soat sambil menghela
napas, "sedikit banyak kita harus belajar menaruh kepercayaan kepada
orang lain"
Kalau dibilang perkataan itu ditujukan untuk
Sim sin-pek, maka lebih tepat kalau dibilang ucapan mana sengaja
dialamatkan untuk Leng Coan-hok, akan tetapi kakek itu sama sekali
tidak berpaling.
Mengawasi bayangan punggungnya yang rentan
dan tua, timbul perasaan menyesal dihati kecil Leng Cing-soat,
kembali ujarnya:
"Hok-tia, bagaimana kalau hari ini kita
menutup usaha lebih awal?"
Dengan kepala
tertunduk Leng Coan-hok menyahut.
Sambil tertawa paksa kembali Sim Sin-pek
berkata:
"Nona dapat bersembunyi disini sambil
membuka warung usaha, cara ini bagus sekali, siapapun tidak akan
menduga sampai disini"
"Yaa, semuanya ini adalah berkat ide dari
Hok-tia" sahut Leng Cing-soat sambil menghela napas.
Mendadak dia jumpai Sim Sin-pek meski sedang
mengajaknya berbicara, namun sorot matanya berulang kali melirik
Thiat Tiong-tong yang tidak sadarkan diri, tidak tahan segera
tegurnya:
"Apa yang sedang kau perhatikan? Memangnya
kau kenal dengan orang itu?"
Buru-buru Sim Sin-pek menarik kembali sorot
matanya, sambil tertawa paksa dia menyahut:
"Aaah, mana mungkin siaute kenal orang ini?"
Hanya dalam satu lirikan mata, dia sudah
menjumpai diujung saku Thiat Tiong-tong terdapat sebuah benda yang
mirip sekali dengan panji darah, panji yang pernah dijumpai ketika
berada dalam gua harta karun.
Panji darah itu semestinya hendak Thiat
Tiong-tong serahkan kepada Im Ceng, tapi ditampik oleh pemuda itu
sehingga hingga kini disimpan dalam sakunya.
Apa mau dibilang benda pusaka itu sekarang
justru ditemukan oleh Sim sin-pek yang berhati busuk dan penuh
dengan akal licik ini.
Kontan saja Sim Sin-pek merasakan hatinya
bergetar keras, pikirnya:
"Orang she-Thiat ini bisa peroleh panji
tersebut, berarti dia pun sudah mendapatkan seluruh harta
karun itu......"
Maka sambil berlagak tidak sengaja dia
bungkukkan tubuhnya.
Dibawah sorot cahaya lentera yang redup dia
mencoba memastikan apakah benda yang tersumbul keluar dari saku
Thiat Tiong-tong benar-benar adalah panji darah, pusaka dari
Perguruan Tay ki bun atau bukan.
Sementara dia masih mengamati dengan serius,
kebetulan pada waktu itu Thiat Tiong-tong sedang membuka matanya.
Disaat pemuda itu belum teringat akan semua
peristiwa yang terjadi, pandangan pertama yang muncul dihadapannya
adalah wajah orang itu, selembar wajah yang seakan
akan.......akan.......
Tiba-tiba dia teringat kembali dengan wajah
orang ini, dia masih ingat dengan jelas, wajah tersebut tidak lain
adalah wajah sang pemuda yang telah menghianati gurunya dan
melarikan diri dari gua harta.
"Aaaah, rupanya kau!"
Pada saat yang bersamaaan, ketika Thiat
Tiong-tong tersadar dari ingatannya, Sim Sin-pek telah mengambil
keputusan, dia tidak boleh membiarkan Thiat Tiong-tong berteriak,
tidak boleh membiarkan pemuda itu membocorkan kebohongannya, dan
yang lebih penting lagi dia harus mendapatkan seluruh harta karun
yang dimiliki Thiat Tiong-tong.
Demi mendapatkan harta karun yang tidak
ternilai harganya, dia tidak sempat lagi mengurusi kecantikan Leng
Cing-soat, dalam waktu sedetik Sim Sin-pek telah menyodokkan jari
tangan kirinya sambil membalik lengan kanannya.
Jari tangan kirinya digunakan untuk menotok
jalan darah didada kanan Thiat Tiong-tong sementara tangan kanannya
berbalik meloloskan sebilah pisau belati.
Ditengah kilatan cahaya tajam, secepat petir
dia menghujamkan pisau belati itu ke atas dada Leng Cing-soat.
Gadis itu menjerit kesakitan, sambil
mendekap mulut luka didadanya dengan kedua belah tangan, dia
menjerit gemetar:
"Hok-tia........"
Dengan langkah terhuyung dia mundur ke
samping ayunan.
Kasih sayang seorang ibu membuat Leng
Cing-soat yang terluka parah tidak pernah lupa untuk melindungi
keselamatan putra kesayangannya.... ditengah jerit kesakitan, bayi
itu mulai menangis keras.
Sambil menyeringai seram Sim sin-pek
membalikkan tubuhnya, selangkah demi selangkah menghampiri ayunan.
Waktu itu Leng Coan-hok sedang memegang
lentera sambil masuk ke dalam ruangan, dengan mata merah membara dia
lempar lentera itu ke tanah kemudian tubuhnya langsung menerkam ke
arah Sim Sin-pek.
Cepat Sim sin-pek sedikit merendahkan
tubuhnya sambil merentangkan tangannya ke kiri kanan, dengan jurus
Hong hong siang tian ci (burung hong pentang sayap) tangan
kirinya men dorong roboh Leng Cing-soat sementara tangan kanannya
memukul mundur Leng Cioan-hok.
Dengan sempoyongan Leng Coat-hok mundur ke
belakang, kini orang tua itu sudah sangat geram, umpatnya dengan
wajah merah padam:
"Bajingan keparat, nona bersikap baik
kepadamu, tidak nyana kau justru tega melukainya...."
"Hmm, kalau tidak kejam bukan seorang
lelaki" jengek Sim sin-pek sambil tertawa licik, "tua bangka Leng,
hari ini akan kusuruh kau rasakan kelihayan dari seorang lelaki
sejati macam aku!" '
Ditengah gelak tertawa menyeramkan, dia
merangsek maju menghampiri orang tua itu.
Leng Coan-hok mendongakkan kepalanya tertawa
keras, teriaknya:
"Mundur kau bangsat, lohu tidak sudi mati
ditanganmu!"
Kini rambut putihnya awut-awutan, darah
meleleh diujung matanya, sikap ksatria seorang abdi dalam yang
dengan setia dan gigih membela majikannya membuat Sim Sin-pek
sedikit tertegun, tidak sadar dia segera menghentikan langkahnya.
"Nona" teriak Leng Coan-hok kemudian dengan
pedih, "lohan tidak becus, aku tidak bisa melindungimu lagi"
Tiba-tiba dia menubrukan kepalanya ke atas
dinding bata, "Duuuuk!" percikan darah segar berhamburan di
mana-mana, jenasah orang tua itu terpuruk disudut ruangan dalam
keadaan mengenaskan.
Leng Cing-soat mencoba meronta untuk bangkit
berdiri, darah telah membasahi seluruh dadanya, tusukan pisau belati
itu terbenam hingga tinggal gagangnya.
"Hok-tia....." jeritnya gemetar, "ooh
anakku... anakku......"
Isak tangis bayi itu semakin bertambah
keras.
"Anak apa?" jengek Sim Sin-pek sambil
tertawa, "apakah anak jadah dari orang she Im itu?"
Tiba-tiba dia melompat ke samping ayunan,
lalu serunya lagi sambil tertawa seram:
"Baiklah, Biar toaya kirim dia ke neraka,
agar dalam perjalanan ke alam baka nanti dia bisa menemanimu!"
Ke lima jari tangannya bagai kaitan langsung
mencengkeram bayi yang tertidur di ayunan itu.
Diiringi jeritan lengking yang amat tajam,
tergopoh gopoh Leng Cing-soat menerkam tiba, dengan tubuhnya yang
berlumuran darah dia berusaha melindungi bayinya yang masih tertidur
dalam ayunan.
Dibawah cahaya lentera terlihat paras muka
gadis itu telah berubah pucat kehijau-hijauan, sinar matanya
memancarkan rasa benci yang berapi api, dengan penuh rasa dendam
jeritnya:
"Kalau kau berani menyentuhnya, biar jadi
setan pun aku tidak akan mengampunimu!"
Sekalipun Sim Sin-pek keji dan buas, tidak
urung bergidik juga hatinya setelah mendengar ancaman itu.
Kembali Leng Cing-soat berseru diiringi isak
tangis yang memedihkan hati:
"Kau tidak ada dendam sakit hati denganku,
kalau ingin bunuh aku, bunuhlah, tolong ampuni lah anakku yang tidak
berdosa!"
Isak tangis yang memedihkan hati mengiringi
ucapannya yang sendu, sungguh membuat suasana dicekam kedukaan yang
mendalam.
Sim Si-pek segera mendongakkan kepalanya dan
tertawa seram.
"Hahahaha.....ampuni dia? Hmm,
hmmm! Kalau mencabut rumput tidak seakar akarnya, dikemudian hari
pasti akan menjadi bibit bencana.
Sebetulnya perkataan itu sering diajarkan
ayahmu kepadaku, hehehe....tidak disangka hari ini harus kugunakan
untuk menghadapimu!"
Belum habis tertawa, mendadak Leng Cing-soat
menerjang maju lagi dengan cepat, dia cabut keluar pisau belati yang
menancap di dadanya, semburan darah segar segera memancar keluar
dari mulut luka membasahi wajah Sim Sin-pek.
Seketika itu juga Sim Sin-pek merasakan ada
semburan cairan panas bagaikan guyuran air mendidih memancar keatas
wajahnya, dalam keadaan terperanjat buru-buru dia gunakan tangannya
untuk melindungi mata, saat itulah pisau belati ditangan Leng
Cing-soat telah menghujam tiba.
Dalam situasi seperti ini, mimpipun Sim
Sin-pek tidak menyangka kalau Leng Cing-soat yang terluka parah
masih memiliki kekuatan sebesar itu, tidak ampun tubuhnya langsung
roboh terkapar ke tanah, pisau belati yang tajam meski tidak sampai
menembusi jantungnya, namun rasa sakit yang luar biasa akibat
tusukan senjata membuatnya kesakitan setengah mati.
Perasaan sakit bercampur ngeri membuat
sukmanya seakan melayang meninggalkan raga.
Leng Cing-soat sendiripun tidak tahu
darimana munculnya kekuatan sebesar itu, bisa jadi tenaga itu muncul
dari keberaniannya untuk melindungi anaknya, mungkin juga muncul
karena rasa sedih dan gusarnya, begitu pisau belati itu menghujam
telak ditubuh Sim sin-pek, telapak tangan kirinya langsung membabat
ke atas tenggorokannya.
Sim Sin-pek meraung keras, sepasang
lengannya direntangkan ke samping membuat tubuh Leng Cing-soat
mencelat ke tengah udara, tapi dia sendiripun telah mengggunakan
seluruh kekuatan yang dimiliki hingga pingsan seketika itu juga.
Leng Cing-soat yang sesungguhnya sudah
terluka parah pun jatuh tidak sadarkan diri setelah mengerahkan sisa
kekuatan yang dimiliki, diantara sekian banyak orang hanya Thiat
Tiong-tong seorang tetap berada dalam kondisi sadar, meski jalan
darahnya tertotok.
Dia hanya bisa menyaksikan drama yang amat
tragis itu berlangsung didepan mata, pemuda itu hanya bisa menonton
tanpa memiliki kekuatan untuk mencegah, hal mana membuat perasaan
hatinya sedih bercampur gusar.
Sementara itu lentera yang dilempar si kakek
ke lantai sudah berkobar menjadi jilatan api yang membesar, api
mulai membakar meja, bangku, dinding serta wuwungan rumah.
Dalam waktu singkat seluruh bangunan rumah
itu sudah terkubur dalam lautan api.
Isak tangis sang bayi makin lama makin
bertambah lemah, akhirnya menjadi serak sebelum berhenti sama
sekali........
Thiat Tiong-tong merasakan hatinya sakit
bagaikan disayat, dia tahu bayi tersebut adalah darah daging
keluarga Im, nasib bayi itu sungguh tragis, sebelum lahir sudah
menimbulkan begitu banyak gelombang masalah, membuat ibunya harus
mengembara dalam dunia persilatan, membuat ayahnya harus mati secara
mengenaskan, dan kini, setelah dilahirkan, lagi-lagi dia harus
mengalami pengalaman yang begitu menyiksa dan mengenaskan.
Air mata mulai mengembang dalam kelopak mata
Thiat Tiong-tong, sambil menahan amarah dan benci, dia hanya bisa
mengawasi kobaran api yang semakin membesar, tampaknya seluruh
penghuni rumah gubuk itu akan terkubur dalam kubang api yang membara.
Kini dia hanya berharap Leng Cing-soat bisa
tersadar dari pingsannya dan selamatkan darah daging keluarga Im,
bahkan diapun berharap si bocah pincang dapat sadar dari pingsannya.
Tapi sayang, harapannya hanya harapan yang sia sia.
Orang yang tersadar paling duluan ternyata
adalah Sim Sin-pek.
Ketika Sim Sin-pek membuka matanya, kobaran
api sudah mulai menjilat didepan mata.
Dalam terkesiapnya cepat dia melompat bangun,
dalam gugup dan ngerinya tidak sempat lagi baginya untuk memikirkan
persoalan lain.
Hanya satu yang terpikir olehnya waktu itu,
dia harus mendapatkan harta karun itu, sebab siapa pun yang bisa
memperoleh harta karun tersebut, perjalanan hidupnya pasti akan
berubah secara drastis.
Isak tangis sang bayi telah berhenti, kobaran api semakin membara, Sim Sin-pek tidak sempat menggubris persoalan lain lagi, dia segera sambar tubuh Thiat Tiong-tong dan melarikan diri dari lautan api.