pendekar panji sakti 03

BAB 7.

Terjadi perubahan.

 

Langit yang sangat cerah dengan sinar matahari berwarna kuning emas.

Tapi suasana dalam gedung utama keluarga Li yang bermandikan cahaya matahari justru dicekam dalam ketegangan yang berat dan meenyesakkan napas, bahkan setiap orang merasa napasnya jadi berat.

Semua meja sudah terisi penuh manusia, semua orang duduk dengan perasaan kebat kebit, wajah serius. Beratus pasang mata sama sama tertuju ke wajah Li Lok-yang.

Waktu  itu  Li  Lok-yang  sambil  bergendong tangan, berkerut kening, berjalan mondar mandir diantara kerumunan orang banyak, beberapa kali dia menengok keluar pintu gedung sambil bertanya:

"Apakah semuanya telah hadir?"

Setiap orang duduk dengan pikiran yang kalut, bahkan Phoa Seng-hong pun duduk saling berhadapan dengan Hay Tay-sau, siapa pun yang mendonggakkan kepalanya, dia akan segera terbentur dengan sorot mata lawan yang penuh dengan kebencian.

Tiba-tiba terlihat seorang pemuda berbaju pulih yang berwajah sedih, berpakaian lusuh dan memegang sebilah pedang melangkah   masuk dengan sempoyongan, dia memandang sekeliling ruangan sekejap kemudian duduk kembali kebangkunya, penampilan orang ini pada hakekatnya seperti dua orang yang berbeda bila dibandingkan berapa hari berselang.

"Ada apa dengan bajingan itu?" pikir Suto Siau dengan kening berkerut, dia semakin keheranan ketika tidak melihat Un Tay-tay berada bersama­nya.

"Blaaam!" tiba-tiba Im Ceng meletakkan pedangnya diatas meja keras keras, lalu teriaknya:

"Hey tuan rumah, apa punya arak? Aku ingin minum sampai mabuk"

"Harap hengtay tunggu sebentar" jawab Li Kiam-pek sambil mendekat.

Tiba-tiba dia saksikan paras muka pemuda itu berubah hebat, dari balik matanya seakan meman­car keluar sinar berapi api.

Li Kiam-pek agak tertegun, tapi dengan cepat dia sadar kalau kemarahan pemuda berbaju putih itu bukan tertuju kepadanya, tapi diarahkan ke belakang tubuhnya.

Ketika berpaling, dia pun saksikan kakek aneh itu muncul bersama perempuan cantik pasangan pemuda berbaju putih itu.

Suto Siau terlebih kaget lagi, tanpa terasa dia melompat bangun sambil melotot besar.

Un Tay-tay sama sekali tidak melirik kearahnya, diapun tidak memandang ke arah Im Ceng, malah sambil menggandeng tangan kakek aneh itu berjalan menuju ke tempat duduknya.

Jarang ada yang tahu hubungan sesungguh­nya dari berapa orang itu, kebanyakan orang hanya merasa agak kaget bercampur keheranan setelah melihat sikap Suto Siau dan Im Ceng yang lepas kendali.

Pelayan keluarga Li yang berdiri dipintu gerbang sudah mulai mencocokkan para tamu yang telah hadir dalam ruangan dengan daftar tamunya, kemudian sambil memberi hormat dia melaporkan:

"Semua tamu telah hadir!"

Li Lok-yang seketika menghentikan langkah kakinya, kemudian dengan suara berat katanya:

"Aku merasa tidak enak karena sepagi ini sudah mengganggu ketenangan anda semua"

Para tamu tahu pasti ada kelanjutan dari perkataannya itu, maka semua orang hanya pasang telinga tanpa menimbrung.

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Anda sekalian jauh-jauh datang kemari, sebagai tuan rumah sudah seharusnya aku mela­yani kalian dengan sebaik-baiknya, tapi sekarang, mau tidak mau terpaksa aku harus mempersilahkan anda semua untuk segera pulang ke rumah masing-masing"

Salah satu diantara Ouyang hengte segera bangkit berdiri, teriaknya:

"Waktu selama sepuluh hari belum lewat, kenapa tuan rumah sudah mengusir tamunya?"

Kawanan pemuda pemogoran ini memang khusus datang untuk mencari peluang mendekati sekelompok ratu tawon, tentu saja mereka jadi gelisah setelah tahu kalau pertemuan segera akan dibubarkan.

Sekali lagi Li Lok-yang menghela napas panjang.

"Betul, pertemuan selama sepuluh hari memang belum lewat, tapi dalam berapa hari mendatang pasti akan terjadi gelombang badai ditempat ini, cayhe betul-betul tidak tega membiarkan kalian semua terlibas dalam pusaran dan pergolakan ini"

"Waah, apalagi kalau bakal ada pergolakan ditempat ini" teriak salah satu anggota Ouyang hengte dengan suara keras, "kami bersaudara tidak sepantasnya kabur dari sini, melarikan diri disaat ancaman tiba bukan watak dari kami bersaudara"

Perkataan itu diucapkan dengan lantang dan penuh dengan semangat kesatriaan, tidak tahan dia melirik sekejap ke arah kawanan perempuan yang duduk disudut lain.

Tapi dengan suara berat Li Lok-yang segera berkata:

"Kalian masih muda, mana tahu berbahayanya dunia persilatan, bila sekali sampai terlibat dalam lingkaran setan ini, selama hidup jangan harap bisa lolos kembali"

Sesudah menghela napas, lanjutnya:

"Apalagi musuhku ini sangat lihay, sulit mencari orang yang mampu menandingi kemam­puan mereka, sebentar lagi banjir darah mungkin akan melanda tempat ini, jika kalian tidak segera pergi, bila sampai orang orang itu tiba disini, aku mungkin tidak berkesempatan lagi untuk melindungi keselamatan kalian. Terus terang, orang itu buas dan kejam, belum pernah dia biarkan lawannya hidup, begitu pertarungan ber­kobar, siapa hidup siapa mati susah diramalkan, jadi aku harap kalian segera pergi dari sini"

Dari sikapnya yang amat serius, ucapannya yang penuh diliputi rasa takut dan ngeri, semua orang tahu kalau persoalan yang bakal terjadi amat berat, berubah paras muka setiap orang, sedang kawanan pemuda dari keluarga Ouyang pun sama-sama bergidik, serentak mereka duduk kembali dan tidak berani banyak bicara.

Kembali Li Lok-yang menjura seraya berkata:

"Saudara sekalian, kereta kuda telah disiapkan dan setiap saat anda semua dapat berangkat meninggalkan tempat ini, karena keadaan men­desak dan cayhe sendiripun tidak bisa berbuat lain, mohon kalian sudi memaafkan"

Semua orang tahu kalau setiap ucapan Li Lok-yang lebih berat dari bukit karang, apa yang dia ucapkan tidak pernah merupakan omong kosong tanpa dasar, oleh sebab itu tak seorangpun yang buka suara untuk bertanya lagi.

Para pedagang sejati, para keluarga kecil, para orang kaya yang takut urusan tergopoh-gopoh bangkit berdiri meninggalkan tempat dan segera berbenah untuk angkat kaki dari situ.

Ada diantara mereka yang berpamitan dengan Li lok-yang, ada pula yang tidak sempat berpamit­an lagi, dalam waktu singkat ruang gedung utama sudah berubah jadi sepi kembali.

Ada juga berapa orang jago silat serta sahabat karib Li Lok-yang yang bicara soal setia kawan, mereka enggan pergi dari situ. Namun setelah dibujuk rayu berulang kali oleh Li Lok-yang, maka mereka pun ikut berlalu dari situ.

Muka gedung utama pun jadi amat hening dan sepi, yang masih tersisa sekarang tinggal Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Im Ceng yang masih tetap duduk sambil pelototi Un Tay-tay serta Thiat liang hong.

"Saudara, kenapa kau masih belum pergi?" tegur Li Kiam pek sambil menghampiri Im Ceng.

"Aku tidak bakal pergi!"

"Kenapa? Bukankah ayahku telah menerang­kan dengan sangat jelas?"

Sambil menuding ke arah Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu sekalian, Im Ceng berteriak:

"Kalau mereka tidak pergi, kenapa aku harus pergi?”

Biarpun sedang memberi jawaban, namun sorot matanya tidak pernah bergeser dari wajah Un Tay-tay.

Suto Siau saling bertukar pandangan sekejap dengan Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu.

Sambil tersenyum Pek Seng-bu segera berseru:

"Saudara, tidak nyana kau bersedia mati hidup bersama kami, kau memang tidak malu disebut seorang enghiong hohan, cayhe ucapkan terima kasih terlebih dulu!"

"Mati hidup memang bukan sebuah kejadian besar!" teriak Im Ceng.

"Sungguh?"

"Tentu saja sungguh" jawab Im Ceng gusar, "memangnya kau tahu siapakah aku?"

Thiat Tiong-tong mulai merasa tegang, dia kuatir Im Ceng benar-benar dipengaruhi emosi sehingga mengakui identitas yang sebenarnya, jika sampai terjadi hal seperti itu tentu saja sulit bagi Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu sekalian untuk berlagak pilon lagi.

Perlu diketahui, situasi pada saat ini amat sensitip, kedua belah pihak sama-sama mem­punyai rencana, kedua belah pihak pun menyangsikan sesuatu, hanya Im Ceng seorang yang belum tahu kalau jejaknya sebetulnya sudah ketahuan orang semenjak awal.

Untung saja Pek Seng-bu segera tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

"Selama kalian tidak pergi, akupun tidak bakal meninggalkan tempat ini" teriak Im Ceng lagi dengan suara keras, "suatu saat nanti kalian bakal tahu siapakah aku!"

Dengan menggenggam kotak pedangnya, dia berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Sekali lagi Pek Seng-bu saling bertukar pandangan dengan Suto Siau.

Kini Pek Seng-bu menjura ke arah Thiat Tiong-tong sambil berkata:

"Situasi saat ini sangat gawat, kenapa losianseng masih belum pergi?"

Thiat Tiong-tong mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.

"Hahahaha.....  lohu telah  merebut kekasih pemuda itu, jika berjalan keluar dari sini, mungkin pemuda itu segera akan datang mencari lohu untuk diajak beradu nyawa"

Dalam pada itu Li Lok-yang telah perintahkan anak buahnya untuk melakukan persiapan di empat penjuru, terdengar suara bentakan lirih diikuti suara langkah kaki yang tegang berkumandang tiba.

Perkampungan yang diwaktu biasa nampak tanpa penjagaan, begitu terjadi perubahan segera berubah menjadi sebuah benteng yang kokoh dengan penjagaan yang sangat kuat. Para pelayan yang dihari biasa berlaku santun, dalam waktu singkat telah berubah menjadi penjaga yang kosen.

Diluar pintu gerbang suara kuda dan kereta bergema silih berganti, banyak orang mulai kabur meninggalkan perkampungan itu.

Sambil bergendong tangan Thiat Tiong-tong berjalan menuju keluar pintu gerbang. Dia seolah–olah sedang memperhatikan situasi diluaran, padahal semua gerak gerik yang terjadi di belakang tubuhnya tidak satu pun yang lolos dari pengelihatannya.

Suto Siau menyangka dia tidak memperhatikan keadaan di belakangnya, dengan satu langkah pelan dia menghampiri Un Tay-tay, kemudian setelah melotot sekejap, tegurnya sambil menggigit bibir.

"Kau sudah edan?"

Un Tay-tay tertawa terkekeh-kekeh, sengaja dengan suara keras sapanya:

"Suto tayhiap, ada urusan apa?"

Suto Siau terkesiap, benar saja, Thiat Tiong-tong segera berpaling.

Terpaksa sambil tertawa sahutnya:

"Ooh,.... tidak apa apa, tidak apa apa!"

Ketika berjalan balik, hatinya merasa gemas sekali, saking jengkelnya ingin sekali dia menghajar mampus Un Tay-tay dengan sekali pukulan.

Un Tay-tay segera menarik ujung baju Thiat Tiong-tong sambil berseru:

"Lebih baik kita pulang saja, daripada kelewat lama disini aku malah dipermainkan orang lain"

"Betul" Li Kiam-pek segera menimpali, "lebih baik losianseng pulang saja!"

"Sementara waktu lohu akan kembali ke halaman belakang" kata Thiat Tiong-tong dengan wajah serius, "tapi bukan berarti aku akan pergi meninggalkan tempat ini, kalian tidak bakalan bisa mengusir aku dari sini"

Sementara Li Kiam-pek masih termangu, Thiat Tiong-tong sudah beranjak pergi.

Memandang bayangan punggung mereka hingga lenyap dari pandangan, Phoa Seng-hong menggelengkan kepalanya sambil menghela napas:

"Aaai, orang itu memang aneh sekali, bukan­nya melarikan diri malah tetap tinggal disini menunggu kematian"

"Masih untung tidak banyak manusia pengecut yang takut mati macam dirimu di dunia ini" sindir Hay Tay-sau sambil tertawa dingin.

"Apa kau bilang?" teriak Phoa Seng-hong sambil menggebrak meja, dia gusar sekali.

"Mau apa kau?" balas Hay Tay-sau tidak kalah kerasnya.

Li Lok-yang segera menarik wajahnya.

"Harap kalian berdua segera duduk kembali" tegurnya dengan suara keras, "saat ini kita sedang berada disatu perahu, jika tidak bekerja sama secara erat, mungkin perahu ini bakal terbalik dan tenggelam!"

"Hahahaha....saudara Li tidak perlu khawatir" kala Hay Tay-sau sambil tertawa tergelak, "kami hanya bergurau saja"

"Braaak!" dia kembali ke bangkunya dan tidak menengok lagi ke arah Phoa Seng-hong.

Semang pelayan berbaju hitam tiba-tiba berlari masuk dengan wajah gugup bercampur ketakutan, napasnya tersengkal-sengkal, telinga kanannya berlumuran darah, ternyata daun telinganya telah dikutungi orang.

"Ada apa?" tegur Li Lok-yang dengan wajah berubah.

Sambil memegangi telinganya yang berdarah dan mengatur napasnya yang tersengkal, sahut pelayan itu:

"Hamba mengikuti perintah dengan numpang kereta keluar dari sini, tapi belum sampai diujung jalan telah muncul orang yang menghadang kereta tersebut serta melakukan pemeriksaan"

"Aah, ternyata dugaanku tidak salah" seru Pek Seng bu sambil menghela napas, "rupanya mereka telah melakukan penjagaan yang ketat diseputar wilayah ini, mereka tidak mungkin membiarkan kita menyelinap keluar dan melarikan diri"

"Bagaimana kemudian?" tanya Li Lok-yang lebij jauh.

Sambil menahan rasa sakit sahut pelayan itu: "Tampuknya   mereka sangat hapal dengan identitas semua orang yang berada di sini, mereka yang tidak tersangkut dibiarkan jalan lewat, melihat   keadaan tersebut  hamba tidak berani meneruskan perjalanan, sebenarnya hamba ingin kembali untuk melaporkan kejadian ini kepada loya, siapa tahu satu diantara mereka, yang semula seperti orang yang bisu lagi tuli, mendadak maju ke depan menangkap hamba, tanpa banyak bicara dia segera mengurungi daun telingaku"

"Orang yang bisu lagi tuli?" Phoa Seng-hong menjerit kaget, "tidak disangka dia pun ikut datang kemari!"

Paras muka Hek Seng-thian ikut berubah hebat, katanya:

"Aku dengar ke sembilan orang murid Kiu cu kui bo (setan wanita berputra sembilan) adalah orang-orang yang cacad, apa mungkin si manusia bisu tuli itu adalah salah satu diantaranya?"

"Diantara deretan murid Kiu cu kui bo, orang ini terhitung paling keji, buas dan telengas" sahut Phoa Seng-hong sambil menghela napas, "bahkan dialah yang pernah membuat siaute sangat menderita, kedatangannya kali ini....."

Mendadak dia bersin beberapa kali dan tidak bicara lagi.

Hek Seng-thian menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

"Kiu cu Kui bo sudah banyak tahun tidak pernah muncul dalam dunia persilatan, bagaimana mungkin kau bisa berseteru dengannya? Apakah kau tidak merasa bahwa tindakanmu seperti sekali tonjok menghantam diatas sarang lebah?"

"Soal ini...... aaai, tidak akan selesai diceritakan dengan satu dua patah kata"

Hay Tay-sau mendengus dingin, gumamnya sambil menggeleng:

"Susah diceritakan dalam sepatah dua patah kata? Jika urusannya tidak menyangkut masalah wanita, aku manusia she-Hay berani mengutungi batok kepala sendiri"

Semua orang mengira Phoa Seng-hong pasti akan ribut lagi dengan orang itu, siapa sangka dia hanya tertunduk lesu tanpa mengucapkan sepatah katapnun, tanpa terasa semua orang saling bertukar pandangan, mereka tahu apa yang dikatakan Hay Tay sau pasti benar.

Mendadak terjadi kegaduhan diluar pintu gerbang, kawanan manusia yang semula antri memuat barang untuk kabur dari situ, kini berbondong bondong menyingkir ke samping dan membuka sebuah jalan lewat.

"Apa yang terjadi?" seru Li Lok-yang sambil melompat keluar.

Tampak seorang lelaki botak dengan seluruh tubuh dipenuhi kudis, dengan mengenakan baju kasar terbuat dari goni yang aneh sekali bentuknya sambil menuntun seekor keledai kecil perlahan-lahan berjalan mendekat.

Gerak gerik orang itu sangat bodoh macam orang kebingungan, persis seperti orang idiot, bahkan keledai yang dituntun pun berjalan dengan lesu tanpa semangat.

Di punggung keledai yang lemas itu justru mengangkut sebuah karung goni yang besar lagi berat, membuat keledai kecil yang kurus lemah macam sudah berapa bulan tidak pernah mendapat ransum ini nyaris tidak dapat bernapas.

Walaupun manusia dengan keledainya nampak sangat buruk dan tidak sedap dipandang, namun dalam situasi dan saat seperti ini justru mendatangkan perasaan seram yang aneh dan penuh diliputi misteri.

Sambil menghadang didepan pintu gerbang hardik Li Lok yang:

"Sobat, siapa kau? Mau apa datang kemari?”

Manusia idiot itu tertawa lebar, sahutnya:

"Hartawan Li, kau berwajah toapan banyak hokki, umurmu pasti panjang sekali, hamba hanya datang kemari untuk minta sedekahmu"

Sesaat Li Lok-yang berkerut keningnya, kemudian sambil mendongakkan kepala tertawa keras sahutnya:

"Sobat, kau sudah jauh-jauh datang kemari, tentu saja aku tidak boleh membuat kau kecewa, ambillah!"

Ditengah bentakan dia mengayunkan tangan­nya melemparkan sekeping perak ke arah orang itu, sambitan itu sangat kuat dan cepat, desingan angin tajam menusuk pendengaran.

"Hahahaha.... terima kasih loya" seru si idiot sambil tertawa terkekeh.

Sewaktu kepingan perak itu tiba dihadapannya, tiba-tiba dia membalik telapak tangannya, mendadak tenaga sambitan yang menyertai kepingan perak itu lenyap tidak berbekas, dengan tenang dan lembut tahu-tahu benda tersebut sudah mendarat diatas tangannya.

Berubah hebat paras muka Li Lok-yang. "Hebat sekali kungfu mu sobat, cayhe masih ingin menjajal lagi"

"Waah...waaah.... tauke sudah memberi persen, sekarang mau diminta kembali?" seru si idiot sambil tertawa, "baik, baiklah... biar aku kembalikan dengan benda lain"

Mendadak dia hajar pantat keledai itu, diiringi ringkikan kesakitan, keledai itu dengan kepala tertunduk langsung menerjang ke tubuh Li Lok-yang, saking kesakitannya terjangan binatang itu sangat cepat dan hebat.

Sambil mengebaskan ujung bajunya Li Lok-yang mengegos ke samping, menanti dia berpaling lagi, ternyata si manusia idiot itu sudah lenyap entah lari ke mana.

Keledai itu langsung menerjang masuk ke ruang tengah, dua orang pelayan buru-buru lari mendekat sambil mencoba menghentikan larinya binatang itu, meski kedua orang itu bertubuh kekar, ternyata mereka tidak mampu menahan tubrukan keledai itu, kontan tubuh mereka roboh terguling ke tanah.

Li Kiam-pek segera menghampiri keledai itu sambil bentaknya:

“Jangan kalian sakiti binatang itu, cepat buka bungkusan dipunggungnya, periksa apa isinya?"

Sementara itu semua orang sudah maju mengerubung, ternyata isi karung goni yang terikat kencang diatas pelana keledai itu adalah tiga sosok mayat dalam keadaan bugil.

Kulit tubuh ketiga sosok mayat itu telah berubah warna, mimik mukanya nampak mmnyeringai seram, kulit dan ototnya mengejang keras, tampaknya sebelum kematian mereka telah mengalami siksaan dan penderitaan yang luar biasa, tapi anehnya tidak dijumpai sebuah luka pun ditubuh mereka.

Ketika terendus bau busuk yang memualkan menyeruak keluar dari karung goni itu, buru-buru semua orang mundur berapa langkah.

"Mayat siapakah itu?" tanya Li Lok-yang kemudian.

Semua orang hanya saling berpandangan kemudian menggeleng.

Lama sekali Li Lok-yang termenung, akhirnya dengan suara keras serunya:

“Bagaimanapun juga, kita harus kirim ke tiga buah mayat itu ke halaman belakang, sediakan tiga buah peti mati dan kubur mereka dengan layak"

Ayah beranak ini selama hidup tidak pernah menyiksa hewan,    merekapun tidak pernah memandang enteng orang yang sudah mati, boleh dibilang jiwa ksatria dan kebajikannya sangat mengagumkan.

Ketika semua orang balik kembali ke ruang tengah, Phoa Seng-hong yang selama ini hanya duduk terpekur tiba-tiba wajahnya berubah hebat, sambil mengangkat kepalanya dia menjerit kaget:

"Celaka!"

"Apa yang terjadi?" tanya Hek Seng-thian dan Suto Siau hampir bersamaan waktunya.

Dengan sorot mata penuh ketakutan Phoa Seng-hong menuding keluar jendela, serunya dengan nada gemetar:

"Cepat! Cepat bakar ke tiga sosok mayat itu hingga menjadi abu, harus dibakar sampai habis"

"Kenapa?" tanya Li Lok-yang keheranan.

"Kita semua sudah tertipu" teriak Phoa Seng-hong sambil menghentakkan kakinya berulang kali, "lelaki idiot itu tidak lain adalah Un sat kui cu (setan penyebar penyakit menular) dari Kiu cu Kui bo!"

"Apa? Setan penyebar penyakit menular?" seluruh tubuh Li Lok-yang bergoncang keras, "Konon kedatangan orang itu selalu membawa penyakit menukar yang akan berakibat menjalar­nya penyakit endemi diseluruh wilayah kota......."

Phoa Seng-hong menghela napas panjang.

"Sepuluh tahun berselang, perkumpulan cap pwee Lohan pang di kota Bu han yang begitu kosen dan besar pengaruhnya runtuh karena seluruh anggotanya mati tertular penyakit aneh, bisa dibayangkan betapa lihay dan menakutkan orang itu"

"Menjalarnya penyakit epidemi biasanya disebabkan oleh bencana alam" sela Li Kiam-pek tidak tahan, "kekuatan apa yang dimiliki setan penyebar penyakit menular itu untuk menularkan penyakit jahat disebuah wilayah?"

Selama ini Bi lek hwee hanya membungkam mulut, lama-kelamaan dia tidak sabar juga, segera teriaknya pula:

"Apa pula yang terjadi dengan ke tiga sosok mayat itu? Kenapa kau minta membakarnya sampai ludas?"

"Setan penyebar penyakit menular pandai menggunakan pelbagai macam obat beracun, sewaktu menyebarkan penyakit menular, selain menggunakan air untuk media penularan, terkadang dia pun menyebar racun lewat makanan dan mayat manusia"

"Lohu makin mendengar semakin keheranan"

"Ke tiga sosok mayat itu jelas merupakan orang-orang yang tewas karena terjangkit penyakit sangat menular, bila seseorang bersentuhan dengan tubuh jenasah itu maka dia akan segera tertular pula jenis penyakit yang sama, seorang menulari sepuluh orang, sepuluh orang menulari seratus manusia, tidak sampai berapa hari kemudian semua manusia yang berada diwilayah ini dapat terjangkit punyakit menular itu!"

Belum selesai dia berbicara, paras muka semua jago telah berubah hebat.

Li yok yang yang segera maju selangkah menghadang didepan pintu gerbang, serunya lantang:

"Cepat bakar jenasah jenasah itu sampai menjadi abu, kemudian pendam abu mereka didalam tanah, gali yang agak dalam!"

"Bukan cuma ke tiga sosok mayat itu yang harus dibakar sampai habis, selain itu semua orang yang barusan pernah bersentuhan dengan mayat itupun harus segera diusir dari sini" sambung Phoa Seng hong.

"Mengusir dari sini?" mendadak Li Lok-yang membalikkan tubuh sambil menghardik, "apakah kau minta aku mengusir anak buahku agar mereka mati dibantai orang diluar sana?"

"Kalau tidak mengusir mereka dari sini, maka kita semua hanya akan menunggu mati karena tertular penyakit jahat itu, Kiu cu Kui bo pun tidak perlu susah susah turun tangan sendiri!"

Li Lok-yang tertegun, sampai lama sekali dia tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun sementara peluh sebesar kacang kedele jatuh bercucuran.

Sorot mata semua orang sudah tertuju ke arahnya, tahu akan gawat dan seriusnya masalah, semua orang menantikan jawabannya.

Perlu diketahui, waktu itu ilmu pengobatan belum semaju jaman sekarang, sebagian besar jago persilatan sama sekali tidak mengetahui teori penyebaran sebuah wabah penyakit, oleh karena itu semua orang menganggap kejadian ini sebagai suatu peristiwa yang mengerikan dan penuh diliputi misteri.

Bila pada jaman itu ada orang terserang penyakit kolera atau penyakit pes, dapat dipasti­kan nyawa mereka pasti akan melayang tanpa ada kesempatan tertolong lagi.

Dengan menggunakan mayat dari orang yang mati karena terserang wabah penyakit menular itulah si setan penyebar penyakit menyebarkan bakteri jahat ke tubuh orang lain, pengetahuannya yang lebih maju daripada orang lain menghantar­kan dirinya menjadi salah satu tokoh kenamaan dalam dunia persilatan.

Lama sekali Li Lok-yang termenung, tiba-tiba dengan kening berkerut serunya:

"Apa pun yang bakal terjadi, aku tidak bisa mengusir anak buahku untuk menghantar kematian diluar sana"

Air muka semua orang berubah makin hebat.

Sambll tertawa dingin, Suto Siau segera berseru.

"Kalau begitu saudara Li memang berharap kita semua ikut mati lantaran tertular penyakit jahat itu?"

"Mati hidup ada ditangan takdir, sekalipun harus mati, kita tidak boleh meninggalkan nama busuk sebagai orang yang tidak bijak dan tidak setia kawan, jelek-jelek kita harus mati sebagai seorang lelaki ksatria"

"Dan pada mati dengan nama harum, mending hidup dengan nama busuk" sela Suto Siau ketus, "bila saudara Li pingin mati, silahkan saja mati sendirian, cayhe sekalian mah tidak ingin menyumbangkan nyawa dengan percuma, saudara Hek, saudara Pek, saudara Phoa, betulkan perkataan siaute?"

"Tepat sekali" jawab Hek Seng-thian, Pek Seng-bu dan Phoa Seng-hong dengan wajah hijau membesi.

"Kalau begitu kau mau apa?" teriak Li Lok-yang keras.

Suto Siau tertawa seram.

"Jika kau tidak segera menurunkan perintah, terpaksa cayhe    sekalian akan merampas kekuasaanmu!"

Sambil berbicara dia memberi kode, lalu bersama Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu mengepung Li Lok-yang di tengah arena.

"Merampas kekuasaanku?" Li Lok-yang ber­teriak keras, "memang nya kalian ingin membunuh ku?"

"Jika keadaan memaksa, terpaksa cayhe sekalian harus berbuat begitu"

Mereka berempat mulai menggeser kakinya perlahan-lahan mendekati Li Lok-yang.

"Criiiing!" terdengar dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, Li Kiam-pek telah meloloskan pedangnya.

Tiba tiba Hay Tay-sau menggebrak meja keras keras, teriaknya:

"Barang siapa berani mengusik Li Lok-yang ayah beranak, aku akan menghajarnya hingga terbelah dua"

Phoa Seng-hong membalikkan tubuhnya, tiba-tiba dia melancarkan sebuah serangan meng­hantam dada Hay Tay-sau.

"Bocah keparat" umpat Hay Tay-sau sambil tertawa seram, "sudah cukup lama aku ingin menjagal dirimu"

Ditengah gelak tertawa dia melancarkan lima buah pukulan, tenaga serangannya keras lagi kuat bahkan disertai tenaga yang bisa menjebol batu karang.

Phoa Seng-hong dengan mengandalkan kelincahan tubuhnya berkelit ke samping, dalam waktu singkat diapun telah melancarkan lima jurus serangan balasan.

Meskipun Phoa Seng-hong mempunyai julukan yang tidak sedap didengar, ternyata ilmu silat maupun gerakan tubuhnya sangat tangguh, langkah kakinya aneh tapi hebat, jauh diluar dugaan siapa pun.

Dipihak lain Li Kiam-pek telah terlibat pertarungan melawan Pek Seng-bu, terdengar angin pedang mendesir, cahaya senjata menggulung, bagaikan diamuk angin puyuh dan hujan lebat, seluruh angkasa diselimuti oleh cahaya tajam yang menggidikkan hati.

Sesudah bertarung berapa gebrakan, Pek Seng-bu merasa makin terkesiap, sekalipun dia tidak pernah memandang rendah kemampuan silat dari putra keluarga Li ini, namun mimpi pun dia tidak menyangka kalau kesempurnaan ilmu pedang yang dimiliki pemuda itu sudah mencapai tingkatan yang begitu mengerikan.

Li Lok-yang masih berdiri dengan sepasang lengan lurus ke bawah, mimik mukanya tetap tenang tanpa terdorong gejolak emosi, namun hawa murninya telah dihimpun menyelimuti seluruh tubuhnya.

Beberapa kali Hek Seng-thian dan Suto Siau ingin melancarkan gempuran, namun setelah menyaksikan ketenangan sikap yang di perlihat­kan Li Lok-yang, untuk sesaat mereka jadi ragu dan tidak berani sembarangan turun tangan.

Pada saat itulah kembali terdengar suara langkah kaki berkumandang datang dari kejauhan, sebelas orang lelaki berbaju hitam dengan wajah berat dan serius, seakan akan sedang memikul beban ribuan kati melangkah naik ke atas undak undakan rumah.

"Mau apa kalian datang kemari?" dengan kening berkerut Li Lok-yang segera menegur.

Lelaki yang berada dipaling depan menjawab dengan kepala tertunduk:

"Hamba sekalian telah membakar ketiga jenasah itu dan menguburnya, tapi karena kurang berhati hati, hamba semua telah bersentuhan dengan ketiga sosok mayat itu"

Lelaki ke dua segera menimpali:

"Kami minta kalian segera menghentikan pertarungan, dengarkan dulu sepatah dua patah kata hamba"

Baru selesai dia bicara, pertarungan seketika terhenti.

"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tegur Li Lok-yang dengan nada berat, "ayo cepat mundur dari sini!"

Lelaki yang berada dipaling depan menunduk­kan kepalanya makin rendah, katanya:

"Loya, kau tidak usah bertarung lagi melawan mereka hanya gara-gara keselamatan hamba sekalian, sudah banyak tahun hamba semua bekerja untuk loya, hamba semua tidak ingin menyusahkan dirimu lagi"

"Apa yang hendak kalian lakukan?" bentak Li Lok-yang dengan wajah berubah hebat.

"Kini hamba semua telah menjadi sumber pembawa bencana, kami semua tidak berani hidup terus di dunia ini, apalagi sebagai pembawa bencana yang akan mencelakai orang banyak” bisik lelaki itu sedih.

Li Lok-yang semakin terharu, emosinya makin gejolak, teriaknya lantang:

"Kalian segera mundur dari sini, apapun akibatnya, aku akan pertaruhkan nyawaku untuk melindungi kalian semua"

"Budi yang loya dan kongcu berikan kepada hamba semua berat bagai bukit karang, hamba semua.........."

Tiba-tiba perkataan lelaki itu berubah jadi sesenggukan, butiran air mata jatuh berlinang.

Lelaki yang ke tiga segera berkata pula:

"Sekarang posisi hamba sekalian sudah ter­jepit, kami tidak bisa mengikuti loya dan kongcu lagi, kami tidak bisa berbakti lagi......"

"Betul, betul sekali" timbrung Phoa Seng-hong cepat, "jika kalian masih setia kepada Li toako, tidak seharusnya mendatangkan kesulitan bagi­nya, lebih baik cepatlah pergi meninggalkan tempat ini!"

"Tidak perlu kau banyak ngebacot!" bentak Li kiam pek gusar.

Tiba-tiba lelaki ke empat mengangkat lengan­nya tinggi-tinggi, kemudian serunya:

"Loya dan kongcu berada diatas, terimalah penghormatan terakhir dari hamba mu!"

Ditengah seruan nyaring, ke sebelas orang lelaki itu serentak menjatuhkan diri berlutut.

"Mau apa kalian?" teriak Li Lok-yang pedih, "tanpa perintahku, siapapun diantara kalian tidak boleh mati, mengerti?"

"Maafkan kami loya, kali ini terhamba hamba semua akan melawan perintahmu" ujar lelaki pertama sambil terisak, "sekalipun hamba akan mati dan jadi setan, kami tetap akan berusaha melindungi loya"

"Kalian segera bangkit berdiri" hardik Li Lok-yang sambil menghentakkan kakinya.

Tiba-tiba terlihat raut wajah lelaki itu menge­ong keras, percikan darah segar menyembur keluar dari dada dan lambungnya, sambil mundur dengan gontai dia tertawa seram:

"Saudara semua, aku berangkat duluan!"

Ke sepuluh orang lelaki sisanya ikut tertawa sedih sambil berseru:

"Loya, hamba berangkat duluan"

Masing masing orang segera menghantam ke dada sendiri dengan telapak" tangan, semburan darah segar pun menggenangi permukaan lantai.

Rupanya sejak awal mereka telah sembunyikan pisau belati tajam dibalik ujung bajunya, ketika pisau itu menghujam ke dada hingga tinggal gagangnya, biar Li Lok-yang memiliki kemampuan untuk menghidupkan kembali orang sekarat pun tidak mungkin bisa selamat kan nyawa mereka lagi.

Li Kiam-pek tidak kuasa menahan rasa sedihnya, dia peluk mayat anak buahnya sambil menangis tersedu sedu.

Li Lok-yang sendiripun berdiri kaku bagai mayat hidup, hanya butiran air mata yang meleleh keluar membasahi pipinya.

Suto Siau, Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu hanya berdiri mematung, sikap ksatria yang diperlihatkan kawanan lelaki itu membuat mereka terperana, sampai lama sekali, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Kini suasana amat hening, kecuali angin yang berhembus lewat tak kedengaran suara yang lain.

Di tengah halaman luar terlihat gerombolan manusia masih saling berdesakan disitu, ada yang merupakan pedagang permata yang belum sempat pergi, ada pula anak buah keluarga Li.

Tapi sebagian besar orang orang itu berdiri dengan mata berkaca, bahkan ada pula yang wajahnya telah basah oleh air mata.

Thiat Tiong-tong berdiri jauh disudut ruangan, kendatipun air mata tidak sampai meleleh keluar namun pancaran sinar matanya penuh mengan­dung penderitaan yang dalam.

Sebuah pertikaian yang sebenarnya amat sederhana telah dia ciptakan menjadi satu masalah yang pelik, masalah yang membuat banyak nyawa tidak berdosa harus melayang dengan percuma.

Sekalipun dia berbuat begitu demi kesetiaan­nya terhadap perguruan, namun berbicara soal liangsim, dia merasa amat menyesal dan bersedih hati.

Sekarang dia baru sadar, bunuh membunuh yang terjadi dalam dunia persilatan ternyata merupakan satu peristiwa yang kejam dan penuh penderitaan.

Sampai semua orang sudah pada bubaran, dia masih berdiri kaku disitu, mengawasi sesosok demi sesosok mayat yang berlumuran darah digotong pergi melalui hadapannya.

Sekonyong-konyong terdengar suara genta yang dibunyikan bertalu-talu berkumandang dari kejauhan, suara itu tinggi meleng-king dan tajam sekali.

Menyusul kemudian terdengar suara seorang bocah bersenandung dari tempat kejauhan dengan suara yang nyaring:

"Bila lonceng kematian berdentang, ayam anjing tersapu punah, Li Lok-yang wahai Li Lok-yang.....apakah hatimu bimbang?"

"Aku akan beradu nyawa dengan kalian!" bentak Li Kiam-pek nyaring.

Sambil memutar pedangnya dia siap menerjang keluar, tapi belum sampai kakinya melangkah keluar dari pintu, dia sudah ditarik kembali oleh seseorang.

Memandang dari tempat kejauhan, kembali Thiat Tiong-tong melihat Phoa Seng-hong berjalan keluar ke undak-undakan diluar pintu gerbang, lalu sambil bergendong tangan dia memandang ke arahnya sambil tersenyum dan memberi hormat.

Sekali lagi pemuda ini merasakan hatinya amat pedih, cepat dia membalikkan tubuh dan berjalan kembali ke halaman belakang.

Waktu itu Im Ceng sedang berdiri dibawah pohon waru tepat didepan halaman rumahnya, dia sedang mengawasi tirai yang berada ditengah halaman, Thiat Tiong-tong dapat menangkap sorot matanya yang pedih bercampur gusar, mendadak setelah meninju batang pohon keras keras, pemuda itu membalikkan tubuh dan kabur dari situ.

Thiat Tiong-tong termenung lama sekali, dia baru tersadar ketika mendengar suara senandung bergema dari balik tirai:

"Sunyi sepi loteng barat seorang diri,

rembulan bersinar bagai sabit,

Pohon tinggi halaman nan sepi,

Kugunting tidak putus, kuatur tetap kalut,

Inikah kesenduan dari sebuah perpisahan?

Inilah perasaan yang menyiksa di hati?"

Itulah bait syair yang dipelajari Sui Leng-kong sejak berapa hari berselang, bait lagu yang sedang disenandungkan dengan nada yang begitu pedih dan menggetarkan hati, mendatangkan suatu perasaan berpisah yang amat sedih dan pedih.

Thiat Tiong-tong merasa hatinya tercekat, seakan-akan timbul sebuah firasat jelek dari dalam hatinya.

Dengan langkah lebar dia menerjang masuk ke dalam tenda, segera terlihat olehnya Un Tay-tay sedang bersandar di bangku utama sementara Sui Leng-kong dan Cian-jin berdiri jauh di sudut ruangan.

Dibawah kaki mereka berdua terlihat dua buah buntalan kecil, pakaian yang mereka kenakan pun amat sederhana, malah tusuk konde mutiara yang semula dikenakan disanggul Sui Leng-kong, kini sudah tidak nampak.

"Mau apa kalian?" tegur Thiat Tiong-tong dengan wajah berubah.

"Nona mau pergi, maka akupun akan menemani nona pergi dari sini" jawab Cian-jin dengan kepala tertunduk.

Thiat Tiong-tong menyerbu masuk ke dalam, serunya lagi dengan nada gemetar:

"Kau benar-benar akan pergi?"

Sui Leng-kong manggut-manggut.

"Inilah surat yang ditinggalkan nona" sambung Cian-jin sambil menyodorkan secarik kertas.

Thiat Tiong-tong segera merampas kertas itu dnn membaca isinya:

"Aku sudah tidak kesepian lagi, aku ingin pergi, aku tidak mau menjadi adikmu tapi aku hanya bisa menjadi adikmu, bukankah lebih baik pergi dari sini?"

"Kenapa kau tidak mau menjadi adikku? Kenapa kau harus pergi?" teriak Thiat Tiong-tong dengan suara keras.

Perlahan-lahan Sui Leng-kong mendongakkan kepalanya, butir air mata meleleh dari kelopak matanya.

Meski dia tidak bicara namun dari tetesan air matanya Thiat Tiong-tong dapat membaca suara hatinya, dapat melihat rasa cinta yang mendalam dari gadis tersebut.

Perasaan hatinya mendadak bergetar keras, dia mundur berapa langkah dan terduduk diatas bangku.

Benar, dia tidak ingin menjadi adiknya karena yang dia butuhkan adalah semacam rasa cinta yang jauh lebih mendalam.

Tapi, dia tidak sanggup memberikan apa yang diharapkan semen-tara nona itupun tidak bisa menerima apa yang bisa dia berikan.

Maka gadis itupun memutuskan untuk pergi, pergi meninggalkan tempat itu.

Perlahan-lahan dia menggerakkan langkah­nya, ketika lewat disamping Un Tay-tay, bisiknya lirih.

"Kau.....  kau  harus baik baik menjaga......menjaganya!"

Perkataan itu diucapkan dengan lelehan air mata, ungkapan perasaan yang amat memedihkan.

"Adikku, kau tidak usah kuatir" jawab Un Tay-tay sambil tertawa ringan, "enso pasti akan menjaganya baik-baik"

Dengan kepala tertunduk Sui Leng-kong berjalan keluar dari tenda.

Terdengar dia berkata lagi dengan nada sesenggukan:

"Semua........semuanya ini memang... memang milik..... milikmu......kau....kau......."

Ketika perkataan terakhir diucapkan, suara itu sudah berada ditempat yang amat jauh.

Bagaikan seorang panglima perang yang baru kalah dimedan laga, seluruh badan Thiat Tiong-tong terasa lemas tidak bertenaga, perasaan kosong dan hampa yang dia rasakan sulit diungkap dengan kata-kata dan tidak mungkin bisa dirasakan siapa pun.

Lama, lama kemudian tiba-tiba Un Tay-tay menegur sambil tertawa:

"Orangnya sudah pergi jauh, Thiat Tiong-tong, apa lagi yang kau sedihkan?"

Kata ‘Thiat Tiong-tong' bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong.

Thiat Tiong-tong merasakan telinganya mendengung keras, dengan kaget dia melompat bangun, sambil melompat ke depan perempuan itu hardiknya:

"Darimana kau bisa mengetahui namaku?"

"Thiat Tiong-tong!" dengan tenang Un Tay-tay mengupas jeruk sambil menikmatinya dengan santai, "keberhasilanmu melawan si jago pedang berhati ungu dan kehebatanmu kabur dari kepungan berlapis telah membuat namamu tersohor dalam dunia persilatan, masa kau belum tahu?"

Dengan satu gerakan cepat Thiat Tiong-tong menggerakkan telapak tangannya mencengkeram sepasang bahu wanita itu, kembali hardiknya:

"Mau bicara tidak?"

Ketika cengkeramannya diperketat, sepasang bahu Un Tay-tay seolah hendak remuk saja, jeruk yang berada dalam genggamannya ikut terjatuh ke lantai.

Tapi dia masih tertawa santai, katanya lembut: "Lepaskan dulu tanganmu, aku akan bicara"

"Kau berani menantangku?" Thiat Tiong-tong semakin gusar,  "aku  bukan  orang yang sudi ditantang apalagi diancam, jika kau tidak segera menjawab, akan kujagal dirimu hidup-hidup"

Un Tay-tay tertegun, dia merasakan sepasang bahunya sakit bagaikan diiris-iris, dia memang malah terbiasa mengancam orang bila mengha­dapi setiap persoalan, tidak disangka hari ini dia justru bertemu dengan lelaki kaku yang tidak sudi diancam.

Senyuman diwajahnya hilang lenyap seketika, jawabnya dengan suara gemetar:

"Adikmu yang mengatakan"

"Apa yang dia katakan?" teriak Thiat Tiong-tong gusar.

"Ketika kau sedang pergi tadi, dia selalu bergumam memanggil namamu, begitu men­dengar suara gumamannya, aku segera menebak kalau kau adalah penyaruan dari Thiat Tiong-tong"

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, perlahan dia mengendorkan cengkeramannya.

Sambil tertawa genit kembali Un Tay-tay melanjutkan:

"Lagipula......seharusnya sejak awal aku sudah bisa menduga kalau kau tidak mungkin seorang kakek peyot, seluruh kulit, daging dan ototmu masih kencang dan keras, sama sekali belum mengendor......."

Perempuan ini benar benar seorang perayu lelaki yang ulung dan berpengalaman, dalam keadaan seperti ini dia mampu menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Thiat Tiong-tong sambil berbisik:

"Sebenarnya macam apa sih kenyataanmu, coba biar kuperiksa......"

Belum selesai dia berkata, Thiat Tiong-tong telah mengayunkan kembali tangannya mengha­diahkan sebuah tamparan.

"Mau apa kau?" jerit Un Tay-tay kaget.

Kembali Thiat Tiong-tong mengayunkan tangannya sekali lagi, bentaknya:

"Thiat Tiong-tong hanya ada ketika tidak ada orang, mengerti?"

Mendadak Un Tay-tay tertawa cekikikan.

"Orang ganteng, kau memang bodoh. Mulai sekarang aku akan mengikuti dirimu terus, masa aku tega mencelakaimu?" katanya.

Thiat Tiong-tong mendengus dingin.

Tiba tiba dari luar tenda terdengar seseorang berseru:

"Lo sianseng, apakah kau ada di dalam? Cayhe Li Kiam-pek ingin minta petunjukmu"

Thiat Tiong-tong segera mendorong tubuh Un Tay-tay sambil berseru:

"Silahkan masuk"

Li Kiam-pek menyingkap tirai sambil melangkah masuk ke dalam, ujarnya lagi sambil menjura:

"Semua tamu telah pergi meninggalkan tempat ini, cayhe mendapat perintah dari ayah untuk menghantar lo sianseng berangkat meninggalkan tempat ini"

"Ooh, jadi kau sedang mengusir tamu?" tegur Thiat Tiong-tong ketus.

"Bukan, bukan sedang mengusir tamu, melainkan hanya niat baik dari ayahku saja" kata Li Kiam-pek sambil menghela napas panjang, "Sebentar lagi pertempuran bakal berkobar, bila lo ­sianseng tidak......."

"Hmmm! Maksud baik apa" tukas Thiat Tiong-lung gusar, "Pentang matamu lebar-lebar, memangnya kau anggap lohu adalah manusia yang bisa datang ketika diundang dan pergi waktu diusir?"  .

"Lo sianseng, ucapanmu kelewat serius!" dengan kening berkerut Li Kiam-pek tertawa dingin.

Un Tay-tay segera menarik ujung baju Thiat Tiang-tong sambil berbisik:

"Kenapa sih kau tidak mau pergi? tempat ini...

"Kau tidak usah ikut campur" tukas Thiat Tiong-tong sambil menyingkirkan tangannya, "lohu justru sengaja mau tetap tinggal disini, mau apa kalian?"

"Yaa sudah, mau pergi atau tidak, urusanmu sendiri"

Tiba-tiba dari kejauhan berkumandang lagi bunyi genta yang dibunyikan bertalu-talu.

Menyusul suara genta tadi, teriakan si bocah lelaki itu bergema kembali:

"Lonceng ke dua telah berbunyi, jalan tertutup ransum terputus, setengah langkah keluar dari pintu, ditanggung nyawa akan melayang!"

Berubah hebat paras muka Li Kiam-pek setelah mendengar ucapan tersebut, katanya:

"Sekarang mau pergi pun jangan harap kau bisa pergi lagi"

"Bagaimana baiknya sekarang?" seru Un Tay-tay dengan wajah pucat, "kami adalah tamu kalian, sudah sepantasnya bila keluarga Li berusaha melindungi keselamatan kami"

Li Kiam-pek menghela napas panjang sambil berlalu dari situ.

Tampak ke dua orang bocah lelaki itu berlari masuk dari luaran sambil berteriak gugup:

"Mereka telah pergi semua!"

"Siapa yang telah pergi?" tanya Un Tay-tay.

"Kusir kereta dan koki sudah pada kabur, enci Cian-jin juga telah pergi, loya, kenapa kau belum pergi?"

Bocah lelaki yang lain segera menambahkan dengan nada kuatir:

"Coba kau lihat halaman rumah yang lain, kini hampir semuanya kosong tidak berpenghuni, hawa kematian serasa menyelimuti setiap tempat, sungguh membuat hati ngeri dan takut"

Sambil menghentakkan kakinya dengan jengkel Un Tay-tay ikut berkata:

"Padahal kau adalah orang pintar, kenapa mesti melakukan tindakan yang amat bodoh? Asal kabur dari sini, bukankah tidak ada urusan lagi, bahkan sambil bergendong tangan bisa menyaksi­kan musuhmu satu per satu mampus dalam perkampungan ini, sampai waktunya bukan cuma dendammu bisa terbalas, orang yang kau inginkan pun dapat diperoleh, bukankah hal tersebut sangat menyenangkan?"

Kemudian setelah menghela napas, lanjutnya:

"Siapa sangka kau justru bersikeras ingin tetap tinggal disini, memangnya kau senang menemani musuh-musuh besarmu itu untuk mati bersama?"

"Hmm! Jika disini hanya tersisa musuh-musuh besarku, sejak awal aku sudah pergi meninggalkan tempat ini, jangan lagi tetap tinggal disini, biar kau tarik lenganku pun jangan harap aku mau berada disini" kata Thiat Tiong-tong  dingin.

"Memangnya kau tinggal disini demi Li Lok-yang, Hay Tay-sau sekalian"" seru Un Tay-tay keheranan, "waah, ini aneh sekali namanya, masa kau mempunyai hubungan yang akrab dengan mereka?"

"Sekalipun tidak mempunyai hubungan yang akrab, tapi mereka adalah jago-jago berhati lurus dan bersih, terhadap kawanan manusia jahat berhati busuk, aku bisa saja menggunakan cara yang paling keji untuk menghadapi mereka, tapi terhadap para ksatria berhati lurus, aku hanya mempunyai sebuah cara saja"

"Apa caramu?"

"Menghadapi mereka dengan kejujuran dan kesetiaan!"

Un Tay-tay tertegun berapa saat lamanya, lama kemudian dia baru menghela napas sambil bergumam:

"Goblok, benar-benar goblok!"

Meskipun mulutnya bergumam terus, namun tidak sepatah kata pun berani diucapkan.

Ke dua orang bocah lelaki itu hanya tertegun sambil mengawasi perempuan itu dengan mata terbelalak besar.

Setelah tercekam dalam suasana yang amat hening berapa saat lamanya, tiba-tiba terdengar lagi tiga kali jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang di udara, disusul kemudian suara hentakan manusia serta suara langkah kaki yang ramai, bahkan secara lamat-lamat terdengar pula suaara desingan anak panah yang memenuhi angkasa.

Terdengar seseorang dengan suara parau berlarian sambil berteriak:

"Celaka, celaka, semua hewan yang berada dalam kandang telah mati secara mengerikan!"

Teriakan tersebut penuh dicekam perasaan ngeri bercampur seram, berkumandang dari arah belakang menuju ke ruang depan.

Dua orang bocah lelaki itu saling bertukar pandangan sekejap, kendatipun mereka berdua termasuk bocah cerdas yang memiliki kepintaran luar biasa, bagaimana pun usia kedua orang itu masih kelewat muda, setelah mendengar jeritan ngeri yang begitu menyayat hati, tidak urung tubuh mereka gemetar juga saking takutnya.

Dengan wajah pucat seru Un Tay-tay:

"Bagaimana baiknya sekarang? Hey,kenapa kalian masih belum juga membenahi semua intan permata serta barang barang berharga itu? Jika kekacauan sudah terjadi, kalian bakal tidak sempat bebenah"

"Hmm! Kalau orang pun hampir mampus, apa gunanya barang berharga itu?" dengus Thiat Tiong-tong dingin.

Un Tay-tay tertegun, tiba-tiba dia mulai menangis, sambil menubruk ke dalam pelukan pemuda itu serunya berulang kali:

"Aku tidak mau mati, aku tidak pingin mati, kau harus menjamin agar aku tidak sampai mati........"

Thiat Tiong-tong sekali lagi mendengus dingin, dia segera mendorong tubuh perempuan itu dari pelukannya.

Suara genta kembali bergema, sang bocah pun kembali bersenandung:

"Bunyi genta untuk ke tiga kalinya, malaikat maut telah tiba, persiapkan peti mati dan bersiap­lah berangkat ke tanah pekuburan!"

Dua orang bocah lelaki itu mulai menggigil keras saking takutnya, mereka berdua berdiri saling merapatkan badan.

Pada saat itulah Li Kiam-pek yang berpakaian ringkas menyelinap masuk lagi sambil berseru:

"Kekacauan segera akan terjadi, semua orang dipersilahkan berkumpul di ruang utama, kita harus bersatu padu melakukan perlawanan"

Un Tay-tay seketika menghentikan isak tangis­nya, serunya:

"Kalau kami semua berkumpul di ruang Utama, bagaimana dengan barang-barang ini?"

Biarpun kematian sudah didepan mata, ternyata perempuan ini masih belum dapat melupakan intan permata dan barang-barang ber harga itu.

"Semua barang yang tertinggal disini akan kami uruskan" sahut Li Kiam-pek dingin, "asal kita semua belum mati, kujamin barang kalian tidak bakal ada yang hilang"

Thiat Tiong-tong termenung sejenak, katanya kemudian:

"Kalau begitu ayoh kita berkumpul!"

Maka berangkatlah mereka semua meninggal­kan tenda menuju ke ruang utama, waktu itu satu pasukan lelaki kekar berbaju hitam bersenjata golok dan tombak telah mengepung sekeliling ruangan itu rapat-rapat.

Li Lok-yang telah menghimpun seluruh kekuatan yang dimilikinya ditempat tersebut.

Cahaya senja masih memancarkan sinarnya yang kemerah-merahan, ketika cahaya itu menimpa ujung golok segera terhiaslah sinar yang menyilaukan mata.

Paras muka semua orang nampak serius dan berat, biarpun mendekati seratusan orang yang berkumpul diseputar halaman  gedung, namun tidak kedengaran suara apapun kecuali suara langkah kaki yang bergeser.

Semua lampu yang ada di ruang utama telah dinyalakan, ditengah senja yang redup, cahaya lentera itu kelihatan suram, membuat ruang utama yang sangat luas nampak lebih menyeram­kan dan menggidikkan hati.

Meja kursi yang semula memenuhi ruang utama, kini ada sebagian besar telah disingkirkan, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Suto Siau sedang berkumpul disebuah sudut ruangan sambil berbisik-bisik merundingkan sesuatu, entah apa yang sedang mereka bicarakan.

Bi lek hwee serta si bintang pembunuh sedang menikmati arak langsung dari dalam guci, beberapa kali mereka perdengarkan gelak tertawa yang amat keras, suara tertawa yang memecahkan keheningan.

Phoa Seng-hong duduk seorang diri disisi meja dari Li Lok-yang, saat itu dia sedang menggotong mata pedangnya dengan seksama, entah berapa kali dia sudah menggosok hingga mata pedangnya nampak berkilat tajam.

Im Ceng hanya berdiri didepan gedung tanpa berbuat apa-apa, ketika melihat kemunculan Thiat Tiong-tong dan rombongan, tiba-tiba dia memba­likkan tubuh sambil masuk ke dalam, mencabut keluar pedangnya, duduk persis dihadapan Phoa Seng-hong dan mulai menggosok pedangnya.

Mendadak Li Lok-yang berkata dengan suara dalam:

"Aku sudah bersiap-siap melakukan pertahan­an ditempat ini, meskipun tidak tahu bisa bertahan sampai kapan, akupun tidak tahu apakah pertahanan ini bakal jebol atau tidak, tapi sudah kuputuskan akan melawan mereka hingga titik darah penghabisan"

Dengan sorot matanya yang tajam dia menyapu sekejap wajah semua orang yang hadir, kemudian lanjutnya:

"Kini kalian semua berada ditempat ini, berarti bukan saja akan menderita bersama bahkan akan mati hidup bersamaku!"

"Memang seharusnya begitu!" seru Hay Tay-hau sambil menggebrak meja keras-keras.

Dengan pandangan berterima kasih Li Lok-yang memandang sekejap ke arahnya, kemudian lanjutnya:

"Oleh sebab itu disaat kesulitan belum lewat, terpaksa kalian tidak akan peroleh pelayanan yang sepantasnya"

"Apalah artinya tidak peroleh pelayanan yang pantas!" seru Bi-lek hwee pula sambil menggebrak meja.

"Hahahahaha...... bagus, bagus sekali" seru Li Lok yang sambil tertawa tergelak, "asal kita benar-benar dapat bekerja sama dengan baik, biar menang kalah belum ketahuan hasilnya, saudara sekalian, mari kita bersantap dulu, setelah kenyang bersantap kita baru persiapkan diri untuk menghadapi pertarungan berdarah!"

Suara jawaban bergema gegap gempita, tidak lama kemudian muncul berapa orang lelaki berbaju hitam yang segera menyiapkan meja berjamuan ditengah ruangan.

Sejak dicekam perasaan gelisah, ngeri dan kuatir, sebagian besar orang seakan sudah lupa untuk bersantap, kini begitu mengendus bau harumnya hidangan dan arak, kontan saja semua orang mulai merasakan perutnya keroncongan.

Thiat Tiong-tong memandang keluar sekejap, tiba-tiba ujarnya dengan suara dingin:

"Semua hewan yang ada di kandang telah mati keracunan, jika dalam hidangan itupun dicampuri racun, bukankah kita semua bakal mampus seperti hewan hewan di halaman belakang?"

"Semua hidangan dibuat dibawah pengawasan serta penjagaan yang sangat ketat" sahut Li Kiam-pek cepat, "kecuali Kiu cu Kui bo memiliki kepandaian yang luar biasa, kalau tidak, dengan cara apa dia akan meracuninya?"

"Kiu cu Kui bo memiliki banyak macam cara untuk menyebarkan racun jahatnya" kata Phoa Seng-hong pula, "kemampuannya meracuni orang sangat hebat dan diluar dugaan, memang lebih baik jika kita bersikap lebih berhati-hati!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, dari sakunya Li Lok-yang telah mengeluarkan sebatang jarum berwarna perak dan dicelupkan pada hidangan tersebut, dalam waktu singkat jarum perak itu berubah jadi hitam pekat.

Berubah hebat paras muka semua orang, Li Lok-yang sendiripun nampak tertegun, akhirnya dengan wajah tidak habis mengerti dia menengok ke arah Li Kiam-pek.

"Apa yang telah terjadi?" seru Li Kiam-pek pula keheranan.

Phoa Seng-hong menghela napas panjang.

"Aaai, aku rasa mereka telah menebarkan racun dalam setiap sumur yang ada disini" katanya.

"Biar kuperiksa" seru Li Kiam-pek sambil berlari keluar.

Semua orang saling berpandangan tanpa bicara, suasana hening pun mencekam seluruh ruang gedung.

Tidak selang berapa saat kemudian Li Kiam-pek sudah muncul kembali dengan wajah gelisah bercampur cemas.

"Ternyata benar juga" serunya, "ke empat sumur utama yang ada dalam gedung telah diracuni mereka!"

"Kalau begitu dalam nasi pun pasti ada racunnya" sambung Phoa Seng-hong.

"Betul-betul manusia berhati iblis" umpat Hek Heng thian gusar, "memangnya dia ingin kami semua mati kelaparan disini? Saudara Li, bagai­mana kalau kita sembelih ayam dan bebek lalu dipanggang saja tanpa menggunakan air?"

Li Kiam-pek menghela napas panjang.

"Semua ayam, itik, babi dan kambing yang kami miliki telah mati keracunan" katanya.

Sekujur tubuh Hek Seng-thian bergetar keras, dia tidak banyak bicara lagi.

Mengawasi hidangan lezat yang menyiarkan bau harum semerbak, namun tidak dapat di santap, kontan saja semua orang merasa semakin kelaparan dan amat tersiksa.

Harus diketahui manusia adalah besi, nasi adalah baja, biarpun seorang enghiong hohan, sulit baginya untuk menahan rasa lapar.

Paras muka Li Lok-yang dingin bagaikan es, setelah termenung sambil berpikir berapa saat mendadak teriaknya keras:

"Kiam-pek, perintahkan orang untuk mencari semua telur ayam dan telur itik yang masih tersisa, kemudian ambil arak yang tersimpan di gudang bawah tanah!"

Li Kiam-pek menyahut dan segera berlalu.

"Bagus, bagus sekali" seru Hay Tay-sau pula sambil tertawa, "telur ayam, telur itik, arak segelan di gudang bawah tanah, benda seperti ini tidak mungkin bisa diracuni biar dilakukan seorang malaikat pun. Hahahaha.... kalau begitu kita semua tidak perlu mati kelaparan lagi!"

Dengan termangu Li Lok-yang mengawasi para anak buahnya yang berada di halaman luar, air mukanya berubah makin berat dan serius.

Tidak selang berapa saat kemudian Li Kiam-pek telah mengangkut semua telur dan arak yang ada ke dalam ruangan.

Keluarga Li merupakan sebuah keluarga kaya raya, tentu saja simpanan araknya sangat banyak, ketika ditumpuk ke dalam ruangan hampir memenuhi separuh ruangan lebih, tapi telur yang berhasil dikumpulkan tidak lebih hanya dua keranjang, ditambah satu keranjang besar berisi daging ayam asap serta ikan asin.

"Hanya sebanyak ini?" tanya Li Lok-yang sambil menghela napas sedih.

"Semua sayuran yang akan dipergunakan di dapur, sebagian besar dibeli pada hari itu juga........."

Li Lok-yang kembali menghela napas panjang, tukasnya:

"Ada berapa banyak telur ayam yang berhasil dikumpulkan?"

"Tadi sudah kusuruh orang menghitung, jumlah keseluruhan ada lima ratus tujuh puluh dua butir!"

"Lima ratus tujuh puluh dua butir?" seru Phoa Seng-hong sambil tertawa, "itu hanya cukup untuk menangsel perut selama berapa hari!"

"Hengtay jangan lupa" sela Li Lok-yang dingin, "Dihalaman luar masih terdapat seratus dua puluhan saudara, mereka pun butuh telur itu untuk mengisi perutnya"

Phoa Seng-hong tertegun, akhirnya dia terduduk kembali di bangkunya, sekujur tubuh terasa sangat lemas.

Setelah menghela napas kembali Li Lok-yang berkata:

"Beruntung, setiap tahun keluargaku bersama para dayang, tentu pergi ke kuil untuk pasang hio, kalau tidak, aaai! Tidak bisa kubayangkan bagaimana situasinya saat itu"

Tiba-tiba Suto Siau menyela:

"Barusan cayhe telah membuat perhitungan, disini terdapat seratus empat puluh orang, berarti setiap orang mendapat jatah empat butir telur dan masih tersisa dua belas butir"

"Henglay, cermat amat perhitunganmu......." seru Li Lok-yang sambil tertawa.

Mendadak Phoa Seng-hong bangkit berdiri, teriaknyanya:

"Kami adalah tamu dari keluarga Li, apakah kitapun harus mengalami nasib yang sama dengan para budak dan pelayan itu?"

"Mereka semuapun dilahirkan oleh ayah dan ibunya, sama seperti kita semua, kenapa mereka tidak pantas memperoleh perlakuan yang sama dengan kita?"

"Sekalipun sama-sama manusia, toh tingkat sosial kita jauh berbeda" teriak Phoa Seng-hong.

"Apanya yang beda?" sela Hay Tay-sau gusar, "justru para saudara dari Li toako jauh lebih berperikemanusiaan ketimbang dirimu, apalagi kalau dinilai dari jiwanya yang berbudi serta kesetiaan mereka, Hmmm! Orang-orang itu justru jauh melebihi watak busukmu"

Phoa Seng-hong tertawa dingin.

"Hmm, sudah tahu kalau dalam keadaan seperti ini tidak mungkin orang lain membiarkan kita bertarung, kau sengaja memanasi hatiku dengan kata-kata busukmu........"

"Sekalipun tidak berada dalam situasi seperti sekarangpun, aku tetap akan mengucapkan perkataan itu"

"Sudahlah, kalian berdua tidak usah ribut lagi" tukas Li Lok-yang sambil menghela napas, "sisanya yang dua belas butir bisa dibagi rata khusus untuk mereka yang ada di ruangan ini"

"Hahahaha......" Hay Tay-sau tertawa tergelak, "aku bukan sedang rebutan jatah telur, aku hanya merasa tidak tahan mendengar suara kentut busuk dari bajingan itu"

Li Lok-yang segera perintahkan orang untuk membuat empat onggok api unggun ditengah halaman dan menumpangkan empat buah wajan raksasa diatasnya, untuk menggodok telur mereka tidak berani menggunakan air sumur yang sudah keracunan, maka digunakan bekas air cuci muka yang dipergunakan kemarin.

Ketika telur sudah matang dan dihantar ke ruang tengah, benar saja, setiap orang mendapat jatah lima butir.

Hay Tay-sau segera mengambil jatah telurnya dan membuka guci arak, seteguk minum arak satu gigitan makan telur, dalam waktu sekejap dia sudah menghabiskan ke lima butir telur jatahnya.

Bi lek hwee kelihatan sedikit sangsi ketika habis makan telur ke empat, tapi setelah meneguk berapa cawan arak, akhirnya dia pun menghabis­kan telur yang ke lima, setelah itu dia mulai tidur diatas meja.

Sambil menghela napas Phoa Seng-hong mengupas sebutir telur, diamatinya dulu dengan seksama lalu dipotong jadi delapan bagian dan dimakan dengan perlahan, sementara ke empat butir telur lainnya disimpan ke dalam saku dengan hati-hati.

Orang lain ada yang cuma makan dua butir, ada pula yang makan tiga butir, kawanan jago yang sudah terbiasa bersantap mewah ini meski hari ini mesti makan telur ayam yang tawar tidak ada rasanya, ternyata semua orang bisa menaikmatinya dengan puas.

Sambil tertawa tergelak kembali Hay Tay-sau berseru:

"Hahahaha,.....baru hari ini aku tahu ternyata telor ayam godok pun rasanya sangat nikmat"

Hanya Im Ceng seorang yang duduk sambil makan sebutir telur, sorot matanya seakan tidak sengaja melirik sekejap ke arah Un Tay-tay yang duduk disamping Thiat Tiong-tong, akhirnya dia tidak sanggup lagi untuk makan butir telur ke dua.

Seorang diri dia menghabiskan separuh guci arak, ketika paras mukanya mulai berubah jadi merah padam akhirnya dia mendongakkan kepala­nya dan memandang ke arah Un Tay-tay dengan main melotot.

Malam semakin larut, sudah tidak terdengar suara pembicaraan manusia dalam ruang utama, api unggun di halaman luarpun sudah padam, kegelapan malam yang sepi membuat suasana ditempat itu terasa makin berat dan mencekam.

Sepintas lalu semua orang yang ada dalam diruang utama seakan sudah terlelap tidur, padahal tidak seorangpun benar-benar bisa memejamkan matanya. Berulang kali Phoa Seng-hong merogoh kedalam sakunya meraba ke empat butir sisa telur ayamnya, tapi setelah di keluarkan, dipandang sekejap akhirnya dimasukkan kembali ke dalam saku.

Ketika tengah malam sudah lewat, akhirnya Im Ceng roboh dalam keadaan mabuk berat, dia bersandar dimeja sementara mulutnya mengigau berulang kali, ketika didengarkan dengan seksama, lamat-lamat terdengar kalau dia sedang memanggil nama Un Tay-tay.

Thiat Tiong-tong duduk bersandar dibangku dengan mata terpejam, namun hatinya terasa sedih dan amat tersiksa.

Dengan langkah kaki yang ringan Li Lok-yang berpatroli kian kemari, tiba-tiba terdengar Li Kiam-pek bertanya:

"Ayah, kau tidak tidur sebentar?"

"Tidurlah, ayah tidak bisa tidur!"

"Ananda juga tidak bisa tidur, mungkinkah mereka akan datang pada malam ini?"

Sambil menghela napas Li Lok-yang gelengkan kepalanya berulang kali, dia berjalan menuruni undak-undakan didepan gedung dan memandang sekejap sekawanan lelaki kekar yang hampir semuanya sedang mengawasi dinding pekarangan dengan mata melotot.

"Semoga mereka melancarkan serangan pada malam ini" mendadak terdengar Suto Siau berbisik dari belakang, "mumpung kami semua masih punya semangat bertarung, kalau tidak, cukup dua hari saja, mungkin......aaai!"

"Yaa, kalau dua hari lagi mereka belum datang juga, terpaksa kita harus menyerbu keluar" jawab Li Lok-yang sedih.

"Musuh berada di kegelapan sementara kita berada ditempat terang, jika bersikeras hendak menyerbu keluar, mungkin lebih banyak bahaya­nya  daripada  selamat,  lagipula.......  bukankah saudara Li mempunyai harta kekayaan yang amat banyak disini"

Li Lok-yang tertunduk lesu, sampai lama sekali tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Dengan perasaan tidak tenang, hati berdebar dan penuh kewaspadaan, semua orang melewat­kan malam itu dengan penuh penderitaan, akhirnya fajar pun mulai menyingsing.

Semua orang pun mulai bangkit berdiri dan berjalan mondar mandir disekeliling ruangan, hanya saja karena perasaan dan pikiran setiap orang terasa berat penuh beban, siapa pun tidak ingin banyak bicara.

Im ceng yang baru sadar dari mabuk merasakan kepalanya amat sakit dan pening, kembali dia membuka guci arak dan mulai meneguk lagi dengan rakusnya.

Biarpun baru lewat satu malam, namun wajahnya kelihatan jauh lebih lesu, kusam dan mengenaskan.

"Saudara Phoa" mendadak Thiat Tiong-tong berjalan menghampiri Phoa Seng-hong sambil menepuk bahunya, "bersedia menemani lohu untuk berjalan-jalan di halaman luar?"

"Tentu saja bersedia" jawab Phoa Seng-hong

Buru-bur Un Tay-tay ikut bangkit berdiri, tapi Thiat Tiong-tong segera menghardik:

"Kau tetap tinggal disini!"

Dengan wajah masgul Un Tay-tay manggut-mauggut, akhirnya dia duduk kembali.

"Tidak ada salahnya bila ingin berjalan-jalan ditengah halaman, tapi kalian harus lebih berhati-hati" Li Lok-yang mengingatkan.

Setelah keluar dari gedung, sambil tertawa licik tanya Phoa Seng-hong:

"Loya-cu, apakah ada siasat busuk lagi yang hendak kau suruh aku lakukan?"

"Dugaanmu tepat sekali!"

"Disini kelewat banyak orang, mari kita berbicara di belakang saja" bisik Phoa Seng-hong dengan semangat berkobar.

Berkilat sepasang mata Thiat Tiong-tong.

"Asal kau dapat memancing keluar Hay Tay-hau, Li Lok-yang, Li Kiam-pek serta Im Ceng dari dalam gedung, aku akan ajarkan sebuah siasat bagus untuk meloloskan diri dari sini"

"Sungguh?" seru Phoa Seng-hong kegirangan.

"Kalau tidak percaya yaa sudahlah!"

"Apa susahnya untuk melakukan hal itu" seru Phoa Seng-hong kemudian, dia membalikkan tubuh dan berjalan masuk ke dalam ruangan.

Tidak lama kemudian tampak Hay Tay-sau dengan menarik tangan Li Lok-yang dan Li Kiam-pek berjalan keluar dari ruang gedung, mereka segera terlibat perbincangan dengan para lelaki kekar ditengah halaman.

Menyusul kemudian Im Ceng dengan langkah sempoyongan ikut berjalan keluar, sambil berjalan pemuda itu bergumam tiada hentinya:

"Selama hidup aku tidak ingin melihatmu lagi, selama hidup aku tidak ingin melihatmu....."

"Sekarang giringlah mereka menuju ke belakang gedung, cari tempat persembunyian yang tertutup dan suruh mereka menunggu disitu, persoalan lainnya biar aku yang selesaikan" kata Thiat Tiong-tong lagi.

"Baik!"

Phoa Seng-hong segera mendekati Im Ceng dan menggandeng lengannya.

Im Ceng yang mabuk segera meronta melepaskan diri dari genggaman, teriaknya:

"Mau apa kau?"

Phoa Seng-hong dapat mengendus bau arak yang menusuk penciuman, segera jawabnya:

"Kau sudah mabuk berat, mari kuajak kau mencari angin"

Diam-diam dia menotok jalan darah lemas dan jalan darah bisunya.

Im Ceng yang tidak bisa berkutik, mulutpun tidak dapat berbicara langsung diseret menuju ke belakang gedung, menanti   Phoa Seng-hong berpaling lagi, dia sudah tidak menjumpai jejak Thiat Tiong-tong.

Terpaksa dia mencari sebuah jendela yang tersembunyi dan membuat sebuah lubang kecil diatas kertas jendela, bisiknya:

"Cepat kau tengok ke arah dalam sana!"

Biarpun Im Ceng tidak mampu bicara namun hati kecilnya merasa gusar sekali, pikirnya:

"Kau memaksa aku berbuat begitu? Hmm, aku justru sengaja tidak mau melihat!"

Dia segera memejamkan matanya rapat-rapat.

Melihat itu Phoa Seng-hong kembali berpikir:

"Tampaknya pemuda ini benar-benar keras kepala, biarpun kupaksa juga percuma, belum tentu dia mau membuka matanya untuk melihat......"

Ketika dia sedang serba salah, tiba-tiba Thiat tiong tong sudah muncul disampingnya sambil berkata dengan suara berat:

"Coba lihat, dia sudah mabuk hebat sampai mata pun tidak sanggup dibuka, masa kau masih menyuruhnya membuka mata?"

Mendengar perkataan itu kontan Im Ceng naik pitam, pikirnya:

"Siapa bilang aku mabuk? Hmm, aku justru mau mementang mataku lebar-lebar"

Benar saja dia segera membuka matanya lebar-lebar dan mengintip keluar melalui lubang diatas jendela.

Phoa Seng-hong benar-benar merasa kagum bercampur geli, dia tidak menyangka dengan sepatah kata saja Thiat Tiong-tong sudah dapat membuat Im Ceng membuka matanya kembali, segra pikirnya:

"Tua bangka ini ternyata hebat, rupanya dia bisa memahami perasaan hati seorang setan arak"

Perlu diketahui, orang yang semakin takut mabuk biasanya dia semakin tidak mau mengakui bahwa dirinya sedang mabuk.

Sambil menepuk bahu Phoa Seng-hong kata Thiat Tiong-tong kemudian:

"Tugasmu telah selesai, sekarang pergilah cepat!"

Walaupun rasa ingin tahu menyelimuti perasaan Phoa Seng-hong, sekalipun dia ingin turut menyaksikan pertunjukan apa yang bakal berlangsung ditengah ruangan, namun menyaksi­kan sorot mata Thiat Tiong-tong yang mengerikan, pada akhirnya dia pergi juga.

Kini Thiat Tiong-tong bersama Im Ceng berdiri berjajar didepan jendela sambil mencuri lihat ke luar.......

Waktu itu Un Tay-tay sudah bangkit berdiri siap berjalan keluar, tapi dia segera dihadang jalan perginya oleh Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu.

"Mau apa kalian?" tegur Un Tay-tay kemudian.

"Saudara Suto ingin berbicara denganmu" kata Pek Seng-bu ketus.

"Apa yang perlu dibicarakan, aku tidak mengenalinya" seru Un Tay-tay dengan wajah berubah.

Tiba-tiba Suto Siau mencengkeram urat nadinya dan mengejek sambil tertawa dingin:

"Perempuan rendah, kau berani mengatakan tidak kenal aku? Sialan, aku sudah sepuluh tahun memeliharamu, memelihara seekor anjing saja tahu balas budi, masa memelihara kau tidak tahu budi?"

Un Tay-tay yang kena dicengkeram mulai merasakan separuh tubuhnya linu dan kesemut­an, buru-buru dia tampilkan senyuman genitnya dan berseru sambil tertawa:

"Aaii, masa diajak bergurau pun kau marah-marah. Jangan sok serius!"

Thiat Tiong-tong yang mengintip dari balik jendela mulai tertawa dingin, pikirnya:

"Ternyata dugaanku tidak meleset, asal aku tinggalkan ruang gedung, Suto Siau pasti tidak tahan untuk menginterogasi perempuan rendah itu”

Dia mencoba menengok ke samping, dilihatnya Im Ceng sedang mengintip dengan mata terbelalak besar dan wajah diliputi perasaan terkejut, keheranan bercampur ngeri, jelas pemandangan yang terbentang didepan matanya seketika memmbuat rasa mabuknya hilang separuh.

Terdengar Suto Siau menegur lagi dengan suara dingin:

"Aku suruh kau mengintil disamping pemuda itu sambil mencari tahu sarangnya, kenapa setengah jalan kau lepaskan dia dan malahan menempel disamping tua bangka sialan itu?"

Mendengar sampai disini, peluh dingin mulai bercucuran membasahi seluruh tubuh Im Ceng.

Melihat perubahan sikap pemuda itu, Thiat tiong tang segera berpikir:

"Aku rasa ini sudah lebih dari cukup, kalau sampai Suto Siau mendesak lebih jauh, bisa jadi perempuan itu malah sekalian menghianati aku"

Berpikir sampai disitu dia segera menghantam daun jendela hingga bergetar keras, dengan cekatan dia sambar tubuh Im Ceng lalu secepat kilat menyelinap ke dalam deretan bangunan rumah disamping lain.

Jeritan kaget seketika berkumandang dari dalam ruang tengah, Suto Siau, Hek Seng-thian sekalian secepat kilat meluncur keluar dari ruangan.

Thiat Tiong-tong sama sekali tidak menggubris mereka, sambil membopong Im Ceng menyembu­nyikan diri, dia segera menepuk bebas totokan jalan darah ditubuh pemuda itu dan menegur:

"Kau sudah mendengar dengan jelas?"

"Perempuan rendah!" umpat Im Ceng sambil menyeka butiran keringat dari jidatnya.

"Kalau sudah tahu jika dia hanya seorang perempuan rendah, tidak sepantasnya kau menderita lantaran dia. Jika kau masih bersedih hati gara-gara perempuan itu, berarti kau memang bukan seorang lelaki!"

Lama sekali Im Ceng tertunduk melamun, akhirnya dia menghela napas panjang.

"Saat ini situasi sangat gawat" kembali Thiat Tiong-tong berkata, "sekalipun mereka sudah tahu kalau kau adalah anggota Perguruan Tay ki bun, tidak mungkin orang-orang itu bakal turun tangan terhadapmu, cuma kau pun jangan melakukan tindakan ngawur"

Im Ceng manggut-manggut, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya, sambil menatap lurus wajah Thiat Tiong-tong, tegurnya:

"Kau...... siapakah kau sebenarnya? Kenapa segala persoalan seolah tidak dapat mengelabuhi dirimu?"

Sinar matanya penuh dengan perasaan terkejut, keheranan bercampur perasaan hormat yang tinggi.

Thiat Tiong-tong tidak berani beradu mata dengannya, sembari berpaling ujarnya:

"Siapakah aku? Suatu hari kelak kau pasti akan tahu sendiri"

"Kenapa tidak kau katakan sekarang?"

"Sebab bila kuungkap sekarang, keadaan pasti akan mengalami perubahan drastis"

Nada ucapannya dipenuhi rasa serius, berat dan menyeramkan, membuat siapa pun yang mendengartidak berani banyak bertanya lagi.

Mendadak terdengar seseorang membentak nyaring.

"Siapa disitu?"

Ditengah  bentakan  keras,  terdengar  suara ujung baju yang tersampok angin berkumandang membelah angkasa.

Buru-buru Thiat Tiong-tong berbisik dengan suara berat:

"Gunakan kesempatan ini untuk kabur, biar aku yang menghadapi mereka"

Seraya berkata, dia berjalan keluar dengan langkah lebar.

Secara beruntun Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu meluncur tiba ditempat itu, ketika menyaksikan thiat Tiong-tong yang muncul dengan langkah santai, tidak kuasa mereka berdua berteriak:

"Aaah, rupanya kau!"

"Betul, memang lohu, ada urusan?"

"Ditengah kekacauan, mau apa kau berada disini?" tegur Hek Seng-thian dengan suara berat.

“Jalan-jalan......" sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin, kemudian tanpa perdulikan kedua orang itu lagi dia melanjutkan perjalanannya sambil bergendong tangan.

"Aku lihat tua bangka ini makin lama semakin bertambah aneh" gumam Hek Seng-thian dengan kening berkerut.

"Akupun merasakan kemisteriusan orang ini, mula-mula aku curiga kalau dia adalah penyamaran dari anggota Perguruan Tay ki bun, tapi setelah menyaksikan hubungannya dengan Im ceng, aku pun merasa sepertinya tidak mirip"

"Jangan jangan mereka sedang bermain sandiwara?" bisik Hek Seng-thian setelah termenung sejenak.

Dengan cepat Pek Seng-bu menggeleng.

"Pemuda she-Im itu emosinya tinggi dan berangasan sekali, jika ditilik dari penderitaan hatinya, jelas siksaan itu bukan cuma pura-pura, dalam hal ini siaute berani menjamin"

Sekalipun ke dua orang ini termasuk jagoan yang licik dan berakal banyak, namun mereka tidak berhasil juga untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya dibalik kesemuanya itu.

Akhirnya Hek Seng-thian berkata:

"Sekalipun orang tua ini mempunyai rahasia, selama tidak ada sangkut pautnya dengan kita, lebih baik tidak usah kita campuri!"

Dalam pada itu ke dua belas orang centeng keluarga Li yang sedang mendapat giliran bertugas pun nampak bersiap-siap dengan wajah tegang, anak panah sudah dibentang diatas busur, golok pun sudah diloloskan dari sarung, dengan perasaan was-was mereka sedang melakukan penggeledahan disekeliling tempat itu.

Li Kiam-pek muncul dari samping seraya berseru:

"Silahkan saudara semua kembali ke ruang tengah, saudara-saudara yang lain pun silahkan kembali ke pos masing masing, jangan semba-rangan bergerak"

Ketika tidak menjumpai sesuatu yang mencurigakan diseputar itu, semua orang pun balik kembali ke ruang tengah.

Waktu itu sebenarnya Li Lok-yang sedang berjalan mondar mandir didepan gedung, ketika melihat semua orang sudah kembali, dia segera menghentikan langkahnya dan berkata dengan suara dalam:

“Sekarang, kekuatan yang kita miliki harus dihimpun jadi satu, pikiran dan perasaan harus tetap tenang, jangan sampai hanya disebabkan sedikit suara yang mencurigakan, seluruh kekuatan bubar kesana kemari, dalam situasi yang membingungkan, musuh bisa manfaatkan kesempatan tersebut untuk melancarkan serangan!"

"Tapi hanya bertahan melulu tanpa melakukan perlawanan apapun jelas bukan cara terbaik" seru Bi lek hwee dengan suara lantang.

"Apakah saudara mempunyai usul lain?" tanya Li Lok yang.

Bi lek hwee tertegun, kontan dia tutup mulut dan tidak buka suara lagi.

Matahari makin lama semakin meninggi, perasaan semua orang pun semakin kalut bercampur gelisah, sisa telur yang mereka simpan pun sudah mulai dikeluarkan untuk menangsal perut yang lapar, dalam keadaan begini,  biar diantara mereka mempunyai hubungan persauda-raan pun, siapa saja sudah tidak saling mengalah lagi.

Melihat orang lain makan telur, tiba-tiba Hay tay sau merasakan perutnya berbunyi keras saking laparnya, suara yang keras kedengaran semakin nyaring ditengah keheningan yang mencekam sehingga tidak tahan banyak orang berpaling ke arahnya.

Sembari tertawa tergelak dan memegangi perut sendiri, dia berseru:

"Hahahaha..... biarpun aku seorang enghiong, apa mau dikata perutku tidak mau diajak kompromi"

"Dasar maling konyol" umpat Bi lek hwee sambil mengambil guci araknya, "ternyata menahan lapar memang merupakan siksaan yang sangat menderita, terus terang, perut lohu pun sudah mulai berontak dan tidak mau menurut"

Phoa Seng-hong mengeluarkan sisa telur yang dimilikinya dan sengaja berjalan mondar mandir dihadapan Hay Tay-sau, sambil berjalan dia menggigit telurnya, mengunyah dengan perlahan lalu menghela napas.

Dengan mata melotot sebesar gundu, Hay Tay-sau mengikuti gerakan telurnya kian kemari, akhirnya saking tidak tahannya dia meludah sembari mengumpat:

"Sialan, apa enaknya telur godokan?"

"Hahahaha.... memang tidak enak, memang tidak enak" sahut Phoa Seng-hong sambil tertawa tergelak, dia semakin menikmati telurnya dengan gaya yang dibuat-buat.

Dengan wajah merah padam Hay Tay-sau melompat bangun, tanpa sadar Phoa Seng-hong ikut mundur satu langkah.

"Jangan kuatir bocah busuk" Hay Tay-sau segera tertawa tergelak, "tidak bakalan kurampas telur milikmu"

Kontan gelak tertawa bergema memecahkan keheningan, suasana yang semula tegang pun sedikit lebih mengendor, bahkan sekulum senyuman sempat menghiasi pula wajah Im Ceng.

Tapi sayang keadaan para lelaki kekar yang berjaga diluar halaman sudah mulai layu dan lemas, kendatipun ilmu silat yang mereka miliki diatas rata-rata, namun setelah kelaparan seharian, tubuh mereka sudah mulai melemas, kepala pusing dan mata pun mulai berkunang.

Mengawasi keadaan diluar halaman, Li Lok-yang menghela napas panjang, gumamnya dengan alis mata berkenyit:

"Senja...... paling banter hanya bisa bertahan

sampai senja nanti......"

Sekonyong-konyong suara genta kembali berdentang, suara si bocah pun kembali bersenandung:

"Genta berbunyi untuk ke empat kalinya, bila perut mulai kelaparan, kuberi berapa kerat daging babi”

Ditengah suara senandung, tiba-tiba dari luar tembok pekarangan bermunculan belasan batang bambu yang lebih tinggi daripada dinding, diujung bambu terikat daging babi yang sudah dipanggang matang, daging-daging itu mulai bergoyang dihembus angin.

Kulit babi berwarna kuning tampak berkilauan ketika tertimpa sinar matahari, bau harum yang semerbak tersebar mengikuti hembusan angin, sekalipun semua orang tidak ingin mengendus juga tidak sudi memandang, tidak urung tersiksa dalam perasaan hatinya.

Langkah kaki kawanan lelaki dalam halaman mulai kalut, sepasang mata mereka pun terbelalak semakin lebar.

Tiba-tiba terdengar seorang lelaki kekar mengumpat:

"Sialan, maknya, ayam itik sudah terbiasa bagi kami, apa anehnya dengan daging babi? Saudara sekalian, buat apa kita perhatikan barang haram itu?"

Dia langsung mengambil sebatang anak panah dan dibidikkan ke arah daging babi itu.

Siapa tahu ketika anak panah tiba diluar dinding pekarangan, tiba-tiba arahnya berubah kemudian langsung rontok ke atas tanah.

Melihat persiapan yang begitu ketat diluar dinding sana, perasaan semua orang makin berat dan tercekam.

Thiat Tiong-tong ikut mengawasi daging babi panggang berwarna kuning itu, mendadak dia jadi teringat dengan senandung Sui Leng-kong tentang daging babi, tidak tahan diapun bersenandung:

".......Kucicipi  kulit  babi yang berminyak, sudah terpanggang hingga menguning, kuiris sekerat daging, kupersilahkan kau mencicipi, kupersilahkan kau mencicipi........"

Sekulum senyuman segera tersungging diujung bibirnya, namun perasaan hatinya justru terasa lebih sendu dan murung.

Hay Tay-sau yang masih berjalan mondar mandir dalam ruangan tiba-tiba menghentikan langkahnya, setelah meludah ke lantai, kembali umpatnya:

"Kujamin daging babi itu pasti masam rasanya, lebih baik jangan dimakan! Lebih baik jangan dicicipi!"

"Biarpun belum tentu masam rasanya, kujamin pasti beracun ......" sambung Li Lok-yang sambil tertawa.

Belum selesai dia bicara, mendadak tampak ada belasan sosok bayangan manusia meluncur naik ke atas tiang bambu itu.

 

BAB 8.

Sang mutiara pembetot sukma.

 

Ke sepuluh orang itu ada lelaki ada wanita, ada lelaki berlengan tunggal ada pula manusia kudisan berkepala botak, tapi ada juga gadis gadis cantik berpakaian warna warni.

Dalam genggaman mereka masing-masing menggenggam sebilah pisau belati, gerakan tubuh­nya ringan dan cepat, dalam waktu singkat mereka sudah berdiri diujung bambu, tubuh mereka bergoyang mengikuti hembusan angin, seakan-akan setiap saat bisa terbang ke angkasa.

Dengan wajah berubah Phoa Seng-hong segera berbisik:

"Orang orang itu adalah Kiu Kui cu (Sembilan setan) serta Jit Moli (tujuh iblis wanita) dari perguruan Kiu cu Kui bo, aneh, kenapa mereka menampakkan diri secara tiba-tiba? Permainan busuk apa yang sedang mereka persiapkan?"

Setelah berdiri tegak diujung bambu, men­dadak kawanan manusia itu berjumpalitan dengan kepala dibawah kaki diatas, gaya mereka bagaikan orang yang tiba-tiba terpeleset hingga jatuh ke bawah.

Tapi pada saat itulah ujung kaki mereka dengan cekatan menggaet kembali ujung bambu, lalu dengan pisau belatinya mereka mulai mengiris daging babi tadi dan menikmatinya dengan lahap.

Seorang lelaki berlengan tunggal segera berseru sambil tertawa tergelak:

"Sudah kalian lihat, semua daging babi ini tidak beracun, asal kalian punya nyali, silahkan saja dicicipi!"

"Lepas panah!" bentak Li Lok-yang keras.

Hujan anak panah kontan berhamburan di udara menyambar tubuh sekawanan manusia tersebut.

Kawanan laki perempuan yang ada diujung bambu tertawa ringan, tiba-tiba mereka melam­bung ke udara dan menyongsong datangnya hujan anak panah itu.

Tampak bayangan manusia berkelebat di-tengah hujan panah, ternyata semua anak panah yang dibidikkan telah mereka tangkap semuanya, tidak satu pun dibiarkan rontok ke tanah.

Dalam waktu singkat hujan panah dan bayangan manusia hilang lenyap tidak berbekas, yang tersisa hanya ke sepuluh kerat daging babi panggang serta suara ejekan dari kawanan manusia itu.

Berubah hebat paras muka Suto Siau, gumamnya:

"Ilmu ginkang yang hebat, ilmu telapak tangan yang tangguh, tampaknya kungfu yang dimiliki kawanan manusia itu sama sekali tidak dibawah kemampuan kita semua"

Li Lok-yang menghela napas panjang.

"Dengan melakukan tindakan tersebut, bukan saja mereka hendak membuktikan kalau daging babi itu tidak beracun dan memancing semua orang untuk berebut, mereka pun ingin memamer­kan juga kebolehan ilmu silat yang dimilikinya!"

Hay Tay-sau memandang sekejap sekitarnya, tiba-tiba dia melompat ke tengah halaman, dari sakunya dia mengeluarkan seutas tali panjang, dibuatkan simpul hidup diujungnya kemudian dilontarkan keluar.

"Dasar maling" kontan Phoa Seng-hong mengejek sambil tertawa dingin, "tidak aneh kalau kamana pun pergi selalu menggembol peralatan untuk mencuri!"

Sementara ejekan bergema, tali simpul itu telah berhasil menjerat sepotong daging babi panggang.

Sambil membentak keras Hay Tay-sau segera menarik kembali talinya, babi panggang itupun terpental dan lepas dari ujung bambu.

Siapa tahu pada saat itulah terlihat sesosok bayangan manusia melesat ke udara dari luar dinding, pisaunya langsung membabat ke arah ujung tali itu.

"Kau berani!" hardik Hay Tay-sau gusar, tubuhnya secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ikut melesat ke udara, telapak tangan kirinya diayunkan cepat, dia langsung membacok tubuh bayangan manusia itu, ternyata ilmu pukulannya sangat mengerikan.

Bayangan manusia itu memiliki perawakan tubuh kurus kering, cepat goloknya diputar membabat pergelangan tangan Hay Tay-sau, gerakan tubuh yang dimiliki orang inipun sangat hebat, kecepatannya berganti jurus diudara bagaikan ikan yang berenang di air.

Dengan tangan kanannya Hay Tay-sau menyambut daging babi itu, tangan kirinya diputar kembali dan kali ini berusaha merampas senjata lawan.

Kembali terdengar seseorang mengejek sambil tertawa dingin:

"Setelah keluar dari dinding pekarangan, kau masih ingin balik?"

Seorang lelaki bermata tunggal melejit ke udara bagaikan seekor burung rajawali, tangan kirinya diayun ke depan menahan telapak kaki lelaki kurus kering tadi sementara tangan kanannya menghajar dada Hay Tay-sau.

Tubuh lelaki kurus kering yang sedang meluncur ke bawah itu seketika melambung lagi berapa meter ke udara, kali ini dia mengayunkan kakinya menendang wajah Hay Tay-sau.

Menghadapi serangan dari kiri kanan, tenaga dalam Hay Tay-sau mulai tersendat, meski dia berhasil menghindari ke dua jurus serangan itu, tampak tubuhnya segera akan terjatuh ke luar dinding pekarangan, kalau sampai terjadi begitu, jelas keadaannya sangat berbahaya.

Dengan wajah berubah kawanan jago dalam ruangan berbondong-bondong menerobos keluar halaman, Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu serentak turun tangan, diantara ayunan telapak tangannya, puluhan titik cahaya bintang seketika disambitkan ke arah dua orang yang berada diluar dinding.

Menggunakan kesempatan itu Hay Tay-sau membentak keras, sembari membusungkan dada menyambut pukulan dari lelaki bermata tunggal, dia meminjam tenaga serangan tersebut untuk mencelat ke belakang, kemudian setelah berjum­palitan beberapa kali, dia melayang turun ke dalam halaman rumah.

"Kau terluka?" Bi lek hwee segera menegur.

"Hahahaha.... kulit tubuhku mah lebih tebal dari kulit badak, masa pukulan macam begitu bisa melukaiku? Satu pukulan ditukar dengan sepotong daging babi, rasanya jual beli ini tidak kelewat merugikan!"

Sambil mengacungkan jempolnya Bi lek hwee berseru memuji:

"Lelaki hebat, lelaki jempolan! Hahahaha... hey anak setan cucu setan yang berada diluar tembok, dengarkan baik-baik! Pukulan kalian hanya dianggap orang sebagai sebuah garukan!"

Waktu itu semua bayangan manusia yang semula ada diujung bambu, kini sudah melompat turun bahkan tidak kedengaran seorang pun yang menanggapi teriakan itu.

Dengan membawa babi panggang hasil rampasannya Hay Tay-sau balik ke dalam ruangan, dia mengambil sebilah pisau dan serunya sambil tertawa:

"Setiap orang dapat seiris daging, kecuali sahabat yang tadi makan telur sambil mengejek dihadapanku!"

Sambil berkata dia mulai mengiris daging babi itu.

Kemudian selesai mengiris, kembali Hay Tay-sau berkata sambil tertawa:

"Bagaimana pun daging babi ini kuperoleh dengan cara mencuri, rasanya ada orang memang tidak sudi makan daging curian!"

Phoa Seng-hong mendengus dingin.

"Hmmm, daging yang mereka iris boleh saja tidak beracun, memangnya kau anggap dibagian yang lain tidak dibubuhi racun?"

Hay Tay-sau tertegun, kontan umpatnya: "Sialan, memangnya lantaran tidak kebagian daging lantas kau mau menakut-nakuti orang?" Sekalipun berkata begitu, tidak urung dia hentikan juga irisannya.

Dari dalam saku Pek Seng-bu mengeluarkan sebatang jarum perak dan ditusukkan ke dalam daging, seketika itu juga jarum perak itu berubah jadi hitam pekat.

Paras muka Hay Tay-sau kontan berubah hebat, saking tertegunnya dia sampai tidak mampu bicara.

Menyaksikan kejadian ini semua orang hanya bisa menghela napas di hati. Suto Siau pun segera mendorong pergi Phoa Seng-hong sambil ujarnya:

"Masih untung pukulan bajingan tadi tidak kelewat berat, kalau tidak benar-benar rugi besar"

Dengan perasaan kaku Hay Tay-sau manggut-manggut, mendadak percikan darah segar mulai meleleh keluar dari ujung bibirnya. Ternyata pukulan lelaki bermata tunggal tadi meski dilancarkan ditengah udara, namun tenaga serangannya sangat tangguh.

Sejak awal Hay Tay-sau sudah merasakan gelagat tidak menguntungkan, hanya saja karena dia tidak ingin menghilangkan harapan rekan lainnya maka dia memaksakan diri menahan rasa sakit, paling tidak luka dalamnya baru akan diperlihatkan setelah semua orang mencicipi daging babi itu, siapa sangka daging tersebut tetap tidak bisa terjamah.

Hanya Im Ceng seorang yang tidak banyak bicara, dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke tengah halaman, dari tangan kawanan jago disitu dia minta sebuah gendawa lalu panah demi panah dibidikkan ke tengah udara.

Anak panah tampak meluncur bagaikan sambaran kilat, dalam waktu singkat ke sepuluh kerat daging babi yang tergantung diujung bambu sudah rontok semua ke tanah.

Sorak sorai segera bergema memecahkan keheningan, Suto Siau sekalian yang menyaksikan kehebatan itu diam-diam merasa terkejut, hanya Un Tay-tay seorang yang berlagak seolah tidak melihat.

Baru berhenti suara sorakan, dari luar dinding terdengar seseorang berseru dengan nada dingin:

"Bidikan yang jitu! Ilmu memanah yang hebat! Kepandaian yang mengagumkan! Siapa yang melakukan bidikan? Apa berani berdiri diatas dinding pekarangan?"

"Jangan terpancing!" bentak Thiat Tiong-tong tanpa sadar.

Terdengar Im Ceng menyahut dengan lantang:

"Sauya berdiri ditengah halaman, kalau ingin melihat, silahkan saja datang kemari!"

Dengan tangan kiri memegang busur, ditangan kanannya telah disiapkan tiga batang anak panah.

"Bagus, biar kutengok manusia macam apakah dirimu!" orang diluar dinding tertawa ringan.

Tampak sesosok bayangan tubuh seorang gadis melayang di udara dan meluncur tiba, gerakan tubuh perempuan itu sangat indah dan menawan, bagaikan bidadari yang turun dari kahyangan.

"Perhatikan baik-baik!" bentak Im Ceng nyaring.

Anak panah segera dibidikkan ke depan dalam posisi segitiga, diiringi desing angin tajam serangan tersebut langsung mengancam tubuh pendatang.

"Waah, ternyata hebat juga!" seru gadis itu sambil tertawa merdu.

Sepasang  tangannya  diangkat  tinggi-tinggi untuk menyambut ke dua batang anak panah pertama, sementara sebuah tendangan kilat menghadang anak panah ke tiga.

Gerak serangannya kembali dilakukan dengan lemah gemulai, persis seperti bidadari yang sedang menari.

Siapa tahu saat itulah Im Ceng telah menyiapkan bidikan berikut, hardiknya:

"Masih ada lagi!"

Kembali tiga anak panah melesat dengan cepatnya, meskipun ke tiga serangan itu tidak dilepas berbarengan namun selisih gerakan nya tidak berbeda banyak.

Semua orang hanya merasakan pandangan matanya kabur, tahu-tahu terdengar gadis itu menjerit kaget dan terjatuh ke luar pagar.

Sambil mengelus jenggotnya Bi lek hwee tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha..... mereka telah melukai seorang anggota kita, sekarang kita pun balas hadiah itu. Wah...waah.... pertarungan ini benar-benar menarik, betul-betul berarti!"

Rasa gembira hanya sejenak menyelimuti perasaan semua orang, tidak lama kemudian suasana berubah hening kembali, rasa lapar yang luar biasa seakan iblis keji yang sedang mencekik leher mereka.

Menjelang senja, sudah banyak lelaki kekar dihalaman luar yang tidak mampu menahan diri, mereka mulai bersandar disudut dinding.

Dibawah sinar matahari senja, suasana ditempat itu tampak lebih muram, kusam dan mengenaskan.

Mulut setiap orang sudah terjahit rapat karena rasa lapar, tidak ada yang bicara, tidak ada yang minum arak. Bahkan keinginan untuk minum arak pun sudah ikut lenyap.

Mengawasi matahari senja yang menyinari jagad, tiba-tiba Li Lok-yang berkata dengan suara berat:

"Lohu sudah putuskan akan menyerbu ke luar, adakah diantara kalian yang bersedia mengikuti­ku?"

Perkataan itu bagaikan sebuah lecut yang mencambuk tubuh setiap orang, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Im Ceng serta Bi lek-hwee seperti kena dihajar keras, serentak mereka melompat bangun dari bangkunya.

"Mati hidup menang kalah tergantung pada gempuran kali ini" kata Suto Siau sambil tertawa, "Li toako, sebelum mengambil keputusan terakhir, lebih baik pertimbangkan lagi masak-masak!"

"Selama hidup aku selalu bertindak sangat hati-hati, tapi saat ini aku sudah tidak punya jalan lain kecuali melakukan pertaruhan terakhir ini!"

Bicara sampai disitu tiba-tiba dengan sorot mata setajam sembilu dia melanjutkan:

"Dari pada mati terkepung ditempat ini, lebih baik tewas dalam pertempuran!"

Jika menunggu dua hari lagi, mungkin saja akan datang bintang penolong......."

"Tidak, keputusanku sudah bulat, hengtay tidak perlu banyak bicara lagi, bila ada orang yang ingin keluar dari sini, silahkan saja bertahan ditempat ini, cayhe tidak bakalan memaksa!"

Kalau diwaktu biasa dia selalu bicara halus, lembut penuh kedamaian maka perkataannya sekarang lebih keras dari baja. Setelah meman­dang sekejap seputar sana, tambahnya:

"Siapa yang bersedia mendampingi aku untuk bertarung, silahkan acungkan tangan!"

Bi lek-hwee dan Im Ceng segera mengacung­kan tangannya, Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu saling bertukar pandangan sekejap, akhirnya sambil angkat tangan serunya:

"Saudara Suto, kau......."

"Tentu saja siaute harus turut bergabung" tukas Suto Siau sambil tertawa getir.

"Aaah, ada sekian banyak jago yang ikut sudah lebih dari cukup, Hay Tay-sau masih terluka sedang lo sianseng ini tidak pandai bersilat, tentu saja mereka harus tetap tinggal disini"

"Masih untung Hay tayhiap sudah tertidur" bisik Li Kiam-pek, "kalau sampai kedengaran dia.."

"Siapa bilang aku sudah terluka dan susah bergerak?" tiba-tiba Hay Tay-sau melompat bangun sambil berteriak keras, "siapa bilang aku sudah tertidur? Bila kalian ingin menyerbu keluar, biar aku yang menjadi pembuka jalan"

"Seharusnya aku yang menjadi pembuka jalan!" buru-buru Li Kiam-pek mengayunkan pedang siap melangkah pergi.

Bi lek hwee tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha..... tugas sebagai pembuka jalan sudah menjadi milikku seorang, kalian tidak perlu berebut lagi dengan lohu" serunya.

"Kenapa?" tanya Hay Tay-sau dan Im Ceng hampir berbareng.

Sambil menepuk kantung kulit yang tergantung dipinggangnya Bi lek hwee berkata:

"Didalam kantungku terdapat puluhan butir Bi lek cu (peluru peledak), kekuatannya melampaui kehebatan ribuan prajurit, dengan mengandalkan benda ini aku bisa membuka sebuah jalan berdarah"

"Kalau memang begitu, tanggung jawab sebagai pembuka jalan kuserahkan kepada hengtay" tukas Li Lok-yang segera, "sementara sauhiap dan putraku biar menjadi pembantu"

Lalu sambil berpaling ke arah Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu, lanjutnya:

"Aku harap Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu menjadi barisan paling belakang, sedang aku dan saudara Suto akan berada dibarisan tengah, apapun yang terjadi dan bagaimanapun sengitnya perta-rungan, aku harap bagian depan maupun barisan belakang harus saling berhubungan, jangan sampai masing-masing kelompok kehilang­an kontak!"

"Bagaimana dengan aku?" teriak Hay Tay-sau gusar, "memangnya kau sudah melupakan aku?"

Perlahan-lahan Li Lok-yang menghampirinya.

"Mengenai hengtay......." tiba tiba dia menotok jalan darah dibahunya dan melanjutkan, "lukamu belum sembuh, lebih baik jangan sembarangan bergerak"

Hay Tay-sau mendongkol bercampur jengkel, namun dia sudah tidak mampu berdebat lagi.

Sembari berpaling, Li Lok-yang kembali berkata dengan nada berat:

"Saudara-saudara yang berada diluar, siapkan busur kalian, jangan biarkan siapa pun menerobos masuk kemari!"

"Biar cayhe yang berjaga disini!" Phoa Seng-hung segera nyelutuk.

Sambil tertawa dingin Li Kiam-pek melirik sekejap ke arahnya, kemudian jengeknya:

"Memang tidak ada orang yang suruh kau ikut keluar!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, semua orang sudah mengencangkan tali pinggang dan meloloskan senjata andalan.

Im Ceng sambil mengayunkan pedangnya tiba-tiba berseru sambil menghela napas:

"Aaai, seandainya dia berada disini, keadaan pasti lebih mendingan!"

"Siapa?" tanya Li Kiam-pek.

"Dia adalah suhengku, kecerdasan dan kecekatannya seratus kali lipat lebih hebat ketimbang aku, meski dalam situasi yang kalut pun dia dapat menghadapi dengan tenang, hanya sayang......."

Dia melirik Suto Siau sekejap, lalu dengan penuh perasaan dendam lanjutnya:

"Sayang dia sudah menghianati perguruan, menganggap  bajingan  sebagai ayah, jika aku berjumpa lagi dengannya, pasti akan kuhajar dia habis habisan!"

Thiat Tiong-tong merasakan timbulnya hawa dingin dari dasar hatinya, diam-diam dia pejam­kan mata.

Sambil menggenggam pedangnya kencang kencang, Li Lok-yang berseru lagi:

"Sekarang matahari senja belum tenggelam, inilah saat yang tepat untuk melangsungkan pertarungan berdarah, ayoh teman, kita segera menyerbu ke luar!"

Seketika itu juga cahaya pedang dan hawa pembunuhan menyelimuti seluruh ruang utama.

Mendadak Thiat Tiong-tong mengangkat kepalanya dan berkata pula dengan suara dalam:

"Kini keadaan sudah berkembang makin gawat, apa pun yang akan kalian lakukan diluar sana, lohu pasti akan berjaga-jaga ditempat ini, tapi......."

Setelah menyapu sekejap wajah semua orang yang hadir, dia menambahkan:

"Bila dalam setengah jam kemudian kalian belum berhasil meraih kemenangan, kuanjurkan lebih baik cepatlah balik kemari, hindari pengorbanan yang tidak berguna"

"Memang seharusnya begitu" sahut Suto Siau, "bila dalam setengah jam kita tidak peroleh hasil, lebih baik secepatnya mundur kemari dan kita membuat perencanaan yang lain"

"Baik!" kata Li Lok-yang kemudian setelah termenung sejenak.

"Lohu akan menggunakan tambur sebagai tanda" ujar Thiat Tiong-tong lagi, "bila suara tambur berhenti, itu berarti waktu selama setengah jam telah tiba!"

Li Lok-yang manggut-manggut, Li Kiam-pek segera perintahkan orang untuk mengambil tambur.

Semangat tempur kawanan lelaki kekar ditengah halaman kembali berkobar, suasana keheningan yang semula mencekam seluruh bangunan dalam waktu singkat terbakar kembali oleh semangat tempur yang meluap.

Diiringi bentakan keras Bi lek hwee menerjang keluar dari halaman, Im Ceng dan Li Kiam-pek dengan pedang terhumus mengikuti di belakang­nya

Kedua orang ini selain sama-sama masih muda, tampan, gerak geriknya amat cekatan.

Bi lek-hwee menyambar sebuah busur, kemudian sambil bersuit nyaring melayang ke atas dinding pekarangan.

Dalam waktu singkat dia telah merogoh segenggam peluru Bi lek cu, dengan menggunakan Ilmu Bi lik ciang Tan ta kim kiong (pukulan geledek menghamburkan gendewa emas) dia melepaskan serangan mematikan.

Terdengar serangkaian suara desingan tajam menggema membelah angkasa, belasan peluru peledak segera berhamburan ke angkasa dan menimbulkan serangkaian ledakan dahsyat disekeliling tempat itu.

Diluar dinding pekarangan merupakan sebuah tanah lapang yang luas, pepohonan yang rimbun tumbuh dikejauhan sana, sebuah jalan raya dengan alas batu membentang hingga ke dalam hutan.

Tampak bayangan manusia bergerak kian kemari diatas jalanan tersebut, ketika melihat datangnya serangan mematikan, serentak mereka membubarkan diri ke empat penjuru.

Terdengar sibocah pincang itu berteriak keras: "Yang meng hantar kematian sudah keluar, jangan biarkan mereka balik kembali!"

Bayangan manusia kembali bergerak ditengah hutan, seseorang menyahut sambil tertawa seram:

"Mereka tidak bakalan bisa balik lagi!"

"Setan cilik, kena kau!" mendadak Bi lek hwee membentak nyaring.

Sekali lagi serangkaian peluru peledak berhamburan di udara.

Bocah pincang itu tertawa tergelak.

"Hahahaha..... setan tua, kau tidak bakal bisa menyentuh tubuhku......."

Sambil memutar tubuh dia melesat naik keatas tiang bambu, kemudian ejeknya lagi:

"Hey setan tua, apa kau berani naik ke atas?"

Belum selesai teriakan itu, hujan anak panah telah beterbangan mengancam tubuhnya, buru-buru bocah pincang itu merosot turun ke bawah dengan jurus "menenteng orang mati".

Tiba-tiba terlihat cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu Im Ceng sudah merangsek maju ke depan sambil melancarkan tiga jurus serangan pedang, seketika itu juga bocah pincang tersebut terkurung dalam kepungan.

"Bocah busuk, hebat juga ilmu pedangmu!" seru bocah pincang itu sambil mengerdipkan matanya.

Tubuhnya berputar beberapa lingkaran menge­lilingi cahaya pedang itu, dalam waktu sekejap dia melancarkan pula tiga jurus serangan balasan.

Paras muka Im Ceng berubah berat dan serius, permainan pedangnya makin berat dan penuh tenaga.

Kembali bocah pincang itu melayani pertarungan sebanyak tiga gebrakan, kini wajah senyum nakalnya telah lenyap, mendadak jeritnya:

"Bocah keparat ini lihay sekali, kalian cepat datang membantu!"

Belum selesai dia berteriak, kembali muncul dua sosok bayangan manusia dari sisi kiri dan kanan, seorang gadis berbaju abu-abu dan seorang nona berbaju hijau, gerakan tubuh mereka cepat sekali bagai sambaran kilat.

Sambil membalikkan tubuh dan menarik kembali senjatanya, bocah pincang itu berseru sambil tertawa: "aku sudah tidak tahan lagi, lebih baik kalian saja yang menemaninya bermain!"

Dengan dua tiga kali jumpalitan, dia segera menyingkir jauh jauh.

"Dasar setan cilik" umpat si nona berbaju abu-abu sambil tertawa, "sudah kabur dari medan pertarungan, masih banyak bicara....."

Ditengah suara tertawanya yang merdu, ujung bajunya menari kian kemari, sekejap mata dia sudah melancarkan berapa jurus serangan.

Dalam pada itu si nona berbaju hijau telah meluluskan pula sebuah rantai perak sepanjang satu setengah meter, serunya sambil tertawa:

"Ngo-moay, kau menyerang jarak dekat, aku menyerang jarak jauh, coba kita lihat bocah ini dapat bertahan berapa jurus!"

Walaupun Im Ceng tidak pernah suka bertarung melawan perempuan, tapi sekarang dia sudah terkurung oleh jurus serangan ke dua orang gadis yang aneh, sakti dan cepat sehingga sulit baginya untuk menghindarkan diri.

Disisi lain, Li Kiam-pek telah bertarung melawan seorang lelaki berewok bermata satu, orang itu bersenjatakan sebatang golok panjang dan sebilah golok pendek, perawakan tubuhnya tinggi besar bagaikan setengah bangunan pagoda.

Suara tambur begitu berkumandang, pertarungan pun berlangsung makin seru.

Jurus serangan yang dipergunakan dua orang itu sama-sama keras, cepat dan ganas, terdengar suara benturan senjata berkumandang silih berganti, tiga titik cahaya tajam saling menyambar dan saling membabat dengan serunya.

Biarpun lelaki bermata satu itu berperawakan tinggi besar, namun gerak geriknya sama sekali tidak lamban ataupun bebal, golok panjang dan golok pendeknya melancarkan serangan secara bergantian, jurus serangan yang digunakan pun ganas, telengas dan aneh.

Sebaliknya ilmu pedang Li Kiam-pek berasal dari aliran lurus yang mengutamakan kemantapan dan ketenangan, sekalipun harus menghadapi lelaki kekar yang banyak pengalaman, namun dua ratus gebrakan kemudian menang kalah masih susah ditentukan.

Sementara kedua orang itu masih asyik saling menyerang, terdengar Bi lek hwee berteriak keras:

"Jangan melibatkan diri dalam pertarungan berkepanjangan, cepat terjang! Cepat terjang!"

Ditengah bentakan nyaring, lagi-lagi dia melontarkan serentetan peluru peledak.

Mendadak terdengar suara tertawa seram bergema dari balik hutan, terlihat sesosok bayangan manusia meluncur datang sambil mengebaskan bajunya berulang kali.

Ditengah deruan angin kencang, peluru peledak yang beterbangan di angkasa itu seketika terpental balik ke belakang, bukan Cuma terpental ke belakang bahkan segera berhamburan di dalam halaman keluarga Li.

Ledakan demi ledakan pun bergetar diseluruh gedung, jeritan   kaget bergema memecahkan keheningan.

Berubah hebat paras muka Li Lok-yang, teriaknya:

"Jangan kau gunakan lagi peledak Bi lek cu!"

Dengan pedang terhunus dia menyambut kedatangan bayangan manusia itu.

Tampak bayangan manusia yang baru muncul dari balik pepohonan itu segera melayang turun ke tanah, ke dua ujung bajunya berkibar ketika terhembus angin, bentuknya persis seperti sepasang sayap kelelawar, bahkan ketika sudah berdiri diatas permukaan, ujung bajunya kelihatan makin panjang hingga terjulai diatas tanah.

Dia memiliki perawakan tubuh yang tinggi tapi kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, tulang jidatnya menonjol tinggi, kelopak matanya mendelong ke dalam, bila diamati sekilas pandang mirip sekali dengan seorang lelaki buta.

Begitu melihat kemunculan orang itu, si bocah pincang segera bertepuk tangan sambil bersorak sorai, teriaknya tertawa:

"Bagus, bagus sekali! Ternyata toako juga telah datang, sekarang akan kulihat masih ada berapa banyak senjata rahasia yang kalian miliki, ayoh keluarkan semua!"

Tercekat perasaan hati Bi lek hwee mendengar seruan itu, dengan suara keras segera tegurnya:

"Apakah kau adalah Ai Thian-hok?"

Semua jago senjata rahasia yang ada dikolong langit pasti bergidik hatinya bila mendengar nama Ai Thian-hok disebut orang, bukan saja bergidik bahkan boleh dikata merasa takut hingga bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Biarpun dia buta namun sangat ahli dalam meluncurkan pelbagai jenis senjata rahasia yang ada dikolong langit, ketajaman pendengarannya luar biasa, seakan-akan disekujur tubuhnya memiliki mata yang tajam.

Dengan wajah yang dingin tanpa perasaan orang itu menyahut:

"Benar, siapa yang akan menemani aku si buta untuk bermain berapa gebrakan?"

Suaranya begitu ketus, dingin, kaku, sama sekali tidak berperasaan.

Dengan satu langkah cepat Li Lok-yang melompat melampaui Bi-lek hwee sambil menyelinap maju ke depan, setelah memandang orang itu dari atas hingga ke bawah, katanya dengan nada berat:

"Rupanya kaulah murid pertama dari Kiu cu Kui bo!"

“Betul!” seru bocah pincang yang berdiri jauh di belakang Ai Thian-hok, "dialah toa-suko kami!"

"Kehadiran suhengmu benar-benar merupa­kan satu penghormatan bagiku"

"Li sianseng kelewat memuji" tukas Ai Thian-hok ketus.

Li Lok-yang tertegun.

"Darimana kau bisa tahu kalau cayhe adalah Li Lok-yang?"

Ai Thian-hok tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha......biarpun sepasang mataku buta, hatiku tidak buta, dalam situasi dan keadaan seperti ini, siapa lagi yang masih bisa bicara sopan dan penuh sungkan kepadaku kecuali Li Lok-yang?"

"Orang bilang bintang pembunuh yang tidak bermata biasanya tajam dalam perasaan, setelah perjumpaan hari ini, nyata sekali kalau ucapan tersebut bukan kosong belaka"

"Li sianseng begitu memuji diriku, apakah kau menginginkan Ai Thian-hok melakukan sesuatu untukmu?" tanya Ai Thian-hok sambil menghenti­kan gelak tertawanya.

Sekalipun sedang tertawa, paras mukanya tetap kaku tanpa perasaaan. Dan kini, begitu dia berhenti tertawa, raut mukanya nampak semakin dingin menakutkan, seolah-olah perasaan hatinya memang terbuat dari bongkahan salju abadi, siapa pun di dunia ini tidak ada yang mampu menggerakkan perasaan hatinya.

"Betul" sahut Li Lok-yang sambil tertawa keras, "cayhe memang ingin mengajak anda untuk bertaruh"

"Hmmm, setiap kali aku she-Ai sedang menduduki posisi diatas angin, aku tidak pernah mau bertaruh dengan siapa pun, Li sianseng, tampaknya keinginanmu itu tidak bakalan terkabul!"

Sekali lagi Li Lok-yang tertegun, sebenarnya dia ingin mempertaruhkan keselamatan dirinya untuk mengajak Ai Thian-hok mempertaruhkan keselamatan saudara-saudara seperguruannya.

Terdengar si bocah pincang tertawa tergelak.

"Hahahaha..... bertaruh atau tidak kau tetap berada di pihak yang kalah, apa lagi yang ingin kau pertaruhkan?" serunya, "kau boleh saja membohongi orang lain, tapi jangan harap bisa membohongi toako ku!"

"Li sianseng" kembali Ai Thian-hok berkata, bila kau ingin bertarung, cayhe pasti akan menerima tantanganmu itu, cuma ada baiknya kau bersihkan dulu bekas kulit telur yang menempel didalam alas sepatumu, daripada mengganggu gerak-gerikmu nanti"

Tanpa sadar Li Lok-yang memeriksa alas sepatu sendiri, benar saja, ternyata alas sepatunya memang tertempel bekas kulit telur yang banyak, andaikata tidak diberitahu Ai Thian-hok, mungkin dia sendiripun tidak bakal menyadari.

Ai Thian-hok yang buta sepasang matanya ternyata memiliki ketajaman pandang melebihi  manusia yang bermata normal, padahal kalau dilihat kelopak  matanya yang mendelong, jangan lagi tidak nampak ada biji mata, cukup dilihat dari bentuknya pun sudah menyeramkan sekali, jelas dia bukan orang yang berlagak buta...... tapi, kenapa dia bisa tahu kalau alas sepatunya ada bekas kulit telur?

Dalam waktu singkat perasaan hati Li Lok-yang dicekam dalam ketakutan dan kengerian yang luar biasa.

"Kau tidak perlu keheranan darimana aku bisa mengetahui akan hal tersebut" terdengar Ai Thian-hok berkata lagi, "aku tahu karena dari suara langkah kakimu tadi dapat kudengar suara kulit telur yang menempel di sol sepatumu"

"Darimana kau bisa tahu kalau suara tersebut berasal dari kulit telur?"

Ai Thian-hok tertawa tergelak.

"Hahahaha..... semua bahan makanan sudah keracunan, aku duga kalian pasti makan telur ayam untuk memperpanjang umur, tidak aneh jika dalam situasi serba kalut, kulit telur akan berceceran di mana-mana, oleh sebab itulah aku menduganya, ternyata dugaanku memang benar"

Kembali Li Lok-yang menghela napas panjang, pikirnya:

"Aai, ternyata Ai Thian-hok memang seorang jagoan yang sangat hebat dan luar biasa"

Sebagaimana diketahui, pertempuran sengit sedang berlangsung waktu itu, seluruh udara, diliputi suara dentingan senjata yang nyaring, suara bentakan yang keras serta suara tambur yang menggelegar bagai halilintar.

Tapi dalam keadaan seperti itu, ternyata di dapat menangkap suara langkah kaki orang lain, ketajaman pendengarannya boleh dibilang sangat mengerikan, ditambah lagi kemampuannya untuk menganalisa serta mengambil kesimpulan, kehebatan yang dimiliki orang ini benar-benar luar biasa.

Bi lek-hwee yang selama ini hanya berdiri dibelakang Li Lok-yang sambil menahan diri, saat ini sudah tidak mampu mengendalikan diri lagi, segera bentaknya nyaring:

"Ai Thian-hok, ternyata mulutmu hebat, perasaanmu juga hebat, lohu ingin membuktikan apakah tanganmu juga trampil dan hebat?"

Gendewanya digetarkan, dengan satu langkah cepat dia menerobos maju ke depan, dengan ujung lamur dia totok jalan darah Ciang tay hiat di antara dada dan lambung Ai Thian-hok.

Sambil berjumpalitan maju ke depan, si bocah pincang itu menghardik:

"Toako ku hanya ingin bertarung melawan Li lok yang, mau apa kau banyak urusan? Hmm, biar sauya saja yang menemanimu bermain berapa gerakan!"

Ditengah bentakan, sepasang kakinya meluncur datang dengan kecepatan tinggi, langsung menendang wajah lawannya.

Menghadapi serangan semacam ini terpaksa Bi lek hwee harus selamatkan diri dengan mengegos ke samping, teriaknya penuh amarah:

"Kau sudah tahu kalau selama hidup lohu paling pantang bertarung melawan bocah dan kaum wanita, mau apa kau datang kemari?"

Bocah pincang itu tertawa terkekeh.

"Hahaha.....kau  tidak ingin bertarung melawanku? Huuuh, ketahuilah, aku pun belum tentu sudi bertarung melawanmu. Kalau toh kau belum menerima mutiara pengganti nyawa, lebih baik menyingkir saja ke samping dan tidak usah turut campur dalam persoalan ini!"

"Sialan!" umpat Bi lek hwee gusar.

Tinjunya langsung disodokkan ke depan dan menghantam ke tubuh seseorang yang sedang bertarung melawan Hek Seng-thian.

Biarpun dia berada dalam keadaan gusar, namun orang ini tetap tidak ingin bertarung melawan anak-anak dan kaum wanita, sekalipun wataknya agak kasar ternyata kekasarannya cukup simpatik.

Sementara itu Pek Seng-bu serta Suto Siau sekalian masing-masing sudah menemukan lawan­nya, pertarungan sengit pun berkobar di tanah lapang diluar pagar dinding.

Dari balik pepohonan terlihat bayangan manusia bergerak kian kemari, meskipun serangan yang mereka lancarkan sangat tangguh, ternyata orang orang itu belum juga berhasil membuka sebuah jalan berdarah ditempat itu.

Perlahan-lahan Li Lok-yang dan Ai Thian-hok bergerak semakin mendekat, namun hingga detik ini mereka belum sampai bertarung barang satu gebrakan pun.

Dengan wajah penuh senyuman si bocah pincang itu memukul   satu jurus kekiri, menendang kemudian kekanan, tiba-tiba dia berjumpalitan lagi di udara dan balik ke dalam hutan sambil berseru:

"Suhu telah tiba!"

Benar saja, terlihat Kiu cu Kui bo didampingi dua orang gadis cantik telah munculkan diri dari balik pepohonan.

Perempuan itu berjalan mendekat dengan langkah tertatih, pakaian yang dikenakan pun amat sederhana. Sebaliknya dua orang gadis yang mendampinginya justru berpakaian amat mewah dan indah, dandanannya sangat mencolok mata.

Li Lok-yang sangat terkesiap......ternyata

wanita cantik yang saat itu berdiri disamping Kiu­ cu Kui bo tidak lain adalah wanita cantik yang mendampingi si kakek aneh tadi.

Tentu saja dia tidak memahami betapa rumitnya hubungan mereka semua, timbul perasaan ragu dan curiga dalam hatinya.

Siapa tahu disaat dia masih tertegun dan bediri penuh keraguan itulah Ai Thian-hok sudah melambung ke tengah udara, tampak sepasang ujung bajunya berkibar terhembus angin, persis seperti seekor kelelawar yang sedang terbang di angkasa.

Ujung bajunya panjang lagi lebar, dibalik kelembutan terselip kekerasan, inilah dua jenis senjata pembunuh yang paling aneh dan hebat, ketika sepasang ujung bajunya diputar, sehebat apapun kepandaian silat yang dimiliki lawan, jangan harap bisa mendekati tubuhnya dalam waktu singkat.

Dalam pada itu kawanan lelaki kekar yang bertahan dibalik halaman mulai merasa sangat gelisah, mereka hanya bisa mendengar suara berlangsungnya pertarungan dari balik dinding tanpa bisa mengikuti jalannya pertarungan.

Lama kelamaan ada sebagian centeng yang tidak mampu menahan diri lagi, ada diantara mereka yang mulai memanjat ke atas dinding pagar untuk menonton jalannya pertempuran.

Paras muka Thiat Tiong-tong sendiripun nampak amat serius, dia masih memukul tambur tiada hentinya.

Un Tay-tay dengan wajah murung dan kesal duduk mendampinginya, perempuan itupun sama sekali tidak berbicara.

Sepuluh orang lelaki kekar yang semula berkumpul disudut halaman sambil berbisik-bisik, tiba-tiba berteriak keras dan serentak mereka lari kedepan pintu gerbang yang tertutup rapat.

Seseorang dengan cepat mengayunkan goloknya membacok ke pintu gerbang....

"Mau apa kalian?" tegur Phoa Seng-hong dengan wajah berubah.

"Kami akan menyerbu keluar!" sahut para centeng.

Baru selesai mereka bicara, tiba-tiba suara tambur berhenti berbunyi.

Tidak lama setelah bunyi tambur berhenti, tampak Hek Seng-thian muncul terlebih dulu ke dalam ruangan, seluruh tubuhnya basah oleh darah, dadanya naik turun tidak beraturan, senjata andalannya juga telah hilang.

"Hengtay, kau terluka?" tegur Phoa Seng-hong dengan wajah berubah.

Hek Seng-thian manggut manggut.

"Bahu.....bahu kiriku......."

Mendadak dia jatuh terduduk di lantai. Dari luar dinding pagar kembali terdengar suara teriakan keras menyusul kemudian tampak Pek Seng bu dan Suto Siau kabur masuk dengan gerakan cepat, paras muka ke dua orang inipun nampak kusam dan kelelahan, butiran keringat bercucuran membasahi jidatnya.

Walaupun Thiat Tiong-tong tidak dapat mengikuti jalannya pertarungan diluar pagar, namun setelah menyaksikan raut muka beberapa orang itu, dia dapat membayangkan betapa sengit dan hebatnya pertarungan yang baru berlangsung diluar sana.

Masih memegangi pemukul tambur dia segera berlari keluar dari halaman, teriaknya keras: "Masih ada yang lain?"

Dengan peluh bercucuran Pek Seng-bu segera menuding ke luar halaman.

Saat itulah terdengar Li Lok-yang yang berada diluar halaman berteriak keras:

"Saudara sekalian, cepat mundur kembali, biar cayhe yang melakukan penghadangan"

Menyusul kemudian terdengar seseorang menyambung sambil tertawa dingin:

"Biarpun jalan keluar tersumbat, kalau ingin mundur tidak bakalan dihadang orang, kau tidak perlu kuatir!"

Baru selesai ucapan tersebut bergema, Li Lok-yang, Li Kiam-pek, Bi lek hwee dan Im Ceng secara beruntun telah mundur balik ke dalam halaman, tapi wajah ke empat orang inipun nampak sangat mengenaskan, baju yang mereka kenakan basah kuyup oleh keringat.

Setelah mengatur pernapasan sejenak Li Lok-yang baru menghela napas panjang, dengan kepala tertunduk dia berjalan mondar mandir dalam ruangan. Ditinjau dari wajahnya yang murung dan helaan napasnya yang sedih, bisa diketahui bahwa persoalan yang sedang dihadapi sangat gawat.

Ketika tiba kembali dalam ruang tengah, perasaan hati semua orang pun ikut nampak berat.

Setelah berjalan mondar mandir berapa saat, akhirnya Li Lok-yang menuju ke depan undak-undakan batu dan berseru dengan nada berat:

"Saudara sekalian, harap dengarkan dulu perkataanku"

Perlahan-lahan para centeng yang berada ditengah halaman bergeser mendekat dan berkum­pul menjadi satu.

Menyaksikan kawanan jago yang di hari-hari biasa selalu gesit dan cekatan bagai seekor harimau, kini, meskipun berusaha tampil dengan penuh semangat namun tidak dapat menutupi perasaan kecewa dan sedihnya, tidak kuasa lagi dia merasakan hatinya sangat pedih.

"Kalian cepat buang senjata masing-masing! dan mengangkat tinggi ke dua belah tangan, asal kalian tidak melakukan perlawanan, sekeji dan sebuas apapun tidak mungkin Kiu cu Kui -bo akan mencabut nyawa kalian semua. Aku tahu, kalian sudah banyak tahun mengikuti aku, tapi hari ini, terus terang aku merasa tidak sanggup melindungi keselamatan kalian lagi, harap kalian jangan menyalahkan aku"

Belum selesai dia berkata sudah terjadi kegaduhan diantara para centeng itu, maka ketika dia menyelesaikan perkataannya, kawanan lelaki kekar itu segera teriak bersama:

"Biar harus matipun kami tidak akan pergi"

"Bila tetap tinggal disini, kalian hanya akan menghantar kematian saja" kata Li Lok-yang sedih.

Seorang centeng segera melompat keluar sambil berteriak:

"Loya selalu baik dan sayang kepada hamba semua, biar harus mati pun hamba lebih rela mati bersama loya"

Seorang rekannya segera menimpali:

"Biarpun hamba sekalian hanya orang bodoh, tapi kami bukan manusia kurcaci yang takut mati, jika loya memaksa hamba semua untuk pergi, terpaksa hamba akan mati duluan disini"

Lama sekali Li Lok-yang berdiri tertegun sambil mengawasi anak buahnya, mendadak sambil menghentakkan kakinya dia berpaling dan beranjak pergi, lamat-lamat butiran air mata nampak mengembang dalam kelopak matanya.

Un Tay-tay segera bertanya lirih:

"Masa kita benar-benar tidak punya harapan untuk menyerbu keluar dari tempat ini?"

Selama ini dia hanya menguntil terus disamping Thiat Tiong-tong, sedetik pun tidak ingin meninggalkan dirinya.

Tanpa bicara Li Lok-yang mengangguk.

Un Tay-tay tertegun berapa saat, tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan berjalan keluar dari ruangan.

Suto Siau maupun Im Ceng nampak seakan hendak menggerakkan tubuhnya, namun siapa pun tidak ada yang mengejarnya.

Perlahan-lahan Li Lok-yang berjalan mendekati Hay Tay sau, sembari membebaskan totokan jalan darahnya dia berkata:

"hengtay, harap kau jangan marah!"

"Kenapa aku mesti menyalahkan dirimu?" teriak Hay Tay-sau sambil bangkit berdiri, “mendengar perkataanmu yang begitu patah semangat, hampir saja aku mati lantaran jengkel"

Li lok yang tertawa getir.

"Bukannya cayhe ingin mengucapkan kata-kata yang patah semangat, hanya saja situasi dan keadaan yang kita hadapi sekarang memang lebih banyak bahayanya daripada selamat"

Hay Tay-sau membelalakkan matanya lebar-lebar, sementara orang yang lain seolah mengakui akan kebenaran perkataan tersebut.

"Ayoh, kalian bicaralah" teriak Hay Tay-sau kemudiann "sebenarnya kalian mampu tidak untuk bertempur melawan mereka?"

Li lok yang mendongakkan kepalanya memandang sekejap keadaan cuaca, kemudian katanya:

"Saudara Hay, saat ini kau tidak usah banyak bertanya lagi, kita tunggu saja senja menjelang nanti, kita berdua sekali lagi mencoba untuk menerjang keluar dari sini"

“Nah, itu baru kata-kata yang bersemangat" teriak Hay tay-sau sambil menggebrak meja.

Perlahan-lahan Li Lok-yang mengalihkan sorot matanya kewajah Thiat Tiong-tong, kemudian bertanya.

"Kami berhasil atau tidak meloloskan diri dari sini, yang pasti anda tidak bakalan mati"

"Apa maksud perkataanmu itu?" tanya Thiat Tiong-tong.

"Orang terdekat yang berada disamping Kiu cu Kui bo saat ini tidak lain adalah istrimu yang lembut dan cantik jelita itu!"

Berubah hebat paras muka Thiat Tiong-tong.

Sementara itu Li Lok-yang sudah berlalu dari hadapannya, ucapan tersebut kembali menimbul­kan kegaduhan bagi kawanan jago lainnya, mereka memang tidak mengetahui asal usul Thiat Tiong-tong yang sebenarnya, tanpa terasa pikirnya:

"Mungkinkah dia adalah jagoan yang dikirim Kiu cu Kui bo untuk membantunya dari dalam?"

Waktu itu Li Lok-yang sudah berdiri didepan gedungnya sambil bergendong tangan, dia saksikan disudut halaman ada berapa orang centengnya sedang mencabut rumput dan menguliti kulit pohon secara diam-diam.

Rasa pedih seketika menyelimuti perasaan hatinya, buru-buru dia berpaling ke arah lain, tidak tega untuk memandangnya lebih jauh.

"Ooh Thian!" keluhnya dihati, "aku Li Lok-yang selalu berbuat baik terhadap siapa pun, kenapa nasibku harus berakhir dalam keadaan yang begini tragis?"

Perasaan hatinya amat sakit dan tersiksa, tanpa disadari apa yang sedang dia pikirpun terucapkan keluar secara jelas, tentu saja nada keluhannya amat pedih dan memilukan hati.

Tiba-tiba Hay Tay-sau menggebrak meja sambil mengumpat:

"Li toako selalu bersikap jujur dan setia kawan, heran, kenapa ditempat ini justru muncul pengkhianat"

"Siapa pengkhianatnya?" tanya Li Kiam-pek cepat.

"Dia!" sambil berteriak, Hay Tay-sau segera menuding langsung ke arah Thiat Tiong-tong.

Sebenarnya semua orang sedang memikirkan persoalan itu, tidak heran kalau kegaduhan segera terjadi setelah mendengar teriakan itu.

Dengan suara keras Bi lek hwee segera berteriak:

"Benar, orang ini sangat mencurigakan, gerak-geriknya penuh misterius, dia pasti musuh yang sengaja menyusup kemari"

Li Lok-yang segera berpaling menatap wajah Thiat Tiong-tong, dia sangka pemuda itu pasti akan berusaha menyangkal atau berkelit.

Siapa sangka Thiat Tiong-tong sama sekali tidak menyangkal, dia hanya berdiri kaku disitu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kembali Hay Tay-sau membentak nyaring:

"Terlepas bagaimana akhir dari pertempuran yang bakal berlangsung hari ini, kita tidak boleh membiarkan penghianat ini tetap hidup di kolong langit, mari kita bantai dulu dirinya"

"Benar, harus kita bantai dulu bajingan itu" serentak semua orang menyahut.

Sambil berteriak, semua orang mulai menggeserkan langkahnya mengepung Thiat Tiong tong, rasa jengkel, benci dan mendongkol yang selama ini menyelimuti perasaan semua orang pun seketika dilampiaskan ke tubuh pemuda itu.

Saking takutnya ke dua orang bocah lelaki itu sudah berdiri menggigil dengan wajah menghijau dan bibir pucat pasi, sambil menarik baju Thiat Tiong-tong mereka berusaha menarik pemuda itu untuk kabur.

Kembali Li Lok-yang menghela napas panjang, ujarnya:

"Semua orang berkeinginan begitu, apa lagi yang hendak kau katakan?"

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, pikirnya:

"Siasat berantai yang kulakukan telah menciptakan situasi berubah jadi begini rupa, boleh dibilang harapanku sudah tercapai, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Suto Siau maupun Bi lek hwee tidak ada yang bisa kabur lagi dalam keadaan selamat, hanya sayang berapa lembar nyawa tidak bersalah harus ikut menjadi korban, aaai! “Sebenarnya betulkah tindakanku ini? Benarkah langkah yang kuambil?"

Berpikir sampai disitu, perasaan kecewa segera menyelimuti hatinya, dia pun tidak ingin melaku­kan perlawanan lagi.

"Betul" katanya kemudian sambil menghela napas, "aku telah mencelakai kalian, bunuhlah aku!"

Tantangan ini justru membuat semua orang termangu.

Tiba tiba terdengar seseorang berseru:

"Bila kalian ingin membunuhnya, lebih baik sekalian bunuhlah aku!"

Dibawah sorot cahaya senja yang redup, Un Tay-tay berjalan masuk dengan langkah perlahan.

Saat itu tubuhnya sudah dipenuhi dengan aneka macam perhiasan serta intan permata yang memantulkan cahaya berkilauan ketika tertimpa sinar senja, sambil tertawa ringan lanjutnya:

"Aku dapat mengenakan intan permata yang paling kusukai, dapat mati disisi orang yang paling kusayangi, nasibku jauh lebih beruntung daripada nasib kalian yang harus mati di medan pertempuran, bila kalian hendak turun tangan, ayohlah cepat turun tangan!"

Ternyata dia kabur keluar dari ruang gedung tadi tidak lebih hanya ingin mengambil perhiasan mahal itu dan mengenakannya.

"Turun tangan yaa turun tangan, siapa takut!" teriak Hay Tay-sau keras.

Waktu itu Un Tay-tay sudah berdiri disamping Thiat Tiong-tong, kembali dia bertanya:

"Siapa yang akan turun tangan?"

Semua orang saling bertukar pandangan, siapapun tidak ingin menghabisi nyawa dua orang yang sama sekali tidak melakukan perlawanan disaat kematian mereka sendiri menjelang tiba, tanpa sadar mereka malah mundur dua langkah.

Entah sejak kapan langit telah semakin redup dan gelap, dalam keadaan seperti ini tidak ada orang lagi yang pergi menyulut lilin, suasana dalam ruangan pun makin lama semakin gelap.

Pintu gerbang yang tadi sudah ditutup rapat oleh Phoa Seng-hong, entah sejak kapan telah terbuka lebar kembali.

Ditengah remang-remangnya kegelapan, tiba-tiba terlihat sesosok bayangan putih berjalan keluar dari balik pintu, dalam kegelapan, bayangan Itu bagaikan sesosok sukma gentayangan yang sedang bergerak mendekat.

Ketika bayangan itu semakin mendekat, semua orang dapat melihat raut mukanya yang cantik jelita, ternyata dia tidak lain adalah Sui Leng-kong.

Berubah paras muka Li Lok-yang, segea ujarnya:

"Apakah nona datang untuk menyampaikan pesan dari Kiu cu Kui bo?"

Sui Leng-kong sama sekali tidak menggubris, melirik sekejap pun tidak, dia langsung berjalan menuju kehadapan Thiat Tiong-tong.

"Kau sudah keluar dari sini, mau apa balik lagi kemari?" tanya Thiat Tiong-tong sambil tertawa sedih.

"Jika kau hidup, akupun akan pergi dalam keadaan hidup" sahut Sui Leng-kong perlahan, "bila kau benar-benar ingin mati, akupun tidak ingin hidup, tentu saja aku harus datang kemari untuk menemanimu"

Meskipun perkataan itu menyangkut masalah mati hidupnya, namun dia ucapkan dengan santai dan tenang, perasaan tenangnya yang luar biasa membuat setiap patah katanya pun dapat diucapkan dengan lancar.

"Jadi kalian berdua bukan anak buah Kiu cu Kui bo?" Hay Tay-sau segera menegur dengan kening berkerut.

"Walaupun dia ingin menerimaku sebagai muridnya, tapi aku lebih suka mati!" jawab Sui Leng-kong perlahan.

Hay Tay-sau tertegun, peluh segera bercucuran bagaikan air hujan, teriaknya kemudian:

"Wouw.... hampir saja aku salah membunuh!"

Dia segera menampar wajah sendiri dua kali, kemudian katanya lagi:

"Lo sianseng, aku mohon maaf atas kelancanganku tadi!"

Thiat Tiong-tong tertawa hambar, sahutnya: "Bagaimana pun kita semua toh bakal mati, mati lebih cepat atau lebih lambat sama sekali tidak ada bedanya, bila waktunya telah tiba, silahkan saudara Li mencoba lagi untuk menerjang keluar!"

Kemudian dia berpaling ke arah Sui Leng-kong dan menambahkan sambil menghela napas:

"Aaai, hanya sayang.....kau harus mati penasaran"

Sui Leng-kong tertawa.

"Apakah kau berharap aku hidup terus?" dia bertanya.

"Betul, aku lebih suka mengorbankan segala-galanya demi kehidupanmu"

"Kau pun berharap semua orang yang berada disini dapat hidup terus?" kembali Sui Leng-kong bertanya.

"Apa kau bilang?" Thiat Tiong-tong terkesiap.

"Jika kau benar-benar ingin mengorbankan segalanya, dapat melupakan semua budi dan dendam, aku pun punya cara agar semua orang yang berada disini tetap hidup, apakah kau tersedia?"

Dalam kegelapan meski tidak dapat melihat jelas perubahan wajah semua orang, namun seluruh ruangan segera timbul kegaduhan, jelas setiap orang yang hadir disitu sudah tergerak hatinya oleh perkataan tersebut.

Thiat Tiong-tong sendiripun merasakan seluruh tubuhnya jadi tegang, serunya:

"Sungguh perkataanmu itu?"

Sui Leng-kong manggut-manggut, dia segera membalikkan badan sambil berbisik:

"Ikutilah aku!"

Dengan gerakan tubuh yang enteng dia meninggalkan ruangan tengah, tanpa sadar Thiat tiong-tong mengikuti di belakangnya.

Gadis cantik yang aneh ini seolah-olah memiliki semacam daya kekuatan yang luar biasa didalam perkataan maupun gerak-geriknya, membuat siapa pun merasa sangat percaya dengan apa yang dia ucapkan.

Semua orang hanya mengawasi bayangan tubuh mereka berdua berjalan keluar dari halaman lalu lenyap dibalik kegelapan dengan mata terbelalak, tidak ada yang berusaha menegur, lebih-lebih tidak ada yang berniat menghalangi.

Kegelapan malam diluar pintu terasa berat bagai baja, keheningan dan kegelapan yang menyelimuti seluruh permukaan bumi seakan menghimpit suasana ditempat itu hingga tidak mampu mengeluarkan sedikit suarapun.

Tanpa bersuara Thiat Tiong-tong mengikuti di belakang Sui Leng-kong, berjalan masuk ke dalam hutan yang gelap, bahkan dibalik hutan pun sama sekali tidak terdengar suara apapun, suara angin, suara jangkrik, seakan semuanya sudah ter­sumbat mati oleh kegelapan malam yang mencekam.

Thiat Tiong-tong merasa hatinya tercekat, perasaan bergidik muncul di dalam hatinya, langkah kakinya makin ringan, makin cepat, akhirnya secercah cahaya yang lirih muncul ditengah hutan itu.

Cahaya api berwarna hijau bagaikan api setan menerangi seluruh hutan, bayangan manusia tampak bergerak kian kemari dibalik pepohonan, seakan-akan disitu sedang diselenggarakan pertemuan para sukma gentayangan.

"Apakah sudah datang?" mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara menyeramkan.

"Yaa, sudah datang!" jawab Sui Leng-kong,

Ditengah pepohonan yang rimbun terdapat sebuah tanah lapang, berpuluh titik cahaya mutiara yang hijau bergoyang disekeliling tempat itu, bergoyang bagaikan mata sukma gentayangan yang sedang bergerak.

Dibawah cahaya mutiara hijau tampak bayangan manusia sedang duduk mengelilingi seseorang, cahaya yang memantul diwajah mereka, membiaskan sinar hijau yang menyeramkan di tubuh kawanan manusia tersebut.

Orang yang duduk ditengah bukan lain adalah Kiu cu Kui bo yang amat termasyur dikolong langit.

Waktu itu dia sudah berganti baju dengan mengenakan sebuah gaun berwarna hijau pupus, rambutnya disanggul tinggi, dia sedang duduk bersila.

Thiat Tiong-tong langsung berjalan menuju ke hadapannya.

Kiu cu Kui bo memperhatikan berapa kejap wajah pemuda itu, kemudian sambil tertawa seram ujarnya:

"Anak murid Perguruan Tay ki bun memang selalu memiliki nyali yang jauh lebih besar daripada siapa pun!"

"Dari mana kau bisa tahu kalau aku adalah anggota Perguruan Tay ki bun?" tanya Thiat Tiong-tong dengan wajah berubah.

"Aku yang beritahu" kata Sui Leng-kong perlahan.

"Dia bilang kau menggembol panji darah milik Perguruan Tay ki bun, benarkah ucapannya?" lanya Kiu cu Kui bo lagi.

"Perkataannya tidak pernah bohong"

"Keluarkan dan perlihatkan kepadaku!"

Thiat Tiong-tong melirik Sui Leng-kong sekejap, tiba-tiba dia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan panji berdarah yang disimpan dalam sakunya, kemudian dengan sekali getaran dia sudah mengibarkan panji tersebut.

Dengan satu gerakan cepat Kiu cu Kui bo melompat bangun sambil mengawasi panji berdarah itu dengan sorot mata yang tajam, dia mengawasi hampir setengah perminum teh lamanya, mengamati tanpa berkedip sedikitpun juga.

"Sudah kau lihat dengan jelas?" tegur Thiat Tiong-tong kemudian.

Mendadak Kiu cu Kui bo mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang, setelah duduk kembali, katanya perlahan:

"Ternyata memang panji darah yang dulu pernah memerintah di seluruh kolong langit!"

Saat itulah Sui Leng-kong baru berkata lagi:

"Dia orang tua bilang, dikolong langit saat ini hanya panji berdarah itu yang bisa menyelesaikan pengepungan yang dilakukannya hari ini, karena itulah aku baru memanggilmu datang kemari"

"Sungguh?" seru Thiat Tiong-tong dengan penuh semangat.

"Benar" Kiu cu Kui bo manggut-manggut, "dulu, perguruan kami pernah menerima budi dari panji ini, kamipun pernah bersumpah, asal bertemu dengan panji darah sama seperti bertemu dengan pemilik panji itu, maka semua yang dikatakan pemegang panji akan ku taati tanpa membantah"

"Kalau begitu......" Thiat Tiong-tong jadi sangat kegirangan.

"Tunggu sebentar" mendadak Kiu cu Kui bo membentak keras sambil menukas, "sekalipun kau memiliki panji sakti itu, tahukah kau peraturan apa yang harus dipegang oleh pemegang panji?"

Thiat Tiong-tong kembali tertegun, dalam benaknya dia seakan masih memiliki sedikit bayangan yang buram, tapi sudah banyak tahun panji sakti tidak pernah munculkan diri, kebanyakan anggota generasi terakhir Perguruan Tay ki bun boleh dibilang telah melupakan akan hal ini.

Perlahan-lahan Kiu cu Kui bo berkata lagi: "Dulu,  meskipun Im dan Thiat dua orang cianpwee pernah memimpin kolong langit dengan mengandalkan panji sakti itu, namun karena kuatir kehadiran mereka akan sangat mengganggu umat persilatan lainnya, maka mereka pun membentuk sebuah peraturan bagi pemegang panji sakti!"

Pada hakekatnya Thiat Tiong-tong sama sekali tidak mengetahui tentang peraturan itu, karenanya dia tidak berani menimbrung.

Dengan suara dingin kembali Kiu cu Kui bo melanjutkan:

"Panji sakti sudah banyak tahun tidak pernah muncul dalam dunia persilatan, tentang peraturan yang berlaku, apakah kau akan pulang dulu bertanya kepadanya, ataukah akan mendengarkan lewat penuturanku sekarang?"

"Cianpwee adalah seorang tokoh persilatan vang termashur, aku percaya kau tidak bakal membohongi orang"

"Sebutkah dulu nama dari pemegang panji sakti!" kata Kiu cu Kui bo kemudian dengan nada lierat.

"Thiat Tiong-tong!"

"Thiat Tiong-tong!" bentak Kiu cu Kui bo keras, "kau seharusnya memegang panji itu dengan kedua belah tanganmu, berdiri tegap dan pejamkan mata, sejak itu maka setiap ucapan yang kau katakan akan merupakan perintah dari panji sakti, oleh sebab itu kau tidak boleh lagi berbicara sesuka hatimu tanpa dipikirkan dulu, mengerti?" Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "Ada satu hal lagi yang perlu kau ingat, perintah hanya boleh diucapkan bila persoalan itu menyangkut mati hidup seseorang, lagipula perintahmu tidak boleh melebihi sepuluh patah kata!"

Thiat Tiong-tong merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya:

Tidak boleh melampaui sepuluh patah kata? Bagaimana caraku menurunkan perintah?"

Dia mencoba memperhatikan sekejap sekeli­ling tempat itu, suasana disitu dicekam dalam keheningan, tampaknya semua orang sedang mendengarkan dengan seksama.

Paras muka Kiu cu Kui bo pun berubah amat serius, dia tidak berkata apa-apa lagi.

Perlu diketahui, dulu para pendiri Perguruan Tay ki bun selalu bertindak dengan berdasarkan jiwa ksatria, walaupun panji sakti itu diciptakan dari lumuran darah para penjahat dan kaum laknat, namun mereka sama sekali tidak pernah menggunakan alasan balas budi untuk menguasai dan mengendalikan umat persilatan.

Sebagai ungkapan rasa terima kasih umat persilatan kepada mereka berdua, maka ditetapkan peraturan yang tidak pernah tertulis ini, yakni dimana panji sakti muncul maka semua orang wajib mentaati perintahnya.

Im dan Thiat cianpwee berduapun sadar, bila mereka tidak mengikat diri dengan peraturan maka lama-kelamaan mereka akan menjadi jumawa dan memberi perintah semaunya sendiri.

Karenanya merekapun menetapkan, jika tidak menyangkut mati hidup seseorang maka mereka tidak boleh memberi perintah, sekalipun harus menurunkan perintah pun tidak boleh melampaui sepuluh patah kata.

Peraturan ini berlaku turun-temurun dan harus ditaati oleh setiap orang yang memegang panji sakti itu.

Hanya sayang karena belakangan Perguruan Tay ki bun tertimpa bencana, daya pengaruhnya juga tidak sekuat dulu, meski ada panji sakti pun belum tentu ada orang mau menuruti perintahnya, oleh sebab itu para ciangbunjin nya tidak pernah juga mewariskan peraturan ini kepada generasi berikut.

Dengan sepasang tangan memegang panji sakti itu, perlahan-lahan Thiat Tiong-tong memejamkan matanya, berbagai pikiran berkecamuk didalam benaknya, dia mulai bertanya kepada diri sendiri:

"Apa yang harus kuucapkan dalam perintah­ku?"

Bila dia mengatakan: "Harap lepaskan mereka semua dalam keadaan hidup", ini berarti termasuk musuh besar Perguruan Tay ki bun pun akan dibebaskan, dia tidak ingin menggunakan panji sakti untuk menyelamatkan para musuh perguruannya.

Jika dia mengatakan: "Bebaskan saudara seperguruanku!" maka semua orang yang ada dalam gedung keluarga Li akan turut mati terkepung, dia tidak tega untuk mencelakai Li Lok-yang dan putranya yang berjiwa ksatria dan amat seti kawan itu.

Sebaliknya bila dia mengatakan" "bebaskan saudara seperguruan ku dan anggota keluarga Li" maka orang orang seperti Hay Tay-sau serta para centeng yang bukan bermarga Li akan tewas secara mengenaskan disitu.

Tentu saja dia tidak tega mencelakai kawanan manusia yang tidak bersalah itu.

Untuk sesaat dia hanya berdiri kaku, tidak sepatah kata pun mampu diucapkan keluar.

Mendadak terdengar Kiu cu Kui bo berseru:

"Bila tidak segera kau sampaikan, perintahmu tidak berlaku lagi"

Setelah berhenti sejenak, kembali dia menambahkan:

"Sebenarnya perintah inipun ada batas waktunya yakni sampai hitungan ke sepuluh, biarpun aku tidak menghitung tapi aku rasa waktunya sudah tiba!"

Dalam cemas dan gelisahnya buru-buru Thiat Tiong-tong berseru:

"Menyingkir dan memberi jalan kebebasan, segera mundur dari sini"

Perlahan-lahan Thiat Tiong-tong menurunkan kembali tangannya, namun dia masih berdiri kaku, peluh dingin membasahi jidatnya dan bercucuran membasahi seluruh pakaian yang dikenakan.

Tiba-tiba terdengar Sui Leng-kong menghela napas panjang sambil berkata:

"Kusangka kau akan mengucapkan kata-kata itu"

"Perkataan apa?" tanya Thiat Tiong-tong dengan wajah berubah.

"Bebaskan orang yang ingin kubebaskan!"

Sekujur tubuh Thiat Tiong-tong segera gemetar keras, sepasang matanya terbelalak lebar, tiba-tiba dia menjerit keras lalu muntahkan darah segar, darah yang segera menodai panji sakti dalam genggamannya.

"Kee....kenapa  kau?"  tanya  Sui  Leng-kong terperanjat.

Dengan air mata berlinang kata Thiat Tiong-tong:

"Kenapa tidak terpikir olehku akan kalimat perintah itu?"

Begitu selesai berkata, kembali dia memuntahkan darah segar, tubuhnya ikut roboh terkapar ke atas tanah.

Buru-buru Sui Leng-kong memeluk tubuhnya dan berseru dengan air mata bercucuran:

"Kau jangan menyalahkan diri sendiri, jangan menyalahkan diri, dalam keadaan seperti ini, siapa pun pasti akan merasa tegang"

Ai Thian-hok yang duduk disamping Kiu cu Kui bo tiba-tiba menyindir sambil tertawa dingin:

"Jika seorang lelaki sejati ingin membalas dendam, seharusnya andalkan kepandaian sendiri, jangan manfaatkan kemampuan orang untuk hapuskan sakit hatimu, lelaki macam apa itu?"

Perkataan tersebut bagaikan sebuah lecut yang menghajar tubuhnya.

Sekali lagi Thiat Tiong-tong merasakan hatinya bergetar keras, bagaikan kepalanya diguyur dengan sebaskom air dingin, dia ter-mangu berapa saat lamanya, kemudian sambil melompat bangun serunya:

"Terima kasih banyak atas petunjukmu, akan kuingat terus perkataan ini!"

Ai Thian-hok berseru nyaring:

"Menggunakan siasat bagus untuk menghadapi orang baik, sekalipun kau lakukan itu dengan cara yang jujur dan gagah, namun perbuatan semacam ini tidak patut dilakukan oleh seorang lelaki macam kau....."

"Kata-kata yang indah ini akan selalu kuingat dalam hati"

Perlahan-lahan Ai Thian-hok bangkit berdiri, tambahnya dengan suara dalam:

"Oleh karena kuhormati kau sebagai seorang lelaki sejati, maka aku baru berbicara begitu, Suhu, mari kita pergi!"

"Boleh tahu siapa nama anda?" teriak Thiat tiong-tong.

"Perguruan kami hanya satu kali mendengar­kan perintah dari panji sakti, itupun demi mewujudkan sumpah yang pernah diucapkan dulu, bila kita bersua lagi dikemudian hari mungkin kita akan berhadapan sebagai musuh, buat apa kau tanyakan soal ini?"

Sambil mengebaskan ujung bajunya dia segera bangkit berdiri.

Si bocah pincang buru-buru berjumpalitan dua kali di udara dan melayang turun di sisinya, teriaknya:

"Suheng, aku ikut bersamamu"

"Bocah nakal" seru Ai Thian-hok sambil tersenyum, "kenapa kau selalu berjumpalitan? Memangnya sudah tidak bisa ilmu meringankan tubuh!"

Sambil menarik tangan bocah pincang itu, dia segera meninggalkan hutan dengan langkah lebar.

Kawanan manusia berbaju hijau yang berada diseputar hutan pun beramai-ramai bangkit berdiri, ketika berjalan lewat dari samping Thiat Tiong-tong, satu per satu mereka mengawasi pemuda itu dengan seksama.

Orang yang berjalan di belakang bocah pincang itu adalah seorang lelaki berlengan tunggal yang memiliki perawakan tinggi besar, wajahnya selalu muram tapi langkahnya ringan bagaikan sedang melayang.

Dibelakang lelaki berlengan tunggal adalah si manusia kudis yang mirip orang idiot, sambil menengok kearah Thiat Tiong-tong dan tertawa, ujarnya:

"Kami telah membuatmu kelaparan hampir dua hari, maaf, maaf.”

Lelaki bermata juling yang mengikuti di belakangnya segera tertawa seram.

"Saudara Thiat" serunya, "lebih baik jangan kelewat dekat dengan orang ini, hati-hati kalau sampai tertular penyakit kudisnya"

Dibawah sinar mutiara berwarna hijau, raut muka orang ini benar-benar lebih menakutkan daripada setan.

Tanpa sadar Thiat Tiong-tong mundur selang­kah kebelakang, melihat itu sambil tertawa tergelak ke dua orang itu berjalan keluar mening­galkan hutan.

Dibelakang mereka adalah seorang lelaki cebol yang berwajah kusut, bermata tikus, berbibir seperti babi dan giginya bertaring, waktu itu dia sedang mengawasi Thiat Tiong-tong bagaikan seekor ular berbisa.

Begitu menyaksikan tampang orang itu kontan saja Thiat Tiong-tong merasakan hatinya bergidik dan sangat muak, tidak kuasa dia mundur selangkah lagi.

Tiba-tiba dari belakang tubuhnya kedengaran seorang menimpali sambil tertawa:

"Harap hengtay jangan berkerut kening, meskipun wajah beberapa orang ini sedikit kurang sedap dipandang, namun hati mereka jauh lebih haik ketimbang lelaki tampan"

Orang ini berdada ayam dan bungkuk punggungnya, suaranya keras bagai gembrengan pecah.

Dibelakang orang ini adalah seorang lelaki tinggi besar bagaikan sebuah pagoda, wajahnya kasar dan dipenuhi burik sebesar mata uang emas.

Ke enam orang itu ditambah dengan Ai Thian-hok yang buta serta si bocah pincang berjumlah persis delapan orang, satu demi satu mereka berjalan lewat dibawah sinar mutiara berwarna hijau sehingga kelihatan bagaikan sukma gentayangan.

Kembali Thiat Tiong-tong berpikir:

"Kiu cu Kui bo memang luar biasa, entah darimana dia peroleh anak muridnya ini, masih ada satu orang lagi, bagaimana pula tampangnya?"

Dia kembali berpaling, tampak seorang pemuda berbaju putih yang berwajah tampan berjalan mendekat sambil menjura, sambil menengok ke arahnya pemuda itu melemparkan sekulum senyuman.

Pemuda ini bukan cuma tampan, gerak geriknya amat sopan, senyumannya sangat ramah.

Kenyataan ini jauh diluar perkiraan Thiat Tiong-tong, buru buru dia balas memberi hormat seraya berkata:

"Hati hati dijalan hengtay!"

Tapi pemuda itu segera menggelengkan kepalanya sambil menuding ke telinga dan mulut sendiri, ternyata walaupun dia memiliki panca indera yang genap dan empat anggota badan yang sempurna, namun selain tuli, diapun bisu.

Tidak perlu ditanya lagi ke sembilan orang itu tidak lain adalah sembilan setan yang paling tersohor dan paling misterius dalam dunia persilatan, sembilan jagoan andalan Kiu cu Kui bo.

Setelah ke sembilan orang itu keluar dari hutan, dibelakang mereka mengikuti enam orang gadis cantik berbaju warna warni.

Biarpun ke sembilan orang setan adalah kawanan manusia cacad yang berwajah aneh lagi jelek, tapi ke tujuh iblis wanita justru cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, bukan saja rambut­nya disanggul indah, matanya bening, senyuman pun sangat menawan hati.

Perempuan pertama adalah seorang gadis berbaju ungu, sambil mendekati Thiat Tiong-tong katanya sambil tertawa:

"Jit-moay kami menaruh perhatian yang begitu besar terhadapmu, aku pikir kau tentu seorang pemuda yang tampan, bersediakah kau tunjukkan wajah aslimu?"

Lima orang gadis cantik lainnya segera maju mengerubung.

"Siapakah jit-moay kalian itu?" Tanya Thiat l'iong-tong kaget.

"Dia!" seru gadis berbaju ungu itu sambil menuding ke arah Sui Leng-kong.

Thiat Tiong-tong tercekat hatinya, tanpa terasa dia berpaling kea rah Sui Leng-kong.

Kembali gadis berbaju ungu itu tertawa cekikikan.

"Sebentar lagi dia akan pergi bersama kami, sekarang  per hatikan dulu wajahnya beberapa kejap!"

"Leng-kong, kau.......kau.......?"

"Sui Leng-kong sudah bergabung dalam perguruan kami dan menempati urutan paling buncit dari Jit sian cu (tujuh orang dewi)" kata Kiu cu Kui bo dingin, "berarti mulai saat ini kau akan jarang sekali dapat bertemu dengannya"

"Tujuh dewi?"

"Betul, ke tujuh orang murid wanita ku persis seperti tujuh dewi yang baru turun dari kahyangan, mereka tidak bisa menjamah semua kehidupan keduniawian"

"Bukankah kau sudah mempunyai tujuh orang murid yang persis menempati posisi tujuh wanita iblis, kenapa kau harus memaksa dia bergabung denganmu?"

"Lo-jit sudah dinodai Phoa Seng-hong, dia sudah bukan perawan lagi, kini Sui Leng-kong muncul, kebetulan sekali dia bisa menempati tempat kosong itu"

"Apakah kau tidak akan mengakui muridmu yang sudah ternoda?"

"Kalau dewi sudah ternoda oleh napsu duniawi, tentu saja dia tidak berhak menempati posisi sebagai dewi lagi" bentak Kiu cu Kui-bo dengan suaara nyaring, "sekalipun aku harus mewakilinya melakukan pembalasan dendam, namun dia pun harus diusir keluar dari perguruan"

"Hmm, aku tidak percaya kalau anak muridmu benar-benar dapat menjaga keperawanan tubuh mereka" jengek Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin.

Kiu cu Kui bo tertawa terbahak bahak:

"Hahahaha....  aku justru akan suruh kau mempercayainya"

Ditengah gelak tertawa yang keras, dia memberi tanda sambil serunya:

"Anak anak, tunjukkan kepadanya!"

Gadis berbaju merah itu segera tertawa cekikikan, ujarnya:

"Thiat siangkong, pentang matamu lebar lebar"

Sambil berkata dia menggulung lengan bajunya dan mem perlihatkan pergelangan tangan-nya yang putih dan mulus.

Kelima orang gadis lainnya segera mengikuti gerakannya   dengan menggulung lengan baju masing-masing.

Thiat Tiong-tong segera memperhatikan dengan seksama, biarpun hanya disinari cahaya hijau yang redup dari mutiara, namun ke lima buah lengan tersebut kelihatan begitu putih, halus dan lembut, bagaikan lengan orok yang baru lahir.

Pada ke enam lengan yang putih itu, tepatnya dibawah bahu, terlihat ada sebuah tahi lalat berwarna merah cerah, warna merah itu segar dan kontras dibalik kulit tubuh yang putih, tapi jelas dapat dilihat kalau benda itu tidak lain adalah tahi lalat tanda keperawanan.

Tidak kuasa lagi Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, pikirnya:

"Nama besar tujuh wanita iblis sudah tersohor di seantero dunia persilatan, selama ini orang beranggapan mereka adalah   sekawanan iblis wanita yang cabul dan suka merusak kaum pria, tak disangka ternyata mereka adalah gadis-gadis suci yang bisa menjaga keperawanan masing-masing. Phoa Seng-hong telah menodai seorang gadis suci bersih, tidak heran jika orang lain datang mencarinya untuk membalas dendam"

Tiba-tiba terlihat ada sesosok bayangan manusia melintas masuk ke dalam hutan, orang itu berbaju putih dengan gerakan tubuh yang cepat dan lincah, dia tidak lain adalah Im Ceng, anak murid Perguruan Tay ki bun.

Setibanya ditempat tersebut, dia segera memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan cepat berdiri dihadapan Thiat Tiong-tong dengan sikap melindungi.

"Im kongcu, mau apa kau datang kemari?" tidak tahan Thiat Tiong-tong bertanya.

"Aku menguatirkan keselamatanmu, maka tidak tahan untuk kemari menengokmu!"

Thiat Tiong-tong seketika merasakan hawa panas bergolak dalam dadanya, serunya lagi:

"Aku sama sekali tidak kenal dengan Im kmigcu, kenapa Im kongcu menaruh perhatian besar terhadapku?"

"Kau telah selamatkan aku dari jebakan wanita busuk, tanpa pertolonganmu, mungkin aku akan menjadi manusia paling berdosa bagi Perguruan Tay ki bun, budi ini sangat besar, mana boleh aku tidak membalasnya?"

"Jadi kaupun anak murid Perguruan Tay ki bin?" tegur Kiu cu Kui bo tiba-tiba sambil menarik muka.

"Benar" sahut Im Ceng sambil membusungkan dada, "akulah Im Ceng, putra dari ciangbunjin perguruan Tay ki bun, mau apa kau?"

"Kalian berdua sama-sama anggota Perguruan Tay ki bun, kenapa bilang tidak saling mengenal?

Sebenarnya sandiwara apa yang sedang kalian mainkan dihadapanku?" tegur Kiu cu Kui bo lagi dengan suara keras.

Thiat Tiong-tong merasakan tubuhnya bergetar keras, sementara Im Ceng dengan perasaan terperanjat segera berpaling, mengawasi rekannya tajam tajam sembari menghardik:

"Jadi kaupun anggota Perguruan Tay ki bun? Siapa bilang kaupun anggota Perguruan Tay ki bun?"

Untuk sesaat Thiat Tiong-tong terbungkam, tidak mampu berbicara.

Kiu cu Kui bo kembali berkata:

"Orang ini memiliki panji sakti dari Perguruan Tay ki bun, mana mungkin dia bukan anggota Perguruan Tay ki bun? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Cepat katakan!"

"Aku mempunyai kesulitan yang tidak bisa diungkap........" Thiat Tiong-tong menghela napas sedih.

"Suhu" Sui Leng-kong segera menimbrung, "lebih baik kau orang tua jangan mendesaknya lagi!"

Dengan pandangan dingin Kiu cu Kui bo memandang Thiat Tiong-tong berapa kejap, kemudian ujarnya:

"Baiklah, sepuluh hari kemudian aku akan mengundangmu untuk menjelaskan persoalan ini, sementara waktu aku bebaskan dirimu"

"Terima kasih suhu" cepat Sui Leng-kong menyembah.

Kiu cu Kui bo menarik lengan bajunya, dengan sekulum senyuman ramah menghiasi bibirnya dia berbisik:

"Anak baik, ayoh kita pergi!"

Sui Leng-kong manggut-manggut, tanpa bicara dia menengok mengawasi Thiat Tiong-tong sekejap, waktu itu Thiat Tiong-tong juga sedang menatap­nya, ketika empat mata saling bertemu, mereka seolah merasa ada banyak perkataan yang hendak disampaikan, namun tidak sepatah katapun mampu diutarakan.

Tatapan mata yang berlangsung cukup lama seolah telah saling menjalin suatu perasaan cinta yang tidak terhingga. Akhirnya Sui Leng-kong telah pergi, pergi dengan membawa bau harum, pergi dengan meninggalkan perasaan kehilangan yang mendalam.

Setelah bayangan tubuh ke dua orang itu lmyap dari pandangan, Im Ceng baru melotot kearah Thiat Tiong-tong, tiba-tiba dia mencengkeram bahunya sambil berteriak:

"Mereka telah pergi, bagaimana penjelasanmu kepadaku?"

"Saat ini aku masih belum dapat memberi penjelasan"

"Kau tidak dapat menjelaskan berarti kau memang anggota Perguruan Tay ki bun gadungan, jika kau adalah anggota Perguruan Tay ki bun gadungan, hari ini jangan harap bisa meninggal­kan tempat ini dalam keadaan selamat" hardik Im ceng.

Thiat Tiong-tong tertawa getir.

"Sekalipun aku hanya anggota Perguruan Tay ki bun gadungan, tapi kulakukan hal ini toh demi menyelamatkan nyawa kalian semua, kenapa kau malah ingin membunuhku? Membalas air susu dengan air tuba?"

Dengan  penuh  amarah  kembali  Im  Ceng berteriak:

"Kau telah selamatkan nyawa dari begitu banyak musuh besar Perguruan Tay ki bun dengan menggunakan panji sakti milik perguruan kami, bagaimana mungkin aku bisa berterima kasih kepadamu?"

"Walaupun aku telah selamatkan jiwa mereka, tapi akupun telah selamatkan nyawa dari begitu banyak lelaki ksatria dari gedung keluarga Li, apakah kau sudah melupakan akan hal ini?"

"Bagaimana pun juga, aku harus bertanya dulu kepadamu, darimana kau dapatkah panji sakti itu?"

"Soal inipun kau tidak perlu tahu"

“Panji darah adalah panji sakti pusaka perguruan, kenapa aku tidak berhak untuk mengetahuinya?" teriak Im Ceng makin gusar.

"Walaupun kau tidak perlu tahu, namun kau punya hak untuk mengambil balik"

"Panji sakti itu berada dimana sekarang?"

Dari dalam sakunya Thiat Tiong-tong mengambil keluar panji darah itu, lalu dengan suara berat ujarnya:

"Panji sakti ini merupakan pusaka perguruan, pemegangnya mempunyai kedudukan diatas posisi ciangbunjin, setelah kau mendapatkan kembali panji ini, kuharap bertindaklah lebih berhati-hati!"

Baru saja Im Ceng akan menerima panji sakti itu, mendadak dia mundur selangkah sambil berseru:

"Bila kau bukan anggota Perguruan Tay ki bun, tidak mungkin kau akan serahkan panji sakti itu kepadaku, pun tidak akan mengetahui seluk beluk perguruan sejelas itu. Sebaliknya bila kau adalah anggota Perguruan Tay ki bun, kenapa harus mengakui bahwa dirimu gadungan? Tadinya aku benar-benar tidak habis mengerti dengan persoalan ini, tapi sekarang aku sudah tahu"

"Karena apa?" tidak tahan Thiat Tiong-tong berseru.

"Karena dalam Perguruan Tay ki bun terdapat seorang murid murtad yang tidak berani berjumpa denganku" kata Im Ceng sepatah demi sepatah kata, "karena merasa bersalah, dia jadi malu sendiri"

"Apa yang telah dia lakukan?" tanya Thiat Tiong-tong dengan perasaan terkesiap.

Sinar berapi api memancar keluar dari balik mata Im Ceng, dia tertawa dingin.

"Hmm, disaat aku sedang terluka parah, ketika nyawaku sedang diujung tanduk, dia telah meninggalkan aku, bahkan dengan tebalkan muka mengaku musuh sebagai ayah"

"Kalau memang begitu, kenapa kau bisa hidup hingga sekarang?"

"Untung lukaku waktu itu sangat parah hingga tidak dijaga secara ketat, tampaknya mereka baru akan menginterogasi setelah aku sadar dari pingsanku!"

"Benarkah perkataanmu itu?" berubah wajah Thiat Tiong-tong.

"Buat apa aku berbohong?" teriak Im Ceng gusar, "semua kejadian itu kualami sendiri, pelajaran itu kuperoleh dari cucuran darah, buat apa aku mesti berbohong?"

"Aaai, kau salah paham!" Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.

"Salah paham?" Im Ceng tertawa seram, "kalau salah paham, kenapa kau tidak berani bertemu aku?"

Thiat Tiong-tong tertegun.

"Aku..........."

"Thiat Tiong-tong!" teriak Im Ceng semakin gusar, "urusan sudah jadi begini, buat apa kau masih berlagak pilon? Kalau bukan Thian maha adil sehingga aku sempat mendengarkan pembicaraanmu dengan Suto Siau, kalau bukan nasibku lagi mujur hingga sempat kabur dari musibah itu, mungkin di kolong langit benar-benar tidak ada yang tahu akan perbuatan terkutukmu yang telah menghianati perguruan dan menjual rekan sendiri. Sekarang Thian telah memberi kesempatan kepadaku untuk bisa bertemu lagi denganmu, apa lagi yang hendak kau katakan? Thiat Tiong-tong, serahkan nyawamu!"

Dengan cekatan Thiat Tiong-tong membalik tubuhnya, mundur sejauh tiga langkah, serunya sambil menghela napas sedih:

"Samte, sekalipun ingin membunuhku, seha­rusnya dengarkan dulu penjelasanku"

Im Ceng tertawa dingin.

"Percuma, biar kau menjelaskan sampai lidahmu berbunga pun tidak bakal aku percaya lagi kepadamu"

"Sebetulnya waktu itu aku hanya membohongi Suto Siau agar dia percaya kepadaku, kemudian baru mencari kesempatan untuk melarikan diri"

Dia tidak segan mempertaruhkan nyawa sendiri untuk ditukar dengan keselamatan Im Ceng, tapi kini Im Ceng justru menaruh kesalah pahaman yang begitu mendalam terhadapnya.

"Apakah waktu itu kaupun kabur dari sana?" jengek Im Ceng sambil tertawa dingin.

Thiat Tiong-tong mengangguk sedih.

"Waktu itu aku kabur dengan penuh penderita­an, bila kuceritakan, belum tentu kau mau percaya"

"Tentu saja aku tidak akan percaya" Im Ceng tertawa seram, "jangan lagi persoalan lain, waktu itu kau terluka parah bahkan sudah terjatuh ke tangan Suto Siau, bagaimana mungkin masih sempat melarikan diri?"

"Tapi begitulah kenyataannya, kau ingin bagai­mana baru mau percaya?"

"Biar kau bunuh akupun, aku tetap tidak akan percaya!" teriak Im Ceng nyaring.

Baru selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba dari luar hutan berkumandang suara gelak tertawa seseorang.

Menyusul gelak tertawa itu, Suto Siau melayang masuk ke dalam hutan, serunya lagi sambil tertawa:

"Tiong-tong, kalau toh dia tidak percaya yaa sudahlah, buat apa kau mesti mengajaknya berdebat?"

"Betul-betul manusia berhati keji!" umpat Thiat Tiong-tong dengan wajah berubah.

Dia sadar, dengan sikap dan perkataan Suto Nian, kesalahan pahamnya dengan Im Ceng bakal bertambah mendalam.

Betul saja, Im Ceng kontan tertawa seram. "Bagus, bagus sekali!" teriaknya, "Thiat Tiong-tong wahai  Thiat  Tiong-tong,   kendatipun  kau berusaha mungkir, kini Suto Siau sudah mewakilimu mengakui, apa lagi yang akan kau katakan?"

Dengan sekali lompatan Thiat Tiong-tong menyerbu ke hadapan Suto Siau.

"Hahahaha.... urusan telah berkembang jadi begini, buat apa kau membohonginya lagi?" kembali Suto Siau berkata sambil tertawa.

Sambil tersenyum dia segera menggapai ke luar lilitan, Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Phoa Seng hong segera bermunculan dari balik pepohonan.

Kembali Suto Siau melanjutkan sambil tertawa: "Bagaimana  pun juga, semua orang yang hadir disini adalah orang orang kita, apalagi yang mesti kautakuti?"

"Benar" sambung Pek Seng-bu sambil tertawa pula, "asal kita habisi nyawanya, didunia ini tidak mungkin ada orang yang mengetahui rahasiamu lagi, dan kau tetap bisa menjadi mata-mata dalam Perguruan Tay ki bun!"

Dengan penuh kemarahan dan rasa dendam Thiat Tiong-tong menggigit bibir sambil menutup rapat mulutnya, dia sadar, fitnahan ini tidak mungkin bisa dibantah dengan alasan apa pun.

Dalam pada itu Im Ceng telah mengepal tinjunya kencang kencang, setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu mendadak teriaknya:

"Thiat Tiong-tong, aku beritahu padamu, sekalipun harus pertaruhkan nyawa aku tetap akan berusaha kabur dari sini!"

"Huuh, murid Perguruan Tay ki bun bisanya kabur juga?" ejek Hek Seng-thian sambil tertawa dingin.

"Aku harus kabur dari sini karena aku ingin menyiarkan penghianatannya ke seluruh dunia, agar semua orang tahu akan perbuatan busuk yang dia lakukan" jerit Im Ceng makin gusar.

Begitu selesai bicara, dia langsung menerjang ke arah Pek Seng-bu.

Dari kejauhan Suto Siau segera memberi kerdipan mata kepada Pek Seng-bu, tampaknya Pek Seng-bu memahami rencana rekannya .....saat itulah kepalan Im Ceng telah menyodok tiba.

Saat ini dia hanya berniat meloloskan diri secepatnya, tidak heran kalau tenaga pukulan yang dilontarkan sangat dahsyat, dengan tangan kiri melindungi dada, kepalan kanannya menyodok ke iga Pek Seng-bu, belum lagi serangannya tiba, angin pukulan yang kuat sudah mengibarkan ujung baju lawan.

Cepat Pek Seng-bu mengayunkan tangannya dan langsung membabat urat nadi di pergelangan tangan lawan.

Siapa tahu serangan dari Im Ceng itu hanya serangan tipuan, baru sampai setengah jalan, kepalan kirinya mendadak memutar keluar dari bawah ketiak kanannya dan menghantam dagu Pek Seng-bu dengan jurus Sik po thian keng (batu hancur langit bergetar).

Agaknya Pek Seng-bu tidak menyangka kalau dia akan mengubah jurus serangannya secepat itu, sementara dia masih kaget dan gugup, Im Ceng lelah melancarkan serangkaian tendangan berantai, tiga jurus serangan seakan dilancarkan hampir berbareng.

Diantara deruan angin tendangan dan bayangan pukulan, tubuh Pek Seng-bu terdorong maju sejauh berapa, langkah, seolah termakan oleh pukulan dari Im Ceng, langkahnya jadi gontai hingga terpaksa harus menyingkir ke samping dan memberi jalan lewat.

Pertarungan antara ke dua orang itu berlangsung hanya sekejap mata, tujuan utama Im ceng memang ingin cepat lolos dari kepungan, dia tidak mau bertarung lebih jauh, setelah berputar di tengah udara secepat kilat tubuhnya melesat keluar dari hutan.

Suto Siau dan Hek Seng-thian serentak mem­bentak nyaring:

"Kejar! Mau kabur ke mana kau!"

Tubuh mereka berdua tetap berdiri menggencet disamping Thiat Tiong-tong, biar teriakannya nyaring, kaki mereka sama sekali tidak bergeser.

Ketika Im Ceng sudah pergi jauh, Pek Seng-bu buru berkata sambil tertawa tergelak:

"Hahahaha.... bagaimana dengan lagakku pura-pura kalah? Sudah cukup persis belum?"

"Betul-betul mirip, betul-betul hebat" puji Suto Siau sambil bertepuk tangan.

"Tapi sejujurnya, gerak serangan bajingan itu cukup tangguh!"

"Sehebat secanggih apapun gerak serangan­nya, memang dia benar benar mampu kabur dari sergapan saudara Pek hanya dalam tiga gebrakan?" tukas Suto Siau sambil tertawa.

Ke tiga orang itu saling berpandangan sambil tertawa tergelak, suara tertawa mereka penuh diliputi perasaan bangga dan puas.

Sesaat kemudian Suto Siau baru berpaling ke arah Thiat Tiong-tong, katanya:

“Tahukah kau, apa sebabnya kami bertiga tidak menghabisi nyawa Im Ceng, sebaliknya malah membiarkan dia kabur?"

"Hmm. Kau memang berniat mengadu domba kami berdua" dengus Thiat Tiong-tong sinis.

Sekali lagi Suto Siau tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha...... tepat, tepat sekali" katanya, "dengan membiarkan dia melarikan diri kali ini, sama artinya aku telah menciptakan seorang musuh bebuyutan untukmu, selama hidup jangan harap dia bisa melepaskan dirimu dengan begitu saja"

Dalam hati kecilnya Thiat Tiong-tong merasa sedih sekali, namun diluaran sahutnya dengan ketus:

"Hmmm, kami adalah sesama saudara seperguruan, sekalipun timbul kesalahan paham, akhirnya toh akan beres dengan sendirinya"

"Benarkah?" jengek Suto Siau sambil tertawa licik, "mendengar kan perkataanmu saja tidak sudi, bahkan dalam pikirannya hanya ingin menghabisi nyawa murid murtad secepatnya, mana mungkin kesalahan paham ini bisa diselesaikan begitu saja"

Hampir meledak rasa mendongkol Thiat Tiong-tong setelah mendengar perkataan itu, tidak tahan teriaknya:

"Bajingan laknat, kau......."

"Betul, aku memang bajingan laknat" tukas Suto Siau lagi sambil tertawa, "tapi bila dibandingkan nama busukmu dikemudian hari, mungkin posisiku jauh lebih mendingan ketimbang kau"

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "Saudara Thiat, sekarang kau sudah menjadi murid murtad dari Perguruan Tay ki bun, bukan saja Im Ceng ingin membunuhmu, gurumu pasti akan berusaha menjalankan peraturan perguru­an, kalau dugaanku tidak salah, kawanan jago persilatan yang menganggap diri mereka sebagai para    pendekar sejati pun tidak bakalan melepaskanmu dengan begitu saja. Hahahaha.....mulai sekarang kau akan menghadapi ancaman di mana-mana, tidak ada tempat lagi bagimu untuk tancapkan kaki dalam dunia persilatan, saudara Thiat, aku pikir kau pasti menyadari akan hal ini bukan"

"Sekalipun begitu, tidak ada urusannya denganmu!"

Kembali Suto Siau tertawa dingin.

"Seharusnya hengtay tahu diri, dengan situasi yang kau hadapi sekarang semestinya paling cocok bila bergabung dengan kami semua, kalau tidak......"

"Kalau tidak kenapa?" tukas Thiat Tiong-tong.

"Hahahaha..... kalau tidak bakal terjadi apa, masa hengtay sendiripun tidak tahu?"

"Betul" sambung Hek Seng-thian pula sambil tertawa, "lebih baik kau ambil keluar semua harta karun yang diperoleh dari dalam gua dan bersama kami membangun satu usaha besar, tindakan ini lauh lebih menggembirakan daripada harus menerima tekanan dari Perguruan Tay ki bun"

"Jangan didesak terus" cegah Pek Seng-bu cepat, "apa salahnya kalau kita beri kesempatan lagi untuk saudara Thiat agar bisa dipertimbang­kan kembali usulan ini!"

"Betul, betul sekali" seru Phoa Seng-hong pula sambil tertawa keras, "lebih baik kita balik dulu ke gedung keluarga Li sambil menikmati hidangan dan arak, urusan lain toh bisa kita bicarakan perlahan-lahan"

Ke empat orang ini benar benar telah menggunakan semua cara mengancam, membu­juk, merayu maupun memaksa untuk menggiring pemuda itu masuk ke dalam perangkap. Tapi sikap Thiat Tiong-tong justru berubah makin dingin, kaku, tanpa sedikit perasaaanpun, siapa pun tidak dapat menduga apa gerangan yang sedang dia pikirkan.

"Hengtay, mari kita pergi!" kata Suto Siau kemudian sambil merangkul bahu pemuda itu.

Thiat Tiong-tong tidak bisa menyingkir, terpaksa dia keluar dari dalam hutan mengikuti ke empat orang itu dan menuju ke gedung keluarga Li.

Diluar pintu gerbang terlihat ada sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, agaknya Un Tay-tay sedang berdiri didepan pintu sambil mengawasi situasi diseputar sana.

Sambil menuding bayangan manusia itu seru Suto Siau seraya tersenyum:

"Sekarang kita sudah menjadi orang sendiri, siaute pun tidak ingin merahasiakan sesuatu lagi kepadamu, tahukah hengtay siapa sebenarnya Un Tay-tay ini?"

Tidak menunggu jawaban dari lawan, dia segera menambahkan:

"Un Tay-tay sebenarnya adalah istri simpanan-ku, tapi bila hengtay memang berminat dengan­nya, siaute bersedia segera putus hubungan dengan perempuan ini!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Un Tay-tay sudah melompat keluar dari balik pintu dan mendekati mereka semua, ketika melihat Thiat Tiong-tong berjalan berdampingan dengan Suto Siau, bahkan mereka tampak berhubungan begitu akrab, perempuan itu seketika menghentikan langkahnya dan berdiri termangu, saking tertegunnya sampai perkataan yang hampir terucap keluar pun segera ditelan kembali.

Sambil tertawa terbahak-bahak Suto Siau segera berkata:

"Un Tay-tay, mulai sekarang saudara Thiat adalah orang sendiri, kau tidak dilarang untuk berhubungan mesra dengannya sekalipun berada dihadapanku"

Un Tay-tay mengangkat wajahnya, meman­dang Thiat Tiong-tong dengan termangu.

Sorot mata Thiat Tiong-tong sama sekali tanpa emosi, tiba-tiba Un Tay-tay menutupi wajah sendiri dan lari masuk ke dalam sambil menangis tersedu-sedu, pakaian yang dikenakan kelihatan bergelom­bang kencang ketika tertimpa cahaya malam.

"Hahahaha.... bagus, bagus sekali!" kembali Suto Siau tertawa terbahak bahaka, "tidak kusangka ternyata dia benar-benar sudah jatuh hati kepada saudara Thiat, benar-benar satu peristiwa yang patut dirayakan"

Sekalipun gelak tertawanya nyaring, namun tidak dapat menutupi rasa cemburunya yang meluap.

Perlu diketahui, dia sama sekali tidak pernah menyukai Un Tay-tay namun diapun enggan ditinggalkan perempuan itu, apalagi membiarkan dia jatuh cinta kepada lelaki lain.

Tapi berhubung dia sendiri yang memutuskan untuk meninggalkan Un Tay-tay, tentu saja tidak sebesar penderitaan yang dialami dalam hatinya...... inilah keegoisan seorang lelaki, lelaki mana pun tidak akan tahan menghadapi penderitaan karena ditinggalkan perempuan, bahkan seringkah dia lebih suka membiarkan penderitaan tersebut dirasakan oleh perempuan itu sendiri.... menikmati penderitaan orang lain, bagi orang tertentu justru merupakan semacam kenikmatan.

Ditengah gelak tertawa nyaring, cahaya lentera segera menerangi seluruh ruangan, Li Lok-yang dan Li Kiam-pek berdua muncul dari balik pintu.

Bi lek hwee dan Hay Tay-sau mengikuti dibelakangnya, hampir semua orang tampil dengan wajah tegang, senjata masih terhunus, tampaknya mereka belum tahu kalau kepungan diluar telah dibubarkan.

Ketika menyaksikan sikap Suto Siau sekalian yang tampak begitu santai, Li Lok-yang tertegun, tanyanya keheranan:

"Apakah hengtay sekalian tidak apa apa?"

"Kalau disini ada saudara Thiat, semua urusan tentu akan beres dengan sendirinya" sahut Suto Siau sambil tertawa nyaring.

"Mana Kiu cu Kui bo?"

"Mungkin saat ini sudah berada setengah li dari sini"

Wajah Li Lok-yang yang tegang pun perlahan-lahan mengendor kembali, namun sorot matanya yang tajam masih diliputi tanda tanya besar dan mengawasi wajah Suto Siau serta Thiat Tiong-tong tanpa berkedip, jelas dia berharap bisa men­dengarkan kisah kejadian yang sebenarnya.

Namun Suto Siau sengaja tidak bicara, sementara Thiat Tiong-tong pun seakan sudah menjadi orang bisu, tidak sepotong perkataanpun yang diutarakan.

Hanya  Pek Seng-bu yang berkata sambil tersenyum:

"Kiu cu Kui bo pasti mempunyai alasan yang kuat untuk memberi muka kepada kita semua, toh sekarang orangnya sudah pergi, buat apa saudara Li banyak bertanya lagi"

Benar saja, Li Lok-yang tidak bertanya lagi, lapi dia semakin menaruh curiga terhadap asal usul Thiat Tiong-tong, dengan kening berkerut dia persilahkan tamunya untuk masuk ke dalam mangan.

Gedung keluarga Li yang semula sunyi senyap pun dalam waktu   singkat  muncul kembali kehidupan.....  perasaan  hati yang  selama ini tertekan oleh bayang-bayang kematian, dalam waktu singkat telah hilang tak berbekas.

Perasaan sedih dan iba seringkah merupakan ungkapan perasaan yang paling nyata dalam setiap peristiwa..... disaat manusia menghadapi rasa takut dan ngeri dalam menghadapi kematian, biasanya perasaan mereka akan jadi kaku dan hilang rasa, tapi sekarang semua orang mulai merasa sedih dan iba terhadap rekan rekannya yang tewas, mulai merasa betapa berharganya nyawa yang dimiliki.

Cara kerja keluarga kenamaan ini memang luar biasa, tidak sampai berapa saat kemudian semua jenazah telah dikubur, bahan makanan yang dibutuhkan pun sudah didatangkan, bahkan pintu gerbang yang semula kotor oleh darah pun kini sudah berkilat dan bersih sekali.

Sayang nyawa yang terlanjur melayang tetap melayang, selamanya tidak bisa kembali lagi.

Selama ini Suto Siau, Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu tidak pernah bergeser setengah inci pun dari sisi Thiat Tiong-tong.

Hay Tay-sau dengan matanya yang tajam bagai elang juga mengawasi terus gerak gerik Phoa Seng-hong.

Bi lek hwee sambil bergandong tangan sebentar duduk, sebentar berdiri, dia nampak tidak tenang, sedangkan Li Lok-yang dan putranya meski nampak sangat repot namun keningnya berkerut kencang, agaknya ada masalah berat yang mengganjal hati mereka.

Tiba tiba Hay Tay-sau tertawa dingin sambil menyindir:

"Ada sementara orang walaupun kelihatannya pintar, padahal gobloknya setengah mati, semesti­nya ada peluang untuk diam-diam kabur, dia justru hingga sekarang masih bercokol disini"

Phoa Seng-hong sengaja berpaling ke arah lain, dia berlagak seperti tidak mendengar perkataan itu.

Sebaliknya Bi lek hwee tidak bisa menahan, diri, segera tegurnya:

"Siapa yang hengtay maksudkan?"

"Biarpun pertempuran sudah berlalu tapi biang kerok yang menimbulkan musibah ini justru masih bercokol dengan tenangnya, orang semacam ini masa kita biarkan berlagak terus?"

Paras muka Phoa Seng-hong berubah hebat, Bi lek hwee pun kelihatan mulai naik pitam, dengan penuh amarah dia berpaling ke arah Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu lalu hardiknya:

"Betul, pertempuran sudah lewat, pertikaian diantara kitapun sudah saatnya untuk diselesai­kan!"

"Kita toh sesama saudara sendiri" ujar Hek Seng-thian sambil tersenyum, "kalau memang ada persoalan, mari kita bicarakan baik baik"

"Kembalikan dulu muridku sebelum berbi­cara!" bentak Bi lek hwee nyaring.

"Bila hengtay mengajak aku ribut dalam suasana dan situasi seperti ini, rasanya kaulah yang bakal rugi" ujar Hek Seng-thian dengan tenangnya, kemudian sambil tersenyum dan berpaling ke arah Suto Siau, lanjutnya, "bukan begitu saudara Suto?"

"Kelihatannya memang begitu" jawab Suto Siau sambil tersenyum.

Berubah paras muka Bi lek hwee.

"Jadi saudara Suto akan membantunya?"

Suto Siau hanya tersenyum tanpa menjawab, orang ini nyaris sepanjang hari hanya menampil­kan senyuman hambarnya, membuat orang susah menebak arti sesungguhnya dari senyuman itu.

Bi lek hwee mencoba memandang sekejap sekeliling tempat itu, agaknya berusaha mencari bantuan, tapi anak buahnya sudah keburu pergi dari situ sedang orang lain pun sama sekali tidak berminat untuk mencampuri urusan ini.

Diam-diam dia menghela napas, selain kecewa hatinya panas dan marah.

Untunglah pada saat itu Li Lok-yang muncul kembali dengan langkah lebar, dengan nyaring dia berseru:

"Jika kalian masih ada urusan lain, silahkan dilanjutkan setelah mengisi perut!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambah­nya:

"Waktu itu akupun ada berapa patah kata yang ingin kusampaikan kepada kalian semua"

Tidak lama kemudian diatas meja telah ditata hidangan yang meski tidak terlampau lezat namun cukup mengenyangkan perut.

Dalam keadaan situasi seperti ini, biarpun dia seorang. peminum juga tidak ada selera untuk minum arak, biarpun dia banyak masalah pun untuk sesaat semuanya dikesampingkan dulu, hidangan sudah berada didepan mata, sementara waktu mereka tidak ingin mengurusi hal yang lain kecuali mengisi perut secepatnya.

Sejak dulu hingga sekarang, kelaparan merupakan musuh paling besar bagi umat manusia, sehebat dan setangguh apapun seorang enghiong, tidak nanti dia sanggup melawan rasa lapar.

Kini suara yang terdengar dalam ruangan hanyalah suara orang bersantap, selang sesaat kemudian tiba-tiba Hek Seng-thian meletakkan kembali sumpitnya seraya berteriak kaget:

"Aduh celaka!" paras mukanya ikut berubah.

"Ada apa?" cepat Suto Siau bertanya.

"Ada seseorang yang tidak ikut bersantap!"

"Benarkah......ooh" Li Lok-yang mengernyitkan alis matanya, setelah melirik Thiat Tiong-tong sekejap, serunya sambil ber paling,  "Kiam-pek, kenapa kau tidak mengundang..... nyonya itu untuk ikut bersantap......"

Belum selesai dia berkata, Hek Seng-thian sudah lari keluar.

"Sungguh aneh" gumam Hay Tay-sau dengan kening berkenyit, "sejak kapan dia mencemaskan bini orang yang tidak ikut bersantap, ini namanya kaisar tidak gelisah justru sang thaykam yang panik"

Siapa tahu belum selesai dia berkata, Pek Seng-bu sudah ikut berlarian pula meninggalkan ruangan.

Suto Siau meski lebih dapat mengendalikan diri dan sama sekali tidak bergerak dari tempat duduknya, namun kelihatan sekali kalau wajahnya berubah.

Tentu saja ke tiga orang ini kuatir Un Tay-tay dengan membawa harta karun melarikan diri terlebih dulu, sementara Bi lek hwee dan Hay Tay-sau sekalian sama sekali tidak tahu duduknya persoalan, tentu saja mereka sangat keheranan setelah melihat kegugupan ke tiga orang itu.

S

Setelah mendeham berapa kali, Suto Siau berbisik ke sisi telinga Thiat Tiong-tong:

"Saudara Thiat, harta karun itu apakah kau gembol dalam sakumu?"

Thiat Tiong-tong termenung sampai lama sekali, kemudian baru ujarnya ketus:

"Bila kau jadi aku, akan kau simpan dimana barang-barang itu? Mana ada tempat yang jauh lebih aman daripada disisi diri sendiri?"

Suto Siau tertegun, akhirnya sambil menghen­takkan kakinya dia berseru:

"Waah, kalau begitu runyam sudah urusan­nya!"

Buru-buru dia beranjak dari tempat duduknya dan ikut lari keluar dari ruangan. Tapi baru setengah jalan, dia sudah menghentikan kembali langkahnya.

Melihat itu Thiat Tiong-tong segera berseru:

"Aku sudah tidak punya tempat untuk dituju, rasanya kau tidak perlu menjaga disisiku lagi"

Suto Siau segera mengerdipkan matanya memberi kode kepada Phoa Seng-hong, kemudian baru melanjutkan kembali perjalanannya keluar dari ruangan.

Perlu diketahui, ke tiga orang ini menganggap harta karun adalah segala-galanya, oleh sebab itu persoalan yang lain mereka anggap sudah tidak penting lagi.

Li Lok-yang dan Hay Tay-sau sekalian, hanya bisa saling berpandangan dengan mulut melongo.

Sambil menggebrak meja Bi lek hwee kontan mengumpat:

"Permainan busuk apa yang sebenarnya sedang mereka bertiga lakukan? Benar-benar bikin hatiku mendongkol!"

"Kalau memang ingin tahu, kenapa tidak segera menyusul mereka untuk memeriksa sendiri?" sela Thiat Tiong-tong.

"Aaah, benar juga! Lohu memang seharusnya menyusul ke sana!" seru Bi lek hwee.

Tanpa sadar Hay Tay-sau ikut pula beranjak pergi.

Tiba-tiba Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, gumamnya:

"Manusia mati karena harta, burung mati karena makanan, harta karun ku itu nampaknya akan merenggut beberapa lembar nyawa manusia lagi"

Berubah hebat paras muka Li Lok-yang, cepat dia melompat bangun sambil berseru:

"Sudah terlalu banyak manusia yang kukubur hari ini, aku tidak ingin terjadi pembunuhan lagi ditempat ini, Kiam-pek, ayoh ikut aku!"

Belum selesai bicara, tubuhnya sudah melangkah keluar dari ruangan.

Li Kiam-pek melirik Thiat Tiong-tong dan Phoa Seng-hong sekejap kemudian buru-buru keluar dari situ, ketika tiba diluar pintu, dia membisikkan sesuatu ke telinga anak buahnya, mungkin dia minta anak buahnya untuk memperhatikan gerak-gerik ke dua orang itu.

Maka saat ini dalam ruangan hanya tersisa Thiat Tiong-tong dan Phoa Seng-hong dua orang.

"Jadi kau diperintahkan mereka untuk meng­awasi aku?" tanya Thiat Tiong-tong kemudian.

"Cayhe hanya ingin menemani hengtay"

"Hmm, sekarang kau menjual tenaga untuk mereka, tunggu saja ketika mereka berkeinginan untuk melenyapkan biang keladi dari semua peristiwa ini, aku kuatir tidak ada orang lagi yang mau menjual tenaga untukmu"

Phoa Seng-hong tersenyum.

"Aaah, belum tentu begitu"

Jelas antara dia dengan Hek Seng-thian, Pek Seng-bu sekalian sudah ada perjanjian khusus sehingga dia nampak begitu tenang.

"Jangan lupa" kata Thiat Tiong-tong lagi, "Kiu cu Kui bo sedang menunggumu setiap saat, kau pun jangan lupa kalau aku memiliki kekuatan yang bisa mengundurkan kekuatan Kiu cu Kui bo dari sini"

Phoa Seng-hong tertunduk sambil termenung, tapi wajahnya sudah sedikit berubah, lewat sejenak kemudian tiba-tiba dia mendongak sambil berkata:

"Apa yang kau inginkan dariku? Coba dijelaskan lebih dulu"

"Jika kau bersedia bekerja sama denganku, bukan saja selanjutnya tidak ada ancaman jiwa bahkan dengan kesempatan ini kau bisa mendapat nama serta keuntungan materi secara bersamaan"

"Benarkah ada keuntungan semacam ini didunia ini? Apa yang harus kulakukan?”

"Asal kau bersedia mengenakan topeng kulit manusia yang kubeli dengan harga mahal ini, kemudian mengenakan juga pakaianku, persoalan yang lain bisa dihadapi menurut keadaan"

"Apa yang harus kuperbuat?" tanya Phoa Seng-hong dengan mata terbelalak lebar.

"Perawakan tubuhmu sembilan puluh persen mirip tubuhku, asal kau bisa mengatakan alasan yang tepat, enggan melepaskan topengmu, mereka pasti tak dapat mengenalimu lagi"

"Perawakan badan boleh mirip, tapi suaraku..."

Thiat Tiong-tong segera tersenyum.

"Padahal logat suaraku sekarangpun bukan suara asli, karena sudah kubuat-buat, jadi setiap orang dapat menirukannya. Lagipula aku memang tidak suka bicara, asal kau kurangi pembicaraan yang tidak penting maka semuanya akan beres"

Phoa Seng-hong kembali tertawa dingin, katanya:

"Dengan menyamar jadi kau, meski aku berhasil mengelabuhi mereka semua namun apa keuntungannya bagiku? Hmm keuntungan bagimu jauh lebih banyak ketimbang bagiku"

"Siapa bilang tidak ada manfaatnya? Dengan menyamar jadi aku berarti manusia yang bernama Phoa Seng-hong telah lenyap, orang orang yang datang mencari balas harus pergi ke mana untuk menemukan Phoa Seng-hong?"

"Apakah masih ada manfaat lain?" tanya Phoa Seng-hong setelah berpikir sejenak.

"Setelah kau menyamar jadi Thiat Tiong-tong, mereka pasti akan berusaha membaikimu karena mereka memang ingin memperalat Thiat Tiong-tong, menggunakan kesempatan ini kau bisa 'mengaduk air menangkap ikan', aku percaya kau pasti sudah sangat terbiasa dengan perbuatan semacam ini"

Akhirnya sekulum senyuman menghiasi ujung bibir Phoa Seng-hong.

"Pada masa itu kau bahkan bisa menyelidiki banyak rahasia, bukan cuma kau bisa meng­ancam mereka bahkan kau pun bisa peroleh banyak keuntungan dariku" kembali Thiat Tiong-tong berkata.

Meski Phoa Seng-hong belum menjawab, namun dari senyuman diwajahnya dapat disimpul­kan kalau dia sudah mulai tertarik.

"Secara garis besar itulah yang kumaui" ujar Thiat Tiong-tong lebih jauh, "tentu saja dalam perkembangan nanti masih terdapat beribu macam perubahan, aku percaya dengan kecerdasanmu, semua masalah pasti bisa teratasi, jadi akupun tidak usah menerangkan lebih jauh"

"Sampai kapan sandiwara ini baru akan berakhir?" tanya Phoa Seng-hong kemudian.

"Asal kau tidak membongkar rahasiaku, setelah sampai suatu saat tertentu aku bakal muncul lagi mencarimu, waktu itu kaupun bisa kabur untuk menyembunyikan diri"

Setelah dipikir punya pikir, Phoa Seng-hong merasa bahwa dengan berbuat begitu sesungguh­nya tiada kerugian apa pun bagi dirinya, malah banyak manfaat dan keuntungan yang bisa diperolehnya, tentu saja diapun tidak akan memi­kirkan sampai dimana kerugian yang bakal diderita orang lain.

Walaupun ditengah halaman terdapat seka­wanan centeng sedang meronda, namun kelaparan yang telah diderita banyak hari dan kini merekapun sudah makan kenyang, keadaan tersebut membuat mereka mulai terkantuk-kantuk.

Thiat Tiong-tong segera menarik tangan Phoa Seng-hong dan bersembunyi di belakang pembatas ruangan.

Tidak lama kemudian muncullah Thiat Tiong-lang dengan wajah aslinya serta Phoa Seng-hong yang kini telah berubah menjadi si kakek aneh.

"Mirip tidak suaraku?" tanya Phoa Seng-hong kemudian dengan suara parau.

Thiat Tiong-tong tersenyum.

"Kalau suaramu lebih rendah sedikit lagi, kujamin orang lain tidak bisa mengenalimu lagi" katanya.

Setelah melalui berapa hari penyaruan, kulit wajahnya yang semula hitam berkilat kini terlihat sedikit putih pucat dan kusut.

Phoa Seng-hong segera membetulkan letak pakaiannya lalu berbisik:

"Bagaimana cara kita berhubungan dikemudian hari?"

"Kita menggunakan kata sandi "Merubah wajah" untuk melakukan kontak dan bintang bersegi tujuh sebagai tanda rahasia, setiap saat kita bisa saling berhubungan"

"Baik! Kau boleh segera berangkat"

Sambil tertawa Thiat Tiong-tong menggeleng.

Ketika untuk pertama kalinya menyaksikan senyuman pemuda itu, Phoa Seng-hong merasa­kan hatinya bergetar keras, raut wajahnya yang tampan terasa memiliki daya pikat yang susah dilawan. Tanpa terasa pikirnya:

"Aku sebagai seorang pria pun langsung terpikat oleh senyuman wajahnya, apalagi seorang wanita......"

Sementara itu Thiat Tiong-tong sudah melompat keluar melalui jendela sambil berbisik:

"Sementara waktu aku masih akan tetap tinggal disini!"

Dengan sekali lompatan dia sudah menyusup naik ke atas wuwungan rumah.

Gedung bangunan ini selain kuno dan tua, luasnya bukan kepalang, tiang penglarinya sangat lebar dan luas, cukup dapat menampung puluhan orang tanpa bisa diketahui orang yang ada dibawahnya.

Diam-diam Phoa Seng-hong keheranan, dia tidak habis mengerti kenapa pemuda itu belum juga kabur dari situ, tapi dia tidak banyak membantah dan segera duduk dengan tenang disana, karena sepak terjang serta kecerdasan otak anak muda itu benar-benar telah membuat hatinya takluk.

Berapa saat kemudian terdengar suara desingan angin tajam berkelebat lewat.

Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu telah berlari masuk ke dalam ruangan dengan wajah gelisah, begitu tiba dihadapan Phoa Seng-hong segera bentaknya nyaring:

"Dimana Un Tay-tay?"

Thiat Tiong-tong yang mengintip dari atas tiang penglari diam-diam merasa kegirangan, dia tahu Pek Seng-thian dan Pek Seng-bu telah meng­anggap Phoa Seng-hong sebagai dirinya.

Tapi diapun sedikit terkejut bercampur keheranan setelah mendengar kalau Un Tay-tay benar-benar telah pergi.

Dalam pada itu Phoa Seng-hong telah menggeleng dengan wajah kaku, dia malah balik bertanya:

"Ooh, jadi dia sudah pergi?"

"Masa kau tidak membuat janji dengannya?" bentak Hek Seng-thian lagi.

"Kenapa aku harus membuat janji dengan­nya?" jawab Phoa Seng-hong dengan suara yang direndahkan dan sangat parau, benar saja, logat bicaranya persis sekali dengan logat bicara Thiat Tiong-tong.

Sambil menghentakkan kakinya berulang kali, kembali Hek Seng-thian berseru:

"Tahukah kau, semua harta karun yang kau miliki telah dibawa lari perempuan sundal itu? Kenapa kau tidak nampak panik?"

"Aah, harta karun hanya barang keduniawian, kenapa aku mesti panik?"

Hawa membunuh seketika melintas diwajah Pek Seng-thian, teriaknya penuh amarah:

"Tahukah kau, semua harta karun itu milikku? Semua ini gara gara ulahmu sehingga persoalan besar jadi kacau balau!"

Didalam gusarnya hampir saja dia turun tangan untuk melakukan pembunuhan.

Untung saja disaat yang kritis Suto Siau telah muncul pula disana, dia memang melakukan pencarian dengan lebih seksama sehingga baliknya lebih terlambat.

Melihat mimik muka Hek Seng-thian yang diliputi kegusaran, dia tahu orang itu sedang sakit hati karena kehilangan peluang untuk memiliki sejumlah harta yang tidak ternilai harganya.

Cepat dia menariknya ke samping sambil berbisik:

"Biarpun Un Tay-tay telah melarikan sejumlah harta karun, namun orang she Thiat ini jauh lebih berharga lagi, bila dia bersedia bergabung dengan kita, lebih banyak keuntungan yang bakal kita peroleh, saudara Hek, kau tidak boleh mencelakainya!"

Hek Seng-thian tertegun berapa saat, akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... siaute hanya merasa sakit hati bagi kehilangan yang diderita saudara Thiat, masa harta karun sebanyak itu dilarikan seorang perempuan sundal!"

"Dia tidak bakal bisa kabur terlalu jauh, siaute jamin akan membantu saudara Thiat untuk menemukannya kembali" janji Suto Siau dingin, lalu setelah memandang sekejap sekeliling ruangan, tiba-tiba serunya lagi dengan wajah berubah, "kemana perginya Phoa Seng-hong?"

"Dia sudah kabur!" jawab 'Phoa Seng-hong' cepat.

Kebetulan Hay Tay-sau sedang melangkah masuk ke dalam ruangan, mendengar itu segera teriaknya:

"Kabur kemana dia?"

"Kalian toh tidak pernah minta aku untuk menjaganya, bagaimana mungkin aku bisa tahu kemana kaburnya orang itu?"

Dengan kening berkerut Suto Siau segera tertawa paksa, selanya:

"Cayhe pun merasa bangsat ini rada aneh, kenapa........."

"Aku dengar bajingan ini paling pandai menggaet kaum wanita" sela Hek Seng-thian dengan wajah berubah, "jangan-jangan Un Tay-tay sudah tergaet juga olehnya sehingga mereka berdua kabur bersama?"

Kontan Suto Siau tertawa dingin, selanya:

"Biarpun Un Tay-tay jalang, dia tidak bakalan tertarik dengan lelaki busuk macam Phoa Seng-hong, jadi saudara Hek tidak perlu kuatir"

'Phoa Seng-hong' merasa mendongkol sekali setelah mendengar umpatan yang dialamatkan kepada dirinya itu, namun dia tidak bisa berbicara apa-apa karena itu rasa jengkelnya hanya di simpan didalam hati.

Diluaran dia malah manggut-manggut tanda setuju, katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh:

"Umpatan yang bagus! Umpatan yang sangat tepat!"

Dengan geram Hay Tay-sau berseru lagi:

"Mungkin bajingan itu tahu kalau aku tidak akan mengampuninya, maka diam-diam kabur dari sini. Bajingan keparat! Biar kau kabur ke langit atau menyusup ke dalam bumi, aku tetap akan mencarimu hingga ketemu!"

Tabiat orang ini benar-benar keras dan berangasan, begitu berkata akan pergi, belum lagi selesai bicara dia benar-benar sudah beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

"Dalam kegelapan malam, aku rasa perempuan jalang itupun tidak bakal pergi terlalu jauh" kata Suto Siau kemudian, "asal kita lakukan pengejaran bersama, delapan puluh persen kita pasti dapat menyusulnya"

"Memang seharusnya begitu!" sambung Hek Seng-thian.

Suto Siau segera berpaling ke arah 'Phoa Seng-hong' dan bertanya:

"Bagaimana pendapat saudara Thiat?"

Perlahan-lahan 'Phoa Seng-hong' bangkit berdiri, sahutnya:

"Kalau bersatu kedua belah pihak sama-sama untung, kalau tercerai berai kedua belah pihak sama-sama buntung........"

"Aaah, saudara Thiat betul-betul seorang manusia berbakat yang hebat, pandai sekali kau menilai situasi" seru Suto Siau kegirangan, "saudara Hek, saudara Pek, urusan ini tidak bisa ditunda lagi, ayoh kita segera berpamitan dengan tuan rumah!"

Ke tiga orang ini memang tidak membawa perbekalan apa-apa, benar saja, mereka langsung berpamitan dengan tuan rumah.

Meskipun dimulut Li Lok-yang berlagak menahan mereka, namun tawarannya sudah tidak sehangat semula.

Thiat Tiong-tong yang bersembunyi diatas tiang penglari menengok ke bawah, dia saksikan Li Lok-yang berdiri termangu beberapa saat lamanya, kemudian dengan menyeret langkah kakinya yang berat, dia padamkan lilin yang ada diseluruh ruangan.

Kini didalam ruang gedung yang luas hanya tersisa sebuah lentera, cahaya lentera yang redup membuat suasana disitu terasa amat sepi dan redup.

Setelah menanti beberapa saat lagi hingga sama sekali tidak kedengaran ada suara, Thiat Tiong-tong baru melompat turun dari atas tiang penglari dan menyelinap keluar melalui jendela.

Malam semakin kelam, tapi dia masih menanti, masih melakukan pencarian, tapi siapa yang dinantikan dan siapa pula yang dicari?

Akhirnya dari sebuah sudut nun jauh disana, dibalik kegelapan malam, diantara pepohonan terdengar suara gemerisik yang lirih serta desingan angin lembut, meski suaranya lirih namun Thiat Tiong-tong tidak mau melepaskannya dengan begitu saja.

Terlihat sesosok bayangan manusia menye­linap keluar dari balik pepohonan, lalu dengan sigap mengawasi sekejap sekeliling tempat itu.

Setelah memperhatikan sekejap suasana disitu, akhirnya orang itu munculkan diri, dia mengenakan baju berwarna hitam dengan saputangan warna hitam membungkus kepalanya, hanya sepasang matanya yang jeli nampak berkilauan.

Thiat Tiong-tong menahan napas, akhirnya dia dapat melihat dengan jelas wajah bayangan itu, dia tidak lain adalah Un Tay-tay.

Tangan kirinya membawa sebuah kotak peti sementara tangan kanannya membawa karung goni, baru berjalan berapa langkah kembali dia menghentikan tubuhnya sambil memasang telinga.

Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa dingin, pikirnya:

"Ternyata Un Tay-tay memang sangat pintar, sadar kalau sulit baginya kabur dari sini, dia putuskan untuk tetap tinggal di tempat ini"

Dengan sangat berhati-hati Un Tay-tay menyelinap keluar kemudian melompat naik ke atas wuwungan rumah, tidak jauh dari tempat persembunyian Thiat Tiong-tong, sambil mendekam diatas atap rumah, dia mengatur napasnya yang sedikit tersengkal.

Waktu itu Thiat Tiong-tong sudah memilih sebuah tempat yang paling tersembunyi untuk dirinya, oleh sebab itu dia dapat mengikuti semua gerak-gerik Un Tay-tay, sebaliknya Un Tay-tay sama sekali tidak dapat melihat tempat persem­bunyiannya.

Ketika napasnya yang tersengkal mulai tenang kembali, dia segera mengikat karung goni itu di punggungnya, lalu setelah membetulkan ikat pinggangnya diapun mengikat kencang sepatunya.

Perlahan-lahan Thiat Tiong-tong mulai meng­gerakkan tubuhnya, hawa murni telah dihimpun dalam lengannya, dia siap melancarkan sergapan untuk membekuk perempuan itu dalam sekali serangan.

Ketika sudah selesai bebenah ternyata Un Tay-tay tidak langsung pergi dari situ, sebaliknya dia malah mengendorkan tubuhnya sambil berbaring diatas atap, entah apa yang sedang dipikirkan.

Mendadak sorot matanya memancarkan sinar kesedihan bercampur amarah yang meluap, gumamnya lirih:

"Suto Siau, kau telah merusak hubunganku dengannya, aku tidak akan mengampuni dirimu!"

Baru bicara sampai disitu, dia seakan tersadar akan kesilafannya, buru-buru perempuan itu tutup mulutnya kembali.

Thiat Tiong-tong bukan orang bodoh, tentu saja dia dapat menangkap maksud dari perkataannya itu.

Dia telah memperhitungkan secara tepat bahwa Un Tay-tay tidak bakalan berani kabur disaat seperti itu, maka dia sengaja menunggunya disitu, rencananya akan dia tangkap perempuan itu bahkan mungkin menghabisi nyawanya sambil mengambil balik harta karun itu.

Tapi sekarang, secara tiba-tiba dia berganti haluan.

"Harta karun yang ada disini paling banter cuma satu bagian dari seluruh harta yang ada, bagian ini merupakan bagianku, kenapa tidak kuserahkan sementara waktu kepadanya, agar dia bisa menggunakan harta tadi untuk menghadapi Suto Siau sekalian? Dengan kepintaran serta ketelengasannya, ditambah dengan kecantikan wajahnya, bukankah dia justru merupakan musuh paling tangguh bagi Suto Siau?"

Ternyata dia telah membagi harta karun itu menjadi sepuluh bagian, diantaranya tiga bagian dia sisihkan sebagai beaya dari sebuah  misi rahasia..... apakah misi rahasia itu? Tidak ada yang tahu kecuali dia sendiri, sebab hal ini merupakan masalah paling rahasia yang dia miliki.

Dua bagian yang lain dia sisihkan untuk Im Ceng, agar dia bisa menggunakan beaya tersebut untuk balas dendam.

Sui Leng-kong juga memperoleh dua bagian, gadis ini pernah menjaga harta karun itu, pernah merawat dan menemani kakek yang cacad lagi kesepian, sudah sewajarnya bila dia peroleh bagian itu.

Untuk darah daging keluarga Im yang masih dalam rahim Leng Cing-peng, diapun sisihkan satu bagian, sementara sisanya yang satu bagian akan dia berikan kepada Tio Ki-kong yang telah selamatkan jiwanya serta jiwa Im Ceng.

Akhirnya Un Tay-tay bangkit berdiri dan melesat turun dari wuwungan rumah, wanita memang tidak pernah lebih sabar dari kaum pria, walaupun saat itu dia merasa lapar, letih dan lemah namun gerakan tubuhnya tetap lincah dan gesit.

Tidak selang berapa saat kemudian dia sudah meninggalkan gedung perkampungan dan menyu­sup masuk ke dalam hutan.

Thiat Tiong-tong menguntil dari kejauhan, walaupun dia tidak menyesal telah menyerahkan harta tersebut kapadanya, namun sebenarnya diapun telah menyerahkan sebuah tugas besar kepada perempuan itu.

Kini dia ingin menyaksikan semua tingkah lakunya, apakah dia memang mampu memikul tanggung jawab besar itu?

Setibanya didalam hutan Un Tay-tay baru memperlambat langkahnya dan menghembuskan napas panjang.

Baru saja dia akan beristirahat sejenak, mendadak terlihat sesosok bayangan manusia melompat turun dari atas pohon, melayang turun persis dihadapannya dan mengawasi perempuan itu sambil tertawa.

Dalam terkejut dan gugupnya, paras muka Un Tay-tay berubah hebat.

Bayangan manusia itu membawa sebuah buntalan ditangan kirinya, dalam buntalan terlihat cahaya hijau yang berkilauan, dengan wajah cengar-cengir orang itu sedang mengawasi wajah­nya tanpa berkedip.

Setelah berhasil mengendalikan diri, Un Tay-tay baru dapat melihat jelas wajah orang itu, ternyata dia tidak lain adalah si bocah pincang, anak murid Kiu cu Kui bo.

Tidak kuasa lagi dia segera menegur:

"Bukankah kalian sudah pergi semua? Kenapa kau masih berada di sini?"

Bocah pincang itu tertawa terkekeh, sambil menuding bungkusan ditangan kirinya dia menyahut:

"Mereka semua memang sudah pergi, aku datang untuk mengumpulkan kembali mutiara hijau yang tergantung disekitar hutan"

"Setelah semua mutiara hijau diambil, sudah sepantasnya kau segera pulang" kata Un Tay-tay sambil menarik napas dalam, "kenapa masih ada disini? Tidak kuatir dicari suhumu?"

Bocah pincang itu hanya mengawasi payudara Un Tay-tay yang montok tanpa berkedip, semen­tara senyuman masih menghiasi bibirnya.

"Ciss.... tidak tahu malu" umpat Un Tay-tay sambil tertawa, "hey setan cilik, berapa usiamu tahun ini?'

"Empat belas"

"Wouw, baru berusia empat belas sudah pandai melihat perempuan, siapa yang mengajari mu?"

Sambil membesut ingus dari hidungnya, bocah pincang itu kembali tertawa terkekeh.

"Masa melihat wanita cantik pun harus diajari orang?"

"Aku dengar kau mempunyai banyak suci yang cantik-cantik, seharusnya kau segera pulang untuk menengok mereka, kenapa masih mengha­langi perjalananku disini?"

Dengan wajah bersungguh-sungguh bocah pincang itu menghela napas panjang.

"Betul, aku memang mempunyai banyak suci, tapi mereka semua masih kanak kanak, bukan wanita beneran"

"Ooh, jadi perempuan macam aku baru terhitung wanita beneran?" kata Un Tay-tay sambil tertawa.

Menggunakan kesempatan itu kembali si bocah pincang mengamati payudara Un Tay-tay yang montok, teriaknya sambil bertepuk tangan:

"Waah, semuanya asli dan bukan bohong-bohongan, kau memang seorang wanita yang seratus persen asli dan mantap!"

Kontan saja Un Tay-tay tertawa terpingkal-pingkal.

"Tidak kusangka dengan usia sekecil ini, kau pandai juga menilai seorang wanita, sayang usia­mu masih kelewat muda"

"Siapa bilang aku kelewat muda?" teriak bocah pincang itu dengan mata mendelik, "sekalipun usiaku baru empat belas, namun kondisi tubuhku tidak beda jauh dengan lelaki berusia dua puluh empat"

Dengan lembut Un Tay-tay meraba pipinya, lalu berbisik:

"Ketika kau sudah berusia dua puluh empat, mungkin aku sudah tua sekali, lebih baik lihatlah sekarang!"

"Betul, aku memang akan memperhatikan mu baik-baik"

Benar saja, bocah itu langsung mengawasi perempuan itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, bahkan mengamatinya berulang kali.

Thiat Tiong-tong yang menyaksikan kejadian itu dari dalam hutan diam-diam merasa mendong­kol bercampur geli.

Bocah pincang itu tampaknya memang aneh dan nakal, biar kecil orangnya tapi banyak akalannya, sampai Un Tay-tay yang biasanya bertabiat anehpun dibuat tertawa terpingkal-pingkal.

Setelah memperhatikan wanita itu berapa saat, tiba-tiba bocah pincang itu gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, gumamnya:

"Aaai, aku menyesal kenapa perjumpaan ini tidak terjadi disaat aku sudah dewasa nanti, yaa, apa lagi yang bisa kukatakan!"

Un Tay-tay tidak kuasa menahan rasa gelinya lagi, dia tertawa cekikikan, lama kemudian baru serunya:

"Sudah cukup belum kalau melihat? Sekarang biarkan aku pergi!"

Setelah menghela napas lagi, bocah pincang itu manggut-manggut dan beranjak pergi, tapi baru berapa langkah ia sudah berpaling seraya berkata:

"Barusan aku melihat Im kongcu mu itu"

"Di mana?" tanya Un Tay-tay dengan wajah berubah.

"Kau ingin kuajak menjumpainya?"

"Kau tahu dia berada dimana sekarang?"

"Tentu saja tahu!"

"Kau akan mengajakku ke sana?" kembali Un Tay-tay bertanya sambil mempermainkan biji matanya.

Seketika si bocah pincang itu berkerut kening.

"Kalau soal ini........tapi......."

“Tapi kenapa?" umpat Un Tay-tay sambil tertawa, "bukankah kau yang akan mengajakku ke sana? Memangnya sekarang jadi tidak berani? Sungguh memalukan!"

"Kenapa aku tidak berani mengajakmu?" si bocah pincang itu segera membusungkan dadanya, "asal aku diperbolehkan menciummu sekali saja, kita segera berangkat"

Un Tay-tay benar-benar terpingkal dibuatnya, sambil menuding bocah itu umpatnya:

"Dasar setan cilik........dasar setan cilik......."

Saking terpingkalnya, dia sampai tidak sanggup melanjutkan perkataannya.

"Apa yang kau tertawakan? Kalau tidak mau yaa sudah" seru bocah pincang itu sambil menarik muka.

"Baik, baiklah, cici akan membiarkan kau menciumku!"

"Sungguh?" Teriak bocah itu kegirangan.

Sambil setengah memejamkan matanya Un Tay-tay menyodorkan wajahnya ke hadapan bocah itu, serunya sambil tertawa:

"Ayohlah!"

Mendadak bocah pincang itu menarik kembali senyumannya, setelah meletakkan buntalan itu ke tanah dan menarik napas panjang, dia pentang tangannya lebar-lebar dan segera memeluk tubuh Un Tay-tay dengan kencangnya.

Dengan napas tersengkal sengkal seru Un Tay-tay:

"Setan cilik! Perlahan sedikit......perlahan sedikit.... aduh, kau....."

Tiba-tiba dia mendorong tubuh bocah itu sementara paras mukanya berubah jadi merah padam.

Thiat Tiong-tong yang berada dalam hutan kembali menghela napas panjang, pikirnya:

"Un Tay-tay memang seorang perempuan cantik yang sangat langka, jangan lagi lelaki dewasa, sampai bocah cilik pun terpikat oleh kecantikan wajahnya......"

Dia tidak tahu, justru semakin muda bocah itu apalagi disaat menginjak usia puber, napsu birahi-nya semakin berkobar, apalagi bertemu dengan wanita matang yang begitu cantik dan montok.

Dengan sempoyongan bocah pincang itu mundur berapa langkah lalu berdiri termangu-mangu, sepasang matanya menatap kosong ke tempat kejauhan, dia seakan akan jadi bodoh secara mendadak.

Sebaliknya Un Tay-tay mulai membenahi rambutnya yang kusut.

Mendadak terdengar bocah pincang itu tertawa tergelak, kemudian setelah bersalto beberapa kali di udara teriaknya keras keras:

"Aku telah menciumnya, aku telah mencium­nya, ooh.....dia sungguh harum!"

"Hey setan cilik, kau sudah gila!" umpat Un Tay-tay sambil tertawa.

"Betul, aku sudah gila, aku sudah gila..... aku benar-benar sudah gila!" jerit bocah pincang itu sambil tertawa dan melompat-lompat.

"Bila kau bersedia mengabulkan satu permin­taanku, aku akan mengijinkan kau untuk mencium sekali lagi"

"Sungguh?" bocah itu tertegun dan tergagap.

"Adik cilik, kapan cici pernah membohongi-mu?"

"Cepat katakan, cepat katakan" teriak bocah pincang itu sambil mencak mencak, "asal aku diijinkan mencium lagi, apa pun permintaanmu pasti akan kukabulkan!"

"Kau harus berjanji mau membawaku ke sana, tapi kau tidak boleh ikut masuk, dan kaupun harus berjanji tidak akan menceritakan persoalan ini kepada siapa pun"

"Jangan lagi hanya permintaan begitu, sepuluh kali lipat lebih sulitpun tetap akan kukabulkan"

"Bocah manis......." seru Un Tay-tay sambil tertawa merdu, dia segera maju mendekat, memeluknya dan menciumi wajahnya yang burik berulang kali.

Menanti Un Tay-tay melepaskan pelukannya, tiba-tiba bocah pincang itu roboh terjungkal ke tanah.

"Hey, kenapa kau?" jerit Un Tay-tay kaget.

Belum habis ia berteriak, bocah pincang itu sudah melompat bangun lagi sambil berjumpa­litan berapa kali, teriaknya sambil tertawa:

"Dalam tiga bulan mendatang, bila aku cuci muka maka aku adalah seorang telur busuk"

"Tiga bulan tidak cuci muka? Waaah... seperti apa baunya" Un Tay-tay terkekeh.

"Kalau aku bilang tidak mencuci, aku tidak akan mencuci" sambil berteriak bocah pincang itu mengambil kembali buntalannya dan menarik lengan Un Tay-tay sambil berseru, "ayoh kita berangkat!"

Thiat Tiong-tong yang menyaksikan semua kejadian merasa terkejut bercampur gusar, pikirnya:

"Mau apa perempuan busuk ini mencari jite? Jangan-jangan dia   akan mencelakainya lagi.

Tapi...... bukankah dia sudah berpisah dengan Suto Siau, rasanya tidak mungkin dia akan mencelakai jite, tapi jite begitu mencintainya, bila dia balik ke sana, dengan watak jite, hubungan mereka berdua bisa jadi akan terjalin kembali. Biarpun perempuan ini belum tentu akan mencelakai jite, tapi dengan tabiatnya yang cabul dan nakal, cepat atau lambat dia bakal melukai hati jite lagi......lagipula......."

Dalam pada itu si bocah pincang itu sudah menarik Un Tay-tay untuk pergi meninggalkan tempat itu.

"Aku tidak boleh berpangku tangan dalam persoalan ini" akhirnya Thiat Tiong-tong meng­ambil keputusan, dengan cepat dia menyusul dari belakang.

Bocah pincang itu menarik tangan Un Tay-tay menuju ke tengah hutan, arah yang dituju bukan ke arah kota besar tapi tempat yang makin lama semakin terpencil dan sepi.

Lebih kurang setengah li kemudian, bocah pincang itu baru menghentikan langkahnya.

"Sudah sampai?" tanya Un Tay-tay.

"Yaa, sudah sampai" dengan termangu bocah itu mengangguk.

Un Tay-tay mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, namun diseputar sana hanya terlihat berapa batang pohon yang rimbun, tidak sesosok bavanean manusia nun vane terlihat disana.

"Dimana?" tanya perempuan itu lagi dengan kening berkerut.

"Di depan sana"

"Kalau masih didepan sana, kenapa kau berhenti?"

Bocah pincang itu termangu berapa saat lamanya, mendadak dia menghela napas panjang.

"Setelah kepergianmu kali ini, aku tidak tahu apakah masih berkesempatan untuk bertemu lagi denganmu"

"Bocah bodoh, jangan mengucapkan kata-kata dungu" bujuk Un Tay-tay sambil tertawa, "aku toh bukan pergi untuk mati, tentu saja kita masih bisa bertemu lagi"

Bocah pincang itu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Sekalipun bisa bertemu lagi, akupun tidak tahu akan terjadi di bulan dan tahun berapa"

"Bila kau ingin bertemu aku, setiap saat kau boleh datang mencariku"

"Perduli berada di mana pun kau bersedia memberitahukan jejakmu itu kepadaku?" seru si bocah kegirangan.

Un Tay-tay manggut-manggut.

"Adikku sayang, perduli cici berada dimana pun pasti akan kuberitahukan kepadamu, ayoh, tertawalah untuk cici"

Bocah pincang itu benar-benar tertawa lebar, sambil membangkitkan kembali semangatnya dia berseru:

"Ayoh kita berangkat!"

"Tunggu sebentar" kali ini Un Tay-tay geleng­kan kepalanya berulang kali.

"Kau sungguh aneh........"

"Apanya yang aneh?" Un Tay-tay menghela napas panjang, "terus terang kuberitahu, cici memang seorang manusia aneh, selain aneh juga kesepian dan penuh derita......."

Dia mendongakkan kepalanya dan memandang ke angkasa dengan pandangan sendu.

Bocah itu ikut menghela napas.

"Kau begitu cantik, entah berapa banyak lelaki didunia ini yang menyukaimu, kenapa kau bisa kesepian? Aku benar benar tidak mengerti"

"Aku sangat membenci semua orang yang mencintaiku, tapi orang yang kucintai justru tidak suka kepadaku, bagaimana mungkin aku tidak kesepian? Oleh sebab itu aku harus berupaya dengan segala cara untuk menghilangkan rasa kesepian ini"

"Bukankah Im kongcu amat mencintaimu?"

"Bukan, bukan dia orangnya" Un Tay-tay menggeleng.

"Lalu siapakah dia?"

Lama sekali Un Tay-tay termenung, akhirnya sambil tertawa paksa ujarnya:

"Sudahlah, tidak usah dibicarakan lagi, sekarang aku bukan saja sudah tidak mencintai­nya bahkan membencinya setengah mati"

"Tidak masalah, bukankah masih ada aku yang mencintaimu" teriak bocah pincang itu lantang.

Un Tay-tay balas tertawa.

"Aku pun menyukaimu, itulah sebabnya sekarang aku bersedia menemanimu, kau adalah lelaki ke dua yang pernah kucintai sepanjang hidupku ini"

"Sungguh?" berkilat sepasang mata bocah pincang itu.

Dengan lembut Un Tay-tay mengelus lagi wajahnya, katanya halus:

"Sayang kau hanya seorang bocah, sedang aku sudah hampir tua, aku hanya bisa menyukaimu sebagai seorang adik, mengerti?"

Dengan pandangan bodoh hocah pincang itu mengangguk, tiba-tiba teriaknya:

"Bagaimanapun juga, setelah aku dewasa nanti, jika kau belum juga kawin dengan orang lain, aku tetap akan menikaimu"

Dia tidak berbicara lagi, sambil menarik baju Un Tay-tay segera melanjutkan kembali perjalan­annya.

Thiat Tiong-tong yang berdiri dibalik kegelapan hanya berdiri termangu.

Berapa saat lamanya, dia mulai bertanya kepada diri sendiri:

"Benarkah dia sangat aneh?"

Ketika mendongakkan kembali kepalanya, terlihat ke dua orang itu sudah mulai menyusup masuk ke dalam hutan.

Thiat Tiong-tong tidak ragu lagi, dia segera menyusul dari belakang.

 

Bab 9

Pembicaraan di kuil terpencil.

 

Dibalik hutan terlihat ada sebuah kuil, Un Tay-tay dan bocah pincang itu sudah berhenti jauh di depan kuil bobrok itu.

"Adikku, kau mesti ingat baik-baik" ujar Un Tay-tay kemudian dengan suara ringan, "ada sementara wanita meski tubuhnya kotor namun dia memiliki jiwa yang sangat bersih, meskipun dia mencelakai orang, namun ini semua disebabkan orang-orang itu memang tidak tahu diri, masih belum pantas menjadi lelaki, oleh sebab itu apa yang akan terjadi dikemudian hari, kau harus menjadi seorang lelaki sejati, mengerti?"

Dengan perasaan setengah mengerti setengah tidak bocah pincang itu manggut-manggut.

"Bila aku telah memperoleh kediaman tetap pasti akan datang mengabarimu" kata Un Tay-tay lagi, "sekarang kau cepatlah pergi!"

Dengan sangat penurut bocah pincang itu membalikkan tubuh, tiba-tiba dia berpaling lagi seraya bertanya:

"Kenapa sih kau bisa menyukai aku? Hingga sekarang aku masih tidak habis mengerti, bersediakah kau memberitahukan kepadaku?"

Un Tay-tay tersenyum.

"Karena kau menyukai aku dengan bersungguh hati, tidak punya pikiran dan niat lain, maka akupun menyukaimu"

Bocah pincang itu tertegun berapa saat, kemudian sambil bersorak-sorai baru beranjak pergi dari situ.

Memandang hingga bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan, kembali Un Tay-tay berdiri termangu, akhirnya setelah menarik   napas panjang, sambil menenteng peti itu dia berjalan menuju ke arah kuil dengan langkah lebar.

Kuil itu sudah lama terlantar, dua belah pintu gerbangnya juga entah sudah sejak kapan dicuri orang sebagai bahan bakar, tanaman ilalang tumbuh liar disepanjang halaman, daun kering berserakan memenuhi lantai, apalagi ketika terhembus angin malam, segera menimbulkan suara gemersik yang ramai.

Ketika suara itu dipadukan dengan suara jendela yang bergoyang, terciptalah sebuah irama malam yang sendu.

Setelah melalui halaman kuil yang dipenuhi daun kering, menaiki undak-undakan batu yang dilapisi lumut dan menembusi kosen pintu yang dipenuhi sarang laba laba, sampailah perempuan itu dalam ruang kuil yang bobrok, lembab dan gelap.

Seketika itu juga Un Tay-tay mengendus bau busuk yang tajam berhembus keluar dari ruang kuil, suasana disana benar-benar mengenaskan, meja altar tampak sudah sangat bobrok, kain tirai robek sana sini, entah sudah berapa lama tidak pernah dijamah para jemaahnya.

Ditengah hembusan angin malam, hawa dingin terasa semakin menggigilkan tubuh, angin yang berhembus masuk melalui jendela, menggoyang­kan kain tirai yang bobrok, ternyata ruang kuil itu kosong tidak berpenghuni.

Un Tay-tay mulai ragu, pikirnya penuh curiga:

"Jangan-jangan aku dibohongi setan cilik itu?"

Tapi baru lewat ingatan tersebut, dia sudah mendengar suara napas orang yang lirih berkumandang keluar dari bawah meja altar bobrok itu.

Dia agak sangsi tapi kemudian melanjutkan hngkahnya,  per lahan-lahan menyingkap taplak meja altar dan melongok ke bawah... Benar saja, dia menyaksikan Im Ceng sedang tertidur di situ.

Menyaksikan hal ini, tidak tahan Un Tay-tay menghela napas, pikirnya:

"Aaai, suhengnya begitu hati-hati dan selalu waspada, sementara sutenya begitu sembrono, biarpun sangat lelah, tidak seharusnya dia tidur di tempat seperti ini!"

Dia benar-benar tidak habis mengerti, kenapa dua orang. seperguruan ternyata memiliki tabiat yang jauh berbeda, Thiat Tiong-tong cekatan dan penuh waspada, berada dalam situasi sekritis apa pun, bukan saja mampu melindungi diri bahkan masih sempat menolong orang lain.

Sebaliknya Im Ceng begitu berangasan, emosinya sangat tinggi dan sepak terjangnya begitu sembrono, sekalipun dia berdarah panas dan selalu ingin membela hal hal yang tidak adil, tapi dia justru tidak mengerti bagaimana harus menata diri, bagaimana harus memikirkan diri sendiri.

Mungkin dia tidak tahu kalau dua bersaudara seperguruan ini sebenarnya memiliki satu kesamaan yang paling besar .... mereka berdua sama-sama berjiwa pendekar dan berhati ksatria, sekalipun cara bertindak dan cara yang digunakan sangat berbeda namun tujuan yang hendak mereka capai sebenarnya tidak jauh berbeda.

Dalam pada itu Thiat Tiong-tong yang bersembunyi dibawah wuwungan rumah pun mulai merasa amat iba, pikirnya:

"Ji-te wahai Ji-te, sekalipun kau memiliki keberanian seperti Thiat Tiong-tong, meski memiliki kepandaian yang tangguh, namun tabiatmu sangat menguatirkan, aku benar-benar tidak tega membiarkan kau berkelana seorang diri di dalam dunia persilatan!"

Tiba-tiba ia dengar Un Tay-tay menghela napas panjang, kemudian menepuk bahu Im Ceng berulang kali.

"Siapa?" bentak Im Ceng sambil terjaga dari tidurnya.

Sembari membentak dia melompat bangun, tampaknya pemuda itu lupa kalau sedang tidur dibawah meja altar, tidak ampun meja itu tertumbuk hingga mencelat ke belakang dan hancur berserakan.

Un Tay-tay mundur selangkah, memandanginya tanpa bicara.

Begitu tahu siapa yang datang, paras muka Im ceng berubah hebat, hardiknya:

"Rupanya kau!"

"Benar, memang aku!"

"Mau apa kau datang kemari?"

"Datang mencarimu?”

"Hahahaha.... bagus, tidak nyana kau masih punya muka untuk berjumpa denganku" Im Ceng mendongakkan kepalanya tertawa seram.

Un Tay-tay tidak bicara apa apa, dia hanya menatapnya berapa saat kemudian setelah menghela napas dia membalikkan tubuh dan beranjak pergi dari situ.

Melihat wanita itu hampir mencapai pintu keluar, tiba-tiba Im Ceng melejit ke udara dan mnighadang jalan perginya.

"Kau sebentar datang sebentar pergi, memang­nya sudah edan!"

"Kusangka kau sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi terhadapku, maka aku datang mencarimu" kata Un Tay-tay ketus, "tapi setelah menyaksikan tampangmu sekarang, aku tahu kau belum bisa melupakan aku, terpaksa aku harus segera pergi dari sini"

"Siapa bilang aku tidak bisa melupakan dirimu? Aku justru amat membencimu" seru Im Ceng gusar.

"Antara cinta dan benci sebenarnya hanya dipisahkan oleh sebuah garis yang tipis, walaupun sekarang kau membenciku, tidak lama kemudian kau bakal mencintaiku lagi"

"Kau sangka bisa menebak suara hatiku?"

Un Tay-tay tidak menanggapi pertanyaan itu, kembali dia menghela napas panjang.

"Maukah kau mendengarkan kisah asal usulku?" dia bertanya.

"Manusia macam apakah dirimu?" Im Ceng tertawa dingin.

"Kalau ingin tahu, duduklah dulu, biar aku bercerita"

Walaupun masih menunjukkan rasa gusar, Im Ceng duduk juga ke lantai.

Un Tay-tay meletakkan petinya ke lantai kemudian duduk diatas peti itu, ujarnya perlahan:

"Sejak kecil aku hidup tanpa ayah tanpa ibu, aku dipelihara seorang ayah angkat, dia adalah seorang lelaki yang berhati mulia namun selalu hidup dalam ketidak puasan, dia anggap semua orang didunia ini bersalah kepadanya, maka setiap hari dia hanya pergi minum arak bahkan minum sampai mabuk berat.

"Padahal orang di kolong langit tidak pernah berbuat sesuatu terhadapnya, justru dia sendiri yang memandang rendah kemampuan diri, karena watak tersebut bukan saja dia hidup terasing, pekerjaan pun ikut terbengkelai"

Dia pejamkan mata sambil menghela napas panjang, lama kemudian baru lanjutnya:

"Dia tidak memiliki keahlian apapun untuk mencari nafkah, kepandaian silat pun tidak hebat, pekerjaan apapun tidak mau dia lakukan, saban hari dia selalu berkata begini terhadap dirinya: "manusia macam aku, mana boleh melakukan pekerjaan rendah yang memalukan, kalau harus bekerja, aku harus melakukan satu usaha besar", maka kerjanya setiap hari hanya luntang lantung kian kemari, katanya mah ingin melakukan usaha besar, tapi usaha besar macam apa yang akan dilakukan? Bahkan dia sendiripun tidak tahu, dia hanya beritahu kepadaku, suatu hari nanti dia pasti akan kaya raya.

"Waktu itu usiaku masih sangat kecil, hidup kami sangat menderita dan penuh siksaan, bukan saja harus berdiam dalam kuil bobrok, makan pun tidak pernah kenyang, hingga mencapai usia lima belas tahun, pakaian yang kukenakan pun masih selembar pakaian yang sudah kukenakan sejak berumur sepuluh tahun.

"Padahal gadis berusia lima belas tahun memiliki bagian tubuh yang tidak berbeda dengan wanita dewasa, akibatnya setiap hari ada sekawanan pemuda pengangguran yang melototi tubuhku, aku berusaha menutupi bagian yang satu namun tidak dapat menutupi bagian yang lain, akhirnya akupun pasrah, biarkan mereka menonton sepuasnya, maka....... tahun itu ada berapa orang pemuda pengangguran yang meloloh ayah angkatku hingga mabuk berat, menggunakan kesempatan itu mereka memperkosa aku secara bergilir, keesokan harinya kulaporkan kejadian ini kepada ayah angkat, didalam gusarnya dia mencari kawanan pemuda pengangguran itu dengan berbekal golok, tentu saja tanpa hasil.

"Sejak itu ayah angkatku minum arak semakin banyak, tentu saja semakin mabuk, dia tidak pernah mengurusi diriku lagi, akhirnya dia pergi entah ke mana.

"Kemudian aku pun berkenalan dengan seorang pelatih kuda dari peternakan Lok-jit, dia mengerti silat dan terhitung seseorang yang punya duit dan punya pengaruh ditempat itu, akupun berusaha memikatnya.

"Tentu saja dia langsung terpikat oleh rayuanku, asal ada permintaanku, dia tidak pernah menampik, maka mula-mula aku minta kepada­nya untuk menghabisi nyawa kawanan pemuda pengangguran yang pernah memperkosaku!"

"Manusia begundal macam itu memang pantas dibunuh!" sela Im Ceng geram.

Un Tay-tay tertawa hambar, lanjutnya: "Tapi setelah berjumpa dengan Suto Siau, pemilik peternakan Lok-jit, akupun mengambil keputusan untuk mengail ikan kakap ini.

"Dengan menggunakan pelbagai cara aku berusaha mendekatinya, tatkala pada akhirnya dia mulai memperhatikan aku, mulai merayuku, dengan air mata berlinang akupun berkata kepadanya bahwa aku tidak bisa menghianati si pelatih kuda itu.

"Maka keesokan harinya Suto Siau perintah­kan pelatih kuda itu untuk menemaninya pergi mengembala sekawanan kuda, mereka berangkat berdua tapi ketika balik tinggal Suto Siau seorang.

"Kepadaku Suto Siau berkata bahwa si pelatih kuda itu terjatuh dari kudanya karena kurang hati-hati hingga mati terpijak kawanan kuda, tentu saja aku mengerti apa yang terjadi, namun diluar aku berlagak sangat sedih.

"Maka ditengah suasana kesedihan itulah aku menjadi perempuan simpanan Suto Siau.

"Aku bersumpah tidak akan hidup miskin lagi dikemudian hari, dengan pelbagai cara aku berusaha membuat senang Suto Siau, lambat laun aku pun memiliki gedung yang indah, memiliki kebun yang luas, pakaian yang mewah dengan aneka perhiasan yang mahal harganya, dari seorang wanita miskin berubah jadi wanita kaya yang terhormat, melompat keluar dari kubangan lumpur dan hidup dalam bangunan gedung yang indah, akhirnya apa yang kucita-citakan terwujud sudah"

Ketika perempuan itu menghentikan cerita­nya, Im Ceng pun ikut terbungkam dalam seribu bahasa.

Angin masih berhembus lewat, cukup lama suasana dicekam dalam keheningan yang luar biasa.

Lama kemudian, akhirnya sekulum senyuman yang sangat dingin menghiasi wajah Un Tay-tay yang putih memucat, terusnya:

"Sejak saat itu aku berusaha mengisi semua kekuranganku, belajar membaca, belajar silat, aku tidak ingin terperosok lagi ke lembah kenistaan, aku ingin terbang lebih tinggi lagi.

"Menanti aku merasa kemampuanku sudah cukup tangguh maka akupun mulai membalas dendam, mulai merayu lelaki, mempermainkan mereka lalu membunuhnya.

"Dalam dua tiga tahun terakhir, entah sudah berapa banyak lelaki yang tidak kuat menahan godaan tewas ditanganku, tapi aku tidak pernah menyesali perbuatanku ini"

"Cukup, tidak usah dilanjutkan!" tiba tiba Im Ceng berteriak keras.

Un Tay-tay mendengus dingin, katanya: "Aku sengaja menceritakan semua pengalam­anku ini dengan tujuan agar kau tahu perempuan macam apakah diriku ini, tentang lelaki aku sudah mengetahui kelewat banyak, terhadap lelaki semacam kau, tidak mungkin aku pernah mencintainya, jadi kau harus putuskan semua ingatanmu tentang aku, jangan berharap dan jangan menanti, sebab kau bakal kecewa"

Im Ceng mengepal tinjunya kuat-kuat, teriak­nya:

“Terhadap dirimu, bukan saja aku sudah putus asa, bahkan.... bahkan...."

"Bila kau pandang rendah aku, bila pandang jijik tubuhku, hal ini jauh lebih bagus lagi" sela Un Tay-tay sambil tertawa hambar.

Tiba tiba Im Ceng bangkit berdiri, teriaknya: .

"Kalau tahu begini, kenapa kau masih datang mencariku?"

"Sekarang Suto Siau sudah bersekongkol dengan suhengmu Thiat Tiong-tong, Suto Siau amat membenciku, dia tidak mungkin akan lepaskan aku maka terpaksa aku harus membunuhnya terlebih dulu,   sementara aku.....aku amat membenci Thiat Tiong-tong, aku ingin membunuh mati dirinya"

"Kedua orang itu pun merupakan dua orang yang harus kubunuh" ujar Im Ceng penuh kebencian.

“Tepat sekali" Un Tay-tay tertawa ringan. Im Ceng segera mendongakkan kepalanya dan bertanya:

"Jadi kau ingin bekerja sama denganku untuk menghadapi mereka?"

"Tepat sekali, bila ingin mengandalkan kekuat­an masing-masing untuk menghadapi mereka, jelas kepandaian kita belum mampu mengungguli, terpaksa aku harus bekerja sama denganmu, dengan begitu baru ada kesempatan untuk meraih kemenangan"

"Bagaimana mungkin aku bisa bekerja sama denganmu?"

"Kenapa tidak mungkin? Kau bisa manfaatkan kecerdasan dan kelicikanku sementara aku bisa memanfaatkan kekuatan dan ilmu silatmu, tapi kau mesti ingat baik-baik, kita hanya saling memanfaatkan, sama sekali tidak ada ikatan perasaan apapun, tatkala urusan sudah selesai, kau boleh pergi menurut keinginanmu dan akupun akan lewat melalui jalanku"

Im Ceng kembali berdiri termangu, jelas dia sangat ragu dan tidak berani mengambil keputusan.

Melihat itu Un Tay-tay segera tertawa dingin. "Kenapa? Apa lagi yang kau pikirkan? Tidak berani?"

"Siapa bilang aku takut!"

"Hmmm, mana aku tahu apa yang kau takuti?" ejek perempuan itu makin ketus.

Dengan geram Im Ceng berteriak:

"Asal bisa membunuh Suto Siau, lalu menangkap hidup-hidup murid murtad dari Perguruan Tay ki bun, agar aku bisa menyaksikan dia mati mengerikan dibawah hukuman siksaan..... mati seperti.... seperti toako ku dulu, apa pun tidak perlu kutakuti, apa pun akan kulakukan"

Kelihatannya dia tidak pernah bisa melupakan toakonya mati ditarik dengan lima ekor kuda, terlebih terhadap Thiat Tiong-tong yang mendapat perintah untuk menjadi algojo, rasa bencinya serasa merasuk hingga ke tulang sumsum.

"Nah, begitulah baru tampang seorang lelaki bernyali" puji Un Tay-tay sambil tersenyum.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?"

"Kesempatan pasti akan datang, bila kesem­patan sudah tiba, tidak sedikit yang mesti dilakukan"

Thiat Tiong-tong yang bersembunyi diluar jendela diam-diam tersenyum geli.

Pertama dia merasa yakin bahwa investasi yang ditanamkan pada diri Un Tay-tay bukanlah penanaman modal yang sia sia.... paling tidak Un Tay-tay sudah menunjukkan sikapnya untuk menganggap Suto Siau sebagai musuh dan siap melawannya dengan sepenuh tenaga.

Kedua dia merasa berterima kasih sekali kepada Un Tay-tay karena bersedia mengemuka­kan sikapnya terhadap Im Ceng, dengan didampingi Un Tay-tay yang licik paling tidak Im Ceng yang berangasan akan peroleh banyak bantuan, satu hal yang membuatnya sangat lega.

Mengenai perasaan Un Tay-tay terhadap dirinya, Thiat Tiong-tong tidak ingin membahas­nya lebih jauh, diam-diam dia melompat turun dari wuwungan rumah.

Mendadak dia saksikan ada sesosok bayangan manusia menyelinap mendekat dengan kecepatan tinggi.

Dalam terkejutnya dia mengira jejak mereka sudah ketahuan oleh Suto Siau beserta komplot­annya, cepat dia melompat naik lagi ke atas wuwungan rumah.

Bayangan manusia itu kelihatan membalikkan tubuhnya, ternyata dia tidak lain adalah si bocah pincang, murid Kiu cu Kui bo..

Dengan kening berkerut Thiat Tiong-tong segera berpikir:

"Ternyata setan cilik inipun bukan manusia yang bisa dipercaya"

Maka dia pun menggapai ke arahnya sambil membalikkan tubuh dan bergerak menjauhi bangunan kuil.

Baru tiba diluar pagar, bocah pincang itu sudah menyusul tiba, tegurnya dengan mata melotot:

"Kenapa kau berkerut kening, mau apa mencari aku?"

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.

"Aaai, bukankah kau sudah menyanggupi Un Tay-tay? Tidak seharusnya kau datang mengintip"

Bocah pincang itu tertegun, mendadak dia mengebaskan tangannya perlahan.

Thiat Tiong-tong segera mengendus bau harum yang semerbak menerpa hidungnya, kontan kepalanya terasa pening kemudian roboh terjungkal ke tanah, tidak sadarkan diri.

Dengan satu gerakan cepat bocah pincang itu melepaskan ikat pinggangnya dan mengikat tubuh Thiat Tiong-tong kuat-kuat, gumamnya:

"Jangan salahkan aku berbuat begitu kepadamu, kalau mau disalahkan, salahkan diri­mu sendiri kenapa tahu kelewat banyak"

Selesai mengikat tubuh Thiat Tiong-tong, dia panggul tubuh pemuda itu dipunggungnya, lalu bergumam lagi:

"Jika kau beritahu Un Tay-tay kalau aku datang mengintip, dia pasti tidak akan suka kepadaku lagi, aku harus mencari akal agar kau tidak berani mengatakannya"

Tapi diapun tidak tahu siapakah anak muda ini dan darimana asal usulnya, dia tidak berpikir kenapa pemuda itu bisa mengetahui begitu banyak persoalannya. Oleh sebab ragu maka dia tidak berani turun tangan keji.

Dengan membopong Thiat Tiong-tong yang lemas, secepatnya dia melesat pergi menjauhi tempat itu.

Tempat itu terletak diluar kota, setelah menembusi hutan tibalah dia disebuah tanah pertanian yang luas.

Berhubung dia harus membawa seseorang, bocah pincang itu tidak berani kembali ke tempat gurunya, sementara otaknya berpikir keras bagai­mana caranya mengatasi soal orang yang diculik, langkah kakinya bergerak tiada hentinya.

Setelah berjalan berapa saat, perasaan hatinya makin lama semakin bertambah gelisah, akhirnya tibalah ditepi ladang pertanian, disitu terbentang sebuah jalan kecil menuju ke arah tiga buah rumah gubuk.

Dalam rumah gubuk itu bukan saja ada cahaya lentera bahkan terdengar suara gesekan roda penggiling yang berisik, tampaknya rumah itu adalah sebuah kedai kecil yang menjual cairan kedele.

Setelah ragu sesaat akhirnya bocah pincang itu berpikir:

"Baiklah, biar kuteguk dulu semangkuk susu kedele dan makan dua potong tahu panas sebelum melanjutkan perjalanan"

Dengan langkah lebar dia mendekati bangunan rumah itu.

Didepan rumah gubuk terdapat sebuah tenda yang amat sederhana, dibawah tenda tersedia dua tiga buah meja kursi yang lapuk.

Sebuah lentera yang tidak terlalu terang tergantung ditengah tenda, menyinari wajah seorang kakek berambut putih, berbadan bungkuk dan mengenakan pakaian amat sederhana, saat itu dia sedang menggiling kedele dengan ogah-ogahan.

"Apakah ada yang dijual?" bocah pincang itu segera bertanya lantang.

"Susu kelede yang harum, tahu yang hangat, butuh berapa pun kami tersedia"

"Kalau begitu cepat hidangkan" seru si bocah sambil membanting tubuh Thiat Tiong-tong ke tanah, kemudian sengaja gumamnya lagi, "pencuri ini sungguh berat, setelah digelandang ke kantor polisi, aku harus menghajarnya berapa kali"

"Ooh, rupanya tuan kecil adalah seorang opas" sapa si kakek sambil memicingkan matanya dan tertawa.

"Benar, benar, dugaanmu tepat sekali!" buru-buru bocah pincang itu menyahut.

Kakek itu segera berpaling seraya berseru: "Toa-nio, ada tuan opas ingin minum susu kedele, cepat ambilkan mangkuk yang agak bersih" Dari dalam guduk terdengar seseorang menya­hut, lalu terlihat seorang nyonya muda bergaun hijau, berikat kepala hijau dengan menggendong bayinya yang masih merah berjalan keluar.

Dia membawa sebuah mangkuk porselen yang bersih, menuangnya dengan susu kedele lalu disodorkan ke hadapan bocah pincang itu.

Melihat perempuan itu sembari menggendong bayi harus bekerja melayaninya, bocah pincang itu merasa rikuh sendiri, baru saja dia hendak bangkit membantu, tiba-tiba teringat olehnya kalau dia adalah seorang 'opas', sepantasnya seorang opas tidak berlaku sopan, akhirnya diapun duduk kembali dengan santainya.

Kelihatannya nyonya bergaun hijau itupun merasa takut sekali berhadapan dengan opas, kepalanya tertunduk sangat rendah, sambil berdiri dihadapan bocah pincang itu tanyanya lembut: "Apakah thayjin masih ada perintah lain?"

"Siapkah dua potong tahu panas" jawab bocah pincang itu sengaja memperberat nadanya.

Nyonya bergaun hijau itu mengiakan dan segera berlalu, dia membisikkan sesuatu ke sisi telinga si kakek.

Sambil tertawa kakek itupun berkata: "Nyonya kami bilang koanjin pasti sudah amat lelah karena memburu buronan, karena itu harus dilayani dengan istimewa, dia suruh aku tambah­kan berapa macam bumbu dalam tahu ini"

Diam-diam bocah pincang itu tertawa geli, pikirnya:

"Tidak nyana ada gunanya juga mengaku sebagai seorang opas"

Dengan membawa semangkuk tahu kakek itu masuk ke dalam gubuknya, tidak lama kemudian dia sudah muncul kembali seraya berkata:

"Koanjin, cobalah semangkuk tahu ini"

Sambil berkata dia sodorkan semangkuk tahu yang masih panas ke hadapan bocah pincang itu, benar saja, tahu itu sudah diberi berapa bahan penyedap dan gorengan minyak hingga baunya harum semerbak.

Dalam hati kecilnya bocah pincang itu bertambah geli, pikirnya:

“Tampaknya mereka sangat takut kepadaku, mungkin menagih uang pun tidak berani....."

Maka dengan lahapnya dia makan semangkuk tahu itu hingga ludas bersih.

"Bagaimana rasanya?" tanya kakek itu kemudian.

"Bagus, enak sekali"

"Semangkuk tahu itu memang semuanya bagus, hanya ada satu hal yang kurang bagus" kakek itu berkata lagi sambil tertawa.

"Apanya yang kurang bagus?"

"Siapa yang sudah makan tahu itu berarti dia bakal kehilangan nyawa"

Berubah paras muka bocah pincang itu, sambil mendorong meja dia melompat bangun dan melompat ke hadapan kakek itu, teriaknya sambil mencengkeram baju kakek itu kuat-kuat:

"Jadi kedai ini sebuah kedai gelap?"

Kakek itu hanya menatapnya sambil tertawa tergelak, sama sekali tidak berbicara.

Bocah pincang itu segera merasakan kepalanya mulai pening dan pandangan matanya berkunang-kunang, ke empat anggota tubuhnya lemas tidak bertenaga, dia sadar keadaan tidak beres, dengan penuh kegusaran sebuah pukulan langsung dilontarkan ke tubuh kakek itu.

Dengan cekatan si kakek mengigos ke samping lalu mendorongnya perlahan, bocah pincang itu langsung roboh terjungkal ke lantai.

Tatkala tubuhnya terjungkal, dengan penuh rasa dendam pikirnya:

"Tidak nyana aku sebagai anggota perguruan Kiu cu kui bo akhirnya harus roboh terjungkal ditangan orang"

Belum lagi ingatan itu selesai melintas, dia sudah jatuh tidak sadarkan diri.

"Roboh kau, roboh kau........." seru si kakek sambil bertepuk tangan, kemudian sambil berpaling tanyanya dengan senyuman masih menghiasi wajahnya, "nona, sebenarnya siapakah orang ini? Kenapa kau merobohkan dirinya?"

"Aku sendiri juga kurang tahu siapakah dia" jawab perempuan bergaun hijau itu, "tapi aku kenal dengan orang yang ditangkapnya itu, cepat kita gotong masuk ke dua orang itu!"

Dibawah cahaya lentera yang redup, tampak wajah cantiknya sama sekali tidak berbedak maupun bergincu, sekalipun pakaian yang dikenakan amat sederhana namun tidak menutupi kecantikan wajahnya yang menawan.

Sikap maupun tingkah laku kakek itupun kelihatan menaruh hormat terhadap si nona, dia tak berani banyak bertanya lagi dan segera menggotong masuk Thiat Tiong-tong serta bocah pincang itu.

Biarpun wajahnya sudah penuh keriput, usianya sudah agak lanjut, namun kekuatan lengannya masih hebat, biarpun sekaligus harus menggotong tubuh dua orang, dia tampak tidak kepayahan.

Perabot yang ada dalam ruang gubuk itu amat sederhana, tapi suasana amat bersih, tidak nampak ada setitik debu pun.

Sambil menggendong bayinya, nyonya bergaun hijau itu mengikuti di belakangnya, sambil menuding ke arah Thiat Tiong-tong ujarnya:

"Coba kau periksa orang itu, apakah tertotok jalan darahnya atau pingsan karena dicekoki obat pemabuk"

"Siangkong ini nampak lemas seperti kapas, kelihatannya dia roboh karena obat pemabuk" jawab si kakek setelah memeriksanya secepat, saat ini sorot matanya tajam sekali.

Setelah membaringkan bayinya diatas ayunan, perempuan berbaju hijau itu mengambil semang­kuk air dingin dan mencoba dilolohkan ke mulut Thiat Tiong-tong, siapa tahu pemuda itu tetap tidak sadarkan diri, bahkan ketika kepalanya diguyur air dingin pun sang pemuda tetap pingsan.

"Lihay betul obat pemabuk ini!" gumam kakek itu dengan kening berkerut.

Perempuan bergaun hijau itu menghela napas panjang, ujarnya:

"Padahal orang ini selalu hati-hati dan penuh kewaspadaan, ilmu silatnya terhitung tangguh, kenapa bisa dikerjai bocah cilik?"

"Sebenarnya siapa sih siangkong ini? Kenapa nona sangat menguatirkan dirinya?"

Kembali perempuan bergaun hijau itu meng­hela napas.

"Dialah Thiat Tiong-tong dari Perguruan Tay ki bun!" sahutnya.

Berubah paras muka kakek itu:

"Jadi dia.... dia adalah......nona ke dua.....”

"Sstt tutup mulut! Ada orang datang" men­dadak perempuan itu menggoyangkan tangannya.

Baru selesai bicara, suara langkah manusia sudah berjalan mendekat dari kejauhan, lalu terdengar seseorang berkata dengan suara dalam:

"Omitohud, bolehkah aku si pendeta minta sedekah semangkuk susu kedele untuk meng­hilangkan dahaga?"

"Kau jaga disini, biar aku yang tengok keadaan diluar" bisik perempuan itu lirih.

Dengan cepat dia berjalan keluar dari ruangan, sekalian merapatkan kembali pintunya.

Dalam remang remangnya kegelapan malam terlihat ada seorang pendeka berjubah abu-abu yang mengenakan sepatu rumput, berkaos kaki putih dan mengenakan sebuah topi bambu berdiri disisi gilingan kedele.

Kelihatannya dia datang dari kejauhan, ini terlihat dari pakaiannya yang penuh debu dan pasir, topi bambu dikenakan rendah rendah sehingga menutupi separuh wajahnya, yang terlihat hanya jenggot panjangnya yang hitam.

Dengan kepala tertunduk kembali orang itu berkata:

"Li sicu, bersediakah kau memberi sedekah untuk aku si pendeta?"

Perempuan berbaju hijau itu ingin pendeta tersebut secepatnya pergi dari situ, maka setelah menuang semangkuk susu kedele dan mengambil sepotong tahu, dia sodorkan didepan sang pendeta seraya berkata:

"Thaysu, silahkan dicicipi!"

"Li sicu berhati mulia, Pousat tentu akan melindungi mu" seru pendeta itu kemudian sambil tertawa.

"Terima kasih atas doa thaysu, silahkan dicicipi"

Perlahan-lahan pendeta itu duduk di bangku, kembali ujarnya:

"Pousat pasti akan melindungi Li-sicu selalu banyak rejeki dan selamat, selamanya jejaknya tidak ketahuan orang"

"Thaysu, apa katamu?" berubah paras muka nyonya berbaju hijau itu, "aku tidak mengerti maksudmu"

“Nona Leng, benarkah kau tidak mengerti?" kata pendeta itu sama sekali tidak berpaling.

Sekujur badan perempuan berbaju hijau itu bergetar keras, wajahnya berubah makin hebat, tapi dia masih memaksakan diri untuk tertawa.

"Siapa sih nona Leng itu? Jangan-jangan thaysu salah melihat orang!"

"Leng Cing-soat, nona Leng" kata pendeta itu sambil tertawa, "sejak kepergianmu, semua orang berusaha menemukan jejakmu, orang menyangka kau telah bersembunyi ditengah hutan lebat, siapa sangka seorang putri cantik yang sudah biasa hidup dimanja, kini bersembunyi disebuah dusun terpencil sambil menjual susu kedele"

"Siapa kau sebenarnya?" bentak perempuan berbaju hijau itu terperanjat.

Perlahan-lahan pendeta itu berpaling, melepas­kan topi bambunya dan perlihatkan sepasang alis matanya yang tebal, sepasang matanya yang tajam serta hidung bengkoknya seperti paruh burung elang.

Biarpun dibawah dagunya tumbuh jenggot pendek, namun usianya masih sangat muda, walaupun bertampang ganteng, sayang wajahnya yang pucat pasi menimbulkan kesan dingin yang menggidikkan hati.

Leng Cing-soat memandang orang itu sekejap, tiba-tiba ia mundur dua langkah.

"Nona Leng, apakah kau sudah mengenali siaute?" tanya pendeta itu lagi sambil tersenyum.

Sekulum senyuman manis tiba-tiba tersung­ging diujung bibir Leng Cing-soat, katanya sambil tertawa ringan:

"Bukankah kau adalah Sim toate? Mana mungkin aku tidak bisa mengenalimu?"

Ditengah senyuman manis mendadak tangan­nya secepat kilat menyapu ke depan, sepuluh jari tangannya yang tajam bagai pedang langsung membabat sepasang mata dan tenggorokan pendeta itu, sementara kakinya melepaskan tendangan kilat menghajar Tan-thian di perutnya.

Jurus serangan yang digunakan selain aneh juga ganas dan telengas, apalagi selisih jarak mereka berdua sangat dekat, asal tersambar ujung jarinya dapat dipastikan akan mendatangkan bencana kematian.

Siapa sangka kelihatannya pendeta itu sudah menaruh waspada sejak awal, sambil tertawa terbahak-bahak katanya:

"Hahahaha.....untung sejak awal siaute sudah tahu kalau dibalik senyuman nona tersembunyi golok, kalau tidak, mungkin aku sudah kehilangan nyawa saat ini"

Selesai tertawa tubuhnya sudah meloncat ke udara dan menghindarkan diri.

"Hmm, sekarang pun kau tetap tidak punya harapan untuk hidup!" ejek Leng Cing-soat sambil tertawa dingin.

Tubuhnya bagai bayangan saja langsung menempel ketat disamping pendeta itu, sepasang tangannya berputar kencang menciptakan bayangan pukulan yang menyelimuti angkasa.

Setelah memunahkan berapa jurus serangan lawan, kembali pendeta itu berteriak keras:

"Nona, jangan menyerang dulu, kedatangan siaute kali ini sama sekali tidak bermaksud jahat"

Berada ditengah udara, dengan jurus Si jin ti (menjinjing orang mati) dia mencelat sejauh satu meter lebih.

"Kalau memang tidak bermaksud jahat, kenapa gerak gerikmu mencurigakan dan wajahmu tampil dengan menyamar? Memangnya kau berharap nonamu akan membebaskan kau sehingga dapat pulang menyampaikan berita?"

Pendeta itu menghela napas getir, ujarnya:

"Nona Leng, tahukah kau kalau nasib siaute saat ini tidak beda jauh dengan nona? Kini aku sudah menjadi manusia gelap yang takut bertemu orang, oleh sebab itulah terpaksa siaute harus menyamar seperti ini"

Leng Cing-soat tampak agak ragu, dia perhatikan sekejap pendeta itu kemudian katanya sambil tertawa dingin:

"Sim Sin-pek, bagaimana mungkin aku bisa mempercayai perkataanmu?"

"Seandainya Leng locianpwee berhasil mene­mukan nona, paling banter dia akan minta nona untuk pulang ke rumah" kata pandeta itu sambil menghela napas, "sebaliknya bila guruku yang menemukan jejakku, dia bisa jadi akan mencabut nyawaku!"

"Hek Seng-thian hanya memiliki seorang murid, kenapa ingin membunuhmu?"

"Sebab siaute telah menghianati guruku!" sahut pendeta itu sambil tertawa getir.

Ternyata pendeta ini tidak lain adalah pemuda yang ikut bersama Hek Seng-thian memasuki gua harta karun dan kemudian menghianati gurunya dengan melarikan diri disaat bahaya mengancam, dia bernama Sim Sin-pek.

Ketika mengetahui kalau Hek Seng-thian tidak tewas didalam gua harta, pemuda ini segera tahu kalau gurunya tidak nanti akan lepaskan dirinya dengan begitu saja.

Lantaran ketakutan, dia tidak berani tampil lagi dalam dunia persilatan, untuk merahasiakan identitasnya maka dia menyamar menjadi seorang pendeta yang berkelana kemana-mana.

Tidak nyana didalam pengembaraannya dia bertemu dengan Leng Cing-soat.

Padahal sejak awal dia memang sudah punya maksud jahat terhadap Leng Cing-soat, setelah memperoleh kesempatan, agar menghilangkan kecurigaan orang maka diapun sengaja menciptakan sebuah cerita untuk membohongi perempuan itu.

Dasar dia memang pandai bersilat lidah, tidak heran kalau cerita karangannya segera membuat orang percaya.

Sebagai penutup kembali dia menghela napas panjang, perlahan ujarnya:

"Itulah sebabnya guruku tidak ingin membiar­kan siaute hidup terus, kalau siaute tidak menyamar dan kabur dari dunia persilatan, mungkin......"

"Hmmm, percuma kau bersilat lidah dengan memutar balikkan dunia, aku tidak bakal percaya kepadamu" dengus Leng Cing-soat ketus.

Bagaimana pun dia adalah seorang wanita, melihat betapa ibanya orang itu, sekalipun dimulut mengatakan tidak percaya, padahal dia sudah mempercayainya berapa bagian.

Tiba tiba Sim sin-pek berlutut, sumpahnya:

"Jika cayhe bohong, biar langit menghukum dan menumpasku dari muka bumi!"

"Apa gunanya kau bersumpah?" jengek Leng Cing-soat lagi sambil tertawa dingin.

"Kini siaute telah menghianati perguruan dan kabur dari dunia persilatan" katanya, "jika nona pun menaruh curiga kepadaku, biarlah siaute mati dihadapan nona saja daripada membuatmu kuatir"

Leng Cing-soat tertawa dingin, dia membuang muka dengan mendongakkan kepalanya meman­dang angkasa.

Kembali Sim Sin-pek berkata:

"Asal bisa cuci bersih nama siaute dari segala tuduhan dan fitnahan, kenapa mesti takut mati? Siaute hanya memohon agar nona menjadi saksi atas semua pengakuan ini, jangan lupa siramlah kuburan siaute nanti dengan satu dua cawan arak kegetiran"

"Kalau ingin mati, matilah! Tidak bakal ada yang menghalangi niatmu"

Sim Sin-pek menghela napas panjang, dari dalam sakunya dia cabut keluar sebilah pisau belati yang amat tajam kemudian siap digorokkan keatas tenggorokan sendiri.

Tampaknya dia sudah memahami sifat Leng Cing-soat yang ketus diwajah namun hangat didalam hati, dia yakin gadis itu tidak akan membiarkan dirinya mati bunuh diri, oleh sebab itu tusukan belatinya dilakukan dengan sepenuh tenaga.

Paras muka Leng Cing-soat agak berubah ketika melihat pendeta itu mencabut pisau belati, maka begitu melihat dia benar-benar menggorok leher sendiri, diiringi bentakan nyaring tubuhnya melejit ke depan, secepat kUat tangannya meng­hajar pergelangan tangan Sim Sin-pek yang menggenggam senjata.

"Triiing!" pisau belati itu terjatuh ke tanah, namun mata pisau yang tajam tidak urung melukai juga leher Sim Sin-pek hingga muncul sebuah mulut luka yang memanjang.

Darah segar meleleh keluar membasahi jubah Sim Sin-pek yang abu-abu, terdengar dia menghela napas sedih.

"Aaaai, kalau toh nona pun tidak percaya kepadaku, biarlah siaute mati dihadapanmu!"

Tampaknya Leng Cing-soat masih kuatir kalau dia akan mencoba bunuh diri lagi, dengan satu tendangan dia menyepak pisau belati itu hingga mencelat jauh, katanya kemudian:

"Aku percaya kepadamu!"

"Sungguh?" Sim Sin-pek kegirangan.

Leng Cing-soat menghela napas panjang.

"Luka mu tidak serius bukan? Cepat ikut aku masuk ke dalam, biar kubalut lukamu itu"

"Siaute bersedia mati untuk membuktikan ketulusan hatiku, asal nona percaya kepada siaute, biar harus mati saja tidak masalah apalagi hanya luka sekecil ini"

Leng Cing-soat mengerdipkan matanya ber­ulang kali, tampaknya dia terharu oleh pernyataan itu.

Perlu diketahui, sudah sejak lama Sim sin-pek menaruh rasa suka terhadapnya, setiap kali bertemu nona ini, dia selalu bicara dengan lembut, sopan dan penuh keriangan.

Sebaliknya Leng Cing-soat sudah banyak tahun hidup menjauh dari keluarganya, kemiskinan, kesepian membuatnya sangat menderita, maka pertemuannya kali ini sama halnya seperti bertemu sanak sendiri, tidak heran kalau dengan cepat dia menaruh keper-cayaan penuh terhadap segala perkataannya.

Sim Sin-pek mengikuti dibelakangnya masuk ke dalam ruangan, pikirnya dengan girang:

"Dia sudah lama hidup kesepian, sekarang-pun menaruh simpatik kepadaku, menganggap aku senasib sependeritaan dengannya, asal membuang sedikit waktu, tidak susah rasanya untuk menggiring dia masuk ke dalam pelukanku"

Baru saja dia memandang sekejap sekeliling ruangan, tiba-tiba terlihat ada sepasang mata yang tajam sedang mengawasinya tanpa berkedip, sorot mata itu penuh dengan pengalaman, sorot mata yang penuh kecurigaan serta rasa tidak percaya kepada siapa pun.

Sim Sin-pek segera kenal sorot mata itu sebagai pandangan mata dari Leng Cuan-hok, pengurus rumah tangga benteng Han hong po di masa lampau.

Maka sambil tertawa licik sapanya:

"Lo-coongkoan, masa kau tidak kenal aku?"

Leng Coan-hok manggut perlahan, sorot matanya kembali dialihkan ke wajah Leng Cing-soat.

Padahal secara lamat-lamat dia sudah meng­ikuti semua pembicaraan dan kejadian yang berlangsung diluar rumah tadi, hanya persoalan­nya tidak terlalu jelas.

Secara ringkas Leng Cing-soat menceritakan apa yang terjadi, kembali tambahnya:

"Ketika aku sedang meninggalkan Han hong po tempo hari, gerak gerikku ketahuan Hok-tia, tapi dia tidak mencegah perbuatanku sebaliknya malah ikut aku melarikan diri"

Setelah menghela napas, terusnya:

"Selama berapa tahun belakangan, seandainya tidak ada dia, mungkin akupun tidak bisa hidup hingga kini"

Membayangkan kembali rasa takut yang harus dihadapinya ketika kabur dari pengejaran, perjuangannya untuk mempertahankan hidup, penderitaannya karena membayangkan kematian suaminya, keraguannya ketika mempertimbang­kan tempat untuk menyembunyikan diri serta siksaan batin yang harus dirasakannya ketika hidup menyendiri, tidak kuasa lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Saat itulah Sim Sin-pek telah menemukan Thiat Tiong-tong serta bocah pincang yang tergeletak tidak sadarkan diri dilantai, segera tanyanya:

"Siapa pula ke dua orang ini?"

"Yang seorang adalah Thiat Tiong-tong dari Perguruan Tay ki bun, sedang yang lain adalah...."

Mendadak Leng Coan-hok terbatuk-batuk, jelas dia hendak mencegah Leng Cing-soat menjelaskan persoalan itu.

Leng Cing-rsoat tertawa pedih, katanya:

"Mulai sekarang Sim-pek sudah menjadi anggota keluarga kita, aku pikir persoalan apa pun yang sedang kita hadapi, tidak perlu dirahasiakan kepadanya lagi"

"Tapi........"

"Sudah, tidak perlu banyak bicara lagi" Terpaksa Leng Coan-hok menundukkan kepalanya sambil perlahan-lahan membalikkan tubuh, sorot mata orang tua ini nampaknya sudah berhasil menebak niat buruk dari Sim sin-pek, hanya untuk sesaat dia belum bisa membukti­kannya.

Dia berjalan mendekati ayunan, menundukkan kepala dan mengawasi bocah yang sedang tertidur lelap.

Sambil   tertawa   paksa   kata   Sim   Sin-pek kemudian:

"Perkataan Hok-tia ada benarnya juga........"

"Aaaai.... bagaimana pun kita adalah manusia yang hidup bermasyarakat" tukas Leng Cing-soat sambil menghela napas, "sedikit banyak kita harus belajar menaruh kepercayaan kepada orang lain"

Kalau dibilang perkataan itu ditujukan untuk Sim sin-pek, maka lebih tepat kalau dibilang ucapan mana sengaja dialamatkan untuk Leng Coan-hok, akan tetapi kakek itu sama sekali tidak berpaling.

Mengawasi bayangan punggungnya yang rentan dan tua, timbul perasaan menyesal dihati kecil Leng Cing-soat, kembali ujarnya:

"Hok-tia, bagaimana kalau hari ini kita menutup usaha lebih awal?"

Dengan   kepala   tertunduk   Leng   Coan-hok menyahut.

Sambil tertawa paksa kembali Sim Sin-pek berkata:

"Nona dapat bersembunyi disini sambil membuka warung usaha, cara ini bagus sekali, siapapun tidak akan menduga sampai disini"

"Yaa, semuanya ini adalah berkat ide dari Hok-tia" sahut Leng Cing-soat sambil menghela napas.

Mendadak dia jumpai Sim Sin-pek meski sedang mengajaknya berbicara, namun sorot matanya berulang kali melirik Thiat Tiong-tong yang tidak sadarkan diri, tidak tahan segera tegurnya:

"Apa yang sedang kau perhatikan? Memangnya kau kenal dengan orang itu?"

Buru-buru Sim Sin-pek menarik kembali sorot matanya, sambil tertawa paksa dia menyahut:

"Aaah, mana mungkin siaute kenal orang ini?"

Hanya dalam satu lirikan mata, dia sudah menjumpai diujung saku Thiat Tiong-tong terdapat sebuah benda yang mirip sekali dengan panji darah, panji yang pernah dijumpai ketika berada dalam gua harta karun.

Panji darah itu semestinya hendak Thiat Tiong-tong serahkan kepada Im Ceng, tapi ditampik oleh pemuda itu sehingga hingga kini disimpan dalam sakunya.

Apa mau dibilang benda pusaka itu sekarang justru ditemukan oleh Sim sin-pek yang berhati busuk dan penuh dengan akal licik ini.

Kontan saja Sim Sin-pek merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya:

"Orang she-Thiat ini bisa peroleh panji tersebut, berarti  dia pun sudah mendapatkan seluruh harta karun itu......"

Maka sambil berlagak tidak sengaja dia bungkukkan tubuhnya.

Dibawah sorot cahaya lentera yang redup dia mencoba memastikan apakah benda yang tersumbul keluar dari saku Thiat Tiong-tong benar-benar adalah panji darah, pusaka dari Perguruan Tay ki bun atau bukan.

Sementara dia masih mengamati dengan serius, kebetulan pada waktu itu Thiat Tiong-tong sedang membuka matanya.

Disaat pemuda itu belum teringat akan semua peristiwa yang terjadi, pandangan pertama yang muncul dihadapannya adalah wajah orang itu, selembar wajah yang seakan akan.......akan.......

Tiba-tiba dia teringat kembali dengan wajah orang ini, dia masih ingat dengan jelas, wajah tersebut tidak lain adalah wajah sang pemuda yang telah menghianati gurunya dan melarikan diri dari gua harta.

"Aaaah, rupanya kau!"

Pada saat yang bersamaaan, ketika Thiat Tiong-tong tersadar dari ingatannya, Sim Sin-pek telah mengambil keputusan, dia tidak boleh membiarkan Thiat Tiong-tong berteriak, tidak boleh membiarkan pemuda itu membocorkan kebohongannya, dan yang lebih penting lagi dia harus mendapatkan seluruh harta karun yang dimiliki Thiat Tiong-tong.

Demi mendapatkan harta karun yang tidak ternilai harganya, dia tidak sempat lagi mengurusi kecantikan Leng Cing-soat, dalam waktu sedetik Sim Sin-pek telah menyodokkan jari tangan kirinya sambil membalik lengan kanannya.

Jari tangan kirinya digunakan untuk menotok jalan darah didada kanan Thiat Tiong-tong semen­tara tangan kanannya berbalik meloloskan sebilah pisau belati.

Ditengah kilatan cahaya tajam, secepat petir dia menghujamkan pisau belati itu ke atas dada Leng Cing-soat.

Gadis itu menjerit kesakitan, sambil mendekap mulut luka didadanya dengan kedua belah tangan, dia menjerit gemetar:

"Hok-tia........"

Dengan langkah terhuyung dia mundur ke samping ayunan.

Kasih sayang seorang ibu membuat Leng Cing-soat yang terluka parah tidak pernah lupa untuk melindungi keselamatan putra kesayangannya.... ditengah jerit kesakitan, bayi itu mulai menangis keras.

Sambil menyeringai seram Sim sin-pek membalikkan tubuhnya, selangkah demi selang­kah menghampiri ayunan.

Waktu itu Leng Coan-hok sedang memegang lentera sambil masuk ke dalam ruangan, dengan mata merah membara dia lempar lentera itu ke tanah kemudian tubuhnya langsung menerkam ke arah Sim Sin-pek.

Cepat Sim sin-pek sedikit merendahkan tubuh­nya sambil merentangkan tangannya ke kiri kanan, dengan jurus Hong hong siang tian ci (burung hong pentang sayap) tangan kirinya men­ dorong roboh Leng Cing-soat sementara tangan kanannya memukul mundur Leng Cioan-hok.

Dengan sempoyongan Leng Coat-hok mundur ke belakang, kini orang tua itu sudah sangat geram, umpatnya dengan wajah merah padam:

"Bajingan keparat, nona bersikap baik kepada­mu, tidak nyana kau justru tega melukainya...."

"Hmm, kalau tidak kejam bukan seorang lelaki" jengek Sim sin-pek sambil tertawa licik, "tua bangka Leng, hari ini akan kusuruh kau rasakan kelihayan dari seorang lelaki sejati macam aku!" '

Ditengah gelak tertawa menyeramkan, dia merangsek maju menghampiri orang tua itu.

Leng Coan-hok mendongakkan kepalanya tertawa keras, teriaknya:

"Mundur kau bangsat, lohu tidak sudi mati ditanganmu!"

Kini rambut putihnya awut-awutan, darah meleleh diujung matanya, sikap ksatria seorang abdi dalam yang dengan setia dan gigih membela majikannya membuat Sim Sin-pek sedikit tertegun, tidak sadar dia segera menghentikan langkahnya.

"Nona" teriak Leng Coan-hok kemudian dengan pedih, "lohan tidak becus, aku tidak bisa melindungimu lagi"

Tiba-tiba dia menubrukan kepalanya ke atas dinding bata, "Duuuuk!" percikan darah segar berhamburan di mana-mana, jenasah orang tua itu terpuruk disudut ruangan dalam keadaan mengenaskan.

Leng Cing-soat mencoba meronta untuk bangkit berdiri, darah telah membasahi seluruh dadanya, tusukan pisau belati itu terbenam hingga tinggal gagangnya.

"Hok-tia....." jeritnya gemetar, "ooh anakku... anakku......"

Isak tangis bayi itu semakin bertambah keras.

"Anak apa?" jengek Sim Sin-pek sambil tertawa, "apakah anak jadah dari orang she Im itu?"

Tiba-tiba dia melompat ke samping ayunan, lalu serunya lagi sambil tertawa seram:

"Baiklah, Biar toaya kirim dia ke neraka, agar dalam perjalanan ke alam baka nanti dia bisa menemanimu!"

Ke lima jari tangannya bagai kaitan langsung mencengkeram bayi yang tertidur di ayunan itu.

Diiringi jeritan lengking yang amat tajam, tergopoh gopoh Leng Cing-soat menerkam tiba, dengan tubuhnya yang berlumuran darah dia berusaha melindungi bayinya yang masih tertidur dalam ayunan.

Dibawah cahaya lentera terlihat paras muka gadis itu telah berubah pucat kehijau-hijauan, sinar matanya memancarkan rasa benci yang berapi api, dengan penuh rasa dendam jeritnya:

"Kalau kau berani menyentuhnya, biar jadi setan pun aku tidak akan mengampunimu!"

Sekalipun Sim Sin-pek keji dan buas, tidak urung bergidik juga hatinya setelah mendengar ancaman itu.

Kembali Leng Cing-soat berseru diiringi isak tangis yang memedihkan hati:

"Kau tidak ada dendam sakit hati denganku, kalau ingin bunuh aku, bunuhlah, tolong ampuni lah anakku yang tidak berdosa!"

Isak tangis yang memedihkan hati mengiringi ucapannya yang sendu, sungguh membuat suasana dicekam kedukaan yang mendalam.

Sim Si-pek segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

"Hahahaha.....ampuni   dia? Hmm, hmmm! Kalau mencabut rumput tidak seakar akarnya, dikemudian hari pasti akan menjadi bibit bencana.

Sebetulnya perkataan itu sering diajarkan ayahmu kepadaku, hehehe....tidak disangka hari ini harus kugunakan untuk menghadapimu!"

Belum habis tertawa, mendadak Leng Cing-soat menerjang maju lagi dengan cepat, dia cabut keluar pisau belati yang menancap di dadanya, semburan darah segar segera memancar keluar dari mulut luka membasahi wajah Sim Sin-pek.

Seketika itu juga Sim Sin-pek merasakan ada semburan cairan panas bagaikan guyuran air men­didih memancar keatas wajahnya, dalam keadaan terperanjat buru-buru dia gunakan tangannya untuk melindungi mata, saat itulah pisau belati ditangan Leng Cing-soat telah menghujam tiba.

Dalam situasi seperti ini, mimpipun Sim Sin-pek tidak menyangka kalau Leng Cing-soat yang terluka parah masih memiliki kekuatan sebesar itu, tidak ampun tubuhnya langsung roboh terkapar ke tanah, pisau belati yang tajam meski tidak sampai menembusi jantungnya, namun rasa sakit yang luar biasa akibat tusukan senjata membuatnya kesakitan setengah mati.

Perasaan sakit bercampur ngeri membuat sukmanya seakan melayang meninggalkan raga.

Leng Cing-soat sendiripun tidak tahu darimana munculnya kekuatan sebesar itu, bisa jadi tenaga itu muncul dari keberaniannya untuk melindungi anaknya, mungkin juga muncul karena rasa sedih dan gusarnya, begitu pisau belati itu menghujam telak ditubuh Sim sin-pek, telapak tangan kirinya langsung membabat ke atas tenggorokannya.

Sim Sin-pek meraung keras, sepasang lengan­nya direntangkan ke samping membuat tubuh Leng Cing-soat mencelat ke tengah udara, tapi dia sendiripun telah mengggunakan seluruh kekuatan yang dimiliki hingga pingsan seketika itu juga.

Leng Cing-soat yang sesungguhnya sudah terluka parah pun jatuh tidak sadarkan diri setelah mengerahkan sisa kekuatan yang dimiliki, diantara sekian banyak orang hanya Thiat Tiong-tong seorang tetap berada dalam kondisi sadar, meski jalan darahnya tertotok.

Dia hanya bisa menyaksikan drama yang amat tragis itu berlangsung didepan mata, pemuda itu hanya bisa menonton tanpa memiliki kekuatan untuk mencegah, hal mana membuat perasaan hatinya sedih bercampur gusar.

Sementara itu lentera yang dilempar si kakek ke lantai sudah berkobar menjadi jilatan api yang membesar, api mulai membakar meja, bangku, dinding serta wuwungan rumah.

Dalam waktu singkat seluruh bangunan rumah itu sudah terkubur dalam lautan api.

Isak tangis sang bayi makin lama makin bertambah lemah, akhirnya menjadi serak sebelum berhenti sama sekali........

Thiat Tiong-tong merasakan hatinya sakit bagaikan disayat, dia tahu bayi tersebut adalah darah daging keluarga Im, nasib bayi itu sungguh tragis, sebelum lahir sudah menimbulkan begitu banyak gelombang masalah, membuat ibunya harus mengembara dalam dunia persilatan, membuat ayahnya harus mati secara mengenas­kan, dan kini, setelah dilahirkan, lagi-lagi dia harus mengalami pengalaman yang begitu menyik­sa dan mengenaskan.

Air mata mulai mengembang dalam kelopak mata Thiat Tiong-tong, sambil menahan amarah dan benci, dia hanya bisa mengawasi kobaran api yang semakin membesar, tampaknya seluruh penghuni rumah gubuk itu akan terkubur dalam kubang api yang membara.

Kini dia hanya berharap Leng Cing-soat bisa tersadar dari pingsannya dan selamatkan darah daging keluarga Im, bahkan diapun berharap si bocah pincang dapat sadar dari pingsannya. Tapi sayang, harapannya hanya harapan yang sia sia.

Orang yang tersadar paling duluan ternyata adalah Sim Sin-pek.

Ketika Sim Sin-pek membuka matanya, kobaran api sudah mulai menjilat didepan mata.

Dalam terkesiapnya cepat dia melompat bangun, dalam gugup dan ngerinya tidak sempat lagi baginya untuk memikirkan persoalan lain.

Hanya satu yang terpikir olehnya waktu itu, dia harus mendapatkan harta karun itu, sebab siapa pun yang bisa memperoleh harta karun tersebut, perjalanan hidupnya pasti akan berubah secara drastis.

Isak tangis sang bayi telah berhenti, kobaran api semakin membara, Sim Sin-pek tidak sempat menggubris persoalan lain lagi, dia segera sambar tubuh Thiat Tiong-tong dan melarikan diri dari lautan api.

[bersambung]