pendekar cacad 18 **
Lorong bawah tanah itu sangat gelap dan tak ada setitik cahaya pun,
semua orang merasa telah menempuh suatu perjalanan yang amat jauh.
Mendadak terdengar Thio Kim-ciok berseru keras dari ujung lorong
bawah tanah itu, "Tempat ini merupakan daerah perkampungan, sekarang
aku akan menyulut sumbu mesiu yang tersembunyi di sini untuk
meledakkan dinding batu di atas sana."
Sambil berkata, tampak cahaya api memancar dalam lorong, tahu-tahu
Thio Kim-ciok telah menyulut sebuah sumbu hitam sebesar jari tangan
yang tergantung di atas dinding ruangan.
Dalam waktu singkat cahaya api memancar kemana-mana, sumbu yang
disembunyikan di atas dinding lorong pun mulai terbakar.
Di antara kawanan jago yang hadir di situ,
ada di antaranya yang tidak percaya kepada Thio Kim-ciok, namun
sewaktu ingin menghalangi perbuatannya itu, keadaan sudah terlambat.
Sementara itu terdengar Thio Kim-ciok telah berkata kembali, "Untuk
mencapai pusat bahan peledak di atas dinding batu itu, kita
membutuhkan waktu tiga menit. Seandainya dinding batu itu meledak
sebelum bahan peledak di dasar lorong itu meletus, berarti kita akan
mampus terkubur di tempat ini"
Biarpun para jago tidak percaya penuh
terhadap perkataannya itu, namun di saat jiwa terancam di depan
mata, tak urung setiap orang merasakan juga hatinya berdebar keras.
Puluhan pasang mata bersama-sama ditujukan ke atas sumbu mesiu yang
sedang terbakar dan merambat ke atas dengan cepatnya itu. Dengan
harap-harap cemas mereka berdoa agar api segera mencapai puncak dan
meledakkan dinding batu di atas permukaan tanah.
Biarpun waktu tiga menit itu sangat pendek, namun dalam perasaan
mereka waktu itu lamanya bagaikan tiga tahun.
Pada saat itulah terdengar Thio Kim-ciok
berkata lagi, "Tindakan Hek-mo-ong menyulut sumbu mesiu di dasar
lorong rupanya telah memperpanjang umur kalian semua."
"Thio-locianpwe, apa maksudmu?" tanya Bong Thian-gak dengan tidak
mengerti.
"Kini sumbu mesiu di dasar lorong Bu-lim-bong telah menyala. Setiap
saat bakal meledak hebat. Kekuatan yang tercipta akibat ledakan itu
bisa menenggelamkan lorong ini dan kehebatan goncangan yang
dihasilkan tak akan mampu dilawan oleh siapa pun. Oleh sebab itu, di
saat dinding batu itu meledak nanti, bila kalian masih menginginkan
nyawa, berlarilah sekuat tenaga melampaui lorong ini. Kalau tidak,
kalian jangan harap bisa lolos dari ancaman maut."
"Tapi dengan begitu berarti juga aku sudah tak punya kesempatan
untuk membantai kalian semua. Bukankah ini berarti Hek-mo-ong telah
memperpanjang nyawa kalian?"
"Tapi setelah aku berhasil mencapai di atas, aku bakal balik kemari
mencari kalian satu per satu serta membalas dendam."
Baru selesai perkataan itu diucapkan,
mendadak terdengar suara ledakan yang dahsyat.
Seluruh permukaan lorong bergoncang keras, disusul guguran batu dan
tanah berhamburan di hadapan mereka, ternyata dinding di atas
permukaan telah hancur berantakan dan sinar fajar memancar masuk ke
dalam lorong itu.
Di antara pasir dan debu yang beterbangan, Thio Kim-ciok sudah
melompat keluar lebih dulu, kabur secepat-cepatnya menuju ke muka,
sambil berlari kencang pekiknya, "Cepat kabur!"
Semua jago yang berada dalam lorong bawah tanah segera berhamburan
keluar dari liang ledakan yang merekah dan berusaha secepat-cepatnya
melarikan diri dari tempat itu.
Akibat saling berebutnya para jago menyelamatkan diri, akhirnya Bong
Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui malah ketinggalan paling
akhir.
Angin dingin berhembus, kabut amat tebal,
rupanya kentongan kelima baru saja lewat, fajar pun mulai
menyingsing dari ufuk timur.
Bong Thian-gak serta Thay-kun dan Song Leng-hui berdiri sekejap di
tepi liang, mereka saksikan bayangan orang sedang melarikan diri ke
empat penjuru dengan kecepatan luar biasa dan lenyap di balik kabut
pagi yang tebal.
Bong Thian-gak berpaling ke sebelah barat. Di sana ternyata ada
perkampungan.
Menyaksikan itu, mereka menjadi tertegun. Apa yang baru saja
dialaminya, serasa bagaikan dalam alam impian.
Terdengar Thay-kun berseru cemas,
"Bong-suheng, kemungkinan besar apa yang dikatakan Thio Kim-ciok itu
benar, mari kita pergi secepatnya dari sini!"
Dia segera menarik tangan Bong Thian-gak serta Song Leng-hui, diajak
kabur menjauhi ke arah timur.
Dengan ragu-ragu Bong Thian-gak berkata, "Thio Kim-ciok adalah
manusia licik dan banyak akal muslihatnya, semua perkataan maupun
tindak-tanduknya sungguh membuat orang sukar untuk percaya."
"Aku sendiri tidak percaya," sambung Song Leng-hui. "Andaikata apa
yang dikatakan memang benar, ingin sekali kusaksikan peristiwa
tenggelamnya lorong yang dimaksud."
"Jika ingin melihat, paling tidak kita harus lari lebih dulu sebelum
berhenti untuk menonton!"
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga
orang ini memang amat sempurna, mereka meluncur cepat meninggalkan
tempat itu.
Pada saat itulah mendadak suatu ledakan dahsyat bergema memecah
keheningan.
Menyusul ledakan yang maha dahsyat ini, tampak jilatan lidah api
membumbung tinggi ke tengah udara.
Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui bertiga segera
merasakan permukaan tanah bergoncang sangat keras bagaikan dilanda
gempa bumi berkekuatan besar, kepala mereka jadi pusing, pandangan
berkunang-kunang dan sepasang kaki mereka tak mampu lagi berdiri
tegak di atas permukaan tanah.
Menyaksikan itu, Thay-kun berseru dengan cemas, "Permukaan tanah
akan tenggelam, kita harus segera melompat ke depan."
Bong Thian-gak tidak menyangka peristiwa
yang dianggap bagaikan dalam impian itu bakal berubah menjadi
kenyataan, dalam terkejutnya mereka bertiga segera mengerahkan
seluruh kekuatan yang dimiliki untuk berlari ke muka.
Serentetan ledakan yang sangat dahsyat kembali bergema
susul-menyusul.
Bong Thian-gak telah melihat permukaan tanah di hadapannya merekah
dan tenggelam akibat ledakan dahsyat itu.
Cepat mereka bertiga menjejakkan kaki ke atas permukaan tanah yang
belum tenggelam, lalu dengan sekuat tenaga melompat ke muka dan
berlari kencang.
Di saat ujung kaki mereka menjejak tanah untuk kedua kalinya, suatu
kekuatan dahsyat telah menggelegar. Seluruh permukaan bumi bagaikan
bergoncang keras, ketiga orang itu tak mampu berdiri tegak lagi dan
segera terlempar ke atas tanah.
Bumi bergoncang hebat membuat Bong
Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui merasakan kepala pusing,
mata berkunang-kunang dan tak sanggup berdiri tegak.
Terpaksa mereka harus merangkak di atas tanah, merangkak dengan
sekuat tenaga menuju ke depan dan melawan goncangan tanah yang makin
menghebat.
Diam-diam Bong Thian-gak berpikir dalam hati, "Habis sudah
riwayatku! Kami bertiga pasti akan terkubur untuk selamanya di
sini."
Sementara itu Thay-kun menggenggam tangan Song Leng-hui, mereka
berdua segera berteriak, "Engkoh Gak, dimanakah kau?"
Bong Thian-gak mendongakkan kepala, ia
saksikan kedua orang gadis itu tak jauh dari sisi tubuhnya, namun
berhubung permukaan tanah bergoncang terlalu hebat mengakibatkan
pandangan mata menjadi kabur dan kedua orang gadis itu tak sempat
menjumpai dirinya.
"Aku berada di sini," sahut Bong Thian-gak dengan suara keras.
Sambil berteriak Bong Thian-gak berusaha keras merangkak ke depan
dan menghampiri mereka, goncangan yang begitu dahsyat dan hebat
membuatnya sama sekali tak mampu bergerak lagi.
Pada saat itulah Thay-kun melihat Bong
Thian-gak, sambil menangis teriaknya lagi, "Engkoh Gak, jika kita
harus mati, biarlah kita bertiga dikubur bersama-sama. Kau cepatlah
kemari!"
Kedua gadis itu berusaha keras merangkak ke depan mendekati Bong
Thian-gak.
Tenaga goncangan yang makin menghebat itu membuat mereka tak sanggup
lagi memberikan perlawanan. Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song
Leng-hui merasakan tekanan udara yang menggencet tubuh mereka
semakin bertambah berat.
Mereka bertiga segera merasakan bernapas kian bertambah susah,
kesadaran pun makin menurun.
Rupanya pada saat itu permukaan tanah mulai tenggelam ke bawah.
Tenggelamnya permukaan tanah menimbulkan
pusaran angin yang sangat kuat membuat udara sekeliling situ
membumbung ke atas, akibatnya udara sekeliling tempat itu menjadi
kekurangan zat asam. ltulah sebabnya Bong Thian-gak bertiga merasa
sukar untuk bernapas.
Kembali terjadi ledakan yang maha dahsyat, diikuti goncangan ang
sangat kuat.
Matahari serasa tidak bersinar lagi, dunia seolah-olah berubah
lenjadi gelap-gulita.
Bong Thian-gak, Song Leng-hui serta Thay-kun tidak mampu menahan
diri lagi, mereka jatuh tak sadarkan diri.
Peristiwa aneh dengan tenggelamnya
permukaan tanah ke dalam perut bumi pun tak sempat lagi mereka
saksikan.
Tatkala mereka sadar dari pingsannya. Pertama-tama yang masih
dirasakan adalah bumi yang masih bergoncang serta kepala pening dan
mata berkunang-kunang.
Bong Thian-gak yang pertama-tama membuka mata lebih dulu. Ia
saksikan langit nan merah, cahaya matahari yang lembut di langit
sebelah barat, rupanya senja telah menjelang datang.
Suasana dan pemandangan di sekeliling tempat itu pun sama sekali
telah berubah.
Tempat dimana mereka berada sudah dipenuhi air lumpur. Dari balik
liang besar yang menganga bagaikan telaga, nampak asap putih yang
panas masih mengepulkan asap seperti peristiwa timbulnya kawah api
di pegunungan berapi.
Menyusul Thay-kun dan Song Leng-hui sadar
dari pingsannya, kedua nona ini segera dibuat tertegun dan melongo
oleh pemandangan aneh yang terbentang di depan mata, tanpa terasa
mereka bergumam, “nerakakah ini?"
"Tidak, kita masih berada di alam semesta," sahut Bong Thian-gak
mhil menghela napas sedih. "Musibah telah berlalu dan ternyata kita
isih hidup di dunia ini."
Andaikata waktu itu mereka berlari kurang
cepat, niscaya tubuh mereka bertiga sudah mati terkubur di dalam
perut bumi.
Rupanya setelah mengalami ledakan dahsyat yang berakibat
tenggelamnya tanah dalam perut bumi ini, tanah padang rumput kini
telah berubah menjadi sebuah kubangan.
Bukan cuma itu, pada permukaan tanah terjadi pula retakan bumi yang
sangat besar, yang kecil menjadi selokan, sedangkan yang besar
berubah menjadi sungai. Malah semua pepohonan tumbang, sedang
rerumputan menjadi layu.
Betapa dahsyat serta mengerikannya peristiwa ledakan yang baru saja
berlangsung itu.
Thay-kun memandang sekejap sekeliling
tempat itu, kemudian dengan paras muka berubah hebat katanya sambil
menghela napas, "Entah berapa banyak obat peledak yang telah ditanam
Thio Kim-ciok pada dasar Bu-lim-bong itu? Nyatanya ledakan yang
terjadi bisa berakibat tenggelamnya permukaan tanah. Ai! Bila
dilihat dari rekahan tanah dan hancurnya bebatuan di sini, bisa
diduga dasar Bu-lim-bong tentu sudah berubah menjadi sebuah gunung
berapi kecil."
Matahari senja masih memercikkan sinar, membuat permukaan tanah
nampak merah membara.
Bagaikan baru terlepas dari peristiwa
mengerikan. Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui bertiga
pelan-pelan berjalan menuju ke arah timur dengan wajah kusut.
Setelah mengalami peristiwa luar biasa ini, tampaknya perasaan
mereka sudah dingin dan hambar. Persoalan apa pun yang terjadi di
dunia persilatan sudah tak ada daya tarik lagi untuk mereka campuri.
Dengan langkah yang lelah dan lemas, mereka keluar dari tempat itu
mencari tempat terpencil untuk hidup mengasingkan diri.
Mendadak terdengar suara pekikan nyaring
yang amat keras berkumandang datang mengikuti hembusan angin.
Dengan perasaan kaget dan terkesiap mereka bertiga segera
mendongakkan kepala. Mereka saksikan ada seseorang sedang mengejar
orang yang lain.
Yang kabur sudah jelas pihak yang kalah, sambil berlari dia masih
memberikan perlawanan gigih, namun rambutnya sudah terurai kusut.
Meskipun pedang di tangannya berulang kali masih melancarkan
serangan gencar dan mematikan, namun sudah jelas ia tidak mampu lagi
menghadapi serangan maut pedang pendek lawan.
Suatu ketika tampak cahaya pedang
berkelebat, pedang pendek sang pengejar telah berhasil menghujam ke
tubuh pihak yang kalah itu.
Jeritan keras yang mengerikan pun bergema. Dengan langkah
terhuyung-huyung orang yang menderita kekalahan itu melarikan diri
terbirit-birit menuju ke hadapan Bong Thian-gak bertiga.
Orang yang kalah bertarung itu sudah melihat dengan jelas paras Bong
Thian-gak bertiga, kulit wajahnya nampak mengejang keras menahan
penderitaan luar biasa, sementara sorot matanya memancarkan sinar
merengek yang amat mengibakan.
Mendadak Thay-kun berseru tertahan, "Ah,
rupanya Tan Sam-cing Locianpwe!"
Biarpun orang yang kalah bertarung itu sudah berlepotan darah di
seluruh wajahnya hingga kelihatan amat menakutkan, namun Bong
Thian-gak bertiga masih dapat mengenali dirinya. Dia memang tak lain
adalah Tan Sam-cing, seorang di antara sepuluh tokoh persilatan.
Sang pemenang dengan garang dan gagahnya melompat turun di hadapan
lawan.
Kembali Bong Thian-gak bertiga berseru tertahan, "Ah, rupanya Thio
Kim-ciok Locianpwe."
Betul, Thio Kim-ciok. Waktu itu tangan
kanannya menggenggam pedang pendek yang memancar sinar putih
berkilauan, wajah kelihatan dingin, kaku, sadis, buas dan
mengerikan.
Dalam pada itu Tan Sam-cing telah berseru dengan nada merengek,
"Jian-ciat-suseng, tolonglah aku, bantulah diriku”
Bong Thian-gak menggeleng dengan hambar, sahutnya dengan wajah
serius, "Kami sudah tak ingin terlibat dalam kasus bunuh-membunuh
yang berlangsung di antara kalian."
"Tapi dia bukan cuma ingin membunuh sepuluh tokoh persilatan saja,
dia pun akan membantai setiap umat persilatan yang ada di dunia
ini," jerit Tan Sam-cing dengan perasaan kaget bercampur ketakutan.
Thio Kim-ciok segera tertawa menghina,
jengeknya, "Tan Sam-cing, bukankah kau nampak gagah dan perkasa
selagi berada di dalam Bu-lim-bong tadi? Sungguh tak kusangka kau
berubah menjadi begini lemah. Kasihan ... oh benar-benar
mengenaskan. Siapa orangnya di dunia ini yang tidak merasa takut
menghadapi kematian? Dan siapa pula yang bisa lolos dari maut? Aku
rasa kau pun tak perlu menyesal lagi."
Sampai di situ, pedang pendeknya yang sudah diangkat tinggi-tinggi
itu pelan-pelan digerakkan ke bawah menusuk dada Tan Sam-cing.
Tampaknya Tan Sam-cing sudah dalam keadaan tak mampu melakukan
perlawanan lagi dan hanya bisa membelalakkan mata menyaksikan pedang
pendek itu pelan-pelan menusuk ke tubuhnya.
Perasaan ngeri, seram, ketakutan serta berbagai perasaan lainnya
serentak bermunculan dari balik matanya.
Ia nampak begitu mengenaskan, patut dikasihani dan sangat
menyedihkan.
Mendadak Bong Thian-gak berteriak, "Tunggu sebentar,
Thio-locianpwe."
Namun Thio Kim-ciok sama sekali tidak
menggubris, pedang pendek di tangannya juga tidak berhenti karena
teriakan Bong Thian-gak itu. Dalam waktu singkat mata pedang yang
putih dan dingin telah menembus badan Tan Sam-cing,
Ketika pedang pendek itu dicabut kembali, mata pedang masih
kelihatan putih bersih bagaikan salju, tapi cairan darah segar telah
memancar dari mulut luka di dada Tan Sam-cing. Jeritan ngeri yang
memilukan hati pun berkumandang memecah keheningan.
Jeritan yang begitu mengerikan sekali lagi bergema di luar dugaan
siapa pun.
Bong Thian-gak segera mengernyitkan alis sambil diam-diam berpikir,
"Apa seramnya suatu kematian? Hm, namanya saja seorang jago silat
yang tercantum dalam deretan sepuluh tokoh persilatan, mengapa baru
terkena sekali tusukan saja ia sudah menjerit-jerit macam begitu?
Sungguh tak tahu malu."
Agaknya Thay-kun serta Song Leng-hui
mempunyai perasaan yang sama.
Dalam pada itu agaknya Thio Kim-ciok tak rela membiarkan Tan
Sam-ceng menemui ajalnya dalam waktu singkat. Oleh sebab itu,
tusukan pedangnya sama sekali tidak tertuju ke bagian mematikan.
Jerit kesakitan Tan Sam-cing itu bagi pendengaran Thio Kim-ciok
justru mendatangkan perasaan gembira yang luar biasa, ia segera
tertawa terbahak-bahak dengan penuh kegembiraan.
Dengan nada seram dan ketakutan kembali Tan Sam-cing berseru, "Thio
Kim-ciok, kumohon kepadamu cepatlah cabut nyawaku, janganlah kau
siksa diriku lagi!"
Thio Kim-ciok mendengus dingin, "Hm, tiga
puluh tiga tahun berselang, racun Hok-teng-ang telah cukup membuatku
tersiksa dan menderita. Siksaan yang kurasakan waktu itu benar-benar
tak dapat diutarakan dengan perkataan, sekarang aku tak lebih cuma
menusuk tubuhmu dengan sebilah pedang pendek, apakah siksaan dan
penderitaan yang kau rasakan jauh lebih hebat daripada siksaan
Hok-teng-ang?"
"Pedangmu itu sudah kau rendam dengan racun keji," teriak Tan
Sam-cing dengan ketakutan, "ketika menusuk ke dalam tubuh, rasa
sakitnya bukan kepalang. Kau ... kau sangat keji, buas, tidak
berperi¬kemanusiaan. Kumohon ... kumohon padamu, cepatlah hadiahkan
sebuah pukulan lagi untuk menghabisi nyawaku secepatnya!"
Tatkala Bong Thian-gak bertiga mendengar
perkataan Tan Sam-cing ini, paras mukanya berubah hebat.
"Thio-locianpwe, benarkah di atas pedangmu sudah kau olesi dengan
racun?" Thay-kun segera menegur dengan suara ngeri.
Thio Kim-ciok tertawa terbahak-bahak penuh rasa bangga, katanya,
"Betul, pedangku ini merupakan sebilah pedang manusia cacat yang
kuciptakan selama puluhan tahun dan direndam dalam sari racun selama
banyak tahun. Bukan saja pedang ini mengandung seratus jenis racun
yang keji, mata pedangnya amat tajam, bila tertusuk ke dalam tubuh
manusia yang berdarah panas akan menimbulkan penderitaan dan siksaan
yang tak terlukiskan."
Baru sekarang Bong Thian-gak bertiga
mengerti apa sebabnya Tan Sam-cing, jago tua yang gagah dan perkasa
ternyata memperdengarkan suara jeritan kesakitan yang begitu
memilukan walau hanya termakan sebuah tusukan saja.
Dari sini dapatlah disimpulkan betapa kejam, buas dan jahatnya Thio
Kim-ciok.
Bila dia ingin membalas dendam, seharusnya sekali tusukan saja
musuhnya dapat tertusuk mati, tapi dia tidak ingin berbuat demikian,
dia hendak menyiksa lawannya secara keji dan buas, agar lawannya
mati setelah menderita siksaan luar biasa.
Berubah paras muka Bong Thian-gak
menyaksikan kejadian itu, ujarnya kemudian setelah menghela napas
sedih, "Thio-locianpwe, buat apa kau menyiksa orang dengan cara
begitu keji dan buas? Kumohon kepadamu, berilah sebuah kematian yang
cepat untuk Tan Sam-cing!"
Thio Kim-ciok tertawa seram, "Andai aku harus membunuh dalam sebuah
tusukan, lebih baik aku tak usah membunuhnya. Hm! Kematian adalah
suatu peristiwa yang amat sederhana, asal mata sudah terpejam maka
segala sesuatunya tak diketahui lagi. Itulah sebabnya aku akan
membuat musuh-musuh besarku merasakan siksaan dan penderitaan yang
paling keji di kolong langit sebelum membiarkan dia mampus."
"Bong-laute, sekali lagi kuperingatkan kepadamu, jangan sekali-kali
mencampuri urusan pribadiku atau aku pun akan menggunakan cara yang
sama kejinya untuk membinasakan kalian."
Seusai berkata, kembali Thio Kim-ciok
menggunakan pedangnya menusuk lambung Tan Sam-cing.
Penderitaan serta siksaan yang dialami Tan Sam-cing saat ini
benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata. Tubuhnya seperti
ditusuk-tusuk jarum tajam, kulit dagingnya serasa disayat pisau,
penderitaannya seratus kali lipat lebih hebat daripada siksaan macam
apa pun.
Pedang manusia cacat mendatangkan siksaan dan penderitaan yang
mengerikan. Mungkin hanya mereka yang pernah merasakan tusukan itu
yang dapat melukiskan.
Kembali Tan Sam-cing memperdengarkan jerit kesakitan yang memilukan,
jeritannya seperti babi disembelih, mendatangkan perasaan ngeri dan
seram bagi siapa saja yang mendengar.
Tan Sam-cing tak sanggup menahan diri lagi, dia segera mengayun
telapak tangannya siap menghabisi nyawa sendiri.
Tapi pedang pendek Thio Kim-ciok segera diayunkan ke depan dan
telapak tangannya pun terpapas kutung menjadi dua.
Ketika ia mencoba menggigit putus lidahnya
untuk bunuh diri, jari telunjuk tangan kiri Thio Kim-ciok kembali
menotok jalan darah di atas gerahamnya sehingga mulut itu tak dapat
tertutup.
Pokoknya dia harus merasakan siksaan keji lebih dulu sebelum
mengakhiri perjalanan hidupnya.
Akhirnya Tan Sam-cing menemui ajal.
Di atas tubuhnya, seluruhnya terdapat empat puluh dua tusukan
pedang.
Sejak tusukan pertama pedang manusia cacat menembus tubuh Tan
Sam-cing, dia harus merasakan siksaan dan penderitaan selama tiga
jam sebelum akhirnya mati secara mengenaskan.
Segala penderitaan dan siksaan tak bakal mempengaruhi dirinya lagi.
Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui
telah menyaksikan cara membunuh orang yang paling sadis, kejam dan
buas yang pernah ada di dunia ini.
Mereka tak mampu mencegah perbuatan keji Thio Kim-ciok dan hal ini
telah mendatangkan perasaan menyesal yang amat mendalam bagi
perasaan mereka. Suatu kejadian yang amat memalukan, karena sebagai
seorang pendekar dari golongan lurus, mereka berpeluk tangan
membiarkan orang lain menderita dan terpaksa mati secara keji dan
sadis!
Selesai membinasakan Tan Sam-cing, Thio
Kim-ciok berkata, "Bong-laute, keteguhan imanmu sungguh mengagumkan,
akhirnya kau tidak mencampuri urusanku serta mendatangkan kesulitan
bagi dirimu sendiri. Aku merasa amat kagum."
Dengan suara hambar Bong Thian-gak bertanya, "Agaknya Tan Sam-cing
adalah korban pertama Thio-locianpwe setelah meninggalkan lorong
bawah tanah Bu-lim-bong?"
Thio Kim-ciok mendesis dingin,
"Hitung-hitung Tan Sam-cing memang termasuk orang yang bernyali.
Tatkala daratan itu sudah tenggelam, dia tidak berusaha melarikan
diri dari sini, sebaliknya justru datang sendiri mencari aku. Itulah
sebabnya dia menempati urutan pertama sebagai korbanku."
"Siapa pula yang akan menjadi korbanmu yang kedua?" tanya Bong
Thian-gak kemudian dengan nada serius.
Thio Kim-ciok tertawa terbahak-bahak.
"Mungkin orang itu adalah sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im!"
Sementara itu Song Leng-hui telah berkata
pula dengan air mata bercucuran, "Thio-locianpwe, kumohon padamu
janganlah membunuh orang lagi, sebab setiap kali kau membunuh orang,
sama artinya dengan aku yang telah membunuh orang itu."
Thio Kim-ciok tertawa terbahak-bahak pula, "Benar, engkaulah yang
telah menciptakan diriku menjadi seorang raja baru di dunia
persilatan, kau mestinya merasa bangga kepada semua orang dan
menjadi seorang sombong karena kemampuanmu. Nona Song, apa pula yang
kau sedihkan?"
"Raja pembunuh ... raja baru dunia persilatan? Apakah kau ingin
menguasai seluruh jagat?" tanya Thay-kun terkejut.
Thio Kim-ciok tertawa tiada hentinya, "Yang
menjadi ambisiku bukan menjadi seorang raja dalam Kangouw saja, tapi
seorang kaisar kerajaan besar. Hahaha, tatkala aku sudah selesai
menyiksa serta membunuh segenap musuh-musuhku, maka mata pedangku
akan kutunjukkan kepada dinasti kerajaan ini. Aku akan mengumpulkan
pasukan dan memberontak. Waktu itu aku tentu membutuhkan banyak
sekali tenaga dukungan dan bantuan dari kaum muda yang pintar dan
berbakat macam kalian. Andaikan kalian bertiga memiliki pula ambisi
sebesar itu, silakan membantu usahaku ini, mari kita bekerja sama
membangun satu kerajaan baru di negeri ini."
Thay-kun, Bong Thian-gak serta Song
Leng-hui menjadi tertegun dan berdiri terbelalak dengan mulut
melongo. Saat itu Bong Thian-gak sekalian baru mengerti apa sebabnya
Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si rela melakukan perbuatan terkutuk
dengan berusaha membinasakan Thio Kim-ciok.
Mengusir bangsa Tartar dan memulihkan kembali bangsa dan negara dari
kaum penjajah memang merupakan tugas suci setiap insan yang merasa
dirinya bangsa Han. Tapi dengan kekejaman, kebuasan serta kesadisan
manusia macam Thio Kim-ciok ini, bukan saja tidak akan berhasil
menciptakan pekerjaan besar demi kesejahteraan masyarakat, bahkan
sebaliknya akan membawa setiap orang terjerumus ke dalam penderitaan
dan siksaan yang tak terhingga.
Bong Thian-gak bertiga bukan manusia bodoh
yang mudah dipedaya begitu saja, sudah barang tentu mereka pun dapat
melihat bahwa Thio Kim-ciok bukanlah juru selamat yang akan membawa
rakyat bangsa Han menuju ke suatu kehidupan yang lebih cerah.
Oleh karena itu bukan saja Bong Thian-gak bertiga tidak dapat
membantu usaha Thio Kim-ciok, malahan sebaliknya perkataan dan
ungkapan ambisi orang itu telah membangkitkan hawa membunuh dalam
hati mereka.
Ketiga muda-mudi itu tahu dalam kehidupan
bermasyarakat yang cinta damai ini, jangan sekali-kali raja setan
pembunuh manusia semacam ini dibiarkan hidup terus.
Akan tetapi Bong Thian-gak sekalian pun sadar bahwa ilmu silat yang
dimiliki Thio Kim-ciok sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, tak
mungkin kekuatan mereka bertiga mampu melenyapkan dia pada saat ini.
Thio Kim-ciok sendiri pun bukan seorang bodoh. Dari perubahan wajah
serta cara bicara ketiga muda-mudi itu, dia mengerti bahwa Bong
Thian-gak sekalian tak bakal membantu ambisinya itu.
Maka sesudah tertawa terbahak-bahak,
katanya, "Biarpun aku termasuk orang yang keji, tapi dalam kehidupan
sehari-hari aku dapat membedakan mana budi dan dendam. Asalkan
Bong-laute sekalian tidak berniat mencampuri urusan dunia persilatan
lagi, maka aku pun tak akan mengusik kalian, lebih baik kalian
bertiga hidup mengasingkan diri di tempat terpencil dan tak usah
mengurusi masalah lain. Tapi ingat, satu kali kalian berniat
mencampuri urusan dunia persilatan, maka aku pun tak akan diam. Nah,
sampai ketemu lagi di lain waktu."
Begitu selesai berkata, Thio Kim-ciok segera melejit ke tengah udara
dan beberapa kali loncatan saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari
pandangan.
Senja makin redup, angin dingin berhembus kencang, suasana di jagat
raya ini terasa seram dan mengerikan.
Memandang mayat Tan Sam-cing yang terkapar
di atas tanah dalam keadaan mengerikan itu, Bong Thian-gak menghela
napas sedih seraya berkata, "Thay-kun, kita harus berusaha keras
mencegah perbuatan Thio Kim-ciok melakukan pembunuhan lebih lanjut."
"Masih untung kita tidak berusaha menghalangi perbuatannya hari ini.
Kalau tidak, mungkin kita pun tak akan lolos dari musibah ini,"
sahut Thay-kun hambar.
Kembali Bong Thian-gak menghela napas, "Tapi apakah kita harus
membiarkan seorang raja iblis pembunuh manusia membantai orang
dengan semena-mena?"
"Perbuatan Thio Kim-ciok yang mencari balas terhadap sepuluh tokoh
persilatan bukanlah suatu perbuatan berdosa."
"Thio Kim-ciok mempunyai tulang pemberontak
di kepalanya, ambisi yang terkandung dalam dadanya sudah bukan
melulu menguasai dunia persilatan. Dengan kepandaian silat yang
dimilikinya serta didukung oleh kekayaannya yang berlimpah-ruah, dia
benar-benar bisa mengumpulkan tentara untuk memberontak serta
membuat keonaran dimana-mana, dia akan menciptakan suatu badai
pembunuhan yang mengerikan di negeri ini."
"Ya, siapa pun di dunia ini memang tak akan kenal puas," ucap
Thay-kun sambil manggut-manggut. "Bisa jadi Thio Kim-ciok akan
mewujudkan ambisinya mengumpulkan pasukan serta melakukan
pemberontakan."
"Tapi bila kita bertiga ingin mencampuri urusan ini, kemungkinan
besar kita pun akan tewas secara mengerikan di ujung pedang iblis
Thio Kim-ciok."
"Apabila kita bisa bekerja sama dengan Tio Tian-seng sekalian, aku
pikir kita masih mampu melawan Thio Kim-ciok," kata Bong Thian-gak
dengan suara dalam.
Thay-kun segera tersenyum.
"Bila ingin menandingi Thio Kim-ciok, kita butuh bantuan dari
orang-orang berkepandaian silat macam Tio Tian-seng sebanyak
enam-tujuh orang. Dengan himpunan kekuatan sebesar ini, Thio
Kim-ciok baru bisa ditanggulangi."
"Sekarang dengan kekuatan kita bertiga, ditambah Tio Tian-seng atau
sastrawan berwajah tampan, berarti kita masih kekurangan tenaga satu
dua orang lagi. Apakah kita pun harus bekerja sama dengan Ho
Lan-hiang?"
"Kebusukan dan kesesatan Ho Lan-hiang rasanya tidak kalah dengan
kejahatan Thio Kim-ciok," kata Bong Thian-gak dingin.
"Benar," sambil tersenyum Thay-kun manggut-manggut. "Bukan hanya
Thio Kim-ciok seorang dalam persilatan ini yang bisa mendatangkan
bencana dan kemusnahan bagi umat persilatan. Itulah sebabnya kita
wajib memberi kesempatan kepada Thio Kim-ciok untuk membantai habis
manusia-manusia seperti Hek-mo-ong dan Ho Lan-hiang sekalian."
"Tetapi orang kedua yang akan dibunuh Thio
Kim-ciok adalah Liong Oh-im bukan Hek-mo-ong atau Ho Lan-hiang
seperti yang kau maksudkan."
"Di sinilah kecerdikan serta perhitungan Thio Kim-ciok yang hebat,
dia memang sengaja menjadikan sastrawan berwajah tampan menjadi
korbannya yang kedua, karena dia kuatir Liong Oh-im akan bekerja
sama dengan orang lain."
"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Thay-kun termenung sebentar, kemudian katanya, "Gak-suheng, menurut
pendapatku, lebih baik kita mengundurkan diri saja dari keramaian
dunia persilatan."
Lalu ia memandang sekejap ke arah Song
Leng-hui, terusnya lebih jauh, "Kini adik Hui sudah berbadan dua.
Andaikata Suheng mengalami sesuatu yang tak diinginkan, bagaimana
pula dengan nasib adik Hui?"
Bong Thian-gak terperanjat sekali, tapi sebelum ia sempat berkata,
terdengar Song Leng-hui berkata pula, "Enci Thay-kun, setiap kali
Thio Kim-ciok membinasakan satu orang, sama artinya dengan akulah
yang melakukan pembunuhan itu. Bagaimana pun juga aku harus membuat
Thio Kim-ciok mati atau paling tidak tubuhnya cacat."
"Aku harus berbuat demikian, sebab dengan begitu hati nurani baru
merasa tenteram."
"Ucapan adik Hui memang benar," sambung Bong Thian-gak pula.
"Biarpun tubuh kita hancur-lebur, kita mesti berupaya membinasakan
Thio Kim-ciok."
Mendengar perkataan itu, Thay-kun segera
menghela napas panjang, "Ai, kalau begitu mari kita cepat pergi dari
sini!"
"Kita harus pergi kemana?" tanya Bong Thian-gak dengan wajah
tertegun.
"Pergi mencari Tio Tian-seng."
"Tapi kemanakah kita harus mencarinya?"
"Dunia begini luas, tentu saja harus mencarinya di empat penjuru!"
Saat ini Bong Thian-gak sendiri tak tahu dimana Tio Tian-seng
berada. Oleh sebab itu mereka mengambil jalan menuju ke timur.
Tiga-empat hari sudah lewat, perjalanan cepat ditempuh tiada
hentinya, penyelidikan dilakukan di sana-sini, akan tetapi Bong
Thian-gak sekalian belum berhasil juga menemukan jejak Tio Tian-seng
sekalian. Orang-orang itu bagaikan batu yang tenggelam di tengah
samudra, hilang lenyap begitu saja.
Hari ini Bong Thian-gak mengajak kedua nona
Itu menginap di sebuah rumah penginapan.
Sambil bermuram-durja Bong Thian-gak duduk termenung di bawah lampu.
Tiba-tiba Thay-kun dan Song Leng-hui muncul dalam ruangan, Bong
Thian-gak segera berpaling dan memandang sekejap, ujarnya sambil
menghela napas, "Satu hari kembali sudah lewat!"
"Suheng," tiba-tiba Thay-kun berkata dengan penuh rahasia, "bila
dugaanku tidak keliru, tengah malam nanti kita akan mendapat kabar."
"Sumoay, kalau begitu kalian tidurlah cepat," seru Bong Thian-gak
sambil menghembuskan napas panjang.
"Engkoh Gak," kata Song Leng-hui pula dengan suara lembut, "tengah
hari tadi enci Thay-kun telah menemukan tanda-tanda yang
mencurigakan, agaknya gerak-gerik kita sudah diikuti orang selama
dua hari lebih."
Bong Thian-gak kelihatan terperanjat
sekali, serunya kaget, "Ada orang menguntit kita? Mengapa aku tidak
merasa sama sekail?"
"Tampaknya orang yang mengikuti kita punya gerak gerik yang lihai
dan luar biasa," Thay-kun menerangkan. "Padahal aku sendiri pun
hanya berhasil menemukan tanda-tanda rahasia yang ditinggalkan
olehnya setiap kali dia menguntit kita sampai di suatu tempat,
sementara bayangan tubuhnya sendiri tidak kutemukan sama sekali."
Ketika mendengar ucapan itu. Bong Thian-gak segera berseru,
"Thay-kun, apakah tanda yang kau maksudkan itu adalah kupu-kupu
warna putih?"
"Benar, memang kupu-kupu putih. Masih ingatkah Suheng bahwa di
setiap sudut dinding rumah penginapan yang kita tempati ini selalu
terdapat lukisan kupu-kupu yang dibuat dengan kapur?"
"Tapi siapakah yang menggunakan lambang kupu-kupu putih?" seru Bong
Thian-gak.
Dengan cepat Thay-kun menggeleng kepala,
katanya, "Siapakah si kupu-kupu putih itu sampai sekarang belum
kuketahui, tapi aku percaya si kupu-kupu putih ini pastilah orang
yang dikirim oleh salah satu di antara sepuluh tokoh persilatan
untuk menghubungi kita."
"Darimana Sumoay bisa berkata seyakin ini?" seru Bong Thian-gak
dengan kening berkerut.
"Sebab selama beberapa hari terakhir ini, kita selalu berusaha
mencari berita Tio Tian-seng, Gi Jian-cau serta Liong Oh-im
sekalian. Bisa jadi berita ini pun sudah terdengar oleh Tio
Tian-seng sekalian, karena mereka ingin membuktikan apakah berita
itu benar atau tidak, maka dikirimnya seseorang untuk menguntit
kita."
Bong Thian-gak menggeleng, katanya,
"Sumoay, perkataanmu makin membingungkan. Kalau Tio Tian-seng
sekalian sudah tahu kita sedang mencari jejaknya, mengapa mereka
tidak secara langsung menampakkan diri serta bertemu dengan kita?"
"Karena Tio Tian-seng sekalian tetap kuatir kita menjadi antek Thio
Kim-ciok."
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak baru mengerti, segera
serunya, "Ya benar, Tio Tian-seng sekalian pasti akan mencurigai hal
ini."
Dengan wajah murung dan masgul, Thay-kun segera berkata lebih jauh,
"Dan aku yakin pada saat ini pun Thio Kim-ciok berusaha keras
menemukan Tio Tian-seng sekalian."
Bong Thian-gak menjadi terkejut, serunya kemudian, "Andaikata Thio
Kim-ciok menguntit di belakang kita, bukankah urusan akan bertambah
runyam?"
"Ya, benar, andaikata hal ini sampai terjadi, maka kita telah
menjadi pembantu Thio Kim-ciok."
"Ai, semoga saja persoalan ini tidak sampai berkembang menjadi
semacam itu."
Thay-kun segera memandang sekejap keadaan
cuaca di luar jendela, kemudian katanya lagi, "Kentongan ketiga
sudah hampir tiba, aku rasa si kupu-kupu putih segera akan
menampakkan diri untuk berhubungan dengan kita."
"Benarkah si kupu-kupu putih akan muncul?"
"Bagi umat persilatan yang seringkah melakukan perjalanan, berlaku
suatu peraturan di antara mereka, yaitu bila dia sedang menguntit
seseorang untuk menyelidiki apakah dia teman sealiran, maka orang
itu pasti akan melakukan pengintaian selama tiga hari tiga malam
sebelum menampakkan dirinya dan seandainya orang itu adalah musuh
yang dicari, setelah penguntitan itu dia baru akan turun tangan."
Baru saja Thay-kun bicara sampai di situ,
mendadak dari luar ruangan bergema suara langkah kaki manusia,
disusul seseorang mengetuk pintu sambil menyapa, "Bong-siangkong,
apakah kau sudah tidur?"
"Siapa?" tegur Bong Thian-gak sesudah tertegun sejenak.
"Pelayan," sahut orang yang berada di luar.
Sebelum Bong Thian-gak sempat menjawab, Thay-kun telah berseru
dengan cepat, "Ada urusan apa? Cepat masuk."
Pintu itu memang tak dikunci, maka sesosok bayangan orang segera
bekelebat masuk ke dalam ruangan, dia adalah seorang lelaki
berdandan pelayan.
Bong Thian-gak sekalian sebagai jago lihai memiliki ketajaman mata
luar biasa, di saat lelaki itu menyelinap masuk ke dalam tadi,
mereka sudah dapat melihat bahwa orang ini bukan seorang pelayan
yang sebenarnya.
Dia seorang lelaki kekar yang amat cekatan
sekali, begitu masuk ke dalam ruangan, sambil menjura segera
katanya, "Harap Bong-siangkong sudi memaafkan, hamba bernama Tan
Long."
"Tan-heng, ada urusan apa kau datang berkunjung di tengah malam buta
begini?" pelan-pelan Bong Thian-gak bertanya.
Dengan sorot matanya yang tajam. Tan Long memandang sekejap ke arah
Thay-kun serta Song Leng-hui, kemudian sahutnya, "Kalau tak ada
urusan penting tentu tidak akan berkunjung ke kuil Sam-po-tian. Aku
mendapat titipan dari seseorang untuk mengundang kalian bertiga
menjumpainya."
"Tolong tanya, Tan-cuangsu dapat titipan dari siapa?" tanya Thay-kun
sambil tersenyum.
Menurut perkiraan Bong Thian-gak bertiga semula, Tan Long bukan lain
adalah orang yang meninggalkan tanda kupu-kupu di atas dinding
ruangan. Tapi sekarang tampaknya di belakang layar masih terdapat
seorang yang lain.
Lalu siapakah manusia yang bernama kupu-kupu putih itu?
Ada urusan apa si kupu-kupu putih mencarinya?
Sambil tertawa Thay-kun berkata, "Dapatkah Tan-cuangsu mempersilakan
si kupu-kupu putih yang datang kemari?"
Pada wajah Tan Long segera muncul perasaan
serba susah, sahutnya. "Berhubung gerak-gerik si kupu-kupu putih
kurang leluasa, maka tolong kalian bertiga saja yang datang ke
sana."
"Apakah kita akan berangkat sekarang juga?" tanya Thay-kun.
"Ya, lebih cepat memang lebih baik."
"Kalau memang begitu, harap Tan-cuangsu segera mengajak kita ke
sana!"
Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song
Leng-hui segera mengikuti lelaki yang mengaku bernama Tan Long ini
meninggalkan rumah penginapan, mereka berempat menuju keluar kota
dan menempuh perjalanan cepat selama lebih kurang setengah jam.
Tiba-tiba Tan Long menghentikan langkah.
Dengan heran Bong Thian-gak bertanya, "Sudah sampaikah, Tan-heng?"
Dengan cekatan Thay-kun melayangkan pandangannya sekejap
memperhatikan sekeliling tempat itu. Rupanya tempat itu merupakan
tanah hutan yang sepi dan penuh semak-belukar liar, tak nampak
setitik cahaya lentera pun.
Dia mengernyitkan alis sambil berpaling memperhatikan wajah Tan Long
dengan seksama.
Sementara itu Tan Long memperlihatkan rasa kaget bercampur heran,
lalu bisiknya, "Aduh celaka, kita telah dikejar orang."
"Darimana kau bisa tahu?" tanya Bong Thian-gak setelah tertegun
sejenak.
Rupanya sejak mereka meninggalkan rumah
penginapan hingga kini, Bong Thian-gak bertiga sama sekali tidak
merasakan kalau ada orang yang sedang menguntit jejak mereka.
Dengan suara dalam Tan Long berkata, "Benar, kita telah dikejar dan
diawasi, si penguntit mempunyai gerak-gerik yang amat rahasia dan
secepat bayangan iblis. Tadi pihak lawan berhenti di balik kegelapan
di tepi jalan sana, namun dalam sekejap mata bayangan itu sudah
lenyap."
"Tan-heng, mungkin syarafmu sudah terganggu," jengek Bong Thian-gak
sambil tertawa dingin.
Seraya berkata, pemuda itu segera berjalan menuju ke arah pohon di
hadapannya itu.
Mendadak terdengar Bong Thian-gak menjerit kaget, secepat kilat
tubuhnya menerjang ke arah tempat gelap itu.
Thay-kun serta Song Leng-hui bergerak pula
mengejaran dari belakang, seru mereka hampir bersamaan, "Apa yang
telah ditemukan?"
Tapi dengan cepat kedua nona itu sudah melihat di bawah pohon besar
itu tergantung sesosok mayat.
Mayat itu menyeramkan sekali, dia mati dengan mata melotot dan lidah
melelet keluar, sangat mengerikan sekali tampangnya.
Akan tetapi setelah menyaksikan raut wajah orang itu, Bong
Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui segera menjerit kaget sambil
mundur tiga langkah dengan perasaan ngeri.
Yang membuat mereka kaget bukanlah tampang sang korban yang
menyeramkan, melainkan wajah mayat itu.
Dengan suara gemetar Bong Thian-gak segera
berseru, "Sungguh tak nyana secepat ini Liong Oh-im menemui
ajalnya."
Biarpun berada dalam kegelapan, namun dengan ketajaman mata beberapa
orang itu, mereka masih dapat melihat dengan jelas tampang sang
korban.
Memang tak salah, mayat yang mati digantung ini bukan lain adalah
sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im.
Sebagaimana diketahui, Thio Kim-ciok pernah berkata bahwa orang yang
akan menjadi korban kedua adalah Liong Oh-im dan satu hal yang
mengerikan adalah Liong Oh-im memang menemui ajalnya dalam waktu
singkat.
Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai,
kini Liong Oh-im telah mati. Entah siapakah yang akan menjadi korban
berikutnya dari pedang manusia cacat Thio Kim-ciok?"
Mendadak terdengar Thay-kun berseru tertahan, lalu dengan langkah
cepat berjalan mendekati mayat yang tergantung itu. Kemudian setelah
diperiksa beberapa saat, dia berseru, "Liong Oh-im bukan tewas di
tangan Thio Kim-ciok."
"Lalu tewas di tangan siapa?" tanya Bong Thian-gak tertegun.
Dengan wajah serius Thay-kun berkata, "Rasa benci Thio Kim-ciok
terhadap sepuluh tokoh persilatan boleh dibilang merasuk ke tulang
sumsum. Dari sikap Thio Kim-ciok ketika membantai Tan Sam-cing
sedemikian kejinya, bisa diduga Liong Oh-im tak akan mampus dengan
tubuh utuh. Oleh sebab itu dapat disimpulkan kalau kematian Liong
Oh-im bukan disebabkan pedang manusia cacat Thio Kim-ciok."
Seperti memahami akan sesuatu, Bong
Thian-gak segera berpikir, "Ya, benar juga! Dari luka yang
menyebabkan kematian Liong Oh-im, dimana wajahnya hitam gelap dan
tidak ditemukan luka luar yang mematikan, jelas kematiannya
dikarenakan terjerat seutas kawat baja yang kuat pada lehernya. Tapi
siapakah yang memiliki kemampuan sehebat ini sehingga dalam sekali
gerakan saja berhasil menggantungnya sampai mati?"
Thay-kun memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, setelah itu
tanyanya, "Suheng, dapatkah kau ketahui apa yang menyebabkan
kematiannya?"
Bong Thian-gak menggeleng kepala.
"Pada hakikatnya aku tak berani percaya kalau kematian Liong Oh-im
disebabkan jeratan kawat baja di lehernya itu. Ilmu silat yang
dimiliki Liong Oh-im sangat hebat dan dia bukan seorang jago silat
biasa yang mudah dirobohkan begitu saja. Siapakah yang mempunyai
kemampuan sehebat ini untuk menjerat lehernya serta menggantungnya
sampai mati?"
Thay-kun menggeleng pula, katanya, "Luka yang menyebabkan kematian
Liong Oh-im bukan jeratan kawat baja pada lehernya itu, tetapi
karena serangan sejenis racun yang amat dahsyat daya kerjanya, dia
mati karena keracunan. Liong Oh-im baru digantung setelah dia putus
nyawa."
Bong Thian-gak nampak ragu-ragu, kemudian
dia maju mendekat dan bermaksud membopong jenazah itu serta
memeriksanya dengan lebih seksama.
Mendadak ia mendengar Thay-kun berseru dari belakang tubuhnya,
"Suheng, jangan kau sentuh mayat itu."
Dengan terkesiap Bong Thian-gak segera menarik tangannya, lalu
bertanya, "Mengapa?"
"Seluruh tubuh Liong Oh-im telah ternoda oleh racun yang maha keji,
bila kita menyentuh tubuhnya dengan tangan atau menyentuh salah satu
bagian pakaian yang dikenakan, niscaya kita pun akan keracunan
juga."
Bong Thian-gak mengamati wajah Thay-kun lekat-lekat, lalu tanyanya,
"Apakah kita biarkan mayat itu diterjang air hujan dan dikeringkan
panasnya matahari?"
"Kita kan bisa memutus kawat penggantung itu dengan pedang, lalu
mengubur jenazahnya tanpa menyentuh badan atau pakaiannya."
Mendadak Bong Thian-gak berpaling, lalu berseru tertahan, "Mana Tan
Long?"
Ternyata Tan Long yang semula berdiri di belakang mereka kini sudah
lenyap, entah sejak kapan dia telah pergi meninggalkan tempat itu?
Thay-kun dan Song Leng-hui merasa heran juga atas kepergian Tan Long
yang tanpa pamit itu.
Thay-kun yang cekatan dan banyak curiga
segera teringat akan satu hal, cepat dia berseru, "Suheng,
kemungkinan besar kita telah terperangkap oleh siasat lawan. Mulai
sekarang kita harus meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi segala
kemungkinan."
Belum selesai perkataan itu diutarakan, Bong Thian-gak telah
berteriak kaget lagi, "Mayat tergantung! Di atas pohon itupun
terdapat sesosok mayat yang mati tergantung."
Rupanya di atas sebatang pohon Pek-yang yang tinggi, tampak pula
sesosok mayat yang mati tergantung, mayat itu masih bergoyang kian
kemari karena terhembus angin.
Song Leng-hui berteriak pula keheranan, "Ketika kita masih berada di
sana tadi, mengapa tak nampak mayat itu?"
Di saat Bong Thian-gak, Tan Long, Thay-kun
dan Song Leng-hui berempat berhenti di pohon Pek-yang tadi, di situ
mereka tidak melihat ada mayat yang mati tergantung.
Paras muka Thay-kun segera berubah hebat, tiba-tiba dia berseru,
"Aduh celaka, jangan-jangan mayat yang mati tergantung itu adalah
Tan Long? Mulai sekarang kita bertiga tak boleh berpisah lagi."
Seraya berkata, pelan-pelan dia berjalan ke muka mendekati pohon
Pek-yang dimana mayat itu tergantung.
Bong Thian-gak serta Song Leng-hui tidak percaya kalau mayat yang
tergantung di atas pohon itu adalah mayat Tan Long, tanpa terasa
mereka berjalan menuju ke depan.
Namun ketika sorot mata mereka yang tajam dapat menangkap raut wajah
mayat yang tergantung itu, tanpa sadar ketiga orang itu mundur
beberapa langkah dengan wajah pucat dan peluh dingin bercucuran
dengan derasnya, rasa seram dan ngeri segera menyelimuti perasaan
mereka.
Ternyata tak salah lagi dugaan Thay-kun, mayat yang mati tergantung
di atas pohon Pek-yang itu adalah Tan Long.
Seperti juga keadaan Liong Oh-im, Tan Long mati dengan leher
terjerat seutas kawat baja yang sangat kuat, wajahnya hitam pekat,
lidahnya melelet dan matanya melotot besar.
Di saat mereka tak nampak Tan Long berada di situ tadi, sebenarnya
Bong Thian-gak bertiga menyangka Tan Long telah pergi meninggalkan
mereka atau mungkin juga mempunyai suatu rencana tertentu terhadap
mereka bertiga.
Mimpi pun mereka tidak mengira kalau dalam
waktu begitu singkat Tan Long telah dibunuh orang tanpa menimbulkan
sedikit suara pun, bahkan mayatnya digantung di atas pohon Pek-yang.
Cara membunuh yang begitu cepat, kejam dan misterius ini benar benar
merupakan kejadian yang luar biasa.
Sekalipun Bong Thian-gak bertiga masih belum begitu jelas mengetahui
asal-usul Tan Long, tapi mereka tahu bahwa Tan Long adalah seorang
lelaki cekatan serta pintar, ilmu silatnya pun tidak lemah.
Tapi kenyataan dia dibunuh secara begitu mudah tanpa sempat
menimbulkan sedikit suara pun.
Pembunuhnya sudah pasti seorang berhati kejam, buas dan tak
berperasaan.
Tapi siapakah orang itu?
Bong Thian-gak bertiga segera menjadi
tegang. Dengan kesiap-siagaan penuh mereka memperhatikan situasi di
sekeliling situ dengan seksama, mereka mempersiapkan diri menghadapi
segala kemungkinan.
Mereka sadar bahwa pembunuh keji itu belum pergi terlalu jauh, dia
pasti berada di sekeliling tempat itu sambil menunggu kesempatan
baik untuk turun tangan keji terhadap mereka bertiga.
Dan Bong Thian-gak bertiga pun sadar bahwa mereka tidak mempunyai
pegangan serta keyakinan untuk bisa mempertahankan diri dari
serangan maut si pembunuh itu.
Suasana di sekitar tempat itu terasa amat hening, sepi, sedemikian
seramnya hingga mendatangkan suasana ngeri bagi siapa pun.
Makin lama waktu berlalu, situasi pun
terasa makin gawat dan tegang.
Akhirnya Bong Thian-gak tak dapat menahan diri lagi, tiba-tiba ia
berpekik nyaring, lalu bentaknya, "He pembunuh, dimanakah kau? Ayo
cepat keluar dan bertarung tiga ratus gebrakan denganku."
Bentakan Bong Thian-gak itu diutarakan seperti orang gila saja,
suaranya begitu keras mengalun di angkasa dan mendengung tiada
hentinya.
"He pembunuh, kenapa belum juga muncul? Kalau memang bernyali, cepat
keluar. Jian-ciat-suseng menunggu kedatanganmu."
Bersamaan dengan menggemanya bentakan ini, mendadak dari balik
kegelapan di antara pepohonan muncul sesosok bayangan hitam,
meluncur datang dengan cepat.
Bayangan hitam itu berkelebat dan langsung menerjang tubuh Bong
Thian-gak.
Waktu itu kendati Bong Thian-gak merasa sangat kesal dan setengah
kalap, namun ilmu silatnya memang tak bisa dianggap remeh. Dengan
suatu kesiap-siagaan yang tinggi, telapak tangan tunggalnya segera
melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan.
Thay-kun serta Song Leng-hui tidak berpeluk tangan,
Soh-li-jian-yang-sin-kang serta Tay-gi-khi-kang yang dahsyat
serentak dilontarkan pula ke arah bayangan iblis itu dari sisi kiri
dan kanan.
Tiga orang dengan tiga macam ilmu sakti
serentak menggulung ke muka menciptakan suatu kekuatan dahsyat yang
tak terlawankan.
Di tengah benturan yang memekakkan telinga, hawa murni memancar
keempat penjuru menciptakan pusaran angin berpusing yang amat hebat,
desingan tajam menderu-deru, pasir dan debu beterbangan ke angkasa,
tampak bayangan iblis itu melayang turun.
Menyusul terdengar seorang dengan suara dingin menyeramkan seperti
hembusan salju yang membekukan hati bergema di angkasa, "Himpunan
tiga ilmu sakti yang amat dahsyat, nyatanya serangan gabungan kalian
telah mematahkan ancaman maut dari tengkorak pembunuhku!"
Di bawah sinar bintang yang redup, tampak seorang berbaju hitam
mengenakan topeng tengkorak telah berdiri di hadapan mereka.
Ujung baju sebelah kanannya tampak kosong dan berkibar ketika
terhembus angin, sepasang matanya bersinar tajam bagaikan cahaya
hijau mata setan yang begitu tajam, buas, sesat sehingga
mendatangkan perasaan ngeri bagi siapa pun yang memandangnya.
Setelah berhasil mengendalikan gejolak perasaannya. Bong Thian-gak
berbisik lirih, "Hek-mo-ong, kau adalah raja iblis hitam!"
Walaupun selama ini nama besar Hek-mo-ong
atau si raja iblis hitam ini sudah menggetarkan perasaan setiap
orang dan kehadirannya selalu mencekam perasaan hati siapa pun,
namun selama ini Bong Thian-gak bertiga belum pernah bertemu
langsung wajah aslinya.
Biarpun Bong Thian-gak sekalian sudah mempunyai dugaan yang
meyakinkan atas asal-usul serta identitas yang sebenarnya dari
Hek-mo-ong, yaitu Liu Khi, tapi siapakah dia sebenarnya hingga kini
belum pernah memperoleh jawaban secara nyata.
Oleh sebab itu dengan cepat Bong Thian-gak membentak, "Benarkah kau
adalah Liu Khi?"
Hek-mo-ong segera memperdengarkan dengusan
dingin serta suara tawanya yang mendirikan bulu roma, pelan-pelan
dia mengangkat lengan kirinya, kemudian melepas topeng tengkorak
yang dikenakan di atas wajahnya.
Wajah asli Hek-mo-ong pun akhirnya muncul juga.
"Ah! Ternyata kau memang Liu Khi!"
Hampir bersamaan Bong Thian-gak, Thay-kun sertu Song Leng-hui
berpekik keras.
Dan dengan demikian teka-teki sekitar identitas Hek-mo ong yang
sebenarnya pun terungkap.
Dalam keadaan demikian Bong Thian-gak malah sama sekali tidak merasa
ngeri ataupun terperanjat.
Thay-kun segera berkata sambil tertawa,
"Ternyata dugaan kami memang tidak meleset. Nyatanya kau memang Liu
Khi! Tapi satu hal yang tidak kupahami, apa sebabnya kau membantu
Thio Kim-ciok membunuh orang?"
"Thio Kim-ciok membunuh sepuluh tokoh persilatan karena ingin
membalas dendam, sedang aku pun bertekad membunuh mereka," kata
Hek-mo-ong dengan suara dalam dan pelan.
"Disebabkan dendam kesumat?"
"Bukan dendam kesumat, melainkan karena harta kekayaan."
"Apakah dikarenakan tambang emas itu?" tanya Thay-kun.
"Benar, setiap orang yang mengetahui rahasia tentang tambang emas
itu harus mati."
"Tapi kau tahu juga bahwa Thio Kim-ciok tak akan melepaskan dirimu?"
"Asal kubunuh seorang lebih banyak di antara sepuluh tokoh
persilatan, berarti sebagian kekuatan yang akan memperebutkan harta
kekayaan itu berkurang."
Dari pembicaraan yang baru berlangsung,
terungkaplah sudah semua rencana busuk Hek-mo-ong.
Kalau begitu Hek-mo-ong dan Thio Kim-ciok sebetulnya sudah bekerja
sama untuk saling mengisi kekurangan masing-masing.
Seorang Thio Kim-ciok saja sudah memusingkan kepala dan susah
dihadapi, apalagi ditambah dengan seorang Hek-mo-ong sekarang.
Nampaknya sepuluh tokoh persilatan sudah tiada harapan lagi untuk
meloloskan diri dari bencana itu.
Thay-kun segera berkata, "Walaupun kau membantu Thio Kim-ciok
membasmi semua musuh-musuh besarnya, tapi pada akhirnya kau sendiri
pun akan dilenyapkan Thio Kim-ciok dari muka bumi."
"Thio Kim-ciok adaiah seorang yang berwatak aneh, sombong, takabur
dan selama hidup tak punya teman. Sebaliknya aku orangnya baik, suka
membantu orang dan banyak sahabat persilatan yang merupakan sobat
lamaku. Aku akan hidup sepanjang masa dengan aman dan damai."
Thay-kun tersenyum.
"Hingga sekarang, sudah berapa orang di antara sepuluh tokoh
persilatan yang kau bunuh?"
"Hanya Liong Oh-im seorang."
"Mengapa kau pun membunuh Tan Long?"
"Untuk menghalangi usahanya mengajak kalian pergi menemui si
kupu-kupu putih."
"Siapakah si kupu-kupu putih itu?" tanya Bong Thian-gak dengan
terperanjat.
Hek-mo-ong cuma tertawa seram tanpa menjawab pertanyaan itu.
Thay-kun segera berkata pula, "Jadi tindakan yang kau lakukan malam
ini hanya bermaksud mencegah kami pergi menemui si kupu-kupu putih?"
Kata Hek-mo-ong sambil tertawa dingin, "Andaikata aku tak dapat
memanfaatkan tenaga kalian, maka akan kubunuh kalian bertiga
daripada meninggalkan bibit bencana di kemudian hari."
Bong Thian-gak segera mendengus dingin,
bentaknya, "Liu Khi, sepanjang hidupmu sudah banyak kejahatan yang
kau lakukan. Pembunuhan demi pembunuhan kau lakukan tanpa perasaan,
dosamu sudah menumpuk. Andaikata kami bebaskan dirimu pada hari ini,
percuma hidup kami di dunia ini, nah, bersiaplah kau menerima
kematian!"
Hek-mo-ong tertawa seram.
"Aku justru menerima bakat alam dari Yang Kuasa untuk membunuh
orang. Sepanjang hidupku hanya membunuh oranglah pekerjaan yang
kulakukan dan belum pernah dibunuh orang lain. Jika kau tak percaya
dengan perkataanku ini, silakan saja untuk dicoba."
"Tunggu sebentar!" mendadak Thay-kun
berseru.
Dengan cepat dia menggeser tubuhnya menghadang di depan Bong
Thian-gak, setelah itu sambungnya, "Dapatkah kau memberi keterangan
kepada kami, sebenarnya macam apakah si kupu-kupu putih itu?
Sebetulnya si kupu-kupu putih itu lelaki ataukah perempuan?"
"Dia adalah seorang wanita. Orang itu she Pek bernama Hu-tiap, jadi
namanya persis seperti julukannya. Berusia kira-kira lima puluh lima
tahun."
"Hm, keteranganmu cukup jelas," Thay-kun tersenyum, "tapi menurut
apa yang kuketahui, dalam dunia persilatan tidak terdapat manusia
yang bernama si kupu-kupu putih."
"Benar, di dunia persilatan memang tidak terdapat manusia bernama
kupu-kupu putih," ucap Hek-mo-ong sambil tertawa dingin, "Tapi
sepuluh tokoh persilatan serta Thio Kim-ciok mengetahui secara pasti
siapakah perempuan yang bernama kupu-kupu putih itu."
"Terutama sekali Thio Kim-ciok, di kala ia mendengar nama si
kupu-kupu putih disebut orang, bulu kuduknya akan berdiri."
Perkataan Hek-mo-ong ini kembali membuat
perasaan semua orang bergetar keras.
Thay-kun mengerut dahi, lalu berkata, "Apa sebabnya?"
Tiba-tiba Hek-mo-ong menarik muka, lalu dengan suara dalam ia
berkata, "Pada tiga puluh tahun lalu, Thio Kim-ciok telah melakukan
pembunuhan berdarah yang sangat mengerikan. Yang menjadi korban
pembunuhan adalah istri pertamanya."
"Kalau begitu si kupu-kupu putih adalah istri tua Thio Kim-ciok?"
tanya Thay-kun terkejut.
"Ya, istri tua Thio Kim-ciok memang bernama Pek Hu-tiap!"
Sesungguhnya nama Pek Hu-tiap atau
kupu-kupu putih itu terasa sangat asing bagi pendengaran Bong
Thian-gak sekalian, tapi setelah memperoleh penjelasan dari
Hek-mo-ong, mereka pun bisa menarik kesimpulan.
Thay-kun berkata, "Benar-benar tak dinyana Thio Kim-ciok telah
mencelakai istri sendiri. Peristiwa itu sungguh menggidikkan."
Hek-mo-ong tertawa dingin, "Thio Kim-ciok memang berwatak kejam,
buas dan tak berperi-kemanusiaan, dia membunuh orang tanpa berkedip.
Baginya membunuh seorang tak berarti apa-apa, namun di saat dia
membunuh istrinya dulu, pembunuhan itu baru dilakukan untuk pertama
kalinya. Oleh sebab itu dalam perasaan Thio Kim-ciok, peristiwa itu
merupakan kejadian yang menyeramkan."
"Dapatkah kau menceritakan secara ringkas bagaimana jalannya
peristiwa sampai Thio Kim-ciok membunuh istrinya sendiri?"
"Suatu malam pada tiga puluh tahun
berselang, di saat Thio Kim-ciok sedang terbuai dan terpikat oleh
kecantikan Ho Lan-hiang, secara keji dia telah membunuh istrinya
yang sah, Pek Hu-tiap."
"Padahal saat itu Pek Hu-tiap sedang berbadan dua. Dalam keadaan
perut besar, secara keji Thio Kim-ciok telah memotong keempat
anggota badan Pek Hu-tiap. Tak heran tubuh Pek Hu-tiap bermandikan
darah, tubuhnya menjadi seperti sebuah bola besar yang
bergelindingan di atas tanah sambil merengek-rengek minta ampun pada
Thio Kim-ciok serta memberi jalan kehidupan kepadanya, ia berjanji
akan menghabisi nyawa sendiri setelah putranya dilahirkan nanti."
"Apakah Thio Kim-ciok tak memberi jalan kehidupan kepadanya?" tanpa
terasa Thay-kun bertanya.
"Tidak! Thio Kim-ciok malah mengayunkan pedangnya langsung menusuk
dada istrinya yang malang."
"Bagaimana kemudian?" tanya Thay-kun lagi dengan gelisah.
"Inilah kisah pembunuhan yang dilakukan olehnya terhadap Pek
Hu-tiap. Bagaimana selanjutnya, darimana aku bisa tahu?"
"Apakah ceritamu itu kenyataan?" tanya Bong Thian-gak penuh emosi.
"Bila kurang percaya, silakan kalian tanyakan persoalan ini kepada
Thio Kim-ciok," sahut Hek-mo-ong dengan suara dingin tanpa perasaan.
"Kalau memang begitu, apa sebabnya kau
menghalangi usaha kami menjumpai Pek Hu-tiap?"
"Demi kepentinganku sendiri, terpaksa aku berbuat demikian."
Thay-kun segera tertawa merdu, tanyanya tiba-tiba, "Benarkah Pek
Hu-tiap masih hidup?"
"Tentu saja Pek Hu-tiap masih hidup."
"Sekalipun Pek Hu-tiap masih hidup di dunia ini, tapi setelah
keempat anggota badannya dikutungi oleh Thio Kim-ciok tempo dulu,
berarti dia sudah menjadi manusia cacat tanpa tangan dan kaki.
Bagaimana mungkin kemunculannya akan mendirikan bulu kuduk Thio
Kim-ciok?"
"Waktu dapat menciptakan seorang-biasa menjadi seorang luar biasa,
contohnya Thio Kim-ciok sendiri. Apalagi bagi Pek Hu-tiap yang
menyimpan rasa benci, dendam dan sakit hati yang meluap-luap."
"Tahukah kau dimanakah Pek Hu-tiap sekarang?" kembali Thay-kun
bertanya sambil tersenyum.
"Tentu saja tahu."
"Lantas apakah hubungan antara Tan Long dan Pek Hu-tiap?" kembali
Thay-kun bertanya.
"Dia adalah pembantu utamanya."
"Setelah kau membunuh Tan Long' apakah kau tidak kuatir Pek Hu-tiap
akan datang mencari balas terhadapmu?"
Dengan mulut membungkam dan tanpa
mengucapkan sepatah kata pun, Hek-mo-ong memandang kegelapan dengan
termangu, tiba-tiba paras mukanya berubah.
Dari balik matanya itu segera memancar hawa membunuh yang
menggidikkan. Ditatapnya Bong Thian-gak bertiga lekat-lekat,
kemudian tegurnya, "Apakah kalian bertiga melakukan pekerjaan untuk
Thio Kim-ciok?"
Bong Thian-gak mendengus dingin, "Hm, jangankan membantu dia, malah
kami sedang mencarinya dan berusaha membunuh Thio Kim-ciok dengan
tangan kami sendiri."
"Bagus sekali, kini Thio Kim-ciok telah datang. Bekerja-samalah
kalian untuk membunuhnya!"
Selesai berkata, Hek-mo-ong segera berkelebat dan lenyap di balik
pepohonan sana.
Baru saja Bong Thian-gak bermaksud
menghalangi kepergiannya, bayangan tubuh Hek-mo-ong telah lenyap
dari pandangan sehingga tak ada gunanya dia berteriak.
Sementara itu dari ujung jalan raya sana, pelan-pelan berjalan
mendekat seorang kakek berbaju biru berjenggot putih. Orang itu
memang tak lain adalah si raja iblis pembunuh manusia Thio Kim-ciok.
Pertama-tama yang ditemukan Thio Kim-ciok lebih dulu adalah mayat
Liong Oh-im.
Ia mendongakkan kepala dan memperhatikan beberapa saat jenazah itu,
kemudian baru meneruskan perjalanan serta berhenti di hadapan Bok
Thian-gak bertiga.
Kembali ia mengangkat kepala serta memperhatikan beberapa kejap
mayat Tan Long, wajahnya kelihatan hambar tanpa emosi, kemudian
tanyanya dengan hambar, "Siapakah yang telah membunuh kedua orang
ini?"
Bong Thian-gak bertiga sama sekali tidak menyangka kalau yang datang
benar-benar adalah Thio Kim-ciok. Untuk beberapa saat mereka hanya
berdiri tertegun di situ dengan wajah melongo.
Mereka baru sadar dari lamunan setelah
mendengar teguran itu. Cepat Thay-kun menyahut, "Kami pun ingin
bertanya pada Locianpwe, apakah Liong Oh-im mati di tanganmu?"
Mendapat pertanyaan yang sama, Thio Kim-ciok mendengus dingin,
serunya, "Benar-benar seorang bocah perempuan yang sangat cekatan."
Thay-kun kembali tersenyum, katanya pula, "Locianpwe pernah berkata
bahwa si sastrawan berwajah tampan akan menjadi korbanmu yang kedua.
Oleh karena itulah setelah menyaksikan kematiannya serta-merta kami
pun menduga Liong Oh-im mati di tangan Locianpwe."
Thio Kim-ciok mendesis dingin, katanya
kemudian, "Setiap hari aku membidik burung manyar, tak disangka
ternyata mataku sendiri yang terpatuk. Bila kulihat mimik wajah
kalian, sudah pasti kalian bertiga mengetahui siapakah pembunuhnya."
"Mengapa Locianpwe seyakin itu?" tanya Thay-kun sambil tertawa
misterius.
"Aku sudah mengetahui dengan jelas bahwa kalian datang kemari dengan
mengikuti korban itu," kata Thio Kim-ciok cepat.
Sembari berkata dia menuding ke arah mayat Tan Long yang masih
tergantung di atas pohon.
Thay-kun menjadi sangat terkejut, cepat dia bertanya, "Darimana
Locianpwe bisa tahu kalau kami datang kemari bersamanya?"
"Aku lihat dia sudah tiga hari tiga malam menguntit di belakang
kalian bertiga."
"Kalau begitu Locianpwe pun menguntit di belakang kami?"
"Siapa bilang aku menguntit kalian? Cuma secara kebetulan saja kita
menempuh arah perjalanan yang sama."
Tiba-tiba Thay-kun menuding ke arah jenazah Tan Long, lalu bertanya
lagi, "Apakah Locianpwe tahu asal-usulnya?"
"Apakah kalian pun mengetahui asal-usulnya?" Thio Kim-ciok balik
bertanya dengan wajah berubah.
Dengan cepat Thay-kun menggeleng kepala,
"Kami hanya tahu dln bernama Tan Long, sedangkan soal lain sama
sekali tidak kuketahui."
"Kau sedang berbohong," bentak Thio Kim-ciok dengan suara dingin.
"Selama hidup aku paling benci orang yang suka berbohong di
hadapanku!"
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas sejenak, kemudian berkata, "Kami
tak berniat membohongi Thio-locianpwe, sesungguhnya Tan Long
mengajak kami datang kemari karena ingin menjumpai seseorang."
"Menjumpai siapa?"
"Pek Hu-tiap!"
Ketika mendengar nama Pek Hu-tiap, paras
muka Thio Kim-ciok segera berubah hebat, dia menengadah dan sampai
lama sekali berdiri termangu-mangu, kemudian baru bertanya lagi,
"Kecuali persoalan ini, apalagi yang dikatakan Tan Long?"
"Tidak ada lagi," Thay-kun menggeleng. "Sebetulnya siapa Pek Hu-tiap
itu? Apakah Thio-locianpwe mengetahuinya?"
Thio Kim-ciok kelihatan rada gugup ketika dihadapkan pada pertanyaan
itu, buru-buru dia berkata, "Darimana aku bisa tahu siapakah dia?"
Secara diam-diam Thay-kun, Bong Thian-gak
serta Song Leng-hui memperhatikan perubahan mimik mukanya. Dari
sikapnya itu, mereka pun semakin percaya bahwa yang dikatakan
Hek-mo-ong tentang hubungan Thio Kim-ciok dan Pek Hu-tiap
sesungguhnya memang kenyataan.
Sementara itu Thio Kim-ciok telah mendongakkan kepala sekali lagi
mengawasi mayat Tan Long, mendadak ia tertawa dingin, lalu gumamnya,
"Aku tidak akan terjebak oleh perangkapmu. Aku sendiri pun pernah
menjadi seorang ahli dalam ilmu beracun, permainan kecil seperti itu
tidak nanti membuat diriku masuk perangkap."
Sudah jelas Thio Kim-ciok mengetahui bahwa seluruh badan Tan Long
telah disebari bubuk beracun tanpa wujud yang sangat hebat.
Thay-kun sengaja berlagak kaget, tanyanya,
"Locianpwe, apakah kedua sosok mayat itu mengandung racun keji?"
"Racun yang ditaburkan di atas mayat-mayat itu merupakan racun
Hek-si-ku dari Say-jiang. Apabila terkena tubuh seseorang, maka
dalam dua puluh empat jam darah dan dagingnya akan mengering karena
habis dihisap oleh ulat-ulat Hek-si-ku. Kedahsyatan dan kekejiannya
luar biasa."
Baik Thay-kun maupun Bong Thian-gak pernah mendengar kehebatan racun
Hek-si-ku, air muka mereka segera berubah hebat.
Setelah menghela napas panjang, Thay-kun segera berkata, " Kalau
begitu dalam dua puluh empat jam jenazah Liong Oh-im serta Tan Long
akan musnah? Ai, kematian mereka benar-benar mengenaskan!"
Mendadak Thio Kim-ciok menarik wajah,
kemudian berkata lebih lanjut, "Hek-si-ku adalah sejenis racun yang
sangat hebat. Menurut apa yang kuketahui, di dunia persilatan dewasa
ini hanya Hek-mo-ong seorang yang pandai menggunakan racun itu,
apalagi melukai orang dalam sekejap. He, aku ingin bertanya kepada
kalian, apakah kedua orang itu mati dibunuh Hek-mo-ong?"
Ketika mendengar itu, diam-diam Thay-kun berpekik memuji dalam hati,
"Nyata sekali Thio Kim-ciok memang seorang yang sangat hebat. Tak
kusangka dugaan dan tebakannya terhadap setiap masalah begitu tepat
dan jitu, agaknya aku mesti memberitahukan keadaan yang sebenarnya
kepada orang ini."
Setelah berpikir beberapa saat, tiba-tiba
ia tertawa terkekeh-kekeh, kemudian ujarnya, "Thio-locianpwe,
dugaanmu keliru besar. Sebenarnya kami tak ingin memberitahukan
keadaan yang sebenarnya kepadamu daripada mendatangkan kerugian bagi
kami sendiri."
Sampai di situ, Thay-kun sengaja menghentikan perkataannya di tengah
jalan.
Dengan tak sabar Thio Kim-ciok segera berkata, "He budak setan, kau
tak usah berputar kayun lagi. Cepat kau katakan apa yang ingin kau
utarakan."
"Sebenarnya orang yang telah membunuh Liong Oh-im serta Tan Long
adalah Pek Hu-tiap."
Paras muka Thio Kim-ciok segera berubah
hebat, bentaknya,
"Omong kosong, manusia macam apa Pek Hu-tiap yang kalian jumpai
itu?"
Sambil tersenyum Thay-kun berkata, "Pek Hu-tiap yang kami jumpai
barusan adalah seorang perempuan berkerudung yang cacat keempat
anggota tubuhnya, dia duduk di dalam tandu yang digotong oleh empat
orang lelaki kekar."
Sembari berkata, dengan sorot mata tajam Thay-kun mengamati
perubahan wajah Thio Kim-ciok.
Pada waktu itu paras muka Thio Kim-ciok
telah menjadi pucat. Dengan termangu-mangu dia mengawasi langit
dengan pandangan kosong, sementara air mukanya berubah tiada
hentinya, tak diketahui apakah merasa tegang ataukah ngeri?
Akhirnya terdengar Thio Kim-ciok bergumam seperti orang sedang
mengigau, "Benarkah dia masih hidup di dunia ini? Tapi dengan luka
yang dideritanya, ditambah pula kandungannya tergetar hingga
menyebabkan ia keguguran. Mungkinkah dia bisa hidup terus?"
Mendadak dari balik mata Thio Kim-ciok
memancar cahaya tajam, diawasinya wajah Thay-kun tanpa berkedip,
kemudian tegurnya lagi, "Benarkah apa yang kau ucapkan itu?"
"Apa yang telah kami saksikan telah kusampaikan kepadamu, buat apa
aku mesti berbohong?"
Thio Kim-ciok segera mendengus dingin, "Sudah berapa lama ia
meninggalkan tempat ini dan sekarang menuju kemana?"
"Dia berlalu setengah jam berselang dan menuju ke arah barat."
Ketika mendengar itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Thio
Kim-ciok segera menggerakkan tubuhnya menuju ke arah barat.
Memandang bayangan punggung Thio Kim-ciok yang lenyap di kejauhan,
sekulum senyuman bangga tersungging di ujung bibir Thay-kun.
Sebaliknya Bong Thian-gak segera berkata
sambil menghela napas panjang, "Kami pernah bersumpah akan
membinasakan Thio Kim-ciok serta Hek-mo-ong, tapi hari ini secara
tak diduga kedua orang raja iblis pembunuh manusia itu telah muncul
di depan kita, tapi kenyataannya kita tak mampu membunuh mereka,
sebalik membiarkan mereka bertingkah semaunya sendiri. Ai,
penghinaan semacam ini sungguh membuat perasaan orang serasa remuk."
Dengan wajah serius Thay-kun segera berseru
dengan sungguh-sungguh, "Ada keberanian tanpa akal, bukanlah seorang
lelaki. Bila kita bertindak ceroboh tanpa memikirkan resikonya, hal
ini berarti mencari kematian untuk diri sendiri."
"Apalagi untuk mencari suatu kemenangan bagi umat persilatan,
kemenangan itu belum tentu harus diraih dengan pertarungan, dari
kecerdasan otak pun kita dapat memperolehnya juga."
Baru selesai Thayrkun berbicara, mendadak dari atas sebatang pohon
di sana berkumandang suara orang bertanya dengan suara lembut dan
ramah, "Siapakah perempuan itu?"
Disusul terdengar seorang tua bersuara
rendah menyahut, "Perempuan ini bernama Thay-kun. Sejak kecil dia
dibesarkan oleh Ho Lan-hiang, tapi kini dia telah memisahkan diri
dari kelompok Ho Lan-hiang."
Bong Thian-gak sekalian menjadi amat terperanjat, sebab suara lelaki
tua serak itu seperti amat dikenal. Namun untuk sesaat lamanya
mereka justru tak dapat mengenali suara siapakah itu?
Dengan suara berat dan dalam Bong Thian-gak segera bertanya, "Siapa
di situ?"
Baru saja bentakan itu berkumandang,
tiba-tiba dari balik pohon di hadapannya muncul sebuah tandu kecil
yang digotong dua orang. Dalam waktu singkat tandu itu telah muncul
di hadapannya.
Gerakan tandu itu benar-benar cepat seperti melayang di tengah udara
saja, dalam waktu singkat telah tiba di depan mata.
Tapi saat itu juga Thay-kun maupun Bong Thian-gak sekalian telah
melihat dengan jelas tandu kecil itu.
Apa yang dilihatnya benar-benar merupakan keanehan dan kejadian yang
sukar untuk dipercaya.
Ternyata kedua orang penggotong tandu itu tak lain adalah dua orang
kakek yang telah lanjut usia.
Dan yang paling aneh lagi adalah kedua
kakek itu ternyata bukan lain adalah Tio Tian-seng serta Gi Jian-cau
yang sedang dicari-cari Bong Thian-gak sekalian selama ini.
Mula-mula Bong Thian-gak mengira matanya yang salah melihat.
Segera ia memejamkan mata, kemudian baru dibuka kembali untuk
memperhatikan dengan lebih seksama.
Apa yang terlihat di depan mata seperti sediakala, paras muka Tio
Tian-seng serta Gi Jian-cau sama sekali tidak berubah, semua
merupakan kenyataan, bukan khayalan.
Dengan perasaan kaget bercampur keheranan Thay-kun berpaling ke arah
tandu itu.
Di dalam tandu itu duduk dengan tenang
seorang perempuan, dia mengenakan baju putih lebar hingga hampir
menutupi seluruh tubuhnya dan membuat orang lain tidak dapat melihat
sepasang tangan dan kakinya.
Wajah mengenakan pula kain kerudung putih yang hampir menutupi
seluruh wajahnya, andaikata rambutnya yang panjang tidak terurai di
kedua bahunya dan orang tak mendengar suaranya, tak akan ada yang
bisa mengenali dia itu lelaki atau perempuan.
"Siapakah itu?"
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Thay-kun, dengan jelas
ia dapat menebak asal-usul manusia berbaju putih itu.
Kalau tadi dia hanya menciptakan cerita bohong untuk menipu Thio
Kim-ciok, sungguh tak disangka cerita itu kini justru telah menjadi
kenyataan.
Pek Hu-tiap, si kupu-kupu putih benar-benar naik sebuah tandu kecil.
Sementara itu Bong Thian-gak merasa gembira
setelah bertemu dengan Tio Tian-seng, segera teriaknya,
"Tio-locianpwe, kedatangan kalian memang kebetulan sekali. Boanpwe
sedang mencarimu."
Tio Tian-seng maupun Gi Jian-cau sama sekali tidak menurunkan tandu
itu, mereka tetap berdiri sambil memikul tandu kecil itu.
Pelan-pelan Tio Tian-seng berkata, "Ada urusan apa kalian mencari
diriku?"
"Tahukah Tio-pangcu, bahwa Thio Kim-ciok sedang mencari jejakmu?"
Paras muka Tio Tian-seng segera berubah serius, sahutnya, "Kami pun
sedang mencari jejak Thio Kim-ciok."
Bong Thian-gak segera menghela napas sedih, katanya kemudian dengan
suara lirih, "Tan Sam-cing telah mengalami musibah secara tragis."
"Liong Oh-im juga telah pulang ke alam baka," sambung Tio Tian-seng.
"Tapi Liong Oh-im bukan..”
Belum Bong Thian-gak selesai bicara,
tiba-tiba terdengar Thay-kun tertawa merdu dan menukas, "Tio-pangcu,
Thio Kim-ciok sudah mengumbar watak kejamnya dengan melakukan
kejahatan yang sama sekali tidak berperi-kemanusiaan."
"Apabila sehari ia tetap hidup di dunia ini, berarti masyarakat akan
menderita pula. Entah bagaimanakah rencana Tio-pangcu dalam usaha
melenyapkan iblis ini dari muka bumi?"
Dengan suara dalam, Tio Tian-seng segera
berkata, "Dosa serta kesalahan yang dilakukan Thio Kim-ciok sudah
melebihi batas. Semua jago telah dibuat marah oleh perbuatannya dan
kini segenap umat persilatan telah bangkit menentangnya. Apakah
kalian tak merasa bahwa daerah sekitar tempat ini telah memancarkan
suasana aneh?"
Bong Thian-gak mencoba mengamati sejenak suasana di sekitar sana,
lalu sahutnya, "Ya benar, apa yang kami saksikan malam ini rasanya
memang sedikit di luar dugaan."
"Segenap umat persilatan telah berencana membinasakan Thio Kim-ciok
di tempat ini pada kentongan kelima nanti. Tapi situasi saat ini
rasanya kurang beres. Liong Oh-im dan Tan Long terbunuh bersamaan
secara mengenaskan dan apabila dilihat dari keadaan mereka setelah
mati, sudah jelas kedua orang itu bukan mati dibunuh Thio Kim-ciok."
Thay-kun dengan suara merdu menukas,
"Apabila Tio-pangcu ingin bertanya tentang peristiwa itu, buat apa
berputar satu lingkaran besar lebih dulu sebelum bertanya?"
"Kalau begitu kalian harus mengatakan kepada kami, siapakah pembunuh
Tan Long serta Liong Oh-im?" seru Tio Tian-seng dengan cepat.
Setelah mendengar itu, Bong Thian-gak serta Thay-kun dan Song
Leng-hui segera mengerti bahwa di tempat itu bakal berlangsung suatu
pertempuran yang amat sengit.
Mereka sama sekali tidak menyangka tindakan melenyapkan Thio
Kim-ciok dari muka bumi bakal berlangsung sedemikian cepatnya.
"Tio-pangcu," Thay-kun segera berkata lagi,
"maaf kalau saat ini aku belum bisa menjawab pertanyaanmu itu, sebab
jago-jago persilatan yang kujumpai pada malam ini terdiri dari
beraneka-ragam manusia dari berbagai aliran. Oleh sebab itu Siauli
ingin mengetahui satu hal lebih dulu, yakni siapakah yang
merencanakan usaha pembasmian terhadap Thio Kim-ciok?"
"Apakah Tan Long tidak memberitahukan kepada kalian rencana
pembasmian terhadap Thio Kim-ciok?"
Thay-kun menggeleng, "Tidak, Tan Long hanya memberitahu, dia hendak
mengajak kami pergi menemui seseorang."
"Orang yang hendak dipertemukan oleh Tan Long kepada kalian tak lain
adalah orang yang berada di dalam tandu ini," kata Tio Tian-seng.
"Ah, jadi dia adalah Pek Hu-tiap?"
Perempuan yang berada di dalam tandu segera
berkata dengan suara ramah dan lembut, "Benar, akulah Pek Hu-tiap.
Dan aku pula yang merencanakan pembunuhan terhadap Thio Kim-ciok
pada malam ini."
Setelah persoalan berkembang menjadi begini, Thay-kun pun menjadi
paham pula terhadap persoalan yang semula masih teka-teki ini, cuma
masih ada satu hal yang belum diketahui masalahnya, sambil tersenyum
tanyanya lagi, "Konon Pek Hu-tiap dan Thio Kim-ciok pernah menjadi
suami-istri, apakah benar?"
Ketika mendengar pertanyaan itu, agaknya perempuan yang berada di
dalam tandu itu merasa amat emosi, sekujur tubuhnya gemetar keras,
sahutnya, "Rupanya kalian sudah mengetahui asal-usulku, tapi siapa
yang memberitahu semua itu kepada kalian?"
"Orang itu tak lain adalah orang yang telah membunuh Tan Long serta
Liong Oh-im, yakni Hek-mo-ong Liu Khi."
Pek Hu-tiap sama sekali tidak menunjukkan
perubahan sikap apa pun, tapi Gi Jian-cau yang berada di belakangnya
segera mendengus dingin, umpatnya dengan suara seram, "Sejak dahulu
aku sudah tahu bahwa Liu Khi adalah manusia yang tak bisa dipercaya.
Di luarnya saja ia setuju bekerja-sama dengan kita untuk membunuh
Thio Kim-ciok, kenyataan dia masih tetap menjadi kuku garuda Thio
Kim-ciok."
Dengan wajah murung bercampur kesal, Tio
Tian-seng berkata pula sambil menghela napas panjang, "Seorang Thio
Kim-ciok saja sudah susah dihadapi, apalagi ditambah seorang Liu
Khi. Ai, urusan sudah jelas bertambah serius."
Tapi agaknya Pek Hu-tiap sudah mempunyai rencana yang matang,
pelan-pelan dia pun berkata, "Pertikaian antara sepuluh tokoh
persilatan, Ho Lan-hiang, Thio Kim-ciok, Hek-mo-ong dan aku
sesungguhnya merupakan perselisihan yang amat pelik, siapa pun tidak
akan membiarkan pihak lain meraih kemenangan. Oleh sebab itu aku
telah melihat dengan jelas bahwa hubungan antara kita semua
sesungguhnya merupakan suatu hubungan yang amat sensitif, saling
bertentangan dengan perasaan sendiri. Itulah sebabnya pada malam ini
aku baru bisa mengajak Ho Lan-hiang serta Hek-mo-ong sekalian untuk
bekerja-sama menghadapi Thio Kim-ciok."
"Dalam pertarungan yang akan berlangsung
malam ini, andaikata Thio Kim-ciok benar-benar dapat terbunuh
seperti apa yang kita harapkan. Aku rasa di antara kita pun harus
membayar dengan harga yang cukup mahal yaitu mereka yang berhasil
lolos dari pertarungan itu dalam keadaan hidup, akhirnya akan
terbunuh juga oleh pihak lain yang mencari balas sampai pada orang
terakhir."
Dengan ucapan Pek Hu-tiap yang berterus
terang ini, semua rahasia pun ikut terungkap, yaitu dapatnya mereka
bekerja-sama saat ini tak lain karena tujuan utama mereka yaitu
melenyapkan Thio Kim-ciok lebih dahulu.
Terdengar Pek Hu-tiap berkata lebih lanjut dengan suara pelan, "Oleh
karena itu siapa yang bakal mati tak perlu kita persoalkan lagi.
Yang penting tujuan kita tercapai, yaitu berhasil melenyapkan Thio
Kim-ciok dari muka bumi."
Gi Jian-cau tertawa dingin, "Yang
kukuatirkan justru sebelum kita berhasil membunuh Thio Kim-ciok,
orang kita malah saling gontok."
"Apakah tabib sakti menaruh curiga bahwa aku dan Hek-mo-ong telah
membuat persekongkolan secara diam-diam?" tanya Pek Hu-tiap dengan
suara tetap lembut.
"Terbukti Liong Oh-im telah mati dibunuh oleh Hek-mo-ong, hal itu
menimbulkan rasa curiga siapa pun," ucap Gi Jian-cau dingin.
Pelan-pelan Pek Hu-tiap berpaling ke arah
Tio Tian-seng, kemudian katanya dengan suara dalam, "Tio-pangcu,
apakah kau pun menaruh kecurigaan ini?"
"Bukankah kau pernah bilang, pertikaian di antara kita tak pernah
akan memperoleh penyelesaian sebelum salah satu pihak menemui ajal?
Sekarang kita dapat saling bekerja-sama, hal ini tak lebih demi
kepentingan diri pribadi. Oleh karena itu selain ingin melenyapkan
Thio Kim-ciok secepatnya dari muka bumi, aku tak ingin memikirkan
persoalan lain."
"Hm, hanya Tio-pangcu seorang yang dapat melihat situasi yang sedang
kita hadapi sekarang secara jelas dan gamblang. Aku yakin setelah
berlangsungnya pertempuran berdarah malam ini, satu-satunya orang
yang bisa hidup dengan selamat mungkin hanya Tio-pangcu seorang."
Tio Tian-seng tidak menanggapi ucapan itu,
dia memandang sekejap keadaan cuaca, lalu katanya sambil menghela
napas, "Sekarang waktu sudah menunjukkan kentongan keempat, kita
harus mulai melakukan gerakan."
Tiba-tiba dari tengah udara berkumandang suara pekikan panjang yang
keras, begitu kerasnya suara itu sehingga membelah keheningan malam.
Begitu pekikan itu berkumandang, dari arah lain pun bergema pula
suara pekikan.
Dalam waktu singkat suara pekikan saling sambut.
Tiba-tiba Pek Hu-tiap menurunkan perintah,
"Thio Kim-ciok berada di sebelah barat daya, mari kita mengejarnya
ke sana!"
Begitu selesai berkata, tandu kecil yang digotong Tio Tian-seng dan
Gi Jian-cau sudah bergerak cepat meluncur ke tengah udara dan
bergerak ke muka dengan kecepatan tinggi.
Bong Thian-gak segera berteriak, "Pek Hu-tiap, jangan pergi dulu.
Kami bersedia turut serta dalam usaha pembunuhan terhadap Thio
Kim-ciok."
"Aku telah berpesan pada Tan Long untuk mengundang kalian bertiga
ikut serta dalam gerakan ini, namun setelah melihat kalian kaum muda
bersemangat dan berbudi luhur, maka kurasa tak perlu lagi mengundang
kalian untuk memikul tugas berbahaya ini. Sekarang lebih baik kalian
mundur saja dari sini daripada harus terlibat dalam bencana
pembunuhan yang mengerikan, ketahuilah melanjutkan hidup bukan
pekerjaan yang mudah, janganlah kalian gunakan nyawa sebagai bahan
gurauan. Thio Kim-ciok semakin kalap mendekati gila, dia hanya tahu
membunuh orang, cepatlah menghindarkan diri dari musibah ini."
Suara yang lembut dan ramah itu bergema
nyaring di tengah udara dan akhirnya lenyap di kejauhan sana.
Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Thay-kun, > lalu katanya,
"Bagaimana kita sekarang? Apa yang harus kita lakukan?"
Tanpa pikir panjang Thay-kun menjawab, "Mari kita pulang."
Bong Thian-gak tertawa getir, "Tidak, meski harus mengorbankan jiwa,
aku tak bisa meninggalkan keramaian itu begitu saja."
"Tapi perkataan Pek Hu-tiap itu benar, sekarang Thio Kim-ciok sudah
kalap dan mendekati gila, ia sudah kehilangan semua akal pikiran
serta kesadarannya. Begitu melihat orang, dia cuma tahu membunuh,
bayangkan saja apakah kita mampu menahan serangan pedang manusia
cacatnya?"
“Tindakan Thio Kim-ciok membasmi umat
manusia merupakan tindakan terkutuk, sudah sepantasnya bila kita
bangkit dan berusaha melenyapkan bajingan itu dari muka bumi ini.
Biarpun Bong Thian-gak tak sanggup menghadapi bajingan itu seorang
diri, namun aku pun tak bisa melarikan diri hanya dikarenakan
menyelamatkan jiwa sendiri!"
Sementara mereka masih ribut, dari kejauhan berkumandang beberapa
kali jeritan ngeri yang memilukan.
Jeritan ngeri yang bergema di tengah malam
buta begini, terutama suaranya yang mengerikan bagaikan lolongan
serigala dan tangisan setan sungguh mendatangkan suasana yang amat
tak sedap.
Bong Thian-gak sekalian tahu bahwa pertempuran darah sudah mulai
berlangsung, jeritan ngeri para jago lihai persilatan yang tertusuk
pedang manusia cacat Thio Kim-ciok. Siksaan dan penderitaan yang
luar biasa membuat orang-orang itu memperdengarkan jeritan
sedemikian ngerinya. *~
Thay-kun segera berseru setengah merengek,
"Suheng, kau harus berpikir demi keselamatan adik Hui!"
"Sumoay," kata Bong Thian-gak segera, "apabila aku tidak turut serta
dalam gerakan menumpas Thio Kim-ciok hari ini, tak ada artinya aku
hidup di dunia ini. Sekarang ajaklah Leng-hui pergi dari sini, biar
aku sendiri yang dating ke sana!"
Selesai berkata, ia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi
dahulu.
Thay-kun dan Song Leng-hui cepat menyusulnya sambil berteriak,
"Suheng, jangan pergi dulu. Kalau memang ingin mati, lebih baik kita
mati bersama!"
Bong Thian-gak mendengus dingin, "Hm, siapa bilang kita bakal mati?
Kita tidak akan mati di tangan Thio Kim-ciok."
Sampai di situ, berangkatlah ketiga orang
itu menuju ke arah barat daya dengan mengerahkan ilmu meringankan
tubuh masing-masing.
Udara malam amat cerah tanpa setitik awan pun menghiasi angkasa,
bintang bertaburan dimana-mana dan memantulkan cahaya yang amat
redup.
Keheningan malam yang sebenarnya begitu indah dan syahdu, kini
dihiasi oleh jeritan ngeri yang menyayat hati, membuat suasana
berubah begitu mengerikan, bagaikan sebuah tempat pembantaian
manusia yang menggidikkan.
Bayangan orang tampak saling bergerak kejar mengejar, cahaya golok
dan bayangan pedang menyelimuti angkasa, percikan darah berhamburan
di permukaan tanah, keadaan benar-benar menggidikkan.
Seorang kakek berbaju hijau bagaikan orang
kesurupan menerjang setiap orang yang ditemuinya dengan tusukan
pedangnya yang putih bercahaya, semua orang ditusuk, dibacok,
disapu, ditotok, dibantai tanpa mengenal ampun dan nyatanya tak
seorang pun di antara mereka yang mampu menahan satu jurus
serangannya.
Di luar lapangan pembantaian itu, di atas sebuah bukit kecil di
tengah padang rumput, telah terbentuk barisan berbentuk segitiga.
Di tengah barisan ada sebuah tandu kecil yang diduduki Pek Hu-tiap,
sedangkan Tio Tian-seng dan Gi Jian-cau berdiri di sampingnya.
Di sayap kanan berdiri pula tiga orang,
mereka mengenakan topeng tengkorak. Lengan kanan mereka pun
sama-sama kosong tinggal sebuah lengan saja, di pinggang terselip
sebilah golok panjang.
Andai perawakan tubuh mereka tidak berbeda dalam ketinggian, maka
siapa pun tak akan bisa mengenali siapakah ketiga orang itu.
Dandanan Hek-mo-ong yang telah menggemparkan persilatan. Malah kini
muncul tiga orang dengan dandanan Hek-mo-ong Liu Khi.
Ternyata Liu Khi masih mempunyai dua orang
pembantu, itulah sebabnya di saat Liu Khi muncul dengan peranannya
sebagai si golok sakti berlengan tunggal, pada saat bersamaan di
tempat lain pun muncul Hek-mo-ong.
Di sayap kiri tandu itu berdiri juga tiga orang, mereka adalah
Cong-kaucu Put-gwan-cin-kau, perempuan paling cantik dari wilayah
Kanglam Ho Lan-hiang serta dua orang pembantu utamanya Ji-kaucu
serta Sim Tiong-kiu.
Kesembilan orang itu membentuk sebuah barisan segitiga di atas bukit
kecil itu, dari tempat yang tinggi mereka menyaksikan jalannya
pembantaian yang begitu mengerikan di tengah lapangan itu.
Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui
mengikuti pula jalannya peristiwa itu dari kejauhan.
Mereka bertiga tidak segera ikut serta dalam pertempuran itu. Begitu
tiba di tempat kejadian. Bong Thian-gak dan Song Leng-hui di bawah
pimpinan Thay-kun langsung menuju ke sisi kiri tanah bukit itu serta
bersembunyi di belakang sebuah batu besar.
Mendadak di tengah pertarungan berkumandang lagi serentetan suara
jeritan ngeri yang bergema tiada hentinya, begitu menyeramkan suara
jeritan itu hingga menggidikkan siapa pun yang mendengarnya.
Dengan terkesiap Bong Thian-gak sekalian segera berpaling ke arah
arena.
Ternyata Thio Kim-ciok sedang melakukan
suatu tindakan yang benar-benar menggidikkan, dia telah mengeluarkan
ilmu pedang pembunuh manusianya yang paling hebat.
Saat itu tubuhnya melejit ke udara, pedang manusia cacatnya telah
membungkus tubuhnya, selapis cahaya putih menggulung kian kemari
dengan kecepatan tinggi.
Dalam waktu singkat, tiga puluhan jagoan pedang berbaju hitam yang
sedang mengurungnya sudah menemui nasib tragis, batok kepala mereka
bergelindingan ke atas tanah, percikan darah segar berceceran
kemana-mana, tak ada yang mampu menahan serangannya dan tak seorang
pun di antara mereka yang berhasil meloloskan diri.
Kawanan jago pedang berbaju hitam itu tak lain merupakan anggota
Put-gwa-cin-kau.
Malam ini Ho Lan-hiang datang dengan
membawa seratusan jago pedang berbaju hitam, namun dalam waktu yang
begitu singkat kekuatannya sudah tertumpas habis.
Di kala Thio Kim-ciok telah selesai membunuh jagoan pedang yang
terakhir, dia segera mendongakkan kepala dan tertawa keras. Suaranya
amat menggidikkan, lalu sambil memutar pedang manusia cacat di
tangan kanannya, dia berteriak, "Pek Hu-tiap, aku akan datang
membunuhmu."
Di tengah bentakan, dengan pedang manusia cacat diluruskan ke depan,
selangkah demi selangkah dia menaiki bukit kecil itu.
Sementara Pek Hu-tiap yang duduk di balik
tenda telah berkata dengan suara pelan, "Hek-mo-ong, segenap
kekuatan Put-gwa-cin-kau sudah tertumpas habis. Sekarang akan
kulihat kemampuan tujuh puluh dua tentara tengkorakmu!"
Salah seorang di antara tiga Hek-mo-ong yang berdiri di sayap kanan
segera tertawa tergelak, sahutnya, "Bila Thio Kim-ciok ingin
membantai tentara tengkorakku, tak nanti bisa dilakukan semudah
ini."
Sampai di sini, tiba-tiba ia berseru, "Cepat kau undang tentara
tengkorak kita."
Begitu perintah diturunkan, dua manusia tengkorak yang berdiri di
belakang Liu Khi pun segera mendongakkan kepala dan berpekik
nyaring.
Pekikan itu tinggi melengking persis seperti suara lolongan
serigala, mendatangkan perasaan seram bagi siapa yang mendengar.
Begitu suara pekikan bergema, dari balik keheningan yang mencekam
tanah berumput itu berkumandang teriakan aneh yang menggidikkan.
Dari empat penjuru segera bermunculan
bayangan iblis yang meluncur tiba bagaikan sambaran kilat, dalam
waktu singkat bayangan iblis itu sudah mengepung Thio Kim-ciok.
Mereka terdiri dari tujuh puluh dua manusia aneh bertopeng
tengkorak, tangan kiri membawa sebuah panji tengkorak berbentuk
segitiga, sedangkan tangan kanan memegang sebuah tongkat pendek
berkepala tengkorak.
Kawanan tentara tengkorak itu mengitari
Thio Kim-ciok sambil melompat-lompat, berteriak dan menggerakkan
panji serta toya mereka. Gerakannya itu tak ubahnya seperti pasukan
suku Biau yang sedang bertempur.
Thio Kim-ciok tertawa, pedang manusia cacatnya diayunkan ke depan
langsung membacok seorang tentara tengkorak yang berada di dekatnya.
Pertempuran sengit pun kembali berkobar dengan hebatnya di tempat
itu.
Nyata kawanan tentara tengkorak memang berbeda dengan pasukan jago
pedang berbaju hitam Put-gwa-cin-kau yang begitu mudah dibantai.
Sekalipun jurus-jurus serangan Thio Kim-ciok luar biasa ganas dan
kejinya, namun tak seorang pun di antara pasukan tentara tengkorak
yang terluka di ujung pedangnya.
Dalam pada itu kawanan tentara tengkorak
itu seperti pasukan yang datang dari neraka saja, berteriak dan
melompat ke muka secara garang. Dengan delapan orang membentuk satu
kelompok mereka menerjang dan menyerang Thio Kim-ciok secara cepat.
Beberapa kali Thio Kim-ciok mengayunkan pedang melancarkan
serangkaian bacokan, namun bukan saja gagal membunuh tentara
tengkorak, malah sebaliknya ia harus mundur beberapa langkah karena
terjangan maut pihak lawan.
Suara bentakan menggelegar, Thio Kim-ciok mengeluarkan ilmu pedang
terbangnya yang paling ganas dan mengerikan, langsung meluncur ke
depan dengan kecepatan luar biasa.
Sekalipun pasukan tengkorak merupakan kawanan jago yang telah
memperoleh didikan khusus serta kebal terhadap bacokan golok dan
tusukan tombak, namun setelah menghadapi ilmu pedang tingkat tinggi
semacam itu, tak disangka mereka berubah menjadi lapuk seperti kayu
kering.
Jeritan ngeri bagai teriakan setan bergema, delapan prajurit
tengkorak terbabat pinggangnya hingga putus dan tewas seketika.
Dalam rencana penumpasan terhadap Thio
Kim-ciok hari ini, Pek Hu-tiap sama sekali tidak kuatir banyak
korban yang jatuh di pihaknya. Dia menggunakan pertarungan bergilir
ini dengan tujuan memaksa Thio Kim-ciok mengeluarkan ilmu pedang
tingkat tingginya sehingga dia kehabisan tenaga dalam.
Itulah sebabnya kesembilan orang itu tetap menyimpan tenaga serta
menonton jalannya pertarungan itu dari atas bukit kecil.
Prajurit satu demi satu saling susul roboh terkapar di atas tanah
dalam keadaan tak bernyawa.
Akhirnya tak seorang pun di antara mereka yang berhasil lolos dalam
keadaan selamat, mereka tewas di ujung pedang Thio Kim-ciok dalam
keadaan yang mengenaskan.
Sambil berpekik keras, Thio Kim-ciok segera melejit ke tengah udara,
lalu menerjang ke atas bukit kecil di hadapannya itu.
Keadaan Thio Kim-ciok waktu itu sangat
mengerikan, gulungan rambutnya telah terlipat sehingga menutupi
sebagian wajahnya, noda darah membasahi seluruh tubuhnya. Dengan
sepasang mata melotot penuh amarah dia mengawasi kesembilan orang
yang berada di bukit kecil itu tanpa berkedip, lalu setelah tertawa
seram, bentaknya, "Liu Khi, benarkah dia Pek Hu-tiap?"
"Benar," jawab Hek-mo-ong Liu Khi dengan suara dingin. "Dia adalah
istri pertamamu, Pek Hu-tiap."
Lalu setelah berhenti sejenak, lanjutnya, "Thio Kim-ciok, mungkin
kau tidak menyangka bukan bahwa orang yang hendak membunuhmu pada
malam ini hampir semuanya merupakan orang-orang yang pernah kau
cintai dan hormati?"
Thio Kim-ciok tertawa seram, "Tiga puluh
tahun aku menderita akibat dicelakai sepuluh tokoh persilatan dan
tiga puluh tiga tahun kemudian kembali aku mengalami pengepungan
yang licik dan tak tahu malu dari kalian. Tapi kalian mesti tahu,
selamanya aku tak bakal mati di tangan kalian, seluruh dunia akan
berada dalam kekuasaanku."
Di tengah pembicaraan itu, tiba-tiba Thio Kim-ciok melejit lagi ke
tengah udara, kemudian langsung menerjang ke arah tandu itu.
Tandu kecil itu masih berada dalam gotongan Tio Tian-seng serta Gi
Jian-cau, mereka tak bergerak sedikit pun juga, Pek Hu-tiap yang
berada di dalam tandu pun sama sekali tidak melakukan sesuatu
tindakan apa pun.
Gerakan Thio Kim-ciok menerjang dengan kecepatan luar biasa, dalam
waktu singkat dia sudah melayang di atas tandu kecil itu, pedang
manusia cacatnya langsung diayunkan ke muka untuk mencungkil kain
kerudung putih yang menutupi wajah Pek Hu-tiap.
Agaknya para jago yang berada di sekelilingnya memang sedang
menunggu tindakan Thio Kim-ciok itu.
Pada saat bersamaan, terdengar Pek Hu-tiap
yang berada dalam tandu membentak, "Thio Kim-ciok, habis sudah
riwayatmu hari ini!"
Tandu kecil yang sama sekali tidak bergerak ini mendadak
memperdengarkan suara ledakan yang amat keras, empat dinding tenda
itu tahu-tahu hancur dan berjatuhan ke atas tanah, sementara pedang
berwarna putih yang tajam bermunculan dari balik baju Pek Hu-tiap
yang lebar langsung menusuk keluar.
Ketika Pek Hu-tiap melancarkan serangan, Tio Tian-seng, Gi Jian-cau,
Ho Lan-hiang, Ji-kaucu, Sim Tiong-kiu, Liu Khi serta kedua orang
manusia tengkoraknya serentak melancarkan pula serangan.
Kesembilan jago lihai persilatan itu segera
mengeluarkan jurus mengadu jiwa yang diciptakan bersama-sama untuk
membendung datangnya ancaman Thio Kim-ciok.
Thio Kim-ciok telah mempelajari hampir semua ilmu silat yang ada di
dunia persilatan dewasa ini, para jago tahu andaikata serangan
gabungan itu tidak berhasil mengenai tubuh Thio Kim-ciok, berarti
untuk selamanya jangan harap mereka mampu membinasakan Thio
Kim-ciok.
Tapi bilamana serangan gabungan itu mengenai sasaran, maka akibatnya
tak terlukiskan pula.
Mimpi pun Thio Kim-ciok tidak menyangka
para jago akan menggunakan serangan gabungan senekad ini untuk
menghadapinya, dia tahu sudah termakan siasat lawan, tak kuasa lagi
dia mendongakkan kepala dan tertawa seram.
Pedang manusia cacat segera digetarkan ke atas sambil diayunkan
berulang kali, berlapis-lapis cahaya pedang berwarna-warni segera
memancar dari pedang pendeknya untuk melindungi seluruh tubuh.
Siapa tahu pada saat itulah Pek Hu tiap
yang duduk di dalam tandu dengan seluruh badan penuh dengan senjata
tajam telah mumbul pula ke tengah udara sambil melancarkan serangan.
Jerit kesakitan yang memilukan, pekikan keras, bentakan bagal guntur
serentak bergema memenuhi angkasa.
Bayangan orang saling menyambar di «engah udara, cahaya golok dan
bayangan pedang tiba-tiba lenyap tak berbekas.
Pek Hu-tiap tahu-tahu sudah terduduk di
atas tanah, pakaian yang berwarna putih telah dipenuhi lubang
pedang, darah segar bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Di hadapan Pek Hu-tiap berdirilah Thio Kim-ciok, di tangan kanannya
masih tetap tergenggam pedang manusia cacat, sementara bagian dada,
punggung dan lambungnya masing-masing terdapat empat buah luka yang
mengucurkan darah segar.
Dengan wajah kaget, gugup dan sedih Thio Kim-ciok sedang mengawasi
wajah Pek Hu-tiap tanpa berkedip.
Ternyata kain kerudung putih yang menutupi
wajah Pek Hu-tlap telah terlepas, kini muncullah seraut wajah pucat,
lembut, halus dan kelihatan sangat ramah.
Di luar kedua orang itu, sudah ada tiga orang yang roboh dalam
keadaan tewas, mereka adalah dua manusia tengkorak serta Ji-kaucu
Put-gwa-cin-kau.
Sedangkan mereka yang tak roboh, tubuhnya dihiasi pula dengan
berbagai macam luka yang mengakibatkan pendarahan, namun mereka
tetap mengawasi wajah Thio Kim-ciok dengan pandangan penuh amarah.
Setelah kulit mukanya mengencang beberapa
saat, Thio Kim-ciok baru berbisik lirih, "Kau benar-benar Hu-tiap!"
Dengan wajah sangat tenang dan lembut, Pek Hu-tiap kembali berkata,
"Thio Kim-ciok, kau tidak menyangka bukan bahwa aku masih tetap
hidup? Dan kau tak pernah menduga bukan bahwa aku akan bekerja-sama
dengan musuh-musuhmu untuk membunuh dirimu! Dan kau tentunya
lebih-lebih tak pernah mengira kalau pada akhirnya akan tewas di
tanganku. Aku tak ingin menjelaskan lagi tentang semua dosa dan
kesalahanmu. Nah, bersiaplah kau menerima kematian."
Thio Kim-ciok tertawa seram, "Mati? Aku belum akan mati. Sekalipun
harus mati, paling tidak baru akan mati setelah membunuh habis semua
musuh besarku."
Sampai di situ, tiba-tiba Thio Kim-ciok
berteriak, "Ho Lan-hiang, kau perempuan cabul, pembawa bencana,
kubunuh dirimu lebih dulu!"
Thio Kim-ciok memang memiliki tenaga serta kemampuan hebat.
Sekalipun ia telah menderita luka parah, namun orang ini masih tetap
memiliki ilmu pedang luar biasa.
Tampaknya serangan Thio Kim-ciok ini sama sekali tidak memberi
kesempatan kepada orang lain untuk menghindarkan diri.
Tampaknya Ho Lan-hiang sendiri pun tak mampu menghindarkan diri dari
serangan pedang Thio Kim-ciok.
Mata pedang yang putih bersih langsung menembus dada Ho Lan-hiang,
pedang manusia cacat itu telah dicabut keluar.
Ho Lan-hiang tak mampu menahan diri lagi, dia menjerit ngeri dengan
suara yang amat memilukan, darah segar menyembur keluar dari dadanya
bagaikan air mancur.
Para jago yang berada di sekitar tempat itu
menjadi terbelalak dengan mulut melongo, mereka tidak percaya dengan
ilmu silat Ho Lan-hiang yang begitu hebat ternyata tak mampu menahan
sebuah serangan Thio Kim-ciok.
Sementara itu Thio Kim-ciok yang telah mencabut keluar pedang
manusia cacatnya langsung memutar mata pedang itu dan ditujukan ke
Gi Jian-cau sambil bentaknya, "Gi Jian-cau, kau pun harus merasakan
sebuah tusukan pedangku ini."
Serangan pedang Thio Kim-ciok ini dilakukan dengan kecepatan luar
biasa.
Dengan kaget bercampur ngeri Gi Jian-cau melompat mundur, namun
usaha itu tidak berhasil menghindarkan diri dari ancaman.
Ujung pedang lawan segera menembus dadanya,
menimbulkan rasa sakit yang tak terlukiskan, tak kuasa lagi dia pun
menjerit kesakitan dengan suara amat mengerikan.
Liu Khi, Tio Tian-seng serta Sim Tiong-kiu tentu saja tak membiarkan
pedang Thio Kim-ciok menembus dada mereka. Tanpa membuang waktu lagi
mereka menerjang ke arah Thio Kim-ciok.
Serangan jari, ayunan pedang dan sambaran golok dengan mengerahkan
segenap kemampuan langsung mengancam tiga tempat mematikan di tubuh
Thio Kim-ciok.
ibarat banteng yang sudah terluka, Thio Kim-ciok nampak menyeramkan
sekali, pedang manusia cacat di tangannya diangkat sejajar dada,
lalu dengan kecepatan luar biasa menusuk dada SIm Tiong-kiu.
Jeritan bagaikan babi disembelih segera
bergema memenuhi angkasa, Sim Tiong-kiu menjadi korban ketiga yang
tewas tertembus pedang manusia cacat.
Namun di saat Thio Kim-ciok melepaskan tusukan ke dada SIm
Tiong-kiu, punggung dan pinggangnya termakan pula oleh bacokan golok
Liu Khi serta tusukan pedang Tio Tian-Seng.
Bacokan golok serta tusukan pedang dua jago lihai ini kontan membuat
Thio Kim-ciok meraung penuh amarah, dengan sepasang bahu bergetar
keras dia berteriak lantang, "Liu Khi, kau telah mengkhianati aku."
Pedang manusia cacatnya segera dicabut
keluar dari tubuh Sim Tiong-kiu dan dialihkan ke arah Hek-mo-ong Liu
Khi.
Liu Khi tahu pertarungan ini menyangkut hidup matinya, maka sambil
tertawa dingin katanya, "Thio Klm ciok, sekarang aku hendak
memberitahukan satu hal kepadamu, ketahuilah waktu kau membantai Pek
Hu-tiap secara keji dulu, akulah yang telah menyelamatkan jiwanya
dan saat itu pula dia mengundangku untuk membunuhmu dengan imbalan
sebuah bukit tambang emas."
"Kau tahu, Liu Khi dikenal umat persilatan sebagai seorang pembunuh
bayaran, setelah menerima imbalan, tentu saja aku tak dapat ingkar
janji. Oleh karena itu pada tiga puluh tiga tahun berselang aku pun
mengatur sepuluh tokoh persilatan MMli 11« Uan lilaug untuk
membunuhmu. Tujuanku waktu itu tak lain adalah mewujudkan janjiku
terhadap Pek Hu-tiap."
Thio Kim-ciok yang sebetulnya sudah «lap fntlanMrkan lUNiikan maut
dengan pedang manusia cacatnya negera mengurungkan nlnt ilu, katanya
dengan suara hambar, "Coba kau lanjutkan pt»rk«*t«iM*rmi llul"
Liu Khi tertawa, kemudian katanya, "PulW
k*U Mil membunuh istrimu Pek Hu-tiap tak lain karena terpikat oleh
rayuan maut Ho Lan-hiang, padahal perkenalanmu dengan Ho Lan-hiang
tidak lebih merupakan salah satu rencana busuk sepuluh tokoh
persilatan. Oleh karena itu biarpun Pek Hu-tiap menderita musibah di
tanganmu, tapi kesepuluh tokoh persilatan pun tak dapat terlepas
dari tanggung-jawab ini. Karena itulah Pek Hu-tiap telah bersumpah
akan membinasakan sepuluh tokoh persilatan, Ho Lan-hiang serta kau
Thio Kim-ciok. Sedang aku mendapat undangan dari Pek Hu-tiap untuk
melaksanakan pembunuhan itu, karena aku pun menjadi dalang semua
pembunuhan yang berlangsung dalam dunia persilatan."
Ketika Liu Khi mengungkapkan sumber
keresahan dan musibah yang menimpa dunia persilatan selama empat
puluh tahun ini, hampir semua yang hadir dalam arena sama-sama
berdiri terbelalak dengan mulut melongo, sebab budi dan dendam yang
telah berlangsung selama ini memang terlampau aneh, ruwet dan
membingungkan.
Lama setelah termenung, Liu Khi baru berkata lagi, "Semua peristiwa
berdarah ini dapat berlangsung, sebabnya tak lain karena kau, yang
telah membunuh istri sendiri. Nah, Thio Kim-ciok, kau sebagai sumber
dari segala bencana dan musibah yang terjadi, serahkanlah jiwamu
sekarang juga!"
Begitu selesai mengucapkan perkataan itu,
Liu Khi dengan serangan goloknya yang cepat melancarkan sebuah
bacokan ke depan.
Thio Kim-ciok meraung penuh amarah, pedang manusia cacatnya secepat
kilat diayunkan ke muka menyongsong datangnya bacokan itu.
Pada saat itulah Pek Hu-tiap yang sedang duduk di atas rumput dengan
tenang membentak, "Thio Kim-ciok, jangan kau bunuh Liu Khi."
Tubuh Pek Hu-tiap yang bulat tanpa sepasang tangan dan sepasang kaki
itu segera melejit bagaikan sebutir peluru besi.
Golok maut Liu Khi segera membacok pinggang Thio Kim-ciok secara
telak.
Sebaliknya tubuh Pek Hu-tiap yang gemuk bulat justru menempel di
atas punggung Thio Kim-ciok.
Ternyata dari bagian sepasang lengan dan kaki Pek Hu-tiap yang
buntung telah muncul empat bilah pedang tajam dan kini keempat
pedang yang amat tajam itu telah menembus empat bagian tubuh Thio
Kim-ciok di tempat yang mematikan.
Seluruh tubuh Liu Khi mengejang keras, dengan langkah sempoyongan ia
mundur tiga-empat langkah, kemudian serunya dengan pedih, "Thio
Kim-ciok, ternyata gerakan pedangmu masih setengah tingkat lebih
cepat daripada gerakan golokku."
Dalam pada itu Thio Kim-ciok yang
ditunggangi Pek Hu-tiap telah berpaling, kemudian dengan suara
gemetar dia berkata, "Akhirnya aku harus tewas di tanganmu, aku ...
aku mati tanpa menyesal."
Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, sepasang kaki Thio
Kim-ciok pelan-pelan berjongkok dan akhirnya roboh terkapar di atas
tanah tanpa bernyawa lagi.
Dengan cepat Pek Hu-tiap menggerakkan tubuhnya mencabut keempat
bilah pedangnya dari tubuh Thio Kim-ciok, setelah itu sambil
menerkam Liu Khi, serunya, "Liu Khi, kau tak boleh mati. Kau belum
melaksanakan janjimu yang kedua?"
Sementara itu Bong Thian-gak, Thay-kun dan
Song Leng-hui yang menyembunyikan diri di belakang batu besar telah
muncul.
Terdengar Liu Khi menyahut dengan suara lemah, "Pedang manusia cacat
Thio Kim-ciok telah direndam dalam racun yang sangat keji. Bukankah
janjiku yang kedua adalah mencari jejak putrimu? Aku ... aku pun
telah berhasil menemukannya."
"Mana putriku?" seru Pek Hu-tlap dengan gelisah. "Dimanakah dia
sekarang? Cepat katakan, segera akan kukatakan letak tambang emas
itu."
Bong Thian-gak, Song Leng Hui dan Thay-kun
mendekat.
Sepasang mata Liu Khi telah membalik ke atas, katanya lirih, "Thay-kun,
kemarilah…Dia ... dia ... dialah..ibumu…kau..kau putri Thio Kim-ciok
dan Pek Hu-tiap…sewaktu…kutolong ibumu..kau…”
Namun Liu Khi tidak sempat melanjutkan ucapannya, karena jiwanya
sudah keburu berangkat meninggalkan raganya.
Dengan suara terkejut antara kaget, gembira,
pilu dan sedih, Pek Hu-tiap segera menjerit keras "Oh kau..kau
putriku,… ?"
Thay-kun terhenyak, begitu juga Bong Thian-gak dan Song Leng-hui.
Tak dikira ternyata anak yatim piatu yang dipungut Cong-kaucu Ho-Lan-hiang
ternyata adalah putri Pek-Hu-tiap.
Thay-kun memayang Pek Hu-tiap, serunya sedih, “Kau..kau ibuku?..Ooohh..ibuuu..”.
Pek Hu-tiap kaget, dengan suara pilu dan
sedih ia berteriak, suaranya makin lama semakin rendah dan melemah
dan akhirnya dia harus menghembuskan napas terakhirnya dengan
membawa kegembiraan. Rasa gembira melihat putrinya.
Ternyata Pek Hu-tiap juga sudah termakan tusukan pedang manusia
cacat Thio Kim-ciok, sehingga dengan demikian dia pun tak dapat
lolos dari bencana kematian ini.
Memandang mayat-mayat yang bergelimpangan
di hadapannya, Tio Tian-seng menghela napas panjang, gumamnya seram,
"Sungguh tak disangka, aku benar-benar berhasil lolos dari musibah
ini. Ai, kalau dibilang siapa yang paling tidak beruntung dalam
peristiwa berdarah ini, maka orang itu tak lain adalah Pek Hu-tiap
serta Thio Kim-ciok suami-istri."
"Ya," sahut Thay-kun sambil menghela napas sedih pula. "Kini dunia
persilatan sudah tenang kembali untuk sementara waktu dan kami pun
bisa hidup mengasingkan diri di bukit terpencil dengan perasaan
tenang. Biarlah jenazah ayah dan ibuku kubawa ke tempat pengasingan
kami. Suheng, adik Hui..mari"
T A M A T
