pendekar cacad 17
PENDEKAR CACAT
Karya : Gu Long
Saduran : Can ID
Bagian 22 : Liu Khi, Hek-mo-ong yang asli
"Bong-laute," ujarnya kemudian. "Bila
kau bermaksud memasuki halaman gedung, jangan salahkan pedangku ini
tak kenal dirimu lagi!"
Bong Thian-gak
mundur selangkah, lalu sahutnya sambil tertawa dingin, "Tio-pangcu,
rupanya kalian sudah bersekongkol hendak membunuh Thio Kim-ciok!"
"Tiga puluh tahun berselang, sepuluh
tokoh persilatan tidak memperkenankan Thio Kim-ciok hidup di dunia,
maka tiga puluh tahun kemudian pun kami tetap tak akan mengizinkan
dia hidup terus!" kata Tio Tian-seng dengan suara dalam.
Tiba-tiba Bong
Thian-gak berpaling dan memandang sekejap ke arah tabib
sakti Gi Jian-cau yang masih berdiri dengan Boan-koan-pit terhunus,
tanyanya dengan dingin, "Apakah kalian berhasil?"
Jawaban tabib sakti itu justru merupakan
jawaban yang sangat ingin diketahui Tio Tian-seng,
Tan Sam-cing serta Liu Khi, maka
sorot mata semua orang pun dialihkan ke wajah Gi Jian-cau yang amat
mengenaskan itu.
Dengan gerakan yang amat santai Gi
Jian-cau membersihkan tubuhnya dari debu, lalu ujarnya dengan
hambar, "Thio Kim-ciok telah mendirikan sebuah benteng di bawah
tanah yang kuat dan tangguh, ibarat sarang naga gua harimau di dalam
gedung ini."
Biarpun cuma sepatah kata yang sederhana
dan biasa, namun justru mencakup seluruh jawaban dari pertanyaan
yang diajukan.
Paras muka Tio Tian-seng sekalian segera
berubah hebat.
Liu Khi tertawa dingin dan mengejek,
"Huh! Biarpun sarang naga gua
harimau, memangnya mampu membendung serbuan sepuluh tokoh
persilatan."
Ketika mendengar ucapan itu, tabib sakti
Gi Jian-cau segera memandang sekejap ke arah Liu Khi, kemudian
ujarnya pelan, "Selama ini banyak sudah ilmu Ngo-heng dan berbagai
ilmu lain yang kupelajari, aku pun mengerti ilmu bangunan dan ilmu
jebakan api, tapi barusan hampir saja tak sanggup keluar dari gedung
itu dengan selamat."
Dalam deretan sepuluh tokoh persilatan,
Gi Jian-cau terhitung tokoh yang berkepandaian tinggi serta
berpengetahuan luas, hal ini cukup diketahui setiap umat persilatan,
tapi beberapa patah kata yang barusan diucapkan olehnya itu membuat
Tio Tian-seng sekalian berkerut kening.
Dengan suara dalam
Tan Sam-cing berkata, "Bila kita tak
mampu menyerbu masuk ke dalam ruang bawah tanahnya, bagaimana cara
kita membekuk Thio Kim-ciok?"
Liu Khi tertawa dingin, "Bagaimana pun
juga Thio Kim-ciok tak mungkin bersembunyi terus di ruang bawah
tanah. Hm, sekalipun dia bersembunyi terus di situ, aku yakin mampu
menerobos masuk ke dalam ruang rahasianya."
Pembicaraan beberapa orang ini segera
membuat Bong Thian-gak,
Thay-kun serta Song Leng-hui
merasa gembira. Mimpi pun mereka tidak mengira kecerdikan Thio
Kim-ciok demikian mengagumkan sehingga dia telah melengkapi gedung
yang luas ini dengan ruangan bawah tanah yang penuh dengan alat
rahasia.
Thio Kim-ciok sudah lama menduga suatu
waktu para jago akan berkumpul di situ untuk membekuknya, maka jauh
hari sebelumnya dia telah mempersiapkan tindakan jitu untuk
menanggulangi keadaan itu.
Bong Thian-gak
berdehem pelan, kemudian tanyanya kepada Gi Jian-cau dengan suara
dalam, "Gi-locianpwe, tadi kudengar dua kali jeritan ngeri dua
perempuan yang berada di dalam ruangan gedung. Tolong tanya apakah
kedua dayang itu ajal di tanganmu?"
Agaknya baru sekarang Gi Jian-cau
memperhatikan kehadiran Bong
Thian-gak bertiga, la mendongakkan kepalanya yang hitam pekat oleh
hangus, Lalu diawasinya mereka bertiga dengan sorot mata tajam.
"Mungkin kau yang disebut
Jian-ciat-suseng?" katanya ketus.
Mendadak Thay-kun mendorong ke depan dan
serunya, "Gi-locianpwe, kau
masih ingat aku?"
"Tentunya kesadaran pikiranmu telah
pulih kembali, bukan?"
Thay-kun tertawa cekikikan, "Betul, aku
sudah sadar seutuhnya, banyak terima kasih atas pemberian
Hui-hun-wanmu itu."
"Hm!" Gi Jian-cau mendengus dingin.
"Kalau begitu sudah lama kau bersekongkol dengan Thio Kim-ciok!"
"He, atas
dasar apa kau menuduh aku telah lama bersekongkol dengan Thio
Kim-ciok?" seru Thay-kun agak tertegun
.
Dengan gemas dan rasa benci Gi Jian-cau
berkata, "Dengan mengorbankan segenap pikiran dan tenagaku selama
setengah umur hidupku, aku berhasil membuat tiga butir Hui-hun-wan,
tapi akhirnya dicuri sebutir di antaranya oleh Keng-tim Suthay yang
bersekongkol dengan Thio Kim-ciok. Akibat perbuatannya itu, aku
gagal mewujudkan suatu masalah besar yang kucita-citakan."
"Tapi satu hal yang tidak kumengerti
adalah perbuatan Thio Kim-ciok, mengapa dia bersedia memberikan pil
Hui-hun-wan itu untukmu?"
"Thio Kim-ciok menderita luka cukup
parah serta membutuhkan sebutir pil Hui-hun-wan untuk
menyembuhkannya, aku tidak percaya Thio Kim-ciok memberikan pil
Hui-hun-wan itu untukmu."
Perkataannya ini segera menggerakkan
pikiran Bong Thian-gak,
tiba-tiba ia teringat kejadian di Sam-cing-koan dimana Keng-tim
Suthay serta jago-jago lihai Hiat-kiam-bun terbunuh secara
mengenaskan.
Berpikir sampai di situ, tiba-tiba saja
pemuda itu mengernyitkan alis, kemudian membentak, "Gi Jian-cau, aku
ingin bertanya kepadamu. Apakah Keng-tim Suthay sekalian jago lihai
Hiat-kiam-bun tewas di tanganmu?"
"O, jadi Keng-tim Suthay telah mampus?"
kata Gi Jian-cau dingin. "Kalau begitu Keng-tim Suthay pasti
bermaksud mengangkangi pil Hui-hun-wan sehingga dibunuh Thio
Kim-ciok lebih dahulu."
Bong Thian-gak
yang mendengar ucapan itu jadi termangu, diam-diam ia pun berpikir,
"Benarkah Keng-tim Suthay mati terbunuh di tangan Thio Kim-ciok?"
"Tapi jelas Sam-cing Tosu yang berada di
dalam kuil Sam-cing-koan adalah hasil penyaruan Thio Kim-ciok,
sedang sekarang tabib sakti bilang Thio Kim-ciok telah bersekongkol
dengan Keng-tim Suthay untuk mencuri sebutir pil Hui-hun-wan untuk
menyembuhkan penyakitnya. Kalau begitu mungkinkah Keng-tim Suthay
dibunuh oleh Thio Kim-ciok?"
Sementara dia masih berpikir, tiba-tiba
terdengar Thay-kun yang berada di sampingnya berkata sambil menghela
napas sedih, "Kematian Keng-tim Suthay sungguh mengenaskan, tapi
andaikan Gi-locianpwe tidak berubah pikiran, Suthay pun tak akan
mati secara mengenaskan."
Waktu itu Bong
Thian-gak merasakan darah yang mengalir dalam tubuh
bagaikan mendidih. Dengan penuh perasaan dendam ia berkata,
"Thay-kun, lebih baik kita urungkan saja niat kita menyembuhkan luka
yang diderita Thio Kim-ciok."
"Bong-suheng!" Thay-kun tersenyum,
"sekalipun Keng-tim
suthay
sekalian jago-jago Hiat-kiam-bun tewas di tangan Thio Kim-ciok
kita
tetap harus berupaya
menyembuhkan luka yang diderita Thio Klm-ciok”
Bong
Thian-gak
menjadi tertegun untuk beberapa saat, kemudian
katanya, "Thio Kim-ciok telah membantai anak murid Hiat-kiam-bun.
Dendam sakit hati ini
lebih dalam dari samudra. Bilamana sakit
hati ini tidak dibalas, bagaimanakah kita bisa
menghibur arwah anggota Hiat-kiam-bun
yang telah berada di alam baka?" '
"Bila ada dendam, sudah barang tentu
kita wajib menuntut balas”
sahut Thay-kun dengan suara dalam, "tapi paling tidak kita
wajib
melakukan penyelidikan lebih dulu
sejelas-jelasnya, siapakah pembunuh
yang sesungguhnya dalam peristiwa itu?"
Ucapan nona itu segera menggerakkan
pikiran Bong Thian-gak,
segera dia berpikir pula,
"Ya betul, kenapa aku harus mempercayai perkataan Gi Jian-cau begitu
saja? Ah benar, bukankah Keng-tim Suthay pernah meninggalkan pesan
yang mengatakan agar aku berusaha membunuh tabib sakti itu."
Gi Jian-cau berdehem pelan, katanya lagi
dengan suara dingin, "Dalam perselisihan kami sepuluh tokoh
persilatan dengan Thio Kim-ciok,
kalian para angkatan muda sama sekali tak tersangkut. Kuanjurkan
kepada kalian lebih baik tak usah mencampuri urusan ini, kalau
tidak, aku kuatir kalian akan mampus tanpa liang kubur."
Kembali Thay-kun tersenyum.
"Gi-locianpwe, tahukah kau siapa Hek-mo-ong itu?" dia bertanya.
"Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok!" sahut
Gi Jian-cau sambil tertawa dingin.
Liu Khi segera berseru pula sambil
tertawa licik, "Nona Thay-kun, kuperingatkan sekali lagi kepadamu,
di sekitar gedung ini sekarang telah berdatangan begitu banyak jago
lihai persilatan, kedatangan mereka pada malam ini tak lain hendak
membunuh Thio Kim-ciok."
"Oleh sebab itu biarpun kali ini Thio
Kim-ciok memiliki sepuluh lembar nyawa cadangan pun, jangan harap
bisa mempertahankan hidupnya. Bilamana kau ingin membantu Thio
Kim-ciok, maka hal ini sama artinya sudah bosan hidup di dunia."
Thay-kun tersenyum.
"Sejak tadi sudah kuduga Ho Lan-hiang
dan Biau-kosiu sekalian bersembunyi di sekitar gedung ini
bersama-sama jago andalannya, malah bisa jadi sastrawan berwajah
tampan Liong Oh-im beserta jago-jagonya pun telah berdatangan. Cuma
aku pikir belum tentu kawanan jago persilatan yang begini banyak itu
akan tunduk dan menuruti perintahmu."
"Siapa tahu orang yang sedang mereka
cari bukan Thio Kim-ciok, melainkan Liu Khi serta Gi Jian-cau!"
Berubah hebat paras muka Liu Khi, dia
segera membentak, "Budak setan, rupanya arak kehormatan kau tampik,
arak hukuman kau cari. Sudah bosan hidup rupanya kau!"
Di tengah bentakan itu, Liu Khi telah
mencabut senjatanya, lalu dengan kecepatan luar biasa dia langsung
membacok pinggang gadis itu.
Baru saja golok Liu Khi bergerak, dua
bilah pedang yang muncul secara tiba-tiba dari sisi arena, seperti
sepasang naga yang muncul dari samudra, satu dari kiri dan yang lain
dari kanan, segera mencegat dari arah berlawanan dengan kecepatan
tak kalah dari gerakan Liu Khi.
Kedua bilah pedang itu tahu-tahu sudah
menangkis sambaran golok panjang itu.
Ternyata kedua bilah pedang itu adalah
pedang iblis Tio Tian-seng serta pedang bambu
Bong Thian-gak.
Dengan satu gerakan yang tak kalah
cepatnya Liu Khi segera memutar kembali mata goloknya dan ditarik ke
belakang.
Kemudian sambil melotot ke arah Tio
Tian-seng, dia membentak penuh gusar, "Tio-pangcu, sesungguhnya apa
maksudmu?"
Dengan wajah serius dan
bersungguh-sungguh Tio Tian-seng berkata, "Kepandaian silat
Jian-ciat-suseng bertiga tidak berada di bawah kepandaian silat
tokoh mana pun dari sepuluh tokoh persilatan di masa lalu. Bila kita
harus bertarung melawan mereka, maka tanpa kita sadari perbuatan itu
telah memenuhi harapan Thio Kim-ciok."
"Kalau bukan begitu, lantas dengan cara
apakah kita^ harus menghadapi beberapa orang yang tak tahu diri
ini?" seru Liu Khi sambil tertawa dingin.
Tiba-tiba Tio Tian-seng berpaling ke
arah Bong Thian-gak, lalu
katanya, "Bong-laute, ada satu patah kata yang ingin kusampaikan
kepadamu, yaitu soal dendam kesumat sepuluh tokoh persilatan dengan
Thio Kim-ciok, kau tahu perselisihan ini sudah terjalin sejak tiga
puluh tahun berselang, oleh karena itu selama sepuluh tokoh
persilatan masih ada yang hidup, kami tak akan membiarkan Thio
Kim-ciok tetap hidup, pertarungan kami dengan Thio Kim-ciok tak
pernah bisa dileraikan lagi."
"Sebaliknya kalian adalah orang-orang
yang berada di luar garis, mengapa kalian mesti menjerumuskan diri
ke dalam kancah perselisihan itu? Hasilnya tak menguntungkan bagi
kalian? Karena itu kuanjurkan kepada kalian, lebih baik tinggalkan
tempat ini secepatnya."
"Boanpwe merasa berterima kasih atas
nasehat Tio-pangcu," kata Bong
Thian-gak dengan lantang, "tapi ada satu hal yang perlu
Locianpwe mengerti, walaupun antara kami bertiga dengan Thio
Kim-ciok tidak mempunyai hubungan budi dan dendam secara langsung,
namun hubungan kami adalah anak murid atau keturunan langsung
sepuluh tokoh persilatan, maka kami wajib mengetahui sampai jelas
siapa gerangan Hek-mo-ong yang sesungguhnya."
"Ah betul, hampir saja aku lupa bahwa
Bong-laute adalah anak murid Oh Ciong-hu serta Ku-lo Hwesio," segera
kata Tio Tian-seng.
Sampai di situ, sorot matanya segera
dialihkan ke wajah Song
Leng-hui sambil tanyanya pula, "Siapa pula dia?"
"Dia adalah istriku, putri tunggal
sepasang kekasih persilatan Song-ciu suami-istri."
Tio Tian-seng menghela napas sedih,
ujarnya kemudian, "Kalau memang begitu Bong-laute sekalian memang
berhak untuk tetap tinggal di sini."
"Tio-pangcu," kata
Bong Thian-gak, "sesungguhnya musuh
besar yang sedang Boanpwe cari saat ini adalah Hek-mo-ong, bukan
Thio Kim-ciok. Andaikata Thio Kim-ciok adalah Hek-mo-ong, maka di
antara kami dengannya terjadi pula hubungan sakit hati."
"Jadi kau beranggapan Thio Kim-ciok
bukan Hek-mo-ong?" tiba-tiba Tio Tian-seng bertanya dengan suara
dalam.
"Barusan kami telah bertarung melawan
Hek-mo-ong asli dan bilamana pandanganku belum lamur, Boanpwe masih
teringat dengan jelas bahwa Hek-mo-ong adalah seorang berlengan
tunggal."
Liu Khi
tertawa kering, katanya, "Dalam Kangouw dewasa ini, orang berlengan
tunggal yang cukup pantas menjadi Hek-mo-ong hanya Jian-ciat-suseng
serta aku dua orang."
"Bong-laute mengatakan orang yang paling
dicurigai sebagai Hek-mo-ong adalah Liu Khi, tapi aku tak akan
mempercayai begitu saja," kata Tio Tian-seng dengan suara dalam.
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas
panjang, lalu katanya, "Tidak percaya pun tak ada gunanya. Bila
dugaanku tidak salah, maka untuk membuktikan siapakah Hek-mo-ong
yang sesungguhnya, maka jawaban itu tidak dapat diperoleh sebelum
sepuluh tokoh persilatan dan Ho Lan-hiang mampus semua hingga
tinggal orang terakhir. Saat itulah wajah asli Hek-mo-ong baru akan
ketahuan."
Mendadak Bong
Thian-gak tertawa keras, serunya, "Liu Khi, mudah
sekali bila kau ingin membuktikan bahwa kau bukan Hek-mo-ong, cukup
kau singkap baju kananmu yang kutung itu dan perlihatkan kepada
semua orang, apakah di situ telah kau sembunyikan tangan tengkorakmu
atau tidak. Jika tak ada, maka terbukti kau memang bukan
Hek-mo-ong."
"Tangan tengkorak andalan Hek-mo-ong
untuk membunuh sudah cukup menggetarkan setiap orang, namun tak
seorang pun di dunia ini yang mengetahui bahwa tangan tengkorak
andalan Hek-mo-ong disembunyikan di lengan kanannya yang kutung."
Tidak heran perkataan
Bong Thian-gak itu mengejutkan para
jago, masing-masing segera berpikir dalam hati, "Betulkah tangan
tengkorak Hek-mo-ong tersembunyi di balik lengannya yang kutung?"
Dengan hati berdebar dan perasaan amat
tegang, sorot mata kawanan jago itu serentak dialihkan ke lengan
kutung Liu Khi.
Sambil mengerut dahi Tio Tian-seng
bertanya pula dengan suara dalam, "Bong-laute, benarkah kau pernah
bersua dengan Hek-mo-ong?"
"Bukan hanya bersua, malahan dada kiriku
sempat dihajar olehnya dengan tangan tengkoraknya. Jika kalian tak
percaya, silakan diperiksa tanda yang berada di tubuhku ini."
Sembari berkata, tiba-tiba pemuda itu
membuka pakaian yang menutupi dadanya.
Biarpun suasana malam
itu sangat gelap, namun dengan ketajaman mata Tio
Tian-seng sekalian, sekilas pandang saja mereka dapat melihat dengan
jelas bahwa di atas dada sebelah kiri Bong
Thian-gak terdapat sebuah cap tangan tengkorak yang
sembab membengkak dan berwarna hitam seperti yang biasanya
ditemukan, justru karena itulah Bong
Thian-gak tak sampai menemui ajal.
Pada saat itulah tiba-tiba berkumandang
suara gelak tawa yang amat keras, menyusul terdengar seseorang
berkata, "Tio Tian-seng, benarkah di atas tubuhnya terdapat bekas
tangan tengkorak?"
Sesosok bayangan orang berbaju putih
telah melompat datang dengan cepatnya.
Orang ini bukan lain adalah sastrawan
berwajah tampan Liong Oh-im, salah seorang di antara sepuluh tokoh
persilatan.
Liong Oh-im muncul dengan pedang
tersoreng di punggung dan kipas tulang kemala di tangan, dia
berjalan ke hadapan Bong
Thian-gak dengan langkah amat santai.
Setelah memeriksa sekejap bekas tangan
tengkorak di dada Bong
Thian-gak, dengan wajah berubah ia berseru keras, "Ah, ternyata
memang bekas tangan tengkorak yang asli, cuma warnanya saja yang
berbeda."
Sampai di sini sorot matanya segera
dialihkan ke wajah Liu Khi.
Liu Khi tertawa seram, katanya, "Liong
Oh-im, sungguh tak disangka kau pun datang kemari!"
Liong Oh-im tertawa ringan, sahutnya,
"Dari kesepuluh tokoh persilatan yang belum mampus, hampir semuanya
telah muncul di sini. Termasuk Ho Lan-hiang pun mungkin sudah berada
di sekitar tempat ini."
Belum selesai perkataan itu diucapkan,
terendus bau harum semerbak bunga anggrek yang tersebar di sekitar
tempat itu, lalu terdengar seseorang berkata dengan suara lembut dan
halus, "Lan-hiang sudah tiba sejak tadi!"
Semua orang segera berpaling ke arah
asal suara ini, tampaklah tiga sosok bayangan orang berdiri di atas
gunung-gunungan.
Tak disangkal lagi orang yang berada di
tengah adalah Ho Lan-hiang, sedangkan di sisi kirinya adalah
Ji-kaucu, sedang orang yang berada di sebelah kanan adalah
Sim Tiong-kiu.
Liu Khi
tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya, "Sungguh tak kusangka semua orang
telah berdatangan kemari. Hm, kalau begitu kita pun tak usah
menunggu lebih lanjut, sekarang juga kita dapat turun tangan
terhadap Thio Kim-ciok."
"Tunggu sebentar!" mendadak Liong Oh-im
berseru keras sambil tertawa.
"Liong-suseng, apalagi yang kau
ragukan?" tegur Liu Khi sambil tertawa dingin.
Liong Oh-im tertawa terbahak-bahak,
"Tiga puluh tahun lalu, sepuluh tokoh persilatan hendak membunuh
Thio Kim-ciok dan tiga puluh tahun kemudian Thio Kim-ciok yang
hendak membunuh sepuluh tokoh persilatan untuk membalas dendam.
Kedua belah pihak telah bersumpah tak akan hidup berdampingan secara
damai lagi, namun di balik dendam kesumat yang berlangsung selama
ini terselip pula seorang sutradara yang misterius. Dialah yang
sesungguhnya menjadi dalang peristiwa berdarah ini, yakni
Hek-mo-ong. Sebelum kita melangkah lebih jauh, aku pikir ada baiknya
menyelidiki lebih dulu siapa sesungguhnya orang yang telah berperan
sebagai Hek-mo-ong?"
Berubah hebat paras muka Liu Khi, segera
tegurnya dengan suara dingin, 'Jadi Liong-heng mencurigai aku
sebagai Hek-mo-ong?"
Liong Oh-im tersenyum, "Sekarang
persoalan telah berkembang menjadi begini rupa, aku rasa
Liu-sianseng wajib memperlihatkan lengan kananmu yang kutung itu
kepada semua orang."
"Liu Khi," Tio Tian-seng berseru pula
dengan lantang. "Kau harus bertindak untuk menghilangkan kecurigaan
orang terhadap dirimu."
Mendadak terdengar Thay-kun berseru
dengan suara merdu, "Tidak usah diperiksa lagi, dalam keadaan dan
waktu seperti ini, di balik lengan tunggalnya itu tak akan ditemukan
tangan tengkoraknya."
"Sumoay, apa maksudmu berkata demikian?"
tanya Bong Thian-gak dengan
wajah termangu.
"Seandainya aku menjadi Hek-mo-ong, jika
muncul sebagai orang lain, aku tak akan melengkapi diriku dengan
tangan tengkorak itu."
Kobaran hawa amarah yang membara telah
menyelimuti wajah Liu Khi, tiba-tiba ia membentak dengan geram,
"Budak setan, rupanya kau sudah menuduh aku habis-habisan. Hm, bila
aku harus menerima penghinaan hari ini tanpa balas, perbuatanmu ini
sama artinya dengan memberi aib sepuluh tokoh persilatan, hm
.... Sekarang pentang mata kalian
lebar-lebar, lihat dengan jelas, benda apakah yang kusembunyikan di
balik lengan kutungku ini?"
Seraya berkata Liu Khi segera menggulung
ujung baju kanannya yang kosong sampai ke batas bahu kanannya
sehingga lengannya yang kutung itu dapat terlihat dengan jelas dan
nyata.
Kecuali bekas kutungan lengan akibat
bacokan pisau, ternyata tidak nampak tangan tengkorak seperti apa
yang dicurigakan.
Mendadak pada saat itu terdengar Liu Khi
membentak dengan penuh rasa geram, "Bocah keparat yang berani
menghina aku, kalian harus menyerahkan nyawamu."
Golok saktinya kembali dilontarkan ke
muka dengan hebatnya.
Serangan golok itu langsung ditujukan ke
arah Bong Thian-gak.
Serangan itu meluncur dari bawah
berbalik membacok ke arah atas. Selain dilepaskan dengan kecepatan
luar biasa, jurus serangan pun luar biasa, dalam waktu singkat telah
mencapai sasarannya.
Terdengar bunyi robekan, di tengah
kilauan cahaya putih yang terpancar dari mata golok,
Bong Thian-gak melayang pergi ke
samping, sekalipun ia sudah bergerak cukup cepat, ujung baju sebelah
kirinya terpapas juga dan terjatuh ke atas tanah.
Andaikata lengan kanan
Bong Thian-gak tidak kutung sejak
dulu, hari ini lengan itu pasti akan kutung juga termakan oleh
sambaran golok kilat itu.
Bersamaan waktunya dengan gerakan
menghindar tadi, Bong
Thian-gak telah mengayunkan pula pedang bambunya melancarkan sebuah
bacokan kilat.
Serangan itu langsung mencegah serangan
golok kedua Liu Khi yang berusaha menyerobot posisi. Itulah sebabnya
di saat mata golok Liu Khi menyambar tiba untuk kesekian kalinya,
serangan pedang Bong
Thian-gak pun turut membabat tiba dari arah samping.
Begitu pertarungan berlangsung, para
jago yang hadir di arena segera mengerti bahwa pertarungan antara
kedua orang itu tak akan berakhir dalam waktu singkat.
Bila jago-jago lihai sedang bertarung,
sekalipun terdapat sedikit selisih kepandaian mereka, asalkan
kemampuan itu hampir berimbang, maka bukan pekerjaan mudah bagi
mereka untuk menentukan menang kalah dalam waktu singkat.
Tampaknya Liu Khi bermaksud
melangsungkan pertarungan kilat, makin menyerang semakin cepat.
Tujuannya tentu ingin membinasakan Bong
Thian-gak.
Oleh sebab itu setiap jurus serangan
yang dilontarkan, hampir semuanya merupakan jurus maut yang ganas
dan buas, kecepatannya pun bagaikan sambaran kilat.
Sebaliknya permainan pedang
Bong Thian-gak pun cepat, ganas dan
buas untuk mengimbangi permainan lawan. Kendati ia dipaksa oleh
gerak serangan Liu Khi sehingga berada dalam posisi di bawah angin,
namun ia tetap menghadapi serangan musuh dengan tenang, jurus
dilawan dengan jurus, gerakan
dipatahkan dengan gerakan, gerak-geriknya sama sekali tidak kalut.
Untuk sementara waktu Thay-kun dan
Song Leng-hui merasa agak
lega.
Sebaliknya kawanan jago lainnya menjadi
bingung dan tak tahu bagaimana harus menyelesaikan pertikaian itu.
Tiba-tiba terdengar si tabib sakti Gi
Jian-cau berkata dengan suara dingin, "Tujuan kedatangan kita hari
ini adalah membekuk Thio Kim-ciok. Barang siapa berani menentang
usaha kita membunuh Thio Kim-ciok adalah musuh kita juga, apakah
kita mesti membuang waktu lagi dengan percuma?"
"Gi Jian-cau," bentak Thay-kun dengan
suara dingin, "jika kau berani maju selangkah lagi, silakan
mencicipi dahulu kelihaian ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang."
Sambil berkata gadis itu menyiapkan
telapak tangan kirinya dan ditujukan ke arah si tabib sakti di
hadapannya.
Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan ilmu
pukulan yang amat dahsyat dan sudah lama termasyhur di seantero
persilatan, sekalipun si tabib sakti Gi Jian-cau terhitung salah
seorang yang tercantum dalam sepuluh tokoh sakti persilatan, namun
dia pun tak berani bertindak secara gegabah.
"Budak setan," Gi Jian-cau segera
mengumpat, "biarpun kau memiliki ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang yang
maha dahsyat, tetapi kemampuanmu itu hanya sanggup menandingi aku
seorang."
"Seorang pun sudah lebih dari cukup,"
kata Thay-kun sambil tertawa merdu. "Sebab sampai detik ini, hanya
kau serta Liu Khi yang berniat melenyapkan kami dari sini."
Baru selesai perkataan itu diucapkan,
mendadak Ho Lan-hiang yang berada di atas gunung-gunungan berkata
dengan suara dingin, "Budak busuk, aku pun tak akan melepaskan kau."
Belum sempat Thay-kun menanggapi,
tiba-tiba terdengar pula seorang berseru dengan suara merdu, "Ho
Lan-hiang, jika orang-orang Put-gwa-cin-kau berani bergerak, aku pun
akan segera turun tangan menghadang kalian."
Semua jago segera berpaling ke arah asal
suara itu, entah sejak kapan ternyata dalam halaman itu telah
bertambah dengan Biau-kosiu beserta rombongan.
Adapun rombongan Biau-kosiu ini terdiri
dari Biau-han-thian suami-istri serta nenek berambut putih.
Betapa senang Thay-kun mengetahui
Biau-kosiu serta rombongan mendukung pihaknya, ia segera tertawa
cekikikan, katanya, "Nona Biau, apakah kau sudah mengetahui siapa
Hek-mo-ong yang sebenarnya?"
"Setiap orang yang hadir di arena saat
ini mempunyai kecurigaan sebagai Hek-mo-ong dan kedatanganku kali
ini adalah khusus untuk menyelidiki siapa Hek-mo-ong yang
sesungguhnya sehingga dendam sakit hati ayahku bisa dibalas," ucap
Biau-kosiu dingin.
Sembari berkata, ia bersama rombongannya
pelan-pelan berjalan masuk ke dalam arena.
Dalam pada itu pertarungan antara
Bong Thian-gak melawan Liu Khi telah
mencapai puncak yang paling kritis.
Pertarungan di antara mereka berdua yang
semula berlangsung amat cepat dan ganas, kini telah berubah menjadi
lambat, bahkan gerakannya amat sederhana dan bersahaja.
Walaupun begitu, setiap orang yang hadir
tahu bahwa di balik setiap jurus serangan yang digunakan kedua orang
itu terselip intisari segenap kepandaian yang mereka miliki.
Tiba-tiba terdengar
Bong Thian-gak membentak, "Liu Khi,
sambut dulu jurus serangan 'bianglala panjang menutup sang surya'
ini!"
Pedang diangkat sejajar dada, kaki kiri
maju selangkah dan pedangnya seperti semburan air yang kuat menusuk
dada Liu Khi dengan kekuatan maha dahsyat.
Begitu Bong
Thian-gak mengeluarkan jurus serangan ini, berubah
hebat paras muka para jago yang menonton dari samping, mendadak
terdengar Tio Tian-seng berteriak keras, "Liu Khi, jangan bertindak
gegabah, jangan kau sambut serangan itu."
Tio Tian-seng meluncur ke depan dari
sisi kiri sambil mengayun pedangnya dengan kecepatan luar biasa.
Dengan bertindaknya Tio Tian-seng secara
di luar dugaan ini, suasana dalam arena menjadi kalut, bentakan
nyaring, hardikan lantang bergema silih berganti.
Thay-kun, Soh Leng-hui, Biau-kosiu dan
Tan Sam-cing serentak
melompat ke depan dan terjun ke dalam arena.
Di tengah gelak tawa yang amat keras,
Liu Khi melejit ke tengah udara bagaikan seekor burung elang raksasa
dan melayang ke belakang.
Terdengar suara benturan keras.
Tahu-tahu pedang bambu di tangan Bong
Thian-gak telah terpapas kutung oleh bacokan pedang Tio
Tian-seng
Bong Thian-gak
mendengus tertahan, tubuhnya mencelat jauh dan jatuh terduduk di
atas tanah.
Thay-kun dan
Song Leng-hui sama-sama menjerit kaget, serentak mereka
melompat ke hadapan Bong
Thian-gak.
Sementara itu
Bong Thian-gak memutar biji mata, lalu sambil melompat
bangun dari atas tanah, bentaknya, "Tio-pangcu, sebenarnya serangan
pedangku dapat memaksa Liu Khi mengungkap identitasnya. Sungguh tak
disangka, kau telah menggagalkan usahaku itu."
Dengan wajah serius Tio Tian-seng
berkata, "Ilmu pedang Bong-laute telah mencapai puncak kesempurnaan.
Aku merasa amat kagum atas kemampuanmu itu, tetapi aku tak bisa
membiarkan Liu Khi terluka di ujung pedangmu begitu saja."
Sementara itu
Song Leng-hui telah bertanya dengan penuh kuatir,
"Engkoh Gak, apakah kau terluka?"
"Tidak," Bong
Thian-gak menggeleng.
Dalam pada itu Liu Khi yang sudah
berdiri, katanya dengan senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya,
"Malam ini aku orang she Liu
telah memperoleh pengalaman baru. Hm, hampir saja aku terluka di
ujung pedangmu itu."
"Sungguh menyesal aku gagal membuka
kedok palsumu pada malam ini," kata Bong
Thian-gak hambar.
Mendadak terdengar Biau-kosiu berseru
dengan suara lantang, "Bong-siauhiap, mengapa kalian harus menjual
tenaga untuk Thio Kim-ciok?"
"Sebab kami tahu Thio Kim-ciok bukan
Hek-mo-ong yang sedang kita cari."
Biau-kosiu tertawa dingin, "Peduli Thio
Kim-ciok adalah Hek-mo-ong atau bukan, dari ambisi serta tekad Thio
Kim-ciok untuk melampiaskan rasa benci dan dendamnya, tak mungkin
dia melepaskan setiap orang yang berhubungan dengan sepuluh tokoh
persilatan begitu saja. Oleh sebab itu bila kalian bersikap membela
Thio Kim-ciok secara membabi-buta, pada hakikatnya perbuatan kalian
itu merupakan perbuatan yang sangat tolol."
"Bong-laute," Tio Tian-seng segera
menambahkan, "apa yang dikatakan nona Biau tepat sekali. Thio
Kim-ciok adalah seorang buas yang berhati sempit dan munafik, dia
seorang pendendam dan tak pernah melepaskan musuhnya begitu saja,
padahal Bong-laute serta nona Song
mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan sepuluh tokoh
persilatan, pada akhirnya Thio Kim-ciok juga tak bakal melepas
kalian begitu saja."
Baru saja Tio Tian-seng selesai berkata,
mendadak terdengar suara ledakan keras yang memekakkan telinga,
menyusul gedung yang amat besar dan megah itu roboh berantakan ke
atas tanah.
Di tengah robohnya gedung itu, terdengar
pula beberapa kali jeritan ngeri yang memilukan. Beberapa sosok
bayangan orang nampak melarikan diri terbirit-birit dari balik
reruntuhan bangunan.
Dengan ketajaman mata
Bong Thian-gak, sekilas pandang saja
ia sudah mengenali orang yang sedang melarikan diri itu, seorang
kakek berbaju hitam serta tiga orang lelaki kekar berbaju hitam
pula.
Mendadak hatinya bergetar keras, tanpa
sadar serunya tertahan.
"Hek-ki-to-cu Long
Jit-seng."
Ketika kakek berbaju hitam yang kabur
menyelamatkan diri itu sampai di hadapan
Bong Thian-gak dan melihat kehadiran si anak muda itu,
ia tertawa licik, sapanya, "Jian-ciat-suseng, sungguh tak disangka
kita bersua lagi di sini."
Sebagaimana diketahui, dalam pertempuran
di kuil Hong-kong-si, Long
Jit-seng berhasil menyelamatkan jiwanya dari kematian.
Kemunculan orang ini membuat
Bong Thian-gak segera teringat
perkataan Liu Khi barusan.
"Sesungguhnya aku sudah menyiapkan
selembar kartu raja untuk menghancurkan semua peralatan rahasia yang
berada dalam gedung ini."
Dari sini bisa diduga kartu raja yang
dimaksud Liu Khi tadi tak lain adalah Hek-ki-to-cu
Long Jit-seng.
Sementara itu di saat
Long Jit-seng berempat menyelamatkan
diri dari reruntuhan bangunan rumah tadi, Gi Jian-cau memperhatikan
bangunan yang roboh itu dengan seksama.
Tiba-tiba wajahnya berubah hebat, dari
balik matanya mencorong sinar penuh rasa kaget. Sambil mengawasi
Long jit-seng sekalian,
katanya dengan suara dingin, "Sungguh tak disangka, kalian berhasil
menemukan pintu masuk Kiu-kiong-pat-kwa, sungguh mengagumkan."
Liu Khi tertawa terbahak-bahak, katanya
pula, "Gi-heng, mari kuperkenalkan, dia adalah
Long Jit-seng dari lautan timur. Aku
pernah bilang bukan, betapa pun lihai serta rumitnya alat rahasia
Thio Kim-ciok, persiapannya itu takkan bisa menghalangi kita untuk
pergi mencarinya."
Long Jit-seng
tertawa seram pula, ujarnya, "Sungguh tak disangka, para jago
seluruh kolong langit berkumpul di sini pada malam ini. Sungguh
kejadian ini merupakan suatu keberuntungan bagiku. Kini pintu masuk
Pat-kwa-kiu-kiong sudah berhasil ditemukan, mengapa kalian tidak
masuk ke dalam untuk membekuk Thio Kim-ciok?"
Gi Jian-cau tertawa dingin, "Walaupun
pintu masuk barisan Kiu-kiong-pat-kwa telah berhasil ditemukan,
namun alat rahasia yang terdapat di ruang bawah tanah sana masih
banyak dan berlapis-lapis. Dalam hal ini rasanya kita masih
memerlukan bantuan Long-tocu."
Long Jit-seng
tertawa tergelak, "Aku tak lebih cuma melaksanakan perintah untuk
membukakan pintu masuk barisan Kiu-kiong-pat-kwa yang berada dalam
gedung ini. Sekarang tugas telah selesai, aku tak sudi menyerempet
bahaya lagi dengan percuma."
Sampai di situ
Long Jit-seng segera mengulap tangan
kanannya dan bersiap mengajak ketiga anak buahnya pergi meninggalkan
tempat itu.
Mendadak terdengar Biau-kosiu membentak,
"Berhenti!"
Long Jit-seng
memandang sekejap ke arah nona itu, lalu bertanya, "Siapakah kau?
Ada urusan apa memanggil aku?"
"Aku bernama Biau-kosiu, aku meminta
padamu untuk mengajak kami memasuki barisan Kiu-kiong-pat-kwa yang
berada di bawah tanah itu."
"Seandainya aku keberatan?" tanya
Long Jit-seng menantang.
"Kalau begitu, silakan kau mampus di
tempat ini."
"Bila aku mati, kalian pun jangan
berharap bisa menangkap Thio Kim-ciok untuk selamanya."
Tiba-tiba Biau-kosiu memandang sekejap
ke arah Liu Khi yang berada di samping arena, lalu tegurnya dingin,
"Dia ini anak buahmu?"
Liu Khi tertawa, "Aku pernah
menyelamatkan jiwanya satu kali, maka dia pun hanya membantuku
sekali. Waktu itu aku hanya meminta kepadanya utnuk membantuku
menemukan pintu masuk menuju barisan Kiu-kiong-pat-kwa yang berada
dalam bangunan bawah tanah itu dan sekarang tugasnya telah selesai,
tentu saja aku pun tak bisa mengekang dirinya lagi."
Biau-kosiu tertawa dingin, tiba-tiba ia
berjalan ke muka dan pelan-pelan menghampiri
Long Jit-seng.
Setiap jago yang berada dalam arena
mengetahui bahwa Biau-kosiu bermaksud memaksa
Long Jit-seng memenuhi keinginannya.
Mendadak terdengar
Long Jit-seng membentak, telapak
tangannya segera diayunkan ke depan membacok dada Biau-kosiu yang
sedang berjalan mendekat.
Dengan suatu gerakan yang amat cepat dan
lincah, Biau-kosiu menghindar ke samping, kemudian pergelangan
tangannya diputar sambil menyambar, tanpa mengeluarkan sedikit
tenaga pun, dia telah berhasil mencengkeram urat nadi pergelangan
tangan kanan Long Jitseng.
Pada saat itulah ketiga lelaki kekar
berbaju hitam yang berdiri di belakang
Long Jit-seng menerjang maju secara bersama-sama.
Biau-kosiu segera mengayun tangan
kirinya siap meluncurkan sebuah bacokan mematikan, tiba-tiba
terdengar Long Jit-seng
berteriak, "Nona, jangan kau lukai pembantu utamaku."
Di tengah seruan itu, golok Liu Khi
telah tercabut, kemudian diayunkan sejajar dada menghadang jalan
pergi ketiga lelaki kekar itu serta niat Biau-kosiu untuk menyerang.
Melihat Liu Khi menghalangi niatnya,
Biau-kosiu segera menegur sambil tertawa dingin, "Liu-tayhiap,
apakah kau berniat melepaskannya pergi dari sini?"
Liu Khi tertawa terbahak-bahak, "Apabila
nona Biau bermaksud minta bantuan Long-tocu, aku rasa kau harus
memohonnya secara baik-baik."
"Tapi sayang dia enggan menerima arak
kehormatan, sebaliknya justru mencari arak hukuman," jengek
Biau-kosiu sambil tertawa dingin.
Liu Khi tak menggubris Biau-kosiu lagi,
dia segera menggerakkan badan dan memberi hormat kepada
Long Jit-seng sambil katanya,
"Long-tocu, kau pun terhitung seorang pintar, kau juga tahu bahwa
setiap orang yang mengepung gedung ini merupakan jago-jago
persilatan yang pernah menggetarkan persilatan, lagi pula mereka
bertekad hendak membekuk Thio Kim-ciok, padahal Thio Kim-ciok pernah
belajar ilmu bangunan dan ilmu alat rahasia dari Susiokmu."
"Berarti selain dirimu yang mampu
memecahkan alat rahasia yang dipasang Thio Kim-ciok, tidak ada orang
kedua di dunia ini yang mampu melakukannya. Oleh sebab itu bagaimana
pun juga mereka tak akan melepaskan dirimu begitu saja pada malam
ini."
Long Jit-seng
tertawa dingin.
"Sungguh tidak disangka Liu-tayhiap
telah menyingkap semua rahasiaku di hadapan umum."
"Itulah sebabnya kau harus membantu
usaha kami membekuk Thio Kim-ciok."
Long Jit-seng
tertawa licik, "Oh, tentu saja”
Liu Khi tersenyum, dia melirik sekejap
ke arah Biau-kosiu, lalu ujarnya, "
Nona Biau, sekarang kau boleh melepaskannya."
Biau-kosiu mendengus dingin. Sambil
mengendorkan tangan kanannya ia berkata dingin, "Seharusnya sejak
tadi kau memerintahkan kepadanya untuk berbuat demikian."
Mendadak Liu Khi berseru dengan suara
lantang, "Dengarkan baik-baik saudara sekalian, sekarang Thio
Kim-ciok telah berada dalam ruang bawah tanah gedung ini yang telah
dilengkapi dengan alat-alat rahasia yang tangguh dan kuat. Selama
puluhan tahun terakhir ini, dia selalu mengeram di situ untuk
merawat lukanya, sampai dimanakah ketangguhan alat-alat rahasianya
serta rahasia apa yang terkandung di balik semua ini, aku rasa kita
harus masuk sendiri serta menggalinya."
Baru saja Liu Khi selesai berkata,
tiba-tiba dari balik kegelapan malam berkumandang suara seorang tua
yang serak tapi lantang, "Apa yang diucapkan Liu Khi memang benar.
Di balik ruang bawah tanah dalam gedung ini memang tersimpan banyak
sekali rahasia, cuma kalian harus ingat, tempat ini pun merupakan
perangkap kematian yang bisa menghabisi riwayat hidup kalian."
Beberapa patah kata itu bergema dengan
lantang dan dapat didengar oleh setiap jago dengan jelas, namun
semua orang hanya bisa mendengar suaranya tanpa berhasil melihat
sang pembicara.
Berubah hebat paras muka semua jago.
Tio Tian-seng segera menghardik dengan
suara dalam, "Siapakah kau? Harap sebutkan namamu."
Suara yang serak tapi nyaring itu
tertawa terbahak-bahak, "Aku adalah Thio Kim-ciok yang hendak kalian
bekuk pada malam ini. Pintu neraka menuju ke barisan
Kui-kiong-pat-kwa telah terbuka lebar dan siap menyambut kalian,
mengapa kalian ragu-ragu memasukinya?"
Bong
Thian-gak, Thay-kun dan Song
Leng-hui telah mengenali suara itu, suara Thio Kim-ciok yang
bermaksud menantang sepuluh tokoh persilatan untuk berduel.
Perubahan yang berlangsung sangat
tiba-tiba ini segera membuat gedung itu diliputi suasana misterius,
tegang dan menyeramkan.
Sementara itu para jago telah melangkah
menghampiri bangunan yang roboh itu.
Ketika semua orang sudah melihat jelas
keadaan di situ, berubah hebat paras muka mereka.
Ternyata di atas bekas gedung yang megah
dan mentereng, kini telah muncul sebuah kuburan yang mengerikan.
Di atas batu nisan di muka kuburan yang
sangat besar dan sangat aneh itu muncul sebuah pintu berbentuk
rembulan, di atasnya terpajang tujuh huruf besar berwarna merah
darah:
"Kuburan umat persilatan
Kiu-kiong-pat-kwa".
Di sebelah kiri dan kanan batu nisan itu
terpancang pula sepasang nisan yang bertuliskan:
"Pintu neraka menyambut umat manusia
dengan tubuh hancur tulang remuk naik ke surga."
Bergidik perasaan para jago menyaksikan
semua ini, untuk beberapa saat lamanya mereka hanya bisa mengawasi
liang kuburan yang terbuka lebar itu dengan mata terbelalak dan
wajah termangu.
Liong Oh-im berseru lantang, "Thio
Kim-ciok, benarkah kau berada di dalam liang kuburan itu?"
Gelak tawa nyaring segera berkumandang,
"Liong Oh-im, aku memang berada di liang kuburan. Aku telah membuang
pikiran dan tenaga selama tiga puluh tahun untuk mempersiapkan liang
tempat peristirahatan yang paling nyaman untuk kalian sepuluh tokoh
persilatan serta Ho Lan-hiang si perempuan rendah itu. Mengapa
kalian tidak cepat masuk kemari?"
Kalau tadi sepuluh tokoh persilatan yang
masih hidup serta Ho Lan-hiang amat bernapsu untuk menangkap Thio
Kim-ciok, maka sekarang setelah Thi Kim-ciok menantang mereka,
orang-orang itu malah ragu menyambut tantangan itu.
Semua orang tahu bahwa Thio Kim-ciok
telah bertekad hendak membalas dendam. Perangkap yang telah ia
siapkan selama tiga puluh tahun dengan susah-payah ini merupakan
sarang naga gua harimau yang amat berbahaya dan sukar untuk
dilewati.
Dengan suara setengah berbisik,
Bong Thian-gak segera bertanya
kepada Thay-kun, "Sumoay, apakah kita akan turut masuk ke dalam?"
"Tentu saja kita harus ikut masuk. Hanya
saja, bila kita sudah masuk ke dalam, mungkin tak akan bisa keluar
lagi untuk selamanya."
"Apa maksudmu berkata demikian?"
"Aku merasa tempat ini seperti juga apa
yang dikatakan Thio Kim-ciok tadi, merupakan kuburan yang paling
besar untuk mengubur jago-jago lihai dunia persilatan."
Bong Thian-gak
menghela napas panjang.
"Ai, dugaan Sumoay memang benar, Thio
Kim-ciok belum dapat melupakan dendam sakit hati yang pernah
dialaminya tiga puluh tahun berselang. Ai, buat apa kita mesti ikut
serta dalam persoalan ini?"
"Ya benar, kita memang tak usah
melibatkan diri dalam perselisihan itu, tapi perselisihan antara
sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok pada malam ini,
terutama menang kalah mereka akan mempengaruhi nasib dan keadaan
persilatan di masa mendatang."
Sementara kedua orang itu masih
berbincang-bincang, kawanan jago lainnya secara beruntun telah
memasuki pintu di muka kuburan besar itu.
Liu Khi berjalan paling akhir, ketika
kakinya baru saja akan melangkah masuk, tiba-tiba ia menariknya
kembali. Kemudian sambil berpaling ke arah
Bong Thian-gak sekalian, tanyanya
sambil tertawa, "Apakah kalian tidak bermaksud memasuki kuburan umat
persilatan?"
Thay-kun tertawa dingin.
"Setelah kau masuk nanti, kami bisa
masuk sendiri."
"Bila kalian berniat ikut masuk, paling
baik jika berjalan mengikut di belakang kami. Kalau tidak, pasti
akan sulit untuk meneruskan perjalanan," kata Liu Khi sambil tertawa
seram.
"Terima kasih atas maksud baikmu,
silakan kau pergi lebih dulu!"
Sementara itu dari balik liang kubur
terdengar suara Tio Tian-seng berteriak, "Liu Khi, semua orang
sedang menantikan kedatanganmu. Mengapa kau tidak segera masuk ke
dalam?"
Liu Khi tertawa terbahak-bahak, dia
segera masuk ke dalam liang kubur.
Waktu itu pintu neraka menuju ke kuburan
masih terbuka lebar, pada mulanya masih terdengar suara langkah kaki
para jago serta suara pembicaraan mereka, tapi lambat-laun semakin
jauh, makin jauh ... akhirnya
tidak terdengar lagi sedikit suara pun.
Bong Thian-gak
yang menjumpai keadaan itu menjadi sangat terkejut, segera ujarnya,
"Wah, liang kubur ini nampaknya mempunyai lorong yang amat panjang
dan dalam."
Paras muka Thay-kun berubah juga,
katanya pula, "Bila seseorang berjalan di lorong bawah tanah,
biarpun sudah mencapai jarak sejauh satu li pun, seharusnya masih
bisa mendengar suara langkah kakinya. Tapi mereka baru masuk selama
seperempat jam, nyatanya suara mereka lenyap, kejadian seperti ini
benar-benar aneh sekali."
Belum lagi mereka selesai berkata,
mendadak terlihat seseorang berkelebat keluar dari balik liang
kubur, tahu-tahu seorang kakek berbaju hijau telah berdiri di depan
pintu liang kubur itu.
"Ah, Thio-locianpwe."
Ternyata orang tua yang berdiri di depan
pintu liang kubur itu tak lain adalah Thio Kim-ciok. Waktu itu ia
berdiri dengan wajah kereng dan serius, ujarnya tiba-tiba,
"Bong-siauhiap, bila bersedia menyembuhkan penyakit yang kuderita,
silakan ikut masuk ke dalam. Bila menolak, harap secepatnya pergi
meninggalkan tempat ini."
Satu ingatan segera melintas dalam benak
Bong Thian-gak, tanyanya
dengan suara dalam, "Dengan cara apakah Thio-locianpwe hendak
menghadapi Liu Khi sekalian?"
Dengan wajah serius dan nada
bersungguh-sungguh, Thio Kim-ciok menjawab, "Agaknya sepuluh tokoh
persilatan serta Ho Lan-hiang telah bertekad membunuh diriku. Demi
melanjutkan hidup, terpaksa aku harus memberikan perlawanan dengan
sepenuh tenaga dan berjuang sampai titik darah penghabisan."
"Apakah Locianpwe mempunyai kekuatan
yang cukup untuk menghadapi orang-orang itu?" kembali
Bong Thian-gak bertanya.
"Sudah barang tentu kekuatan yang
kumiliki tidak mampu melawan kemampuan mereka, tapi sampai akhirnya
hanya Hek-mo-ong seorang yang akan berduel melawan diriku."
Sebelum Bong
Thian-gak dapat menangkap arti di balik perkataan Thio
Kim-ciok itu, Thay-kun telah berhasil menangkap arti ucapan itu,
sambil menghela napas ia segera berkata, "Jadi kalau begitu
Thio-locianpwe benar-benar telah memperalat kemampuan Hek-mo-ong
untuk membunuh sisa kesepuluh tokoh persilatan? Ai, apakah tindakan
dan cara yang ditempuh Thio-locianpwe ini tidak terlampau kejam?"
Hijau membesi wajah Thio Kim-ciok.
"Umpatan nona Thay-kun memang tepat
sekali," sahutnya. "Nah, katakan sekarang, apakah kalian bersedia
membantuku? Saat ini Hek-mo-ong telah berada di dalam kuburan untuk
membunuh sepuluh tokoh persilatan yang tersisa serta Ho Lan-hiang,
aku pun harus selekasnya mempersiapkan segala sesuatunya."
Thay-kun menghela napas sedih.
"Kini badai pembunuhan sudah berada di
depan mata, apakah Thio-locianpwe bersedia mengungkap siapa gerangan
Hek-mo-ong yang sebenarnya?"
Thio Kim-ciok termenung dan berpikir
beberapa saat, setelah itu baru menghela napas panjang.
"Nona Thay-kun memang seorang nona yang
cerdas dan berotak encer, aku benar-benar merasa kagum atas
kepintaranmu itu. Memang benar, Hek-mo-ong adalah Liu Khi."
"Hah, jadi benar adalah Liu Khi?" seru
Bong Thian-gak terperanjat.
"Ya, sejak tiga puluh tahun berselang,
aku sudah tahu Liu Khi adalah Hek-mo-ong."
"Kalau Thio-locianpwe sudah mengetahui
bahwa otak dari semua kejahatan ini adalah Liu Khi, mengapa kau
tidak secara langsung mencarinya untuk membalas dendam?" tanya
Bong Thian-gak dengan suara
keras.
Tiba-tiba Thio Kim-ciok mendongakkan
kepala dan tertawa tergelak dengan suara menyeramkan.
"Walaupun Liu Khi dan aku terikat dendam
sakit hati sedalam lautan, tapi sepuluh tokoh persilatan serta Ho
Lan-hiang pun punya dendam sakit hati denganku, aku sangat membenci
mereka, begitu benciku hingga bertekad akan membasmi mereka satu per
satu, tapi ... aku sudah
tidak memiliki kekuatan sedemikian besar, maka aku
...."
Berbicara sampai di sini, suara Thio
Kim-ciok terdengar amat sedih, murung dan terputus-putus karena
menahan emosi.
Thay-kun menghela napas sedih, segera
ujarnya pula, "Maka Thio-locianpwe pun memperalat Hek-mo-ong Liu Khi
untuk membinasakan kesepuluh tokoh persilatan itu satu per satu?"
Thio Kim-ciok mengangguk pelan.
"Ya, meskipun begitu, akhirnya Liu Khi
akan turun tangan juga terhadapku."
"Bukankah kau sangat berharap bisa
membunuh Liu Khi?" jengek Bong
Thian-gak sambil tertawa dingin.
Thio Kim-ciok menghela napas sedih.
"Tapi yang pasti aku tak akan mampu
menandingi Hek-mo-ong Liu Khi."
"Ai, selama tiga puluh tahun terakhir
ini, aku harus berusaha keras mengendalikan rasa dendam dan benciku
yang terbesar untuk bekerja sama dengan Liu Khi serta berusaha
melenyapkan sepuluh pesilat tangguh dari muka bumi ini. Terus terang
kukatakan, aku memang sengaja mengulur waktu agar luka yang kuderita
bisa disembuhkan lebih dulu."
Mata Thio Kim-ciok yang sedih dan penuh
duka itu dialihkan ke Song
Leng-hui. Itulah pandangan penuh harapan.
Hingga detik ini
Bong Thian-gak baru mulai memperoleh
sedikit pengertian atas budi dendam serta musibah yang terjadi dalam
dunia persilatan selama ini, sesungguhnya persoalan ini memang
terlalu rumit dan memusingkan kepala.
Tentu saja yang patut dikasihani adalah
mereka yang telah keburu mati secara mengenaskan.
Satu masalah pelik yang dihadapi mereka
sekarang, yaitu apakah mereka harus membantu kakek yang berhati
kejam dan buas ini untuk mengembalikan kekuatannya sehingga ia dapat
memuaskan napsunya untuk membalas dendam sakit hatinya?
Tapi seandainya mereka tidak membantu
kakek ini untuk memulihkan kembali kekuatannya, Hek-mo-ong Liu Khi
pasti akan membinasakan pula Thio Kim-ciok setelah ia berhasil
menghabisi nyawa Tio Tian-seng sekalian.
Tiba-tiba terdengar Thay-kun menghela
napas panjang, "Sudahlah, kami bersedia membantu memulihkan kembali
kekuatanmu itu."
Thio Kim-ciok amat gembira.
Sebaliknya paras muka
Bong Thian-gak berubah hebat, ia
segera menegur, "Sumoay, apakah kita harus menyetujui
permintaannya?"
"Bicara soal dosa dan kekejaman,
Hek-mo-ong Liu Khi otak dari semua kekejian ini. Apabila kita
berniat menyingkirkan dalang semua kekejian dan kebuasan itu, maka
kita harus berbuat demikian. Hanya satu masalah yang dikuatirkan
adalah sehabis sembuh dari lukanya nanti, apakah Thio-locianpwe
benar-benar mampu melawan kekuatan Liu Khi."
Thio Kim-ciok menghela napas panjang,
"Sekalipun tidak dapat membunuhnya, paling tidak aku mempunyai
kekuatan untuk beradu jiwa dengannya."
Mendadak Thay-kun berkata dengan serius,
"Thio-locianpwe, aku ingin mengucapkan sesuatu kepadamu, yaitu Thian
adalah maha pengasih dan penyayang, kecuali menghadapi seorang buas
yang dosanya sudah menumpuk dan tidak terampuni lagi, kita harus
menolong mereka yang terancam bahaya."
"Kini Liu Khi telah memancing Tio
Tian-seng sekalian para jago memasuki kuburan itu serta membantai
mereka secara brutal. Apakah Thio-locianpwe akan berpeluk-tangan
tanpa berusaha menolongnya?"
Thio Kim-ciok menghela napas panjang.
"Ai, dendam sakit hatiku kepada mereka
sudah mencapai titik puncaknya, ibarat air dengan api, aku tak akan
hidup berdampingan lagi dengan mereka secara damai. Dengan
sendirinya mati hidup mereka pun tak usah kupusingkan lagi, sebab
daripada membiarkan mereka tetap hidup di dunia ini, lebih baik
membiarkan mereka saling gontok. Apakah nona berniat memaksaku
menyelamatkan mereka?"
"Aku tidak suruh Locianpwe pergi
menolong mereka, kami hanya minta kepada Locianpwe untuk menerangkan
pintu masuk dan keluar kuburan ini."
"Ai, baiklah! Mari kalian ikuti aku,"
ucap Thio Kim-ciok kemudian sambil menghela napas.
Selesai berkata, ia membalikkan badan
dan berjalan kembali ke arah kuburan.
Bong
Thian-gak, Thay-kun serta Song
Leng-hui segera mengikut di belakangnya.
Terdengar Thio Kim-ciok yang berada di
depan berkata lagi, "Pintu masuk menuju ke kuburan Bu-lim-bong ini
terbagi menjadi dua buah lorong yang masing-masing adalah lorong
kehidupan dan lorong kematian. Tadi lorong kematian sudah ditutup,
sedang jalan yang kita lalui sekarang adalah lorong kehidupan."
"Perlu kalian ketahui, lorong kehidupan
ini berada dalam suasana gelap-gulita, tak nampak jari sendiri,
ditambah dengan perubahan Kiu-kiong-pat-kwa, maka akan timbul kesan
seperti munculnya badai, kilat, setan atau makhluk aneh. Tapi kalian
tak usah takut, kalian pun jangan berusaha turun tangan memukul atau
menyerang benda yang dijumpai."
Belum selesai perkataan Thio Kim-ciok,
Bong Thian-gak sekalian telah
mendengar timbulnya suara angin puyuh yang menderu-deru, suara angin
itu begitu dahsyatnya sehingga menggidikkan siapa pun yang
mendengar, bahkan seolah-olah menggulung ke arah tubuh mereka.
Bong Thian-gak
sekalian menjadi sangat terperanjat, andaikata Thio Kim-ciok tidak
berpesan lebih dulu, niscaya mereka akan mundur.
Dengan membusungkan dada dan langkah
lebar, Bong Thian-gak
meneruskan perjalanan ke depan. Anehnya, walaupun mereka mendengar
suara hembusan angin puyuh yang menderu-deru dan memekakkan telinga,
namun tubuh mereka sama sekali tidak terasa seperti terhembus angin
puyuh.
Perubahan aneh yang sama sekali tak
terduga ini benar-benar sangat luar biasa, baru sekarang
Bong Thian-gak mengagumi betapa
hebatnya ilmu Ngo-heng itu.
Pada saat itulah terdengar Thio Kim-ciok
yang berada di depan berkata, "Setelah hembusan angin lewat, hujan
dan guntur akan datang silih berganti, tapi semuanya hanya khayalan
belaka, kalian tak perlu merasa kuatir."
Baru selesai peringatan itu diberikan,
Bong Thian-gak segera
merasakan menyambarnya halilintar yang menusuk mata di depannya,
kemudian disertai ledakan guntur yang menggelegar, terasa hujan
turun dengan derasnya.
Padahal semuanya itu hanya merupakan
khayalan belaka, Bong
Thian-gak merasa tubuhnya kering dan sama sekali tidak ada setetes
air pun yang membasahi tubuhnya, namun telinganya justru menangkap
suara air hujan yang turun sangat deras.
Lama kelamaan
Bong Thian-gak tak dapat mengendalikan rasa ingin
tahunya lagi, ia segera bertanya, "Thio-locianpwe, sesungguhnya
darimanakah datangnya suara khayalan itu?"
"Di sinilah letak kelihaian ilmu rahasia
barisan Ngo-heng serta Kiu-kiong-pat-kwa, padahal suara-suara
khayalan itu justru timbul dari dalam tubuh kita sendiri."
"Timbul dari dalam tubuh sendiri? Apa
artinya?"
"Tak mungkin kujelaskan hal ini dalam
waktu singkat. Nah, hati-hatilah, bayangan setan yang lebih
menakutkan akan segera muncul, ingat baik-baik, jangan turun tangan
menyerang makhluk apa pun yang datang menyerang kalian!"
Baru selesai ia berkata, suara tangisan
setan dan jeritan kuntilanak bergema silih berganti.
Bersamaan Bong
Thian-gak seolah-olah melihat munculnya kepala setan
berambut panjang dan berwajah bengis menyeramkan menerjang ke
arahnya.
Andaikata Thio Kim-ciok tidak berpesan
sekali lagi, sudah pasti Bong
Thian-gak akan menyingkir jauh-jauh dari situ.
Benar juga, ternyata bayangan setan yang
menerkam datang tadi hanya khayalan semu belaka.
Dengan perasaan terkejut bercampur
keheranan Bong Thian-gak
segera bertanya, "Thio-locianpwe, jika aku turun tangan melancarkan
serangan atau menghindar ke samping, apakah akibat yang akan
terjadi?"
"Bong-laute, kau juga jangan bergurau
secara sembarangan," seru Thio Kim-ciok dengan perasaan gelisah,
"bila kau bergerak hingga tubuhmu menyentuh alat rahasia, maka
tubuhmu akan terseret masuk ke dalam lorong kematian."
"Bukankah Tio Tian-seng sekalian masih
berada di dalam lorong kematian sekarang?"
"Benar, sejak memasuki kuburan
Bu-lim-bong tadi, mereka sudah menempuh jalan yang salah, yaitu
lorong kematian."
"Apa yang bakal terjadi bilamana seorang
berjalan melalui lorong kematian?"
"Bila orang yang memasuki lorong
kematian itu tidak menguanal perubahan Kiu-kiong-pat-kwa, maka
selama hidup dia tak akan bisa
kembali dalam keadaan selamat, apalagi keluar dari kuburan
Bu-llm bong ini."
"Kalau begitu, seandainya Tio Tian-seng
sekalian tidak memahami rahasia perubahan Kiu-kiong-pat-kwa, maka
selama hidup dia akan terkurung di dalam lorong kematian itu?"
"Hek-mo-ong telah bertekad akan membunuh
seluruh orang di dalam kuburan Bu-lim-bong ini, aku rasa nasib
mereka lebih banyak bencananya daripada selamat."
"Tio Tian-seng Locianpwe mempunyai
hubungan yang paling akrab denganku, aku tak bisa membiarkan mereka
tewas terbunuh tanpa berusaha menolongnya."
Di tengah pembicaraan itu,
Bong Thian-gak segera mengerahkan
tenaga pukulannya dan membacok ke sisi kirinya.
Baru saja dia akan melancarkan pukulan,
Thio Kim-ciok telah menyadari perbuatannya itu, ia segera menjerit
kaget, "Jangan kau lakukan”
Dengan cepat dia menggerakkan tangannya
balas mencengkeram tangan pemuda itu.
Tahu-tahu serangan yang dilancarkan
Bong Thian-gak sudah
menghantam di dinding batu itu
Di tengah suara ledakan keras yang
memekakkan telinga, Bong
Thian-gak merasakan permukaan tanah dimana ia berdiri terasa
berputar kencang, tidak bisa ditahan lagi tubuhnya segera terjatuh
ke sisi kanan
Bersamaan waktunya pula
Bong Thian-gak mendengar Thay-kun
berteriak, "Bong-suheng, apa yang hendak kau lakukan?"
Walaupun Bong
Thian-gak tak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya
lagi hingga berputar dan terjatuh ke kanan, namun kesadaran
pikirannya masih tetap utuh. Mendengar teriakan itu, ia segera
menyahut dengan lantang, "Aku hendak menyelamatkan jiwa Tio
Tian-seng sekalian, kalian segera mendesak Thio Kim-ciok."
Belum habis perkataan itu, kembali
terdengar suara ledakan keras menggelegar, tubuh
Bong Thian-gak terjerumus ke dalam
sebuah jurang yang tak nampak dasarnya, angin tajam terasa menderu
di sekelilingnya.
Berada dalam keadaan begini,
Bong Thian-gak tak sanggup
melanjutkan perkataannya lagi, cepat dia menghimpun tenaga dalam
untuk memperingan bobot tubuhnya agar dirinya yang sedang meluncur
ke bawah bisa bergerak lebih lamban.
Tiba-tiba saja
Bong Thian-gak merasakan kaki telah
menyentuh permukaan tanah, suasana di sekitar sana terasa hening,
suasana gelap mencekam sekelilingnya membuat kelima jari sendiri pun
tak terlihat.
Baru sekarang
Bong Thian-gak merasa sangat menyesal, dia menyesal
karena bertindak gegabah hingga terperosok ke tempat itu.
Di samping itu dia pun merasa amat
terkejut bercampur keheranan terhadap peralatan ganda dalam kuburan
Bu-lim-bong yang mempunyai perubahan sedemikian rupa, ia tidak habis
mengerti apa sebabnya serangan yang dilancarkan olehnya tadi bisa
mengalihkan dirinya sampai ke tempat semacam ini.
Di tengah keheningan yang mencekam,
tiba-tiba Bong Thian-gak
menangkap suara langkah kaki berjalan mendekat dari hadapannya.
Diam-diam Bong
Thian-gak menghimpun tenaga murninya sambil bersiap
menghadapi segala kemungkinan.
Sementara itu suara langkah kaki tadi
makin mendekat.
Bong Thian-gak
dapat menangkap suara langkah itu terdiri dari dua orang.
"Siapa di situ?"
Bong Thian-gak segera membentak.
Tapi begitu suara teguran diutarakan,
Bong Thian-gak segera
merasakan datangnya dua gulung desingan senjata rahasia yang amat
tajam ke arah tubuhnya.
Walaupun Bong
Thian-gak dalam lorong bawah tanah yang gelap, namun
sepasang telinganya sangat tajam, serta-merta dia menggerakkan
tubuhnya dan bergeser ke sisi sebelah kanan.
Baru saja tubuhnya berdiri tegak, dua
orang itu telah menerjang dari kiri dan kanan dengan kecepatan luar
biasa, bahkan melancarkan serangan bersama-sama.
"Siapa di situ?" kembali
Bong Thian-gak membentak. "Bila
tidak menyebutkan nama kalian, jangan salahkan bila aku menyerang
secara keji."
Sekali lagi anak muda itu berkelebat
menghindar ke sisi sebelah kiri.
Agaknya kedua orang yang gagal dalam
serangannya itu merasa terperanjat sekali, serentak mereka
menghentikan serangannya.
Dalam pada itu jarak antara kedua belah
pihak sudah dekat, Bong
Thian-gak dapat mendengar dengan jelas suara napas kedua orang yang
berada di hadapannya itu sangat berat disertai suara rintihan dan
dengusan tertahan.
Dengan perasaan terkejut bercampur
keheranan Bong Thian-gak
segera bertanya lagi, "Kenapa kalian? Apakah terluka?"
Setelah suara rintihan dan hembusan
napas memburu agak mereda, terdengar orang itu menjawab dengan suara
parau, "Kau adalah orang Thio Kim-ciok ataukah salah seorang di
antara para jago yang memasuki kuburan Bu-lim-bong ini?"
Sekarang Bong
Thian-gak sudah dapat melihat wajah kedua orang yang
berada di hadapannya ini, walaupun secara lamat-lamat. Dia berseru
tertahan, lalu bergerak lebih ke depan, tegurnya segera, "Bukankah
kalian berdua adalah anak buah Biau-kosiu
... Biau-han-thian suami-istri?"
Benar, kedua orang itu memang kedua anak
buah Biau-kosiu, lelaki dan perempuan kekar bermata tunggal itu.
Tampaknya Biau-han-thian suami-istri
masih belum mengenali Bong
Thian-gak, segera bentaknya, "Berhenti! Jika kau berani maju
selangkah lagi, kedua puluh empat peluru emas akan kami lancarkan
secara bersama."
Bong Thian-gak
menghentikan langkah, lalu berseru lagi dengan lantang.
"Aku adalah Jian-ciat-suseng, apakah kau
masih belum mengenali diriku?"
Biau-han-thian suami-istri berseru
tertahan, lalu berkata, "Ya benar, kau adalah Jian-ciat-suseng, tapi
kau adalah teman atau musuh?"
Bong Thian-gak
tertawa ringan, "Aku adalah sahabat kalian, senasib sependeritaan
yang sama-sama berkurung di dalam Bu-lim-bong ini."
Biau-han-thian segera mendengus, "Hm,
selagi berada di halaman tadi, kau berpihak kepada Thio Kim-ciok.
Selama berada dalam kuburan Bu-lim-bong, kau pun termasuk salah satu
pembantu untuk membunuh para jago. Hm! Hari ini, kami akan mengadu
jiwa denganmu."
"Tunggu dulu!" bentak
Bong Thian-gak dengan suara keras.
"Apalagi yang hendak kau katakan?" seru
Biau-han-thian sambil tertawa seram.
"Apa yang menyebabkan kalian terluka?
Dimanakah Biau-kosiu serta para jago lainnya?" tanya pemuda itu
dengan suara dalam.
Biau-han-thian tertawa seram, "Apa yang
mengakibatkan kami terluka? Masakah kau belum tahu? Apalagi kalau
bukan dilukai oleh begundal-begundalmu."
"Tutup mulutmu!" bentak
Bong Thian-gak sambil berkerut
kening. "Sekarang kalian sudah termakan oleh siasat busuk
Hek-mo-ong. Keselamatan jiwa kalian terancam, masakah kalian belum
menyadari akan hal ini? Dimanakah para jago lainnya saat ini? Harap
kau segera mengajakku ke sana."
Mendadak Biau-han-thian tertawa seram,
"Aku tidak bakal mengajakmu ke sana. Kami suami-istri bisa bertemu
dengan kau saat ini, hitung-hitung kami lagi sial. Jika kau memang
berkepandaian, ayo cepatlah bunuh kami berdua."
Sekarang Bong
Thian-gak sudah tahu bahwa kedua orang itu telah salah
mengira dia sebagai musuh. Padahal dalam keadaan seperti ini, ia tak
bisa merubah sikap serta pandangan mereka yang keliru itu, tapi bila
dilihat dari keadaan Biau-han-thian suami-istri yang menderita luka,
bisa diduga Liu Khi sudah mulai melakukan pembantaian secara
besar-besaran.
Tindakan paling baik sekarang adalah
secepatnya menemukan para jago dan menyingkap tabir rahasia bahwa
Liu Khi adalah Hek-mo-ong.
Sementara dia masih termenung memikirkan
persoalan itu, tiba-tiba Biau-han-thian suami-istri telah menerjang
datang lagi dari sisi kiri dan kanan.
Bong Thian-gak
segera membentak, tubuhnya bagai gangsingan segera berputar,
serunya, "Dengarkan baik-baik kalian berdua! Liu Khi adalah
Hek-mo-ong, dalang semua kekejaman dan kekejian selama ini, dia
sengaja memancing para jago memasuki kuburan Bu-lim-bong ini tak
lain bertujuan untuk membunuh setiap jago lihai persilatan. Apa yang
aku ucapkan ini adalah sesungguhnya dan fakta, percaya atau tidak
terserah kepada kalian sendiri!"
Selesai mengucapkan perkataan itu.
Bong Thian-gak segera
menyelinap ke samping dan melanjutkan perjalanannya menuju ke arah
depan.
Waktu itu Biau-han-thian suami-istri
sudah menderita luka parah sehingga sama sekali tak berkekuatan lagi
untuk mengejar Bong
Thian-gak, namun kata-kata Bong
Thian-gak sebelum pergi serta tindakan si anak muda yang tidak
membunuh mereka, membuat kedua orang itu merasa curiga bercampur
ragu, tanpa terasa pikirnya, "Mungkinkah dia adalah orang
baik-baik?"
Suasana di dalam lorong bawah tanah itu
gelap-gulita dan lembab, dengan langkah cepat
Bong Thian-gak bergerak maju, namun
masih belum juga ditemukan ujung lorong bawah tanah itu.
Tiba-tiba hati
Bong Thian-gak bergetar keras, ia
teringat lorong bawah tanah ini ada beberapa bagian mirip lorong
bawah tanah Kiu-kiong-mi-hun-to di dalam kuil Sam-cing-koan. Bagi
orang yang tidak memahami kunci rahasia lorong itu, walaupun sudah
berjalan pulang pergi akhirnya kembali lagi ke posisi semula.
Teringat sampai di sini, hatinya menjadi
bergidik, segera pikirnya lagi, "Aduh celaka! Thio Kim-ciok pernah
bilang, lorong kematian di dalam kuburan Bu-lim-bong ini dibangun
menurut perubahan barisan Kiu-kiong-pat-kwa. Bagi mereka yang tak
memahami kunci rahasia ilmu barisan itu, dengan cara apakah baru
dapat keluar dari tempat ini?"
Sementara dia masih termenung memikirkan
hal itu, mendadak dari kejauhan sana terdengar suara seseorang
sedang menghela napas sedih.
Secepat kilat
Bong Thian-gak segera bergerak ke muka mendekati sumber
suara itu, segera tegurnya, "Siapa yang berada di depan?"
Bong Thian-gak
memiliki sepasang mata tajam, ia bisa melihat ada seseorang dengan
sepasang mata tajam sedang berdiri bersandar di dinding lorong di
hadapannya. Tampak orang itu menggenggam sebatang senjata yang
pendek bentuknya.
Ketika melihat kedatangan
Bong Thian-gak, orang itu segera
menggerakkan senjatanya langsung menusuk ke dada lawan dengan
kecepatan luar biasa serta keganasan yang menggidikkan.
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam
benak Bong Thian-gak, ia
masih ingat di antara kawanan jago yang memasuki kuburan Bu-lim-bong
ini, tak seorang pun yang mempergunakan senjata pendek macam begini.
Orang itu sudah pasti adalah pembunuh
yang telah disiapkan Hek-mo-ong Liu Khi sebelumnya untuk menyergap
dan membunuh para jago yang kebetulan lewat di situ.
Berpikir begitu
Bong Thian-gak segera membentak,
tubuhnya bergerak ke muka dengan kecepatan tinggi dan menerobos
lewat dari bawah cahaya kilat senjata pendeknya, kemudian tangan
kanannya bergerak cepat dan menghantam pergelangan tangan kanan
lawan yang menggenggam senjata itu.
Jerit kesakitan segera bergema,
pergelangan tangan kanan orang itu segera termakan oleh bacokan
tangan Bong Thian-gak yang
tajam bagaikan golok itu hingga patah.
Sekalipun Bong
Thian-gak sendiri berlengan tunggal, namun perubahan
jurus serangannya amat cepat dan boleh dibilang nomor wahid di dunia
ini.
Terlihat pergelangan tangan kirinya
membalik dengan cepat, tahu-tahu kelima jarinya sudah mencengkeram
jalan darah kaku di bahu orang itu.
Dengan dicengkeramnya jalan darah kaku
di bahu, pada hakikatnya orang itu tak bisa berkutik lagi.
"Apakah kau sudah bosan hidup?" hardik
Bong Thian-gak.
Tampaknya orang itu menderita kesakitan
yang luar biasa, dia merintih tiada hentinya, tapi segera sahutnya,
"Bagaimana kalau masih ingin hidup? Bagaimana pula kalau sudah bosan
hidup?"
Baru sekarang
Bong Thian-gak dapat melihat bahwa orang itu seorang
kakek yang telah berusia lanjut, dia tertawa dingin, "Bila ingin
hidup, turuti semua perintahku tanpa membantah. Kalau sudah bosan
hidup, cukup tanganku digerakkan ke bawah dan menghantam nadi
penting di atas tengkukmu, nyawamu pasti akan dibereskan dengan
segera."
"Daripada hidup menderita, lebih baik
aku minta kematian yang cepat," kata kakek itu lagi setengah
merintih.
"Tapi sayang, aku tak akan membiarkan
kau mati dalam waktu singkat," jengek Bong
Thian-gak sambil tertawa dingin.
Kakek itu mendengus, "Hm, dari usiamu
yang masih muda, tidak kusangka hatimu begitu keji dan buas."
Untuk sesaat
Bong Thian-gak menjadi tertegun, segera ujarnya lagi,
"Kau menyergapku secara tiba-tiba dari balik kegelapan, apakah
tindakanmu ini bukan merupakan suatu perbuatan yang kejam?"
Bantahan itu membungkamkan si kakek.
Kembali Bong
Thian-gak berkata dengan suara dingin, "Ayo cepat
mengaku, apakah kau adalah begundal Hek-mo-ong?"
"Siapa itu Hek-mo-ong? Aku tidak tahu,
kami hanya mengetahui pemilik kuburan Bu-lim-bong ini adalah Thio
Kim-ciok."
"Kalau begitu kau adalah anak buah Thio
Kim-ciok?" tanya Bong
Thian-gak dengan perasaan terkesiap.
Sambil mengertak gigi menahan emosi,
kakek itu berkata, "Bukan, kami bukan anak-buah si orang edan itu."
"Lantas kau berasal dari aliran mana?"
tanya Bong Thian-gak.
"Kami adalah orang-orang mengenaskan
yang dikurung oleh orang edan itu selama puluhan tahun di dalam
Bu-lim-bong ini."
"Apa? Jadi kau pun dicelakai oleh Thio
Kim-ciok?" Bong Thian-gak
terkejut.
"Benar, Thio Kim-ciok sudah dua puluh
tahun mengurung kami di dalam Bu-lim-bong ini. Siksaan lahir-batin
dalam jangka waktu yang begini panjang membuat sebagian orang-orang
kami menjadi orang yang tak waras lagi otaknya."
Bong Thian-gak
sungguh merasa terkejut bercampur keheranan, kembali dia bertanya,
"Apa sebabnya Thio Kim-ciok mengurung kalian di dalam Bu-lim-bong
ini?"
"Kami sendiri pun tidak tahu apa
sebabnya dia mengurung kami di sini."
"Lantas berapa banyak rekan-rekanmu yang
ikut disekap oleh Thio Kim-ciok di tempat ini?" tanya
Bong Thian-gak lagi agak tertegun.
"Semua berjumlah tujuh puluh dua orang."
"Apakah ketujuh puluh dua orang ini
semuanya adalah orang-orang persilatan?"
"Ya, tentu saja mereka semua adalah jago
persilatan."
Setelah berhasil mengetahui rahasia yang
sangat aneh itu, Bong
Thian-gak merasa kaget, dia tidak habis mengerti mengapa Thio
Kim-ciok menyekap kawanan jago persilatan itu.
"Bagaimana ceritanya sehingga kalian
dapat disekap di sini?" tanya Bong
Thian-gak.
Sambil berkata, ia kendorkan
cengkeramannya atas pergelangan tangan kakek itu.
Kakek itu memandang sekejap ke arah
Bong Thian-gak, lalu setelah
menghela napas panjang, katanya dengan nada suara yang amat sedih,
"Ai, hal ini terjadi pada dua puluh empat tahun berselang, aku
she Kim bernama Toa-hay,
sesungguhnya aku adalah seorang Piausu dari perusahaan
An-wan-piau-kiok di wilayah Ho-pak. Suatu hari aku telah mengawal
sejumlah barang yang diterima perusahaan, tetapi secara aneh
tahu-tahu sudah ditawan ke tempat ini. Sejak memasuki kuburan
Bu-lim-bong ini, tak pernah ada harapan lagi bagi kami untuk keluar
dari sini."
"Siapakah pemilik barang yang kau kawal
waktu itu?" tanya Bong
Thian-gak.
"Tentu saja pemilik barang kawalan kami
adalah Thio Kim-ciok!"
Hingga kini
Bong Thian-gak belum juga mengerti apa sebabnya Thio
Kim-ciok mengurung orang-orang itu di dalam Bu-lim-bong, ia
menggeleng sambil menghela napas, lalu katanya, "Kim-piauthau, apa
sebabnya kau membokongku tadi?"
"Sebab aku mengira kau adalah komplotan
Thio Kim-ciok."
"Kalau begitu, kalian benar-benar amat
membenci Thio Kim-ciok?"
Mendadak Kim Toa-hay tertawa seram,
"Siapa bilang tidak membencinya? Tanpa sebab-musabab Thio Kim-ciok
telah menyekap kami sepanjang tahun di dalam neraka dunia yang tak
kelihatan matahari ini, membuat kami semua harus jauh dari rumah,
berpisah
dengan anak istri dan sanak keluarga. Dendam sakit hati kami sudah
begitu mendalam, kalau bisa kami ingin mendahar dagingnya dan
menghirup darahnya."
'
Kembali Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Ai betul, walaupun
Thio Kim-ciok tidak mencelakai jiwa kalian, tetapi telah
menghancurkan masa depan kalian. Ai, siksaan hidup semacam ini pada
hakikatnya memang lebih berat daripada kematian."
"Tapi apa sebabnya Thio Kim-ciok
bersikap begitu kejam dan tidak berperi-kemanusiaan terhadap
kalian?"
Tiba-tiba terdengar Kim Toa-hay berseru
tertahan, lalu tanyanya dengan cepat, "Anak muda, bagaimana caramu
memasuki Bu-lim-bong ini?"
Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba saja
Bong Thian-gak teringat
kembali dengan tugas dan kewajibannya memasuki Bu-lim-bong itu, maka
katanya kemudian, "Kim-piauthau, aku hendak memberitahukan satu hal
padamu, di Bu-lim-bong ini segera akan dilangsungkan suatu
pembantaian secara besar-besaran dan kejam. Saat ini di sini telah
hadir seorang yang bernama Hek-mo-ong, manusia itu bermaksud hendak
membunuh sejumlah jago lihai, ia telah memancing banyak jago lihai
memasuki Bu-lim-bong ini pada setengah jam berselang. Berhubung aku
mendapat tahu intrik busuk Hek-mo-ong, maka aku bergerak menyusul
kemari dengan tujuan hendak menyelamatkan jiwa pada jago itu."
"Yang menjadi Hek-mo-ong pastilah Thio
Kim-ciok, si orang edan itu," teriak Kim Tao-hay.
"Dugaanmu keliru besar,"
Bong Thian-gak menggeleng. "Yang
menjadi Hek-mo-ong bukan Thio Kim-ciok. Sekarang kau tak usah
mencampuri urusan itu, aku ingin memohon sesuatu bantuan dari
Kim-piauthau. Bila nasibku memang baik, aku yakin tak lama kemudian
Kim-piauthau bisa meninggalkan kuburan Bu-lim-bong serta kembali ke
alam bebas."
Kim Toa-hay termenung sambil berpikir
beberapa saat lamanya, lalu bertanya, "Bantuan apakah yang kau
harapkan dariku?"
"Sudah dua puluh tahun Kim-piauthau
berdiam di dalam Bu-lim-bong ini, aku rasa kau pasti sudah hapal
lorong rahasia dalam Bu-lim-bong ini. Karena itu, aku berharap
Kim-piauthau suka membawaku berjalan-jalan melalui lorong rahasia
yang terdapat di sini."
"Baik, aku menyanggupi permintaanmu
itu," jawab Kim Toa-hay dengan cepat.
"Urusan ini tak bisa ditunda lagi, mari
kita segera berangkat."
Ketika Kim Toa-hay hendak menggerakkan
tubuhnya, tulang pergelangan tangan kanannya segera terasa amat
sakit sehingga tanpa terasa dia merintih kesakitan.
Melihat hal ini.
Bong Thian-gak merasa sangat
menyesal, karena sudah turun tangan kelewat berat sehingga
mematahkan tulang pergelangan tangannya.
Setelah menghela napas, katanya,
"Kim-piauthau, sekarang akan kutotok dulu jalan darah di atas lengan
kananmu sehingga akan mengurangi rasa sakit yang kau derita. Setelah
berhasil lolos dari Bu-lim-bong ini, pasti akan kucarikan akal untuk
mengobati luka pada pergelangan tanganmu itu."
Seraya berkata dia segera turun tangan
secepat kilat menotok semua jalan darah penting di atas lengan
kanannya. Dengan begitu lengan itu berubah menjadi lemas, mati rasa
dan sama sekali tak berfungsi lagi.
Baru sekarang Kim Toa-hay tahu bahwa
Bong Thian-gak hanya memiliki
sebuah lengan, tanpa terasa dia menghela napas, "Anak muda, rupanya
kau pun cacat?"
"Ya, aku adalah seorang cacat, aku
bernama Bong Thian-gak," kata
pemuda itu sambil tertawa getir.
Baru selesai dia berkata, mendadak dari
balik lorong rahasia itu secara lamat-lamat dia mendengar suara
jerit kesakitan dan teriakan kalap yang bergema.
Suara itu tidak terlalu keras, namun
nadanya amat mengenaskan dan penuh perasaan ngeri, bagaikan jeritan
setan di tengah malam buta, membikin bulu kuduk siapa pun berdiri
bila mendengarnya.
Dengan terkejut
Bong Thian-gak bertanya, "Suara
apakah itu?"
Kim Toa-hay memasang telinga pula
mendengarkan suara itu dengan seksama, tiba-tiba paras mukanya
hebat.
"Ah, ada orang sedang membantai
saudara-saudaraku, mari kita segera berangkat!"
Seusai berkata, ia telah membalikkan
badan dan beranjak pergi dari sana.
Bong Thian-gak
segera mengikut di sampingnya, dalam perjalanan ia bertanya,
"Saudaramu? Siapakah saudaramu itu?"
"Rekan-rekan yang disekap di tempat ini
bersamaku."
Bong Thian-gak
terkejut, katanya, "Ya benar, seandainya kawanan jago yang memasuki
Bu-lim-bong bertemu dengan rekan-rekanmu itu, sudah pasti akan
timbul kesalah pahaman yang berakibat timbulnya pertarungan. Ayo
cepat! Kita harus ke sana secepatnya."
Saat itu Kim Toa-hay nampak amat gelisah
dan cemas, dia berlari dengan kecepatan tinggi.
Setelah melalui tiga buah tikungan,
mendadak di depan sana muncul setitik cahaya lentera, jeritan ngeri
dan teriak kesakitan yang bergema tadi ternyata berasal dari situ.
Suara jeritan masih terdengar, bahkan jauh lebih jelas, keadaan di
situ masih kalut dan seru.
Bong Thian-gak
tak dapat menahan diri lagi, mendadak ia menyambar lengan kiri Kim
Toa-hay, lalu secepat sambaran kilat berkelebat menuju ke depan.
Setelah keluar dari lorong bawah tanah,
tempat itu berupa sebuah ruangan yang luas, saat itu ruangan itu
telah berubah menjadi lautan darah, mayat bergelimpangan di atas
lantai mendatangkan suatu pemandangan yang sangat mengerikan.
Beberapa buah lentera minyak tertempel
di empat penjuru dinding menerangi suasana dalam ruangan itu dengan
jelas.
Waktu itu dua orang jago lihai berpedang
sedang bertarung seru melawan sekelompok orang aneh berambut
panjang, berpakaian compang-camping serta berwajah tujuh bagian
mirip setan.
Kawanan orang aneh itu menyerang dengan
buas, ganas dan menyeramkan. Tapi berhubung ilmu silat yang mereka
miliki masih selisih jauh bila dibandingkan dengan kedua orang
lawannya, maka setiap kali kedua orang itu mengayun pedangnya,
seperti memotong sayur saja, batok kepala segera menggelinding dan
jeritan mengerikan mencekam perasaan.
"Tio-pangcu, Liong-tayhiap, hentikan
pembantaian itu!"
Waktu itu Bong
Thian-gak telah melihat dengan jelas kedua pendekar itu
tak lain adalah Tio Tian-seng serta Liong Oh-im. Sambil membentak,
ia segera melompat maju ke muka.
Ketika mendengar bentakan itu, Tio
Tian-seng dan Liong Oh-im segera menarik kembali pedang
masing-masing dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Akan tetapi puluhan orang aneh berambut
panjang yang berada di hadapan mereka kembali berteriak aneh dan
sambil mementang cakar mautnya menerjang maju lagi secara kalap.
Terlihat jelas betapa murkanya Liong
Oh-im terhadap kawanan orang aneh itu, dia membentak dan pedangnya
sekali lagi melancarkan bacokan maut ke depan.
Bong Thian-gak
yang melihat hal ini, segera berteriak, "Hentikan pembantaian itu,
mereka bukan orang jahat!"
Sambil mengendorkan kempitannya atas Kim
Toa-hay, Bong Thian-gak
melejit ke udara sambil menyambar ke depan, tapi sayang sudah
terlambat.
Serangan Liong Oh-im yang dilancarkan
sepenuh tenaga itu benar-benar amat dahsyat, apalagi belasan orang
aneh itu sedang menyerbu ke depan secara bersama-sama.
Dimana cahaya pedangnya berkelebat,
sebelas orang aneh itu roboh bergelimpangan ke atas tanah, semburan
darah segar memancar kemana-mana bagaikan sumber mata air.
Merah berapi-api sepasang mata Kim
Toa-hay menyaksikan peristiwa itu, dia meraung keras, lalu menubruk
ke arah Liong Oh-im dari belakang.
Waktu itu Liong Oh-im sudah setengah
kalap, dia segera memutar ujung pedangnya dan menyongsong datangnya
terjangan Kim Toa-hay.
Melihat kejadian ini,
Bong Thian-gak segera membentak,
"Liong-tayhiap, tindakanmu kali ini sungguh kelewat keji dan buas!"
Dari tengah udara
Bong Thian-gak mengayun tangan
kirinya serta melepaskan sebuah bacokan ke depan.
Angin pukulan yang dahsyat seperti
amukan ombak di tengah samudra langsung menyapu ke depan dengan
hebatnya.
Terhadang oleh angin pukulan yang begitu
kuat, tubuh Liong Oh-im yang sedang menerjang ke muka itu segera
terhenti dan sukar untuk maju barang selangkah pun, akan tetapi ia
tidak berdiam diri saja, ujung pedangnya segera diputar, lalu
menusuk Bong Thian-gak dengan
jurus naga sakti mengibas ekor.
Bong Thian-gak
membentak gusar, tubuhnya segera melayang turun ke atas tanah,
kemudian dengan cekatan menggelincir maju ke muka, telapak tangannya
menerobos lewat bawah cahaya pedangnya yang berkilauan, lalu secara
ganas dan dahsyat menghantam dada Liong Oh-im.
Serangan yang sangat kuat dan dahsyat
ini mendesak Liong Oh-im, mau tak mau ia harus menarik pedangnya
sambil menyurut mundur, tapi saat itulah Kim Toa-hay telah berhasil
menyelinap maju dari belakang dan melepaskan sebuah jotosan yang
keras ke punggung lawan.
Tak ampun lagi punggung Liong Oh-im
termakan oleh pukulan Kim Toa-hay yang amat keas itu.
Untung saja tenaga dalam yang dimiliki
Liong Oh-im cukup kuat dan sempurna. Biarpun begitu, jotosan Kim
Toa-hay cukup membuatnya semakin kalap.
"Bajingan busuk, kau ingin mampus
rupanya!" ia mengumpat dengan penuh gusar.
Kelima jari tangan kirinya dipentang
lebar segera menyambar ke belakang dan persis mencengkeram
pergelangan tangan kiri Kim Toa-hay.
Dengan gerakan cepat bagaikan kilat,
Liong Oh-im segera membalik pedangnya langsung digorokkan ke leher
Kim Toa-hay.
Walau urat nadi penting pada pergelangan
tangan kiri Kim Toa-hay sudah dicekal sehingga seluruh tubuh tidak
memiliki kekuatan untuk melawan lagi. Melihat datangnya sambaran
pedang yang langsung menggorok ke arah lehernya, dia tidak dapat
berbuat banyak kecuali mengejangkan wajah yang penuh penderitaan
dengan pancaran amarah yang meluap-luap.
Pada saat yang kritis itulah, terdengar
Bong Thian-gak menjerit
kaget, "Tahan!"
Sambil berseru, ia segera mengeluarkan
ilmu Kim-na-jiu-hoat tingkat tinggi, dia pergunakan jepitan kedua
jari tangannya untuk menahan tusukan pedang Liong Oh-im.
Tindakan nekat yang dilakukan
Bong Thian-gak itu kontan saja
membuat kaget Tio Tian-seng serta Liong Oh-im.
Mimpi pun, mereka tidak menyangka
Bong Thian-gak berani mengeluarkan
tindakan semacam ini secara berani.
Liong Oh-im tertawa dingin, sambil
mengerahkan tenaga dalam ke batang pedang, dia memilin pedangnya,
lalu digesekkan lebih ke belakang.
Dalam keadaan begini, seandainya
Bong Thian-gak tidak segera melepas
tangan, niscaya pergelangan tangannya akan tersayat putus.
Sebaliknya jika
Bong Thian-gak mengendorkan
cengkeraman, sudah pasti Kim Toa-hay tak dapat lolos dari bencana
itu dan termakan oleh tusukan maut ini.
Dalam keadaan kritis dan sangat
berbahaya inilah, tiba-tiba Bong
Thian-gak membentak, dia segera mengeluarkan ilmu simpanannya
yang paling dahsyat.
Kaki kanannya secepat sambaran kilat
tahu-tahu menendang urat nadi penting pada pergelangan tangan kanan
Liong Oh-im.
Sekalipun Liong Oh-im termasuk jago
lihai dunia persilatan, namun sulit baginya untuk menghindarkan diri
dari tendangan kilat yang dilancarkan Bong
Thian-gak itu.
Seketika pedangnya tertendang hingga
mencelat, menancap di atas dinding lorong rahasia itu. Sedemikian
kerasnya tenaga serangan itu, terlihat betapa kerasnya getaran
pedang itu setelah tertancap pada dinding gua.
Muka Liong Oh-im berubah hijau membesi,
secara beruntun dia mundur tiga-empat langkah, lalu bentaknya,
"Jian-ciat-suseng, hari ini jika bukan kau yang mati, biarlah aku
yang mampus!"
Sembari berseru, dengan kecepatan bagai
kilat ia mengeluarkan kipas kumalanya dari saku.
Cepat Bong
Thian-gak berseru, "Tunggu dulu Liong-tayhiap, harap
kau suka mendengarkan penjelasanku lebih dahulu."
Dalam pada itu Tio Tian-seng telah
berjalan mendekat dengan pedang terhunus. Dilihat dari sikapnya
waktu itu, jelas jago ini berdiri sepihak dengan Liong Oh-im.
Sebaliknya Kim Toa-hay berdiri dengan
wajah murung dan penuh rasa dendam, berulang kali dia bermaksud
menerjang lagi ke depan.
Untung saja niat itu segera dicegah oleh
Bong Thian-gak, serunya
sambil menarik tangan, "Kim-piauthau, kau bukan tandingannya."
Dengan menahan tangis Kim Toa-hay
berteriak, "Kalian telah membunuh saudara-saudaraku senasib
sependeritaan yang telah hidup selama dua puluh tahun di tempat ini.
Aku ... aku akan membalas
dendam."
Memandang mayat yang bergelimpangan di
atas tanah, tanpa terasa hati Bong
Thian-gak terasa kecut dan turut melelehkan air mata.
Setelah menghela napas sedih, katanya
kemudian, "Liong-tayhiap, terlalu kejam kalian, mengapa kau bantai
orang-orang yang tak berdosa itu? Ai...."
"Orang-orang ini sama sekali tak
berdosa, justru hidup mereka sangat menderita karena sejak dua
puluhan tahun berselang mereka telah disekap oleh Thio Kim-ciok
dalam Bu-lim-bong ini. Kehidupan mereka sudah lama putus dengan alam
kehidupan bebas, sungguh.tak disangka akhirnya mereka harus mati
secara mengenaskan karena dibantai oleh kalian secara keji."
"Bong-laute, aku tidak mengerti dengan
perkataanmu itu," kata Tio Tian-seng dengan wajah serius. "Ketika
orang-orang itu bertemu kami, bagaikan siluman sesat dan setan
iblis, mereka menyerang kami secara ganas dan kalap. Apakah kami
berdua tidak boleh melakukan perlawanan melindungi keselamatan jiwa
sendiri?"
Kembali Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, mereka mati
secara mengenaskan, nasib mereka betul-betul mengibakan hati!"
Mendadak Liong Oh-im tertawa ringan,
jengeknya, "Jian-ciat-suseng, kau tak usah berlagak iba hati macam
kucing menangisi tikus, sudah lama aku mencarimu untuk berduel!"
Bong Thian-gak
segera menarik wajah secara tiba-tiba, lalu berkata, "Liong Oh-im,
tanpa mempedulikan keselamatanku sendiri, aku telah masuk ke dalam
Bu-lim-bong. Tujuanku tak lain adalah ingin mencegah Hek-mo-ong
yakni Liu Khi turun tangan secara keji untuk membantai kalian."
Perkataan Bong
Thian-gak itu diucapkan dengan nada berat dan tegas,
setiap kata disertai kesungguhan wajah.
Mendadak Liong Oh-im terbahak-bahak,
"Jian-ciat-suseng, kau tak usah berlagak mulia dan baik hati, Thio
Kim-ciok tak lain adalah Hek-mo-ong. Barusan kami telah mencoba
kelihaian ilmu silatnya dalam lorong rahasia itu."
"Bong-laute," dengan wajah serius Tio
Tian-seng berkata, "bila aku mendengar perkataanmu itu semasa masih
ada di luar Bu-lim-bong, mungkin hatiku akan ragu dan curiga. Tapi
sekarang kami telah yakin, sesungguhnya Hek-mo-ong bukan lain adalah
Thio Kim-ciok."
"Tio-pangcu, apa yang telah kalian alami
sewaktu berada di Bu-lim-bong ini?" tanya
Bong Thian-gak dengan kening berkerut kencang.
"Kami telah merasakan kehebatan serangan
maut Hek-mo-ong."
"Ada yang terluka?" tanya
Bong Thian-gak dengan terperanjat.
Kembali Liong Oh-im tertawa dingin,
"Ilmu silat yang dimiliki sepuluh tokoh persilatan adalah nomor
wahid di kolong langit, sekalipun Hek-mo-ong mempunyai tiga kepala
enam lengan tak nanti bisa melukai kami."
Dengan suara dalam
Bong Thian-gak bertanya lagi, "Di
saat kalian mendapat serangan brutal dari Hek-mo-ong, apakah Liu Khi
hadir pula di tempat kejadian?"
"Tentu saja, Liu Khi pun hadir di
arena," sahut Tio Tian-seng sambil mengangguk.
Bong Thian-gak
termenung beberapa saat, lalu menjawab dengan lantang, "Orang yang
melancarkan serangan kepada kalian waktu itu sudah pasti bukan
Hek-mo-ong sesungguhnya."
"Kalau bukan, lalu siapa yang menjadi
Hek-mo-ong sesungguhnya menurut pendapatmu?" jengek Liong Oh-im
dengan suara dingin dan ketus.
Bong Thian-gak
menghela napas panjang, "Ai, Hek-mo-ong yang sesungguhnya tak lain
adalah Liu Khi."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia
berkata lebih jauh, "Kini Liu Khi telah memancing kalian memasuki
Bu-lim-bong. Hal ini tak lain karena Liu Khi dan Thio Kim-ciok telah
melakukan persekongkolan secara diam-diam dengan tujuan membasmi
kalian sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang dari muka bumi."
"Hm, pada hakikatnya perkataanmu itu
hanya ngaco-belo tak keruan," jengek Liong Oh-im sambil tertawa
dingin. "Andaikata Liu Khi adalah Hek-mo-ong, maka dia pasti
bersumpah tidak akan hidup berdampingan secara damai dengan Thio
Kim-ciok. Bagaimana mungkin mereka malah bersekongkol dengan suatu
kerja sama yang begitu rapi?"
"Jian-ciat-suseng, kau jangan berbohong.
Nah, katakan segera kepada kami, sebetulnya hari ini kau ingin
bekerja sama dengan kami untuk membekuk Thio Kim-ciok atau tidak?'
Bong Thian-gak
tidak langsung menjawab pertanyaan itu, hanya katanya setelah
menghela napas panjang, "Kalian enggan menuruti perkataanku,
akhirnya kau akan menyesal."
Pada saat itulah mendadak terdengar Kim
Toa-hay membentak, "Setelah membunuh tujuh puluh satu lembar nyawa
manusia, apakah kalian akan menyudahi persoalan ini di sini saja?"
Bong Thian-gak
memandang sekejap ke arah Kim Toa-hay, lalu katanya sambil
menggeleng kepala dan menghela napas panjang, "Kim-piauthau, kau tak
perlu membalas dendam bagi kematian rekan-rekan senasib
sependeritaanmu lagi."
"Mengapa aku tidak boleh membalas dendam
bagi kematian mereka?" teriak Kim Toa-hay sambil melotot, matanya
merah membara karena kobaran api dendam dan amarah.
"Kedua orang yang kau hadapi sekarang,
satu adalah Tio Tian-seng, yang lain adalah Liong Oh-im. Aku rasa
kau pasti sudah pernah mendengar nama besar mereka sebelum memasuki
Bu-lim-bong ini? Selama puluhan tahun terakhir ini, entah sudah
berapa banyak jago persilatan yang tewas di ujung pedangnya. Coba
bayangkan berapa orangkah di antara mereka yang berhasil membalas
dendam?"
Ucapan itu diutarakan dengan wajar dan
merupakan kenyataan, yang lemah memang sulit menghadapi yang kuat,
sebab barang siapa nekat melakukannya juga, maka keadaan mereka
ibarat telur yang diadu dengan baru cadas.
Tiba-tiba Kim Toa-hay memeluk kepala
sendiri sambil menangis tersedu-sedu.
"Betul, aku memang tak berkemampuan
untuk membalas dendam bagi kematian saudara-saudaraku itu karena
ilmu silat yang kumiliki memang bukan tandingan orang. Sekalipun
nekat membalas dendam, paling aku akan mengorbankan jiwaku dengan
percuma. Oh, Thian, mengapa kau begini tak adil."
Sambil menangis tersedu-sedu, Kim
Toa-hay membalikkan badan berlalu dari situ dengan langkah cepat.
Keadaannya saat ini tak ubahnya seperti
orang gila, sambil menjerit dan menangis, dia berlari meninggalkan
tempat itu.
Melihat hal ini
Bong Thian-gak segera berteriak,
"Kim-piauthau ...
Kim-piauthau, kemana kau hendak pergi?"
Tapi dalam waktu singkat bayangan tubuh
Kim Toa-hay sudah lenyap dari pandangan mata.
Sejak disekap dalam Bu-lim-bong selama
dua puluh tahun, keadaan Kim Toa-hay sudah berubah menjadi setengah
sinting. Apalagi saat ini mesti menerima pukulan batin yang begitu
besar, tak heran ia menjadi gila sungguhan.
Tiba-tiba Tio Tian-seng berkata sambil
menghela napas panjang, "Setiap korban yang tewas dalam ruangan ini,
tak ubahnya seperti orang gila. Mereka menerkam dan berusaha
membunuh lawan begitu bertemu orang asing, sikap dan tindakan mereka
sangat mengerikan. Andaikata Bong-laute yang menjumpai keadaan
semacam itu, aku yakin kau pun pasti akan terlibat dalam pembantaian
secara besar-besaran terhadap mereka. Ai! Aku tidak mengerti, apa
sebabnya dalam Bu-lim-bong ini bisa terdapat orang-orang macam itu?"
Bong Thian-gak
menggeleng kepala seraya menghela napas panjang, "Walaupun tindakan
yang dilakukan Tio-pangcu serta Liong-tayhiap terlalu kejam dan tak
berperasaan, namun orang-orang itu pun patut dikasihani, siksaan
batin yang dialami selama dua puluh tahun membuat orang-orang itu
jadi gila dan kalap. Mereka memang lebih bahagia mengalami kematian
daripada harus hidup tersiksa, tapi di antara kita yang memasuki
Bu-lim-bong hari ini, mungkin akan mengalami nasib yang sama dengan
mereka. Mati kelaparan dalam Bu-lim-bong atau terluka sepanjang
hidup di sini hingga tiada kesempatan lagi untuk melihat terangnya
matahari."
Berubah hebat paras muka Tio Tian-seng
dan Long Oh-im setelah
mendengar perkataan itu.
Liong Oh-im tertawa dingin, "Liu Khi
telah membawa serta Tang-hay-tocu Long
Jit-seng dalam perjalanan kali ini. Betapa pun hebatnya
perubahan alat rahasia dalam Bu-lim-bong ini, aku yakin
Long Jit-seng pasti dapat
memecahkannya serta membawa kami keluar dari Bu-lim-bong dengan
selamat."
"Betul, Long
Jit-seng memang mempunyai kepandaian ilmu Pat-kwa, ilmu
perbintangan, ilmu bangunan serta ilmu perangkap lainnya," kata
Bong Thian-gak dingin. "Dan
aku pun tahu bahwa Bu-lim-bong tak nanti bisa menyekapnya di sini,
tapi sayang sekali Long
Jit-seng adalah pembantu utama Hek-mo-ong Liu Khi. Bila kau tak
percaya, tunggu saja sampai waktunya nanti!"
Baru selesai ia bicara, mendadak
terdengar seseorang berkata pula dengan suaranya yang merdu, "Apa
yang diucapkan Jian-ciat-suseng memang benar. Liu Khi telah
mengkhianati kita semua."
Mendengar ucapan itu, serentak semua
orang berpaling.
Dari sudut ruangan bawah tanah itu
muncul tiga orang. Mereka adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau,
perempuan tercantik dari wilayah Kanglam Ho Lan-hiang beserta kedua
orang pembantu utamanya, Ji-kaucu serta
Sim Tiong-kiu.
Melihat kemunculan Ho Lan-hiang, Tio
Tian-seng dan Liong Oh-im segera maju ke muka dengan langkah cepat,
tanyanya, "Liu Khi telah berkhianat? Apa yang dia lakukan?"
"Liu Khi memancing aku memasuki sebuah
pintu mati yang dikenal sebagai telaga selaksa racun penghancur
tulang, akhirnya Liu Khi bersama tabib sakti Gi Jian-cau dan
Long Jit-seng lenyap secara
tiba-tiba."
"Apakah perbuatan mereka bisa dianggap
sebagai pengkhianatan terhadap kita?" tanya Liong Oh-im hambar.
"Sewaktu berada di telaga selaksa racun
penghancur tulang, kami telah bertemu Hek-mo-ong. Dia tidak
menyerang kami, melainkan mengambil sikap menawarkan suatu
perundingan secara damai."
Sampai di situ, tiba-tiba dia membungkuk
dan tidak melanjutkan lagi perkataannya.
"Perundingan secara damai macam apakah
yang ia tawarkan kepada kalian?" kembali Liong Oh-im bertanya.
"Ia minta kepadaku untuk menyerahkan
bagian peta rahasia harta karun yang menjadi milikku," sahut Ho
Lan-hiang sambil tertawa dingin.
Seketika itu juga hati semua orang
bergetar keras.
"Apakah kau telah menerima tawaran itu?"
tanya Liong Oh-im lagi.
"Masih di dalam pertimbanganku."
Tio Tian-seng menghela napas sedih,
katanya kemudian, "Hekmo-ong telah menawarkan pula hal yang sama
kepada kami."
"Sejak memasuki Bu-lim-bong ini,
teka-teki sekitar identitas Hek-mo-ong yang sesungguhnya makin lama
makin kentara. Thio Kim-ciok bukan Hek-mo-ong dan aku rasa setiap
orang telah mengetahui hal ini secara jelas."
"Jadi maksudmu Hek-mo-ong adalah satu di
antara lima jago tersisa dari sepuluh tokoh persilatan yang masih
hidup saat ini?" ujar Liong Oh-im sambil tertawa dingin.
"Benar, satu di antara kelima orang yang
masih hidup, malaikat sakti pedang iblis, delapan pedang salju
beterbangan, tabib sakti, sastrawan berwajah tampan dan golok sakti
berlengan tunggal pastilah Hek-mo-ong yang sedang kita cari."
"Jika ada orang menaruh curiga kepadamu
bahwa kau adalah Hek-mo-ong. Bagaimana penjelasanmu tentang tuduhan
itu?" jengek Liong Oh-im sambil tertawa dingin.
"Aku tidak menyalahkan, jika kalian
berpendapat demikian. Kalian memang wajar mempunyai kecurigaan
semacam itu."
"Padahal masalah siapakah Hek-mo-ong
sesungguhnya sudah menjadi masalah basi dan tak ada artinya lagi.
Sejak kita memasuki Bu-lim-bong, tujuan kita semua hanya satu, yakni
melenyapkan Thio Kim-ciok dari muka bumi!"
"Tapi aku kuatir jusru Thio Kim-ciok
yang akan melenyapkan kita dari muka bumi."
"Bagus, bagus sekali," kata Liong Oh-im
tertawa. "Di saat Thio Kim-ciok sudah mampus nanti, di antara kita
pun harus dicarikan suatu penyelesaian secara adil dan cepat, paling
tidak harus ditentukan siapa yang lebih unggul di antara kita
semua."
"Sekarang kalian masih bisa berkata akan
membunuh Thio Kim-ciok. Padahal tahukah kalian, bahwa kita justru
sudah terperangkap oleh tipu muslihat Thio Kim-ciok sehingga
keselamatan jiwa kalian terancam bahaya maut," kata
Bong Thian-gak dingin.
Ho Lan-hiang berpaling dan memandang
sekejap ke arah Bong
Thian-gak, kemudian katanya pula sambil tertawa ringan, "Apa yang
diucapkan Jian-ciat-suseng memang benar, kita sudah terperangkap
dalam Bu-lim-bong sehingga setiap salah langkah bisa mengakibatkan
jiwa kita terancam bahaya maut."
"Ho Lan-hiang, apa rencanamu sekarang?
Tak ada salahnya diutarakan secara blak-blakan," seru Tio Tian-seng
tiba-tiba.
Perempuan paling cantik dari wilayah
Kanglam ini segera tertawa cekikikan, "Saat ini aku tak lain hanya
ingin memberitahukan kepada kalian bahwa Liu Khi telah berhasil
menarik Tan Sam-cing serta Gi
Jian-cau berpihak kepadanya. Mereka berniat hendak melenyapkan kita
dari muka bumi."
"Jadi kau pun berniat mengajak Lohu dan
Liong Oh-im untuk bekerja sama menghadapi mereka?" kata Tio
Tian-seng hambar.
"Aku rasa hanya dengan berbuat
demikianlah kekuatan kita baru akan berimbang."
Tio Tian-seng mendengus dingin, "Ketika
kita belum masuk ke dalam Bu-lim-bong, sudah kuduga kalau kau, Ho
Lan-hiang akan melakukan pengacauan dari tengah. Ai, bila kita
sampai berbuat begini, maka keselamatan jiwa kita semua yang berada
dalam Bu-lim-bong ini benar-benar berbahaya sekali!"
Ho Lan-hiang menarik muka secara
tiba-tiba seraya berseru, "Apa yang ingin kuutarakan telah
kusampaikan, apa yang menjadi keputusan terserah pada pilihan kalian
sendiri."
"Hm, dalam peristiwa pembunuhan yang
dilakukan sepuluh tokoh persilatan terhadap Thio Kim-ciok pada tiga
puluh tahun berselang, tak lain karena gara-gara dirimu."
Berubah hebat paras muka Ho Lan-hiang
setelah mendengar perkataan itu, segera bentaknya, "Tio Tian-seng,
kau hendak mencari kesulitan bagi dirimu sendiri?"
Dengan wajah serius Tio Tian-seng
berkata lebih jauh, "Peristiwa itu telah berkembang menjadi begini
sekarang, aku pun tak ingin melindungi lagi nama baik sepuluh tokoh
persilatan. Ai, dulu sepuluh tokoh persilatan bukan cuma memperkosa
istri orang lain, merampok harta kekayaan orang, bahkan membunuh
pula korbannya. Perbuatan semena-mena ini boleh dibilang merupakan
dosa besar yang tak akan dapat ditebus dengan kematian saja."
"Tio Tian-seng," tiba-tiba Liong Oh-im
membentak, "perbuatanmu ini benar-benar sudah keterlaluan."
Di Tengah bentakan itu, tiba-tiba saja
Liong Oh-im menggerakkan pedangnya melancarkan sebuah tusukan kilat
ke depan.
Bong Thian-gak
segera membentak, sebuah bacokan dilepaskan pula ke muka, angin
pukulan yang kuat dan dahsyat itu seketika menggetarkan tubuh Liong
Oh-im hingga mundur sejauh tiga langkah.
Sementara itu Tio Tian-seng telah
berkata dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh, "Liong-heng,
kuanjurkan kepadamu janganlah mengulang lagi perbuatan salah yang
pernah kita lakukan bersama pada tiga puluh tahun berselang."
Sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im
tertawa dingin, "Tio Tian-seng, aku mau bertanya kepadamu, apa yang
menjadi tujuan kedatanganmu ke Bu-lim-bong hari ini?"
Tio Tian-seng tidak langsung menjawab,
melainkan tertawa seram, "Yang menjadi tujuan utama kedatanganku ke
Bu-lim-bong hari ini tak lain adalah untuk mengetahui apakah Thio
Kim-ciok benar-benar masih hidup di dunia ini."
Mendengar ucapan itu.
Bong Thian-gak segera menyela dengan
lantang, "Tio-locianpwe, Boanpwe dapat memberitahukan kepadamu, Thio
Kim-ciok masih hidup segar bugar di dunia ini."
"Bagus, bagus sekali," Tio Tian-seng
tertawa tergelak. "Kalau memang Thio Kim-ciok masih hidup segar
bugar, maka kedatanganku ke Bu-lim-bong ini tanpa suatu maksud dan
tujuan lagi. Andaikata dibilang ada maksud, maka maksudku tak lain
adalah minta maaf kepada seseorang serta menyesali semua perbuatan
yang pernah kulakukan dulu."
"Apakah orang yang dimaksudkan
Tio-pangcu adalah Thio Kim-ciok?" tanya
Bong Thian-gak lebih lanjut dengan suara dalam.
"Benar, aku telah melakukan suatu
perbuatan yang sangat memalukan dan amat salah terhadap Thio
Kim-ciok."
Dengan wajah berat dan serius
Bong Thian-gak mendesak lebih
lanjut, "Tadi Tio-pangcu mengatakan sepuluh tokoh persilatan telah
memperkosa istri orang dan merampok harta kekayaannya. Apakah hai'
ini benar-benar pernah terjadi?"
Tio Tian-seng menghela napas sedih.
"Dari kesepuluh tokoh orang persilatan
yang ada, kecuali seorang di antaranya yang merupakan wanita, hampir
semuanya sudah pernah melakukan hubungan senggama dengan Ho
Lan-hiang."
Berubah hebat paras muka
Bong Thian-gak setelah mendengar
ucapan yang terakhir ini, segera serunya, "Apakah Ku-lo Hwesio, si
pendeta agung dari Siau-lim-pay pun tak lolos dari perbuatan ini?"
"Bila aku berbicara bohong barang
sepatah kata saja, biar Thian menumpas diriku."
Bong Thian-gak
benar-benar amat terkejut. Walaupun hingga detik ini dia masih belum
mau mempercayainya seratus persen, tetapi bila teringat akan
kejalangan serta daya pikat yang dimiliki Ho Lan-hiang, mau tak mau
dia harus percaya juga akan hal itu.
Dengan wajah hijau membesi, Liong Oh-im
tertawa seram, lalu serunya, "Tio Tian-seng, kau anggap setelah
pengakuan dosamu itu lantas Thio Kim-ciok bakal mengampuni
dosa-dosamu? Seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung
jawab dan selamanya tak kenal kata menyesal. Tak nyana kau adalah
manusia pengecut semacam ini. Hm! Akulah orang pertama yang akan
melenyapkan kau dari muka bumi."
Liong Oh-im segera menggerakkan
pedangnya sambil bersiap-siap melancarkan serangan.
Mendadak pada saat itu di tengah ruangan
terjadi getaran gempa bumi yang amat keras, sedemikian kerasnya
hingga menggoyang semua dinding ruangan.
Semua jago tak mampu berdiri tegak lagi
oleh getaran itu, masing-masing segera jatuh terjungkal ke atas
tanah.
Bong Thian-gak
sendiri merasa amat terperanjat atas terjadinya getaran keras yang
muncul secara tiba-tiba itu, namun sepasang matanya yang tajam tetap
mengawasi empat penjuru dengan seksama.
Begitu memandang,
Bong Thian-gak segera menyaksikan
suatu perubahan alat rahasia yang amat luar biasa.
Ternyata di tengah gempa bumi keras yang
menggetar ruangan itu, keempat dinding ruangan besar dan semua pintu
turut bergeser, bahkan permukaan ruangan pun pelan-pelan ikut
bergerak naik ke atas.
Gempa bumi yang sangat kuat itu
berlangsung kurang lebih seperempat jam lamanya sebelum akhirnya
berhenti.
Namun pemandangan di sekeliling ruangan
telah berubah sama sekali, kini dari sekeliling dinding ruangan
telah muncul delapan buah lorong besar yang membentang jauh ke penit
bumi sana. Tapi berhubung suasana di situ amat gelap, maka tiada
seorang pun yang tahu betapa dalam setiap lorong yang ada di sana.
Sementara semua orang masih bimbang dan
kaget oleh perubahan yang terjadi secara amat mendadak itu,
tiba-tiba dari tengah ruangan berkumandang suara seseorang yang
berkata dengan aneh, "Para jago dengarkan baik-baik, sekarang pintu
Pat-kwa-bun dari Bu-lim-bong telah tertutup semua. Dalam keadaan
begini, sekalipun kalian mempunyai sayap jangan harap bisa
meninggalkan Bu-lim-bong ini barang selangkah pun."
Begitu mendengar suara ini,
Bong Thian-gak segera melompat
bangun dan membentak dengan suara keras, "Apakah kau adalah
Hek-mo-ong?"
Gelak tawa itu terhenti sejenak,
kemudian baru terdengar ia menjawab, "Benar, aku adalah Hek-mo-ong.
Sebenarnya orang yang hendak dibunuh Thio Kim-ciok hanya sepuluh
tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang, tapi kalian orang-orang yang
berada di luar garis ternyata ikut mencari kematian bagi diri
sendiri dengan ikut masuk ke dalam Bu-lim-bong. Hal ini tidak dapat
menyalahkan aku kelewat kejam, salah sendiri kalian tak mau menuruti
perkataanku?"
Di tengah pembicaraan itu, dari balik
delapan lorong yang tersebar di delapan penjuru itu bermunculan pula
delapan orang.
Kedelapan orang itu tak lain adalah
Biau-kosiu, nenek berambut putih serta Biau-han-thian suami-istri
yang berada dalam satu kelompok, lalu Gi Jian-cau,
Tan Sam-cing serta
Long Jit-seng, pada rombongan ketiga
adalah Kim Toa-hay yang sudah sinting itu.
Dari sekian jago yang memasuki
Bu-lim-bong, hanya Liu Khi seorang yang tidak nampak hadir di situ
sekarang.
Ho Lan-hiang memandang sekejap ke arah
semua jago yang hadir, lalu tertawa cekikikan, gumamnya, "Hanya Liu
Khi seorang yang tidak muncul di sini. Kalau begitu, dia adalah
Hek-mo-ong sesungguhnya."
Sementara itu Gi Jian-cau sekalian
berdelapan yang baru muncul dari balik lorong hampir semuanya dalam
keadaan sangat mengenaskan dan ada yang terluka, di antaranya
Long Jit-seng yang tampaknya
menderita luka paling parah, tubuhnya harus dibimbing oleh
Tan Sam-cing agar tidak roboh.
Dengan suara keras
Bong Thian-gak segera membentak,
"Hek-mo-ong, aku rasa setiap orang sudah mengetahui siapakah dirimu
sekarang. Bukankah kau adalah Liu Khi?"
Dari balik ruangan bergema suara gelak
tawa penuh kebanggaan, terdengar dia menyahut, "Dalam keadaan
seperti ini, tentu saja kalian sudah tahu siapakah aku. Benar,
Hek-mo-ong adalah Liu Khi. Tapi sayang, kalian terlalu lambat
mengetahui akan hal ini."
Dengan suara dalam tabib sakti Gi
Jian-cau berseru, "Betul, Liu Khi adalah Hek-mo-ong dan Hek-mo-ong
adalah komplotan Thio Kim-ciok, sudah sejak dahulu Hek-mo-ong
menerima permintaan Thio Kim-ciok untuk membunuh habis sepuluh tokoh
persilatan serta Ho Lan-hiang. Hari ini kita sudah terjebak oleh
perangkapnya."
"Hehehe," kembali terdengar suara
tertawa licik Hek-mo-ong dari balik ruangan, "Gi Jian-cau, apa yang
kau ucapkan memang benar. Sejak tiga puluh tahun berselang, Liu Khi
sudah menerima permintaan Thio Kim-ciok untuk membinasakan kalian."
Kemudian Ho Lian-hiang berseru pula
sambil tertawa cekikikan, "Liu Khi, apa balas jasa yang dijanjikan
Thio Kim-ciok kepadamu sebagai imbalan dalam pembunuhan ini?"
"Peta rahasia dari bukit tambang emas."
"Akhirnya bukankah kau sendiri pun
dikhianati oleh Thio Kim-ciok?" jengek Ho Lan-hiang lagi sambil
tertawa.
"Tidak, aku sama sekali tidak dikhianati
oleh Thio Kim-ciok."
"Bila kau tidak dikhianati oleh Thio
Kim-ciok, mengapa Thio Kim-ciok merobek peta rahasia tambang emasnya
menjadi sebelas bagian dan dibagikan kepada sepuluh tokoh persilatan
serta aku?"
Hek-mo-ong tertawa seram,
"Tujuan Thio Kim-ciok berbuat demikian
tak lain adalah untuk mengadu domba kalian, agar kalian saling
gontok dan bunuh demi memperebutkan peta rahasia itu. Dengan cara
begitu pula aku baru dapat membunuh kalian dengan mudah. Itulah
sebabnya pembagian peta rahasia itu menjadi sebelas bagian
sebetulnya merupakan salah satu rencanaku, hanya saja Thio Kim-ciok
tak pernah menyangka kalau sepuluh tokoh persilatan bakal bekerja
sama dengan Ho Lan-hiang untuk membinasakan dirinya."
"Kau benar-benar adalah Liu Khi?"
tiba-tiba Tio Tian-seng membentak.
Hek-mo-ong tertawa tergelak.
"Tio-pangcu, apakah kau menemui
kesulitan? Silakan sampaikan, aku pasti akan membantu memecahkan
kesulitanmu itu."
"Benar, aku memang mempunyai banyak
persoalan yang tidak kupahami. Pertama, kami ingin membuktikan lebih
dahulu benarkah kau adalah Liu Khi yang asli? Untuk itu harap kau
tampil lebih dahulu."
Hek-mo-ong tertawa licik, "Tio-pangcu,
aku tidak akan tampil seperti apa yang kau inginkan, tetapi aku
dapat memberitahukan kepadamu bahwa aku memang golok sakti berlengan
tunggal yang asli. Bila kurang percaya, tanyakan saja kepada Gi
Jian-cau."
"Benar, dia adalah Liu Khi. Tapi ada
satu hal yang sulit dipercaya, yakni Thio Kim-ciok ternyata berada
sekomplotan dengannya."
"Hm, mengapa aku tidak bisa berkomplotan
dengan Thio Kim-ciok?" seru Hek-mo-ong lagi dengan tertawa dingin.
"Pertama, aku Liu Khi tidak pernah berzinah dengan istrinya. Kedua,
di saat sepuluh tokoh persilatan bekerja sama membunuh Thio Kim-ciok
pada tiga puluh tahun berselang, aku pun tidak turut ambil bagian."
"Dalam peristiwa pengeroyokkan yang
terjadi atas Thio Kim-ciok tempo hari, Tan
Sam-cing tak turut ambil bagian," kata Tio Tian-seng.
"Sekalipun Tan
Sam-cing tidak turut ambil bagian dalam peristiwa
pengeroyokan dan pembunuhan atas Thio Kim-ciok dulu, namun secara
diam-diam ia mencintai Ho Lan-hiang. Jadi soal perempuan, ia tetap
terlibat secara langsung."
Mendadak Bong
Thian-gak membentak, "Liu Khi, walaupun kau tidak turut
serta dalam peristiwa pengeroyokan dan pembunuhan atas Thio
Kim-ciok, tapi sesungguhnya kaulah dalang yang mengatur peristiwa
itu, kaulah otak dari peristiwa berdarah ini."
Hek-Mo-ong tertawa terbahak-bahak,
"Justru aku adalah Hek-mo-ong, maka aku pula yang menjadi otak semua
peristiwa ini. Biarpun begitu, nyatanya Thio Kim-ciok bersedia
bekerja sama denganku."
Tiba-tiba Biau-kosiu membentak pula,
"Hek-mo-ong, apakah ayahku Kui-kok Sianseng mati di tanganmu?"
Hek-mo-ong tidak menjawab, kemudian baru
berkata, "Tidak, bukan aku yang membunuh."
"Lantas siapakah pembunuhnya?" bentak
Biau-kosiu lebih jauh.
"Tio Tian-seng yang melakukan, tapi
boleh dibilang juga Ho Lan-hiang yang telah membunuh ayahmu itu."
Paras muka Biau-kosiu kontan berubah
hebat, keningnya berkerut dan hardiknya kepada Tio Tian-seng,
"Tio-pangcu, benarkah apa yang dikatakan Hek-mo-ong?"
Bong Thian-gak
amat terperanjat, ditatapnya Thio Tian-seng tanpa berkedip. Dalam
hati dia sangat berharap jago tua itu menyangkal tuduhan itu.
Akan tetapi Tio Tian-seng segera
menghela napas panjang, "Ya benar, Kui-kok Sianseng memang tewas di
ujung pedangku, tetapi pertarungan itu berlangsung secara jantan dan
terbuka. Aku sama sekali tak menggunakan tipu-muslihat."
"Mengapa kau membunuh ayahku? Ayo cepat
katakan!" bentak Biau-kosiu dengan marah.
Suara tertawa licik Hek-mo-ong sekali
lagi bergema, terdengar ia berkata, "Tio Tian-seng membunuh Kui-kok
Sianseng demi perempuan paling cantik di wilayah Kanglam Ho
Lan-hiang, sebab waktu itu Kui-kok Sianseng sedang gila-gilanya
mencintai Ho Lan-hiang, sedangkan Tio Tian-seng adalah seorang
pelindung Ho Lan-hiang. Dalam situasi sama-sama cemburu dan ingin
merebut hati sang pujaan hati, tidak heran mereka bertarung
mati-matian."
"Hek-mo-ong," bentak Biau-kosiu dengan
marah, "kau jangan ngaco-belo bicara sembarangan. Aku tidak percaya
ayahku berbuat demikian."
Gelak tawa Hek-mo-ong kembali
berkumandang, selanya tiba-tiba, "Bukan cuma Kui-kok Sianseng yang
mampus gara-gara cemburunya terhadap perempuan ini, bahkan Oh
Ciong-hu pun tewas di ujung pedang Tio Tian-seng karena alasan yang
sama."
Paras muka
Bong Thian-gak berubah hebat, dengan suara dalam ia
segera bertanya kepada Tio Tian-seng, "Benarkah apa yang dikatakan
Liu Khi barusan?"
"Ya, semua yang dikatakannya memang
benar," Tio Tian-seng menghela napas panjang.
Biau-kosiu tak mampu menahan gejolak
emosinya lagi, dia segera membentak, 'Tio Tian-seng, bersiap-siaplah
kau menerima kematianmu!"
Sembari berkata gadis itu maju tiga
langkah dan sepasang tangannya dengan cepat melolos dua bilah pisau
belati yang bersinar tajam.
"Nona Biau," Tio Tian-seng segera
berkata dengan suara dalam, "aku tak ingin membunuh orang lagi,
harap kau jangan bergerak sembarangan."
"Siapa membunuh orang, dia harus
membayar dengan nyawanya sendiri. Bagaimana pun juga aku tetap akan
membalas dendam bagi kematian ayahku," bentak Biau-kosiu sambil
melotot.
Di tengah pembicaraan, tubuhnya bergerak
maju ke depan, seperti sebuah gasing yang sedang berputar dia
mendesak maju, sementara sepasang pisau belatinya bagaikan dua titik
cahaya bintang menusuk ke bagian mematikan di tubuh Tio Tiang-seng.
Segera Tio Tian-seng melompat ke
belakang, kemudian bentaknya, "Nona Biau, dengarkan dulu
perkataanku! Aku membunuh ayahmu serta Oh Ciong-hu tak lain karena
tindakan melindungi diri sendiri, dalam suatu pertarungan yang tak
bisa dihindarkan bisa jatuh korban di salah satu pihak."
"Kau tak usah banyak bicara," tukas
Biau-kosiu sambil menahan geramnya. "Jika punya kepandaian, bunuhlah
aku!"
Di tengah bentakannya, pisau belatinya
kembali menyergap jalan darah mematikan di tubuh Tio Tian-seng
dengan kecepatan bagaikan sambaran petir. Setiap jurus serangan
dilakukan secara cepat dan merupakan ancaman serius.
Di bawah sergapan pisau belatinya yang
bertubi-tubi, selangkah demi selangkah Tio Tian-seng mundur terus,
namun ia sempat berbicara lagi, "Nona Biau, aku sudah merasa
menyesal karena pernah diperalat oleh Ho Lan-hiang sehingga membunuh
orang. Hari ini aku tak berkeinginan melukaimu."
"Tapi aku pun berharap kau jangan
mendesak dan memojokkan aku. Jika kau ingin membalas dendam,
tunggulah setelah kita keluar dari Bu-lim-bong ini dengan selamat,
waktu itu aku pasti akan memberi keadilan kepadamu," imbuh
Tio Tan-seng.
Mendadak terdengar
Bong Thian-gak membentak pula, "Nona
Biau, harap kau hentikan dulu seranganmu itu."
Sambil berseru pemuda itu menerjang
masuk ke dalam arena. Telapak tangan kanannya segera diayunkan ke
muka melepaskan sebuah pukulan, angin serangan yang tajam segera
membendung datangnya ancaman Biau-kosiu.
"Kau berniat membantunya?" bentak
Biau-kosiu dengan marah, keningnya berkerut kencang.
Dengan wajah serius dan nada
bersungguh-sungguh Bong
Thian-gak berkata, "Nona Biau, dengarkan nasehatku, untuk sementara
waktu janganlah kau menyerang secara sembarangan."
"Dendam kesumat terbunuhnya ayahku lebih
dalam daripada samudra, aku tak bisa melepaskannya begitu saja."
"Biarpun Tio Tian-seng adalah musuh
besar pembunuh ayahmu, tapi Ho Lan-hiang adalah otak di belakang
layar yang memberi perintah kepadanya. Apakah perempuan ini tak
pantas dibunuh?"
Biau-kosiu tertawa dingin, "Hm, setelah
membunuh Tio Tian-seng nanti, Ho Lan-hiang pun tak bakal lolos dari
kematian."
Ho Lan-hiang yang selama ini hanya
menonton dari samping segera tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya, "Nona
Biau, aku berani bertaruh kepadamu, orang-orangmu tak bakal mampu
menandingi kehebatan Tio Tian-seng. Percaya tidak?"
"Hm, sekalipun bukan tandingannya, aku
tetap akan mengadu kepandaian dengannya," jawab gadis itu.
Bong Thian-gak
segera berkata dengan suara dalam, "Nona Biau, harap kau suka
mendengarkan perkataanku baik-baik, semua jago persilatan yang hadir
dalam Bu-lim-bong saat ini hampir semuanya mempunyai niat busuk,
mereka berharap ada satu pihak yang bertarung lebih dulu, sementara
mereka akan menjadi nelayan beruntung yang tinggal memungut
hasilnya. Apakah kau tak dapat merasakan gejala itu?"
Biau-kosiu mendengus dingin, "Asal aku
berhasil mengalahkan Tio Tian-seng, dengan sendirinya para jago lain
pun dapat kutaklukkan. Nah, Jian-ciat-suseng, harap kau mundur dari
situ."
Tio Tian-seng kembali menghela napas
panjang, "Ai, sebenarnya aku ingin menyimpan sedikit tenaga untuk
menghadapi Ho Lan-hiang lebih dulu, sungguh tak disangka nona Biau
justru mendesakku terus-menerus. Kalau kau ingin cepat membalas
dendam bagi kematian ayahmu, silakan segera turun tangan!"
Tio Tian-seng segera melintangkan
pedangnya di depan dada dan berdiri dengan serius, sementara dari
balik matanya memancar sinar tajam yang menggidikkan.
"Tunggu sebentar," tiba-tiba
Bong Thian-gak membentak. "Aku ingin
bertanya dulu kepada Tio-pangcu, apa sebabnya kau membunuh Oh
Ciong-hu?"
Tio Tian-seng memandang sekejap ke arah
Bong Thian-gak, lalu menghela
napas, "Tentang segala budi dendam yang menyangkut sepuluh tokoh
persilatan, tentunya Bong-laute sudah mengetahui sedikit banyak,
bukan? Kalau ditanya apa alasanku membunuh Oh Ciong-hu, maka hal ini
tak lain disebabkan karena perempuan jalang itu."
"Apakah Oh Ciong-hu pernah mencintai Ho
Lan-hiang?"
"Ho Lan-hiang adalah perempuan jalang
dan pandai memikat perhatian lelaki."
"Sepuluh tokoh persilatan bukan orang
suci, tentu saja mereka tak akan lolos dari rayuan mautnya, apalagi
Oh Ciong-hu dan Ho Lan-hiang adalah saudara seperguruan, mereka
pernah saling mencintai di masa lalu. Bagaimana mungkin Oh Ciong-hu
bisa lolos dari perangkap mautnya?"
"Sekarang pun aku lihat masih ada juga
mereka yang terpikat oleh rayuannya hingga rela menjual nyawa
baginya."
"Apakah Tio-pangcu turun tangan membunuh
musuh cintamu karena kuatir perempuan jalang itu terjatuh ke dalam
pelukan orang lain?"
Tio Tian-seng sekali lagi menghela napas
panjang, "Kemungkinan besar Bong-laute tidak akan percaya dengan
perkataanku, tapi cerita yang sesungguhnya adalah Oh Ciong-hu yang
kuatir aku merampas perempuan jalang ini hingga turun tangan lebih
dulu membunuhku."
Bong Thian-gak
menggeleng kepala.
-
"Sekarang Oh Ciong-hu telah mati, tentu
saja aku tak akan percaya dengan pengakuan dari seorang yang masih
hidup seperti kau."
Kembali Tio Tian-seng menghela napas,
"Seandainya Ho Lan-hiang tidak bohong, dia pasti akan membeberkan
duduk persoalan yang sesungguhnya kepadamu."
Mendengar ucapan itu, tanpa terasa
Bong Thian-gak mengalihkan
sorot matanya ke arah Ho Lan-hiang.
Perempuan paling cantik dari wilayah
Kanglam itu segera tertawa ringan, katanya cepat, "Alasan utama Tio
Tian-seng membunuh Oh Ciong-hu tak lain disebabkan hendak membalas
dendam atas sebuah pukulan yang pernah diterimanya dulu."
"Ho Lan-hiang, kau berbohong," bentak
Tio Tian-seng.
Bong Thian-gak
menghela napas seraya berkata, "Tio-pangcu, tak usah berdebat lagi
tentang masalah kematian yang menimpa Oh Ciong-hu, sebab aku sudah
tidak berhasrat untuk menyelidiki lebih lanjut.
Pertikaian antara sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok
serta perselisihan kalian dengan Hek-mo-ong, lebih baik kalian
sendiri yang menyelesaikannya!"
"Ai, saat ini aku justru merasa agak
menyesal karena ikut terseret ke dalam persoalan ini."
Tiba-tiba Biau-kosiu mendengus dingin
sambil mengumpat, "Huh,
manusia tak becus, lelaki banci. Sudah tahu gurunya terbunuh, kau
malah menyatakan cuci tangan dari persoalan itu. Andaikata arwah Oh
Ciong-hu di alam baka tahu hal ini, ia pasti akan menyesal telah
menerima murid yang tak bertanggung-jawab macam kau."
"Nona Biau, hati-hati kalau bicara,"
tegur Bong Thian-gak dengan
serius.
"Memangnya aku salah mengumpatmu?"
kembali Biau-kosiu menjengek secara sinis.
"Tentang pertikaian sepuluh tokoh
persilatan dengan Thio Kim-ciok, aku telah mengetahui persoalan itu
sejelasnya. Sepuluh tokoh persilatan telah terayu oleh kejelitaan Ho
Lan-hiang, saling cemburu, saling membenci dan akhirnya saling
membunuh. Perbuatan busuk semacam ini jelas merupakan perbuatan
rendah dan memalukan, aku rasa hanya Tio Tian-seng seorang yang
berani mengungkapnya. Oleh sebab itu aku merasa amat kagum atas
keberanian Tio-pangcu."
"Dan kini aku sudah mengetahui dengan
jelas bahwa guruku pernah melakukan perbuatan rendah yang sangat
memalukan. Apakah aku harus mencari gara-gara lagi secara
membabi-buta tanpa membedakan mana yang benar dan yang salah?"
"Ai, yang lebih menggemaskan lagi adalah
dengan ilmu silat serta nama besar sepuluh tokoh persilatan,
ternyata mereka rela dipikat dan dirayu oleh seorang perempuan
jalang sehingga nama baik hancur, orangnya pun binasa. Peristiwa ini
benar-benar amat tragis."
Perkataan Bong
Thian-gak yang diutarakan secara blak-blakan ini kontan
membuat paras muka Tio Tian-seng, Tan
Sam-cing, Gi Jian-cau dan Liong Oh-im berubah merah
padam, dengan mulut terbungkam mereka menundukkan kepala.
Sementara itu dengan wajah bimbang
Biau-kosiu bergumam pula, "Mungkinkah ayah pun ikut terpikat oleh
perempuan jahat itu?"
Ho Lan-hiang tertawa terkekeh-kekeh,
dengan suara jalang ujarnya, "Bagus sekali umpatanmu itu
Jian-ciat-suseng, tetapi kau tentu tahu bahwa bencana keluarnya dari
mulut. Hari ini kau sudah dipastikan harus mati di sini."
Sampai di situ, dia segera mengulap
tangan kanan. Kakek berbaju hitam yang berada di sampingnya yaitu
Sim Tiong-kiu segera
melangkah maju, sambil bentaknya, "Jian-ciat-suseng, bersiap-siaplah
kau menerima kematian!"
Bong Thian-gak
sudah pernah bertarung melawan Sim
Tiong-kiu, dia tahu kakek itu memiliki ilmu jari yang lihai
sekali. Oleh sebab itu segera dia menghimpun seluruh tenaga dan
perhatiannya dengan memperhatikan jari telunjuk tangan kiri lawan.
"Sim
Tiong-kiu!" katanya kemudian sambil tertawa dingin, "jika kau sudah
mendengar kisah hubungan gelap sepuluh tokoh persilatan dengan Ho
Lian-hiang, apakah kau masih terpikat oleh kegenitan dan
kecantikannya hingga rela berbakti terus kepadanya? Padahal dengan
tampangmu, wahai Sim
Tiong-kiu, benarkah kau memperoleh kasih sayang sejati darinya?"
Ucapan Bong
Thian-gak itu penuh dengan sindiran, membuat paras muka
Sim Tiong-kiu seketika itu
juga berubah merah padam dan untuk sesaat lamanya tak mampu
mengucapkan sepatah kata pun.
Berubah pula paras muka Ho Lan-hiang,
segera bentaknya keras, "Sim
Tong-kiu, kau berani melanggar sumpahmu?"
Tatkala mendengar teguran itu, tiba-tiba
saja sekujur badan kakek berbaju hitam Sim
Tiong-kiu gemetar keras, jari telunjuk tangan kirinya
segera ditekuk, kemudian melakukan sentilan keras ke depan.
Serangan jari yang dahsyat dan luar
biasa itu bagaikan sambaran halilintar segera meluncur ke muka dan
langsung menyerang jalan darah kematian di dada
Bong Thian-gak.
Bong Thian-gak
memang sudah tahu Sim
Tiong-kiu memiliki ilmu jari yang sangat hebat dengan daya
penghancur yang luar biasa, maka di saat
Sim Tiong-kiu baru saja menggerakkan jari tangannya, ia
sudah menerjang ke muka.
Diiringi suara bentakan yang keras,
pedang kayu di tangannya langsung dicabut dan menusuk iga kiri
Sim Tiong-kiu.
Ilmu pedang yang diiringi terjangan
kilat ini dilakukan dengan gerakan yang mengerikan, tak heran paras
muka kawanan jago yang hadir berubah hebat.
Serta-merta
Sim Tiong-kiu menggeser kaki kirinya ke samping, lalu
meluncur mundur untuk meloloskan diri dari serangan pedang pemuda
itu.
Menyaksikan serangan jari tangan
Sim Tiong-kiu yang istimewa dan luar
biasa itu gagal membunuh lawan, kembali paras muka Ho Lan-hiang
berubah hebat, segera serunya, "Mundur kau, apakah sebelum ini
kalian sudah pernah bertarung?"
Sim Tiong-kiu
segera mengundurkan diri ke sampingnya, lalu menjawab, "Ya, ketika
berada di kuil Hong-kong-si tempo hari, kami sudah pernah
bertarung."
Setelah memukul mundur
Sim Tiong-kiu dengan serangan
pedangnya, Bong Thian-gak
tidak melanjutkan dengan serangan kedua, sebaliknya sambil
melintangkan pedang di depan dada, ia berkata dengan lantang, "Ho
Lan-hiang, ilmu jarinya yang merupakan senjata maut pencabut nyawa
sudah tak mampu melukai diriku lagi, bahkan rahasia pedang
Cing-tong-kiam milik Ji-kaucu pun sudah kuketahui dengan jelas. Oleh
karena itu kedua orang utusan pelindung bungamu sudah tidak sanggup
lagi melindungi keselamatan jiwamu, mengapa kau tidak turun tangan
sendiri untuk bertarung melawanku?"
Tantangan Bong
Thian-gak yang diucapkan secara blak-blakan dan terus
terang ini segera membuat Ho Lan-hiang mengernyitkan alis, hawa
membunuh segera menyelimuti wajahnya, dia berseru, "Ji-kaucu!"
Ji-kaucu yang berada di sisi kirinya
segera menyahut dengan suara lantang, "Siap!"
"Kau tampil ke muka dan bunuh keparat
itu!"
"Harap Cong-kaucu jangan kelewat emosi,"
kata Ji-kaucu dengan kalem tanpa luapan perasaan. "Aku rasa waktu
untuk membunuhnya belum tiba."
Ketika mendengar ucapan ini, hawa
membunuh yang semula telah menyelimuti wajahnya mendadak lenyap,
sebagai gantinya ia segera menampilkan wajah lembut dan ramah,
setelah tertawa terkekeh, katanya, "Ji-kaucu, kau memang tak malu
menjadi tangan kananku. Kecerdasan otakmu sungguh mengagumkan."
Sebaliknya
Bong Thian-gak segera menjengek sambil tertawa dingin,
"Ji-kaucu, kau tidak usah mencoba menyimpan tenaga lagi. Hari ini
aku ingin mencoba kelihaian ilmu silatmu."
Saat itu Bong
Thian-gak telah berdiri dengan pedang dilintangkan di
depan dada, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, sementara hawa
membunuh telah menyelimuti wajahnya.
Setiap jago dalam arena dapat melihat
bahwa pemuda itu telah menghimpun tenaga murninya dan siap
melepaskan serangan pedang terbangnya.
Keadaan Bong
Thian-gak yang sudah siap melepaskan serangan pedang
terbangnya saat ini ibarat anak panah yang sudah berada di gendewa
yang ditarik. Oleh karena itu Ji-kaucu yang menyaksikan keadaan itu
segera mengerti bahwa dia tak bisa meloloskan diri lagi dari
ancaman.
Kaki kiri Ji-kaucu segera maju setengah
langkah, tangan kanannya secepat kilat mencabut pedang bercahaya
hijau dari pinggang, lalu setelah tertawa seram, katanya,
"Jian-ciat-suseng, hari ini kita memang harus bertarung!"
"Dendam sakit hati yang telah terjalin
di antara kita berdua rasanya cepat atau lambat harus dituntaskan,
pertarungan memang tak dapat dihindari lagi," sahut
Bong Thian-gak sambil tersenyum.
"Selama ini kau tak lebih cuma panglima
yang kalah perang, aku rasa hari ini pun kau tak akan lolos dari
nasib kekalahan konyol."
Bong Thian-gak
segera mendengus dingin, "Hm, seandainya aku menderita kekalahan
lagi di tanganmu, biar mati pun aku tak menyesal!"
Selesai berkata
Bong Thian-gak segera menggerakkan
bahunya bergerak ke muka, pedangnya dengan jurus pelangi panjang
menutupi matahari langsung meluncur.
"Serangan bagus!" bentak Ji-kaucu.
Di tengah kilauan cahaya pedang berwarna
hijau serta lejitan bintang merah berkilauan, tiba-tiba berkumandang
suara gemerincingan
yang amat nyaring.
Serangan pedang
Bong Thian-gak yang dilancarkan
dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat itu tahu-tahu sudah
terbendung.
Dalam pengaruh hawa murninya yang
disalurkan ke tubuh pedang itu, pedang bambu yang lemah telah
berubah menjadi keras dan tajam bagaikan pedang sungguhan.
Itulah sebabnya ketika bentrokan yang
barusan terjadi, pedang bambunya tidak menjadi putus karena
ketajaman pedang lawan.
Begitu pedang bambu
Bong Thian-gak digetarkan terpental
ke belakang, tangan kirinya segera diputar kencang, pedangnya
seperti seekor naga sakti yang sedang membalik badan, menyambar dari
bawah ke atas langsung merobek lambung Ji-kaucu.
Ilmu pedang yang sangat aneh dan luar
biasa semacam ini pada hakikatnya di luar dugaan siapa pun juga.
Mimpi pun Ji-kaucu tidak mengira gerak
serangan Bong Thian-gak yang
berhasil dibendung itu dalam waktu singkat telah berubah arah,
menyergap bagian mematikan di tubuhnya.
Sementara dia masih terperanjat
menghadapi perubahan itu, tahu-tahu ujung pedang
Bong Thian-gak sudah menempel di
atas baju Ji-kaucu yang menutupi lambungnya. Dalam keadaan demikian,
sekalipun ada malaikat turun dari kahyangan, rasanya tak mampu
menolong Ji-kaucu lolos dari musibah ini.
Bisa dibayangkan betapa cepatnya
sambaran pedang jago-jago lihai yang sedang bertarung. Waktu itu
tiada kesempatan lagi bagi Ji-kaucu untuk memutar otak, mendadak
hawa membunuh memancar dari wajahnya, pedangnya segera dibalik, lalu
ditusukkan pula ke dada Bong
Thian-gak.
Dalam anggapan para jago, serangan
pedang Ji-kaucu itu tak lebih cuma gerakan sia-sia, karena ancaman
itu tak ada artinya.
Padahal waktu itu serangan pedang
Bong Thian-gak sudah hampir mengenai
tubuh Ji-kaucu, andaikata menyerang pun Ji-kaucu tentu akan tewas
lebih dulu di ujung senjata Bong
Thian-gak.
Itulah sebabnya serangan Ji-kaucu ini
pada hakikatnya tidak akan memberikan manfaat apa pun.
Tapi siapakah yang dapat menduga kalau
di balik serangan Ji-kaucu itu sesungguhnya ia sedang melakukan
tindakan nekat mengajak lawan mengadu jiwa.
Pedang tembaga berwarna hijau itu bukan
saja dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai kehendak hati,
bahkan bagian tengah pedang yang kosong itu telah dia isi dengan
semacam cairan beracun yang bisa menyembur keluar apabila tombol
rahasianya dipencet
Di saat yang amat kritis itulah mendadak
sesosok bayangan orang secepat sambaran kilat meluncur tiba, disusul
segulung angin pukulan berpusing yang sangat kuat menumbuk tubuh
Bong Thian-gak serta
mementalkan tubuhnya hingga mencelat ke samping kanan.
Tenaga pukulan yang maha dahsyat itu
memiliki kekuatan sangat mengerikan. Bong
Thian-gak merasa tubuhnya tak mampu dikendalikan lagi,
setelah mencelat ke belakang, dia mesti mundur sebelum berhenti.
Suara semburan air beracun bergema, dari
ujung pedang Ji-kaucu memancar tiga gulung cairan hitam.
Begitu jatuh ke atas tanah, segera
tertampak asap hitam mengepul ke udara, dalam waktu singkat lantai
berbatu itu sudah terbakar hangus hingga muncul bekas lekukan
sedalam beberapa inci.
Sesudah menyaksikan itu,
Bong Thian-gak baru sadar bahwa
orang itu telah menyelamatkan jiwanya.
Tapi dia pun telah menyelamatkan jiwa
Ji-kaucu.
Tatkala sorot mata para jago dialihkan
ke wajah pendatang itu,
mendadak air muka mereka segera berubah menjadi pucat.
Itulah mimik wajah kaget, ngeri, seram,
tegang serta berbagai perubahan lainnya.
Pendatang itu seorang kakek berbaju
hijau yang memelihara jenggot berwarna hitam, berwajah segar dan
berwibawa, akan tetapi bagi pandangan para jago dalam arena justru
lebih menyeramkan dan mengerikan daripada melihat setan atau memedi.
Bong Thian-gak
menjerit kaget lebih dulu, "Thio Kim-ciok! Thio-locianpwe!"
Kakek berjenggot hitam berbaju hijau itu
memang tak lain adalah Thio Kim-ciok.
Sementara itu dari balik sebuah pintu
rahasia di tengah ruangan pelan-pelan berjalan keluar
Song Leng-hui serta Thay-kun.
Setelah suasana agak hening, Thio
Kim-ciok baru berkata dengan suara hambar, "Bong-laute, tak ada
artinya kau mengadu jiwa dengan lawan. Itulah sebabnya aku telah
melancarkan Kun-goan-khi-kang untuk mendorongmu dari ancaman
bahaya."
Biarpun cuma beberapa patah kata yang
sederhana, namun sudah menjelaskan betapa berbahayanya situasi waktu
itu.
Kemunculan Thio Kim-ciok membuat para
jago merasa kaget dan bergidik, tapi juga merubah suasana di arena
menjadi tegang dan menyeramkan. Ancaman pertempuran setiap detik
dapat meledak di situ.
Dari sekian jago yang hadir, kecuali
Bong Thian-gak,
Song Leng-hui serta Thay-kun tiga
orang, empat orang dari sepuluh tokoh persilatan maupun Ho Lan-hiang
serta Biau-kosiu sekalian sama-sama telah meraba senjata
masing-masing, bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Bong Thian-gak
melayangkan pandangannya dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat
itu, kemudian dengan kening berkerut dia berpikir, "Tampaknya semua
telah bekerja sama untuk menghadapi Thio Kim-ciok."
Dalam pada itu Thio Kim-ciok dengan mata
yang memancarkan cahaya tajam telah memandang sekejap wajah
orang-orang di situ, kemudian ujarnya dingin, "Mungkin kalian tak
pernah mengira bukan kalau aku masih hidup di dunia ini?"
Tio Tian-seng segera menghela napas
panjang dengan nada sedih, sahutnya, "Ya, kenyataan kau memang masih
hidup!"
"Tio Tian-seng," kata Thio Kim-ciok lagi
dengan suara dingin, "Aku tahu kau sudah menyesal, tapi Thio
Kim-ciok tetap tak akan memaafkan dirimu."
Kembali Tio Tian-seng tertawa pedih,
"Aku tahu, Thio Kim-ciok adalah seorang yang berhati kejam, buas dan
membunuh orang tanpa berkedip. Jangankan terhadap musuh-musuh
besarmu, bahkan terhadap orang yang tiada sangkut-pautnya dengan
dirimu pun sudah berapa banyak yang tewas di tanganmu."
"Kalian semua tak akan lolos dari
kematian!" ujar Thio Kim-ciok lagi dengan suara dingin dan
menyeramkan.
Tiba-tiba sinar matanya dialihkan ke
wajah Ho Lan-hiang. Dalam pada itu sekulum senyum manis telah
tersungging di ujung bibir Ho Lan-hiang, katanya dengan suara yang
amat tenang, "Orang pertama yang hendak kau bunuh tentu diriku,
bukan?"
"Aku akan menghancur-leburkan tubuhmu
serta mencincangnya," sahut Thio Kim-ciok dengan wajah dingin dan
suara hambar.
Kembali Ho Lan-hiang tertawa merdu,
"Tiga puluh tiga tahun berselang kau tidak memiliki kemampuan untuk
melukaiku. Tiga puluh tiga tahun kemudian, lebih-lebih jangan harap
dapat melukai seujung rambutku."
Pada saat itulah
Bong Thian-gak dapat melihat Tio
Tian-seng, Tan Sam-cing,
Liong Oh-im, Gi Jian-cau bersama Ho Lan-hiang, Ji-kaucu, serta
Sim Tiong-kiu sekalian secara
pelan-pelan telah bergerak maju mengurung Thio Kim-ciok rapat-rapat.
Melihat itu, mendadak
Bong Thian-gak mengayunkan pedangnya
sambil membentak nyaring, "Berhenti kalian semua. Bila ada yang
berani maju selangkah lagi, jangan salahkan pedangku akan segera
melukai orang."
Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru,
"Bukankah Bong-laute telah mengambil keputusan untuk melepaskan diri
dari kancah pertikaian yang penuh dengan budi dan dendam ini?"
Dengan suara dalam
Bong Thian-gak membentak, "Mencari
kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak merupakan suatu
perbuatan terkutuk serta memalukan."
Tiba-tiba Thio Kim-ciok berpaling ke
arah anak muda itu, lalu berkata sambil tertawa, "Bong-laute, dari
sikap serta perbuatan mereka itu, tentu kau tak akan menyalahkan aku
andaikata kubunuh mereka dari muka bumi?"
"Thio-locianpwe berniat membantai semua
orang yang ada di sini?" tanya Bong
Thian-gak dengan perasaan bergetar keras.
"Aku tidak dapat melepaskan seorang pun
di antara sepuluh tokoh persilatan serta perempuan jalang itu."
Bong Thian-gak
menghela napas, kemudian katanya, "Thian maha penyayang. Apakah
Thio-locianpwe tak merasa bahwa dendam yang kau perlihatkan sekarang
telah melanggar ajaran Thian?"
Thio Kim-ciok tertawa dingin, "Andaikan
setiap umat persilatan di dunia ini dapat memahami apa artinya
ajaran Thian, aku rasa tidak bakal terjadi lagi badai pembunuhan
serta mengalirnya anyir darah dalam persilatan. Sepuluh tokoh
persilatan mempunyai kedudukan yang agung dan terhormat, tetapi
nyatanya mereka bisa juga melakukan perbuatan terkutuk yang amat
memalukan itu."
Bong Thian-gak
sadar bahwa dia tak mampu lagi menghalangi niat Thio Kim-ciok untuk
melampiaskan rasa dendam kesumatnya, maka setelah menghela napas
panjang, dia pun bertanya, "Yakinkah Thio-locianpwe bahwa harapanmu
itu bakal tercapai?"
"Walaupun aku tidak mempunyai keyakinan
sepenuhnya, namun dapat kupertaruhkan dengan selembar nyawaku."
Mendadak terdengar Ho Lan-hiang yang
berada di samping arena berseru sambil tertawa terkekeh-kekeh,
"He si tua Thio, saat ini kau
telah dikepung oleh semua jago. Aku tidak percaya kau masih
mempunyai kesempatan untuk melarikan diri ke dalam alat rahasiamu."
Dalam sekejap di empat penjuru sudah
berdiri Tio Tian-seng, Gi Jian-cau, Tan
Sam-cing, Liong Oh-im, Ho
Lan-hiang, Sim
Tiong-kiu serta Ji-kaucu dengan senjata terhunus. Tampaknya
pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi.
Bong Thian-gak
segera berpikir, "Sanggupkah Thio Kim-ciok menandingi kerubutan
tujuh jago lihai dunia persilatan ini?"
Dengan pandangan sinis Thio Kim-ciok
memperhatikan sekejap, kemudian berkata, "Kepungan kalian mirip
barisan pembunuh yang dipakai untuk menghadapiku tiga puluh tiga
tahun berselang, hanya sayang di sini sudah tak nampak beberapa
wajah."
"Thio Kim-ciok!" dengan wajah serius dan
nada bersungguh-sungguh Tio Tian-seng berkata, "sebenarnya aku
merasa malu untuk mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah
banyak, tapi aku pun tahu bahwa kau adalah seorang licik yang
berhati busuk serta banyak akal muslihatnya. Oleh karena itu mau tak
mau terpaksa kami harus mempergunakan cara mengembut yang tidak
gagah ini untuk menghadapimu."
"Andaikata aku merasa takut untuk
menghadapi kerubutan kalian, tidak nanti aku menampilkan diri,"
sahut Thio Kim-ciok dingin.
Liong Oh-im tertawa seram, "Thio
Kim-ciok, kau mempunyai kemampuan seberapa besar hingga dapat
menembus kepungan kami bertujuh?"
"Andaikata aku berniat membunuh kalian,
maka hal ini bisa aku lakukan secara mudah dan tak usah membuang
tenaga."
Belum habis perkataan Thio Kim-ciok,
Thay-kun yang selama ini berdiri di samping menyela dengan suara
merdu, "Di saat terjadinya gempa bumi yang menggetarkan seluruh
permukaan gua tadi, seluruh alat rahasia dalam lorong bawah tanah
ini sudah tertutup seluruhnya. Biarpun kalian sanggup membunuh Thio
Kim-ciok saat ini, tetapi kalian sendiri pun tidak bakal terlepas
dari Bu-lim-bong yang sudah tersumbat ini, akhirnya kalian bakal
mampus juga karena kelaparan."
Beberapa patah kata Thay-kun ini kontan
membuat paras muka kawanan jago itu berubah hebat.
Liong Oh-im segera tertawa licik,
"Bagus, bagus sekali, kalau semua orang bisa mati bersama di dalam
Bu-lim-bong, hal itu jauh lebih baik lagi."
Dengan suara dingin menyeramkan Thio
Kim-ciok berkata pula, "Aku tak ingin menyaksikan kalian mampus
tanpa memberi perlawanan, aku pun tak ingin membiarkan kalian mampus
dalam Bu-lim-bong ini."
Beberapa patah katanya yang terakhir ini
terasa sangat aneh dan bertentangan dengan apa yang dikatakan
sebelumnya, tapi para jago mengerti, di balik semua itu tentu masih
terdapat latar belakang lainnya.
Sambil tertawa licik Liong Oh-im segera
berkata, "Kalau begitu, tentunya jalan keluar dari Bu-lim-bong ini
sesungguhnya bukan merupakan hasil karya Thio Kim-ciok bukan?"
Thio Kim-ciok tidak menjawab, tapi
Thay-kun telah berseru dengan suara merdu, "Betul, orang yang
menggerakkan alat rahasia untuk menutup seluruh lorong rahasia dalam
Bu-lim-bong ini bukan Thio-locianpwe, melainkan Hek-mo-ong. Dia
hendak mengurung kalian dalam Bu-lim-bong ini."
Mendadak dari balik ruangan yang luas
itu berkumandang kembali suara Hek-mo-ong yang dingin serta
misterius itu, "Thio Kim-ciok, aku tidak menyangka kau bakal
mengingkari janjimu sendiri."
Thio Kim-ciok tertawa dingin, sahutnya
dengan suara keras, "Hek-mo-ong, aku sama sekali tidak mengingkari
janji, aku hanya tak rela membiarkan musuh-musuh besarku ini tewas
di tanganmu."
"Thio Kim-ciok!" kembali suara
Hek-mo-ong berkumandang lagi, "apakah kau yakin dapat membinasakan
Ho Lan-hiang bertujuh?"
Thio Kim-ciok tertawa dingin, "Termasuk
kau, berarti berjumlah delapan orang. Aku yakin tak seorang pun di
antara kalian yang dapat meloloskan diri dalam keadaan selamat."
Hek-mo-ong tertawa terkekeh, katanya,
"Sebagai imbalan dari usaha bantuan membinasakan Ho Lan-hiang
sekalian adalah janjimu menyerahkan peta rahasia tambang emas
kepadaku dan sekarang kau telah berbalik ingin membunuh sendiri
musuh-musuh besarmu itu. Apakah kau pun berniat membatalkan
perjanjian di antara kita?"
"Kita telah berjanji. Setelah kau
membantu aku membinasakan Ho Lan-hiang sekalian, maka antara aku dan
kau pun akan dilangsungkan pertarungan sengit yang akan menentukan
mati hidup di antara kita," sahut
Thio Kim-ciok dingin.
"Tapi aku takut kemampuanmu sangat
terbatas sehingga gagal membunuh Ho Lan-hiang sekalian, sebaliknya
malah mencelakakan diri sendiri. Oleh sebab itu kuanjurkan kepadamu
lebih baik serahkan saja penyelesaian nyawa mereka kepadaku."
Dari tanya-jawab yang berlangsung antara
Hek-mo-ong dan Thio Kim-ciok ini. Secara garis besar semua orang
sudah mulai memahami apa yang sebenarnya direncanakan kedua orang
yang berkomplot itu.
Mendadak Tio Tian-seng membentak dengan
suara keras, "Liu Khi, bila kau memang bernyali, ayo cepat keluar
untuk berduel mati-matian denganku."
"Hahaha," gelak tawa nyaring Hek-mo-ong
segera bergema memenuhi seluruh ruangan. "Tio Tian-seng, tahukah kau
bahwa di dasar tanah dalam ruangan dimana kalian berpijak sekarang
telah ditanam beratus-ratus obat mesiu yang setiap saat dapat
meledak? Bila kusulut sumbu mesiu itu, maka aku yakin dalam
seperempat jam, kalian akan mampus dengan tubuh hancur
berkeping-keping."
Kawanan jago yang hadir dalam arena
kontan terkesiap.
Bong Thian-gak
segera memandang sekejap ke arah Thio Kim-ciok, lalu tanyanya,
"Thio-locianpwe, benarkah apa yang dikatakannya itu?"
"Benar, di dasar lantai ruangan ini
memang sudah ditanam obat peledak dalam jumlah besar. Seandainya
benar-benar meledak, maka daya kekuatannya mampu menenggelamkan
seluruh perkampungan ini ke dasar tanah."
Mendengar sampai di sini.
Bong Thian-gak segera menghela napas
panjang, "Apa rencana Thio-locianpwe selanjutnya untuk menghadapi
situasi demikian ini?"
Tiba-tiba Thay-kun tersenyum, selanya,
"Bong-suheng tidak usah kuatir, aku percaya Thio-locianpwe pasti
sudah mempunyai rencana yang rapi untuk menghadapi semua itu."
Dalam pada itu para jago yang berada di
dalam ruangan bawah tanah itu tak berani bertindak lagi secara
gegabah, mereka cuma bisa mengawasi wajah Thio Kim-ciok dengan mata
terbelalak dan pandangan termangu.
Mendadak terdengar lagi suara Hek-mo-ong
berseru lantang dari balik ruangan, "Thio Kim-ciok, dengarkan
baik-baik. Andaikata aku bertekad membatalkan niatku untuk
mendapatkan rahasia peta bukit tambang emas itu dengan menyulut
sumbu mesiu yang berada di sini, entah bagaimana perasaanmu?"
Thio Kim-ciok tertawa dingin,
"Seandainya kau berbuat demikian, maka kau sendiri pun tak akan
terlepas dari ancaman kematian. Aku
yakin dalam seperempat jam, kau tak akan
mampu melepaskan diri dari sini serta menyingkir ke tempat yang
lebih aman."
"Bila aku sudah bertekad untuk mengadu
jiwa, apa yang dapat kau lakukan?"
"Aku rasa kau tidak bakal berbuat
demikian," jengek Thio Kim-ciok sambil tertawa dingin.
"Bagus, kalau begitu tunggu saja!"
jengek Hek-mo-ong sambil tertawa seram.
Begitu selesai berkata, di dalam ruangan
itu sudah tak terdengar lagi suara Hek-mo-ong.
Dengan wajah serius Thio Kim-ciok
berkata dingin, "Bila Hek-mo-ong sudah memperhitungkan secara tepat
bahwa dalam seperempat jam dia mampu meninggalkan Bu-lim-bong secara
aman, maka pada saat itu dia pasti akan menyulut sumbu mesiu dan
meledakkan perkampungan ini. Dan sekarang aku pun telah memutuskan
akan mengajak kalian meninggalkan Bu-lim-bong ini, tapi di saat
kalian telah meninggalkan Bu-lim-bong, saat itu juga aku akan mulai
turun tangan membunuh setiap musuh besarku yang masih berkeliaran!
Nah, apa yang kukatakan sudah selesai kuutarakan. Harap kalian
mengikuti aku!"
Selesai berkata, Thio Kim-ciok segera
membalikkan badan dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Dengan pedang terhunus, Liong Oh-im
segera menghadang jalan perginya, sambil tertawa ia berseru, "Thio
Kim-ciok, sesudah keluar Bu-lim-bong, kami pun tak punya kesempatan
untuk melanjutkan hidup. Apa salahnya kita berduel saja di dalam
Bu-lim-bong ini untuk menentukan siapa yang harus mampus di antara
kita berdua?"
"Pertarungan berdarah dalam Bu-lim-bong
bisa menyebabkan semua yang hadir tewas," kata Thio Kim-ciok dingin,
"tapi bila hal ini terjadi di luar Bu-lim-bong, maka keadaannya
berbeda. Sekalipun akhirnya kalian akan mampus juga di tanganku,
tapi paling tidak kalian masih dapat hidup lebih lama lagi."
Tan Sam-cing
tertawa dingin, serunya, "Thio Kim-ciok, bacotmu itu benar-benar
kelewat besar dan takabur. Setelah keluar dari Bu-lim-bong nanti,
Tan Sam-cing orang pertama
yang akan mencoba ilmu silatmu."
"Baik!" sahut Thio Kim-ciok sambil
manggut-manggut, "sesudah meninggalkan Bu-lim-bong nanti, orang
pertama yang akan kubunuh adalah kau."
Ketika berbicara sampai di situ, Thio
Kim-ciok sudah lewat di samping Liong Oh-im dan berjalan menuju ke
sebuah lorong bawah tanah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, para
jago mengikut di belakang Thio Kim-ciok memasuki lorong itu, makin
ke dalam luas lorong itu bertambah lebar.
Tapi suasana di situ pun makin lama
semakin gelap sehingga akhirnya untuk melihat jari tangan sendiri
pun susah.
Bong Thian-gak
bersama Thay-kun dan Song
Leng-hui mengikut di belakang Thio Kim-ciok.
Di saat mereka melewati lorong bawah
tanah yang gelap gulita itu, suasana amat hening dan tak seorang pun
yang berbicara, tapi perasaan setiap orang berat sekali, berbagai
ingatan berkecamuk dalam benak mereka.
Terutama mereka yang berjalan paling
belakang seperti Ho Lan-hiang, malaikat sakti pedang iblis, tabib
sakti, delapan pedang salju beterbangan serta sastrawan berwajah
tampan. Masing-masing dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara
saling merundingkan tindakan selanjutnya yang harus dilakukan
setelah meninggalkan Bu-lim-bong, bagaimana caranya membinasakan
Thio Kim-ciok dari muka bumi.
Mendadak terdengar
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, kemudian bertanya, "Thio-locianpwe, benarkah kau harus
membunuh mereka semua?"
"Dendam sakit hati sedalam lautan cuma
dapat dihapus dengan pembunuhan terhadap musuh-musuhnya," sahut Thio
Kim-ciok hambar. "Apalagi sejak puluhan tahun berselang, aku punya
rencana untuk menghabisi nyawa kesepuluh tokoh persilatan itu."
Bong Thian-gak
terkejut sekali, segera tanyanya, "Thio-locianpwe, apa maksudmu?"
"Puluhan tahun berselang, di saat aku
mengangkat kesepuluh tokoh persilatan menjadi guru untuk belajar
silat, dalam hati kecilku sudah tumbuh niat dan ambisi untuk
menguasai dunia persilatan."
Ketika mendengar sampai di situ,
Bong Thian-gak seolah-olah teringat
akan suatu persoalan, segera ujarnya, "Kalau begitu tindakan sepuluh
tokoh persilatan membinasakan Locianpwe pada tiga puluh tiga tahun
berselang adalah disebabkan..”
Mendadak Bong
Thian-gak menutup mulut dan tidak melanjutkan
kata-katanya.
Tapi sambil tertawa dingin Thio Kim-ciok
telah berkata, "Sesungguhnya sebab-musabab sepuluh tokoh persilatan
bekerja sama membunuh diriku, selain dikarenakan mereka berzinah
dengan istriku Ho Lan-hiang dan mengincar harta karun milikku.
Tujuan utama ialah kuatir bila aku mengkhianati mereka sebagai guru
serta menguasai seluruh dunia. Itulah sebabnya mereka turun tangan
lebih dahulu."
"Ku-lo Hwesio mempunyai pengetahuan yang
paling luas di antara rekan-rekannya. Di saat ia mewariskan ilmu
silat kepadaku dulu, rupanya ia berhasil menemukan tulang
pemberontak yang tumbuh di atas kepalaku, merupakan pertanda bahwa
di kemudian hari aku akan mengkhianati perguruan serta menciptakan
bencana serta keonaran di seluruh dunia."
"Apakah Thio-locianpwe benar-benar
mempunyai niat semacam itu?" tanya Bong
Thian-gak lagi dengan perasaan kaget.
"Benar, di atas kepalaku memang tumbuh
tulang pemberontak. Waktu itu aku memang berniat jahat serta
bertabiat kejam, buas dan licik," jawab Thio Kim-ciok sambil tertawa
seram.
Ketika mendengar sampai di sini, tanpa
terasa Bong Thian-gak
bergidik, katanya kemudian, "Apakah sampai kini tabiat
Thio-locianpwe itu belum juga berubah?"
Thio Kim-ciok tertawa dingin, "Merubah
bukit dan alam itu mudah, tapi merubah watak sulit."
Setelah memperdengarkan suara tawa
dinginnya yang licik, keji dan buas, dia berkata lebih jauh,
"Sepanjang hidupku, aku paling kagum terhadap seorang saja yaitu
Thay-kun. Sekilas pandang saja ia sudah dapat mengetahui bahwa aku
adalah seorang raja pembunuh yang keji, buas dan licik. Tapi
akhirnya Thay-kun mengizinkan juga Song
Leng-hui menyembuhkan penyakitku agar Lohu dapat
memiliki kembali kekuatan yang kumiliki dulu. Tapi dengan perbuatan
Thay-kun itu, sama artinya telah menyelamatkan jiwa kalian semua.
Sebab menuruti tabiatku, kalian pun jangan harap bisa lolos dari
cengkeraman mautku."
Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri
Bong Thian-gak mendengar itu,
mimpi pun dia tak menyangka Thio Kim-ciok sesungguhnya memang
seorang jahat, buas, kejam dan licik bagai seekor ular berbisa.
Tapi dari beberapa patah kata Thio
Kim-ciok itu pula dia dapat merasakan juga bahwa badai pembunuhan
berdarah sudah mengancam ketenangan dunia persilatan.
Perasaan Bong
Thian-gak waktu itu sangat berat dan masgul. Sebetulnya
ia sudah bertekad tak akan mencampuri pertikaian itu, tapi sekarang
tentu saja ia tak bisa berpeluk tangan menyaksikan Thio Kim-ciok
membunuh sesamanya secara keji dan tak berperasaan.
Tapi antara dia dan Thio Kim-ciok pun
tak pernah terjalin perselisihan atau sakit hati apa pun, bagaimana
mungkin ia dapat turun tangan mencegah dirinya membalas dendam
terhadap sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang.
Padahal sesungguhnya Ho Lan-hiang
sekalian bukanlah manusia baik-baik, bukankah mereka pun merupakan
gembong-gembong iblis yang keji, buas, cabul serta banyak melakukan
kejahatan?
Sementara Bong
Thian-gak masih pusing memikirkan masalah itu, mendadak
terdengar Thio Kim-ciok berteriak, "Hek-mo-ong telah mulai menyulut
sumbu mesiu, seperempat jam lagi seluruh permukaan bumi ini akan
tenggelam. Ayo cepat kabur dari sini, siapa tahu dapat meloloskan
diri dari musibah?"
Rupanya pada saat itu semua orang dapat
menangkap suara sumbu mesiu dibakar. Di samping itu, hidung mereka
pun dapat mengendus bau mesiu yang amat menusuk.
Entah bagaimanakah sistim bangunan dalam
lorong Bu-lim-bong itu, nyatanya begitu sumbu mesiu disulut, dalam
waktu singkat api telah menutup setiap sudut lorong.
Paras muka para jago segera berubah
hebat, mereka sudah tak berminat lagi memikirkan bagaimana cara
menghadapi Thio Kim-ciok.
Tampak Thio Kim-ciok meluncur ke depan
dengan kecepatan tinggi, sementara para jago lainnya mengikut di
belakangnya secara membabi-buta.
