pendekar cacad 17

PENDEKAR CACAT
Karya : Gu Long
Saduran : Can ID
Bagian 22 : Liu Khi, Hek-mo-ong yang asli

 

"Bong-laute," ujarnya kemudian. "Bila kau bermaksud memasuki halaman gedung, jangan salahkan pedangku ini tak kenal dirimu lagi!"

Bong Thian-gak mundur selangkah, lalu sahutnya sambil tertawa dingin, "Tio-pangcu, rupanya kalian sudah bersekongkol hendak membunuh Thio Kim-ciok!"

"Tiga puluh tahun berselang, sepuluh tokoh persilatan tidak memperkenankan Thio Kim-ciok hidup di dunia, maka tiga puluh tahun kemudian pun kami tetap tak akan mengizinkan dia hidup terus!" kata Tio Tian-seng dengan suara dalam.

 

Tiba-tiba Bong Thian-gak berpaling dan memandang sekejap ke arah tabib sakti Gi Jian-cau yang masih berdiri dengan Boan-koan-pit terhunus, tanyanya dengan dingin, "Apakah kalian berhasil?"

Jawaban tabib sakti itu justru merupakan jawaban yang sangat ingin diketahui Tio Tian-seng, Tan Sam-cing serta Liu Khi, maka sorot mata semua orang pun dialihkan ke wajah Gi Jian-cau yang amat mengenaskan itu.

 

Dengan gerakan yang amat santai Gi Jian-cau membersihkan tubuhnya dari debu, lalu ujarnya dengan hambar, "Thio Kim-ciok telah mendirikan sebuah benteng di bawah tanah yang kuat dan tangguh, ibarat sarang naga gua harimau di dalam gedung ini."

Biarpun cuma sepatah kata yang sederhana dan biasa, namun justru mencakup seluruh jawaban dari pertanyaan yang diajukan.

Paras muka Tio Tian-seng sekalian segera berubah hebat.

 

Liu Khi tertawa dingin dan mengejek, "Huh! Biarpun sarang naga gua harimau, memangnya mampu membendung serbuan sepuluh tokoh persilatan."

Ketika mendengar ucapan itu, tabib sakti Gi Jian-cau segera memandang sekejap ke arah Liu Khi, kemudian ujarnya pelan, "Selama ini banyak sudah ilmu Ngo-heng dan berbagai ilmu lain yang kupelajari, aku pun mengerti ilmu bangunan dan ilmu jebakan api, tapi barusan hampir saja tak sanggup keluar dari gedung itu dengan selamat."

 

Dalam deretan sepuluh tokoh persilatan, Gi Jian-cau terhitung tokoh yang berkepandaian tinggi serta berpengetahuan luas, hal ini cukup diketahui setiap umat persilatan, tapi beberapa patah kata yang barusan diucapkan olehnya itu membuat Tio Tian-seng sekalian berkerut kening.

Dengan suara dalam Tan Sam-cing berkata, "Bila kita tak mampu menyerbu masuk ke dalam ruang bawah tanahnya, bagaimana cara kita membekuk Thio Kim-ciok?"

 

Liu Khi tertawa dingin, "Bagaimana pun juga Thio Kim-ciok tak mungkin bersembunyi terus di ruang bawah tanah. Hm, sekalipun dia bersembunyi terus di situ, aku yakin mampu menerobos masuk ke dalam ruang rahasianya."

Pembicaraan beberapa orang ini segera membuat Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui merasa gembira. Mimpi pun mereka tidak mengira kecerdikan Thio Kim-ciok demikian mengagumkan sehingga dia telah melengkapi gedung yang luas ini dengan ruangan bawah tanah yang penuh dengan alat rahasia.

 

Thio Kim-ciok sudah lama menduga suatu waktu para jago akan berkumpul di situ untuk membekuknya, maka jauh hari sebelumnya dia telah mempersiapkan tindakan jitu untuk menanggulangi keadaan itu.

Bong Thian-gak berdehem pelan, kemudian tanyanya kepada Gi Jian-cau dengan suara dalam, "Gi-locianpwe, tadi kudengar dua kali jeritan ngeri dua perempuan yang berada di dalam ruangan gedung. Tolong tanya apakah kedua dayang itu ajal di tanganmu?"

 

Agaknya baru sekarang Gi Jian-cau memperhatikan kehadiran Bong Thian-gak bertiga, la mendongakkan kepalanya yang hitam pekat oleh hangus, Lalu diawasinya mereka bertiga dengan sorot mata tajam.

"Mungkin kau yang disebut Jian-ciat-suseng?" katanya ketus.

Mendadak Thay-kun mendorong ke depan dan serunya, "Gi-locianpwe, kau masih ingat aku?"

"Tentunya kesadaran pikiranmu telah pulih kembali, bukan?"

Thay-kun tertawa cekikikan, "Betul, aku sudah sadar seutuhnya, banyak terima kasih atas pemberian Hui-hun-wanmu itu."

"Hm!" Gi Jian-cau mendengus dingin. "Kalau begitu sudah lama kau bersekongkol dengan Thio Kim-ciok!"

"He, atas dasar apa kau menuduh aku telah lama bersekongkol dengan Thio Kim-ciok?" seru Thay-kun agak tertegun .

 

Dengan gemas dan rasa benci Gi Jian-cau berkata, "Dengan mengorbankan segenap pikiran dan tenagaku selama setengah umur hidupku, aku berhasil membuat tiga butir Hui-hun-wan, tapi akhirnya dicuri sebutir di antaranya oleh Keng-tim Suthay yang bersekongkol dengan Thio Kim-ciok. Akibat perbuatannya itu, aku gagal mewujudkan suatu masalah besar yang kucita-citakan."

"Tapi satu hal yang tidak kumengerti adalah perbuatan Thio Kim-ciok, mengapa dia bersedia memberikan pil Hui-hun-wan itu untukmu?"

"Thio Kim-ciok menderita luka cukup parah serta membutuhkan sebutir pil Hui-hun-wan untuk menyembuhkannya, aku tidak percaya Thio Kim-ciok memberikan pil Hui-hun-wan itu untukmu."

 

Perkataannya ini segera menggerakkan pikiran Bong Thian-gak, tiba-tiba ia teringat kejadian di Sam-cing-koan dimana Keng-tim Suthay serta jago-jago lihai Hiat-kiam-bun terbunuh secara mengenaskan.

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba saja pemuda itu mengernyitkan alis, kemudian membentak, "Gi Jian-cau, aku ingin bertanya kepadamu. Apakah Keng-tim Suthay sekalian jago lihai Hiat-kiam-bun tewas di tanganmu?"

"O, jadi Keng-tim Suthay telah mampus?" kata Gi Jian-cau dingin. "Kalau begitu Keng-tim Suthay pasti bermaksud mengangkangi pil Hui-hun-wan sehingga dibunuh Thio Kim-ciok lebih dahulu."

 

Bong Thian-gak yang mendengar ucapan itu jadi termangu, diam-diam ia pun berpikir, "Benarkah Keng-tim Suthay mati terbunuh di tangan Thio Kim-ciok?"

"Tapi jelas Sam-cing Tosu yang berada di dalam kuil Sam-cing-koan adalah hasil penyaruan Thio Kim-ciok, sedang sekarang tabib sakti bilang Thio Kim-ciok telah bersekongkol dengan Keng-tim Suthay untuk mencuri sebutir pil Hui-hun-wan untuk menyembuhkan penyakitnya. Kalau begitu mungkinkah Keng-tim Suthay dibunuh oleh Thio Kim-ciok?"

 

Sementara dia masih berpikir, tiba-tiba terdengar Thay-kun yang berada di sampingnya berkata sambil menghela napas sedih, "Kematian Keng-tim Suthay sungguh mengenaskan, tapi andaikan Gi-locianpwe tidak berubah pikiran, Suthay pun tak akan mati secara mengenaskan."

Waktu itu Bong Thian-gak merasakan darah yang mengalir dalam tubuh bagaikan mendidih. Dengan penuh perasaan dendam ia berkata, "Thay-kun, lebih baik kita urungkan saja niat kita menyembuhkan luka yang diderita Thio Kim-ciok."

"Bong-suheng!" Thay-kun tersenyum, "sekalipun Keng-tim suthay sekalian jago-jago Hiat-kiam-bun tewas di tangan Thio Kim-ciok kita tetap harus berupaya menyembuhkan luka yang diderita Thio Klm-ciok”

 

Bong Thian-gak menjadi tertegun untuk beberapa saat, kemudian katanya, "Thio Kim-ciok telah membantai anak murid Hiat-kiam-bun. Dendam sakit hati ini lebih dalam dari samudra. Bilamana sakit hati ini tidak dibalas, bagaimanakah kita bisa menghibur arwah anggota Hiat-kiam-bun yang telah berada di alam baka?" '

"Bila ada dendam, sudah barang tentu kita wajib menuntut balas” sahut Thay-kun dengan suara dalam, "tapi paling tidak kita wajib melakukan penyelidikan lebih dulu sejelas-jelasnya, siapakah pembunuh yang sesungguhnya dalam peristiwa itu?"

 

Ucapan nona itu segera menggerakkan pikiran Bong Thian-gak, segera dia berpikir pula, "Ya betul, kenapa aku harus mempercayai perkataan Gi Jian-cau begitu saja? Ah benar, bukankah Keng-tim Suthay pernah meninggalkan pesan yang mengatakan agar aku berusaha membunuh tabib sakti itu."

Gi Jian-cau berdehem pelan, katanya lagi dengan suara dingin, "Dalam perselisihan kami sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok, kalian para angkatan muda sama sekali tak tersangkut. Kuanjurkan kepada kalian lebih baik tak usah mencampuri urusan ini, kalau tidak, aku kuatir kalian akan mampus tanpa liang kubur."

 

Kembali Thay-kun tersenyum. "Gi-locianpwe, tahukah kau siapa Hek-mo-ong itu?" dia bertanya.

"Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok!" sahut Gi Jian-cau sambil tertawa dingin.

Liu Khi segera berseru pula sambil tertawa licik, "Nona Thay-kun, kuperingatkan sekali lagi kepadamu, di sekitar gedung ini sekarang telah berdatangan begitu banyak jago lihai persilatan, kedatangan mereka pada malam ini tak lain hendak membunuh Thio Kim-ciok."

 

"Oleh sebab itu biarpun kali ini Thio Kim-ciok memiliki sepuluh lembar nyawa cadangan pun, jangan harap bisa mempertahankan hidupnya. Bilamana kau ingin membantu Thio Kim-ciok, maka hal ini sama artinya sudah bosan hidup di dunia."

Thay-kun tersenyum.

"Sejak tadi sudah kuduga Ho Lan-hiang dan Biau-kosiu sekalian bersembunyi di sekitar gedung ini bersama-sama jago andalannya, malah bisa jadi sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im beserta jago-jagonya pun telah berdatangan. Cuma aku pikir belum tentu kawanan jago persilatan yang begini banyak itu akan tunduk dan menuruti perintahmu."

 

"Siapa tahu orang yang sedang mereka cari bukan Thio Kim-ciok, melainkan Liu Khi serta Gi Jian-cau!"

Berubah hebat paras muka Liu Khi, dia segera membentak, "Budak setan, rupanya arak kehormatan kau tampik, arak hukuman kau cari. Sudah bosan hidup rupanya kau!"

Di tengah bentakan itu, Liu Khi telah mencabut senjatanya, lalu dengan kecepatan luar biasa dia langsung membacok pinggang gadis itu.

Baru saja golok Liu Khi bergerak, dua bilah pedang yang muncul secara tiba-tiba dari sisi arena, seperti sepasang naga yang muncul dari samudra, satu dari kiri dan yang lain dari kanan, segera mencegat dari arah berlawanan dengan kecepatan tak kalah dari gerakan Liu Khi.

Kedua bilah pedang itu tahu-tahu sudah menangkis sambaran golok panjang itu.

 

Ternyata kedua bilah pedang itu adalah pedang iblis Tio Tian-seng serta pedang bambu Bong Thian-gak.

Dengan satu gerakan yang tak kalah cepatnya Liu Khi segera memutar kembali mata goloknya dan ditarik ke belakang.

Kemudian sambil melotot ke arah Tio Tian-seng, dia membentak penuh gusar, "Tio-pangcu, sesungguhnya apa maksudmu?"

 

Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh Tio Tian-seng berkata, "Kepandaian silat Jian-ciat-suseng bertiga tidak berada di bawah kepandaian silat tokoh mana pun dari sepuluh tokoh persilatan di masa lalu. Bila kita harus bertarung melawan mereka, maka tanpa kita sadari perbuatan itu telah memenuhi harapan Thio Kim-ciok."

"Kalau bukan begitu, lantas dengan cara apakah kita^ harus menghadapi beberapa orang yang tak tahu diri ini?" seru Liu Khi sambil tertawa dingin.

 

Tiba-tiba Tio Tian-seng berpaling ke arah Bong Thian-gak, lalu katanya, "Bong-laute, ada satu patah kata yang ingin kusampaikan kepadamu, yaitu soal dendam kesumat sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok, kau tahu perselisihan ini sudah terjalin sejak tiga puluh tahun berselang, oleh karena itu selama sepuluh tokoh persilatan masih ada yang hidup, kami tak akan membiarkan Thio Kim-ciok tetap hidup, pertarungan kami dengan Thio Kim-ciok tak pernah bisa dileraikan lagi."

"Sebaliknya kalian adalah orang-orang yang berada di luar garis, mengapa kalian mesti menjerumuskan diri ke dalam kancah perselisihan itu? Hasilnya tak menguntungkan bagi kalian? Karena itu kuanjurkan kepada kalian, lebih baik tinggalkan tempat ini secepatnya."

 

"Boanpwe merasa berterima kasih atas nasehat Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak dengan lantang, "tapi ada satu hal yang perlu Locianpwe mengerti, walaupun antara kami bertiga dengan Thio Kim-ciok tidak mempunyai hubungan budi dan dendam secara langsung, namun hubungan kami adalah anak murid atau keturunan langsung sepuluh tokoh persilatan, maka kami wajib mengetahui sampai jelas siapa gerangan Hek-mo-ong yang sesungguhnya."

"Ah betul, hampir saja aku lupa bahwa Bong-laute adalah anak murid Oh Ciong-hu serta Ku-lo Hwesio," segera kata Tio Tian-seng.

Sampai di situ, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Song Leng-hui sambil tanyanya pula, "Siapa pula dia?"

"Dia adalah istriku, putri tunggal sepasang kekasih persilatan Song-ciu suami-istri."

 

Tio Tian-seng menghela napas sedih, ujarnya kemudian, "Kalau memang begitu Bong-laute sekalian memang berhak untuk tetap tinggal di sini."

"Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak, "sesungguhnya musuh besar yang sedang Boanpwe cari saat ini adalah Hek-mo-ong, bukan Thio Kim-ciok. Andaikata Thio Kim-ciok adalah Hek-mo-ong, maka di antara kami dengannya terjadi pula hubungan sakit hati."

"Jadi kau beranggapan Thio Kim-ciok bukan Hek-mo-ong?" tiba-tiba Tio Tian-seng bertanya dengan suara dalam.

"Barusan kami telah bertarung melawan Hek-mo-ong asli dan bilamana pandanganku belum lamur, Boanpwe masih teringat dengan jelas bahwa Hek-mo-ong adalah seorang berlengan tunggal."

 

Liu Khi tertawa kering, katanya, "Dalam Kangouw dewasa ini, orang berlengan tunggal yang cukup pantas menjadi Hek-mo-ong hanya Jian-ciat-suseng serta aku dua orang."

"Bong-laute mengatakan orang yang paling dicurigai sebagai Hek-mo-ong adalah Liu Khi, tapi aku tak akan mempercayai begitu saja," kata Tio Tian-seng dengan suara dalam.

Tiba-tiba Thay-kun menghela napas panjang, lalu katanya, "Tidak percaya pun tak ada gunanya. Bila dugaanku tidak salah, maka untuk membuktikan siapakah Hek-mo-ong yang sesungguhnya, maka jawaban itu tidak dapat diperoleh sebelum sepuluh tokoh persilatan dan Ho Lan-hiang mampus semua hingga tinggal orang terakhir. Saat itulah wajah asli Hek-mo-ong baru akan ketahuan."

 

Mendadak Bong Thian-gak tertawa keras, serunya, "Liu Khi, mudah sekali bila kau ingin membuktikan bahwa kau bukan Hek-mo-ong, cukup kau singkap baju kananmu yang kutung itu dan perlihatkan kepada semua orang, apakah di situ telah kau sembunyikan tangan tengkorakmu atau tidak. Jika tak ada, maka terbukti kau memang bukan Hek-mo-ong."

"Tangan tengkorak andalan Hek-mo-ong untuk membunuh sudah cukup menggetarkan setiap orang, namun tak seorang pun di dunia ini yang mengetahui bahwa tangan tengkorak andalan Hek-mo-ong disembunyikan di lengan kanannya yang kutung."

Tidak heran perkataan Bong Thian-gak itu mengejutkan para jago, masing-masing segera berpikir dalam hati, "Betulkah tangan tengkorak Hek-mo-ong tersembunyi di balik lengannya yang kutung?"

 

Dengan hati berdebar dan perasaan amat tegang, sorot mata kawanan jago itu serentak dialihkan ke lengan kutung Liu Khi.

Sambil mengerut dahi Tio Tian-seng bertanya pula dengan suara dalam, "Bong-laute, benarkah kau pernah bersua dengan Hek-mo-ong?"

"Bukan hanya bersua, malahan dada kiriku sempat dihajar olehnya dengan tangan tengkoraknya. Jika kalian tak percaya, silakan diperiksa tanda yang berada di tubuhku ini."

Sembari berkata, tiba-tiba pemuda itu membuka pakaian yang menutupi dadanya.

Biarpun  suasana  malam  itu  sangat gelap,  namun dengan ketajaman mata Tio Tian-seng sekalian, sekilas pandang saja mereka dapat melihat dengan jelas bahwa di atas dada sebelah kiri Bong Thian-gak terdapat sebuah cap tangan tengkorak yang sembab membengkak dan berwarna hitam seperti yang biasanya ditemukan, justru karena itulah Bong Thian-gak tak sampai menemui ajal.

 

Pada saat itulah tiba-tiba berkumandang suara gelak tawa yang amat keras, menyusul terdengar seseorang berkata, "Tio Tian-seng, benarkah di atas tubuhnya terdapat bekas tangan tengkorak?"

Sesosok bayangan orang berbaju putih telah melompat datang dengan cepatnya.

Orang ini bukan lain adalah sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im, salah seorang di antara sepuluh tokoh persilatan.

Liong Oh-im muncul dengan pedang tersoreng di punggung dan kipas tulang kemala di tangan, dia berjalan ke hadapan Bong Thian-gak dengan langkah amat santai.

 

Setelah memeriksa sekejap bekas tangan tengkorak di dada Bong Thian-gak, dengan wajah berubah ia berseru keras, "Ah, ternyata memang bekas tangan tengkorak yang asli, cuma warnanya saja yang berbeda."

Sampai di sini sorot matanya segera dialihkan ke wajah Liu Khi.

Liu Khi tertawa seram, katanya, "Liong Oh-im, sungguh tak disangka kau pun datang kemari!"

Liong Oh-im tertawa ringan, sahutnya, "Dari kesepuluh tokoh persilatan yang belum mampus, hampir semuanya telah muncul di sini. Termasuk Ho Lan-hiang pun mungkin sudah berada di sekitar tempat ini."

 

Belum selesai perkataan itu diucapkan, terendus bau harum semerbak bunga anggrek yang tersebar di sekitar tempat itu, lalu terdengar seseorang berkata dengan suara lembut dan halus, "Lan-hiang sudah tiba sejak tadi!"

Semua orang segera berpaling ke arah asal suara ini, tampaklah tiga sosok bayangan orang berdiri di atas gunung-gunungan.

Tak disangkal lagi orang yang berada di tengah adalah Ho Lan-hiang, sedangkan di sisi kirinya adalah Ji-kaucu, sedang orang yang berada di sebelah kanan adalah Sim Tiong-kiu.

Liu Khi tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya, "Sungguh tak kusangka semua orang telah berdatangan kemari. Hm, kalau begitu kita pun tak usah menunggu lebih lanjut, sekarang juga kita dapat turun tangan terhadap Thio Kim-ciok."

"Tunggu sebentar!" mendadak Liong Oh-im berseru keras sambil tertawa.

"Liong-suseng, apalagi yang kau ragukan?" tegur Liu Khi sambil tertawa dingin.

 

Liong Oh-im tertawa terbahak-bahak, "Tiga puluh tahun lalu, sepuluh tokoh persilatan hendak membunuh Thio Kim-ciok dan tiga puluh tahun kemudian Thio Kim-ciok yang hendak membunuh sepuluh tokoh persilatan untuk membalas dendam. Kedua belah pihak telah bersumpah tak akan hidup berdampingan secara damai lagi, namun di balik dendam kesumat yang berlangsung selama ini terselip pula seorang sutradara yang misterius. Dialah yang sesungguhnya menjadi dalang peristiwa berdarah ini, yakni Hek-mo-ong. Sebelum kita melangkah lebih jauh, aku pikir ada baiknya menyelidiki lebih dulu siapa sesungguhnya orang yang telah berperan sebagai Hek-mo-ong?"

 

Berubah hebat paras muka Liu Khi, segera tegurnya dengan suara dingin, 'Jadi Liong-heng mencurigai aku sebagai Hek-mo-ong?"

Liong Oh-im tersenyum, "Sekarang persoalan telah berkembang menjadi begini rupa, aku rasa Liu-sianseng wajib memperlihatkan lengan kananmu yang kutung itu kepada semua orang."

"Liu Khi," Tio Tian-seng berseru pula dengan lantang. "Kau harus bertindak untuk menghilangkan kecurigaan orang terhadap dirimu."

Mendadak terdengar Thay-kun berseru dengan suara merdu, "Tidak usah diperiksa lagi, dalam keadaan dan waktu seperti ini, di balik lengan tunggalnya itu tak akan ditemukan tangan tengkoraknya."

"Sumoay, apa maksudmu berkata demikian?" tanya Bong Thian-gak dengan wajah termangu.

"Seandainya aku menjadi Hek-mo-ong, jika muncul sebagai orang lain, aku tak akan melengkapi diriku dengan tangan tengkorak itu."

 

Kobaran hawa amarah yang membara telah menyelimuti wajah Liu Khi, tiba-tiba ia membentak dengan geram, "Budak setan, rupanya kau sudah menuduh aku habis-habisan. Hm, bila aku harus menerima penghinaan hari ini tanpa balas, perbuatanmu ini sama artinya dengan memberi aib sepuluh tokoh persilatan, hm .... Sekarang pentang mata kalian lebar-lebar, lihat dengan jelas, benda apakah yang kusembunyikan di balik lengan kutungku ini?"

Seraya berkata Liu Khi segera menggulung ujung baju kanannya yang kosong sampai ke batas bahu kanannya sehingga lengannya yang kutung itu dapat terlihat dengan jelas dan nyata.

Kecuali bekas kutungan lengan akibat bacokan pisau, ternyata tidak nampak tangan tengkorak seperti apa yang dicurigakan.

Mendadak pada saat itu terdengar Liu Khi membentak dengan penuh rasa geram, "Bocah keparat yang berani menghina aku, kalian harus menyerahkan nyawamu."

Golok saktinya kembali dilontarkan ke muka dengan hebatnya.

Serangan golok itu langsung ditujukan ke arah Bong Thian-gak.

Serangan itu meluncur dari bawah berbalik membacok ke arah atas. Selain dilepaskan dengan kecepatan luar biasa, jurus serangan pun luar biasa, dalam waktu singkat telah mencapai sasarannya.

 

Terdengar bunyi robekan, di tengah kilauan cahaya putih yang terpancar dari mata golok, Bong Thian-gak melayang pergi ke samping, sekalipun ia sudah bergerak cukup cepat, ujung baju sebelah kirinya terpapas juga dan terjatuh ke atas tanah.

Andaikata lengan kanan Bong Thian-gak tidak kutung sejak dulu, hari ini lengan itu pasti akan kutung juga termakan oleh sambaran golok kilat itu.

Bersamaan waktunya dengan gerakan menghindar tadi, Bong Thian-gak telah mengayunkan pula pedang bambunya melancarkan sebuah bacokan kilat.

Serangan itu langsung mencegah serangan golok kedua Liu Khi yang berusaha menyerobot posisi. Itulah sebabnya di saat mata golok Liu Khi menyambar tiba untuk kesekian kalinya, serangan pedang Bong Thian-gak pun turut membabat tiba dari arah samping.

 

Begitu pertarungan berlangsung, para jago yang hadir di arena segera mengerti bahwa pertarungan antara kedua orang itu tak akan berakhir dalam waktu singkat.

Bila jago-jago lihai sedang bertarung, sekalipun terdapat sedikit selisih kepandaian mereka, asalkan kemampuan itu hampir berimbang, maka bukan pekerjaan mudah bagi mereka untuk menentukan menang kalah dalam waktu singkat.

Tampaknya Liu Khi bermaksud melangsungkan pertarungan kilat, makin menyerang semakin cepat. Tujuannya tentu ingin membinasakan Bong Thian-gak.

Oleh sebab itu setiap jurus serangan yang dilontarkan, hampir semuanya merupakan jurus maut yang ganas dan buas, kecepatannya pun bagaikan sambaran kilat.

Sebaliknya permainan pedang Bong Thian-gak pun cepat, ganas dan buas untuk mengimbangi permainan lawan. Kendati ia dipaksa oleh gerak serangan Liu Khi sehingga berada dalam posisi di bawah angin, namun ia tetap menghadapi serangan musuh dengan tenang, jurus dilawan dengan jurus, gerakan dipatahkan dengan gerakan, gerak-geriknya sama sekali tidak kalut.

Untuk sementara waktu Thay-kun dan Song Leng-hui merasa agak lega.

Sebaliknya kawanan jago lainnya menjadi bingung dan tak tahu bagaimana harus menyelesaikan pertikaian itu.

 

Tiba-tiba terdengar si tabib sakti Gi Jian-cau berkata dengan suara dingin, "Tujuan kedatangan kita hari ini adalah membekuk Thio Kim-ciok. Barang siapa berani menentang usaha kita membunuh Thio Kim-ciok adalah musuh kita juga, apakah kita mesti membuang waktu lagi dengan percuma?"

"Gi Jian-cau," bentak Thay-kun dengan suara dingin, "jika kau berani maju selangkah lagi, silakan mencicipi dahulu kelihaian ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang."

Sambil berkata gadis itu menyiapkan telapak tangan kirinya dan ditujukan ke arah si tabib sakti di hadapannya.

Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan ilmu pukulan yang amat dahsyat dan sudah lama termasyhur di seantero persilatan, sekalipun si tabib sakti Gi Jian-cau terhitung salah seorang yang tercantum dalam sepuluh tokoh sakti persilatan, namun dia pun tak berani bertindak secara gegabah.

"Budak setan," Gi Jian-cau segera mengumpat, "biarpun kau memiliki ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang yang maha dahsyat, tetapi kemampuanmu itu hanya sanggup menandingi aku seorang."

"Seorang pun sudah lebih dari cukup," kata Thay-kun sambil tertawa merdu. "Sebab sampai detik ini, hanya kau serta Liu Khi yang berniat melenyapkan kami dari sini."

 

Baru selesai perkataan itu diucapkan, mendadak Ho Lan-hiang yang berada di atas gunung-gunungan berkata dengan suara dingin, "Budak busuk, aku pun tak akan melepaskan kau."

Belum sempat Thay-kun menanggapi, tiba-tiba terdengar pula seorang berseru dengan suara merdu, "Ho Lan-hiang, jika orang-orang Put-gwa-cin-kau berani bergerak, aku pun akan segera turun tangan menghadang kalian."

Semua jago segera berpaling ke arah asal suara itu, entah sejak kapan ternyata dalam halaman itu telah bertambah dengan Biau-kosiu beserta rombongan.

Adapun rombongan Biau-kosiu ini terdiri dari Biau-han-thian suami-istri serta nenek berambut putih.

 

Betapa senang Thay-kun mengetahui Biau-kosiu serta rombongan mendukung pihaknya, ia segera tertawa cekikikan, katanya, "Nona Biau, apakah kau sudah mengetahui siapa Hek-mo-ong yang sebenarnya?"

"Setiap orang yang hadir di arena saat ini mempunyai kecurigaan sebagai Hek-mo-ong dan kedatanganku kali ini adalah khusus untuk menyelidiki siapa Hek-mo-ong yang sesungguhnya sehingga dendam sakit hati ayahku bisa dibalas," ucap Biau-kosiu dingin.

Sembari berkata, ia bersama rombongannya pelan-pelan berjalan masuk ke dalam arena.

Dalam pada itu pertarungan antara Bong Thian-gak melawan Liu Khi telah mencapai puncak yang paling kritis.

 

Pertarungan di antara mereka berdua yang semula berlangsung amat cepat dan ganas, kini telah berubah menjadi lambat, bahkan gerakannya amat sederhana dan bersahaja.

Walaupun begitu, setiap orang yang hadir tahu bahwa di balik setiap jurus serangan yang digunakan kedua orang itu terselip intisari segenap kepandaian yang mereka miliki.

Tiba-tiba terdengar Bong Thian-gak membentak, "Liu Khi, sambut dulu jurus serangan 'bianglala panjang menutup sang surya' ini!"

Pedang diangkat sejajar dada, kaki kiri maju selangkah dan pedangnya seperti semburan air yang kuat menusuk dada Liu Khi dengan kekuatan maha dahsyat.

 

Begitu Bong Thian-gak mengeluarkan jurus serangan ini, berubah hebat paras muka para jago yang menonton dari samping, mendadak terdengar Tio Tian-seng berteriak keras, "Liu Khi, jangan bertindak gegabah, jangan kau sambut serangan itu."

Tio Tian-seng meluncur ke depan dari sisi kiri sambil mengayun pedangnya dengan kecepatan luar biasa.

Dengan bertindaknya Tio Tian-seng secara di luar dugaan ini, suasana dalam arena menjadi kalut, bentakan nyaring, hardikan lantang bergema silih berganti.

Thay-kun, Soh Leng-hui, Biau-kosiu dan Tan Sam-cing serentak melompat ke depan dan terjun ke dalam arena.

Di tengah gelak tawa yang amat keras, Liu Khi melejit ke tengah udara bagaikan seekor burung elang raksasa dan melayang ke belakang.

Terdengar suara benturan keras. Tahu-tahu pedang bambu di tangan Bong Thian-gak telah terpapas kutung oleh bacokan pedang Tio Tian-seng

Bong Thian-gak mendengus tertahan, tubuhnya mencelat jauh dan jatuh terduduk di atas tanah.

Thay-kun dan Song Leng-hui sama-sama menjerit kaget, serentak mereka melompat ke hadapan Bong Thian-gak.

 

Sementara itu Bong Thian-gak memutar biji mata, lalu sambil melompat bangun dari atas tanah, bentaknya, "Tio-pangcu, sebenarnya serangan pedangku dapat memaksa Liu Khi mengungkap identitasnya. Sungguh tak disangka, kau telah menggagalkan usahaku itu."

Dengan wajah serius Tio Tian-seng berkata, "Ilmu pedang Bong-laute telah mencapai puncak kesempurnaan. Aku merasa amat kagum atas kemampuanmu itu, tetapi aku tak bisa membiarkan Liu Khi terluka di ujung pedangmu begitu saja."

Sementara itu Song Leng-hui telah bertanya dengan penuh kuatir, "Engkoh Gak, apakah kau terluka?"

"Tidak," Bong Thian-gak menggeleng.

 

Dalam pada itu Liu Khi yang sudah berdiri, katanya dengan senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya, "Malam ini aku orang she Liu telah memperoleh pengalaman baru. Hm, hampir saja aku terluka di ujung pedangmu itu."

"Sungguh menyesal aku gagal membuka kedok palsumu pada malam ini," kata Bong Thian-gak hambar.

Mendadak terdengar Biau-kosiu berseru dengan suara lantang, "Bong-siauhiap, mengapa kalian harus menjual tenaga untuk Thio Kim-ciok?"

"Sebab kami tahu Thio Kim-ciok bukan Hek-mo-ong yang sedang kita cari."

 

Biau-kosiu tertawa dingin, "Peduli Thio Kim-ciok adalah Hek-mo-ong atau bukan, dari ambisi serta tekad Thio Kim-ciok untuk melampiaskan rasa benci dan dendamnya, tak mungkin dia melepaskan setiap orang yang berhubungan dengan sepuluh tokoh persilatan begitu saja. Oleh sebab itu bila kalian bersikap membela Thio Kim-ciok secara membabi-buta, pada hakikatnya perbuatan kalian itu merupakan perbuatan yang sangat tolol."

"Bong-laute," Tio Tian-seng segera menambahkan, "apa yang dikatakan nona Biau tepat sekali. Thio Kim-ciok adalah seorang buas yang berhati sempit dan munafik, dia seorang pendendam dan tak pernah melepaskan musuhnya begitu saja, padahal Bong-laute serta nona Song mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan sepuluh tokoh persilatan, pada akhirnya Thio Kim-ciok juga tak bakal melepas kalian begitu saja."

 

Baru saja Tio Tian-seng selesai berkata, mendadak terdengar suara ledakan keras yang memekakkan telinga, menyusul gedung yang amat besar dan megah itu roboh berantakan ke atas tanah.

Di tengah robohnya gedung itu, terdengar pula beberapa kali jeritan ngeri yang memilukan. Beberapa sosok bayangan orang nampak melarikan diri terbirit-birit dari balik reruntuhan bangunan.

Dengan ketajaman mata Bong Thian-gak, sekilas pandang saja ia sudah mengenali orang yang sedang melarikan diri itu, seorang kakek berbaju hitam serta tiga orang lelaki kekar berbaju hitam pula.

Mendadak hatinya bergetar keras, tanpa sadar serunya tertahan.

"Hek-ki-to-cu Long Jit-seng."

 

Ketika kakek berbaju hitam yang kabur menyelamatkan diri itu sampai di hadapan Bong Thian-gak dan melihat kehadiran si anak muda itu, ia tertawa licik, sapanya, "Jian-ciat-suseng, sungguh tak disangka kita bersua lagi di sini."

Sebagaimana diketahui, dalam pertempuran di kuil Hong-kong-si, Long Jit-seng berhasil menyelamatkan jiwanya dari kematian.

Kemunculan orang ini membuat Bong Thian-gak segera teringat perkataan Liu Khi barusan.

"Sesungguhnya aku sudah menyiapkan selembar kartu raja untuk menghancurkan semua peralatan rahasia yang berada dalam gedung ini."

Dari sini bisa diduga kartu raja yang dimaksud Liu Khi tadi tak lain adalah Hek-ki-to-cu Long Jit-seng.

 

Sementara itu di saat Long Jit-seng berempat menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan rumah tadi, Gi Jian-cau memperhatikan bangunan yang roboh itu dengan seksama.

Tiba-tiba wajahnya berubah hebat, dari balik matanya mencorong sinar penuh rasa kaget. Sambil mengawasi Long jit-seng sekalian, katanya dengan suara dingin, "Sungguh tak disangka, kalian berhasil menemukan pintu masuk Kiu-kiong-pat-kwa, sungguh mengagumkan."

Liu Khi tertawa terbahak-bahak, katanya pula, "Gi-heng, mari kuperkenalkan, dia adalah Long Jit-seng dari lautan timur. Aku pernah bilang bukan, betapa pun lihai serta rumitnya alat rahasia Thio Kim-ciok, persiapannya itu takkan bisa menghalangi kita untuk pergi mencarinya."

Long Jit-seng tertawa seram pula, ujarnya, "Sungguh tak disangka, para jago seluruh kolong langit berkumpul di sini pada malam ini. Sungguh kejadian ini merupakan suatu keberuntungan bagiku. Kini pintu masuk Pat-kwa-kiu-kiong sudah berhasil ditemukan, mengapa kalian tidak masuk ke dalam untuk membekuk Thio Kim-ciok?"

 

Gi Jian-cau tertawa dingin, "Walaupun pintu masuk barisan Kiu-kiong-pat-kwa telah berhasil ditemukan, namun alat rahasia yang terdapat di ruang bawah tanah sana masih banyak dan berlapis-lapis. Dalam hal ini rasanya kita masih memerlukan bantuan Long-tocu."

Long Jit-seng tertawa tergelak, "Aku tak lebih cuma melaksanakan perintah untuk membukakan pintu masuk barisan Kiu-kiong-pat-kwa yang berada dalam gedung ini. Sekarang tugas telah selesai, aku tak sudi menyerempet bahaya lagi dengan percuma."

Sampai di situ Long Jit-seng segera mengulap tangan kanannya dan bersiap mengajak ketiga anak buahnya pergi meninggalkan tempat itu.

 

Mendadak terdengar Biau-kosiu membentak, "Berhenti!"

Long Jit-seng memandang sekejap ke arah nona itu, lalu bertanya, "Siapakah kau? Ada urusan apa memanggil aku?"

"Aku bernama Biau-kosiu, aku meminta padamu untuk mengajak kami memasuki barisan Kiu-kiong-pat-kwa yang berada di bawah tanah itu."

"Seandainya aku keberatan?" tanya Long Jit-seng menantang.

"Kalau begitu, silakan kau mampus di tempat ini."

"Bila aku mati, kalian pun jangan berharap bisa menangkap Thio Kim-ciok untuk selamanya."

 

Tiba-tiba Biau-kosiu memandang sekejap ke arah Liu Khi yang berada di samping arena, lalu tegurnya dingin, "Dia ini anak buahmu?"

Liu Khi tertawa, "Aku pernah menyelamatkan jiwanya satu kali, maka dia pun hanya membantuku sekali. Waktu itu aku hanya meminta kepadanya utnuk membantuku menemukan pintu masuk menuju barisan Kiu-kiong-pat-kwa yang berada dalam bangunan bawah tanah itu dan sekarang tugasnya telah selesai, tentu saja aku pun tak bisa mengekang dirinya lagi."

Biau-kosiu tertawa dingin, tiba-tiba ia berjalan ke muka dan pelan-pelan menghampiri Long Jit-seng.

Setiap jago yang berada dalam arena mengetahui bahwa Biau-kosiu bermaksud memaksa Long Jit-seng memenuhi keinginannya.

 

Mendadak terdengar Long Jit-seng membentak, telapak tangannya segera diayunkan ke depan membacok dada Biau-kosiu yang sedang berjalan mendekat.

Dengan suatu gerakan yang amat cepat dan lincah, Biau-kosiu menghindar ke samping, kemudian pergelangan tangannya diputar sambil menyambar, tanpa mengeluarkan sedikit tenaga pun, dia telah berhasil mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan Long Jit­seng.

Pada saat itulah ketiga lelaki kekar berbaju hitam yang berdiri di belakang Long Jit-seng menerjang maju secara bersama-sama.

Biau-kosiu segera mengayun tangan kirinya siap meluncurkan sebuah bacokan mematikan, tiba-tiba terdengar Long Jit-seng berteriak, "Nona, jangan kau lukai pembantu utamaku."

Di tengah seruan itu, golok Liu Khi telah tercabut, kemudian diayunkan sejajar dada menghadang jalan pergi ketiga lelaki kekar itu serta niat Biau-kosiu untuk menyerang.

 

Melihat Liu Khi menghalangi niatnya, Biau-kosiu segera menegur sambil tertawa dingin, "Liu-tayhiap, apakah kau berniat melepaskannya pergi dari sini?"

Liu Khi tertawa terbahak-bahak, "Apabila nona Biau bermaksud minta bantuan Long-tocu, aku rasa kau harus memohonnya secara baik-baik."

"Tapi sayang dia enggan menerima arak kehormatan, sebaliknya justru mencari arak hukuman," jengek Biau-kosiu sambil tertawa dingin.

 

Liu Khi tak menggubris Biau-kosiu lagi, dia segera menggerakkan badan dan memberi hormat kepada Long Jit-seng sambil katanya, "Long-tocu, kau pun terhitung seorang pintar, kau juga tahu bahwa setiap orang yang mengepung gedung ini merupakan jago-jago persilatan yang pernah menggetarkan persilatan, lagi pula mereka bertekad hendak membekuk Thio Kim-ciok, padahal Thio Kim-ciok pernah belajar ilmu bangunan dan ilmu alat rahasia dari Susiokmu."

"Berarti selain dirimu yang mampu memecahkan alat rahasia yang dipasang Thio Kim-ciok, tidak ada orang kedua di dunia ini yang mampu melakukannya. Oleh sebab itu bagaimana pun juga mereka tak akan melepaskan dirimu begitu saja pada malam ini."

 

Long Jit-seng tertawa dingin.

"Sungguh tidak disangka Liu-tayhiap telah menyingkap semua rahasiaku di hadapan umum."

"Itulah sebabnya kau harus membantu usaha kami membekuk Thio Kim-ciok."

Long Jit-seng tertawa licik, "Oh, tentu saja

Liu Khi tersenyum, dia melirik sekejap ke arah Biau-kosiu, lalu ujarnya, " Nona Biau, sekarang kau boleh melepaskannya."

Biau-kosiu mendengus dingin. Sambil mengendorkan tangan kanannya ia berkata dingin, "Seharusnya sejak tadi kau memerintahkan kepadanya untuk berbuat demikian."

 

Mendadak Liu Khi berseru dengan suara lantang, "Dengarkan baik-baik saudara sekalian, sekarang Thio Kim-ciok telah berada dalam ruang bawah tanah gedung ini yang telah dilengkapi dengan alat-alat rahasia yang tangguh dan kuat. Selama puluhan tahun terakhir ini, dia selalu mengeram di situ untuk merawat lukanya, sampai dimanakah ketangguhan alat-alat rahasianya serta rahasia apa yang terkandung di balik semua ini, aku rasa kita harus masuk sendiri serta menggalinya."

 

Baru saja Liu Khi selesai berkata, tiba-tiba dari balik kegelapan malam berkumandang suara seorang tua yang serak tapi lantang, "Apa yang diucapkan Liu Khi memang benar. Di balik ruang bawah tanah dalam gedung ini memang tersimpan banyak sekali rahasia, cuma kalian harus ingat, tempat ini pun merupakan perangkap kematian yang bisa menghabisi riwayat hidup kalian."

Beberapa patah kata itu bergema dengan lantang dan dapat didengar oleh setiap jago dengan jelas, namun semua orang hanya bisa mendengar suaranya tanpa berhasil melihat sang pembicara.

Berubah hebat paras muka semua jago.

 

Tio Tian-seng segera menghardik dengan suara dalam, "Siapakah kau? Harap sebutkan namamu."

Suara yang serak tapi nyaring itu tertawa terbahak-bahak, "Aku adalah Thio Kim-ciok yang hendak kalian bekuk pada malam ini. Pintu neraka menuju ke barisan Kui-kiong-pat-kwa telah terbuka lebar dan siap menyambut kalian, mengapa kalian ragu-ragu memasukinya?"

Bong Thian-gak, Thay-kun dan Song Leng-hui telah mengenali suara itu, suara Thio Kim-ciok yang bermaksud menantang sepuluh tokoh persilatan untuk berduel.

Perubahan yang berlangsung sangat tiba-tiba ini segera membuat gedung itu diliputi suasana misterius, tegang dan menyeramkan.

Sementara itu para jago telah melangkah menghampiri bangunan yang roboh itu.

 

Ketika semua orang sudah melihat jelas keadaan di situ, berubah hebat paras muka mereka.

Ternyata di atas bekas gedung yang megah dan mentereng, kini telah muncul sebuah kuburan yang mengerikan.

Di atas batu nisan di muka kuburan yang sangat besar dan sangat aneh itu muncul sebuah pintu berbentuk rembulan, di atasnya terpajang tujuh huruf besar berwarna merah darah:

"Kuburan umat persilatan Kiu-kiong-pat-kwa".

Di sebelah kiri dan kanan batu nisan itu terpancang pula sepasang nisan yang bertuliskan:

"Pintu neraka menyambut umat manusia dengan tubuh hancur tulang remuk naik ke surga."

Bergidik perasaan para jago menyaksikan semua ini, untuk beberapa saat lamanya mereka hanya bisa mengawasi liang kuburan yang terbuka lebar itu dengan mata terbelalak dan wajah termangu.

Liong Oh-im berseru lantang, "Thio Kim-ciok, benarkah kau berada di dalam liang kuburan itu?"

 

Gelak tawa nyaring segera berkumandang, "Liong Oh-im, aku memang berada di liang kuburan. Aku telah membuang pikiran dan tenaga selama tiga puluh tahun untuk mempersiapkan liang tempat peristirahatan yang paling nyaman untuk kalian sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang si perempuan rendah itu. Mengapa kalian tidak cepat masuk kemari?"

 

Kalau tadi sepuluh tokoh persilatan yang masih hidup serta Ho Lan-hiang amat bernapsu untuk menangkap Thio Kim-ciok, maka sekarang setelah Thi Kim-ciok menantang mereka, orang-orang itu malah ragu menyambut tantangan itu.

Semua orang tahu bahwa Thio Kim-ciok telah bertekad hendak membalas dendam. Perangkap yang telah ia siapkan selama tiga puluh tahun dengan susah-payah ini merupakan sarang naga gua harimau yang amat berbahaya dan sukar untuk dilewati.

 

Dengan suara setengah berbisik, Bong Thian-gak segera bertanya kepada Thay-kun, "Sumoay, apakah kita akan turut masuk ke dalam?"

"Tentu saja kita harus ikut masuk. Hanya saja, bila kita sudah masuk ke dalam, mungkin tak akan bisa keluar lagi untuk selamanya."

"Apa maksudmu berkata demikian?"

"Aku merasa tempat ini seperti juga apa yang dikatakan Thio Kim-ciok tadi, merupakan kuburan yang paling besar untuk mengubur jago-jago lihai dunia persilatan."

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, dugaan Sumoay memang benar, Thio Kim-ciok belum dapat melupakan dendam sakit hati yang pernah dialaminya tiga puluh tahun berselang. Ai, buat apa kita mesti ikut serta dalam persoalan ini?"

"Ya benar, kita memang tak usah melibatkan diri dalam perselisihan itu, tapi perselisihan antara sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok pada malam ini, terutama menang kalah mereka akan mempengaruhi nasib dan keadaan persilatan di masa mendatang."

 

Sementara kedua orang itu masih berbincang-bincang, kawanan jago lainnya secara beruntun telah memasuki pintu di muka kuburan besar itu.

Liu Khi berjalan paling akhir, ketika kakinya baru saja akan melangkah masuk, tiba-tiba ia menariknya kembali. Kemudian sambil berpaling ke arah Bong Thian-gak sekalian, tanyanya sambil tertawa, "Apakah kalian tidak bermaksud memasuki kuburan umat persilatan?"

Thay-kun tertawa dingin.

"Setelah kau masuk nanti, kami bisa masuk sendiri."

"Bila kalian berniat ikut masuk, paling baik jika berjalan mengikut di belakang kami. Kalau tidak, pasti akan sulit untuk meneruskan perjalanan," kata Liu Khi sambil tertawa seram.

"Terima kasih atas maksud baikmu, silakan kau pergi lebih dulu!"

 

Sementara itu dari balik liang kubur terdengar suara Tio Tian-seng berteriak, "Liu Khi, semua orang sedang menantikan kedatanganmu. Mengapa kau tidak segera masuk ke dalam?"

Liu Khi tertawa terbahak-bahak, dia segera masuk ke dalam liang kubur.

Waktu itu pintu neraka menuju ke kuburan masih terbuka lebar, pada mulanya masih terdengar suara langkah kaki para jago serta suara pembicaraan mereka, tapi lambat-laun semakin jauh, makin jauh ... akhirnya tidak terdengar lagi sedikit suara pun.

Bong Thian-gak yang menjumpai keadaan itu menjadi sangat terkejut, segera ujarnya, "Wah, liang kubur ini nampaknya mempunyai lorong yang amat panjang dan dalam."

Paras muka Thay-kun berubah juga, katanya pula, "Bila seseorang berjalan di lorong bawah tanah, biarpun sudah mencapai jarak sejauh satu li pun, seharusnya masih bisa mendengar suara langkah kakinya. Tapi mereka baru masuk selama seperempat jam, nyatanya suara mereka lenyap, kejadian seperti ini benar-benar aneh sekali."

 

Belum lagi mereka selesai berkata, mendadak terlihat seseorang berkelebat keluar dari balik liang kubur, tahu-tahu seorang kakek berbaju hijau telah berdiri di depan pintu liang kubur itu.

"Ah, Thio-locianpwe."

Ternyata orang tua yang berdiri di depan pintu liang kubur itu tak lain adalah Thio Kim-ciok. Waktu itu ia berdiri dengan wajah kereng dan serius, ujarnya tiba-tiba, "Bong-siauhiap, bila bersedia menyembuhkan penyakit yang kuderita, silakan ikut masuk ke dalam. Bila menolak, harap secepatnya pergi meninggalkan tempat ini."

Satu ingatan segera melintas dalam benak Bong Thian-gak, tanyanya dengan suara dalam, "Dengan cara apakah Thio-locianpwe hendak menghadapi Liu Khi sekalian?"

 

Dengan wajah serius dan nada bersungguh-sungguh, Thio Kim-ciok menjawab, "Agaknya sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang telah bertekad membunuh diriku. Demi melanjutkan hidup, terpaksa aku harus memberikan perlawanan dengan sepenuh tenaga dan berjuang sampai titik darah penghabisan."

"Apakah Locianpwe mempunyai kekuatan yang cukup untuk menghadapi orang-orang itu?" kembali Bong Thian-gak bertanya.

"Sudah barang tentu kekuatan yang kumiliki tidak mampu melawan kemampuan mereka, tapi sampai akhirnya hanya Hek-mo-ong seorang yang akan berduel melawan diriku."

Sebelum Bong Thian-gak dapat menangkap arti di balik perkataan Thio Kim-ciok itu, Thay-kun telah berhasil menangkap arti ucapan itu, sambil menghela napas ia segera berkata, "Jadi kalau begitu Thio-locianpwe benar-benar telah memperalat kemampuan Hek-mo-ong untuk membunuh sisa kesepuluh tokoh persilatan? Ai, apakah tindakan dan cara yang ditempuh Thio-locianpwe ini tidak terlampau kejam?"

 

Hijau membesi wajah Thio Kim-ciok.

"Umpatan nona Thay-kun memang tepat sekali," sahutnya. "Nah, katakan sekarang, apakah kalian bersedia membantuku? Saat ini Hek-mo-ong telah berada di dalam kuburan untuk membunuh sepuluh tokoh persilatan yang tersisa serta Ho Lan-hiang, aku pun harus selekasnya mempersiapkan segala sesuatunya."

Thay-kun menghela napas sedih.

"Kini badai pembunuhan sudah berada di depan mata, apakah Thio-locianpwe bersedia mengungkap siapa gerangan Hek-mo-ong yang sebenarnya?"

 

Thio Kim-ciok termenung dan berpikir beberapa saat, setelah itu baru menghela napas panjang.

"Nona Thay-kun memang seorang nona yang cerdas dan berotak encer, aku benar-benar merasa kagum atas kepintaranmu itu. Memang benar, Hek-mo-ong adalah Liu Khi."

"Hah, jadi benar adalah Liu Khi?" seru Bong Thian-gak terperanjat.

"Ya, sejak tiga puluh tahun berselang, aku sudah tahu Liu Khi adalah Hek-mo-ong."

"Kalau Thio-locianpwe sudah mengetahui bahwa otak dari semua kejahatan ini adalah Liu Khi, mengapa kau tidak secara langsung mencarinya untuk membalas dendam?" tanya Bong Thian-gak dengan suara keras.

 

Tiba-tiba Thio Kim-ciok mendongakkan kepala dan tertawa tergelak dengan suara menyeramkan.

"Walaupun Liu Khi dan aku terikat dendam sakit hati sedalam lautan, tapi sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang pun punya dendam sakit hati denganku, aku sangat membenci mereka, begitu benciku hingga bertekad akan membasmi mereka satu per satu, tapi ... aku sudah tidak memiliki kekuatan sedemikian besar, maka aku ...."

Berbicara sampai di sini, suara Thio Kim-ciok terdengar amat sedih, murung dan terputus-putus karena menahan emosi.

 

Thay-kun menghela napas sedih, segera ujarnya pula, "Maka Thio-locianpwe pun memperalat Hek-mo-ong Liu Khi untuk membinasakan kesepuluh tokoh persilatan itu satu per satu?"

Thio Kim-ciok mengangguk pelan.

"Ya, meskipun begitu, akhirnya Liu Khi akan turun tangan juga terhadapku."

"Bukankah kau sangat berharap bisa membunuh Liu Khi?" jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.

 

Thio Kim-ciok menghela napas sedih.

"Tapi yang pasti aku tak akan mampu menandingi Hek-mo-ong Liu Khi."

"Ai, selama tiga puluh tahun terakhir ini, aku harus berusaha keras mengendalikan rasa dendam dan benciku yang terbesar untuk bekerja sama dengan Liu Khi serta berusaha melenyapkan sepuluh pesilat tangguh dari muka bumi ini. Terus terang kukatakan, aku memang sengaja mengulur waktu agar luka yang kuderita bisa disembuhkan lebih dulu."

Mata Thio Kim-ciok yang sedih dan penuh duka itu dialihkan ke Song Leng-hui. Itulah pandangan penuh harapan.

 

Hingga detik ini Bong Thian-gak baru mulai memperoleh sedikit pengertian atas budi dendam serta musibah yang terjadi dalam dunia persilatan selama ini, sesungguhnya persoalan ini memang terlalu rumit dan memusingkan kepala.

Tentu saja yang patut dikasihani adalah mereka yang telah keburu mati secara mengenaskan.

Satu masalah pelik yang dihadapi mereka sekarang, yaitu apakah mereka harus membantu kakek yang berhati kejam dan buas ini untuk mengembalikan kekuatannya sehingga ia dapat memuaskan napsunya untuk membalas dendam sakit hatinya?

Tapi seandainya mereka tidak membantu kakek ini untuk memulihkan kembali kekuatannya, Hek-mo-ong Liu Khi pasti akan membinasakan pula Thio Kim-ciok setelah ia berhasil menghabisi nyawa Tio Tian-seng sekalian.

 

Tiba-tiba terdengar Thay-kun menghela napas panjang, "Sudahlah, kami bersedia membantu memulihkan kembali kekuatanmu itu."

Thio Kim-ciok amat gembira.

Sebaliknya paras muka Bong Thian-gak berubah hebat, ia segera menegur, "Sumoay, apakah kita harus menyetujui permintaannya?"

"Bicara soal dosa dan kekejaman, Hek-mo-ong Liu Khi otak dari semua kekejian ini. Apabila kita berniat menyingkirkan dalang semua kekejian dan kebuasan itu, maka kita harus berbuat demikian. Hanya satu masalah yang dikuatirkan adalah sehabis sembuh dari lukanya nanti, apakah Thio-locianpwe benar-benar mampu melawan kekuatan Liu Khi."

 

Thio Kim-ciok menghela napas panjang, "Sekalipun tidak dapat membunuhnya, paling tidak aku mempunyai kekuatan untuk beradu jiwa dengannya."

Mendadak Thay-kun berkata dengan serius, "Thio-locianpwe, aku ingin mengucapkan sesuatu kepadamu, yaitu Thian adalah maha pengasih dan penyayang, kecuali menghadapi seorang buas yang dosanya sudah menumpuk dan tidak terampuni lagi, kita harus menolong mereka yang terancam bahaya."

"Kini Liu Khi telah memancing Tio Tian-seng sekalian para jago memasuki kuburan itu serta membantai mereka secara brutal. Apakah Thio-locianpwe akan berpeluk-tangan tanpa berusaha menolongnya?"

 

Thio Kim-ciok menghela napas panjang.

"Ai, dendam sakit hatiku kepada mereka sudah mencapai titik puncaknya, ibarat air dengan api, aku tak akan hidup berdampingan lagi dengan mereka secara damai. Dengan sendirinya mati hidup mereka pun tak usah kupusingkan lagi, sebab daripada membiarkan mereka tetap hidup di dunia ini, lebih baik membiarkan mereka saling gontok. Apakah nona berniat memaksaku menyelamatkan mereka?"

"Aku tidak suruh Locianpwe pergi menolong mereka, kami hanya minta kepada Locianpwe untuk menerangkan pintu masuk dan keluar kuburan ini."

"Ai, baiklah! Mari kalian ikuti aku," ucap Thio Kim-ciok kemudian sambil menghela napas.

Selesai berkata, ia membalikkan badan dan berjalan kembali ke arah kuburan.

 

Bong Thian-gak, Thay-kun serta Song Leng-hui segera mengikut di belakangnya.

Terdengar Thio Kim-ciok yang berada di depan berkata lagi, "Pintu masuk menuju ke kuburan Bu-lim-bong ini terbagi menjadi dua buah lorong yang masing-masing adalah lorong kehidupan dan lorong kematian. Tadi lorong kematian sudah ditutup, sedang jalan yang kita lalui sekarang adalah lorong kehidupan."

"Perlu kalian ketahui, lorong kehidupan ini berada dalam suasana gelap-gulita, tak nampak jari sendiri, ditambah dengan perubahan Kiu-kiong-pat-kwa, maka akan timbul kesan seperti munculnya badai, kilat, setan atau makhluk aneh. Tapi kalian tak usah takut, kalian pun jangan berusaha turun tangan memukul atau menyerang benda yang dijumpai."

 

Belum selesai perkataan Thio Kim-ciok, Bong Thian-gak sekalian telah mendengar timbulnya suara angin puyuh yang menderu-deru, suara angin itu begitu dahsyatnya sehingga menggidikkan siapa pun yang mendengar, bahkan seolah-olah menggulung ke arah tubuh mereka.

Bong Thian-gak sekalian menjadi sangat terperanjat, andaikata Thio Kim-ciok tidak berpesan lebih dulu, niscaya mereka akan mundur.

Dengan membusungkan dada dan langkah lebar, Bong Thian-gak meneruskan perjalanan ke depan. Anehnya, walaupun mereka mendengar suara hembusan angin puyuh yang menderu-deru dan memekakkan telinga, namun tubuh mereka sama sekali tidak terasa seperti terhembus angin puyuh.

 

Perubahan aneh yang sama sekali tak terduga ini benar-benar sangat luar biasa, baru sekarang Bong Thian-gak mengagumi betapa hebatnya ilmu Ngo-heng itu.

Pada saat itulah terdengar Thio Kim-ciok yang berada di depan berkata, "Setelah hembusan angin lewat, hujan dan guntur akan datang silih berganti, tapi semuanya hanya khayalan belaka, kalian tak perlu merasa kuatir."

Baru selesai peringatan itu diberikan, Bong Thian-gak segera merasakan menyambarnya halilintar yang menusuk mata di depannya, kemudian disertai ledakan guntur yang menggelegar, terasa hujan turun dengan derasnya.

 

Padahal semuanya itu hanya merupakan khayalan belaka, Bong Thian-gak merasa tubuhnya kering dan sama sekali tidak ada setetes air pun yang membasahi tubuhnya, namun telinganya justru menangkap suara air hujan yang turun sangat deras.

Lama kelamaan Bong Thian-gak tak dapat mengendalikan rasa ingin tahunya lagi, ia segera bertanya, "Thio-locianpwe, sesungguhnya darimanakah datangnya suara khayalan itu?"

"Di sinilah letak kelihaian ilmu rahasia barisan Ngo-heng serta Kiu-kiong-pat-kwa, padahal suara-suara khayalan itu justru timbul dari dalam tubuh kita sendiri."

"Timbul dari dalam tubuh sendiri? Apa artinya?"

"Tak mungkin kujelaskan hal ini dalam waktu singkat. Nah, hati-hatilah, bayangan setan yang lebih menakutkan akan segera muncul, ingat baik-baik, jangan turun tangan menyerang makhluk apa pun yang datang menyerang kalian!"

 

Baru selesai ia berkata, suara tangisan setan dan jeritan kuntilanak bergema silih berganti.

Bersamaan Bong Thian-gak seolah-olah melihat munculnya kepala setan berambut panjang dan berwajah bengis menyeramkan menerjang ke arahnya.

Andaikata Thio Kim-ciok tidak berpesan sekali lagi, sudah pasti Bong Thian-gak akan menyingkir jauh-jauh dari situ.

Benar juga, ternyata bayangan setan yang menerkam datang tadi hanya khayalan semu belaka.

Dengan perasaan terkejut bercampur keheranan Bong Thian-gak segera bertanya, "Thio-locianpwe, jika aku turun tangan melancarkan serangan atau menghindar ke samping, apakah akibat yang akan terjadi?"

"Bong-laute, kau juga jangan bergurau secara sembarangan," seru Thio Kim-ciok dengan perasaan gelisah, "bila kau bergerak hingga tubuhmu menyentuh alat rahasia, maka tubuhmu akan terseret masuk ke dalam lorong kematian."

"Bukankah Tio Tian-seng sekalian masih berada di dalam lorong kematian sekarang?"

"Benar, sejak memasuki kuburan Bu-lim-bong tadi, mereka sudah menempuh jalan yang salah, yaitu lorong kematian."

"Apa yang bakal terjadi bilamana seorang berjalan melalui lorong kematian?"

"Bila orang yang memasuki lorong kematian itu tidak menguanal perubahan Kiu-kiong-pat-kwa, maka selama hidup dia tak akan bisa kembali dalam keadaan selamat, apalagi keluar dari kuburan Bu-llm bong ini."

 

"Kalau begitu, seandainya Tio Tian-seng sekalian tidak memahami rahasia perubahan Kiu-kiong-pat-kwa, maka selama hidup dia akan terkurung di dalam lorong kematian itu?"

"Hek-mo-ong telah bertekad akan membunuh seluruh orang di dalam kuburan Bu-lim-bong ini, aku rasa nasib mereka lebih banyak bencananya daripada selamat."

"Tio Tian-seng Locianpwe mempunyai hubungan yang paling akrab denganku, aku tak bisa membiarkan mereka tewas terbunuh tanpa berusaha menolongnya."

Di tengah pembicaraan itu, Bong Thian-gak segera mengerahkan tenaga pukulannya dan membacok ke sisi kirinya.

Baru saja dia akan melancarkan pukulan, Thio Kim-ciok telah menyadari perbuatannya itu, ia segera menjerit kaget, "Jangan kau lakukan

 

Dengan cepat dia menggerakkan tangannya balas mencengkeram tangan pemuda itu.

Tahu-tahu serangan yang dilancarkan Bong Thian-gak sudah menghantam di dinding batu itu

Di tengah suara ledakan keras yang memekakkan telinga, Bong Thian-gak merasakan permukaan tanah dimana ia berdiri terasa berputar kencang, tidak bisa ditahan lagi tubuhnya segera terjatuh ke sisi kanan

Bersamaan waktunya pula Bong Thian-gak mendengar Thay-kun berteriak, "Bong-suheng, apa yang hendak kau lakukan?"

 

Walaupun Bong Thian-gak tak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya lagi hingga berputar dan terjatuh ke kanan, namun kesadaran pikirannya masih tetap utuh. Mendengar teriakan itu, ia segera menyahut dengan lantang, "Aku hendak menyelamatkan jiwa Tio Tian-seng sekalian, kalian segera mendesak Thio Kim-ciok."

Belum habis perkataan itu, kembali terdengar suara ledakan keras menggelegar, tubuh Bong Thian-gak terjerumus ke dalam sebuah jurang yang tak nampak dasarnya, angin tajam terasa menderu di sekelilingnya.

Berada dalam keadaan begini, Bong Thian-gak tak sanggup melanjutkan perkataannya lagi, cepat dia menghimpun tenaga dalam untuk memperingan bobot tubuhnya agar dirinya yang sedang meluncur ke bawah bisa bergerak lebih lamban.

 

Tiba-tiba saja Bong Thian-gak merasakan kaki telah menyentuh permukaan tanah, suasana di sekitar sana terasa hening, suasana gelap mencekam sekelilingnya membuat kelima jari sendiri pun tak terlihat.

Baru sekarang Bong Thian-gak merasa sangat menyesal, dia menyesal karena bertindak gegabah hingga terperosok ke tempat itu.

Di samping itu dia pun merasa amat terkejut bercampur keheranan terhadap peralatan ganda dalam kuburan Bu-lim-bong yang mempunyai perubahan sedemikian rupa, ia tidak habis mengerti apa sebabnya serangan yang dilancarkan olehnya tadi bisa mengalihkan dirinya sampai ke tempat semacam ini.

 

Di tengah keheningan yang mencekam, tiba-tiba Bong Thian-gak menangkap suara langkah kaki berjalan mendekat dari hadapannya.

Diam-diam Bong Thian-gak menghimpun tenaga murninya sambil bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu suara langkah kaki tadi makin mendekat.

Bong Thian-gak dapat menangkap suara langkah itu terdiri dari dua orang.

"Siapa di situ?" Bong Thian-gak segera membentak.

Tapi begitu suara teguran diutarakan, Bong Thian-gak segera merasakan datangnya dua gulung desingan senjata rahasia yang amat tajam ke arah tubuhnya.

 

Walaupun Bong Thian-gak dalam lorong bawah tanah yang gelap, namun sepasang telinganya sangat tajam, serta-merta dia menggerakkan tubuhnya dan bergeser ke sisi sebelah kanan.

Baru saja tubuhnya berdiri tegak, dua orang itu telah menerjang dari kiri dan kanan dengan kecepatan luar biasa, bahkan melancarkan serangan bersama-sama.

"Siapa di situ?" kembali Bong Thian-gak membentak. "Bila tidak menyebutkan nama kalian, jangan salahkan bila aku menyerang secara keji."

Sekali lagi anak muda itu berkelebat menghindar ke sisi sebelah kiri.

Agaknya kedua orang yang gagal dalam serangannya itu merasa terperanjat sekali, serentak mereka menghentikan serangannya.

 

Dalam pada itu jarak antara kedua belah pihak sudah dekat, Bong Thian-gak dapat mendengar dengan jelas suara napas kedua orang yang berada di hadapannya itu sangat berat disertai suara rintihan dan dengusan tertahan.

Dengan perasaan terkejut bercampur keheranan Bong Thian-gak segera bertanya lagi, "Kenapa kalian? Apakah terluka?"

Setelah suara rintihan dan hembusan napas memburu agak mereda, terdengar orang itu menjawab dengan suara parau, "Kau adalah orang Thio Kim-ciok ataukah salah seorang di antara para jago yang memasuki kuburan Bu-lim-bong ini?"

Sekarang Bong Thian-gak sudah dapat melihat wajah kedua orang yang berada di hadapannya ini, walaupun secara lamat-lamat. Dia berseru tertahan, lalu bergerak lebih ke depan, tegurnya segera, "Bukankah kalian berdua adalah anak buah Biau-kosiu ... Biau-han-thian suami-istri?"

Benar, kedua orang itu memang kedua anak buah Biau-kosiu, lelaki dan perempuan kekar bermata tunggal itu.

Tampaknya Biau-han-thian suami-istri masih belum mengenali Bong Thian-gak, segera bentaknya, "Berhenti! Jika kau berani maju selangkah lagi, kedua puluh empat peluru emas akan kami lancarkan secara bersama."

 

Bong Thian-gak menghentikan langkah, lalu berseru lagi dengan lantang.

"Aku adalah Jian-ciat-suseng, apakah kau masih belum mengenali diriku?"

Biau-han-thian suami-istri berseru tertahan, lalu berkata, "Ya benar, kau adalah Jian-ciat-suseng, tapi kau adalah teman atau musuh?"

Bong Thian-gak tertawa ringan, "Aku adalah sahabat kalian, senasib sependeritaan yang sama-sama berkurung di dalam Bu-lim-bong ini."

Biau-han-thian segera mendengus, "Hm, selagi berada di halaman tadi, kau berpihak kepada Thio Kim-ciok. Selama berada dalam kuburan Bu-lim-bong, kau pun termasuk salah satu pembantu untuk membunuh para jago. Hm! Hari ini, kami akan mengadu jiwa denganmu."

 

"Tunggu dulu!" bentak Bong Thian-gak dengan suara keras.

"Apalagi yang hendak kau katakan?" seru Biau-han-thian sambil tertawa seram.

"Apa yang menyebabkan kalian terluka? Dimanakah Biau-kosiu serta para jago lainnya?" tanya pemuda itu dengan suara dalam.

Biau-han-thian tertawa seram, "Apa yang mengakibatkan kami terluka? Masakah kau belum tahu? Apalagi kalau bukan dilukai oleh begundal-begundalmu."

"Tutup mulutmu!" bentak Bong Thian-gak sambil berkerut kening. "Sekarang kalian sudah termakan oleh siasat busuk Hek-mo-ong. Keselamatan jiwa kalian terancam, masakah kalian belum menyadari akan hal ini? Dimanakah para jago lainnya saat ini? Harap kau segera mengajakku ke sana."

 

Mendadak Biau-han-thian tertawa seram, "Aku tidak bakal mengajakmu ke sana. Kami suami-istri bisa bertemu dengan kau saat ini, hitung-hitung kami lagi sial. Jika kau memang berkepandaian, ayo cepatlah bunuh kami berdua."

Sekarang Bong Thian-gak sudah tahu bahwa kedua orang itu telah salah mengira dia sebagai musuh. Padahal dalam keadaan seperti ini, ia tak bisa merubah sikap serta pandangan mereka yang keliru itu, tapi bila dilihat dari keadaan Biau-han-thian suami-istri yang menderita luka, bisa diduga Liu Khi sudah mulai melakukan pembantaian secara besar-besaran.

Tindakan paling baik sekarang adalah secepatnya menemukan para jago dan menyingkap tabir rahasia bahwa Liu Khi adalah Hek-mo-ong.

Sementara dia masih termenung memikirkan persoalan itu, tiba-tiba Biau-han-thian suami-istri telah menerjang datang lagi dari sisi kiri dan kanan.

 

Bong Thian-gak segera membentak, tubuhnya bagai gangsingan segera berputar, serunya, "Dengarkan baik-baik kalian berdua! Liu Khi adalah Hek-mo-ong, dalang semua kekejaman dan kekejian selama ini, dia sengaja memancing para jago memasuki kuburan Bu-lim-bong ini tak lain bertujuan untuk membunuh setiap jago lihai persilatan. Apa yang aku ucapkan ini adalah sesungguhnya dan fakta, percaya atau tidak terserah kepada kalian sendiri!"

Selesai mengucapkan perkataan itu. Bong Thian-gak segera menyelinap ke samping dan melanjutkan perjalanannya menuju ke arah depan.

 

Waktu itu Biau-han-thian suami-istri sudah menderita luka parah sehingga sama sekali tak berkekuatan lagi untuk mengejar Bong Thian-gak, namun kata-kata Bong Thian-gak sebelum pergi serta tindakan si anak muda yang tidak membunuh mereka, membuat kedua orang itu merasa curiga bercampur ragu, tanpa terasa pikirnya, "Mungkinkah dia adalah orang baik-baik?"

Suasana di dalam lorong bawah tanah itu gelap-gulita dan lembab, dengan langkah cepat Bong Thian-gak bergerak maju, namun masih belum juga ditemukan ujung lorong bawah tanah itu.

 

Tiba-tiba hati Bong Thian-gak bergetar keras, ia teringat lorong bawah tanah ini ada beberapa bagian mirip lorong bawah tanah Kiu-kiong-mi-hun-to di dalam kuil Sam-cing-koan. Bagi orang yang tidak memahami kunci rahasia lorong itu, walaupun sudah berjalan pulang pergi akhirnya kembali lagi ke posisi semula.

Teringat sampai di sini, hatinya menjadi bergidik, segera pikirnya lagi, "Aduh celaka! Thio Kim-ciok pernah bilang, lorong kematian di dalam kuburan Bu-lim-bong ini dibangun menurut perubahan barisan Kiu-kiong-pat-kwa. Bagi mereka yang tak memahami kunci rahasia ilmu barisan itu, dengan cara apakah baru dapat keluar dari tempat ini?"

 

Sementara dia masih termenung memikirkan hal itu, mendadak dari kejauhan sana terdengar suara seseorang sedang menghela napas sedih.

Secepat kilat Bong Thian-gak segera bergerak ke muka mendekati sumber suara itu, segera tegurnya, "Siapa yang berada di depan?"

Bong Thian-gak memiliki sepasang mata tajam, ia bisa melihat ada seseorang dengan sepasang mata tajam sedang berdiri bersandar di dinding lorong di hadapannya. Tampak orang itu menggenggam sebatang senjata yang pendek bentuknya.

Ketika melihat kedatangan Bong Thian-gak, orang itu segera menggerakkan senjatanya langsung menusuk ke dada lawan dengan kecepatan luar biasa serta keganasan yang menggidikkan.

 

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Bong Thian-gak, ia masih ingat di antara kawanan jago yang memasuki kuburan Bu-lim-bong ini, tak seorang pun yang mempergunakan senjata pendek macam begini.

Orang itu sudah pasti adalah pembunuh yang telah disiapkan Hek-mo-ong Liu Khi sebelumnya untuk menyergap dan membunuh para jago yang kebetulan lewat di situ.

Berpikir begitu Bong Thian-gak segera membentak, tubuhnya bergerak ke muka dengan kecepatan tinggi dan menerobos lewat dari bawah cahaya kilat senjata pendeknya, kemudian tangan kanannya bergerak cepat dan menghantam pergelangan tangan kanan lawan yang menggenggam senjata itu.

 

Jerit kesakitan segera bergema, pergelangan tangan kanan orang itu segera termakan oleh bacokan tangan Bong Thian-gak yang tajam bagaikan golok itu hingga patah.

Sekalipun Bong Thian-gak sendiri berlengan tunggal, namun perubahan jurus serangannya amat cepat dan boleh dibilang nomor wahid di dunia ini.

Terlihat pergelangan tangan kirinya membalik dengan cepat, tahu-tahu kelima jarinya sudah mencengkeram jalan darah kaku di bahu orang itu.

Dengan dicengkeramnya jalan darah kaku di bahu, pada hakikatnya orang itu tak bisa berkutik lagi.

"Apakah kau sudah bosan hidup?" hardik Bong Thian-gak.

Tampaknya orang itu menderita kesakitan yang luar biasa, dia merintih tiada hentinya, tapi segera sahutnya, "Bagaimana kalau masih ingin hidup? Bagaimana pula kalau sudah bosan hidup?"

 

Baru sekarang Bong Thian-gak dapat melihat bahwa orang itu seorang kakek yang telah berusia lanjut, dia tertawa dingin, "Bila ingin hidup, turuti semua perintahku tanpa membantah. Kalau sudah bosan hidup, cukup tanganku digerakkan ke bawah dan menghantam nadi penting di atas tengkukmu, nyawamu pasti akan dibereskan dengan segera."

"Daripada hidup menderita, lebih baik aku minta kematian yang cepat," kata kakek itu lagi setengah merintih.

"Tapi sayang, aku tak akan membiarkan kau mati dalam waktu singkat," jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.

Kakek itu mendengus, "Hm, dari usiamu yang masih muda, tidak kusangka hatimu begitu keji dan buas."

Untuk sesaat Bong Thian-gak menjadi tertegun, segera ujarnya lagi, "Kau menyergapku secara tiba-tiba dari balik kegelapan, apakah tindakanmu ini bukan merupakan suatu perbuatan yang kejam?"

Bantahan itu membungkamkan si kakek.

 

Kembali Bong Thian-gak berkata dengan suara dingin, "Ayo cepat mengaku, apakah kau adalah begundal Hek-mo-ong?"

"Siapa itu Hek-mo-ong? Aku tidak tahu, kami hanya mengetahui pemilik kuburan Bu-lim-bong ini adalah Thio Kim-ciok."

"Kalau begitu kau adalah anak buah Thio Kim-ciok?" tanya Bong Thian-gak dengan perasaan terkesiap.

Sambil mengertak gigi menahan emosi, kakek itu berkata, "Bukan, kami bukan anak-buah si orang edan itu."

"Lantas kau berasal dari aliran mana?" tanya Bong Thian-gak.

"Kami adalah orang-orang mengenaskan yang dikurung oleh orang edan itu selama puluhan tahun di dalam Bu-lim-bong ini."

"Apa? Jadi kau pun dicelakai oleh Thio Kim-ciok?" Bong Thian-gak terkejut.

 

"Benar, Thio Kim-ciok sudah dua puluh tahun mengurung kami di dalam Bu-lim-bong ini. Siksaan lahir-batin dalam jangka waktu yang begini panjang membuat sebagian orang-orang kami menjadi orang yang tak waras lagi otaknya."

Bong Thian-gak sungguh merasa terkejut bercampur keheranan, kembali dia bertanya, "Apa sebabnya Thio Kim-ciok mengurung kalian di dalam Bu-lim-bong ini?"

"Kami sendiri pun tidak tahu apa sebabnya dia mengurung kami di sini."

"Lantas berapa banyak rekan-rekanmu yang ikut disekap oleh Thio Kim-ciok di tempat ini?" tanya Bong Thian-gak lagi agak tertegun. "Semua berjumlah tujuh puluh dua orang."

"Apakah ketujuh puluh dua orang ini semuanya adalah orang-orang persilatan?"

"Ya, tentu saja mereka semua adalah jago persilatan."

Setelah berhasil mengetahui rahasia yang sangat aneh itu, Bong Thian-gak merasa kaget, dia tidak habis mengerti mengapa Thio Kim-ciok menyekap kawanan jago persilatan itu.

"Bagaimana ceritanya sehingga kalian dapat disekap di sini?" tanya Bong Thian-gak.

Sambil berkata, ia kendorkan cengkeramannya atas pergelangan tangan kakek itu.

 

Kakek itu memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu setelah menghela napas panjang, katanya dengan nada suara yang amat sedih, "Ai, hal ini terjadi pada dua puluh empat tahun berselang, aku she Kim bernama Toa-hay, sesungguhnya aku adalah seorang Piausu dari perusahaan An-wan-piau-kiok di wilayah Ho-pak. Suatu hari aku telah mengawal sejumlah barang yang diterima perusahaan, tetapi secara aneh tahu-tahu sudah ditawan ke tempat ini. Sejak memasuki kuburan Bu-lim-bong ini, tak pernah ada harapan lagi bagi kami untuk keluar dari sini."

"Siapakah pemilik barang yang kau kawal waktu itu?" tanya Bong Thian-gak.

"Tentu saja pemilik barang kawalan kami adalah Thio Kim-ciok!"

 

Hingga kini Bong Thian-gak belum juga mengerti apa sebabnya Thio Kim-ciok mengurung orang-orang itu di dalam Bu-lim-bong, ia menggeleng sambil menghela napas, lalu katanya, "Kim-piauthau, apa sebabnya kau membokongku tadi?"

"Sebab aku mengira kau adalah komplotan Thio Kim-ciok."

"Kalau begitu, kalian benar-benar amat membenci Thio Kim-ciok?"

Mendadak Kim Toa-hay tertawa seram, "Siapa bilang tidak membencinya? Tanpa sebab-musabab Thio Kim-ciok telah menyekap kami sepanjang tahun di dalam neraka dunia yang tak kelihatan matahari ini, membuat kami semua harus jauh dari rumah, berpisah
dengan anak istri dan sanak keluarga. Dendam sakit hati kami sudah begitu mendalam, kalau bisa kami ingin mendahar dagingnya dan menghirup darahnya."     
'

 

Kembali Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai betul, walaupun Thio Kim-ciok tidak mencelakai jiwa kalian, tetapi telah menghancurkan masa depan kalian. Ai, siksaan hidup semacam ini pada hakikatnya memang lebih berat daripada kematian."

"Tapi apa sebabnya Thio Kim-ciok bersikap begitu kejam dan tidak berperi-kemanusiaan terhadap kalian?"

Tiba-tiba terdengar Kim Toa-hay berseru tertahan, lalu tanyanya dengan cepat, "Anak muda, bagaimana caramu memasuki Bu-lim-bong ini?"

 

Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba saja Bong Thian-gak teringat kembali dengan tugas dan kewajibannya memasuki Bu-lim-bong itu, maka katanya kemudian, "Kim-piauthau, aku hendak memberitahukan satu hal padamu, di Bu-lim-bong ini segera akan dilangsungkan suatu pembantaian secara besar-besaran dan kejam. Saat ini di sini telah hadir seorang yang bernama Hek-mo-ong, manusia itu bermaksud hendak membunuh sejumlah jago lihai, ia telah memancing banyak jago lihai memasuki Bu-lim-bong ini pada setengah jam berselang. Berhubung aku mendapat tahu intrik busuk Hek-mo-ong, maka aku bergerak menyusul kemari dengan tujuan hendak menyelamatkan jiwa pada jago itu."

"Yang menjadi Hek-mo-ong pastilah Thio Kim-ciok, si orang edan itu," teriak Kim Tao-hay.

"Dugaanmu keliru besar," Bong Thian-gak menggeleng. "Yang menjadi Hek-mo-ong bukan Thio Kim-ciok. Sekarang kau tak usah mencampuri urusan itu, aku ingin memohon sesuatu bantuan dari Kim-piauthau. Bila nasibku memang baik, aku yakin tak lama kemudian Kim-piauthau bisa meninggalkan kuburan Bu-lim-bong serta kembali ke alam bebas."

 

Kim Toa-hay termenung sambil berpikir beberapa saat lamanya, lalu bertanya, "Bantuan apakah yang kau harapkan dariku?"

"Sudah dua puluh tahun Kim-piauthau berdiam di dalam Bu-lim-bong ini, aku rasa kau pasti sudah hapal lorong rahasia dalam Bu-lim-bong ini. Karena itu, aku berharap Kim-piauthau suka membawaku berjalan-jalan melalui lorong rahasia yang terdapat di sini."

"Baik, aku menyanggupi permintaanmu itu," jawab Kim Toa-hay dengan cepat.

"Urusan ini tak bisa ditunda lagi, mari kita segera berangkat."

Ketika Kim Toa-hay hendak menggerakkan tubuhnya, tulang pergelangan tangan kanannya segera terasa amat sakit sehingga tanpa terasa dia merintih kesakitan.

Melihat hal ini. Bong Thian-gak merasa sangat menyesal, karena sudah turun tangan kelewat berat sehingga mematahkan tulang pergelangan tangannya.

Setelah menghela napas, katanya, "Kim-piauthau, sekarang akan kutotok dulu jalan darah di atas lengan kananmu sehingga akan mengurangi rasa sakit yang kau derita. Setelah berhasil lolos dari Bu-lim-bong ini, pasti akan kucarikan akal untuk mengobati luka pada pergelangan tanganmu itu."

Seraya berkata dia segera turun tangan secepat kilat menotok semua jalan darah penting di atas lengan kanannya. Dengan begitu lengan itu berubah menjadi lemas, mati rasa dan sama sekali tak berfungsi lagi.

 

Baru sekarang Kim Toa-hay tahu bahwa Bong Thian-gak hanya memiliki sebuah lengan, tanpa terasa dia menghela napas, "Anak muda, rupanya kau pun cacat?"

"Ya, aku adalah seorang cacat, aku bernama Bong Thian-gak," kata pemuda itu sambil tertawa getir.

Baru selesai dia berkata, mendadak dari balik lorong rahasia itu secara lamat-lamat dia mendengar suara jerit kesakitan dan teriakan kalap yang bergema.

Suara itu tidak terlalu keras, namun nadanya amat mengenaskan dan penuh perasaan ngeri, bagaikan jeritan setan di tengah malam buta, membikin bulu kuduk siapa pun berdiri bila mendengarnya.

Dengan terkejut Bong Thian-gak bertanya, "Suara apakah itu?"

Kim Toa-hay memasang telinga pula mendengarkan suara itu dengan seksama, tiba-tiba paras mukanya hebat.

"Ah, ada orang sedang membantai saudara-saudaraku, mari kita segera berangkat!"

Seusai berkata, ia telah membalikkan badan dan beranjak pergi dari sana.

 

Bong Thian-gak segera mengikut di sampingnya, dalam perjalanan ia bertanya, "Saudaramu? Siapakah saudaramu itu?"

"Rekan-rekan yang disekap di tempat ini bersamaku."

Bong Thian-gak terkejut, katanya, "Ya benar, seandainya kawanan jago yang memasuki Bu-lim-bong bertemu dengan rekan-rekanmu itu, sudah pasti akan timbul kesalah pahaman yang berakibat timbulnya pertarungan. Ayo cepat! Kita harus ke sana secepatnya."

Saat itu Kim Toa-hay nampak amat gelisah dan cemas, dia berlari dengan kecepatan tinggi.

Setelah melalui tiga buah tikungan, mendadak di depan sana muncul setitik cahaya lentera, jeritan ngeri dan teriak kesakitan yang bergema tadi ternyata berasal dari situ. Suara jeritan masih terdengar, bahkan jauh lebih jelas, keadaan di situ masih kalut dan seru.

Bong Thian-gak tak dapat menahan diri lagi, mendadak ia menyambar lengan kiri Kim Toa-hay, lalu secepat sambaran kilat berkelebat menuju ke depan.

Setelah keluar dari lorong bawah tanah, tempat itu berupa sebuah ruangan yang luas, saat itu ruangan itu telah berubah menjadi lautan darah, mayat bergelimpangan di atas lantai mendatangkan suatu pemandangan yang sangat mengerikan.

Beberapa buah lentera minyak tertempel di empat penjuru dinding menerangi suasana dalam ruangan itu dengan jelas.

 

Waktu itu dua orang jago lihai berpedang sedang bertarung seru melawan sekelompok orang aneh berambut panjang, berpakaian compang-camping serta berwajah tujuh bagian mirip setan.

Kawanan orang aneh itu menyerang dengan buas, ganas dan menyeramkan. Tapi berhubung ilmu silat yang mereka miliki masih selisih jauh bila dibandingkan dengan kedua orang lawannya, maka setiap kali kedua orang itu mengayun pedangnya, seperti memotong sayur saja, batok kepala segera menggelinding dan jeritan mengerikan mencekam perasaan.

"Tio-pangcu, Liong-tayhiap, hentikan pembantaian itu!"

Waktu itu Bong Thian-gak telah melihat dengan jelas kedua pendekar itu tak lain adalah Tio Tian-seng serta Liong Oh-im. Sambil membentak, ia segera melompat maju ke muka.

Ketika mendengar bentakan itu, Tio Tian-seng dan Liong Oh-im segera menarik kembali pedang masing-masing dan mundur beberapa langkah ke belakang.

 

Akan tetapi puluhan orang aneh berambut panjang yang berada di hadapan mereka kembali berteriak aneh dan sambil mementang cakar mautnya menerjang maju lagi secara kalap.

Terlihat jelas betapa murkanya Liong Oh-im terhadap kawanan orang aneh itu, dia membentak dan pedangnya sekali lagi melancarkan bacokan maut ke depan.

Bong Thian-gak yang melihat hal ini, segera berteriak, "Hentikan pembantaian itu, mereka bukan orang jahat!"

Sambil mengendorkan kempitannya atas Kim Toa-hay, Bong Thian-gak melejit ke udara sambil menyambar ke depan, tapi sayang sudah terlambat.

Serangan Liong Oh-im yang dilancarkan sepenuh tenaga itu benar-benar amat dahsyat, apalagi belasan orang aneh itu sedang menyerbu ke depan secara bersama-sama.

Dimana cahaya pedangnya berkelebat, sebelas orang aneh itu roboh bergelimpangan ke atas tanah, semburan darah segar memancar kemana-mana bagaikan sumber mata air.

 

Merah berapi-api sepasang mata Kim Toa-hay menyaksikan peristiwa itu, dia meraung keras, lalu menubruk ke arah Liong Oh-im dari belakang.

Waktu itu Liong Oh-im sudah setengah kalap, dia segera memutar ujung pedangnya dan menyongsong datangnya terjangan Kim Toa-hay.

Melihat kejadian ini, Bong Thian-gak segera membentak, "Liong-tayhiap, tindakanmu kali ini sungguh kelewat keji dan buas!"

Dari tengah udara Bong Thian-gak mengayun tangan kirinya serta melepaskan sebuah bacokan ke depan.

Angin pukulan yang dahsyat seperti amukan ombak di tengah samudra langsung menyapu ke depan dengan hebatnya.

Terhadang oleh angin pukulan yang begitu kuat, tubuh Liong Oh-im yang sedang menerjang ke muka itu segera terhenti dan sukar untuk maju barang selangkah pun, akan tetapi ia tidak berdiam diri saja, ujung pedangnya segera diputar, lalu menusuk Bong Thian-gak dengan jurus naga sakti mengibas ekor.

 

Bong Thian-gak membentak gusar, tubuhnya segera melayang turun ke atas tanah, kemudian dengan cekatan menggelincir maju ke muka, telapak tangannya menerobos lewat bawah cahaya pedangnya yang berkilauan, lalu secara ganas dan dahsyat menghantam dada Liong Oh-im.

Serangan yang sangat kuat dan dahsyat ini mendesak Liong Oh-im, mau tak mau ia harus menarik pedangnya sambil menyurut mundur, tapi saat itulah Kim Toa-hay telah berhasil menyelinap maju dari belakang dan melepaskan sebuah jotosan yang keras ke punggung lawan.

Tak ampun lagi punggung Liong Oh-im termakan oleh pukulan Kim Toa-hay yang amat keas itu.

 

Untung saja tenaga dalam yang dimiliki Liong Oh-im cukup kuat dan sempurna. Biarpun begitu, jotosan Kim Toa-hay cukup membuatnya semakin kalap.

"Bajingan busuk, kau ingin mampus rupanya!" ia mengumpat dengan penuh gusar.

Kelima jari tangan kirinya dipentang lebar segera menyambar ke belakang dan persis mencengkeram pergelangan tangan kiri Kim Toa-hay.

Dengan gerakan cepat bagaikan kilat, Liong Oh-im segera membalik pedangnya langsung digorokkan ke leher Kim Toa-hay.

 

Walau urat nadi penting pada pergelangan tangan kiri Kim Toa-hay sudah dicekal sehingga seluruh tubuh tidak memiliki kekuatan untuk melawan lagi. Melihat datangnya sambaran pedang yang langsung menggorok ke arah lehernya, dia tidak dapat berbuat banyak kecuali mengejangkan wajah yang penuh penderitaan dengan pancaran amarah yang meluap-luap.

Pada saat yang kritis itulah, terdengar Bong Thian-gak menjerit kaget, "Tahan!"

 

Sambil berseru, ia segera mengeluarkan ilmu Kim-na-jiu-hoat tingkat tinggi, dia pergunakan jepitan kedua jari tangannya untuk menahan tusukan pedang Liong Oh-im.

Tindakan nekat yang dilakukan Bong Thian-gak itu kontan saja membuat kaget Tio Tian-seng serta Liong Oh-im.

Mimpi pun, mereka tidak menyangka Bong Thian-gak berani mengeluarkan tindakan semacam ini secara berani.

Liong Oh-im tertawa dingin, sambil mengerahkan tenaga dalam ke batang pedang, dia memilin pedangnya, lalu digesekkan lebih ke belakang.

 

Dalam keadaan begini, seandainya Bong Thian-gak tidak segera melepas tangan, niscaya pergelangan tangannya akan tersayat putus.

Sebaliknya jika Bong Thian-gak mengendorkan cengkeraman, sudah pasti Kim Toa-hay tak dapat lolos dari bencana itu dan termakan oleh tusukan maut ini.

Dalam keadaan kritis dan sangat berbahaya inilah, tiba-tiba Bong Thian-gak membentak, dia segera mengeluarkan ilmu simpanannya yang paling dahsyat.

Kaki kanannya secepat sambaran kilat tahu-tahu menendang urat nadi penting pada pergelangan tangan kanan Liong Oh-im.

Sekalipun Liong Oh-im termasuk jago lihai dunia persilatan, namun sulit baginya untuk menghindarkan diri dari tendangan kilat yang dilancarkan Bong Thian-gak itu.

 

Seketika pedangnya tertendang hingga mencelat, menancap di atas dinding lorong rahasia itu. Sedemikian kerasnya tenaga serangan itu, terlihat betapa kerasnya getaran pedang itu setelah tertancap pada dinding gua.

Muka Liong Oh-im berubah hijau membesi, secara beruntun dia mundur tiga-empat langkah, lalu bentaknya, "Jian-ciat-suseng, hari ini jika bukan kau yang mati, biarlah aku yang mampus!"

Sembari berseru, dengan kecepatan bagai kilat ia mengeluarkan kipas kumalanya dari saku.

Cepat Bong Thian-gak berseru, "Tunggu dulu Liong-tayhiap, harap kau suka mendengarkan penjelasanku lebih dahulu."

 

Dalam pada itu Tio Tian-seng telah berjalan mendekat dengan pedang terhunus. Dilihat dari sikapnya waktu itu, jelas jago ini berdiri sepihak dengan Liong Oh-im.

Sebaliknya Kim Toa-hay berdiri dengan wajah murung dan penuh rasa dendam, berulang kali dia bermaksud menerjang lagi ke depan.

Untung saja niat itu segera dicegah oleh Bong Thian-gak, serunya sambil menarik tangan, "Kim-piauthau, kau bukan tandingannya."

Dengan menahan tangis Kim Toa-hay berteriak, "Kalian telah membunuh saudara-saudaraku senasib sependeritaan yang telah hidup selama dua puluh tahun di tempat ini. Aku ... aku akan membalas dendam."

Memandang mayat yang bergelimpangan di atas tanah, tanpa terasa hati Bong Thian-gak terasa kecut dan turut melelehkan air mata.

Setelah menghela napas sedih, katanya kemudian, "Liong-tayhiap, terlalu kejam kalian, mengapa kau bantai orang-orang yang tak berdosa itu? Ai...."

"Orang-orang ini sama sekali tak berdosa, justru hidup mereka sangat menderita karena sejak dua puluhan tahun berselang mereka telah disekap oleh Thio Kim-ciok dalam Bu-lim-bong ini. Kehidupan mereka sudah lama putus dengan alam kehidupan bebas, sungguh.tak disangka akhirnya mereka harus mati secara mengenaskan karena dibantai oleh kalian secara keji."

 

"Bong-laute, aku tidak mengerti dengan perkataanmu itu," kata Tio Tian-seng dengan wajah serius. "Ketika orang-orang itu bertemu kami, bagaikan siluman sesat dan setan iblis, mereka menyerang kami secara ganas dan kalap. Apakah kami berdua tidak boleh melakukan perlawanan melindungi keselamatan jiwa sendiri?"

Kembali Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, mereka mati secara mengenaskan, nasib mereka betul-betul mengibakan hati!"

Mendadak Liong Oh-im tertawa ringan, jengeknya, "Jian-ciat-suseng, kau tak usah berlagak iba hati macam kucing menangisi tikus, sudah lama aku mencarimu untuk berduel!"

 

Bong Thian-gak segera menarik wajah secara tiba-tiba, lalu berkata, "Liong Oh-im, tanpa mempedulikan keselamatanku sendiri, aku telah masuk ke dalam Bu-lim-bong. Tujuanku tak lain adalah ingin mencegah Hek-mo-ong yakni Liu Khi turun tangan secara keji untuk membantai kalian."

Perkataan Bong Thian-gak itu diucapkan dengan nada berat dan tegas, setiap kata disertai kesungguhan wajah.

Mendadak Liong Oh-im terbahak-bahak, "Jian-ciat-suseng, kau tak usah berlagak mulia dan baik hati, Thio Kim-ciok tak lain adalah Hek-mo-ong. Barusan kami telah mencoba kelihaian ilmu silatnya dalam lorong rahasia itu."

"Bong-laute," dengan wajah serius Tio Tian-seng berkata, "bila aku mendengar perkataanmu itu semasa masih ada di luar Bu-lim-bong, mungkin hatiku akan ragu dan curiga. Tapi sekarang kami telah yakin, sesungguhnya Hek-mo-ong bukan lain adalah Thio Kim-ciok."

"Tio-pangcu, apa yang telah kalian alami sewaktu berada di Bu-lim-bong ini?" tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut kencang.

"Kami telah merasakan kehebatan serangan maut Hek-mo-ong."

"Ada yang terluka?" tanya Bong Thian-gak dengan terperanjat.

 

Kembali Liong Oh-im tertawa dingin, "Ilmu silat yang dimiliki sepuluh tokoh persilatan adalah nomor wahid di kolong langit, sekalipun Hek-mo-ong mempunyai tiga kepala enam lengan tak nanti bisa melukai kami."

Dengan suara dalam Bong Thian-gak bertanya lagi, "Di saat kalian mendapat serangan brutal dari Hek-mo-ong, apakah Liu Khi hadir pula di tempat kejadian?"

"Tentu saja, Liu Khi pun hadir di arena," sahut Tio Tian-seng sambil mengangguk.

Bong Thian-gak termenung beberapa saat, lalu menjawab dengan lantang, "Orang yang melancarkan serangan kepada kalian waktu itu sudah pasti bukan Hek-mo-ong sesungguhnya."

"Kalau bukan, lalu siapa yang menjadi Hek-mo-ong sesungguhnya menurut pendapatmu?" jengek Liong Oh-im dengan suara dingin dan ketus.

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, Hek-mo-ong yang sesungguhnya tak lain adalah Liu Khi."

 

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh, "Kini Liu Khi telah memancing kalian memasuki Bu-lim-bong. Hal ini tak lain karena Liu Khi dan Thio Kim-ciok telah melakukan persekongkolan secara diam-diam dengan tujuan membasmi kalian sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang dari muka bumi."

"Hm, pada hakikatnya perkataanmu itu hanya ngaco-belo tak keruan," jengek Liong Oh-im sambil tertawa dingin. "Andaikata Liu Khi adalah Hek-mo-ong, maka dia pasti bersumpah tidak akan hidup berdampingan secara damai dengan Thio Kim-ciok. Bagaimana mungkin mereka malah bersekongkol dengan suatu kerja sama yang begitu rapi?"

"Jian-ciat-suseng, kau jangan berbohong. Nah, katakan segera kepada kami, sebetulnya hari ini kau ingin bekerja sama dengan kami untuk membekuk Thio Kim-ciok atau tidak?'

 

Bong Thian-gak tidak langsung menjawab pertanyaan itu, hanya katanya setelah menghela napas panjang, "Kalian enggan menuruti perkataanku, akhirnya kau akan menyesal."

Pada saat itulah mendadak terdengar Kim Toa-hay membentak, "Setelah membunuh tujuh puluh satu lembar nyawa manusia, apakah kalian akan menyudahi persoalan ini di sini saja?"

Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Kim Toa-hay, lalu katanya sambil menggeleng kepala dan menghela napas panjang, "Kim-piauthau, kau tak perlu membalas dendam bagi kematian rekan-rekan senasib sependeritaanmu lagi."

"Mengapa aku tidak boleh membalas dendam bagi kematian mereka?" teriak Kim Toa-hay sambil melotot, matanya merah membara karena kobaran api dendam dan amarah.

"Kedua orang yang kau hadapi sekarang, satu adalah Tio Tian-seng, yang lain adalah Liong Oh-im. Aku rasa kau pasti sudah pernah mendengar nama besar mereka sebelum memasuki Bu-lim-bong ini? Selama puluhan tahun terakhir ini, entah sudah berapa banyak jago persilatan yang tewas di ujung pedangnya. Coba bayangkan berapa orangkah di antara mereka yang berhasil membalas dendam?"

 

Ucapan itu diutarakan dengan wajar dan merupakan kenyataan, yang lemah memang sulit menghadapi yang kuat, sebab barang siapa nekat melakukannya juga, maka keadaan mereka ibarat telur yang diadu dengan baru cadas.

Tiba-tiba Kim Toa-hay memeluk kepala sendiri sambil menangis tersedu-sedu.

"Betul, aku memang tak berkemampuan untuk membalas dendam bagi kematian saudara-saudaraku itu karena ilmu silat yang kumiliki memang bukan tandingan orang. Sekalipun nekat membalas dendam, paling aku akan mengorbankan jiwaku dengan percuma. Oh, Thian, mengapa kau begini tak adil."

Sambil menangis tersedu-sedu, Kim Toa-hay membalikkan badan berlalu dari situ dengan langkah cepat.

Keadaannya saat ini tak ubahnya seperti orang gila, sambil menjerit dan menangis, dia berlari meninggalkan tempat itu.

Melihat hal ini Bong Thian-gak segera berteriak, "Kim-piauthau ... Kim-piauthau, kemana kau hendak pergi?"

 

Tapi dalam waktu singkat bayangan tubuh Kim Toa-hay sudah lenyap dari pandangan mata.

Sejak disekap dalam Bu-lim-bong selama dua puluh tahun, keadaan Kim Toa-hay sudah berubah menjadi setengah sinting. Apalagi saat ini mesti menerima pukulan batin yang begitu besar, tak heran ia menjadi gila sungguhan.

Tiba-tiba Tio Tian-seng berkata sambil menghela napas panjang, "Setiap korban yang tewas dalam ruangan ini, tak ubahnya seperti orang gila. Mereka menerkam dan berusaha membunuh lawan begitu bertemu orang asing, sikap dan tindakan mereka sangat mengerikan. Andaikata Bong-laute yang menjumpai keadaan semacam itu, aku yakin kau pun pasti akan terlibat dalam pembantaian secara besar-besaran terhadap mereka. Ai! Aku tidak mengerti, apa sebabnya dalam Bu-lim-bong ini bisa terdapat orang-orang macam itu?"

 

Bong Thian-gak menggeleng kepala seraya menghela napas panjang, "Walaupun tindakan yang dilakukan Tio-pangcu serta Liong-tayhiap terlalu kejam dan tak berperasaan, namun orang-orang itu pun patut dikasihani, siksaan batin yang dialami selama dua puluh tahun membuat orang-orang itu jadi gila dan kalap. Mereka memang lebih bahagia mengalami kematian daripada harus hidup tersiksa, tapi di antara kita yang memasuki Bu-lim-bong hari ini, mungkin akan mengalami nasib yang sama dengan mereka. Mati kelaparan dalam Bu-lim-bong atau terluka sepanjang hidup di sini hingga tiada kesempatan lagi untuk melihat terangnya matahari."

 

Berubah hebat paras muka Tio Tian-seng dan Long Oh-im setelah mendengar perkataan itu.

Liong Oh-im tertawa dingin, "Liu Khi telah membawa serta Tang-hay-tocu Long Jit-seng dalam perjalanan kali ini. Betapa pun hebatnya perubahan alat rahasia dalam Bu-lim-bong ini, aku yakin Long Jit-seng pasti dapat memecahkannya serta membawa kami keluar dari Bu-lim-bong dengan selamat."

"Betul, Long Jit-seng memang mempunyai kepandaian ilmu Pat-kwa, ilmu perbintangan, ilmu bangunan serta ilmu perangkap lainnya," kata Bong Thian-gak dingin. "Dan aku pun tahu bahwa Bu-lim-bong tak nanti bisa menyekapnya di sini, tapi sayang sekali Long Jit-seng adalah pembantu utama Hek-mo-ong Liu Khi. Bila kau tak percaya, tunggu saja sampai waktunya nanti!"

 

Baru selesai ia bicara, mendadak terdengar seseorang berkata pula dengan suaranya yang merdu, "Apa yang diucapkan Jian-ciat-suseng memang benar. Liu Khi telah mengkhianati kita semua."

Mendengar ucapan itu, serentak semua orang berpaling.

Dari sudut ruangan bawah tanah itu muncul tiga orang. Mereka adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, perempuan tercantik dari wilayah Kanglam Ho Lan-hiang beserta kedua orang pembantu utamanya, Ji-kaucu serta Sim Tiong-kiu.

 

Melihat kemunculan Ho Lan-hiang, Tio Tian-seng dan Liong Oh-im segera maju ke muka dengan langkah cepat, tanyanya, "Liu Khi telah berkhianat? Apa yang dia lakukan?"

"Liu Khi memancing aku memasuki sebuah pintu mati yang dikenal sebagai telaga selaksa racun penghancur tulang, akhirnya Liu Khi bersama tabib sakti Gi Jian-cau dan Long Jit-seng lenyap secara tiba-tiba."

"Apakah perbuatan mereka bisa dianggap sebagai pengkhianatan terhadap kita?" tanya Liong Oh-im hambar.

"Sewaktu berada di telaga selaksa racun penghancur tulang, kami telah bertemu Hek-mo-ong. Dia tidak menyerang kami, melainkan mengambil sikap menawarkan suatu perundingan secara damai."

Sampai di situ, tiba-tiba dia membungkuk dan tidak melanjutkan lagi perkataannya.

"Perundingan secara damai macam apakah yang ia tawarkan kepada kalian?" kembali Liong Oh-im bertanya.

"Ia minta kepadaku untuk menyerahkan bagian peta rahasia harta karun yang menjadi milikku," sahut Ho Lan-hiang sambil tertawa dingin.

 

Seketika itu juga hati semua orang bergetar keras.

"Apakah kau telah menerima tawaran itu?" tanya Liong Oh-im lagi.

"Masih di dalam pertimbanganku."

Tio Tian-seng menghela napas sedih, katanya kemudian, "Hek­mo-ong telah menawarkan pula hal yang sama kepada kami."

"Sejak memasuki Bu-lim-bong ini, teka-teki sekitar identitas Hek-mo-ong yang sesungguhnya makin lama makin kentara. Thio Kim-ciok bukan Hek-mo-ong dan aku rasa setiap orang telah mengetahui hal ini secara jelas."

"Jadi maksudmu Hek-mo-ong adalah satu di antara lima jago tersisa dari sepuluh tokoh persilatan yang masih hidup saat ini?" ujar Liong Oh-im sambil tertawa dingin.

"Benar, satu di antara kelima orang yang masih hidup, malaikat sakti pedang iblis, delapan pedang salju beterbangan, tabib sakti, sastrawan berwajah tampan dan golok sakti berlengan tunggal pastilah Hek-mo-ong yang sedang kita cari."

"Jika ada orang menaruh curiga kepadamu bahwa kau adalah Hek-mo-ong. Bagaimana penjelasanmu tentang tuduhan itu?" jengek Liong Oh-im sambil tertawa dingin.

"Aku tidak menyalahkan, jika kalian berpendapat demikian. Kalian memang wajar mempunyai kecurigaan semacam itu."

"Padahal masalah siapakah Hek-mo-ong sesungguhnya sudah menjadi masalah basi dan tak ada artinya lagi. Sejak kita memasuki Bu-lim-bong, tujuan kita semua hanya satu, yakni melenyapkan Thio Kim-ciok dari muka bumi!"

"Tapi aku kuatir jusru Thio Kim-ciok yang akan melenyapkan kita dari muka bumi."

"Bagus, bagus sekali," kata Liong Oh-im tertawa. "Di saat Thio Kim-ciok sudah mampus nanti, di antara kita pun harus dicarikan suatu penyelesaian secara adil dan cepat, paling tidak harus ditentukan siapa yang lebih unggul di antara kita semua."

"Sekarang kalian masih bisa berkata akan membunuh Thio Kim-ciok. Padahal tahukah kalian, bahwa kita justru sudah terperangkap oleh tipu muslihat Thio Kim-ciok sehingga keselamatan jiwa kalian terancam bahaya maut," kata Bong Thian-gak dingin.

 

Ho Lan-hiang berpaling dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya pula sambil tertawa ringan, "Apa yang diucapkan Jian-ciat-suseng memang benar, kita sudah terperangkap dalam Bu-lim-bong sehingga setiap salah langkah bisa mengakibatkan jiwa kita terancam bahaya maut."

"Ho Lan-hiang, apa rencanamu sekarang? Tak ada salahnya diutarakan secara blak-blakan," seru Tio Tian-seng tiba-tiba.

Perempuan paling cantik dari wilayah Kanglam ini segera tertawa cekikikan, "Saat ini aku tak lain hanya ingin memberitahukan kepada kalian bahwa Liu Khi telah berhasil menarik Tan Sam-cing serta Gi Jian-cau berpihak kepadanya. Mereka berniat hendak melenyapkan kita dari muka bumi."

"Jadi kau pun berniat mengajak Lohu dan Liong Oh-im untuk bekerja sama menghadapi mereka?" kata Tio Tian-seng hambar.

"Aku rasa hanya dengan berbuat demikianlah kekuatan kita baru akan berimbang."

 

Tio Tian-seng mendengus dingin, "Ketika kita belum masuk ke dalam Bu-lim-bong, sudah kuduga kalau kau, Ho Lan-hiang akan melakukan pengacauan dari tengah. Ai, bila kita sampai berbuat begini, maka keselamatan jiwa kita semua yang berada dalam Bu-lim-bong ini benar-benar berbahaya sekali!"

Ho Lan-hiang menarik muka secara tiba-tiba seraya berseru, "Apa yang ingin kuutarakan telah kusampaikan, apa yang menjadi keputusan terserah pada pilihan kalian sendiri."

"Hm, dalam peristiwa pembunuhan yang dilakukan sepuluh tokoh persilatan terhadap Thio Kim-ciok pada tiga puluh tahun berselang, tak lain karena gara-gara dirimu."

 

Berubah hebat paras muka Ho Lan-hiang setelah mendengar perkataan itu, segera bentaknya, "Tio Tian-seng, kau hendak mencari kesulitan bagi dirimu sendiri?"

Dengan wajah serius Tio Tian-seng berkata lebih jauh, "Peristiwa itu telah berkembang menjadi begini sekarang, aku pun tak ingin melindungi lagi nama baik sepuluh tokoh persilatan. Ai, dulu sepuluh tokoh persilatan bukan cuma memperkosa istri orang lain, merampok harta kekayaan orang, bahkan membunuh pula korbannya. Perbuatan semena-mena ini boleh dibilang merupakan dosa besar yang tak akan dapat ditebus dengan kematian saja."

"Tio Tian-seng," tiba-tiba Liong Oh-im membentak, "perbuatanmu ini benar-benar sudah keterlaluan."

 

Di Tengah bentakan itu, tiba-tiba saja Liong Oh-im menggerakkan pedangnya melancarkan sebuah tusukan kilat ke depan.

Bong Thian-gak segera membentak, sebuah bacokan dilepaskan pula ke muka, angin pukulan yang kuat dan dahsyat itu seketika menggetarkan tubuh Liong Oh-im hingga mundur sejauh tiga langkah.

Sementara itu Tio Tian-seng telah berkata dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh, "Liong-heng, kuanjurkan kepadamu janganlah mengulang lagi perbuatan salah yang pernah kita lakukan bersama pada tiga puluh tahun berselang."

Sastrawan berwajah tampan Liong Oh-im tertawa dingin, "Tio Tian-seng, aku mau bertanya kepadamu, apa yang menjadi tujuan kedatanganmu ke Bu-lim-bong hari ini?"

Tio Tian-seng tidak langsung menjawab, melainkan tertawa seram, "Yang menjadi tujuan utama kedatanganku ke Bu-lim-bong hari ini tak lain adalah untuk mengetahui apakah Thio Kim-ciok benar-benar masih hidup di dunia ini."

 

Mendengar ucapan itu. Bong Thian-gak segera menyela dengan lantang, "Tio-locianpwe, Boanpwe dapat memberitahukan kepadamu, Thio Kim-ciok masih hidup segar bugar di dunia ini."

"Bagus, bagus sekali," Tio Tian-seng tertawa tergelak. "Kalau memang Thio Kim-ciok masih hidup segar bugar, maka kedatanganku ke Bu-lim-bong ini tanpa suatu maksud dan tujuan lagi. Andaikata dibilang ada maksud, maka maksudku tak lain adalah minta maaf kepada seseorang serta menyesali semua perbuatan yang pernah kulakukan dulu."

"Apakah orang yang dimaksudkan Tio-pangcu adalah Thio Kim-ciok?" tanya Bong Thian-gak lebih lanjut dengan suara dalam.

"Benar, aku telah melakukan suatu perbuatan yang sangat memalukan dan amat salah terhadap Thio Kim-ciok."

 

Dengan wajah berat dan serius Bong Thian-gak mendesak lebih lanjut, "Tadi Tio-pangcu mengatakan sepuluh tokoh persilatan telah memperkosa istri orang dan merampok harta kekayaannya. Apakah hai' ini benar-benar pernah terjadi?"

Tio Tian-seng menghela napas sedih.

"Dari kesepuluh tokoh orang persilatan yang ada, kecuali seorang di antaranya yang merupakan wanita, hampir semuanya sudah pernah melakukan hubungan senggama dengan Ho Lan-hiang."

Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak setelah mendengar ucapan yang terakhir ini, segera serunya, "Apakah Ku-lo Hwesio, si pendeta agung dari Siau-lim-pay pun tak lolos dari perbuatan ini?"

"Bila aku berbicara bohong barang sepatah kata saja, biar Thian menumpas diriku."

 

Bong Thian-gak benar-benar amat terkejut. Walaupun hingga detik ini dia masih belum mau mempercayainya seratus persen, tetapi bila teringat akan kejalangan serta daya pikat yang dimiliki Ho Lan-hiang, mau tak mau dia harus percaya juga akan hal itu.

Dengan wajah hijau membesi, Liong Oh-im tertawa seram, lalu serunya, "Tio Tian-seng, kau anggap setelah pengakuan dosamu itu lantas Thio Kim-ciok bakal mengampuni dosa-dosamu? Seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab dan selamanya tak kenal kata menyesal. Tak nyana kau adalah manusia pengecut semacam ini. Hm! Akulah orang pertama yang akan melenyapkan kau dari muka bumi."

Liong Oh-im segera menggerakkan pedangnya sambil bersiap-siap melancarkan serangan.

Mendadak pada saat itu di tengah ruangan terjadi getaran gempa bumi yang amat keras, sedemikian kerasnya hingga menggoyang semua dinding ruangan.

Semua jago tak mampu berdiri tegak lagi oleh getaran itu, masing-masing segera jatuh terjungkal ke atas tanah.

Bong Thian-gak sendiri merasa amat terperanjat atas terjadinya getaran keras yang muncul secara tiba-tiba itu, namun sepasang matanya yang tajam tetap mengawasi empat penjuru dengan seksama.

Begitu memandang, Bong Thian-gak segera menyaksikan suatu perubahan alat rahasia yang amat luar biasa.

 

Ternyata di tengah gempa bumi keras yang menggetar ruangan itu, keempat dinding ruangan besar dan semua pintu turut bergeser, bahkan permukaan ruangan pun pelan-pelan ikut bergerak naik ke atas.

Gempa bumi yang sangat kuat itu berlangsung kurang lebih seperempat jam lamanya sebelum akhirnya berhenti.

Namun pemandangan di sekeliling ruangan telah berubah sama sekali, kini dari sekeliling dinding ruangan telah muncul delapan buah lorong besar yang membentang jauh ke penit bumi sana. Tapi berhubung suasana di situ amat gelap, maka tiada seorang pun yang tahu betapa dalam setiap lorong yang ada di sana.

Sementara semua orang masih bimbang dan kaget oleh perubahan yang terjadi secara amat mendadak itu, tiba-tiba dari tengah ruangan berkumandang suara seseorang yang berkata dengan aneh, "Para jago dengarkan baik-baik, sekarang pintu Pat-kwa-bun dari Bu-lim-bong telah tertutup semua. Dalam keadaan begini, sekalipun kalian mempunyai sayap jangan harap bisa meninggalkan Bu-lim-bong ini barang selangkah pun."

Begitu mendengar suara ini, Bong Thian-gak segera melompat bangun dan membentak dengan suara keras, "Apakah kau adalah Hek-mo-ong?"

 

Gelak tawa itu terhenti sejenak, kemudian baru terdengar ia menjawab, "Benar, aku adalah Hek-mo-ong. Sebenarnya orang yang hendak dibunuh Thio Kim-ciok hanya sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang, tapi kalian orang-orang yang berada di luar garis ternyata ikut mencari kematian bagi diri sendiri dengan ikut masuk ke dalam Bu-lim-bong. Hal ini tidak dapat menyalahkan aku kelewat kejam, salah sendiri kalian tak mau menuruti perkataanku?"

Di tengah pembicaraan itu, dari balik delapan lorong yang tersebar di delapan penjuru itu bermunculan pula delapan orang.

Kedelapan orang itu tak lain adalah Biau-kosiu, nenek berambut putih serta Biau-han-thian suami-istri yang berada dalam satu kelompok, lalu Gi Jian-cau, Tan Sam-cing serta Long Jit-seng, pada rombongan ketiga adalah Kim Toa-hay yang sudah sinting itu.

Dari sekian jago yang memasuki Bu-lim-bong, hanya Liu Khi seorang yang tidak nampak hadir di situ sekarang.

 

Ho Lan-hiang memandang sekejap ke arah semua jago yang hadir, lalu tertawa cekikikan, gumamnya, "Hanya Liu Khi seorang yang tidak muncul di sini. Kalau begitu, dia adalah Hek-mo-ong sesungguhnya."

Sementara itu Gi Jian-cau sekalian berdelapan yang baru muncul dari balik lorong hampir semuanya dalam keadaan sangat mengenaskan dan ada yang terluka, di antaranya Long Jit-seng yang tampaknya menderita luka paling parah, tubuhnya harus dibimbing oleh Tan Sam-cing agar tidak roboh.

Dengan suara keras Bong Thian-gak segera membentak, "Hek-mo-ong, aku rasa setiap orang sudah mengetahui siapakah dirimu sekarang. Bukankah kau adalah Liu Khi?"

 

Dari balik ruangan bergema suara gelak tawa penuh kebanggaan, terdengar dia menyahut, "Dalam keadaan seperti ini, tentu saja kalian sudah tahu siapakah aku. Benar, Hek-mo-ong adalah Liu Khi. Tapi sayang, kalian terlalu lambat mengetahui akan hal ini."

Dengan suara dalam tabib sakti Gi Jian-cau berseru, "Betul, Liu Khi adalah Hek-mo-ong dan Hek-mo-ong adalah komplotan Thio Kim-ciok, sudah sejak dahulu Hek-mo-ong menerima permintaan Thio Kim-ciok untuk membunuh habis sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang. Hari ini kita sudah terjebak oleh perangkapnya."

"Hehehe," kembali terdengar suara tertawa licik Hek-mo-ong dari balik ruangan, "Gi Jian-cau, apa yang kau ucapkan memang benar. Sejak tiga puluh tahun berselang, Liu Khi sudah menerima permintaan Thio Kim-ciok untuk membinasakan kalian."

 

Kemudian Ho Lian-hiang berseru pula sambil tertawa cekikikan, "Liu Khi, apa balas jasa yang dijanjikan Thio Kim-ciok kepadamu sebagai imbalan dalam pembunuhan ini?"

"Peta rahasia dari bukit tambang emas."

"Akhirnya bukankah kau sendiri pun dikhianati oleh Thio Kim-ciok?" jengek Ho Lan-hiang lagi sambil tertawa.

"Tidak, aku sama sekali tidak dikhianati oleh Thio Kim-ciok."

"Bila kau tidak dikhianati oleh Thio Kim-ciok, mengapa Thio Kim-ciok merobek peta rahasia tambang emasnya menjadi sebelas bagian dan dibagikan kepada sepuluh tokoh persilatan serta aku?"

 

Hek-mo-ong tertawa seram,

"Tujuan Thio Kim-ciok berbuat demikian tak lain adalah untuk mengadu domba kalian, agar kalian saling gontok dan bunuh demi memperebutkan peta rahasia itu. Dengan cara begitu pula aku baru dapat membunuh kalian dengan mudah. Itulah sebabnya pembagian peta rahasia itu menjadi sebelas bagian sebetulnya merupakan salah satu rencanaku, hanya saja Thio Kim-ciok tak pernah menyangka kalau sepuluh tokoh persilatan bakal bekerja sama dengan Ho Lan-hiang untuk membinasakan dirinya."

"Kau benar-benar adalah Liu Khi?" tiba-tiba Tio Tian-seng membentak.

 

Hek-mo-ong tertawa tergelak.

"Tio-pangcu, apakah kau menemui kesulitan? Silakan sampaikan, aku pasti akan membantu memecahkan kesulitanmu itu."

"Benar, aku memang mempunyai banyak persoalan yang tidak kupahami. Pertama, kami ingin membuktikan lebih dahulu benarkah kau adalah Liu Khi yang asli? Untuk itu harap kau tampil lebih dahulu."

Hek-mo-ong tertawa licik, "Tio-pangcu, aku tidak akan tampil seperti apa yang kau inginkan, tetapi aku dapat memberitahukan kepadamu bahwa aku memang golok sakti berlengan tunggal yang asli. Bila kurang percaya, tanyakan saja kepada Gi Jian-cau."

"Benar, dia adalah Liu Khi. Tapi ada satu hal yang sulit dipercaya, yakni Thio Kim-ciok ternyata berada sekomplotan dengannya."

"Hm, mengapa aku tidak bisa berkomplotan dengan Thio Kim-ciok?" seru Hek-mo-ong lagi dengan tertawa dingin. "Pertama, aku Liu Khi tidak pernah berzinah dengan istrinya. Kedua, di saat sepuluh tokoh persilatan bekerja sama membunuh Thio Kim-ciok pada tiga puluh tahun berselang, aku pun tidak turut ambil bagian."

"Dalam peristiwa pengeroyokkan yang terjadi atas Thio Kim-ciok tempo hari, Tan Sam-cing tak turut ambil bagian," kata Tio Tian-seng.

"Sekalipun Tan Sam-cing tidak turut ambil bagian dalam peristiwa pengeroyokan dan pembunuhan atas Thio Kim-ciok dulu, namun secara diam-diam ia mencintai Ho Lan-hiang. Jadi soal perempuan, ia tetap terlibat secara langsung."

 

Mendadak Bong Thian-gak membentak, "Liu Khi, walaupun kau tidak turut serta dalam peristiwa pengeroyokan dan pembunuhan atas Thio Kim-ciok, tapi sesungguhnya kaulah dalang yang mengatur peristiwa itu, kaulah otak dari peristiwa berdarah ini."

Hek-Mo-ong tertawa terbahak-bahak, "Justru aku adalah Hek-mo-ong, maka aku pula yang menjadi otak semua peristiwa ini. Biarpun begitu, nyatanya Thio Kim-ciok bersedia bekerja sama denganku."

Tiba-tiba Biau-kosiu membentak pula, "Hek-mo-ong, apakah ayahku Kui-kok Sianseng mati di tanganmu?"

 

Hek-mo-ong tidak menjawab, kemudian baru berkata, "Tidak, bukan aku yang membunuh."

"Lantas siapakah pembunuhnya?" bentak Biau-kosiu lebih jauh.

"Tio Tian-seng yang melakukan, tapi boleh dibilang juga Ho Lan-hiang yang telah membunuh ayahmu itu."

Paras muka Biau-kosiu kontan berubah hebat, keningnya berkerut dan hardiknya kepada Tio Tian-seng, "Tio-pangcu, benarkah apa yang dikatakan Hek-mo-ong?"

Bong Thian-gak amat terperanjat, ditatapnya Thio Tian-seng tanpa berkedip. Dalam hati dia sangat berharap jago tua itu menyangkal tuduhan itu.

 

Akan tetapi Tio Tian-seng segera menghela napas panjang, "Ya benar, Kui-kok Sianseng memang tewas di ujung pedangku, tetapi pertarungan itu berlangsung secara jantan dan terbuka. Aku sama sekali tak menggunakan tipu-muslihat."

"Mengapa kau membunuh ayahku? Ayo cepat katakan!" bentak Biau-kosiu dengan marah.

Suara tertawa licik Hek-mo-ong sekali lagi bergema, terdengar ia berkata, "Tio Tian-seng membunuh Kui-kok Sianseng demi perempuan paling cantik di wilayah Kanglam Ho Lan-hiang, sebab waktu itu Kui-kok Sianseng sedang gila-gilanya mencintai Ho Lan-hiang, sedangkan Tio Tian-seng adalah seorang pelindung Ho Lan-hiang. Dalam situasi sama-sama cemburu dan ingin merebut hati sang pujaan hati, tidak heran mereka bertarung mati-matian."

"Hek-mo-ong," bentak Biau-kosiu dengan marah, "kau jangan ngaco-belo bicara sembarangan. Aku tidak percaya ayahku berbuat demikian."

 

Gelak tawa Hek-mo-ong kembali berkumandang, selanya tiba-tiba, "Bukan cuma Kui-kok Sianseng yang mampus gara-gara cemburunya terhadap perempuan ini, bahkan Oh Ciong-hu pun tewas di ujung pedang Tio Tian-seng karena alasan yang sama."

Paras muka Bong Thian-gak berubah hebat, dengan suara dalam ia segera bertanya kepada Tio Tian-seng, "Benarkah apa yang dikatakan Liu Khi barusan?"

"Ya, semua yang dikatakannya memang benar," Tio Tian-seng menghela napas panjang.

Biau-kosiu tak mampu menahan gejolak emosinya lagi, dia segera membentak, 'Tio Tian-seng, bersiap-siaplah kau menerima kematianmu!"

Sembari berkata gadis itu maju tiga langkah dan sepasang tangannya dengan cepat melolos dua bilah pisau belati yang bersinar tajam.

"Nona Biau," Tio Tian-seng segera berkata dengan suara dalam, "aku tak ingin membunuh orang lagi, harap kau jangan bergerak sembarangan."

"Siapa membunuh orang, dia harus membayar dengan nyawanya sendiri. Bagaimana pun juga aku tetap akan membalas dendam bagi kematian ayahku," bentak Biau-kosiu sambil melotot.

 

Di tengah pembicaraan, tubuhnya bergerak maju ke depan, seperti sebuah gasing yang sedang berputar dia mendesak maju, sementara sepasang pisau belatinya bagaikan dua titik cahaya bintang menusuk ke bagian mematikan di tubuh Tio Tiang-seng.

Segera Tio Tian-seng melompat ke belakang, kemudian bentaknya, "Nona Biau, dengarkan dulu perkataanku! Aku membunuh ayahmu serta Oh Ciong-hu tak lain karena tindakan melindungi diri sendiri, dalam suatu pertarungan yang tak bisa dihindarkan bisa jatuh korban di salah satu pihak."

"Kau tak usah banyak bicara," tukas Biau-kosiu sambil menahan geramnya. "Jika punya kepandaian, bunuhlah aku!"

Di tengah bentakannya, pisau belatinya kembali menyergap jalan darah mematikan di tubuh Tio Tian-seng dengan kecepatan bagaikan sambaran petir. Setiap jurus serangan dilakukan secara cepat dan merupakan ancaman serius.

 

Di bawah sergapan pisau belatinya yang bertubi-tubi, selangkah demi selangkah Tio Tian-seng mundur terus, namun ia sempat berbicara lagi, "Nona Biau, aku sudah merasa menyesal karena pernah diperalat oleh Ho Lan-hiang sehingga membunuh orang. Hari ini aku tak berkeinginan melukaimu."

"Tapi aku pun berharap kau jangan mendesak dan memojokkan aku. Jika kau ingin membalas dendam, tunggulah setelah kita keluar dari Bu-lim-bong ini dengan selamat, waktu itu aku pasti akan memberi keadilan kepadamu," imbuh Tio Tan-seng.

Mendadak terdengar Bong Thian-gak membentak pula, "Nona Biau, harap kau hentikan dulu seranganmu itu."

Sambil berseru pemuda itu menerjang masuk ke dalam arena. Telapak tangan kanannya segera diayunkan ke muka melepaskan sebuah pukulan, angin serangan yang tajam segera membendung datangnya ancaman Biau-kosiu.

"Kau berniat membantunya?" bentak Biau-kosiu dengan marah, keningnya berkerut kencang.

 

Dengan wajah serius dan nada bersungguh-sungguh Bong Thian-gak berkata, "Nona Biau, dengarkan nasehatku, untuk sementara waktu janganlah kau menyerang secara sembarangan."

"Dendam kesumat terbunuhnya ayahku lebih dalam daripada samudra, aku tak bisa melepaskannya begitu saja."

"Biarpun Tio Tian-seng adalah musuh besar pembunuh ayahmu, tapi Ho Lan-hiang adalah otak di belakang layar yang memberi perintah kepadanya. Apakah perempuan ini tak pantas dibunuh?"

Biau-kosiu tertawa dingin, "Hm, setelah membunuh Tio Tian-seng nanti, Ho Lan-hiang pun tak bakal lolos dari kematian."

Ho Lan-hiang yang selama ini hanya menonton dari samping segera tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya, "Nona Biau, aku berani bertaruh kepadamu, orang-orangmu tak bakal mampu menandingi kehebatan Tio Tian-seng. Percaya tidak?"

"Hm, sekalipun bukan tandingannya, aku tetap akan mengadu kepandaian dengannya," jawab gadis itu.

 

Bong Thian-gak segera berkata dengan suara dalam, "Nona Biau, harap kau suka mendengarkan perkataanku baik-baik, semua jago persilatan yang hadir dalam Bu-lim-bong saat ini hampir semuanya mempunyai niat busuk, mereka berharap ada satu pihak yang bertarung lebih dulu, sementara mereka akan menjadi nelayan beruntung yang tinggal memungut hasilnya. Apakah kau tak dapat merasakan gejala itu?"

Biau-kosiu mendengus dingin, "Asal aku berhasil mengalahkan Tio Tian-seng, dengan sendirinya para jago lain pun dapat kutaklukkan. Nah, Jian-ciat-suseng, harap kau mundur dari situ."

 

Tio Tian-seng kembali menghela napas panjang, "Ai, sebenarnya aku ingin menyimpan sedikit tenaga untuk menghadapi Ho Lan-hiang lebih dulu, sungguh tak disangka nona Biau justru mendesakku terus-menerus. Kalau kau ingin cepat membalas dendam bagi kematian ayahmu, silakan segera turun tangan!"

Tio Tian-seng segera melintangkan pedangnya di depan dada dan berdiri dengan serius, sementara dari balik matanya memancar sinar tajam yang menggidikkan.

"Tunggu sebentar," tiba-tiba Bong Thian-gak membentak. "Aku ingin bertanya dulu kepada Tio-pangcu, apa sebabnya kau membunuh Oh Ciong-hu?"

 

Tio Tian-seng memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu menghela napas, "Tentang segala budi dendam yang menyangkut sepuluh tokoh persilatan, tentunya Bong-laute sudah mengetahui sedikit banyak, bukan? Kalau ditanya apa alasanku membunuh Oh Ciong-hu, maka hal ini tak lain disebabkan karena perempuan jalang itu."

"Apakah Oh Ciong-hu pernah mencintai Ho Lan-hiang?"

"Ho Lan-hiang adalah perempuan jalang dan pandai memikat perhatian lelaki."

"Sepuluh tokoh persilatan bukan orang suci, tentu saja mereka tak akan lolos dari rayuan mautnya, apalagi Oh Ciong-hu dan Ho Lan-hiang adalah saudara seperguruan, mereka pernah saling mencintai di masa lalu. Bagaimana mungkin Oh Ciong-hu bisa lolos dari perangkap mautnya?"

"Sekarang pun aku lihat masih ada juga mereka yang terpikat oleh rayuannya hingga rela menjual nyawa baginya."

"Apakah Tio-pangcu turun tangan membunuh musuh cintamu karena kuatir perempuan jalang itu terjatuh ke dalam pelukan orang lain?"

 

Tio Tian-seng sekali lagi menghela napas panjang, "Kemungkinan besar Bong-laute tidak akan percaya dengan perkataanku, tapi cerita yang sesungguhnya adalah Oh Ciong-hu yang kuatir aku merampas perempuan jalang ini hingga turun tangan lebih dulu membunuhku."

Bong Thian-gak menggeleng kepala. -

"Sekarang Oh Ciong-hu telah mati, tentu saja aku tak akan percaya dengan pengakuan dari seorang yang masih hidup seperti kau."

Kembali Tio Tian-seng menghela napas, "Seandainya Ho Lan-hiang tidak bohong, dia pasti akan membeberkan duduk persoalan yang sesungguhnya kepadamu."

Mendengar ucapan itu, tanpa terasa Bong Thian-gak mengalihkan sorot matanya ke arah Ho Lan-hiang.

 

Perempuan paling cantik dari wilayah Kanglam itu segera tertawa ringan, katanya cepat, "Alasan utama Tio Tian-seng membunuh Oh Ciong-hu tak lain disebabkan hendak membalas dendam atas sebuah pukulan yang pernah diterimanya dulu."

"Ho Lan-hiang, kau berbohong," bentak Tio Tian-seng.

Bong Thian-gak menghela napas seraya berkata, "Tio-pangcu, tak usah berdebat lagi tentang masalah kematian yang menimpa Oh Ciong-hu, sebab aku sudah tidak berhasrat untuk menyelidiki lebih lanjut. Pertikaian antara sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok serta perselisihan kalian dengan Hek-mo-ong, lebih baik kalian sendiri yang menyelesaikannya!"

"Ai, saat ini aku justru merasa agak menyesal karena ikut terseret ke dalam persoalan ini."

 

Tiba-tiba Biau-kosiu mendengus dingin sambil mengumpat, "Huh, manusia tak becus, lelaki banci. Sudah tahu gurunya terbunuh, kau malah menyatakan cuci tangan dari persoalan itu. Andaikata arwah Oh Ciong-hu di alam baka tahu hal ini, ia pasti akan menyesal telah menerima murid yang tak bertanggung-jawab macam kau."

"Nona Biau, hati-hati kalau bicara," tegur Bong Thian-gak dengan serius.

"Memangnya aku salah mengumpatmu?" kembali Biau-kosiu menjengek secara sinis.

"Tentang pertikaian sepuluh tokoh persilatan dengan Thio Kim-ciok, aku telah mengetahui persoalan itu sejelasnya. Sepuluh tokoh persilatan telah terayu oleh kejelitaan Ho Lan-hiang, saling cemburu, saling membenci dan akhirnya saling membunuh. Perbuatan busuk semacam ini jelas merupakan perbuatan rendah dan memalukan, aku rasa hanya Tio Tian-seng seorang yang berani mengungkapnya. Oleh sebab itu aku merasa amat kagum atas keberanian Tio-pangcu."

"Dan kini aku sudah mengetahui dengan jelas bahwa guruku pernah melakukan perbuatan rendah yang sangat memalukan. Apakah aku harus mencari gara-gara lagi secara membabi-buta tanpa membedakan mana yang benar dan yang salah?"

"Ai, yang lebih menggemaskan lagi adalah dengan ilmu silat serta nama besar sepuluh tokoh persilatan, ternyata mereka rela dipikat dan dirayu oleh seorang perempuan jalang sehingga nama baik hancur, orangnya pun binasa. Peristiwa ini benar-benar amat tragis."

 

Perkataan Bong Thian-gak yang diutarakan secara blak-blakan ini kontan membuat paras muka Tio Tian-seng, Tan Sam-cing, Gi Jian-cau dan Liong Oh-im berubah merah padam, dengan mulut terbungkam mereka menundukkan kepala.

Sementara itu dengan wajah bimbang Biau-kosiu bergumam pula, "Mungkinkah ayah pun ikut terpikat oleh perempuan jahat itu?"

Ho Lan-hiang tertawa terkekeh-kekeh, dengan suara jalang ujarnya, "Bagus sekali umpatanmu itu Jian-ciat-suseng, tetapi kau tentu tahu bahwa bencana keluarnya dari mulut. Hari ini kau sudah dipastikan harus mati di sini."

Sampai di situ, dia segera mengulap tangan kanan. Kakek berbaju hitam yang berada di sampingnya yaitu Sim Tiong-kiu segera melangkah maju, sambil bentaknya, "Jian-ciat-suseng, bersiap-siaplah kau menerima kematian!"

 

Bong Thian-gak sudah pernah bertarung melawan Sim Tiong-kiu, dia tahu kakek itu memiliki ilmu jari yang lihai sekali. Oleh sebab itu segera dia menghimpun seluruh tenaga dan perhatiannya dengan memperhatikan jari telunjuk tangan kiri lawan.

"Sim Tiong-kiu!" katanya kemudian sambil tertawa dingin, "jika kau sudah mendengar kisah hubungan gelap sepuluh tokoh persilatan dengan Ho Lian-hiang, apakah kau masih terpikat oleh kegenitan dan kecantikannya hingga rela berbakti terus kepadanya? Padahal dengan tampangmu, wahai Sim Tiong-kiu, benarkah kau memperoleh kasih sayang sejati darinya?"

Ucapan Bong Thian-gak itu penuh dengan sindiran, membuat paras muka Sim Tiong-kiu seketika itu juga berubah merah padam dan untuk sesaat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Berubah pula paras muka Ho Lan-hiang, segera bentaknya keras, "Sim Tong-kiu, kau berani melanggar sumpahmu?"

 

Tatkala mendengar teguran itu, tiba-tiba saja sekujur badan kakek berbaju hitam Sim Tiong-kiu gemetar keras, jari telunjuk tangan kirinya segera ditekuk, kemudian melakukan sentilan keras ke depan.

Serangan jari yang dahsyat dan luar biasa itu bagaikan sambaran halilintar segera meluncur ke muka dan langsung menyerang jalan darah kematian di dada Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak memang sudah tahu Sim Tiong-kiu memiliki ilmu jari yang sangat hebat dengan daya penghancur yang luar biasa, maka di saat Sim Tiong-kiu baru saja menggerakkan jari tangannya, ia sudah menerjang ke muka.

Diiringi suara bentakan yang keras, pedang kayu di tangannya langsung dicabut dan menusuk iga kiri Sim Tiong-kiu.

Ilmu pedang yang diiringi terjangan kilat ini dilakukan dengan gerakan yang mengerikan, tak heran paras muka kawanan jago yang hadir berubah hebat.

Serta-merta Sim Tiong-kiu menggeser kaki kirinya ke samping, lalu meluncur mundur untuk meloloskan diri dari serangan pedang pemuda itu.

 

Menyaksikan serangan jari tangan Sim Tiong-kiu yang istimewa dan luar biasa itu gagal membunuh lawan, kembali paras muka Ho Lan-hiang berubah hebat, segera serunya, "Mundur kau, apakah sebelum ini kalian sudah pernah bertarung?"

Sim Tiong-kiu segera mengundurkan diri ke sampingnya, lalu menjawab, "Ya, ketika berada di kuil Hong-kong-si tempo hari, kami sudah pernah bertarung."

Setelah memukul mundur Sim Tiong-kiu dengan serangan pedangnya, Bong Thian-gak tidak melanjutkan dengan serangan kedua, sebaliknya sambil melintangkan pedang di depan dada, ia berkata dengan lantang, "Ho Lan-hiang, ilmu jarinya yang merupakan senjata maut pencabut nyawa sudah tak mampu melukai diriku lagi, bahkan rahasia pedang Cing-tong-kiam milik Ji-kaucu pun sudah kuketahui dengan jelas. Oleh karena itu kedua orang utusan pelindung bungamu sudah tidak sanggup lagi melindungi keselamatan jiwamu, mengapa kau tidak turun tangan sendiri untuk bertarung melawanku?"

 

Tantangan Bong Thian-gak yang diucapkan secara blak-blakan dan terus terang ini segera membuat Ho Lan-hiang mengernyitkan alis, hawa membunuh segera menyelimuti wajahnya, dia berseru, "Ji-kaucu!"

Ji-kaucu yang berada di sisi kirinya segera menyahut dengan suara lantang, "Siap!"

"Kau tampil ke muka dan bunuh keparat itu!"

"Harap Cong-kaucu jangan kelewat emosi," kata Ji-kaucu dengan kalem tanpa luapan perasaan. "Aku rasa waktu untuk membunuhnya belum tiba."

 

Ketika mendengar ucapan ini, hawa membunuh yang semula telah menyelimuti wajahnya mendadak lenyap, sebagai gantinya ia segera menampilkan wajah lembut dan ramah, setelah tertawa terkekeh, katanya, "Ji-kaucu, kau memang tak malu menjadi tangan kananku. Kecerdasan otakmu sungguh mengagumkan."

Sebaliknya Bong Thian-gak segera menjengek sambil tertawa dingin, "Ji-kaucu, kau tidak usah mencoba menyimpan tenaga lagi. Hari ini aku ingin mencoba kelihaian ilmu silatmu."

Saat itu Bong Thian-gak telah berdiri dengan pedang dilintangkan di depan dada, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, sementara hawa membunuh telah menyelimuti wajahnya.

Setiap jago dalam arena dapat melihat bahwa pemuda itu telah menghimpun tenaga murninya dan siap melepaskan serangan pedang terbangnya.

 

Keadaan Bong Thian-gak yang sudah siap melepaskan serangan pedang terbangnya saat ini ibarat anak panah yang sudah berada di gendewa yang ditarik. Oleh karena itu Ji-kaucu yang menyaksikan keadaan itu segera mengerti bahwa dia tak bisa meloloskan diri lagi dari ancaman.

Kaki kiri Ji-kaucu segera maju setengah langkah, tangan kanannya secepat kilat mencabut pedang bercahaya hijau dari pinggang, lalu setelah tertawa seram, katanya, "Jian-ciat-suseng, hari ini kita memang harus bertarung!"

"Dendam sakit hati yang telah terjalin di antara kita berdua rasanya cepat atau lambat harus dituntaskan, pertarungan memang tak dapat dihindari lagi," sahut Bong Thian-gak sambil tersenyum.

"Selama ini kau tak lebih cuma panglima yang kalah perang, aku rasa hari ini pun kau tak akan lolos dari nasib kekalahan konyol."

Bong Thian-gak segera mendengus dingin, "Hm, seandainya aku menderita kekalahan lagi di tanganmu, biar mati pun aku tak menyesal!"

 

Selesai berkata Bong Thian-gak segera menggerakkan bahunya bergerak ke muka, pedangnya dengan jurus pelangi panjang menutupi matahari langsung meluncur.

"Serangan bagus!" bentak Ji-kaucu.

Di tengah kilauan cahaya pedang berwarna hijau serta lejitan bintang merah berkilauan, tiba-tiba berkumandang suara gemerincingan

yang amat nyaring.

Serangan pedang Bong Thian-gak yang dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat itu tahu-tahu sudah terbendung.

Dalam pengaruh hawa murninya yang disalurkan ke tubuh pedang itu, pedang bambu yang lemah telah berubah menjadi keras dan tajam bagaikan pedang sungguhan.

Itulah sebabnya ketika bentrokan yang barusan terjadi, pedang bambunya tidak menjadi putus karena ketajaman pedang lawan.

Begitu pedang bambu Bong Thian-gak digetarkan terpental ke belakang, tangan kirinya segera diputar kencang, pedangnya seperti seekor naga sakti yang sedang membalik badan, menyambar dari bawah ke atas langsung merobek lambung Ji-kaucu.

 

Ilmu pedang yang sangat aneh dan luar biasa semacam ini pada hakikatnya di luar dugaan siapa pun juga.

Mimpi pun Ji-kaucu tidak mengira gerak serangan Bong Thian-gak yang berhasil dibendung itu dalam waktu singkat telah berubah arah, menyergap bagian mematikan di tubuhnya.

Sementara dia masih terperanjat menghadapi perubahan itu, tahu-tahu ujung pedang Bong Thian-gak sudah menempel di atas baju Ji-kaucu yang menutupi lambungnya. Dalam keadaan demikian, sekalipun ada malaikat turun dari kahyangan, rasanya tak mampu menolong Ji-kaucu lolos dari musibah ini.

Bisa dibayangkan betapa cepatnya sambaran pedang jago-jago lihai yang sedang bertarung. Waktu itu tiada kesempatan lagi bagi Ji-kaucu untuk memutar otak, mendadak hawa membunuh memancar dari wajahnya, pedangnya segera dibalik, lalu ditusukkan pula ke dada Bong Thian-gak.

Dalam anggapan para jago, serangan pedang Ji-kaucu itu tak lebih cuma gerakan sia-sia, karena ancaman itu tak ada artinya.

Padahal waktu itu serangan pedang Bong Thian-gak sudah hampir mengenai tubuh Ji-kaucu, andaikata menyerang pun Ji-kaucu tentu akan tewas lebih dulu di ujung senjata Bong Thian-gak.

Itulah sebabnya serangan Ji-kaucu ini pada hakikatnya tidak akan memberikan manfaat apa pun.

Tapi siapakah yang dapat menduga kalau di balik serangan Ji-kaucu itu sesungguhnya ia sedang melakukan tindakan nekat mengajak lawan mengadu jiwa.

 

Pedang tembaga berwarna hijau itu bukan saja dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai kehendak hati, bahkan bagian tengah pedang yang kosong itu telah dia isi dengan semacam cairan beracun yang bisa menyembur keluar apabila tombol rahasianya dipencet

Di saat yang amat kritis itulah mendadak sesosok bayangan orang secepat sambaran kilat meluncur tiba, disusul segulung angin pukulan berpusing yang sangat kuat menumbuk tubuh Bong Thian-gak serta mementalkan tubuhnya hingga mencelat ke samping kanan.

Tenaga pukulan yang maha dahsyat itu memiliki kekuatan sangat mengerikan. Bong Thian-gak merasa tubuhnya tak mampu dikendalikan lagi, setelah mencelat ke belakang, dia mesti mundur sebelum berhenti.

Suara semburan air beracun bergema, dari ujung pedang Ji-kaucu memancar tiga gulung cairan hitam.

Begitu jatuh ke atas tanah, segera tertampak asap hitam mengepul ke udara, dalam waktu singkat lantai berbatu itu sudah terbakar hangus hingga muncul bekas lekukan sedalam beberapa inci.

Sesudah menyaksikan itu, Bong Thian-gak baru sadar bahwa orang itu telah menyelamatkan jiwanya.

Tapi dia pun telah menyelamatkan jiwa Ji-kaucu.

Tatkala sorot mata para jago dialihkan ke wajah pendatang itu, mendadak air muka mereka segera berubah menjadi pucat.

Itulah mimik wajah kaget, ngeri, seram, tegang serta berbagai perubahan lainnya.

Pendatang itu seorang kakek berbaju hijau yang memelihara jenggot berwarna hitam, berwajah segar dan berwibawa, akan tetapi bagi pandangan para jago dalam arena justru lebih menyeramkan dan mengerikan daripada melihat setan atau memedi.

 

Bong Thian-gak menjerit kaget lebih dulu, "Thio Kim-ciok! Thio-locianpwe!"

Kakek berjenggot hitam berbaju hijau itu memang tak lain adalah Thio Kim-ciok.

Sementara itu dari balik sebuah pintu rahasia di tengah ruangan pelan-pelan berjalan keluar Song Leng-hui serta Thay-kun.

Setelah suasana agak hening, Thio Kim-ciok baru berkata dengan suara hambar, "Bong-laute, tak ada artinya kau mengadu jiwa dengan lawan. Itulah sebabnya aku telah melancarkan Kun-goan-khi-kang untuk mendorongmu dari ancaman bahaya."

Biarpun cuma beberapa patah kata yang sederhana, namun sudah menjelaskan betapa berbahayanya situasi waktu itu.

 

Kemunculan Thio Kim-ciok membuat para jago merasa kaget dan bergidik, tapi juga merubah suasana di arena menjadi tegang dan menyeramkan. Ancaman pertempuran setiap detik dapat meledak di situ.

Dari sekian jago yang hadir, kecuali Bong Thian-gak, Song Leng-hui serta Thay-kun tiga orang, empat orang dari sepuluh tokoh persilatan maupun Ho Lan-hiang serta Biau-kosiu sekalian sama-sama telah meraba senjata masing-masing, bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Bong Thian-gak melayangkan pandangannya dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan kening berkerut dia berpikir, "Tampaknya semua telah bekerja sama untuk menghadapi Thio Kim-ciok."

 

Dalam pada itu Thio Kim-ciok dengan mata yang memancarkan cahaya tajam telah memandang sekejap wajah orang-orang di situ, kemudian ujarnya dingin, "Mungkin kalian tak pernah mengira bukan kalau aku masih hidup di dunia ini?"

Tio Tian-seng segera menghela napas panjang dengan nada sedih, sahutnya, "Ya, kenyataan kau memang masih hidup!"

"Tio Tian-seng," kata Thio Kim-ciok lagi dengan suara dingin, "Aku tahu kau sudah menyesal, tapi Thio Kim-ciok tetap tak akan memaafkan dirimu."

 

Kembali Tio Tian-seng tertawa pedih, "Aku tahu, Thio Kim-ciok adalah seorang yang berhati kejam, buas dan membunuh orang tanpa berkedip. Jangankan terhadap musuh-musuh besarmu, bahkan terhadap orang yang tiada sangkut-pautnya dengan dirimu pun sudah berapa banyak yang tewas di tanganmu."

"Kalian semua tak akan lolos dari kematian!" ujar Thio Kim-ciok lagi dengan suara dingin dan menyeramkan.

Tiba-tiba sinar matanya dialihkan ke wajah Ho Lan-hiang. Dalam pada itu sekulum senyum manis telah tersungging di ujung bibir Ho Lan-hiang, katanya dengan suara yang amat tenang, "Orang pertama yang hendak kau bunuh tentu diriku, bukan?"

"Aku akan menghancur-leburkan tubuhmu serta mencincangnya," sahut Thio Kim-ciok dengan wajah dingin dan suara hambar.

Kembali Ho Lan-hiang tertawa merdu, "Tiga puluh tiga tahun berselang kau tidak memiliki kemampuan untuk melukaiku. Tiga puluh tiga tahun kemudian, lebih-lebih jangan harap dapat melukai seujung rambutku."

 

Pada saat itulah Bong Thian-gak dapat melihat Tio Tian-seng, Tan Sam-cing, Liong Oh-im, Gi Jian-cau bersama Ho Lan-hiang, Ji-kaucu, serta Sim Tiong-kiu sekalian secara pelan-pelan telah bergerak maju mengurung Thio Kim-ciok rapat-rapat.

Melihat itu, mendadak Bong Thian-gak mengayunkan pedangnya sambil membentak nyaring, "Berhenti kalian semua. Bila ada yang berani maju selangkah lagi, jangan salahkan pedangku akan segera melukai orang."

Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru, "Bukankah Bong-laute telah mengambil keputusan untuk melepaskan diri dari kancah pertikaian yang penuh dengan budi dan dendam ini?"

Dengan suara dalam Bong Thian-gak membentak, "Mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak merupakan suatu perbuatan terkutuk serta memalukan."

 

Tiba-tiba Thio Kim-ciok berpaling ke arah anak muda itu, lalu berkata sambil tertawa, "Bong-laute, dari sikap serta perbuatan mereka itu, tentu kau tak akan menyalahkan aku andaikata kubunuh mereka dari muka bumi?"

"Thio-locianpwe berniat membantai semua orang yang ada di sini?" tanya Bong Thian-gak dengan perasaan bergetar keras.

"Aku tidak dapat melepaskan seorang pun di antara sepuluh tokoh persilatan serta perempuan jalang itu."

Bong Thian-gak menghela napas, kemudian katanya, "Thian maha penyayang. Apakah Thio-locianpwe tak merasa bahwa dendam yang kau perlihatkan sekarang telah melanggar ajaran Thian?"

 

Thio Kim-ciok tertawa dingin, "Andaikan setiap umat persilatan di dunia ini dapat memahami apa artinya ajaran Thian, aku rasa tidak bakal terjadi lagi badai pembunuhan serta mengalirnya anyir darah dalam persilatan. Sepuluh tokoh persilatan mempunyai kedudukan yang agung dan terhormat, tetapi nyatanya mereka bisa juga melakukan perbuatan terkutuk yang amat memalukan itu."

Bong Thian-gak sadar bahwa dia tak mampu lagi menghalangi niat Thio Kim-ciok untuk melampiaskan rasa dendam kesumatnya, maka setelah menghela napas panjang, dia pun bertanya, "Yakinkah Thio-locianpwe bahwa harapanmu itu bakal tercapai?"

"Walaupun aku tidak mempunyai keyakinan sepenuhnya, namun dapat kupertaruhkan dengan selembar nyawaku."

 

Mendadak terdengar Ho Lan-hiang yang berada di samping arena berseru sambil tertawa terkekeh-kekeh, "He si tua Thio, saat ini kau telah dikepung oleh semua jago. Aku tidak percaya kau masih mempunyai kesempatan untuk melarikan diri ke dalam alat rahasiamu."

Dalam sekejap di empat penjuru sudah berdiri Tio Tian-seng, Gi Jian-cau, Tan Sam-cing, Liong Oh-im, Ho Lan-hiang, Sim Tiong-kiu serta Ji-kaucu dengan senjata terhunus. Tampaknya pertarungan sengit tak bisa dihindari lagi.

Bong Thian-gak segera berpikir, "Sanggupkah Thio Kim-ciok menandingi kerubutan tujuh jago lihai dunia persilatan ini?"

 

Dengan pandangan sinis Thio Kim-ciok memperhatikan sekejap, kemudian berkata, "Kepungan kalian mirip barisan pembunuh yang dipakai untuk menghadapiku tiga puluh tiga tahun berselang, hanya sayang di sini sudah tak nampak beberapa wajah."

"Thio Kim-ciok!" dengan wajah serius dan nada bersungguh-sungguh Tio Tian-seng berkata, "sebenarnya aku merasa malu untuk mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak, tapi aku pun tahu bahwa kau adalah seorang licik yang berhati busuk serta banyak akal muslihatnya. Oleh karena itu mau tak mau terpaksa kami harus mempergunakan cara mengembut yang tidak gagah ini untuk menghadapimu."

"Andaikata aku merasa takut untuk menghadapi kerubutan kalian, tidak nanti aku menampilkan diri," sahut Thio Kim-ciok dingin.

Liong Oh-im tertawa seram, "Thio Kim-ciok, kau mempunyai kemampuan seberapa besar hingga dapat menembus kepungan kami bertujuh?"

"Andaikata aku berniat membunuh kalian, maka hal ini bisa aku lakukan secara mudah dan tak usah membuang tenaga."

 

Belum habis perkataan Thio Kim-ciok, Thay-kun yang selama ini berdiri di samping menyela dengan suara merdu, "Di saat terjadinya gempa bumi yang menggetarkan seluruh permukaan gua tadi, seluruh alat rahasia dalam lorong bawah tanah ini sudah tertutup seluruhnya. Biarpun kalian sanggup membunuh Thio Kim-ciok saat ini, tetapi kalian sendiri pun tidak bakal terlepas dari Bu-lim-bong yang sudah tersumbat ini, akhirnya kalian bakal mampus juga karena kelaparan."

Beberapa patah kata Thay-kun ini kontan membuat paras muka kawanan jago itu berubah hebat.

Liong Oh-im segera tertawa licik, "Bagus, bagus sekali, kalau semua orang bisa mati bersama di dalam Bu-lim-bong, hal itu jauh lebih baik lagi."

 

Dengan suara dingin menyeramkan Thio Kim-ciok berkata pula, "Aku tak ingin menyaksikan kalian mampus tanpa memberi perlawanan, aku pun tak ingin membiarkan kalian mampus dalam Bu-lim-bong ini."

Beberapa patah katanya yang terakhir ini terasa sangat aneh dan bertentangan dengan apa yang dikatakan sebelumnya, tapi para jago mengerti, di balik semua itu tentu masih terdapat latar belakang lainnya.

Sambil tertawa licik Liong Oh-im segera berkata, "Kalau begitu, tentunya jalan keluar dari Bu-lim-bong ini sesungguhnya bukan merupakan hasil karya Thio Kim-ciok bukan?"

 

Thio Kim-ciok tidak menjawab, tapi Thay-kun telah berseru dengan suara merdu, "Betul, orang yang menggerakkan alat rahasia untuk menutup seluruh lorong rahasia dalam Bu-lim-bong ini bukan Thio-locianpwe, melainkan Hek-mo-ong. Dia hendak mengurung kalian dalam Bu-lim-bong ini."

Mendadak dari balik ruangan yang luas itu berkumandang kembali suara Hek-mo-ong yang dingin serta misterius itu, "Thio Kim-ciok, aku tidak menyangka kau bakal mengingkari janjimu sendiri."

 

Thio Kim-ciok tertawa dingin, sahutnya dengan suara keras, "Hek-mo-ong, aku sama sekali tidak mengingkari janji, aku hanya tak rela membiarkan musuh-musuh besarku ini tewas di tanganmu."

"Thio Kim-ciok!" kembali suara Hek-mo-ong berkumandang lagi, "apakah kau yakin dapat membinasakan Ho Lan-hiang bertujuh?"

Thio Kim-ciok tertawa dingin, "Termasuk kau, berarti berjumlah delapan orang. Aku yakin tak seorang pun di antara kalian yang dapat meloloskan diri dalam keadaan selamat."

 

Hek-mo-ong tertawa terkekeh, katanya, "Sebagai imbalan dari usaha bantuan membinasakan Ho Lan-hiang sekalian adalah janjimu menyerahkan peta rahasia tambang emas kepadaku dan sekarang kau telah berbalik ingin membunuh sendiri musuh-musuh besarmu itu. Apakah kau pun berniat membatalkan perjanjian di antara kita?"

"Kita telah berjanji. Setelah kau membantu aku membinasakan Ho Lan-hiang sekalian, maka antara aku dan kau pun akan dilangsungkan pertarungan sengit yang akan menentukan mati hidup di antara kita," sahut Thio Kim-ciok dingin.      

"Tapi aku takut kemampuanmu sangat terbatas sehingga gagal membunuh Ho Lan-hiang sekalian, sebaliknya malah mencelakakan diri sendiri. Oleh sebab itu kuanjurkan kepadamu lebih baik serahkan saja penyelesaian nyawa mereka kepadaku."

 

Dari tanya-jawab yang berlangsung antara Hek-mo-ong dan Thio Kim-ciok ini. Secara garis besar semua orang sudah mulai memahami apa yang sebenarnya direncanakan kedua orang yang berkomplot itu.

Mendadak Tio Tian-seng membentak dengan suara keras, "Liu Khi, bila kau memang bernyali, ayo cepat keluar untuk berduel mati-matian denganku."

"Hahaha," gelak tawa nyaring Hek-mo-ong segera bergema memenuhi seluruh ruangan. "Tio Tian-seng, tahukah kau bahwa di dasar tanah dalam ruangan dimana kalian berpijak sekarang telah ditanam beratus-ratus obat mesiu yang setiap saat dapat meledak? Bila kusulut sumbu mesiu itu, maka aku yakin dalam seperempat jam, kalian akan mampus dengan tubuh hancur berkeping-keping."

Kawanan jago yang hadir dalam arena kontan terkesiap.

 

Bong Thian-gak segera memandang sekejap ke arah Thio Kim-ciok, lalu tanyanya, "Thio-locianpwe, benarkah apa yang dikatakannya itu?"

"Benar, di dasar lantai ruangan ini memang sudah ditanam obat peledak dalam jumlah besar. Seandainya benar-benar meledak, maka daya kekuatannya mampu menenggelamkan seluruh perkampungan ini ke dasar tanah."

Mendengar sampai di sini. Bong Thian-gak segera menghela napas panjang, "Apa rencana Thio-locianpwe selanjutnya untuk menghadapi situasi demikian ini?"

 

Tiba-tiba Thay-kun tersenyum, selanya, "Bong-suheng tidak usah kuatir, aku percaya Thio-locianpwe pasti sudah mempunyai rencana yang rapi untuk menghadapi semua itu."

Dalam pada itu para jago yang berada di dalam ruangan bawah tanah itu tak berani bertindak lagi secara gegabah, mereka cuma bisa mengawasi wajah Thio Kim-ciok dengan mata terbelalak dan pandangan termangu.

Mendadak terdengar lagi suara Hek-mo-ong berseru lantang dari balik ruangan, "Thio Kim-ciok, dengarkan baik-baik. Andaikata aku bertekad membatalkan niatku untuk mendapatkan rahasia peta bukit tambang emas itu dengan menyulut sumbu mesiu yang berada di sini, entah bagaimana perasaanmu?"

 

Thio Kim-ciok tertawa dingin, "Seandainya kau berbuat demikian, maka kau sendiri pun tak akan terlepas dari ancaman kematian. Aku yakin dalam seperempat jam, kau tak akan mampu melepaskan diri dari sini serta menyingkir ke tempat yang lebih aman."

"Bila aku sudah bertekad untuk mengadu jiwa, apa yang dapat kau lakukan?"

"Aku rasa kau tidak bakal berbuat demikian," jengek Thio Kim-ciok sambil tertawa dingin.

"Bagus, kalau begitu tunggu saja!" jengek Hek-mo-ong sambil tertawa seram.

Begitu selesai berkata, di dalam ruangan itu sudah tak terdengar lagi suara Hek-mo-ong.

 

Dengan wajah serius Thio Kim-ciok berkata dingin, "Bila Hek-mo-ong sudah memperhitungkan secara tepat bahwa dalam seperempat jam dia mampu meninggalkan Bu-lim-bong secara aman, maka pada saat itu dia pasti akan menyulut sumbu mesiu dan meledakkan perkampungan ini. Dan sekarang aku pun telah memutuskan akan mengajak kalian meninggalkan Bu-lim-bong ini, tapi di saat kalian telah meninggalkan Bu-lim-bong, saat itu juga aku akan mulai turun tangan membunuh setiap musuh besarku yang masih berkeliaran! Nah, apa yang kukatakan sudah selesai kuutarakan. Harap kalian mengikuti aku!"

Selesai berkata, Thio Kim-ciok segera membalikkan badan dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

 

Dengan pedang terhunus, Liong Oh-im segera menghadang jalan perginya, sambil tertawa ia berseru, "Thio Kim-ciok, sesudah keluar Bu-lim-bong, kami pun tak punya kesempatan untuk melanjutkan hidup. Apa salahnya kita berduel saja di dalam Bu-lim-bong ini untuk menentukan siapa yang harus mampus di antara kita berdua?"

"Pertarungan berdarah dalam Bu-lim-bong bisa menyebabkan semua yang hadir tewas," kata Thio Kim-ciok dingin, "tapi bila hal ini terjadi di luar Bu-lim-bong, maka keadaannya berbeda. Sekalipun akhirnya kalian akan mampus juga di tanganku, tapi paling tidak kalian masih dapat hidup lebih lama lagi."

Tan Sam-cing tertawa dingin, serunya, "Thio Kim-ciok, bacotmu itu benar-benar kelewat besar dan takabur. Setelah keluar dari Bu-lim-bong nanti, Tan Sam-cing orang pertama yang akan mencoba ilmu silatmu."

"Baik!" sahut Thio Kim-ciok sambil manggut-manggut, "sesudah meninggalkan Bu-lim-bong nanti, orang pertama yang akan kubunuh adalah kau."

 

Ketika berbicara sampai di situ, Thio Kim-ciok sudah lewat di samping Liong Oh-im dan berjalan menuju ke sebuah lorong bawah tanah.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, para jago mengikut di belakang Thio Kim-ciok memasuki lorong itu, makin ke dalam luas lorong itu bertambah lebar.

Tapi suasana di situ pun makin lama semakin gelap sehingga akhirnya untuk melihat jari tangan sendiri pun susah.

Bong Thian-gak bersama Thay-kun dan Song Leng-hui mengikut di belakang Thio Kim-ciok.

Di saat mereka melewati lorong bawah tanah yang gelap gulita itu, suasana amat hening dan tak seorang pun yang berbicara, tapi perasaan setiap orang berat sekali, berbagai ingatan berkecamuk dalam benak mereka.

Terutama mereka yang berjalan paling belakang seperti Ho Lan-hiang, malaikat sakti pedang iblis, tabib sakti, delapan pedang salju beterbangan serta sastrawan berwajah tampan. Masing-masing dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara saling merundingkan tindakan selanjutnya yang harus dilakukan setelah meninggalkan Bu-lim-bong, bagaimana caranya membinasakan Thio Kim-ciok dari muka bumi.

 

Mendadak terdengar Bong Thian-gak menghela napas panjang, kemudian bertanya, "Thio-locianpwe, benarkah kau harus membunuh mereka semua?"

"Dendam sakit hati sedalam lautan cuma dapat dihapus dengan pembunuhan terhadap musuh-musuhnya," sahut Thio Kim-ciok hambar. "Apalagi sejak puluhan tahun berselang, aku punya rencana untuk menghabisi nyawa kesepuluh tokoh persilatan itu."

Bong Thian-gak terkejut sekali, segera tanyanya, "Thio-locianpwe, apa maksudmu?"

"Puluhan tahun berselang, di saat aku mengangkat kesepuluh tokoh persilatan menjadi guru untuk belajar silat, dalam hati kecilku sudah tumbuh niat dan ambisi untuk menguasai dunia persilatan."

 

Ketika mendengar sampai di situ, Bong Thian-gak seolah-olah teringat akan suatu persoalan, segera ujarnya, "Kalau begitu tindakan sepuluh tokoh persilatan membinasakan Locianpwe pada tiga puluh tiga tahun berselang adalah disebabkan..”

Mendadak Bong Thian-gak menutup mulut dan tidak melanjutkan kata-katanya.

 

Tapi sambil tertawa dingin Thio Kim-ciok telah berkata, "Sesungguhnya sebab-musabab sepuluh tokoh persilatan bekerja sama membunuh diriku, selain dikarenakan mereka berzinah dengan istriku Ho Lan-hiang dan mengincar harta karun milikku. Tujuan utama ialah kuatir bila aku mengkhianati mereka sebagai guru serta menguasai seluruh dunia. Itulah sebabnya mereka turun tangan lebih dahulu."

"Ku-lo Hwesio mempunyai pengetahuan yang paling luas di antara rekan-rekannya. Di saat ia mewariskan ilmu silat kepadaku dulu, rupanya ia berhasil menemukan tulang pemberontak yang tumbuh di atas kepalaku, merupakan pertanda bahwa di kemudian hari aku akan mengkhianati perguruan serta menciptakan bencana serta keonaran di seluruh dunia."

"Apakah Thio-locianpwe benar-benar mempunyai niat semacam itu?" tanya Bong Thian-gak lagi dengan perasaan kaget.

"Benar, di atas kepalaku memang tumbuh tulang pemberontak. Waktu itu aku memang berniat jahat serta bertabiat kejam, buas dan licik," jawab Thio Kim-ciok sambil tertawa seram.

 

Ketika mendengar sampai di sini, tanpa terasa Bong Thian-gak bergidik, katanya kemudian, "Apakah sampai kini tabiat Thio-locianpwe itu belum juga berubah?"

Thio Kim-ciok tertawa dingin, "Merubah bukit dan alam itu mudah, tapi merubah watak sulit."

Setelah memperdengarkan suara tawa dinginnya yang licik, keji dan buas, dia berkata lebih jauh, "Sepanjang hidupku, aku paling kagum terhadap seorang saja yaitu Thay-kun. Sekilas pandang saja ia sudah dapat mengetahui bahwa aku adalah seorang raja pembunuh yang keji, buas dan licik. Tapi akhirnya Thay-kun mengizinkan juga Song Leng-hui menyembuhkan penyakitku agar Lohu dapat memiliki kembali kekuatan yang kumiliki dulu. Tapi dengan perbuatan Thay-kun itu, sama artinya telah menyelamatkan jiwa kalian semua. Sebab menuruti tabiatku, kalian pun jangan harap bisa lolos dari cengkeraman mautku."

 

Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri Bong Thian-gak mendengar itu, mimpi pun dia tak menyangka Thio Kim-ciok sesungguhnya memang seorang jahat, buas, kejam dan licik bagai seekor ular berbisa.

Tapi dari beberapa patah kata Thio Kim-ciok itu pula dia dapat merasakan juga bahwa badai pembunuhan berdarah sudah mengancam ketenangan dunia persilatan.

Perasaan Bong Thian-gak waktu itu sangat berat dan masgul. Sebetulnya ia sudah bertekad tak akan mencampuri pertikaian itu, tapi sekarang tentu saja ia tak bisa berpeluk tangan menyaksikan Thio Kim-ciok membunuh sesamanya secara keji dan tak berperasaan.

Tapi antara dia dan Thio Kim-ciok pun tak pernah terjalin perselisihan atau sakit hati apa pun, bagaimana mungkin ia dapat turun tangan mencegah dirinya membalas dendam terhadap sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang.

Padahal sesungguhnya Ho Lan-hiang sekalian bukanlah manusia baik-baik, bukankah mereka pun merupakan gembong-gembong iblis yang keji, buas, cabul serta banyak melakukan kejahatan?

 

Sementara Bong Thian-gak masih pusing memikirkan masalah itu, mendadak terdengar Thio Kim-ciok berteriak, "Hek-mo-ong telah mulai menyulut sumbu mesiu, seperempat jam lagi seluruh permukaan bumi ini akan tenggelam. Ayo cepat kabur dari sini, siapa tahu dapat meloloskan diri dari musibah?"

 

Rupanya pada saat itu semua orang dapat menangkap suara sumbu mesiu dibakar. Di samping itu, hidung mereka pun dapat mengendus bau mesiu yang amat menusuk.

Entah bagaimanakah sistim bangunan dalam lorong Bu-lim-bong itu, nyatanya begitu sumbu mesiu disulut, dalam waktu singkat api telah menutup setiap sudut lorong.

Paras muka para jago segera berubah hebat, mereka sudah tak berminat lagi memikirkan bagaimana cara menghadapi Thio Kim-ciok.

Tampak Thio Kim-ciok meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi, sementara para jago lainnya mengikut di belakangnya secara membabi-buta.