pendekar cacad 16
Bagian 21 : Saling bentrok karena peta tambang emas
Bong Thian-gak
sudah berada dalam keadaan tak sadar, sudah barang tentu dia
tak mampu menjawab pertanyaan itu.
Thay-kun menggeleng sambil menghela
napas sedih, kemudian baru membalikkan badan dan mengerahkan
Ginkangnya menerobos ke dalam hutan bambu di Ban-jian-bong.
Ban-jian-bong yang sangat menyeramkan
dan menggidikkan masih dicekam keheningan.
Secara beruntun Thay-kun menembus
enam-tujuh lapis kuburan, namun tak sesosok bayangan pun yang
berhasil ditemukan.
Thay-kun makin gelisah, apalagi melihat
senja semakin mendekat. Bila dia berdiam terus-menerus hingga
membiarkan malam menjelang tiba, berarti usahanya menemukan si tabib
sakti akan semakin menemui kesulitan.
Pikir punya pikir, tanpa terasa Thay-kun
mulai berteriak, "Ci-kim-kong Hwesio, berada dimanakah kau? Nonamu
hendak menantangmu bertarung tiga ratus gebrakan."
Bagaikan seorang yang sudah kalap,
kembali Thay-kun berteriak, "Tabib sakti Gi-locianpwe, kau
bersembunyi dimana? Gi-locianpwe, Thay-kun tahu kau bersembunyi di
dalam Ban-jian-bong ini. Ayo cepat keluar!"
Suara teriakannya yang sangat keras
segera menggema di seluruh hutan bambu itu.
Namun suasana dalam Ban-jian-bong tetap
hening, sepi dan sama sekali tak terdengar sedikit suara pun.
Gelak tawa Thay-kun yang keras dan tajam
itu akhirnya berubah seperti orang gila.
Badannya berputar-putar dalam hutan
bambu secepat sambaran kilat, pukulan demi pukulan dilancarkan
berulang kali ke sana kemari membuat peti mati hancur berantakan dan
tulang belulang beterbangan di angkasa.
Mendadak terdengar dua kali desingan
angin tajam.
Thay-kun segera mengenali suara itu,
desingan senjata rahasia, maka sepasang tangannya segera digetarkan
dan tubuhnya melejit ke tengah udara.
Pada saat itulah terdengar suara ledakan
keras, jilatan api menyambar dari bawah kakinya.
Tubuh Thay-kun bagaikan seekor burung
walet yang terbang di angkasa segera meluncur ke arah hutan bambu di
hadapannya, di mana angin pukulan menyambar, seorang Hwesio berbaju
kuning segera roboh terjengkang ke atas tanah.
Setelah berhasil membinasakan seorang
musuh, sekali lagi Thay-kun melejit ke udara dan menerjang lagi ke
dalam hutan bambu.
Baru saja kakinya melayang turun ke atas
tanah, sesosok bayangan muncul dari balik pepohonan bambu yang
rindang.
Thay-kun segera membentak, "Hendak kabur
kemana kau!"
Telapak tangan kirinya segera melepaskan
sebuah bacokan maut ke depan.
Dimana angin pukulan menyambar, bayangan
orang segera rontok dari tengah udara dan tak pernah merangkak
bangun kembali.
Tenaga pukulan Thay-kun benar-benar
sangat dahsyat dan tajam, membuat siapa pun yang melihat akan
bergidik.
Sementara suara desingan senjata rahasia
kembali terdengar.
Thay-kun mulai memutar otak dan
menghitung sisa Kim-kong Hwesio yang masih tersisa.
Bong Thian-gak telah membunuh tiga
orang, barusan ia telah membunuh tiga orang dan kini membunuh lagi
dua orang, berarti masih tersisa tiga orang saja.
Dengan gerakan tubuh yang enteng seperti
burung walet, Thay-kun meluncur ke udara, lalu seganas harimau dia
menerkam ke arah hutan bambu di hadapannya.
Jeritan ngeri yang memilukan sekali lagi
berkumandang, dari balik peti mati mencelat keluar sesosok tubuh
yang kemudian tergeletak di tanah sebagai mayat.
"Pelacur busuk, Hud-ya akan mengadu jiwa
denganmu!"
Di tengah bentakan keras, Ci-kim-kong
Hwesio dan Kim-kong Hwesio yang terakhir muncul dari balik gundukan
tanah.
Sebatang anak panah kecil disertai dua
desingan angin pukulan yang sangat kuat segera menyergap datang dari
arah belakang.
Thay-kun tertawa terkekeh-kekeh, lalu
bentaknya, "Sesungguhnya kalian mesti muncul diri sejak tadi!"
Dengan cepat Thay-kun melompat ke muka
dan melayang turun di belakang kedua Hwesio itu dengan sangat
ringan. Tiba-tiba terdengar seseorang membentak.
Telapak tangan kiri Thay-kun sudah
keburu diayunkan ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Salah seorang dari Kim-kong Hwesio itu
segera mendengus tertahan, lalu tubuhnya roboh terjengkang ke
belakang dan binasa dalam keadaan mengenaskan.
Dengan cepat tiga sosok bayangan telah
melayang datang dan turun di samping tubuh Ci-kim-kong Hwesio.
Setelah mengetahui jelas siapa ketiga
orang itu, dengan perasaan girang Thay-kun segera berseru,
"Ci-kim-kong adalah satu-satunya sumber berita untuk kita, harap
kalian jangan melukai dirinya!"
Ternyata ketiga orang yang baru saja
muncul adalah Tio Tian-seng, Liu Khi serta
Tan Sam-cing.
Sewaktu Ci-kim-kong Hwesio menyaksikan
ketiga orang itu, dia justru menarik muka sambil membentak, "Kalian
bertiga cepat turun tangan dan bekuk perempuan rendah itu!"
Thay-kun jadi tertegun, ditatapnya Tio
Tian-seng bertiga dengan termangu, dia ingin tahu bagaimanakah
reaksi rekan-rekannya itu?
Tampak olehnya Tio Tian-seng,
Liu Khi dan
Tan Sam-cing segera berkelebat ke
muka dan dengan cepat membentuk posisi mengurung dari posisi tiga
sudut, dengan begitu perempuan itu terkurung rapat.
Thay-kun berkerut kening, lalu serunya
lantang, "Tio-pangcu, sejak kapan kalian bertiga berubah pendirian
serta bersedia menuruti perintahnya?"
"Nona Thay-kun," dengan suara dalam
Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng berkata, "kami telah berjumpa si tabib
sakti Gi Jian-cau. Demi persatuan kami untuk bersama-sama menghadapi
Hek-mo-ong, maka kami telah mengambil keputusan untuk tetap tinggal
di Ban-jian-bong sambil berjaga-jaga di sini."
"Mulai sekarang setiap orang dilarang
memasuki daerah Ban-jian-bong lagi. Oleh sebab itu kami berharap
nona Thay-kun bersedia mengundurkan diri dari sini secepatnya."
Thay-kun berkerut kening, lalu dengan
hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya, dia berkata, "Sebelum
berhasil menjumpai Gi Jian-cau, aku tak akan mengundurkan diri dari
Ban-jian-bong."
"Nona," kata Liu Khi dengan ketus,
"bilamana kau bersikeras tak mau mengundurkan diri, terpaksa kau
harus terlibat dalam suatu pertarungan sengit melawan kami!"
Pelan-pelan Thay-kun mengalihkan sorot
matanya ke wajah Tan
Sam-cing, kemudian tanyanya pula, "Apakah Tan-locianpwe juga sudah
berpihak kepada mereka?"
Pat-kiam-hui-hiang
Tan Sam-cing mendengus dingin,
kemudian katanya, "Berbagai perubahan yang mendadak seringkali
terjadi dalam Kangouw. Nona Thay-kun, kuanjurkan padamu lebih baik
pergi dari Ban-jian-bong ini secepatnya, kalau tidak, kau akan
tertimpa bencana kematian."
Thay-kun segera tertawa dingin.
"Bagus, bagus sekali. Cuaca gampang
berubah, urusan dunia pun selalu berubah tak menentu. Jika memang
demikian aku ingin terkubur dalam Ban-jian-bong ini daripada
mengundurkan diri dari sini."
Tiba-tiba Ci-kim-kong Hwesio yang berada
di sisinya berkata pula dengan suara berat, "Dia telah membinasakan
sembilan orang Kim-kong Hwesio, apakah aku harus membiarkan dia
pergi dari sini begitu saja?"
Tio Tian-seng memandang sekejap ke arah
Ci-kim-kong Hwesio, kemudian katanya, "Taysu, si tabib sakti ada
perintah membiarkan dia mengundurkan diri dari Ban-jian-bong. Bila
dia tidak mau mundur, kita baru berusaha membunuhnya."
"Aku tidak percaya si tabib sakti
benar-benar berbuat demikian," teriak Ci-kim-kong Hwesio.
Thay-kun tertawa dingin, kemudian
teriaknya secara tiba-tiba, "Hwesio bajingan, biar kubunuh dirimu
lebih dulu."
Thay-kun segera mengayun telapak tangan
kirinya, kemudian mendesak ke depan menghampiri Ci-kim-kong Hwesio.
Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak,
tiba-tiba dua bilah pedang dan sebilah golok panjang telah
menghadang jalan pergi Thay-kun dengan kecepatan bagaikan sambaran
kilat.
Tio Tian-seng,
Tan Sam-cing serta Liu Khi adalah
tiga jago persilatan berilmu silat tinggi dalam Kangouw dewasa ini.
Setelah mereka bekerja sama, siapa yang sanggup menghadapinya?
Dalam kejutnya, Thay-kun segera mundur
tiga langkah, kemudian ujarnya dingin, "Benarkah kalian bertiga akan
mencampuri urusanku dan menghalangi niatku ini?"
Dengan suara dalam Tio Tian-seng
berkata, "Tabib sakti berpesan kepada kami bahwa
Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak yang
terkena jarum beracun ekor lebah dari Leng-hwe-tan tak bakal mati.
Apakah nona masih ingin membuat keonaran lagi?"
"Apakah dia berkata demikian? Benarkah
Jian-ciat-suseng tak akan mati?" tanya Thay-kun dengan perasaan
bergetar keras.
Tio Tian-seng menghela napas panjang.
"Ai, tadi pun aku sudah terkena racun
jarum ekor lebah Leng-hwe-tan, bekerjanya racun itu telah memancing
bekerjanya racun dari Hek-mo-ong yang terkandung dalam badanku. Tapi
kenyataan aku tak mampus."
"Tapi kau sudah memperoleh perawatan dan
pengobatan tabib sakti, itulah sebabnya kau tak mampus!"
Tiba-tiba Tio Tian-seng bertanya, "Nona,
pernahkah kau tahu tentang teori dalam ilmu pertabiban yang
dinamakan "dengan racun melawan racun'?"
"Walaupun Jian-ciat-suseng sudah terkena
jarum ekor lebah yang amat beracun, bukan saja dia tak akan mati,
bahkan akan memusnahkan racun dari Hek-mo-ong yang ditanamkan di
dalam tubuhnya, sekarang dia hanya pingsan selama beberapa jam,
jiwanya tak akan terancam."
"Sungguhkah perkataanmu itu?" tanya
Thay-kun dengan terkejut bercampur heran.
"Aku tak perlu membohongimu."
Thay-kun segera tertawa dingin.
"Apabila kalian berani membohongi aku,
selama hidup aku bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan kalian
secara damai."
Selesai berkata, dia lantas membalikkan
badan dan beranjak pergi dari situ.
Tiba-tiba terdengar Tio Tian-seng
berkata lagi, "Harap nona mengingatnya baik-baik, sekali lagi jangan
kau memasuki daerah Ban-jian-bong ini."
Thay-kun yang sudah jauh segera menyahut
dengan suara merdu.
"Bila Jian-ciat-suseng selamat dari
ancaman bahaya, kemungkinan besar kami akan mengundurkan diri untuk
selamanya dari keramaian dunia persilatan."
Bayangan tubuh Thay-kun pun segera
lenyap di balik remang-remangnya cuaca.
Matahari sudah lama tenggelam, yang
tersisa tinggal secercali sinar yang sangat redup.
Di padang rumput yang hening, tiada
hentinya berkumandang suara panggilan yang memilukan dan memedihkan
hati, "Bong-suheng, dimana kau? Bong-suheng
Seorang perempuan yang berpakaian
compang-camping dan berwajah kusut berlarian di padang rumput
seperti orang kalap.
"Bong
Thian-gak, dimanakah kau? Mengapa kau meninggalkan aku begitu saja?"
Tiada hentinya perempuan berbaju biru
itu berteriak dan menjerit sekerasnya.
Padang rumput yang tampak begitu sepi,
hening dan mengerikan. Sebelum matahari terbenam tadi, di angkasa
terdengar orang yang berteriak, "Engkoh Gak, engkoh Gak, dimanakah
kau?" Dan sekarang ketika magrib tiba, kembali suasana hening
dipecahkan oleh teriakan, "Bong-suheng, Bong-suheng, dimanakah kau?"
Sama-sama teriakan pilu seorang
perempuan, sama-sama bernada cemas dan sedih, namun berasal dari dua
orang perempuan yang berbeda.
Ternyata ketika Thay-kun berlari keluar
dari Ban-jian-bong dan kembali ke bawah pohon yang rindang itu,
bayangan tubuh Bong Thian-gak
sudah lenyap. Tidak meninggalkan bekas apa-apa, tak mungkin pemuda
itu diserang binatang liar atau menjumpai suatu peristiwa yang sama
sekali di luar dugaan.
Tapi tubuh
Bong Thian-gak lenyap begitu saja.
Jelas dia sudah mendusin sendiri dari
pingsannya, kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Kepergian Bong
Thian-gak tanpa pamit membuat Thay-kun merasa sedih.
Sejak dia menelan pil penghilang sukma hingga syarafnya menderita
luka, keadaan badannya menjadi sangat lemah, akibatnya pukulan batin
yang amat besar ini segera membuat jalan pikirannya menjadi lamban
dan tidak jelas.
Bagaikan orang gila, dia mulai berlarian
sambil memanggil nama Bong
Thian-gak, dia berlari menyusuri setiap sudut padang rumput yang
dilewatinya.
Malam sangat kelam.
Di sudut padang rumput berdiri sebuah
gedung bobrok, sepi dan menyeramkan.
Tiba-tiba muncul seorang perempuan muda
berambut panjang yang mengenakan baju putih, perempuan muda itu
berwajah cantik, usianya antara dua puluh tahunan, namun perutnya
besar sekali, jelas dia sedang mengandung.
Di atas perutnya yang sudah besar dan
kandungan berusia lima-enam bulan ini berbaring seorang lelaki dalam
keadaan tak sadar, hal ini membuat perempuan muda itu nampak lebih
lemah dan mengenaskan.
Seluruh wajah perempuan muda itu
diliputi perasaan sedih dan pedih, ia memandang sekejap sekeliling
gedung itu, lalu gumamnya, "Mungkin gedung ini tak ada penghuninya?"
Sembari bergumam dengan cepat ia
membopong lelaki itu dan masuk ke dalam gedung.
Nyonya muda itu mengetik batu api,
sekilas cahaya api menerangi sekeliling tempat itu, ternyata sebuah
ruangan besar, perabotnya komplit dan di atas dinding tergantung
beberapa lukisan pemandangan dan orang, sementara lantainya bersih
tak berdebu, jelas ada penghuninya.
Dengan terkejut perempuan muda itu
mengundurkan diri dari pintu ruangan, kemudian serunya lembut,
"Adakah seseorang di sini?"
Pertanyaan itu diulang beberapa kali,
namun tak terdengar suara apa pun.
Akhirnya nyonya muda itu bergumam,
"Mungkin pemilik rumah sedang keluar, pintu luar tidak dikunci,
jelas dia tak pergi jauh. Ai, luka yang diderita engkoh Gak begini
parah, aku perlu mengobati luka itu secepatnya. Ya sudahlah,
terpaksa aku meminjam ruangan ini
Sekali lagi nyonya muda itu masuk ke
dalam ruangan, lalu menyulut tiga batang lilin yang ada dalam
ruangan itu, cahaya api segera menerangi seluruh penjuru ruangan
itu.
Kali ini nyonya muda itu dapat melihat
jelas ruangan itu diatur sangat rapi dan mewah, terutama lukisan di
atas dinding, pada hakikatnya semua lukisan itu berasal dari pelukis
kenamaan.
Tapi nyonya muda itu seperti tak ada
waktu untuk menikmati lukisan-lukisan itu, dengan cepat ia
membaringkan lelaki dalam bopongannya itu ke atas sebuah meja pendek
di tengah ruangan.
Kemudian dia melepas pakaian bagian
dadanya dan diperiksa dengan seksama semua luka yang dideritanya,
kemudian dia memegang urat nadinya dan memeriksa lebih kurang
sepeminuman teh lamanya.
Kemudian nyonya muda itu baru menghela
napas panjang, mengambil kursi dan mengeluarkan sebuah kotak kemala
persegi panjang yang segera diletakkan di atas kursi tadi.
Ketika penutup kotak itu terbuka,
selapis cahaya emas dan perak segera memancar dari balik kotak itu.
Sinar emas dan perak itu sangat kuat dan
menusuk pandangan mata, sehingga sinar lilin yang semula menyinari
ruangan itu pun terasa menjadi redup.
Dengan cepat nyonya muda berbaju putih
itu mengeluarkan isi kotak kemala itu, ternyata isinya adalah jarum
emas dan perak.
Jarum-jarum itu lembut seperti bulu
kerbau, setiap batang jarum memancarkan sinar yang sangat kuat.
Dengan sangat teratur, perempuan berbaju
putih itu menjajarkan jarum-jarum itu di atas bangku, ternyata jarum
itu terdiri dari dua belas batang jarum emas dan dua belas jarum
perak.
Ketika semua persiapan telah selesai,
perempuan berbaju putih baru menarik napas panjang, dengan tangan
kanan memegang sebatang jarum emas, tangan kiri memegang sebatang
jarum perak, serentak dia tusuk jalan darah penting di dada pemuda
itu dengan cepat.
Gerakan yang dilakukan nyonya muda itu
sangat cepat, sepasang tangannya bekerja bersama secara bergantian.
Dalam waktu singkat, dari dua puluh empat batang jarum emas dan
perak itu tinggal dua batang yang belum ditancapkan.
Saat itu dia telah menggenggam kedua
batang jarum emas dan perak terakhir.
Mendadak dari luar berkumandang suara
panggilan yang keras dan memekakkan telinga.
"Bong-suheng, dimanakah kau berada?"
Ketika mendengar teriakan itu, nyonya
muda berbaju putih itu nampak tertegun, namun dengan cepat kedua
batang jarum emas dan perak itu ditancapkan ke atas dada pemuda itu.
Mendadak sesosok bayangan berkelebat
masuk ke dalam ruangan gedung.
Seorang perempuan berbaju biru yang
compang-camping, dengan cepat sudah berdiri di ruang tengah. Ketika
menyaksikan orang yang tergeletak di atas meja rendah itu,
teriaknya, "Jangan kau lukai dia!"
Dengan gerakan sangat cepat dia mendesak
maju, lalu cahaya merah memancar dari tangan kirinya, tahu-tahu
sebuah pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang telah dilontarkan.
Nyonya muda berbaju putih itu memandang
sekejap ke arahnya, namun kedua batang jarum emas dan perak itu
masih dilanjutkan menusuk ke jalan darah pemuda itu.
Berada dalam keadaan seperti ini, sudah
barang tentu mustahil bagi nyonya muda berbaju putih itu untuk
menangkis datangnya ancaman serangan perempuan itu, apalagi serangan
itu merupakan ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang yang ganas dan
mematikan.
Tampaknya nyonya cantik berbaju putih
itu segera akan tewas di tangan lawan.
Siapa tahu pada saat itulah dari
belakang tubuh nyonya berbaju putih itu muncul sebuah tangan yang
mendahului pukulan dahsyat tadi dengan mendorong tubuh perempuan
berbaju putih itu hingga mundur tiga-empat langkah.
Thay-kun tak pernah menyangka ilmu
pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang akan mengenai tempat kosong.
Meskipun saat itu dia pun melihat orang yang mendorong perempuan
berbaju putih itu, namun tak sempat lagi melepaskan serangannya,
dengan cepat dia hendak memeluk orang yang berbaring di atas meja
itu.
Melihat perbuatan itu, nyonya muda
berbaju putih itu segera berteriak, "Jangan kau sentuh dia!"
Jangan dilihat badannya lemah-gemulai
seperti tak bertenaga, ternyata gerakannya cepat dan sama sekali di
luar dugaan. Tahu-tahu sebuah pukulan telah dilontarkan ke depan.
Telapak tangan kanan nyonya berbaju
putih itu menghantam di atas bahu kanan Thay-kun.
Akibatnya Thay-kun tidak mampu menahan
diri lagi, dengan sempoyongan dia terdorong mundur tiga-empat
langkah, kemudian memuntahkan darah segar.
Selapis hawa membunuh yang sangat
menggidikkan segera memancar dari mata Thay-kun, pelan-pelan dia
mengangkat telapak tangan kirinya.
Mendadak terdengar suara seorang kakek,
"Tahan!"
Suara itu terlambat, pukulan
Soh-li-jian-yang-sin-kang Thay-kun telah dilontarkan ke depan.
Nyonya berbaju putih mendengus tertahan,
lalu sambil memeluk perutnya yang besar dia terjongkok dan duduk di
tanah.
Saat itulah Thay-kun baru melihat lawan
adalah seorang perempuan yang sedang mengandung. Dia menjadi
tertegun, kemudian kakinya menjadi lemas dan akhirnya jatuh terduduk
di atas tanah.
Paras muka nyonya muda berbaju putih
pucat-pias seperti mayat. Mukanya mengejang keras, dengan suara
penuh penderitaan dia berkata, "Empek, tolong bantu aku
melindunginya, dia segera akan mendusin."
Ternyata di dalam ruangan itu telah
bertambah dengan seorang kakek berbaju hijau.
Kakek itu mempunyai wajah yang keras,
alis matanya berwarna putih, telinga besar, namun tampaknya seperti
sedang menderita sesuatu penyakit sehingga mukanya kuning
kepucat-pucatan.
Kendatipun demikian, hal itu sama sekali
tidak menutupi kegagahan serta kewibawaannya.
Kakek berbaju hijau memandang sekejap ke
arah nyonya muda berbaju putih, lalu tanyanya dengan ramah,
"Parahkah luka yang kau derita?"
"Parah sekali, telah menggoncang
rahimku!"
Dalam pada itu Thay-kun sudah mulai
sadar, secara lamat-lamat tindakan yang dilakukan perempuan muda
berbaju putih tadi bukan bermaksud hendak mencelakai
Bong Thian-gak, melainkan sedang
mengobati lukanya dengan ilmu tusuk jarum yang sangat hebat.
Thay-kun benar-benar menyesal, menyesal
atas kecerobohannya.
Dengan cepat ia meronta bangun dari atas
tanah, lalu tanyanya agak gemetar, "Si...
siapakah kau?"
Dengan wajah murung dan suara merintih,
nyonya muda berbaju putih itu berbisik pelan, "Mungkin
... mungkin kau telah mencelakai
jiwa anakku yang masih dalam kandungan."
"Ai, aku ...
aku benar-benar telah khilaf. Aku
... aku kelewat ceroboh," keluh
Thay-kun sambil menghela napas sedih.
Kakek berbaju hijau berjalan mendekat,
lalu mengeluarkan sebuah botol obat menuju ke hadapan nyonya muda
itu. Dengan cepat dia mengeluarkan tiga butir pil, ujarnya dengan
lembut, "Cepat kau telan pil ini. Pil itu adalah Kiu-coan-bing-wan,
bisa jadi akan menekan goncangan pada rahimmu."
Dengan cepat nyonya muda berbaju putih
menerima pemberian itu dan sekaligus menelan ketiga butir pil itu.
Betul juga, ketika pil itu masuk ke dalam mulut, terasa harum
semerbak memancar kemana-mana. Rasa sakit dalam perut juga semakin
berkurang.
Tiba-tiba Thay-kun membimbing nyonya
muda berbaju putih itu, kemudian bisiknya, "Cici, maafkanlah aku!"
Setelah menelan pil tadi, rasa sakit
yang melilit perut nyonya muda berbaju putih itu pun semakin
berkurang, dengan kening berkerut dia segera bertanya, "Siapakah
kau? Mengapa kau kenal padanya?"
"Apakah Cici kenal padanya?" Thay-kun
balik bertanya dengan terkesiap.
"Dia adalah suamiku," jawab si nyonya
muda itu dengan suara pedih.
Thay-kun benar-benar terkejut sekali.
"Ah, kalau begitu kau adalah
... adalah
Song Leng-hui!"
Agaknya nyonya muda berbaju putih itu
sama sekali tak mengira Thay-kun bisa menyebut namanya dengan tepat,
selapis sinar duka dan murung segera memancar dari balik matanya,
pelan-pelan dia bertanya, "Siapakah namamu?"
"Aku bernama Thay-kun, aku adalah adik
seperguruannya."
Ternyata nyonya muda berbaju putih itu
adalah Song Leng-hui. Sejak
Bong Thian-gak
meninggalkannya untuk turun gunung, dia hidup seorang diri di tengah
pegunungan yang terpencil sambil merindukan suaminya, rasa rindu itu
kian hari kian bertambah.
Setiap pagi maupun senja, dia selalu
berdiri di puncak bukit sambil menunggu suaminya pulang.
Pada bulan kedua,
Song Leng-hui merasa ada perubahan
pada dirinya. Perut pun makin hari makin membesar, dia tahu hubungan
intim yang mereka lakukan pada malam itu telah menghasilkan benih
dalam rahimnya.
Kejadian itu membuat
Song Leng-hui semakin mengharapkan
suaminya pulang, dia ingin turun gunung, tapi pesan orang tuanya
sebelum meninggal membuatnya tak berani membangkang sumpah untuk
turun gunung.
Tapi rasa rindu yang menyiksa dirinya
serta perut yang semakin bertambah besar, membuat perempuan itu tak
bisa berdiam diri lagi, akhirnya tanpa berpikir lebih jauh, ia
segera turun gunung.
Setelah turun gunung, dia pun mulai
menyusuri jejak Bong
Thian-gak sepanjang jalan. Dia pergi ke Ho-pak, lalu ke Ho-lam,
sebulan lebih dia menderita dan mengembara, namun jejak
Bong Thian-gak belum juga ditemukan.
Dalam sedih dan tekanan batin yang
sangat berat, akhirnya terjadi perubahan pada dirinya. Setiap senja
mulai menjelang tiba, dia mulai menyusuri tempat terpencil dan
meneriakkan nama, "Engkoh Gak ...engkoh Gak."
Akhirnya dia berhasil juga menemukan
Bong Thian-gak.
Ia tergeletak di bawah pohon dalam
keadaan sangat kritis, maka sambil membopong tubuhnya dan menyusuri
jalanan sejauh satu li lebih, akhirnya dia berhasil menemukan gedung
itu.
Song Leng-hui
menghela napas sedih, pelan-pelan katanya, "Thay-kun, aku pernah
mendengar nama itu disebut olehnya, dia terjun kembali ke dunia
persilatan tak lain karena ingin menolongmu. Ai, tapi dia
... dia telah berubah menjadi begini
rupa sekarang."
Air mata bercucuran membasahi wajah
Thay-kun, serunya lirih, "Enci Song,
maafkanlah aku, aku memang pantas mati bila kau
mengalami sesuatu. Bagaimana mungkin aku bisa
mempertanggungjawabkan kepada Bong-suheng."
Thay-kun menangis, menangis dengan
sedihnya.
Suara isak-tangisnya amat memilukan,
membuat siapa pun yang mendengar turut berduka.
Memandang keadaan itu.
Song Leng-hui menjadi terharu pula,
tanpa terasa dia segera menghibur, "Enci Thay-kun, kau tidak usah
bersedih, aku tak akan mati."
"End Song,
tadi aku telah melancarkan serangan dengan ilmu
Soh-li-jian-yang-sin-kang, aku sudah seharusnya mati."
Mendadak kakek berbaju hijau itu
menghela napas panjang, lalu berkata, "Sebenarnya ilmu pukulan
Soh-li-jian-yang-sin-kang adalah ilmu sakti yang sangat langka, tapi
untunglah, nona Song memiliki
tenaga Tay-gi-khi-kang yang melindungi badannya, sehingga luka yang
dideritanya pun tidak terlampau parah."
Perkataan kakek berbaju hijau membuat
kedua orang perempuan itu segera sadar bahwa di dalam ruangan itu
masih hadir seorang kakek berbaju hijau.
Song Leng-hui
segera berpaling ke arah kakek itu, kemudian ujarnya dengan lembut,
"Terima kasih banyak atas pemberian obat Locianpwe. Maafkanlah,
Siauli sedang terluka sehingga tak dapat menyampaikan rasa terima
kasihku kepadamu."
"Nona Song
tidak usah banyak adat."
Tiba-tiba Song
Leng-hui berkata lagi, "Tampaknya Locianpwe adalah tuan
rumah gedung ini. Bila Siauli telah memasuki gedung kediamanmu pada
saat yang kurang cepat dan secara gegabah, harap Locianpwe sudi
memaafkan."
Sebenarnya Thay-kun mengira
Song Leng-hui dan kakek berbaju
hijau itu berasal dari satu jalan, dia baru tertegun sesudah
mendengar perkataan itu, tanpa terasa dia memperhatikan beberapa
kejap.
"Tak usah sungkan-sungkan," kata kakek
berbaju hijau itu sambil tersenyum. "Kita dapat bersua berarti di
antara kita memang punya jodoh."
Song Leng-hui
kembali tersenyum.
"Locianpwe memang betul-betul seorang
tokoh yang luar biasa. Nyatanya kau sanggup menebak asal-usul ilmu
silatku secara tepat, bolehkah aku tahu siapa nama Locianpwe?"
Sambil mengelus jenggotnya yang panjang
dan tertawa, kakek berbaju hijau itu berkata, "Tay-gi-khi-kang
merupakan ilmu silat yang luar biasa dalam persilatan, di kolong
langit dewasa ini pun hanya Song-ciu suami-istri yang memiliki
kepandaian itu. Bila dugaanku tidak salah, sudah pasti nona adalah
keturunan Song-ciu."
Berubah paras muka
Song Leng-hui, cepat dia bertanya,
"Siapakah Locianpwe?"
Dalam benak
Song Leng-hui dengan cepat melintas pesan terakhir
ayahnya sebelum meningal, "Anak Hui, sekalipun kau berhasil melatih
ilmu silat yang luar biasa, ilmu Tay-gi-khi-kang serta berbagai
macam ilmu silat lainnya, namun bagaimana pun juga kau tidak boleh
turun gunung, sebab orang tuamu mempunyai seorang musuh besar yang
lihai sekali. Bukan saja dia telah berhasil melatih berbagai macam
ilmu silat yang hebat di dunia ini, dia pun berhati kejam dan buas.
Sekali kau menggunakan ilmu silatmu, maka dia akan segera mengenali
asal-usulmu itu dan melakukan pembunuhan atas dirimu."
"Oleh karenanya aku meminta kau
bersumpah dan selama hidup tidak turun gunung, selama hidup
merahasiakan ilmu silat yang kau miliki itu
... sekalipun terhadap kekasihmu
sendiri, kau juga tidak boleh memperlihatkan ilmu silatmu sendiri."
Hati Song
Leng-hui benar-benar bergetar keras, ditatapnya kakek
berbaju hijau itu lekat-lekat tanpa berkedip.
Menyaksikan ketegangan yang mencekam
Song Leng-hui, diam-diam
Thay-kun menegur kecerobohannya, maka dia pun memutuskan bila kakek
itu bersiap melakukan serangan, maka dia akan turun tangan lebih
dahulu.
Sementara itu kakek berbaju hijau sudah
memandang sekejap ke arah kedua gadis itu, kemudian katanya, "Kalian
tak usah bertanya siapa namaku, kalian pun tidak perlu curiga dan
takut terhadapku."
Song Leng-hui
adalah seorang yang baru terjun ke dunia Kangouw, pengetahuan serta
pengalaman yang dimilikinya masih cetek. Setelah mendengar ucapan
kakek itu, dia menjadi tersipu-sipu dan segera menundukkan kepala.
Sebaliknya Thay-kun segera tersenyum,
seraya berkata, "Ah, kami tidak lebih hanya merasa bahwa Locianpwe
adalah seorang aneh, lain daripada yang lain."
"Melihat yang aneh jangan terasa aneh,
keanehan hanya akan muncul dari dasar hati," kata kakek berbaju
hijau itu sambil mengelus jenggotnya dan tertawa.
Kemudian dia berpaling dan memandang
sekejap ke arah Bong
Thian-gak yang masih terbaring di atas meja sambil berkata, "Ilmu
tusuk jarum Song-hujin yang mengandalkan dua puluh empat batang
jarum emas dan perak merupakan tandingan dari berbagai macam racun
yang ada di dunia ini, kini semua racun yang ada di dalam tubuhnya
mungkin sudah punah oleh tusukan jarum emas dan perak itu.
Nona Song, kau boleh mencabut semua
jarum emas dan perak itu."
"Locianpwe, tampaknya kau seperti banyak
tahu tentang segala sesuatu mengenai kedua orang tuaku?" tanya
Song Leng-hui curiga.
Kakek berbaju hijau itu segera tertawa
terbahak-bahak, "Nama besar Song-ciu suami-istri tercantum dalam
deretan nama sepuluh tokoh persilatan. Nama mereka amat termasyhur,
tak aneh bila diketahui setiap orang."
"Locianpwe, maaf bila aku mengajukan
pertanyaan secara sembrono," tukas Thay-kun. "Aku lihat wajahmu
kurang baik. Apakah kau merasa kurang sehat?"
Kembali kakek berbaju hijau itu tertawa
tergelak, "Benar-benar memiliki ketajaman mata luar biasa. Betul,
aku memang menderita suatu penyakit menahun."
"Bolehkah aku tahu penyakit apakah itu?"
"Keracunan," jawab si kakek sambil
tersenyum.
"Apakah racun yang bersarang di dalam
tubuh Locianpwe sukar untuk diobati?"
"Racun yang bersarang dalam tubuhku cuma
bisa disembuhkan oleh dua orang saja di kolong langit dewasa ini."
"Aku tahu siapakah kedua orang yang kau
maksudkan itu."
"Coba katakanlah!"
"Si tabib sakti Gi Jian-cau serta dua
puluh empat batang jarum emas dan perak Song-hujin!"
Sekali lagi kakek berbaju hijau itu
tertawa terbahak-bahak, "Pintar sekali. Dugaanmu memang sangat
tepat, tapi aku tidak habis mengerti, darimanakah kau bisa menebak
isi pikiranku secara tepat."
"Sewaktu enci
Song terluka tadi, aku dapat melihat bahwa kau merasa
amat gelisah dan tidak tenang."
Song Leng-hui
yang mendengarkan pembicaraan itu, segera mengedipkan matanya yang
jeli berulang kali, kemudian ditengoknya kakek itu sekejap, katanya,
"Benarkah Locianpwe menderita luka keracunan menahun?"
"Benar," kakek berbaju hijau itu
mengangguk. "Racun yang bersarang di dalam tubuhku itu sudah
menyiksaku selama puluhan tahun lamanya."
"Bila Locianpwe memang terluka, sudah
sepantasnya bila aku membantumu dengan segenap kemampuan yang
kumiliki."
"Kalau begitu aku ucapkan banyak terima
kasih lebih dulu."
Tiba-tiba Song
Leng-hui berkata kepada Thay-kun, "Enci Thay-kun, coba
kau pergilah ke sana dan cabutlah kedua puluh empat batang jarum
emas dan perak itu dari atas tubuh engkoh Gak."
Thay-kun segera berjalan ke hadapan
Bong Thian-gak dan mencabut
kedua puluh empat batang jarum emas dan perak yang menancap di tubuh
Bong Thian-gak.
Dengan suara lembut
Song leng-hui segera berkata lagi,
"Setengah jam kemudian dia akan mendusin. Enci Thay-kun setelah
termakan oleh pukulan Tay-gi-ciang tadi, kuduga isi perutmu sudah
menderita luka ringan. Kau cepatlah duduk bersila untuk mengatur
pernapasan, kalau tidak, bila darah sampai membeku di dalam badan
sudah pasti akan menciptakan luka dalam yang tak terobati."
Thay-kun merasa berterima kasih sekali
mendengar perkataan itu, kemudian katanya, "Enci
Song, aku tidak apa-apa, yang
penting adalah kau sendiri."
"Ketiga butir pil mujarab yang
dihadiahkan Locianpwe kepadaku sangat mujarab, mungkin keadaanku
sudah tidak apa-apa lagi. Sekarang biar aku beristirahat dulu
sejenak, sebelum membantu menyembuhkan luka yang diderita
Locianpwe."
"Tak perlu terburu napsu," cepat kakek
berbaju hijau berkata. "Tak ada salahnya bila nona
Song sekalian beristirahat beberapa
hari dulu di sini. Bila luka yang kau derita sudah sembuh, barulah
kau coba membantuku mengobati luka yang kuderita ini."
"Enci Song,"
Thay-kun segera menyambung, "mari kita beristirahat dulu selama
beberapa hari di sini."
Song Leng-hui
menghela napas panjang.
"Ai, antara kita dan Locianpwe ini boleh
dibilang sama sekali tidak kenal dan tak punya hubungan apa-apa. Aku
merasa kurang enak untuk mengganggu ketenangan orang lain."
Si kakek berbaju hijau segera tertawa,
"Perkataan nona Song terlalu
serius. Bila kau sanggup menyembuhkan penyakitku yang telah menahun
ini, maka aku akan sangat berterima kasih kepadamu, bahkan budi
kebaikan ini pun tak tahu bagaimana musti kubayar. O, ya
.... Bukankah kalian belum bersantap
malam? Sebentar biar aku masuk ke dalam dan memerintahkan
orang-orangku mempersiapkan hidangan mafam untuk kalian."
Selesai berkata kakek berbaju hijau
segera beranjak masuk ke ruang dalam, dengan begitu dalam ruangan
pun tinggal Bong Thian-gak,
Song Leng-hui dan Thay-kun
bertiga.
Sekalipun Thay-kun dan
Song Leng-hui menaruh kecurigaan
terhadap asal-usul kakek itu, namun sikap bersahabat si kakek
membuat mereka tak mampu menduga secara sembarangan.
Tak lama setelah kakek itu masuk, dari
ruang dalam telah muncul dua orang dayang berbaju hijau, yang
seorang membawa baki berisi enam buah cawan, sedang yang lain
membawa sebuah poci berisi air teh.
Kedua orang dayang itu berusia antara
lima-enam belas tahun, berkulit putih, bermata jeli dan senyum manis
menghiasi ujung bibirnya, membuat siapa pun yang memandang merasa
tertarik.
Dayang berbaju hijau yang berada di
sebelah kanan segera berkata dengan suara merdu, "Bila pelayanan
kami terlambat, harap sudi dimaafkan. Silakan nona berdua minum
teh!"
Sembari berkata kedua dayang itu telah
mempersembahkan dua cawan air teh dengan cepat.
Tanpa sungkan Thay-kun dan
Song Leng-hui segera menerima cawan
air teh itu.
Tiba-tiba Thay-kun merasa cawan teh itu
dingin sekali, ketika diamati lebih seksama lagi, ternyata terbuat
dari kemala asli.
Dengan terkejut Thay-kun berseru, "Wah,
keenam cawan ini benar-benar benda antik yang tak ternilai
harganya!"
"Ketajaman mata nona sungguh
mengagumkan," kata dayang berbaju hijau itu sambil tersenyum.
"Keenam cawan kemala putih berusia seribu tahun ini merupakan cawan
yang hanya digunakan majikan terhadap tamu agung. Konon bila
menggunakan cawan ini untuk menyeduh air teh, bukan saja baunya akan
lebih harum dan rasanya manis, terlebih dapat menyegarkan tubuh."
Sementara itu
Song Leng-hui telah meneguk secawan. Dia segera
berseru, "Oh, sungguh harum sekali. Belum pernah aku minum air teh
semacam ini."
Thay-kun segera turut mencicipi, dengan
cepat dia pun memuji tiada hentinya,
"Air teh ini benar-benar lezat dan
harum. Bagaikan cairan kental yang menyegarkan badan, benar-benar
luar biasa."
Sementara itu dayang berbaju hijau itu
sudah berdiri di samping dan memenuhi dua cawan air teh lagi.
"Mengapa adik berdua tidak mencicipi
pula secawan?" kata Song
Leng-hui tiba-tiba.
Dayang berbaju hijau itu segera
tersenyum.
"Air teh dalam cawan kemala putih
berusia seribu tahun merupakan benda yang tak ternilai harganya.
Budak tak berani meneguknya."
Thay-kun yang mendengar perkataan itu
segera merasa amat terkejut, pikirnya dengan cepat, "Mengapa mereka
tak berani minum air teh itu? Jangan-jangan di balik semua itu
terdapat hal-hal yang tak beres."
Belum selesai ingatan itu melintas,
tiba-tiba terdengar suara gelak tawa yang sangat keras, "Siu-kong,
Siu-go, bukankah tamu telah menghadiahkan secawan teh kemala putih
kepada kalian? Mengapa kalian tidak berterima kasih kepada tamu?"
Mendengar ucapan itu, kedua dayang
berbaju hijau itu segera berkata bersama, "Terima kasih banyak budak
ucapkan atas pemberian teh dari nona."
Kemudian mereka meneguk habis isi cawan
itu dengan lahapnya, setelah
itu ia baru berseru, "Hm, sungguh harum, sungguh manis."
Dari sikap kedua dayang itu meneguk air
teh, Song Leng-hui dapat
melihat bahwa mereka belum pernah mencicipi air teh yang berasal
dari cawan kemala berusia seribu tahun itu, maka setelah tertegun
sejenak, tanyanya, "Apakah kalian belum pernah minum air teh itu?"
Dari balik ruangan muncul kembali kakek
berbaju hijau itu, sambil tersenyum ia segera berkata, "Cawan kemala
putih berusia seribu tahun merupakan benda langka yang tak ternilai
harganya di dunia ini, belum pernah kuserahkan cawan itu untuk
dipakai para pelayan. Oleh sebab itu harap kalian berdua jangan
menertawakannya."
Song Leng-hui
berkerut kening mendengar perkataan itu, diam-diam pikirnya, "Pelit
amat orang ini, tapi heran, mengapa ia justru bersikap royal kepada
kami?"
Sebaliknya Thay-kun segera berkata pula
sambil tertawa, "Silakan Locianpwe pun menikmati secawan air teh
bersama kami."
Thay-kun tahu bahwa kaum persilatan
penuh dengan tipu-muslihat serta ancaman mara bahaya, apalagi
asal-usul kakek berbaju hijau itu tidak diketahui secara jelas,
bagaimana pun juga ia merasa wajib untuk menjaga diri dan waspada
terhadap serangan lawan.
Tampaknya kakek berbaju hijau itu dapat
membaca suara hati Thay-kun, dia segera tertawa terbahak-bahak,
"Tentu saja aku harus menemani tamu minum bersama."
Sementara itu Siu-kong telah
mengangsurkan pula secawan air teh ke hadapannya, kakek berbaju
hijau itu segera meneguknya sampai habis, kemudian baru berkata
sambil tertawa ringan, "Siu-kiong, Siu-go, cepat masuk dan bantu
Hay Cing-cu menyiapkan sayur
dan arak."
Kedua dayang berbaju hijau segera
menjura dan mengundurkan diri dari ruangan itu.
Sementara kakek itu sudah duduk dan
berkata sambil tersenyum, "Sejak setengah tahun berselang, aku
pindah kemari untuk merawat lukaku. Untuk itu aku hanya membawa tiga
orang pembantu saja, itulah sebabnya gedung ini kosong dan amat sepi
rasanya."
Song Leng-hui
serta Thay-kun memang ingin mengajukan pertanyaan itu kepada si
kakek, sungguh tak disangka ternyata dia telah memperkenalkan diri
terlebih dahulu.
Dalam hati Thay-kun tanpa terasa timbul
perasaan curiga dan bimbang, sambil tertawa merdu dia lantas
berkata, "Bolehkah aku tahu, siapakah nama Locianpwe?"
Kakek itu tertawa tergelak, "Nona
Thay-kun, cepat atau lambat kalian pasti akan mengetahui siapa aku."
Baru selesai dia berkata, suara rintihan
pelan bergema dari mulut Bong
Thian-gak yang berbaring di meja, kemudian tampak anak muda
itu bangkit dan duduk.
Begitu duduk, kebetulan sekali sorot
matanya tertuju ke arah Song
Leng-hui yang berada di hadapannya. Dalam tertegunnya,
Bong Thian-gak segera
menggosok-gosok matanya berulang kali.
Tiba-tiba terdengar
Song Leng-hui berseru, "Engkoh Gak
... ini aku!"
Dengan cepat dia sudah menubruk ke muka.
"Leng-hui ...
kau? Atau aku sedang bermimpi?" seru
Bong Thian-gak sambil menggeleng
kepala berulang kali.
Sementara itu Thay-kun segera bangkit
dan menghampirinya sambil berkata, "Kau bukan lagi bermimpi, enci
Song turun gunung hendak
menolongmu."
Saat itu Bong
Thian-gak telah melihat jelas raut muka setiap orang
yang berada dalam ruangan itu, jelas semua ini bukan dalam mimpi,
tapi kenyataan. Dalam ingatannya, Song
Leng-hui adalah seorang gadis lemah yang sama sekali
tak mengerti ilmu silat, darimana dia sanggup menyembuhkan lukanya?
Tapi benarkah dia mampu menolongnya?
Bukankah tiga tahun berselang, dia pun
pernah menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut?
Berbagai ingatan berkecamuk dalam benak
Bong Thian-gak, tiba-tiba
sorot matanya tertumbuk kepada perut Song
Leng-hui yang membengkak besar.
Tanpa terasa ia tertegun dan bergumam
lirih, "Kau ... kau telah
mengandung?"
Dalam pada itu
Song Leng-hui pun sudah melihat
sikap Bong Thian-gak yang
bingung dan tak habis mengerti, dia malah tertegun dibuatnya,
tiba-tiba saja gadis itu menangis tersedu-sedu sambil menundukkan
kepala.
Tangisan yang kelewat sensitif kaum
wanita. Ketika ia lihat kegugupan pemuda itu, disangkanya si pemuda
tidak menyukainya lagi, tidak suka kalau dia mengandung, maka
hatinya menjadi amat sedih.
Tiba-tiba Thay-kun berkata dengan
dingin, "Bong-suheng, enci Song
telah mengandung anakmu. Kau benar-benar amat kejam,
membiarkan seorang gadis yang lemah hidup seorang diri di atas
gunung yang terpencil, sekarang dia telah melakukan perjalanan jauh
dan bersusah-payah mencari kau, bahkan menyelamatkan pula jiwamu,
mengapa kau justru bersikap begitu dingin dan hambar kepadanya?"
Ketika melihat istrinya menangis.
Bong Thian-gak dibuat semakin
tertegun lagi, dia baru sadar dari lamunannya, tiba-tiba ia
berteriak dan menubruk ke depan, lalu sambil memegang bahunya dia
berseru dengan gembira, "Leng-hui, kau ...
kau benar-benar sudah mengandung anak kita berdua? Oh,
aku gembira sekali. Belum pernah terbayang olehku akan mendapat
anak, aku benar-benar merasa gembira."
Song Leng-hui
ikut tertawa dengan tersipu-sipu malu, katanya lirih, "Benarkah kau
menyukai anak? Aku malah merasa jengkel karena dia datang terlalu
cepat."
"Lebih cepat malahan lebih baik," seru
Bong Thian-gak sambil
melompat kegirangan. "Aku malah ingin sekali dia lahir saat ini juga
dan memanggil ayah padaku."
"Tempat ini bukan rumah kita, kau jangan
berteriak-teriak seperti anak kecil."
Mendengar itu,
Bong Thian-gak baru memperhatikan
sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tanyanya heran, "Berada
dimanakah kita sekarang? Mengapa kau turun gunung? Bersediakah kau
menceritakan segalanya kepadaku?"
Mendadak kakek berbaju hijau itu
berkata, "Nona Song dan
Bong-laute telah bertemu kembali setelah berpisah sekian lama, tentu
banyak persoalan yang hendak kalian bicarakan, biarlah aku mohon
diri lebih dulu."
Kali ini Bong
Thian-gak dapat melihat paras muka kakek berbaju hijau
itu dengan jelas, air mukanya segera berubah. Setelah tertegun
sejenak, pikirnya, "Aku seperti pernah berjumpa orang ini? Tapi
siapakah dia? Ya, siapakah dia?"
Dalam pada itu si kakek berbaju hijau
sudah mengundurkan diri dari ruangan itu.
Thay-kun sendiri merasa kecut hatinya,
di samping rasa cemburu yang timbul secara tiba-tiba setelah
menyaksikan Song Leng-hui dan
Bong Thian-gak berbicara
lirih dengan sikap begitu mesra dan penuh cinta kasih, diam-diam dia
segera membalikkan badan dan beranjak pergi pula dari situ.
Song Leng-hui
yang menyaksikan keadaan itu segera mengejar ke depan, sambil
serunya, "Enci Thay-kun, kau hendak pergi kemana?"
Thay-kun menyahut sambil tersenyum,
"Bong-suheng sudah sehat kembali, aku ...
aku hendak pergi dari sini."
"Enci, kau tak boleh pergi. Bila kau
pergi, maka aku pun akan segera pulang ke gunung."
Sambil menghela napas
Bong Thian-gak berkata pula,
"Thay-kun, kau jangan pergi dulu. Sekalipun hendak pergi, tak perlu
tergesa-gesa. Ai, tempat apakah ini? Siapa pula kakek tadi?"
Sesungguhnya Thay-kun pun sudah melihat
pula perubahan air muka Bong
Thian-gak setelah melihat paras muka kakek berbaju hijau itu. Satu
ingatan segera melintas dalam benaknya, segera tanyanya,
"Bong-suheng, apakah kau pernah bersua dengannya? Dia adalah tuan
rumah tempat ini, gedung ini terletak di luar kota Lok-yang, di
sekelilingnya tidak bertetangga."
"Jadi kalian sama sekali tidak kenal
padanya?" tanya Bong
Thian-gak dengan kening berkerut.
"Ya, kami tak pernah kenal sebelumnya."
Secara ringkas Thay-kun segera
menceritakan kembali apa yang mereka alami. Dengan kening berkerut
kencang Bong Thian-gak
mendengarkan kisah itu dengan penuh perhatian.
Song Leng-hui
menaruh kesan baik terhadap kakek berbaju hijau itu, cepat dia
berseru, "Engkoh Gak, empek tua ini sangat ramah, gagah dan
menyenangkan, dia pasti orang baik-baik."
Mendadak Bong
Thian-gak berseru tertahan, paras mukanya kembali
berubah hebat, serunya lirih, "Dia agak mirip dengan..”
Dengan merendahkan suaranya hingga
setengah berbisik, Bong
Thian-gak berkata, "Raut mukanya sangat mirip Sam-cing Totiang."
"Hek-mo-ong!" Thay-kun terkejut.
"Seandainya dia benar-benar adalah
Sam-cing Totiang, kita tak boleh berdiam lama di sini."
"Siapa Hek-mo-ong?" tanya
Song Leng-hui dengan perasaan tidak
habis mengerti.
"Dia adalah seorang jago silat yang
ganas dan berhati buas, sedikit pun tidak berperi-kemanusiaan."
"Engkoh Gak, kau jangan salah melihat
orang."
"Benar, aku sendiri pun tidak mempunyai
keyakinan untuk mengenalinya sebagai Sam-cing Totiang, namun
perawakan tubuh serta bayangan punggungnya mirip Sam-cing Totiang."
Tiba-tiba Thay-kun berkata, "Seandainya
dia adalah Hek-mo-ong, seharusnya dia sudah turun tangan terhadap
kita sejak tadi."
Hek-mo-ong adalah seorang tokoh sakti
yang dikenal namanya oleh setiap umat persilatan, namun tak seorang
pun yang berhasil menjumpainya. Untuk bisa membuktikan apakah dia
adalah Hek-mo-ong atau bukan, terpaksa mereka harus tetap tinggal di
situ.
"Apa yang mesti kita lakukan sekarang
untuk membuktikan dia benar-benar adalah Hek-mo-ong atau bukan?"
tanya Bong Thian-gak
kemudian.
Thay-kun memandang sekejap ke arah
Bong Thian-gak, lalu katanya,
"Sewaktu berada di Ban-jian-bong, Hek-mo-ong pernah terkena tusukan
pedang Tan Sam-cing, agaknya
tusukan itu telah mendatangkan luka yang cukup berat baginya."
"Jadi kita harus memeriksa tubuhnya,
adakah luka bekas tusukan atau tidak?"
"Enci Leng-hui telah berjanji untuk
menyembuhkan luka yang dideritanya."
"Oh, benarkah itu?" tanya
Bong Thian-gak cepat.
"Benar," sahut
Song Leng-hui. "Aku telah berjanji
akan mengobati penyakitnya, sudah barang tentu aku tak boleh
mengingkari perkataan sendiri."
"Penyakit apa yang dideritanya?"
"Dia bilang keracunan hebat, penyakit
itu sudah menyiksanya selama puluhan tahun."
"Racun keji? Racun apakah itu? Masakah
dapat mengeram di dalam badan sampai puluhan tahun lamanya?"
"Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok, sedang
Thio Kim-ciok sudah dicelakai oleh sepuluh tokoh persilatan dan Ho
Lan-hiang pada tiga puluh tahun berselang, mayatnya pun telah
tenggelam di dasar telaga. Andaikan Thio Kim-ciok dapat lolos dari
musibah itu, maka dia tentu akan menderita pula penyakit menahun."
"Sekarang kakek berbaju hijau itu
mengatakan dirinya menderita penyakit menahun, kenyataan ini sesuai
dengan keadaan Thio Kim-ciok, bila dia bangkit dari hidupnya. Untuk
menyingkap teka-teki ini, kita memang wajib tetap tinggal di sini."
Kemudian setelah berhenti sejenak,
Thay-kun menyambung lebih jauh, "Andaikata kakek berbaju hijau itu
benar-benar adalah Hek-mo-ong Thio Kim-ciok, aku pikir dia pun tak
akan turun tangan keji terhadap kita, kita tak punya dendam sakit
hati apa pun dengannya?"
"Betul," Bong
Thian-gak menghela napas panjang. "Kita memang tak
punya dendam sakit hati apa pun dengannya, tapi tersangkut pula
sedikit dendam dengannya. Bukankah Oh Ciong-hu adalah guruku."
Sampai di sini dia menengok sekejap ke
arah Song Leng-hui, kemudian
katanya sambil menghela napas, "Tak kusangka pula.
Song Leng-hui adalah keturunan
Song-ciu suami-istri. Oleh sebab itu bila Hek-mo-ong benar-benar
adalah Thio Kim-ciok, mungkin aku dan Leng-hui tak akan dilepaskan
olehnya begitu saja."
Lambat-laun
Song Leng-hui sudah dapat menangkap garis besar
pembicaraan itu, dengan wajah berubah ia segera berseru, "Sebelum
meninggal dunia, ayah pernah berpesan kepadaku bahwa dia mempunyai
seorang musuh besar yang sangat lihai. Engkoh Gak, kalian mengatakan
sepuluh tokoh persilatan telah membinasakan Thio Kim-ciok,
sebenarnya siapa Thio Kim-ciok itu?"
Sekali lagi
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Hingga sekarang aku sendiri pun tidak
mengetahui sumber dendam kesumat itu. Biarlah kalau ada waktu
senggang akan kuberitahukan persoalan itu kepadamu."
Baru selesai dia berkata, mendadak
terdengar suara gelak tertawa yang amat keras.
Kakek berbaju hijau telah muncul kembali
dari ruang belakang sambil berkata, "Aku cukup tahu sejarah hidup
saudagar kaya-raya Thio Kim-ciok. Apabila kalian bertiga tidak
merasa bosan, aku bersedia menceritakan kisahnya secara garis
besar."
Bong Thian-gak
dan Thay-kun menjadi melongo, sebaliknya
Song Leng-hui berseru dengan merdu, "Cepatlah ceritakan
Locianpwe, orang macam apakah Thio Kim-ciok itu?"
Sambil mengelus jenggot, kakek berbaju
hijau tertawa, "Baik, aku akan bercerita, tapi panjang sekali untuk
mengisahkan peristiwa itu. Bukankah kalian bertiga belum bersantap
malam? Mari kita bersantap di ruang belakang lebih dulu sambil
bercerita."
"Kalau begitu terpaksa kami mengganggu
ketenanganmu," ucap Thay-kun sambil tertawa.
Kakek berbaju hijau balas tertawa.
"Setiap orang persilatan lebih
mengutamakan kebebasan dan keterbukaan, apalagi kita merasa cocok
sejak bertemu. Buat apa mesti sungkan-sungkan lagi? Mari ikut aku."
Selesai berkata, kakek berbaju hijau
segera membalikkan badan dan beranjak lebih dulu, dia berjalan
menuju ke halaman belakang, kemudian setelah melalui sebuah beranda
menuju ke kebun bunga di halaman belakang.
Di dalam kebun terdapat gunung-gunungan,
gardu dan aneka bunga yang menyebarkan bau harum semerbak.
Sementara itu di sebuah gardu di hadapan
mereka tampak cahaya lentera bersinar terang. Sebuah meja perjamuan
yang penuh dengan berbagai macam hidangan telah disiapkan, dua orang
berdiri di samping meja, mereka adalah sepasang dayang berbaju hijau
yang tadi, sedangkan di sisi lain berdiri seorang aneh bermuka hijau
yang bertubuh gemuk pendek dan berwajah jelek sangat menyeramkan.
Begitu mereka memasuki gardu, Sui-kiong
dan Sui-go segera menyiapkan tempat duduk sambil tersenyum-simpul,
sedangkan lelaki bermuka aneh itu tetap berdiri di tempat tanpa
berbicara atau tertawa, wajahnya sangat kaku dan tanpa emosi.
Kakek berbaju hijau itu tertawa ringan
sambil menunjuk ke arah lelaki itu, katanya, "Dia bernama
Hay Cing-cu, meski mukanya jelek dan
tak sedap dipandang, namun merupakan seorang koki yang sangat hebat,
dia sudah puluhan tahun lamanya melayani kebutuhanku, benar-benar
seorang pembantu setia yang pantas dihormati dan disegani."
Si kakek berbaju hijau segera duduk di
bangku tepat di muka Hay
Cing-cu.
"Silakan duduk, tidak usah sungkan,"
katanya lagi.
Song Leng-hui,
Thay-kun dan Bong Thian-gak
menganggukkan kepala lebih dulu ke arah
Hay Cing-cu, siapa tahu lelaki aneh bermuka jelek itu
tetap berdiri kaku tanpa emosi, sepasang matanya yang bulat sama
sekali tak bergerak, dia hanya berdiri kaku saja di situ, persis
seperti patung.
Kenyataan ini tentu saja membuat ketiga
orang itu menjadi tertegun, diam-diam pikirnya, "Aneh benar orang
ini."
Tanpa sungkan lagi, mereka segera
mengambil tempat duduk.
Dalam pada itu Siu-kiong dan Siu-go
telah menghampiri mereka untuk menuang arak dan menyiapkan hidangan.
"Tak perlu sungkan, setelah kita
bersantap dan meneguk arak, barulah berbincang-bincang."
Tampaknya kakek berbaju hijau amat
ramah, suka bersahabat dan mudah bergaul, sikapnya begitu luwes dan
berpengalaman.
Hidangan yang disiapkan benar-benar
mewah, hampir setiap hidangan rasanya lezat dan menggiurkan.
Bong Thian-gak
bertiga memang sudah lama kelaparan, sudah tentu mereka tak sungkan
lagi.
Selesai bersantap, kakek berbaju hijau
berkata sambil tersenyum, "Sekarang kita boleh mulai bercerita, tapi
sebelum dimulai, aku ingin bertanya dulu, seberapa banyak yang sudah
kalian ketahui tentang Thio Kim-ciok?"
"Aku sama sekali tidak tahu," kata
Song Leng-hui sambil
menggeleng kepala.
Kakek berbaju hijau itu segera
mengalihkan sorot matanya ke arah Thay-kun dan
Bong Thian-gak.
Thay-kun termenung sejenak, kemudian
katanya dengan suara merdu, "Kami tahu Thio Kim-ciok adalah seorang
saudagar kaya-raya pada tiga puluh tahun lalu, kekayaannya melebihi
kekayaan sebuah negeri."
Sambil tersenyum kakek berbaju hijau
manggut-manggut.
"Ya betul, kekayaan yang dimiliki Thio
Kim-ciok memang sangat besar seperti apa yang tersiar selama ini
dalam masyarakat luas."
"Kami pun tahu Thio Kim-ciok telah
mengumpulkan semua Enghiong Hohan yang ada di kolong langit. Tapi
kemudian berhubung hendak belajar silat, dia telah mengangkat
sepuluh tokoh persilatan menjadi gurunya."
Kakek berbaju hijau manggut-manggut.
"Ya, termasuk istri Thio Kim-ciok
sendiri, perempuan tercantik di wilayah Kanglam Ho Lan-hiang,
jumlahnya sebelas tokoh persilatan."
Lalu sesudah berhenti sejenak, dia
berkata lebih jauh, "Selanjutnya bagaimana kejadian yang menimpa
Thio Kim-ciok hingga dia tewas, apakah kalian tahu juga?"
"Keadaan yang sejelasnya tidak
diketahui, namun kami tahu bahwa dia mati dibunuh oleh sepuluh tokoh
persilatan serta Ho Lan-hiang, namun di antara kesepuluh jago itu
tampaknya ada dua orang yang tidak ikut dalam peristiwa itu."
"Dua orang yang mana?"
"Menurut dugaanku, kemungkinan besar
mereka adalah Liu Khi dan Tan
Sam-cing."
Kembali kakek berbaju hijau tersenyum,
"Jadi menurut pendapat kalian, Thio Kim-ciok belum mati?"
"Thio Kim-ciok memang tidak pernah
mati," jawab Thay-kun tertawa.
Kakek berbaju hijau tertawa bergelak,
"Nona memang pintar sekali. Thio Kim-ciok memang belum mati, tapi
nona tak pernah dapat menduga siapakah Hek-mo-ong?"
Ucapan itu kontan menggetarkan hati
Thay-kun dan Bong Thian-gak,
segera tanyanya, " Jadi
Hek-mo-ong bukan Thio Kim-ciok?"
Kakek berbaju hijau memandang bintang
yang bertaburan di angkasa, kemudian pelan-pelan ujarnya, "Yang akan
kita bicarakan sekarang adalah Thio Kim-ciok bukan Hek-mo-ong.
Sekarang aku hendak bertanya, apa sebabnya kesepuluh tokoh
persilatan dan Ho Lan-hiang hendak membunuh Thio Kim-ciok?"
"Bila apa yang dikatakan Liu Khi kepada
kami adalah sejujurnya, maka kesepuluh tokoh itu membunuh Thio
Kim-ciok karena kuatir apabila ia sudah mencapai puncak
keberhasilan, maka dia pasti akan merajai persilatan."
Dengan cepat kakek berbaju hijau
menggeleng kepala berulang kali, katanya, "Alasan kesepuluh tokoh
persilatan dan Ho Lan-hiang mencelakai Thio Kim-ciok rasanya tak
berbeda dengan alasan yang dipikirkan masing-masing orang, kuatir
ilmu silat yang dimiliki Thio Kim-ciok mengalami kemajuan amat pesat
sehingga mencelakai umat manusia, tapi aku tahu yang benar-benar
mempunyai pikiran demikian hanya Ku-lo Hwesio, Oh Ciong-hu, serta
Song-ciu suami-istri. Sekilas orang memang merasa bahwa alasan
keempat orang ini membunuh Thio Kim-ciok adalah benar dan tepat,
karena demi menyelamatkan umat persilatan dari ancaman bahaya besar,
namun yang mereka lakukan justru adalah termakan siasat busuk pihak
lain."
"Mengapa dikatakan mereka termakan
siasat busuk pihak lain?" tanya Thay-kun.
"Karena si perencana siasat busuk itu
sesungguhnya ingin membunuh Thio Kim-ciok demi harta."
"Demi harta? Kalau begitu si perencana
siasat busuk itu bukan Ho Lan-hiang?"
"Bukan Ho Lan-hiang, tapi niat Ho
Lan-hiang membunuh suaminya pun tak terlepas dari harta."
"Wah, semakin kudengar, aku merasa
semakin bingung dan tidak mengerti. Sebetulnya siapa perencana
siasat busuk itu?"
Tiba-tiba kakek berbaju hijau berkata
dengan suara dalam, "Semua orang tahu Thio Kim-ciok kaya-raya dan
memiliki harta yang tak terhitung banyaknya, tapi tahukah kalian
darimana Thio Kim-ciok bisa kaya-raya secara mendadak?"
"Soal itu tidak kami ketahui," Thay-kun
segera menggeleng. "Rasanya tak ada yang tahu darimanakah sumber
harta kekayaannya itu."
"Yang menjadi alasan utama kematian Thio
Kim-ciok adalah rahasia sumber kekayaannya diketahui orang lain,"
kata kakek berbaju hijau dengan suara dalam.
"Apa rahasia sumber kekayaan Thio
Kim-ciok?"
Dengan sorot mata tajam kakek berbaju
hijau memandang sekejap wajah semua orang yang hadir, kemudian
lanjutnya, "Sumber kekayaan Thio Kim-ciok diperoleh dari sebuah
bukit tambang emas yang dimilikinya. Oleh karena itu Thio Kim-ciok
memiliki emas murni yang tak ada habisnya, yang membuat dia menjadi
seorang hartawan kaya-raya yang tiada tandingannya di seluruh kolong
langit."
Semua orang menghela napas panjang, baru
sekarang mereka tahu apa yang menjadi penyebab Thio Kim-ciok menjadi
kaya-raya.
Dengan suara lembut
Song Leng-hui segera bertanya,
"Dimana letak tambang emas itu? Selain Thio Kim-ciok, siapa lagi
yang tahu?"
Kakek berbaju hijau menghela napas
panjang, "Ai, Thio Kim-ciok adalah seorang berotak licik dan berhati
ganas. Setiap orang yang dikirimnya ke tambang emas untuk
mengumpulkan emas itu, semuanya tak ada yang lolos dari pembunuhan
tutup mulut sekembalinya mengirim emas murni itu. Semakin bertambah
kekayaan Thio Kim-ciok, semakin banyak pula orang yang menjadi
korban. Selama sepuluh tahun saja, entah berapa banyak jiwa yang
telah melayang di tangannya."
Mendengar sampai di sini.
Bong Thian-gak sekalian diam-diam
terkesiap juga oleh kekejaman dan kebuasan Thio Kim-ciok.
Setelah menghela napas panjang, kakek
berbaju hijau berkata lebih jauh, "Namun Thio Kim-ciok mempunyai
juga kebajikan, yaitu setiap kali dia membunuh pekerja tambangnya,
maka dia akan memberikan emas murni dalam jumlah yang tak akan habis
digunakan oleh keluarganya sepanjang hdup sehingga anak keturunan
pekerja tambang itu tak akan mengalami kelaparan atau telantar
hidupnya."
Bong Thian-gak
tetawa dingin, serunya, "Thio Kim-ciok telah membunuh orang,
menyiksa manusia demi kepuasan dan kekayaan sendiri. Apakah dosa
sebesar ini bisa diperingan dengan kebajikannya meninggalkan emas
yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkan?"
Berubah paras kakek berbaju hijau, tapi
sejenak kemudian sudah lenyap tak berbekas. Katanya lagi sambil
menghela napas, "Benar, ada sementara orang yang menyukai kehangatan
keluarga daripada emas yang berlimpah. Tapi bilamana nyawa seseorang
bisa dikorbankan dengan timbal-balik yang sesuai, kalau
dihitung-hitung kematiannya bisa dibilang cukup berharga juga."
"Bagaimana pun juga tingkah-laku serta
perbuatan Thio Kim-ciok patut dikutuk setiap orang di dunia," kata
Bong Thian-gak dengan suara
dingin.
"Betul," kakek berbaju hijau mengangguk,
"Thio Kim-ciok memang berdosa."
"Locianpwe, lanjutkan kembali kisahmu
itu!" pinta Thay-kun dengan suara lembut.
Kakek berbaju hijau termenung dan
berpikir sejenak, kemudian katanya, "Oleh sebab itu tambang emas
milik Thio Kim-ciok belum pernah diketahui orang kedua, tapi entah
bagaimana jadinya, ternyata rahasia tambang emas miliknya itu
diketahui juga."
"Pepatah kuno mengatakan, 'Burung mati
karena makanan, manusia mati karena harta'. Kata-kata itu memang
tepat, akibatnya entah berapa banyak orang mulai menyusun rencana
busuk dan berupaya dengan segala cara untuk mendapatkan peta rahasia
tambang emas itu."
"Keselamatan jiwa Thio Kim-ciok pun
mulai tak terjamin. Suatu hari Thio Kim-ciok mendapat surat berisi
peringatan kepadanya, surat itu berbunyi, 'Dalam waktu satu bulan,
kau harus menyiapkan peta rahasia itu, kalau tidak, nyawamu tak akan
terjamin'."
"Surat itu ditanda-tangani oleh
Hek-mo-ong."
Ketika mendengar kisah itu sampai di
sini, tiba-tiba Thay-kun teringat perkataan Liu Khi. Dia segera
bertanya, "Kalau begitu Thio Kim-ciok segera mengutus Liu Khi untuk
menyelidiki siapa gerangan orang yang menamakan diri sebagai
Hek-mo-ong setelah menerima surat peringatan itu dan gara-gara hal
itu pula Thio Kim-ciok menugaskan Liu Khi untuk membunuh
Hek-mo-ong."
"Rupanya nona pun mengetahui juga
tentang peristiwa itu," kata kakek berbaju hijau sambil tersenyum.
"Yang dicurigai Thio Kim-ciok sebagai
Hek-mo-ong waktu itu tak lain adalah satu di antara kesepuluh tokoh
persilatan dan Ho Lan-hiang."
"Apakah Thio Kim-ciok mau memenuhi
keinginan Hek-mo-ong dengan melukiskan peta rahasia tambang
emasnya?"
"Benar, Thio Kim-ciok memang membuat
peta tambang emasnya itu, tapi dengan suatu kepandaian yang luar
biasa, peta itu dipecah menjadi sebelas bagian yang masing-masing
dibagikan kepada kesebelas orang."
"Siapa saja kesebelas orang itu?"
"Kesebelas orang itu adalah istrinya Ho
Lan-hiang beserta sepuluh tokoh persilatan."
"Ai, Thio Kim-ciok memang seorang
pintar," kata Thay-kun sambil menghela napas panjang. "Langkah catur
yang dilakukan olehnya ini betul-betul luar biasa. Secara tepat
sekali dapat membuat para musuh yang mengincar harta kekayaannya
saling bunuh demi memperebutkan bagian peta yang lain."
Kemudian setelah berhenti sejenak,
katanya pula, "Jelas kesebelas bagian peta rahasianya itu disebarkan
setelah ia terbunuh."
Dengan cepat kakek berbaju hijau tertawa
bangga, dia segera bertanya, "Nona Thay-kun, darimana kau tahu Thio
Kim-ciok baru menyebarkan kesebelas potongan peta rahasia sesudah
dia terbunuh?"
"Thio Kim-ciok sudah tahu kalau
Hek-mo-ong adalah satu di antara istrinya beserta sepuluh tokoh
persilatan, namun tak dapat menentukan secara pasti siapakah
orangnya, lagi pula dia pun tahu, jika batas waktu sebulan sudah
lewat peta rahasia itu belum juga diserahkan, sudah pasti dia akan
terbunuh di tangan Hek-mo-ong. Maka untuk membalas dendam bagi
kematiannya sendiri, ia menjalankan siasat membunuh orang meminjam
golok dengan menyerahkan bagian peta rahasia ke tangan orang
kepercayaannya dengan pesan, bila ia mati, maka kesebelas bagian
peta rahasia itu harus diserahkan pada orang-orang yang telah
ditentukan."
"Ai, manusia memang mati karena harta.
Ketika semua orang sudah menerima bagian peta rahasia itu, siapakah
yang tidak akan saling bunuh untuk memperoleh bagian peta rahasia
yang lain?"
"Kalau begitu kekacauan dunia persilatan
saat ini serta kematian yang menimpa kesepuluh tokoh persilatan ini
tak lain diciptakan oleh siasat Thio Kim-ciok itu?"
Tiba-tiba kakek berbaju hijau menghela
napas sedih, ujarnya, "Namun kemudian Thio Kim-ciok sendiri pun tak
pernah mengira kalau tindakan Hek-mo-ong masih setingkat lebih
tangguh daripada jalan pikirannya. Tatkala batas waktu satu bulan
sudah lewat, nyatanya Hek-mo-ong bukan datang mencelakai dirinya,
melainkan mempengaruhi kesebelas jago lihai lainnya untuk bekerja
sama mencelakai Thio Kim-ciok."
"Tapi Hek-mo-ong sendiri pun tak pernah
menduga tentang kesebelas bagian peta rahasia tambang emasnya."
Bong Thian-gak
segera menengok sekejap ke arah Thay-kun, lalu ujarnya, "Thay-kun,
bukankah dugaan kita bahwa Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok adalah
salah besar?"
"Benar, Thio Kim-ciok memang bukan
Hek-mo-ong."
Pada saat inilah
Song Leng-hui bertanya, "Locianpwe,
kau mengatakan Thio Kim-ciok belum mati, lantas dimanakah orangnya
sekarang?"
Sebelum kakek berbaju hijau sempat
menjawab, mendadak Hay
Cing-cu yang berdiri di belakang kakek berbaju hijau telah berpekik
aneh, menyusul tubuhnya secepat sambaran kilat meluncur keluar dari
gardu itu. Dengan paras muka berubah hebat kakek berbaju hijau
segera berkata, "Pembicaraan kita telah disadap orang."
Tampang Hay
Cing-cu memang jelek dan tidak menarik, bulat gemuk
seperti tong, namun kesempurnaan ilmu meringankan tubuhnya
benar-benar mengagumkan dan mengejutkan. Dalam sekejap bayangan
tubuhnya sudah lenyap.
Tiba-tiba Bong
Thian-gak bangkit seraya bertanya, "Locianpwe, perlukah
kubantu mengejar orang yang telah menyadap pembicaraan kita tadi?"
"Tidak usah," kakek berbaju hijau
menggeleng. "Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pendatang itu
sangat hebat. Andaikata Hay
Cing-cu gagal mengejarnya, maka tak ada orang yang bisa menyusulnya
lagi."
Perkataan itu membuat
Bong Thian-gak merasa kurang enak,
tapi dia pun duduk kembali.
Tampaknya kakek berbaju hiaju itu tahu
dia telah salah bicara, cepat katanya lagi, "Bong-siauhiap, maafkan
kelancanganku bicara yang bukan-bukan tadi."
"Ah, ilmu meringankan tubuh
Hay Cing-cu memang sangat hebat."
Thay-kun tak ingin suasana serba kaku
dan rikuh itu berlangsung lebih lanjut, sambil tertawa ringan dia
segera berkata, "Locianpwe, maafkan aku bila ternyata kelewat
berterus-terang. Benarkah Locianpwe adalah Thio Kim-ciok?"
Kakek berbaju hijau menghela napas
panjang, "Rahasia tentang belum matinya Thio Kim-ciok hingga saat
ini baru diketahui oleh kalian beberapa orang saja."
"Orang persilatan mengutamakan pegang
janji, kami bertiga tak akan membocorkan rahasia ini kepada siapa
pun," Thay-kun berjanji dengan suara dalam.
"Betul, akulah Thio Kim-ciok!"
Sekalipun secara lamat-lamat orang sudah
tahu kakek berbaju hijau itu adalah orang kaya pada tiga puluh tahun
berselang, Thio Kim-ciok, namun sebelum ada pengakuan tegas dari
pribadinya, tak urung mereka tetap ragu-ragu dan tak yakin.
Namun setelah pengakuan itu diberikan,
tak urung semua orang dibuat terperanjat juga, serentak
Bong Thian-gak bertiga mengawasi
wajah kakek berbaju hijau tanpa berkedip.
Thio Kim-ciok memang terlalu misterius
dan penuh rahasia.
Pada saat itulah terdengar
Song Leng-hui bertanya dengan air
mata bercucuran, "Thio-locianpwe, apakah kau yang telah mencelakai
kedua orang tuaku?"
Kembali kakek berbaju hijau menghela
napas sedih, katanya perlahan, "Nona Song,
aku tidak pernah mencelakai orang tuamu, aku pun tidak
pernah mencelakai Ku-lo Hwesio, Oh Ciong-hu serta Kui-kok Sianseng.
Namun terus terang kuakui, aku pernah membenci mereka serta pernah
bersumpah akan membinasakan mereka, tapi sayang aku tak punya
kemampuan berbuat demikian."
"Mengapa Thio-locianpwe mengatakan kau
tidak berkemampuan berbuat demikian?" tanya Thay-kun cepat.
Sekali lagi Thio Kim-ciok menghela napas
sedih, katanya pula, "Tiga puluh tiga tahun berselang, sepuluh tokoh
persilatan serta Ho Lan-hiang telah memberikan serangan yang telak
dan mematikan kepadaku. Kendati aku beruntung bisa meloloskan diri
dari musibah itu, namun saat ini diriku telah berubah menjadi
manusia cacat."
"Dapatkah Locianpwe menjelaskan lebih
jauh?"
"Dalam usaha pembunuhan yang mereka
lakukan pada waktu itu, tubuhku telah terkena tiga pukulan yang amat
dahsyat dan beracun, sebuah totokan jari Thian-kang-ci, tujuh batang
panah beracun penempel tulang serta tujuh buah luka bacokan pedang,
yang paling hebat lagi aku dicekoki beberapa tetes obat racun
Hok-teng-ang yang dapat memutus usus."
"Dengan begitu banyak luka yang kau
derita, bagaimana mungkin kau masih dapat hidup hingga sekarang?"
tanya Thay-kun dengan perasaan terkejut bercampur keheranan.
Mencorong sinar aneh dari balik mata
Thio Kim-ciok, dengan agak emosi katanya, "Andaikata orang lain,
biarpun punya cadangan nyawa sebanyak sepuluh lembar pun, tak dapat
selembar pun dipertahankan, tapi aku harus dapat mempertahankan
hidup lebih jauh."
"Liu Khi mengatakan pada kalian bahwa
aku mati tenggelam di dasar telaga, padahal yang benar adalah
sesudah aku dipaksa minum racun Hok-teng-ang, segera kukerahkan
tenaga dalamku untuk melawan dan sempat bertarung mati-matian selama
setengah jam dengan sepuluh tokoh persilatan beserta Ho Lan-hiang.
Dengan badan terluka parah dan hawa murni tak mampu dihimpun
kembali, ditambah pula racun jahat sudah menyusup ke dalam badan
hingga darah bercucuran dari ketujuh lubang indra, waktu itu aku
mengira diriku pasti mati, tapi aku tak rela membiarkan diriku tewas
dibunuh mereka, maka aku pun jadi nekat dan terjun ke dalam telaga."
"Akhirnya Thio-locianpwe berhasil lolos
dari mulut harimau serta dapat kembali ke kehidupan yang tenang?"
tanya Thay-kun.
"Sesudah melompat ke dasar telaga, air
telaga yang dingin membekukan badan membuat keadaanku yang mulai
kehilangan kesadaran menjadi segar kembali, tentu saja aku tak ingin
mati begitu saja, maka aku pun mulai berjuang melawan cengkeraman
malaikat elmaut. Dengan sekuat tenaga aku berenang dan menyelam ke
dalam istana bawah airku yang kubangun secara rahasia."
"Mimpi pun Ho Lan-hiang serta kesepuluh
tokoh persilatan tak menyangka aku telah membangun istana bawah air
yang amat rahasia di dasar telaga itu, tapi justru karena itulah aku
dapat hidup terus di dunia ini."
"Selama dua puluh tahun berikutnya, aku
tinggal di dalam istana air sambil berjuang melawan cengkeraman
malaikat elmaut, perawatan dan pengobatan hampir dua puluh tahun
lamanya membuat luka pukulan, luka pedang sembuh sama sekali...
ai."
"Tapi racun jahat Hok-teng-ang yang
menyerang dalam tubuhku ternyata tak pernah dapat dilenyapkan untuk
selamanya. Oleh sebab itulah aku tak pernah dapat memulihkan kembali
tenaga dalamku seperti sediakala, tentu saja aku pun tak dapat
menggunakan jurus silat tingkat tinggi yang pernah aku pelajari."
"Akibatnya aku pun tidak dapat membunuh
musuh besar yang telah mencelakai diriku itu."
"Ai, waktu yang berlangsung lama
kadangkala memang dapat menawarkan rasa benci dan dendam seseorang.
Perjuanganku selama dua puluh tahun melawan maut membuat aku menjadi
sadar dan menyesali semua perbuatanku dulu, aku merasa tanganku
sudah penuh bernodakan darah. Dosa dan kesalahanku pun sudah
bertumpuk. Mungkinkah semua musibah yang menimpa diriku selama ini
merupakan karma atas semua perbuatanku dahulu?"
"Dendam, rasa benci yang mendarah daging
dalam diriku lambat-laun pun semakin tawar dan menghilang."
"Tatkala meninggalkan istana bawah air
tujuh tahun berselang, tiba-tiba aku dengar kabar bahwa Kui-kok
Sianseng dari Mi-tiong-bun telah terbunuh, kemudian sepasang kekasih
persilatan Song-ciu suami-istri juga tewas, disusul pula dengan
kematian Oh Ciong-hu serta padri sakti dari Siau-lim-pay Ku-lo
Hwesio. Semua itu membuat aku merasa terkejut, di samping pula
merasa sangat..”
Sampai di sini tiba-tiba perkataannya
berhenti, sambil tersenyum Thay-kun segera melanjutkan, "Tentunya
kau pun merasa sangat gembira bukan?"
Thio Kim-ciok memandang ke arah nona
itu, lalu menghela napas panjang, "Ai, apa yang diucapkan nona
Thay-kun memang benar. Aku merasa gembira karena siasat meminjam
golok membunuh orang yang telah aku persiapkan sejak tiga puluh
tahun berselang, kini sudah mulai berkembang."
"Akibatnya api dendam dan benci yang
mengeram dalam Thio-locianpwe pun menggelora dalam dada membara
kembali bukan?" tanya Thay-kun lagi.
"Benar, aku berharap semua orang yang
pernah bersekongkol mencelakai diriku, kini mendapatkan pembalasan
yang setimpal."
"Padahal otak peristiwa berdarah ini
adalah Hek-mo-ong. Apakah Thio-locianpwe berhasil menyelidiki siapa
gerangan Hek-mo-ong?" kembali Thay-kun bertanya.
"Belum," Thio Kim-ciok menggeleng.
"Kira-kira aku sudah dapat menduga siapa
gerangan Hek-mo-ong itu."
"Silakan nona mengutarakan." Thay-kun
segera tersenyum.
"Padahal Thio-locianpwe sendiri pun
sudah mengetahui siapa gerangan Hek-mo-ong itu?"
"Benar, secara lamat-lamat sudah
kuketahui siapakah dia, tapi sebelum kesepuluh tokoh persilatan dan
Ho Lan-hiang mati hingga tinggal orang terakhir, rasanya susah untuk
menentukan secara tepat. Kau harus tahu kelicikan, kehebatan ilmu
silat serta kemampuan menyusun rencana besar kesebelas orang itu
sama-sama hebat dan luar biasa, satu dengan yang lain tak ada yang
lebih lemah."
Mendadak Bong
Thian-gak menyela dengan suara nyaring, "Hek-mo-ong
adalah si tabib sakti Gi Jian-cau."
"Betul," Thio Kim-ciok mengangguk. "Di
antara sepuluh tokoh persilatan itu, Gi Jian-cau merupakan orang
paling kejam dan buas. Dia adalah manusia munafik yang berlagak
suci. Racun Hok-teng-ang yang mengeram dalam tubuhku sekarang tak
lain adalah hasil perbuatannya."
"Mungkin Hek-mo-ong sudah mendapat kabar
tentang masih hidupnya Thio-locianpwe," kata Thay-kun dengan suara
dalam.
Belum selesai perkataan itu diucapkan,
tiba-tiba dari tengah udara berkumandang tiga kali suara pekikan
panjang yang amat keras dan memekakkan telinga.
Dengan wajah berubah hebat Thio Kim-ciok
segera berkata, "Hay Cing-cu
telah menjumpai musuh tangguh, kemungkinan musuh tangguh akan
menyerbu kemari sebentar lagi."
Sambil berkata tiba-tiba saja Thio
Kim-ciok bangkit dari tempat duduknya.
"Thio-locianpwe," kata Thay-kun
kemudian, "silakan duduk di sini dengan tenang. Andaikata
Hay Cing-cu membutuhkan bantuan,
kami bersedia membantunya."
Thio Kim-ciok menghela napas panjang,
"Seperti apa yang ditebak nona, agaknya Hek-mo-ong sudah memperoleh
kabar bahwa aku belum tewas, musuh yang kini datang bisa jadi
bertujuan untuk membuktikan apakah benar aku belum mati."
"Tapi menurut pendapatku, tujuan
kedatangan musuh tangguh adalah untuk mengincar peta rahasia tambang
emas itu."
Thio Kim-ciok tertawa rawan.
"Sekalipun di dalam tubuhku masih
tersisa racun keji Hok-teng-ang hingga tak mungkin bagiku untuk
mengerahkan tenaga dalam dan bertarung melawan orang, tapi bila
musuh ingin menaklukkan diriku secara mudah, aku rasa pihak lawan
harus membayar dengan mahal."
Tiba-tiba Song
Leng-hui bertanya, "Thio-locianpwe, apakah kau minta
aku membantumu untuk memusnahkan racun Hok-teng-ang yang masih
mengeram dalam tubuhmu itu?"
Thio Kim-ciok segera menghela napas,
"Ai, kecuali kedua puluh empat batang jarum emas perak nona
Song, di kolong langit dewasa ini
memang tiada cara pengobatan lain yang dapat dipergunakan untuk
memusnahkan pengaruh racun Hok-teng-ang yang bersarang di dalam
tubuhku."
"Locianpwe, sekarang juga aku bersedia
mengobati penyakitmu itu," seru Song
Leng-hui.
"Sekarang tak mungkin, musuh telah
datang."
Baru selesai dia berkata, terlihat
Hay Cing-cu dengan sekujur
badan bermandikan darah melayang turun di depan gardu itu.
Dengan ketajaman matanya, beberapa orang
itu sudah melihat dengan jelas bahwa luka yang diderita
Hay Cing-cu akibat tusukan tiga
peluru terbang yang memancarkan sinar tajam, ketiga batang senjata
rahasia itu menancap persis di dadanya dalam posisi segitiga.
Ujung peluru emas menembus dadanya.
Darah kental membasahi seluruh badannya, jelas luka yang dideritanya
amat parah, namun dengan gerakan yang masih cepat
Hay Cing-cu langsung menerobos masuk
ke dalam gardu dan berseru cemas, "Majikan cepat menyingkir, musuh
tangguh yang menyerbu kemari sangat ganas dan luar biasa."
Pada saat itulah dari atap rumah
seberang telah melayang turun dua sosok orang dengan ringannya.
Ternyata kedua orang itu adalah lelaki
dan perempuan kekar bermata tunggal dan berlengan cacat.
Sesudah melihat jelas pendatang itu,
Bong Thian-gak dan Thay-kun
sama-sama terkesiap, pekiknya tanpa sadar, "Ah, rupanya anak buah
Biau-kosiu!"
Dengan langkah cepat
Bong Thian-gak menuju ke gardu batu
itu, lalu menegur dengan ketus, "Apakah Biau-kosiu ikut datang?"
Sebelum lelaki dan perempuan kekar
berlengan cacat itu sempat menjawab, dari balik kegelapan sudah
terdengar seseorang menjawab dengan suara merdu, "Jian-ciat-suseng,
nyawamu betul-betul amat panjang, ternyata kau masih hidup."
Biau-kosiu dengan langkah lemah-gemulai
telah muncul dan berhenti di antara lelaki dan perempuan kekar itu,
sementara matanya yang jeli mengamati setiap orang yang berada di
dalam gardu dengan seksama. Katanya lagi sambil tertawa, "Orang tua
yang berada di dalam gardu itu tentulah Hek-mo-ong Thio Kim-ciok
bukan?"
Dalam pada itu Thio Kim-ciok dengan
wajah dingin membesi dan sorot mata menggidikkan mengamati ketiga
orang itu, wajahnya tetap dingin tanpa emosi, sedang mulutnya
membungkam.
Sebaliknya
Bong Thian-gak segera menyela sambil tertawa dingin,
"Dugaan nona Biau salah besar, dia bukan Hek-mo-ong."
"Hm!" Biau-kosiu mendengus dingin.
"Jian-ciat-suseng, bila kau masih ingin hidup beberapa tahun lagi,
kuanjurkan kepadamu agar tidak mencampuri urusan orang lain."
Bong Thian-gak
balas tertawa dingin, "Tentu aku ingin hidup seratus tahun lagi,
tapi aku rasa urusan ini tak usah kau campuri."
"Jian-ciat-suseng, tahukan kau siapakah
orang ini?" tegur Biau-kosiu dingin.
"Seorang Bu-lim Cianpwe!"
Tiba-tiba Biau-kosiu berpaling ke atap
rumah dan membentak, "Cong-kaucu, benarkah orang itu adalah suamimu,
Thio Kim-ciok?"
Teriakannya yang sangat mendadak dan
sama sekali di luar dugaan ini membuat semua orang tertegun. Sorot
mata mereka pun dialihkan ke atap rumah di depan situ.
Ternyata pada sisi atap rumah secara
lamat-lamat ada tiga sosok bayangan orang berdiri di sana.
Bau harum bunga anggrek yang sangat
tipis lamat-lamat berhembus datang, bau harum semacam ini merupakan
bau khas perempuan tercantik dari Kanglam, Ho Lan-hiang.
Thio Kim-ciok dapat mengendus bau itu,
tentu saja Bong Thian-gak pun
dapat mengendus pula bau harum bunga itu.
Salah satu dari ketiga orang itu sudah
tentu adalah Ho Lan-hiang, sedangkan orang yang di sebelah kiri
adalah Ji-kaucu dan orang yang di sebelah kanan adalah
Sim Tiong-kiu, komandan pasukan
tanpa tanding.
Ketiga orang ini adalah kekuatan inti
Put-gwa-cin-kau, sekalipun pada tiga puluh tahun berselang nama
mereka tidak dicantumkan oleh Tio Tian-seng ke dalam urutan sepuluh
tokoh persilatan, namun kepandaian silat mereka sama sekali tidak
kalah dengan kepandaian silat kesepuluh tokoh persilatan itu.
Dengan suara gemetar diliputi perasaan
terkejut dan ngeri, Ho Lan-hiang menyahut pelan, "Sebenarnya aku
masih belum percaya kalau dia masih hidup di dunia ini. Setelah
menyaksikan dengan mata kepala sendiri hari ini, ternyata berita itu
memang benar."
Yang dia maksudkan tentu adalah Thio
Kim-ciok.
Sejak Biau-kosiu dan rombongan
menampakkan diri, Thio Kim-ciok masih tetap membungkam, tapi
sekarang agaknya dia sangat dipengaruhi oleh emosi.
Sekujur tubuhnya gemetar keras, sorot
matanya memancarkan sinar amarah berapi-api dan menggidikkan.
Setelah tertawa keras dengan suara menyeramkan dia berkata, "Benar,
aku adalah Thio Kim-ciok. Perempuan rendah, tak nyana kau masih
mengenali diriku."
Pengakuan Thio Kim-ciok ini membuat
Biau-kosiu secepat kilat menyerbu ke muka dan menyerang ke dalam
gardu batu itu.
Segera Bong
Thian-gak melintangkan badan dan menghadang di depan
undak-undakan batu menuju ke arah gardu. Sambil membentak, lengan
tunggalnya segera diayunkan ke depan melepaskan sebuah bacokan.
Serangan yang dilancarkan olehnya
sekarang amat gencar dan dahsyat, tenaga yang disertakan pun amat
mengerikan.
Dengan cekatan Biau-kosiu menghindar ke
samping untuk berkelit dari serangan dahsyat itu, lalu badannya
melejit dengan ringan dan bermaksud menyerang lagi dari sisi lain.
Siapa tahu
Bong Thian-gak dengan lengan tunggalnya yang gesit dan
cepat dalam perubahan jurus, kembali melancarkan sebuah bacokan
kilat, Biau-kosiu mau tak mau harus mundur.
Lama kelamaan habis sudah kesabaran
Biau-kosiu. Dengan kening berkerut, bentaknya gusar,
"Jian-ciat-suseng, apabila kau mencampuri urusanku, jangan salahkan
aku bertindak keji!"
Bong Thian-gak
tertawa dingin.
"Kekejian dan kebuasan nona sudah lama
kurasakan, mengapa kau tak memperlihatkan kelihaianmu itu?"
Mendadak Biau-kosiu berpaling ke arah
lelaki dan perempuan kekar bermata tunggal itu, kemudian bentaknya,
"Biau-han-thian suami-istri, kalian berdua jaga baik-baik
Jian-ciat-suseng itu."
Suami-istri bermata tunggal itu
menyerang Bong Thian-gak dari
kiri dan kanan dengan kecepatan luar biasa, sementara Biau-kosiu
sendiri sekali lagi mendesak maju.
"Mundur semua!" bentak
Bong Thian-gak.
Badannya berputar kencang dan dua gulung
angin pukulan yang sangat dahsyat menyapu ke arah suami-istri
bermata tunggal itu.
Selesai melancarkan kedua buah serangan
itu. Bong Thian-gak bagai
setan gentayangan kembali mendesak ke depan dan menghadang jalan
pergi Biau-kosiu. Tangan kirinya bagaikan cakar menyambar ke bawah
dan mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri nona itu.
Demikian cepat dan cekatannya serangan
itu membuat siapa pun terkesiap.
Sementara itu meskipun kedua orang laki
perempuan bermata tunggal itu masing-masing menyambut serangan
Bong Thian-gak, namun tenaga
serangannya itu sangat kuat dan dahsyat sehingga menggetarkan tubuh
mereka tiga-empat langkah. Biau-kosiu menjerit kaget.
Di bawah sapuan ujung jari tangan
Bong Thian-gak atas urat nadi
pergelangan tangan kirinya, dengan cepat dia mengundurkan diri
dengan ketakutan.
Bong Thian-gak
sama sekali tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan
pengejaran, hanya tegurnya kemudian dengan wajah sedingin salju,
"Nona Biau, kuanjurkan kepadamu agar mundur dari sini. Kalau tidak,
aku akan membalas air susu dengan air tuba. Bila kalian terluka
nanti, jangan salahkan diriku!"
"Jian-ciat-suseng, aku ingin bertanya
kepadamu, mengapa kau membantu Hek-mo-ong?" tanya Biau-kosiu dengan
geram.
"Dia adalah Thio Kim-ciok, bukan
Hek-mo-ong. Sebetulnya nona Biau ingin mencelakainya dikarenakan
peta rahasia tambang emas bukan? Ataukah untuk membalas dendam bagi
kematian ayahmu?"
Perempuan rase
dari bukit Biau-san, Biau-kosiu, nampak tertegun dan
berdiri melongo.
Setelah mendengar pertanyaan itu, dia
segera balik bertanya, "Jadi kau sudah mengetahui asal-usulku?"
"Aku tahu nona adalah putri kesayangan
ketua Mi-tiong-bun di Tibet, Kui-kok Sianseng."
Mendadak Biau-kosiu tertawa seram,
segera tanyanya, "Tentunya kau tahu juga bukan bagaimana kejadiannya
sewaktu Kui-kok Sianseng mendapatkan musibah?"
"Kui-kok Sianseng merupakan orang
pertama yang tewas di tangan Hek-mo-ong."
"Dendam sakit hati terbunuhnya ayahku
lebih dalam dari samudra, aku sebagai putrinya merasa wajib menuntut
balas sakit hati ini. Jian-ciat-suseng, apakah kau bermaksud
menghalangi niatku membalas dendam?"
"Bersediakah nona mempercayai
perkataanku?" ujar Bong
Thian-gak dengan suara hambar. "Baik Kui-kok Sianseng, Song-ciu
suami-istri maupun mendiang Bu-lim Bengcu Oh Ciong-hu dan Ku-lo
Hwesio, mereka bukan tewas di tangan Thio Kim-ciok, melainkan mati
di tangan Hek-mo-ong, si perencana musibah ini. Hek-mo-ong bukan
Thio Kimciok, melainkan seorang yang lain."
"Bagaimana kau bisa membuktikan dia
bukan Hek-mo-ong?" jengek Biau-kosiu sambil tertawa dingin.
Menghadapi pertanyaan itu, jelas
Bong Thian-gak tak mampu menjawab,
padahal dia sendiri pun tak dapat membuktikan secara pasti bahwa
Thio Kim-ciok bukanlah Hek-mo-ong seperti apa yang yang dia duga.
Sebenarnya
Bong Thian-gak tadinya menganggap Thio Kim-ciok sebagai
Hek-mo-ong. Setelah mendengar penjelasan Thio Kim-ciok tadi, mereka
baru tahu Hek-mo-ong sebenarnya adalah orang lain.
Lantas siapakah Hek-mo-ong, si otak
semua peristiwa berdarah ini?
Mungkinkah orang itu adalah tabib sakti
Gi Jian-cau? Tentu saja hingga sekarang belum ada seorang pun yang
berani memastikan.
Biau-kosiu tertawa, lalu katanya,
"Sesudah dicelakai oleh sepuluh tokoh persilatan pada tiga puluh
tahun berselang, sudah pasti Thio Kim-ciok akan menaruh perasaan
dendam dan sakit hati terhadap pembunuh-pembunuhnya. Andaikata ia
masih hidup di dunia ini, apakah dendam sakit hati itu tak akan
dituntut balas?"
"Sebenarnya aku pun masih menaruh
perasaan ragu dan tak percaya tentang berita yang mengatakan bahwa
Thio Kim-ciok masih hidup di dunia ini. Apakah dia masih dapat
meloloskan diri dari kecurigaan sebagai Hek-mo-ong?"
Perkataan itu diutarakan dengan suara
tegas, bertenaga dan penuh pengertian yang mendalam.
Secara lamat-lamat
Bong Thian-gak dapat merasakan bahwa
apa yang diucapkan Biau-kosiu memang benar, sebab selain Thio
Kim-ciok, siapa pula yang berminat membunuh kesepuluh tokoh
persilatan itu?
Tanpa terasa
Bong Thian-gak berpaling ke arah gardu dan memandang
sejenak ke arah Thio Kim-ciok.
Sementara itu Thio Kim-ciok dengan wajah
dingin membeku membungkam, wajahnya kaku tanpa perubahan emosi.
Dengan langkah lemah-gemulai, Thay-kun
segera maju dan pelan-pelan berkata, "Walaupun semua perkataan nona
Biau masuk akal dan bisa diterima, namun aku ingin bertanya satu hal
kepada nona, siapakah yang telah memberitahu kepadamu bahwa Thio
Kim-ciok belum tewas?"
"Mengapa kau menanyakan hal ini?" tanya
Biau-kosiu dengan suara dingin.
"Sebab aku dapat membantumu menemukan
Hek-mo-ong yang sebenarnya."
"Kau maksudkan Hek-mo-ong adalah salah
seorang di antara kesepuluh tokoh persilatan?" tanya Biau-kosiu
dengan suara dingin dan kaku.
"Betul, orang itu adalah salah seorang
di antara kesepuluh tokoh persilatan itu."
"Omong kosong, ngaco-belo," bentak
Biau-kosiu dengan geram. "Seandainya Thio Kim-ciok sudah mati pada
tiga puluh tahun berselang dan tidak bangkit dari kematiannya, bisa
jadi Hek-mo-ong adalah salah satu di antara kesepuluh tokoh
persilatan. Tapi kini terbukti sudah kalau Thio Kim-ciok masih hidup
di dunia ini, terbukti sudah kalau Hek-mo-ong sesungguhnya adalah
dirinya sendiri."
"Dugaan nona Biau salah besar,"
pelan-pelan Thay-kun menyahut. "Apabila seorang mempunyai rencana
busuk dan keji hendak melimpahkan dosa dan kesalahannya kepada orang
lain, seringkah dia akan mencari titik lemah lawan-lawannya, yakni
pertentangan batin untuk dimanfaatkan, sebab dengan cara begitulah
apa yang dicita-citakan baru dapat terwujud."
"Hek-mo-ong adalah seorang di antara
kesepuluh tokoh persilatan dan kenyataan itu merupakan suatu bukti
yang jelas. Apabila dugaanku tidak salah, kupastikan Hek-mo-ong akan
terpaksa memberitahukan kepadamu tentang kabar belum matinya Thio
Kim-ciok, karena nona Biau sudah mulai mencurigai asal-usulnya. Oleh
sebab itulah mau tak mau terpaksa dia harus menyampaikan berita
itu."
"Benarkah berita belum matinya Thio
Kim-ciok mempunyai arti begitu penting?" seru Biau-kosiu sambil
tertawa dingin.
Thay-kun memandang sekejap ke arahnya,
kemudian menjawab, "Berita mati hidup Thio Kim-ciok tentu saja
mempunyai arti sangat penting bagi Hek-mo-ong."
Kemudian setelah berhenti sejenak dan
menarik napas panjang, kembali dia melanjutkan, "Hek-mo-ong sengaja
menghasut kesepuluh tokoh persilatan untuk mencelakai jiwa Thio
kim-ciok Locianpwe, tak lain bertujuan untuk merampas tambang emas
dari tangannya. Rahasia peta tambang itu cukup dipahami setiap orang
dari kesepuluh tokoh persilatan itu. Oleh karena itu apabila berita
belum matinya Thio Kim-ciok bocor dan diketahui umum, maka sudah
dapat dipastikan bahwa sisa kesepuluh tokoh persilatan beserta
kawanan jago lainnya akan berdaya-upaya membunuh Thio-locianpwe dan
merampas rahasia peta tambang emas itu. Itulah sebabnya dalam
keadaan terpaksa mau tak mau Hek-mo-ong mengungkap padamu bahwa
Thio-locianpwe sebenarnya belum mati."
Perkataan Thay-kun itu segera
menggetarkan perasaan Thio Kim-ciok sendiri, dengan cepat dia
bertanya, "Nona Thay-kun, jadi menurut pendapatmu Hek-mo-ong sudah
lama mengetahui kalau aku belum mati?"
"Benar," sahut Thay-kun sambil
tersenyum. "Sudah lama sekali Hek-mo-ong tahu kau telah menyelundup
ke dalam kuil Sam-cing-koan di kota Lok-yang."
Biau-kosiu mendengus dingin, katanya
pula, "Kalau memang begitu, mengapa Hek-mo-ong tidak secara langsung
datang mencari Thio Kim-ciok?"
"Hm, pertanyaan yang sangat bagus!
Memang, Hek-mo-ong sudah lama mengetahui Thio Kim-ciok Locianpwe
belum mati, namun apa sebabnya tak secara langsung datang mencari
Thio-locianpwe? Menurut dugaanku, Hek-mo-ong tak berani berbuat
demikian lantaran dia takut dan jeri terhadap kepandaian silat
Thio-locianpwe, Hek-mo-ong sadar dia tak mempunyai keyakinan untuk
menang dan berhasil apabila dia menyerang Thio-locianpwe secara
langsung. Karena itu dia ingin memanfaatkan kemampuan nona Biau
beserta sisa kekuatan sepuluh tokoh persilatan yang masih hidup
untuk sekali lagi membasmi Thio-locianpwe dari muka bumi."
Dengan suara dingin Biau-kosiu berkata,
"Sam-cing Tojin dari Sam-cing-koan adalah Thio Kim-ciok dan Thio
Kim-ciok adalah Sam-cing Totiang. Berita yang mengejutkan ini baru
diketahui pada malam tadi. Betul, ketika aku selidiki tentang
orang-orang yang mencurigakan sebagai Hek-mo-ong sebenarnya tinggal
satu orang yang terakhir, tetapi sekarang berubah menjadi dua orang.
Akhirnya siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya, aku yakin dalam waktu
singkat hal ini akan berhasil kuselidiki dengan jelas."
Selesai berkata dia lantas berpaling ke
belakang dan serunya lantang, "Biau-han-thian, ayo kita pergi!"
Dengan cepat dia menggerakkan tubuh dan
melejit pergi. Tiba-tiba terdengar Bong
Thian-gak berseru, "Nona Biau, mengapa tidak kau
katakan nama orang terakhir yang dicurigai itu?"
Tanpa berpaling, sahut Biau-kosiu dengan
suara dingin, "Si tabib sakti Gi Jian-cau telah
membocorkan kabar tentang belum matinya
Thio Kim-ciok kepada setiap orang. Mulai sekarang Thio Kim-ciok
bakal diserang dan dikepung oleh para jago persilatan, lebih baik
kalian hadapi mereka secara hati-hati."
Biau-kosiu dan Biau-han-thian
suami-istri bertiga sudah lenyap di balik kegelapan sana dengan
cepat.
Di atas atap rumah di seberang gardu
sana masih berdiri dengan tenang Ho Lan-hiang, Ji-kaucu serta
Sim Tiong-kiu bertiga.
Mendadak Ho Lan-hiang tertawa, lalu
katanya, "Thio Kim-ciok, mengapa kau tak berani mengaku sebagai
Hek-mo-ong?"
Thio Kim-ciok masih tetap berdiri dalam
gardu batu itu dengan wajah dingin, kaku, tanpa emosi, mulut
membungkam.
Hati Thay-kun serta
Bong Thian-gak yang mendengar ucapan
itu bergetar keras, mereka menantikan penyangkalan Thio Kim-ciok,
namun suasana dalam arena masih tetap hening, sepi.
Suasana yang hening dan sepi itu
berlangsung cukup lama, sebelum akhirnya Thio Kim-ciok berkata
dengan pelan, "Perempuan rendah, nyalimu benar-benar sangat besar!"
Ho Lan-hiang tertawa terkekeh-kekeh,
"Apabila Thio Kim-ciok mempunyai kemampuan untuk membunuhku, mungkin
sudah turun tangan sejak tadi."
"Kalau sudah mengetahui bahwa aku tidak
berkemampuan untuk membunuhmu, mengapa kau tidak segera turun tangan
menyerang diriku?" Thio Kim-ciok balik bertanya dengan suara dalam
dan berat.
"Tiga puluh tahun berselang, kau telah
dipaksa menelan beberapa tetes racun Hok-teng-ang, setelah
keracunan, kau pun diserang kawanan jago. Sekalipun tiga puluh tahun
kemudian kau lolos dari ancaman maut itu, tetapi aku percaya Thio
Kim-ciok telah menjadi seorang manusia cacat."
Selesai berkata Ho Lan-hiang dengan
matanya yang tajam dan menggidikkan mengawasi setiap gerak-gerik
Thio Kim-ciok yang berada dalam gardu.
Sikap Thio Kim-ciok ketika itu nampak
sangat tenang. Wajahnya tidak menampilkan wajah girang, marah,
sedih, murung dan berdiri membungkam di tempat tanpa bergerak.
Setelah tertawa terkekeh-kekeh, kembali
Ho Lan-hiang berkata lebih jauh, "Dugaanku tidak salah bukan?
Seandainya Thio Kim-ciok masih tetap sehat dan segar-bugar, tak
nanti dia akan melepaskan setiap musuh yang dijumpainya, tentu dia
pun tak akan membiarkan seorang perempuan yang telah mengkhianati,
mengumpat, mencemoohnya dan menyindir dirinya."
Entah mengapa pada saat dan keadaan
seperti ini Thio Kim-ciok masih tetap berdiri membungkam, mulutnya
seolah-olah terkunci rapat seperti seorang bisu.
Thay-kun dapat melihat jelas bahwa kedua
orang itu sedang beradu otak, mengapa hingga sekarang Ho Lan-hiang
belum juga turun tangan? Sudah jelas hal ini disebabkan perempuan
itu pun belum yakin seratus persen bahwa Thio Kim-ciok benar-benar
tak berkemampuan lagi untuk membunuh mereka.
Oleh sebab itu dia berusaha mengejek,
mencemooh, menyindir dan mengumpat lawan dengan harapan dari
pembicaraan itu dia berhasil menyelidiki secara pasti tentang
keadaan Thio Kim-ciok yang sesungguhnya.
Sebaliknya Thio Kim-ciok benar-benar
seorang berotak cerdas dan lihai, setiap gerak-geriknya serta mimik
wajahnya ditampilkan dengan begitu sempurna, sehingga susah diduga
orang apakah hal itu benar ataukah hanya pura-pura saja.
Pada saat itu
Bong Thian-gak justru tak sanggup menahan diri, sambil
tertawa dingin segera katanya, "Ho Lan-hiang, mengapa kau tidak
segera turun tangan? Kami sudah tak sabar lagi menunggumu!"
"Jian-ciat-suseng, hari ini bukannya aku
bermaksud mengadu domba di antara kalian, tapi kau harus tahu bahwa
Thio Kim-ciok adalah seorang licik yang berhati buas dan kejam.
Kekejamannya boleh dibilang tiada orang di dunia ini yang sanggup
menandinginya, dia sangat pandai memperalat orang lain, dia pun
sangat memahami bagaimana caranya melenyapkan orang itu. Justru
karena kekejaman dan kebuasan Thio Kim-ciok itulah maka tiga puluh
tahun berselang kesepuluh orang gurunya bersepakat membinasakan
dirinya daripada ia menerbitkan bencana yang lebih besar lagi di
kemudian hari."
"Kau tak usah membacot lebih lanjut,"
tukas Bong Thian-gak sambil
tertawa dingin. "Sekalipun Thio Kim-ciok adalah seorang telur busuk
di masa lampau, tapi sekarang rasanya dia tak akan menandingi
kekejian dan kecabulanmu itu."
Kembali Ho Lan-hiang tertawa
terkekeh-kekeh, "Jian-ciat-suseng, tahukah kau akan rencana busuk
yang sedang dipersiapkan Thio Kim-ciok saat ini?"
"Dia hendak membalas dendam, hendak
membantai setiap orang yang pernah mencelakai jiwanya," sahut
Bong Thian-gak hambar.
"Betul, dia ingin membantai orang yang
pernah mencelakainya dahulu, tapi dia lebih-lebih berkeinginan untuk
membunuh setiap jago persilatan yang membantunya."
"Kau tak usah bersilat lidah mencoba
mengadu domba kami," jengek Bong
Thian-gak sambil tertawa dingin. "Yang jelas, antara orang
she Bong dengan
Put-gwa-cin-kau kalian, terutama dengan kau, aku bersumpah tak akan
hidup berdampingan secara damai."
"Jian-ciat-suseng memang termasuk
seorang jago lihai di antara kaum angkatan muda," Ho Lan-hiang
tersenyum, "tapi bila kau berkeinginan untuk beradu kemampuan dengan
kesepuluh tokoh persilatan yang pernah termasyhur di masa lampau,
kemampuanmu itu masih belum cukup matang. Bila kau tak percaya,
silakan kau turun tangan terhadapku!"
Bong Thian-gak
berkerut kening, mendadak ia berpaling ke arah
Song Leng-hui dan katanya,
"Leng-hui, pinjamkan pedang bambumu itu kepadaku!"
Ternyata di balik bahu
Song Leng-hui tersoreng sebilah
pedang bambu yang dibuat sendiri oleh Bong
Thian-gak ketika mereka berdua hidup berdampingan di
tengah gunung yang terpencil tempo dulu.
Pek-hiat-kiam milik
Bong Thian-gak hilang ketika
berlangsung pertarungan dalam Ban-jian-bong tempo hari, sehingga
saat ini dia tak bersenjata sama sekali. Itulah sebabnya dia
meminjam pedang dari Song
Leng-hui.
Dengan cepat
Song Leng-hui melolos pedang itu dan berkata dengan
lembut, "Engkoh Gak, apakah kau mau bertarung melawannya?"
Sambil bertanya dia berjalan mendekat
sambil menenteng pedang bambunya itu.
Tiba-tiba Thay-kun berjalan
mendekatinya, lalu berbisik pelan, "Bong-suheng, jangan turun tangan
lebih dahulu."
"Antara aku dan dia ibarat api dan air
yang tak mungkin bisa hidup berdampingan, cepat atau lambat di
antara kami tentu akan dilangsungkan suatu pertarungan antara mati
hidup. Buat apa aku mesti menunggu lebih lanjut?" ucap
Bong Thian-gak dengan suara dalam
dan berat.
"Ucapan Bong-suheng memang benar.
Apabila kita tidak berusaha membunuhnya, dia pasti akan membunuh
kita, tapi hari ini rasanya kita belum perlu membunuhnya."
"Mengapa?" tanya anak muda itu dengan
perasaan tidak habis mengerti.
Tiba-tiba Thay-kun memperkeras suaranya
dan berseru lantang, "Sebab bila kita membunuhnya, berarti sudah
termakan oleh siasat busuk Hek-mo-ong."
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam
benak Bong Thian-gak, katanya
kemudian, "Termakan siasat busuk Hek-mo-ong? Bukankah dia adalah
satu komplotan dengan Hek-mo-ong?"
Agaknya perkataan terakhir Thay-kun itu
membuat Ho Lan-hiang merasa sangat terkejut, sesudah tertawa dingin
pelan-pelan dia berseru, "Budak setan, aku ingin bertanya kepadamu,
siapakah Hek-mo-ong yang sesungguhnya?"
Jelas selama ini Ho Lan-hiang menganggap
Thio Kim-ciok sebagai Hek-mo-ong.
Thay-kun segera tersenyum.
"Aku hanya bisa memberitahukan kepadamu,
Hek-mo-ong yang sebenarnya bukan Thio Kim-ciok Locianpwe."
Kembali Ho Lan-hiang tertawa dingin.
"Sekarang perkembangannya sudah semakin
bertambah, seorang bocah cilik berusia tiga tahun pun akan
mengetahui bahwa Thio Kim-ciok sesungguhnya adalah Hek-mo-ong."
"Sayang sekali dugaanmu itu keliru
besar," Thay-kun tertawa cekikikan.
Kemudian setelah berhenti sejenak,
tegurnya, "Terus terang saja kuberitahukan kepadamu, Hek-mo-ong yang
sesungguhnya bukan saja ingin membasmi kesepuluh tokoh persilatan,
bahkan kau dan anak buahmu pun rasanya tak bakal dibiarkan hidup
bebas di dunia ini. Dewasa ini Hek-mo-ong sedang melaksanakan
rencananya untuk membunuh dan membasmi kalian semua. Nah, mau
percaya atau tidak terserah kepadamu."
Dengan tenang Ho Lan-hiang termenung dan
berpikir sejenak, lantas ia berseru, "Ji-kaucu, komandan
Sim, ayo kita pergi dari sini!"
Di bawah seruan Ho Lan-hiang,
berangkatlah kedua jago Put-gwa-cin-kau itu meninggalkan tempat itu.
Dalam waktu singkat ketiga sosok orang
itu sudah lenyap di balik wuwungan rumah sana.
Malam telah pulih kembali dalam
keheningan dan kesepian yang mencekam.
Pelan-pelan
Bong Thian-gak menghela napas panjang, ujarnya kemudian
dengan perasaan tak habis mengerti, "Thay-kun, mengapa kau biarkan
dia pergi dari sini dengan aman dan selamat?"
"Kepandaian silat Ho Lan-hiang sudah
mencapai tingkatan yang tak terukur lagi. Apabila kita bertarung
melawannya pada malam ini, menang kalah masih merupakan tanda tanya
besar. Seandainya kedua belah pihak terlibat dalam pertarungan yang
seru, tiba-tiba Hek-mo-ong muncul serta mencelakai Thio Kim-ciok
Locianpwe, maka bagaimana jadinya? Itulah sebabnya lebih baik kita
singkirkan dahulu dendam pribadi dan berusaha menghindari setiap
bentrokan dengan orang, kecuali dengan Hek-mo-ong."
"Thay-kun, apakah kau sudah tahu
siapakah Hek-mo-ong?" tanya Bong
Thian-gak.
Thay-kun mengangguk.
"Ya, aku sudah tahu siapakah dia."
"Siapakah orang itu?"
"Untuk sementara waktu belum dapat
kuberitahukan kepada kalian."
Bong Thian-gak
menghela napas panjang.
"Sudah kuduga sedari tadi, kau tidak
akan mengutarakannya. Ai! Bagaimana rencana kita selanjutnya?"
Thay-kun berpaling dan memandang sekejap
ke arah Thio Kim-ciok, lalu sahutnya, "Untuk sementara waktu lebih
baik kita berdiam di dalam bangunan ini."
"Nona Thay-kun," Thio Kim-ciok berkata
sambil menghela napas sedih. "Kecerdasan otakmu benar-benar
mengagumkan. Seandainya tiada kau pada hari ini, bisa jadi kita
semua sudah termakan oleh rencana busuk Hek-mo-ong."
Thay-kun tersenyum.
"Hek-mo-ong telah pergi meninggalkan
tempat ini, aku yakin dia sendiri pun tak dapat menduga secara pasti
keadaan Thio-locianpwe yang sesungguhnya sehingga untuk sementara
waktu ia tak akan turun tangan terhadap kita semua."
Kembali hati
Bong Thian-gak tergerak, segera tanyanya, "Thay-kun,
kau bilang barusan Hek-mo-ong berada di sekitar tempat ini?"
"Benar," Thay-kun mengangguk,
" saat Biau-kosiu dan rombongan
muncul di sini, Hek-mo-ong pun muncul pula di salah satu sudut
bangunan ini, hanya dia tetap diam di situ menunggu perkembangan
selanjutnya, di saat Ho Lan-hiang dan rombongan meninggalkan tempat
ini, secara diam-diam pun dia turut pergi dari sini."
Sampai di sini gadis itu segera
berpaling dan memandang sekejap ke arah Thio kim-ciok, kemudian
sambungnya, "Thio-locianpwe, ada beberapa persoalan yang belum
Boanpwe pahami. Kumohon Locianpwe sudi memberi penjelasan."
"Katakanlah, Thay-kun!"
"Aku tahu, sudah sejak dulu Locianpwe
telah mengetahui siapakah Hek-mo-ong itu, lagi pula kau pun masih
mempunyai tenaga dan kemampuan yang cukup untuk membinasakan
dirinya. Mengapa kau orang tua enggan membalas dendam?"
"Aku pun tak ingin mengelabui kalian
lagi. Sebenarnya alasanku berbuat demikian, tak lain karena dendam
dan benci. Aku berharap mereka bisa saling gontok hingga akhirnya
tinggal Hek-mo-ong."
"Tapi kenyataannya sekarang apa yang kau
inginkan malah menghasilkan keadaan yang terbalik. Hek-mo-ong telah
mengadakan persekongkolan dengan kawanan jago lihai untuk
bersama-sama mengurung dan mengeroyok dirimu, sanggupkah
Thio-locianpwe menghadapi mereka?"
Berkilat mata Thio Kim-ciok, sahutnya
dengan lantang, "Asal nona Song
bersedia membantuku menghilangkan sisa racun keji yang masih
mengeram dalam tubuhku, aku percaya masih mampu menghadapi kerubutan
kawanan jago lihai persilatan."
Tiba-tiba Song
Leng-hui berkata dengan merdu, "Thio-locianpwe, kau
boleh segera mencari tempat yang aman dan terlindung. Sekarang juga
aku akan turun tangan menyembuhkan penyakitmu itu."
Thay-kun memandang sekejap ke arah
Song Leng-hui, kemudian
katanya merdu, "Padahal dengan tubuh yang masih berpenyakit pun, aku
percaya Thio-locianpwe dapat melawan keroyokan kawanan jago lihai
persilatan."
Paras muka Thio Kim-ciok berubah secara
tiba-tiba, dengan suara dalam ia segera bertanya, "Nona, apakah yang
ingin kau katakan, lebih baik sampaikan secara terus terang."
Thay-kun termenung beberapa lama,
kemudian baru berkata, "Bicara soal kesetia kawanan, kami memang
wajib membantu Thio-locianpwe menyembuhkan penyakit menahun akibat
racun keji itu. Tapi kami pun kuatir bila Thio-locianpwe sudah
sembuh dari penyakit itu, maka secara tiba-tiba akan berubah menjadi
seorang yang lain."
"Hm, jalan pikiranmu itu persis seperti
jalan pikiran sepuluh tokoh persilatan di masa lampau," kata Thio
Kim-ciok sambil tertawa dingin.
"Tentu saja, sebab bila racun keji yang
mengeram dalam tubuh Thio-locianpwe dihilangkan, kau akan menjelma
menjadi seorang jago silat yang tiada tandingannya di dunia ini,
bahkan kau pun memiliki harta kekayaan yang tidak terhitung
jumlahnya."
"Bagi seorang manusia yang berilmu silat
tinggi dan mempunyai harta kekayaan yang tak terhitung jumlahnya,
andaikan pikirannya sedikit menyeleweng saja, akibatnya tentu tak
dapat dilukiskan. Itulah sebabnya mau tidak mau kami harus
mempertimbangkan sampai sejauh itu."
Thio Kim-ciok segera tertawa dingin.
"Aku bukan memohon pertolonganmu, aku
minta nona Song yang
menyembuhkan penyakitku ini."
"Tentu saja kau boleh meminta
pertolongan nona Song," kata
Thay-kun dengan suara pelan, "tapi seandainya kuungkap hubunganmu
dengan Hek-mo-ong, sudah dapat dipastikan
Song Leng-hui tidak akan mengobati penyakitmu itu."
Baik Song
Leng-hui maupun Bong
Thian-gak keduanya sama-sama dibuat tertegun, melongo dan
tidak habis mengerti, mereka tidak tahu apa yang sebabnya Thay-kun
menolak menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok.
Sesungguhnya terjalin hubungan apakah
antara Thio Kim-ciok dan Hek-mo-ong?
Segera Song
Leng-hui berkata, "Enci Thay-kun, pengetahuan serta
pengalamanmu jauh lebih luas dibanding diriku, kami akan menuruti
semua perintah serta petunjukmu."
Perkataan ini sudah jelas, asal Thay-kun
menolak menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok, maka dia
pun akan menuruti perkataan Thay-kun dengan tidak mengobati
penyakitnya.
Berubah hebat paras muka Thio Kim-ciok,
dengan suara dingin ujarnya, "Bagi seorang persilatan, memegang
janji adalah salah satu syarat utama agar dapat dipercaya orang,
nona Song sudah berjanji tapi
kemudian mengingkarinya, benar-benar jarang kujumpai."
Merah jengah wajah
Song Leng-hui oleh dampratan itu,
dia menjadi tergagap, "Aku ...
aku ... aku kan belum
pernah berjanji akan menyembuhkan penyakitmu itu!"
Dengan cepat Thay-kun berkata pula
dengan suara dingin, "Thio-locianpwe, aku cukup tahu bahwa kau
mempunyai rencana busuk dan maksud keji terhadap keselamatan umat
persilatan. Demi menjaga agar umat persilatan tidak dibuat pecundang
oleh ulahmu itu, mau tidak mau terpaksa kami harus bertindak sangat
hati-hati dalam menghadapi persoalan ini."
"Apabila Thio-locianpwe tidak mempunyai
rencana jelek lainnya dan khusus bertujuan membalas dendam, maka
dendam harus dibalas kepada siapa yang berhutang. Jadi sepantasnya
Thio-locianpwe mencari Hek-mo-ong serta melepas rasa dendammu
kepadanya. Mengapa kau justru bersekongkol dengan Hek-mo-ong
melakukan kejahatan?"
Beberapa patah kata itu kontan membuat
Bong Thian-gak menjadi
terlongong, segera tanyanya, "Jadi dia bersekongkol dengan
Hek-mo-ong melakukan berbagai kejahatan?"
"Benar," Thay-kun mengangguk,
"sesungguhnya antara Hek-mo-ong dan Thio Kim-ciok memang sudah
terjalin hubungan pribadi yang sangat erat dan akrab."
"Benarkah nona sudah dapat menduga
asal-usul serta identitas yang sebenarnya dari Hek-mo-ong?" tanya
Thio Kim-ciok lagi sambil tersenyum.
"Justru karena sudah mengetahui siapakah
dia, maka aku baru menaruh curiga terhadap semua gerak-gerik serta
sepak-terjang Thio-locianpwe."
"Mengapa tidak nona sebutkan siapakah
Hek-mo-ong?" tanya Thio Kim-ciok
"Waktunya belum tiba, tunggu sampai
saatnya aku pasti akan mengungkap rahasia ini kepada semua orang."
Thio Kim-ciok mendengus dingin, "Mengapa
tidak nona katakan sekarang juga? Apakah belum dapat meyakini
identitas Hek-mo-ong itu?"
"Benar," Thay-kun tersenyum. "Dugaanku
ini belum yakin seratus persen, tapi aku percaya selisih juga tak
jauh lagi."
Tiba-tiba Thio Kim-ciok berkata dengan
suara dalam dan sangat berat, "Apakah kalian bersedia menyembuhkan
penyakitku atau tidak, keputusan terserah kepada kalian sendiri dan
aku pun tak bermaksud memaksakan kehendakku. Seperti apa yang
dikatakan nona Thay-kun tadi, sekalipun dengan tubuh mengidap
penyakit keracunan Hok-teng-ang, aku masih tetap mampu mengadu
kepandaian dengan para jago persilatan itu. Tapi ada hal yang perlu
kalian ketahui, di saat kesepuluh tokoh persilatan dan Ho Lan-hiang
terbasmi, maka persengketaan antara Hek-mo-ong dan diriku pun akan
menjadi kiamatnya dunia persilatan."
Selesai mengucapkan perkataan itu
tba-tiba Thio Kim-ciok berjalan keluar dari gardu itu.
Hay Cing-cu, Siu-kiong dan Siu-go
kedua orang dayangnya segera mengikut pula di belakangnya.
Saat itulah terdengar suara Thio
Kim-ciok kembali berkumandang, "Saat kambuhnya penyakit yang
kuderita sudah hampir tiba. Oleh sebab itu aku harus kembali ke
dalam kamarku untuk beristirahat. Apabila kalian membutuhkan
sesuatu, minta saja kepada kedua orang dayangku ini."
Habis berkata, dengan cepat Thio
Kim-ciok berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Bong Thian-gak
mengawasi bayangan Thio Kim-ciok lenyap di balik ruangan, kemudian
ia berkata sambil menghela napas panjang, "Ai, persoalan dalam dunia
persilatan memang penuh dengan intrik jahat dan tipu-muslihat yang
amat keji, perubahan demi perubahan dapat berlangsung secara
mendadak hingga susah diduga sebelumnya."
Kemudian setelah berhenti sejenak,
kembali ujarnya, "Sumoay, darimana kau bisa tahu bahwa antara Thio
Kim-ciok dan Hek-mo-ong sebenarnya telah terjalin hubungan
kerja-sama?"
"Bong-suheng, menurut pendapatmu,
siapakah Hek-mo-ong?" Thay-kun bertanya.
Bong Thian-gak
tertegun sejenak, lalu sahutnya, "Selain si tabib sakti Gi Jian-cau,
masakah masih ada orang lain lagi?"
"Dugaanmu itu keliru besar," kata
Thay-kun sambil menggeleng, "Tabib sakti hanya pembantu Hek-mo-ong."
"Lantas siapakah dia?"
"Liu Khi."
"Liu Khi?" seru BongThian-gak dengan
terperanjat. "Sumoay, apakah dugaanmu tidak salah?"
"Dari berbagai gejala dan persoalan yang
kita jumpai, aku bisa menemukan petunjuk atau petanda yang
menunjukkan bahwa Liu Khi merupakan Hek-mo-ong yang sesungguhnya?"
"Baik Thio Kim-ciok maupun Gi Jian-cau
dan Liu Khi sama-sama merupakan orang yang dicurigai sebagai
Hek-mo-ong, namun di antara mereka bertiga hanya seorang yang
merupakan Hek-mo-ong sebenarnya dan orang ini tak lain adalah Liu
Khi."
Bong Thian-gak
mengerutkan dahi, selang sejenak kemudian baru bertanya, "Sumoay,
bagaimana caramu membuktikan bahwa Liu Khi adalah Hek-mo-ong yang
sebenarnya?"
"Soal ini tak mungkin dapat kujelaskan
seluruhnya kepadamu pada saat ini, apalagi yang penting aku hanya
ingin memberitahukan kepadamu bahwa Liu Khi adalah Hek-mo-ong,
sehingga kau pun bisa berhati-hati dan jangan sampai dipecundangi
olehnya."
"Apakah Thio Kim-ciok sudah mengetahui
akan asal-usul yang sebenarnya dari Hek-mo-ong?"
"Thio Kim-ciok merupakan seorang yang
sangat lihai, sekalipun dia sudah mengetahui siapakah Hek-mo-ong,
namun masih saja berlagak seakan-akan tidak tahu. Ketika aku
bertanya kepada Thio Kim-ciok tadi, apa sebabnya dia tidak secara
langsung mencari Hek-mo-ong untuk membalas dendam, tujuannya tak
lain adalah ingin mengetahui apakah Thio Kim-ciok sudah mengetahui
Liu Khi pembunuh sebenarnya, tapi Thio Kim-ciok seakan-akan tidak
tahu."
"Maka aku pun mulai menaruh curiga
terhadap Thio Kim-ciok, kita harus mempertimbangkan masak-masak
rencana Song Leng-hui
menyembuhkan penyakit Thio Kim-ciok itu."
Bong Thian-gak
segera manggut-manggut, katanya, "Apakah Sumoay menaruh curiga bahwa
Thio Kim-ciok bersekongkol dengan Hek-mo-ong untuk membunuh
kesepuluh tokoh persilatan itu?"
Thay-kun menggeleng.
"Mereka tidak berkomplot, sebaliknya
Hek-mo-ong justru telah diperalat oleh Thio Kim-ciok."
"Kalau begitu Thio Kim-ciok benar-benar
seorang licik dan banyak tipu-muslihatnya. Dari sini terbukti juga
bahwa Thio Kim-ciok belum bisa menghilangkan rasa benci dan
dendamnya terhadap kesepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang
yang telah mencelakainya pada tiga puluh tahun berselang."
"Jelas Thio Kim-ciok memang berhasrat
membunuh kesepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang," kata
Thay-kun lebih jauh, "tapi di luaran, kematian Kui-kok Sianseng,
Song-ciu dan Oh Ciong-hu serta Kulo Hwesio seakan-akan tewas di
tangan Hek-mo-ong, padahal yang benar kematian mereka disebabkan
oleh rencana busuk Thio Kim-ciok."
"Ai, padahal cara yang digunakan Thio
Kim-ciok untuk membalas dendam pun tidak dapat disalahkan, hanya
saja yang mengerikan adalah kelicikannya itu dapat mencelakai umat
persilatan di kemudian hari."
Tiba-tiba Song
Leng-hui bertanya, "Enci Thay-kun, sebenarnya kita
harus menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok atau tidak?"
Thay-kun termenung dan berpikir beberapa
saat, kemudian dia baru menyahut sambil menghela napas, "Kita harus
membantu Thio Kim-ciok menyembuhkan penyakit yang dideritanya."
Baru selesai dia berkata, mendadak dari
balik kegelapan malam terdengar seorang berkata dengan suara dingin
menyeramkan, "Bila kalian berani menolong Thio Kim-ciok, maka kalian
akan mampus tanpa liang kubur."
Suara ancaman itu seakan-akan
berkumandang dari kejauhan sana, tapi seperti juga berasal dari
suatu tempat yang sangat dekat sekali.
Nada suara itu mengalun dan
berputar-putar di tengah udara, sehingga membuat orang susah
menentukan darimanakah suara itu berasal.
Bong Thian-gak
segera membentak, "Siapa kau? Mengapa tidak segera menampakkan
diri?"
"Aku adalah Hek-mo-ong yang asli," jawab
suara itu tetap mengalun di tengah udara.
Baik Bong
Thian-gak maupun Thay-kun dapat mengenali dengan segera
bahwa suara itu adalah suara Hek-mo-ong, jauh berbeda dengan suara
Hek-mo-ong yang dua kali telah mereka dengar sebelum ini.
Bong Thian-gak
tertawa dingin, "Apakah kau adalah Liu Khi?"
"Aku adalah Hek-mo-ong, bukan Liu Khi,"
sahut suara itu sambil tertawa tergelak.
Mendadak terdengar
Song Leng-hui menjerit, "Dia
bersembunyi di atas gunung-gunungan."
Bong Thian-gak
serta Thay-kun serentak mengalihkan sorot mata mereka ke arah
gunung-gunungan yang berada di sisi kiri mereka setelah mendengar
jeritan itu, benar saja secara lamat-lamat mereka saksikan sesosok
bayangan muncul dan berdiri di atas gunung-gunungan
itu.
Ketajaman mata Thay-kun serta
Bong Thian-gak tidak diragukan,
kendati mereka masih dapat membedakan dengan jelas bayangan orang
yang berdiri di balik kegelapan itu, namun saat itu mereka justru
tidak dapat membedakan secara jelas tinggi-rendahnya bayangan orang
itu serta ciri-ciri lain yang dapat diingat.
Jelas bayangan orang yang berada di atas
gunung-gunungan itu tercipta oleh ilmu menghilang dari
In-heng-coat-kang yang merupakan kepandaian sakti.
Dengan menggerakkan sepasang bahu kiri
dan kanannya hingga membuat seluruh badan tak pernah berhenti
bergerak, maka pandangan orang lain tak akan bisa menangkap bentuk
badan secara jelas.
Mendadak Thay-kun berteriak, "Adik
Song, jangan dekati orang
itu."
Tampak Song
Leng-hui tengah mendekati gunung-gunungan itu.
Song Leng-hui
menghentikan langkah, katanya sambil berpaling, "Cici, asalkan kita
bisa mendekatinya, sudah pasti akan terlihat bentuk tubuhnya dengan
lebih jelas."
"Hek-mo-ong justru mengharapkan kau maju
ke depan seorang diri," kata Thay-kun memperingatkan.
Baik Song
Leng-hui maupun Bong
Thian-gak keduanya mengerti apa yang dimaksudkan Thay-kun.
Dengan suatu gerakan yang amat cekatan
sekali Bong Thian-gak segera
melompat ke depan dan berdiri bersiap di samping
Song Leng-hui.
Sambil tertawa Thay-kun segera berkata,
"Asalkan kita bertiga maju dan mundur bersama, aku rasa kita tak
usah takut lagi kepada Hek-mo-ong."
Hek-mo-ong yang berada di atas
gunung-gunungan mendengus dingin sambil tertawa seram, katanya, "Aku
sudah memperingatkan kalian, jangan menyembuhkan penyakit yang
diderita Thio Kim-ciok. Bila kalian tak mau menuruti nasehatku ini,
kalian bertiga bakal mampus tanpa liang kubur."
Thay-kun tertawa cekikikan, "Sebetulnya
kami tak punya rencana menyembuhkan penyakit yang diderita Thio
Kim-ciok, tapi setelah kau mengetahui rahasia Thio Kim-ciok yang
sebenarnya, agaknya kami harus merubah rencana semula, sekarang kami
harus menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Kim-ciok."
Hek-mo-ong kembali tertawa dingin,
"Nasib Thio-kim-ciok telah ditetapkan akan berakhir sebelum
kentongan kelima malam ini. Percaya atau tidak terserah pada
kalian."
Satu ingatan segera melintas dalam benak
Thay-kun, katanya, "Kalau begitu Thio Kim-ciok telah ditakdirkan
mati sebelum kentongan keempat?"
Hek-mo-ong yang berada di atas
gunung-gunungan segera tertawa dingin, "Bila takdir sudah menentukan
bahwa Thio Kim-ciok hanya bisa hidup sampai kentongan keempat malam
ini. Siapa yang bisa menolongnya?"
"Sumoay, adik Hui," kata
Bong Thian-gak secara tiba-tiba
dengan suara dalam, "sungguh beruntung kita dapat berjumpa dengan
Hek-mo-ong pada malam ini, bagaimana pun juga kita harus menyingkap
tabir rahasia Hek-mo-ong ini sampai tuntas."
"Baik," sahut Thay-kun manggut-manggut
"Mari kita menyerang bersama-sama."
Sambil bicara Thay-kun telah mendesak
maju.
Begitu Thay-kun bergerak,
Bong Thian-gak serta
Song Leng-hui serentak maju pula
mengikut di belakangnya.
Bong Thian-gak
dengan pedang bambu di tangan tunggalnya berada di bagian tengah,
sementara Thay-kun dan Song
Leng-hui bergerak dari sisi kiri dan kanan.
Mereka bertiga maju secara bersama-sama
secepat kilat, langsung menerjang ke arah gunung-gunungan.
Suara gelak tertawa yang amat keras
bagaikan tangisan kuntilanak serta lolongan serigala di malam buta
segera berkumandang.
Hek-mo-ong yang berada di atas
gunung-gunungan bagaikan segulung asap tebal segera bergerak pula ke
depan menyongsong kedatangan Bong
Thian-gak.
Rupanya Hek-mo-ong telah memilih
Bong Thian-gak sebagai sasaran
pertama, kedua belah pihak sama-sama menerjang ke depan bagaikan
sambaran petir, dalam waktu singkat tahu-tahu sudah saling
berhadapan.
Agaknya Bong
Thian-gak tidak menyangka Hek-mo-ong bakal menerjang ke
arahnya. Baru menjumpai bayangan hitam berkelebat.
Bong Thian-gak telah merasakan musuh
berada di depan mata.
Dalam keadaan demikian, tiada kesempatan
lagi bagi Bong Thian-gak
untuk berpikir panjang, pedang bambu di tangannya segera diayunkan
ke depan melancarkan tusukan.
Jurus pedang yang digunakan adalah
menyerang dari bawah menuju ke atas, kecepatan gerakannya luar
biasa.
Mungkin Hek-mo-ong sendiri pun tidak
menyangka tenaga dalam Bong
Thian-gak jauh lebih tangguh daripada apa yang diduga semula, bahkan
begitu serangannya dilancarkan, segera terasa segulung angin
serangan yang tajam dan kuat menyambar ke depan serasa menembus
badan.
Akibat pancaran hawa serangan pedang
yang kuat dan dahsyat itu, Hek-mo-ong segera kehilangan kesempatan
menyerang musuh lebih dulu. Kesempatan yang lenyap untuk pertama
kalinya selama hidupnya.
Dalam posisi demikian, mau tak mau dia
harus menggerakkan tubuh menghindarkan diri dari serangan musuh,
lalu dengan cepat mengeluarkan pukulan tengkoraknya yang amat cepat
dan mengerikan itu.
Sejak melepaskan serangan pedang, mata
Bong Thian-gak tak hentinya
mengawasi gerak-gerik lawan tanpa berkedip, tiba-tiba ia merasa
pandangan matanya menjadi kabur, lalu tubuh musuh yang meluncur
datang dari tengah udara telah bergeser ke sebelah kiri. Tentu saja
serangan pedangnya mengenai tempat kosong.
Pada saat inilah secara lamat-lamat
Bong Thian-gak dapat melihat
di balik ujung baju sebelah kanan Hek-mo-ong kosong melompong.
"Ah! Dia benar-benar seorang berlengan
tunggal!" pekiknya dalam hati.
Bong Thian-gak
segera melihat dari balik ujung baju kanan Hek-mo-ong yang kosong
melompong itu telah meluncur keluar sebuah benda dan benda itu tak
lain adalah sebuah tangan.
Tangan Tengkorak!
Sejak dahulu sampai sekarang, tangan
tengkorak yang merupakan alat pembunuh Hek-mo-ong tak pernah meleset
dari sasaran. Hal Ini disebabkan gerakan itu terlalu cepat,
sedemikian cepatnya bagaikan sambaran petir saja.
Tubuh Bong
Thian-gak mencelat ke tengah udara dan bagaikan sebuah
layang-layang putus benang, tubuhnya segera jatuh terjerembab dari
atas.
Robohnya Bong
Thian-gak segera membangkitkan rasa sedih dan gusar
Thay-kun serta Song Leng-hui,
serentak mereka menerjang ke muka dari kiri dan kanan.
Dua gulung tenaga serangan yang tajam
dan maha dahsyat segera
meluncur ke muka dan menggencet tubuh Hek-mo-ong yang mnsih
melambung di tengah udara.
Terdengar gelak tawa yang menyeramkan
dan menggidikkan. Di tengah sapuan angin pukulan yang amat kencang,
bayangan tubuh Hek-mo-ong melambung ke tengah udara dan melayang
turun di atas gunung-gunungan.
Ketika Thay-kun dan
Song Leng-hui bersama-sama melayang
turun, tampak Bong Thian-gak
yang masih sempoyongan berusaha bangkit dari atas tanah.
"Engkoh Gak, Suheng, bagaimana
keadaanmu?" kedua orang gadis itu bertanya secara bersama.
Dengan wajah pucat-pias seperti mayat
dan mengertak gigi, sahut Bong
Thiang-gak, "Aku tidak apa-apa. Untung tidak melukai bagian
mematikan, tak usah kuatir, aku tak bakal mati!"
Selama ini serangan tangan tengkorak
maut Hek-mo-ong selalu mengarah jalan darah Sam-kan-hiat pada hulu
hati dengan kecepatan tinggi dan ketepatan yang mengagumkan, belum
pernah ada seorang jago silat pun yang dapat meloloskan diri dari
ancaman yang mematikan ini.
Tapi sekarang
Bong Thian-gak telah memecahkan kebiasaan itu, ia
berhasil menghindari serangan musuh yang menghajar bagian lain dari
badannya.
Serangan tangan tengkorak Hek-mo-ong
telah menghajar telak di atas dada bagian atas puting susu kirinya.
Kendati Bong Thian-gak telah
mengerahkan Tat-mo-khi-kang untuk melindungi seluruh badan, namun
kuatnya serangan musuh membuat ia menderita luka cukup parah.
Hawa murni segera tersebar kemana-mana,
peredaran darahnya bergolak keras, dada terasa sakit dan pedas
seperti terbakar bara api.
Thay-kun dan
Song Leng-hui merasa gembira karena melihat
Bong Thian-gak tidak roboh pingsan
akibat serangan itu
Sebaliknya Hek-mo-ong justru merasa amat
terkesiap.
Dengan jelas ia melihat pukulan
tengkorak mautnya menghajar hulu hati musuh secara tepat dan telak,
akan tetapi kenyataannya pihak musuh tidak roboh.
Padahal selama puluhan tahun
malang-melintang di Kangouw belum pernah serangannya meleset, tapi
kali ini dia harus menerima kegagalan itu.
"Hm," tiba-tiba Hek-mo-ong
memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang rendah, berat dan
menyeramkan, "Jian-ciat-suseng, sungguh tak kusangka kau dapat lolos
dari tangan tengkorakku ini. Hm, sekalipun kau dapat menghindari
serangan tengkorak maut yang pertama dengan selamat, apakah kau
mampu menghindari serangan pukulan tengkorak maut yang kedua?'
Bong Thian-gak
tertawa seram, bentaknya, "Hek-mo-ong, akan kucoba sekali lagi
menerima pukulanmu itu."
Di tengah bentakan itu.
Bong Thian-gak dengan pedang
terhunus telah menerjang ke depan.
Mendadak dari balik ruangan dalam gedung
terdengar seorang menjerit kaget dan membentak, "Siapa di situ?
Berhenti!"
Disusul kemudian terdengar suara jeritan
ngeri yang memilukan. Jeritan itu sangat keras dan bergema memecah
keheningan malam, membuat siapa pun yang mendengar berdiri bulu
kuduknya.
Dengan wajah berubah Thay-kun berseru,
"Aduh celaka! Jeritan itu berasal dari kedua orang dayang itu, ada
orang yang hendak mencelakai jiwa Thio Kim-ciok!"
Perubahan yang terjadi amat tiba-tiba
ini membuat Bong Thian-gak
segera mengurungkan niatnya melancarkan serangan ke arah Hek-mo-ong.
Sementara itu Hek-mo-ong yang berada di
atas gunung-gunungan berseru sambil tertawa dingin, "Sekarang aku
akan memberikan sebuah kesempatan lagi bagi kalian untuk
menyelamatkan hidup. Bila kalian bertiga mengundurkan diri sekarang
juga, maka aku pun berjanji tak akan mencelakai kalian, tapi bila
kalian berniat mencampuri urusan kami lagi, hm! Jangan salahkan aku
turun tangan keji dan tak kenal ampun."
Tiba-tiba Bong
Thian-gak membentak, "Sumoay, adik Hui, kalian segera
masuk ke dalam ruangan untuk menyambut kedatangan mereka, biar aku
menghadapi Hek-mo-ong seorang diri."
Selesai berkata Bok Thian-gak segera
berpekik panjang, tubuhnya melambung ke udara dan sekali lagi
melangkah ke arah gunung-gunungan untuk menyerang Hek-mo-ong.
Song Leng-hui
yang menyaksikan kejadian itu segera berteriak, "Cici, kau cepat
membantu Thio-locianpwe, biar aku berada di sini membantu engkoh Gak
menghadapi Hek-mo-ong."
Sambil berkata
Song Leng-hui menggerakkan pula
tubuhnya, bagaikan burung walet yang terbang di angkasa, dia
menerjang ke arah gunung-gunungan itu.
Di luar dugaan, kali ini Hek-mo-ong sama
sekali tidak menyambut serangan mereka, sekali berkelebat bayangan
tubuhnya sudah lenyap di balik kegelapan malam.
Bong Thian-gak
dan Song Leng-hui serentak
melayang turun dari gunung-gunungan itu, tapi malam itu amat hening,
bayangan tubuh Hek-mo-ong telah lenyap.
Mendadak suara jeritan ngeri yang
memilukan dan menggidikkan berkumandang dari balik halaman gedung.
Song Leng-hui,
Bong Thian-gak serta Thay-kun
seperti baru mendusin dari impian saja, serentak melompat naik ke
atas pagar pekarangan dan menerjang masuk ke dalam gedung.
Ujung baju yang terhembus angin bergema
tiada hentinya.
Dari atas pagar pekarangan tahu-tahu
melayang turun dua orang kakek berjenggot hitam yang menghadang
jalan mereka dengan pedang terhunus.
Begitu melihat jelas kedua orang itu,
Bong Thian-gak segera
menjerit kaget, "Tio-pangcu, Tan-locianpwe, rupanya kalian berdua!"
Ternyata kedua kakek berjenggot hitam
yang berdiri dengan pedang terhunus itu tak lain adalah malaikat
sakti pedang iblis Tio Tianseng serta delapan pedang salju
beterbangan Tan Sam-cing.
Waktu itu mereka berdiri dengan hawa
membunuh menyelimuti wajah masing-masing, mereka berdiri dengan
serius dan pedang siap melancarkan serangan.
"Bong-laute," terdengar Tio Tian-seng
berkata dengan suara dalam, "kumohon kepada kalian agar tidak
mencampuri urusan ini, cepatlah pergi meninggalkan tempat ini!"
Sementara itu secara lamat-lamat
Thay-kun sudah dapat menduga apa gerangan yang telah terjadi, ia
segera tertawa cekikikan, "Tio-pangcu, bukanlah kalian kemari untuk
membunuh Thio Kim-ciok?"
.
"Kalau nona sudah mengetahui bahwa Thio
Kim-ciok berada di sini, harap nona segera mengundurkan diri dari
tempat ini," ucap Tio Tian-seng dengan suara dalam.
Kembali Thay-kun berkata sambil
tersenyum, "Berita tentang masih hidupnya Thio Kim-ciok telah
membuat kalian merasa amat terkejut dan segera menganggap Hek-mo-ong
adalah Thio Kim-ciok. Tapi sekarang aku hendak memberitahukan sebuah
berita yang amat mengejutkan kepada kalian, Hek-mo-ong yang
sesungguhnya bukan Thio Kim-ciok melainkan Liu Khi. Bila kalian
tidak percaya, aku hendak bertanya lagi kepada kalian, apakah si
golok sakti berlengan tunggal datang bersama kalian?"
Belum selesai perkataan itu diutarakan,
dari balik kegelapan dalam halaman itu terdengar seseorang menyahut
sambil tertawa seram, "Nona Thay-kun, harap kau tidak memfitnah
orang semaumu sendiri, apalagi mencoba mengadu-domba di antara kami.
Bukankah aku orang she Liu
berada di sini?"
Dalam pembicaraan itu, tampak seorang
lelaki berjubah hitam bertubuh jangkung kurus dan berlengan tunggal,
dengan sebilah golok panjang tersoreng di pinggangnya pelan-pelan
menampakkan diri dari kegelapan.
Orang itu tak lain adalah si golok sakti
yang berlengan tunggal Liu Khi adanya.
Bong Thian-gak
serta Song Leng-hui segera
dibuat tertegun oleh kejadian itu.
Hanya Thay-kun seorang yang tersenyum,
pelan-pelan ujarnya,
"Liu-tayhiap, cepat amat gerakan
tubuhmu, tak nyana dalam sekejap mata saja kau dapat memerankan dua
peranan yang berbeda."
"Perkataan nona benar-benar membuat
orang merasa kebingungan dan tidak habis mengerti," ujar si golok
sakti yang berlengan tunggal dengan suara dingin.
Mendadak Tio Tian-seng berkata dengan
wajah serius dan suara dalam, "Tentunya nona Thay-kun sudah pernah
mendengar, tiga puluh tahun berselang sepuluh tokoh persilatan
bekerja sama membunuh Thio Kim-ciok."
"Sekarang terbukti Thio Kim-ciok masih
hidup dan tak diragukan lagi Hek-mo-ong yang telah mencelakai jiwa
Kui-kok Sianseng, Song-cui suami-istri, Oh Ciong-hu serta Ku-lo
Hwesio, tak lain tak bukan adalah Thio Kim-ciok."
Thay-kun tersenyum.
"Betul, sampai sekarang Thio Kim-ciok
memang belum dapat melupakan dendam kesumat sedalam lautan terhadap
kalian sepuluh tokoh persilatan, karena perbuatan kalian yang telah
mencelakai jiwanya pada tiga puluh tahun berselang, tapi menurut apa
yang kuketahui, Thio Kim-ciok belum pernah melakukan tindakan untuk
mewujudkan harapannya membalas dendam."
"Darimana nona bisa tahu kalau ia belum
melakukan sesuatu tindakan?" tanya Tio Tian-seng dengan suara dalam,
wajahnya berubah hebat.
"Sebab sejak menderita luka keracunan
pada tiga puluh tahun lalu, hingga kini luka itu belum pernah
sembuh, kematian Kui-kok Sianseng sekalian sepuluh tokoh persilatan
pasti bukan perbuatan Thio Kim-ciok."
"Kalau bukan, siapa pula yang telah
membunuh mereka?"
Thay-kun melirik sekejap ke arah Liu
Khi, lalu sahutnya merdu, "Hek-mo-ong!"
"Mengapa pula Hek-mo-ong harus membunuh
Kui-kok Sianseng sekalian?"
"Tujuan utama Hek-mo-ong membunuh
sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang tak lain adalah untuk
merampas peta rahasia tambang emas milik Thio Kim-ciok."
"Tatkala Thio Kim-ciok menerima surat
undangan kematian dari Hek-mo-ong tempo
hari, secara diam-diam dia telah memotong peta rahasia
tambang emasnya menjadi sebelas bagian yang dihadiahkan kepada
sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang."
"Baik Tio-pangcu maupun
Tan Sam-cing Locianpwe adalah
termasuk orang-orang yang tergabung dalam sepuluh tokoh persilatan,
bukankah kalian pun pernah menerima satu bagian peta rahasia tambang
emas itu?"
Pertanyaan yang diajukan Thay-kun segera
membuat wajah Tio Tian-seng dan Tan
Sam-cing berubah hebat.
Hanya Liu Khi seorang yang tertawa
dingin tiada hentinya, katanya, "Budak setan, sungguh tak kusangka
begitu banyak persoalan yang telah kau ketahui. Hehehe! Benar, pada
tiga puluh tahun berselang sepuluh tokoh persilatan telah menerima
satu bagian peta rahasia tambang emas dan sejak saat itu pula
kesepuluh tokoh persilatan dan Ho Lan-hiang telah berubah menjadi
orang yang dicurigai sebagai Hek-mo-ong, masing-masing saling
mencurigai dan gontok-gontokan. Sejak saat itu pula sepuluh tokoh
dunia persilatan tidak pernah merasakan hari yang tenteram. Bila
dipikir sekarang, aku sungguh merasa kagum dengan siasat pinjam
golok membunuh orang dari Thio Kim-ciok."
Thay-kun tersenyum, segera ia berkata
pula, "Thio Kim-ciok bisa melaksanakan rencana balas dendam dengan
siasat meminjam golok membunuh orang, hal ini jelas membuktikan
bahwa Thio Kim-ciok sudah lama tahu kesepuluh tokoh persilatan serta
Ho Lan-hiang memang berencana hendak membinasakan dirinya."
"Waktu itu dengan jelas Thio Kim-ciok
mengetahui bahwa sulit baginya untuk meloloskan diri dari musibah
itu, akan tetapi dia pun tak rela mati dengan membawa dendam sakit
hati. Itulah sebabnya dia pun mulai menyusun rencana kejinya, agar
setelah kematiannya nanti, para pembunuh yang telah mencelakai
jiwanya saling gontok dan bunuh untuk memperebutkan peta rahasia
tambang emas itu."
"Ai, andaikata dugaanku tak salah, Ku-lo
Hwesio dan Song-ciu suami-istri telah merasakan betapa lihainya
siasat meminjam golok membunuh orang Thio Kim-ciok waktu itu
sehingga mereka putuskan untuk hidup mengasingkan diri di pegunungan
terpencil sambil berusaha menghindari musibah itu. Tapi darimana
mereka dapat menduga Hek-mo-ong yang dimaksud Thio Kim-ciok itu
sebenarnya adalah salah seorang di antara kesepuluh tokoh persilatan
serta Ho Lan-hiang? Itulah sebabnya mereka pun tak dapat meloloskan
diri dari nasib tragis di tangan Hek-mo-ong yang sedang berusaha
merebut peta rahasia tambang emas yang berada di tangan mereka."
Mendengar sampai di sini, Tio Tian-seng
menghela napas panjang, katanya kemudian, "Benarkah nona beranggapan
bahwa Hek-mo-ong adalah salah seorang di antara kesepuluh tokoh
persilatan serta Ho Lan-hiang?"
"Aku yakin dugaanku ini tak akan salah,"
jawab Thay-kun dengan wajah bersungguh-sungguh.
Liu Khi tertawa dingin, katanya, "Yang
masih hidup di dunia ini hingga sekarang tinggal enam orang, apakah
kita harus saling gontok dan bunuh terus-terusan?"
"Andaikata aku tidak bertemu dengan Gi
Jian-cau di Ban-jian-bong, rasanya kita masih akan terus saling
bunuh!" sambung Tan Sam-cing.
Dari perkataan
Tan Sam-cing, sudah jelas ia memberi
dukungan kepada Liu Khi.
Dalam keadaan begini agaknya Tio
Tian-seng pun dihadapkan pada suatu pilihan yang sangat berat, ia
membungkam dan memandang bintang yang tersebar di angkasa sambil
memutar otak.
Mendadak Thay-kun tertawa cekikikan,
"Masih ada satu persoalan yang belum sempat kusampaikan kepada
kalian, yaitu sampai sehari sebelum hari ini, antara Thio Kim-ciok
dan Hek-mo-ong sesungguhnya masih terjadi kontak dan hubungan yang
akrab, justru kedua orang itulah yang telah menyusun rencana untuk
membunuh sepuluh tokoh persilatan beserta Ho Lan-hiang."
Perkataan ini seketika mengejutkan
Tan Sam-cing, ia segera
bertanya, "Nona apa maksudmu?"
Thay-kun tersenyum.
"Dengarkan perkataanku ini dengan
pikiran tenang."
Kemudian setelah berhenti sejenak,
katanya lebih lanjut, "Barusan sudah kubilang, hingga sekarang Thio
Kim-ciok masih belum dapat melupakan dendam kesumatnya terhadap
sepuluh tokoh persilatan serta Ho
Lan-hiang yang telah bekerja sama mencelakakan jiwanya.
Sudah barang tentu tidak dapat disalahkan jika Thio Kim-ciok
berkeinginan membalas sakit hatinya itu, tapi siapa orang yang mampu
membunuh kesepuluh tokoh persilatan yang sangat lihai itu? Lagi pula
Thio Kim-ciok masih menderita luka racun sehingga sama sekali tak
mampu membalas dendam."
"Itulah sebabnya Thio Kim-ciok segera
memanfaatkan maksud tujuan Hek-mo-ong yang ingin mengangkangi peta
rahasia tambang emas itu seorang diri dengan membunuh
musuh-musuhnya. Padahal sesungguhnya Thio Kim-ciok sudah mengetahui
siapakah otak dari semua ini, yaitu Hek-mo-ong, tapi rahasia itu
tetap dijaganya hingga kini."
Ketika pembicaraan baru berlangsung
sampai di situ, sambil tertawa dingin Liu Khi menukas, "Budak setan,
perkataanmu barusan pada hakikatnya cuma ngaco-belo. Jadi menurut
pendapatmu, Hek-mo-ong membunuh sepuluh tokoh persilatan karena
tujuannya hendak mengangkangi peta rahasia tambang emas yang berada
di tangan kesepuluh tokoh persilatan itu? Tapi aku ingin bertanya
tentang satu hal kepadamu, apa sebabnya Hek-mo-ong tidak secara
langsung pergi mendesak Thio Kim-ciok supaya dibuatkan peta rahasia
tambang emas yang baru?"
"Kau harus tahu, Hek-mo-ong bukan orang
bodoh, dia cukup tahu bagaimana harus menghadapi Thio Kim-ciok. Aku
rasa bila dia mau turun tangan terhadap Thio Kim-ciok, maka hal ini
mempermudah baginya untuk mencapai apa yang diharapkan ketimbang
harus menghadapi sepuluh tokoh persilatan serta Ho Lan-hiang."
Bantahan Liu Khi itu kembali
menggetarkan pikiran semua orang, diam-diam mereka pun berpikir,
"Ya, betul, apa sebabnya Hek-mo-ong tidak langsung membunuh Thio
Kim-ciok?"
Padahal Thay-kun sendiri pun belum dapat
memecahkan masalah itu, maka untuk sementara waktu dia hanya
membungkam.
Sementara itu sosot mata semua orang
telah dialihkan ke wajah Thay-kun menantikan jawabannya.
Namun sikap Thay-kun waktu itu amat
tenang dan santai, senyum manis tetap menghiasi ujung bibirnya yang
terbungkam.
Sikap semacam ini segera mendatangkan
perasaan misterius bagi siapa pun yang melihatnya.
Bahkan Liu Khi sendiri pun tak dapat
menduga apa gerangan yang sedang diperbuat Thay-kun.
Suasana hening dan sepi, tiba-tiba
dipecahkan oleh suara ledakan keras yang amat memekakkan telinga.
Ledakan itu begitu dahsyatnya sampai
menggetarkan seluruh permukaan bumi, mengejutkan pula segenap jago
yang berada di sana.
Suara ledakan itu berasal dari balik
ruang gedung, menyusul segulung asap yang sangat tebal menggulung
keluar dari balik jendela.
Mendadak dari balik jendela melompat
keluar sesosok bayangan orang yang tubuhnya terjilat kobaran api.
Dalam genggaman orang itu memegang
sebatang Boan-koan-pit. Begitu muncul dari jendela, ia segera
menjatuhkan diri dan berguling beberapa kali di atas tanah hingga
kobaran api yang menjilat tubuhnya padam, setelah padam dia baru
melompat bangun dari atas tanah.
Walaupun ia berhasil menghindarkan diri
dari bencana tubuh terbakar, namun keadaan orang itu sungguh sangat
mengenaskan.
Jubah panjang berwarna birunya telah
terbakar hangus hingga compang-camping tak keruan, wajahnya hitam
terkena hangus dan asap yang tebal. Biarpun begitu, orang yang
pernah kenal dengannya masih dapat mengenali raut wajah itu.
"Ah, dia adalah si tabib sakti Gi
Jian-cau!" Thay-kun yang pertama-tama menjerit kaget.
Ketika Bong
Thian-gak mendengar Thay-kun mengatakan orang itu
adalah tabib sakti Gi Jian-cau, terbayang jeritan ngeri perempuan
yang terdengar tadi, tanpa terasa ia mulai berpikir apa gerangan
yang sedang dilakukan tabib sakti Gi Jian-cau di dalam gedung itu?
Bong Thian-gak
berkelebat ke depan, kemudian secara tiba-tiba menerobos masuk lewat
daun jendela.
Baru saja tubuhnya bergerak, seseorang
telah membentak pula, "Berhenti!"
Tio Tian-seng dengan pedang terhunus
telah mendesak ke depan, pedangnya seperti naga sakti yang keluar
dari air segera menusuk ke tubuhnya serta menghalangi jalan pergi
anak muda itu.
