pendekar cacad 15

Bagian 19 : 10 tokoh paling liehay dan termasyur

Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, Hek-mo-ong telah memerintahkan seorang pelayan rumah penginapan untuk mengantar pil itu kepadaku dengan pesan agar aku mengundurkan diri dari dunia persilatan, katanya pengundurkan diri ini merupakan syarat bagi keselamatan jiwaku."

"Lantas pil itu merupakan obat penawar racun? Ataukah obat racun?"

"Aku telah melakukan pemeriksaan terhadap pil itu, nyatanya pil ini sama sekali tak mengandung racun."

"Kalau memang bukan obat racun, mengapa Tio-pangcu tidak menelannya?" tanya Bong Thian-gak keheranan.

"Sebab aku pun tidak percaya sudah terkena serangan gelap Hek-mo-ong, selain itu aku pun beranggapan andaikata pil itu baru ditelan sebelum bekerjanya racun itu, hal ini pun belum terhitung terlalu terlambat."

"Seandainya kita benar-benar terkena serangan gelapnya, maka teka-teki siapakah Hek-mo-ong pun segera akan terbongkar."

 

"Bong-laute, apakah kau menduga Tan Sam-cing adalah Hek-mo-ong?" pelan-pelan Tio Tian-seng bertanya.

"Kecuali di saat kita berada dalam Sam-cing-koan tempo hari, aku benar-benar tak bisa membayangkan sejak kapan dan dimanakah kita terkena serangan gelap Hek-mo-ong."

"Masih ingatkah Bong-laute dengan gigitan nyamuk penghancur darah tempo hari?" tanya Tio Tian-seng.

"Bukankah racun nyamuk penghancur darah telah dipunahkan obat penawar racun pemberian Biau-kosiu?"

"Yang menjadi persoalan sekarang adalah siapakah yang telah melepas nyamuk penghancur darah itu?"

"Orang itu tentu Biau-kosiu!"

"Atas dasar apakah kau dapat membuktikan perbuatan ini hasil karyanya?"

"Aku tak bisa membuktikan," Bong Thian-gak menggeleng. "Tapi kita kan bisa mencari Biau-kosiu dan menanyakan hal ini secara langsung kepadanya."

 

Mendadak dari luar halaman rumah terdengar seorang berkata dengan suara merdu, "Jian-ciat-suseng, persoalan apa yang hendak kau tanyakan kepadaku?"

Bersama dengan bergemanya pertanyaan itu, di depan pintu telah muncul seorang nona berbaju hijau yang cantik jelita, orang itu bukan lain adalah gadis Biau yang misterius dan licik itu, Biau-kosiu.

Begitu bertemu nona itu. Bong Thian-gak segera berkata dengan suara lantang, "Silakan duduk nona Biau, maafkan badanku kurang sehat sehingga tidak dapat menyambut kedatanganmu."

 

Dengan langkah lemah-gemulai, Biau-kosiu berjalan masuk ke dalam ruangan, kemudian setelah memandang sekejap wajah semua orang, dia duduk dan tertawa terkekeh-kekeh.

"Jian-ciat-suseng memang orang yang sangat hebat," serunya, "Terbukti kau sanggup merebut pil Hui-hun-wan."

Tio Tian-seng terkejut, segera tanyanya, "Ya, betul! Aku lupa menanyakan hal ini. Bong-laute, bagaimana ceritanya hingga kau bisa mendapatkan pil Hui-hun-wan."

Bong Thian-gak sendiri pun terkejut, segera pikirnya, "Haruskah kuceritakan pengalamanku ketika mendapatkan pil Hui-hun-wan?"

Sementara dia masih berpikir, tiba-tiba Thay-kun telah menyela sambil tertawa geli, "Apakah kalian menganggap pulihnya kesadaran olakku ini dikarenakan aku telah menelan pil Hui-hun-wan buatan si tabib sakti?"

 

Bong Thian-gak tertegun, kembali dia berpikir, "Kenapa Thay-kun menyangkal dia telah menelan pil Hui-hun-wan."

Biau-kosiu melirik sekejap ke arah Thay-kun, kemudian setelah tertawa dingin jengeknya, "Benarkah kau tidak menelan pil Hui-hun-wan? Hm, aku kurang percaya."

Thay-kun tersenyum, "Apakah aku sudah menelan pil Hui-hun-wan atau tidak, apa hubungannya dengan dirimu?"

"Aku harus tahu siapakah yang telah memberi pil Hui-hun-wan itu kepadamu?" ucap Biau-kosiu dengan suara dingin.

"Bukan pemberian Bong Thian-gak, bukan juga si tabib sakti."

"Lantas siapa?" desak Biau-kosiu lebih jauh.

"Boleh saja kuberitahu hal ini kepadamu, tapi ada syarat yang harus kau penuhi lebih dulu, kau harus memberitahukan dulu kepadaku maksudmu menanyakan hal ini."

 

Sekarang Bong Thian-gak baru mengerti, rupanya Thay-kun menyangkal telah menelan pil Hui-hun-wan, sebab dia merasa perkataan Biau-kosiu sangat mencurigakan.

Biau-kosiu berkerut kening, katanya, "Hui-hun-wan merupakan benda mustika, semua orang ingin memperolehnya."

"Kalau begitu, kau juga berharap mendapatkan pil Hui-hun-wan itu?"

"Aku telah memberitahukan maksudku, sekarang kau harus memberitahukan pula kepadaku siapa yang memberikan pil Hui-hun-wan kepadamu."

"Keng-tim Suthay Nyo Li-beng."

"Dimana ia sekarang?" desak Biau-kosiu.

"Dia telah meninggal," Thay-kun menghela napas panjang.

 

Biau-kosiu mengerut dahi, ujarnya, "Kau benar-benar ngaco-belo. Bila kau tidak mengatakan dimanakah dia sekarang, aku tak akan bersikap sungkan lagi kepadamu."

Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas sedih, selanya, "Nona Biau, Keng-tim Suthay memang sudah meninggal. Tio-pangcu telah memeriksa jenazahnya."

Mo-kiam-sin-kun yang berada di depan cepat menambahkan pula dengan suara dalam, "Keng-tim Suthay tewas di dalam gua Kiu-thian-tong di bawah kuil Sam-cing-koan. Siapa yang telah mencelakainya hingga kini masih merupakan teka-teki."

 

Mendadak hawa membunuh menyelimuti wajah Biau-kosiu, mendadak dia melepaskan pukulan dahsyat ke dada Thay-kun.

Menghadapi datangnya ancaman itu, Thay-kun tersenyum, telapak tangannya dibalik untuk memusnahkan serangan itu, kemudian katanya, "Di antara kita tiada dendam ataupun sakit hati, mengapa kau melancarkan serangan keji kepadaku?"

"Bila aku tidak berusaha membunuhmu sekarang, maka tiga tahun kemudian kau akan menjadi jago paling tangguh di dunia persilatan," kata Biau-kosiu dingin.

Sembari berkata, Biau-kosiu melejit ke tengah udara lalu dengan suatu gerakan aneh tapi sakti, dia melancarkan tiga serangan berantai.

 

Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng yang menyaksikan gerakan serangannya kontan berubah wajahnya, baru sekarang mereka tahu gadis suku Biau ini sesungguhnya memiliki ilmu silat yang amat lihai dan dia merupakan tokoh sakti yang amat tangguh dan tidak boleh dianggap enteng, sudah barang tentu Thay-kun sendiri bukan seorang lemah, tampak dia menggerakkan pinggangnya dengan lemah-gemulai, lahu-tahu semua ancaman berhasil dihindari.

 

Sambil tertawa ringan, katanya, "Bagaimana penjelasanmu atas perkataan yang telah kau ucapkan tadi? Apakah sebutir pil Hui-hun-wan saja dapat menciptakan diriku menjadi manusia super?"

Setelah melepaskan ketiga serangan dahsyat itu, mendadak Biau-kosiu menarik kembali serangannya sambil mundur selangkah, katanya tertawa dingin, "Ilmu silatmu lumayan juga, beranikah kau menyambut seranganku lagi?"

Bong Thian-gak cukup mengerti bahwa Biau-kosiu tentu akan menyiapkan serangan yang lebih dahsyat lagi dalam serangannya nanti, cepat ia berseru, "Nona Biau, harap jangan menyerang dulu, ada persoalan yang hendak kubicarakan kepadamu."

 

Sedang Tio Tian-seng dengan suara berat berkata pula, "Harap nona jangan melancarkan serangan lebih dulu, ada suatu persoalan ingin kutanyakan kepadamu."

"Apakah kau ingin menanyakan masalah nyamuk penghancur darah itu?" tukas Biau-kosiu.

"Benar, kami ingin tahu siapakah orang yang telah melepaskan nyamuk penghancur darah itu untuk mencelakai kami?"

"Aku."

"Jika kau, kami pun dapat merasa lega."

 

Biau-kosiu tertawa dingin, kembali berkata, "Tahukah kalian, siapa yang telah meminta bantuan kepadaku untuk melepaskan nyamuk penghancur darah guna mencelakai kalian?"

"Siapa?" tanya Bong Thian-gak tanpa terasa.

"Hek-mo-ong. Obat penawar racun yang kuberikan kepada kalian adalah penawar racun nyamuk penghancur darah itu pun merupakan pemberian Hek-mo-ong yang meminta kepadaku untuk disampaikan kepada kalian. Oleh sebab itu kalian berdua sebenarnya sudah terkena serangan gelap Hek-mo-ong, mati hidup kalian telah berada pada cengkeramannya."

 

Paras muka Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng menjadi pucat-pias.

Thay-kun tersenyum, katanya, "Rupanya kau punya hubungan cukup intim dengan Hek-mo-ong, sebenarnya siapakah Hek-mo-ong?"

"Tentu saja aku tahu siapa dia, tapi aku takkan memberitahukan kepada kalian."

Thay-kun segera tertawa dingin, "Padahal aku juga tahu kau pun tidak mengetahui siapakah Hek-mo-ong, seandainya tahu, sudah pasti dia Hek-mo-ong gadungan."

Biau-kosiu tersenyum, segera tanyanya, "Darimana kau bisa tahu kalau dia adalah gadungan?"

"Sebab aku sudah mengetahui sejak tadi bahwa apa yang kau ucapkan semua pada hari ini cuma perkataan bohong belaka."

"Bohong juga boleh, tidak bohong pun boleh juga, pokoknya yang pasti kalian bertiga sudah tidak jauh dari kematian."

 

Mendadak Bong Thian-gak berkata dengan suara dingin, "Mati bukanlah suatu kejadian yang menakutkan, biarpun manusia hidup seratus tahun lagi juga akhirnya akan mati juga."

Biau-kosiu berpaling dan memandang sekejap ke arahnya, lalu berkata, "Bila kau pecaya padaku, aku pun dapat menyelamatkan jiwa, kalian dari kematian."

"Syarat apa yang hendak kau ajukan kepada kami?" tanya Thay-kun sambil tertawa merdu.

Biau-kosiu tertawa dingin, katanya, "Menyelamatkan jiwa orang bagaikan mempunyai orang tua baru, aku tidak bisa menyelamatkan jiwa seseorang begitu saja."

"Apa yang kau inginkan, utarakan saja!"

"Aku hanya berharap kalian membantuku membunuh Liong Oh im."

"Soal itu kami dapat menerimanya, tapi sekarang separoh badan Jian-ciat-suseng lumpuh. Pertama-tama, kau harus mengobati dirinya lebih dulu."

"Separoh badannya lumpuh, hal ini dikarenakan ada hawa murninya yang menyumbat sebagian jalan darahnya, asalkan sebuah pukulan menghantam persis di atas jalan darah Wi-liong-hiat, dia akan sembuh seperti sediakala."

 

Sembari berkata, tiba-tiba Biau-kosiu melepaskan tendangan kilat persis menghajar badan Bong Thian-gak, akibatnya tubuh anak muda itu mencelat ke belakang.

Ketika terjatuh ke atas tanah, Bong Thian-gak telah memperoleh kesegaran kembali, keempat anggota badannya dapat digerakkan bebas seperti sediakala.

"Suheng apakah kau telah sembuh?" Thay-kun segera bertanya.

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ya, aku telah sembuh, namun aku harus pergi membunuh orang."

 

Terhadap kemampuan Biau-kosiu dalam mengobati seseorang, baik Thay-kun maupun Tio Tian-seng merasa terkejut bercampur keheranan, sebenarnya mereka mengira Biau-kosiu hanya bicara secara ngawur tanpa bukti nyata, siapa pun tak menyangka tendangannya ternyata berhasil membebaskan Bong Thian-gak dari ancaman kelumpuhan.

 

Tio Tian-seng menghela napas sedih, kemudian berkata, "Tidak kusangka ilmu pertabiban nona begitu hebat, sungguh membuat orang kagum, tapi tolong tanya apakah di dalam tubuh kami benar-benar sudah terkena serangan gelap Hek-mo-ong? Harap nona sudi memberi petunjuk."

Biau-kosiu tertawa ringan, "Tentu saja kalian terkena serangan gelap Hek-mo-ong, cuma saja sebelum batas waktu yang ditetapkan dalam kartu kematian tiba, kalian tidak bakal menemui ajal."

 

Bong Thian-gak bertanya, "Tolong tanya nona Biau, dimanakah Liong Oh-im sekarang?"

"Malam nanti Liong Oh-im bakal muncul di sekitar jembatan Lok-yang-kian. Kalian boleh menyergapnya di situ. Ingat! Dalam tubuh kalian masih mengidap racun jahat dan hanya aku seorang yang mampu mengobatinya, harap kalian jangan menggunakan nyawa sendiri sebagai taruhan. Nah, aku pergi dulu!"

"Tunggu sebentar!" buru-buru Thay-kun berseru melihat Biau-kosiu akan pergi.

"Kau masih ada urusan apa lagi?"

"Liong Oh-im bukan jago silat biasa, seandainya kami tidak berhasil membunuhnya?"

"Bila tak mampu melukainya, kalianlah yang akan terluka, tentu saja dia bukan seorang lemah."

"Masih ada satu hal lagi, benarkah kau memiliki kemampuan memunahkan racun yang mengeram dalam tubuh mereka?"

 

Biau-kosiu tertawa dingin, segera dia berkata, "Mau percaya atau tidak terserah kepada kalian, nah aku pergi dulu."

Dengan cepat ia beranjak keluar dari ruangan itu dan pergi meninggalkan tempat itu.

Sepeninggal nona itu, Tio Tian-seng berkata, "Ombak belakang sungai Tiang-kang mendorong ombak di depannya, orang baru akan menggantikan orang lama. Ai, aku memang sudah tua."

 

Teringat kembali kegagahannya semasa masih menjagoi dunia persilatan di masa lampau, Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng menghela napas sedih dengan wajah masgul.

Thay-kun tersenyum dan berkata, "Tio-pangcu, mengapa kau menghela napas? Dalam dunia persilatan dewasa ini cuma beberapa gelintir manusia saja yang mampu menandingi permainan pedang iblismu?"

Sekali lagi Tio Tian-seng menghela napas sedih, "Aku menjadi malu sendiri setelah menyaksikan kalian angkatan muda ternyata rata-rata memiliki kepandaian silat yang amat lihai."

"Ai, andaikata To Siau-hou dan Han Siau-liong tidak terluka, aku pun tidak akan merasa diriku sebatangkara."

"Tio-pangcu, aku dan Thay-kun berdiri di pihakmu, selanjutnya bila kau membutuhkan bantuan kami, kami pasti akan membantumu sekuat tenaga," timbrung Bong Thian-gak.

 

Tio Tian-seng tertawa tergelak, "Setelah mendengar perkataan Bong-laute ini, semangatku kembali berkobar."

Bong Thian-gak bertanya, "Tio-pangcu, Boanpwe merasa bingung terhadap situasi kalut yang melanda dunia persilatan dewasa ini, aku benar-benar tak mengerti tujuan Hek-mo-ong merencanakan segala siasat liciknya menteror dunia persilatan?"

 

Mendapat pertanyaan ini, Tio Tian-seng menghela napas panjang,

"Bong-laute, agaknya Liu Khi telah membocorkan sedikit hal yang sebenarnya kepadamu. Ai, hingga sekarang belum ada seorang pun yang mengetahui siapa gerangan Hek-mo-ong."

"Menurut Liu Khi, Tio-pangcu pun kemungkinan besar adalah Hek-mo-ong. Bagaimana pendapat Tio-pangcu sendiri?"

 

Tio Tian-seng manggut-manggut sambil menghela napas panjang, "Benar, kemungkinan besar aku pun terhitung Hek-mo-ong, cuma Hek-mo-ong gadungan."

Sampai di sini dia berhenti sejenak, kemudian sambungnya, "Mengenai sepuluh jago yang dicurigai sebagai Hek-mo-ong, hal ini bersumber pada peristiwa yang telah terjadi tiga puluh tahun berselang."

 

Mendadak paras mukanya berubah hebat, kemudian bentaknya dengan suara dingin, "Siapa berada di luar? Mengapa mesti sembunyi-sembunyi dan mencurigakan?"

Belum habis dia berkata, seseorang sudah menyelinap dari luar pintu, Liu Khi telah masuk ke dalam ruangan sambil tertawa tergelak.

"Sejak kapan Tio-pangcu datang ke Lok-yang?" sapanya.

Kemunculan Liu Khi membuat hati Bong Thian-gak tergerak, pikirnya, "Mungkinkah di antara mereka akan terjadi bentrok?"

 

Sementara itu Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng telah menjawab dengan serius, "Setelah aku menerima surat pemberitahuan lewat pos merpati yang menerangkan To Siau-hou dan Han Siau-liong terluka serta jiwanya terancam bahaya, aku segera datang ke Lok-yang, maksudku hendak mencari tabib sakti Gi Jian-cau untuk mengobati luka Liong-ji dan Hou-ji."

"Apakah Pangcu telah berhasil menemukan Gi Jian-cau?" tanya Liu Khi.

"Belum berhasil kutemukan."

"Aku telah menemukan Gi Jian-cau."

 

Ucapannya ini segera menggetarkan hati setiap orang.

Bong Thian-gak yang pertama-tama berseru terlebih dahulu, "Dimanakah tabib sakti Gi Jiau-cau sekarang?"

Pelan-pelan Liu Khi berjalan ke sisi Bong Thian-gak dan duduk di situ, kemudian baru sahutnya, "Dia berada di Lok-yang."

"Di Lok-yang bagian mana?" sela Thay-kun.

Liu Khi memandang sekejap ke arahnya, lalu tersenyum, katanya, "Rupanya kau telah memperoleh kembali kesadaranmu."

 

Semua orang ingin secepatnya mengetahui tempat persembunyian Gi Jian-cau, siapa tahu Liu Khi justru jual mahal dengan mengalihkan pembicaraan ke soal lain, tentu saja hal itu membuat semua orang gemas.

Setelah tersenyum manis, jawab Thay-kun, "Terima kasih banyak atas perhatian Liu-cianpwe. Di samping itu, mohon kepada Liu-cianpwe agar selekasnya memberitahukan kepada kami tempat persembunyian Gi Jian-cau."

 

Liu Khi tersenyum.

"Apabila aku memberitahukan tempat persembunyian tabib sakti Gi Jian-cau kepada kalian, maka hari ini kalian tak akan bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat."

Sambil berkata, sepasang matanya mengawasi Tio Tian-seng tanpa berkedip.

Bong Thian-gak yang menyaksikan hal ini diam-diam berpikir kembali, "Mungkinkah Liu Khi akan melancarkan serangan di saat musuh tak menyerang? Seandainya dia melancarkan serangan, dapatkah Tio Tian-seng melepaskan diri dari bacokan itu?"

Sementara itu Thay-kun dengan wajah berubah hebat berpaling dan memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng.

 

Tampak wajah Tio Tian-seng amat serius, jawabnya dengan suara berat, "Liu Khi, konon kau adalah seorang pembunuh bayaran?"

"Bukankah soal ini telah lama Pangcu ketahui?" sahut Liu Khi sambil tersenyum.

"Tapi tahukah kau, mengapa selama ini aku berlagak pilon seolah-olah tidak tahu," kembali Tio Tian-seng berkata.

Liu Khi tertawa dingin.

"Pangcu pernah tiga kali ingin menghadapiku dengan kekerasan, namun setiap kali niatmu itu kau urungkan."

"Kau pun sudah tiga kali bermaksud membunuhku," kata Tio Tian-seng pula dengan hambar.

"Yang seorang adalah anak buah yang tidak bisa dipercaya, sedangkan yang seorang lagi adalah atasan yang tidak setia. Tampaknya kita berdua memang setali tiga uang, sama-sama bobroknya."

 

Bong Thian-gak menghela napas sedih, katanya, "Liu-tayhiap dan Tio-pangcu, apakah bersedia mendengar nasehat Boanpwe? Dunia persilatan saat ini sedang dicekam teror kaum iblis, apabila kalian berdua saling percaya dan bekerja sama dengan baik, aku pikir nama Kay-pang tentu akan lebih termasyhur."

Liu Khi melirik sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya, "Ada satu persoalan aku pun ingin memberitahukan kepadamu, jangan sekali-kali mau diperalat orang lain."

"Diperalat siapa?" tanya Bong Thian-gak dengan wajah tidak habis mengerti.

"Oleh Hek-mo-ong."

"Hek-mo-ong hendak memperalat kami? Apa tujuannya?"

"Memperalat kau dan Thay-kun untuk membunuh Liong Oh-im."

Bong Thian-gak menjerit kaget, "Maksudmu Biau-kosiu adalah Hek-mo-ong?"

 

Liu Khi menggeleng kepala.

"Bukan, dia bukan Hek-mo-ong, dia kuku garuda Hek-mo-ong yang diandalkan."

"Benarkah perkataanmu itu?" tanya Bong Thian-gak agak tertegun.

"Aku tidak berbohong."

Thay-kun yang selama ini membungkam, segera menyela sambil tertawa ramah, "Tampaknya apa yang telah kami bicarakan dengan Biau-kosiu barusan telah kau dengar semua. Kalau memang begitu, mungkin kau pun sudah tahu bahwa kami telah menyanggupi untuk membunuh orang dan hal ini terpaksa kami terima karena keadaan terpaksa."

 

Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh kembali Liu Khi berkata, "Apabila kalian bersedia mempercayai diriku, malam ini jangan kalian datangi jembatan Lok-yang-kian."

"Apakah Liu-tayhiap sudah tahu Suhengku telah menerima kartu undangan kematian Hek-mo-ong?" kata Thay-kun sambil tersenyum. "Dia sudah terkena racun jahat dan kemungkinan besar racun itu akan bekerja setiap saat."

 

Liu Khi tersenyum sambil berpikir sejenak, lalu berkata, "Bilamana dugaanku tidak salah, saat ini Bong Thian-gak masih belum terkena serangan beracun Hek-mo-ong."

"Tapi dia pun ada kemungkinan keracunan, bukan?" tanya Thay-kun sambil tersenyum.

Tiba-tiba Liu Khi menghela napas panjang, "Benar, dia pun ada kemungkinan terkena racun."

"Apabila Liu-tayhiap dapat mengundang Gi Jian-cau melakukan pemeriksaan baginya, maka kita akan segera dapat membuktikan apakah dalam tubuhnya sudah keracunan atau belum."

 

Mendengar perkataan itu, Liu Khi berkata, "Ai, sayang sekali si tabib sakti Gi Jian-cau telah meninggal dunia."

"Dia sudah mati?" tanya Bong Thian-gak dengan terkejut.

Dalam pikiran Bong Thian-gak, di Kangouw orang yang paling besar kemungkinannya sebagai Hek-mo-ong adalah Gi Jian-cau.

Tapi Gi Jian-cau telah mati, mau tak mau hal itu membuatnya setengah percaya.

 

Setelah menghela napas, kembali Liu Khi berkata, "Dia mati dalam keadaan amat mengerikan. Bilamana kalian tidak percaya, aku bersedia mengajak kalian melihat jenazahnya."

"Andaikata dia bukan Hek-mo-ong, mengapa dia meninggalkan surat yang menyuruhku membunuhnya?" terdengar Bong Thian-gak bergumam. "Benar-benar aneh, sungguh membuat orang bimbang di tidak mengerti."

Yang dimaksud Bong Thian-gak tentu saja Keng-tim Suthay.

"Sewaktu berada di dalam gua Mi-hun-kiu-thian-tong di bawah kuil Sam-cing-koan, dia melihat tulisan di kaki Keng-tim Suthay telah menjadi mayat, 'Tabib sakti Gi jian-cau harus dibunuh'. Ini pesan yang ditinggalkan olehnya."

 

Oleh karena hal ini Bong Thian-gak selalu mencurigai tabib itu kemungkinan besar dia adalah Hek-mo-ong yang misterius itu.            |

Thay-kun ikut menghela napas, katanya, "Berita kematian Gi Jian cau benar-benar membuat orang tidak percaya. Ai, semasa hidupnya, dia orang tua paling baik terhadapku, setelah dia mati sekarang, aku harus pergi menyambangi jenazahnya."

 

Thay-kun minta kepada Liu Khi agar mengajak mereka menjeng jenazah Gi Jian-cau.

Liu Khi manggut-manggut menyetujui.

"Kalau memang begitu, harap kalian mengikuti diriku."

Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru, "Bong-laute, aku rasa lebih baik kalian jangan pergi ke sana."

"Kenapa?" tanya pemuda itu keheranan.

 

Dengan suara dalam dan berat, Tio Tian-seng berkata, "Orang yang sudah mati tak akan bisa hidup kembali, kepergian kalian ke sana tak ada gunanya."

Thay-kun kembali menghela napas.

"Tabib sakti Gi Jian-cau tercantum namanya sebagai salah satu di antara sepuluh jago lihai persilatan, ilmu silat yang dimilikinya sangat lihai. Boanpwe benar-benar tidak percaya dia orang tua telah tertimpa musibah."

"Oh Ciong-hu juga memiliki kepandaian silat tangguh, tapi kenyataan dia juga mati terbunuh," kata Tio Tian-seng dengan suara sangat hambar.

 

Satu ingatan segera melintas dalam benak Bong Thian-gak, segera tanyanya, "Tio-pangcu, tampaknya lamat-lamat kau telah mengetahui siapakah pembunuh guruku dulu?"

"Kemungkinan besar orang itu adalah Hek-mo-ong."

Tiba-tiba Liu Khi menyela sambil tertawa dingin, "Sebenarnya kailan berdua bersedia ikut aku atau tidak? Kalau tidak, aku akan segera mohon diri."

"Silakan Liu-tayhiap menjadi petunjuk jalan!" jawab Thay-kun dengan segera.

Sembari berkata, dia lantas mengikuti Liu Khi beranjak keluar dari ruangan itu.

Terpaksa Bong Thian-gak menjura kepada Tio Tian-seng seraya Mei kata, "Tio-pangcu, Boanpwe akan pergi sejenak."

Selesai berkata, dia pun membalikkan badan dan beranjak pergi pula dari situ.

 

Kini tinggal Tio Tian-seng seorang yang duduk dalam ruangan, dengan wajah tanpa emosi ia bergumam, "Mungkin kalian tak akan kemhali lagi."

Sementara itu Liu Khi telah mengajak Bong Thian-gak dan Thay-kun meninggalkan rumah penginapan Ban-heng dan berangkat menuju keluar kota,

Saat itu fajar baru saja menyingsing, orang yang berlalu-lalang di jalanan pun masih sedikit, mereka berlarian menuju ke kota bagian barat.

 

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Liu Khi menghentikan langkah, lalu tanyanya, "Sudah berapa lama kalian berdua bergaul dengan Tio Tian-seng?"

"Apa maksud Liu-tayhiap menanyakan hal ini?" tanya Bong Thian-gak berkerut kening.

Liu Khi melirik sekejap ke arahnya, tanyanya lagi, "Bagaimanakah pendapat kalian tentang watak serta tabiat Tio Tian-seng?" .

Bong Thian-gak dapat menangkap di balik kata-kata Liu Khi ada maksud mengadu domba, maka sahutnya dengan hambar, "Tio-pangcu bukanlah orang yang susah didekati seperti apa yang diduga orang."

"Tentunya Liu-tayhiap lebih memahami watak serta tabiat Tio-pangcu daripada orang lain, bukan?" Thay-kun menyela sambil tertawa merdu.

 

Liu Khi menghela napas panjang.

"Sudah sepuluh tahun lamanya aku menyelundup dalam Kay-pang, tapi hingga kini aku masih belum dapat meraba secara jelas watak serta tabiat Tio Tian-seng sesungguhnya."

Bong Thian-gak tertegun, tanyanya lebih jauh, "Apakah maksud Liu-tayhiap menyelundup ke Kay-pang untuk menyelidiki watak serta tabiat Tio Tian-seng?"

"Benar," Liu Khi menghela napas panjang. "Sebenarnya aku ingin menyelidiki peristiwa berdarah itu."

"Peristiwa berdarah yang mana? Apakah Liu-tayhiap bersedia menjelaskan?" tanya Thay-kun sambil tersenyum.

 

Liu Khi berjalan menuju keluar kota yang sepi, sambil berjalan ujarnya, "Peristiwa berdarah ini terjadi tiga puluh tahun berselang!"

Sampai di situ tiba-tiba dia menghela napas panjang, kemudian mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

"Peristiwa berdarah ini menyangkut situasi dunia persilatan serta , nama baik jago kenamaan. Sebelum duduknya persoalan menjadi jelas dan terang, aku tidak berani bicara dulu secara sembarangan."

 

Bong Thian-gak merasa kecewa atas jawaban itu, katanya, "Entah sampai kapan teki-teki itu baru bisa terjawab?"

"Hek-mo-ong telah menampakkan diri di kota Lok-yang, berarti duduknya persoalan akan segera tertungkap."

"Lagi-lagi Hek-mo-ong. Ai, sebenarnya manusia macam apakah dia?"

"Liu-tayhiap, entah jenazah Gi Jian-cau berada dimana?" Thay-kun menyela.

"Dalam Ban-jian-bong, tiga li di luar kota sebelah barat."

"Ban-jian-bong (kuburan selaksa orang)? Bukankah tempat itu merupakan tempat penitipan jenazah orang dari luar kota?"

"Setelah Gi Jian-cau tewas, jenazahnya telah dimasukkan ke dalam peti mati dan dikirim ke Ban-jian-bong untuk sementara waktu."

 

Mendadak Thay-kun bertanya, "Apakah Liu Khi kenal wajah asli si tabib sakti?"

Liu Khi menghela napas panjang.

"Aku justru mengajak nona mendatangi Ban-jian-bong, karena aku berharap kau bisa mengenali wajah korban, apakah benar tabib sakti atau bukan, sebab aku tahu di kolong langit ini hanya kau serta Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau dan Keng-tim Suthay yang mengenali wajah asli Gi Jian-cau."

"Ah, kalau begitu kedatangan Liu-tayhiap ke rumah penginapan Ban-heng adalah untuk mencari diriku?" Thay-kun berseru pelan.

"Masih ada satu alasan lagi, yaitu mengajak kalian meninggalkan Tio Tian-seng sejauh-jauhnya."

"Mengapa?" tanya Bong Thian-gak heran.

"Sebab Tio Tian-seng dicurigai sebagai Hek-mo-ong."

 

Mendengar itu, Bong Thian-gak tersenyum.

"Bukankah Liu-tayhiap sendiri dicurigai sebagai Hek-mo-ong?"

"Benar, kemarin malam aku sudah bilang di antara sepuluh jago lihai persilatan, hampir semuanya dicurigai sebagai Hek-mo-ong, kini aku sengaja mengajak kalian untuk mengenali jenazah Gi Jian-cau karena aku ingin kepastian apakah salah seorang yang dicurigai telah hilang. Jika demikian, lambat-laun kita akan mendekati pembunuh yang sebenarnya, siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya."

 

"Dari sepuluh orang jago lihai persilatan, entah sudah berapa orang yang dapat Liu-tayhiap buktikan bukan Hek-mo-ong?" tiba-tiba Thay-kun bertanya.

"Sudah ada lima orang."

"Siapa saja kelima orang itu?"

"Ku-lo Sinceng, Oh Ciong-hu, Kui-kok Sianseng serta Song-ciu suami-istri."

"Bila termasuk kau dan Gi Jian-cau, bukankah berarti sudah ada tujuh orang?"

 

Liu Khi manggut-manggut.

"Benar, yang tersisa tinggal tiga orang saja yaitu Tio Tian-seng, Tan Sam-cing serta Liong Oh-im."

Thay-kun memandang sekejap hutan bambu di depan situ, lalu katanya, "Kita sudah sampai di Ban-jian-bong."

Bong Thian-gak memandang sekeliling tempat itu. Tampak sebuah hutan bambu, di balik hutan bambu nan hijau secara lamat-lamat kelihatan pekarangan.

Liu Khi mendatangi lebih dulu pekarangan pertama, lalu berhenti. Tanyanya kemudian sambil berpaling, "Apakah kalian pernah datang kemari?"

"Ban-jian-bong merupakan tempat termasyhur, aku sudah tiga kali berkunjung kemari."

 

Saat itu tampaknya Bong Thian-gak terkesima oleh pemandangan yang terbentang di hadapannya. Dengan mata mendelong, dia mengawasi peti-peti mati yang berjajar di bawah pohon bambu itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ternyata tempat penitipan peti mati adalah di bawah pohon bambu di halaman yang luas itu.

Sejauh mata memandang, sekeliling halaman pertama penuh ditumbuhi pepohonan bambu yang hijau. Peti-peti mati bercat merah terletak di bawah pohon bambu yang rindang itu, jumlahnya mencapai ratusan buah sehingga mendatangkan suasana seram dan menggidikkan.

 

Ban-jian-bong terdiri dari tujuh belas halaman, apakah semua dipergunakan untuk menyimpan peti mati? Lantas berapa mayat yang tersimpan di situ?

Liu Khi memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya, "Bong-siauhiap belum pernah mendatangi Ban-jian-bong, kuharap kau jangan sembarangan bergerak daripada akhirnya tersesat dan tak tahu jalan pulang."

 

Liu Khi mengajak kedua orang itu berjalan menuju ke dalam halaman pertama.

Ternyata dari tujuh belas halaman Ban-jian-bong itu, setiap halaman dijaga dan diurus oleh delapan belas pendeta.

Setelah memasuki halaman pertama, Liu Khi mengemukakan maksud kedatangannya kepada Hwesio penerima tamu, selanjutnya mereka diajak menuju ke halaman kesembilan.

Hwesio yang mengepalai halaman itu adalah Hwesio berjubah kuning yang gemuk, berusia empat puluh tahun dan membawa sebuah tasbih di lehernya.

 

Tampaknya Hwesio itu sangat mengenal Liu Khi, ketika melihat kedatangan jago ini, dia segera memberi hormat seraya menyapa, "Liu-sicu, sepagi ini kau telah datang?"

Liu Khi manggut-manggut membalas hormat, jawabnya, "Aku membawa sobat dari sang jenazah yang hendak menyambangi. Harap Taysu sudi mempersiapkan hio, lilin dan uang pengorbanan bagi kami."

"Silakan Sicu bertiga duduk dulu, Pinceng akan menyuruh orang menyiapkannya."

 

Ruang tengah itu merupakan ruang terima tamu. Liu Khi, Bong Thian-gak serta Thay-kun terpaksa duduk menanti.

Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, Hwesio gemuk berjubah kuning itu sudah muncul kembali sambil membawa dua orang I Iwesio muda berjubah kuning yang membawa keranjang kecil, katanya, "Maaf bila menanti lama, Pinceng mengutus kedua muridku ini untuk melayani kalian."

 

Bong Thian-gak mengerti isi keranjang yang dibawa kedua Hwesio itu tentu uang pengorbanan, hio, lilin dan alat sembahyang lainnya.

Dari dalam sakunya Liu Khi mengeluarkan sedikit uang perak yang diserahkan kepada Hwesio gemuk itu sambil ujarnya, "Harap Siau-suhu berdua sudi membuka jalan."

"Terima kasih banyak atas derma Liu-sicu," Hwesio gemuk itu menerima uang tadi sambil mengucapkan terima kasih.

 

Dalam pada itu kedua orang Hwesio muda tadi telah mengajak Liu Khi bertiga keluar dari ruang tamu dan memasuki hutan bambu yang penuh dengan deretan peti mati itu.

Pagi hari sudah lewat, matahari bersinar cerah di angkasa, namun suasana di balik hutan bambu dalam Ban-jian-bong ini tampak remang-remang, seperti suasana senja, sepanjang tahun seakan-akan tak pernah tersorot matahari.

 

Bong Thian-gak mengikut di belakang kedua Hwesio itu dengan ketat, setelah melewati jalanan kecil yang membentang di balik hutan bambu itu, akhirnya kedua Hwesio itu berhenti di depan sebuah gundukan tanah.

Dengan ketajaman mata Bong Thian-gak, sekilas pandang saja dia telah melihat di depan gundukan tanah itu terdapat sebuah batu nisan yang berukirkan beberapa tulisan: "Tempat bersemayam Gi Jian-cau".

Tanpa terasa Thay-kun bertanya, "Siapa yang telah mengukir tulisan di atas batu nisan itu?"

Setelah menghela napas, sahut Liu Khi, "Orang yang menitipkan jenazah itu berpesan kepada petugas di sini agar mengukir huruf itu di atas batu nisannya."

 

Sementara mereka sedang berbicara, kedua Hwesio muda itu sudah bekerja sama menggeser batu nisan itu ke samping, ternyata di balik gundukan tanah itu merupakan sebuah gua, sebuah peti mati berwarna merah tampak membujur di dalam gua itu.

Thay-kun berseru tertahan, "Suhu berdua, harap letakkan saja hio dan alat sembahyang itu ke atas tanah. Di sini sudah tak ada urusan kalian, satu jam kemudian kalian boleh mengajak kami berlalu dari sini."

 

Kedua Hwesio itu segera melaksanakan seperti yang diminta Thay-kun, setelah meletakkan keranjang kecil itu, mereka pun segera mengundurkan diri.

Pada saat itulah Thay-kun mengeluarkan alat sembahyang, katanya, "Liu-tayhiap, dimana kau bisa tahu jenazah Gi Jian-cau disimpan di tempat ini?"

Liu Khi menghela napas panjang, "Ai, aku berhasil mendapatkan keterangan ini dari mulut seorang anak buah Hek-mo-ong yang kusiksa."

"Mana orang itu sekarang?" kembali Thay-kun bertanya. "Sudah mati karena keracunan hebat."

"Kalau begitu Liu-tayhiap pernah datang kemari satu kali?" Sekali lagi Liu Khi mengangguk.

"Benar, kemarin aku sudah datang kemari dan memeriksa pula keadaan jenazah dalam peti mati itu."

"Bagaimanakah bentuk jenazah itu?"

"Rambutnya awut-awutan, tujuh lubang indranya berdarah dan dia mati dengan wajah menyeramkan, di atas dada jenazahnya tertera cap tengkorak."

"Apakah Liu-tayhiap dapat menduga sudah berapa lamakah matinya?"

 

Pertanyaan itu disambut Liu Khi dengan suara helaan napas panjang.

"Ai, seluruh tubuhnya penuh darah, kulit badannya tidak utuh, nampaknya seperti mati belum lama."

Tapi sampai di situ, dia menggeleng kepala sembari berkata, "Sungguh aneh, bila darah mengalir keluar dari tubuh seseorang, maka seperempat jam kemudian warna darah akan berubah menjadi tua, tapi cairan darah itu nampak merah segar, seakan-akan baru saja mengucur keluar."

Thay-kun berkerut kening, lalu tanyanya, "Ketika kau buka peti itu apakah terendus sesuatu bau yang harum?"

"Benar," Liu Khi mengangguk, "memang terendus bau harum semerbak. Darimana kau bisa tahu?"

 

Tiba-tiba Thay-kun menghela napas panjang, kemudian katanya, "Jadi dalam peti telah diletakkan obat anti busuk, bau harum yang terendus olehmu ketika membuka penutup peti mati tak lain adalah bau obat anti busuk itu."

"Bagaimana kalau kubuka sekali lagi peti mati itu?"

"Coba bukalah sekali lagi!"

Liu Khi segera menarik tali peti mati dan menyeret peti itu hingga keluar dari gua, kemudian pelan-pelan dibukanya penutup peti mati.

Tampak sesosok mayat yang menyeringai seram dan dari ketujuh liilmng indranya mengucurkan darah membujur di dalam peti mati.

Begitu penutup peti mati dibuka, terendus bau harum semerbak yang sangat aneh.

 

Dengan memberanikan diri Thay-kun mendekati peti mati itu dan mengamati jenazah itu dengan seksama sampai lama, lama sekali tidak nampak bergerak ataupun bicara.

Liu Khi yang menyaksikan keadaan gadis itu, segera bertanya, "Apakah jenazah itu adalah Gi jian-cau?"

Thay-kun menghela napas panjang, "Ai, paras mukanya telah berubah sama sekali, sulit bagiku untuk mengenalinya."

Mendadak pada saat itulah berkumandang suara gemerutukan yang aneh sekali.

Dengan sorot matanya tajam Bong Thian-gak berpaling ke arah berasalnya suara aneh itu. Di bawah pohon bambu tampak sebuah penutup peti mati sedang bergerak secara keras.

Suara aneh itu tak lain adalah suara bergeseknya penutup peti mati.

 

Peristiwa ini kontan membuat beberapa orang itu menarik napas, untung di arena terdapat tiga orang, lagi pula semuanya jago lihai yang sudah berpengalaman luas dalam menghadapi pertarungan. Coba kalau tidak, niscaya nyali mereka akan pecah dan melarikan diri terbirit-birit.

Setelah bergetar empat kali, ternyata penutup peti itu tak bergetar lagi, bahkan suasana di sekeliling tempat itu dicekam keheningan.

 

Mendadak Liu Khi tertawa dingin, kemudian bentaknya, "Siapa yang bersembunyi di dalam peti mati? Bila tidak segera keluar, aku akan menyuruh kau mampus dalam peti mati itu!"

Paras muka Thay-kun saat itupun berubah menjadi amat serius, pelan-pelan ujarnya, "Liu-tayhiap, rasanya kita sudah terkepung oleh musuh."

"Apa maksudmu?"

"Rasanya suasana di sekeliling tempat ini agak aneh."

"Aku pun mempunyai perasaan yang aneh," kata Bong Thian-ga pula dengan kening berkerut.

 

Liu Khi segera tersenyum, kemudian katanya, "Peduli setan atau dedemit, bila Liu Khi, Jian-ciat-suseng dan Si-hun-mo-li telah bekerja sama, situasi macam apa pun masih sanggup kita hadapi."

Memang dewasa ini belum ada seorang pun yang mampu menghadapi serangan gabungan mereka bertiga.

 

Pada saat itulah dari balik hutan bambu di kejauhan sana tiba-tiba berkumandang lagi suara gesekan yang amat ramai, suara langkah kaki menginjak daun.

Suara itu seakan datang dari empat penjuru yang kian mendekat.

Sekarang Liu Khi, Bong Thian-gak dan Thay-kun baru mengerti dengan pasti bahwa musuh benar-benar telah mengurung tempat itu.

Anehnya biarpun suara langkah kaki menginjak daun bergema tiada hentinya, namun tidak nampak seorang musuh pun yang muncul.

Liu Khi tiba-tiba tergelak, hardiknya, "Siapakah kalian? Cepat tunjukkan diri, kalian tak usah mempertunjukkan permainan semacam itu lagi, kami semua tak akan percaya segala permainan sesat."

Ketika ucapan itu selesai diucapkan, suara gemerisik langkah manusia yang menginjak daun pun segera berhenti.

Tapi sebagai gantinya, suara gemerutuk papan penutup peti yang semula terhenti itu kini mulai bergesek lagi.

 

Bersamaan dengan menggemanya suara aneh dari peti mati, mendadak Bong Thian-gak menyaksikan ada begitu banyak peti mati yang berlompatan kian kemari serta menimbulkan suara benturan yang keras.

Bong Thian-gak bertiga terkesiap dengan perasaan seram, bulu kuduk mereka berdiri.

Untung peristiwa semacam ini terjadi di siang hari, coba di tengah malam, situasinya pasti akan lebih menakutkan dan menggidikkan.

 

Paras muka Liu Khi sama sekali tak berubah, sorot matanya yang tajam mengawasi tutup peti mati yang berlompatan itu satu per satu, kemudian katanya, "Semuanya berjumlah tiga belas peti yang berisi sukma gentayangan."

Liu Khi menerjang ke sisi peti mati yang bergetar dan paling dekat dengan dirinya.

Gerak tubuhnya cepat luar biasa, namun gerakan goloknya ternyata jauh lebih cepat lagi.

 

Tampak cahaya golok berkelebat, golok kilatnya yang semula masih tergantung di pinggang tahu-tahu sudah menusuk ke dalam peti mati yang sedang melompat-lompat itu.

Tentu saja peti mati itu tidak melompat-lompat lagi, namun tidak terdengar pula sedikit suara pun, baik dengusan tertahan maupun jeritan ngeri.

Liu Khi bergerak cepat, goloknya menyambar kian kemari bagai cahaya petir.

Secara beruntun golok mautnya telah melancarkan tujuh tusukan beruntun ke arah tujuh peti mati.

 

Mendadak terdengar suara tertawa aneh yang keras bagaikan lolong serigala bergema dari balik peti mati, menyusul peti-peti mati itu bergerak cepat berputar di angkasa.

Kemudian tampak enam sosok orang aneh bertubuh kaku seperti mayat hidup bersama-sama muncul dari balik peti mati tadi.

Liu Khi segera tertawa tergelak penuh rasa bangga, katanya, "Mengapa kalian tidak bersembunyi terus di dalam peti mati itu?"

 

Sementara berbicara, Liu Khi telah menyarungkan kembali golok saktinya itu ke dalam sarungnya, kemudian orangnya juga mundur ke samping Bong Thian-gak serta Thay-kun.

Sementara itu Thay-kun yang menyaksikan permainan golok Liu Khi yang begitu dahsyat diam-diam merasa terkejut juga, tanpa terasa pujnya, "Liu-tayhiap, permainan golokmu memang benar-benar sangat dahsyat dan tiada taranya di dunia ini. Golokmu ibarat permainan maut yang membuat setan-setan ketakutan."

 

Liu Khi tersenyum, sambil berpaling ke arah Bong Thian-gak dia berkata, "Bong-laute, keenam orang ini kuserahkan kepadamu untuk mencoba kemampuan ilmu pedangmu."

Bong Thian-gak mengernyitkan alis, lalu sahutnya, "Apabila mereka bukan datang mencari gara-gara pada kita, buat apa mesti kita lakukan pembunuhan yang sama sekali tak berarti?"

"Cukup dilihat dari dandanan mereka yang tiga bagian tidak mirip manusia, sudah jelas mereka itu bukan orang baik-baik, apalagi yang mesti kau sayangkan? Tak usah berbelas kasihan lagi."

Sementara pembicaraan belum selesai, tubuh Liu Khi telah melayang kembali ke tengah udara.

 

Keenam sosok orang aneh bagaikan mayat itu mendadak berteriak bersama, mereka mengayunkan lengannya menyambar peti-peti mati kosong dan secara ganas dan buas diayunkan ke tubuh Lui-khi dengan kekuatan luar biasa.

Bong Thian-gak serta Thay-kun yang menyaksikan kejadian itu menjadi terkejut sekali, mereka sama sekali tidak mengira keenam orang aneh sepert mayat hidup itu mempunyai kekuatan yang begitu dahsyat sehingga peti mati kosong itu dipergunakan sebagai senjata.

Sementara itu enam buah peti mati kosong yang beratnya ratusan kati sudah diayunkan bersama-sama ke tubuh Liu Khi.

 

Dengan cara apakah Liu Khi akan menghadapi ancaman seperti ini?

Liu Khi yang menyaksikan kejadian itu segera memelototkan mata bulat-bulat, kemudian diiringi pekikan nyaring, dia keluarkan seluruh kepandaian ilmu golok saktinya yang maha hebat itu.

Tampak golok panjangnya yang semula tersoreng di pinggang meluncur keluar dengan kecepatan luar biasa, kemudian menciptakan selapis kabut cahaya golok di tengah udara. Ketika keenam peti mati yang maha dahsyat itu menyambar datang seperti gunung Thay-san yang menindih kepala, tahu-tahu saja peti mati yang mengerikan itu seperti berubah menjadi enam buah kayu rongsok yang sudah lapuk, seketika hancur berantakan menjadi kepingan kecil yang berserakan dimana-mana.

 

Bersamaan itu juga cahaya golok berkelebat seperti cahaya kilat. Cahaya putih dan bayangan darah segera berhamburan menjadi satu.

Keenam sosok orang aneh menyeramkan kini sudah berguguran ke atas tanah dengan bermandikan darah, mereka telah menjadi setan di ujung golok Liu Khi.

Setelah Liu Khi mengeluarkan ilmu sakti simpanannya untuk membunuh keenam orang aneh tadi dan di saat dia hendak membesut darah dari ujung goloknya untuk disarungkan kembali, tiba-tiba dari kejauhan sana berkumandang seruan seseorang yang bernada aneh.

"Liu Khi, hingga sekarang aku baru dapat menyaksikan jurus seranganmu yang maha sakti itu, benar-benar ilmu golok cahaya darah yang mengerikan. Liu Khi, setelah kau pertunjukkan ilmu simpananmu itu, berarti saat kematianmu sudah tidak jauh lagi."

 

Berubah hebat paras muka Liu Khi mendengar ucapan itu, dengan suara dalam dia segera membentak, "Apakah kau adalah Hek-mo-ong?"

Bagi Bong Thian-gak serta Thay-kun, mereka sudah mengenal suara orang aneh dan tidak terlihat wajahnya itu.

Suara itu kalau bukan suara Hek-mo-ong, lantas suara siapa lagi?

Tampak Liu Khi mengunjuk sikap tegang, bagaikan sedang menghadapi musuh tangguh saja, goloknya digenggam dalam lengan tunggalnya dan diangkat ke udara, sementara sorot matanya yang tajam mengawasi empat penjuru dengan sinar mata berkilat.

Bong Thian-gak maupun Thay-kun sama-sama menggeser tubuh pula untuk mengambil posisi yang lebih menguntungkan dalam menghadapi serangan lawan. Untuk beberapa saat suasana di arena, menjadi tegang dan sangat mengerikan.

 

Setelah hening sekian lama, akhirnya suara aneh tadi kembali terdengar, "Betul, aku adalah Hek-mo-ong. Sudah sejak dulu aku ingin turun tangan terhadap Liu Khi, tapi aku tak dapat mengetahui jurus-jurus golokmu yang lihai itu, maka selama ini pula aku belum melancarkan serangan mautku terhadap dirimu. Tapi hari ini di bawah pancingan keenam anak buahku yang membacok dan melemparkan peti mati kosongnya kepadamu, kau telah mempergunakan jurus terakhir ilmu golok kilatmu. Liu Khi, sekarang kau sudah kehabisan ilmu simpanan lagi."

 

Liu Khi tertawa dingin, ujarnya dengan sinis, "Hek-mo-ong, kalau kau yakin dapat menghindari serangan golok mautku itu, mengapa tidak segera bertarung melawanku?"

Gelak tertawa Hek-mo-ong yang amat keras dan nyaring  segera terhenti, kemudian dia berkata ketus, "Di sisimu masih ada Jian ciat-suseng serta Thay-kun. Bila aku muncul untuk berduel denganmu aku percaya masih belum mampu membunuh kalian bertiga. Itulah sebabnya aku belum ingin turun tangan sementara waktu ini."

 

Tiba-tiba Bong Thian-gak menghardik dengan suara keras, "Hek mo-ong, apakah kau yang telah membunuh si tabib sakti Gi Jian-cau?"

"Di atas dadanya sudah tertera lambang tengkorak, apakah orang lain memiliki senjata dan ilmu silat seperti itu?"

"Benarkah sang korban itu adalah Gi Jian-cau?" tanya Bong Thian-gak tertawa dingin.

 

Pertanyaan yang diucapkan mendadak dan di luar dugaan ini kontan membuat Hek-mo-ong tertegun. Setelah termenung beberapa saat, dia baru menyahut, "Tentu saja si tabib sakti asli."

"Aku tidak percaya orang itu adalah si tabib sakti yang asli, mana mungkin orang itu bisa kau bunuh dengan cara begitu gampang."

"Dia sudah mampus dan tergeletak di dalam peti mati selama beberapa hari. Walau tidak percaya, kau harus mempercayainya juga."

 

Tiba-tiba Thay-kun tertawa nyaring, kemudian berkata, "Hek-mo-ong, aku sudah berhasil menemukan tempat persembunyianmu."

Baru saja Thay-kun menyelesaikan kata-katanya, Liu Khi yang berada di sisinya sudah berteriak nyaring, kemudian tubuhnya melejit ke lengah udara dan langsung meluncur ke arah hutan bambu yang terletak lak jauh dari tempat itu.

Thay-kun terkejut, segera teriaknya, "Suheng, kau dan aku harus segera membantu Liu-tayhiap."

 

Sambil berteriak, dia menerjang ke muka lebih dahulu. Bong Thian-gak segera melolos pedang dan menyusul pula dari belakang.

Terdengar suara yang amat gaduh, sambaran golok panjang Liu Khi telah membabat dan merobohkan sejumlah pohon bambu yang tumbuh di sekitar sana.

Padahal bambu hijau yang tumbuh di situ rata-rata berukuran hesar, namun sekali tebas, ternyata dia sanggup memotong tujuh-delapan batang, betapa tajam dan luar biasanya serangan golok itu.

 

Ternyata bacokan maut Liu Khi sama sekali tidak meleset. Dari balik robohnya pepohonan bambu yang berserakan kemana-mana, terlihat pancaran darah segar menyembur.

Dengan gerakan tubuh yang sangat ringan Liu Khi melayang turun di atas pohon bambu yang baru saja ditebasnya itu, menyusul Bong Thian-gak dan Thay-kun turut melayang turun pula.

Mata mereka ditujukan ke arah sesosok mayat tanpa kepala yang terjepit di antara delapan batang bambu.       

 

Sementara dalam hati timbul suatu pertanyaan yang sama, "Benarkah Hek-mo-ong telah mampus?"

Sebab mereka tidak percaya Hek-mo-ong bakal terbunuh dengan cara begitu gampang.

Semburan darah segar yang memancar dari tubuh mayat tanpa kepala itu sudah berhenti.

Mendadak Liu Khi menperdengarkan suara tawa yang keras dan penuh perasaan bangga, "Mampus, akhirnya Hek-mo-ong mampus."

Siapa tahu belum habis dia berseru, suara aneh dan menyeramkan tadi kembali bergema, "Liu Khi, aku belum mati. Orang yang kau bunuh itu tidak lebih hanya seorang pembantuku saja, tak dapat disangkal permainan golokmu memang hebat sekali, tapi kali ini kau lagi-lagi telah membocorkan beberapa jurus ilmu golokmu yang hebat, sekarang kau semakin kehabisan simpanan."

 

Beberapa patah kata itu segera membuat paras muka Liu Khi berubah hebat, dengan penuh amarah dia segera membentak, "Hek-mo-ong, ayo keluar dan kita bertarung lima ratus gebrakan, kalau kau tak berani berarti kau dilahirkan oleh pelacur busuk."

"Liu Khi, dengarkan baik-baik," Hek-mo-ong dengan suara menyeramkan segera berseru.

"Untuk membunuh seseorang, aku tidak usah turun tangan sendiri. Bukankah kau pun sering menggunakan siasat meminjam golok membunuh orang untuk melaksanakan niatmu?"

"Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng, cepat atau lambat pasti akan kucari dirimu untuk membuat perhitungan."

Suara tertawanya yang latah, penuh kebanggaan dan mengerikan itu makin menjauh sebelum akhirnya lenyap di kejauhan sana.

Hek-mo-ong muncul tanpa bayangan, pergi pun tanpa jejak, tahu-tahu suaranya sudah lenyap.

 

Mendadak terdengar Thay-kun menjerit kaget, "Lihat, mayat bersama peti-peti mati itu lenyap."

Bong Thian-gak, Thay-kun dan Liu Khi serentak melompat naik ke atas gundukan tanah.

Tampak gua-gua di situ sudah kosong, peti mati berikut jenazah si tabib sakti pun sudah hilang.

Sambil menghela napas, Thay-kun berkata, "Dengan lenyapnya jenazah itu, semakin tiada orang percaya bahwa si korban adalah si tabib sakti"

"Peti mati berikut jenazahnya termasuk benda yang berat sekali, aku yakin mereka pergi belum jauh. Ayo kita kejar sambil melakukan penggeledahan di sekitar tempat ini," seru Bong Thian-gak.

Liu Khi yang mendengar ucapan itu segera menghela napas, katanya, "Daerah ini merupakan tumbuhan bambu hijau, peti mati berserakan dimana-mana. Andaikata mereka memindahkan jenazah itu ke dalam peti yang lain, Kemanakah kita harus menemukan kembali?"

"Benar," sahut Thay-kun pula. "Ban-jian-bong merupakan tempat penyimpanan peti mati, bagaimana mungkin kita dapat menemukan kembali jenazah itu?"

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, pihak musuh mampu memindahkan peti mati berikut |enazahnya dalam waktu singkat tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kemampuan mereka sungguh membuat orang merasa kagum."

Tiba-tiba Thay-kun berseru, "Dari lenyapnya jenazah si tabib sakti, tampaknya Gi Jian-cau yang sesungguhnya belum tewas."

"Tapi di atas dadanya jelas tertera lambang tengkorak, hal ini membuktikan bahwa korban benar-benar mati di tangan Hek-mo-ong," seru Liu Khi.

 

Thay-kun segera tersenyum.

"Kalau memang Hek-mo-ong membunuh si tabib sakti, maka dia tak nanti akan mengukir nama Gi Jian-cau secara jelas di atas batu nisannya."

"Oh, jadi maksud nona, jenazah itu bukan korban pembunuhan Hek-mo-ong?" tanya Liu Khi kemudian.

"Sudah pasti bukan, apabila jenazah itu korban pembunuhan Hek-mo-ong, maka hari ini Hek-mo-ong tidak akan bersusah-payah datang kemari dan melarikan jenazah berikut peti matinya."

"Lantas menurut pendapat nona, siapakah korban itu?"

"Sesosok jenazah tidak dikenal."

 

"Lantas dia mati di tangan siapa?" tanya Liu Khi lebih jauh.

"Tentu saja pembunuh yang telah mencelakai orang itu adalah si tabib sakti sendiri."

Tatkala Bong Thian-gak selesai mendengar pembicaraan kedua orang itu, dia segera menjadi paham, ujarnya kemudian, "Betul, sudah pasti pembunuhnya adalah si tabib sakti, dia sengaja menciptakan jenazah palsu itu untuk menipu orang, dengan tujuan agar semua umat persilatan mengira dia telah mati."

"Ai, masuk akal," Liu Khi menghela napas. "Dewasa ini orang yang sedang mencari Gi Jian-cau memang bukan Hek-mo-ong seorang."

"Aku rasa, besar kemungkinan si tabib sakti adalah Hek-mo-ong," tiba-tiba Bong Thian-gak berseru.

"Aku rasa Gi Jian-cau pasti bukan Hek-mo-ong," ucap Thay-kun.

"Ya, betul," seru Liu Khi pula. "Kemungkinan si tabib sakti adalah Hek-mo-ong memang kecil sekali."

 

Sesudah menghela napas sedih, Thay-kun berkata lebih jauh, "Berdasarkan dugaanku, bisa jadi Gi Jian-cau sedang mengasingkan diri di tengah kuburan Ban-jian-bong ini."

"Darimana Sumoay bisa tahu Gi Jian-cau berdiam di tempat ini?"

Sesudah menghela napas lagi, Thay-kun baru berkata, "Ban-jian-bong yang dikelilingi hutan bambu ini penuh dengan peti-peti mati, kuburan serta liang-liang gua. Andaikata aku sedang menghindarkan diri dari pengejaran seorang musuh tangguh, maka aku pun pasti akan memilih kuburan Ban-jian-bong ini sebagai tempat persembunyianku."

"Jalan pikiran nona benar-benar amat cermat dan teliti," puji Liu Khi tanpa terasa. "Sudah sejak tadi aku menduga Gi Jian-cau ada kemungkinan bersembunyi di dalam tanah pekuburan ini. Itulah sebabnya secara rahasia aku sudah empat kali datang ke sini."

 

Mendadak Thay-kun melirik sekejap ke arah Liu Khi, kemudian tanyanya lagi, "Liu-tayhiap, bersediakah kau memberi penjelasan kepada kami, apa sebabnya kau mencari si tabib sakti itu?"

Liu Khi termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya, "Aku pernah menerima permohonan seorang untuk membunuh Hek-mo-ong. Selama tiga puluh tahunan ini, aku tak pernah berhasil menyingkap siapa gerangan orang yang bernama Hek-mo-ong, tugas itu pun secara otomatis belum berhasil, aku mendapat kabar bahwa Gi Jian-cau paling tidak mengetahui rahasia Hek-mo-ong. Itulah sebabnya aku mengambil keputusan untuk mencari si tabib sakti dan memaksanya mengungkap teka-teki asal-usul Hek-mo-ong."

"Liu-tayhiap, apakah langganan yang memberi pesanan kepadamu adalah Ho Lan-hiang?" tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut.

 

Liu Khi segera tersenyum, "Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau memang pernah juga meminta kepadaku untuk membunuh Hek-mo-ong, namun dia bukanlah si pemesan pada tiga puluh tahun berselang."

"Bersediakah Liu-tayhiap memberitahu siapakah orang yang telah memberi order kepadamu itu?" tanya Thay-kun pula.

"Sekalipun kuungkap nama orang ini, rasanya belum tentu kalian mengenalnya."

"Sebutkan saja namanya!"

Sesudah menghela napas panjang, Liu Khi baru berkata, "Dia adalah Thio Kim-ciok."

"Ah! Hartawan kaya Thio Kim-ciok," Thay-kun berseru kaget. "Kau maksudkan orang itu adalah saudagar paling kaya di kolong langit Thio Kim-ciok?"

 

Dengan terkejut Liu Khi manggut-manggut.

"Nona, usiamu masih begitu muda, darimana kau bisa tahu Thio Kim-ciok?"

"Dalam kalangan masyarakat kota saat ini, masih sering orang membicarakan si manusia kaya-raya dari Kanglam Thio Kim-ciok. Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya?"

"Ya betul, semasa aku masih kecil dulu pun seringkah kudengar orang membicarakan Thio Kim-ciok," sambung Bong Thian-gak pula.

 

Liu Khi berkata, "Selain Thio Kim ciok adalah seorang saudagar yang kaya-raya, apakah kalian masih mengetahui soal lain tentang dirinya?"

"Aku dengar dia berjiwa ksatria, setia kawan dan suka menolong sesama."

Liu Khi menghela napas panjang, "Ai, biarlah secara ringkas kuceritakan sedikit riwayat Thio Kim-ciok."

"Tiga puluh tahun berselang kekayaan Thio Kim-ciok berlimpah, dia suka bergaul dan berhubungan dengan orang macam apa pun.

"Sedemikian kaya, berjiwa sosial dan gemar bersahabat hingga hampir setiap orang yang berada di dunia persilatan mengenal atau paling tidak mendengar nama besarnya. Baik golongan putih atau hitam, lurus atau sesat, hampir tak seorang pun yang tiada hubungan dengannya, bahkan dengan golongan pembesar pun dia mempunyai hubungan bagaikan saudara sendiri.

"Pada waktu itu Thio Kim-ciok hampir menjadi penguasa tujuh propinsi di wilayah Kanglam. Setiap katanya dapat mengakibatkan keonaran ataupun perubahan situasi, tapi dengan sepatah katanya pula dia dapat menenangkan gejolak betapa pun besarnya, ia berwibawa dan berkuasa sehingga hampir semua orang tunduk kepada perkataannya."

 

Bong Thian-gak manggut-manggut, katanya, "Ya, tentang hal itu aku pun pernah mendengarnya."

Liu Khi berhenti sejenak, kemudian terusnya, "Napsu manusia memang kadangkala tak pernah puas. Dari kekuasaan dan pengaruh Thio Kim-ciok waktu itu, seharusnya dia sudah merasa puas dan tidak mempunyai permohonan lain lagi.

"Tetapi siapa tahu Thio Kim-ciok justru memiliki ambisi lain daripada yang lain, pada usianya yang ketiga puluh delapan ternyata dia ingin belajar ilmu silat serta mencari ilmu awet muda."

"Bila dia ingin belajar silat untuk menjaga kondisi badan tetap sehat dan muda, jalan pikiran ini adalah benar dan tepat. Mengapa kau katakan salah?" tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut.

"Justru gara-gara ingin belajar ilmu silat inilah berakibat bencana yang mengenaskan bagi Thio Kim-ciok sendiri."

"Apa maksudmu?"

 

Kembali Liu Khi menghela napas panjang, "Di saat Thio Kim-ciok mengumpulkan jago-jago silat yang ada di kolong langit untuk mengajar ilmu silat kepadanya, dia telah berjumpa Ho Lan-hiang dan menjadi suami istri."

"Ah, sama sekali tak kusangka Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau adalah istri Thio Kim-ciok," seru Bong Thian-gak.

Liu Khi memandang sekejap ke arah Thay-kun dan Bong Thian-gak, kemudian melanjutkan, "Bukan saja Ho Lan-hiang telah menjadi istri Thio Kim-ciok, bahkan dia pun telah menjadi guru silatnya.

"Tapi yang membuat orang merasa kaget dan keheranan adalah Thio Kim-ciok sebagai seorang yang telah berusia tiga puluh delapan tahun dan mulai belajar ilmu silat ternyata mampu memperoleh kemajuan yang amat pesat. Dengan kecerdasannya yang luar biasa serta bakatnya yang bagus, tidak sampai tiga bulan saja separoh bagian ilmu silat Ho Lan-hiang telah berhasil dipelajarinya semua.

 

"Agaknya Thio Kim-ciok pun sadar, dengan ilmu silat yang dimiliki Ho Lan-hiang seorang, tak mungkin bisa memuaskan napsunya untuk belajar ilmu silat, maka dia pun secara luas mulai mengundang jago-jago silat lainnya.

"Dengan nama besar Thio Kim-ciok, sudah barang tentu tidak sulit untuk memperoleh guru-guru silat pandai dan termasyhur.

"Tidak sampai setengah tahun kemudian dia telah berhasil mengundang seratusan jago lihai persilatan yang terdiri dari golongan putih maupun hitam, lurus maupun sesat, untuk menjadi guru silatnya.

"Waktu itu dari seratusan jago lihai, terdapat sepuluh orang jago lihai paling termasyhur. Mereka adalah Ku-lo Sinceng, Oh Ciong-hu, Song-ciu suami-istri, Kui-kok Sianseng, Liong Oh-im, Gi Jian-cau, Tio Tian-seng, Tan Sam-cing serta aku."

 

Semakin mendengar. Bong Thian-gak dan Thay-kun semakin kaget dan heran, mimpi pun mereka tidak menyangka Thio Kim-ciok memiliki kemampuan begitu hebat hingga mampu mengundang jago-jago lihai dari berbagai perguruan dan partai untuk memberi didikan Ilmu silat kepadanya.

Setelah menghela napas Bong Thian-gak bertanya, "Thio Kim-ciok nanggup mengundang sepuluh jago persilatan untuk menjadi gurunya, ditambah Thio Kim-ciok memiliki bakat dan kecerdasan yang hebat, kalau begitu kehebatan ilmu silat yang dimiliki Thio Kim-ciok sudah pasti sangat luar biasa dan mengejutkan."

"Benar," sahut Liu Khi sambil menghela napas panjang, "Hanya dalam tiga tahun yang teramat singkat, Thio Kim-ciok berhasil mengubah dirinya dari seorang sastrawan lemah menjadi seorang jago silat berilmu sangat tinggi. Ai, justru karena kepesatan ilmu silat yang berhasil diraih olehnya inilah maka bencana besar telah diundang pula kehadirannya."

"Bencana besar apakah itu?" tanya Bong Thian-gak.

"Bencana pembunuhan atas dirinya sendiri."

"Siapa yang telah membunuhnya?" tanya Bong Thian-gak semakin terkejut lagi.

"Hek-mo-ong."

"Dapatkah Liu-tayhiap memberi penjelasan yang lebih seksama peristiwa terbunuhnya Thio Kim-ciok?" Liu Khi manggut-manggut.

"Baik akan kukatakan, di saat kalian selesai mendengar kisahku nanti, siapa tahu kalian dapat membantuku menduga siapa gerangan Hek-mo-ong."

 

Setelah menelan air liur, Liu Khi berkata lebih jauh, "Suatu senja pada tiga puluh tiga tahun berselang, aku mendapat undangan Thio Kim-ciok dan buru-buru dari Soat-say berangkat ke Gak-yang di Ou-lam untuk memenuhi undangannya yang diselenggarakan di Sui-tiong-lau keluarga Thio."

"Kebun keluarga Thio adalah kebun indah yang berada di dalam gedung keluarga Thio yang khusus dibangun di atas telaga dengan jembatan batu sebagai penghubungnya, selain bangunannya megah dan kokoh, dibangun dengan bahan bangunan yang paling baik dan indah, mungkin hanya saudagar kaya-raya macam Thio Kim-ciok yang mampu membangun kebun dengan pagoda air sedemikian indahnya."

"Di tengah kebun terdapat pagoda air yang semuanya bertingkat tujuh, biasanya Thio Kim-ciok menempatkan seratus delapan orang jago lihai yang khusus diundangnya untuk mengawal tempat itu, kecuali para pengawalnya serta Thio Kim-ciok suami-istri, dayang dan pelayan kepercayaannya, orang lain dilarang memasuki tempat itu secara sembarangan sebelum mendapat izin darinya."

"Apakah Liu-tayhiap dapat masuk keluar secara bebas dalam pagoda air itu?" tanya Thay-kun.

 

Liu Khi segera tersenyum.

"Sepuluh Suhu Thio Kim-ciok tentu saja dapat memasuki pagoda itu secara leluasa."

"Ketika senja itu Liu-tayhiap sampai di pagoda air, apakah di tempat itu sudah terjadi sesuatu peristiwa?"

"Benar," Liu Khi mengangguk. "Thio Kim-ciok bersama seratus delapan orang pengawal, dayang dan pelayannya yang semuanya berjumlah seratus delapan puluh tujuh orang laki-perempuan telah mati dibantai. Di atas dada mereka dijumpai lambang tengkorak, sedang di sisi mayat Thio Kim-ciok tertera empat huruf besar berwarna merah darah bertuliskan, 'Dibunuh Hek-mo-ong'."

"Benar-benar perbuatan yang sangat keji, buas dan tak berperi­kemanusiaan," bisik Thay-kun sambil menghela napas.

"Bagaimana dengan Ho Lan-hiang?" tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya. "Sewaktu terjadi peristiwa itu, apakah dia sudah tidak berada di dalam pagoda lagi?"

"Sewaktu aku sampai di pagoda air itu, bukan saja Ho Lan-hiang berada di pagoda air itu, malah kesepuluh Suhu Thio Kim-ciok pun ada di situ."

"Mereka tiba di pagoda air setelah terjadinya peristiwa berdarah ataukah sebelumnya?"

 

Liu Khi menghela napas panjang.

"Ai, tentu saja semua mengatakan tiba di tempat itu setelah terjadinya peristiwa berdarah itu."

"Siapakah yang hadir paling dulu di situ?" tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut.

"Yang datang paling dulu lima orang, mereka adalah Ku-lo hwesio, Oh Ciong-hu dan Song-ciu suami-istri."

"Masih kurang seorang lagi, siapakah dia?" sela Bong Thian-gak dengan cepat.

 

"Orang itu adalah Ho Lan-hiang, rupanya Ho Lan-hiang bersama Ku-lo Hwesio berdua telah berangkat ke kuil Siau-lim-si sejak setengah bulan berselang untuk menghadiri upacara pengunduran diri Tay-goan hwesio dari Siau-lim-pay. Ketika upacara itu telah usai, mereka baru bersama-sama kembali ke pagoda air dalam gedung keluarga Thio. Oleh karena itu Ho Lian-hiang lolos dari kecurigaan membunuh suami sendiri."

 

"Bagaimana dengan Kui-kok Sianseng, Giok-gan-suseng, tabib sakti dan Tio Tian-seng berempat. Bagaimana ceritanya sampai muncul pula di pagoda air itu?"

"Keempat orang itu secara beruntun datang ke pagoda air menyusul tibanya Ku-lo Hwesio berlima dan Kui-kok Sianseng sekalian berempat juga baru pulang dari Siau-lim-si di Ho-Iam, jadi mereka bersembilan dapat saling membuktikan mereka bukan pembunuhnya."

"Bagaimana dengan Tan Sam-cing?" tanya Thay-kun.

"Tan Sam-cing baru muncul di kebun keluarga Thio keesokan harinya setelah kehadiranku di pagoda air itu."

"Wah, kalau begitu, Liu-tayhiap dan Pat-kiam-hui-hiang berdua menjadi orang yang dicurigai sebagai Hek-mo-ong, pembunuh Thio Kim-ciok?"

"Betul, waktu itu aku dan Tan Sam-cing telah memperoleh pemeriksaan yang seksama dari semua orang."

"Ada satu hal ingin kutanyakan kepada Liu-tayhiap, bukankah Liu-tayhiap pernah bilang bahwa Thio Kim-ciok pernah mengundangmu untuk membunuh Hek-mo-ong? Bagaimana pula ceritanya?"

 

Liu Khi menghela napas panjang.

"Ai, sebelum Thio Kim-ciok meninggal dibunuh, dia seperti sudah tahu ada firasat jelek atas nasibnya, tiga bulan menjelang terjadinya pembantaian itu, secara pribadi Thio Kim-ciok telah mengundangku untuk mengerjakan suatu tugas, yaitu melakukan penyelidikan atas Ku-lo Hwesio, Oh Ciong-hu, Kui-kok Sianseng, beserta istrinya Ho Lan-hiang, untuk mengetahui siapakah di antara mereka adalah Hek-mo-ong, kemudian secara rahasia pula berencana membinasakan dirinya."

"Oh, maka itu hingga sekarang Liu-tayhiap selalu menganggap Hek-mo-ong adalah salah seorang di antara Ho Lan-hiang, Ku-lo Hwesio, Oh ciong-hu dan sekalian sepuluh orang lainnya?" kata Thay-kun kemudian.

 

Dengan suara berat dan dalam Liu Khi berkata, "Thio Kim-ciok adalah seorang berjiwa besar, berhati mulia dan suka menolong orang. Sepanjang hidupnya dia hanya tahu melepas budi dan tak pernah mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan orang, sekalipun gembong iblis yang membunuh orang tanpa berkedip atau iblis yang berhati keji pun merasa berhutang budi kepada Thio Kim-ciok, apalagi kesepuluh Suhu Thio Kim-ciok adalah jago-jago silat paling hebat di dunia ini, siapa pula yang berani mengusik, apalagi mencelakainya?"

"Lantas mengapa Hek-mo-ong hendak membunuhnya?" tanya Bong Thian-gak kemudian.

"Terbunuhnya Thio Kim-ciok sangat berkaitan dengan kemajuan Ilmu silatnya yang pesat, orang kuatir dia akan menjadi jago silat yang tiada tandingannya di kolong langit di masa mendatang sehingga mengacaukan ketenteraman umat persilatan dan menciptakan badai pembunuhan dimana-mana."

 

"Ya, memang sangat beralasan," gumam Thay-kun lirih. "Bila orang kaya-raya dan memiliki ilmu silat yang dahsyat, ditambah pula memiliki hubungan yang sangat akrab dengan berbagai ragam manusia, jika tindak-tanduknya tak beres dan menyeleweng dari jalur kebenaran, maka akhirnya orang itu akan menjadi seorang pemimpin yang lalim. Yang kecil paling berakibat kekalutan di suatu wilayah, tapi kalau sampai besar dapat mengakibatkan pertumpahan darah dimana-mana dan menciptakan neraka bagi umat persilatan."

"Sebab itulah dalam kasus terbunuhnya Thio Kim-ciok, kesepuluh gurunya tak bisa lolos dari kecurigaan sebagai pembunuhnya."

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang, lalu berkata, "Ku-lo Hwesio dan Oh Ciong-hu adalah orang berjiwa luhur, apakah mereka pun dapat melakukan perbuatan kejam dan tidak berperi-kemanusiaan itu?"

Liu Khi tertawa rawan.

"Aku menaruh curiga kepada mereka, hal ini karena kesimpulan yang berhasil kuhimpun setelah melalui penyelidkan dan penelitian yang amat seksama terhadap berbagai persoalan dan kejadian, bukan aku menuduh mereka secara sewenang-wenang."

"Atas dasar persoalan dan kejadian apakah itu? Dapatkah Liu-tayhiap memberi penjelasan kepadaku?" ucap Thay-kun.

 

Dengan suara dalam Liu Khi berkata, "Ho Lan-hiang adalah perempuan jalang yang gemar merayu dan memikat kaum pria untuk memenuhi napsu birahinya. Aku rasa tentang wataknya yang buruk ini tentunya kalian sudah pernah mendengar bukan?"

"Maksud Liu-tayhiap, antara dia dengan kesepuluh guru Thio Kim ciok pun pernah terjalin hubungan gelap?"

"Sesungguhnya peristiwa ini merupakan kejadian yang paling buruk dan memalukan bagi umat persilatan," kata Liu Khi emosi, "Karena itu sebelum duduknya persoalan berhasil kuselidiki sampai tuntas, aku tak ingin bicara secara sembarangan."

"Selain persoalan ini, apakah masih ada hal-hal lain yang patut dicurigai?"

"Masih ada satu hal lagi, setelah terjadinya peristiwa pembunuhan atas Thio Kim-ciok, bagi penegak keadilan dan kebenaran di dunia persilatan, sudah sepantasnya mereka melakukan penyelidikan terhadap pelaku pembunuhan itu serta berusaha melenyapkannya dari muka bumi, tapi kenyataan justru manusia seperti Ku-lo Hwesio, Oh Ciong-hu dan lain-lainnya berusaha keras merahasiakan peristiwa berdarah itu."

 

"Waktu itu semua orang setuju melakukan penyelidikan atas pelaku pembunuhan itu secara rahasia dan menyetujui pula untuk tidak menyiarkan berita kematian Thio Kim-ciok, sebaliknya mereka justru mengarang cerita bohong yang mengatakan Thio kim-ciok sedang pergi ke suatu tempat terpencil untuk memperdalam ilmu panjang umur."

 

Ketika Thay-kun dan Bong Thian-gak selesai mendengar rahasia persilatan ini, timbul perasaan bingung dan tidak habis mengerti dalam hatinya. Mungkinkah kematian Thio Kim-ciok disebabkan perbuatan yang direncanakan Ku-lo Hwesio sekalian?

Mendadak Thay-kun bertanya, "Bagaimana dengan jenazah Thio Kim-ciok? Apakah sudah dikuburkan?"

"Keseratus delapan puluh tujuh mayat itu telah ditenggelamkan ke dasar telaga oleh Ho Lan-hiang serta sepuluh jago persilatan."

 

Thay-kun termenung lagi beberapa saat, kemudian baru katanya, "Berdasarkan penuturan Liu-tayhiap ini, rupanya kau menaruh curiga bahwa Ku-lo Hwesio sekalian telah membunuh Thio Kim-ciok dengan mencatut nama Hek-mo-ong, tetapi ada satu hal yang membuatku merasa tidak mengerti, kenapa pula Hek-mo-ong hendak mencelakai jiwa Ku-lo Hwesio sekalian?"

"Aku rasa nama Hek-mo-ong yang dipergunakan dahulu hanya nama kosong saja tanpa ada orang yang sebenarnya, tapi Hek-mo-ong yang muncul dalam dunia persilatan saat ini justru terdapat orangnya."

 

Liu Khi melirik sekejap ke arah nona itu, baru ujarnya, "Tentang persoalan ini pun aku telah berhasil mendapatkan satu kesimpulan yang tepat. Aku rasa kemungkinan besar orang yang mengaku sebagai Hek mo-ong sekarang berniat membunuh semua orang yang mengetahui peristiwa berdarah yang menimpa Thio Kim-ciok itu."

Tiba-tiba Thay-kun tersenyum.

"Hek-mo-ong yang berada dalam pikiran Tio Tian-seng dan Ho Lian-hiang sekalian sudah pasti adalah Liu-tayhiap."

"Apa maksudmu?" tanya Liu Khi dengan wajah berubah.

"Tujuan Hek-mo-ong membunuh Ku-lo Hwesio dan Oh Ciong-hu sekalian adalah hendak membalas dendam bagi kematian Thio Kim-ciok, padahal sewaktu Thio Kim-ciok terbunuh, hanya Liu-tayhiap dan Tan Sam-cing berdua yang tidak pergi ke kuil Siau-lim-si di Ho-lam, oleh sebab itu menurut anggapan Tio Tian-seng sekalian, Hek-mo-ong yang muncul saat ini merupakan penyaruan satu di antara kalian berdua."

 

"Benar," kata Liu Khi dengan suara dalam. "Selang tiga puluh tahun terakhir ini, setiap waktu aku selalu berusaha membalas dendam bagi kematian Thio Kim-ciok."

"Sebetulnya Liu-tayhiap adalah Hek-mo-ong atau bukan?" desak Thay-kun lebih lanjut dengan suara merdu.

Liu Khi tertawa rawan. "Dan menurut anggapan kalian, benarkah aku adalah Hek-mo-ong?" ia balik bertanya.

Thay-kun tersenyum.

"Tampaknya antara Liu-tayhiap dan Thio Kim-ciok mempunyai hubungan persahabatan yang istimewa, kematiannya yang tragis tentu membuatmu sakit hati dan rasanya hanya kau yang berusaha membalas dendam bagi kematiannya."

Liu Khi tertawa getir, "Dugaan kalian keliru besar, aku bukan Hek-mo-ong."

 

Tiba-tiba Bong Thian-gak menyela dari samping, "Seandainya Liu-tayhiap bukan Hek-mo-ong, orang itu sudah pasti adalah Pat-kiam-hui-hiang."

Liu Khi menggeleng kepala.

"Hek-mo-ong yang merajalela saat ini bukan Tan Sam-cing."

"Lantas siapakah dia?"

"Tio Tian-seng atau mungkin juga Gi Jian-cau."

 

Mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara berat dan serius, "Liu Khi, kau anggap aku adalah Hek-mo-ong yang merajalela saat ini?"

Di tengah pembicaraan itu, dari balik hutan bambu sana pelan­pelan berjalan keluar seorang kakek berjenggot panjang, sebilah pedang antik tersoreng di punggungnya dan ia berjalan mendekat.

 

Bong Thian-gak segera berpaling, ujarnya, "Tio-pangcu, sejak kapan kau tiba di sini?"

Ternyata orang yang baru saja muncul adalah Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng.

Liu Khi tertawa, katanya, "Tio Tian-seng, akhirnya kau muncul juga dengan membawa pedang iblismu itu."

Tio Tian-seng baru menghentikan langkah setelah tiba di hadapan lawan, pelan-pelan ia berkata, "Bila pedang iblis terlolos dari sarungnya, ia pasti akan menghirup darah manusia. Sudah tiga puluh tahun aku tidak pernah melolos pedangku ini, tapi hari ini demi membalas dendam kematian kedua orang muridku, mau tak mau terpaksa aku mesti membawa pedang andalanku ini."

 

Ketika Bong Thian-gak dan Thay-kun mendengar perkataan Tio Tian-seng itu, tiba-tiba saja mereka teringat beberapa patah kata yang diucapkan Hek-mo-ong sebelum pergi setengah jam berselang.

Akhirnya Tio Tian-seng muncul juga.

Benar seperti apa yang dikatakan Hek-mo-ong tadi, dia datang mencari Liu Khi untuk membuat perhitungan. Tapi perhitungan apakah itu?

Liu Khi tertawa dingin, kemudian berkata, "Kemunculanmu yang tiba-tiba ini membuat aku semakin percaya bahwa kaulah Hek-mo-ong."

"Liu Khi, bersiap-siaplah menyambut seranganku," hardik Tio Tian-seng sambil menarik muka.

 

Mendadak Bong Thian-gak maju ke depan dan berdiri di antara kedua orang itu, kemudian serunya lantang, "Tio-pangcu, harap jangan mengumbar amarah dulu

Belum selesai dia berkata, dengan suara dingin Tio Tian-seng telah menukas, "Bong-laute, nona Thay-kun, kuminta kalian mengundurkan diri dari dunia persilatan dan jangan mencampuri urusan budi dan dendam Thio Kim-ciok ini."

"Kematian Thio Kim-ciok telah menimbulkan kekalutan dan keonaran dalam Kangouw. Sudah banyak jago persilatan yang tewas ataupun cedera karena persoalan ini, tahukah kalian bahwa perselisihan yang terjadi di antara kalian berdua saat inipun hanya merupakan sebagian dari siasat busuk orang," kata Bong Thian-gak dengan suara lantang.

"Kau maksudkan terjerat dalam siasat busuk siapa?" tanya Tio Tian-seng.

 

"Ho Lan-hiang! Kau tahu, dia ingin menyaksikan sepuluh tokoh persilatan saling gontok dan bunuh, dengan dia sebagai nelayan beruntung yang tinggal mengumpulkan hasilnya?"

Tio Tian-seng tertawa dingin, "Kau tahu apa? Liu Khi adalah Hek-mo-ong, dia bersama Ho Lan-hiang berkomplot hendak mencelakai sepuluh tokoh persilatan dan kini di antara kesepuluh tokoh persilatan Itu, Ku-lo Hwesio, Oh Ciong-hu, Kui-kok Sianseng telah tewas, Song-cui suami-istri pun sudah lama lenyap, kemungkinan besar mereka pun sudah tertimpa musibah, saat ini sasaran yang berikut adalah diriku. Aku tahu rencana ini sudah dipersiapkan Liu Khi dan Ho Lan-hiang lama sekali, berhubung tiada keyakinan untuk berhasil, maka selama ini pula dia tak berani turun tangan terhadapku dan itulah sebabnya Liu Khi turun tangan lebih dulu untuk menghilangkan kedua orang pembantu utamaku. To Siau-hou dan Han Siau-liong."

 

Bong Thian-gak terkejut, dia segera berpaling ke arah Liu Khi sambil bertanya, "Benarkah kau telah membunuh To Siau-hou dan Han Siau-liong?"

Liu Khi tertawa dingin.

"Tio Tian-seng adalah Hek-mo-ong. Untuk membasmi kekuatan dan daya pengaruhnya, aku terpaksa harus membunuh kedua orang itu beserta kedua puluh empat jago pengikutnya."

Bong Thian-gak segera menghela napas panjang, katanya kembali, "Liu-tayhiap, kau keliru besar. Tio-pangcu sudah pasti bukan Hek-mo-ong."

 

Liu Khi tertawa dingin.

"Sudah lama aku menyusup ke dalam Kay-pang. Aku pun sudah banyak mengetahui segala perbuatan dan tingkah-laku Tio Tian-seng, sekalipun dia benar-benar bukan Hek-mo-ong, namun dia turut serta dalam komplotan pembunuhan atas diri Thio Kim-ciok. Bagaimana pun juga aku harus membalas sakit hati ini."

"Apa yang dikatakan Tio Tian-seng tadi memang benar, lebih baik kau bersama Thay-kun tidak usah ikut terseret ke dalam persoalan ini."

 

Tiba-tiba Thay-kun menghela napas sedih, ucapnya, "Suheng, mari kita segera mengundurkan diri, kedua orang itu secara diam-diam telah menghimpun tenaga dalam dan hampir mencapai puncaknya. Bila mereka melepas serangan, kita pasti akan terkena gelombang serangan itu."

Dalam pada itu Bong Thian-gak sendiri sadar bahwa permusuhan mereka sudah kelewat mendalam sehingga masalahnya tak mungkin bisa diselesaikan tanpa dilangsungkannya pertarungan mati hidup. Karena itu setelah menghembuskan napas ia pun segera mengundurkan diri dan menonton jalannya pertarungan dari sisi arena.

 

Kini Tio Tian-seng dan Liu Khi telah berdiri berhadapan, masing-masing pihak telah menghimpun tenaga dalam, bersiap melepaskan serangan mematikan.

Dan kini hawa murni yang dihimpun kedua belah pihak makin mencapai puncaknya.

Mendadak Tio Tian-seng menggerakkan tangan kanan dan pelan-pelan menggenggam gagang pedang yang tersoreng di pinggangnya.

Biasanya Liu Khi selalu mencabut golok dengan kecepatan luar biasa, tapi reaksinya kali ini justru berlawanan, gerakan tangannya dilakukan sangat lambat, lebih lambat daripada gerakan Tio Tian-seng.

Pedang iblis Tio Tian-seng memancarkan cahaya kehijau-hijauan.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap saja.

Gerakan yang semula sangat lamban, kini telah berubah menjadi cepat sekali.

Pedang sakti di tangan Tio Tian-seng bagaikan seekor naga sakti keluar dari air dan menusuk ke dada lawan.

 

Sebaliknya golok sakti Liu Khi dari bawah menusuk ke atas sambil melepaskan bacokan.

Tubuh mereka baru saja meninggalkan tanah, kedua belah pihak sudah saling bentrok.

Terdengar dua kali dentingan nyaring, golok dan pedang sudah saling bersimpangan.

Dalam bentrokan pertama, kedua belah pihak bertarung seimbang.

Di saat masing-masing membalikkan badan, benfibkan kedua kembali berlangsung.

Cahaya golok dan bayangan pedang sudah menyelimuti seluruh tubuh kedua orang itu sehingga orang lain sulit menyaksikan jurus-jurus serangan dan langkah tubuh yang mereka gunakan.

 

Bong Thian-gak dan Thay-kun yang berdiri di samping merasakan segulung hawa dingin yang menyayat badan, membuat kedua orang itu merasa terkejut dan buru-buru menggeser badan menjauhi arena.

Dalam waktu singkat tanah pekuburan yang menyeramkan dan menggidikkan itu berubah menjadi ajang pertempuran yang amat seru.

Daun-daun bambu di sekeliling tempat itu berubah seperti bunga-bunga salju yang berguguran di atas tanah, betapa hebatnya pertarungan yang sedang berlangsung itu.

 

Sejak umat persilatan memilih sepuluh tokoh silat terhebat pada empat puluh empat tahun berselang, belum pernah kesepuluh tokoh silat Itu saling tempur.

Pertarungan antara Tio Tian-seng dan Liu Khi saat ini merupakan pertempuran sengit pertama yang terjadi antara sesama sepuluh tokoh persilatan.

Lantas siapa di antara kesepuluh tokoh silat itu yang sebetulnya memiliki ilmu silat paling hebat?

Mungkin saja orang itu Tio Tian-seng atau Liu Khi.

Konon di masa lampau Tio Tian-seng pernah menderita kekalahan di tangan Oh Ciong-hu, namun baik Oh Ciong-hu maupun Ku-lo Hwesio yang bertindak sebagai saksi tahu bahwa pukulan itu memang sengaja dibiarkan mengenai tubuh Tio Tian-seng karena berniat mengalah.

 

Sebab apabila Tio Tian-seng berhasil mengungguli Oh Ciong-hu waktu itu, maka Tio Tian-seng harus menerima tantangan Ku-lo Hwesio dan apabila kejadian ini berlangsung, niscaya Tio Tian-seng menderita kekalahan total.

Oleh sebab itu Tio Tian-seng berlagak kalah agar jiwanya dapat pula diselamatkan dari musibah.

Thay-kun serta Bong Thian-gak yang menyaksikan jalannya pertarungan diam-diam terkejut, pikirnya, "Sungguh tak disangka, ilmu silat kedua orang ini jauh lebih hebat dari apa yang diduga semula."

Pada saat itulah, mendadak Thay-kun teringat sesuatu, dengan suara merdu ia lantas berkata, "Bong-suheng, aku sudah tahu siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya."

"Siapakah dia?"

"Orang itu bukan Tio Tian-seng, bukan juga Liu Khi."

 

Bong Thian-gak masih mengawasi jalannya pertarungan di arena dengan mata tak berkedip. Ketika mendengar perkataan itu, dia segera berpaling, tapi dengan cepat pemuda itu berseru tertahan.

Ternyata di saat dia berpaling, Bong Thian-gak menyaksikan di belakang Thay-kun telah berdiri seorang berbaju hijau.

Orang berbaju hijau itu tidak lain adalah orang berbaju hijau berwajah pucat yang dijumpai di tanah pekuburan tadi.

Waktu itu pedang pendek dalam genggaman orang itu sedang ditempelkan di punggung Thay-kun.

Setelah menghela napas sedih, ujar Thay-kun, "Hek-mo-ong kah kau?"

 

Dengan wajah tanpa emosi, orang berbaju hijau itu tertawa dingin, sahutnya, "Rezeki masuk dari mulut, bencana keluar dari bibir. Bila kau menginginkan keselamatan jiwamu, lebih baik kurangi kata-kata yang yang tak berguna."

Melihat pedang pendek orang ditempelkan di punggung Thay-kun, Bong Thian-gak benar-benar tak berani bergerak sembarangan. Dengan cemas ia menegur, "Apa yang hendak kau lakukan terhadap dirinya?"

Sementara itu mata orang berbaju hijau yang mengerikan itu sedang mengawasi jalannya pertarungan antara Tio Tian-seng melawan Liu Khi. Mendengar pertanyaan itu, dia segera menjawab dengan hambar, "Kemungkinan besar aku akan membunuhnya."

 

Sambil tertawa Thay-kun berseru, "Dari tangan Ho Lan-hiang, kau telah menolong jiwaku hingga secara kebetulan aku bertemu dengan Jian-ciat-suseng dan tubuh Si-hun-mo-li berubah menjadi diriku yang sebenarnya, masakah kau benar-benar akan membunuhku?"

"Boleh saja bila kau tidak menginginkan kematian, cukup kau tunjukkan kepadaku, siapakah di antara mereka berdua adalah Hek-mo-ong?" kata orang berbaju hijau itu hambar.

"Kedua orang itu sama-sama bukan Hek-mo-ong."

"Boleh saja bila kau enggan mengatakan kepadaku, maka aku pun terpaksa harus menunggu sampai pertarungan mereka selesai dan kedua belah pihak sama-sama terluka parah, lalu aku binasakan mereka berdua."

"Bukankah keadaan semacam inilah yang paling kau sukai?"

 

Orang berbaju hijau itu termenung beberapa saat, lalu dia berkata, "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, mengapa kau tidak berpaling melihat siapakah diriku?"

"Tak usah dilihat lagi, kau adalah Hek-mo-ong."

Orang berbaju hijau itu kelihatan seperti tertegun, lalu katanya, "Darimana kau bisa mengatakan aku adalah Hek-mo-ong?"

Thay-kun tersenyum.

"Apabila Tio Tian-seng dan Liu Khi adalah Hek-mo-ong, maka Tan Sam-cing pun merupakan Hek-mo-ong pula."

Sekali lagi orang berbaju hijau terkejut, katanya, "Bagaimana kau bisa tahu aku adalah Tan Sam-cing?"

"Setelah mendengar penuturan Jian-ciat-suseng waktu berada di tanah pekuburan, aku segera mengetahui bahwa kau adalah Tan Sam-cing."

"Sungguh hebat kau si budak ingusan, apakah kau berharap aku turun tangan mencegah kedua orang yang sedang bertarung itu?"

"Aku tahu, selama ini dalam hatimu selalu beranggapan bahwa Tio Tian-seng dan Liu Khi adalah Hek-mo-ong, oleh sebab itu kau lebih suka membiarkan kedua orang itu saling gontok dan bunuh daripada mencegah pertarungan mereka."

"Tapi aku pun perlu memberitahu kepadamu, kalau Tan Sam-cing bukan Hek-mo-ong, maka Tio Tian-seng serta Liu Khi pun bukan Hek-mo-ong."

"Oleh sebab itulah aku ingin kau beritahukan kepadaku, siapakah Hek-mo-ong sesungguhnya?"

"Saat ini aku belum dapat memberitahukan kepadamu."

"Mengapa?"

"Sebab Hek-mo-ong asli berada di sekitar sini. Bila kuucapkan, niscaya tak seorang pun di antara kita yang akan berhasil lolos dari ancaman mautnya."

 

Bong Thian-gak yang mendengarkan dari samping menjadi bingung dan tak habis mengerti, dia tidak tahu permainan apakah yang dilakukan Thay-kun saat ini.

Sesudah tertawa dingin, orang berbaju hijau itu berkata, "Budak setan, kau tak usah ngaco-belo tak keruan, aku tak percaya dengan permainan semacam itu."

Thay-kun menghela napas panjang, "Bong-suheng, berusahalah kau menghentikan pertarungan kedua orang itu."

Orang berbaju hijau itu tertawa dingin.

"Sekarang Tio Tian-seng dan Liu Khi masing-masing sudah mengerahkan segenap kekuatan, sekalipun ilmu silat yang dimiliki Jian-ciat-suseng lebih hebat, belum tentu mampu menghentikan pertarungan mereka."

 

Thay-kun tersenyum, "Asal Jian-ciat-suseng mengeluarkan ilmu auman singanya dengan menuduh kau sebagai Hek-mo-ong, maka kedua orang itu pasti akan segera menghentikan pertarungan."

Tiba-tiba orang berbaju hijau itu membentak, "Jian-ciat-suseng, bila kau berani, maka pedang pendekku ini segera akan menembus dadanya. Mau percaya atau tidak itu terserah."

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Sekalipun Tio Tian-seng dan Liu Khi bertarung sampai mampus, hal itu sama sekali tak ada kaitannya denganku, tapi terhadap Thay-kun, aku tak akan membiarkan siapa pun melukai seujung rambutnya."

"Kalau memang begitu, kau jangan bertindak sembarangan. Tonton saja pertarungan itu dengan tenang di sisi arena," perintah orang berbaju hijau itu dingin.

"Bila kau berbuat demikian, akhirnya pasti akan menyesal," kata Thay-kun lagi.

Dalam pada itu pertarungan yang berlangsung telah mencapai tingkat yang kritis dan tegang.

Mendadak terdengar dua kali pekikan panjang yang keras dan melengking.

Baik Tio Tian-seng maupun Liu Khi telah menggunakan senjata tajamnya untuk melakukan terkaman di tengah udara.

Di tengah suara benturan nyaring, golok dan pedang itu sudah saling bentur.

 

Tapi dalam bentrokan kali ini, karena kedua orang itu sama-sama mempergunakan segenap kekuatan, pergelangan tangan mereka menjadi kaku dan linu, tak mampu menahan getaran tenaga dalam lawan, senjata mereka segera terlepas dari genggaman dan mencelat ke tengah udara.

Golok dan pedang itu bagaikan dua gulung cahaya perak meluncur ke tengah udara, dari kejauhan orang akan melihat senjata itu saling kejar di udara seperti dewa yang melepaskan pedang terbang saja.

Sementara pedang di tangan kanan Tio Tian-seng terlepas dari genggaman, dia segera membentak dan telapak tangan kirinya melepaskan bacokan secepat kilat.

Serangan itu dilancarkan cukup keji.

 

Padahal Liu Khi hanya mempunyai sebuah lengan saja, ketika goloknya terlepas dari cengkeraman tangan kirinya, tak mungkin lagi baginya untuk segera merubah gerakan dengan melepaskan pukulan, bagaimana pun juga ia tetap terlambat selangkah.

Dengusan tertahan segera bergema, dada kanan Liu Khi terkena pukulan hingga tubuhnya mencelat ke belakang.

Tapi pada saat inilah Liu Khi segera memperlihatkan kepandaian silat yang maha sakti. Di saat tubuhnya mencelat terkena pukulan, kakinya segera menghentak ke udara dan melepaskan juga tendangan kilat yang persis menghantam belakang pinggang sebelah kanan Tio Tian-seng.

Kedua orang itu mencelat ke udara, kemudian terbanting keras di atas tanah.

 

Sudah cukup lama mereka berdua tertahan di tengah udara, hawa murni yang mereka himpun pun sudah membuyar. Oleh karena itu bantingan itu cukup berat dan keras, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa.

Bagaimana pun juga kedua orang ini merupakan jago kelas satu yang memiliki ilmu silat sangat hebat, daya tahan yang mereka miliki pun mengagumkan.

Walaupun isi perut mereka sudah menderita luka yang cukup parah, namun mereka masih mampu menghimpun sisa tenaga dalam untuk merebut posisi yang lebih menguntungkan serta mempersiapkan serangan terakhir.

Dua pekikan nyaring berkumandang di tengah udara.

 

Masing-masing pihak segera melompat bangun dari atas tanah dan menyambar senjata mereka yang terlepas, lalu serentak melepaskan bacokan kilat ke depan.

Dalam bentrokan kali ini, bergemalah suara dan dentingan yang amat lembut.

Sekali lagi tampak bayangan orang berpisah, lalu kedua belah pihak sama-sama terjungkal ke atas tanah dan tidak mampu berdiri kembali.

 

Liu Khi segera memuntahkan darah segar dan senjatanya terlepas dari pegangan.

Sebaliknya Tio Tian-seng meski masih tetap menggenggam pedang iblis yang bercahaya hijau di tangan kanannya, namun sepasang kakinya tidak mau menuruti perintahnya lagi, pelan-pelan ia terduduk di atas tanah.

Dalam pertarungan kali ini, kedua belah pihak sama-sama bertarung dengan mengerahkan segenap tenaga dalam, sekarang sudah tak sanggup lagi melepaskan sejurus atau setengah gerakan lagi.

Jangankan bertarung, tenaga untuk bicara pun sudah tak ada, napas mereka sekarang tersengal-sengal seperti kerbau, peluh pun jatuh bercucuran.

 

Sinar mata mereka sudah makin memudar, namun masih tetap mengawasi gerak-gerik lawan dengan pandangan mata penuh curiga.

Seakan-akan mereka sedang berkata, "Aku tak percaya kau masih memiliki tenaga untuk bangkit lebih dulu dan melancarkan serangan kembali."

Pada saat inilah tampak bayangan orang berkelebat ke tengah-tengah antara Tio Tian-seng dan Liu Khi, kemudian bagaikan sukma gentayangan saja seorang berbaju hijau berwajah dingin telah berdiri di sana.

 

Ketika melihat kehadiran orang itu dengan pedang terhunus, Liu Khi dan Tio Tian-seng baru mendusin dari impian mereka, sadarlah mereka akan kerawanan dan keseriusan situasi yang mereka hadapi.

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah melolos pedang pula, bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Pikirnya, "Bila orang berbaju hijau ini berani melakukan tindakan melukai Liu Khi dan Tio Tian-seng, maka Pek-hiat-kiam ini segera akan melancarkan serangan kilat dari belakang punggungnya."

 

Tampaknya orang berbaju hijau itupun sudah merasa pula gerakan Bong Thian-gak yang telah mempersiapkan diri melancarkan serangan.

Pelan-pelan ia membalikkan badan dan menengok sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu ujarnya dingin, "Kau akan melancarkan serangan dengan pedangmu itu?"

"Bila pedangmu itu kau tusukkan ke tubuh mereka, maka pedang ini pun akan menusuk punggungmu pada saat bersamaan."

"Tampaknya kau memang senang mencampuri urusan orang lain," jengek orang berbaju hijau itu dengan tertawa dingin.

"Mengambil tindakan di saat orang sedang lemah bukan tindakan seorang lelaki sejati."

 

Orang itu tertawa dingin lagi, "Seandainya aku ingin menghabisi nyawa mereka, mungkin sekarang juga mereka sudah tergeletak menjadi mayat."

"Kalau kau tidak berniat membinasakan mereka, harap segera berdiri di sisi arena," perintah Bong Thian-gak.

"Jian-ciat-suseng, tahukah kau siapa aku?" tegur orang berbaju hijau itu dingin.

"Kau menyebut dirimu sebagai Tan Sam-cing, padahal sewaktu aku berada bersamanya, dia tak lebih hanya seorang Tosu."

Sementara itu paras Tio Tian-seng telah berubah hebat, ia segera menegur, "Kau benar-benar Tan Sam-cing?"

"Tio Tian-seng," kata orang itu, "perlukah kulepas topeng kulit manusia yang kukenakan ini agar kau dapat melihat wajah asliku?"

 

 

PENDEKAR CACAT
Karya : Gu Long
Saduran : Can ID
Bagian 20 : Satu diantara 10 tokoh adalah Hek-mo-ong

 

Kulit muka Tio Tian-seng mengejang keras, sahutnya sambil tertawa getir, "Sekarang aku sudah tak bertenaga lagi, aku tak mampu menerima sebuah seranganmu."

"Tio Tian-seng, aku ingin bertanya kepadamu, haruskah aku turun tangan hari ini?" orang berbaju hijau bertanya dengan nada keras.

Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, kalau kau ingin turun tangan, lakukanlah segera!"

Orang berbaju hijau itu berpaling dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya, "Tapi dia pasti akan menghalangiku untuk turun tangan."

 

Tiba-tiba Tio Tian-seng menghela napas sedih, kemudian katanya, "Bong-laute, persoalan ini sebetulnya merupakan penyelesaian antara diriku dengannya sebagai masalah pribadi, aku harap Bong-laute tak usah mencampurinya."

Bong Thian-gak maupun Thay-kun merasa sangat keheranan mendengar pembicaraan kedua orang itu, "Mengapa Tio Tian-seng rela menyerahkan jiwanya setelah bertemu orang berbaju hijau? Sebenarnya perselisihan apakah yang terjalin antara mereka berdua?"

 

Tiba-tiba Thay-kun berkata sambil tertawa merdu, "Kuanjurkan kepada saudara, lebih baik jangan membunuh Tio Tian-seng."

"Kenapa?"

"Bila dia mati, maka kalian akan semakin sulit menghadapi Hek-mo-ong!"

"Kemungkinan besar Tio Tian-seng adalah Hek-mo-ong."

"Bila demikian pendapatmu, dugaanmu itu keliru besar. Tio Tian-seng bukanlah Hek-mo-ong, Liu Khi serta kau pun bukan pula."

"Asalkan kau dapat menebak siapa Hek-mo-ong, maka aku tak akan melukai mereka."

"Hek-mo-ong adalah Tan Sam-cing gadungan yaitu Sam-cing Totiang dari kuil Sam-cing-koan."

 

Mendengar perkataan itu, baik Bong Thian-gak maupun para jago lainnya serentak berseru dalam hati, "Diakah Hek-mo-ong?"

Orang berbaju hijau itu kelihatan ragu-ragu, dia segera bertanya, "Darimana kau bisa tahu dia adalah Hek-mo-ong?"

Thay-kun segera tersenyum.

"Kalau kau adalah Tan Sam-cing yang asli, maka apa sebabnya pula kau mencatut namamu? Dalam hal ini kita sudah dapat menduga di balik semua ini pasti terselip suatu rencana keji."

Mendadak orang berbaju hijau itu seperti teringat sesuatu, dia segera menjerit kaget, "Jangan-jangan dia?"

Menyusul dia menggeleng, kembali katanya, "Hal ini tak mungkin terjadi, sudah pasti bukan dia."

"Kadangkala sesuatu persoalan yang tak mungkin, seringkah Justru dapat berubah menjadi kenyataan," kata Thay-kun dengan suara merdu.

Orang berbaju hijau tertegun, tanyanya, "Tahukah kau siapa yang kumaksud sebagai si dia itu?"

"Tentu saja tahu, kecuali kau telah salah menduga."

 

Mendadak orang berbaju hijau berjalan ke hadapan Thay-kun, ujarnya lirih, "Menurut pendapatmu, siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya?"

"Aku kuatir jika nama itu kuucapkan, aku segera akan dibunuh orang."

"Tapi jika kau enggan bicara, Hek-mo-ong yakin kau sudah tahu rahasianya, maka dia pun dapat membunuhmu untuk menghilangkan Jejak."

Thay-kun menghela napas panjang.

"Benar, dia dapat membunuhku untuk menghilangkan jejak. Posisiku sekarang bicara mati tidak bicara pun mati. Ai, itulah sebabnya aku telah mengambil keputusan untuk mengutarakan soal ini kepada kalian."

Baru saja dia berkata, mendadak dari tengah udara berkumandang suara pembicaraan seseorang dengan suara rendah dan berat, "Thay-kun, apabila kau masih menginginkan nyawamu, lebih baik jangan kau sebutkan."

 

Mendengar seruan yang muncul secara tiba-tiba, serentak sorot mata semua orang dialihkan ke empat penjuru untuk melakukan pemeriksaan.

"Hek-mo-ong, inilah suara Hek-mo-ong, dia benar-benar bagaikan setan gentayangan hanya terdengar suaranya tak nampak bayangannya."

Bong Thian-gak berkata, "Selama ini Hek-mo-ong selalu berbicara dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara Jian-li-hwe-ing (suara gema seribu li) yang dipancarkan dari kejauhan, sehingga membuat orang lain sulit menentukan dari arah manakah suara itu."

Sudah barang tentu semua jago yang hadir mengetahui bahwa di dunia persilatan terdapat ilmu Jian-li-hwe-ing itu.

 

Mendadak Liu Khi berkata, "Menurut yang kuketahui, orang yang pandai mempergunakan ilmu Jian-li-hwe-ing adalah Kui-kok Sianseng dari Mi-tiong-bun. Jangan-jangan perbuatan itu dilakukan oleh orang-orang Mi-tiong-bun?"

Tiba-tiba Thay-kun tertawa cekikikan dan berseru, "Hek-mo-ong, aku tahu kau tak bakal mencelakai diriku, sekarang aku ingin mengajak kau melakukan tawar-menawar. Aku harap kau suka menyerahkan obat penawar racun agar ditelan oleh Tio Tian-seng serta Bong Thian-gak."

 

Mendengar perkataan itu, Tio Tian-seng dan Bong Thian-gak amat terkesiap.

Dengan kening berkerut Bong Thian-gak berseru, "Sumoay, benarkah aku sudah terkena racun dari Hek-mo-ong?"

"Benar," jawab Thay-kun dengan wajah serius. "Kau dan Tio-pangcu sudah menelan pil beracun berdaya kerja lambat dari Hek-mo-ong."

Paras muka Bong Thian-gak segera berubah hebat, katanya, "Sejak kapan Hek-mo-ong memberi pil beracun kepada kami?"

"Bukankah kau dan Tio-pangcu pernah menelan pil pemberian Biau-kosiu?"

"Ah!" Bong Thian-gak berseru tertahan. "Kalau begitu Biau-kosiu..”

 

"Biau-kosiu adalah salah seorang pembantu utama Hek-mo-ong," sambung Thay-kun pelan-pelan.

Tio Tian-seng dan Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu menjadi tertegun.

Sementara itu dari tengah udara terdengar kembali suara Hek-mo-ong, "Budak ingusan, kau benar-benar sangat lihai. Sebenarnya aku masih tidak percaya kau dapat mengetahui asal-usulku sejelasnya."

"Sekarang tentunya sudah percaya bukan?" seru Thay-kun.

"Aku masih tetap tidak percaya," suara Hek-mo-ong masih terdengar dingin dan menyeramkan.

"Mau percaya atau tidak, bagiku bukan persoalan penting. Kau harus menyerahkan obat penawar racun itu sebagai imbalan aku pun tak akan mengungkap asal-usulmu yang sebenarnya kepada orang lain. Di samping itu, aku dan Bong Thian-gak pun bersedia memenuhi permintaanmu untuk segera mengundurkan diri dari dunia persilatan."

 

Baru saja Thay-kun menyelesaikan perkataannya, pedang pendek orang berbaju hijau itu sudah ditempelkan di atas dadanya.

Thay-kun sama sekali tak menyangka orang berbaju hijau bakal berbuat demikian, ia menjadi tertegun dan segera bertanya, "Mau apa kau?"

"Aku akan memaksamu mengutarakan asal-usul Hek-mo-ong," kala orang berbaju hijau sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Tiba-tiba Bong Thian-gak beranjak dari tempatnya dan pelan-pelan mendekati orang itu.

 

Mendadak terdengar orang baju hijau itu membentak, "Bila kau berani maju selangkah lagi, aku segera akan menusuknya."

Terpaksa Bong Thian-gak menghentikan langkah, katanya sambil tertawa dingin, "Kau benar-benar manusia rendah berjiwa pengecut dan terkutuk."

"Seringkali memanfaatkan kesempatan di saat lawan sedang lemah merupakan tindakan yang paling tepat," kata orang berbaju hijau dingin.

"Tan-locianpwe," kata Thay-kun sambil tertawa, "tindakan yang kau ambil sekarang hanya akan mendatangkan keburukan dan tiada keuntungan bagimu."

 

Orang berbaju hijau tertawa dingin, "Bila kubunuh dirimu, maka Tio Tian-seng dan Jian-ciat-suseng bakal mati juga. Apakah hal semacam ini tidak akan menguntungkan bagiku?"

"Tan-locianpwe, tahukah kau mengapa Hek-mo-ong tak berani menampilkan diri? Dia takut kita bekerja sama menghadapinya."

"Tapi jika kau membunuhku sekarang, maka kau pun jangan harap bisa lolos dari hutan bambu Ban-jian-bong ini dalam keadaan selamat."

"Masih ada satu hal lagi aku beritahukan kepadamu, tusukan pedangmu itu belum tentu bisa membunuhku. Sekalipun kau bisa membunuhku, di saat kau belum mencabut pedangmu dari tubuhku, kau sendiri pun akan mati terbunuh di ujung pedang Suhengku."

 

Sesudah mendengar itu, orang berbaju hijau nampak agak ragu­ragu, tiba-tiba ia menarik pedangnya dan berkata dingin, "Aku tidak percaya Hek-mo-ong akan menerima syarat yang kau ajukan itu."

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah menggeser tubuh secepat kilat ke sisi Thay-kun dan berdiri penuh siap siaga dengan senjata terhunus, tiba-tiba Thay-kun berkata lagi dengan merendahkan suara, "Betul, belum tentu Hek-mo-ong akan menerima syarat yang kuajukan."

"Tapi aku pun akan memberitahukan satu hal kepada kalian, Hek-mo-ong cukup mengerti bahwa di antara kalian bertiga sebenarnya terjalin hubungan permusuhan dan dendam kesumat yang tak bisa diselesaikan dengan sepatah dua patah kata. Oleh sebab itu dia selalu menggunakan tipu-muslihat dan tipu-daya untuk mengadu-domba kalian agar saling gontok dan bunuh."

"Apabila kalian bertiga benar-benar saling gontok, maka secara sadar kalian terkena rencana keji Hek-mo-ong."

 

"Lantas mengapa Hek-mo-ong menggunakan siasat mengadu domba dan sebaliknya tidak berusaha melenyapkan kalian secara terang-terangan, hal ini disebabkan karena Hek-mo-ong tahu kalian memiliki kepandaian silat hebat, ia pun sadar bahwa ilmu pukulan tengkorak mautnya belum tentu akan membinasakan kalian dalam satu gebrakan."

"Oleh sebab itu ia berusaha memancing kalian berjumpa di Ban jian-bong agar kalian bertiga saling bertarung, sedang dia bersembunyi di samping menonton, mengamati jurus-jurus serangan yang kalian miliki serta berusaha mencari pemecahannya."

 

Tio Tian-seng, Liu Khi dan Tan Sam-cing yang mendengar perkataan itu diam-diam berpikir, "Benar juga, mengapa Hek-mo-ong tidak mau menyerang kami secara terang-terangan?"

Sesudah berhenti sejenak Thay-kun kembali melanjutkan ka katanya, "Di samping itu masih ada alasan lain, bisa jadi Hek-mo-ong adalah seorang gila ilmu silat, di saat dia belum berhasil mempelajari ilmu silat yang dimiliki seseorang, maka dia tak akan membinasakan korbannya."

"Oleh sebab itu bilamana kalian bertiga berusaha menghindar dari serangan Hek-mo-ong yang mematikan, paling baik jika kalian kurang kesempatan memperlihatkan jurus serangan yang kalian andalkan."

 

"Tapi siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya?" tiba-tiba Liu Khi bertanya.

Thay-kun menengok sekejap ke arahnya, lalu bertanya, "Siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya? Cepat atau lambat kalian pasti akan mengetahui dengan sendirinya. Bila kuutarakan kepada kalian sekarang, maka aku yakin tak seorang pun di antara kalian yang mau percaya dengan perkataanku. Ini merupakan suatu kenyataan, itulah sebabnya untuk sementara waktu aku belum ingin mengungkapkan."

Atas perkataan Thay-kun itu, Liu Khi, Tio Tian-seng dan Tan Sam-ring bertiga merasa sangsi.

Sambil tertawa dingin Tan Sam-cing berkata, "Pembahasanmu barusan sungguh membuat orang merasa tidak percaya."

"Bila kalian tak mau percaya, aku sendiri pun tak dapat berbuat apa-apa," kata Thay-kun sambil menghela napas. "Namun kuanjurkan kepada kalian agar secepatnya meninggalkan tempat ini, sebab tetap bercokol di tempat ini merupakan tindakan yang berbahaya."

 

Sampai di sini gadis itu segera berpaling ke arah Bong Thian-gak sambil berkata, "Bong-suheng, mari kita pergi saja!"

Baru saja Thay-kun membalikkan badan, dilihatnya selembar kain putih diikat pada sebuah dahan bambu di hadapannya.

Baru saja kain putih itu digantungkan, kebetulan pula Thay-kun menyaksikan sesosok bayangan hijau sedang berkelebat dan lenyap di balik pepohonan sebelah depan sana.

Dalam pada itu Tio Tian-seng, Liu Khi dan Bong Thian-gak pun sudah melihat kain putih itu.

Orang berbaju hijau mendengus dingin, secepat kilat menerjang ke depan menembus hutan bambu dan mengejar ke arah bayangan hijau ladi melenyapkan diri.

Thay-kun terkejut sekali, segera teriaknya, "Tan-locianpwe, jangan dikejar

 

Tan Sam-cing yang termasyhur karena Ginkangnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Dengan cemas Thay-kun segera berseru, "Tio-pangcu, Liu-tayhiap, apakah tenaga dalam yang kalian miliki telah pulih? Mari cepat tengok ke depan sana."

Ternyata pada saat itu Tio Tian-seng dan Liu Khi telah bangkit semua.

Terdengar suara jeritan ngeri yang menyayat hati dari seorang wanita berkumandang datang dari kejauhan.

Menyusul terdengar pula Tan Sam-cing berteriak penuh amarah, "Hek-mo-ong...."

Hanya suara bentakan itu saja yang terdengar, untuk kemudian suasana di sekeliling tempat itu kembali hening.

 

Bong Thian-gak, Thay-kun, Tio Tian-seng dan Liu Khi secepat kilat menyusul pula ke depan.

Mendadak mereka lihat di bawah hutan bambu, di depan sebuah peti mati bobrok, duduk seorang perempuan berambut panjang berbaju hijau, dadanya ditembus sebilah pedang pendek sampai ke punggung, darah segar masih bercucuran dengan derasnya membasahi pakaian serta dedaunan kering yang berserakan di atas tanah.

Pedang pendek itu tepat menembus jantungnya, perempuan itu sudah mampus, namun matanya melotot besar, mengawasi seorang yang berada di hadapannya.

Orang yang berada di mukanya itu tentu saja pembunuh yang telah menghabisi nyawanya... Tan Sam-cing.

 

Namun Tan Sam-cing sendiri memejamkan mata, noda darah masih membasahi ujung bibirnya, dia sedang duduk bersila di atas tanah tanpa bergerak.

Perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba ini membuat para jago terperanjat.

Bong Thian-gak yang pertama-tama menerjang ke hadapan Tan Sam-cing sambil menegur, "Tan-locianpwe... Tan-locianpwe

Pelan-pelan Tan Sam-cing membuka mata dan memandang pemuda itu sekejap, kemudian dipejamkan kembali tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

 

Tiba-tiba terdengar Tio Tian-seng berkata dengan suara dalam,' "Bong-laute, jangan kau usik dirinya. Dia sedang bersemedi mengobati luka yang dideritanya."

Sementara itu Liu Khi sedang memandang kain putih yang tergantung di batang bambu, ternyata di atas kain itu tertera beberapa huruf besar warna merah darah.

Tulisan disertai pula lambang tengkorak besar: "Undangan kematian tengkorak.

"Mengundang dengan sangat kematian Liu Khi pada bulan delapan tanggal tujuh tengah malam tepat".

 

Liu Khi yang menyaksikan tulisan itu segera mendengus dingin dan siap melompat ke atas untuk menyambarnya.

Tapi Thay-kun segera berseru keras, "Liu-tayhiap jangan bertindak sembarangan daripada terjebak perangkap keji pihak lawan."

Permainan setan Hek-mo-ong memang sudah menggetarkan hati siapa saja, kendatipun Liu Khi merasa gusar, namun setelah melihat Tan Sam-cing menderita luka parah, sedikit banyak hatinya dibuat keder juga.

Sementara itu Tio Tian-seng dan Bong Thian-gak pun sudah menyaksikan pula tulisan yang tertera di atas kain putih itu.

Sambil menghela napas panjang, Thay-kun berkata, "Akhirnya Hek-mo-ong mengirim juga kartu kematian untuk Liu-tayhiap."

Sambil tertawa dingin Liu Khi berkata, "Bulan delapan tanggal tujuh, akan kubuktikan dengan cara bagaimana dia hendak menghabisi nyawaku."

"Setiap kali Hek-mo-ong mengirim kartu kematian, dia sudah berhasil menelusuri semua ilmu silat orang itu dan mempunyai keyakinan untuk dapat merenggut nyawa musuhnya," kata Thay-kun sambil menghela napas panjang. "Ai, seandainya Liu-tayhiap tidak melangsungkan pertarungan sengit melawan Tio-pangcu hari ini, aku rasa belum tentu Hek-mo-ong akan memberikan kartu kematian kepadamu."

 

Tio Tian-seng menghela napas panjang, ucapnya, "Agaknya nona sudah mempunyai keterangan yang jelas tentang segala sesuatu yang menyangkut Hek-mo-ong?"

"Asal-usul Hek-mo-ong pun baru hari ini berhasil kuraba sedikit demi sedikit."

Mendadak Bong Thian-gak berkata sambil tertawa, "Hek-mo-ong telah mengirim kartu kematian kepadaku serta Tio-pangcu dan Liu-layhiap. Seandainya mulai sekarang kita bertiga selalu berkumpul, tiga hari mendatang akan kulihat dengan cara apakah Hek-mo-ong akan membunuh kita."

"Bong-suheng dan Tio-pangcu sudah terkena obat beracun dari Hek-mo-ong!" kata Thay-kun sambil menghela napas. "Asal waktunya sudah sampai, maka racun itu akan mulai bekerja menggerogoti tubuh kalian. Dalam hal ini Hek-mo-ong tak perlu menampakkan diri untuk mencelakai kalian!"

 

Selesai mendengar penjelasan Thay-kun, paras muka Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng segera berubah hebat, mereka membungkam.

Dari perubahan wajah kedua orang itu, Thay-kun mengetahui apa yang sedang mereka pikirkan, sambil tersenyum manis ujarnya, "Kalian tak usah kuatir, aku tak akan membiarkan kalian tewas dalam keadaan mengerikan."

"Apakah nona telah menemukan cara untuk membebaskan kami dari pengaruh racun itu?" tanya Tio Tian-seng cepat.

"Asalkan kalian berdua tak menelan pil mustika yang dihadiahkan Hek-mo-ong kepada kalian, aku yakin daya kerja racun yang mengeram dalam tubuh kalian tak akan merenggut nyawa."

"Apakah pil itu pun merupakan obat racun?" tanya Bong Thian-gak segera.

"Bukan obat racun, tapi pil itu justru dapat membangkitkan daya kerja racun yang telah kalian telan sebelumnya dan membaurnya kedua pil itu akan menyebabkan kematian yang mengenaskan."

"Thay-kun, darimana kau bisa mengetahui sedemikian jelasnya?"

 

"Orang yang paling pandai, paling sempurna dalam pembuatan obat di dunia saat ini adalah tabib sakti Gi Jian-cau, padahal ilmu menggunakan racun yang dipakai Hek-mo-ong untuk mencelakai orang dipelajarinya dari Gi Jian-cau, sedangkan aku sendiri pun pernah mempelajari cara yang sama dari Gi Jian-cau pribadi, sudah barang tentu aku mengetahui jelas teknik yang dipakai Hek-mo-ong."

"Nona, aku merasa kurang mengerti," kata Tio Tian-seng dengan kening berkerut. "Pil mustika yang diberikan Hek-mo-ong kepadamu, kau katakan sebagai obat yang akan memancing bekerjanya racun keji yang sudah mengeram dalam tubuhku, tapi darimana pula Hek-mo-ong bisa tahu kami bakal menelan pil yang dia berikan kepada kami?"

"Di sinilah letak kunci semua peristiwa itu, tatkala Hek-mo-ong memberikan pil yang kedua itu kepada kalian, dia tentu berkata kepada kalian bahwa obat itu adalah pemunah racun, sudah barang tentu kalian tak bakal mempercayai perkataannya begitu saja serta tak akan kalian telan pil itu."

 

"Akan tetapi bila batas waktu kerjanya racun di dalam tubuh kalian sudah tiba dan kalian merasakan penderitaan serta siksaan yang luar biasa di dalam tubuh kalian, pada waktu itu kalian tentu akan salah mengira bahwa racun itu benar-benar sudah bekerja dan kalian pun pasti akan teringat pada obat penawar racun palsu, yang sesungguhnya akan menjadi alat membunuh sebenarnya bagi keselamatan kalian berdua."

"Akibatnya kalian benar-benar akan terkecoh dan mendapat serangan racun yang jauh lebih keji sehingga akibatnya tewas dalam keadaan mengerikan."

Tio Tian-seng segera menjadi paham, katanya sambil menghela napas panjang, "Benar-benar teknik meracuni yang hebat. Seandainya nona tidak memberi penjelasan, siapa pun pasti tak akan berhasil lolos dari serangan semacam itu."

Thay-kun segera menghela napas panjang.

"Seandainya aku tidak berhasil mengetahui asal-usul Hek-mo-ong hari ini, aku pun tak teringat cara meracuni orang yang biasa digunakan Gi Jian-cau."

"Apakah Hek-mo-ong adalah Gi Jian-cau?" tanya Bong Thian-gak kemudian dengan perasaan tergerak.

 

Thay-kun memandang sekejap ke arahnya, lalu menggeleng, katanya, "Bukan, Gi Jian-cau bukanlah Hek-mo-ong. Bila waktunya tiba, tentu akan kuberitahukan rahasia ini kepada kalian."

Setelah mendengarkan penjelasan Thay-kun, Tio Tian-seng dan Bong Thian-gak pun secara lamat-lamat merasa keselamatan jiwanya tidak begitu terancam lagi, tanpa terasa semangatnya segera berkobar.

Hanya Liu Khi seorang yang masih tetap mengerut dahi dengan perasaan berat.

Thay-kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Liu Khi, kemudian ujarnya, "Aku tak tahu dengan cara apa Hek-mo-ong hendak mecelakai Liu-tayhiap, sehingga sulit juga bagiku memikirkan sesuatu cara untuk mengunggulinya, aku rasa jalan yang terbaik adalah Liu-tayhiap jangan meninggalkan kami untuk sementara waktu. Aku pikir asal kita mau bekerja sama meningkatkan kewaspadaan masing-masing, biarpun Hek-mo-ong lebih licik tak nanti bisa berbuat banyak."

 

Sementara itu para jago merasa kagum atas kecerdikan dan ketelitian Thay-kun dalam menghadapi persoalan serius, kendati Tio Tian-seng dan Liu Khi merupakan orang-orang angkuh dan berjiwa tinggi, namun terhadap tindakan yang diambil Thay-kun sekarang ternyata menurut dan sama sekali tidak membantah.

Pada saat itulah mendadak Tan Sam-cing memuntahkan darah segar sebanyak tiga kali.

Tapi sesudah itu Tan Sam-cing sudah dapat bicara lagi, katanya, "Oh, sungguh berbahaya. Hampir saja nyawaku hilang percuma!"

Dengan cepat Thay-kun segera memburu ke depan, lalu tanyanya dengan merdu, "Apakah Tan-locianpwe sudah bertempur dengan Hek-mo-ong?"

Tiba-tiba Tan Sam-cing melepas topeng kulit manusia yang dikenakan olehnya dan membesut noda darah dari ujung bibirnya, kemudian sahutnya pelan, "Ya, kami sudah saling bertarung."

"Dapatkah Tan-locianpwe menjelaskan situasi pertarungan yang telah kau alami tadi?"

 

Tan Sam-cing termenung beberapa saat, kemudian sahutnya, "Hek-mo-ong benar-benar manusia licik dan berhati busuk. Ai, tatkala aku sedang mengejar nona berbaju hijau tadi, mendadak dari balik peti mati berkelebat seseorang secepat kilat, lalu bergema suara jeritan ngeri yang memilukan, ternyata dada si nona berbaju hijau itu sudah ditusuk -pedang oleh orang itu hingga tembus ke punggung."

"Tindakan yang sama sekali di luar dugaan ini kontan membuat perhatianku bercabang, pada saat inilah dengan gerakan cepat orang itu melepaskan pukulan ke hulu hatiku, sedemikian cepat gerakan ini membuat aku teringat akan Hek-mo-ong. Aku pun segera membentak gusar dan mempergunakan jurus seranganku yang paling tangguh untuk melancarkan serangan balasan menimpukkan pedang pendek itu ke depan."

"Aku tidak tahu apakah seranganku itu berhasil menghajar musuh, sebab dada kiriku terasa sakit sekali, hampir membuatku jatuh pingsan, sementara darah segar muncrat dari mulutku."

"Tatkala aku berusaha memusatkan perhatian untuk melihat jelas raut wajahnya, bayangan iblis itu sudah hilang lenyap tak berbekas, malahan pedang pendekku turut hilang."

 

Ketika selesai mendengarkan penuturan itu, pelan-pelan Thay-kun berkata, "Nona berbaju hijau itu sudah ketahuan jejaknya sehingga mustahil baginya untuk menghilangkan jejak. Itulah sebabnya Hek-mo-ong segera bertindak membunuh dirinya, tapi tindakan Hek-mo-ong pun di luar dugaan sehingga tidak heran perhatian Tan-locianpwe menjadi bercabang, akibatnya jurus pedang Tan-locianpwe yang paling lihai pun tak sanggup membendung pukulan tengkorak Hek-mo-ong."

"Tapi dengan serangannya itu sudah berhasil menggagalkan jurus pedang Tio-locianpwe yang terhebat, maka aku duga dalam serangan ilmu tengkorak yang dilancarkan Hek-mo-ong untuk kedua kalinya, kemungkinan besar Tan-locianpwe tidak akan mampu melawan lagi."

 

Beberapa patah kata Thay-kun segera mendatangkan perasaan tak puas bagi Tan Sam-cing, dia tertawa dingin sambil katanya, "Serangan pedangku cepat dan dahsyat. Aku tidak percaya Hek-mo-ong dapat memahami kelihaian jurus pedang itu dalam sekilas pandang saja. Hm, bukankah Hek-mo-ong sendiri pun sudah terkena serangan pedangku?"

"Betul, Hek-mo-ong pun terkena tusukan Tan-locianpwe, bahkan tertusuk sangat dalam sehingga pedangmu tidak terjatuh ke tanah melainkan dibawa lari Hek-mo-ong, namun bagian tubuh yang terkena tusukan itu sudah pasti bukan bagian yang mematikan, karena serangan itu tidak berhasil merobohkan Hek-mo-ong, kendati demikian aku percaya kesombongan dan kejumawaan Hek-mo-ong pasti akan berkurang setelah mengalami peristiwa ini."

 

Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing yang mendengar perkataan itu merasa gembira, segera katanya, "Pembahasan nona benar-benar sangat teliti dan jitu. Sungguh membuat hati orang menjadi sangat kagum."

Thay-kun berpaling sekejap ke arahnya, kemudian katanya sambil tersenyum, "Tapi mengenai perkataan Tan-locianpwe yang mengatakan bahwa bentrokan itu berlangsung sangat cepat dan belum tentu Hek-mo-ong dapat memahami rahasia seranganmu, aku rasa Locianpwe tidak boleh bertindak kelewat gegabah."

"Perlu kau ketahui, Hek-mo-ong mempunyai ketajaman mata luar biasa, dia pun mempunyai daya kemampuan melebihi siapa pun, itulah sebabnya dia dapat mempelajari segenap ilmu silat dari berbagai partai dan perguruan."

Tan Sam-cing tertawa terbahak-bahak, "Di kolong langit ini, rasanya hanya seorang saja yang memiliki kemampuan seperti apa yang kau lukiskan barusan, orang itu adalah Thio Kim-ciok."

Mendadak Tan Sam-cing seperti teringat persoalan yang amat mengerikan, dengan wajah berubah hebat dia segera menghentikan perkataannya, matanya terbelalak lebar dan mulutnya agak melongo.

 

Tampaknya semua jago yang hadir di arena pun seakan-akan teringat persoalan yang maha besar, serentak mereka berseru kaget dan mengalihkan sinar matanya ke wajah Thay-kun.

"Apakah kalian teringat akan dia?" tanya Thay-kun kembali sambil tersenyum.

"Mungkinkan Hek-mo-ong adalah dia?" tanya Liu Khi agak emosi.

"Betul, dia adalah Thio Kim-ciok."

Ucapan itu benar-benar membuat hati setiap orang bergetar keras.

 

Dengan suara dalam Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng berseru, "Thio Kim-ciok sudah mati tiga puluh tahun lalu, bagaimana mungkin bisa bangkit dari liang kubur? Apakah nona sedang bergurau?"

"Sekarang aku ingin bertanya dengan Locianpwe, pernahkah kau mewariskan ilmu pedang terbangmu kepada seseorang? Kalau pernah, siapakah orang itu?"

"Hanya Thio Kim-ciok yang pernah mendapat warisan ilmu pedang itu," jawab Tan Sam-cing.

"Sewaktu kau berjumpa Sam-cing Totiang dari kuil Sam-cing-koan yang menyaru sebagai dirimu di tanah pekuburan luar kota tempo hari, bukankah dia telah menggunakan pula ilmu pedang Pat-kiam-hui-hiang? Bukankah jurus serangannya persis ilmu pedang andalanmu itu?"

"Benar, caranya persis sama, hanya kurang sempurna saja," jawab Tan Sam-cing dengan suara keras.

 

"Sekarang aku mau menanyakannya satu hal yang sama, semua pembicaraan yang dilakukan Hek-mo-ong mempergunakan ilmu Jian-li-hwe-ing, padahal orang yang pandai mempergunakan ilmu itu di kolong langit hanya Kui-kok Sianseng seorang. Kecuali diwariskan kepada Thio Kim-ciok, pernahkah Kui-kok Sianseng mewariskan kepandaian itu kepada orang lain?"

"Selain itu, Hek-mo-ong juga pandai dalam ilmu racun, selain tabib sakti Gi Jian-cau, siapa lagi yang bisa mempergunakan ilmu itu lebih sempurna darinya? Kemudian ilmu menyaru muka Hek-mo-ong berasal dari Song-ciu."

"Dengan berbagai kepandaian sakti yang dimiliki Hek-mo-ong, coba bayangkan, kecuali Thio Kim-ciok, siapa lagi yang mampu mempelajari begitu banyak ilmu sakti sekaligus?"

 

Pelan-pelan Thay-kun mengawasi wajah orang itu, lalu lanjutnya, "Sejak dulu hingga sekarang, bila ada seorang ganas dan buas melakukan perbuatan terkutuk yang merugikan orang banyak, maka orang itu pasti mempunyai maksud tujuan tertentu."

"Hek-mo-ong menantang perang terhadap sepuluh tokoh sakti persilatan, sebenarnya apa maksudnya?"

"Apakah dia hendak menguasai dunia persilatan, menjadi pemimpin umat persilatan?"

"Tentu saja tidak."

"Dia hendak membalas dendam."

"Karena sepuluh tokoh persilatan menyeleweng dengan istrinya, berbuat mesum dengan bininya, selain itu membunuh pula ratusan anak buahnya, maka dia harus membalas dendam, membunuh kesepuluh jago persilatan itu."

Perkataan Thay-kun ini segera membuat orang terbelalak dengan mulut melongo, perasaan ngeri segera timbul dalam hati, membuat bulu kuduk berdiri.

Semua fakta dan bukti sudah di depan mata, semua itu dapat diterima dengan akal sehat. Selain Thio Kim-ciok, rasanya memang tiada orang kedua yang kemungkinan besar menjadi Hek-mo-ong.

 

Tapi Thio Kim-ciok sudah mati tiga puluh tahun lalu, mayatnya telah tenggelam di dasar telaga. Bagaimana mungkin dia bisa hidup kembali?

Oleh karena itulah Tio Tian-seng, Liu Khi serta Tan Sam-cing tidak percaya kalau Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok.

Setelah menghela napas, Tio Tian-seng berkata, "Meskipun apa yang diduga nona masuk akal, akan tetapi Thio Kim-ciok sudah mati, jenazahnya sudah tenggelam di dasar telaga dan hal ini merupakan kenyataan. Orang yang sudah mati masakah bisa hidup kembali? Hal ini benar-benar sukar diterima akal sehat."

"Dengan cara bagaimana Thio Kim-ciok hidup kembali memang sama sekali tidak kuketahui," pelan-pelan Thay-kun berkata. "Namun aku tahu, bangkitnya Thio Kim-ciok sudah pasti mempunyai hubungan sangat erat dengan Gi Jian-cau."

 

"Apabila kalian ingin membuktikan benarkah Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok, aku rasa bila si tabib sakti dapat ditemukan, maka semua duduk persoalan akan menjadi jelas."

"Bukankah menurut nona Thay-kun, Gi Jian-cau bersembunyi di dalam Ban-jian-bong ini?"

"Benar," Thay-kun mengangguk. "Gi Jian-cau berada di Ban-jian-bong."

"Kalau begitu untuk menyingkap tabir peristiwa ini, bagaimana pun juga kita harus mencari si tabib sakti sampai ketemu," ujar Liu Khi.

 

Thay-kun memandang sekejap keadaan cuaca, kemudian ujarnya, "Sekarang baru mendekati tengah hari, mari kita berpencar melakukan pemeriksaan, bilamana salah seorang di antara kita menemukan jejak musuh atau menemukan Gi Jian-cau, gunakanlah tiga kali pekikan panjang sebagai tanda untuk berkumpul. Ingat, bagaimana pun juga kita harus menghindari pertarungan secara kekerasan. Sebelum matahari terbenam nanti, kita berkumpul kembali di pintu masuk Ban-jian-bong sebelah timur."

 

Mimpi pun Tio Tian-seng, Liu Khi serta Tan Sam-cing tidak menyangka hari ini harus menuruti perintah seorang bocah perempuan. Sekalipun dalam hati segera timbul perasaan tak enak, namun mereka melaksanakan juga perintah itu tanpa membantah.

Maka berangkatlah Tio Tian-seng, Tan Sam-cing dan Liu Khi menuju ke arah timur, barat dan selatan.

Sedangkan Bong Thian-gak dan Thay-kun berangkat menuju ke arah utara.

 

Ban-jian-bong memang pekuburan yang amat menyeramkan, gua­gua gelap, liang-liang merekah dan peti mati berserakan dimana-mana membuat suasana di tempat itu benar-benar amat menggidikkan.

Baru saja Bong Thian-gak dan Thay-kun berangkat, mendadak mereka menyaksikan di bawah kerumunan pepohonan yang rindang berdiri tiga orang Hwesio berbaju kuning.

Dengan ketajaman mata Thay-kun, sekilas pandang saja ia segera mengenali Hwesio setengah umur yang bertubuh gemuk itu adalah Hwesio yang bertanggung-jawab pada pekuburan halaman sembilan.

 

Dia berdiri di situ dengan tangan memegang tasbih, tangan kanan disilangkan di depan dada, sepasang matanya terpejam, wajahnya kelihatan kereng dan serius.

Di sebelah kiri kanannya masing-masing berdiri Hwesio jangkung dan pendek, keduanya bertubuh ceking tinggal kulit pembungkus tulang. Kedua opng itu pun memegang tasbih, hanya sorot mata mereka yang tajam mengawasi wajah Thay-kun dan Bong Thian-gak.

Hati Bong Thian-gak bergetar keras, diam-diam pikirnya, "Dari sorot mata ketiga Hwesio itu, jelas sudah bahwa mereka adalah jago persilatan berilmu tinggi, sungguh tak disangka para Hwesio yang berjaga di Ban-jian-bong memiliki kepandaian silat begitu hebat."

 

Sementara dia masih termenung, Hwesio setengah umur itu sudah membuka mata dan menegur dengan suara lantang, "Omitohud, Sicu berdua hendak pergi kemana?"

Sambil tertawa Thay-kun menjawab, "Sejak pagi tadi, aku sudah merasa bahwa Taysu berbeda dengan kebanyakan orang, ternyata dugaanku memang benar,  nyatanya Taysu adalah seorang jago silat berilmu tinggi!"

"Omitohud!" kembali Hwesio itu berkata, "Ban-jian-bong ini merupakan pekuburan yang diperuntukkan bagi mereka yang telah mati untuk beristirahat tenang. Karena itu Pinceng menganjurkan kepada Sicu berdua agar jangan menimbulkan pembunuhan dalam Ban-jian-bong."

"Ah, ucapan Taysu terlalu serius," Thay-kun tersenyum. "Kami hanya ingin mencari seorang sahabat lama di Ban-jian-bong ini. Bila Taysu bersedia memberi petunjuk, tentu kami akan menemukannya dengan cepat."

 

Mendadak mencorong sinar tajam dari mata Hwesio gemuk itu, katanya kemudian, "Apabila kalian berdua enggan menuruti nasehatku dan secepatnya meninggalkan Ban-jian-bong, maka dalam Ban-jian-bong ini kemungkinan besar akan bertambah lagi dengan dua liang kubur baru."

"Bukan hanya dua liang kubur baru yang akan bertambah di Ban-jian-bong ini," jengek Thay-kun tertawa dingin.

Sementara itu kedua Hwesio ceking yang berdiri di belakang Hwesio gemuk itu sudah menunjukkan wajah gusar dan hawa napsu membunuh yang berkobar-kobar.

Dengan suara dingin Hwesio gemuk itu menegur, "Li-sicu telah membuat onar di sini. Apakah perbuatan itu tidak keterlaluan?"

 

Tiba-tiba paras Thay-kun berubah menjadi dingin, lalu katanya ketus, "Oh, rupanya Taysu sekalian sudah mengetahui peristiwa yang terjadi di tanah pekuburan ini? Kalau begitu Taysu sudah mengetahui asal-usul kami bukan? Apabila Taysu seorang pintar, maka secepatnya beritahukan kepada Gi Jian-cau, katakan kalau ada seorang rekannya yang bernama Thay-kun datang berkunjung."

Berubah paras Hwesio gemuk itu, katanya, "Perkataan Li-sicu , tiada ujung-pangkalnya, sungguh membuat orang tidak habis mengerti."

 

Kembali Thay-kun tertawa dingin.

"Taysu harap dengarkan baik-baik, persembunyian Gi Jian-cau di Ban-jian-bong sudah bukan rahasia lagi. Sekalipun kami tak mencarinya, pihak Hek-mo-ong pasti akan mencarinya dan membinasakannya."

"Hari ini kami sengaja mencari Gi Jian-cau hendak mengajaknya merundingkan bagaimana cara menghadapi Hek-mo-ong. Nah, semua sudah kuutarakan, harap Taysu mengambil keputusan secepatnya."

 

Dengan paras muka berubah hebat Hwesio gemuk itu membentak, "Apabila kalian tidak segera mengundurkan diri dari Ban-jian-bong, jangan salahkan bila Pinceng bertindak keji."

Bong Thian-gak yang selama ini hanya berdiam di samping, berkata sambil tertawa dingin, "Sebenarnya jurus tangguh macam apakah yang kau miliki? Tak ada salahnya kau gunakan di hadapanku."

Sambil berkata pemuda itu segera maju ke muka dan menghadai di depan Thay-kun.

Hwesio gemuk itu benar-benar gusar, dengan suara menggelegar dia membentak, "Bagi mereka yang tak mau sadar, hanya jalan kematian yang paling cocok baginya. Sute berdua kalian mundur dulu."

 

Begitu diberi perintah, kedua Hwesio itu segera membalikkan badan dan mundur ke belakang.

"Berhenti!" Bong Thian-gak segera membentak.

Dengan gerakan sangat cepat dia menerjang ke depan.

Pada saat Bong Thian-gak menggerakkan tubuh, ketiga Hwesio itu melejit ke tengah udara, lalu memisahkan diri.

Thay-kun yang berada di belakang dan menyaksikan peristiwa itu segera mengerti bahwa ketiga Hwesio itu sama sekali tidak bermaksud melarikan diri, maka dia segera berseru dengan suara merdu, "Hati-hati, mereka membalikkan badan sambil melancarkan serangan balasan."

 

Belum selesai dia berkata, benar juga tampak Hwesio gemuk itu membalikkan badan, kemudian berkata dengan suara dingin, "Sayang keadaan sudah terlambat."

Sambil bicara dia mengayunkan tangan ke depan.

Sebiji tasbih yang berada di tangan kirinya sudah disambitkan ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Berbareng kedua Hwesio jangkung dan pendek yang memisahkan diri tadi, masing-masing membidikkan pula sebiji tasbih ke arah Bong Thian-gak.

Dengan kepandaian silat Bong Thian-gak, sudah barang tentu serangan senjata rahasia biasa tak nanti bias melukai dirinya.

 

Thay-kun yang berdiri di sisi arena dapat menyaksikan peristiwa itu dengan jelas, dia lihat ketiga biji tasbih itu bukan tertuju ke arah Bong Thian-gak, sebaliknya ditujukan ke satu titik yang sama untuk saling bertumbukan satu sama lain.

Dengan cepat Thay-kun menyadari bahwa di balik semua itu tentu ada sesuatu yang tidak beres, cepat dia membentak, "Bong-suheng cepat mundur, tampaknya senjata rahasia itu ada sesuatu yang tidak beres!"

 

Belum selesai dia berkata, ketiga biji tasbih yang meluncur dari tiga arah yang berbeda itu sudah saling tumbuk.

Suatu ledakan keras segera berkumandang.

Rupanya ketiga biji tasbih kecil itu telah berubah menjadi tiga buah letusan api yang meledak bersama di hadapan Bong Thian-gak.

Jilatan api yang sangat besar segera menyebar bersamaan dengan gulungan angin berpusing yang menderu.

Jerit kesakitan bergema, tahu-tahu tubuh Bong Thian-gak sudah terpental.

 

Thay-kun dapat menyaksikan kejadian itu dengan jelas, tubuh Bong Thian-gak sudah bermandikan darah dan tergeletak di atas tanah.

Sambil menjerit kaget, Thay-kun segera menerjang ke muka sambil berkata, "Bong-suheng!"

Sementara ketiga Hwesio itu sudah menerjang kembali, tampak dalam genggaman mereka masing-masing membawa sebiji tasbih.

Sudah jelas bukan tasbih biasa, melainkan peluru api Leng-hwe-tan.          j

Bong Thian-gak masih tergeletak di atas tanah, tapi saat itu dia j berpekik panjang seraya berseru keras, "Sumoay, aku belum mati. Kau cepatlah mundur, peluru Leng-hwe-tan itu sangat lihai."

 

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah melolos Pek-hiat-kiam dan i melompat bangun dari atas tanah, kemudian langsung menyongsong datangnya Hwesio gemuk itu.

Peluru Leng-hwe-tan ketiga Hwesio itu kembali meluncur ke j depan dengan kecepatan luar biasa.

Namun gerakan pedang Bong Thian-gak pun tak kalah cepatnya. Tampak cahaya pedang berkelebat bagaikan cahaya bianglala, angin tajam pun membelah angkasa.

Tak sempat mengeluarkan jeritannya lagi, pinggang Hwesio gemuk itu terbabat kutung menjadi dua bagian.

 

Pada saat bersamaan terjadi kembali ledakan keras, ketiga biji Leng-hwe-tan kembali meletus di belakang Bong Thian-gak.

Ketika berhasil membinasakan Hwesio gemuk itu. Bong Thian-gak dengan tubuh menempel di atas tanah segera berputar ke arah lain, sekali lagi terdengar pekikan nyaring menggema, tahu-tahu cahaya pedang menyambar ke arah Hwesio bertubuh jangkung.

Ketika melihat Hwesio gemuk tewas di ujung pedang Bong Thian-gak, kedua Hwesio jangkung dan cebol sudah dibuat ketakutan dan masing-masing melompat mundur. Berbareng satu dari timur dan yang lain dari barat, mereka bersama-sama menyambitkan kembali dua biji l.eng-hwe-tan ke arah Bong Thian-gak.

 

Sudah barang tentu Bong Thian-gak bukan pemuda bodoh yang rtima berdiri mematung di tempat. Oleh sebab itu di saat Leng-hwe-tan meledak di belakang tubuhnya, sudah tak mampu untuk melukai dirinya lagi-

Ketika ledakan menggelegar, pedang Bong Thian-gak menyambar pula ke leher si Hwesio jangkung.

 

Suara jeritan ngeri bergema kembali, percikan darah segar pun menyembur kemana-mana.

Menyaksikan gelagat tidak menguntungkan, Hwesio pendek iegera membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit masuk ke balik hutan bambu.

Dari jarak jauh Bong Thian-gak menyambitkan Pek-hiat-kiam ke depan.

Cahaya pedang memercik di angkasa dan meluncur dengan kecepatan luar biasa.

Jeritan ngeri yang memilukan sekali lagi bergema di angkasa.

Si Hwesio bertubuh pendek tahu-tahu sudah tertusuk pedang dan tewas di balik hutan bambu.

 

Setelah berhasil membunuh ketiga Hwesio secara beruntun, Bong Thlnn-gak ikut roboh terjengkang ke atas tanah.

Walaupun dalam usahanya membunuh ketiga Hwesio tadi ia telah menggunakan beberapa macam kepandaian yang berbeda, namun berhubung gerakannya dilakukan dalam kecepatan luar biasa dan lagi diselesaikan dalam satu gebrakan saja, hal itu membuat Thay-kun sendiri pun lak sempat memberikan bantuan kepadanya.

 

Thay-kun segera menerjang ke muka dan membangunkan tubuh Bong Thian-gak.

Terdengar si anak muda itu merintih pelan, "Sumoay, di balik peluru api itu tersimpan jarum lembut, kini dadaku telah terkena jarum yang amat lembut itu. Aku ... mungkin aku sudah tak tertolong lagi

Memandang dadanya yang basah oleh darah dan keadaannya Ngilu mengerikan, air mata Thay-kun bercucuran dengan derasnya, sehingga membasahi wajah Bong Thian-gak, ujarnya sambil menahan liuk tangis, "Suheng, bila jarum lembut itu beracun, mana mungkin jiwamu tertolong."

 

Bong Thian-gak tertawa getir, "Sekalipun jarum-jarum lembut itu tidak beracun, namun jarum itu amat lembut. Apabila tertusuk ke dalam nadi, maka jarum tadi akan mengalir masuk mengikuti gerakan darah. Dalam keadaan begini, sekalipun ada dewa yang turun dari kahyangan pun belum tentu jiwaku dapat diselamatkan."

"Ai, sungguh tidak kusangka, biji tasbih ketiga Hwesio itu tersimpan peluru api yang berisi jarum lembut begitu beracun. Senjata rahasia semacam ini biasanya berasal dari keluarga Tong di propinsi Sucwan."

"Suheng, kau tak usah banyak bicara lagi," tukas Thay-kun dengan air mata bercucuran. "Bila aku bisa mendapatkan sepotong besi sembrani sekarang, jiwamu tentu akan tertolong."

Bong Thian-gak menggeleng kepala sambil menghela napas, "Aku tahu jiwaku sudah tak akan tertolong lagi, ai

 

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan, "Sumoay, mumpung aku saat ini masih dapat berbicara, aku ingin sekali memberitahukan satu hal kepadamu."

Waktu itu pikiran Thay-kun sudah amat kalut, sambil menahan isak tangis dia berkata, "Suheng, soal apa yang hendak kau beritahukan kepadaku, cepatlah kau utarakan!"

"Aku ingin berkata kepadamu, aku cinta padamu," bisik Bong Thian-gak sambil tertawa rawan.

"Suheng, tahukah kau bahwa aku pun selalu mencintaimu?" kata Thay-kun kemudian.

Hati Bong Thian-gak bergetar keras, dengan gembira serunya, "Kau ... kau tidak membohongi aku?"

"Tidak, aku tak membohongimu, orang yang diam-diam kucintai itu tak lain adalah kau, tapi berhubung kau sudah mendapatkan Song Leng-hui, maka aku ... aku sengaja berbohong kepadamu."

Tiba-tiba Bong Thian-gak berteriak, "Aku tidak boleh mati, aku ... aku ingin hidup lebih lama."

 

Mendengar kata-kata itu, mendadak Thay-kun menangis tersedu-sedu.

Sebab pada saat itu dia menyaksikan kekasih hatinya sedang terancam kematian, cakar maut yang hendak merenggut nyawanya dan dia ternyata tak mampu berbuat apa-apa.

"Oh Thian, apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan jiwanya?"

 

Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin yang amat kaku dan mengerikan.

Rasa sedih yang kelewat batas membuat Thay-kun kehilangan perasaannya. Dia seakan-akan sama sekali tidak mendengar suara tertawa dingin itu, padahal sekalipun mendengar juga dia tak akan memalingkan kepala.

Sekarang dia hanya tahu memeluk kekasihnya, memeluknya dengan kencang.

 

Sebaliknya Bong Thian-gak segera melihat empat sosok bayangan telah muncul di sisi tubuhnya.

Mereka terdiri dari seorang nenek berambut putih, perempuan tlan lelaki kekar bermata tunggal serta seorang gadis cantik jelita dan genit.

Tanpa terasa Bong Thian-gak berseru kaget, "Ah, Biau-kosiu!"

Setelah mendengar suara seruan Bong Thian-gak, Thay-kun baru sadar dari impiannya, dia segera memandang keempat orang itu sekejap, lalu pelan-pelan berkata, "Cepat amat kedatangan kalian. Bila kau ingin membunuh kami, sekarang tak usah banyak waktu dan tenaga lagi."

Biau-kosiu tertawa dingin, tanyanya, "Bukankah dia sudah terkena |arum beracun ekor lebah dari peluru api?"

 

Mendengar pertanyaan itu, Thay-kun segera menghela napas sedih, "Ai, sungguh tak disangka jarum ekor lebah itu mengandung racun jahat."

Sesudah menghela napas panjang, dia menghentikan kata-katanya dan tidak berbicara lebih jauh.

Dengan suara dingin Biau-kosiu berkata, "Setiap orang yang sudah terluka jarum beracun ekor lebah keluarga Tong, maka dalam tiga jam, menu jahat itu akan menyerang jantung. Bila keadaan sudah begini, biar ada obat dewa pun jangan harap bisa menyelamatkan jiwanya."

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Thay-kun, segera tanyanya penuh harapan, "Jadi kau dapat menolongnya?"

 

Sekali lagi Biau-kosiu tertawa dingin.

"Aku hanya dapat mengeluarkan jarum beracun dari tubuhnya, namun tidak mampu menyembuhkan luka beracun dalam tubuhnya."

Mendengar sampai di situ, dengan nada memohon Thay-kun berkata, "Biau-kosiu, kumohon kepadamu, tolonglah dia dan sembuhkan luka yang dia derita. Apa pun syarat yang kau ajukan, pasti aku akan menyetujui."

 

Biau-kosiu tertawa dingin.

"Racun yang terkandung pada jarum ekor lebah keluarga Tong di propinsi Sucwan bukanlah racun sembarang racun. Sekalipun aku berhasil mengeluarkan jarum beracun itu dari dalam tubuhnya, sulit juga baginya untuk mempertahankan hidup."

"Padahal dia sudah terkena racun jahat dari Hek-mo-ong, cepat atau lambat dia pasti akan mati juga."

 

Thay-kun menangis terisak.

"Nona Biau, aku tahu kau sanggup menyelamatkan jiwanya, apalagi racun Hek-mo-ong pun disampaikan kepadanya melalui tanganmu. Sekalipun Hek-mo-ong membenci seluruh jago lihai yang ada di dunia persilatan, tapi Jian-ciat-suseng sama sekali tak punya jalinan dendam atau pun sakit hati apa pun dengannya. Apakah kalian benar-benar hendak membinasakan dirinya?"

 

Berubah paras muka Biau-kosiu, dengan suara dingin ia berkata, "Darimana kau tahu racun dari Hek-mo-ong diterima olehnya melalui tanganku?"

"Karena kau adalah anak buah Hek-mo-ong."

"Kau seorang yang sangat pintar dan bisa menduga semua persoalan secara tepat dan pasti. Tapi dugaanmu kali ini keliru, aku sama sekali bukan anak buah Hek-mo-ong."

Thay-kun tertawa rawan, "Apabila kau bukan anak buah Hek-mo-ong, maka aku pun merasa lega."

"Tidak usah banyak bicara lagi," tukas Biau-kosiu dengan suara dingin. "Bila berniat menyelamatkan jiwanya, satu-satunya jalan adalah menemukan Gi Jian-cau. Biarpun membawa besi sembrani, keselamatan jiwanya masih tetap terancam."

Selesai berkata, Biau-kosiu segera merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sepotong besi berwarna hitam yang segera dilontarkan ke hadapan Thay-kun, katanya lagi, "Untuk sementara waktu kupinjamkan besi sembrani padamu. Silakan kau turun tangan mengisap jarum-jarum beracun itu dari mulut lukanya!"

 

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar nenek berambut putih itu menimbrung, "Anak Siu, mengapa kau harus membantunya?"

Biau-kosiu menghela napas, sahutnya, "Nenek, aku merasa berhutang budi padanya karena dia telah membantuku merebut kembali kitab pusaka Kui-kok-khi-liok, jadi aku merasa wajib membantunya."

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi, "Nenek, mari kita pergi "

Selesai berkata Biau-kosiu bersama nenek berambut putih, lelaki dun perempuan kekar bermata tunggal membalikkan badan dan segera berlalu dari situ.

 

Thay-kun memungut besi sembrani itu sambil mengawasi tayangan tubuh keempat orang itu berlalu dari sana.

Memandang bayangan punggung mereka yang memasuki hutan bumbu, dia menggeleng kepala sambil bergumam, "Sungguh tak nyana dia akan meminjamkan besi sembrani, ai..”

Sejak kedatangan Biau-kosiu, Bong Thian-gak memejamkan mata. taat itu tiba-tiba dia berkata sambil menghela napas, "Tindak-tanduknya yang sebentar bermusuhan dan bersahabat ini sungguh membuat orang merasa bingung dan tak habis mengerti. Ai! Sumoay, kau tak usah bersusah payah lagi, sekalipun jarum-jarum beracun itu berhasil kau isap, namun sari racunnya telah menyusup ke dalam tubuhku dengan mengikuti aliran darah, akhirnya aku bakal tewas juga."

"Suheng, kau tak boleh mati," kata Thay-kun dengan lembut. "Kita tentu akan berhasil menemukan Gi Jian-cau. Sekarang berbaringlah dahulu dengan tenang, biar kucoba mengisap keluar jarum-jarum beracun itu dengan besi sembrani ini."

 

Selesai berkata dia segera membaringkan tubuh Bong Thian-gak ke alas tanah, kemudian turun tangan melepas pakaian bagian atasnya.

Tampak pada dada sebelah kiri dekat puting susu, kulit daging taiilaiah, bahkan di beberapa tempat terbakar hangus.

Sekarang noda darah itu sudah mengering, karena itu Thay-kun harus bersusah-payah membersihkan noda darah mengering itu, membiarkan darah segar meleleh kembali.

Kemudian Thay-kun menempelkan besi sembrani di tangan kanannya itu ke atas mulut luka. Ketika diangkat kembali, pada ujung besi sembrani itu sudah menempel tujuh batang jarum yang amat lembut, jarum-jarum lembut itu tak lain adalah jarum ekor lebah yang berwarna hitam pekat.

 

Dengan cepat Thay-kun mencabut jarum-jarum ekor lebah itu dari atas besi sembrani, kemudian mencari lagi di sekitar mulut luka itu.

Lebih kurang sepeminuman teh, seluruhnya Thay-kun berhasil mengangkat tiga belas batang jarum beracun.

Sambil menghela napas Thay-kun berkata, "Meskipun jarum ini sangat lembut dan kecil, untung kekuatannya tak seberapa besar hingga tak mampu menembus badan lebih dalam lagi. Jika jarum beracun itu sampai memasuki nadi darah, wah, apa jadinya."

 

Tiba-tiba Bong Thian-gak melompat bangun dan duduk, lalu katanya sambil tertawa getir, "Racun jahat jarum itu sudah telanjur memasuki aliran darah, cepat atau lambat akhirnya aku bakal mati juga."

Thay-kun segera membersihkan besi sembrani itu dari noda darah, lalu disimpan kembali ke dalam sakunya. Setelah itu dia bertanya dengan lembut, "Bagaimana rasanya sekarang?"

"Mulut luka itu masih terasa panas, agaknya sudah menunjukkan gejala keracunan."

"Mari kubimbing kau pergi dari sini, kita harus secepatnya mencari si tabib sakti."

"Tidak ada gunanya," sahut Bong Thian-gak sambil menggeleng. "Kini aku hanya berharap kau bisa menemaniku selama tiga jam. Berilah kesempatan padaku untuk bicara padamu."

"Suheng, aku tak bisa hidup tanpa kau, seandainya kau mati, maka aku pun tak ingin hidup seorang diri, oleh sebab itu kau harus hidup," kata Thay-kun dengan suara amat lembut

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Semut pun ingin hidup, apalagi manusia. Ai, tapi empat samudra begini luas, dimanakah si tabib sakti berada? Ai, sekalipun dia benar-benar bersembunyi dalam Ban-jian-bong ini, kemanakah kita harus pergi mencarinya? Sekalipun berhasil ditemukan, belum tentu ia bersedia menyelamatkan jiwaku."

"Tiga jam adalah waktu yang singkat dan segera akan lewat dalam sekejap, lagi pula mungkin aku akan jatuh pingsan tak lama lagi."

"Suheng, sekarang aku mendapatkan firasat yang mengatakan si tabib sakti berada tak jauh dari sini, secepatnya kita akan berhasil menemukan dirinya."

 

Bong Thian-gak mengerut dahi, kemudian berkata, "Sungguh aneh, sewaktu aku bertarung melawan ketiga Hwesio tadi, aku sudah menperdengarkan tiga kali suara pekikan panjang. Mengapa hingga sekarang belum tampak juga Tio Tian-seng sekalian datang kemari?"

"Dalam keadaan begini aku tak mempunyai hasrat dan niat lagi memikirkan persoalan itu. Suheng, apakah kau ingin menyerah begitu saja menerima kematian?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, baiklah! Aku akan mengikutimu mencarinya."

Selesai berkata, di bawah bimbingan Thay-kun dengan perlahan-lahan pemuda itu berdiri.

Siapa tahu baru saja ia berdiri, sekujur tubuhnya segera gemetar keras.

"Aduh," keluhnya pelan, paras mukanya segera berubah pucat-pasi, bibirnya menghijau dan kulit badannya mengejang keras, wajahnya mencerminkan penderitaan luar biasa.

Dengan terkejut Thay-kun segera bertanya, "Suheng, mengapa kau?"

"Aku, mungkin aku sudah tak jauh dari kematian," bisik Bong Thian-gak dengan suara gemetar. "Dadaku terasa sakit, kepalaku terasa amat pening."

 

Thay-kun merentangkan tangan memeluk tubuh pemuda itu, katanya, "Suheng, bagaimana kalau kubopong dirimu menuju ke bawah pohon yang rindang di depan sana?"

Dengan membopong tubuh anak muda itu, Thay-kun tiba di bawah pohon rindang, di atas gundukan tanah berumput, di situlah mereka duduk.

Bong Thian-gak berbaring dalam pelukannya dengan wajah pucat­pasi, seluruh badannya mengejang keras, agaknya penderitaan dan siksaan yang dialaminya bukannya berkurang, malah sebaliknya semakin bertambah.

 

Akhirnya pemuda itu mulai merintih, "Oh Sumoay, sekarang anggota badanku sakit dan linu, sekujur badanku seperti hancur."

"Ah!" Thay-kun menjerit kaget. "Mungkin racun jarum ekor lebah itu telah memancing bekerjanya racun Hek-mo-ong sebelum waktunya."

"Bila dua macam racun itu bekerja pada saat bersamaan, sudah dapat dipastikan aku akan mati secara mengenaskan. Oh, Thay-kun, aku ingin menyampaikan beberapa persoalan kepadamu."

"Setelah aku mati nanti, tolong bawalah jenazahku ini ke sebuah lembah terpencil di puncak Cui-im-hong di bukit Bong-san dan kuburkanlah aku di situ, istriku Song Leng-hui berdiam di situ."

 

"Kedua, tolonglah Oh Cian-giok, putri Oh Ciong-hu, dari sekapan musuh, dia telah ditangkap oleh Ho Lan-hiang, Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau dan entah disekap dimana?"

Perkataan Bong Thian-gak itu diutarakan dengan suara lirih, seolah-olah merupakan pesan terakhir menjelang ajal, begitu pilu dan pedih suaranya sehingga membuat suasana tercekam dalam suasana penuh haru.

Dengan air mata bercucuran dan suara tersengguk menahan isak-tangis, Thay-kun berseru, "Oh Suheng, kau tak boleh mati, kau tak akan mati. Kau harus mengobarkan semangatmu untuk hidup terus, bukankah beberapa kali kau bisa lolos dari ancaman bahaya maut? Bukankah dua kali kau bisa mempertahankan hidupmu? Mengapa kau tidak mampu untuk ketiga kalinya?"

"Aku rasa kali ini belum tentu aku beruntung. Aii, sekarang aku rela mati, karena selama ini aku bertekad untuk hidup terus demi membalas dendam bagi kematian guruku, Oh Ciong-hu, sekarang aku sudah tahu Oh Ciong-hu telah tewas di tangan Hek-mo-ong dan mereka saling bunuh karena perselisihan berantai, rasanya aku tak usah melibatkan diri lagi dalam pertentangan itu."

 

"Thay-kun, sesungguhnya aku adalah anak buangan yang tak berayah dan beribu. Sejak dua puluh tahun berselang, aku seharusnya sudah mati kelaparan, mati kedinginan ... dan kini aku sudah bisa hidup selama dua puluh tahun lagi, aku sudah cukup puas, aku pun tak menyesal untuk mati sekarang."

"Thay-kun, kau tak usah bersedih, kehidupan manusia di dunia ini Ibarat sebuah impian, tiada orang yang tetap berkumpul dan tak pernah berpisah. Aku ... aku akan menunggumu di alam baka."

 

Sampai di situ, suara Bong Thian-gak makin lirih dan kecil, «khirnya dia tak sadarkan diri.

Menyaksikan itu, Thay-kun berteriak, "Suheng ... Suheng!"

Cepat ia memeriksa napasnya, ternyata napas pemuda itu semakin lemah. Ketika diperiksa denyut nadinya, detak jantung pemuda itupun belum berhenti, ia segera tahu pemuda itu belum mati, dia hanya jatuh pingsan saja.

Karenanya Thay-kun merasa hatinya sedikit lega.

Pikirnya kemudian, "Bagaimana pun juga aku harus berhasil menemukan si tabib sakti, sebab di kolong langit ini hanya dia seorang yang mampu menolong Bong Thian-gak."

 

Kemudian ia pun berpikir lebih jauh, "Bong Thian-gak sudah terkena jarum ekor lebah keluarga Tong yang termasyhur karena keganasannya, seharusnya racun jahat itu baru akan mulai menyerang ke jantung setelah tiga jam, tapi sekarang racun itu sudah membangkitkan racun Hek-mo-ong yang telah mengeram dalam tubuhnya, diserang oleh dua racun pada saat yang bersamaan. Entah berapa lama Bong Thian-gak list pat mempertahankan hidup?"

 

Mendadak tampak bayangan orang berkelebat, Thay-kun segera menyaksikan dari berbagai arah bermunculan dua puluhan Hwesio berbaju kuning.

Kawanan Hwesio itu sama sekali tidak mirip tampang seorang Hwesio, bukan saja wajah mereka gemuk dan penuh daging, matanya memancarkan pula sinar kebuasan yang mengerikan, masing-masing menggenggam senjata tajam menyerupai tombak pendek.

Tatkala kawanan Hwesio itu menjumpai jenazah ketiga Hwesio lain yang tergeletak di atas tanah, sekilas perasaan kaget dan ngeri segera menghiasi wajah mereka, langsung mereka menghentikan langkah.

 

Sebaliknya Thay-kun yang melihat kawanan Hwesio itu segera berpikir, "Untuk menemukan si tabib sakti, rasanya hanya bisa dicari dari mulut mereka."

Menurut pendapat Thay-kun, kawanan Hwesio ini seharusnya tak dipengaruhi jago persilatan dan apabila Gi Jian-cau benar bersembunyi di tempat ini, maka kepandaian silat yang dimiliki orang-orang itu pasti merupakan didikan Gi Jian-cau, otomatis kepandaian silat yang dibina olehnya ini secara khusus hendak digunakan untuk menghadapi Hek-mo-ong yang hendak mencari balas kepadanya.

 

Saat inipun Thay-kun juga sudah tahu kawanan Hwesio itu tidak lebih hanya jago-jago kelas tiga. Itulah sebabnya, sewaktu mereka saksikan ketiga sosok mayat Hwesio yang dibunuh Bong Thian-gak tadi, timbul perasaan takut dalam hati. Sebab ketiga orang yang terbunuh itu merupakan jago lihai kelas satu dalam Ban-jian-bong.

Kawanan Hwesio bermuka bengis itu tampak ragu-ragu sejenak, tiba-tiba mereka menyerbu ke depan.

Sudah jelas di sekitar tempat itu tak tampak orang lain, kecuali dua orang di hadapannya, padahal yang lelaki sudah terluka parah sedang yang perempuan tidak perlu ditakuti. Itulah sebabnya nyali mereka semakin bertambah besar.

"Berhenti!" Thay-kun membentak nyaring.

 

Kawanan Hwesio yang mengurung menjadi terkejut dan serentak menghentikan langkah.

Waktu itu Thay-kun telah membaringkan Bong Thian-gak di atas tanah berumput dan dia berdiri di depan gundukan tanah itu dengan wajah memancarkan sinar kewibawaan yang membuat hati orang bergidik, sorot matanya yang tajam mengawasi kawanan Hwesio itu tanpa berkedip.

Dalam waktu singkat kawanan Hwesio itu dapat merasakan bahwa perempuan cantik bak bidadari dari kahyangan di hadapan mereka ini bukanlah perempuan lemah, sebaliknya justru merupakan, harimau ganas dan menakutkan.

 

Seorang Hwesio bermuka hitam dan agak gemuk, tampaknya merupakan pemimpin gerombolan itu tertawa licik, kemudian dengan suara parau dia berkata, "Bocah perempuan, kau tak usah mencari kematian, kau cukup menjawab beberapa buah pertanyaan yang kuajukan, tak nanti aku menyusahkan dirimu."

"Aku pun hendak mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu, usul kau pun bersedia menjawab beberapa buah pertanyaanku, tentu kalian bisa hidup terus. Kalau tidak, hm, kalian akan mati konyol di sini."

Selesai berkata Thay-kun segera mengayun telapak tangan kirinya ke depan dan melepaskan sebuah pukulan.

 

Tanpa menimbulkan sedikit suara pun tahu-tahu tiga Hwesio berbaju kuning yang berdiri di sebelah utara sudah roboh terjengkang ke ulas tanah dan tewas oleh pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang yang sangat lihai.

Tiba-tiba hati Thay-kun bergetar keras melihat ketiga orang liwesio itu roboh binasa, pikirnya, "Heran, mengapa tenaga dalamku bisa tumbuh begitu tangguhnya? Padahal jaraknya cukup jauh, namun kenyataan seranganku berhasil merenggut nyawa mereka sekaligus. Hal Ini benar-benar tak terduga."

 

Thay-kun benar-benar diliputi perasaan kaget dan gembira, padahal dia hanya bermaksud melepas pukulan untuk menggetar mundur para Hwesio itu agar mereka takut dan mundur teratur. Siapa nangka pukulan itu ternyata mengandung tenaga begitu dahsyat hingga mencabut nyawa lawan.

Tenaga dalamnya sekarang telah meningkat dua kali lipat daripada sebelumnya

"Ah! Ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang telah berhasil mencapai ke tingkat sepuluh."

"Aku ... aku sudah mampu membunuh Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."

 

Mendadak Thay-kun mengayun tangannya dan sekali lagi melancarkan pukulan maut.

Tanpa disertai desingan angin pukulan sedikit pun, tahu-tahu tujuh Hwesio yang berada di sebelah selatan roboh bergelimpangan tanpa nyawa lagi.

Suara bentakan dan teriakan panik segera berkumandang, kawanan Hwesio itu segera membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit, malah saking takutnya ada di antara mereka yang terkencing-kencing.

"Mau kabur kemana?" bentak Thay-kun

 

Dengan gerakan tubuh ringan dia berkelebat maju, lalu tangan kanannya menyambar dan mencengkeram baju bagian belakang si Hwesio gemuk itu.

Perawakan Hwesio gemuk jauh lebih berat daripada rekan-rekannya. Mesti begitu ketika bajunya kena dicengkeram, dia segera berhenti dan tidak sanggup beranjak barang setengah langkah pun.

Saking takutnya, kontan dia berkaok-kaok, "Dewi yang mulia, ampunilah nyawaku, ampunilah jiwaku ini!"

Thay-kun tertawa dingin, mendadak ia membanting tubuhnya ke atas tanah, bentaknya, "Boleh saja kuampuni jiwamu, cuma kau mesti menjawab beberapa pertanyaanku secara baik."

 

Pelan-pelan Hwesio itu merangkak bangun, ia merasakan suasana di sekeliling tempat itu sunyi-senyap, rekan-rekannya sudah mampus  atau melarikan diri, kini tinggal dia seorang yang berada di situ ditemani rekan-rekannya yang telah menjadi mayat.

Dengan perasaan sangat takut, Hwesio itu berlutut di atas tanah dan menganggukkan kepala berulang kali seraya berkata, "Apa yang ingin dewi tanyakan, tentu akan kujawab, aku takkan berbohong."

"Siapakah nama pemimpin kalian? Ayo jawab secepatnya," tanya Thay-kun segera.

"Pemimpin kami adalah Hongtiang ruang ketujuh kuburan ini, Ci kim-kong Hwesio."

"Lalu siapakah ketiga orang Hwesio itu?" tanya Thay-kun dengan kening berkerut.

"Apakah dewi tanyakan ketiga Hwesio bertasbih itu? Mereka adalah Hwesio yang bertugas di tanah pekuburan ini, bersama Ci-kim-kong Hwesio, mereka disebut sepuluh orang Toa-kim-kong."

"Bagaimanakah tampang Ci-kim-kong Hwesio?" kembali Thay-kun bertanya.

 

Sebelum perkataan itu selesai diutarakan, tiba-tiba terdengar suara menyeramkan berkumandang.

"Hud-ya telah datang. Bagaimanakah tampang mukaku boleh perhatikan sendiri dengan jelas."

Tiba-tiba terdengar jeritan lengking yang memilukan, rupanya jeritan seperti babi disembelih itu berasal dari si Hwesio bermuka hitam.

Tampak Hwesio bermuka hitam itu bergulingan di atas tanah beberapa kali sebelum akhirnya sama sekali tidak berkutik lagi.

Dengan ketajaman mata Thay-kun, sekilas pandang saja ia sudah melihat di atas tengkuk Hwesio bermuka hitam itu tertancap sebatang anak panah kecil.

 

Anak panah itu meluncur tanpa menimbulkan sedikit suara pun dan tepat menghajar belakang kepala si Hwesio bermuka hitam itu secara telak, nyata orang yang melepaskan anak panah itu memiliki kepandaian silat luar biasa.

Pelan-pelan Thay-kun memandang ke depan.

Entah sedari kapan di hadapannya telah muncul tujuh Hwesio berperawakan tinggi pendek tak menentu, namun di tangan kiri masing-masing memegang tasbih yang sama.

Tak salah lagi biji tasbih itu tentulah Leng-hwe-tan yang berisi jarum beracun ekor lebah.

Di antara ketujuh Hwesio itu, berdiri Hwesio tinggi besar berjenggot hitam sepanjang dada dan berwajah merah, mungkin orang Inilah yang menjadi pimpinan pasukan keamanan Ban-jian-bong, Ci-kim-kong Hwesio.

 

Sambil tertawa dingin, Thay-kun segera bertanya, "Kaukah yang bernama Ci-kim-kong Hwesio?"

Hwesio itu tertawa licik, "Betul, Hud-ya orangnya."

Semula Thay-kun mengira nama Ci-kim-kong Hwesio adalah nama samaran Gi Jian-cau, sekarang dia merasa kecewa mendengar jawaban itu, katanya kemudian dengan suara dingin, "Kedatanganmu jangat tepat, ada satu persoalan ingin kutanyakan kepadamu."

"Apakah kau ingin bertanya kepadaku, dimanakah Gi Jian-cau berada?" ujar Ci-kim-kong Hwesio dengan suara menyeramkan.

Thay-kun dibuat tertegun.

"Darimana kau bisa tahu?"

"Barusan, sudah ada tiga orang yang mengajukan pertanyaan yang sama kepadaku."

"Apakah kau sudah memberitahukan kepada mereka?"

 

Ci-kim-kong Hwesio tertawa bangga.

"Sebenarnya Hud-ya ingin mengajak mereka pergi menjumpai Gi Jian-cau, tapi sayang ketiga orang itu sudah tak mampu bergerak lagi, oleh sebab itu Hud-ya pun tidak jadi membawa mereka."

Thay-kun menjadi terkejut sekali mendengar perkataan itu, dia segera bertanya, "Jadi kalian telah melukai mereka bertiga?"

Dengan bangga Ci-kim-kong Hwesio tertawa terbahak, "Baik Mo-kiam-sin-kun maupun Liu Khi dan Pat-kiam-hui-hiang, semuanya tak ada yang lolos, mereka sudah terluka."

Berada dalam suasana dan keadaan seperti ini, mau tak mau Thay-kun harus membuat penilaian baru terhadap kepandaian silat Ci-kim-kong Hwesio.

 

Kepandaian silat Tio Tian-seng bertiga sudah terhitung sangat tangguh dan hebat, bagaimana mungkin mereka dapat dilukai secara mudah?

Tapi kenyataan Ci-kim-kong Hwesio sanggup melukai mereka bertiga, terbukti betapa lihainya kepandaian silat orang ini.

"Apakah mereka bertiga terluka oleh Leng-hwe-tan?" tanya Thay-kun.

"Benar, mereka memang terluka oleh Leng-hwe-tan dalam biji tasbih ini," jawaban Ci-kim-kong Hwesio terdengar amat dingin dan menyeramkan.

 

Thay-kun segera tersenyum.

"Kalau begitu Tio Tian-seng bertiga terluka karena memandang enteng kemampuanmu, bukan karena kau bisa mengungguli mereka dengan mengandalkan kepandaian sejati. Sekalipun peluru Leng-hwe-tan sangat lihai, tapi bukankah sudah kau saksikan sendiri, ketiga Hwesio yang membawa Leng-hwe-tan pun tak berhasil meloloskan diri dari kematian."

Paras muka Ci-kim-kong Hwesio berubah hebat, segera ujarnya dingin, "Jadi ketiga Kim-kong Hwesio itu tewas di tanganmu?"

"Bukan, mereka mati dibunuh oleh Jian-ciat-suseng."

Sambil menarik muka Ci-kim-kong Hwesio kembali berkata, "Kalau memang bukan mati di tanganmu, Hud-ya pun tak ingin menyusahkan dirimu. Segera kau boleh meninggalkan Ban-jian-bong!"

 

Thay-kun tersenyum.

"Sebelum bertemu Gi Jian-cau, aku tak akan mengundurkan diri dari Ban-jian-bong begitu saja."

"Bila kau tak segera mengundurkkan diri dari Ban-jian-bong, maka hanya jalan kematian yang akan kau hadapi."

Ketika Thay-kun menyaksikan keenam Hwesio lainnya telah bersiap melancarkan serangan, mendadak ia berseru, "Tunggu dulu!"

"Apakah kau hendak mengundurkan diri dari Ban-jian-bong?"

"Aku tidak ingin melukai orang terlalu banyak," kata Thay-kun dengan suara dingin. "Aku tak lebih hanya ingin bertemu Gi Jian-cau serta memohon kepadanya untuk menyelamatkan jiwa Jian-ciat-suseng, soal lain aku tidak mengharapkan apa-apa."

"Hud-ya pun tidak mengharapkan apa-apa darimu, aku hanya berharap kau suka mengundurkan diri dari Ban-jian-bong dengan segera."

"Percayakah kau, sebelum kalian sempat melepaskan Leng-hwe-tan yang pertama, aku sanggup membinasakan kalian semua?" kata Thay-kun.

 

Tiba-tiba Ci-kim-kong Hwesio membentak, "Bunga salju terbang di angkasa!"

Sebagai seorang jago persilatan yang berpengalaman luas, Thay-kun segera tahu pihak lawan sedang menurunkan perintah untuk melancarkan serangan. Setelah mendengar suara bentakan itu, maka dia pun segera membentak dan mengayunkan telapak tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan.

Segulung tenaga pukulan yang sangat kuat dan mengandung tenaga Soh-li-jian-yang-sin-kang segera meluncur ke depan secepat kilat ilim menerjang seorang Kim-kong Hwesio yang berdiri di sudut paling kiri.

 

Serangan itu segera meluncur ke muka tanpa menimbulkan sedikit suara, tahu-tahu saja Kim-kong Hwesio itu roboh terjungkal, kemudian lanpa menimbulkan suara keluhan apa pun, dia terkulai dan tak pernah merangkak bangun kembali.

Ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Thay-kun yang maha dahsyat itu dengan cepat mengejutkan semua Kim-kong Hwesio lain. Dengan begitu dia tak punya kesempatan lagi melukai Hwesio kedua.

Tiga dengungan keras yang memekakkan telinga berkumandang, lalu secepat kilat menyelimuti seluruh arena pertarungan itu.

 

Ternyata keenam Kim-kong Hwesio itu telah melepaskan biji tasbihnya secara beruntun ke angkasa dengan ilmu melepaskan senjata rahasia yang khusus.

Dalam waktu singkat biji-biji tasbih itu menari-nari di angkasa seperti bunga salju beterbangan di udara.

Dalam waktu singkat seluruh badan Thay-kun sudah terjerumus ke dalam lautan api, dia seperti seekor burung dalam sangkar yang dibikin ketakutan, terbang ke sana kemari, namun selalu gagal melepaskan diri dari kepungan.

Thay-kun benar-benar terkejut setelah menghadapi kejadian ini, dia bukannya takut terluka di tangan musuh, tapi dia kuatir Bong Thian-gak yang masih tak sadarkan diri itu akan terluka lagi oleh serangan Leng-hwe-tan lawan.

 

Baru saja pikirannya bercabang, tiba-tiba dua biji Leng-hwe-tan sudah saling tumbuk di hadapannya dan menimbulkan ledakan yang keras.

Ibarat daun berguguran dari atas ranting, Thay-kun segera bergulingan di atas tanah.

Biarpun gerakannya ini berhasil menyelamatkannya dari ancaman  tiga puluh jarum beracun ekor lebah, namun gagal menghindari sergapan bara api, dalam waktu singkat pakaiannya sudah terbakar hangus.

Biji tasbih berpeluru Leng-hwe-tan itu memang benar-benar senjata rahasia yang tiada taranya, apalagi dipancarkan oleh enam Kim-kong Hwesio pada saat bersamaan, kekuatannya luar biasa.

 

Kobaran api yang membumbung tinggi ke angkasa serta kilatan guntur yang menggelegar membuat Thay-kun seperti sasaran yang diincar setiap orang, pada hakikatnya sama sekali tidak tersisa sedikit kemampuan pun untuk melancarkan serangan balasan.

Mendadak dari luar lingkaran kepungan, terdengar Ci-kim-kong Hwesio membentak.

Tahu-tahu Hwesio itu sudah mendesak maju, tangan kanannya segera diayunkan ke muka dan sebatang anak panah segera meluncur ke depan bagai sambaran kilat.

Tahu-tahu senjata itu sudah mengancam dada Thay-kun.

 

Di bawah serangan Leng-hwe-tan yang menimbulkan kobaran api dan asap tebal ini, siapa saja pasti akan merasakan kepala pening dan mata berkunang-kunang, pikiran kalut dan perasaan kacau-balau tak keruan. Dalam keadaan demikian, siapa pun pasti tak akan mampu menghindarkan diri dari serangan anak panah yang demikian cepatnya.

Dalam anggapan Ci-kim-kong Hwesio, Thay-kun sudah pasti akan terkena sasaran anak panahnya pula.

Seringkah kenyataan memang berada di luar dugaan siapa saja, sementara Thay-kun menjerit kaget, dia telah membalik pergelangan tangan kanannya menangkap anak panah itu, lalu balik menyambitkan ke depan.

 

Jeritan ngeri yang menyayat hati seperti jeritan babi disembelih segera berkumandang.

Seorang Kim-kong Hwesio yang kebetulan berdiri di hadapannya terkena sambitan anak panah itu tepat pada matanya hingga roboh binasa.

Ci-kim-kong Hwesio terkesiap, cepat dia berteriak, "Lepaskan lagi Leng-hwe-tan, gunakan 'Lautan api membakar langit', binasakan orang ini!"

 

Sementara itu Thay-kun sudah merasakan betapa dahsyat dan hebatnya Leng-hwe-tan, ia tak berani melancarkan serangan ke arah lawan secara gegabah lagi, badannya segera bergerak dan melompat ke samping tubuh Bong Thian-gak, kemudian dengan cekatan membopong tubuh pemuda itu.

Rentetan Leng-hwe-tan yang dilancarkan secara bertubi-tubi ke arahnya segera berledakan dimana-mana serta menimbulkan suara gemuruh.

 

Thay-kun membentak sambil membopong tubuh Bong Thian-gak, dia segera melejit ke tengah udara.

Tenaga dalam yang dimilikinya saat ini membuat orang tak berani mempercayainya, sekali lompatan saja dia telah berhasil melompati hutan bambu.

Menyaksikan ilmu meringankan tubuh yang begitu hebat dan luar biasa, untuk sesaat Ci-kim-kong Hwesio menjadi kaget dan lupa untuk melepas Leng-hwe-tan serta melakukan pengejaran, dia hanya berdiri termangu di tempat dengan mata terbelalak, bayangan Thay-kun sudah lenyap di balik hutan bambu.

 

Thay-kun sambil membopong Bong Thian-gak berlari menyusuri hutan bambu itu sejauh satu li lebih, mendadak sepasang matanya bersinar tajam, rupanya dia sudah keluar dari hutan bambu yang begitu rapat di Ban-jian-bong itu.

Tanpa terasa Thay-kun menghentikan langkah, lalu memandang sekejap sekeliling tempat itu, ternyata dia sudah berada di sebelah barat laut pekuburan itu, sepanjang mata memandang hanya padang rumput yang luas tanpa tepian.

Tanpa berbicara ataupun mengeluarkan sedikit suara pun, Thay-kun berjalan menyusuri padang rumput yang sangat luas itu.

Kemanakah dia hendak pergi?

 

Cahaya matahari yang mendekati senja memancarkan sinarnya yang merah ke atas tubuhnya, beberapa bagian pakaian yang dikenakan telah hangus terbakar, membuat pakaiannya sangat kusut dan wajahnya amat layu.

Angin berhembus menerbangkan rambutnya yang panjang dan membentuk perpaduan pemandangan memilukan dan mengenaskan.

"Engkoh Gak, engkoh Gak, dimanakah engkau berada, engkoh Gak...."

Angin barat berhembus, seakan ada panggilan yang menyayat hati.

"Engkoh Gak, dimanakah engkau berada? Engkoh Gak

 

Suara panggilan yang muncul sangat mendadak dan bernada memilukan itu segera menyadarkan Thay-kun dari pikiran kusut dan murung.

Dengan cepat dia memandang sekejap ke arah padang rumput yang membentang tak bertepian di depan matanya, namun tak kelihatan sesosok bayangan orang pun di sana.

"Jelas itu suara panggilan seorang perempuan," gumam Thay-kun dengan suara lirih.

"Dia sedang mencari engkoh Gak, siapakah engkoh Gak itu?" Thay-kun berdiri tegak di situ dengan tenang, menanti datangnya suar panggilan itu sekali lagi.

 

Namun suasana amat hening, sepi, bahkan suara panggilan tadi tak terdengar lagi.

Tiba-tiba Thay-kun menghela napas, lalu bergumam, "Mungkinkah aku telah salah mendengar?"

"Ai! Mengapa aku harus berjalan menuju ke padang rumput yang tak bertepian ini?"

"Kini keselamatan jiwa Bong Thian-gak sedang terancam bahaya, mengapa aku membuang waktu yang berharga begitu saja?"

"Si tabib sakti Gi Jian-cau berada dalam Ban-jian-bong, bagaimana pun aku harus dapat menemukannya dan memaksanya menyelamatkan jiwa Bong Thian-gak. Aku harus secepatnya kembali ke Ban-jian-bong."

 

Tadi berhubung Thay-kun diserang Leng-hwe-tan oleh Ci-kim-kong sekalian secara bertubi-tubi, merasa sudah tak ada harapan lagi mengungguli musuh, kemudian harapannya untuk menemukan si tabib lakti Gi Jian-cau pun sudah lenyap, dia menjadi putus asa, sedih dan kecewa sekali.

Pukulan batin yang sangat berat itu membuat pikirannya menjadi sangat kalut, sehingga tanpa disadari dia berjalan menuju ke padang rumput tanpa tujuan.

 

Sekarang dia dapat menenangkan pikiran, dengan perasaan lebih lenang dan otak lebih dingin, dia mulai merasa bahwa kondisi Bong Thlun-gak sangat lemah, dia sangat membutuhkan pertolongan si tabib lakti, maka dia pun memutuskan balik ke Ban-jian-bong.

Dengan membopong tubuh Bong Thian-gak, berangkatlah Thay-kun kembali ke Ban-jian-bong.

Tidak sampai setengah jam kemudian, Thay-kun sudah tiba di mulut barat laut Ban-jian-bong.

Thay-kun berpikir, dalam perjalanan memasuki Ban-jian-bong kali Ini, ia tak akan bisa menghindari suatu pertarungan berdarah lagi. Bong Thian-gak yang berada dalam bopongannya akan semakin terancam lagi oleh bahaya maut.

 

Karena itu Thay-kun mencari pohon Siong besar, membaringkan Bung Thian-gak di situ, lalu katanya dengan lembut, "Bong-suheng, berbaringlah di sini dengan tenang, aku akan segera kembali."