pendekar cacad 15
Bagian 19 : 10 tokoh paling liehay dan termasyur
Tio Tian-seng menghela napas panjang,
"Ai, Hek-mo-ong telah memerintahkan seorang pelayan rumah penginapan
untuk mengantar pil itu kepadaku dengan pesan agar aku mengundurkan
diri dari dunia persilatan, katanya pengundurkan diri ini merupakan
syarat bagi keselamatan jiwaku."
"Lantas pil itu merupakan obat penawar
racun? Ataukah obat racun?"
"Aku telah melakukan pemeriksaan
terhadap pil itu, nyatanya pil ini sama sekali tak mengandung
racun."
"Kalau memang bukan obat racun, mengapa
Tio-pangcu tidak menelannya?" tanya Bong
Thian-gak keheranan.
"Sebab aku pun tidak percaya sudah
terkena serangan gelap Hek-mo-ong, selain itu aku pun beranggapan
andaikata pil itu baru ditelan sebelum bekerjanya racun itu, hal ini
pun belum terhitung terlalu terlambat."
"Seandainya kita benar-benar terkena
serangan gelapnya, maka teka-teki siapakah Hek-mo-ong pun segera
akan terbongkar."
"Bong-laute, apakah kau menduga
Tan Sam-cing adalah Hek-mo-ong?"
pelan-pelan Tio Tian-seng bertanya.
"Kecuali di saat kita berada dalam
Sam-cing-koan tempo hari, aku benar-benar tak bisa membayangkan
sejak kapan dan dimanakah kita terkena serangan gelap Hek-mo-ong."
"Masih ingatkah Bong-laute dengan
gigitan nyamuk penghancur darah tempo hari?" tanya Tio Tian-seng.
"Bukankah racun nyamuk penghancur darah
telah dipunahkan obat penawar racun pemberian Biau-kosiu?"
"Yang menjadi persoalan sekarang adalah
siapakah yang telah melepas nyamuk penghancur darah itu?"
"Orang itu tentu Biau-kosiu!"
"Atas dasar apakah kau dapat membuktikan
perbuatan ini hasil karyanya?"
"Aku tak bisa membuktikan,"
Bong Thian-gak menggeleng. "Tapi
kita kan bisa mencari Biau-kosiu dan menanyakan hal ini secara
langsung kepadanya."
Mendadak dari luar halaman rumah
terdengar seorang berkata dengan suara merdu, "Jian-ciat-suseng,
persoalan apa yang hendak kau tanyakan kepadaku?"
Bersama dengan bergemanya pertanyaan
itu, di depan pintu telah muncul seorang nona berbaju hijau yang
cantik jelita, orang itu bukan lain
adalah gadis Biau yang misterius dan licik itu, Biau-kosiu.
Begitu bertemu nona itu.
Bong Thian-gak segera berkata dengan
suara lantang, "Silakan duduk nona Biau, maafkan badanku kurang
sehat sehingga tidak dapat menyambut kedatanganmu."
Dengan langkah lemah-gemulai, Biau-kosiu
berjalan masuk ke dalam ruangan, kemudian setelah memandang sekejap
wajah semua orang, dia duduk dan tertawa terkekeh-kekeh.
"Jian-ciat-suseng memang orang yang
sangat hebat," serunya, "Terbukti kau sanggup merebut pil
Hui-hun-wan."
Tio Tian-seng terkejut, segera tanyanya,
"Ya, betul! Aku lupa menanyakan hal ini. Bong-laute, bagaimana
ceritanya hingga kau bisa mendapatkan pil Hui-hun-wan."
Bong Thian-gak
sendiri pun terkejut, segera pikirnya, "Haruskah kuceritakan
pengalamanku ketika mendapatkan pil Hui-hun-wan?"
Sementara dia masih berpikir, tiba-tiba
Thay-kun telah menyela sambil tertawa geli, "Apakah kalian
menganggap pulihnya kesadaran olakku ini dikarenakan aku telah
menelan pil Hui-hun-wan buatan si tabib sakti?"
Bong Thian-gak
tertegun, kembali dia berpikir, "Kenapa Thay-kun menyangkal dia
telah menelan pil Hui-hun-wan."
Biau-kosiu melirik sekejap ke arah
Thay-kun, kemudian setelah tertawa dingin jengeknya, "Benarkah kau
tidak menelan pil Hui-hun-wan? Hm, aku kurang percaya."
Thay-kun tersenyum, "Apakah aku sudah
menelan pil Hui-hun-wan atau tidak, apa hubungannya dengan dirimu?"
"Aku harus tahu siapakah yang telah
memberi pil Hui-hun-wan itu kepadamu?" ucap Biau-kosiu dengan suara
dingin.
"Bukan pemberian
Bong Thian-gak, bukan juga si tabib
sakti."
"Lantas siapa?" desak Biau-kosiu lebih
jauh.
"Boleh saja kuberitahu hal ini kepadamu,
tapi ada syarat yang harus
kau penuhi lebih dulu, kau harus memberitahukan dulu kepadaku
maksudmu menanyakan hal ini."
Sekarang Bong
Thian-gak baru mengerti, rupanya Thay-kun menyangkal
telah menelan pil Hui-hun-wan, sebab dia merasa perkataan Biau-kosiu
sangat mencurigakan.
Biau-kosiu berkerut kening, katanya,
"Hui-hun-wan merupakan benda mustika, semua orang ingin
memperolehnya."
"Kalau begitu, kau juga berharap
mendapatkan pil Hui-hun-wan itu?"
"Aku telah memberitahukan maksudku,
sekarang kau harus memberitahukan pula kepadaku siapa yang
memberikan pil Hui-hun-wan kepadamu."
"Keng-tim Suthay Nyo Li-beng."
"Dimana ia sekarang?" desak Biau-kosiu.
"Dia telah meninggal," Thay-kun menghela
napas panjang.
Biau-kosiu mengerut dahi, ujarnya, "Kau
benar-benar ngaco-belo. Bila kau tidak mengatakan dimanakah dia
sekarang, aku tak akan bersikap sungkan lagi kepadamu."
Tiba-tiba Bong
Thian-gak menghela napas sedih, selanya, "Nona Biau,
Keng-tim Suthay memang sudah meninggal. Tio-pangcu telah memeriksa
jenazahnya."
Mo-kiam-sin-kun yang berada di depan
cepat menambahkan pula dengan suara dalam, "Keng-tim Suthay tewas di
dalam gua Kiu-thian-tong di bawah kuil Sam-cing-koan. Siapa yang
telah mencelakainya hingga kini masih merupakan teka-teki."
Mendadak hawa membunuh menyelimuti wajah
Biau-kosiu, mendadak dia melepaskan pukulan dahsyat ke dada
Thay-kun.
Menghadapi datangnya ancaman itu,
Thay-kun tersenyum, telapak tangannya dibalik untuk memusnahkan
serangan itu, kemudian katanya, "Di antara kita tiada dendam ataupun
sakit hati, mengapa kau melancarkan serangan keji kepadaku?"
"Bila aku tidak berusaha membunuhmu
sekarang, maka tiga tahun kemudian kau akan menjadi jago paling
tangguh di dunia persilatan," kata Biau-kosiu dingin.
Sembari berkata, Biau-kosiu melejit ke
tengah udara lalu dengan suatu gerakan aneh tapi sakti, dia
melancarkan tiga serangan berantai.
Bong Thian-gak
serta Tio Tian-seng yang menyaksikan gerakan serangannya kontan
berubah wajahnya, baru sekarang mereka tahu
gadis suku Biau ini sesungguhnya
memiliki ilmu silat yang amat lihai dan dia merupakan tokoh sakti
yang amat tangguh dan tidak boleh dianggap enteng, sudah barang
tentu Thay-kun sendiri bukan seorang lemah, tampak dia menggerakkan
pinggangnya dengan lemah-gemulai, lahu-tahu semua ancaman berhasil
dihindari.
Sambil tertawa ringan, katanya,
"Bagaimana penjelasanmu atas perkataan yang telah kau ucapkan tadi?
Apakah sebutir pil Hui-hun-wan saja dapat menciptakan diriku menjadi
manusia super?"
Setelah melepaskan ketiga serangan
dahsyat itu, mendadak Biau-kosiu menarik kembali serangannya sambil
mundur selangkah, katanya tertawa dingin, "Ilmu silatmu lumayan
juga, beranikah kau menyambut seranganku lagi?"
Bong Thian-gak
cukup mengerti bahwa Biau-kosiu tentu akan menyiapkan serangan yang
lebih dahsyat lagi dalam serangannya nanti, cepat ia berseru, "Nona
Biau, harap jangan menyerang dulu, ada persoalan yang hendak
kubicarakan kepadamu."
Sedang Tio Tian-seng dengan suara berat
berkata pula, "Harap nona
jangan melancarkan serangan lebih dulu, ada suatu persoalan ingin
kutanyakan kepadamu."
"Apakah kau ingin menanyakan masalah
nyamuk penghancur darah itu?" tukas Biau-kosiu.
"Benar, kami ingin tahu siapakah orang
yang telah melepaskan nyamuk penghancur darah itu untuk mencelakai
kami?"
"Aku."
"Jika kau, kami pun dapat merasa lega."
Biau-kosiu tertawa dingin, kembali
berkata, "Tahukah kalian, siapa yang
telah meminta bantuan kepadaku untuk melepaskan nyamuk penghancur
darah guna mencelakai kalian?"
"Siapa?" tanya
Bong Thian-gak tanpa terasa.
"Hek-mo-ong. Obat penawar racun yang
kuberikan kepada kalian adalah
penawar racun nyamuk penghancur darah itu pun merupakan pemberian
Hek-mo-ong yang meminta kepadaku untuk disampaikan kepada kalian.
Oleh sebab itu kalian berdua sebenarnya sudah terkena serangan gelap
Hek-mo-ong, mati hidup kalian telah berada pada cengkeramannya."
Paras muka
Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng menjadi pucat-pias.
Thay-kun tersenyum, katanya, "Rupanya
kau punya hubungan cukup intim dengan Hek-mo-ong, sebenarnya
siapakah Hek-mo-ong?"
"Tentu saja aku tahu siapa dia, tapi aku
takkan memberitahukan kepada kalian."
Thay-kun segera tertawa dingin, "Padahal
aku juga tahu kau pun tidak mengetahui siapakah Hek-mo-ong,
seandainya tahu, sudah pasti dia Hek-mo-ong gadungan."
Biau-kosiu tersenyum, segera tanyanya,
"Darimana kau bisa tahu kalau dia adalah gadungan?"
"Sebab aku sudah mengetahui sejak tadi
bahwa apa yang kau ucapkan semua pada hari ini cuma perkataan bohong
belaka."
"Bohong juga boleh, tidak bohong pun
boleh juga, pokoknya yang pasti kalian bertiga sudah tidak jauh dari
kematian."
Mendadak Bong
Thian-gak berkata dengan suara dingin, "Mati bukanlah
suatu kejadian yang menakutkan, biarpun manusia hidup seratus tahun
lagi juga akhirnya akan mati juga."
Biau-kosiu berpaling dan memandang
sekejap ke arahnya, lalu berkata, "Bila kau pecaya padaku, aku pun
dapat menyelamatkan jiwa, kalian dari kematian."
"Syarat apa yang hendak kau ajukan
kepada kami?" tanya Thay-kun sambil tertawa merdu.
Biau-kosiu tertawa dingin, katanya,
"Menyelamatkan jiwa orang bagaikan mempunyai orang tua baru, aku
tidak bisa menyelamatkan jiwa seseorang begitu saja."
"Apa yang kau inginkan, utarakan saja!"
"Aku hanya berharap kalian membantuku
membunuh Liong Oh im."
"Soal itu kami dapat menerimanya, tapi
sekarang separoh badan Jian-ciat-suseng lumpuh. Pertama-tama, kau
harus mengobati dirinya lebih dulu."
"Separoh badannya lumpuh, hal ini
dikarenakan ada hawa murninya yang menyumbat sebagian jalan
darahnya, asalkan sebuah
pukulan menghantam persis di atas jalan darah Wi-liong-hiat, dia
akan sembuh seperti sediakala."
Sembari berkata, tiba-tiba Biau-kosiu
melepaskan tendangan kilat persis menghajar badan
Bong Thian-gak, akibatnya tubuh anak
muda itu mencelat ke belakang.
Ketika terjatuh ke atas tanah,
Bong Thian-gak telah memperoleh
kesegaran kembali, keempat anggota badannya dapat digerakkan bebas
seperti sediakala.
"Suheng apakah kau telah sembuh?"
Thay-kun segera bertanya.
Bong Thian-gak
menghela napas panjang, "Ya, aku telah sembuh, namun aku harus pergi
membunuh orang."
Terhadap kemampuan Biau-kosiu dalam
mengobati seseorang, baik
Thay-kun maupun Tio Tian-seng merasa terkejut bercampur keheranan,
sebenarnya mereka mengira Biau-kosiu hanya bicara secara ngawur
tanpa bukti nyata, siapa pun tak menyangka tendangannya ternyata
berhasil membebaskan Bong
Thian-gak dari ancaman kelumpuhan.
Tio Tian-seng menghela napas sedih,
kemudian berkata, "Tidak kusangka ilmu pertabiban nona begitu hebat,
sungguh membuat orang kagum, tapi tolong tanya apakah di dalam tubuh
kami benar-benar sudah terkena serangan gelap Hek-mo-ong? Harap nona
sudi memberi petunjuk."
Biau-kosiu tertawa ringan, "Tentu saja
kalian terkena serangan gelap Hek-mo-ong, cuma saja sebelum batas
waktu yang ditetapkan dalam kartu kematian tiba, kalian tidak bakal
menemui ajal."
Bong Thian-gak
bertanya, "Tolong tanya nona Biau, dimanakah
Liong Oh-im sekarang?"
"Malam nanti Liong Oh-im bakal muncul di
sekitar jembatan Lok-yang-kian. Kalian boleh menyergapnya di situ.
Ingat! Dalam tubuh kalian masih mengidap racun jahat dan hanya aku
seorang yang mampu mengobatinya, harap kalian jangan menggunakan
nyawa sendiri sebagai taruhan. Nah, aku pergi dulu!"
"Tunggu sebentar!" buru-buru Thay-kun
berseru melihat Biau-kosiu akan pergi.
"Kau masih ada urusan apa lagi?"
"Liong Oh-im bukan jago silat biasa,
seandainya kami tidak berhasil membunuhnya?"
"Bila tak mampu melukainya, kalianlah
yang akan terluka, tentu saja dia bukan seorang lemah."
"Masih ada satu hal lagi, benarkah kau
memiliki kemampuan memunahkan racun yang mengeram dalam tubuh
mereka?"
Biau-kosiu tertawa dingin, segera dia
berkata, "Mau percaya atau tidak terserah kepada kalian, nah aku
pergi dulu."
Dengan cepat ia beranjak keluar dari
ruangan itu dan pergi meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal nona itu, Tio Tian-seng
berkata, "Ombak belakang sungai Tiang-kang mendorong ombak di
depannya, orang baru akan menggantikan orang lama. Ai, aku memang
sudah tua."
Teringat kembali kegagahannya semasa
masih menjagoi dunia persilatan di masa lampau, Mo-kiam-sin-kun Tio
Tian-seng menghela napas sedih dengan wajah masgul.
Thay-kun tersenyum dan berkata,
"Tio-pangcu, mengapa kau menghela napas? Dalam dunia persilatan
dewasa ini cuma beberapa gelintir manusia saja yang mampu menandingi
permainan pedang iblismu?"
Sekali lagi Tio Tian-seng menghela napas
sedih, "Aku menjadi malu sendiri setelah menyaksikan kalian angkatan
muda ternyata rata-rata memiliki kepandaian silat yang amat lihai."
"Ai, andaikata
To Siau-hou dan Han Siau-liong tidak
terluka, aku pun tidak akan merasa diriku sebatangkara."
"Tio-pangcu, aku dan Thay-kun berdiri di
pihakmu, selanjutnya bila kau membutuhkan bantuan kami, kami pasti
akan membantumu sekuat tenaga," timbrung
Bong Thian-gak.
Tio Tian-seng tertawa tergelak, "Setelah
mendengar perkataan Bong-laute ini, semangatku kembali berkobar."
Bong Thian-gak
bertanya, "Tio-pangcu, Boanpwe merasa bingung terhadap situasi kalut
yang melanda dunia persilatan dewasa ini, aku benar-benar tak
mengerti tujuan Hek-mo-ong merencanakan segala siasat liciknya
menteror dunia persilatan?"
Mendapat pertanyaan ini, Tio Tian-seng
menghela napas panjang,
"Bong-laute, agaknya Liu Khi telah
membocorkan sedikit hal yang sebenarnya kepadamu. Ai, hingga
sekarang belum ada seorang pun yang mengetahui siapa gerangan
Hek-mo-ong."
"Menurut Liu Khi, Tio-pangcu pun
kemungkinan besar adalah Hek-mo-ong.
Bagaimana pendapat Tio-pangcu sendiri?"
Tio Tian-seng manggut-manggut sambil
menghela napas panjang, "Benar, kemungkinan besar aku pun terhitung
Hek-mo-ong, cuma Hek-mo-ong gadungan."
Sampai di sini dia berhenti sejenak,
kemudian sambungnya, "Mengenai sepuluh jago yang dicurigai sebagai
Hek-mo-ong, hal ini bersumber pada peristiwa yang telah terjadi tiga
puluh tahun berselang."
Mendadak paras mukanya berubah hebat,
kemudian bentaknya dengan suara dingin, "Siapa berada di luar?
Mengapa mesti sembunyi-sembunyi dan mencurigakan?"
Belum habis dia berkata, seseorang sudah
menyelinap dari luar pintu, Liu Khi telah masuk ke dalam ruangan
sambil tertawa tergelak.
"Sejak kapan Tio-pangcu datang ke
Lok-yang?" sapanya.
Kemunculan Liu Khi membuat hati
Bong Thian-gak tergerak, pikirnya,
"Mungkinkah di antara mereka akan terjadi bentrok?"
Sementara itu Mo-kiam-sin-kun Tio
Tian-seng telah menjawab dengan serius, "Setelah aku menerima surat
pemberitahuan lewat pos merpati yang menerangkan
To Siau-hou dan Han Siau-liong
terluka serta jiwanya terancam bahaya, aku segera datang ke
Lok-yang, maksudku hendak mencari tabib sakti Gi Jian-cau untuk
mengobati luka Liong-ji dan Hou-ji."
"Apakah Pangcu telah berhasil menemukan
Gi Jian-cau?" tanya Liu Khi.
"Belum berhasil kutemukan."
"Aku telah menemukan Gi Jian-cau."
Ucapannya ini segera menggetarkan hati
setiap orang.
Bong Thian-gak
yang pertama-tama berseru terlebih dahulu, "Dimanakah
tabib sakti Gi Jiau-cau sekarang?"
Pelan-pelan Liu Khi berjalan ke sisi
Bong Thian-gak dan duduk di
situ,
kemudian baru sahutnya, "Dia berada di Lok-yang."
"Di Lok-yang bagian mana?" sela
Thay-kun.
Liu Khi
memandang sekejap ke arahnya, lalu tersenyum, katanya, "Rupanya kau
telah memperoleh kembali kesadaranmu."
Semua orang ingin secepatnya mengetahui
tempat persembunyian Gi Jian-cau, siapa tahu Liu Khi justru jual
mahal dengan mengalihkan pembicaraan ke soal lain, tentu saja hal
itu membuat semua orang gemas.
Setelah tersenyum manis, jawab Thay-kun,
"Terima kasih banyak atas perhatian Liu-cianpwe. Di samping itu,
mohon kepada Liu-cianpwe agar selekasnya memberitahukan kepada kami
tempat persembunyian Gi Jian-cau."
Liu Khi tersenyum.
"Apabila aku memberitahukan tempat
persembunyian tabib sakti Gi Jian-cau kepada kalian, maka hari ini
kalian tak akan bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat."
Sambil berkata, sepasang matanya
mengawasi Tio Tian-seng tanpa berkedip.
Bong Thian-gak
yang menyaksikan hal ini diam-diam berpikir kembali, "Mungkinkah Liu
Khi akan melancarkan serangan di saat musuh tak menyerang?
Seandainya dia melancarkan serangan, dapatkah Tio Tian-seng
melepaskan diri dari bacokan itu?"
Sementara itu Thay-kun dengan wajah
berubah hebat berpaling dan memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng.
Tampak wajah Tio Tian-seng amat serius,
jawabnya dengan suara berat, "Liu Khi, konon kau adalah seorang
pembunuh bayaran?"
"Bukankah soal ini telah lama Pangcu
ketahui?" sahut Liu Khi sambil tersenyum.
"Tapi tahukah kau, mengapa selama ini
aku berlagak pilon seolah-olah tidak tahu," kembali Tio Tian-seng
berkata.
Liu Khi tertawa dingin.
"Pangcu pernah tiga kali ingin
menghadapiku dengan kekerasan, namun setiap kali niatmu itu kau
urungkan."
"Kau pun sudah tiga kali bermaksud
membunuhku," kata Tio Tian-seng pula dengan hambar.
"Yang seorang adalah anak buah yang
tidak bisa dipercaya, sedangkan yang seorang lagi adalah atasan yang
tidak setia. Tampaknya kita berdua memang setali tiga uang,
sama-sama bobroknya."
Bong Thian-gak
menghela napas sedih, katanya, "Liu-tayhiap dan Tio-pangcu, apakah
bersedia mendengar nasehat Boanpwe? Dunia persilatan saat ini sedang
dicekam teror kaum iblis, apabila kalian berdua saling percaya dan
bekerja sama dengan baik, aku pikir nama Kay-pang tentu akan lebih
termasyhur."
Liu Khi melirik sekejap ke arah
Bong Thian-gak, kemudian katanya,
"Ada satu persoalan aku pun ingin memberitahukan kepadamu, jangan
sekali-kali mau diperalat orang lain."
"Diperalat siapa?" tanya
Bong Thian-gak dengan wajah tidak
habis mengerti.
"Oleh Hek-mo-ong."
"Hek-mo-ong hendak memperalat kami? Apa
tujuannya?"
"Memperalat kau dan Thay-kun untuk
membunuh Liong Oh-im."
Bong Thian-gak
menjerit kaget, "Maksudmu Biau-kosiu adalah
Hek-mo-ong?"
Liu Khi menggeleng kepala.
"Bukan, dia bukan Hek-mo-ong, dia kuku
garuda Hek-mo-ong yang diandalkan."
"Benarkah perkataanmu itu?" tanya
Bong Thian-gak agak tertegun.
"Aku tidak berbohong."
Thay-kun yang selama ini membungkam,
segera menyela sambil tertawa ramah, "Tampaknya apa yang telah kami
bicarakan dengan Biau-kosiu barusan telah kau dengar semua. Kalau
memang begitu, mungkin kau pun sudah tahu bahwa kami telah
menyanggupi untuk membunuh orang dan hal ini terpaksa kami terima
karena keadaan terpaksa."
Dengan wajah serius dan
bersungguh-sungguh kembali Liu Khi berkata, "Apabila kalian bersedia
mempercayai diriku, malam ini jangan kalian
datangi jembatan Lok-yang-kian."
"Apakah Liu-tayhiap sudah tahu Suhengku
telah menerima kartu undangan kematian Hek-mo-ong?" kata Thay-kun
sambil tersenyum. "Dia sudah
terkena racun jahat dan kemungkinan besar racun itu akan bekerja
setiap saat."
Liu Khi tersenyum sambil berpikir
sejenak, lalu berkata, "Bilamana dugaanku tidak salah, saat ini
Bong Thian-gak masih belum
terkena serangan beracun
Hek-mo-ong."
"Tapi dia pun ada kemungkinan keracunan,
bukan?" tanya Thay-kun sambil tersenyum.
Tiba-tiba Liu
Khi menghela napas panjang, "Benar, dia pun ada kemungkinan terkena
racun."
"Apabila Liu-tayhiap dapat mengundang Gi
Jian-cau melakukan pemeriksaan baginya, maka kita akan segera dapat
membuktikan apakah dalam tubuhnya sudah keracunan atau belum."
Mendengar perkataan itu, Liu Khi
berkata, "Ai, sayang sekali si tabib sakti Gi Jian-cau telah
meninggal dunia."
"Dia sudah mati?" tanya
Bong Thian-gak dengan terkejut.
Dalam pikiran
Bong Thian-gak, di Kangouw orang yang paling besar
kemungkinannya sebagai Hek-mo-ong adalah Gi Jian-cau.
Tapi Gi Jian-cau telah mati, mau tak mau
hal itu membuatnya setengah
percaya.
Setelah menghela napas, kembali Liu Khi
berkata, "Dia mati dalam
keadaan amat mengerikan. Bilamana kalian tidak percaya, aku bersedia
mengajak kalian melihat jenazahnya."
"Andaikata dia bukan Hek-mo-ong, mengapa
dia meninggalkan surat yang
menyuruhku membunuhnya?" terdengar Bong
Thian-gak
bergumam. "Benar-benar aneh, sungguh membuat orang bimbang di tidak
mengerti."
Yang dimaksud
Bong Thian-gak tentu saja Keng-tim Suthay.
"Sewaktu berada di dalam gua
Mi-hun-kiu-thian-tong di bawah
kuil Sam-cing-koan, dia melihat tulisan di kaki Keng-tim Suthay
telah menjadi mayat,
'Tabib sakti Gi jian-cau harus dibunuh'.
Ini pesan yang
ditinggalkan olehnya."
Oleh karena hal ini
Bong Thian-gak selalu mencurigai
tabib itu kemungkinan besar
dia adalah Hek-mo-ong yang misterius itu.
|
Thay-kun ikut menghela napas, katanya,
"Berita kematian Gi Jian cau
benar-benar membuat orang tidak percaya. Ai, semasa hidupnya, dia
orang tua paling baik terhadapku, setelah dia mati sekarang, aku harus
pergi menyambangi jenazahnya."
Thay-kun minta kepada Liu Khi agar
mengajak mereka menjeng jenazah Gi Jian-cau.
Liu Khi manggut-manggut menyetujui.
"Kalau memang begitu, harap kalian
mengikuti diriku."
Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru,
"Bong-laute, aku rasa lebih baik kalian
jangan pergi ke sana."
"Kenapa?" tanya pemuda itu keheranan.
Dengan suara dalam dan berat, Tio
Tian-seng berkata, "Orang yang
sudah mati tak akan bisa hidup kembali, kepergian kalian ke sana
tak ada gunanya."
Thay-kun kembali menghela napas.
"Tabib sakti Gi Jian-cau tercantum
namanya sebagai salah satu di antara
sepuluh jago lihai persilatan, ilmu silat yang dimilikinya sangat
lihai. Boanpwe benar-benar tidak percaya dia orang tua telah
tertimpa musibah."
"Oh Ciong-hu juga memiliki kepandaian
silat tangguh, tapi kenyataan dia juga mati terbunuh," kata Tio
Tian-seng dengan suara sangat
hambar.
Satu ingatan segera melintas dalam benak
Bong Thian-gak, segera
tanyanya, "Tio-pangcu, tampaknya lamat-lamat kau telah mengetahui
siapakah pembunuh guruku
dulu?"
"Kemungkinan besar orang itu adalah
Hek-mo-ong."
Tiba-tiba Liu Khi menyela sambil tertawa
dingin, "Sebenarnya kailan berdua bersedia ikut aku atau tidak?
Kalau tidak, aku akan segera mohon
diri."
"Silakan Liu-tayhiap menjadi petunjuk
jalan!" jawab Thay-kun dengan segera.
Sembari berkata, dia lantas mengikuti
Liu Khi beranjak keluar dari ruangan
itu.
Terpaksa Bong
Thian-gak menjura kepada Tio Tian-seng seraya Mei kata,
"Tio-pangcu, Boanpwe akan pergi sejenak."
Selesai berkata, dia pun membalikkan
badan dan beranjak pergi pula
dari situ.
Kini tinggal Tio Tian-seng seorang yang
duduk dalam ruangan, dengan
wajah tanpa emosi ia bergumam, "Mungkin kalian tak akan kemhali
lagi."
Sementara itu Liu Khi telah mengajak
Bong Thian-gak dan Thay-kun
meninggalkan rumah penginapan Ban-heng dan berangkat menuju keluar
kota,
Saat itu fajar baru saja menyingsing,
orang yang berlalu-lalang di jalanan pun masih sedikit, mereka
berlarian menuju ke kota bagian barat.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Liu
Khi menghentikan langkah, lalu tanyanya, "Sudah berapa lama kalian
berdua bergaul dengan Tio Tian-seng?"
"Apa maksud Liu-tayhiap menanyakan hal
ini?" tanya Bong Thian-gak
berkerut kening.
Liu Khi melirik sekejap ke arahnya,
tanyanya lagi, "Bagaimanakah pendapat kalian tentang watak serta
tabiat Tio Tian-seng?"
.
Bong Thian-gak
dapat menangkap di balik kata-kata Liu Khi ada maksud mengadu domba,
maka sahutnya dengan hambar, "Tio-pangcu bukanlah orang yang susah
didekati seperti apa yang diduga orang."
"Tentunya Liu-tayhiap lebih memahami
watak serta tabiat Tio-pangcu daripada orang lain, bukan?" Thay-kun
menyela sambil tertawa merdu.
Liu Khi menghela napas panjang.
"Sudah sepuluh tahun lamanya aku
menyelundup dalam Kay-pang, tapi hingga kini aku masih belum dapat
meraba secara jelas watak serta tabiat Tio Tian-seng sesungguhnya."
Bong Thian-gak
tertegun, tanyanya lebih jauh, "Apakah maksud Liu-tayhiap
menyelundup ke Kay-pang untuk menyelidiki watak serta tabiat Tio
Tian-seng?"
"Benar," Liu Khi menghela napas panjang.
"Sebenarnya aku ingin menyelidiki peristiwa berdarah itu."
"Peristiwa berdarah yang mana? Apakah
Liu-tayhiap bersedia menjelaskan?" tanya Thay-kun sambil tersenyum.
Liu Khi berjalan menuju keluar kota yang
sepi, sambil berjalan ujarnya, "Peristiwa berdarah ini terjadi tiga
puluh tahun berselang!"
Sampai di situ tiba-tiba dia menghela
napas panjang, kemudian mengalihkan pembicaraan ke soal lain.
"Peristiwa berdarah ini menyangkut
situasi dunia persilatan serta ,
nama baik jago kenamaan. Sebelum duduknya persoalan menjadi
jelas dan terang, aku tidak berani bicara dulu secara sembarangan."
Bong Thian-gak
merasa kecewa atas jawaban itu, katanya, "Entah sampai kapan
teki-teki itu baru bisa terjawab?"
"Hek-mo-ong telah menampakkan diri di
kota Lok-yang, berarti duduknya persoalan akan segera tertungkap."
"Lagi-lagi Hek-mo-ong. Ai, sebenarnya
manusia macam apakah dia?"
"Liu-tayhiap, entah jenazah Gi Jian-cau
berada dimana?" Thay-kun menyela.
"Dalam Ban-jian-bong, tiga li di luar
kota sebelah barat."
"Ban-jian-bong (kuburan selaksa orang)?
Bukankah tempat itu merupakan tempat penitipan jenazah orang dari
luar kota?"
"Setelah Gi Jian-cau tewas, jenazahnya
telah dimasukkan ke dalam peti mati dan dikirim ke Ban-jian-bong
untuk sementara waktu."
Mendadak Thay-kun bertanya, "Apakah Liu
Khi kenal wajah asli si tabib sakti?"
Liu Khi menghela napas panjang.
"Aku justru mengajak nona mendatangi
Ban-jian-bong, karena aku berharap kau bisa mengenali wajah korban,
apakah benar tabib sakti atau
bukan, sebab aku tahu di kolong langit ini hanya kau serta
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau dan Keng-tim Suthay yang mengenali wajah
asli Gi Jian-cau."
"Ah, kalau begitu kedatangan Liu-tayhiap
ke rumah penginapan Ban-heng
adalah untuk mencari diriku?" Thay-kun berseru pelan.
"Masih ada satu alasan lagi, yaitu
mengajak kalian meninggalkan Tio Tian-seng sejauh-jauhnya."
"Mengapa?" tanya
Bong Thian-gak heran.
"Sebab Tio Tian-seng dicurigai sebagai
Hek-mo-ong."
Mendengar itu,
Bong Thian-gak tersenyum.
"Bukankah Liu-tayhiap sendiri dicurigai
sebagai Hek-mo-ong?"
"Benar, kemarin malam aku sudah bilang
di antara sepuluh jago lihai persilatan, hampir semuanya dicurigai
sebagai Hek-mo-ong, kini aku sengaja mengajak kalian untuk mengenali
jenazah Gi Jian-cau karena aku ingin kepastian apakah salah seorang
yang dicurigai telah hilang. Jika
demikian, lambat-laun kita akan mendekati pembunuh yang
sebenarnya, siapakah Hek-mo-ong yang
sebenarnya."
"Dari sepuluh orang jago lihai
persilatan, entah sudah berapa orang yang dapat Liu-tayhiap buktikan
bukan Hek-mo-ong?" tiba-tiba Thay-kun bertanya.
"Sudah ada lima orang."
"Siapa saja kelima orang itu?"
"Ku-lo Sinceng, Oh Ciong-hu, Kui-kok
Sianseng serta Song-ciu suami-istri."
"Bila termasuk kau dan Gi Jian-cau,
bukankah berarti sudah ada tujuh orang?"
Liu Khi manggut-manggut.
"Benar, yang tersisa tinggal tiga orang
saja yaitu Tio Tian-seng, Tan
Sam-cing serta Liong Oh-im."
Thay-kun memandang sekejap hutan bambu
di depan situ, lalu katanya, "Kita sudah sampai di Ban-jian-bong."
Bong Thian-gak
memandang sekeliling tempat itu. Tampak sebuah hutan bambu, di balik
hutan bambu nan hijau secara lamat-lamat kelihatan pekarangan.
Liu Khi mendatangi lebih dulu pekarangan
pertama, lalu berhenti. Tanyanya kemudian sambil berpaling, "Apakah
kalian pernah datang kemari?"
"Ban-jian-bong merupakan tempat
termasyhur, aku sudah tiga kali berkunjung kemari."
Saat itu tampaknya
Bong Thian-gak terkesima oleh
pemandangan yang terbentang di hadapannya. Dengan mata mendelong,
dia mengawasi peti-peti mati yang berjajar di bawah pohon bambu itu
tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ternyata tempat penitipan peti mati
adalah di bawah pohon bambu di halaman yang luas itu.
Sejauh mata memandang, sekeliling
halaman pertama penuh ditumbuhi pepohonan bambu yang hijau.
Peti-peti mati bercat merah terletak di bawah pohon bambu yang
rindang itu, jumlahnya mencapai ratusan buah sehingga mendatangkan
suasana seram dan menggidikkan.
Ban-jian-bong terdiri dari tujuh belas
halaman, apakah semua dipergunakan untuk menyimpan peti mati? Lantas
berapa mayat yang tersimpan di situ?
Liu Khi memandang sekejap ke arah
Bong Thian-gak, kemudian katanya,
"Bong-siauhiap belum pernah mendatangi Ban-jian-bong, kuharap kau
jangan sembarangan bergerak daripada akhirnya tersesat dan tak tahu
jalan pulang."
Liu Khi mengajak kedua orang itu
berjalan menuju ke dalam halaman pertama.
Ternyata dari tujuh belas halaman
Ban-jian-bong itu, setiap halaman dijaga dan diurus oleh delapan
belas pendeta.
Setelah memasuki halaman pertama, Liu
Khi mengemukakan maksud kedatangannya kepada Hwesio penerima tamu,
selanjutnya mereka diajak menuju ke halaman kesembilan.
Hwesio yang mengepalai halaman itu
adalah Hwesio berjubah kuning yang gemuk, berusia empat puluh tahun
dan membawa sebuah tasbih di lehernya.
Tampaknya Hwesio itu sangat mengenal Liu
Khi, ketika melihat kedatangan jago ini, dia segera memberi hormat
seraya menyapa, "Liu-sicu, sepagi ini kau telah datang?"
Liu Khi manggut-manggut membalas hormat,
jawabnya, "Aku membawa sobat dari sang jenazah yang hendak
menyambangi. Harap Taysu sudi mempersiapkan hio, lilin dan uang
pengorbanan bagi kami."
"Silakan Sicu bertiga duduk dulu,
Pinceng akan menyuruh orang menyiapkannya."
Ruang tengah itu merupakan ruang terima
tamu. Liu Khi, Bong Thian-gak
serta Thay-kun terpaksa duduk menanti.
Lebih kurang sepeminuman teh kemudian,
Hwesio gemuk berjubah kuning itu sudah muncul kembali sambil membawa
dua orang I Iwesio muda berjubah kuning yang membawa keranjang
kecil, katanya, "Maaf bila menanti lama, Pinceng mengutus kedua
muridku ini untuk melayani kalian."
Bong Thian-gak
mengerti isi keranjang yang dibawa kedua Hwesio itu tentu uang
pengorbanan, hio, lilin dan alat sembahyang lainnya.
Dari dalam sakunya Liu Khi mengeluarkan
sedikit uang perak yang diserahkan kepada Hwesio gemuk itu sambil
ujarnya, "Harap Siau-suhu berdua sudi membuka jalan."
"Terima kasih banyak atas derma
Liu-sicu," Hwesio gemuk itu menerima uang tadi sambil mengucapkan
terima kasih.
Dalam pada itu kedua orang Hwesio muda
tadi telah mengajak Liu Khi bertiga keluar dari ruang tamu dan
memasuki hutan bambu yang penuh dengan deretan peti mati itu.
Pagi hari sudah lewat, matahari bersinar
cerah di angkasa, namun suasana di balik hutan bambu dalam
Ban-jian-bong ini tampak remang-remang, seperti suasana senja,
sepanjang tahun seakan-akan tak pernah tersorot matahari.
Bong Thian-gak
mengikut di belakang kedua Hwesio itu dengan ketat, setelah melewati
jalanan kecil yang membentang di balik hutan bambu itu, akhirnya
kedua Hwesio itu berhenti di depan sebuah gundukan tanah.
Dengan ketajaman mata
Bong Thian-gak, sekilas pandang saja
dia telah melihat di depan gundukan tanah itu terdapat sebuah batu
nisan yang berukirkan beberapa tulisan:
"Tempat bersemayam Gi Jian-cau".
Tanpa terasa Thay-kun bertanya, "Siapa
yang telah mengukir tulisan di atas batu nisan itu?"
Setelah menghela napas, sahut Liu Khi,
"Orang yang menitipkan jenazah itu berpesan kepada petugas di sini
agar mengukir huruf itu di atas batu nisannya."
Sementara mereka sedang berbicara, kedua
Hwesio muda itu sudah bekerja sama menggeser batu nisan itu ke
samping, ternyata di balik gundukan tanah itu merupakan sebuah gua,
sebuah peti mati berwarna merah tampak membujur di dalam gua itu.
Thay-kun berseru tertahan, "Suhu berdua,
harap letakkan saja hio dan alat sembahyang itu ke atas tanah. Di
sini sudah tak ada urusan kalian, satu jam kemudian kalian boleh
mengajak kami berlalu dari sini."
Kedua Hwesio itu segera melaksanakan
seperti yang diminta Thay-kun, setelah meletakkan keranjang kecil
itu, mereka pun segera mengundurkan diri.
Pada saat itulah Thay-kun mengeluarkan
alat sembahyang, katanya, "Liu-tayhiap, dimana kau bisa tahu jenazah
Gi Jian-cau disimpan di tempat ini?"
Liu Khi menghela napas panjang, "Ai, aku
berhasil mendapatkan keterangan ini dari mulut seorang anak buah
Hek-mo-ong yang kusiksa."
"Mana orang itu sekarang?" kembali
Thay-kun bertanya. "Sudah mati karena keracunan hebat."
"Kalau begitu Liu-tayhiap pernah datang
kemari satu kali?" Sekali lagi Liu Khi mengangguk.
"Benar, kemarin aku sudah datang kemari
dan memeriksa pula keadaan jenazah dalam peti mati itu."
"Bagaimanakah bentuk jenazah itu?"
"Rambutnya awut-awutan, tujuh lubang
indranya berdarah dan dia mati dengan wajah menyeramkan, di atas
dada jenazahnya tertera cap tengkorak."
"Apakah Liu-tayhiap dapat menduga sudah
berapa lamakah matinya?"
Pertanyaan itu disambut Liu Khi dengan
suara helaan napas panjang.
"Ai, seluruh tubuhnya penuh darah, kulit
badannya tidak utuh, nampaknya seperti mati belum lama."
Tapi sampai di situ, dia menggeleng
kepala sembari berkata, "Sungguh aneh, bila darah mengalir keluar
dari tubuh seseorang, maka seperempat jam kemudian warna darah akan
berubah menjadi tua, tapi cairan
darah itu nampak merah
segar, seakan-akan baru saja mengucur keluar."
Thay-kun berkerut kening, lalu tanyanya,
"Ketika kau buka peti itu apakah
terendus sesuatu bau yang
harum?"
"Benar," Liu Khi mengangguk, "memang
terendus bau harum semerbak.
Darimana kau bisa tahu?"
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas
panjang, kemudian katanya, "Jadi
dalam peti telah diletakkan obat anti busuk, bau harum yang terendus
olehmu ketika membuka penutup peti mati tak lain adalah bau
obat anti busuk itu."
"Bagaimana kalau kubuka sekali lagi peti
mati itu?"
"Coba bukalah sekali lagi!"
Liu Khi segera
menarik tali peti mati dan menyeret peti itu hingga keluar dari gua,
kemudian pelan-pelan dibukanya penutup peti mati.
Tampak sesosok mayat yang menyeringai
seram dan dari ketujuh liilmng indranya mengucurkan darah membujur
di dalam peti mati.
Begitu penutup peti mati dibuka,
terendus bau harum semerbak yang sangat aneh.
Dengan memberanikan diri Thay-kun
mendekati peti mati itu dan mengamati jenazah itu dengan seksama
sampai lama, lama sekali tidak nampak bergerak ataupun bicara.
Liu Khi yang menyaksikan keadaan gadis
itu, segera bertanya, "Apakah jenazah itu adalah Gi jian-cau?"
Thay-kun menghela napas panjang, "Ai,
paras mukanya telah berubah sama sekali, sulit bagiku untuk
mengenalinya."
Mendadak pada saat itulah berkumandang
suara gemerutukan yang aneh sekali.
Dengan sorot matanya tajam
Bong Thian-gak berpaling ke arah
berasalnya suara aneh itu. Di bawah pohon bambu tampak sebuah
penutup peti mati sedang bergerak secara keras.
Suara aneh itu tak lain adalah suara
bergeseknya penutup peti mati.
Peristiwa ini kontan membuat beberapa
orang itu menarik napas, untung di arena terdapat tiga orang, lagi
pula semuanya jago lihai yang sudah berpengalaman luas dalam
menghadapi pertarungan. Coba kalau tidak, niscaya nyali mereka akan
pecah dan melarikan diri terbirit-birit.
Setelah bergetar empat kali, ternyata
penutup peti itu tak bergetar lagi, bahkan suasana di sekeliling
tempat itu dicekam keheningan.
Mendadak Liu Khi tertawa dingin,
kemudian bentaknya, "Siapa yang bersembunyi di dalam peti mati? Bila
tidak segera keluar, aku akan menyuruh kau mampus dalam peti mati
itu!"
Paras muka Thay-kun saat itupun berubah
menjadi amat serius, pelan-pelan ujarnya, "Liu-tayhiap, rasanya kita
sudah terkepung oleh musuh."
"Apa maksudmu?"
"Rasanya suasana di sekeliling tempat
ini agak aneh."
"Aku pun mempunyai perasaan yang aneh,"
kata Bong Thian-ga pula
dengan kening berkerut.
Liu Khi segera tersenyum, kemudian
katanya, "Peduli setan atau
dedemit, bila Liu Khi, Jian-ciat-suseng dan Si-hun-mo-li telah bekerja
sama, situasi macam apa pun masih sanggup kita hadapi."
Memang dewasa ini belum ada seorang pun
yang mampu menghadapi serangan gabungan mereka bertiga.
Pada saat itulah dari balik hutan bambu
di kejauhan sana tiba-tiba berkumandang lagi suara gesekan yang amat
ramai, suara langkah kaki menginjak daun.
Suara itu seakan datang dari empat
penjuru yang kian mendekat.
Sekarang Liu Khi,
Bong Thian-gak dan Thay-kun baru
mengerti dengan pasti bahwa musuh benar-benar telah mengurung tempat
itu.
Anehnya biarpun suara langkah kaki
menginjak daun bergema tiada hentinya, namun tidak nampak seorang
musuh pun yang muncul.
Liu Khi tiba-tiba tergelak, hardiknya,
"Siapakah kalian? Cepat tunjukkan diri, kalian tak usah
mempertunjukkan permainan semacam itu lagi, kami semua tak akan
percaya segala permainan sesat."
Ketika ucapan itu selesai diucapkan,
suara gemerisik langkah manusia yang menginjak daun pun segera
berhenti.
Tapi sebagai gantinya, suara gemerutuk
papan penutup peti yang semula terhenti itu kini mulai bergesek
lagi.
Bersamaan dengan menggemanya suara aneh
dari peti mati, mendadak Bong
Thian-gak menyaksikan ada begitu banyak peti
mati yang berlompatan kian kemari serta menimbulkan suara benturan
yang keras.
Bong Thian-gak
bertiga terkesiap dengan perasaan seram, bulu kuduk mereka berdiri.
Untung peristiwa semacam ini terjadi di
siang hari, coba di tengah malam, situasinya pasti akan lebih
menakutkan dan menggidikkan.
Paras muka Liu Khi sama sekali tak
berubah, sorot matanya yang tajam mengawasi tutup peti mati yang
berlompatan itu satu per satu, kemudian katanya, "Semuanya berjumlah
tiga belas peti yang berisi sukma gentayangan."
Liu Khi menerjang ke sisi peti mati yang
bergetar dan paling dekat dengan dirinya.
Gerak tubuhnya cepat luar biasa, namun
gerakan goloknya ternyata jauh lebih cepat lagi.
Tampak cahaya golok berkelebat, golok
kilatnya yang semula masih
tergantung di pinggang tahu-tahu sudah menusuk ke dalam peti mati
yang sedang melompat-lompat itu.
Tentu saja peti mati itu tidak
melompat-lompat lagi, namun tidak terdengar pula sedikit suara pun,
baik dengusan tertahan maupun jeritan ngeri.
Liu Khi bergerak cepat, goloknya
menyambar kian kemari bagai cahaya petir.
Secara beruntun golok mautnya telah
melancarkan tujuh tusukan beruntun ke arah tujuh peti mati.
Mendadak terdengar suara tertawa aneh
yang keras bagaikan lolong serigala bergema dari balik peti mati,
menyusul peti-peti mati itu bergerak cepat berputar di angkasa.
Kemudian tampak enam sosok orang aneh
bertubuh kaku seperti mayat hidup bersama-sama muncul dari balik
peti mati tadi.
Liu Khi segera tertawa tergelak penuh
rasa bangga, katanya, "Mengapa kalian tidak bersembunyi terus di
dalam peti mati itu?"
Sementara berbicara, Liu Khi telah
menyarungkan kembali golok saktinya itu ke dalam sarungnya, kemudian
orangnya juga mundur ke samping Bong
Thian-gak serta Thay-kun.
Sementara itu Thay-kun yang menyaksikan
permainan golok Liu Khi yang begitu dahsyat diam-diam merasa
terkejut juga, tanpa terasa pujnya, "Liu-tayhiap, permainan golokmu
memang benar-benar sangat dahsyat dan tiada taranya di dunia ini.
Golokmu ibarat permainan maut yang membuat setan-setan ketakutan."
Liu Khi tersenyum, sambil berpaling ke
arah Bong Thian-gak dia
berkata, "Bong-laute, keenam orang ini kuserahkan kepadamu untuk
mencoba kemampuan ilmu pedangmu."
Bong Thian-gak
mengernyitkan alis, lalu sahutnya, "Apabila mereka bukan datang
mencari gara-gara pada kita, buat apa mesti kita lakukan pembunuhan
yang sama sekali tak berarti?"
"Cukup dilihat dari dandanan mereka yang
tiga bagian tidak mirip manusia, sudah jelas mereka itu bukan orang
baik-baik, apalagi yang mesti kau sayangkan? Tak usah berbelas
kasihan lagi."
Sementara pembicaraan belum selesai,
tubuh Liu Khi telah melayang kembali ke tengah udara.
Keenam sosok orang aneh bagaikan mayat
itu mendadak berteriak bersama, mereka mengayunkan lengannya
menyambar peti-peti mati kosong dan secara ganas dan buas diayunkan
ke tubuh Lui-khi dengan kekuatan luar biasa.
Bong Thian-gak
serta Thay-kun yang menyaksikan kejadian itu menjadi terkejut
sekali, mereka sama sekali tidak mengira keenam orang aneh sepert
mayat hidup itu mempunyai kekuatan yang begitu dahsyat sehingga peti
mati kosong itu dipergunakan sebagai senjata.
Sementara itu enam buah peti mati kosong
yang beratnya ratusan kati sudah diayunkan bersama-sama ke tubuh Liu
Khi.
Dengan cara apakah Liu Khi akan
menghadapi ancaman seperti ini?
Liu Khi yang menyaksikan kejadian itu
segera memelototkan mata bulat-bulat, kemudian diiringi pekikan
nyaring, dia keluarkan seluruh kepandaian ilmu golok saktinya yang
maha hebat itu.
Tampak golok panjangnya yang semula
tersoreng di pinggang meluncur keluar dengan kecepatan luar biasa,
kemudian menciptakan selapis kabut cahaya golok di tengah udara.
Ketika keenam peti mati yang maha dahsyat itu menyambar datang
seperti gunung Thay-san yang menindih kepala, tahu-tahu saja peti
mati yang mengerikan itu seperti berubah menjadi enam buah kayu
rongsok yang sudah lapuk, seketika hancur berantakan menjadi
kepingan kecil yang berserakan dimana-mana.
Bersamaan itu juga cahaya golok
berkelebat seperti cahaya kilat. Cahaya putih dan bayangan darah
segera berhamburan menjadi
satu.
Keenam sosok orang aneh menyeramkan kini
sudah berguguran ke atas tanah dengan bermandikan darah, mereka
telah menjadi setan di ujung golok Liu Khi.
Setelah Liu Khi mengeluarkan ilmu sakti
simpanannya untuk membunuh keenam orang aneh tadi dan di saat dia
hendak membesut darah dari ujung goloknya untuk disarungkan kembali,
tiba-tiba dari kejauhan sana berkumandang seruan seseorang yang
bernada aneh.
"Liu Khi, hingga sekarang aku baru dapat
menyaksikan jurus seranganmu yang maha sakti itu, benar-benar ilmu
golok cahaya darah yang mengerikan. Liu Khi, setelah kau
pertunjukkan ilmu simpananmu itu, berarti saat kematianmu sudah
tidak jauh lagi."
Berubah hebat paras muka Liu Khi
mendengar ucapan itu, dengan suara dalam dia segera membentak,
"Apakah kau adalah Hek-mo-ong?"
Bagi Bong
Thian-gak serta Thay-kun, mereka sudah mengenal suara
orang aneh dan tidak terlihat wajahnya itu.
Suara itu kalau bukan suara Hek-mo-ong,
lantas suara siapa lagi?
Tampak Liu Khi mengunjuk sikap tegang,
bagaikan sedang menghadapi musuh tangguh saja, goloknya digenggam
dalam lengan tunggalnya dan diangkat ke udara, sementara sorot
matanya yang tajam mengawasi empat penjuru dengan sinar mata
berkilat.
Bong Thian-gak
maupun Thay-kun sama-sama menggeser tubuh pula untuk mengambil
posisi yang lebih menguntungkan dalam menghadapi serangan lawan.
Untuk beberapa saat suasana di arena, menjadi tegang dan sangat
mengerikan.
Setelah hening sekian lama, akhirnya
suara aneh tadi kembali terdengar, "Betul, aku adalah Hek-mo-ong.
Sudah sejak dulu aku ingin turun tangan terhadap Liu Khi, tapi aku
tak dapat mengetahui jurus-jurus golokmu yang lihai itu, maka selama
ini pula aku belum
melancarkan serangan mautku terhadap dirimu. Tapi hari ini di bawah
pancingan keenam anak buahku yang membacok dan melemparkan peti mati
kosongnya kepadamu, kau telah mempergunakan jurus terakhir
ilmu golok kilatmu. Liu Khi, sekarang kau sudah kehabisan
ilmu simpanan lagi."
Liu Khi tertawa dingin, ujarnya dengan
sinis, "Hek-mo-ong, kalau kau
yakin dapat menghindari serangan golok mautku itu, mengapa
tidak
segera bertarung melawanku?"
Gelak tertawa Hek-mo-ong yang amat keras
dan nyaring segera terhenti, kemudian dia berkata ketus, "Di sisimu
masih ada Jian ciat-suseng
serta Thay-kun. Bila aku muncul untuk berduel denganmu
aku percaya masih belum mampu membunuh kalian bertiga. Itulah
sebabnya aku belum ingin turun tangan sementara waktu ini."
Tiba-tiba Bong
Thian-gak menghardik dengan suara keras, "Hek mo-ong,
apakah kau yang telah membunuh si tabib sakti Gi Jian-cau?"
"Di atas dadanya sudah tertera lambang
tengkorak, apakah orang lain
memiliki senjata dan ilmu silat seperti itu?"
"Benarkah sang korban itu adalah Gi
Jian-cau?" tanya Bong
Thian-gak tertawa dingin.
Pertanyaan yang diucapkan mendadak dan
di luar dugaan ini kontan membuat Hek-mo-ong tertegun. Setelah
termenung beberapa saat, dia baru menyahut, "Tentu saja si tabib
sakti asli."
"Aku tidak percaya orang itu adalah si
tabib sakti yang asli, mana mungkin orang itu bisa kau bunuh dengan
cara begitu gampang."
"Dia sudah mampus dan tergeletak di
dalam peti mati selama beberapa hari. Walau tidak percaya, kau harus
mempercayainya juga."
Tiba-tiba Thay-kun tertawa nyaring,
kemudian berkata, "Hek-mo-ong, aku sudah berhasil menemukan tempat
persembunyianmu."
Baru saja Thay-kun menyelesaikan
kata-katanya, Liu Khi yang berada di sisinya sudah berteriak
nyaring, kemudian tubuhnya melejit ke lengah udara dan langsung
meluncur ke arah hutan bambu yang terletak lak jauh dari tempat itu.
Thay-kun terkejut, segera teriaknya,
"Suheng, kau dan aku harus segera membantu Liu-tayhiap."
Sambil berteriak, dia menerjang ke muka
lebih dahulu. Bong Thian-gak
segera melolos pedang dan menyusul pula dari belakang.
Terdengar suara yang amat gaduh,
sambaran golok panjang Liu Khi telah membabat dan merobohkan
sejumlah pohon bambu yang tumbuh di sekitar sana.
Padahal bambu hijau yang tumbuh di situ
rata-rata berukuran hesar, namun sekali tebas, ternyata dia sanggup
memotong tujuh-delapan
batang, betapa tajam dan luar biasanya serangan golok itu.
Ternyata bacokan maut Liu Khi sama
sekali tidak meleset. Dari balik
robohnya pepohonan bambu yang berserakan kemana-mana, terlihat
pancaran darah segar menyembur.
Dengan gerakan tubuh yang sangat ringan
Liu Khi melayang turun di
atas pohon bambu yang baru saja ditebasnya itu, menyusul
Bong Thian-gak dan Thay-kun turut
melayang turun pula.
Mata mereka ditujukan ke arah sesosok
mayat tanpa kepala yang terjepit di antara delapan batang bambu.
Sementara dalam hati timbul suatu
pertanyaan yang sama, "Benarkah Hek-mo-ong telah mampus?"
Sebab mereka tidak percaya Hek-mo-ong
bakal terbunuh dengan cara begitu gampang.
Semburan darah segar yang memancar dari
tubuh mayat tanpa kepala itu sudah berhenti.
Mendadak Liu Khi menperdengarkan suara
tawa yang keras dan penuh perasaan bangga, "Mampus, akhirnya
Hek-mo-ong mampus."
Siapa tahu belum habis dia berseru,
suara aneh dan menyeramkan tadi kembali bergema, "Liu Khi, aku belum
mati. Orang yang kau bunuh itu tidak lebih hanya seorang pembantuku
saja, tak dapat disangkal permainan golokmu memang hebat sekali,
tapi kali ini kau lagi-lagi telah membocorkan beberapa jurus ilmu
golokmu yang hebat, sekarang kau semakin kehabisan simpanan."
Beberapa patah kata itu segera membuat
paras muka Liu Khi berubah hebat, dengan penuh amarah dia segera
membentak, "Hek-mo-ong, ayo keluar dan kita bertarung lima ratus
gebrakan, kalau kau tak berani berarti kau dilahirkan oleh pelacur
busuk."
"Liu Khi, dengarkan baik-baik,"
Hek-mo-ong dengan suara menyeramkan segera berseru.
"Untuk membunuh seseorang, aku tidak
usah turun tangan sendiri. Bukankah kau pun sering menggunakan
siasat meminjam golok membunuh orang untuk melaksanakan niatmu?"
"Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng, cepat
atau lambat pasti akan kucari dirimu untuk membuat perhitungan."
Suara tertawanya yang latah, penuh
kebanggaan dan mengerikan itu makin menjauh sebelum akhirnya lenyap
di kejauhan sana.
Hek-mo-ong muncul tanpa bayangan, pergi
pun tanpa jejak, tahu-tahu suaranya sudah lenyap.
Mendadak terdengar Thay-kun menjerit
kaget, "Lihat, mayat bersama peti-peti mati itu lenyap."
Bong
Thian-gak, Thay-kun dan Liu Khi serentak melompat naik ke atas
gundukan tanah.
Tampak gua-gua di situ sudah kosong,
peti mati berikut jenazah si tabib sakti pun sudah hilang.
Sambil menghela napas, Thay-kun berkata,
"Dengan lenyapnya jenazah itu, semakin tiada orang percaya bahwa si
korban adalah si tabib sakti"
"Peti mati berikut jenazahnya termasuk
benda yang berat sekali, aku yakin mereka pergi belum jauh. Ayo kita
kejar sambil melakukan penggeledahan di sekitar tempat ini," seru
Bong Thian-gak.
Liu Khi yang mendengar ucapan itu segera
menghela napas, katanya, "Daerah ini merupakan tumbuhan bambu hijau,
peti mati berserakan dimana-mana. Andaikata mereka memindahkan
jenazah itu ke dalam peti yang lain, Kemanakah kita harus menemukan
kembali?"
"Benar," sahut Thay-kun pula.
"Ban-jian-bong merupakan tempat penyimpanan peti mati, bagaimana
mungkin kita dapat menemukan kembali jenazah itu?"
Bong Thian-gak
menghela napas panjang.
"Ai, pihak musuh mampu memindahkan peti
mati berikut |enazahnya dalam waktu singkat tanpa menimbulkan suara
sedikit pun, kemampuan mereka sungguh membuat orang merasa kagum."
Tiba-tiba Thay-kun berseru, "Dari
lenyapnya jenazah si tabib sakti, tampaknya Gi Jian-cau yang
sesungguhnya belum tewas."
"Tapi di atas dadanya jelas tertera
lambang tengkorak, hal ini membuktikan bahwa korban benar-benar mati
di tangan Hek-mo-ong," seru
Liu Khi.
Thay-kun segera tersenyum.
"Kalau memang Hek-mo-ong membunuh si
tabib sakti, maka dia tak
nanti akan mengukir nama Gi Jian-cau secara jelas di atas batu
nisannya."
"Oh, jadi maksud nona, jenazah itu bukan
korban pembunuhan Hek-mo-ong?"
tanya Liu Khi kemudian.
"Sudah pasti bukan, apabila jenazah itu
korban pembunuhan Hek-mo-ong, maka hari ini Hek-mo-ong tidak akan
bersusah-payah datang kemari dan melarikan jenazah berikut peti
matinya."
"Lantas menurut pendapat nona, siapakah
korban itu?"
"Sesosok jenazah tidak dikenal."
"Lantas dia mati di tangan siapa?" tanya
Liu Khi lebih jauh.
"Tentu saja pembunuh yang telah
mencelakai orang itu adalah si
tabib sakti
sendiri."
Tatkala Bong
Thian-gak selesai mendengar pembicaraan kedua orang
itu, dia segera menjadi paham, ujarnya kemudian, "Betul, sudah pasti
pembunuhnya adalah si tabib sakti, dia sengaja menciptakan jenazah
palsu itu untuk menipu orang, dengan tujuan agar semua umat
persilatan mengira dia telah mati."
"Ai, masuk akal," Liu Khi menghela
napas. "Dewasa ini orang yang sedang mencari Gi Jian-cau memang
bukan Hek-mo-ong seorang."
"Aku rasa, besar kemungkinan si tabib
sakti adalah Hek-mo-ong," tiba-tiba Bong
Thian-gak berseru.
"Aku rasa Gi Jian-cau pasti bukan
Hek-mo-ong," ucap Thay-kun.
"Ya, betul," seru Liu Khi pula.
"Kemungkinan si tabib sakti adalah Hek-mo-ong memang kecil sekali."
Sesudah menghela napas sedih, Thay-kun
berkata lebih jauh, "Berdasarkan dugaanku, bisa jadi Gi Jian-cau
sedang mengasingkan diri di tengah kuburan Ban-jian-bong ini."
"Darimana Sumoay bisa tahu Gi Jian-cau
berdiam di tempat ini?"
Sesudah menghela napas lagi, Thay-kun
baru berkata, "Ban-jian-bong yang dikelilingi hutan bambu ini penuh
dengan peti-peti mati, kuburan serta liang-liang gua. Andaikata aku
sedang menghindarkan diri dari pengejaran seorang musuh tangguh,
maka aku pun pasti akan memilih kuburan Ban-jian-bong ini sebagai
tempat persembunyianku."
"Jalan pikiran nona benar-benar amat
cermat dan teliti," puji Liu Khi tanpa terasa. "Sudah sejak tadi aku
menduga Gi Jian-cau ada kemungkinan bersembunyi di dalam tanah
pekuburan ini. Itulah sebabnya secara rahasia aku sudah empat kali
datang ke sini."
Mendadak Thay-kun melirik sekejap ke
arah Liu Khi, kemudian tanyanya lagi, "Liu-tayhiap, bersediakah kau
memberi penjelasan kepada kami, apa sebabnya kau mencari si tabib
sakti itu?"
Liu Khi termenung dan berpikir sebentar,
kemudian sahutnya, "Aku pernah menerima permohonan seorang untuk
membunuh Hek-mo-ong. Selama tiga puluh tahunan ini, aku tak pernah
berhasil menyingkap siapa gerangan orang yang bernama Hek-mo-ong,
tugas itu pun secara otomatis belum berhasil, aku mendapat kabar
bahwa Gi Jian-cau paling tidak mengetahui rahasia Hek-mo-ong. Itulah
sebabnya aku mengambil keputusan untuk mencari si tabib sakti dan
memaksanya mengungkap teka-teki asal-usul Hek-mo-ong."
"Liu-tayhiap, apakah langganan yang
memberi pesanan kepadamu adalah
Ho Lan-hiang?" tanya Bong
Thian-gak dengan kening berkerut.
Liu Khi segera tersenyum, "Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau memang pernah juga meminta kepadaku untuk membunuh
Hek-mo-ong, namun dia bukanlah si pemesan pada tiga puluh tahun
berselang."
"Bersediakah Liu-tayhiap memberitahu
siapakah orang yang telah memberi order kepadamu itu?" tanya
Thay-kun pula.
"Sekalipun kuungkap nama orang ini,
rasanya belum tentu kalian mengenalnya."
"Sebutkan saja namanya!"
Sesudah menghela napas panjang, Liu Khi
baru berkata, "Dia adalah Thio Kim-ciok."
"Ah! Hartawan kaya Thio Kim-ciok,"
Thay-kun berseru kaget. "Kau maksudkan orang itu adalah saudagar
paling kaya di kolong langit Thio
Kim-ciok?"
Dengan terkejut Liu Khi manggut-manggut.
"Nona, usiamu masih begitu muda,
darimana kau bisa tahu Thio Kim-ciok?"
"Dalam kalangan masyarakat kota saat
ini, masih sering orang membicarakan si manusia kaya-raya dari
Kanglam Thio Kim-ciok. Bagaimana
mungkin aku tidak mengetahuinya?"
"Ya betul, semasa aku masih kecil dulu
pun seringkah kudengar orang membicarakan Thio Kim-ciok," sambung
Bong Thian-gak pula.
Liu Khi berkata, "Selain Thio Kim ciok
adalah seorang saudagar yang kaya-raya, apakah kalian masih
mengetahui soal lain tentang dirinya?"
"Aku dengar dia berjiwa ksatria, setia
kawan dan suka menolong sesama."
Liu Khi menghela napas panjang, "Ai,
biarlah secara ringkas kuceritakan sedikit riwayat Thio Kim-ciok."
"Tiga puluh tahun berselang kekayaan
Thio Kim-ciok berlimpah, dia suka bergaul dan berhubungan dengan
orang macam apa pun.
"Sedemikian kaya, berjiwa sosial dan
gemar bersahabat hingga hampir setiap orang yang berada di dunia
persilatan mengenal atau paling tidak mendengar nama besarnya. Baik
golongan putih atau hitam, lurus atau sesat, hampir tak seorang pun
yang tiada hubungan dengannya, bahkan dengan golongan pembesar pun
dia mempunyai hubungan bagaikan saudara sendiri.
"Pada waktu itu Thio Kim-ciok hampir
menjadi penguasa tujuh propinsi di wilayah Kanglam. Setiap katanya
dapat mengakibatkan keonaran ataupun perubahan situasi, tapi dengan
sepatah katanya pula dia dapat menenangkan gejolak betapa pun
besarnya, ia berwibawa dan berkuasa sehingga hampir semua orang
tunduk kepada perkataannya."
Bong Thian-gak
manggut-manggut, katanya, "Ya, tentang hal itu aku pun pernah
mendengarnya."
Liu Khi berhenti sejenak, kemudian
terusnya, "Napsu manusia memang kadangkala tak pernah puas. Dari
kekuasaan dan pengaruh Thio Kim-ciok
waktu itu, seharusnya dia sudah merasa puas dan tidak mempunyai
permohonan lain lagi.
"Tetapi siapa tahu Thio Kim-ciok justru
memiliki ambisi lain daripada yang lain, pada usianya yang ketiga
puluh delapan ternyata dia ingin belajar ilmu silat serta mencari
ilmu awet muda."
"Bila dia ingin belajar silat untuk
menjaga kondisi badan tetap sehat dan muda, jalan pikiran ini adalah
benar dan tepat. Mengapa kau katakan salah?" tanya
Bong Thian-gak dengan kening
berkerut.
"Justru gara-gara ingin belajar ilmu
silat inilah berakibat bencana yang mengenaskan bagi Thio Kim-ciok
sendiri."
"Apa maksudmu?"
Kembali Liu Khi menghela napas panjang,
"Di saat Thio Kim-ciok mengumpulkan jago-jago silat yang ada di
kolong langit untuk mengajar ilmu silat kepadanya, dia telah
berjumpa Ho Lan-hiang dan menjadi suami istri."
"Ah, sama sekali tak kusangka Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau adalah istri Thio Kim-ciok," seru
Bong Thian-gak.
Liu Khi memandang sekejap ke arah
Thay-kun dan Bong Thian-gak,
kemudian melanjutkan, "Bukan saja Ho Lan-hiang telah menjadi istri
Thio Kim-ciok, bahkan dia pun telah menjadi guru silatnya.
"Tapi yang membuat orang merasa kaget
dan keheranan adalah Thio Kim-ciok sebagai seorang yang telah
berusia tiga puluh delapan tahun dan mulai belajar ilmu silat
ternyata mampu memperoleh kemajuan yang amat pesat. Dengan
kecerdasannya yang luar biasa serta bakatnya yang bagus, tidak
sampai tiga bulan saja separoh bagian ilmu silat Ho Lan-hiang telah
berhasil dipelajarinya semua.
"Agaknya Thio Kim-ciok pun sadar, dengan
ilmu silat yang dimiliki Ho Lan-hiang seorang, tak mungkin bisa
memuaskan napsunya untuk belajar ilmu silat, maka dia pun secara
luas mulai mengundang jago-jago silat lainnya.
"Dengan nama besar Thio Kim-ciok, sudah
barang tentu tidak sulit untuk memperoleh guru-guru silat pandai dan
termasyhur.
"Tidak sampai setengah tahun kemudian
dia telah berhasil mengundang seratusan jago lihai persilatan yang
terdiri dari golongan putih maupun hitam, lurus maupun sesat, untuk
menjadi guru silatnya.
"Waktu itu dari seratusan jago lihai,
terdapat sepuluh orang jago lihai paling termasyhur. Mereka adalah
Ku-lo Sinceng, Oh Ciong-hu, Song-ciu suami-istri, Kui-kok Sianseng,
Liong Oh-im, Gi Jian-cau, Tio Tian-seng,
Tan Sam-cing serta aku."
Semakin mendengar.
Bong Thian-gak dan Thay-kun semakin
kaget dan heran, mimpi pun mereka tidak menyangka Thio Kim-ciok
memiliki kemampuan begitu hebat hingga mampu mengundang jago-jago
lihai dari berbagai perguruan dan partai untuk memberi didikan Ilmu
silat kepadanya.
Setelah menghela napas
Bong Thian-gak bertanya, "Thio
Kim-ciok nanggup mengundang sepuluh jago persilatan untuk menjadi
gurunya, ditambah Thio Kim-ciok memiliki bakat dan kecerdasan yang
hebat, kalau begitu kehebatan ilmu silat yang dimiliki Thio Kim-ciok
sudah pasti sangat luar biasa dan mengejutkan."
"Benar," sahut Liu Khi sambil menghela
napas panjang, "Hanya dalam tiga tahun yang teramat singkat, Thio
Kim-ciok berhasil mengubah dirinya dari seorang sastrawan lemah
menjadi seorang jago silat
berilmu sangat tinggi. Ai, justru karena kepesatan ilmu silat yang
berhasil diraih olehnya inilah maka bencana besar telah diundang
pula kehadirannya."
"Bencana besar apakah itu?" tanya
Bong Thian-gak.
"Bencana pembunuhan atas dirinya
sendiri."
"Siapa yang telah membunuhnya?" tanya
Bong Thian-gak semakin
terkejut lagi.
"Hek-mo-ong."
"Dapatkah Liu-tayhiap memberi penjelasan
yang lebih seksama peristiwa terbunuhnya Thio Kim-ciok?" Liu Khi
manggut-manggut.
"Baik akan kukatakan, di saat kalian
selesai mendengar kisahku nanti, siapa tahu kalian dapat membantuku
menduga siapa gerangan Hek-mo-ong."
Setelah menelan air liur, Liu Khi
berkata lebih jauh, "Suatu senja pada tiga puluh tiga tahun
berselang, aku mendapat undangan Thio Kim-ciok dan buru-buru dari
Soat-say berangkat ke Gak-yang di Ou-lam untuk memenuhi undangannya
yang diselenggarakan di Sui-tiong-lau keluarga Thio."
"Kebun keluarga Thio adalah kebun indah
yang berada di dalam gedung keluarga Thio yang khusus dibangun di
atas telaga dengan jembatan batu sebagai penghubungnya, selain
bangunannya megah dan kokoh, dibangun dengan bahan bangunan yang
paling baik dan indah, mungkin hanya saudagar kaya-raya macam Thio
Kim-ciok yang mampu membangun kebun dengan pagoda air sedemikian
indahnya."
"Di tengah kebun terdapat pagoda air
yang semuanya bertingkat tujuh, biasanya Thio Kim-ciok menempatkan
seratus delapan orang jago lihai yang khusus diundangnya untuk
mengawal tempat itu, kecuali para pengawalnya serta Thio Kim-ciok
suami-istri, dayang dan pelayan kepercayaannya, orang lain dilarang
memasuki tempat itu secara sembarangan sebelum mendapat izin
darinya."
"Apakah Liu-tayhiap dapat masuk keluar
secara bebas dalam pagoda air itu?" tanya Thay-kun.
Liu Khi segera tersenyum.
"Sepuluh Suhu Thio Kim-ciok tentu saja
dapat memasuki pagoda itu secara leluasa."
"Ketika senja itu Liu-tayhiap sampai di
pagoda air, apakah di tempat itu sudah terjadi sesuatu peristiwa?"
"Benar," Liu Khi mengangguk. "Thio
Kim-ciok bersama seratus delapan orang pengawal, dayang dan
pelayannya yang semuanya berjumlah seratus delapan puluh tujuh orang
laki-perempuan telah mati dibantai.
Di atas dada mereka dijumpai lambang tengkorak, sedang di sisi mayat
Thio Kim-ciok tertera empat huruf besar berwarna merah darah
bertuliskan, 'Dibunuh
Hek-mo-ong'."
"Benar-benar perbuatan yang sangat keji,
buas dan tak berperikemanusiaan," bisik Thay-kun sambil menghela
napas.
"Bagaimana dengan Ho Lan-hiang?"
tiba-tiba Bong Thian-gak
bertanya. "Sewaktu terjadi peristiwa itu, apakah dia sudah tidak
berada di dalam pagoda lagi?"
"Sewaktu aku sampai di pagoda air itu,
bukan saja Ho Lan-hiang berada di pagoda air itu, malah kesepuluh
Suhu Thio Kim-ciok pun ada di situ."
"Mereka tiba di pagoda air setelah
terjadinya peristiwa berdarah ataukah sebelumnya?"
Liu Khi menghela napas panjang.
"Ai, tentu saja semua mengatakan tiba di
tempat itu setelah terjadinya peristiwa berdarah itu."
"Siapakah yang hadir paling dulu di
situ?" tanya Bong Thian-gak
dengan kening berkerut.
"Yang datang paling dulu lima orang,
mereka adalah Ku-lo hwesio,
Oh Ciong-hu dan Song-ciu suami-istri."
"Masih kurang seorang lagi, siapakah
dia?" sela Bong Thian-gak
dengan cepat.
"Orang itu adalah Ho Lan-hiang, rupanya
Ho Lan-hiang bersama Ku-lo Hwesio berdua telah berangkat ke kuil
Siau-lim-si sejak setengah bulan berselang untuk menghadiri upacara
pengunduran diri Tay-goan hwesio
dari Siau-lim-pay. Ketika upacara itu telah usai, mereka baru
bersama-sama kembali ke pagoda air dalam gedung keluarga Thio. Oleh
karena itu Ho Lian-hiang lolos dari kecurigaan membunuh suami
sendiri."
"Bagaimana dengan Kui-kok Sianseng,
Giok-gan-suseng, tabib sakti dan Tio Tian-seng berempat. Bagaimana
ceritanya sampai muncul pula di pagoda air itu?"
"Keempat orang itu secara beruntun
datang ke pagoda air menyusul tibanya Ku-lo Hwesio berlima dan
Kui-kok Sianseng sekalian berempat juga baru pulang dari Siau-lim-si
di Ho-Iam, jadi mereka bersembilan dapat saling membuktikan mereka
bukan pembunuhnya."
"Bagaimana dengan
Tan Sam-cing?" tanya Thay-kun.
"Tan Sam-cing
baru muncul di kebun keluarga Thio keesokan harinya setelah
kehadiranku di pagoda air itu."
"Wah, kalau begitu, Liu-tayhiap dan
Pat-kiam-hui-hiang berdua menjadi orang yang dicurigai sebagai
Hek-mo-ong, pembunuh Thio Kim-ciok?"
"Betul, waktu itu aku dan
Tan Sam-cing telah memperoleh
pemeriksaan yang seksama dari semua orang."
"Ada satu hal ingin kutanyakan kepada
Liu-tayhiap, bukankah Liu-tayhiap pernah bilang bahwa Thio Kim-ciok
pernah mengundangmu untuk membunuh Hek-mo-ong? Bagaimana pula
ceritanya?"
Liu Khi menghela napas panjang.
"Ai, sebelum Thio Kim-ciok meninggal
dibunuh, dia seperti sudah tahu ada firasat jelek atas nasibnya,
tiga bulan menjelang terjadinya pembantaian itu, secara pribadi Thio
Kim-ciok telah mengundangku untuk mengerjakan suatu tugas, yaitu
melakukan penyelidikan atas Ku-lo Hwesio, Oh Ciong-hu, Kui-kok
Sianseng, beserta istrinya Ho Lan-hiang, untuk mengetahui siapakah
di antara mereka adalah Hek-mo-ong, kemudian secara rahasia pula
berencana membinasakan dirinya."
"Oh, maka itu hingga sekarang
Liu-tayhiap selalu menganggap Hek-mo-ong adalah salah seorang di
antara Ho Lan-hiang, Ku-lo Hwesio, Oh ciong-hu dan sekalian sepuluh
orang lainnya?" kata Thay-kun kemudian.
Dengan suara berat dan dalam Liu Khi
berkata, "Thio Kim-ciok adalah seorang berjiwa besar, berhati mulia
dan suka menolong orang. Sepanjang hidupnya dia hanya tahu melepas
budi dan tak pernah mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan
orang, sekalipun gembong iblis yang membunuh orang tanpa berkedip
atau iblis yang berhati keji pun merasa berhutang budi kepada Thio
Kim-ciok, apalagi kesepuluh Suhu Thio Kim-ciok adalah jago-jago
silat paling hebat di dunia ini, siapa pula yang berani mengusik,
apalagi mencelakainya?"
"Lantas mengapa Hek-mo-ong hendak
membunuhnya?" tanya Bong
Thian-gak kemudian.
"Terbunuhnya Thio Kim-ciok sangat
berkaitan dengan kemajuan Ilmu silatnya yang pesat, orang kuatir dia
akan menjadi jago silat yang tiada
tandingannya di kolong langit di masa mendatang sehingga mengacaukan
ketenteraman umat persilatan dan menciptakan badai pembunuhan
dimana-mana."
"Ya, memang sangat beralasan," gumam
Thay-kun lirih. "Bila orang
kaya-raya dan memiliki ilmu silat yang dahsyat, ditambah pula
memiliki hubungan yang sangat akrab dengan berbagai ragam manusia,
jika tindak-tanduknya tak
beres dan menyeleweng dari jalur kebenaran, maka
akhirnya orang itu akan menjadi seorang pemimpin yang lalim. Yang
kecil paling berakibat kekalutan di suatu wilayah, tapi kalau
sampai besar dapat mengakibatkan
pertumpahan darah dimana-mana dan
menciptakan neraka bagi umat persilatan."
"Sebab itulah dalam kasus terbunuhnya
Thio Kim-ciok, kesepuluh gurunya
tak bisa lolos dari kecurigaan sebagai pembunuhnya."
Bong Thian-gak
menghela napas panjang, lalu berkata, "Ku-lo Hwesio dan Oh Ciong-hu
adalah orang berjiwa luhur, apakah mereka pun dapat melakukan
perbuatan kejam dan tidak berperi-kemanusiaan
itu?"
Liu Khi tertawa rawan.
"Aku menaruh curiga kepada mereka, hal
ini karena kesimpulan yang
berhasil kuhimpun setelah melalui penyelidkan dan penelitian yang
amat seksama terhadap berbagai persoalan dan kejadian, bukan
aku menuduh mereka secara
sewenang-wenang."
"Atas dasar persoalan dan kejadian
apakah itu? Dapatkah Liu-tayhiap
memberi penjelasan kepadaku?" ucap Thay-kun.
Dengan suara dalam Liu Khi berkata, "Ho
Lan-hiang adalah perempuan jalang yang gemar merayu dan memikat kaum
pria untuk memenuhi napsu birahinya. Aku rasa tentang wataknya yang
buruk ini tentunya kalian sudah pernah mendengar bukan?"
"Maksud Liu-tayhiap, antara dia dengan
kesepuluh guru Thio Kim
ciok pun pernah terjalin
hubungan gelap?"
"Sesungguhnya peristiwa ini merupakan
kejadian yang paling buruk
dan memalukan bagi umat persilatan," kata Liu Khi emosi, "Karena
itu sebelum duduknya persoalan berhasil kuselidiki sampai tuntas,
aku tak ingin bicara secara sembarangan."
"Selain persoalan ini, apakah masih ada
hal-hal lain yang patut dicurigai?"
"Masih ada satu hal lagi, setelah
terjadinya peristiwa pembunuhan atas Thio Kim-ciok, bagi penegak
keadilan dan kebenaran di dunia persilatan, sudah sepantasnya mereka
melakukan penyelidikan terhadap pelaku pembunuhan itu serta berusaha
melenyapkannya dari muka bumi, tapi kenyataan justru manusia seperti
Ku-lo Hwesio, Oh Ciong-hu dan lain-lainnya berusaha keras
merahasiakan peristiwa berdarah itu."
"Waktu itu semua orang setuju melakukan
penyelidikan atas pelaku pembunuhan itu secara rahasia dan
menyetujui pula untuk tidak menyiarkan berita kematian Thio
Kim-ciok, sebaliknya mereka justru mengarang cerita bohong yang
mengatakan Thio kim-ciok sedang pergi ke suatu tempat terpencil
untuk memperdalam ilmu panjang umur."
Ketika Thay-kun dan
Bong Thian-gak selesai mendengar
rahasia persilatan ini, timbul perasaan bingung dan tidak habis
mengerti dalam hatinya. Mungkinkah kematian Thio Kim-ciok disebabkan
perbuatan yang direncanakan Ku-lo Hwesio sekalian?
Mendadak Thay-kun bertanya, "Bagaimana
dengan jenazah Thio Kim-ciok? Apakah sudah dikuburkan?"
"Keseratus delapan puluh tujuh mayat itu
telah ditenggelamkan ke dasar telaga oleh Ho Lan-hiang serta sepuluh
jago persilatan."
Thay-kun termenung lagi beberapa saat,
kemudian baru katanya, "Berdasarkan penuturan Liu-tayhiap ini,
rupanya kau menaruh curiga bahwa Ku-lo Hwesio sekalian telah
membunuh Thio Kim-ciok dengan mencatut nama Hek-mo-ong, tetapi ada
satu hal yang membuatku merasa tidak mengerti, kenapa pula
Hek-mo-ong hendak mencelakai jiwa Ku-lo Hwesio sekalian?"
"Aku rasa nama Hek-mo-ong yang
dipergunakan dahulu hanya nama kosong saja tanpa ada orang yang
sebenarnya, tapi Hek-mo-ong yang muncul dalam dunia persilatan saat
ini justru terdapat orangnya."
Liu Khi melirik sekejap ke arah nona
itu, baru ujarnya, "Tentang persoalan ini pun aku telah berhasil
mendapatkan satu kesimpulan yang tepat. Aku rasa kemungkinan besar
orang yang mengaku sebagai Hek mo-ong sekarang berniat membunuh
semua orang yang mengetahui peristiwa berdarah yang menimpa Thio
Kim-ciok itu."
Tiba-tiba Thay-kun tersenyum.
"Hek-mo-ong yang berada dalam pikiran
Tio Tian-seng dan Ho Lian-hiang sekalian sudah pasti adalah
Liu-tayhiap."
"Apa maksudmu?" tanya Liu Khi dengan
wajah berubah.
"Tujuan Hek-mo-ong membunuh Ku-lo Hwesio
dan Oh Ciong-hu sekalian adalah hendak membalas dendam bagi kematian
Thio Kim-ciok, padahal sewaktu Thio Kim-ciok terbunuh, hanya
Liu-tayhiap dan Tan Sam-cing
berdua yang tidak pergi ke kuil Siau-lim-si di Ho-lam, oleh sebab
itu menurut anggapan Tio Tian-seng sekalian, Hek-mo-ong yang muncul
saat ini merupakan penyaruan satu di antara kalian berdua."
"Benar," kata Liu Khi dengan suara
dalam. "Selang tiga puluh tahun terakhir ini, setiap waktu aku
selalu berusaha membalas dendam bagi kematian Thio Kim-ciok."
"Sebetulnya Liu-tayhiap adalah
Hek-mo-ong atau bukan?" desak Thay-kun lebih lanjut dengan suara
merdu.
Liu Khi tertawa rawan. "Dan menurut
anggapan kalian, benarkah aku adalah Hek-mo-ong?" ia balik bertanya.
Thay-kun tersenyum.
"Tampaknya antara Liu-tayhiap dan Thio
Kim-ciok mempunyai hubungan persahabatan yang istimewa, kematiannya
yang tragis tentu membuatmu sakit hati dan rasanya hanya kau yang
berusaha membalas dendam bagi kematiannya."
Liu Khi tertawa getir, "Dugaan kalian
keliru besar, aku bukan Hek-mo-ong."
Tiba-tiba Bong
Thian-gak menyela dari samping, "Seandainya Liu-tayhiap
bukan Hek-mo-ong, orang itu sudah pasti adalah Pat-kiam-hui-hiang."
Liu Khi menggeleng kepala.
"Hek-mo-ong yang merajalela saat ini
bukan Tan Sam-cing."
"Lantas siapakah dia?"
"Tio Tian-seng atau mungkin juga Gi
Jian-cau."
Mendadak terdengar seseorang berseru
dengan suara berat dan serius,
"Liu Khi, kau anggap aku
adalah Hek-mo-ong yang merajalela saat
ini?"
Di tengah pembicaraan itu, dari balik
hutan bambu sana pelanpelan berjalan keluar seorang kakek
berjenggot panjang, sebilah pedang antik tersoreng di punggungnya
dan ia berjalan mendekat.
Bong Thian-gak
segera berpaling, ujarnya, "Tio-pangcu, sejak kapan kau tiba di
sini?"
Ternyata orang yang baru saja muncul
adalah Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng.
Liu Khi tertawa, katanya, "Tio
Tian-seng, akhirnya kau muncul juga dengan membawa pedang iblismu
itu."
Tio Tian-seng baru menghentikan langkah
setelah tiba di hadapan lawan, pelan-pelan ia berkata, "Bila pedang
iblis terlolos dari sarungnya, ia pasti akan menghirup darah
manusia. Sudah tiga puluh tahun aku tidak pernah melolos pedangku
ini, tapi hari ini demi membalas dendam kematian kedua orang
muridku, mau tak mau terpaksa aku mesti membawa pedang andalanku
ini."
Ketika Bong
Thian-gak dan Thay-kun mendengar perkataan Tio
Tian-seng itu, tiba-tiba saja mereka teringat beberapa patah kata
yang diucapkan Hek-mo-ong sebelum pergi setengah jam berselang.
Akhirnya Tio Tian-seng muncul juga.
Benar seperti apa yang dikatakan
Hek-mo-ong tadi, dia datang mencari Liu Khi untuk membuat
perhitungan. Tapi perhitungan apakah itu?
Liu Khi tertawa dingin, kemudian
berkata, "Kemunculanmu yang tiba-tiba ini membuat aku semakin
percaya bahwa kaulah Hek-mo-ong."
"Liu Khi, bersiap-siaplah menyambut
seranganku," hardik Tio Tian-seng sambil menarik muka.
Mendadak Bong
Thian-gak maju ke depan dan berdiri di antara kedua
orang itu, kemudian serunya lantang, "Tio-pangcu, harap jangan
mengumbar amarah dulu”
Belum selesai dia berkata, dengan suara
dingin Tio Tian-seng telah menukas, "Bong-laute, nona Thay-kun,
kuminta kalian mengundurkan diri dari dunia persilatan dan jangan
mencampuri urusan budi dan dendam Thio Kim-ciok ini."
"Kematian Thio Kim-ciok telah
menimbulkan kekalutan dan keonaran dalam Kangouw. Sudah banyak jago
persilatan yang tewas ataupun cedera karena persoalan ini, tahukah
kalian bahwa perselisihan yang terjadi di antara kalian berdua saat
inipun hanya merupakan sebagian dari siasat busuk orang," kata
Bong Thian-gak dengan suara
lantang.
"Kau maksudkan terjerat dalam siasat
busuk siapa?" tanya Tio Tian-seng.
"Ho Lan-hiang! Kau tahu, dia ingin
menyaksikan sepuluh tokoh persilatan saling gontok dan bunuh, dengan
dia sebagai nelayan beruntung yang tinggal mengumpulkan hasilnya?"
Tio Tian-seng tertawa dingin, "Kau tahu
apa? Liu Khi adalah Hek-mo-ong,
dia bersama Ho Lan-hiang berkomplot hendak mencelakai sepuluh tokoh
persilatan dan kini di antara kesepuluh tokoh persilatan Itu, Ku-lo
Hwesio, Oh Ciong-hu, Kui-kok Sianseng telah tewas, Song-cui
suami-istri
pun sudah lama lenyap, kemungkinan besar mereka pun
sudah
tertimpa musibah, saat ini
sasaran yang berikut adalah diriku. Aku tahu rencana ini sudah
dipersiapkan Liu Khi dan Ho Lan-hiang
lama
sekali, berhubung tiada keyakinan untuk
berhasil, maka selama ini
pula
dia tak berani turun
tangan terhadapku dan itulah sebabnya Liu Khi turun tangan lebih
dulu untuk menghilangkan kedua orang pembantu utamaku.
To Siau-hou dan Han Siau-liong."
Bong Thian-gak
terkejut, dia segera berpaling ke arah Liu Khi sambil bertanya,
"Benarkah kau telah membunuh To
Siau-hou dan Han Siau-liong?"
Liu Khi tertawa dingin.
"Tio Tian-seng adalah Hek-mo-ong. Untuk
membasmi kekuatan dan
daya pengaruhnya, aku
terpaksa harus membunuh kedua orang itu beserta kedua puluh empat
jago pengikutnya."
Bong Thian-gak
segera menghela napas panjang, katanya kembali, "Liu-tayhiap, kau
keliru besar. Tio-pangcu sudah pasti bukan Hek-mo-ong."
Liu Khi tertawa dingin.
"Sudah lama aku menyusup ke dalam
Kay-pang. Aku pun sudah banyak mengetahui segala perbuatan dan
tingkah-laku Tio Tian-seng, sekalipun dia benar-benar bukan
Hek-mo-ong, namun dia turut serta dalam komplotan pembunuhan atas
diri Thio Kim-ciok. Bagaimana pun juga aku harus membalas sakit hati
ini."
"Apa yang dikatakan Tio Tian-seng tadi
memang benar, lebih baik kau bersama Thay-kun tidak usah ikut
terseret ke dalam persoalan ini."
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas sedih,
ucapnya, "Suheng, mari kita segera mengundurkan diri, kedua orang
itu secara diam-diam telah menghimpun tenaga dalam dan hampir
mencapai puncaknya. Bila mereka melepas serangan, kita pasti akan
terkena gelombang serangan itu."
Dalam pada itu
Bong Thian-gak sendiri sadar bahwa
permusuhan mereka sudah kelewat mendalam sehingga masalahnya tak
mungkin bisa diselesaikan tanpa dilangsungkannya pertarungan mati
hidup. Karena itu setelah menghembuskan napas ia pun segera
mengundurkan diri dan menonton jalannya pertarungan dari sisi arena.
Kini Tio Tian-seng dan Liu Khi telah
berdiri berhadapan, masing-masing pihak telah menghimpun tenaga
dalam, bersiap melepaskan serangan mematikan.
Dan kini hawa murni yang dihimpun kedua
belah pihak makin mencapai puncaknya.
Mendadak Tio Tian-seng menggerakkan
tangan kanan dan pelan-pelan menggenggam gagang pedang yang
tersoreng di pinggangnya.
Biasanya Liu Khi selalu mencabut golok
dengan kecepatan luar biasa, tapi reaksinya kali ini justru
berlawanan, gerakan tangannya dilakukan sangat lambat, lebih lambat
daripada gerakan Tio Tian-seng.
Pedang iblis Tio Tian-seng memancarkan
cahaya kehijau-hijauan.
Semua peristiwa ini berlangsung dalam
sekejap saja.
Gerakan yang semula sangat lamban, kini
telah berubah menjadi cepat sekali.
Pedang sakti di tangan Tio Tian-seng
bagaikan seekor naga sakti keluar dari air dan menusuk ke dada
lawan.
Sebaliknya golok sakti Liu Khi dari
bawah menusuk ke atas sambil melepaskan bacokan.
Tubuh mereka baru saja meninggalkan
tanah, kedua belah pihak sudah saling bentrok.
Terdengar dua kali dentingan nyaring,
golok dan pedang sudah saling bersimpangan.
Dalam bentrokan pertama, kedua belah
pihak bertarung seimbang.
Di saat masing-masing membalikkan badan,
benfibkan kedua kembali berlangsung.
Cahaya golok dan bayangan pedang sudah
menyelimuti seluruh tubuh
kedua orang itu sehingga orang lain sulit menyaksikan jurus-jurus
serangan dan langkah tubuh yang mereka gunakan.
Bong Thian-gak
dan Thay-kun yang berdiri di samping merasakan
segulung
hawa dingin yang menyayat
badan, membuat kedua orang itu merasa terkejut dan buru-buru
menggeser badan menjauhi arena.
Dalam waktu singkat tanah pekuburan yang
menyeramkan dan menggidikkan itu berubah menjadi ajang pertempuran
yang amat seru.
Daun-daun bambu di sekeliling tempat itu
berubah seperti bunga-bunga salju yang berguguran di atas tanah,
betapa hebatnya pertarungan yang sedang berlangsung itu.
Sejak umat persilatan memilih sepuluh
tokoh silat terhebat pada empat puluh empat tahun berselang, belum
pernah kesepuluh tokoh silat Itu saling tempur.
Pertarungan antara Tio Tian-seng dan Liu
Khi saat ini merupakan pertempuran sengit pertama yang terjadi
antara sesama sepuluh tokoh persilatan.
Lantas siapa di antara kesepuluh tokoh
silat itu yang sebetulnya memiliki ilmu silat paling hebat?
Mungkin saja orang itu Tio Tian-seng
atau Liu Khi.
Konon di masa lampau Tio Tian-seng
pernah menderita kekalahan di tangan Oh Ciong-hu, namun baik Oh
Ciong-hu maupun Ku-lo Hwesio yang bertindak sebagai saksi tahu bahwa
pukulan itu memang sengaja dibiarkan mengenai tubuh Tio Tian-seng
karena berniat mengalah.
Sebab apabila Tio Tian-seng berhasil
mengungguli Oh Ciong-hu waktu itu, maka Tio Tian-seng harus menerima
tantangan Ku-lo Hwesio dan apabila kejadian ini berlangsung, niscaya
Tio Tian-seng menderita kekalahan total.
Oleh sebab itu Tio Tian-seng berlagak
kalah agar jiwanya dapat pula diselamatkan dari musibah.
Thay-kun serta
Bong Thian-gak yang menyaksikan
jalannya pertarungan diam-diam terkejut, pikirnya, "Sungguh tak
disangka, ilmu silat kedua orang ini jauh lebih hebat dari apa yang
diduga semula."
Pada saat itulah, mendadak Thay-kun
teringat sesuatu, dengan suara merdu ia lantas berkata,
"Bong-suheng, aku sudah tahu siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya."
"Siapakah dia?"
"Orang itu bukan Tio Tian-seng, bukan
juga Liu Khi."
Bong Thian-gak
masih mengawasi jalannya pertarungan di arena dengan mata tak
berkedip. Ketika mendengar perkataan itu, dia segera berpaling, tapi
dengan cepat pemuda itu berseru tertahan.
Ternyata di saat dia berpaling,
Bong Thian-gak menyaksikan di
belakang Thay-kun telah berdiri seorang berbaju hijau.
Orang berbaju hijau itu tidak lain
adalah orang berbaju hijau berwajah pucat yang dijumpai di tanah
pekuburan tadi.
Waktu itu pedang pendek dalam genggaman
orang itu sedang ditempelkan di punggung Thay-kun.
Setelah menghela napas sedih, ujar
Thay-kun, "Hek-mo-ong kah kau?"
Dengan wajah tanpa emosi, orang berbaju
hijau itu tertawa dingin, sahutnya, "Rezeki masuk dari mulut,
bencana keluar dari bibir. Bila kau menginginkan keselamatan jiwamu,
lebih baik kurangi kata-kata yang yang tak berguna."
Melihat pedang pendek orang ditempelkan
di punggung Thay-kun, Bong
Thian-gak benar-benar tak berani bergerak sembarangan. Dengan cemas
ia menegur, "Apa yang hendak kau lakukan terhadap dirinya?"
Sementara itu mata orang berbaju hijau
yang mengerikan itu sedang mengawasi jalannya pertarungan antara Tio
Tian-seng melawan Liu Khi. Mendengar pertanyaan itu, dia segera
menjawab dengan hambar, "Kemungkinan besar aku akan membunuhnya."
Sambil tertawa Thay-kun berseru, "Dari
tangan Ho Lan-hiang, kau telah menolong jiwaku hingga secara
kebetulan aku bertemu dengan Jian-ciat-suseng dan tubuh Si-hun-mo-li
berubah menjadi diriku yang sebenarnya, masakah kau benar-benar akan
membunuhku?"
"Boleh saja bila kau tidak menginginkan
kematian, cukup kau tunjukkan kepadaku, siapakah di antara mereka
berdua adalah Hek-mo-ong?" kata orang berbaju hijau itu hambar.
"Kedua orang itu sama-sama bukan
Hek-mo-ong."
"Boleh saja bila kau enggan mengatakan
kepadaku, maka aku pun terpaksa harus menunggu sampai pertarungan
mereka selesai dan kedua belah pihak sama-sama terluka parah, lalu
aku binasakan mereka berdua."
"Bukankah keadaan semacam inilah yang
paling kau sukai?"
Orang berbaju hijau
itu termenung beberapa saat, lalu dia berkata, "Aku tidak mengerti
apa yang kau katakan, mengapa kau tidak berpaling melihat siapakah
diriku?"
"Tak usah dilihat lagi, kau adalah
Hek-mo-ong."
Orang berbaju hijau itu kelihatan
seperti tertegun, lalu katanya, "Darimana kau bisa mengatakan aku
adalah Hek-mo-ong?"
Thay-kun tersenyum.
"Apabila Tio Tian-seng dan Liu Khi
adalah Hek-mo-ong, maka Tan
Sam-cing pun merupakan Hek-mo-ong pula."
Sekali lagi orang berbaju hijau
terkejut, katanya, "Bagaimana kau bisa tahu aku adalah
Tan Sam-cing?"
"Setelah mendengar penuturan
Jian-ciat-suseng waktu berada di tanah
pekuburan, aku segera mengetahui bahwa kau adalah
Tan Sam-cing."
"Sungguh hebat kau si budak ingusan,
apakah kau berharap aku turun
tangan mencegah kedua orang yang sedang bertarung itu?"
"Aku tahu, selama ini dalam hatimu
selalu beranggapan bahwa Tio
Tian-seng dan Liu Khi adalah Hek-mo-ong, oleh sebab itu kau lebih
suka membiarkan kedua orang itu saling gontok dan bunuh daripada
mencegah pertarungan mereka."
"Tapi aku pun perlu memberitahu
kepadamu, kalau Tan Sam-cing
bukan Hek-mo-ong, maka Tio Tian-seng serta Liu Khi pun bukan
Hek-mo-ong."
"Oleh sebab itulah aku ingin kau
beritahukan kepadaku, siapakah Hek-mo-ong
sesungguhnya?"
"Saat ini aku belum dapat memberitahukan
kepadamu."
"Mengapa?"
"Sebab Hek-mo-ong asli berada di sekitar
sini. Bila kuucapkan, niscaya tak seorang pun di antara kita yang
akan berhasil lolos dari ancaman mautnya."
Bong Thian-gak
yang mendengarkan dari samping menjadi bingung dan tak habis
mengerti, dia tidak tahu permainan apakah yang dilakukan Thay-kun
saat ini.
Sesudah tertawa dingin, orang berbaju
hijau itu berkata, "Budak setan, kau tak usah ngaco-belo tak keruan,
aku tak percaya dengan permainan semacam itu."
Thay-kun menghela napas panjang,
"Bong-suheng, berusahalah kau menghentikan pertarungan kedua orang
itu."
Orang berbaju hijau itu tertawa dingin.
"Sekarang Tio Tian-seng dan Liu Khi
masing-masing sudah mengerahkan segenap kekuatan, sekalipun ilmu
silat yang dimiliki Jian-ciat-suseng lebih hebat, belum tentu mampu
menghentikan pertarungan mereka."
Thay-kun tersenyum, "Asal
Jian-ciat-suseng mengeluarkan ilmu auman singanya dengan menuduh kau
sebagai Hek-mo-ong, maka kedua orang itu pasti akan segera
menghentikan pertarungan."
Tiba-tiba orang berbaju hijau itu
membentak, "Jian-ciat-suseng, bila kau berani, maka pedang pendekku
ini segera akan menembus dadanya. Mau percaya atau tidak itu
terserah."
Bong Thian-gak
menghela napas panjang.
"Sekalipun Tio Tian-seng dan Liu Khi
bertarung sampai mampus, hal itu sama sekali tak ada kaitannya
denganku, tapi terhadap Thay-kun, aku tak akan membiarkan siapa pun
melukai seujung rambutnya."
"Kalau memang begitu, kau jangan
bertindak sembarangan. Tonton saja pertarungan itu dengan tenang di
sisi arena," perintah orang berbaju hijau itu dingin.
"Bila kau berbuat demikian, akhirnya
pasti akan menyesal," kata Thay-kun lagi.
Dalam pada itu pertarungan yang
berlangsung telah mencapai tingkat yang kritis dan tegang.
Mendadak terdengar dua kali pekikan
panjang yang keras dan melengking.
Baik Tio Tian-seng maupun Liu Khi telah
menggunakan senjata tajamnya untuk melakukan terkaman di tengah
udara.
Di tengah suara benturan nyaring, golok
dan pedang itu sudah saling bentur.
Tapi dalam bentrokan kali ini, karena
kedua orang itu sama-sama mempergunakan segenap kekuatan,
pergelangan tangan mereka menjadi kaku dan linu, tak mampu menahan
getaran tenaga dalam lawan, senjata mereka segera terlepas dari
genggaman dan mencelat ke tengah udara.
Golok dan
pedang itu bagaikan dua gulung cahaya perak meluncur ke tengah
udara, dari kejauhan orang akan melihat senjata itu saling kejar di
udara seperti dewa yang melepaskan pedang terbang saja.
Sementara pedang di tangan kanan Tio
Tian-seng terlepas dari genggaman, dia segera membentak dan telapak
tangan kirinya melepaskan bacokan secepat kilat.
Serangan itu dilancarkan cukup keji.
Padahal Liu Khi hanya mempunyai sebuah
lengan saja, ketika goloknya terlepas dari cengkeraman tangan
kirinya, tak mungkin lagi baginya untuk segera merubah gerakan
dengan melepaskan pukulan, bagaimana pun juga ia tetap terlambat
selangkah.
Dengusan tertahan segera bergema, dada
kanan Liu Khi terkena pukulan hingga tubuhnya mencelat ke belakang.
Tapi pada saat inilah Liu Khi segera
memperlihatkan kepandaian silat yang maha sakti. Di saat tubuhnya
mencelat terkena pukulan, kakinya segera menghentak ke udara dan
melepaskan juga tendangan kilat yang persis menghantam belakang
pinggang sebelah kanan Tio Tian-seng.
Kedua orang itu mencelat ke udara,
kemudian terbanting keras di atas tanah.
Sudah cukup lama mereka berdua tertahan
di tengah udara, hawa murni yang mereka himpun pun sudah membuyar.
Oleh karena itu bantingan itu cukup berat dan keras, pasir dan debu
beterbangan memenuhi angkasa.
Bagaimana pun juga kedua orang ini
merupakan jago kelas satu yang
memiliki ilmu silat sangat hebat, daya tahan yang mereka miliki pun
mengagumkan.
Walaupun isi perut mereka sudah
menderita luka yang cukup parah, namun mereka masih mampu menghimpun
sisa tenaga dalam untuk merebut posisi yang lebih menguntungkan
serta mempersiapkan serangan terakhir.
Dua pekikan nyaring berkumandang di
tengah udara.
Masing-masing pihak segera melompat
bangun dari atas tanah dan menyambar senjata mereka yang terlepas,
lalu serentak melepaskan bacokan kilat ke depan.
Dalam bentrokan kali ini, bergemalah
suara dan dentingan yang amat lembut.
Sekali lagi tampak bayangan orang
berpisah, lalu kedua belah pihak sama-sama terjungkal ke atas tanah
dan tidak mampu berdiri kembali.
Liu Khi segera memuntahkan darah segar
dan senjatanya terlepas dari pegangan.
Sebaliknya Tio Tian-seng meski masih
tetap menggenggam pedang iblis yang bercahaya hijau di tangan
kanannya, namun sepasang kakinya tidak mau menuruti perintahnya
lagi, pelan-pelan ia terduduk di atas tanah.
Dalam pertarungan kali ini, kedua belah
pihak sama-sama bertarung dengan mengerahkan segenap tenaga dalam,
sekarang sudah tak sanggup lagi melepaskan sejurus atau setengah
gerakan lagi.
Jangankan bertarung, tenaga untuk bicara
pun sudah tak ada, napas mereka sekarang tersengal-sengal seperti
kerbau, peluh pun jatuh bercucuran.
Sinar mata mereka sudah makin memudar,
namun masih tetap mengawasi gerak-gerik lawan dengan pandangan mata
penuh curiga.
Seakan-akan mereka sedang berkata, "Aku
tak percaya kau masih memiliki tenaga untuk bangkit lebih dulu dan
melancarkan serangan kembali."
Pada saat inilah tampak bayangan orang
berkelebat ke tengah-tengah antara Tio Tian-seng dan Liu Khi,
kemudian bagaikan sukma gentayangan saja seorang berbaju hijau
berwajah dingin telah berdiri di sana.
Ketika melihat kehadiran orang itu
dengan pedang terhunus, Liu Khi dan Tio Tian-seng baru mendusin dari
impian mereka, sadarlah mereka akan kerawanan dan keseriusan situasi
yang mereka hadapi.
Dalam pada itu
Bong Thian-gak telah melolos pedang
pula, bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Pikirnya, "Bila orang berbaju hijau ini
berani melakukan tindakan melukai Liu Khi dan Tio Tian-seng, maka
Pek-hiat-kiam ini segera akan melancarkan serangan kilat dari
belakang punggungnya."
Tampaknya orang berbaju hijau itupun
sudah merasa pula gerakan Bong
Thian-gak yang telah mempersiapkan diri melancarkan serangan.
Pelan-pelan ia membalikkan badan dan
menengok sekejap ke arah Bong
Thian-gak, lalu ujarnya dingin, "Kau akan melancarkan serangan
dengan pedangmu itu?"
"Bila pedangmu itu kau tusukkan ke tubuh
mereka, maka pedang ini pun akan menusuk punggungmu pada saat
bersamaan."
"Tampaknya kau memang senang mencampuri
urusan orang lain," jengek orang berbaju hijau itu dengan tertawa
dingin.
"Mengambil tindakan di saat orang sedang
lemah bukan tindakan seorang lelaki sejati."
Orang itu tertawa dingin lagi,
"Seandainya aku ingin menghabisi nyawa mereka, mungkin sekarang juga
mereka sudah tergeletak menjadi mayat."
"Kalau kau tidak berniat membinasakan
mereka, harap segera berdiri di sisi arena," perintah
Bong Thian-gak.
"Jian-ciat-suseng, tahukah kau siapa
aku?" tegur orang berbaju hijau itu dingin.
"Kau menyebut dirimu sebagai
Tan Sam-cing, padahal sewaktu aku
berada bersamanya, dia tak lebih hanya seorang Tosu."
Sementara itu paras Tio Tian-seng telah
berubah hebat, ia segera menegur, "Kau benar-benar
Tan Sam-cing?"
"Tio Tian-seng," kata orang itu,
"perlukah kulepas topeng kulit manusia yang kukenakan ini agar kau
dapat melihat wajah asliku?"
PENDEKAR CACAT
Karya : Gu Long
Saduran : Can ID
Bagian 20 : Satu diantara 10 tokoh adalah Hek-mo-ong
Kulit muka Tio Tian-seng mengejang
keras, sahutnya sambil tertawa getir, "Sekarang aku sudah tak
bertenaga lagi, aku tak mampu menerima sebuah seranganmu."
"Tio Tian-seng, aku ingin bertanya
kepadamu, haruskah aku turun tangan hari ini?" orang berbaju hijau
bertanya dengan nada keras.
Tio Tian-seng menghela napas panjang,
"Ai, kalau kau ingin turun tangan, lakukanlah segera!"
Orang berbaju hijau itu berpaling dan
memandang sekejap ke arah Bong
Thian-gak, kemudian katanya, "Tapi dia pasti akan
menghalangiku untuk turun tangan."
Tiba-tiba Tio Tian-seng menghela napas
sedih, kemudian katanya, "Bong-laute, persoalan ini sebetulnya
merupakan penyelesaian antara diriku dengannya sebagai masalah
pribadi, aku harap Bong-laute tak usah mencampurinya."
Bong Thian-gak
maupun Thay-kun merasa sangat keheranan mendengar pembicaraan kedua
orang itu, "Mengapa Tio Tian-seng rela menyerahkan jiwanya setelah
bertemu orang berbaju hijau? Sebenarnya perselisihan apakah yang
terjalin antara mereka berdua?"
Tiba-tiba Thay-kun berkata sambil
tertawa merdu, "Kuanjurkan kepada saudara, lebih baik jangan
membunuh Tio Tian-seng."
"Kenapa?"
"Bila dia mati, maka kalian akan semakin
sulit menghadapi Hek-mo-ong!"
"Kemungkinan besar Tio Tian-seng adalah
Hek-mo-ong."
"Bila demikian pendapatmu, dugaanmu itu
keliru besar. Tio Tian-seng bukanlah Hek-mo-ong, Liu Khi serta kau
pun bukan pula."
"Asalkan kau dapat menebak siapa
Hek-mo-ong, maka aku tak akan melukai mereka."
"Hek-mo-ong adalah
Tan Sam-cing gadungan yaitu Sam-cing
Totiang dari kuil Sam-cing-koan."
Mendengar perkataan itu, baik
Bong Thian-gak maupun para jago
lainnya serentak berseru dalam hati, "Diakah Hek-mo-ong?"
Orang berbaju hijau itu kelihatan
ragu-ragu, dia segera bertanya, "Darimana kau bisa tahu dia adalah
Hek-mo-ong?"
Thay-kun segera tersenyum.
"Kalau kau adalah
Tan Sam-cing yang asli, maka apa
sebabnya pula kau mencatut namamu? Dalam hal ini kita sudah dapat
menduga di balik semua ini pasti terselip suatu rencana keji."
Mendadak orang berbaju hijau itu seperti
teringat sesuatu, dia segera menjerit kaget, "Jangan-jangan dia?"
Menyusul dia menggeleng, kembali
katanya, "Hal ini tak mungkin terjadi, sudah pasti bukan dia."
"Kadangkala sesuatu persoalan yang tak
mungkin, seringkah Justru dapat berubah menjadi kenyataan," kata
Thay-kun dengan suara merdu.
Orang berbaju hijau tertegun, tanyanya,
"Tahukah kau siapa yang kumaksud sebagai si dia itu?"
"Tentu saja tahu, kecuali kau telah
salah menduga."
Mendadak orang berbaju hijau berjalan ke
hadapan Thay-kun, ujarnya lirih, "Menurut pendapatmu, siapakah
Hek-mo-ong yang sebenarnya?"
"Aku kuatir jika nama itu kuucapkan, aku
segera akan dibunuh orang."
"Tapi jika kau enggan bicara, Hek-mo-ong
yakin kau sudah tahu rahasianya, maka dia pun dapat membunuhmu untuk
menghilangkan Jejak."
Thay-kun menghela napas panjang.
"Benar, dia dapat membunuhku untuk
menghilangkan jejak. Posisiku sekarang bicara mati tidak bicara pun
mati. Ai, itulah sebabnya aku telah mengambil keputusan untuk
mengutarakan soal ini kepada kalian."
Baru saja dia berkata, mendadak dari
tengah udara berkumandang suara pembicaraan seseorang dengan suara
rendah dan berat, "Thay-kun, apabila kau masih menginginkan nyawamu,
lebih baik jangan kau sebutkan."
Mendengar seruan yang muncul secara
tiba-tiba, serentak sorot mata semua orang dialihkan ke empat
penjuru untuk melakukan pemeriksaan.
"Hek-mo-ong, inilah suara Hek-mo-ong,
dia benar-benar bagaikan setan gentayangan hanya terdengar suaranya
tak nampak bayangannya."
Bong Thian-gak
berkata, "Selama ini Hek-mo-ong selalu berbicara dengan
mempergunakan ilmu menyampaikan suara Jian-li-hwe-ing (suara gema
seribu li) yang dipancarkan dari kejauhan, sehingga membuat orang
lain sulit menentukan dari arah manakah suara itu."
Sudah barang tentu semua jago yang hadir
mengetahui bahwa di dunia persilatan terdapat ilmu Jian-li-hwe-ing
itu.
Mendadak Liu Khi berkata, "Menurut yang
kuketahui, orang yang pandai mempergunakan ilmu Jian-li-hwe-ing
adalah Kui-kok Sianseng dari Mi-tiong-bun. Jangan-jangan perbuatan
itu dilakukan oleh orang-orang Mi-tiong-bun?"
Tiba-tiba Thay-kun tertawa cekikikan dan
berseru, "Hek-mo-ong, aku tahu kau tak bakal mencelakai diriku,
sekarang aku ingin mengajak kau melakukan tawar-menawar. Aku harap
kau suka menyerahkan obat penawar racun agar ditelan oleh Tio
Tian-seng serta Bong
Thian-gak."
Mendengar perkataan itu, Tio Tian-seng
dan Bong Thian-gak amat
terkesiap.
Dengan kening berkerut
Bong Thian-gak berseru, "Sumoay,
benarkah aku sudah terkena racun dari Hek-mo-ong?"
"Benar," jawab Thay-kun dengan wajah
serius. "Kau dan Tio-pangcu sudah menelan pil beracun berdaya kerja
lambat dari Hek-mo-ong."
Paras muka
Bong Thian-gak segera berubah hebat, katanya, "Sejak
kapan Hek-mo-ong memberi pil beracun kepada kami?"
"Bukankah kau dan Tio-pangcu pernah
menelan pil pemberian Biau-kosiu?"
"Ah!" Bong
Thian-gak berseru tertahan. "Kalau begitu Biau-kosiu..”
"Biau-kosiu adalah salah seorang
pembantu utama Hek-mo-ong," sambung Thay-kun pelan-pelan.
Tio Tian-seng dan
Bong Thian-gak yang mendengar
perkataan itu menjadi tertegun.
Sementara itu dari tengah udara
terdengar kembali suara Hek-mo-ong, "Budak ingusan, kau benar-benar
sangat lihai. Sebenarnya aku masih tidak percaya kau dapat
mengetahui asal-usulku sejelasnya."
"Sekarang tentunya sudah percaya bukan?"
seru Thay-kun.
"Aku masih tetap tidak percaya," suara
Hek-mo-ong masih terdengar dingin dan menyeramkan.
"Mau percaya atau tidak, bagiku bukan
persoalan penting. Kau harus menyerahkan obat penawar racun itu
sebagai imbalan aku pun tak akan mengungkap asal-usulmu yang
sebenarnya kepada orang lain. Di samping
itu, aku dan Bong Thian-gak
pun bersedia memenuhi permintaanmu untuk segera mengundurkan diri
dari dunia persilatan."
Baru saja Thay-kun menyelesaikan
perkataannya, pedang pendek orang berbaju hijau itu sudah
ditempelkan di atas dadanya.
Thay-kun sama sekali tak menyangka orang
berbaju hijau bakal berbuat demikian, ia menjadi tertegun dan segera
bertanya, "Mau apa kau?"
"Aku akan memaksamu mengutarakan
asal-usul Hek-mo-ong," kala orang berbaju hijau sambil tertawa
dingin tiada hentinya.
Tiba-tiba Bong
Thian-gak beranjak dari tempatnya dan pelan-pelan
mendekati orang itu.
Mendadak terdengar orang baju hijau itu
membentak, "Bila kau berani
maju selangkah lagi, aku segera akan menusuknya."
Terpaksa Bong
Thian-gak menghentikan langkah, katanya sambil
tertawa dingin, "Kau benar-benar
manusia rendah berjiwa pengecut dan terkutuk."
"Seringkali
memanfaatkan kesempatan di saat lawan sedang lemah merupakan
tindakan yang paling tepat," kata orang berbaju hijau dingin.
"Tan-locianpwe," kata Thay-kun sambil
tertawa, "tindakan yang kau ambil sekarang hanya akan mendatangkan
keburukan dan tiada keuntungan bagimu."
Orang berbaju hijau tertawa dingin,
"Bila kubunuh dirimu, maka Tio
Tian-seng dan Jian-ciat-suseng bakal mati juga. Apakah hal semacam
ini
tidak akan menguntungkan bagiku?"
"Tan-locianpwe, tahukah kau mengapa
Hek-mo-ong tak berani menampilkan diri? Dia takut kita bekerja sama
menghadapinya."
"Tapi jika kau membunuhku sekarang, maka
kau pun jangan harap bisa lolos dari hutan bambu Ban-jian-bong ini
dalam keadaan selamat."
"Masih ada satu hal lagi aku beritahukan
kepadamu, tusukan pedangmu itu belum tentu bisa membunuhku.
Sekalipun kau bisa membunuhku, di saat kau belum mencabut pedangmu
dari tubuhku, kau sendiri pun akan mati terbunuh di ujung pedang
Suhengku."
Sesudah mendengar itu, orang berbaju
hijau nampak agak raguragu, tiba-tiba ia menarik pedangnya dan
berkata dingin, "Aku tidak percaya Hek-mo-ong akan menerima syarat
yang kau ajukan itu."
Dalam pada itu
Bong Thian-gak telah menggeser tubuh
secepat kilat ke sisi Thay-kun dan berdiri penuh siap siaga dengan
senjata terhunus, tiba-tiba Thay-kun berkata lagi dengan merendahkan
suara, "Betul, belum tentu Hek-mo-ong akan menerima syarat yang
kuajukan."
"Tapi aku pun akan memberitahukan satu
hal kepada kalian, Hek-mo-ong cukup mengerti bahwa di antara kalian
bertiga sebenarnya terjalin hubungan permusuhan dan dendam kesumat
yang tak bisa
diselesaikan dengan sepatah dua
patah kata. Oleh sebab itu dia selalu menggunakan tipu-muslihat dan
tipu-daya untuk mengadu-domba kalian agar saling gontok dan bunuh."
"Apabila kalian bertiga benar-benar
saling gontok, maka secara sadar kalian terkena rencana keji
Hek-mo-ong."
"Lantas mengapa Hek-mo-ong menggunakan
siasat mengadu domba dan
sebaliknya tidak berusaha melenyapkan kalian secara terang-terangan,
hal ini disebabkan karena Hek-mo-ong tahu kalian memiliki
kepandaian silat hebat, ia pun sadar bahwa ilmu pukulan tengkorak
mautnya belum tentu akan membinasakan kalian dalam satu gebrakan."
"Oleh sebab itu ia berusaha memancing
kalian berjumpa di Ban
jian-bong agar kalian bertiga saling bertarung, sedang dia bersembunyi
di samping menonton, mengamati jurus-jurus serangan yang kalian
miliki serta berusaha mencari pemecahannya."
Tio Tian-seng, Liu Khi dan
Tan Sam-cing yang mendengar
perkataan itu diam-diam berpikir, "Benar juga, mengapa Hek-mo-ong
tidak mau menyerang kami secara terang-terangan?"
Sesudah berhenti sejenak Thay-kun
kembali melanjutkan ka katanya,
"Di samping itu
masih ada alasan lain, bisa jadi Hek-mo-ong
adalah seorang gila ilmu silat, di saat dia belum berhasil mempelajari
ilmu silat yang dimiliki seseorang, maka dia tak akan membinasakan
korbannya."
"Oleh sebab itu bilamana kalian bertiga
berusaha menghindar dari
serangan Hek-mo-ong yang mematikan, paling baik jika kalian kurang
kesempatan memperlihatkan jurus serangan yang kalian andalkan."
"Tapi siapakah Hek-mo-ong yang
sebenarnya?" tiba-tiba Liu Khi
bertanya.
Thay-kun menengok sekejap ke arahnya,
lalu bertanya, "Siapakah Hek-mo-ong
yang sebenarnya? Cepat atau lambat kalian pasti akan mengetahui
dengan sendirinya. Bila kuutarakan kepada kalian sekarang, maka aku
yakin tak seorang pun di antara kalian yang mau percaya dengan
perkataanku. Ini merupakan suatu kenyataan, itulah sebabnya untuk
sementara waktu aku belum ingin mengungkapkan."
Atas perkataan Thay-kun itu, Liu Khi,
Tio Tian-seng dan Tan Sam-ring
bertiga merasa sangsi.
Sambil tertawa dingin
Tan Sam-cing berkata, "Pembahasanmu
barusan sungguh membuat orang merasa tidak percaya."
"Bila kalian tak mau percaya, aku
sendiri pun tak dapat berbuat apa-apa," kata Thay-kun sambil
menghela napas. "Namun kuanjurkan kepada kalian agar secepatnya
meninggalkan tempat ini, sebab tetap bercokol di tempat ini
merupakan tindakan yang berbahaya."
Sampai di sini gadis itu segera
berpaling ke arah Bong
Thian-gak sambil berkata, "Bong-suheng, mari kita pergi saja!"
Baru saja Thay-kun membalikkan badan,
dilihatnya selembar kain putih diikat pada sebuah dahan bambu di
hadapannya.
Baru saja kain putih itu digantungkan,
kebetulan pula Thay-kun menyaksikan sesosok bayangan hijau sedang
berkelebat dan lenyap di balik pepohonan sebelah depan sana.
Dalam pada itu Tio Tian-seng, Liu Khi
dan Bong Thian-gak pun sudah
melihat kain putih itu.
Orang berbaju hijau mendengus dingin,
secepat kilat menerjang ke depan menembus hutan bambu dan mengejar
ke arah bayangan hijau ladi melenyapkan diri.
Thay-kun terkejut sekali, segera
teriaknya, "Tan-locianpwe, jangan dikejar”
Tan Sam-cing
yang termasyhur karena Ginkangnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Dengan cemas Thay-kun segera berseru,
"Tio-pangcu, Liu-tayhiap, apakah tenaga dalam yang kalian miliki
telah pulih? Mari cepat tengok ke depan sana."
Ternyata pada saat itu Tio Tian-seng dan
Liu Khi telah bangkit semua.
Terdengar suara jeritan ngeri yang
menyayat hati dari seorang wanita berkumandang datang dari kejauhan.
Menyusul terdengar pula
Tan Sam-cing berteriak penuh amarah,
"Hek-mo-ong...."
Hanya suara bentakan itu saja yang
terdengar, untuk kemudian suasana di sekeliling tempat itu kembali
hening.
Bong
Thian-gak, Thay-kun, Tio Tian-seng dan Liu Khi secepat kilat
menyusul pula ke depan.
Mendadak mereka lihat di bawah hutan
bambu, di depan sebuah peti mati bobrok, duduk seorang perempuan
berambut panjang berbaju hijau, dadanya ditembus sebilah pedang
pendek sampai ke punggung, darah segar masih bercucuran dengan
derasnya membasahi pakaian serta dedaunan kering yang berserakan di
atas tanah.
Pedang pendek itu tepat menembus
jantungnya, perempuan itu sudah mampus, namun matanya melotot besar,
mengawasi seorang yang berada di hadapannya.
Orang yang berada di mukanya itu tentu
saja pembunuh yang telah menghabisi nyawanya...
Tan Sam-cing.
Namun Tan
Sam-cing sendiri memejamkan mata, noda darah masih
membasahi ujung bibirnya, dia sedang duduk bersila di atas tanah
tanpa bergerak.
Perubahan yang berlangsung secara
tiba-tiba ini membuat para jago terperanjat.
Bong Thian-gak
yang pertama-tama menerjang ke hadapan Tan
Sam-cing sambil menegur, "Tan-locianpwe...
Tan-locianpwe
Pelan-pelan
Tan Sam-cing membuka mata dan memandang pemuda itu
sekejap, kemudian dipejamkan kembali tanpa mengucapkan sepatah kata
pun.
Tiba-tiba terdengar Tio Tian-seng
berkata dengan suara dalam,' "Bong-laute, jangan kau usik dirinya.
Dia sedang bersemedi mengobati luka yang dideritanya."
Sementara itu Liu Khi sedang memandang
kain putih yang tergantung di batang bambu, ternyata di atas kain
itu tertera beberapa huruf besar warna merah darah.
Tulisan disertai pula lambang tengkorak
besar: "Undangan kematian
tengkorak.
"Mengundang dengan sangat kematian Liu
Khi pada bulan delapan tanggal tujuh tengah malam tepat".
Liu Khi yang menyaksikan tulisan itu
segera mendengus dingin dan siap melompat ke atas untuk
menyambarnya.
Tapi Thay-kun segera berseru keras,
"Liu-tayhiap jangan bertindak sembarangan daripada terjebak
perangkap keji pihak lawan."
Permainan setan Hek-mo-ong memang sudah
menggetarkan hati siapa
saja, kendatipun Liu Khi
merasa gusar, namun setelah melihat Tan
Sam-cing menderita luka parah, sedikit banyak hatinya
dibuat keder juga.
Sementara itu Tio Tian-seng dan
Bong Thian-gak pun sudah menyaksikan
pula tulisan yang tertera di atas kain putih itu.
Sambil menghela napas panjang, Thay-kun
berkata, "Akhirnya Hek-mo-ong
mengirim juga kartu kematian untuk Liu-tayhiap."
Sambil tertawa dingin Liu Khi berkata,
"Bulan delapan tanggal tujuh,
akan kubuktikan dengan cara bagaimana dia hendak menghabisi
nyawaku."
"Setiap kali Hek-mo-ong mengirim kartu
kematian, dia sudah berhasil menelusuri semua ilmu silat orang itu
dan mempunyai keyakinan untuk dapat merenggut nyawa musuhnya," kata
Thay-kun sambil menghela napas panjang. "Ai, seandainya Liu-tayhiap
tidak melangsungkan pertarungan sengit melawan Tio-pangcu hari ini,
aku rasa
belum tentu Hek-mo-ong akan memberikan
kartu kematian kepadamu."
Tio Tian-seng menghela napas panjang,
ucapnya, "Agaknya nona sudah mempunyai keterangan yang jelas tentang
segala sesuatu yang menyangkut Hek-mo-ong?"
"Asal-usul Hek-mo-ong pun baru hari ini
berhasil kuraba sedikit demi sedikit."
Mendadak Bong
Thian-gak berkata sambil tertawa, "Hek-mo-ong
telah mengirim kartu kematian
kepadaku serta Tio-pangcu dan Liu-layhiap. Seandainya mulai sekarang
kita bertiga selalu berkumpul, tiga
hari
mendatang akan kulihat dengan cara
apakah Hek-mo-ong akan membunuh
kita."
"Bong-suheng dan Tio-pangcu sudah
terkena obat beracun dari Hek-mo-ong!" kata Thay-kun sambil menghela
napas. "Asal waktunya sudah sampai, maka racun itu akan mulai
bekerja menggerogoti tubuh kalian. Dalam hal ini Hek-mo-ong tak
perlu menampakkan diri untuk mencelakai kalian!"
Selesai mendengar penjelasan Thay-kun,
paras muka Bong Thian-gak dan
Tio Tian-seng segera berubah hebat, mereka membungkam.
Dari perubahan wajah kedua orang itu,
Thay-kun mengetahui apa yang sedang mereka pikirkan, sambil
tersenyum manis ujarnya, "Kalian tak usah kuatir, aku tak akan
membiarkan kalian tewas dalam keadaan mengerikan."
"Apakah nona telah menemukan cara untuk
membebaskan kami dari pengaruh racun itu?" tanya Tio Tian-seng
cepat.
"Asalkan kalian berdua tak menelan pil
mustika yang dihadiahkan Hek-mo-ong kepada kalian, aku yakin daya
kerja racun yang mengeram dalam tubuh kalian tak akan merenggut
nyawa."
"Apakah pil itu pun merupakan obat
racun?" tanya Bong Thian-gak
segera.
"Bukan obat racun, tapi pil itu justru
dapat membangkitkan daya kerja racun yang telah kalian telan
sebelumnya dan membaurnya kedua pil itu akan menyebabkan kematian
yang mengenaskan."
"Thay-kun, darimana kau bisa mengetahui
sedemikian jelasnya?"
"Orang yang paling pandai, paling
sempurna dalam pembuatan obat di dunia saat ini adalah tabib sakti
Gi Jian-cau, padahal ilmu menggunakan racun yang dipakai Hek-mo-ong
untuk mencelakai orang dipelajarinya dari Gi Jian-cau, sedangkan aku
sendiri pun pernah mempelajari cara yang sama dari Gi Jian-cau
pribadi, sudah barang tentu aku mengetahui jelas teknik yang dipakai
Hek-mo-ong."
"Nona, aku merasa kurang mengerti," kata
Tio Tian-seng dengan kening berkerut. "Pil mustika yang diberikan
Hek-mo-ong kepadamu, kau katakan sebagai obat yang akan memancing
bekerjanya racun keji yang sudah mengeram dalam tubuhku, tapi
darimana pula Hek-mo-ong bisa tahu kami bakal menelan pil yang dia
berikan kepada kami?"
"Di sinilah letak kunci semua peristiwa
itu, tatkala Hek-mo-ong memberikan pil yang kedua itu kepada kalian,
dia tentu berkata kepada kalian bahwa obat itu adalah pemunah racun,
sudah barang tentu kalian tak bakal mempercayai perkataannya begitu
saja serta tak akan kalian telan pil itu."
"Akan tetapi bila batas waktu kerjanya
racun di dalam tubuh kalian sudah tiba dan kalian merasakan
penderitaan serta siksaan yang luar biasa di dalam tubuh kalian,
pada waktu itu kalian tentu akan salah mengira bahwa racun itu
benar-benar sudah bekerja dan kalian pun pasti akan teringat pada
obat penawar racun palsu, yang sesungguhnya akan menjadi alat
membunuh sebenarnya bagi keselamatan kalian berdua."
"Akibatnya kalian benar-benar akan
terkecoh dan mendapat serangan racun yang jauh lebih keji sehingga
akibatnya tewas dalam keadaan mengerikan."
Tio Tian-seng segera menjadi paham,
katanya sambil menghela napas panjang, "Benar-benar teknik meracuni
yang hebat. Seandainya nona tidak memberi penjelasan, siapa pun
pasti tak akan berhasil lolos dari serangan semacam itu."
Thay-kun segera menghela napas panjang.
"Seandainya aku tidak berhasil
mengetahui asal-usul Hek-mo-ong hari ini, aku pun tak teringat cara
meracuni orang yang biasa digunakan Gi Jian-cau."
"Apakah Hek-mo-ong adalah Gi Jian-cau?"
tanya Bong Thian-gak kemudian
dengan perasaan tergerak.
Thay-kun memandang sekejap ke arahnya,
lalu menggeleng, katanya, "Bukan, Gi Jian-cau bukanlah Hek-mo-ong.
Bila waktunya tiba, tentu akan kuberitahukan rahasia ini kepada
kalian."
Setelah mendengarkan penjelasan
Thay-kun, Tio Tian-seng dan Bong
Thian-gak pun secara lamat-lamat merasa keselamatan jiwanya
tidak begitu terancam lagi, tanpa terasa semangatnya segera
berkobar.
Hanya Liu Khi seorang yang masih tetap
mengerut dahi dengan perasaan berat.
Thay-kun berpaling dan memandang sekejap
ke arah Liu Khi, kemudian ujarnya, "Aku tak tahu dengan cara apa
Hek-mo-ong hendak mecelakai Liu-tayhiap, sehingga sulit juga bagiku
memikirkan sesuatu cara untuk mengunggulinya, aku rasa jalan yang
terbaik adalah Liu-tayhiap jangan meninggalkan kami untuk sementara
waktu. Aku pikir asal kita mau bekerja sama meningkatkan kewaspadaan
masing-masing, biarpun Hek-mo-ong lebih licik tak nanti bisa berbuat
banyak."
Sementara itu para jago merasa kagum
atas kecerdikan dan ketelitian Thay-kun dalam menghadapi persoalan
serius, kendati Tio Tian-seng dan Liu Khi merupakan orang-orang
angkuh dan berjiwa tinggi, namun terhadap tindakan yang diambil
Thay-kun sekarang ternyata menurut dan sama sekali tidak membantah.
Pada saat itulah mendadak
Tan Sam-cing memuntahkan darah segar
sebanyak tiga kali.
Tapi sesudah itu
Tan Sam-cing sudah dapat bicara
lagi, katanya, "Oh, sungguh berbahaya. Hampir saja nyawaku hilang
percuma!"
Dengan cepat Thay-kun segera memburu ke
depan, lalu tanyanya dengan merdu, "Apakah Tan-locianpwe sudah
bertempur dengan Hek-mo-ong?"
Tiba-tiba Tan
Sam-cing melepas topeng kulit manusia yang dikenakan
olehnya dan membesut noda darah dari ujung bibirnya, kemudian
sahutnya pelan, "Ya, kami sudah saling bertarung."
"Dapatkah Tan-locianpwe menjelaskan
situasi pertarungan yang telah kau alami tadi?"
Tan Sam-cing
termenung beberapa saat, kemudian sahutnya, "Hek-mo-ong benar-benar
manusia licik dan berhati busuk. Ai, tatkala aku sedang mengejar
nona berbaju hijau tadi, mendadak dari balik peti mati berkelebat
seseorang secepat kilat, lalu bergema suara jeritan ngeri yang
memilukan, ternyata dada si nona berbaju hijau itu sudah ditusuk
-pedang oleh orang itu hingga
tembus ke punggung."
"Tindakan yang sama sekali di luar
dugaan ini kontan membuat perhatianku bercabang, pada saat inilah
dengan gerakan cepat orang itu melepaskan pukulan ke hulu hatiku,
sedemikian cepat gerakan ini
membuat aku teringat akan Hek-mo-ong. Aku pun segera membentak gusar
dan mempergunakan jurus seranganku yang paling tangguh untuk
melancarkan serangan balasan menimpukkan pedang pendek itu ke
depan."
"Aku tidak tahu apakah seranganku itu
berhasil menghajar musuh,
sebab dada kiriku terasa sakit sekali, hampir membuatku jatuh
pingsan, sementara darah segar muncrat dari mulutku."
"Tatkala aku berusaha memusatkan
perhatian untuk melihat jelas raut wajahnya, bayangan iblis itu
sudah hilang lenyap tak berbekas, malahan pedang pendekku turut
hilang."
Ketika selesai mendengarkan penuturan
itu, pelan-pelan Thay-kun berkata, "Nona berbaju hijau itu sudah
ketahuan jejaknya sehingga mustahil baginya untuk menghilangkan
jejak. Itulah sebabnya Hek-mo-ong segera bertindak membunuh dirinya,
tapi tindakan Hek-mo-ong pun di luar dugaan sehingga tidak heran
perhatian Tan-locianpwe menjadi bercabang, akibatnya jurus pedang
Tan-locianpwe yang paling lihai pun tak sanggup membendung pukulan
tengkorak Hek-mo-ong."
"Tapi dengan serangannya itu sudah
berhasil menggagalkan jurus pedang Tio-locianpwe yang terhebat, maka
aku duga dalam serangan ilmu tengkorak yang dilancarkan Hek-mo-ong
untuk kedua kalinya, kemungkinan besar Tan-locianpwe tidak akan
mampu melawan lagi."
Beberapa patah kata Thay-kun segera
mendatangkan perasaan tak puas bagi Tan
Sam-cing, dia tertawa dingin sambil katanya, "Serangan
pedangku cepat dan dahsyat. Aku tidak percaya Hek-mo-ong dapat
memahami kelihaian jurus pedang itu dalam sekilas pandang saja. Hm,
bukankah Hek-mo-ong sendiri pun sudah terkena serangan pedangku?"
"Betul, Hek-mo-ong pun terkena tusukan
Tan-locianpwe, bahkan tertusuk sangat dalam sehingga pedangmu tidak
terjatuh ke tanah melainkan dibawa lari Hek-mo-ong, namun bagian
tubuh yang terkena tusukan itu sudah pasti bukan bagian yang
mematikan, karena serangan itu tidak berhasil merobohkan Hek-mo-ong,
kendati demikian aku percaya kesombongan dan kejumawaan Hek-mo-ong
pasti akan berkurang setelah mengalami peristiwa ini."
Pat-kiam-hui-hiang
Tan Sam-cing yang mendengar
perkataan itu merasa gembira,
segera katanya, "Pembahasan nona benar-benar sangat teliti dan jitu.
Sungguh membuat hati orang menjadi sangat kagum."
Thay-kun berpaling sekejap ke arahnya,
kemudian katanya sambil tersenyum, "Tapi mengenai perkataan
Tan-locianpwe yang mengatakan bahwa
bentrokan itu berlangsung sangat cepat dan belum tentu Hek-mo-ong
dapat memahami rahasia seranganmu, aku rasa Locianpwe tidak boleh
bertindak kelewat gegabah."
"Perlu kau ketahui, Hek-mo-ong mempunyai
ketajaman mata luar biasa, dia pun mempunyai daya kemampuan melebihi
siapa pun, itulah sebabnya dia dapat mempelajari segenap ilmu silat
dari berbagai partai dan perguruan."
Tan Sam-cing
tertawa terbahak-bahak, "Di kolong langit ini, rasanya hanya seorang
saja yang memiliki kemampuan seperti apa yang kau lukiskan barusan,
orang itu adalah Thio Kim-ciok."
Mendadak Tan
Sam-cing seperti teringat persoalan yang amat
mengerikan, dengan wajah berubah hebat dia segera menghentikan
perkataannya, matanya terbelalak lebar dan mulutnya agak melongo.
Tampaknya semua jago yang hadir di arena
pun seakan-akan teringat persoalan yang maha besar, serentak mereka
berseru kaget dan mengalihkan sinar matanya ke wajah Thay-kun.
"Apakah kalian teringat akan dia?" tanya
Thay-kun kembali sambil tersenyum.
"Mungkinkan Hek-mo-ong adalah dia?"
tanya Liu Khi agak emosi.
"Betul, dia adalah Thio Kim-ciok."
Ucapan itu benar-benar membuat hati
setiap orang bergetar keras.
Dengan suara dalam Mo-kiam-sin-kun Tio
Tian-seng berseru, "Thio Kim-ciok sudah mati tiga puluh tahun lalu,
bagaimana mungkin bisa bangkit dari liang kubur? Apakah nona sedang
bergurau?"
"Sekarang aku ingin bertanya dengan
Locianpwe, pernahkah kau mewariskan ilmu pedang terbangmu kepada
seseorang? Kalau pernah, siapakah orang itu?"
"Hanya Thio Kim-ciok yang pernah
mendapat warisan ilmu pedang itu," jawab
Tan Sam-cing.
"Sewaktu kau berjumpa Sam-cing Totiang
dari kuil Sam-cing-koan yang menyaru sebagai dirimu di tanah
pekuburan luar kota tempo hari, bukankah dia telah menggunakan pula
ilmu pedang Pat-kiam-hui-hiang? Bukankah jurus serangannya persis
ilmu pedang andalanmu itu?"
"Benar, caranya persis sama, hanya
kurang sempurna saja," jawab Tan
Sam-cing dengan suara keras.
"Sekarang aku mau menanyakannya satu hal
yang sama, semua pembicaraan yang dilakukan Hek-mo-ong mempergunakan
ilmu Jian-li-hwe-ing, padahal
orang yang pandai mempergunakan ilmu itu di kolong langit hanya
Kui-kok Sianseng seorang. Kecuali diwariskan kepada Thio Kim-ciok,
pernahkah Kui-kok Sianseng mewariskan kepandaian itu kepada orang
lain?"
"Selain itu, Hek-mo-ong juga pandai
dalam ilmu racun, selain tabib sakti Gi Jian-cau, siapa lagi yang
bisa mempergunakan ilmu itu lebih sempurna darinya? Kemudian ilmu
menyaru muka Hek-mo-ong berasal dari Song-ciu."
"Dengan berbagai kepandaian sakti yang
dimiliki Hek-mo-ong, coba bayangkan, kecuali Thio Kim-ciok, siapa
lagi yang mampu mempelajari begitu banyak ilmu sakti sekaligus?"
Pelan-pelan Thay-kun mengawasi wajah
orang itu, lalu lanjutnya, "Sejak dulu hingga sekarang, bila ada
seorang ganas dan buas melakukan perbuatan terkutuk yang merugikan
orang banyak, maka orang itu pasti mempunyai maksud tujuan
tertentu."
"Hek-mo-ong menantang perang terhadap
sepuluh tokoh sakti persilatan, sebenarnya apa maksudnya?"
"Apakah dia hendak menguasai dunia
persilatan, menjadi pemimpin umat persilatan?"
"Tentu saja tidak."
"Dia hendak membalas dendam."
"Karena sepuluh tokoh persilatan
menyeleweng dengan istrinya, berbuat mesum dengan bininya, selain
itu membunuh pula ratusan anak buahnya, maka dia harus membalas
dendam, membunuh kesepuluh jago persilatan itu."
Perkataan Thay-kun ini segera membuat
orang terbelalak dengan mulut melongo, perasaan ngeri segera timbul
dalam hati, membuat bulu kuduk berdiri.
Semua fakta dan bukti sudah di depan
mata, semua itu dapat diterima dengan akal sehat. Selain Thio
Kim-ciok, rasanya memang tiada orang kedua yang kemungkinan besar
menjadi Hek-mo-ong.
Tapi Thio Kim-ciok sudah mati tiga puluh
tahun lalu, mayatnya telah tenggelam di dasar telaga. Bagaimana
mungkin dia bisa hidup kembali?
Oleh karena itulah Tio Tian-seng, Liu
Khi serta Tan Sam-cing tidak
percaya kalau Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok.
Setelah menghela
napas, Tio Tian-seng berkata, "Meskipun apa yang diduga nona masuk
akal, akan tetapi Thio Kim-ciok sudah mati, jenazahnya sudah
tenggelam di dasar telaga dan hal ini merupakan kenyataan. Orang
yang sudah mati masakah bisa
hidup kembali? Hal ini benar-benar sukar diterima akal sehat."
"Dengan cara bagaimana Thio Kim-ciok
hidup kembali memang sama sekali tidak kuketahui," pelan-pelan
Thay-kun berkata. "Namun aku tahu, bangkitnya Thio Kim-ciok sudah
pasti mempunyai hubungan sangat erat dengan Gi Jian-cau."
"Apabila kalian ingin membuktikan
benarkah Hek-mo-ong adalah Thio Kim-ciok, aku rasa bila si tabib
sakti dapat ditemukan, maka semua duduk persoalan akan menjadi
jelas."
"Bukankah menurut nona Thay-kun, Gi
Jian-cau bersembunyi di dalam Ban-jian-bong ini?"
"Benar," Thay-kun mengangguk. "Gi
Jian-cau berada di Ban-jian-bong."
"Kalau begitu untuk menyingkap tabir
peristiwa ini, bagaimana pun juga kita harus mencari si tabib sakti
sampai ketemu," ujar Liu Khi.
Thay-kun memandang sekejap keadaan
cuaca, kemudian ujarnya, "Sekarang baru mendekati tengah hari, mari
kita berpencar melakukan pemeriksaan, bilamana salah seorang di
antara kita menemukan jejak musuh atau menemukan Gi Jian-cau,
gunakanlah tiga kali pekikan panjang sebagai tanda untuk berkumpul.
Ingat, bagaimana pun juga kita harus menghindari pertarungan secara
kekerasan. Sebelum matahari terbenam nanti, kita berkumpul kembali
di pintu masuk Ban-jian-bong sebelah timur."
Mimpi pun Tio Tian-seng, Liu Khi serta
Tan Sam-cing tidak menyangka
hari ini harus menuruti perintah seorang bocah perempuan. Sekalipun
dalam hati segera timbul perasaan tak enak, namun mereka
melaksanakan juga perintah itu tanpa membantah.
Maka berangkatlah Tio Tian-seng,
Tan Sam-cing dan Liu Khi menuju ke
arah timur, barat dan selatan.
Sedangkan Bong
Thian-gak dan Thay-kun berangkat menuju ke arah utara.
Ban-jian-bong memang pekuburan yang amat
menyeramkan, guagua gelap, liang-liang merekah dan peti mati
berserakan dimana-mana membuat suasana di tempat itu benar-benar
amat menggidikkan.
Baru saja Bong
Thian-gak dan Thay-kun berangkat, mendadak mereka
menyaksikan di bawah kerumunan pepohonan yang rindang berdiri tiga
orang Hwesio berbaju kuning.
Dengan ketajaman mata Thay-kun, sekilas
pandang saja ia segera mengenali Hwesio setengah umur yang bertubuh
gemuk itu adalah Hwesio yang bertanggung-jawab pada pekuburan
halaman sembilan.
Dia berdiri di situ dengan tangan
memegang tasbih, tangan kanan disilangkan di depan dada, sepasang
matanya terpejam, wajahnya kelihatan kereng dan serius.
Di sebelah kiri kanannya masing-masing
berdiri Hwesio jangkung dan pendek, keduanya bertubuh ceking tinggal
kulit pembungkus tulang. Kedua opng itu pun memegang tasbih, hanya
sorot mata mereka yang tajam mengawasi wajah Thay-kun dan
Bong Thian-gak.
Hati Bong
Thian-gak bergetar keras, diam-diam pikirnya, "Dari
sorot mata ketiga Hwesio itu, jelas sudah bahwa mereka adalah jago
persilatan berilmu tinggi, sungguh tak disangka para Hwesio yang
berjaga di Ban-jian-bong memiliki kepandaian silat begitu hebat."
Sementara dia masih termenung, Hwesio
setengah umur itu sudah membuka mata dan menegur dengan suara
lantang, "Omitohud, Sicu berdua hendak pergi kemana?"
Sambil tertawa Thay-kun menjawab, "Sejak
pagi tadi, aku sudah merasa bahwa Taysu berbeda dengan kebanyakan
orang, ternyata dugaanku memang benar, nyatanya Taysu adalah
seorang jago silat berilmu tinggi!"
"Omitohud!" kembali Hwesio itu berkata,
"Ban-jian-bong ini merupakan pekuburan yang diperuntukkan bagi
mereka yang telah mati untuk beristirahat tenang. Karena itu Pinceng
menganjurkan kepada Sicu berdua agar jangan menimbulkan pembunuhan
dalam Ban-jian-bong."
"Ah, ucapan Taysu terlalu serius,"
Thay-kun tersenyum. "Kami hanya ingin mencari seorang sahabat lama
di Ban-jian-bong ini. Bila Taysu bersedia memberi petunjuk, tentu
kami akan menemukannya dengan cepat."
Mendadak mencorong sinar tajam dari mata
Hwesio gemuk itu, katanya kemudian, "Apabila kalian berdua enggan
menuruti nasehatku dan secepatnya meninggalkan Ban-jian-bong, maka
dalam Ban-jian-bong ini kemungkinan besar akan bertambah lagi dengan
dua liang kubur baru."
"Bukan hanya dua liang kubur baru yang
akan bertambah di Ban-jian-bong ini," jengek Thay-kun tertawa
dingin.
Sementara itu kedua Hwesio ceking yang
berdiri di belakang Hwesio gemuk itu sudah menunjukkan wajah gusar
dan hawa napsu membunuh yang berkobar-kobar.
Dengan suara dingin Hwesio gemuk itu
menegur, "Li-sicu telah membuat onar di sini. Apakah perbuatan itu
tidak keterlaluan?"
Tiba-tiba paras Thay-kun berubah menjadi
dingin, lalu katanya ketus, "Oh, rupanya Taysu sekalian sudah
mengetahui peristiwa yang terjadi di tanah pekuburan ini? Kalau
begitu Taysu sudah mengetahui asal-usul kami bukan? Apabila Taysu
seorang pintar, maka secepatnya beritahukan kepada Gi Jian-cau,
katakan kalau ada seorang rekannya yang bernama Thay-kun datang
berkunjung."
Berubah paras Hwesio gemuk itu, katanya,
"Perkataan Li-sicu , tiada
ujung-pangkalnya, sungguh membuat orang tidak habis mengerti."
Kembali Thay-kun tertawa dingin.
"Taysu harap dengarkan baik-baik,
persembunyian Gi Jian-cau di Ban-jian-bong sudah bukan rahasia lagi.
Sekalipun kami tak mencarinya, pihak Hek-mo-ong pasti akan
mencarinya dan membinasakannya."
"Hari ini kami sengaja mencari Gi
Jian-cau hendak mengajaknya merundingkan bagaimana cara menghadapi
Hek-mo-ong. Nah, semua sudah kuutarakan, harap Taysu mengambil
keputusan secepatnya."
Dengan paras muka berubah hebat Hwesio
gemuk itu membentak, "Apabila kalian tidak segera mengundurkan diri
dari Ban-jian-bong, jangan salahkan bila Pinceng bertindak keji."
Bong Thian-gak
yang selama ini hanya berdiam di samping, berkata sambil tertawa
dingin, "Sebenarnya jurus tangguh macam apakah yang kau miliki? Tak
ada salahnya kau gunakan di hadapanku."
Sambil berkata pemuda itu segera maju ke
muka dan menghadai di depan Thay-kun.
Hwesio gemuk itu benar-benar gusar,
dengan suara menggelegar dia
membentak, "Bagi mereka yang tak mau sadar, hanya jalan kematian
yang paling cocok baginya. Sute berdua kalian mundur dulu."
Begitu diberi perintah, kedua Hwesio itu
segera membalikkan badan dan mundur ke belakang.
"Berhenti!"
Bong Thian-gak segera membentak.
Dengan gerakan sangat cepat dia
menerjang ke depan.
Pada saat Bong
Thian-gak menggerakkan tubuh, ketiga Hwesio itu melejit
ke tengah udara, lalu memisahkan diri.
Thay-kun yang berada di belakang dan
menyaksikan peristiwa itu segera mengerti bahwa ketiga Hwesio itu
sama sekali tidak bermaksud melarikan diri, maka dia segera berseru
dengan suara merdu, "Hati-hati, mereka membalikkan badan sambil
melancarkan serangan balasan."
Belum selesai dia berkata, benar juga
tampak Hwesio gemuk itu membalikkan badan, kemudian berkata dengan
suara dingin, "Sayang keadaan sudah terlambat."
Sambil bicara dia mengayunkan tangan ke
depan.
Sebiji tasbih yang berada di tangan
kirinya sudah disambitkan ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Berbareng kedua Hwesio jangkung dan
pendek yang memisahkan diri tadi, masing-masing membidikkan pula
sebiji tasbih ke arah Bong
Thian-gak.
Dengan kepandaian silat
Bong Thian-gak, sudah barang tentu
serangan senjata rahasia biasa tak nanti bias melukai dirinya.
Thay-kun yang berdiri di sisi arena
dapat menyaksikan peristiwa itu dengan jelas, dia lihat ketiga biji
tasbih itu bukan tertuju ke arah Bong
Thian-gak, sebaliknya ditujukan ke satu titik yang sama
untuk saling bertumbukan satu sama lain.
Dengan cepat Thay-kun menyadari bahwa di
balik semua itu tentu ada sesuatu yang tidak beres, cepat dia
membentak, "Bong-suheng cepat mundur, tampaknya senjata rahasia itu
ada sesuatu yang tidak beres!"
Belum selesai dia berkata, ketiga biji
tasbih yang meluncur dari tiga arah yang berbeda itu sudah saling
tumbuk.
Suatu ledakan keras segera berkumandang.
Rupanya ketiga biji tasbih kecil itu
telah berubah menjadi
tiga buah letusan api yang
meledak bersama di hadapan Bong
Thian-gak.
Jilatan api yang sangat besar segera
menyebar bersamaan dengan gulungan angin berpusing yang menderu.
Jerit kesakitan bergema, tahu-tahu tubuh
Bong Thian-gak sudah
terpental.
Thay-kun dapat menyaksikan kejadian itu
dengan jelas, tubuh Bong
Thian-gak sudah bermandikan darah dan tergeletak di atas tanah.
Sambil menjerit kaget, Thay-kun segera
menerjang ke muka sambil berkata, "Bong-suheng!"
Sementara ketiga Hwesio itu sudah
menerjang kembali, tampak dalam genggaman mereka masing-masing
membawa sebiji tasbih.
Sudah jelas bukan tasbih biasa,
melainkan peluru api Leng-hwe-tan.
j
Bong Thian-gak
masih tergeletak di atas tanah, tapi saat itu dia j berpekik panjang
seraya berseru keras, "Sumoay, aku belum mati. Kau cepatlah mundur,
peluru Leng-hwe-tan itu sangat lihai."
Dalam pada itu
Bong Thian-gak telah melolos
Pek-hiat-kiam dan i melompat bangun dari atas tanah, kemudian
langsung menyongsong datangnya Hwesio gemuk itu.
Peluru Leng-hwe-tan ketiga Hwesio itu
kembali meluncur ke j
depan dengan kecepatan
luar biasa.
Namun gerakan pedang
Bong Thian-gak pun tak kalah
cepatnya. Tampak cahaya pedang berkelebat bagaikan cahaya bianglala,
angin tajam pun membelah angkasa.
Tak sempat mengeluarkan jeritannya lagi,
pinggang Hwesio gemuk itu terbabat kutung menjadi dua bagian.
Pada saat bersamaan terjadi kembali
ledakan keras, ketiga biji Leng-hwe-tan kembali meletus di belakang
Bong Thian-gak.
Ketika berhasil membinasakan Hwesio
gemuk itu. Bong Thian-gak
dengan tubuh menempel di atas tanah segera berputar ke arah lain,
sekali lagi terdengar pekikan nyaring menggema, tahu-tahu cahaya
pedang menyambar ke arah Hwesio bertubuh jangkung.
Ketika melihat Hwesio gemuk tewas di
ujung pedang Bong Thian-gak,
kedua Hwesio jangkung dan cebol sudah dibuat ketakutan dan
masing-masing melompat mundur. Berbareng satu dari timur dan yang
lain dari barat, mereka bersama-sama menyambitkan kembali dua biji
l.eng-hwe-tan ke arah Bong
Thian-gak.
Sudah barang tentu
Bong Thian-gak bukan pemuda bodoh
yang rtima berdiri mematung di tempat. Oleh sebab itu di saat
Leng-hwe-tan meledak di belakang tubuhnya, sudah tak mampu untuk
melukai dirinya lagi-
Ketika ledakan menggelegar, pedang
Bong Thian-gak menyambar pula
ke leher si Hwesio jangkung.
Suara jeritan ngeri bergema kembali,
percikan darah segar pun menyembur kemana-mana.
Menyaksikan gelagat tidak menguntungkan,
Hwesio pendek iegera membalikkan badan dan melarikan diri
terbirit-birit masuk ke balik hutan bambu.
Dari jarak jauh
Bong Thian-gak menyambitkan
Pek-hiat-kiam ke depan.
Cahaya pedang memercik di angkasa dan
meluncur dengan kecepatan luar biasa.
Jeritan ngeri yang memilukan sekali lagi
bergema di angkasa.
Si Hwesio bertubuh pendek tahu-tahu
sudah tertusuk pedang dan tewas di balik hutan bambu.
Setelah berhasil membunuh ketiga Hwesio
secara beruntun, Bong
Thlnn-gak ikut roboh terjengkang ke atas tanah.
Walaupun dalam usahanya membunuh ketiga
Hwesio tadi ia telah menggunakan beberapa macam kepandaian yang
berbeda, namun berhubung gerakannya dilakukan dalam kecepatan luar
biasa dan lagi diselesaikan dalam satu gebrakan saja, hal itu
membuat Thay-kun sendiri pun lak sempat memberikan bantuan
kepadanya.
Thay-kun segera menerjang ke muka dan
membangunkan tubuh Bong
Thian-gak.
Terdengar si anak muda itu merintih
pelan, "Sumoay, di balik peluru api itu tersimpan jarum lembut, kini
dadaku telah terkena jarum yang amat lembut itu. Aku
... mungkin aku sudah tak tertolong
lagi
Memandang dadanya yang basah oleh darah
dan keadaannya Ngilu mengerikan, air mata Thay-kun bercucuran dengan
derasnya, sehingga membasahi wajah Bong
Thian-gak, ujarnya sambil menahan liuk tangis, "Suheng,
bila jarum lembut itu beracun, mana mungkin jiwamu tertolong."
Bong Thian-gak
tertawa getir, "Sekalipun jarum-jarum lembut itu tidak beracun,
namun jarum itu amat lembut. Apabila tertusuk ke dalam nadi, maka
jarum tadi akan mengalir masuk mengikuti gerakan darah. Dalam
keadaan begini, sekalipun ada dewa yang turun dari kahyangan pun
belum tentu jiwaku dapat diselamatkan."
"Ai, sungguh tidak kusangka, biji tasbih
ketiga Hwesio itu tersimpan peluru api yang berisi jarum lembut
begitu beracun. Senjata rahasia semacam ini biasanya berasal dari
keluarga Tong di propinsi Sucwan."
"Suheng, kau tak usah banyak bicara
lagi," tukas Thay-kun dengan air mata bercucuran. "Bila aku bisa
mendapatkan sepotong besi sembrani sekarang, jiwamu tentu akan
tertolong."
Bong Thian-gak
menggeleng kepala sambil menghela napas, "Aku tahu jiwaku sudah tak
akan tertolong lagi, ai
Kemudian setelah berhenti sejenak,
kembali dia melanjutkan, "Sumoay, mumpung aku saat ini masih dapat
berbicara, aku ingin sekali memberitahukan satu hal kepadamu."
Waktu itu pikiran Thay-kun sudah amat
kalut, sambil menahan isak tangis dia berkata, "Suheng, soal apa
yang hendak kau beritahukan kepadaku, cepatlah kau utarakan!"
"Aku ingin berkata kepadamu, aku cinta
padamu," bisik Bong Thian-gak
sambil tertawa rawan.
"Suheng, tahukah kau bahwa aku pun
selalu mencintaimu?" kata Thay-kun kemudian.
Hati Bong
Thian-gak bergetar keras, dengan gembira serunya, "Kau
... kau tidak membohongi
aku?"
"Tidak, aku tak membohongimu, orang yang
diam-diam kucintai itu tak lain adalah kau, tapi berhubung kau sudah
mendapatkan Song Leng-hui,
maka aku ... aku sengaja
berbohong kepadamu."
Tiba-tiba Bong
Thian-gak berteriak, "Aku tidak boleh mati, aku
... aku ingin hidup lebih lama."
Mendengar kata-kata itu, mendadak
Thay-kun menangis tersedu-sedu.
Sebab pada saat itu dia menyaksikan
kekasih hatinya sedang terancam kematian, cakar maut yang hendak
merenggut nyawanya dan dia
ternyata tak mampu berbuat apa-apa.
"Oh Thian, apa yang harus kulakukan
untuk menyelamatkan jiwanya?"
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin
yang amat kaku dan mengerikan.
Rasa sedih yang kelewat batas membuat
Thay-kun kehilangan perasaannya. Dia seakan-akan sama sekali tidak
mendengar suara tertawa dingin itu, padahal sekalipun mendengar juga
dia tak akan memalingkan kepala.
Sekarang dia hanya tahu memeluk
kekasihnya, memeluknya dengan kencang.
Sebaliknya
Bong Thian-gak segera melihat empat sosok bayangan
telah muncul di sisi tubuhnya.
Mereka terdiri dari seorang nenek
berambut putih, perempuan tlan lelaki kekar bermata tunggal serta
seorang gadis cantik jelita dan genit.
Tanpa terasa
Bong Thian-gak berseru kaget, "Ah, Biau-kosiu!"
Setelah mendengar suara seruan
Bong Thian-gak, Thay-kun baru
sadar dari impiannya, dia segera
memandang keempat orang itu sekejap, lalu pelan-pelan berkata,
"Cepat amat kedatangan kalian. Bila kau ingin membunuh kami,
sekarang tak usah banyak waktu dan tenaga lagi."
Biau-kosiu tertawa dingin, tanyanya,
"Bukankah dia sudah terkena |arum beracun ekor lebah dari peluru
api?"
Mendengar pertanyaan itu, Thay-kun
segera menghela napas sedih,
"Ai, sungguh tak disangka jarum ekor lebah itu mengandung
racun jahat."
Sesudah menghela napas panjang, dia
menghentikan kata-katanya dan
tidak berbicara lebih jauh.
Dengan suara dingin Biau-kosiu berkata,
"Setiap orang yang sudah terluka jarum beracun ekor lebah keluarga
Tong, maka dalam tiga jam, menu jahat itu akan menyerang jantung.
Bila keadaan sudah begini, biar ada obat dewa pun jangan harap bisa
menyelamatkan jiwanya."
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam
benak Thay-kun, segera tanyanya penuh harapan, "Jadi kau dapat
menolongnya?"
Sekali lagi Biau-kosiu tertawa dingin.
"Aku hanya dapat mengeluarkan jarum
beracun dari tubuhnya, namun tidak mampu menyembuhkan luka beracun
dalam tubuhnya."
Mendengar sampai di situ, dengan nada
memohon Thay-kun berkata, "Biau-kosiu, kumohon kepadamu, tolonglah
dia dan sembuhkan luka yang dia derita. Apa pun syarat yang kau
ajukan, pasti aku akan menyetujui."
Biau-kosiu tertawa dingin.
"Racun yang terkandung pada jarum ekor
lebah keluarga Tong di propinsi Sucwan bukanlah racun sembarang
racun. Sekalipun aku berhasil mengeluarkan jarum beracun itu dari
dalam tubuhnya, sulit juga baginya untuk mempertahankan hidup."
"Padahal dia sudah terkena racun jahat
dari Hek-mo-ong, cepat atau lambat dia pasti akan mati juga."
Thay-kun menangis terisak.
"Nona Biau, aku tahu kau sanggup
menyelamatkan jiwanya, apalagi racun Hek-mo-ong pun disampaikan
kepadanya melalui tanganmu. Sekalipun Hek-mo-ong membenci seluruh
jago lihai yang ada di dunia persilatan, tapi Jian-ciat-suseng sama
sekali tak punya jalinan dendam atau pun sakit hati apa pun
dengannya. Apakah kalian benar-benar hendak membinasakan dirinya?"
Berubah paras muka Biau-kosiu, dengan
suara dingin ia berkata, "Darimana kau tahu racun dari Hek-mo-ong
diterima olehnya melalui tanganku?"
"Karena kau adalah anak buah
Hek-mo-ong."
"Kau seorang yang sangat pintar dan bisa
menduga semua persoalan secara tepat dan pasti. Tapi dugaanmu kali
ini keliru, aku sama sekali bukan anak buah Hek-mo-ong."
Thay-kun tertawa rawan, "Apabila kau
bukan anak buah Hek-mo-ong, maka aku pun merasa lega."
"Tidak usah banyak bicara lagi," tukas
Biau-kosiu dengan suara dingin. "Bila berniat menyelamatkan jiwanya,
satu-satunya jalan adalah menemukan Gi Jian-cau. Biarpun membawa
besi sembrani, keselamatan jiwanya masih tetap terancam."
Selesai berkata, Biau-kosiu segera
merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sepotong besi berwarna
hitam yang segera dilontarkan ke hadapan
Thay-kun, katanya lagi, "Untuk sementara waktu kupinjamkan besi
sembrani padamu. Silakan kau turun tangan mengisap jarum-jarum
beracun itu dari mulut lukanya!"
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar
nenek berambut putih itu menimbrung, "Anak Siu, mengapa kau harus
membantunya?"
Biau-kosiu menghela napas, sahutnya,
"Nenek, aku merasa berhutang
budi padanya karena dia telah membantuku merebut kembali kitab
pusaka Kui-kok-khi-liok, jadi aku merasa wajib membantunya."
Kemudian setelah berhenti sejenak,
katanya lagi, "Nenek, mari kita pergi
"
Selesai berkata Biau-kosiu bersama nenek
berambut putih, lelaki dun
perempuan kekar bermata tunggal membalikkan badan dan segera berlalu
dari situ.
Thay-kun memungut besi sembrani itu
sambil mengawasi tayangan tubuh keempat orang itu berlalu dari sana.
Memandang bayangan punggung mereka yang
memasuki hutan bumbu, dia menggeleng kepala sambil bergumam,
"Sungguh tak nyana dia akan
meminjamkan besi sembrani, ai..”
Sejak kedatangan Biau-kosiu,
Bong Thian-gak memejamkan mata. taat
itu tiba-tiba dia berkata sambil menghela napas, "Tindak-tanduknya
yang sebentar bermusuhan dan bersahabat ini sungguh membuat orang
merasa bingung dan tak habis mengerti. Ai! Sumoay, kau tak usah
bersusah payah lagi,
sekalipun jarum-jarum beracun itu berhasil kau isap,
namun sari racunnya telah
menyusup ke dalam tubuhku dengan mengikuti aliran darah, akhirnya
aku bakal tewas juga."
"Suheng, kau tak boleh mati," kata
Thay-kun dengan lembut. "Kita tentu
akan berhasil menemukan Gi Jian-cau. Sekarang berbaringlah dahulu
dengan tenang, biar kucoba mengisap keluar jarum-jarum
beracun itu dengan besi sembrani
ini."
Selesai berkata dia segera membaringkan
tubuh Bong Thian-gak ke alas
tanah, kemudian turun tangan melepas pakaian bagian atasnya.
Tampak pada dada sebelah kiri dekat
puting susu, kulit daging taiilaiah, bahkan di beberapa tempat
terbakar hangus.
Sekarang noda darah itu sudah mengering,
karena itu Thay-kun harus bersusah-payah membersihkan noda darah
mengering itu, membiarkan darah segar meleleh kembali.
Kemudian Thay-kun menempelkan besi
sembrani di tangan kanannya itu ke atas mulut luka. Ketika diangkat
kembali, pada ujung besi sembrani itu sudah menempel tujuh batang
jarum yang amat lembut, jarum-jarum lembut itu tak lain adalah jarum
ekor lebah yang berwarna hitam pekat.
Dengan cepat Thay-kun mencabut
jarum-jarum ekor lebah itu dari atas besi sembrani, kemudian mencari
lagi di sekitar mulut luka itu.
Lebih kurang sepeminuman teh, seluruhnya
Thay-kun berhasil mengangkat tiga belas batang jarum beracun.
Sambil menghela napas Thay-kun berkata,
"Meskipun jarum ini sangat lembut dan kecil, untung kekuatannya tak
seberapa besar hingga tak mampu menembus badan lebih dalam lagi.
Jika jarum beracun itu sampai memasuki nadi darah, wah, apa
jadinya."
Tiba-tiba Bong
Thian-gak melompat bangun dan duduk, lalu katanya
sambil tertawa getir, "Racun jahat jarum itu sudah telanjur memasuki
aliran darah, cepat atau lambat akhirnya aku bakal mati juga."
Thay-kun segera membersihkan besi
sembrani itu dari noda darah, lalu disimpan kembali ke dalam
sakunya. Setelah itu dia bertanya dengan lembut, "Bagaimana rasanya
sekarang?"
"Mulut luka itu masih terasa panas,
agaknya sudah menunjukkan gejala keracunan."
"Mari kubimbing kau pergi dari sini,
kita harus secepatnya mencari si tabib sakti."
"Tidak ada gunanya," sahut
Bong Thian-gak sambil menggeleng.
"Kini aku hanya berharap kau bisa menemaniku selama tiga jam.
Berilah kesempatan padaku untuk bicara padamu."
"Suheng, aku tak bisa hidup tanpa kau,
seandainya kau mati, maka aku pun tak ingin hidup seorang diri, oleh
sebab itu kau harus hidup," kata Thay-kun dengan suara amat lembut”
Bong Thian-gak
menghela napas panjang.
"Semut pun ingin hidup, apalagi manusia.
Ai, tapi empat samudra begini luas, dimanakah si tabib sakti berada?
Ai, sekalipun dia benar-benar bersembunyi dalam Ban-jian-bong ini,
kemanakah kita harus pergi mencarinya? Sekalipun berhasil ditemukan,
belum tentu ia bersedia menyelamatkan jiwaku."
"Tiga jam adalah waktu yang singkat dan
segera akan lewat dalam sekejap, lagi pula mungkin aku akan jatuh
pingsan tak lama lagi."
"Suheng, sekarang aku mendapatkan
firasat yang mengatakan si tabib sakti berada tak jauh dari sini,
secepatnya kita akan berhasil menemukan dirinya."
Bong Thian-gak
mengerut dahi, kemudian berkata, "Sungguh aneh, sewaktu aku
bertarung melawan ketiga Hwesio tadi, aku sudah menperdengarkan tiga
kali suara pekikan panjang. Mengapa hingga sekarang belum tampak
juga Tio Tian-seng sekalian datang kemari?"
"Dalam keadaan begini aku tak mempunyai
hasrat dan niat lagi memikirkan persoalan itu. Suheng, apakah kau
ingin menyerah begitu saja menerima kematian?"
Bong Thian-gak
menghela napas panjang, "Ai, baiklah! Aku akan mengikutimu
mencarinya."
Selesai berkata, di bawah bimbingan
Thay-kun dengan perlahan-lahan pemuda itu berdiri.
Siapa tahu baru saja ia berdiri, sekujur
tubuhnya segera gemetar keras.
"Aduh," keluhnya pelan, paras mukanya
segera berubah pucat-pasi, bibirnya menghijau dan kulit badannya
mengejang keras, wajahnya mencerminkan penderitaan luar biasa.
Dengan terkejut Thay-kun segera
bertanya, "Suheng, mengapa kau?"
"Aku, mungkin aku sudah tak jauh dari
kematian," bisik Bong
Thian-gak dengan suara gemetar. "Dadaku terasa sakit, kepalaku
terasa amat pening."
Thay-kun merentangkan tangan memeluk
tubuh pemuda itu, katanya, "Suheng, bagaimana kalau kubopong dirimu
menuju ke bawah pohon yang rindang di depan sana?"
Dengan membopong tubuh anak muda itu,
Thay-kun tiba di bawah pohon rindang, di atas gundukan tanah
berumput, di situlah mereka duduk.
Bong Thian-gak
berbaring dalam pelukannya dengan wajah pucatpasi, seluruh badannya
mengejang keras, agaknya penderitaan dan siksaan yang dialaminya
bukannya berkurang, malah sebaliknya semakin bertambah.
Akhirnya pemuda itu mulai merintih, "Oh
Sumoay, sekarang anggota badanku sakit dan linu, sekujur badanku
seperti hancur."
"Ah!" Thay-kun menjerit kaget. "Mungkin
racun jarum ekor lebah itu telah memancing bekerjanya racun
Hek-mo-ong sebelum waktunya."
"Bila dua macam racun itu bekerja pada
saat bersamaan, sudah dapat dipastikan aku akan mati secara
mengenaskan. Oh, Thay-kun, aku ingin menyampaikan beberapa persoalan
kepadamu."
"Setelah aku mati nanti, tolong bawalah
jenazahku ini ke sebuah lembah terpencil di puncak Cui-im-hong di
bukit Bong-san dan kuburkanlah aku di situ, istriku
Song Leng-hui berdiam di situ."
"Kedua, tolonglah Oh Cian-giok, putri Oh
Ciong-hu, dari sekapan musuh, dia telah ditangkap oleh Ho Lan-hiang,
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau dan entah disekap dimana?"
Perkataan Bong
Thian-gak itu diutarakan dengan suara lirih,
seolah-olah merupakan pesan terakhir menjelang ajal, begitu pilu dan
pedih suaranya sehingga membuat suasana tercekam dalam suasana penuh
haru.
Dengan air mata bercucuran dan suara
tersengguk menahan isak-tangis, Thay-kun berseru, "Oh Suheng, kau
tak boleh mati, kau tak akan mati. Kau harus mengobarkan semangatmu
untuk hidup terus, bukankah beberapa kali kau bisa lolos dari
ancaman bahaya maut? Bukankah dua kali kau bisa mempertahankan
hidupmu? Mengapa kau tidak mampu untuk ketiga kalinya?"
"Aku rasa kali ini belum tentu aku
beruntung. Aii, sekarang aku rela mati, karena selama ini aku
bertekad untuk hidup terus demi membalas dendam bagi kematian
guruku, Oh Ciong-hu, sekarang aku sudah tahu Oh Ciong-hu telah tewas
di tangan Hek-mo-ong dan mereka saling bunuh karena perselisihan
berantai, rasanya aku tak usah melibatkan diri lagi dalam
pertentangan itu."
"Thay-kun, sesungguhnya aku adalah anak
buangan yang tak berayah dan beribu. Sejak dua puluh tahun
berselang, aku seharusnya sudah mati kelaparan, mati kedinginan
... dan kini aku sudah bisa
hidup selama dua puluh tahun
lagi, aku sudah cukup puas, aku pun tak menyesal untuk mati
sekarang."
"Thay-kun, kau tak usah bersedih,
kehidupan manusia di dunia ini Ibarat
sebuah impian, tiada orang yang tetap berkumpul dan tak pernah
berpisah. Aku ... aku akan
menunggumu di alam baka."
Sampai di situ, suara
Bong Thian-gak makin lirih dan
kecil, «khirnya dia tak sadarkan diri.
Menyaksikan itu, Thay-kun berteriak,
"Suheng ... Suheng!"
Cepat ia memeriksa napasnya, ternyata
napas pemuda itu semakin lemah. Ketika diperiksa denyut nadinya,
detak jantung pemuda itupun belum
berhenti, ia segera tahu pemuda itu belum mati, dia hanya jatuh
pingsan saja.
Karenanya Thay-kun merasa hatinya
sedikit lega.
Pikirnya kemudian, "Bagaimana pun juga
aku harus berhasil menemukan si tabib sakti, sebab di kolong langit
ini hanya dia seorang yang mampu menolong
Bong Thian-gak."
Kemudian ia pun berpikir lebih jauh,
"Bong Thian-gak sudah terkena
jarum ekor lebah keluarga Tong yang termasyhur karena keganasannya,
seharusnya racun jahat itu baru akan mulai menyerang ke
jantung
setelah tiga jam, tapi sekarang racun itu sudah membangkitkan
racun
Hek-mo-ong yang telah
mengeram dalam tubuhnya, diserang oleh dua
racun pada saat yang
bersamaan. Entah berapa lama Bong
Thian-gak list pat
mempertahankan hidup?"
Mendadak tampak bayangan orang
berkelebat, Thay-kun segera menyaksikan dari berbagai arah
bermunculan dua puluhan Hwesio berbaju kuning.
Kawanan Hwesio itu sama sekali tidak
mirip tampang seorang Hwesio, bukan saja wajah mereka gemuk dan
penuh daging, matanya memancarkan pula sinar kebuasan yang
mengerikan, masing-masing menggenggam senjata tajam menyerupai
tombak pendek.
Tatkala kawanan Hwesio itu menjumpai
jenazah ketiga Hwesio lain yang tergeletak di atas tanah, sekilas
perasaan kaget dan ngeri segera menghiasi wajah mereka, langsung
mereka menghentikan langkah.
Sebaliknya Thay-kun yang melihat kawanan
Hwesio itu segera berpikir,
"Untuk menemukan si tabib sakti, rasanya hanya bisa dicari dari
mulut mereka."
Menurut pendapat Thay-kun, kawanan
Hwesio ini seharusnya tak dipengaruhi jago persilatan dan apabila Gi
Jian-cau benar bersembunyi di tempat ini, maka kepandaian silat yang
dimiliki orang-orang itu pasti merupakan didikan Gi Jian-cau,
otomatis kepandaian silat yang dibina olehnya ini secara khusus
hendak digunakan untuk menghadapi Hek-mo-ong yang hendak mencari
balas kepadanya.
Saat inipun Thay-kun juga sudah tahu
kawanan Hwesio itu tidak lebih hanya jago-jago kelas tiga. Itulah
sebabnya, sewaktu mereka saksikan ketiga sosok mayat Hwesio yang
dibunuh Bong Thian-gak tadi,
timbul perasaan takut dalam hati. Sebab ketiga orang yang terbunuh
itu merupakan jago lihai kelas satu dalam Ban-jian-bong.
Kawanan Hwesio bermuka bengis itu tampak
ragu-ragu sejenak, tiba-tiba mereka menyerbu ke depan.
Sudah jelas di sekitar tempat itu tak
tampak orang lain, kecuali dua orang di hadapannya, padahal yang
lelaki sudah terluka parah sedang yang perempuan tidak perlu
ditakuti. Itulah sebabnya nyali mereka semakin bertambah besar.
"Berhenti!" Thay-kun membentak nyaring.
Kawanan Hwesio yang mengurung menjadi
terkejut dan serentak menghentikan langkah.
Waktu itu Thay-kun telah membaringkan
Bong Thian-gak di atas tanah
berumput dan dia berdiri di depan gundukan tanah itu dengan wajah
memancarkan sinar kewibawaan yang membuat hati orang bergidik, sorot
matanya yang tajam mengawasi kawanan Hwesio itu tanpa berkedip.
Dalam waktu singkat kawanan Hwesio itu
dapat merasakan bahwa perempuan cantik bak bidadari dari kahyangan
di hadapan mereka ini bukanlah perempuan lemah, sebaliknya justru
merupakan, harimau ganas dan menakutkan.
Seorang Hwesio bermuka hitam dan agak
gemuk, tampaknya merupakan pemimpin gerombolan itu tertawa licik,
kemudian dengan suara parau dia berkata, "Bocah perempuan, kau tak
usah mencari kematian, kau cukup menjawab beberapa buah pertanyaan
yang kuajukan, tak nanti aku menyusahkan dirimu."
"Aku pun hendak mengajukan beberapa
pertanyaan kepadamu, usul kau pun bersedia menjawab beberapa buah
pertanyaanku, tentu kalian
bisa hidup terus. Kalau tidak, hm, kalian akan mati konyol di sini."
Selesai berkata Thay-kun segera mengayun
telapak tangan kirinya ke
depan dan melepaskan sebuah pukulan.
Tanpa menimbulkan sedikit suara pun
tahu-tahu tiga Hwesio berbaju kuning yang berdiri di sebelah utara
sudah roboh terjengkang ke ulas tanah dan tewas oleh pukulan
Soh-li-jian-yang-sin-kang yang sangat lihai.
Tiba-tiba hati Thay-kun bergetar keras
melihat ketiga orang liwesio itu roboh binasa, pikirnya, "Heran,
mengapa tenaga dalamku bisa tumbuh begitu tangguhnya? Padahal
jaraknya cukup jauh, namun kenyataan seranganku berhasil merenggut
nyawa mereka sekaligus. Hal Ini benar-benar tak terduga."
Thay-kun benar-benar diliputi perasaan
kaget dan gembira, padahal dia hanya bermaksud melepas pukulan untuk
menggetar mundur para Hwesio itu agar mereka takut dan mundur
teratur. Siapa nangka pukulan itu ternyata mengandung tenaga begitu
dahsyat hingga mencabut nyawa lawan.
Tenaga dalamnya sekarang telah meningkat
dua kali lipat daripada sebelumnya
"Ah! Ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang
telah berhasil mencapai ke tingkat sepuluh."
"Aku ...
aku sudah mampu membunuh Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."
Mendadak Thay-kun mengayun tangannya dan
sekali lagi melancarkan pukulan maut.
Tanpa disertai desingan angin pukulan
sedikit pun, tahu-tahu tujuh Hwesio yang berada di sebelah selatan
roboh bergelimpangan tanpa nyawa lagi.
Suara bentakan dan teriakan panik segera
berkumandang, kawanan Hwesio itu segera membalikkan badan dan
melarikan diri terbirit-birit, malah saking takutnya ada di antara
mereka yang terkencing-kencing.
"Mau kabur kemana?" bentak Thay-kun
Dengan gerakan tubuh ringan dia
berkelebat maju, lalu tangan kanannya menyambar dan mencengkeram
baju bagian belakang si Hwesio gemuk itu.
Perawakan Hwesio gemuk jauh lebih berat
daripada rekan-rekannya. Mesti begitu ketika bajunya kena
dicengkeram, dia segera berhenti dan tidak sanggup beranjak barang
setengah langkah pun.
Saking takutnya, kontan dia
berkaok-kaok, "Dewi yang mulia, ampunilah nyawaku, ampunilah jiwaku
ini!"
Thay-kun tertawa dingin, mendadak ia
membanting tubuhnya ke atas tanah, bentaknya, "Boleh saja kuampuni
jiwamu, cuma kau mesti menjawab beberapa pertanyaanku secara baik."
Pelan-pelan Hwesio itu merangkak bangun,
ia merasakan suasana di sekeliling tempat itu sunyi-senyap,
rekan-rekannya sudah mampus atau melarikan diri, kini tinggal
dia seorang yang berada di situ ditemani rekan-rekannya yang telah
menjadi mayat.
Dengan perasaan sangat takut, Hwesio itu
berlutut di atas tanah dan menganggukkan kepala berulang kali seraya
berkata, "Apa yang ingin dewi tanyakan, tentu akan kujawab, aku
takkan berbohong."
"Siapakah nama pemimpin kalian? Ayo
jawab secepatnya," tanya Thay-kun segera.
"Pemimpin kami adalah Hongtiang ruang
ketujuh kuburan ini, Ci kim-kong Hwesio."
"Lalu siapakah ketiga orang Hwesio itu?"
tanya Thay-kun dengan kening berkerut.
"Apakah dewi tanyakan ketiga Hwesio
bertasbih itu? Mereka adalah Hwesio yang bertugas di tanah pekuburan
ini, bersama Ci-kim-kong Hwesio, mereka disebut sepuluh orang
Toa-kim-kong."
"Bagaimanakah tampang Ci-kim-kong
Hwesio?" kembali Thay-kun bertanya.
Sebelum perkataan itu selesai
diutarakan, tiba-tiba terdengar suara menyeramkan berkumandang.
"Hud-ya telah datang. Bagaimanakah
tampang mukaku boleh perhatikan sendiri dengan jelas."
Tiba-tiba terdengar jeritan lengking
yang memilukan, rupanya jeritan seperti babi disembelih itu berasal
dari si Hwesio bermuka hitam.
Tampak Hwesio bermuka hitam itu
bergulingan di atas tanah beberapa
kali sebelum akhirnya sama sekali tidak berkutik lagi.
Dengan ketajaman mata Thay-kun, sekilas
pandang saja ia sudah melihat di atas tengkuk Hwesio bermuka hitam
itu tertancap sebatang anak
panah kecil.
Anak panah itu meluncur tanpa
menimbulkan sedikit suara pun dan tepat menghajar belakang kepala si
Hwesio bermuka hitam itu secara
telak, nyata orang yang melepaskan anak panah itu memiliki
kepandaian silat luar biasa.
Pelan-pelan Thay-kun memandang ke depan.
Entah sedari kapan di hadapannya telah
muncul tujuh Hwesio berperawakan tinggi pendek tak menentu, namun di
tangan kiri masing-masing memegang tasbih yang sama.
Tak salah lagi biji tasbih itu tentulah
Leng-hwe-tan yang berisi jarum beracun ekor lebah.
Di antara ketujuh Hwesio itu, berdiri
Hwesio tinggi besar berjenggot hitam sepanjang dada dan berwajah
merah, mungkin orang Inilah yang menjadi pimpinan pasukan keamanan
Ban-jian-bong, Ci-kim-kong Hwesio.
Sambil tertawa dingin, Thay-kun segera
bertanya, "Kaukah yang bernama Ci-kim-kong Hwesio?"
Hwesio itu tertawa licik, "Betul, Hud-ya
orangnya."
Semula Thay-kun mengira nama Ci-kim-kong
Hwesio adalah nama samaran Gi Jian-cau, sekarang dia merasa kecewa
mendengar jawaban itu, katanya kemudian dengan suara dingin,
"Kedatanganmu jangat tepat, ada satu persoalan ingin kutanyakan
kepadamu."
"Apakah kau ingin bertanya kepadaku,
dimanakah Gi Jian-cau berada?"
ujar Ci-kim-kong Hwesio dengan suara menyeramkan.
Thay-kun dibuat tertegun.
"Darimana kau bisa tahu?"
"Barusan, sudah ada tiga orang yang
mengajukan pertanyaan yang sama
kepadaku."
"Apakah kau sudah memberitahukan kepada
mereka?"
Ci-kim-kong Hwesio tertawa bangga.
"Sebenarnya Hud-ya ingin mengajak mereka
pergi menjumpai Gi Jian-cau, tapi sayang ketiga orang itu sudah tak
mampu bergerak lagi, oleh sebab itu Hud-ya pun tidak jadi membawa
mereka."
Thay-kun menjadi terkejut sekali
mendengar perkataan itu, dia segera bertanya, "Jadi kalian telah
melukai mereka bertiga?"
Dengan bangga Ci-kim-kong Hwesio tertawa
terbahak, "Baik Mo-kiam-sin-kun maupun Liu Khi dan
Pat-kiam-hui-hiang, semuanya tak ada yang lolos, mereka sudah
terluka."
Berada dalam suasana dan keadaan seperti
ini, mau tak mau Thay-kun harus membuat penilaian baru terhadap
kepandaian silat Ci-kim-kong Hwesio.
Kepandaian silat Tio Tian-seng bertiga
sudah terhitung sangat tangguh dan hebat, bagaimana mungkin mereka
dapat dilukai secara mudah?
Tapi kenyataan Ci-kim-kong Hwesio
sanggup melukai mereka bertiga, terbukti betapa lihainya kepandaian
silat orang ini.
"Apakah mereka bertiga terluka oleh
Leng-hwe-tan?" tanya Thay-kun.
"Benar, mereka memang terluka oleh
Leng-hwe-tan dalam biji
tasbih ini," jawaban
Ci-kim-kong Hwesio terdengar amat dingin dan menyeramkan.
Thay-kun segera tersenyum.
"Kalau begitu Tio Tian-seng bertiga
terluka karena memandang enteng kemampuanmu, bukan karena kau bisa
mengungguli mereka dengan mengandalkan kepandaian sejati. Sekalipun
peluru Leng-hwe-tan sangat lihai, tapi bukankah sudah kau saksikan
sendiri, ketiga Hwesio yang membawa Leng-hwe-tan pun tak berhasil
meloloskan diri
dari kematian."
Paras muka Ci-kim-kong Hwesio berubah
hebat, segera ujarnya dingin, "Jadi ketiga Kim-kong Hwesio itu tewas
di tanganmu?"
"Bukan, mereka mati dibunuh oleh
Jian-ciat-suseng."
Sambil menarik muka Ci-kim-kong Hwesio
kembali berkata, "Kalau memang bukan mati di tanganmu, Hud-ya pun
tak ingin
menyusahkan dirimu. Segera kau boleh
meninggalkan Ban-jian-bong!"
Thay-kun tersenyum.
"Sebelum bertemu Gi Jian-cau, aku tak
akan mengundurkan diri dari
Ban-jian-bong begitu saja."
"Bila kau tak segera mengundurkkan diri
dari Ban-jian-bong, maka hanya jalan kematian yang akan kau hadapi."
Ketika Thay-kun menyaksikan keenam
Hwesio lainnya telah bersiap melancarkan serangan, mendadak ia
berseru, "Tunggu dulu!"
"Apakah kau hendak mengundurkan diri
dari Ban-jian-bong?"
"Aku tidak ingin melukai orang terlalu
banyak," kata Thay-kun dengan suara dingin. "Aku tak lebih hanya
ingin bertemu Gi Jian-cau
serta
memohon kepadanya untuk menyelamatkan
jiwa Jian-ciat-suseng, soal
lain aku tidak
mengharapkan apa-apa."
"Hud-ya pun tidak mengharapkan apa-apa
darimu, aku hanya berharap kau suka mengundurkan diri dari
Ban-jian-bong dengan segera."
"Percayakah kau, sebelum kalian sempat
melepaskan Leng-hwe-tan
yang pertama, aku sanggup
membinasakan kalian semua?" kata Thay-kun.
Tiba-tiba Ci-kim-kong Hwesio membentak,
"Bunga salju terbang di
angkasa!"
Sebagai seorang jago persilatan yang
berpengalaman luas, Thay-kun segera tahu pihak lawan sedang
menurunkan perintah untuk melancarkan serangan. Setelah mendengar
suara bentakan itu, maka dia pun segera membentak dan mengayunkan
telapak tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan.
Segulung tenaga pukulan yang sangat kuat
dan mengandung tenaga Soh-li-jian-yang-sin-kang segera meluncur ke
depan secepat kilat ilim menerjang seorang Kim-kong Hwesio yang
berdiri di sudut paling kiri.
Serangan itu segera meluncur ke muka
tanpa menimbulkan sedikit suara,
tahu-tahu saja Kim-kong Hwesio itu roboh terjungkal, kemudian lanpa
menimbulkan suara keluhan apa pun, dia terkulai dan tak pernah
merangkak bangun kembali.
Ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang
dari Thay-kun yang maha dahsyat
itu dengan cepat mengejutkan semua Kim-kong Hwesio lain.
Dengan begitu dia tak punya
kesempatan lagi melukai Hwesio kedua.
Tiga dengungan keras yang memekakkan
telinga berkumandang, lalu secepat kilat menyelimuti seluruh arena
pertarungan itu.
Ternyata keenam Kim-kong Hwesio itu
telah melepaskan biji tasbihnya secara beruntun ke angkasa dengan
ilmu melepaskan senjata rahasia yang khusus.
Dalam waktu singkat biji-biji tasbih itu
menari-nari di angkasa seperti bunga salju beterbangan di udara.
Dalam waktu singkat seluruh badan
Thay-kun sudah terjerumus ke dalam lautan api, dia seperti seekor
burung dalam sangkar yang dibikin ketakutan, terbang ke sana kemari,
namun selalu gagal melepaskan diri dari kepungan.
Thay-kun benar-benar terkejut setelah
menghadapi kejadian ini, dia bukannya takut terluka di tangan musuh,
tapi dia kuatir Bong
Thian-gak yang masih tak sadarkan diri itu akan terluka lagi oleh
serangan Leng-hwe-tan lawan.
Baru saja pikirannya bercabang,
tiba-tiba dua biji Leng-hwe-tan sudah saling tumbuk di hadapannya
dan menimbulkan ledakan yang keras.
Ibarat daun
berguguran dari atas ranting, Thay-kun segera bergulingan di atas
tanah.
Biarpun gerakannya ini berhasil
menyelamatkannya dari ancaman tiga puluh jarum
beracun ekor lebah, namun gagal menghindari sergapan bara api, dalam
waktu singkat pakaiannya sudah terbakar hangus.
Biji tasbih berpeluru Leng-hwe-tan itu
memang benar-benar senjata rahasia yang tiada taranya, apalagi
dipancarkan oleh enam Kim-kong Hwesio pada saat bersamaan,
kekuatannya luar biasa.
Kobaran api yang membumbung tinggi ke
angkasa serta kilatan guntur yang menggelegar membuat Thay-kun
seperti sasaran yang diincar setiap orang, pada hakikatnya sama
sekali tidak tersisa sedikit kemampuan pun untuk melancarkan
serangan balasan.
Mendadak dari luar lingkaran kepungan,
terdengar Ci-kim-kong Hwesio membentak.
Tahu-tahu Hwesio itu sudah mendesak
maju, tangan kanannya segera diayunkan ke muka dan sebatang anak
panah segera meluncur ke
depan bagai sambaran kilat.
Tahu-tahu senjata itu sudah mengancam
dada Thay-kun.
Di bawah serangan Leng-hwe-tan yang
menimbulkan kobaran api dan asap tebal ini, siapa saja pasti akan
merasakan kepala pening dan mata berkunang-kunang, pikiran kalut dan
perasaan kacau-balau tak keruan. Dalam keadaan demikian, siapa pun
pasti tak akan mampu menghindarkan diri dari serangan anak panah
yang demikian cepatnya.
Dalam anggapan Ci-kim-kong Hwesio,
Thay-kun sudah pasti akan terkena sasaran anak panahnya pula.
Seringkah kenyataan memang berada di
luar dugaan siapa saja, sementara Thay-kun menjerit kaget, dia telah
membalik pergelangan tangan kanannya menangkap anak panah itu, lalu
balik menyambitkan ke depan.
Jeritan ngeri yang menyayat hati seperti
jeritan babi disembelih segera berkumandang.
Seorang Kim-kong Hwesio yang kebetulan
berdiri di hadapannya terkena sambitan anak panah itu tepat pada
matanya hingga roboh binasa.
Ci-kim-kong Hwesio terkesiap, cepat dia
berteriak, "Lepaskan lagi Leng-hwe-tan, gunakan 'Lautan api membakar
langit', binasakan orang ini!"
Sementara itu Thay-kun sudah merasakan
betapa dahsyat dan hebatnya Leng-hwe-tan, ia tak berani melancarkan
serangan ke arah lawan secara gegabah lagi, badannya segera bergerak
dan melompat ke samping tubuh Bong
Thian-gak, kemudian dengan cekatan membopong tubuh pemuda itu.
Rentetan Leng-hwe-tan yang dilancarkan
secara bertubi-tubi ke arahnya segera berledakan dimana-mana serta
menimbulkan suara gemuruh.
Thay-kun membentak sambil membopong
tubuh Bong Thian-gak, dia
segera melejit ke tengah udara.
Tenaga dalam yang dimilikinya saat ini
membuat orang tak berani mempercayainya, sekali lompatan saja dia
telah berhasil melompati hutan bambu.
Menyaksikan ilmu meringankan tubuh yang
begitu hebat dan luar biasa, untuk sesaat Ci-kim-kong Hwesio menjadi
kaget dan lupa untuk melepas Leng-hwe-tan serta melakukan
pengejaran, dia hanya berdiri termangu di tempat dengan mata
terbelalak, bayangan Thay-kun sudah lenyap di balik hutan bambu.
Thay-kun sambil membopong
Bong Thian-gak berlari menyusuri
hutan bambu itu sejauh satu li lebih, mendadak sepasang matanya
bersinar tajam, rupanya dia sudah keluar dari hutan bambu yang
begitu rapat di Ban-jian-bong itu.
Tanpa terasa Thay-kun menghentikan
langkah, lalu memandang sekejap sekeliling tempat itu, ternyata dia
sudah berada di sebelah barat laut pekuburan itu, sepanjang mata
memandang hanya padang rumput yang luas tanpa tepian.
Tanpa berbicara ataupun mengeluarkan
sedikit suara pun, Thay-kun berjalan menyusuri padang rumput yang
sangat luas itu.
Kemanakah dia hendak pergi?
Cahaya matahari yang mendekati senja
memancarkan sinarnya yang merah ke atas tubuhnya, beberapa bagian
pakaian yang dikenakan telah hangus terbakar, membuat pakaiannya
sangat kusut dan wajahnya amat layu.
Angin berhembus menerbangkan rambutnya
yang panjang dan membentuk perpaduan pemandangan memilukan dan
mengenaskan.
"Engkoh Gak, engkoh Gak, dimanakah
engkau berada, engkoh Gak...."
Angin barat berhembus, seakan ada
panggilan yang menyayat hati.
"Engkoh Gak, dimanakah engkau berada?
Engkoh Gak”
Suara panggilan yang muncul sangat
mendadak dan bernada memilukan itu segera menyadarkan Thay-kun dari
pikiran kusut dan murung.
Dengan cepat dia memandang sekejap ke
arah padang rumput yang membentang tak bertepian di depan matanya,
namun tak kelihatan sesosok bayangan orang pun di sana.
"Jelas itu suara panggilan seorang
perempuan," gumam Thay-kun dengan suara lirih.
"Dia sedang mencari engkoh Gak, siapakah
engkoh Gak itu?" Thay-kun berdiri tegak di situ dengan tenang,
menanti datangnya suar panggilan itu sekali lagi.
Namun suasana amat hening, sepi, bahkan
suara panggilan tadi tak
terdengar lagi.
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas, lalu
bergumam, "Mungkinkah aku telah salah mendengar?"
"Ai! Mengapa aku harus berjalan menuju
ke padang rumput yang tak
bertepian ini?"
"Kini keselamatan jiwa
Bong Thian-gak sedang terancam
bahaya, mengapa aku membuang waktu yang berharga begitu saja?"
"Si tabib sakti Gi Jian-cau berada dalam
Ban-jian-bong, bagaimana pun aku harus dapat menemukannya dan
memaksanya menyelamatkan jiwa Bong
Thian-gak. Aku harus secepatnya kembali ke Ban-jian-bong."
Tadi berhubung Thay-kun diserang
Leng-hwe-tan oleh Ci-kim-kong sekalian secara bertubi-tubi, merasa
sudah tak ada harapan lagi mengungguli musuh, kemudian harapannya
untuk menemukan si tabib lakti Gi Jian-cau pun sudah lenyap, dia
menjadi putus asa, sedih dan kecewa sekali.
Pukulan batin yang sangat berat itu
membuat pikirannya menjadi sangat
kalut, sehingga tanpa disadari dia berjalan menuju ke padang rumput
tanpa tujuan.
Sekarang dia dapat menenangkan pikiran,
dengan perasaan lebih lenang dan otak lebih dingin, dia mulai merasa
bahwa kondisi Bong Thlun-gak
sangat lemah, dia sangat membutuhkan pertolongan si tabib lakti,
maka dia pun memutuskan balik ke Ban-jian-bong.
Dengan membopong tubuh
Bong Thian-gak, berangkatlah
Thay-kun kembali ke Ban-jian-bong.
Tidak sampai setengah jam kemudian,
Thay-kun sudah tiba di mulut
barat laut Ban-jian-bong.
Thay-kun berpikir, dalam perjalanan
memasuki Ban-jian-bong kali Ini, ia tak akan bisa menghindari suatu
pertarungan berdarah lagi. Bong
Thian-gak yang berada
dalam bopongannya akan semakin terancam lagi
oleh bahaya maut.
Karena itu Thay-kun mencari pohon Siong
besar, membaringkan Bung Thian-gak di situ, lalu katanya dengan
lembut, "Bong-suheng, berbaringlah
di sini dengan tenang, aku akan segera kembali."
