pendekar cacad 14
Bagian 17 : Kita pusaka
Mi-tiong-bun
Bong Thian-gak juga tertawa.
"Ah, aku cukup terang pikiran
untuk membedakan mana budi dan mana dendam. Bila ada orang melepas
budi kepadaku, aku pun akan membalas kebaikan kepadanya, tapi bila
orang memberi kejahatan padaku, aku pun bersumpah akan menuntut
balas. Jika persoalan tiada sangkut-paut dengan budi dan dendam,
maka aku pun akan berpeluk tangan."
Liong Oh-im terbahak-bahak,
"Jika Bong-tayhiap memang benar memegang ketat perkataanmu itu, aku
pun tak usah kuatir lagi. Baiklah, aku mohon diri lebih dulu."
Selesai berkata, dia lantas
berdiri, memberi hormat dan segera membalikkan badan berlalu dari
situ.
Bong Thian-gak mengawasi
bayangan Liong Oh-im lenyap dari pandangan, kemudian menghela napas
seraya bergumam, "Sebenarnya orang macam apakah Liong Oh-im? Dilihat
dari gerak-geriknya, dia seperti memiliki jiwa seorang pemimpin.
Mungkinkah dia benar-benar seorang tokoh terkenal yang memiliki
kedudukan tinggi?"
Belum habis ingatan itu
melintas, tiba-tiba dari luar pintu sudah muncul Mo-kiam-sin-kun Tio
Tian-seng.
Begitu memasuki ruangan, Tio
Tian-seng segera bertanya, "Bong-laute, apakah ada tamu yang telah
berkunjung kemari?"
Sekali lagi Bong Thian-gak
tertegun, kemudian baru jawabnya, "Ya, memang ada seorang tamu tak
diundang yang telah berkunjung kemari. Dia mendatangkan kebimbangan,
kecurigaan dan kemisteriusan bagiku."
"Oya? Tamu macam apakah dia?"
"Seorang sastrawan berbaju
putih yang berusia dua puluh tujuh-delapan tahun, dia mengaku
bernama Liong Oh-im."
Mendengar nama itu, paras Tio
Tian-seng berubah, kemudian serunya terkejut, "Liong Oh-im? Dia
adalah Giok-gan-suseng (sastrawan berwajah kemala) Liong Oh-im yang
namanya amat tersohor di seputar wilayah Se-ih."
Bong Thian-gak belum pernah
mendengar tentang Giok-gan-suseng. Oleh sebab itu dia tidak
terpengaruh oleh nama ini, malah tanyanya, "Menakutkankah orang itu,
Tio-pangcu?"
"Mungkin Bong-laute belum
begitu mengenal dan belum pernah mendengar tentang Giok-gan-suseng
Liong Oh-im ini. Ketahuilah, sejak delapan belas tahun berselang,
nama besar Giok-gan-suseng sudah amat termasyhur, bahkan amat
menggetarkan wilayah Se-ih."
"Delapan belas tahun
berselang?" Bong Thian-gak terkejut. "Tapi aku rasa Liong Oh-im
masih berusia dua puluh delapan tahunan. Ah, mana mungkin? Masakah
sejak usia sepuluh tahun sudah terkenal dan menggemparkan
persilatan?"
"Bong-laute, kau salah taksir.
Liong Oh-im tidak terhitung anak muda lagi, usianya sekarang sekitar
empat puluh tahunan, tapi oleh karena dia telah memakan obat mustika
yang disebut Ho-siu-uh yang berusia seribu tahun, maka wajahnya
tetap awet muda dan menyerupai anak muda berusia dua puluh tahun,
ditambah lagi parasnya memang termasuk tampan. Itulah sebabnya orang
menyebut Giok-gan-suseng kepadanya."
"Ah, masakah di dunia ini
benar-benar terdapat sejenis obat mustika yang bisa membuat orang
awet muda?" seru Bong Thian-gak heran.
"Barusan aku telah berkunjung
ke kantor cabang perkumpulan di Lok-yang dan mendapat tahu bahwa
Lok-yang telah dijadikan arena perkumpulan jago lihai dari seluruh
kolong langit, seakan-akan bakal terjadi suatu peristiwa yang
mengerikan di kota Lok-yang ini."
Bong Thian-gak menghela napas
ringan.
"Setelah mendengar perkataan
Liong Oh-im tadi, kemudian dicocokkan dengan perkataanmu barusan,
maka aku rasa berkumpulnya para jago persilatan di kota Lok-yang ini
bisa jadi hendak mencari gara-gara kepada pihak Biau-kosiu."
Secara ringkas lantas Bong
Thian-gak menceritakan apa yang dibicarakannya bersama Liong Oh-im
belum lama berselang.
Kata Tio Tian-seng dengan
suara dalam, "Bong-laute, untuk menghadapi seorang Hek-mo-ong saja
kita sudah cukup dibuat pusing dan kewalahan. Apakah kau hendak
menanam bibit bencana lagi dengan mencari musuh baru macam
Giok-gan-suseng Liong Oh-im?"
"Biau-kosiu telah melepas budi
pertolongan kepada kita berdua, apakah kita harus berpeluk tangan
membiarkan dia dipermainkan dan dianiaya orang lain?"
"Bong-laute," Tio Tian-seng
berkata, "pernahkah kau bayangkan siapakah sebenarnya orang yang
telah menyergap kita dengan nyamuk-nyamuk penghancur darah itu?"
"Apakah hasil perbuatan
Hek-mo-ong?"
Tio Tian-seng menggeleng
kepala berulang-kali.
"Aku rasa bukan Hek-mo-ong,
melainkan perbuatan Biau-kosiu."
"Bagaimana penjelasanmu
tentang persoalan ini? Antara kita dengan Biau-kosiu sama sekali
tidak terikat dendam sakit hati apa pun?"
"Apabila perbuatan Hek-mo-ong,
maka dia pasti tidak hanya melepaskan nyamuk penghancur darah saja
dan lebih-lebih tidak akan mengizinkan Biau-kosiu menyelamatkan jiwa
kita. Sekarang kota Lok-yang sudah menjadi pusat jagoan dari
bermacam-macam aliran dan kedatangan mereka pun untuk membuat
gara-gara kepada Biau-kosiu serta rombongannya, posisi Biau-kosiu
sudah terjepit dan menghadapi ancaman dari mana-mana. Betul, dia
masih dilindungi nenek berambut putih serta laki-perempuan bermata
tunggal itu, tapi mungkinkah baginya membendung serangan Liong Oh-im
bersama kawanan jago lihai lainnya?"
"Oleh sebab itu Biau-kosiu
yang licik dan banyak tipu muslihat itu melepas nyamuk-nyamuk
penghancur darah untuk mencelakai kita, kemudian menguntit dan
memaksa kita menjadi pengawalnya."
"Entah bagaimanakah pendapat
Bong-laute tentang keteranganku ini? Apakah masih dapat diterima?"
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, "Ai, apabila Tio-pangcu tidak mengatakan lebih dahulu bahwa
Hek-mo-ong bisa menyergap kita berdua, aku pun menduga seperti apa
yang baru saja kau kemukakan. Cuma peristiwa ini sudah lewat, entah
Biau-kosiu benar-benar melepas nyamuk-nyamuk penghancur darah secara
sengaja untuk mencelakai kita atau tidak, Boanpwe sudah tidak
mengingat lagi masalah itu dalam hati."
"Bong-laute, hari ini kita
masih berdiam di Lok-yang karena menunggu kabar Pat-kiam-hui-hiang
Tan Sam-cing. Kita hanya secara kebetulan bertemu perselisihan
antara golongan Biau-kosiu dengan Giok-gan-suseng Liong Oh-im.
Perkataan Bong-laute terhadap Liong Oh im kunilai tepat sekali, kita
memang tak usah mencampuri urusan orang lain, lebih baik berpeluk
tangan menyaksikan mereka saling gontok."
"Tio-pangcu," tiba-tiba Bong
Thian-gak bertanya, "sekarang aku makin bingung. Betulkah dalam
Bu-lim terdapat seorang tokoh yang disebut Hek-mo-ong?"
"Tak heran Bong-laute merasa
ragu dan sangsi terhadap peristiwa Ini. Nama Hek-mo-ong memang tidak
diketahui oleh sebagian besar umat persilatan, seperti pula
keberhasilan perkumpulan Put-gwa-cin-kau menguasai dunia persilatan.
Hal ini pun disebabkan kemisteriusan yang menyelimuti setiap tokoh
mereka."
"Tio-pangcu, kau mempunyai
dugaan atas empat orang yang kemungkinan besar adalah Hek-mo-ong,
bolehkah kuketahui keempat orang yang manakah menurut kau
kemungkinan besar adalah Hek-mo-ong?"
Tio Tian-seng termenung dan
berpikir sesaat lamanya, kemudian buru menjawab, "Keempat orang yang
mencurigakan itu adalah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing, si tabib
sakti Gi Jian-cau, Giok-gan-suseng Liong Oh-im serta To-pit-coat-to
Liu Khi," sebab hanya keempat orang Inilah yang memiliki kepandaian
silat cukup tangguh untuk memegang peranan sebagai Hek-mo-ong."
"Tio-pangcu, mengapa kau
mencantumkan nama wakil ketuamu, Liu Khi, dalam daftar orang-orang
yang kau curigai?" tanya Bong Thian-gak-
"Ya, setiap orang yang
kucurigai sesungguhnya mempunyai alasan dan bukti yang cukup kuat,"
kata Tio Tian-seng seraya manggut-manggut. "Walaupun Liu Khi sempat
memangku jabatan sebagai wakil ketua Kay-pang, namun gerak-gerik,
ilmu silat dan kecerdasannya, rasanya lebih dari cukup untuk
memegang peranan sebagai Hek-mo-ong."
Bong Thian-gak menghela napas,
"Ai, keempat orang yang Tio-pangcu sebutkan tak begitu kukenal
secara akrab. Oleh sebab itu aku tak berani
berkomentar apa-apa tentang mereka, cuma Gi Jian-cau seorang yang
hingga kini belum pernah kulihat raut wajahnya, seperti apakah wajah
si tabib sakti Gi Jian-cau?"
"Saat-saat Hek-mo-ong tampil
mungkin tidak akan terlalu lama lagi, sebab orang yang paling dia
segani satu per satu telah disingkirkan olehnya. Pada akhirnya
Hek-mo-ong yang asli akan segera diketahui orangnya."
"Tio-pangcu," Bong Thian-gak
bertanya, "hingga sekarang aku masih belum tahu asal-usul Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau. Dapatkah Tio-pangcu memberi keterangan kepadaku?"
Berubah paras Tio Tian-seng,
dia nampak ragu, tapi akhirnya berkata, "Bong-laute, aku telah
bersumpah takkan membocorkan asal-, usulnya selama hidup. Sebagai
umat persilatan yang memegang janji, aku tak ingin mengingkari
sumpahku sendiri. Benar, aku berdiri pada pihak yang bermusuhan
dengan dirinya, tapi aku tak bisa melanggar sumpahku."
Bong Thian-gak tertegun,
katanya, "Ai, sungguh tak kusangka Tio-pangcu begini memegang
janji."
"Harap Bong-laute sudi
memaafkan," suara Tio Tian-seng amat sedih dan pilu.
"Boanpwe tak akan menyalahkan
dirimu, bagaimana pun juga aku telah menyaksikan paras asli
Cong-kaucu."
"Kehadiran Cong-kaucu dalam
Kangouw, sedikit banyak masih dapat menandingi gerak-gerik
Hek-mo-ong. Oleh sebab itu hingga sekarang kau belum melihat
perlunya bentrokan secara langsung pihak mereka dan di sinilah letak
hubungan yang sensitif di antara kami."
Bong Thian-gak menjadi
bingung, tanyanya kemudian, "Hek-mo-ong adalah otak di belakang
layar yang mengatur semua perbuatan dan tindakan orang-orang
Put-gwa-cin-kau, hanya Hek-mo-ong yang dapat memberi perintah kepada
Cong-kaucu. Mengapa kau mengatakan Cong-kaucu justru merupakan biji
catur yang sanggup menghadapi Hek-mo-ong serta membatasi
gerak-geriknya?"
"Keadaan ini tak ubahnya
seperti keadaanku yang mencurigai Liu Khi, biarpun Cong-kaucu hanya
seorang anak buah Hek-mo-ong, namun sesungguhnya Cong-kaucu pun
punya kemungkinan merebut jabatan pimpinan tertinggi."
Bong Thian-gak setengah
mengerti arti kata-katanya itu, katanya pula, "Sejak dulu berapa
banyak menteri setia yang akhirnya berontak terhadap kaisar dan
merebut kedudukan terhormat itu. Apabila dunia persilatan memang
dipenuhi berbagai orang yang berambisi besar, siapa bilang keadaan
demikian tak akan terjadi?"
Kemudian setelah berhenti
sejenak, lanjutnya, "Ai, ambisi dan rasa lak puas seseorang memang
tak bisa dipenuhi untuk selamanya. Banyak peristiwa sedih dan tragis
yang terjadi di dunia selama ini, bukankah sebagian besar disebabkan
oleh watak manusia yang serakah, berambisi dan perasaan tak puas?"
Semangat Tio Tian-seng
berkobar, segera katanya, "Bila Hek-mo-ong telah disingkirkan, aku
akan segera mengumumkan kepada seluruh umat persilatan bahwa aku
akan mengundurkan diri dari keramaian dan selama hidup tidak akan
mencampuri urusan duniawi lagi."
Untuk kesekian kalinya Bong
Thian-gak menghela napas panjang.
"Selama ini Boanpwe pun tidak
mempunyai ambisi untuk menjadi pimpinan besar dunia persilatan atau
pun ambisi untuk menguasai seluruh jagat. Asal dendam sakit hati
perguruanku sudah terbalas dan Put-gwa-cin-kau bubar, Boanpwe pun
berniat mengasingkan diri di suatu tempat terpencil dan tak akan
lagi mencampuri urusan dunia ramai lagi."
"Bong-laute, mari kita
beristirahat. Kemungkinan besar kita akan disuguhi pertunjukan bagus
malam nanti, kita tak boleh ketinggalan menyemarakkan keramaian
itu."
Bong Thian-gak
manggut-manggut.
"Benar, siang hari memang
merupakan waktu beristirahat bagi orang persilatan, mari kita
beristirahat."
Maka kedua orang itu pun
kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Bagi manusia-manusia yang
berilmu tinggi seperti Tio Tian-seng dan Bong Thian-gak, duduk
bersemedi pun sudah cukup bagi mereka untuk menggantikan tidur,
terutama Tio Tian-seng yang mempunyai dasar tenaga dalam yang amat
sempurna, baginya setiap hari hanya cukup bersemedi dua jam saja
untuk menggantikan tidur semalam suntuk.
Demikianlah mereka duduk
bersemedi, dua jam sudah berlalu tanpa terasa.
Waktu itu Bong Thian-gak sudah
berada dalam keadaan lupa akan segalanya, hawa murni beredar dengan
lancar dan napas berembus sangat beraturan.
Tiba-tiba di luar jendela
muncul seseorang, seorang gadis berbaju hijau telah menyusup masuk
dari jendela.
Ilmu yang dipelajari Bong
Thian-gak adalah Tat-mo-khi-kang.
Selama ia duduk bersemedi,
indra perasaannya amat sensitif dan tajam, sejak nona berbaju hijau
muncul di luar jendela, dia telah mengetahui kehadirannya.
Pemuda itu membuka mata,
sedang si nona berbaju hijau segera menempelkan jari tangannya di
depan mulut memberi tanda agar jangan bersuara, kemudian dia
mengayun tangan kirinya melemparkan sepucuk surat ke arah Bong
Thian-gak, setelah itu si nona melompat keluar jendela dan lenyap di
balik wuwungan rumah sana.
Bong Thian-gak tertegun,
kemudian mengawasi surat yang dilemparkan ke arahnya dengan
termangu, pikirnya, "Aneh, siapakah perempuan ini? Mengapa dia
datang menyampaikan surat untukku?"
Pemuda itu segera memungut
surat itu dan membukanya, di atas surat berwarna biru tertera tiga
baris tulisan hitam, gaya tulisannya indah dan lembut, sudah jelas
tulisan seorang wanita.
Di atas surat itu tertera
tulisan:
"Ditujukan kepada
Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak
"Surat ini disampaikan oleh
seorang kepercayaanku. Harap setelah
menerimanya Siangkong segera
berangkat keluar kota dan menjumpai seorang perempuan berbaju hijau
di sebuah kuil dewa gunung yang terletak tiga li dari barat kota."
Selesai membaca surat itu,
Bong Thian-gak merasa ragu sejenak,
kemudian setelah merobek-robek
surat itu hingga hancur berkeping- keping, ia berpikir, "Aku sudah
menerima budi pertolongan darinya,
berarti aku harus
membantunya."
Bong Thian-gak segera turun
dari pembaringan dan menuju ke
pintu.
Pada saat itulah dari ruang
tengah terdengar suara Tio Tian-seng menegur, "Bong-laute, kau sudah
bangun?"
"Ya, sudah bangun!" pemuda itu
mengiakan.
Ia membuka pintu kamar dan
menuju ke ruang tengah.
Tio Tian-seng sedang duduk di
ruang tengah, dia menengok sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu
bertanya, "Apakah Bong-laute telah menjumpai seseorang memasuki
tempat tinggal kita?"
Bong Thian-gak terkesiap, tapi
buru-buru menjawab, "Oh, dia adalah nona berbaju hijau, tapi dengan
cepat telah meninggalkan tempat ini'
Sementara itu paras muka Tio
Tian-seng diliputi hawa dingin, pelan-pelan ia mengeluarkan sepucuk
surat sampul putih dari dalam sakunya dan diserahkan kepada Bong
Thian-gak sambil berkata, "Hek-mo-ong telah mengirim kartu undangan
kematian buat kita."
"Kartu undangan kematian?"
Bong Thian-gak bertanya dengan
kening berkerut.
"Kartu itu berada di dalam
sampul surat ini, lihatlah sendiri!"
Bong Thian-gak membuka sampul
itu dan mengeluarkan isinya yang ternyata berupa dua lembar kartu
undangan berwarna putih pula.
Pada bagian tengah kartu itu,
tertera huruf-huruf besar.
Yang satu berbunyi:
"Dipersembahkan untuk
Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."
Sedangkan yang lain berbunyi:
"Dipersembahkan untuk
Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng."
Tulisan itu dibuat dari tinta
merah darah, sehingga kelihatannya tmat menyolok pandangan mata.
Bong Thian-gak membuka sampul
undangan yang ditujukan kepadanya dan membaca isinya, ternyata
isinya berupa sebuah kalimat dengan tulisan berwarna merah:
"Usia Jian-ciat-suseng Bong
Thian-gak akan berakhir pada tahun Sim-
cho, bulan delapan, tanggal
delapan tengah hari tepat."
Sedangkan bagian bawahnya
tertera sebuah lambang tengkorak berwarna putih.
Sambil tersenyum Bong
Thian-gak segera berkata, "Tio-pangcu, Apa yang tertera pada
undanganmu itu?"
"Dia menetapkan usiaku akan
berakhir pada bulan delapan bulan sembilan persis selisih sehari
darimu."
Sekali lagi Bong Thian-gak
tertawa, "Hari ini baru bulan delapan tanggal lima menjelang tengah
hari, wah, kalau begitu usiaku masih ada tiga hari enam jam."
"Bong-laute, selama ini kartu
kematian dari Hek-mo-ong bukanlah gurauan," kata Tio Tian-seng
serius. "Selama puluhan tahun belakangan ini, setiap orang yang
telah menerima undangan kematian Hek-mo-ong belum pernah dapat hidup
melebihi batas waktu yang ditentukannya di dalam kartu undangan
itu."
Bong Thian-gak tertawa
terbahak-bahak, "Kapan Tio-pangcu mendapatkan kartu undangan ini?"
"Di saat aku sedang keluar
ruangan tadi, kutemukan sampul undangan itu di atas meja."
"Kalau begitu tunggu saja
sampai saatnya tiba nanti."
"Bong-laute, tampaknya kau
tidak terlalu serius menghadapi kartu undangan kematian ini?" keluh
Tio Tian-seng sambil menggeleng kepala dan menghela napas.
"Sebenarnya kartu undangan
kematian Hek-mo-ong ini sangat kuharapkan, sebab dengan demikian aku
dapat mengenali manusia macam apakah Hek-mo-ong itu, ingin kulihat
apakah benar-benar seorang yang berkepala tiga berlengan enam."
"Selamanya Hek-mo-ong tak
perlu menunjukkan wujudnya saat hendak membunuh orang," kata Tio
Tian-seng lagi dengan suara dalam. "Bila kau melihat kemunculannya,
berarti ajalmu sudah berada di depan mata, oleh sebab itulah sampai
sekarang belum ada seorang pun yang mengetahui macam apakah wajah
Hek-mo-ong yang sesungguhnya."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Sekarang aku ingin keluar
sebentar, tak ada salahnya Tio-pangcu memanfaatkan kesempatan ini
untuk menyusun cara guna menghadapi lawan."
"Kau hendak pergi kemana?"
"Mau jalan-jalan ke kota."
Sekali lagi Tio Tian-seng
berkata dengan suara dalam, "Di saat Hek-mo-ong mengirimkan kartu
undangan kematian itu, dia sudah lama menguntit gerak-gerik kita.
Tiap saat dia menanti datangnya kesempatan baik untuk turun tangan
keji terhadap kita. Bong-laute, bila kau tidak ada urusan yang
penting, lebih baik tak usah keluar rumah dulu."
"Maksudmu selama batas waktu
yang ditentukan belum lewat, kita harus tetap berdiam di sini dan
tak boleh meninggalkan ruangan
barang selangkah pun?"
"Satu-satunya cara untuk
menghadapi ancaman kartu undangan kematian itu adalah mulai sekarang
kita berdua mengurung diri di dalam ruangan dan jangan keluar dulu
untuk sementara waktu, kita pun lak usah makan, minum atau pun tidur
sampai batas waktu yang
ditentukan lewat."
"Ah, Boanpwe tak percaya
dengan segala macam takhayul," seru
Bong Thian-gak menggeleng
berulang-kali.
"Cara membunuh orang yang
paling diandalkan oleh Hek-mo-ong adalah membunuh dengan jalan
meracuni. Selama puluhan tahun terakhir ini, setiap saat aku selalu
putar otak dan berdaya upaya untuk mencari jalan guna menghadapi
Hek-mo-ong, namun usahaku selama ini tak memberikan hasil yang
diharapkan."
Menyaksikan keseriusan,
kekuatiran, sikap tegang dan berat yang menyelimuti wajah Tio
Tian-seng, diam-diam Bong Thian-gak berpikir, "Betulkah Hek-mo-ong
sedemikian hebatnya?"
Sementara itu, Tio Tian-seng
segera berkata lagi sambil menghela napas sedih, "Aku kuatir
Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing lah Hek-mo-ong. Kalau tidak, caraku
menutup diri menantikan kedatangannya ini pasti berhasil mendesak
Hek-mo-ong menampakkan diri."
"Batas waktu yang ditentukan
bagi kematianku masih sehari lebih cepat ketimbang Tio-pangcu. Andai
kata aku benar-benar tewas, Tio-pangcu pun masih mempunyai waktu
satu hari satu malam untuk bersiap menghadapinya. Buat apa kau mesti
gelisah dan panik mulai sekarang?"
Tio Tian-seng menghela napas
panjang, "Ai, apabila Bong-laute tidak percaya perkataanku ini, aku
kuatir kau akan dimanfaatkan oleh Hek-mo-ong."
"Tak usah kuatir, Boanpwe
pasti sanggup menghadapinya dengan hati-hati. Bagaimana pun juga aku
tak punya rencana untuk menutup diri menantikan datangnya saat
kematian. Bisa juga sebelum batas waktu bulan delapan tanggal
delapan tiba, aku telah tewas dibunuh Hek-mo-ong."
Seusai berkata, pemuda itu
segera membalik badan dan beranjak keluar ruangan.
Sepeninggalnya dari penginapan
Ban-heng, dia langsung menuju ke barat kota.
Tatkala ia melangkah keluar
rumah penginapan Ban-heng, Bong Thian-gak yang cekatan dan teliti
segera merasakan bahwa dirinya sedang dikuntit seseorang.
Tapi Bong Thian-gak berlagak
seolah-olah tak merasa jejaknya diikuti, dengan langkah tetap dan
tenang dia melanjutkan perjalanan menuju ke kota bagian barat.
Tak selang beberapa saat ia
sudah tiba di pintu kota sebelah barat.
Sekeluarnya dari pintu kota,
Bong Thian-gak menelusuri dinding kota menuju ke arah utara, benar
juga ia saksikan seseorang sedang mengikutinya di belakang sana.
Diam-diam ia tertawa dingin,
mendadak di depan situ muncul sebuah tikungan yang menjorok ke
dalam, maka Bong Thian-gak segera mempercepat langkahnya melewati
tikungan itu, kemudian melompat naik ke atas dinding kota, dari situ
ia berlari balik, kemudian dari dalam dia melompat keluar dinding
kota itu.
Seperti malaikat sakti yang
turun dari kahyangan, dengan tepat Bong Thian-gak melayang turun di
hadapan si penguntit.
Kemunculannya yang mendadak
ini tentu saja membuat si penguntit gugup dan gelagapan, kemudian ia
mundur selangkah dan mengawasi lawannya dengan wajah kaget, gugup,
panik dan cemas.
Bong Thian-gak mengamatinya
sekejap, dia adalah seorang laki-laki setengah umur bertubuh ceking
dan bertampang seperti monyet, tidak nampak membawa senjata.
Sambil tertawa dingin Bong
Thian-gak menegur, "Sejak dari rumah penginapan Ban-heng kau telah
mengikuti diriku sampai di sini. Ingin kuketahui siapa yang telah
mengirimmu untuk mengikuti diriku?"
Dalam anggapan Bong Thian-gak
orang ini paling cuma seorang kurcaci yang dibayar seseorang untuk
mengikutinya, oleh karenanya dia tidak segera turun tangan
membekuknya.
Lelaki setengah umur berwajah
monyet itu melototkan sepasang matanya yang kecil dan memperhatikan
Bong Thian-gak sekejap, kemudian tanyanya kebingungan, "Toaya, apa
kau bilang?"
"Hm, aku menuduh kau telah
mengikuti diriku," dengus Bong
Thian-gak dingin.
Tiba-tiba lelaki itu tertawa
cekikikan, lalu serunya, "Toaya gemar bergurau, jalan yang kulewati
kan jalan pemerintah, memangnya orang lain tak boleh
mempergunakannya selain kau seorang?"
"Tajam benar mulut orang ini,"
pikir Bong Thian-gak sambil tertawa dingin. Lalu katanya, "Kalau
memang benar jalan ini adalah jalan raya milik pemerintah. Silakan
kau segera angkat kaki dari sini!"
Ucapannya ini segera membikin
lelaki itu tertegun, kemudian sambil menggeleng kepalanya yang
gundul dia pun mengeluyur pergi ke arah utara. Bong Thian-gak masih
tetap berdiri di tempat sambil mengawasi orang itu pergi, kemudian
baru ia menyelinap ke balik tikungan dan mengerahkan Ginkangnya
menuju keluar kota.
Dengan Ginkangnya yang
sempurna sekalipun lelaki itu membalik badan dan menguntitnya lagi
juga belum tentu dapat menyusulnya.
Padahal Bong Thian-gak tidak
pernah menyangka lelaki itu sesungguhnya bukan orang sembarangan,
dia adalah Jian-li-kau (monyet seribu li) Cu Ciong yang amat
termasyhur namanya di Kangouw.
Di balik sebuah hutan waru
yang sangat lebat, Bong Thian-gak melihat sebuah bangunan kuil
kecil.
Kuil itu berdiri di antara
bebatuan yang berserakan, daun kering berceceran, rumput ilalang
memenuhi halaman, tampaknya kuil itu mulah lama terbengkalai dan tak
pernah dijamah manusia lagi.
Dengan langkah pelan Bong
Thian-gak menuju ke ruang kuil, dia lihat sarang laba-laba memenuhi
setiap sudut ruangan, debu menebal, dinding tembok banyak yang
rontok, sedang ruang kuil itu kosong tak nampak sesosok bayangan
pun.
Dengan kening berkerut Bong
Thian-gak berpikir, "Ah, tak mungkin Biau-kosiu sengaja mengajakku
bergurau. Mungkin orang itu belum datang."
Tiba-tiba dari arah hutan
terdengar suara langkah menginjak tumpukan daun kering.
Dengan cepat Bong Thian-gak
membalik badan memandang ke
muka.
Tampak seorang perempuan
cantik berbaju hijau berperawakan badan aduhai muncul di hadapannya
dan berjalan menuju ke hadapan Bong Thian-gak dengan langkah
lemah-gemulai.
Dengan suara lantang Bong
Thian-gak segera berkata, "Aku Bong Thian-gak, Biau-kosiu yang
memintaku datang menjumpai perempuan berbaju hijau, apakah kau?"
Perempuan itu tidak membiarkan
Bong Thian-gak menyelesaikan perkataannya, dengan cepat ia menukas,
"Begitu lambat kau sampai di sini, apakah sudah terjadi sesuatu di
tengah jalan?"
"Ya, karena ada persoalan
pribadi aku datang agak terlambat. Harap nyonya sudi memaafkan."
Tiba-tiba perempuan itu
merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah gulungan yang di luarnya
dibungkus dengan kain hijau, dilihat dari bentuknya mirip kitab atau
lukisan.
Dengan wajah serius perempuan
itu berkata, "Tolong serahkan benda itu kepada nona, jangan sampai
hilang atau direbut orang."
Bong Thian-gak menerima benda
itu dan dipandang sekejap, kemudian katanya, "Tampaknya bungkusan
ini berisi sejilid kitab!"
Perempuan berbaju hijau itu
memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu ujarnya dengan suara
dalam, "Cepat kau simpan ke dalam saku. Selain nona seorang, jangan
sekali-kali kau perlihatkan kepada orang lain."
"Tak usah kuatir, aku pasti
menyerahkan sendiri benda ini ke tangan Biau-kosiu."
Dengan cepat ia masukkan
gulungan kitab itu ke dalam sakunya.
Perempuan itu memandang
sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya lagi, "Berdiam lebih
lama di sini berarti menambah ancaman bahaya, cepatlah kau pergi
meninggalkan tempat ini!"
"Apakah nyonya tidak mempunyai
pesan-pesan lain?"
"Tidak ada."
"Kalau begitu aku mohon diri
lebih dulu."
Setelah memberi hormat, ia
membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu.
Sambil berjalan Bong Thian-gak
berpikir, "Mungkin kitab yang dititipkan padaku ini adalah kitab
pusaka, tapi mengapa Biau-kosiu tidak datang mengambil sendiri? Atau
si perempuan berbaju hijau ini mengantarkan sendiri sampai ke dalam
kota?"
Bong Thian-gak benar-benar
tidak mengerti apa sebabnya secara twgitu misterius Biau-kosiu
meminta padanya untuk mengambil kitab Itu, mendapat pesan berarti
diberi kepercayaan orang itu, maka pemuda Itu berpikir lagi, "Ah,
buat apa aku memikirkan hal itu? Pokoknya kuserahkan kitab ini ke
tangan Biau-kosiu, urusan kan beres."
Tiba-tiba pemuda itu
menghentikan langkah.
Ternyata di hadapannya telah
muncul seseorang menghadang Jalan perginya, seorang lelaki setengah
umur bertubuh ceking, berbaju abu-abu dan bertampang seperti monyet,
ia mengawasi sambil tertawa bodoh.
Berjumpa kembali orang ini,
hati Bong Thian-gak bergetar keras, pikirnya, "Aduh celaka, barusan
aku telah salah melihat, tampaknya orang ini memiliki ilmu silat
yang amat tangguh."
Bong Thian-gak mendengus
dingin seraya katanya, "Sungguh tak kusangka kita bersua kembali."
Lelaki bermuka monyet tertawa
dingin, "Bumi itu bulat, aku pun tidak menyangka kita bersua kembali
di sini."
Bong Thian-gak tertawa dingin
pula, "Tadi aku benar-benar telah salah melihat, boleh aku tahu
siapakah kau?"
"Cu Ciong," sahut lelaki itu
sambil tertawa kering penuh ejek.
Bong Thian-gak berseru kaget,
"Ah, tak kusangka kau adalah seorang kenamaan."
Cu Ciong tertawa seram lagi,
"Di hadapan orang yang mengerti, lebih baik bicara blak-blakan.
Boleh kau tunjukkan benda yang baru saja diserahkan kepadamu?"
Diam-diam Bong Thian-gak
dibuat terperanjat, pikirnya, "Wah, ternyata dia telah menyaksikan
semua peristiwa tadi, tapi mengapa aku tak menemukan jejaknya?"
Sambil tersenyum dia lantas
berkata, "Aku benar-benar tidak mengerti perkataanmu itu."
Cu Ciong menarik muka,
kemudian dengan nada serius katanya, "Kau berada di luar persoalan
ini, aku tak mengerti mengapa kau melibatkan diri?"
"Hei, semakin bicara aku
semakin bingung dan tidak mengerti perkataanmu itu."
Cu Ciong tertawa seram lagi,
"Barusan nyonya berbaju hijau telah menyerahkan bungkusan kepadamu,
maka aku cuma berharap kau mengeluarkan bungkusan itu, serahkan
padaku dan segala urusan tidak ada sangkut-pautnya lagi denganmu."
Bong Thian-gak tahu semua
sudah diketahui lawan, maka sambil tertawa dingin katanya, "Ehm, tak
kusangka kau memiliki mata yang amat jeli, aku betul-betul merasa
kagum kepadamu. Cuma gulungan kitab itu sudah di sakuku, bila kau
menginginkannya silakan datang kemari mengambilnya sendiri."
Sekarang Bong Thian-gak
teringat pesan wanti-wanti perempuan berbaju hijau itu, pikirnya
kemudian, "Sekarang dia telah mengetahui semua persoalan ini, maka
aku tak boleh membiarkan dia pergi dari sini dalam keadaan hidup."
Apalagi lawan bermaksud
merampas kitab itu dengan kekerasan pemuda itu bertekad akan
membunuhnya bilamana perlu.
Cu Ciong memutar matanya yang
bulat kecil, lalu setelah tertawa licik, ia bertanya, "Tahukah kau
benda apakah itu?"
"Aku tidak tahu dan aku pun
tak ingin tahu, yang kuketahui hanya menyerahkan benda itu kepada
orang yang berhak."
"Kau hendak menyerahkan itu
kepada Biau-kosiu rupanya?"
"Benar."
Cu Ciong terbahak-bahak,
"Apabila kau tidak segera menyerahkan kitab itu kepadaku, aku yakin
kau tak akan berhasil memasuki kota Lok-yang dalam keadaan hidup.
Percaya atau tidak?"
"Aku bisa membuktikannya
sendiri nanti!"
Bong Thian-gak membusungkan
dada dan melangkah ke depan.
"Berhenti!" dengan suara keras
seperti guntur membelah bumi di tengah hari bolong Cu Ciong
membentak, tubuhnya bergerak maju dan menghadang di hadapan Bong
Thian-gak.
Bong Thian-gak tertawa dingin,
"Di tengah hari bolong pun kau berniat merampok aku?"
Cu Ciong tertawa seram,
"Membunuh, membakar atau merampok I merupakan kejadian lumrah di
dunia persilatan. Sekarang aku hendak memberitahu kepadamu, di
sekeliling kota Lok-yang telah berkumpul ratusan jago persilatan.
Sekalipun kau berhasil melewati diriku, jangan harap kau bisa lolos
dari cegatan rombongan jago lihai lainnya."
"Kau sudah melepaskan tanda
bahaya?" tanya Bong Thian-gak sambil mengerutkan dahi.
"Benar, sewaktu masih berada
di hutan tadi, aku telah melepaskan merpati pos mengabarkan kejadian
yang telah berlangsung di sini kepada mereka."
Bong Thian-gak tertawa dingin,
"Sebenarnya aku tidak berniat membunuhmu, tetapi sekarang tampaknya
mau tak mau aku harus menghabisi nyawamu."
Begitu selesai berkata, lengan
tunggal Bong Thian-gak sudah membacok ke arah depan dengan kecepatan
bagaikan sambaran kilat.
Angin pukulan yang maha
dahsyat langsung menggulung ke depan dengan sangat hebatnya, ancaman
itu membuat Cu Ciong yang kurus dan ceking terlempar ke udara bagai
layang-layang putus benang.
Ia terguling sampai tiga kali
di tengah udara, namun ketika melayang turun, ternyata tidak
mengalami apa-apa, kecuali mukanya sedikit berubah.
Gagal dengan serangan
dahsyatnya, Bong Thian-gak tertawa dingin, lalu katanya, "Aku
benar-benar merasa kagum dengan Ginkagmu yung lihai, tak nyana kau
sanggup menghindarkan diri dari sergapanku tadi."
Cu Ciong tertawa aneh,
"Kedahsyatan dan kehebatan angin pukulanmu tidak kalah dari
kemampuan Bu Seng. Tapi bila kau berniat membunuhku, ini bukan suatu
pekerjaan yang gampang bagimu."
Selesai berkata Cu Ciong
menerjang maju pula dengan kecepatan luar biasa dan langsung
menyerang Bong Thian-gak.
Bagi tokoh sakti yang sedang
bertarung, dalam satu gebrakan saja akan diketahui sampai dimana
kemampuan seseorang, ketika Bong thian gak lihat musuh bisa
menghindar dan langsung menerjang ke depan, ia segera sadar musuh
adalah seorang jago lihai yang berilmu tinggi. Jika dia tidak
melancarkan serangan mematikan, sulit rasanya menaklukkan musuhnya
itu.
Oleh sebab itu di kala Bong
Thian-gak menyaksikan musuh menerjang datang, dia sama sekali tidak
menghindar atau menyingkir.
Ditunggunya serangan lawan
hingga di depan dada, saat itulah Bong Thian-gak mencabut pedangnya
serta melepaskan babatan, pedang Pek-hiat-kiam telah menyambar.
Dimana cahaya pedang itu
berkelebat, jerit kesakitan yang memilukan segera berkumandang.
Tubuh Cu Ciong yang sedang
melayang di udara terbanting jatuh ke tanah dan tidak berkutik lagi,
percikan darah segar menggenangi permukaan tanah padang rumput itu.
Siapa jago di Kangouw saat ini
yang paling cepat mencabut dan melepaskan serangan?
Mungkin serangan yang
dilancarkan Bong Thian-gak barusan dapat menandingi kemampuan Liu
Khi.
Ketika Bong Thian-gak selesai
membacok mati Cu Ciong, Pek-hiat-kiam telah kembali ke dalam
sarungnya.
Ketika Bong Thian-gak
mendongakkan kepala, Giok-gan-suseng Liong Oh-im yang berwajah
kereng dan gagah sudah berada di hadapannya.
Sepasang mata Liong Oh-im yang
amat tajam sedang mengawati genangan darah segar yang mengucur dari
tubuh Cu Ciong, kemudian katanya, "Benar-benar tak kusangka, Cu
Ciong yang termasyhur karena kehebatan Ginkangnya ternyata tak
berhasil lolos dari bacokan pedang Jian-ciat-suseng. Peristiwa ini
benar-benar mengejutkan!"
Begitu bertemu Liong Oh-im,
paras muka Bong Thian-gak segera berubah hebat.
Sementara itu Liong Oh-im itu
sudah memberi hormat, kemudian ujarnya lantang, "Bong-tayhiap, kita
telah bersua kembali, aku pun dapat melihat kecepatan dan kehebatan
permainan pedang Bong-tayhiap, aku benar-benar kagum sekali."
Bong Thian-gak tersenyum,
"Kedatangan Liong-sianseng sungguh teramat cepat."
Liong Oh-im kembali tertawa
ringan. .
"Bong-tayhiap," katanya,
"diam-diam kita pun rasanya tak usah menyembunyikan sesuatu lagi,
kedatanganku sesungguhnya karena mendapat surat yang dikirim Cu
Ciong dengan merpati posnya."
Ketika mendengar perkataan
itu, Bong Thian-gak berlagak seolah-olah terkejut, ujarnya kemudian,
"Oh, tidak kusangka Cu Ciong satu aIiran dengan Liong-sianseng."
Tiba-tiba Liong Oh-im menarik
muka dan berkata dengan hambar, "Cu Ciong adalah salah seorang
pengawal andalanku, sayang sekali dia mati terlampau cepat."
"Apakah Liong-sianseng berniat
membuat perhitungan padaku atas kematiannya?"
Liong Oh-im tersenyum.
"Soal itu tergantung sikap
Bong-tayhiap sendiri, aku ingin melihat bagaimana sikapmu terhadap
diriku!"
"Apa maksudmu?"
"Kematian Cu Ciong disebabkan
kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, apabila Bong-tayhiap bersedia
menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, maka kematian Cu Ciong
pun tidak perlu disesalkan lagi."
"Jadi Biau-kosiu adalah ahli
waris Mi-tiong-bun?" tanya Bong Thian-gak terkejut.
"Aku pun ahli waris
Mi-tiong-bun, boleh dibilang aku dan Biau-kosiu adalah sesama
saudara seperguruan."
Sekarang Bong Thian-gak baru
tahu asal-usul perguruan mereka, tapi yang membuatnya tidak mengerti
adalah sebagai sesama saudara seperguruan, mengapa mereka berebut
kitab pusaka perguruannya.
Bong Thian-gak berkata, "Kalau
Liong-sianseng berasal satu perguruan dengan Biau-kosiu, maka bila
kitab pusaka Kui-hok-khi-liok Ini diserahkan ke tangannya atau di
tanganmu kan sama saja, apa bedanya?"
"Aku telah menjelaskan
asal-usul kami berdua, maka ingin kuingatkan bahwa perselisihanku
dengan Biau-kosiu tidak lebih hanya perselisihan sesama anggota
Mi-tiong-bun, oleh karena itu kuharap Bong-tayhiap berada di luar
garis, tak usah melibatkan diri pula dalam persoalan ini."
"Sebagai orang luar, tentu
saja aku tidak berhak mencampuri urusan perguruan kalian, aku memang
tidak berhasrat mencampurinya."
"Kalau demikian, Bong-tayhiap
harap mengambil keputusan yang tepat dan pintar."
"Liong-sianseng, harap kau
suka memaafkan kesulitan yang sedang kuhadapi, aku tak dapat
menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok ini kepadamu."
Berubah paras muka Liong
Oh-im, tapi sejenak kemudian telah pulih menjadi lembut dan ramah,
katanya kemudian dengan suara tenang dan kalem, "Rupanya
Bong-tayhiap masih belum mengetahui kitab pusaka macam apakah
Kui-hok-khi-liok itu?"
"Benar, aku sama sekali tidak
mengetahui tentang kitab itu, namun aku pun tidak ingin
mengetahuinya."
"Andaikata kau mengetahui
kitab macam apakah Kui-hok-khi-liok itu, kau tentu akan
menyerahkannya kepadaku."
"Ah, belum tentu demikian."
Liong Oh-im menghela napas
sedih, kemudian katanya, "Apabila Bong-tayhiap menyerahkan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepada Biau-kosiu, maka Mi-tiong-bun
kami akan terancam bahaya maut."
"Apa maksudmu?" tanya Bong
Thian-gak dengan kening berkerut. Sekali lagi Liong Oh-im menghela
napas panjang, "Sebenarnya-pesoalan ini merupakan rahasia pribadi
Mi-tiong-bun kami, aku tidal ingin mengutarakan kepada orang lain."
Saat itu dalam hati Bong
Thian-gak mulai muncul kebimbangan, andaikata apa yang dikatakan
Liong Oh-im itu memang sungguh sungguh dan benar, maka dia memang
seharusnya menyerahkan kii pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadanya,
tapi....
Tampaknya Liong Oh-im dapat
mengetahui suara hati Boi Thian-gak, kembali dia menghela napas
sedih sambil melanjutkan "Apabila Bong-tayhiap menyerahkan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok kepadaku, maka bagimu
sama sekali tak akan menimbulkan kerugian apa-apa, malah sebaliknya
tanpa kau sadari, kau telah menyelamatku jiwa banyak anggota
Mi-tiong-bun yang terancam maut. Budi dan jasa semacam ini boleh
dibilang tiada taranya, segenap anggota Mi-tiong-bun pasti akan
berterima kasih kepadamu dan tak akan melupakan jasa-jasamu itu
untuk selamanya."
Perkataan yang terakhir ini
benar-benar mengandung daya tarik yang amat besar, tanpa disadari
Bong Thian-gak merogoh ke dalam saku untuk mempersembahkan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadanya. Tiba-tiba terdengar suara
bentakan nyaring, "Siangkong, kau harus memegang teguh kepercayaan
orang yang meminta tolong padamu, jangan kau serahkan kitab itu
kepada orang lain."
Saat Bong Thian-gak
mendongakkan kepala, dia lihat perempuan cantik berbaju hijau sedang
berlari mendekat, bau harum semerbak berhembus, ia telah berdiri di
samping anak muda itu.
Ketika Liong Oh-im bertemu
nyonya cantik berbaju hijau ini, paras mukanya segera berubah
menjadi amat tak sedap dipandang, rasa gusar dan mendongkol
menyelimuti seluruh wajahnya. Andaikata perempuan itu tidak muncul
tepat pada waktunya, niscaya Bong Thian-gak telah menyerahkan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadanya.
Dengan sorot mata tajam Liong
Oh-im mengawasi perempuan itu lekat-lekat, kemudian setelah
mendengus dingin, tegurnya, "Thamcu, kau berani mengkhianati aku?"
"Aku tidak berani mengkhianati
Liong-huhoat," jawab perempuan itu merdu.
Liong Oh-im segera tertawa
dingin, "Selama puluhan tahun ini, aku telah mencari dirimu
kemana-mana dan menelusuri semua pelosok tempat, tidak kusangka
ternyata kau berada di Lok-yang."
"Apakah dikarenakan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok inilah Liong-huhoat mencari jejakku
kemana-mana?"
Dari pembicaraan kedua orang
itu, Bong Thian-gak mengambil kesimpulan bahwa kedua orang itu bukan
saja sudah saling mengenal, juga berasal dari satu perguruan yang
sama.
Bong Thian-gak benar-benar tak
mengerti persoalan apakah yang sebenarnya menjadi pangkal
perselisihan mereka sebagai sesama anggota Mi-tiong-bun?
Pikirnya kemudian, "Kalau aku
terlibat dalam persoalan semacam Ini, wah, tidak ada harganya sama
sekali."
Sementara itu Liong Oh-im
telah berkata sambil tertawa dingin, Thamcu, sudah belasan tahun kau
menghindari diriku, tujuanmu hanya Ingin melindungi kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok agar tidak sampai aku dapatkan, tapi hari ini aku
justru minta kepadamu untuk menyerahkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu kepadaku, mengerti?"
Perempuan itu tertawa
cekikikan, "Sayang sekali kedatangan Liong-huhoat terlambat satu
langkah, kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu sudah tidak berada di
dalam sakuku lagi."
"Aku akan memerintahkan
kepadamu untuk meminta kembali kitab itu dari tangannya."
Perempuan itu tertawa
cekikikan, "Kecuali Kui-kok Buncu hidup kembali. Kalau tidak, tiada
seorang pun yang dapat memberi perintah kepadaku!"
"Oh, jadi kau tak percaya
kalau aku sanggup memberi perintah kepadamu?" tanya Liong Oh-im
sambil tersenyum.
Selesai berkata, tiba-tiba ia
mengeluarkan tongkat naga kemala putih dari sakunya dan diangkat
tinggi-tinggi, kemudian bentaknya, "Thamcu, coba kau lihat benda
apakah ini?"
Menyaksikan tongkat kemala
putih itu, gemetar keras sekujur badan perempuan itu, tiba-tiba saja
dia menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah dan katanya dengan suara
gemetar keras, "Benda kekuasaan Buncu ... tongkat naga kemala
putih."
Dengan perasaan ingin tahu
Bong Thian-gak memperhatikan pula tongkat kemala itu dengan penuh
perhatian, tongkat sebesar lengan anak-anak, di atas tongkat terukir
seekor naga darah kecil dalam gaya siap terbang ke angkasa.
Sekilas pandang saja ia dapat
mengetahui bahwa tongkat naga kemala putih itu amat berharga dan tak
ternilai harganya, tapi Bong Thian-gak tidak menyangka tongkat naga
kemala itu memiliki daya pengaruh yang begitu besar sehingga
perempuan berbaju hijau itu segera menjatuhkan diri berlutut setelah
melihat tongkat tadi.
Sambil mengangkat tongkat naga
itu tinggi-tinggi, Liong Oh-im membentak, "Thamcu, sekarang
kuperintahkan padamu untuk merebut kembali kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu dari tangannya."
Bong Thian-gak menjadi
terperanjat, pada saat itulah perempuan cantik berbaju hijau
melompat bangun dan mengayun telapak tangannya membabat dada Bong
Thian-gak.
Serangan yang dilancarkan itu
amat cepat dan gencar, benar-benar ancaman yang berbahaya.
Serta-merta Bong Thian-gak
menghindar ke samping. Meski begitu, nyaris tubuhnya termakan juga
oleh bacokannya ini, maka bentaknya, "Nyonya, benarkah kau ingin
meminta kembali kitab pusaka Kui hok-khi-liok itu?"
Nyonya itu tidak menjawab,
namun wajahnya menunjukkan penderitaan dan kegelisahan yang luar
biasa, kembali telapak tangan kirinya diayunkan ke depan menghajar
Bong Thian-gak.
Berada dalam keadaan begini,
Bong Thian-gak benar-benar tidak tahu bagaimana dia mesti bertindak,
namun dari mimik perempuan itu dapat diketahui bahwa dia telah
didesak oleh keadaan sehingga terpaksa dan mau tak mau harus
menyerang dirinya.
Kepandaian silat yang dimiliki
perempuan itu benar-benar lihai, jurusnya aneh tapi sakti, biarpun
Bong Thian-gak berhasil menghindar dari ketiga serangannya, namun ia
dapat melihat musuh sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh.
Pada saat itulah kembali
terdengar Liong Oh-im membentak lagi, "Thamcu, kuperintahkan padamu
untuk menaklukkan lawan hanya dalam sepuluh gebrakan saja."
"Terima perintah," jawab
perempuan itu cepat. Tiba-tiba permainan pukulannya berubah seperti
kupu-kupu yang Nlerbangan di antara aneka bunga, serangan demi
serangan dilancarkan secara beruntun dan tiada hentinya.
Dalam waktu singkat tampak
bayangan telapak tangan berlapis-lapis, begitu dahsyat dan gencarnya
serangan itu, membuat Bong Thian-gak harus mundur berulang kali.
Bong Thian-gak terkejut oleh
keanehan dan kehebatan jurus serangan lawan, dalam waktu singkat
perempuan itu sudah melancarkan lembilan serangan berantai.
Mendadak ia menghentikan
gerakannya, namun sepasang telapak tangannya disiapkan satu di muka
dan yang lain di belakang dengan posisi menyerang dan bertahan.
Bong Thian-gak memandang
perempuan itu sekejap, wajahnya yang semula cantik jelita tiba-tiba
dilapisi cahaya berkilau, sementara matanya yang jeli mengawasi
wajah pemuda itu lekat-lekat.
Sudah jelas dia sedang memberi
kode agar Bong Thian-gak secepatnya pergi meninggalkan tempat ini.
Pada saat itulah suara Liong
Oh-im menggelegar kembali, 'Thamcu, kalau kau sudah menghimpun
tenaga saktimu. Mengapa tidak kau lancarkan?"
Mendengar ucapan itu, Bong
Thian-gak membentak keras, "Liong Oh-im, cepat suruh dia
menghentikan serangannya. Bila ada persoala kita rundingkan secara
baik-baik."
Belum selesai berkata,
perempuan itu sudah mendesis dan mengayunkan telapak tangannya.
Serangan yang dilepaskan
olehnya itu dilancarkan amat sederhaha dan enteng, bagaikan segulung
angin hangat yang berhembus.
Tiba-tiba saja Bong Thian-gak
merasakan sekujur badann gemetar lemas, sepasang bahunya bergetar
keras dan tanpa terasa d mundur selangkah.
Sebaliknya perempuan cantik
berbaju hijau itu seakan-ak kehabisan tenaga dan segenap tulang
belulangnya terlepas, ia terduduk di atas tanah dengan tubuh lemas
tidak bertenaga, cahaya merah ya menyinari wajahnya telah hilang,
pucat-pias menghiasi mukanya.
Dalam kesepuluh jurus serangan
itu, Bong Thian-gak sama sek tidak melancarkan serangan balasan.
Sekulum senyuman bangga
menghiasi wajah Liong Oh-im di arena, pelan-pelan ia berkata,
"Bong-tayhiap, kau sudah terkena ilmu pukulan Sau-yang-sin-kang."
Mendengar "Sau-yang-sin-kang",
berubah paras muka Bong Thiaj gak, ia mengangkat kepala memandang
sekejap ke arah perempuan berbaju hijau itu.
Sementara itu mata perempuan
itu sudah dipenuhi oleh air mata dia seperti merasa bersalah
terhadap Bong Thian-gak sehingga membuat ia sedih dan pedih.
Bong Thian-gak menghela napas
sedih, lalu katanya, "Konon Sau yang-sin-kang adalah semacam ilmu
pukulan yang teramat hebat, yang khusus melukai delapan nadi penting
di tubuh manusia, korban tidak dapat hidup melebihi
dua belas jam. Kalau begitu, aku pun tidak jauh dari lembah
kematian."
Liong Oh-im tertawa
terbahak-bahak, sahutnya, "Bong-tayhia setelah mengetahui umurmu
hampir berakhir, mengapa kau tidak mempersembahkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu kepadaku?"
Bong Thian-gak menarik muka
dan menjawab dingin, "Apabila kuserahkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu sekarang juga, maka kematianku akan sama sekali
tak ada artinya lagi."
Liong Oh-im kembali tertawa,
"Memangnya kau masih dapat lolos dari cengkeramanku?"
Sementara itu hawa membunuh
menyelimuti wajah Bong Thian-gak, katanya tiba-tiba dengan dingin,
"Liong-sianseng, bila kau yakin dapat merampas kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu dari tanganku, silakan saja mencoba!"
Liong Oh-im berpaling dan
memandang sekejap ke arah perempuan itu, kemudian tanyanya, "Thamcu,
sudahkah kau lukai kedelapan nadi pentingnya dengan ilmu pukulan
Sau-yang-sin-kang?"
"Liong-huhoat," kata perempuan
cantik berbaju hijau itu penuh penderitaan. "Kau telah memaksaku
mencelakai seseorang yang sama sekali tiada sakit hati ataupun
dendam kesumat denganku."
Liong Oh-im kembali tertawa
dengan suara keras, "Thamcu dapat membunuh Jian-ciat-suseng yang
termasyhur, engkau telah menjadi pahlawan Mi-tiong-bun. Mengapa kau
malah sedih dan menyesal?"
Sembari bicara, langkah demi
langkah Liong Oh-im menghampiri Bong Thian-gak, kemudian terusnya,
"Barang siapa sudah terhajar oleh Sau-yang-sin-kang hingga terluka
delapan nadi pentingnya, maka hawa darah dalam Mi-bun-hiat akan
pudar dan tenaga murni akan musnah. Bong Thian-gak, kau sudah tak
mampu menghimpun tenaga dalammu."
Mendadak ia mengayunkan
telapak tangannya dan langsung dibacokkan ke tubuh Bong Thian-gak.
Baru saja angin pukulannya
berhembus ke depan, Bong Thian-gak lelah melolos Pek-hiat-kiam,
cahaya pedang bagaikan bianglala dan hawa pedang bagaikan sayatan,
serentak menggulung ke muka.
Barang siapa dapat melihat
hawa pedang yang terpancar dari serangan itu, dia akan mengetahui
Bong Thian-gak sama sekali tidak lerluka oleh pukulan
Sau-yang-sin-kang.
Ketika perempuan berbaju hijau
melihat itu, wajahnya segera nampak berseri dan amat gembira.
Sebaliknya Liong Oh-im
menjerit kaget dan cepat menerobos keluar dari lapisan hawa pedang
seperti seekor burung walet.
Setelah melayang turun, ia
baru berkata, "Ilmu pedang yang amat bagus, aku benar-benar dibikin
melek dan bertambah pengetahuan."
Gagal dengan serangan
pedangnya, Bong Thian-gak melayang turun dengan bahu agak bergetar,
katanya kemudian dengan suara dingin, "Apakah kau ingin mencoba
serangan pedangku yang kedua?"
"Oh, tentu saja," jawab Liong
Oh-im sambil tertawa paksa.
Bong Thian-gak menyarungkan
kembali Pek-hiat-kiam, kemudian katanya, "Maaf."
Lalu dia melompat ke depan dan
melesat cepat ke depan sana.
Liong Oh-im tertawa
terbahak-bahak, bagaikan kuda terbang di angkasa, dia melesat ke
depan dan mengejar dari belakang dengan ketat.
Sejak awal Bong Thian-gak
sudah menduga Liong Oh-im bakal melakukan pengejaran, maka ketika
berada di udara dia melolos pedangnya, cahaya bianglala yang amat
tajam secepat kilat langsung menusuk ke tubuh Liong Oh-im.
Berada di tengah udara, Liong
Oh-im mengebas ujung bajunya ke depan, segulung angin pukulan tak
berwujud yang sangat kuat segera menyapu ke muka.
Siapa tahu serangan yang
dilancarkan oleh Bong Thian-gak cuma serangan tipuan, di saat angin
pukulan Liong Oh-im yang maha dahsya itu menyapu tiba, dia sudah
menarik kembali senjatanya dan melompat ke muka.
Lompatannya atas bantuan angin
serangan Liong Oh-im yang kuat, tak heran gerakannya sangat cepat
dan selisih jarak di antara mereka pun semakin bertambah jauh.
Setelah menjejak tanah sekali
lagi, Bong Thian-gak melompat ke depan, dalam waktu singkat ia sudah
puluhan tombak di depan sana, lalu lenyap.
Menyadari dirinya tertipu oleh
siasat musuh, Liong Oh-im merasa sangat jengkel dan mendongkol
sekali, dia mendepak-depakkan kakinya berulang kali ke atas tanah,
lalu serunya sambil tertawa seram, "Bocah keparat, tidak kusangka
hari ini aku Liong Oh-im bakal dipecundangi anak muda macam kau. Hm,
ingin kulihat dengan cara apa kau hendak menyerahkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu kepada Biau-kosiu."
Seusai berkata ia memandang
sekejap ke arah perempuan berbaju hijau, kemudian membalikkan badan
dan mengejar ke arah Lok-yang.
Sementara itu Bong Thian-gak
mengerti bahwa Liong Oh-im pasti sudah menyiapkan jaring dan
perangkap untuk menghalangi dirinya memasuki rumah penginapan
Ban-heng, karena itu setelah masuk ke dalam kota, ia tidak menuju ke
rumah penginapan itu, melainkan pergi ke kota sebelah selatan.
Sesudah keluar pintu kota
sebelah selatan dan tiba di tanah pekuburan yang terpencil dan sepi,
dia memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, lalu sambil duduk
bersila, gumamnya, "Setelah terluka oleh pukulan Sau-yang-sin-kang,
mungkin sekali jiwaku tak akan tertolong lagi. Ai, saat ini dari
kedelapan nadi pentingku, ada dua di antaranya yang secara
lamat-lamat mulai terasa sakit."
Bong Thian-gak duduk di depan
sebuah batu nisan sambil mendongakkan kepala memperhatikan awan di
angkasa, hatinya teramat masgul.
"Ai, sebenarnya kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu berisi apa?"
Berpikir begitu, tanpa terasa
dia mengeluarkan kitab itu dari dalam sakunya, tapi setelah berpikir
sebentar, pemuda itu memasukkan kembali gulungan kitab itu ke dalam
sakunya.
Matahari sudah tenggelam ke
langit barat, Bong Thian-gak hampir satu jam lamanya duduk di
kuburan itu.
Selama satu jam dia sudah
mencoba untuk mengatur pernapasan dan menyalurkan hawa murni ke
seluruh tubuh, namun yang aneh sama sekali dia tidak merasakan
cidera atau luka apa pun pada nadi-nadi penting di dalam tubuhnya,
bahkan rasa sakit yang semula mencekam tubuhnya pun lambat-laun
lenyap.
Rasa gembiranya ini membuat
Bong Thian-gak segera melompat bangun dari atas tanah dan berseru,
"Aha, ternyata aku tidak menderita luka apa pun oleh serangan
Sau-yang-sin-kang itu."
Sekonyong-konyong terdengar
suara dingin dan menyeramkan di belakangnya.
"Sekalipun Sau-yang-sin-kang
tidak melukaimu, namun ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang akan
merenggut selembar nyawamu."
Ucapan itu bagaikan guntur
yang membelah bumi di siang hari bolong, dengan terperanjat Bong
Thian-gak segera berpaling ke samping.
Tapi dengan cepat dia dibuat
tertegun.
Di belakang tubuhnya, di depan
sebuah kuburan yang amat besar, telah berdiri seorang perempuan
cantik bagai bidadari dari kahyangan berbaju biru.
Perempuan itu bukan lain
adalah Si-hun-mo-li Thay-kun.
Di samping Si-hun-mo-li
Thay-kun, berdiri pula seorang berbaju hijau.
Orang berbaju hijau itu
berwajah pucat-pias, dingin, kaku dan sama sekali tiada warna darah,
bahkan tiada berbau hawa manusia.
Bong Thian-gak berkerut
kening, rasanya orang berbaju hijau itu mengenakan topeng kulit
manusia sehingga menutupi wajah aslinya.
Tapi siapakah orang itu?
Bong Thian-gak kaget,
tercengang, bingung dan tidak habis mengerti. Mengapa ia bisa berada
bersama Si-hun-mo-li Thay-kun?
Bong Thian-gak memperhatikan
sekejap sekeliling tempat itu, cahaya matahari yang berwarna kuning
keemas-emasan menyinari tanah pekuburan itu, namun di sana tidak
nampak manusia lain kecuali mereka berdua.
Bong Thian-gak telah
memperoleh sebutir pil Hui-hun-wan dan persoalan pertama yang ingin
segera diselesaikan olehnya adalah menemukan Si-hun-mo-li dan
memberi pil Hui-hun-wan itu kepadanya agar Thay-kun bisa memperoleh
kembali pikiran dan kesadarannya seperti semula.
Sekarang Thay-kun sudah berada
di depan mata, asal dia menelan pil Hui-hun-wan, berarti usahanya
akan berhasil.
Namun hal ini bukanlah
perbuatan yang amat gampang.
Dia tahu untuk menyelesaikan
tugas itu, kemungkinan besar dia harus membayar mahal, bahkan bisa
kehilangan selembar nyawanya.
Orang berbaju hijau yang
berada di hadapannya sekarang terlalu menyeramkan dan menggidikkan.
Mungkinkah orang ini adalah
Hek-mo-ong?
Berpikir sampai di sini, Bong
Thian-gak segera menghimpun pikiran dan perhatian mengawasi
gerak-gerik orang berbaju hijau itu.
Orang itu tertawa dingin,
ujarnya, "Apabila kau ingin meloloskan diri dari ancaman kematian,
lebih baik serahkan saja kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu
kepadaku."
Tertegun Bong Thian-gak,
segera tanyanya, "Apa? Jadi kau pun menghendaki kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok dari Mi-tiong-bun?"
Paras muka orang berbaju hijau
itu masih tetap tenang tanpa perubahan sedikit pun, sahutnya,
"Apabila kau mengerti rahasia kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, setiap
orang yang berada di dunia ini rasanya Ingin mendapatkannya."
"Siapakah kau?" tanya Bong
Thian-gak sambil tersenyum.
"Kau tak perlu mengetahui
siapakah aku. Yang penting bagimu hanya memilih dua jalan yang
kutawarkan kepadamu, mau hidup atau mati, silakan segera tentukan!"
"Aku ingin mengetahui lebih
dulu dengan mengandalkan ilmu illut apakah kau hendak menghukum mati
diriku?"
"Serangan Si-hun-mo-li dan
sergapan mendadak yang kulancarkan nanti!"
Bong Thian-gak kembali
tersenyum.
"Yakinkah kau pasti akan dapat
merenggut nyawaku?"
"Bila kau yakin dapat
meloloskan diri dari cengkeraman mautku, maka kau tak perlu
mengeluarkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok."
Bong Thian-gak termenung dan
berpikir beberapa saat, tiba-tiba ia Itrtanya, "Dari kemampuanmu
memberi perintah kepada Si-hun-mo-li, tentunya kau pun dapat membuat
Si-hun-mo-li jatuh tak sadarkan diri bukan?"
"Apa maksudmu?"
"Oh, itu rahasia pribadiku dan
merupakan syarat yang hendak kuajukan sebagai pertukaran."
"Harap kau suka memberi
penjelasan secara terperinci."
"Boleh saja kuserahkan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok kepadamu, namun kau harus dapat merobohkan
Si-hun-mo-li lebih dulu hingga tak sadarkan diri."
"Setelah Si-hun-mo-li tak
sadarkan diri, maka kau bisa menandingi diriku bukan?"
"Ya, terpaksa harus dicoba,"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Kitab pusaka Kui-hok-khi-liok
sudah berada di sakumu, aku bisa turun tangan merampasnya dari
tanganmu."
"Kau tetap harus menguatirkan
sesuatu."
"Apa yang mesti kukuatirkan?"
"Kekalahan."
Orang berbaju hijau itu
tertawa dingin.
"Ehm, nampaknya kau masih
mempunyai sedikit otak untuk berpikir."
"Ah, seandainya tiada suatu
yang dikuatirkan, sedari tadi kau telah turun tangan merebutnya dari
tanganku."
"Kau keliru besar," ujar orang
berbaju hijau itu sambil tertawa seram. "Yang kukuatirkan justru
tindakanmu menghancurkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok sebelum
penyerahan nanti, itulah sebabnya aku tidak turun tangan hingga
detik ini."
"Terima kasih banyak atas
petunjukmu itu," Bong Thian-gak tertawa. "Aku benar-benar tak
berpikir begitu."
Orang berbaju hijau itu
mendengus dingin, "Hm, belum pernah aku bicara sebanyak ini dengan
orang lain, kau harus mengambil keputusan secepatnya?"
"Aku yang mesti mengambil
keputusan sendiri ataukah kau yan menyuruh aku mengambil keputusan?"
"Baiklah, aku akan menuruti
keinginanmu dengan merobohkan Si hun-mo-li hingga tak sadarkan diri,
tapi pada saat bersamaan kau haru melemparkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok jauh ke sana."
"Baik, aku setuju dengan
usulmu itu."
"Masih ada satu hal lagi,
apakah kau sudah melihat kitab pusak
Kui-hok-khi-liok?"
"Belum."
"Bagus sekali, sekarang aku
akan menghitung sampai angka sepuluh dan kau harus melemparkan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok ke depan sana."
"Di saat kulihat Si-hun-mo-li
roboh tak sadarkan diri nanti, aku pasti akan melemparkan kitab
pusaka itu ke depan."
"Aku akan menghitung sampai
angka sepuluh, saat itu Si-hun-rn li pasti sudah roboh tak sadarkan
diri!"
Demi menyelamatkan selembar
jiwa Thay-kun, Bong Thian-gak telah mengambil keputusan hendak
mengingkari janjinya dengan Biau kosiu. Biarpun saat ini kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok diserahkan kepada lawan, namun ia yakin
masih memiliki kemampuan untuk merebutnya kembali.
Sebaliknya bila Si-hun-mo-li
kabur lagi, usahanya menyelamatkan jiwa perempuan itu akan menemui
kesulitan yang lebih banyak lagi.
Itulah sebabnya Bong Thian-gak
mengambil keputusan akan mengingkari janji terhadap Biau-kosiu.
Tiba-tiba sepasang mata orang
berbaju hijau itu memancarkan tahaya dingin kehijau-hijauan,
pelan-pelan dia mulai memanggil, "Si-hun-mo-li!"
Panggilan itu penuh diliputi
nada menyeramkan, aneh dan menggidikkan.
Ketika mendengar suara yang
menggidikkan itu, pelan-pelan Si-hun-mo-li membalik badan, namun
ketika sinar matanya saling bentur dengan sorot mata orang berbaju
hijau itu, ia nampak seperti tersengat lebah.
Seketika itu juga sukma dan
pikirannya seolah-olah terbetot oleh pandangan mata itu, dia berdiri
melongo seperti sebuah patung.
Sementara itu orang berbaju
hijau sudah menghitung dengan itiara melengking tapi lambat, "Satu
... dua ... tiga ... empat...."
Pada saat itulah dari balik
kuburan tiba-tiba muncul seseorang yang menerjang ke punggung orang
berbaju hijau dengan kecepatan tinggi.
Dengan sorot mata Bong
Thian-gak yang amat tajam, ia sudah melihat dengan jelas bahwa orang
yang baru saja muncul itu bukan lain adalah perempuan berbaju hijau
yang menyerahkan kitab pusaka Kui-hok khi-liok kepadanya itu.
Kemunculannya yang sangat
mendadak ini segera menggetarkan perasaan Bong Thian-gak, ia tahu
persoalan bakal runyam.
Belum habis ingatan itu, suara
orang berbaju hijau yang sedang menghitung itu pun terhenti secara
mendadak.
Kemudian secepat kilat dia
membalik badan seraya melancarkan pukulan kilat ke depan.
Angin pukulan yang kuat dan
tajam secara telak menghantam tubuh perempuan berbaju hijau itu.
Jerit kesakitan bergema, tubuh
perempuan berbaju hijau itu segera terlempar bagaikan layang-layang
yang putus benang.
Dengan cepat Bong Thian-gak
melejit ke udara dan melayang turun di hadapan perempuan berbaju
hijau itu.
Sementara itu paras muka
perempuan berbaju hijau itu sudah berubah pucat-pias seperti mayat,
darah segar muntah dari mulutnya.
Dengan cepat Bong Thian-gak
membimbing bangun, kemudian menempelkan telapak tangannya di atas
jalan darah Mi-bun-hiat di punggungnya.
Segulung hawa panas segera
menyusup ke tubuh perempuan itu melalui jalan darah Mi-bun-hiat,
hawa darah bergolak dengan kuat dalam tubuhnya, perempuan itu pun
segera berkata, "Bong-siangkong, kau tak boleh menyerahkan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepada orang lain, kau tak boleh
mengingkari janjimu terhadap Biau-kosiu."
"Ai, harap kau sudi memaafkan
aku," ujar Bong Thian-gak sambil menghela napas panjang.
Saat itu Bong Thian-gak
benar-benar menyesal dan tidak keruan rasanya.
Perempuan berbaju hijau itu
memandang sekejap ke arahnya, kemudian dengan air mata bercucuran
katanya, "Bong-siangkong, kemungkinan besar aku akan segera mati.
Sebelum ajalku tiba, aku minta kau bersedia menyanggupi keinginanku,
kau harus melindungi kitab Kui-hok-khi-liok itu hingga diserahkan
terhadap Biau-kosiu. Apabila kau tak mampu menyerahkan kepadanya,
tolong hancurkan dan musnahkan kitab itu."
Paras muka perempuan berbaju
hijau itu pucat-pias seperti mayat, dari balik matanya memancar
sinar permohonan, ditatapnya wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Dia hendak menanti jawaban
Bong Thian-gak, sebab dia tahu asalkan pemuda yang berada di
hadapannya sudah menganggukkan kepala memberikan persetujuan, biar
langit ambruk pun, pendiriannya tak pernah akan berubah.
Tapi Bong Thian-gak masih
tetap termenung dan sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Sebab perasaan dan pikirannya
saat ini sangat kalut, dia tak bisa mengambil keputusan dengan
segera, bagaimana pun menyelamatkan Thay-kun merupakan harapannya
yang terbesar. Sekarang dia telah mendapat kesempatan baik yang tak
mungkin bisa dijumpai lagi di kemudian hari. Apakah dia harus
melepaskan kesempatan yang sangat baik itu begitu saja?
Melihat pemuda itu hanya
membungkam tanpa menjawab, perempuan berbaju hijau itu menjadi
sangat kecewa, air matanya segera bercucuran membasahi wajahnya.
Diiringi jeritan yang
memilukan, perempuan berbaju hijau itu sekali lagi memuntahkan darah
segar, tiba-tiba saja dia tewas dalam keadaan penuh kecewa.
Tak terlukiskan rasa terkejut
Bong Thian-gak, sementara dia masih tertegun, tiba-tiba dari
belakang tubuhnya terdengar orang berbaju hijau Itu berkata dengan
dingin, "Dia bukan mati karena mendongkol kepadamu. Ketahuilah,
barang siapa sudah termakan oleh pukulanku, maka dia tak akan mampu
hidup lebih seperempat jam."
Pelan-pelan Bong Thian-gak
membalikkan badan dan menatap orang itu lekat-lekat, kemudian
ujarnya, "Tenaga pukulan yang kau miliki memang benar-benar amat
dahsyat dan tajam, tapi yakinkah kau bahwa seranganmu pasti dapat
menghabisi nyawaku?"
"Sebelum mendapatkan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok itu, aku tak hanti turun tangan melukaimu."
"Sekarang aku sudah berubah
pikiran," ucap Bong Thian-gak dengan suara dingin. "Aku tak jadi
menyerahkan kitab pusaka itu kepadamu, akan kulindungi kitab
Kui-hok-khi-liok ini hingga saat penyerahan nanti."
Orang itu tertawa seram
mendengar perkataan itu, "Bagus sekali, kau mencari jalan kematian
bagi dirimu sendiri."
Mendadak Bong Thian-gak
melolos Pek-hiat-kiam, kemudian berkata, "Apabila kau bermaksud
mencabut nyawaku, maka tak ada salahnya kau mencoba menerima
beberapa buah tusukanku ini."
Pemuda itu melompat ke muka
dan melepaskan sebuah tusukan kilat.
Sekilas cahaya tajam yang
menyilaukan mata segera berkelebat ke depan.
Orang itu sama sekali tidak
menggeser badan menghindarkan diri, sebaliknya Si-hun-mo-li yang
berada di sisinya bagaikan sesosok arwah gentayangan telah
menyelinap ke depan dan menghadang di hadapan orang itu, sementara
telapak tangannya yang putih bersih ditolakkan ke muka menghantam
mata pedang itu.
Sebenarnya Bong Thian-gak bisa
saja berganti jurus dengan membacok pergelangan tangannya, namun ia
sama sekali tidak berbuat demikian. Menghadapi ancaman itu, dia
menarik balik pedangnya.
Si-hun-mo-li sama sekali tidak
memberi kesempatan kepada lawan untuk banyak bertindak, kembali
tubuhnya berkelebat maju dan menerjang sisi kiri Bong Thian-gak,
sementara telapak tangannya yang lain segera dihantamkan ke bahu
kiri anak muda itu.
Sejak bertemu Si-hun-mo-li,
ilmu silat yang dimiliki Bong Thian-gak seolah-olah mengalami
kemunduran yang amat pesat. Dalam keadaan demikian, seharusnya ia
dapat menggerakkan pedangnya untuk melepaskan tusukan, namun ia
tidak berbuat demikian, tubuhnya malah melompat mundur untuk
menghindarkan diri dari ancaman itu.
Siapa tahu pada saat itulah
telapak tangan kiri Si-hun-mo-li telah diayun ke depan dan membacok
tubuh Bong Thian-gak dengan mempergunakan Soh-li-jian-yang-sin-kang.
Cahaya tajam yang berwarna
merah darah segera menyambar, pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang yang
maha dahsyat bagaikan putaran roda kereta langsung menggulung ke
muka.
Bong Thian-gak segera
membentak, mendadak Pek-hiat-kiam diputar kencang menciptakan kabut
pedang yang tebal, bukannya mundur dia malah maju.
Ilmu pukulan
Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan ilmu pukulan yang maha dahsyat
dan amat termasyhur dalam Bu-lim. Mimpi pun orang berbaju hijau itu
tak mengira permainan kabut pedang yang diciptakan Bong Thian-gak
itu mampu mementalkan sergapan tenaga Sinkang itu.
Benar-benar di luar dugaannya,
serangan maut yang begitu tajam dan dahsyat dari
Soh-li-jian-yang-sin-kang berhasil dipunahkan begitu saja oleh
putaran hawa pedang Bong Thian-gak.
Sebaliknya tubuh Bong
Thian-gak sendiri berputar ke hadapan Si-hun-mo-li dengan kecepatan
luar biasa, lalu kaki kanan Bong Thian-gak diayunkan ke muka dan
menendang jalan darah kaku di pinggang Si-hun-mo-li.
Tendangan yang dilancarkan
olehnya itu benar-benar dilepaskan secara jitu dan manis, diikuti
jeritan tertahan, tubuh Si-hun-mo-li segera roboh terjungkal ke atas
tanah.
Pada saat itulah Bong
Thian-gak membuang Pek-hiat-kiam, lalu mementang kelima jari
tangannya, dia cengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri
Si-hun-mo-li.
Bong Thian-gak tahu ilmu
pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang yang dimiliki Si-hun-mo-li
terletak pada tangan kirinya, oleh sebab itu ia langsung
mencengkeram bagian vital itu dengan harapan dapat mengendalikan
gerak-gerik perempuan itu.
Sejak Bong Thian-gak memutar
pedang sambil mendesak maju hingga dia merobohkan Si-hun-mo-li
dengan tendangan, beberapa gerakan itu dilakukan dengan kecepatan
bagaikan sambaran kilat dan dilakukan secara beruntun.
Menanti orang berbaju hijau
tahu Si-hun-mo-li tak mungkin mampu menghadapi serangan Bong
Thian-gak, urat nadi pergelangan tangan kiri Si-hun-mo-li sudah
berhasil dicengkeraman Bong Thian-gak.
Orang berbaju hijau itu
mendengus penuh amarah, dari kejauhan dia lepaskan bacokan maut ke
tubuh pemuda itu.
Tapi Bong Thian-gak dengan
membopong tubuh Si-hun-mo-li telah melompati dua buah kuburan besar
untuk menghindarkan diri.
Ketika tenaga pukulan yang
dilancarkan orang berbaju hijau itu menghantam batu nisan,
terjadilah suara ledakan yang amat keras disusul robohnya batu nisan
dan debu pasir beterbangan ke udara.
Gagal dengan serangan mautnya,
orang itu bagaikan sukma gentayangan mendesak maju, sewaktu berada
di muka Bong Thian-gak, kembali tangan kanannya diayunkan siap
melepaskan pukulan maut lagi.
Padahal Bong Thian-gak baru
saja berhasil berdiri tegak ketika musuh telah berdiri di
hadapannya, gerakan tubuh yang sedemikian cepatnya ini membuat anak
muda itu tertegun.
Sambil tertawa dingin, orang
berbaju hijau itu berkata, "Asal kau herani menggerakkan tubuhmu,
tenaga pukulan yang telah kuhimpun ini secepat kilat akan menghajar
tubuhmu."
Waktu itu tangan Bong
Thian-gak sedang mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri
Si-hun-mo-li. Ketika mendengar ancaman itu, ia segera tertawa dingin
sambil ujarnya, "Tenaga pukulanmu itu mungkin akan menghajar
Si-hun-mo-li."
Agaknya rahasia hati orang
berbaju hijau itu berhasil ditebak Bong Thian-gak secara tepat. Ia
segera berpikir beberapa saat, setelah itu baru ujarnya dengan suara
dingin, "Apa yang ingin kau lakukan terhadap dirinya?"
"Mencabut nyawanya."
"Bila dia mati, kau pun jangan
harap bisa hidup lebih lama," ancam orang berbaju hijau itu segera.
"Betul, itulah sebabnya tak
ada salahnya bila kita bertukar syarat."
"Apa syaratmu?"
Bong Thian-gak berpikir
sejenak, kemudian katanya dengan wajah bersungguh-sungguh, "Harap
kau segera mundur dari sini! Aku tak akan mengganggu keselamatan
jiwanya."
"Sekarang segenap tenaga
pukulanku telah terhimpun di telapak tangan, sesungguhnya yang
mendapat ancaman bukan aku, melainkan kau," ucap orang berbaju hijau
itu dengan nada menyeramkan.
"Aku tahu. Meski tenaga
pukulanmu amat tajam dan menakutkan, namun belum tentu dapat
melukaiku."
"Setiap kali melepas pukulan,
belum pernah pukulanku meleset."
"Bukankah ilmu pukulan
Soh-li-jian-yang-sin-kang Si-hun-mo-li pun belum pernah meleset,
tapi terbukti sudah bahwa ia tak mampu melukai aku."
Orang berbaju hijau itu
tertawa dingin.
"Hm, aku memang tidak mengerti
apa sebabnya kabut pedang yang kau ciptakan tadi bisa mematahkan
ancaman Soh-li-jian-yang-sin-kang yang begitu hebat."
"Karena sebenarnya aku telah
berhasil melatih semacam ilmu sakti yang dapat menandingi pengaruh
Soh-li-jian-yang-sin-kang itu," kata Bong Thian-gak sambil
tersenyum.
Tampaknya orang itu seperti
berhasil menebak, dengan terkejut ia segera bertanya, "Apakah tenaga
sakti yang kau pergunakan barusan adalah Tat-mo-khi-kang?"
Bong Thian-gak
manggut-manggut, "Ya benar, memang Tat-mo-khi-kang. Itulah sebabnya
berani aku katakan tadi, bahwa tenaga seranganmu belum tentu dapat
melukai diriku."
"Sekalipun mempelajari
Tat-mo-khi-kang, bukan berarti sudah tiada tandingan di kolong
langit?"
"Tapi paling tidak kan aku
sanggup menerima serangan mautmu tanpa kuatir terancam keselamatan
jiwaku."
"Sekarang aku tidak ingin lagi
melancarkan serangan lebih dahulu kepadamu, lebih baik kita saling
bertahan pada posisi demikian saja!"
Yang paling menjengkelkan dan
membingungkan Bong Thian-gak sekarang adalah dia tidak memiliki
tangan kanan sehingga sama sekali tak mampu mengeluarkan pil
Hui-hun-wan itu dan dicekokkan ke mulut Si-hun-mo-li.
Kabut malam sudah makin
menyelimuti angkasa, sementara sang mirya sudah tenggelam ke langit
barat, tanah pekuburan itu mulai dicekam kegelapan.
Mendadak dari balik tanah
pekuburan berkumandang suara orang bicara, "Apabila keadaan saling
bertahan semacam ini berlangsung lebih lama, akhirnya
Jian-ciat-suseng akan menderita kekalahan sebelum pertarungan
dimulai."
Mendengar perkataan itu, hati
Bong Thian-gak bergetar.
"Siapa di situ?" bentak orang
berbaju hijau itu dingin.
Dari balik sebuah kuburan
besar muncul seorang berjubah panjang warna hitam, lengan kanan
orang itu sudah kutung sementara sebilah golok panjang tersoreng di
pinggangnya.
Berjumpa dengan manusia
berlengan tunggal itu, Bong Thian-gak terkejut bercampur girang,
segera pekiknya dalam hati, "Ah, tenyata Liu Khi. Andaikata ia
bersedia membantuku, niscaya keselamatan jiwa Thay-kun akan
terjamin."
Kemunculan Liu Khi tentu saja
memberi harapan baru yang amat besar bagi Bong Thian-gak, tapi pada
saat itu pula tiba-tiba Bong Thian-gak merasa kepalanya sangat
pening.
"Aduh celaka," pekik Bong
Thian-gak dalam hati.
Dengan cepat ia menyambar
tubuh Si-hun-mo-li, kemudian sekuat tenaga melompat ke depan dimana
Liu Khi berada.
Baru saja Bong Thian-gak
menggerakkan tubuh, jurus serangan orang berbaju hijau yang telah
disiapkan sedari tadi dilontarkan ke muka.
Suara dengusan tertahan segera
memecah keheningan.
Tubuh Bong Thian-gak dan
Si-hun-mo-li mencelat ke belakang.
Tenaga yang dilontarkan oleh
orang berbaju hijau itu hampir saja membuyarkan tenaga
Tat-mo-khi-kang yang dihimpun Bong Thian-gak.
Dalam keadaan setengah sadar,
dengan cepat Bong Thian-gak melepas cengkeramannya pada urat nadi
pergelangan tangan kiri Si-hun-mo-li, kemudian tangannya merogoh ke
dalam saku mengeluarkan pil Hui-hun-wan dan sekali lompat dia sudah
menindih di atas tubuh Si-hun-mo-li, ia jejalkan pil Hui-hun-wan itu
ke dalam mulut perempuan itu.
Pada saat itulah Bong
Thian-gak merasa tengkuknya amat dingin, sebuah cengkeraman maut
yang sangat kuat bagaikan jepitan baja telah mencengkeram
tengkuknya.
Menyusul suara bentakan
menggema, "Hek-mo-ong, terimalah bacokanku ini!"
Liu Khi tahu-tahu telah
melepas goloknya dengan kecepatan luar biasa.
Di antara berkelebatnya cahaya
putih mata golok itu, orang itu segera melompat mundur untuk
menghindarkan diri.
Begitu musuh mundur, Liu Khi
menyarungkan kembali goloknya, lalu berseru dengan terkejut,
"Agaknya kau mampu juga menghindarkan diri dari bacokan golokku
ini?"
"Hm, benar-benar permainan
golok yang luar biasa cepatnya," jengek orang berbaju hijau itu
dengan suara dingin dan menyeramkan. "Hampir saja lenganku terpapas
kutung oleh sambaran golokmu itu."
Di bawah sinar bintang dan
rembulan yang remang-remang, orang berbaju hijau itu telah
kehilangan sebagian ujung baju tangan kirinya.
Liu Khi tertawa dingin setelah
mengamati lawannya itu, kembali ia menegur dengan suara ketus,
"Engkau adalah Hek-mo-ong?"
"Hm! Atas dasar apa kau
menuduh aku sebagai Hek-mo-ong? balas orang berbaju hijau itu dengan
suara tak kalah seram.
Kembali Liu Khi tertawa seram,
"Hm, aku sudah tiga hari menguntit dirimu, aku pun telah meneliti
semua mayat yang tewas di tanganmu, semuanya mati dengan isi perut
hancur, hanya sayang tidak kujumpai lambang tengkorak hitam yang
khas itu."
"Liu Khi, sejak tadi aku telah
mengetahui kau mengikuti diriku," kata orang berbaju hijau itu.
Liu Khi tertawa dingin.
"Oleh sebab itulah kedelapan
belas orang anak buahmu sekarang lelah berubah menjadi setan-setan
tanpa kepala."
"Kecepatan permainan golokmu
benar-benar di luar dugaanku."
"Ketajaman pukulan tangan
kosongmu pun tak di bawah permainan golok saktiku."
"Apa maksudmu?"
"Ilmu silat Jian-ciat-suseng
yang sekarang menggeletak di tanah Itu belum tentu di bawah kita,
dengan ketajaman ilmu pukulanmu ternyata kau sanggup menghajarnya
secara telak. Bukankah ketajaman Ilmu pukulanmu benar-benar membikin
hati orang bergidik?"
Sementara itu Bong Thian-gak
yang menggeletak di atas tanah merasakan seluruh tubuhnya lemas,
tulang-belulangnya seperti sudah terlepas, namun dia tidak jatuh
pingsan, dengan demikian semua pembicaraan Liu Khi dan orang berbaju
hijau itu dapat didengar semua olehnya dengan jelas.
Diam-diam Bong Thian-gak
merasa amat terkejut, segera pikirnya, "Betulkah orang berbaju hijau
itu adalah Hek-mo-ong?"
PENDEKAR CACAT
Karya : Gu Long
Saduran : Can ID
Bagian 18 : Siapakah Hek-mo-ong?
Bong Thian-gak segera teringat
bagaimana orang itu melancarkan serangan yang tepat mengenai
perempuan berbaju hijau tadi, kecepatan serta kehebatan serangannya
memang sungguh mengerikan.
Perempuan berbaju hijau itu
bukan termasuk seorang lemah, namun nyatanya orang itu sanggup
menghajarnya hingga tewas dalam satu gebrakan saja. Benar-benar
menggidikkan.
Apabila Liu Khi harus berduel
melawan orang berbaju hijau itu, dapatkah Liu Khi meraih kemenangan?
Bong Thian-gak berharap
kemampuan Liu Khi sanggup menahan orang berbaju hijau itu hingga
tenaga dalamnya pulih atau kalau tidak, ia hersama Thay-kun pasti
akan menemui bencana besar.
Sementara itu Thay-kun sejak
dicekoki pil Hui-hun-wan masih tetap tidak sadarkan diri, keadaannya
tak ubahnya sesosok mayat, sama sekali tidak bergerak, tubuhnya
masih tertindih Bong Thian-gak.
Tiba-tiba terdengar orang
berbaju hijau itu menegur dengan suara menyeramkan, "Liu Khi, apa
yang hendak kau lakukan sekarang?"
"Pertama-tama, aku ingin
bertanya kepadamu, benarkah kau adalah Hek-mo-ong?" tanya Liu Khi
sambil tertawa dingin.
"Jika aku adalah Hek-mo-ong,
hari ini aku datang mengenakan topeng kulit manusia, kau tak akan
mengenali juga raut wajah asliku."
"Itulah sebabnya aku ingin
bertanya kepadamu dan kau harus memberikan ketegasan dalam
jawabanmu, ya atau tidak."
"Aku tak dapat memberikan
jawaban yang meyakinkan padamu."
Liu Khi tertawa dingin tiada
hentinya, "Seandainya golok yang berada dalam genggamanku ini
berhasil mengunggulimu?"
"Aku ingin balik bertanya
kepadamu, ada urusan apa kau mencari Hek-mo-ong?"
Untuk kesekian kalinya Liu Khi
tertawa dingin, "Mungkin kau sudah mengetahui rahasiaku."
"Tentu saja tahu, di dunia
persilatan terdapat seorang pembunuh yang kerjanya khusus membunuh
orang berdasarkan order, dia adalah orang misterius dan tak
membedakan antara yang sesat dan lurus. Asal ada orang memberi uang
kepadanya, dia akan membunuh siapa pun seperti yang diinginkan si
pemesan."
Liu Khi tertawa terbahak-bahak
serunya, "Tentunya orang yang kerjanya membunuh berdasarkan order
ini adalah Liu Khi, bukan?"
"Benar, memang Liu Khi."
Bong Thian-gak terkejut serta
ingin tahu.
Dia ingin tahu, karena selama
ini belum pernah terdengar olehnya di dunia persilatan terdapat
pekerjaan membunuh berdasarkan order seperti apa yang dikatakannya
itu.
Dia terkejut karena sama
sekali tidak menyangka Liu Khi adalah orang yang mempunyai pekerjaan
membunuh berdasarkan order itu.
Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng
pernah berkata kepada Bong Thian-gak, "Aku mencurigai Liu Khi...."
Sesungguhnya Bong Thian-gak
merasa kurang puas terhadap kecurigaan Tio Tian-seng itu, namun
sekarang dia harus mengakui akan ketajaman mata, kematangan
pengetahuan serta pengalaman Tio Tian-seng, rupanya dia telah
mengetahui rahasia Liu Khi itu.
Sambil tertawa Liu Khi
berkata, "Benar-benar sangat hebat, padahal sedikit umat di Kangouw
saat ini yang mengetahui rahasiaku."
"Sekali lagi aku ingin
bertanya kepadamu, apakah ada orang yang telah membayar tinggi
kepadamu untuk membunuh Hek-mo-ong?"
"Benar, Liu Khi telah menerima
order itu," Liu Khi tertawa.
"Hek-mo-ong adalah seorang
yang luar biasa. Entah berapa besar harga yang telah dibayarkan
kepadamu?"
"Untuk membunuh Hek-mo-ong,
harganya tak dapat ditentukan dengan emas, intan atau permata
lainnya."
Orang berbaju hijau tertawa
dingin, katanya lebih jauh, "Dapatkah kau memberitahu kepadaku siapa
yang mengundangmu?"
"Apakah kau tidak tahu bahwa
persoalan semacam ini tak dapat diutarakan?" seru Liu Khi sambil
tertawa terbahak-bahak.
Mendadak orang berbaju hijau
itu memasukkan tangannya ke dalam saku, bersamaan lengan tunggal Liu
Khi telah memegang pula gagang golok yang tersoreng di pinggangnya,
kemudian bentaknya, "Kau jangan mencoba melepas racun, sebelum
datang kemari Liu Khi telah menelan pil anti bisa yang bisa
menawarkan berbagai macam pengaruh racun."
Tangan kiri orang berbaju
hijau itu masih tetap berada di dalam «aku, tak bergerak, katanya
dingin, "Aku memang sudah tahu Liu Khi kebal terhadap aneka serangan
racun, tentu saja aku tak akan berbuat debodoh ini dengan melepaskan
racun terhadapmu."
Liu Khi tertawa dingin.
"Bila tangan kirimu
meninggalkan saku, maka golokku akan lerlolos pula dari sarung!"
ancamnya.
Tiba-tiba orang berbaju hijau
itu memandang sekejap bintang yang bertebaran di angkasa, kemudian
katanya pelan, "Liu Khi, aku ingin mengundangmu untuk membunuh
orang. Bersediakah kau menerima orderku ini?"
"Sebelum Liu Khi menerima
order, terlebih dulu harus kuketahui persoalan macam apakah itu,
karenanya kau harus mengatakannya lebih dulu kepadaku siapa yang
hendak kau bunuh?"
"Mo-kiam-sin-kun Tio
Tian-seng!" jawab orang berbaju hijau itu dengan suara hambar.
Liu Khi termenung beberapa
saat, setelah itu baru berkata, "Sulit untuk membunuh
Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng, rasanya kesulitan itu tidak di bawah
Hek-mo-ong sendiri."
"Bagaimana pun juga kau adalah
wakil ketua Kay-pang. Boleh dibilang siang malam kalian bergaul,
kesempatanmu untuk membunuh amat banyak."
Liu Khi tertawa dingin,
"Lantas berapa hendak kau bayar?"
"Aku akan membantumu merebut
kursi ketua Kay-pang ditambah emas murni dan mutiara sepuluh laksa
tahil."
"Apakah kau tak sanggup
membayar lebih mahal lagi?" jengek Liu Khi sambil tertawa dingin.
Orang berbaju hijau memandang
sekejap ke arahnya, kemudian baru sahutnya, "Untuk membunuh Tio
Tian-seng, balas jasa apakah yang kau kehendaki?
Silakan kau utarakan sendiri."
Dengan muka sungguh-sungguh
Liu Khi berkata, "Aku minta kitab pusaka Kui-hok-khi-liok
Mi-tiong-bun."
Sekali lagi Bong Thian-gak
terkejut mendengar ucapannya itu, segera
pikirnya, "Sebetulnya kitab pusaka macam apakah Kui-hok-khi-liok
yang berada dalam sakuku sekarang? Mengapa mereka berusaha
mendapatkannya?"
Dalam pada itu orang berbaju
hijau telah berkata pula dengan j suara
hambar, "Bila kau mendapatkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu,
maka jangan harap kau bisa meloloskan diri dari pengejaran segenap
jago Mi-tiong-bun. Mengapa kau mencari kesulitan bagi diri sendiri?"
'
Liu Khi tertawa misterius,
"Bukankah kau sendiri pun sudah menyadari bila
merebut kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu, maka kau akan dikejar
segenap jago lihai yang dikirim Mi-tiong-bun, tapi mengapa kau
sendiri pun berusaha mendapatkannya?"
"Sekarang aku mengajakmu
membicarakan soal transaksi. Maaf, permintaanmu tidak dapat
kuterima."
"Kalau begitu malam ini kita
harus melangsungkan duel yang seru. Bilamana kau menganggap hal ini
perlu, silakan saja segera turun tangan!"
"Aku tidak dapat membiarkan
kau merampas kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, tentu saja barang harus
diserahkan sendiri sebagai tanda jadi."
"Mengapa hingga sekarang kau
belum juga turun tangan?" kata orang berbaju hijau itu.
"Aku sedang menunggu
kesempatan baik."
"Selama hidup kau tak akan
mendapatkan kesempatan baik itu!"
"Siapa bilang tidak?"
Tahu-tahu Liu Khi melolos
golok.
Gerakannya sewaktu melolos
golok cepat sekali, seperti sambaran petir, dalam keadaan begitu tak
mungkin orang dapat meloloskan diri.
Mata golok secara langsung
menyambar lambung orang berbaju hijau itu, serangannya gencar,
dahsyat dan sangat mengerikan.
Tangan kiri si orang berbaju
hijau yang selama ini disembunyikan di balik saku segera disapukan
pula ke depan dengan kecepatan tinggi, ia sambut datangnya ancaman
golok Liu Khi dengan kekerasan.
Tetapi mungkinkah ada orang di
dunia yang sanggup menerima bacokan golok dengan sabetan tangan
kosong?
Suara benturan keras memecah
keheningan.
Tubuh Liu Khi seperti seekor
bangau abu-abu langsung berkelebat menuju ke arah kiri.
Desingan angin tajam menderu,
segulung angin pukulan yang amat kuat segera menyambar lewat dasar
kaki Liu Khi.
Pertarungan yang berlangsung
antara kedua orang itu sama-sama dilakukan dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat, tahu-tahu Liu Khi melayang turun, goloknya juga
telah disarungkan kembali.
Sebaliknya orang berbaju hijau
dengan tangan kosong masih tetap berdiri tegak di tempat.
Dari sorot mata kedua orang
itu, mereka sama-sama terperanjat oleh ketangguhan lawan. Tanpa
berkedip, mereka saling pandang.
Tiba-tiba Liu Khi berkata,
"Senjata tajam apakah yang telah kau gunakan untuk menyambut bacokan
golokku tadi?"
"Hanya sebuah sarung tangan!"
jawab orang berbaju hijau dingin.
"Sebuah sarung tangan?" Liu
Khi bertanya keheranan. "Ketajaman golokku tak akan bisa dibendung
oleh senjata tajam macam apa pun di dunia ini, aku pikir sarung
tanganmu itu tentu sudah robek bukan?"
"Betul, memang agak robek
sedikit, itulah sebabnya kau dapat mengundurkan diri secara aman."
Liu Khi tertawa, "Seandainya
kau berusaha mencengkeram mata golokku tadi, maka telapak tanganmu
itu mungkin akan terpisah dengan tubuhmu."
"Liu Khi, kau sudah terkena
pukulanku yang sangat lihai," kata orang berbaju hijau itu dingin.
Paras muka Liu Khi segera
berubah hebat, katanya, "Tenaga pukulanmu itu sama sekali tak pernah
mengenai tubuhku."
"Dalam kedua serangan yang aku
lancarkan tadi, satu berwujud dan yang satu tak berwujud, kau dapat
meloloskan diri dari serangan tangan kananku yang berwujud, tapi
ketika kau melayang turun tadi, pukulanku yang tak berwujud telah
menghajar tubuhmu secara telak, tenaga serangan ini aku lancarkan
melalui tangan kiri, apabila kau tak percaya silakan saja mengatur
pernapasanmu, rasakan sendiri apakah jalan darah Hian-koan-hiat di
belakang pinggangmu terasa linu dan sakit atau tidak?"
Liu Khi termenung sejenak,
"Sungguh amat lihai, ternyata aku memang benar-benar sudah termakan
oleh serangan gelapmu, namun sayang kekuatannya tidak dapat
membuatku terluka."
"Untuk sementara waktu aku
masih belum ingin melukaimu, aku hanya berniat mendemonstrasikan
kemampuanku yang lihai ini agar kau l tidak terlampau sombong dan
takabur."
Liu Khi mendengus dingin, "Hm!
Bersiaplah menyambut serangan: bacokanku yang kedua."
"Tunggu sebentar," tiba-tiba
orang berbaju hijau itu membentak.
"Apalagi yang hendak kau
katakan?"
"Bila kita bertarung sekali
lagi, rasanya salah seorang di antara kita akan terluka, kau tidak
punya keyakinan untuk bisa mengungguliku, demikian pula aku. Buat
apa mesti bersikeras meneruskan pertarungan yang sama sekali tak ada
gunanya ini?".
Liu Khi tersenyum, "Tapi aku
tak bisa membiarkan kau merampas, kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu
dengan gampang."
"Kalau kau menginginkan kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok itu, biarlah aku mengalah saja?"
Seusai berkata, mendadak orang
berbaju hijau itu mengerahkan Ginkang dan segera berlalu dari situ.
Tampaknya Liu Khi sama sekali
tidak menyangka orang berbaju hijau itu akan meninggalkan arena
begitu saja, dia berdiri lama di tempat dengan wajah termangu-mangu,
setelah tidak berhasil menemukan sesuatu gejala aneh, dia pun
bergumam seorang diri, "Benarkah dia rela meninggalkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok begitu saja, hm ...."
Namun dalam waktu singkat di
atas tanah pekuburan itu telah muncul kembali si orang berbaju hijau
yang misterius tadi.
Orang berbaju hijau itu
memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak serta Liu Khi, kemudian
tertawa dingin penuh kelicikan dan perasaan bangga.
"Jian-ciat-suseng betul-betul
jago muda persilatan, nyatanya si pembunuh bayaran pun tak dapat
menghabisi nyawamu, sungguh mengagumkan."
Seusai berkata, kembali dia
tertawa dingin tiada hentinya dengan suara menyeramkan.
"Sebenarnya siapakah kau?"
tegur Bong Thian-gak dengan nada suara dalam.
Berhubung orang berbaju hijau
itu mengenakan topeng kulit manusia, maka tidak nampak perubahan
wajahnya, dia balik bertanya, "Kalau menurut dugaanmu, siapakah
aku?"
"Hek-mo-ong," sahut Bong
Thian-gak setelah tertegun sejenak.
Orang berbaju hijau itu
tertawa dingin, "Atas dasar apa kau menuduhku sebagai Hek-mo-ong?"
Bong Thian-gak tertegun dan
tak dapat menjawab pertanyaan itu.
Tiba-tiba Liu Khi menimbrung
sambil tertawa dingin, "Walaupun kau bukan Hek-mo-ong, namun
termasuk salah seorang yang dicurigai sebagai Hek-mo-ong."
"Berapa banyak jago lihai
dalam Kangouw yang dicurigai sebagai Hek-mo-ong?" tanya orang
berbaju hijau itu.
"Ada beberapa orang yang
dicurigai, rasanya tak usah ditanyakan lap,i kepadaku, kau sendiri
jauh lebih jelas daripada siapa pun?"
"Kalau begitu, kau pun sudah
tahu siapa diriku?" ucap orang itu dengan suara mengerikan.
"Ya, aku dapat menebak enam
bagian."
"Kalau begitu, coba katakan
siapakah diriku?"
Liu Khi termenung beberapa
saat, kemudian sambil tertawa, terbahak-bahak, "Kau adalah si tabib
sakti Gi Jian-cau."
Hati Bong Thian-gak bergetar
keras, pikirnya, "Pesan terakhir Keng-tim Suthay memintaku membunuh
Gi Jian-cau, mungkinkah Hek-mo-ong adalah jelmaan Gi Jian-cau?"
Sementara itu orang berbaju
hijau itu sudah bertanya lagi dengan suara hambar, "Liu Khi, sudah
pernahkah kau berjumpa dengan si tabib sakti Gi Jian-cau?"
"Delapan belas tahun
berselang, kami pernah berjumpa satu kali," jawab Liu Khi sambil
tertawa.
"Apakah kau masih ingat raut
wajahnya?"
Kembali Liu Khi tertawa,
"Sekalipun tubuhnya hancur menjadi abu, aku masih tetap dapat
mengenalinya."
Tiba-tiba orang berbaju hijau
itu melepas topeng kulit manusia yang melekat di wajahnya sehingga
muncul wajahnya di hadapan Bong Thian-gak serta Liu Khi.
Begitu menjumpai paras muka
orang itu, Bong Thian-gak segera berseru kaget, "Bukankah kau adalah
Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing?"
Orang berbaju hijau itu sama
sekali tidak menggubris perkataan Bong Thian-gak, dengan suara
dingin dan kaku kembali dia bertanya-kepada Liu Khi, "Coba kau tatap
lagi wajahku dengan seksama, benarkah aku adalah Gi Jian-cau."
Selesai berkata, dia
mengenakan kembali topeng kulit manusia itu.
Liu Khi termangu-mangu,
kemudian ucapnya sambil menghela napas, "Ai, tidak kusangka dugaanku
meleset."
"Liu Khi," kata orang berbaju
hijau dengan suara dingin, "bila sekarang kutuduh kaulah Hek-mo-ong,
apa yang hendak kau katakan?"
Liu Khi tertawa
terbahak-bahak, "Apabila kau pernah berjumpa dengan bayangan iblis
Hek-mo-ong, maka kau tidak akan menaruh curiga kepadaku."
"Apa maksudmu?"
"Karena Hek-mo-ong bukan
seorang berlengan tunggal."
Tiba-tiba orang berbaju hijau
itu mengalihkan sorot matanya ke wajah Bong Thian-gak, katanya,
"Sekarang aku telah memperlihatkan raut wajah asliku, Si-hun-mo-li
juga telah menelan pil Hui-hun-wan, tentunya kau dapat menyerahkan
kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadaku saat ini bukan?"
Tak terlukiskan rasa kaget dan
tercengang Bong Thian-gak, tanpa terasa ia berkata, "Darimana
Tan-locianpwe bisa tahu dia telah menelan pil Hui-hun-wan?"
"Si-hun-mo-li sudah sekian
lama kehilangan kesadaran dan kejernihan otaknya, keadaannya tak
ubahnya patung kayu yang menurut saja perintah orang, tapi kenyataan
sekarang dia dapat tertidur begitu nyenyak dan tak mau menuruti
perintah orang lagi. Jelas dia telah diberi pil Hui-hun-wan."
"Tan-locianpwe," kembali Bong
Thian-gak bertanya dengan nada tak mengerti, "ada suatu hal yang
tidak kupahami, bagaimana caramu menemukan Si-hun-mo-li, apakah kau
pun sudah bergabung dengan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau?"
Orang berbaju hijau itu
tertawa dingin.
"Si-hun-mo-li tidak lebih cuma
boneka, asal seseorang memahami ilmu pengendali sukma, maka ia dapat
memerintah sekehendak hati kepada perempuan ini. Mengapa harus jadi
anak buah Cong-kaucu lebih dulu baru memberi perintah kepadanya?"
Bong Thian-gak menggeleng
kepala, ia berkata, "Gerak-gerik Tan-locianpwe benar-benar membuat
aku bingung dan tidak mengerti."
Orang berbaju hijau itu
tertawa dingin.
"Ingin kutanya padamu,
sebenarnya kau ingin menyelamatkan Jiwa Si-hun-mo-li ataukah tetap
mempertahankan kitab Kui-hok-khi-liok itu?"
"Bila aku punya cukup
kemampuan, keduanya kuhendaki."
"Kalau begitu jangan salahkan
bila aku turun tangan keji padamu."
"Tunggu sebentar,"
teriak Bong Thian-gak. "Boanpwe ingin
menanyakan satu hal lagi kepada Locianpwe."
"Persoalan apa? Cepat
katakan."
"Boanpwe ingin tahu sebetulnya
Locianpwe musuh atau sahabat?"
"Hm, musuh atau sahabat,
kaulah yang menetapkan sendiri."
Kembali Bong Thian-gak
menghela napas sedih, katanya lagi, "Sungguh tidak kusangka,
bersusah payah Tio Tian-seng memancing kau muncul kembali dalam
Kangouw, nyatanya perbuatan ini tak lebih cuma memancing harimau
turun gunung."
"Aku tidak punya waktu untuk
diam terus," tukas orang berbaju hijau itu dingin. "Sekarang aku
telah menghimpun kekuatan di telapak tangan kananku yang telah siap
kuhantamkan ke tubuh Si-hun-mo-li yang masih tertidur nyenyak di
atas tanah. Apabila kau masih belum juga menyerahkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu kepadaku, terpaksa aku harus memusnahkan
jiwanya lebih dulu sebelum membunuhmu."
Bong Thian-gak menghela napas,
"Baiklah, akan kuserahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu
kepadamu."
Bong Thian-gak segera merogoh
sakunya dan siap mengeluarkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu.
Tiba-tiba dari kejauhan sana
terdengar suara bentakan nyaring, "Tunggu dulu, dia bukan
Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing."
Sesosok bayangan yang ramping
dan tinggi semampai bagaikan burung walet yang lincah mendekat
dengan kecepatan luar biasa.
Di bawah cahaya bintang dan
rembulan terlihat orang itu adalah gadis yang cantik, dia bukan lain
adalah Biau-kosiu.
Bong Thian-gak memandang
sekejap ke arahnya, lalu tanyanya, "Atas dasar apa nona mengatakan
dia bukan Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing?"
Sementara itu si orang berbaju
hijau telah menegur sambil tertawa dingin, "Kaukah si perempuan
siluman rase dari wilayah Biau?"
Biau-kosiu tertawa merdu,
"Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing yang asli telah tiba!"
Bersamaan dengan selesainya
perkataan itu, di tanah pekuburan itu telah muncul pula seorang Tosu
berjenggot hitam.
Dengan seksama Bong Thian-gak
mengawasi Tosu itu beberapa saat, ia tertegun dengan wajah melongo,
sebab Tosu yang berada di hadapannya sekarang memang tak lain adalah
Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing yang pernah dijumpainya di kuil
Sam-cing-koan tempo hari.
Tapi bukankah raut wajah asli
si orang berbaju hijau tadi pun mirip Tan Sam-cing?
Dalam pada itu
Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing hanya berdiri di kejauhan, tegurnya
dengan suara lantang, "Sebenarnya siapakah kau? Mengapa memakai nama
dan dandanan Pinto buat membohongi orang?"
Orang berbaju hijau itu
tertawa dingin, "Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing belum pernah
memasuki kuil Sam-cing-koan, justru aku yang hendak bertanya
kepadamu, mengapa kau mencatut nama dan wajahku untuk menipu orang?"
Bong Thian-gak tertawa seraya
menimbrung, "Kau bukan saja telah mencatut nama dan dandanan orang,
bahkan wajah pun kau catut. Benar-benar menggelikan, untung aku
sudah mengenali Tan Sam-cing Totiang lebih dulu sehingga dapat
kubedakan mana yang asli dan yang gadungan."
"Jian-ciat-suseng," kata orang
berbaju hijau itu dengan suara menyeramkan, "sejak kapan kau kenal
Tan Sam-cing?"
"Sejak kemarin."
"Dimana?"
"Dalam kuil Sam-cing-koan."
"Sebelum kau bertemu Tan
Sam-cing, kenalkah kau dengan orang yang bernama Tan Sam-cing?"
"Aku hanya tahu kau adalah
manusia keparat yang mencatut nama orang. Kenapa aku mesti banyak
bicara denganmu?"
Mencorong hawa membunuh dari
balik mata orang berbaju hijau itu, katanya, "Satu-satunya lambang
Tan Sam-cing adalah kehebatan ilmu Pat-kiam-hui-hiang.
Jian-ciat-suseng, apakah kau tak ingin melihatnya?"
"Mengapa tidak?" jawab Bong
Thian-gak sambil tersenyum.
"Di dalam ujung bajuku
terdapat delapan bilah pedang terbang, bila dilepaskan, kepala
manusia tentu akan bergelindingan, selama ini belum pernah ada orang
yang sanggup meloloskan diri."
"Biarpun harus mempertaruhkan
nyawa, pasti akan kuiringi kemauanmu itu," jawab Bong Thian-gak
cepat.
Mendadak terdengar Liu Khi
membentak keras, "Tunggu sebentar, Bong-laute."
Bong Thian-gak masih tetap
duduk bersila di atas tanah, dia memandang sekejap ke arah Liu Khi,
kemudian tanyanya, "Ada urusan apa, Liu-sianseng?"
Liu Khi tertawa, "Bong-laute,
siapakah di antara mereka berdua adalah Tan Sam-cing yang asli, apa
pula hubungannya dengan kita? Jika ingin dibuktikan siapa yang
palsu, biar saja urusan itu diselesaikan mereka sendiri."
Mendengar ucapan itu, hati
Bong Thian-gak bergetar keras, segera pikirnya, "Betul juga apa yang
diucapkan Liu Khi. Mengapa aku begini bodoh mencampuri urusan
orang?"
Tiba-tiba terdengar orang
berbaju hijau itu menjengek, "Jian-ciat-suseng, apakah kau hendak
menarik kembali tantanganmu itu?"
"Ya, bisa saja
kutarik kembali," jawab Bong Thian-gak. Tiba-tiba terdengar
Biau-kosiu mendengus sambil mengejek hina, "Huh, tak punya semangat.
Kalau begitu aku telah salah menilai dirimu."
Merah padam wajah Bong
Thian-gak, ia segera terbungkam. Sam-cing Totiang yang berada di
sisinya cepat menimbrung pula sambil tertawa dingin, "Nona Biau,
cepat kau minta kembali kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu dari
tangannya, Jian-ciat-suseng bukan seorang yang dapat dipercaya
lagi."
Tiba-tiba Bong Thian-gak
tertawa keras, kemudian katanya, "Nona Biau, dengar baik-baik. Aku
bersedia memenuhi permintaanmu pergi mengambilkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok ini lantaran aku ingin membalas budi kebaikanmu
beberapa hari berselang. Sekarang harap kau terima kembali kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok secepatnya, sehingga aku tak berhutang
apa-apa lagi kepadamu."
Lantas Bong Thian-gak merogoh
sakunya dan mengeluarkan bungkusan kain hijau yang berisi kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok.
Tiba-tiba seseorang
berkelebat, tahu-tahu orang berbaju hijau itu sudah mendesak maju
dan menghadang di depan Bong Thian-gak, kemudian bentaknya, "Barang
siapa berani maju untuk menerima kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, dia
harus merasakan dulu pedang terbangku."
"Benarkah di balik ujung
bajumu itu tersimpan pedang terbang?" tanya Bong Thian-gak tertegun.
Orang berbaju hijau itu
melirik ke arah Bong Thian-gak, jawabnya, "Apakah kau masih belum
percaya aku adalah Pat-kiam-hui-hiang?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Dunia persilatan yang penuh
tipu-daya yang licik dan berbahaya, memang sulit bagi orang untuk
mempercayai."
"Bila begitu aku perlu
beritahukan kepada kalian, Tosu di hadapan kalian sebetulnya adalah
Hek-mo-ong."
Sam-cing Totiang tergelak,
"Ngaco-belo, Pinto sudah puluhan tahun mengasingkan diri dari
keramaian dunia, sungguh tak disangka kemunculanku kembali ke dunia
Kangouw ternyata harus bertemu orang edan yang mencatut namaku."
Dengan suara mengerikan orang
berbaju hijau itu tertawa dingin tiada hentinya, ia berkata, "Oh,
jadi kau mengaku sebagai Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing. Tentunya
kau pun pandai mempergunakan pedang terbang bukan?"
"Tentu saja dapat," jengek
Sam-cing Totiang.
"Ilmu pedang terbang Tan
Sam-cing amat termasyhur di kolong langit, aku tidak percaya kau
sanggup mempelajari ilmu silat yang amat tangguh ini."
Sambil berkata orang itu
menggetarkan ujung baju kirinya. Sejalur cahaya putih bagaikan
sambaran petir segera meluncur ke muka.
Cahaya putih itu langsung
melesat ke udara dan menyambar Sam-cing Totiang yang berdiri di
hadapannya.
Sam-cing Totiang segera
melompat ke belakang, di tengah udara ia mengebaskan pula ujung
bajunya sehingga muncul pula cahaya putih menyongsong datangnya
sambaran cahaya putih orang berbaju hijau itu.
Suara benturan nyaring
berkumandang, kedua jalur cahaya putih saling tumbuk, setelah
berputar satu lingkaran, kedua jalur cahaya putih itu terbang
kembali ke dalam genggaman orang berbaju hijau serta Sam-cing
Totiang.
Demonstrasi ilmu pedang
terbang yang sangat hebat dan luar biasa ini membuat para jago
membuka mata lebar-lebar.
Dengan jelas Bong Thian-gak
melihat senjata dalam genggaman orang berbaju hijau adalah pedang
kecil setipis daun yang panjangnya hanya tiga inci.
Sebaliknya senjata dalam
genggaman Sam-cing Totiang berupa sebilah pedang kecil yang
memancarkan cahaya putih.
Sambil tertawa dingin orang
berbaju hijau itu segera berkata, "Kepandaianmu memang amat
sempurna, tak nyana kau mampu memukul mundur pedang terbangku."
Sam-cing Totiang tertawa, "Aku
pun tidak mengira kau benar-benar telah melatih ilmu pedang
terbang."
"Mengapa kau tidak ingin
mencoba ketujuh pedang yang lain?" tantang orang berbaju hijau itu
dingin.
"Berapa pun jumlah pedang
terbang yang kau miliki, silakan saja digunakan semua."
"Silakan kau maju ke depan
untuk mencoba kepandaianku ini."
"Mengapa bukan kau saja yang
maju?"
"Hm, kau anggap aku tak
mampu?"
Kali ini orang berbaju hijau
itu menerjang ke depan bagaikan burung rajawali sakti.
Baru saja tubuhnya menerjang
ke muka, cahaya putih secara beruntun meluncur ke depan menimbulkan
desingan tajam.
Sam-cing Totiang melejit ke
tengah udara, dari tangannya nampak pula cahaya putih berkelebat ke
depan dengan kecepatan tinggi.
Di tengah dentingan nyaring,
terdengar suara orang mendengus tertahan.
Dari tengah udara tampak
sesosok bayangan roboh ke atas tanah, ternyata orang itu adalah
Sam-cing Totiang.
Pada saat bersamaan orang
berbaju hijau itu melayang turun ke sisi Bong Thian-gak.
Ternyata bahu kiri Sam-cing
Totiang telah tertancap pedang kecil, waktu pedang itu dicabut,
darah kental segera memercik membasahi seluruh tubuhnya.
Paras muka orang berbaju hijau
yang tertutup topeng kulit manusia sama sekali tidak menunjukkan
perubahan apa pun, malah ujarnya, "Hek-mo-ong, ilmu pedang terbangmu
masih kalah setingkat. Hm, sebenarnya kau dapat melepas paku
tengkorakmu tadi untuk merenggut nyawaku, mengapa kau tidak berbuat
demikian?"
Paras muka Sam-cing Totiang
berubah hijau membesi, sesudah tertawa dingin ia berkata, "Aku tidak
mengerti apa maksudmu?"
"Kau seharusnya mengakui
dirimu sebagai Hek-mo-ong, bukan Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing."
Sam-cing Totiang kembali
tertawa seram, "Bila aku benar-benar Hek-mo-ong, maka sulit bagimu
untuk hidup lewat tiga hari lagi."
"Bila kau berharap bisa
mendapatkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok malam ini, maka kau harus
memperlihatkan wujud aslimu sebagai Hek-mo-ong, dan melangsungkan
pertarungan berdarah. Siapa tahu hal ini akan membuatmu berhasil
mendapatkan kitab itu?"
Sementara dia berbicara,
tiba-tiba Biau-kosiu berjalan menuju ke belakang punggung Bong
Thian-gak, kemudian tangannya berkelebat ke depan menyambar kitab
pusaka Kui-hok-khi-liok dalam genggaman anak muda itu.
Orang berbaju hijau segera
membentak, "Jian-ciat-suseng, jangan kau serahkan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu kepadanya."
Kembali orang berbaju hijau
mengebaskan ujung bajunya, sebilah pedang segera melesat ke udara
dan langsung menyambar pergelangan tangan Biau-kosiu.
Sesungguhnya sedari tadi Bong
Thian-gak memang sudah berniat mengembalikan kitab pusaka
Kui-hok-khi-liok itu kepada Biau-kosiu, bukan saja ia tidak berusaha
menghindar, malahan tangan tunggalnya didorong ke depan dan dengan
cepat menarik kitab pusaka itu.
Menyusul ia memutar
pergelangan tangannya, lalu menjepit pedang kecil yang menyambar
datang itu dengan jepitan jari tengah dan telunjuknya.
Ketika melepas pedang kecil
tadi, orang berbaju hijau menerjang pula ke depan, telapak tangan
kanannya langsung menghantam Biau-kosiu.
Setelah berhasil mendapatkan
kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, dengan cekatan Biau-kosiu melompat
mundur, gerakan tubuh nona itu benar-benar cepat, sekalipun jurus
serangan yang digunakan orang berbaju hijau itu amat cepat dan luar
biasa, akan tetapi ancaman itu segera mengenai tempat kosong.
Orang berbaju hijau mendengus
dingin, "Hm, mau kabur kemana kau?"
Berbareng dia meluncur ke
depan melakukan pengejaran.
Bong Thian-gak cukup tahu
betapa lihainya kepandaian silat orang berbaju hijau, karena kuatir
Biau-kosiu tidak berhasil meloloskan diri dari pengejaran, maka
segera teriaknya, "Silakan kau menerima kembali pedang kecilmu!"
Bong Thian-gak segera
menyambitkan pedang kecil yang dijepit jari tangannya itu ke arah
lawan dengan kekuatan luar biasa.
Mau tak mau orang berbaju
hijau harus menghentikan langkah untuk membalikkan badan dan
menyambut datangnya serangan pedang kecil itu.
Lantaran terhadang sejenak
itulah untuk kedua kalinya Biau-kosiu melejit ke udara, dalam waktu
singkat dia telah berada di kejauhan.
Orang itu sangat mendongkol,
sambil mendengus dingin katanya, "Jian-ciat-suseng, aku benar-benar
sangat membencimu. Suatu ketika aku akan mencincang tubuhmu hingga
hancur guna melampiaskan rasa benciku ini."
Setelah berteriak penuh
amarah, dia menjelit ke udara melakukan pengejaran.
Dalam waktu singkat bayangan
tubuh Biau-kosiu dan orang berbaju hijau lenyap dari pandangan.
Sementara itu Sam-cing Totiang
yang berdiri di hadapan mereka memandang sekejap ke arah Liu Khi dan
Bong Thian-gak, kemudian setelah tertawa dingin dia pun membalikkan
badan dan beranjak pergi dari situ.
Suasana di tanah pekuburan
kembali hening, Bong Thian-gak serta Liu Khi duduk bersila di atas
tanah dan mengatur pernapasan.
Beberapa saat kemudian
terdengar Liu Khi berkata, "Bong-laute, dapatkah kau menunjukkan
siapa di antara mereka berdua adalah Tan Sam-cing yang asli?"
"Tentu saja Totiang itu,
dialah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing yang asli," jawab Bong
Thian-gak dengan suara lantang.
Liu Khi menggeleng berulang
kali.
"Dugaan Bong-laute keliru
besar, padahal orang berbaju hijau itulah Tan Sam-cing yang asli."
"Sewaktu masih berada di dalam
kuil Sam-cing-koan, aku pernah berjumpa Tan Sam-cing Locianpwe.
Sam-cing Totiang adalah ketua Sam-cing-koan, yang nama aslinya
adalah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing!"
Sekali lagi Liu Khi menghela
napas panjang, "Andaikata Tojin itu adalah Pat-kiam-hui-hiang yang
asli, maka ilmu pedang terbangnya tak nanti lebih lemah daripada
kemampuan orang berbaju hijau itu. Dari pertarungan ilmu pedang
terbang yang barusan mereka lakukan, terbukti kepandaian silat Tojin
itu masih kalah setengah tingkat."
"Liu-sianseng, pernahkah kau
berjumpa Tan Sam-cing?"
"Aku rasa di kolong langit
dewasa ini, hanya Tio Tian-seng seorang yang pernah berjumpa Tan
Sam-cing. Oleh sebab itu, hanya dia seorang yang mengetahui siapakah
Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing yang sebenarnya."
"Kita kan bisa mencari
Tio-pangcu untuk memecahkan teka-teki ini."
"Apakah Bong-laute mengetahui
Tio Tian-seng berada dimana sekarang?" tanya Liu Khi sambil
tersenyum.
"Tio-pangcu berada di rumah
penginapan Ban-heng di dalam kota Lok-yang."
Tiba-tiba Liu Khi menghela
napas panjang, katanya, "Bong-laute, aku ingin mengajukan sebuah
pertanyaan padamu, pernahkah Tio Tian-seng menyinggung persoalan
yang menyangkut diriku?"
Satu ingatan segera melintas
di dalam benaknya, Bong Thian-gak berpikir, "Apakah aku harus
berkata terus terang kepadanya bahwa Tio Tian-seng telah menaruh
curiga kepadanya?"
Bong Thian-gak pun menggeleng
kepala seraya berkata, "Tidak pernah ... cuma aku rasa sikap Liu Khi
terhadap Tio Tian-seng Pangcu seperti kurang terbuka dan jujur."
Liu Khi tertawa dingin,
"Bong-laute, tahukah kau di dunia persilatan dewasa ini terdapat
beberapa orang yang dulunya pernah saling sebut sebagai saudara dan
bergaul sangat akrab, tapi lantaran sebuah teka-teki, mereka justru
saling bermusuhan dan adu kepintaran."
"Lantaran teka-teki apakah
itu?"
Liu Khi menghela napas sedih,
"Ai, soal teka-teki itu sebenarnya menyangkut nama baik beberapa
tokoh yang amat termasyhur, oleh sebab itu siapa saja tidak ingin
mengungkap teka-teki itu secara terbuka, namun setiap orang justru
berdaya upaya dengan segenap kemampuan untuk mencari jawaban
teka-teki itu."
"Oh, dengan cara apakah kalian
hendak mencari?"
"Asalkan kita berhasil
menemukan jejak Hek-mo-ong, maka teka-teki itu akan terungkap dengan
sendirinya."
Bong Thian-gak mengerut dahi,
kemudian bertanya lagi, "Apakah Liu-sianseng juga belum berhasil
menemukan jejak Hek-mo-ong?"
Liu Khi menggeleng.
"Belum! Namun aku sudah
menyelidiki setiap orang yang aku curigai sebagai Hek-mo-ong."
"Dapatkah Liu-sianseng
mengungkapkan siapa saja yang kau curigai sebagai Hek-mo-ong?"
"Boleh saja."
"Kalau begitu harap kau suka
bicara!"
Liu Khi menarik napas panjang,
kemudian katanya, "Dari mereka yang aku curigai termasuk juga mereka
yang telah mati, semuanya berjumlah sembilan orang."
Bong Thian-gak tertegun,
diam-diam pikirnya, "Sam-cing Totiang dan Tio Tian-seng, keduanya
mengatakan ada empat orang yang patut dicurigai, sedangkah Liu Khi
mengatakan ada sembilan. Sebenarnya siapa saja kesembilan orang
itu?"
Liu Khi berhenti sejenak,
kemudian sambungnya, "Yang sudah menjadi almarhum ada tiga orang ...
mereka adalah pendeta sakti dari Siau-lim-pay Ku-lo Hwesio,
Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu serta ketua perguruan
Mi-tiong-bun, Kui-kok Sianseng."
Begitu mendengar ketiga nama
itu, paras muka Bong Thian-gak berubah hebat, katanya, "Berdasar apa
Liu-sianseng mencurigai mereka?"
Liu Khi menghela napas
panjang, kemudian katanya, "Aku tahu Ku-lo Hwesio dan Oh Ciong-hu
adalah mendiang gurumu, tapi kau pun harus tahu, aku tidak bermaksud
menodai nama baik mereka. Ai, aku mencurigai mereka bertiga sebagai
Hek-mo-ong, bukan asal mencurigai saja, tapi berdasarkan bukti dan
data-data yang berhasil kukumpulkan."
"Dapatkah Liu-sianseng
menjelaskan bukti-bukti yang berhasil kau kumpulkan itu?"
Liu Khi tertawa dingin,
"Apabila kuungkap bukti-bukti yang berhasil kukumpulkan itu, maka
hal ini akan semakin menjatuhkan nama baik mereka ke lembah
kenistaan."
"Bila Liu-sianseng tidak
mengungkapkan buktinya, mana kau boleh menuduh dan menodai nama baik
seseorang begitu saja? Biarpun Ku-lo Hwesio dan Oh Bengcu telah
meninggal dunia, namun kebajikan dan kebaikan yang pernah mereka
perbuat selama hidup dulu, bukanlah bisa diputar-balikkan oleh
sembarang orang dengan seenaknya sendiri."
Paras muka Liu Khi berubah
hebat, katanya pula, "Bong-laute, tahukah kau, badai pembunuhan yang
melanda dunia persilatan selama enam puluh tahun terakhir ini
disebabkan apa?"
"Silakan Liu-sianseng memberi
keterangan."
"Singkatnya saja, biang-keladi
kekacauan dan malapetaka ini sesungguhnya seorang wanita."
"Seorang wanita?" tanya Bong
Thian-gak terkejut. "Siapakah dia?"
"Dia tak lain adalah
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau yang sedang merajalela saat ini."
"Dia?" Bong Thian-gak semakin
terperanjat. "Bukankah dia..”
Bong Thian-gak seakan-akan
telah memahami suatu persoalan. Dan persoalan itu seperti pula apa
yang dikatakan Liu Khi, bilamana diterangkan sejelas-jelasnya, maka
hal itu akan merugikan dan menodai nama baik banyak jago-jago
persilatan.
Liu Khi menengok sekejap ke
arah Bong Thian-gak, kemudian katanya pula, "Semasa hidupnya dulu,
Ku-lo Hwesio, Oh Ciong-hu serta Kui-kok Sianseng mempunyai hubungan
gelap dengan perempuan itu, bahkan luar biasa mesranya. Itulah
sebabnya apa yang kukatakan bukan cuma isapan jempol."
Bong Thian-gak sangat
terkejut, juga bingung dan tidak habis mengerti.
Sebenarnya perempuan macam
apakah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau ini?
Dengan cara apakah dia telah
membuat dunia Kangouw menjadi kalut dan tidak tenang?
Bagaimana pula ia membuat para
orang gagah mengorbankan jiwa baginya dan ribut karena dirinya?
Walaupun pada saat ini banyak
persoalan yang ingin ditanyakan Bong Thian-gak, akan tetapi dia tak
berani mengutarakan, maka setelah termenung lama sekali, akhirnya
dia bertanya, "Selain ketiga orang itu, siapakah keenam orang
lainnya?"
"Dari keenam orang itu, dua di
antaranya sampai sekarang masih belum diketahui nasib dan mati
hidupnya."
"Siapakah kedua orang itu?"
"Song-ciu suami-istri."
Bong Thian-gak berkerut
kening, "Song-ciu suami-istri? Belum pernah kudengar nama orang
ini."
Liu Khi segera tersenyum,
"Sesungguhnya Song-ciu suami-istri memang amat jarang melakukan
perjalanan dalam Kangouw. Tapi sejak puluhan tahun berselang,
Song-ciu suami-istri adalah dua orang jago lihai yang tidak boleh
dianggap enteng."
Setelah berhenti sejenak,
lanjutnya, "Tatkala Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng merajai kolong
langit, dia berhasil mencantumkan nama besarnya dalam urutan sepuluh
orang jago paling tangguh waktu itu, Song-ciu suami-istri pun
tercantum namanya di antara kesepuluh orang jago lihai ini."
"Siapa sajakah kesepuluh jago
lihai itu?" tanya Bong Thian-gak.
"Kesepuluh jago itu adalah
Kui-kok Sianseng ketua perguruan Mi-tiong-bun, Liong Oh-im, Ku-lo
Hwesio, Oh Ciong-hu, Song-ciu suami-istri, Gi Jian-cau, Tan
Sam-cing, perempuan paling cantik di daerah Kanglam Ho Lan-hiang dan
aku Liu Khi."
Tiba-tiba Bong Thian-gak
berseru tertahan, kemudian tanyanya, "Perempuan paling cantik dari
wilayah Kanglam Ho Lan-hiang? Apakah dia adalah kakak sepeguruan
mendiang guruku Oh Ciong-hu?"
Liu Khi memandang sekejap ke
arah Bong Thian-gak, kemudian sahutnya, "Benar, Ho Lan-hiang memang
berasal satu perguruan dengan Oh Ciong-hu."
"Tahukah Liu-sianseng akan
jejaknya saat ini?" tanya Bong Thian-gak lagi.
Liu Khi termenung, jawabnya,
"Tentu saja aku tahu jelas jejaknya, namun aku pun telah berjanji
kepadanya takkan membocorkan rahasia ini. Jadi harap Bong-laute sudi
memaafkan."
Berubah hebat paras muka Bong
Thian-gak, gumamnya lirih, "Ya, aku tahu sekarang ... aku sudah tahu
siapakah orang itu."
Paras muka Liu Khi berubah
pula, serentak dia melompat bangun dari atas tanah, katanya, "Apakah
Bong-laute masih ada perkataan lain yang hendak ditanyakan kepadaku?
Kalau tidak ada, untuk sementara waktu aku hendak mohon diri lebih
dahulu."
Bong Thian-gak menghela napas
sedih, kemudian katanya, ."Harap Liu-sianseng sudi menerangkan
padaku, siapa empat orang lainnya?"
"Keempat orang itu adalah Tan
Sam-cing, Tio Tian-seng, Gi Jian-cau serta Liong Oh-im."
"Tahukah Liu-sianseng di
antara mereka yang dicurigai, siapakah di antaranya yang paling
dicurigai?"
Liu Khi menghela napas
panjang, "Ai, setiap orang mempunyai kemungkinan sebagai Hek-mo-ong,
di antara mereka pun setiap saat akan mencurigai diriku pula."
"Bukankah Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau mengetahui siapakah Hek-mo-ong? Mengapa kalian tidak
mencarinya dan ditanyakan saja kepada perempuan itu?" kata Bong
Thian-gak sambil menghela napas panjang pula.
Liu Khi menggeleng, "Dia
sendiri pun tidak mengetahui siapakah Hek-mo-ong."
"Liu-sianseng tak berbohong?"
Liu Khi tertawa, "Masih
ingatkah Bong-laute akan perkataan si orang berbaju hijau yang
mengatakan aku adalah seorang pembunuh bayaran?"
Bong Thian-gak tertegun,
kemudian menjawab, "Ya, pekerjaan Liu-sianseng memang mengerikan.
Entah siapa orang yang mengundangmu untuk membunuh Hek-mo-ong?"
"Orang itu tidak lain adalah
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau," jawab Liu Khi tersenyum.
Sekali lagi Bong Thian-gak
dibuat tertegun, ujarnya, "Liu-sianseng, apa yang kau bicarakan pada
malam ini sungguh membuat orang semakin kebingungan."
"Dendam kesumat yang berkobar
dalam Bu-lim dewasa ini pada hakikatnya memang merupakan persoalan
yang sangat rumit dan tidak dapat dipahami orang begitu saja. Barang
siapa di antara jago persilatan yang melibatkan diri dalam kancah
budi dan dendam itu, maka keadaannya tak ubahnya seperti sukma
gentayangan tanpa tujuan atau boneka tanpa nyawa."
Sampai di situ mendadak
perkataannya terhenti, dengan wajah diliputi perasaan kaget dan
ngeri, katanya, "Bong-laute, pembicaraan kita hari ini hanya sampai
di sini saja, sampai jumpa lain kesempatan."
Selesai berkata, Liu Khi
membalikkan tubuh dan beranjak pergi dengan kecepatan tinggi.
Sebenarnya Bong Thian-gak
hendak menahan kepergian Liu Khi, dia ingin menanyakan berbagai
masalah yang masih tidak dipahami olehnya, akan tetapi gerakan Liu
Khi benar-benar cepat sekali, hanya dengan beberapa kali lompatan
saja bayangannya sudah lenyap dari pandangan mata.
Bong Thian-gak memandang
sekeliling tempat itu, tanah pekuburan terasa sepi.
Di tempat yang begitu hening
dan menyeramkan itu, selain dia serta Thay-kun yang masih berbaring
di atas tanah tertidur pulas, tiada manusia ketiga yang berada di
situ.
Pelan-pelan Bong Thian-gak
berdiri, kemudian berjalan menuju ke sisi Si-hun-mo-li, kemudian
setelah menghela napas sedih, dia pun duduk bersila di sampingnya.
Walaupun Si-hun-mo-li telah
menelan pil Hui-hun-wan, namun Bong Thian-gak masih tetap
menguatirkan apakah perempuan itu dapat sadar atau tidak?
Malam begitu kelam, namun Bong
Thian-gak dengan pandangan kuatir masih saja mengamati wajah
Thay-kun tanpa berkedip, dia benar-benar merasa sangat resah dan
bingung.
Dari berbagai bukti yang
berhasil dikumpulkan, Bong Thian-gak telah berhasil menebak siapa
gerangan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Orang itu besar kemungkinan
adalah perempuan paling cantik di wilayah Kanglam Ho Lan-hiang
adanya.
Namun Bong Thian-gak masih
tetap tidak mengerti tentang budi dendam dan perselisihan yang
berlangsung selama ini, sesungguhnya siapakah yang menjadi dalang
peristiwa itu? Ho Lan-hiang? Atau Hek-mo-ong? Siapa pula Hek-mo-ong?
Dari ucapan Liu Khi tadi, Tio
Tian-seng termasuk juga kesepuluh orang yang kemungkinan adalah
Hek-mo-ong.
Mendadak suara rintih yang
lirih memotong jalan pikiran Bong Thian-gak yang bergelombang tidak
menentu itu.
Dengan perasaan tegang Bong
Thian-gak segera mengalihkan sorot matanya ke depan.
Dia lihat mata Si-hun-mo-li
yang terpejam mulai bergerak-gerak, kemudian terbuka lebar.
Kejut dan gembira Bong
Thian-gak, segera ia berseru, "Thay-kun ... Thay-kun
Setelah membuka mata, paras
muka Si-hun-mo-li diliputi perasaan bingung dan bimbang. Pelan-pelan
dia menekuk pinggang dan duduk, sementara sorot matanya dialihkan
memandang sekeliling tempat itu, akhirnya berhenti di depan Bong
Thian-gak dan mengamatinya lekat-lekat.
Bong Thian-gak kembali
berseru, "Thay-kun ... Thay-kun! Sudah sadarkah perasaan dan
pikiranmu?"
Paras muka Si-hun-mo-li
kelihatan begitu tenang dan hambar, sulit rasanya membedakan apakah
dia sedang gembira, gusar, sedih atau senang.
Dengan pandangan tenang dia
mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip, sementara mulut tetap
membungkam.
Bong Thian-gak yang
menyaksikan mimik wajah perempuan itu, dalam hati membatin, "Ya
benar, untuk beberapa saat lamanya kesadaran dan kejernihan
pikirannya belum dapat dipulihkan secara keseluruhan."
Berpikir demikian, dengan
suara rendah Bong Thian-gak berseru, "Thay-kun masih kenalkah kau
pada diriku? Aku ... aku adalah Bong Thian-gak."
Paras muka Si-hun-mo-li nampak
agak berubah, akhirnya muncul juga kata-katanya yang pertama,
"Mengapa aku bisa berada di sini? Kaukah yang telah menolongku?"
Bong Thian-gak benar-benar
merasa gembira, sambil melompat kegirangan, serunya, "Thay-kun, kau
benar-benar telah pulih."
Sambil berkata, tanpa terasa
pemuda itu maju ke muka dan berusaha memeluk gadis itu.
Belum sempat ia memeluk
perempuan itu, Si-hun-mo-li telah merentang tangan dan menangkis
lengan pemuda itu, kemudian tegurnya dengan dingin, "Aku harap kau
sedikit sopan, aku tidak kenal padamu!"
Bong Thian-gak terbahak-bahak,
"Benar, kau tidak mengenal aku, tapi tentunya kenal orang yang
bernama Ko Hong bukan."
Kemudian Bong Thian-gak
berjalan menuju ke sebuah kuburan dan membungkukkan badan untuk
memungut Pek-hiat-kiam yang disampuk mencelat oleh orang berbaju
hijau tadi.
Kemudian dia membalikkan badan
berjalan ke hadapan Si-hun-mo-li, pelan-pelan ujarnya, "Thay-kun,
mungkin kau pun bisa mengenali pedang ini?"
Tiga tahun enam-tujuh bulan,
meski tidak terhitung panjang, namun bukan waktu yang teramat
singkat pula. Selama itu dia selalu hidup dalam suasana terpengaruh
pikiran dan kesadarannya, selama ini seperti mayat berjalan yang
tidak berpikiran, perasaan dan sukma.
Dalam ingatan Thay-kun, dia
hanya tahu pada tiga tahun berselang dirinya jatuh ke tangan
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, sedang mengenai perbuatan yang telah
dilakukannya sejak menjadi Si-hun-mo-li dia sama sekali tidak
mengetahuinya.
Dia bagaikan baru mendusin
dari impian panjang dan tidurnya kali ini mencapai tiga tahun tujuh
bulan.
Setelah mendusin dari
tidurnya, segala kejadian sebelum ia tertidur segera teringat
kembali, sudah barang tentu Pek-hiat-kiam pun sangat dikenal
Thay-kun.
Pedang itu dibuat olehnya
bersama Keng-tim Suthay dengan membuang waktu selama satu tahun dan
bahan obat yang tak terhitung jumlahnya. Pedang itu merupakan tanda
kepercayaan Hiat-kiam-bun ... Pek-hiat-kiam. Mengapa pedang itu bisa
jatuh ke tangan pemuda berlengan tunggal ini?
Thay-kun mengerut dahi sambil
secara diam-diam menghimpun tenaga dalam ke dalam telapak tangan,
tegurnya dengan suara dingin, "Pedang itu adalah Pek-hiat-kiam,
darimana kau peroleh senjata itu?"
Melihat perempuan itu dapat
menyebut pedang itu, Bong Thian-gak segera tahu perempuan itu telah
memperoleh kembali pikiran serta kesadarannya, maka dengan penuh
gembira dia berseru, "Thay-kun, aku adalah Ko Hong!"
"Ko Hong?"
Nama itu berputar tiada
hentinya dalam benak perempuan itu, bayangan tubuh, nada suara,
Thay-kun begitu mengenalnya.
Namun dalam pikiran Thay-kun,
orang bernama Ko Hong sudah meninggal dunia.
Lagi pula raut wajah Bong
Thian-gak sekarang sama sekali tidak mirip dengan wajah Ko Hong di
masa lalu.
Oleh sebab itu muncul sinar
bimbang dari balik mata Thay-kun, ia menggeleng kepala, kemudian
berkata, "Kau bukan Ko Hong, Ko Hong telah mati."
"Benar, diriku yang sekarang
bukan Ko Hong, aku adalah Bong Thian-gak," seru pemuda itu penuh
emosi. "Oh Thay-kun, tahukah kau sejak menelan pil penghilang sukma,
kau telah kehilangan pikiran dan kesadaranmu selama tiga tahun tujuh
bulan."
Paras muka Thay-kun berubah
hebat, serunya tertahan, "Kau mengatakan aku telah menelan pil
pelenyap sukma?"
Bagaikan orang menggigau, dia
bergumam, "Benar, aku memang menyaksikan Suhu memasukkan pil
pelenyap sukma ke mulutku."
Kemudian setelah menghela
napas sedih, Thay-kun kembali bertanya, "Siapakah kau? Mengapa kau
menyelamatkan aku?"
Kembali Bong Thian-gak
menghela napas panjang.
"Thay-kun, masih ingatkah kau
peristiwa pada tiga tahun berselang, ketika kau bersama Ko Hong
pergi ke kaki bukit Cui-im-hong di luar kota Lok-yang untuk mencari
si tabib sakti Gi Jian-cau?"
"Aku adalah Ko Hong, nama itu
adalah nama samaranku. Pada waktu itu raut wajahku telah kuubah
dengan obat penyaru muka, sebab itu saat ini kau tak kenal aku lagi,
namun kau bisa memeriksa diriku dari sorot mata dan bentuk tubuhku.
Coba pandanglah, apakah mirip dengan Ko Hong di masa lalu?"
Sejak tadi Thay-kun mengawasi
Bong Thian-gak dari atas kepala hingga ujung kaki, dia seakan sedang
mengumpulkan kembali kenangannya di masa lalu.
Akhirnya perempuan itu
menghela napas sedih, lalu berkata, "Kau telah kehilangan sebuah
lenganmu, nada suaramu juga berubah lebih tua."
Ketika berbicara sampai di
sini, air mata yang sudah mengembeng sejak tadi segera jatuh
bercucuran membasahi pipinya yang halus.
Dengan suara lirih Bong
Thian-gak berkata, "Sumoay, sudah kau kenali diriku?"
"Oh, Suheng," sahut Thay-kun
sedih.
Ia segera menubruk ke dalam
pelukan Bong Thian-gak dan menangis tersedu-sedu.
Dengan lengan tunggalnya Bong
Thian-gak merangkul perempuan itu, kemudian bisiknya, "Thay-kun,
menangislah sepuas hatimu. Selama tiga tahun tujuh bulan sudah
banyak persoalan yang kita alami."
"Oh Suheng, aku bukan sedih,
aku merasa gembira, tak kusangka kau masih hidup. Ketika Cong-kaucu
mengatakan kau sudah mati, waktu itu hatiku benar-benar hancur-lebur
karena sedih."
"Ya, tiga tahun berselang aku
memang nyaris mati konyol, hampir saja aku tak bisa hidup lagi,"
Bong Thian-gak menghela napas sedih.
Mendadak Thay-kun menghentikan
isak-tangisnya, kemudian bertanya, "Dengan cara apakah kau berhasil
selamat, bersediakah kau memberitahukan segala sesuatunya kepadaku?"
"Tentu saja aku akan
menceritakan semua itu kepadamu. Mari kita duduk dulu sebelum
bicara!"
Kedua orang itu segera duduk
berjajar di atas pagar pekarangan tanah pekuburan itu. Di situlah
Bong Thian-gak mengisahkan semua penderitaan dan pengalaman yang
dialaminya selama tiga tahun tujuh bulan ini.
Kemudian ia menceritakan pula
semua perubahan yang telah menimpa dunia persilatan selama ini.
Sebab dia tahu Thay-kun tentu
merasa amat asing terhadap situasi tiga tahun terakhir ini.
Ketika selesai mendengar
penuturan itu, dengan sedih dan murung Thay-kun menghela napas
panjang, katanya kemudian, "Semua itu benar-benar seperti alam
impian, tapi setelah mendusin, segala sesuatunya hanya tinggal
kesedihan dan kemurungan. Ai, dunia begini luas, kemana aku harus
pergi selanjutnya?"
Entah apa yang sedang
dirasakan olehnya, nada suaranya begitu sedih sehingga membuat siapa
pun merasa pedih setelah mendengar ucapannya.
Bong Thian-gak memeluk
pinggang perempuan itu, lalu bisiknya,-"Thay-kun, aku pasti akan
membantu., selamanya akan membantumu menciptakan karya besar dalam
Bu-lim."
Thay-kun berpaling dan
memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu dengan air mata
bercucuran ia berkata sedih, "Ambisiku untuk menjagoi dunia Kangouw
kini sudah lenyap, dalam hati sekarang aku sudah tidak memiliki
ambisi semacam itu."
Hati Bong Thian-gak bergetar
keras, katanya, "Thay-kun, sekarang kau sudah memperoleh kebebasan,
sepantasnya kau sambut kebebasan ini dengan hati gembira. Mengapa
kau ...."
Thay-kun tertawa pedih,
ujarnya, "Suheng, aku ingin memberitahu satu hal padamu, Thay-kun
adalah seorang perempuan. Baginya yang terpenting adalah kesucian,
dia berharap dapat mempersembahkan kesuciannya untuk orang yang
dicintainya."
"Tapi sekarang dia telah
menjadi seorang ternoda, semua harapan telah musnah. Apakah dia
masih dapat bergembira?"
Bong Thian-gak tertegun,
tanyanya, "Kau telah menemukan kekasih?"
Thay-kun tertawa sedih.
"Sejak empat tahun berselang,
aku telah menemukan orang yang kucintai, namun belum pernah
kukatakan cinta kepadanya, aku akan tetap selamanya mencintai
dirinya."
Tiba-tiba Bong Thian-gak
bangkit, wajahnya tampak menderita, sementara sorot matanya
dialihkan ke angkasa dan memandang jauh.
Pada saat itu dalam hati dia
pun sedang membatin, "Ternyata orang yang dicintai Thay-kun selama
ini bukan aku. Ai ... tak kusangka aku telah mencintainya selama
empat tahun tanpa balas, aku hanya bertepuk sebelah tangan."
Saat itu Bong Thian-gak
benar-benar merasa sedih, kesal dan murung.
Baru sekarang dia benar-benar
menyadari bahwa ia memang sangat mencintai Thay-kun.
Setelah tertegun beberapa
saat, Bong Thian-gak baru membalikkan badan kemudian setelah tertawa
sedih dia berkata, "Sumoay, orang yang merasa sedih di kolong langit
bukan hanya kau seorang, aku pun seorang yang diliputi kesedihan."
"Persoalan apakah yang membuat
kau merasa bersedih?" tanya Thay-kun lirih.
Bong Thian-gak menggeleng
sambil menghela napas panjang, "Ai, tidak usah dibicarakan lagi."
"Apakah Bong-suheng juga
dibuat murung oleh persoalan cinta? Song Leng-hui adalah seorang
gadis suci dan bersih, dia telah mempersembahkan kesucian tubuhnya
untukmu. Apakah kau masih merasa kurang puas?"
Hati Bong Thian-gak bergidik,
diam-diam batinnya, "Ya, benar, mengapa aku harus menyia-nyiakan
kemurnian cinta Song Leng-hui."
Tapi hubungan antara laki
perempuan memang kadang begitu aneh. Empat tahun berselang Bong
Thian-gak mengintip tubuh Thay-kun yang tidur telanjang, sejak itu
pula ia tak dapat menghapus bayangan Thay-kun yang menawan hati dari
dalam benaknya, sekalipun semasa dia berada di gunung yang
terpencil, belum pernah dapat melupakan Thay-kun.
Hanya saja perasaan itu
disembunyikan di dasar hatinya.
Tujuan utama Bong Thian-gak
adalah ingin mengetahui nasib Thay-kun, selama beberapa bulan
terakhir ini dia pun selalu berdaya-upaya mendapatkan pil
Hui-hun-wan serta menyelamatkan Thay-kun dari keadaan yang
menyengsarakan dirinya.
Thay-kun yang pintar sudah
barang tentu mengetahui rahasia hati Bong Thian-gak.
Padahal secara diam-diam dia
pun sangat mencintai Bong Thian-gak, rasa cintanya melebihi
segala-galanya.
Akan tetapi Thay-kun memiliki
watak yang lain daripada yang lain, sejak diketahuinya Bong
Thian-gak telah memperoleh cinta Song Leng-hui di pegunungan
terpencil, dia sudah berhasrat menyerahkan cintanya kepada orang
lain.
Apalagi dia pun tahu sepasang
tangannya telah berlumuran darah, dia sudah banyak melakukan
kejahatan dan dosa. Mungkinkah baginya untuk mengenyam hidup bahagia
bersama Bong Thian-gak?
Sementara itu terdengar Bong
Thian-gak bergumam, "Song Leng-hui adalah istriku, selama hidup aku
tak akan melupakan dirinya. Namun mungkinkah aku bisa melupakan
kekasihku yang kucintai sejak dahulu?"
"Ai, cinta memang sesuatu yang
aneh, membuat orang tak bisa menduga dan memahaminya."
"Siapa kekasihmu yang
pertama?" tiba-tiba Thay-kun bertanya dengan suara hambar.
Bong Thian-gak melirik sekejap
ke arahnya, lalu menggeleng kepala sambil menghela napas, "Mencintai
orang, namun tidak dicintai oleh orangnya. Kejadian macam ini paling
memedihkan hati, sebaliknya mengucapkan nama dari orang yang
kucintai justru lebih memedihkan hati. Thay-kun, harap kau jangan
mendesakku."
"Bong-suheng," kata Thay-kun
dengan air mata bercucuran, "kita adalah orang senasib
sependeritaan, namun rasa sedihku mungkin jauh melebihi dirimu."
"Benar, aku memang lebih
beruntung daripada dirimu," Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Bong-suheng, untuk sementara
waktu lebih baik kita jangan membicarakan persoalan pribadi."
Bong Thian-gak mengangguk.
"Kita tak usah membicarakan cinta muda-mudi lagi, sekarang akan
kuceritakan semua pengalamanku selama beberapa hari ini."
Secara ringkas Bong Thian-gak
mengisahkan pengalamannya selama beberapa hari ini, bagaimana dia
dan Mo-kiam-sin-kun pergi ke Sam-cing-koan hingga akhirnya terjadi
peristiwa di pekuburan ini.
Thay-kun mengerut dahi,
tanyanya dengan wajah serius, "Bong-suheng, kau bilang telah
menerima kartu kematian tengkorak hitam dari Hek-mo-ong?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Benar, di dalam kartu maut
itu telah tercantum dengan jelas hari kematianku akan jatuh bulan
delapan tanggal delapan tengah hari."
Paras muka Thay-kun segera
berubah, katanya dengan suara dalam, "Kalau Hek-mo-ong berani
menyebar kartu undangan mautnya untuk Tio Tian-seng, agaknya dia
sudah bersiap untuk melangsungkan pertarungan melawan sepuluh jago
persilatan."
Bong Thian-gak menengok
sekejap ke arah Thay-kun, kemudian tanyanya, "Apakah kau pun
mengetahui persoalan ini?"
Thay-kun mengangguk.
"Ya, sejak dahulu aku sudah
tahu Hek-mo-ong, hanya tidak diketahui siapakah orang itu?"
"Menurut Liu Khi, tampaknya
Hek-mo-ong adalah seorang di antara sepuluh jago persilatan?"
Thay-kun manggut-manggut.
"Benar."
"Menurutku, di antara
kesepuluh jago itu, Gi Jian-cau paling besar kemungkinannya sebagai
Hek-mo-ong. Thay-kun, kau pernah tahu Gi Jian-cau? Sesungguhnya
manusia macam apakah dia?"
Thay-kun termenung beberapa
saat, kemudian berkata, "Kenapa Bong-suheng mencurigai Gi Jian-cau
sebagai Hek-mo-ong?"
Bong Thian-gak menghela napas,
katanya pula, "Dari kematian yang menimpa Keng-tim Suthay, Gi
Jian-cau sudah pasti bukan seorang baik. Kalau tidak, tak mungkin
Keng-tim Suthay mencuri sebutir pil Hui-hun-wan miliknya dan secara
diam-diam disembunyikan di dalam Hud-timnya."
Thay-kun manggut-manggut.
"Dugaanmu memang benar, sejak
dulu pun aku menaruh curiga kepada Gi Jian-cau. Cuma saat ini kita
tidak perlu menduga-duga siapa gerangan Hek-mo-ong, yang penting
dimanakah dia berada sekarang."
"Apalagi setelah kudengar
penuturan tentang orang berbaju hijau serta Sam-cing Totiang tadi,
bisa jadi salah seorang di antara mereka adalah Hek-mo-ong."
"Ah, memangnya salah seorang
di antara mereka adalah Hek-mo-ong? Tapi yang mana?"
"Bisa jadi Sam-cing Totiang,
cuma apa yang kukatakan hanya dugaan belaka. Bila dugaan ini benar,
maka kau dan Tio Tian-seng sudah terkena serangan gelap Hek-mo-ong."
Berubah paras muka Bong
Thian-gak, katanya, "Darimana kau bisa berkata demikian?"
Thay-kun menghela napas,
"Sewaktu berada di dalam lorong gua
Sam-cing-koan, kalian pernah
berada cukup lama bersama Sam-cing Totiang. Andaikata orang itu
adalah Hek-mo-ong, berarti kau dan Tio Tian-seng tak akan lolos dari
serangan gelapnya."
"Tio Tian-seng kenal Tan
Sam-cing. Seandainya Sam-cing Totiang adalah Tan Sam-cing gadungan,
aku pikir Tio Tian-seng tak akan berhasil mengenali dirinya."
"Kita harus secepatnya
menemukan Tio Tian-seng," kata Thay-kun kemudian dengan suara dalam.
"Teka-teki ini mesti dibikin jelas lebih dahulu, andaikata kalian
berdua benar-benar sudah terkena serangan gelap mereka, maka kita
harus berusaha secepatnya mencari pertolongan guna menyembuhkan luka
kalian itu."
Bong Thian-gak memandang
sekejap keadaan cuaca, kemudian katanya, "Malam kembali akan
berakhir. Berarti batas waktu yang ditentukan Hek-mo-ong dalam kartu
undangannya tinggal dua malam lagi, mari kita berangkat!"
Bersama Thay-kun, berangkatlah
dia meninggalkan pekuburan itu.
Kabut tebal masih menyelimuti
permukaan bumi, sejauh mata memandang hanya warna putih.
Mendadak segulung angin
berhembus, lalu terendus bau bunga anggrek yang menyebar
kemana-mana.
Paras muka Bong Thian-gak dan
Thay-kun segera berubah hebat, serentak kedua orang itu menghentikan
langkah, kemudian memeriksa keadaan sekeliling tempat itu.
Akhirnya mereka melihat tiga
sosok bayangan yang berdiri di situ, tampaknya mereka sudah cukup
lama menanti di sana.
Dengan wajah kaget dan ngeri
Thay-kun memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu bisiknya
dengan suara gemetar, "Mereka adalah Cong-kaucu, Ji-kaucu serta
komandan pasukan pengawal nomor satu Sim Tiong-kiu."
Bong Thian-gak tertawa dingin,
jengeknya, "Aku memang sudah dapat melihatnya."
Dalam pada itu jarak bayangan
itu dengan mereka masih ada tujuh tombak lebih, namun kedua belah
pihak sama-sama berdiri tak bergerak, kabut putih yang menyelimuti
sekitar sana seakan-akan bertindak sebagai penyekat yang memisahkan
kedua rombongan itu.
Mendadak terdengar Bong
Thian-gak membentak, "Ho Lan-hiang, serahkan nyawa anjingmu!"
Cahaya pedang berwarna merah
secepat kilat membelah angkasa, menembus lapisan kabut tebal dan
membabat tubuh orang yang berdiri di tengah.
Ilmu pedang Bong Thian-gak
sudah lama termasyhur. Setiap kali senjatanya dilolos dari
sarungnya, belum pernah ada orang yang mampu menghadang ataupun
membendungnya.
Cahaya pedang berkelebat,
bayangan orang segera menghindar ke samping.
Sekalipun serangan pedang yang
dilancarkan Bong Thian-gak ini mengenai tempat kosong, namun sudah
cukup menggetarkan sukma ketiga orang musuh tangguhnya itu.
Ternyata separoh baju yang
dikenakan orang di tengah sudah terpapas robek dan melayang turun
dari udara.
Dengan gerakan cepat Thay-kun
menyerobot pula ke sisi tubuh Bong Thian-gak, dengan demikian
selisih jarak antara kedua orang itu tinggal tiga tombak saja.
Mereka pun sudah dapat melihat raut wajah masing-masing dengan
jelas.
Betul juga, ketiga orang di
hadapan mereka adalah Ji-kaucu yang berdandan sebagai sastrawan
berbaju hijau, si kakek berbaju hitam berlengan tunggal Sim
Tiong-kiu serta seorang perempuan cantik yang berdandan anggun tapi
bersikap tengik, dia adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Saat itu wajah Cong-kaucu
diliputi penuh kesiap-siagaan, katanya dengan suara dingin, "Anak
Kun, kau telah membocorkan namaku di hadapannya!"
"Tidak," sahut Thay-kun sambil
tertawa seram. "Sekalipun aku hendak membunuhmu, tak nanti
kusebutkan nama baumu itu."
Cong-kaucu tertawa
terkekeh-kekeh, kembali dia menegur dengan suara rendah,
"Jian-ciat-suseng, siapakah yang telah memberitahukan namaku
kepadamu?"
Bong Thian-gak tertawa sinis.
"Hm, ternyata kau benar-benar
perempuan tercantik dari Kanglam Ho Lan-hiang. Padahal entah berapa
banyak jago persilatan yang sudah mengetahui nama serta asal-usulmu
itu, hanya saja tak seorang pun di antara mereka yang berani
mengutarakannya. Aku benar-benar tidak mengerti, dengan cara apakah
kau berhasil menguasai mereka hingga mulut mereka tetap membungkam?"
Cong-kaucu tertegun, kemudian
setelah terkekeh-kekeh, katanya, "Jian-ciat-suseng, tahukah kau apa
yang akan menimpa dirimu setelah mengetahui nama serta asal-usulku?"
"Semua kelicikan dan
kekejianmu sudah cukup banyak yang kualami," kata Bong Thian-gak
sambil tertawa dingin. "Namun tak satu pun di antaranya yang sanggup
merenggut nyawaku, agaknya kau telah kehabisan akal."
Cong-kaucu tersenyum,
"Jian-ciat-suseng, sudah tiga empat puluh tahun lamanya aku tak
pernah bertarung melawan orang. Nampaknya hari ini aku harus
melakukan pembunuhan."
Bong Thian-gak tertegun.
Sementara dia masih melongo,
Cong-kaucu telah membentak, "Sastrawan cacat, sambutlah pukulanku
ini!"
Telapak tangannya segera
diayun ke depan dengan gerakan yang enteng dan seenaknya.
Sekali lagi Bong Thian-gak
menggerakkan Pek-hiat-kiam untuk menyongsong datangnya ancaman itu
dengan sebuah bacokan kilat.
Tapi ketika jurus serangan
Bong Thian-gak itu membacok sampai di tengah jalan, tiba-tiba saja
cahaya pedang yang berkilauan lenyap, nampak sekujur tubuh Bong
Thian-gak gemetar keras dan Pek-hiat-kiam yang digunakan untuk
melancarkan serangan terjatuh ke atas tanah.
Thay-kun terperanjat sekali,
buru-buru serunya, "Bong-suheng, kenapa kau?"
Dengan paras muka pucat-pias,
Bong Thian-gak berkata dengan suara gemetar, "Aku sudah terkena
pukulannya. Kau ... cepat kau melarikan diri."
Baru saja perkataan itu
selesai diutarakan, sepasang kaki Bong Thian-gak sudah lemas,
kemudian dia roboh terjungkal.
Mimpi pun Thay-kun tidak
menyangka Bong Thian-gak bakal menderita kekalahan dalam satu
gebrakan saja. Kekalahan semacam ini benar-benar aneh dan sama
sekali di luar dugaan siapa pun, mungkin ilmu silat Cong-kaucu telah
mencapai tingkatan yang luar biasa hingga tiada orang yang mampu
menandinginya?
Agaknya Cong-kaucu sendiri pun
merasa di luar dugaan, dipandangnya Bong Thian-gak dengan sorot mata
tenang, tapi agak termangu.
Tiba-tiba sekilas hawa napsu
membunuh mencorong dari balik mata Thay Kun. Ditatapnya Cong-kaucu
sekejap, kemudian tanyanya hambar, "Cong-kaucu, kau telah melukainya
dengan mempergunakan ilmu silat apa?"
Cong-kaucu tertawa hambar,
"Budak liar, rupanya kau telah memperoleh kembali sukmamu. Hm, hal
ini membuktikan si tabib sakti telah berhasil membuat pil
Hui-hun-wan."
Thay-kun tertawa dingin.
"Tenaga pukulan yang dimiliki
Cong-kaucu luar biasa lihai. Namun ingin kuketahui, apakah sanggup
menandingi ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang?"
Cong-kaucu tertawa
terkekeh-kekeh, "Budak liar, sejak kecil kupelihara dirimu hingga
dewasa, sama sekali tidak kusangka kau akan mengkhianatiku. Tempo
hari aku masih memandang dirimu melakukan dosa pertama sehingga tak
menghukum mati dirimu, tapi kali ini jangan harap kau bisa hidup
terus."
Selesai berkata, dia lantas
mengulap tangan kiri dan membentak dengan nada serius, "Komandan
Sim, Ji-kaucu, kalian berdua turun tangan bersama menghukum mati
pengkhianat ini."
Sejak tadi Sim Tiong-kiu serta
Ji-kaucu sudah bersiap melancarkan serangan. Ketika mendengar
perkataan itu, serentak mereka mendesak Thay-kun dari sisi kiri dan
kanan.
Thay-kun sudah tahu kelihaian
Sim Tiong-kiu serta Ji-kaucu, cepat dia mengayun tangan kiri
melepaskan serangan, mempergunakan ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang.
Namun sasaran penyerangannya
adalah Sim Tiong-kiu. Ketiga orang ini boleh dibilang sama-sama
sudah mengetahui taraf kepandaian masing-masing. Sebab itulah
tatkala Thay-kun baru saja melancarkan serangan, Sim Tiong-kiu telah
melompat menghindarkan diri.
Pada saat bersamaan serangan
pedang Ji-kaucu yang gencar dan dahsyat telah dilepaskan pula
mengancam dada Thay-kun.
Bagi jago silat berilmu tinggi
yang melangsungkan pertarungan, menang kalah seringkah ditentukan
dalam sekejap mata. Bicara kepandaian silat yang dimiliki Thay-kun,
untuk menghadapi kerubutan dua jago lihai ini, rasanya tiada harapan
baginya meraih kemenangan.
Thay-kun pun sudah menduga
akan serangan pedang Ji-kaucu itu, maka dari itu saat telapak tangan
kirinya melancarkan bacokan tadi, tubuhnya ikut pula bergeser ke
arah lain, otomatis serangan pedang Ji-kaucu mengenai sasaran
kosong.
Tampaknya orang yang jadi
sasaran utama dalam serangan maut Sim Tiong-kiu dan Ji-kaucu ini
bukanlah Thay-kun, maka di saat Thay-kun menghindar ke samping,
mereka menerjang ke arah Bong Thian-gak yang masih duduk bersila di
atas tanah.
Thay-kun menjadi amat
terperanjat, buru-buru teriaknya, "Jangan kalian lukai dirinya."
Namun sebelum ia sempat
melancarkan terkaman, Cong-kaucu yang berdiri di dekatnya telah
berseru dengan suara menyeramkan, "Lebih baik kalian berdua kembali
ke akhirat!"
Bersama dengan selesainya
perkataan ini, telapak tangan Cong-kaucu secepat kilat langsung
menghantam punggung Thay-kun.
Dalam situasi yang amat kritis
inilah tiba-tiba dari balik kabut, terdengar suara seseorang berseru
dengan nada aneh, "Berhenti semua!"
Entah mengapa hati Sim
Tiong-kiu, Ji-kaucu dan Cong-kaucu bergetar keras. Bagaikan
tersengat listrik, tahu-tahu lengan mereka jadi lemas tak bertenaga.
Pada detik inilah Thay-kun
segera melompat ke samping tubuh Bong Thian-gak.
Suasana di padang rumput
terasa hening dan sepi, kecuali kabut tebal menyelimuti angkasa,
sekeliling tempat itu tidak nampak sesosok bayangan pun.
Namun Cong-kaucu dan Sim
Tiong-kiu justru menunjukkan sikap terperanjat dan ngeri.
Tiba-tiba terdengar Cong-kaucu
berseru dengan suara lirih, "Hekmo-ong kah di situ?"
Dari balik kabut tebal kembali
bergema suara aneh, "Kecuali Hek-mo-ong, apakah di kolong langit ini
masih ada orang kedua yang mampu mempergunakan ilmu pukulan cahaya
petir?"
Sampai mati pun Bong Thian-gak
dan Thay-kun tidak menyangka nyawa mereka telah ditolong Hek-mo-ong
yang misterius itu.
Mengapa dia menyelamatkan
mereka berdua?
Ilmu pukulan macam apa pula
pukulan cahaya petir itu? Mengapa dapat mempengaruhi ketiga jago
lihai itu hingga mereka seperti tersengat listrik dan kehilangan
kekuatan?
Bong Thian-gak dan Thay-kun
mulai memperhatikan sekitar tempat itu dengan seksama, akan tetapi
tak sesosok bayangan pun yang nampak, terpaksa mereka hanya menanti
perubahan selanjutnya dengan tenang.
Tiba-tiba Cong-kaucu tertawa
terkekeh-kekeh, lalu berseru keras, "Kalau memang Hek-mo-ong, kenapa
kau malah menghalangi niat kami membunuh kedua orang itu?"
"Sastrawan cacat telah
menerima kartu kematian tengkorak hitam, berarti jiwanya hanya bisa
dicabut oleh Hek-mo-ong sendiri. Siapa pun dilarang mencelakai
jiwanya, apakah Cong-kaucu tidak mengetahui kebiasaan ini?"
"Bagaimana pula dengan budak
liar itu?" kembali Cong-kaucu bertanya.
"Tiga tahun berselang aku
telah menurunkan perintah agar untuk sementara waktu tidak
mencelakai jiwa Thay-kun, apakah Cong-kaucu telah melupakannya?"
Thay-kun berpaling dan
memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak dengan wajah tidak mengerti
dan penuh tanda tanya, dia tidak mengetahui apa sebabnya Hek-mo-ong
membiarkan dia tetap hidup?
Cong-kaucu berkata pula, "Aku
benar-benar tidak mengerti, apa sebabnya Hek-mo-ong menghendaki
Thay-kun tetap hidup?"
"Sebab aku belum selesai
menyelidiki asal-usul Thay-kun," jawab Hek-mo-ong dengan suara
perlahan.
Thay-kun terkesiap, buru-buru
dia bertanya, "Hek-mo-ong, mau apa kau menyelidiki asal-usulku?"
Namun suara aneh dan misterius
itu tidak bergema lagi. Untuk beberapa saat suasana terasa begitu
sepi, hening dan tak terdengar sedikit suara pun, sudah jelas
Hek-mo-ong tidak mau memberitahu.
"Hek-mo-ong, apakah kau sudah
pergi?" Cong-kaucu segera menegur.
"Belum!" suara aneh tadi
kembali bergema.
"Lantas petunjuk apakah yang
hendak Hek-mo-ong tinggalkan?"
"Benarkah Cong-kaucu telah
mengundang seorang pembunuh bayaran untuk membinasakan diriku?"
Bong Thian-gak yang mendengar
perkataannya itu diam-diam lantas berpikir, "Lihai benar Hek-mo-ong,
darimana bisa mengetahui hal itu? Entah bagaimana pula jawaban
Cong-kaucu?"
Terdengar Cong-kaucu tertawa
terkekeh-kekeh, lalu katanya, "Bukan hanya seorang pembunuh bayaran
saja, hampir setiap jago lihai di dunia ini ingin membunuhmu."
"Tapi dalam Kangouw hanya
seorang saja yang benar-benar bekerja sebagai pembunuh bayaran dan
orang itu adalah Liu Khi."
"Kalau Hek-mo-ong sudah tahu
Liu Khi adalah pembunuh bayaran, mengapa kau tidak turun tangan
lebih dulu menyingkirkan dirinya?" jengek Cong-kaucu sambil tertawa
mengejek.
"Aku tidak ingin termakan
siasat meminjam golok membunuh orangmu itu."
"Di kolong langit dewasa ini
hanya Liu Khi seorang yang tidak pernah melakukan hubungan
denganmu."
"Tapi Liu Khi juga termasuk
orang yang paling kau takuti bukan?" ejek perempuan itu sambil
tertawa lagi.
Kali ini Hek-mo-ong termenung
beberapa saat, kemudian baru berkata, "Sekarang kuperintahkan kalian
bertiga agar mengundurkan diri selekasnya dari sini."
"Apabila aku tidak menuruti
perintahmu itu?"
"Cong-kaucu harus menuruti
perkataanku ini!"
Cong-kaucu tertawa
terkekeh-kekeh, "Masih ingatkah Hek-mo-ong dengan perjanjian kita?
Batas waktunya sudah lewat beberapa hari berselang, rasanya aku pun
tidak usah menuruti perintahmu lagi."
"Hingga detik ini belum ada
seorang pun di antara kalian yang mampu mematahkan serangan ilmu
pukulan cahaya petirku. Lebih baik kau turuti saja perkataanku ini,"
kata Hek-mo-ong dengan suara dingin.
"Benar, aku memang harus
menuruti perkataanmu. Tapi kau pun harus ingat, suatu ketika
Hek-mo-ong pasti akan mampus di bawah telapak tanganku."
Tampaknya Hek-mo-ong sudah
mulai kehabisan sabar, setengah mengancam dia berseru, "Bila kalian
berdiam lebih lama lagi di sini, jangan salahkan bila aku lepaskan
serangan pukulan cahaya petirku."
Baru selesai ia berkata,
Cong-kaucu telah mengulap tangan kiri, lalu membalikkan badan dan
mundur dari situ.
Ji-kaucu serta Sim Tiong-kiu
dengan sikap tegang bagaikan menghadapi musuh tangguh, pelan-pelan
mengantar Cong-kaucu mengundurkan diri dari sana.
Dalam waktu singkat bayangan
mereka sudah lenyap dari pandangan mata.
Tiba-tiba saja suasana di
padang rumput itu berubah menjadi hening, sepi, tak terdengar
sedikit suara pun.
Thay Kun menunggu sampai lama
sekali, ketika tidak mendengar lagi suara Hek-mo-ong, ia segera
menegur, "Hek-mo-ong, apakah kau telah pergi?"
Tiba-tiba suara menyeramkan
berkumandang, terdengar orang itu menjawab halus, "Belum."
Hati Bong Thian-gak maupun
Thay-kun bergetar, dengan cepat mereka berpaling.
Di belakang mereka tiba-tiba
muncul seseorang bagaikan sukma gentayangan.
Setelah ragu sejenak, Thay-kun
segera bertanya, "Apakah sejak tadi kau berdiri di situ?"
"Benar, selama ini aku berdiri
di sini."
"Tapi mengapa kami tidak
menemukan bayangan tubuhmu tadi?" tanya Thay-kun lagi dengan kening
berkerut.
"Sekalipun aku berdiri di
hadapanmu, belum tentu kalian melihatku."
"Memangnya kau bisa ilmu
melenyapkan diri?"
"Bukan ilmu melenyapkan diri,
melainkan ilmu pembingung pandangan."
"Apa itu ilmu pembingung
pandangan? Dapatkah kau jelaskan kepada kami?"
"Oh, ini merupakan rahasiaku,
aku tidak dapat menerangkan kepadamu."
Tiba-tiba Thay-kun menghela
napas sedih, lalu katanya, "Aku lihat sikapmu terhadap kami berdua
sama sekali tidak bermusuhan, apakah kau bersedia maju beberapa
langkah lagi agar kami bisa berbincang-bincang dengan lebih akrab?"
"Maaf, aku tak bisa menuruti
permintaanmu."
Thay-kun berkata, "Ai, aku
dengar kau sedang menyelidiki asal-usulku, apakah kau telah berhasil
mendapat sedikit keterangan?"
Hek-mo-ong termenung sebentar,
kemudian sahutnya, "Ya, aku telah berhasil mendapatkan sedikit
keterangan."
"Keterangan apa? Bersediakah
kau menerangkan kepadaku?"
"Kau adalah bayi buangan yang
ditemukan seorang lelaki setengah umur penangkap ikan di tepi
jembatan Kiu-ci-kiau, pantai timur telaga Se-oh pada tiga puluh
tahun berselang. Baru diasuh dua bulan nelayan itu tewas di tangan
Cong-kaucu, kemudian oleh Nyo Li-beng kau dibawa pulang, tapi
akhirnya kau terjatuh ke tangan Cong-kaucu."
"Ai, tentang kejadian itu
Keng-tim Suthay Nyo Li-beng pernah menceritakan kepadaku," kata
Thay-kun sambil menghela napas sedih.
Hek-mo-ong termenung beberapa
saat, katanya lagi, "Walau demikian bukan pekerjaan mudah untuk
menyelidiki peristiwa itu, asalkan sudah kudapat sedikit keterangan,
pasti aku akan berhasil menyelidiki asal-usulmu itu."
"Apa maksudmu?"
"Jika waktu, tempat dan
orangnya sudah ditemukan, maka hasil penyelidikanku ini tak akan
jauh lagi."
Tanyanya, "Tampaknya kau sudah
mengetahui siapakah orang yang membuang bayi itu?"
"Tentu saja tahu."
"Siapakah dia?"
"Untuk sementara waktu tidak
dapat kukatakan kepadamu."
Thay-kun merasa kecewa,
setelah menghela napas katanya, "Kalau kau sudah mengetahui siapakah
orang yang telah membuang bayi itu, mungkin hanya kau yang
mengetahui asal-usulku?"
"Aku tahu kau sangat ingin
mengetahui asal-usulmu, tapi kau terpaksa harus menunggu lagi. Suatu
ketika aku pasti membeberkan hasil penyelidikanku kepadamu."
Thay-kun menggeleng kepala,
ujarnya, "Aku tak ingin mengetahui asal-usulku lagi."
"Mengapa?"
"Aku kuatir bila sudah tahu
hal ini akan menambah luka dalam hatiku."
Kembali Hek-mo-ong termenung
dan membungkam.
Lama kemudian baru dia
berkata, "Jian-ciat-suseng sudah terkena serangan gelapku.
Sebenarnya hawa racun itu baru bekerja pada tanggal delapan bulan
delapan nanti, tapi berhubung dia baru saja mengerahkan tenaga untuk
menyerang Cong-kaucu, maka hawa racunnya telah menyusup sampai di
tulang Liong-wi-kut sehingga mengakibatkan separoh tubuh bagian atas
menjadi lumpuh. Sekarang akan kuberikan sebutir pil kepadanya,
asalkan dia telah menelan pil ini kemudian mengatur pernapasan,
niscaya luka itu akan sembuh dengan sendirinya."
Selesai berkata, dia lantas
menyentilkan jari tangannya ke depan.
Sebutir pil berikut
pembungkusnya terjatuh di depan kaki Thay-kun.
Dengan cepat Thay-kun memungut
pil itu, kemudian bertanya, "Apabila dia sudah menelan pil ini,
apakah tanggal delapan bulan delapan nanti ia masih tetap akan
mati?"
"Kalau memang begitu aku lebih
suka membiarkan dia mati lebih awal daripada kuberikan pil itu
kepadanya."
"Apakah kau hendak memaksa aku
menarik kembali kartu kematian tengkorak hitamku?"
"Jian-ciat-suseng sama sekali
tidak punya ikatan dendam sakit hati denganmu. Mengapa kau harus
mengeluarkan kartu kematianmu untuk merenggut nyawanya?"
"Kecuali Jian-ciat-suseng
bersedia mengundurkan diri dari keramaian dan
mengasingkan diri. Kalau tidak, dia tak akan terlepas dari
kematian."
Thay-kun kembali menghela
napas sedih, "Ai, setelah menempuh perjalanan selama puluhan tahun
dalam dunia persilatan, sesungguhnya kami pun tiada niat untuk
berdiam lebih lama lagi. Apa salahnya kami mengundurkan diri?"
"Apalagi aku tahu Bong
Thian-gak sudah bosan berkelana di dunia persilatan. Sesungguhnya
dia muncul kembali hanya ingin membalas dendam bagi Thay-kun, tapi
kini Thay-kun hidup segar-bugar. Sudah barang tentu dia pun tiada
kepentingan dalam dunia persilatan lagi."
Hek-mo-ong manggut-manggut,
katanya kemudian dengan suara pelan, "Jian-ciat-suseng, sekarang kau
didampingi perempuan yang begini cantik. Apabila hidup mengasingkan
diri di tempat terpencil menikmati kebahagian hidup, bukankah hal
ini diharapkan banyak orang? Asal kau bersedia mengundurkan diri,
aku pun berjanji tidak akan menyusahkan kalian lagi. Bagaimana
pendapat kalian?"
Bong Thian-gak memandang
sekejap ke arah Thay-kun, kemudian tanyanya, "Dapatkah perkataannya
dipercaya?"
"Hek-mo-ong sudah tiga-empat
puluh tahun bercokol dalam Kangouw, tapi umat persilatan cuma tahu
dia adalah seorang misterius yang menakutkan. Apakah perkataannya
dapat dipercaya, aku sendiri pun tidak yakin."
"Tetapi ada satu hal yang
membuat aku menaruh curiga, mengapa dia meminta kepada kita
mengundurkan diri dari dunia persilatan?"
Mendadak terdengar Hek-mo-ong
tertawa dingin dengan suara «eram, katanya, "Sekarang aku sudah
tiada waktu bercokol lebih lama di «Ini, bilamana kalian memastikan
mengundurkan diri dari dunia persilatan, maka sebelum tengah malam
bulan delapan tanggal delapan, kalian harus sudah mengundurkan diri
dari kota Lok-yang."
Begitu selesai berkata,
Hek-mo-ong segera menggerakkan tubuh. Bayangan orang itu segera
mengundurkan diri dari balik kabut tebal.
Thay-kun menghela napas sedih,
kemudian katanya, "Hari ini seandainya dia tak datang menyelamatkan
kita, mungkin kita akan mengalami nasib tragis di tangan Cong-kaucu
seperti tempo hari."
"Menurutku Hek-mo-ong berbuat
begitu karena ingin menolong dirimu, bisa jadi dia mempunyai
hubungan dengan dirimu," kata Bong Thian-gak hambar.
Thay-kun menggeleng, "Tapi aku
sama sekali tidak mengenal dirinya.
"'Bila dugaanku tidak keliru,
bisa jadi asal-usulnya mempunyai hubungan erat denganmu."
"Suheng," kata Thay-kun dengan
sedih. "Kita tak usah membahas hal ini lagi. Ayo cepat kau telan pil
itu agar lukamu segera sembuh."
Sambil berkata Thay-kun sudah
mengelupas kulit pembungkus obat itu, ternyata isinya adalah sebutir
pil bewarna putih bagaikan mutiara, baunya harum semerbak.
Setelah menghela napas
panjang, Bong Thian-gak berkata, "Hingga sekarang aku masih tetap
menaruh prasangka, aku kuatir pil itu bukan pil penawar racun,
melainkan obat racun yang lambat kerjanya."
"Apa maksudmu?"
"Aku tak percaya sudah terkena
serangan gelap Hek-mo-ong."
"Ah, benar juga perkataanmu,"
Thay-kun berseru tertahan. "Tapi bagaimana pula dengan luka yang kau
derita saat ini?"
Bong Thian-gak menggeleng
kepala, "Aku sendiri pun tidak tahu, mengapa secara tiba-tiba
separoh tubuhku bisa lumpuh."
"Berjaga-jaga atas niat busuk
musuh memang tak boleh tak ada, apalagi sikap bersahabat Hek-mo-ong
terhadap kita pun di luar dugaan, kalau begitu jangan kau telan dulu
pil itu untuk sementara waktu."
"Sekarang Mo-kiam-sin-kun
masih di rumah penginapan Ban-heng. Bila aku sudah terkena serangan
gelap Hek-mo-ong, maka Tio Tian-seng pasti mengalami pula hal yang
sama, mari kita tanyakan dulu persoalan ini kepadanya sebelum
mengambil keputusan."
"Betul," Thay-kun
manggut-manggut. "Mari kubimbing kau."
"Ai, terpaksa aku harus
merepotkan Sumoay."
Dengan lengan kanan merangkul
pinggang Bong Thian-gak, Thay-kun mengajak pemuda itu menuju ke
dalam kota.
Pagi itu kabut luar biasa
tebalnya, sejauh mata memandang hanya warna putih yang menyelimuti
seluruh jagat, rumput dan pepohonan di hadapan mereka pun susah
terlihat.
Dengan memapah tubuh Bong
Thian-gak, akhirnya Thay-kun berhasil mengajak pemuda itu ke rumah
penginapan Ban-heng.
Waktu itu fajar baru
menyingsing, kabut pagi belum menghilang, mereka segera masuk dengan
melompati pagar dan menuju ke kamar.
Tiba-tiba seseorang berkelebat
dengan kecepatan bagaikan kilat, menghadang di hadapan Bong
Thian-gak serta Thay-kun.
Sekilas pandang Bong Thian-gak
mengenali orang di hadapannya, Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng, tanpa
terasa serunya lirih, "Tio-pangcu!"
Sekilas perasaan tercengang
dan tidak habis mengerti segera menghiasi wajah Mo-kiam-sin-kun,
segera tanyanya, "Bukankah dia adalah Si-hun-mo-li?"
"Benar, memang dia, tapi ia
sudah kembali kejernihan otaknya, kini ia sudah bukan Si-hun-mo-li
yang menakutkan lagi."
"Bagaimana keadaanmu,
Bong-laute?" Tio Tian-seng kembali bertanya dengan penuh perhatian.
"Tio-pangcu," kata Thay-kun
cepat, "tempat ini bukan tempat yang cocok untuk berbincang-bincang,
apakah di dalam ada orang lain?"
"Cepat masuk," seru Mo-kiam-sin-kun.
Mereka bertiga segera masuk ke
dalam, Tio Tian-seng menyulut lentera, sedang Thay-kun membimbing
Bong Thian-gak ke bangku.
Setelah melirik sekejap ke
arah Tio Tian-seng, Bong Thian-gak berkata, "Walaupun hanya semalam
saja Boanpwe meninggalkan Tio-pangcu, namun pengalaman yang kuhadapi
sungguh luar biasa."
Secara ringkas Bong Thian-gak
menceritakan semua pengalaman yang dialaminya selama semalam kepada
Tio Tian-seng.
Selesai mendengar cerita itu,
dengan kening berkerut Tio Tian-seng berkata, "Apakah kau telah
menelan pil itu?"
"Belum," pemuda itu menggeleng.
Tio Tian-seng menghela napas
panjang, "Ai, aku sendiri pun telah menerima sebutir pil dari Hek-mo-ong."
Sambil berkata, dia
mengeluarkan sebutir pil berwarna putih bagaikan mutiara dari dalam
sakunya.
Dengan cepat Thay-kun
mengeluarkan pula pil yang diterimanya tadi, ternyata bentuk kedua
pil itu serupa, semuanya menyiarkan bau harum semerbak.
Dengan tidak mengerti Bong
Thian-gak bertanya, "Bagaimana ceritanya hingga Hek-mo-ong
memberikan pil itu kepadamu?"
