pendekar cacad 14

Bagian 17 : Kita pusaka Mi-tiong-bun

Bong Thian-gak juga tertawa.

"Ah, aku cukup terang pikiran untuk membedakan mana budi dan mana dendam. Bila ada orang melepas budi kepadaku, aku pun akan membalas kebaikan kepadanya, tapi bila orang memberi kejahatan padaku, aku pun bersumpah akan menuntut balas. Jika persoalan tiada sangkut-paut dengan budi dan dendam, maka aku pun akan berpeluk tangan."

 

Liong Oh-im terbahak-bahak, "Jika Bong-tayhiap memang benar memegang ketat perkataanmu itu, aku pun tak usah kuatir lagi. Baiklah, aku mohon diri lebih dulu."

Selesai berkata, dia lantas berdiri, memberi hormat dan segera membalikkan badan berlalu dari situ.

 

Bong Thian-gak mengawasi bayangan Liong Oh-im lenyap dari pandangan, kemudian menghela napas seraya bergumam, "Sebenarnya orang macam apakah Liong Oh-im? Dilihat dari gerak-geriknya, dia seperti memiliki jiwa seorang pemimpin. Mungkinkah dia benar-benar seorang tokoh terkenal yang memiliki kedudukan tinggi?"

 

Belum habis ingatan itu melintas, tiba-tiba dari luar pintu sudah muncul Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng.

Begitu memasuki ruangan, Tio Tian-seng segera bertanya, "Bong-laute, apakah ada tamu yang telah berkunjung kemari?"

Sekali lagi Bong Thian-gak tertegun, kemudian baru jawabnya, "Ya, memang ada seorang tamu tak diundang yang telah berkunjung kemari. Dia mendatangkan kebimbangan, kecurigaan dan kemisteriusan bagiku."

"Oya? Tamu macam apakah dia?"

"Seorang sastrawan berbaju putih yang berusia dua puluh tujuh-delapan tahun, dia mengaku bernama Liong Oh-im."

 

Mendengar nama itu, paras Tio Tian-seng berubah, kemudian serunya terkejut, "Liong Oh-im? Dia adalah Giok-gan-suseng (sastrawan berwajah kemala) Liong Oh-im yang namanya amat tersohor di seputar wilayah Se-ih."

 

Bong Thian-gak belum pernah mendengar tentang Giok-gan-suseng. Oleh sebab itu dia tidak terpengaruh oleh nama ini, malah tanyanya, "Menakutkankah orang itu, Tio-pangcu?"

"Mungkin Bong-laute belum begitu mengenal dan belum pernah mendengar tentang Giok-gan-suseng Liong Oh-im ini. Ketahuilah, sejak delapan belas tahun berselang, nama besar Giok-gan-suseng sudah amat termasyhur, bahkan amat menggetarkan wilayah Se-ih."

"Delapan belas tahun berselang?" Bong Thian-gak terkejut. "Tapi aku rasa Liong Oh-im masih berusia dua puluh delapan tahunan. Ah, mana mungkin? Masakah sejak usia sepuluh tahun sudah terkenal dan menggemparkan persilatan?"

 

"Bong-laute, kau salah taksir. Liong Oh-im tidak terhitung anak muda lagi, usianya sekarang sekitar empat puluh tahunan, tapi oleh karena dia telah memakan obat mustika yang disebut Ho-siu-uh yang berusia seribu tahun, maka wajahnya tetap awet muda dan menyerupai anak muda berusia dua puluh tahun, ditambah lagi parasnya memang termasuk tampan. Itulah sebabnya orang menyebut Giok-gan-suseng kepadanya."

 

"Ah, masakah di dunia ini benar-benar terdapat sejenis obat mustika yang bisa membuat orang awet muda?" seru Bong Thian-gak heran.

"Barusan aku telah berkunjung ke kantor cabang perkumpulan di Lok-yang dan mendapat tahu bahwa Lok-yang telah dijadikan arena perkumpulan jago lihai dari seluruh kolong langit, seakan-akan bakal terjadi suatu peristiwa yang mengerikan di kota Lok-yang ini."

 

Bong Thian-gak menghela napas ringan.

"Setelah mendengar perkataan Liong Oh-im tadi, kemudian dicocokkan dengan perkataanmu barusan, maka aku rasa berkumpulnya para jago persilatan di kota Lok-yang ini bisa jadi hendak mencari gara-gara kepada pihak Biau-kosiu."

Secara ringkas lantas Bong Thian-gak menceritakan apa yang dibicarakannya bersama Liong Oh-im belum lama berselang.

 

Kata Tio Tian-seng dengan suara dalam, "Bong-laute, untuk menghadapi seorang Hek-mo-ong saja kita sudah cukup dibuat pusing dan kewalahan. Apakah kau hendak menanam bibit bencana lagi dengan mencari musuh baru macam Giok-gan-suseng Liong Oh-im?"

 

"Biau-kosiu telah melepas budi pertolongan kepada kita berdua, apakah kita harus berpeluk tangan membiarkan dia dipermainkan dan dianiaya orang lain?"

"Bong-laute," Tio Tian-seng berkata, "pernahkah kau bayangkan siapakah sebenarnya orang yang telah menyergap kita dengan nyamuk-nyamuk penghancur darah itu?"

"Apakah hasil perbuatan Hek-mo-ong?"

 

Tio Tian-seng menggeleng kepala berulang-kali.

"Aku rasa bukan Hek-mo-ong, melainkan perbuatan Biau-kosiu."

"Bagaimana penjelasanmu tentang persoalan ini? Antara kita dengan Biau-kosiu sama sekali tidak terikat dendam sakit hati apa pun?"

"Apabila perbuatan Hek-mo-ong, maka dia pasti tidak hanya melepaskan nyamuk penghancur darah saja dan lebih-lebih tidak akan mengizinkan Biau-kosiu menyelamatkan jiwa kita. Sekarang kota Lok-yang sudah menjadi pusat jagoan dari bermacam-macam aliran dan kedatangan mereka pun untuk membuat gara-gara kepada Biau-kosiu serta rombongannya, posisi Biau-kosiu sudah terjepit dan menghadapi ancaman dari mana-mana. Betul, dia masih dilindungi nenek berambut putih serta laki-perempuan bermata tunggal itu, tapi mungkinkah baginya membendung serangan Liong Oh-im bersama kawanan jago lihai lainnya?"

"Oleh sebab itu Biau-kosiu yang licik dan banyak tipu muslihat itu melepas nyamuk-nyamuk penghancur darah untuk mencelakai kita, kemudian menguntit dan memaksa kita menjadi pengawalnya."

 

"Entah bagaimanakah pendapat Bong-laute tentang keteranganku ini? Apakah masih dapat diterima?"

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, apabila Tio-pangcu tidak mengatakan lebih dahulu bahwa Hek-mo-ong bisa menyergap kita berdua, aku pun menduga seperti apa yang baru saja kau kemukakan. Cuma peristiwa ini sudah lewat, entah Biau-kosiu benar-benar melepas nyamuk-nyamuk penghancur darah secara sengaja untuk mencelakai kita atau tidak, Boanpwe sudah tidak mengingat lagi masalah itu dalam hati."

 

"Bong-laute, hari ini kita masih berdiam di Lok-yang karena menunggu kabar Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing. Kita hanya secara kebetulan bertemu perselisihan antara golongan Biau-kosiu dengan Giok-gan-suseng Liong Oh-im. Perkataan Bong-laute terhadap Liong Oh im kunilai tepat sekali, kita memang tak usah mencampuri urusan orang lain, lebih baik berpeluk tangan menyaksikan mereka saling gontok."

 

"Tio-pangcu," tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya, "sekarang aku makin bingung. Betulkah dalam Bu-lim terdapat seorang tokoh yang disebut Hek-mo-ong?"

"Tak heran Bong-laute merasa ragu dan sangsi terhadap peristiwa Ini. Nama Hek-mo-ong memang tidak diketahui oleh sebagian besar umat persilatan, seperti pula keberhasilan perkumpulan Put-gwa-cin-kau menguasai dunia persilatan. Hal ini pun disebabkan kemisteriusan yang menyelimuti setiap tokoh mereka."

"Tio-pangcu, kau mempunyai dugaan atas empat orang yang kemungkinan besar adalah Hek-mo-ong, bolehkah kuketahui keempat orang yang manakah menurut kau kemungkinan besar adalah Hek-mo-ong?"

 

Tio Tian-seng termenung dan berpikir sesaat lamanya, kemudian buru menjawab, "Keempat orang yang mencurigakan itu adalah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing, si tabib sakti Gi Jian-cau, Giok-gan-suseng Liong Oh-im serta To-pit-coat-to Liu Khi," sebab hanya keempat orang Inilah yang memiliki kepandaian silat cukup tangguh untuk memegang peranan sebagai Hek-mo-ong."

"Tio-pangcu, mengapa kau mencantumkan nama wakil ketuamu, Liu Khi, dalam daftar orang-orang yang kau curigai?" tanya Bong Thian-gak-

"Ya, setiap orang yang kucurigai sesungguhnya mempunyai alasan dan bukti yang cukup kuat," kata Tio Tian-seng seraya manggut-manggut. "Walaupun Liu Khi sempat memangku jabatan sebagai wakil ketua Kay-pang, namun gerak-gerik, ilmu silat dan kecerdasannya, rasanya lebih dari cukup untuk memegang peranan sebagai Hek-mo-ong."

 

Bong Thian-gak menghela napas, "Ai, keempat orang yang Tio-pangcu sebutkan tak begitu kukenal secara akrab. Oleh sebab itu aku tak berani  berkomentar apa-apa tentang mereka, cuma Gi Jian-cau seorang yang hingga kini belum pernah kulihat raut wajahnya, seperti apakah wajah si tabib sakti Gi Jian-cau?"

"Saat-saat Hek-mo-ong tampil mungkin tidak akan terlalu lama lagi, sebab orang yang paling dia segani satu per satu telah disingkirkan olehnya. Pada akhirnya Hek-mo-ong yang asli akan segera diketahui orangnya."

 

"Tio-pangcu," Bong Thian-gak bertanya, "hingga sekarang aku masih belum tahu asal-usul Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau. Dapatkah Tio-pangcu memberi keterangan kepadaku?"

Berubah paras Tio Tian-seng, dia nampak ragu, tapi akhirnya berkata, "Bong-laute, aku telah bersumpah takkan membocorkan asal-, usulnya selama hidup. Sebagai umat persilatan yang memegang janji, aku tak ingin mengingkari sumpahku sendiri. Benar, aku berdiri pada pihak yang bermusuhan dengan dirinya, tapi aku tak bisa melanggar sumpahku."

 

Bong Thian-gak tertegun, katanya, "Ai, sungguh tak kusangka Tio-pangcu begini memegang janji."

"Harap Bong-laute sudi memaafkan," suara Tio Tian-seng amat sedih dan pilu.

"Boanpwe tak akan menyalahkan dirimu, bagaimana pun juga aku telah menyaksikan paras asli Cong-kaucu."

"Kehadiran Cong-kaucu dalam Kangouw, sedikit banyak masih dapat menandingi gerak-gerik Hek-mo-ong. Oleh sebab itu hingga sekarang kau belum melihat perlunya bentrokan secara langsung pihak mereka dan di sinilah letak hubungan yang sensitif di antara kami."

 

Bong Thian-gak menjadi bingung, tanyanya kemudian, "Hek-mo-ong adalah otak di belakang layar yang mengatur semua perbuatan dan tindakan orang-orang Put-gwa-cin-kau, hanya Hek-mo-ong yang dapat memberi perintah kepada Cong-kaucu. Mengapa kau mengatakan Cong-kaucu justru merupakan biji catur yang sanggup menghadapi Hek-mo-ong serta membatasi gerak-geriknya?"

"Keadaan ini tak ubahnya seperti keadaanku yang mencurigai Liu Khi, biarpun Cong-kaucu hanya seorang anak buah Hek-mo-ong, namun sesungguhnya Cong-kaucu pun punya kemungkinan merebut jabatan pimpinan tertinggi."

 

Bong Thian-gak setengah mengerti arti kata-katanya itu, katanya pula, "Sejak dulu berapa banyak menteri setia yang akhirnya berontak terhadap kaisar dan merebut kedudukan terhormat itu. Apabila dunia persilatan memang dipenuhi berbagai orang yang berambisi besar, siapa bilang keadaan demikian tak akan terjadi?"

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya, "Ai, ambisi dan rasa lak puas seseorang memang tak bisa dipenuhi untuk selamanya. Banyak peristiwa sedih dan tragis yang terjadi di dunia selama ini, bukankah sebagian besar disebabkan oleh watak manusia yang serakah, berambisi dan perasaan tak puas?"

 

Semangat Tio Tian-seng berkobar, segera katanya, "Bila Hek-mo-ong telah disingkirkan, aku akan segera mengumumkan kepada seluruh umat persilatan bahwa aku akan mengundurkan diri dari keramaian dan selama hidup tidak akan mencampuri urusan duniawi lagi."

Untuk kesekian kalinya Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Selama ini Boanpwe pun tidak mempunyai ambisi untuk menjadi pimpinan besar dunia persilatan atau pun ambisi untuk menguasai seluruh jagat. Asal dendam sakit hati perguruanku sudah terbalas dan Put-gwa-cin-kau bubar, Boanpwe pun berniat mengasingkan diri di suatu tempat terpencil dan tak akan lagi mencampuri urusan dunia ramai lagi."

 

"Bong-laute, mari kita beristirahat. Kemungkinan besar kita akan disuguhi pertunjukan bagus malam nanti, kita tak boleh ketinggalan menyemarakkan keramaian itu."

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Benar, siang hari memang merupakan waktu beristirahat bagi orang persilatan, mari kita beristirahat."

Maka kedua orang itu pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

 

Bagi manusia-manusia yang berilmu tinggi seperti Tio Tian-seng dan Bong Thian-gak, duduk bersemedi pun sudah cukup bagi mereka untuk menggantikan tidur, terutama Tio Tian-seng yang mempunyai dasar tenaga dalam yang amat sempurna, baginya setiap hari hanya cukup bersemedi dua jam saja untuk menggantikan tidur semalam suntuk.

 

Demikianlah mereka duduk bersemedi, dua jam sudah berlalu tanpa terasa.

Waktu itu Bong Thian-gak sudah berada dalam keadaan lupa akan segalanya, hawa murni beredar dengan lancar dan napas berembus sangat beraturan.

Tiba-tiba di luar jendela muncul seseorang, seorang gadis berbaju hijau telah menyusup masuk dari jendela.

Ilmu yang dipelajari Bong Thian-gak adalah Tat-mo-khi-kang.

 

Selama ia duduk bersemedi, indra perasaannya amat sensitif dan tajam, sejak nona berbaju hijau muncul di luar jendela, dia telah mengetahui kehadirannya.

 

Pemuda itu membuka mata, sedang si nona berbaju hijau segera menempelkan jari tangannya di depan mulut memberi tanda agar jangan bersuara, kemudian dia mengayun tangan kirinya melemparkan sepucuk surat ke arah Bong Thian-gak, setelah itu si nona melompat keluar jendela dan lenyap di balik wuwungan rumah sana.

 

Bong Thian-gak tertegun, kemudian mengawasi surat yang dilemparkan ke arahnya dengan termangu, pikirnya, "Aneh, siapakah perempuan ini? Mengapa dia datang menyampaikan surat untukku?"

Pemuda itu segera memungut surat itu dan membukanya, di atas surat berwarna biru tertera tiga baris tulisan hitam, gaya tulisannya indah dan lembut, sudah jelas tulisan seorang wanita.

Di atas surat itu tertera tulisan:

"Ditujukan kepada Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak

"Surat ini disampaikan oleh seorang kepercayaanku. Harap setelah

menerimanya Siangkong segera berangkat keluar kota dan menjumpai seorang perempuan berbaju hijau di sebuah kuil dewa gunung yang terletak tiga li dari barat kota."

 

Selesai membaca surat itu, Bong Thian-gak merasa ragu sejenak,

kemudian setelah merobek-robek surat itu hingga hancur berkeping- keping, ia berpikir, "Aku sudah menerima budi pertolongan darinya,

berarti aku harus membantunya."           

Bong Thian-gak segera turun dari pembaringan dan menuju ke

pintu.   

Pada saat itulah dari ruang tengah terdengar suara Tio Tian-seng menegur, "Bong-laute, kau sudah bangun?"

"Ya, sudah bangun!" pemuda itu mengiakan.

Ia membuka pintu kamar dan menuju ke ruang tengah.   

Tio Tian-seng sedang duduk di ruang tengah, dia menengok sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu bertanya, "Apakah Bong-laute telah menjumpai seseorang memasuki tempat tinggal kita?"

Bong Thian-gak terkesiap, tapi buru-buru menjawab, "Oh, dia adalah nona berbaju hijau, tapi dengan cepat telah meninggalkan tempat ini'

 

Sementara itu paras muka Tio Tian-seng diliputi hawa dingin, pelan-pelan ia mengeluarkan sepucuk surat sampul putih dari dalam sakunya dan diserahkan kepada Bong Thian-gak sambil berkata, "Hek-mo-ong telah mengirim kartu undangan kematian buat kita."

"Kartu undangan kematian?" Bong Thian-gak bertanya dengan

kening berkerut.

"Kartu itu berada di dalam sampul surat ini, lihatlah sendiri!"

 

Bong Thian-gak membuka sampul itu dan mengeluarkan isinya yang ternyata berupa dua lembar kartu undangan berwarna putih pula.

Pada bagian tengah kartu itu, tertera huruf-huruf besar.

Yang satu berbunyi:

"Dipersembahkan untuk Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."

Sedangkan yang lain berbunyi:

"Dipersembahkan untuk Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng."

Tulisan itu dibuat dari tinta merah darah, sehingga kelihatannya tmat menyolok pandangan mata.

 

Bong Thian-gak membuka sampul undangan yang ditujukan kepadanya dan membaca isinya, ternyata isinya berupa sebuah kalimat dengan tulisan berwarna merah:

"Usia Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak akan berakhir pada tahun Sim-

cho, bulan delapan, tanggal delapan tengah hari tepat."

Sedangkan bagian bawahnya tertera sebuah lambang tengkorak berwarna putih.

 

Sambil tersenyum Bong Thian-gak segera berkata, "Tio-pangcu, Apa yang tertera pada undanganmu itu?"

"Dia menetapkan usiaku akan berakhir pada bulan delapan bulan sembilan persis selisih sehari darimu."

Sekali lagi Bong Thian-gak tertawa, "Hari ini baru bulan delapan tanggal lima menjelang tengah hari, wah, kalau begitu usiaku masih ada tiga hari enam jam."

"Bong-laute, selama ini kartu kematian dari Hek-mo-ong bukanlah gurauan," kata Tio Tian-seng serius. "Selama puluhan tahun belakangan ini, setiap orang yang telah menerima undangan kematian Hek-mo-ong belum pernah dapat hidup melebihi batas waktu yang ditentukannya di dalam kartu undangan itu."

 

Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak, "Kapan Tio-pangcu mendapatkan kartu undangan ini?"

"Di saat aku sedang keluar ruangan tadi, kutemukan sampul undangan itu di atas meja."

"Kalau begitu tunggu saja sampai saatnya tiba nanti."

"Bong-laute, tampaknya kau tidak terlalu serius menghadapi kartu undangan kematian ini?" keluh Tio Tian-seng sambil menggeleng kepala dan menghela napas.

"Sebenarnya kartu undangan kematian Hek-mo-ong ini sangat kuharapkan, sebab dengan demikian aku dapat mengenali manusia macam apakah Hek-mo-ong itu, ingin kulihat apakah benar-benar seorang yang berkepala tiga berlengan enam."

"Selamanya Hek-mo-ong tak perlu menunjukkan wujudnya saat hendak membunuh orang," kata Tio Tian-seng lagi dengan suara dalam. "Bila kau melihat kemunculannya, berarti ajalmu sudah berada di depan mata, oleh sebab itulah sampai sekarang belum ada seorang pun yang mengetahui macam apakah wajah Hek-mo-ong yang sesungguhnya."

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Sekarang aku ingin keluar sebentar, tak ada salahnya Tio-pangcu memanfaatkan kesempatan ini untuk menyusun cara guna menghadapi lawan."

"Kau hendak pergi kemana?"

"Mau jalan-jalan ke kota."

Sekali lagi Tio Tian-seng berkata dengan suara dalam, "Di saat Hek-mo-ong mengirimkan kartu undangan kematian itu, dia sudah lama menguntit gerak-gerik kita. Tiap saat dia menanti datangnya kesempatan baik untuk turun tangan keji terhadap kita. Bong-laute, bila kau tidak ada urusan yang penting, lebih baik tak usah keluar rumah dulu."

"Maksudmu selama batas waktu yang ditentukan belum lewat, kita harus tetap berdiam di sini dan tak boleh meninggalkan ruangan

barang selangkah pun?"

 

"Satu-satunya cara untuk menghadapi ancaman kartu undangan kematian itu adalah mulai sekarang kita berdua mengurung diri di dalam ruangan dan jangan keluar dulu untuk sementara waktu, kita pun lak usah makan, minum atau pun tidur sampai batas waktu yang

ditentukan lewat."

"Ah, Boanpwe tak percaya dengan segala macam takhayul," seru

Bong Thian-gak menggeleng berulang-kali.

 

"Cara membunuh orang yang paling diandalkan oleh Hek-mo-ong adalah membunuh dengan jalan meracuni. Selama puluhan tahun terakhir ini, setiap saat aku selalu putar otak dan berdaya upaya untuk mencari jalan guna menghadapi Hek-mo-ong, namun usahaku selama ini tak memberikan hasil yang diharapkan."

 

Menyaksikan keseriusan, kekuatiran, sikap tegang dan berat yang menyelimuti wajah Tio Tian-seng, diam-diam Bong Thian-gak berpikir, "Betulkah Hek-mo-ong sedemikian hebatnya?"

Sementara itu, Tio Tian-seng segera berkata lagi sambil menghela napas sedih, "Aku kuatir Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing lah Hek-mo-ong. Kalau tidak, caraku menutup diri menantikan kedatangannya ini pasti berhasil mendesak Hek-mo-ong menampakkan diri."

 

"Batas waktu yang ditentukan bagi kematianku masih sehari lebih cepat ketimbang Tio-pangcu. Andai kata aku benar-benar tewas, Tio-pangcu pun masih mempunyai waktu satu hari satu malam untuk bersiap menghadapinya. Buat apa kau mesti gelisah dan panik mulai sekarang?"

Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, apabila Bong-laute tidak percaya perkataanku ini, aku kuatir kau akan dimanfaatkan oleh Hek-mo-ong."

"Tak usah kuatir, Boanpwe pasti sanggup menghadapinya dengan hati-hati. Bagaimana pun juga aku tak punya rencana untuk menutup diri menantikan datangnya saat kematian. Bisa juga sebelum batas waktu bulan delapan tanggal delapan tiba, aku telah tewas dibunuh Hek-mo-ong."

Seusai berkata, pemuda itu segera membalik badan dan beranjak keluar ruangan.

 

Sepeninggalnya dari penginapan Ban-heng, dia langsung menuju ke barat kota.

Tatkala ia melangkah keluar rumah penginapan Ban-heng, Bong Thian-gak yang cekatan dan teliti segera merasakan bahwa dirinya sedang dikuntit seseorang.

Tapi Bong Thian-gak berlagak seolah-olah tak merasa jejaknya diikuti, dengan langkah tetap dan tenang dia melanjutkan perjalanan menuju ke kota bagian barat.

 

Tak selang beberapa saat ia sudah tiba di pintu kota sebelah barat.

Sekeluarnya dari pintu kota, Bong Thian-gak menelusuri dinding kota menuju ke arah utara, benar juga ia saksikan seseorang sedang mengikutinya di belakang sana.

 

Diam-diam ia tertawa dingin, mendadak di depan situ muncul sebuah tikungan yang menjorok ke dalam, maka Bong Thian-gak segera mempercepat langkahnya melewati tikungan itu, kemudian melompat naik ke atas dinding kota, dari situ ia berlari balik, kemudian dari dalam dia melompat keluar dinding kota itu.

Seperti malaikat sakti yang turun dari kahyangan, dengan tepat Bong Thian-gak melayang turun di hadapan si penguntit.

Kemunculannya yang mendadak ini tentu saja membuat si penguntit gugup dan gelagapan, kemudian ia mundur selangkah dan mengawasi lawannya dengan wajah kaget, gugup, panik dan cemas.

 

Bong Thian-gak mengamatinya sekejap, dia adalah seorang laki-laki setengah umur bertubuh ceking dan bertampang seperti monyet, tidak nampak membawa senjata.

Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak menegur, "Sejak dari rumah penginapan Ban-heng kau telah mengikuti diriku sampai di sini. Ingin kuketahui siapa yang telah mengirimmu untuk mengikuti diriku?"

Dalam anggapan Bong Thian-gak orang ini paling cuma seorang kurcaci yang dibayar seseorang untuk mengikutinya, oleh karenanya dia tidak segera turun tangan membekuknya.

 

Lelaki setengah umur berwajah monyet itu melototkan sepasang matanya yang kecil dan memperhatikan Bong Thian-gak sekejap, kemudian tanyanya kebingungan, "Toaya, apa kau bilang?"

"Hm, aku menuduh kau telah mengikuti diriku," dengus Bong

Thian-gak dingin.

Tiba-tiba lelaki itu tertawa cekikikan, lalu serunya, "Toaya gemar bergurau, jalan yang kulewati kan jalan pemerintah, memangnya orang lain tak boleh mempergunakannya selain kau seorang?"

"Tajam benar mulut orang ini," pikir Bong Thian-gak sambil tertawa dingin. Lalu katanya, "Kalau memang benar jalan ini adalah jalan raya milik pemerintah. Silakan kau segera angkat kaki dari sini!"

 

Ucapannya ini segera membikin lelaki itu tertegun, kemudian sambil menggeleng kepalanya yang gundul dia pun mengeluyur pergi ke arah utara. Bong Thian-gak masih tetap berdiri di tempat sambil mengawasi orang itu pergi, kemudian baru ia menyelinap ke balik tikungan dan mengerahkan Ginkangnya menuju keluar kota.

Dengan Ginkangnya yang sempurna sekalipun lelaki itu membalik badan dan menguntitnya lagi juga belum tentu dapat menyusulnya.

Padahal Bong Thian-gak tidak pernah menyangka lelaki itu sesungguhnya bukan orang sembarangan, dia adalah Jian-li-kau (monyet seribu li) Cu Ciong yang amat termasyhur namanya di Kangouw.

 

Di balik sebuah hutan waru yang sangat lebat, Bong Thian-gak melihat sebuah bangunan kuil kecil.

Kuil itu berdiri di antara bebatuan yang berserakan, daun kering berceceran, rumput ilalang memenuhi halaman, tampaknya kuil itu mulah lama terbengkalai dan tak pernah dijamah manusia lagi.

Dengan langkah pelan Bong Thian-gak menuju ke ruang kuil, dia lihat sarang laba-laba memenuhi setiap sudut ruangan, debu menebal, dinding tembok banyak yang rontok, sedang ruang kuil itu kosong tak nampak sesosok bayangan pun.

 

Dengan kening berkerut Bong Thian-gak berpikir, "Ah, tak mungkin Biau-kosiu sengaja mengajakku bergurau. Mungkin orang itu belum datang."

Tiba-tiba dari arah hutan terdengar suara langkah menginjak tumpukan daun kering.

Dengan cepat Bong Thian-gak membalik badan memandang ke

muka.

 

Tampak seorang perempuan cantik berbaju hijau berperawakan badan aduhai muncul di hadapannya dan berjalan menuju ke hadapan Bong Thian-gak dengan langkah lemah-gemulai.

Dengan suara lantang Bong Thian-gak segera berkata, "Aku Bong Thian-gak, Biau-kosiu yang memintaku datang menjumpai perempuan berbaju hijau, apakah kau?"

 

Perempuan itu tidak membiarkan Bong Thian-gak menyelesaikan perkataannya, dengan cepat ia menukas, "Begitu lambat kau sampai di sini, apakah sudah terjadi sesuatu di tengah jalan?"

"Ya, karena ada persoalan pribadi aku datang agak terlambat. Harap nyonya sudi memaafkan."

Tiba-tiba perempuan itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah gulungan yang di luarnya dibungkus dengan kain hijau, dilihat dari bentuknya mirip kitab atau lukisan.

 

Dengan wajah serius perempuan itu berkata, "Tolong serahkan benda itu kepada nona, jangan sampai hilang atau direbut orang."

Bong Thian-gak menerima benda itu dan dipandang sekejap, kemudian katanya, "Tampaknya bungkusan ini berisi sejilid kitab!"

Perempuan berbaju hijau itu memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu ujarnya dengan suara dalam, "Cepat kau simpan ke dalam saku. Selain nona seorang, jangan sekali-kali kau perlihatkan kepada orang lain."

"Tak usah kuatir, aku pasti menyerahkan sendiri benda ini ke tangan Biau-kosiu."

 

Dengan cepat ia masukkan gulungan kitab itu ke dalam sakunya.

Perempuan itu memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya lagi, "Berdiam lebih lama di sini berarti menambah ancaman bahaya, cepatlah kau pergi meninggalkan tempat ini!"    

"Apakah nyonya tidak mempunyai pesan-pesan lain?"      

"Tidak ada."     

"Kalau begitu aku mohon diri lebih dulu."

Setelah memberi hormat, ia membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu.

 

Sambil berjalan Bong Thian-gak berpikir, "Mungkin kitab yang dititipkan padaku ini adalah kitab pusaka, tapi mengapa Biau-kosiu tidak datang mengambil sendiri? Atau si perempuan berbaju hijau ini mengantarkan sendiri sampai ke dalam kota?"

Bong Thian-gak benar-benar tidak mengerti apa sebabnya secara twgitu misterius Biau-kosiu meminta padanya untuk mengambil kitab Itu, mendapat pesan berarti diberi kepercayaan orang itu, maka pemuda Itu berpikir lagi, "Ah, buat apa aku memikirkan hal itu? Pokoknya kuserahkan kitab ini ke tangan Biau-kosiu, urusan kan beres."

 

Tiba-tiba pemuda itu menghentikan langkah.

Ternyata di hadapannya telah muncul seseorang menghadang Jalan perginya, seorang lelaki setengah umur bertubuh ceking, berbaju abu-abu dan bertampang seperti monyet, ia mengawasi sambil tertawa bodoh.

Berjumpa kembali orang ini, hati Bong Thian-gak bergetar keras, pikirnya, "Aduh celaka, barusan aku telah salah melihat, tampaknya orang ini memiliki ilmu silat yang amat tangguh."

 

Bong Thian-gak mendengus dingin seraya katanya, "Sungguh tak kusangka kita bersua kembali."

Lelaki bermuka monyet tertawa dingin, "Bumi itu bulat, aku pun tidak menyangka kita bersua kembali di sini."

Bong Thian-gak tertawa dingin pula, "Tadi aku benar-benar telah salah melihat, boleh aku tahu siapakah kau?"

"Cu Ciong," sahut lelaki itu sambil tertawa kering penuh ejek.

Bong Thian-gak berseru kaget, "Ah, tak kusangka kau adalah seorang kenamaan."

 

Cu Ciong tertawa seram lagi, "Di hadapan orang yang mengerti, lebih baik bicara blak-blakan. Boleh kau tunjukkan benda yang baru saja diserahkan kepadamu?"

Diam-diam Bong Thian-gak dibuat terperanjat, pikirnya, "Wah, ternyata dia telah menyaksikan semua peristiwa tadi, tapi mengapa aku tak menemukan jejaknya?"

Sambil tersenyum dia lantas berkata, "Aku benar-benar tidak mengerti perkataanmu itu."

 

Cu Ciong menarik muka, kemudian dengan nada serius katanya, "Kau berada di luar persoalan ini, aku tak mengerti mengapa kau melibatkan diri?"

"Hei, semakin bicara aku semakin bingung dan tidak mengerti perkataanmu itu."

Cu Ciong tertawa seram lagi, "Barusan nyonya berbaju hijau telah menyerahkan bungkusan kepadamu, maka aku cuma berharap kau mengeluarkan bungkusan itu, serahkan padaku dan segala urusan tidak ada sangkut-pautnya lagi denganmu."

 

Bong Thian-gak tahu semua sudah diketahui lawan, maka sambil tertawa dingin katanya, "Ehm, tak kusangka kau memiliki mata yang amat jeli, aku betul-betul merasa kagum kepadamu. Cuma gulungan kitab itu sudah di sakuku, bila kau menginginkannya silakan datang kemari mengambilnya sendiri."     

 

Sekarang Bong Thian-gak teringat pesan wanti-wanti perempuan berbaju hijau itu, pikirnya kemudian, "Sekarang dia telah mengetahui semua persoalan ini, maka aku tak boleh membiarkan dia pergi dari sini dalam keadaan hidup."           

Apalagi lawan bermaksud merampas kitab itu dengan kekerasan pemuda itu bertekad akan membunuhnya bilamana perlu.  

Cu Ciong memutar matanya yang bulat kecil, lalu setelah tertawa licik, ia bertanya, "Tahukah kau benda apakah itu?"          

"Aku tidak tahu dan aku pun tak ingin tahu, yang kuketahui hanya menyerahkan benda itu kepada orang yang berhak."       

"Kau hendak menyerahkan itu kepada Biau-kosiu rupanya?"

"Benar."           

 

Cu Ciong terbahak-bahak, "Apabila kau tidak segera menyerahkan kitab itu kepadaku, aku yakin kau tak akan berhasil memasuki kota Lok-yang dalam keadaan hidup. Percaya atau tidak?"       

"Aku bisa membuktikannya sendiri nanti!"           

Bong Thian-gak membusungkan dada dan melangkah ke depan.  

"Berhenti!" dengan suara keras seperti guntur membelah bumi di tengah hari bolong Cu Ciong membentak, tubuhnya bergerak maju dan menghadang di hadapan Bong Thian-gak.         

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Di tengah hari bolong pun kau berniat merampok aku?"    

Cu Ciong tertawa seram, "Membunuh, membakar atau merampok I merupakan kejadian lumrah di dunia persilatan. Sekarang aku hendak memberitahu kepadamu, di sekeliling kota Lok-yang telah berkumpul ratusan jago persilatan. Sekalipun kau berhasil melewati diriku, jangan harap kau bisa lolos dari cegatan rombongan jago lihai lainnya."

 

"Kau sudah melepaskan tanda bahaya?" tanya Bong Thian-gak sambil mengerutkan dahi.

"Benar, sewaktu masih berada di hutan tadi, aku telah melepaskan merpati pos mengabarkan kejadian yang telah berlangsung di sini kepada mereka."

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Sebenarnya aku tidak berniat membunuhmu, tetapi sekarang tampaknya mau tak mau aku harus menghabisi nyawamu."

 

Begitu selesai berkata, lengan tunggal Bong Thian-gak sudah membacok ke arah depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Angin pukulan yang maha dahsyat langsung menggulung ke depan dengan sangat hebatnya, ancaman itu membuat Cu Ciong yang kurus dan ceking terlempar ke udara bagai layang-layang putus benang.

Ia terguling sampai tiga kali di tengah udara, namun ketika melayang turun, ternyata tidak mengalami apa-apa, kecuali mukanya sedikit berubah.

 

Gagal dengan serangan dahsyatnya, Bong Thian-gak tertawa dingin, lalu katanya, "Aku benar-benar merasa kagum dengan Ginkagmu yung lihai, tak nyana kau sanggup menghindarkan diri dari sergapanku tadi."

Cu Ciong tertawa aneh, "Kedahsyatan dan kehebatan angin pukulanmu tidak kalah dari kemampuan Bu Seng. Tapi bila kau berniat membunuhku, ini bukan suatu pekerjaan yang gampang bagimu."

Selesai berkata Cu Ciong menerjang maju pula dengan kecepatan luar biasa dan langsung menyerang Bong Thian-gak.

 

Bagi tokoh sakti yang sedang bertarung, dalam satu gebrakan saja akan diketahui sampai dimana kemampuan seseorang, ketika Bong thian gak lihat musuh bisa menghindar dan langsung menerjang ke depan, ia segera sadar musuh adalah seorang jago lihai yang berilmu tinggi. Jika dia tidak melancarkan serangan mematikan, sulit rasanya menaklukkan musuhnya itu.

 

Oleh sebab itu di kala Bong Thian-gak menyaksikan musuh menerjang datang, dia sama sekali tidak menghindar atau menyingkir.

Ditunggunya serangan lawan hingga di depan dada, saat itulah Bong Thian-gak mencabut pedangnya serta melepaskan babatan, pedang Pek-hiat-kiam telah menyambar.

Dimana cahaya pedang itu berkelebat, jerit kesakitan yang memilukan segera berkumandang.

 

Tubuh Cu Ciong yang sedang melayang di udara terbanting jatuh ke tanah dan tidak berkutik lagi, percikan darah segar menggenangi permukaan tanah padang rumput itu.         

Siapa jago di Kangouw saat ini yang paling cepat mencabut dan melepaskan serangan?

Mungkin serangan yang dilancarkan Bong Thian-gak barusan dapat menandingi kemampuan Liu Khi.

 

Ketika Bong Thian-gak selesai membacok mati Cu Ciong, Pek-hiat-kiam telah kembali ke dalam sarungnya.

Ketika Bong Thian-gak mendongakkan kepala, Giok-gan-suseng Liong Oh-im yang berwajah kereng dan gagah sudah berada di hadapannya.

Sepasang mata Liong Oh-im yang amat tajam sedang mengawati genangan darah segar yang mengucur dari tubuh Cu Ciong, kemudian katanya, "Benar-benar tak kusangka, Cu Ciong yang termasyhur karena kehebatan Ginkangnya ternyata tak berhasil lolos dari bacokan pedang Jian-ciat-suseng. Peristiwa ini benar-benar mengejutkan!"          

 

Begitu bertemu Liong Oh-im, paras muka Bong Thian-gak segera berubah hebat.  

Sementara itu Liong Oh-im itu sudah memberi hormat, kemudian ujarnya lantang, "Bong-tayhiap, kita telah bersua kembali, aku pun dapat melihat kecepatan dan kehebatan permainan pedang Bong-tayhiap, aku benar-benar kagum sekali."

 

Bong Thian-gak tersenyum, "Kedatangan Liong-sianseng sungguh teramat cepat." 

Liong Oh-im kembali tertawa ringan.       .

"Bong-tayhiap," katanya, "diam-diam kita pun rasanya tak usah menyembunyikan sesuatu lagi, kedatanganku sesungguhnya karena mendapat surat yang dikirim Cu Ciong dengan merpati posnya."    

 

Ketika mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak berlagak seolah-olah terkejut, ujarnya kemudian, "Oh, tidak kusangka Cu Ciong satu aIiran dengan Liong-sianseng."

Tiba-tiba Liong Oh-im menarik muka dan berkata dengan hambar, "Cu Ciong adalah salah seorang pengawal andalanku, sayang sekali dia mati terlampau cepat."

"Apakah Liong-sianseng berniat membuat perhitungan padaku atas kematiannya?"

 

Liong Oh-im tersenyum.

"Soal itu tergantung sikap Bong-tayhiap sendiri, aku ingin melihat bagaimana sikapmu terhadap diriku!"

"Apa maksudmu?"

"Kematian Cu Ciong disebabkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, apabila Bong-tayhiap bersedia menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, maka kematian Cu Ciong pun tidak perlu disesalkan lagi."

"Jadi Biau-kosiu adalah ahli waris Mi-tiong-bun?" tanya Bong Thian-gak terkejut.

"Aku pun ahli waris Mi-tiong-bun, boleh dibilang aku dan Biau-kosiu adalah sesama saudara seperguruan."

 

Sekarang Bong Thian-gak baru tahu asal-usul perguruan mereka, tapi yang membuatnya tidak mengerti adalah sebagai sesama saudara seperguruan, mengapa mereka berebut kitab pusaka perguruannya.

Bong Thian-gak berkata, "Kalau Liong-sianseng berasal satu perguruan dengan Biau-kosiu, maka bila kitab pusaka Kui-hok-khi-liok Ini diserahkan ke tangannya atau di tanganmu kan sama saja, apa bedanya?"

"Aku telah menjelaskan asal-usul kami berdua, maka ingin kuingatkan bahwa perselisihanku dengan Biau-kosiu tidak lebih hanya perselisihan sesama anggota Mi-tiong-bun, oleh karena itu kuharap Bong-tayhiap berada di luar garis, tak usah melibatkan diri pula dalam persoalan ini."

 

"Sebagai orang luar, tentu saja aku tidak berhak mencampuri urusan perguruan kalian, aku memang tidak berhasrat mencampurinya."

"Kalau demikian, Bong-tayhiap harap mengambil keputusan yang tepat dan pintar."

"Liong-sianseng, harap kau suka memaafkan kesulitan yang sedang kuhadapi, aku tak dapat menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok ini kepadamu."

 

Berubah paras muka Liong Oh-im, tapi sejenak kemudian telah pulih menjadi lembut dan ramah, katanya kemudian dengan suara tenang dan kalem, "Rupanya Bong-tayhiap masih belum mengetahui kitab pusaka macam apakah Kui-hok-khi-liok itu?"

"Benar, aku sama sekali tidak mengetahui tentang kitab itu, namun aku pun tidak ingin mengetahuinya."     

"Andaikata kau mengetahui kitab macam apakah Kui-hok-khi-liok itu, kau tentu akan menyerahkannya kepadaku."

"Ah, belum tentu demikian."

 

Liong Oh-im menghela napas sedih, kemudian katanya, "Apabila Bong-tayhiap menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepada Biau-kosiu, maka Mi-tiong-bun kami akan terancam bahaya maut."

"Apa maksudmu?" tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut. Sekali lagi Liong Oh-im menghela napas panjang, "Sebenarnya-pesoalan ini merupakan rahasia pribadi Mi-tiong-bun kami, aku tidal ingin mengutarakan kepada orang lain."

Saat itu dalam hati Bong Thian-gak mulai muncul kebimbangan, andaikata apa yang dikatakan Liong Oh-im itu memang sungguh sungguh dan benar, maka dia memang seharusnya menyerahkan kii pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadanya, tapi....

 

Tampaknya Liong Oh-im dapat mengetahui suara hati Boi Thian-gak, kembali dia menghela napas sedih sambil melanjutkan "Apabila Bong-tayhiap menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok  kepadaku, maka bagimu sama sekali tak akan menimbulkan kerugian apa-apa, malah sebaliknya tanpa kau sadari, kau telah menyelamatku jiwa banyak anggota Mi-tiong-bun yang terancam maut. Budi dan jasa semacam ini boleh dibilang tiada taranya, segenap anggota Mi-tiong-bun pasti akan berterima kasih kepadamu dan tak akan melupakan jasa-jasamu itu untuk selamanya."

 

Perkataan yang terakhir ini benar-benar mengandung daya tarik yang amat besar, tanpa disadari Bong Thian-gak merogoh ke dalam saku untuk mempersembahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadanya. Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring, "Siangkong, kau harus memegang teguh kepercayaan orang yang meminta tolong padamu, jangan kau serahkan kitab itu kepada orang lain."

 

Saat Bong Thian-gak mendongakkan kepala, dia lihat perempuan cantik berbaju hijau sedang berlari mendekat, bau harum semerbak berhembus, ia telah berdiri di samping anak muda itu.

Ketika Liong Oh-im bertemu nyonya cantik berbaju hijau ini, paras mukanya segera berubah menjadi amat tak sedap dipandang, rasa gusar dan mendongkol menyelimuti seluruh wajahnya. Andaikata perempuan itu tidak muncul tepat pada waktunya, niscaya Bong Thian-gak telah menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadanya.

 

Dengan sorot mata tajam Liong Oh-im mengawasi perempuan itu lekat-lekat, kemudian setelah mendengus dingin, tegurnya, "Thamcu, kau berani mengkhianati aku?"

"Aku tidak berani mengkhianati Liong-huhoat," jawab perempuan itu merdu.

Liong Oh-im segera tertawa dingin, "Selama puluhan tahun ini, aku telah mencari dirimu kemana-mana dan menelusuri semua pelosok tempat, tidak kusangka ternyata kau berada di Lok-yang."

"Apakah dikarenakan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok inilah Liong-huhoat mencari jejakku kemana-mana?"

 

Dari pembicaraan kedua orang itu, Bong Thian-gak mengambil kesimpulan bahwa kedua orang itu bukan saja sudah saling mengenal, juga berasal dari satu perguruan yang sama.

Bong Thian-gak benar-benar tak mengerti persoalan apakah yang sebenarnya menjadi pangkal perselisihan mereka sebagai sesama anggota Mi-tiong-bun?

Pikirnya kemudian, "Kalau aku terlibat dalam persoalan semacam Ini, wah, tidak ada harganya sama sekali."

 

Sementara itu Liong Oh-im telah berkata sambil tertawa dingin, Thamcu, sudah belasan tahun kau menghindari diriku, tujuanmu hanya Ingin melindungi kitab pusaka Kui-hok-khi-liok agar tidak sampai aku dapatkan, tapi hari ini aku justru minta kepadamu untuk menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadaku, mengerti?"

Perempuan itu tertawa cekikikan, "Sayang sekali kedatangan Liong-huhoat terlambat satu langkah, kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu sudah tidak berada di dalam sakuku lagi."

"Aku akan memerintahkan kepadamu untuk meminta kembali kitab itu dari tangannya."

Perempuan itu tertawa cekikikan, "Kecuali Kui-kok Buncu hidup kembali. Kalau tidak, tiada seorang pun yang dapat memberi perintah kepadaku!"

"Oh, jadi kau tak percaya kalau aku sanggup memberi perintah kepadamu?" tanya Liong Oh-im sambil tersenyum.  

 

Selesai berkata, tiba-tiba ia mengeluarkan tongkat naga kemala putih dari sakunya dan diangkat tinggi-tinggi, kemudian bentaknya, "Thamcu, coba kau lihat benda apakah ini?"

Menyaksikan tongkat kemala putih itu, gemetar keras sekujur badan perempuan itu, tiba-tiba saja dia menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah dan katanya dengan suara gemetar keras, "Benda kekuasaan Buncu ... tongkat naga kemala putih."

 

Dengan perasaan ingin tahu Bong Thian-gak memperhatikan pula tongkat kemala itu dengan penuh perhatian, tongkat sebesar lengan anak-anak, di atas tongkat terukir seekor naga darah kecil dalam gaya siap terbang ke angkasa.

Sekilas pandang saja ia dapat mengetahui bahwa tongkat naga kemala putih itu amat berharga dan tak ternilai harganya, tapi Bong Thian-gak tidak menyangka tongkat naga kemala itu memiliki daya pengaruh yang begitu besar sehingga perempuan berbaju hijau itu segera menjatuhkan diri berlutut setelah melihat tongkat tadi.

 

Sambil mengangkat tongkat naga itu tinggi-tinggi, Liong Oh-im membentak, "Thamcu, sekarang kuperintahkan padamu untuk merebut kembali kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu dari tangannya."

Bong Thian-gak menjadi terperanjat, pada saat itulah perempuan cantik berbaju hijau melompat bangun dan mengayun telapak tangannya membabat dada Bong Thian-gak.

Serangan yang dilancarkan itu amat cepat dan gencar, benar-benar ancaman yang berbahaya.

Serta-merta Bong Thian-gak menghindar ke samping. Meski begitu, nyaris tubuhnya termakan juga oleh bacokannya ini, maka bentaknya, "Nyonya, benarkah kau ingin meminta kembali kitab pusaka Kui hok-khi-liok itu?"

 

Nyonya itu tidak menjawab, namun wajahnya menunjukkan penderitaan dan kegelisahan yang luar biasa, kembali telapak tangan kirinya diayunkan ke depan menghajar Bong Thian-gak.

Berada dalam keadaan begini, Bong Thian-gak benar-benar tidak tahu bagaimana dia mesti bertindak, namun dari mimik perempuan itu dapat diketahui bahwa dia telah didesak oleh keadaan sehingga terpaksa dan mau tak mau harus menyerang dirinya.

Kepandaian silat yang dimiliki perempuan itu benar-benar lihai, jurusnya aneh tapi sakti, biarpun Bong Thian-gak berhasil menghindar dari ketiga serangannya, namun ia dapat melihat musuh sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh.

 

Pada saat itulah kembali terdengar Liong Oh-im membentak lagi, "Thamcu, kuperintahkan padamu untuk menaklukkan lawan hanya dalam sepuluh gebrakan saja."

"Terima perintah," jawab perempuan itu cepat. Tiba-tiba permainan pukulannya berubah seperti kupu-kupu yang Nlerbangan di antara aneka bunga, serangan demi serangan dilancarkan secara beruntun dan tiada hentinya.

 

Dalam waktu singkat tampak bayangan telapak tangan berlapis-lapis, begitu dahsyat dan gencarnya serangan itu, membuat Bong Thian-gak harus mundur berulang kali.

Bong Thian-gak terkejut oleh keanehan dan kehebatan jurus serangan lawan, dalam waktu singkat perempuan itu sudah melancarkan lembilan serangan berantai.

Mendadak ia menghentikan gerakannya, namun sepasang telapak tangannya disiapkan satu di muka dan yang lain di belakang dengan posisi menyerang dan bertahan.

Bong Thian-gak memandang perempuan itu sekejap, wajahnya yang semula cantik jelita tiba-tiba dilapisi cahaya berkilau, sementara matanya yang jeli mengawasi wajah pemuda itu lekat-lekat.

Sudah jelas dia sedang memberi kode agar Bong Thian-gak secepatnya pergi meninggalkan tempat ini.

 

Pada saat itulah suara Liong Oh-im menggelegar kembali, 'Thamcu, kalau kau sudah menghimpun tenaga saktimu. Mengapa tidak kau lancarkan?"

Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak membentak keras, "Liong Oh-im, cepat suruh dia menghentikan serangannya. Bila ada persoala kita rundingkan secara baik-baik."

 

Belum selesai berkata, perempuan itu sudah mendesis dan mengayunkan telapak tangannya.

Serangan yang dilepaskan olehnya itu dilancarkan amat sederhaha dan enteng, bagaikan segulung angin hangat yang berhembus.

Tiba-tiba saja Bong Thian-gak merasakan sekujur badann gemetar lemas, sepasang bahunya bergetar keras dan tanpa terasa d mundur selangkah.

 

Sebaliknya perempuan cantik berbaju hijau itu seakan-ak kehabisan tenaga dan segenap tulang belulangnya terlepas, ia terduduk di atas tanah dengan tubuh lemas tidak bertenaga, cahaya merah ya menyinari wajahnya telah hilang, pucat-pias menghiasi mukanya.

Dalam kesepuluh jurus serangan itu, Bong Thian-gak sama sek tidak melancarkan serangan balasan.

 

Sekulum senyuman bangga menghiasi wajah Liong Oh-im di arena, pelan-pelan ia berkata, "Bong-tayhiap, kau sudah terkena ilmu pukulan Sau-yang-sin-kang."

Mendengar "Sau-yang-sin-kang", berubah paras muka Bong Thiaj gak, ia mengangkat kepala memandang sekejap ke arah perempuan berbaju hijau itu.

Sementara itu mata perempuan itu sudah dipenuhi oleh air mata dia seperti merasa bersalah terhadap Bong Thian-gak sehingga membuat ia sedih dan pedih.

 

Bong Thian-gak menghela napas sedih, lalu katanya, "Konon Sau yang-sin-kang adalah semacam ilmu pukulan yang teramat hebat, yang khusus melukai delapan nadi penting di tubuh manusia, korban  tidak dapat hidup melebihi dua belas jam. Kalau begitu, aku pun tidak jauh dari lembah kematian."

Liong Oh-im tertawa terbahak-bahak, sahutnya, "Bong-tayhia setelah mengetahui umurmu hampir berakhir, mengapa kau tidak mempersembahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadaku?"

 

Bong Thian-gak menarik muka dan menjawab dingin, "Apabila kuserahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu sekarang juga, maka kematianku akan sama sekali tak ada artinya lagi."

Liong Oh-im kembali tertawa, "Memangnya kau masih dapat lolos dari cengkeramanku?"

Sementara itu hawa membunuh menyelimuti wajah Bong Thian-gak, katanya tiba-tiba dengan dingin, "Liong-sianseng, bila kau yakin dapat merampas kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu dari tanganku, silakan saja mencoba!"

 

Liong Oh-im berpaling dan memandang sekejap ke arah perempuan itu, kemudian tanyanya, "Thamcu, sudahkah kau lukai kedelapan nadi pentingnya dengan ilmu pukulan Sau-yang-sin-kang?"

"Liong-huhoat," kata perempuan cantik berbaju hijau itu penuh penderitaan. "Kau telah memaksaku mencelakai seseorang yang sama sekali tiada sakit hati ataupun dendam kesumat denganku."

Liong Oh-im kembali tertawa dengan suara keras, "Thamcu dapat membunuh Jian-ciat-suseng yang termasyhur, engkau telah menjadi pahlawan Mi-tiong-bun. Mengapa kau malah sedih dan menyesal?"

 

Sembari bicara, langkah demi langkah Liong Oh-im menghampiri Bong Thian-gak, kemudian terusnya, "Barang siapa sudah terhajar oleh Sau-yang-sin-kang hingga terluka delapan nadi pentingnya, maka hawa darah dalam Mi-bun-hiat akan pudar dan tenaga murni akan musnah. Bong Thian-gak, kau sudah tak mampu menghimpun tenaga dalammu."

Mendadak ia mengayunkan telapak tangannya dan langsung dibacokkan ke tubuh Bong Thian-gak.

 

Baru saja angin pukulannya berhembus ke depan, Bong Thian-gak lelah melolos Pek-hiat-kiam, cahaya pedang bagaikan bianglala dan hawa pedang bagaikan sayatan, serentak menggulung ke muka.

Barang siapa dapat melihat hawa pedang yang terpancar dari serangan itu, dia akan mengetahui Bong Thian-gak sama sekali tidak lerluka oleh pukulan Sau-yang-sin-kang.

Ketika perempuan berbaju hijau melihat itu, wajahnya segera nampak berseri dan amat gembira.

 

Sebaliknya Liong Oh-im menjerit kaget dan cepat menerobos keluar dari lapisan hawa pedang seperti seekor burung walet.

Setelah melayang turun, ia baru berkata, "Ilmu pedang yang amat bagus, aku benar-benar dibikin melek dan bertambah pengetahuan."

Gagal dengan serangan pedangnya, Bong Thian-gak melayang turun dengan bahu agak bergetar, katanya kemudian dengan suara dingin, "Apakah kau ingin mencoba serangan pedangku yang kedua?"

"Oh, tentu saja," jawab Liong Oh-im sambil tertawa paksa.

 

Bong Thian-gak menyarungkan kembali Pek-hiat-kiam, kemudian katanya, "Maaf."

Lalu dia melompat ke depan dan melesat cepat ke depan sana.

Liong Oh-im tertawa terbahak-bahak, bagaikan kuda terbang di angkasa, dia melesat ke depan dan mengejar dari belakang dengan ketat.

Sejak awal Bong Thian-gak sudah menduga Liong Oh-im bakal melakukan pengejaran, maka ketika berada di udara dia melolos pedangnya, cahaya bianglala yang amat tajam secepat kilat langsung menusuk ke tubuh Liong Oh-im.

 

Berada di tengah udara, Liong Oh-im mengebas ujung bajunya ke depan, segulung angin pukulan tak berwujud yang sangat kuat segera menyapu ke muka.

Siapa tahu serangan yang dilancarkan oleh Bong Thian-gak cuma serangan tipuan, di saat angin pukulan Liong Oh-im yang maha dahsya itu menyapu tiba, dia sudah menarik kembali senjatanya dan melompat ke muka.

 

Lompatannya atas bantuan angin serangan Liong Oh-im yang kuat, tak heran gerakannya sangat cepat dan selisih jarak di antara mereka pun semakin bertambah jauh.

Setelah menjejak tanah sekali lagi, Bong Thian-gak melompat ke depan, dalam waktu singkat ia sudah puluhan tombak di depan sana, lalu lenyap.

 

Menyadari dirinya tertipu oleh siasat musuh, Liong Oh-im merasa sangat jengkel dan mendongkol sekali, dia mendepak-depakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, lalu serunya sambil tertawa seram, "Bocah keparat, tidak kusangka hari ini aku Liong Oh-im bakal dipecundangi anak muda macam kau. Hm, ingin kulihat dengan cara apa kau hendak menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepada Biau-kosiu."

Seusai berkata ia memandang sekejap ke arah perempuan berbaju hijau, kemudian membalikkan badan dan mengejar ke arah Lok-yang.

 

Sementara itu Bong Thian-gak mengerti bahwa Liong Oh-im pasti sudah menyiapkan jaring dan perangkap untuk menghalangi dirinya memasuki rumah penginapan Ban-heng, karena itu setelah masuk ke dalam kota, ia tidak menuju ke rumah penginapan itu, melainkan pergi ke kota sebelah selatan.

Sesudah keluar pintu kota sebelah selatan dan tiba di tanah pekuburan yang terpencil dan sepi, dia memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, lalu sambil duduk bersila, gumamnya, "Setelah terluka oleh pukulan Sau-yang-sin-kang, mungkin sekali jiwaku tak akan tertolong lagi. Ai, saat ini dari kedelapan nadi pentingku, ada dua di antaranya yang secara lamat-lamat mulai terasa sakit."

 

Bong Thian-gak duduk di depan sebuah batu nisan sambil mendongakkan kepala memperhatikan awan di angkasa, hatinya teramat masgul.

"Ai, sebenarnya kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu berisi apa?"

Berpikir begitu, tanpa terasa dia mengeluarkan kitab itu dari dalam sakunya, tapi setelah berpikir sebentar, pemuda itu memasukkan kembali gulungan kitab itu ke dalam sakunya.

Matahari sudah tenggelam ke langit barat, Bong Thian-gak hampir satu jam lamanya duduk di kuburan itu.

 

Selama satu jam dia sudah mencoba untuk mengatur pernapasan dan menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh, namun yang aneh sama sekali dia tidak merasakan cidera atau luka apa pun pada nadi-nadi penting di dalam tubuhnya, bahkan rasa sakit yang semula mencekam tubuhnya pun lambat-laun lenyap.

Rasa gembiranya ini membuat Bong Thian-gak segera melompat bangun dari atas tanah dan berseru, "Aha, ternyata aku tidak menderita luka apa pun oleh serangan Sau-yang-sin-kang itu."

 

Sekonyong-konyong terdengar suara dingin dan menyeramkan di belakangnya.

"Sekalipun Sau-yang-sin-kang tidak melukaimu, namun ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang akan merenggut selembar nyawamu."

Ucapan itu bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, dengan terperanjat Bong Thian-gak segera berpaling ke samping.

Tapi dengan cepat dia dibuat tertegun.

 

Di belakang tubuhnya, di depan sebuah kuburan yang amat besar, telah berdiri seorang perempuan cantik bagai bidadari dari kahyangan berbaju biru.

Perempuan itu bukan lain adalah Si-hun-mo-li Thay-kun.

Di samping Si-hun-mo-li Thay-kun, berdiri pula seorang berbaju hijau.

Orang berbaju hijau itu berwajah pucat-pias, dingin, kaku dan sama sekali tiada warna darah, bahkan tiada berbau hawa manusia.

Bong Thian-gak berkerut kening, rasanya orang berbaju hijau itu mengenakan topeng kulit manusia sehingga menutupi wajah aslinya.

Tapi siapakah orang itu?

 

Bong Thian-gak kaget, tercengang, bingung dan tidak habis mengerti. Mengapa ia bisa berada bersama Si-hun-mo-li Thay-kun?

Bong Thian-gak memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, cahaya matahari yang berwarna kuning keemas-emasan menyinari tanah pekuburan itu, namun di sana tidak nampak manusia lain kecuali mereka berdua.

Bong Thian-gak telah memperoleh sebutir pil Hui-hun-wan dan persoalan pertama yang ingin segera diselesaikan olehnya adalah menemukan Si-hun-mo-li dan memberi pil Hui-hun-wan itu kepadanya agar Thay-kun bisa memperoleh kembali pikiran dan kesadarannya seperti semula.

Sekarang Thay-kun sudah berada di depan mata, asal dia menelan pil Hui-hun-wan, berarti usahanya akan berhasil.

 

Namun hal ini bukanlah perbuatan yang amat gampang.

Dia tahu untuk menyelesaikan tugas itu, kemungkinan besar dia harus membayar mahal, bahkan bisa kehilangan selembar nyawanya.

Orang berbaju hijau yang berada di hadapannya sekarang terlalu menyeramkan dan menggidikkan.

Mungkinkah orang ini adalah Hek-mo-ong?

Berpikir sampai di sini, Bong Thian-gak segera menghimpun pikiran dan perhatian mengawasi gerak-gerik orang berbaju hijau itu.

Orang itu tertawa dingin, ujarnya, "Apabila kau ingin meloloskan diri dari ancaman kematian, lebih baik serahkan saja kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadaku."

 

Tertegun Bong Thian-gak, segera tanyanya, "Apa? Jadi kau pun menghendaki kitab pusaka Kui-hok-khi-liok dari Mi-tiong-bun?"

Paras muka orang berbaju hijau itu masih tetap tenang tanpa perubahan sedikit pun, sahutnya, "Apabila kau mengerti rahasia kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, setiap orang yang berada di dunia ini rasanya Ingin mendapatkannya."

"Siapakah kau?" tanya Bong Thian-gak sambil tersenyum.

"Kau tak perlu mengetahui siapakah aku. Yang penting bagimu hanya memilih dua jalan yang kutawarkan kepadamu, mau hidup atau mati, silakan segera tentukan!"

"Aku ingin mengetahui lebih dulu dengan mengandalkan ilmu illut apakah kau hendak menghukum mati diriku?"

"Serangan Si-hun-mo-li dan sergapan mendadak yang kulancarkan nanti!"

 

Bong Thian-gak kembali tersenyum.

"Yakinkah kau pasti akan dapat merenggut nyawaku?"

"Bila kau yakin dapat meloloskan diri dari cengkeraman mautku, maka kau tak perlu mengeluarkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok."

Bong Thian-gak termenung dan berpikir beberapa saat, tiba-tiba ia Itrtanya, "Dari kemampuanmu memberi perintah kepada Si-hun-mo-li, tentunya kau pun dapat membuat Si-hun-mo-li jatuh tak sadarkan diri bukan?"

"Apa maksudmu?"

"Oh, itu rahasia pribadiku dan merupakan syarat yang hendak kuajukan sebagai pertukaran."

"Harap kau suka memberi penjelasan secara terperinci."

 

"Boleh saja kuserahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok kepadamu, namun kau harus dapat merobohkan Si-hun-mo-li lebih dulu hingga tak sadarkan diri."

"Setelah Si-hun-mo-li tak sadarkan diri, maka kau bisa menandingi diriku bukan?"

"Ya, terpaksa harus dicoba," Bong Thian-gak tersenyum.

"Kitab pusaka Kui-hok-khi-liok sudah berada di sakumu, aku bisa turun tangan merampasnya dari tanganmu."

"Kau tetap harus menguatirkan sesuatu."

"Apa yang mesti kukuatirkan?"

"Kekalahan."

 

Orang berbaju hijau itu tertawa dingin.

"Ehm, nampaknya kau masih mempunyai sedikit otak untuk berpikir."

"Ah, seandainya tiada suatu yang dikuatirkan, sedari tadi kau telah turun tangan merebutnya dari tanganku."

"Kau keliru besar," ujar orang berbaju hijau itu sambil tertawa seram. "Yang kukuatirkan justru tindakanmu menghancurkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok sebelum penyerahan nanti, itulah sebabnya aku tidak turun tangan hingga detik ini."

"Terima kasih banyak atas petunjukmu itu," Bong Thian-gak tertawa. "Aku benar-benar tak berpikir begitu."

 

Orang berbaju hijau itu mendengus dingin, "Hm, belum pernah aku bicara sebanyak ini dengan orang lain, kau harus mengambil keputusan secepatnya?"

"Aku yang mesti mengambil keputusan sendiri ataukah kau yan menyuruh aku mengambil keputusan?"

"Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu dengan merobohkan Si hun-mo-li hingga tak sadarkan diri, tapi pada saat bersamaan kau haru melemparkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok jauh ke sana."

"Baik, aku setuju dengan usulmu itu."

"Masih ada satu hal lagi, apakah kau sudah melihat kitab pusak  Kui-hok-khi-liok?"

"Belum."

"Bagus sekali, sekarang aku akan menghitung sampai angka sepuluh dan kau harus melemparkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok  ke depan sana."

"Di saat kulihat Si-hun-mo-li roboh tak sadarkan diri nanti, aku pasti akan melemparkan kitab pusaka itu ke depan."

"Aku akan menghitung sampai angka sepuluh, saat itu Si-hun-rn li pasti sudah roboh tak sadarkan diri!"

 

Demi menyelamatkan selembar jiwa Thay-kun, Bong Thian-gak telah mengambil keputusan hendak mengingkari janjinya dengan Biau kosiu. Biarpun saat ini kitab pusaka Kui-hok-khi-liok diserahkan kepada lawan, namun ia yakin masih memiliki kemampuan untuk merebutnya kembali.

Sebaliknya bila Si-hun-mo-li kabur lagi, usahanya menyelamatkan jiwa perempuan itu akan menemui kesulitan yang lebih banyak lagi.

Itulah sebabnya Bong Thian-gak mengambil keputusan akan mengingkari janji terhadap Biau-kosiu.

 

Tiba-tiba sepasang mata orang berbaju hijau itu memancarkan tahaya dingin kehijau-hijauan, pelan-pelan dia mulai memanggil, "Si-hun-mo-li!"

Panggilan itu penuh diliputi nada menyeramkan, aneh dan menggidikkan.

Ketika mendengar suara yang menggidikkan itu, pelan-pelan Si-hun-mo-li membalik badan, namun ketika sinar matanya saling bentur dengan sorot mata orang berbaju hijau itu, ia nampak seperti tersengat lebah.

 

Seketika itu juga sukma dan pikirannya seolah-olah terbetot oleh pandangan mata itu, dia berdiri melongo seperti sebuah patung.

Sementara itu orang berbaju hijau sudah menghitung dengan itiara melengking tapi lambat, "Satu ... dua ... tiga ... empat...."

Pada saat itulah dari balik kuburan tiba-tiba muncul seseorang yang menerjang ke punggung orang berbaju hijau dengan kecepatan tinggi.

 

Dengan sorot mata Bong Thian-gak yang amat tajam, ia sudah melihat dengan jelas bahwa orang yang baru saja muncul itu bukan lain adalah perempuan berbaju hijau yang menyerahkan kitab pusaka Kui-hok khi-liok kepadanya itu.

Kemunculannya yang sangat mendadak ini segera menggetarkan perasaan Bong Thian-gak, ia tahu persoalan bakal runyam.

Belum habis ingatan itu, suara orang berbaju hijau yang sedang menghitung itu pun terhenti secara mendadak.

 

Kemudian secepat kilat dia membalik badan seraya melancarkan pukulan kilat ke depan.

Angin pukulan yang kuat dan tajam secara telak menghantam tubuh perempuan berbaju hijau itu.

Jerit kesakitan bergema, tubuh perempuan berbaju hijau itu segera terlempar bagaikan layang-layang yang putus benang.

Dengan cepat Bong Thian-gak melejit ke udara dan melayang turun di hadapan perempuan berbaju hijau itu.

Sementara itu paras muka perempuan berbaju hijau itu sudah berubah pucat-pias seperti mayat, darah segar muntah dari mulutnya.

Dengan cepat Bong Thian-gak membimbing bangun, kemudian menempelkan telapak tangannya di atas jalan darah Mi-bun-hiat di punggungnya.

 

Segulung hawa panas segera menyusup ke tubuh perempuan itu melalui jalan darah Mi-bun-hiat, hawa darah bergolak dengan kuat dalam tubuhnya, perempuan itu pun segera berkata, "Bong-siangkong, kau tak boleh menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepada orang lain, kau tak boleh mengingkari janjimu terhadap Biau-kosiu."

"Ai, harap kau sudi memaafkan aku," ujar Bong Thian-gak sambil menghela napas panjang.

Saat itu Bong Thian-gak benar-benar menyesal dan tidak keruan rasanya.

 

Perempuan berbaju hijau itu memandang sekejap ke arahnya, kemudian dengan air mata bercucuran katanya, "Bong-siangkong, kemungkinan besar aku akan segera mati. Sebelum ajalku tiba, aku minta kau bersedia menyanggupi keinginanku, kau harus melindungi kitab Kui-hok-khi-liok itu hingga diserahkan terhadap Biau-kosiu. Apabila kau tak mampu menyerahkan kepadanya, tolong hancurkan dan musnahkan kitab itu."

 

Paras muka perempuan berbaju hijau itu pucat-pias seperti mayat, dari balik matanya memancar sinar permohonan, ditatapnya wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.

Dia hendak menanti jawaban Bong Thian-gak, sebab dia tahu asalkan pemuda yang berada di hadapannya sudah menganggukkan kepala memberikan persetujuan, biar langit ambruk pun, pendiriannya tak pernah akan berubah.

Tapi Bong Thian-gak masih tetap termenung dan sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.

 

Sebab perasaan dan pikirannya saat ini sangat kalut, dia tak bisa mengambil keputusan dengan segera, bagaimana pun menyelamatkan Thay-kun merupakan harapannya yang terbesar. Sekarang dia telah mendapat kesempatan baik yang tak mungkin bisa dijumpai lagi di kemudian hari. Apakah dia harus melepaskan kesempatan yang sangat baik itu begitu saja?

 

Melihat pemuda itu hanya membungkam tanpa menjawab, perempuan berbaju hijau itu menjadi sangat kecewa, air matanya segera bercucuran membasahi wajahnya.

Diiringi jeritan yang memilukan, perempuan berbaju hijau itu sekali lagi memuntahkan darah segar, tiba-tiba saja dia tewas dalam keadaan penuh kecewa.

 

Tak terlukiskan rasa terkejut Bong Thian-gak, sementara dia masih tertegun, tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar orang berbaju hijau Itu berkata dengan dingin, "Dia bukan mati karena mendongkol kepadamu. Ketahuilah, barang siapa sudah termakan oleh pukulanku, maka dia tak akan mampu hidup lebih seperempat jam."

Pelan-pelan Bong Thian-gak membalikkan badan dan menatap orang itu lekat-lekat, kemudian ujarnya, "Tenaga pukulan yang kau miliki memang benar-benar amat dahsyat dan tajam, tapi yakinkah kau bahwa seranganmu pasti dapat menghabisi nyawaku?"

"Sebelum mendapatkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu, aku tak hanti turun tangan melukaimu."

 

"Sekarang aku sudah berubah pikiran," ucap Bong Thian-gak dengan suara dingin. "Aku tak jadi menyerahkan kitab pusaka itu kepadamu, akan kulindungi kitab Kui-hok-khi-liok ini hingga saat penyerahan nanti."

Orang itu tertawa seram mendengar perkataan itu, "Bagus sekali, kau mencari jalan kematian bagi dirimu sendiri."

 

Mendadak Bong Thian-gak melolos Pek-hiat-kiam, kemudian berkata, "Apabila kau bermaksud mencabut nyawaku, maka tak ada salahnya kau mencoba menerima beberapa buah tusukanku ini."

Pemuda itu melompat ke muka dan melepaskan sebuah tusukan kilat.

Sekilas cahaya tajam yang menyilaukan mata segera berkelebat ke depan.

 

Orang itu sama sekali tidak menggeser badan menghindarkan diri, sebaliknya Si-hun-mo-li yang berada di sisinya bagaikan sesosok arwah gentayangan telah menyelinap ke depan dan menghadang di hadapan orang itu, sementara telapak tangannya yang putih bersih ditolakkan ke muka menghantam mata pedang itu.

Sebenarnya Bong Thian-gak bisa saja berganti jurus dengan membacok pergelangan tangannya, namun ia sama sekali tidak berbuat demikian. Menghadapi ancaman itu, dia menarik balik pedangnya.

 

Si-hun-mo-li sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk banyak bertindak, kembali tubuhnya berkelebat maju dan menerjang sisi kiri Bong Thian-gak, sementara telapak tangannya yang lain segera dihantamkan ke bahu kiri anak muda itu.

Sejak bertemu Si-hun-mo-li, ilmu silat yang dimiliki Bong Thian-gak seolah-olah mengalami kemunduran yang amat pesat. Dalam keadaan demikian, seharusnya ia dapat menggerakkan pedangnya untuk melepaskan tusukan, namun ia tidak berbuat demikian, tubuhnya malah melompat mundur untuk menghindarkan diri dari ancaman itu.

Siapa tahu pada saat itulah telapak tangan kiri Si-hun-mo-li telah diayun ke depan dan membacok tubuh Bong Thian-gak dengan mempergunakan Soh-li-jian-yang-sin-kang.

 

Cahaya tajam yang berwarna merah darah segera menyambar, pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang yang maha dahsyat bagaikan putaran roda kereta langsung menggulung ke muka.

Bong Thian-gak segera membentak, mendadak Pek-hiat-kiam diputar kencang menciptakan kabut pedang yang tebal, bukannya mundur dia malah maju.

Ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan ilmu pukulan yang maha dahsyat dan amat termasyhur dalam Bu-lim. Mimpi pun orang berbaju hijau itu tak mengira permainan kabut pedang yang diciptakan Bong Thian-gak itu mampu mementalkan sergapan tenaga Sinkang itu.

 

Benar-benar di luar dugaannya, serangan maut yang begitu tajam dan dahsyat dari Soh-li-jian-yang-sin-kang berhasil dipunahkan begitu saja oleh putaran hawa pedang Bong Thian-gak.

Sebaliknya tubuh Bong Thian-gak sendiri berputar ke hadapan Si-hun-mo-li dengan kecepatan luar biasa, lalu kaki kanan Bong Thian-gak diayunkan ke muka dan menendang jalan darah kaku di pinggang Si-hun-mo-li.

Tendangan yang dilancarkan olehnya itu benar-benar dilepaskan secara jitu dan manis, diikuti jeritan tertahan, tubuh Si-hun-mo-li segera roboh terjungkal ke atas tanah.

 

Pada saat itulah Bong Thian-gak membuang Pek-hiat-kiam, lalu mementang kelima jari tangannya, dia cengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri Si-hun-mo-li.

Bong Thian-gak tahu ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang yang dimiliki Si-hun-mo-li terletak pada tangan kirinya, oleh sebab itu ia langsung mencengkeram bagian vital itu dengan harapan dapat mengendalikan gerak-gerik perempuan itu.

 

Sejak Bong Thian-gak memutar pedang sambil mendesak maju hingga dia merobohkan Si-hun-mo-li dengan tendangan, beberapa gerakan itu dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat dan dilakukan secara beruntun.

Menanti orang berbaju hijau tahu Si-hun-mo-li tak mungkin mampu menghadapi serangan Bong Thian-gak, urat nadi pergelangan tangan kiri Si-hun-mo-li sudah berhasil dicengkeraman Bong Thian-gak.

 

Orang berbaju hijau itu mendengus penuh amarah, dari kejauhan dia lepaskan bacokan maut ke tubuh pemuda itu.

Tapi Bong Thian-gak dengan membopong tubuh Si-hun-mo-li telah melompati dua buah kuburan besar untuk menghindarkan diri.

Ketika tenaga pukulan yang dilancarkan orang berbaju hijau itu menghantam batu nisan, terjadilah suara ledakan yang amat keras disusul robohnya batu nisan dan debu pasir beterbangan ke udara.

 

Gagal dengan serangan mautnya, orang itu bagaikan sukma gentayangan mendesak maju, sewaktu berada di muka Bong Thian-gak, kembali tangan kanannya diayunkan siap melepaskan pukulan maut lagi.

Padahal Bong Thian-gak baru saja berhasil berdiri tegak ketika musuh telah berdiri di hadapannya, gerakan tubuh yang sedemikian cepatnya ini membuat anak muda itu tertegun.

Sambil tertawa dingin, orang berbaju hijau itu berkata, "Asal kau herani menggerakkan tubuhmu, tenaga pukulan yang telah kuhimpun ini secepat kilat akan menghajar tubuhmu."

 

Waktu itu tangan Bong Thian-gak sedang mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri Si-hun-mo-li. Ketika mendengar ancaman itu, ia segera tertawa dingin sambil ujarnya, "Tenaga pukulanmu itu mungkin akan menghajar Si-hun-mo-li."

Agaknya rahasia hati orang berbaju hijau itu berhasil ditebak Bong Thian-gak secara tepat. Ia segera berpikir beberapa saat, setelah itu baru ujarnya dengan suara dingin, "Apa yang ingin kau lakukan terhadap dirinya?"

"Mencabut nyawanya."

"Bila dia mati, kau pun jangan harap bisa hidup lebih lama," ancam orang berbaju hijau itu segera.

"Betul, itulah sebabnya tak ada salahnya bila kita bertukar syarat."

"Apa syaratmu?"

 

Bong Thian-gak berpikir sejenak, kemudian katanya dengan wajah bersungguh-sungguh, "Harap kau segera mundur dari sini! Aku tak akan mengganggu keselamatan jiwanya."

"Sekarang segenap tenaga pukulanku telah terhimpun di telapak tangan, sesungguhnya yang mendapat ancaman bukan aku, melainkan kau," ucap orang berbaju hijau itu dengan nada menyeramkan.

"Aku tahu. Meski tenaga pukulanmu amat tajam dan menakutkan, namun belum tentu dapat melukaiku."

"Setiap kali melepas pukulan, belum pernah pukulanku meleset."

"Bukankah ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang Si-hun-mo-li pun belum pernah meleset, tapi terbukti sudah bahwa ia tak mampu melukai aku."

Orang berbaju hijau itu tertawa dingin.

"Hm, aku memang tidak mengerti apa sebabnya kabut pedang yang kau ciptakan tadi bisa mematahkan ancaman Soh-li-jian-yang-sin-kang yang begitu hebat."

"Karena sebenarnya aku telah berhasil melatih semacam ilmu sakti yang dapat menandingi pengaruh Soh-li-jian-yang-sin-kang itu," kata Bong Thian-gak sambil tersenyum.

 

Tampaknya orang itu seperti berhasil menebak, dengan terkejut ia segera bertanya, "Apakah tenaga sakti yang kau pergunakan barusan adalah Tat-mo-khi-kang?"

Bong Thian-gak manggut-manggut, "Ya benar, memang Tat-mo-khi-kang. Itulah sebabnya berani aku katakan tadi, bahwa tenaga seranganmu belum tentu dapat melukai diriku."

"Sekalipun mempelajari Tat-mo-khi-kang, bukan berarti sudah tiada tandingan di kolong langit?"

"Tapi paling tidak kan aku sanggup menerima serangan mautmu tanpa kuatir terancam keselamatan jiwaku."

"Sekarang aku tidak ingin lagi melancarkan serangan lebih dahulu kepadamu, lebih baik kita saling bertahan pada posisi demikian saja!"

 

Yang paling menjengkelkan dan membingungkan Bong Thian-gak sekarang adalah dia tidak memiliki tangan kanan sehingga sama sekali tak mampu mengeluarkan pil Hui-hun-wan itu dan dicekokkan ke mulut Si-hun-mo-li.

Kabut malam sudah makin menyelimuti angkasa, sementara sang mirya sudah tenggelam ke langit barat, tanah pekuburan itu mulai dicekam kegelapan.

 

Mendadak dari balik tanah pekuburan berkumandang suara orang bicara, "Apabila keadaan saling bertahan semacam ini berlangsung lebih lama, akhirnya Jian-ciat-suseng akan menderita kekalahan sebelum pertarungan dimulai."

Mendengar perkataan itu, hati Bong Thian-gak bergetar.

"Siapa di situ?" bentak orang berbaju hijau itu dingin.

 

Dari balik sebuah kuburan besar muncul seorang berjubah panjang warna hitam, lengan kanan orang itu sudah kutung sementara sebilah golok panjang tersoreng di pinggangnya.

Berjumpa dengan manusia berlengan tunggal itu, Bong Thian-gak terkejut bercampur girang, segera pekiknya dalam hati, "Ah, tenyata Liu Khi. Andaikata ia bersedia membantuku, niscaya keselamatan jiwa Thay-kun akan terjamin."

 

Kemunculan Liu Khi tentu saja memberi harapan baru yang amat besar bagi Bong Thian-gak, tapi pada saat itu pula tiba-tiba Bong Thian-gak merasa kepalanya sangat pening.

"Aduh celaka," pekik Bong Thian-gak dalam hati.

Dengan cepat ia menyambar tubuh Si-hun-mo-li, kemudian sekuat tenaga melompat ke depan dimana Liu Khi berada.

Baru saja Bong Thian-gak menggerakkan tubuh, jurus serangan orang berbaju hijau yang telah disiapkan sedari tadi dilontarkan ke muka.

Suara dengusan tertahan segera memecah keheningan.

Tubuh Bong Thian-gak dan Si-hun-mo-li mencelat ke belakang.

Tenaga yang dilontarkan oleh orang berbaju hijau itu hampir saja membuyarkan tenaga Tat-mo-khi-kang yang dihimpun Bong Thian-gak.

 

Dalam keadaan setengah sadar, dengan cepat Bong Thian-gak melepas cengkeramannya pada urat nadi pergelangan tangan kiri Si-hun-mo-li, kemudian tangannya merogoh ke dalam saku mengeluarkan pil Hui-hun-wan dan sekali lompat dia sudah menindih di atas tubuh Si-hun-mo-li, ia jejalkan pil Hui-hun-wan itu ke dalam mulut perempuan itu.

Pada saat itulah Bong Thian-gak merasa tengkuknya amat dingin, sebuah cengkeraman maut yang sangat kuat bagaikan jepitan baja telah mencengkeram tengkuknya.

Menyusul suara bentakan menggema, "Hek-mo-ong, terimalah bacokanku ini!"

 

Liu Khi tahu-tahu telah melepas goloknya dengan kecepatan luar biasa.

Di antara berkelebatnya cahaya putih mata golok itu, orang itu segera melompat mundur untuk menghindarkan diri.

Begitu musuh mundur, Liu Khi menyarungkan kembali goloknya, lalu berseru dengan terkejut, "Agaknya kau mampu juga menghindarkan diri dari bacokan golokku ini?"

"Hm, benar-benar permainan golok yang luar biasa cepatnya," jengek orang berbaju hijau itu dengan suara dingin dan menyeramkan. "Hampir saja lenganku terpapas kutung oleh sambaran golokmu itu."

 

Di bawah sinar bintang dan rembulan yang remang-remang, orang berbaju hijau itu telah kehilangan sebagian ujung baju tangan kirinya.

Liu Khi tertawa dingin setelah mengamati lawannya itu, kembali ia menegur dengan suara ketus, "Engkau adalah Hek-mo-ong?"

"Hm! Atas dasar apa kau menuduh aku sebagai Hek-mo-ong? balas orang berbaju hijau itu dengan suara tak kalah seram.

 

Kembali Liu Khi tertawa seram, "Hm, aku sudah tiga hari menguntit dirimu, aku pun telah meneliti semua mayat yang tewas di tanganmu, semuanya mati dengan isi perut hancur, hanya sayang tidak kujumpai lambang tengkorak hitam yang khas itu."

"Liu Khi, sejak tadi aku telah mengetahui kau mengikuti diriku," kata orang berbaju hijau itu.

Liu Khi tertawa dingin.

"Oleh sebab itulah kedelapan belas orang anak buahmu sekarang lelah berubah menjadi setan-setan tanpa kepala."

"Kecepatan permainan golokmu benar-benar di luar dugaanku."

"Ketajaman pukulan tangan kosongmu pun tak di bawah permainan golok saktiku."

"Apa maksudmu?"

"Ilmu silat Jian-ciat-suseng yang sekarang menggeletak di tanah Itu belum tentu di bawah kita, dengan ketajaman ilmu pukulanmu ternyata kau sanggup menghajarnya secara telak. Bukankah ketajaman Ilmu pukulanmu benar-benar membikin hati orang bergidik?"

 

 

Sementara itu Bong Thian-gak yang menggeletak di atas tanah merasakan seluruh tubuhnya lemas, tulang-belulangnya seperti sudah terlepas, namun dia tidak jatuh pingsan, dengan demikian semua pembicaraan Liu Khi dan orang berbaju hijau itu dapat didengar semua olehnya dengan jelas.

Diam-diam Bong Thian-gak merasa amat terkejut, segera pikirnya, "Betulkah orang berbaju hijau itu adalah Hek-mo-ong?"

 

 

PENDEKAR CACAT
Karya : Gu Long
Saduran : Can ID
Bagian 18 : Siapakah Hek-mo-ong?

 

Bong Thian-gak segera teringat bagaimana orang itu melancarkan serangan yang tepat mengenai perempuan berbaju hijau tadi, kecepatan serta kehebatan serangannya memang sungguh mengerikan.

Perempuan berbaju hijau itu bukan termasuk seorang lemah, namun nyatanya orang itu sanggup menghajarnya hingga tewas dalam satu gebrakan saja. Benar-benar menggidikkan.

Apabila Liu Khi harus berduel melawan orang berbaju hijau itu, dapatkah Liu Khi meraih kemenangan?

 

Bong Thian-gak berharap kemampuan Liu Khi sanggup menahan orang berbaju hijau itu hingga tenaga dalamnya pulih atau kalau tidak, ia hersama Thay-kun pasti akan menemui bencana besar.

Sementara itu Thay-kun sejak dicekoki pil Hui-hun-wan masih tetap tidak sadarkan diri, keadaannya tak ubahnya sesosok mayat, sama sekali tidak bergerak, tubuhnya masih tertindih Bong Thian-gak.

Tiba-tiba terdengar orang berbaju hijau itu menegur dengan suara menyeramkan, "Liu Khi, apa yang hendak kau lakukan sekarang?"

"Pertama-tama, aku ingin bertanya kepadamu, benarkah kau adalah Hek-mo-ong?" tanya Liu Khi sambil tertawa dingin.

 

"Jika aku adalah Hek-mo-ong, hari ini aku datang mengenakan topeng kulit manusia, kau tak akan mengenali juga raut wajah asliku."

"Itulah sebabnya aku ingin bertanya kepadamu dan kau harus memberikan ketegasan dalam jawabanmu, ya atau tidak."

"Aku tak dapat memberikan jawaban yang meyakinkan padamu."

Liu Khi tertawa dingin tiada hentinya, "Seandainya golok yang berada dalam genggamanku ini berhasil mengunggulimu?"

"Aku ingin balik bertanya kepadamu, ada urusan apa kau mencari Hek-mo-ong?"

 

Untuk kesekian kalinya Liu Khi tertawa dingin, "Mungkin kau sudah mengetahui rahasiaku."

"Tentu saja tahu, di dunia persilatan terdapat seorang pembunuh yang kerjanya khusus membunuh orang berdasarkan order, dia adalah orang misterius dan tak membedakan antara yang sesat dan lurus. Asal ada orang memberi uang kepadanya, dia akan membunuh siapa pun seperti yang diinginkan si pemesan."

Liu Khi tertawa terbahak-bahak serunya, "Tentunya orang yang kerjanya membunuh berdasarkan order ini adalah Liu Khi, bukan?"

"Benar, memang Liu Khi."

 

Bong Thian-gak terkejut serta ingin tahu.

Dia ingin tahu, karena selama ini belum pernah terdengar olehnya di dunia persilatan terdapat pekerjaan membunuh berdasarkan order seperti apa yang dikatakannya itu.

Dia terkejut karena sama sekali tidak menyangka Liu Khi adalah orang yang mempunyai pekerjaan membunuh berdasarkan order itu.

Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng pernah berkata kepada Bong Thian-gak, "Aku mencurigai Liu Khi...."

 

Sesungguhnya Bong Thian-gak merasa kurang puas terhadap kecurigaan Tio Tian-seng itu, namun sekarang dia harus mengakui akan ketajaman mata, kematangan pengetahuan serta pengalaman Tio Tian-seng, rupanya dia telah mengetahui rahasia Liu Khi itu.

Sambil tertawa Liu Khi berkata, "Benar-benar sangat hebat, padahal sedikit umat di Kangouw saat ini yang mengetahui rahasiaku."

"Sekali lagi aku ingin bertanya kepadamu, apakah ada orang yang telah membayar tinggi kepadamu untuk membunuh Hek-mo-ong?"

 

"Benar, Liu Khi telah menerima order itu," Liu Khi tertawa.

"Hek-mo-ong adalah seorang yang luar biasa. Entah berapa besar harga yang telah dibayarkan kepadamu?"

"Untuk membunuh Hek-mo-ong, harganya tak dapat ditentukan dengan emas, intan atau permata lainnya."

Orang berbaju hijau tertawa dingin, katanya lebih jauh, "Dapatkah kau memberitahu kepadaku siapa yang mengundangmu?"

"Apakah kau tidak tahu bahwa persoalan semacam ini tak dapat diutarakan?" seru Liu Khi sambil tertawa terbahak-bahak.

 

Mendadak orang berbaju hijau itu memasukkan tangannya ke dalam saku, bersamaan lengan tunggal Liu Khi telah memegang pula gagang golok yang tersoreng di pinggangnya, kemudian bentaknya, "Kau jangan mencoba melepas racun, sebelum datang kemari Liu Khi telah menelan pil anti bisa yang bisa menawarkan berbagai macam pengaruh racun."

Tangan kiri orang berbaju hijau itu masih tetap berada di dalam «aku, tak bergerak, katanya dingin, "Aku memang sudah tahu Liu Khi kebal terhadap aneka serangan racun, tentu saja aku tak akan berbuat debodoh ini dengan melepaskan racun terhadapmu."

 

Liu Khi tertawa dingin.

"Bila tangan kirimu meninggalkan saku, maka golokku akan lerlolos pula dari sarung!" ancamnya.

Tiba-tiba orang berbaju hijau itu memandang sekejap bintang yang bertebaran di angkasa, kemudian katanya pelan, "Liu Khi, aku ingin mengundangmu untuk membunuh orang. Bersediakah kau menerima orderku ini?"

"Sebelum Liu Khi menerima order, terlebih dulu harus kuketahui persoalan macam apakah itu, karenanya kau harus mengatakannya lebih dulu kepadaku siapa yang hendak kau bunuh?"

"Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng!" jawab orang berbaju hijau itu dengan suara hambar.

 

Liu Khi termenung beberapa saat, setelah itu baru berkata, "Sulit untuk membunuh Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng, rasanya kesulitan itu tidak di bawah Hek-mo-ong sendiri."

"Bagaimana pun juga kau adalah wakil ketua Kay-pang. Boleh dibilang siang malam kalian bergaul, kesempatanmu untuk membunuh amat banyak."

Liu Khi tertawa dingin, "Lantas berapa hendak kau bayar?"

"Aku akan membantumu merebut kursi ketua Kay-pang ditambah emas murni dan mutiara sepuluh laksa tahil."

"Apakah kau tak sanggup membayar lebih mahal lagi?" jengek Liu Khi sambil tertawa dingin.

 

Orang berbaju hijau memandang sekejap ke arahnya, kemudian baru sahutnya, "Untuk membunuh Tio Tian-seng, balas jasa apakah yang  kau kehendaki? Silakan kau utarakan sendiri."

Dengan muka sungguh-sungguh Liu Khi berkata, "Aku minta kitab pusaka Kui-hok-khi-liok Mi-tiong-bun."

 

Sekali lagi Bong Thian-gak terkejut mendengar ucapannya itu,  segera pikirnya, "Sebetulnya kitab pusaka macam apakah Kui-hok-khi-liok yang berada dalam sakuku sekarang? Mengapa mereka berusaha mendapatkannya?"  

Dalam pada itu orang berbaju hijau telah berkata pula dengan   j suara hambar, "Bila kau mendapatkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu, maka jangan harap kau bisa meloloskan diri dari pengejaran segenap jago Mi-tiong-bun. Mengapa kau mencari kesulitan bagi diri sendiri?"        '

 

Liu Khi tertawa misterius, "Bukankah kau sendiri pun sudah  menyadari bila merebut kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu, maka kau akan dikejar segenap jago lihai yang dikirim Mi-tiong-bun, tapi mengapa kau sendiri pun berusaha mendapatkannya?"         

"Sekarang aku mengajakmu membicarakan soal transaksi. Maaf, permintaanmu tidak dapat kuterima."

"Kalau begitu malam ini kita harus melangsungkan duel yang seru. Bilamana kau menganggap hal ini perlu, silakan saja segera turun tangan!"

"Aku tidak dapat membiarkan kau merampas kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, tentu saja barang harus diserahkan sendiri sebagai tanda jadi."

"Mengapa hingga sekarang kau belum juga turun tangan?" kata orang berbaju hijau itu.

"Aku sedang menunggu kesempatan baik."

"Selama hidup kau tak akan mendapatkan kesempatan baik itu!"

"Siapa bilang tidak?"

 

Tahu-tahu Liu Khi melolos golok.

Gerakannya sewaktu melolos golok cepat sekali, seperti sambaran petir, dalam keadaan begitu tak mungkin orang dapat meloloskan diri.

Mata golok secara langsung menyambar lambung orang berbaju hijau itu, serangannya gencar, dahsyat dan sangat mengerikan.

Tangan kiri si orang berbaju hijau yang selama ini disembunyikan di balik saku segera disapukan pula ke depan dengan kecepatan tinggi, ia sambut datangnya ancaman golok Liu Khi dengan kekerasan.

Tetapi mungkinkah ada orang di dunia yang sanggup menerima bacokan golok dengan sabetan tangan kosong?

Suara benturan keras memecah keheningan.

Tubuh Liu Khi seperti seekor bangau abu-abu langsung berkelebat menuju ke arah kiri.

Desingan angin tajam menderu, segulung angin pukulan yang amat kuat segera menyambar lewat dasar kaki Liu Khi.

 

Pertarungan yang berlangsung antara kedua orang itu sama-sama dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, tahu-tahu Liu Khi melayang turun, goloknya juga telah disarungkan kembali.

Sebaliknya orang berbaju hijau dengan tangan kosong masih tetap berdiri tegak di tempat.

Dari sorot mata kedua orang itu, mereka sama-sama terperanjat oleh ketangguhan lawan. Tanpa berkedip, mereka saling pandang.

Tiba-tiba Liu Khi berkata, "Senjata tajam apakah yang telah kau gunakan untuk menyambut bacokan golokku tadi?"

"Hanya sebuah sarung tangan!" jawab orang berbaju hijau dingin.

"Sebuah sarung tangan?" Liu Khi bertanya keheranan. "Ketajaman golokku tak akan bisa dibendung oleh senjata tajam macam apa pun di dunia ini, aku pikir sarung tanganmu itu tentu sudah robek bukan?"

"Betul, memang agak robek sedikit, itulah sebabnya kau dapat mengundurkan diri secara aman."

 

Liu Khi tertawa, "Seandainya kau berusaha mencengkeram mata golokku tadi, maka telapak tanganmu itu mungkin akan terpisah dengan tubuhmu."

"Liu Khi, kau sudah terkena pukulanku yang sangat lihai," kata orang berbaju hijau itu dingin.

Paras muka Liu Khi segera berubah hebat, katanya, "Tenaga pukulanmu itu sama sekali tak pernah mengenai tubuhku."

"Dalam kedua serangan yang aku lancarkan tadi, satu berwujud dan yang satu tak berwujud, kau dapat meloloskan diri dari serangan tangan kananku yang berwujud, tapi ketika kau melayang turun tadi, pukulanku yang tak berwujud telah menghajar tubuhmu secara telak, tenaga serangan ini aku lancarkan melalui tangan kiri, apabila kau tak percaya silakan saja mengatur pernapasanmu, rasakan sendiri apakah jalan darah Hian-koan-hiat di belakang pinggangmu terasa linu dan sakit atau tidak?"

 

Liu Khi termenung sejenak, "Sungguh amat lihai, ternyata aku memang benar-benar sudah termakan oleh serangan gelapmu, namun sayang kekuatannya tidak dapat membuatku terluka."

"Untuk sementara waktu aku masih belum ingin melukaimu, aku hanya berniat mendemonstrasikan kemampuanku yang lihai ini agar kau l tidak terlampau sombong dan takabur."

Liu Khi mendengus dingin, "Hm! Bersiaplah menyambut serangan: bacokanku yang kedua."

"Tunggu sebentar," tiba-tiba orang berbaju hijau itu membentak.

"Apalagi yang hendak kau katakan?"

"Bila kita bertarung sekali lagi, rasanya salah seorang di antara kita akan terluka, kau tidak punya keyakinan untuk bisa mengungguliku, demikian pula aku. Buat apa mesti bersikeras meneruskan pertarungan yang sama sekali tak ada gunanya ini?".

 

 

Liu Khi tersenyum, "Tapi aku tak bisa membiarkan kau merampas, kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu dengan gampang."

"Kalau kau menginginkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu, biarlah aku mengalah saja?"

Seusai berkata, mendadak orang berbaju hijau itu mengerahkan Ginkang dan segera berlalu dari situ.

Tampaknya Liu Khi sama sekali tidak menyangka orang berbaju hijau itu akan meninggalkan arena begitu saja, dia berdiri lama di tempat dengan wajah termangu-mangu, setelah tidak berhasil menemukan sesuatu gejala aneh, dia pun bergumam seorang diri, "Benarkah dia rela meninggalkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok begitu saja, hm ...."

Namun dalam waktu singkat di atas tanah pekuburan itu telah muncul kembali si orang berbaju hijau yang misterius tadi.

 

Orang berbaju hijau itu memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak serta Liu Khi, kemudian tertawa dingin penuh kelicikan dan perasaan bangga.

"Jian-ciat-suseng betul-betul jago muda persilatan, nyatanya si pembunuh bayaran pun tak dapat menghabisi nyawamu, sungguh mengagumkan."

Seusai berkata, kembali dia tertawa dingin tiada hentinya dengan suara menyeramkan.     

"Sebenarnya siapakah kau?" tegur Bong Thian-gak dengan nada suara dalam.

 

Berhubung orang berbaju hijau itu mengenakan topeng kulit manusia, maka tidak nampak perubahan wajahnya, dia balik bertanya, "Kalau menurut dugaanmu, siapakah aku?"

"Hek-mo-ong," sahut Bong Thian-gak setelah tertegun sejenak.

Orang berbaju hijau itu tertawa dingin, "Atas dasar apa kau menuduhku sebagai Hek-mo-ong?"

Bong Thian-gak tertegun dan tak dapat menjawab pertanyaan itu.

 

Tiba-tiba Liu Khi menimbrung sambil tertawa dingin, "Walaupun kau bukan Hek-mo-ong, namun termasuk salah seorang yang dicurigai sebagai Hek-mo-ong."

"Berapa banyak jago lihai dalam Kangouw yang dicurigai sebagai Hek-mo-ong?" tanya orang berbaju hijau itu.

"Ada beberapa orang yang dicurigai, rasanya tak usah ditanyakan lap,i kepadaku, kau sendiri jauh lebih jelas daripada siapa pun?"

"Kalau begitu, kau pun sudah tahu siapa diriku?" ucap orang itu dengan suara mengerikan.

"Ya, aku dapat menebak enam bagian."

"Kalau begitu, coba katakan siapakah diriku?"

 

Liu Khi termenung beberapa saat, kemudian sambil tertawa, terbahak-bahak, "Kau adalah si tabib sakti Gi Jian-cau."

Hati Bong Thian-gak bergetar keras, pikirnya, "Pesan terakhir Keng-tim Suthay memintaku membunuh Gi Jian-cau, mungkinkah Hek-mo-ong adalah jelmaan Gi Jian-cau?"

Sementara itu orang berbaju hijau itu sudah bertanya lagi dengan suara hambar, "Liu Khi, sudah pernahkah kau berjumpa dengan si tabib sakti Gi Jian-cau?"

"Delapan belas tahun berselang, kami pernah berjumpa satu kali," jawab Liu Khi sambil tertawa.

"Apakah kau masih ingat raut wajahnya?"

Kembali Liu Khi tertawa, "Sekalipun tubuhnya hancur menjadi abu, aku masih tetap dapat mengenalinya."

 

Tiba-tiba orang berbaju hijau itu melepas topeng kulit manusia yang melekat di wajahnya sehingga muncul wajahnya di hadapan Bong Thian-gak serta Liu Khi.

Begitu menjumpai paras muka orang itu, Bong Thian-gak segera berseru kaget, "Bukankah kau adalah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing?"

Orang berbaju hijau itu sama sekali tidak menggubris perkataan Bong Thian-gak, dengan suara dingin dan kaku kembali dia bertanya-kepada Liu Khi, "Coba kau tatap lagi wajahku dengan seksama, benarkah aku adalah Gi Jian-cau."

Selesai berkata, dia mengenakan kembali topeng kulit manusia itu.

 

Liu Khi termangu-mangu, kemudian ucapnya sambil menghela napas, "Ai, tidak kusangka dugaanku meleset."

"Liu Khi," kata orang berbaju hijau dengan suara dingin, "bila sekarang kutuduh kaulah Hek-mo-ong, apa yang hendak kau katakan?"

Liu Khi tertawa terbahak-bahak, "Apabila kau pernah berjumpa dengan bayangan iblis Hek-mo-ong, maka kau tidak akan menaruh curiga kepadaku."

"Apa maksudmu?"

"Karena Hek-mo-ong bukan seorang berlengan tunggal."

 

Tiba-tiba orang berbaju hijau itu mengalihkan sorot matanya ke wajah Bong Thian-gak, katanya, "Sekarang aku telah memperlihatkan raut wajah asliku, Si-hun-mo-li juga telah menelan pil Hui-hun-wan, tentunya kau dapat menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadaku saat ini bukan?"

Tak terlukiskan rasa kaget dan tercengang Bong Thian-gak, tanpa terasa ia berkata, "Darimana Tan-locianpwe bisa tahu dia telah menelan pil Hui-hun-wan?"

"Si-hun-mo-li sudah sekian lama kehilangan kesadaran dan kejernihan otaknya, keadaannya tak ubahnya patung kayu yang menurut saja perintah orang, tapi kenyataan sekarang dia dapat tertidur begitu nyenyak dan tak mau menuruti perintah orang lagi. Jelas dia telah diberi pil Hui-hun-wan."

 

"Tan-locianpwe," kembali Bong Thian-gak bertanya dengan nada tak mengerti, "ada suatu hal yang tidak kupahami, bagaimana caramu menemukan Si-hun-mo-li, apakah kau pun sudah bergabung dengan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau?"

Orang berbaju hijau itu tertawa dingin.

"Si-hun-mo-li tidak lebih cuma boneka, asal seseorang memahami ilmu pengendali sukma, maka ia dapat memerintah sekehendak hati kepada perempuan ini. Mengapa harus jadi anak buah Cong-kaucu lebih dulu baru memberi perintah kepadanya?"

 

Bong Thian-gak menggeleng kepala, ia berkata, "Gerak-gerik Tan-locianpwe benar-benar membuat aku bingung dan tidak mengerti."

Orang berbaju hijau itu tertawa dingin.

"Ingin kutanya padamu, sebenarnya kau ingin menyelamatkan Jiwa Si-hun-mo-li ataukah tetap mempertahankan kitab Kui-hok-khi-liok itu?"

"Bila aku punya cukup kemampuan, keduanya kuhendaki."

"Kalau begitu jangan salahkan bila aku turun tangan keji padamu."

"Tunggu sebentar,"  teriak Bong Thian-gak.  "Boanpwe ingin menanyakan satu hal lagi kepada Locianpwe."

"Persoalan apa? Cepat katakan."

"Boanpwe ingin tahu sebetulnya Locianpwe musuh atau sahabat?"

"Hm, musuh atau sahabat, kaulah yang menetapkan sendiri."

 

Kembali Bong Thian-gak menghela napas sedih, katanya lagi, "Sungguh tidak kusangka, bersusah payah Tio Tian-seng memancing kau muncul kembali dalam Kangouw, nyatanya perbuatan ini tak lebih cuma memancing harimau turun gunung."

"Aku tidak punya waktu untuk diam terus," tukas orang berbaju hijau itu dingin. "Sekarang aku telah menghimpun kekuatan di telapak tangan kananku yang telah siap kuhantamkan ke tubuh Si-hun-mo-li yang masih tertidur nyenyak di atas tanah. Apabila kau masih belum juga menyerahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadaku, terpaksa aku harus memusnahkan jiwanya lebih dulu sebelum membunuhmu."

 

Bong Thian-gak menghela napas, "Baiklah, akan kuserahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadamu."

Bong Thian-gak segera merogoh sakunya dan siap mengeluarkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu.

Tiba-tiba dari kejauhan sana terdengar suara bentakan nyaring, "Tunggu dulu, dia bukan Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing."

Sesosok bayangan yang ramping dan tinggi semampai bagaikan burung walet yang lincah mendekat dengan kecepatan luar biasa.

Di bawah cahaya bintang dan rembulan terlihat orang itu adalah gadis yang cantik, dia bukan lain adalah Biau-kosiu.

 

Bong Thian-gak memandang sekejap ke arahnya, lalu tanyanya, "Atas dasar apa nona mengatakan dia bukan Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing?"

Sementara itu si orang berbaju hijau telah menegur sambil tertawa dingin, "Kaukah si perempuan siluman rase dari wilayah Biau?"

Biau-kosiu tertawa merdu, "Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing yang asli telah tiba!"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, di tanah pekuburan itu telah muncul pula seorang Tosu berjenggot hitam.

 

Dengan seksama Bong Thian-gak mengawasi Tosu itu beberapa saat, ia tertegun dengan wajah melongo, sebab Tosu yang berada di hadapannya sekarang memang tak lain adalah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing yang pernah dijumpainya di kuil Sam-cing-koan tempo hari.

Tapi bukankah raut wajah asli si orang berbaju hijau tadi pun mirip Tan Sam-cing?

Dalam pada itu Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing hanya berdiri di kejauhan, tegurnya dengan suara lantang, "Sebenarnya siapakah kau? Mengapa memakai nama dan dandanan Pinto buat membohongi orang?"

 

Orang berbaju hijau itu tertawa dingin, "Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing belum pernah memasuki kuil Sam-cing-koan, justru aku yang hendak bertanya kepadamu, mengapa kau mencatut nama dan wajahku untuk menipu orang?"

Bong Thian-gak tertawa seraya menimbrung, "Kau bukan saja telah mencatut nama dan dandanan orang, bahkan wajah pun kau catut. Benar-benar menggelikan, untung aku sudah mengenali Tan Sam-cing Totiang lebih dulu sehingga dapat kubedakan mana yang asli dan yang gadungan."

"Jian-ciat-suseng," kata orang berbaju hijau itu dengan suara menyeramkan, "sejak kapan kau kenal Tan Sam-cing?"

 "Sejak kemarin."

"Dimana?"

"Dalam kuil Sam-cing-koan."

"Sebelum kau bertemu Tan Sam-cing, kenalkah kau dengan orang yang bernama Tan Sam-cing?"

"Aku hanya tahu kau adalah manusia keparat yang mencatut nama orang. Kenapa aku mesti banyak bicara denganmu?"

 

Mencorong hawa membunuh dari balik mata orang berbaju hijau itu, katanya, "Satu-satunya lambang Tan Sam-cing adalah kehebatan ilmu Pat-kiam-hui-hiang. Jian-ciat-suseng, apakah kau tak ingin melihatnya?"

"Mengapa tidak?" jawab Bong Thian-gak sambil tersenyum.

"Di dalam ujung bajuku terdapat delapan bilah pedang terbang, bila dilepaskan, kepala manusia tentu akan bergelindingan, selama ini belum pernah ada orang yang sanggup meloloskan diri."

"Biarpun harus mempertaruhkan nyawa, pasti akan kuiringi kemauanmu itu," jawab Bong Thian-gak cepat.

 

Mendadak terdengar Liu Khi membentak keras, "Tunggu sebentar, Bong-laute."

Bong Thian-gak masih tetap duduk bersila di atas tanah, dia memandang sekejap ke arah Liu Khi, kemudian tanyanya, "Ada urusan apa, Liu-sianseng?"

Liu Khi tertawa, "Bong-laute, siapakah di antara mereka berdua adalah Tan Sam-cing yang asli, apa pula hubungannya dengan kita? Jika ingin dibuktikan siapa yang palsu, biar saja urusan itu diselesaikan mereka sendiri."

 

Mendengar ucapan itu, hati Bong Thian-gak bergetar keras, segera pikirnya, "Betul juga apa yang diucapkan Liu Khi. Mengapa aku begini bodoh mencampuri urusan orang?"

Tiba-tiba terdengar orang berbaju hijau itu menjengek, "Jian-ciat-suseng, apakah kau hendak menarik kembali tantanganmu itu?"

 "Ya, bisa saja kutarik kembali," jawab Bong Thian-gak. Tiba-tiba terdengar Biau-kosiu mendengus sambil mengejek hina, "Huh, tak punya semangat. Kalau begitu aku telah salah menilai dirimu."

Merah padam wajah Bong Thian-gak, ia segera terbungkam. Sam-cing Totiang yang berada di sisinya cepat menimbrung pula sambil tertawa dingin, "Nona Biau, cepat kau minta kembali kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu dari tangannya, Jian-ciat-suseng bukan seorang yang dapat dipercaya lagi."

 

Tiba-tiba Bong Thian-gak tertawa keras, kemudian katanya, "Nona Biau, dengar baik-baik. Aku bersedia memenuhi permintaanmu pergi mengambilkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok ini lantaran aku ingin membalas budi kebaikanmu beberapa hari berselang. Sekarang harap kau terima kembali kitab pusaka Kui-hok-khi-liok secepatnya, sehingga aku tak berhutang apa-apa lagi kepadamu."

Lantas Bong Thian-gak merogoh sakunya dan mengeluarkan bungkusan kain hijau yang berisi kitab pusaka Kui-hok-khi-liok.

 

Tiba-tiba seseorang berkelebat, tahu-tahu orang berbaju hijau itu sudah mendesak maju dan menghadang di depan Bong Thian-gak, kemudian bentaknya, "Barang siapa berani maju untuk menerima kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, dia harus merasakan dulu pedang terbangku."

"Benarkah di balik ujung bajumu itu tersimpan pedang terbang?" tanya Bong Thian-gak tertegun.

Orang berbaju hijau itu melirik ke arah Bong Thian-gak, jawabnya, "Apakah kau masih belum percaya aku adalah Pat-kiam-hui-hiang?"

Bong Thian-gak tersenyum.

"Dunia persilatan yang penuh tipu-daya yang licik dan berbahaya, memang sulit bagi orang untuk mempercayai."

"Bila begitu aku perlu beritahukan kepada kalian, Tosu di hadapan kalian sebetulnya adalah Hek-mo-ong."

 

Sam-cing Totiang tergelak, "Ngaco-belo, Pinto sudah puluhan tahun mengasingkan diri dari keramaian dunia, sungguh tak disangka kemunculanku kembali ke dunia Kangouw ternyata harus bertemu orang edan yang mencatut namaku."

Dengan suara mengerikan orang berbaju hijau itu tertawa dingin tiada hentinya, ia berkata, "Oh, jadi kau mengaku sebagai Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing. Tentunya kau pun pandai mempergunakan pedang terbang bukan?"

"Tentu saja dapat," jengek Sam-cing Totiang.

"Ilmu pedang terbang Tan Sam-cing amat termasyhur di kolong langit, aku tidak percaya kau sanggup mempelajari ilmu silat yang amat tangguh ini."

Sambil berkata orang itu menggetarkan ujung baju kirinya. Sejalur cahaya putih bagaikan sambaran petir segera meluncur ke muka.

Cahaya putih itu langsung melesat ke udara dan menyambar Sam-cing Totiang yang berdiri di hadapannya.

 

Sam-cing Totiang segera melompat ke belakang, di tengah udara ia mengebaskan pula ujung bajunya sehingga muncul pula cahaya putih menyongsong datangnya sambaran cahaya putih orang berbaju hijau itu.

Suara benturan nyaring berkumandang, kedua jalur cahaya putih saling tumbuk, setelah berputar satu lingkaran, kedua jalur cahaya putih itu terbang kembali ke dalam genggaman orang berbaju hijau serta Sam-cing Totiang.

Demonstrasi ilmu pedang terbang yang sangat hebat dan luar biasa ini membuat para jago membuka mata lebar-lebar.

 

Dengan jelas Bong Thian-gak melihat senjata dalam genggaman orang berbaju hijau adalah pedang kecil setipis daun yang panjangnya hanya tiga inci.

Sebaliknya senjata dalam genggaman Sam-cing Totiang berupa sebilah pedang kecil yang memancarkan cahaya putih.

Sambil tertawa dingin orang berbaju hijau itu segera berkata, "Kepandaianmu memang amat sempurna, tak nyana kau mampu memukul mundur pedang terbangku."

Sam-cing Totiang tertawa, "Aku pun tidak mengira kau benar-benar telah melatih ilmu pedang terbang."

"Mengapa kau tidak ingin mencoba ketujuh pedang yang lain?" tantang orang berbaju hijau itu dingin.

"Berapa pun jumlah pedang terbang yang kau miliki, silakan saja digunakan semua."

"Silakan kau maju ke depan untuk mencoba kepandaianku ini."

"Mengapa bukan kau saja yang maju?"

"Hm, kau anggap aku tak mampu?"

 

Kali ini orang berbaju hijau itu menerjang ke depan bagaikan burung rajawali sakti.

Baru saja tubuhnya menerjang ke muka, cahaya putih secara beruntun meluncur ke depan menimbulkan desingan tajam.

Sam-cing Totiang melejit ke tengah udara, dari tangannya nampak pula cahaya putih berkelebat ke depan dengan kecepatan tinggi.

Di tengah dentingan nyaring, terdengar suara orang mendengus tertahan.

Dari tengah udara tampak sesosok bayangan roboh ke atas tanah, ternyata orang itu adalah Sam-cing Totiang.

 

Pada saat bersamaan orang berbaju hijau itu melayang turun ke sisi Bong Thian-gak.

Ternyata bahu kiri Sam-cing Totiang telah tertancap pedang kecil, waktu pedang itu dicabut, darah kental segera memercik membasahi seluruh tubuhnya.

Paras muka orang berbaju hijau yang tertutup topeng kulit manusia sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa pun, malah ujarnya, "Hek-mo-ong, ilmu pedang terbangmu masih kalah setingkat. Hm, sebenarnya kau dapat melepas paku tengkorakmu tadi untuk merenggut nyawaku, mengapa kau tidak berbuat demikian?"

 

Paras muka Sam-cing Totiang berubah hijau membesi, sesudah tertawa dingin ia berkata, "Aku tidak mengerti apa maksudmu?"

"Kau seharusnya mengakui dirimu sebagai Hek-mo-ong, bukan Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing."

Sam-cing Totiang kembali tertawa seram, "Bila aku benar-benar Hek-mo-ong, maka sulit bagimu untuk hidup lewat tiga hari lagi."

"Bila kau berharap bisa mendapatkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok malam ini, maka kau harus memperlihatkan wujud aslimu sebagai Hek-mo-ong, dan melangsungkan pertarungan berdarah. Siapa tahu hal ini akan membuatmu berhasil mendapatkan kitab itu?"

 

Sementara dia berbicara, tiba-tiba Biau-kosiu berjalan menuju ke belakang punggung Bong Thian-gak, kemudian tangannya berkelebat ke depan menyambar kitab pusaka Kui-hok-khi-liok dalam genggaman anak muda itu.

Orang berbaju hijau segera membentak, "Jian-ciat-suseng, jangan kau serahkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepadanya."

Kembali orang berbaju hijau mengebaskan ujung bajunya, sebilah pedang segera melesat ke udara dan langsung menyambar pergelangan tangan Biau-kosiu.

Sesungguhnya sedari tadi Bong Thian-gak memang sudah berniat mengembalikan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok itu kepada Biau-kosiu, bukan saja ia tidak berusaha menghindar, malahan tangan tunggalnya didorong ke depan dan dengan cepat menarik kitab pusaka itu.

Menyusul ia memutar pergelangan tangannya, lalu menjepit pedang kecil yang menyambar datang itu dengan jepitan jari tengah dan telunjuknya.

 

Ketika melepas pedang kecil tadi, orang berbaju hijau menerjang pula ke depan, telapak tangan kanannya langsung menghantam Biau-kosiu.

Setelah berhasil mendapatkan kitab pusaka Kui-hok-khi-liok, dengan cekatan Biau-kosiu melompat mundur, gerakan tubuh nona itu benar-benar cepat, sekalipun jurus serangan yang digunakan orang berbaju hijau itu amat cepat dan luar biasa, akan tetapi ancaman itu segera mengenai tempat kosong.

Orang berbaju hijau mendengus dingin, "Hm, mau kabur kemana kau?"

Berbareng dia meluncur ke depan melakukan pengejaran.

 

Bong Thian-gak cukup tahu betapa lihainya kepandaian silat orang berbaju hijau, karena kuatir Biau-kosiu tidak berhasil meloloskan diri dari pengejaran, maka segera teriaknya, "Silakan kau menerima kembali pedang kecilmu!"

Bong Thian-gak segera menyambitkan pedang kecil yang dijepit jari tangannya itu ke arah lawan dengan kekuatan luar biasa.

Mau tak mau orang berbaju hijau harus menghentikan langkah untuk membalikkan badan dan menyambut datangnya serangan pedang kecil itu.

Lantaran terhadang sejenak itulah untuk kedua kalinya Biau-kosiu melejit ke udara, dalam waktu singkat dia telah berada di kejauhan.

 

Orang itu sangat mendongkol, sambil mendengus dingin katanya, "Jian-ciat-suseng, aku benar-benar sangat membencimu. Suatu ketika aku akan mencincang tubuhmu hingga hancur guna melampiaskan rasa benciku ini."

Setelah berteriak penuh amarah, dia menjelit ke udara melakukan pengejaran.

Dalam waktu singkat bayangan tubuh Biau-kosiu dan orang berbaju hijau lenyap dari pandangan.

Sementara itu Sam-cing Totiang yang berdiri di hadapan mereka memandang sekejap ke arah Liu Khi dan Bong Thian-gak, kemudian setelah tertawa dingin dia pun membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

 

Suasana di tanah pekuburan kembali hening, Bong Thian-gak serta Liu Khi duduk bersila di atas tanah dan mengatur pernapasan.

Beberapa saat kemudian terdengar Liu Khi berkata, "Bong-laute, dapatkah kau menunjukkan siapa di antara mereka berdua adalah Tan Sam-cing yang asli?"

"Tentu saja Totiang itu, dialah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing yang asli," jawab Bong Thian-gak dengan suara lantang.

 

Liu Khi menggeleng berulang kali.

"Dugaan Bong-laute keliru besar, padahal orang berbaju hijau itulah Tan Sam-cing yang asli."

"Sewaktu masih berada di dalam kuil Sam-cing-koan, aku pernah berjumpa Tan Sam-cing Locianpwe. Sam-cing Totiang adalah ketua Sam-cing-koan, yang nama aslinya adalah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing!"

Sekali lagi Liu Khi menghela napas panjang, "Andaikata Tojin itu adalah Pat-kiam-hui-hiang yang asli, maka ilmu pedang terbangnya tak nanti lebih lemah daripada kemampuan orang berbaju hijau itu. Dari pertarungan ilmu pedang terbang yang barusan mereka lakukan, terbukti kepandaian silat Tojin itu masih kalah setengah tingkat."

"Liu-sianseng, pernahkah kau berjumpa Tan Sam-cing?"

"Aku rasa di kolong langit dewasa ini, hanya Tio Tian-seng seorang yang pernah berjumpa Tan Sam-cing. Oleh sebab itu, hanya dia seorang yang mengetahui siapakah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing yang sebenarnya."

"Kita kan bisa mencari Tio-pangcu untuk memecahkan teka-teki ini."

"Apakah Bong-laute mengetahui Tio Tian-seng berada dimana sekarang?" tanya Liu Khi sambil tersenyum.

"Tio-pangcu berada di rumah penginapan Ban-heng di dalam kota Lok-yang."

 

Tiba-tiba Liu Khi menghela napas panjang, katanya, "Bong-laute, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan padamu, pernahkah Tio Tian-seng menyinggung persoalan yang menyangkut diriku?"

Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya, Bong Thian-gak berpikir, "Apakah aku harus berkata terus terang kepadanya bahwa Tio Tian-seng telah menaruh curiga kepadanya?"

Bong Thian-gak pun menggeleng kepala seraya berkata, "Tidak pernah ... cuma aku rasa sikap Liu Khi terhadap Tio Tian-seng Pangcu seperti kurang terbuka dan jujur."

 

Liu Khi tertawa dingin, "Bong-laute, tahukah kau di dunia persilatan dewasa ini terdapat beberapa orang yang dulunya pernah saling sebut sebagai saudara dan bergaul sangat akrab, tapi lantaran sebuah teka-teki, mereka justru saling bermusuhan dan adu kepintaran."

"Lantaran teka-teki apakah itu?"

 

Liu Khi menghela napas sedih, "Ai, soal teka-teki itu sebenarnya menyangkut nama baik beberapa tokoh yang amat termasyhur, oleh sebab itu siapa saja tidak ingin mengungkap teka-teki itu secara terbuka, namun setiap orang justru berdaya upaya dengan segenap kemampuan untuk mencari jawaban teka-teki itu."

"Oh, dengan cara apakah kalian hendak mencari?"

"Asalkan kita berhasil menemukan jejak Hek-mo-ong, maka teka-teki itu akan terungkap dengan sendirinya."

 

Bong Thian-gak mengerut dahi, kemudian bertanya lagi, "Apakah Liu-sianseng juga belum berhasil menemukan jejak Hek-mo-ong?"

Liu Khi menggeleng.

"Belum! Namun aku sudah menyelidiki setiap orang yang aku curigai sebagai Hek-mo-ong."

"Dapatkah Liu-sianseng mengungkapkan siapa saja yang kau curigai sebagai Hek-mo-ong?"

"Boleh saja."

"Kalau begitu harap kau suka bicara!"

 

Liu Khi menarik napas panjang, kemudian katanya, "Dari mereka yang aku curigai termasuk juga mereka yang telah mati, semuanya berjumlah sembilan orang."

Bong Thian-gak tertegun, diam-diam pikirnya, "Sam-cing Totiang dan Tio Tian-seng, keduanya mengatakan ada empat orang yang patut dicurigai, sedangkah Liu Khi mengatakan ada sembilan. Sebenarnya siapa saja kesembilan orang itu?"

 

Liu Khi berhenti sejenak, kemudian sambungnya, "Yang sudah menjadi almarhum ada tiga orang ... mereka adalah pendeta sakti dari Siau-lim-pay Ku-lo Hwesio, Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu serta ketua perguruan Mi-tiong-bun, Kui-kok Sianseng."

Begitu mendengar ketiga nama itu, paras muka Bong Thian-gak berubah hebat, katanya, "Berdasar apa Liu-sianseng mencurigai mereka?"

 

Liu Khi menghela napas panjang, kemudian katanya, "Aku tahu Ku-lo Hwesio dan Oh Ciong-hu adalah mendiang gurumu, tapi kau pun harus tahu, aku tidak bermaksud menodai nama baik mereka. Ai, aku mencurigai mereka bertiga sebagai Hek-mo-ong, bukan asal mencurigai saja, tapi berdasarkan bukti dan data-data yang berhasil kukumpulkan."

"Dapatkah Liu-sianseng menjelaskan bukti-bukti yang berhasil kau kumpulkan itu?"

 

Liu Khi tertawa dingin, "Apabila kuungkap bukti-bukti yang berhasil kukumpulkan itu, maka hal ini akan semakin menjatuhkan nama baik mereka ke lembah kenistaan."

"Bila Liu-sianseng tidak mengungkapkan buktinya, mana kau boleh menuduh dan menodai nama baik seseorang begitu saja? Biarpun Ku-lo Hwesio dan Oh Bengcu telah meninggal dunia, namun kebajikan dan kebaikan yang pernah mereka perbuat selama hidup dulu, bukanlah bisa diputar-balikkan oleh sembarang orang dengan seenaknya sendiri."

 

Paras muka Liu Khi berubah hebat, katanya pula, "Bong-laute, tahukah kau, badai pembunuhan yang melanda dunia persilatan selama enam puluh tahun terakhir ini disebabkan apa?"

"Silakan Liu-sianseng memberi keterangan."

"Singkatnya saja, biang-keladi kekacauan dan malapetaka ini sesungguhnya seorang wanita."

"Seorang wanita?" tanya Bong Thian-gak terkejut. "Siapakah dia?"

"Dia tak lain adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau yang sedang merajalela saat ini."

 

"Dia?" Bong Thian-gak semakin terperanjat. "Bukankah dia..”

Bong Thian-gak seakan-akan telah memahami suatu persoalan. Dan persoalan itu seperti pula apa yang dikatakan Liu Khi, bilamana diterangkan sejelas-jelasnya, maka hal itu akan merugikan dan menodai nama baik banyak jago-jago persilatan.

 

Liu Khi menengok sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya pula, "Semasa hidupnya dulu, Ku-lo Hwesio, Oh Ciong-hu serta Kui-kok Sianseng mempunyai hubungan gelap dengan perempuan itu, bahkan luar biasa mesranya. Itulah sebabnya apa yang kukatakan bukan cuma isapan jempol."

Bong Thian-gak sangat terkejut, juga bingung dan tidak habis mengerti.

Sebenarnya perempuan macam apakah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau ini?

 

Dengan cara apakah dia telah membuat dunia Kangouw menjadi kalut dan tidak tenang?

Bagaimana pula ia membuat para orang gagah mengorbankan jiwa baginya dan ribut karena dirinya?

Walaupun pada saat ini banyak persoalan yang ingin ditanyakan Bong Thian-gak, akan tetapi dia tak berani mengutarakan, maka setelah termenung lama sekali, akhirnya dia bertanya, "Selain ketiga orang itu, siapakah keenam orang lainnya?"

"Dari keenam orang itu, dua di antaranya sampai sekarang masih belum diketahui nasib dan mati hidupnya."

"Siapakah kedua orang itu?"

"Song-ciu suami-istri."

Bong Thian-gak berkerut kening, "Song-ciu suami-istri? Belum pernah kudengar nama orang ini."

 

Liu Khi segera tersenyum, "Sesungguhnya Song-ciu suami-istri memang amat jarang melakukan perjalanan dalam Kangouw. Tapi sejak puluhan tahun berselang, Song-ciu suami-istri adalah dua orang jago lihai yang tidak boleh dianggap enteng."

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, "Tatkala Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng merajai kolong langit, dia berhasil mencantumkan nama besarnya dalam urutan sepuluh orang jago paling tangguh waktu itu, Song-ciu suami-istri pun tercantum namanya di antara kesepuluh orang jago lihai ini."

"Siapa sajakah kesepuluh jago lihai itu?" tanya Bong Thian-gak.

 

"Kesepuluh jago itu adalah Kui-kok Sianseng ketua perguruan Mi-tiong-bun, Liong Oh-im, Ku-lo Hwesio, Oh Ciong-hu, Song-ciu suami-istri, Gi Jian-cau, Tan Sam-cing, perempuan paling cantik di daerah Kanglam Ho Lan-hiang dan aku Liu Khi."

 

Tiba-tiba Bong Thian-gak berseru tertahan, kemudian tanyanya, "Perempuan paling cantik dari wilayah Kanglam Ho Lan-hiang? Apakah dia adalah kakak sepeguruan mendiang guruku Oh Ciong-hu?"

Liu Khi memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian sahutnya, "Benar, Ho Lan-hiang memang berasal satu perguruan dengan Oh Ciong-hu."

"Tahukah Liu-sianseng akan jejaknya saat ini?" tanya Bong Thian-gak lagi.

Liu Khi termenung, jawabnya, "Tentu saja aku tahu jelas jejaknya, namun aku pun telah berjanji kepadanya takkan membocorkan rahasia ini. Jadi harap Bong-laute sudi memaafkan."

 

Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak, gumamnya lirih, "Ya, aku tahu sekarang ... aku sudah tahu siapakah orang itu."

Paras muka Liu Khi berubah pula, serentak dia melompat bangun dari atas tanah, katanya, "Apakah Bong-laute masih ada perkataan lain yang hendak ditanyakan kepadaku? Kalau tidak ada, untuk sementara waktu aku hendak mohon diri lebih dahulu."

Bong Thian-gak menghela napas sedih, kemudian katanya, ."Harap Liu-sianseng sudi menerangkan padaku, siapa empat orang lainnya?"

"Keempat orang itu adalah Tan Sam-cing, Tio Tian-seng, Gi Jian-cau serta Liong Oh-im."

"Tahukah Liu-sianseng di antara mereka yang dicurigai, siapakah di antaranya yang paling dicurigai?"

 

Liu Khi menghela napas panjang, "Ai, setiap orang mempunyai kemungkinan sebagai Hek-mo-ong, di antara mereka pun setiap saat akan mencurigai diriku pula."

"Bukankah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau mengetahui siapakah Hek-mo-ong? Mengapa kalian tidak mencarinya dan ditanyakan saja kepada perempuan itu?" kata Bong Thian-gak sambil menghela napas panjang pula.

Liu Khi menggeleng, "Dia sendiri pun tidak mengetahui siapakah Hek-mo-ong."

"Liu-sianseng tak berbohong?"

 

Liu Khi tertawa, "Masih ingatkah Bong-laute akan perkataan si orang berbaju hijau yang mengatakan aku adalah seorang pembunuh bayaran?"

Bong Thian-gak tertegun, kemudian menjawab, "Ya, pekerjaan Liu-sianseng memang mengerikan. Entah siapa orang yang mengundangmu untuk membunuh Hek-mo-ong?"

"Orang itu tidak lain adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau," jawab Liu Khi tersenyum.

 

Sekali lagi Bong Thian-gak dibuat tertegun, ujarnya, "Liu-sianseng, apa yang kau bicarakan pada malam ini sungguh membuat orang semakin kebingungan."

"Dendam kesumat yang berkobar dalam Bu-lim dewasa ini pada hakikatnya memang merupakan persoalan yang sangat rumit dan tidak dapat dipahami orang begitu saja. Barang siapa di antara jago persilatan yang melibatkan diri dalam kancah budi dan dendam itu, maka keadaannya tak ubahnya seperti sukma gentayangan tanpa tujuan atau boneka tanpa nyawa."

 

Sampai di situ mendadak perkataannya terhenti, dengan wajah diliputi perasaan kaget dan ngeri, katanya, "Bong-laute, pembicaraan kita hari ini hanya sampai di sini saja, sampai jumpa lain kesempatan."

Selesai berkata, Liu Khi membalikkan tubuh dan beranjak pergi dengan kecepatan tinggi.

Sebenarnya Bong Thian-gak hendak menahan kepergian Liu Khi, dia ingin menanyakan berbagai masalah yang masih tidak dipahami olehnya, akan tetapi gerakan Liu Khi benar-benar cepat sekali, hanya dengan beberapa kali lompatan saja bayangannya sudah lenyap dari pandangan mata.

 

Bong Thian-gak memandang sekeliling tempat itu, tanah pekuburan terasa sepi.

Di tempat yang begitu hening dan menyeramkan itu, selain dia serta Thay-kun yang masih berbaring di atas tanah tertidur pulas, tiada manusia ketiga yang berada di situ.

Pelan-pelan Bong Thian-gak berdiri, kemudian berjalan menuju ke sisi Si-hun-mo-li, kemudian setelah menghela napas sedih, dia pun duduk bersila di sampingnya.

Walaupun Si-hun-mo-li telah menelan pil Hui-hun-wan, namun Bong Thian-gak masih tetap menguatirkan apakah perempuan itu dapat sadar atau tidak?

 

Malam begitu kelam, namun Bong Thian-gak dengan pandangan kuatir masih saja mengamati wajah Thay-kun tanpa berkedip, dia benar-benar merasa sangat resah dan bingung.

Dari berbagai bukti yang berhasil dikumpulkan, Bong Thian-gak telah berhasil menebak siapa gerangan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.

Orang itu besar kemungkinan adalah perempuan paling cantik di wilayah Kanglam Ho Lan-hiang adanya.

 

Namun Bong Thian-gak masih tetap tidak mengerti tentang budi dendam dan perselisihan yang berlangsung selama ini, sesungguhnya siapakah yang menjadi dalang peristiwa itu? Ho Lan-hiang? Atau Hek-mo-ong? Siapa pula Hek-mo-ong?

Dari ucapan Liu Khi tadi, Tio Tian-seng termasuk juga kesepuluh orang yang kemungkinan adalah Hek-mo-ong.

Mendadak suara rintih yang lirih memotong jalan pikiran Bong Thian-gak yang bergelombang tidak menentu itu.

Dengan perasaan tegang Bong Thian-gak segera mengalihkan sorot matanya ke depan.

 

Dia lihat mata Si-hun-mo-li yang terpejam mulai bergerak-gerak, kemudian terbuka lebar.

Kejut dan gembira Bong Thian-gak, segera ia berseru, "Thay-kun ... Thay-kun

Setelah membuka mata, paras muka Si-hun-mo-li diliputi perasaan bingung dan bimbang. Pelan-pelan dia menekuk pinggang dan duduk, sementara sorot matanya dialihkan memandang sekeliling tempat itu, akhirnya berhenti di depan Bong Thian-gak dan mengamatinya lekat-lekat.

Bong Thian-gak kembali berseru, "Thay-kun ... Thay-kun! Sudah sadarkah perasaan dan pikiranmu?"

 

Paras muka Si-hun-mo-li kelihatan begitu tenang dan hambar, sulit rasanya membedakan apakah dia sedang gembira, gusar, sedih atau senang.

Dengan pandangan tenang dia mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip, sementara mulut tetap membungkam.

Bong Thian-gak yang menyaksikan mimik wajah perempuan itu, dalam hati membatin, "Ya benar, untuk beberapa saat lamanya kesadaran dan kejernihan pikirannya belum dapat dipulihkan secara keseluruhan."

 

Berpikir demikian, dengan suara rendah Bong Thian-gak berseru, "Thay-kun masih kenalkah kau pada diriku? Aku ... aku adalah Bong Thian-gak."

Paras muka Si-hun-mo-li nampak agak berubah, akhirnya muncul juga kata-katanya yang pertama, "Mengapa aku bisa berada di sini? Kaukah yang telah menolongku?"

Bong Thian-gak benar-benar merasa gembira, sambil melompat kegirangan, serunya, "Thay-kun, kau benar-benar telah pulih."

Sambil berkata, tanpa terasa pemuda itu maju ke muka dan berusaha memeluk gadis itu.

 

Belum sempat ia memeluk perempuan itu, Si-hun-mo-li telah merentang tangan dan menangkis lengan pemuda itu, kemudian tegurnya dengan dingin, "Aku harap kau sedikit sopan, aku tidak kenal padamu!"

Bong Thian-gak terbahak-bahak, "Benar, kau tidak mengenal aku, tapi tentunya kenal orang yang bernama Ko Hong bukan."

 

Kemudian Bong Thian-gak berjalan menuju ke sebuah kuburan dan membungkukkan badan untuk memungut Pek-hiat-kiam yang disampuk mencelat oleh orang berbaju hijau tadi.

Kemudian dia membalikkan badan berjalan ke hadapan Si-hun-mo-li, pelan-pelan ujarnya, "Thay-kun, mungkin kau pun bisa mengenali pedang ini?"

 

Tiga tahun enam-tujuh bulan, meski tidak terhitung panjang, namun bukan waktu yang teramat singkat pula. Selama itu dia selalu hidup dalam suasana terpengaruh pikiran dan kesadarannya, selama ini seperti mayat berjalan yang tidak berpikiran, perasaan dan sukma.

Dalam ingatan Thay-kun, dia hanya tahu pada tiga tahun berselang dirinya jatuh ke tangan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, sedang mengenai perbuatan yang telah dilakukannya sejak menjadi Si-hun-mo-li dia sama sekali tidak mengetahuinya.

 

Dia bagaikan baru mendusin dari impian panjang dan tidurnya kali ini mencapai tiga tahun tujuh bulan.

Setelah mendusin dari tidurnya, segala kejadian sebelum ia tertidur segera teringat kembali, sudah barang tentu Pek-hiat-kiam pun sangat dikenal Thay-kun.

Pedang itu dibuat olehnya bersama Keng-tim Suthay dengan membuang waktu selama satu tahun dan bahan obat yang tak terhitung jumlahnya. Pedang itu merupakan tanda kepercayaan Hiat-kiam-bun ... Pek-hiat-kiam. Mengapa pedang itu bisa jatuh ke tangan pemuda berlengan tunggal ini?

 

Thay-kun mengerut dahi sambil secara diam-diam menghimpun tenaga dalam ke dalam telapak tangan, tegurnya dengan suara dingin, "Pedang itu adalah Pek-hiat-kiam, darimana kau peroleh senjata itu?"

Melihat perempuan itu dapat menyebut pedang itu, Bong Thian-gak segera tahu perempuan itu telah memperoleh kembali pikiran serta kesadarannya, maka dengan penuh gembira dia berseru, "Thay-kun, aku adalah Ko Hong!"

"Ko Hong?"

Nama itu berputar tiada hentinya dalam benak perempuan itu, bayangan tubuh, nada suara, Thay-kun begitu mengenalnya.

Namun dalam pikiran Thay-kun, orang bernama Ko Hong sudah meninggal dunia.

Lagi pula raut wajah Bong Thian-gak sekarang sama sekali tidak mirip dengan wajah Ko Hong di masa lalu.

 

Oleh sebab itu muncul sinar bimbang dari balik mata Thay-kun, ia menggeleng kepala, kemudian berkata, "Kau bukan Ko Hong, Ko Hong telah mati."

"Benar, diriku yang sekarang bukan Ko Hong, aku adalah Bong Thian-gak," seru pemuda itu penuh emosi. "Oh Thay-kun, tahukah kau sejak menelan pil penghilang sukma, kau telah kehilangan pikiran dan kesadaranmu selama tiga tahun tujuh bulan."

Paras muka Thay-kun berubah hebat, serunya tertahan, "Kau mengatakan aku telah menelan pil pelenyap sukma?"

Bagaikan orang menggigau, dia bergumam, "Benar, aku memang menyaksikan Suhu memasukkan pil pelenyap sukma ke mulutku."

Kemudian setelah menghela napas sedih, Thay-kun kembali bertanya, "Siapakah kau? Mengapa kau menyelamatkan aku?"

 

Kembali Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Thay-kun, masih ingatkah kau peristiwa pada tiga tahun berselang, ketika kau bersama Ko Hong pergi ke kaki bukit Cui-im-hong di luar kota Lok-yang untuk mencari si tabib sakti Gi Jian-cau?"

"Aku adalah Ko Hong, nama itu adalah nama samaranku. Pada waktu itu raut wajahku telah kuubah dengan obat penyaru muka, sebab itu saat ini kau tak kenal aku lagi, namun kau bisa memeriksa diriku dari sorot mata dan bentuk tubuhku. Coba pandanglah, apakah mirip dengan Ko Hong di masa lalu?"

 

Sejak tadi Thay-kun mengawasi Bong Thian-gak dari atas kepala hingga ujung kaki, dia seakan sedang mengumpulkan kembali kenangannya di masa lalu.

Akhirnya perempuan itu menghela napas sedih, lalu berkata, "Kau telah kehilangan sebuah lenganmu, nada suaramu juga berubah lebih tua."

Ketika berbicara sampai di sini, air mata yang sudah mengembeng sejak tadi segera jatuh bercucuran membasahi pipinya yang halus.

Dengan suara lirih Bong Thian-gak berkata, "Sumoay, sudah kau kenali diriku?"

"Oh, Suheng," sahut Thay-kun sedih.

 

Ia segera menubruk ke dalam pelukan Bong Thian-gak dan menangis tersedu-sedu.

Dengan lengan tunggalnya Bong Thian-gak merangkul perempuan itu, kemudian bisiknya, "Thay-kun, menangislah sepuas hatimu. Selama tiga tahun tujuh bulan sudah banyak persoalan yang kita alami."

"Oh Suheng, aku bukan sedih, aku merasa gembira, tak kusangka kau masih hidup. Ketika Cong-kaucu mengatakan kau sudah mati, waktu itu hatiku benar-benar hancur-lebur karena sedih."

"Ya, tiga tahun berselang aku memang nyaris mati konyol, hampir saja aku tak bisa hidup lagi," Bong Thian-gak menghela napas sedih.

 

Mendadak Thay-kun menghentikan isak-tangisnya, kemudian bertanya, "Dengan cara apakah kau berhasil selamat, bersediakah kau memberitahukan segala sesuatunya kepadaku?"

"Tentu saja aku akan menceritakan semua itu kepadamu. Mari kita duduk dulu sebelum bicara!"

Kedua orang itu segera duduk berjajar di atas pagar pekarangan tanah pekuburan itu. Di situlah Bong Thian-gak mengisahkan semua penderitaan dan pengalaman yang dialaminya selama tiga tahun tujuh bulan ini.

Kemudian ia menceritakan pula semua perubahan yang telah menimpa dunia persilatan selama ini.

 

Sebab dia tahu Thay-kun tentu merasa amat asing terhadap situasi tiga tahun terakhir ini.

Ketika selesai mendengar penuturan itu, dengan sedih dan murung Thay-kun menghela napas panjang, katanya kemudian, "Semua itu benar-benar seperti alam impian, tapi setelah mendusin, segala sesuatunya hanya tinggal kesedihan dan kemurungan. Ai, dunia begini luas, kemana aku harus pergi selanjutnya?"

Entah apa yang sedang dirasakan olehnya, nada suaranya begitu sedih sehingga membuat siapa pun merasa pedih setelah mendengar ucapannya.

 

Bong Thian-gak memeluk pinggang perempuan itu, lalu bisiknya,-"Thay-kun, aku pasti akan membantu., selamanya akan membantumu menciptakan karya besar dalam Bu-lim."

Thay-kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu dengan air mata bercucuran ia berkata sedih, "Ambisiku untuk menjagoi dunia Kangouw kini sudah lenyap, dalam hati sekarang aku sudah tidak memiliki ambisi semacam itu."

Hati Bong Thian-gak bergetar keras, katanya, "Thay-kun, sekarang kau sudah memperoleh kebebasan, sepantasnya kau sambut kebebasan ini dengan hati gembira. Mengapa kau ...."

Thay-kun tertawa pedih, ujarnya, "Suheng, aku ingin memberitahu satu hal padamu, Thay-kun adalah seorang perempuan. Baginya yang terpenting adalah kesucian, dia berharap dapat mempersembahkan kesuciannya untuk orang yang dicintainya."

"Tapi sekarang dia telah menjadi seorang ternoda, semua harapan telah musnah. Apakah dia masih dapat bergembira?"

 

Bong Thian-gak tertegun, tanyanya, "Kau telah menemukan kekasih?"

Thay-kun tertawa sedih.

"Sejak empat tahun berselang, aku telah menemukan orang yang kucintai, namun belum pernah kukatakan cinta kepadanya, aku akan tetap selamanya mencintai dirinya."

Tiba-tiba Bong Thian-gak bangkit, wajahnya tampak menderita, sementara sorot matanya dialihkan ke angkasa dan memandang jauh.

Pada saat itu dalam hati dia pun sedang membatin, "Ternyata orang yang dicintai Thay-kun selama ini bukan aku. Ai ... tak kusangka aku telah mencintainya selama empat tahun tanpa balas, aku hanya bertepuk sebelah tangan."

Saat itu Bong Thian-gak benar-benar merasa sedih, kesal dan murung.

 

Baru sekarang dia benar-benar menyadari bahwa ia memang sangat mencintai Thay-kun.

Setelah tertegun beberapa saat, Bong Thian-gak baru membalikkan badan kemudian setelah tertawa sedih dia berkata, "Sumoay, orang yang merasa sedih di kolong langit bukan hanya kau seorang, aku pun seorang yang diliputi kesedihan."

"Persoalan apakah yang membuat kau merasa bersedih?" tanya Thay-kun lirih.

Bong Thian-gak menggeleng sambil menghela napas panjang, "Ai, tidak usah dibicarakan lagi."

"Apakah Bong-suheng juga dibuat murung oleh persoalan cinta? Song Leng-hui adalah seorang gadis suci dan bersih, dia telah mempersembahkan kesucian tubuhnya untukmu. Apakah kau masih merasa kurang puas?"

 

Hati Bong Thian-gak bergidik, diam-diam batinnya, "Ya, benar, mengapa aku harus menyia-nyiakan kemurnian cinta Song Leng-hui."

Tapi hubungan antara laki perempuan memang kadang begitu aneh. Empat tahun berselang Bong Thian-gak mengintip tubuh Thay-kun yang tidur telanjang, sejak itu pula ia tak dapat menghapus bayangan Thay-kun yang menawan hati dari dalam benaknya, sekalipun semasa dia berada di gunung yang terpencil, belum pernah dapat melupakan Thay-kun.

Hanya saja perasaan itu disembunyikan di dasar hatinya.

 

Tujuan utama Bong Thian-gak adalah ingin mengetahui nasib Thay-kun, selama beberapa bulan terakhir ini dia pun selalu berdaya-upaya mendapatkan pil Hui-hun-wan serta menyelamatkan Thay-kun dari keadaan yang menyengsarakan dirinya.

Thay-kun yang pintar sudah barang tentu mengetahui rahasia hati Bong Thian-gak.

Padahal secara diam-diam dia pun sangat mencintai Bong Thian-gak, rasa cintanya melebihi segala-galanya.

 

Akan tetapi Thay-kun memiliki watak yang lain daripada yang lain, sejak diketahuinya Bong Thian-gak telah memperoleh cinta Song Leng-hui di pegunungan terpencil, dia sudah berhasrat menyerahkan cintanya kepada orang lain.

Apalagi dia pun tahu sepasang tangannya telah berlumuran darah, dia sudah banyak melakukan kejahatan dan dosa. Mungkinkah baginya untuk mengenyam hidup bahagia bersama Bong Thian-gak?

 

Sementara itu terdengar Bong Thian-gak bergumam, "Song Leng-hui adalah istriku, selama hidup aku tak akan melupakan dirinya. Namun mungkinkah aku bisa melupakan kekasihku yang kucintai sejak dahulu?"

"Ai, cinta memang sesuatu yang aneh, membuat orang tak bisa menduga dan memahaminya."

"Siapa kekasihmu yang pertama?" tiba-tiba Thay-kun bertanya dengan suara hambar.

 

Bong Thian-gak melirik sekejap ke arahnya, lalu menggeleng kepala sambil menghela napas, "Mencintai orang, namun tidak dicintai oleh orangnya. Kejadian macam ini paling memedihkan hati, sebaliknya mengucapkan nama dari orang yang kucintai justru lebih memedihkan hati. Thay-kun, harap kau jangan mendesakku."

"Bong-suheng," kata Thay-kun dengan air mata bercucuran, "kita adalah orang senasib sependeritaan, namun rasa sedihku mungkin jauh melebihi dirimu."

"Benar, aku memang lebih beruntung daripada dirimu," Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Bong-suheng, untuk sementara waktu lebih baik kita jangan membicarakan persoalan pribadi."

 

Bong Thian-gak mengangguk. "Kita tak usah membicarakan cinta muda-mudi lagi, sekarang akan kuceritakan semua pengalamanku selama beberapa hari ini."

Secara ringkas Bong Thian-gak mengisahkan pengalamannya selama beberapa hari ini, bagaimana dia dan Mo-kiam-sin-kun pergi ke Sam-cing-koan hingga akhirnya terjadi peristiwa di pekuburan ini.

Thay-kun mengerut dahi, tanyanya dengan wajah serius, "Bong-suheng, kau bilang telah menerima kartu kematian tengkorak hitam dari Hek-mo-ong?"

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Benar, di dalam kartu maut itu telah tercantum dengan jelas hari kematianku akan jatuh bulan delapan tanggal delapan tengah hari."

Paras muka Thay-kun segera berubah, katanya dengan suara dalam, "Kalau Hek-mo-ong berani menyebar kartu undangan mautnya untuk Tio Tian-seng, agaknya dia sudah bersiap untuk melangsungkan pertarungan melawan sepuluh jago persilatan."

 

Bong Thian-gak menengok sekejap ke arah Thay-kun, kemudian tanyanya, "Apakah kau pun mengetahui persoalan ini?"

Thay-kun mengangguk.

"Ya, sejak dahulu aku sudah tahu Hek-mo-ong, hanya tidak diketahui siapakah orang itu?"

"Menurut Liu Khi, tampaknya Hek-mo-ong adalah seorang di antara sepuluh jago persilatan?"

Thay-kun manggut-manggut.

"Benar."

"Menurutku, di antara kesepuluh jago itu, Gi Jian-cau paling besar kemungkinannya sebagai Hek-mo-ong. Thay-kun, kau pernah tahu Gi Jian-cau? Sesungguhnya manusia macam apakah dia?"

 

Thay-kun termenung beberapa saat, kemudian berkata, "Kenapa Bong-suheng mencurigai Gi Jian-cau sebagai Hek-mo-ong?"

Bong Thian-gak menghela napas, katanya pula, "Dari kematian yang menimpa Keng-tim Suthay, Gi Jian-cau sudah pasti bukan seorang baik. Kalau tidak, tak mungkin Keng-tim Suthay mencuri sebutir pil Hui-hun-wan miliknya dan secara diam-diam disembunyikan di dalam Hud-timnya."

 

Thay-kun manggut-manggut.

"Dugaanmu memang benar, sejak dulu pun aku menaruh curiga kepada Gi Jian-cau. Cuma saat ini kita tidak perlu menduga-duga siapa gerangan Hek-mo-ong, yang penting dimanakah dia berada sekarang."

"Apalagi setelah kudengar penuturan tentang orang berbaju hijau serta Sam-cing Totiang tadi, bisa jadi salah seorang di antara mereka adalah Hek-mo-ong."

"Ah, memangnya salah seorang di antara mereka adalah Hek-mo-ong? Tapi yang mana?"

"Bisa jadi Sam-cing Totiang, cuma apa yang kukatakan hanya dugaan belaka. Bila dugaan ini benar, maka kau dan Tio Tian-seng sudah terkena serangan gelap Hek-mo-ong."

 

Berubah paras muka Bong Thian-gak, katanya, "Darimana kau bisa berkata demikian?"

Thay-kun menghela napas, "Sewaktu berada di dalam lorong gua

Sam-cing-koan, kalian pernah berada cukup lama bersama Sam-cing Totiang. Andaikata orang itu adalah Hek-mo-ong, berarti kau dan Tio Tian-seng tak akan lolos dari serangan gelapnya."

"Tio Tian-seng kenal Tan Sam-cing. Seandainya Sam-cing Totiang adalah Tan Sam-cing gadungan, aku pikir Tio Tian-seng tak akan berhasil mengenali dirinya."

"Kita harus secepatnya menemukan Tio Tian-seng," kata Thay-kun kemudian dengan suara dalam. "Teka-teki ini mesti dibikin jelas lebih dahulu, andaikata kalian berdua benar-benar sudah terkena serangan gelap mereka, maka kita harus berusaha secepatnya mencari pertolongan guna menyembuhkan luka kalian itu."

 

Bong Thian-gak memandang sekejap keadaan cuaca, kemudian katanya, "Malam kembali akan berakhir. Berarti batas waktu yang ditentukan Hek-mo-ong dalam kartu undangannya tinggal dua malam lagi, mari kita berangkat!"

Bersama Thay-kun, berangkatlah dia meninggalkan pekuburan itu.

Kabut tebal masih menyelimuti permukaan bumi, sejauh mata memandang hanya warna putih.

Mendadak segulung angin berhembus, lalu terendus bau bunga anggrek yang menyebar kemana-mana.

 

Paras muka Bong Thian-gak dan Thay-kun segera berubah hebat, serentak kedua orang itu menghentikan langkah, kemudian memeriksa keadaan sekeliling tempat itu.

Akhirnya mereka melihat tiga sosok bayangan yang berdiri di situ, tampaknya mereka sudah cukup lama menanti di sana.

Dengan wajah kaget dan ngeri Thay-kun memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu bisiknya dengan suara gemetar, "Mereka adalah Cong-kaucu, Ji-kaucu serta komandan pasukan pengawal nomor satu Sim Tiong-kiu."

 

Bong Thian-gak tertawa dingin, jengeknya, "Aku memang sudah dapat melihatnya."

Dalam pada itu jarak bayangan itu dengan mereka masih ada tujuh tombak lebih, namun kedua belah pihak sama-sama berdiri tak bergerak, kabut putih yang menyelimuti sekitar sana seakan-akan bertindak sebagai penyekat yang memisahkan kedua rombongan itu.

 

Mendadak terdengar Bong Thian-gak membentak, "Ho Lan-hiang, serahkan nyawa anjingmu!"

Cahaya pedang berwarna merah secepat kilat membelah angkasa, menembus lapisan kabut tebal dan membabat tubuh orang yang berdiri di tengah.

Ilmu pedang Bong Thian-gak sudah lama termasyhur. Setiap kali senjatanya dilolos dari sarungnya, belum pernah ada orang yang mampu menghadang ataupun membendungnya.

Cahaya pedang berkelebat, bayangan orang segera menghindar ke samping.

Sekalipun serangan pedang yang dilancarkan Bong Thian-gak ini mengenai tempat kosong, namun sudah cukup menggetarkan sukma ketiga orang musuh tangguhnya itu.

Ternyata separoh baju yang dikenakan orang di tengah sudah terpapas robek dan melayang turun dari udara.

 

Dengan gerakan cepat Thay-kun menyerobot pula ke sisi tubuh Bong Thian-gak, dengan demikian selisih jarak antara kedua orang itu tinggal tiga tombak saja. Mereka pun sudah dapat melihat raut wajah masing-masing dengan jelas.

Betul juga, ketiga orang di hadapan mereka adalah Ji-kaucu yang berdandan sebagai sastrawan berbaju hijau, si kakek berbaju hitam berlengan tunggal Sim Tiong-kiu serta seorang perempuan cantik yang berdandan anggun tapi bersikap tengik, dia adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.

 

Saat itu wajah Cong-kaucu diliputi penuh kesiap-siagaan, katanya dengan suara dingin, "Anak Kun, kau telah membocorkan namaku di hadapannya!"

"Tidak," sahut Thay-kun sambil tertawa seram. "Sekalipun aku hendak membunuhmu, tak nanti kusebutkan nama baumu itu."

Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, kembali dia menegur dengan suara rendah, "Jian-ciat-suseng, siapakah yang telah memberitahukan namaku kepadamu?"

 

Bong Thian-gak tertawa sinis.

"Hm, ternyata kau benar-benar perempuan tercantik dari Kanglam Ho Lan-hiang. Padahal entah berapa banyak jago persilatan yang sudah mengetahui nama serta asal-usulmu itu, hanya saja tak seorang pun di antara mereka yang berani mengutarakannya. Aku benar-benar tidak mengerti, dengan cara apakah kau berhasil menguasai mereka hingga mulut mereka tetap membungkam?"

 

Cong-kaucu tertegun, kemudian setelah terkekeh-kekeh, katanya, "Jian-ciat-suseng, tahukah kau apa yang akan menimpa dirimu setelah mengetahui nama serta asal-usulku?"

"Semua kelicikan dan kekejianmu sudah cukup banyak yang kualami," kata Bong Thian-gak sambil tertawa dingin. "Namun tak satu pun di antaranya yang sanggup merenggut nyawaku, agaknya kau telah kehabisan akal."

Cong-kaucu tersenyum, "Jian-ciat-suseng, sudah tiga empat puluh tahun lamanya aku tak pernah bertarung melawan orang. Nampaknya hari ini aku harus melakukan pembunuhan."

 

Bong Thian-gak tertegun.

Sementara dia masih melongo, Cong-kaucu telah membentak, "Sastrawan cacat, sambutlah pukulanku ini!"

Telapak tangannya segera diayun ke depan dengan gerakan yang enteng dan seenaknya.

Sekali lagi Bong Thian-gak menggerakkan Pek-hiat-kiam untuk menyongsong datangnya ancaman itu dengan sebuah bacokan kilat.

Tapi ketika jurus serangan Bong Thian-gak itu membacok sampai di tengah jalan, tiba-tiba saja cahaya pedang yang berkilauan lenyap, nampak sekujur tubuh Bong Thian-gak gemetar keras dan Pek-hiat-kiam yang digunakan untuk melancarkan serangan terjatuh ke atas tanah.

Thay-kun terperanjat sekali, buru-buru serunya, "Bong-suheng, kenapa kau?"

 

Dengan paras muka pucat-pias, Bong Thian-gak berkata dengan suara gemetar, "Aku sudah terkena pukulannya. Kau ... cepat kau melarikan diri."

Baru saja perkataan itu selesai diutarakan, sepasang kaki Bong Thian-gak sudah lemas, kemudian dia roboh terjungkal.

Mimpi pun Thay-kun tidak menyangka Bong Thian-gak bakal menderita kekalahan dalam satu gebrakan saja. Kekalahan semacam ini benar-benar aneh dan sama sekali di luar dugaan siapa pun, mungkin ilmu silat Cong-kaucu telah mencapai tingkatan yang luar biasa hingga tiada orang yang mampu menandinginya?

 

Agaknya Cong-kaucu sendiri pun merasa di luar dugaan, dipandangnya Bong Thian-gak dengan sorot mata tenang, tapi agak termangu.

Tiba-tiba sekilas hawa napsu membunuh mencorong dari balik mata Thay Kun. Ditatapnya Cong-kaucu sekejap, kemudian tanyanya hambar, "Cong-kaucu, kau telah melukainya dengan mempergunakan ilmu silat apa?"

Cong-kaucu tertawa hambar, "Budak liar, rupanya kau telah memperoleh kembali sukmamu. Hm, hal ini membuktikan si tabib sakti telah berhasil membuat pil Hui-hun-wan."

Thay-kun tertawa dingin.

"Tenaga pukulan yang dimiliki Cong-kaucu luar biasa lihai. Namun ingin kuketahui, apakah sanggup menandingi ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang?"

Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, "Budak liar, sejak kecil kupelihara dirimu hingga dewasa, sama sekali tidak kusangka kau akan mengkhianatiku. Tempo hari aku masih memandang dirimu melakukan dosa pertama sehingga tak menghukum mati dirimu, tapi kali ini jangan harap kau bisa hidup terus."

 

Selesai berkata, dia lantas mengulap tangan kiri dan membentak dengan nada serius, "Komandan Sim, Ji-kaucu, kalian berdua turun tangan bersama menghukum mati pengkhianat ini."

Sejak tadi Sim Tiong-kiu serta Ji-kaucu sudah bersiap melancarkan serangan. Ketika mendengar perkataan itu, serentak mereka mendesak Thay-kun dari sisi kiri dan kanan.

Thay-kun sudah tahu kelihaian Sim Tiong-kiu serta Ji-kaucu, cepat dia mengayun tangan kiri melepaskan serangan, mempergunakan ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang.

Namun sasaran penyerangannya adalah Sim Tiong-kiu. Ketiga orang ini boleh dibilang sama-sama sudah mengetahui taraf kepandaian masing-masing. Sebab itulah tatkala Thay-kun baru saja melancarkan serangan, Sim Tiong-kiu telah melompat menghindarkan diri.

Pada saat bersamaan serangan pedang Ji-kaucu yang gencar dan dahsyat telah dilepaskan pula mengancam dada Thay-kun.

 

Bagi jago silat berilmu tinggi yang melangsungkan pertarungan, menang kalah seringkah ditentukan dalam sekejap mata. Bicara kepandaian silat yang dimiliki Thay-kun, untuk menghadapi kerubutan dua jago lihai ini, rasanya tiada harapan baginya meraih kemenangan.

 

Thay-kun pun sudah menduga akan serangan pedang Ji-kaucu itu, maka dari itu saat telapak tangan kirinya melancarkan bacokan tadi, tubuhnya ikut pula bergeser ke arah lain, otomatis serangan pedang Ji-kaucu mengenai sasaran kosong.

Tampaknya orang yang jadi sasaran utama dalam serangan maut Sim Tiong-kiu dan Ji-kaucu ini bukanlah Thay-kun, maka di saat Thay-kun menghindar ke samping, mereka menerjang ke arah Bong Thian-gak yang masih duduk bersila di atas tanah.

 

Thay-kun menjadi amat terperanjat, buru-buru teriaknya, "Jangan kalian lukai dirinya."

Namun sebelum ia sempat melancarkan terkaman, Cong-kaucu yang berdiri di dekatnya telah berseru dengan suara menyeramkan, "Lebih baik kalian berdua kembali ke akhirat!"

Bersama dengan selesainya perkataan ini, telapak tangan Cong-kaucu secepat kilat langsung menghantam punggung Thay-kun.

Dalam situasi yang amat kritis inilah tiba-tiba dari balik kabut, terdengar suara seseorang berseru dengan nada aneh, "Berhenti semua!"

 

Entah mengapa hati Sim Tiong-kiu, Ji-kaucu dan Cong-kaucu bergetar keras. Bagaikan tersengat listrik, tahu-tahu lengan mereka jadi lemas tak bertenaga.

Pada detik inilah Thay-kun segera melompat ke samping tubuh Bong Thian-gak.

Suasana di padang rumput terasa hening dan sepi, kecuali kabut tebal menyelimuti angkasa, sekeliling tempat itu tidak nampak sesosok bayangan pun.

Namun Cong-kaucu dan Sim Tiong-kiu justru menunjukkan sikap terperanjat dan ngeri.

Tiba-tiba terdengar Cong-kaucu berseru dengan suara lirih, "Hekmo-ong kah di situ?"

 

Dari balik kabut tebal kembali bergema suara aneh, "Kecuali Hek-mo-ong, apakah di kolong langit ini masih ada orang kedua yang mampu mempergunakan ilmu pukulan cahaya petir?"

Sampai mati pun Bong Thian-gak dan Thay-kun tidak menyangka nyawa mereka telah ditolong Hek-mo-ong yang misterius itu.

Mengapa dia menyelamatkan mereka berdua?

 

Ilmu pukulan macam apa pula pukulan cahaya petir itu? Mengapa dapat mempengaruhi ketiga jago lihai itu hingga mereka seperti tersengat listrik dan kehilangan kekuatan?

Bong Thian-gak dan Thay-kun mulai memperhatikan sekitar tempat itu dengan seksama, akan tetapi tak sesosok bayangan pun yang nampak, terpaksa mereka hanya menanti perubahan selanjutnya dengan tenang.

Tiba-tiba Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, lalu berseru keras, "Kalau memang Hek-mo-ong, kenapa kau malah menghalangi niat kami membunuh kedua orang itu?"

"Sastrawan cacat telah menerima kartu kematian tengkorak hitam, berarti jiwanya hanya bisa dicabut oleh Hek-mo-ong sendiri. Siapa pun dilarang mencelakai jiwanya, apakah Cong-kaucu tidak mengetahui kebiasaan ini?"

"Bagaimana pula dengan budak liar itu?" kembali Cong-kaucu bertanya.

"Tiga tahun berselang aku telah menurunkan perintah agar untuk sementara waktu tidak mencelakai jiwa Thay-kun, apakah Cong-kaucu telah melupakannya?"

 

Thay-kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak dengan wajah tidak mengerti dan penuh tanda tanya, dia tidak mengetahui apa sebabnya Hek-mo-ong membiarkan dia tetap hidup?

Cong-kaucu berkata pula, "Aku benar-benar tidak mengerti, apa sebabnya Hek-mo-ong menghendaki Thay-kun tetap hidup?"

"Sebab aku belum selesai menyelidiki asal-usul Thay-kun," jawab Hek-mo-ong dengan suara perlahan.

Thay-kun terkesiap, buru-buru dia bertanya, "Hek-mo-ong, mau apa kau menyelidiki asal-usulku?"

 

Namun suara aneh dan misterius itu tidak bergema lagi. Untuk beberapa saat suasana terasa begitu sepi, hening dan tak terdengar sedikit suara pun, sudah jelas Hek-mo-ong tidak mau memberitahu.

"Hek-mo-ong, apakah kau sudah pergi?" Cong-kaucu segera menegur.

"Belum!" suara aneh tadi kembali bergema.

"Lantas petunjuk apakah yang hendak Hek-mo-ong tinggalkan?"

"Benarkah Cong-kaucu telah mengundang seorang pembunuh bayaran untuk membinasakan diriku?"

 

Bong Thian-gak yang mendengar perkataannya itu diam-diam lantas berpikir, "Lihai benar Hek-mo-ong, darimana bisa mengetahui hal itu? Entah bagaimana pula jawaban Cong-kaucu?"

Terdengar Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, lalu katanya, "Bukan hanya seorang pembunuh bayaran saja, hampir setiap jago lihai di dunia ini ingin membunuhmu."

"Tapi dalam Kangouw hanya seorang saja yang benar-benar bekerja sebagai pembunuh bayaran dan orang itu adalah Liu Khi."

"Kalau Hek-mo-ong sudah tahu Liu Khi adalah pembunuh bayaran, mengapa kau tidak turun tangan lebih dulu menyingkirkan dirinya?" jengek Cong-kaucu sambil tertawa mengejek.

"Aku tidak ingin termakan siasat meminjam golok membunuh orangmu itu."

"Di kolong langit dewasa ini hanya Liu Khi seorang yang tidak pernah melakukan hubungan denganmu."

 

"Tapi Liu Khi juga termasuk orang yang paling kau takuti bukan?" ejek perempuan itu sambil tertawa lagi.

Kali ini Hek-mo-ong termenung beberapa saat, kemudian baru berkata, "Sekarang kuperintahkan kalian bertiga agar mengundurkan diri selekasnya dari sini."

"Apabila aku tidak menuruti perintahmu itu?"

"Cong-kaucu harus menuruti perkataanku ini!"

Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, "Masih ingatkah Hek-mo-ong dengan perjanjian kita? Batas waktunya sudah lewat beberapa hari berselang, rasanya aku pun tidak usah menuruti perintahmu lagi."

"Hingga detik ini belum ada seorang pun di antara kalian yang mampu mematahkan serangan ilmu pukulan cahaya petirku. Lebih baik kau turuti saja perkataanku ini," kata Hek-mo-ong dengan suara dingin.

"Benar, aku memang harus menuruti perkataanmu. Tapi kau pun harus ingat, suatu ketika Hek-mo-ong pasti akan mampus di bawah telapak tanganku."

 

Tampaknya Hek-mo-ong sudah mulai kehabisan sabar, setengah mengancam dia berseru, "Bila kalian berdiam lebih lama lagi di sini, jangan salahkan bila aku lepaskan serangan pukulan cahaya petirku."

Baru selesai ia berkata, Cong-kaucu telah mengulap tangan kiri, lalu membalikkan badan dan mundur dari situ.

Ji-kaucu serta Sim Tiong-kiu dengan sikap tegang bagaikan menghadapi musuh tangguh, pelan-pelan mengantar Cong-kaucu mengundurkan diri dari sana.

Dalam waktu singkat bayangan mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

 

Tiba-tiba saja suasana di padang rumput itu berubah menjadi hening, sepi, tak terdengar sedikit suara pun.

Thay Kun menunggu sampai lama sekali, ketika tidak mendengar lagi suara Hek-mo-ong, ia segera menegur, "Hek-mo-ong, apakah kau telah pergi?"

Tiba-tiba suara menyeramkan berkumandang, terdengar orang itu menjawab halus, "Belum."

Hati Bong Thian-gak maupun Thay-kun bergetar, dengan cepat mereka berpaling.

Di belakang mereka tiba-tiba muncul seseorang bagaikan sukma gentayangan.

 

Setelah ragu sejenak, Thay-kun segera bertanya, "Apakah sejak tadi kau berdiri di situ?"

"Benar, selama ini aku berdiri di sini."

"Tapi mengapa kami tidak menemukan bayangan tubuhmu tadi?" tanya Thay-kun lagi dengan kening berkerut.

"Sekalipun aku berdiri di hadapanmu, belum tentu kalian melihatku."

"Memangnya kau bisa ilmu melenyapkan diri?"

"Bukan ilmu melenyapkan diri, melainkan ilmu pembingung pandangan."

"Apa itu ilmu pembingung pandangan? Dapatkah kau jelaskan kepada kami?"

"Oh, ini merupakan rahasiaku, aku tidak dapat menerangkan kepadamu."

 

Tiba-tiba Thay-kun menghela napas sedih, lalu katanya, "Aku lihat sikapmu terhadap kami berdua sama sekali tidak bermusuhan, apakah kau bersedia maju beberapa langkah lagi agar kami bisa berbincang-bincang dengan lebih akrab?"

"Maaf, aku tak bisa menuruti permintaanmu."

Thay-kun berkata, "Ai, aku dengar kau sedang menyelidiki asal-usulku, apakah kau telah berhasil mendapat sedikit keterangan?"

 

Hek-mo-ong termenung sebentar, kemudian sahutnya, "Ya, aku telah berhasil mendapatkan sedikit keterangan."

"Keterangan apa? Bersediakah kau menerangkan kepadaku?"

"Kau adalah bayi buangan yang ditemukan seorang lelaki setengah umur penangkap ikan di tepi jembatan Kiu-ci-kiau, pantai timur telaga Se-oh pada tiga puluh tahun berselang. Baru diasuh dua bulan nelayan itu tewas di tangan Cong-kaucu, kemudian oleh Nyo Li-beng kau dibawa pulang, tapi akhirnya kau terjatuh ke tangan Cong-kaucu."

"Ai, tentang kejadian itu Keng-tim Suthay Nyo Li-beng pernah menceritakan kepadaku," kata Thay-kun sambil menghela napas sedih.

 

Hek-mo-ong termenung beberapa saat, katanya lagi, "Walau demikian bukan pekerjaan mudah untuk menyelidiki peristiwa itu, asalkan sudah kudapat sedikit keterangan, pasti aku akan berhasil menyelidiki asal-usulmu itu."

"Apa maksudmu?"

"Jika waktu, tempat dan orangnya sudah ditemukan, maka hasil penyelidikanku ini tak akan jauh lagi."

Tanyanya, "Tampaknya kau sudah mengetahui siapakah orang yang membuang bayi itu?"

"Tentu saja tahu."

"Siapakah dia?"

"Untuk sementara waktu tidak dapat kukatakan kepadamu."

 

Thay-kun merasa kecewa, setelah menghela napas katanya, "Kalau kau sudah mengetahui siapakah orang yang telah membuang bayi itu, mungkin hanya kau yang mengetahui asal-usulku?"

"Aku tahu kau sangat ingin mengetahui asal-usulmu, tapi kau terpaksa harus menunggu lagi. Suatu ketika aku pasti membeberkan hasil penyelidikanku kepadamu."

 

Thay-kun menggeleng kepala, ujarnya, "Aku tak ingin mengetahui asal-usulku lagi."

"Mengapa?"

"Aku kuatir bila sudah tahu hal ini akan menambah luka dalam hatiku."

Kembali Hek-mo-ong termenung dan membungkam.

Lama kemudian baru dia berkata, "Jian-ciat-suseng sudah terkena serangan gelapku. Sebenarnya hawa racun itu baru bekerja pada tanggal delapan bulan delapan nanti, tapi berhubung dia baru saja mengerahkan tenaga untuk menyerang Cong-kaucu, maka hawa racunnya telah menyusup sampai di tulang Liong-wi-kut sehingga mengakibatkan separoh tubuh bagian atas menjadi lumpuh. Sekarang akan kuberikan sebutir pil kepadanya, asalkan dia telah menelan pil ini kemudian mengatur pernapasan, niscaya luka itu akan sembuh dengan sendirinya."

 

Selesai berkata, dia lantas menyentilkan jari tangannya ke depan.

Sebutir pil berikut pembungkusnya terjatuh di depan kaki Thay-kun.

Dengan cepat Thay-kun memungut pil itu, kemudian bertanya, "Apabila dia sudah menelan pil ini, apakah tanggal delapan bulan delapan nanti ia masih tetap akan mati?" 

"Kalau memang begitu aku lebih suka membiarkan dia mati lebih awal daripada kuberikan pil itu kepadanya."

"Apakah kau hendak memaksa aku menarik kembali kartu kematian tengkorak hitamku?"

"Jian-ciat-suseng sama sekali tidak punya ikatan dendam sakit hati denganmu. Mengapa kau harus mengeluarkan kartu kematianmu untuk merenggut nyawanya?"         

 

"Kecuali Jian-ciat-suseng bersedia mengundurkan diri dari  keramaian dan mengasingkan diri. Kalau tidak, dia tak akan terlepas dari kematian."

Thay-kun kembali menghela napas sedih, "Ai, setelah menempuh perjalanan selama puluhan tahun dalam dunia persilatan, sesungguhnya kami pun tiada niat untuk berdiam lebih lama lagi. Apa salahnya kami mengundurkan diri?"

"Apalagi aku tahu Bong Thian-gak sudah bosan berkelana di dunia persilatan. Sesungguhnya dia muncul kembali hanya ingin membalas dendam bagi Thay-kun, tapi kini Thay-kun hidup segar-bugar. Sudah barang tentu dia pun tiada kepentingan dalam dunia persilatan lagi."

 

Hek-mo-ong manggut-manggut, katanya kemudian dengan suara pelan, "Jian-ciat-suseng, sekarang kau didampingi perempuan yang begini cantik. Apabila hidup mengasingkan diri di tempat terpencil menikmati kebahagian hidup, bukankah hal ini diharapkan banyak orang? Asal kau bersedia mengundurkan diri, aku pun berjanji tidak akan menyusahkan kalian lagi. Bagaimana pendapat kalian?"

Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Thay-kun, kemudian tanyanya, "Dapatkah perkataannya dipercaya?"

"Hek-mo-ong sudah tiga-empat puluh tahun bercokol dalam Kangouw, tapi umat persilatan cuma tahu dia adalah seorang misterius yang menakutkan. Apakah perkataannya dapat dipercaya, aku sendiri pun tidak yakin."

"Tetapi ada satu hal yang membuat aku menaruh curiga, mengapa dia meminta kepada kita mengundurkan diri dari dunia persilatan?"

 

Mendadak terdengar Hek-mo-ong tertawa dingin dengan suara «eram, katanya, "Sekarang aku sudah tiada waktu bercokol lebih lama di «Ini, bilamana kalian memastikan mengundurkan diri dari dunia persilatan, maka sebelum tengah malam bulan delapan tanggal delapan, kalian harus sudah mengundurkan diri dari kota Lok-yang."

Begitu selesai berkata, Hek-mo-ong segera menggerakkan tubuh. Bayangan orang itu segera mengundurkan diri dari balik kabut tebal.

 

Thay-kun menghela napas sedih, kemudian katanya, "Hari ini seandainya dia tak datang menyelamatkan kita, mungkin kita akan mengalami nasib tragis di tangan Cong-kaucu seperti tempo hari."

"Menurutku Hek-mo-ong berbuat begitu karena ingin menolong dirimu, bisa jadi dia mempunyai hubungan dengan dirimu," kata Bong Thian-gak hambar.

Thay-kun menggeleng, "Tapi aku sama sekali tidak mengenal dirinya.

"'Bila dugaanku tidak keliru, bisa jadi asal-usulnya mempunyai hubungan erat denganmu."

"Suheng," kata Thay-kun dengan sedih. "Kita tak usah membahas hal ini lagi. Ayo cepat kau telan pil itu agar lukamu segera sembuh."

 

Sambil berkata Thay-kun sudah mengelupas kulit pembungkus obat itu, ternyata isinya adalah sebutir pil bewarna putih bagaikan mutiara, baunya harum semerbak.

Setelah menghela napas panjang, Bong Thian-gak berkata, "Hingga sekarang aku masih tetap menaruh prasangka, aku kuatir pil itu bukan pil penawar racun, melainkan obat racun yang lambat kerjanya."

"Apa maksudmu?"

"Aku tak percaya sudah terkena serangan gelap Hek-mo-ong."

"Ah, benar juga perkataanmu," Thay-kun berseru tertahan. "Tapi bagaimana pula dengan luka yang kau derita saat ini?"

Bong Thian-gak menggeleng kepala, "Aku sendiri pun tidak tahu, mengapa secara tiba-tiba separoh tubuhku bisa lumpuh."

"Berjaga-jaga atas niat busuk musuh memang tak boleh tak ada, apalagi sikap bersahabat Hek-mo-ong terhadap kita pun di luar dugaan, kalau begitu jangan kau telan dulu pil itu untuk sementara waktu."

 

"Sekarang Mo-kiam-sin-kun masih di rumah penginapan Ban-heng. Bila aku sudah terkena serangan gelap Hek-mo-ong, maka Tio Tian-seng pasti mengalami pula hal yang sama, mari kita tanyakan dulu persoalan ini kepadanya sebelum mengambil keputusan."

"Betul," Thay-kun manggut-manggut. "Mari kubimbing kau."

"Ai, terpaksa aku harus merepotkan Sumoay."

Dengan lengan kanan merangkul pinggang Bong Thian-gak, Thay-kun mengajak pemuda itu menuju ke dalam kota.

Pagi itu kabut luar biasa tebalnya, sejauh mata memandang hanya warna putih yang menyelimuti seluruh jagat, rumput dan pepohonan di hadapan mereka pun susah terlihat.

Dengan memapah tubuh Bong Thian-gak, akhirnya Thay-kun berhasil mengajak pemuda itu ke rumah penginapan Ban-heng.

 

Waktu itu fajar baru menyingsing, kabut pagi belum menghilang, mereka segera masuk dengan melompati pagar dan menuju ke kamar.

Tiba-tiba seseorang berkelebat dengan kecepatan bagaikan kilat, menghadang di hadapan Bong Thian-gak serta Thay-kun.

Sekilas pandang Bong Thian-gak mengenali orang di hadapannya, Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng, tanpa terasa serunya lirih, "Tio-pangcu!"

Sekilas perasaan tercengang dan tidak habis mengerti segera menghiasi wajah Mo-kiam-sin-kun, segera tanyanya, "Bukankah dia adalah Si-hun-mo-li?"

"Benar, memang dia, tapi ia sudah kembali kejernihan otaknya, kini ia sudah bukan Si-hun-mo-li yang menakutkan lagi."

"Bagaimana keadaanmu, Bong-laute?" Tio Tian-seng kembali bertanya dengan penuh perhatian.

 

"Tio-pangcu," kata Thay-kun cepat, "tempat ini bukan tempat yang cocok untuk berbincang-bincang, apakah di dalam ada orang lain?"

"Cepat masuk," seru Mo-kiam-sin-kun.

Mereka bertiga segera masuk ke dalam, Tio Tian-seng menyulut lentera, sedang Thay-kun membimbing Bong Thian-gak ke bangku.

Setelah melirik sekejap ke arah Tio Tian-seng, Bong Thian-gak berkata, "Walaupun hanya semalam saja Boanpwe meninggalkan Tio-pangcu, namun pengalaman yang kuhadapi sungguh luar biasa."

 

Secara ringkas Bong Thian-gak menceritakan semua pengalaman yang dialaminya selama semalam kepada Tio Tian-seng.

Selesai mendengar cerita itu, dengan kening berkerut Tio Tian-seng berkata, "Apakah kau telah menelan pil itu?"

"Belum," pemuda itu menggeleng.

Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, aku sendiri pun telah menerima sebutir pil dari Hek-mo-ong."

Sambil berkata, dia mengeluarkan sebutir pil berwarna putih bagaikan mutiara dari dalam sakunya.

Dengan cepat Thay-kun mengeluarkan pula pil yang diterimanya tadi, ternyata bentuk kedua pil itu serupa, semuanya menyiarkan bau harum semerbak.

Dengan tidak mengerti Bong Thian-gak bertanya, "Bagaimana ceritanya hingga Hek-mo-ong memberikan pil itu kepadamu?"