pendekar cacad 13
Bagian 15 : Tiga Pelindung Bunga Put-gwa-cin-kau
Hek-coa-li-liong melirik sekejap ke arah
Bong Thian-gak, ujarnya,
"Walaupun orang yang paling berkuasa dan memegang tampuk pimpinan
tertinggi dalam perkumpulan Put-gwa-cin-kau adalah Cong-kaucu, namun
aku rasa bila benar-benar ingin meleyapkan Put-gwa-cin-kau dari muka
bumi, bukan Cong-kaucu yang harus dibunuh terlebih ilahulu."
"Apakah kita harus membunuh kuku-kuku
garudanya terlebih ilahulu?"
Hek-coa-li-liong mengangguk membenarkan.
"Betul, kita harus membunuh kuku-kuku
garudanya lebih dahulu, tapi tahukah kau siapa saja yang merupakan
kuku-kuku garuda andalannya?"
"Sim
Tiong-kiu, Ji-kaucu, dan lain sebagainya."
Sambil tertawa, Hek-coa-li-liong
menggeleng kepala berulang-kali.
"Dugaanmu keliru besar, Cong-kaucu masih
mempunyai tiga orang
utusan pelindung bunga
yang sangat misterius identitasnya, maka bina jadi kau akan
terperanjat."
Bong Thian-gak
menjadi sangat keheranan, segera tanyanya, "Ia masih mempunyai tiga
orang utusan pelindung bunga yang misterius itlmtitasnya, siapa
sebenarnya ketiga orang itu?"
"Kau jangan bertanya dulu siapakah
ketiga orang yang kumaksud, sekarang
aku hendak bertanya dulu satu hal, saat ini si tabib sakti Gi
Jian-cau berada dimana?"
"Di suatu tempat rahasia di kota
Lok-yang."
"Bila kau berhasil menjumpai Gi
Jian-cau, kau harus segera membunuhnya," mendadak gadis itu
berpesan.
"Apa maksudmu berkata demikian?" tanya
Bong Thian-gak sambil
berkerut kening, ia merasa tak habis
mengerti.
"Sebab dia merupakan satu di antara
ketiga utusan pelindung hinga Cong-kaucu yang misterius itu."
"Ah, tidak mungkin”
pemuda itu menggeleng kepala berulangkah. "Tabib sakti Gi Jian-cau
tak mungkin menjadi kuku garuda Cong-kaucu."
Ketika mendengar jawaban itu,
Hek-coa-li-liong nampak merasa sedih, kembali dia berkata, "Bila kau
tidak mempercayai perkataanku ini, cepat atau lambat kau akan
terbunuh di tangannya."
"Gi Jian-cau adalah pelindung hukum
perguruan kami," kata Bong
Thian-gak kemudian dengan suara dalam. "Biarpun sampai sekarang aku
belum berjumpa dengannya, namun Keng-tim Suthay dari perguruan kami
sangat menaruh kepercayaan kepadanya, sudah barang tentu aku pun
amat mempercayai dirinya."
"Tapi sekarang secara tiba-tiba saja kau
mengutarakan kata-kata seperti ini, sungguh hal ini membuatku
keheranan setengah mati."
"Kini di dalam tubuhmu masih mengeram
racun yang sangat jahat, padahal batas waktunya tinggal empat hari
lagi, mari sekarang juga kita berangkat ke Lok-yang dan minta Gi
Jian-cau mengobati racun itu."
"Aku tahu dan memang sudah kuduga sejak
tadi bahwa kau tak akan percaya pada perkataanku ini, namun tujuanku
tak lebih hanya ingin membuat kau tahu bahwa Gi Jian-cau adalah
salah satu di antara ketiga pelindung bunga Cong-kaucu yang
misterius."
"Asal kau mengikuti aku sampai di kota
Lok-yang, segera akan kau ketahui sendiri Gi Jian-cau termasuk orang
baik atau jahat."
"Tidak, aku takkan pergi ke Lok-yang."
"Kalau kau tidak ke Lok-yang, lantas
hentak pergi kemana?"
"Aku ingin mempergunakan sisa waktu
empat hari ini untuk mencari tempat yang ideal dan indah bagi tempat
kuburku."
"Asal kita berhasil mencapai kota
Lok-yang dalam empat hari, aku pun yakin Gi Jian-cau dapat mengobati
racun jahat yang mengeram dalam tubuhmu itu. Kau harus tahu nyawa
seorang berharga sekali, mengapa kau melepas kesempatan yang sangat
baik untuk melanjutkan hidup?"
Hek-coa-li-liong menggeleng kepala
berulang-kali. "Aku sudah merasakan malaikat maut sudah mendekati
diriku. Itulah sebabnya aku harus berpisah secepatnya darimu, kalau
tidak, kau bakal terseret ke dalam masalah ini gara-gara aku."
"Ai, perkataanmu ini semakin membuat aku
bingung dan tak habis mengerti," Bong
Thian-gak menghela napas panjang. "Bila bukan
disebabkan menghargai jiwamu, mengapa kau mesti berkhianat untuk
menyelamatkan jiwaku?"
Sekali lagi Hek-coa-li-liong menggeleng
kepala.
"Sejak dulu aku memang sudah berniat
berkhianat, mengapa pula aku
mesti mencelakai jiwamu? Ai, terus terang saja kuberitahukan
kepadamu, aku tidak akan ke Lok-yang, bukannya disebabkan aku tidak
percaya kepada Gi Jian-cau."
"Tapi bukankah kau pernah berkata
kepadaku bahwa racun jahat yang bersarang di dalam tubuhmu itu tak
akan bisa diobati siapa pun selain
obat penawar racun bikinan Gi Jian-cau? Kalau kedua pihak sama-nama
menjumpai jalan buntu, mengapa kita tak berangkat ke Lok-yang untuk
mengadu untung? Siapa tahu dewi rezeki masih berada di pihakmu?"
Dengan pancaran mata penuh rasa terima
kasih, Hek-coa-li-liong memandang sekejap ke arah pemuda itu,
kemudian katanya, "Asalkan aku masih dapat mempertahankan hidupku,
pasti akan kusumbangkan segenap
pikiran dan tenagaku demi kepentinganmu."
Dengan cepat
Bong Thian-gak bisa menangkap arti sebenarnya perkataan
itu, ia berseru tertahan, kemudian tanyanya, "Kau menolak pergi ke
Lok-yang, apakah karena kau sudah punya jalan kehidupan yung lain?"
Hek-coa-li-liong tertawa rawan.
"Antara hidup dan mati masing-masing
setengah kesempatan."
Akhirnya Bong
Thian-gak menghela napas panjang. "Ai, kalau kau
bersikeras tak akan pergi ke Lok-yang, biarlah aku mendampingimu
kemana pun kau hendak pergi."
Cepat Hek-coa-li-liong menggeleng
kepala.
"Siangkong adalah seorang ketua
perguruan besar, aku tahu temanmu
sangat banyak dan berbagai masalah masih menantikan penyelesaian
darimu. Buat apa kau mesti membuang waktu yang sangat harga cuma
dikarenakan urusanku?"
"Aku hanya ingin menemani kau selama
empat hari saja, sebab bila aku tidak berbuat begini, hatiku tak
akan merasa tenang."
Agaknya Hek-coa-li-liong tahu keinginan
si anak muda itu tak bisa ditolak lagi, setelah menghela napas
panjang katanya, "Baiklah! Bila seandainya kau gagal mengobati racun
jahat yang mengeram dalam tubuhku, paling tidak kau masih bisa
membantu mengubur jenazahku nanti."
"Sekarang kita hendak kemana?" tanya
anak muda itu.
"Kita cukup mencari sebuah tanah
pegunungan yang terpencil dan jauh dari keramaian orang."
Bong Thian-gak
mendongakkan kepala dan mencoba memeriksa keadaan sekeliling tempat
itu, kurang lebih setengah li di depan sana, ia melihat tanah
perbukitan, dengan kening berkerut tanyanya kemudian, "Dengan cara
apakah kau hendak mengobati lukamu itu?"
"Aku bermaksud menggunakan racun melawan
racun."
Kedua orang itu bergerak menuju ke kaki
bukit dengan cepat.
Hek-coa-li-liong memilih tanah lapang
berumput dan duduk di situ, kemudian sambil tersenyum katanya,
"Siangkong, tahukah kau dengan cara apa aku hendak melakukan racun
melawan racun itu?"
"Aku memang berniat meminta keterangan
darimu," sahut Bong Thian-gak
sambil menggeleng.
"Aku hendak menggunakan irama seruling
untuk memancing datangnya beribu-ribu ekor ular berbisa, kemudian
dengan memilih tujuh ekor ular berbisa di antaranya yang memiliki
kadar racun paling tinggi untuk memagut tubuhku."
"Tapi mungkinkah kau akan berhasil
dengan cara itu?" tanya Bong
Thian-gak terkejut.
Hek-coa-li-liong segera tersenyum.
"Asal waktunya tepat dan caranya benar,
aku rasa kemungkinan berhasil mencapai lima puluh persen."
"Rasanya cara ini tak bisa ditanggung
keberhasilannya, mengapa kau enggan mengikuti aku pergi ke
Lok-yang?"
Hek-coa-li-liong menggeleng kepala,
sahutnya, "Aku tahu, selama hidup Gi Jian-cau jangan harap bisa
menolong jiwaku."
Sekali lagi
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Sekarang baiklah kuberitahukan suatu
hal kepadamu, saat ini Gi Jin-cau sedang membuat semacam pil
pengembali sukma di kota Lok-yang. Tujuannya adalah untuk
menyelamatkan Thay-kun serta kawanan jago
persilatan lainnya, oleh sebab itu kau harus percaya bahwa Gi Jian-ciau
sebenarnya adalah seorang pendekar dari golongan lurus."
Berubah hebat paras muka
Hek-coa-li-liong mendengar perkataan Itu, serunya dengan cepat,
"Kemungkinan besar dia bukan lagi membuat pil pengembali sukma yang
kau maksudkan."
"Aku mengetahui persoalan ini dari
Keng-tim Suthay, aku yakin dia tak bakal salah mendengar."
Tiba-tiba Hek-coa-li-liong teringat akan
sesuatu, serunya tertahan, "Siangkong, kau harus selekasnya
berangkat ke Lok-yang melakukan pemeriksaan, bisa jadi di tempat itu
sudah terjadi suatu musibah besar."
"Tidak, aku harus merawat dirimu, tak
mungkin aku memisahkan diri dalam dua persoalan yang berbeda."
"Aku bukan sedang bergurau," kata
Hek-coa-li-liong dengan nada gHisah. "Malah kemungkinan besar
Keng-tim Suthay serta segenap anggota
Hiat-kiam-bun lain telah tertimpa musibah yang mengenaskan."
Berubah hebat paras muka
Bong Thian-gak, mendadak ia peluk
pinggang Hek-coa-li-liong, lalu mengerahkan Ginkangnya meninggalkan
tempat itu.
"Hei, mau apa kau?" Hek-coa-li-liong
segera menegur.
"Setelah mendengar perkataanmu tadi, mau
tak mau kita harus berangkat ke Lok-yang, namun aku pun tak bisa
meninggalkan dirimu begitu saja, karenanya terpaksa aku harus
membawa serta dirimu."
"Sekalipun hendak berangkat ke Lok-yang
aku kan masih punya sepasang kaki untuk berjalan sendiri," seru si
nona agak mendongkol.
"Ah, maaf, aku takut kau enggan
mengikuti aku."
Cepat pemuda itu menurunkan tubuh si
nona.
Setelah berdiri kembali,
Hek-coa-li-liong mendongakkan kepala dan
memeriksa sekejap keadaan sekeliling tempat itu, kemudian ia
bertanya, "Tahukah kau kita berada dimana sekarang?"
Bong Thian-gak
melongo, lalu menggeleng kepala berulang-kali.
"Tidak tahu."
"Tempat ini adalah Leng-juan di San-say,
asal kita bisa melewati perbukitan Tay-heng-san yang melintang, maka
kita sudah sampai di wilayah Ho-lam, berarti perjalanan dari sini
sampai Lok-yang paling hanya satu hari perjalanan."
"Wah, itu lebih baik lagi," kata
Bong Thian-gak gembira.
Dengan suara hambar kembali
Hek-coa-li-liong berkata, "Gi Jian-cau adalah seorang licik, jahat,
kejam dan berhati busuk. Sejak puluhan tahun berselang, ia sudah
bersekongkol dengan Cong-kaucu. Di saat Put-gwa-cin-kau mulai
meracuni umat persilatan dan menteror umat manusia, racun jahat
bikinan Gi Jian-cau boleh dibilang merupakan pendukung utamanya."
Bong Thian-gak
menghela napas sedih.
"Dari dulu sampai sekarang, selain Nabi,
siapakah umat manusia di dunia ini yang bisa luput dari kesalahan?
Ai, bila ia bersedia menggunakan kemampuannya membuat obat guna
menolong umat manusia, hal ini tentu akan lebih baik lagi."
"Jika Gi Jian-cau masih mempunyai jiwa
yang baik dan perasaan welas asih, sejak permulaan ia tak akan
membuat obat racun untuk mencelakai jiwa manusia."
Bong Thian-gak
tahu gadis itu sudah telanjur mempunyai kesan buruk terhadap Gi
Jian-cau, oleh sebab itu dia pun tidak mengajaknya berdebat lebih
jauh, sambil mengalihkan pokok pembicaraan ke masalah lain,
tanyanya, "Hingga sekarang aku masih belum mengetahui namamu, boleh
aku tahu siapa namamu?"
"Aku she Han
bernama Siau-cing," sahut Hek-coa-li-liong sambil
tersenyum.
"Nona Han, luka pada lenganmu belum
sembuh, mampukah kau menempuh perjalanan malam?"
Han Siau-cing tertawa.
"Aku adalah seorang anak gadis, tidak
mungkin aku menyuruhmu menggendong diriku terus menerus."
Merah padam wajah
Bong Thian-gak, cepat ia
menerangkan, "Aku tak bermaksud seperti itu. Bila kau lelah, marilah
kita beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan kita."
"Aku tidak lelah."
Maka berangkatlah
Bong Thian-gak dan Han Siau-cing
melewati perbukitan Tay-heng-san, lalu melalui pesisir utara sungai
Huang-ho, menyeberangi sungai dan tiba di Beng-kim selewat lohor.
Menjelang magrib, di sebuah kuil bobrok
di luar kota Lok-yang di ilnsun Cho-keh-po, muncul sepasang
muda-mudi berlengan tunggal.
"Bong-siangkong, apakah kau tidak salah
mencari tempat?" tanya si
gadis bermantel ular.
Si pemuda mengangkat kepala dan
memandang sekejap kuil bobrok itu, kemudian menjawab dengan suara
dalam dan berat, "Tak bakal salah, mari kita masuk untuk melihat!"
Dengan berjalan bersanding, mereka masuk
ke kuil bobrok itu.
Daun kering berserakan di halaman,
rumput liar tumbuh dimana-inana.
Tampaknya kuil itu memang
sudah lama terbengkalai.
Apalagi setelah melangkah masuk ke dalam
ruang tengah, sarang laba-laba tampak memenuhi sudut ruangan, debu
menebal, meja altar dan segala
peralatan rusak dan hancur, tak mungkin ada orang yang berdiam di
tempat itu.
Ketika angin lembut berhembus,
lamat-lamat terendus bau amis yang menusuk penciuman.
"Bong-siangkong apakah kau mengendus bau
busuk mayat?" tiba-tiba
Han Siau-cing bertanya.
Paras pemuda itu berubah hebat, ia balik
bertanya, "Bau bangkai? Bau
ini adalah bau mayat yang membusuk."
Gadis berlengan tunggal alias Han
Siau-cing segera mengendus sekeliling tempat itu, kemudian bertanya
lagi, "Tampaknya bau busuk Itu berasal dari gedung belakang di
sebelah barat laut."
Pemuda berlengan tunggal tak lain adalah
Bong Thian-gak segera
menggerakkan tubuh meluncur ke gedung belakang.
"Bong-siangkong, tidak usah diperiksa
lagi," Han Siau-cing segera berseru.
Tapi Bong
Thian-gak sama sekali tidak menghentikan langkahnya,
karena itu terpaksa si nona menyusul ke belakang.
Waktu itu Bong
Thian-gak sedang berdiri di depan pintu sambil
mengawasi ruang dalam dengan pandangan mendelong dan wajah lei
mangu-mangu.
Sambil menutup hidung, Han Siau-cing
mendekati pemuda itu setia menengok ke dalam.
Mayat-mayat berserakan di dalam gedung
itu, bau busuk yang amat menusuk tersebar luas, membuat orang hampir
muntah.
Bila dilihat dari rambut mayat-mayat
itu, dandanan dan pakaian yang dikenakan, agaknya semua mayat itu
terdiri dari kaum wanita.
Sambil menghela napas sedih Han
Siau-cing berkata, "Bong-siangkong, yang kukatakan tidak salah
bukan, Gi Jian-cau memang seorang laknat."
Bong Thian-gak
sama sekali tidak menjawab, dia beranjak dan melangkah masuk ke
ruangan itu, kemudian setelah memeriksa sekejap semua mayat yang
terkapar di situ, ia keluar lagi dari ruangan sambil bergumam,
"Semua yang menjadi korban adalah anggota perempuan Hiat-kiam-bun
dan tak salah lagi, tapi ...
mengapa tidak terlihat mayat Keng-tim Suthay serta Gi Jian-cau."
"Sudah kau periksa apa yang menyebabkan
kematian mereka?" tanya Han Siau-cing tiba-tiba.
Dengan wajah berubah hebat, sahut
Bong Thian-gak, "Aku tidak menemukan
satu titik luka pun di tubuh mayat itu."
"Nah, itulah dia!" Han Siau-cing kembali
menghela napas. "Mereka semua tentu mati diracun, jadi pembunuh
kejinya sudah pasti Gi Jian-cau."
"Nona Han," ujar
Bong Thian-gak kemudian dengan wajah
serius. "Sebelum aku selesai dengan pemeriksaanku, janganlah menuduh
siapa pun dengan sembarangan."
Tiba-tiba Han Siau-cing tertawa
terkekeh-kekeh, "Berada dalam keadaan dan situasi semacam ini pun
kau masih menganggap Gi Jian-cau sebagai orang baik?"
Mendadak Bong
Thian-gak membentak, "Siapa di situ?"
Sambil membentak, tubuhnya seperti
seekor elang raksasa segera melompat ke depan.
Reaksi Han Siau-cing jauh lebih lamban.
Tatkala dia menyusul ke halaman depan,
Bong Thian-gak telah bentrok satu gebrakan melawan
pendatang itu dan sebagai akibat dari bentrokan ini, sepasang
bahunya terguncang keras, langkahnya gontai dan selangkah demi
selangkah ia sedang mundur ke belakang.
Kemudian darah menyembur dari mulut
Bong Thian-gak.
Sementara itu di hadapan
Bong Thian-gak telah berdiri seorang
kakek berjenggot hitam yang menggunakan baju berwarna hijau.
Ia menggembol sebilah pedang antik,
rambutnya sudah memutih, namun matanya yang memancarkan sinar tajam
sedang mengawasi anak muda itu tanpa berkedip.
Sambil membentak, Han Siau-cing bersiap
hendak menerjang ke depan, tapi Bong
Thian-gak segera memegang lengannya sembari berbisik,
"Jangan bertindak gegabah nona Han, ilmu silat yang dimiliki orang
ini hebat sekali, kau tak akan mampu membendung serangannya."
Tiba-tiba terdengar kakek berjenggot
hitam itu bertanya dengan miiira nyaring, "Kau adalah
Jian-ciat-suseng?"
Bong Thian-gak
terkejut, bukan karena orang itu dapat menyebut julukannya, tapi
dikarenakan dalam bentrokan yang berlangsung tadi, ia bisa merasakan
kekuatan dan kedahsyatan tenaga serangan kakek itu.
Sejak dia berlatih tekun selama tiga
tahun di bawah air terjun, hung
Thian-gak selalu menaruh kepercayaan yang amat besar pada
kemampuan ilmu silatnya, dia menganggap tiada orang yang bisa
mengungguli dirinya.
Tapi hari ini untuk pertama kalinya ia
menderita kekalahan di tangan
orang.
Getaran tenaga pukulan yang dilancarkan
kakek berjenggot hitam tadi
telah melukai isi perutnya serta mengguncang rasa percayanya
terhadap kemampuan sendiri.
Dengan perasaan agak tegang, gugup dan
panik dia menegur, bibirnya
terdengar agak gemetar, "Siapakah kau?"
Han Siau-cing sendiri pun tidak mengenal
siapa gerangan kakek berjenggot hitam yang berada di hadapannya
sekarang.
Kakek berjenggot hitam itu sama sekali
tidak menyebut nama serta julukannya, hanya tanyanya lagi dengan
suara hambar, "Apakah kau murid Oh Ciong-hu?"
Bong Thian-gak
tak mengerti mengapa ia mengajukan pertanyaan
itu,
segera jawabnya, "Benar,
aku adalah anak muridnya."
Paras muka kakek itu berubah, katanya,
"Kesempurnaan tenaga dalam yang kau miliki benar-benar jauh
mengungguli kemampuan Oh Ciang-hu
sendiri."
"Aku rasa kau tentunya sudah boleh
menyebut identitasmu, bukan?" kata Bong
Thian-gak kemudian dengan kening berkerut.
"Asal kau berani melancarkan sebuah
serangan pedang lagi kepadaku, aku bersedia menyebut nama serta
julukanku," sahut si kakek hambar.
Bong Thian-gak
melolos pedang dan siap melancarkan serangan, katanya, "Aku bersedia
melancarkan serangan pedang lagi atas dirimu, namun perlu
kujelaskan, serangan pedangku ini bisa jadi merupakan akhir dari
kehidupanku, tapi mungkin juga merupakan titik hancur bagi
kehidupanmu, karena itu kuanjurkan lebih baik serangan kubatalkan
saja."
"Bila kau tidak berani melancarkan
serangan, aku akan menyerang dirimu lebih dulu," ancam si kakek.
Sembari berkata, kakek itu pelan-pelan
melolos pedang antiknya, pedang itu sama sekali tidak memercikkan
setitik cahaya pun, juga tidak nampak mata pedang, karena pedang itu
tak lebih hanya sebilah pedang kayu, pedang kayu yang sama sekali
tumpul. Menyaksikan bentuk pedang itu, paras muka
Bong Thian-gak justru berubah
semakin serius. Pedang kayu sebagai senjata andalan,
Bong Thian-gak tahu ilmu pedang
kakek itu sudah mencapai taraf kemampuan yang luar biasa.
Berapa orang dalam Kangouw dewasa ini
yang memiliki ilmu pedang begitu sempurna?
"Ah! Kau adalah ketua
Kay-pang," Bong Thian-gak menjerit
kaget.
Sebelum pemuda itu berbicara, pedang
kayu yang berada dalam genggaman kakek itu sudah menusuk ke arah
dadanya. Tusukan itu dilancarkan sangat lamban tapi sangat berat.
Sekilas serangan itu amat lamban, sama
sekali tidak mengandung hawa napsu pembunuh, tetapi
Bong Thian-gak justru menghadapinya
dengan wajah serius dan tegang.
Dalam sekejap dia seakan-akan menghadapi
bahaya ancaman maut.
Bentakan keras menggeledek di angkasa.
Kemudian berkumandang suara benturan
yang memekakkan telinga.
Pedang Bong
Thian-gak berhasil memapas kutung pedang kayu si kakek
berjenggot hitam itu.
Sebaliknya pedang kayu si kakek juga
berhasil mematahkan pedang Bong
Thian-gak.
Dalam pada itu
Bong Thian-gak sudah berjumpalitan,
lengan ltinggalnya masih menggenggam kutungan pedang, sementara
matanya mengawasi si kakek di hadapannya tanpa berkedip.
Suasana tegang kembali menyelimuti
seluruh arena.
Tiba-tiba terdengar kakek itu menghela
napas sedih, kemudian katanya, "Serangan pedangmu itu ternyata mampu
menembus hawa pedangku, ternyata kau pun berhasil melatih hawa
pedang yang maha sakti. Sungguh tak nyana, dengan usiamu yang begitu
muda, ternyata mampu melatih hawa pedang yang hebat, betul-betul tak
kuduga."
Cucuran darah berlinang dari ujung bibir
Bong Thian-gak, namun ia
menjawab sambil tersenyum, "Bila Locianpwe melancarkan serangan lagi
kepadaku, niscaya Boanpwe tak bakal lolos dari ancaman bahaya maut."
"Bila serangan yang pertama tak mampu
membunuhmu, hari ini aku tak akan melepaskan serangan kedua," ucap
si kakek hambar.
Kakek itu membuang kutungan pedangnya,
kemudian berkata, "Bila kau masih mampu, sekarang silakan
membunuhku."
"Locianpwe," kata
Bong Thian-gak lantang, "sebetulnya
di antara kita sama sekali tak terikat dendam sakit hati apa pun,
mana berani IJoanpwe menyerang dirimu lagi."
Bong Thian-gak
pun membuang kutungan pedangnya, kemudian melanjutkan, "Cuma Boanpwe
ingin mencari tahu beberapa hal, harap locianpwe
sudi memberi penjelasan."
"Persoalan apa yang hendak kau ketahui?"
"Aku ingin tahu, sesungguhnya siapakah
Locianpwe?"
"Ketua angkatan ketujuh Kay-pang,
Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng."
Mimpi pun Bong
Thian-gak tidak menyangka Tio Tian-seng adalah ketua
Kay-pang saat ini. Rahasia itu boleh dibilang jarang
diketahui umat persilatan.
Bong Thian-gak
berdiri tertegun dan melongo mendengar jawaban itu.
Dengan wajah serius Tio Tian-seng
bertanya lagi, "Apakah kau masih ada pertanyaan lain? Ayo, cepat
utarakan."
Bagaikan baru sadar dari impian, cepat
Bong Thian-gak bertanya, "Ada
keperluan apa Locianpwe datang kemari?"
"Mencari si tabib sakti Gi Jian-cau
untuk mengobati luka yang diderita muridku,
To Siau-hou."
"Apakah Locianpwe telah berhasil
menemukan si tabib sakti?" tanya Bong
Thian-gak lagi.
"Belum."
Bong Thian-gak
berkerut kening, lalu katanya, "Boanpwe juga sedang mencari Gi
Jian-cau, mungkin Locianpwe sudah melihat mayat-mayat yang terkapar
di ruang belakang itu!"
Tio Tian-seng mendengus, "Hm,
pertanyaanmu sudah selesai diutarakan, sekarang aku hendak pergi.
Ingat pada saat kita bersua lagi bisa jadi aku akan membunuhmu."
Seusai berkata, dia menggerakkan tubuh
beranjak pergi dari situ.
Belum sempat
Bong Thian-gak memanggilnya, Tio Tian-seng sudah lenyap
dari pandangan mata.
Keadaan Bong
Thian-gak saat ini benar-benar bagaikan berada dalam
alam impian, dia seperti kurang percaya dengan apa yang dialaminya
barusan, dia tak percaya baru saja habis bertarung melawan jagoan
paling tangguh yang diakui umat persilatan selama enam puluh tahun
belakangan ini, Tio Tian-seng.
Dia pun tak menyangka orang paling
tangguh di kolong langit dewasa ini, Tio Tian-seng tak lain adalah
ketua Kay-pang.
Han Siau-cing berseru kaget, "Jadi dia
adalah Tio Tian-seng?"
Bong Thian-gak
menghela napas panjang.
"Ai, tentu saja dalam dunia persilatan
dewasa ini, bukan hanya Tio Tian-seng seorang yang mampu mematahkan
pedangku dengan hanya menggunakan sebilah pedang kayu."
"Dia termasuk juga utusan pelindung
bunga Cong-kaucu?"
"Bong-siangkong, masih ingat dengan
perkataanku tempo hari tentang ketiga orang utusan pelindung bunga
Cong-kaucu yang misterius identitasnya?"
Paras muka
Bong Thian-gak menjadi amat serius, katanya,
"Kecuali Gi Jian-cau serta Tio
Tian-seng, siapakah orang ketiga?"
"Agaknya orang ketiga bernama Hek-mo-ong
(raja iblis hitam)."
"Hek-mo-ong? Mana mungkin dalam Bu-lim
terdapat manusia dengan julukan itu?"
"Bong-siangkong," kata Han Siau-cing
dengan nada bersungguh-sungguh, "sebenarnya aku sendiri kurang
percaya, tapi bila teringat kata-kata terakhir seorang Bu-lim
Locianpwe yang sedang mendekati ajalnya, ucapan itu memang sangat
masuk akal."
"Bu-lim Locianpwe manakah yang berkata
kepadamu? Apa pula yang dia katakan?"
Han Siau-cing termenung dan berpikir
beberapa saat lamanya, setelah itu baru ujarnya, "Orang itu adalah
gurumu ... Oh Ciong-hu."
"Kau benar-benar telah berjumpa dengan
guruku menjelang ajalnya?" Bong
Thian-gak berseru kaget.
Han Siau-cing manggut-manggut.
"Menjelang ajalnya, mendiang Bu-lim
Bengcu Oh Ciong-hu telah bicara banyak denganku."
"Dapatkah kau memberitahukan kepadaku
semua kejadian yang dialami Suhuku menjelang ajalnya?" pinta sang
pemuda cemas.
Han Siau-cing menghela napas sedih,
katanya kemudian, "Peristiwa ini berlangsung pada tiga tahun
berselang, waktu itu aku termasuk salah seorang di antara kawanan
jago yang diutus Cong-kaucu untuk mencelakai jiwa Bu-lim Bengcu Oh
Ciong-hu yang amat lihai itu."
Mencorong sinar tajam penuh hawa napsu
membunuh dari balik mata Bong
Thian-gak, ditatapnya wajah Han Siau-cing lekat-lekat,
kemudian tanyanya dingin, "Apakah kau juga termasuk salah seorang di
antara pembunuh keji yang telah mencelakai guruku?"
Sekali lagi Han Siau-cing menghela napas
sedih.
"Justru karena aku tidak turut menyerang
Oh-locianpwe, maka Cong-kaucu menaruh curiga padaku serta
menyekapku, bila Siangkong tidak percaya, aku pun tidak dapat
berbuat apa-apa."
"Kalau begitu, tentunya kau masih ingat
dengan jelas bukan, siapa-siapa saja yang terlibat dalam peristiwa
keributan itu?"
Han Siau-cing termenung sambil berpikir
sejenak, kemudian ia baru berkata, "Coba kau dengar dulu cerita
peristiwa itu."
"Cepatlah kau ceritakan!"
Han Siau-cing menarik napas panjang,
kemudian katanya, "Tiga tahun berselang kami telah mengepung
Oh-locianpwe di sebuah tanah padang rumput, hampir segenap jago
lihai yang tergabung dalam Put-gwa-cin-kau telah dikerahkan ke sana,
maka terjadilah pertarungan berdarah yang sangat mengerikan.
Oh-locianpwe almarhum dengan kemampuan seorang diri bertarung dan
menerjang musuh dengan buas, ketika pertarungan berakhir, beliau
telah menghabisi nyawa kedua ratus jago lihai Put-gwa-cin-kau tanpa
ampun.
"Aku masih ingat ketika kujumpai
Oh-locianpwe, waktu itu ia sedang duduk bersila di bawah sebatang
pohon waru, di sampingnya berdiri seekor kuda berbulu emas.
"Belum sempat aku menghampiri
Oh-locianpwe, beliau yang semula memejamkan mata mendadak membuka
mata, kemudian setelah memandang sekejap ke arahku, ia pun menegur
sambil tertawa, 'Apakah kau orang yang datang untuk memenggal batok
kepalaku?”.
"Aku tertegun mendengar teguran itu,
kemudian menggeleng kepala dengan mulut tetap membungkam.- Saat
itulah Oh-locianpwe dengan tertawa pedih berkata kembali, 'Aku sudah
hampir mati, bila kau memang menginginkan batok kepalaku, silakan
mencabut pedang serta memenggalnya, sebab aku tak punya bertenaga
lagi untuk memberikan perlawanan ...
namun sebelum ajalku tiba, aku ingin memberitahukan
satu hal kepada kalian, yakni segenap anggota Put-gwa-cin-kau,
kecuali Cong-kaucu, pada akhirnya akan mati dalam keadaan
mengenaskan.'.
"Sewaktu mendengar keterangan itu,
dengan cepat aku pun bertanya, 'Mengapa?'.
"Tampaknya kejernihan otak Oh-locianpwe
mulai kabur, tapi aku mendengar ia berkata, 'Bila kau percaya,
berusahalah mencari daya-upaya melepaskan diri dari belenggu
Put-gwa-cin-kau secepatnya. Walaupun tatkala kalian memasuki
perkumpulan sudah dicekoki obat racun yang berdaya kerja lambat,
tapi aku beritahukan kepadamu bahwa seseorang masih bisa
menyelamatkan jiwa kalian ...
dia adalah Ku-lo Sinceng
dari Siau-lim-pay. Sewaktu kau bertemu beliau nanti, katakan
kepadanya ketiga orang pelindung bunga Cong-kaucu yang misterius itu
adalah tabib sakti Gi Jian-cau, Tio Tian-seng dan Hek-mo-ong.'.
"Tatkala bicara sampai di situ, nada
suaranya terputus, ternyata Oh-locianpwe telah berpulang ke
akhirat."
"Apakah kau sudah pergi menjumpai Ku-lo
Sinceng?" tanya Bong
Thian-gak.kemudian dengan wajah amat serius.
"Belum," Han Siau-cing menggeleng.
"Sebab tak lama setelah Oh-locianpwe meninggal dunia, Siau Cu-beng
beserta segenap jagoan lihai Put-gwa-cin-kau telah berdatangan ke
situ, mereka mendesakku untuk memberitahukan apa yang telah
disampaikan Oh-locianpwe menjelang ajalnya tadi."
"Apakah kau telah berterus terang kepada
mereka?" tanya Bong Thian-gak
cepat.
"Tidak, aku tak pernah mengucapkan
sepatah kata pun kepada mereka, justru karena itu Cong-kaucu segera
menaruh curiga kepadaku dan sejak itu pula aku dikurung olehnya di
loteng itu."
Bong Thian-gak
menghela napas panjang.
"Ai, kalau menjelang ajalnya Suhu telah
mengatakan bahwa Gi Jian-cau, Tio Tian-seng serta Hek-mo-ong bertiga
adalah utusan pelindung bunga Cong-kaucu, aku rasa hal itu tak bakal
salah lagi... tapi peristiwa
itu sungguh membuat orang tidak habis mengerti. Ai, bila aku tidak
menghilangkan kantung ketiga yang telah disiapkan Ku-lo Sinceng
tempo hari dan membukanya sekarang, bisa jadi teka-teki itu dapat
dipecahkan."
Bong Thian-gak
teringat bahwa Ku-lo Sinceng telah menyerahkan tiga buah kantung
kepadanya menjelang ajalnya tempo hari, waktu yang ditetapkan untuk
membuka kantung yang terakhir ini tak lain adalah saat Tio Tian-seng
menampakkan diri.
Sekarang Tio Tian-seng telah menampakkan
diri, namun kantung ketiga itu telah hilang entah dimana?
Sementara itu Han Siau-cing menghela
napas sedih seraya berkata, "Sekarang Gi Jian-cau bersembunyi entah
dimana, tentu saja aku sudah tidak bisa menunggu dirinya lagi untuk
memperoleh pengobatan."
"Seandainya Gi Jian-cau benar-benar
sudah berubah pendirian, entah berapa banyak jago persilatan yang
bakal berkorban di dunia saat ini. Ai! Dari tumpukan mayat yang
tergeletak di sana, tampaknya mereka sudah mati belasan hari
lamanya, dari pakaian yang dikenakan mayat-mayat itu tidak salah
lagi mereka adalah anggota Hiat-kiam-bun, tapi mengapa tidak
kutemukan jenazah Keng-tim Suthay di antara tumpukan mayat itu?
Bukankah ini berarti terdapat setitik harapan."
Bong Thian-gak
segera menarik tangan Han Siau-cing sambil katanya, "Mari kita
melakukan pemeriksaan di tempat lain!"
"Kita hendak pergi kemana lagi?" tanya
Han Siau-cing tidak habis mengerti.
"Tempat yang sebenarnya untuk membuat
obat."
"Kalau begitu tempat ini bukan tempat
pembuatan obat yang sesungguhnya?" tanya Han Siau-cing terperanjat.
"Masalah pembuatan pil pengembali sukma
oleh Gi Jian-cau sesungguhnya menyangkut nasib segenap umat
persilatan. Sekalipun tempat ini sudah diserang musuh, tapi aku
percaya orang-orang Hiat-kiam-bun masih mempunyai cara lain untuk
memindahkan tabib sakti meninggalkan tempat ini."
Han Siau-cing tertegun, serunya,
"Bong-siangkong, apakah kau masih percaya bahwa Gi Jian-cau
membuatkan pil pengembali sukma untukmu?"
"Peristiwa ini belum mencapai jalan
buntu, tentu saja masih ada setitik harapan."
Mendadak Han Siau-cing berseru tertahan,
air mukanya segera berubah pucat-pias seperti mayat, sekujur
badannya ikut bergetar keras.
Bong Thian-gak
terkejut, buru-buru ia bertanya, "Mengapa kau? Apakah racun yang
mengeram dalam tubuhmu mulai kambuh?"
"Tidak," Han Siau-cing segera
menggeleng.
Pada saat itulah segulung angin
berhembus, Bong Thian-gak
segera mengendus bau harum semerbak yang tipis, inilah bau bunga
anggrek yang amat dikenal olehnya, bau yang bukan untuk pertama kali
ini terendus olehnya.
"Ah! Rupanya dia telah datang!"
Bong Thian-gak berseru kaget.
"Bong-siangkong, kau cepat kabur,"
buru-buru Han Siau-cing berseru dengan gelisah. "Ia mengejar sampai
di sini, tujuannya adalah hendak membunuh aku, kau cepatlah lari!"
Tiba-tiba Bong
Thian-gak tertawa, teriaknya, "Cong-kaucu, kalau kau
sudah datang, mengapa tidak segera menampakkan diri?"
Baru selesai dia berkata, dari halaman
gedung berkumandang suara irama musik yang lembut, kemudian nampak
sebuah tandu besar yang megah dan mentereng digotong oleh enam belas
orang perempuan kekar pelan-pelan muncul.
Di belakang tandu besar itu mengikut
pula sekelompok orang.
Rombongan itu berjumlah lebih kurang dua
puluh orang, tapi yang membuat Bong
Thian-gak merasa terkejut adalah turut hadirnya seorang
perempuan cantik, seorang sastrawan baju hijau serta seorang kakek
baju hitam berlengan tunggal.
Han Siau-cing dapat melihat pula
kehadiran ketiga orang itu, ia segera berseru dengan suara gemetar,
"Si-hun-mo-li, Ji-kaucu serta Sim
Tiong-kiu ... ah, habis
sudah nyawa kita kali ini!"
Bong Thian-gak
juga merasa tegang, seram dan ketakutan sehabis melihat rombongan
itu.
Dalam gerakannya kali ini
Put-gwa-cin-kau telah mengerahkan segenap kekuatan inti terhebat
yang mereka miliki. Bagaimana pun juga dengan kekuatannya seorang
diri tak mungkin bisa melawan kawanan sebanyak itu.
"Kabur!"
Ingatan itu mendadak lewat dalam benak
Bong Thian-gak.
Ia tak tahu, ingatan semacam itu apakah
merupakan pilihan yang bodoh atau cerdik.
Namun ia tahu, dia tak boleh mengalami
nasib tragis seperti apa yang dialaminya tiga tahun berselang.
Oleh sebab itulah
Bong Thian-gak segera melarikan
diri.
Ia meninggalkan Han Siau-cing begitu
saja, melarikan diri sendirian.
Dengan cepat bagaikan sambaran kilat,
Bong Thian-gak melejit ke
lengah udara kemudian kabur menuju ke arah barat daya.
Umpatan marah, sindiran sinis dan
bentakan nyaring dengan cepat
bergema memenuhi angkasa.
Walaupun Bong
Thian-gak dapat mendengar semua itu, namun ia sama
sekali tidak berpaling. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya
yang sempurna, pemuda itu melarikan diri terbirit-birit.
Jeritan perempuan yang sangat mengerikan
hati bergema dari kejauhan, seperti teriakan Thay-kun pada tiga
tahun berselang.
Hancur luluh perasaan
Bong Thian-gak waktu itu, ia merasa
betapa hinanya perbuatan yang dilakukan olehnya sekarang, ia merasa
dirinya adalah seorang pengecut yang tak berani bertanggung-jawab.
"Mengapa aku harus kabur? Mengapa aku
mesti melarikan diri? Aku bukan seorang lelaki sejati, aku adalah
seorang lelaki pengecut yang takut mampus.
Bong Thian-gak, wahai
Bong Thian-gak, dengan perbuatan
yang memalukan ini, mungkinkah kau masih bisa tampil di Kangouw?"
Seperti kelinci yang melarikan diri dari
terkaman harimau, Bong
Thian-gak melarikan diri menembus hutan, menyeberangi jurang.
Sepanjang jalan ia merasa sedih,
menyesal dan mengutuk diri sendiri.
Lalu ia berhenti secara tiba-tiba, duduk
bersimpuh di atas tanah dan menangis tersedu-sedu.
Matahari tenggelam di balik bukit, sinar
keemas-emasan masih menyinari padang rumput yang luas.
Saat itulah muncul seorang kakek baju
hijau berjenggot hitam dari ujung padang rumput sana.
Pelan-pelan ia berjalan menghampiri
Bong Thian-gak dan berhenti
di hadapannya.
Bong Thian-gak
mengangkat kepala, ia tersentak kaget dan melompat bangun dari atas
tanah.
Sekulum senyuman menghiasi bibir kakek
berbaju hijau itu, dia mengangguk pelan, lalu berkata, "Kau memang
seorang lelaki pintar yang pemberani, benar-benar hebat kau, lelaki
jempolan."
Bong Thian-gak
tertunduk malu, mukanya merah seperti babi panggang.
"Aku tahu, aku memang seorang pengecut,
seorang lelaki konyol," ia berbisik lirih, "Tio-locianpwe tak usah
menggodaku!"
"Orang yang berani melakukan perbuatan
yang tak berani dilakukan orang lain dan tak terpikir orang lain.
Dia barulah seorang laki-laki pintar yang pemberani, terus terang
saja, siapa di kolong langit ini yang berani mengambil keputusan dan
tindakan semacam kau? Apa salah kalau kukatakan kau adalah lelaki
pemberani yang pintar?"
"Kau ...
kau maksudkan ...
tindakanku melarikan diri tadi adalah perbuatan seorang lelaki
pemberani yang pintar?" tanya Bong
Thian-gak gugup.
Kakek itu manggut-manggut.
"Coba kau tidak kabur, sudah pasti kau
akan menjadi lelaki konyol dan mata gelap yang akibatnya
... hm, mati konyol! Asal gunung
tetap menghijau, masa takut kehabisan kayu bakar? Yang penting
memang kabur dulu."
Perasaan sedih, hina dan menyesal yang
semula menggeluti pikiran Bong
Thian-gak kini terhapus dari perasaannya, tapi ia belum bisa
melenyapkan semua perasaan sesalnya.
Kembali dia berkata, "Aku telah kabur
meninggalkan seorang gadis lemah begitu saja, cara dan tindakan yang
kulakukan ini bukan cara dan perbuatan seorang lelaki sejati."
Kakek tua tertawa hambar, "Barang siapa
berani mengkhianati Put-gwa-cin-kau, cepat atau lambat ia pasti akan
mati."
Tiba-tiba mencorong sinar aneh dari
balik mata Bong Thian-gak,
ditatapnya kakek baju hijau itu lekat-lekat, kemudian tanyanya,
"Tio-locianpwe ada urusan apa kau datang kemari?"
"Mengajak kau mengantarku menemui Gi
Jian-cau."
"Parah sekali luka
To Siau-hou?"
"Nyawanya sudah berada di ujung tanduk."
"Tio-pangcu," tiba-tiba
Bong Thian-gak berkata, "ada suatu
hal ingin kutanyakan kepadamu."
"Soal apa? Cepat katakan."
"Aku dengar dewasa ini terdapat tiga
orang Enghiong yang disegani orang ternyata menjadi utusan pelindung
bunga Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."
Paras muka kakek baju hijau itu segera
berubah hebat, dengan gugup ia bertanya, "Kau tahu siapakah ketiga
orang itu?"
"Tentu saja tahu."
"Apakah satu di antaranya adalah Gi
Jian-cau?"
"Ya, termasuk juga Tio Tian-seng,"
sambung pemuda itu. Paras muka kakek baju hijau itu segera berubah
tak sedap dipandang, cepat ia berseru, "Tahukah kau Tio Tian-seng
hanya berjanji tak akan mencampuri urusan dunia persilatan selama
sepuluh tahun?"
Bong Thian-gak
menggeleng.
"Bagaimanakah duduk persoalan yang
sebenarnya, aku memang tidak terlalu jelas. Aku hanya tahu ada tiga
tokoh tangguh yang telah menjadi utusan pelindung bunga Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau."
Kakek baju hijau tertawa dingin.
"Tiga hari berselang, janji sepuluh
tahun sudah habis batas waktunya, sekarang aku sudah tidak terikat
lagi dengan dirinya."
"Bagaimana dengan Gi Jian-cau?"
"Gi Jian-cau pun ada ikatan janji
sepuluh tahun dengannya," jawab Tio Tian-seng hambar, "Tapi aku
yakin selamanya Cong-kaucu tak bakal melepas dirinya begitu saja."
"Apakah dia akan mencelakai jiwa Gi
Jian-cau?"
"Bukan tabib sakti Gi Jian-cau saja, dia
pun akan mencelakai jiwaku."
Mendengar penjelasan itu,
Bong Thian-gak tertawa tergelak,
"Siapa dewasa ini yang masih berkemampuan membunuh dirimu."
Tio Tian-seng menghela napas sedih,
kemudian baru ia berkata, "Hek-mo-ong. Dia adalah satu-satunya lawan
tandingku."
"Siapakah Hek-mo-ong itu?" tanya
Bong Thian-gak terkejut.
Tio Tian-seng menggeleng.
"Aku sendiri pun tak tahu siapa
Hek-mo-ong, aku hanya tahu orang ini bisa membunuh korbannya tanpa
menampakkan wujud aslinya, gerak-geriknya selalu rahasia dan
sesungguhnya dia otak di belakang layar yang menyetir
Put-gwa-cin-kau selama ini."
"Sesungguhnya Hek-mo-ong inilah yang
menjadi pimpinan besar Put-gwa-cin-kau, dialah dalang kekacauan
dunia persilatan."
Tio-pangcu, bila kau tak menampik,
seluruh anggota Hiat-kiam-bun bersedia bekerja sama dengan
perkumpulan kalian menentang kekuasaan dan kelaliman
Put-gwa-cin-kau."
"Mengikuti perubahan situasi dan
perkembangan persilatan, antara Hiat-kiam-bun dengan Kay-pang memang
tak mungkin dapat dipisahkan lagi."
"Bagus kalau begitu, tetapkan dengan
sepatah kata ini saja."
"Masalahnya tak bisa ditunda-tunda lagi,
ayo segera antarkan aku menjumpai Gi Jian-cau."
Bong Thian-gak
segera bangkit, kemudian ujarnya, "Tio-pangcu, harap ikuti diriku!"
Kuil Sam-cing-koan adalah kuil kaum
Sam-cing yang terletak di
sebelah utara kota Lok-yang.
Kuil itu dibangun di kaki bukit,
bangunannya megah dan mentereng, tak ubahnya seperti istana.
Matahari sudah lama tenggelam,
keremangan pun menyelimuti seantero
jagat.
Dalam suasana seperti ini, tiba-tiba di
depan pintu gerbang kuil
muncul seorang pemuda
berlengan tunggal serta seorang kakek baju hijau berjenggot hitam.
Pintu gerbang tertutup rapat, suasana
dalam gedung pun sunyi senyap tak terdengar sedikit suara pun.
Sambil mengepal tinju tangan kirinya,
pemuda berlengan tunggal Itu mengetuk pintu gerbang tiga kali.
Mendadak pintu gerbang dibuka orang,
empat orang Tosu berbaju
kuning segera muncul,
sebilah pedang tersoreng di punggung masing-masing, sementara orang
yang berjalan paling depan segera menyapu pandang sekejap wajah kedua orang tamunya dengan
sinar mata tajam.
"Sicu berdua hendak mencari siapa?"
tegurnya.
Pemuda berlengan tunggal tersenyum, "Aku
she Bong bernama
Thian-gak,
ingin berjumpa Koancu
kalian."
Sekilas perubahan aneh tampak menghiasi
wajah Tosu berbaju kuning
itu, dengan cepat ia
mengalihkan sorot matanya dan mengamati nrkiijur badan pemuda itu dari atas sampai ke
bawah.
Kemudian baru berkata dengan dingin,
"Jadi kau adalah ketua
Hiat
kiam-bun Jian-ciat-suseng."
"Ya, memang aku,"
Bong Thian-gak tersenyum.
Tiba-tiba Tosu berbaju kuning itu
menarik muka dan menegur dengan serius, "Tolong tanya, sesungguhnya
dalam Hiat-kiam-bun terdapat
berapa orang Jian-ciat-suseng?"
Pertanyaan ini segera menyentak hati
Bong Thian-gak, cepat ia
menegur, "Totiang, tolong tanya apa maksudmu?"
Setelah tertawa dingin, sahut Tosu
berbaju kuning itu, "Terus terang aku beritahukan kepadamu, setengah
jam berselang telah datang Jian-ciat-suseng yang berkunjung dalam
kuil kami."
Berubah hebat paras muka
Bong Thian-gak.
Paras muka Tio Tian-seng yang berada di
sampingnya turut berubah, sekali berkelebat ia sudah menerobos masuk
ke dalam.
Ternyata reaksi ketiga orang Tosu lain
yang berjaga-jaga di sisi pintu cukup cepat, serentak mereka melolos
pedang masing-masing, kemudian di antara kilatan cahaya tajam, tiga
bilah pedang berkelebat menghadang jalan pergi Tio Thian Seng.
Agaknya Bong
Thian-gak sendiri pun sudah merasakan keadaan gawat dan
seriusnya peristiwa ini, mendadak ia mengayun telapak tangannya
melancarkan pukulan ke arah dada Tosu berbaju kuning itu.
Sesungguhnya Tosu berbaju kuning itu
telah bersiap menghadapi serangan, ia tak mengira serangan musuh
ternyata begitu cepat bagaikan sambaran kilat.
Tahu-tahu dadanya terasa sakit dan
napasnya menjadi sesak, tak sempat lagi mengeluh, peredaran darahnya
telah tersumbat dan ia pun roboh tak sadarkan diri.
Tiga orang Tosu yang mencoba menghadang
jalan pergi Tio Tian-seng juga telah dirobohkan semua dengan jalan
darah tertotok.
"Bong-laute, apakah Gi Jian-cau berada
di dalam kuil ini?" tanya Tio Tian-seng dengan suara dalam.
"Benar, dia berada di ruang peracikan
obat."
"Sekarang sudah ada musuh yang menyaru
sebagai dirimu memasuki kuil, bisa jadi hendak mencelakai jiwa Gi
Jian-cau."
Belum selesai ia berkata, dari arah kuil
tiba-tiba berkumandang suara genta yang dibunyikan bertalu-talu,
suaranya keras dan nyaring memenuhi seluruh bukit dan menggetarkan
angkasa. Berbareng dari balik gedung utama yang megah serentak
menyerbu puluhan Tosu berpedang yang segera menuju ke arah pintu
gerbang.
Bong Thian-gak
mengerti, perkembangan saat ini telah berubah gawat, kecuali dia
masuk ke dalam kuil dan menjumpai Sam-cing Koancu untuk menerangkan
duduk permasalahan yang sebenarnya, kalau tidak, pertumpahan darah
tentu akan berlangsung di situ.
Demi keselamatan Gi Jian-cau,
Bong Thian-gak merasa tak mampu lagi
menghindarkan diri dari bentrokan dengan orang-orang Sam-cing-koan.
"Tio-pangcu!" dengan suara dalam ia
berseru, "kita serbu ke dalam, tapi kumohon kau jangan melukai jiwa
mereka."
Bong Thian-gak
segera melompat ke muka dan menyongsong kedatangan kawanan Tosu itu.
Puluhan orang Tosu berbaju kuning itu
seperti daun kering yang terhembus angin kencang, begitu termakan
pukulan Tio Tian-seng dan liong Thian-gak, segera berjatuhan ke
lantai dan roboh tak sadarkan diri.
Sementara itu Tio Tian-seng telah
melompat ke atas atap rumah, lalu dengan kecepatan luar biasa
meluncur ke arah gedung halaman kedua.
Dalam pada itu suara genta telah
berkumandang di seluruh kuil, bayangan orang berkelebat, kembali
muncul serombongan Tosu yang bersenjata lengkap dari balik gedung.
Bong Thian-gak
langsung meluncur masuk ke dalam gedung utama, kemudian dengan suara
keras teriaknya, "Totiang
sekalian, harap dengarkan baik-baik. Aku adalah Jian-ciat-suseng
Bong Thian-gak, ketua
Hiat-kiam-bun. Aku datang untuk
berjumpa dengan Koancu kalian, barap kalian jangan menghalangi
jalanku, bawalah aku menjumpai ketua kalian secepatnya!"
Namun kawanan Tosu itu sama sekali tidak
menggubris, diiringi bentakan keras, serentak mereka menyerbu ke
arah Bong Thian-gak
sambil
mengayunkan senjata!
Dalam keadaan begini, terpaksa
Bong Thian-gak harus memutar lengan
tunggalnya, dimana angin pukulannya menyambar, kawanan losu itu satu
demi satu segera roboh bergulingan.
Soal tenaga dalam, kemampuan
Bong Thian-gak sudah mencapai puncak
kesempurnaan, berat-ringannya serangan bisa dilancarkan
sekehendak
hati. Oleh sebab itu meski kawanan Tosu itu terguling terkena
serangan, mereka hanya roboh dengan
jalan darah tertotok, sama sekali tak
mempengaruhi keselamatan jiwa mereka.
Bong Thian-gak
bergerak secepat hembusan angin, makin bertarung makin mendesak ke
depan, dalam waktu singkat ia sudah memasuki halaman kelima.
Halaman kelima adalah lapangan tempat
berkumpul dalam kuil Sam-cing-koan.
Tatkala Bong
Thian-gak menyerbu masuk ke dalam lapangan itu, dengan
cepat pemuda itu dibikin tertegun dan berdiri termangu-mangu.
Ternyata empat penjuru sekeliling tanah
lapang itu sudah dipenuhi Tosu baju kuning dengan senjata terhunus,
jumlah mereka mencapai tiga ratusan orang.
Tio Tian-seng sedang terkepung, waktu
itu ia sudah menghunus sebilah pedang yang penuh berlepotan darah,
sedang di sekeliling arena terlihat ada tujuh kutungan lengan
berceceran, darah telah membuat tanah lapang itu menjadi merah.
Dari sorot mata ketujuh Tosu yang cacat
lengannya, tampaknya mereka memiliki kepandaian silat sangat tinggi,
namun sekarang mereka duduk bersila di atas tanah dengan wajah
diliputi perasaan sedih, gusar dan penuh penderitaan.
Bong Thian-gak
segera menerjang ke sisi Tio Tian-seng, kemudian setelah menghela
napas sedih, katanya, "Tio-pangcu, seranganmu kelewat berat!"
"Aku tidak menyangka dalam kuil
Sam-cing-koan terdapat tujuh orang jago pedang yang amat lihai,
hampir saja aku menderita kalah oleh kepungan barisan pedang
Jit-sing-kiam-tin mereka," sahut Tio Tian-seng dingin.
Baru saja selesai berkata, dari balik
rombongan di sebelah timur sana tiba-tiba berjalan keluar Sam-cing
Tosu yang membawa Hud-tim (kebutan).
Di sisi kiri dan kanannya mengikut empat
Tosu kecil yang masing-masing membawa dua bilah pedang pendek.
Tosu itu berjalan dengan sangat lambat,
selangkah demi selangkah berjalan ke tengah arena.
Malam sudah menjelang tiba, kegelapan
mencekam seluruh jagat, Bong
Thian-gak baru bisa melihat jelas paras muka Tosu itu setelah
berhadapan.
Tosu ini berjenggot hitam sepanjang
dada, rambutnya digulung dengan tusuk konde, sementara sepasang
matanya memancarkan sinar tajam bagaikan bintang timur.
Terutama sikap si Tosu yang begitu
anggun dan berwibawa, membuat setiap orang yang bertemu dengannya
segera akan muncul perasaan kagum dan hormat.
Setelah Bong
Thian-gak melihat Tosu tadi, segera dia menjura seraya
berkata, "Aku Bong Thian-gak,
tampaknya saudara adalah Sam-cing
Koancu."
Sementara itu Tosu berbaju kuning itu
sudah menghentikan langkahnya, tatkala sinar matanya dialihkan dari
wajah Bong Thian-gak ke wajah
Tio Tian-seng, tiba-tiba saja paras mukanya berubah hebat.
Paras muka Tio Tian-seng sendiri pun
agak berubah melihat wajah Tosu itu, segera katanya, "Sungguh tak
kusangka Pat-kiam-hui-hiang (delapan pedang salju beterbangan)
Tan Sam-cing yang telah
lenyap dari dunia persilatan sejak empat puluh tahun berselang,
ternyata sudah menetap dalam kuil Sam-cing-koan di kota Lok-yang
ini."
Mendengar nama Pat-kiam-hui-hiang
Tan Sam-cing, hati
Bong Thian-gak bergetar, diam-diam
ia berpikir, "Tan Sam-cing?
Bukankah dia adalah jago pedang Bu-tong-pay yang amat termasyhur
namanya pada empat puluh tahun berselang?"
Konon kesempurnaan ilmu pedang yang
dimiliki orang ini luar biasa
sekali sehingga disebut sebagai orang kedua tertangguh dalam Bu-tong-pay
setelah Thia Sam-hong, Cosu pendiri Bu-tong-pay.
Empat puluh tahun lalu dalam Bu-lim
terdapat empat orang paling termasyhur. Mereka adalah Ku-lo Sinceng,
Oh Ciong-hu, Tio Tian-seng
dan
Tan Sam-cing.
Tosu berbaju kuning itu segera mengebas
Hud-timnya beberapa Kali, kemudian sambil tertawa ringan katanya,
"Sebenarnya aku sedang
ragu
dan curiga, jagoan darimanakah yang mampu melukai ketujuh muridku,
tidak kusangka orang itu adalah Tio Tian-seng."
Tiba-tiba suaranya menjadi berat,
sambungnya, "Suatu serangan vang bagus, serangan yang bagus sekali,
nyatanya pedang Tio Tian-seng masih kejam, buas dan tak mengenal
ampun."
"Tan
Sam-cing," ujar Tio Tian-seng dingin, "seandainya kita harus
melangsungkan pertarungan, bisa jadi kita harus bertarung selama
tiga hari tiga malam sebelum bisa ditentukan siapa lebih unggul di
antara kita."
Paras muka Tan
Sam-cing berubah amat serius, pelan-pelan ia berseru,
"Kiam-tong, siapkan pertarungan!"
Serentak keempat Tosu yang berdiri di
kiri kanan Tan Sam-cing
melolos pedang pendek, begitu pedang dilolos dari sarungnya, delapan
jalur sinar pedang yang tajam bagai lapisan kabut segera menyelimuti
angkasa.
Melihat itu, seru
Bong Thian-gak, "Harap jangan
bertarung." Tan Sam-cing
memandang Bong Thian-gak
sekejap, lalu tegurnya, "Siapa kau?"
"Aku bernama
Bong Thian-gak, ketua Hiat-kiam-bun. Berhubung Gi
Jian-cau dan Keng-tim Suthay dari perguruan kami pernah berpesan
kepadaku, bahwa mereka meminjam tempat dalam kuil kalian untuk
membuat obat, maka aku datang kemari untuk meninjau mereka."
Berubah hebat paras
Tan Sam-cing, segera tegurnya,
"Dengan cara apakah kau bisa membuktikan kau adalah
Jian-ciat-suseng?"
"Tan-koancu," dengan cepat
Bong Thian-gak berseru, "sebenarnya
apa yang telah terjadi di sini? Apakah ada musuh yang telah mencatut
namaku untuk mengunjungi kuil ini?"
"Sebelum kita bicara lebih jauh,
alangkah baiknya bila kau bisa membuktikan dulu identitasmu. Bila
kau tak mampu, berarti kau adalah manusia jahanam yang menyaru
sebagai Jian-ciat-suseng."
"Apa yang Koancu inginkan?"
"Keng-tim Suthay pernah menjelaskan
wajah dan identitas Jian-ciat-suseng kepadaku, tapi yang paling
penting adalah terdapatnya benda kepercayaan Hiat-kiam-bun yakni
Pek-hiat-kiam."
Berubah paras muka
Bong Thian-gak, ia segera bertanya,
"Apakah sudah ada orang datang kemari dengan membawa pedang
Pek-hiat-kiam?"
"Bukan cuma membawa Pek-hiat-kiam saja,
bahkan ia mempunyai raut muka dan ciri yang sama dengan dirimu."
"Sekarang orang itu berada dimana?"
"Sudah pergi menjumpai Keng-tim Suthay."
"Aduh celaka," seru
Bong Thian-gak dengan gelisah.
"Tolong tanya Keng-tim Suthay berada dimana sekarang? Bagaimana
kalau sekarang juga Koancu mengajakku pergi menjumpainya."
"Boleh saja, asal kau sudah membuktikan
kaulah Jian-ciat-suseng yang
sesungguhnya,"
"Setelah bertemu Keng-tim Suthay nanti,
siapa yang asli dan yang palsu akan segera diketahui."
Tan Sam-cing
tertawa dingin.
"Aku telah mendapat pesan wanti-wanti
dari Keng-tim Suthay bahwa pembuatan obat oleh si tabib sakti
mempengaruhi keselamatan jiwa
banyak orang. Kejadian ini
amat penting dan tak boleh terjadi kesalahan sekecil apa pun, tentu
saja aku tak berani mengambil resiko."
Bong Thian-gak
menjadi gelisah sehingga mendepak-depakkan kaki berulang-kali,
serunya, "Kini musuh tangguh telah memasuki
tempat pembuatan obat, bila keadaan
seperti ini dibiarkan berlangsung lerus, mungkin suatu peristiwa
yang sama sekali di luar dugaan bakal terjadi. Tan-koancu, bila kau
menganggap masalah pembuatan obat oleh Gi
Jian-cau adalah masalah besar, kau harus bertindak secepatnya."
Tio Tian-seng turut menimbrung pula,
"Pokoknya jika Gi Jian-cau sampai mengalami suatu musibah, jangan
harap kau Tan Sam-cing bisa
berdiam terus di tempat ini."
Pat-kiam-hui-hiang
Tan Sam-cing tertawa dingin,
katanya, "Kau lelah melukai tujuh orang muridku, hari ini kau pun
jangan harap bisa meninggalkan kuil Sam-cing-koan dalam keadaan aman
dan selamat."
Di antara sekian orang.
Bong Thian-gak yang merasa paling
gelisah, cepat dia berseru lagi dengan lantang, "Dendam permusuhan
Locianpwe berdua lebih baik disingkirkan lebih dulu, hal terpenting
yang harus segera kita atasi sekarang adalah menghalangi usaha kaum
laknat untuk mencelakai Gi Jian-cau."
Tan Sam-cing
memandang sekejap ke arah Bong
Thian-gak, kemudian ujarnya, "Tempat dimana si tabib sakti Gi
Jian-cau mengolah obat adalah gua yang amat rahasia letaknya, orang
biasa tak mungkin bisa masuk ke dalam secara mudah, apalagi di luar
gua pun dijaga oleh banyak jago lihai. Bila Keng-tim Suthay
merasakan hal yang tidak beres, dia pasti akan mengirim tanda
rahasia kepadaku."
"Pinto justru kuatir kalian berdualah
yang sesungguhnya hendak mencelakai si tabib sakti, bila kuajak
kalian memasuki gua rahasia itu, lak bisa kubayangkan bagaimana
akibatnya."
"Kalau begitu kau tak akan mengajak kami
bertemu Gi Jian-cau?" tegur Tio Tian-seng dengan suara dingin.
Tan Sam-cing tertawa dingin
pula.
"Aku akan mengajak kalian berjumpa dulu
dengan Keng-tim Suthay."
"Hanya dia yang dapat membuktikan
keaslian kalian."
"Harap Tan-koancu segera mengajak kami
menjumpainya," seru Bong
Thian-gak gelisah.
"Ayo ikut aku!" seru
Tan Sam-cing kemudian sambil
mengebas Hud-tim yang berada di tangan kirinya.
Ia membalik badan, lalu berjalan menuju
ke arah timur.
Keempat Tosu kecil yang mendampinginya,
dengan delapan bilah pedang masih terhunus segera mengikut di
sekitar Tan Sam-cing dengan
kewaspadaan tinggi.
Setiap langkah kaki keempat Tosu kecil
itu selalu berirama dan menjaga jarak mereka dengan
Tan Sam-cing, tidak terlalu cepat
juga tidak terlalu lambat, biarpun lima orang berjalan bersama-sama,
namun langkahnya bagaikan langkah satu orang.
Bong Thian-gak
dan To Tian-seng mengikut di
belakangnya, melihat cara keempat Tosu kecil dan
Tan Sam-cing berjalan, mereka dibuat
terkejut, segera pikirnya, "Dari cara mereka berjalan, tampaknya
kepandaian silat yang dimiliki keempat Tosu kecil ini sudah mencapai
puncak kesempurnaan, terutama dari langkah mereka yang seirama
dengan Tan Sam-cing, sudah
jelas keempat Tosu kecil ini akan menjadi pembantu utama
Tan Sam-cing bila melancarkan
serangan nanti."
Sam-cing-koan adalah kompleks kuil yang
amat luas, gedungnya dibangun searah dengan tanah perbukitan.
Ketujuh orang itu menembus tiga gedung
lagi sebelum akhirnya tiba pada gedung kesembilan.
Sepanjang perjalanan
Bong Thian-gak tiada hentinya
mengawasi sekeliling tempat itu, tak ada bayangan manusia, agaknya
segenap Tosu dalam kuil itu telah dihimpun seluruhnya ke tanah
lapang di depan gedung kelima.
Gedung yang kesembilan ini berbeda corak
dengan delapan gedung lainnya. Dari kejauhan gedung itu hanya
dinding melulu, seputarnya tidak terdapat gedung tambahan ataupun
pintu keluar, mirip sebuah gedung manunggal yang berdiri sendiri.
Tan Sam-cing
serta keempat Tosu kecil menuju ke gedung itu, tak lahan
Bong Thian-gak bertanya,
"Tan-koancu, apakah Keng-tim Suthay sekalian berada di dalam gedung
itu?"
"Benar," Tan
Sam-cing mengangguk, "mereka memang berada dalam gedung
ini."
Sembari berkata, ketujuh orang itu
menelusuri undak-undakan batu dan naik ke atas.
Setibanya pada undak-undakan terakhir,
Bong Thian-gak berdua baru
dapat melihat gedung itu ternyata kosong.
Sebelum Bong
Thian-gak mengajukan pertanyaan,
Tan Sam-cing lelah menjelaskan lebih
dahulu, "Di dalam gedung terdapat gua besar yang tembus ruang bawah
tanah, gua itu terbagi menjadi sembilan buah lorong yang saling
bersilangan dalam perut bumi. Bila seseorang yang tidak mengenal
jalan masuk ke situ, mereka akan memasuki sebuah barisan yang
membingungkan dan jangan harap dapat keluar lagi dengan selamat."
Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru, "Tunggu
dulu, jangan masuk."
"Ada apa?" tanya
Tan Sam-cing seraya berpaling.
"Mengapa tak kulihat seorang pun dalam
ruangan?"
Tan Sam-cing
tertawa dingin.
"Sebelumnya kita telah melewati daerah
terlarang, bagaimana mungkin bisa bertemu orang?"
"Tan Sam-cing,
kami akan menunggu di sini sampai kau mengajak keng-tim Suthay
keluar serta membuktikan kebenaran identitas kami, sebelum kami
memasuki gedung rahasia dengan barisanmu itu."
"Tio-pangcu," kata
Tan Sam-cing sambil tertawa dingin,
"bila kau takut masuk, lebih baik menunggu di luar saja atau kau
memang takut tak bisa keluar lagi dalam keadaan selamat?"
Tio Tian-seng segera tertawa.
"Aku berani membunuh ketujuh orang
muridmu, berarti aku tak takut menghadapi balas dendammu."
"Empat puluh tahun berselang, meskipun
Tio Tian-seng adalah seorang raja iblis pembunuh manusia yang
ditakuti orang, namun Tan
Sam-cing masih berani menantangmu bertarung secara blak-blakan."
"Tapi kenyataan tempo hari kau
menghindari tantanganku untuk berduel," jengek Tio Tian-seng sambil
tertawa dingin.
"Sepuluh tahun sudah cukup merubah
segalanya, siapa tahu justru kaulah yang akan menghindari
tantanganku pada hari ini."
"Kalau begitu, tunggu saja nanti!"
Tan Sam-cing
segera memimpin keempat Tosu kecil melanjutkan perjalanan memasuki
gedung.
Di ujung gedung terdapat dinding bukit
yang rata bagaikan cermin, tiba-tiba Tan
Sam-cing menarik sebuah gelang besi tempat obor yang
terdapat di dinding.
Diiringi suara keras, dinding batu yang
datar itu mendadak bergeser ke samping dan terbukalah sebuah pintu
rahasia.
Dengan langkah cepat
Tan Sam-cing dan keempat Tosu kecil
melangkah masuk.
Menyusul kemudian terdengar lagi suara
gemuruh yang sangat keras, dinding batu yang bergeser tadi kini
sudah menutup kembali.
Siapa pun tak menyangka kalau di atas
dinding batu yang licin bagaikan cermin itu sesungguhnya terdapat
sebuah pintu rahasia. Menyaksikan hal itu.
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, katanya, "Bila si tabib sakti memang mengolah obat di
tempat ini, maka tempat ini memang sebuah tempat yang sangat aman."
Belum selesai ia berkata, tiba-tiba
terdengar lagi suara gemuruh pintu terbuka lagi dan
Tan Sam-cing melompat keluar dari
pintu rahasia dengan wajah tegang.
Tergetar perasaan
Bong Thian-gak, cepat ia menyongsong
sambil menegur, "Tan-locianpwe, apa yang telah terjadi?"
"Celaka, telah terjadi peristiwa besar,"
seru Tan Sam-cing dengan
wajah kaget bercampur gugup. "Murid-murid kami yang bertugas
melakukan penjagaan di dalam sana telah mati dibunuh orang."
Mendengar itu,
Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng
serentak menyelinap masuk ke dalam pintu rahasia.
Di balik pintu itu terdapat sebuah
ruangan, di sana terdapat pula perabot rumah tangga, belasan orang
Tosu berbaju kuning tampak roboh bergelimpangan di atas tanah dalam
keadaan mengenaskan.
Di ujung dinding batu terdapat sembilan
buah lorong gua, saat itu keempat Tosu kecil tadi dengan pedang
terhunus berjaga di depan mulut tfua, sikap mereka amat serius
seakan-akan sedang menghadapi musuh besar.
Bong Thian-gak
dapat merasakan betapa gawatnya situasi waktu itu, maka kepada
Tan Sam-cing yang ikut masuk
ke dalam ruangan, ia bertanya, "Tan-koancu, si tabib sakti berada
dimana?"
"Tempat dimana Gi Jian-cau mengolah obat
terletak dalam sebuah ruang rahasia di tengah kesembilan lorong itu,
Keng-tim Suthay bersama beberapa orang jago lihai Hiat-kiam-bun
bersama-sama menjaga di situ."
Dalam pada itu Tio Tian-seng telah
memeriksa setiap mayat yang tergeletak di tempat itu, wajahnya
nampak serius, ia berdiri termangu sambil memutar otak memikirkan
kejadian yang sedang dihadapinya.
"Tio-pangcu, apa yang menyebabkan
kematian orang-orang itu?" tanya Bong
Thian-gak kemudian dengan suara nyaring.
Sebelum Tio Tian-seng sempat menjawab,
Tan Sam-cing telah
menjelaskan lebih dulu, "Mereka tewas oleh pukulan tenaga dalam yang
hebat dan sempurna, setiap serangan tepat mengenai isi perut."
Tio Tian-seng seperti teringat akan
sesuatu, ia segera berseru tertahan,
lalu membungkukkan badan dan merobek pakaian bagian dada
sesosok mayat.
Dengan cepat, ia menjerit kaget, "Ah,
Hek-mo-ong!"
Dengan cepat
Bong Thian-gak dan Tan
Sam-cing memburu ke sana, ternyata di atas dada Tosu itu
terdapat sebuah cap tengkorak berwarna hitam.
"Apakah lambang tengkorak hitam ini
merupakan lambang Hek-mo-ong?" tanya Bong
Thian-gak keheranan.
Sewaktu Tan
Sam-cing mendengar kata "Hek-mo-ong", dengan
cepat ia menghampiri sesosok mayat
yang lain serta merobek pakaian di bagian dada mereka.
Ternyata di dada mayat-mayat itu
terdapat lambang tengkorak hitam.
Paras muka Tio Tian-seng berubah menjadi
tak sedap dipandang, pelan-pelan ia berkata, "Tak salah lagi,
pembunuhnya adalah Hek-mo-ong, sebab setiap korban yang dibunuh
Hek-mo-ong, di dadanya selalu terdapat lambang tengkorak hitam."
Setelah berhenti sejenak, kepada
Tan Sam-cing ia bertanya, "Hidung
kerbau, menurut pendapatmu sudah berapa lama mereka
dibunuh?"
"Ai, kurang lebih satu jam berselang,"
kata Tan Sam-cing sambil
menghela napas sedih.
Tio Tian-seng menggeleng kepala berulang
kali. "Tak mungkin begitu lama."
"Lantas menurut pendapatmu mereka sudah
tewas berapa lama?"
"Paling lama setengah jam berselang,
paling cepat seperempat jam yang lalu."
"Pembunuhnya mungkin masih belum
meninggalkan tempat ini," seru Bong
Thian-gak kemudian.
"Benar," Tio Tian-seng mengangguk.
"Jelas orang itu belum meninggalkan gua ini, bisa jadi si pembunuh
masih berada dalam lorong gua atau mungkin juga sedang mencelakai
jiwa Keng-tim Suthay dan tabib sakti."
Bong Thian-gak
segera berkelebat ke depan dan menyerbu ke dalam lorong gua.
"Bong-laute, jangan masuk dulu!" cepat
Tio Tian-seng berteriak.
Bong Thian-gak
berhenti seraya berpaling, "Tio-pangcu, bila kita tak segera
menghalangi pembunuh itu, akibatnya sukar dibayangkan."
"Pembunuh itu mempunyai kepandaian silat
luar biasa, lagi pula bersembunyi di dalam gua. Jika Bong-laute
masuk ke dalam secara sembrono, niscaya keselamatan jiwamu akan
terancam."
"Betul!" kata
Tan Sam-cing pula. "Harap Bong-sicu jangan masuk dulu,
dalam gua ini hanya terdapat sebuah pintu masuk, bila pembunuh itu
belum pergi dari sini, ia tidak mungkin muncul di tempat ini."
Tio Tian-seng segera menengok sekejap ke
arah Tan Sam-cing, lalu
serunya, "He, hidung kerbau,
sekarang kau baru percaya kalau dia
adalah ketua Hiat-kiam-bun?"
Tan Sam-cing
menghela napas panjang.
"Ai, si pendatang itu bukan hanya
membawa tanda kepercayaan ketua Hiat-kiam-bun yakni Pek-hiat-kiam,
dia pun cacat lengan kiri dan pincang kaki kanannya, usia hampir
sebaya, cara bagaimana Pinto
bisa membedakan
kepalsuan dirinya?"
"Apakah dia datang seorang diri?" tanya
Tio Tian-seng lagi dengan kening berkerut.
"Masih ada dua orang lagi, seorang gadis
berusia dua puluh tahun dan seorang kakek."
"Sudah kau lihat jelas paras kakek itu?"
Tan Sam-cing
segera berseru tertahan, "Ah, sudah kulihat, tapi sama sekali tiada
gambaran dalam benakku."
"Dengan ketajaman mata Tan-koancu, masa
kau begitu cepat melupakan ciri wajahnya?"
"Sungguh aneh,"
Tan Sam-cing menggeleng kepala.
"Padahal bila seseorang pernah berjumpa denganku, maka sepuluh tahun
lagi pun aku masih dapat mengingatnya, tapi sekarang aku sama sekali
tak punya kesan apa pun tentang dirinya."
Pada saat itulah dengan wajah kereng dan
serius, Tio Tian-seng bertanya lagi, "Hei, hidung kerbau, sungguhkah
kau tak bisa mengingat muka kakek itu?"
Tan Sam-cing
menggeleng kepala berulang kali.
"Aneh, betul-betul sangat aneh, rasanya
orang itu menggerakkan tubuhnya tiada henti waktu itu
... sehingga paras mukanya tak dapat
terlihat dengan jelas."
"Kalau begitu bisa jadi kakek itu adalah
Hek-mo-ong," ucap Tio Tian-seng kemudian dengan wajah serius.
"Hek-mo-ong? Rasanya Pinto juga pernah
mendengar nama itu."
"Kapan kau mendengar nama itu?
Mendengarnya dari siapa?"
"Sepuluh tahun lalu, Oh Ciong-hu pernah
menyinggung nama itu, dia pun menjelaskan kemisteriusan orang itu
dan perbuatannya yang buas dan keji."
Tio Tian-seng menghela napas sedih.
"Ai, sayang sekali Oh Ciong-hu telah
tewas, kalau tidak, dialah yang
paling jelas mengetahui asal-usul Hek-mo-ong.
Tan Sam-cing, apakah Oh Ciong-hu
mengatakan kepadamu siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya?"
"Sama sekali tidak."
Bong Thian-gak
menimbrung dengan suara dalam, "Seandainya
Hek-mo-ong dan sekalian pembunuh
benar-benar masih berada dalam gua ini, menunggu kedatangan mereka
di tempat ini rasanya bukan cara terbaik, entah Hek-mo-ong itu
seorang berkepala tiga berlengan enam atau bukan. Bila Tio-pangcu
dan Koancu bersedia membantu, Boanpwe yakin masih dapat menghadapi
manusia laknat itu." Tio Tian-seng segera mengangguk.
"Betul, dengan kekuatan kita bertiga,
sekalipun ada dua orang Hek-mo-ong yang tangguh pun jangan harap
bisa unjuk gigi, yang kukuatirkan sekarang adalah Tan-koancu."
Belum sempat ia mengutarakan kata-kata
berikutnya, Tan Sam-cing
sudah mendengus dingin sembari menukas, "Hek-mo-ong telah membunuh
belasan anggota kami, kau anggap Pinto akan melepaskan begitu saja?"
"Tapi aku juga telah melukai ketujuh
orang muridmu," sambung Tio Tian-seng.
Tan Sam-cing
segera tertawa dingin, "Dendam sakit hati ini pasti akan kutuntut
balas, aku tahu Tio Tian-seng tentu mengetahui hal ini dengan
jelas."
"Yang kukuatirkan kau si hidung kerbau
akan memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk membalas
dendam. Bila hal itu sampai terjadi, hari ini aku benar-benar akan
keok di tempat ini."
"Aku pasti akan membunuh Hek-mo-ong
lebih dahulu sebelum mencari balas kepadamu," seru
Tan Sam-cing sambil tertawa dingin.
Mendengar pembicaraan yang berlangsung
antara kedua orang itu, Bong
Thian-gak terkesiap, segera pikirnya, "Tampaknya Tosu tua ini
seorang licik yang banyak akal muslihatnya, jelas dia bukan dari
golongan lurus."
Berpikir sampai di sini, tiba-tiba
Bong Thian-gak melompat ke
depan dan menerobos masuk ke dalam gua nomor lima yang tepat berada
di tengah.
"Bong-laute, tunggu dulu!" lekas Tio
Tian-seng berseru dengan gelisah.
Tanpa berpaling,
Bong Thian-gak menyahut lantang,
"Harap Tio-pangcu berjaga-jaga di luar saja, jangan biarkan pembunuh
itu melarikan diri, masalah dalam lorong biar kuhadapi seorang
diri!"
Selesai berkata,
Bong Thian-gak telah kabur ke dalam
gua.
Suasana di dalam lorong gua gelap-gulita
sehingga sukar untuk melihat kelima jari tangan sendiri. Ketika
Bong Thian-gak sudah masuk
dan belum jauh, di hadapannya sudah terbentur dinding batu, ternyata
lorong itu berakhir sampai di situ, sedangkan di sisi kiri kanannya
masing-masing terdapat lorong cabang yang entah berhubungan dengan
mana, sedangkan bagian tengah adalah dinding batu.
Waktu itu Bong
Thian-gak sangat menguatirkan jiwa Keng-tim Huthay dan
si tabib sakti, buru-buru dia berbelok menuju ke arah lorong gua
sebelah kanan.
Berjalan tak jauh pula, gua tadi terbagi
lagi menjadi tiga cabang, kali ini Bong
Thian-gak dibuat termangu, tapi kemudian dia memilih
meneruskan perjalanannya dengan menempuh gua sebelah tengah.
Kembali ia menempuh perjalanan, lorong
pun terpecah lagi menjadi empat cabang, ia memilih sebuah lorong di
antaranya.
Lorong bawah tanah yang gelap dan
menyeramkan menimbulkan perasaan ngeri bagi siapa pun, gua itu entah
berapa dalamnya dan masih terdapat berapa banyak cabang lagi?
Setelah menempuh perjalanan sekian lama,
Bong Thian-gak merasa dirinya
tersesat. Setiap kali mencapai persimpangan jalan, terpaksa ia mesti
memilih satu di antaranya untuk melanjutkan, tapi lelelah ditempuh
dan menyelusuri sekian waktu, dia merasa balik ke posisi
semula.
Hal itu segera menimbulkan perasaan
menyesal di hati kecilnya, ia
tersesat.
Kemanakah dia harus pergi mencari
Keng-tim Suthay serta si tulah sakti Gi Jian-cau?
Mendadak Bong
Thian-gak seperti menangkap suara langkah yang
sangat lirih, suara itu datang
menuju ke arahnya.
Bong Thian-gak
pura-pura tidak merasakan hal itu, dia masih melanjutkan langkahnya
setindak demi setindak ke arah depan.
Siapa sangka suara langkah itu
mengintilnya dan tiba-tiba lenyap begitu saja.
Bong Thian-gak
dibuat tertegun dan segera menghentikan langkah sembari
berpaling.
la menangkap sesosok bayangan orang
berbaju hitam yang kecil ramping telah berdiri di belakang tubuhnya.
Lorong bawah tanah yang gelap gulita
sudah barang tentu tak memungkinkan baginya untuk melihat raut wajah
lawan secara jelas, tapi sorot mata lawan justru seperti dua titik
cahaya bintang yang sedang mengawasi dirinya tanpa berkedip.
"Siapa kau?"
Bong Thian-gak menegur.
Orang berbaju hitam itu tidak menjawab,
tapi Bong Thian-gak dapat
merasakan segulung angin pukulan berhawa dingin menyergap dirinya
secara diam-diam.
Bong Thian-gak
segera membentak, telapak tangan kirinya diayun ke muka sekuat
tenaga, sementara tubuhnya mengikuti gerak serangan itu bergeser ke
samping.
Terasa ada senjata rahasia yang terbang
melalui sisi tubuhnya tanpa menimbulkan sedikit suara pun, senjata
rahasia itu akhirnya menerjang dinding gua hingga permukaan dinding
berguguran ke tanah.
Dengan terkejut
Bong Thian-gak lantas berpikir,
"Sungguh berbahaya! Serangan senjata lawan sama sekali tidak
menimbulkan sedikit suara pun. Coba kalau aku tidak menggeser ke
samping, bukankah senjata rahasia itu akan bersarang di tubuhku
secara telak?"
Ketika ia mencoba mendongakkan kepala,
orang berbaju hitam itu nampaknya sudah berubah posisi.
Sekali lagi
Bong Thian-gak membentak, "Siapa kau? Bila tak mau
bersuara, jangan salahkan bila aku berbuat kurangajar kepadamu!"
Orang berbaju hitam itu masih juga belum
bersuara, Bong Thian-gak
mengerahkan tenaga dalam secara diam-diam, kemudian dengan cepat
melepaskan sebuah pukulan yang amat dahsyat ke depan.
Serangan itu dilepaskan dengan hebat,
tatkala angin serangan menderu, sesungguhnya kekuatan serangan
sendiri telah mencapai setengah tombak ke hadapan musuh, pada
hakikatnya sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk
menghindar.
Namun orang itu memang terhitung jago
silat berilmu tinggi, di saat angin serangan mulai menderu bagai
amukan angin puyuh, tahu-tahu orang itu telah bergeser.
Bong Thian-gak
baru tahu, bisa jadi orang ini adalah salah satu di antara ketiga
pembunuh yang dimaksud Tan
Sam-cing tadi, karenanya ia
menggerakkan tubuh dan mendesak maju secara garang.
Lengan tunggalnya kembali diayun,
telapak tangan yang tajam bagaikan
babatan mata golok langsung diayunkan menghantam dada
musuh.
Kecepatan serangan
Bong Thian-gak sudah merajai
persilatan dan jarang
sekali ada musuh yang mampu lolos. Kenyataan biarpun kecepatan
serangan Bong Thian-gak
sangat mengagumkan, ancaman itu iuma mengenai tempat kosong.
Orang itu segera berkelebat, kali ini
tangannya yang halus mulus seakan
menggenggam benda yang secara langsung dihujamkan ke
arah dadanya.
Bong Thian-gak
amat terperanjat, serangan musuh sangat aneh
dan
hebat, rasanya mustahil
untuk membendung ancaman itu.
Bong Thian-gak
berseru tertahan, dadanya seperti dicap hingga
roboh terjengkang ke belakang.
Tapi bersamaan pula
Bong Thian-gak mengayunkan kaki
kanan dilepaskan sebuah tendangan kilat ke depan.
Jeritan kaget
segera berkumandang, tubuh orang berbaju hitam yttiK kecil mungil
itu seketika tertendang oleh Bong
Thian-gak hingga
mencelat
ke belakang sana.
Begitu tubuhnya menumbuk dinding batu,
segera roboh ke tanah.
Dengan gerakan yang sangat cepat
Bong Thian-gak melejit dan
menerjang ke arah orang itu.
Telapak tangan tunggalnya diputar dan
mencengkeram urat nadi tangan
kiri lawan.
Dalam anggapan
Bong Thian-gak, orang itu
terkena tendangannya hingga
roboh terjengkang, berarti serangan yang dilancarkan olehnya
sudah pasti berhasil membekuk musuh.
Siapa tahu pada saat itulah, kakinya
yang kecil mendadak diayun ke
muka
dan menghantam tubuh
Bong Thian-gak hingga jatuh
terjerembab ke sisi kanan.
Orang
itu menghunus pisau belati yang
bersinar tajam, kemudian sambil
melejit dari atas tanah menyergap Bong
Thian-gak.
Seketika timbul hawa membunuh
Bong Thian-gak, sebenarnya
namun serangan yang dilancarkan
cukup hati-hati, sebab diketahuinya lawan adalah seorang wanita, dia
enggan melancarkan serangan ganas untuk menyakiti musuhnya itu.
Tapi setelah mengetahui betapa sukarnya
menaklukkan lawan, mau tak mau dia mesti mempersiapkan serangan yang
jauh lebih ganas dan buas, sebab ia tahu, bila tidak, hal itu tak
mungkin akan berhasil.
Sambil mendengus dingin
Bong Thian-gak mengayun telapak
tangannya dan secara beruntun melancarkan tiga serangan berantai.
Semua ancaman dilancarkan tanpa
menimbulkan sedikit suara pun, tapi justru serangan itu merupakan
ancaman yang dahsyat, dan mengerikan.
Perempuan berbaju hitam menjerit
kesakitan, tubuhnya mundur sempoyongan kemudian membalikkan badan
dan melarikan diri ke arah lorong gua.
"Kau anggap masih bisa melolos diri?"
jengek Bong Thian-gak dengan
suara dingin.
Dengan cepat ia melompat ke depan dan
melakukan pengejaran secara ketat.
Tapi hanya selisih satu langkah saja,
perempuan berbaju hitam itu sudah menyelinap ke balik sebuah cabang
lorong gua yang gelap dan menyembunyikan diri di balik kegelapan
sana.
Tak terlukiskan rasa dongkol
Bong Thian-gak menghadapi itu,
sambil menggebrak tanah, dia mengumpat tiada hentinya, "Pelacur
busuk, akan kulihat kau bisa kabur sampai dimana?"
Lorong demi lorong segera diperiksa dan
digeledahnya secara seksama dan teliti.
Namun bukan saja ia tak berhasil
mengejar gadis berbaju hitam itu, ia pun gagal menemukan lorong
menuju keluar, pemuda itu tersesat dalam lorong rahasia yang
membingungkan itu.
Sudah hampir satu jam ia menelusuri
lorong bawah tanah, rasanya kaki sudah linu dan kaku, akhirnya
setelah menghela napas panjang ia duduk di atas tanah.
Sekarang baru timbul perasaan gugup
bercampur ngeri dalam hati pemuda itu.
Pikirnya, "Sekarang aku terkurung di
sini, bila tiada orang yang menolong, bukankah aku bakal mati
kelaparan dalam lorong sialan ini."
Tiba-tiba ia menangkap suara rintihan
lirih berkumandang dari depan, rintihan itu segera memutus
lamunannya.
Serta-merta anak muda itu memeriksa dan
memandang sekeliling tempat itu.
Akhirnya ia lihat seseorang sedang duduk
bersandar di dinding gua. Bong
Thian-gak segera menyilangkan telapak tangannya untuk
melindungi dada, lalu selangkah demi selangkah menghampiri.
Dugaannya memang tidak meleset, dia
adalah seorang perempuan berbaju hitam.
Tiba-tiba perempuan berbaju hitam itu
memuntahkan darah segar, lalu dengan suara lirih ia berkata, "Jika
kau berani mendekat lagi, segera Akan kulontarkan peluru api
Leng-hwe-tan."
Baru saja kata-kata itu selesai
diutarakan, Bong Thian-gak
sudah mendesak ke muka, kelima jari tangannya bagaikan cakar elang
tahu-tahu sudah mencengkeram urat nadinya.
"Sayang sekali tindakanmu terlampau
lambat," ia menjengek uimbil tertawa dingin, "lagi pula kau pun
tidak memiliki kekuatan lagi untuk menggerakkan jari-jari tanganmu."
Memang benar perempuan berbaju hitam itu
tidak memiliki kekuatan lagi untuk menggerakkan jari-jari tangannya.
Urat nadi adalah alat penggerak
peredaran darah, apabila urat Audi dicengkeram, maka segenap
kekuatan akan lenyap, apalagi gadis (tu memang pada dasarnya telah
kehilangan kekuatan untuk melakukan perlawanan.
"Siapa kau?" akhirnya perempuan itu
menegur dengan suara gemetar.
Bong Thian-gak
tertawa dingin.
"Aku justru ingin bertanya kepadamu,
siapa kau?"
"Aku adalah Sam-buncu Hiat-kiam-bun,"
suara perempuan itu masih gemetar.
"Hm, siapa yang mau percaya begitu
saja?" jengek Bong Thian-gak
sambiI tertawa dingin.
"Kumohon padamu, bersediakah kau melepas
cengkeramanmu?"
"Boleh saja, asal kau bersedia juga
menjawab pertanyaanku secara terus
terang."
"Apa yang hendak kau tanyakan? Cepatlah
kau ajukan!" "Sesungguhnya berapa banyak anggota komplotanmu yang
sudah menyelundup ke dalam lorong bawah tanah ini?" "Komplotan?
Komplotan apa?"
Bong Thian-gak
kembali tertawa dingin.
"Komplotan Hek-mo-ong, komplotan yang
berniat datang kemari untuk membunuh si tabib sakti Gi Jian-cau."
"Ah!" perempuan itu berseru tertahan,
lalu buru-buru bertanya, "Siapa kau? Cepat katakan!"
"Aku adalah ketua Hiat-kiam-bun,
Jian-ciat-suseng Bong
Thian-gak."
Baru selesai ia berkata, tiba-tiba
Bong Thian-gak merasakan
datangnya segulung angin pukulan yang maha dahsyat menyergap tiba
dari arah belakang tanpa menimbulkan suara.
Serta-merta
Bong Thian-gak melepaskan cengkeraman pada urat nadi
tangan kanan perempuan itu, kemudian dengan cekatan berkelit ke
samping untuk menghindarkan diri.
Suatu benturan keras segera
berkumandang, menyusul jeritan ngeri yang menyayat hati.
Ternyata angin pukulan yang amat keras
dan dahsyat itu persis menghajar tubuh perempuan berbaju hitam itu.
Di saat tubuhnya berkelit ke samping
tadi, Bong Thian-gak telah
mengayunkan pula telapak tangannya dengan kecepatan luar biasa.
Kembali menggema suara ledakan keras
yang memekakkan telinga, seseorang dengan tertawa licik yang dingin
dan menggidikkan segera berkelebat dan lenyap di balik kegelapan
sana.
Bong Thian-gak
sama sekali tak menyangka serangannya yang cepat ternyata gagal
melukai musuh, dia siap menerjang kembali, namun musuh telah kabur
menyelamatkan diri.
Untuk beberapa saat lamanya
Bong Thian-gak tertegun dan berdiri
termangu-mangu, kemudian ia membalikkan badan memeriksa keadaan
perempuan berbaju hitam itu. Siapa tahu perempuan tadi sudah
tergeletak lemas di atas tanah, tergeletak dalam keadaan tak
bernyawa.
Baru sekarang
Bong Thian-gak mengerti, rupanya tujuan serangan orang
tadi adalah menghilangkan saksi hidup.
Memandang mayat yang tergeletak di
hadapannya ini Bong Thian-gak
menghela napas sedih, gumamnya tanpa terasa, "Bila arwahmu bisa
tahu, sudah tentu kau tahu
siapakah orang yang telah membunuhmu, dia
adalah rekanmu sendiri."
Bong Thian-gak
masih menganggap perempuan berbaju hitam itu adalah rekan
Hek-mo-ong, ia masih ragu dia adalah Sam-hubuncu Hiat-kiam-bun.
Lorong bawah tanah itu kembali dicekam
suasana seram, ngeri nerta menggidikkan.
Bong Thian-gak
mengerti di dalam lorong bawah tanah itu masih tersembunyi beberapa
orang musuh yang setiap saat bisa melancarkan sergapan ke arahnya,
oleh sebab itu ia meningkatkan kewaspadaan nambil pelan-pelan
bergerak maju.
Mendadak Bong
Thian-gak menangkap lagi suara langkah yang bergerak
mendekat dari sembilan penjuru yang berbeda.
Saat itu Bong
Thian-gak sedang berdiri di tengah sembilan buah
persimpangan.
Dengan wajah serius dan memusatkan
perhatian, matanya yang dingin dan tajam mengawasi ke sekeliling
tempat itu.
Terasa olehnya dari balik sembilan
lorong gelap dan mengerikan itu
masing-masing berdiri seorang, delapan belas buah sorot mata yang
tajam seperti api setan mengawasi wajah
Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Dengan terkejut
Bong Thian-gak berpikir, "Bukankah
menurut keterangan Tan
Sam-cing dalam lorong bawah tanah ini hanya terdapat
tiga orang musuh saja? Mengapa
sekarang ada begitu banyak?"
Ia pun mendehem beberapa kali, kemudian
menegur, "Aku adalah ketua Hiat-kiam-bun
Bong Thian-gak, apakah sobat
bersembilan adalah anggota perguruan di bawah pimpinan Tan-koancu
dari kuil Sam-cing-kuan?"
Dalam hati pemuda itu kembali berpikir,
"Jangan-jangan orang-orang
ini dikirim Tan Sam-cing
untuk mencari diriku atau mungkin juga datang
mencari si pembunuh keji Hek-mo-ong."
Baru selesai
Bong Thian-gak berbicara, tiba-tiba ia merasakan
datangnya sembilan gulungan angin pukulan dahsyat yang dilontarkan
secara bersama-sama, deru angin tajam yang memekakkan telinga segera
menyapu datang dengan dahsyatnya.
Bong Thian-gak
dapat menangkap keanehan di balik deru angin pukulan itu, ia tak
berani berdiri di tengah arena menyongsong datangnya ancaman, maka
sambil bergeser ke samping, pemuda itu langsung menerjang ke salah
seorang di depannya.
Tindakan yang diambilnya sekarang
sungguh cerdas, andaikata ia masih berdiri di tengah persimpangan
jalan menghadapi datangnya ancaman, betapa pun sempurnanya tenaga
dalam yang dimilikinya akan sulit baginya membendung tenaga gabungan
sembilan orang.
Dalam sekejap mata lorong itu sudah
dipenuhi oleh suara deru angin pukulan yang kencang, dahsyat dan
mengerikan. Desingan angin berpusing serta pantulan tenaga pukulan
yang menimbulkan suara benturan yang sangat memekakkan telinga.
Bong Thian-gak
menggerakkan lengan tunggalnya dan bertarung sebanyak tiga-empat
jurus dengan orang yang berada di lorong itu.
Begitu bentrokan terjadi,
Bong Thian-gak segera dapat
merasakan betapa lihainya ilmu silat yang dimiliki lawan, semua
serangan berantai yang dilepaskannya secara beruntun berhasil
dihindari lawan secara mudah.
Orang yang berada di dalam lorong
rahasia itu cukup licik dan cerdik, sambil menahan datangnya
ancaman, dengan cepat ia mundur.
"Siapa kau?" dengan suara lantang
Bong Thian-gak segera membentak.
"Bila kau tak mengemukakan identitasmu, jangan salahkan bila aku
melancarkan serangan keji."
Bong Thian-gak
menghimpun tenaga dalamnya enam bagian, namun musuh tetap tak
bersuara, malah membalikkan badan dan kabur.
Habis sudah kesabaran
Bong Thian-gak, dengan menghimpun
tenaga yang dahsyat ia melepaskan dua bacokan kilat ke depan.
Angin pukulan meluncur ke depan,
terdengar dengusan tertahan dan orang yang melarikan diri itu jatuh
terjengkang ke atas tanah,
tak bangun kembali untuk selamanya.
Bong Thian-gak
menerkam ke depan lalu mencengkeram urat nadi lawan, tapi denyut
nadi orang sudah berhenti, jiwanya telah kembali ke akhirat.
Seruan kaget bergema, agaknya dalam
kegelapan itu Bong Thian-gak
lelah menemukan orang itu tak lain adalah seorang Tosu tua.
Siapakah mereka? Mungkinkah anak murid
Tan Sam-cing? Tapi mengapa
mereka masih melancarkan serangan meski sudah kusebutkan namaku?
Dengan terkesiap
Bong Thian-gak berpikir, "Jika
kesembilan orang yang menyerang tadi adalah kawanan Tosu
Sam-cing-koan, berarti usahaku untuk lolos dari gua ini akan
menjumpai kesulitan besar."
Saat itu pikiran dan perasaan
Bong Thian-gak sangat kalut, ia tak
habis mengerti orang yang berada dalam lorong rahasia itu sebenarnya
kawan atau lawan.
Ia menduga bisa jadi kesembilan Tosu
yang menyerang dirinya tadi adalah jago-jago lihai Sam-cing-koan
yang ditugaskan untuk melindungi si tabib sakti Gi Jian-cau mengolah
obat.
Mungkin saja mereka telah salah mengira
dirinya sebagai komplotan pembunuh Hek-mo-ong.
Berpikir sampai di situ,
Bong Thian-gak pun merasa teka-teki
yang semula menyelimuti
perasaan kini telah memperoleh jawaban yang
benar, rasa menyesal karena
membinasakan seorang sahabat pun segera timbul
dalam hati kecilnya.
Tanpa terasa ia membungkukkan badan dan
memberi hormat hormat
jenazah itu, kemudian
berdoa di hadapannya bagi ketenteraman arwah
Tosu tadi.
Suasana di lorong bawah tanah kembali
tercekam dalam sepi dan aman, begitu sepinya
hingga mirip kuburan.
Bong Thian-gak
bersila di atas tanah dengan perasaan tenang, ia mencoba
mengatur napas dan sekali lagi terdengar bergemanya suara
langkah kaki dari balik lorong.
PENDEKAR CACAT
Karya : Gu Long
Saduran : Can ID
Bagian 16 : Nyamuk beracun wilayah Biau
Suara langkah kaki itu seakan-akan
bergema dari jauh, suaranya sangat
lirih dan lembut, jika ia tidak sedang bersemedi tak nanti
bisa menangkap suara itu.
Bong Thian-gak
terkejut, tentu ada jago lihai yang mempunyai Ilmu tinggi sedang
bergerak mendekat, malah bisa jadi orang itu adalah
Hek mo-ong yang misterius.
Teringat pembunuh itu,
Bong Thian-gak segera memusatkan
segenap kemampuan bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Bong Thian-gak
tahu orang itu sudah memasuki lorong bawah tanah dimana ia berada
sekarang dan selangkah demi selangkah sedang berjalan mendekat.
Mendadak orang itu menghentikan langkah,
rupanya dia pun sudah merasakan kehadiran seseorang di tempat itu.
Ia tahu Bong Thian-gak adalah
seorang jago lihai berilmu tinggi, semestinya ia sudah menangkap
suara dengus napas dari jauh, kenyataan ia baru mendengar setelah
jarak sudah dekat.
Kedua belah pihak segera menghimpun
tenaga dalam masing-masing sambil menunggu kesempatan melancarkan
serangan kilat.
Tampaknya kedua orang itu sama-sama
menunggu sampai pihak lawan melancarkan serangan lebih dulu, tapi
kedua orang itu sama-sama enggan menyerang lebih dulu.
Semakin lama kedua belah pihak semakin
tak berani melancarkan serangan lebih dulu.
Pertarungan jago-jago yang berilmu
tinggi seringkah menang-kalah hanya ditentukan oleh selisih yang
kecil sekali, apalagi bila kedua belah pihak sudah tahu musuh
menghadapi serangan dengan ketenangan, maka barang siapa berani
melancarkan serangan lebih dulu, enam puluh persen dia berada dalam
posisi kalah.
Itulah sebabnya terpaksa kedua belah
pihak saling menunggu.
Pada saat itulah mendadak
Bong Thian-gak merasakan tibanya
rombongan lain yang berjalan mendekat dari belakang tubuh orang itu.
Agaknya orang itu pun sudah merasakan
hal itu.
Dengan demikian posisi menjadi sangat
tidak menguntungkan bagi orang itu.
Bong Thian-gak
yang melihat keadaan itu berpikir dalam hatinya, "Kemungkinan besar
orang yang sedang bergerak mendekat itu adalah delapan orang Tosu
yang menyergapku tadi, jika orang di depanku sekarang adalah
Hek-mo-ong, maka dia tentu akan membalikkan badan menyerang kawanan
Tosu yang mendekat itu."
Suasana dalam arena makin bertambah
tegang, kini kawanan Tosu yang menghampiri tempat itu sudah semakin
mendekat.
Mendadak pertarungan berkobar dengan
cepat.
Ternyata orang itu membalikkan badan
sambil melompat ke depan.
Bong Thian-gak
membentak, tubuhnya melayang menyergap orang misterius itu.
Terjangan Bong
Thian-gak pada hakikatnya dilakukan dengan
cepat dan garang.
Tapi kawanan musuh yang menerjang dari
belakang tubuh orang misterius itu tiba lebih cepat.
Di tengah kegelapan terdengar suara
bentrokan demi bentrokan berkumandang tiada hentinya.
Lalu sesosok demi sesosok orang mencelat
ke belakang sambil mendengus dan mengeluh kesakitan, satu demi satu
roboh terkapar.
Telapak tangan kanan
Bong Thian-gak secepat sambaran
kilat langsung menyodok ke dada orang misterius itu.
Orang misterius itu tak berani
menyongsong datangnya ancaman Bong
Thian-gak dengan kekerasan, dia bergeser mundur tapi di
belakang tubuhnya sudah dinding batu, padahal babatan maut
Bong Thian-gak telah meluncur
datang.
Jalan mundur sudah tetutup, terpaksa
orang misterius itu harus menggerakkan sepasang lengannya membendung
datangnya ancaman tadi.
Siapa sangka gerak serangan yang
dilancarkan Bong Thian-gak
uneh sekali, gerak serangannya tiba-tiba menyelinap ke samping dan
berubah menjadi sodokan kepalan yang langsung meninju jalan darah
khi-hay-hiat di lambung musuh.
Biarpun Bong
Thian-gak dapat merubah serangannya dengan tepat, namun
reaksi orang misterius itu pun cukup cepat, kaki kanannya
segera diangkat ke atas.
Sodokan tinju yang dilancarkan
Bong Thian-gak menghantam lutut
lawan.
Akibatnya orang misterius itu roboh ke
sisi kanan.
Bong Thian-gak
membentak, sekali lagi telapak tangan kirinya melancarkan sebuah
bacokan.
Serangan yang dilancarkan BongThian-gak
kali ini menggunakan tenaga dalam delapan bagian. Selain cepat,
serangan itu pun ganas, kecuali pihak lawan menyambut ancaman itu
dengan kekerasan, tiada cara lain yang bisa dipakai untuk meloloskan
diri dari ancaman itu. Telapak tangan kembali saling beradu.
Bong Thian-gak
segera merasa hawa darah dalam dada bergolak, ia mundur dan hampir
saja roboh terjengkang.
Sejak terjun ke dalam persilatan, baru
pertama kali ini Bong
Thian-gak menjumpai lawan yang memiliki tenaga dalam lebih tangguh
dari kemampuannya. Dari bentrokan itu ia merasa isi perutnya
menderita sedikit luka.
Tampaknya orang misterius itu pun dibuat
tergetar keras dadanya hingga darah bergolak, lama sekali ia berdiri
mengatur pernapasan, kemudian dengan suara berat berkata. "Hai,
seandainya berganti orang lain, mungkin aku sudah mati di ujung
tangan Bong-laute sejak tadi."
"Ah, kau adalah Tio-pangcu?" seru
Bong Thian-gak kaget.
"Ya, memang aku."
Bong Thian-gak
segera melompat bangun sambil berseru, "Harap Tio-pangcu sudi
memaafkan, Boanpwe tidak tahu kau orang tua yang sedang kuhadapi."
"Siapa pun dalam lorong bawah tanah yang
gelap ini, tak akan terhindar dari kesalah-pahaman, karena kita
tidak bisa membedakan kawan dan lawan bukan?"
"Tio-pangcu, tahukah kau siapa saja yang
telah kau bunuh?" tanya Bong
Thian-gak sambil menghela napas.
"Para anggota kuil Sam-cing-koan."
Jawaban itu kembali membuat Bong
Thian-gak tertegun. "Kalau Tio-pangcu sudah mengetahui
identitas mereka, mengapa menghabisi nyawa mereka
"
"Mereka sudah berulang kali menyergap
diriku, sekarang sudah berubah jadi musuhku. Apakah kita mesti
berpeluk tangan menunggu datangnya kematian?"
"Sudah berapa lama Tio-pangcu datang
kemari?"
"Sesaat setelah kau masuk, aku pun
segera menerobos masuk ke lorong lain."
"Apakah Tio-pangcu telah berjumpa dengan
kawanan pembunuh Hek-mo-ong?"
"Aku sudah menjumpai banyak penyergap,"
sahut Tio Tiang-seng dengan suara dalam, "tapi semuanya adalah kaum
Tosu, sekarang aku mulai curiga."
"Apakah yang Tio-pangcu curigai?"
"Aku curiga
Tan Sam-cing telah berbohong."
"Apa yang dia bohongkan?"
"Sudah kau jumpai Hek-mo-ong dalam
lorong gua ini?"
"Aku cuma bertemu seorang perempuan
berbaju hitam, agaknya dialah salah seorang wanita pembunuh seperti
yang dilukiskan oleh Tan-koancu."
"Coba kau terangkan duduk persoalannya
kepadaku."
Secara ringkas
Bong Thian-gak menceritakan
pengalamannya sejak berjumpa perempuan berbaju hitam itu.
Seusai mendengar penuturan itu, Tio
Tian-seng menghela napas, katanya, "Bisa jadi orang yang ditemui
Bong-laute adalah Sam-hubuncu perguruanmu."
"Apa maksudmu?" tanya
Bong Thian-gak dengan terkejut.
Tio Tian-seng termenung sambil berpikir,
kemudian sahutnya, "Seandainya dalam lorong ini benar-benar terdapat
Hek-mo-ong dan komplotannya sebagai pembunuh, maka Sam-hubuncu
perguruanmu pasti mengetahui, tatkala ia mendengar kau menyinggung
Hek-mo-ong, sikapnya justru menunjukkan asing dan tidak
tahu-menahu."
"Tio-pangcu tidak yakin Hek-mo-ong ada
dalam lorong ini?" tanya Hong Thian-gak lagi dengan terkejut.
"Soal ini aku sendiri tidak berani
memastikan, tapi aku merasa Tan Sam-cing
mempunyai niat jahat."
"Jadi menurut Tio-pangcu, kawanan
penyerang ini adalah pembunuh yang dikirim
Tan Sam-cing untuk menghabisi nyawa
kita?"
"Jika Tan
Sam-cing tak bermaksud berbuat demikian, seharusnya
illa sudah masuk lorong gua serta mengajak kita keluar dari sini!"
"Tapi apa salahnya jika dia tetap
berjaga-jaga di luar? Bukankah maksudnya hendak menghalangi
Hek-mo-ong sekalian meloloskan diri dan sini?"
"Bukankah Tio-pangcu telah membuktikan
bahwa para korban yang tewas di luar gedung itu akibat pukulan
tengkorak Hek-mo-ong."
"Sekarang kita berada dalam keadaan
berbahaya, aku curiga Tan
Sam-cing sekomplotan dengan Hek-mo-ong."
Bong Thian-gak
semakin terperanjat, serunya kemudian, "Bila apa yang kau katakan
memang benar, bukankah keadaan Gi Jian-cau serta Keng-tim Suthay
terancam bahaya?"
"Kemungkinan besar Gi Jian-cau belum
mampus. Sekalipun Hek-mo-ong berhasil menemukannya, belum tentu
terbunuh di tangannya, namun selain si tabib sakti seorang, sudah
tentu musuh tak segan turun tangan keji terhadap mereka."
Semakin mendengar
Bong Thian-gak semakin terperanjat,
dia bertanya, "Sekarang apa yang mesti kita lakukan?"
"Tentu saja harus mencari akal agar bisa
mengundurkan diri dari tempat ini."
"Aku telah menelusuri lorong bawah
tanah, namun sampai sekarang masih belum juga berhasil menemukan
pintu keluarnya."
"Sewaktu aku masuk tadi, sepanjang jalan
telah kutinggali tanda rahasia. Ayo, Bong-laute, ikuti diriku!"
Bong Thian-gak
merasa kagum atas kecerdasan Tio Tian-seng, katanya, "Untung aku
bertemu Tio-pangcu, kalau tidak, bisa jadi selama hidup aku tak akan
berhasil meninggalkan tempat ini."
"Bisa jadi kita akan menghadapi sergapan
yang membahayakan jiwa kita, dalam menempuh perjalanan nanti paling
baik jangan sampai menimbulkan sedikit suara pun."
"Baik," sahut
Bong Thian-gak sambil mengangguk. Kembali Tio Tian-seng
berpesan, "Seandainya kita mendapat sergapan musuh tangguh, jangan
sekali-kali kau meninggalkan aku terlampau jauh, apabila sampai
kehilangan kontak, aku mesti membuang banyak waktu mencari jejakmu,
bila sampai kita berpisah misalnya, paling baik jika kau menanti
kedatanganku di tempat semula."
Sambil bicara, Tio Tian-seng sudah
melangkah, sementara Bong
Thian-gak mengikut di belakangnya.
Mendadak Tio Tian-seng menghentikan
langkahnya. Bong Thian-gak
pun menghentikan langkah, didengarnya suara peringatan Tio Tian-seng
yang dikirim dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara, "Kini
musuh tangguh telah menampakkan diri, bisa jadi orang itu adalah
Hek-mo-ong, hati-hatilah!"
Bong Thian-gak
mengangkat kepala serta mengalihkan pandangan ke arah lorong yang
gelap gulita, tampak olehnya seseorang berdiri angker di situ.
Sinar mata tajam mencorong dari balik
matanya, agaknya tenaga dalam orang itu sudah mencapai tingkat
kesempurnaan.
"Mungkin orang itu adalah Hek-mo-ong?"
tanya Bong Thian-gak kemudian
dengan ilmu menyampaikan suara.
"Rasa-rasanya mirip Hek-mo-ong," jawab
Tio Tian-seng agak tegang. "Sayang kita bertemu di lorong bawah
tanah, mustahil buat aku menggunakan pedang. Wah
... celaka! Aku bisa dipaksanya
berada di bawah angin."
Mendengar suara berat yang terpancar
keluar dari mulut Tio Tian-seng, kata Bong
Thian-gak, "Mengapa kita tidak bekerja sama?"
"Kepandaian silat Hek-mo-ong yang paling
hebat adalah pukulan tengkorak penggempur hati. Di kolong langit
dewasa ini masih belum ada seorang pun yang sanggup menghindari
serangan jarak dekatnya, oleh sebab itu bila bertempur melawannya,
bagaimana pun juga jangan memberi kesempatan kepadanya untuk
mendekati kita, karena begitu ilmu pukulan tengkorak penggempur hati
dilontarkan, tiada orang yang bisa membendungnya, sebab itu
kuanjurkan kepadamu janganlah bertarung kelewat emosi melawannya."
"Sekarang bisa jadi dia belum mengetahui
kehadiranmu di belakangku, maka aku ingin mempraktekkan taktik
perlawanan yang amat
jitu. Di saat kulancarkan
pukulan, bergeserlah kau ke sisi kiri, lalu
dengan menempatkan diri ke posisi
belakang, lepaskanlah sebuah serangan
yang paling dahsyat ke arahnya ...."
Belum habis ucapan Tio Tian-seng,
bayangan iblis di hadapannya unilah bergerak mendekat.
Orang itu baru saja bergerak, namun
tahu-tahu sudah berada di hadapannya.
Tio Tian-seng segera membentak, telapak
tangannya diayunkan bersama, dua gulungan angin pukulan yang sangat
dahsyat serta-merta
menggulung ke muka dengan
dahsyatnya.
Bersamaan waktunya, Tio Tian-seng segera
bergeser ke sisi kiri.
Sementara itu
Bong Thian-gak seperti sukma gentayangan telah meluncur
ke muka serta menggantikan kedudukan Tio Tian-seng, segulung angin
pukulan yang sangat dahsyat segera dilontarkan ke depan.
Sungguh tak nyana kepandaian silat iblis
itu sangat luar biasa, tatkala kedua gulung angin pukulan dahsyat
Tio Tian-seng membentur tubuhnya, dia segera mengebaskan tangan
kirinya serta memunahkan ancaman itu.
Bersamaan waktunya, secepat sambaran
kilat dia mendesak maju.
Tapi serangan kilat yang dilepaskan
Bong Thian-gak benar-benar di
luar dugaannya.
Dalam gugup dan cemasnya, orang itu
segera melepaskan sebuah serangan lagi dari jarak dekat.
Tio Tian-seng dapat menyaksikan jalannya
pertarungan dengan jelas, ia segera membentak, pedang yang digembol
di punggungnya segera dilolos, lalu ia lepaskan sebuah tusukan kilat
ke muka.
"Trang", bentrokan keras bergema disusul
munculnya percikan bunga api.
Iblis itu mendengus tertahan, badannya
terhajar oleh Bong Thian-gak
hingga mencelat ke belakang.
"Hendak kabur kemana kau?" jengek
Bong Thian-gak sambil tertawa
dingin.
Dia mengejar ke depan dan persis
menghadang di depan iblis itu. Lengan tunggal
Bong Thian-gak segera melancarkan
serangkaian serangan.
Angin pukulan yang dahsyat dan kencang,
bagaikan sayatan pedang mendesak iblis itu mundur ke arah dinding
gua.
Pada saat itulah
Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng
dari kiri kanan pelan-pelan mendesak maju.
Pedang dalam genggaman Tio Tian-seng
nampak memancarkan cahaya di balik kegelapan, setitik cahaya
bagaikan sinar kunang-kunang dalam pandangan
Bong Thian-gak berubah bagai cahaya
yang terang benderang.
Sekarang mereka sudah dapat melihat
dengan jelas iblis itu, ternyata seorang berkerudung berbaju hitam,
tangan kanannya nampak menggunakan sarung tangan, berbentuk
tengkorak manusia berwarna putih.
Tio Tian-seng menghentikan langkah di
hadapan orang itu, kemudian sambil tertawa dingin ia bertanya, "Kau
adalah anak buah Hek-mo-ong?"
Iblis itu tidak menjawab, hanya matanya
memancarkan bayangan aneh mengawasi Bong
Thian-gak di sisi kiri dengan tak berkedip.
"Hek-mo-ong sudah datang belum?" bentak
Tio Tian-seng lagi.
Kali ini iblis itu menjawab, namun
suaranya amat menggidikkan, "Suatu saat kalian pasti akan mampus di
tangan Hek-mo-ong."
Selesai berkata, tiba-tiba tubuhnya
roboh terjengkang.
Bong Thian-gak
serta Tio Tian-seng tertegun menghadapi situasi demikian, untuk
sesaat mereka tak tahu apa yang akan dilakukan.
Mendadak Tio Tian-seng menggerakkan
pedang melepas sebuah tusukan ke depan.
Iblis itu sama sekali tak menghindar,
pedang langsung menembus dadanya.
"Ah, dia telah mampus!" seru
Bong Thian-gak tertegun.
Setelah pedangnya menembus dada orang
itu, Tio Tian-seng turut mendesak maju, dengan cepat tangannya
menyingkap kain kerudung yang menutupi wajahnya.
Noda darah masih meleleh dari bibirnya.
Tio Tian-seng adalah seorang jago silat
kawakan, menyaksikan hal ini segera ia menghela napas, katanya,
"Serangan Bong-laute benar-benar tajam dan dahsyat, isi perutnya
telah kau pukul hancur."
"Ai, nyatanya orang itu masih sanggup
bertahan sekian lama setelah menerima pukulanku sebelum mampus.
Kehebatan ilmu silatnya benar-benar sangat mengerikan!"
"Mungkin orang ini adalah pembantu utama
Hek-mo-ong," kata Tio Tian-seng lagi sambil menghela napas. "Ai,
seandainya bukan serangan mendadak Bong-laute yang dilancarkan di
luar dugaannya, bukan pekerjaan mudah membinasakan dirinya."
"Ai, tadinya aku merasa Tio-pangcu
terlalu mengada-ada setelah kau melukiskan betapa hebat dan
menakutkannya Hek-mo-ong, tapi setelah kulihat betapa hebatnya
kepandaian silat yang dimiliki anak buahnya, baru kubayangkan
Hek-mo-ong seorang musuh yang sangat menakutkan."
"Bong-laute, bukanlah aku kelewat
menilai tinggi kemampuan musuh, kemampuan Hek-mo-ong memang
menakutkan, aku pernah bertemu satu kali dengannya dan hampir saja
jiwaku melayang."
"Apakah Tio-pangcu kenal orang ini?"
tanya Bong Thian-gak sambil
menunjuk ke arah korban.
Tio Tian-seng menggeleng kepala.
"Raut wajahnya asing bagiku."
"Ai, akhirnya anak buah Hek-mo-ong
muncul dalam lorong bawah tanah ini, nampaknya apa yang diucapkan
Tan Sam-cing bukan ucapan
kosong belaka."
"Menurut Tan
Sam-cing, orang yang berada dalam lorong bawah tanah
ini adalah seorang kakek, seorang perempuan, serta seorang cacat
lengan dan berkaki pincang, sedang korban yang kita jumpai sekarang
adalah lelaki setengah umur yang berusia empat puluh tahunan."
"Jadi menurut Tio-pangcu, korban bukan
termasuk di antara ketiga orang yang dimaksud
Tan Sam-cing?"
Tio Tian-seng segera menggeleng, "Ya,
sama sekali tidak sesuai."
"Siapa tahu si kakek yang dimaksud
Tan Sam-cing adalah orang
ini?" ujar Bong Thian-gak.
"Kecuali kita bertemu perempuan serta
orang yang menyaru sebagai Bong-laute itu, kalau tidak, aku tidak
akan percaya perkataan Tan
Sam-cing."
"Seandainya kedua orang itu
menyembunyikan diri di sudut lorong bawah tanah, bagaimana mungkin
kita bisa menemukan jejaknya?"
"Kita kan tak bakal meninggalkan
Sam-cing-koan ini dalam waktu singkat? Sebentar kau boleh
bersama-sama Tan Sam-cing
melakukan penggeledahan di sini, sedang tugas menjaga di luar biar
kugantikan untuk semenjtara."
"Baik, kita memang harus menemukan si
tabib sakti dan Keng-tim Suthay sebelum pergi meninggalkan tempat
ini!"
Tiba-tiba Tio Tian-seng menghela napas,
kemudian tanyanya, "Bong-laute, apakah kau sudah mengetahui
asal-usul Tan Sam-cing?"
"Konon dia adalah anak buah murid
Bu-tong-pay."
"Bong-laute, menurut pendapatmu apakah
nama besar Pat-kiam-hui-hiang cukup tersohor di dunia persilatan
pada empat puluh tahun berselang?"
"Padri sakti dari Siau-lim-pay, guruku
Oh Ciong-hu, Mo-kiam-sin-kun serta Pat-kiam-hui-hiang adalah tokoh
silat yang paling termasyhur di Kangouw waktu itu. Mereka disebut
empat tokoh persilatan, terutama kehebatan mereka di antara golongan
lurus maupun sesat."
"Yang disebut pedang lurus tentulah
Pat-kiam-hui-hiang Tan
Sam-cing, sedang si pedang sesat adalah aku Mo-kiam-sin-kun, bukan?"
"Waktu itu pedang Tio-pangcu memang
penuh dengan hawa membunuh, sehingga orang menyebutnya si pedang
sesat. Tapi menurut perasaan Boanpwe, sesungguhnya pedang Tio-pangcu
sama sekali tidak sesat."
Tio Tian-seng menghela napas panjang,
"Ai, dengan dasar apakah orang membedakan antara sesat dan lurus,
rasanya sulit untuk ditelusuri dan aku pun enggan mempersoalkan.
Yang ingin kuketahui sekarang adalah tersohornya Pat-kiam-hui-hiang
Tan Sam-cing waktu itu, apa
sebabnya ia lenyap secara tiba-tiba? Tahukah si tabib sakti serta
Keng-tim Suthay bahwa Sam-cing Koancu yang sekarang sebenarnya
adalah Pat-kiam-hui-hiang yang amat termasyhur namanya?"
"Apa maksud Tio-pangcu mencurigai hal
itu?"
"Bong-laute, sekarang bila kubilang
Tan Sam-cing adalah
Hek-mo-ong yang misterius itu, apakah Bong-laute anggap hal ini
mungkin?"
Bong Thian-gak
segera menggeleng.
"Tan Sam-cing
cukup termasyhur sebagai orang budiman, ia tak pernah mempunyai nama
jelek."
"Sebaliknya bila kukatakan bahwa akulah
Hek-mo-ong?"
Hati Bong
Thian-gak segera bergetar keras, sahutnya kemudian, "Jika
hal ini terjadi beberapa hari berselang, jika ada orang bertanya
mapakah Hek-mo-ong, maka
tentu akan menduga Tio-pangcu."
Tio Tian-seng tersenyum.
"Kalau bukan begitu, lantas siapakah
menurut Bong-laute yang pantas dicurigai sebagai Hek-mo-ong?"
Baru selesai perkataan itu, dari sudut
lorong gua terdengar seorang menanggapi dengan suara lantang,
"Menurut perasaan Pinto, Hek-mo-ong adalah Mo-kiam-sin-kun Tio
Tian-seng."
Bergemanya suara itu membuat hati
Bong Thian-gak maupun Tio Tian-seng
bergetar. Yang membuat mereka terkejut adalah kehadiran lawan sampai
di dekat mereka, namun sama sekali tidak mereka rasakan.
Sambil tertawa dingin Mo-kiam-sin-kun
Tio Tian-seng segera menegur, "He,
hidung kerbau, sudah lamakah kau datang kemari?"
Dari balik lorong gua yang gelap gulita
pelan-pelan muncul seseorang, walaupun kedua belah pihak belum
pernah melihat raut wajah masing-masing dengan jelas, namun
Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng
tahu bahwa si pendatang adalah Sam-cing Koancu Pat-kiam-hui-hiang
Tan Sam-cing.
Tiba-tiba Tan
Sam-cing menghentikan langkah, lalu menyahut dengan
suara hambar, "Sejak Bong-sicu membinasakan orang aneh tadi, Pinto
telah hadir di sini."
"Kedatanganmu memang tepat sekali," seru
Tio Tian-seng tertawa dingin.
Tan Sam-cing
tertawa dingin.
"Tentu saja kedatanganku memang sangat
tepat. Coba kalau aku tidak datang, sudah pasti Pinto dicurigai
sebagai Hek-mo-ong."
"Biarpun kau sudah datang, bukan berarti
bisa lepas dari kecurigaanku," jengek Tio Tian-seng.
Tan Sam-cing
mendengus, "Hm! Menubruk angin menangkap bayangan, memfitnah orang
tanpa fakta yang nyata, mengadu domba di antara sesama manusia,
semuanya memang watak kebiasaanmu."
"Boleh saja bila kau ingin lepas dari
kecurigaan," kata Tio Tian-seng dingin, "kecuali si tabib sakti
sekalian ditemukan dalam keadaan sehat dan selamat, kalau tidak,
jangan harap kau bisa terlepas dari kecurigaan kami."
Tan Sam-cing
naik pitam, segera bentaknya penuh amarah, "Tio Tian-seng, kau
memojokkan orang dengan kata-kata tuduhanmu itu. Bila kau lanjutkan,
Pinto tak bisa menahan diri lebih jauh!"
Bong Thian-gak
merasakan panasnya situasi, bila keadaan ini dibiarkan berlangsung
terus, kemungkinan akan berkobar pertempuran berdarah yang
mengerikan.
Maka dia maju beberapa langkah, setelah
menjura pada Tan Sam-cing,
ujarnya dengan suara lantang, "Tan-koancu, harap kau jangan marah
dulu. Dewasa ini masih ada musuh tangguh bersembunyi dalam lorong
bawah tanah. Apabila di antara kita terjadi keributan sendiri, hal
itu tentu akan menggirangkan lawan."
"Bong-sicu tak usah kuatir, ketiga orang
pembunuh yang menyusup masuk ke dalam lorong bawah tanah ini sudah
mati terbunuh."
"Jadi Tan-koancu telah berjumpa dengan
pembunuh-pembunuh itu?"
"Pinto telah membunuh seorang, lalu
menemukan sesosok mayat di lorong gua, ditambah mayat yang berada di
hadapan kita sekarang, bukankah berarti ketiga pembunuh itu telah
tertumpas?"
"Bagaimanakah bentuk wajah pembunuh yang
berhasil Tan-koancu habisi nyawanya?"
"Orang yang menyaru sebagai Bong-sicu."
Seraya berkata,
Tan Sam-cing melepaskan sebilah
pedang berikut sarungnya dari bahu, kemudian melanjutkan,
"Pek-hiat-kiam berada di sini, harap Bong-sicu menerimanya."
"Ehm, terima kasih banyak atas bantuan
Tan-koancu menemukan kembali Pek-hiat-kiam ini."
Seraya berkata, ia maju ke depan.
Tiba-tiba Tan
Sam-cing mengayun tangan kanannya, pedang yang berada
di dalam sarung itu tahu-tahu berkelebat ke muka dan mengancam jalan
darah Sim-kan-hiat di tubuh anak muda itu.
Tindakan itu bukan saja membuat
Bong Thian-gak tak sempat
menghindar, Tio Tian-seng juga sama sekali tak menyangka.
Berubah hebat paras muka
Bong Thian-gak, tanpa terasa ia
berpekik dalam hati, "Aduh celaka!"
Siapa tahu Tan
Sam-cing hanya menutul jalan darahnya, sama sekali
tidak disertai tenaga dalam. Terdengar ia berseru sambil tertawa
dingin, "Bong-sicu memang orang yang berjiwa terbuka dan berbudi
luhur, kebijakanmu membuat Pinto kagum, maaf atas kelancangan Pinto
barusan."
Rupanya Tan
Sam-cing hendak menggunakan cara itu untuk mencoba
mengerti apakah Bong
Thian-gak menaruh curiga kepadanya atau tidak.
Sesudah termangu-mangu beberapa saat,
Bong Thian-gak baru menerima
pedang itu, lalu diperiksanya dengan seksama. Benar juga, pedang itu
memang benda kepercayaan Hiat-kiam-bun, Pek-hiat-kiam, maka sekali
lagi dia memberi hormat kepada Tan
Sam-cing seraya berkata, "Seandainya Tan-koancu adalah musuh,
dengan seranganmu tadi niscaya habis sudah jiwaku."
"Seandainya Bong-sicu selalu waspada dan
berjaga-jaga terhadap serangan orang, niscaya kau akan berhasil
menghindarkan diri dari tusukan tadi," ucap
Tan Sam-cing.
Bong Thian-gak
menggeleng kepala.
"Jurus serangan yang dipergunakan
Tan-koancu tadi jauh berbeda dengan jurus kebanyakan orang. Aku
tahu, biarpun sudah waspada dan berjaga-jaga, rasanya sulit juga
menghindarkan diri."
Tan Sam-cing
tersenyum.
"Bong-sicu memiliki kepandaian silat
yang amat hebat, tapi tidak sombong, kebesaran jiwamu serta
kerendahan hatimu benar-benar mengagumkan sekali."
Tiba-tiba Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng
tertawa dingin, katanya, "Hei, hidung kerbau, kau mengatakan telah
membunuh orang, dimana mayatnya sekarang?"
"Dalam lorong bawah tanah sana."
"Dan masih ada orang lagi?"
"Perempuan pembunuh itu terbunuh di
lorong bawah tanah, entah ia tewas oleh Bong-sicu atau mati terbunuh
di tanganmu?"
"Apakah mayat perempuan yang Tan-koancu
temukan adalah perempuan berbaju hitam?"
Pada saat itulah tiba-tiba
Bong Thian-gak mendengar suara
bisikan Tio Tian-seng yang disampaikan dengan ilmu menyampaikan
suara, "Bong-laute, jangan kau katakan bahwa perempuan itu adalah
Sam-hubuncu dari Hiat-kiam-bun. Aku lihat perkataan
Tan Sam-cing saling bertentangan,
lagi pula gerak-geriknya amat mencurigakan, kita tidak bisa
mempercayainya begitu saja."
Dalam pada itu
Tan Sam-cing mengangguk seraya
menjawab,
"Benar,
dia adalah perempuan berbaju hitam."
Dengan suara dingin, Tio Tian-seng
segera menimbrung, "Mayat
yang terkapar dalam lorong
bawah tanah ini rasanya bukan hanya tiga, hidung
kerbau, sudah kau lihat
hal ini?"
"Sudah," sahut
Tan Sam-cing dengan suara dalam.
"Aku justru Ingin bertanya siapa yang telah
membunuh kawanan Tosu itu?"
"Aku memang ingin bertanya kepadamu,
atas perintah siapa kawanan hidung kerbau itu berniat membunuhku?"
bantah Tio Tian-neng dingin.
"Jika begitu mereka mati di tangan
Tio-pangcu?"
"Tan-koancu," tukas
Bong Thian-gak, "semua Tosu itu
bukan mati lerbunuh di tangan Tio-pangcu."
"Apakah Bong-sicu telah membunuh seorang
di antaranya?" ucap
Tan
Sam-cing hambar.
Dengan perasaan bergetar keras,
Bong Thian-gak membenarkan.
"Betul, Boanpwe memang membunuh satu
orang."
"Luka pada mayat-mayat itu telah
kuperiksa dengan seksama, luka yang menyebabkan kematian kesebelas
mayat dilakukan oleh orang yang sama, berarti mereka terbunuh di
tangan Tio-pangcu."
Tio Tian-seng tertawa dingin.
"Eh, hidung kerbau, apakah kau sedang
mencari alasan untuk mengajakku berduel?"
"Hm! Tanpa sebab-musabab anak murid kuil
kami telah menjadi korban, tentu saja Pinto tak akan membiarkan si
pembunuh berlalu dari sini
dengan bebas merdeka!"
jawab
Tan Sam-cing sambil
mendengus.
"Aku sudah bersiap menahan seranganmu,
ayolah silakan turun tangan."
"Akhirnya kita berdua akan melangsungkan
juga duel mati-hidup di
lorong bawah tanah ini."
Sambil berkata, pelan-pelan
Tan Sam-cing melolos sebilah pedang
pendek yang bersinar tajam dari belakang
bahunya.
Begitu ia melolos pedang pendek, cahaya
putih yang berkilau neeera
memancar menerangi lorong
bawah tanah itu.
Melihat Tosu itu sudah melolos pedang,
Bong Thian-gak segera
melompat ke muka dan berdiri di antara kedua orang itu, cegahnya,
"Tunggu dulu! Bila Locianpwe berdua
hendak bertarung, alangkah baiknya bila pertarungan dilangsungkan
setelah berhasil menemukan si tabib sakti."
"Tio-pangcu memaksa Pinto berkelahi
sekarang juga," kata Tan
Sam-cing.
"Hm, aku tidak bodoh mengajak kau
berkelahi di sini," sela Tio Tian-seng sambil tertawa dingin.
"Kalau begitu, biar Pinto simpan kembali
pedangku ini," kata Tan
Sam-cing.
Sembari berkata, dia memasukkan kembali
pedang pendeknya ke dalam sarung.
"Tan-koancu!" seru
Bong Thian-gak kemudian, "sekarang
bawalah kami bertemu Gi Jian-cau."
"Harap kalian berdua mengikuti aku."
Dia membalikkan badan dan beranjak pergi
lebih dulu.
Bong Thian-gak
serta Tio Tian-seng mengikut di belakangnya.
Biarpun lorong bawah tanah itu sangat
gelap hingga sukar dilalui, tetapi Tan
Sam-cing dapat bergerak secepat terbang, malah sewaktu
berbelok pun tak pernah ragu atau pun berhenti, agaknya dia memang
menguasai keadaan tempat itu.
Sesudah melalui enam persimpangan jalan
dan menelusuri tujuh lorong, mendadak Tan
Sam-cing menghentikan langkah, lalu melakukan
pemeriksaan di sebuah dinding batu, kemudian ia menuju ke hadapan
Bong Thian-gak dan bisiknya
dengan suara lirih, "Ada orang telah memasuki ruang gua rahasia ini,
bisa jadi musuh masih bercokol di dalam ruang itu."
"Dimanakah letak ruang gua itu?" tanya
Bong Thian-gak dengan
terkejut.
Tan Sam-cing
tidak menjawab pertanyaan itu, malah dia berkata, "Harap kalian
berdua berjaga di kedua ujung lorong gua ini, Pinto akan segera
membuka pintu rahasia menuju ke ruangan dalam."
"Hai, hidung kerbau!" seru Tio Tian-seng
dingin. "Kau tidak usah bermain setan di hadapanku, sudah kuduga
sejak tadi kau akan bersikap begini."
Tan Sam-cing
tak menggubris, kembali dia berkata, "Seandainya
ruang rahasia itu sampai kemasukan
orang, keselamatan jiwa si tabib sakti
dan Keng-tim Suthay benar-benar berbahaya sekali.
Kalian berdua harap selekasnya mengikuti perkataanku tadi dan
berjaga-jaga di kedua ujung lorong, kita tak boleh membuang waktu
lagi."
Dalam pada itu
Bong Thian-gak telah berjalan ke
depan, Tio Tian-seng juga sudah mengundurkan diri dari situ.
Pada saat itulah tiba-tiba
Tan Sam-cing melolos pedangnya dari
belakang bahu, sekilas cahaya tajam menyoroti dinding.
Dengan pedang terhunus
Tan Sam-cing berjalan beberapa
langkah dengan menelusuri
dinding batu sebelah kanan, tiba-tiba ia lepaskan sebuah tusukan ke
atas dinding itu.
Suara gemuruh bergema di angkasa.
Dinding batu di sisi kiri
Tan Sam-cing mendadak bergeser ke
samping, sekilas cahaya lentera memancar masuk ke dalam lorong itu
lewat celah-celah pintu.
Sementara itu
Tan Sam-cing telah mencabut pedang pendeknya dari
dinding batu, dengan cepat tubuhnya berkelebat dan menerobos masuk
melalui celah pintu yang terbuka.
Tio Tian-seng serta
Bong Thian-gak segera menyerbu
bersama, kemudian menyelinap masuk pula melalui celah pintu yang
terbuka.
Setelah memasuki pintu rahasia itu,
barulah diketahui bahwa tempat itu pun merupakan sebuah lorong bawah
tanah pula.
Hanya bedanya, lorong ini
terang-benderang bermandikan cahaya, hampir setiap jarak tiga kaki
terdapat sebuah lentera.
Lorong itu lurus ke depan, waktu itu
Tan Sam-cing sudah berada di
depan sana.
Tio Tian-seng dan
Bong Thian-gak di kiri kanan segera
melakukan pengejaran dengan menelusuri kedua sisi dinding gua.
Pada ujung lorong itu terdapat sebuah
tikungan menuju sebelah kiri, bayangan tubuh
Tan Sam-cing lenyap di balik
tikungan itu.
Menyusul Bong
Thian-gak serta Tio Tian-seng tiba juga di ujung
tikungan sana, serentak mereka mendongakkan kepala.
Pada ujung dinding sebelah kiri terdapat
sebuah pintu, di balik pintu terbentang sebuah ruangan yang luas.
Dalam ruangan ini pun tak nampak
bayangan Tan Sam-cing.
Namun di atas permukaan tanah tampak
mayat bergelimpangan di sana-sini, ceceran darah menodai lantai,
senjata berserakan, keadaan benar-benar mengerikan dan memilukan.
Di antara korban yang tewas dan
berserakan ini, selain terdapat kaum Tosu, terdapat pula gadis-gadis
muda.
Keadaan yang menyebabkan kematian hampir
sama, ada yang kehilangan kepala, pinggangnya terpapas kutung, empat
anggota badan berserakan, ada pula yang tewas tanpa meninggalkan
bekas luka apa pun.
Sekilas Bong
Thian-gak mengetahui bahwa para korban adalah anggota
Hiat-kiam-bun yang ditugaskan melindungi si tabib sakti mengolah
obat, sedang kawanan Tosu itu dari kuil Sam-cing-koan.
Di ruang belakang masih terdapat ruangan
lain, dengan cepat Bong
Thian-gak melakukan pemeriksaan ke situ.
Dalam pada itu dari balik ruangan
sebelah kiri tampak Tan
Sam-cing muncul, setelah menghela napas sedih, ia berkata, "Sicu tak
perlu masuk ke dalam lagi, tak seorang hidup pun yang terdapat di
ruang dalam."
"Bagaimana dengan si tabib sakti?" tanya
Bong Thian-gak kejut
bercampur gelisah.
Tan Sam-cing
menghela napas panjang.
"Ai, Hiolo pengolah obat masih terdapat
di situ, namun orangnya sudah lenyap entah kemana."
"Bagaimana dengan Keng-tim Suthay?"
"Ia sudah tewas terkena musibah!"
Mendengar Keng-tim Suthay terkena
musibah, Bong Thian-gak
langsung berteriak, "Dimanakah jenazahnya sekarang?"
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Tio
Tian-seng berteriak dari belakang,
"Tan Sam-cing, lebih baik
kita langsungkan duel mati-hidup di tempat ini saja!"
Bong Thian-gak
tidak habis mengerti, mengapa Tio Tian-seng
menantang
Tan Sam-cing berduel dalam
keadaan dan situasi seperti ini.
Tan Sam-cing
tertawa tergelak dengan suara menyeramkan,
"Tio Tian-seng,
cepat atau lambat kita memang harus melaksanakan duel
mati-hidup
untuk menentukan nasib kita berdua."
Dalam pada itu
Bong Thian-gak merasa pedih dan
kehilangan semangat sesudah mengetahui Keng-tim Suthay tewas
terbunuh. Dalam keadaan demikian dia tak bersemangat lagi
memperhatikan perselisihan di
antara mereka berdua.
Badannya segera berkelebat dan masuk ke
ruang belakang dengan cepat.
Di ruang belakang terdapat dua bilik,
sebuah di sebelah kiri dan yang lain di sebelah kanan.
Mula-mula Bong
Thian-gak memasuki bilik sebelah kiri, di situ terdapat
dua buah pembaringan, kelambu dan seprei masih teratur rapi, pakaian
dan perabotan lainnya masih utuh, hanya tak nampak seorang pun.
Di bagian depan terdapat sederet
pembaringan dan perabotan lain, di sini juga tak
nampak seorang pun.
Buru-buru Bong
Thian-gak menuju ke ruang lain, tempat itu hanya
ada sebuah tungku raksasa berkaki
tiga, sebuah pengolah obat terdapat di atas tungku, sementara
beberapa buah bantal duduk berserakan di
sekelilingnya.
Di sisi tungku, dua orang bocah cilik
duduk terbungkuk, mereka lak berkutik sama sekali, jelas sudah
tewas.
Selain jenazah kedua bocah itu, di dekat
tungku bagian belakang,
duduk bersila seorang
tokoh setengah umur di atas kasur duduk.
Tangan kirinya masih memegang Hud-tim,
sedangkan tangan kanannya
diletakkan di depan dada,
wajahnya pucat-pias dan matanya terpejam rapat.
Sesudah melihat dengan jelas raut wajah
tokoh setengah umur itu,
Hong Thian-gak segera
berteriak, "Keng-tim Suthay!"
Ia menubruk ke depan, air matanya
bercucuran dengan deras.
Mimik tokoh setengah umur
itu nampak tawar, sudah barang tentu tak dapat bersuara lagi.
"Suthay, oh Suthay
... sungguh tak nyana perpisahan
kita di Ho-pak tempo hari akan menjadi perpisahan untuk selamanya.
Oh Suthay, siapakah orang
yang telah mencelakaimu, siapakah orangnya?"
Sambil menangis
Bong Thian-gak menggoncang-goncang
jenazah Keng
tim Suthay.
Tiba-tiba jenazah itu miring dan roboh
ke kiri, sementara sepatu yang dikenakan pada kaki kanannya terlepas
dan jatuh ke atas tanah.
Bong Thian-gak
bermata jeli, dengan cepat ia menangkap bahwa di balik telapak kaki
kanan Keng-tim Suthay tertera jelas sederet tulisan.
Dengan perasaan bergetar,
Bong Thian-gak segera mendongakkan
kepala.
Ternyata tulisan itu berbunyi:
"Sebutir pil pengembali sukma
kusembunyikan di balik Hud-tim, bunuh si tabib sakti."
Bong Thian-gak
berdiri termangu-mangu mengawasi kedua baris tulisan itu, terutama
sekali kata-kata terakhir, "Bunuh si tabib sakti".
Tulisan itu membuat pikirannya bimbang
dan tak habis mengerti.
"Mengapa ia mesti membunuh si tabib
sakti? Mengapa?"
Sesudah termangu-mangu sekian lama,
akhirnya Bong Thian-gak
mengenakan kembali sepatu itu Keng-tim Suthay, kemudian dengan cepat
melepas pula sepatu kirinya.
Ternyata pada kaki kiri pun tertera pula
kedua baris tulisan itu.
Pada saat inilah dari luar ruangan
terdengar suara bentrokan senjata yang bergema amat keras.
Bong Thian-gak
segera mengambil Hud-tim Keng-tim Suthay dan menyembunyikannya di
balik pakaian, lalu dengan cepat memburu ke ruang depan.
Di ruang muka, suasana benar-benar
tegang dan mengerikan.
Hawa pedang menyelimuti ruangan, cahaya
perak berkilauan seperti sambaran petir.
Bayangan tubuh Tio Tian-seng serta
Tan Sam-cing telah terkurung
rapat di balik cahaya pedang itu.
Kedua orang jago yang sangat lihai itu,
masing-masing sedang mengembangkan ilmu pedang yang dimilikinya
serta melangsungkan pertarungan mati-hidup yang amat sengit.
Pedang pendek di tangan
Tan Sam-cing berputar memercikkan
bayangan pedang tajam, membacok, menyapu dan membabat penuh dengan
kedahsyatan.
Mendadak bentakan keras bergema, Tio
Tian-seng melepaskan sebuah tusukan balasan dari arah samping.
Tusukan itu dilepaskan dengan sepasang
tangan menggenggam pedang bersama-sama. Jurus serangannya aneh,
namun amat tangguh, merupakan jurus serangan lain daripada yang
lain.
Tampaknya Tan
Sam-cing cukup mengetahui kelihaian serangan Itu.
Sambil membentak, cahaya pedang yang semula membentuk lingkaran
bulat kini lenyap, sebagai gantinya muncul sekilas sinar bening yang
pelan-pelan mendorong ke depan.
Bunyi gemerincing nyaring memenuhi
angkasa.
Sepasang pedang Tio Tian-seng serta
Tan Sam-cing telah saling
bentur.
Kali ini pedang pendek
Tan Sam-cing yang tajam ternyata
tidak mampu mengutungi pedang Tio Tian-seng.
Setelah kedua belah pihak saling mengadu
senjata sebanyak tiga kali, kedua belah pihak tidak segera menarik
kembali senjatanya, namun mereka saling mengerahkan tenaga mengisap
pedang lawan.
Akibatnya kedua bilah pedang itu saling
menempel bagai besi sembrani.
Pantangan terbesar jago persilatan yang
saling bertarung adalah adu tenaga dalam.
Dengan saling menempelkan pedang,
hakikatnya Tan Sam-cing
maupun Tio Tian-seng sudah melangkah menuju ke suatu pertarungan
tenaga dalam mengadu jiwa.
Berada dalam keadaan begini, kedua belah
pihak sama-sama tak berani
mencabut pedang, bila satu pihak mencabut pedang, maka pedang lawan
akan menusuk dan langsung menghujam ke tubuh lawan
secara mematikan.
Oleh sebab itu kedua belah pihak
terpaksa harus mengerahkan tenaga dalam yang disalurkan ke batang
pedang untuk mempertahankan tenjata.
Pertarungan semacam ini sukar menentukan
menang-kalah secara repat, seringkah di saat menang kalah
ditentukan, kedua belah pihak sudah
sama-sama terluka, kehabisan tenaga dalam dan akhirnya tewas
bersama.
Pada saat itulah suara benturan nyaring
berkumandang.
Bong Thian-gak
sudah mencabut Pek-hiat-kiam dan secepat kilat menusuk ke
tengah-tengah antara kedua pedang yang masih saling menempel itu.
Tio Tian-seng serta
Tan Sam-cing segera terpisah dan
masing-masing mundur tiga langkah.
Pedang Tio Tian-seng kembali putus
sebagian, sebaliknya pedang Tan
Sam-cing masih tetap utuh. Bong
Thian-gak dengan masih memegang Pek-hiat-kiam yang
memancarkan sinar merah memberi hormat kepada
Tan Sam-cing serta Tio Tian-seng,
lalu ujarnya dengan lantang, "Locianpwe berdua, buat apa kalian
saling bertarung mati-matian?"
Paras muka Tio Tian-seng kelihatan amat
kereng dan serius, tiba-tiba ia berkata dengan suara pelan,
"Bong-laute, tidakkah kau merasa bahwa Tan
Sam-cing sangat mencurigakan?"
"Apanya yang mencurigakan?" tergerak
hati Bong Thian-gak.
"Sudahkah Bong-laute periksa, telah
berapa lama para korban itu menemui ajalnya?"
"Ah! Betul, tampaknya mereka sudah tewas
paling tidak satu hari sebelumnya."
"Betul! Orang-orang itu sudah mati
semalam sebelumnya, tapi menurut Tan
Sam-cing waktu musuh menyusup masuk kemari, baru tiga
jam berselang."
Sambil tertawa dingin,
Tan Sam-cing segera berkata, "Sejak
kapan mereka menemui ajal? Apa hubungan serta sangkut-pautnya dengan
diriku?"
"Tentu saja besar sekali hubungannya,"
jawab Tio Tian-seng dingin. "Andaikata Sam-cing Koancu hanya seorang
jago lihai biasa saja, hal ini lain ceritanya. Tapi kau adalah
Pat-kiam-hui-hiang yang amat termasyhur, apakah tidak mengetahui
sama sekali terdapat banyak musuh tangguh yang sudah memasuki
kuilmu? Apa ini tidak lucu namanya?"
"Tio-pangcu," kata
Bong Thian-gak dengan kening
berkerut. "Sekalipun begitu, aku rasa masih belum cukup alasan untuk
menuduh Tan-koancu sebagai komplotan kawanan pembunuh itu."
"Bong-sicu, sudahkah kau saksikan apa
yang menyebabkan kematian orang-orang itu?" tanya Tio Tian-seng
tawar.
"Soal itu belum Boanpwe lihat."
"Mereka tewas akibat saling bunuh
sendiri. Bila tak percaya, silakan Bong-laute periksa dengan seksama
semua korban itu, kau akan jumpai luka di tubuh para korban sesuai
dengan kesimpulanku tadi."
Bong Thian-gak
berseru tertahan, dengan cepat ia berpaling dan ujarnya kepada
Tan Sam-cing, "Tan-koancu,
bagaimanakah penjelasanmu terhadap keterangan yang disampaikan
Tio-pangcu?"
"Memang tak salah, orang-orang itu tewas
karena saling bunuh, tapi kematian Keng-tim Suthay serta kedua bocah
itu adalah disebabkan tertotok jalan darahnya oleh seseorang.
Keadaan inilah yang membuat orang bingung serta tak habis pikir."
Setelah mendengar kata-katanya itu,
mendadak Bong Thian-gak
teringat akan sesuatu, ia segera bertanya, "Cianpwe berdua, tahukah
kalian dalam Bu-lim terdapat semacam obat pembingung sukma?"
"Bong-laute, maksudmu para korban telah
dicekoki semacam obat pembingung sukma terlebih dahulu sehingga
kejernihan otak mereka terganggu, akibatnya mereka mati karena
saling bunuh di antara rekan sendiri?"
"Boanpwe hanya ingin tahu, benarkah
dalam Bu-lim terdapat obat sejenis itu."
"Tentu saja ada."
Bong Thian-gak
menghela napas panjang, "Ai, Tio-pangcu, jika aku menduga
pembunuhnya adalah si tabib sakti Gi Jian-cau, bagaimana menurut
pendapatmu?"
"Aku pun menduga begitu," sahut Tio
Tian-seng dengan suara dalam. "Ada seorang jago lihai yang telah
menyerbu masuk kemari, pertama-tama ia membunuh Keng-tim Suthay
serta kedua bocah itu, kemudian mencuri obat pembingung sukma milik
Gi Jian-cau serta mencekokkan obat tadi kepada kawanan jago lainnya,
akibatnya terjadilah peristiwa saling bunuh yang mengerikan ini,
entah bagaimana pula menurut pendapatmu atas dugaanku ini?"
"Tentu saja masuk akal juga,"
Tan Sam-cing menanggapi.
"Dan menurut dugaanku, bisa jadi si
pembunuh adalah orang-orang Sam-cing-koan."
"Betul, bisa jadi si pembunuh sudah
mengenal keadaan dalam kuil Sam-cing-koan," katanya membenarkan.
Paras muka Tio Tian-seng berubah kereng
dan serius, kembali ia berkata, "Tan-koancu, bila kau gagal
menemukan sang pembunuh, maka kau sendiri sulit untuk meloloskan
diri dari kecurigaan kami."
Tan Sam-cing
tertawa dingin, "Rupanya Tio-pangcu menuduh Pinto sebagai
Hek-mo-ong?"
"Kecuali kau dapat menunjukkan siapakah
Hek-mo-ong yang sesungguhnya," sahut Tio Tian-seng sambil tertawa
dingin pula.
"Tio-pangcu, berulang kali kau menuduhku
sebagai Hek-mo-ong, sesungguhnya apa yang terkandung di balik
tuduhan jahatmu itu?"
"Berdasarkan berbagai kecurigaan dan
bukti yang kudapat, Tan-koancu memang patut dicurigai sebagai
gembong iblis terkutuk itu."
"Seandainya aku adalah Hek-mo-ong, maka
kalian berdua anggap masih bisa hidup sampai sekarang?"
"Hari ini, seandainya aku memasuki kuil
Sam-cing-koan seorang diri, besar kemungkinan sudah mengalami
musibah dan terbunuh mati," kata Tio Tian-seng dingin, "tapi
sayangnya kehadiranku sekarang justru ditemani oleh seorang jago
lihai lain yakni sastrawan cacat, biarpun Hek-mo-ong berkepala tiga
enam lengan, belum tentu ia mampu menghadapi diriku serta sastrawan
cacat bersama-sama. Inilah yang menyebabkan kami bisa hidup sampai
sekarang dalam keadaan selamat."
"Hek-mo-ong bisa membunuh orang tanpa
menunjukkan wujud serta bayangan tubuhnya," kata
Tan Sam-cing dingin. "Seandainya
Pinto adalah Hek-mo-ong, maka kalian berdua tak akan bisa lolos dari
kuil Sam-cing-koan ini."
Sementara itu
Bong Thian-gak sedang memikirkan kedua baris kata yang
ditinggalkan Keng-tim Suthay menjelang ajalnya. Berdasarkan kedua
kalimat itu, bisa jadi Keng-tim Suthay telah menduga sebelumnya akan
terjadi suatu peristiwa di situ.
Itulah sebabnya dia menyembunyikan
sebutir pil pengembali sukma dalam Hud-timnya sebelum dia ajal,
Keng-tim Suthay berpesan pula agar Gi Jian-cau dibunuh, mungkinkah
si tabib sakti adalah jelmaan Hek-mo-ong?
Tapi ada persoalan lain yang
membingungkannya, andaikata Gi Jian-cau benar-benar adalah otak di
belakang layar yang menyetir Putgwa-cin-kau dan juga adalah
Hek-mo-ong, lantas mengapa pula dia mesti mengolah obat pengembali
sukma?
Bong Thian-gak
tidak berani mengutarakan peristiwa itu kepada siapa pun, dia tak
ingin orang lain mengetahui pesan terakhir Keng-tim Suthay
Menurut pendapatnya, tuduhan Tio
Tian-seng kepada Tan Sam-cing
sebagai Hek-mo-ong memang terdapat pula beberapa bagian yang
mencurigakan.
Maka sekarang untuk menyingkap teka-teki
siapakah sebenarnya Hek-mo-ong,
rasanya hanya bisa terungkap setelah Hek-mo-ong muncul.
Apa yang dikatakan
Tan Sam-cing memang benar,
Hek-mo-ong tak akan
melepaskan dia serta Tio Tan-seng begitu saja, oleh karena itu
mereka berdua tak perlu berdiam lebih lama lagi di sini.
Bong Thian-gak
menghela napas, kemudian katanya, "Tio-pangcu, sekarang jejak Gi
Jian-cau masih misterius, kita tak usah berdiam lebih lama lagi
dalam kuil ini."
"Justru yang kukuatirkan adalah Gi
Jian-cau masih bercokol dalam Sam-cing-koan."
"Seandainya dia masih berada dalam kuil
Sam-cing-koan, sudah pasti
Tan-koancu dapat mengatasinya."
Sementara itu
Tan Sam-cing masih berdiri termenung, seakan-akan
nedang memikirkan sesuatu, kemudian ia menghela napas panjang dan
heial, pelan-pelan katanya, "Hai tua bangka, sejak hari ini Pinto
akan terjun
kembali ke dunia Kangouw."
Tatkala mengucapkan kata-katanya itu,
mukanya memperlihatkan rasa sedih dan menderita yang
tak terkirakan.
Kata-katanya diucapkan sangat lambat
seakan membutuhkan dukungan
kekuatan.
Sekulum senyuman segera menghiasi wajah
Tio Tian-seng.
Tan Sam-cing
memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng, lalu melanjutkan, "Namun di
saat Pinto mengetahui siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya, maka
seorang di antara kita berdua akan mampus dan pulang ke neraka."
Tio Tian-seng
tersenyum.
"Sejak dulu, pedang lurus dan pedang sesat
memang tak bisa hidup berdampingan, ibarat api dan air."
"Kalau kau sudah mengetahui akan hal
itu, mengapa mesti menggunakan berbagai akal muslihat untuk
memaksaku terjun kembali ke dunia persilatan?" seru
Tan Sam-cing dengan penuh kepedihan.
"Sebab untuk membunuh Hek-mo-ong,
kecuali pedang lurus dan pedang sesat bersatu, rasanya tiada yang
mampu membendungnya."
"Kalau begitu tujuanmu adalah memaksaku
terjun kembali ke dunia persilatan?"
"Selain itu masih ada satu hal lagi,
yakni untuk membuktikan benarkah kau bukan Hek-mo-ong."
"Sejak puluhan tahun berselang, Pinto
sudah menduga asal-usul Hek-mo-ong, di antara empat orang yang
kucurigai, kau Tio Tian-seng termasuk salah seorang di antaranya."
"Bagus, bagus sekali!" kata Tio
Tian-seng sambil tertawa. "Tan
Sam-cing juga termasuk satu di antara empat orang yang
kucurigai."
Bong Thian-gak
hanya mengetahui sedikit hal yang menyangkut kedua orang Bu-lim
Cianpwe ini, karenanya sikap permusuhan dan bersahabat yang
ditunjukkan kedua orang ini membuatnya melongo kebingungan dan tak
habis mengerti.
Setelah menghela napas panjang, kembali
Tan Sam-cing berkata, "Apakah
kalian berdua hendak meninggalkan kuil Sam-cing-koan?"
"Aku memang menunggu Tan-koancu
bertindak sebagai petunjuk jalan," sahut Tio Tian-seng.
Di bawah petunjuk
Tan Sam-cing,
Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng
keluar dari gua bawah tanah dan meninggalkan kuil Sam-cing-koan.
Di saat keduanya memasuki kuil
Sam-cing-koan, waktu mendekati senja, tatkala meninggalkan tempat
itu, waktu sudah tengah malam. Mereka berada dalam gua bawah tanah
selama tiga jam lebih.
Pengalaman yang dialaminya selama tiga
jam lebih yang singkat itu penuh diliputi perasaan tegang, seram,
sedih, mengenaskan serta berbagai macam perasaan lainnya.
Kematian Keng-tim Suthay membuat
Bong Thian-gak sedih, murung dan
kesal atas masa depan Hiat-kiam-bun.
Hiat-kiam-bun dari tangan Keng-tim
Suthay telah diserahkan ke Bong
Thian-gak. Walaupun hanya dalam tujuh hari yang singkat, namun sejak
pertarungan berdarah di kuil Hong-kong-si, tampaknya anak murid
Hiat-kiam-bun telah menderita kerugian cukup parah, hampir
separoh anggota tewas dan terluka
parah, terutama kematian Keng-tim Suthay dan Ang Teng-sui sekalian
jago-jago tangguh saat ini, Hiat-kiam-hun sedang berada di ambang
kehancuran.
"Ai!" helaan napas berat dan pedih
akhirnya keluar dari mulut Bong
Thian-gak.
Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng menengok
sekejap ke arahnya, lalu menegur, "Bong-laute, mengapa kau menghela
napas panjang?"
"Tidak apa-apa," sahut
Bong Thian-gak sambil menggeleng.
"Entah Tio pangcu hendak
pergi kemana?"
"Aku hendak pergi mengejar si tabib
sakti."
"Darimana kita bisa mengetahui
jejaknya?"
"Bila jejaknya sudah ketahuan, urusan
akan bisa diselesaikan dengan mudah. Bong-laute, kau hendak kemana?"
Bong Thian-gak
termenung beberapa saat, lalu sahutnya pula, "Ho.mpwe bermaksud
berpisah dengan Locianpwe untuk sementara Waktu."
"Mau kemana? Apakah pergi ke Ho-pak?"
"Benar, aku ingin menuju Ho-pak dan
memberitahu kematian Keng tim Suthay kepada putrinya."
"Bong-laute, aku hendak memberitahukan
satu hal kepadamu, dalam pertarungan di kuil Hong-kong-si tempo
hari, terdapat banyak sekali
jago lihai yang terluka parah, keselamatan jiwanya terancam dan
mereka sedang menunggu kehadiran si tabib sakti Gi Jian-cau untuk
mengobati lukanya. Apakah Bong-laute bersedia meninggalkan dulu
dendam
pribadimu untuk mendampingi diriku mencari si tabib sakti?"
"Ah, siapa saja yang terluka dalam
pertarungan itu?" tanya Bong
Ihlan gak berseru tertahan.
"Mereka yang lolos dari kematian adalah
Hong-kong Hwesio, Mo Im Sin Kiam,
Han Siau-liong, To Siau-hou,
tiga puluh empat jago kami. Kecuali
Liu Khi, yang lain terkena
racun jahat yang dilepaskan Ji-kaucu. Sekarang
keselamatan jiwa mereka terancam."
"Ah, jika mereka gagal mendapatkan
pengobatan dari si tabib sakti, bukankah jiwa mereka akan hilang?"
seru Bong Thian-gak sangat
terkejut.
"Ya, tentu saja sulit bagi mereka
meloloskan diri dari musibah itu."
"Lantas bagaimana cara kita menemukan si
tabib sakti?" tanya Bong
Thian-gak sesudah temenung sebentar.
"Lebih baik kita menunggu kabar
Tan Sam-cing di kota Lok-yang."
"Apakah Tan
Sam-cing mengetahui jejak si tabib sakti itu?"
"Si tabib sakti lenyap dalam kuil
Sam-cing-koan, tentu saja Tan
Sam-cing seorang yang bisa mengejar dan mendapatkan jejaknya."
Bong Thian-gak
menghela napas panjang,
"Andaikata Tan
Sam-cing tidak menyampaikan kabar itu kepada kita?"
"Kecuali Tan
Sam-cing adalah Hek-mo-ong atau dia enggan terjun
kembali ke dunia persilatan. Kalau tidak, dalam tiga hari mendatang
sudah pasti kita akan memperoleh kabar dari
Tan Sam-cing."
"Tio-pangcu," kata
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, "aku dapat merasakan bahwa di antara kau dan
Tan Sam-cing, rasanya terjalin suatu
hubungan budi dan dendam yang rumit."
Mendadak Tio Tian-seng menghentikan
langkah, jawabnya, "Benar di antara kami berdua memang terjalin
hubungan budi dan dendam yang tak bisa disampaikan kepada siapa
pun."
Tio Tian-seng berhenti,
Bong Thian-gak pun ikut menghentikan
langkah, kemudian memandang sekeliling tempat itu. Malam itu kabut
sangat tebal, sejauh mata memandang hanya warna putih menyelimuti
padang rumput itu. Suasana begitu hening, sepi, tiada angin yang
berhembus, tiada suara, rumput pun seakan-akan turut tak bergoyang.
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari
balik mata Tio Tian-seng, dia mengawasi hutan di hadapannya tanpa
berkedip.
Tergetar hati
Bong Thian-gak melihat hal ini, segera tegurnya,
"Tio-pangcu, apa yang kau temukan?"
"Bau musuh."
"Musuh?" semangat
Bong Thian-gak berkobar kembali.
"Dimana j mereka?"
"Tunggu dulu! Jika mataku belum kabur,
aku yakin musuh yang kita hadapi sekarang adalah tokoh persilatan
yang menakutkan."
"Kau maksudkan Hek-mo-ong?" tanya
Bong Thian-gak terkejut. Tio
Tian-seng manggut-manggut.
"Ya, sebaiknya kita duduk bersila di
sini menunggu datangnya
fajar."
Seusai berkata, Tio Tian-seng segera
duduk bersila di atas tanah.
"Benarkah kita akan menunggu sampai
datangnya fajar?" Bong Thian-gak
bertanya lagi dengan kening berkerut.
"Tengah malam sudah tiba, rumah
penginapan di kota sudah tutup pintu, jangan harap kita bisa
mendapatkan rumah penginapan dalam keadaan begini. Apa salahnya kita
menginap semalam di udara terbuka?"
Mendengar jawaban itu,
Bong Thian-gak segera berpikir,
"Aneh, mengapa Tio Tian-seng begitu takut terhadap Hek-mo-ong? Hanya
angin yang menghembus rumput saja sudah membuatnya tegang dan salah
mengira sebagai kehadiran Hek-mo-ong."
Walaupun dalam hati dia merasa geli,
namun ia pun duduk bersila di namping Tio Tian-seng.
Padahal satu jam kemudian fajar telah
menyingsing sehingga mereka tak perlu mencari tempat penginapan.
Sementara itu suara di sekeliling sana
terasa begitu hening dan sepi
hingga tampak mengerikan, dua orang tokoh sakti duduk bersila di
atau tanah sambil mengatur napas. Dalam keadaan
begini, jangankan
kehadiran manusia, daun
rontok pun dapat mereka dengar dengan jelas.
Namun kedua orang itu tidak mendengar
sedikit suara pun, Tio Tian
seng mulai berpikir, "Ah, mungkin aku salah melihat tadi."
Mendadak telinganya menangkap suara
dengingan nyamuk di sisi tubuhnya.
Cepat Tio
Tian-seng membuka mata.
Bong Thian-gak yang berada di
sampingnya sudah menepuk
tubuh
sendiri, jelas ia sudah
menepuk mati seekor nyamuk.
Pula
saat itu pula Tio
Tian-seng merasa pipi kanannya digigit pula
seekor
nyamuk.
la segera membunuh nyamuk itu.
Perbuatan yang dilakukan kedua orang itu
bersamaan waktunya dan
kebetulan sekali, tapi justru itu menimbulkan kecurigaan Mo-kiam
sin-kun Tio Tian-seng yang
banyak akal dan matang pengalaman ini.
Perasaannya kontan bergetar keras,
dengan cepat ia berkat "Bong-laute, tidak kau rasakan datangnya
kedua ekor nyamuk tadi rada
aneh."
"Di tengah padang rumput memang banyak
lalat dan nyamuk, apa yang
aneh?"
"Malam ini kabut sangat tebal, udara pun
lembab, darimana bisa muncul
nyamuk? Dan pula cuma dua ekor saja."
Belum habis berkata, terdengar lagi
suara dengingan nyamuk, kali
ini muncul tiga ekor.
Tio Tian-seng segera mengebas ujung
bajunya melepas pukulan k depan.
Agaknya leher
Bong Thian-gak telah tergigit oleh seekor nyamuk
dia mengayun tangan dan membunuh seekor lagi.
Mendadak Tio Tian-seng berdiri, lalu
serunya dengan suara dalam,
"Bong-laute, mari kita cepat pergi."
"Tio-pangcu hendak kemana?" tanya
Bong Thian-gak tertegun.
"Kita sudah terkena serangan gelap
musuh," kata Tio Tian-sen dengan paras muka berubah hebat.
"Tio-pangcu, kau maksudkan beberapa ekor
nyamuk tadi?" tany sang pemuda keheranan.
"Benar, nyamuk itu adalah nyamuk beracun
yang dilepas musuh untuk menyerang kita."
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Bukankah Tio-pangcu telah tergigit oleh
nyamuk itu? Apakah ka merasakan sesuatu gejala aneh dalam tubuhmu?"
"Tubuhku tidak merasakan sesuatu gejala
aneh, namun aku tahu nyamuk
itu bukan nyamuk biasa yang banyak terdapat di padang
rumput. Bong-laute, lebih baik turuti kata-kataku, mari kita
tinggalka tempat ini secepatnya."
Bong Thian-gak
tertawa ringan sambil berdiri, sahutnya, "Ka hendak kemana? Harap
Tio-pangcu membuka jalan!"
Tio Tian-seng mengerahkan ilmu
meringankan tubuh meluncur
ke
arah kota Lok-yang,
Bong Thian-gak mengikut di
belakangnya deng ketat.
Sesudah menempuh perjalanan sejauh tiga
li lebih, tiba-tiba Bong
Thian-gak menjerit kaget.
Tio Tian-seng segera menghentikan
langkah seraya berpaling, tegurnya, "Kenapa kau, Bong-laute?"
"Boanpwe mulai merasa gatal dan panas
sekali di sekitar tempat yang tergigit nyamuk tadi."
Berubah hebat paras Tio Tian-seng,
serunya gelisah, "Benarkah perkataanmu itu?"
"Bukankah kau sendiri juga tergigit
nyamuk? Apakah kau tidak merasakan gejala itu."
"Oh, belum."
"Mungkin kita bukan terkena serangan
musuh."
"Lebih baik kita duduk bersemedi, kita
coba mendesak keluar racun yang mengeram dalam tubuh dengan
mengandal tenaga dalam."
Bong Thian-gak
mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, dia
merasa jaraknya dengan kota Lok-yang sudah tidak jauh lagi, bahkan
di depan situ sudah tampak rumah penduduk.
Maka dia pun menjawab, "Rasa gatal dan
panas tidak kurasakan, lebih baik kita berangkat ke kota Lok-yang!"
"Nyamuk itu tak salah lagi adalah nyamuk
beracun. Mumpung racunnya belum mulai bekerja, lebih baik kita coba
mendesaknya keluar dengan tenaga dalam, siapa tahu masih belum
terlambat."
Siapa tahu baru selesai dia mengucapkan
perkataan itu, mendadak ilari belakang tubuh mereka terdengar
seorang menyambung, "Sayang sudah
terlambat, kalian sudah tergigit nyamuk beracun. Nyamuk itu
merupakan nyamuk penghancur darah yang berasal dari wilayah Biau.
Seandainya di tempat ini ada sinar lentera, maka kalian pasti sudah
melihat kulit kalian pucat sekali."
Mendengar perkataan itu, Tio Tian-seng
dan Bong Thian-gak
segera membalikkan badan.
Di belakang mereka, di bawah sebatang
pohon di tepi jalan, tampak seseorang berdiri di situ.
Sambil tertawa dingin
Bong Thian-gak segera membentak,
"Siapa kau?”
Pelan-pelan orang itu berjalan ke depan,
lalu sahutnya, "Wanita Biau dari bukit Bong-san, Biau-kosiu!"
Begitu selesai berkata, ia sudah tiba di
hadapan Bong Thian-gak
berdua.
Di bawah cahaya rembulan, tampak gadis
suku Biau ini berwajah cantik, mengenakan pakaian pendek dan sempit,
lengannya telanjang, kulit tubuhnya halus dan putih, potongan
badannya tinggi semampai, mendatangkan rangsangan bagi siapa pun
yang memandangnya.
Wajah bulat telur dengan mata jeli,
hidung mancung dan bibir kecil mungil, wajah yang cantik menawan
hati.
Bong Thian-gak
dan Tio Tian-seng tertegun melihat kemunculan gadis muda itu, dalam
hati mereka merasa keheranan.
Sesudah tertegun beberapa saat,
Bong Thian-gak menegur, "Kau yang
melepaskan nyamuk-nyamuk beracun itu untuk melukai kami?"
Gadis Biau yang cantik jelita itu
mengedipkan matanya yang jeli, kemudian setelah memandang sekejap ke
arah Bong Thian-gak, ia
menggeleng, "Bukan."
"Kalau begitu kau tahu siapa yang telah
turun tangan mencelakai kami?"
"Tentu saja tahu."
"Siapakah dia? Cepat katakan."
"Mengapa aku mesti memberitahukan
kepadamu?"
Tio Tian-seng menghela napas sedih,
kemudian menimbrung, "Nona mengetahui begitu jelas tentang sifat dan
kemampuan nyamuk penghancur darah, berarti nona pun dapat
menyembuhkan racun akibat gigitan nyamuk itu bukan?"
Biau-kosiu atau gadis Biau yang cantik
jelita itu memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng, kemudian
menyahut, "Sebagai suku Biau, jangankan aku, bocah tiga tahun pun
dapat menyembuhkan, cuma sayang nyamuk penghancur darah yang
menggigit kalian merupakan nyamuk penghancur darah peliharaan orang
lain, jadi sifat racunnya tidak mudah disembuhkan begitu saja."
"Bila nona dapat menolong kami
menyembuhkan gigitan nyamuk ini, budi kebaikanmu tak akan kulupakan
selamanya," ucap Tio Tian-seng dengan sedih.
Mimpi pun Bong
Thian-gak tidak menyangka Tio Tian-seng akan memohon
pertolongan gadis itu.
"Boleh saja kutolong kalian, cuma aku
tak bakal menolong kalian berdua begitu saja," ucap si nona suku
Biau dengan suara merdu.
"Nona mempunyai syarat? Apa syaratnya?"
"Bila aku beri obat penawar racun pada
kalian, besar kemungkinan ada orang hendak turun tangan jahat
kepadaku. Oleh sebab itu aku minta kalian berdua melindungi
keselamatan jiwaku."
"Syarat ini sangat gampang, kami
menyanggupi permintaanmu itu," sahut Tio Tian-seng cepat.
"Orang persilatan paling mengutamakan
pegang janji, kalian jangan menyesal di kemudian hari."
Dengan suara lantang
Bong Thian-gak segera berseru,
"Sekalipun nona tidak menghadiahkan obat kepada kami, seandainya
jiwa nona terancam oleh manusia laknat, kami juga bersedia
membantumu."
Gadis suku Biau itu menggeleng kepala
berulang-kali.
"Yang kumaksudkan melindungi keselamatan
jiwaku adalah kalian berdua mesti selalu mendampingiku, mengawal aku
kemana pun aku pergi dan mengikuti perintahku."
"Ah, kalau soal ini sulit kukabulkan,"
ucap Bong Thian-gak.
"Kalau tidak setuju, ya sudah, selamat
tinggal!" kata gadis suku Biau
itu ketus.
Seusai berkata, ia membalikkan badan dan
segera beranjak pergi. Dengan suara dalam Tio Tian-seng berseru,
"Nona, harap tunggu sebentar!"
"Kalian setuju?" tanya si gadis sambil
berpaling.
Tio Tian-seng tertawa rawan, ia tidak
menjawab pertanyaan itu, sebaliknya bertanya, "Apakah nona membawa
obat penawar racun itu?"
"Apakah kalian berniat merampas dengan
kekerasan?"
"Tidak berani, aku hanya ingin bertanya
dimanakah nona berdiam?"
"Buat apa kau tanyakan hal ini?"
"Jika suatu ketika kami berubah
pendirian, kami bisa langsung pergi mencari nona!"
"Dengan mengetahui tempat tinggalku,
bukankah kalian pun mempunyai peluang untuk mencuri."
"Nona begitu cermat hati-hati dan
cerdik. Sekalipun kami berniat mencuri, mana mungkin akan berhasil?"
Gadis Biau itu tertawa dingin.
"Aku berdiam di rumah penginapan
Ban-heng di kota Lok-yang. Selewat dua belas jam jika kalian belum
juga mendapatkan obat penawar racun itu, maka racun yang mengeram
dalam tubuh kalian tak akan terobati lagi."
Habis berkata, gadis Biau itu menggoyang
pinggul dan berkelebat pergi, bayangannya lenyap di balik kegelapan
sana.
Memandang bayangan tubuhnya, Tio
Tian-seng menghela napas panjang, kemudian ujarnya, "Bong-laute,
apakah kita mesti menunggu datangnya malaikat maut mencabut nyawa
kita?"
"Kecuali memenuhi syarat yang diajukan
olehnya, terpaksa memang kita hanya bisa menunggu datangnya ajal."
Tio Tian-seng tertawa pedih.
"Sekarang kita cuma ada dua jalan saja
yaitu menggertaknya agar mau menyerahkan obat penawar racun atau
pura-pura menyanggupi permintaannya."
"Aku takut berbuat begitu, kita akan
kehilangan pamor sebagai umat persilatan."
Sekali lagi Tio Tian-seng tertawa sedih,
"Dalam persilatan banyak terjadi peristiwa yang merugikan pihak lain
seperti ini. Bila kita berhasil merenggut nyawanya pun, aku rasa hal
ini bukan suatu dosa besar, mengingat tindakannya berpeluk tangan
melihat jiwa orang terancam sudah melanggar peraturan dunia
persilatan."
"Tio-pangcu," kata
Bong Thian-gak kemudian sesudah
menghela napas sedih, "sudah kau saksikan bahwa perempuan ini sangat
cerdik, teliti dan seksama, caranya bicaranya pun sangat diplomatis
dan tajam, aku lihat dia bukan perempuan biasa."
"Aku memang dapat merasakan, gadis ini
berbeda sekali dengan kebanyakan gadis lain, tapi kita kan tak bisa
berpeluk tangan menanti tibanya ajal bukan?"
Sekali lagi
Bong Thian-gak menghela napas, setelah mengangkat
kepala dan memandang cuaca, dia berkata, "Sekurangnya kentongan
kelima telah tiba, lebih baik kita berdiam dulu di rumah penginapan
Ban-' heng sambil menunggu
perkembangan situasi!"
Tio Tian-seng menyetujui usul
Bong Thian-gak, maka dengan langkah
pelan berangkatlah mereka ke kota Lok-yang.
Sambil berjalan
Bong Thian-gak bertanya,
"Tio-pangcu, apakah kau sudah merasakan sesuatu perubahan di dalam
tubuhmu?"
"Ya, pipiku mulai terasa panas."
"Ai, aku pun mulai merasa kaku pada
sekeliling mulut luka itu."
"Berarti kita benar-benar sudah terkena
racun. Bisa jadi satu jam kemudian, sekujur badan kita akan menjadi
kaku dan tidak dapat bergerak lagi, mari kita percepat perjalanan
kita!"
Sambil berkata, kedua orang itu
menggunakan Ginkang menuju ke arah dinding kota.
Dalam perjalanan, tiba-tiba dari balik
kegelapan sana terdengar suara
bentakan nyaring, "Kalian kawanan manusia laknat darimana? Ayo
cepat kalian sebutkan
namamu!"
Bong Thian-gak
menjadi tertegun mendengar suara itu, katanya
kemudian, "Tio-pangcu, nada suara
ini sangat kukenal, apakah suara gadis suku Biau itu?"
"Benar," Tio Tian-seng mengangguk,
"memang suaranya, mari kita tangok ke sana!"
Kedua orang itu segera mengubah arah dan
menuju ke sudut kota sebelah
utara.
Di sisi dinding kota, di bawah beberapa
batang pohon besar, tampak delapan lelaki kekar berbaju hitam dengan
pedang terhunus sedang
mengepung gadis suku Biau.
Sedang di balik kegelapan di sisi
dinding kota rasanya masih terdapat
pula sekelompok orang sedang mengawasi arena.
Sebenarnya
Bong Thian-gak hendak melompat keluar tapi
Tio Tian
Seng
segera menarik tangannya
sambil berbisik, "Tunggu dulu, mari bila
selidiki
dulu asal-usul gadis suku Biau itu!"
Mereka berdua lantas menyelinap ke balik
pohon besar.
Dalam pada itu
kedelapan lelaki kekar berpedang itu sudah mulai melancarkan
serangan, tiga orang pertama dengan ketiga pedangnya
secepat
kilat melancarkan tusukan ke gadis itu.
Dari kecepatan mereka melancarkan
serangan, dapat dilihat kepandaian silat orang-orang itu cukup
hebat.
Siapa sangka baru saja ketiga lelaki itu
melancarkan serangannya, tiba-tiba bergema jerit kesakitan yang
memilukan seperti jeritan babi yang disembelih.
Ketiga orang itu tahu-tahu sudah
membuang pedang mereka dan menutup wajah dengan kedua belah tangan
dan bergulingan di atas tanah, tak lama kemudian mengejang keras dan
tak berkutik lagi untuk selamanya.
Kejadian di depan mata ini kontan
membuat semua jago lainnya berkerut kening, sebab barusan tak
seorang pun di antara mereka yang melihat bagaimana gadis Biau
melepaskan serangan.
Dengan terkejut
Bong Thian-gak segera bertanya,
"Tio-pangcu, sudahkah kau lihat dengan kepandaian apakah ia melukai
musuh-musuhnya?"
Tio Tian-seng menggeleng.
"Sepasang tangannya sama sekali tidak
bergerak, tapi musuh segera menjerit kesakitan. Mungkin ada orang
lain yang membantunya secara diam-diam?"
"Tempat persembunyian kita letaknya
cukup strategis, semua penjuru arena bisa terlihat dengan jelas,
tapi kenyataan kita tidak melihat kehadiran orang lain di seputar
arena yang telah membantunya."
"Aku rasa ketiga orang itu seperti tewas
oleh serangan senjata rahasia beracun yang kecil dan lembut
bentuknya, bisa jadi sebangsa jarum bunga Bwe atau sebangsanya yang
melukai mata mereka. Kalau begitu gadis itu melepaskan senjata
rahasia dengan menggunakan semburan mulut."
Belum selesai ia berkata, lima lelaki
berbaju hitam lainnya sudah menggerakkan pedang memainkan selapis
kabut pedang, kemudian bersama-sama melancarkan bacokan kilat yang
sangat hebat.
Kali ini gadis Biau itu melakukan
putaran badan satu lingkaran, jeritan demi jeritan ngeri yang
menyayat hati sekali lagi berkumandang.
Yang lebih mengerikan lagi adalah gadis
Biau itu masih belum juga menggerakkan tangan melancarkan serangan,
tapi hasilnya kelima orang itu sudah roboh bergulingan sambil
menjerit kesakitan, bahkan jiwa mereka melayang.
Bong Thian-gak
pun berseru tertahan, lalu bisiknya, "Perkataan Tio-pangcu memang
benar, jarum beracun itu disemburkan lewat mulut."
Dalam pada itu rombongan orang yang
berdiri di sisi dinding kota malah menerjang tiba dengan gerakan
cepat, mereka terdiri dari delapan utang lelaki berbaju hitam pula.
Mendadak bergema suara bentakan,
"Mundur!"
Kedelapan orang yang sudah menerjang ke
depan tadi serentak menghentikan langkah.
Dari balik kegelapan pelan-pelan muncul
seorang, setelah tertawa terbahak-bahak ia berkata, "Jarum beracun
nona memang lihai sekali. Malam ini aku benar-benar memperoleh
pengetahuan yang sangat berharga, rasanya di kolong langit dewasa
ini hanya satu orang yang mampu menyebarkan racun melalui mulut, dia
adalah Kui-kok Sianseng duri bukit Bong-san."
Gadis Biau itu tertawa kecil.
"Kau mampu melihat semburan jarum
beracunku lewat mulut, ketajaman matamu memang pantas disebut jagoan
persilatan. Ayo sebutkan
siapa namamu!"
Kakek bungkuk itu kembali tertawa.
"Aku she
Bu bernama Seng."
Begitu si kakek bungkuk menyebut
namanya, Tio Tian-seng segera berbisik lirih, "Ah, dia adalah si
pukulan tanpa wujud Bu Seng."
"Tio-pangcu apakah dia adalah pukulan
tanpa wujud Bu Seng yang angkat nama bersama guruku
Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu pada empat puluh tahun
berselang?" tanya Bong
Thian-gak.
Tio Tian-seng mengangguk membenarkan.
"Betul, kalau dibilang siapa-siapa saja
yang termasyhur dalam Bu-llm karena ilmu pukulannya, maka orang
pertama adalah gurumu Oh Ciang
hu almarhum, kemudian Bu Seng. Sungguh tak kusangka Bu Seng masih
hidup."
Sementara itu setelah kakek bungkuk itu
menyebut namanya, sambil
tersenyum gadis Biau itu berkata, "Pukulan tanpa wujud Bu Seng
memang termasyhur dalam persilatan, namun malam ini di sini masih hadir
pula seorang yang mempunyai nama besar lebih termasyhur
daripadamu dan orang itu sudah menjadi pengawalku
sekarang."
Mendengar itu, si kakek bungkuk tertawa
terbahak-bahak, "Siapa nama besar pengawal nona itu?"
Agaknya dia belum percaya atas perkataan
gadis Biau itu.
Sesungguhnya berapa orangkah yang
mempunyai nama dan kedudukan yang lebih tinggi daripada dirinya saat
ini?
"Si tua Bu, rupanya kau tidak percaya
perkataanku ini," seru gadis itu sambil
tertawa. "Coba jawab, cukup tenarkah nama besar Mo-kiam-sin-kun Tio
Tian-seng dalam dunia persilatan?"
Mendengar kata-katanya itu,
Bong Thian-gak segera berpaling dan
memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng.
Tampak Tio Tian-seng menggeleng kepala
sambil tertawa getir, "Wah, agaknya dia telah menganggap kita berdua
sebagai pengawalnya."
Sementara itu si kakek bungkuk sudah
dibuat serba salah oleh perkataan lawan, dengan wajah meringis
katanya, "Tio Tian-seng adalah Kay-pang Pangcu, masakah dia
pengawalmu? Benar-benar melantur dan tak bisa dipercaya."
"Hei, si tua Bu, bagaimana kalau kita
bertaruh?" tantang si gadis suku Biau itu dengan suara merdu.
"Bagaimana caranya bertaruh?"
"Seandainya Tio Tian-seng adalah
benar-benar pengawalku, kau mesti segera mengundurkan diri dan tidak
lagi mencari gara-gara kepada nonamu ini, setuju?"
Kakek bungkuk itu tertawa keras,
"Hahaha, bagaimana caramu membuktikan bahwa Tio Tian-seng adalah
pengawalmu? Apakah cuma mengandalkan bibirmu yang pandai bicara
itu?"
"Oh, soal itu mudah untuk dibuktikan.
Asal aku mau, dapat kuperintahkan Tio Tian-seng menuruti
perintahku."
"Bagaimana seandainya kau yang kalah?"
"Kalau aku kalah, maka terserah kepada
perintahmu, aku tak akan melawan sedikit pun juga."
Kakek bungkuk itu memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, lalu ujarnya, "Nona, kau sudah kalah."
"Mau bertaruh atau tidak, terserah pada
keputusanmu sendiri," jengek si nona Biau sambil tertawa dingin.
"Nona telah membunuh delapan orang anak
buahku, aku tak sudi bergurau denganmu lagi," tukas si kakek bungkuk
itu ketus.
"Aku tahu, sepasang telapak tanganmu itu
lihai dan tiada tandingannya. Sekali turun tangan, maka sudah pasti
aku akan tewas di tanganmu."
Sampai di situ, tiba-tiba ia
menghentikan perkataannya.
Sudah jelas perkataan itu memang sengaja
diucapkan agar terdengar oleh Tio Tian-seng.
Pada saat itulah dengan suara lirih
Bong Thian-gak bertanya,
"Tio-pangcu, bagaimana keputusanmu?"
"Tampaknya ia sudah tahu kita telah
menyembunyikan diri di sekitar sini, maksud tujuannya jelas hendak
memaksa kita menampakkan diri."
"Tio-pangcu adalah seorang terhormat
dengan kedudukan mulia, kau tak boleh memberi kesan kepada orang
lain bahwa dirimu adalah pengawalnya. Biar Boanpwe saja yang tampil
melihat keadaan."
Selesai berkata, pemuda itu segera
melompat ke udara dan melayang turun di sisi kiri gadis Biau itu
bagaikan malaikat yang turun dari kahyangan, setibanya di situ dia
membungkam.
Diam-diam si kakek bungkuk itu terkejut
menyaksikan gerakan Bong
Thian-gak yang amat sempurna, diawasinya pemuda itu beberapa
saat, kemudian tegurnya, "Apakah
orang ini adalah pengawalmu?"
Dengan matanya yang jeli, gadis Biau
mengerling sekejap ke arah Bong
Thian-gak, lalu dengan senyuman bangga yang menghiasi ujung
bibirnya
ia menyahut, "Benar, dia adalah pengawalku!"
"Kalau begitu biar kubunuh pengawalmu
ini terlebih dahulu," seru si
kakek bungkuk sambil tertawa dingin.
Tiba-tiba si kakek bungkuk mengayun
telapak tangan kanannya ke depan, segulung angin pukulan yang tak
berwujud bagaikan amukan Mmhak di tengah samudra langsung menggulung
ke arah anak muda itu.
Bong Thian-gak
tidak menyangka lawan segera melepas serangan
begitu selesai mengatakan akan turun
tangan. Sambil mendengus pemuda
itu mengayun lengan tunggalnya menyambut datangnya ancaman
kakek bungkuk itu dengan keras melawan keras.
Sementara itu dalam pikiran si kakek
bungkuk ia justru kuatir apabila Bong
Thian-gak berkelit dan tak berani menyongsong datangnya
serangannya dengan kekerasan.
Maka begitu melihat lawannya menyambut
ancaman itu dengan kekerasan, ia segera berpikir sambil tertawa
geli, "Bocah keparat, kau sudah ingin mampus rupanya."
Belum habis ingatan itu melintas, dua
gulung angin pukulan tanpa wujud sudah saling bentur.
Gelombang angin pukulan yang saling
bentur itu seketika menimbulkan pusaran serta desingan angin tajam
yang mengerikan dan melontarkan pasir serta debu hingga memenuhi
angkasa.
Akibat benturan yang amat keras itu
sepasang bahu kakek itu bergetar keras hingga tak dapat dicegah lagi
tubuhnya terdorong mundur sejauh tiga langkah.
Sebaliknya
Bong Thian-gak juga mendengus tertahan, lalu secara
beruntun dia mundur tiga langkah dengan sempoyongan.
Ketika kakek bungkuk itu melihat
Bong Thian-gak masih berdiri segar
bugar di tempat, paras mukanya kontan berubah hebat, setelah tertawa
dingin katanya, "Ehm, dari kemampuanmu menyambut seranganku tadi,
bisa kuduga tenaga dalam yang kau miliki benar-benar amat sempurna."
Pada saat itu
Bong Thian-gak harus menerima semuanya itu tanpa
menjawab, karena itu dia berlagak bisu dan tuli serta tidak
mengucapkan sepatah kata pun.
Sesudah tertawa bangga, gadis suku Biau
itu berkata kembali, "He, si
tua Bu, kau jangan keburu bangga dulu dengan mengira ilmu pukulanmu
sudah tiada taranya di dunia ini. Ketahuilah pada malam ini kau
telah bertemu dengan lawan tandingmu, tentunya kemampuan yang
dimiliki anak buahku itu tidak lebih lemah daripada kemampuan yang
kau miliki bukan?"
Sebenarnya kakek bungkuk ini memang agak
bergidik dibuatnya, tapi di luar ia tetap berkata sambil tertawa
dingin, "Siapa nama besar pengawalmu ini?"
Gadis suku Biau itu tersenyum.
"Jika kusebut namanya, besar kemungkinan
kau akan terperanjat." Sekali lagi si kakek bungkuk mengawasi
Bong Thian-gak sekejap,
lalu dengan kening berkerut katanya, "Jangan kuatir,
nyaliku cukup besar, coba katakan orang ternama darimanakah
pengawalmu itu hingga tela bertekuk lutut menjadi budak orang."
Bong Thian-gak
kontan mengerut dahi, hawa napsu membunuh
segera menyelimuti seluruh wajahnya.
Kembali gadis suku Biau itu berkata
sambil tersenyum, "Dia adalah
Jian-ciat-suseng Bong
Thian-gak, pernah kau dengar nama orang Ini?"
Berubah hebat paras muka si kakek
bungkuk itu, segera ia berpaling ke arah
Bong Thian-gak dan bertanya, "Benarkah kau adalah
Jian
ciat-suseng?"
"Benar, akulah orangnya," untuk pertama
kalinya Bong Thian-gak
bersuara dan menjawab dengan suara hambar.
Tiba-tiba kakek bungkuk itu tertawa
terbahak-bahak, kemudian *erunya lantang, "Aku dengar kau telah
mendirikan sebuah partai yang dinamakan Hiat-kiam-bun. Sungguh tak
kusangka malam ini kau justru mengikat hubungan dengan perempuan
liar ini, bahkan bersedia menjadi budaknya. Peristiwa ini
benar-benar tidak kusangka."
"Apa yang hendak kuperbuat, lebih baik
kau tak usah ikut campur,"
kata Bong Thian-gak dengan
suara dingin. "Bagaimana pun juga malam ini, Jian-ciat-suseng tak
akan mengizinkan kau melukainya barang seujung rambut pun."
Sekali lagi kakek bungkuk itu tertawa
terbahak-bahak, "Sudah puluhan tahun aku belum pernah bertemu
seorang lawan tanding. Malam ini Jian-ciat-suseng memang perlu
merasakan kemampuan sepasang
telapak tanganku ini."
"Bu Seng, ilmu pukulan tanpa wujudmu
meski sudah termasyhur di seluruh kolong langit belum tentu aku
bukan tandinganmu, tapi malam
ini orang yang melindungi keselamatannya bukan cuma aku
orang. Oleh sebab itu kuanjurkan
kepada Bu-locianpwe agar segera mengundurkan diri, kesempatan bagi
kita untuk bertarung di kemudian hari
masih cukup banyak."
"Siapa lagi yang berada di sini?" desak
kakek bungkuk itu cepat.
Dengan suara dalam
Bong Thian-gak menjawab, "Jangan kau
tanya
siapa orangnya, yang jelas dia
adalah seorang tokoh sakti dari persilatan yang memiliki ilmu silat
lebih tangguh daripada aku."
"Tahukah kau apa yang menjadi sengketa
antara diriku dengan perempuan itu?" tegur si kakek bungkuk lagi.
"Walaupun aku tak tahu, namun kuharap
Bu-locianpwe sudi memberi muka untuk kali ini saja, di kemudian hari
aku pasti akan memohon maaf kepada Locianpwe."
Kakek bungkuk itu tertawa
terbahak-bahak, "Baiklah kalau begitu, aku mengundurkan diri untuk
sementara waktu."
Selesai berkata, dia lantas mengulap
tangan, kedelapan lelaki berbaju hitam tadi serentak menggotong
jenazah rekan-rekannya dan berlalu mengikut di belakang kakek
bungkuk itu.
Dalam waktu singkat bayangan tubuh
mereka sudah lenyap di balik kegelapan sana.
Pada saat itulah dari bawah rindangnya
pepohonan pelan-pelan berjalan keluar Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng.
Dengan suara rendah dan berat,
Bong Thian-gak segera berkata kepada
gadis suku Biau itu, "Nona, sekarang aku hendak bicara secara
blak-blakan padamu. Kami bersedia membantumu menghadapi musuh mana
pun, tetapi enggan menuruti perintah dan menjalankan tugas yang kau
berikan."
"Tentunya nona tahu meskipun aku dan
Tio-pangcu sudah keracunan, namun masih memiliki kekuatan untuk
bertempur melawan musuh mana pun juga, tetapi demi keselamatan kami
berdua, besar kemungkinan kami akan berbuat sewenang-wenang
terhadapmu."
Biau-kosiu tertawa, "Kau menyebut diri
sebagai pendekar, apakah kalian benar-benar akan turun tangan keji
terhadap seseorang yang sama sekali tidak ada ikatan dendam maupun
sakit hati terhadap dirimu?"
"Nona tak sudi menolong orang yang
sedang susah, tiada setia kawan serta ingkar janji. Apakah kami pun
akan membiarkan kau bertindak sewenang-wenang untuk keuntungan
dirimu sendiri?"
Tiba-tiba Biau-kosiu menghela napas
panjang, "Ai, semua itu gara-gara aku telah cerewet sehingga
membocorkan kepada kalian bahwa aku dapat menyembuhkan racun
sengatan nyamuk penghancur darah."
"Bila nona bersedia membantu kami,
Bong Thian-gak tak akan
melupakan budi kebaikanmu itu."
"Baiklah, aku bersedia menghadiahkan
obat penawar racun untuk kailian
berdua," ucap Biau-kosiu kemudian.
"Apakah obat penawar racun berada di
rumah penginapan?"
"Ya, silakan kalian ikut aku kembali ke
rumah penginapan Ban-heng!"
Rumah penginapan Ban-heng adalah rumah
penginapan terbesar ili
kota Lok-yang, bangunan
rumahnya bersusun-susun dan kamarnya terdiri dari ratusan bilik,
letaknya di sebelah barat dekat dinding kota.
Oleh karena itu
Bong Thian-gak, Tio Tian-seng dan
Biau-kosiu menelusuri dinding kota menuju ke bagian barat, kemudian
melompati dinding benteng dan melayang masuk ke halaman rumah
penginapan Han-heng.
Waktu itu kentongan kelima baru saja
bergema, bintang dan rembulan telah tenggelam, langit dicekam
kegelapan.
Dengan gerakan tubuh yang enteng,
Biau-kosiu menelusuri halaman menuju gedung lapisan kedua dan pada
akhirnya melayang turun ke
muka sebuah pintu.
Baru saja mereka muncul, dari balik
gedung sudah terdengar seorang perempuan menegur tapi penuh kasih
sayang, "Anak Siu di situ?"
Menyusul cahaya lentera menerangi
ruangan kamar.
"Nenek, Siu-ji yang datang," Biau-kosiu
berseru manja.
Dari balik ruangan terdengar perempuan
tua itu menegur lagi, "Siapakah kedua orang lainnya?"
Ketika mendengar teguran itu, paras muka
Tio Tian-seng dan Hong Thian-gak sama-sama berubah hebat, pikir
mereka, "Hebat, tajam dan
cekatan benar pendengaran
perempuan itu, padahal langkah kami sudah
diusahakan seringan
mungkin, sudah tidak menimbulkan sedikit
suara
pun, tapi anehnya mengapa pihak
lawan bisa membedakan berapa orang yang telah datang?"
Dapatlah diduga perempuan di dalam
ruangan itu adalah seorang Jagoan yang berilmu sangat tinggi.
Diam-diam Bong
Thian-gak dan Tio Tian-seng jadi kuatir, andaikata
Biau-kosiu ingkar janji dan tak bersedia menyerahkan obat penawar
racun, sanggupkah mereka berdua menandingi Biau-kosiu beserta
perempuan tua itu?
Dalam pada itu Biau-kosiu termenung
sesaat, tidak langsung menjawab, mendadak dari kegelapan muncul
bayangan orang, tahu-tahu ada tiga orang telah mengurung
Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng.
Ketiga orang itu terdiri dari seorang
nenek berambut putih berwajah merah, membawa toya kepala setan yang
besarnya selengan bocah dan berwarna hitam pekat.
Di sisi nenek itu adalah seorang
perempuan setengah umur yang tinggi kekar bermata tunggal berparas
jelek serta bertelanjang kaki yang bentuknya sebesar gajah.
Sedang di sebelah kanannya adalah
seorang lelaki kekar setengah umur yang hitam dan jelek, bermata
tunggal dan berperawakan tinggi kekar, dia pun bertelanjang kaki.
Pada hakikatnya kedua orang terakhir ini
merupakan pasangan yang amat serasi, baik lelaki maupun yang
perempuan sama-sama berwajah bengis, buas, bermata tunggal dan
bertelanjang kaki.
Dari kemampuan ketiga orang yang muncul
tanpa menimbulkan sedikit suara, bahkan sanggup menyelinap dengan
kecepatan tinggi, jelas kemampuan mereka sungguh hebat dan tak bisa
dianggap enteng.
Seketika itu juga
Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng
dicekam oleh ketegangan yang luar biasa.
Sementara itu Biau-kosiu telah bersandar
dalam pelukan si nenek berambut putih itu sambil berkata dengan
manja, "Nenek, berilah dua butir pil penawar nyamuk beracun untukku,
anak Siu telah berjanji akan menghadiahkan untuk mereka berdua."
Dengan penuh kasih sayang nenek berambut
putih itu membelai rambut Biau-kosiu, lalu katanya, "Anak Siu, siapa
kedua orang ini? Mengapa kau berjanji hendak menghadiahkan pil
penawar nyamuk beracun itu kepada mereka?"
"Nenek janganlah bertanya terus, Siu-ji
telah berjanji, tentu saja aku tidak ingin ingkar janji. Nenek,
ayolah ambil pil itu!"
Tampaknya nenek berambut putih itu
sangat menyayangi Biau-kosiu, ia segera menjawab, "Baik, nenek akan
memberikan dua butir untuk mereka."
Seusai berkata, tiba-tiba nenek berambut
putih itu mengeluarkan dua pil berwarna merah
dari dalam sebuah botol berwarna putih
porselen, kemudian diserahkan ke tangan nona itu.
Setelah menerima pil itu, Biau-kosiu
segera menyerahkan kepada Bong
Thian-gak sambil ujarnya manja, "Cepat kalian telan pil itu
dan tinggalkan tempat ini secepatnya!"
Bong Thian-gak
menerima pil itu, baru saja hendak mengucapkan beberapa patah kata
merendah, nona itu di bawah bimbingan si nenek berambut putih dan
diikuti sepasang laki perempuan bermata tunggal itu sudah berlalu
dari sana.
Bong Thian-gak
hanya bisa menghela napas dan menyerahkan sebutir pil ke tangan Tio
Tian-seng, kemudian mereka menelan pil itu.
Begitu pil itu masuk ke dalam mulut, bau
harum semerbak memancar kemana-mana, pil segera mencair dan membaur
dengan liur mengalir ke dalam perut.
Tak lama kemudian mereka berdua
merasakan semangatnya berkobar kembali, dada terasa lapang dan
segar.
Tio Tian-seng pun menarik
Bong Thian-gak untuk diajak pergi
dari situ.
"Kita hendak kemana?" tanya
Bong Thian-gak.
"Mari kita memesan kamar dan tinggal di
rumah penginapan ini."
Bong Thian-gak
dan Tio Tian-seng pun menginap di rumah penginapan Ban-heng,
jaraknya dari situ ke gedung yang ditempati Biau-kosiu sekalian cuma
selisih sebuah beranda lebar.
Di dalam gedung yang mereka pesan
terdapat dua buah kamar dengan bagian tengahnya merupakan ruang
tamu. Ketika Tio Tian-seng pergi meninggalkan penginapan, dalam
ruangan itu tinggal Bong
Thian-gak seorang.
Perjalanan yang jauh semalam suntuk
membuat Bong Thian-gak merasa
agak lelah, ketika ia bersiap-siap masuk ke dalam kamar untuk
beristirahat, mendadak dari halaman muka bergema suara langkah kaki,
lalu seseorang berkelebat dan di muka pintu sudah berdiri seorang
sastrawan berbaju putih.
: -
Dengan terkejut
Bong Thian-gak menegur, "Kau mencari
siapa?"
Tampang sastrawan berbaju putih itu
ganteng, mata jeli dan Indung mancung, mukanya putih bersih, ia
menggenggam kipas putih dan menggembol
sebilah pedang di punggungnya.
Dengan sorot mata tajam ia mengawasi
wajah Bong Thian-gak
lekat-lekat. Sekulum senyuman yang angkuh menghiasi ujung bibirnya,
ia ganti menegur dengan lantang, "Kau yang bernama
Jian-ciat-suseng?"
"Benar," Bong
Thian-gak manggut-manggut. "Ada urusan apa kau datang
mencariku?"
Sastrawan berbaju putih itu tersenyum.
"Aku she
Liong bernama Oh-im."
Sekalipun Bong
Thian-gak merasa agak bingung dan heran atas kedatangan
tamu tak diundang ini, namun ia segera menyahut dengan nada gembira,
"Oh, rupanya Liong-heng. Silakan duduk."
Tanpa sungkan sastrawan berbaju putih
Liong Oh-im melangkah masuk ke dalam dan duduk di kursi tamu.
Bong Thian-gak
menuang secangkir teh untuk tamunya, kemudian baru bertanya lagi,
"Apakah Liong-heng mencari aku?"
"Benar," Liong Oh-im tertawa dingin.
"Adapun kedatanganku tak lain adalah menanyakan beberapa persoalan
kepada Bong-tayhiap."
"Liong-heng ada urusan apa, silakan saja
utarakan secara terus terang," jawab Bong
Thian-gak tertegun.
Kembali Liong Oh-im tertawa.
"Sebenarnya kita memang tidak saling
mengenal. Karenanya bila kedatanganku telah mengganggu Bong-tayhiap,
harap sudi memaafkan."
"Ah, empat penjuru adalah tetangga,
empat samudra adalah saudara."
Tiba-tiba sastrawan berbaju putih
merendahkan suara, kemudian berbisik, "Bong-tayhiap, sebenarnya
persoalan yang hendak kutanyakan adalah masalah yang menyangkut
hubungan Bong-tayhiap dengan Biau-kosiu."
"Kau maksudkan gadis suku Biau itu?"
tanya Bong Thian-gak
terperanjat.
Liong Oh-im tersenyum.
"Konon Bong-tayhiap menjadi salah satu
pengawal Biau-kosiu? Apa benar kabar ini?"
Bong Thian-gak
tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat,
kemudian balik bertanya, "Ada urusan apa Liongheng menanyakan hal
ini?"
Kembali Liong Oh-im tertawa kering, "Aku
hanya ingin tahu, benarkah Bong-tayhiap sudah menjadi pengawalnya?"
"Tidak," Bong
Thian-gak menggeleng dengan tegas.
"Kalau memang Bong-heng bukan pengawal
Biau-kosiu, buat apa kau tetap berada di sini untuk menyerempet
bahaya?"
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Dengan berdiam dalam rumah penginapan
ini, mungkinkah aku akan menjumpai ancaman maut?"
"Sudah banyak jago-jago lihai persilatan
yang beranggapan bahwa Bong-tayhiap adalah orang Biau-kosiu. Dengan
tetap berada di sini, bukankah sama artinya menjajakan diri menjadi
sasaran kemarahan orang?"
Tiba-tiba Bong
Thian-gak bertanya, "Apakah kau berasal dari satu
aliran dengan si pukulan tanpa wujud Bu Seng?"
"Betul, Bu Seng si tua itu tak lebih
adalah panglima andalanku."
Bong Thian-gak
sangat terkejut, segera pikirnya, "Jadi dia adalah anak buahnya?
Lantas orang macam apakah Liong Oh-im?"
Bu Seng adalah tokoh silat yang pernah
menggemparkan Bu-lim pada empat puluh tahun berselang, tapi sekarang
dia tak lebih cuma seorang anak buah Liong Oh-im yang masih begitu
muda.
Tentu Liong Oh-im adalah seorang yang
mempunyai asal-usul luar biasa.
Bong Thian-gak
berpikir beberapa saat, kemudian katanya sambil tersenyum, "Apakah
kau hendak membuat perhitungan dengan Biau-kosiu
serta rombongannya?"
"Boleh dibilang begitu," sahut Liong
Oh-im sambil tertawa ringan.
Bong Thian-gak
segera tertawa.
"Aku rasa Biau-kosiu bukan manusia yang
mudah dihadapi, lagi pula di sekelilingnya dilindungi oleh beberapa
jago silat berilmu tinggi. Uni u k menghadapi perempuan itu, kau
mesti banyak membuang tenaga dan pikiran."
"Justru karena agak sulit dihadapi, maka
aku sengaja datang menjumpai Bong-tayhiap dan berharap kau tidak
mencampuri urusan Ini,"
kata Liong Oh-im sambil
tertawa.
