pendekar cacad 13

Bagian 15 :  Tiga Pelindung Bunga Put-gwa-cin-kau

Hek-coa-li-liong melirik sekejap ke arah Bong Thian-gak, ujarnya, "Walaupun orang yang paling berkuasa dan memegang tampuk pimpinan tertinggi dalam perkumpulan Put-gwa-cin-kau adalah Cong-kaucu, namun aku rasa bila benar-benar ingin meleyapkan Put-gwa-cin-kau dari muka bumi, bukan Cong-kaucu yang harus dibunuh terlebih ilahulu."

"Apakah kita harus membunuh kuku-kuku garudanya terlebih ilahulu?"

Hek-coa-li-liong mengangguk membenarkan.

"Betul, kita harus membunuh kuku-kuku garudanya lebih dahulu, tapi tahukah kau siapa saja yang merupakan kuku-kuku garuda andalannya?"

"Sim Tiong-kiu, Ji-kaucu, dan lain sebagainya."

 

Sambil tertawa, Hek-coa-li-liong menggeleng kepala berulang-kali.

"Dugaanmu keliru besar, Cong-kaucu masih mempunyai tiga orang utusan pelindung bunga yang sangat misterius identitasnya, maka bina jadi kau akan terperanjat."

Bong Thian-gak menjadi sangat keheranan, segera tanyanya, "Ia masih mempunyai tiga orang utusan pelindung bunga yang misterius itlmtitasnya, siapa sebenarnya ketiga orang itu?"

"Kau jangan bertanya dulu siapakah ketiga orang yang kumaksud, sekarang aku hendak bertanya dulu satu hal, saat ini si tabib sakti Gi Jian-cau berada dimana?"

"Di suatu tempat rahasia di kota Lok-yang."

"Bila kau berhasil menjumpai Gi Jian-cau, kau harus segera membunuhnya," mendadak gadis itu berpesan.

"Apa maksudmu berkata demikian?" tanya Bong Thian-gak sambil berkerut kening, ia merasa tak habis mengerti.

"Sebab dia merupakan satu di antara ketiga utusan pelindung hinga Cong-kaucu yang misterius itu."

"Ah, tidak mungkin pemuda itu menggeleng kepala berulang­kah. "Tabib sakti Gi Jian-cau tak mungkin menjadi kuku garuda Cong-kaucu."

 

Ketika mendengar jawaban itu, Hek-coa-li-liong nampak merasa sedih, kembali dia berkata, "Bila kau tidak mempercayai perkataanku ini, cepat atau lambat kau akan terbunuh di tangannya."

"Gi Jian-cau adalah pelindung hukum perguruan kami," kata Bong Thian-gak kemudian dengan suara dalam. "Biarpun sampai sekarang aku belum berjumpa dengannya, namun Keng-tim Suthay dari perguruan kami sangat menaruh kepercayaan kepadanya, sudah barang tentu aku pun amat mempercayai dirinya."

"Tapi sekarang secara tiba-tiba saja kau mengutarakan kata-kata seperti ini, sungguh hal ini membuatku keheranan setengah mati."

 

"Kini di dalam tubuhmu masih mengeram racun yang sangat jahat, padahal batas waktunya tinggal empat hari lagi, mari sekarang juga kita berangkat ke Lok-yang dan minta Gi Jian-cau mengobati racun itu."

"Aku tahu dan memang sudah kuduga sejak tadi bahwa kau tak akan percaya pada perkataanku ini, namun tujuanku tak lebih hanya ingin membuat kau tahu bahwa Gi Jian-cau adalah salah satu di antara ketiga pelindung bunga Cong-kaucu yang misterius."

"Asal kau mengikuti aku sampai di kota Lok-yang, segera akan kau ketahui sendiri Gi Jian-cau termasuk orang baik atau jahat."

"Tidak, aku takkan pergi ke Lok-yang."

"Kalau kau tidak ke Lok-yang, lantas hentak pergi kemana?"

"Aku ingin mempergunakan sisa waktu empat hari ini untuk mencari tempat yang ideal dan indah bagi tempat kuburku."

 

"Asal kita berhasil mencapai kota Lok-yang dalam empat hari, aku pun yakin Gi Jian-cau dapat mengobati racun jahat yang mengeram dalam tubuhmu itu. Kau harus tahu nyawa seorang berharga sekali, mengapa kau melepas kesempatan yang sangat baik untuk melanjutkan hidup?"

Hek-coa-li-liong menggeleng kepala berulang-kali. "Aku sudah merasakan malaikat maut sudah mendekati diriku. Itulah sebabnya aku harus berpisah secepatnya darimu, kalau tidak, kau bakal terseret ke dalam masalah ini gara-gara aku."

"Ai, perkataanmu ini semakin membuat aku bingung dan tak habis mengerti," Bong Thian-gak menghela napas panjang. "Bila bukan disebabkan menghargai jiwamu, mengapa kau mesti berkhianat untuk menyelamatkan jiwaku?"

 

Sekali lagi Hek-coa-li-liong menggeleng kepala.

"Sejak dulu aku memang sudah berniat berkhianat, mengapa pula aku mesti mencelakai jiwamu? Ai, terus terang saja kuberitahukan kepadamu, aku tidak akan ke Lok-yang, bukannya disebabkan aku tidak percaya kepada Gi Jian-cau."

"Tapi bukankah kau pernah berkata kepadaku bahwa racun jahat yang bersarang di dalam tubuhmu itu tak akan bisa diobati siapa pun selain obat penawar racun bikinan Gi Jian-cau? Kalau kedua pihak sama-nama menjumpai jalan buntu, mengapa kita tak berangkat ke Lok-yang untuk mengadu untung? Siapa tahu dewi rezeki masih berada di pihakmu?"

 

Dengan pancaran mata penuh rasa terima kasih, Hek-coa-li-liong memandang sekejap ke arah pemuda itu, kemudian katanya, "Asalkan aku masih dapat mempertahankan hidupku, pasti akan kusumbangkan segenap pikiran dan tenagaku demi kepentinganmu."

Dengan cepat Bong Thian-gak bisa menangkap arti sebenarnya perkataan itu, ia berseru tertahan, kemudian tanyanya, "Kau menolak pergi ke Lok-yang, apakah karena kau sudah punya jalan kehidupan yung lain?"

 

Hek-coa-li-liong tertawa rawan.

"Antara hidup dan mati masing-masing setengah kesempatan."

Akhirnya Bong Thian-gak menghela napas panjang. "Ai, kalau kau bersikeras tak akan pergi ke Lok-yang, biarlah aku mendampingimu kemana pun kau hendak pergi."

Cepat Hek-coa-li-liong menggeleng kepala.

"Siangkong adalah seorang ketua perguruan besar, aku tahu temanmu sangat banyak dan berbagai masalah masih menantikan penyelesaian darimu. Buat apa kau mesti membuang waktu yang sangat harga cuma dikarenakan urusanku?"

"Aku hanya ingin menemani kau selama empat hari saja, sebab bila aku tidak berbuat begini, hatiku tak akan merasa tenang."

 

Agaknya Hek-coa-li-liong tahu keinginan si anak muda itu tak bisa ditolak lagi, setelah menghela napas panjang katanya, "Baiklah! Bila seandainya kau gagal mengobati racun jahat yang mengeram dalam tubuhku, paling tidak kau masih bisa membantu mengubur jenazahku nanti."

"Sekarang kita hendak kemana?" tanya anak muda itu.

"Kita cukup mencari sebuah tanah pegunungan yang terpencil dan jauh dari keramaian orang."

Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan mencoba memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, kurang lebih setengah li di depan sana, ia melihat tanah perbukitan, dengan kening berkerut tanyanya kemudian, "Dengan cara apakah kau hendak mengobati lukamu itu?"

"Aku bermaksud menggunakan racun melawan racun."

 

Kedua orang itu bergerak menuju ke kaki bukit dengan cepat.

Hek-coa-li-liong memilih tanah lapang berumput dan duduk di situ, kemudian sambil tersenyum katanya, "Siangkong, tahukah kau dengan cara apa aku hendak melakukan racun melawan racun itu?"

"Aku memang berniat meminta keterangan darimu," sahut Bong Thian-gak sambil menggeleng.

"Aku hendak menggunakan irama seruling untuk memancing datangnya beribu-ribu ekor ular berbisa, kemudian dengan memilih tujuh ekor ular berbisa di antaranya yang memiliki kadar racun paling tinggi untuk memagut tubuhku."

"Tapi mungkinkah kau akan berhasil dengan cara itu?" tanya Bong Thian-gak terkejut.

 

Hek-coa-li-liong segera tersenyum.

"Asal waktunya tepat dan caranya benar, aku rasa kemungkinan berhasil mencapai lima puluh persen."

"Rasanya cara ini tak bisa ditanggung keberhasilannya, mengapa kau enggan mengikuti aku pergi ke Lok-yang?"

Hek-coa-li-liong menggeleng kepala, sahutnya, "Aku tahu, selama hidup Gi Jian-cau jangan harap bisa menolong jiwaku."

Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Sekarang baiklah kuberitahukan suatu hal kepadamu, saat ini Gi Jin-cau sedang membuat semacam pil pengembali sukma di kota Lok-yang. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan Thay-kun serta kawanan jago persilatan lainnya, oleh sebab itu kau harus percaya bahwa Gi Jian-ciau sebenarnya adalah seorang pendekar dari golongan lurus."

 

Berubah hebat paras muka Hek-coa-li-liong mendengar perkataan Itu, serunya dengan cepat, "Kemungkinan besar dia bukan lagi membuat pil pengembali sukma yang kau maksudkan."

"Aku mengetahui persoalan ini dari Keng-tim Suthay, aku yakin dia tak bakal salah mendengar."

Tiba-tiba Hek-coa-li-liong teringat akan sesuatu, serunya tertahan, "Siangkong, kau harus selekasnya berangkat ke Lok-yang melakukan pemeriksaan, bisa jadi di tempat itu sudah terjadi suatu musibah besar."

"Tidak, aku harus merawat dirimu, tak mungkin aku memisahkan diri dalam dua persoalan yang berbeda."

"Aku bukan sedang bergurau," kata Hek-coa-li-liong dengan nada gHisah. "Malah kemungkinan besar Keng-tim Suthay serta segenap anggota Hiat-kiam-bun lain telah tertimpa musibah yang mengenaskan."

 

Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak, mendadak ia peluk pinggang Hek-coa-li-liong, lalu mengerahkan Ginkangnya meninggalkan tempat itu.

"Hei, mau apa kau?" Hek-coa-li-liong segera menegur.

"Setelah mendengar perkataanmu tadi, mau tak mau kita harus berangkat ke Lok-yang, namun aku pun tak bisa meninggalkan dirimu begitu saja, karenanya terpaksa aku harus membawa serta dirimu."

"Sekalipun hendak berangkat ke Lok-yang aku kan masih punya sepasang kaki untuk berjalan sendiri," seru si nona agak mendongkol.

"Ah, maaf, aku takut kau enggan mengikuti aku."

 

Cepat pemuda itu menurunkan tubuh si nona.

Setelah berdiri kembali, Hek-coa-li-liong mendongakkan kepala dan memeriksa sekejap keadaan sekeliling tempat itu, kemudian ia bertanya, "Tahukah kau kita berada dimana sekarang?"

Bong Thian-gak melongo, lalu menggeleng kepala berulang-kali.

"Tidak tahu."

"Tempat ini adalah Leng-juan di San-say, asal kita bisa melewati perbukitan Tay-heng-san yang melintang, maka kita sudah sampai di wilayah Ho-lam, berarti perjalanan dari sini sampai Lok-yang paling hanya satu hari perjalanan."

"Wah, itu lebih baik lagi," kata Bong Thian-gak gembira.

 

Dengan suara hambar kembali Hek-coa-li-liong berkata, "Gi Jian-cau adalah seorang licik, jahat, kejam dan berhati busuk. Sejak puluhan tahun berselang, ia sudah bersekongkol dengan Cong-kaucu. Di saat Put-gwa-cin-kau mulai meracuni umat persilatan dan menteror umat manusia, racun jahat bikinan Gi Jian-cau boleh dibilang merupakan pendukung utamanya."

 

Bong Thian-gak menghela napas sedih.

"Dari dulu sampai sekarang, selain Nabi, siapakah umat manusia di dunia ini yang bisa luput dari kesalahan? Ai, bila ia bersedia menggunakan kemampuannya membuat obat guna menolong umat manusia, hal ini tentu akan lebih baik lagi."

"Jika Gi Jian-cau masih mempunyai jiwa yang baik dan perasaan welas asih, sejak permulaan ia tak akan membuat obat racun untuk mencelakai jiwa manusia."

 

Bong Thian-gak tahu gadis itu sudah telanjur mempunyai kesan buruk terhadap Gi Jian-cau, oleh sebab itu dia pun tidak mengajaknya berdebat lebih jauh, sambil mengalihkan pokok pembicaraan ke masalah lain, tanyanya, "Hingga sekarang aku masih belum mengetahui namamu, boleh aku tahu siapa namamu?"

"Aku she Han bernama Siau-cing," sahut Hek-coa-li-liong sambil tersenyum.

"Nona Han, luka pada lenganmu belum sembuh, mampukah kau menempuh perjalanan malam?"

 

Han Siau-cing tertawa.

"Aku adalah seorang anak gadis, tidak mungkin aku menyuruhmu menggendong diriku terus menerus."

Merah padam wajah Bong Thian-gak, cepat ia menerangkan, "Aku tak bermaksud seperti itu. Bila kau lelah, marilah kita beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan kita."

"Aku tidak lelah."

Maka berangkatlah Bong Thian-gak dan Han Siau-cing melewati perbukitan Tay-heng-san, lalu melalui pesisir utara sungai Huang-ho, menyeberangi sungai dan tiba di Beng-kim selewat lohor.

 

Menjelang magrib, di sebuah kuil bobrok di luar kota Lok-yang di ilnsun Cho-keh-po, muncul sepasang muda-mudi berlengan tunggal.

"Bong-siangkong, apakah kau tidak salah mencari tempat?" tanya si gadis bermantel ular.

Si pemuda mengangkat kepala dan memandang sekejap kuil bobrok itu, kemudian menjawab dengan suara dalam dan berat, "Tak bakal salah, mari kita masuk untuk melihat!"

Dengan berjalan bersanding, mereka masuk ke kuil bobrok itu.

Daun kering berserakan di halaman, rumput liar tumbuh dimana-inana. Tampaknya kuil itu memang sudah lama terbengkalai.

 

Apalagi setelah melangkah masuk ke dalam ruang tengah, sarang laba-laba tampak memenuhi sudut ruangan, debu menebal, meja altar dan segala peralatan rusak dan hancur, tak mungkin ada orang yang berdiam di tempat itu.

Ketika angin lembut berhembus, lamat-lamat terendus bau amis yang menusuk penciuman.

"Bong-siangkong apakah kau mengendus bau busuk mayat?" tiba-tiba Han Siau-cing bertanya.

Paras pemuda itu berubah hebat, ia balik bertanya, "Bau bangkai? Bau ini adalah bau mayat yang membusuk."

 

Gadis berlengan tunggal alias Han Siau-cing segera mengendus sekeliling tempat itu, kemudian bertanya lagi, "Tampaknya bau busuk Itu berasal dari gedung belakang di sebelah barat laut."

Pemuda berlengan tunggal tak lain adalah Bong Thian-gak segera menggerakkan tubuh meluncur ke gedung belakang.

"Bong-siangkong, tidak usah diperiksa lagi," Han Siau-cing segera berseru.

Tapi Bong Thian-gak sama sekali tidak menghentikan langkahnya, karena itu terpaksa si nona menyusul ke belakang.

 

Waktu itu Bong Thian-gak sedang berdiri di depan pintu sambil mengawasi ruang dalam dengan pandangan mendelong dan wajah lei mangu-mangu.

Sambil menutup hidung, Han Siau-cing mendekati pemuda itu setia menengok ke dalam.

Mayat-mayat berserakan di dalam gedung itu, bau busuk yang amat menusuk tersebar luas, membuat orang hampir muntah.

Bila dilihat dari rambut mayat-mayat itu, dandanan dan pakaian yang dikenakan, agaknya semua mayat itu terdiri dari kaum wanita.

Sambil menghela napas sedih Han Siau-cing berkata, "Bong-siangkong, yang kukatakan tidak salah bukan, Gi Jian-cau memang seorang laknat."

 

Bong Thian-gak sama sekali tidak menjawab, dia beranjak dan melangkah masuk ke ruangan itu, kemudian setelah memeriksa sekejap semua mayat yang terkapar di situ, ia keluar lagi dari ruangan sambil bergumam, "Semua yang menjadi korban adalah anggota perempuan Hiat-kiam-bun dan tak salah lagi, tapi ... mengapa tidak terlihat mayat Keng-tim Suthay serta Gi Jian-cau."

"Sudah kau periksa apa yang menyebabkan kematian mereka?" tanya Han Siau-cing tiba-tiba.

Dengan wajah berubah hebat, sahut Bong Thian-gak, "Aku tidak menemukan satu titik luka pun di tubuh mayat itu."

"Nah, itulah dia!" Han Siau-cing kembali menghela napas. "Mereka semua tentu mati diracun, jadi pembunuh kejinya sudah pasti Gi Jian-cau."

"Nona Han," ujar Bong Thian-gak kemudian dengan wajah serius. "Sebelum aku selesai dengan pemeriksaanku, janganlah menuduh siapa pun dengan sembarangan."

 

Tiba-tiba Han Siau-cing tertawa terkekeh-kekeh, "Berada dalam keadaan dan situasi semacam ini pun kau masih menganggap Gi Jian-cau sebagai orang baik?"

Mendadak Bong Thian-gak membentak, "Siapa di situ?"

Sambil membentak, tubuhnya seperti seekor elang raksasa segera melompat ke depan.

Reaksi Han Siau-cing jauh lebih lamban. Tatkala dia menyusul ke halaman depan, Bong Thian-gak telah bentrok satu gebrakan melawan pendatang itu dan sebagai akibat dari bentrokan ini, sepasang bahunya terguncang keras, langkahnya gontai dan selangkah demi selangkah ia sedang mundur ke belakang.

Kemudian darah menyembur dari mulut Bong Thian-gak.

 

Sementara itu di hadapan Bong Thian-gak telah berdiri seorang kakek berjenggot hitam yang menggunakan baju berwarna hijau.

Ia menggembol sebilah pedang antik, rambutnya sudah memutih, namun matanya yang memancarkan sinar tajam sedang mengawasi anak muda itu tanpa berkedip.

Sambil membentak, Han Siau-cing bersiap hendak menerjang ke depan, tapi Bong Thian-gak segera memegang lengannya sembari berbisik, "Jangan bertindak gegabah nona Han, ilmu silat yang dimiliki orang ini hebat sekali, kau tak akan mampu membendung serangannya."

Tiba-tiba terdengar kakek berjenggot hitam itu bertanya dengan miiira nyaring, "Kau adalah Jian-ciat-suseng?"

 

Bong Thian-gak terkejut, bukan karena orang itu dapat menyebut julukannya, tapi dikarenakan dalam bentrokan yang berlangsung tadi, ia bisa merasakan kekuatan dan kedahsyatan tenaga serangan kakek itu.

Sejak dia berlatih tekun selama tiga tahun di bawah air terjun, hung Thian-gak selalu menaruh kepercayaan yang amat besar pada kemampuan ilmu silatnya, dia menganggap tiada orang yang bisa mengungguli dirinya.

Tapi hari ini untuk pertama kalinya ia menderita kekalahan di tangan orang.

 

Getaran tenaga pukulan yang dilancarkan kakek berjenggot hitam tadi telah melukai isi perutnya serta mengguncang rasa percayanya terhadap kemampuan sendiri.

Dengan perasaan agak tegang, gugup dan panik dia menegur,  bibirnya terdengar agak gemetar, "Siapakah kau?"

Han Siau-cing sendiri pun tidak mengenal siapa gerangan kakek berjenggot hitam yang berada di hadapannya sekarang.

Kakek berjenggot hitam itu sama sekali tidak menyebut nama serta julukannya, hanya tanyanya lagi dengan suara hambar, "Apakah kau murid Oh Ciong-hu?"

 

Bong Thian-gak tak mengerti mengapa ia mengajukan pertanyaan itu, segera jawabnya, "Benar, aku adalah anak muridnya."

Paras muka kakek itu berubah, katanya, "Kesempurnaan tenaga dalam yang kau miliki benar-benar jauh mengungguli kemampuan Oh Ciang-hu sendiri."

"Aku rasa kau tentunya sudah boleh menyebut identitasmu, bukan?" kata Bong Thian-gak kemudian dengan kening berkerut.

"Asal kau berani melancarkan sebuah serangan pedang lagi kepadaku, aku bersedia menyebut nama serta julukanku," sahut si kakek hambar.

 

Bong Thian-gak melolos pedang dan siap melancarkan serangan, katanya, "Aku bersedia melancarkan serangan pedang lagi atas dirimu, namun perlu kujelaskan, serangan pedangku ini bisa jadi merupakan akhir dari kehidupanku, tapi mungkin juga merupakan titik hancur bagi kehidupanmu, karena itu kuanjurkan lebih baik serangan kubatalkan saja."

"Bila kau tidak berani melancarkan serangan, aku akan menyerang dirimu lebih dulu," ancam si kakek.

 

Sembari berkata, kakek itu pelan-pelan melolos pedang antiknya, pedang itu sama sekali tidak memercikkan setitik cahaya pun, juga tidak nampak mata pedang, karena pedang itu tak lebih hanya sebilah pedang kayu, pedang kayu yang sama sekali tumpul. Menyaksikan bentuk pedang itu, paras muka Bong Thian-gak justru berubah semakin serius. Pedang kayu sebagai senjata andalan, Bong Thian-gak tahu ilmu pedang kakek itu sudah mencapai taraf kemampuan yang luar biasa.

 

Berapa orang dalam Kangouw dewasa ini yang memiliki ilmu pedang begitu sempurna?

"Ah! Kau adalah ketua Kay-pang," Bong Thian-gak menjerit kaget.

Sebelum pemuda itu berbicara, pedang kayu yang berada dalam genggaman kakek itu sudah menusuk ke arah dadanya. Tusukan itu dilancarkan sangat lamban tapi sangat berat.

Sekilas serangan itu amat lamban, sama sekali tidak mengandung hawa napsu pembunuh, tetapi Bong Thian-gak justru menghadapinya dengan wajah serius dan tegang.

 

Dalam sekejap dia seakan-akan menghadapi bahaya ancaman maut.

Bentakan keras menggeledek di angkasa.

Kemudian berkumandang suara benturan yang memekakkan telinga.

Pedang Bong Thian-gak berhasil memapas kutung pedang kayu si kakek berjenggot hitam itu.

Sebaliknya pedang kayu si kakek juga berhasil mematahkan pedang Bong Thian-gak.

Dalam pada itu Bong Thian-gak sudah berjumpalitan, lengan ltinggalnya masih menggenggam kutungan pedang, sementara matanya mengawasi si kakek di hadapannya tanpa berkedip.

 

Suasana tegang kembali menyelimuti seluruh arena.

Tiba-tiba terdengar kakek itu menghela napas sedih, kemudian katanya, "Serangan pedangmu itu ternyata mampu menembus hawa pedangku, ternyata kau pun berhasil melatih hawa pedang yang maha sakti. Sungguh tak nyana, dengan usiamu yang begitu muda, ternyata mampu melatih hawa pedang yang hebat, betul-betul tak kuduga."

 

Cucuran darah berlinang dari ujung bibir Bong Thian-gak, namun ia menjawab sambil tersenyum, "Bila Locianpwe melancarkan serangan lagi kepadaku, niscaya Boanpwe tak bakal lolos dari ancaman bahaya maut."

"Bila serangan yang pertama tak mampu membunuhmu, hari ini aku tak akan melepaskan serangan kedua," ucap si kakek hambar.

Kakek itu membuang kutungan pedangnya, kemudian berkata, "Bila kau masih mampu, sekarang silakan membunuhku."

"Locianpwe," kata Bong Thian-gak lantang, "sebetulnya di antara kita sama sekali tak terikat dendam sakit hati apa pun, mana berani IJoanpwe menyerang dirimu lagi."

 

Bong Thian-gak pun membuang kutungan pedangnya, kemudian melanjutkan, "Cuma Boanpwe ingin mencari tahu beberapa hal, harap locianpwe sudi memberi penjelasan."

"Persoalan apa yang hendak kau ketahui?"

"Aku ingin tahu, sesungguhnya siapakah Locianpwe?"

"Ketua angkatan ketujuh Kay-pang, Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng."

 

Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka Tio Tian-seng adalah ketua Kay-pang saat ini. Rahasia itu boleh dibilang jarang diketahui umat persilatan.

Bong Thian-gak berdiri tertegun dan melongo mendengar jawaban itu.

Dengan wajah serius Tio Tian-seng bertanya lagi, "Apakah kau masih ada pertanyaan lain? Ayo, cepat utarakan."

Bagaikan baru sadar dari impian, cepat Bong Thian-gak bertanya, "Ada keperluan apa Locianpwe datang kemari?"

"Mencari si tabib sakti Gi Jian-cau untuk mengobati luka yang diderita muridku, To Siau-hou."

"Apakah Locianpwe telah berhasil menemukan si tabib sakti?" tanya Bong Thian-gak lagi.

"Belum."

 

Bong Thian-gak berkerut kening, lalu katanya, "Boanpwe juga sedang mencari Gi Jian-cau, mungkin Locianpwe sudah melihat mayat-mayat yang terkapar di ruang belakang itu!"

Tio Tian-seng mendengus, "Hm, pertanyaanmu sudah selesai diutarakan, sekarang aku hendak pergi. Ingat pada saat kita bersua lagi bisa jadi aku akan membunuhmu."

Seusai berkata, dia menggerakkan tubuh beranjak pergi dari situ.

Belum sempat Bong Thian-gak memanggilnya, Tio Tian-seng sudah lenyap dari pandangan mata.

 

Keadaan Bong Thian-gak saat ini benar-benar bagaikan berada dalam alam impian, dia seperti kurang percaya dengan apa yang dialaminya barusan, dia tak percaya baru saja habis bertarung melawan jagoan paling tangguh yang diakui umat persilatan selama enam puluh tahun belakangan ini, Tio Tian-seng.

Dia pun tak menyangka orang paling tangguh di kolong langit dewasa ini, Tio Tian-seng tak lain adalah ketua Kay-pang.

Han Siau-cing berseru kaget, "Jadi dia adalah Tio Tian-seng?"

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, tentu saja dalam dunia persilatan dewasa ini, bukan hanya Tio Tian-seng seorang yang mampu mematahkan pedangku dengan hanya menggunakan sebilah pedang kayu."

"Dia termasuk juga utusan pelindung bunga Cong-kaucu?"

"Bong-siangkong, masih ingat dengan perkataanku tempo hari tentang ketiga orang utusan pelindung bunga Cong-kaucu yang misterius identitasnya?"

 

Paras muka Bong Thian-gak menjadi amat serius, katanya,

"Kecuali Gi Jian-cau serta Tio Tian-seng, siapakah orang ketiga?"

"Agaknya orang ketiga bernama Hek-mo-ong (raja iblis hitam)."

"Hek-mo-ong? Mana mungkin dalam Bu-lim terdapat manusia dengan julukan itu?"

"Bong-siangkong," kata Han Siau-cing dengan nada bersungguh-sungguh, "sebenarnya aku sendiri kurang percaya, tapi bila teringat kata-kata terakhir seorang Bu-lim Locianpwe yang sedang mendekati ajalnya, ucapan itu memang sangat masuk akal."

"Bu-lim Locianpwe manakah yang berkata kepadamu? Apa pula yang dia katakan?"

 

Han Siau-cing termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, setelah itu baru ujarnya, "Orang itu adalah gurumu ... Oh Ciong-hu."

"Kau benar-benar telah berjumpa dengan guruku menjelang ajalnya?" Bong Thian-gak berseru kaget.

Han Siau-cing manggut-manggut.

"Menjelang ajalnya, mendiang Bu-lim Bengcu Oh Ciong-hu telah bicara banyak denganku."

"Dapatkah kau memberitahukan kepadaku semua kejadian yang dialami Suhuku menjelang ajalnya?" pinta sang pemuda cemas.

 

Han Siau-cing menghela napas sedih, katanya kemudian, "Peristiwa ini berlangsung pada tiga tahun berselang, waktu itu aku termasuk salah seorang di antara kawanan jago yang diutus Cong-kaucu untuk mencelakai jiwa Bu-lim Bengcu Oh Ciong-hu yang amat lihai itu."

Mencorong sinar tajam penuh hawa napsu membunuh dari balik mata Bong Thian-gak, ditatapnya wajah Han Siau-cing lekat-lekat, kemudian tanyanya dingin, "Apakah kau juga termasuk salah seorang di antara pembunuh keji yang telah mencelakai guruku?"

 

Sekali lagi Han Siau-cing menghela napas sedih.

"Justru karena aku tidak turut menyerang Oh-locianpwe, maka Cong-kaucu menaruh curiga padaku serta menyekapku, bila Siangkong tidak percaya, aku pun tidak dapat berbuat apa-apa."

"Kalau begitu, tentunya kau masih ingat dengan jelas bukan, siapa-siapa saja yang terlibat dalam peristiwa keributan itu?"

Han Siau-cing termenung sambil berpikir sejenak, kemudian ia baru berkata, "Coba kau dengar dulu cerita peristiwa itu."

"Cepatlah kau ceritakan!"

 

Han Siau-cing menarik napas panjang, kemudian katanya, "Tiga tahun berselang kami telah mengepung Oh-locianpwe di sebuah tanah padang rumput, hampir segenap jago lihai yang tergabung dalam Put-gwa-cin-kau telah dikerahkan ke sana, maka terjadilah pertarungan berdarah yang sangat mengerikan. Oh-locianpwe almarhum dengan kemampuan seorang diri bertarung dan menerjang musuh dengan buas, ketika pertarungan berakhir, beliau telah menghabisi nyawa kedua ratus jago lihai Put-gwa-cin-kau tanpa ampun.

"Aku masih ingat ketika kujumpai Oh-locianpwe, waktu itu ia sedang duduk bersila di bawah sebatang pohon waru, di sampingnya berdiri seekor kuda berbulu emas.

"Belum sempat aku menghampiri Oh-locianpwe, beliau yang semula memejamkan mata mendadak membuka mata, kemudian setelah memandang sekejap ke arahku, ia pun menegur sambil tertawa, 'Apakah kau orang yang datang untuk memenggal batok kepalaku?.

 

"Aku tertegun mendengar teguran itu, kemudian menggeleng kepala dengan mulut tetap membungkam.- Saat itulah Oh-locianpwe dengan tertawa pedih berkata kembali, 'Aku sudah hampir mati, bila kau memang menginginkan batok kepalaku, silakan mencabut pedang serta memenggalnya, sebab aku tak punya bertenaga lagi untuk memberikan perlawanan ... namun sebelum ajalku tiba, aku ingin memberitahukan satu hal kepada kalian, yakni segenap anggota Put-gwa-cin-kau, kecuali Cong-kaucu, pada akhirnya akan mati dalam keadaan mengenaskan.'.

"Sewaktu mendengar keterangan itu, dengan cepat aku pun bertanya, 'Mengapa?'.

 

"Tampaknya kejernihan otak Oh-locianpwe mulai kabur, tapi aku mendengar ia berkata, 'Bila kau percaya, berusahalah mencari daya-upaya melepaskan diri dari belenggu Put-gwa-cin-kau secepatnya. Walaupun tatkala kalian memasuki perkumpulan sudah dicekoki obat racun yang berdaya kerja lambat, tapi aku beritahukan kepadamu bahwa seseorang masih bisa menyelamatkan jiwa kalian ... dia adalah Ku-lo Sinceng dari Siau-lim-pay. Sewaktu kau bertemu beliau nanti, katakan kepadanya ketiga orang pelindung bunga Cong-kaucu yang misterius itu adalah tabib sakti Gi Jian-cau, Tio Tian-seng dan Hek-mo-ong.'.

 

"Tatkala bicara sampai di situ, nada suaranya terputus, ternyata Oh-locianpwe telah berpulang ke akhirat."

"Apakah kau sudah pergi menjumpai Ku-lo Sinceng?" tanya Bong Thian-gak.kemudian dengan wajah amat serius.

"Belum," Han Siau-cing menggeleng. "Sebab tak lama setelah Oh-locianpwe meninggal dunia, Siau Cu-beng beserta segenap jagoan lihai Put-gwa-cin-kau telah berdatangan ke situ, mereka mendesakku untuk memberitahukan apa yang telah disampaikan Oh-locianpwe menjelang ajalnya tadi."

"Apakah kau telah berterus terang kepada mereka?" tanya Bong Thian-gak cepat.

"Tidak, aku tak pernah mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka, justru karena itu Cong-kaucu segera menaruh curiga kepadaku dan sejak itu pula aku dikurung olehnya di loteng itu."

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, kalau menjelang ajalnya Suhu telah mengatakan bahwa Gi Jian-cau, Tio Tian-seng serta Hek-mo-ong bertiga adalah utusan pelindung bunga Cong-kaucu, aku rasa hal itu tak bakal salah lagi... tapi peristiwa itu sungguh membuat orang tidak habis mengerti. Ai, bila aku tidak menghilangkan kantung ketiga yang telah disiapkan Ku-lo Sinceng tempo hari dan membukanya sekarang, bisa jadi teka-teki itu dapat dipecahkan."

Bong Thian-gak teringat bahwa Ku-lo Sinceng telah menyerahkan tiga buah kantung kepadanya menjelang ajalnya tempo hari, waktu yang ditetapkan untuk membuka kantung yang terakhir ini tak lain adalah saat Tio Tian-seng menampakkan diri.

Sekarang Tio Tian-seng telah menampakkan diri, namun kantung ketiga itu telah hilang entah dimana?

 

Sementara itu Han Siau-cing menghela napas sedih seraya berkata, "Sekarang Gi Jian-cau bersembunyi entah dimana, tentu saja aku sudah tidak bisa menunggu dirinya lagi untuk memperoleh pengobatan."

"Seandainya Gi Jian-cau benar-benar sudah berubah pendirian, entah berapa banyak jago persilatan yang bakal berkorban di dunia saat ini. Ai! Dari tumpukan mayat yang tergeletak di sana, tampaknya mereka sudah mati belasan hari lamanya, dari pakaian yang dikenakan mayat-mayat itu tidak salah lagi mereka adalah anggota Hiat-kiam-bun, tapi mengapa tidak kutemukan jenazah Keng-tim Suthay di antara tumpukan mayat itu? Bukankah ini berarti terdapat setitik harapan."

 

Bong Thian-gak segera menarik tangan Han Siau-cing sambil katanya, "Mari kita melakukan pemeriksaan di tempat lain!"

"Kita hendak pergi kemana lagi?" tanya Han Siau-cing tidak habis mengerti.

"Tempat yang sebenarnya untuk membuat obat."

"Kalau begitu tempat ini bukan tempat pembuatan obat yang sesungguhnya?" tanya Han Siau-cing terperanjat.

"Masalah pembuatan pil pengembali sukma oleh Gi Jian-cau sesungguhnya menyangkut nasib segenap umat persilatan. Sekalipun tempat ini sudah diserang musuh, tapi aku percaya orang-orang Hiat-kiam-bun masih mempunyai cara lain untuk memindahkan tabib sakti meninggalkan tempat ini."

 

Han Siau-cing tertegun, serunya, "Bong-siangkong, apakah kau masih percaya bahwa Gi Jian-cau membuatkan pil pengembali sukma untukmu?"

"Peristiwa ini belum mencapai jalan buntu, tentu saja masih ada setitik harapan."

Mendadak Han Siau-cing berseru tertahan, air mukanya segera berubah pucat-pias seperti mayat, sekujur badannya ikut bergetar keras.

Bong Thian-gak terkejut, buru-buru ia bertanya, "Mengapa kau? Apakah racun yang mengeram dalam tubuhmu mulai kambuh?"

"Tidak," Han Siau-cing segera menggeleng.

 

Pada saat itulah segulung angin berhembus, Bong Thian-gak segera mengendus bau harum semerbak yang tipis, inilah bau bunga anggrek yang amat dikenal olehnya, bau yang bukan untuk pertama kali ini terendus olehnya.

"Ah! Rupanya dia telah datang!" Bong Thian-gak berseru kaget.

"Bong-siangkong, kau cepat kabur," buru-buru Han Siau-cing berseru dengan gelisah. "Ia mengejar sampai di sini, tujuannya adalah hendak membunuh aku, kau cepatlah lari!"

 

Tiba-tiba Bong Thian-gak tertawa, teriaknya, "Cong-kaucu, kalau kau sudah datang, mengapa tidak segera menampakkan diri?"

Baru selesai dia berkata, dari halaman gedung berkumandang suara irama musik yang lembut, kemudian nampak sebuah tandu besar yang megah dan mentereng digotong oleh enam belas orang perempuan kekar pelan-pelan muncul.

Di belakang tandu besar itu mengikut pula sekelompok orang.

 

Rombongan itu berjumlah lebih kurang dua puluh orang, tapi yang membuat Bong Thian-gak merasa terkejut adalah turut hadirnya seorang perempuan cantik, seorang sastrawan baju hijau serta seorang kakek baju hitam berlengan tunggal.

Han Siau-cing dapat melihat pula kehadiran ketiga orang itu, ia segera berseru dengan suara gemetar, "Si-hun-mo-li, Ji-kaucu serta Sim Tiong-kiu ... ah, habis sudah nyawa kita kali ini!"

 

Bong Thian-gak juga merasa tegang, seram dan ketakutan sehabis melihat rombongan itu.

Dalam gerakannya kali ini Put-gwa-cin-kau telah mengerahkan segenap kekuatan inti terhebat yang mereka miliki. Bagaimana pun juga dengan kekuatannya seorang diri tak mungkin bisa melawan kawanan sebanyak itu.

"Kabur!"

Ingatan itu mendadak lewat dalam benak Bong Thian-gak.

Ia tak tahu, ingatan semacam itu apakah merupakan pilihan yang bodoh atau cerdik.

Namun ia tahu, dia tak boleh mengalami nasib tragis seperti apa yang dialaminya tiga tahun berselang.

Oleh sebab itulah Bong Thian-gak segera melarikan diri.

Ia meninggalkan Han Siau-cing begitu saja, melarikan diri sendirian.

 

Dengan cepat bagaikan sambaran kilat, Bong Thian-gak melejit ke lengah udara kemudian kabur menuju ke arah barat daya.

Umpatan marah, sindiran sinis dan bentakan nyaring dengan cepat bergema memenuhi angkasa.

Walaupun Bong Thian-gak dapat mendengar semua itu, namun ia sama sekali tidak berpaling. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, pemuda itu melarikan diri terbirit-birit.

Jeritan perempuan yang sangat mengerikan hati bergema dari kejauhan, seperti teriakan Thay-kun pada tiga tahun berselang.

 

Hancur luluh perasaan Bong Thian-gak waktu itu, ia merasa betapa hinanya perbuatan yang dilakukan olehnya sekarang, ia merasa dirinya adalah seorang pengecut yang tak berani bertanggung-jawab.

"Mengapa aku harus kabur? Mengapa aku mesti melarikan diri? Aku bukan seorang lelaki sejati, aku adalah seorang lelaki pengecut yang takut mampus. Bong Thian-gak, wahai Bong Thian-gak, dengan perbuatan yang memalukan ini, mungkinkah kau masih bisa tampil di Kangouw?"

 

Seperti kelinci yang melarikan diri dari terkaman harimau, Bong Thian-gak melarikan diri menembus hutan, menyeberangi jurang.

Sepanjang jalan ia merasa sedih, menyesal dan mengutuk diri sendiri.

Lalu ia berhenti secara tiba-tiba, duduk bersimpuh di atas tanah dan menangis tersedu-sedu.

Matahari tenggelam di balik bukit, sinar keemas-emasan masih menyinari padang rumput yang luas.

Saat itulah muncul seorang kakek baju hijau berjenggot hitam dari ujung padang rumput sana.

Pelan-pelan ia berjalan menghampiri Bong Thian-gak dan berhenti di hadapannya.

Bong Thian-gak mengangkat kepala, ia tersentak kaget dan melompat bangun dari atas tanah.

Sekulum senyuman menghiasi bibir kakek berbaju hijau itu, dia mengangguk pelan, lalu berkata, "Kau memang seorang lelaki pintar yang pemberani, benar-benar hebat kau, lelaki jempolan."

 

Bong Thian-gak tertunduk malu, mukanya merah seperti babi panggang.

"Aku tahu, aku memang seorang pengecut, seorang lelaki konyol," ia berbisik lirih, "Tio-locianpwe tak usah menggodaku!"

"Orang yang berani melakukan perbuatan yang tak berani dilakukan orang lain dan tak terpikir orang lain. Dia barulah seorang laki-laki pintar yang pemberani, terus terang saja, siapa di kolong langit ini yang berani mengambil keputusan dan tindakan semacam kau? Apa salah kalau kukatakan kau adalah lelaki pemberani yang pintar?"

"Kau ... kau maksudkan ... tindakanku melarikan diri tadi adalah perbuatan seorang lelaki pemberani yang pintar?" tanya Bong Thian-gak gugup.

 

Kakek itu manggut-manggut.

"Coba kau tidak kabur, sudah pasti kau akan menjadi lelaki konyol dan mata gelap yang akibatnya ... hm, mati konyol! Asal gunung tetap menghijau, masa takut kehabisan kayu bakar? Yang penting memang kabur dulu."

Perasaan sedih, hina dan menyesal yang semula menggeluti pikiran Bong Thian-gak kini terhapus dari perasaannya, tapi ia belum bisa melenyapkan semua perasaan sesalnya.

Kembali dia berkata, "Aku telah kabur meninggalkan seorang gadis lemah begitu saja, cara dan tindakan yang kulakukan ini bukan cara dan perbuatan seorang lelaki sejati."

Kakek tua tertawa hambar, "Barang siapa berani mengkhianati Put-gwa-cin-kau, cepat atau lambat ia pasti akan mati."

 

Tiba-tiba mencorong sinar aneh dari balik mata Bong Thian-gak, ditatapnya kakek baju hijau itu lekat-lekat, kemudian tanyanya, "Tio-locianpwe ada urusan apa kau datang kemari?"

"Mengajak kau mengantarku menemui Gi Jian-cau."

"Parah sekali luka To Siau-hou?"

"Nyawanya sudah berada di ujung tanduk."

"Tio-pangcu," tiba-tiba Bong Thian-gak berkata, "ada suatu hal ingin kutanyakan kepadamu."

"Soal apa? Cepat katakan."

"Aku dengar dewasa ini terdapat tiga orang Enghiong yang disegani orang ternyata menjadi utusan pelindung bunga Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."

 

Paras muka kakek baju hijau itu segera berubah hebat, dengan gugup ia bertanya, "Kau tahu siapakah ketiga orang itu?"

"Tentu saja tahu."

"Apakah satu di antaranya adalah Gi Jian-cau?"

"Ya, termasuk juga Tio Tian-seng," sambung pemuda itu. Paras muka kakek baju hijau itu segera berubah tak sedap dipandang, cepat ia berseru, "Tahukah kau Tio Tian-seng hanya berjanji tak akan mencampuri urusan dunia persilatan selama sepuluh tahun?"

Bong Thian-gak menggeleng.

"Bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya, aku memang tidak terlalu jelas. Aku hanya tahu ada tiga tokoh tangguh yang telah menjadi utusan pelindung bunga Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."

 

Kakek baju hijau tertawa dingin.

"Tiga hari berselang, janji sepuluh tahun sudah habis batas waktunya, sekarang aku sudah tidak terikat lagi dengan dirinya."

"Bagaimana dengan Gi Jian-cau?"

"Gi Jian-cau pun ada ikatan janji sepuluh tahun dengannya," jawab Tio Tian-seng hambar, "Tapi aku yakin selamanya Cong-kaucu tak bakal melepas dirinya begitu saja."

"Apakah dia akan mencelakai jiwa Gi Jian-cau?"

"Bukan tabib sakti Gi Jian-cau saja, dia pun akan mencelakai jiwaku."

Mendengar penjelasan itu, Bong Thian-gak tertawa tergelak, "Siapa dewasa ini yang masih berkemampuan membunuh dirimu."

 

Tio Tian-seng menghela napas sedih, kemudian baru ia berkata, "Hek-mo-ong. Dia adalah satu-satunya lawan tandingku."

"Siapakah Hek-mo-ong itu?" tanya Bong Thian-gak terkejut.

Tio Tian-seng menggeleng.

"Aku sendiri pun tak tahu siapa Hek-mo-ong, aku hanya tahu orang ini bisa membunuh korbannya tanpa menampakkan wujud aslinya, gerak-geriknya selalu rahasia dan sesungguhnya dia otak di belakang layar yang menyetir Put-gwa-cin-kau selama ini."

"Sesungguhnya Hek-mo-ong inilah yang menjadi pimpinan besar Put-gwa-cin-kau, dialah dalang kekacauan dunia persilatan."

 

Tio-pangcu, bila kau tak menampik, seluruh anggota Hiat-kiam-bun bersedia bekerja sama dengan perkumpulan kalian menentang kekuasaan dan kelaliman Put-gwa-cin-kau."

"Mengikuti perubahan situasi dan perkembangan persilatan, antara Hiat-kiam-bun dengan Kay-pang memang tak mungkin dapat dipisahkan lagi."

"Bagus kalau begitu, tetapkan dengan sepatah kata ini saja."

"Masalahnya tak bisa ditunda-tunda lagi, ayo segera antarkan aku menjumpai Gi Jian-cau."

Bong Thian-gak segera bangkit, kemudian ujarnya, "Tio-pangcu, harap ikuti diriku!"

Kuil Sam-cing-koan adalah kuil kaum Sam-cing yang terletak di  sebelah utara kota Lok-yang.

Kuil itu dibangun di kaki bukit, bangunannya megah dan mentereng, tak ubahnya seperti istana.

 

Matahari sudah lama tenggelam, keremangan pun menyelimuti seantero jagat.

Dalam suasana seperti ini, tiba-tiba di depan pintu gerbang kuil muncul seorang pemuda berlengan tunggal serta seorang kakek baju hijau berjenggot hitam.

Pintu gerbang tertutup rapat, suasana dalam gedung pun sunyi senyap tak terdengar sedikit suara pun.

Sambil mengepal tinju tangan kirinya, pemuda berlengan tunggal Itu mengetuk pintu gerbang tiga kali.

Mendadak pintu gerbang dibuka orang, empat orang Tosu berbaju kuning segera muncul, sebilah pedang tersoreng di punggung masing-masing, sementara orang yang berjalan paling depan segera menyapu pandang sekejap wajah kedua orang tamunya dengan sinar mata tajam.

"Sicu berdua hendak mencari siapa?" tegurnya.

 

Pemuda berlengan tunggal tersenyum, "Aku she Bong bernama Thian-gak, ingin berjumpa Koancu kalian."

Sekilas perubahan aneh tampak menghiasi wajah Tosu berbaju kuning itu, dengan cepat ia mengalihkan sorot matanya dan mengamati nrkiijur badan pemuda itu dari atas sampai ke bawah.

Kemudian baru berkata dengan dingin, "Jadi kau adalah ketua Hiat kiam-bun Jian-ciat-suseng."

"Ya, memang aku," Bong Thian-gak tersenyum.

 

Tiba-tiba Tosu berbaju kuning itu menarik muka dan menegur dengan serius, "Tolong tanya, sesungguhnya dalam Hiat-kiam-bun terdapat berapa orang Jian-ciat-suseng?"

Pertanyaan ini segera menyentak hati Bong Thian-gak, cepat ia menegur, "Totiang, tolong tanya apa maksudmu?"

Setelah tertawa dingin, sahut Tosu berbaju kuning itu, "Terus terang aku beritahukan kepadamu, setengah jam berselang telah datang Jian-ciat-suseng yang berkunjung dalam kuil kami."

Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak.

Paras muka Tio Tian-seng yang berada di sampingnya turut berubah, sekali berkelebat ia sudah menerobos masuk ke dalam.

Ternyata reaksi ketiga orang Tosu lain yang berjaga-jaga di sisi pintu cukup cepat, serentak mereka melolos pedang masing-masing, kemudian di antara kilatan cahaya tajam, tiga bilah pedang berkelebat menghadang jalan pergi Tio Thian Seng.

 

Agaknya Bong Thian-gak sendiri pun sudah merasakan keadaan gawat dan seriusnya peristiwa ini, mendadak ia mengayun telapak tangannya melancarkan pukulan ke arah dada Tosu berbaju kuning itu.

Sesungguhnya Tosu berbaju kuning itu telah bersiap menghadapi serangan, ia tak mengira serangan musuh ternyata begitu cepat bagaikan sambaran kilat.

Tahu-tahu dadanya terasa sakit dan napasnya menjadi sesak, tak sempat lagi mengeluh, peredaran darahnya telah tersumbat dan ia pun roboh tak sadarkan diri.

 

Tiga orang Tosu yang mencoba menghadang jalan pergi Tio Tian-seng juga telah dirobohkan semua dengan jalan darah tertotok.

"Bong-laute, apakah Gi Jian-cau berada di dalam kuil ini?" tanya Tio Tian-seng dengan suara dalam.

"Benar, dia berada di ruang peracikan obat."

"Sekarang sudah ada musuh yang menyaru sebagai dirimu memasuki kuil, bisa jadi hendak mencelakai jiwa Gi Jian-cau."

Belum selesai ia berkata, dari arah kuil tiba-tiba berkumandang suara genta yang dibunyikan bertalu-talu, suaranya keras dan nyaring memenuhi seluruh bukit dan menggetarkan angkasa. Berbareng dari balik gedung utama yang megah serentak menyerbu puluhan Tosu berpedang yang segera menuju ke arah pintu gerbang.

 

Bong Thian-gak mengerti, perkembangan saat ini telah berubah gawat, kecuali dia masuk ke dalam kuil dan menjumpai Sam-cing Koancu untuk menerangkan duduk permasalahan yang sebenarnya, kalau tidak, pertumpahan darah tentu akan berlangsung di situ.

Demi keselamatan Gi Jian-cau, Bong Thian-gak merasa tak mampu lagi menghindarkan diri dari bentrokan dengan orang-orang Sam-cing-koan.

"Tio-pangcu!" dengan suara dalam ia berseru, "kita serbu ke dalam, tapi kumohon kau jangan melukai jiwa mereka."

 

Bong Thian-gak segera melompat ke muka dan menyongsong kedatangan kawanan Tosu itu.

Puluhan orang Tosu berbaju kuning itu seperti daun kering yang terhembus angin kencang, begitu termakan pukulan Tio Tian-seng dan liong Thian-gak, segera berjatuhan ke lantai dan roboh tak sadarkan diri.

Sementara itu Tio Tian-seng telah melompat ke atas atap rumah, lalu dengan kecepatan luar biasa meluncur ke arah gedung halaman kedua.

 

Dalam pada itu suara genta telah berkumandang di seluruh kuil, bayangan orang berkelebat, kembali muncul serombongan Tosu yang bersenjata lengkap dari balik gedung.

Bong Thian-gak langsung meluncur masuk ke dalam gedung utama, kemudian dengan suara keras teriaknya, "Totiang sekalian, harap dengarkan baik-baik. Aku adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak, ketua Hiat-kiam-bun. Aku datang untuk berjumpa dengan Koancu kalian, barap kalian jangan menghalangi jalanku, bawalah aku menjumpai ketua kalian secepatnya!"

 

Namun kawanan Tosu itu sama sekali tidak menggubris, diiringi bentakan keras, serentak mereka menyerbu ke arah Bong Thian-gak sambil mengayunkan senjata!

Dalam keadaan begini, terpaksa Bong Thian-gak harus memutar lengan tunggalnya, dimana angin pukulannya menyambar, kawanan losu itu satu demi satu segera roboh bergulingan.

Soal tenaga dalam, kemampuan Bong Thian-gak sudah mencapai puncak kesempurnaan, berat-ringannya serangan bisa dilancarkan sekehendak hati. Oleh sebab itu meski kawanan Tosu itu terguling terkena serangan, mereka hanya roboh dengan jalan darah tertotok, sama sekali tak mempengaruhi keselamatan jiwa mereka.

 

Bong Thian-gak bergerak secepat hembusan angin, makin bertarung makin mendesak ke depan, dalam waktu singkat ia sudah memasuki halaman kelima.

Halaman kelima adalah lapangan tempat berkumpul dalam kuil Sam-cing-koan.

Tatkala Bong Thian-gak menyerbu masuk ke dalam lapangan itu, dengan cepat pemuda itu dibikin tertegun dan berdiri termangu-mangu.

Ternyata empat penjuru sekeliling tanah lapang itu sudah dipenuhi Tosu baju kuning dengan senjata terhunus, jumlah mereka mencapai tiga ratusan orang.

 

Tio Tian-seng sedang terkepung, waktu itu ia sudah menghunus sebilah pedang yang penuh berlepotan darah, sedang di sekeliling arena terlihat ada tujuh kutungan lengan berceceran, darah telah membuat tanah lapang itu menjadi merah.

Dari sorot mata ketujuh Tosu yang cacat lengannya, tampaknya mereka memiliki kepandaian silat sangat tinggi, namun sekarang mereka duduk bersila di atas tanah dengan wajah diliputi perasaan sedih, gusar dan penuh penderitaan.

 

Bong Thian-gak segera menerjang ke sisi Tio Tian-seng, kemudian setelah menghela napas sedih, katanya, "Tio-pangcu, seranganmu kelewat berat!"

"Aku tidak menyangka dalam kuil Sam-cing-koan terdapat tujuh orang jago pedang yang amat lihai, hampir saja aku menderita kalah oleh kepungan barisan pedang Jit-sing-kiam-tin mereka," sahut Tio Tian-seng dingin.

Baru saja selesai berkata, dari balik rombongan di sebelah timur sana tiba-tiba berjalan keluar Sam-cing Tosu yang membawa Hud-tim (kebutan).

 

Di sisi kiri dan kanannya mengikut empat Tosu kecil yang masing-masing membawa dua bilah pedang pendek.

Tosu itu berjalan dengan sangat lambat, selangkah demi selangkah berjalan ke tengah arena.

Malam sudah menjelang tiba, kegelapan mencekam seluruh jagat, Bong Thian-gak baru bisa melihat jelas paras muka Tosu itu setelah berhadapan.

 

Tosu ini berjenggot hitam sepanjang dada, rambutnya digulung dengan tusuk konde, sementara sepasang matanya memancarkan sinar tajam bagaikan bintang timur.

Terutama sikap si Tosu yang begitu anggun dan berwibawa, membuat setiap orang yang bertemu dengannya segera akan muncul perasaan kagum dan hormat.

Setelah Bong Thian-gak melihat Tosu tadi, segera dia menjura seraya berkata, "Aku Bong Thian-gak, tampaknya saudara adalah Sam-cing Koancu."

 

Sementara itu Tosu berbaju kuning itu sudah menghentikan langkahnya, tatkala sinar matanya dialihkan dari wajah Bong Thian-gak ke wajah Tio Tian-seng, tiba-tiba saja paras mukanya berubah hebat.

Paras muka Tio Tian-seng sendiri pun agak berubah melihat wajah Tosu itu, segera katanya, "Sungguh tak kusangka Pat-kiam-hui-hiang (delapan pedang salju beterbangan) Tan Sam-cing yang telah lenyap dari dunia persilatan sejak empat puluh tahun berselang, ternyata sudah menetap dalam kuil Sam-cing-koan di kota Lok-yang ini."

 

Mendengar nama Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing, hati Bong Thian-gak bergetar, diam-diam ia berpikir, "Tan Sam-cing? Bukankah dia adalah jago pedang Bu-tong-pay yang amat termasyhur namanya pada empat puluh tahun berselang?"

Konon kesempurnaan ilmu pedang yang dimiliki orang ini luar biasa sekali sehingga disebut sebagai orang kedua tertangguh dalam Bu-tong-pay setelah Thia Sam-hong, Cosu pendiri Bu-tong-pay.

Empat puluh tahun lalu dalam Bu-lim terdapat empat orang paling termasyhur. Mereka adalah Ku-lo Sinceng, Oh Ciong-hu, Tio Tian-seng dan Tan Sam-cing.

 

 

 

Tosu berbaju kuning itu segera mengebas Hud-timnya beberapa Kali, kemudian sambil tertawa ringan katanya, "Sebenarnya aku sedang ragu dan curiga, jagoan darimanakah yang mampu melukai ketujuh muridku, tidak kusangka orang itu adalah Tio Tian-seng."

Tiba-tiba suaranya menjadi berat, sambungnya, "Suatu serangan vang bagus, serangan yang bagus sekali, nyatanya pedang Tio Tian-seng masih kejam, buas dan tak mengenal ampun."

"Tan Sam-cing," ujar Tio Tian-seng dingin, "seandainya kita harus melangsungkan pertarungan, bisa jadi kita harus bertarung selama tiga hari tiga malam sebelum bisa ditentukan siapa lebih unggul di antara kita."

 

Paras muka Tan Sam-cing berubah amat serius, pelan-pelan ia berseru, "Kiam-tong, siapkan pertarungan!"

Serentak keempat Tosu yang berdiri di kiri kanan Tan Sam-cing melolos pedang pendek, begitu pedang dilolos dari sarungnya, delapan jalur sinar pedang yang tajam bagai lapisan kabut segera menyelimuti angkasa.

Melihat itu, seru Bong Thian-gak, "Harap jangan bertarung." Tan Sam-cing memandang Bong Thian-gak sekejap, lalu tegurnya, "Siapa kau?"

"Aku bernama Bong Thian-gak, ketua Hiat-kiam-bun. Berhubung Gi Jian-cau dan Keng-tim Suthay dari perguruan kami pernah berpesan kepadaku, bahwa mereka meminjam tempat dalam kuil kalian untuk membuat obat, maka aku datang kemari untuk meninjau mereka."

 

Berubah hebat paras Tan Sam-cing, segera tegurnya, "Dengan cara apakah kau bisa membuktikan kau adalah Jian-ciat-suseng?"

"Tan-koancu," dengan cepat Bong Thian-gak berseru, "sebenarnya apa yang telah terjadi di sini? Apakah ada musuh yang telah mencatut namaku untuk mengunjungi kuil ini?"

"Sebelum kita bicara lebih jauh, alangkah baiknya bila kau bisa membuktikan dulu identitasmu. Bila kau tak mampu, berarti kau adalah manusia jahanam yang menyaru sebagai Jian-ciat-suseng."

"Apa yang Koancu inginkan?"

"Keng-tim Suthay pernah menjelaskan wajah dan identitas Jian-ciat-suseng kepadaku, tapi yang paling penting adalah terdapatnya benda kepercayaan Hiat-kiam-bun yakni Pek-hiat-kiam."

 

Berubah paras muka Bong Thian-gak, ia segera bertanya, "Apakah sudah ada orang datang kemari dengan membawa pedang Pek-hiat-kiam?"

"Bukan cuma membawa Pek-hiat-kiam saja, bahkan ia mempunyai raut muka dan ciri yang sama dengan dirimu."

"Sekarang orang itu berada dimana?"

"Sudah pergi menjumpai Keng-tim Suthay."

"Aduh celaka," seru Bong Thian-gak dengan gelisah. "Tolong tanya Keng-tim Suthay berada dimana sekarang? Bagaimana kalau sekarang juga Koancu mengajakku pergi menjumpainya."

"Boleh saja, asal kau sudah membuktikan kaulah Jian-ciat-suseng yang sesungguhnya,"

"Setelah bertemu Keng-tim Suthay nanti, siapa yang asli dan yang palsu akan segera diketahui."

 

Tan Sam-cing tertawa dingin.

"Aku telah mendapat pesan wanti-wanti dari Keng-tim Suthay bahwa pembuatan obat oleh si tabib sakti mempengaruhi keselamatan jiwa banyak orang. Kejadian ini amat penting dan tak boleh terjadi kesalahan sekecil apa pun, tentu saja aku tak berani mengambil resiko."

 

Bong Thian-gak menjadi gelisah sehingga mendepak-depakkan kaki berulang-kali, serunya, "Kini musuh tangguh telah memasuki tempat pembuatan obat, bila keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung lerus, mungkin suatu peristiwa yang sama sekali di luar dugaan bakal terjadi. Tan-koancu, bila kau menganggap masalah pembuatan obat oleh Gi Jian-cau adalah masalah besar, kau harus bertindak secepatnya."

 

Tio Tian-seng turut menimbrung pula, "Pokoknya jika Gi Jian-cau sampai mengalami suatu musibah, jangan harap kau Tan Sam-cing bisa berdiam terus di tempat ini."

Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing tertawa dingin, katanya, "Kau lelah melukai tujuh orang muridku, hari ini kau pun jangan harap bisa meninggalkan kuil Sam-cing-koan dalam keadaan aman dan selamat."

Di antara sekian orang. Bong Thian-gak yang merasa paling gelisah, cepat dia berseru lagi dengan lantang, "Dendam permusuhan Locianpwe berdua lebih baik disingkirkan lebih dulu, hal terpenting yang harus segera kita atasi sekarang adalah menghalangi usaha kaum laknat untuk mencelakai Gi Jian-cau."

 

Tan Sam-cing memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian ujarnya, "Tempat dimana si tabib sakti Gi Jian-cau mengolah obat adalah gua yang amat rahasia letaknya, orang biasa tak mungkin bisa masuk ke dalam secara mudah, apalagi di luar gua pun dijaga oleh banyak jago lihai. Bila Keng-tim Suthay merasakan hal yang tidak beres, dia pasti akan mengirim tanda rahasia kepadaku."

"Pinto justru kuatir kalian berdualah yang sesungguhnya hendak mencelakai si tabib sakti, bila kuajak kalian memasuki gua rahasia itu, lak bisa kubayangkan bagaimana akibatnya."

"Kalau begitu kau tak akan mengajak kami bertemu Gi Jian-cau?" tegur Tio Tian-seng dengan suara dingin. Tan Sam-cing tertawa dingin pula.

"Aku akan mengajak kalian berjumpa dulu dengan Keng-tim Suthay."

"Hanya dia yang dapat membuktikan keaslian kalian."

"Harap Tan-koancu segera mengajak kami menjumpainya," seru Bong Thian-gak gelisah.

"Ayo ikut aku!" seru Tan Sam-cing kemudian sambil mengebas Hud-tim yang berada di tangan kirinya.

Ia membalik badan, lalu berjalan menuju ke arah timur.

 

Keempat Tosu kecil yang mendampinginya, dengan delapan bilah pedang masih terhunus segera mengikut di sekitar Tan Sam-cing dengan kewaspadaan tinggi.

Setiap langkah kaki keempat Tosu kecil itu selalu berirama dan menjaga jarak mereka dengan Tan Sam-cing, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat, biarpun lima orang berjalan bersama-sama, namun langkahnya bagaikan langkah satu orang.

Bong Thian-gak dan To Tian-seng mengikut di belakangnya, melihat cara keempat Tosu kecil dan Tan Sam-cing berjalan, mereka dibuat terkejut, segera pikirnya, "Dari cara mereka berjalan, tampaknya kepandaian silat yang dimiliki keempat Tosu kecil ini sudah mencapai puncak kesempurnaan, terutama dari langkah mereka yang seirama dengan Tan Sam-cing, sudah jelas keempat Tosu kecil ini akan menjadi pembantu utama Tan Sam-cing bila melancarkan serangan nanti."

Sam-cing-koan adalah kompleks kuil yang amat luas, gedungnya dibangun searah dengan tanah perbukitan.

Ketujuh orang itu menembus tiga gedung lagi sebelum akhirnya tiba pada gedung kesembilan.

 

Sepanjang perjalanan Bong Thian-gak tiada hentinya mengawasi sekeliling tempat itu, tak ada bayangan manusia, agaknya segenap Tosu dalam kuil itu telah dihimpun seluruhnya ke tanah lapang di depan gedung kelima.

Gedung yang kesembilan ini berbeda corak dengan delapan gedung lainnya. Dari kejauhan gedung itu hanya dinding melulu, seputarnya tidak terdapat gedung tambahan ataupun pintu keluar, mirip sebuah gedung manunggal yang berdiri sendiri.

Tan Sam-cing serta keempat Tosu kecil menuju ke gedung itu, tak lahan Bong Thian-gak bertanya, "Tan-koancu, apakah Keng-tim Suthay sekalian berada di dalam gedung itu?"

"Benar," Tan Sam-cing mengangguk, "mereka memang berada dalam gedung ini."

Sembari berkata, ketujuh orang itu menelusuri undak-undakan batu dan naik ke atas.

Setibanya pada undak-undakan terakhir, Bong Thian-gak berdua baru dapat melihat gedung itu ternyata kosong.

 

Sebelum Bong Thian-gak mengajukan pertanyaan, Tan Sam-cing lelah menjelaskan lebih dahulu, "Di dalam gedung terdapat gua besar yang tembus ruang bawah tanah, gua itu terbagi menjadi sembilan buah lorong yang saling bersilangan dalam perut bumi. Bila seseorang yang tidak mengenal jalan masuk ke situ, mereka akan memasuki sebuah barisan yang membingungkan dan jangan harap dapat keluar lagi dengan selamat."

Tiba-tiba Tio Tian-seng berseru, "Tunggu dulu, jangan masuk."

"Ada apa?" tanya Tan Sam-cing seraya berpaling.

"Mengapa tak kulihat seorang pun dalam ruangan?"

 

Tan Sam-cing tertawa dingin.

"Sebelumnya kita telah melewati daerah terlarang, bagaimana mungkin bisa bertemu orang?"

"Tan Sam-cing, kami akan menunggu di sini sampai kau mengajak keng-tim Suthay keluar serta membuktikan kebenaran identitas kami, sebelum kami memasuki gedung rahasia dengan barisanmu itu."

"Tio-pangcu," kata Tan Sam-cing sambil tertawa dingin, "bila kau takut masuk, lebih baik menunggu di luar saja atau kau memang takut tak bisa keluar lagi dalam keadaan selamat?"

Tio Tian-seng segera tertawa.

"Aku berani membunuh ketujuh orang muridmu, berarti aku tak takut menghadapi balas dendammu."

"Empat puluh tahun berselang, meskipun Tio Tian-seng adalah seorang raja iblis pembunuh manusia yang ditakuti orang, namun Tan Sam-cing masih berani menantangmu bertarung secara blak-blakan."

"Tapi kenyataan tempo hari kau menghindari tantanganku untuk berduel," jengek Tio Tian-seng sambil tertawa dingin.

"Sepuluh tahun sudah cukup merubah segalanya, siapa tahu justru kaulah yang akan menghindari tantanganku pada hari ini."

"Kalau begitu, tunggu saja nanti!"

 

 

Tan Sam-cing segera memimpin keempat Tosu kecil melanjutkan perjalanan memasuki gedung.

Di ujung gedung terdapat dinding bukit yang rata bagaikan cermin, tiba-tiba Tan Sam-cing menarik sebuah gelang besi tempat obor yang terdapat di dinding.

Diiringi suara keras, dinding batu yang datar itu mendadak bergeser ke samping dan terbukalah sebuah pintu rahasia.

Dengan langkah cepat Tan Sam-cing dan keempat Tosu kecil melangkah masuk.

Menyusul kemudian terdengar lagi suara gemuruh yang sangat keras, dinding batu yang bergeser tadi kini sudah menutup kembali.

 

Siapa pun tak menyangka kalau di atas dinding batu yang licin bagaikan cermin itu sesungguhnya terdapat sebuah pintu rahasia. Menyaksikan hal itu. Bong Thian-gak menghela napas panjang, katanya, "Bila si tabib sakti memang mengolah obat di tempat ini, maka tempat ini memang sebuah tempat yang sangat aman."

Belum selesai ia berkata, tiba-tiba terdengar lagi suara gemuruh pintu terbuka lagi dan Tan Sam-cing melompat keluar dari pintu rahasia dengan wajah tegang.

Tergetar perasaan Bong Thian-gak, cepat ia menyongsong sambil menegur, "Tan-locianpwe, apa yang telah terjadi?"

"Celaka, telah terjadi peristiwa besar," seru Tan Sam-cing dengan wajah kaget bercampur gugup. "Murid-murid kami yang bertugas melakukan penjagaan di dalam sana telah mati dibunuh orang."

 

Mendengar itu, Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng serentak menyelinap masuk ke dalam pintu rahasia.

Di balik pintu itu terdapat sebuah ruangan, di sana terdapat pula perabot rumah tangga, belasan orang Tosu berbaju kuning tampak roboh bergelimpangan di atas tanah dalam keadaan mengenaskan.

Di ujung dinding batu terdapat sembilan buah lorong gua, saat itu keempat Tosu kecil tadi dengan pedang terhunus berjaga di depan mulut tfua, sikap mereka amat serius seakan-akan sedang menghadapi musuh besar.

 

Bong Thian-gak dapat merasakan betapa gawatnya situasi waktu itu, maka kepada Tan Sam-cing yang ikut masuk ke dalam ruangan, ia bertanya, "Tan-koancu, si tabib sakti berada dimana?"

"Tempat dimana Gi Jian-cau mengolah obat terletak dalam sebuah ruang rahasia di tengah kesembilan lorong itu, Keng-tim Suthay bersama beberapa orang jago lihai Hiat-kiam-bun bersama-sama menjaga di situ."

Dalam pada itu Tio Tian-seng telah memeriksa setiap mayat yang tergeletak di tempat itu, wajahnya nampak serius, ia berdiri termangu sambil memutar otak memikirkan kejadian yang sedang dihadapinya.

"Tio-pangcu, apa yang menyebabkan kematian orang-orang itu?" tanya Bong Thian-gak kemudian dengan suara nyaring.

 

Sebelum Tio Tian-seng sempat menjawab, Tan Sam-cing telah menjelaskan lebih dulu, "Mereka tewas oleh pukulan tenaga dalam yang hebat dan sempurna, setiap serangan tepat mengenai isi perut."

Tio Tian-seng seperti teringat akan sesuatu, ia segera berseru tertahan, lalu membungkukkan badan dan merobek pakaian bagian dada sesosok mayat.

Dengan cepat, ia menjerit kaget, "Ah, Hek-mo-ong!"

Dengan cepat Bong Thian-gak dan Tan Sam-cing memburu ke sana, ternyata di atas dada Tosu itu terdapat sebuah cap tengkorak berwarna hitam.

"Apakah lambang tengkorak hitam ini merupakan lambang Hek-mo-ong?" tanya Bong Thian-gak keheranan.

 

Sewaktu Tan Sam-cing mendengar kata "Hek-mo-ong", dengan cepat ia menghampiri sesosok mayat yang lain serta merobek pakaian di bagian dada mereka.

Ternyata di dada mayat-mayat itu terdapat lambang tengkorak hitam.

Paras muka Tio Tian-seng berubah menjadi tak sedap dipandang, pelan-pelan ia berkata, "Tak salah lagi, pembunuhnya adalah Hek-mo-ong, sebab setiap korban yang dibunuh Hek-mo-ong, di dadanya selalu terdapat lambang tengkorak hitam."

Setelah berhenti sejenak, kepada Tan Sam-cing ia bertanya, "Hidung kerbau, menurut pendapatmu sudah berapa lama mereka dibunuh?"

"Ai, kurang lebih satu jam berselang," kata Tan Sam-cing sambil menghela napas sedih.

 

Tio Tian-seng menggeleng kepala berulang kali. "Tak mungkin begitu lama."

"Lantas menurut pendapatmu mereka sudah tewas berapa lama?"

"Paling lama setengah jam berselang, paling cepat seperempat jam yang lalu."

"Pembunuhnya mungkin masih belum meninggalkan tempat ini," seru Bong Thian-gak kemudian.

"Benar," Tio Tian-seng mengangguk. "Jelas orang itu belum meninggalkan gua ini, bisa jadi si pembunuh masih berada dalam lorong gua atau mungkin juga sedang mencelakai jiwa Keng-tim Suthay dan tabib sakti."

 

Bong Thian-gak segera berkelebat ke depan dan menyerbu ke dalam lorong gua.

"Bong-laute, jangan masuk dulu!" cepat Tio Tian-seng berteriak.

Bong Thian-gak berhenti seraya berpaling, "Tio-pangcu, bila kita tak segera menghalangi pembunuh itu, akibatnya sukar dibayangkan."

"Pembunuh itu mempunyai kepandaian silat luar biasa, lagi pula bersembunyi di dalam gua. Jika Bong-laute masuk ke dalam secara sembrono, niscaya keselamatan jiwamu akan terancam."

"Betul!" kata Tan Sam-cing pula. "Harap Bong-sicu jangan masuk dulu, dalam gua ini hanya terdapat sebuah pintu masuk, bila pembunuh itu belum pergi dari sini, ia tidak mungkin muncul di tempat ini."

 

Tio Tian-seng segera menengok sekejap ke arah Tan Sam-cing, lalu serunya, "He, hidung kerbau, sekarang kau baru percaya kalau dia adalah ketua Hiat-kiam-bun?"

Tan Sam-cing menghela napas panjang.

"Ai, si pendatang itu bukan hanya membawa tanda kepercayaan ketua Hiat-kiam-bun yakni Pek-hiat-kiam, dia pun cacat lengan kiri dan pincang kaki kanannya, usia hampir sebaya, cara bagaimana Pinto bisa membedakan kepalsuan dirinya?"

"Apakah dia datang seorang diri?" tanya Tio Tian-seng lagi dengan kening berkerut.

"Masih ada dua orang lagi, seorang gadis berusia dua puluh tahun dan seorang kakek."

"Sudah kau lihat jelas paras kakek itu?"

Tan Sam-cing segera berseru tertahan, "Ah, sudah kulihat, tapi sama sekali tiada gambaran dalam benakku."

"Dengan ketajaman mata Tan-koancu, masa kau begitu cepat melupakan ciri wajahnya?"

 

"Sungguh aneh," Tan Sam-cing menggeleng kepala. "Padahal bila seseorang pernah berjumpa denganku, maka sepuluh tahun lagi pun aku masih dapat mengingatnya, tapi sekarang aku sama sekali tak punya kesan apa pun tentang dirinya."

Pada saat itulah dengan wajah kereng dan serius, Tio Tian-seng bertanya lagi, "Hei, hidung kerbau, sungguhkah kau tak bisa mengingat muka kakek itu?"

Tan Sam-cing menggeleng kepala berulang kali.

"Aneh, betul-betul sangat aneh, rasanya orang itu menggerakkan tubuhnya tiada henti waktu itu ... sehingga paras mukanya tak dapat terlihat dengan jelas."

"Kalau begitu bisa jadi kakek itu adalah Hek-mo-ong," ucap Tio Tian-seng kemudian dengan wajah serius.

"Hek-mo-ong? Rasanya Pinto juga pernah mendengar nama itu."

"Kapan kau mendengar nama itu? Mendengarnya dari siapa?"

 

"Sepuluh tahun lalu, Oh Ciong-hu pernah menyinggung nama itu, dia pun menjelaskan kemisteriusan orang itu dan perbuatannya yang buas dan keji."

Tio Tian-seng menghela napas sedih.

"Ai, sayang sekali Oh Ciong-hu telah tewas, kalau tidak, dialah yang paling jelas mengetahui asal-usul Hek-mo-ong. Tan Sam-cing, apakah Oh Ciong-hu mengatakan kepadamu siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya?"

"Sama sekali tidak."

 

Bong Thian-gak menimbrung dengan suara dalam, "Seandainya Hek-mo-ong dan sekalian pembunuh benar-benar masih berada dalam gua ini, menunggu kedatangan mereka di tempat ini rasanya bukan cara terbaik, entah Hek-mo-ong itu seorang berkepala tiga berlengan enam atau bukan. Bila Tio-pangcu dan Koancu bersedia membantu, Boanpwe yakin masih dapat menghadapi manusia laknat itu." Tio Tian-seng segera mengangguk.

"Betul, dengan kekuatan kita bertiga, sekalipun ada dua orang Hek-mo-ong yang tangguh pun jangan harap bisa unjuk gigi, yang kukuatirkan sekarang adalah Tan-koancu."

 

Belum sempat ia mengutarakan kata-kata berikutnya, Tan Sam-cing sudah mendengus dingin sembari menukas, "Hek-mo-ong telah membunuh belasan anggota kami, kau anggap Pinto akan melepaskan begitu saja?"

"Tapi aku juga telah melukai ketujuh orang muridmu," sambung Tio Tian-seng.

Tan Sam-cing segera tertawa dingin, "Dendam sakit hati ini pasti akan kutuntut balas, aku tahu Tio Tian-seng tentu mengetahui hal ini dengan jelas."

"Yang kukuatirkan kau si hidung kerbau akan memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk membalas dendam. Bila hal itu sampai terjadi, hari ini aku benar-benar akan keok di tempat ini."

"Aku pasti akan membunuh Hek-mo-ong lebih dahulu sebelum mencari balas kepadamu," seru Tan Sam-cing sambil tertawa dingin.

 

Mendengar pembicaraan yang berlangsung antara kedua orang itu, Bong Thian-gak terkesiap, segera pikirnya, "Tampaknya Tosu tua ini seorang licik yang banyak akal muslihatnya, jelas dia bukan dari golongan lurus."

Berpikir sampai di sini, tiba-tiba Bong Thian-gak melompat ke depan dan menerobos masuk ke dalam gua nomor lima yang tepat berada di tengah.

"Bong-laute, tunggu dulu!" lekas Tio Tian-seng berseru dengan gelisah.

Tanpa berpaling, Bong Thian-gak menyahut lantang, "Harap Tio-pangcu berjaga-jaga di luar saja, jangan biarkan pembunuh itu melarikan diri, masalah dalam lorong biar kuhadapi seorang diri!"

Selesai berkata, Bong Thian-gak telah kabur ke dalam gua.

 

Suasana di dalam lorong gua gelap-gulita sehingga sukar untuk melihat kelima jari tangan sendiri. Ketika Bong Thian-gak sudah masuk dan belum jauh, di hadapannya sudah terbentur dinding batu, ternyata lorong itu berakhir sampai di situ, sedangkan di sisi kiri kanannya masing-masing terdapat lorong cabang yang entah berhubungan dengan mana, sedangkan bagian tengah adalah dinding batu.

Waktu itu Bong Thian-gak sangat menguatirkan jiwa Keng-tim Huthay dan si tabib sakti, buru-buru dia berbelok menuju ke arah lorong gua sebelah kanan.

Berjalan tak jauh pula, gua tadi terbagi lagi menjadi tiga cabang, kali ini Bong Thian-gak dibuat termangu, tapi kemudian dia memilih meneruskan perjalanannya dengan menempuh gua sebelah tengah.

 

Kembali ia menempuh perjalanan, lorong pun terpecah lagi menjadi empat cabang, ia memilih sebuah lorong di antaranya.

Lorong bawah tanah yang gelap dan menyeramkan menimbulkan perasaan ngeri bagi siapa pun, gua itu entah berapa dalamnya dan masih terdapat berapa banyak cabang lagi?

Setelah menempuh perjalanan sekian lama, Bong Thian-gak merasa dirinya tersesat. Setiap kali mencapai persimpangan jalan, terpaksa ia mesti memilih satu di antaranya untuk melanjutkan, tapi lelelah ditempuh dan menyelusuri sekian waktu, dia merasa balik ke posisi semula.

 

Hal itu segera menimbulkan perasaan menyesal di hati kecilnya, ia tersesat. Kemanakah dia harus pergi mencari Keng-tim Suthay serta si tulah sakti Gi Jian-cau?

Mendadak Bong Thian-gak seperti menangkap suara langkah yang sangat lirih, suara itu datang menuju ke arahnya.

Bong Thian-gak pura-pura tidak merasakan hal itu, dia masih melanjutkan langkahnya setindak demi setindak ke arah depan.

Siapa sangka suara langkah itu mengintilnya dan tiba-tiba lenyap begitu saja.

Bong Thian-gak dibuat tertegun dan segera menghentikan langkah sembari berpaling.

la menangkap sesosok bayangan orang berbaju hitam yang kecil ramping telah berdiri di belakang tubuhnya.

 

Lorong bawah tanah yang gelap gulita sudah barang tentu tak memungkinkan baginya untuk melihat raut wajah lawan secara jelas, tapi sorot mata lawan justru seperti dua titik cahaya bintang yang sedang mengawasi dirinya tanpa berkedip.

"Siapa kau?" Bong Thian-gak menegur.

Orang berbaju hitam itu tidak menjawab, tapi Bong Thian-gak dapat merasakan segulung angin pukulan berhawa dingin menyergap dirinya secara diam-diam.

Bong Thian-gak segera membentak, telapak tangan kirinya diayun ke muka sekuat tenaga, sementara tubuhnya mengikuti gerak serangan itu bergeser ke samping.

Terasa ada senjata rahasia yang terbang melalui sisi tubuhnya tanpa menimbulkan sedikit suara pun, senjata rahasia itu akhirnya menerjang dinding gua hingga permukaan dinding berguguran ke tanah.

 

Dengan terkejut Bong Thian-gak lantas berpikir, "Sungguh berbahaya! Serangan senjata lawan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun. Coba kalau aku tidak menggeser ke samping, bukankah senjata rahasia itu akan bersarang di tubuhku secara telak?"

Ketika ia mencoba mendongakkan kepala, orang berbaju hitam itu nampaknya sudah berubah posisi.

Sekali lagi Bong Thian-gak membentak, "Siapa kau? Bila tak mau bersuara, jangan salahkan bila aku berbuat kurangajar kepadamu!"

Orang berbaju hitam itu masih juga belum bersuara, Bong Thian-gak mengerahkan tenaga dalam secara diam-diam, kemudian dengan cepat melepaskan sebuah pukulan yang amat dahsyat ke depan.

 

Serangan itu dilepaskan dengan hebat, tatkala angin serangan menderu, sesungguhnya kekuatan serangan sendiri telah mencapai setengah tombak ke hadapan musuh, pada hakikatnya sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk menghindar.

Namun orang itu memang terhitung jago silat berilmu tinggi, di saat angin serangan mulai menderu bagai amukan angin puyuh, tahu-tahu orang itu telah bergeser.

Bong Thian-gak baru tahu, bisa jadi orang ini adalah salah satu di antara ketiga pembunuh yang dimaksud Tan Sam-cing tadi, karenanya ia menggerakkan tubuh dan mendesak maju secara garang.

 

Lengan tunggalnya kembali diayun, telapak tangan yang tajam bagaikan babatan mata golok langsung diayunkan menghantam dada musuh.

Kecepatan serangan Bong Thian-gak sudah merajai persilatan dan jarang sekali ada musuh yang mampu lolos. Kenyataan biarpun kecepatan serangan Bong Thian-gak sangat mengagumkan, ancaman itu iuma mengenai tempat kosong.

Orang itu segera berkelebat, kali ini tangannya yang halus mulus seakan menggenggam benda yang secara langsung dihujamkan ke arah dadanya.

 

Bong Thian-gak amat terperanjat, serangan musuh sangat aneh dan hebat, rasanya mustahil untuk membendung ancaman itu.

Bong Thian-gak berseru tertahan, dadanya seperti dicap hingga roboh terjengkang ke belakang.

Tapi bersamaan pula Bong Thian-gak mengayunkan kaki kanan dilepaskan sebuah tendangan kilat ke depan.

 

Jeritan kaget segera berkumandang, tubuh orang berbaju hitam yttiK kecil mungil itu seketika tertendang oleh Bong Thian-gak hingga mencelat ke belakang sana.

Begitu tubuhnya menumbuk dinding batu, segera roboh ke tanah.

Dengan gerakan yang sangat cepat Bong Thian-gak melejit dan menerjang ke arah orang itu.

Telapak tangan tunggalnya diputar dan mencengkeram urat nadi tangan kiri lawan.

Dalam anggapan Bong Thian-gak, orang itu terkena tendangannya hingga roboh terjengkang, berarti serangan yang dilancarkan olehnya sudah pasti berhasil membekuk musuh.

Siapa tahu pada saat itulah, kakinya yang kecil mendadak diayun ke muka dan menghantam tubuh Bong Thian-gak hingga jatuh terjerembab ke sisi kanan.

Orang itu menghunus pisau belati yang bersinar tajam, kemudian sambil melejit dari atas tanah menyergap Bong Thian-gak.

 

Seketika timbul hawa membunuh Bong Thian-gak, sebenarnya namun serangan yang dilancarkan cukup hati-hati, sebab diketahuinya lawan adalah seorang wanita, dia enggan melancarkan serangan ganas untuk menyakiti musuhnya itu.

Tapi setelah mengetahui betapa sukarnya menaklukkan lawan, mau tak mau dia mesti mempersiapkan serangan yang jauh lebih ganas dan buas, sebab ia tahu, bila tidak, hal itu tak mungkin akan berhasil.

 

Sambil mendengus dingin Bong Thian-gak mengayun telapak tangannya dan secara beruntun melancarkan tiga serangan berantai.

Semua ancaman dilancarkan tanpa menimbulkan sedikit suara pun, tapi justru serangan itu merupakan ancaman yang dahsyat, dan mengerikan.

Perempuan berbaju hitam menjerit kesakitan, tubuhnya mundur sempoyongan kemudian membalikkan badan dan melarikan diri ke arah lorong gua.

"Kau anggap masih bisa melolos diri?" jengek Bong Thian-gak dengan suara dingin.

 

Dengan cepat ia melompat ke depan dan melakukan pengejaran secara ketat.

Tapi hanya selisih satu langkah saja, perempuan berbaju hitam itu sudah menyelinap ke balik sebuah cabang lorong gua yang gelap dan menyembunyikan diri di balik kegelapan sana.

Tak terlukiskan rasa dongkol Bong Thian-gak menghadapi itu, sambil menggebrak tanah, dia mengumpat tiada hentinya, "Pelacur busuk, akan kulihat kau bisa kabur sampai dimana?"

Lorong demi lorong segera diperiksa dan digeledahnya secara seksama dan teliti.

Namun bukan saja ia tak berhasil mengejar gadis berbaju hitam itu, ia pun gagal menemukan lorong menuju keluar, pemuda itu tersesat dalam lorong rahasia yang membingungkan itu.

 

Sudah hampir satu jam ia menelusuri lorong bawah tanah, rasanya kaki sudah linu dan kaku, akhirnya setelah menghela napas panjang ia duduk di atas tanah.

Sekarang baru timbul perasaan gugup bercampur ngeri dalam hati pemuda itu.

Pikirnya, "Sekarang aku terkurung di sini, bila tiada orang yang menolong, bukankah aku bakal mati kelaparan dalam lorong sialan ini."

 

Tiba-tiba ia menangkap suara rintihan lirih berkumandang dari depan, rintihan itu segera memutus lamunannya.

Serta-merta anak muda itu memeriksa dan memandang sekeliling tempat itu.

Akhirnya ia lihat seseorang sedang duduk bersandar di dinding gua. Bong Thian-gak segera menyilangkan telapak tangannya untuk melindungi dada, lalu selangkah demi selangkah menghampiri.

Dugaannya memang tidak meleset, dia adalah seorang perempuan berbaju hitam.

 

Tiba-tiba perempuan berbaju hitam itu memuntahkan darah segar, lalu dengan suara lirih ia berkata, "Jika kau berani mendekat lagi, segera Akan kulontarkan peluru api Leng-hwe-tan."

Baru saja kata-kata itu selesai diutarakan, Bong Thian-gak sudah mendesak ke muka, kelima jari tangannya bagaikan cakar elang tahu-tahu sudah mencengkeram urat nadinya.

"Sayang sekali tindakanmu terlampau lambat," ia menjengek uimbil tertawa dingin, "lagi pula kau pun tidak memiliki kekuatan lagi untuk menggerakkan jari-jari tanganmu."

Memang benar perempuan berbaju hitam itu tidak memiliki kekuatan lagi untuk menggerakkan jari-jari tangannya.

Urat nadi adalah alat penggerak peredaran darah, apabila urat Audi dicengkeram, maka segenap kekuatan akan lenyap, apalagi gadis (tu memang pada dasarnya telah kehilangan kekuatan untuk melakukan perlawanan.

"Siapa kau?" akhirnya perempuan itu menegur dengan suara gemetar.

 

Bong Thian-gak tertawa dingin.

"Aku justru ingin bertanya kepadamu, siapa kau?"

"Aku adalah Sam-buncu Hiat-kiam-bun," suara perempuan itu masih gemetar.

"Hm, siapa yang mau percaya begitu saja?" jengek Bong Thian-gak sambiI tertawa dingin.

"Kumohon padamu, bersediakah kau melepas cengkeramanmu?"

"Boleh saja, asal kau bersedia juga menjawab pertanyaanku secara terus terang."

"Apa yang hendak kau tanyakan? Cepatlah kau ajukan!" "Sesungguhnya berapa banyak anggota komplotanmu yang sudah menyelundup ke dalam lorong bawah tanah ini?" "Komplotan? Komplotan apa?"

 

Bong Thian-gak kembali tertawa dingin.

"Komplotan Hek-mo-ong, komplotan yang berniat datang kemari untuk membunuh si tabib sakti Gi Jian-cau."

"Ah!" perempuan itu berseru tertahan, lalu buru-buru bertanya, "Siapa kau? Cepat katakan!"

"Aku adalah ketua Hiat-kiam-bun, Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."

Baru selesai ia berkata, tiba-tiba Bong Thian-gak merasakan datangnya segulung angin pukulan yang maha dahsyat menyergap tiba dari arah belakang tanpa menimbulkan suara.

 

Serta-merta Bong Thian-gak melepaskan cengkeraman pada urat nadi tangan kanan perempuan itu, kemudian dengan cekatan berkelit ke samping untuk menghindarkan diri.

Suatu benturan keras segera berkumandang, menyusul jeritan ngeri yang menyayat hati.

Ternyata angin pukulan yang amat keras dan dahsyat itu persis menghajar tubuh perempuan berbaju hitam itu.

Di saat tubuhnya berkelit ke samping tadi, Bong Thian-gak telah mengayunkan pula telapak tangannya dengan kecepatan luar biasa.

Kembali menggema suara ledakan keras yang memekakkan telinga, seseorang dengan tertawa licik yang dingin dan menggidikkan segera berkelebat dan lenyap di balik kegelapan sana.

 

Bong Thian-gak sama sekali tak menyangka serangannya yang cepat ternyata gagal melukai musuh, dia siap menerjang kembali, namun musuh telah kabur menyelamatkan diri.

Untuk beberapa saat lamanya Bong Thian-gak tertegun dan berdiri termangu-mangu, kemudian ia membalikkan badan memeriksa keadaan perempuan berbaju hitam itu. Siapa tahu perempuan tadi sudah tergeletak lemas di atas tanah, tergeletak dalam keadaan tak bernyawa.

Baru sekarang Bong Thian-gak mengerti, rupanya tujuan serangan orang tadi adalah menghilangkan saksi hidup.

 

Memandang mayat yang tergeletak di hadapannya ini Bong Thian-gak menghela napas sedih, gumamnya tanpa terasa, "Bila arwahmu bisa tahu, sudah tentu kau tahu siapakah orang yang telah membunuhmu, dia adalah rekanmu sendiri."

Bong Thian-gak masih menganggap perempuan berbaju hitam itu adalah rekan Hek-mo-ong, ia masih ragu dia adalah Sam-hubuncu Hiat-kiam-bun.

Lorong bawah tanah itu kembali dicekam suasana seram, ngeri nerta menggidikkan.

 

Bong Thian-gak mengerti di dalam lorong bawah tanah itu masih tersembunyi beberapa orang musuh yang setiap saat bisa melancarkan sergapan ke arahnya, oleh sebab itu ia meningkatkan kewaspadaan nambil pelan-pelan bergerak maju.

Mendadak Bong Thian-gak menangkap lagi suara langkah yang bergerak mendekat dari sembilan penjuru yang berbeda.

Saat itu Bong Thian-gak sedang berdiri di tengah sembilan buah persimpangan.

Dengan wajah serius dan memusatkan perhatian, matanya yang dingin dan tajam mengawasi ke sekeliling tempat itu.

 

Terasa olehnya dari balik sembilan lorong gelap dan mengerikan itu masing-masing berdiri seorang, delapan belas buah sorot mata yang tajam seperti api setan mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.

Dengan terkejut Bong Thian-gak berpikir, "Bukankah menurut keterangan Tan Sam-cing dalam lorong bawah tanah ini hanya terdapat tiga orang musuh saja? Mengapa sekarang ada begitu banyak?"

Ia pun mendehem beberapa kali, kemudian menegur, "Aku adalah ketua Hiat-kiam-bun Bong Thian-gak, apakah sobat bersembilan adalah anggota perguruan di bawah pimpinan Tan-koancu dari kuil Sam-cing-kuan?"

 

Dalam hati pemuda itu kembali berpikir, "Jangan-jangan orang-orang ini dikirim Tan Sam-cing untuk mencari diriku atau mungkin juga datang mencari si pembunuh keji Hek-mo-ong."

Baru selesai Bong Thian-gak berbicara, tiba-tiba ia merasakan datangnya sembilan gulungan angin pukulan dahsyat yang dilontarkan secara bersama-sama, deru angin tajam yang memekakkan telinga segera menyapu datang dengan dahsyatnya.

Bong Thian-gak dapat menangkap keanehan di balik deru angin pukulan itu, ia tak berani berdiri di tengah arena menyongsong datangnya ancaman, maka sambil bergeser ke samping, pemuda itu langsung menerjang ke salah seorang di depannya.

 

Tindakan yang diambilnya sekarang sungguh cerdas, andaikata ia masih berdiri di tengah persimpangan jalan menghadapi datangnya ancaman, betapa pun sempurnanya tenaga dalam yang dimilikinya akan sulit baginya membendung tenaga gabungan sembilan orang.

Dalam sekejap mata lorong itu sudah dipenuhi oleh suara deru angin pukulan yang kencang, dahsyat dan mengerikan. Desingan angin berpusing serta pantulan tenaga pukulan yang menimbulkan suara benturan yang sangat memekakkan telinga.

Bong Thian-gak menggerakkan lengan tunggalnya dan bertarung sebanyak tiga-empat jurus dengan orang yang berada di lorong itu.

Begitu bentrokan terjadi, Bong Thian-gak segera dapat merasakan betapa lihainya ilmu silat yang dimiliki lawan, semua serangan berantai yang dilepaskannya secara beruntun berhasil dihindari lawan secara mudah.

 

Orang yang berada di dalam lorong rahasia itu cukup licik dan cerdik, sambil menahan datangnya ancaman, dengan cepat ia mundur.

"Siapa kau?" dengan suara lantang Bong Thian-gak segera membentak. "Bila kau tak mengemukakan identitasmu, jangan salahkan bila aku melancarkan serangan keji."

Bong Thian-gak menghimpun tenaga dalamnya enam bagian, namun musuh tetap tak bersuara, malah membalikkan badan dan kabur.

Habis sudah kesabaran Bong Thian-gak, dengan menghimpun tenaga yang dahsyat ia melepaskan dua bacokan kilat ke depan.

Angin pukulan meluncur ke depan, terdengar dengusan tertahan dan orang yang melarikan diri itu jatuh terjengkang ke atas tanah, tak bangun kembali untuk selamanya.

 

Bong Thian-gak menerkam ke depan lalu mencengkeram urat nadi lawan, tapi denyut nadi orang sudah berhenti, jiwanya telah kembali ke akhirat.

Seruan kaget bergema, agaknya dalam kegelapan itu Bong Thian-gak lelah menemukan orang itu tak lain adalah seorang Tosu tua.

Siapakah mereka? Mungkinkah anak murid Tan Sam-cing? Tapi mengapa mereka masih melancarkan serangan meski sudah kusebutkan namaku?

Dengan terkesiap Bong Thian-gak berpikir, "Jika kesembilan orang yang menyerang tadi adalah kawanan Tosu Sam-cing-koan, berarti usahaku untuk lolos dari gua ini akan menjumpai kesulitan besar."

 

Saat itu pikiran dan perasaan Bong Thian-gak sangat kalut, ia tak habis mengerti orang yang berada dalam lorong rahasia itu sebenarnya kawan atau lawan.

Ia menduga bisa jadi kesembilan Tosu yang menyerang dirinya tadi adalah jago-jago lihai Sam-cing-koan yang ditugaskan untuk melindungi si tabib sakti Gi Jian-cau mengolah obat.

Mungkin saja mereka telah salah mengira dirinya sebagai komplotan pembunuh Hek-mo-ong.

 

Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak pun merasa teka-teki yang semula menyelimuti perasaan kini telah memperoleh jawaban yang benar, rasa menyesal karena membinasakan seorang sahabat pun segera timbul dalam hati kecilnya.

Tanpa terasa ia membungkukkan badan dan memberi hormat hormat jenazah itu, kemudian berdoa di hadapannya bagi ketenteraman arwah Tosu tadi.

Suasana di lorong bawah tanah kembali tercekam dalam sepi dan aman, begitu sepinya hingga mirip kuburan.

 

Bong Thian-gak bersila di atas tanah dengan perasaan tenang, ia mencoba mengatur napas dan sekali lagi terdengar bergemanya suara langkah kaki dari balik lorong.

PENDEKAR CACAT

Karya : Gu Long

Saduran : Can ID

Bagian 16 :  Nyamuk beracun wilayah Biau

 

Suara langkah kaki itu seakan-akan bergema dari jauh, suaranya sangat lirih dan lembut, jika ia tidak sedang bersemedi tak nanti bisa menangkap suara itu.

 

Bong Thian-gak terkejut, tentu ada jago lihai yang mempunyai Ilmu tinggi sedang bergerak mendekat, malah bisa jadi orang itu adalah Hek mo-ong yang misterius.

Teringat pembunuh itu, Bong Thian-gak segera memusatkan segenap kemampuan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

 

Bong Thian-gak tahu orang itu sudah memasuki lorong bawah tanah dimana ia berada sekarang dan selangkah demi selangkah sedang berjalan mendekat.

Mendadak orang itu menghentikan langkah, rupanya dia pun sudah merasakan kehadiran seseorang di tempat itu. Ia tahu Bong Thian-gak adalah seorang jago lihai berilmu tinggi, semestinya ia sudah menangkap suara dengus napas dari jauh, kenyataan ia baru mendengar setelah jarak sudah dekat.

Kedua belah pihak segera menghimpun tenaga dalam masing-masing sambil menunggu kesempatan melancarkan serangan kilat.

 

Tampaknya kedua orang itu sama-sama menunggu sampai pihak lawan melancarkan serangan lebih dulu, tapi kedua orang itu sama-sama enggan menyerang lebih dulu.

Semakin lama kedua belah pihak semakin tak berani melancarkan serangan lebih dulu.

Pertarungan jago-jago yang berilmu tinggi seringkah menang-kalah hanya ditentukan oleh selisih yang kecil sekali, apalagi bila kedua belah pihak sudah tahu musuh menghadapi serangan dengan ketenangan, maka barang siapa berani melancarkan serangan lebih dulu, enam puluh persen dia berada dalam posisi kalah.

Itulah sebabnya terpaksa kedua belah pihak saling menunggu.

 

Pada saat itulah mendadak Bong Thian-gak merasakan tibanya rombongan lain yang berjalan mendekat dari belakang tubuh orang itu.

Agaknya orang itu pun sudah merasakan hal itu.

Dengan demikian posisi menjadi sangat tidak menguntungkan bagi orang itu.

Bong Thian-gak yang melihat keadaan itu berpikir dalam hatinya, "Kemungkinan besar orang yang sedang bergerak mendekat itu adalah delapan orang Tosu yang menyergapku tadi, jika orang di depanku sekarang adalah Hek-mo-ong, maka dia tentu akan membalikkan badan menyerang kawanan Tosu yang mendekat itu."

 

Suasana dalam arena makin bertambah tegang, kini kawanan Tosu yang menghampiri tempat itu sudah semakin mendekat.

Mendadak pertarungan berkobar dengan cepat.

Ternyata orang itu membalikkan badan sambil melompat ke depan.

Bong Thian-gak membentak, tubuhnya melayang menyergap orang misterius itu.

Terjangan Bong Thian-gak pada hakikatnya dilakukan dengan cepat dan garang.

Tapi kawanan musuh yang menerjang dari belakang tubuh orang misterius itu tiba lebih cepat.

Di tengah kegelapan terdengar suara bentrokan demi bentrokan berkumandang tiada hentinya.

Lalu sesosok demi sesosok orang mencelat ke belakang sambil mendengus dan mengeluh kesakitan, satu demi satu roboh terkapar.

Telapak tangan kanan Bong Thian-gak secepat sambaran kilat langsung menyodok ke dada orang misterius itu.

 

Orang misterius itu tak berani menyongsong datangnya ancaman Bong Thian-gak dengan kekerasan, dia bergeser mundur tapi di belakang tubuhnya sudah dinding batu, padahal babatan maut Bong Thian-gak telah meluncur datang.

Jalan mundur sudah tetutup, terpaksa orang misterius itu harus menggerakkan sepasang lengannya membendung datangnya ancaman tadi.

Siapa sangka gerak serangan yang dilancarkan Bong Thian-gak uneh sekali, gerak serangannya tiba-tiba menyelinap ke samping dan berubah menjadi sodokan kepalan yang langsung meninju jalan darah khi-hay-hiat di lambung musuh.

 

Biarpun Bong Thian-gak dapat merubah serangannya dengan tepat, namun reaksi orang misterius itu pun cukup cepat, kaki kanannya segera diangkat ke atas.

Sodokan tinju yang dilancarkan Bong Thian-gak menghantam lutut lawan.

Akibatnya orang misterius itu roboh ke sisi kanan.

Bong Thian-gak membentak, sekali lagi telapak tangan kirinya melancarkan sebuah bacokan.

Serangan yang dilancarkan BongThian-gak kali ini menggunakan tenaga dalam delapan bagian. Selain cepat, serangan itu pun ganas, kecuali pihak lawan menyambut ancaman itu dengan kekerasan, tiada cara lain yang bisa dipakai untuk meloloskan diri dari ancaman itu. Telapak tangan kembali saling beradu.

Bong Thian-gak segera merasa hawa darah dalam dada bergolak, ia mundur dan hampir saja roboh terjengkang.

 

Sejak terjun ke dalam persilatan, baru pertama kali ini Bong Thian-gak menjumpai lawan yang memiliki tenaga dalam lebih tangguh dari kemampuannya. Dari bentrokan itu ia merasa isi perutnya menderita sedikit luka.

Tampaknya orang misterius itu pun dibuat tergetar keras dadanya hingga darah bergolak, lama sekali ia berdiri mengatur pernapasan, kemudian dengan suara berat berkata. "Hai, seandainya berganti orang lain, mungkin aku sudah mati di ujung tangan Bong-laute sejak tadi."

"Ah, kau adalah Tio-pangcu?" seru Bong Thian-gak kaget.

"Ya, memang aku."

 

Bong Thian-gak segera melompat bangun sambil berseru, "Harap Tio-pangcu sudi memaafkan, Boanpwe tidak tahu kau orang tua yang sedang kuhadapi."

"Siapa pun dalam lorong bawah tanah yang gelap ini, tak akan terhindar dari kesalah-pahaman, karena kita tidak bisa membedakan kawan dan lawan bukan?"

"Tio-pangcu, tahukah kau siapa saja yang telah kau bunuh?" tanya Bong Thian-gak sambil menghela napas.

"Para anggota kuil Sam-cing-koan." Jawaban itu kembali membuat Bong Thian-gak tertegun. "Kalau Tio-pangcu sudah mengetahui identitas mereka, mengapa menghabisi nyawa mereka "

"Mereka sudah berulang kali menyergap diriku, sekarang sudah berubah jadi musuhku. Apakah kita mesti berpeluk tangan menunggu datangnya kematian?"

"Sudah berapa lama Tio-pangcu datang kemari?"

"Sesaat setelah kau masuk, aku pun segera menerobos masuk ke lorong lain."

"Apakah Tio-pangcu telah berjumpa dengan kawanan pembunuh Hek-mo-ong?"

"Aku sudah menjumpai banyak penyergap," sahut Tio Tiang-seng dengan suara dalam, "tapi semuanya adalah kaum Tosu, sekarang aku mulai curiga."

"Apakah yang Tio-pangcu curigai?"

"Aku curiga Tan Sam-cing telah berbohong."

"Apa yang dia bohongkan?"

"Sudah kau jumpai Hek-mo-ong dalam lorong gua ini?"

"Aku cuma bertemu seorang perempuan berbaju hitam, agaknya dialah salah seorang wanita pembunuh seperti yang dilukiskan oleh Tan-koancu."

"Coba kau terangkan duduk persoalannya kepadaku."

Secara ringkas Bong Thian-gak menceritakan pengalamannya sejak berjumpa perempuan berbaju hitam itu.

 

Seusai mendengar penuturan itu, Tio Tian-seng menghela napas, katanya, "Bisa jadi orang yang ditemui Bong-laute adalah Sam-hubuncu perguruanmu."

"Apa maksudmu?" tanya Bong Thian-gak dengan terkejut.

Tio Tian-seng termenung sambil berpikir, kemudian sahutnya, "Seandainya dalam lorong ini benar-benar terdapat Hek-mo-ong dan komplotannya sebagai pembunuh, maka Sam-hubuncu perguruanmu pasti mengetahui, tatkala ia mendengar kau menyinggung Hek-mo-ong, sikapnya justru menunjukkan asing dan tidak tahu-menahu."

"Tio-pangcu tidak yakin Hek-mo-ong ada dalam lorong ini?" tanya Hong Thian-gak lagi dengan terkejut.

"Soal ini aku sendiri tidak berani memastikan, tapi aku merasa Tan Sam-cing mempunyai niat jahat."

 

"Jadi menurut Tio-pangcu, kawanan penyerang ini adalah pembunuh yang dikirim Tan Sam-cing untuk menghabisi nyawa kita?"

"Jika Tan Sam-cing tak bermaksud berbuat demikian, seharusnya illa sudah masuk lorong gua serta mengajak kita keluar dari sini!"

"Tapi apa salahnya jika dia tetap berjaga-jaga di luar? Bukankah maksudnya hendak menghalangi Hek-mo-ong sekalian meloloskan diri dan sini?"

"Bukankah Tio-pangcu telah membuktikan bahwa para korban yang tewas di luar gedung itu akibat pukulan tengkorak Hek-mo-ong."

"Sekarang kita berada dalam keadaan berbahaya, aku curiga Tan Sam-cing sekomplotan dengan Hek-mo-ong."

 

Bong Thian-gak semakin terperanjat, serunya kemudian, "Bila apa yang kau katakan memang benar, bukankah keadaan Gi Jian-cau serta Keng-tim Suthay terancam bahaya?"

 "Kemungkinan besar Gi Jian-cau belum mampus. Sekalipun Hek-mo-ong berhasil menemukannya, belum tentu terbunuh di tangannya, namun selain si tabib sakti seorang, sudah tentu musuh tak segan turun tangan keji terhadap mereka."

Semakin mendengar Bong Thian-gak semakin terperanjat, dia bertanya, "Sekarang apa yang mesti kita lakukan?"

"Tentu saja harus mencari akal agar bisa mengundurkan diri dari tempat ini."

"Aku telah menelusuri lorong bawah tanah, namun sampai sekarang masih belum juga berhasil menemukan pintu keluarnya."

"Sewaktu aku masuk tadi, sepanjang jalan telah kutinggali tanda rahasia. Ayo, Bong-laute, ikuti diriku!"

 

Bong Thian-gak merasa kagum atas kecerdasan Tio Tian-seng, katanya, "Untung aku bertemu Tio-pangcu, kalau tidak, bisa jadi selama hidup aku tak akan berhasil meninggalkan tempat ini."

"Bisa jadi kita akan menghadapi sergapan yang membahayakan jiwa kita, dalam menempuh perjalanan nanti paling baik jangan sampai menimbulkan sedikit suara pun."

"Baik," sahut Bong Thian-gak sambil mengangguk. Kembali Tio Tian-seng berpesan, "Seandainya kita mendapat sergapan musuh tangguh, jangan sekali-kali kau meninggalkan aku terlampau jauh, apabila sampai kehilangan kontak, aku mesti membuang banyak waktu mencari jejakmu, bila sampai kita berpisah misalnya, paling baik jika kau menanti kedatanganku di tempat semula."

 

Sambil bicara, Tio Tian-seng sudah melangkah, sementara Bong Thian-gak mengikut di belakangnya.

Mendadak Tio Tian-seng menghentikan langkahnya. Bong Thian-gak pun menghentikan langkah, didengarnya suara peringatan Tio Tian-seng yang dikirim dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara, "Kini musuh tangguh telah menampakkan diri, bisa jadi orang itu adalah Hek-mo-ong, hati-hatilah!"

 

Bong Thian-gak mengangkat kepala serta mengalihkan pandangan ke arah lorong yang gelap gulita, tampak olehnya seseorang berdiri angker di situ.

Sinar mata tajam mencorong dari balik matanya, agaknya tenaga dalam orang itu sudah mencapai tingkat kesempurnaan.

"Mungkin orang itu adalah Hek-mo-ong?" tanya Bong Thian-gak kemudian dengan ilmu menyampaikan suara.

"Rasa-rasanya mirip Hek-mo-ong," jawab Tio Tian-seng agak tegang. "Sayang kita bertemu di lorong bawah tanah, mustahil buat aku menggunakan pedang. Wah ... celaka! Aku bisa dipaksanya berada di bawah angin."

 

Mendengar suara berat yang terpancar keluar dari mulut Tio Tian-seng, kata Bong Thian-gak, "Mengapa kita tidak bekerja sama?"

"Kepandaian silat Hek-mo-ong yang paling hebat adalah pukulan tengkorak penggempur hati. Di kolong langit dewasa ini masih belum ada seorang pun yang sanggup menghindari serangan jarak dekatnya, oleh sebab itu bila bertempur melawannya, bagaimana pun juga jangan memberi kesempatan kepadanya untuk mendekati kita, karena begitu ilmu pukulan tengkorak penggempur hati dilontarkan, tiada orang yang bisa membendungnya, sebab itu kuanjurkan kepadamu janganlah bertarung kelewat emosi melawannya."

"Sekarang bisa jadi dia belum mengetahui kehadiranmu di belakangku, maka aku ingin mempraktekkan taktik perlawanan yang amat jitu. Di saat kulancarkan pukulan, bergeserlah kau ke sisi kiri, lalu dengan menempatkan diri ke posisi belakang, lepaskanlah sebuah serangan yang paling dahsyat ke arahnya ...."

 

Belum habis ucapan Tio Tian-seng, bayangan iblis di hadapannya unilah bergerak mendekat.

Orang itu baru saja bergerak, namun tahu-tahu sudah berada di hadapannya.

Tio Tian-seng segera membentak, telapak tangannya diayunkan bersama, dua gulungan angin pukulan yang sangat dahsyat serta-merta menggulung ke muka dengan dahsyatnya.

Bersamaan waktunya, Tio Tian-seng segera bergeser ke sisi kiri.

Sementara itu Bong Thian-gak seperti sukma gentayangan telah meluncur ke muka serta menggantikan kedudukan Tio Tian-seng, segulung angin pukulan yang sangat dahsyat segera dilontarkan ke depan.

 

Sungguh tak nyana kepandaian silat iblis itu sangat luar biasa, tatkala kedua gulung angin pukulan dahsyat Tio Tian-seng membentur tubuhnya, dia segera mengebaskan tangan kirinya serta memunahkan ancaman itu.

Bersamaan waktunya, secepat sambaran kilat dia mendesak maju.

Tapi serangan kilat yang dilepaskan Bong Thian-gak benar-benar di luar dugaannya.

Dalam gugup dan cemasnya, orang itu segera melepaskan sebuah serangan lagi dari jarak dekat.

 

Tio Tian-seng dapat menyaksikan jalannya pertarungan dengan jelas, ia segera membentak, pedang yang digembol di punggungnya segera dilolos, lalu ia lepaskan sebuah tusukan kilat ke muka.

"Trang", bentrokan keras bergema disusul munculnya percikan bunga api.

Iblis itu mendengus tertahan, badannya terhajar oleh Bong Thian-gak hingga mencelat ke belakang.

"Hendak kabur kemana kau?" jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.

Dia mengejar ke depan dan persis menghadang di depan iblis itu. Lengan tunggal Bong Thian-gak segera melancarkan serangkaian serangan.

Angin pukulan yang dahsyat dan kencang, bagaikan sayatan pedang mendesak iblis itu mundur ke arah dinding gua.

 

Pada saat itulah Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng dari kiri kanan pelan-pelan mendesak maju.

Pedang dalam genggaman Tio Tian-seng nampak memancarkan cahaya di balik kegelapan, setitik cahaya bagaikan sinar kunang-kunang dalam pandangan Bong Thian-gak berubah bagai cahaya yang terang benderang.

Sekarang mereka sudah dapat melihat dengan jelas iblis itu, ternyata seorang berkerudung berbaju hitam, tangan kanannya nampak menggunakan sarung tangan, berbentuk tengkorak manusia berwarna putih.

 

Tio Tian-seng menghentikan langkah di hadapan orang itu, kemudian sambil tertawa dingin ia bertanya, "Kau adalah anak buah Hek-mo-ong?"

Iblis itu tidak menjawab, hanya matanya memancarkan bayangan aneh mengawasi Bong Thian-gak di sisi kiri dengan tak berkedip.

"Hek-mo-ong sudah datang belum?" bentak Tio Tian-seng lagi.

Kali ini iblis itu menjawab, namun suaranya amat menggidikkan, "Suatu saat kalian pasti akan mampus di tangan Hek-mo-ong."

Selesai berkata, tiba-tiba tubuhnya roboh terjengkang.

 

Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng tertegun menghadapi situasi demikian, untuk sesaat mereka tak tahu apa yang akan dilakukan.

Mendadak Tio Tian-seng menggerakkan pedang melepas sebuah tusukan ke depan.

Iblis itu sama sekali tak menghindar, pedang langsung menembus dadanya.

"Ah, dia telah mampus!" seru Bong Thian-gak tertegun.

Setelah pedangnya menembus dada orang itu, Tio Tian-seng turut mendesak maju, dengan cepat tangannya menyingkap kain kerudung yang menutupi wajahnya.

Noda darah masih meleleh dari bibirnya.

 

Tio Tian-seng adalah seorang jago silat kawakan, menyaksikan hal ini segera ia menghela napas, katanya, "Serangan Bong-laute benar-benar tajam dan dahsyat, isi perutnya telah kau pukul hancur."

"Ai, nyatanya orang itu masih sanggup bertahan sekian lama setelah menerima pukulanku sebelum mampus. Kehebatan ilmu silatnya benar-benar sangat mengerikan!"

 

"Mungkin orang ini adalah pembantu utama Hek-mo-ong," kata Tio Tian-seng lagi sambil menghela napas. "Ai, seandainya bukan serangan mendadak Bong-laute yang dilancarkan di luar dugaannya, bukan pekerjaan mudah membinasakan dirinya."

"Ai, tadinya aku merasa Tio-pangcu terlalu mengada-ada setelah kau melukiskan betapa hebat dan menakutkannya Hek-mo-ong, tapi setelah kulihat betapa hebatnya kepandaian silat yang dimiliki anak buahnya, baru kubayangkan Hek-mo-ong seorang musuh yang sangat menakutkan."

"Bong-laute, bukanlah aku kelewat menilai tinggi kemampuan musuh, kemampuan Hek-mo-ong memang menakutkan, aku pernah bertemu satu kali dengannya dan hampir saja jiwaku melayang."

"Apakah Tio-pangcu kenal orang ini?" tanya Bong Thian-gak sambil menunjuk ke arah korban.

 

Tio Tian-seng menggeleng kepala.

"Raut wajahnya asing bagiku."

"Ai, akhirnya anak buah Hek-mo-ong muncul dalam lorong bawah tanah ini, nampaknya apa yang diucapkan Tan Sam-cing bukan ucapan kosong belaka."

"Menurut Tan Sam-cing, orang yang berada dalam lorong bawah tanah ini adalah seorang kakek, seorang perempuan, serta seorang cacat lengan dan berkaki pincang, sedang korban yang kita jumpai sekarang adalah lelaki setengah umur yang berusia empat puluh tahunan."

"Jadi menurut Tio-pangcu, korban bukan termasuk di antara ketiga orang yang dimaksud Tan Sam-cing?"

Tio Tian-seng segera menggeleng, "Ya, sama sekali tidak sesuai."

"Siapa tahu si kakek yang dimaksud Tan Sam-cing adalah orang ini?" ujar Bong Thian-gak.

"Kecuali kita bertemu perempuan serta orang yang menyaru sebagai Bong-laute itu, kalau tidak, aku tidak akan percaya perkataan Tan Sam-cing."

"Seandainya kedua orang itu menyembunyikan diri di sudut lorong bawah tanah, bagaimana mungkin kita bisa menemukan jejaknya?"

"Kita kan tak bakal meninggalkan Sam-cing-koan ini dalam waktu singkat? Sebentar kau boleh bersama-sama Tan Sam-cing melakukan penggeledahan di sini, sedang tugas menjaga di luar biar kugantikan untuk semenjtara."

"Baik, kita memang harus menemukan si tabib sakti dan Keng-tim Suthay sebelum pergi meninggalkan tempat ini!"

 

Tiba-tiba Tio Tian-seng menghela napas, kemudian tanyanya, "Bong-laute, apakah kau sudah mengetahui asal-usul Tan Sam-cing?"

"Konon dia adalah anak buah murid Bu-tong-pay."

"Bong-laute, menurut pendapatmu apakah nama besar Pat-kiam-hui-hiang cukup tersohor di dunia persilatan pada empat puluh tahun berselang?"

"Padri sakti dari Siau-lim-pay, guruku Oh Ciong-hu, Mo-kiam-sin-kun serta Pat-kiam-hui-hiang adalah tokoh silat yang paling termasyhur di Kangouw waktu itu. Mereka disebut empat tokoh persilatan, terutama kehebatan mereka di antara golongan lurus maupun sesat."

"Yang disebut pedang lurus tentulah Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing, sedang si pedang sesat adalah aku Mo-kiam-sin-kun, bukan?"

"Waktu itu pedang Tio-pangcu memang penuh dengan hawa membunuh, sehingga orang menyebutnya si pedang sesat. Tapi menurut perasaan Boanpwe, sesungguhnya pedang Tio-pangcu sama sekali tidak sesat."

 

Tio Tian-seng menghela napas panjang, "Ai, dengan dasar apakah orang membedakan antara sesat dan lurus, rasanya sulit untuk ditelusuri dan aku pun enggan mempersoalkan. Yang ingin kuketahui sekarang adalah tersohornya Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing waktu itu, apa sebabnya ia lenyap secara tiba-tiba? Tahukah si tabib sakti serta Keng-tim Suthay bahwa Sam-cing Koancu yang sekarang sebenarnya adalah Pat-kiam-hui-hiang yang amat termasyhur namanya?"

"Apa maksud Tio-pangcu mencurigai hal itu?"

"Bong-laute, sekarang bila kubilang Tan Sam-cing adalah Hek-mo-ong yang misterius itu, apakah Bong-laute anggap hal ini mungkin?"

 

Bong Thian-gak segera menggeleng.

"Tan Sam-cing cukup termasyhur sebagai orang budiman, ia tak pernah mempunyai nama jelek."

"Sebaliknya bila kukatakan bahwa akulah Hek-mo-ong?"

Hati Bong Thian-gak segera bergetar keras, sahutnya kemudian, "Jika hal ini terjadi beberapa hari berselang, jika ada orang bertanya mapakah Hek-mo-ong, maka tentu akan menduga Tio-pangcu."

Tio Tian-seng tersenyum.

"Kalau bukan begitu, lantas siapakah menurut Bong-laute yang pantas dicurigai sebagai Hek-mo-ong?"

 

Baru selesai perkataan itu, dari sudut lorong gua terdengar seorang menanggapi dengan suara lantang, "Menurut perasaan Pinto, Hek-mo-ong adalah Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng."

Bergemanya suara itu membuat hati Bong Thian-gak maupun Tio Tian-seng bergetar. Yang membuat mereka terkejut adalah kehadiran lawan sampai di dekat mereka, namun sama sekali tidak mereka rasakan.

Sambil tertawa dingin Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng segera menegur, "He, hidung kerbau, sudah lamakah kau datang kemari?"

 

Dari balik lorong gua yang gelap gulita pelan-pelan muncul seseorang, walaupun kedua belah pihak belum pernah melihat raut wajah masing-masing dengan jelas, namun Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng tahu bahwa si pendatang adalah Sam-cing Koancu Pat-kiam-hui-hiang Tan Sam-cing.

Tiba-tiba Tan Sam-cing menghentikan langkah, lalu menyahut dengan suara hambar, "Sejak Bong-sicu membinasakan orang aneh tadi, Pinto telah hadir di sini."

"Kedatanganmu memang tepat sekali," seru Tio Tian-seng tertawa dingin.

 

Tan Sam-cing tertawa dingin.

"Tentu saja kedatanganku memang sangat tepat. Coba kalau aku tidak datang, sudah pasti Pinto dicurigai sebagai Hek-mo-ong."

"Biarpun kau sudah datang, bukan berarti bisa lepas dari kecurigaanku," jengek Tio Tian-seng.

Tan Sam-cing mendengus, "Hm! Menubruk angin menangkap bayangan, memfitnah orang tanpa fakta yang nyata, mengadu domba di antara sesama manusia, semuanya memang watak kebiasaanmu."

"Boleh saja bila kau ingin lepas dari kecurigaan," kata Tio Tian-seng dingin, "kecuali si tabib sakti sekalian ditemukan dalam keadaan sehat dan selamat, kalau tidak, jangan harap kau bisa terlepas dari kecurigaan kami."

 

Tan Sam-cing naik pitam, segera bentaknya penuh amarah, "Tio Tian-seng, kau memojokkan orang dengan kata-kata tuduhanmu itu. Bila kau lanjutkan, Pinto tak bisa menahan diri lebih jauh!"

Bong Thian-gak merasakan panasnya situasi, bila keadaan ini dibiarkan berlangsung terus, kemungkinan akan berkobar pertempuran berdarah yang mengerikan.

Maka dia maju beberapa langkah, setelah menjura pada Tan Sam-cing, ujarnya dengan suara lantang, "Tan-koancu, harap kau jangan marah dulu. Dewasa ini masih ada musuh tangguh bersembunyi dalam lorong bawah tanah. Apabila di antara kita terjadi keributan sendiri, hal itu tentu akan menggirangkan lawan."

"Bong-sicu tak usah kuatir, ketiga orang pembunuh yang menyusup masuk ke dalam lorong bawah tanah ini sudah mati terbunuh."

"Jadi Tan-koancu telah berjumpa dengan pembunuh-pembunuh itu?"

"Pinto telah membunuh seorang, lalu menemukan sesosok mayat di lorong gua, ditambah mayat yang berada di hadapan kita sekarang, bukankah berarti ketiga pembunuh itu telah tertumpas?"

"Bagaimanakah bentuk wajah pembunuh yang berhasil Tan-koancu habisi nyawanya?"

"Orang yang menyaru sebagai Bong-sicu."

 

Seraya berkata, Tan Sam-cing melepaskan sebilah pedang berikut sarungnya dari bahu, kemudian melanjutkan, "Pek-hiat-kiam berada di sini, harap Bong-sicu menerimanya."

"Ehm, terima kasih banyak atas bantuan Tan-koancu menemukan kembali Pek-hiat-kiam ini."

Seraya berkata, ia maju ke depan.

Tiba-tiba Tan Sam-cing mengayun tangan kanannya, pedang yang berada di dalam sarung itu tahu-tahu berkelebat ke muka dan mengancam jalan darah Sim-kan-hiat di tubuh anak muda itu.

Tindakan itu bukan saja membuat Bong Thian-gak tak sempat menghindar, Tio Tian-seng juga sama sekali tak menyangka.

Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak, tanpa terasa ia berpekik dalam hati, "Aduh celaka!"

 

Siapa tahu Tan Sam-cing hanya menutul jalan darahnya, sama sekali tidak disertai tenaga dalam. Terdengar ia berseru sambil tertawa dingin, "Bong-sicu memang orang yang berjiwa terbuka dan berbudi luhur, kebijakanmu membuat Pinto kagum, maaf atas kelancangan Pinto barusan."

Rupanya Tan Sam-cing hendak menggunakan cara itu untuk mencoba mengerti apakah Bong Thian-gak menaruh curiga kepadanya atau tidak.

 

Sesudah termangu-mangu beberapa saat, Bong Thian-gak baru menerima pedang itu, lalu diperiksanya dengan seksama. Benar juga, pedang itu memang benda kepercayaan Hiat-kiam-bun, Pek-hiat-kiam, maka sekali lagi dia memberi hormat kepada Tan Sam-cing seraya berkata, "Seandainya Tan-koancu adalah musuh, dengan seranganmu tadi niscaya habis sudah jiwaku."

"Seandainya Bong-sicu selalu waspada dan berjaga-jaga terhadap serangan orang, niscaya kau akan berhasil menghindarkan diri dari tusukan tadi," ucap Tan Sam-cing.

 

Bong Thian-gak menggeleng kepala.

"Jurus serangan yang dipergunakan Tan-koancu tadi jauh berbeda dengan jurus kebanyakan orang. Aku tahu, biarpun sudah waspada dan berjaga-jaga, rasanya sulit juga menghindarkan diri."

Tan Sam-cing tersenyum.

"Bong-sicu memiliki kepandaian silat yang amat hebat, tapi tidak sombong, kebesaran jiwamu serta kerendahan hatimu benar-benar mengagumkan sekali."

 

Tiba-tiba Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng tertawa dingin, katanya, "Hei, hidung kerbau, kau mengatakan telah membunuh orang, dimana mayatnya sekarang?"

"Dalam lorong bawah tanah sana."

"Dan masih ada orang lagi?"

"Perempuan pembunuh itu terbunuh di lorong bawah tanah, entah ia tewas oleh Bong-sicu atau mati terbunuh di tanganmu?"

"Apakah mayat perempuan yang Tan-koancu temukan adalah perempuan berbaju hitam?"

 

Pada saat itulah tiba-tiba Bong Thian-gak mendengar suara bisikan Tio Tian-seng yang disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara, "Bong-laute, jangan kau katakan bahwa perempuan itu adalah Sam-hubuncu dari Hiat-kiam-bun. Aku lihat perkataan Tan Sam-cing saling bertentangan, lagi pula gerak-geriknya amat mencurigakan, kita tidak bisa mempercayainya begitu saja."

Dalam pada itu Tan Sam-cing mengangguk seraya menjawab,

"Benar, dia adalah perempuan berbaju hitam."

Dengan suara dingin, Tio Tian-seng segera menimbrung, "Mayat yang terkapar dalam lorong bawah tanah ini rasanya bukan hanya tiga, hidung kerbau, sudah kau lihat hal ini?"

"Sudah," sahut Tan Sam-cing dengan suara dalam. "Aku justru Ingin bertanya siapa yang telah membunuh kawanan Tosu itu?"

"Aku memang ingin bertanya kepadamu, atas perintah siapa kawanan hidung kerbau itu berniat membunuhku?" bantah Tio Tian-neng dingin.

"Jika begitu mereka mati di tangan Tio-pangcu?"

"Tan-koancu," tukas Bong Thian-gak, "semua Tosu itu bukan mati lerbunuh di tangan Tio-pangcu."

"Apakah Bong-sicu telah membunuh seorang di antaranya?" ucap Tan Sam-cing hambar.

 

Dengan perasaan bergetar keras, Bong Thian-gak membenarkan.

"Betul, Boanpwe memang membunuh satu orang."

"Luka pada mayat-mayat itu telah kuperiksa dengan seksama, luka yang menyebabkan kematian kesebelas mayat dilakukan oleh orang yang sama, berarti mereka terbunuh di tangan Tio-pangcu."

Tio Tian-seng tertawa dingin.

"Eh, hidung kerbau, apakah kau sedang mencari alasan untuk mengajakku berduel?"

"Hm! Tanpa sebab-musabab anak murid kuil kami telah menjadi korban, tentu saja Pinto tak akan membiarkan si pembunuh berlalu dari sini dengan bebas merdeka!" jawab Tan Sam-cing sambil mendengus.

"Aku sudah bersiap menahan seranganmu, ayolah silakan turun tangan."

"Akhirnya kita berdua akan melangsungkan juga duel mati-hidup di lorong bawah tanah ini."

 

Sambil berkata, pelan-pelan Tan Sam-cing melolos sebilah pedang pendek yang bersinar tajam dari belakang bahunya.

Begitu ia melolos pedang pendek, cahaya putih yang berkilau neeera memancar menerangi lorong bawah tanah itu.

Melihat Tosu itu sudah melolos pedang, Bong Thian-gak segera melompat ke muka dan berdiri di antara kedua orang itu, cegahnya,

"Tunggu dulu! Bila Locianpwe berdua hendak bertarung, alangkah baiknya bila pertarungan dilangsungkan setelah berhasil menemukan si tabib sakti."

"Tio-pangcu memaksa Pinto berkelahi sekarang juga," kata Tan Sam-cing.

"Hm, aku tidak bodoh mengajak kau berkelahi di sini," sela Tio Tian-seng sambil tertawa dingin.

"Kalau begitu, biar Pinto simpan kembali pedangku ini," kata Tan Sam-cing.

 

Sembari berkata, dia memasukkan kembali pedang pendeknya ke dalam sarung.

"Tan-koancu!" seru Bong Thian-gak kemudian, "sekarang bawalah kami bertemu Gi Jian-cau."

"Harap kalian berdua mengikuti aku."

Dia membalikkan badan dan beranjak pergi lebih dulu.

Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng mengikut di belakangnya.

Biarpun lorong bawah tanah itu sangat gelap hingga sukar dilalui, tetapi Tan Sam-cing dapat bergerak secepat terbang, malah sewaktu berbelok pun tak pernah ragu atau pun berhenti, agaknya dia memang menguasai keadaan tempat itu.

 

Sesudah melalui enam persimpangan jalan dan menelusuri tujuh lorong, mendadak Tan Sam-cing menghentikan langkah, lalu melakukan pemeriksaan di sebuah dinding batu, kemudian ia menuju ke hadapan Bong Thian-gak dan bisiknya dengan suara lirih, "Ada orang telah memasuki ruang gua rahasia ini, bisa jadi musuh masih bercokol di dalam ruang itu."

"Dimanakah letak ruang gua itu?" tanya Bong Thian-gak dengan terkejut.

 

Tan Sam-cing tidak menjawab pertanyaan itu, malah dia berkata, "Harap kalian berdua berjaga di kedua ujung lorong gua ini, Pinto akan segera membuka pintu rahasia menuju ke ruangan dalam."

"Hai, hidung kerbau!" seru Tio Tian-seng dingin. "Kau tidak usah bermain setan di hadapanku, sudah kuduga sejak tadi kau akan bersikap begini."

Tan Sam-cing tak menggubris, kembali dia berkata, "Seandainya ruang rahasia itu sampai kemasukan orang, keselamatan jiwa si tabib sakti dan Keng-tim Suthay benar-benar berbahaya sekali. Kalian berdua harap selekasnya mengikuti perkataanku tadi dan berjaga-jaga di kedua ujung lorong, kita tak boleh membuang waktu lagi."

 

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah berjalan ke depan, Tio Tian-seng juga sudah mengundurkan diri dari situ.

Pada saat itulah tiba-tiba Tan Sam-cing melolos pedangnya dari belakang bahu, sekilas cahaya tajam menyoroti dinding.

Dengan pedang terhunus Tan Sam-cing berjalan beberapa langkah dengan menelusuri dinding batu sebelah kanan, tiba-tiba ia lepaskan sebuah tusukan ke atas dinding itu.

Suara gemuruh bergema di angkasa.

 

Dinding batu di sisi kiri Tan Sam-cing mendadak bergeser ke samping, sekilas cahaya lentera memancar masuk ke dalam lorong itu lewat celah-celah pintu.

Sementara itu Tan Sam-cing telah mencabut pedang pendeknya dari dinding batu, dengan cepat tubuhnya berkelebat dan menerobos masuk melalui celah pintu yang terbuka.

Tio Tian-seng serta Bong Thian-gak segera menyerbu bersama, kemudian menyelinap masuk pula melalui celah pintu yang terbuka.

 

Setelah memasuki pintu rahasia itu, barulah diketahui bahwa tempat itu pun merupakan sebuah lorong bawah tanah pula.

Hanya bedanya, lorong ini terang-benderang bermandikan cahaya, hampir setiap jarak tiga kaki terdapat sebuah lentera.

Lorong itu lurus ke depan, waktu itu Tan Sam-cing sudah berada di depan sana.

Tio Tian-seng dan Bong Thian-gak di kiri kanan segera melakukan pengejaran dengan menelusuri kedua sisi dinding gua.

Pada ujung lorong itu terdapat sebuah tikungan menuju sebelah kiri, bayangan tubuh Tan Sam-cing lenyap di balik tikungan itu.

Menyusul Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng tiba juga di ujung tikungan sana, serentak mereka mendongakkan kepala.

 

Pada ujung dinding sebelah kiri terdapat sebuah pintu, di balik pintu terbentang sebuah ruangan yang luas.

Dalam ruangan ini pun tak nampak bayangan Tan Sam-cing.

Namun di atas permukaan tanah tampak mayat bergelimpangan di sana-sini, ceceran darah menodai lantai, senjata berserakan, keadaan benar-benar mengerikan dan memilukan.

Di antara korban yang tewas dan berserakan ini, selain terdapat kaum Tosu, terdapat pula gadis-gadis muda.

Keadaan yang menyebabkan kematian hampir sama, ada yang kehilangan kepala, pinggangnya terpapas kutung, empat anggota badan berserakan, ada pula yang tewas tanpa meninggalkan bekas luka apa pun.

 

Sekilas Bong Thian-gak mengetahui bahwa para korban adalah anggota Hiat-kiam-bun yang ditugaskan melindungi si tabib sakti mengolah obat, sedang kawanan Tosu itu dari kuil Sam-cing-koan.

Di ruang belakang masih terdapat ruangan lain, dengan cepat Bong Thian-gak melakukan pemeriksaan ke situ.

Dalam pada itu dari balik ruangan sebelah kiri tampak Tan Sam-cing muncul, setelah menghela napas sedih, ia berkata, "Sicu tak perlu masuk ke dalam lagi, tak seorang hidup pun yang terdapat di ruang dalam."

"Bagaimana dengan si tabib sakti?" tanya Bong Thian-gak kejut bercampur gelisah.

 

Tan Sam-cing menghela napas panjang.

"Ai, Hiolo pengolah obat masih terdapat di situ, namun orangnya sudah lenyap entah kemana."

"Bagaimana dengan Keng-tim Suthay?"

"Ia sudah tewas terkena musibah!"

Mendengar Keng-tim Suthay terkena musibah, Bong Thian-gak langsung berteriak, "Dimanakah jenazahnya sekarang?"

 

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Tio Tian-seng berteriak dari  belakang, "Tan Sam-cing, lebih baik kita langsungkan duel mati-hidup di  tempat ini saja!"

Bong Thian-gak tidak habis mengerti, mengapa Tio Tian-seng  menantang Tan Sam-cing berduel dalam keadaan dan situasi seperti ini. 

Tan Sam-cing tertawa tergelak dengan suara menyeramkan, "Tio  Tian-seng, cepat atau lambat kita memang harus melaksanakan duel  mati-hidup untuk menentukan nasib kita berdua."

 

Dalam pada itu Bong Thian-gak merasa pedih dan kehilangan semangat sesudah mengetahui Keng-tim Suthay tewas terbunuh. Dalam keadaan demikian dia tak bersemangat lagi memperhatikan perselisihan di antara mereka berdua.

Badannya segera berkelebat dan masuk ke ruang belakang dengan cepat.

Di ruang belakang terdapat dua bilik, sebuah di sebelah kiri dan yang lain di sebelah kanan.

 

Mula-mula Bong Thian-gak memasuki bilik sebelah kiri, di situ terdapat dua buah pembaringan, kelambu dan seprei masih teratur rapi, pakaian dan perabotan lainnya masih utuh, hanya tak nampak seorang pun.

Di bagian depan terdapat sederet pembaringan dan perabotan lain, di sini juga tak nampak seorang pun.

Buru-buru Bong Thian-gak menuju ke ruang lain, tempat itu hanya ada sebuah tungku raksasa berkaki tiga, sebuah pengolah obat terdapat di atas tungku, sementara beberapa buah bantal duduk berserakan di sekelilingnya.

Di sisi tungku, dua orang bocah cilik duduk terbungkuk, mereka lak berkutik sama sekali, jelas sudah tewas.

Selain jenazah kedua bocah itu, di dekat tungku bagian belakang, duduk bersila seorang tokoh setengah umur di atas kasur duduk.

 

Tangan kirinya masih memegang Hud-tim, sedangkan tangan kanannya diletakkan di depan dada, wajahnya pucat-pias dan matanya terpejam rapat.

Sesudah melihat dengan jelas raut wajah tokoh setengah umur itu, Hong Thian-gak segera berteriak, "Keng-tim Suthay!"

Ia menubruk ke depan, air matanya bercucuran dengan deras. Mimik tokoh setengah umur itu nampak tawar, sudah barang tentu tak dapat bersuara lagi.

"Suthay, oh Suthay ... sungguh tak nyana perpisahan kita di Ho-pak tempo hari akan menjadi perpisahan untuk selamanya. Oh Suthay, siapakah orang yang telah mencelakaimu, siapakah orangnya?"

Sambil menangis Bong Thian-gak menggoncang-goncang jenazah Keng tim Suthay.

 

Tiba-tiba jenazah itu miring dan roboh ke kiri, sementara sepatu yang dikenakan pada kaki kanannya terlepas dan jatuh ke atas tanah.

Bong Thian-gak bermata jeli, dengan cepat ia menangkap bahwa di balik telapak kaki kanan Keng-tim Suthay tertera jelas sederet tulisan.

Dengan perasaan bergetar, Bong Thian-gak segera mendongakkan kepala.

Ternyata tulisan itu berbunyi:

"Sebutir pil pengembali sukma kusembunyikan di balik Hud-tim, bunuh si tabib sakti."

Bong Thian-gak berdiri termangu-mangu mengawasi kedua baris tulisan itu, terutama sekali kata-kata terakhir, "Bunuh si tabib sakti".

 

Tulisan itu membuat pikirannya bimbang dan tak habis mengerti.

"Mengapa ia mesti membunuh si tabib sakti? Mengapa?"

Sesudah termangu-mangu sekian lama, akhirnya Bong Thian-gak mengenakan kembali sepatu itu Keng-tim Suthay, kemudian dengan cepat melepas pula sepatu kirinya.

Ternyata pada kaki kiri pun tertera pula kedua baris tulisan itu.

Pada saat inilah dari luar ruangan terdengar suara bentrokan senjata yang bergema amat keras.

 

Bong Thian-gak segera mengambil Hud-tim Keng-tim Suthay dan menyembunyikannya di balik pakaian, lalu dengan cepat memburu ke ruang depan.

Di ruang muka, suasana benar-benar tegang dan mengerikan.

Hawa pedang menyelimuti ruangan, cahaya perak berkilauan seperti sambaran petir.

Bayangan tubuh Tio Tian-seng serta Tan Sam-cing telah terkurung rapat di balik cahaya pedang itu.

 

Kedua orang jago yang sangat lihai itu, masing-masing sedang mengembangkan ilmu pedang yang dimilikinya serta melangsungkan pertarungan mati-hidup yang amat sengit.

Pedang pendek di tangan Tan Sam-cing berputar memercikkan bayangan pedang tajam, membacok, menyapu dan membabat penuh dengan kedahsyatan.

Mendadak bentakan keras bergema, Tio Tian-seng melepaskan sebuah tusukan balasan dari arah samping.

Tusukan itu dilepaskan dengan sepasang tangan menggenggam pedang bersama-sama. Jurus serangannya aneh, namun amat tangguh, merupakan jurus serangan lain daripada yang lain.

 

Tampaknya Tan Sam-cing cukup mengetahui kelihaian serangan Itu. Sambil membentak, cahaya pedang yang semula membentuk lingkaran bulat kini lenyap, sebagai gantinya muncul sekilas sinar bening yang pelan-pelan mendorong ke depan.

Bunyi gemerincing nyaring memenuhi angkasa.

Sepasang pedang Tio Tian-seng serta Tan Sam-cing telah saling bentur.

Kali ini pedang pendek Tan Sam-cing yang tajam ternyata tidak mampu mengutungi pedang Tio Tian-seng.

Setelah kedua belah pihak saling mengadu senjata sebanyak tiga kali, kedua belah pihak tidak segera menarik kembali senjatanya, namun mereka saling mengerahkan tenaga mengisap pedang lawan.

Akibatnya kedua bilah pedang itu saling menempel bagai besi sembrani.

 

Pantangan terbesar jago persilatan yang saling bertarung adalah adu tenaga dalam.

Dengan saling menempelkan pedang, hakikatnya Tan Sam-cing maupun Tio Tian-seng sudah melangkah menuju ke suatu pertarungan tenaga dalam mengadu jiwa.

Berada dalam keadaan begini, kedua belah pihak sama-sama tak berani mencabut pedang, bila satu pihak mencabut pedang, maka pedang lawan akan menusuk dan langsung menghujam ke tubuh lawan secara mematikan.

Oleh sebab itu kedua belah pihak terpaksa harus mengerahkan tenaga dalam yang disalurkan ke batang pedang untuk mempertahankan tenjata.

 

Pertarungan semacam ini sukar menentukan menang-kalah secara repat, seringkah di saat menang kalah ditentukan, kedua belah pihak sudah sama-sama terluka, kehabisan tenaga dalam dan akhirnya tewas bersama.

Pada saat itulah suara benturan nyaring berkumandang.

Bong Thian-gak sudah mencabut Pek-hiat-kiam dan secepat kilat menusuk ke tengah-tengah antara kedua pedang yang masih saling menempel itu.

 

Tio Tian-seng serta Tan Sam-cing segera terpisah dan masing-masing mundur tiga langkah.

Pedang Tio Tian-seng kembali putus sebagian, sebaliknya pedang Tan Sam-cing masih tetap utuh. Bong Thian-gak dengan masih memegang Pek-hiat-kiam yang memancarkan sinar merah memberi hormat kepada Tan Sam-cing serta Tio Tian-seng, lalu ujarnya dengan lantang, "Locianpwe berdua, buat apa kalian saling bertarung mati-matian?"

Paras muka Tio Tian-seng kelihatan amat kereng dan serius, tiba-tiba ia berkata dengan suara pelan, "Bong-laute, tidakkah kau merasa bahwa Tan Sam-cing sangat mencurigakan?"

"Apanya yang mencurigakan?" tergerak hati Bong Thian-gak.

"Sudahkah Bong-laute periksa, telah berapa lama para korban itu menemui ajalnya?"

"Ah! Betul, tampaknya mereka sudah tewas paling tidak satu hari sebelumnya."

"Betul! Orang-orang itu sudah mati semalam sebelumnya, tapi menurut Tan Sam-cing waktu musuh menyusup masuk kemari, baru tiga jam berselang."

 

Sambil tertawa dingin, Tan Sam-cing segera berkata, "Sejak kapan mereka menemui ajal? Apa hubungan serta sangkut-pautnya dengan diriku?"

"Tentu saja besar sekali hubungannya," jawab Tio Tian-seng dingin. "Andaikata Sam-cing Koancu hanya seorang jago lihai biasa saja, hal ini lain ceritanya. Tapi kau adalah Pat-kiam-hui-hiang yang amat termasyhur, apakah tidak mengetahui sama sekali terdapat banyak musuh tangguh yang sudah memasuki kuilmu? Apa ini tidak lucu namanya?"

"Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak dengan kening berkerut. "Sekalipun begitu, aku rasa masih belum cukup alasan untuk menuduh Tan-koancu sebagai komplotan kawanan pembunuh itu."

"Bong-sicu, sudahkah kau saksikan apa yang menyebabkan kematian orang-orang itu?" tanya Tio Tian-seng tawar.

"Soal itu belum Boanpwe lihat."

"Mereka tewas akibat saling bunuh sendiri. Bila tak percaya, silakan Bong-laute periksa dengan seksama semua korban itu, kau akan jumpai luka di tubuh para korban sesuai dengan kesimpulanku tadi."

 

Bong Thian-gak berseru tertahan, dengan cepat ia berpaling dan ujarnya kepada Tan Sam-cing, "Tan-koancu, bagaimanakah penjelasanmu terhadap keterangan yang disampaikan Tio-pangcu?"

"Memang tak salah, orang-orang itu tewas karena saling bunuh, tapi kematian Keng-tim Suthay serta kedua bocah itu adalah disebabkan tertotok jalan darahnya oleh seseorang. Keadaan inilah yang membuat orang bingung serta tak habis pikir."

Setelah mendengar kata-katanya itu, mendadak Bong Thian-gak teringat akan sesuatu, ia segera bertanya, "Cianpwe berdua, tahukah kalian dalam Bu-lim terdapat semacam obat pembingung sukma?"

 

"Bong-laute, maksudmu para korban telah dicekoki semacam obat pembingung sukma terlebih dahulu sehingga kejernihan otak mereka terganggu, akibatnya mereka mati karena saling bunuh di antara rekan sendiri?"

"Boanpwe hanya ingin tahu, benarkah dalam Bu-lim terdapat obat sejenis itu."

"Tentu saja ada."

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, Tio-pangcu, jika aku menduga pembunuhnya adalah si tabib sakti Gi Jian-cau, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Aku pun menduga begitu," sahut Tio Tian-seng dengan suara dalam. "Ada seorang jago lihai yang telah menyerbu masuk kemari, pertama-tama ia membunuh Keng-tim Suthay serta kedua bocah itu, kemudian mencuri obat pembingung sukma milik Gi Jian-cau serta mencekokkan obat tadi kepada kawanan jago lainnya, akibatnya terjadilah peristiwa saling bunuh yang mengerikan ini, entah bagaimana pula menurut pendapatmu atas dugaanku ini?"

"Tentu saja masuk akal juga," Tan Sam-cing menanggapi.

"Dan menurut dugaanku, bisa jadi si pembunuh adalah orang-orang Sam-cing-koan."

"Betul, bisa jadi si pembunuh sudah mengenal keadaan dalam kuil Sam-cing-koan," katanya membenarkan.

 

Paras muka Tio Tian-seng berubah kereng dan serius, kembali ia berkata, "Tan-koancu, bila kau gagal menemukan sang pembunuh, maka kau sendiri sulit untuk meloloskan diri dari kecurigaan kami."

Tan Sam-cing tertawa dingin, "Rupanya Tio-pangcu menuduh Pinto sebagai Hek-mo-ong?"

"Kecuali kau dapat menunjukkan siapakah Hek-mo-ong yang sesungguhnya," sahut Tio Tian-seng sambil tertawa dingin pula.

"Tio-pangcu, berulang kali kau menuduhku sebagai Hek-mo-ong, sesungguhnya apa yang terkandung di balik tuduhan jahatmu itu?"

"Berdasarkan berbagai kecurigaan dan bukti yang kudapat, Tan-koancu memang patut dicurigai sebagai gembong iblis terkutuk itu."

"Seandainya aku adalah Hek-mo-ong, maka kalian berdua anggap masih bisa hidup sampai sekarang?"

 

"Hari ini, seandainya aku memasuki kuil Sam-cing-koan seorang diri, besar kemungkinan sudah mengalami musibah dan terbunuh mati," kata Tio Tian-seng dingin, "tapi sayangnya kehadiranku sekarang justru ditemani oleh seorang jago lihai lain yakni sastrawan cacat, biarpun Hek-mo-ong berkepala tiga enam lengan, belum tentu ia mampu menghadapi diriku serta sastrawan cacat bersama-sama. Inilah yang menyebabkan kami bisa hidup sampai sekarang dalam keadaan selamat."

"Hek-mo-ong bisa membunuh orang tanpa menunjukkan wujud serta bayangan tubuhnya," kata Tan Sam-cing dingin. "Seandainya Pinto adalah Hek-mo-ong, maka kalian berdua tak akan bisa lolos dari kuil Sam-cing-koan ini."

 

Sementara itu Bong Thian-gak sedang memikirkan kedua baris kata yang ditinggalkan Keng-tim Suthay menjelang ajalnya. Berdasarkan kedua kalimat itu, bisa jadi Keng-tim Suthay telah menduga sebelumnya akan terjadi suatu peristiwa di situ.

Itulah sebabnya dia menyembunyikan sebutir pil pengembali sukma dalam Hud-timnya sebelum dia ajal, Keng-tim Suthay berpesan pula agar Gi Jian-cau dibunuh, mungkinkah si tabib sakti adalah jelmaan Hek-mo-ong?

 

Tapi ada persoalan lain yang membingungkannya, andaikata Gi Jian-cau benar-benar adalah otak di belakang layar yang menyetir Put­gwa-cin-kau dan juga adalah Hek-mo-ong, lantas mengapa pula dia mesti mengolah obat pengembali sukma?

Bong Thian-gak tidak berani mengutarakan peristiwa itu kepada siapa pun, dia tak ingin orang lain mengetahui pesan terakhir Keng-tim Suthay

Menurut pendapatnya, tuduhan Tio Tian-seng kepada Tan Sam-cing sebagai Hek-mo-ong memang terdapat pula beberapa bagian yang mencurigakan.

Maka sekarang untuk menyingkap teka-teki siapakah sebenarnya Hek-mo-ong, rasanya hanya bisa terungkap setelah Hek-mo-ong muncul.

 

Apa yang dikatakan Tan Sam-cing memang benar, Hek-mo-ong tak akan melepaskan dia serta Tio Tan-seng begitu saja, oleh karena itu mereka berdua tak perlu berdiam lebih lama lagi di sini.

Bong Thian-gak menghela napas, kemudian katanya, "Tio-pangcu, sekarang jejak Gi Jian-cau masih misterius, kita tak usah berdiam lebih lama lagi dalam kuil ini."

"Justru yang kukuatirkan adalah Gi Jian-cau masih bercokol dalam Sam-cing-koan."

"Seandainya dia masih berada dalam kuil Sam-cing-koan, sudah pasti Tan-koancu dapat mengatasinya."

Sementara itu Tan Sam-cing masih berdiri termenung, seakan-akan nedang memikirkan sesuatu, kemudian ia menghela napas panjang dan heial, pelan-pelan katanya, "Hai tua bangka, sejak hari ini Pinto akan terjun kembali ke dunia Kangouw."

Tatkala mengucapkan kata-katanya itu, mukanya memperlihatkan rasa sedih dan menderita yang tak terkirakan.

 

Kata-katanya diucapkan sangat lambat seakan membutuhkan dukungan kekuatan.

Sekulum senyuman segera menghiasi wajah Tio Tian-seng.

Tan Sam-cing memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng, lalu melanjutkan, "Namun di saat Pinto mengetahui siapakah Hek-mo-ong yang sebenarnya, maka seorang di antara kita berdua akan mampus dan pulang ke neraka."

Tio Tian-seng tersenyum.

"Sejak dulu, pedang lurus dan pedang sesat memang tak bisa hidup berdampingan, ibarat api dan air."

"Kalau kau sudah mengetahui akan hal itu, mengapa mesti menggunakan berbagai akal muslihat untuk memaksaku terjun kembali ke dunia persilatan?" seru Tan Sam-cing dengan penuh kepedihan.

"Sebab untuk membunuh Hek-mo-ong, kecuali pedang lurus dan pedang sesat bersatu, rasanya tiada yang mampu membendungnya."

"Kalau begitu tujuanmu adalah memaksaku terjun kembali ke dunia persilatan?"

"Selain itu masih ada satu hal lagi, yakni untuk membuktikan benarkah kau bukan Hek-mo-ong."

"Sejak puluhan tahun berselang, Pinto sudah menduga asal-usul Hek-mo-ong, di antara empat orang yang kucurigai, kau Tio Tian-seng termasuk salah seorang di antaranya."

 

"Bagus, bagus sekali!" kata Tio Tian-seng sambil tertawa. "Tan Sam-cing juga termasuk satu di antara empat orang yang kucurigai."

Bong Thian-gak hanya mengetahui sedikit hal yang menyangkut kedua orang Bu-lim Cianpwe ini, karenanya sikap permusuhan dan bersahabat yang ditunjukkan kedua orang ini membuatnya melongo kebingungan dan tak habis mengerti.

Setelah menghela napas panjang, kembali Tan Sam-cing berkata, "Apakah kalian berdua hendak meninggalkan kuil Sam-cing-koan?"

"Aku memang menunggu Tan-koancu bertindak sebagai petunjuk jalan," sahut Tio Tian-seng.

Di bawah petunjuk Tan Sam-cing, Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng keluar dari gua bawah tanah dan meninggalkan kuil Sam-cing-koan.

 

Di saat keduanya memasuki kuil Sam-cing-koan, waktu mendekati senja, tatkala meninggalkan tempat itu, waktu sudah tengah malam. Mereka berada dalam gua bawah tanah selama tiga jam lebih.

Pengalaman yang dialaminya selama tiga jam lebih yang singkat itu penuh diliputi perasaan tegang, seram, sedih, mengenaskan serta berbagai macam perasaan lainnya.

Kematian Keng-tim Suthay membuat Bong Thian-gak sedih, murung dan kesal atas masa depan Hiat-kiam-bun.

Hiat-kiam-bun dari tangan Keng-tim Suthay telah diserahkan ke Bong Thian-gak. Walaupun hanya dalam tujuh hari yang singkat, namun sejak pertarungan berdarah di kuil Hong-kong-si, tampaknya anak murid Hiat-kiam-bun telah menderita kerugian cukup parah, hampir separoh anggota tewas dan terluka parah, terutama kematian Keng-tim Suthay dan Ang Teng-sui sekalian jago-jago tangguh saat ini, Hiat-kiam-hun sedang berada di ambang kehancuran.

"Ai!" helaan napas berat dan pedih akhirnya keluar dari mulut Bong Thian-gak.

Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng menengok sekejap ke arahnya, lalu menegur, "Bong-laute, mengapa kau menghela napas panjang?"

"Tidak apa-apa," sahut Bong Thian-gak sambil menggeleng. "Entah Tio pangcu hendak pergi kemana?"

 

"Aku hendak pergi mengejar si tabib sakti."

"Darimana kita bisa mengetahui jejaknya?"

"Bila jejaknya sudah ketahuan, urusan akan bisa diselesaikan dengan mudah. Bong-laute, kau hendak kemana?"

Bong Thian-gak termenung beberapa saat, lalu sahutnya pula, "Ho.mpwe bermaksud berpisah dengan Locianpwe untuk sementara Waktu."

"Mau kemana? Apakah pergi ke Ho-pak?"

"Benar, aku ingin menuju Ho-pak dan memberitahu kematian Keng tim Suthay kepada putrinya."

 

"Bong-laute, aku hendak memberitahukan satu hal kepadamu, dalam pertarungan di kuil Hong-kong-si tempo hari, terdapat banyak sekali jago lihai yang terluka parah, keselamatan jiwanya terancam dan mereka sedang menunggu kehadiran si tabib sakti Gi Jian-cau untuk mengobati lukanya. Apakah Bong-laute bersedia meninggalkan dulu dendam pribadimu untuk mendampingi diriku mencari si tabib sakti?"

"Ah, siapa saja yang terluka dalam pertarungan itu?" tanya Bong Ihlan gak berseru tertahan.

"Mereka yang lolos dari kematian adalah Hong-kong Hwesio, Mo Im Sin Kiam, Han Siau-liong, To Siau-hou, tiga puluh empat jago kami. Kecuali Liu Khi, yang lain terkena racun jahat yang dilepaskan Ji-kaucu. Sekarang keselamatan jiwa mereka terancam."

 

"Ah, jika mereka gagal mendapatkan pengobatan dari si tabib sakti, bukankah jiwa mereka akan hilang?" seru Bong Thian-gak sangat terkejut.

"Ya, tentu saja sulit bagi mereka meloloskan diri dari musibah itu."

"Lantas bagaimana cara kita menemukan si tabib sakti?" tanya Bong Thian-gak sesudah temenung sebentar.

"Lebih baik kita menunggu kabar Tan Sam-cing di kota Lok-yang."

"Apakah Tan Sam-cing mengetahui jejak si tabib sakti itu?"

"Si tabib sakti lenyap dalam kuil Sam-cing-koan, tentu saja Tan Sam-cing seorang yang bisa mengejar dan mendapatkan jejaknya."

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang,

"Andaikata Tan Sam-cing tidak menyampaikan kabar itu kepada kita?"

"Kecuali Tan Sam-cing adalah Hek-mo-ong atau dia enggan terjun kembali ke dunia persilatan. Kalau tidak, dalam tiga hari mendatang sudah pasti kita akan memperoleh kabar dari Tan Sam-cing."

"Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak menghela napas panjang, "aku dapat merasakan bahwa di antara kau dan Tan Sam-cing, rasanya terjalin suatu hubungan budi dan dendam yang rumit."

Mendadak Tio Tian-seng menghentikan langkah, jawabnya, "Benar di antara kami berdua memang terjalin hubungan budi dan dendam yang tak bisa disampaikan kepada siapa pun."

 

Tio Tian-seng berhenti, Bong Thian-gak pun ikut menghentikan langkah, kemudian memandang sekeliling tempat itu. Malam itu kabut sangat tebal, sejauh mata memandang hanya warna putih menyelimuti padang rumput itu. Suasana begitu hening, sepi, tiada angin yang berhembus, tiada suara, rumput pun seakan-akan turut tak bergoyang.

Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Tio Tian-seng, dia mengawasi hutan di hadapannya tanpa berkedip.

 

Tergetar hati Bong Thian-gak melihat hal ini, segera tegurnya, "Tio-pangcu, apa yang kau temukan?"

"Bau musuh."

"Musuh?" semangat Bong Thian-gak berkobar kembali. "Dimana j mereka?"

"Tunggu dulu! Jika mataku belum kabur, aku yakin musuh yang kita hadapi sekarang adalah tokoh persilatan yang menakutkan."

"Kau maksudkan Hek-mo-ong?" tanya Bong Thian-gak terkejut. Tio Tian-seng manggut-manggut.

"Ya, sebaiknya kita duduk bersila di sini menunggu datangnya fajar."

 

Seusai berkata, Tio Tian-seng segera duduk bersila di atas tanah.

"Benarkah kita akan menunggu sampai datangnya fajar?" Bong Thian-gak bertanya lagi dengan kening berkerut.

"Tengah malam sudah tiba, rumah penginapan di kota sudah tutup pintu, jangan harap kita bisa mendapatkan rumah penginapan dalam keadaan begini. Apa salahnya kita menginap semalam di udara terbuka?"

 

Mendengar jawaban itu, Bong Thian-gak segera berpikir, "Aneh, mengapa Tio Tian-seng begitu takut terhadap Hek-mo-ong? Hanya angin yang menghembus rumput saja sudah membuatnya tegang dan salah mengira sebagai kehadiran Hek-mo-ong."

Walaupun dalam hati dia merasa geli, namun ia pun duduk bersila di namping Tio Tian-seng.

Padahal satu jam kemudian fajar telah menyingsing sehingga mereka tak perlu mencari tempat penginapan.

 

Sementara itu suara di sekeliling sana terasa begitu hening dan sepi hingga tampak mengerikan, dua orang tokoh sakti duduk bersila di atau tanah sambil mengatur napas. Dalam keadaan begini, jangankan kehadiran manusia, daun rontok pun dapat mereka dengar dengan jelas.

Namun kedua orang itu tidak mendengar sedikit suara pun, Tio Tian seng mulai berpikir, "Ah, mungkin aku salah melihat tadi."

 

Mendadak telinganya menangkap suara dengingan nyamuk di sisi tubuhnya.

Cepat Tio Tian-seng membuka mata.

Bong Thian-gak yang berada di sampingnya sudah menepuk tubuh sendiri, jelas ia sudah menepuk mati seekor nyamuk.

Pula saat itu pula Tio Tian-seng merasa pipi kanannya digigit pula seekor nyamuk.

la segera membunuh nyamuk itu.

 

Perbuatan yang dilakukan kedua orang itu bersamaan waktunya dan kebetulan sekali, tapi justru itu menimbulkan kecurigaan Mo-kiam­ sin-kun Tio Tian-seng yang banyak akal dan matang pengalaman ini.

Perasaannya kontan bergetar keras, dengan cepat ia berkat "Bong-laute, tidak kau rasakan datangnya kedua ekor nyamuk tadi rada aneh."

"Di tengah padang rumput memang banyak lalat dan nyamuk, apa yang aneh?"

"Malam ini kabut sangat tebal, udara pun lembab, darimana bisa muncul nyamuk? Dan pula cuma dua ekor saja."

 

Belum habis berkata, terdengar lagi suara dengingan nyamuk, kali ini muncul tiga ekor.

Tio Tian-seng segera mengebas ujung bajunya melepas pukulan k depan.

Agaknya leher Bong Thian-gak telah tergigit oleh seekor nyamuk dia mengayun tangan dan membunuh seekor lagi.

Mendadak Tio Tian-seng berdiri, lalu serunya dengan suara dalam, "Bong-laute, mari kita cepat pergi."

"Tio-pangcu hendak kemana?" tanya Bong Thian-gak tertegun.

"Kita sudah terkena serangan gelap musuh," kata Tio Tian-sen dengan paras muka berubah hebat.

"Tio-pangcu, kau maksudkan beberapa ekor nyamuk tadi?" tany sang pemuda keheranan.

"Benar, nyamuk itu adalah nyamuk beracun yang dilepas musuh untuk menyerang kita."

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Bukankah Tio-pangcu telah tergigit oleh nyamuk itu? Apakah ka merasakan sesuatu gejala aneh dalam tubuhmu?"

"Tubuhku tidak merasakan sesuatu gejala aneh, namun aku tahu nyamuk itu bukan nyamuk biasa yang banyak terdapat di padang rumput. Bong-laute, lebih baik turuti kata-kataku, mari kita tinggalka tempat ini secepatnya."

Bong Thian-gak tertawa ringan sambil berdiri, sahutnya, "Ka hendak kemana? Harap Tio-pangcu membuka jalan!"

 

Tio Tian-seng mengerahkan ilmu meringankan tubuh meluncur ke arah kota Lok-yang, Bong Thian-gak mengikut di belakangnya deng ketat.

Sesudah menempuh perjalanan sejauh tiga li lebih, tiba-tiba Bong Thian-gak menjerit kaget.

Tio Tian-seng segera menghentikan langkah seraya berpaling, tegurnya, "Kenapa kau, Bong-laute?"

"Boanpwe mulai merasa gatal dan panas sekali di sekitar tempat yang tergigit nyamuk tadi."

Berubah hebat paras Tio Tian-seng, serunya gelisah, "Benarkah perkataanmu itu?"

"Bukankah kau sendiri juga tergigit nyamuk? Apakah kau tidak merasakan gejala itu."

"Oh, belum."

"Mungkin kita bukan terkena serangan musuh."

"Lebih baik kita duduk bersemedi, kita coba mendesak keluar racun yang mengeram dalam tubuh dengan mengandal tenaga dalam."

 

Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, dia merasa jaraknya dengan kota Lok-yang sudah tidak jauh lagi, bahkan di depan situ sudah tampak rumah penduduk.

Maka dia pun menjawab, "Rasa gatal dan panas tidak kurasakan, lebih baik kita berangkat ke kota Lok-yang!"

"Nyamuk itu tak salah lagi adalah nyamuk beracun. Mumpung racunnya belum mulai bekerja, lebih baik kita coba mendesaknya keluar dengan tenaga dalam, siapa tahu masih belum terlambat."

 

Siapa tahu baru selesai dia mengucapkan perkataan itu, mendadak ilari belakang tubuh mereka terdengar seorang menyambung, "Sayang sudah terlambat, kalian sudah tergigit nyamuk beracun. Nyamuk itu merupakan nyamuk penghancur darah yang berasal dari wilayah Biau. Seandainya di tempat ini ada sinar lentera, maka kalian pasti sudah melihat kulit kalian pucat sekali."

Mendengar perkataan itu, Tio Tian-seng dan Bong Thian-gak segera membalikkan badan.

Di belakang mereka, di bawah sebatang pohon di tepi jalan, tampak seseorang berdiri di situ.

 

Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak segera membentak, "Siapa kau?”

Pelan-pelan orang itu berjalan ke depan, lalu sahutnya, "Wanita Biau dari bukit Bong-san, Biau-kosiu!"

Begitu selesai berkata, ia sudah tiba di hadapan Bong Thian-gak berdua.

Di bawah cahaya rembulan, tampak gadis suku Biau ini berwajah cantik, mengenakan pakaian pendek dan sempit, lengannya telanjang, kulit tubuhnya halus dan putih, potongan badannya tinggi semampai, mendatangkan rangsangan bagi siapa pun yang memandangnya.

Wajah bulat telur dengan mata jeli, hidung mancung dan bibir kecil mungil, wajah yang cantik menawan hati.

 

Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng tertegun melihat kemunculan gadis muda itu, dalam hati mereka merasa keheranan.

Sesudah tertegun beberapa saat, Bong Thian-gak menegur, "Kau yang melepaskan nyamuk-nyamuk beracun itu untuk melukai kami?"

Gadis Biau yang cantik jelita itu mengedipkan matanya yang jeli, kemudian setelah memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, ia menggeleng, "Bukan."

"Kalau begitu kau tahu siapa yang telah turun tangan mencelakai kami?"

"Tentu saja tahu."

"Siapakah dia? Cepat katakan."

"Mengapa aku mesti memberitahukan kepadamu?"

 

Tio Tian-seng menghela napas sedih, kemudian menimbrung, "Nona mengetahui begitu jelas tentang sifat dan kemampuan nyamuk penghancur darah, berarti nona pun dapat menyembuhkan racun akibat gigitan nyamuk itu bukan?"           

Biau-kosiu atau gadis Biau yang cantik jelita itu memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng, kemudian menyahut, "Sebagai suku Biau, jangankan aku, bocah tiga tahun pun dapat menyembuhkan, cuma sayang nyamuk penghancur darah yang menggigit kalian merupakan nyamuk penghancur darah peliharaan orang lain, jadi sifat racunnya tidak mudah disembuhkan begitu saja."

"Bila nona dapat menolong kami menyembuhkan gigitan nyamuk ini, budi kebaikanmu tak akan kulupakan selamanya," ucap Tio Tian-seng dengan sedih.

 

Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka Tio Tian-seng akan memohon pertolongan gadis itu.

"Boleh saja kutolong kalian, cuma aku tak bakal menolong kalian berdua begitu saja," ucap si nona suku Biau dengan suara merdu.

"Nona mempunyai syarat? Apa syaratnya?"

"Bila aku beri obat penawar racun pada kalian, besar kemungkinan ada orang hendak turun tangan jahat kepadaku. Oleh sebab itu aku minta kalian berdua melindungi keselamatan jiwaku."

"Syarat ini sangat gampang, kami menyanggupi permintaanmu itu," sahut Tio Tian-seng cepat.

"Orang persilatan paling mengutamakan pegang janji, kalian jangan menyesal di kemudian hari."

 

Dengan suara lantang Bong Thian-gak segera berseru, "Sekalipun nona tidak menghadiahkan obat kepada kami, seandainya jiwa nona terancam oleh manusia laknat, kami juga bersedia membantumu."

Gadis suku Biau itu menggeleng kepala berulang-kali.

"Yang kumaksudkan melindungi keselamatan jiwaku adalah kalian berdua mesti selalu mendampingiku, mengawal aku kemana pun aku pergi dan mengikuti perintahku."

"Ah, kalau soal ini sulit kukabulkan," ucap Bong Thian-gak.

"Kalau tidak setuju, ya sudah, selamat tinggal!" kata gadis suku Biau itu ketus.

 

Seusai berkata, ia membalikkan badan dan segera beranjak pergi. Dengan suara dalam Tio Tian-seng berseru, "Nona, harap tunggu sebentar!"

"Kalian setuju?" tanya si gadis sambil berpaling.

Tio Tian-seng tertawa rawan, ia tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya bertanya, "Apakah nona membawa obat penawar racun itu?"

"Apakah kalian berniat merampas dengan kekerasan?"

"Tidak berani, aku hanya ingin bertanya dimanakah nona berdiam?"

"Buat apa kau tanyakan hal ini?"

"Jika suatu ketika kami berubah pendirian, kami bisa langsung pergi mencari nona!"

"Dengan mengetahui tempat tinggalku, bukankah kalian pun mempunyai peluang untuk mencuri."

"Nona begitu cermat hati-hati dan cerdik. Sekalipun kami berniat mencuri, mana mungkin akan berhasil?" Gadis Biau itu tertawa dingin.

"Aku berdiam di rumah penginapan Ban-heng di kota Lok-yang. Selewat dua belas jam jika kalian belum juga mendapatkan obat penawar racun itu, maka racun yang mengeram dalam tubuh kalian tak akan terobati lagi."

Habis berkata, gadis Biau itu menggoyang pinggul dan berkelebat pergi, bayangannya lenyap di balik kegelapan sana.

 

 

 

Memandang bayangan tubuhnya, Tio Tian-seng menghela napas panjang, kemudian ujarnya, "Bong-laute, apakah kita mesti menunggu datangnya malaikat maut mencabut nyawa kita?"

"Kecuali memenuhi syarat yang diajukan olehnya, terpaksa memang kita hanya bisa menunggu datangnya ajal."

Tio Tian-seng tertawa pedih.

"Sekarang kita cuma ada dua jalan saja yaitu menggertaknya agar mau menyerahkan obat penawar racun atau pura-pura menyanggupi permintaannya."

"Aku takut berbuat begitu, kita akan kehilangan pamor sebagai umat persilatan."

 

Sekali lagi Tio Tian-seng tertawa sedih, "Dalam persilatan banyak terjadi peristiwa yang merugikan pihak lain seperti ini. Bila kita berhasil merenggut nyawanya pun, aku rasa hal ini bukan suatu dosa besar, mengingat tindakannya berpeluk tangan melihat jiwa orang terancam sudah melanggar peraturan dunia persilatan."

"Tio-pangcu," kata Bong Thian-gak kemudian sesudah menghela napas sedih, "sudah kau saksikan bahwa perempuan ini sangat cerdik, teliti dan seksama, caranya bicaranya pun sangat diplomatis dan tajam, aku lihat dia bukan perempuan biasa."

"Aku memang dapat merasakan, gadis ini berbeda sekali dengan kebanyakan gadis lain, tapi kita kan tak bisa berpeluk tangan menanti tibanya ajal bukan?"

 

Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas, setelah mengangkat kepala dan memandang cuaca, dia berkata, "Sekurangnya kentongan kelima telah tiba, lebih baik kita berdiam dulu di rumah penginapan Ban-' heng sambil menunggu perkembangan situasi!"

Tio Tian-seng menyetujui usul Bong Thian-gak, maka dengan langkah pelan berangkatlah mereka ke kota Lok-yang.

Sambil berjalan Bong Thian-gak bertanya, "Tio-pangcu, apakah kau sudah merasakan sesuatu perubahan di dalam tubuhmu?"

"Ya, pipiku mulai terasa panas."

"Ai, aku pun mulai merasa kaku pada sekeliling mulut luka itu."

"Berarti kita benar-benar sudah terkena racun. Bisa jadi satu jam kemudian, sekujur badan kita akan menjadi kaku dan tidak dapat bergerak lagi, mari kita percepat perjalanan kita!"

Sambil berkata, kedua orang itu menggunakan Ginkang menuju ke arah dinding kota.

 

Dalam perjalanan, tiba-tiba dari balik kegelapan sana terdengar suara bentakan nyaring, "Kalian kawanan manusia laknat darimana? Ayo cepat kalian sebutkan namamu!"

Bong Thian-gak menjadi tertegun mendengar suara itu, katanya kemudian, "Tio-pangcu, nada suara ini sangat kukenal, apakah suara gadis suku Biau itu?"

"Benar," Tio Tian-seng mengangguk, "memang suaranya, mari kita tangok ke sana!"

Kedua orang itu segera mengubah arah dan menuju ke sudut kota sebelah utara.

Di sisi dinding kota, di bawah beberapa batang pohon besar, tampak delapan lelaki kekar berbaju hitam dengan pedang terhunus sedang mengepung gadis suku Biau.

 

Sedang di balik kegelapan di sisi dinding kota rasanya masih terdapat pula sekelompok orang sedang mengawasi arena.

Sebenarnya Bong Thian-gak hendak melompat keluar tapi Tio Tian Seng segera menarik tangannya sambil berbisik, "Tunggu dulu, mari bila selidiki dulu asal-usul gadis suku Biau itu!"

Mereka berdua lantas menyelinap ke balik pohon besar.

Dalam pada itu kedelapan lelaki kekar berpedang itu sudah mulai melancarkan serangan, tiga orang pertama dengan ketiga pedangnya secepat kilat melancarkan tusukan ke gadis itu.

Dari kecepatan mereka melancarkan serangan, dapat dilihat kepandaian silat orang-orang itu cukup hebat.

 

Siapa sangka baru saja ketiga lelaki itu melancarkan serangannya, tiba-tiba bergema jerit kesakitan yang memilukan seperti jeritan babi yang disembelih.

Ketiga orang itu tahu-tahu sudah membuang pedang mereka dan menutup wajah dengan kedua belah tangan dan bergulingan di atas tanah, tak lama kemudian mengejang keras dan tak berkutik lagi untuk selamanya.

Kejadian di depan mata ini kontan membuat semua jago lainnya berkerut kening, sebab barusan tak seorang pun di antara mereka yang melihat bagaimana gadis Biau melepaskan serangan.

 

Dengan terkejut Bong Thian-gak segera bertanya, "Tio-pangcu, sudahkah kau lihat dengan kepandaian apakah ia melukai musuh-musuhnya?"

Tio Tian-seng menggeleng.

"Sepasang tangannya sama sekali tidak bergerak, tapi musuh segera menjerit kesakitan. Mungkin ada orang lain yang membantunya secara diam-diam?"

"Tempat persembunyian kita letaknya cukup strategis, semua penjuru arena bisa terlihat dengan jelas, tapi kenyataan kita tidak melihat kehadiran orang lain di seputar arena yang telah membantunya."

"Aku rasa ketiga orang itu seperti tewas oleh serangan senjata rahasia beracun yang kecil dan lembut bentuknya, bisa jadi sebangsa jarum bunga Bwe atau sebangsanya yang melukai mata mereka. Kalau begitu gadis itu melepaskan senjata rahasia dengan menggunakan semburan mulut."

 

Belum selesai ia berkata, lima lelaki berbaju hitam lainnya sudah menggerakkan pedang memainkan selapis kabut pedang, kemudian bersama-sama melancarkan bacokan kilat yang sangat hebat.

Kali ini gadis Biau itu melakukan putaran badan satu lingkaran, jeritan demi jeritan ngeri yang menyayat hati sekali lagi berkumandang.

Yang lebih mengerikan lagi adalah gadis Biau itu masih belum juga menggerakkan tangan melancarkan serangan, tapi hasilnya kelima orang itu sudah roboh bergulingan sambil menjerit kesakitan, bahkan jiwa mereka melayang.

 

Bong Thian-gak pun berseru tertahan, lalu bisiknya, "Perkataan Tio-pangcu memang benar, jarum beracun itu disemburkan lewat mulut."

Dalam pada itu rombongan orang yang berdiri di sisi dinding kota malah menerjang tiba dengan gerakan cepat, mereka terdiri dari delapan utang lelaki berbaju hitam pula.

Mendadak bergema suara bentakan, "Mundur!"

Kedelapan orang yang sudah menerjang ke depan tadi serentak menghentikan langkah.

Dari balik kegelapan pelan-pelan muncul seorang, setelah tertawa terbahak-bahak ia berkata, "Jarum beracun nona memang lihai sekali. Malam ini aku benar-benar memperoleh pengetahuan yang sangat berharga, rasanya di kolong langit dewasa ini hanya satu orang yang mampu menyebarkan racun melalui mulut, dia adalah Kui-kok Sianseng duri bukit Bong-san."

 

Gadis Biau itu tertawa kecil.

"Kau mampu melihat semburan jarum beracunku lewat mulut, ketajaman matamu memang pantas disebut jagoan persilatan. Ayo sebutkan siapa namamu!"

Kakek bungkuk itu kembali tertawa.

"Aku she Bu bernama Seng."

Begitu si kakek bungkuk menyebut namanya, Tio Tian-seng segera berbisik lirih, "Ah, dia adalah si pukulan tanpa wujud Bu Seng."

"Tio-pangcu apakah dia adalah pukulan tanpa wujud Bu Seng yang angkat nama bersama guruku Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu pada empat puluh tahun berselang?" tanya Bong Thian-gak.

 

Tio Tian-seng mengangguk membenarkan.

"Betul, kalau dibilang siapa-siapa saja yang termasyhur dalam Bu-llm karena ilmu pukulannya, maka orang pertama adalah gurumu Oh Ciang hu almarhum, kemudian Bu Seng. Sungguh tak kusangka Bu Seng masih hidup."

Sementara itu setelah kakek bungkuk itu menyebut namanya, sambil tersenyum gadis Biau itu berkata, "Pukulan tanpa wujud Bu Seng memang termasyhur dalam persilatan, namun malam ini di sini masih hadir pula seorang yang mempunyai nama besar lebih termasyhur daripadamu dan orang itu sudah menjadi pengawalku sekarang."

Mendengar itu, si kakek bungkuk tertawa terbahak-bahak, "Siapa nama besar pengawal nona itu?"

Agaknya dia belum percaya atas perkataan gadis Biau itu.

 

Sesungguhnya berapa orangkah yang mempunyai nama dan kedudukan yang lebih tinggi daripada dirinya saat ini?

"Si tua Bu, rupanya kau tidak percaya perkataanku ini," seru gadis itu sambil tertawa. "Coba jawab, cukup tenarkah nama besar Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng dalam dunia persilatan?"

Mendengar kata-katanya itu, Bong Thian-gak segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Tio Tian-seng.

Tampak Tio Tian-seng menggeleng kepala sambil tertawa getir, "Wah, agaknya dia telah menganggap kita berdua sebagai pengawalnya."

 

Sementara itu si kakek bungkuk sudah dibuat serba salah oleh perkataan lawan, dengan wajah meringis katanya, "Tio Tian-seng adalah Kay-pang Pangcu, masakah dia pengawalmu? Benar-benar melantur dan tak bisa dipercaya."

"Hei, si tua Bu, bagaimana kalau kita bertaruh?" tantang si gadis suku Biau itu dengan suara merdu.

"Bagaimana caranya bertaruh?"

"Seandainya Tio Tian-seng adalah benar-benar pengawalku, kau mesti segera mengundurkan diri dan tidak lagi mencari gara-gara kepada nonamu ini, setuju?"

 

 

Kakek bungkuk itu tertawa keras, "Hahaha, bagaimana caramu membuktikan bahwa Tio Tian-seng adalah pengawalmu? Apakah cuma mengandalkan bibirmu yang pandai bicara itu?"

"Oh, soal itu mudah untuk dibuktikan. Asal aku mau, dapat kuperintahkan Tio Tian-seng menuruti perintahku."

"Bagaimana seandainya kau yang kalah?"

"Kalau aku kalah, maka terserah kepada perintahmu, aku tak akan melawan sedikit pun juga."

Kakek bungkuk itu memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu ujarnya, "Nona, kau sudah kalah."

"Mau bertaruh atau tidak, terserah pada keputusanmu sendiri," jengek si nona Biau sambil tertawa dingin.

"Nona telah membunuh delapan orang anak buahku, aku tak sudi bergurau denganmu lagi," tukas si kakek bungkuk itu ketus.

 

"Aku tahu, sepasang telapak tanganmu itu lihai dan tiada tandingannya. Sekali turun tangan, maka sudah pasti aku akan tewas di tanganmu."

Sampai di situ, tiba-tiba ia menghentikan perkataannya.

Sudah jelas perkataan itu memang sengaja diucapkan agar terdengar oleh Tio Tian-seng.

Pada saat itulah dengan suara lirih Bong Thian-gak bertanya, "Tio-pangcu, bagaimana keputusanmu?"

"Tampaknya ia sudah tahu kita telah menyembunyikan diri di sekitar sini, maksud tujuannya jelas hendak memaksa kita menampakkan diri."

"Tio-pangcu adalah seorang terhormat dengan kedudukan mulia, kau tak boleh memberi kesan kepada orang lain bahwa dirimu adalah pengawalnya. Biar Boanpwe saja yang tampil melihat keadaan."

 

Selesai berkata, pemuda itu segera melompat ke udara dan melayang turun di sisi kiri gadis Biau itu bagaikan malaikat yang turun dari kahyangan, setibanya di situ dia membungkam.

Diam-diam si kakek bungkuk itu terkejut menyaksikan gerakan Bong Thian-gak yang amat sempurna, diawasinya pemuda itu beberapa saat, kemudian tegurnya, "Apakah orang ini adalah pengawalmu?"

Dengan matanya yang jeli, gadis Biau mengerling sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu dengan senyuman bangga yang menghiasi ujung bibirnya ia menyahut, "Benar, dia adalah pengawalku!"

"Kalau begitu biar kubunuh pengawalmu ini terlebih dahulu," seru si kakek bungkuk sambil tertawa dingin.

 

Tiba-tiba si kakek bungkuk mengayun telapak tangan kanannya ke depan, segulung angin pukulan yang tak berwujud bagaikan amukan Mmhak di tengah samudra langsung menggulung ke arah anak muda itu.

Bong Thian-gak tidak menyangka lawan segera melepas serangan begitu selesai mengatakan akan turun tangan. Sambil mendengus pemuda itu mengayun lengan tunggalnya menyambut datangnya ancaman kakek bungkuk itu dengan keras melawan keras.

 

Sementara itu dalam pikiran si kakek bungkuk ia justru kuatir apabila Bong Thian-gak berkelit dan tak berani menyongsong datangnya serangannya dengan kekerasan.

Maka begitu melihat lawannya menyambut ancaman itu dengan kekerasan, ia segera berpikir sambil tertawa geli, "Bocah keparat, kau sudah ingin mampus rupanya."

Belum habis ingatan itu melintas, dua gulung angin pukulan tanpa wujud sudah saling bentur.

Gelombang angin pukulan yang saling bentur itu seketika menimbulkan pusaran serta desingan angin tajam yang mengerikan dan melontarkan pasir serta debu hingga memenuhi angkasa.

 

Akibat benturan yang amat keras itu sepasang bahu kakek itu bergetar keras hingga tak dapat dicegah lagi tubuhnya terdorong mundur sejauh tiga langkah.

Sebaliknya Bong Thian-gak juga mendengus tertahan, lalu secara beruntun dia mundur tiga langkah dengan sempoyongan.

Ketika kakek bungkuk itu melihat Bong Thian-gak masih berdiri segar bugar di tempat, paras mukanya kontan berubah hebat, setelah tertawa dingin katanya, "Ehm, dari kemampuanmu menyambut seranganku tadi, bisa kuduga tenaga dalam yang kau miliki benar-benar amat sempurna."

 

Pada saat itu Bong Thian-gak harus menerima semuanya itu tanpa menjawab, karena itu dia berlagak bisu dan tuli serta tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Sesudah tertawa bangga, gadis suku Biau itu berkata kembali, "He, si tua Bu, kau jangan keburu bangga dulu dengan mengira ilmu pukulanmu sudah tiada taranya di dunia ini. Ketahuilah pada malam ini kau telah bertemu dengan lawan tandingmu, tentunya kemampuan yang dimiliki anak buahku itu tidak lebih lemah daripada kemampuan yang kau miliki bukan?"

 

Sebenarnya kakek bungkuk ini memang agak bergidik dibuatnya, tapi di luar ia tetap berkata sambil tertawa dingin, "Siapa nama besar pengawalmu ini?"

Gadis suku Biau itu tersenyum.

"Jika kusebut namanya, besar kemungkinan kau akan terperanjat." Sekali lagi si kakek bungkuk mengawasi Bong Thian-gak sekejap, lalu dengan kening berkerut katanya, "Jangan kuatir, nyaliku cukup besar, coba katakan orang ternama darimanakah pengawalmu itu hingga tela bertekuk lutut menjadi budak orang."

 

Bong Thian-gak kontan mengerut dahi, hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya.

Kembali gadis suku Biau itu berkata sambil tersenyum, "Dia adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak, pernah kau dengar nama orang Ini?"

Berubah hebat paras muka si kakek bungkuk itu, segera ia berpaling ke arah Bong Thian-gak dan bertanya, "Benarkah kau adalah Jian ciat-suseng?"

"Benar, akulah orangnya," untuk pertama kalinya Bong Thian-gak bersuara dan menjawab dengan suara hambar.

 

Tiba-tiba kakek bungkuk itu tertawa terbahak-bahak, kemudian *erunya lantang, "Aku dengar kau telah mendirikan sebuah partai yang dinamakan Hiat-kiam-bun. Sungguh tak kusangka malam ini kau justru mengikat hubungan dengan perempuan liar ini, bahkan bersedia menjadi budaknya. Peristiwa ini benar-benar tidak kusangka."

"Apa yang hendak kuperbuat, lebih baik kau tak usah ikut campur," kata Bong Thian-gak dengan suara dingin. "Bagaimana pun juga malam ini, Jian-ciat-suseng tak akan mengizinkan kau melukainya barang seujung rambut pun."

Sekali lagi kakek bungkuk itu tertawa terbahak-bahak, "Sudah puluhan tahun aku belum pernah bertemu seorang lawan tanding. Malam ini Jian-ciat-suseng memang perlu merasakan kemampuan sepasang telapak tanganku ini."

 

"Bu Seng, ilmu pukulan tanpa wujudmu meski sudah termasyhur di seluruh kolong langit belum tentu aku bukan tandinganmu, tapi malam ini orang yang melindungi keselamatannya bukan cuma aku orang. Oleh sebab itu kuanjurkan kepada Bu-locianpwe agar segera mengundurkan diri, kesempatan bagi kita untuk bertarung di kemudian hari masih cukup banyak."

"Siapa lagi yang berada di sini?" desak kakek bungkuk itu cepat.

 

Dengan suara dalam Bong Thian-gak menjawab, "Jangan kau tanya siapa orangnya, yang jelas dia adalah seorang tokoh sakti dari persilatan yang memiliki ilmu silat lebih tangguh daripada aku."

"Tahukah kau apa yang menjadi sengketa antara diriku dengan perempuan itu?" tegur si kakek bungkuk lagi.

"Walaupun aku tak tahu, namun kuharap Bu-locianpwe sudi memberi muka untuk kali ini saja, di kemudian hari aku pasti akan memohon maaf kepada Locianpwe."

Kakek bungkuk itu tertawa terbahak-bahak, "Baiklah kalau begitu, aku mengundurkan diri untuk sementara waktu."

 

Selesai berkata, dia lantas mengulap tangan, kedelapan lelaki berbaju hitam tadi serentak menggotong jenazah rekan-rekannya dan berlalu mengikut di belakang kakek bungkuk itu.

Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap di balik kegelapan sana.

Pada saat itulah dari bawah rindangnya pepohonan pelan-pelan berjalan keluar Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng.

Dengan suara rendah dan berat, Bong Thian-gak segera berkata kepada gadis suku Biau itu, "Nona, sekarang aku hendak bicara secara blak-blakan padamu. Kami bersedia membantumu menghadapi musuh mana pun, tetapi enggan menuruti perintah dan menjalankan tugas yang kau berikan."

"Tentunya nona tahu meskipun aku dan Tio-pangcu sudah keracunan, namun masih memiliki kekuatan untuk bertempur melawan musuh mana pun juga, tetapi demi keselamatan kami berdua, besar kemungkinan kami akan berbuat sewenang-wenang terhadapmu."

 

Biau-kosiu tertawa, "Kau menyebut diri sebagai pendekar, apakah kalian benar-benar akan turun tangan keji terhadap seseorang yang sama sekali tidak ada ikatan dendam maupun sakit hati terhadap dirimu?"

"Nona tak sudi menolong orang yang sedang susah, tiada setia kawan serta ingkar janji. Apakah kami pun akan membiarkan kau bertindak sewenang-wenang untuk keuntungan dirimu sendiri?"

Tiba-tiba Biau-kosiu menghela napas panjang, "Ai, semua itu gara-gara aku telah cerewet sehingga membocorkan kepada kalian bahwa aku dapat menyembuhkan racun sengatan nyamuk penghancur darah."

"Bila nona bersedia membantu kami, Bong Thian-gak tak akan melupakan budi kebaikanmu itu."

"Baiklah, aku bersedia menghadiahkan obat penawar racun untuk kailian berdua," ucap Biau-kosiu kemudian.

"Apakah obat penawar racun berada di rumah penginapan?"

"Ya, silakan kalian ikut aku kembali ke rumah penginapan Ban-heng!"

 

Rumah penginapan Ban-heng adalah rumah penginapan terbesar ili kota Lok-yang, bangunan rumahnya bersusun-susun dan kamarnya terdiri dari ratusan bilik, letaknya di sebelah barat dekat dinding kota.

Oleh karena itu Bong Thian-gak, Tio Tian-seng dan Biau-kosiu menelusuri dinding kota menuju ke bagian barat, kemudian melompati dinding benteng dan melayang masuk ke halaman rumah penginapan Han-heng.

Waktu itu kentongan kelima baru saja bergema, bintang dan rembulan telah tenggelam, langit dicekam kegelapan.

 

Dengan gerakan tubuh yang enteng, Biau-kosiu menelusuri halaman menuju gedung lapisan kedua dan pada akhirnya melayang turun ke muka sebuah pintu.

Baru saja mereka muncul, dari balik gedung sudah terdengar seorang perempuan menegur tapi penuh kasih sayang, "Anak Siu di situ?"

Menyusul cahaya lentera menerangi ruangan kamar.

"Nenek, Siu-ji yang datang," Biau-kosiu berseru manja.

Dari balik ruangan terdengar perempuan tua itu menegur lagi, "Siapakah kedua orang lainnya?"

 

Ketika mendengar teguran itu, paras muka Tio Tian-seng dan Hong Thian-gak sama-sama berubah hebat, pikir mereka, "Hebat, tajam dan cekatan benar pendengaran perempuan itu, padahal langkah kami sudah diusahakan seringan mungkin, sudah tidak menimbulkan sedikit suara pun, tapi anehnya mengapa pihak lawan bisa membedakan berapa orang yang telah datang?"

Dapatlah diduga perempuan di dalam ruangan itu adalah seorang Jagoan yang berilmu sangat tinggi.

 

Diam-diam Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng jadi kuatir, andaikata Biau-kosiu ingkar janji dan tak bersedia menyerahkan obat penawar racun, sanggupkah mereka berdua menandingi Biau-kosiu beserta perempuan tua itu?

Dalam pada itu Biau-kosiu termenung sesaat, tidak langsung menjawab, mendadak dari kegelapan muncul bayangan orang, tahu-tahu ada tiga orang telah mengurung Bong Thian-gak serta Tio Tian-seng.

Ketiga orang itu terdiri dari seorang nenek berambut putih berwajah merah, membawa toya kepala setan yang besarnya selengan bocah dan berwarna hitam pekat.

 

Di sisi nenek itu adalah seorang perempuan setengah umur yang tinggi kekar bermata tunggal berparas jelek serta bertelanjang kaki yang bentuknya sebesar gajah.

Sedang di sebelah kanannya adalah seorang lelaki kekar setengah umur yang hitam dan jelek, bermata tunggal dan berperawakan tinggi kekar, dia pun bertelanjang kaki.

Pada hakikatnya kedua orang terakhir ini merupakan pasangan yang amat serasi, baik lelaki maupun yang perempuan sama-sama berwajah bengis, buas, bermata tunggal dan bertelanjang kaki.

 

Dari kemampuan ketiga orang yang muncul tanpa menimbulkan sedikit suara, bahkan sanggup menyelinap dengan kecepatan tinggi, jelas kemampuan mereka sungguh hebat dan tak bisa dianggap enteng.

Seketika itu juga Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng dicekam oleh ketegangan yang luar biasa.

Sementara itu Biau-kosiu telah bersandar dalam pelukan si nenek berambut putih itu sambil berkata dengan manja, "Nenek, berilah dua butir pil penawar nyamuk beracun untukku, anak Siu telah berjanji akan menghadiahkan untuk mereka berdua."

 

Dengan penuh kasih sayang nenek berambut putih itu membelai rambut Biau-kosiu, lalu katanya, "Anak Siu, siapa kedua orang ini? Mengapa kau berjanji hendak menghadiahkan pil penawar nyamuk beracun itu kepada mereka?"

"Nenek janganlah bertanya terus, Siu-ji telah berjanji, tentu saja aku tidak ingin ingkar janji. Nenek, ayolah ambil pil itu!"

Tampaknya nenek berambut putih itu sangat menyayangi Biau-kosiu, ia segera menjawab, "Baik, nenek akan memberikan dua butir untuk mereka."

 

Seusai berkata, tiba-tiba nenek berambut putih itu mengeluarkan dua pil berwarna merah

dari dalam sebuah botol berwarna putih porselen, kemudian diserahkan ke tangan nona itu.

Setelah menerima pil itu, Biau-kosiu segera menyerahkan kepada Bong Thian-gak sambil ujarnya manja, "Cepat kalian telan pil itu dan tinggalkan tempat ini secepatnya!"

Bong Thian-gak menerima pil itu, baru saja hendak mengucapkan beberapa patah kata merendah, nona itu di bawah bimbingan si nenek berambut putih dan diikuti sepasang laki perempuan bermata tunggal itu sudah berlalu dari sana.

 

Bong Thian-gak hanya bisa menghela napas dan menyerahkan sebutir pil ke tangan Tio Tian-seng, kemudian mereka menelan pil itu.

Begitu pil itu masuk ke dalam mulut, bau harum semerbak memancar kemana-mana, pil segera mencair dan membaur dengan liur mengalir ke dalam perut.

Tak lama kemudian mereka berdua merasakan semangatnya berkobar kembali, dada terasa lapang dan segar.

Tio Tian-seng pun menarik Bong Thian-gak untuk diajak pergi dari situ.

"Kita hendak kemana?" tanya Bong Thian-gak.

"Mari kita memesan kamar dan tinggal di rumah penginapan ini."

Bong Thian-gak dan Tio Tian-seng pun menginap di rumah penginapan Ban-heng, jaraknya dari situ ke gedung yang ditempati Biau-kosiu sekalian cuma selisih sebuah beranda lebar.

Di dalam gedung yang mereka pesan terdapat dua buah kamar dengan bagian tengahnya merupakan ruang tamu. Ketika Tio Tian-seng pergi meninggalkan penginapan, dalam ruangan itu tinggal Bong Thian-gak seorang.

 

Perjalanan yang jauh semalam suntuk membuat Bong Thian-gak merasa agak lelah, ketika ia bersiap-siap masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, mendadak dari halaman muka bergema suara langkah kaki, lalu seseorang berkelebat dan di muka pintu sudah berdiri seorang sastrawan berbaju putih.        : -

Dengan terkejut Bong Thian-gak menegur, "Kau mencari siapa?"

 

Tampang sastrawan berbaju putih itu ganteng, mata jeli dan Indung mancung, mukanya putih bersih, ia menggenggam kipas putih dan menggembol sebilah pedang di punggungnya.

Dengan sorot mata tajam ia mengawasi wajah Bong Thian-gak lekat-lekat. Sekulum senyuman yang angkuh menghiasi ujung bibirnya, ia ganti menegur dengan lantang, "Kau yang bernama Jian-ciat-suseng?"

"Benar," Bong Thian-gak manggut-manggut. "Ada urusan apa kau datang mencariku?"

Sastrawan berbaju putih itu tersenyum.

"Aku she Liong bernama Oh-im."

Sekalipun Bong Thian-gak merasa agak bingung dan heran atas kedatangan tamu tak diundang ini, namun ia segera menyahut dengan nada gembira, "Oh, rupanya Liong-heng. Silakan duduk."

 

Tanpa sungkan sastrawan berbaju putih Liong Oh-im melangkah masuk ke dalam dan duduk di kursi tamu.

Bong Thian-gak menuang secangkir teh untuk tamunya, kemudian baru bertanya lagi, "Apakah Liong-heng mencari aku?"

"Benar," Liong Oh-im tertawa dingin. "Adapun kedatanganku tak lain adalah menanyakan beberapa persoalan kepada Bong-tayhiap."

"Liong-heng ada urusan apa, silakan saja utarakan secara terus terang," jawab Bong Thian-gak tertegun.

Kembali Liong Oh-im tertawa.

"Sebenarnya kita memang tidak saling mengenal. Karenanya bila kedatanganku telah mengganggu Bong-tayhiap, harap sudi memaafkan."

"Ah, empat penjuru adalah tetangga, empat samudra adalah saudara."

 

Tiba-tiba sastrawan berbaju putih merendahkan suara, kemudian berbisik, "Bong-tayhiap, sebenarnya persoalan yang hendak kutanyakan adalah masalah yang menyangkut hubungan Bong-tayhiap dengan Biau-kosiu."

"Kau maksudkan gadis suku Biau itu?" tanya Bong Thian-gak terperanjat.

Liong Oh-im tersenyum.

"Konon Bong-tayhiap menjadi salah satu pengawal Biau-kosiu? Apa benar kabar ini?"

Bong Thian-gak tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat, kemudian balik bertanya, "Ada urusan apa Liong­heng menanyakan hal ini?"

Kembali Liong Oh-im tertawa kering, "Aku hanya ingin tahu, benarkah Bong-tayhiap sudah menjadi pengawalnya?"

"Tidak," Bong Thian-gak menggeleng dengan tegas.

"Kalau memang Bong-heng bukan pengawal Biau-kosiu, buat apa kau tetap berada di sini untuk menyerempet bahaya?"

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Dengan berdiam dalam rumah penginapan ini, mungkinkah aku akan menjumpai ancaman maut?"

"Sudah banyak jago-jago lihai persilatan yang beranggapan bahwa Bong-tayhiap adalah orang Biau-kosiu. Dengan tetap berada di sini, bukankah sama artinya menjajakan diri menjadi sasaran kemarahan orang?"

Tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya, "Apakah kau berasal dari satu aliran dengan si pukulan tanpa wujud Bu Seng?"

"Betul, Bu Seng si tua itu tak lebih adalah panglima andalanku."

Bong Thian-gak sangat terkejut, segera pikirnya, "Jadi dia adalah anak buahnya? Lantas orang macam apakah Liong Oh-im?"

 

Bu Seng adalah tokoh silat yang pernah menggemparkan Bu-lim pada empat puluh tahun berselang, tapi sekarang dia tak lebih cuma seorang anak buah Liong Oh-im yang masih begitu muda.

Tentu Liong Oh-im adalah seorang yang mempunyai asal-usul luar biasa.

Bong Thian-gak berpikir beberapa saat, kemudian katanya sambil tersenyum, "Apakah kau hendak membuat perhitungan dengan Biau-kosiu serta rombongannya?"

"Boleh dibilang begitu," sahut Liong Oh-im sambil tertawa ringan.

 

Bong Thian-gak segera tertawa.

"Aku rasa Biau-kosiu bukan manusia yang mudah dihadapi, lagi pula di sekelilingnya dilindungi oleh beberapa jago silat berilmu tinggi. Uni u k menghadapi perempuan itu, kau mesti banyak membuang tenaga dan pikiran."

"Justru karena agak sulit dihadapi, maka aku sengaja datang menjumpai Bong-tayhiap dan berharap kau tidak mencampuri urusan Ini," kata Liong Oh-im sambil tertawa.