pendekar cacad 12
Bagian 13 :
Pertempuran demi harta karun
Tiba-tiba Mo Hui-thian tertawa kering,
kemudian berkata, "Apabila pihak Kay-pang ingin mengangkangi sendiri
harta karun Mo-lay-cing-ong, hanya dengan mengandalkan kemampuan Liu
Khi serta I lan Siau-liong saja hal itu jauh tidak cukup."
"Bagaimana pun juga kemampuan Kay-pang
rasanya masih jauh lebih mengungguli kemampuan perkumpulan
Kiam-liong-kiam-san-ceng." Liu Khi balas mengejek.
"Hehehe, perkataan Liu-heng memang
tepat," Mo Hui-thian tertawa kering, "cuma pedang Lohu ini bukanlah
pedang yang bisa dihadapi seenaknya."
"Aku tahu, pedang Mo-loji paling tidak
masih mampu membacok batok kepala beberapa anggota Put-gwa-cin-kau,
kami Kay-pang ingin meminjam pedangmu itu."
"Mana ...
mana, mengapa Liu-heng tidak mulai terlebih dahulu?"
"Atas dasar kemampuan kita bertiga,
rasanya masih belum cukup untuk menghadapi orang-orang
Put-gwa-cin-kau," jawab Liu Khi dingin.
"Omitohud!" tiba-tiba Hong-kong Hwesio
memuji keagungan lUiddha, "perkataan Liu-sicu memang benar,
perubahan situasi yang kita hadapi sekarang membutuhkan kerja sama
untuk menghadapi musuh l.ingguh Put-gwa-cin-kau, kita wajib
menghancurkan dan mematahkan mereka terlebih dahulu."
Mo Hui-thian tertawa, selanya,
"Seandainya beberapa orang di antara
kita bersedia bekerja sama, aku yakin kekuatan yang kita himpun ini
sanggup untuk menghadapi serbuan pihak Put-gwa-cin-kau, sayang, kita
semua masih belum seia-sekata."
Selesai berkata, dia berpaling dan
memandang sekejap Bong Thian-gak.
Tentu saja
Bong Thian-gak memahami maksud Mo Hui-thian itu, maka
ujarnya kemudian dengan suara hambar, "Biarpun pihak Kay-pang serta
perkumpulan Kim-liong-kiam-san-ceng mempunyai dendam kesumat dengan
Hiat-kiam-bun, tapi permusuhan itu tidak sedalam permusuhan kami
dengan pihak Put-gwa-cin-kau."
"Kalau begitu kita bisa bersatu-padu
sekarang?' ujar Mo Hui-thian
sambil tertawa. "Nah, kita turun tangan lebih dulu menggasak habis
manusia-manusia cecunguk itu."
"Yang perlu kita musnahkan pertama-tama
adalah Si-hun-mo-li," kata Liu Khi tiba-tiba.
Selesai berkata, lengan tunggalnya
segera diayunkan ke depan, dua batang pisau terbang yang telah
disiapkan sejak tadi disambitkan ke muka.
Berubah hebat paras muka
Bong Thian-gak mendengar perkataan
itu, serunya dengan cepat, "Tunggu sebentar!"
Mo Hui-thian tertawa dingin, jengeknya,
"Beberapa kelompok di antara kita ini memang selamanya tak mungkin
bisa bersatu."
"Barang siapa di antara kalian berani
memukul Si-hun-mo-li, Pek-hiat-kiam di tanganku ini tak akan memberi
ampun kepadanya," ancam Bong Thian-gak dengan suara dalam.
Sembari berkata, Pek-hiat-kiam di
tangannya segera disilangkan di depan dada, kemudian dengan wajah
serius dan bersungguh-sungguh dia mengawasi semua orang dengan
seksama.
Suasana di halaman gedung itu seketika
tercekam dalam keheningan, rasa tegang dan napsu membunuh yang
menggidikkan menyelimuti benak setiap orang.
Han Siau-liong segera menimbrung,
"Bong-buncu, kau sudah merasakan sendiri betapa lihainya
Si-hun-mo-li, seandainya perempuan itu tidak kita lenyapkan lebih
dulu, kemungkinan besar kita semua akan terluka oleh pukulan
Soh-li-jian-yang-sin-kangnya."
"Perkataanku tadi sudah cukup jelas,"
kata Bong Thian-gak dengan
wajah serius, "aku tak mengizinkan orang melukainya, bila Liu Khi
berani melepas pisau terbangnya, maka Pek-hiat-kiam ini akan segera
memenggal pula batok kepalanya."
Liu Khi yang mendengar perkataan itu
tertawa dingin, "Sekali pun pisau terbang Liu Khi sudah dicekal
dalam genggaman, tak pernah berlaku dalam kamusku untuk menyimpannya
kembali."
"Aku tahu kepandaian silat yang kau
miliki sangat hebat, tapi pada saat kau melepaskan pisau terbangmu
itu, mustahil bisa menghindar dari babatan Pek-hiat-kiam, maka
kunasehati kepadamu, lebih baik jangan menyerempet bahaya."
Mendadak Mo Hui-thian mengangkat
pedangnya dan dari kejauhan diarahkan pada
Bong Thian-gak, setelah itu katanya
sambil tertawa kering, "Sebetulnya aku merupakan penengah, tapi
setelah diperhitungkan untung ruginya, aku lebih condong berpihak ke
Liu-heng, dengan posisi demikian apakah
Bong Thian-gak masih tetap bersikeras melindungi
Si-hun-mo-li?"
"Omitohud!" tiba-tiba Hong-kong Hwesio
berkata memuji keagungan Buddha,
"kuminta Sicu sekalian jangan bertindak kelewat gegabah, lebih
baik kita bersama-sama merundingkan cara pemecahan yang bijaksana."
Tiba-tiba Bong
Thian-gak menghela napas panjang, lalu berkata,
"Kuharap kalian bersedia mendengarkan perkataanku, sesungguhnya
Si-hun-mo-li adalah seorang perempuan yang patut dikasihani, aku
Bong Thian-gak pernah
berhutang budi kepadanya, oleh sebab itu bila kalian berharap
bantuanku malam ini untuk menghadapi orang-orang Put-gwa-cin-kau,
maka kalian harus memenuhi syaratku lebih dulu, yakni tidak boleh
mencelakai jiwa Si-hun-mo-li."
Baru selesai perkataan itu, mendadak
terdengar suara dingin yang menggidikkan berkumandang dari sudut
halaman gedung, menyusul kemudian seseorang berkata dengan suara
sedingin salju, "Dengan mengandalkan kemampuan kalian, aku rasa
masih belum mampu membunuh Si-hun-mo-li."
Mendengar perkataan itu, para jago
segera berpaling, dari sudut halaman sebelah utara pelan-pelan
muncul dua orang.
Orang pertama adalah sastrawan berbaju
hijau yang sangat di kenal
Bong Thian-gak, yakni
Ji-kaucu.
Sedangkan orang kedua adalah seorang
kakek berbaju panjang berwarna hitam yang pada bagian dadanya
tersulam seekor naga emas yang sedang melingkar.
Orang itu seperti tidak membawa senjata,
dia hanya bertangan kosong, namun Bong
Thian-gak yang melihat sorot mata dan gerak-geriknya
yang mantap, kontan keningnya berkerut kencang.
Ia merasa kelihaian ilmu silat orang ini
mungkin sudah mencapai tingkat yang tak terhingga, bahkan di antara
kawanan jago persilatan yang pernah dijumpai olehnya, boleh dibilang
kakek baju hitam inilah yang memiliki kepandaian silat paling hebat.
Perasaan ini hanya
Bong Thian-gak yang dapat merasakan.
Mungkinkah dia adalah komandan nomor
satu pasukan pengawal tanpa tanding Put-gwa-cin-kau?
Kakek berbaju hitam itu berjalan
bersanding dengan Ji-kaucu, sambil melangkah ke arena, dia menyapu
pandang sekejap para jago yang hadir, katanya dengan suara dingin,
"Liu Khi, bila kau tidak percaya, silakan kau timpukkan pisau
terbangmu itu, coba kita buktikan apakah Si-hun-mo-li benar-benar
akan mampus di ujung pisau terbangmu itu?"
Dalam keadaan demikian, secara tiba-tiba
Liu Khi menarik kembali kedua pisau terbang yang semula dicekal
dalam genggamannya, kemudian setelah tertawa, katanya, "Kau ingin
menyaksikan aku melepaskan pisau terbang? Boleh saja, tapi tunggu
sampai kita berhadapan nanti, bisa kau buktikan dengan mata kepalamu
sendiri!"
Kakek berbaju hitam tertawa dingin,
"Selama ini dalam Bu-lim tersiar berita yang mengatakan Liu Khi
adalah seorang ahli senjata rahasia nomor wahid di kolong langit,
sayang aku justru tak mau percaya dengan ucapan itu!"
"Bagaimanakah kemampuan Liu Khi dalam
melepaskan pisau terbang, mengapa tidak kau tanya sendiri kepada
Ji-kaucu?" Liu Khi berkata sambil berkata.
Ji-kaucu yang berada di sisi kiri lantas
tersenyum, "Biarpun pisau terbangmu lebih cepat setingkat pada tiga
tahun berselang ketika kita beradu di wilayah Sucwan, namun
pertandingan itu sesungguhnya belum dapat menentukan secara tepat
siapa yang unggul."
"Kalau begitu dengan cara apa kita baru
dapat mengetahui secara tepat siapa sesungguhnya yang lebih unggul
di antara kita?"
"Aku pikir, kita harus mengulangi
pertarungan penentuan untuk membuktikan siapa sesungguhnya yang
lebih unggul," jawab Ji-kaucu dengan wajah membesi dan suara hambar.
"Ya, tentu saja dengan senang hati akan
kulayani pertarungan ulangan itu."
Mendadak terdengar Hong-kong Hwesio
berseru dengan suara keras, "Sim
Tiong-kiu, masih ingat dengan aku si Hwesio tua?"
"Biar kau si keledai gundul sudah
berubah menjadi abu pun aku masih mengenali dirimu," jawab kakek
baju hitam itu dengan keras.
"Omitohud, Sim-sicu! Kuanjurkan padamu,
lebih baik lepaskan saja golok pembunuhmu! Biarpun pelajaran
Buddha tak bertepian, namun Hud-co
pasti akan mengampuni semua dosa-dosa Sicu di masa lampau bila kau
bersedia bertobat."
Kakek berbaju hitam itu tertawa dingin,
"Keledai gundul, apakah kau sudah menyadari bakal mati pada malam
ini, maka sekarang memohon Lohu untuk memberikan jalan hidup
bagimu?"
"Omitohud," kata Hong-kong Hwesio, "bila
Sim-sicu masih juga tak mau bertobat dan menyesali semua kejahatan
yang pernah kau lakukan, jangan menyesal nanti."
"Hong-kong Hwesio," tukas kakek berbaju
hitam ketus, "sekali pun kau menghadap dinding dan berlatih tekun
selama lima puluh tahun lagi masih bukan tandinganku, siapa orangnya
yang mampu mencabut nyawaku?"
Perkataan kakek berbaju hitam ini sangat
takabur dan sombong bukan alang-kepalang, ia benar-benar tidak
memandang sebelah mata terhadap orang lain, seakan-akan dialah
manusia paling hebat di kolong langit dan tiada orang kedua yang
mampu mengungguli dirinya.
Sudah barang tentu semua jago yang hadir
dalam arena merasa mendongkol.
Mendadak Han Siau-liong tertawa
tergelak, kemudian serunya, "Kesombongan dan kejumawaanmu
benar-benar membuat perasaan orang tidak enak, biarpun aku hanya
seorang yang berkepandaian cetek, namun ingin sekali kucoba sampai
dimanakah kemampuan orang yang menganggap dirinya paling wahid di
kolong langit ini."
"Bila kau tidak percaya, silakan saja
mencoba," jengek kakek baju hitam itu hambar.
"Oh, tentu saja aku akan mencoba," Han
Siau-liong tertawa lebar.
Selesai berkata, dengan pedang terhunus
selangkah demi selangkah Han Siau-liong maju ke muka.
Melihat Han Siau-liong tampil, buru-buru
Hong-kong Hwesio berkata, "Han-sicu, harap berhenti dulu."
"Hahaha," Han Siau-liong tertawa
terbahak-bahak, "Hwesio tua, biarpun aku bisa menahan diri dan
membiarkan cecunguk itu pamer kesombongannya, sayang, orang lain
tidak memiliki kesabaran sebesar itu."
Liu Khi sendiri pun dapat merasakan
kepandaian silat kakek berjubah hitam itu lihai sekali dan Han
Siau-liong bukan tandingannya, tapi batinnya, "Tenaga dalam Han
Siau-liong amat sempurna, sekali pun kakek baju hitam itu ingin
mengunggulinya, hal ini tak akan terjadi dalam satu-dua gebrakan
saja ... biar saja dia turun
tangan menguji kemampuannya."
Karena pikiran ini, maka dia pun
membiarkan Han Siau-liong meneruskan langkahnya.
Baik Bong
Thian-gak maupun Mo Hui-thian sama-sama ingin
mengetahui sampai dimanakah kemampuan kakek berjubah hitam itu,
dengan mata tak berkedip mereka mengawasi langkah Han Siau-liong
menuju ke depan.
Tentu saja Han Siau-liong memiliki
kepandaian amat lihai, sepintas dia nampak seperti pemuda yang
tinggi hati dan jumawa, padahal dia tak berani menganggap enteng
setiap lawannya.
Dengan langkah tegap dan mantap,
selangkah demi selangkah dia maju ke depan, semua jago yang berada
di arena rata-rata mengetahui, secara diam-diam Han Siau-liong telah
menghimpun tenaga dalam dan dihimpun ke lengannya, dari lengan
disalurkan ke pedang bajanya.
Selain itu semua orang juga tahu bahwa
serangan pedangnya yang pertama nanti, Han Siau-liong pasti akan
melepaskan sebuah serangan maha dahsyat.
Menghadapi serangan Han Siau-liong itu,
si kakek baju hitam tetap acuh tak acuh, dengan sikap amat tenang
dia menantikan Han Siau-liong menghampirinya selangkah demi
selangkah.
Mendadak suara bentakan keras memecah
keheningan, pedang baja Han Siau-liong disertai deru angin yang amat
hebat langsung menyambar dan membacok tubuh si kakek berbaju hitam.
Serangan pedang yang dilancarkan olehnya
ini boleh dibilang disertai kecepatan luar biasa dan kekuatan yang
sanggup membelah bukit karang.
Ketika kawanan jago itu melihat
datangnya serangan tadi, semuanya beranggapan sama, kecuali
menghindarkan diri, rasanya sulit bagi Sim
Tiong-kiu untuk menyambut datangnya ancaman itu dengan
kekerasan.
Tak disangka, tindakan yang dilakukan
Sim Tiong-kiu sama sekali di
luar dugaan semua orang.
Bukannya menghindar atau melompat
mundur, tahu-tahu Sim Tiong-kiu malah melompat ke muka dan melepaskan sebuah tendangan
dengan kaki kirinya mengarah datangnya ancaman pedang itu.
Sambil mendesak ke muka, kakek baju
hitam itu berseru lantang, "Enyah kau dari sini!"
Tahu-tahu tendangan itu bersarang di
dada lawan, Han Siau-liong mendengus tertahan, tubuhnya terpental ke
tengah udara.
Berbareng dengan mencelatnya Han
Siau-liong, mendadak tampak titik-titik cahaya tajam yang
menyilaukan mata menyambar ke tubuh kakek berbaju hitam itu.
Rupanya titik-titik cahaya itu tidak
lain adalah pisau terbang yang disambitkan secara tiba-tiba oleh Liu
Khi.
"Hm, kau anggap pisau terbangmu itu
mampu melukai diriku?" jengekan dingin bergema di udara.
Bayangan orang berkelebat, tahu-tahu
Sim Tiong-kiu telah berdiri
kembali di tempat semula, hanya pada jari tangan kirinya kini telah
bertambah dengan dua pisau terbang yang memancarkan cahaya tajam.
Pisau terbang milik Liu Khi sebenarnya
terhitung sangat hebat, jarang ada orang yang mampu menghindarkan
diri dari sergapannya, tapi kenyataan sekarang pisau terbang itu
sama sekali tidak berpengaruh apa-apa terhadap orang berbaju hitam
itu.
Dalam pada itu Han Siau-liong yang
mencelat ke belakang berikut pedangnya, kini sudah menggeletak di
tanah dan tidak berkutik lagi.
Bong
Thian-gak
dan Mo Hui-thian serentak maju mendekatinya.
Tampak oleh mereka, Han Siau-liong sudah
tergeletak di tanah dengan wajah pucat-pias seperti mayat, rupanya
dia sudah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Han Siau-liong adalah jagoan lihai nomor
tiga dalam Kay-pang, sampai dimana kepandaiannya
Bong Thian-gak pernah menyaksikan
sendiri, bahkan pemuda itu terhitung jago lihai dalam Bu-lim.
Tapi kenyataan sekarang jagoan itu
dibikin keok dan tak sadarkan diri dalam satu gebrakan saja, boleh
dibilang peristiwa semacam ini sungguh menggidikkan.
Itu berarti juga
Sim Tiong-kiu benar-benar merupakan
seorang jagoan hebat.
Untuk beberapa saat lamanya para jago
bergidik dengan perasaan bergetar keras, mereka hanya bisa saling
pandang dan mulut membisu.
Suara dingin, ketus dan sombong
Sim Tiong-kiu kembali berkumandang
di sisi telinga para jago, terdengar ia berkata, "Apakah masih ada
orang lain yang ingin mencoba kepandaian silatku?"
Tantangan yang begitu sombong dan
takabur semacam ini pada hakikatnya cukup membuat orang tidak tahan.
Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng Mo
Hui-thian tertawa seram, katanya, "Mo Hui-thian ingin sekali mencoba
kepandaian silatmu."
"Mo-cengcu dikenal sebagai pendekar
pedang nomor wahid di kolong langit, aku memang sudah lama ingin
mencoba kepandaian ilmu pedangmu itu," jawab
Sim Tiong-kiu hambar.
"Mo-cengcu, harap kau suka menahan diri,
jangan kau lakukan tindakan gegabah," Hong-kong Hwesio berseru
dengan suara dalam.
Mo Hui-thian berpaling dan memandang
sekejap ke arah HongĀkong Hwesio, katanya, "Hwesio tua, apakah dengan kemampuan yang kumiliki
masih belum mampu menyambut sejurus serangannya?"
"Apakah Mo-cengcu dapat "melihat pukulan
yang menyebabkan Han Siau-liong terluka parah?" tanya Hong-kong
Hwesio dengan wajah serius.
Mendengar pertanyaan itu, semua jago
serentak mengangkat kepala dan menengok ke arah Hong-kong Hwesio.
Memang sampai sekarang tak seorang pun
di antara yang hadir mengetahui luka apakah yang diderita Han
Siau-liong.
Mo Hui-thian tertawa rikuh, lalu dia
balik bertanya, "Apakah kau tahu, pukulan apa yang menyebabkan Han
Siau-liong terluka?"
Hong-kong Hwesio menggeleng kepala,
"Hingga kini Lolap masih belum tahu ilmu sakti apakah yang telah
dilatih Sim-sicu, tapi Lolap tahu, dewasa ini sedikit sekali ada
yang bisa menghindarkan diri dari serangannya itu."
Mo Hui-thian tertawa dingin, serunya,
"Hei, Hwesio tua, kau tahu berapa orang di kolong langit ini yang
mampu menghindarkan diri dari serangan pedangku?"
"Sekali pun serangan pedangmu sangat
lihai dan luar biasa, jarang ada orang yang sanggup menghadapinya,
akan tetapi pernahkah Mo-cengcu bayangkan bahwa musuh pada
hakikatnya tak akan memberi kesempatan kepadamu untuk melancarkan
serangan."
Hati Mo Hui-thian bergetar keras, dia
segera bertanya, "Hwesio tua, apakah maksudmu berkata demikian?"
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang,
"Ai, musuh yang akan menyerang lebih dahulu, bukan kau yang
melancarkan serangan menyergap lawan."
Mo Hui-thian tercekat, dengan cepat ia
bertanya, "Barusan bukankah Han Siau-liong yang telah melancarkan
serangan lebih dahulu terhadap lawan?"
"Tentu saja tidak," seru Hong-kong
Hwesio sambil menggeleng.
Jawaban ini dengan cepat menimbulkan
tanda tanya besar bagi kawanan jago itu.
Sudah jelas terlihat tadi bahwa Han
Siau-liong melancarkan serangan lebih dahulu, bagaimana mungkin bisa
dikatakan Sim Tiong-kiu yang
menyerang lebih dulu?
Setelah tertawa dingin Mo Hui-thian
bertanya, "Hwesio tua, bisakah kau terangkan bagaimana cara musuh
melancarkan serangan lebih dulu?"
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang,
"Ai, Lolap bisa menerangkan, tentu saja bisa pula mematahkan jurus
serangan yang mematikan dari Sim
Tiong-kiu itu."
"Huh,
pada
hakikatnya kau hanya ngaco-belo belaka, aku justru tidak percaya
dengan segala takhayul!" jengek Mo Hui-thian sambil tertawa kering.
Sembari berkata, pedangnya segera
diangkat, kemudian pelan-pelan diturunkan ke depan dada, setelah itu
ia menggenggam pedangnya dengan kedua tangan dan "Crit", tubuh
berikut pedangnya tahu-tahu meluncur ke depan
Sim Tiong-kiu dan menusuk tubuhnya.
Kawanan jago di arena saat ini boleh
dibilang rata-rata adalah jagoan persilatan yang berilmu tinggi,
setelah menyaksikan jurus pedang yang dipergunakan Mo Hui-thian,
tanpa terasa masing-masing pihak berpekik lirih, MAh,
ilmu pedang terkendali!"
Yang disebut ilmu pedang terkendali
adalah semacam ilmu pedang tingkat atas yang paling sukar
dipelajari, bila kepandaian itu sudah mencapai puncaknya, maka
serangan pedang bisa dikendalikan dari jarak jauh, bila demikian
keadaannya maka memenggal batok kepala orang dari kejauhan bukan
suatu pekerjaan yang amat sukar.
Tiba-tiba saja Mo Hui-thian
mempergunakan kepandaian maha sakti ini untuk menyerang musuh, pada
hakikatnya kejadian itu benar-benar merupakan suatu peristiwa yang
luar biasa.
Hawa pedang yang tajam bagaikan sembilu
diiringi deru angin tajam segera melintas dan menusuk ke tubuh
Sim Tiong-kiu.
Tapi bersamaan dilancarkannya serangan
itu, jeritan kaget serta suara bentrokan nyaring bergema memecah
keheningan.
Tubuh Mo Hui-thian seperti layang-layang
putus benang terpental di udara dan berjumpalitan sebanyak tiga
kali, kemudian jatuh terbanting ke tanah.
Bong
Thian-gak
menghampiri orang itu.
Tampak paras muka Mo Hui-thian
pucat-pias seperti mayat, napasnya tersengal-sengal, ia mengangkat
kepala memandang ke arah Bong
Thian-gak sambil menggerakkan bibirnya yang gemetar seperti
hendak memberitahukan sesuatu kepada Bong
Thian-gak, namun tak sepatah kata pun yang terdengar.
Dengan cepat
Bong Thian-gak menempelkan telapak tangan kanannya ke
jalan darah Mi-bun-hiat di tubuh Mo Hui-thian.
Secara beruntun Mo Hui-thian muntah
darah sebanyak tiga kali, tiba-tibanya kulit mukanya mengejang
keras, kemudian roboh dan tidak sadarkan diri.
Hanya dalam sekali gebrakan saja secara
beruntun Sim Tiong-kiu telah
berhasil merobohkan dua jago persilatan yang berilmu tinggi,
kehebatannya itu dengan cepat menghebohkan dan menggidikkan hati
setiap orang.
Kembali Bong
Thian-gak mengangkat kepala, ia lihat
Sim Tiong-kiu masih tetap tegak
berdiri di tempat, wajahnya dingin bagaikan es, selapis hawa dingin
yang menggidikkan seakan-akan menyelimuti tubuhnya.
Waktu itu ujung baju lengan kirinya
telah robek separo, tampaknya terpapas robek oleh sambaran hawa
pedang yang dipancarkan oleh Mo Hui-thian tadi.
"Masih ada siapa lagi yang ingin mencoba
kepandaianku?" suara yang dingin dan sombong
Sim Tiong-kiu sekali lagi
berkumandang.
Sudah jelas
Sim Tiong-kiu hendak mempergunakan kepandaian
rahasianya yang maha sakti, hendak melukai kawanan jago yang hadir
di arena satu demi satu.
Itulah sebabnya ia menantang lagi para
jago lain untuk mencoba kepandaian silatnya.
Sementara itu
Bong Thian-gak telah menggeser badan, kemudian ujarnya,
"Kepandaian silat yang kau miliki memang sangat hebat, aku percaya
tak bisa menandingi kehebatanmu itu, meski demikian aku ingin juga
menjajal kepandaianmu itu."
"Bong-sicu, kau tidak boleh bertindak
secara gegabah."
Bong
Thian-gak
berpaling dan memandang sekejap ke arah
HongĀkong Hwesio, kemudian katanya dengan suara
nyaring, "Hari ini kita sudah berhadapan dengan lawan, cepat atau
lambat pertarungan tak bisa dihindari lagi, kau suruh aku jangan
bertindak sembarangan, apakah kau hendak menyuruh aku menerima
kematian begitu saja?"
Hong-kong Hwesio menghela napas sedih,
kemudian katanya, "Kedua orang murid Lolap mungkin sanggup menahan
serangannya, Bong-sicu, harap kau jangan turun tangan lebih dulu!"
Dalam pada itu kedua murid Hong-kong
Hwesio telah maju bersama ke depan.
Bong
Thian-gak
memandang sekejap ke arah kedua anak buah Hong-kong Hwesio yang
berjenggot hitam itu, lalu dia bertanya, "Apakah Siancu berdua punya
keyakinan dapat menahan serangannya?"
Mendengar pertanyaan itu, kedua Hwesio
berjenggot hitam itu menggeleng kepala, namun tidak mengucapkan
sepatah kata pun.
Kembali Bong
Thian-gak berkata, "Bila Siancu berdua memang tidak
punya keyakinan, lebih baik mundurlah untuk sementara waktu."
"Bong-sicu," terdengar Hong-kong Hwesio
berkata, "kedua orang muridku ini selain bisu juga tuli, semua
perkataanmu itu tak mungkin didengarnya."
Mendengar ucapan itu,
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, segera pikirnya, "Oh, rupanya kedua orang ini bisu tuli,
tak heran selama ini tak kudengar ucapan mereka barang sepatah kata
pun."
Berpikir sampai di situ,
Bong Thian-gak memandang sekejap ke
arah Hong-kong Hwesio, lalu berkata, "Kalau kedua murid Hwesio tua
bisu tuli, mereka lebih-lebih tidak seharusnya dikirim ke arena
untuk melangsungkan pertarungan itu!"
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang,
"Ai, biarpun kedua muridku ini bisu tuli, namun ketajaman mata serta
kecerdasan otak mereka jauh melebihi orang biasa, bahkan boleh
dikatakan kelewat tajam dan cerdik. Bong-sicu tak perlu kuatir,
siapa tahu kedua muridku itu mampu mematahkan ilmu rahasia andalan
Sim Tiong-kiu."
Pada saat itulah terdengar
Sim Tiong-kiu berkata sambil tertawa
dingin, "Keledai gundul, bila kau menginginkan kedua murid cacatmu
bisa mematahkan ilmu maha saktiku, tunggu saja bila matahari terbit
dari langit barat."
"Walaupun kedua orang itu tidak
mempunyai keyakinan untuk membendung kesaktian silat Sicu, tapi pada
puluhan tahun berselang kedua orang itu sudah mulai melatih diri
secara tekun dan berhasil menciptakan sejenis ilmu silat yang dapat
mematahkap jurus sakti Sim-sicu."
"Kalau memang begitu, suruh saja mereka
berdua kemari mengantar kematian!"
Tiba-tiba Bong
Thian-gak berseru, "Tunggu sebentar!"
Tubuhnya berkelebat cepat dan menghadang
di hadapan kedua Hwesio berjenggot hitam itu.
"Bong-sicu, masih ada urusan apa lagi?"
tanya Hong-kong Hwesio.
"Ada sebuah persoalan yang ingin
kutanyakan kepada kau."
"Bila Sicu ada persoalan, harap
diutarakan saja."
"Kau pernah bertarung melawan orang
itu?"
"Ya, kami pernah bertarung," Hong-kong
Hwesio mengaku.
"Sudah bentrok berapa kali?" kembali
Bong Thian-gak bertanya.
"Tiga kali."
"Taysu, apakah setiap kali kalian
bertarung Ji-kaucu selalu hadir di arena?"
Pertanyaan ini membingungkan Hong-kong
Hwesio, dia menggeleng sambil berkata, "Ji-kaucu tak pernah hadir di
arena. Bong-sicu, apa maksudmu menanyakan hal ini?"
Sebelum Bong
Thian-gak menjawab, terdengar Ji-kaucu tertawa dingin
sambil katanya, "Dia curiga kalau aku telah melepaskan racun dan
meracuni orang secara diam-diam."
Rupanya Bong
Thian-gak menaruh curiga atas kejadian itu, hingga kini
dia masih belum dapat melihat dengan jelas bagaimana
Sim Tiong-kiu melukai lawannya.
Maka dia pun mulai berpikir, "Mungkinkah
Ji-kaucu yang telah melepaskan racunnya secara diam-diam dari tepi
arena untuk membantu Sim Tiong-kiu sehingga akibatnya orang yang diserang
Sim Tiong-kiu selalu menderita luka
secara membingungkan?"
Tapi jalan pikiran itu dengan cepat
tersapu lenyap dalam tanya-jawab dengan Hong-kong Hwesio, sekarang
dia yakin Sim Tiong-kiu
benar-benar memiliki sejenis ilmu silat maha sakti.
Bong
Thian-gak
termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata lagi, "Hwesio tua, mungkin
aku dapat menyambut sebuah pukulannya tanpa harus mati. Harap Hwesio
tua memerintahkan kepada kedua muridmu agar segera mengundurkan
diri!"
"Bong-sicu, kau tak usah keras kepala,"
tampik Hong-kong Hwesio sambil menggeleng.
Bong
Thian-gak
kembali tersenyum, "Biarpun aku belum punya keyakinan untuk bisa
mematahkan jurus serangan lawan, tapi aku percaya tak bakal tewas di
bawah telapak tangannya," kata Bong
Thian-gak sambil tersenyum. "Bila kulangsungkan pertarungan
jarak dekat, mungkin bisa kupatahkan jurus serangannya yang tangguh
itu."
Sim Tiong-kiu
tertawa seram, "Ji-kaucu, orang inikah yang bernama
Jian-ciat-suseng?"
"Ya, dialah orangitya."
"Bukankah Cong-kaucu telah menurunkan
perintah agar kita membekuknya hidup-hidup?"
"Benar, tapi kepandaian silat yang
dimiliki orang ini sangat lihai, tampaknya komandan
Sim membutuhkan tenaga yang cukup
besar untuk dapat membekuknya."
Mendadak Bong
Thian-gak berkata sambil tertawa dingin, "Saudara,
bersiap-siaplah menerima seranganku!"
"Kalau berniat melancarkan serangan,
lancarkan saja seranganmu itu," kata Sim
Tiong-kiu hambar.
Bong
Thian-gak
menggenggam Pek-hiat-kiam dengan tangan tunggalnya, kemudian maju
selangkah demi selangkah mendekati lawan.
Gerak langkah kakinya lamban sekali,
ternyata Bong Thian-gak telah
mengerahkan tenaga dalam Tat-mo-khi-kang untuk melindungi badannya.
Paras muka
Bong Thian-gak yang semula pucat penyakitan, kini telah
berubah merah bercahaya.
Sim Tiong-kiu
tetap berdiri tegak, matanya bersinar tajam bagai bintang timur
mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Tiba-tiba bergema suara gelak tertawa
yang menyeramkan, Sim Tiong-kiu bagaikan sambaran kilat cepatnya langsung menerjang ke
arah Bong Thian-gak.
Sejak tadi
Bong Thian-gak sudah mengetahui
Sim Tiong-kiu memiliki ilmu silat
yang amat hebat, tapi demi menjaga teknik 'dengan tenang mengatasi
gerak'. Bong Thian-gak sama
sekali tidak melepaskan serangan pedangnya.
Oleh sebab itu
Sim Tiong-kiu segera mendesak lebih
ke depan dan sebuah pukulan yang maha dahsyat dilontarkan ke dada
Bong Thian-gak.
Bong
Thian-gak
memang telah bersiap menerima serangan itu, ia tidak menghindar
maupun berkelit, dadanya malah dibusungkan untuk menyambut datangnya
ancaman itu. "Blam", diiringi benturan yang keras sekali, serangan
itu bersarang di dada anak muda itu.
Ilmu Tat-mo-khi-kang yang memancarkan
daya kemampuan dahsyat itu segera menciptakan selapis tenaga
pantulan tanpa wujud yang segera menggetarkan tubuh
Sim Tiong-kiu sehingga tergetar
mundur sejauh tiga langkah.
Pada detik yang bersamaan itulah
Pek-hiat-kiam yang berada dalam genggaman
Bong Thian-gak segera dibabatkan dan menusuk ke dada
Sim Tiong-kiu.
Padahal taktik yang diambil
Bong Thian-gak ini telah berhasil
ditebak musuh secara tepat.
Tentu saja serangan yang dilancarkan
olehnya itu amat cepat bagaikan sambaran kilat, hawa sakti
Tat-mo-khi-kang yang melindungi badannya pun tak mampu lagi
melindungi seluruh tubuhnya.
Serangan dahsyat musuh pun dilontarkan
lagi.
Bong
Thian-gak
hanya merasakan jari telunjuk tangan kiri musuh menyambar pelan ke
atas dadanya, serangan jari tangan tanpa wujud bersarang telak di
atas bahu kanannya.
Dengusan tertahan bergema,
Bong Thian-gak tidak mampu lagi
melawan serangan jari itu, tubuhnya segera terbanting ke tanah.
Gelak tawa seram penuh kebanggaan
bergema memecah keheningan malam, tubuh
Sim Tiong-kiu bagaikan sukma gentayangan mendesak maju
ke muka, bersamaan itu pula cakar tangan kanannya mencengkeram urat
nadi pada lengan tunggal Bong
Thian-gak.
"Crit, crit", dua kali desingan tajam
bergema.
Tahu-tahu Liu Khi telah melepaskan dua
bilah pisau terbangnya ke depan.
Golok terbang Liu Khi memang sangat
termasyhur di kolong langit, khususnya mengancam tenggorokan orang,
barang siapa terserang tak mungkin tertolong lagi.
Itulah sebabnya
Sim Tiong-kiu tidak berkesempatan
lagi untuk melanjutkan ancamannya atas urat nadi
Bong Thian-gak.
Tangan kirinya cepat diputar, ternyata
kedua pisau terbang itu sudah terjepit di antara jari telunjuk dan
jari tengah.
Pada saat itulah terdengar Liu Khi
berseru lagi dengan suara lantang, "Sekarang silakan kau rasakan
bacokan golokku yang sesungguhnya."
Selesai bicara Liu Khi segera melolos
golok panjangnya, To-pit-coat-to yang membuat Liu Khi termasyhur di
kolong langit.
Begitu serangan golok dilancarkan,
ancaman itu benar-benar menggetarkan perasaan setiap orang.
Jerit kesakitan segera berkumandang
memecah keheningan.
Darah segar menyembur, telapak tangan
kanan Sim Tiong-kiu sebatas
pergelangan tangan tahu-tahu sudah terpapas kutung oleh bacokan
golok itu.
Tapi bersamaan dengan terpapas kutungnya
pergelangan tangan kanan Sim Tiong-kiu, tangan kirinya telah melancarkan serangan pula ke depan.
Liu Khi menjerit kaget, tubuhnya
terlempar dan jatuh terduduk di atas tanah.
Ia sama sekali tidak pingsan, akan
tetapi luka yang dideritanya cukup parah, dia terduduk di atas tanah
dengan sekujur badan gemetar keras, untuk beberapa saat tak mampu
bangkit kembali.
Sorot mata Liu Khi penuh dengan pancaran
sinar kaget dan keheranan, hingga detik ini dia masih belum
mengetahui dengan jelas bagaimana hal ini bisa terjadi hingga ia
terluka oleh jurus serangan lawan.
Beberapa kejadian beruntun itu
berlangsung hampir bersamaan, berhubung gerak tubuh mereka kelewat
cepat.
Sejak pergelangan tangannya terpapas
kutung, Sim Tiong-kiu menaruh
perasaan dendam yang amat besar, ia menerkam lagi ke arah Liu Khi
yang masih tergeletak di depan sana.
Dalam pada itu Liu Khi sudah lemas dan
tidak berkekuatan lagi untuk memberikan perlawanan setelah tubuhnya
terhajar oleh serangan jari lawan, kulit mukanya segera mengejang
keras, pikirnya, "Habis sudah riwayatku kali ini, sungguh tak nyana
Liu Khi harus mampus di tangannya."
Belum habis ingatan itu melintas,
sekilas cahaya pedang berwarna merah telah berkelebat di depan mata.
Liu Khi segera memusatkan perhatian dan
menengok.
Ternyata Pek-hiat-kiam di tangan kanan
Bong Thian-gak sedang
diarahkan ke tubuh Sim Tiong-kiu, dia melancarkan tiga buah serangan berantai, memaksa
Sim Tiong-kiu terdesak
mundur.
Baik Liu Khi maupun
Sim Tiong-kiu sama sekali tidak
menyangka Bong Thian-gak
masih memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan walaupun sudah
terkena pukulan dahsyat Sim Tiong-kiu secara telak.
Pertarungan cepat akhirnya terhenti dan
hening kembali.
Pek-hiat-kiam di tangan
Bong Thian-gak terkulai menghadap
tanah, dengan senjata itu dia mempertahankan keseimbangan tubuhnya.
Sementara itu Ji-kaucu telah menghampiri
Sim Tiong-kiu dan secara
beruntun menotok urat nadi pada lengan kanan
Sim Tiong-kiu yang kutung untuk
mencegah agar tidak banyak darah yang mengalir dari mulut lukanya.
Hong-kong Hwesio menghampiri
Bong Thian-gak serta Liu Khi, ia
segera bertanya, "Parahkah luka yang kalian derita?"
"Hwesio tua, aku sudah tidak memiliki
tenaga lagi untuk menangkis ataupun mematahkan jurus serangan
musuh," kata Liu Khi sambil tertawa pedih.
Bong
Thian-gak
berkata pula sambil menghela napas sedih, "Hwesio tua, jurus
serangan lawan yang hebat itu terletak pada jari telunjuk tangan
kirinya, berhubung serangan itu tidak memperlihatkan gejala apa-apa,
maka hampir tiada orang yang berhasil mengetahui rahasia itu dengan
jelas."
Mendengar penjelasan itu, Hong-kong
Hwesio menghela napas panjang, katanya kemudian, "Lolap memang
pernah menduga, bahwa jurus serangan dahsyat lawan bisa jadi berasal
dari satu di antara sepuluh jari tangannya, namun aku tak pernah
bisa menebak dengan cara bagaimana dia merobohkan lawan-lawannya,
sebab pada saat serangan dilancarkan, hal ini merupakan suatu
masalah yang tak bisa dipecahkan."
Liu Khi menyesal setengah mati setelah
mendapat penjelasan ini, dia menghela napas dan mengeluh,
"Seandainya serangan golokku tadi membacok pergelangan tangan
kirinya, urusan pasti akan beres dengan sendirinya."
"Seandainya tanpa serangan golokmu tadi,
mungkin aku sudah tewas terhajar serangannya," kata
Bong Thian-gak dengan perasaan amat
berterima kasih.
Liu Khi
lebih
berterima kasih lagi, katanya, "Serangan pedang Bong-laute yang
benar-benar telah menyelamatkan jiwaku, aku merasa berterima kasih
sekali."
Bong
Thian-gak
menengok sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, kemudian katanya, "Hwesio
tua, sekarang tergantung pada dirimu."
"Sekarang pergelangan tangan
Sim Tiong-kiu telah terpapas kutung,
semangat tempurnya sudah luluh, agaknya Lolap mampu menandinginya."
Liu Khi menghela napas sambil berkata,
"Keadaan saat ini, kekuatan pihak Put-gwa-cin-kau sama sekali belum
menderita kerugian apa-apa, agaknya nasib kita malam ini lebih
banyak buruknya daripada untungnya."
Betul, dari pertarungan yang berlangsung
barusan, pihak Put-gwa-cin-kau hanya menderita kerugian
Sim Tiong-kiu seorang yang telah
kehilangan pergelangan tangannya, sedangkan Ji-kaucu beserta
Si-hun-mo-li dan ketiga belas orang berjubah hitam itu pada
hakikatnya belum turun tangan.
Sebaliknya di pihak lain, Han Siau-liong
dan Mo Hui-thian secara beruntun telah terluka oleh serangan jari
tangan Sim Tiong-kiu dan
hingga kini belum sadarkan diri, sedangkan Liu Khi dan
Bong Thian-gak telah menderita luka
pula.
Pada saat ini mereka yang sanggup
melangsungkan pertarungan dengan musuh tinggal kedelapan pelindung
hukum Hiat-kiam-bun, Hong-kong Hwesio beserta murid serta
Long Jit-seng.
Bila diperbandingkan kemampuan yang
dimiliki kedua belah pihak, tampaknya Hong-kong Hwesio bertiga sulit
untuk menandingi kemampuan Sim
Tiong-kiu, Ji-kaucu serta Si-hun-mo-li.
Mendadak Liu Khi memandang sekejap ke
arah Bong Thian-gak, kemudian
bertanya, "Bong-buncu, masih mampukah kau melanjutkan pertarungan?"
"Bahu kananku makin lama semakin kaku,
agaknya sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi, mungkin sampai
waktunya aku sudah tak mampu lagi menggenggam pedang," ucap
Bong Thian-gak sambil tersenyum.
Paras muka Liu Khi berubah hebat,
katanya kemudian, "Kalau begitu kita benar-benar akan tewas di
tempat ini."
Bong
Thian-gak
kembali tertawa, "Sebelum ajal tiba, aku rasa masih ada sisa
kekuatan untuk membunuh beberapa orang musuh lagi, apakah
Liu-locianpwe sudah tidak mempunyai kemampuan lagi?"
Hati Liu Khi bergetar keras, ia tertawa
terbahak-bahak, "Apakah Bong-buncu tidak percaya aku sudah tidak
memiliki kekuatan lagi untuk melanjutkan pertarungan?"
"Kalau tadi, mungkin benar-benar sudah
tak punya lagi, tapi sekarang aku lihat Liu-locianpwe seperti telah
menemukan cara untuk mengobati luka yang kau derita."
"Bila Bong-buncu tidak mempercayai
diriku lagi, aku pun tak bisa berkata apa-apa lagi," ucap Liu Khi
sambil tertawa.
Sambil menarik muka
Bong Thian-gak berkata lagi,
"Sebentar lagi Sim Tiong-kiu
dan Ji-kaucu akan melancarkan serangan terhadap kita, bila
Liu-locianpwe tidak segera mengobati luka yang diderita Han
Siau-liong serta Mo Hui-thian, bisa jadi kita benar-benar akan tewas
hari ini di sini."
Liu Khi kembali menggeleng kepala
berulang kali.
"Saat ini aku benar-benar sudah tidak
mempunyai kekuatan lagi sekalipun untuk menyembelih ayam, bila
beruntung bisa memulihkan kembali kekuatanku, mungkin hal ini baru
kualami beberapa jam kemudian. Sekarang terpaksa aku harus
menggantungkan perlindungan terhadap Hong-kong Hwesio sekalian serta
Bong-buncu."
Mendengar perkataan ini,
Bong Thian-gak mengerutkan dahi,
kemudian pikirnya, "Barusan tampaknya aku seperti melihat Han
Siau-liong telah membuka mata satu kali setelah memperoleh
pertolongan Liu Khi."
Mendadak terdengar suara dingin yang
menggidikkan hati dari Ji-kaucu bergema memotong jalan pikiran
Bong Thian-gak, "Ko Hong,
hari ini jangan harap kau bisa meloloskan diri dari jaringan langit
yang diatur oleh Put-gwa-cin-kau."
Pedang di tangan
Bong Thian-gak masih tetap
tergeletak di tanah, ketika mendengar perkataan itu dia tertawa
dingin, "Ko Hong adalah nama samaranku pada tiga tahun berselang,
pada saat ini aku adalah ketua Hiat-kiam-bua
Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."
Dia tertawa dingin tiada henti, kemudian
melanjutkan, "Ji-kaucu, bila kalian ingin membunuhku pada hari ini,
mungkin pengorbanan yang sangat besar harus kalian bayar untuk itu,
jika kau tidak percaya, silakan saja bertindak!"
Bong
Thian-gak
dengan memancarkan sinar mata tajam yang menggidikkan mengawasi
wajah Ji-kaucu dengan penuh gusar dan perasaan dendam yang membara.
Tak terkira rasa terkesiap Ji-kaucu
menyaksikan sorot mata Bong Thian-gak itu, pikirnya, "Sekarang dia sudah terkena pukulan
Ji-gwat-soh-hun-ci dari Sim Tiong-kiu, namun luka yang diderita nampaknya tidak begitu parah, oh
... sungguh mengejutkan
tenaga dalam orang ini... bukan hanya Ji-gwat-soh-hun-ci yang tidak berhasil melukainya, ilmu
pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Si-hun-mo-li pun tampaknya
tak dapat melukainya, entah kepandaian silat apakah yang berhasil
dilatih olehnya."
Bukan hanya Ji-kaucu seorang yang
berpendapat demikian, bahkan Hong-kong Hwesio serta sekalian jago
pun merasa curiga di samping kagum atas kelihaian ilmu silat
Bong Thian-gak.
Tiba-tiba Sim
Tiong-kiu melompat bangun dari atas tanah, kemudian
berseru, "Lohu tidak percaya kalau kau masih mempunyai kemampuan
untuk melukai musuh dengan pedangmu itu."
"Kalau tidak percaya, mengapa tidak
datang kemari mencobanya sendiri?" jengek
Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.
Waktu itu Sim
Tiong-kiu telah kehilangan telapak tangan kanannya,
sehingga dengan demikian dia menjadi manusia cacat.
Dengan begitu
Bong Thian-gak, Sim
Tiong-kiu dan Liu Khi tiga orang berlengan tunggal saling
berdiri berhadapan dengan sikap bermusuhan.
Sorot mata Sim
Tiong-kiu memancarkan sinar kebencian dan perasaan
dendam ditujukan ke arah Liu Khi yang duduk bersila di atas tanah,
sebaliknya Bong Thian-gak
mengawasi gerak-gerik Sim Tiong-kiu tanpa berkedip.
Dia tahu tujuan serangan yang mematikan
Sim Tiong-kiu saat ini tak
lain adalah Liu Khi.
Di pihak lain,
Hong-kong Hwesio telah berseru memuji
keagungan sang Buddha, lalu
berkata, "Sim-sicu, di antara kita berdua masih terjalin dendam dan
hutang lama, apakah Sim-sicu tidak akan menagih hutang itu kepada
aku si Hwesio tua?"
Sim Tiong-kiu
memandang sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, kemudian bertanya, "Kau
tak usah berharap bisa meninggalkan kuil Hong-kong-si lagi dalam
keadaan hidup, biar kau punya sayap pun jangan mimpi bisa
meninggalkan tempat ini. Buat apa aku memusingkan diri dengan hutang
lama kita?"
"Sim-sicu, tentunya kau tidak akan
memberikan keuntungan yang amat besar kepada aku si Hwesio tua
bertiga bukan?"
"Biarpun lenganku kutung semua, aku
masih mampu melayani kalian bertiga," jengek
Sim Tiong-kiu dengan suara sedingin
es.
"Sim-sicu, tidakkah kau merasa bahwa
perkataanmu itu kelewat takabur?"
"Kau si Hwesio tua termasuk juga seekor
rase tua yang licik dan
banyak tipu muslihat, siapakah yang tidak tahu kau memang lebih suka
membiarkan orang lain turun ke gelanggang lebih dulu, sedangkan
kalian guru dan murid akan duduk sebagai si nelayan mujur yang
tinggal memungut hasilnya?"
Ketika mendengar perkataan kedua orang
itu, hati Bong Thian-gak
bergetar keras, segera pikirnya, "Ya, sejak awal hingga sekarang
HongĀkong Hwesio bertiga tak
pernah menggerakkan tangan biar satu gebrakan saja, mungkinkah si
Hwesio tua ini seperti apa yang dikatakan
Sim Tiong-kiu barusan. Berakal busuk, banyak tipu
muslihat dan mempunyai tujuan pribadi tertentu? Siapa tahu dia
memang sengaja membiarkan aku serta pihak Kay-pang turun gelanggang
terlebih dulu sebagai panglima pembuka jalan untuk menghadapi
Put-gwa-cin-kau?"
"Omitohud!" Hong-kong Hwesio berkata,
"setelah Sim-sicu berkata demikian, rasanya aku si Hwesio tua
bertiga tidak boleh cuma berpeluk tangan belaka."
"Soal dendam dan permusuhan yang
terjalin di antara kita, sesungguhnya kau harus sudah mulai
melancarkan serangan sejak tadi," jengek
Sim Tiong-kiu dingin.
Sembari berkata,
Sim Tiong-kiu mengulap tangan
kirinya ke tengah udara.
Tiga belas orang yang selama ini berdiri
mengepung arena itu serentak menyiapkan tombak dan bergerak
mempersempit kepungan mereka.
Biarpun langkah ketiga belas orang
berbaju hitam itu dilakukan sangat lambat, akan tetapi
Bong Thian-gak yang menyaksikan
kejadian itu paras mukanya berubah hebat.
Ternyata dia telah mengetahui ketiga
belas orang berbaju hitam yang bersenjata tombak itu rata-rata
memiliki kepandaian yang sangat tinggi, bahkan kemampuan mereka
rasanya tidak di bawah kemampuan seorang tokoh Bu-lim.
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam
benak Bong Thian-gak
... dia tahu dalam pertarungan malam
ini, sukar bagi pihaknya untuk mengungguli lawan, berarti
satu-satunya jalan yang tersedia bagi pihaknya adalah berusaha
meloloskan diri dari kepungan.
Berpikir sampai di sini tiba-tiba
Bong Thian-gak berbisik kepada Ang
Teng-siu, "Ang-huhoat, dengarkan, tatkala aku menyerang Si-hun-mo-li
nanti, kalian harus menghimpun segenap kekuatan untuk melindungi aku
agar lolos dari kepungan."
Baru saja perkataan itu selesai,
mendadak tampak Sim Tiong-kiu
dan Ji-kaucu telah mengundurkan diri ke arah timur, sebagai gantinya
ketiga belas orang berbaju hitam bertombak itu membentuk sebuah
barisan yang sangat aneh dan mengepung para jagoan di tengah
gelanggang.
Mendadak Ji-kaucu yang telah berada di
luar arena berteriak aneh, "Mo-li, mengapa kau tak mengundurkan
diri?"
Teriakan itu diutarakan dengan suara
tinggi melengking dan menusuk pendengaran, diutarakan dengan sangat
lamban.
Tatkala mendengar suara itu, bagi
Si-hun-mo-li seruan itu seakan-akan mengandung daya iblis yang luar
biasa, sekujur badannya gemetar keras, dengan cepat dia membalikkan
badan dan berjalan menuju ke arah Ji-kaucu.
Pada saat itulah tubuh
Bong Thian-gak secepat sambaran
kilat telah berkelebat ke depan dan mendorong tubuh Si-hun-mo-li ke
belakang.
Kini Pek-hiat-kiam telah disarungkan
kembali. Bong Thian-gak
dengan lengan tunggalnya yang lebih cepat daripada kilat dan lebih
tajam daripada pedang telah menyambar ke muka.
Sementara itu telapak tangan kanannya
sudah menyentuh tiga buah jalan darah penting di punggung
Si-hun-mo-li.
Seruan tertahan bergema, jalan darah
Mi-bun-hiat di punggung Si-hun-mo-li sudah kena terhajar.
Tapi pukulan itu tidak membuatnya tak
sadarkan diri, setelah bergemanya jeritan kaget, Si-hun-mo-li
membalikkan badan sambil melepaskan sebuah pukulan pula ke jalan
darah Ciang-hiat di dada Bong
Thian-gak.
Mimpi pun Bong
Thian-gak tidak menyangka Si-hun-mo-li sama sekali
tidak terpengaruh oleh serangan Hut-hiat-seng-meh-jiu-hoat yang
dilepaskan olehnya, dalam tertegunnya lekas dia mengegos ke samping
untuk menghindarkan diri.
Tentu saja serangan balasan Si-hun-mo-li
mengenai tempat kosong, tapi dia pun segera melompat ke depan dan
melayang pergi.
Dalam pada itu empat tombak panjang
telah menusuk ke tubuh Bong Thian-gak. Hong-kong Hwesio beserta kedua muridnya yang gagu dan
tuli turut menerima serangan pula, sudah jelas para jago dikepung
dalam pusat barisan tiga belas orang berbaju hitam.
Bong
Thian-gak
memang sudah mengetahui kelihaian ketiga belas orang baju hitam itu,
bila mereka sampai terkurung dalam barisan itu, biarpun dia dan
Hong-kong Hwesio belum tentu terkena musibah, namun para pelindung
hukum perguruannya bakal menemui celaka atau tertumpas sama sekali.
Itulah sebabnya
Bong Thian-gak segera membentak
keras, secepat kilat tangan kanannya melolos Pek-hiat-kiam, lalu
"Trang", percikan bunga api beterbangan ke empat penjuru.
Biarpun keempat tombak itu berhasil
ditangkis ke samping, namun sebatang tombak yang lain meluncur ke
punggung Bong Thian-gak
dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya.
Sedemikian cepatnya tombak itu hingga
pada hakikatnya hampir tiada orang yang bisa menghindarkan diri.
Ang Teng-siu yang berada di sisinya
segera berteriak kaget, "Hati-hati Buncu!"
Padahal teriakan Ang Teng-siu itu tidak
ada gunanya, biarpun Bong Thian-gak bermaksud menghindar, namun sudah dapat dipastikan ia akan
tewas di ujung tombak itu sejak tadi.
Kepandaian silat
Bong Thian-gak benar-benar telah
mencapai puncak kesempurnaan, tanpa berpaling lagi kaki kirinya maju
setengah langkah ke samping, tombak tadi segera menyambar lewat dari
bawah ketiaknya.
Jeritan ngerl
yang memilukan hati segera berkumandang memecah keheningan, sebutir
batok kepala orang berbaju hitam segera terbang ke udara.
Tapi dengan bergemanya suara jeritan
itu, secara beruntun bergema pula empat kali jeritan ngeri dan
dengusan tertahan lainnya.
Bong
Thian-gak
memandang ke arena, ternyata empat orang pelindung hukumnya
tertembus oleh empat tombak tajam pada bagian dadanya, darah segar
segera berhamburan kemana-mana, jiwa mereka pun lenyap seketika.
Tak terlukiskan rasa kaget
Bong Thian-gak, ia segera membentak,
"Ang Teng-siu, kalian tak usah bertarung lagi!"
Di tengah bentakan,
Bong Thian-gak melompat mundur,
pedang segera diayunkan membabat empat orang berbaju hitam.
Gerakan keempat orang beriteju hitam itu
cepat tak terlukiskan, baru saja serangan
Bong Thian-gak dilancarkan, tombak mereka sudah dicabut
dari tubuh mayat, kemudian serentak diayunkan ke muka untuk
menangkis datangnya ancaman pedang Bong
Thian-gak itu.
Di satu pihak
Bong Thian-gak terancam mara bahaya, di pihak lain
Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya juga mengalami nasib yang sama,
mereka menghadapi serangan demi serangan dari orang-orang baju hitam
dan tombaknya yang menyerang secara gencar.
Sedemikian bertubi-tubinya ancaman yang
datang, membuat ketiga orang itu hanya bisa menangkis belaka, pada
hakikatnya sudah tidak memiliki kemampuan lagi untuk melancarkan
serangan belasan.
Sesungguhnya kepandaian silat Hong-kong
Hwesio dan murid-muridnya sangat hebat, tenaga dalam yang mereka
miliki pun mengejutkan orang, tapi serangan tombak musuh amat
gencar, ini membuat suasana segera dikuasai lawan.
Jurus-jurus serangan tombak kawanan jago
berbaju hitam memang hebat dan tangguh, serangan-serangan mereka
atas lawan bukan serangan tunggal yang terpotong-potong, melainkan
serangan berantai yang betul-betul hebat.
Setelah tusukan itu lewat, tusukan lain
kembali meluncur datang dengan kecepatan tinggi, gerakan mereka yang
berantai seakan-akan ada seribu batang tombak yang menyerang tiada
hentinya.
Kepandaian silat yang dimiliki
Bong Thian-gak termasuk amat lihai,
seandainya dia berniat meloloskan diri dari kepungan musuh, hal itu
dapat dilakukan secara mudah, tapi dia tak bisa berbuat begitu, dia
wajib melindungi keselamatan jiwa keenam anak buahnya yang saat itu
sudah terkepung di tengah barisan lawan.
Dalam sengitnya pertarungan yang sedang
berlangsung, tiba-tiba Bong Thian-gak mengendus segulung bau harum yang aneh sekali.
Dengan terkejut dia pun segera
berteriak, "Hati-hati dengan racun jahat!"
Baru saja bentakan itu dikumandangkan,
Ang Teng-siu berenam sudah bertumbangan ke tanah.
Hong-kong Hwesio dan muridnya turut
sempoyongan pula seakan-akan setiap saat bakal roboh.
Dari luar lingkaran pengepungan, dengan
cepat bergema gelak tawa menyeramkan dari Ji-kaucu, kemudian ia
berseru penuh kebanggaan, "Untuk membekuk kalian, merupakan
pekerjaan yang amat mudah. Hahaha, sekarang seluruh halaman gedung
ini telah dipenuhi oleh asap dupa beracun Khi-hiang-gi-tok, akan
kulihat siapa lagi yang mampu meninggalkan halaman ini barang
selangkah pun."
Sementara itu
Bong Thian-gak telah menutup pernapasannya, tapi
berhubung dia sudah mengendus segulung bau racun, benaknya mulai
terasa kalut dan rasa pusing tiba secara bertubi-tubi.
Diiringi pekik nyaring yang menusuk
pendengaran, Bong Thian-gak
menghimpun tenaga dalamnya terus melejit ke udara, lalu dengan cepat
dia menerjang keluar lingkaran pekarangan.
Bayangan orang segera berkelebat di
udara, tiga orang berbaju hitam dengan menyilangkan tiga batang
tombak menghadang jalan pergi anak muda itu.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti
benak Bong Thian-gak
sekarang, pedangnya kontan dibacokkan kian kemari.
Pek-hiat-kiam memancarkan cahaya tajam
yang menyilaukan mata, hujan darah pun berhamburan.
Tiga sosok mayat orang berbaju hitam
segera rontok dari tengah udara, sedangkan
Bong Thian-gak sendiri juga ikut
terjatuh.
Ternyata serangan pedang yang
dilancarkan Bong Thian-gak
tadi merupakan serangan hawa pedang tujuh langkah melukai musuh,
merupakan ilmu tingkat paling tinggi dalam ilmu pedang. Begitu
serangan pedang dilancarkan, biarpun ada seratus orang terkumpul
dalam lingkungan tujuh langkah dari posisinya, semua akan tewas
dengan kepala terpenggal dan darah bercucuran, kelihaiannya luar
biasa.
Tapi ilmu pedang semacam ini juga boros
dalam penggunaan tenaga dalam, itulah sebabnya
Bong Thian-gak turut terjatuh.
Dengan mengendorkan hawa murni secara
tiba-tiba, Bong Thian-gak
kembali menghirup segulung udara.
Pada saat itulah Liu Khi yang berada di
sisi arena berseru sambil tertawa, "Kebenaran satu depa lebih
tinggi, satu tombak lebih tebal, biarpun racun dupa harum Ji-kaucu
sangat lihai, sayang sekali tidak manjur bagi orang
she Liu."
Bong
Thian-gak
menyaksikan beberapa titik cahaya putih memancar dari tangan Liu Khi
dengan kecepatan tinggi.
Dimana cahaya putih berkelebat, jeritan
ngeri bergema susul-menyusul.
Dalam pada itu tubuh
Bong Thian-gak sudah mulai gontai,
namun dia masih dapat menyaksikan sisa kesembilan orang berbaju
hitam itu satu demi satu terhajar golok terbang dan tergeletak di
atas tanah.
Tenaga dalam Liu Khi yang begitu
mengejutkan membuat Bong Thian-gak merasa terperanjat sekali.
"Hahaha, Liu Khi, sekarang tinggal kau
seorang. Rasanya kau tak akan mampu menandingi kami, bukan?"
Liu Khi tertawa dingin, balasnya,
"Ji-kaucu, perhitunganmu salah besar, Toa-cengcu
Kim-liong-seng-kiam-ceng Mo Hui-thian serta Han Siau-liong dari
partai kami telah sehat walafiat kembali, kekuatan kami cukup untuk
bertarung melawan kalian."
Ketika mendengar itu,
Bong Thian-gak mendongakkan
kepalanya, benar juga Han Siau-liong serta Mo Hui-thian telah
bangkit semua.
Sambil tertawa dingin Mo Hui-thian
berkata, "Sim Tiong-kiu,
Ji-gwat-soh-hun-ci (ilmu jari pengunci sukma) tak bisa membunuh
orang. Hehehe, padahal kau terlalu percaya pada kemampuanmu sendiri,
kau anggap Mo Hui-thian itu siapa? Memangnya bisa dibunuh oleh
serangan jarimu itu?"
Sekarang Bong
Thian-gak baru sadar bahwa Liu Khi dan Mo Hui-thian
memang benar-benar mempunyai tujuan pribadi, rupanya dia dan
Hong-kong Hwesio sekalian memang sengaja diatur agar bisa menahan
kekuatan Put-gwa-cin-kau paling dulu, kemudian merekalah yang akan
menjadi si nelayan mujur yang tinggal memungut hasilnya.
Kelicikan dan kemunafikan orang-orang di
dunia persilatan memang sungguh menakutkan.
Secara lamat-lamat
Bong Thian-gak menyaksikan pula
bagaimana Liu Khi, Mo Hui-thian serta Han Siau-liong sekalian
melangsungkan pertarungan sengit melawan Ji-kaucu dan
Sim Tiong-kiu sekalian.
Sayang racun dupa sudah semakin
menyerang kesadarannya, lambat-laun Bong
Thian-gak mulai pudar kesadarannya sebelum akhirnya tak
sadarkan diri.
Bagaimana hasil pertarungan berdarah
antara Liu Khi sekalian dengan Put-gwa-cin-kau? Tentu saja dia tak
dapat melihat dengan mata kepala sendiri.
ooOoo
Angin berhembus kencang, putaran roda
kereta bergema memecah keheningan.
Ketika Bong
Thian-gak sadar dari pingsannya, dia lihat keempat
anggota badannya sudah dirantai orang, rantai yang amat besar dan
berat. Kini dia sedang berbaring dalam kereta kuda yang gelap-gulita
hingga tak nampak kelima jari tangannya.
Tatkala baru mendusin dari pingsannya
tadi, Bong Thian-gak
merasakan sekujur badannya linu dan sakit. Badannya terasa kaku dan
kesemutan, maka itu dia berbaring saja tanpa bergerak untuk
sementara waktu, telinganya menangkap suara derap kaki dan roda
kereta, segera menyadarkan dia bahwa dirinya sedang berada dalam
perjalanan.
Selang beberapa saat,
Bong Thian-gak coba untuk
menyalurkan hawa murninya mengelilingi badan, ternyata semuanya
berjalan normal. Semua ini membuat hatinya lega.
Dia mencoba untuk duduk, ternyata rantai
yang membelenggu anggota tubuhnya diikat pada lantai kereta, karena
itu biarpun dia bisa duduk tegap, namun sama sekali tak sanggup
menggeser tubuh barang setengah langkah pun.
Dengan mengerahkan ketajaman matanya,
Bong Thian-gak mencoba
memperhatikan rantai yang besarnya seibu jari itu. Dia tahu, dengan
tenaga dalam yang dimilikinya sulit rasanya untuk mematahkan rantai
itu.
Maka setelah menghela napas panjang,
terpaksa dia hanya duduk tenang dalam kereta, pikirnya, "Orang-orang
Put-gwa-cin-kau berhasil membekukku, hendak dibawa kemanakah
diriku?"
Membayangkan hal itu, tanpa terasa
Bong Thian-gak memicing mata
dan mengintip lewat sela-sela lantai kereta.
Yang terlihat olehnya hanya padang
rumput yang sangat luas, tiada sesuatu yang aneh atau luar biasa
sehingga timbul perasaan jemu bagi siapa pun yang melihatnya.
Bong
Thian-gak
segera mengalihkan sorot matanya, mengintip dari sudut lain.
Kali ini dia berhasil melihat kereta
yang ditumpanginya dihela oleh enam kuda yang tinggi besar dan
gagah, tampak di bagian kusir duduk tiga orang sais.
"Hei, mengapa aku tidak mencoba bertanya
kepada mereka?" satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya.
Belum lenyap ingatan itu, suara bentakan
bergema, menyusul terdengar pula suara ringkik kuda.
Kereta kuda yang sedang dipacu kencang
itu seketika terhenti.
Dengan cepat
Bong Thian-gak mengalihkan pandangan matanya keluar
celah-celah dinding kereta.
Mendadak dia saksikan dua titik cahaya
putih menyambar datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Menyaksikan kedua titik cahaya itu,
Bong Thian-gak menjadi amat
terkejut, diam-diam dia berpekik dalam hati, "Golok sakti berlengan
tunggal!"
Ternyata dia mengenali kedua titik
cahaya putih itu sebagai sambaran pisau terbang milik Liu Khi yang
menggetarkan seluruh jagat.
"Bila pisau terbang Liu Khi sudah
disambit keluar, sudah pasti kedua kusir di atas kereta akan tewas
dalam keadaan mengerikan!" pikir Bong
Thian-gak dalam hati.
Kenyataan suasana di sekeliling tempat
itu memang amat sepi dan hening.
Tapi selang beberapa saat kemudian
tiba-tiba terdengar suara Liu Khi, "Kalian berdua bisa menghindarkan
diri dari sambaran pisau terbangku, ini membuktikan ilmu silatmu
pasti luar biasa, ayo cepat sebutkan siapa namamu?"
Bong
Thian-gak
terkejut bercampur keheranan setelah mendengar ucapan itu, pikirnya,
"Aku sudah pernah menyaksikan kehebatan pisau terbang Liu Khi,
kenyataan sekarang kedua kusir itu mampu menghindar dari sambaran
pisau terbangnya, terbukti ilmu silat mereka memang hebat."
Dalam pada itu satu di antara kedua
kusir kereta itu telah berkata diiringi suara tawanya yang
menyeramkan, "Tampaknya kau adalah Liu Khi."
Bong
Thian-gak
yang mengintip dari balik celah-celah kereta dapat melihat dengan
jelas bahwa di antara jalan raya, berdiri tegak seorang jangkung
bertubuh ceking dan berjubah hitam, orang itu jelas Liu Khi adanya.
Cahaya mata yang tajam dan menggidikkan
mencorong dari balik mata Liu Khi, diawasinya kedua orang yang
berada di atas kereta itu, kemudian setelah tertawa seram, katanya,
"Betul, akulah Liu Khi, kau anggap ada orang yang berani menyaru
sebagai diriku?"
Baru selesai perkataan itu, dari atas
kereta bergema lagi gelak tawa panjang, "Sudah lama kudengar pisau
terbang Liu Khi konon akan membawa bencana bila dilepaskan,
selamanya tidak pernah meleset, tapi kenyataannya pada malam ini
... hahaha
...."
Suara gelak tertawa panjang yang sinis
dan mengandung nada penghinaan segera bergema.
Sementara itu Liu Khi menanti dengan
tenang, sampai gelak tawa mereka reda, dia berkata dengan hambar,
"Biarpun kalian berdua bisa menghindarkan diri dari pisau terbangku,
apakah dapat juga menghindarkan diri dari bacokan golok yang
terselip di pinggangku sekarang?"
"Silakan saja dibuktikan," ucap orang
yang berada di atas kereta itu seram.
"Bagus sekali."
Begitu kata terakhir diutarakan, Liu Khi
sudah berkelebat ke depan dengan kecepatan tinggi.
Mendadak dari atas kereta berkumandang
suara seruan kaget serta jerit kesakitan.
"Blam", diiringi suara benturan keras,
papan kereta bagian depan telah jebol sebuah lubang besar, percikan
darah segar segera berhamburan dari dalam kereta, menyusul hancuran
kayu berserakan kemana-mana.
Sekarang Bong
Thian-gak bisa menyaksikan wajah Liu Khi yang berdiri
di depan kereta dengan lebih jelas, dua sosok mayat yang berlumuran
darah kelihatan tergeletak di sisi sebelah kiri.
Tampaknya satu di antara mereka belum
menemui ajal, dengan suara mengerikan ia berseru, "Golok saktimu
... sungguh cepat, aku
...."
Sebelum selesai perkataan itu, orangnya
sudah menghembuskan napas penghabisan.
Bong
Thian-gak
duduk dalam ruangan kereta tanpa bergerak, rupanya dia pun dibuat
terperanjat oleh kecepatan golok Liu Khi.
"Sebenarnya dengan cara bagaimanakah dia
menghabisi nyawa kedua orang itu?" berbagai ingatan menyelimuti
benak Bong Thian-gak.
Pada saat itu Liu Khi masih berdiri
tanpa menggenggam goloknya, ini membuktikan setelah ia mencabut
senjatanya membunuh kedua lawannya tadi, golok itu disarungkan
kembali ke sisi pinggangnya.
Dalam pada itu Liu Khi dengan sorot mata
yang menggidikkan juga sedang mengawasi
Bong
Thian-gak yang berada dalam kereta, ujarnya
hambar, "Bong-buncu, kalau kau sudah sadar, mengapa tidak berusaha
melepas dirimu sendiri?"
Bong
Thian-gak
tertawa dingin. "Memangnya kau datang kemari untuk menolongku?" dia
balik bertanya. "Aku datang untuk membunuhmu."
"Kalau demikian, mengapa belum juga
turun tangan?"
"Aku sedang mencari kesempatan."
"Kini anggota tubuhku dirantai, bukankah
kesempatan baik ini sukar dijumpai?"
Ketika mendengar ucapan itu, Liu Khi
segera mengawasi badan Bong Thian-gak dengan lebih seksama, kemudian dia baru manggut-manggut
seraya ujarnya, "Aku tidak melihat kaki tanganmu dirantai orang,
andaikata kulancarkan serangan dengan membabi-buta tadi, sudah pasti
akan kusesali sepanjang zaman."
"Mengapa menyesal?"
"Kau anggap membunuh orang yang sama
sekali tak bisa berkutik adalah suatu perbuatan yang membanggakan?"
Bong
Thian-gak
tersenyum.
"Kalau dibicarakan soal untung-ruginya,
aku rasa hal itu tak perlu diperhatikan lagi."
Mendadak Liu Khi menarik wajah dan
berkata dengan suara sedingin es, "Bohg Thian-gak dengarkan
baik-baik. Selagi berada dalam kuil Hong-kong-si, kau pernah
menyelamatkan jiwaku satu kali, malam ini aku telah membantumu pula
lolos dari kesulitan dengan menghabisi nyawa mereka, berarti di
antara kita berdua sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada
siapa."
"Tapi kau belum membantuku membuang
semua belenggu yang membebani tubuhku?"
"Betul!" Liu Khi tertawa dingin.
"Sekarang juga aku akan memapas kutung rantai itu."
Selesai berkata, cahaya golok kembali
berkelebat tiga kali.
Bong
Thian-gak
merasa kulit badannya tersambar angin dingin, disusul suara
gemerincing nyaring, tahu-tahu rantai yang membelenggu kaki
tangannya sudah rontok ke atas tanah.
Ketika ia mendongakkan kepala, tampak
golok panjang itu sudah tersoreng kembali di pinggang Liu Khi.
Dengan perasaan kaget dan heran
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, katanya, "Ilmu golokmu benar-benar tidak ada tandingannya,
lagi pula golok yang tersoreng di pinggangmu itu sudah pasti senjata
mustika yang dulu diandalkan panglima kenamaan."
Sembari berkata, pelan-pelan
Bong Thian-gak berdiri dari lantai
kereta.
Mendadak Liu Khi berkata dengan suara
dalam, "Perhatikan baik-baik, setiap saat aku akan melolos lagi
golokku untuk mencabut nyawamu."
"Sungguhkah itu?" tanya
Bong Thian-gak dengan wajah
tertegun.
"Buat apa aku berbohong?" Liu Khi
tertawa dingin.
Untuk kesekian kalinya
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, "Ai, sikapmu yang sebentar bersahabat sebentar bermusuhan,
benar-benar membuat aku tidak habis mengerti."
"Asalkan Bong-buncu bersedia
mempersembahkan harta-karun itu, aku bersedia bekerja sama dengan
pihak kalian," kembali Liu Khi berkata dengan suara hambar.
"Peta harta-karun?"
Bong Thian-gak mengerutkan dahi.
"Kau maksudkan peta harta-karun peninggalan Mo-lay-cin-ong?"
"Betul, peta harta-karun inilah yang
kumaksudkan," Liu Khi berkata sambil tertawa dingin, "Hong-kong
Hwesio bilang, benda itu sudah berada di tangan Bong-buncu."
Sambil tertawa
Bong Thian-gak menggeleng kepala.
"Liu-sianseng telah dibohongi Hong-kong
Hwesio rupanya, aku berani bersumpah tak pernah mendapatkan peta
harta-karun itu."
"Bong-buncu adalah orang yang pertama
kali datang di kuil Hong-kong-si, kenyataan sekarang peta
harta-karun itu tidak berada di tangan Hong-kong Hwesio dan muridnya
lagi. Lantas berada di tangan siapa kalau bukan berada di tanganmu?"
kata Liu Khi.
Bong
Thian-gak
menggeleng kepala lagi.
"Sewaktu berada di kuil Hong-kong-si,
bukankah Liu-sianseng telah melihat dengan mata kepala sendiri
bagaimana aku terkena racun dupa Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau dan roboh
tak sadarkan diri, hingga setengah jam berselang aku baru mendusin
dari pingsanku. Ai, apakah Liu-sianseng bersedia menerangkan
bagaimana akhir pertarungan di kuil Hong-kong-si?"
"Hong-kong Hwesio, Mo Hui-thian, Han
Siau-liong, dan aku berempat berhasil menerjang keluar kepungan,"
ucap Liu Khi dingin.
"Bagaimana dengan para pelindung hukum
perkumpulan kami?"
"Enam orang pelindung hukum bersama
kedua murid Hong-kong Hwesio telah menemui ajal dalam pertarungan."
Mendengar perkataan itu,
Bong Thian-gak menghela napas
panjang dengan sedih, "Ai, kerugian yang diderita partai kami
semalam betul-betul besar sekali!"
Liu Khi tertawa dingin.
"Kecuali kau dan aku berdua yang tidak
menderita luka dalam yang parah, Hong-kong Hwesio beserta Han
Siau-liong dan Mo Hui-thian terluka parah."
"Kalau begitu pertolongan yang
Liu-sianseng berikan sekarang adalah demi peta harta-karun itu?"
"Boleh dibilang begitu."
"Kalaii begitu aku
bersedia mengajakmu pergi mencari
peta harta-karun itu."
"Kau hendak membawa aku kemana?"
"Soal ini tak perlu kau tanyakan, kini
Hong-kong Hwesio berada dimana?"
"Bong-buncu, bila kau tidak bersedia
untuk bekerja sama denganku, jangan salahkan bila aku orang
she Liu turun tangan keji kepadamu!"
ancam Liu Khi sambil tertawa dingin.
Bong
Thian-gak
kembali menghela napas panjang.
"Seandainya peta harta-karun itu
benar-benar berada di sakuku, dan aku sudah dibekuk orang sekian
lama, kau anggap peta itu masih utuh di sakuku?"
"Betul!" Liu Khi manggut-manggut,
"Orang-orang Put-gwa-cin-kau mustahil tidak melakukan penggeledahan
atas dirimu, tapi kau pun tak bakal sebodoh ini dengan
menyembunyikan peta harta-karun itu dalam sakumu!"
Bong
Thian-gak
segera menggeleng kepala sambil tertawa getir, "Liu-sianseng
benar-benar sudah ditipu habis-habisan oleh Hong-kong Hwesio. Bila
kau tidak percaya, mari kita bersama-sama berangkat ke tempat
tinggalnya untuk menanyakan persoalan ini kepadanya."
"Tidak usah," tampik Liu Khi sambil
tertawa dingin.
Untuk kesekian kalinya
Bong Thian-gak menghela napas
panjang.
"Ai, benda mustika di kolong langit
hanya dimiliki oleh mereka yang berjodoh, aku sama sekali tidak
berniat mendapatkan harta karun itu."
"Hehehe, siapa yang mau percaya ucapanmu
itu?"
"Bila Liu-sianseng tidak percaya, aku
pun tak bisa berbuat apa-apa."
Mendadak Liu Khi menarik wajah, lalu
berkata, "Sebenarnya aku ingin membunuhmu, tapi aku selalu kuatir
tak mampu menghabisi nyawamu dalam sekali ayunan golok."
"Di antara kita berdua boleh dibilang
tiada dendam sakit hati apa pun, aku rasa kita tak perlu
menyelesaikan persoalan ini dengan mempergunakan kekerasan."
"Tapi bagi umat persilatan pun tidak
selalu harus membunuh orang dikarenakan ada hubungan permusuhan
ataupun dendam."
"Betul," Bong
Thian-gak mengangguk, "tapi aku rasa tiada kepentingan
bagi kita berdua melangsungkan duel menentukan mati-hidup."
"Memang begitulah kenyataannya, maka
dari itu aku harus mohon diri dulu.".
Selesai berkata, Liu Khi segera melejit
ke tengah udara dan berlalu dari sana.
Mimpi pun Bong
Thian-gak tak pernah menyangka kalau Liu Khi bakal
angkat kaki begitu selesai mengatakan hendak pergi, sementara dia
masih tertegun, bayangan tubuh Liu Khi sudah lenyap dari pandangan
mata.
Menanti Bong
Thian-gak berjalan keluar dari ruang kereta, mendadak
muncul seseorang di hadapannya.
Di bawah cahaya bintang, tampak orang
itu mengenakan pakaian berwarna putih bersih, rambutnya juga
berwarna putih, rambut yang panjang itu hampir menyentuh permukaan
tanah.
Melihat kemunculan orang tak diundang
ini, Bong Thian-gak merasa
amat terperanjat, dia segera menghardik, "Siapakah kau?"
Bong
Thian-gak
kuatir lawan itu setan atau sukma gentayangan.
Padahal kemunculan orang itu amat
misterius dan sama sekali tidak menimbulkan suara, apalagi rambut
putihnya yang terurai hampir menyentuh tanah, membuat bentuk orang
itu mirip bayangan setan yang muncul di tengah kegelapan.
Tanpa mengeluarkan sedikit suara pun,
orang berambut putih itu berdiri di hadapannya, kendati begitu
sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan, sinar
tajam itu mencorong dari matanya yang tertutup rambut putih dan
mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Sambil tertawa dingin
Bong Thian-gak segera menegur, "Hei,
mengapa kau tidak bersuara?"
Orang berbaju putih itu masih saja
membungkam, namun Bong Thian-gak dapat melihat tubuhnya bergerak seperti sukma gentayangan,
tubuhnya tidak bergoyang, lututnya tidak menekuk, namun dia bergerak
mendekatinya.
Melihat cara lawan menggerakkan tubuh,
Bong Thian-gak terkesiap, dia
sadar lawan memiliki ilmu silat yang sangat dahsyat.
Dalam terkesiapnya, cepat
Bong Thian-gak mengerahkan hawa
sakti Tat-mo-khi-kang untuk melindungi seluruh badannya.
Pada saat itulah tiba-tiba orang itu
bergerak maju lagi.
Ketika segulung angin berkelebat, rambut
putih yang panjang dan terurai ke bawah itu tiba-tiba bergerak dan
langsung menggulung ke lubuh anak muda itu.
"Blam", bunyi ledakan yang keras
bergema.
Rambut panjang yang menggulung datang
mengikuti hembusan fingin tadi segera terhajar oleh segulung hawa
sakti tanpa wujud yang membuatnya terpental balik.
Orang berbaju putih itu segera memutar
tubuhnya sebanyak tiga kali seperti gangsingan, lalu jeritnya.
"Siapakah kau?"
"Ban-lau-loan-sin-kang (tenaga lembut
selaksa serat) milikmu betul-betul pantas disebut ilmu manunggal di
kolong langit," ucap Bong Thian-gak sambil tersenyum. "Seandainya aku tidak mempersiapkan diri
sebelumnya, saat ini tubuhku pasti sudah penuh lubang berdarah dan
tewas sejak tadi."
Ternyata sapuan rambut putih yang
menggulung cepat tadi merupakan sejenis ilmu silat yang sangat hebat
dalam persilatan, ketika lawan melontarkan rambutnya yang lembut
tadi, sesungguhnya ibarat beribu-ribu batang jarum lembut dan pedang
tajam yang menyapu tiba.
Dengan pandangan terkejut bercampur
keheranan, orang itu segera bertanya, "Hawa Sin-kang apakah yang
telah kau pergunakan untuk mematahkan Ban-si-ciam (selaksa jarum
lembut) tadi?"
Sekarang Bong
Thian-gak dapat melihat jelas raut wajah lawan,
ternyata orang itu berwajah pucat seperti salju, bentuk mukanya
mirip monyet dan usianya antara enam puluh tahun.
Sambil berkerut kening
Bong Thian-gak bertanya, "Siapakah
nama besarmu?"
"Mengapa kau tidak menjawab dulu
pertanyaanku?" kata orang berambut putih.
Bong
Thian-gak
tertawa dingin, "Hm, dilihat dari caramu melancarkan serangan keji
tadi, mungkin kau telah mengetahui asal-usulku. Mengapa aku mesti
memberitahukan lagi kepadamu?"
Orang berambut putih itu tertawa
terkekeh-kekeh, "Hehehe, betul, kau pasti Jian-ciat-suseng atau si
Golok sakti berlengan tunggal, bukan?'
"Aku adalah Jian-ciat-suseng," jawab
Bong Thian-gak.
"Ehm, aku sendiri adalah Pek Kau-kim
(siluman monyet putih) dari gunung Thian-san," orang berambut putih
itu memperkenalkan diri.
"Kau bernama Pek Kau-kim?" tanya
Bong Thian-gak sambil berkerut
kening.
"Aku she
Pek bernama Kau-kim, kalau tidak bernama Pek Kau-kim,
lantas mesti bernama apa?"
"Rasanya di antara kita tak pernah
terikat dendam kusumat atau sakit hati apa pun, bukan?" tanya
Bong Thian-gak.
Sekali lagi Pek Kau-kim tertawa
terkekeh, "Kau bukan yang membunuh kedua orang itu?"
"Bukan, bukan aku pembunuhnya,"
Bong Thian-gak menggeleng.
"Kalau bukan kau, lantas siapa yang
telah membunuh mereka?" tiba-tiba Pek Kau-kim membentak.
Bong
Thian-gak
termenung sebentar, kemudian dia balik bertanya, "Boleh aku tahu,
apa hubungan antara kedua korban itu dengan dirimu?"
"Mereka adalah muridku."
"Aduh celaka!" keluh
Bong Thian-gak dalam hati. "Kalau
kedua orang itu adalah muridnya, bisa celaka!"
Berpikir sampai di situ, katanya
kemudian sambil menghela napas panjang, "Locianpwe, murid-muridmu
bukan tewas di tanganku, bila kau tidak percaya, silakan meneliti
kembali bekas-bekas luka mereka."
Pek Kau-kim tertawa seram.
"Kedua orang muridku ini diam-diam kabur
turun gunung ketika aku sedang menutup diri, mereka memang pantas
mampus. Cuma dengan kematian mereka, aku harus mencari seorang murid
yang lain untuk menggantikan mereka berdua. Hm, Lohu ingin menerima
kau sebagai muridku, ayo cepat ikut aku pulang ke gunung!"
Mendongkol bercampur geli
Bong Thian-gak setelah mendengar
perkataan itu, kemudian ujarnya, "Walaupun
aku merasa sangat gembira dapat menjadi muridmu, tapi hatiku
bergidik sendiri melihat sikapmu yang acuh tak acuh dan sama sekali
tidak menaruh perasaan iba mengetahui murid-muridmu mati terbunuh."
Mendadak Pek Kau-kim melotot, ia
mengawasi Bong Thian-gak
tanpa berkedip, lalu tanyanya, "Apakah kau menyuruh aku membalas
dendam kematian mereka?"
Bong
Thian-gak
manggut-manggut.
"Bila murid terbunuh, sebagai guru kau
wajib membalas dendam bagi kematian muridmu."
"Kalau begitu, kau memang benar-benar
harus mati."
Di tengah pembicaraan itu, Pek Kau-kim
segera menggetarkan tubuh, rambutnya yang panjang dengan dahsyat dan
kecepatan tinggi langsung menusuk Bong
Thian-gak dari atas ke bawah. Mimpi pun
Bong Thian-gak tidak menyangka lawan
bakal melancarkan serangan sekali lagi, kali ini dia belum sempat
menghimpun hawa murni Tat-mo-khi-kang untuk melindungi seluruh
badan, maka ia terpaksa menghindar.
Tiba-tiba Bong
Thian-gak merasakan dadanya amat sakit, dia menjerit
kgsakitan.
Bong
Thian-gak
terguling jatuh dari atas kereta dan tergeletak di atas tanah.
Gelak tertawa yang aneh memanjang dan
penuh nada kebanggaan bergema, Pek Kau-kim mendesak maju dengan
cepat, tangan kanannya secepat kilat menyambar tubuh
Bong Thian-gak sambil bentaknya,
"Aku tidak percaya kau masih bisa meloloskan diri dari serangan
jarum serat Pek Kau-kim!"
Baru selesai perkataan itu.
Bong Thian-gak yang sudah tergeletak
di atas tanah itu, mendadak melompat sambil melepaskan sebuah
tendangan dengan kaki kanannya.
Jeritan aneh seperti pekikan monyet
segera berkumandang, tubuh Pek Kau-kim mencelat, lalu "blam", roboh
terjungkal di tanah.
Pek Kau-kim tak pernah bisa merangkak
bangun kembali dari tanah.
Sebaliknya
Bong Thian-gak sendiri pun tak mampu merangkak bangun
untuk sementara waktu, lengan tunggalnya digunakan untuk memegangi
dada, sedangkan wajahnya pucat memperlihatkan rasa kesakitan, dia
harus bergerak beberapa kali ke kiri dan kanan sebelum dapat
merintih.
Setelah suara rintihan itu, rasa sakit
yang menusuk dada Bong Thian-gak pun mereda dengan sendirinya. Ia sadar bahwa dirinya
selamat.
Ternyata setelah terkena babatan rambut
panjang Pek Kau-kim tadi, ada tujuh-delapan buah jalan darah di dada
Bong Thian-gak yang nyaris
tersumbat, ini menyebabkan hawa darah yang berada dalam dada
berhenti untuk sesaat, napas pun ikut berhenti, membuat anak muda
itu nyaris roboh tak sadarkan diri.
Ketika Bong
Thian-gak berhasil menghirup udara, mendadak dari
kejauhan sana muncul sesosok bayangan manusia.
Belum lagi bayangan tubuhnya berjalan
mendekat, bau harum aneh yang amat menusuk penciuman telah berhembus
mengikuti angin gunung.
Tatkala Bong
Thian-gak menghirup udara lagi, ia sudah merasakan bau
harum seperti bau bunga anggrek, air mukanya berubah hebat, dengan
cepat ia melompat bangun.
Sorot matanya segera dialihkan ke arah
datangnya bau harum bunga anggrek tadi.
Beberapa tombak di hadapannya kini
berdiri seorang perempuan cantik bertubuh montok.
Ia mengenakan pakaian puth yang halus,
rambutnya disanggul dan di atasnya dilingkari tiga butir mutiara
yang memancarkan sinar gemerlapan.
Wajah perempuan itu tampak begitu angker
dan serius, angkuh dan berwibawa seperti seorang ratu, terutama
sorot matanya yang jeli dan tajam.
Gemetar keras sekujur tubuh
Bong Thian-gak menyaksikan kehadiran
perempuan itu, serunya dengan suara gemetar, "Kau
... kau adalah Cong-kaucu."
Bong
Thian-gak
sudah pernah bersua dengannya, malah bagian lubuhnya yang paling
rahasia pun pernah dilihatnya dengan jelas dan nyata, sudah barang
tentu dia kenal Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau yang amat termasyhur.
Perempuan cantik itu tertawa, tertawa
amat manis.
Setelah itu ia mulai tertawa cekikikan,
suaranya kian lama kian jalang, seperti suara pelacur yang sedang
memperoleh puncak kenikmatan.
"Jian-ciat-suseng, kau masih mengenali
aku, mengapa wajahmu piicat-pias? Hihihi, jangan harap kau dapat
meloloskan diri dari cengkeramanku
hari ini."
Dengan lemah-gemulai dan pinggul
bergoyang, selangkah demi
selangkah
ia berjalan mendekati Bong
Thian-gak.
Sekarang Bong
Thian-gak sadar, biar dia punya sayap pun, jangan harap
bisa lolos dari cengkeramannya.
Dengan sorot mata tajam tanpa berkedip,
ia mengawasi perempuan itu berjalan hingga tiba di hadapannya,
mendadak perempuan itu mengayun tangan kanannya.
Tiga jalan darah penting di tubuhnya
seketika tertotok, kemudian apa yang terjadi tak teringat lagi
olehnya.
oo
©oo
PENDEKAR CACAT
Karya : Gu Long
Saduran : Can ID
Bagian 14 : Lolos dari maut di
markas Put-gwa-cin-kau
Dalam lamat-lamatnya suasana,
Bong Thian-gak menangkap suara
nyaring perempuan yang sedang
berkata dengan lembut, merdu dan manis, "Jian-ciat-suseng, kau telah
menelan sebutir pil Siau-hun-wan.
Siau-hun-wan merupakan pil dewa bagi
manusia, khasiatnya boleh dibilang tak terlukiskan dengan
kata-kata."
Dalam keadaan tubuh yang lemah-lunglai
dan kesadaran yang masih samar-samar, Bong
Thian-gak membuka mata lebar-lebar.
Ternyata dia sedang berbaring di atas
ranjang yang terletak dalam sebuah kamar dengan cahaya lentera
berwarna merah. Selembar wajah cantik, tapi memancar senyuman genit
dan jalang terpapar tepaf di depan mata.
Bong
Thian-gak
masih mempunyai kesadaran yang jernih, dia dapat mengenali raut
wajah itu, Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Tatkala sinar matanya dialihkan ke
bawah, hatinya kembali berdebar, ternyata perempuan itu hanya
menutupi tubuhnya yang telanjang dengan selembar kain sutera
berwarna putih yang amat tipis.
Dengan cepat
Bong Thian-gak mengalihkan kembali sorot matanya ke
arah lain, tanyanya cepat, "Obat apa yang telah kau cekokkan
kepadaku?"
Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh dengan
suaranya yang amat jalang, "Hihihi, pil Siau-hun-wan. Satu jam
kemudian kau akan mengetahui dengan sendirinya manfaat obat itu."
Pucat-pias wajah
Bong Thian-gak mendengar perkataan
itu, dia menghela napas sedih, lalu katanya, "Kumohon kepadamu,
bunuhlah aku!"
Rupanya Bong
Thian-gak tahu Siau-hun-wan merupakan sejenis obat
perangsang yang bisa mengalutkan orang. Sebagai orang pandai, sudah
tentu dia tahu akibat obat itu bila mulai bekerja, dia bakal menjadi
seorang berhati binatang yang kehilangan akal budi, saat itu dia
hanya tahu bagaimana melampiaskan napsu birahi.
Sambil tertawa merdu Cong-kaucu kembali
berkata, "Membunuh kau? Oh, tak semudah itu. Aku harus mempermainkan
dirimu sampai puas sebelum menghabisi nyawamu, sebab aku kelewat
membenci dirimu, boleh dibilang kau adalah lelaki yang paling
kubenci di kolong langit dewasa ini."
Dalam keadaan demikian,
Bong Thian-gak terbayang kembali
bagaimana dia menghina dan mencemooh perempuan itu.
Tiba-tiba Bong
Thian-gak meronta bangun, tapi entah mengapa sekujur
badannya terasa lemas seolah-olah tak bertenaga, keempat anggota
badannya lemas, tak setitik tenaga pun yang tersisa dalam tubuhnya.
Merasakan hal itu,
Bong Thian-gak baru tahu segala
sesuatunya bakal berakhir.
Diiringi gelak tertawa merdu, Cong-kaucu
melanjutkan kata-katanya, "Tempo hari kau telah membiarkan aku
merasakan bagaimana tersiksanya oleh kobaran api birahi, maka hari
ini aku pun menyuruh kau merasakan juga bagaimana enaknya
penderitaan itu."
"Siau-hun-wan adalah pil perangsang yang
akan membuktikan hawa napsu kaum lelaki. Satu jam kemudian obat itu
akan mulai bekerja, saat itu kau akan berubah seperti binatang yang
sedang birahi, kau hanya tahu bagaimana melampiaskannya, tapi kau
tak akan pernah bisa memadamkan kobaran api birahimu itu, sebab
Siau-hun-wan adalah sejenis obat perangsang yang mengandung racun
jahat, barang siapa herani mengadakan hubungan kelamin denganmu,
maka perempuan itu akan mengisap sari racun tubuhmu yang akan
berakibat kematian baginya. Oleh karena itu kau harus merasakan
penderitaan kobaran api birahi untuk waktu lama tanpa memperoleh
kesempatan melampiaskan.
"Penderitaan akan datang berulang-ulang.
Saat kau menelan Siau-hun-wan ketiga, api birahi akan merusak semua
syarafmu, saat itu kau akan berubah menjadi manusia tanpa sukma,
tanpa pikiran, kau hanya akan menuruti perintahku, selama hidup akan
tunduk dan menuruti perkataanku."
Peluh dingin jatuh bercucuran membasahi
badan Bong Thian-gak
setelah
mendengar perkataan itu,
dia menghela napas sedih, lalu kitanya, "Apakah Thay-kun juga
menderita akibat perbuatanmu ini?"
"Benar," Cong-kaucu tertawa cekikikan.
"Dia pun pernah merasakan siksaan itu hingga menyebabkan kejernihan
otaknya punah."
"Aku kuatir obat beracunmu itu bakal
ketemu batunya dan tidak manjur seperti yang kau harapkan," jengek
Bong Thian-gak sambil tfitawa
dingin.
Sekali lagi Cong-kaucu cekikikan.
"Siau-hun-wan adalah obat mujarab yang
diciptakan Gi Jian-cau, khasiatnya luar biasa dan selama hidup tidak
akan meleset."
Mendengar ucapan itu.
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, biarpun ia belum pernah bersua Gi Jian-cau, tapi dia pun
termasuk anggota Hiat-kiam-bun. Mengapa orang itu bersedia
menciptakan obat beracun dan membantu Cong-kaucu mencelakai umat
persilatan?
Tiba-tiba Cong-kaucu bangkit, lalu
dengan lemah-gemulai beranjak keluar dari dalam kamar.
Bong
Thian-gak
berbaring di atas pembaringan dengan tenang, sedang benaknya mencari
akal bagaimana caranya melepaskan diri dari cengkeraman iblis itu.
Dia meronta dan berusaha merangkak
kabur, akan tetapi sayang sekali tubuhnya lemas dan sama sekali
tidak bertenaga.
Mendadak terdengar suara derap kaki
manusia mendatangi. Bong Thian-gak segera menoleh.
Dari balik ruangan tiba-tiba muncul tiga
orang perempuan, dua gadis berdandan genit dan seorang lagi
perempuan berusia empat puluh, tubuhnya montok dan bahenol.
Sorot mata
Bong Thian-gak seolah-olah tertarik atas kehadiran
perempuan berbaju hijau itu, dia menatap tubuh perempuan itu tanpa
berkedip.
Ketika perempuan setengah umur berbaju
hijau itu melihat jelas wajah Bong
Thian-gak yang berbaring di atas ranjang, dia pun nampak
terkejut dan serentak menghentikan langkahnya.
Dalam pada itu kedua gadis berbaju hijau
yang genit tadi telah tiba di depan pembaringan
Bong Thian-gak, keempat mata mereka
melirik sekejap ke wajah anak muda itu dengan pandangan memikat,
kemudian tertawa cekikikan.
Setelah itu kedua gadis tadi mulai
menari dengan lemah-gemulai.
Sambil menari mereka melepas pakaian
satu per satu.
Walaupun kedua gadis itu tidak termasuk
berwajah cantik, namun potongan badan mereka betul-betul memukau
siapa saja.
Apalagi kedua wanita itu membawakan
tarian erotik yang sangat menggiurkan, bisa dibayangkan bagaimana
menariknya keadaan itu.
Dihidangi pemandangan yang begitu erotik
dan merangsang napsu birahi, lambat-laun
Bong Thian-gak mulai terpengaruh, suatu perasaan aneh
mendadak meliputi dirinya, dia seperti membutuhkan sesuatu yang amat
mendesak.
Mendadak Bong
Thian-gak memejamkan mata, lalu membentak, "Kalian
cepat mengenakan pakaian dan mengundurkan diri dari sini, aku lelah
menelan Siau-hun-wan, tak bisa mengadakan hubungan dengan kalian."
"Mereka memang sudah tahu kau telah
menelan Siau-hun-wan, lak seorang pun di antara mereka berani
mengadakan hubungan dengan
tlirimu," ucap
perempuan berbaju hijau itu hambar.
Ketika mendengar perkataan itu, untuk
kedua kalinya Bong Thian-gak
membuka mata, kali ini dia dapat melihat raut wajah perempuan itu
dengan
jelas, tanpa terasa jeritnya kaget.
"Kau ...
kau adalah Subo."
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam
benak Bong Thian-gak,
perasaan sedih, duka, marah dan benci dengan cepat menyelimuti
perasaannya.
Peristiwa lampau, ketika sepuluh tahun
berselang dia dikeluarkan gurunya dari perguruan
... ketika kaki kirinya berubah
menjadi pincang, semua musibah yang menimpa dirinya itu tak lain
berkat hasil karya perempuan berbaju hijau itu.
Dia tidak lain adalah istri muda
gurunya, almarhum Bu-lim Bengcu,
si telapak tangan baja yang menggetarkan jagat Oh Ciong-hu yang bernama Pek Yan-ling.
Dengan emosi
Bong Thian-gak berseru, "Subo, kau masih kenal
diriku?"
"Aku masih ingat kau adalah
Bong Thian-gak. Sungguh tak kusangka
Jian-ciat-suseng adalah kau."
"Dendam sakit hati apakah yang terjalin
antara kita berdua? Mengapa kau mencelakai diriku hingga begini
rupa?" teriak Bong Thian-gak
sedih.
Sambil berkata, pelan-pelan perempuan
itu melepas pakaian yang dikenakannya
satu demi satu.
Tak terlukiskan rasa terkejut
Bong Thian-gak setelah menyaksikan
peristiwa
ini, segera hardiknya, "Apa yang hendak kau lakukan?"
"Bugil, untuk membawakan tarian erotik
agar api birahimu bangkit."
"Bunuhlah aku, kalian bunuh aku saja!"
teriak Bong Thian-gak.
Sambil berteriak.
Bong Thian-gak segera memejamkan
mata.
Pada saat itulah berkumandang dua kali
dengusan, untuk kedua kalinya Bong
Thian-gak membuka matanya kembali.
Ternyata kedua gadis yang bugil tadi
sudah tergeletak lemas di tanah, cairan darah masih nampak meleleh
keluar dari ujung bibir mereka.
Sementara Pek Yan-ling sudah
menggerakkan tubuhnya dengan cepat mencengkeram dua sosok mayat itu
dan diletakkan di sudut ruangan, setelah itu dia mendekati
Bong Thian-gak.
Sementara itu
Bong Thian-gak merasakan timbulnya gulungan hawa panas
di bawah perutnya, hal itu membuat peredaran darah dalam tubuhnya
mengalir semakin cepat.
Kendatipun demikian, kesadaran otaknya
masih tetap jernih, tiba-tiba ia bertanya, "Kau yang telah
menghabisi nyawa mereka berdua?"
"Betul!" Pek Yan-ling mengangguk pelan.
"Akulah yang telah membunuh mereka berdua."
"Apa yang hendak kau lakukan atas
diriku?" tanya Bong Thian-gak
lagi dengan kening berkerut.
Pek Yan-ling menghela napas sedih.
"Ai, aku ingin menyelamatkan jiwamu.
Tindakanku sudah tentu di luar dugaanmu, bukan?"
"Kau hendak menyelamatkan jiwaku?"
Bong
Thian-gak
membelalakkan mata lebar-lebar mendengar perkataan itu.
Dengan sedih Pek Yan-ling berkata, "Di
masa lalu, aku sudah banyak melakukan kesalahan dan kejahatan,
dosaku telah berlapis-lapis, biarlah aku mati untuk menolongmu, saat
ini kendati kematianku belum tentu dapat menebus semua dosa yang
pernah kulakukan, namun setidak-tidaknya dengan menolong jiwamu hari
ini, aku bisa mengurangi atau memperingan dosa yang pernah
kuperbuat."
Saat itu kejernihan otak
Bong Thian-gak sudah makin memudar,
perasaannya makin kalut, matanya melotot dan kian memerah, tanyanya,
"Dengan cara apa kau akan menyelamatkan jiwaku?"
Tiba-tiba Pek Yan-ling melepas semua
pakaian yang dikenakan hingga telanjang bulat, kemudian katanya
pelan, "Siau-hun-wan adalah sejenis
obat perangsang yang aneh dan luar biasa, kecuali mengorbankan
diriku, tiada cara lain untuk menyelamatkan jiwamu dari bahaya
ancaman maut."
Gemetar keras sekujur badan
Bong Thian-gak menyaksikan semua
itu, kembali dia berteriak, "Kau tidak boleh berbuat begitu untuk
menolong aku."
Tapi sayang sekali, pil Siau-hun-wan
sudah mulai bekerja dalam tubuh pemuda itu.
Dalam waktu singkat kejernihan otak
Bong Thian-gak sudah teihakar
oleh nafsu birahi sehingga tak ampun lagi anak muda itu jadi kalap
dan kehilangan akal budinya lagi.
Biarpun demikian ia tidak seperti lelaki
lain, biarpun nafsu birahi indah mengusainya, ia belum melakukan
sesuatu gerakan apa pun, hanya matanya melotot memandang tubuh Pek
Yan-ling yang bugil tanpa berkedip.
Sedangkan Pek Yan-ling sendiri hanya
ingin menyelamatkan jiwa Bong
Thian-gak, tapi dia melupakan sesuatu, bagaimana pun juga dia
adalah Subo Bong Thian-gak,
istri gurunya.
Bagaimana mungkin
Bong Thian-gak bisa melakukan
hubungan dengan Subonya sendiri?
Bila takdir telah mengatur nasib
manusia, siapa pula yang bisa menghindar.
Pek Yan-ling adalah seorang yang tidak
bersih perbuatannya dan hari ini kembali dia lakukan kesalahan
besar.
Dosa dan kesalahan yang dilakukan hari
ini boleh dibilang tak terampuni
lagi.
Tapi kobaran
api birahi membuat orang melupakan segalanya.
Bong Thian-gak telah melupakan siapa
dirinya, dia hanya tahu bagaimana
melampiaskan nafsu birahinya secepat mungkin. Ketika hujan badai
telah berlalu.
Racun jahat Siau-hun-wan telah terhisap
oleh tubuh Pek Yan-ling.
Sekujur tubuh Pek Yan-ling gemetar
keras, paras mukanya segera hemhah pucat-pias, ternyata bagian bawah
perutnya mulai terasa sakit seperti
diiris pisau, sedemikian sakitnya membuat dia mulai merintih.
Setelah hujan badai lewat, semua sari
racun yang mengeram dalam tubuh Bong
Thian-gak telah tersapu lenyap, kobaran api birahi yang
padam membuat akal budinya jernih kembali.
Dengan jernihnya pikiran, anggota
badannya yang semula lemas tak bertenaga kini telah pulih seperti
sedia kala.
Mendadak dia menperdengarkan jeritan
kaget yang keras dan penuh nada seram.
Sebuah pukulan dahsyat langsung
dilontarkan ke tubuh Pek Yan-Ling.
Akibat serangan itu, tubuh Pek Yan-ling
yang telanjang segera menjelat ke udara dan terbanting ke tanah.
Pek Yan-ling yang dihantam pemuda itu
menjadi terheran-heran, ia segera meronta bangun, dengan noda darah
membasahi ujung bibirnya dan suara yang gemetar keras, bisiknya,
"Aku ... aku telah
menyelamatkan jiwamu, racun keji Siau-hun-wan telah tersalur ke
dalam tubuhku, kau ...
mengapa kau malah menghajar aku?"
Bong Thian-gak
menutupi wajah dengan tangan tunggalnya, mendadak ia menangis
tersedu-sedu, katanya, "Kau ...
mengapa kau berbuat demikian? Tahukah kau, siapakah dirimu,
kau ini apaku?"
Sekarang Pek Yan-ling baru teringat
bahwa Bong Thian-gak adalah
seorang lelaki jujur yang mengutamakan budi-pekerti dan tata-krama,
dia pun mulai berpikir, "Ya benar, aku adalah Subonya. Biarpun aku
berbuat demikian demi menyelamatkan jiwanya, tapi baginya justru
merupakan suatu perbuatan terkutuk, baginya peristiwa ini sama saja
berbuat berzina dengan Subonya sendiri ...
aduh celaka, andaikata dia memandang serius peristiwa
ini, sudah dapat dipastikan dia akan menghabisi nyawanya sendiri."
Berpikir demikian, sambil tertawa pedih
Pek Yan-ling segera berkata, "Pada waktu itu, kejernihan akal budimu
telah hilang. Apa pun yang telah kau lakukan tidak perlu kau
pertanggung-jawabkan."
"Kau
telah mencelakai aku. Aku ...
aku tak punya muka untuk hidup terus," pekik
Bong Thian-gak sedih.
Sambil berteriak, dia segera menyambar
pakaiannya dan dikenakan dengan cepat.
Dalam pada itu paras muka Pek Yan-ling
telah berubah pucat-pias seperti
mayat, tubuhnya gemetar
keras, sementara peluh bercucuran dengan deras. Seakan-akan menahan
penderitaan yang luar biasa, akhirnya dia berkata,
"Bong Thian-gak, kau harus hidup
terus, kau harus melanjutkan hidupmu di dunia ini, racun jahat
Siau-hun-wan telah tersalur ke dalam tubuhku, sekarang aku tak lebih
hanya seorang yang sudah
mendekati ajal, perbuatanku ini sama sekali tidak keliru, sebab
hanya kau seorang di dunia ini yang bisa membunuh iblis perempuan
Itu, kau harus mempertahankan hidupmu, kalau tidak, pengorbanan nyawaku
ini benar-benar pengorbanan yang tak ada artinya."
Bong Thian-gak
mengawasi wajah Pek Yan-ling dengan kesedihan yang luar biasa,
gumamnya tanpa terasa, "Betul, kau berbuat demikian karena menolong
jiwaku ... bila kau tidak
berbuat demikian, aku pasti akan menjadi boneka Cong-kaucu, aku
pasti akan melenyapkan gembong iblis perempuan itu dari muka bumi,
kau bukan saja telah menolong aku dengan perbuatanmu tadi, kau pun
telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa umat persilatan
... tapi dapatkah aku hidup lebih
lanjut dalam keadaan seperti ini?"
"Kau dapat melupakan kejadian itu," Pek
Yan-ling berkata dengan sedih. "Anggap saja peristiwa ini tidak
pernah kau alami."
"Dapatkah aku melupakannya?" kata
Bong Thian-gak amat pedih. "Sepuluh
tahun lalu kau pernah melakukan hubungan gelap dengan
Sam suheng Siau
Cu-beng, itu sebabnya kubunuh Sam-suheng, tapi hari Ini siapa pula
yang akan membunuhku demi membalas aib bagi Suhu."
"Bong
Thian-gak, kau sudah tahu aku bukan perempuan baik-baik.
Sejak dulu Oh Ciong-hu sudah tidak memiliki istri macam diriku lagi"
ucap Pek Yan-ling sedih. "Oleh karena itu aku bukan istri Oh
Ciong-hu, juga bukan Subomu ...
selain itu kau sudah sejak lama dikeluarkan.
dari perguruan, kau pun sudah bukan
muridnya lagi. Ini berarti di antara
kita berdua sama sekali tiada hubungan sebagai ibu guru dan murid
lagi, kita adalah sahabat biasa ...
aku sama sekali bukan ibu guru seperti
apa yang kau sebut,
karenanya kau tidak pernah melanggar
aturan, aku pun tidak pernah melakukan perbuatan yang
menyalahi peiaturan perguruan."
Memang benar, sepuluh tahun lalu
Bong Thian-gak diusir Oh
Ciang
hu dari perguruan, jadi
Pek Yan-ling sudah bukan Subonya lagi.
Apalagi selama sepuluh tahun ini dia
sendiri pun tak pernah menganggap perempuan itu sebagai Subonya,
karena itu dia sudah kehilangan haknya untuk dihormati sebagai
seorang Subo.
Kendati demikian, dalam hati
Bong Thian-gak tersiksa pula oleh
penderitaan yang luar biasa.
Dalam pada itu kulit badan Pek Yan-ling
yang semula berwarna putih halus, lambat-laun telah beruban menjadi
hitam kemerah-merahan,
beberapa kali dia bahkan kejang-kejang dengan penuh penderitaan.
"Bong
Thian-gakā kembali dia
berkata sambil menahan derita. "Sekarang isi perutku
terasa seperti disayat-sayat,
seperti juga ada beribu ekor binatang yang menggerogoti badanku
... ooh sangat menderita
... tolong
... tolong hadiahkan sebuah pukulan
kepadaku agar aku cepat mati!"
Rintihan demi rintihan bergema tiada
hentinya dari bibir Pek Yan-ling, sambil memegang dada dengan
sepasang tangannya, dia mulai bergulingan kian-kemari, keadaannya
amat tersiksa dan mengenaskan, membuat siapa pun yang melihat jadi
amat terharu.
Bong
Thian-gak
tak dapat membendung air matanya lagi, dengan penuh duka katanya,
"Thian telah mengatur segala sesuatunya? Mengapa Thian selalu
memaksa aku melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak kukehendaki?"
"Bong
Thian-gak, ayolah cepat turun tangan," pinta Pek Yan-ling sambil
mengangkat wajahnya yang menyeringai seram. "Dahulu aku telah banyak
berbuat dosa kepadamu, sekarang biar kau cincang tubuhku hingga
hancur berkeping-keping pun belum tentu bisa membalas luka yang
pernah kuberikan kepadamu di masa lalu. Inilah hukum karma bagiku,
aku memang pantas mati di bawah telapak tanganmu."
Bong
Thian-gak
memejamkan mata, lalu katanya, "Yang sudah lewat biarlah lewat, aku
sama sekali tidak membencimu, bahkan aku amat berterima kasih
kepadamu ... karena aku telah
berhutang budi kepadamu."
Tatkala kata "kepadamu" diucapkan,
telapak tangan kanan Bong Thian-gak diayunkan ke depan melancarkan bacokan.
Dimana angin pukulan berkelebat, tubuh
Pek Yan-ling mencelat ke belakang untuk kemudian tidak berkutik
lagi.
Air mata sekali lagi jatuh bercucuran
membasahi wajah Bong Thian-gak, diambilnya kain seprei dari atas pembaringan, lalu
dibungkuskan ke atas tubuh Pek Yan-ling yang telanjang dan pemuda
itu pun berdiri
termangu-mangu untuk beberapa saat lamanya.
Mendadak berkumandang suara langkah kaki
manusia. Bong Thian-gak
bagaikan baru sadar dari mimpi, dia segera menyelinap ke belakang
pintu dengan cepat.
Dalam pada itu dari luar ruangan sudah
terdengar seseorang berkata, "Cap-go-kaucu, Cong-kaucu memerintahkan
kepadaku untuk mengantar dua pil Siau-hun-wan, dengan pesan dalam
dua belas jam mendatang harus mencekokkan pil ketiga kepada
Jian-ciat-suseng."
Bong
Thian-gak
yang mendengar perkataan itu segera membuka pintu secara tiba-tiba,
tampak seorang berbaju kuning berjalan masuk ke
dalam ruangan dengan langkah cepat.
Tatkala orang berbaju kuning itu
menyaksikan Bong Thian-gak
berdiri di hadapannya dalam keadaan segar-bugar, ia nampak amat
terperanjat, mulutnya ternganga dan tak sempat berteriak, tahu-tahu
cakar maut yang kuat seperti
jepitan telah mencekik tenggorokannya.
"Krak", tulang leher orang berbaju
kuning itu tahu-tahu patah, tak
sempat mengeluarkan suara rintihan lagi, orang itu tewas seketika.
Selesai membunuh orang itu.
Bong Thian-gak segera menyelinap
keluar, dengan cepat sorot matanya dialihkan ke sekeliling tempat
itu.
Apa yang kemudian terlihat membuat
Bong Thian-gak merasa sangat
terkejut, ternyata dia berada di sebuah ruangan besar dan kosong,
lima puluh empat buah tiang
penyangga berukir naga emas berjajar tiap
sudut,
atap ruangan indah dan
megah, bangunan itu sangat mentereng.
Tempat dimana
Bong Thian-gak berdiri sekarang merupakan panggung di
ruangan tengah, permadani berwarna merah menghiasi lantai, boleh
dibilang dimana-mana dihiasi barang antik yang tak ternilai
harganya.
Pot bunga berlapiskan emas di sekeliling
panggung, delapan belas buah
hiolo perak bertebaran di
bawah panggung, empat gentong emas,
empat
pasang kura-kura tembaga dan bangau
tembaga turut menghiasi
setiap sudut ruangan.
Selain itu di tengah ruangan terdapat
pula sebuah meja panjang, di atas meja berjajar berbagai peralatan
yang terbuat dari tembaga, kemala, dan bahan keramik, di samping
intan permata dan mutu manikam yang tak ternilai harganya.
Pada hakikatnya bangunan itu ibarat
sebuah gudang harta-karun.
Pada ujung tumpukan harta-karun yang tak
ternilai itu terdapat sebuah kursi yang terbuat dari emas, cahaya
kekuning-kuningan memercik ke empat penjuru membuat kursi tadi
menyerupai singgasana seorang kaisar.
Mata Bong
Thian-gak menjadi kabur menyaksikan semua itu, sesaat
lamanya dia hanya bisa berdiri termangu-mangu seperti orang
kehilangan ingatan.
Dia tidak mengetahui tempat apakah itu?
Darimana datangnya harta-karun itu?
Tiada lentera di dalam ruangan itu, tapi
bisa terlihat dengan jelas bahwasanya ruangan itu kosong melompong,
tak nampak sesosok bayangan manusia pun, namun
Bong Thian-gak cukup mengerti, di
luar istana itu pasti terdapat pasukan penjaga yang amat ketat dan
kuat.
Maka sambil menghimpun tenaga dalam
untuk berjaga-jaga atas segala kemungkinan, dia berjalan menuju ke
pintu gerbang.
Pintu dalam keadaan tertutup rapat, hal
ini membuat Bong Thian-gak
tertegun, segera pikirnya, "Kalau dilihat dari pintu gerbang yang
tertutup rapat, berarti tiada penjaga yang meronda di luar gedung,
tempat ini sungguh merupakan tempat rahasia yang menyeramkan."
Mendadak dari luar terdengar seorang
menegur, "Komandan regukah di situ?"
"Benar!" dengan cepat
Bong Thian-gak menyahut.
Suara gemuruh yang amat keras segera
berkumandang, pintu gerbang terbuka lebar dan dua kepala menongol
dari balik pintu.
Secepat sambaran kilat telapak tangan
Bong Thian-gak membacok ke
bawah.
Tiada jerit kesakitan, tiada suara lain,
tahu-tahu kedua orang tadi menghembuskan napas penghabisan.
Dengan gerakan tubuh yang gesit, lincah
dan ringan, Bong Thian-gak
segera menerobos keluar lewat celah-celah pintu itu.
Di bawah cahaya rembulan, di bawah
undak-undakan batu depan pintu gerbang nampak berjajar dua puluh
pengawal berbaju kuning, mereka berdiri dengan memegang tombak
panjang.
Kemunculan
Bong Thian-gak yang secara tiba-tiba membuat mereka
tidak sempat melihat dengan jelas siapa pendatang itu.
Dalam sekejap
Bong Thian-gak telah sampai di hadapan pengawal
pertama. Tanpa jeritan kaget, tanpa teriakan kesakitan, tahu-tahu
orang itu sudah roboh binasa.
Di saat pengawal baju kuning yang
pertama roboh terkapar tadi, tubuh Bong
Thian-gak sudah berkelebat di hadapan delapan orang
pengawal dan muncul di hadapan pengawal kesembilan.
Di saat para pengawal menyadari
datangnya musuh yang menakutkan itu, Bong
Thian-gak telah berhasil menghabisi nyawa delapan orang
pengawal baju kuning dengan kecepatan dan serangan yang mengerikan.
Serangan yang begitu dahsyat dan cepat
ini pada hakikatnya jarang
dijumpai di kolong langit.
Tiga orang pengawal baju kuning lainnya
yang masih tersisa dengan cepat menyadari datangnya ancaman bahaya,
salah seorang di antara mereka segera menghardik, "Siapa di situ?"
Bong Thian-gak
merampas tiga batang tombak dari korbannya yang tewas dan satu-per
satu dilontarkan ke depan.
Tombak-tombak itupun menembus jantung
tiga orang pengawal yang berada di kejauhan, tanpa penderitaan,
tanpa teriak kesakitan, dua puluh empat orang pengawal berbaju
kuning tahu-tahu sudah tertumpas habis
di tangan Bong Thian-gak.
Kendati Bong
Thian-gak telah melakukan pembunuhan dengan gerakan
cepat, tindakan yang kejam dan tak membuat pengawal-pengawal itu
mengeluarkan suara, namun penjagaan di seputar gedung itu sungguh
kelewat ketat.
Dua puluh empat pengawal berbaju kuning
yang berada di pintu gerbang sekarang tak lebih hanya sekelompok
kekuatan lain yang berada <li sekeliling gedung itu.
Mendadak serentetan suitan keras yang
tinggi dan melengking dibunyikan orang keras-keras.
Bong Thian-gak
segera menyaksikan tiga orang pengawal baju kuning melompat
turun dari atas tiga batang pohon Pek-yang dan menyongsong
kedatangan Bong Thian-gak
dengan pedang terhunus.
Bong
Thian-gak
sadar jejaknya sudah ketahuan, dia semakin tak ingin membuang waktu
lagi, maka tubuhnya melejit ke muka dan menyambut datangnya para
pengawal yang sedang menerjang datang itu
Begitu bayangan kedua belah pihak saling
bertemu, terdengarlah suara benturan keras yang sangat nyaring.
Tidak banyak waktu yang terbuang, dalam
waktu singkat tiga orang pengawal yang baru muncul itu sudah
bergelimpangan di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Lengan tunggal
Bong Thian-gak kini sudah merampas
ketiga batang pedang lawan.
Pada saat itulah dari sisi sebelah kiri
ruangan berkumandang suara tertawa dingin yang menyeramkan.
"Hehehe, serangan yang sangat hebat dan
ganas. Hm ... hm
... selama puluhan tahun terakhir
belum pernah kujumpai seorang jagoan yang sedemikian tangguh!"
Mendengar ucapan itu,
Bong Thian-gak segera mendongakkan
kepala.
Di hadapannya kini sudah muncul delapan
orang pengawal berbaju kuning yang mengiringi seorang kakek gemuk
pendek, selangkah demi selangkah berjalan mendekatinya.
Dengan ketajaman mata
Bong Thian-gak, ia sudah dapat
melihat kakek gemuk pendek itu memiliki kepandaian silat yang hebat.
Tiba-tiba saja suara nyaring bergema di
angkasa.
Ternyata kedelapan orang berbaju kuning
sudah melolos cambuk panjang dari pinggangnya, lalu dengan gerakan
cepat dan lincah mereka mengepung Bong
Thian-gak.
Bong
Thian-gak
cukup mengetahui bahwa ruyung lemas itu merupakan sejenis senjata
yang sangat lihai.
Oleh karena itu
Bong Thian-gak tidak membiarkan
kedelapan orang pengawal berbaju kuning itu melancarkan serangan
lebih dahulu, sambil tertawa dingin tubuhnya berputar seperti angin
puyuh dan langsung menggulung ke sisi sebelah barat. Tatkala
Bong Thian-gak berputar dengan
kencang tadi, ketiga pedang yang digenggamnya secepat sambaran petir
sudah menyambar ke depan.
Tahu-tahu dua pedang di antaranya sudah
meluncur ke muka dengan kecepatan tinggi.
Dua kali jerit kesakitan yang memilukan
segera bergema.
Empat orang pengawal baju kuning yang
menerkam datang dari arah timur dan utara tahu-tahu sudah kehilangan
batok kepalanya, tersambar oleh luncuran pedang itu.
Sebilah pedang berhasil membacok dua
kepala, ilmu pedang terbang semacam ini benar-benar merupakan suatu
kepandaian yang sangat mengejutkan.
Bong
Thian-gak
sendiri hanya menyambitkan kedua batang pedang dan menyisihkan
sebatang baginya, pedang itu mengikuti gerakan tubuhnya berputar ke
barat, segera melancarkan serangan pula, dimana cahaya pedang
berkelebat, darah segar berhamburan kemana-mana dan isi perut
berceceran.
Dua orang pengawal berbaju kuning kena
terbabat pinggangnya hingga putus menjadi dua bagian.
Dalam waktu singkat dari delapan
pengawal berbaju kuning itu sudah ada enam orang di antaranya yang
tewas.
Demonstrasi kekejaman yang terjadi ini
sungguh menggidikkan hati siapa pun, kontan saja dua pengawal
berbaju kuning yang tersisa serta kakek gemuk pendek itu
menghentikan langkah.
Sementara itu
Bong Thian-gak yang dalam sekejap mata telah membunuh
enam orang, kini maju selangkah demi selangkah menghampiri kakek
gemuk pendek itu dengan pedang terhunus.
Sambil tertawa dingin ia berkata,
"Ruyung panjang meski merupakan senjata untuk menandingi pedang atau
golok, tapi bila bertemu dengan aku, kalian tetap merupakan
rombongan yang bakal berangkat ke akhirat."
"Siapakah kau?" bentak kakek gemuk
pendek itu dengan wajah Iei
kejut dan ngeri.
"Ketua Hiat-kiam-bun, Jian-ciat-suseng!"
sahut Bong Thian-gak sambil
tertawa dingin.
Sembari berkata, tiba-tiba saja pemuda
itu melompat ke depan dan pedangnya langsung dibacokkan ke tubuh
kakek gemuk pendek itu.
Serangan pedang itu dilancarkan dengan
cepat, akan tetapi gerakan cambuk kakek gemuk pendek itu pun tidak
kalah cepatnya.
Bong
Thian-gak
segera merasakan pergelangan tangannya menjadi kencang, urat nadi
pada pergelangan tangannya sudah kena terbelenggu empat lingkaran
oleh cambuk lawan, otomatis gerak serangan pedangnya pun mengenai
tempat kosong.
Diiringi gelak tawa panjang penuh
kebanggaan, kakek gemuk pendek itu segera berkata, "Cambuk sakti
bayangan aneh sudah puluhan tahun lamanya termasyhur di kolong
langit. Tak ada orang bisa lolos dari cengkeramanku bila ruyung
telah berada dalam genggamanku. Hehehe, Jian-ciat-suseng, lengan
tunggalmu ini agaknya akan kutung pula."
Sementara itu
Bong Thian-gak merasa ruyung lemas yang membelenggu
urat nadinya itu makin lama makin kencang, tulang dan kulitnya
terasa sakit seperti remuk.
Bong
Thian-gak
sadar bila lawan sekali lagi menarik ruyung lemasnya, niscaya lengan
tunggalnya itu bakal lenyap tak berbekas.
Sementara ingatan itu melintas dalam
benaknya, tubuh Bong Thian-gak telah terbetot oleh cambuk lemas tadi sehingga terbanting
ke atas tanah.
Namun ketika
Bong Thian-gak bangkit kembali dari atas tanah, suara
dengusan tertahan bergema di udara.
Perut kakek gemuk pendek itu tahu-tahu
sudah tersambar oleh cahaya pedang sehingga mengucurkan darah segar.
Darah mengalir keluar bersama usus dan
isi perut lainnya, meleleh dari balik mulut luka yang lebar dan
memanjang itu.
Kulit muka si kakek gemuk pendek itu
segera mengejang keras, katanya dengan suara dipaksakan, "Kau
... kau
... bagaimana caramu bisa meloloskan diri dari belenggu
cambuk panjangku?"
Dengan wajah dingin
Bong Thian-gak berdiri di
hadapannya. Ketika mendengar pertanyaan itu, ia menjawab dingin,
"Permainan ruyungmu memang terhitung cambuk kilat nomor wahid di
kolong langit. Tiga puluh tahun berselang, dalam dunia rimba hijau
pernah termasyhur seorang pencoleng yang mahir dalam permainan
cambuk, konon dia bernama Ruyung sakti bayangan setan Si-bu, mungkin
kaulah orangnya?"
Penderitaan yang tebal semakin menghiasi
wajah kakek gemuk pendek itu, dia berkata dengan suara gemetar,
"Nama besar Ruyung sakti bayangan setan pada saat ini sudah punah
dan tak ada lagi. Jian-ciat-suseng,
meski ... meskipun ilmu
pedangmu tiada tandingannya di kolong langit, tapi jangan harap kau
bisa menandingi kerubutan beratus-ratus pengawal perkumpulan
Put-gwa-cin-kau, akhirnya kau ...
kau pun akan mengalami nasib yang sama seperti aku, roboh
... roboh ke tanah dan tak
akan bangun lagi."
Sampai di situ langkah kakek gemuk
pendek itu sudah sempoyongan, akhirnya roboh terjungkal ke atas
tanah dan tak pernah merangkak bangun kembali.
Pencoleng nomor wahid di rimba hijau
itu, Si-bu, akhirnya harus mampus di ujung pedang
Bong Thian-gak.
Setelah menyaksikan Si-bu tewas,
pelan-pelan Bong Thian-gak
mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling tempat itu,
tapi perasaannya segera terkesiap.
Ternyata pada saat itu seluruh lapangan
yang luas di depan mangan utama telah dikelilingi lautan manusia
yang mengepung tempat itu secara berlapis-lapis, begitu rapat
pengepungan di sana, hal ini membuat seramnya suasana di bawah sinar
rembulan.
Agak bergidik juga
Bong Thian-gak menyaksikan keadaan
itu, diam-diam pikirnya, "Bila aku harus membantai orang itu satu
demi satu, biar mereka bisa kuhabiskan, akhirnya aku akan kehabisan
tenaga dan mampus di tangan mereka ...
hari ini lebih baik aku kabur saja dari sini atau
melangsungkan pertarungan dan beradu kekuatan dengan pihak
Put-gwa-cin-kau?"
"Ai, apalagi kawanan pengawal itu hanya
diperintah Cong-kaucu untuk melakukan perbuatan itu, masa aku harus
membantai mereka habis-habisan."
Berpikir demikian, tiba-tiba
Bong Thian-gak berteriak, "Dengarkan
saudara-saudara sekalian. Aku adalah ketua Hiat-kiam-bun saat ini,
Jian-ciat-suseng
Bong Thian-gak. Pedang di tanganku
sekarang memiliki kekuatan luar biasa, tiga puluh sosok mayat yang
tergeletak di atas tanah merupakan bukti yang paling jelas.
"Selain Cong-kaucu kalian yang dapat
menyambut beberapa jurus serangan pedangku, kalian boleh dibilang
ibarat telur yang beradu dengan batu atau kunang-kunang yang
menentang api, hanya mencari kematian bagi diri sendiri.
"Thian maha pengasih dan maha penyayang,
aku tak ingin melakukan pembunuhan besar-besaran, karena itu
kuanjurkan kepada kalian lebih baik menyingkirkan diri dari sini dan
berilah jalan lewat kepadaku, aku tak nanti melukai seorang pun di
antara kalian."
Ucapan itu diutarakan dengan suara
lantang dan keras, di tengah kegelapan malam suara itu dapat tersiar
sampai jauh.
Baru selesai dia berkata, mendadak dari
kerumunan orang banyak terdengar seorang berseru sambil tertawa
dingin, "Aku tak percaya kau seorang cacat bisa memiliki kepandaian
dan kemampuan sedemikian hebatnya."
Dari kerumunan orang banyak sebelah
utara segera terjadi kegaduhan, lalu nampak dua orang berjubah hitam
diiringi delapan laki-laki yang menyoreng pedang berjalan menuju ke
arahnya.
Tatkala mendengar nada suara orang itu,
seketika itu juga timbul kobaran api dendam dalam dada
Bong Thian-gak, dia segera
berteriak, "Siau Cu-beng, kedatanganmu tepat sekali!"
Sepasang mata
Bong Thian-gak telah memancarkan cahaya api yang
menggidikkan, dia mengawasi orang berkerudung yang menyoreng
sepasang pedang itu tanpa berkedip.
Sementara itu orang berambut panjang
yang berada di sebelah kanan, yang berdandan bukan lelaki bukan
perempuan itu tertawa seram seraya berkata, "Aku kira siapakah
manusia cacat ini? Hm, ternyata Bong
Thian-gak orangnya."
Bong
Thian-gak
dapat mengenali orang aneh kurus seperti mayat hidup ini adalah
Liok-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Ia tertawa dingin, lalu katanya sambil
manggut-manggut, "Betul, Ko Hong adalah samaranku tiga tahun lalu.
Kau sudah merupakan prajurit yang kalah perang di tanganku, hari ini
kau lebih-lebih bukanlah tandinganku, hm, aku orang
she Bong selalu bisa membedakan mana
budi dan mana dendam, kau bukan termasuk orang yang akan kubunuh,
asal kau tahu diri dan segera mengundurkan diri, aku bersedia pula
mengampuni jiwamu."
Liok-kaucu tertawa seram.
"Tiga tahun berselang, sebuah pukulanmu
telah membuat aku berbaring selama tiga bulan. Dendam sakit hati ini
tak pernah kulupakan, sungguh tak gampang bertemu lagi dengan kau.
Hm! Kau anggap aku akan melepaskan kesempatan yang sangat baik itu
begitu
saja?"
"Liok-kaucu, panjang amat umurmu,"
jengek Bong Thian-gak dengan
suara hambar.
Liok-kaucu tertawa terbahak, suaranya
amat menyeramkan, telapak tangan raksasanya mendadak diayunkan ke
depan, segulung angin pukulan yang amat dingin segera menyerang ke
arah Bong Thian-gak.
Sejak tadi
Bong Thian-gak sudah tahu ilmu pukulan lawan merupakan
ilmu jahat dan beracun, karena itu secara diam-diam dia telah
menyalurkan hawa murni Tat-mo-khi-khang menyelimuti seluruh jalan
darahnya.
Dimana angin pukulan menyambar,
Bong Thian-gak mendengus tertahan
dan sepasang bahunya bergoncang keras.
Pada saat itulah Liok-kaucu tertawa
sambil berteriak keras, "Jian-ciat-suseng, serahkan jiwa anjingmu!"
Dengan suatu gerakan yang amat cepat,
dia mendesak ke muka dan melakukan gempuran.
Siau Cu-beng yang berada di sisinya
segera menyadari hal itu merupakan siasat lawan, dia segera
berteriak, "Hati-hati Liok-kaucu, dia tidak terluka."
Sayang sekali sebelum peringatan itu
diutarakan, tubuh Liok-kaucu telah tiba di hadapan
Bong Thian-gak, telapak tangannya
dipentang lebar-lebar dan mencengkeram dari kiri dan kanan.
Tiba-tiba cahaya pedang berkelebat.
Menyusul kemudian jeritan keras seperti
babi disembelih bergema.
Di tengah sambaran cahaya pedang,
sepasang tangan Liok-kaucu terbabat kutung dan rontok ke tanah,
menyusul di tengah semburan darah segar, pedang
Bong Thian-gak menusuk dadanya
hingga tembus. "Liok-kaucu, kali ini kau mati tanpa mengucapkan
sepatah kata pun?"
Ucapan Bong
Thian-gak itu diutarakan dengan nada hambar. Bersamaan
itu pula pedangnya telah dicabut dari atas dada Liok-kaucu.
Darah segar segera menyembur lewat mulut
lukanya, Liok-kaucu memang tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia
hanya membentang matanya lebar-lebar mengawasi
Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Akhirnya robohlah tubuh Liok-kaucu ke
tanah dan tak pernah bangun lagi. Jiwanya turut melayang ke angkasa
dan kembali ke akhirat.
Dalam satu gebrakan
Bong Thian-gak berhasil membunuh
Liok-kaucu, walaupun kemenangan yang dia raih berkat taktiknya yang
jitu, akan tetapi bagaimana pun juga Liok-kaucu mempunyai kepandaian
silat sangat tinggi, kenyataannya dia dibunuh orang secara gampang,
peristiwa ini benar-benar menggetarkan perasaan setiap orang.
"Siau Cu-beng, mengapa tidak kau
lepaskan kain kerudungmu itu?" sambil membawa pedangnya yang
berlumuran darah dan sikap yang menyeramkan,
Bong Thian-gak membentak keras.
Komandan kedua pasukan pengawal tanpa
tanding segera tertawa dingin sambil sahutnya, "Betul, akulah Siau
Cu-beng, tapi aku tidak pernah menyangka kaulah
Bong Thian-gak."
Sementara itu dalam benak
Bong Thian-gak melintas kembali
berbagai kejadian tragis yang telah menimpanya malam ini
... darah bercampur dendam segera
mendidih dalam tubuhnya.
"Siau Cu-beng, gara-gara perbuatanmu
yang memalukan sepuluh tahun lalu, aku telah menjadi cacat, kaki
kiriku pincang, lalu tiga tahun berselang kau pun memotong kutung
sebelah lenganku, maka malam ini aku tak tahu bagaimana mesti
membalas dendam berdarah ini."
Sambil berkata, pelan-pelan
Bong Thian-gak mengangkat pedangnya
dan bersiap melancarkan serangan.
Siau Cu-beng segera tertawa ringan,
katanya, "Bong Thian-gak, aku
hendak mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu, mengapa kau
menghajarku sampai jatuh ke dalam jurang pada sepuluh tahun
berselang? Hahaha, apakah hal ini dikarenakan kau menangkap basah
hubungan gelapku dengan Pek Yan-ling, maka kau lantas hendak
membersihkan aib perguruan?"
"Hm, tapi hari ini
... kau pun telah melakukan hubungan
gelap dengan Pek Yan-ling, nah, giliranku sekarang untuk bertanya
kepadamu, apakah aku pun harus membunuhmu untuk membalaskan dendam
aib yang menimpa perguruan kita?"
Gemetar keras tubuh
Bong Thian-gak mendengar perkataan
itu, pedang yang sudah disiapkan tanpa sadar terlepas dan jatuh ke
tanah.
"Oh, Thian!" diam-diam
Bong Thian-gak mengeluh dengan
perasaan amat tersiksa. "Ternyata Siau Cu-beng telah menyaksikan
peristiwa itu, sepuluh tahun lalu aku telah membunuhnya karena ia
telah melakukan hubungan gelap dengan Pek Yan-ling."
Perasaan sedih dan menyesal membuat
pikiran dan otaknya lerganggu.
Pada kesempatan yang sangat baik inilah
mendadak Siau Cu-beng mengayun pedang dan tanpa menimbulkan sedikit
suara pun dengan cepat menusuk dada Bong
Thian-gak.
Semua peristiwa itu berlangsung dalam
waktu yang amat singkat.
Cepat tangan kiri
Bong Thian-gak diayun ke depan untuk
menghantam mata pedang lawan.
Peristiwa yang sama sekali di luar
dugaan segera berlangsung, ternyata Bong
Thian-gak berhasil menggetar pedang itu hingga
terpental dengan tangan kosong.
Seketika itu juga Siau Cu-beng serta
ratusan orang pengawal lainnya tertegun dan berdiri melongo dengan
mata terbelalak lebar.
Setelah berhasil mementalkan pedang
dengan tangan telanjang, liong Thian-gak sama sekali tidak
melancarkan serangan balasan, dengan cepat dia menengok sekejap ke
arah Siau Cu-beng, kemudian berkata dengan hambar, "Siau Cu-beng,
persoalanku bisa kuselesaikan sendiri. Kini aku hanya ingin
menanyakan satu persoalan kepadamu, Toa-suheng Ho Put-ciang,
Ji-suheng Yu Heng-sui dan Sumoay Oh Cian-giok, apakah masih hidup?"
Siau Cu-beng seperti baru tersadar dari
impian setelah mendengar itu, dia berseru tertahan, lalu balik
bertanya dengan keheranan, "Dengan cara apakah kau telah menepuk pedangku hingga
terpental?"
Bong Thian-gak
tidak menjawab, sebaliknya malah membentak lagi dengan suara
lantang, "Aku bertanya kepadamu, bagaimanakah nasib Ho Put-ciang
sekalian?"
Tiba-tiba Siau Cu-beng tertawa
terbahak-bahak.
"Hahaha, apakah Pek Yan-ling tidak
memberitahukan padamu?"
Hati Bong
Thian-gak bergetar keras, dia segera berpikir,
"Bagaimana keadaan mereka? Mengapa dia bilang Pek Yan-ling tidak
memberitahukan kepadaku? Apa yang semestinya hendak dikatakan Pek
Yan-ling kepadaku?"
Sekali lagi Siau Cu-beng tertawa dingin,
suaranya menyeramkan, "Kalau Pek Yan-ling tidak memberitahukan
kepadamu, baiklah biar aku yang memberitahukan kepadamu!"
"Bagaimana keadaan mereka? Cepat
katakan!" bentak Bong Thian-gak.
Siau Cu-beng sengaja berdehem, lalu
dengan santai dia berkata, "Ho Put-ciang dan Yu Heng-sui telah
mengakhiri hidupnya sendiri."
"Bunuh diri? Mengapa mereka bunuh diri?"
tanya Bong Thian-gak dengan
terkejut.
"Karena tidak punya muka untuk bertemu
dengan orang. Hahaha, biar kuceritakan lebih terperinci kepadamu!
Pek Yan-ling adalah Subo mereka, Ho Put-ciang serta Yu Heng-sui
pernah pula mempunyai hubungan persahabatan dan hubungan ibu guru.
Akhirnya peristiwa yang sangat memalukan ini diketahui oleh Oh
Cian-giok, kedua orang itu pun kehilangan muka sehingga akhirnya
bunuh diri."
Sekali lagi dada
Bong Thian-gak serasa dipukul martil
yang berat, nyaris jatuh tak sadarkan diri.
Mimpi pun dia tak menyangka Toa-suheng
dan Ji-suhengnya telah tewas dalam keadaan begitu mengenaskan dan
memedihkan hati.
Dia mengerti sekarang, semua ini bisa
terjadi tak lain merupakan siasat membunuh yang paling keji dari
perkumpulan Put-gwa-cin-kau. Mereka tidak membiarkan seorang
Enghiong mati dalam keadaan gagah dan perkasa, melainkan membiarkan
mereka mati dengan sukma tak tenang dan roh gentayangan.
Perbuatan semacam ini benar-benar
merupakan suatu cara membunuh yang sangat kejam dan mengerikan.
Setelah tertawa ringan, dengan suara
yang dingin menyeramkan, Siau Cu-beng berkata lagi, "Tindakan Ho
Put-ciang dan Yu Heng-sui bunuh diri benar-benar Enghiong sejati,
mereka adalah pendekar yang berani berbuat berani bertanggung-jawab
sehingga bersedia menggorok leher sendiri untuk menebus dosa. Tapi
sekarang, kau Bong Thian-gak
sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mati, aku betul merasa
kasihan untukmu!"
Tiba-tiba Bong
Thian-gak mendongakkan kepala berpekik nyaring, "Siau
Cu-beng, serahkan nyawamu!"
Bong
Thian-gak
memungut pedangnya dari atas tanah dan seperti seekor banteng yang
terluka, dia membacok tubuh Siau Cu-beng secara ganas.
Siau Cu-beng tidak menyambut datangnya
ancaman, sebaliknya delapan orang lelaki berbaju hitam yang berada
di sisinya segera menggerakkan kedelapan pedangnya menciptakan
selapis kabut pedang serentak mengurung
Bong Thian-gak rapat-rapat.
Ilmu pedang yang dimiliki
Bong Thian-gak pada hakikatnya sudah
mencapai kesempurnaan, pedangnya seperti membacok kayu bakar saja,
kawanan orang berbaju hitam itu dibabat satu demi satu.
Semua serangan yang dilancarkan olehnya
terbatas tiga-empat bacokan belaka, namun kedelapan lelaki yang
semula bergerak segesit naga dan seganas harimau itu sudah roboh
terkapar di atas tanah, jangan kata melawan, jerit kesakitan pun tak
sempat dikumandangkan.
Siau Cu-beng bergidik menyaksikan
peristiwa itu, peluh dingin bercucuran dengan deras, dia cukup
mengetahui betapa lihainya ilmu pedang yang dimiliki kedelapan
lelaki itu, yang merupakan pengawal andalannya, bahkan kelihaian
mereka mencapai tingkatan seorang tokoh persilatan.
Tetapi setelah berjumpa dengan
Bong Thian-gak hari ini, keadaan
mereka seakan-akan tidak memiliki setitik ilmu silat pun, dengan
cara yang begitu mudah mereka terbunuh di tangan lawan.
Peristiwa ini benar-benar mengejutkan.
"Dengarkan saudara sekalian," Siau
Cu-beng segera berteriak. "Bila kita biarkan orang ini lolos malam
ini, aku tak akan membiarkan kalian hidup terus di dunia ini. Kepung
dia sekuat tenaga, kalian boleh membacok dan mencincangnya sampai
hancur berkeping-keping!"
Begitu bentakan itu lenyap, kawanan
pengawal di tempat itu serentak berteriak dan membentak dengan suara
gegap gempita, kemudian bersama-sama mengepung
Bong Thian-gak.
Sementara itu
Bong Thian-gak selesai membunuh kedelapan lelaki
berbaju hitam dan menyaksikan Siau Cu-beng hendak mengundurkan diri,
dengan suara lantang segera teriaknya, "Siau Cu-beng, jangan kabur!"
Tubuhnya melejit ke tengah udara dan
menerjang ke muka, sebuah tusukan pedang langsung dilontarkan.
Ilmu pedang yang dimiliki Siau Cu-beng
pun bukan kepandaian sembarangan. Sepasang pedangnya dipergunakan
bersama, dengan suatu gerakan aneh dan cepat bagaikan sambaran kilat
dia tangkis ancaman pedang Bong
Thian-gak.
Kemudian tanyanya sambil tertawa dingin,
"Tunggu saja sampai nanti, kita pasti akan berduel untuk menentukan
menang kalah!"
Sementara itu serombongan orang telah
menggulung datang bagaikan amukan ombak di tengah samudra. Tombak
panjang, pedang, tongkat serta tujuh-delapan macam senjata lainnya
menyerang tiba.
Bong
Thian-gak
meraung keras, pedangnya segera diputar, hawa pedang bagaikan
selapis kabut menyelimuti angkasa, djmana hawa dingin berkelebat,
jeritan ngeri segera memenuhi seluruh gelanggang.
Dalam waktu singkat puluhan orang telah
tewas di ujung pedang Bong Thian-gak yang tajam.
Lambat-laun
Bong Thian-gak menjadi tidak tega sendiri, dia segera
membentak, "Yang hendak kubunuh sebenarnya bukan kalian, lebih baik
kalian mundur saja dari sini, asal aku dapat membunuh Siau Cu-beng,
memangnya dia masih dapat menghukum kalian?"
Sementara itu Siau Cu-beng telah
mengundurkan diri dari gerombolan orang banyak,
Bong Thian-gak melompat naik ke
tengah udara, kemudian tubuhnya melayang jauh ke depan dan langsung
menerkam Siau Cu-beng.
Tatkala melayang turun, ia telah berada
di tengah kerumunan orang banyak, bacokan golok dan pedang serentak
ditujukan ke tubuh Bong Thian-gak.
Pada hakikatnya
Bong Thian-gak tidak mempunyai cukup
waktu untuk melancarkan serangan ke arah Siau Cu-beng, dia sudah
kena serangan lebih dahulu oleh kawanan pengawal yang berada di
sekeliling tempat itu.
Berada dalam keadaan seperti ini, sekali
lagi Bong Thian-gak
menggerakkan pedangnya melakukan pembantaian besar-besaran.
Ia perkasa seperti Lu Poh, seperti Tio
Cu-liong, dimana pedangnya menyambar, seakan tiada seorang pun yang
dapat membendungnya.
Jeritan ngeri, teriakan kesakitan
bergema tiada hentinya.
Bong
Thian-gak
seperti orang kalap, darah telah membasahi seluruh pakaiannya.
Dia sendiri tak tahu berapa banyak orang
yang telah terbunuh, dia hanya tahu mengayunkan pedangnya
melancarkan serangan.
Percikan darah menyembur kemana-mana,
isi perut berhamburan d i mana-mana, teriakan keras, jeritan ngeri
bergema saling susul.
Akhirnya ketika
Bong Thian-gak mengayunkan
pedangnya, tidak terdengar lagi jeritan kesakitan yang terdengar.
Hal itu bukan disebabkan
Bong Thian-gak sudah tak memiliki
kekuatan lagi untuk membunuh orang, melainkan separoh orang-orang di
sekelilingnya telah mati terbunuh.
Tapi pedang
Bong Thian-gak masih saja melancarkan bacokan.
Hal ini disebabkan pandangan matanya
sudah menjadi kabur atau berkunang-kunang, ia seperti tidak tahu
bahwa di situ sudah tak lerdapat seorang hidup pun.
Bong
Thian-gak
melancarkan puluhan bacokan lagi secara beruntun sebelum sadar.
Napasnya tersengal, pedangnya terkulai
ke bawah, dipandangnya sekejap sekeliling tempat itu, darah yang
berceceran di atas tanah telah menganak sungai, mayat bergelimpangan
dimana-mana, mayat-mayat
itu mencapai ratusan sosok
banyaknya.
Untuk beberapa saat
Bong Thian-gak menjadi tertegun,
segera pikirnya, "Mana orang-orang yang lain? Kemana mereka telah
menyembunyikan diri?"
Rupanya ketika
Bong Thian-gak tengah melakukan
pembantaian, sebagian besar kawanan pengawal berbaju kuning telah
mengundurkan diri secara diam-diam ke empat penjuru.
Mendadak Bong
Thian-gak seperti teringat akan sesuatu, dia segera
berseru tertahan, "Ah, rupanya mereka telah mengubah taktik!"
Mendadak di tengah kegelapan malam
terdengar suara anak panah berhamburan datang dengan hebatnya.
"Aduh celaka!" pikir
Bong Thian-gak. "Aku tak boleh
berdiri termangu-mangu saja di sini."
Mendadak dia mengerahkan tenaga dalam
Tat-mo-khi-kang, pedangnya dengan cepat memainkan selapis kabut
pedang, tubuhnya secepat kilat berlari menuju ke arah utara.
Lapangan di situ cukup luas, di sana
sini penuh ditumbuhi pepohonan Siong-pak dan bambu sehingga suasana
gelap gulita.
Untuk menembus hutan semacam itu, bagi
Bong Thian-gak pada
hakikatnya lebih sukar daripada naik ke langit.
Kawanan pengawal Put-gwa-cin-kau telah
mengundurkan diri ke dalam pos penjagaan di dalam hutan, dari jarak
yang tak begitu jauh mereka dapat melancarkan serangan dengan
mempergunakan anak panah atau senjata rahasia, sebaliknya bila musuh
mendekat, mereka pun bisa melancarkan sergapan dengan mempergunakan
pedang, golok atau tombak.
Oleh karena itulah baru saja
Bong Thian-gak masuk ke dalam hutan,
hujan panah sudah menyergap dari belakang, sementara dari kiri dan
kanannya menerjang empat batang tombak.
Selama tiga tahun melatih diri di bawah
air terjun dahulu, Bong Thian-gak telah berhasil pula melatih ilmu membedakan arah angin
serta ilmu tenaga dalam yang menitik-beratkan pada mengatasi gerak
di tengah ketenangan, merebut ketenangan di tengah gerak.
Keempat tombak itu dengan cepat
dirontokkan oleh sambaran pedangnya, sedangkan hujan panah yang
menyerang datang dari belakang punggungnya, melesat ke depan
melewati atas punggungnya hanya dengan cara dia membungkukkan badan.
Menyusul terdengar dua kali jeritan
ngeri, sekali lagi pedang Bong
Thian-gak menunjukkan kehebatannya, dua orang pengawal berbaju
kuning yang menyembunyikan diri di belakang pohon kena ditebas
kepalanya hingga tewas seketika.
Bong
Thian-gak
meneruskan perjalanannya menembus hutan itu, jeritan demi jeritan
pun bergema saling susul.
Berpuluh bambu ada kalanya ikut terpapas
kutung oleh bacokan pedang Bong
Thian-gak sehingga roboh ke atas tanah.
Pertempuran berdarah ini betul-betul
merupakan pertarungan yang jarang terjadi dalam Bu-lim.
Lewat setengah jam kemudian
Bong Thian-gak telah keluar dari
balik hutan yang gelap.
Di bawah cahaya rembulan yang terang
benderang, pembunuh yang masih muda ini telah berubah menjadi
manusia darah, rambutnya kusut dan pakaiannya robek, pedangnya yang
berlumuran darah masih meneteskan titik-titik darah ke atas tanah.
Berapa banyak orangkah yang telah
terbunuh di tangan Bong Thian-gak dalam hutan itu?
Walaupun pertempuran telah berhenti,
sorot mata Bong Thian-gak
masih tetap memancarkan hawa membunuh yang amat menggidikkan.
Ternyata dia tahu, pentolan penyamun
pembawa bibit bencana dan segala musibah baginya selama ini adalah
Siau Cu-beng yang belum menemui ajalnya di ujung pedangnya.
Bong
Thian-gak
sendiri pun merasa heran, sudah jelas tempat ini merupakan sarang
Put-gwa-cin-kau, walau pertarungan berlangsung lama, kawanan jago
lihai dari Put-gwa-cin-kau yang menampakkan diri tak lebih hanya
Siau Cu-beng dan Liok-kaucu.
Kemana perginya Cong-kaucu serta
Ji-kaucu dan Sim Tiong-kiu
sekalian? Apakah mereka semua tidak berada di sini?
Walaupun demikian,
Bong Thian-gak pun diam-diam
bersyukur, harus dia akui bila seorang saja di antara ketiga orang
itu menampakkan diri, niscaya dia akan terancam bahaya maut pada
malam ini.
Teringat akan hal itu,
Bong Thian-gak segera berubah
pikiran, dia tidak ingin meninggalkan tempat itu secepatnya, dia
masih harus melanjutkan pertarungannya.
Kepalanya segera didongakkan.
Bangunan loteng yang berlapis-lapis,
gedung yang megah, berdiri kekar di bawah cahaya rembulan.
Namun anehnya, semua gedung dan bangunan
loteng itu berada dalam keadaan gelap, tiada cahaya lentera, tiada
bayangan manusia yang nampak.
Sekeliling tempat itu berubah begitu
hening, menyeramkan dan menggidikkan.
Hawa napsu membunuh
Bong Thian-gak semakin berkobar,
namun empat penjuru tidak nampak seorang pun, bagaimana mungkin dia
dapat melanjutkan pembantaiannya.
"Siau Cu-beng, mengapa kau tidak
menampakkan diri? Kau sudah ketakutan? Siau Cu-beng, ayo cepat
menampakkan diri untuk menerima kematian!"
Bong Thian-gak berteriak, sudah
barang tentu Siau Cu-beng dapat mendengar suara teriakan itu dengan
jelas.
Akan tetapi keperkasaan
Bong Thian-gak sudah menggetarkan
hatinya, dia sadar pasti dirinya bukan tandingan lawan.
Markas besar Put-gwa-cin-kau yang
menyeramkan dengan penjagaan yang begitu ketat, dalam waktu singkat
berubah menjadi kuburan yang sepi, suasana amat menyeramkan,
bagaikan kota mati ditinggal penghuninya.
Untuk beberapa saat
Bong Thian-gak hanya berdiri kaku di
tempat, dia tak tahu apa yang mesti dilakukannya sekarang?
Mendadak suara jeritan perempuan yang
melolong seperti jeritan kuntilanak terdengar bergema dari loteng di
depan sana.
Jeritan itu seperti suara jeritan
seseorang yang merasakan penderitaan batin yang luar biasa.
Bong
Thian-gak
berkerut kening, tubuhnya secepat kilat bergerak menuju ke arah
bangunan loteng itu.
Sementara itu teriakan dan lengkingan
perempuan itu sekali lagi bergema di angkasa.
Suaranya begitu mengerikan, membuat bulu
kuduk orang berdiri dan darah serasa mendidih.
Setelah itu terdengar pula seorang
dengan suara terputus-putus berteriak, "Lebih baik kalian bunuh aku,
kumohon ... kumohon kepada
kalian ... janganlah menyiksa
aku dengan cara begini."
Setelah itu kembali bergema teriakan
seperti suara lolongan serigala di tengah malam buta.
Bong
Thian-gak
sudah terpancing tiba di bawah loteng itu, tibaĀtiba satu ingatan
terlintas di benaknya, tanpa sadar pikirnya, "Jangan-jangan mereka
sengaja memasang sebuah perangkap di tempat ini."
Karena ingatan itu, dia segera
membatalkan niatnya untuk melompat naik ke atas loteng itu.
Tapi ingatan lain terlintas dalam
benaknya, "Betul, jelas perangkap jahat untuk memancingku masuk
jebakan ... tapi perempuan
itupun sudah jelas seorang korban mereka
... padahal tempat ini sangat berbahaya, aku wajib
menyelamatkan jiwanya."
Berpikir sampai di situ,
Bong Thian-gak segera melompat naik
ke atas loteng itu, menghantam daun jendelanya sehingga terpentang
lebar.
Di balik daun jendela merupakan sebuah
ruangan yang sangat lebar, terlihat seorang perempuan dalam keadaan
bugil terikat kencang pada tonggak kayu di tengah ruangan.
Sedangkan di lantai terlihat ada
beberapa ekor ular beracun sedang meliuk-liuk sambil menjulurkan
lidahnya yang berwarna merah, dua di antaranya merayap mendekati
nona bugil itu.
Perasaan kaget, ngeri dan ketakutan
menyelimuti wajah gadis bugil tadi, membuatnya sekali lagi menjerit.
Tatkala perempuan bugil itu melihat
Bong Thian-gak muncul di
situ, sorot matanya memancarkan sinar permohonan.
"Bedebah!" umpat
Bong Thian-gak amat gusar.
Tanpa memikirkan bagaimana akibatnya,
pemuda itu segera melejit ke tengah udara dan langsung meluncur ke
arah tonggak kayu dimana perempuan bugil itu terikat.
Pedangnya segera digetarkan, dan "Crit",
persis menusuk di atas tonggak kayu itu.
Dengan tangan kiri menggenggam pedang,
Bong Thian-gak menggantungkan
diri di atas pedangnya, sementara ujung baju kanannya dikebaskan ke
muka.
Akibat babatan ujung bajunya itu, dua
ekor ular yang sedang merambat mendekati tonggak kayu itu segera
terhajar hingga terputus menjadi beberapa bagian.
Pada saat itulah perempuan bugil yang
terikat di atas tonggak kayu beraksi, tubuhnya bagaikan ular
menggeliat, lalu ... "Plak",
Bong Thian-gak terhajar telak
oleh serangannya.
Mimpi pun Bong
Thian-gak tak bisa membayangkan dengan cara apakah
perempuan bugil itu melepaskan diri dari belenggu tali itu.
Dia pun tidak tahu genggaman perempuan
bugil itu mencekal seekor ular kecil yang berwarna hijau
kehitam-hitaman.
Tahu-tahu Bong
Thian-gak merasa punggungnya sakit sekali, dia tidak
menyadari bahwa jiwanya sekarang sudah berada di tepi kematian.
Kaki kanan
Bong Thian-gak masih mengait di atas tonggak kayu,
kemudian ia membopong perempuan bugil tadi dan membaringkannya di
atas lantai.
Ia membaringkan perempuan itu di atas
lantai yang bebas dari ancaman ular, kemudian telapak tangan
kanannya dikebaskan, gulungan angin pukulan segera menyambar,
ular-ular beracun yang berada di lantai pun seekor demi seekor
tersambar hingga mati semua.
Sementara itu suara tawa cekikikan yang
amat jalang dan cabul mulai berkumandang dari mulut perempuan bugil
itu.
Sambil mengerut dahi
Bong Thian-gak segera berpaling.
Entah sejak kapan perempuan bugil itu
sudah mengenakan selembar kutang untuk menutupi payudaranya yang
montok, di bawah perutnya juga sudah dilingkari gaun pendek untuk
menutupi bagian rahasianya, raut wajahnya yang semula menderita dan
ketakutan kini sudah kembali seperti keadaan pada umumnya.
Terutama sekali seekor ular kecil
berwarna hijau kehitam-hitaman yang tergenggam pada tangan kanannya
membuat Bong Thian-gak
seperti terbangun dari impian, ia segera sadar dirinya sudah
tertipu.
"Si...
siapakah kau?" tegurnya kemudian.
Dengan suara yang amat tenang perempuan
bugil itu menjawab, "Su-kaucu Put-gwa-cin-kau, Hek-coa-li-liong
(gadis cantik ular hitam)!"
Tak terlukiskan rasa terkejut
Bong Thian-gak setelah mendengar
pengakuan itu, dia lantas teringat rasa sakit yang pernah dialaminya
pada saat menolong perempuan itu tadi.
Paras mukanya segera berubah hebat,
hardiknya penuh gusar, "Kurangajar! Cari mampus rupanya kau?"
Telapak tangan kirinya segera diayunkan
ke muka melancarkan sebuah bacokan maut.
Hek-coa-li-liong sama sekali tidak
berkelit, telapak tangan Bong
Thian-gak persis menghantam di atas perut perempuan itu.
Dengan tenaga dalam yang dimiliki
Bong Thian-gak, serangannya itu
cukup baginya untuk menghancurkan batu gunung, tapi Hek-coa-li-liong
malah tertawa terkekeh-kekeh seperti orang gila.
"Apa kau mampu membunuhku? Setiap orang
yang terpagut ular kecil berwarna hijau kehitam-hitamanku ini, dalam
setengah menit racunnya akan mulai bekerja dan seluruh kekuatan yang
dimiliki akan punah, kau tak akan memiliki kekuatan untuk membunuh
orang lain."
Betul, saat ini
Bong Thian-gak memang merasa
kekuatannya punah, bagaikan seseorang yang ilmu silatnya dipunahkan
orang lain.
Dalam ingatan
Bong Thian-gak, Su-kaucu Put-gwa-cin-kau ini,
Hek-coa-li-liong, adalah seorang yang teramat asing baginya. Itulah
sebabnya ia terluka oleh serangannya, Bong
Thian-gak menghela napas panjang, kemudian katanya,
"Sungguh tak kusangka, aku Bong
Thian-gak telah melakukan kesalahan besar gara-gara terdorong
oleh perasaan, ai, sekarang aku sudah terjatuh ke tanganmu, mau
bunuh, cincang, terserah kehendakmu!"
Dalam pada itu Hek-coa-li-liong telah
selesai membereskan rambutnya yang kusut, sekarang dapat dilihat
dengan jelas bagaimana kulit tubuhnya begitu putih bersih, mukanya
bulat telur dan berparas cantik jelita bak bidadari dari kahyangan,
usianya di antara dua puluh empat tahun.
Sambil tertawa cekikikan
Hek-coa-li-liong berkata kembali, "Kau mempunyai perasaan kasihan?
Hm! Dua ratus orang anggota Put-gwa-cin-kau telah kau bantai secara
kejam. Kaulah manusia dalam persilatan saat ini yang membunuh orang
paling banyak. Gembong iblis pembunuh manusia macam dirimu, mana
mungkin mempunyai perasaan kasihan? Huh,
kau tak usah membual lagi di hadapanku."
Disemprot dengan kata-kata yang begitu
pedas, tanpa terasa Bong Thian-gak menundukkan kepala, ucapnya kemudian, "Kalau ingin turun
tangan, ayolah lakukan secepatnya!"
Hek-coa-li-liong tersenyum.
"Membunuhmu? Tidak akan kulakukan
semudah itu."
"Kalau tidak, perbuatan apa yang hendak
kau lakukan terhadap diriku?" tegur Bong
Thian-gak mulai naik pitam.
"Sekarang kau telah kehilangan ilmu
silatmu, bagaimana pun juga kau tidak bakal bisa kabur dari sini,
oleh sebab itu aku hendak mencari akal lain untuk menghadapi
dirimu."
Sepanjang pembicaraan, secara diam-diam
Bong Thian-gak telah mencoba
mengerahkan hawa murninya, tapi urat nadi serta jalan darahnya
seakan-akan tersumbat oleh suatu kekuatan besar sehingga tak setitik
tenaga pun yang mampu disalurkan.
Dengan menghela napas sedih pelan-pelan
Bong Thian-gak bertanya, "Apa
nama ular itu? Sungguh tak nyana begitu hebat."
Hek-coa-li-liong tertawa bangga,
sahutnya, "Ular ini bukan ular sungguhan, yang benar adalah sejenis
senjata tajam."
Bong
Thian-gak
mengalihkan sorot matanya ke ular kecil warna hijau kehitaman yang
berada di tangan kanannya.
Ternyata memang sama sekali tak
bergerak, kenyataan memang bukan ular sungguhan, melainkan senjata
yang berbentuk ular.
Bong
Thian-gak
berseru tertahan, kemudian tanyanya, "Apa nama senjata itu?"
"Hek-Jik-leng-coa (ular sakti hijau
kehitam-hitaman)."
"Apakah kau telah menyembunyikan racun
keji di balik lidah ular itu?" tanya Bong
Thian-gak lagi sambil menghela napas.
"Betul, punggungmu tertusuk oleh lidah
ular itu, bukan oleh pagutannya."
"Apakah kau sudah mendapatkan cara
terbaik untuk menghukum diriku?"
"Belum!" kembali Hek-coa-li-liong
menggeleng kepala.
"Walau aku sudah menjadi manusia tak
berilmu silat, tetapi aku tak dapat berdiam kelewat lama di sini
menunggu hukuman."
"Meski ilmu silatmu telah punah, namun
kau masih dapat menyelamatkan nyawamu selama tinggal di tempat ini.
Andaikata kau meninggalkan loteng ini, niscaya Siau Cu-beng akan
membunuhmu."
Bong
Thian-gak
tertegun mendengar kata-katanya itu, "Apakah selama aku tetap
mengendon di tempat ini, kau dan Siau Cu-beng tak akan merenggut
nyawaku?"
Hek-coa-li-liong tertawa dingin,
"Selamanya Siau Cu-beng tak akan berani mencampuri urusanku, yang
paling menakutkan apabila aku hendak merenggut jiwamu."
Bong
Thian-gak
menghela napas panjang.
"Ai, mati bukan sesuatu yang menakutkan,
aku hanya merasa bahwa kematianku terlalu tak berharga."
"Mengapa tak berharga?" tanya
Hek-coa-li-liong.
"Orang-orang Put-gwa-cin-kau kejam dan
tidak berperasaan. Tatkala mendengar jeritanmu tadi, aku mengira
orang Put-gwa-cin-kau sedang menyiksa orang dengan sangat keji.
Itulah sebabnya aku terburu-buru datang kemari. Ai, sungguh tak
kusangka kau pun termasuk satu di antara gembong Put-gwa-cin-kau."
Hek-coa-li-liong tertawa dingin,
tiba-tiba bentaknya, "Siau Cu-beng, jika kau berani melangkah masuk
ke dalam lotengku ini, segera akan kusuruh kau mati tergigit ular
beracun."
Ketika mendengar perkataan itu,
Bong Thian-gak segera berpaling dan
menengok sekejap keluar jendela, tampak olehnya suasana di bawah
loteng terang-benderang bermandikan cahaya. Siau Cu-beng beserta
sekelompok pengawal berbaju kuning telah mengepung loteng itu.
Siau Cu-beng masih mengenakan kain
berkerudung, tampak dia mendongakkan kepala dan berkata lantang,
"Sebelum memperoleh izin dari Su-kaucu, tentu saja Cu-beng tidak
berani bertindak sembarangan memasuki kamar tidurmu."
Ketika itu tenaga dalam
Bong Thian-gak telah punah, dia
sangat kecewa dan putus asa, maka sambil berdiri di sisi arena ia
memutar otak mencari akal, pikirnya, "Biar waktu tertunda, coba
kulihat apakah tenaga dalamku masih ada kemungkinan pulih atau
tidak?"
Sementara itu Hek-coa-li-liong telah
mendengus dingin sambil berkata, "Kalau memang begitu, mengapa kau
bawa orang-orangmu mengepung loteng ini?"
Siau Cu-beng tertawa ringan.
"Aku kuatir Su-kaucu tidak bisa
menaklukkan Jian-ciat-suseng."
"Hm, sekalipun tak mampu melakukannya,
aku juga tak akan memberi kesempatan kepadamu untuk menaklukkan
orang itu," jengek Hek-coa-li-liong dengan ketus.
"Su-kaucu," mendadak Siau Cu-beng
berkata dengan suara dalam, "Malam ini, aku orang
she Siau bersedia memberi kesempatan
kepadamu untuk menebus dosa-dosamu yang lalu, kuharap kesempatan
yang sangat bagus ini jangan kau sia-siakan begitu saja."
"Apa yang mesti kulakukan?" tanya
Hek-coa-li-liong sambil tertawa dingin.
"Jika Su-kaucu berhasil menaklukkannya,
harap kau serahkan orang itu kepadaku untuk dijatuhi hukuman."
Sekali lagi Hek-coa-li-liong tertawa
dingin.
"Satu kali tergigit ular berbisa,
sepuluh tahun takut tali tambang. Aku tak bakal menyerahkan jasa
besar ini kepadamu begitu saja."
"Su-kaucu!" kembali Siau Cu-beng berkata
dengan suara dingin, "Bila kau melakukan kesalahan lagi, perkumpulan
akan menggunakan peraturan yang paling ketat dan berat untuk
menghukum serta menyiksa dirimu."
"Kau tak usah kuatir," Hek-coa-li-liong
tertawa menjengek. "Aku masih mampu mengawasinya hingga Cong-kaucu
pulang."
"Kalau begitu Su-kaucu tidak bersedia
menyerahkan orang itu kepadaku?"
"Kau licik dan munafik, yang kau
pikirkan hanya kepentingan sendiri, aku sudah cukup banyak menerima
pelajaran pahit darimu."
"Apakah Su-kaucu tak kuatir aku bakal
menurunkan perintah menyerang lotengmu," kata Siau Cu-beng lagi
sambil tertawa dingin dengan suara menyeramkan.
"Di dalam loteng ini terpelihara
beribu-ribu ular beracun, bila kau memang tidak kuatir dipagut
ularku, silakan saja untuk mencoba."
"Ular paling takut dengan api," jengek
Siau Cu-beng sambil tertawa dingin. "Aku masih bisa melepaskan api
membakar loteng ini."
Hati Hek-coa-li-liong bergetar keras,
ujarnya kemudian, "Ular-ular beracun peliharaanku telah mendapat
latihan khusus. Asal kubunyikan serulingku, maka beribu-ribu ular
beracun itu akan menyerbu keluar. Aku tak percaya kau masih mampu
mempertahankan hidup."
"Su-kaucu," teriak Siau Cu-beng semakin
marah, "tindakanmu sungguh mengkhianati peraturan yang telah
ditetapkan perkumpulan."
"Yang telah melanggar peraturan bukanlah
aku, melainkan kau sendiri," jengek Hek-coa-li-liong sambil tertawa
dingin. "Sewaktu aku ditahan di dalam loteng ini, siapa pun tidak
dibiarkan mengusik atau mengganggu ketenanganku. Apakah komandan
Siau telah lupa?"
"Tapi kenyataan sekarang Su-kaucu
berniat melindungi buronan penting, aku mempunyai hak penuh untuk
menjatuhkan hukuman yang setimpal kepadamu."
Hek-coa-li-liong tertawa dingin, "Siau
Cu-beng, kau tidak usah banyak cerita lagi. Dendam sakit hati di
antara kita sudah seperti air dan api, tidak mungkin bagi kita untuk
hidup bersama, apa pun yang hendak kau lakukan terhadap diriku,
boleh kau laksanakan sekarang juga!"
Siau Cu-beng mendengus dingin.
"Hm, kau tidak bersedia bekerja sama
denganku. Berarti kau sendiri yang mencari jalan kematian."
Sepanjang pembicaraan,
Bong Thian-gak hanya mendengarkan
dengan hati dingin dan perasaan tenang. Ketika pembicaraan telah
usai, dia baru menghela napas seraya berkata, "Siau Cu-beng adalah
seorang licik yang berhati keji serta buas. Kekejaman dan
kebrutalannya boleh dibilang sudah mencapai titik puncak yang paling
tinggi, bisa jadi kau akan musnah di tangannya."
Hek-coa-li-liong memandang sekejap ke
arah Bong Thian-gak, kemudian
katanya dingin, "Apakah kau berniat mempengaruhi aku agar
berkhianat?"
"Ai, mungkin dengan begitu keselamatan
jiwa kita berdua baru bisa dipertahankan," jawab
Bong
Thian-gak
sambil menghela napas. Hek-coa-li-liong tertawa dingin.
"Terus terang saja kuberitahu suatu hal
kepadamu, sejak aku disekap dalam loteng ini, menelan semacam obat
racun yang berdaya kerja lambat, suatu ketika jika aku berani
melarikan diri dari tempat ini dan dalam satu bulan tidak menelan
obat penawar racunnya, maka daya kerja racun itu akan mulai beraksi,
akhirnya aku bakal mampus dengan darah keluar dari ketujuh lubang
indra. Itulah sebabnya aku tak berani berkhianat ataupun melarikan
diri."
Bong
Thian-gak
terkejut mendengar keterangan itu, sekarang ia tahu cara bagaimana
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau mengendalikan jago-jago lihainya dan
bagaimana pula cara menguasai kawanan Enghiong.
Tapi justru dari perkataan itu
Bong Thian-gak pun mendapat tahu
bahwa dari dasar hati gadis itu sesungguhnya sudah mempunyai niat
untuk berkhianat terhadap Put-gwa-cin-kau.
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam
benak Bong Thian-gak,
tanyanya kemudian, "Su-kaucu, apakah kau tahu obat racun macam
apakah yang telah kau makan?"
"Tidak!" Hek-coa-li-liong menggeleng
kepala berulang-kali. "Masih berapa lama lagi Su-kaucu mesti menelan
obat penawar berikutnya?" kembali pemuda itu bertanya.
"Empat hari. Selewat empat hari, bila
obat penawar racun belum juga diserahkan kepadaku, akibatnya aku
akan tewas dengan keadaan mengenaskan."
"Ai, dalam tiga tahun belakangan ini,
boleh dibilang setiap waktu aku selalu kuatir bila mereka tak
menyerahkan obat penawar racun kepadaku, menghadapi ancaman maut itu
sungguh penderitaan batin yang betul-betul amat berat."
Menyusul gadis itu bergumam, hanya saja
Bong Thian-gak tidak
menangkap jelas, karena saat itu dia sedang memperhitungkan suatu
masalah penting.
Tiba-tiba terdengar
Bong Thian-gak bergumam, "Ai, masih
ada waktu. Dalam empat hari sudah pasti akan tiba di kota Lok-yang."
"Apakah yang kau pikirkan?" tanya
Hek-coa-li-liong sambil melirik sekejap ke arahnya.
Dengan wajah berseri
Bong Thian-gak berkata, "Bila
Su-kaucu bertekad hendak meninggalkan cengkeraman maut
Put-gwa-cin-kau. Aku pun bersedia mengusahakan pengobatan racun yang
mengeram dalam tubuhmu."
"Aku tidak percaya kau memiliki
kemampuan semacam itu," kata Hek-coa-li-liong itu.
"Di dunia persilatan dewasa ini,
terdapat seorang tabib sakti dan kenamaan yang mampu menawarkan
racun yang mengeram dalam tubuhmu sekarang."
"Obat racun yang bersifat lambat yang
kutelan adalah bikinan si tabib sakti Gi Jian-cau, kecuali Gi
Jian-cau sendiri, aku rasa tiada orang lain di kolong langit dewasa
ini yang mampu menawarkan racun jahat itu."
Bong
Thian-gak
semakin girang.
"Justru orang yang kumaksud tadi tak
lain adalah Gi Jian-cau, aku memang berniat mengajakmu mencarinya."
"Kau tidak usah ngaco-belo tak keruan,"
Hek-coa-li-liong berkata dingin. "Obat-obatan yang berada dalam
kekuasaan Cong-kaucu boleh dibilang semuanya berasal dari Gi
Jian-cau, mana mungkin dia mau mengobati orang yang telah menelan
racun bikinannya sendiri."
Bong
Thian-gak
segera tersenyum.
"Memang, apa yang kau ucapkan betul
sekali, tapi aku pun berani menjamin Gi Jian-cau pasti akan bersedia
mengobati racun jahat yang mengeram di dalam tubuhmu."
"Apa hubunganmu dengan Gi Jian-cau?"
tanya Hek-coa-li-liong.
"Dia adalah salah satu pelindung
perguruan kami."
"Lantas siapakah kau?"
"Aku adalah ketua Hiat-kiam-bun
... Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."
Agaknya Hek-coa-li-liong menaruh
pandangan yang teramat asing terhadap segala perubahan dan tokoh
dalam Bu-lim.
Sambil tertawa ia menggeleng kepala,
kemudian ujarnya, "Aku sudah disekap hampir tiga tahun lamanya di
loteng ini. Karenanya aku sama sekali tidak jelas tentang segala
masalah dan kejadian yang berlangsung di Bu-lim selama ini, walaupun
begitu aku cukup mengenal nama Hiat-kiam-bun."
Kemudian sambil menarik muka, ia berkata
lebih lanjut dengan suara dingin, "Andai kata Hiat-kiam-bun
benar-benar sudah muncul, maka ketua terpilihnya selain Ko Hong dan
Keng-tim Suthay, mengapa bisa terjatuh ke tangan Jian-ciat-suseng?"
Diam-diam Bong
Thian-gak merasa girang mendengar ucapan itu,
cepat ia bertanya, "Su-kaucu,
darimana kau bisa tahu nama Ko Hong dan keng-tim
Suthay?"
Hek-coa-li-liong memandang sekejap ke
arahnya, lalu jawabnya, 'Tentang orang yang bernama Ko Hong, aku
memang tidak kenal, tapi aku kenal Keng-tim Suthay."
Tiba-tiba Bong
Thian-gak teringat suatu masalah, dia segera bedanya,
"Bagaimanakah hubungan pribadi Su-kaucu dengan Jit-kaucu
Thay kun?"
Paras Hek-coa-li-liong segera berubah
hebat ia balik bertanya, "Darimana kau bisa tahu nama Jit-kaucu?"
Bong
Thian-gak
menghela napas panjang.
"Su-kaucu bisa tahu tentang
Hiat-kiam-bun karena Jit-kaucu Thay-kun yang memberitahukan hal itu
kepadamu, bisa juga Thay-kun berniat menarik kau agar bergabung
dengan Hiat-kiam-bun."
"Ai, bicara yang sebenarnya, Ko Hong
yang muncul tiga tahun berselang tak lain adalah aku sendiri. Ko
Hong adalah nama samaranku, bila Su-kaucu bersedia memenuhi
permohonan tadi, harap kau segera turun tangan!"
Hek-coa-li-liong termenung dan berpikir
beberapa saat, kemudian baru berkata, "Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Bila aku berani berbohong sedikit saja,
biar Thian mengutuk diriku serta memberi kematian yang paling tragis
kepadaku."
Wajah Hek-coa-li-liong baru nampak
berseri setelah mendengar kata-kata terakhir tadi, katanya, "Harap
kau duduk bersila di atas tanah, segera aku berikan obat penawar
racun itu untukmu."
Selesai berkata, dengan cepat
Hek-coa-li-liong masuk ke ruang dalam, sekejap kemudian dia telah
muncul kembali.
Pada waktu itu dia sudah mengenakan
mantel yang berbuat dari kulit ular, tangan kiri membawa seruling
pendek, sementara tangan kanannya membawa pisau belati.
Dia mengambil seekor bangkai ular dari
antara tumpukan bangkai ular yang berserakan, kemudian pisau
belatinya merobek perut bangkai tadi dengan lincah dan cekatan,
tahu-tahu ia sudah mencongkel empedu ular berwarna hijau
kehitam-hitaman.
Ujarnya pula, "Ayo, cepat kau telan
empedu ular ini, dalam setengah jam tenaga dalammu lambat-laun akan
pulih seperti sedia kala."
Belum selesai ia berkata, bayangan orang
berkelebat dari luar jendela, kemudian seorang berbaju hitam
berkerudung telah menerjang masuk ke dalam ruangan.
Hek-coa-li-liong segera membentak
nyaring, "Siau Cu-beng, kau berani melangkah masuk ke daerah
terlarang?"
Di tengah bentakan itu, Hek-coa-li-liong
berkelebat menghadang di depan Bong
Thian-gak, lalu jari tangannya menyentil ke depan dan
melemparkan empedu ular itu ke dalam mulut
Bong Thian-gak.
Pada saat bersamaan pula, pisau belati
di tangan kanannya menusuk Siau Cu-beng.
Dengan cekatan Siau Cu-beng menggeser
langkah menghindarkan diri dari ancaman itu, lalu umpatnya dengan
suara dingin, "Perempuan rendah, kau benar-benar telah berkhianat
rupanya."
Dengan gerakan cepat tangan kanannya
melolos sebilah pedang panjang.
Setelah melepaskan sebuah serangan
dengan pisau belatinya tadi, Hek-coa-li-liong telah mengundurkan
diri ke muka Bong Thian-gak.
Ketika mendengar ucapan itu, segera sahutnya dingin. "Soal
berkhianat sudah kurencanakan sejak dulu, cuma belum ada kesempatan
untuk mewujudkannya."
Siau Cu-beng tertawa dingin.
"Berarti kau mencari masalah. Kalau
begitu, jangan salahkan lagi bila aku berhati keji dan buas terhadap
dirimu!"
Siau Cu-beng mendesak maju, pedangnya
berkelebat berulang kali dengan gerakan aneh, beruntun ia
melancarkan tiga buah serangan.
Jurus pedang yang dipergunakan Siau
Cu-beng kelihatan aneh dan ganas, Hek-coa-li-liong harus memainkan
pisau belatinya dengan lihainya untuk mematahkan jurus serangan itu.
Sewaktu serangan berhasil diatasi, ia
pun sudah terdesak hingga mundur ke hadapan
Bong Thian-gak.
Sambil tertawa dingin Siau Cu-beng
menjengek, "Bila kau bersedia membuang pisaumu dan menyerahkan diri,
masih ada kemungkinan bagimu untuk mempertahankan nyawamu itu."
Selesai berkata, sebuah serangan gencar
kembali dilancarkan ke depan.
"Aku lebih suka mati daripada hidup
tersiksa dan menderita," bentak Hek-coa-li-liong.
Serangan pedang yang amat dahsyat dan
hebat, nyaris memaksa Hek-coa-li-liong kehilangan pisau belatinya,
hampir saja mencelat dari genggaman.
"Aku tahu," jengek Siau Cu-beng,
"Kepandaianmu yang terhebat adalah mengendalikan kawanan ular dengan
irama seruling, sedang dalam ilmu silat, kau tidak akan mampu
bertahan sepuluh jurus serangan pedangku."
Jurus pedang Siau Cu-beng berubah terus
tiada hentinya, sebentar menotok sebentar membacok, secara beruntun
dia melancarkan tiga buah serangan lagi.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget
berkumandang.
Ternyata lengan kiri Hek-coa-li-liong
telah tersambar oleh pedang lawan sehingga muncul sebuah luka
memanjang yang cukup dalam.
Pada saat itu pula pedang panjang di
tangan kiri Siau Cu-beng sekali lagi melancarkan serangan.
Pisau belati yang tergenggam di tangan
kanan Hek-coa-li-liong segera tersontek oleh pedang lawan hingga
mencelat ke tengah udara.
Pedang Siau Cu-beng kembali melakukan
gerakan menyambar, ujung pedang yang tajam menempel tenggorokan
Hek-coa-li-liong yang merupakan bagian mematikan di tubuh manusia.
Sambil tertawa dingin, dengan penuh
kebanggaan Siau Cu-beng berkata, "Sekarang, apa lagi yang bisa kau
katakan?"
Paras muka Hek-coa-li-liong masih tampak
begitu tenang dan kalem, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu,
katanya kemudian, "Siau Cu-beng, kau sudah kehilangan kesempatan
terbaik untuk membunuh aku."
Entah sejak kapan Hek-coa-li-liong telah
menggenggam seekor ular kecil berwarna hijau kehitam-hitaman di
tangan kanannya.
"Apa maksudmu?" tanya Siau Cu-beng agak
seram bercampur ketakutan.
"Coba kau lihat dulu, ular kecil yang
berada dalam genggamanku sekarang adalah benda apa?" "Ular sakti
hijau hitam!"
"Tahukah kau, benda apa saja yang
tersimpan di dalam lambung kecil ini?"
"Tiga belas batang jarum beracun."
Hek-coa-li-liong tertawa bangga.
"Selama ular sakti hijau hitam berada di
genggamanku, tujuh langkah bisa melukai orang dan tak seorang pun
yang mampu untuk menghindarkan diri. Andaikata pedangmu langsung kau
tusukkan ke dalam tubuhku, maka aku tak akan mempunyai kesempatan
yang baik untuk mengeluarkan ular sakti hijau hitam itu."
"Tapi sekarang
... biarpun kau masih bisa menusuk
mati diriku dengan pedangmu, namun aku pun dapat menyemburkan
jarum-jarum beracun yang tersimpan di dalam lambung ular sakti hijau
hitam ini, karenanya saat ini kita hanya bisa saling mempertahankan
diri belaka."
Siau Cu-beng tertawa dingin, tiba-tiba
tanyanya, "Bagaimana dengan keadaan Jian-ciat-suseng saat ini?"
Hek-coa-li-liong sama sekali tidak
berpaling, hanya jawabnya dingin, "Kau tidak perlu menggunakan akal
muslihat busuk dan licik untuk menipuku, aku tak bakal terkena
siasatmu itu."
"Jika kita harus saling bertahan pada
keadaan seperti ini, pada akhirnya kau akan mampus juga di ujung
pedangku," seru Siau Cu-beng kemudian sambil tertawa dingin.
Hek-coa-li-liong segera tertawa.
"Jika aku mati, kau pun jangan harap
bisa meninggalkan tempat Ini dalam keadaan selamat."
"Kalau memang begitu, lihat saja
bagaimana akhirnya nanti!"
Mendadak Siau Cu-beng menggeser tubuh ke
arah sisi kiri. Bersamaan
pedang di tangan kirinya yang terkulai menghadap ke lantai
mencungkil ke atas secepat kilat.
Hek-coa-li-liong mendengus penuh amarah,
sambil membentak kelima jari tangan kanannya segera menekan tombol
rahasia yang berada di lambung ular sakti hijau hitamnya.
Dalam sekejap Hek-coa-li-liong merasa
lengan kanannya menjadi dingin, tahu-tahu cahaya tajam pedang Siau
Cu-beng telah menyambar lengan kanannya, percikan darah segar segera
memancar kemana-mana.
Hek-coa-li-liong
menjerit kesakitan, lengan kanannya sebatas sikut telah
terbabat pedang lawan hingga kutung.
Pada saat
ersamaan, terdengar bunyi desingan angin tajam bergema.
Pedang Siau Cu-beng yang menempel di
atas tenggorokan Hek-coa li
liong tahu-tahu sudah ditarik kembali sambil diputar menciptakan
selapis cahaya pedang yang
amat tebal untuk melindungi seluruh badannya.
Serentetan bunyi suara bentrokan yang
amat nyaring kembali bergema, di antara suara dentingan inilah,
mendadak Siau Cu-beng mendengus, tubuhnya terlempar ke belakang.
Namun dengan cepat dia melompat bangun,
sayang langkah kakinya gontai dan hampir saja terjerembab.
Darah kental bercucuran dengan amat
derasnya dari lengan kanan Hek-coa-li-liong yang kutung, namun dia
seolah-olah lupa akan rasa sakit yang dideritanya itu, sambil
tertawa seram serunya, "Kau sudah terkena jarum beracunku, jadi yang
bakal mampus bukan aku, melainkan kau."
Sementara itu dari balik mata Siau
Cu-beng telah memancar cahaya buas yang penuh dengan kebencian serta
dendam. Sambil mengawasi wajah Hek-coa-li-liong lekat-lekat, serunya
dengan suara hambar, "Sebelum jiwaku melayang, jangan harap kalian
berdua pun dapat lolos dalam keadaan hidup."
Kembali Siau Cu-beng menggerakkan pedang
di tangan kanannya membacok dada Hek-coa-li-liong secara tiba-tiba.
Jarak kedua orang tak lebih satu tombak,
pedangnya menyambar dengan kecepatan luar biasa, biarpun berada
dalam kondisi prima pun jangan harap gadis itu dapat meloloskan diri
dalam keadaan selamat.
Dalam sekejap nampak Hek-coa-li-liong
akan segera termakan sambaran pedang lawan dan tewas dalam keadaan
sangat menyedihkan.
Siapa tahu di saat ujung pedang lawan
hampir menempel di atas dadanya itulah dari belakang tubuhnya
tahu-tahu muncul sebuah lengan bergerak bagai setan gentayangan, di
antara perputaran pergelangan tangannya, serangan pedang yang datang
dengan kekuatan dahsyat serta kecepatan mengerikan itu tahu-tahu
sudah terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan tadi.
Dengan terkejut bercampur keheranan
Hek-coa-li-liong segera berpaling.
Ternyata tangan itu tak lain adalah
lengan tunggal Bong Thian-gak, Hek-coa-li-liong menjadi terkejut bercampur gembira, dia
sama sekali tak menyangka kekuatan Bong
Thian-gak bisa pulih sedemikian cepatnya.
"Cepat kau balut luka di lenganmu, biar
aku yang menghadapi bajingan ini," seru
Bong Thian-gak kemudian.
Sementara itu cucuran darah segar masih
mengucur dengan amat derasnya dari lengan Hek-coa-li-liong yang
kutung, membuat paras mukanya berubah pucat-pias seperti mayat.
Kendati demikian, dengan kuatir dan
cemas gadis itu berkata, "Kau harus menghadapi dengan hati-hati.
Meskipun dia sudah terkena jarum beracunku, namun dalam setengah jam
mendatang dia belum menemui ajalnya."
Paras muka
Bong Thian-gak menjadi amat serius, katanya dengan
suara dingin, "Siau Cu-beng, mengapa kau belum juga melepaskan kain
kerudung mukamu itu?"
Tak terlukiskan rasa ngeri dan takut
mencekam perasaan Siau Cu-beng setelah pedangnya kena dicengkeraman
Bong Thian-gak dengan kuat
dan kencangnya, namun dia segera tertawa dingin untuk menutupi
perasaan takut dan ngeri yang menghantui perasaannya itu.
"Mengapa tidak kau sendiri yang membuka
kain kerudungku ini?" ia balas menjengek.
"Siau Cu-beng!" ujar
Bong Thian-gak penuh penderitaan,
"Selama hidup kau sudah banyak melakukan kejahatan serta dosa besar,
sekalipun tubuhmu kucincang hingga hancur berkeping-keping pun belum
dapat menebus semua dosa yang pernah kau lakukan selama ini.
Sekarang ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu, aku harap kau
bersedia menjawab sejujurnya, dengan begitu aku dapat memberi
kematian yang jauh lebih enak bagimu."
"Dimanakah Oh Cian-giok Sumoay saat ini?
Ayo cepat katakan kepadaku!"
Mendadak Hek-coa-li-liong berseru sambil
berlari keluar dari kamar tidurnya, "Bong-siangkong, yang kau maksud
Oh Cian-giok apakah adik seperguruan Pa-ong-kiong Ho Put-ciang dari
gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong?"
"Benar, dialah yang kumaksud,"
Bong Thian-gak mengangguk
membenarkan.
"Aku tahu dimana ia berada sekarang, aku
bersedia mengantarmu ke sana," ucap si nona dengan suara sedih.
Tiba-tiba tanpa menimbulkan suara, Siau
Cu-beng menggerakkan
senjatanya menusuk tubuh Bong
Thian-gak dengan kecepatan luar biasa.
Serangan yang dilancarkan itu merupakan
serangan terakhir Siau Cu-beng dengan segenap tenaganya. Bukan saja
serangannya aneh susah diduga, tenaganya pun ganas luar biasa.
Sebelum serangannya tiba, hawa dingin
yang menyayat badan telah menyambar kemana-mana.
Bong Thian-gak
berkerut kening menyaksikan ini. Dengan cepat pedang di tangan
kirinya digerakkan menyongsong datangnya ancaman.
Suatu jeritan ngeri yang menyayat hati
segera berkumandang.
Di antara percikan darah segar yang
memancar kemana-mana. "Plak", lengan kiri berikut pedang Siau
Cu-beng telah terpapas kutung dan rontok ke tanah.
Sungguh kaget dan tercengang
Hek-coa-li-liong menyaksikan itu, dia tak mengira dengan suatu
gerakan yang begitu ringan, ternyata Bong
Thian-gak dapat mengatasi serangan lawan yang begitu
dahsyat, bahkan sekaligus mengutungi lengan kiri Siau Cu-beng.
Dengan sempoyongan Siau Cu-beng mundur
dua langkah, namun sebelum ia sempat berdiri tegak, kembali cahaya
pedang berkelebat di hadapannya.
Jeritan ngeri yang memilukan sekali lagi
berkumandang, kali ini lengan kanan berikut pangkal bahunya kena
terbabat kutung.
Agaknya Siau Cu-beng sudah merasakan
bahwa dia menghadapi jalan buntu yang membahayakan keselamatan
jiwanya. Biarpun lengan kiri dan kanannya sudah kutung serta darah
segar bercucuran dengan amat derasnya, saking sakitnya hampir saja
ia tak sadarkan diri, namun ia masih berusaha menjejakkan kaki
sekuat tenaga dan kabur melalui daun jendela.
Siapa tahu bayangan orang segera
berkelebat, segulung tenaga pukulan yang sangat dahsyat menghantam
tubuhnya membuat dia mendengus tertahan, lalu roboh di atas tanah.
Ternyata Bong
Thian-gak dengan pedang terhunus sudah berdiri di
hadapannya, cahaya pedang yang berkilauan tajam kini sudah menempel
di atas tenggorokannya.
Sambil tertawa dingin
Bong Thian-gak segera berseru,
"Sebelum ajalmu tiba, ingin kulihat wajahmu, apakah kau pun
memperlihatkan rasa takut dan ngeri dalam menghadapi datangnya
malaikat elmaut."
Kain kerudung hitam yang menutupi wajah
Siau Cu-beng segera tersambar oleh cukilan pedang hingga terlepas.
Muncul seraut wajah yang pucat-pias
bagaikan kertas, potongan serta mimik mukanya tidak jauh berbeda
seperti keadaan pada sepuluh tahun berselang, hanya bedanya sekarang
wajah itu mengejang keras dan penuh diliputi perasaan takut, ngeri,
sakit dan seram.
Bong Thian-gak
mendongakkan kepala tertawa seram, kemudian katanya, "Siau Cu-beng,
andaikata kubunuh kau dengan sebuah tusukan,
hal
ini keenakan bagimu, karenanya aku hendak mengutungi keempat
anggota tubuhmu terlebih dahulu, kemudian membiarkan darahmu
mengalir keluar sampai kering dan rasakanlah bagaimana enaknya mati
secara perlahan-lahan."
Cahaya pedang kembali berkelebat,
jeritan ngeri yang menyayat hati bagaikan jeritan babi yang mau
disembelih segera berkumandang.
Sepasang kaki Siau Cu-beng sebatas lutut
kini sudah terpapas kutung menjadi dua.
Ia mulai terguling-guling di atas tanah,
meraung-raung seperti singa
sekarat, mulai mengeluh
dan merintih, bagaikan pengemis yang meminta belas kasihan,
mengenaskan sekali keadaannya waktu itu.
Dalam waktu singkat ia telah berubah
menjadi seorang berdarah.
Pada saat itulah bunyi seruling yang
aneh dan amat tak enak terdengar
berkumandang dalam ruangan.
Hek-coa-li-liong memainkan seruling
pendeknya dengan tiupan lembut,
namun irama yang dihasilkan justru tinggi melengking dan amat
tidak sedap didengar, kemudian
katanya, "Aku telah memainkan irama iblis
penakluk ular. Sebentar
kawanan ular beracun akan bergerak merayapi
tubuhnya dan akan mulai mengisap darah yang mengalir dari
tubuhnya, dia akan mati karena
darahnya diisap oleh ular-ularku. Biar
siksaan semacam ini terhitung kejam dan tidak
berperi-kemanusiaan, namun
termasuk pembalasan yang
setimpal bagi dosa dan kejahatan yang telah
dilakukannya selama ini. Bong-siangkong, mari kita segera
berngkat!"
Belum selesai
dia berkata, segulung bau amis sudah berhembus,
enam
tujuh ekor ular berbisa
menampakkan diri di depan pintu ruangan.
Hek-coa-li-liong segera menarik ujung
baju Bong Thian-gak, lalu
mereka berdua bersama-sama melompat keluar ruangan melalui jendela.
Kawanan manusia yang semula mengepung
sekeliling loteng itu secara rapat dan ketat, kini justru telah
membubarkan kepungan mereka, malah tak nampak seorang pun di situ.
Belum jauh mereka pergi, dari dalam
ruang loteng terdengar lagi suara jeritan ngeri Siau Cu-beng yang
memilukan di tengah keheningan malam yang mencekam seluruh jagat,
jeritannya sungguh menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya.
Seorang berhati buas bagai ular berbisa
yang sepanjang hidupnya banyak melakukan kejahatan kini telah
memperoleh pembalasan yang setimpal, dia harus merasakan siksaan dan
penderitaan yang amat berat dimana sisa darah di dalam tubuhnya
diisap oleh ular-ular beracun hingga mengering sebelum akhirnya ajal
merenggut kehidupannya.
Mendengar jeritan yang begitu menyayat
hati, Bong Thian-gak menghela
napas sedih, kemudian setelah menyarungkan pedangnya ke pinggang, ia
menarik tangan Hek-coa-li-liong dan diajak melewati tiga-empat
halaman rumah.
Sepanjang perjalanan mereka sama sekali
tidak menjumpai suatu hadangan pun.
Tiba-tiba Bong
Thian-gak bertanya, "Kita hendak kemana?"
"Bukankah kau hendak pergi mencari adik
seperguruanmu?" Hek-coa-li-liong balik bertanya.
"Dimana dia berada? Berapa lamakah yang
kita butuhkan untuk sampai di sana?"
"Bila jadi dia disekap di dalam istana
cinta iblis, jaraknya dari tempat ini kurang lebih satu jam
perjalanan."
"Mengapa tempat itu dinamakan istana
cinta iblis?" tanya Bong
Thian-gak dengan kening berkerut.
"Sebab tempat itu merupakan tempat
hiburan bagi anggota Put-gwa-cin-kau."
"Jadi dia sudah dinodai oleh kawanan
iblis itu?" BongThian-gak merasa sedih sekali.
"Tak seorang pun bisa lolos dari
perkosaan setelah berada di dalam istana cinta iblis."
Membara hawa amarah dan perasaan dendam
di hati kecil Bong Thian-gak,
sambil mengertak gigi menahan rasa bencinya, ia bersumpah, "Selama
Bong Thian-gak masih hidup di
dunia ini, aku pasti akan menyuruh Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau
merasakan pembalasan yang paling kejam."
