pendekar cacad 12

Bagian 13 :  Pertempuran demi harta karun

Tiba-tiba Mo Hui-thian tertawa kering, kemudian berkata, "Apabila pihak Kay-pang ingin mengangkangi sendiri harta karun Mo-lay-cing-ong, hanya dengan mengandalkan kemampuan Liu Khi serta I lan Siau-liong saja hal itu jauh tidak cukup."

"Bagaimana pun juga kemampuan Kay-pang rasanya masih jauh lebih mengungguli kemampuan perkumpulan Kiam-liong-kiam-san-ceng." Liu Khi balas mengejek.

"Hehehe, perkataan Liu-heng memang tepat," Mo Hui-thian tertawa kering, "cuma pedang Lohu ini bukanlah pedang yang bisa dihadapi seenaknya."

"Aku tahu, pedang Mo-loji paling tidak masih mampu membacok batok kepala beberapa anggota Put-gwa-cin-kau, kami Kay-pang ingin meminjam pedangmu itu."

"Mana ... mana, mengapa Liu-heng tidak mulai terlebih dahulu?"

"Atas dasar kemampuan kita bertiga, rasanya masih belum cukup untuk menghadapi orang-orang Put-gwa-cin-kau," jawab Liu Khi dingin.

 

"Omitohud!" tiba-tiba Hong-kong Hwesio memuji keagungan lUiddha, "perkataan Liu-sicu memang benar, perubahan situasi yang kita hadapi sekarang membutuhkan kerja sama untuk menghadapi musuh l.ingguh Put-gwa-cin-kau, kita wajib menghancurkan dan mematahkan mereka terlebih dahulu."

Mo Hui-thian tertawa, selanya, "Seandainya beberapa orang di antara kita bersedia bekerja sama, aku yakin kekuatan yang kita himpun ini sanggup untuk menghadapi serbuan pihak Put-gwa-cin-kau, sayang, kita semua masih belum seia-sekata."

 

Selesai berkata, dia berpaling dan memandang sekejap Bong Thian-gak.

Tentu saja Bong Thian-gak memahami maksud Mo Hui-thian itu, maka ujarnya kemudian dengan suara hambar, "Biarpun pihak Kay-pang serta perkumpulan Kim-liong-kiam-san-ceng mempunyai dendam kesumat dengan Hiat-kiam-bun, tapi permusuhan itu tidak sedalam permusuhan kami dengan pihak Put-gwa-cin-kau."

"Kalau begitu kita bisa bersatu-padu sekarang?' ujar Mo Hui-thian sambil tertawa. "Nah, kita turun tangan lebih dulu menggasak habis manusia-manusia cecunguk itu."

"Yang perlu kita musnahkan pertama-tama adalah Si-hun-mo-li," kata Liu Khi tiba-tiba.

Selesai berkata, lengan tunggalnya segera diayunkan ke depan, dua batang pisau terbang yang telah disiapkan sejak tadi disambitkan ke muka.

 

Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat, "Tunggu sebentar!"

Mo Hui-thian tertawa dingin, jengeknya, "Beberapa kelompok di antara kita ini memang selamanya tak mungkin bisa bersatu."

"Barang siapa di antara kalian berani memukul Si-hun-mo-li, Pek-hiat-kiam di tanganku ini tak akan memberi ampun kepadanya," ancam Bong Thian-gak dengan suara dalam.

Sembari berkata, Pek-hiat-kiam di tangannya segera disilangkan di depan dada, kemudian dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh dia mengawasi semua orang dengan seksama.

Suasana di halaman gedung itu seketika tercekam dalam keheningan, rasa tegang dan napsu membunuh yang menggidikkan menyelimuti benak setiap orang.

Han Siau-liong segera menimbrung, "Bong-buncu, kau sudah merasakan sendiri betapa lihainya Si-hun-mo-li, seandainya perempuan itu tidak kita lenyapkan lebih dulu, kemungkinan besar kita semua akan terluka oleh pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kangnya."

 

"Perkataanku tadi sudah cukup jelas," kata Bong Thian-gak dengan wajah serius, "aku tak mengizinkan orang melukainya, bila Liu Khi berani melepas pisau terbangnya, maka Pek-hiat-kiam ini akan segera memenggal pula batok kepalanya."

Liu Khi yang mendengar perkataan itu tertawa dingin, "Sekali pun pisau terbang Liu Khi sudah dicekal dalam genggaman, tak pernah berlaku dalam kamusku untuk menyimpannya kembali."

"Aku tahu kepandaian silat yang kau miliki sangat hebat, tapi pada saat kau melepaskan pisau terbangmu itu, mustahil bisa menghindar dari babatan Pek-hiat-kiam, maka kunasehati kepadamu, lebih baik jangan menyerempet bahaya."

 

Mendadak Mo Hui-thian mengangkat pedangnya dan dari kejauhan diarahkan pada Bong Thian-gak, setelah itu katanya sambil tertawa kering, "Sebetulnya aku merupakan penengah, tapi setelah diperhitungkan untung ruginya, aku lebih condong berpihak ke Liu-heng, dengan posisi demikian apakah Bong Thian-gak masih tetap bersikeras melindungi Si-hun-mo-li?"

"Omitohud!" tiba-tiba Hong-kong Hwesio berkata memuji keagungan Buddha, "kuminta Sicu sekalian jangan bertindak kelewat gegabah, lebih baik kita bersama-sama merundingkan cara pemecahan yang bijaksana."

 

Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas panjang, lalu berkata, "Kuharap kalian bersedia mendengarkan perkataanku, sesungguhnya Si-hun-mo-li adalah seorang perempuan yang patut dikasihani, aku Bong Thian-gak pernah berhutang budi kepadanya, oleh sebab itu bila kalian berharap bantuanku malam ini untuk menghadapi orang-orang Put-gwa-cin-kau, maka kalian harus memenuhi syaratku lebih dulu, yakni tidak boleh mencelakai jiwa Si-hun-mo-li."

Baru selesai perkataan itu, mendadak terdengar suara dingin yang menggidikkan berkumandang dari sudut halaman gedung, menyusul kemudian seseorang berkata dengan suara sedingin salju, "Dengan mengandalkan kemampuan kalian, aku rasa masih belum mampu membunuh Si-hun-mo-li."

 

Mendengar perkataan itu, para jago segera berpaling, dari sudut halaman sebelah utara pelan-pelan muncul dua orang.

Orang pertama adalah sastrawan berbaju hijau yang sangat di kenal Bong Thian-gak, yakni Ji-kaucu.

Sedangkan orang kedua adalah seorang kakek berbaju panjang berwarna hitam yang pada bagian dadanya tersulam seekor naga emas yang sedang melingkar.

Orang itu seperti tidak membawa senjata, dia hanya bertangan kosong, namun Bong Thian-gak yang melihat sorot mata dan gerak-geriknya yang mantap, kontan keningnya berkerut kencang.

 

 

Ia merasa kelihaian ilmu silat orang ini mungkin sudah mencapai tingkat yang tak terhingga, bahkan di antara kawanan jago persilatan yang pernah dijumpai olehnya, boleh dibilang kakek baju hitam inilah yang memiliki kepandaian silat paling hebat.

Perasaan ini hanya Bong Thian-gak yang dapat merasakan.

Mungkinkah dia adalah komandan nomor satu pasukan pengawal tanpa tanding Put-gwa-cin-kau?

 

Kakek berbaju hitam itu berjalan bersanding dengan Ji-kaucu, sambil melangkah ke arena, dia menyapu pandang sekejap para jago yang hadir, katanya dengan suara dingin, "Liu Khi, bila kau tidak percaya, silakan kau timpukkan pisau terbangmu itu, coba kita buktikan apakah Si-hun-mo-li benar-benar akan mampus di ujung pisau terbangmu itu?"

Dalam keadaan demikian, secara tiba-tiba Liu Khi menarik kembali kedua pisau terbang yang semula dicekal dalam genggamannya, kemudian setelah tertawa, katanya, "Kau ingin menyaksikan aku melepaskan pisau terbang? Boleh saja, tapi tunggu sampai kita berhadapan nanti, bisa kau buktikan dengan mata kepalamu sendiri!"

 

Kakek berbaju hitam tertawa dingin, "Selama ini dalam Bu-lim tersiar berita yang mengatakan Liu Khi adalah seorang ahli senjata rahasia nomor wahid di kolong langit, sayang aku justru tak mau percaya dengan ucapan itu!"

"Bagaimanakah kemampuan Liu Khi dalam melepaskan pisau terbang, mengapa tidak kau tanya sendiri kepada Ji-kaucu?" Liu Khi berkata sambil berkata.

Ji-kaucu yang berada di sisi kiri lantas tersenyum, "Biarpun pisau terbangmu lebih cepat setingkat pada tiga tahun berselang ketika kita beradu di wilayah Sucwan, namun pertandingan itu sesungguhnya belum dapat menentukan secara tepat siapa yang unggul."

"Kalau begitu dengan cara apa kita baru dapat mengetahui secara tepat siapa sesungguhnya yang lebih unggul di antara kita?"

 

"Aku pikir, kita harus mengulangi pertarungan penentuan untuk membuktikan siapa sesungguhnya yang lebih unggul," jawab Ji-kaucu dengan wajah membesi dan suara hambar.

"Ya, tentu saja dengan senang hati akan kulayani pertarungan ulangan itu."

Mendadak terdengar Hong-kong Hwesio berseru dengan suara keras, "Sim Tiong-kiu, masih ingat dengan aku si Hwesio tua?"

"Biar kau si keledai gundul sudah berubah menjadi abu pun aku masih mengenali dirimu," jawab kakek baju hitam itu dengan keras.

"Omitohud, Sim-sicu! Kuanjurkan padamu, lebih baik lepaskan saja golok pembunuhmu! Biarpun pelajaran Buddha tak bertepian, namun Hud-co pasti akan mengampuni semua dosa-dosa Sicu di masa lampau bila kau bersedia bertobat."

 

Kakek berbaju hitam itu tertawa dingin, "Keledai gundul, apakah kau sudah menyadari bakal mati pada malam ini, maka sekarang memohon Lohu untuk memberikan jalan hidup bagimu?"

"Omitohud," kata Hong-kong Hwesio, "bila Sim-sicu masih juga tak mau bertobat dan menyesali semua kejahatan yang pernah kau lakukan, jangan menyesal nanti."

"Hong-kong Hwesio," tukas kakek berbaju hitam ketus, "sekali pun kau menghadap dinding dan berlatih tekun selama lima puluh tahun lagi masih bukan tandinganku, siapa orangnya yang mampu mencabut nyawaku?"

Perkataan kakek berbaju hitam ini sangat takabur dan sombong bukan alang-kepalang, ia benar-benar tidak memandang sebelah mata terhadap orang lain, seakan-akan dialah manusia paling hebat di kolong langit dan tiada orang kedua yang mampu mengungguli dirinya.

 

Sudah barang tentu semua jago yang hadir dalam arena merasa mendongkol.

Mendadak Han Siau-liong tertawa tergelak, kemudian serunya, "Kesombongan dan kejumawaanmu benar-benar membuat perasaan orang tidak enak, biarpun aku hanya seorang yang berkepandaian cetek, namun ingin sekali kucoba sampai dimanakah kemampuan orang yang menganggap dirinya paling wahid di kolong langit ini."

"Bila kau tidak percaya, silakan saja mencoba," jengek kakek baju hitam itu hambar.

"Oh, tentu saja aku akan mencoba," Han Siau-liong tertawa lebar.

 

Selesai berkata, dengan pedang terhunus selangkah demi selangkah Han Siau-liong maju ke muka.

Melihat Han Siau-liong tampil, buru-buru Hong-kong Hwesio berkata, "Han-sicu, harap berhenti dulu."

"Hahaha," Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak, "Hwesio tua, biarpun aku bisa menahan diri dan membiarkan cecunguk itu pamer kesombongannya, sayang, orang lain tidak memiliki kesabaran sebesar itu."

 

Liu Khi sendiri pun dapat merasakan kepandaian silat kakek berjubah hitam itu lihai sekali dan Han Siau-liong bukan tandingannya, tapi batinnya, "Tenaga dalam Han Siau-liong amat sempurna, sekali pun kakek baju hitam itu ingin mengunggulinya, hal ini tak akan terjadi dalam satu-dua gebrakan saja ... biar saja dia turun tangan menguji kemampuannya."

Karena pikiran ini, maka dia pun membiarkan Han Siau-liong meneruskan langkahnya.

Baik Bong Thian-gak maupun Mo Hui-thian sama-sama ingin mengetahui sampai dimanakah kemampuan kakek berjubah hitam itu, dengan mata tak berkedip mereka mengawasi langkah Han Siau-liong menuju ke depan.

 

Tentu saja Han Siau-liong memiliki kepandaian amat lihai, sepintas dia nampak seperti pemuda yang tinggi hati dan jumawa, padahal dia tak berani menganggap enteng setiap lawannya.

Dengan langkah tegap dan mantap, selangkah demi selangkah dia maju ke depan, semua jago yang berada di arena rata-rata mengetahui, secara diam-diam Han Siau-liong telah menghimpun tenaga dalam dan dihimpun ke lengannya, dari lengan disalurkan ke pedang bajanya.

 

Selain itu semua orang juga tahu bahwa serangan pedangnya yang pertama nanti, Han Siau-liong pasti akan melepaskan sebuah serangan maha dahsyat.

Menghadapi serangan Han Siau-liong itu, si kakek baju hitam tetap acuh tak acuh, dengan sikap amat tenang dia menantikan Han Siau-liong menghampirinya selangkah demi selangkah.

Mendadak suara bentakan keras memecah keheningan, pedang baja Han Siau-liong disertai deru angin yang amat hebat langsung menyambar dan membacok tubuh si kakek berbaju hitam.

Serangan pedang yang dilancarkan olehnya ini boleh dibilang disertai kecepatan luar biasa dan kekuatan yang sanggup membelah bukit karang.

 

Ketika kawanan jago itu melihat datangnya serangan tadi, semuanya beranggapan sama, kecuali menghindarkan diri, rasanya sulit bagi Sim Tiong-kiu untuk menyambut datangnya ancaman itu dengan kekerasan.

Tak disangka, tindakan yang dilakukan Sim Tiong-kiu sama sekali di luar dugaan semua orang.

Bukannya menghindar atau melompat mundur, tahu-tahu Sim Tiong-kiu malah melompat ke muka dan melepaskan sebuah tendangan dengan kaki kirinya mengarah datangnya ancaman pedang itu.

Sambil mendesak ke muka, kakek baju hitam itu berseru lantang, "Enyah kau dari sini!"

 

Tahu-tahu tendangan itu bersarang di dada lawan, Han Siau-liong mendengus tertahan, tubuhnya terpental ke tengah udara.

Berbareng dengan mencelatnya Han Siau-liong, mendadak tampak titik-titik cahaya tajam yang menyilaukan mata menyambar ke tubuh kakek berbaju hitam itu.

Rupanya titik-titik cahaya itu tidak lain adalah pisau terbang yang disambitkan secara tiba-tiba oleh Liu Khi.

"Hm, kau anggap pisau terbangmu itu mampu melukai diriku?" jengekan dingin bergema di udara.

 

Bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Sim Tiong-kiu telah berdiri kembali di tempat semula, hanya pada jari tangan kirinya kini telah bertambah dengan dua pisau terbang yang memancarkan cahaya tajam.

Pisau terbang milik Liu Khi sebenarnya terhitung sangat hebat, jarang ada orang yang mampu menghindarkan diri dari sergapannya, tapi kenyataan sekarang pisau terbang itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa terhadap orang berbaju hitam itu.

Dalam pada itu Han Siau-liong yang mencelat ke belakang berikut pedangnya, kini sudah menggeletak di tanah dan tidak berkutik lagi.

 

Bong Thian-gak dan Mo Hui-thian serentak maju mendekatinya.

Tampak oleh mereka, Han Siau-liong sudah tergeletak di tanah dengan wajah pucat-pias seperti mayat, rupanya dia sudah dalam keadaan tak sadarkan diri.

Han Siau-liong adalah jagoan lihai nomor tiga dalam Kay-pang, sampai dimana kepandaiannya Bong Thian-gak pernah menyaksikan sendiri, bahkan pemuda itu terhitung jago lihai dalam Bu-lim.

Tapi kenyataan sekarang jagoan itu dibikin keok dan tak sadarkan diri dalam satu gebrakan saja, boleh dibilang peristiwa semacam ini sungguh menggidikkan.

Itu berarti juga Sim Tiong-kiu benar-benar merupakan seorang jagoan hebat.

Untuk beberapa saat lamanya para jago bergidik dengan perasaan bergetar keras, mereka hanya bisa saling pandang dan mulut membisu.

Suara dingin, ketus dan sombong Sim Tiong-kiu kembali berkumandang di sisi telinga para jago, terdengar ia berkata, "Apakah masih ada orang lain yang ingin mencoba kepandaian silatku?"

 

Tantangan yang begitu sombong dan takabur semacam ini pada hakikatnya cukup membuat orang tidak tahan.

Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Hui-thian tertawa seram, katanya, "Mo Hui-thian ingin sekali mencoba kepandaian silatmu."

"Mo-cengcu dikenal sebagai pendekar pedang nomor wahid di kolong langit, aku memang sudah lama ingin mencoba kepandaian ilmu pedangmu itu," jawab Sim Tiong-kiu hambar.

"Mo-cengcu, harap kau suka menahan diri, jangan kau lakukan tindakan gegabah," Hong-kong Hwesio berseru dengan suara dalam.

 

Mo Hui-thian berpaling dan memandang sekejap ke arah HongĀ­kong Hwesio, katanya, "Hwesio tua, apakah dengan kemampuan yang kumiliki masih belum mampu menyambut sejurus serangannya?"

"Apakah Mo-cengcu dapat "melihat pukulan yang menyebabkan Han Siau-liong terluka parah?" tanya Hong-kong Hwesio dengan wajah serius.

Mendengar pertanyaan itu, semua jago serentak mengangkat kepala dan menengok ke arah Hong-kong Hwesio.

 

Memang sampai sekarang tak seorang pun di antara yang hadir mengetahui luka apakah yang diderita Han Siau-liong.

Mo Hui-thian tertawa rikuh, lalu dia balik bertanya, "Apakah kau tahu, pukulan apa yang menyebabkan Han Siau-liong terluka?"

Hong-kong Hwesio menggeleng kepala, "Hingga kini Lolap masih belum tahu ilmu sakti apakah yang telah dilatih Sim-sicu, tapi Lolap tahu, dewasa ini sedikit sekali ada yang bisa menghindarkan diri dari serangannya itu."

 

Mo Hui-thian tertawa dingin, serunya, "Hei, Hwesio tua, kau tahu berapa orang di kolong langit ini yang mampu menghindarkan diri dari serangan pedangku?"

"Sekali pun serangan pedangmu sangat lihai dan luar biasa, jarang ada orang yang sanggup menghadapinya, akan tetapi pernahkah Mo-cengcu bayangkan bahwa musuh pada hakikatnya tak akan memberi kesempatan kepadamu untuk melancarkan serangan."

Hati Mo Hui-thian bergetar keras, dia segera bertanya, "Hwesio tua, apakah maksudmu berkata demikian?"

 

Hong-kong Hwesio menghela napas panjang, "Ai, musuh yang akan menyerang lebih dahulu, bukan kau yang melancarkan serangan menyergap lawan."

Mo Hui-thian tercekat, dengan cepat ia bertanya, "Barusan bukankah Han Siau-liong yang telah melancarkan serangan lebih dahulu terhadap lawan?"

"Tentu saja tidak," seru Hong-kong Hwesio sambil menggeleng.

Jawaban ini dengan cepat menimbulkan tanda tanya besar bagi kawanan jago itu.

Sudah jelas terlihat tadi bahwa Han Siau-liong melancarkan serangan lebih dahulu, bagaimana mungkin bisa dikatakan Sim Tiong-kiu yang menyerang lebih dulu?

Setelah tertawa dingin Mo Hui-thian bertanya, "Hwesio tua, bisakah kau terangkan bagaimana cara musuh melancarkan serangan lebih dulu?"

 

Hong-kong Hwesio menghela napas panjang, "Ai, Lolap bisa menerangkan, tentu saja bisa pula mematahkan jurus serangan yang mematikan dari Sim Tiong-kiu itu."

"Huh, pada hakikatnya kau hanya ngaco-belo belaka, aku justru tidak percaya dengan segala takhayul!" jengek Mo Hui-thian sambil tertawa kering.

Sembari berkata, pedangnya segera diangkat, kemudian pelan-pelan diturunkan ke depan dada, setelah itu ia menggenggam pedangnya dengan kedua tangan dan "Crit", tubuh berikut pedangnya tahu-tahu meluncur ke depan Sim Tiong-kiu dan menusuk tubuhnya.

 

Kawanan jago di arena saat ini boleh dibilang rata-rata adalah jagoan persilatan yang berilmu tinggi, setelah menyaksikan jurus pedang yang dipergunakan Mo Hui-thian, tanpa terasa masing-masing pihak berpekik lirih, MAh, ilmu pedang terkendali!"

Yang disebut ilmu pedang terkendali adalah semacam ilmu pedang tingkat atas yang paling sukar dipelajari, bila kepandaian itu sudah mencapai puncaknya, maka serangan pedang bisa dikendalikan dari jarak jauh, bila demikian keadaannya maka memenggal batok kepala orang dari kejauhan bukan suatu pekerjaan yang amat sukar.

Tiba-tiba saja Mo Hui-thian mempergunakan kepandaian maha sakti ini untuk menyerang musuh, pada hakikatnya kejadian itu benar-benar merupakan suatu peristiwa yang luar biasa.

 

Hawa pedang yang tajam bagaikan sembilu diiringi deru angin tajam segera melintas dan menusuk ke tubuh Sim Tiong-kiu.

Tapi bersamaan dilancarkannya serangan itu, jeritan kaget serta suara bentrokan nyaring bergema memecah keheningan.

Tubuh Mo Hui-thian seperti layang-layang putus benang terpental di udara dan berjumpalitan sebanyak tiga kali, kemudian jatuh terbanting ke tanah.

Bong Thian-gak menghampiri orang itu.

Tampak paras muka Mo Hui-thian pucat-pias seperti mayat, napasnya tersengal-sengal, ia mengangkat kepala memandang ke arah Bong Thian-gak sambil menggerakkan bibirnya yang gemetar seperti hendak memberitahukan sesuatu kepada Bong Thian-gak, namun tak sepatah kata pun yang terdengar.

 

Dengan cepat Bong Thian-gak menempelkan telapak tangan kanannya ke jalan darah Mi-bun-hiat di tubuh Mo Hui-thian.

Secara beruntun Mo Hui-thian muntah darah sebanyak tiga kali, tiba-tibanya kulit mukanya mengejang keras, kemudian roboh dan tidak sadarkan diri.

Hanya dalam sekali gebrakan saja secara beruntun Sim Tiong-kiu telah berhasil merobohkan dua jago persilatan yang berilmu tinggi, kehebatannya itu dengan cepat menghebohkan dan menggidikkan hati setiap orang.

 

Kembali Bong Thian-gak mengangkat kepala, ia lihat Sim Tiong-kiu masih tetap tegak berdiri di tempat, wajahnya dingin bagaikan es, selapis hawa dingin yang menggidikkan seakan-akan menyelimuti tubuhnya.

Waktu itu ujung baju lengan kirinya telah robek separo, tampaknya terpapas robek oleh sambaran hawa pedang yang dipancarkan oleh Mo Hui-thian tadi.

"Masih ada siapa lagi yang ingin mencoba kepandaianku?" suara yang dingin dan sombong Sim Tiong-kiu sekali lagi berkumandang.

 

Sudah jelas Sim Tiong-kiu hendak mempergunakan kepandaian rahasianya yang maha sakti, hendak melukai kawanan jago yang hadir di arena satu demi satu.

Itulah sebabnya ia menantang lagi para jago lain untuk mencoba kepandaian silatnya.

Sementara itu Bong Thian-gak telah menggeser badan, kemudian ujarnya, "Kepandaian silat yang kau miliki memang sangat hebat, aku percaya tak bisa menandingi kehebatanmu itu, meski demikian aku ingin juga menjajal kepandaianmu itu."

"Bong-sicu, kau tidak boleh bertindak secara gegabah."

 

Bong Thian-gak berpaling dan memandang sekejap ke arah HongĀ­kong Hwesio, kemudian katanya dengan suara nyaring, "Hari ini kita sudah berhadapan dengan lawan, cepat atau lambat pertarungan tak bisa dihindari lagi, kau suruh aku jangan bertindak sembarangan, apakah kau hendak menyuruh aku menerima kematian begitu saja?"

Hong-kong Hwesio menghela napas sedih, kemudian katanya, "Kedua orang murid Lolap mungkin sanggup menahan serangannya, Bong-sicu, harap kau jangan turun tangan lebih dulu!"

Dalam pada itu kedua murid Hong-kong Hwesio telah maju bersama ke depan.

 

Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah kedua anak buah Hong-kong Hwesio yang berjenggot hitam itu, lalu dia bertanya, "Apakah Siancu berdua punya keyakinan dapat menahan serangannya?"

Mendengar pertanyaan itu, kedua Hwesio berjenggot hitam itu menggeleng kepala, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Kembali Bong Thian-gak berkata, "Bila Siancu berdua memang tidak punya keyakinan, lebih baik mundurlah untuk sementara waktu."

"Bong-sicu," terdengar Hong-kong Hwesio berkata, "kedua orang muridku ini selain bisu juga tuli, semua perkataanmu itu tak mungkin didengarnya."

 

Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak menghela napas panjang, segera pikirnya, "Oh, rupanya kedua orang ini bisu tuli, tak heran selama ini tak kudengar ucapan mereka barang sepatah kata pun."

Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, lalu berkata, "Kalau kedua murid Hwesio tua bisu tuli, mereka lebih-lebih tidak seharusnya dikirim ke arena untuk melangsungkan pertarungan itu!"

Hong-kong Hwesio menghela napas panjang, "Ai, biarpun kedua muridku ini bisu tuli, namun ketajaman mata serta kecerdasan otak mereka jauh melebihi orang biasa, bahkan boleh dikatakan kelewat tajam dan cerdik. Bong-sicu tak perlu kuatir, siapa tahu kedua muridku itu mampu mematahkan ilmu rahasia andalan Sim Tiong-kiu."

 

Pada saat itulah terdengar Sim Tiong-kiu berkata sambil tertawa dingin, "Keledai gundul, bila kau menginginkan kedua murid cacatmu bisa mematahkan ilmu maha saktiku, tunggu saja bila matahari terbit dari langit barat."

"Walaupun kedua orang itu tidak mempunyai keyakinan untuk membendung kesaktian silat Sicu, tapi pada puluhan tahun berselang kedua orang itu sudah mulai melatih diri secara tekun dan berhasil menciptakan sejenis ilmu silat yang dapat mematahkap jurus sakti Sim-sicu."

"Kalau memang begitu, suruh saja mereka berdua kemari mengantar kematian!"

 

Tiba-tiba Bong Thian-gak berseru, "Tunggu sebentar!"

Tubuhnya berkelebat cepat dan menghadang di hadapan kedua Hwesio berjenggot hitam itu.

"Bong-sicu, masih ada urusan apa lagi?" tanya Hong-kong Hwesio.

"Ada sebuah persoalan yang ingin kutanyakan kepada kau."

"Bila Sicu ada persoalan, harap diutarakan saja."

"Kau pernah bertarung melawan orang itu?"

"Ya, kami pernah bertarung," Hong-kong Hwesio mengaku.

"Sudah bentrok berapa kali?" kembali Bong Thian-gak bertanya.

"Tiga kali."

"Taysu, apakah setiap kali kalian bertarung Ji-kaucu selalu hadir di arena?"

 

Pertanyaan ini membingungkan Hong-kong Hwesio, dia menggeleng sambil berkata, "Ji-kaucu tak pernah hadir di arena. Bong-sicu, apa maksudmu menanyakan hal ini?"

Sebelum Bong Thian-gak menjawab, terdengar Ji-kaucu tertawa dingin sambil katanya, "Dia curiga kalau aku telah melepaskan racun dan meracuni orang secara diam-diam."

Rupanya Bong Thian-gak menaruh curiga atas kejadian itu, hingga kini dia masih belum dapat melihat dengan jelas bagaimana Sim Tiong-kiu melukai lawannya.

Maka dia pun mulai berpikir, "Mungkinkah Ji-kaucu yang telah melepaskan racunnya secara diam-diam dari tepi arena untuk membantu Sim Tiong-kiu sehingga akibatnya orang yang diserang Sim Tiong-kiu selalu menderita luka secara membingungkan?"

Tapi jalan pikiran itu dengan cepat tersapu lenyap dalam tanya-jawab dengan Hong-kong Hwesio, sekarang dia yakin Sim Tiong-kiu benar-benar memiliki sejenis ilmu silat maha sakti.

 

Bong Thian-gak termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata lagi, "Hwesio tua, mungkin aku dapat menyambut sebuah pukulannya tanpa harus mati. Harap Hwesio tua memerintahkan kepada kedua muridmu agar segera mengundurkan diri!"

"Bong-sicu, kau tak usah keras kepala," tampik Hong-kong Hwesio sambil menggeleng.

Bong Thian-gak kembali tersenyum, "Biarpun aku belum punya keyakinan untuk bisa mematahkan jurus serangan lawan, tapi aku percaya tak bakal tewas di bawah telapak tangannya," kata Bong Thian-gak sambil tersenyum. "Bila kulangsungkan pertarungan jarak dekat, mungkin bisa kupatahkan jurus serangannya yang tangguh itu."

 

Sim Tiong-kiu tertawa seram, "Ji-kaucu, orang inikah yang bernama Jian-ciat-suseng?"

"Ya, dialah orangitya."

"Bukankah Cong-kaucu telah menurunkan perintah agar kita membekuknya hidup-hidup?"

"Benar, tapi kepandaian silat yang dimiliki orang ini sangat lihai, tampaknya komandan Sim membutuhkan tenaga yang cukup besar untuk dapat membekuknya."

Mendadak Bong Thian-gak berkata sambil tertawa dingin, "Saudara, bersiap-siaplah menerima seranganku!"

"Kalau berniat melancarkan serangan, lancarkan saja seranganmu itu," kata Sim Tiong-kiu hambar.

 

Bong Thian-gak menggenggam Pek-hiat-kiam dengan tangan tunggalnya, kemudian maju selangkah demi selangkah mendekati lawan.

Gerak langkah kakinya lamban sekali, ternyata Bong Thian-gak telah mengerahkan tenaga dalam Tat-mo-khi-kang untuk melindungi badannya.

Paras muka Bong Thian-gak yang semula pucat penyakitan, kini telah berubah merah bercahaya.

Sim Tiong-kiu tetap berdiri tegak, matanya bersinar tajam bagai bintang timur mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.

 

Tiba-tiba bergema suara gelak tertawa yang menyeramkan, Sim Tiong-kiu bagaikan sambaran kilat cepatnya langsung menerjang ke arah Bong Thian-gak.

Sejak tadi Bong Thian-gak sudah mengetahui Sim Tiong-kiu memiliki ilmu silat yang amat hebat, tapi demi menjaga teknik 'dengan tenang mengatasi gerak'. Bong Thian-gak sama sekali tidak melepaskan serangan pedangnya.

Oleh sebab itu Sim Tiong-kiu segera mendesak lebih ke depan dan sebuah pukulan yang maha dahsyat dilontarkan ke dada Bong Thian-gak.

 

Bong Thian-gak memang telah bersiap menerima serangan itu, ia tidak menghindar maupun berkelit, dadanya malah dibusungkan untuk menyambut datangnya ancaman itu. "Blam", diiringi benturan yang keras sekali, serangan itu bersarang di dada anak muda itu.

Ilmu Tat-mo-khi-kang yang memancarkan daya kemampuan dahsyat itu segera menciptakan selapis tenaga pantulan tanpa wujud yang segera menggetarkan tubuh Sim Tiong-kiu sehingga tergetar mundur sejauh tiga langkah.

 

Pada detik yang bersamaan itulah Pek-hiat-kiam yang berada dalam genggaman Bong Thian-gak segera dibabatkan dan menusuk ke dada Sim Tiong-kiu.

Padahal taktik yang diambil Bong Thian-gak ini telah berhasil ditebak musuh secara tepat.

Tentu saja serangan yang dilancarkan olehnya itu amat cepat bagaikan sambaran kilat, hawa sakti Tat-mo-khi-kang yang melindungi badannya pun tak mampu lagi melindungi seluruh tubuhnya.

Serangan dahsyat musuh pun dilontarkan lagi.

 

Bong Thian-gak hanya merasakan jari telunjuk tangan kiri musuh menyambar pelan ke atas dadanya, serangan jari tangan tanpa wujud bersarang telak di atas bahu kanannya.

Dengusan tertahan bergema, Bong Thian-gak tidak mampu lagi melawan serangan jari itu, tubuhnya segera terbanting ke tanah.

Gelak tawa seram penuh kebanggaan bergema memecah keheningan malam, tubuh Sim Tiong-kiu bagaikan sukma gentayangan mendesak maju ke muka, bersamaan itu pula cakar tangan kanannya mencengkeram urat nadi pada lengan tunggal Bong Thian-gak.

"Crit, crit", dua kali desingan tajam bergema.

Tahu-tahu Liu Khi telah melepaskan dua bilah pisau terbangnya ke depan.

 

Golok terbang Liu Khi memang sangat termasyhur di kolong langit, khususnya mengancam tenggorokan orang, barang siapa terserang tak mungkin tertolong lagi.

Itulah sebabnya Sim Tiong-kiu tidak berkesempatan lagi untuk melanjutkan ancamannya atas urat nadi Bong Thian-gak.

Tangan kirinya cepat diputar, ternyata kedua pisau terbang itu sudah terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah.

Pada saat itulah terdengar Liu Khi berseru lagi dengan suara lantang, "Sekarang silakan kau rasakan bacokan golokku yang sesungguhnya."

Selesai bicara Liu Khi segera melolos golok panjangnya, To-pit-coat-to yang membuat Liu Khi termasyhur di kolong langit.

Begitu serangan golok dilancarkan, ancaman itu benar-benar menggetarkan perasaan setiap orang.

Jerit kesakitan segera berkumandang memecah keheningan.

 

Darah segar menyembur, telapak tangan kanan Sim Tiong-kiu sebatas pergelangan tangan tahu-tahu sudah terpapas kutung oleh bacokan golok itu.

Tapi bersamaan dengan terpapas kutungnya pergelangan tangan kanan Sim Tiong-kiu, tangan kirinya telah melancarkan serangan pula ke depan.

Liu Khi menjerit kaget, tubuhnya terlempar dan jatuh terduduk di atas tanah.

Ia sama sekali tidak pingsan, akan tetapi luka yang dideritanya cukup parah, dia terduduk di atas tanah dengan sekujur badan gemetar keras, untuk beberapa saat tak mampu bangkit kembali.

 

Sorot mata Liu Khi penuh dengan pancaran sinar kaget dan keheranan, hingga detik ini dia masih belum mengetahui dengan jelas bagaimana hal ini bisa terjadi hingga ia terluka oleh jurus serangan lawan.

Beberapa kejadian beruntun itu berlangsung hampir bersamaan, berhubung gerak tubuh mereka kelewat cepat.

Sejak pergelangan tangannya terpapas kutung, Sim Tiong-kiu menaruh perasaan dendam yang amat besar, ia menerkam lagi ke arah Liu Khi yang masih tergeletak di depan sana.

Dalam pada itu Liu Khi sudah lemas dan tidak berkekuatan lagi untuk memberikan perlawanan setelah tubuhnya terhajar oleh serangan jari lawan, kulit mukanya segera mengejang keras, pikirnya, "Habis sudah riwayatku kali ini, sungguh tak nyana Liu Khi harus mampus di tangannya."

Belum habis ingatan itu melintas, sekilas cahaya pedang berwarna merah telah berkelebat di depan mata.

Liu Khi segera memusatkan perhatian dan menengok.

 

Ternyata Pek-hiat-kiam di tangan kanan Bong Thian-gak sedang diarahkan ke tubuh Sim Tiong-kiu, dia melancarkan tiga buah serangan berantai, memaksa Sim Tiong-kiu terdesak mundur.

Baik Liu Khi maupun Sim Tiong-kiu sama sekali tidak menyangka Bong Thian-gak masih memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan walaupun sudah terkena pukulan dahsyat Sim Tiong-kiu secara telak.

Pertarungan cepat akhirnya terhenti dan hening kembali.

Pek-hiat-kiam di tangan Bong Thian-gak terkulai menghadap tanah, dengan senjata itu dia mempertahankan keseimbangan tubuhnya.

Sementara itu Ji-kaucu telah menghampiri Sim Tiong-kiu dan secara beruntun menotok urat nadi pada lengan kanan Sim Tiong-kiu yang kutung untuk mencegah agar tidak banyak darah yang mengalir dari mulut lukanya.

 

Hong-kong Hwesio menghampiri Bong Thian-gak serta Liu Khi, ia segera bertanya, "Parahkah luka yang kalian derita?"

"Hwesio tua, aku sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menangkis ataupun mematahkan jurus serangan musuh," kata Liu Khi sambil tertawa pedih.

Bong Thian-gak berkata pula sambil menghela napas sedih, "Hwesio tua, jurus serangan lawan yang hebat itu terletak pada jari telunjuk tangan kirinya, berhubung serangan itu tidak memperlihatkan gejala apa-apa, maka hampir tiada orang yang berhasil mengetahui rahasia itu dengan jelas."

 

Mendengar penjelasan itu, Hong-kong Hwesio menghela napas panjang, katanya kemudian, "Lolap memang pernah menduga, bahwa jurus serangan dahsyat lawan bisa jadi berasal dari satu di antara sepuluh jari tangannya, namun aku tak pernah bisa menebak dengan cara bagaimana dia merobohkan lawan-lawannya, sebab pada saat serangan dilancarkan, hal ini merupakan suatu masalah yang tak bisa dipecahkan."

Liu Khi menyesal setengah mati setelah mendapat penjelasan ini, dia menghela napas dan mengeluh, "Seandainya serangan golokku tadi membacok pergelangan tangan kirinya, urusan pasti akan beres dengan sendirinya."

"Seandainya tanpa serangan golokmu tadi, mungkin aku sudah tewas terhajar serangannya," kata Bong Thian-gak dengan perasaan amat berterima kasih.

 

Liu Khi lebih berterima kasih lagi, katanya, "Serangan pedang Bong-laute yang benar-benar telah menyelamatkan jiwaku, aku merasa berterima kasih sekali."

Bong Thian-gak menengok sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, kemudian katanya, "Hwesio tua, sekarang tergantung pada dirimu."

"Sekarang pergelangan tangan Sim Tiong-kiu telah terpapas kutung, semangat tempurnya sudah luluh, agaknya Lolap mampu menandinginya."

Liu Khi menghela napas sambil berkata, "Keadaan saat ini, kekuatan pihak Put-gwa-cin-kau sama sekali belum menderita kerugian apa-apa, agaknya nasib kita malam ini lebih banyak buruknya daripada untungnya."

 

Betul, dari pertarungan yang berlangsung barusan, pihak Put-gwa-cin-kau hanya menderita kerugian Sim Tiong-kiu seorang yang telah kehilangan pergelangan tangannya, sedangkan Ji-kaucu beserta Si-hun-mo-li dan ketiga belas orang berjubah hitam itu pada hakikatnya belum turun tangan.

Sebaliknya di pihak lain, Han Siau-liong dan Mo Hui-thian secara beruntun telah terluka oleh serangan jari tangan Sim Tiong-kiu dan hingga kini belum sadarkan diri, sedangkan Liu Khi dan Bong Thian-gak telah menderita luka pula.

 

Pada saat ini mereka yang sanggup melangsungkan pertarungan dengan musuh tinggal kedelapan pelindung hukum Hiat-kiam-bun, Hong-kong Hwesio beserta murid serta Long Jit-seng.

Bila diperbandingkan kemampuan yang dimiliki kedua belah pihak, tampaknya Hong-kong Hwesio bertiga sulit untuk menandingi kemampuan Sim Tiong-kiu, Ji-kaucu serta Si-hun-mo-li.

Mendadak Liu Khi memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian bertanya, "Bong-buncu, masih mampukah kau melanjutkan pertarungan?"

"Bahu kananku makin lama semakin kaku, agaknya sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi, mungkin sampai waktunya aku sudah tak mampu lagi menggenggam pedang," ucap Bong Thian-gak sambil tersenyum.

 

Paras muka Liu Khi berubah hebat, katanya kemudian, "Kalau begitu kita benar-benar akan tewas di tempat ini."

Bong Thian-gak kembali tertawa, "Sebelum ajal tiba, aku rasa masih ada sisa kekuatan untuk membunuh beberapa orang musuh lagi, apakah Liu-locianpwe sudah tidak mempunyai kemampuan lagi?"

Hati Liu Khi bergetar keras, ia tertawa terbahak-bahak, "Apakah Bong-buncu tidak percaya aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk melanjutkan pertarungan?"

"Kalau tadi, mungkin benar-benar sudah tak punya lagi, tapi sekarang aku lihat Liu-locianpwe seperti telah menemukan cara untuk mengobati luka yang kau derita."

"Bila Bong-buncu tidak mempercayai diriku lagi, aku pun tak bisa berkata apa-apa lagi," ucap Liu Khi sambil tertawa.

 

Sambil menarik muka Bong Thian-gak berkata lagi, "Sebentar lagi Sim Tiong-kiu dan Ji-kaucu akan melancarkan serangan terhadap kita, bila Liu-locianpwe tidak segera mengobati luka yang diderita Han Siau-liong serta Mo Hui-thian, bisa jadi kita benar-benar akan tewas hari ini di sini."

Liu Khi kembali menggeleng kepala berulang kali.

"Saat ini aku benar-benar sudah tidak mempunyai kekuatan lagi sekalipun untuk menyembelih ayam, bila beruntung bisa memulihkan kembali kekuatanku, mungkin hal ini baru kualami beberapa jam kemudian. Sekarang terpaksa aku harus menggantungkan perlindungan terhadap Hong-kong Hwesio sekalian serta Bong-buncu."

 

Mendengar perkataan ini, Bong Thian-gak mengerutkan dahi, kemudian pikirnya, "Barusan tampaknya aku seperti melihat Han Siau-liong telah membuka mata satu kali setelah memperoleh pertolongan Liu Khi."

Mendadak terdengar suara dingin yang menggidikkan hati dari Ji-kaucu bergema memotong jalan pikiran Bong Thian-gak, "Ko Hong, hari ini jangan harap kau bisa meloloskan diri dari jaringan langit yang diatur oleh Put-gwa-cin-kau." 

 

Pedang di tangan Bong Thian-gak masih tetap tergeletak di tanah, ketika mendengar perkataan itu dia tertawa dingin, "Ko Hong adalah nama samaranku pada tiga tahun berselang, pada saat ini aku adalah ketua Hiat-kiam-bua Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."

Dia tertawa dingin tiada henti, kemudian melanjutkan, "Ji-kaucu, bila kalian ingin membunuhku pada hari ini, mungkin pengorbanan yang sangat besar harus kalian bayar untuk itu, jika kau tidak percaya, silakan saja bertindak!"

Bong Thian-gak dengan memancarkan sinar mata tajam yang menggidikkan mengawasi wajah Ji-kaucu dengan penuh gusar dan perasaan dendam yang membara.

 

Tak terkira rasa terkesiap Ji-kaucu menyaksikan sorot mata Bong Thian-gak itu, pikirnya, "Sekarang dia sudah terkena pukulan Ji-gwat-soh-hun-ci dari Sim Tiong-kiu, namun luka yang diderita nampaknya tidak begitu parah, oh ... sungguh mengejutkan tenaga dalam orang ini... bukan hanya Ji-gwat-soh-hun-ci yang tidak berhasil melukainya, ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Si-hun-mo-li pun tampaknya tak dapat melukainya, entah kepandaian silat apakah yang berhasil dilatih olehnya."

 

Bukan hanya Ji-kaucu seorang yang berpendapat demikian, bahkan Hong-kong Hwesio serta sekalian jago pun merasa curiga di samping kagum atas kelihaian ilmu silat Bong Thian-gak.

Tiba-tiba Sim Tiong-kiu melompat bangun dari atas tanah, kemudian berseru, "Lohu tidak percaya kalau kau masih mempunyai kemampuan untuk melukai musuh dengan pedangmu itu."

"Kalau tidak percaya, mengapa tidak datang kemari mencobanya sendiri?" jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.

 

Waktu itu Sim Tiong-kiu telah kehilangan telapak tangan kanannya, sehingga dengan demikian dia menjadi manusia cacat.

Dengan begitu Bong Thian-gak, Sim Tiong-kiu dan Liu Khi tiga orang berlengan tunggal saling berdiri berhadapan dengan sikap bermusuhan.

Sorot mata Sim Tiong-kiu memancarkan sinar kebencian dan perasaan dendam ditujukan ke arah Liu Khi yang duduk bersila di atas tanah, sebaliknya Bong Thian-gak mengawasi gerak-gerik Sim Tiong-kiu tanpa berkedip.

Dia tahu tujuan serangan yang mematikan Sim Tiong-kiu saat ini tak lain adalah Liu Khi.    

 

Di  pihak   lain,  Hong-kong  Hwesio  telah  berseru  memuji keagungan sang Buddha, lalu berkata, "Sim-sicu, di antara kita berdua masih terjalin dendam dan hutang lama, apakah Sim-sicu tidak akan menagih hutang itu kepada aku si Hwesio tua?"

Sim Tiong-kiu memandang sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, kemudian bertanya, "Kau tak usah berharap bisa meninggalkan kuil Hong-kong-si lagi dalam keadaan hidup, biar kau punya sayap pun jangan mimpi bisa meninggalkan tempat ini. Buat apa aku memusingkan diri dengan hutang lama kita?"

"Sim-sicu, tentunya kau tidak akan memberikan keuntungan yang amat besar kepada aku si Hwesio tua bertiga bukan?"

"Biarpun lenganku kutung semua, aku masih mampu melayani kalian bertiga," jengek Sim Tiong-kiu dengan suara sedingin es.

"Sim-sicu, tidakkah kau merasa bahwa perkataanmu itu kelewat takabur?"

"Kau si Hwesio tua termasuk juga seekor rase tua yang licik dan banyak tipu muslihat, siapakah yang tidak tahu kau memang lebih suka membiarkan orang lain turun ke gelanggang lebih dulu, sedangkan kalian guru dan murid akan duduk sebagai si nelayan mujur yang tinggal memungut hasilnya?"

 

Ketika mendengar perkataan kedua orang itu, hati Bong Thian-gak bergetar keras, segera pikirnya, "Ya, sejak awal hingga sekarang HongĀ­kong Hwesio bertiga tak pernah menggerakkan tangan biar satu gebrakan saja, mungkinkah si Hwesio tua ini seperti apa yang dikatakan Sim Tiong-kiu barusan. Berakal busuk, banyak tipu muslihat dan mempunyai tujuan pribadi tertentu? Siapa tahu dia memang sengaja membiarkan aku serta pihak Kay-pang turun gelanggang terlebih dulu sebagai panglima pembuka jalan untuk menghadapi Put-gwa-cin-kau?"

"Omitohud!" Hong-kong Hwesio berkata, "setelah Sim-sicu berkata demikian, rasanya aku si Hwesio tua bertiga tidak boleh cuma berpeluk tangan belaka."

"Soal dendam dan permusuhan yang terjalin di antara kita, sesungguhnya kau harus sudah mulai melancarkan serangan sejak tadi," jengek Sim Tiong-kiu dingin.

 

Sembari berkata, Sim Tiong-kiu mengulap tangan kirinya ke tengah udara.

Tiga belas orang yang selama ini berdiri mengepung arena itu serentak menyiapkan tombak dan bergerak mempersempit kepungan mereka.

Biarpun langkah ketiga belas orang berbaju hitam itu dilakukan sangat lambat, akan tetapi Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu paras mukanya berubah hebat.

Ternyata dia telah mengetahui ketiga belas orang berbaju hitam yang bersenjata tombak itu rata-rata memiliki kepandaian yang sangat tinggi, bahkan kemampuan mereka rasanya tidak di bawah kemampuan seorang tokoh Bu-lim.

 

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bong Thian-gak ... dia tahu dalam pertarungan malam ini, sukar bagi pihaknya untuk mengungguli lawan, berarti satu-satunya jalan yang tersedia bagi pihaknya adalah berusaha meloloskan diri dari kepungan.

Berpikir sampai di sini tiba-tiba Bong Thian-gak berbisik kepada Ang Teng-siu, "Ang-huhoat, dengarkan, tatkala aku menyerang Si-hun-mo-li nanti, kalian harus menghimpun segenap kekuatan untuk melindungi aku agar lolos dari kepungan."

Baru saja perkataan itu selesai, mendadak tampak Sim Tiong-kiu dan Ji-kaucu telah mengundurkan diri ke arah timur, sebagai gantinya ketiga belas orang berbaju hitam bertombak itu membentuk sebuah barisan yang sangat aneh dan mengepung para jagoan di tengah gelanggang.

Mendadak Ji-kaucu yang telah berada di luar arena berteriak aneh, "Mo-li, mengapa kau tak mengundurkan diri?"

Teriakan itu diutarakan dengan suara tinggi melengking dan menusuk pendengaran, diutarakan dengan sangat lamban.

Tatkala mendengar suara itu, bagi Si-hun-mo-li seruan itu seakan-akan mengandung daya iblis yang luar biasa, sekujur badannya gemetar keras, dengan cepat dia membalikkan badan dan berjalan menuju ke arah Ji-kaucu.

 

Pada saat itulah tubuh Bong Thian-gak secepat sambaran kilat telah berkelebat ke depan dan mendorong tubuh Si-hun-mo-li ke belakang.

Kini Pek-hiat-kiam telah disarungkan kembali. Bong Thian-gak dengan lengan tunggalnya yang lebih cepat daripada kilat dan lebih tajam daripada pedang telah menyambar ke muka.

Sementara itu telapak tangan kanannya sudah menyentuh tiga buah jalan darah penting di punggung Si-hun-mo-li.

Seruan tertahan bergema, jalan darah Mi-bun-hiat di punggung Si-hun-mo-li sudah kena terhajar.

 

Tapi pukulan itu tidak membuatnya tak sadarkan diri, setelah bergemanya jeritan kaget, Si-hun-mo-li membalikkan badan sambil melepaskan sebuah pukulan pula ke jalan darah Ciang-hiat di dada Bong Thian-gak.

Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka Si-hun-mo-li sama sekali tidak terpengaruh oleh serangan Hut-hiat-seng-meh-jiu-hoat yang dilepaskan olehnya, dalam tertegunnya lekas dia mengegos ke samping untuk menghindarkan diri.

Tentu saja serangan balasan Si-hun-mo-li mengenai tempat kosong, tapi dia pun segera melompat ke depan dan melayang pergi.

 

Dalam pada itu empat tombak panjang telah menusuk ke tubuh Bong Thian-gak. Hong-kong Hwesio beserta kedua muridnya yang gagu dan tuli turut menerima serangan pula, sudah jelas para jago dikepung dalam pusat barisan tiga belas orang berbaju hitam.

Bong Thian-gak memang sudah mengetahui kelihaian ketiga belas orang baju hitam itu, bila mereka sampai terkurung dalam barisan itu, biarpun dia dan Hong-kong Hwesio belum tentu terkena musibah, namun para pelindung hukum perguruannya bakal menemui celaka atau tertumpas sama sekali.

 

Itulah sebabnya Bong Thian-gak segera membentak keras, secepat kilat tangan kanannya melolos Pek-hiat-kiam, lalu "Trang", percikan bunga api beterbangan ke empat penjuru.

Biarpun keempat tombak itu berhasil ditangkis ke samping, namun sebatang tombak yang lain meluncur ke punggung Bong Thian-gak dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya.

Sedemikian cepatnya tombak itu hingga pada hakikatnya hampir tiada orang yang bisa menghindarkan diri.

Ang Teng-siu yang berada di sisinya segera berteriak kaget, "Hati-hati Buncu!"

 

Padahal teriakan Ang Teng-siu itu tidak ada gunanya, biarpun Bong Thian-gak bermaksud menghindar, namun sudah dapat dipastikan ia akan tewas di ujung tombak itu sejak tadi.

Kepandaian silat Bong Thian-gak benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan, tanpa berpaling lagi kaki kirinya maju setengah langkah ke samping, tombak tadi segera menyambar lewat dari bawah ketiaknya.

 

Jeritan ngerl yang memilukan hati segera berkumandang memecah keheningan, sebutir batok kepala orang berbaju hitam segera terbang ke udara.

Tapi dengan bergemanya suara jeritan itu, secara beruntun bergema pula empat kali jeritan ngeri dan dengusan tertahan lainnya.

Bong Thian-gak memandang ke arena, ternyata empat orang pelindung hukumnya tertembus oleh empat tombak tajam pada bagian dadanya, darah segar segera berhamburan kemana-mana, jiwa mereka pun lenyap seketika.

Tak terlukiskan rasa kaget Bong Thian-gak, ia segera membentak, "Ang Teng-siu, kalian tak usah bertarung lagi!"

 

Di tengah bentakan, Bong Thian-gak melompat mundur, pedang segera diayunkan membabat empat orang berbaju hitam.

Gerakan keempat orang beriteju hitam itu cepat tak terlukiskan, baru saja serangan Bong Thian-gak dilancarkan, tombak mereka sudah dicabut dari tubuh mayat, kemudian serentak diayunkan ke muka untuk menangkis datangnya ancaman pedang Bong Thian-gak itu.

Di satu pihak Bong Thian-gak terancam mara bahaya, di pihak lain Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya juga mengalami nasib yang sama, mereka menghadapi serangan demi serangan dari orang-orang baju hitam dan tombaknya yang menyerang secara gencar.

Sedemikian bertubi-tubinya ancaman yang datang, membuat ketiga orang itu hanya bisa menangkis belaka, pada hakikatnya sudah tidak memiliki kemampuan lagi untuk melancarkan serangan belasan.

 

Sesungguhnya kepandaian silat Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya sangat hebat, tenaga dalam yang mereka miliki pun mengejutkan orang, tapi serangan tombak musuh amat gencar, ini membuat suasana segera dikuasai lawan.

Jurus-jurus serangan tombak kawanan jago berbaju hitam memang hebat dan tangguh, serangan-serangan mereka atas lawan bukan serangan tunggal yang terpotong-potong, melainkan serangan berantai yang betul-betul hebat.

Setelah tusukan itu lewat, tusukan lain kembali meluncur datang dengan kecepatan tinggi, gerakan mereka yang berantai seakan-akan ada seribu batang tombak yang menyerang tiada hentinya.

 

Kepandaian silat yang dimiliki Bong Thian-gak termasuk amat lihai, seandainya dia berniat meloloskan diri dari kepungan musuh, hal itu dapat dilakukan secara mudah, tapi dia tak bisa berbuat begitu, dia wajib melindungi keselamatan jiwa keenam anak buahnya yang saat itu sudah terkepung di tengah barisan lawan.

Dalam sengitnya pertarungan yang sedang berlangsung, tiba-tiba Bong Thian-gak mengendus segulung bau harum yang aneh sekali.

 

Dengan terkejut dia pun segera berteriak, "Hati-hati dengan racun jahat!"

Baru saja bentakan itu dikumandangkan, Ang Teng-siu berenam sudah bertumbangan ke tanah.

Hong-kong Hwesio dan muridnya turut sempoyongan pula seakan-akan setiap saat bakal roboh.

Dari luar lingkaran pengepungan, dengan cepat bergema gelak tawa menyeramkan dari Ji-kaucu, kemudian ia berseru penuh kebanggaan, "Untuk membekuk kalian, merupakan pekerjaan yang amat mudah. Hahaha, sekarang seluruh halaman gedung ini telah dipenuhi oleh asap dupa beracun Khi-hiang-gi-tok, akan kulihat siapa lagi yang mampu meninggalkan halaman ini barang selangkah pun."

 

Sementara itu Bong Thian-gak telah menutup pernapasannya, tapi berhubung dia sudah mengendus segulung bau racun, benaknya mulai terasa kalut dan rasa pusing tiba secara bertubi-tubi.

Diiringi pekik nyaring yang menusuk pendengaran, Bong Thian-gak menghimpun tenaga dalamnya terus melejit ke udara, lalu dengan cepat dia menerjang keluar lingkaran pekarangan.

 

Bayangan orang segera berkelebat di udara, tiga orang berbaju hitam dengan menyilangkan tiga batang tombak menghadang jalan pergi anak muda itu.

Hawa napsu membunuh telah menyelimuti benak Bong Thian-gak sekarang, pedangnya kontan dibacokkan kian kemari.

Pek-hiat-kiam memancarkan cahaya tajam yang menyilaukan mata, hujan darah pun berhamburan.

Tiga sosok mayat orang berbaju hitam segera rontok dari tengah udara, sedangkan Bong Thian-gak sendiri juga ikut terjatuh.

 

Ternyata serangan pedang yang dilancarkan Bong Thian-gak tadi merupakan serangan hawa pedang tujuh langkah melukai musuh, merupakan ilmu tingkat paling tinggi dalam ilmu pedang. Begitu serangan pedang dilancarkan, biarpun ada seratus orang terkumpul dalam lingkungan tujuh langkah dari posisinya, semua akan tewas dengan kepala terpenggal dan darah bercucuran, kelihaiannya luar biasa.

Tapi ilmu pedang semacam ini juga boros dalam penggunaan tenaga dalam, itulah sebabnya Bong Thian-gak turut terjatuh.

 

Dengan mengendorkan hawa murni secara tiba-tiba, Bong Thian-gak kembali menghirup segulung udara.      

Pada saat itulah Liu Khi yang berada di sisi arena berseru sambil tertawa, "Kebenaran satu depa lebih tinggi, satu tombak lebih tebal, biarpun racun dupa harum Ji-kaucu sangat lihai, sayang sekali tidak manjur bagi orang she Liu."

Bong Thian-gak menyaksikan beberapa titik cahaya putih memancar dari tangan Liu Khi dengan kecepatan tinggi.

Dimana cahaya putih berkelebat, jeritan ngeri bergema susul-menyusul.

Dalam pada itu tubuh Bong Thian-gak sudah mulai gontai, namun dia masih dapat menyaksikan sisa kesembilan orang berbaju hitam itu satu demi satu terhajar golok terbang dan tergeletak di atas tanah.

 

Tenaga dalam Liu Khi yang begitu mengejutkan membuat Bong Thian-gak merasa terperanjat sekali.

"Hahaha, Liu Khi, sekarang tinggal kau seorang. Rasanya kau tak akan mampu menandingi kami, bukan?"

Liu Khi tertawa dingin, balasnya, "Ji-kaucu, perhitunganmu salah besar, Toa-cengcu Kim-liong-seng-kiam-ceng Mo Hui-thian serta Han Siau-liong dari partai kami telah sehat walafiat kembali, kekuatan kami cukup untuk bertarung melawan kalian."

Ketika mendengar itu, Bong Thian-gak mendongakkan kepalanya, benar juga Han Siau-liong serta Mo Hui-thian telah bangkit semua.

 

Sambil tertawa dingin Mo Hui-thian berkata, "Sim Tiong-kiu, Ji-gwat-soh-hun-ci (ilmu jari pengunci sukma) tak bisa membunuh orang. Hehehe, padahal kau terlalu percaya pada kemampuanmu sendiri, kau anggap Mo Hui-thian itu siapa? Memangnya bisa dibunuh oleh serangan jarimu itu?"

Sekarang Bong Thian-gak baru sadar bahwa Liu Khi dan Mo Hui-thian memang benar-benar mempunyai tujuan pribadi, rupanya dia dan Hong-kong Hwesio sekalian memang sengaja diatur agar bisa menahan kekuatan Put-gwa-cin-kau paling dulu, kemudian merekalah yang akan menjadi si nelayan mujur yang tinggal memungut hasilnya.

Kelicikan dan kemunafikan orang-orang di dunia persilatan memang sungguh menakutkan.

 

Secara lamat-lamat Bong Thian-gak menyaksikan pula bagaimana Liu Khi, Mo Hui-thian serta Han Siau-liong sekalian melangsungkan pertarungan sengit melawan Ji-kaucu dan Sim Tiong-kiu sekalian.

Sayang racun dupa sudah semakin menyerang kesadarannya, lambat-laun Bong Thian-gak mulai pudar kesadarannya sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

Bagaimana hasil pertarungan berdarah antara Liu Khi sekalian dengan Put-gwa-cin-kau? Tentu saja dia tak dapat melihat dengan mata kepala sendiri.

 

ooOoo

 

Angin berhembus kencang, putaran roda kereta bergema memecah keheningan.

Ketika Bong Thian-gak sadar dari pingsannya, dia lihat keempat anggota badannya sudah dirantai orang, rantai yang amat besar dan berat. Kini dia sedang berbaring dalam kereta kuda yang gelap-gulita hingga tak nampak kelima jari tangannya.

Tatkala baru mendusin dari pingsannya tadi, Bong Thian-gak merasakan sekujur badannya linu dan sakit. Badannya terasa kaku dan kesemutan, maka itu dia berbaring saja tanpa bergerak untuk sementara waktu, telinganya menangkap suara derap kaki dan roda kereta, segera menyadarkan dia bahwa dirinya sedang berada dalam perjalanan.

Selang beberapa saat, Bong Thian-gak coba untuk menyalurkan hawa murninya mengelilingi badan, ternyata semuanya berjalan normal. Semua ini membuat hatinya lega.

 

Dia mencoba untuk duduk, ternyata rantai yang membelenggu anggota tubuhnya diikat pada lantai kereta, karena itu biarpun dia bisa duduk tegap, namun sama sekali tak sanggup menggeser tubuh barang setengah langkah pun.

Dengan mengerahkan ketajaman matanya, Bong Thian-gak mencoba memperhatikan rantai yang besarnya seibu jari itu. Dia tahu, dengan tenaga dalam yang dimilikinya sulit rasanya untuk mematahkan rantai itu.

Maka setelah menghela napas panjang, terpaksa dia hanya duduk tenang dalam kereta, pikirnya, "Orang-orang Put-gwa-cin-kau berhasil membekukku, hendak dibawa kemanakah diriku?"

 

Membayangkan hal itu, tanpa terasa Bong Thian-gak memicing mata dan mengintip lewat sela-sela lantai kereta.

Yang terlihat olehnya hanya padang rumput yang sangat luas, tiada sesuatu yang aneh atau luar biasa sehingga timbul perasaan jemu bagi siapa pun yang melihatnya.

Bong Thian-gak segera mengalihkan sorot matanya, mengintip dari sudut lain.

Kali ini dia berhasil melihat kereta yang ditumpanginya dihela oleh enam kuda yang tinggi besar dan gagah, tampak di bagian kusir duduk tiga orang sais.

"Hei, mengapa aku tidak mencoba bertanya kepada mereka?" satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya.

 

Belum lenyap ingatan itu, suara bentakan bergema, menyusul terdengar pula suara ringkik kuda.

Kereta kuda yang sedang dipacu kencang itu seketika terhenti.

Dengan cepat Bong Thian-gak mengalihkan pandangan matanya keluar celah-celah dinding kereta.

Mendadak dia saksikan dua titik cahaya putih menyambar datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Menyaksikan kedua titik cahaya itu, Bong Thian-gak menjadi amat terkejut, diam-diam dia berpekik dalam hati, "Golok sakti berlengan tunggal!"

 

Ternyata dia mengenali kedua titik cahaya putih itu sebagai sambaran pisau terbang milik Liu Khi yang menggetarkan seluruh jagat.

"Bila pisau terbang Liu Khi sudah disambit keluar, sudah pasti kedua kusir di atas kereta akan tewas dalam keadaan mengerikan!" pikir Bong Thian-gak dalam hati.

Kenyataan suasana di sekeliling tempat itu memang amat sepi dan hening.

Tapi selang beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar suara Liu Khi, "Kalian berdua bisa menghindarkan diri dari sambaran pisau terbangku, ini membuktikan ilmu silatmu pasti luar biasa, ayo cepat sebutkan siapa namamu?"

 

Bong Thian-gak terkejut bercampur keheranan setelah mendengar ucapan itu, pikirnya, "Aku sudah pernah menyaksikan kehebatan pisau terbang Liu Khi, kenyataan sekarang kedua kusir itu mampu menghindar dari sambaran pisau terbangnya, terbukti ilmu silat mereka memang hebat."

Dalam pada itu satu di antara kedua kusir kereta itu telah berkata diiringi suara tawanya yang menyeramkan, "Tampaknya kau adalah Liu Khi."

Bong Thian-gak yang mengintip dari balik celah-celah kereta dapat melihat dengan jelas bahwa di antara jalan raya, berdiri tegak seorang jangkung bertubuh ceking dan berjubah hitam, orang itu jelas Liu Khi adanya.

 

Cahaya mata yang tajam dan menggidikkan mencorong dari balik mata Liu Khi, diawasinya kedua orang yang berada di atas kereta itu, kemudian setelah tertawa seram, katanya, "Betul, akulah Liu Khi, kau anggap ada orang yang berani menyaru sebagai diriku?"

Baru selesai perkataan itu, dari atas kereta bergema lagi gelak tawa panjang, "Sudah lama kudengar pisau terbang Liu Khi konon akan membawa bencana bila dilepaskan, selamanya tidak pernah meleset, tapi kenyataannya pada malam ini ... hahaha ...."

Suara gelak tertawa panjang yang sinis dan mengandung nada penghinaan segera bergema.

 

Sementara itu Liu Khi menanti dengan tenang, sampai gelak tawa mereka reda, dia berkata dengan hambar, "Biarpun kalian berdua bisa menghindarkan diri dari pisau terbangku, apakah dapat juga menghindarkan diri dari bacokan golok yang terselip di pinggangku sekarang?"

"Silakan saja dibuktikan," ucap orang yang berada di atas kereta itu seram.

"Bagus sekali."

Begitu kata terakhir diutarakan, Liu Khi sudah berkelebat ke depan dengan kecepatan tinggi.

Mendadak dari atas kereta berkumandang suara seruan kaget serta jerit kesakitan.

"Blam", diiringi suara benturan keras, papan kereta bagian depan telah jebol sebuah lubang besar, percikan darah segar segera berhamburan dari dalam kereta, menyusul hancuran kayu berserakan kemana-mana.

 

Sekarang Bong Thian-gak bisa menyaksikan wajah Liu Khi yang berdiri di depan kereta dengan lebih jelas, dua sosok mayat yang berlumuran darah kelihatan tergeletak di sisi sebelah kiri.

Tampaknya satu di antara mereka belum menemui ajal, dengan suara mengerikan ia berseru, "Golok saktimu ... sungguh cepat, aku ...."

Sebelum selesai perkataan itu, orangnya sudah menghembuskan napas penghabisan.

Bong Thian-gak duduk dalam ruangan kereta tanpa bergerak, rupanya dia pun dibuat terperanjat oleh kecepatan golok Liu Khi.

"Sebenarnya dengan cara bagaimanakah dia menghabisi nyawa kedua orang itu?" berbagai ingatan menyelimuti benak Bong Thian-gak.

 

Pada saat itu Liu Khi masih berdiri tanpa menggenggam goloknya, ini membuktikan setelah ia mencabut senjatanya membunuh kedua lawannya tadi, golok itu disarungkan kembali ke sisi pinggangnya.

Dalam pada itu Liu Khi dengan sorot mata yang menggidikkan juga sedang mengawasi Bong Thian-gak yang berada dalam kereta, ujarnya hambar, "Bong-buncu, kalau kau sudah sadar, mengapa tidak berusaha melepas dirimu sendiri?"

Bong Thian-gak tertawa dingin. "Memangnya kau datang kemari untuk menolongku?" dia balik bertanya. "Aku datang untuk membunuhmu."

"Kalau demikian, mengapa belum juga turun tangan?"

"Aku sedang mencari kesempatan."

"Kini anggota tubuhku dirantai, bukankah kesempatan baik ini sukar dijumpai?"

 

Ketika mendengar ucapan itu, Liu Khi segera mengawasi badan Bong Thian-gak dengan lebih seksama, kemudian dia baru manggut-manggut seraya ujarnya, "Aku tidak melihat kaki tanganmu dirantai orang, andaikata kulancarkan serangan dengan membabi-buta tadi, sudah pasti akan kusesali sepanjang zaman."

"Mengapa menyesal?"

"Kau anggap membunuh orang yang sama sekali tak bisa berkutik adalah suatu perbuatan yang membanggakan?"

Bong Thian-gak tersenyum.

"Kalau dibicarakan soal untung-ruginya, aku rasa hal itu tak perlu diperhatikan lagi."

 

Mendadak Liu Khi menarik wajah dan berkata dengan suara sedingin es, "Bohg Thian-gak dengarkan baik-baik. Selagi berada dalam kuil Hong-kong-si, kau pernah menyelamatkan jiwaku satu kali, malam ini aku telah membantumu pula lolos dari kesulitan dengan menghabisi nyawa mereka, berarti di antara kita berdua sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada siapa."

"Tapi kau belum membantuku membuang semua belenggu yang membebani tubuhku?"

"Betul!" Liu Khi tertawa dingin. "Sekarang juga aku akan memapas kutung rantai itu."

Selesai berkata, cahaya golok kembali berkelebat tiga kali.

Bong Thian-gak merasa kulit badannya tersambar angin dingin, disusul suara gemerincing nyaring, tahu-tahu rantai yang membelenggu kaki tangannya sudah rontok ke atas tanah.

Ketika ia mendongakkan kepala, tampak golok panjang itu sudah tersoreng kembali di pinggang Liu Khi.

 

Dengan perasaan kaget dan heran Bong Thian-gak menghela napas panjang, katanya, "Ilmu golokmu benar-benar tidak ada tandingannya, lagi pula golok yang tersoreng di pinggangmu itu sudah pasti senjata mustika yang dulu diandalkan panglima kenamaan."

Sembari berkata, pelan-pelan Bong Thian-gak berdiri dari lantai kereta.

Mendadak Liu Khi berkata dengan suara dalam, "Perhatikan baik-baik, setiap saat aku akan melolos lagi golokku untuk mencabut nyawamu."

"Sungguhkah itu?" tanya Bong Thian-gak dengan wajah tertegun.

"Buat apa aku berbohong?" Liu Khi tertawa dingin.

Untuk kesekian kalinya Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, sikapmu yang sebentar bersahabat sebentar bermusuhan, benar-benar membuat aku tidak habis mengerti."

"Asalkan Bong-buncu bersedia mempersembahkan harta-karun itu, aku bersedia bekerja sama dengan pihak kalian," kembali Liu Khi berkata dengan suara hambar.

"Peta harta-karun?" Bong Thian-gak mengerutkan dahi. "Kau maksudkan peta harta-karun peninggalan Mo-lay-cin-ong?"

"Betul, peta harta-karun inilah yang kumaksudkan," Liu Khi berkata sambil tertawa dingin, "Hong-kong Hwesio bilang, benda itu sudah berada di tangan Bong-buncu."

 

Sambil tertawa Bong Thian-gak menggeleng kepala.

"Liu-sianseng telah dibohongi Hong-kong Hwesio rupanya, aku berani bersumpah tak pernah mendapatkan peta harta-karun itu."

"Bong-buncu adalah orang yang pertama kali datang di kuil Hong-kong-si, kenyataan sekarang peta harta-karun itu tidak berada di tangan Hong-kong Hwesio dan muridnya lagi. Lantas berada di tangan siapa kalau bukan berada di tanganmu?" kata Liu Khi.

 

Bong Thian-gak menggeleng kepala lagi.

"Sewaktu berada di kuil Hong-kong-si, bukankah Liu-sianseng telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana aku terkena racun dupa Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau dan roboh tak sadarkan diri, hingga setengah jam berselang aku baru mendusin dari pingsanku. Ai, apakah Liu-sianseng bersedia menerangkan bagaimana akhir pertarungan di kuil Hong-kong-si?"

"Hong-kong Hwesio, Mo Hui-thian, Han Siau-liong, dan aku berempat berhasil menerjang keluar kepungan," ucap Liu Khi dingin.

"Bagaimana dengan para pelindung hukum perkumpulan kami?"

"Enam orang pelindung hukum bersama kedua murid Hong-kong Hwesio telah menemui ajal dalam pertarungan."

 

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak menghela napas panjang dengan sedih, "Ai, kerugian yang diderita partai kami semalam betul-betul besar sekali!"

Liu Khi tertawa dingin.

"Kecuali kau dan aku berdua yang tidak menderita luka dalam yang parah, Hong-kong Hwesio beserta Han Siau-liong dan Mo Hui-thian terluka parah."

"Kalau begitu pertolongan yang Liu-sianseng berikan sekarang adalah demi peta harta-karun itu?"

"Boleh dibilang begitu."

"Kalaii begitu aku bersedia mengajakmu pergi mencari peta harta-karun itu."

"Kau hendak membawa aku kemana?"

"Soal ini tak perlu kau tanyakan, kini Hong-kong Hwesio berada dimana?"

 

"Bong-buncu, bila kau tidak bersedia untuk bekerja sama denganku, jangan salahkan bila aku orang she Liu turun tangan keji kepadamu!" ancam Liu Khi sambil tertawa dingin.

Bong Thian-gak kembali menghela napas panjang.

"Seandainya peta harta-karun itu benar-benar berada di sakuku, dan aku sudah dibekuk orang sekian lama, kau anggap peta itu masih utuh di sakuku?"

"Betul!" Liu Khi manggut-manggut, "Orang-orang Put-gwa-cin-kau mustahil tidak melakukan penggeledahan atas dirimu, tapi kau pun tak bakal sebodoh ini dengan menyembunyikan peta harta-karun itu dalam sakumu!"

 

Bong Thian-gak segera menggeleng kepala sambil tertawa getir, "Liu-sianseng benar-benar sudah ditipu habis-habisan oleh Hong-kong Hwesio. Bila kau tidak percaya, mari kita bersama-sama berangkat ke tempat tinggalnya untuk menanyakan persoalan ini kepadanya."

"Tidak usah," tampik Liu Khi sambil tertawa dingin.

 

Untuk kesekian kalinya Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, benda mustika di kolong langit hanya dimiliki oleh mereka yang berjodoh, aku sama sekali tidak berniat mendapatkan harta karun itu."

"Hehehe, siapa yang mau percaya ucapanmu itu?"

"Bila Liu-sianseng tidak percaya, aku pun tak bisa berbuat apa-apa."

Mendadak Liu Khi menarik wajah, lalu berkata, "Sebenarnya aku ingin membunuhmu, tapi aku selalu kuatir tak mampu menghabisi nyawamu dalam sekali ayunan golok."

"Di antara kita berdua boleh dibilang tiada dendam sakit hati apa pun, aku rasa kita tak perlu menyelesaikan persoalan ini dengan mempergunakan kekerasan."

"Tapi bagi umat persilatan pun tidak selalu harus membunuh orang dikarenakan ada hubungan permusuhan ataupun dendam."

"Betul," Bong Thian-gak mengangguk, "tapi aku rasa tiada kepentingan bagi kita berdua melangsungkan duel menentukan mati-hidup."

"Memang begitulah kenyataannya, maka dari itu aku harus mohon diri dulu.".

 

Selesai berkata, Liu Khi segera melejit ke tengah udara dan berlalu dari sana.

Mimpi pun Bong Thian-gak tak pernah menyangka kalau Liu Khi bakal angkat kaki begitu selesai mengatakan hendak pergi, sementara dia masih tertegun, bayangan tubuh Liu Khi sudah lenyap dari pandangan mata.

Menanti Bong Thian-gak berjalan keluar dari ruang kereta, mendadak muncul seseorang di hadapannya.

Di bawah cahaya bintang, tampak orang itu mengenakan pakaian berwarna putih bersih, rambutnya juga berwarna putih, rambut yang panjang itu hampir menyentuh permukaan tanah.

Melihat kemunculan orang tak diundang ini, Bong Thian-gak merasa amat terperanjat, dia segera menghardik, "Siapakah kau?"

 

Bong Thian-gak kuatir lawan itu setan atau sukma gentayangan.

Padahal kemunculan orang itu amat misterius dan sama sekali tidak menimbulkan suara, apalagi rambut putihnya yang terurai hampir menyentuh tanah, membuat bentuk orang itu mirip bayangan setan yang muncul di tengah kegelapan.

Tanpa mengeluarkan sedikit suara pun, orang berambut putih itu berdiri di hadapannya, kendati begitu sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan, sinar tajam itu mencorong dari matanya yang tertutup rambut putih dan mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.

Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak segera menegur, "Hei, mengapa kau tidak bersuara?"

Orang berbaju putih itu masih saja membungkam, namun Bong Thian-gak dapat melihat tubuhnya bergerak seperti sukma gentayangan, tubuhnya tidak bergoyang, lututnya tidak menekuk, namun dia bergerak mendekatinya.

Melihat cara lawan menggerakkan tubuh, Bong Thian-gak terkesiap, dia sadar lawan memiliki ilmu silat yang sangat dahsyat.

Dalam terkesiapnya, cepat Bong Thian-gak mengerahkan hawa sakti Tat-mo-khi-kang untuk melindungi seluruh badannya.

 

Pada saat itulah tiba-tiba orang itu bergerak maju lagi.

Ketika segulung angin berkelebat, rambut putih yang panjang dan terurai ke bawah itu tiba-tiba bergerak dan langsung menggulung ke lubuh anak muda itu.

"Blam", bunyi ledakan yang keras bergema.

Rambut panjang yang menggulung datang mengikuti hembusan fingin tadi segera terhajar oleh segulung hawa sakti tanpa wujud yang membuatnya terpental balik.

 

Orang berbaju putih itu segera memutar tubuhnya sebanyak tiga kali seperti gangsingan, lalu jeritnya. "Siapakah kau?"

"Ban-lau-loan-sin-kang (tenaga lembut selaksa serat) milikmu betul-betul pantas disebut ilmu manunggal di kolong langit," ucap Bong Thian-gak sambil tersenyum. "Seandainya aku tidak mempersiapkan diri sebelumnya, saat ini tubuhku pasti sudah penuh lubang berdarah dan tewas sejak tadi."

 

Ternyata sapuan rambut putih yang menggulung cepat tadi merupakan sejenis ilmu silat yang sangat hebat dalam persilatan, ketika lawan melontarkan rambutnya yang lembut tadi, sesungguhnya ibarat beribu-ribu batang jarum lembut dan pedang tajam yang menyapu tiba.

Dengan pandangan terkejut bercampur keheranan, orang itu segera bertanya, "Hawa Sin-kang apakah yang telah kau pergunakan untuk mematahkan Ban-si-ciam (selaksa jarum lembut) tadi?"

 

Sekarang Bong Thian-gak dapat melihat jelas raut wajah lawan, ternyata orang itu berwajah pucat seperti salju, bentuk mukanya mirip monyet dan usianya antara enam puluh tahun.

Sambil berkerut kening Bong Thian-gak bertanya, "Siapakah nama besarmu?"

"Mengapa kau tidak menjawab dulu pertanyaanku?" kata orang berambut putih.

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Hm, dilihat dari caramu melancarkan serangan keji tadi, mungkin kau telah mengetahui asal-usulku. Mengapa aku mesti memberitahukan lagi kepadamu?"

 

Orang berambut putih itu tertawa terkekeh-kekeh, "Hehehe, betul, kau pasti Jian-ciat-suseng atau si Golok sakti berlengan tunggal, bukan?'

"Aku adalah Jian-ciat-suseng," jawab Bong Thian-gak.

"Ehm, aku sendiri adalah Pek Kau-kim (siluman monyet putih) dari gunung Thian-san," orang berambut putih itu memperkenalkan diri.

"Kau bernama Pek Kau-kim?" tanya Bong Thian-gak sambil berkerut kening.

"Aku she Pek bernama Kau-kim, kalau tidak bernama Pek Kau-kim, lantas mesti bernama apa?"

"Rasanya di antara kita tak pernah terikat dendam kusumat atau sakit hati apa pun, bukan?" tanya Bong Thian-gak.

 

Sekali lagi Pek Kau-kim tertawa terkekeh, "Kau bukan yang membunuh kedua orang itu?"

"Bukan, bukan aku pembunuhnya," Bong Thian-gak menggeleng.

"Kalau bukan kau, lantas siapa yang telah membunuh mereka?" tiba-tiba Pek Kau-kim membentak.

Bong Thian-gak termenung sebentar, kemudian dia balik bertanya, "Boleh aku tahu, apa hubungan antara kedua korban itu dengan dirimu?"

"Mereka adalah muridku."

 

"Aduh celaka!" keluh Bong Thian-gak dalam hati. "Kalau kedua orang itu adalah muridnya, bisa celaka!"

Berpikir sampai di situ, katanya kemudian sambil menghela napas panjang, "Locianpwe, murid-muridmu bukan tewas di tanganku, bila kau tidak percaya, silakan meneliti kembali bekas-bekas luka mereka."

 

Pek Kau-kim tertawa seram.

"Kedua orang muridku ini diam-diam kabur turun gunung ketika aku sedang menutup diri, mereka memang pantas mampus. Cuma dengan kematian mereka, aku harus mencari seorang murid yang lain untuk menggantikan mereka berdua. Hm, Lohu ingin menerima kau sebagai muridku, ayo cepat ikut aku pulang ke gunung!"

Mendongkol bercampur geli Bong Thian-gak setelah mendengar perkataan itu, kemudian ujarnya, "Walaupun aku merasa sangat gembira dapat menjadi muridmu, tapi hatiku bergidik sendiri melihat sikapmu yang acuh tak acuh dan sama sekali tidak menaruh perasaan iba mengetahui murid-muridmu mati terbunuh."

 

Mendadak Pek Kau-kim melotot, ia mengawasi Bong Thian-gak tanpa berkedip, lalu tanyanya, "Apakah kau menyuruh aku membalas dendam kematian mereka?"

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Bila murid terbunuh, sebagai guru kau wajib membalas dendam bagi kematian muridmu."

"Kalau begitu, kau memang benar-benar harus mati."

 

Di tengah pembicaraan itu, Pek Kau-kim segera menggetarkan tubuh, rambutnya yang panjang dengan dahsyat dan kecepatan tinggi langsung menusuk Bong Thian-gak dari atas ke bawah. Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka lawan bakal melancarkan serangan sekali lagi, kali ini dia belum sempat menghimpun hawa murni Tat-mo-khi-kang untuk melindungi seluruh badan, maka ia terpaksa menghindar.

Tiba-tiba Bong Thian-gak merasakan dadanya amat sakit, dia menjerit kgsakitan.

Bong Thian-gak terguling jatuh dari atas kereta dan tergeletak di atas tanah.

 

Gelak tertawa yang aneh memanjang dan penuh nada kebanggaan bergema, Pek Kau-kim mendesak maju dengan cepat, tangan kanannya secepat kilat menyambar tubuh Bong Thian-gak sambil bentaknya, "Aku tidak percaya kau masih bisa meloloskan diri dari serangan jarum serat Pek Kau-kim!"

Baru selesai perkataan itu. Bong Thian-gak yang sudah tergeletak di atas tanah itu, mendadak melompat sambil melepaskan sebuah tendangan dengan kaki kanannya.

 

Jeritan aneh seperti pekikan monyet segera berkumandang, tubuh Pek Kau-kim mencelat, lalu "blam", roboh terjungkal di tanah.

Pek Kau-kim tak pernah bisa merangkak bangun kembali dari tanah.

Sebaliknya Bong Thian-gak sendiri pun tak mampu merangkak bangun untuk sementara waktu, lengan tunggalnya digunakan untuk memegangi dada, sedangkan wajahnya pucat memperlihatkan rasa kesakitan, dia harus bergerak beberapa kali ke kiri dan kanan sebelum dapat merintih.

Setelah suara rintihan itu, rasa sakit yang menusuk dada Bong Thian-gak pun mereda dengan sendirinya. Ia sadar bahwa dirinya selamat.

 

Ternyata setelah terkena babatan rambut panjang Pek Kau-kim tadi, ada tujuh-delapan buah jalan darah di dada Bong Thian-gak yang nyaris tersumbat, ini menyebabkan hawa darah yang berada dalam dada berhenti untuk sesaat, napas pun ikut berhenti, membuat anak muda itu nyaris roboh tak sadarkan diri.

Ketika Bong Thian-gak berhasil menghirup udara, mendadak dari kejauhan sana muncul sesosok bayangan manusia.

 

Belum lagi bayangan tubuhnya berjalan mendekat, bau harum aneh yang amat menusuk penciuman telah berhembus mengikuti angin gunung.

Tatkala Bong Thian-gak menghirup udara lagi, ia sudah merasakan bau harum seperti bau bunga anggrek, air mukanya berubah hebat, dengan cepat ia melompat bangun.

Sorot matanya segera dialihkan ke arah datangnya bau harum bunga anggrek tadi.

 

Beberapa tombak di hadapannya kini berdiri seorang perempuan cantik bertubuh montok.

Ia mengenakan pakaian puth yang halus, rambutnya disanggul dan di atasnya dilingkari tiga butir mutiara yang memancarkan sinar gemerlapan.

Wajah perempuan itu tampak begitu angker dan serius, angkuh dan berwibawa seperti seorang ratu, terutama sorot matanya yang jeli dan tajam.

Gemetar keras sekujur tubuh Bong Thian-gak menyaksikan kehadiran perempuan itu, serunya dengan suara gemetar, "Kau ... kau adalah Cong-kaucu."

 

Bong Thian-gak sudah pernah bersua dengannya, malah bagian lubuhnya yang paling rahasia pun pernah dilihatnya dengan jelas dan nyata, sudah barang tentu dia kenal Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau yang amat termasyhur.

Perempuan cantik itu tertawa, tertawa amat manis.

Setelah itu ia mulai tertawa cekikikan, suaranya kian lama kian jalang, seperti suara pelacur yang sedang memperoleh puncak kenikmatan.

"Jian-ciat-suseng, kau masih mengenali aku, mengapa wajahmu piicat-pias? Hihihi, jangan harap kau dapat meloloskan diri dari cengkeramanku hari ini."

 

Dengan lemah-gemulai dan pinggul bergoyang, selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati Bong Thian-gak.

Sekarang Bong Thian-gak sadar, biar dia punya sayap pun, jangan harap bisa lolos dari cengkeramannya.

Dengan sorot mata tajam tanpa berkedip, ia mengawasi perempuan itu berjalan hingga tiba di hadapannya, mendadak perempuan itu mengayun tangan kanannya.

Tiga jalan darah penting di tubuhnya seketika tertotok, kemudian apa yang terjadi tak teringat lagi olehnya.

 

oo ©oo

 

PENDEKAR CACAT

Karya : Gu Long

Saduran : Can ID

Bagian 14 :  Lolos dari maut di  markas Put-gwa-cin-kau

 

 

 

 

Dalam lamat-lamatnya suasana, Bong Thian-gak menangkap suara nyaring perempuan yang sedang berkata dengan lembut, merdu dan manis, "Jian-ciat-suseng, kau telah menelan sebutir pil Siau-hun-wan.

Siau-hun-wan merupakan pil dewa bagi manusia, khasiatnya boleh dibilang tak terlukiskan dengan kata-kata."

Dalam keadaan tubuh yang lemah-lunglai dan kesadaran yang masih samar-samar, Bong Thian-gak membuka mata lebar-lebar.

 

Ternyata dia sedang berbaring di atas ranjang yang terletak dalam sebuah kamar dengan cahaya lentera berwarna merah. Selembar wajah cantik, tapi memancar senyuman genit dan jalang terpapar tepaf di depan mata.

Bong Thian-gak masih mempunyai kesadaran yang jernih, dia dapat mengenali raut wajah itu, Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.

Tatkala sinar matanya dialihkan ke bawah, hatinya kembali berdebar, ternyata perempuan itu hanya menutupi tubuhnya yang telanjang dengan selembar kain sutera berwarna putih yang amat tipis.

Dengan cepat Bong Thian-gak mengalihkan kembali sorot matanya ke arah lain, tanyanya cepat, "Obat apa yang telah kau cekokkan kepadaku?"

 

Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh dengan suaranya yang amat jalang, "Hihihi, pil Siau-hun-wan. Satu jam kemudian kau akan mengetahui dengan sendirinya manfaat obat itu."

Pucat-pias wajah Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, dia menghela napas sedih, lalu katanya, "Kumohon kepadamu, bunuhlah aku!"

Rupanya Bong Thian-gak tahu Siau-hun-wan merupakan sejenis obat perangsang yang bisa mengalutkan orang. Sebagai orang pandai, sudah tentu dia tahu akibat obat itu bila mulai bekerja, dia bakal menjadi seorang berhati binatang yang kehilangan akal budi, saat itu dia hanya tahu bagaimana melampiaskan napsu birahi.

 

Sambil tertawa merdu Cong-kaucu kembali berkata, "Membunuh kau? Oh, tak semudah itu. Aku harus mempermainkan dirimu sampai puas sebelum menghabisi nyawamu, sebab aku kelewat membenci dirimu, boleh dibilang kau adalah lelaki yang paling kubenci di kolong langit dewasa ini."

Dalam keadaan demikian, Bong Thian-gak terbayang kembali bagaimana dia menghina dan mencemooh perempuan itu.

Tiba-tiba Bong Thian-gak meronta bangun, tapi entah mengapa sekujur badannya terasa lemas seolah-olah tak bertenaga, keempat anggota badannya lemas, tak setitik tenaga pun yang tersisa dalam tubuhnya.

Merasakan hal itu, Bong Thian-gak baru tahu segala sesuatunya bakal berakhir.

 

Diiringi gelak tertawa merdu, Cong-kaucu melanjutkan kata-katanya, "Tempo hari kau telah membiarkan aku merasakan bagaimana tersiksanya oleh kobaran api birahi, maka hari ini aku pun menyuruh kau merasakan juga bagaimana enaknya penderitaan itu."

"Siau-hun-wan adalah pil perangsang yang akan membuktikan hawa napsu kaum lelaki. Satu jam kemudian obat itu akan mulai bekerja, saat itu kau akan berubah seperti binatang yang sedang birahi, kau hanya tahu bagaimana melampiaskannya, tapi kau tak akan pernah bisa memadamkan kobaran api birahimu itu, sebab Siau-hun-wan adalah sejenis obat perangsang yang mengandung racun jahat, barang siapa herani mengadakan hubungan kelamin denganmu, maka perempuan itu akan mengisap sari racun tubuhmu yang akan berakibat kematian baginya. Oleh karena itu kau harus merasakan penderitaan kobaran api birahi untuk waktu lama tanpa memperoleh kesempatan melampiaskan.

"Penderitaan akan datang berulang-ulang. Saat kau menelan Siau-hun-wan ketiga, api birahi akan merusak semua syarafmu, saat itu kau akan berubah menjadi manusia tanpa sukma, tanpa pikiran, kau hanya akan menuruti perintahku, selama hidup akan tunduk dan menuruti perkataanku."

 

Peluh dingin jatuh bercucuran membasahi badan Bong Thian-gak setelah mendengar perkataan itu, dia menghela napas sedih, lalu kitanya, "Apakah Thay-kun juga menderita akibat perbuatanmu ini?"

"Benar," Cong-kaucu tertawa cekikikan. "Dia pun pernah merasakan siksaan itu hingga menyebabkan kejernihan otaknya punah."

"Aku kuatir obat beracunmu itu bakal ketemu batunya dan tidak manjur seperti yang kau harapkan," jengek Bong Thian-gak sambil tfitawa dingin.

 

Sekali lagi Cong-kaucu cekikikan.

"Siau-hun-wan adalah obat mujarab yang diciptakan Gi Jian-cau, khasiatnya luar biasa dan selama hidup tidak akan meleset."

Mendengar ucapan itu. Bong Thian-gak menghela napas panjang, biarpun ia belum pernah bersua Gi Jian-cau, tapi dia pun termasuk anggota Hiat-kiam-bun. Mengapa orang itu bersedia menciptakan obat beracun dan membantu Cong-kaucu mencelakai umat persilatan?

 

Tiba-tiba Cong-kaucu bangkit, lalu dengan lemah-gemulai beranjak keluar dari dalam kamar.

Bong Thian-gak berbaring di atas pembaringan dengan tenang, sedang benaknya mencari akal bagaimana caranya melepaskan diri dari cengkeraman iblis itu.

Dia meronta dan berusaha merangkak kabur, akan tetapi sayang sekali tubuhnya lemas dan sama sekali tidak bertenaga.

Mendadak terdengar suara derap kaki manusia mendatangi. Bong Thian-gak segera menoleh.

 

Dari balik ruangan tiba-tiba muncul tiga orang perempuan, dua gadis berdandan genit dan seorang lagi perempuan berusia empat puluh, tubuhnya montok dan bahenol.

Sorot mata Bong Thian-gak seolah-olah tertarik atas kehadiran perempuan berbaju hijau itu, dia menatap tubuh perempuan itu tanpa berkedip.

Ketika perempuan setengah umur berbaju hijau itu melihat jelas wajah Bong Thian-gak yang berbaring di atas ranjang, dia pun nampak terkejut dan serentak menghentikan langkahnya.

Dalam pada itu kedua gadis berbaju hijau yang genit tadi telah tiba di depan pembaringan Bong Thian-gak, keempat mata mereka melirik sekejap ke wajah anak muda itu dengan pandangan memikat, kemudian tertawa cekikikan.

Setelah itu kedua gadis tadi mulai menari dengan lemah-gemulai.

Sambil menari mereka melepas pakaian satu per satu.

 

Walaupun kedua gadis itu tidak termasuk berwajah cantik, namun potongan badan mereka betul-betul memukau siapa saja.

Apalagi kedua wanita itu membawakan tarian erotik yang sangat menggiurkan, bisa dibayangkan bagaimana menariknya keadaan itu.

Dihidangi pemandangan yang begitu erotik dan merangsang napsu birahi, lambat-laun Bong Thian-gak mulai terpengaruh, suatu perasaan aneh mendadak meliputi dirinya, dia seperti membutuhkan sesuatu yang amat mendesak.

 

Mendadak Bong Thian-gak memejamkan mata, lalu membentak, "Kalian cepat mengenakan pakaian dan mengundurkan diri dari sini, aku lelah menelan Siau-hun-wan, tak bisa mengadakan hubungan dengan kalian."

"Mereka memang sudah tahu kau telah menelan Siau-hun-wan, lak seorang pun di antara mereka berani mengadakan hubungan dengan tlirimu," ucap perempuan berbaju hijau itu hambar.

Ketika mendengar perkataan itu, untuk kedua kalinya Bong Thian-gak membuka mata, kali ini dia dapat melihat raut wajah perempuan itu  dengan jelas, tanpa terasa jeritnya kaget.

"Kau ... kau adalah Subo."

 

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bong Thian-gak, perasaan sedih, duka, marah dan benci dengan cepat menyelimuti perasaannya.

Peristiwa lampau, ketika sepuluh tahun berselang dia dikeluarkan gurunya dari perguruan ... ketika kaki kirinya berubah menjadi pincang, semua musibah yang menimpa dirinya itu tak lain berkat hasil karya perempuan berbaju hijau itu.

 

Dia tidak lain adalah istri muda gurunya, almarhum Bu-lim Bengcu, si telapak tangan baja yang menggetarkan jagat Oh Ciong-hu yang bernama Pek Yan-ling.

Dengan emosi Bong Thian-gak berseru, "Subo, kau masih kenal diriku?"

"Aku masih ingat kau adalah Bong Thian-gak. Sungguh tak kusangka Jian-ciat-suseng adalah kau."

"Dendam sakit hati apakah yang terjalin antara kita berdua? Mengapa kau mencelakai diriku hingga begini rupa?" teriak Bong Thian-gak sedih.

 

Sambil berkata, pelan-pelan perempuan itu melepas pakaian yang dikenakannya satu demi satu.

Tak terlukiskan rasa terkejut Bong Thian-gak setelah menyaksikan peristiwa ini, segera hardiknya, "Apa yang hendak kau lakukan?"

"Bugil, untuk membawakan tarian erotik agar api birahimu bangkit."

"Bunuhlah aku, kalian bunuh aku saja!" teriak Bong Thian-gak.

Sambil berteriak. Bong Thian-gak segera memejamkan mata.

Pada saat itulah berkumandang dua kali dengusan, untuk kedua kalinya Bong Thian-gak membuka matanya kembali.

Ternyata kedua gadis yang bugil tadi sudah tergeletak lemas di tanah, cairan darah masih nampak meleleh keluar dari ujung bibir mereka.

 

Sementara Pek Yan-ling sudah menggerakkan tubuhnya dengan cepat mencengkeram dua sosok mayat itu dan diletakkan di sudut ruangan, setelah itu dia mendekati Bong Thian-gak.

Sementara itu Bong Thian-gak merasakan timbulnya gulungan hawa panas di bawah perutnya, hal itu membuat peredaran darah dalam tubuhnya mengalir semakin cepat.

Kendatipun demikian, kesadaran otaknya masih tetap jernih, tiba-tiba ia bertanya, "Kau yang telah menghabisi nyawa mereka berdua?"

"Betul!" Pek Yan-ling mengangguk pelan. "Akulah yang telah membunuh mereka berdua."

"Apa yang hendak kau lakukan atas diriku?" tanya Bong Thian-gak lagi dengan kening berkerut.

Pek Yan-ling menghela napas sedih.

"Ai, aku ingin menyelamatkan jiwamu. Tindakanku sudah tentu di luar dugaanmu, bukan?"

"Kau hendak menyelamatkan jiwaku?"

 

Bong Thian-gak membelalakkan mata lebar-lebar mendengar perkataan itu.

Dengan sedih Pek Yan-ling berkata, "Di masa lalu, aku sudah banyak melakukan kesalahan dan kejahatan, dosaku telah berlapis-lapis, biarlah aku mati untuk menolongmu, saat ini kendati kematianku belum tentu dapat menebus semua dosa yang pernah kulakukan, namun setidak-tidaknya dengan menolong jiwamu hari ini, aku bisa mengurangi atau memperingan dosa yang pernah kuperbuat."

Saat itu kejernihan otak Bong Thian-gak sudah makin memudar, perasaannya makin kalut, matanya melotot dan kian memerah, tanyanya, "Dengan cara apa kau akan menyelamatkan jiwaku?"

 

Tiba-tiba Pek Yan-ling melepas semua pakaian yang dikenakan hingga telanjang bulat, kemudian katanya pelan, "Siau-hun-wan adalah sejenis obat perangsang yang aneh dan luar biasa, kecuali mengorbankan diriku, tiada cara lain untuk menyelamatkan jiwamu dari bahaya ancaman maut."

Gemetar keras sekujur badan Bong Thian-gak menyaksikan semua itu, kembali dia berteriak, "Kau tidak boleh berbuat begitu untuk menolong aku."

Tapi sayang sekali, pil Siau-hun-wan sudah mulai bekerja dalam tubuh pemuda itu.

 

Dalam waktu singkat kejernihan otak Bong Thian-gak sudah teihakar oleh nafsu birahi sehingga tak ampun lagi anak muda itu jadi kalap dan kehilangan akal budinya lagi.

Biarpun demikian ia tidak seperti lelaki lain, biarpun nafsu birahi indah mengusainya, ia belum melakukan sesuatu gerakan apa pun, hanya matanya melotot memandang tubuh Pek Yan-ling yang bugil tanpa berkedip.

 

Sedangkan Pek Yan-ling sendiri hanya ingin menyelamatkan jiwa Bong Thian-gak, tapi dia melupakan sesuatu, bagaimana pun juga dia adalah Subo Bong Thian-gak, istri gurunya.

Bagaimana mungkin Bong Thian-gak bisa melakukan hubungan dengan Subonya sendiri?

Bila takdir telah mengatur nasib manusia, siapa pula yang bisa menghindar.

Pek Yan-ling adalah seorang yang tidak bersih perbuatannya dan hari ini kembali dia lakukan kesalahan besar.

Dosa dan kesalahan yang dilakukan hari ini boleh dibilang tak terampuni lagi.

Tapi kobaran api birahi membuat orang melupakan segalanya. Bong Thian-gak telah melupakan siapa dirinya, dia hanya tahu bagaimana melampiaskan nafsu birahinya secepat mungkin. Ketika hujan badai telah berlalu.

Racun jahat Siau-hun-wan telah terhisap oleh tubuh Pek Yan-ling.

 

Sekujur tubuh Pek Yan-ling gemetar keras, paras mukanya segera hemhah pucat-pias, ternyata bagian bawah perutnya mulai terasa sakit seperti diiris pisau, sedemikian sakitnya membuat dia mulai merintih.

Setelah hujan badai lewat, semua sari racun yang mengeram dalam tubuh Bong Thian-gak telah tersapu lenyap, kobaran api birahi yang padam membuat akal budinya jernih kembali.

 

Dengan jernihnya pikiran, anggota badannya yang semula lemas tak bertenaga kini telah pulih seperti sedia kala.

Mendadak dia menperdengarkan jeritan kaget yang keras dan penuh nada seram.

Sebuah pukulan dahsyat langsung dilontarkan ke tubuh Pek Yan-Ling.

Akibat serangan itu, tubuh Pek Yan-ling yang telanjang segera menjelat ke udara dan terbanting ke tanah.

 

Pek Yan-ling yang dihantam pemuda itu menjadi terheran-heran, ia segera meronta bangun, dengan noda darah membasahi ujung bibirnya dan suara yang gemetar keras, bisiknya, "Aku ... aku telah menyelamatkan jiwamu, racun keji Siau-hun-wan telah tersalur ke dalam tubuhku, kau ... mengapa kau malah menghajar aku?"

Bong Thian-gak menutupi wajah dengan tangan tunggalnya, mendadak ia menangis tersedu-sedu, katanya, "Kau ... mengapa kau berbuat demikian? Tahukah kau, siapakah dirimu, kau ini apaku?"

 

Sekarang Pek Yan-ling baru teringat bahwa Bong Thian-gak adalah seorang lelaki jujur yang mengutamakan budi-pekerti dan tata-krama, dia pun mulai berpikir, "Ya benar, aku adalah Subonya. Biarpun aku berbuat demikian demi menyelamatkan jiwanya, tapi baginya justru merupakan suatu perbuatan terkutuk, baginya peristiwa ini sama saja berbuat berzina dengan Subonya sendiri ... aduh celaka, andaikata dia memandang serius peristiwa ini, sudah dapat dipastikan dia akan menghabisi nyawanya sendiri."

 

Berpikir demikian, sambil tertawa pedih Pek Yan-ling segera berkata, "Pada waktu itu, kejernihan akal budimu telah hilang. Apa pun yang telah kau lakukan tidak perlu kau pertanggung-jawabkan."

"Kau telah mencelakai aku. Aku ... aku tak punya muka untuk hidup terus," pekik Bong Thian-gak sedih.

Sambil berteriak, dia segera menyambar pakaiannya dan dikenakan dengan cepat.

 

Dalam pada itu paras muka Pek Yan-ling telah berubah pucat-pias seperti mayat, tubuhnya gemetar keras, sementara peluh bercucuran dengan deras. Seakan-akan menahan penderitaan yang luar biasa, akhirnya dia berkata, "Bong Thian-gak, kau harus hidup terus, kau harus melanjutkan hidupmu di dunia ini, racun jahat Siau-hun-wan telah tersalur ke dalam tubuhku, sekarang aku tak lebih hanya seorang yang sudah mendekati ajal, perbuatanku ini sama sekali tidak keliru, sebab hanya kau seorang di dunia ini yang bisa membunuh iblis perempuan Itu, kau harus mempertahankan hidupmu, kalau tidak, pengorbanan nyawaku ini benar-benar pengorbanan yang tak ada artinya."

 

Bong Thian-gak mengawasi wajah Pek Yan-ling dengan kesedihan yang luar biasa, gumamnya tanpa terasa, "Betul, kau berbuat demikian karena menolong jiwaku ... bila kau tidak berbuat demikian, aku pasti akan menjadi boneka Cong-kaucu, aku pasti akan melenyapkan gembong iblis perempuan itu dari muka bumi, kau bukan saja telah menolong aku dengan perbuatanmu tadi, kau pun telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa umat persilatan ... tapi dapatkah aku hidup lebih lanjut dalam keadaan seperti ini?"

"Kau dapat melupakan kejadian itu," Pek Yan-ling berkata dengan sedih. "Anggap saja peristiwa ini tidak pernah kau alami."

 

"Dapatkah aku melupakannya?" kata Bong Thian-gak amat pedih. "Sepuluh tahun lalu kau pernah melakukan hubungan gelap dengan  Sam suheng Siau Cu-beng, itu sebabnya kubunuh Sam-suheng, tapi hari Ini siapa pula yang akan membunuhku demi membalas aib bagi Suhu."

"Bong Thian-gak, kau sudah tahu aku bukan perempuan baik-baik. Sejak dulu Oh Ciong-hu sudah tidak memiliki istri macam diriku lagi" ucap Pek Yan-ling sedih. "Oleh karena itu aku bukan istri Oh Ciong-hu, juga bukan Subomu ... selain itu kau sudah sejak lama dikeluarkan. dari perguruan, kau pun sudah bukan muridnya lagi. Ini berarti di antara kita berdua sama sekali tiada hubungan sebagai ibu guru dan murid lagi, kita adalah sahabat biasa ... aku sama sekali bukan ibu guru seperti apa yang kau sebut, karenanya kau tidak pernah melanggar aturan, aku pun tidak pernah melakukan perbuatan yang menyalahi peiaturan perguruan."

 

Memang benar, sepuluh tahun lalu Bong Thian-gak diusir Oh Ciang hu dari perguruan, jadi Pek Yan-ling sudah bukan Subonya lagi.

Apalagi selama sepuluh tahun ini dia sendiri pun tak pernah menganggap perempuan itu sebagai Subonya, karena itu dia sudah kehilangan haknya untuk dihormati sebagai seorang Subo.

Kendati demikian, dalam hati Bong Thian-gak tersiksa pula oleh penderitaan yang luar biasa.

Dalam pada itu kulit badan Pek Yan-ling yang semula berwarna putih halus, lambat-laun telah beruban menjadi hitam kemerah-merahan, beberapa kali dia bahkan kejang-kejang dengan penuh penderitaan.

"Bong Thian-gakā€ kembali dia berkata sambil menahan derita. "Sekarang isi perutku terasa seperti disayat-sayat, seperti juga ada beribu ekor binatang yang menggerogoti badanku ... ooh sangat menderita ... tolong ... tolong hadiahkan sebuah pukulan kepadaku agar aku cepat mati!"

 

Rintihan demi rintihan bergema tiada hentinya dari bibir Pek Yan-ling, sambil memegang dada dengan sepasang tangannya, dia mulai bergulingan kian-kemari, keadaannya amat tersiksa dan mengenaskan, membuat siapa pun yang melihat jadi amat terharu.

Bong Thian-gak tak dapat membendung air matanya lagi, dengan penuh duka katanya, "Thian telah mengatur segala sesuatunya? Mengapa Thian selalu memaksa aku melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak kukehendaki?"

"Bong Thian-gak, ayolah cepat turun tangan," pinta Pek Yan-ling sambil mengangkat wajahnya yang menyeringai seram. "Dahulu aku telah banyak berbuat dosa kepadamu, sekarang biar kau cincang tubuhku hingga hancur berkeping-keping pun belum tentu bisa membalas luka yang pernah kuberikan kepadamu di masa lalu. Inilah hukum karma bagiku, aku memang pantas mati di bawah telapak tanganmu."

 

Bong Thian-gak memejamkan mata, lalu katanya, "Yang sudah lewat biarlah lewat, aku sama sekali tidak membencimu, bahkan aku amat berterima kasih kepadamu ... karena aku telah berhutang budi kepadamu."

Tatkala kata "kepadamu" diucapkan, telapak tangan kanan Bong Thian-gak diayunkan ke depan melancarkan bacokan.

Dimana angin pukulan berkelebat, tubuh Pek Yan-ling mencelat ke belakang untuk kemudian tidak berkutik lagi.

 

Air mata sekali lagi jatuh bercucuran membasahi wajah Bong Thian-gak, diambilnya kain seprei dari atas pembaringan, lalu dibungkuskan ke atas tubuh Pek Yan-ling yang telanjang dan pemuda itu pun berdiri termangu-mangu untuk beberapa saat lamanya.

Mendadak berkumandang suara langkah kaki manusia. Bong Thian-gak bagaikan baru sadar dari mimpi, dia segera menyelinap ke belakang pintu dengan cepat.

 

Dalam pada itu dari luar ruangan sudah terdengar seseorang berkata, "Cap-go-kaucu, Cong-kaucu memerintahkan kepadaku untuk mengantar dua pil Siau-hun-wan, dengan pesan dalam dua belas jam mendatang harus mencekokkan pil ketiga kepada Jian-ciat-suseng."

Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu segera membuka pintu secara tiba-tiba, tampak seorang berbaju kuning berjalan masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat.

 

Tatkala orang berbaju kuning itu menyaksikan Bong Thian-gak berdiri di hadapannya dalam keadaan segar-bugar, ia nampak amat terperanjat, mulutnya ternganga dan tak sempat berteriak, tahu-tahu cakar maut yang kuat seperti jepitan telah mencekik tenggorokannya.

"Krak", tulang leher orang berbaju kuning itu tahu-tahu patah, tak sempat mengeluarkan suara rintihan lagi, orang itu tewas seketika.

Selesai membunuh orang itu. Bong Thian-gak segera menyelinap keluar, dengan cepat sorot matanya dialihkan ke sekeliling tempat itu.

 

Apa yang kemudian terlihat membuat Bong Thian-gak merasa sangat terkejut, ternyata dia berada di sebuah ruangan besar dan kosong, lima puluh empat buah tiang penyangga berukir naga emas berjajar tiap sudut, atap ruangan indah dan megah, bangunan itu sangat mentereng.

Tempat dimana Bong Thian-gak berdiri sekarang merupakan panggung di ruangan tengah, permadani berwarna merah menghiasi lantai, boleh dibilang dimana-mana dihiasi barang antik yang tak ternilai harganya.

 

Pot bunga berlapiskan emas di sekeliling panggung, delapan belas buah hiolo perak bertebaran di bawah panggung, empat gentong emas, empat pasang kura-kura tembaga dan bangau tembaga turut menghiasi setiap sudut ruangan.

Selain itu di tengah ruangan terdapat pula sebuah meja panjang, di atas meja berjajar berbagai peralatan yang terbuat dari tembaga, kemala, dan bahan keramik, di samping intan permata dan mutu manikam yang tak ternilai harganya.

Pada hakikatnya bangunan itu ibarat sebuah gudang harta-karun.

 

Pada ujung tumpukan harta-karun yang tak ternilai itu terdapat sebuah kursi yang terbuat dari emas, cahaya kekuning-kuningan memercik ke empat penjuru membuat kursi tadi menyerupai singgasana seorang kaisar.

Mata Bong Thian-gak menjadi kabur menyaksikan semua itu, sesaat lamanya dia hanya bisa berdiri termangu-mangu seperti orang kehilangan ingatan.

Dia tidak mengetahui tempat apakah itu? Darimana datangnya harta-karun itu?

Tiada lentera di dalam ruangan itu, tapi bisa terlihat dengan jelas bahwasanya ruangan itu kosong melompong, tak nampak sesosok bayangan manusia pun, namun Bong Thian-gak cukup mengerti, di luar istana itu pasti terdapat pasukan penjaga yang amat ketat dan kuat.

Maka sambil menghimpun tenaga dalam untuk berjaga-jaga atas segala kemungkinan, dia berjalan menuju ke pintu gerbang.

Pintu dalam keadaan tertutup rapat, hal ini membuat Bong Thian-gak tertegun, segera pikirnya, "Kalau dilihat dari pintu gerbang yang tertutup rapat, berarti tiada penjaga yang meronda di luar gedung, tempat ini sungguh merupakan tempat rahasia yang menyeramkan."

 

Mendadak dari luar terdengar seorang menegur, "Komandan regukah di situ?"

"Benar!" dengan cepat Bong Thian-gak menyahut.

Suara gemuruh yang amat keras segera berkumandang, pintu gerbang terbuka lebar dan dua kepala menongol dari balik pintu.

Secepat sambaran kilat telapak tangan Bong Thian-gak membacok ke bawah.

Tiada jerit kesakitan, tiada suara lain, tahu-tahu kedua orang tadi menghembuskan napas penghabisan.

Dengan gerakan tubuh yang gesit, lincah dan ringan, Bong Thian-gak segera menerobos keluar lewat celah-celah pintu itu.

 

Di bawah cahaya rembulan, di bawah undak-undakan batu depan pintu gerbang nampak berjajar dua puluh pengawal berbaju kuning, mereka berdiri dengan memegang tombak panjang.

Kemunculan Bong Thian-gak yang secara tiba-tiba membuat mereka tidak sempat melihat dengan jelas siapa pendatang itu.

Dalam sekejap Bong Thian-gak telah sampai di hadapan pengawal pertama. Tanpa jeritan kaget, tanpa teriakan kesakitan, tahu-tahu orang itu sudah roboh binasa.

 

Di saat pengawal baju kuning yang pertama roboh terkapar tadi, tubuh Bong Thian-gak sudah berkelebat di hadapan delapan orang pengawal dan muncul di hadapan pengawal kesembilan.

Di saat para pengawal menyadari datangnya musuh yang menakutkan itu, Bong Thian-gak telah berhasil menghabisi nyawa delapan orang pengawal baju kuning dengan kecepatan dan serangan yang mengerikan.

Serangan yang begitu dahsyat dan cepat ini pada hakikatnya jarang dijumpai di kolong langit.

Tiga orang pengawal baju kuning lainnya yang masih tersisa dengan cepat menyadari datangnya ancaman bahaya, salah seorang di antara mereka segera menghardik, "Siapa di situ?"

 

Bong Thian-gak merampas tiga batang tombak dari korbannya yang tewas dan satu-per satu dilontarkan ke depan.

Tombak-tombak itupun menembus jantung tiga orang pengawal yang berada di kejauhan, tanpa penderitaan, tanpa teriak kesakitan, dua puluh empat orang pengawal berbaju kuning tahu-tahu sudah tertumpas habis di tangan Bong Thian-gak.

Kendati Bong Thian-gak telah melakukan pembunuhan dengan gerakan cepat, tindakan yang kejam dan tak membuat pengawal-pengawal itu mengeluarkan suara, namun penjagaan di seputar gedung itu sungguh kelewat ketat.

Dua puluh empat pengawal berbaju kuning yang berada di pintu gerbang sekarang tak lebih hanya sekelompok kekuatan lain yang berada <li sekeliling gedung itu.

 

Mendadak serentetan suitan keras yang tinggi dan melengking dibunyikan orang keras-keras.

Bong Thian-gak segera menyaksikan tiga orang pengawal baju kuning melompat turun dari atas tiga batang pohon Pek-yang dan menyongsong kedatangan Bong Thian-gak dengan pedang terhunus.

Bong Thian-gak sadar jejaknya sudah ketahuan, dia semakin tak ingin membuang waktu lagi, maka tubuhnya melejit ke muka dan menyambut datangnya para pengawal yang sedang menerjang datang itu

Begitu bayangan kedua belah pihak saling bertemu, terdengarlah suara benturan keras yang sangat nyaring.

 

Tidak banyak waktu yang terbuang, dalam waktu singkat tiga orang pengawal yang baru muncul itu sudah bergelimpangan di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

Lengan tunggal Bong Thian-gak kini sudah merampas ketiga batang pedang lawan.

Pada saat itulah dari sisi sebelah kiri ruangan berkumandang suara tertawa dingin yang menyeramkan.

"Hehehe, serangan yang sangat hebat dan ganas. Hm ... hm ... selama puluhan tahun terakhir belum pernah kujumpai seorang jagoan yang sedemikian tangguh!"

Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak segera mendongakkan kepala.

 

Di hadapannya kini sudah muncul delapan orang pengawal berbaju kuning yang mengiringi seorang kakek gemuk pendek, selangkah demi selangkah berjalan mendekatinya.

Dengan ketajaman mata Bong Thian-gak, ia sudah dapat melihat kakek gemuk pendek itu memiliki kepandaian silat yang hebat.

Tiba-tiba saja suara nyaring bergema di angkasa.

Ternyata kedelapan orang berbaju kuning sudah melolos cambuk panjang dari pinggangnya, lalu dengan gerakan cepat dan lincah mereka mengepung Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak cukup mengetahui bahwa ruyung lemas itu merupakan sejenis senjata yang sangat lihai.

 

Oleh karena itu Bong Thian-gak tidak membiarkan kedelapan orang pengawal berbaju kuning itu melancarkan serangan lebih dahulu, sambil tertawa dingin tubuhnya berputar seperti angin puyuh dan langsung menggulung ke sisi sebelah barat. Tatkala Bong Thian-gak berputar dengan kencang tadi, ketiga pedang yang digenggamnya secepat sambaran petir sudah menyambar ke depan.

Tahu-tahu dua pedang di antaranya sudah meluncur ke muka dengan kecepatan tinggi.

Dua kali jerit kesakitan yang memilukan segera bergema.

 

Empat orang pengawal baju kuning yang menerkam datang dari arah timur dan utara tahu-tahu sudah kehilangan batok kepalanya, tersambar oleh luncuran pedang itu.

Sebilah pedang berhasil membacok dua kepala, ilmu pedang terbang semacam ini benar-benar merupakan suatu kepandaian yang sangat mengejutkan.

Bong Thian-gak sendiri hanya menyambitkan kedua batang pedang dan menyisihkan sebatang baginya, pedang itu mengikuti gerakan tubuhnya berputar ke barat, segera melancarkan serangan pula, dimana cahaya pedang berkelebat, darah segar berhamburan kemana-mana dan isi perut berceceran.

Dua orang pengawal berbaju kuning kena terbabat pinggangnya hingga putus menjadi dua bagian.

 

Dalam waktu singkat dari delapan pengawal berbaju kuning itu sudah ada enam orang di antaranya yang tewas.

Demonstrasi kekejaman yang terjadi ini sungguh menggidikkan hati siapa pun, kontan saja dua pengawal berbaju kuning yang tersisa serta kakek gemuk pendek itu menghentikan langkah.

Sementara itu Bong Thian-gak yang dalam sekejap mata telah membunuh enam orang, kini maju selangkah demi selangkah menghampiri kakek gemuk pendek itu dengan pedang terhunus.

 

Sambil tertawa dingin ia berkata, "Ruyung panjang meski merupakan senjata untuk menandingi pedang atau golok, tapi bila bertemu dengan aku, kalian tetap merupakan rombongan yang bakal berangkat ke akhirat."

"Siapakah kau?" bentak kakek gemuk pendek itu dengan wajah Iei kejut dan ngeri.

"Ketua Hiat-kiam-bun, Jian-ciat-suseng!" sahut Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.

Sembari berkata, tiba-tiba saja pemuda itu melompat ke depan dan pedangnya langsung dibacokkan ke tubuh kakek gemuk pendek itu.

Serangan pedang itu dilancarkan dengan cepat, akan tetapi gerakan cambuk kakek gemuk pendek itu pun tidak kalah cepatnya.

 

Bong Thian-gak segera merasakan pergelangan tangannya menjadi kencang, urat nadi pada pergelangan tangannya sudah kena terbelenggu empat lingkaran oleh cambuk lawan, otomatis gerak serangan pedangnya pun mengenai tempat kosong.

Diiringi gelak tawa panjang penuh kebanggaan, kakek gemuk pendek itu segera berkata, "Cambuk sakti bayangan aneh sudah puluhan tahun lamanya termasyhur di kolong langit. Tak ada orang bisa lolos dari cengkeramanku bila ruyung telah berada dalam genggamanku. Hehehe, Jian-ciat-suseng, lengan tunggalmu ini agaknya akan kutung pula."

Sementara itu Bong Thian-gak merasa ruyung lemas yang membelenggu urat nadinya itu makin lama makin kencang, tulang dan kulitnya terasa sakit seperti remuk.

 

Bong Thian-gak sadar bila lawan sekali lagi menarik ruyung lemasnya, niscaya lengan tunggalnya itu bakal lenyap tak berbekas.

Sementara ingatan itu melintas dalam benaknya, tubuh Bong Thian-gak telah terbetot oleh cambuk lemas tadi sehingga terbanting ke atas tanah.

Namun ketika Bong Thian-gak bangkit kembali dari atas tanah, suara dengusan tertahan bergema di udara.

Perut kakek gemuk pendek itu tahu-tahu sudah tersambar oleh cahaya pedang sehingga mengucurkan darah segar.

Darah mengalir keluar bersama usus dan isi perut lainnya, meleleh dari balik mulut luka yang lebar dan memanjang itu.

Kulit muka si kakek gemuk pendek itu segera mengejang keras, katanya dengan suara dipaksakan, "Kau ... kau ... bagaimana caramu bisa meloloskan diri dari belenggu cambuk panjangku?"

 

Dengan wajah dingin Bong Thian-gak berdiri di hadapannya. Ketika mendengar pertanyaan itu, ia menjawab dingin, "Permainan ruyungmu memang terhitung cambuk kilat nomor wahid di kolong langit. Tiga puluh tahun berselang, dalam dunia rimba hijau pernah termasyhur seorang pencoleng yang mahir dalam permainan cambuk, konon dia bernama Ruyung sakti bayangan setan Si-bu, mungkin kaulah orangnya?"

 

Penderitaan yang tebal semakin menghiasi wajah kakek gemuk pendek itu, dia berkata dengan suara gemetar, "Nama besar Ruyung sakti bayangan setan pada saat ini sudah punah dan tak ada lagi. Jian-ciat-suseng, meski ... meskipun ilmu pedangmu tiada tandingannya di kolong langit, tapi jangan harap kau bisa menandingi kerubutan beratus-ratus pengawal perkumpulan Put-gwa-cin-kau, akhirnya kau ... kau pun akan mengalami nasib yang sama seperti aku, roboh ... roboh ke tanah dan tak akan bangun lagi."

Sampai di situ langkah kakek gemuk pendek itu sudah sempoyongan, akhirnya roboh terjungkal ke atas tanah dan tak pernah merangkak bangun kembali.

Pencoleng nomor wahid di rimba hijau itu, Si-bu, akhirnya harus mampus di ujung pedang Bong Thian-gak.

 

Setelah menyaksikan Si-bu tewas, pelan-pelan Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, tapi perasaannya segera terkesiap.

Ternyata pada saat itu seluruh lapangan yang luas di depan mangan utama telah dikelilingi lautan manusia yang mengepung tempat itu secara berlapis-lapis, begitu rapat pengepungan di sana, hal ini membuat seramnya suasana di bawah sinar rembulan.

 

Agak bergidik juga Bong Thian-gak menyaksikan keadaan itu, diam-diam pikirnya, "Bila aku harus membantai orang itu satu demi satu, biar mereka bisa kuhabiskan, akhirnya aku akan kehabisan tenaga dan mampus di tangan mereka ... hari ini lebih baik aku kabur saja dari sini atau melangsungkan pertarungan dan beradu kekuatan dengan pihak Put-gwa-cin-kau?"

"Ai, apalagi kawanan pengawal itu hanya diperintah Cong-kaucu untuk melakukan perbuatan itu, masa aku harus membantai mereka habis-habisan."

 

Berpikir demikian, tiba-tiba Bong Thian-gak berteriak, "Dengarkan saudara-saudara sekalian. Aku adalah ketua Hiat-kiam-bun saat ini, Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak. Pedang di tanganku sekarang memiliki kekuatan luar biasa, tiga puluh sosok mayat yang tergeletak di atas tanah merupakan bukti yang paling jelas.

"Selain Cong-kaucu kalian yang dapat menyambut beberapa jurus serangan pedangku, kalian boleh dibilang ibarat telur yang beradu dengan batu atau kunang-kunang yang menentang api, hanya mencari kematian bagi diri sendiri.

"Thian maha pengasih dan maha penyayang, aku tak ingin melakukan pembunuhan besar-besaran, karena itu kuanjurkan kepada kalian lebih baik menyingkirkan diri dari sini dan berilah jalan lewat kepadaku, aku tak nanti melukai seorang pun di antara kalian."

 

 

Ucapan itu diutarakan dengan suara lantang dan keras, di tengah kegelapan malam suara itu dapat tersiar sampai jauh.

Baru selesai dia berkata, mendadak dari kerumunan orang banyak terdengar seorang berseru sambil tertawa dingin, "Aku tak percaya kau seorang cacat bisa memiliki kepandaian dan kemampuan sedemikian hebatnya."

Dari kerumunan orang banyak sebelah utara segera terjadi kegaduhan, lalu nampak dua orang berjubah hitam diiringi delapan laki-laki yang menyoreng pedang berjalan menuju ke arahnya.

 

Tatkala mendengar nada suara orang itu, seketika itu juga timbul kobaran api dendam dalam dada Bong Thian-gak, dia segera berteriak, "Siau Cu-beng, kedatanganmu tepat sekali!"

Sepasang mata Bong Thian-gak telah memancarkan cahaya api yang menggidikkan, dia mengawasi orang berkerudung yang menyoreng sepasang pedang itu tanpa berkedip.

Sementara itu orang berambut panjang yang berada di sebelah kanan, yang berdandan bukan lelaki bukan perempuan itu tertawa seram seraya berkata, "Aku kira siapakah manusia cacat ini? Hm, ternyata Bong Thian-gak orangnya."

 

Bong Thian-gak dapat mengenali orang aneh kurus seperti mayat hidup ini adalah Liok-kaucu Put-gwa-cin-kau.

Ia tertawa dingin, lalu katanya sambil manggut-manggut, "Betul, Ko Hong adalah samaranku tiga tahun lalu. Kau sudah merupakan prajurit yang kalah perang di tanganku, hari ini kau lebih-lebih bukanlah tandinganku, hm, aku orang she Bong selalu bisa membedakan mana budi dan mana dendam, kau bukan termasuk orang yang akan kubunuh, asal kau tahu diri dan segera mengundurkan diri, aku bersedia pula mengampuni jiwamu."

Liok-kaucu tertawa seram.

"Tiga tahun berselang, sebuah pukulanmu telah membuat aku berbaring selama tiga bulan. Dendam sakit hati ini tak pernah kulupakan, sungguh tak gampang bertemu lagi dengan kau. Hm! Kau anggap aku akan melepaskan kesempatan yang sangat baik itu begitu

saja?"

"Liok-kaucu, panjang amat umurmu," jengek Bong Thian-gak dengan suara hambar.

 

Liok-kaucu tertawa terbahak, suaranya amat menyeramkan, telapak tangan raksasanya mendadak diayunkan ke depan, segulung angin pukulan yang amat dingin segera menyerang ke arah Bong Thian-gak.

Sejak tadi Bong Thian-gak sudah tahu ilmu pukulan lawan merupakan ilmu jahat dan beracun, karena itu secara diam-diam dia telah menyalurkan hawa murni Tat-mo-khi-khang menyelimuti seluruh jalan darahnya.

Dimana angin pukulan menyambar, Bong Thian-gak mendengus tertahan dan sepasang bahunya bergoncang keras.

 

Pada saat itulah Liok-kaucu tertawa sambil berteriak keras, "Jian-ciat-suseng, serahkan jiwa anjingmu!"

Dengan suatu gerakan yang amat cepat, dia mendesak ke muka dan melakukan gempuran.

Siau Cu-beng yang berada di sisinya segera menyadari hal itu merupakan siasat lawan, dia segera berteriak, "Hati-hati Liok-kaucu, dia tidak terluka."

Sayang sekali sebelum peringatan itu diutarakan, tubuh Liok-kaucu telah tiba di hadapan Bong Thian-gak, telapak tangannya dipentang lebar-lebar dan mencengkeram dari kiri dan kanan.

Tiba-tiba cahaya pedang berkelebat.

Menyusul kemudian jeritan keras seperti babi disembelih bergema.

 

Di tengah sambaran cahaya pedang, sepasang tangan Liok-kaucu terbabat kutung dan rontok ke tanah, menyusul di tengah semburan darah segar, pedang Bong Thian-gak menusuk dadanya hingga tembus. "Liok-kaucu, kali ini kau mati tanpa mengucapkan sepatah kata pun?"

Ucapan Bong Thian-gak itu diutarakan dengan nada hambar. Bersamaan itu pula pedangnya telah dicabut dari atas dada Liok-kaucu.

Darah segar segera menyembur lewat mulut lukanya, Liok-kaucu memang tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya membentang matanya lebar-lebar mengawasi Bong Thian-gak tanpa berkedip.

Akhirnya robohlah tubuh Liok-kaucu ke tanah dan tak pernah bangun lagi. Jiwanya turut melayang ke angkasa dan kembali ke akhirat.

 

Dalam satu gebrakan Bong Thian-gak berhasil membunuh Liok-kaucu, walaupun kemenangan yang dia raih berkat taktiknya yang jitu, akan tetapi bagaimana pun juga Liok-kaucu mempunyai kepandaian silat sangat tinggi, kenyataannya dia dibunuh orang secara gampang, peristiwa ini benar-benar menggetarkan perasaan setiap orang.

 

"Siau Cu-beng, mengapa tidak kau lepaskan kain kerudungmu itu?" sambil membawa pedangnya yang berlumuran darah dan sikap yang menyeramkan, Bong Thian-gak membentak keras.

Komandan kedua pasukan pengawal tanpa tanding segera tertawa dingin sambil sahutnya, "Betul, akulah Siau Cu-beng, tapi aku tidak pernah menyangka kaulah Bong Thian-gak."

Sementara itu dalam benak Bong Thian-gak melintas kembali berbagai kejadian tragis yang telah menimpanya malam ini ... darah bercampur dendam segera mendidih dalam tubuhnya.

"Siau Cu-beng, gara-gara perbuatanmu yang memalukan sepuluh tahun lalu, aku telah menjadi cacat, kaki kiriku pincang, lalu tiga tahun berselang kau pun memotong kutung sebelah lenganku, maka malam ini aku tak tahu bagaimana mesti membalas dendam berdarah ini."

Sambil berkata, pelan-pelan Bong Thian-gak mengangkat pedangnya dan bersiap melancarkan serangan.

 

Siau Cu-beng segera tertawa ringan, katanya, "Bong Thian-gak, aku hendak mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu, mengapa kau menghajarku sampai jatuh ke dalam jurang pada sepuluh tahun berselang? Hahaha, apakah hal ini dikarenakan kau menangkap basah hubungan gelapku dengan Pek Yan-ling, maka kau lantas hendak membersihkan aib perguruan?"

"Hm, tapi hari ini ... kau pun telah melakukan hubungan gelap dengan Pek Yan-ling, nah, giliranku sekarang untuk bertanya kepadamu, apakah aku pun harus membunuhmu untuk membalaskan dendam aib yang menimpa perguruan kita?"

Gemetar keras tubuh Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, pedang yang sudah disiapkan tanpa sadar terlepas dan jatuh ke tanah.

"Oh, Thian!" diam-diam Bong Thian-gak mengeluh dengan perasaan amat tersiksa. "Ternyata Siau Cu-beng telah menyaksikan peristiwa itu, sepuluh tahun lalu aku telah membunuhnya karena ia telah melakukan hubungan gelap dengan Pek Yan-ling."

Perasaan sedih dan menyesal membuat pikiran dan otaknya lerganggu.

 

Pada kesempatan yang sangat baik inilah mendadak Siau Cu-beng mengayun pedang dan tanpa menimbulkan sedikit suara pun dengan cepat menusuk dada Bong Thian-gak.

Semua peristiwa itu berlangsung dalam waktu yang amat singkat.

Cepat tangan kiri Bong Thian-gak diayun ke depan untuk menghantam mata pedang lawan.

Peristiwa yang sama sekali di luar dugaan segera berlangsung, ternyata Bong Thian-gak berhasil menggetar pedang itu hingga terpental dengan tangan kosong.

Seketika itu juga Siau Cu-beng serta ratusan orang pengawal lainnya tertegun dan berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar.

 

Setelah berhasil mementalkan pedang dengan tangan telanjang, liong Thian-gak sama sekali tidak melancarkan serangan balasan, dengan cepat dia menengok sekejap ke arah Siau Cu-beng, kemudian berkata dengan hambar, "Siau Cu-beng, persoalanku bisa kuselesaikan sendiri. Kini aku hanya ingin menanyakan satu persoalan kepadamu, Toa-suheng Ho Put-ciang, Ji-suheng Yu Heng-sui dan Sumoay Oh Cian-giok, apakah masih hidup?"

Siau Cu-beng seperti baru tersadar dari impian setelah mendengar itu, dia berseru tertahan, lalu balik bertanya dengan keheranan, "Dengan cara apakah kau telah menepuk pedangku hingga terpental?"

 

Bong Thian-gak tidak menjawab, sebaliknya malah membentak lagi dengan suara lantang, "Aku bertanya kepadamu, bagaimanakah nasib Ho Put-ciang sekalian?"

Tiba-tiba Siau Cu-beng tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, apakah Pek Yan-ling tidak memberitahukan padamu?"

Hati Bong Thian-gak bergetar keras, dia segera berpikir, "Bagaimana keadaan mereka? Mengapa dia bilang Pek Yan-ling tidak memberitahukan kepadaku? Apa yang semestinya hendak dikatakan Pek Yan-ling kepadaku?"

Sekali lagi Siau Cu-beng tertawa dingin, suaranya menyeramkan, "Kalau Pek Yan-ling tidak memberitahukan kepadamu, baiklah biar aku yang memberitahukan kepadamu!"

"Bagaimana keadaan mereka? Cepat katakan!" bentak Bong Thian-gak.

 

Siau Cu-beng sengaja berdehem, lalu dengan santai dia berkata, "Ho Put-ciang dan Yu Heng-sui telah mengakhiri hidupnya sendiri."

"Bunuh diri? Mengapa mereka bunuh diri?" tanya Bong Thian-gak dengan terkejut.

"Karena tidak punya muka untuk bertemu dengan orang. Hahaha, biar kuceritakan lebih terperinci kepadamu! Pek Yan-ling adalah Subo mereka, Ho Put-ciang serta Yu Heng-sui pernah pula mempunyai hubungan persahabatan dan hubungan ibu guru. Akhirnya peristiwa yang sangat memalukan ini diketahui oleh Oh Cian-giok, kedua orang itu pun kehilangan muka sehingga akhirnya bunuh diri."

 

Sekali lagi dada Bong Thian-gak serasa dipukul martil yang berat, nyaris jatuh tak sadarkan diri.

Mimpi pun dia tak menyangka Toa-suheng dan Ji-suhengnya telah tewas dalam keadaan begitu mengenaskan dan memedihkan hati.

Dia mengerti sekarang, semua ini bisa terjadi tak lain merupakan siasat membunuh yang paling keji dari perkumpulan Put-gwa-cin-kau. Mereka tidak membiarkan seorang Enghiong mati dalam keadaan gagah dan perkasa, melainkan membiarkan mereka mati dengan sukma tak tenang dan roh gentayangan.

Perbuatan semacam ini benar-benar merupakan suatu cara membunuh yang sangat kejam dan mengerikan.

 

Setelah tertawa ringan, dengan suara yang dingin menyeramkan, Siau Cu-beng berkata lagi, "Tindakan Ho Put-ciang dan Yu Heng-sui bunuh diri benar-benar Enghiong sejati, mereka adalah pendekar yang berani berbuat berani bertanggung-jawab sehingga bersedia menggorok leher sendiri untuk menebus dosa. Tapi sekarang, kau Bong Thian-gak sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mati, aku betul merasa kasihan untukmu!"

Tiba-tiba Bong Thian-gak mendongakkan kepala berpekik nyaring, "Siau Cu-beng, serahkan nyawamu!"

 

Bong Thian-gak memungut pedangnya dari atas tanah dan seperti seekor banteng yang terluka, dia membacok tubuh Siau Cu-beng secara ganas.

Siau Cu-beng tidak menyambut datangnya ancaman, sebaliknya delapan orang lelaki berbaju hitam yang berada di sisinya segera menggerakkan kedelapan pedangnya menciptakan selapis kabut pedang serentak mengurung Bong Thian-gak rapat-rapat.

Ilmu pedang yang dimiliki Bong Thian-gak pada hakikatnya sudah mencapai kesempurnaan, pedangnya seperti membacok kayu bakar saja, kawanan orang berbaju hitam itu dibabat satu demi satu.

 

Semua serangan yang dilancarkan olehnya terbatas tiga-empat bacokan belaka, namun kedelapan lelaki yang semula bergerak segesit naga dan seganas harimau itu sudah roboh terkapar di atas tanah, jangan kata melawan, jerit kesakitan pun tak sempat dikumandangkan.

Siau Cu-beng bergidik menyaksikan peristiwa itu, peluh dingin bercucuran dengan deras, dia cukup mengetahui betapa lihainya ilmu pedang yang dimiliki kedelapan lelaki itu, yang merupakan pengawal andalannya, bahkan kelihaian mereka mencapai tingkatan seorang tokoh persilatan.

Tetapi setelah berjumpa dengan Bong Thian-gak hari ini, keadaan mereka seakan-akan tidak memiliki setitik ilmu silat pun, dengan cara yang begitu mudah mereka terbunuh di tangan lawan.

 

Peristiwa ini benar-benar mengejutkan.

"Dengarkan saudara sekalian," Siau Cu-beng segera berteriak. "Bila kita biarkan orang ini lolos malam ini, aku tak akan membiarkan kalian hidup terus di dunia ini. Kepung dia sekuat tenaga, kalian boleh membacok dan mencincangnya sampai hancur berkeping-keping!"

Begitu bentakan itu lenyap, kawanan pengawal di tempat itu serentak berteriak dan membentak dengan suara gegap gempita, kemudian bersama-sama mengepung Bong Thian-gak.

Sementara itu Bong Thian-gak selesai membunuh kedelapan lelaki berbaju hitam dan menyaksikan Siau Cu-beng hendak mengundurkan diri, dengan suara lantang segera teriaknya, "Siau Cu-beng, jangan kabur!"

Tubuhnya melejit ke tengah udara dan menerjang ke muka, sebuah tusukan pedang langsung dilontarkan.

 

Ilmu pedang yang dimiliki Siau Cu-beng pun bukan kepandaian sembarangan. Sepasang pedangnya dipergunakan bersama, dengan suatu gerakan aneh dan cepat bagaikan sambaran kilat dia tangkis ancaman pedang Bong Thian-gak.

Kemudian tanyanya sambil tertawa dingin, "Tunggu saja sampai nanti, kita pasti akan berduel untuk menentukan menang kalah!"

Sementara itu serombongan orang telah menggulung datang bagaikan amukan ombak di tengah samudra. Tombak panjang, pedang, tongkat serta tujuh-delapan macam senjata lainnya menyerang tiba.

 

Bong Thian-gak meraung keras, pedangnya segera diputar, hawa pedang bagaikan selapis kabut menyelimuti angkasa, djmana hawa dingin berkelebat, jeritan ngeri segera memenuhi seluruh gelanggang.

Dalam waktu singkat puluhan orang telah tewas di ujung pedang Bong Thian-gak yang tajam.

Lambat-laun Bong Thian-gak menjadi tidak tega sendiri, dia segera membentak, "Yang hendak kubunuh sebenarnya bukan kalian, lebih baik kalian mundur saja dari sini, asal aku dapat membunuh Siau Cu-beng, memangnya dia masih dapat menghukum kalian?"

Sementara itu Siau Cu-beng telah mengundurkan diri dari gerombolan orang banyak, Bong Thian-gak melompat naik ke tengah udara, kemudian tubuhnya melayang jauh ke depan dan langsung menerkam Siau Cu-beng.

 

Tatkala melayang turun, ia telah berada di tengah kerumunan orang banyak, bacokan golok dan pedang serentak ditujukan ke tubuh Bong Thian-gak.

Pada hakikatnya Bong Thian-gak tidak mempunyai cukup waktu untuk melancarkan serangan ke arah Siau Cu-beng, dia sudah kena serangan lebih dahulu oleh kawanan pengawal yang berada di sekeliling tempat itu.

Berada dalam keadaan seperti ini, sekali lagi Bong Thian-gak menggerakkan pedangnya melakukan pembantaian besar-besaran.

Ia perkasa seperti Lu Poh, seperti Tio Cu-liong, dimana pedangnya menyambar, seakan tiada seorang pun yang dapat membendungnya.

Jeritan ngeri, teriakan kesakitan bergema tiada hentinya.

 

Bong Thian-gak seperti orang kalap, darah telah membasahi seluruh pakaiannya.

Dia sendiri tak tahu berapa banyak orang yang telah terbunuh, dia hanya tahu mengayunkan pedangnya melancarkan serangan.

Percikan darah menyembur kemana-mana, isi perut berhamburan d i mana-mana, teriakan keras, jeritan ngeri bergema saling susul.

Akhirnya ketika Bong Thian-gak mengayunkan pedangnya, tidak terdengar lagi jeritan kesakitan yang terdengar.

 

Hal itu bukan disebabkan Bong Thian-gak sudah tak memiliki kekuatan lagi untuk membunuh orang, melainkan separoh orang-orang di sekelilingnya telah mati terbunuh.

Tapi pedang Bong Thian-gak masih saja melancarkan bacokan.

Hal ini disebabkan pandangan matanya sudah menjadi kabur atau berkunang-kunang, ia seperti tidak tahu bahwa di situ sudah tak lerdapat seorang hidup pun.

Bong Thian-gak melancarkan puluhan bacokan lagi secara beruntun sebelum sadar.

Napasnya tersengal, pedangnya terkulai ke bawah, dipandangnya sekejap sekeliling tempat itu, darah yang berceceran di atas tanah telah menganak sungai, mayat bergelimpangan dimana-mana, mayat-mayat itu mencapai ratusan sosok banyaknya.

 

Untuk beberapa saat Bong Thian-gak menjadi tertegun, segera pikirnya, "Mana orang-orang yang lain? Kemana mereka telah menyembunyikan diri?"

Rupanya ketika Bong Thian-gak tengah melakukan pembantaian, sebagian besar kawanan pengawal berbaju kuning telah mengundurkan diri secara diam-diam ke empat penjuru.

Mendadak Bong Thian-gak seperti teringat akan sesuatu, dia segera berseru tertahan, "Ah, rupanya mereka telah mengubah taktik!"

 

Mendadak di tengah kegelapan malam terdengar suara anak panah berhamburan datang dengan hebatnya.

"Aduh celaka!" pikir Bong Thian-gak. "Aku tak boleh berdiri termangu-mangu saja di sini."

Mendadak dia mengerahkan tenaga dalam Tat-mo-khi-kang, pedangnya dengan cepat memainkan selapis kabut pedang, tubuhnya secepat kilat berlari menuju ke arah utara.

Lapangan di situ cukup luas, di sana sini penuh ditumbuhi pepohonan Siong-pak dan bambu sehingga suasana gelap gulita.

 

Untuk menembus hutan semacam itu, bagi Bong Thian-gak pada hakikatnya lebih sukar daripada naik ke langit.

Kawanan pengawal Put-gwa-cin-kau telah mengundurkan diri ke dalam pos penjagaan di dalam hutan, dari jarak yang tak begitu jauh mereka dapat melancarkan serangan dengan mempergunakan anak panah atau senjata rahasia, sebaliknya bila musuh mendekat, mereka pun bisa melancarkan sergapan dengan mempergunakan pedang, golok atau tombak.

Oleh karena itulah baru saja Bong Thian-gak masuk ke dalam hutan, hujan panah sudah menyergap dari belakang, sementara dari kiri dan kanannya menerjang empat batang tombak.

 

Selama tiga tahun melatih diri di bawah air terjun dahulu, Bong Thian-gak telah berhasil pula melatih ilmu membedakan arah angin serta ilmu tenaga dalam yang menitik-beratkan pada mengatasi gerak di tengah ketenangan, merebut ketenangan di tengah gerak.

Keempat tombak itu dengan cepat dirontokkan oleh sambaran pedangnya, sedangkan hujan panah yang menyerang datang dari belakang punggungnya, melesat ke depan melewati atas punggungnya hanya dengan cara dia membungkukkan badan.

Menyusul terdengar dua kali jeritan ngeri, sekali lagi pedang Bong Thian-gak menunjukkan kehebatannya, dua orang pengawal berbaju kuning yang menyembunyikan diri di belakang pohon kena ditebas kepalanya hingga tewas seketika.

 

Bong Thian-gak meneruskan perjalanannya menembus hutan itu, jeritan demi jeritan pun bergema saling susul.

Berpuluh bambu ada kalanya ikut terpapas kutung oleh bacokan pedang Bong Thian-gak sehingga roboh ke atas tanah.

Pertempuran berdarah ini betul-betul merupakan pertarungan yang jarang terjadi dalam Bu-lim.

Lewat setengah jam kemudian Bong Thian-gak telah keluar dari balik hutan yang gelap.

 

Di bawah cahaya rembulan yang terang benderang, pembunuh yang masih muda ini telah berubah menjadi manusia darah, rambutnya kusut dan pakaiannya robek, pedangnya yang berlumuran darah masih meneteskan titik-titik darah ke atas tanah.

Berapa banyak orangkah yang telah terbunuh di tangan Bong Thian-gak dalam hutan itu?

Walaupun pertempuran telah berhenti, sorot mata Bong Thian-gak masih tetap memancarkan hawa membunuh yang amat menggidikkan.

 

Ternyata dia tahu, pentolan penyamun pembawa bibit bencana dan segala musibah baginya selama ini adalah Siau Cu-beng yang belum menemui ajalnya di ujung pedangnya.

Bong Thian-gak sendiri pun merasa heran, sudah jelas tempat ini merupakan sarang Put-gwa-cin-kau, walau pertarungan berlangsung lama, kawanan jago lihai dari Put-gwa-cin-kau yang menampakkan diri tak lebih hanya Siau Cu-beng dan Liok-kaucu.

Kemana perginya Cong-kaucu serta Ji-kaucu dan Sim Tiong-kiu sekalian? Apakah mereka semua tidak berada di sini?

 

Walaupun demikian, Bong Thian-gak pun diam-diam bersyukur, harus dia akui bila seorang saja di antara ketiga orang itu menampakkan diri, niscaya dia akan terancam bahaya maut pada malam ini.

Teringat akan hal itu, Bong Thian-gak segera berubah pikiran, dia tidak ingin meninggalkan tempat itu secepatnya, dia masih harus melanjutkan pertarungannya.

Kepalanya segera didongakkan.

Bangunan loteng yang berlapis-lapis, gedung yang megah, berdiri kekar di bawah cahaya rembulan.

 

Namun anehnya, semua gedung dan bangunan loteng itu berada dalam keadaan gelap, tiada cahaya lentera, tiada bayangan manusia yang nampak.

Sekeliling tempat itu berubah begitu hening, menyeramkan dan menggidikkan.

Hawa napsu membunuh Bong Thian-gak semakin berkobar, namun empat penjuru tidak nampak seorang pun, bagaimana mungkin dia dapat melanjutkan pembantaiannya.

"Siau Cu-beng, mengapa kau tidak menampakkan diri? Kau sudah ketakutan? Siau Cu-beng, ayo cepat menampakkan diri untuk menerima kematian!" Bong Thian-gak berteriak, sudah barang tentu Siau Cu-beng dapat mendengar suara teriakan itu dengan jelas.

Akan tetapi keperkasaan Bong Thian-gak sudah menggetarkan hatinya, dia sadar pasti dirinya bukan tandingan lawan.

 

Markas besar Put-gwa-cin-kau yang menyeramkan dengan penjagaan yang begitu ketat, dalam waktu singkat berubah menjadi kuburan yang sepi, suasana amat menyeramkan, bagaikan kota mati ditinggal penghuninya.

Untuk beberapa saat Bong Thian-gak hanya berdiri kaku di tempat, dia tak tahu apa yang mesti dilakukannya sekarang?

Mendadak suara jeritan perempuan yang melolong seperti jeritan kuntilanak terdengar bergema dari loteng di depan sana.

Jeritan itu seperti suara jeritan seseorang yang merasakan penderitaan batin yang luar biasa.

 

Bong Thian-gak berkerut kening, tubuhnya secepat kilat bergerak menuju ke arah bangunan loteng itu.

Sementara itu teriakan dan lengkingan perempuan itu sekali lagi bergema di angkasa.

Suaranya begitu mengerikan, membuat bulu kuduk orang berdiri dan darah serasa mendidih.

Setelah itu terdengar pula seorang dengan suara terputus-putus berteriak, "Lebih baik kalian bunuh aku, kumohon ... kumohon kepada kalian ... janganlah menyiksa aku dengan cara begini."

 

Setelah itu kembali bergema teriakan seperti suara lolongan serigala di tengah malam buta.

Bong Thian-gak sudah terpancing tiba di bawah loteng itu, tibaĀ­tiba satu ingatan terlintas di benaknya, tanpa sadar pikirnya, "Jangan-jangan mereka sengaja memasang sebuah perangkap di tempat ini."

Karena ingatan itu, dia segera membatalkan niatnya untuk melompat naik ke atas loteng itu.

Tapi ingatan lain terlintas dalam benaknya, "Betul, jelas perangkap jahat untuk memancingku masuk jebakan ... tapi perempuan itupun sudah jelas seorang korban mereka ... padahal tempat ini sangat berbahaya, aku wajib menyelamatkan jiwanya."

Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak segera melompat naik ke atas loteng itu, menghantam daun jendelanya sehingga terpentang lebar.

 

Di balik daun jendela merupakan sebuah ruangan yang sangat lebar, terlihat seorang perempuan dalam keadaan bugil terikat kencang pada tonggak kayu di tengah ruangan.

Sedangkan di lantai terlihat ada beberapa ekor ular beracun sedang meliuk-liuk sambil menjulurkan lidahnya yang berwarna merah, dua di antaranya merayap mendekati nona bugil itu.

Perasaan kaget, ngeri dan ketakutan menyelimuti wajah gadis bugil tadi, membuatnya sekali lagi menjerit.

Tatkala perempuan bugil itu melihat Bong Thian-gak muncul di situ, sorot matanya memancarkan sinar permohonan.

"Bedebah!" umpat Bong Thian-gak amat gusar.

Tanpa memikirkan bagaimana akibatnya, pemuda itu segera melejit ke tengah udara dan langsung meluncur ke arah tonggak kayu dimana perempuan bugil itu terikat.

 

Pedangnya segera digetarkan, dan "Crit", persis menusuk di atas tonggak kayu itu.

Dengan tangan kiri menggenggam pedang, Bong Thian-gak menggantungkan diri di atas pedangnya, sementara ujung baju kanannya dikebaskan ke muka.

Akibat babatan ujung bajunya itu, dua ekor ular yang sedang merambat mendekati tonggak kayu itu segera terhajar hingga terputus menjadi beberapa bagian.

Pada saat itulah perempuan bugil yang terikat di atas tonggak kayu beraksi, tubuhnya bagaikan ular menggeliat, lalu ... "Plak", Bong Thian-gak terhajar telak oleh serangannya.

 

Mimpi pun Bong Thian-gak tak bisa membayangkan dengan cara apakah perempuan bugil itu melepaskan diri dari belenggu tali itu.

Dia pun tidak tahu genggaman perempuan bugil itu mencekal seekor ular kecil yang berwarna hijau kehitam-hitaman.

Tahu-tahu Bong Thian-gak merasa punggungnya sakit sekali, dia tidak menyadari bahwa jiwanya sekarang sudah berada di tepi kematian.

 

Kaki kanan Bong Thian-gak masih mengait di atas tonggak kayu, kemudian ia membopong perempuan bugil tadi dan membaringkannya di atas lantai.

Ia membaringkan perempuan itu di atas lantai yang bebas dari ancaman ular, kemudian telapak tangan kanannya dikebaskan, gulungan angin pukulan segera menyambar, ular-ular beracun yang berada di lantai pun seekor demi seekor tersambar hingga mati semua.

Sementara itu suara tawa cekikikan yang amat jalang dan cabul mulai berkumandang dari mulut perempuan bugil itu.

Sambil mengerut dahi Bong Thian-gak segera berpaling.

 

Entah sejak kapan perempuan bugil itu sudah mengenakan selembar kutang untuk menutupi payudaranya yang montok, di bawah perutnya juga sudah dilingkari gaun pendek untuk menutupi bagian rahasianya, raut wajahnya yang semula menderita dan ketakutan kini sudah kembali seperti keadaan pada umumnya.

Terutama sekali seekor ular kecil berwarna hijau kehitam-hitaman yang tergenggam pada tangan kanannya membuat Bong Thian-gak seperti terbangun dari impian, ia segera sadar dirinya sudah tertipu.

"Si... siapakah kau?" tegurnya kemudian.

 

Dengan suara yang amat tenang perempuan bugil itu menjawab, "Su-kaucu Put-gwa-cin-kau, Hek-coa-li-liong (gadis cantik ular hitam)!"

Tak terlukiskan rasa terkejut Bong Thian-gak setelah mendengar pengakuan itu, dia lantas teringat rasa sakit yang pernah dialaminya pada saat menolong perempuan itu tadi.

Paras mukanya segera berubah hebat, hardiknya penuh gusar, "Kurangajar! Cari mampus rupanya kau?"

Telapak tangan kirinya segera diayunkan ke muka melancarkan sebuah bacokan maut.

Hek-coa-li-liong sama sekali tidak berkelit, telapak tangan Bong Thian-gak persis menghantam di atas perut perempuan itu.

 

Dengan tenaga dalam yang dimiliki Bong Thian-gak, serangannya itu cukup baginya untuk menghancurkan batu gunung, tapi Hek-coa-li-liong malah tertawa terkekeh-kekeh seperti orang gila.

"Apa kau mampu membunuhku? Setiap orang yang terpagut ular kecil berwarna hijau kehitam-hitamanku ini, dalam setengah menit racunnya akan mulai bekerja dan seluruh kekuatan yang dimiliki akan punah, kau tak akan memiliki kekuatan untuk membunuh orang lain."

 

Betul, saat ini Bong Thian-gak memang merasa kekuatannya punah, bagaikan seseorang yang ilmu silatnya dipunahkan orang lain.

Dalam ingatan Bong Thian-gak, Su-kaucu Put-gwa-cin-kau ini, Hek-coa-li-liong, adalah seorang yang teramat asing baginya. Itulah sebabnya ia terluka oleh serangannya, Bong Thian-gak menghela napas panjang, kemudian katanya, "Sungguh tak kusangka, aku Bong Thian-gak telah melakukan kesalahan besar gara-gara terdorong oleh perasaan, ai, sekarang aku sudah terjatuh ke tanganmu, mau bunuh, cincang, terserah kehendakmu!"

 

Dalam pada itu Hek-coa-li-liong telah selesai membereskan rambutnya yang kusut, sekarang dapat dilihat dengan jelas bagaimana kulit tubuhnya begitu putih bersih, mukanya bulat telur dan berparas cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, usianya di antara dua puluh empat tahun.

Sambil tertawa cekikikan Hek-coa-li-liong berkata kembali, "Kau mempunyai perasaan kasihan? Hm! Dua ratus orang anggota Put-gwa-cin-kau telah kau bantai secara kejam. Kaulah manusia dalam persilatan saat ini yang membunuh orang paling banyak. Gembong iblis pembunuh manusia macam dirimu, mana mungkin mempunyai perasaan kasihan? Huh, kau tak usah membual lagi di hadapanku."

 

Disemprot dengan kata-kata yang begitu pedas, tanpa terasa Bong Thian-gak menundukkan kepala, ucapnya kemudian, "Kalau ingin turun tangan, ayolah lakukan secepatnya!"

Hek-coa-li-liong tersenyum.

"Membunuhmu? Tidak akan kulakukan semudah itu."

"Kalau tidak, perbuatan apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku?" tegur Bong Thian-gak mulai naik pitam.

"Sekarang kau telah kehilangan ilmu silatmu, bagaimana pun juga kau tidak bakal bisa kabur dari sini, oleh sebab itu aku hendak mencari akal lain untuk menghadapi dirimu."

Sepanjang pembicaraan, secara diam-diam Bong Thian-gak telah mencoba mengerahkan hawa murninya, tapi urat nadi serta jalan darahnya seakan-akan tersumbat oleh suatu kekuatan besar sehingga tak setitik tenaga pun yang mampu disalurkan.

 

Dengan menghela napas sedih pelan-pelan Bong Thian-gak bertanya, "Apa nama ular itu? Sungguh tak nyana begitu hebat."

Hek-coa-li-liong tertawa bangga, sahutnya, "Ular ini bukan ular sungguhan, yang benar adalah sejenis senjata tajam."

Bong Thian-gak mengalihkan sorot matanya ke ular kecil warna hijau kehitaman yang berada di tangan kanannya.

Ternyata memang sama sekali tak bergerak, kenyataan memang bukan ular sungguhan, melainkan senjata yang berbentuk ular.

Bong Thian-gak berseru tertahan, kemudian tanyanya, "Apa nama senjata itu?"

"Hek-Jik-leng-coa (ular sakti hijau kehitam-hitaman)."

"Apakah kau telah menyembunyikan racun keji di balik lidah ular itu?" tanya Bong Thian-gak lagi sambil menghela napas.

"Betul, punggungmu tertusuk oleh lidah ular itu, bukan oleh pagutannya."

"Apakah kau sudah mendapatkan cara terbaik untuk menghukum diriku?"

"Belum!" kembali Hek-coa-li-liong menggeleng kepala.

"Walau aku sudah menjadi manusia tak berilmu silat, tetapi aku tak dapat berdiam kelewat lama di sini menunggu hukuman."

"Meski ilmu silatmu telah punah, namun kau masih dapat menyelamatkan nyawamu selama tinggal di tempat ini. Andaikata kau meninggalkan loteng ini, niscaya Siau Cu-beng akan membunuhmu."

 

 

Bong Thian-gak tertegun mendengar kata-katanya itu, "Apakah selama aku tetap mengendon di tempat ini, kau dan Siau Cu-beng tak akan merenggut nyawaku?"

Hek-coa-li-liong tertawa dingin, "Selamanya Siau Cu-beng tak akan berani mencampuri urusanku, yang paling menakutkan apabila aku hendak merenggut jiwamu."

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, mati bukan sesuatu yang menakutkan, aku hanya merasa bahwa kematianku terlalu tak berharga."

"Mengapa tak berharga?" tanya Hek-coa-li-liong.

"Orang-orang Put-gwa-cin-kau kejam dan tidak berperasaan. Tatkala mendengar jeritanmu tadi, aku mengira orang Put-gwa-cin-kau sedang menyiksa orang dengan sangat keji. Itulah sebabnya aku terburu-buru datang kemari. Ai, sungguh tak kusangka kau pun termasuk satu di antara gembong Put-gwa-cin-kau."

 

Hek-coa-li-liong tertawa dingin, tiba-tiba bentaknya, "Siau Cu-beng, jika kau berani melangkah masuk ke dalam lotengku ini, segera akan kusuruh kau mati tergigit ular beracun."

Ketika mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak segera berpaling dan menengok sekejap keluar jendela, tampak olehnya suasana di bawah loteng terang-benderang bermandikan cahaya. Siau Cu-beng beserta sekelompok pengawal berbaju kuning telah mengepung loteng itu.

Siau Cu-beng masih mengenakan kain berkerudung, tampak dia mendongakkan kepala dan berkata lantang, "Sebelum memperoleh izin dari Su-kaucu, tentu saja Cu-beng tidak berani bertindak sembarangan memasuki kamar tidurmu."

 

Ketika itu tenaga dalam Bong Thian-gak telah punah, dia sangat kecewa dan putus asa, maka sambil berdiri di sisi arena ia memutar otak mencari akal, pikirnya, "Biar waktu tertunda, coba kulihat apakah tenaga dalamku masih ada kemungkinan pulih atau tidak?"

Sementara itu Hek-coa-li-liong telah mendengus dingin sambil berkata, "Kalau memang begitu, mengapa kau bawa orang-orangmu mengepung loteng ini?"

Siau Cu-beng tertawa ringan.

"Aku kuatir Su-kaucu tidak bisa menaklukkan Jian-ciat-suseng."

"Hm, sekalipun tak mampu melakukannya, aku juga tak akan memberi kesempatan kepadamu untuk menaklukkan orang itu," jengek Hek-coa-li-liong dengan ketus.

"Su-kaucu," mendadak Siau Cu-beng berkata dengan suara dalam, "Malam ini, aku orang she Siau bersedia memberi kesempatan kepadamu untuk menebus dosa-dosamu yang lalu, kuharap kesempatan yang sangat bagus ini jangan kau sia-siakan begitu saja."

"Apa yang mesti kulakukan?" tanya Hek-coa-li-liong sambil tertawa dingin.

"Jika Su-kaucu berhasil menaklukkannya, harap kau serahkan orang itu kepadaku untuk dijatuhi hukuman."

 

Sekali lagi Hek-coa-li-liong tertawa dingin.

"Satu kali tergigit ular berbisa, sepuluh tahun takut tali tambang. Aku tak bakal menyerahkan jasa besar ini kepadamu begitu saja."

"Su-kaucu!" kembali Siau Cu-beng berkata dengan suara dingin, "Bila kau melakukan kesalahan lagi, perkumpulan akan menggunakan peraturan yang paling ketat dan berat untuk menghukum serta menyiksa dirimu."

"Kau tak usah kuatir," Hek-coa-li-liong tertawa menjengek. "Aku masih mampu mengawasinya hingga Cong-kaucu pulang."

"Kalau begitu Su-kaucu tidak bersedia menyerahkan orang itu kepadaku?"

"Kau licik dan munafik, yang kau pikirkan hanya kepentingan sendiri, aku sudah cukup banyak menerima pelajaran pahit darimu."

"Apakah Su-kaucu tak kuatir aku bakal menurunkan perintah menyerang lotengmu," kata Siau Cu-beng lagi sambil tertawa dingin dengan suara menyeramkan.

"Di dalam loteng ini terpelihara beribu-ribu ular beracun, bila kau memang tidak kuatir dipagut ularku, silakan saja untuk mencoba."

"Ular paling takut dengan api," jengek Siau Cu-beng sambil tertawa dingin. "Aku masih bisa melepaskan api membakar loteng ini."

 

Hati Hek-coa-li-liong bergetar keras, ujarnya kemudian, "Ular-ular beracun peliharaanku telah mendapat latihan khusus. Asal kubunyikan serulingku, maka beribu-ribu ular beracun itu akan menyerbu keluar. Aku tak percaya kau masih mampu mempertahankan hidup."

"Su-kaucu," teriak Siau Cu-beng semakin marah, "tindakanmu sungguh mengkhianati peraturan yang telah ditetapkan perkumpulan."

"Yang telah melanggar peraturan bukanlah aku, melainkan kau sendiri," jengek Hek-coa-li-liong sambil tertawa dingin. "Sewaktu aku ditahan di dalam loteng ini, siapa pun tidak dibiarkan mengusik atau mengganggu ketenanganku. Apakah komandan Siau telah lupa?"

"Tapi kenyataan sekarang Su-kaucu berniat melindungi buronan penting, aku mempunyai hak penuh untuk menjatuhkan hukuman yang setimpal kepadamu."

 

Hek-coa-li-liong tertawa dingin, "Siau Cu-beng, kau tidak usah banyak cerita lagi. Dendam sakit hati di antara kita sudah seperti air dan api, tidak mungkin bagi kita untuk hidup bersama, apa pun yang hendak kau lakukan terhadap diriku, boleh kau laksanakan sekarang juga!"

Siau Cu-beng mendengus dingin.

"Hm, kau tidak bersedia bekerja sama denganku. Berarti kau sendiri yang mencari jalan kematian."

 

Sepanjang pembicaraan, Bong Thian-gak hanya mendengarkan dengan hati dingin dan perasaan tenang. Ketika pembicaraan telah usai, dia baru menghela napas seraya berkata, "Siau Cu-beng adalah seorang licik yang berhati keji serta buas. Kekejaman dan kebrutalannya boleh dibilang sudah mencapai titik puncak yang paling tinggi, bisa jadi kau akan musnah di tangannya."

Hek-coa-li-liong memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya dingin, "Apakah kau berniat mempengaruhi aku agar berkhianat?"

"Ai, mungkin dengan begitu keselamatan jiwa kita berdua baru bisa dipertahankan," jawab

Bong Thian-gak sambil menghela napas. Hek-coa-li-liong tertawa dingin.

"Terus terang saja kuberitahu suatu hal kepadamu, sejak aku disekap dalam loteng ini, menelan semacam obat racun yang berdaya kerja lambat, suatu ketika jika aku berani melarikan diri dari tempat ini dan dalam satu bulan tidak menelan obat penawar racunnya, maka daya kerja racun itu akan mulai beraksi, akhirnya aku bakal mampus dengan darah keluar dari ketujuh lubang indra. Itulah sebabnya aku tak berani berkhianat ataupun melarikan diri."

 

 

Bong Thian-gak terkejut mendengar keterangan itu, sekarang ia tahu cara bagaimana Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau mengendalikan jago-jago lihainya dan bagaimana pula cara menguasai kawanan Enghiong.

Tapi justru dari perkataan itu Bong Thian-gak pun mendapat tahu bahwa dari dasar hati gadis itu sesungguhnya sudah mempunyai niat untuk berkhianat terhadap Put-gwa-cin-kau.

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bong Thian-gak, tanyanya kemudian, "Su-kaucu, apakah kau tahu obat racun macam apakah yang telah kau makan?"

"Tidak!" Hek-coa-li-liong menggeleng kepala berulang-kali. "Masih berapa lama lagi Su-kaucu mesti menelan obat penawar berikutnya?" kembali pemuda itu bertanya.

"Empat hari. Selewat empat hari, bila obat penawar racun belum juga diserahkan kepadaku, akibatnya aku akan tewas dengan keadaan mengenaskan."

"Ai, dalam tiga tahun belakangan ini, boleh dibilang setiap waktu aku selalu kuatir bila mereka tak menyerahkan obat penawar racun kepadaku, menghadapi ancaman maut itu sungguh penderitaan batin yang betul-betul amat berat."

 

Menyusul gadis itu bergumam, hanya saja Bong Thian-gak tidak menangkap jelas, karena saat itu dia sedang memperhitungkan suatu masalah penting.

Tiba-tiba terdengar Bong Thian-gak bergumam, "Ai, masih ada waktu. Dalam empat hari sudah pasti akan tiba di kota Lok-yang."

"Apakah yang kau pikirkan?" tanya Hek-coa-li-liong sambil melirik sekejap ke arahnya.

Dengan wajah berseri Bong Thian-gak berkata, "Bila Su-kaucu bertekad hendak meninggalkan cengkeraman maut Put-gwa-cin-kau. Aku pun bersedia mengusahakan pengobatan racun yang mengeram dalam tubuhmu."

"Aku tidak percaya kau memiliki kemampuan semacam itu," kata Hek-coa-li-liong itu.

 

"Di dunia persilatan dewasa ini, terdapat seorang tabib sakti dan kenamaan yang mampu menawarkan racun yang mengeram dalam tubuhmu sekarang."

"Obat racun yang bersifat lambat yang kutelan adalah bikinan si tabib sakti Gi Jian-cau, kecuali Gi Jian-cau sendiri, aku rasa tiada orang lain di kolong langit dewasa ini yang mampu menawarkan racun jahat itu."

Bong Thian-gak semakin girang.

"Justru orang yang kumaksud tadi tak lain adalah Gi Jian-cau, aku memang berniat mengajakmu mencarinya."

"Kau tidak usah ngaco-belo tak keruan," Hek-coa-li-liong berkata dingin. "Obat-obatan yang berada dalam kekuasaan Cong-kaucu boleh dibilang semuanya berasal dari Gi Jian-cau, mana mungkin dia mau mengobati orang yang telah menelan racun bikinannya sendiri."

 

Bong Thian-gak segera tersenyum.

"Memang, apa yang kau ucapkan betul sekali, tapi aku pun berani menjamin Gi Jian-cau pasti akan bersedia mengobati racun jahat yang mengeram di dalam tubuhmu."

"Apa hubunganmu dengan Gi Jian-cau?" tanya Hek-coa-li-liong.

"Dia adalah salah satu pelindung perguruan kami."

"Lantas siapakah kau?"

"Aku adalah ketua Hiat-kiam-bun ... Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."

 

Agaknya Hek-coa-li-liong menaruh pandangan yang teramat asing terhadap segala perubahan dan tokoh dalam Bu-lim.

Sambil tertawa ia menggeleng kepala, kemudian ujarnya, "Aku sudah disekap hampir tiga tahun lamanya di loteng ini. Karenanya aku sama sekali tidak jelas tentang segala masalah dan kejadian yang berlangsung di Bu-lim selama ini, walaupun begitu aku cukup mengenal nama Hiat-kiam-bun."

 

Kemudian sambil menarik muka, ia berkata lebih lanjut dengan suara dingin, "Andai kata Hiat-kiam-bun benar-benar sudah muncul, maka ketua terpilihnya selain Ko Hong dan Keng-tim Suthay, mengapa bisa terjatuh ke tangan Jian-ciat-suseng?"

Diam-diam Bong Thian-gak merasa girang mendengar ucapan itu, cepat ia bertanya, "Su-kaucu, darimana kau bisa tahu nama Ko Hong dan keng-tim Suthay?"

 

Hek-coa-li-liong memandang sekejap ke arahnya, lalu jawabnya, 'Tentang orang yang bernama Ko Hong, aku memang tidak kenal, tapi aku kenal Keng-tim Suthay."

Tiba-tiba Bong Thian-gak teringat suatu masalah, dia segera bedanya, "Bagaimanakah hubungan pribadi Su-kaucu dengan Jit-kaucu Thay kun?"

Paras Hek-coa-li-liong segera berubah hebat ia balik bertanya, "Darimana kau bisa tahu nama Jit-kaucu?"

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Su-kaucu bisa tahu tentang Hiat-kiam-bun karena Jit-kaucu Thay-kun yang memberitahukan hal itu kepadamu, bisa juga Thay-kun berniat menarik kau agar bergabung dengan Hiat-kiam-bun."

"Ai, bicara yang sebenarnya, Ko Hong yang muncul tiga tahun berselang tak lain adalah aku sendiri. Ko Hong adalah nama samaranku, bila Su-kaucu bersedia memenuhi permohonan tadi, harap kau segera turun tangan!"

 

Hek-coa-li-liong termenung dan berpikir beberapa saat, kemudian baru berkata, "Sungguhkah perkataanmu itu?"

"Bila aku berani berbohong sedikit saja, biar Thian mengutuk diriku serta memberi kematian yang paling tragis kepadaku."

Wajah Hek-coa-li-liong baru nampak berseri setelah mendengar kata-kata terakhir tadi, katanya, "Harap kau duduk bersila di atas tanah, segera aku berikan obat penawar racun itu untukmu."

Selesai berkata, dengan cepat Hek-coa-li-liong masuk ke ruang dalam, sekejap kemudian dia telah muncul kembali.

 

Pada waktu itu dia sudah mengenakan mantel yang berbuat dari kulit ular, tangan kiri membawa seruling pendek, sementara tangan kanannya membawa pisau belati.

Dia mengambil seekor bangkai ular dari antara tumpukan bangkai ular yang berserakan, kemudian pisau belatinya merobek perut bangkai tadi dengan lincah dan cekatan, tahu-tahu ia sudah mencongkel empedu ular berwarna hijau kehitam-hitaman.

 

Ujarnya pula, "Ayo, cepat kau telan empedu ular ini, dalam setengah jam tenaga dalammu lambat-laun akan pulih seperti sedia kala."

Belum selesai ia berkata, bayangan orang berkelebat dari luar jendela, kemudian seorang berbaju hitam berkerudung telah menerjang masuk ke dalam ruangan.

Hek-coa-li-liong segera membentak nyaring, "Siau Cu-beng, kau berani melangkah masuk ke daerah terlarang?"

 

Di tengah bentakan itu, Hek-coa-li-liong berkelebat menghadang di depan Bong Thian-gak, lalu jari tangannya menyentil ke depan dan melemparkan empedu ular itu ke dalam mulut Bong Thian-gak.

Pada saat bersamaan pula, pisau belati di tangan kanannya menusuk Siau Cu-beng.

Dengan cekatan Siau Cu-beng menggeser langkah menghindarkan diri dari ancaman itu, lalu umpatnya dengan suara dingin, "Perempuan rendah, kau benar-benar telah berkhianat rupanya."

 

Dengan gerakan cepat tangan kanannya melolos sebilah pedang panjang.

Setelah melepaskan sebuah serangan dengan pisau belatinya tadi, Hek-coa-li-liong telah mengundurkan diri ke muka Bong Thian-gak. Ketika mendengar ucapan itu, segera sahutnya dingin. "Soal berkhianat sudah kurencanakan sejak dulu, cuma belum ada kesempatan untuk mewujudkannya."

Siau Cu-beng tertawa dingin.

"Berarti kau mencari masalah. Kalau begitu, jangan salahkan lagi bila aku berhati keji dan buas terhadap dirimu!"

 

Siau Cu-beng mendesak maju, pedangnya berkelebat berulang kali dengan gerakan aneh, beruntun ia melancarkan tiga buah serangan.

Jurus pedang yang dipergunakan Siau Cu-beng kelihatan aneh dan ganas, Hek-coa-li-liong harus memainkan pisau belatinya dengan lihainya untuk mematahkan jurus serangan itu.

Sewaktu serangan berhasil diatasi, ia pun sudah terdesak hingga mundur ke hadapan Bong Thian-gak.

 

Sambil tertawa dingin Siau Cu-beng menjengek, "Bila kau bersedia membuang pisaumu dan menyerahkan diri, masih ada kemungkinan bagimu untuk mempertahankan nyawamu itu."

Selesai berkata, sebuah serangan gencar kembali dilancarkan ke depan.

"Aku lebih suka mati daripada hidup tersiksa dan menderita," bentak Hek-coa-li-liong.

Serangan pedang yang amat dahsyat dan hebat, nyaris memaksa Hek-coa-li-liong kehilangan pisau belatinya, hampir saja mencelat dari genggaman.

"Aku tahu," jengek Siau Cu-beng, "Kepandaianmu yang terhebat adalah mengendalikan kawanan ular dengan irama seruling, sedang dalam ilmu silat, kau tidak akan mampu bertahan sepuluh jurus serangan pedangku."

 

Jurus pedang Siau Cu-beng berubah terus tiada hentinya, sebentar menotok sebentar membacok, secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan lagi.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget berkumandang.

Ternyata lengan kiri Hek-coa-li-liong telah tersambar oleh pedang lawan sehingga muncul sebuah luka memanjang yang cukup dalam.

Pada saat itu pula pedang panjang di tangan kiri Siau Cu-beng sekali lagi melancarkan serangan.

Pisau belati yang tergenggam di tangan kanan Hek-coa-li-liong segera tersontek oleh pedang lawan hingga mencelat ke tengah udara.

 

Pedang Siau Cu-beng kembali melakukan gerakan menyambar, ujung pedang yang tajam menempel tenggorokan Hek-coa-li-liong yang merupakan bagian mematikan di tubuh manusia.

Sambil tertawa dingin, dengan penuh kebanggaan Siau Cu-beng berkata, "Sekarang, apa lagi yang bisa kau katakan?"

Paras muka Hek-coa-li-liong masih tampak begitu tenang dan kalem, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu, katanya kemudian, "Siau Cu-beng, kau sudah kehilangan kesempatan terbaik untuk membunuh aku."

 

Entah sejak kapan Hek-coa-li-liong telah menggenggam seekor ular kecil berwarna hijau kehitam-hitaman di tangan kanannya.

"Apa maksudmu?" tanya Siau Cu-beng agak seram bercampur ketakutan.

"Coba kau lihat dulu, ular kecil yang berada dalam genggamanku sekarang adalah benda apa?" "Ular sakti hijau hitam!"

"Tahukah kau, benda apa saja yang tersimpan di dalam lambung kecil ini?"

"Tiga belas batang jarum beracun." Hek-coa-li-liong tertawa bangga.

"Selama ular sakti hijau hitam berada di genggamanku, tujuh langkah bisa melukai orang dan tak seorang pun yang mampu untuk menghindarkan diri. Andaikata pedangmu langsung kau tusukkan ke dalam tubuhku, maka aku tak akan mempunyai kesempatan yang baik untuk mengeluarkan ular sakti hijau hitam itu."

"Tapi sekarang ... biarpun kau masih bisa menusuk mati diriku dengan pedangmu, namun aku pun dapat menyemburkan jarum-jarum beracun yang tersimpan di dalam lambung ular sakti hijau hitam ini, karenanya saat ini kita hanya bisa saling mempertahankan diri belaka."

Siau Cu-beng tertawa dingin, tiba-tiba tanyanya, "Bagaimana dengan keadaan Jian-ciat-suseng saat ini?"

 

Hek-coa-li-liong sama sekali tidak berpaling, hanya jawabnya dingin, "Kau tidak perlu menggunakan akal muslihat busuk dan licik untuk menipuku, aku tak bakal terkena siasatmu itu."

"Jika kita harus saling bertahan pada keadaan seperti ini, pada akhirnya kau akan mampus juga di ujung pedangku," seru Siau Cu-beng kemudian sambil tertawa dingin.

Hek-coa-li-liong segera tertawa.

"Jika aku mati, kau pun jangan harap bisa meninggalkan tempat Ini dalam keadaan selamat."

"Kalau memang begitu, lihat saja bagaimana akhirnya nanti!"

 

Mendadak Siau Cu-beng menggeser tubuh ke arah sisi kiri. Bersamaan pedang di tangan kirinya yang terkulai menghadap ke lantai mencungkil ke atas secepat kilat.

Hek-coa-li-liong mendengus penuh amarah, sambil membentak kelima jari tangan kanannya segera menekan tombol rahasia yang berada di lambung ular sakti hijau hitamnya.

Dalam sekejap Hek-coa-li-liong merasa lengan kanannya menjadi dingin, tahu-tahu cahaya tajam pedang Siau Cu-beng telah menyambar lengan kanannya, percikan darah segar segera memancar kemana-mana.

Hek-coa-li-liong menjerit kesakitan, lengan kanannya sebatas sikut telah terbabat pedang lawan hingga kutung.

Pada saat ersamaan, terdengar bunyi desingan angin tajam bergema.

 

Pedang Siau Cu-beng yang menempel di atas tenggorokan Hek-coa li liong tahu-tahu sudah ditarik kembali sambil diputar menciptakan selapis cahaya pedang yang amat tebal untuk melindungi seluruh badannya.

Serentetan bunyi suara bentrokan yang amat nyaring kembali bergema, di antara suara dentingan inilah, mendadak Siau Cu-beng mendengus, tubuhnya terlempar ke belakang.

Namun dengan cepat dia melompat bangun, sayang langkah kakinya gontai dan hampir saja terjerembab.

 

Darah kental bercucuran dengan amat derasnya dari lengan kanan Hek-coa-li-liong yang kutung, namun dia seolah-olah lupa akan rasa sakit yang dideritanya itu, sambil tertawa seram serunya, "Kau sudah terkena jarum beracunku, jadi yang bakal  mampus bukan aku,  melainkan kau."

Sementara itu dari balik mata Siau Cu-beng telah memancar cahaya buas yang penuh dengan kebencian serta dendam. Sambil mengawasi wajah Hek-coa-li-liong lekat-lekat, serunya dengan suara hambar, "Sebelum jiwaku melayang, jangan harap kalian berdua pun dapat lolos dalam keadaan hidup."

 

Kembali Siau Cu-beng menggerakkan pedang di tangan kanannya membacok dada Hek-coa-li-liong secara tiba-tiba.

Jarak kedua orang tak lebih satu tombak, pedangnya menyambar dengan kecepatan luar biasa, biarpun berada dalam kondisi prima pun jangan harap gadis itu dapat meloloskan diri dalam keadaan selamat.

Dalam sekejap nampak Hek-coa-li-liong akan segera termakan sambaran pedang lawan dan tewas dalam keadaan sangat menyedihkan.

 

Siapa tahu di saat ujung pedang lawan hampir menempel di atas dadanya itulah dari belakang tubuhnya tahu-tahu muncul sebuah lengan bergerak bagai setan gentayangan, di antara perputaran pergelangan tangannya, serangan pedang yang datang dengan kekuatan dahsyat serta kecepatan mengerikan itu tahu-tahu sudah terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan tadi.

Dengan terkejut bercampur keheranan Hek-coa-li-liong segera berpaling.

Ternyata tangan itu tak lain adalah lengan tunggal Bong Thian-gak, Hek-coa-li-liong menjadi terkejut bercampur gembira, dia sama sekali tak menyangka kekuatan Bong Thian-gak bisa pulih sedemikian cepatnya.

"Cepat kau balut luka di lenganmu, biar aku yang menghadapi bajingan ini," seru Bong Thian-gak kemudian.

 

Sementara itu cucuran darah segar masih mengucur dengan amat derasnya dari lengan Hek-coa-li-liong yang kutung, membuat paras mukanya berubah pucat-pias seperti mayat.

Kendati demikian, dengan kuatir dan cemas gadis itu berkata, "Kau harus menghadapi dengan hati-hati. Meskipun dia sudah terkena jarum beracunku, namun dalam setengah jam mendatang dia belum menemui ajalnya."

Paras muka Bong Thian-gak menjadi amat serius, katanya dengan suara dingin, "Siau Cu-beng, mengapa kau belum juga melepaskan kain kerudung mukamu itu?"

 

Tak terlukiskan rasa ngeri dan takut mencekam perasaan Siau Cu-beng setelah pedangnya kena dicengkeraman Bong Thian-gak dengan kuat dan kencangnya, namun dia segera tertawa dingin untuk menutupi perasaan takut dan ngeri yang menghantui perasaannya itu.

"Mengapa tidak kau sendiri yang membuka kain kerudungku ini?" ia balas menjengek.

"Siau Cu-beng!" ujar Bong Thian-gak penuh penderitaan, "Selama hidup kau sudah banyak melakukan kejahatan serta dosa besar, sekalipun tubuhmu kucincang hingga hancur berkeping-keping pun belum dapat menebus semua dosa yang pernah kau lakukan selama ini. Sekarang ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu, aku harap kau bersedia menjawab sejujurnya, dengan begitu aku dapat memberi kematian yang jauh lebih enak bagimu."

"Dimanakah Oh Cian-giok Sumoay saat ini? Ayo cepat katakan kepadaku!"

 

Mendadak Hek-coa-li-liong berseru sambil berlari keluar dari kamar tidurnya, "Bong-siangkong, yang kau maksud Oh Cian-giok apakah adik seperguruan Pa-ong-kiong Ho Put-ciang dari gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong?"

"Benar, dialah yang kumaksud," Bong Thian-gak mengangguk membenarkan.

"Aku tahu dimana ia berada sekarang, aku bersedia mengantarmu ke sana," ucap si nona dengan suara sedih.

 

Tiba-tiba tanpa menimbulkan suara, Siau Cu-beng menggerakkan senjatanya menusuk tubuh Bong Thian-gak dengan kecepatan luar biasa.

Serangan yang dilancarkan itu merupakan serangan terakhir Siau Cu-beng dengan segenap tenaganya. Bukan saja serangannya aneh susah diduga, tenaganya pun ganas luar biasa.

Sebelum serangannya tiba, hawa dingin yang menyayat badan telah menyambar kemana-mana.

Bong Thian-gak berkerut kening menyaksikan ini. Dengan cepat pedang di tangan kirinya digerakkan menyongsong datangnya ancaman.

Suatu jeritan ngeri yang menyayat hati segera berkumandang.

 

Di antara percikan darah segar yang memancar kemana-mana. "Plak", lengan kiri berikut pedang Siau Cu-beng telah terpapas kutung dan rontok ke tanah.

Sungguh kaget dan tercengang Hek-coa-li-liong menyaksikan itu, dia tak mengira dengan suatu gerakan yang begitu ringan, ternyata Bong Thian-gak dapat mengatasi serangan lawan yang begitu dahsyat, bahkan sekaligus mengutungi lengan kiri Siau Cu-beng.

Dengan sempoyongan Siau Cu-beng mundur dua langkah, namun sebelum ia sempat berdiri tegak, kembali cahaya pedang berkelebat di hadapannya.

Jeritan ngeri yang memilukan sekali lagi berkumandang, kali ini lengan kanan berikut pangkal bahunya kena terbabat kutung.

 

Agaknya Siau Cu-beng sudah merasakan bahwa dia menghadapi jalan buntu yang membahayakan keselamatan jiwanya. Biarpun lengan kiri dan kanannya sudah kutung serta darah segar bercucuran dengan amat derasnya, saking sakitnya hampir saja ia tak sadarkan diri, namun ia masih berusaha menjejakkan kaki sekuat tenaga dan kabur melalui daun jendela.

Siapa tahu bayangan orang segera berkelebat, segulung tenaga pukulan yang sangat dahsyat menghantam tubuhnya membuat dia mendengus tertahan, lalu roboh di atas tanah.

Ternyata Bong Thian-gak dengan pedang terhunus sudah berdiri di hadapannya, cahaya pedang yang berkilauan tajam kini sudah menempel di atas tenggorokannya.

 

Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak segera berseru, "Sebelum ajalmu tiba, ingin kulihat wajahmu, apakah kau pun memperlihatkan rasa takut dan ngeri dalam menghadapi datangnya malaikat elmaut."

Kain kerudung hitam yang menutupi wajah Siau Cu-beng segera tersambar oleh cukilan pedang hingga terlepas.

Muncul seraut wajah yang pucat-pias bagaikan kertas, potongan serta mimik mukanya tidak jauh berbeda seperti keadaan pada sepuluh tahun berselang, hanya bedanya sekarang wajah itu mengejang keras dan penuh diliputi perasaan takut, ngeri, sakit dan seram.

 

Bong Thian-gak mendongakkan kepala tertawa seram, kemudian katanya, "Siau Cu-beng, andaikata kubunuh kau dengan sebuah tusukan, hal ini keenakan bagimu, karenanya aku hendak mengutungi keempat anggota tubuhmu terlebih dahulu, kemudian membiarkan darahmu mengalir keluar sampai kering dan rasakanlah bagaimana enaknya mati secara perlahan-lahan."

Cahaya pedang kembali berkelebat, jeritan ngeri yang menyayat hati bagaikan jeritan babi yang mau disembelih segera berkumandang.

Sepasang kaki Siau Cu-beng sebatas lutut kini sudah terpapas kutung menjadi dua.

Ia mulai terguling-guling di atas tanah, meraung-raung seperti singa sekarat, mulai mengeluh dan merintih, bagaikan pengemis yang meminta belas kasihan, mengenaskan sekali keadaannya waktu itu.

Dalam waktu singkat ia telah berubah menjadi seorang berdarah.

Pada saat itulah bunyi seruling yang aneh dan amat tak enak terdengar berkumandang dalam ruangan.

 

Hek-coa-li-liong memainkan seruling pendeknya dengan tiupan lembut, namun irama yang dihasilkan justru tinggi melengking dan amat tidak sedap didengar, kemudian katanya, "Aku telah memainkan irama iblis penakluk ular. Sebentar kawanan ular beracun akan bergerak merayapi tubuhnya dan akan mulai mengisap darah yang mengalir dari tubuhnya, dia akan mati karena darahnya diisap oleh ular-ularku. Biar siksaan semacam ini terhitung kejam dan tidak berperi-kemanusiaan, namun termasuk pembalasan yang setimpal bagi dosa dan kejahatan yang telah dilakukannya selama ini. Bong-siangkong, mari kita segera berngkat!"

Belum selesai dia berkata, segulung bau amis sudah berhembus, enam tujuh ekor ular berbisa menampakkan diri di depan pintu ruangan.

Hek-coa-li-liong segera menarik ujung baju Bong Thian-gak, lalu mereka berdua bersama-sama melompat keluar ruangan melalui jendela.

 

Kawanan manusia yang semula mengepung sekeliling loteng itu secara rapat dan ketat, kini justru telah membubarkan kepungan mereka, malah tak nampak seorang pun di situ.

Belum jauh mereka pergi, dari dalam ruang loteng terdengar lagi suara jeritan ngeri Siau Cu-beng yang memilukan di tengah keheningan malam yang mencekam seluruh jagat, jeritannya sungguh menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya.

Seorang berhati buas bagai ular berbisa yang sepanjang hidupnya banyak melakukan kejahatan kini telah memperoleh pembalasan yang setimpal, dia harus merasakan siksaan dan penderitaan yang amat berat dimana sisa darah di dalam tubuhnya diisap oleh ular-ular beracun hingga mengering sebelum akhirnya ajal merenggut kehidupannya.

 

Mendengar jeritan yang begitu menyayat hati, Bong Thian-gak menghela napas sedih, kemudian setelah menyarungkan pedangnya ke pinggang, ia menarik tangan Hek-coa-li-liong dan diajak melewati tiga-empat halaman rumah.

Sepanjang perjalanan mereka sama sekali tidak menjumpai suatu hadangan pun.

Tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya, "Kita hendak kemana?"

"Bukankah kau hendak pergi mencari adik seperguruanmu?" Hek-coa-li-liong balik bertanya.

"Dimana dia berada? Berapa lamakah yang kita butuhkan untuk sampai di sana?"

"Bila jadi dia disekap di dalam istana cinta iblis, jaraknya dari tempat ini kurang lebih satu jam perjalanan."

"Mengapa tempat itu dinamakan istana cinta iblis?" tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut.

 

"Sebab tempat itu merupakan tempat hiburan bagi anggota Put-gwa-cin-kau."

"Jadi dia sudah dinodai oleh kawanan iblis itu?" BongThian-gak merasa sedih sekali.

"Tak seorang pun bisa lolos dari perkosaan setelah berada di dalam istana cinta iblis."

Membara hawa amarah dan perasaan dendam di hati kecil Bong Thian-gak, sambil mengertak gigi menahan rasa bencinya, ia bersumpah, "Selama Bong Thian-gak masih hidup di dunia ini, aku pasti akan menyuruh Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau merasakan pembalasan yang paling kejam."