pendekar cacad 11

Bagian 11 :  Ketua Hiat Kiam Bun..Bong Thian-gak

"Bila kau keok, Tiong-yang-hwe harus dibubarkan dengan segera dan Jian-ciat-suseng pun harus menggabungkan diri dengan kaum pengemis."

"Sayang aku tak bisa menerima syaratmu," kata Bong Thian-gak dengan tersenyum.

"Mengapa kau menampik?" To Siau-hou berkerut kening.

"Suatu pertandingan adu kepandaian boleh dibilang suatu perbuatan yang baik bagi kaum persilatan untuk mengukur kepandaian silatnya, buat apa kita mesti bertaruh dengan taruhan yang begitu besar? Apakah To-tongcu sudah yakin dapat menangkan diriku?"

 

Tertegun si To Siau-hou mendengar perkataan itu, katanya kemudian, "Bila kau yakin bisa menangkan diriku, mengapa tidak kau terima keuntungan ini."

"Bila kau melepaskan diri dari Kay-pang, sudah dapat dipastikan Pangcu kalian tak akan melepaskan diriku," ucap Bong Thian-gak dengan suara dalam.

"Ya, betul," To Siau-hou manggut-manggut, "tapi bila Tiong-yang-hwemu makin hari makin bertambah kuat, Kay-pang pun tak dapat melepaskan dirimu."

"To-tongcu, kalau kau sudah bertekad hendak adu kepandaian, cabut pedangmu."

 

Ucapan anak muda itu hambar tanpa emosi.

"Kau tidak melolos pedang?" tanya Giok-bin-giam-lo dingin.

"Pedangku dilolos bila keadaan sudah membutuhkan."

Tampaknya To Siau-hou tidak sesombong Mo Sau-pak dari perkumpulan Kim-liong-kiam-san-ceng, dengan cepat tangan kanannya melolos sebilah pedang mustika yang memancarkan cahaya tajam.

Begitu pedang dilolos. To Siau-hou segera miringkan tubuh ke samping, kemudian tubuh berikut pedangnya langsung menyerang sisi kanan Bong Thian-gak.

Jurus serangan yang dipergunakan olehnya sangat lamban dan tiada keistimewaan, seolah-olah serangan dilancarkan dengan santai.

 

Tapi Bong Thian-gak yang menyaksikan serangan itu justru hatinya begetar, batinnya, "Ah! Tay-kek-kiam, ilmu silatnya seperti beberapa kali lipat lebih maju daripada tiga tahun berselang."

Seperti burung walet terbang di udara. Bong Thian-gak melejit ke atas undak-undakan batu ketiga dan meloloskan diri dari serangan itu.

Dengan demikian posisi yang ditempati kedua belah pihak persis pada garis undak-undakan yang sama.

Gagal dengan serangannya. To Siau-hou berseru, "Jian-ciat-suseng memang benar-benar bukan orang sembarangan!"

 

Sementara berbicara pedangnya kembali diputar, pelan-pelan membacok lagi ke sisi kanan Bong Thian-gak.

Belum lagi serangannya tiba, terasa segulung hawa dingin yang menusuk tulang menyergap wajahnya.

Sesudah menyaksikan jurus kedua ini. Bong Thian-gak baru paham apa sebabnya To Siau-hou memandang begitu serius pertaruhan yang diusulkannya tadi, ternyata Giok-bin-giam-lo yang sekarang sudah bukan Giok-bin-giam-lo tiga tahun yang lalu, kepesatan ilmu silat telah mencantumkan namanya di antara jago-jago lihai.

 

Dalam tiga tahun yang singkat ternyata To Siau-hou berhasil mendalami ilmu silatnya, maju beberapa puluh kali lipat lebih hebat dari semula, maka dapat dibayangkan kepandaian silat ketua Kay-pang yang mewariskan ilmu silat itu kepadanya benar-benar tak terlukiskan.

Tiba-tiba Bong Thian-gak bergeser dua undak-undakan lagi untuk menghindarkan diri dari tusukan lawan.

Tapi To Siau-hou pun tak malu disebut jago lihai, dia tidak memberi kesempatan kepada Bong Thian-gak untuk menempati posisi di atas yang lebih menguntungkan.

Dengan cepat dia bergeser berebut naik dua undak-undakan, angin serangan dingin diiringi desingan cahaya tajam secara beruntun dan tiada habisnya mengurung Bong Thian-gak di bawah bungkusan kabut cahaya pedangnya.

 

Ilmu pedang itu bukan lain adalah Tay-kek-kiam-hoat, adalah ilmu pedang Bu-tong-pay, ilmu pedang ciptaan Thio Sam-hong cikal-bakal Bu-tong-pay.

Ilmu pedang ini mengutamakan tenaga lembut dan halus, dengan tenang menguasai keras.

Seandainya ada orang bisa melatih ketenangan dan kelembutan Tay-kek-kiam-hoat hingga puncak kesempurnaan, maka jangan harap umat persilatan di dunia ini bisa meloloskan diri dari kurungan cahaya pedang itu dengan selamat.

 

Tay-kek-kiam-hoat termasuk ilmu andalan Bu-tong-pay, biasanya hanya para Ciangbunjin yang memperoleh warisan ilmu itu. Bong Thian-gak sungguh tak habis mengerti darimanakah Giok-bin-giam-lo bisa mewarisi kepandaian itu.

Jian-bin-hu-li (rase sakti seribu li) Ban Li-biau telah mencuri kitab pusaka seantero perguruan yang ada di dunia ini, sudah barang tentu Tay-kek-kiam-hoat pun tidak terkecuali, itulah sebabnya Bong Thian-gak juga menguasai taktik dan rahasia ilmu itu.

 

Di tengah kepungan cahaya pedang To Siau-hou yang rapat, dengan gaya yang tak cepat maupun lambat, jurus demi jurus Bong Thian-gak memunahkan semua ancaman lawan.

Dalam waktu singkat To Siau-hou telah mengeluarkan tiga puluh sembilan jurus Tay-kek-kiam-hoat.

Makin bertarung To Siau-hou makin kaget, tiba-tiba dia berpekik nyaring, permainan pedangnya segera berubah, dari ilmu pedang Tay-kek-kiam kini dia pergunakan jurus-jurus pedang yang ganas, cepat dan luar biasa.

Di bawah desakan tiga jurus serangan kilat To Siau-hou, Bong Thian-gak terdesak mundur sejauh tiga undak-undakan.

 

Sekali lagi To Siau-hou berpekik nyaring, tubuh dan pedangnya bersatu-padu, kemudian dari bawah menuju ke atas secepat kilat dia lancarkan tusukan ke tubuh Bong Thian-gak.

Di dalam jurus serangannya kali ini dia telah mempergunakan ilmu pedang terbang yang merupakan ilmu pedang tingkat tinggi.

Tergerak hati Bong Thian-gak, cahaya pedang berkelebat, mau tak mau dia harus melolos pedangnya.

"Trang", benturan nyaring bergema memecah keheningan.

Tiba-tiba saja cahaya pedang sirap. To Siau-hou terdorong sampai undak-undakan batu terakhir, dengan wajah terkejut bercampur seram dia mengawasi pedangnya yang tinggal setengah.

Di atas undak-undakan ketiga belas, berdirilah Bong Thian-gak dengan wajah serius.

Di tangannya terpegang sebilah pedang kayu yang tak bersinar.

 

Sementara sorot mata Bong Thian-gak yang tajam sedang mengawasi pedang kayunya yang gumpil sebagian, akhirnya dia menghela napas seraya berkata, "To-tongcu, kau telah tertusuk pedangku ini!"

Sembari berkata. Bong Thian-gak segera menggetarkan tangan kirinya dan patahlah pedang kayu itu menjadi dua bagian.

To Siau-hou membuang juga kutungan pedangnya ke tanah, lalu berkata dengan nada yang amat sedih dan duka, "Aku kalah, aku kalah ... tiga tahun berlatih dengan tekun ternyata aku tak mampu menghadapi serangan pedang kayu."

Ketika mengucapkan kata-kata yang terakhir, nada suaranya berubah menjadi sangat lemah seolah-olah setiap saat dia akan menangis tersedu-sedu.

 

Dengan suara lantang Bong Thian-gak berkata, "Menang atau kalah adalah wajar dalam suatu pertarungan, To-tongcu, mengapa kau memandang begitu serius masalah menang atau kalah ini."

To Siau-hou tertawa seram, "Kau berada di pihak yang menang, tentu saja tak akan kau pahami bagaimana rasanya menjadi orang yang kalah."

"Lengan kananku pernah kutung, bukankah ini pertanda suatu kekalahan?" Bong Thian-gak berkata dengan suara dalam, "padahal To-tongcu tidak kalah di tanganku, apa yang terjadi tak lebih hanya senjata yang menjadi kutung belaka."

 

Tertegun To Siau-hou mendengar perkataan itu, serunya, "Kau berhasil menang tapi tidak sombong maupun tinggi hati, sikapmu jauh berbeda dengan apa yang tersiar selama ini."

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, apa yang tersiar di Bu-lim memang selalu ditambah dengan bumbu di sana sini supaya kedengarannya hebat dan menggemparkan."

Mendadak paras muka To Siau-hou berubah serius, kemudian ujarnya dengan nada bersungguh-sungguh, "Di antara kelompok kaum pengemis, ilmu silatku ada pada urutan keempat, seandainya kau ingin mengalahkan pula ketiga orang jago lihai kami, rasanya kau mesti berlatih diri lagi selama sepuluh tahun sebelum niatmu itu terlaksana."

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Menurut cerita orang, Liong-thau Pengcu dari Kay-pang adalah seorang hebat di dunia persilatan, sudah barang tentu kepandaian silatnya menempati urutan pertama, tapi siapa pula kedua jago lainnya?"

"Dua orang jago lihai Kay-pang lainnya adalah para pelindung Pangcu, orang kedua bernama To-pit-coat-to (Golok sakti lengan tunggal) Liu Khi, sedang orang ketiga adalah kakak seperguruanku, Put-mi-kiam (pedang tanpa nyawa) Han Siau-liong."

"Oh, tidak heran pada tiga tahun berselang pihak Kay-pang berhasil memaksa Put-gwa-cin-kau mengasingkan diri dari keramaian dunia, rupanya kalian mempunyai dukungan jago-jago lihai semacam ini untuk menekan Put-gwa-cin-kau."

 

To Siau-hou tertawa dingin, "Peristiwa Kay-pang mengalahkan orang-orang Put-gwa-cin-kau sudah lama tersebar luas dalam Bu-lim, tapi siapa pula yang tahu kalau tiga tahun berselang Put-gwa-cin-kau dan Kay-pang telah melangsungkan pertarungan besar-besaran?"

"Aku ingin tahu duduk persoalan yang sesungguhnya dari pertarungan itu, bersediakah kau memberi keterangan kepadaku?"

To Siau-hou termenung dan berpikir sebentar, kemudian ujarnya, "Sebenarnya peristiwa ini merupakan sebuah rahasia dunia persilatan, tapi bolehlah kuberitahukan kepadamu."

"Terima kasih atas kebaikan To-tongcu."

 

"Tiga tahun berselang, Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau memimpin Ji-kaucu dan sekalian jago lihainya berangkat ke wilayah Sucwan dimana markas besar Kay-pang berada untuk mengadakan suatu pertandingan ilmu silat, taruhannya waktu itu adalah siapa yang kalah, maka dia wajib mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan selama tiga tahun."

"Jadi Liong-thau Pangcu dari Kay-pang berhasil mengalahkan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau?" kata Bong Thian-gak dengan kening berkerut.

 

To Siau-hou tertawa dingin.

"Pangcu kami sama sekali tidak turun tangan, sedangkan pihak Put-gwa-cin-kau juga hanya menurunkan Ji-kaucu."

"Kepandaian silat Ji-kaucu luar biasa sekali," seru Bong Thian-gak dengan perasaan bergetar keras.

 

Belum habis berkata. To Siau-hou telah menyambung, "Tapi kepandaian silat To-pit-coat-to Liu Khi jauh lebih hebat lagi."

"Betul, betul!" Bong Thian-gak mengangguk, "To-pit-coat-to Liu Khi sanggup mengalahkan Ji-kaucu, paling tidak kepandaiannya pasti luar biasa sekali."

"Aku bicara sebanyak ini, tujuanku adalah menganjurkan padamu untuk membubarkan Tiong-yang-hwe dan bergabung dengan pihak Kay-pang, daripada mendatangkan bibit bencana bagi diri sendiri."

"Apa maksud perkataan To-tongcu ini?"

 

Dengan wajah serius To Siau-hou berkata lagi, "Baik To-pit-coat-to Liu Khi, maupun kakak seperguruanku si Put-mi-kiam Han Siau-liong, keduanya sudah berhasil melatih kepandaian silat mereka hingga mencapai tingkatan yang luar biasa, kecuali Pangcu kami, mereka tidak berharap ada orang yang sanggup mengungguli mereka, oleh sebab itu cepat atau lambat mereka berdua tentu akan datang mencarimu untuk diajak adu kepandaian."

Baru selesai ucapan itu diutarakan, mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara nyaring, "Sekarang juga aku telah datang mencarinya."

Ucapan itu sangat mengejutkan Bong Thian-gak maupun To Siau-hou, serentak mereka mendongakkan kepala.

 

Pada puncak undak-undakan batu, muncul orang berbaju abu-abu yang tinggi besar, berwajah kasar dan bermata bulat, sedang melangkah menghampiri mereka.

Pada punggungnya tersoreng sebilah pedang yang panjang tebal, bobotnya pun kelihatan amat berat, membuat setiap langkah kakinya menimbulkan suara denting nyaring.

Lekas To Siau-hou memburu ke depan, sambil membungkukkan badan memberi hormat, katanya, "Suheng telah datang rupanya? Bila Sute tak menyambutmu dari jauh, harap kau sudi memaafkan."

Sementara itu Bong Thian-gak juga sedang berpikir, "Agaknya si pendatang ini tak lain adalah jago lihai ketiga Kay-pang ... Put-mi-kiam Han Siau-liong."

 

Dari sepasang biji mata Han Siau-liong yang jeli dan berkilau, dengan cepat Bohg Thian-gak tahu bahwa ilmu silat orang ini beberapa kali lipat lebih lihai daripada To Siau-hou.

Sepasang mata Han Siau-liong tajam dan bersinar seperti mata harimau kumbang, di balik ketajaman terselip cahaya kebuasan, kekejian dan keseraman, sementara dari tubuhnya seolah-olah memancar pula bau keliaran yang menggidikkan, membuat orang teringat bau khas binatang buas.

 

Han Siau-liong memandang sekejap ke arah To Siau-hou, setelah tertawa terbahak-bahak, katanya, "Hahaha, Siau-hou, rupanya kau sudah memberitahukan semua kejelekan kakakmu kepadanya."

Terhadap kakak seperguruannya ini, To Siau-hou seperti menaruh perasaan jeri, dengan sikap yang sangat hormat lekas sahutnya, "Siau-hou tak lebih hanya mengatakan bahwa Suheng adalah seorang yang gila ilmu."

Gelak tawa Han Siau-liong semakin menjadi-jadi, "Betul, betul sekali, Suhu pun sering mengatakan aku adalah orang yang gila ilmu silat."

 

Sesudah berhenti sejenak dan mendongakkan kepala memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, dia kembali bertanya, "Siau-hou, kau telah dikalahkan olehnya?"

Dengan cepat To Siau-hou menjawab, "Kami baru selesai bertarung dan hasilnya adalah seimbang."

"Kau bohong, apakah kau tak ingin Suhengmu membalaskan dendam bagimu?" seru Han Siau-liong sambil melotot.

"Suheng menganggap aku kalah di tangannya?" To Siau-hou balik bertanya sambil tersenyum.

Pertanyaan ini kontan membuat Han Siau-liong tertegun, segera pikirnya, "Benar juga perkataan ini, tiga tahun terakhir ini Sute telah memperoleh gemblengan ketat dari Suhu, bagaimana mungkin dia kalah dengan mudah di tangan orang lain."

 

Sementara kedua orang itu berbicara, diam-diam Bong Thian-gak naik ke atas kudanya dan berlalu dari situ.

Siapa tahu sesosok bayangan orang berwarna abu-abu telah menyambar ke arahnya dengan kecepatan tinggi, sementara kelima jari tangannya dengan cepat menyambar tali kudanya.

"Mundur!" bentak Bong Thian-gak.

Lengan kirinya setajam golok langsung membacok ke arah belakang.

Jurus-jurus serangan Bong Thian-gak ini dilepaskan belakangan, tapi tiba lebih duluan pada sasaran, bayangan orang yang sedang melambung di udara itu buru-buru menarik kembali cengkeramannya, sementara tangannya dibalik dan menyongsong datangnya ancaman telapak tangan kiri Bong Thian-gak.

"Blam", suara benturan keras menggelegar, di tengah ringkik kuda yang nyaring, Bong Thian-gak berikut kudanya telah menerjang maju.

Sebaliknya Han Siau-liong melayang turun, kini dia berdiri dengan wajah sangat terkejut.

Dengan cepat To Siau-hou memburu ke depan.

 

Bong Thian-gak yang berada di atas kudanya berkata sambil tersenyum, "Kekuatan serangan saudara benar-benar hebat dan kau merupakan jago lihai pertama yang kujumpai selama ini, bila kau anggap ada kepentingan untuk melangsungkan pertarungan, lebih baik kita memilih tempat lain saja di kemudian hari, kita bertarung tiga ratus gebrakan sampai puas."

Dalam bentrokan tadi, Han Siau-liong merasakan gejolak darah dalam tubuhnya, biarpun dia nampak kasar di luar, sesungguhnya orang ini sangat cermat dan berhati-hati, walau baru satu gebrakan saja, namun dia pun sadar telah bertemu jago lihai.

Sepanjang hidupnya, belum pernah Han Siau-liong menderita kekalahan, dia tak ingin menderita kekalahan di tangan musuh dengan cepat, ketika mendengar ucapan tadi, ia bertanya, "Kaukah Jian-ciat-suseng?"

 

"Betul, akulah orangnya," Bong Thian-gak tertawa, "selama berada di dalam kota terlarang, mungkin kita akan sering bertemu, nah, sampai berjumpa di lain kesempatan."

Selesai berkata dia lantas menjura, kemudian melarikan kudanya meninggalkan tempat itu.

Memandang bayangan punggungnya yang menjauh, tiba-tiba Han Siau-liong menghela napas panjang, lalu ujarnya, "Kepandaian silat orang benar-benar sangat hebat, mungkin aku atau To-pit-coat-to Liu Khi juga bukan tandingannya."

To Siau-hou tertegun mendengar ucapan itu, serunya dengan cepat, "Han-suheng, kau anggap tenaga dalam Jian-ciat-suseng masih jauh lebih hebat daripadamu?"

 

"Menurut cerita yang tersiar dalam Bu-lim, Jian-ciat-suseng saat ini bagaikan Suhu ketika terjun ke dunia persilatan puluhan tahun berselang, kedahsyatan dan kehebatannya hampir tak berbeda. Mula-mula aku tidak percaya Jian-ciat-suseng itu sanggup dibandingkan dengan kehebatan serta keampuhan Suhu di masa lampau, namun setelah bentrokan hari ini, aku baru menyadari bahwa kesempurnaan tenaga dalamnya memang tak mungkin bisa dilawan oleh siapa pun."

To Siau-hou menyadari bahwa kepandaian silat kakak seperguruannya ini masih beberapa kali lipat lebih hebat daripada dirinya, namun dia masih tetap tidak percaya Jian-ciat-suseng benar-benar memiliki kemampuan seperti apa yang dikatakan Suhengnya itu, bahkan Liu Khi pun tak mampu mengungguli dirinya.

 

 

 

To Siau-hou tertawa terbahak-bahak, kemudian ujarnya, "Suheng, nampaknya keangkuhan dan ketinggian hatimu di masa lampau telah berubah? Betul, kepandaian silat Jian-ciat-suseng memang sangat lihai, namun tak nanti sehebat apa yang dilukiskan Suheng barusan."

"Kalau dalam melancarkan serangan tadi Suheng menyerang dari udara, dan ancaman mencengkeram berubah menjadi pukulan, tenaga yang digunakan otomatis selisih lebih banyak ketimbang lawan, apalagi Jian-ciat-suseng melepas pukulannya dengan duduk di atas pelana kuda, dengan tambahan tenaga terjangan kuda, tidak heran kekuatan yang dia hasilkan lebih sempurna daripada orang lain."

 

Sesudah mendengar penjelasan To Siau-hou ini, Han Siau-liong berpendapat ucapan itu memang benar, maka setelah menghela napas, katanya dengan suara rendah, "Semoga saja apa yang kau duga memang betul, kalau tidak. Suhu akan mendapat seorang musuh tangguh!"

Tiba-tiba To Siau-hou berpaling dan memandang sekejap ke arahnya, lalu bertanya, "Suheng, Suhukah yang mengirim kau untuk membantuku?"

"Ketika Suhu menerima surat kilat Sute yang mengatakan bahwa pihak Put-gwa-cin-kau sedang mencari sejumlah harta karun ... tampaknya dia orang tua pun segera teringat bahwa harta karun itu bisa jadi merupakan harta peninggalan raja muda Mo-lay-cing-ong seratus tahun  lalu, itulah sebabnya beliau lantas mengutus aku  datang membantu Sute guna melaksanakan tugas besar ini."

 

To Siau-hou manggut-manggut.

"Apa yang diduga Suheng memang tepat sekali, beberapa hari ini aku memang telah berhasil menyelidiki persoalan itu hingga jelas, harta karun yang dimaksud memang benar-benar merupakan harta karun peninggalan raja muda Mo-lay-cing-ong."

"Harta karun Mo-lay-cing-ong mempunyai sangkut-paut yang sangat besar dengan Kay-pang kita, maka kita bertekad mendapatkannya walaupun dengan pengorbanan apa pun, To-sute, cepat kau tuturkan keadaan yang sebenarnya kepadaku."

"Dalam penyelidikanku selama beberapa hari ini, dapat diketahui bahwa pihak yang mengetahui rahasia tentang harta karun Mo-lay-cin-ong ini selain Put-gwa Cin Kua tampaknya masih ada orang-orang Hiat-kiam-bun, ditambah kita berarti ada tiga kekuatan yang mengincarnya."

 

Han Siau-liong termenung dan berpikir beberapa saat, lalu tanyanya, "Apakah Jian-ciat-suseng mengetahui rahasia ini?"

"Tahu atau tidak bukan masalah, sebab dengan kekuatannya seorang, rasanya mustahil untuk mendapatkan harta karun Mo-lay-cing-ong itu."

"Dimanakah letak harta karun itu dipendam?"

"Soal ini tampaknya kita pihak Kay-pang kalah selangkah, sebab hingga kini masih belum begitu jelas. Tapi yang pasti berada pada radius sepuluh li seputar kota terlarang ini."

"Semalam aku berhasil memperoleh berita gembira, orang-orang Hiat-kiam-bun sedang mencari orang ini, seorang umat persilatan yang pertama mengetahui harta karun itu."

"Siapakah dia?"

" Long Jit-seng dari lautan timur."

"Apakah orang ini masih berada di sekitar kota terlarang?"

"Konon orang ini sudah berhasil menyusup masuk ke dalam wilayah harta karun itu, sudah barang tentu dia berada di seputar kota terlarang."

"Tugas pertama kita sekarang adalah menemukan jejak Long Jit-seng," ujar Han Siau-liong kemudian dengan kening berkerut.

 

To Siau-hou manggut-manggut.

"Benar, konon bangunan penyimpanan harta karun Mo-lay-cing-ong adalah hasil bangunan Susiok-co Long Jit-seng. Tempat harta karun itu disimpan dipasang berbagai alat rahasia yang amat hebat, di dunia saat ini hanya Long Jit-seng yang sanggup mematahkan alat-alat itu, oleh sebab itulah orang-orang Hiat-kiam-bun dengan cepat telah mengadakan hubungan dengan Long Jit-seng."

"Kalau begitu bukankah usaha kita akan sia-sia belaka?"

 

To Siau-hou menggeleng.

"Biarpun pihak Hiat-kiam-bun sudah mengadakan hubungan dengan Hek-ki-to-cu, namun syarat yang mereka kemukakan tidak ada kecocokan, sehingga kerja sama itu nampaknya batal!"

Han Siau-liong termenung sebentar, kemudian katanya dengan suara dalam, "Bagaimana pun juga kita harus melindungi Long Jit-seng."

"Telah kuutus segenap anggota ruang Sin-tong untuk menyebar diri dan mencari kabar Long Jit-seng, mari kita cepat pulang sambil menanti kabar."

ooOOoo

 

Hong-kong-si adalah sebuah kompleks kuil yang terdiri dari dua ruang besar dan belasan bilik kecil, di balik tembok pekarangan yang tinggi, tumbuh rimbun pepohonan bambu nan hijau.

Dipandang dari jauh, tempat pengasingan ini sepi dan tenang.

Ketika orang memasuki bangunan itu, maka terlihatlah daun kering melapisi seluruh permukaan tanah, debu tebal menyelimuti lantai ruangan, sarang laba-laba menghiasi patung arca dan peralatan, pada hakikatnya kuil ini yang sudah lama terbengkalai.

 

Dalam satu tahun, belum tentu nampak cahaya lentera di dalam kuil itu, tapi malam ini, dari tujuh buah bilik di belakang ruang depan berkedip cahaya lilin.

Rupanya selewat tengah hari tadi, ada enam orang laki perempuan yang secara diam-diam masuk ke dalam kuil Hong-kong-si, mereka terdiri dari Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak, Long Jit-seng serta Hui-eng-su-kiam.

 

Malam semakin bertambah larut. Long Jit-seng dan Hui-eng-su­kiam telah memasuki bilik masing-masing untuk beristirahat, hanya tinggal Bong Thian-gak yang nampak masih duduk menepekur di depan jendela sambil mendengarkan bunyi daun bambu yang bergoyang terhembus angin.

Sementara dalam benaknya terlintas bayangan tubuh seorang gadis yang lemah lembut tak bertenaga.

"Ai, sudah hampir empat bulan aku meninggalkan Leng-hui, saat ini mungkin kehidupannya akan dilewati bagaikan bertahun-tahun."

 

Bong Thian-gak adalah seorang lelaki sejati yang romantis, namun penuh dengan tanggung jawab. Song Leng-hui telah menjadi istrinya, setiap waktu dia selalu merindukannya, menguatirkan nasibnya ... terutama bila tengah malam tiba, di saat suasana menjadi hening dan tak terdengar suara sedikit pun, bayangan Song Leng-hui selalu muncul di hadapannya.

Ada kalanya Bong Thian-gak kuatir akan keselamatan Song Leng-hui, gadis yang hidup menyendiri di tengah gunung terpencil, mungkinkah dia diserang serigala ganas, diterkam harimau buas.

Bila semua ini mulai muncul, ingin sekali secepatnya dia kembali ke sisinya.

"Ai, Leng-hui, wahai Leng-hui, seandainya kau bisa meninggalkan gunung dan hidup mendampingiku, betapa bahagianya aku."

 

"Ah, tidak! Setiap hari aku hidup bergelimpangan di ujung golok, aku tak boleh membiarkan dia kuatir ... harus kutunggu sampai Tiong-yang-hwe kuat dan digdaya sebelum dia kujemput kemari."

Berpikir sampai di situ, mendadak Bong Thian-gak menaruh suatu harapan aneh terhadap kuil Hong-kong-si itu.

 

Andaikata Hong-kong Hwesio bersedia memberikan tempat ini kepadanya, dia hendak menjadikan tempat ini sebagai markas besar Tiong-yang-hwe.

Teringat akan diri Hong-kong Hwesio, tanpa terasa Bong Thian-gak berpikir kembali, "Aku telah pindah kemari, menurut aturan, sudah sepantasnya bila kujumpai dulu Hong-kong Hwesio."

Pelan-pelan dia bangkit, kemudian beranjak dari ruangan.

Sejak pindah ke situ tiga hari lalu. Bong Thian-gak belum sempat memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu, maka saat ini dia berjalan di tengah kegelapan malam dengan santai.

Tiba di ruang tengah bagian belakang, tanpa terasa pemuda itu menghentikan langkahnya.

Rupanya gedung belakang ini merupakan tempat tinggal Hong­kong Hwesio bersama ketiga muridnya, dari Long Jit-seng diketahui bahwa Hong-kong Hwesio berempat tidak senang kalau ketenangan mereka diusik orang lain.

 

Maka Bong Thian-gak tak berani maju lebih ke depan, apalagi suasana di ruangan itu gelap gulita dan tak terdengar sedikit suara pun.

Coba kalau Long Jit-seng tidak memberitahukan hal itu lebih dahulu kepadanya, siapakah yang akan menduga kalau di dalam ruangan itu berdiam Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya?

Setelah berhenti beberapa saat di situ, Bong Thian-gak sudah siap membalikkan badan untuk berlalu dari situ.

 

Mendadak dari halaman gedung sebelah selatan berkumandang suara langkah kaki seseorang.

Dengan kening berkerut Bong Thian-gak segera menyelinap ke balik sebuah tiang penyangga gedung, tepat di samping pintu gerbang yang gelap gulita.

Tidak selang lama kemudian dari balik pintu telah muncul dua sosok bayangan orang.

Ketika Bong Thian-gak dapat melihat jelas wajah kedua orang itu, tanpa terasa ia berpikir dalam hati, "Ah, Thia Leng-juan dan Long Jit-seng."

Benar, orang yang baru muncul dari balik pintu tak lain adalah seorang sastrawan berbaju biru berusia tiga puluh tahun serta seorang kakek berbaju hitam.

Mereka memang Thia Leng-juan serta Long Jit-seng.

Kedua orang itu seperti sudah saling mengenal satu sama lain, keadaan itu segera menimbulkan kecurigaan Bong Thian-gak.

 

Mendadak terdengar Thia Leng-juan berbisik, "Long-tocu, aku benar-benar tidak habis mengerti apa sebabnya kau bertindak begitu gegabah, bergabung dengan Tiong-yang-hwe memang bukan masalah, tapi mengapa kau mengajak Jian-ciat-suseng sekalian datang ke kuil Hong-kong-si ini?"

Long Jit-seng tertawa dingin, "Jian-ciat-suseng telah mengetahui rahasia harta karun Mo-lay-cing-ong, barang siapa mengetahui rahasia itu, dia tak dapat dibiarkan hidup terus."

"O, jadi kau ingin mempergunakan kekuatan Hong-kong Hwesio untuk membunuh Jian-ciat-suseng? " tanya Thia Leng-juan.

 

Long Jit-seng tersenyum.

"Kepandaian silat Jian-ciat-suseng tidak di bawah kemampuan siapa pun dalam Put-gwa-cin-kau, bila ingin menghabisi nyawanya, kecuali Hong-kong Hwesio, mampukah kita menghabisi nyawanya?"

Peluh dingin segera keluar membasahi tubuh Bong Thian-gak sesudah mendengar perkataan itu, mimpi pun dia tak mengira kalau Long Jit-seng telah memperhitungkan dengan sebaik-baiknya bagaimana melenyapkan dirinya dari muka bumi.

Coba kalau rencana keji Long Jit-seng ini tidak terbongkar secara kebetulan pada malam ini, bisa dibayangkan dia bisa terperangkap dan mati konyol.

"Ai, aku benar-benar kelewat ceroboh dan gegabah," ia berpikir, "mengapa aku begitu menaruh kepercayaan kepada Long Jit-seng?"

 

Saat itu juga Bong Thian-gak telah mendapat semacam pelajaran, yaitu tak boleh mempercayai orang begitu saja.

Pelan-pelan Thia Leng-juan berkata lagi, "Setelah melalui suatu pertimbangan yang mendalam, aku pikir kita tidak usah seawal ini menghabisi nyawa Jian-ciat-suseng."

"Mengapa?"

"Pihak yang mengetahui harta karun ini selain Put-gwa-cin-kau, masih ada lagi orang-orang Hiat-kiam-bun dan Kay-pang, orang-orang dari kedua partai itu pun sudah mulai menelusuri jejakmu sekarang, tampaknya mereka bertekad untuk mendapatkan dirimu dengan cara apa pun."

"Bila sekarang juga kita pergunakan Hong-kong Hwesio bertiga untuk melindungimu, maka kita tak akan berhasil mendapatkan harta karun itu."

 

Long Jit-seng segera manggut-manggut.

"Benar, Hong-kong Hwesio bertiga sedang memusatkan segenap pikiran dan perhatian untuk mempelajari peta harta karun itu, mereka memang belum punya waktu untuk menampakkan diri."

Mendengar ucapan itu, sekali lagi Bong Thian-gak berpikir, "Oh, rupanya Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya bukan sedang mengasingkan diri dalam ruangan itu. Hahaha, sungguh tak kusangka pikiranku begitu polos, dengan amat mudahnya berhasil dikelabui oleh Long Jit-seng."

"Tapi siapakah Hong-kong Hwesio yang sebenarnya? Lihaikah ilmu silatnya. Dari pembicaraan Thia Leng-juan dan Long Jit-seng, kepandaian silat Hong-kong Hwesio pasti amat sempurna."

 

Belum habis ingatan itu melintas, terdengar Thia Leng-juan telah berkata lagi, "Itulah sebabnya untuk sementara waktu kita tak perlu menghabisi nyawa Jian-ciat-suseng."

"Tapi bila Jian-ciat-suseng lama berdiam di sini dan suatu saat dia akan mengetahui rahasia kita, bagaimana kita mesti menghadapinya?"

"Selama Hong-kong Hwesio bertiga tidak menampakkan diri, bagaimana mungkin Jian-ciat-suseng dapat mengetahui rahasia mereka bertiga?"

 

Hek-ki-to-cu merasa ucapan itu ada benarnya juga, maka sesudah termenung sebentar dia bertanya lagi, "Benarkah Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau mempunyai kemampuan untuk menghadapi alat-alat rahasia itu dan menemukan harta karun?"

"Ji-kaucu ahli ilmu falak yang hebat, dia pun mahir ilmu bangunan tanah serta berbagai kepandaian lainnya, namun tanpa peta rahasia itu, betapa pun lihainya dia, jangan harap bisa mendahului kita."

"Tampaknya Ji-kaucu sudah tidak mempercayai dirimu lagi," kembali Long Jit-seng berujar.

 

Mendengar ucapan terakhir ini, tiba-tiba saja hati Bong Thian-gak bergetar keras, segera pikirnya, "Thia Leng-juan, mungkinkah dia yang menyelundup ke dalam tubuh Put-gwa-cin-kau?"

Satu ingatan cepat melintas dalam benak Bong Thian-gak, ia teringat nada suara, bentuk badan serta gerak-gerik Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau yang dijumpainya semalam.

Teringat semua itu, hampir saja Bong Thian-gak menjerit keras.

Rupanya Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau tak lain tak bukan adalah Thia Leng-juan.

 

Dalam waktu singkat teka-teki yang sukar dijawab melintas dalam benak Bong Thian-gak.

Dengan cara apakah Thia Leng-juan menjadi Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau? Bagaimana mungkin dia bisa memperoleh kepercayaan Cong-kaucu?

Sebagaimana diketahui, Thia Leng-juan pernah bekerja sama dengan Bong Thian-gak membunuh Sam-kaucu di masa lalu, bukan saja dia musuh bebuyutan Put-gwa-cin-kau, bahkan termasuk salah seorang yang tercantum dalam daftar hitam Put-gwa-cin-kau untuk dibunuh.

Bagaimana mungkin Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau bisa menerima dirinya?

Lantas kemana perginya Ho Put-ciang beserta segenap orang-orang dari Bu-lim Bengcu?

Saat ini Bong Thian-gak sudah banyak curiga terhadap Thia Leng-juan.

 

Sementara itu Thia Leng-juan telah berkata lagi, "Long-tocu tak perlu kuatir, ketika menjabat sebagai Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau, aku masih tetap Thia Leng-juan, nyatanya Cong-kaucu sangat menaruh kepercayaan kepadaku, biarpun Ji-kaucu rada kurang percaya. Dalam anggapan Cong-kaucu, Ji-kaucu hanya merasa kedudukannya terancam oleh kehadiranku, jadi reaksi spontan yang wajar, mustahil dia akan mencurigai diriku."

 

Dengan ucapan itu, Thia Leng-juan telah menjelaskan pula bagaimana caranya dia memperoleh kepercayaan dari Cong-kaucu.

Long Jit-seng tertawa, "Apakah kau sudah berhasil menyelidiki identitas serta riwayat hidup Cong-kaucu?"

Thia Leng-juan segera menggeleng.

"Belum berhasil, tapi bisa jadi aku akan berhasil melihat raut wajah aslinya malam nanti."

"Hehehe, hati-hati, kau jangan sampai terpikat olehnya," seru Long Jit-seng sambil tertawa.

"Perempuan yang ada di dunia ini hanya Si-hun-mo-li seorang yang paling memikat hati, bagaimana mungkin aku bisa tergoda setelah saban hari bergaul dengannya? "

"Kau ingin berjumpa dengan Hong-kong Hwesio?"

 

Thia Leng-juan mendongakkan kepala memandang cuaca, lalu menjawab, "Saat kentongan ketiga tinggal setengah jam lagi, aku sudah tak punya banyak waktu lagi."

"Beberapa hari ini Hong-kong Hwesio sedang sibuk, alangkah baiknya bila kita tak mengganggu konsentrasi dan perhatiannya."

"Baiklah, kalau begitu aku mohon diri lebih dulu. Kau harus baik-baik menghadapi Jian-ciat-suseng, paling penting harus kau selidiki dulu asal-usulnya."

Selesai berkata dia membalikkan badan dan segera berlalu.

Long Jit-seng memperhatikan pula keadaan sekeliling tempat itu, kemudian dia pun turut berlalu dari sana.

 

Bong Thian-gak sendiri seperti sukma gentayangan mengejar ke gedung belakang. Di bawah cahaya rembulan dia saksikan sesosok bayangan orang sedang bergerak di depan sana, Bong Thian-gak tahu orang itu adalah Thia Leng-juan, maka dia segera menguntitnya secara diam-diam.

Dia harus mengikuti Thia Leng-juan, sebab dia ingin turut menyaksikan muka asli Cong-kaucu.

Dia pun ingin mengetahui nasib para jago yang semula berdiam dalam gedung Bu-lim Bengcu.

Bong Thian-gak perlu keterangan langsung dari Thia Leng-juan, tapi pemuda itu pun menaruh perasaan ngeri bercampur seram, dia kuatir Ho Put-ciang serta rekan-rekannya sudah terbunuh.

 

Bagaimana pun juga dia pernah menyaksikan kekejaman serta kebuasan Thia Leng-juan ketika membunuh Kau-hubuncu Hiat-kiam-bun, apalagi caranya memerintah Si-hun-mo-li untuk mencelakai umat persilatan.

Dilihat dari segala gerak-gerik serta perbuatan itu, tampaknya Thia Leng-juan bukan seorang Enghiong yang berjiwa lurus.

Mungkin dia telah mengubah pendirian dan takluk kepada kekuasaan kaum siluman dan iblis.

 

 ©

 

Di tepi jalan raya Hong-sia, tepatnya berada di sebidang tanah perkebunan yang luas, berdiri anggun sebuah gedung mungil yang indah dan megah.

Di sebelah kiri bangunan itu berdiri sebuah loteng bertingkat tiga, cahaya lentera memancar keluar dan menyinari sekitarnya seperti siang hari saja.

 

Dalam keheningan malam, tiba-tiba muncul sesosok bayangan orang melompat ke atas sebatang pohon Pek-yang dengan lincah seperti seekor monyet, tubuhnya enteng, gerak-geriknya cepat seperti kilat, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap.

Baru saja bayangan orang itu menyembunyikan diri, seorang pemuda berbaju biru sudah muncul dari balik pepohonan dan menuju ke arah gedung itu.

Dengan cepatnya sastrawan berbaju biru itu menuju ke arah loteng bertingkat tiga tadi.

Melihat hal itu, orang yang berada di pohon Pek-yang tadi segera berpikir, "Mungkin gedung itu adalah tempat tinggal Thia Leng-juan."

 

Di dalam kota terlarang ternyata Thia Leng-juan memiliki tempat tinggal sedemikian banyaknya, mau tak mau Bong Thian-gak segera berpikir dengan kening berkerut.

"Thia Leng-juan benar-benar licik dan banyak akal muslihatnya."

Beberapa saat kemudian, Thia Leng-juan telah muncul di tepi jendela loteng tingkat ketiga. Kini dia telah berganti pakaian dengan satu stel jubah biru yang baru dan di tangan kirinya membawa sebuah kipas, gayanya tak beda dengan seorang lelaki romantis.

Senyuman cerah menghiasi wajah Thia Leng-juan pada saat itu.

Ia mendongakkan kepala memandang keadaan cuaca, kentongan ketiga telah menjelang.

 

Mendadak Bong Thian-gak yang berada di atas pohon Pek-yang mengendus bau harum bunga anggrek yang tersiar kemana-mana.

Bau harum bunga anggrek itu sangat tajam dan merupakan ciri khas kehadiran Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.

Sementara itu Thia Leng-juan telah berkata dengan suara nyaring, "Sam-kaucu dengan hormat menantikan kehadiran Cong-kaucu!"

 

Baru selesai ucapan itu, Bong Thian-gak telah menyaksikan sesosok bayangan orang melayang turun di hadapannya dan berjalan masuk ke dalam loteng tingkat tiga, langsung menuju ke depan Thia Leng-juan.

Ilmu meringankan tubuh Peng-poh-cim-im (melangkah datar awan hijau) Cong-kaucu benar-benar sangat hebat, bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Bong Thian-gak tertegun menyaksikan kejadian itu, sebab di kolong langit dewasa ini rasanya belum terdapat orang kedua yang memiliki ilmu meringankan tubuh sehebat ini.

Di tambah lagi udara di sekeliling tempat itu seakan-akan diliputi bau harum bunga anggrek yang begitu lembut, hal itu membuat orang beranggapan Cong-kaucu adalah jelmaan dari bidadari kahyangan.

 

Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau yang serba misterius kini berdiri membelakangi jendela, sayang Bong Thian-gak tak sempat melihat jelas paras mukanya.

Perempuan itu mengenakan pakaian sutera warna putih yang lembut, perawakan tubuhnya nampak sedikit agak gemuk, namun montok dan kenyal, mendatangkan suatu daya rangsang aneh bagi pria yang melihatnya.

Rambutnya disanggul model keraton, untaian mutiara menghiasi lehernya, sedangkan sebutir batu kemala hijau yang tak ternilai harganya tersisip di ujung tusuk kondenya.

Thia Leng-juan seakan-akan dibuat terkesima oleh paras muka Cong-kaucu, sepasang matanya mengawasi perempuan itu dengan terkesima, tak sepatah kata pun sanggup diucapkan.

Bong Thian-gak ingin sekali menyaksikan paras muka Cong-kaucu, apa mau dikata, perempuan itu justru berdiri membelakanginya.

 

Dari bentuk tubuhnya arah belakang, usia perempuan ini sekitar tiga puluh tujuh-delapan tahun.

Mendadak suara merdu merayu bergema dari mulut Cong-kaucu, "Sam-kaucu, mengapa seperti bertemu orang asing saja?"

Teguran itu segera menyadarkan Thia Leng-juan dari lamunan, dengan cepat dia berseru tertahan, "Paras muka Cong-kaucu benar-benar anggun, cantik dan menawan hati, jauh di luar dugaanku, ai ... mungkin hal ini disebabkan baru sekali ini kusaksikan wajah asli Cong-kaucu."

Mendadak Cong-kaucu tertawa cekikikan, "Sam-kaucu tak usah banyak adat, perjumpaan malam ini hanya kita berdua."

Suara tawanya penuh dengan kekuatan daya pikat yang membetot sukma, tidak ada pria yang tak terpengaruh oleh keadaan itu.

 

Kecuali Thia Leng-juan sudah buta matanya atau dia sudah menduga maksud tujuan undangan Cong-kaucu malam ini, kalau tidak, mustahil dia bisa menahan diri.

Sebaliknya bagi wanita yang sudah lama hidup menyendiri, perjumpaan berduaan semacam begini pasti akan menimbulkan gairah yang luar biasa, apalagi Cong-kaucu adalah perempuan berpengaruh, bagaimana mungkin dia mampu berpuasa lama?

Dengan senyuman penuh arti, Thia Leng-juan segera berkata, "Silakan duduk Cong-kaucu, aku telah menyiapkan sayur dan arak."

 

Seusai berkata, dia membalikkan badan dan masuk ke ruang dalam, beberapa saat kemudian dia telah muncul dengan membawa baki berisi hidangan yang lezat, hidangan memang telah disiapkan.

Cong-kaucu duduk dekat jendela, sedang Thia Leng-juan duduk persis di hadapannya.

Bong Thian-gak yang bersembunyi di luar jendela dapat menyaksikan gerak-gerik kedua orang itu dengan jelas, dia pun dapat melihat bagaimana Thia Leng-juan melayani pimpinannya itu dengan gaya sehalus mungkin.

 

Setelah perjamuan berlangsung beberapa saat, rayuan Cong-kaucu kian merangsang, tiba-tiba dia berbisik, "Sam-kaucu, bersediakah kau menghiburku malam ini hingga aku puas?"

Mendadak Thia Leng-juan bangkit, lalu merangkul tubuh Cong-kaucu dan membopongnya.

Ia merasakan tubuh perempuan itu halus lembut seolah-olah tidak bertulang, terutama bau harum yang teruar dari tubuhnya membuat setiap pria terangsang.

"Cong-kaucu, kau sungguh amat cantik," bisik Thia Leng-juan sambil tertawa lirih.

"Ehmm ... bagian yang tercantik belum sempat kau lihat..."

"Tapi sebentar lagi akan kulihat juga."

"Cukup satu kali, selama hidup kau takkan melupakannya."

"Hihihi, aku rada kurang percaya."

"Tidak percaya? Sekarang kau buktikan, kau akan mengetahui bagaimana rasanya."

"Mimpi pun aku orang she Thia tak pernah mengira suatu hari Cong-kaucu bisa berada dalam pelukanku."

"Aku kan seorang perempuan!"

"Betul, kau seorang perempuan, perempuan yang paling aneh, dan misterius di dunia ini."

"Tapi bagian yang terahasia belum kau temukan?"

"Sebentar lagi tempat rahasiamu akan kumasuki ... ooh ... rayuan semacam ini sungguh membuat aku tak tahan."

 

Sebuah pembaringan, selembar kain kelambu ....

Kain kelambu tertutup rapat....

Thia Leng-juan telah berubah ganas, seganas serigala atau harimau kelaparan, sedangkan Cong-kaucu berubah begitu lemah dan lembut, seperti gadis perawan yang sedang diperkosa orang.

Suara tertawa jalang, kata-kata porno yang jorok, serta rintihan yang memikat, membuat darah orang mendidih.

Bong Thian-gak yang bersembunyi di atas pohon Pek-yang sampai memejamkan mata, namun suara cabul yang begitu merangsang membuat pikiran dan perasaannya menjadi kacau.

 

Ia sangat menyesal, kenapa bersembunyi sedemikian dekat.

"Cong-kaucu ... ampunilah aku ... ampunilah, aku sudah hampir mati...." seruan lirih mendadak bergema.

Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan terkejut.

Ia saksikan tubuh Cong-kaucu sedang melilit tubuh Thia Leng-juan seperti seekor ular berbisa, melilit dengan kencangnya.

Sekarang Bong Thian-gak baru dapat melihat jelas perawakan tubuh Cong-kaucu yang indah serta selembar wajah yang cantik molek.

 

Tapi sekarang pada hakikatnya perempuan itu telah berubah menjadi seorang perempuan jalang penghisap darah.

Suara tertawanya yang jalang serta getaran tubuhnya yang amat keras hakikatnya telah menindas Thia Leng-juan sehingga tak berwujud manusia lagi.

Peluh sebesar kacang bercucuran membasahi tubuh Thia Leng-juan, wajahnya tampak gembira serta nikmat luar biasa.

Bong Thian-gak tidak menyangka akan menyaksikan adegan semacam ini, Cong-kaucu benar-benar mirip iblis perempuan, siluman perempuan dan perempuan jalang....

 

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Bong Thian-gak, "Mengapa tak kumanfaatkan kesempatan di saat dia sedang terpengaruh hawa napsu untuk menghabisi nyawanya ... biasanya perempuan yang bagaimana pun hebatnya, bila sedang berada dalam keadaan seperti ini, kepandaian saktinya tidak nanti bisa dikembangkan."

Belum habis ingatan itu melintas, mendadak terdengar Thia Leng-juan menjerit kaget.

Tampak matanya terbelalak, sekujur tubuhnya gemetar keras.

Bong Thian-gak tahu, keadaan seperti ini hanya dialami oleh seorang yang sedang mencapai puncak kenikmatan.

"Betul-betul manusia yang tidak berguna!" umpat Cong-kaucu sambil tertawa.

 

Dengan cepat dia mendorong tubuh lelaki itu, dengan lemas tak bertenaga Thia Leng-juan segera berguling, sepasang matanya yang memukau itu tiba-tiba dialihkan ke atas pohon Pek-yang di luar jendela.

Terkesiap hati Bong Thian-gak menyaksikan kejadian itu, pikirnya, "Wah, jangan-jangan dia sudah menemukan jejakku?"

Akhirnya Cong-kaucu buka suara, katanya dengan suara lembut, "Aku benar-benar tidak percaya di dunia ini masih terdapat lelaki yang sama sekali tak tergerak hatinya menyaksikan adegan panas yang berlangsung di depan hidungnya."

 

Mendengar perkataan ini, diam-diam Bong Thian-gak membatin, "Aduh celaka, ternyata dia telah mengetahui jejakku. Hmm! Aku tak percaya dalam keadaan bugil kau bisa berbuat sesuatu kepadaku ...."

Diiringi suara tawa menyeramkan, Bong Thian-gak melompat keluar dari atas pohon Pek-yang dan menerobos masuk melalui jendela.

Sekarang ia dapat menyaksikan dengan jelas paras muka asli Cong-kaucu, bukan hanya wajah aslinya, bahkan setiap bagian rahasia tubuhnya dapat terlihat dengan nyata.

Cong-kaucu sungguh merupakan seorang perempuan tidak tahu malu, tanpa canggung dia turun dari pembaringan dan berjalan ke hadapan Bong Thian-gak dalam keadaan bugil.

 

Bong Thian-gak tak berani memandang lebih jauh, dia meludah dan katanya dingin, "Kalau disuruh mencari perempuan manakah di dunia ini yang paling tak tahu malu, orang itu sudah pasti kau!"

Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, "Kalau aku tak tahu malu, kau lebih-lebih tak tahu malu."

Merah padam wajah Bong Thian-gak mendengar umpatan itu, serunya, "Hei, mengapa kau belum juga mengenakan pakaian?"

Cong-kaucu tertawa jalang

"Sepasang matamu sudah kaku dan mendelong, aku berpakaian atau tidak, rasanya sudah bukan masalah lagi."

"Kau tahu siapa aku?" tegur Bong Thian-gak dingin.

 "Jian-ciat-suseng."

Kembali Bong Thian-gak tertawa dingin.

"Andaikata aku uarkan kejadian memalukan yang kusaksikan malam ini, tentu segenap umat persilatan akan tahu, akan aku lihat apakah kau punya muka untuk memimpin Put-gwa-cin-kau atau tidak?"

"Kau tak nanti bisa berbuat demikian."

"Mengapa?"

"Bila kau tidak bersedia takluk kepadaku malam ini, hanya jalan kematian yang akan kau hadapi." "Kau yakin pasti berhasil?"

"Tiada lelaki di dunia ini yang tidak pernah terbayang dan tergila-gila setelah bermain cinta denganku, aku yakin tiada lelaki yang akan terlepas dari cengkeramanku."

"Tampaknya kau mempunyai keyakinan yang luar biasa atas kecantikan wajahmu?" jengek Bong Thian-gak dingin.

"Aku yakin kecantikan Se Si pun tak akan bisa mengungguli aku."

 

Bong Thian-gak mengamati sejenak wajah perempuan itu, lalu manggut-manggut, "Ya, sayangnya kau sudah tua!"

Gemetar keras sekujur badan Cong-kaucu sesudah mendengar perkataan itu, tanyanya, "Benarkah aku sudah tua?"

Bong Thian-gak memang ada maksud menghina dan mencemooh perempuan itu, paling baik bila dapat melukai hatinya.

"Menurut pandanganku, biarpun kau pergunakan minyak wangi dan pupur serta gincu yang terbaik dan termahal di dunia ini untuk mendandani wajahnya, tetap tidak bisa menghilangkan kerutan tuamu yang makin nyata, yang lebih menggelikan lagi, masa kau menganggap dirimu masih mempunyai daya tarik dan daya rangsang yang luar biasa? Hm, terus terang saja aku beritahukan, manusia macam Thia Leng-juan bisa takluk di bawah ketiakmu, hal ini bukan dikarenakan dia tergiur oleh kecantikanmu, sesungguhnya dia terpesona oleh rangsangan napsu dan terbuai dalam pelampiasan hawa napsu belaka."

 

Agaknya Cong-kaucu takut mendengar orang lain mengatakan dia tua dan tidak cantik.

Sekarang ia benar-benar membenci Bong Thian-gak, sedemikian bencinya hingga kalau bisa merobek-robek tubuhnya, mencorong sorot mata tajam penuh kebencian dari balik matanya.

Mendadak dia berkelebat maju, lalu menyambar pakaiannya yang berserakan di atas pembaringan.

Melihat tingkah-lakunya yang konyol itu, Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak.

Di tengah gelak tawanya yang keras, pemuda itu melejit dan melayang keluar jendela.

Pada dasarnya ilmu meringankan tubuh Bong Thian-gak sudah mencapai puncaknya, dengan sikap yang sinis dan memandang rendah dia tertawa seram, secepat kilat tubuhnya berkelebat pergi dan menjauh dari situ.

Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik kegelapan malam.

 

Baru pertama kali Cong-kaucu menerima hinaan dan cemoohan paling besar bagi seorang wanita.

Selama puluhan tahun terakhir ini, seingatnya hanya seorang lelaki yang bisa membuatnya marah dan dendam, tapi hari ini telah bertambah dengan seorang lagi.

Orang ini tidak lain adalah Jian-ciat-suseng.

Ia bersumpah akan mencincang tubuh Jian-ciat-suseng hingga hancur-lebur, dia akan menggunakan siksaan yang paling kejam dan paling buas untuk menghukum lelaki laknat itu.

 

 

Dengan mengerahkan Ginkangnya yang sempurna, Bong Thian-gak berlarian sejauh tiga-empat li sebelum berhenti.

Ternyata di tengah jalan kecil di padang yang sunyi itu, dia saksikan munculnya serombongan orang.

Orang-orang itu bergerak sangat enteng dan cepat bagaikan hembusan angin, sama sekali tak menimbulkan suara.

Dalam waktu singkat mereka telah berlalu di hadapan Bong Thian-gak.

 

Bong Thian-gak dapat melihat dengan jelas bahwa rombongan itu terdiri dari gadis-gadis berbaju merah, pedang pendek tersoreng di punggung dan pakaiannya amat ringkas.

Di antara mereka terdapat delapan orang yang menggotong sebuah tandu kecil, jendela di empat penjuru tandu itu tertutup oleh selapis kain hitam, agaknya seseorang duduk di baliknya.

Tergerak hati Bong Thian-gak menyaksikan semua itu, diam-diam ia berpikir, "Bukankah mereka adalah anggota Hiat-kiam-bun?"

 

Rasa ingin tahunya segera muncul dalam benaknya, dengan cepat pemuda itu menyusuri pepohonan yang rindang dan membuntuti secara diam-diam.

Setelah berjalan lebih kurang tujuh-delapan li, mendadak bergema suara tawa yang amat keras bagaikan suara guntur menggelegar, sedemikian kerasnya suara itu membuat kawanan gadis berbaju merah tertegun.

 

Serempak ketiga belas orang gadis berbaju merah itu melolos pedang pendek mereka, sebuah gerakan dilakukan cepat dan enteng, sebuah barisan segera terbentuk tepat di depan tandu kecil itu.

Sementara kedelapan gadis pemikul tandu itu pun menurunkan tandu, lalu melolos pedang pendeknya berjaga-jaga di sekeliling tandu, sikap mereka serius seakan-akan sedang menghadapi musuh besar.

 

Di bawah sinar rembulan, tampak seorang lelaki kekar berbaju abu-abu, beralis tebal, bermata besar dan bercambung seperti kawat, berdiri tegak di tengah jalan.

Dengan mata Bong Thian-gak yang tajam, sekilas pandang saja ia sudah dapat mengenali lelaki kekar ini, Han Siau-liong dari Kay-pang, yang lebih dikenal dengan julukan Put-mi-kiam.

Kemunculan Han Siau-liong membingungkan Bong Thian-gak, pikirnya, "Seandainya orang yang berada di dalam tandu kecil itu bukan tokoh lihai Hiat-kiam-bun, hari ini anak murid Hiat-kiam-bun pasti akan mati konyol."

Sementara itu Han Siau-liong telah menghardik, "Siapa yang duduk di dalam tandu?"

 

Salah seorang gadis bertubuh langsing di antara ketiga belas gadis berkerudung merah itu segera tampil ke depan, tampaknya dia adalah pimpinan rombongan.

"Siapa pula engkau?" dia balik bertanya, "di dalam tandu adalah majikan kami."

"Kalau begitu panggil Hiat-kiam-buncu agar tampil dan bicara."

"Masa orang yang berada di dalam tandu bukan Long Jit-seng, aku tahu kalian orang-orang Hiat-kiam-bun pun sedang berusaha keras menemukan jejaknya."

 

Bong Thian-gak yang mengikuti jalannya pembicaraan itu amat terkejut, segera pikirnya, "Masakah orang yang berada di dalam tandu adalah Long Jit-seng?"

Sementara si gadis berkerudung merah menjawab, "Kau salah terka, orang yang berada dalam tandu bukan Hek-ki-to-cu."

Han Siau-liong tertawa dingin, "Hehehe, kecuali aku diberi kesempatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri, kalau tidak, jangan harap aku akan melepas kalian pergi begitu saja."

Jelas anggota Hiat-kiam-bun memiliki iman yang cukup tebal, dia masih tetap sabar.

"Boleh saja kau berniat melihatnya, tapi seandainya orang yang berada di dalam tandu itu bukan Long Jit-seng, kau harus mundur dengan segera!"

"Hahaha, kalian tahu, siapakah aku?"

"Dari bentuk badan maupun sikapmu, sudah pasti kau punya kedudukan cukup tinggi dalam Kay-pang."

"Orang-orang persilatan menyebutku Put-mi-kiam!" Han Siau-liong memperkenalkan diri dengan suara dalam.

 

Tampaknya para anggota Hiat-kiam-bun yang hadir sekarang rata-rata sudah pernah mendengar nama tokoh penting Kay-pang itu, gadis itu seperti terkejut mendengar nama itu, serunya tanpa sadar, "Tidak kusangka kau telah sampai di Hopak!" Kembali Han Siau-liong tertawa dingin.

"Han Siau-liong, tentu kalian pernah mendengar nama ini bukan? Bila kalian bersedia menuruti perkataanku, hari ini Han Siau-liong tidak bakal melukai seorang pun di antara kalian."

 

Biarpun gadis itu terkejut dan ngeri mendengar nama Put-mi-kiam, namun dia bukan seorang yang sudi bertekuk lutut begitu saja, ia tertawa cekikikan, "Sampai sekarang pihak Hiat-kiam-bun masih belum berniat mencari permusuhan dengan pihak Kay-pang, namun bila kalian terus menerus memojokkan kami, segenap anggota Hiat-kiam-bun rela mati daripada membuat malu nama perguruan."

Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, punya semangat juga kalian, anggota Hiat-kiam-bun rata-rata adalah wanita yang bersemangat baja, sayang kalian telah salah menerima kematian pada malam ini."

 

Sembari berkata, selangkah demi selangkah ia berjalan menuju ke hadapan mereka.

Mendadak tiga gadis berkerudung di depannya menggetarkan pergelangan mereka, tiga batang pedang pendek dengan kecepatan bagaikan sambatan petir segera menusuk ke depan.

"Berhenti!" bentak mereka serentak.

Mencorong cahaya membunuh yang amat tebal dari balik mata Han Siau-liong, sambil mendengus ia lepaskan sebuah pukulan dengan telapak tangan kirinya.

Tiga kali jeritan ngeri yang memilukan hati bergema.

 

Termakan segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat, ketiga orang gadis berkerudung yang sedang menerjang ke muka itu mencelat dan kemudian roboh ke tanah sambil muntah darah.

Beberapa saat kemudian mereka sudah tewas dalam keadaan mengerikan.

Tenaga pukulan Han Siau-liong yang mengejutkan dan keji ini kembali membuat suasana menjadi heboh, segenap anggota Hiat-kiam-bun menjadi terkejut dan mundur selangkah tanpa terasa.

Tak terlukiskan hawa amarah yang membara di dada si nona pemimpin rombongan itu setelah melihat kematian yang mengenaskan dari ketiga orang rekannya, ia segera membentak nyaring.

Bagaikan kilat, pedangnya langsung ditusukkan ke muka.

"Hm, cari mampus rupanya kau!" jengek Han Siau-liong sambil tertawa dingin.

Telapak tangan kirinya yang dibacokkan ke depan tadi, mendadak direndahkan ke bawah dan mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan gadis itu.

 

Gadis ini adalah Pat-hubungcu Hiat-kiam-bun, ilmu pedangnya tidak lemah, di antara perputaran pergelangan tangannya, cahaya pedang bagaikan bianglala, di tengah desingan tajam tahu-tahu hawa serangan telah menyambar ke sisi tubuh lawan, di antara titik-titik cahaya bintang, kembali mengurung seluruh badan Han Siau-liong.

Mata Han Siau-liong terbelalak lebar, bentaknya, "Bagus sekali, kepandaianmu benar-benar hebat."

Dengan mengeluarkan jurus Nu-hay-poh-liong (menangkap naga di samudra luas) dan masih tetap memakai ilmu Kim-na-jiu-hoat, dia berusaha merampas pedang pendek lawan.

Biarpun serangan yang digunakan Han Siau-liong terhitung amat cepat, akan tetapi Pat-hubuncu terhitung jago nomor dua di dalam partainya, serta-merta serangan Han Siau-liong luput mengenai sasaran.

 

Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun tahu bahwa lawan adalah seorang jago yang amat lihai, dengan cepat pedang pendeknya dikembangkan, serangan itu seperti menutul, seperti juga menusuk, menggunakan aliran yang berbeda.

Dalam waktu singkat secara beruntun dia telah melancarkan dua belas jurus serangan.

Han Siau-liong tidak menyangka gadis ini sanggup menghindar dari dua belas jurus ilmu Kim-na-jiu-hoat yang lihai, dengan suara menggeledek ia membentak, tangan kirinya mengeluarkan jurus Kim-si-liau-wan (mencengkeram urat nadi lawan).

"Aduh!" jerit kesakitan bergema, pergelangan tangan Pat-hubuncu sudah tercengkeram hancur, pedang pendeknya terjatuh ke tanah, bersamaan itu pula Han Siau-liong mengayunkan telapak tangan kanannya siap menghabisi nyawa perempuan itu.

Di saat yang amat kritis inilah tiba-tiba terdengar suara bentakan, "Kau telah membunuh tiga orang, apakah jumlah itu masih belum cukup?"

 

Dari balik kegelapan malam, pelan-pelan berjalan keluar seorang sastrawan berlengan tunggal.

Setelah dapat melihat jelas wajah pendatang itu, Han Siau-liong segera menghentikan gerakan tangan kanannya, kemudian tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, bagus, bagus sekali! Benar-benar tidak kusangka Jian-ciat-suseng muncul di sini."

Bong Thian-gak memandang sekejap tangan kiri Han Siau-liong yang masih menelikung lengan kanan Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun, kemudian ujarnya dengan suara dingin, "Kita sebagai lelaki sejati, rasanya kurang gagah bila mesti menganiaya seorang wanita lemah."

 

Tiba-tiba Han Siau-liong melepas tangan kanannya dan melempar tubuh Pat-hubuncu, lalu jengeknya, "Bila kau memang bernyali, jangan coba kabur lagi malam ini."

"Aku memang tak pernah bermaksud melarikan diri."

Han Siau-liong mundur selangkah, tiba-tiba ia melolos pedang raksasanya yang tersoreng di belakang punggung, pedang ini empat kaki panjangnya, pedang itu tampaknya tumpul, berwarna hitam, persis seperti besi tua.

 

Sebagai tokoh silat berkepandaian tinggi, cukup memandang pedang Han Siau-liong, Bong Thian-gak tahu musuh terhitung tokoh lihai dalam ilmu pedang.

Keningnya berkerut, kemudian dengan suara hambar dia berkata, "Aku pikir masih kelewat awal bila kita mesti menentukan mati hidup di antara kita berdua sekarang juga."

"Put-mi-kiam begitu terlolos dari sarungnya, ia tak akan kembali sebelum menjilat darah," seru Han Siau-liong ketus.

 

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Sudah sering kudengar orang berkata demikian, sebelum menjilat darah, pedang tak akan kembali ke sarungnya, namun kenyataan ... hm, pedang itu menjilat darah mereka sendiri."

"Mengapa tidak kau lolos pedangmu?" bentak Han Siau-liong dengan lantang.

"Pedangku telah dipatahkan oleh Sutemu, sekarang aku sudah tidak memiliki pedang yang bisa kucabut lagi."

"Jadi kau hendak menghadapi pedangku dengan tangan kosong?" teriak Han Siau-liong marah.

"Oh, tidak, maksudku andai pertarungan nanti dilangsungkan, aku akan meminjam pedang orang lain."

 

Kemudian dia berpaling dan memandang sekejap ke arah Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun, tanyanya, "Nona, benarkah orang yang ada dalam tandu adalah Hek-ki-to-cu?"

Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun ini sudah dua kali bertemu Bong Thian-gak, tentu saja dia kenal pemuda ini, apalagi Bong Thian-gak telah menyelamatkan jiwanya kali ini, meski kejadiannya di luar dugaan, diam-diam dia amat berterima kasih kepada pemuda ini.

Begitulah sambil mengedipkan matanya yang jeli, Pat-hubuncu berkata, "Benar Hek-ki-to-cu atau bukan, aku rasa kau pasti lebih mengerti daripada kami."

Tentu saja Bong Thian-gak memahami maksud perkataannya, kemudian ia bertanya, "Lalu siapakah dia?"

Pat-hubuncu termenung sebentar, kemudian menjawab, "Dia adalah Buncu kami, ketua Hiat-kiam-bun."

"Ketua Hiat-kiam-bun? Kalau begitu dia ...." paras muka Bong Thian-gak berubah hebat.

 

Ternyata Pat-hubuncu amat cerdik dan cekatan, dia pun bertanya, "Jadi... kau tahu siapa Buncu kami?"

"Ya, aku tahu," pemuda itu mengangguk.

Jawaban ini mengejutkan Pat-hubuncu, serunya, "Sungguh?"

"Sungguh! Sebab aku pun sedang mencarinya."

"Kalau begitu kau pun mengetahui rahasia Hiat-kiam-bun kami?" tanya Pat-hubuncu semakin terkejut.

"Aku malah mengetahui juga asal-usul Cong-hubuncu dan Ji-hubuncu perguruan kalian."

"Aku tak pernah ditipu orang secara begini gampang," kata Pat-hubuncu dengan suara dalam.

"Aku bukan penipu," Bong Thian-gak tersenyum, "nona bisa membuktikannya dengan segera."

"Bagaimana cara membuktikannya?"

"Aku dapat menjelaskan asal-usul Cong-hubuncu dan Ji-hubuncu perguruan kalian."

Pat-hubuncu termenung sebentar, kemudian dia berkata, "Coba kau katakan secara garis besarnya saja."

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Hubungan antara Cong-hubuncu dan Ji-hubuncu adalah hubungan antara ibu dan anak. Masih ada satu hal lagi, seandainya orang yang berada di dalam tandu benar-benar Buncu Hiat-kiam-bun, maka dia datang dari gedung raja muda Mo-lay-cin-ong."

Pat-hubuncu terbungkam seketika mendengar penjelasan ini.

"Darimana kau tahu semua ini sedemikian jelasnya?"

Bong Thian-gak tersenyum.

"Sebab musababnya tak mungkin bisa dijelaskan, pokoknya sudah kuterangkan sedari dulu, Tiong-yang-hwe tidak akan memusuhi Hiat-kiam-bun, itulah sebabnya aku tak pernah melukai anggota Hiat-kiam-bun seorang pun."

"Bagaimana dengan Kiu-moayku? Bukankah Kau-hubuncu tewas di tanganmu?"

"Bukan."

 

Tampaknya Pat-hubuncu mempercayai kata-kata Bong Thian-gak, katanya, "Seandainya kau adalah sahabat Hiat-kiam-bun, tolong bantu kami, bantulah kami hingga tiba di...."

Sampai di sini, mendadak ia membungkam.

Bong Thian-gak sendiri pun tidak mendesak lebih jauh, dia segera menyahut, "Aku sanggup melakukannya, harap nona pinjamkan pedang itu kepadaku."

Pat-hubuncu mendekat sambil menyodorkan pedang pendeknya kepada Bong Thian-gak.

"Pihak lawan adalah tokoh silat hebat dari Kay-pang, kau mesti menghadapinya hati-hati," ia berpesan.

 

Setelah menyambut pedang pendek itu, Bong Thian-gak baru berpaling ke arah Han Siau-liong sambil berkata, "Kuharap kau suka menuruti nasehatku, apakah pertarungan kita dapat ditunda lain saat?"

"Sejak berlatih ilmu pedang, cita-citaku adalah merebut gelar jago pedang nomor wahid, berarti cepat atau lambat kita pasti akan saling tempur, kulihat malam ini adalah malam yang tepat untuk berduel, mengapa kita mesti menyia-nyiakan kesempatan baik ini?"

"Bila dua ekor harimau saling bertarung, satu di antaranya tentu akan terluka. Apalagi di sekitar kita sudah bersembunyi harimau ketiga."

 

Baru selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba terdengar seorang berkata dengan suara dingin, "Tajam amat penglihatanmu, agaknya kemampuanmu masih setingkat lebih unggul daripada Put-mi-kiam."

Di tengah pembicaraan, dari balik semak belukar di sisi kanan mereka berjalan keluar seorang lelaki berbaju hijau, ciri khas yang paling menyolok daripada orang itu adalah terdapatnya sebuah tahi lalat di atas alis kirinya dan sebilah pedang tembaga tersoreng di pinggangnya.

"Kehadiran Ji-kaucu memang tepat sekali," seru Han Siau-liong sambil tertawa terbahak-bahak, "tiga tahun berselang aku orang she Han tidak berkesempatan mencoba kepandaian saktimu, hal ini membuatku tak senang siang dan malam, aku harap Ji-kaucu dapat memenuhi keinginanku malam ini."

 

Han Siau-liong memang seorang jagoan yang gila nama, kalau dapat dia ingin menantang semua jago lihai yang ada di dunia ini, baik dari golongan putih maupun hitam, asal musuh termasuk jago lihai, dia berusaha mencoba kepandaiannya.

Bong Thian-gak sendiri dapat mengenali orang itu adalah Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau, cuma dia tak banyak komentar.

Dalam pada itu Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun merasa terkejut bercampur ngeri, tiba-tiba bisiknya kepada Bong Thian-gak, "Orang-orang Put-gwa-cin-kau telah mengejar sampai di sini."

"Aku lihat hanya Ji kaucu seorang yang telah sampai, kalian cepat bersiap melarikan diri, biar aku menahan dirinya."

 

Sementara itu Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau telah menghentikan langkah, katanya dengan suara yang menyeramkan, "Han Siau-liong, sikapmu yang sombong dan takabur membuat dirimu tak bisa hidup lama di dunia ini."

Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, semenjak aku belajar pedang, aku memang sudah tak ingin hidup lama di dunia ini."

Sepanjang pembicaraan berlangsung, Bong Thian-gak dengan sepasang mata yang tajam mengawasi seluruh gerak-gerik Ji-kaucu tanpa berkedip.

Tiba-tiba pemuda itu berteriak, "Cepat mundur, Ji-kaucu telah melepaskan racun jahat!"

 

Ternyata Bong Thian-gak telah melihat munculnya segumpal kabut tipis yang pelan-pelan berhembus keluar dari semak belukar sebelah utara, kabut itu menggulung datang di atas permukaan rumput, tak ubahnya seperti kabut malam yang terhembus angin.

Sejak awal Pat-hubuncu telah memerintahkan anak buahnya agar bersiap sedia. Begitu mendengar suara bentakan Bong Thian-gak, kedelapan gadis muda itu segera menggotong tandu kecil itu dan segera kabur menuju ke arah selatan.

Dengan gerakan cepat Bong Thian-gak ikut mengundurkan diri pula ke arah selatan.

 

Menyaksikan hal ini Ji-kaucu tergelak, pedangnya segera dilolos, kemudian bagaikan seekor bangau raksasa dia melompat dan menerkam dari tengah udara, hardiknya, "Kau memang benar-benar cekatan, tapi aku ingin tahu apakah kau sanggup lolos dari seranganku atau tidak."

Di tengah pembicaraan, pedang Ji-kaucu telah membacok datang dengan membawa segulung hawa serangan dingin dan mengerikan.

 

Tiga tahun berselang, Bong Thian-gak pernah terluka di ujung pedangnya, terutama disebabkan pedang Ji-kaucu ini memiliki rahasia besar.

Maka dari itu Bong Thian-gak tidak menyambut serangan itu dengan kekerasan, sebaiknya malah melompat mundur.

Ji-kaucu tidak menyangka Bong Thian-gak memilih mundur daripada menerima serangannya, sambil tertawa dingin dia menjengek, "Mengapa kau tidak menyambut seranganku?"

 

Kembali pergelangan tangan kanannya digetarkan, pedangnya menciptakan selapis bunga pedang, seperti membacok dan menusuk langsung menyambar tubuh Bong Thian-gak.

Biarpun Bong Thian-gak memegang pedang di tangan kirinya, dia masih saja mundur tanpa menyambut datangnya ancaman.

Dia mundur dengan mengambil langkah segitiga, sebentar ke kiri sebentar ke kanan, agaknya dia berjaga-jaga atas serangan racun yang dilancarkan Ji-kaucu, itulah sebabnya dia selalu mundur dengan mengikuti arah angin.

 

Ketika Ji-kaucu melancarkan serangan keempat, mendadak dari sana berkumandang beberapa kali jeritan yang menyayat hati.

Dengan terkejut Bong Thian-gak segera berpaling, apa yang kemudian terlihat segera membuat darahnya mendidih.

Rupanya Han Siau-liong telah memanfaatkan kesempatan itu untuk menghadang jalan pergi anggota Hiat-kiam-bun, pedang bajanya diputar sedemikian rupa membentuk gelombang angin pedang yang menderu-deru dan amat memekakkan telinga.

 

Tak seorang pun di antara anggota Hiat-kiam-bun yang mampu menahan serangannya itu.

Jerit lengking yang memilukan bergema susul menyusul, suara orang sekarat yang mendekati ajal, membikin siapa pun yang mendengar berdiri bulu kuduknya.

Bong Thian-gak berpekik nyaring dengan nada pedih, dia melejit ke tengah udara dan meluncur ke muka, bentaknya, "Han Siau-liong, serahkan nyawamu!"

Selesai bentakannya itu, secepat kilat Bong Thian-gak menyambar ke depan, cahaya pedang yang kemerah-merahan ikut menyambar pula dengan hebatnya.

"Hahaha," Han Siau-liong terbahak-bahak, "Jian-ciat-suseng, kau memang seharusnya turun tangan sejak tadi."

 

Diiringi desingan tajam, pedang bajanya dibabatkan ke muka menyambut datangnya ancaman itu.

"Trang", dentingan nyaring disertai percikan bunga api segera memancar ke empat penjuru.

Dengan pedang pendeknya Bong Thian-gak berhasil mementalkan pedang baja lawan yang beratnya mencapai seratus kati itu.

Akibat bentrok ini, Han Siau-liong mundur tiga langkah dengan sempoyongan sebelum berhasil berdiri tegak kembali.

Bong Thian-gak mengunjuk rasa terkejut, rupanya dalam bentrok tadi ia merasakan pergelangan tangan kirinya sakit, linu dan kesemutan.

Dari sini dapatlah diketahui tenaga serangan Han Siau-liong memang benar-benar sangat tangguh.

Padahal Han Siau-liong jauh lebih terperanjat lagi ketimbang Bong Thian-gak.

 

Seingatnya, kecuali gurunya seorang, belum pernah di dunia ini ada orang yang sanggup menggetarkan pedang bajanya sampai terpental, mimpi pun dia tak pernah menyangka laki-laki berlengan tunggal yang berwajah pucat dan penyakitan ini memiliki kekuatan begitu dahsyat.

Padahal bagi dua jago yang bertarung, teledor dan kehilangan konsentrasi merupakan pantangan paling besar.

 

Sementara dia masih terkejut bercampur keheranan, Ji-kaucu telah memanfaatkan kesempatan itu untuk menerobos masuk, dalam waktu singkat tujuh-delapan gadis berbaju merah telah roboh tergeletak di tanah tanpa bersuara, sementara Ji-kaucu sendiri telah menerjang ke muka tandu kecil.

Bentakan nyaring bergema memecah keheningan. Pat-hubuncu segera menyusul ke muka.

"Nona, jangan mendekati dia," teriak Bong Thian-gak cemas.

Belum lagi ucapan itu selesai, tangan kiri Ji-kaucu telah mengayun ke arah belakang.

Dengusan tertahan bergema, sekujur badan Pat-hubuncu bergetar keras, kakinya menjadi lemas dan roboh terduduk ke atas tanah.

"Lihat pedang!" bentak Bong Thian-gak.

Hawa pedang bagai bianglala menyambar dan menusuk ke depan.

 

Tampaknya Ji-kaucu mengetahui kehebatan serangan itu, sambil memutar badan ia mundur ke sisi kiri.

Akhirnya Bong Thian-gak berdiri di muka tandu kecil itu dengan pedang disilangkan di depan dada.

Ji-kaucu memandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu ujarnya, "Orang-orang Hiat-kiam-bun sudah banyak menjadi korban, kau anggap dengan kemampuanmu seorang bisa meneruskan perjalanan untuk melindungi tandu ini?"

Memandang mayat yang berserakan di atas tanah, Bong Thian-gak merasa sedih sekali. Gadis-gadis muda yang segar dan lincah tadi dalam waktu singkat menjadi korban di tangan keji Ji-kaucu dan Han Siau-liong, peristiwa ini merupakan kejadian yang mengenaskan.

 

Tiba-tiba terdengar suara rintihan lirih, Pat-hubuncu mengangkat kepala dan berbisik pelan, "Siangkong, kau ... kau tak usah tinggal di sini lagi... sebentar Buncu akan ... akan mendusin ... bila sampai begitu, maka dia ... dia masih tetap akan menjadi orang Put-gwa-cin-kau."

"Aku tak dapat membiarkan dia terjatuh kembali ke tangan orang-orang Put-gwa-cin-kau," tukas Bong Thian-gak dengan suara dalam.

"Kali ini kita gagal, tapi lain kali kita masih ada kesempatan untuk menolongnya, bila ia sadar nanti, kesadarannya tetap hilang, dia hanya tahu mentaati perintah Put-gwa-cin-kau, berarti kau akan mendapat seorang musuh tangguh lagi."

Sementara itu Han Siau-liong telah menerjang masuk melalui belakang, pedang bajanya segera bergetar.

"Sreet", kain hitam penutup tandu segera tersambar hingga robek dan terbuka.

 

Orang yang berada dalam tandu pun segera terlihat jelas. Mendadak Han Siau-liong menjerit kaget, "Ah, rupanya dia adalah Si-hun-mo-li?"

Mendengar seruan itu, Bong Thian-gak mendesak maju, tampak di balik tandu itu duduk seorang wanita cantik.

Biarpun wajah perempuan itu sudah berubah menjadi abu-abu, Bong Thian-gak masih dapat mengenali dengan pasti.

Agaknya Han Siau-liong belum pernah menjumpai perempuan yang begitu cantik sepanjang hidupnya, dia tertegun dan berdiri dengan mata terbelalak.

Perempuan itu sedang tidur, tidur amat nyenyak dan nampak begitu cantik menawan hati.

 

Tak tahan Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ah, ternyata memang dia, rupanya Si-hun-mo-li adalah Thay-kun. Ai! Rupanya Cong-kaucu benar-benar telah mencelakai dirinya."

Belum habis ingatan itu, sebilah pedang dingin menggidikkan diam-diam telah menusuk ke arah tubuhnya.

Tanpa pikir panjang Bong Thian-gak memutar pedang pendeknya ke depan sementara tubuhnya berputar tiga kali.

"Kau dapat menghindari seranganku ini?" seru Ji-kaucu tertahan dengan sorot mata memancarkan rasa kaget dan tercengang.

Amarah sedang berkobar dakam dada Bong Thian-gak, segera ia membentak keras, "Ji-kaucu, Han Siau-liong, kemari kalian berdua, biar lenganku cuma satu, aku masih mampu menandingi kedua bilah pedang kalian bersama-sama."

Bentakan itu amat keras hingga menggetarkan seluruh angkasa.

Han Siau-liong maupun Ji-kaucu tertegun, serentak mereka mendongakkan kepala.

Bong Thian-gak dengan pedang terhunus di depan dada dan sorot mata memancarkan cahaya setajam sembilu sedang mengawasi mereka berdua tanpa berkedip.

 

Menyaksikan sikap angker Bong Thian-gak yang berdiri bagaikan batu karang dan hawa membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, Ji-kaucu maupun Han Siau-liong sama-sama terkesiap dibuatnya.

Ternyata mereka sudah dapat melihat Bong Thian-gak sedang mempersiapkan tenaga dalamnya berniat melancarkan serangan dengan pedang terbang.

Dalam posisi demikian, Han Siau-liong maupun Ji-kaucu menjadi ragu, mereka tak tahu apakah serangan dahsyat yang dilepaskan Bong Thian-gak itu dapat disambut oleh mereka berdua ataukah tidak.

 

Sebagai jagoan yang punya nama besar, tentu saja Han Siau-liong serta Ji-kaucu enggan bekerja sama, mereka pun enggan bersama-sama menghadapi serangan dahsyat Bong Thian-gak.

Sikap kereng dan berwibawa Bong Thian-gak sekarang memaksa keduanya mau tidak mau harus mengangkat pedang bersiap siaga.

Keheningan yang mencekam menyelimuti sekitar tempat itu, tapi suasana seram, ngeri dan tegang menekan perasaan setiap orang dan hal ini makin lama makin menebal bersama dengan berkembangnya sang waktu.

 

Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun tidak percaya ilmu silat Bong Thian-gak dapat dipakai untuk melawan serangan gabungan Ji-kaucu serta Han Siau-liong, sambil menahan rasa sakit dari luka yang dideritanya, tanpa berkedip dia mengawasi gerak-gerik mereka.

Tiba-tiba Bong Thian-gak dengan pedang tersilang di depan dada, selangkah demi selangkah maju dan pelan-pelan mendekati kedua orang lawannya.

Dengan cara ini, siapa mampu meloloskan diri dari sergapan Bong Thian-gak itu? Akan tetapi Ji-kaucu maupun Han Siau-liong tetap tidak menggerakkan tubuh, seolah-olah sedang menunggu datangnya serangan lawan.

 

Ji-kaucu serta Han Siau-liong terbilang tokoh silat yang sangat berpengalaman dalam Bu-lim, jangan dilihat gerak Bong Thian-gak sangat lamban, bila musuh berani bergerak, maka pedang pendek Bong Thian-gak akan meluncur bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, tak seorang pun yang mampu menerima serangan itu.

"Sret, sret", dua kali desingan nyaring berkumandang.

Akhirnya Bong Thian-gak tiba di depan kedua orang itu, pedang pendeknya dengan sangat ringan membacok ke dada Ji-kaucu serta Han Siau-liong.

Pada saat bersamaan pedang baja Han Siau-liong membacok pula ke depan, sedang pedang hijau Ji-kaucu meluncur secepat petir.

Dalam waktu singkat cahaya pedang menyelimuti hawa dingin yang menusuk tulang, serasa menyakitkan.

Dua kali dengusan tertahan segera bergema.

Bayangan orang menyambar dan berkelebat ke samping ... diikuti lenyapnya cahaya pedang.

 

Bong Thian-gak berjumpalitan dan mundur, cahaya tajam dari balik matanya sudah berkurang, sementara pedangnya entah sudah mencelat kemana.

Pedang baja yang semula berada di tangan kanan Han Siau-liong kini sudah menancap di atas tanah, bahu kirinya tertancap sepotong kutungan pedang, darah segar bercucuran keluar dengan derasnya.

Pedang kanan Ji-kaucu masih tersilang di depan dada, namun di dada kanannya tertancap sepotong kutungan pedang berikut gagangnya, darah segar pun bercucuran membasahi pakaian.

Rupanya Ji-kaucu dan Han Siau-liong sama-sama terluka, kedua orang itu terkena pedang pendek Bong Thian-gak yang patah menjadi dua dan menusuk dua sasaran yang berbeda.

 

Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun mengikuti dengan jelas bagaimana Bong Thian-gak mematahkan pedangnya jadi dua, dan secara terpisah menancapkan di bahu kiri Han Siau-liong dan dada kanan Ji-kaucu.

Ji-kaucu dan Han Siau-liong sendiri pun tidak ada tahu cara bagaimana Bong Thian-gak melukai mereka.

Dalam pertarungan sengit yang berlangsung tadi, Ji-kaucu dan Han Siau-liong sama-sama menggetarkan pedang menyambut ancaman itu, mereka pun merasa seakan-akan pedang pendek Bong Thian-gak terpapas kutung oleh senjata mereka.

Tapi ketika lengan tunggal Bong Thian-gak digetarkan, tahu-tahu Han Siau-liong dan Ji-kaucu telah terluka oleh tusukannya.

 

Agaknya di saat pedang patah menjadi dua, Bong Thian-gak telah mencengkeram kedua kutungan pedang itu dengan lengan tunggalnya, kemudian disambitkan ke depan.

Han Siau-liong mencabut kutungan pedang dari bahunya, lalu setelah tertawa, dia berkata, "Lihai, benar-benar amat lihai, Jian-ciat-suseng memang terhitung manusia tangguh. Kalau ditanya senjata apa di dunia ini yang tercepat, maka itulah golok sakti si lengan tunggal, tapi kulihat ilmu pedang Jian-ciat-suseng masih berada di bawah To-pit-coat-to Liu Khi."

 

"Rupanya Liu Khi terhitung jago nomor dua perkumpulan kalian?" jengek Bong Thian-gak tertawa dingin.

Biarpun bahu kirinya sudah basah oleh darah, Han Siau-liong masih tetap tertawa, "Hahaha, benar-benar, Liu Khi memang jago nomor dua Kay-pang, Ji-kaucu sendiri pun pernah keok di tangannya."

Dalam pada itu Ji-kaucu telah mencabut kutungan pedang dari dadanya, tampaknya dia terluka parah, secara beruntun beberapa buah jalan darahnya telah ditotok hingga darah tidak mengalir lagi.

Setelah tertawa seram, dia berkata, "Serangan yang kau lancarkan benar-benar cepat, pedang Ji-kaucu memang tak akan bisa melukaimu untuk selamanya."

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Ah, mana, aku telah mengerahkan segenap kemampuanku, namun kenyataannya tak sanggup merenggut nyawamu, setelah berpisah malam ini, entah kapan aku baru bisa membinasakan kalian."

Di tengah pembicaraan, dengan suatu gerakan cepat Bong Thian-gak telah memungut kembali sebilah pedang pendek dari atas tanah. Suasana di sekeliling tempat itu segera berubah kembali menyusul gerak-gerik Bong Thian-gak, selapis hawa membunuh dengan cepat menyelimuti tempat itu.

Dengan perasaan tegang dan serius Han Siau-liong dan Ji-kaucu sekali lagi bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Jelas Bong Thian-gak telah diliputi oleh hawa membunuh.

 

Rupanya dalam bentrokan tadi, Bong Thian-gak telah berhasil mengetahui rahasia pedang panjang Ji-kaucu, dia yakin kemampuannya sanggup melenyapkan Ji-kaucu, bagaimana pun juga Ji-kaucu adalah musuh besarnya yang harus dibunuh.

Kini kekuatan Put-gwa-cin-kau sudah meningkat hebat, mumpung dia masih berkeyakinan melenyapkan kekuatan lawan, mengapa tidak ia manfaatkan peluang itu untuk menggerogoti kekuatan musuh? Itulah sebabnya Bong Thian-gak memusatkan kembali kekuatan melepaskan serangan berikut.

Kali ini Bong Thian-gak berdiri sambil memeluk pedang di depan dada, pelan-pelan ia berkata, "Han Siau-liong, kau sudah keok di ujung pedangku, bila ingin membalas dendam, kesempatan masih cukup banyak, kuanjurkan kepadamu cepatlah meninggalkan tempat ini!"

 

Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak, "Biarpun aku sudah terluka, aku masih mampu untuk merobohkan dirimu."

"Kau telah membunuh banyak orang, aku memang tak akan melepas kau begitu saja," ucap Bong Thian-gak dingin, "apalagi pihak Kay-pang memang tidak mengizinkan aku menancapkan kaki dalam Bu-lim, maka boleh dibilang setiap saat bisa jadi kita akan berduel kembali."

"Hahaha, bagus, bagus sekali," Han Siau-liong tertawa nyaring. "Malam ini Han Siau-liong terpaksa harus menuruti nasehatmu untuk mengundurkan diri."

Selesai berkata, Han Siau-liong segera menggerakkan badan beranjak pergi.

 

Jangan dilihat perawakannya yang tinggi besar, kehebatan ilmu meringankan tubuhnya tidak malu disebut jago lihai kelas satu dari dunia persilatan, dengan dua kali lompatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Sepeninggal Han Siau-liong, Bong Thian-gak baru berkata sambil tertawa dingin, "Ji-kaucu, hari kematianmu sudah tiba!"

"Bukan hari kematianku, tapi hari kematianmu," sahut Ji-kaucu dengan suara menyeramkan.

"Benar, siapa unggul siapa kalah memang susah untuk diketahui, tapi aku percaya kau sudah berada di tepi jurang kematian."

"Selamanya Ji-kaucu bukan orang yang gampang mati, percaya atau tidak terserah padamu."

 

Bong Thian-gak tertawa.

"Gerak pedangmu jauh lebih lamban daripada aku, ilmu racunmu susah untuk dikembangkan lagi, bahkan rahasia pedangmu sudah dapat kuketahui, kepandaian apa lagi yang akan kau andalkan? Memangnya kau masih memiliki ilmu menyusup ke tanah atau terbang ke langit?"

Pucat keabu-abuan paras muka Ji-kaucu mendengar perkataan itu, dia seperti belum mau percaya begitu saja, kembali tanyanya, "Apa benar kau sudah mengetahui rahasia pedangku?"

"Apa sebabnya pedangmu bisa merenggut nyawa musuh? Kan karena pedangmu itu dapat menusuk setengah kaki lebih ke depan, karena di balik pedangmu itu kau sengaja menyisipkan sebilah pedang kecil setipis daun, bila tombol rahasianya kau pencet, pedang kecil itu akan melejit keluar dari ujung pedang dan menusuk korban."

 

Rasa kaget dan tercengang dengan cepat menyelimuti wajah Ji-kaucu, dia terbungkam dan hanya bisa memandang anak muda itu dengan termangu.

Malam ini merupakan kali kedua Bong Thian-gak bertarung melawan Ji-kaucu.

Sesungguhnya yang lebih banyak bahayanya daripada selamat bukan Ji-kaucu, melainkan Bong Thian-gak.

Sebab Bong Thian-gak masih belum mengetahui pasti akan rahasia dan kehebatan pedang Ji-kaucu itu.

Bong Thian-gak memang tidak seharusnya kalah untuk kedua kalinya di tangan Ji-kaucu, namun pada saat itulah Si-hun-mo-li yang berada di dalam tandu kecil sudah mulai membuka matanya.

Bagaikan segulung angin perempuan itu melompat keluar dari balik tandu.

Sepasang matanya yang jeli segera berputar kian kemari sebelum akhirnya berhenti pada tubuh Bong Thian-gak.

"Thay-kun!" bisik Bong Thian-gak.

 

Ia merasa perempuan itu seperti orang baik, wajahnya cantik, matanya jeli dan manis menawan hati, terutama sekulum senyum manis yang menghiasi wajahnya.

Begitu cantik dan lembut gadis itu, bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Panggilan lembut Bong Thian-gak tentu dapat terdengar olehnya, tapi gadis itu tidak menjawab ataupun menunjukkan suatu perubahan sikap, sekulum senyuman yang menawan masih menghiasi wajahnya.

 

Sepasang matanya seolah-olah sedang tertawa pula, tampak begitu indah, lembut dan menawan hati.

Bong Thian-gak menghela napas lirih, serunya, "Thay-kun, kau tidak kenal aku?"

Senyum dan pancaran sinar mata Si-hun-mo-li semakin memikat, dengan langkah gemulai dia berjalan menghampiri Bong Thian-gak.

Pat-hubuncu yang menyaksikan hal itu menjadi sangat terkejut segera serunya, "Bong-siangkong, kesadaran otaknya sudah punah ....kau ... kau cepat lari...."

Jeritan yang begitu keras dan melengking ini cepat menyadarkan Bong Thian-gak bahwa orang yang dihadapi bukan Thay-kun melainkan Si-hun-mo-li.

Dengan langkah lembut gadis itu makin lama semakin mendekati Bong Thian-gak.

 

Bong Thian-gak sendiri tidak tahu bagaimana harus menghadapi semua ini, bagaimana tidak? Paras muka gadis itu sama sekali tidak memancarkan rasa gusar ataupun permusuhan, yang ada cuma senyum yang memukau.

Siapa lelaki di dunia ini yang mampu melawan daya pesonanya? Lebih-lebih tiada seorang pun yang tega turun tangan dan menghabisi nyawa seorang gadis yang polos.

"Cepat mundur ... cepat mundur ... dia akan membunuhmu," sekali lagi Pat-hubuncu menjerit keras.

Bong Thian-gak terkejut, tanpa sadar ia menggeser langkahnya dan mundur setengah tindak.

Pada saat itulah Si-hun-mo-li dengan gerakan seperti hendak menjatuhkan diri ke dalam pelukannya telah menerjang tiba.

 

Pada saat yang bersamaan pula Bong Thian-gak dapat melihat betapa merah membaranya telapak tangan kirinya itu, kelima jari tangan yang direntangkan lebar langsung diarahkan ke tubuh bagian bawahnya.

Bong Thian-gak benar-benar sangat terperanjat, dia menjatuhkan diri ke belakang, lalu melejit ke samping.

Dengan gerakannya itu, maka serangan Kau-ji-ti-tho (monyet sakti memetik buah Tho) Si-hun-mo-li mengenai tempat kosong.

Padahal selama ini belum pernah ada lelaki di dunia ini yang sanggup melepaskan diri dari cengkeraman tangan mautnya.

 

Si-hun-mo-li kelihatan agak tertegun, lalu sambil mendongakkan kepala dia tertawa cekikikan, suaranya begitu merangsang membuat napsu birahi orang bangkit.

Siapa pun yang mendengar suara tawa itu, hatinya pasti akan bergejolak, darahnya mendidih dan tanpa sadar akan terbayang kembali adegan hubungan mesra antara laki dan perempuan.

Begitulah di tengah suara cekikikan yang penuh kejalangan, Si-hun-mo-li mulai melepas kancing bajunya dan membentangkannya hingga terbuka lebar.

Yang mengejutkan adalah di balik baju luarnya ternyata ia tidak mengenakan secuwil baju pun, kulit badannya yang putih menawan, serta liukan badannya yang aduhai....

 

Pokoknya Bong Thian-gak dapat menyaksikan semua bagian rahasia tubuh Si-hun-mo-li secara jelas.

Dengan suatu gerakan cepat mendadak Bong Thian-gak mengegos ke samping, lalu melompat ke sisi tubuh Pat-hubuncu, dengan suatu gerakan cepat ia menyambar pinggangnya dan siap melarikan diri.

Tapi bayangan orang kembali berkelebat, tahu-tahu Si-hun-mo-li sudah mengejar ke muka.

Terpaksa Bong Thian-gak harus bergeser ke samping kiri dan kabur kembali.

Tapi untuk kesekian kalinya Si-hun-mo-li kembali mendesak ke muka, kali ini Bong Thian-gak sempat melihat telapak tangan gadis itu sudah muncul di hadapannya, bahkan segulung angin pukulan yang membuat sesak napas menekan ke arah dadanya.

 

Bong Thian-gak merasa sekujur badannya menjadi dingin, dada kanannya termakan pukulan itu secara telak, saking sakitnya hampir saja tubuh Pat-hubuncu yang berada dalam bopongannya terjatuh ke tanah.

Walaupun Bong Thian-gak sudah termakan oleh pukulan Si-hun-mo-li, namun dia tak sampai roboh, malahan dengan memanfaatkan tenaga pantulan itu dia melejit jauh dan melarikan diri dari sana.

Di tengah kegelapan malam, terdengar suara Ji-kaucu berseru dengan suara bangga, "Wahai Jian-ciat-suseng, kau tak bakal hidup melampaui satu jam lagi, sekarang kau telah termakan sebuah pukulan maut Si-hun-mo-li."

 

Benar, memang tiada seorang pun di dunia yang mampu menahan serangan maut Si-hun-mo-li, bahkan Ku-lo Hwesio yang termasyhur pun akhirnya tewas setelah terkena pukulan itu tiga tahun berselang.

Sebab pukulan yang melukainya adalah Soh-li-jian-yang-sin-kang yang tiada duanya di dunia ini.

 

Di tengah keheningan yang mencekam, terdengar seorang dengan nada lirih dan lemah berkata, "Siangkong, kau sudah terkena pukulan."

Di bawah sebatang pohon di sisi hutan, duduk bersandar seorang gadis berkerudung berbaju merah.

Di hadapannya berjongkok seorang pemuda berlengan tunggal.

"Benar," Bong Thian-gak manggut-manggut, "aku memang sudah terkena pukulannya."

Dua baris air mata bercucuran membasahi wajah Pat-hubuncu yang tertutup kain kerudung, katanya sesenggukan, "Siangkong, gara-gara aku, kau harus mengorbankan nyawamu."

"Aku tak bakal mati!" Bong Thian-gak tersenyum.

"Aku tahu, di dunia ini belum ada seorang pun yang mampu bertahan atas pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang Buncu."

 

Sekali lagi Bong Thian-gak mengangguk.

"Benar, Soh-li-jian-yang-sin-kang memang ilmu pukulan hebat."

"Oh, Siangkong," Pat-hubuncu menangis tersedu-sedu, "mengapa kau kabur tadi? Kau kan tahu, kepandaian silat Buncu begitu lihai."

"Sudah kubilang, aku tak bakal mati!" Bong Thian-gak tersenyum. "Kau membohongi aku."

"Soh-li-jian-yang-sin-kang memang sangat lihai," Bong Thian-gak kembali berkata dengan wajah bersungguh-sungguh, "setiap orang yang terkena pukulannya akan merasa kesakitan pada sekujur badannya, dia akan menggigil kedinginan, wajah memucat dan seluruh kulit badan berkerut kencang, tapi kenyataan aku tetap sehat walafiat sekarang, mengapa kau belum mau percaya?"

 

Pat-hubuncu segera membuka mata lebar-lebar dan mengamati paras muka Bong Thian-gak dengan seksama, lalu katanya dengan wajah tidak mengerti, "Dengan jelas kulihat dada kananmu terhajar oleh serangannya, mengapa kau ...."

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Sesungguhnya aku telah berhasil melatih ilmu Tat-mo-khi-kang yang sangat dahsyat, daya serangan Soh-li-jian-yang-sin-kang tak akan mampu melukai isi perutku, itulah sebabnya aku sama sekali tidak terluka tadi."

"Benarkah itu?" Pat-hubuncu kegirangan.

"Aku tidak bermaksud membohongimu, sekarang kau tak perlu kuatir, yang perlu dirisaukan sebenarnya adalah nyawamu sendiri." Pat-hubuncu tertawa rawan.

 

"Tiada berharga untuk merisaukan nyawaku, karena nyawaku memang tiada harganya."

"Nyawa setiap manusia adalah sama, tidak dibedakan mana yang berharga dan yang tidak. Lepaskan kain kerudungmu, akan kulihat apakah kau keracunan atau tidak."

Pelan-pelan Pat-hubuncu melepas kain kerudungnya, kemudian menjawab, "Perut bagian bawahku terkena pukulan."

Dengan menggunakan sepasang matanya yang mampu melihat dalam kegelapan, ujarnya sambil tertawa, "Wajahmu amat cantik, beruntung sekali kau pun tidak terkena serangan racun Ji-kaucu."

"Ah, Siangkong pandai menggoda orang."

"Ayo kemarilah, kubantu dirimu mengobati luka yang kau derita."

 

Sambil berkata pemuda itu lantas menempelkan telapak tangan kirinya ke atas perut bagian bawah nona itu, segulung hawa panas segera memancar keluar dari telapak tangannya dan menyusup serta menyebar ke dalam tubuh Pat-hubuncu.

Tindakan yang diambil anak muda itu kontan saja membuat berdebar jantung Pat-hubuncu, merah padam wajahnya lantaran jengah.

Selama hidup belum pernah dia berdempetan dengan lelaki mana pun, apalagi telapak tangan Bong Thian-gak menempel di atas perut bagian bawahnya yang merupakan daerah rawan dan menimbulkan napsu birahi.

 

Dengus napas Pat-hubuncu segera bertambah cepat, dia pejamkan matanya dan hampir lupa dengan rasa sakit yang dideritanya, suatu perasaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata segera menyelimuti perasaannya.

Secara diam-diam ia menyambut kenikmatan itu tanpa berkata-kata, sayang sekali keadaan itu tidak berlangsung lama karena Bong Thian-gak menarik kembali tangannya sambil berbisik, "Nah, sudah selesai, keadaan lukamu sekarang sudah tidak membahayakan lagi, kau boleh pulang."

Merah padam wajah Pat-hubuncu, untung saja pada waktu itu malam sangat gelap sehingga

keadaannya tidak kentara.

 

Diam-diam ia menarik napas panjang, "Betul juga, hawa sudah dapat berjalan lancar tanpa hambatan." Hal itu membuatnya sangat kagum.

"Budi pertolongan Siangkong takkan kulupakan untuk selamanya, aku ...."

"Kau tak perlu memikirkan hal itu dalam hati," tukas Bong Thian-gak sambil menggeleng kepala, "korban yang jatuh pada malam ini cukup besar, hal itu membuat hatiku amat tak enak ... oya betul! Aku belum bertanya siapa nama nona dan jabatanmu dalam perguruan Hiat-kiam-bun."

"Aku adalah Pat-hubuncu, sejak kecil sudah mendampingi Cong-hubuncu, dia memanggil aku Siau Gwat-ciu!"

"Selama ini Cong-hubuncu kalian selalu mengosongkan jabatan ketua, kesetian kalian benar-benar mengagumkan."

"Siangkong," tiba-tiba Pat-hubuncu bertanya. "Darimana kau tahu tentang asal-usul perguruan Hiat-

kiam-bun kami dengan begitu jelas?"

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Gwat-ciu, kau cepat pulang saja, kita pasti akan bersua kembali di masa mendatang, maaf kalau aku harus mohon pamit terlebih dahulu ."

Seusai perkataannya, dia lantas pergi dari situ.

Tentu saja dia lantas pulang ke kuil Hong-kong-si.

 

Setelah menempuh perjalanan semalam suntuk, ditambah pula menderita pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Si-hun-mo-li secara telak, kendati tidak mengakibatkan Bong Thian-gak terluka, dia belum lega rasanya sebelum bersemedi barang setengah jam.

Oleh karena itu begitu usai bersemedi dia tertidur nyenyak saking lelahnya.

Ketika ia mendusin beberapa waktu kemudian, suara ketukan pintu bergema dari luar ruangan. "Siapa?" tegurnya kemudian.

"Aku, Hong-hong," suara merdu terdengar dari luar. "Ada urusan apa?"

"Lapor Hwecu," kata Yu Hong-hong dengan merdu, "di luar ada orang mohon berjumpa dengan Hwecu."

 

Bong Thian-gak terkejut mendengar ucapan itu, tanyanya dengan kening berkerut, "Siapakah dia?"

"Orang itu sudah berada di ruang tamu, dia telah menunggu dua jam lamanya."

Dengan cepat Bong Thian-gak membereskan pakaiannya, lalu membuka pintu, Yu Hong-hong sudah berdiri di luar pintu dengan senyuman aneh menghias bibirnya.

Begitu Bong Thian-gak muncul, dia berbisik, "Hwecu, jodohmu memang sangat baik."

"He, Hong-hong! Apa maksudmu?" tanya Bong Thian-gak.

Yu Hong-hong tertawa cekikikan. "Ada seorang gadis yang datang berkunjung, katanya dia tak akan beranjak dari situ sebelum bertemu dengan Hwecu, bayangkan sendiri, bukankah jodoh Hwecu memang amat baik?"

"Seorang gadis? Siapakah dia?" pikir Bong Thian-gak. "Mengapa dia bisa tahu aku berdiam di sini?"

 

Berpikir demikian, dengan dahi berkerut kencang Bong Thian-gak bertanya lagi, "Dia berasal dari golongan mana?"

"Aku tidak kenal, dia pun tidak mau menerangkan asal-usul perguruannya, tapi wajahnya cantik, potongannya tinggi semampai, pinggangnya langsing lagi."

Mengikut di belakang Yu Hong-hong, Bong Thian-gak menuju ke ruang tamu, dari kejauhan dia sudah melihat seorang gadis tinggi semampai berambut panjang sedang berdiri di depan jendela, ketika mendengar suatu langkah mendekat, ia segera berpaling.

Bong Thian-gak baru benar-benar tertegun sesudah melihat jelas paras muka gadis itu, sebab wajah itu sangat asing baginya dan belum pernah berjumpa sebelumnya.

 

Gadis cantik itu segera menjura dalam-dalam begitu bertemu pemuda itu, lalu dengan senyum di kulum katanya, "Bong-hwecu, rupanya kedatanganku mengganggu?"

"Ah, mana ... mana ...." sahut Bong Thian-gak tersenyum, "silakan duduk, silakan duduk!"

Sementara mulutnya menjawab, dalam hati kembali dia berpikir, "Heran, siapa orang ini?"

Sesudah menempati kursinya, gadis cantik itu baru menundukkan kepala dan berkata agak tersipu-sipu, "Adapun kedatanganku pada hari ini adalah ingin menyampaikan rasa terima kasihku atas pertolongan yang telah Hwecu berikan semalam."

"Oh, rupanya kau adalah Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun," Bong Thian-gak berseru tertahan sesudah mendengar perkataan itu.

Memang benar gadis ini tak lain adalah Pat-hubuncu yang tol.ih diselamatkan Bong Thian-gak tadi malam.

 

Sesudah berhenti sejenak, sambil tertawa Bong Thian-gak berkahi, "Pat-hubuncu, darimana kau bisa tahu bahwa aku berdiam di sini?"

"Harap Hwecu sudi memaafkan, sesungguhnya telah kukuntit Hwecu secara diam-diam semalam?" sahut Pat-hubuncu agak tersipu.

Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, Pat-hu-buncu memang betul-betul cerdas, aku orang she Bong sungguh merasa amat kagum."

Kemudian sambil menunjuk ke arah Yu Hong-hong yang berdiri di sampingnya, ia memperkenalkan, "Dia adalah Hiangcu perkumpulan kami, Hwe-im-eng Yu Hong-hong!"

 

Buru-buru Yu Hong-hong memberi hormat kepada Pat-hubuncu sambil menyapa, "Pat-hubuncu, baik-baikkah kau?"

Setelah berhenti sejenak, tanyanya lagi sambil tersenyum, "Pat-hubuncu, kunjunganmu sepagi ini tentu bukan khusus menyampaikan rasa terima kasihmu kepada Hwecu kami atas pertolongannya bukan?"

"Ucapan Yu-hiangcu memang benar," Pat-hubuncu manggut-manggut, "kedatanganku ini, di samping hendak menyampaikan rasa terima kasihku atas pertolongan Hwecu, juga kami mendapat perintah untuk mengundang Hwecu agar bersedia mengunjungi perkumpulan kami guna suatu perbincangan."

"Pat-hubuncu, bila kau ada persoalan, katakan saja terus terang," ucap Yu Hong-hong dingin.

 

Pat-hubuncu segera menunjukkan sikap serba susah, katanya kemudian, "Aku hanya mendapat perintah untuk mengundang Bong-hwecu saja."

"Apakah Ji-hubuncu partai kalian yang menyuruh kau datang kemari?" tukas Bong Thian-gak. Pat-hubuncu menggeleng. "Bukan Ji-hubuncu, tapi Cong-hubuncu."

"Oh, jadi Cong-hubuncu pun sudah tiba di Hopak?" Bong Thian-gak keheranan.

"Benar," Pat-hubuncu manggut-manggut, "dia orang tua memang telah tiba di Hopak."

"Ada urusan apa Cong-hubuncu mencariku?"

"Entahlah, soal ini aku sendiri pun tak tahu."

"Sekarang dia ada dimana?"

"Aku akan mengajak Bong-hwecu menghadapnya."

"Baiklah," Bong Thian-gak mengangguk, "harap Pat-hubuncu suka menjadi petunjuk jalan."

 

Tiba-tiba Yu Hong-hong menimbrung, "Pat-hubuncu, aku rasa sebaiknya Cong-hubuncu kalian yang datang ke Hong-kong-si!"

"Sesungguhnya Cong-hubuncu kami mempunyai kesulitan yang tak bisa diungkapkan, mustahil baginya menempuh perjalanan jauh," kata Pat-hubuncu serba susah.

Kontan saja Yu Hong-hong tertawa dingin, "Jadi kau anggap Hwecu kami bisa menempuh perjalanan jauh semaunya?"

"Hong-hong," tiba-tiba Bong Thian-gak menyela, "kau tak usah kuatir, aku akan menjumpai Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun itu."

 

Yu Hong-hong mengangkat kepala dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu katanya, "Bong-hwecu, pihak Hiat-kiam-bun pernah mempergunakan siasat yang amat licik hendak mencelakai Hwecu, menurut pendapatku bisa jadi mereka berniat jelek terhadapmu, apalagi mereka hanya mengundang Hwecu seorang."

"Hong-hong, kau tak usah kuatir," kata Bong Thian-gak sambil menggeleng kepala berulang kali, "kau pun boleh ikut bersamaku."

Pat-hubuncu berkerut kening mendengar perkataan itu, cepat dia menyela, "Bong-siangkong, Ji-hubuncu telah berpesan, mereka hanya mengharapkan kehadiran Bong-siangkong seorang diri."

"Nah, sekarang ketahuan sudah belangnya, bukankah kalian memang berniat jahat terhadap Hwecu kami?" dengus Yu Hong-hong dingin.

 

Agaknya Pat-hubuncu mengerti bahwa hal itu tak mungkin bisa dipaksakan lagi, maka akhirnya ia menghela napas panjang, "Ai, kalau begitu baiklah, silakan nona ikut bersama kami."

Sebagaimana diketahui, Bong Thian-gak sudah mengetahui jelas asal-usul perguruan Hiat-kiam-bun, dia pun tahu kedatangan Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun untuk menjumpainya tanpa disertai niat jahat.

Dalam pada itu Pat-hubuncu telah bangkit dan berkata lagi, "Siangkong, bila kau tak ada urusan lagi, mari kita segera berangkat!"

"Silakan Pat-hubuncu!" Bong Thian-gak manggut-manggut.

Dengan langkah perlahan Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu bersama Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong meninggalkan kuil Hong-kong-si, sepanjang jalan mereka bergerak tanpa berbicara, arah yang dituju mula-mula adalah kota terlarang, tapi di tengah jalan tiba-tiba Siau Gwat-ciu berbelok ke arah tenggara.

"Hei, bukankah kita akan pergi ke kota terlarang?" Yu Hong-hong segera menegur.

 

Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu tersenyum.

"Jejak Cong-hubuncu perguruan kami tak menentu, setibanya di wilayah Hopak, masa dia akan berdiam dalam rumah penginapan yang begitu gaduh dan bising?"

"Lantas dia berdiam dimana?" tanya Yu Hong-hong dengan kening berkerut.

"Sebentar kau bakal mengetahui."

Yu Hong-hong memang sama sekali tidak mengetahui asal-usul Hiat-kiam-bun, hal itu semakin menimbulkan kecurigaan dalam hatinya, segera ia berbisik kepada Bong Thian-gak, "Hwecu, apakah kita harus mengikutinya?"

"Hong-hong, bukankah kita sudah sampai di sini?" sahut Bong Thian-gak sambil tersenyum, "kalau tidak mengikutinya, kita harus ikut siapa?"

"Tapi... Hwecu, aku sangat kuatir."

"Hong-hong, baiklah kuberitahukan satu hal kepadamu," tukas Bong Thian-gak, "ketahuilah, Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun sekarang bisa jadi adalah sahabat karibku di masa lampau, oleh sebab itulah aku perlu menjumpainya."

"Seandainya Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun bukan sahabat seperti yang kau duga lantas bagaimana?" tanya Yu Hong-hong.

 

Tiba-tiba Pat-hubuncii Siau Gwat-ciu berpaling dan ikut berbicara, "Perkataan Bong Thian-gak rasanya sudah menghilangkan kecurigaan yang semula mencekam Siauli, betul tampaknya Cong-hubuncu kami memang kenal denganmu."

Kembali Bong Thian-gak tersenyum.

"Aku hanya berbicara menurut dugaanku saja, bisa juga Cong-hubuncu kalian bukan orang yang kuduga."

Paras muka Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu segera berubah sesudah mendengar itu, mendadak ia menghentikan langkah seraya berpaling dan berkata, "Siangkong telah menanam budi pertolongan kepadaku, tak nanti Siauli membiarkan Siangkong mendapat ancaman bahaya sekecil apa pun."

"Apa maksud Pat-hubuncu?"

"Andaikata Siangkong adalah sahabat karib Cong-hubuncu kami, maka perjalanan ini jelas tak ada bahaya apa pun, tapi seandainya Cong-hubuncu kami bukan orang yang Siangkong duga, maka bisa jadi Siangkong bakal dicelakai olehnya."

"Mengapa hal ini tidak kau jelaskan sedari tadi?" bentak Yu Hong-hong dengan wajah berubah.

 

Siau Gwat-ciu menghela napas sedih, "Ai, aku telah mengkhianati Hiat-kiam-bun ... sekali pun kuungkap rahasia itu pada saat ini, rasanya itu pun belum kelewat terlambat, coba Siangkong pikir kembali dengan seksama, apakah kita perlu meneruskan perjalanan ini?"

"Pat-hubuncu tak perlu kuatir," Bong Thian-gak tersenyum manis, "sebelum kuambil keputusan untuk datang kemari, segala sesuatunya telah kupertimbangkan masak-masak, andaikata Cong-hubuncu kalian bukan orang yang kuduga, bisa jadi dia akan berusaha membunuhku sepenuh tenaga serta berusaha melenyapkan seorang musuh tangguh dari muka bumi ini."

"Lantas Siangkong tetap bertekad akan berangkat ke sana juga?" tanya Siau Gwat-ciu tertegun.

"Tentu aku harus ke sana," Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Bong-hwecu, kita hanya berdua," ujar Yu Hong-hong, "apakah kita harus menelan kerugian? Menurut pendapatku, lebih baik kita ...."

"Hong-hong," tukas Bong Thian-gak lantang, "bila Tiong-yang-hwe kita ingin muncul di Bu-lim, kita wajib menyingkirkan segenap partai atau pun aliran yang memusuhi kita, cepat atau lambat Hiat-kiam-bun pasti akan bertemu Tiong-yang-hwe, andaikata Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun memang bukan orang yang kuduga, maka aku memutuskan untuk melenyapkan organisasi ini terlebih dulu."

Paras muka Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu segera berubah, serunya cepat, "Jago-jago dalam Hiat-kiam-bun kami sangat banyak, terutama Cong-hubuncu kami, boleh dibilang kepandaian silatnya lihai sekali. Kendati Siangkong tangguh dan hebat, namun kekuatannya sangat sedikit."

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Aku merasa berterima kasih sekali atas maksud baik Pat-hubuncu yang telah memberi petunjuk dengan bersungguh hati, Tiong-yang-hwe baru beberapa hari didirikan, kami memang tidak memiliki banyak anggota, tapi setiap anggota perkumpulan kami rata-rata memiliki daya tempur kuat dan tangguh serta semangat juang yang sangat tinggi."

Mendengar perkataan itu, diam-diam Siau Gwat-ciu mengagumi keberanian Bong Thian-gak, meski demikian ia masih tetap menaruh perasaan kuatir atas perjalanannya kali ini, kembali ia berkata, "Siauli sudah pernah melihat sampai dimana taraf kepandaian silat Siangkong, kau memang boleh disebut jagoan kelas satu dalam Bu-lim, Cuma…”

 

Bong Thian-gak tak membiarkan perempuan itu melanjutkan kata-katanya, sesudah tertawa dia berkata, "Mari kita lanjutkan perjalanan."

Yu Hong-hong cukup mengetahui watak Bong Thian-gak, setiap persoalan yang telah ditetapkan atau diputuskan, bagaimana pun juga tidak akan pernah diubah, oleh sebab itu dia pun tidak berusaha untuk membujuk, meski di hati ia tetap merasa tidak tenteram.

Sementara itu Siau Gwat-ciu telah melanjutkan perjalanan tanpa bicara, mereka bertiga berjalan lebih kurang setengah jam lamanya sebelum di depan sana muncul sebuah hutan yang mengelilingi sebuah bayangan air beriak.

Yu Hong-hong mengangkat kepala dan memperhatikan sekejap keadaan di depan sana, kemudian bisiknya, "Di depan sana adalah telaga Kun-beng-oh!"

"Ya, Cong-hubuncu kami tinggal di dalam sebuah kuil kecil di tepi telaga itu," Siau Gwat-ciu menyambung.

 

Selama pembicaraan berlangsung, mereka bertiga telah berjalan ke tengah hutan, di depan sana tampak sebuah kuil kecil.

Suasana di tempat itu amat sepi, hening, tak nampak sesosok bayangan pun, beberapa li di seputar tepi telaga pun tak nampak rumah lain selain kuil itu, tempat itu benar-benar sebuah tempat yang tenang, tersendiri dan berpemandangan alam sangat indah.

Ketika mereka bertiga tiba di depan pintu, tiba-tiba Siau Gwat-ciu berbisik kepada Bong Thian-gak, "Harap Siangkong menanti sebentar, biar Siauli masuk dulu untuk memberi laporan."

"Silakan!" sahutnya Bong Thian-gak manggut-manggut.

 

Dengan langkah ringan dan cepat, Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu segera masuk ke dalam kuil.

Sepeninggal Siau Gwat-ciu, Bong Thian-gak segera berpaling dan ujarnya pada Yu Hong-hong, "Hong-hong, saat bertemu Cong-hubuncu nanti, kuminta kau tetap tenang dan jangan membuat keonaran secara gegabah."

"Aku akan turut perintah," gadis itu manggut-manggut.

Meski sudah menyahut, tapi nada suaranya tidak gembira.

Baru saja Bong Thian-gak hendak menjelaskan, tampak Siau Gwat-ciu telah muncul, nona itu berseru, "Siangkong, silakan masuk!"

 

Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong bersama-sama masuk ke dalam halaman kuil Nikoh yang berpintu empat.

Semua halaman dan ruangan nampak bersih, tiada setitik debu atau pun daun kering yang berceceran di sana, agaknya memang sering dibersihkan orang, hanya anehnya, tak nampak sesosok bayangan pun yang berlalu-lalang di sana.

Pintu ruang pertama terbuka lebar, waktu itu dari dalam ruangan tampak muncul tiga orang, yang berada di tengah adalah seorang rahib setengah umur berwajah kereng dan berwibawa, berkulit putih, bersih dan matanya saleh penuh welas kasih, memancarkan cahaya tajam.

Di samping kanan rahib setengah umur itu berdiri seorang Nikoh tua kurus kering dan berwajah amat jelek.

Sedang di sebelah kirinya seorang gadis berambut panjang yang berwajah terlebih jelek daripada rahib tua itu.

Dengan sorot mata Bong Thian-gak yang tajam, dalam waktu singkat ia telah melihat jelas paras muka ketiga orang itu, wajahnya tetap tenang dan sama sekali tiada luapan emosi, sementara dalam hati ia berpikir, "Ah! Ternyata dia memang Keng-tim Suthay Nyo Li-beng ... sebaiknya tidak kukenali mereka dulu untuk sementara waktu."

 

Dalam pada itu Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun sekalian bertiga, dengan sorot matanya yang tajam sedang mengawasi pula wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip, akhirnya paras muka Keng-tim Suthay Nyo Li-beng memperlihatkan perubahan serius bercampur bingung.

Siau Gwat-ciu dan Yu Hong-hong yang berada di samping dapat melihat pula gerak-gerik dan perubahan wajah orang secara jelas. Perasaan Yu Hong-hong berat sekali, sebab dia tahu Bong Thian-gak bukanlah orang yang dicari Cong-hubuncu, berarti Bong Thian-gak serta Yu Hong-hong akan sulit lepas dari pembantaian.

 

Sementara semua orang masih termenung, tiba-tiba Bong Thian-gak tertawa ringan, suara tawanya segera menyadarkan semua orang dari lamunan.

Sembari berkata, ia lantas menjura ke arah Keng-tim Suthay Nyo Li-beng, "Aku Bong Thian-gak merasa bangga mendapat undangan Cong-hubuncu."

Seperti baru sadar dari lamunan, Keng-tim Suthay manggut-manggut seraya tertawa, "Tak usah banyak adat, silakan Siangkong masuk ke dalam untuk minum teh."

 

Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong jalan bersanding, masuk ke ruang dalam, tempat itu merupakan ruang tamu yang luas, di bagian tengah ada beberapa kursi, sementara empat orang gadis berbaju merah berambut panjang siap melayani mereka di samping.

Dengan sorot mata tajam Yu Hong-hong mengawasi sekejap setiap orang yang hadir di sini dengan seksama, yang membuat hatinya agak lega adalah orang-orang itu ternyata tak membawa senjata, penampilan mereka pun tidak menunjukkan sesuatu gejala yang mencurigakan.

 

Dengan wajah serius Keng-tim Suthay Nyo Li-beng menempati kursinya, sementara empat gadis berbaju merah yang semula berdiri di samping menuangkan secawan air teh bagi Bong Thian-gak berdua.

Setelah suasana hening beberapa saat, barulah Keng-tim Suthay berkata, "Belakangan ini saudara telah menggetarkan dunia persilatan, nama besar Jian-ciat-suseng ibarat guntur yang memekakkan telinga, beruntung Pinni bisa bertemu denganmu hari ini."

 

Bong Thian-gak tersenyum, "Kau kelewat sungkan, selama Suthay memimpin Hiat-kiam-bun, justru kaulah ibarat naga sakti yang nampak kepala tak kelihatan ekor, aku yang merasa sangat beruntung karena hari ini bisa melihat raut wajah aslimu!"

Keng-tim Suthay tertawa, "Aku rasa Pat-hubuncu perguruan kami tentu sudah menyampaikan maksud Pinni mengundangmu bukan!"

"Pat-hubuncu hanya menyampaikan undangan Suthay saja, soal lain sama sekali tidak disinggungnya, karena itu aku mohon petunjuk darimu," Bong Thian-gak tersenyum.

 

Dalam pada itu Siau Gwat-ciu telah berdiri di samping bersama keempat gadis berbaju merah lainnya, ia berdiri dengan wajah serius dan dahi bekernyit.

"Ada satu hal ingin Pinni tanyakan," kata Keng-tim Suthay Nyo Li-beng, "dalam perjumpaan kita pertama kali tadi bagaimana mungkin kau bisa mengetahui Pinni adalah Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun." Bong Thian-gak tersenyum.

"Seorang pemimpin selamanya mempunyai kewibawaan sebagai pemimpin, hal itu tidak sulit untuk diketahui."

 

Tiba-tiba Keng-tim Suthay menghela napas panjang.

"Ai, sebenarnya maksud Pinni mengundangmu tak lain adalah ingin melihat raut wajah aslimu."

"Hanya soal itu?"

"Pinni ingin tahu, apakah Jian-ciat-suseng yang namanya telah menggetarkan seluruh kolong langit ini memang seorang yang pernah kukenal dulu."

"Setelah bertemu, bagaimanakah pendapat Suthay?" Bong Thian-gak bertanya.

Keng-tim Suthay menggeleng kepala, "Rasanya seperti pernah kenal tapi seperti juga tidak kenal."

"Siapa orang yang Suthay maksudkan?" "Dia she Ko bernama Hong."

 

Ketika mendengar nama itu, hati Yu Hong-hong bergetar keras, hampir saja ia berseru tertahan.

Sepasang mata Keng-tim Suthay memang benar-benar amat tajam, ia segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Yu Hong-hong, kemudian tanyanya, "Lisicu kenal dengannya?"

"Nama besar Ko Hong Tayhiap sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan pada tiga tahun berselang, sayang aku hanya pernah mendengar namanya tapi belum pernah bertemu orangnya," sahut Yu Hong-hong cepat.

"Lapor Suthay," Bong Thian-gak menyambung, "aku kenal dengan manusia yang bernama Ko Hong itu."

 

Sekilas rasa gembira menghiasi wajah Keng-tim Suthay, tanyanya dengan wajah berseri, "Sekarang dia berada dimana? Bersediakah kau memberitahukan kepadaku?"

Bong Thian-gak termenung sejenak, lalu jawabnya, "Bila Suthay ingin kukatakan jejak Ko Hong, sebenarnya hal itu tidak sulit, tapi pertama-tama ingin kuketahui dulu ada urusan apa Suthay mencarinya?"

Keng-tim Suthay menghela napas panjang.

"Ai, bukankah kau sudah tahu, hingga sekarang perguruan kami masih belum mempunyai ketua?"

"Ya, aku memang mengetahui hal ini," pemuda mengangguk.

 

Sekali lagi Keng-tim Suthay menghela napas, "Sebetulnya Hiat-kiam-bun mempunyai seorang ketua, tapi nasib ketua kami ini belum diketahui, sebab itu jabatan itu selalu kami kosongkan hingga sekarang."

"Bukankah ketua perguruan kalian adalah Si-hun-mo-li?" tanya Bong Thian-gak dengan suara dalam.

Keng-tim Suthay mengangguk, "Kemarin malam kau sudah menyelamatkan jiwa Pat-hubuncu, maka kau pun seharusnya tahu Si-hun-mo-li, ya, betul! Dia adalah ketua Hiat-kiam-bun kami, cuma alasan di balik semua ini tak mungkin bisa aku jelaskan kepadamu."

"Aku mengetahui jelas asal-usul Si-hun-mo-li itu," pelan-pelan Bong Thian-gak, berkata.

 

Keng-tim Suthay terkejut sekali.

"Kau mengetahui asal-usul Si-hun-mo-li dengan jelas?"

"Ya, bukankah dia adalah Jit-kaucu Put-gwa-cin-kau?"

Dengan nada tidak percaya Keng-tim Suthay bertanya lagi, "Kalau begitu kau pun tahu dia adalah ketua Hiat-kiam-bun?"

"Oleh karena dia adalah pendiri Hiat-kiam-bun, maka kalian mengangkatnya sebagai ketua, bukankah begitu?"

"Betul, Si-hun-mo-li adalah pendiri Hiat-kiam-bun, darimana kau bisa tahu persoalan ini sedemikian jelasnya?"

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Semua ini aku tahu dari Ko Hong."

"Ehm, memang masuk akal, kalau begitu kau memang benar-benar kenal Ko Hong Tayhiap."

 Bong Thian-gak tertawa.

"Suthay, kau belum menjelaskan kepadaku ada urusan apa kau mencari Ko Hong?"

"Ai ... Pinni mencari Ko Hong Tayhiap karena aku ingin dialah yang memangku jabatan sebagai ketua Hiat-kiam-bun," ucap Keng-tim Suthay setelah menghela napas panjang.

 

Bergetar perasaan Bong Thian-gak mendengar itu, ujarnya, "Ketua Hiat-kiam-bun adalah Si-hun-mo-li, mengapa Suthay mencari Ko Hong untuk diangkat sebagai ketua?"

Untuk kesekian kali Keng-tim Suthay menghela napas panjang, "Padahal ketua Hiat-kiam-bun yang sebenarnya adalah Ko Hong, di saat Si-hun-mo-li mendirikan Hiat-kiam-bun tempo hari, dia telah menunjuk Ko Hong sebagai ketua Hiat-kiam-bun."

Bong Thian-gak segera merasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya mendidih, peristiwa yang terjadi pada tiga tahun berselang pun satu demi satu melintas dalam benaknya.

 

Ketika ia berhasil menguasai kembali perasaannya, dengan sedih ia berkata, "Sekarang aku ingin menceritakan sebuah kisah kepadamu, ini terjadi pada tiga tahun berselang di sebuah dusun petani di luar kota Kay-hong, dusun petani itu merupakan kantor cabang Put-gwa-cin-kau untuk kota Kay-hong. Pada saat itu segenap jago lihai Put-gwa-cin-kau telah terhimpun, konon mereka hendak menyerang perkampungan Bu-lim Bengcu, padahal bukan gedung Bu-lim Bengcu yang akan diserang, yang menjadi sasaran utama mereka waktu itu adalah seorang pengkhianat perkumpulan yakni Jit-kaucu Thay-kun ....

"Rupanya pentolan barisan pengawal tanpa tanding nomor dua berhasil mendapat kabar bahwa Jit-kaucu Thay-kun masih mempunyai hubungan dengan komandan pasukan pengawal tanpa tanding nomor tiga Nyo Li-beng, bahkan secara diam-diam sedang membentuk organisasi Hiat-kiam-bun yang cara kerjanya menentang Put-gwa-cin-kau, itulah sebabnya Thay-kun menjadi sasaran pembunuhan.

"Cong-kaucu segera mengutus Ji-kaucu dan sekalian jago lihai untuk bersiap di dusun petani itu guna menghabisi nyawa Thay-kun."

 

Sampai di sini, Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Keng-tim Suthay, setelah itu sambungnya, "Aku yakin Suthay juga mengetahui peristiwa ini bukan? Sebab ketika itu Suthay pernah memberi petunjuk kepada Ko Hong agar berangkat ke dusun petani itu."

"Ya, cepat kau lanjutkan ceritamu!" seru Keng-tim Suthay dengan perasaan sedih gembira bercampur aduk.

Setelah menghembuskan napas panjang, Bong Thian-gak berkata lebih jauh, "Ko Hong serta Jit-kaucu Thay-kun tak bisa menghindar dari pertarungan darah melawan kawanan iblis Put-gwa-cin-kau ... dengan dikerubut musuh yang berjumlah banyak, Thay-kun serta Ko Hong terluka, terutama sesudah terkena racun Ji-kaucu, tapi mereka masih tetap bertarung mati-matian untuk meloloskan diri dari kepungan.

 

"Thay-kun dan Ko Hong dengan membawa luka segera kabur ke Lok-yang dengan maksud mohon pengobatan tabib sakti Gi Jian-cau, tapi Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau serta komandan pasukan kedua pengawal tanpa tanding telah menunggu kedatangan mereka di kaki bukit Cui-im-hong ... dalam pertarungan itu Ko Hong kehilangan sebuah lengannya dan tertusuk dua puluh luka pedang di badannya.

"Dalam keadaan terluka parah, beruntung Ko Hong mendapat pertolongan dari seorang gadis lemah sehingga mendapatkan kembali nyawanya, tiga tahun ... ya ... tiga tahun kemudian, Ko Hong kembali muncul dalam Bu-lim, akan tetapi situasi dalam Bu-lim telah berubah."

 

Bicara sampai distu, Keng-tim dan sekalian anggota Hiat-kiam-bun menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, semua orang mendengarkan penuturan Bong Thian-gak itu dengan air mata bercucuran.

Ketika menyaksikan semua orang berlutut, dengan terkejut Bong Thian-gak segera menegur, "Suthay, mengapa kalian?"

Dengan kesedihan luar biasa Keng-tim Suthay berkata, "Buncu, sudah amat lama kami mencarimu! Tiga tahun belakangan ini, setiap saat kami selalu mencari jejakmu, ternyata Thian melindungi Hiat-kiam-bun, akhirnya kami berhasil menemukan kembali ketua kami."

"Ayo bangun, ayo bangun semua, kalau ada urusan, mari kita rundingkan baik-baik," seru Bong Thian-gak berulang kali.

 

Sambil berkata, pemuda itu segera membangunkan Keng-tim Suthay sambil berkata, "Memang benar, akulah Ko Hong, tapi Ko Hong bukan nama asliku, wajah yang kalian jumpai sebagai Ko Hong dahulu pun bukan wajah asliku."

Ketika Keng-tim Suthay dan semua orang sudah duduk kembali, si gadis jelek baru berseru merdu, "Ketua, kau benar-benar telah menipu kami habis-habisan, kita sudah berjumpa beberapa kali, namun tak pernah kusangka kau adalah ketua Ko Hong yang sedang kami cari-cari siang dan malam, ai! Aku merasa gembira sekali."

"Nona," kata Bong Thian-gak sambil tertawa, "andaikata kau tidak berkerudung hitam, asal-usul Hiat-kiam-bun pasti sudah dapat kuduga sejak semula."

Si gadis jelek tertawa cekikikan.

"Justru karena Hiat-kiam-bun belum menemukan ketuanya, maka kami malu berjumpa orang dengan wajah asli, itulah sebabnya kami selalu menggunakan kain kerudung hitam."

Bong Thian-gak menghela napas," Ai, di bawah bimbingan ibumu, Hiat-kiam-bun sudah cukup menggetarkan dunia persilatan, hasil yang diperoleh pun sudah bagus sekali."

"Ketua, selanjutnya segala masalah yang menyangkut Hiat-kiam-bun adalah menjadi wewenang ketua, kami semua akan mengikuti perintah ketua," ucap Keng-tim Suthay dengan sikap hormat.

 

Bong Thian-gak termenung sambil berpikir sejenak, kemudian dia baru berkata, "Ternyata Thay-kun menunjuk aku untuk menjabat ketua Hiat-kiam-bun, kejadian ini benar-benar di luar dugaanku, bila tugas dan beban yang amat berat ini harus kupikul sendiri, sesungguhnya aku akan kepayahan, ai... kekuatan yang ada di Bu-lim sekarang tercerai-berai dan masing-masing menempuh jalan sendiri-sendiri, kita kaum pemegang kebenaran apabila tak dapat bersatu-padu, memang sulit rasanya untuk menghadapi kenyataan, baiklah! Kalau begitu akan kuterima jabatan ini."

 

 ©

 

Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak ternyata ketua Hiat-kiam-bun, kejadian itu benar-benar merupakan suatu kejadian yang tak pernah disangka sebelumnya.

Tiba-tiba Keng-tim Suthay berkata, "Cho-ji cepat ambil keluar Pek-hiat-kiam."

"Baik!" si gadis jelek mengiakan.

Dengan cepat ia masuk ke ruang dalam, tak lama kemudian gadis itu telah muncul kembali sambil membawa sebilah pedang, sarung pedangnya terbuat dari batu pualam hijau, cukup dilihat dari sarungnya saja sudah dapat diketahui benda itu adalah sebilah pedang yang tak ternilai harganya.

Setibanya di depan Keng-tim Suthay, dengan sikap yang sangat menghormat gadis itu menyerahkan pedang tadi kepada ibunya.

 

Dengan memegang pedang tadi, Keng-tim Suthay berkata kepada


Bong Thian-gak, "Pek-hiat-kiam ini merupakan tanda kepercayaan ketua Hiat-kiam-bun, harap ketua sudi menerima pedang ini."

Ketika Bong Thian-gak menerima Pek-hiat-kiam itu, sekali lagi Keng-tim Suthay sekalian menjatuhkan diri berlutut seraya berkata, "Ketua, Tecu sekalian siap menerima perintah."

Bong Thian-gak tidak mengira semua orang bakal berlutut di hadapannya, buru-buru dia berkata, "Ayo cepat, semua bangun, harap kalian tak usah banyak adat."

Sesudah mendengar perkataan itu, Keng-tim Suthay sekalian baru bangkit.

 

Dengan suara dalam Bong Thian-gak berkata lagi, "Hari ini, aku baru pertama kali memangku jabatan yang amat berat ini, oleh sebab aku kurang jelas terhadap semua orang dan persoalan yang ada di sini, maka aku perintahkan Keng-tim Suthay agar tetap memimpin dan memberi petunjuk kepada segenap anggota partai."

"Terima perintah," Keng-tim Suthay berkata dengan hormat.

"Tentang jabatan dan sebutan segenap anggota untuk sementara waktu masih tetap berlaku seperti keadaan semula," Bong Thian-gak menambahkan.

Tiba-tiba Yu Hong-hong bertanya, "Lapor Bong-hwecu, bagaimana selanjutnya dengan nasib saudara-saudara kita dalam Tiong-yang-hwe?"

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Jumlah anggota Tiong-yang-hwe kita baru enam orang, kecuali aku dan Long Jit-seng, hanya Hui-eng-su-kiam kalian berempat saja, karena itu bila kalian berempat tidak merasa keberatan, mari kuajak kalian untuk masuk menjadi anggota Hiat-kiam-bun saja."

Dengan sorot mata mengandung nada cinta, Yu Hong-hong menyambut lirih, "Hui-eng-su-kiam sudah bertekad akan mengikuti Bong-hwecu, biar badan hancur, biar harus naik ke bukit golok atau terjun ke kuali minyak mendidih, kami tak akan menampik."

"Adikku dari keluarga Yu," tiba-tiba si nona jelek tertawa cekikikan, "sejak hari ini, kau mesti menyebut ketua kita sebagai Bong-buncu."

"Ah, betul, Bong-buncu!" Yu Hong-hong tertawa.

 

Bong Thian-gak bertanya kepada Keng-tim Suthay, "Tolong tanya

Suthay, bagaimana dengan keadaan perguruan kita? Dapatkah Suthay menerangkan secara ringkas?"

Keng-tim Suthay segera mengeluarkan sejilid kitab kecil dari dalam sakunya, kemudian berkata, "Kitab kecil ini mencantumkan semua nama jabatan dan kedudukan anggota kita, silakan Buncu memeriksanya."

Setelah Bong Thian-gak menerima daftar anggota Hiat-kiam-bun itu, Keng-tim Suthay berkata lebih jauh, "Secara garis besarnya, susunan perguruan kita terbagi dalam sembilan wakil ketua setelah ketua sendiri, di bawah setiap wakil ketua adalah anggota perguruan, semua anggota berjumlah seratus delapan orang, tapi dengan kematian tiga puluh orang akhir-akhir ini, mungkin jumlah kita tinggal tiga puluh orang."

Bong Thian-gak menghela napas sedih.

"Ai, kemarin malam saja kita sudah kehilangan belasan orang anggota, semoga saja selanjutnya tiada anggota Hiat-kiam-bun yang menjadi korban lagi."

 

Belum habis perkataan itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang setengah li di luar gedung.

Dengan wajah berubah Keng-tim Suthay berseru, "Di luar sana telah terjadi peristiwa, Khi Cho (si nona jelek) cepat kau periksa!"

"Jeritan ngeri tadi suaranya tinggi melengking dan amat menusuk pendengaran," kata Bong Thian-gak dengan suara dalam, "jelas jeritan orang menjelang kematian."

Belum habis ia berkata, dari kejauhan sana kembali berkumandang dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati, dari suaranya, jeritan-jeritan itu berasal dari kaum wanita.

"Biar Pinni pergi melihat keadaan!" buru-buru Keng-tim Suthay berseru.

Sebelum ia bergerak, sesosok bayangan orang telah berkelebat masuk dari luar, tahu-tahu Khi Cho sudah melayang masuk sambil berseru dengan gelisah, "Orang-orang Kay-pang telah menyerbu sampai di luar hutan Ang-hong-lim."

"Berapa orang yang datang?" tanya Keng-tim Suthay.

"Hanya empat orang, tapi salah seorang di antaranya berilmu silat sangat hebat, ketika memasuki hutan Ang-hong-lim, dalam waktu singkat dia telah membabat habis tujuh orang penjaga kita yang ditempatkan di atas pohon."

 

Dengan wajah berubah Bong Thian-gak berseru, "Cepat turunkan perintah, lepaskan musuh masuk kemari."

"Anggota perguruan kita sama sekali tak bermaksud menghalangi jalan mereka," kata Khi Cho gelisah, "tapi musuh berhati kejam dan buas, satu per satu dia telah menghabisi anggota kita yang bersembunyi di pohon."

Mendengar perkataan ini, secepat sambaran petir Bong Thian-gak meluncur keluar dari ruang kuil.

Keng-tim Suthay segera menyusul di belakangnya.

Gerakan Bong Thian-gak sangat cepat, badan bergerak seakan-akan melayang di atas dahan pohon, dalam waktu singkat pemuda itu sudah mencapai puluhan tombak jauhnya.

Pada saat itulah kembali terdengar jeritan ngeri yang memilukan bergema dari depan sana.

Bong Thian-gak kembali berjumpalitan dan meluncur ke depan, kebetulan sekali tampak segulung bayangan orang menggelinding lewat dari tepi pohon, lalu ...."Biak", terkapar di depannya.

Ternyata bayangan itu adalah perempuan berkerudung merah.

 

Gadis itu terkapar lemas di atas tanah, sebilah pisau kecil yang amat tipis menancap di tenggorokannya, darah masih meleleh, tapi jiwanya sudah melayang.

Sepasang mata Bong Thian-gak segera berubah menjadi merah berapi-api karena gusar, pelan-pelan dia bergerak ke depan sambil melakukan pencarian.

Akhirnya sorot mata itu berhenti di depan sana, terhenti pada sepasang kaki yang berdiri kaku di atas tanah.

Pelan-pelan pula sorot mata Bong Thian-gak beralih dari sepasang kaki itu bergerak naik ke atas.

Di depan sana berdiri seorang berbaju hitam yang kurus kering.

Dia berjubah panjang warna hitam, lengan baju kanannya berkibar terhembus angin, rupanya seorang berlengan tunggal.

Paras muka orang berlengan tunggal itu dingin kaku, sama sekali tidak menunjukkan hawa kehidupan, namun sepasang matanya yang bulat besar justru memancarkan sinar tajam yang menggidikkan.

Sementara itu Keng-tim Suthay sudah memburu ke tempat itu.

 

Pada saat bersamaan dari balik pohon di belakang orang baju hitam berlengan tunggal itu muncul lagi tiga orang lelaki berpakaian pengemis berwarna hitam, mereka bertiga berdiri berjajar di belakang orang berlengan tunggal itu.

Dengan seksama Bong Thian-gak mengawasi paras muka orang berlengan tunggal itu, katanya dalam hati, "Ah, dia! To-pit-coat-to Liu Khi!"

Pada saat itulah orang berbaju hitam berlengan tunggal itu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, "Cepat amat gerakan tubuh saudara, hehehe, mungkin kau adalah Jian-ciat-suseng!"

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Kalau begitu, kau pastilah To-pit-coat-to Liu Khi!"

Tatkala Liu Khi mendengar Bong Thian-gak menyebut namanya, dia kelihatan agak tertegun, tapi kemudian sahutnya sambil tertawa, "Lihai, sungguh amat lihai, tidak heran Han Siau-liong memujimu setinggi langit."

 

Dalam pada itu Khi Cho dan Yu Hong-hong serta Siau Gwat-ciu sekalian telah tiba di sana.

Sejak Keng-tim Suthay tahu musuh adalah jago lihai nomor dua Kay-pang, si golok sakti berlengan tunggal Liu Khi, dengan cepat dia perintahkan kepada Khi Cho sekalian agar mundur.

 

Sementara itu Bong Thian-gak telah berkata dingin, "Menurut cerita orang persilatan, Liu Khi adalah manusia berhati kejam dan gemar membunuh, setiap golok terbangnya dilepas, tentu akan mematikan lawan, ternyata nama besarmu memang bukan nama kosong."

Liu Khi tertawa seram, "Mana, mana! Semuanya ini hanya berkat kasih sayang sobat-sobat persilatan saja."

 

Bong Thian-gak tertawa dingin.

"Sebenarnya aku berusaha menghindari bentrok secara langsung dengan pihak Kay-pang, tapi anggota Kay-pang kelewat sombong dan jumawa, oleh sebab itu terpaksa aku menanggapi secara wajar."

Liu Khi mendengus dingin, "Hm, Liu Khi sudah membunuh beribu-ribu orang, selama ini tak pernah kukerutkan dahi, tapi untuk membunuhmu hari ini, aku merasa sedikit rada sayang."

Bong Thian-gak kembali tertawa dingin, "Walaupun engkau selalu menjadi panglima yang menang perang, tapi aku percaya hari ini kau akan menghadapi suatu cobaan yang sangat berat."

"Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau juga pernah berkata seperti apa yang kau katakan sekarang," kata Liu Khi.

"Tapi kau tak mampu membunuh Ji-kaucu," jengek Bong Thian-gak.

"Dia adalah satu-satunya orang yang bisa lolos dari ujung golokku dalam keadaan selamat."

"Tapi hari ini akan ada orang kedua."

 

PENDEKAR CACAT

Karya : Gu Long

Saduran : Can ID

Bagian 12 :  Rahasia harta karun Mo-lay-cing-ong

 

Liu Khi menarik muka, kemudian berkata, "Kedatanganku hari ini sedang mengemban tugas lain, pertarungan di antara kita lebih baik ditunda sampai hari mendatang."

"Aku ingin tahu, apa tujuanmu datang ke Kun-beng-oh?" kata Bong Thian-gak.

"Aku datang untuk mencari ketua Hiat-kiam-bun."

"Ada urusan apa kau mencarinya?"

"Akan kutanya dimanakah Long Jit-seng saat ini."

"Kau tahu siapakah ketua Hiat-kiam-bun?"

 

Liu Khi mengalihkan sorot matanya yang tajam dan menggidikkan ke wajah Keng-tim Suthay yang berdiri di sebelah kanan, kemudian ujarnya, "Sepanjang hidupku, aku Liu Khi paling membanggakan daya penciuman, daya penglihatan, serta daya pendengaran yang kumiliki, dia adalah ketua Hiat-kiam-bun."

Bong Thian-gak tertawa seram, "Hanya bermaksud mencari tahu persoalan orang lain saja kau telah pamer kekuatan dengan membunuh anggota Hiat-kiam-bun, cara keji dan busuk ini sungguh membuat orang gusar."

"Sejak tiga tahun lalu, pihak Hiat-kiam-bun sering turun tangan keji terhadap anggota perkumpulan kami," ujar Liu Khi dengan suara hambar, "kekejaman dan kebuasan mereka rasanya jauh lebih busuk dari perbuatan yang dilakukan kami."

 

Ucapan Liu Khi itu kontan membuat paras muka Keng-tim Suthay serta Khi Cho yang berada di sisinya berubah hebat.

Tiba-tiba Bong Thian-gak teingat akan peristiwa yang berlangsung tiga tahun berselang, saat itu Khi Cho telah membunuh anggota Kay-pang secara keji.

Waktu itu pihak Kay-pang telah mengirim orang melakukan penyelidikan, atas hasil kerja tiga orang Huhoat Kay-pang, mereka beranggapan Khi Cho merupakan orang yang paling mencurigakan, sebab itu mereka menyusul sampai ke kuil Keng-tim-an.

Pada saat Khi Cho melakukan pembantaian atas jago-jago Kay-pang guna melenyapkan jejak mereka, alhasil ketiga orang pelindung hukum Kay-pang itu turut terbunuh.

 

Atas persoalan ini, Bong Thian-gak boleh dibilang mengetahui dengan amat jelas, oleh sebab itu hatinya menjadi terperanjat mendengar Liu Khi menyinggung kembali masalah itu, ia tidak tahu dengan cara apakah pihak Kay-pang berhasil menyelidiki masalah itu sedemikian jelasnya.

Dalam pada itu Liu Khi telah mengalihkan sorot matanya yang tajam ke wajah Bong Thian-gak, Keng-tim Suthay dan Khi Cho secara bergantian, lalu katanya, "Kay-pang bisa membedakan antara budi dan dendam secara jelas, belum pernah kami melepas orang yang punya dendam dengan kami, permusuhan antara Hiat-kiam-bun dan Kay-pang pada hakikatnya makin lama semakin mendalam."

 

Bong Thian-gak tertawa dingin, katanya, "Bila Hiat-kiam-bun ingin merebut nama dan kedudukan dalam Bu-lim, maka cepat atau lambat pasti akan bermusuhan juga dengan pihak Kay-pang."

"Kalau memang begitu, mengapa kau menuduh aku membunuh sembilan orang anggota Hiat-kiam-bun?" tanya Liu Khi sambil tertawa seram.

"Liu Khi," Bong Thian-gak segera menukas, "percuma kita banyak bicara, bersiap-siaplah kau menyambut jurus pedangku!"

Sementara itu Bong Thian-gak dengan Pek-hiat-kiam terhunus di tangan tunggalnya, selangkah demi selangkah bergerak maju, siap melancarkan serangan.

"Tunggu dulu!" bentak Liu Khi.

"Hm, ibarat panah yang sudah direntangkan di atas gendewa, mau tak mau harus kulepaskan juga."

Liu Khi mundur selangkah, kemudian bentaknya, "Bila burung bangau dan kutilang saling bertarung, nelayanlah yang bakal beruntung, apakah kau tidak kuatir orang-orang Hiat-kiam-bun bakal merebut keuntungan dari pertarungan kita."

 

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Liu Khi, kau salah besar, akulah Hiat-kiam-buncu!"

Hati Liu Khi bergetar keras mendengar itu, mimpi pun dia tak mengira Jian-ciat-suseng bukan lain adalah ketua Hiat-kiam-bun.

Tiba-tiba ia lihat sekilas cahaya pedang, seperti terbitnya sang surya di ufuk timur, memercikkan cahaya kemerahan-merahan yang amat menyilaukan mata.

Ternyata Bong Thian-gak telah melolos Pek-hiat-kiam sambil melancarkan sebuah bacokan.

Sejak terjun kembali ke dalam Bu-lim, baru pertama kali ini Bong Thian-gak melancarkan serangan lebih dulu terhadap musuhnya.

 

Latihan tekun selama tiga tahun membuat ilmu pedang Bong Thian-gak mencapai puncak kesempurnaan, serangan pedangnya boleh dikata disertai kekuatan yang sangat mengerikan.

Liu Khi terhitung jagoan lihai kelas satu di Bu-lim saat ini, sudah barang tentu ia cukup tahu kelihaian serangan itu.

Diiringi jeritan kaget, tubuh Liu Khi melejit ke tengah udara.

Pada saat itulah tiga titik cahaya tajam tiba-tiba meluncur secara beruntun ke depan.

Daya serangan ketiga titik cahaya putih itu sedemikian cepatnya, seakan-akan melebihi cahaya pedang berwarna merah darah itu.

Semua gerakan ini boleh dibilang tidak berselisih banyak, kalau dibilang berselisih, maka selisih itu hanya beberapa detik saja.

 

Di tengah seruan kaget, terdengar jeritan ngeri yang menyayat hati, bayangan orang segera bergeser.

Tiga batok kepala anggota Kay-pang menggelinding ke atas tanah, tiga sosok tubuh tanpa kepala sambil menyemburkan darah segera roboh ke atas tanah.

Di pihak lain, Khi Cho sudah tergeletak di atas tanah. Bahu sebelah kanan Keng-tim Suthay juga berlumuran darah, dengan langkah sempoyongan ia berjalan menghampiri Khi Cho.

Bong Thian-gak dengan pedang disilangkan di depan dada, berdiri dengan wajah penuh gusar, sepasang matanya melotot besar mengawasi Liu Khi yang berada di hadapannya.

Waktu itu, Liu Khi berdiri dengan wajah sedih dan kecewa, dia hanya berdiri kaku di tempat tanpa berkutik.

Di saat Liu Khi menghindarkan diri dari serangan Bong Thian-gak tadi, dia telah melepaskan tiga buah golok terbang yang masing-masing menyerang Bong Thian-gak, Keng-tim Suthay serta Khi Cho.

 

Nama besar Liu Khi sudah menggetarkan dunia persilatan, ilmu sakti golok terbang boleh dibilang tak pernah meleset dari sasaran selama ini, tapi kenyataannya pisau terbang itu tidak memperlihatkan kelihaiannya di depan Bong Thian-gak.

Di saat Bong Thian-gak menghindarkan diri dari serangan pisau terbang tadi, secara beruntun Pek-hiat-kiam berhasil pula membinasakan tiga orang anak buah Liu Khi.

Dua pisau terbang Liu Khi yang lain agaknya tidak menghasilkan apa-apa. Keng-tim Suthay hanya terkena bahu kanannya, sedang Khi Cho roboh terkena pisau terbang.

Karena serangannya meleset dari sasaran yang dikehendaki itulah Liu Khi merasa kecewa bercampur terkejut.

 

Sebaliknya Bong Thian-gak sendiri pun dibuat terperanjat oleh kelihaian Liu Khi dalam melepaskan pisau terbang.

Dengan kepandaian silat yang begitu lihai seperti Keng-tim Suthay, ternyata ia berhasil dipecundangi juga, peristiwa ini benar-benar membuatnya merasa terkesiap.

Mendadak Liu Khi memperdengarkan suara tawa panjang yang membetot sukma, menyusul tubuhnya segera melejit ke atas dahan pohon.

Bentakan dan hardikan marah bergema di sana sini, para anggota Hiat-kiam-bun yang bersembunyi di seputar sana serentak muncul dan menghadang jalan perginya.

 

Tiba-tiba Bong Thian-gak berseru, "Segenap anggota Hiat-kiam-bun harap mundur, biarkan musuh pergi dari sini."

Dari kejauhan sana terdengar suara Liu Khi berkumandang, "Jian-ciat-suseng, di kemudian hari aku pasti akan minta petunjuk ilmu pedangmu yang sangat lihai itu."

Sementara bicara, bayangan Liu Khi tahu-tahu sudah lenyap.

Dengan cepat Bong Thian-gak menarik kembali pedangnya, lalu berjalan ke sisi Khi Cho.

Waktu itu Khi Cho sudah tergeletak dalam pangkuan Keng-tim Suthay tanpa bergerak, sebilah pisau terbang kecil telah menancap di tenggorokannya, darah mengucur membasahi sekujur tubuhnya.

Para anggota Hiat-kiam-bun maupun Keng-tim Suthay sendiri sama-sama berdiri dengan air mata bercucuran.

 

Bong Thian-gak maju mendekat, kemudian tanyanya, "Bagaimana keadaan Khi Cho?"

"Jantungnya telah berhenti berdenyut, ia sudah meninggal dunia," sahut Keng-tim Suthay pedih.

Bong Thian-gak segera memegang urat nadi tangan kiri Khi Cho, setelah diperhatikan beberapa saat, tiba-tiba katanya, "Dia belum tewas!"

Sembari berkata, tiba-tiba Bong Thian-gak mengayunkan telapak tangan kanannya menghantam dada Khi Cho.

Jeritan ngeri yang menyayat hati segera berkumandang dari mulut Khi Cho.

Pisau terbang kecil yang menancap di tenggorokannya itu segera terpental keluar, menyusul tersembur darah yang amat deras.

Cepat Bong Thian-gak berseru kembali, "Segera kau totok jalan darah Keng dan Tiong-mehnya, cegah, jangan sampai banyak darah mengalir keluar."

Sebenarnya Keng-tim Suthay menyangka putri kesayangannya telah tewas, mendengar perkataan itu, jari tangannya segera bergerak menotok dua jalan darah penting di tubuh Khi Cho itu, darah pun segera berhenti mengalir.

"Sekarang totoklah jalan darah tidurnya, ai, seandainya pisau terbang itu bergeser sedikit saja lebih ke atas, niscaya nyawa Khi Cho sudah melayang, sekarang suruh orang menggotongnya masuk untuk beristirahat."

 

Keng-tim Suthay menurut dan segera menotok jalan darah tidur Khi Cho. Siau Gwat-ciu dan Yu Hong-hong segera maju pula ke depan untuk membopong tubuh si gadis jelek.

Bong Thian-gak berpaling dan memandang sekejap bahu kanan Keng-tim Suthay yang berdarah, pisau kecil itu masih menancap di bahunya, maka ia berkata, "Suthay, cepat kau balut sendiri lukamu."

Saking sedihnya atas luka yang diderita puteri kesayangannya, Keng-tim Suthay sampai lupa pada luka yang dideritanya, mendengar perkataan itu ia baru merasa bahunya sakit perih.

Pada saat itulah seorang Nikoh tua datang membantu Keng-tim Suthay mencabut pisau kecil itu, kemudian membalut pula lukanya.

"Beruntung Buncu datang memangku jabatan pada hari ini," kata Keng-tim Suthay sambil menghela napas sedih, "kalau tidak, segenap anggota Hiat-kiam-bun pasti akan tewas di ujung pisau terbang Liu Khi, ai, orang persilatan mengatakan pisau terbang Liu Khi lihai sekali, setelah menyaksikan sendiri hari ini, terbukti kelihaiannya memang luar biasa."

 

Paras muka Bong Thian-gak berubah serius, katanya, "Padahal Liu Khi tidak lebih hanya jago nomor dua dalam Kay-pang."

la tidak melanjutkan kata-katanya, tapi Keng-tim Suthay sudah tahu apa maksudnya.

Pelan-pelan Keng-tim Suthay berkata pula, "Tapi Liu Khi sendiri pun sudah dipecundangi Buncu."

Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas sedih.

"Aku melepaskan sebuah serangan, sedang Liu Khi hanya melepas tiga pisau terbang, goloknya belum digunakan, tenaga dalam orang ini rasanya jauh lebih tinggi daripada siapa pun."

"Ai," Keng-tim Suthay menghela napas, "andaikata keadaan Thay-kun bisa dipulihkan kembali, maka Hiat-kiam-bun kita pasti dapat menghadapi perguruan atau perkumpulan mana pun."

 

Tiba-tiba hati Bong Thian-gak bergetar, segera ia bertanya, "Apa kesadaran Thay-kun dapat dipulihkan kembali?"

"Tabib sakti Gi Jian-cau pasti sanggup menyembuhkan sakitnya itu," pelan-pelan Keng-tim Suthay berkata.

"Ya, tugas utama kita sekarang adalah menyelamatkan jiwa Thay-kun, bagaimana menurut pendapat Suthay?"

"Asal Buncu menurunkan perintah, segenap anggota perguruan akan berjuang sekuat tenaga."

 

Bong Thian-gak termenung sebentar, tiba-tiba tanyanya, "Apakah Ang Teng-siu juga anggota Hiat-kiam-bun kita?" Keng-tim Suthay tersenyum.

"Agaknya Buncu masih belum cukup memahami asal-usul serta nama anggota Hiat-kiam-bun kita, silakan Buncu beristirahat di dalam kuil sekalian memeriksa daftar perguruan kita."

Bong Thian-gak tertawa geli, "Hahaha, sekarang aku sudah jadi ketua Hiat-kiam-bun, tapi masih belum tahu anggota perguruan kita, kejadian semacam ini kalau dipikir sungguh menggelikan."

 

Sembari berkata, Bong Thian-gak dan Keng-tim Suthay bersama-sama memasuki kuil itu.

Keng-tim Suthay mengajak Bong Thian-gak memasuki sebuah ruangan, kemudian memerintahkan kedua gadis berbaju merah untuk melayani keperluan pemuda itu, sementara dia sendiri buru-buru pergi menjenguk Khi Cho.

Bong Thian-gak segera duduk, memandang sekejap kedua gadis berbaju merah yang berdiri di samping pintu. Melihat kedisiplinan mereka, akhirnya ia merasa tak tega, sapanya, "Silakan kalian berdua ikut duduk, tak usah terlalu menuruti peraturan."

"Terima kasih Buncu, kami tidak berani."

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Siapakah nama kalian berdua?" kembali ia bertanya.

Pemuda ini merasa kedua gadis itu berwajah cantik, mukanya berbentuk kwaci, putih halus dan berusia di antara tujuh belas tahun.

Setelah termangu sejenak, sekali lagi Bong Thian-gak berkata, "Wah, rupanya paras muka kalian berdua mirip satu sama lain."

"Lapor Buncu," kembali gadis di sebelah kanan berkata dengan merdu, "budak bernama Cay-hong, sedangkan adikku bernama Cay-im, kami adalah dua bersaudara kembar."

"Oh, tak heran paras muka kalian begitu mirip, andaikata tiada perbedaan antara yang tinggi dan pendek, aku benar-benar tak bisa membedakan mana Cay-hong dan mana Cay-im. Entah apa jabatan kalian berdua dalam Hiat-kiam-bun?"

"Kami berdua adalah anak buah Kau-hubuncu, tapi sejak Kau-hubuncu terkena musibah, untuk sementara belum ada jabatan."

 

Menyinggung soal Kau-hubuncu, Bong Thian-gak segera teringat gadis muda yang tewas terkena tendangan pada alat kelaminnya oleh Thia Leng-juan tempo hari, tanpa terasa ia menghela napas panjang, "Ai, kematian Kau-hubuncu memang harus disesali, sungguh mengenaskan sekali."

Tiba-tiba sepasang mata Cay-hong berubah menjadLmerah, segera tanyanya, "Tolong tanya Buncu, sesungguhnya siapakah pembunuh Kau-hubuncu?"

Bong Thian-gak malah tertegun mendengar pertanyaan itu, segera ia berbalik bertanya, "Bukankah kalian kakak beradik pernah berjumpa denganku ketika berada di Hong-tok-ciu-lau?"

"Benar," Cay-hong mengangguk.

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Aku telah menjadi ketua Hiat-kiam-bun pada hari ini, tentunya kalian merasa sedikit di luar dugaan bukan?"

Sekali lagi Cay-hong manggut-manggut, "Tentu saja sama sekali di luar dugaan, namun kami pun merasa gembira memiliki seorang ketua yang kepandaiannya sangat tinggi untuk memimpin perguruan Hiat-kiam-bun."

Pelan-pelan Bong Thian-gak berkata lagi, "Aku tahu siapakah pembunuh yang sebenarnya Kau-hubuncu, di kemudian hari aku pasti akan memberitahukan kepada kalian, ai! Pokoknya aku tak akan membiarkan anggota perguruan kita berkorban dengan percuma."

Selesai berkata, dari dalam sakunya Bong Thian-gak mengambil daftar anggota Hiat-kiam-bun.

Saat ia membuka lembar pertama, di tengahnya tertulis beberapa huruf.

 

Bong Thian-gak sangat terharu di samping berterima kasih, dia sama sekali tidak menyangka Keng-tim Suthay telah menyerahkan kedudukan itu sejak dulu, dari sini bisa disimpulkan bahwa dalam tiga tahun ini Keng-tim Suthay tentu berusaha keras untuk menemukan dirinya.

Bong Thian-gak pun membaca lebih jauh.

Nama Thay-kun juga tercantum dalam daftar anggota, dia adalah ketua pelindung hukum Hiat-kiam-bun.

Kemudian di antara kedua belas pelindung lainnya, Bong Thian-gak hanya mengenali dua orang, mereka adalah tabib sakti Gi Jian-cau serta Ang Teng-siu.

 

Dengan kening berkerut Bong Thian-gak berpikir, "Kumpulan tiga belas pelindung hukum Hiat-kiam-bun mungkin merupakan kekuatan inti perguruan, hanya tidak diketahui dimanakah rombongan itu kini?"

Belum habis ingatan itu melintas, Keng-tim Suthay serta Yu Hong-hong dan Siau Gwat-ciu bertiga telah berjalan keluar.

Keng-tim Suthay bertanya, "Apakah Buncu telah memeriksa daftar nama anggota?"

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Ya, sudah kubaca, hanya banyak yang tidak kupahami serta mohon petunjuk darimu."

"Silakan Buncu bertanya."

"Dari kelompok tiga belas pelindung hukum, apakah setiap orang di antaranya dapat dihubungi?"

"Kecuali ketua pelindung hukum, asal Buncu menurunkan perintah, setiap orang dapat dipanggil dengan segera."

"Sebagian besar pelindung hukum ini tersebar dimana?" tanya Bong Thian-gak.

"Kecuali Thay-kun, sembilan orang lainnya menyelundupkan diri dalam Put-gwa-cin-kau, seorang berada dalam kantor cabang Kay-pang kota Lok-yang, si tabib sakti juga berada di kota Lok-yang, masih ada seorang lagi adalah Hongtiang kuil kami, Keng-koan Suthay."

 

Diam-diam Bong Thian-gak berpikir, "Yang disebut Keng-koan Suthay mungkin si Nikoh tua itu."

Berpikir sampai di situ, maka setelah termenung beberapa saat Bong Thian-gak kembali berkata, "Menurut pendapat Suthay, apakah kedua belas orang pelindung hukum itu perlu dipanggil?"

"Masalah ini silakan ketua yang mengambil keputusan."

Kembali Bong Thian-gak bertanya, "Pada halaman terakhir daftar anggota, tercantum lima nama orang misterius, kelima orang itu bukankah nama-nama orang yang sudah lama tiada?"

"Betul, kelima orang itu adalah si Pukulan nomor wahid dari kolong langit Ma Kong, Pangcu Hek-huo-pang Kwan Bu-peng, Lui­hong-khek Gi Peng-san, Tui-hun-pit Cia Liang dan Thi-koan-im Han Nio-cu. Mereka adalah jago-jago lihai dunia persilatan yang hilang secara misterius ketika sedang bertamu dalam gedung Bu-lim Bengcu tiga tahun berselang."

"Aku benar-benar tidak mengerti," Bong Thian-gak menggeleng kepala berulang kali, "Ma Kong berlima bukankah sudah bertamu dalam gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong? Mengapa dalam semalam saja mereka bisa mati secara misterius, lagi pula jenazah mereka hilang. Tapi seingatku beberapa hari berselang, Khi Cho pernah memerintahkan seorang jagoan aneh untuk menyerangku ketika berada dalam Hong-tok-ciu-lau, waktu itu Khi Cho tampaknya seperti memanggil nama orang itu sebagai Ma Kong, jangan-jangan ...."

 

Keng-tim Suthay menghela napas panjang.

"Sesungguhnya Ma Kong berlima tidak tewas."

"Jadi mereka benar-benar belum mati?" tanya Bong Thian-gak dengan terkejut.

Kembali Keng-tim Suthay menghela napas panjang.

"Untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya kejadian ini, kita harus kembali sejenak peristiwa tiga tahun berselang. Pada waktu itu Thay-kun mendapat perintah Cong-kaucu untuk menghabisi kelima jago lihai dunia persilatan yang sedang bertamu dalam gedung Bu-lim Bengcu itu, mereka adalah Ma Kong berlima."

"Agar bisa menyelamatkan jiwa kelima orang ini, akhirnya Thay-kun memperoleh sebuah cara, dari tempat kediaman si tabib sakti Gi Jian-cau dia berhasil memperoleh lima butir pil Kia-bin-wan."

"Apakah pil Kia-bin-wan (obat pura-pura tidur) itu?" tanya Bong Thian-gak.

 

"Pil itu diberi nama begitu oleh Gi Jian-cau sendiri, khasiat obat itu adalah barang siapa menelan pil itu, maka denyut jantung serta semua kerja anggota badannya akan terhenti sementara waktu, keadaan mereka tak ubahnya seperti mayat, padahal orang-orang itu tidak mati secara sungguh-sungguh."

"Kalau begitu, setelah Ma Kong berlima menelan Kia-bin-wan, Thay-kun mengangkut tubuh mereka, kemudian keluar dari gedung Bu-lim Bengcu?" tanya Bong Thian-gak.

 

Keng-tim Suthay manggut-manggut.

"Benar, tubuh Ma Kong berlima pada waktu itu dipindahkan ke kuil Keng-tim-an."

"Kalau begitu Ma Kong berlima belum meninggal?" sekali lagi Bong Thian-gak bertanya.

Kembali Keng-tim Suthay manggut-manggut.

"Tentu saja mereka belum mati, cuma keadaan mereka saat ini menyerupai seorang yang tak bersukma dan berpikiran lagi."

"Ai, kalau begitu keadaan mereka berlima tak jauh berbeda seperti keadaan Thay-kun sekarang," ucap Bong Thian-gak sambil menghela napas sedih.

"Ya, keadaan mereka memang tidak jauh berbeda," kembali Keng-tim Suthay mengangguk.

"Apakah Ma Kong berlima masih bisa dipulihkan kesadarannya?" Keng-tim Suthay mengangguk pelan.

"Asal Gi Jian-cau membuatkan lagi semacam pil Hui-hun-wan (obat pembalik sukma) dan mencekokkan kepada mereka, niscaya mereka akan memperoleh kembali kesadarannya."

"Jika begitu Gi Jian-cau belum sempat membuat Hui-hun-wan?"

"Soal ini aku kurang mengerti," Keng-tim Suthay menggeleng, "sejak Thay-kun dicekoki pil Kia-bin-wan oleh Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, si tabib sakti Gi Jian-cau sudah mulai mengumpulkan bahan obat-obatan untuk membuat pil Hui-hun-wan guna menyelamatkan jiwa Thay-kun, sudah tiga tahun Gi Jian-cau belum juga menyelesaikan pekerjaannya, menurut tabib itu, dia masih kekurangan tiga macam obat-obatan."

 

"Ai, rupanya di kolong langit benar-benar terdapat obat semacam ini," Bong Thian-gak menghela napas panjang selesai mendengarkan kisah itu. Demi meyelamatkan Thay-kun serta Ma Kong berlima, Gi Jian-cau harus berhasil membuat pil Hui-hun-wan.

"Ai, saat ini Ma Kong berlima tak lain adalah algojo-algojo andalan Hiat-kiam-bun, tujuan Thay-kun di masa lampau, sebetulnya dia hendak mempergunakan kekuatan sakti mereka untuk melawan jago lihai Put-gwa-cin-kau."

"Seandainya Hiat-kiam-bun kita sampai berbuat demikian, aku rasa ini terlampau kejam, kelewat tidak berperi-kemanusian," ucap Bong Thian-gak sambil menggeleng kepala berulang kali.

Keng-tim Suthay manggut-manggut, "Buncu penuh welas-asih, berjiwa besar dan berpandangan luas, hanya manusia semacam inilah yang pantas disebut seorang pahlawan besar, seorang pendekar sejati."

 

Bong Thian-gak termangu sebentar, lalu ujarnya lagi, "Bila kita bicara menurut kekuatan serta jumlah anggota Hiat-kiam-bun, rasanya sulit buat kita untuk melawan pihak Kay-pang maupun Put-gwa-cin-kau, tapi kita pun tak boleh hendak memperkuat kemampuan lantas kita memperalat Mo Keng berlima Locianpwe yang sukma, pikiran serta perasaannya telah terkendali.

"Ketika masih berada di Hong-tok-ciu-lau, aku pernah bertarung melawan Ma Kong, menurut pendapatku, walaupun saat ini dia garang seperti harimau dan kuat seperti raksasa, namun berhubung akal budinya telah hilang, akibatnya gerak-geriknya menjadi bodoh, kaku dan lucu, bila berjumpa jago lihai atau mereka yang mempunyai senjata mustika, aku yakin Ma Kong sekalian masih bisa dipunahkan secara mudah sekali.

 

"Sebaliknya bila kita bisa memulihkan kesadaran serta akal budi Ma Kong berlima, dengan dukungan kekuatan dan pikiran mereka, maka Hiat-kiam-bun kita akan dapat bersaing dengan perkumpulan mana pun di daratan Tionggoan, serta memimpin persilatan."

Keng-tim Suthay segera manggut-manggut.

"Pendapat Buncu memang benar, itulah sebabnya kami selalu berharap si tabib sakti membuat pil Hui-hun-wan secepatnya."

"Saat ini si tabib sakti berada dimana?" tanya Bong Thian-gak setelah termenung sebentar.

"Dia berada di suatu tempat rahasia dalam kota Lok-yang."

"Masih berada di kaki bukit Cui-im-hong?"

"Tidak, selama tiga tahun terakhir ini, Gi Jian-cau sudah menjadi salah seorang buronan yang dicari pihak Put-gwa-cin-kau, mana mungkin dia bisa tinggal lagi dalam Cui-im-hong-san-ceng?"

"Yang paling kukuatirkan adalah keselamatan jiwanya, kalau Suthay telah membuat persiapan yang matang, aku pun tak usah kuatir lagi."

 

"Dalam tiga tahun ini, demi melindungi jiwa Gi Jian-cau, Pinni telah memerintahkan dua orang jago lihai yang telah kehilangan akal budinya yakni Han Nio-cu serta Cia Liang untuk melindunginya. Beberapa hari berselang, waktu kau hendak berangkat ke Hopak, aku pun telah mengutuskan Sam-hubuncu untuk melindunginya, jadi aku rasa tak ada persoalan lagi."

"Bagus sekali, sekarang aku telah mengetahui secara garis besar keadaan perguruan kita," kata Bong Thian-gak.

"Adakah petunjuk Buncu untuk pergerakan perguruan kita?" Bong Thian-gak tersenyum, bukan menjawab dia malah bertanya, "Tolong tanya, ada urusan apa Suthay datang ke Hopak?"

"Kedatangan Pinni ke Hopak kali ini, pertama, karena kudengar laporan Khi Cho tentang gerak-gerik Jian-ciat-suseng, dalam hati aku selalu mempunyai anggapan Jian-ciat-suseng sedikit mirip ketua Ko Hong, oleh sebab itu aku sengaja datang ke Hopak untuk membuktikan identitas Jian-ciat-suseng, ternyata Thian memang tidak menyia-nyiakan harapanku, akhirnya Hiat-kiam-bun kami mendapatkan ketuanya.

"Kedua, adalah untuk melihat operasi Khi Cho memantau Si-hun-mo-li, apakah pekerjaannya sudah ada perkembangannya atau tidak."

 

"Menurut pendapat Suthay, apakah pihak kita perlu turut campur dalam operasi pencarian harta karun peninggalan raja muda Mo-lay-cing-ong?"

Keng-tim Suthay segera menggeleng.

"Kekuatan perguruan kami sangat lemah, untuk bisa turut dalam perebutan harta karun itu, rasanya kita harus menemukan dulu ketua perguruan. Oleh sebab itu sebelum bertemu Buncu, kami hanya bisa menunggu perkembangan perebutan harta karun itu. Dan sekarang bila Buncu mempunyai suatu pandangan, silakan saja diambil keputusan, Tecu sekalian pasti akan turut perintah."

 

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Suthay memang cerdik dan cekatan, terhadap situasi sendiri maupun keadaan musuh selalu dapat diselidiki jelas, memang tahu diri. Tahu keadaan musuh, setiap pertarungan baru dapat dimenangkan. Ucapan Suthay memang benar, lebih baik perguruan kita bertindak mengikuti perkembangan selanjutnya, perlu diketahui, tugas utama adalah membantu Gi Jian-cau mendapatkan tiga macam obat-obatan yang masih kurang itu hingga Hui-hun-wan dapat dibuat selekasnya."

Keng-tim Suthay tersenyum, "Thian benar-benar melimpahkan rezeki untuk peguruan Hiat-kiam-bun, perguruan kami benar-benar berhasil mendapatkan seorang pemimpin yang arif bijaksana."

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Aku berpengetahuan cetek, selanjutnya masih banyak membutuhkan kerja sama setiap anggota perguruan untuk bersama-sama mengangkat nama perguruan kita di mata masyarakat. Terutama sekali Suthay, selanjutnya bilamana ada hal-hal yang perlu dikemukakan, harap kau tak segan-segan untuk memberi petunjuk, di antara kita pun aku harap tidak tersisa garis pemisah antara seorang ketua dengan wakil ketua, karena sepantasnya Suthay lah yang memangku jabatan ketua ini."

Keng-tim Suthay tersenyum, "Bong-buncu masih muda namun gagah dan perkasa, kami tahu kemampuan serta kecerdasan Buncu berada di atas kami dan tak mungkin berada di bawah kami, Hiat-kiam-bun di bawah pimpinanmu pasti akan semakin cemerlang seperti matahari yang makin menjulang ke angkasa."

"Aku kuatir akan menyia-nyiakan harapan Suthay."

 

Keng-tim Suthay tersenyum, lalu mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya, "Jika Buncu memang tidak bermaksud mengambil tindakan terhadap harta karun Mo-lay-cing-ong, maka anggota perguruan kita pun rasanya tak perlu dihimpun lagi di wilayah Hopak ini."

"Aku rasa kita pun belum dapat membubarkan mereka dari wilayah Hopak, terutama pada saat ini, perlu diketahui, Thay-kun masih berada di bawah kekuasaan Put-gwa-cin-kau, tentu saja Suthay dan aku tak boleh bersama-sama tinggal di tempat ini."

"Lantas apa petunjuk Buncu?"

"Suthay, silakan kau memberi perintah mewakili aku."

"Ah, hal ini mana boleh?"

 

"Aku belum lama menerima jabatan ketua, terhadap organisasi serta orang yang menjadi anggota perguruan pun belum begitu jelas, bila perintah kuberikan, tak mungkin segenap kekuatan yang kita miliki bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, apalagi Suthay memang Cong­hubuncu perguruan kita, siapa bilang kau tak berhak memberi perintah?"

"Tapi sebelum memberi perintah, Pinni merasa wajib mohon petunjuk Buncu terlebih dahulu."

 

Bong Thian-gak tersenyum, "Bila demikian, silakan Cong-hubuncu katakan."

"Pinni harus secepatnya pulang untuk membantu Gi Jian-cau mendapatkan ketiga macam obat-obatan yang masih kurang itu, maka Pinni rasa untuk wilayah Hopak terpaksa mesti ditangani oleh Buncu sendiri."

"Pendapat Cong-hubuncu memang mirip dengan pikiranku," Bong Thian-gak manggut-manggut, "berapa banyak kekuatan yang kau butuhkan, silakan saja dibawa."

"Khi Cho, Pat-hubuncu serta Keng-koan Suthay tetap tinggal di sini membantu Buncu, sedang Su-hubuncu, Go-hubuncu, Liok-hubuncu dan Jit-hubuncu turut aku kembali ke Lok-yang."

 

Bong Thian-gak kembali mengangguk.

"Tugas utama perguruan kita saat ini memang melindungi si tabib sakti, agar secepatnya membuat pil Hui-hun-wan yang sangat penting artinya buat kita. Bilamana Cong-hubuncu menjumpai hal-hal gawat selama di Lok-yang, harap selekasnya kau mengirim berita padaku."

"Bila Buncu tiada persoalan lain, Pinni ingin berangkat ke Lok-yang sekarang juga."

"Baik, silakan Suthay segera berangkat."

 

Keng-tim Suthay siap beranjak, mendadak dia membalik badan, lalu dari sakunya mengeluarkan sepucuk surat, katanya, "Lapor ketua, dalam surat ini tercantum ketiga macam bahan obat-obatan yang harus kita peroleh secepatnya, andaikata terjadi sesuatu peristiwa di luar dugaan, harap masalah pembuatan pil Hui-hun-wan dilanjutkan oleh Buncu."

Mendengar perkataan itu, hati Bong Thian-gak bergetar, seolah-olah dia mendapat firasat jelek, tapi surat itu diterimanya juga.

"Suthay, andaikata di tempatmu terjadi hal-hal yang di luar dugaan, harap kau selekasnya mengadakan hubungan dengan kami," pesannya lagi dengan suara dalam.

 

Agaknya Keng-tim Suthay dapat memahami perasaan Bong Thian­gak, maka ia hanya tersenyum.

"Hui-hun-wan merupakan benda yang amat penting artinya bagi Hiat-kiam-bun kita, oleh sebab itu semua masalah telah Pinni atur sedemikian rupa hingga terlihat rapi dan tertata secara baik, harap Buncu tak usah kuatir, nah, Pinni mohon diri lebih dahulu."

Maka berangkatlah Keng-tim Suthay dengan membawa empat orang Hubuncu serta puluhan anggota Hiat-kiam-bun kembali ke kota Lok-yang.

 

** ©**

 

Dalam waktu singkat, kuil Keng-koan sudah berubah menjadi pusat komando perguruan Hiat-kiam-bun, sekali pun kekuatan Hiat-kiam-bun untuk wilayah Hopak tidak terlalu besar, tapi di bawah pimpinan Bong Thian-gak, kuil Keng-koan telah diubahnya bagaikan sebuah sarang naga gua harimau.

Dalam tujuh hari, nama besar ketua Hiat-kiam-bun, Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak telah menggetarkan seluruh dunia persilatan.

Yang paling membuat umat persilatan tercengang dan sama sekali tidak menyangka adalah Jian-ciat-suseng ternyata tak lain adalah ketua Hiat-kiam-bun, berita itu membuat pihak Put-gwa-cin-kau dan Kay-pang merasa amat terperanjat.

 

Pada dasarnya Hiat-kiam-bun memang sudah merupakan suatu perkumpulan yang sangat misterius dalam Bu-lim, tapi semenjak Bong Thian-gak menjadi ketuanya, setiap anggota Hiat-kiam-bun yang berada dalam Bu-lim tidak lagi menutup wajah mereka dengan kain kerudung merah, mereka semua muncul dengan raut wajah asli.

Ketika mereka mulai memperlihatkan paras muka aslinya, pihak Put-gwa-cin-kau serta Kay-pang baru tahu bahwa di antara para Huhoat Hiat-kiam-bun ternyata terdapat pula anggota perkumpulan mereka.

 

©

 

Kegelapan telah mencekam seluruh jagad.

Daerah tujuh li di sekitar kuil Hong-kong-si merupakan tempat paling gelap, sepi dan rawan.

Pada saat itulah terlihat ada sesosok bayangan orang sedang berlari mendekati dari arah barat.

Mendadak suara, bentakan keras menggema memecah keheningan, "Siapa di situ?"

Si pejalan malam yang datang dari arah barat telah menghentikan langkah dan mengangkat kepala sambil mengawasi keadaan sekeliling tempat itu dengan seksama.

Di tengah jalan rupanya telah berdiri seseorang, gelak tawa nyaring tadi berkumandang dari mulut si penghadang itu.

Di tengah gelak tawanya, dia maju beberapa langkah, katanya lantang, "Sam-kaucu, selamat bersua, baik-baikkah kau selama berpisah."

 

Orang yang datang dari barat itu nampak terkejut mendengar teguran itu, sorot matanya yang tajam untuk mengawasi tempat itu.

Lawannya adalah seorang lelaki berperawakan sedang berjubah merah, dia berwajah lebar dan berlengan besar, raut mukanya seperti pernah dikenal, tapi tak teringat olehnya dimanakah mereka pernah bertemu.

Setelah hening sesaat, pejalan malam itu tertawa seram, "Hehehe, dari dandananmu itu, rupanya kau adalah anggota Hiat-kiam-bun?"

"Betul," jawab lelaki berjubah merah itu sambil tertawa tergelak, "aku adalah pelindung hukum Hiat-kiam-bun."

"Aku seperti kenal raut wajahmu," seru si pejalan malam dingin.

Lelaki berjubah merah turut tertawa.

"Sam-kaucu, mengapa kau mudah lupa? Aku she Ang bernama Teng-siu!"

 

Berubah hebat paras muka pejalan malam itu, dia berseru tertahan dan berkata, "Oh, rupanya kau adalah komandan pengawal Ji-kaucu, Ang Teng-siu."

"Betul, memang aku Ang Teng-siu."

Tiba-tiba pejalan malam itu menarik muka, kemudian ujarnya, "Ang Teng-siu, kau pengkhianat, berani amat kau halangi jalanku."

"Sam-kaucu," kembali Ang Teng-siu tersenyum, "mengapa kau punya jalan ke surga enggan dilalui, tiada jalan ke neraka kau terobos."

Sepasang mata pejalan malam yang tajam mendadak mengawasi sekejap keadaan sekitar situ, kemudian berkata dingin, "Ang Teng-siu, berapa orang yang kau bawa malam ini?"

Ang Teng-siu tertawa terbahak-bahak.

"Ketua Hiat-kiam-bun serta sepuluh pelindung hukum telah hadir semua di sini."

Pejalan malam itu terkejut, dia segera bertanya dengan gelisah, "Dimanakah Jian-ciat-suseng sekarang? Suruh dia keluar menemuiku."

"Thia Leng-juan, harap tahu diri, malam ini kami memang sengaja menunggu kedatanganmu, kau tak usah kurangajar."

 

Agaknya Thia Leng-juan sudah merasa gelagat malam ini sangat tidak menguntungkan pihaknya, dia masih berusaha mempertahankan ketenangan, pelan-pelan ujarnya, "Biar naik ke bukit golok atau terjun ke kuali berminyak mendidih, aku sudah pernah mematikan semuanya, memangnya kalian masih mempunyai cara lain yang bisa membuat pecah nyaliku?"

"Sudahlah, kau tidak usah banyak bicara lagi, ketua kami segera akan berjumpa denganmu, lebih baik turuti kami saja, kalau  tidak, terpaksa kami akan berbuat kasar kepadamu."

"Jian-ciat-suseng berada dimana sekarang?"

 

Sebelum Ang Teng-siu menjawab, dari balik kegelapan «tulah muncul sesosok bayangan orang menjawab dengan suara dingin, serius dan keren, "Thia Leng-juan, aku berada di sini."

"Mengapa kau tidak segera kemari?"

"Aku segera akan datang."

Belum habis perkataan itu, sesosok bayangan orang berkelebat ke hadapan Thia Leng-juan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Thia Leng-juan cekatan sekali, dengan cepat dia menggeser badan menghindar ke sisi kiri.

Biarpun dia menghindar dengan gerakan cukup cepat, namun gerakan tubuh pendatang itu jauh lebih cepat lagi, tahu-tahu lengannya sudah bergerak dan "Plak!!"

 

Thia Leng-juan mendengus tertahan, kemudian orangnya sudah roboh tak sadarkan diri.

Sewaktu Thia Leng-juan sadar dari pingsannya, ia menjumpai dirinya sudah duduk di atas kursi.

Duduk di hadapan seorang pemuda berjubah merah berlengan tunggal, berwajah pucat dan bermata tajam bagaikan sembilu.

Di sisi kiri dan kanan pemuda berjubah merah itu masing-masing berdiri sepuluh orang laki-laki berjubah merah, mereka semua berwajah kereng, bermata tajam dan kelihatan sangat gagah.

Bergidik Thia Leng-juan menyaksikan semua itu, dengan cepat dia teringat akan perbuatannya membunuh Kau-hubuncu Hiat-kiam-bun di kamar tujuh Hong-tok-ciu-lau tempo hari.

 

Ia pernah berjumpa dengan Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak ketika berada di Hong-tok-ciu-lau, bahkan sewaktu terjadi peristiwa berdarah itu, Jian-ciat-suseng hadir pula di tempat kejadian.

Siapa sangka Jian-ciat-suseng tak lain adalah ketua Hiat-kiam-bun, pemuda berjubah merah berlengan tunggal itu.

Terpaksa Thia Leng-juan harus mengeraskan hati menegur, "Apa maksudmu membawa aku kemari?"

"Demi menyelamatkan jiwamu," jawab Bong Thian-gak hambar.

Thia Leng-juan tertegun, "Menyelamatkan aku? Apa maksudmu?"

Bong Thian-gak tertawa dingin.

"Asal kau bersedia menjawab beberapa pertanyaan dengan jujur, aku bersedia menyelamatkan jiwamu, kalau tidak, perbuatanmu membunuh Kau-hubuncu perguruan kami itu, tentu hanya ada jalan kematian bagimu."

Thia Leng-juan mulai berpikir, "Bagaimana pun juga kepandaian silatku tidak mungkin bisa menandingi Jian-ciat-suseng."

 

Maka dia pun bertanya, "Jawaban apa yang harus kuutarakan?"

"Bagaimana caramu memasuki Put-gwa-cin-kau?"

Thia Leng-juan tertegun, lalu berdiri melongo, lama kemudian baru dia balik bertanya, "Buat apa kau menanyakan hal itu?"

"Kau cukup menjawab pertanyaanku, hati-hati, salah bicara bisa berakibat hilangnya nyawamu," ancam Bong Thian-gak sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Thia Leng-juan termenung lama sekali, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Setelah tertawa dingin, Bong Thian-gak berkata, "Bukankah kau telah membunuh kawanan jago persilatan golongan putih untuk merebut kepercayaan Cong-kaucu sehingga kau diterima menjadi anggota Put-gwa-cin-kau."

Gemetar keras sekujur badan Thia Leng-juan mendengar itu, bentaknya, "Aku tak pernah membunuh jago mana pun dari Bu-lim Bengcu, aku sama sekali tidak melakukan pembunuhan apa pun."

 

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak, dia segera mendesak lebih jauh, "Lantas mengapa Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau menaruh kepercayaan padamu? Kau pernah menjadi musuh bebuyutan Put-gwa-cin-kau, apakah kau mempunyai sesuatu persyaratan yang dapat membuat perempuan jalang itu percaya serta tunduk kepadamu?"

"Benar, tentu saja aku mempunyai syarat-syarat tertentu," kata Thia Leng-juan.

"Apa syaratnya? Cepat katakan!" hardik Bong Thian-gak.

"Tidak sulit bila ingin kukatakan, hanya kau harus menerangkan dulu kepadaku, apa maksudmu menanyakan persoalan itu?"

"Thia Leng-juan, coba kau lihat wajahku baik-baik, tahukah kau siapa aku?"

Thia Leng-juan tertawa dingin, "Hm, siapa lagi? Tentu kau adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."

"Kau masih ingat dengan seorang sahabatmu yang bernama Ko Hong tiga tahun berselang?"

 

Begitu mendengar nama Ko Hong, gemetar tubuh Thia Leng-juan dibuatnya, matanya membelalak, kemudian mengamati wajah Bong Thian-gak dengan seksama, seakan-akan dia sedang berusaha mencari sesuatu.

Tentu saja yang dicari olehnya adalah bekas-bekas yang telah menghilang.

Mendadak paras muka Thia Leng-juan berubah pucat-pias seperti mayat, kemudian gumamnya, "Kau adalah Ko Hong, benarkah kau adalah Ko Hong?"

"Benar, aku adalah Ko Hong," jawab Bong Thian-gak nyaring, "aku adalah Ko Hong yang bersama-sama kau dan Pa-ong-kiong Ho Put-ciang bertiga bertarung membunuh Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau yang telah menyaru sebagai Ku-lo Hwesio."

 

Thia Leng-juan tak dapat membendung air matanya lagi, ia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.

Bong Thian-gak tidak habis mengerti apa sebabnya dia menangis, padahal seorang Enghiong tak akan melelehkan air mata dengan mudah bila tidak sedang bersedih hati.

"Thia-tayhiap, kau tentunya tahu bukan persoalan apakah yang hendak kutanyakan kepadamu!" kembali Bong Thian-gak bertanya dengan suara dingin.

 

Mendadak Thia Leng-juan mendongakkan kepala, kemudian teriaknya, "Ko Hong, bunuhlah aku! Biarpun mati, aku akan mati dengan mata meram!"

Bong Thian-gak berkerut kening, sebab sikap lawan, dia dapat pula merasakan kesedihan hatinya, dia membentak kembali, "Thia Leng-juan, bila kau benar-benar seorang Enghiong, benar-benar seorang leleki sejati, ayolah bicara lebih jelas!"

 

Thia Leng-juan tidak menjawab, dia hanya membungkam.

Melihat lawan membungkam. Bong Thian-gak bertanya kembali, "Thia Leng-juan, dengarkan baik-baik, aku hanya ingin mengetahui nasib Ho Put-ciang, Yu Heng-sui dan Oh Cian-giok sekalian."

Thia Leng-juan mendongakkan kepala memandang wajah Bong Thian-gak dan termangu, air matanya belum mengering sehingga wajahnya nampak sangat mengenaskan.

Tiba-tiba ia menghela napas, lalu berkata, "Mereka semua telah meninggal dunia."

 

Ucapan itu bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, gemetar keras sekujur badan Bong Thian-gak karena menahan emosi, kembali ia membentak, "Apa yang menyebabkan kematian Toa-suhengku sekalian? Siapa yang telah membunuh mereka?"

Gemetar keras tubuh Thia Leng-juan, tanyanya, "Kau menanyakan Toa-suhengmu? Apakah Ho Put-ciang kakak seperguruanmu?"

"Kau tak usah bertanya lagi," tukas Bong Thian-gak, "cepat katakan, apa yang menyebabkan kematian Toa-suheng sekalian?"

Pada saat itulah tiba-tiba Thia Leng-juan teringat akan sesuatu, dia berseru tertahan, "Oh Ciang hu mempunyai empat orang murid, salah seorang di antaranya bernama Bong Thian-gak, Ah! Kalau begitu kau adalah murid Oh Ciong-hu Locianpwe yang bernama Bong Thian-gak."

Sinar tajam penuh napsu membunuh memancar dari balik mata Bong Thian-gak, bentaknya, "Thia Leng-juan, kau belum menjawab pertanyaanku, jika kau tidak menjawab dengan sejujurnya, aku akan membunuhmu sekarang juga."

Sembari berkata, dia mengangkat telapak tangannya pelan-pelan.

Kesepuluh orang pelindung hukum Hiat-kiam-bun yang berdiri mengelilingi arena mengerti, dalam keadaan demikian asal Thia Leng-juan salah bicara sepatah kata saja, niscaya dia akan tewas dihajar oleh ketua mereka.

Dalam waktu singkat seluruh arena telah diliputi oleh suasana tegang dan mengerikan.

 

Thia Leng-juan menggetarkan bibirnya seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah kata pun yang terucap keluar, jika dilihat dari kerutan wajahnya serta tubuhnya yang mengejang keras, dia sedang merasakan kengerian yang luar biasa dalam menghadapi kematian.

Namun akhirnya Thia Leng-juan berhasil menenangkan diri, ia menjawab pelan, "Akulah yang telah mencelakai mereka semua."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, Bong Thian-gak telah berteriak, "Mengapa kau harus mencelakai mereka?"

Telapak tangannya segera diayunkan ke depan melepaskan sebuah bacokan kilat.

Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecah keheningan, badan Thia Leng-juan mencelat ke udara dan melayang keluar lewat daun jendela, kemudian, "Bluk", terbanting ke atas lantai.

Secepat sambaran petir Bong Thian-gak melejit ke udara dan menyusul dari belakang.

Thia Leng-juan telah terkapar di atas tanah, dia berusaha meronta bangun, namun tak berhasil.

 

Dengan kasar Bong Thian-gak mencengkeram bajunya, lalu mengangkatnya ke atas, bentaknya, "Ayo cepat katakan, mengapa kau membunuh mereka?"

Sementara itu paras muka Thia Leng-juan pucat-pias seperti mayat, tampangnya kelihatan sangat mengerikan, darah segar mengalir keluar lewat ujung bibirnya seperti sumber mata air, membasahi pakaiannya dan menetes pula ke atas lantai.

Pukulan dahsyat Bong Thian-gak telah mengguncang isi perutnya, membuat dia sadar kematiannya sudah dekat.

"Bong ... Bong Thian-gak, sempurna amat tenaga pukulanmu, aku ... aku gembira sekali kau memiliki pukulan tenaga dalam sedemikian sempurna."

"Apakah kau tidak takut mampus?" seru Bong Thian-gak agak tertegun mendengar perkataan itu.

Kembali Thia Leng-juan tertawa pedih, "Pukulanmu barusan telah mengantar aku tak jauh dari kematian, aku ... aku merasa bersalah terhadap segenap rekan-rekan umat persilatan, walau mati, aku mati dengan rela, sekarang ... sekarang aku ingin memberitahukan beberapa hal kepadamu."

Ketika berbicara sampai di situ, secara beruntun dia muntah darah beberapa kali, dengan matanya yang sayu dia pun mencoba memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tanyanya bimbang, "Di ... dimanakah aku sekarang?"

 

Bong Thian-gak agak tercengang dan sama sekali tak menduga sikap Thia Leng-juan itu, seandainya dia benar-benar seorang licik yang berakal bulus, mengapa sikapnya dalam menghadapi kematian begitu wajar?

"Tempat ini adalah ruang depan kuil Hong-kong-si, Hong-kong Hwesio dan muridnya berdiam di ruang belakang, sayang sekali mereka tak akan mendengar jeritanmu tadi, sudah barang tentu mereka pun tak akan kemari untuk menyelamatkan jiwamu."

Ucapan Bong Thian-gak itu diutarakan dengan suara datar dan hambar.

Thia Leng-juan berseru tertahan, "Ah! Kau ... kau juga tahu kalau aku tengah bersekongkol dengan Hong-kong Hwesio beserta muridnya?" Bong Thian-gak tertawa dingin.

"Beberapa malam berselang, semua pembicaraanmu dengan Long Jit-seng di ruang belakang telah kudengar semua."

"Kalau begitu kau ... kau juga sudah mengetahui pertemuanku dengan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau," kembali Thia Leng-juan bertanya dengan sedih.

 

Kembali Bong Thian-gak tertawa dingin.

"Tentu saja, aku pun sempat melihat kau seperti ular yang patut dikasihani, tunduk di bawah selangkangannya. Hm, pada saat itu aku malu melihat perbuatanmu, juga merasa kasihan untuk nasibmu, sungguh tak kusangka kau adalah seorang yang tak berguna."

Tiba-tiba dua baris air mata bercucuran membasahi pipi Thia Leng-juan, bisiknya lirih, "Umpatanmu memang benar, umpatanmu memang tepat sekali."

Sesudah mengucapkan perkataan ini, tubuh Thia Leng-juan semakin lama semakin lemah, kerongkongannya mulai gemerutukan.

Dia berbisik lagi dengan suara yang sangat lirih, "Kemungkinan besar Ho Put-ciang sekalian belum ... belum mati, kau ... kau harus bekerja sama dengan Hong-kong Hwesio."

Bergetar keras perasaan Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, tanyanya, "Apa kau bilang? Toa-suhengku sekalian belum mati? Katakanlah cepat kau, katakan!"

Beberapa kali teriakan beruntun, namun Thia Leng-juan sudah tak sanggup menjawab.

Thia Leng-juan telah menemui ajalnya, tewas seketika. Tenaga serangan yang maha dahsyat Bong Thian-gak agaknya betul-betul sudah mehancurkan isi perutnya.

 

Kata-kata terakhir Thia Leng-juan justru menenangkan gejolak perasaan Bong Thian-gak yang sedang dipengaruhi oleh emosi.

Ia tak habis mengerti apa sebabnya Thia Leng-juan mengakui Ho Put-ciang sekalian tewas di tangannya, tapi kemudian dikatakan pula bisa jadi mereka belum tewas.

Bong Thian-gak hanya berdiri termangu sambil mengawasi jenazah Thia Leng-juan, dia tidak habis mengerti apa gerangan yang yang telah terjadi.

"Omitohud!" suara pujian sang Buddha tiba-tiba berkumandang seperti suara lonceng berdentang.

Bong Thian-gak sadar dari lamunannya, ia mengangkat kepala. Tahu-tahu sudah berdiri empat orang. Mereka adalah tiga orang

Hwesio dan seorang kakek berbaju hitam yang kurus kecil.

 

Kakek berbaju hitam itu cukup dikenal Bong Thian-gak, sebab dia tak lain adalah Long Jit-seng.

Dari ketiga orang Hwesio lainnya, orang yang berada di tengah adalah seorang Hwesio tua berwajah kuning emas yang memelihara jenggot sepanjang dada, kedua alis matanya juga memanjang ke telinga.

Yang aneh adalah kulit badan Hwesio tua ini pun berwarna kuning keemas-emasan, alis mata serta jenggotnya juga berwarna kuning emas, tak bisa disangkal lagi orang itu adalah Hong-kong Hwesio, si pedang sinar kuning.

Di sisi kiri dan kanan Hwesio tua itu masing-masing berdiri seorang Hwesio tua yang jenggotnya hitam sepanjang dada, Bong Thian-gak tahu kedua orang ini tentu murid Hong-kong Hwesio, hanya tak pernah disangka kedua muridnya pun berusia setengah abad lebih.

"Omitohud! Siancay, Siancay ... ternyata Sicu telah membunuh Thia-tayhiap."

 

Hong-kong Hwesio berbicara dengan suara rendah dan berat, sikap yang serius dan setiap patah katanya cukup menggetarkan perasaan Bong Thian-gak.

Sementara kesepuluh orang pelindung hukum Hiat-kiam-bun telah berdatangan secara beruntun, mereka menempatkan diri di kedua sisi Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak memandang sekejap mayat Thia Leng-juan yang tergeletak di atas tanah, kemudian ujarnya dingin, "Apabila Hong-kong Hwesio mengetahui asal-usulnya, tentu kau akan beranggapan bahwa kematian Thia leng-juan sudah semestinya dia terima."

"Siancay, Siancay! Sicu telah salah membunuh orang," ucap Hong­kong Hwesio dengan suara dalam. "Sesungguhnya Thia Leng-juan adalah seorang Enghiong sejati, dia dapat direndahkan, dapat pula menyesuaikan diri dengan keadaan. Pembunuhan yang Sicu lakukan terhadap dirinya sungguh merupakan suatu kejahatan yang patut disesalkan."

 

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Aku membunuhnya karena perbuatan jahat yang ia lakukan sudah kelewat batas. Kalau kau menuduh aku salah membunuhnya, apakah perbuatannya mencelakai sahabat serta saudara-saudaranya bukan suatu perbuatan yang keji?"

Long Jit-seng yang berdiri di sisi arena mendadak tertawa seram, lalu menimbrung, "Bong Thian-gak, apakah kedatanganmu ini bermaksud hendak mengajak aku masuk Hiat-kiam-bun?"

Bong Thian-gak segera menarik muka.

"Hiat-kiam-bun tak akan membiarkan manusia licik yang berbicara lain di mulut lain di hati semacam kau untuk tetap hidup di dunia ini."

"Orang she Bong," Long Jit-seng tertawa dingin. "Kau tidak seharusnya membunuh Thia Leng-juan di kuil Hong-kong-si." Bong Thian-gak tersenyum.

 

"Sejak beberapa hari lalu, aku sudah tahu kau hendak memperalat kekuatan Hong-kong Hwesio dan muridnya untuk melenyapkan aku, itulah sebabnya sudah beberapa hari aku membuat persiapan di sekitar kuil Hong-kong-si untuk menanti Thia Leng-juan masuk perangkap, kemudian dengan cara demikian akan kupancing keluar Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya. Coba kau bayangkan? Apakah rencana dengan memasang perangkap semacam ini merupakan perbuatan yang keliru."

 

Diam-diam Long Jit-seng terkejut, tapi dengan cepat dia telah tertawa licik kembali, sahutnya, "Betul, memang tak keliru, aku yang telah memandangmu terlalu rendah."

"Omitohud!" sekali lagi Hong-kong Hwesio memuji keagungan sang Buddha, "bila Long Jit-seng bermaksud memancing kemunculan kami guru dan murid membuka pantangan membunuh, mungkin Hong­kong Hwesio tak akan memenuhi harapannya, namun Sicu telah membunuh Thia-tayhiap, jadi terpaksa kami guru dan murid benar-benar akan membuka pantangan membunuh."

"Mana ... mana, sebagai seorang pendeta, kau ingin mencampuri pula urusan pertikaian dunia persilatan, cepat atau lambat pasti akan kau langgar juga pantangan membunuh itu."

"Sudah hampir lima puluh tahun lamanya Pinceng menutup diri hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan, sungguh tak disangka orang-orang Bu-lim telah berubah menjadi lebih buas dan ganas."

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Kalau hidup mengasingkan diri dalam lingkungan masyarakat, siapakah yang bisa melepaskan diri dari keramaian dunia? Tak heran kau mungkin bersembahyang setiap hari, namun belum bisa melepaskan diri dari pikiran keduniawian."

Hati Hong-kong Hwesio bergetar mendengar perkataan itu, mencorong tajam matanya mengawasi wajah Bong Thian-gak lekat-lekat.

"Siancay, Siancay! Bila kuamati panca-indra Sicu serta pancaran kegagahan dari wajahmu, sama sekali tidak mirip seperti manusia buas yang berhati keji, tapi mengapa Sicu justru membunuh Thia-tayhiap?"

 

Tiba-tiba Bong Thian-gak menarik muka, kemudian berkata dengan suara lantang, "Biarpun Thia Leng-juan terhitung anak murid Siau-lim-pay, tapi perbuatannya justru merusak nama baik perguruan, dia telah berkhianat serta mengabungkan diri dengan pihak Put-gwa-cin-kau membantu kaum sesat dan kaum laknat melakukan berbagai kejahatan mencelakai umat persilatan dan membunuh kaum pendekar, apakah aku tak pantas membunuh manusia semacam ini?"

"Omitohud, apakah Sicu mempunyai bukti yang meyakinkan?" tanya Hong-kong Hwesio.

"Tiga tahun berselang, Thia Leng-juan telah berkhianat dan menjual Ho Put-ciang serta puluhan jago persilatan yang berada dalam gedung Bu-lim Bencu, apakah bukti ini belum cukup kuat?"

 

Hong-kong Hwesio segera menggeleng kepala, katanya, "Apakah Sicu mengetahui dengan pasti kisah yang sebenarnya sampai seluruh orang dalam gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong ditumpas orang pada tiga tahun berselang?"

Bong Thian-gak tertegun mendengar pertanyaan itu, kemudian dengan kening berkerut dia berkata, "Aku memang tidak mengetahui apa sebabnya gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong sampai tertumpas, namun menurut hasil penyelidikanku, kecuali Thia Leng-juan, segenap jago dalam gedung Bu-lim Bengcu pada waktu itu tidak diketahui nasibnya, sampai sekarang mati hidup mereka pun tetap merupakan teka teki."

"Oleh karena itu Thia Leng-juan menjadi orang yang paling dicurigai membunuh kawanan jago itu, apalagi sebelum ajalnya tiba tadi, Thia Leng-juan juga mengakui bahwa dialah yang telah membunuh Ho Put-ciang serta yang lain-lain."

 

"Ai, Sicu betul-betul telah salah membunuh orang," Hong-kong Hwesio menghela napas sedih, "Thia Leng-juan pernah meceritakan kisah yang sesungguhnya sampai gedung Bu-lim Bengcu ditumpas orang, ai, kematian Thia-tayhiap benar-benar kelewat mengenaskan!"

Helaan napas berulang kali Hong-kong Hwesio membuat perasaan Bong Thian-gak bergetar keras, diam-diam dia bertanya pada diri sendiri, "Mungkinkah aku telah salah membunuh? Mungkinkah Thia Leng-juan adalah seorang baik?"

Dengan cepat Bong Thian-gak membayangkan kembali setiap gerak-gerik, setiap perkataan yang diucapkan Thia Leng-juan menjelang ajalnya tiba.

 

Dia memang merasa banyak hal yang mencurigakan, akan tetapi Bong Thian-gak tidak habis mengerti, bila Thia Leng-juan memang bersih dan tidak merasa bersalah, apa sebabnya dia pasrah kepada nasib dan bersedia menerima kematian?

Mungkin Thia Leng-juan mempunyai kesulitan yang tak mungkin bisa diutarakan? Tapi bukankah dia sendiri mengakui telah membunuh Toa-suheng sekalian?

Bong Thian-gak benar-benar merasa amat resah, masgul dan murung, terutama sekali terhadap kata-kata terakhir Thia Leng-juan menjelang ajalnya tadi, " ... besar kemungkinan Ho Put-ciang sekalian belum mati."

Yang membuatnya ragu dan tak menentu sekarang adalah perkataan Thia Leng-juan itu, benarkah? Atau omong kosong?

 

Sekarang Bong Thian-gak sedikit menyesal, dia menyesalkan apa sebabnya tidak membuat duduk persoalan menjadi jelas lebih dulu sebelum menindak Thia Leng-juan.

Padahal Bong Thian-gak sendiri sama sekali tidak menyangka Thia Leng-juan bakal tewas di tangannya.

Thia Leng-juan pun terhitung seorang jago persilatan kelas satu dalam Bu-lim, kendatipun dia tak bisa meloloskan diri dari serangan Bong Thian-gak, namun mustahil dia bisa tewas hanya dalam satu gebrakan saja.

Bong Thian-gak menghela napas panjang, kemudian bertanya, "Hong-kong Locianpwe, benarkah aku telah salah membunuh Thia Leng-juan?"

 

Hong-kong Hwesio menghela napas, "Thia-tayhiap tak seharusnya tewas dalam keadaan demikian, dia harus mengungkapkan kenyataan sebenarnya peristiwa dunia persilatan sebelum mati."

"Dapatkah Hong-kong Locianpwe menerangkan duduk persoalan ini lebih jelas lagi?" tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut kencang.

Tiba-tiba mencorong sinar membunuh yang amat tebal dari balik mata Hong-kong Hwesio, dia berkata, "Sicu telah membunuh Thia-tayhiap, apa lagi yang bisa dibicarakan sekarang?"

Bong Thian-gak dapat pula menangkap sorot mata Hong-kong Hwesio itu, maka dia pun balik bertanya, "Hwesio tua, apa yang hendak kau lakukan?"

"Nyawa manusia tak ternilai harganya, Sicu telah membunuh orang, maka kau harus memberi keadilan pula bagi umat persilatan."

"Bila Lohwesio ingin membalas dendam bagi kematian Thia Leng-juan, kuanjurkan lebih baik urungkan saja niatmu itu," ucap Bong Thian-gak dingin.

"Rupanya Sicu beranggapan Lolap tak sanggup menghabisi nyawamu?"

"Bila Lohwesio ingin membunuh aku, kemungkinan besar kau harus mengorbankan tenaga yang amat besar, namun sebelum aku roboh ke atas tanah, mungkin kau sudah kehabisan tenaga untuk menghadapi musuh tangguh yang datang dari luar."

 

Baru selesai Bong Thian-gak berbicara, mendadak terdengar suara gelak tawa yang amat keras bergema memenuhi seluruh ruangan, gelak tawa itu mulanya berasal dari atas atap rumah, tahu-tahu di tengah halaman telah berdiri seorang lelaki kekar.

Orang itu bukan lain adalah jago nomor tiga Kay-pang, Han Siau-liong.

Setelah berdiri tegak, Han Siau-liong berkata dengan lantang, "Ketajaman mata Jian-ciat-suseng sungguh mengagumkan sekali, hahaha, hari ini aku Han Siau-liong akan menantang kau berduel."

Bong Thian-gak tersenyum, "Mana ... mana, hari ini berapa banyak jagoan yang telah Han-heng bawa serta?"

 

Setelah tertegun, Han Siau-liong menyahut sambil tertawa, "Kurang lebih seratus orang dan sekarang seluruh kuil Hong-kong-si telah kami kepung."

"Apabila Han-heng bermaksud mencari Long Jit-seng, orangnya berada di sini sekarang, Han-heng boleh menangkapnya dengan segera," ucap Bong Thian-gak tertawa.

Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, Jian-ciat-suseng betul-betul memahami taktik perang."

"Jangan kelewat sungkan, bila Han-heng tidak turun tangan dengan segera, bila Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau sampai menyusul kemari, belum tentu pihakmu mempunyai kemampuan untuk membekuk Hek-ki-to-cu."

Kembali Han Siau-liong tertawa kering, "Kau anggap pihak Put-gwa-cin-kau pasti ada orang yang akan muncul ke sini?"

"Telinga umat persilatan saat ini dibentangkan lebar-lebar, rahasia Hong-kong Hwesio bersama Hek-ki-to-cu mengenai rahasia harta karun Mo-lay-cing-ong sudah bukan rahasia pribadi lagi."

"Kalau begitu, aku seharusnya turun tangan terlebih dahulu," Han Siau-liong tertawa.

"Tampaknya Han-heng kuatir orang she Bong akan menjadi nelayan yang beruntung?"

"Betul, aku memang menguatirkan hal ini."

 

Bong Thian-gak tersenyum, "Bila Han-heng tidak turun tangan lebih dulu, kemungkinan besar kau akan didahului orang lain."

"Siapa yang akan mendahului diriku?" tanya Han Siau-liong.

"Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Hui-thian."

Selesai perkataan itu, dari tengah ruangan telah berkumandang suara seorang bernada dingin, "Bocah keparat, kau betul-betul sangat lihai, sampai-sampai jejakku pun kau ketahui."

Suara itu hanya melambung di angkasa, tak nampak sesosok bayangan orang pun yang muncul.

Paras muka Hong-kong Hwesio serta Han Siau-liong yang berada di tengah arena berubah hebat, nama besar Mo Hui-thian cukup termasyhur dalam Bu-lim dewasa ini.

 

Kembali Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak, suaranya keras dan memekakkan telinga, kemudian dia berkata, "Hahaha, semenjak beberapa hari lalu aku sudah tahu Mo-locianpwe ada maksud mencari diriku, oleh sebab itu untuk menghindari usaha Toa-cengcu melancarkan serangan keji, terpaksa aku pun menguntitmu lebih dulu. Hahaha, Toa-cengcu seperti sudah terpikat oleh harta karun Mo-lay-cing-ong sehingga lupa menyusahkan diriku."

Hong-kong Hwesio memuji keagungan sang Buddha, kemudian pelan-pelan berkata, "Mo Hui-thian, sudah puluhan tahun kita tak bersua, Lohwesio kangen sekali kepadamu."

 

Dari keheningan udara kembali berkumandang suara Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng.

"Hwesio tua sahabat karibku, aku dengar peta harta karun itu berada di sakumu, entah bersediakah kau meminjamkan sebentar kepada sahabatmu ini?"

"Omitohud, siapa bilang tak boleh? Kalau sobat karib yang meminjam, aku yakin tentu akan dikembalikan."

Mendadak Han Siau-liong berkata kepada Bong Thian-gak, "Bong, buncu, tampaknya untuk sementara waktu kita harus menyingkirkan semua perselisihan pribadi di antara kita."

 

Bong Thian-gak tersenyum, "Han-heng, aku lihat watakmu sudah banyak berubah."

"Ya, keadaan dan suasanalah yang memaksaku berbuat demikian," ucap Han Siau-liong.

Kembali Bong Thian-gak tersenyum, "Pihak Hiat-kiam-bun kami sama sekali tidak tertarik pada peta harta karun itu, tapi ... kami pun enggan membiarkan peta harta karun itu terjatuh ke tangan partai atau perguruan mana pun, oleh karena itu dia adalah musuh Hiat-kiam-bun kami, jika Han-heng berniat merebut peta harta karun itu, bukankah kita akan segera berubah menjadi musuh bebuyutan?"

"Bagus, bagus sekali," Han Siau-liong tertawa lebar, "pendapat Bong-buncu memang persis seperti pendapatku, tapi berbicara dari situasi yang kita hadapi sekarang, tampaknya kita harus menjalin kerja sama."

"Bagaimana cara kita menjalin kerja sama?"

"Pertama-tama kita harus mencegah peta harta karun itu jangan sampai terjatuh ke tangan siapa pun."

"Tapi peta harta karun itu berada di tangan siapa sekarang?"

 

Menghadapi pertanyaan itu Han Siau-liong tertegun, ia balik bertanya, "Bukankah peta itu berada di tangan Hong-kong Hwesio?"

Mendadak dari tengah udara berkumandang lagi suara teriakan Mo Hui-thian, "Hwesio tua sahabat karibku, mengapa kau tidak berhasil menemukan peta harta karun itu?"

"Omitohud, Mo-cengcu, sampai sekarang mengapa kau masih belum juga menampakkan diri?" Hong-kong Hwesio berkata.

Tiba-tiba Han Siau-liong berpaling ke arah Bong Thian-gak dan bertanya sambil tertawa, "Bong-buncu, apakah kau tahu Mo-loji dimana bersembunyi?"

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Menurut berita dalam Bu-lim, Toa-cengcu ibarat naga sakti di balik mega yang nampak kepala tak nampak ekor, setelah berjumpa hari ini terbukti bahwa namanya memang bukan nama kosong belaka, hingga sekarang aku masih belum menemukan tempat persembunyiannya, artinya kita berdua telah menderita kekalahan di tangannya malam ini."

Mendengar ucapan itu, Han Siau-liong tertawa terbahak, "Hahaha, bila ia tidak juga menampakkan diri, selamanya jangan harap dia bisa melepaskan serangan pedangnya untuk melukaiku."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Menurut cerita orang, selama bertarung Mo Hui-thian tak pernah melancarkan serangan kedua, sebab saat dia menampakkan diri, musuh sudah roboh terlebih dahulu karena tertusuk, konon kecepatan gerak pedangnya tidak berada di bawah kemampuan Liu Khi."

"Aku dengar Liu Khi sudah bertarung melawan Bong-buncu?" tiba-tiba Han Siau-liong bertanya.

 

"Aku tak lebih hanya mencoba pisau terbang daun Liu-nya saja," kata Bong Thian-gak tertawa.

"Liu Khi dari partai kami memiliki jurus serangan yang sangat lihai dan kelihaiannya terletak pada permaianan golok mustika tersoreng di pinggangnya itu."

"Ya, aku pun pernah mendengar orang membicarakan hal itu," Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Menurut pendapat Bong-buncu, mungkinkah antara Hong-kong Hwesio dengan Mo-loji telah terjalin suatu hubungan yang sangat akrab dan sehidup semati?"

"Ah, aku rasa mereka hanya saling memanfaatkan kelebihan lawan, padahal keduanya sama-sama mempunyai rencana tertentu," jawab Bong Thian-gak sambil sengaja meninggikan suaranya.

 

Han Siau-liong tertawa, "Hahaha, kalau begitu di antara kita tak ada seorang pun yang berani turun tangan."

"Apakah Han-heng masih sanggup menahan diri dan menunggu lebih lama?"

"Bila Siaute sudah memperoleh persetujuan Bong-buncu, tentu saja tak akan menunggu lebih lama." Bong Thian-gak tersenyum.

"Dengan kekuatan kita berdua, rasanya hanya mampu untuk melawan Hong-kong Hwesio dan muridnya, apakah Han-heng tidak kuatir Mo Hui-thian akan menjadi si nelayan yang beruntung?"

"Siaute tidak percaya Hong-kong Hwesio dan muridnya begitu sukar dilawan."

 

Bong Thian-gak tertawa ringan.

"Kalau begitu dengan kemampuan Han-heng seorang pun sudah cukup untuk melawan Hong-kong Hwesio dan muridnya, buat apa kau mesti mengajak aku bekerja sama?"

"Yang kukuatirkan adalah Mo Hui-thian yang berada di sisi arena."

"Bukankah dari pihak kalian masih ada Liu Khi?" tegur Bong Thian-gak sambil tersenyum.

Han Siau-liong tertegun mendengar perkataan itu, kemudian katanya sambil tertawa kering, "Wah, tampaknya Bong-buncu bukan orang tolol."

"Mana ... mana," Bong Thian-gak mengangguk, "tahu diri, tahu keadaan lawan, setiap pertarungan baru bisa dimenangkan dengan sukses dan gemilang."

"Sekali pun Bong-buncu tak bersedia bekerja sama, dengan kemampuanmu seorang rasanya juga susah menguasai keadaan."

 

Bong Thian-gak tertawa.

"Seandainya aku bekerja sama dengan Mo Hui-thian atau Hong­kong Hwesio beserta muridnya untuk melawan kalian, mungkinkah bagi Han-heng serta Liu Khi meraih keuntungan besar?"

Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, sayang sekali Bong-buncu telah membunuh Thia Leng-juan, kalau tidak, aku memang patut menguatirkan kerja samamu dengan Hong-kong Hwesio."

 

Sekali lagi Bong Thian-gak tersenyum.

"Biarpun Hong-kong Hwesio ingin membalas dendam bagi kematian Thia Leng-juan, namun peta harta karun jauh lebih penting artinya daripada membalas dendam, oleh sebab itulah hingga sekarang Hong-kong Hwesio masih belum berani bertindak secara sembarangan, masakah Han-heng tidak melihat?"

Sesungguhnya Han Siau-liong telah berusaha keras memeras otak menarik Bong Thian-gak demi kepentingan pihaknya, selain dipakai juga untuk menghadapi Hong-kong Hwesio, tapi Bong Thian-gak bukan orang bodoh, ia cukup memahami maksud dan tujuan Han Siau-liong yang sebenarnya.

Alhasil usaha Han Siau-liong pun menjadi sia-sia belaka.

 

Di pihak lain, Hong-kong Hwesio sendiri pun bukan orang sembarangan, ia cukup tahu setiap orang yang bersembunyi di sekitar kuil Hong-kong-si pada malam ini merupakan jago-jago persilatan yang lihai. Bila dia berani menyerang satu di antaranya, niscaya pihaknya akan menjadi sasaran pengeroyokan orang lain.

Setelah melalui pengamatan seksama, ia dapat merasakan bahwa musuh yang paling tangguh saat ini tak lain adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak.

 

Sementara itu dari tengah udara kembali berkumandang suara Mo Hui-thian, "Hwesio sahabat karib, sudah hampir enam puluh tahun kita berkenalan, masa kau tidak bersedia membagi sebagian harta itu kepadaku? Keadaan sekarang sudah jelas, dengan kemampuan kalian beberapa orang rasanya sulit untuk mempertahankan peta harta karun itu, asal Lohwesio menyetujui, aku pun bersedia mengerahkan semua kekuatan kami guna bersama-sama menghadapi partai pengemis, Put-gwa-cin-kau serta Hiat-kiam-bun."

 

Baru selesai perkataan Mo Hui-thian tadi, dari sisi sebelah barat wuwungan rumah tiba-tiba melintas cahaya putih secepat sambaran kilat menyambar ke atas pohon waru tepat di hadapannya.

Kecepatan cahaya itu sangat luar biasa, sekilas tahu-tahu sudah lenyap dari pandangan mata.

Mendadak dari atas pohon waru berkelebat kembali sesosok bayangan orang yang melayang turun ke tengah halaman.

Baik Bong Thian-gak maupun Han Siau-liong mendongakkan kepala.

 

Ternyata orang yang baru saja melayang turun adalah seorang kakek berbaju abu-abu berbadan bungkuk, menyoreng sebilah pedang antik serta mengenakan kaca mata berbentuk antik.

Dari potongan badannya, siapa pun akan menduga dia adalah Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng yang sudah puluhan tahun termasyhur dalam dunia persilatan dan lebih dikenal orang sebagai si Naga di balik mega Mo Hui-thian.

 

Agaknya Mo Hui-thian kena dipaksa menampakkan diri oleh lintasan cahaya putih tadi, dia nampak marah sekali, dengan suara dingin menyeramkan dia membentak, "Liu Khi, malam ini aku telah merasakan kelihaian pisau terbangmu, mengapa kau tak menampakkan diri mencoba sejurus pedang terbangku?"

Sementara itu di atas wuwungan rumah sesosok bayangan orang berbaju hitam berdiri kaku di sana, tidak terlihat bagaimana dia menekuk lutut, tahu-tahu dia sudah melayang turun dan hinggap di sisi Han Siau-liong.

 

Kemudian dengan pandangan dingin dia memandang sekejap ke arah Mo Hui-thian, setelah itu katanya, "Mo-loji, kau bisa menghindari pisau terbangku dengan selamat, hal ini sungguh membuat aku merasa sangat kagum."

Han Siau-liong yang berada di samping segera menimbrung pula sambil tertawa, "Liu-susiok, aku dengar ilmu silat Mo Hui-thian sangat hebat, tapi yang paling menonjol adalah kemampuannya melukai orang secara diam-diam dengan pedangnya. Sekarang dia telah dipaksa oleh pisau terbang Susiok menampakkan diri, aku pikir, inilah kesempatan baik bagiku untuk mencoba ilmu pedangnya."

 

Seraya berkata, Han Siau-liong segera melintangkan pedang baja raksasanya di depan dada, lalu teriaknya, "Mo-toacengcu, Han Siau-liong dari partai pengemis ingin mencoba kepandaian ilmu pedangmu yang konon dianggap orang sebagai ilmu pedang nomor wahid di kolong langit."

Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Hui-thian memang pernah disebut orang sebagai jagoan nomor wahid di dunia, Han Siau-liong ternyata berani menantangnya bertarung, boleh dibilang tindakan ini sangat berani.

 

Mo Hui-thian sama sekali tidak menggubris Han Siau-liong, malah mengawasi Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak dari ujung kepala hingga kaki, kemudian dengan acuh tak acuh dia berkata, "Ilmu pedangmu masih belum pantas melawanku, kau percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri."

Han Siau-liong mendongakkan kepala, lalu tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, kalau aku belum pantas, siapa yang pantas?"

Mo Hui-thian menuding Bong Thian-gak sambil menjawab, "Dia masih cukup pantas bertarung beberapa jurus melawanku."

 

Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu tersenyum.

"Ah, terlalu sungkan, sungguh tak kusangka Mo-toacengcu memandang tinggi diriku."

"Sudah semenjak tadi aku tertarik kepadamu, beberapa puluh hari lalu kau pernah mengalahkan putra sulungku, maka aku berencana membayar dengan sebuah tusukan pula kepadamu."

"Aku akan menerima petunjukmu itu dengan senang hati," Bong Thian-gak menjawab dingin.

Dalam waktu singkat situasi di tengah arena berubah, kini Bong Thian-gak sudah menjadi musuh Hong-kong Hwesio serta Mo Hui-thian.

Han Siau-liong serta Liu Khi dari Kay-pang merupakan orang-orang yang berakal tajam, mereka tahu situasi yang mereka hadapi sekarang sudah menguntungkan pihaknya, maka sambil berpeluk tangan mereka menantikan perubahan selanjutnya dari sisi arena.

 

Sepuluh pelindung hukum Hiat-kiam-bun masing-masing telah melolos pedang yang bersinar tajam dari pinggangnya, serentak mereka bergerak membentuk barisan berbentuk setengah lingkaran untuk melindungi Bong Thian-gak.

Pada dasarnya kesepuluh orang pelindung hukum Hiat-kiam-bun merupakan jago-jago kelas satu di Bu-lim, apalagi selama beberapa hari belakangan ini Bong Thian-gak telah mewariskan serangkaian ilmu pedang yang aneh kepada mereka, boleh dibilang orang-orang itu sudah terlatih menjadi seorang pengawal yang sangat tangguh.

 

Tapi Bong Thian-gak cukup tahu bahwa kesepuluh orang pelindungnya masih belum cukup mampu untuk melawan tokoh sakti seperti Mo Hui-thian.

Maka dia segera membentak dengan cepat, "Sepuluh pelindung hukum, harap mundur!"

Baru saja dia berseru, mendadak Mo Hui-thian telah berseru lebih dulu sambil tertawa dingin, "Sayang terlalu lambat!"

Baru selesai dia berkata, tubuh Mo Hui-thian sudah menerjang ke muka.

Cahaya pedang berkelebat dan ... "Blum".

Jeritan ngeri berkumandang memecah keheningan malam, seorang pelindung hukum Hiat-kiam-bun sudah tertusuk perutnya, darah segar segera menyembur keluar seperti pancuran, setelah tubuhnya gontai beberapa kali, akhirnya dia roboh tak bernyawa lagi.

Berhasil membacok seorang korban, Mo Hui-thian maju selangkah ke depan, cahaya tajam kembali berkelebat menyapu seorang yang lain.

Oleh karena serangan pedang yang dilancarkan Mo Hui-thian kelewat cepat, pada hakikatnya Bong Thian-gak serta para pelindungnya tak sempat lagi memberikan pertolongan

"Blus", lagi-lagi seorang korban roboh bergelimpangan di tanah dengan perut robek dan usus berhamburan kemana-mana, darah segar berceceran membasahi seluruh permukaan tanah.

Pelindung hukum kedua telah roboh binasa.

 

Pada saat korban pertama roboh, korban kedua menyusul pula roboh terkapar, boleh dibilang peristiwa itu hampir pada saat yang bersamaan.

Kaki kanan Mo Hui-thian maju setengah langkah, pedangnya berputar kembali dan kali ini membacok pelindung hukum ketiga yang berdiri di sebelah kanan.

Tapi Mo Hui-thian kali ini tidak berhasil dengan sasarannya, sebab baru saja jurus pedangnya dilancarkan, sebuah lengan seperti cakar burung garuda telah mencengkeram pergelangan tangan kanannya.

Bagi orang yang belajar ilmu silat, urat nadi adalah bagian penting yang mematikan di tubuh manusia, di samping dua jalan darah kematian lainnya, apalagi kelima jari tangan yang mencengkeramnya membawa desingan angin serangan yang tajam dan menyayat bagaikan bacokan pedang.

Oleh sebab itu mau tak mau Mo Hui-thian menarik kembali pedangnya sambil melompat mundur.

 

Ketika mendongakkan kepala, tampak Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak dengan wajah kereng dan serius sedang mengawasi dua sosok mayat yang terkapar di tanah, kemudian terdengar ia bertanya dengan suara pelan, "Ang Teng-siu, apakah yang menjadi korban adalah Pui Se-hiong serta Lay Siong-han?"

"Lapor Buncu," segera jawab Ang Teng-siu dengan sedih, "mereka Pui Se-hiong serta Lay Siong-han."

"Selama Pui Se-hiong dan Lay Siong-han menyusup ke dalam Put-gwa-cin-kau, entah berapa kali mereka harus menghadapi ancaman bahaya maut dan berada di antara hidup dan mati, namun setiap kali mereka selalu berhasil menyelamatkan diri, sungguh tak kusangka baru pertama kali turut aku terjun ke gelanggang, mereka harus menemui ajal secara mengenaskan, aku ... aku merasa amat bersalah dan malu terhadap mereka."

 

Ketika mengutarakan kata-katanya yang terakhir, suara Bong Thian-gak terdengar gemetar, dari sini bisa diketahui betapa sedih dan murungnya dia.

Sepasang mata Ang Teng-siu pun turut berkaca-kaca, tapi dia sempat berkata dengan suara nyaring, "Harap Buncu jangan bersedih, kami sepuluh pelindung hukum sudah bersumpah akan mendampingi Buncu hingga titik darah penghabisan, setiap saat kami rela berkorban demi Buncu."

 

Dari balik mata Bong Thian-gak mendadak mencorong sinar mata tajam yang menggidikkan, ditatapnya wajah Mo Hui-thian lekat-lekat, kemudian ujarnya dengan suara dingin, "Mo Hui-thian, Hiat-kiam-bun sudah bersumpah tak akan hidup berdampingan denganmu."

Terkesiap Mo Hui-thian menyaksikan sorot mata Bong Thian-gak yang menggidikkan hati itu, ia berpikir dalam hati, "Oh, betapa mengerikan sorot mata orang ini!"

Berpikir demikian, dia lantas tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan, kemudian serunya, "Sejak kau berhasil mengalahkan putraku, aku sudah mempunyai ikatan dendam sedalam lautan dengan Hiat-kiam-bun."

"Mo Hui-thian, mengapa kau tidak mengangkat pedangmu untuk membacok kemari?"

"Kau anggap aku tak berani?" jengek Mo Hui-thian sambil tertawa dingin.

Tubuhnya secepat anak panah menerjang tiba.

 

Cahaya pedang berkelebat, pedang di tangan kanannya segera membacok ke muka, desingan angin tajam menyapu tiba dari sisi sebelah kiri.

Pada hakikatnya jurus serangan yang dipergunakan olehnya itu sangat aneh, sakti dan luar biasa.

Terutama sekali dalam hal kecepatan, boleh dibilang sukar membuat orang melihat dengan jelas bagaimanakah serangan itu dilancarkan.

"Sret", bayangan orang tahu-tahu telah melejit dari bawah cahaya pedang.

 

Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak sudah melompat mundur, pakaian bagian dadanya sudah tersambar robek, koyakan kainnya berkibar ketika terhembus angin.

Mo Hui-thian memandang sekejap mata pedang di tangan kanannya dengan pandangan tertegun, wajahnya penuh rasa kaget dan keheranan, setelah itu katanya dengan suara sedingin salju, "Sastrawan cacat, kau adalah orang pertama dalam Bu-lim yang berhasil meloloskan diri dari jurus seranganku."

Mo Hui-thian disebut orang sebagai jago pedang kelas satu dalam Bu-lim, sudah barang tentu kematangan dan kesempurnaannya dalam permainan pedang luar biasa hebat, tapi setiap jago yang berada dalam arena dapat menyaksikan bahwa permainan pedangnya ternyata masih jauh lebih lihai dari apa yang dibayangkan semula.

 

Mo Hui-thian memang cukup pantas disebut orang sebagai jago pedang nomor wahid dalam Bu-lim.

Sejak Han Siau-liong, Liu Khi serta Hong-kong Hwesio sekalian menyaksikan jurus pedang yang dipergunakan Mo Hui-thian untuk menyerang Bong Thian-gak, boleh dibilang semua sependapat.

Tiba-tiba Han Siau-liong tertawa nyaring.

"Hahaha, ilmu pedang bagus, ilmu pedang bagus, malam ini aku orang she Han benar-benar telah bertambah pengalaman."

Setelah berhenti sejenak, dia menyambung, "Mo-toacengcu, dapatkah kau memberitahukan kepada kami, jurus pedang apakah yang kau pergunakan itu?"

 

Sambil tertawa bangga sahut Mo Hui-thian, "Itulah ilmu pedang Wi-liong-kiam-hoat (ilmu pedang ekor naga), satu di antara tiga belas jurus ilmu pedang ekor naga hasil ciptaan orang she Mo."

"Lihai, benar-benar sangat lihai," seru Han Siau-liong sambil tertawa, "bila serangan pedang tadi sedikit maju, niscaya usus Jian-ciat-suseng sudah berhamburan kemana-mana."

"Biarpun dia mampu meloloskan diri dari serangan pertama, kedua dan selanjutnya dari ilmu pedang ekor nagaku, tapi jangan harap dia bisa lolos dari ketiga belas jurus ilmu pedang ekor naga yang kuciptakan ini."

 

Han Siau-liong tertawa lebar.

"Wah, kalau begitu Jian-ciat-suseng sudah dapat dipastikan akan mampus."

"Asal aku berhasrat membunuhnya, aku rasa dia memang sulit untuk lolos dalam kematian."

Tiba-tiba Han Siau-liong tertawa dingin, "Mo-toacengcu, aku pikir kau mesti menyiapkan langkah mundur bagi perkataanmu itu."

"Mengapa harus begitu?"

Sekali lagi Han Siau-liong tertawa mengejek, "Seandainya Jian-ciat-suseng terbukti tidak mampus oleh tiga belas jurus ilmu pedang ekor nagamu, apakah Mo-toacengcu berani mengatakan bahwa engkaulah yang tidak tega membunuhnya?"

Mo Hui-thian mendengus dingin.

"Han Siau-liong," ia berteriak, "jika kau tidak percaya dengan ilmu pedangku, mengapa tidak kau coba sendiri turun ke gelanggang."

"Mo-toacengcu tak usah terburu napsu, cepat atau lambat pihak Kay-pang pasti akan berhadapan denganmu."

 

Sementara itu Bong Thian-gak masih berdiri tegak di tempat semula dengan wajah sedingin es setelah ia menerima serangan kilat Mo Hui-thian tadi.

Dia seolah-olah sedang memikirkan suatu masalah atau bisa jadi nyalinya sudah dibuat keder atas kelihaian musuh.

Sementara Han Siau-liong dan Mo Hui-thian masih berbincang-bincang, dia hanya berdiri tanpa bicara ataupun melakukan sesuatu perbuatan.

 

Tiba-tiba sekilas perasaan girang melintas di wajah Bong Thian-gak, dia seperti orang yang tersesat di tengah gurun pasir dan secara kebetulan menemukan sumber mata air yang bening, mukanya berseri-seri dan semangatnya berkobar kembali.

Mendadak ia berteriak nyaring, "Mo Hui-thian, mengapa kau tidak lagi melancarkan seranganmu yang kedua?"

 

Dengan cepat Mo Hui-thian berpaling, hatinya kontan bergetar keras menyaksikan perubahan mimik Bong Thian-gak, segera pikirnya, "Kalau dilihat dari raut wajahnya yang berseri-seri dan nampak sangat gembira, jangan-jangan dia telah berhasil memecahkan perubahan jurus pedangku?"

Berpikir demikian, dengan sikap sangat hati-hati namun ingin tahu, Mo Hui-thian bertanya lagi, "Apakah kau sudah menemukan sesuatu rahasia?"

"Betul," Bong Thian-gak mengangguk, "aku telah berhasil tahu rahasia jurus pedang ilmu ekor nagamu itu."

"Hehehe, masakah begitu? Aku kurang percaya," jengek Mo Hui-thian sambil tertawa seram.

 

"Ilmu pedang ekor nagamu berdasarkan kecepatan dan keanehan dalam gerakan, kalau dibilang cepat, kecepatannya sanggup membuat orang tidak percaya, dibilang aneh, keanehannya mencapai taraf yang luar biasa sekali. Bagi seorang yang belajar silai, memang sulit untuk melatih diri hingga mencapai tingkat kecepatan serta keanehan seperti apa yang kau miliki sekarang, bahkan berlatih sampai mati pun belum tentu sanggup mencapainya, kenyataan kau mampu melakukannya. Kau sungguh pintar, ternyata bisa menggunakan teknik dan taktik yang tinggi untuk menggenggam pedangmu secara bergantian antara tangan kiri dan kanan."

 

Han Siau-liong yang mendengar perkataan Bong Thian-gak itu segera manggut-manggut seakan-akan baru memahami akan sesuatu, dia menyela, "Ya, betul, ilmu pedang ekor naga milik Mo-toacengcu memang merupakan teknik pertukaran antara genggaman tangan kiri dan kanan."

Berubah paras muka Mo Hui-thian mendengar perkataan itu, pelan-pelan dia berkata, "Sungguh tak kusangka kau telah berhasil memahami teknik permainan pedangku, hehehe, sayangnya, walaupun kau sudah tahu rahasia pergantian tangan kiri dan kananku, namun bagaikan sedang bermimpi bila ingin lolos dari serangan ketiga belas jurus ilmu pedang ekor nagaku dengan selamat."

"Kalau memang begitu, silakan saja kau lancarkan seranganmu!" tantang Bong Thian-gak sambil tersenyum.

 

Mo Hui-thian tertawa dingin.

"Sekali pun kau ingin mampus, buat apa mesti terburu-buru? Tunggu sebentar lagi."

"Mo Hui-thian," ujar Bong Thian-gak kemudian dengan suara sedingin salju, "sebetulnya dengan jurus pedangmu yang aneh dan hebat, kau masih bisa mengalahkan diriku dengan suatu serangan mendadak yang tidak terduga, tapi sekarang kau sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengungguli diriku."

"Kau yakin mampu menghindarkan diri dari ketiga belas ilmu pedangku?" tanya Mo Hui-thian dengan nada tidak percaya.

"Aku takkan memberi kesempatan kepadamu untuk melancarkan ketiga belas jurus serangan, pada saat kau melepaskan serangan yang pertama, kemungkinan besar pedangku telah berhasil merenggut nyawamu."

 

Seolah-olah baru saja mendengar sebuah lelucon yang sangat menggelikan, Mo Hui-thian tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, selama beberapa puluh tahun aku berkecimpung dalam Bu-lim, tak pernah seorang pun sanggup mengungguli satu jurus serangan pun dariku, ingin kulihat pada malam ini, apa yang kau andalkan untuk mengungguliku?"

Baru selesai perkataan itu, jurus pedang Mo Hui-thian telah dilancarkan.

"Sret", cahaya pedang tahu-tahu sudah terhadang di tengah jalan oleh kilatan cahaya pedang berwarna merah.

"Cring", desingan nyaring yang memekakkan telinga bergema, sambil menarik kembali pedangnya, Mo Hui-thian melompat mundur.

 

Bong Thian-gak berdiri sambil menghunus pedang darah, hawa pedang yang menyelimuti senjata itu mengepul seperti kabut yang menyelimuti pedang itu.

"Mo Hui-thian, baju bagian dadamu sudah kena tertusuk sebanyak tiga buah oleh mata pedangku."

Paras muka Mo Hui-thian pada saat itu benar-benar amat tak sedap dipandang, ia amat tekejut, ngeri, takut, sedih, kesal dan berbagai perasaan lainnya.

Mo Hui-thian menundukkan kepala memeriksa, tentu saja dia tahu baju bagian dadanya telah bertambah dengan tiga buah lubang pedang, sebab pada saat itu dia merasa kulit badan dan bagian dadanya terasa perih dan sakit, bahkan ada cairan pekat yang membasahi tubuhnya, sudah jelas banyak darah yang bercucuran dari mulut luka itu.

Tapi dari sudut manakah pedang itu menyerang masuk ke dalam tubuhnya?

 

Sekarang Mo Hui-thian baru betul-betul bisa merasakan bahwa Jian-ciat-suseng memang benar-benar seorang musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya, bisa jadi nama besar yang telah dipupuknya selama ini akan hancur di ujung pedang Jian-ciat-suseng itu.

Teringat akan hal itu, air muka Mo Hui-thian segera berubah serius dan amat kereng, pedang disilangkan di depan dada, semua kekuatan dihimpun dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

 

Dengan menggenggam pedang darah di tangan tunggalnya, Bong Thian-gak berkata lagi dengan hambar, "Mo Hui-thian, tadi kau telah berhasil menusuk robek pakaian di bagian perutku dan sekarang aku pun berhasil melubangi baju bagian dadamu, menang kalah di antara kita pun aku rasa sudah menjadi seri. Tapi kau mesti ingat, dalam bentrokan berikut ini, bisa jadi di antara kita berdua bakal menderita kekalahan total."

"Betul," jawab Mo Hui-thian dengan suara sedingin es, "dalam bentrokan berikut, bisa jadi seorang di antara kita bakal menemui ajal."

Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas panjang, lalu bertanya dengan suara pelan, "Mo-toacengcu, yakinkah kau mampu mengalahkan diriku?"

 

Mo Hui-thian tertawa dingin.

"Paling tidak harus makan banyak tenaga."

"Di saat kau berhasil mengalahkan aku, tentunya kau tak akan mampu lagi menghadapi Liu Khi serta Han Siau-liong."

Perkataan itu tepat mengenai pikiran dan perasaan Mo Hui-thian, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia terbungkam.

Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, Bong-buncu memang sangat pandai menggoyahkan mental dan iman orang lain, perkataanmu barusan sungguh merupakan pukulan batin yang paling berat baginya, cuma ... tujuan kita semua pada malam ini adalah demi peta rahasia harta karun, bisa jadi kita semua harus mengerahkan seluruh kekuatan untuk pertarungan antara hidup dan mati."

"Han-heng, tahukah kau peta harta karun itu berada dimana?" tanya Bong Thian-gak.

 

Sambil tertawa Han Siau-liong menjawab, "Persoalan ini cukup kau tanyakan kepada Hong-kong Hwesio, dia pasti tahu."

"Kalau memang begitu, sudah sepantasnya bila Han-heng segera turun tangan terhadap Hong-kong Hwesio dan muridnya."

"Bong-buncu tak perlu kuatir," Han Siau-liong tertawa, "seratus orang lebih jagoan lihai dari Kay-pang telah mengepung rapat kuil Hong-kong-si ini, jadi setiap orang yang berada dalam kuil Hong-kong-si jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat."

"Oh, rupanya Han-heng sudah membawa bala bantuan yang begitu besar, tak heran kau tampak sangat tenang dan yakin bakal berhasil."

"Ah, mana ... mana," Han Siau-liong tertawa, "Bong-buncu bakal bekerja sama dengan Hong-kong Hwesio serta Mo-toacengcu untuk menghadapi Kay-pang?"

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Bagi orang yang tahu keadaan dan bisa mempertimbangkan untung ruginya, dia memang harus berbuat demikian."

Mendengar perkataan ini, Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak dengan nada menyeramkan, "Hahaha, sayang seribu kali sayang, antara Bong Thian-gak dan Hong-kong Hwesio maupun Mo-toacengcu sudah terjalin keretakan serta permusuhan, ibarat api dengan air yang tak mungkin bisa digabung."

"Hiat-kiam-bun dengan pihak Kay-pang pun ibarat api dengan air," Bong Thian-gak tertawa.

"Kalau begitu Buncu sudah menjadi musuh besar beramai-ramai, -kita bisa bekerja sama lebih dulu untuk menghilangkan kau dari muka bumi."

"Tapi sayang, kalian tak berani berbuat demikian," Bong Thian-gak menjengek sambil tertawa. "Mengapa?"

 

Bong Thian-gak tertawa dingin, lalu katanya, "Sebab siapa saja di antara kalian bila ada yang berani menyerang diriku lebih dulu, maka dia bakal terluka paling dulu di ujung pedangku ini."

Bong Thian-gak telah berdiri pada posisi menguntungkan, Pek-hiat-kiam disilangkan di depan dada, sementara dari posisinya secara lamat-lamat memancar hawa membunuh yang amat mengerikan.

Kalau tadi tiada orang yang memperhatikan hal itu, maka sekarang semua orang telah memperhatikan posisi Bong Thian-gak dengan seksama, diam-diam mereka terkejut.

Terutama Mo Hui-thian, tanpa terasa ia membatin, "Sungguh berbahaya, kalau aku melancarkan serangan lagi tadi, bisa jadi akan kalah total!"

Setiap jago yang hadir dalam arena sekarang rata-rata merupakan jagoan kelas satu dalam Bu-lim, siapa saja dapat melihat Bong Thian-gak yang berdiri dengan pedang melintang, merupakan posisi ilmu pedang tingkat tinggi yang mengandung kekuatan luar biasa.

 

Mendadak Bong Thian-gak menghela napas panjang, kemudian katanya, "Sejak Hiat-kiam-bun berdiri, kami tak pernah mengganggu atau menyerang partai dan perguruan mana pun lebih dahulu, kedatangan kami di kuil Hong-kong-si malam ini pun sama sekali tidak berniat untuk mengincar atau memperebutkan peta harta karun Mo-lay-cing-ong, terlebih kami pun tidak bermaksud memusuhi siapa pun, tentu saja aku pun tidak bermaksud membantu pihak mana pun. Sekarang semua keterangan telah kuutarakan secara jelas, tentunya kalian pun tidak usah merasa waswas terhadap Hiat-kiam-bun kami!"

"Sungguhkah perkataan Bong-buncu itu?" tiba-tiba Han Siau-liong bertanya.

"Han-heng boleh mencari peta harta karun itu dengan lega!"

"Bong-buncu, seandainya kau tidak berniat mendapatkan peta harta karun itu, aku siap menurunkan perintah kepada anak buahku agar memberi jalan kepada kalian meninggalkan kuil Hong-kong-si ini."

"Untuk meninggalkan kuil Hong-kong-si, bisa segera kami lakukan, tetapi jiwa dua orang pelindung hukum perguruan kami tak dapat dikorbankan dengan sia-sia di tangan Mo Hui-thian."

"Asal Bong-buncu bersedia meninggalkan tempat ini, aku orang she Han bersedia pula membantu kalian menuntut balas atas kematian kedua orang pelindung hukummu."

"Terima kasih Han-heng, sayang sekali urusan Hiat-kiam-bun harus diselesaikan pula oleh orang-orang Hiat-kiam-bun sendiri."

"Kalau memang demikian, mengapa Bong-buncu tak melancarkan serangan terhadap Mo-toacengcu?"

"Sebab aku menguatirkan sesuatu, itulah sebabnya hingga sekarang masih belum berani turun tangan."

 

Mendadak Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya, "Apakah Bong-buncu menguatirkan kami?"

"Sedikit kuatir saja, yang terutama aku kuatir penyerbuan secara besar-besaran dari pihak Put-gwa-cin-kau."

"Bong-buncu benar-benar seorang yang berotak panjang, cuma saja perhitunganmu malam ini keliru besar, hingga sekarang orang-orang Put-gwa-cin-kau masih belum mengetahui peta harta karun itu."

Kontan Bong Thian-gak tertawa dingin, "Pengetahuan Han-heng juga kelewat sedikit. Bila dugaanku tidak salah, bisa jadi orang-orang Put-gwa-cin-kau sudah menyerbu masuk ke dalam kuil Hong-kong-si ini."

"Perkataan Bong-buncu sungguh sukar dipercaya."

"Musuh tangguh sudah di depan mata, biarpun Han-heng tidak percaya pun sekarang harus mempercayainya juga."

 

Baru selesai perkataan itu diutarakan, dari ujung gedung pelan-pelan berjalan keluar seseorang.

Gerak-gerik orang ini sama sekali tidak menimbulkan suara, di tengah kegelapan hanya sepasang matanya yang nampak mencorong terang seperti bintang timur, dalam sekejap saja orang itu sudah sampai di tengah halaman.

"Si-hun-mo-li."

 

Long Jit-seng yang pertama menjerit kaget lebih dahulu.

Betul, orang yang baru menampakkan diri tak lain adalah gadis berbaju biru berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Tatkala Bong Thian-gak menyaksikan pendatang itu adalah Si-hun-mo-li, paras mukanya berubah hebat.

Mendadak Han Siau-liong berkata, "Liu-susiok, biar aku pergi menengok keadaan To Siau-hou."

 

Belum habis ia berkata, Bong Thian-gak telah menghela napas panjang, selanya, "Tidak usah ditengok lagi! Aku kira sebagian besar anak murid kaum pengemis yang bersembunyi di sekeliling kuil Hong-kong-si telah mengalami musibah."

"Darimana Bong-buncu bisa tahu?"

"Anak murid kaum pengemis yang bersembunyi di seputar kuil Hong-kong-si dipimpin oleh To Siau-hou, dengan kecerdasan dan kepandaian silatnya, tak mungkin dia membiarkan musuh menyerbu ke dalam kuil Hong-kong-si sedemikian mudahnya, tapi ia telah berjumpa dengan Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau."

Belum habis perkataan Bong Thian-gak, Han Siau-liong sudah berubah hebat air mukanya, dia berseru tertahan, kemudian seperti burung bangau terbang di udara, dia meluncur keluar gedung.

"Han-heng, hati-hati dengan Si-hun-mo-li," mendadak dia berteriak.

 

Ketika teriakan Bong Thian-gak masih mengalun di tengah udara, Han Siau-liong sudah menjerit kaget, tubuhnya melejit ke tengah udara, kemudian setelah berjumpalitan beberapa kali, dia melayang kembali ke tempat semula.

Rupanya di saat Han Siau-liong sedang berlari keluar, Si-hun-mo-li yang semula berdiri kaku di tengah halaman gedung sudah menyongsong kedatangannya dengan cepat, bahkan telapak tangannya yang berwarna merah dihantamkan secara langsung ke dada Han Siau-liong.

Bagaimana pun juga Han Siau-liong merupakan seorang jago persilatan berilmu tinggi, sudah barang tentu dia cukup mengetahui kelihaian pukulan itu, serta-merta dia menjatuhkan diri dan berguling di atas tanah untuk menghindarkan diri dari sergapan kilat Si-hun-mo-li itu.

Gagal dengan sergapan mautnya, Si-hun-mo-li segera melejit ke tengah udara dan berjumpalitan beberapa kali secara indah dan manis, kemudian dengan lembut dan enteng dia melayang ke depan menerjang Han Siau-liong.

 

Seperti guntur membelah bumi Han Siau-liong membentak keras, pedang bajanya disertai gulungan angin serangan yang amat dahsyat langsung membacok ke depan.

Si-hun-mo-li berteriak seperti kicauan burung nuri, tubuhnya yang lembut seperti seekor ular menggeliat, memutar badan menghindarkan diri dari bacokan pedang lawan, kemudian begitu melayang turun di hadapan Han Siau-liong, telapak tangannya yang indah menawan itu langsung dihantamkan ke dada lawan.

 

Kelihatannya saja serangan itu seperti lemah tidak betenaga, namun dalam pandangan seorang ahli, kecepatan gerak serangan itu benar-benar seperti sambaran petir.

Han Siau-liong berseru tertahan, sekujur tubuh berikut pedangnya dijatuhkan ke sisi sebelah kiri, telapak tangan Si-hun-mo-li itu pun menggelincir lewat di bawah iga kirinya.

Han Siau-liong ternyata sanggup menghindar dari sergapan maut Si-hun-mo-li, hal ini menunjukkan kepandaian silatnya cukup tangguh.

 

Akan tetapi perubahan jurus serangan Si-hun-mo-li pun pada hakikatnya cepat sukar dibayangkan.

Terlihat lengannya yang telah menerobos ke muka itu tiba-tiba menekuk terus menggaet, jari-jari tangannya yang lembut tahu-tahu sudah menghantam pinggang sebelah kanan Han Siau-liong.

Dalam anggapan para jago yang menonton jalannya pertarungan dari sisi arena, kali ini Han Siu Liong tak bakal mampu menghindar lagi dari serangan itu.

"Sret, sret", dua kali desingan tajam mendengung, dua kilatan cahaya putih telah meluncur dari tangan Liu Khi, langsung mengarah jalan darah tenggorokan serta urat nadi tangan Si-hun-mo-li.

Senjata rahasia pisau terbang Liu Khi memang termasyhur sebagai senjata rahasia yang tiada duanya di kolong langit.

 

Setiap kali pisau terbangnya dilancarkan, sudah pasti musuh akan terhajar secara telak hingga tewas atau paling tidak terluka dan selama ini tidak pernah meleset, Si-hun-mo-li pun tak dapat menghindarinya.

Tapi situasi dalam sekejap telah berubah.

Pada saat kedua bilah pisau terbang Liu Khi meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa, tiba-tiba berkelebat pula serentetan cahaya merah yang amat menyilaukan mata menyongsong sambaran itu.

Di tengah dentingan nyaring dan percikan bunga api yang memancar kemana-mana, tahu-tahu pisau terbang yang mengancam tenggorokan Si-hun-mo-li sudah terpental dan mengenai tempat kosong.

Menyusul kemudian terdengar jerit kesakitan tertahan.

Pisau terbang yang lain berhasil menancap di lengan kiri Si-hun-mo-li, darah segar pun segera bercucuran dengan derasnya.

Di tengah jeritan kagetnya, Si-hun-mo-li segera melompat mundur beberapa tombak.

 

Bagaimana pun juga pisau terbang Liu Khi telah berhasil menyelamatkan jiwa Han Siau-liong dari bencana maha besar.

Sedangkan Bong Thian-gak juga telah menyelamatkan jiwa Si-hun-mo-li.

Rupanya cahaya bianglala yang berkelebat tadi tak lain adalah serangan pedang Bong Thian-gak. Dengan serangan itu dia telah merontokkan pisau terbang yang mangancam tenggorokan Si-hun-mo-li.

Mimpi pun kawanan jago yang berada dalam halaman itu tak mengira Bong Thian-gak bakal turun tangan menyelamatkan jiwa Si-hun-mo-li dari ancaman maut.

Liu Khi tertawa dingin, lalu jengeknya, "Wah, cepat benar gerakan pedang Bong-buncu!"

 

Sedangkan Han Siau-liong turut membentak pula dengan keras, "Bong-buncu apa-apaan kau? Si-hun-mo-li adalah musuh besar segenap umat persilatan, mengapa kau malah membgntu dirinya?"

"Biarpun Si-hun-mo-li adalah musuh kita semua," kata Bong Thian-gak, "akan tetapi aku tidak dapat membiarkan kalian mencelakai jiwanya."

"Mengapa?" teriak Han Siau-liong setengah menjerit.

"Kesadaran Si-hun-mo-li telah punah," ucap Bong Thian-gak dengan suara dalam, "ia membunuh orang, mencelakai orang, karena semua perbuatannya itu bukan muncul atas kehendaknya sendiri, dia pribadi sebetulnya hanya seorang yang mengenaskan dan pantas untuk dikasihani."

 

Sementara pembicaraan berlangsung, Si-hun-mo-li yang berada di samping arena tertawa seram, tiba-tiba dia menerjang ke arah Bong Thian-gak.

Melihat datangnya terjangan itu Bong Thian-gak menggerakkan Pek-hiat-kiam melepaskan sebuah tusukan ke samping, tujuannya tidak lain untuk membendung gerakan Si-hun-mo-li yang mendekati tubuhnya, itulah sebabnya tenaga yang disertakan dalam serangan itu pun tidak terlalu besar.

Siapa tahu Si-hun-mo-li segera menggoyang pinggulnya dan tiba-tiba saja menerobos masuk melalui bawah pedang, lalu telapak tangannya dengan kelima jari tangan mirip cakar maut mencengkeram alat kelamin Bong Thian-gak.

Jurus-serangan semacam ini pada hakikatnya merupakan sebuah jurus serangan mematikan, kecepatan gerakannya pun luar biasa.

 

Dalam terkejutnya Bong Thian-gak segera mengayunkan kaki kanannya melepaskan tendangan kilat ke arah lengan perempuan itu.

Sampai kini kesadaran Si-hun-mo-li belum pulih, dia seolah-olah cuma tahu menyerang musuh dan tidak mengira musuh bakal melancarkan serangan balasan ke arahnya, oleh sebab itu lengannya segera termakan tendangan kilat Bong Thian-gak.

Tendangan itu persis menghajar mulut lukanya, diiringi jerit kesakitan Si-hun-mo-li memegang tangan kirinya dengan tangan kanan dan secara beruntun mundur tiga-empat langkah.

 

Darah segar segera bercucuran dengan derasnya dari lengannya, Bong Thian-gak menjadi tidak tega menyaksikan rasa sakit yang memancar dari wajah perempuan itu, tanpa terasa dia berseru lirih, "Thay-kun, maafkanlah aku!"

Dari balik mata Si-hun-mo-li memancar sinar buas menggidikkan hati, akan tetapi mendengar panggilan "Thay-kun" dari Bong Thian-gak itu perasaannya seakan-akan bergetar keras, sepasang matanya yang jeli dan indah segera mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.

 

Dia seakan-akan sedang membayangkan suatu kenangan yang telah begitu lama dilupakan olehnya.

Agaknya sorot mata maupun suara Bong Thian-gak masih tersisa setitik bekas dan kesan dalam benak Si-hun-mo-li, oleh sebab itu untuk beberapa saat lamanya Si-hun-mo-li menghentikan gerak serangannya.

Setelah menghela napas panjang, Bong Thian-gak berseru kembali dengan suara mengenaskan, "Thay-kun, masih ingatkah kau padaku? Aku adalah Ko Hong."

"Ko Hong", begitu dua patah kata itu meluncur, paras muka Si-hun-mo-li segera berubah hebat.

Kini paras mukanya berubah menjadi sedih, murung dan amat mengenaskan sekali.

"Oh ... Ko Hong ... wahai Ko Hong, dimanakah kau berada? dimanakah kau berada? Sungguh mengenaskan kematian itu."

 

Sejak Si-hun-mo-li terjun kembali ke dalam Bu-lim, selama ini tak pernah seorang pun yang pernah mendengar perempuan itu berbicara. Tapi malam ini, dia telah berbicara seorang diri. Ucapannya amat memilukan, membuat orang pedih, seakan-akan suara gumaman orang yang sedang mengigau.

Dengan suara rendah Bong Thian-gak berkata lagi, "Thay-kun, aku adalah Ko Hong, aku belum mati, hanya kehilangan sebuah lengan saja. Thay-kun, aku pasti akan menyembuhkan kesadaranmu yang telah punah itu."

 

Ketika mendengar perkataan itu, dengan sepasang matanya yang jeli dan bening Si-hun-mo-li mengamati wajah Bong Thian-gak beberapa saat, mendadak dia menggeleng perlahan, sekulum senyuman genit yang membetot sukma tahu-tahu tersungging di ujung bibirnya.

Senyuman itu penuh mengandung daya tarik yang luar biasa, membuat Bong Thian-gak jadi tertegun dibuatnya.

Segenap jago yang berada di halaman gedung itu pun turut tertegun dan termangu-mangu dibuatnya.

Sementara senyuman yang manis memukau hati orang masih menghiasi wajah Si-hun-mo-li, pada saat itu pula tiba-tiba dia menggerakkan kakinya dan selangkah demi selangkah berjalan menuju ke hadapan Bong Thian-gak.

 

Gerak-geriknya itu dilakukan dengan lemah lembut, sama sekali tiada niat permusuhan, bahkan senyuman yang tersungging di bibirnya pun nampak begitu damai, lembut dan nikmat.

Tapi pada saat itulah tiba-tiba Si-hun-mo-li mengangkat telapak tangan kanannya ke tengah udara dan pelan-pelan ditekan ke atas dada Bong Thian-gak.

Pada saat bersamaan berkumandang pula suara pujian kepada sang Buddha yang keras seperti suara genta di fajar buta. "Omitohud!"

Serta-merta Bong Thian-gak yang berdiri termangu seperti orang kehilangan ingatan, segera sadar kembali.

Walaupun begitu, suara pujian kepada Buddha itu berkumandang sedikit rada terlambat.

 

Di saat Bong Thian-gak mendusin dari rasa kagetnya, telapak tangan kanan Si-hun-mo-li sudah menghantam dada Bong Thian-gak secara pelan-pelan.

Dengusan tertahan bergema dari bibir Bong Thian-gak, dadanya serasa dihantam oleh batu raksasa yang beratnya ribuan kati dan matanya berkunang-kunang, tenggorokan terasa, anyir dan darah segar tahu-tahu sudah menyembur dari mulutnya.

Berbareng itu sekujur tubuhnya terlempar beberapa tombak dari tempat semula.

 

Si-hun-mo-li tertawa seram, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia langsung menerkam ke depan anak muda itu.

"Thay-kun," jerit Bong Thian-gak dengan suara keras, "kau ... kau benar-benar kehilangan kesadaranmu."

Bong Thian-gak melayang mundur lagi.

Sewaktu mendengar jeritan keras itu, sekujur badan Si-hun-mo-li tampak gemetar keras, sekali lagi dia berdiri tak bergerak di tempat.

"Omitohud, Sicu sudah terkena pukulannya, berarti tiada obat yang bisa menyembuhkan jiwamu lagi," kata Hong-kong Hwesio sambil berjalan ke samping Bong Thian-gak.

Melihat Hong-kong Hwesio mendekatinya, Bong Thian-gak segera menggerakkan pedang di tangan kanannya menciptakan sebuah gerakan serangan yang ampuh, kemudian sambil tertawa dingin katanya, "Hwesio tua, aku tidak bakal mati, bila kau ingin membalas dendam bagi kematian Thia Leng-juan, kau mesti menyambut beberapa jurus seranganku lebih dahulu."

 

Hong-kong Hwesio menghela napas panjang dan menggeleng kepala, katanya, "Lolap tak bermaksud bertarung, berhubung aku mempunyai suatu masalah yang tak kupahami, maka mumpung Sicu belum mati, aku ingin menanyakan sampai jelas, harap Sicu bersedia menjawab pertanyaanku itu."

Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak berseru, "Aku tidak bakal mati, bila kau ingin menanyakan sesuatu cepat utarakan!"

 

Pelan-pelan Hong-kong Hwesio bertanya, "Belum pernah ada seorang pun yang bisa lolos dalam keadaan hidup setelah terhajar secara telak oleh serangan Si-hun-mo-li, keadaan Sicu saat ini benar-benar berbahaya sekali, ai! Adapun persoalan yang ingin Lolap tanyakan adalah sebutan Ko Hong' yang Sicu pergunakan tadi, benarkah Sicu adalah orang yang bernama Ko Hong?"

 

Bong Thian-gak tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, dia berkata, "Hwesio tua, aku tidak bakal mati dan sekali aku bilang tak akan mampus aku tetap tak akan mampus. Ilmu pukulan paling lihai yang diandalkan Si-hun-mo-li adalah ilmu sakti Soh-li-jian-yang-sin­kang, padahal Si-hun-mo-li hanya berhasil melatih ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang pada tangan kiri. Sedangkan serangan yang bersarang di tubuhku tadi berasal dari telapak tangan kanannya, oleh sebab itu aku tidak bakal mati, aku hanya menderita luka parah isi perutku saja."

 

Mendengar penjelasan ini, Hong-kong Hwesio berkata, "Kalau demikian Sicu memang benar-benar adalah Ko Hong, kalau tidak, mustahil kau bisa mengetahui asal-usul Si-hun-mo-li sedemikian jelas."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Ko Hong adalah nama samaranku pada tiga tahun berselang, Bong Thian-gak barulah namaku yang sebenarnya, Hwesio tua, ada keperluan apa kau menanyakan tentang hal ini?"

Setelah menghela napas panjang, Hong-kong Hwesio berkata, "Pernahkah Bong-sicu mengira, semasa hidupnya dulu Thia Leng-juan pernah meminta kepada Lolap untuk mencarikan seseorang yang bernama Ko Hong."

"Thia Leng-juan menyuruh kau mencari aku? Apakah dia meminta kau untuk membunuhku?"

 

Sekali lagi Hong-kong Hwesio menghela napas panjang, "Ai, Bong-sicu kau salah besar! Ketika Thia Leng-juan Tayhiap meminta Lolap mencarimu, dia meminta Lolap membantu segala sesuatu bagimu, dia berkata kau adalah murid penutup Ku-lo Sinceng dari Siau-lim-pay, sebelum beliau menutup mata, kau pun pernah mempelajari ilmu Tat-mo-khi-kang sehingga kaulah satu-satunya orang yang bisa mematahkan serangan Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Si-hun-mo-li. Di samping menyerahkan pesannya itu kepada Lolap, Thia Leng-juan juga pernah menjelaskan segala sesuatu alasannya menggabungkan diri dengan pihak Put-gwa-cin-kau."

 

Tatkala mendengar semua itu, sekujur badan Bong Thian-gak gemetar keras, dengan sedih dia menyela, "Jadi Thia Leng-juan tidak pernah menyeleweng dari kebenaran?"

Hong-kong Hwesio menghela napas sedih, "Sejak permulaan sampai akhir Thia Leng-juan tak pernah menyeleweng dari kebenaran. Untuk menghadapi cengkeraman iblis yang mulai meluas di seluruh dunia persilatan, dia tak segan-segannya mengorbankan diri. Biarpun di luar dia adalah Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau, padahal sebetulnya dia adalah musuh dalam selimut, itu hanya sebagian saja dari kecerdasan otaknya, ai, dalam keadaan begini, Lolap tidak ada waktu untuk menerangkan segala sesuatunya kepadamu secara jelas, Thian sungguh adil, Thia-tayhiap memang benar-benar pahlawan sejati, pendekar perkasa harus mengorbankan jiwanya secara demikian mengenaskan."

Dalam pada itu dalam benak Bong Thian-gak seakan-akan terlintas semua gerak-gerik serta ucapan Thia Leng-juan menjelang ajalnya tadi.

Tiba-tiba sepasang matanya menjadi merah, dengan terbata-bata dia berbisik, "Aku sangat menyesal, aku telah bertindak gegabah."

 

Sambil bergumam, selangkah demi selangkah dia berjalan menghampiri jenazah Thia Leng-juan, kemudian menjatuhkan diri berlutut dan berkomat-kamit entah apa yang didoakan.

Dia amat menyesal atas kecerobohan sendiri.

Dia merasa amat sedih, kesal dan murung.

 

Tiba-tiba dari samping tubuhnya berkumandang suara pujian syukur kepada sang Buddha, kemudian Hong-kong Hwesio berkata pelan, "Omitohud! Ai, Sicu tak perlu menyesal, kematian Thia-tayhiap bukan seluruhnya dikarena kecerobohan Sicu ... aku masih ingat perkataannya kepadaku tempo hari, 'Bila Ko Hong masih hidup, maka di saat dia muncul lagi dalam Bu-lim, Thia Leng-juan merasa tiada kepentingan lagi untuk tetap hidup di dunia ini'. Dari kata-katanya itu bisa disimpulkan bahwa Thia-tayhiap memang sudah mempunyai rencana untuk mengakhiri hidupnya setelah mengetahui bahwa Sicu adalah Ko Hong."

"Mengapa dia berencana mengakhiri hidupnya setelah berjumpa dengan diriku?" tanya Bong Thian-gak pedih.

"Kesulitan Thia-tayhiap tidak mungkin bisa Lolap terangkan dengan sepatah dua patah kata saja, lebih baik kita bicarakan lagi di kemudian hari. Sekarang yang penting Sicu harus bersiap menghadapi kawanan musuh tangguh!"

 

Sementara mereka sedang berbincang, di sekeliling halaman itu telah bermunculan bayangan orang dengan cepat, rombongan orang berbaju hitam itu mengepung dengan menggenggam tombak.

Dari kemampuan mereka berjalan tanpa menimbulkan suara serta gerak-geriknya yang aneh dan misterius, bahwasanya rombongan itu betul-betul merupakan sekelompok musuh tangguh yang lihai.

Dengan sorot mata tajam Bong Thian-gak memperhatikan sekejap orang-orang yang berada di sekeliling tempat itu, kemudian dengan cepat dia melompat bangun sambil bisiknya, "Ah, mereka adalah orang-orang Put-gwa-cin-kau."

"Betul," Hong-kong Hwesio menghela napas panjang, "mereka adalah orang-orang Put-gwa-cin-kau, sungguh tak kusangka dia pun sudah muncul di wilayah Hopak."

"Dia? Siapa yang kau maksud?" tanya Bong Thian-gak keheranan.

Hong-kong Hwesio memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya, "Sicu, tahukah kau, manusia manakah yang merupakan musuh terlihai di dalam Put-gwa-cin-kau?"

"Cong-kaucu serta Ji-kaucu?"

 

Dengan cepat Hong-kong Hwesio menggeleng kepala berulang kali, katanya cepat, "Biarpun Ji-kaucu serta Cong-kaucu sangat lihai, kedua orang itu tidak menakutkan."

Mendengar perkataan itu sekali lagi Bong Thian-gak mengawasi orang-orang berbaju hitam yang berada di sekeliling tempat itu, mendadak ia berseru tertahan sambil serunya, "Ah, tampaknya rombongan orang ini berasal dari pasukan pengawal tanpa tanding?"

"Ya, betul," Hong-kong Hwesio mengangguk, "mereka adalah pasukan pengawal tanpa tanding dari Put-gwa-cin-kau."

Bong Thian-gak mengerut dahi, kemudian tanyanya, "Apakah orang paling lihai dari Put-gwa-cin-kau yang kau maksudkan adalah komandan nomor satu pasukan pengawal tanpa tanding ini?"

"Betul, dialah yang kumaksudkan."

"Apakah dia pun berada di sini?"

"Belum, tapi dia pasti akan muncul di tempat ini, sebab ketiga belas pengawalnya sudah muncul."

Sementara itu Han Siau-liong yang menyaksikan kemunculan ketiga belas orang berbaju hitam itu makin percaya bahwa kawanan jago Kay-pang yang ditugaskan menjaga di luar kuil Hong-kong-si telah mengalami musibah.

Han Siau-liong berpaling ke arah Liu Khi, lalu katanya, "Susiok, aku rasa kita harus turun tangan lebih dulu untuk menguasai keadaan."

 

Sejak muncul hingga sekarang, Liu Khi jarang berbicara, pada saat itulah dia menjawab dengan suara dingin, "Siau-liong, kau harus dapat mengendalikan diri, pertarungan yang bakal berkobar dalam kuil Hong-kong-si hari ini, bisa jadi akan merupakan pertarungan mati-matian yang jarang terjadi Bu-lim, barang siapa bisa mempertahankan hidup dalam pertarungan nanti, dialah yang mungkin akan mendapat harta karun peninggalan raja muda Mo-lay-cing-ong."

Beberapa patah kata Liu Khi menggerakkan hati kawanan jago yang berada di dalam arena, semua orang seolah-olah dapat merasakan juga bahwa di dalam kuil Hong-kong-si yang kecil itu bisa jadi akan berkobar pertempuran berdarah yang belum pernah terjadi sebelumnya.