pendekar cacad 11
Bagian 11 : Ketua Hiat
Kiam Bun..Bong Thian-gak
"Bila kau keok, Tiong-yang-hwe harus
dibubarkan dengan segera dan Jian-ciat-suseng pun harus
menggabungkan diri dengan kaum pengemis."
"Sayang aku tak bisa menerima
syaratmu," kata Bong
Thian-gak dengan tersenyum.
"Mengapa kau menampik?"
To Siau-hou berkerut kening.
"Suatu pertandingan adu kepandaian
boleh dibilang suatu perbuatan yang baik bagi kaum persilatan
untuk mengukur kepandaian silatnya, buat apa kita mesti bertaruh
dengan taruhan yang begitu besar? Apakah To-tongcu sudah yakin
dapat menangkan diriku?"
Tertegun si
To Siau-hou mendengar perkataan
itu, katanya kemudian, "Bila kau yakin bisa menangkan diriku,
mengapa tidak kau terima keuntungan ini."
"Bila kau melepaskan diri dari
Kay-pang, sudah dapat dipastikan Pangcu kalian tak akan
melepaskan diriku," ucap Bong
Thian-gak dengan suara dalam.
"Ya, betul,"
To Siau-hou manggut-manggut,
"tapi bila Tiong-yang-hwemu makin hari makin bertambah kuat,
Kay-pang pun tak dapat melepaskan dirimu."
"To-tongcu, kalau kau sudah bertekad
hendak adu kepandaian, cabut pedangmu."
Ucapan anak muda itu hambar tanpa
emosi.
"Kau tidak melolos pedang?" tanya
Giok-bin-giam-lo dingin.
"Pedangku dilolos bila keadaan sudah
membutuhkan."
Tampaknya
To Siau-hou tidak sesombong Mo Sau-pak dari
perkumpulan Kim-liong-kiam-san-ceng, dengan cepat tangan
kanannya melolos sebilah pedang mustika yang memancarkan cahaya
tajam.
Begitu pedang dilolos.
To Siau-hou segera miringkan
tubuh ke samping, kemudian tubuh berikut pedangnya langsung
menyerang sisi kanan Bong
Thian-gak.
Jurus serangan yang dipergunakan
olehnya sangat lamban dan tiada keistimewaan, seolah-olah
serangan dilancarkan dengan santai.
Tapi Bong
Thian-gak yang menyaksikan serangan itu justru
hatinya begetar, batinnya, "Ah! Tay-kek-kiam, ilmu silatnya
seperti beberapa kali lipat lebih maju daripada tiga tahun
berselang."
Seperti burung walet terbang di
udara. Bong Thian-gak
melejit ke atas undak-undakan batu ketiga dan meloloskan diri
dari serangan itu.
Dengan demikian posisi yang
ditempati kedua belah pihak persis pada garis undak-undakan yang
sama.
Gagal dengan serangannya.
To Siau-hou berseru,
"Jian-ciat-suseng memang benar-benar bukan orang sembarangan!"
Sementara berbicara pedangnya
kembali diputar, pelan-pelan membacok lagi ke sisi kanan
Bong Thian-gak.
Belum lagi serangannya tiba, terasa
segulung hawa dingin yang menusuk tulang menyergap wajahnya.
Sesudah menyaksikan jurus kedua ini.
Bong Thian-gak baru paham
apa sebabnya To Siau-hou
memandang begitu serius pertaruhan yang diusulkannya tadi,
ternyata Giok-bin-giam-lo yang sekarang sudah bukan
Giok-bin-giam-lo tiga tahun yang lalu, kepesatan ilmu silat
telah mencantumkan namanya di antara jago-jago lihai.
Dalam tiga tahun yang singkat
ternyata To Siau-hou
berhasil mendalami ilmu silatnya, maju beberapa puluh kali lipat
lebih hebat dari semula, maka dapat dibayangkan kepandaian silat
ketua Kay-pang yang mewariskan ilmu silat itu kepadanya
benar-benar tak terlukiskan.
Tiba-tiba
Bong Thian-gak bergeser dua undak-undakan lagi
untuk menghindarkan diri dari tusukan lawan.
Tapi To
Siau-hou pun tak malu disebut jago lihai, dia tidak
memberi kesempatan kepada Bong
Thian-gak untuk menempati posisi di atas yang lebih
menguntungkan.
Dengan cepat dia bergeser berebut
naik dua undak-undakan, angin serangan dingin diiringi desingan
cahaya tajam secara beruntun dan tiada habisnya mengurung
Bong Thian-gak di bawah
bungkusan kabut cahaya pedangnya.
Ilmu pedang itu bukan lain adalah
Tay-kek-kiam-hoat, adalah ilmu pedang Bu-tong-pay, ilmu pedang
ciptaan Thio Sam-hong cikal-bakal Bu-tong-pay.
Ilmu pedang ini mengutamakan tenaga
lembut dan halus, dengan tenang menguasai keras.
Seandainya ada orang bisa melatih
ketenangan dan kelembutan Tay-kek-kiam-hoat hingga puncak
kesempurnaan, maka jangan harap umat persilatan di dunia ini
bisa meloloskan diri dari kurungan cahaya pedang itu dengan
selamat.
Tay-kek-kiam-hoat termasuk ilmu
andalan Bu-tong-pay, biasanya hanya para Ciangbunjin yang
memperoleh warisan ilmu itu. Bong
Thian-gak sungguh tak habis mengerti darimanakah
Giok-bin-giam-lo bisa mewarisi kepandaian itu.
Jian-bin-hu-li (rase
sakti seribu li) Ban Li-biau telah mencuri kitab
pusaka seantero perguruan yang ada di dunia ini, sudah barang
tentu Tay-kek-kiam-hoat pun tidak terkecuali, itulah sebabnya
Bong Thian-gak juga
menguasai taktik dan rahasia ilmu itu.
Di tengah kepungan cahaya pedang
To Siau-hou yang rapat,
dengan gaya yang tak cepat maupun lambat, jurus demi jurus
Bong Thian-gak memunahkan
semua ancaman lawan.
Dalam waktu singkat
To Siau-hou telah mengeluarkan
tiga puluh sembilan jurus Tay-kek-kiam-hoat.
Makin bertarung
To Siau-hou makin kaget,
tiba-tiba dia berpekik nyaring, permainan pedangnya segera
berubah, dari ilmu pedang Tay-kek-kiam kini dia pergunakan
jurus-jurus pedang yang ganas, cepat dan luar biasa.
Di bawah desakan tiga jurus serangan
kilat To Siau-hou,
Bong Thian-gak terdesak mundur
sejauh tiga undak-undakan.
Sekali lagi
To Siau-hou berpekik nyaring,
tubuh dan pedangnya bersatu-padu, kemudian dari bawah menuju ke
atas secepat kilat dia lancarkan tusukan ke tubuh
Bong Thian-gak.
Di dalam jurus serangannya kali ini
dia telah mempergunakan ilmu pedang terbang yang merupakan ilmu
pedang tingkat tinggi.
Tergerak hati
Bong Thian-gak, cahaya pedang
berkelebat, mau tak mau dia harus melolos pedangnya.
"Trang", benturan nyaring bergema
memecah keheningan.
Tiba-tiba saja cahaya pedang sirap.
To Siau-hou terdorong
sampai undak-undakan batu terakhir, dengan wajah terkejut
bercampur seram dia mengawasi pedangnya yang tinggal setengah.
Di atas undak-undakan ketiga belas,
berdirilah Bong Thian-gak
dengan wajah serius.
Di tangannya terpegang sebilah
pedang kayu yang tak bersinar.
Sementara
sorot mata Bong Thian-gak
yang tajam sedang mengawasi pedang kayunya yang gumpil sebagian,
akhirnya dia menghela napas seraya berkata, "To-tongcu, kau
telah tertusuk pedangku ini!"
Sembari berkata.
Bong Thian-gak segera
menggetarkan tangan kirinya dan patahlah pedang kayu itu menjadi
dua bagian.
To
Siau-hou membuang juga kutungan pedangnya ke tanah, lalu berkata
dengan nada yang amat sedih dan duka, "Aku kalah, aku kalah
... tiga tahun berlatih
dengan tekun ternyata aku tak mampu menghadapi serangan pedang
kayu."
Ketika mengucapkan kata-kata yang
terakhir, nada suaranya berubah menjadi sangat lemah seolah-olah
setiap saat dia akan menangis tersedu-sedu.
Dengan suara lantang
Bong Thian-gak berkata, "Menang
atau kalah adalah wajar dalam suatu pertarungan, To-tongcu,
mengapa kau memandang begitu serius masalah menang atau kalah
ini."
To
Siau-hou tertawa seram, "Kau berada di pihak yang menang, tentu
saja tak akan kau pahami bagaimana rasanya menjadi orang yang
kalah."
"Lengan kananku pernah kutung,
bukankah ini pertanda suatu kekalahan?"
Bong Thian-gak berkata dengan
suara dalam, "padahal To-tongcu tidak kalah di tanganku, apa
yang terjadi tak lebih hanya senjata yang menjadi kutung
belaka."
Tertegun
To Siau-hou mendengar perkataan itu, serunya, "Kau
berhasil menang tapi tidak sombong maupun tinggi hati, sikapmu
jauh berbeda dengan apa yang tersiar selama ini."
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, apa yang tersiar di
Bu-lim memang selalu ditambah dengan bumbu di sana sini supaya
kedengarannya hebat dan menggemparkan."
Mendadak paras muka
To Siau-hou berubah serius,
kemudian ujarnya dengan nada bersungguh-sungguh, "Di antara
kelompok kaum pengemis, ilmu silatku ada pada urutan keempat,
seandainya kau ingin mengalahkan pula ketiga orang jago lihai
kami, rasanya kau mesti berlatih diri lagi selama sepuluh tahun
sebelum niatmu itu terlaksana."
Bong
Thian-gak tersenyum.
"Menurut cerita orang, Liong-thau
Pengcu dari Kay-pang adalah seorang hebat di dunia persilatan,
sudah barang tentu kepandaian silatnya menempati urutan pertama,
tapi siapa pula kedua jago lainnya?"
"Dua orang jago lihai Kay-pang
lainnya adalah para pelindung Pangcu, orang kedua bernama
To-pit-coat-to (Golok sakti lengan tunggal) Liu Khi, sedang
orang ketiga adalah kakak seperguruanku, Put-mi-kiam (pedang
tanpa nyawa) Han Siau-liong."
"Oh, tidak heran pada tiga tahun
berselang pihak Kay-pang berhasil memaksa Put-gwa-cin-kau
mengasingkan diri dari keramaian dunia, rupanya kalian mempunyai
dukungan jago-jago lihai semacam ini untuk menekan
Put-gwa-cin-kau."
To
Siau-hou tertawa dingin, "Peristiwa Kay-pang mengalahkan
orang-orang Put-gwa-cin-kau sudah lama tersebar luas dalam
Bu-lim, tapi siapa pula yang tahu kalau tiga tahun berselang
Put-gwa-cin-kau dan Kay-pang telah melangsungkan pertarungan
besar-besaran?"
"Aku ingin tahu duduk persoalan yang
sesungguhnya dari pertarungan itu, bersediakah kau memberi
keterangan kepadaku?"
To
Siau-hou termenung dan berpikir sebentar, kemudian ujarnya,
"Sebenarnya peristiwa ini merupakan sebuah rahasia dunia
persilatan, tapi bolehlah kuberitahukan kepadamu."
"Terima kasih atas kebaikan
To-tongcu."
"Tiga tahun berselang, Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau memimpin Ji-kaucu dan sekalian jago lihainya
berangkat ke wilayah Sucwan dimana markas besar Kay-pang berada
untuk mengadakan suatu pertandingan ilmu silat, taruhannya waktu
itu adalah siapa yang kalah, maka dia wajib mengasingkan diri
dari keramaian dunia persilatan selama tiga tahun."
"Jadi Liong-thau Pangcu dari
Kay-pang berhasil mengalahkan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau?" kata
Bong Thian-gak dengan
kening berkerut.
To
Siau-hou tertawa dingin.
"Pangcu kami sama sekali tidak turun
tangan, sedangkan pihak Put-gwa-cin-kau juga hanya menurunkan
Ji-kaucu."
"Kepandaian silat Ji-kaucu luar
biasa sekali," seru Bong
Thian-gak dengan perasaan bergetar keras.
Belum habis berkata.
To Siau-hou telah menyambung,
"Tapi kepandaian silat To-pit-coat-to Liu Khi jauh lebih hebat
lagi."
"Betul, betul!"
Bong Thian-gak mengangguk,
"To-pit-coat-to Liu Khi sanggup mengalahkan Ji-kaucu, paling
tidak kepandaiannya pasti luar biasa sekali."
"Aku bicara sebanyak ini, tujuanku
adalah menganjurkan padamu untuk membubarkan Tiong-yang-hwe dan
bergabung dengan pihak Kay-pang, daripada mendatangkan bibit
bencana bagi diri sendiri."
"Apa maksud perkataan To-tongcu
ini?"
Dengan wajah serius
To Siau-hou berkata lagi, "Baik
To-pit-coat-to Liu Khi, maupun kakak seperguruanku si
Put-mi-kiam Han Siau-liong, keduanya sudah berhasil melatih
kepandaian silat mereka hingga mencapai tingkatan yang luar
biasa, kecuali Pangcu kami, mereka tidak berharap ada orang yang
sanggup mengungguli mereka, oleh sebab itu cepat atau lambat
mereka berdua tentu akan datang mencarimu untuk diajak adu
kepandaian."
Baru selesai ucapan itu diutarakan,
mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara nyaring,
"Sekarang juga aku telah datang mencarinya."
Ucapan itu sangat mengejutkan
Bong Thian-gak maupun
To Siau-hou, serentak mereka
mendongakkan kepala.
Pada puncak undak-undakan batu,
muncul orang berbaju abu-abu yang tinggi besar, berwajah kasar
dan bermata bulat, sedang melangkah menghampiri mereka.
Pada punggungnya tersoreng sebilah
pedang yang panjang tebal, bobotnya pun kelihatan amat berat,
membuat setiap langkah kakinya menimbulkan suara denting
nyaring.
Lekas To
Siau-hou memburu ke depan, sambil membungkukkan
badan memberi hormat, katanya, "Suheng telah datang rupanya?
Bila Sute tak menyambutmu dari jauh, harap kau sudi memaafkan."
Sementara itu
Bong Thian-gak juga sedang
berpikir, "Agaknya si pendatang ini tak lain adalah jago lihai
ketiga Kay-pang ...
Put-mi-kiam Han Siau-liong."
Dari sepasang biji mata Han
Siau-liong yang jeli dan berkilau, dengan cepat Bohg
Thian-gak tahu bahwa ilmu silat orang ini beberapa kali lipat
lebih lihai daripada To
Siau-hou.
Sepasang mata Han Siau-liong tajam
dan bersinar seperti mata harimau kumbang, di balik ketajaman
terselip cahaya kebuasan, kekejian dan keseraman, sementara dari
tubuhnya seolah-olah memancar pula bau keliaran yang
menggidikkan, membuat orang teringat bau khas binatang buas.
Han Siau-liong memandang sekejap ke
arah To Siau-hou, setelah
tertawa terbahak-bahak, katanya, "Hahaha, Siau-hou, rupanya kau
sudah memberitahukan semua kejelekan kakakmu kepadanya."
Terhadap kakak seperguruannya ini,
To Siau-hou seperti
menaruh perasaan jeri, dengan sikap yang sangat hormat lekas
sahutnya, "Siau-hou tak lebih hanya mengatakan bahwa Suheng
adalah seorang yang gila ilmu."
Gelak tawa Han Siau-liong semakin
menjadi-jadi, "Betul, betul sekali, Suhu pun sering mengatakan
aku adalah orang yang gila ilmu silat."
Sesudah berhenti sejenak dan
mendongakkan kepala memandang sekejap ke arah
Bong Thian-gak, dia kembali
bertanya, "Siau-hou, kau telah dikalahkan olehnya?"
Dengan cepat
To Siau-hou menjawab, "Kami baru
selesai bertarung dan hasilnya adalah seimbang."
"Kau bohong, apakah kau tak ingin
Suhengmu membalaskan dendam bagimu?" seru Han Siau-liong sambil
melotot.
"Suheng menganggap aku kalah di
tangannya?" To Siau-hou
balik bertanya sambil tersenyum.
Pertanyaan ini kontan membuat Han
Siau-liong tertegun, segera pikirnya, "Benar juga perkataan ini,
tiga tahun terakhir ini Sute telah memperoleh gemblengan ketat
dari Suhu, bagaimana mungkin dia kalah dengan mudah di tangan
orang lain."
Sementara kedua orang itu berbicara,
diam-diam Bong Thian-gak
naik ke atas kudanya dan berlalu dari situ.
Siapa tahu sesosok bayangan orang
berwarna abu-abu telah menyambar ke arahnya dengan kecepatan
tinggi, sementara kelima jari tangannya dengan cepat menyambar
tali kudanya.
"Mundur!" bentak
Bong Thian-gak.
Lengan kirinya setajam golok
langsung membacok ke arah belakang.
Jurus-jurus serangan
Bong Thian-gak ini dilepaskan
belakangan, tapi tiba lebih duluan pada sasaran, bayangan orang
yang sedang melambung di udara itu buru-buru menarik kembali
cengkeramannya, sementara tangannya dibalik dan menyongsong
datangnya ancaman telapak tangan kiri
Bong Thian-gak.
"Blam", suara benturan keras
menggelegar, di tengah ringkik kuda yang nyaring,
Bong Thian-gak berikut kudanya
telah menerjang maju.
Sebaliknya Han Siau-liong melayang
turun, kini dia berdiri dengan wajah sangat terkejut.
Dengan cepat
To Siau-hou memburu ke depan.
Bong
Thian-gak yang berada di atas kudanya berkata sambil tersenyum,
"Kekuatan serangan saudara benar-benar hebat dan kau merupakan
jago lihai pertama yang kujumpai selama ini, bila kau anggap ada
kepentingan untuk melangsungkan pertarungan, lebih baik kita
memilih tempat lain saja di kemudian hari, kita bertarung tiga
ratus gebrakan sampai puas."
Dalam bentrokan tadi, Han Siau-liong
merasakan gejolak darah dalam tubuhnya, biarpun dia nampak kasar
di luar, sesungguhnya orang ini sangat cermat dan berhati-hati,
walau baru satu gebrakan saja, namun dia pun sadar telah bertemu
jago lihai.
Sepanjang hidupnya, belum pernah Han
Siau-liong menderita kekalahan, dia tak ingin menderita
kekalahan di tangan musuh dengan cepat, ketika mendengar ucapan
tadi, ia bertanya, "Kaukah Jian-ciat-suseng?"
"Betul, akulah orangnya,"
Bong Thian-gak tertawa, "selama
berada di dalam kota terlarang, mungkin kita akan sering
bertemu, nah, sampai berjumpa di lain kesempatan."
Selesai berkata dia lantas menjura,
kemudian melarikan kudanya meninggalkan tempat itu.
Memandang bayangan punggungnya yang
menjauh, tiba-tiba Han Siau-liong menghela napas panjang, lalu
ujarnya, "Kepandaian silat orang benar-benar sangat hebat,
mungkin aku atau To-pit-coat-to Liu Khi juga bukan
tandingannya."
To
Siau-hou tertegun mendengar ucapan itu, serunya dengan cepat,
"Han-suheng, kau anggap tenaga dalam Jian-ciat-suseng masih jauh
lebih hebat daripadamu?"
"Menurut cerita yang tersiar dalam
Bu-lim, Jian-ciat-suseng saat ini bagaikan Suhu ketika terjun ke
dunia persilatan puluhan tahun berselang, kedahsyatan dan
kehebatannya hampir tak berbeda. Mula-mula aku tidak percaya
Jian-ciat-suseng itu sanggup dibandingkan dengan kehebatan serta
keampuhan Suhu di masa lampau, namun setelah bentrokan hari ini,
aku baru menyadari bahwa kesempurnaan tenaga dalamnya memang tak
mungkin bisa dilawan oleh siapa pun."
To
Siau-hou menyadari bahwa kepandaian silat kakak seperguruannya
ini masih beberapa kali lipat lebih hebat daripada dirinya,
namun dia masih tetap tidak percaya Jian-ciat-suseng benar-benar
memiliki kemampuan seperti apa yang dikatakan Suhengnya itu,
bahkan Liu Khi pun tak mampu mengungguli dirinya.
To
Siau-hou tertawa terbahak-bahak, kemudian ujarnya, "Suheng,
nampaknya keangkuhan dan ketinggian hatimu di masa lampau telah
berubah? Betul, kepandaian silat Jian-ciat-suseng memang sangat
lihai, namun tak nanti sehebat apa yang dilukiskan Suheng
barusan."
"Kalau dalam melancarkan serangan
tadi Suheng menyerang dari udara, dan ancaman mencengkeram
berubah menjadi pukulan, tenaga yang digunakan otomatis selisih
lebih banyak ketimbang lawan, apalagi Jian-ciat-suseng melepas
pukulannya dengan duduk di atas pelana kuda, dengan tambahan
tenaga terjangan kuda, tidak heran kekuatan yang dia hasilkan
lebih sempurna daripada orang lain."
Sesudah mendengar penjelasan
To Siau-hou ini, Han Siau-liong
berpendapat ucapan itu memang benar, maka setelah menghela
napas, katanya dengan suara rendah, "Semoga saja apa yang kau
duga memang betul, kalau tidak. Suhu akan mendapat seorang musuh
tangguh!"
Tiba-tiba
To Siau-hou berpaling dan memandang sekejap ke
arahnya, lalu bertanya, "Suheng, Suhukah yang mengirim kau untuk
membantuku?"
"Ketika Suhu menerima surat kilat
Sute yang mengatakan bahwa pihak Put-gwa-cin-kau sedang mencari
sejumlah harta karun ...
tampaknya dia orang tua pun segera teringat bahwa harta karun
itu bisa jadi merupakan harta peninggalan raja muda
Mo-lay-cing-ong seratus tahun lalu, itulah sebabnya beliau
lantas mengutus aku datang membantu Sute guna melaksanakan
tugas besar ini."
To
Siau-hou manggut-manggut.
"Apa yang diduga Suheng memang tepat
sekali, beberapa hari ini aku memang telah berhasil menyelidiki
persoalan itu hingga jelas, harta karun yang dimaksud memang
benar-benar merupakan harta karun peninggalan raja muda
Mo-lay-cing-ong."
"Harta karun Mo-lay-cing-ong
mempunyai sangkut-paut yang sangat besar dengan Kay-pang kita,
maka kita bertekad mendapatkannya walaupun dengan pengorbanan
apa pun, To-sute, cepat kau tuturkan keadaan yang sebenarnya
kepadaku."
"Dalam penyelidikanku selama
beberapa hari ini, dapat diketahui bahwa pihak yang mengetahui
rahasia tentang harta karun Mo-lay-cin-ong ini selain Put-gwa
Cin Kua tampaknya masih ada orang-orang Hiat-kiam-bun, ditambah
kita berarti ada tiga kekuatan yang mengincarnya."
Han Siau-liong termenung dan
berpikir beberapa saat, lalu tanyanya, "Apakah Jian-ciat-suseng
mengetahui rahasia ini?"
"Tahu atau tidak bukan masalah,
sebab dengan kekuatannya seorang, rasanya mustahil untuk
mendapatkan harta karun Mo-lay-cing-ong itu."
"Dimanakah letak harta karun itu
dipendam?"
"Soal ini tampaknya kita pihak
Kay-pang kalah selangkah, sebab hingga kini masih belum begitu
jelas. Tapi yang pasti berada pada radius sepuluh li seputar
kota terlarang ini."
"Semalam aku berhasil memperoleh
berita gembira, orang-orang Hiat-kiam-bun sedang mencari orang
ini, seorang umat persilatan yang pertama mengetahui harta karun
itu."
"Siapakah dia?"
" Long
Jit-seng dari lautan timur."
"Apakah orang ini masih berada di
sekitar kota terlarang?"
"Konon orang ini sudah berhasil
menyusup masuk ke dalam wilayah harta karun itu, sudah barang
tentu dia berada di seputar kota terlarang."
"Tugas pertama kita sekarang adalah
menemukan jejak Long
Jit-seng," ujar Han Siau-liong kemudian dengan kening berkerut.
To
Siau-hou manggut-manggut.
"Benar, konon bangunan penyimpanan
harta karun Mo-lay-cing-ong adalah hasil bangunan Susiok-co
Long Jit-seng. Tempat
harta karun itu disimpan dipasang berbagai alat rahasia yang
amat hebat, di dunia saat ini hanya
Long Jit-seng yang sanggup mematahkan alat-alat
itu, oleh sebab itulah orang-orang Hiat-kiam-bun dengan cepat
telah mengadakan hubungan dengan Long
Jit-seng."
"Kalau begitu bukankah usaha kita
akan sia-sia belaka?"
To
Siau-hou menggeleng.
"Biarpun pihak Hiat-kiam-bun sudah
mengadakan hubungan dengan Hek-ki-to-cu, namun syarat yang
mereka kemukakan tidak ada kecocokan, sehingga kerja sama itu
nampaknya batal!"
Han Siau-liong termenung sebentar,
kemudian katanya dengan suara dalam, "Bagaimana pun juga kita
harus melindungi Long
Jit-seng."
"Telah kuutus segenap anggota ruang
Sin-tong untuk menyebar diri dan mencari kabar
Long Jit-seng, mari kita cepat
pulang sambil menanti kabar."
ooOOoo
Hong-kong-si adalah sebuah kompleks
kuil yang terdiri dari dua ruang besar dan belasan bilik kecil,
di balik tembok pekarangan yang tinggi, tumbuh rimbun pepohonan
bambu nan hijau.
Dipandang dari jauh, tempat
pengasingan ini sepi dan tenang.
Ketika orang memasuki bangunan itu,
maka terlihatlah daun kering melapisi seluruh permukaan tanah,
debu tebal menyelimuti lantai ruangan, sarang laba-laba
menghiasi patung arca dan peralatan, pada hakikatnya kuil ini
yang sudah lama terbengkalai.
Dalam satu tahun, belum tentu nampak
cahaya lentera di dalam kuil itu, tapi malam ini, dari tujuh
buah bilik di belakang ruang depan berkedip cahaya lilin.
Rupanya selewat tengah hari tadi,
ada enam orang laki perempuan yang secara diam-diam masuk ke
dalam kuil Hong-kong-si, mereka terdiri dari
Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak,
Long Jit-seng serta
Hui-eng-su-kiam.
Malam semakin bertambah larut.
Long Jit-seng dan
Hui-eng-sukiam telah memasuki bilik masing-masing untuk
beristirahat, hanya tinggal Bong
Thian-gak yang nampak masih duduk menepekur di
depan jendela sambil mendengarkan bunyi daun bambu yang
bergoyang terhembus angin.
Sementara dalam benaknya terlintas
bayangan tubuh seorang gadis yang lemah lembut tak bertenaga.
"Ai, sudah hampir empat bulan aku
meninggalkan Leng-hui, saat ini mungkin kehidupannya akan
dilewati bagaikan bertahun-tahun."
Bong
Thian-gak adalah seorang lelaki sejati yang romantis, namun
penuh dengan tanggung jawab. Song
Leng-hui telah menjadi istrinya, setiap waktu dia
selalu merindukannya, menguatirkan nasibnya
... terutama bila tengah malam
tiba, di saat suasana menjadi hening dan tak terdengar suara
sedikit pun, bayangan Song
Leng-hui selalu muncul di hadapannya.
Ada kalanya
Bong Thian-gak kuatir akan
keselamatan Song
Leng-hui, gadis yang hidup menyendiri di tengah gunung
terpencil, mungkinkah dia diserang serigala ganas, diterkam
harimau buas.
Bila semua ini mulai muncul, ingin
sekali secepatnya dia kembali ke sisinya.
"Ai, Leng-hui, wahai Leng-hui,
seandainya kau bisa meninggalkan gunung dan hidup mendampingiku,
betapa bahagianya aku."
"Ah, tidak! Setiap hari aku hidup
bergelimpangan di ujung golok, aku tak boleh membiarkan dia
kuatir ... harus kutunggu
sampai Tiong-yang-hwe kuat dan digdaya sebelum dia kujemput
kemari."
Berpikir sampai di situ, mendadak
Bong Thian-gak menaruh
suatu harapan aneh terhadap kuil Hong-kong-si itu.
Andaikata Hong-kong Hwesio bersedia
memberikan tempat ini kepadanya, dia hendak menjadikan tempat
ini sebagai markas besar Tiong-yang-hwe.
Teringat akan diri Hong-kong Hwesio,
tanpa terasa Bong
Thian-gak berpikir kembali, "Aku telah pindah kemari, menurut
aturan, sudah sepantasnya bila kujumpai dulu Hong-kong Hwesio."
Pelan-pelan dia bangkit, kemudian
beranjak dari ruangan.
Sejak pindah ke situ tiga hari lalu.
Bong Thian-gak belum
sempat memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu, maka saat
ini dia berjalan di tengah kegelapan malam dengan santai.
Tiba di ruang tengah bagian
belakang, tanpa terasa pemuda itu menghentikan langkahnya.
Rupanya gedung belakang ini
merupakan tempat tinggal Hongkong
Hwesio bersama ketiga muridnya, dari
Long Jit-seng diketahui bahwa
Hong-kong Hwesio berempat tidak senang kalau ketenangan mereka
diusik orang lain.
Maka Bong
Thian-gak tak berani maju lebih ke depan, apalagi
suasana di ruangan itu gelap gulita dan tak terdengar sedikit
suara pun.
Coba kalau
Long Jit-seng tidak
memberitahukan hal itu lebih dahulu kepadanya, siapakah yang
akan menduga kalau di dalam ruangan itu berdiam Hong-kong Hwesio
dan murid-muridnya?
Setelah berhenti beberapa saat di
situ, Bong Thian-gak
sudah siap membalikkan badan untuk berlalu dari situ.
Mendadak dari halaman gedung sebelah
selatan berkumandang suara langkah kaki seseorang.
Dengan kening berkerut
Bong Thian-gak segera menyelinap
ke balik sebuah tiang penyangga gedung, tepat di samping pintu
gerbang yang gelap gulita.
Tidak selang lama kemudian dari
balik pintu telah muncul dua sosok bayangan orang.
Ketika
Bong Thian-gak dapat melihat jelas wajah kedua
orang itu, tanpa terasa ia berpikir dalam hati, "Ah,
Thia Leng-juan dan
Long Jit-seng."
Benar, orang yang baru muncul dari
balik pintu tak lain adalah seorang sastrawan berbaju biru
berusia tiga puluh tahun serta seorang kakek berbaju hitam.
Mereka memang Thia Leng-juan serta
Long Jit-seng.
Kedua orang itu seperti sudah saling
mengenal satu sama lain, keadaan itu segera menimbulkan
kecurigaan Bong
Thian-gak.
Mendadak terdengar Thia Leng-juan
berbisik, "Long-tocu, aku benar-benar tidak habis mengerti apa
sebabnya kau bertindak begitu gegabah, bergabung dengan
Tiong-yang-hwe memang bukan masalah, tapi mengapa kau mengajak
Jian-ciat-suseng sekalian datang ke kuil Hong-kong-si ini?"
Long
Jit-seng tertawa dingin, "Jian-ciat-suseng telah mengetahui
rahasia harta karun Mo-lay-cing-ong, barang siapa mengetahui
rahasia itu, dia tak dapat dibiarkan hidup terus."
"O, jadi kau ingin mempergunakan
kekuatan Hong-kong Hwesio untuk membunuh Jian-ciat-suseng?
" tanya Thia Leng-juan.
Long
Jit-seng tersenyum.
"Kepandaian silat Jian-ciat-suseng
tidak di bawah kemampuan siapa pun dalam Put-gwa-cin-kau, bila
ingin menghabisi nyawanya, kecuali Hong-kong Hwesio, mampukah
kita menghabisi nyawanya?"
Peluh dingin segera keluar membasahi
tubuh Bong Thian-gak
sesudah mendengar perkataan itu, mimpi pun dia tak mengira kalau
Long Jit-seng telah
memperhitungkan dengan sebaik-baiknya bagaimana melenyapkan
dirinya dari muka bumi.
Coba kalau rencana keji
Long Jit-seng ini tidak
terbongkar secara kebetulan pada malam ini, bisa dibayangkan dia
bisa terperangkap dan mati konyol.
"Ai, aku benar-benar kelewat ceroboh
dan gegabah," ia berpikir, "mengapa aku begitu menaruh
kepercayaan kepada Long
Jit-seng?"
Saat itu juga
Bong Thian-gak telah mendapat
semacam pelajaran, yaitu tak boleh mempercayai orang begitu
saja.
Pelan-pelan Thia Leng-juan berkata
lagi, "Setelah melalui suatu pertimbangan yang mendalam, aku
pikir kita tidak usah seawal ini menghabisi nyawa
Jian-ciat-suseng."
"Mengapa?"
"Pihak yang mengetahui harta karun
ini selain Put-gwa-cin-kau, masih ada lagi orang-orang
Hiat-kiam-bun dan Kay-pang, orang-orang dari kedua partai itu
pun sudah mulai menelusuri jejakmu sekarang, tampaknya mereka
bertekad untuk mendapatkan dirimu dengan cara apa pun."
"Bila sekarang juga kita pergunakan
Hong-kong Hwesio bertiga untuk melindungimu, maka kita tak akan
berhasil mendapatkan harta karun itu."
Long
Jit-seng segera manggut-manggut.
"Benar, Hong-kong Hwesio bertiga
sedang memusatkan segenap pikiran dan perhatian untuk
mempelajari peta harta karun itu, mereka memang belum punya
waktu untuk menampakkan diri."
Mendengar ucapan itu, sekali lagi
Bong Thian-gak berpikir,
"Oh, rupanya Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya bukan sedang
mengasingkan diri dalam ruangan itu. Hahaha, sungguh tak
kusangka pikiranku begitu polos, dengan amat mudahnya berhasil
dikelabui oleh Long
Jit-seng."
"Tapi siapakah Hong-kong Hwesio yang
sebenarnya? Lihaikah ilmu silatnya. Dari pembicaraan
Thia Leng-juan dan
Long Jit-seng, kepandaian silat
Hong-kong Hwesio pasti amat sempurna."
Belum habis ingatan itu melintas,
terdengar Thia Leng-juan telah berkata lagi, "Itulah sebabnya
untuk sementara waktu kita tak perlu menghabisi nyawa
Jian-ciat-suseng."
"Tapi bila Jian-ciat-suseng lama
berdiam di sini dan suatu saat dia akan mengetahui rahasia kita,
bagaimana kita mesti menghadapinya?"
"Selama Hong-kong Hwesio bertiga
tidak menampakkan diri, bagaimana mungkin Jian-ciat-suseng dapat
mengetahui rahasia mereka bertiga?"
Hek-ki-to-cu merasa ucapan itu ada
benarnya juga, maka sesudah termenung sebentar dia bertanya
lagi, "Benarkah Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau mempunyai kemampuan
untuk menghadapi alat-alat rahasia itu dan menemukan harta
karun?"
"Ji-kaucu ahli ilmu falak yang
hebat, dia pun mahir ilmu bangunan tanah serta berbagai
kepandaian lainnya, namun tanpa peta rahasia itu, betapa pun
lihainya dia, jangan harap bisa mendahului kita."
"Tampaknya Ji-kaucu sudah tidak
mempercayai dirimu lagi," kembali Long
Jit-seng berujar.
Mendengar ucapan terakhir ini,
tiba-tiba saja hati Bong
Thian-gak bergetar keras, segera pikirnya, "Thia Leng-juan,
mungkinkah dia yang menyelundup ke dalam tubuh Put-gwa-cin-kau?"
Satu ingatan cepat melintas dalam
benak Bong Thian-gak, ia
teringat nada suara, bentuk badan serta gerak-gerik Sam-kaucu
Put-gwa-cin-kau yang dijumpainya semalam.
Teringat semua itu, hampir saja
Bong Thian-gak menjerit
keras.
Rupanya Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau
tak lain tak bukan adalah Thia Leng-juan.
Dalam waktu singkat teka-teki yang
sukar dijawab melintas dalam benak
Bong Thian-gak.
Dengan cara apakah Thia Leng-juan
menjadi Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau? Bagaimana mungkin dia bisa
memperoleh kepercayaan Cong-kaucu?
Sebagaimana diketahui, Thia
Leng-juan pernah bekerja sama dengan
Bong Thian-gak membunuh Sam-kaucu di masa lalu,
bukan saja dia musuh bebuyutan Put-gwa-cin-kau, bahkan termasuk
salah seorang yang tercantum dalam daftar hitam Put-gwa-cin-kau
untuk dibunuh.
Bagaimana mungkin Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau bisa menerima dirinya?
Lantas kemana perginya Ho Put-ciang
beserta segenap orang-orang dari Bu-lim Bengcu?
Saat ini
Bong Thian-gak sudah banyak curiga terhadap Thia
Leng-juan.
Sementara itu Thia Leng-juan telah
berkata lagi, "Long-tocu tak perlu kuatir, ketika menjabat
sebagai Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau, aku masih tetap Thia
Leng-juan, nyatanya Cong-kaucu sangat menaruh kepercayaan
kepadaku, biarpun Ji-kaucu rada kurang percaya. Dalam anggapan
Cong-kaucu, Ji-kaucu hanya merasa kedudukannya terancam oleh
kehadiranku, jadi reaksi spontan yang wajar, mustahil dia akan
mencurigai diriku."
Dengan ucapan itu, Thia Leng-juan
telah menjelaskan pula bagaimana caranya dia memperoleh
kepercayaan dari Cong-kaucu.
Long
Jit-seng tertawa, "Apakah kau sudah berhasil menyelidiki
identitas serta riwayat hidup Cong-kaucu?"
Thia Leng-juan segera menggeleng.
"Belum berhasil, tapi bisa jadi aku
akan berhasil melihat raut wajah aslinya malam nanti."
"Hehehe, hati-hati, kau jangan
sampai terpikat olehnya," seru Long
Jit-seng sambil tertawa.
"Perempuan yang ada di dunia ini
hanya Si-hun-mo-li seorang yang paling memikat hati, bagaimana
mungkin aku bisa tergoda setelah saban hari bergaul dengannya?
"
"Kau ingin berjumpa dengan Hong-kong
Hwesio?"
Thia Leng-juan
mendongakkan kepala memandang cuaca, lalu menjawab, "Saat
kentongan ketiga tinggal setengah jam lagi, aku sudah tak punya
banyak waktu lagi."
"Beberapa hari ini Hong-kong Hwesio
sedang sibuk, alangkah baiknya bila kita tak mengganggu
konsentrasi dan perhatiannya."
"Baiklah, kalau begitu aku mohon
diri lebih dulu. Kau harus baik-baik menghadapi
Jian-ciat-suseng, paling penting harus kau selidiki dulu
asal-usulnya."
Selesai berkata dia membalikkan
badan dan segera berlalu.
Long
Jit-seng memperhatikan pula keadaan sekeliling tempat itu,
kemudian dia pun turut berlalu dari sana.
Bong
Thian-gak sendiri seperti sukma gentayangan mengejar ke gedung
belakang. Di bawah cahaya rembulan dia saksikan sesosok bayangan
orang sedang bergerak di depan sana,
Bong Thian-gak tahu orang itu adalah Thia
Leng-juan, maka dia segera menguntitnya secara diam-diam.
Dia harus mengikuti Thia Leng-juan,
sebab dia ingin turut menyaksikan muka asli Cong-kaucu.
Dia pun ingin mengetahui nasib para
jago yang semula berdiam dalam gedung Bu-lim Bengcu.
Bong
Thian-gak perlu keterangan langsung dari Thia Leng-juan, tapi
pemuda itu pun menaruh perasaan ngeri bercampur seram, dia
kuatir Ho Put-ciang serta rekan-rekannya sudah terbunuh.
Bagaimana pun juga dia pernah
menyaksikan kekejaman serta kebuasan Thia Leng-juan ketika
membunuh Kau-hubuncu Hiat-kiam-bun, apalagi caranya memerintah
Si-hun-mo-li untuk mencelakai umat persilatan.
Dilihat dari segala gerak-gerik
serta perbuatan itu, tampaknya Thia Leng-juan bukan seorang
Enghiong yang berjiwa lurus.
Mungkin dia telah mengubah pendirian
dan takluk kepada kekuasaan kaum siluman dan iblis.
©
Di tepi jalan raya Hong-sia,
tepatnya berada di sebidang tanah perkebunan yang luas, berdiri
anggun sebuah gedung mungil yang indah dan megah.
Di sebelah kiri bangunan itu berdiri
sebuah loteng bertingkat tiga, cahaya lentera memancar keluar
dan menyinari sekitarnya seperti siang hari saja.
Dalam keheningan malam, tiba-tiba
muncul sesosok bayangan orang melompat ke atas sebatang pohon
Pek-yang dengan lincah seperti seekor monyet, tubuhnya enteng,
gerak-geriknya cepat seperti kilat, dalam waktu singkat bayangan
tubuhnya sudah lenyap.
Baru saja bayangan orang itu
menyembunyikan diri, seorang pemuda berbaju biru sudah muncul
dari balik pepohonan dan menuju ke arah gedung itu.
Dengan cepatnya sastrawan berbaju
biru itu menuju ke arah loteng bertingkat tiga tadi.
Melihat hal itu, orang yang berada
di pohon Pek-yang tadi segera berpikir, "Mungkin gedung itu
adalah tempat tinggal Thia Leng-juan."
Di dalam kota terlarang ternyata
Thia Leng-juan memiliki tempat tinggal sedemikian banyaknya, mau
tak mau Bong Thian-gak
segera berpikir dengan kening berkerut.
"Thia Leng-juan benar-benar licik
dan banyak akal muslihatnya."
Beberapa saat kemudian, Thia
Leng-juan telah muncul di tepi jendela loteng tingkat ketiga.
Kini dia telah berganti pakaian dengan satu stel jubah biru yang
baru dan di tangan kirinya membawa sebuah kipas, gayanya tak
beda dengan seorang lelaki romantis.
Senyuman cerah menghiasi wajah Thia
Leng-juan pada saat itu.
Ia mendongakkan kepala memandang
keadaan cuaca, kentongan ketiga telah menjelang.
Mendadak
Bong Thian-gak yang berada di atas pohon Pek-yang
mengendus bau harum bunga anggrek yang tersiar kemana-mana.
Bau harum bunga anggrek itu sangat
tajam dan merupakan ciri khas kehadiran Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau.
Sementara itu Thia Leng-juan telah
berkata dengan suara nyaring, "Sam-kaucu dengan hormat
menantikan kehadiran Cong-kaucu!"
Baru selesai ucapan itu,
Bong Thian-gak telah menyaksikan
sesosok bayangan orang melayang turun di hadapannya dan berjalan
masuk ke dalam loteng tingkat tiga, langsung menuju ke depan
Thia Leng-juan.
Ilmu meringankan tubuh
Peng-poh-cim-im (melangkah datar awan hijau) Cong-kaucu
benar-benar sangat hebat, bagaikan bidadari yang baru turun dari
kahyangan.
Bong
Thian-gak tertegun menyaksikan kejadian itu, sebab di kolong
langit dewasa ini rasanya belum terdapat orang kedua yang
memiliki ilmu meringankan tubuh sehebat ini.
Di tambah lagi udara di sekeliling
tempat itu seakan-akan diliputi bau harum bunga anggrek yang
begitu lembut, hal itu membuat orang beranggapan Cong-kaucu
adalah jelmaan dari bidadari kahyangan.
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau yang
serba misterius kini berdiri membelakangi jendela, sayang
Bong Thian-gak tak sempat
melihat jelas paras mukanya.
Perempuan itu mengenakan pakaian
sutera warna putih yang lembut, perawakan tubuhnya nampak
sedikit agak gemuk, namun montok dan kenyal, mendatangkan suatu
daya rangsang aneh bagi pria yang melihatnya.
Rambutnya disanggul model keraton,
untaian mutiara menghiasi lehernya, sedangkan sebutir batu
kemala hijau yang tak ternilai harganya tersisip di ujung tusuk
kondenya.
Thia Leng-juan seakan-akan dibuat
terkesima oleh paras muka Cong-kaucu, sepasang matanya mengawasi
perempuan itu dengan terkesima, tak sepatah kata pun sanggup
diucapkan.
Bong
Thian-gak ingin sekali menyaksikan paras muka Cong-kaucu, apa
mau dikata, perempuan itu justru berdiri membelakanginya.
Dari bentuk tubuhnya arah belakang,
usia perempuan ini sekitar tiga puluh tujuh-delapan tahun.
Mendadak suara merdu merayu bergema
dari mulut Cong-kaucu, "Sam-kaucu, mengapa seperti bertemu orang
asing saja?"
Teguran itu segera menyadarkan Thia
Leng-juan dari lamunan, dengan cepat dia berseru tertahan,
"Paras muka Cong-kaucu benar-benar anggun, cantik dan menawan
hati, jauh di luar dugaanku, ai ...
mungkin hal ini disebabkan baru sekali ini
kusaksikan wajah asli Cong-kaucu."
Mendadak Cong-kaucu tertawa
cekikikan, "Sam-kaucu tak usah banyak adat, perjumpaan malam ini
hanya kita berdua."
Suara tawanya penuh dengan kekuatan
daya pikat yang membetot sukma, tidak ada pria yang tak
terpengaruh oleh keadaan itu.
Kecuali Thia Leng-juan sudah buta
matanya atau dia sudah menduga maksud tujuan undangan Cong-kaucu
malam ini, kalau tidak, mustahil dia bisa menahan diri.
Sebaliknya bagi wanita yang sudah
lama hidup menyendiri, perjumpaan berduaan semacam begini pasti
akan menimbulkan gairah yang luar biasa, apalagi Cong-kaucu
adalah perempuan berpengaruh, bagaimana mungkin dia mampu
berpuasa lama?
Dengan senyuman penuh arti, Thia
Leng-juan segera berkata, "Silakan duduk Cong-kaucu, aku telah
menyiapkan sayur dan arak."
Seusai berkata, dia membalikkan
badan dan masuk ke ruang dalam, beberapa saat kemudian dia telah
muncul dengan membawa baki berisi hidangan yang lezat, hidangan
memang telah disiapkan.
Cong-kaucu duduk dekat jendela,
sedang Thia Leng-juan duduk persis di hadapannya.
Bong
Thian-gak yang bersembunyi di luar jendela dapat menyaksikan
gerak-gerik kedua orang itu dengan jelas, dia pun dapat melihat
bagaimana Thia Leng-juan melayani pimpinannya itu dengan gaya
sehalus mungkin.
Setelah perjamuan berlangsung
beberapa saat, rayuan Cong-kaucu kian merangsang, tiba-tiba dia
berbisik, "Sam-kaucu, bersediakah kau menghiburku malam ini
hingga aku puas?"
Mendadak Thia Leng-juan bangkit,
lalu merangkul tubuh Cong-kaucu dan membopongnya.
Ia merasakan tubuh perempuan itu
halus lembut seolah-olah tidak bertulang, terutama bau harum
yang teruar dari tubuhnya membuat setiap pria terangsang.
"Cong-kaucu, kau sungguh amat
cantik," bisik Thia Leng-juan sambil tertawa lirih.
"Ehmm ...
bagian yang tercantik belum sempat kau lihat..."
"Tapi sebentar lagi akan kulihat
juga."
"Cukup satu kali, selama hidup kau
takkan melupakannya."
"Hihihi, aku rada kurang percaya."
"Tidak percaya? Sekarang kau
buktikan, kau akan mengetahui bagaimana rasanya."
"Mimpi pun aku orang
she Thia tak pernah mengira
suatu hari Cong-kaucu bisa berada dalam pelukanku."
"Aku kan seorang perempuan!"
"Betul, kau seorang perempuan,
perempuan yang paling aneh, dan misterius di dunia ini."
"Tapi bagian yang terahasia belum
kau temukan?"
"Sebentar lagi tempat rahasiamu akan
kumasuki ... ooh
... rayuan semacam ini sungguh
membuat aku tak tahan."
Sebuah pembaringan, selembar kain
kelambu ....
Kain kelambu tertutup rapat....
Thia Leng-juan telah berubah ganas,
seganas serigala atau harimau kelaparan, sedangkan Cong-kaucu
berubah begitu lemah dan lembut, seperti gadis perawan yang
sedang diperkosa orang.
Suara tertawa jalang, kata-kata
porno yang jorok, serta rintihan yang memikat, membuat darah
orang mendidih.
Bong
Thian-gak yang bersembunyi di atas pohon Pek-yang sampai
memejamkan mata, namun suara cabul yang begitu merangsang
membuat pikiran dan perasaannya menjadi kacau.
Ia sangat menyesal, kenapa
bersembunyi sedemikian dekat.
"Cong-kaucu
... ampunilah aku
... ampunilah, aku sudah hampir
mati...." seruan lirih
mendadak bergema.
Bong
Thian-gak mendongakkan kepala dan terkejut.
Ia saksikan tubuh Cong-kaucu sedang
melilit tubuh Thia Leng-juan seperti seekor ular berbisa,
melilit dengan kencangnya.
Sekarang
Bong Thian-gak baru dapat melihat jelas perawakan
tubuh Cong-kaucu yang indah serta selembar wajah yang cantik
molek.
Tapi sekarang pada hakikatnya
perempuan itu telah berubah menjadi seorang perempuan jalang
penghisap darah.
Suara tertawanya yang jalang serta
getaran tubuhnya yang amat keras hakikatnya telah menindas Thia
Leng-juan sehingga tak berwujud manusia lagi.
Peluh sebesar kacang bercucuran
membasahi tubuh Thia Leng-juan, wajahnya tampak gembira serta
nikmat luar biasa.
Bong
Thian-gak tidak menyangka akan menyaksikan adegan semacam ini,
Cong-kaucu benar-benar mirip iblis perempuan, siluman perempuan
dan perempuan jalang....
Mendadak satu ingatan melintas dalam
benak Bong Thian-gak,
"Mengapa tak kumanfaatkan kesempatan di saat dia sedang
terpengaruh hawa napsu untuk menghabisi nyawanya
... biasanya perempuan yang
bagaimana pun hebatnya, bila sedang berada dalam keadaan seperti
ini, kepandaian saktinya tidak nanti bisa dikembangkan."
Belum habis ingatan itu melintas,
mendadak terdengar Thia Leng-juan menjerit kaget.
Tampak matanya terbelalak, sekujur
tubuhnya gemetar keras.
Bong
Thian-gak tahu, keadaan seperti ini hanya dialami oleh seorang
yang sedang mencapai puncak kenikmatan.
"Betul-betul manusia yang tidak
berguna!" umpat Cong-kaucu sambil tertawa.
Dengan cepat dia mendorong tubuh
lelaki itu, dengan lemas tak bertenaga Thia Leng-juan segera
berguling, sepasang matanya yang memukau itu tiba-tiba dialihkan
ke atas pohon Pek-yang di luar jendela.
Terkesiap hati
Bong Thian-gak menyaksikan
kejadian itu, pikirnya, "Wah, jangan-jangan dia sudah menemukan
jejakku?"
Akhirnya Cong-kaucu buka suara,
katanya dengan suara lembut, "Aku benar-benar tidak percaya di
dunia ini masih terdapat lelaki yang sama sekali tak tergerak
hatinya menyaksikan adegan panas yang berlangsung di depan
hidungnya."
Mendengar perkataan ini, diam-diam
Bong Thian-gak membatin,
"Aduh celaka, ternyata dia telah mengetahui jejakku. Hmm! Aku
tak percaya dalam keadaan bugil kau bisa berbuat sesuatu
kepadaku ...."
Diiringi suara tawa menyeramkan,
Bong Thian-gak melompat
keluar dari atas pohon Pek-yang dan menerobos masuk melalui
jendela.
Sekarang ia dapat menyaksikan dengan
jelas paras muka asli Cong-kaucu, bukan hanya wajah aslinya,
bahkan setiap bagian rahasia tubuhnya dapat terlihat dengan
nyata.
Cong-kaucu sungguh merupakan seorang
perempuan tidak tahu malu, tanpa canggung dia turun dari
pembaringan dan berjalan ke hadapan
Bong Thian-gak dalam keadaan bugil.
Bong Thian-gak
tak berani memandang lebih jauh, dia meludah dan katanya
dingin, "Kalau disuruh mencari perempuan manakah di dunia ini
yang paling tak tahu malu, orang itu sudah pasti kau!"
Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh,
"Kalau aku tak tahu malu, kau lebih-lebih tak tahu malu."
Merah padam wajah
Bong Thian-gak mendengar umpatan
itu, serunya, "Hei, mengapa kau belum juga mengenakan pakaian?"
Cong-kaucu tertawa jalang
"Sepasang matamu sudah kaku dan
mendelong, aku berpakaian atau tidak, rasanya sudah bukan
masalah lagi."
"Kau tahu siapa aku?" tegur
Bong Thian-gak dingin.
"Jian-ciat-suseng."
Kembali
Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Andaikata aku uarkan kejadian
memalukan yang kusaksikan malam ini, tentu segenap umat
persilatan akan tahu, akan aku lihat apakah kau punya muka untuk
memimpin Put-gwa-cin-kau atau tidak?"
"Kau tak nanti bisa berbuat
demikian."
"Mengapa?"
"Bila kau tidak bersedia takluk
kepadaku malam ini, hanya jalan kematian yang akan kau hadapi."
"Kau yakin pasti berhasil?"
"Tiada lelaki di dunia ini yang
tidak pernah terbayang dan tergila-gila setelah bermain cinta
denganku, aku yakin tiada lelaki yang akan terlepas dari
cengkeramanku."
"Tampaknya kau mempunyai keyakinan
yang luar biasa atas kecantikan wajahmu?" jengek
Bong Thian-gak dingin.
"Aku yakin kecantikan Se Si pun tak
akan bisa mengungguli aku."
Bong
Thian-gak mengamati sejenak wajah perempuan itu, lalu
manggut-manggut, "Ya, sayangnya kau sudah tua!"
Gemetar keras sekujur badan
Cong-kaucu sesudah mendengar perkataan itu, tanyanya, "Benarkah
aku sudah tua?"
Bong
Thian-gak memang ada maksud menghina dan mencemooh perempuan
itu, paling baik bila dapat melukai hatinya.
"Menurut pandanganku, biarpun kau
pergunakan minyak wangi dan pupur serta gincu yang terbaik dan
termahal di dunia ini untuk mendandani wajahnya, tetap tidak
bisa menghilangkan kerutan tuamu yang makin nyata, yang lebih
menggelikan lagi, masa kau menganggap dirimu masih mempunyai
daya tarik dan daya rangsang yang luar biasa? Hm, terus terang
saja aku beritahukan, manusia macam Thia Leng-juan bisa takluk
di bawah ketiakmu, hal ini bukan dikarenakan dia tergiur oleh
kecantikanmu, sesungguhnya dia terpesona oleh rangsangan napsu
dan terbuai dalam pelampiasan hawa napsu belaka."
Agaknya Cong-kaucu takut mendengar
orang lain mengatakan dia tua dan tidak cantik.
Sekarang ia benar-benar membenci
Bong Thian-gak,
sedemikian bencinya hingga kalau bisa merobek-robek tubuhnya,
mencorong sorot mata tajam penuh kebencian dari balik matanya.
Mendadak dia berkelebat maju, lalu
menyambar pakaiannya yang berserakan di atas pembaringan.
Melihat tingkah-lakunya yang konyol
itu, Bong Thian-gak
tertawa terbahak-bahak.
Di tengah gelak tawanya yang keras,
pemuda itu melejit dan melayang keluar jendela.
Pada dasarnya ilmu meringankan tubuh
Bong Thian-gak sudah
mencapai puncaknya, dengan sikap yang sinis dan memandang rendah
dia tertawa seram, secepat kilat tubuhnya berkelebat pergi dan
menjauh dari situ.
Dalam waktu singkat bayangan
tubuhnya sudah lenyap di balik kegelapan malam.
Baru pertama kali Cong-kaucu
menerima hinaan dan cemoohan paling besar bagi seorang wanita.
Selama puluhan tahun terakhir ini,
seingatnya hanya seorang lelaki yang bisa membuatnya marah dan
dendam, tapi hari ini telah bertambah dengan seorang lagi.
Orang ini tidak lain adalah
Jian-ciat-suseng.
Ia bersumpah akan mencincang tubuh
Jian-ciat-suseng hingga hancur-lebur, dia akan menggunakan
siksaan yang paling kejam dan paling buas untuk menghukum lelaki
laknat itu.
Dengan mengerahkan Ginkangnya yang
sempurna, Bong Thian-gak
berlarian sejauh tiga-empat li sebelum berhenti.
Ternyata di tengah jalan kecil di
padang yang sunyi itu, dia saksikan munculnya serombongan orang.
Orang-orang itu bergerak sangat
enteng dan cepat bagaikan hembusan angin, sama sekali tak
menimbulkan suara.
Dalam waktu singkat mereka telah
berlalu di hadapan Bong
Thian-gak.
Bong
Thian-gak dapat melihat dengan jelas bahwa rombongan itu terdiri
dari gadis-gadis berbaju merah, pedang pendek tersoreng di
punggung dan pakaiannya amat ringkas.
Di antara mereka terdapat delapan
orang yang menggotong sebuah tandu kecil, jendela di empat
penjuru tandu itu tertutup oleh selapis kain hitam, agaknya
seseorang duduk di baliknya.
Tergerak hati
Bong Thian-gak menyaksikan semua
itu, diam-diam ia berpikir, "Bukankah mereka adalah anggota
Hiat-kiam-bun?"
Rasa ingin tahunya segera muncul
dalam benaknya, dengan cepat pemuda itu menyusuri pepohonan yang
rindang dan membuntuti secara diam-diam.
Setelah berjalan lebih kurang
tujuh-delapan li, mendadak bergema suara tawa yang amat keras
bagaikan suara guntur menggelegar, sedemikian kerasnya suara itu
membuat kawanan gadis berbaju merah tertegun.
Serempak ketiga belas orang gadis
berbaju merah itu melolos pedang pendek mereka, sebuah gerakan
dilakukan cepat dan enteng, sebuah barisan segera terbentuk
tepat di depan tandu kecil itu.
Sementara kedelapan gadis pemikul
tandu itu pun menurunkan tandu, lalu melolos pedang pendeknya
berjaga-jaga di sekeliling tandu, sikap mereka serius
seakan-akan sedang menghadapi musuh besar.
Di bawah sinar rembulan, tampak
seorang lelaki kekar berbaju abu-abu, beralis tebal, bermata
besar dan bercambung seperti kawat, berdiri tegak di tengah
jalan.
Dengan mata
Bong Thian-gak yang tajam,
sekilas pandang saja ia sudah dapat mengenali lelaki kekar ini,
Han Siau-liong dari Kay-pang, yang lebih dikenal dengan julukan
Put-mi-kiam.
Kemunculan Han Siau-liong
membingungkan Bong
Thian-gak, pikirnya, "Seandainya orang yang berada di dalam
tandu kecil itu bukan tokoh lihai Hiat-kiam-bun, hari ini anak
murid Hiat-kiam-bun pasti akan mati konyol."
Sementara itu Han Siau-liong telah
menghardik, "Siapa yang duduk di dalam tandu?"
Salah seorang gadis bertubuh
langsing di antara ketiga belas gadis berkerudung merah itu
segera tampil ke depan, tampaknya dia adalah pimpinan rombongan.
"Siapa pula engkau?" dia balik
bertanya, "di dalam tandu adalah majikan kami."
"Kalau begitu panggil
Hiat-kiam-buncu agar tampil dan bicara."
"Masa orang yang berada di dalam
tandu bukan Long
Jit-seng, aku tahu kalian orang-orang Hiat-kiam-bun pun sedang
berusaha keras menemukan jejaknya."
Bong
Thian-gak yang mengikuti jalannya pembicaraan itu amat terkejut,
segera pikirnya, "Masakah orang yang berada di dalam tandu
adalah Long Jit-seng?"
Sementara si gadis berkerudung merah
menjawab, "Kau salah terka, orang yang berada dalam tandu bukan
Hek-ki-to-cu."
Han Siau-liong tertawa dingin,
"Hehehe, kecuali aku diberi kesempatan untuk melihat dengan mata
kepala sendiri, kalau tidak, jangan harap aku akan melepas
kalian pergi begitu saja."
Jelas anggota Hiat-kiam-bun memiliki
iman yang cukup tebal, dia masih tetap sabar.
"Boleh saja kau berniat melihatnya,
tapi seandainya orang yang berada di dalam tandu itu bukan
Long Jit-seng, kau harus
mundur dengan segera!"
"Hahaha, kalian tahu, siapakah aku?"
"Dari bentuk badan maupun sikapmu,
sudah pasti kau punya kedudukan cukup tinggi dalam Kay-pang."
"Orang-orang persilatan menyebutku
Put-mi-kiam!" Han Siau-liong memperkenalkan diri dengan suara
dalam.
Tampaknya para anggota Hiat-kiam-bun
yang hadir sekarang rata-rata sudah pernah mendengar nama tokoh
penting Kay-pang itu, gadis itu seperti terkejut mendengar nama
itu, serunya tanpa sadar, "Tidak kusangka kau telah sampai di
Hopak!" Kembali Han Siau-liong tertawa dingin.
"Han Siau-liong, tentu kalian pernah
mendengar nama ini bukan? Bila kalian bersedia menuruti
perkataanku, hari ini Han Siau-liong tidak bakal melukai seorang
pun di antara kalian."
Biarpun gadis itu terkejut dan ngeri
mendengar nama Put-mi-kiam, namun dia bukan seorang yang sudi
bertekuk lutut begitu saja, ia tertawa cekikikan, "Sampai
sekarang pihak Hiat-kiam-bun masih belum berniat mencari
permusuhan dengan pihak Kay-pang, namun bila kalian terus
menerus memojokkan kami, segenap anggota Hiat-kiam-bun rela mati
daripada membuat malu nama perguruan."
Han Siau-liong tertawa
terbahak-bahak, "Hahaha, punya semangat juga kalian, anggota
Hiat-kiam-bun rata-rata adalah wanita yang bersemangat baja,
sayang kalian telah salah menerima kematian pada malam ini."
Sembari berkata, selangkah demi
selangkah ia berjalan menuju ke hadapan mereka.
Mendadak tiga gadis berkerudung di
depannya menggetarkan pergelangan mereka, tiga batang pedang
pendek dengan kecepatan bagaikan sambatan petir segera menusuk
ke depan.
"Berhenti!" bentak mereka serentak.
Mencorong cahaya membunuh yang amat
tebal dari balik mata Han Siau-liong, sambil mendengus ia
lepaskan sebuah pukulan dengan telapak tangan kirinya.
Tiga kali jeritan ngeri yang
memilukan hati bergema.
Termakan segulung tenaga pukulan
yang maha dahsyat, ketiga orang gadis berkerudung yang sedang
menerjang ke muka itu mencelat dan kemudian roboh ke tanah
sambil muntah darah.
Beberapa saat kemudian mereka sudah
tewas dalam keadaan mengerikan.
Tenaga pukulan Han Siau-liong yang
mengejutkan dan keji ini kembali membuat suasana menjadi heboh,
segenap anggota Hiat-kiam-bun menjadi terkejut dan mundur
selangkah tanpa terasa.
Tak terlukiskan hawa amarah yang
membara di dada si nona pemimpin rombongan itu setelah melihat
kematian yang mengenaskan dari ketiga orang rekannya, ia segera
membentak nyaring.
Bagaikan kilat, pedangnya langsung
ditusukkan ke muka.
"Hm, cari mampus rupanya kau!"
jengek Han Siau-liong sambil tertawa dingin.
Telapak tangan kirinya yang
dibacokkan ke depan tadi, mendadak direndahkan ke bawah dan
mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan gadis itu.
Gadis ini adalah Pat-hubungcu
Hiat-kiam-bun, ilmu pedangnya tidak lemah, di antara perputaran
pergelangan tangannya, cahaya pedang bagaikan bianglala, di
tengah desingan tajam tahu-tahu hawa serangan telah menyambar ke
sisi tubuh lawan, di antara titik-titik cahaya bintang, kembali
mengurung seluruh badan Han Siau-liong.
Mata Han Siau-liong terbelalak
lebar, bentaknya, "Bagus sekali, kepandaianmu benar-benar
hebat."
Dengan mengeluarkan jurus
Nu-hay-poh-liong (menangkap naga di samudra luas) dan masih
tetap memakai ilmu Kim-na-jiu-hoat, dia berusaha merampas pedang
pendek lawan.
Biarpun serangan yang digunakan Han
Siau-liong terhitung amat cepat, akan tetapi Pat-hubuncu
terhitung jago nomor dua di dalam partainya, serta-merta
serangan Han Siau-liong luput mengenai sasaran.
Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun tahu bahwa
lawan adalah seorang jago yang amat lihai, dengan cepat pedang
pendeknya dikembangkan, serangan itu seperti menutul, seperti
juga menusuk, menggunakan aliran yang berbeda.
Dalam waktu singkat secara beruntun
dia telah melancarkan dua belas jurus serangan.
Han Siau-liong tidak menyangka gadis
ini sanggup menghindar dari dua belas jurus ilmu Kim-na-jiu-hoat
yang lihai, dengan suara menggeledek ia membentak, tangan
kirinya mengeluarkan jurus Kim-si-liau-wan (mencengkeram urat
nadi lawan).
"Aduh!" jerit kesakitan bergema,
pergelangan tangan Pat-hubuncu sudah tercengkeram hancur, pedang
pendeknya terjatuh ke tanah, bersamaan itu pula Han Siau-liong
mengayunkan telapak tangan kanannya siap menghabisi nyawa
perempuan itu.
Di saat yang amat kritis inilah
tiba-tiba terdengar suara bentakan, "Kau telah membunuh tiga
orang, apakah jumlah itu masih belum cukup?"
Dari balik kegelapan malam,
pelan-pelan berjalan keluar seorang sastrawan berlengan tunggal.
Setelah dapat melihat jelas wajah
pendatang itu, Han Siau-liong segera menghentikan gerakan tangan
kanannya, kemudian tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, bagus, bagus
sekali! Benar-benar tidak kusangka Jian-ciat-suseng muncul di
sini."
Bong
Thian-gak memandang sekejap tangan kiri Han Siau-liong yang
masih menelikung lengan kanan Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun,
kemudian ujarnya dengan suara dingin, "Kita sebagai lelaki
sejati, rasanya kurang gagah bila mesti menganiaya seorang
wanita lemah."
Tiba-tiba Han Siau-liong melepas
tangan kanannya dan melempar tubuh Pat-hubuncu, lalu jengeknya,
"Bila kau memang bernyali, jangan coba kabur lagi malam ini."
"Aku memang tak pernah bermaksud
melarikan diri."
Han Siau-liong mundur selangkah,
tiba-tiba ia melolos pedang raksasanya yang tersoreng di
belakang punggung, pedang ini empat kaki panjangnya, pedang itu
tampaknya tumpul, berwarna hitam, persis seperti besi tua.
Sebagai tokoh silat berkepandaian
tinggi, cukup memandang pedang Han Siau-liong,
Bong Thian-gak tahu musuh
terhitung tokoh lihai dalam ilmu pedang.
Keningnya berkerut, kemudian dengan
suara hambar dia berkata, "Aku pikir masih kelewat awal bila
kita mesti menentukan mati hidup di antara kita berdua sekarang
juga."
"Put-mi-kiam begitu terlolos dari
sarungnya, ia tak akan kembali sebelum menjilat darah," seru Han
Siau-liong ketus.
Bong
Thian-gak tertawa dingin, "Sudah sering kudengar orang berkata
demikian, sebelum menjilat darah, pedang tak akan kembali ke
sarungnya, namun kenyataan ...
hm, pedang itu menjilat darah mereka sendiri."
"Mengapa tidak kau lolos pedangmu?"
bentak Han Siau-liong dengan lantang.
"Pedangku telah dipatahkan oleh
Sutemu, sekarang aku sudah tidak memiliki pedang yang bisa
kucabut lagi."
"Jadi kau hendak menghadapi pedangku
dengan tangan kosong?" teriak Han Siau-liong marah.
"Oh, tidak, maksudku andai
pertarungan nanti dilangsungkan, aku akan meminjam pedang orang
lain."
Kemudian dia berpaling dan memandang
sekejap ke arah Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun, tanyanya, "Nona,
benarkah orang yang ada dalam tandu adalah Hek-ki-to-cu?"
Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun ini sudah
dua kali bertemu Bong
Thian-gak, tentu saja dia kenal pemuda ini, apalagi
Bong Thian-gak telah
menyelamatkan jiwanya kali ini, meski kejadiannya di luar
dugaan, diam-diam dia amat berterima kasih kepada pemuda ini.
Begitulah sambil mengedipkan matanya
yang jeli, Pat-hubuncu berkata, "Benar Hek-ki-to-cu atau bukan,
aku rasa kau pasti lebih mengerti daripada kami."
Tentu saja
Bong Thian-gak memahami maksud
perkataannya, kemudian ia bertanya, "Lalu siapakah dia?"
Pat-hubuncu termenung sebentar,
kemudian menjawab, "Dia adalah Buncu kami, ketua Hiat-kiam-bun."
"Ketua Hiat-kiam-bun? Kalau begitu
dia ...." paras muka
Bong Thian-gak berubah
hebat.
Ternyata Pat-hubuncu amat cerdik dan
cekatan, dia pun bertanya, "Jadi...
kau tahu siapa Buncu kami?"
"Ya, aku tahu," pemuda itu
mengangguk.
Jawaban ini mengejutkan Pat-hubuncu,
serunya, "Sungguh?"
"Sungguh! Sebab aku pun sedang
mencarinya."
"Kalau begitu kau pun mengetahui
rahasia Hiat-kiam-bun kami?" tanya Pat-hubuncu semakin terkejut.
"Aku malah mengetahui juga asal-usul
Cong-hubuncu dan Ji-hubuncu perguruan kalian."
"Aku tak pernah ditipu orang secara
begini gampang," kata Pat-hubuncu dengan suara dalam.
"Aku bukan penipu,"
Bong Thian-gak tersenyum, "nona
bisa membuktikannya dengan segera."
"Bagaimana cara membuktikannya?"
"Aku dapat menjelaskan asal-usul
Cong-hubuncu dan Ji-hubuncu perguruan kalian."
Pat-hubuncu termenung sebentar,
kemudian dia berkata, "Coba kau katakan secara garis besarnya
saja."
Bong
Thian-gak tersenyum.
"Hubungan antara Cong-hubuncu dan
Ji-hubuncu adalah hubungan antara ibu dan anak. Masih ada satu
hal lagi, seandainya orang yang berada di dalam tandu
benar-benar Buncu Hiat-kiam-bun, maka dia datang dari gedung
raja muda Mo-lay-cin-ong."
Pat-hubuncu terbungkam seketika
mendengar penjelasan ini.
"Darimana kau tahu semua ini
sedemikian jelasnya?"
Bong
Thian-gak tersenyum.
"Sebab musababnya tak mungkin bisa
dijelaskan, pokoknya sudah kuterangkan sedari dulu,
Tiong-yang-hwe tidak akan memusuhi Hiat-kiam-bun, itulah
sebabnya aku tak pernah melukai anggota Hiat-kiam-bun seorang
pun."
"Bagaimana dengan Kiu-moayku?
Bukankah Kau-hubuncu tewas di tanganmu?"
"Bukan."
Tampaknya Pat-hubuncu mempercayai
kata-kata Bong Thian-gak,
katanya, "Seandainya kau adalah sahabat Hiat-kiam-bun, tolong
bantu kami, bantulah kami hingga tiba di...."
Sampai di sini, mendadak ia
membungkam.
Bong
Thian-gak sendiri pun tidak mendesak lebih jauh, dia segera
menyahut, "Aku sanggup melakukannya, harap nona pinjamkan pedang
itu kepadaku."
Pat-hubuncu mendekat sambil
menyodorkan pedang pendeknya kepada
Bong Thian-gak.
"Pihak lawan adalah tokoh silat
hebat dari Kay-pang, kau mesti menghadapinya hati-hati," ia
berpesan.
Setelah menyambut pedang pendek itu,
Bong Thian-gak baru
berpaling ke arah Han Siau-liong sambil berkata, "Kuharap kau
suka menuruti nasehatku, apakah pertarungan kita dapat ditunda
lain saat?"
"Sejak berlatih ilmu pedang,
cita-citaku adalah merebut gelar jago pedang nomor wahid,
berarti cepat atau lambat kita pasti akan saling tempur, kulihat
malam ini adalah malam yang tepat untuk berduel, mengapa kita
mesti menyia-nyiakan kesempatan baik ini?"
"Bila dua ekor harimau saling
bertarung, satu di antaranya tentu akan terluka. Apalagi di
sekitar kita sudah bersembunyi harimau ketiga."
Baru selesai perkataan itu
diutarakan, tiba-tiba terdengar seorang berkata dengan suara
dingin, "Tajam amat penglihatanmu, agaknya kemampuanmu masih
setingkat lebih unggul daripada Put-mi-kiam."
Di tengah pembicaraan, dari balik
semak belukar di sisi kanan mereka berjalan keluar seorang
lelaki berbaju hijau, ciri khas yang paling menyolok daripada
orang itu adalah terdapatnya sebuah tahi lalat di atas alis
kirinya dan sebilah pedang tembaga tersoreng di pinggangnya.
"Kehadiran Ji-kaucu memang tepat
sekali," seru Han Siau-liong sambil tertawa terbahak-bahak,
"tiga tahun berselang aku orang she
Han tidak berkesempatan mencoba kepandaian saktimu,
hal ini membuatku tak senang siang dan malam, aku harap Ji-kaucu
dapat memenuhi keinginanku malam ini."
Han Siau-liong memang seorang jagoan
yang gila nama, kalau dapat dia ingin menantang semua jago lihai
yang ada di dunia ini, baik dari golongan putih maupun hitam,
asal musuh termasuk jago lihai, dia berusaha mencoba
kepandaiannya.
Bong
Thian-gak sendiri dapat mengenali orang itu adalah Ji-kaucu
Put-gwa-cin-kau, cuma dia tak banyak komentar.
Dalam pada itu Pat-hubuncu
Hiat-kiam-bun merasa terkejut bercampur ngeri, tiba-tiba
bisiknya kepada Bong
Thian-gak, "Orang-orang Put-gwa-cin-kau telah mengejar sampai di
sini."
"Aku lihat hanya Ji kaucu
seorang yang telah sampai, kalian cepat bersiap melarikan diri,
biar aku menahan dirinya."
Sementara itu Ji-kaucu
Put-gwa-cin-kau telah menghentikan langkah, katanya dengan suara
yang menyeramkan, "Han Siau-liong, sikapmu yang sombong dan
takabur membuat dirimu tak bisa hidup lama di dunia ini."
Han Siau-liong tertawa
terbahak-bahak, "Hahaha, semenjak aku belajar pedang, aku memang
sudah tak ingin hidup lama di dunia ini."
Sepanjang pembicaraan berlangsung,
Bong Thian-gak dengan
sepasang mata yang tajam mengawasi seluruh gerak-gerik Ji-kaucu
tanpa berkedip.
Tiba-tiba pemuda itu berteriak,
"Cepat mundur, Ji-kaucu telah melepaskan racun jahat!"
Ternyata
Bong Thian-gak telah melihat munculnya segumpal
kabut tipis yang pelan-pelan berhembus keluar dari semak belukar
sebelah utara, kabut itu menggulung datang di atas permukaan
rumput, tak ubahnya seperti kabut malam yang terhembus angin.
Sejak awal Pat-hubuncu telah
memerintahkan anak buahnya agar bersiap sedia. Begitu mendengar
suara bentakan Bong
Thian-gak, kedelapan gadis muda itu segera menggotong tandu
kecil itu dan segera kabur menuju ke arah selatan.
Dengan gerakan cepat
Bong Thian-gak ikut mengundurkan
diri pula ke arah selatan.
Menyaksikan hal ini Ji-kaucu
tergelak, pedangnya segera dilolos, kemudian bagaikan seekor
bangau raksasa dia melompat dan menerkam dari tengah udara,
hardiknya, "Kau memang benar-benar cekatan, tapi aku ingin tahu
apakah kau sanggup lolos dari seranganku atau tidak."
Di tengah pembicaraan, pedang
Ji-kaucu telah membacok datang dengan membawa segulung hawa
serangan dingin dan mengerikan.
Tiga tahun berselang,
Bong Thian-gak pernah terluka di
ujung pedangnya, terutama disebabkan pedang Ji-kaucu ini
memiliki rahasia besar.
Maka dari itu
Bong Thian-gak tidak menyambut
serangan itu dengan kekerasan, sebaiknya malah melompat mundur.
Ji-kaucu tidak menyangka
Bong Thian-gak memilih mundur
daripada menerima serangannya, sambil tertawa dingin dia
menjengek, "Mengapa kau tidak menyambut seranganku?"
Kembali pergelangan tangan kanannya
digetarkan, pedangnya menciptakan selapis bunga pedang, seperti
membacok dan menusuk langsung menyambar tubuh
Bong Thian-gak.
Biarpun
Bong Thian-gak memegang pedang di tangan kirinya,
dia masih saja mundur tanpa menyambut datangnya ancaman.
Dia mundur dengan mengambil langkah
segitiga, sebentar ke kiri sebentar ke kanan, agaknya dia
berjaga-jaga atas serangan racun yang dilancarkan Ji-kaucu,
itulah sebabnya dia selalu mundur dengan mengikuti arah angin.
Ketika Ji-kaucu melancarkan serangan
keempat, mendadak dari sana berkumandang beberapa kali jeritan
yang menyayat hati.
Dengan terkejut
Bong Thian-gak segera berpaling,
apa yang kemudian terlihat segera membuat darahnya mendidih.
Rupanya Han Siau-liong telah
memanfaatkan kesempatan itu untuk menghadang jalan pergi anggota
Hiat-kiam-bun, pedang bajanya diputar sedemikian rupa membentuk
gelombang angin pedang yang menderu-deru dan amat memekakkan
telinga.
Tak seorang pun di antara anggota
Hiat-kiam-bun yang mampu menahan serangannya itu.
Jerit lengking yang memilukan
bergema susul menyusul, suara orang sekarat yang mendekati ajal,
membikin siapa pun yang mendengar berdiri bulu kuduknya.
Bong
Thian-gak berpekik nyaring dengan nada pedih, dia melejit ke
tengah udara dan meluncur ke muka, bentaknya, "Han Siau-liong,
serahkan nyawamu!"
Selesai bentakannya itu, secepat
kilat Bong Thian-gak
menyambar ke depan, cahaya pedang yang kemerah-merahan ikut
menyambar pula dengan hebatnya.
"Hahaha," Han Siau-liong
terbahak-bahak, "Jian-ciat-suseng, kau memang seharusnya turun
tangan sejak tadi."
Diiringi desingan tajam, pedang
bajanya dibabatkan ke muka menyambut datangnya ancaman itu.
"Trang", dentingan nyaring disertai
percikan bunga api segera memancar ke empat penjuru.
Dengan pedang pendeknya
Bong Thian-gak berhasil
mementalkan pedang baja lawan yang beratnya mencapai seratus
kati itu.
Akibat bentrok ini, Han Siau-liong
mundur tiga langkah dengan sempoyongan sebelum berhasil berdiri
tegak kembali.
Bong
Thian-gak mengunjuk rasa terkejut, rupanya dalam bentrok tadi ia
merasakan pergelangan tangan kirinya sakit, linu dan kesemutan.
Dari sini dapatlah diketahui tenaga
serangan Han Siau-liong memang benar-benar sangat tangguh.
Padahal Han Siau-liong jauh lebih
terperanjat lagi ketimbang Bong
Thian-gak.
Seingatnya, kecuali gurunya seorang,
belum pernah di dunia ini ada orang yang sanggup menggetarkan
pedang bajanya sampai terpental, mimpi pun dia tak pernah
menyangka laki-laki berlengan tunggal yang berwajah pucat dan
penyakitan ini memiliki kekuatan begitu dahsyat.
Padahal bagi dua jago yang
bertarung, teledor dan kehilangan konsentrasi merupakan
pantangan paling besar.
Sementara dia masih terkejut
bercampur keheranan, Ji-kaucu telah memanfaatkan kesempatan itu
untuk menerobos masuk, dalam waktu singkat tujuh-delapan gadis
berbaju merah telah roboh tergeletak di tanah tanpa bersuara,
sementara Ji-kaucu sendiri telah menerjang ke muka tandu kecil.
Bentakan nyaring bergema memecah
keheningan. Pat-hubuncu
segera menyusul ke muka.
"Nona, jangan mendekati dia," teriak
Bong Thian-gak cemas.
Belum lagi ucapan itu selesai,
tangan kiri Ji-kaucu telah mengayun ke arah belakang.
Dengusan tertahan bergema, sekujur
badan Pat-hubuncu bergetar keras, kakinya menjadi lemas dan
roboh terduduk ke atas tanah.
"Lihat pedang!" bentak
Bong Thian-gak.
Hawa pedang bagai bianglala
menyambar dan menusuk ke depan.
Tampaknya Ji-kaucu mengetahui
kehebatan serangan itu, sambil memutar badan ia mundur ke sisi
kiri.
Akhirnya
Bong Thian-gak berdiri di muka tandu kecil itu
dengan pedang disilangkan di depan dada.
Ji-kaucu memandang sekejap ke
sekeliling tempat itu, lalu ujarnya, "Orang-orang Hiat-kiam-bun
sudah banyak menjadi korban, kau anggap dengan kemampuanmu
seorang bisa meneruskan perjalanan untuk melindungi tandu ini?"
Memandang mayat yang berserakan di
atas tanah, Bong
Thian-gak merasa sedih sekali. Gadis-gadis muda yang segar dan
lincah tadi dalam waktu singkat menjadi korban di tangan keji
Ji-kaucu dan Han Siau-liong, peristiwa ini merupakan kejadian
yang mengenaskan.
Tiba-tiba terdengar suara rintihan
lirih, Pat-hubuncu mengangkat kepala dan berbisik pelan,
"Siangkong, kau ... kau
tak usah tinggal di sini lagi...
sebentar Buncu akan ...
akan mendusin ...
bila sampai begitu, maka dia ...
dia masih tetap akan menjadi orang
Put-gwa-cin-kau."
"Aku tak dapat membiarkan dia
terjatuh kembali ke tangan orang-orang Put-gwa-cin-kau," tukas
Bong Thian-gak dengan
suara dalam.
"Kali ini kita gagal, tapi lain kali
kita masih ada kesempatan untuk menolongnya, bila ia sadar
nanti, kesadarannya tetap hilang, dia hanya tahu mentaati
perintah Put-gwa-cin-kau, berarti kau akan mendapat seorang
musuh tangguh lagi."
Sementara itu Han Siau-liong telah
menerjang masuk melalui belakang, pedang bajanya segera
bergetar.
"Sreet", kain hitam penutup tandu
segera tersambar hingga robek dan terbuka.
Orang yang berada dalam tandu pun
segera terlihat jelas. Mendadak Han Siau-liong menjerit kaget,
"Ah, rupanya dia adalah Si-hun-mo-li?"
Mendengar seruan itu,
Bong Thian-gak mendesak maju,
tampak di balik tandu itu duduk seorang wanita cantik.
Biarpun wajah perempuan itu sudah
berubah menjadi abu-abu, Bong
Thian-gak masih dapat mengenali dengan pasti.
Agaknya Han Siau-liong belum pernah
menjumpai perempuan yang begitu cantik sepanjang hidupnya, dia
tertegun dan berdiri dengan mata terbelalak.
Perempuan itu sedang tidur, tidur
amat nyenyak dan nampak begitu cantik menawan hati.
Tak tahan
Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ah,
ternyata memang dia, rupanya Si-hun-mo-li adalah Thay-kun. Ai!
Rupanya Cong-kaucu benar-benar telah mencelakai dirinya."
Belum habis ingatan itu, sebilah
pedang dingin menggidikkan diam-diam telah menusuk ke arah
tubuhnya.
Tanpa pikir panjang
Bong Thian-gak memutar pedang
pendeknya ke depan sementara tubuhnya berputar tiga kali.
"Kau dapat menghindari seranganku
ini?" seru Ji-kaucu tertahan dengan sorot mata memancarkan rasa
kaget dan tercengang.
Amarah sedang berkobar dakam dada
Bong Thian-gak, segera ia
membentak keras, "Ji-kaucu, Han Siau-liong, kemari kalian
berdua, biar lenganku cuma satu, aku masih mampu menandingi
kedua bilah pedang kalian bersama-sama."
Bentakan itu amat keras hingga
menggetarkan seluruh angkasa.
Han Siau-liong maupun Ji-kaucu
tertegun, serentak mereka mendongakkan kepala.
Bong
Thian-gak dengan pedang terhunus di depan dada dan sorot mata
memancarkan cahaya setajam sembilu sedang mengawasi mereka
berdua tanpa berkedip.
Menyaksikan sikap angker
Bong Thian-gak yang berdiri
bagaikan batu karang dan hawa membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya, Ji-kaucu maupun Han Siau-liong sama-sama terkesiap
dibuatnya.
Ternyata mereka sudah dapat melihat
Bong Thian-gak sedang
mempersiapkan tenaga dalamnya berniat melancarkan serangan
dengan pedang terbang.
Dalam posisi demikian, Han
Siau-liong maupun Ji-kaucu menjadi ragu, mereka tak tahu apakah
serangan dahsyat yang dilepaskan Bong
Thian-gak itu dapat disambut oleh mereka berdua
ataukah tidak.
Sebagai jagoan yang punya nama
besar, tentu saja Han Siau-liong serta Ji-kaucu enggan bekerja
sama, mereka pun enggan bersama-sama menghadapi serangan dahsyat
Bong Thian-gak.
Sikap kereng dan berwibawa
Bong Thian-gak sekarang memaksa
keduanya mau tidak mau harus mengangkat pedang bersiap siaga.
Keheningan yang mencekam menyelimuti
sekitar tempat itu, tapi suasana seram, ngeri dan tegang menekan
perasaan setiap orang dan hal ini makin lama makin menebal
bersama dengan berkembangnya sang waktu.
Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun tidak
percaya ilmu silat Bong
Thian-gak dapat dipakai untuk melawan serangan gabungan Ji-kaucu
serta Han Siau-liong, sambil menahan rasa sakit dari luka yang
dideritanya, tanpa berkedip dia mengawasi gerak-gerik mereka.
Tiba-tiba
Bong Thian-gak dengan pedang tersilang di depan
dada, selangkah demi selangkah maju dan pelan-pelan mendekati
kedua orang lawannya.
Dengan cara ini, siapa mampu
meloloskan diri dari sergapan Bong
Thian-gak itu? Akan tetapi Ji-kaucu maupun
Han Siau-liong tetap tidak menggerakkan tubuh, seolah-olah
sedang menunggu datangnya serangan lawan.
Ji-kaucu serta Han Siau-liong
terbilang tokoh silat yang sangat berpengalaman dalam Bu-lim,
jangan dilihat gerak Bong
Thian-gak sangat lamban, bila musuh berani bergerak, maka
pedang pendek Bong
Thian-gak akan meluncur bagaikan anak panah terlepas dari
busurnya, tak seorang pun yang mampu menerima serangan itu.
"Sret, sret", dua kali desingan
nyaring berkumandang.
Akhirnya
Bong Thian-gak tiba di depan kedua orang itu,
pedang pendeknya dengan sangat ringan membacok ke dada Ji-kaucu
serta Han Siau-liong.
Pada saat bersamaan pedang baja Han
Siau-liong membacok pula ke depan, sedang pedang hijau Ji-kaucu
meluncur secepat petir.
Dalam waktu singkat cahaya pedang
menyelimuti hawa dingin yang menusuk tulang, serasa menyakitkan.
Dua kali dengusan tertahan segera
bergema.
Bayangan orang menyambar dan
berkelebat ke samping ...
diikuti lenyapnya cahaya pedang.
Bong
Thian-gak berjumpalitan dan mundur, cahaya tajam dari balik
matanya sudah berkurang, sementara pedangnya entah sudah
mencelat kemana.
Pedang baja yang semula berada di
tangan kanan Han Siau-liong kini sudah menancap di atas tanah,
bahu kirinya tertancap sepotong kutungan pedang, darah segar
bercucuran keluar dengan derasnya.
Pedang kanan Ji-kaucu masih
tersilang di depan dada, namun di dada kanannya tertancap
sepotong kutungan pedang berikut gagangnya, darah segar pun
bercucuran membasahi pakaian.
Rupanya Ji-kaucu dan Han Siau-liong
sama-sama terluka, kedua orang itu terkena pedang pendek
Bong Thian-gak yang patah
menjadi dua dan menusuk dua sasaran yang berbeda.
Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun mengikuti
dengan jelas bagaimana Bong
Thian-gak mematahkan pedangnya jadi dua, dan secara
terpisah menancapkan di bahu kiri Han Siau-liong dan dada kanan
Ji-kaucu.
Ji-kaucu dan Han
Siau-liong sendiri pun
tidak ada tahu cara bagaimana
Bong Thian-gak melukai mereka.
Dalam pertarungan sengit yang
berlangsung tadi, Ji-kaucu dan Han Siau-liong sama-sama
menggetarkan pedang menyambut ancaman itu, mereka pun merasa
seakan-akan pedang pendek Bong
Thian-gak terpapas kutung oleh senjata mereka.
Tapi ketika lengan tunggal
Bong Thian-gak digetarkan,
tahu-tahu Han Siau-liong dan Ji-kaucu telah terluka oleh
tusukannya.
Agaknya di saat pedang patah menjadi
dua, Bong Thian-gak telah
mencengkeram kedua kutungan pedang itu dengan lengan tunggalnya,
kemudian disambitkan ke depan.
Han Siau-liong mencabut kutungan
pedang dari bahunya, lalu setelah tertawa, dia berkata, "Lihai,
benar-benar amat lihai, Jian-ciat-suseng memang terhitung
manusia tangguh. Kalau ditanya senjata apa di dunia ini yang
tercepat, maka itulah golok sakti si lengan tunggal, tapi
kulihat ilmu pedang Jian-ciat-suseng masih berada di bawah
To-pit-coat-to Liu Khi."
"Rupanya Liu Khi terhitung jago
nomor dua perkumpulan kalian?" jengek
Bong Thian-gak tertawa dingin.
Biarpun bahu kirinya sudah basah
oleh darah, Han Siau-liong masih tetap tertawa, "Hahaha,
benar-benar, Liu Khi memang jago nomor dua Kay-pang, Ji-kaucu
sendiri pun pernah keok di tangannya."
Dalam pada itu Ji-kaucu telah
mencabut kutungan pedang dari dadanya, tampaknya dia terluka
parah, secara beruntun beberapa buah jalan darahnya telah
ditotok hingga darah tidak mengalir lagi.
Setelah tertawa seram, dia berkata,
"Serangan yang kau lancarkan benar-benar cepat, pedang Ji-kaucu
memang tak akan bisa melukaimu untuk selamanya."
Bong
Thian-gak tersenyum.
"Ah, mana, aku telah mengerahkan
segenap kemampuanku, namun kenyataannya tak sanggup merenggut
nyawamu, setelah berpisah malam ini, entah kapan aku baru bisa
membinasakan kalian."
Di tengah pembicaraan, dengan suatu
gerakan cepat Bong
Thian-gak telah memungut kembali sebilah pedang pendek dari atas
tanah. Suasana di sekeliling tempat itu segera berubah kembali
menyusul gerak-gerik Bong
Thian-gak, selapis hawa membunuh dengan cepat menyelimuti
tempat itu.
Dengan perasaan tegang dan serius
Han Siau-liong dan Ji-kaucu sekali lagi bersiap menghadapi
segala kemungkinan.
Jelas Bong
Thian-gak telah diliputi oleh hawa membunuh.
Rupanya dalam bentrokan tadi,
Bong Thian-gak telah berhasil
mengetahui rahasia pedang panjang Ji-kaucu, dia yakin
kemampuannya sanggup melenyapkan Ji-kaucu, bagaimana pun juga
Ji-kaucu adalah musuh besarnya yang harus dibunuh.
Kini kekuatan Put-gwa-cin-kau sudah
meningkat hebat, mumpung dia masih berkeyakinan melenyapkan
kekuatan lawan, mengapa tidak ia manfaatkan peluang itu untuk
menggerogoti kekuatan musuh? Itulah sebabnya
Bong Thian-gak memusatkan
kembali kekuatan melepaskan serangan berikut.
Kali ini
Bong Thian-gak berdiri sambil memeluk pedang di
depan dada, pelan-pelan ia berkata, "Han Siau-liong, kau sudah
keok di ujung pedangku, bila ingin membalas dendam, kesempatan
masih cukup banyak, kuanjurkan kepadamu cepatlah meninggalkan
tempat ini!"
Han Siau-liong tertawa
terbahak-bahak, "Biarpun aku sudah terluka, aku masih mampu
untuk merobohkan dirimu."
"Kau telah membunuh banyak orang,
aku memang tak akan melepas kau begitu saja," ucap
Bong Thian-gak dingin, "apalagi
pihak Kay-pang memang tidak mengizinkan aku menancapkan kaki
dalam Bu-lim, maka boleh dibilang setiap saat bisa jadi kita
akan berduel kembali."
"Hahaha, bagus, bagus sekali," Han
Siau-liong tertawa nyaring. "Malam ini Han Siau-liong terpaksa
harus menuruti nasehatmu untuk mengundurkan diri."
Selesai berkata, Han Siau-liong
segera menggerakkan badan beranjak pergi.
Jangan dilihat perawakannya yang
tinggi besar, kehebatan ilmu meringankan tubuhnya tidak malu
disebut jago lihai kelas satu dari dunia persilatan, dengan dua
kali lompatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan
mata.
Sepeninggal Han Siau-liong,
Bong Thian-gak baru berkata
sambil tertawa dingin, "Ji-kaucu, hari kematianmu sudah tiba!"
"Bukan hari kematianku, tapi hari
kematianmu," sahut Ji-kaucu dengan suara menyeramkan.
"Benar, siapa unggul siapa kalah
memang susah untuk diketahui, tapi aku percaya kau sudah berada
di tepi jurang kematian."
"Selamanya Ji-kaucu bukan orang yang
gampang mati, percaya atau tidak terserah padamu."
Bong
Thian-gak tertawa.
"Gerak pedangmu jauh lebih lamban
daripada aku, ilmu racunmu susah untuk dikembangkan lagi, bahkan
rahasia pedangmu sudah dapat kuketahui, kepandaian apa lagi yang
akan kau andalkan? Memangnya kau masih memiliki ilmu menyusup ke
tanah atau terbang ke langit?"
Pucat keabu-abuan paras muka
Ji-kaucu mendengar perkataan itu, dia seperti belum mau percaya
begitu saja, kembali tanyanya, "Apa benar kau sudah mengetahui
rahasia pedangku?"
"Apa sebabnya pedangmu bisa
merenggut nyawa musuh? Kan karena pedangmu
itu dapat menusuk setengah kaki lebih ke depan, karena di balik
pedangmu itu kau sengaja menyisipkan sebilah pedang kecil
setipis daun, bila tombol rahasianya kau pencet, pedang kecil
itu akan melejit keluar dari ujung pedang dan menusuk korban."
Rasa kaget dan tercengang dengan
cepat menyelimuti wajah Ji-kaucu, dia terbungkam dan hanya bisa
memandang anak muda itu dengan termangu.
Malam ini merupakan kali kedua
Bong Thian-gak bertarung
melawan Ji-kaucu.
Sesungguhnya yang lebih banyak
bahayanya daripada selamat bukan Ji-kaucu, melainkan
Bong Thian-gak.
Sebab Bong
Thian-gak masih belum mengetahui pasti akan rahasia
dan kehebatan pedang Ji-kaucu itu.
Bong
Thian-gak memang tidak seharusnya kalah untuk kedua kalinya di
tangan Ji-kaucu, namun pada saat itulah Si-hun-mo-li yang berada
di dalam tandu kecil sudah mulai membuka matanya.
Bagaikan segulung angin perempuan
itu melompat keluar dari balik tandu.
Sepasang matanya yang jeli segera
berputar kian kemari sebelum akhirnya berhenti pada tubuh
Bong Thian-gak.
"Thay-kun!" bisik
Bong Thian-gak.
Ia merasa perempuan itu seperti
orang baik, wajahnya cantik, matanya jeli dan manis menawan
hati, terutama sekulum senyum manis yang menghiasi wajahnya.
Begitu cantik dan lembut gadis itu,
bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan.
Panggilan lembut
Bong Thian-gak tentu dapat
terdengar olehnya, tapi gadis itu tidak menjawab ataupun
menunjukkan suatu perubahan sikap, sekulum senyuman yang menawan
masih menghiasi wajahnya.
Sepasang matanya seolah-olah sedang
tertawa pula, tampak begitu indah, lembut dan menawan hati.
Bong
Thian-gak menghela napas lirih, serunya, "Thay-kun, kau tidak
kenal aku?"
Senyum dan pancaran sinar mata
Si-hun-mo-li semakin memikat, dengan langkah gemulai dia
berjalan menghampiri Bong
Thian-gak.
Pat-hubuncu yang menyaksikan hal itu
menjadi sangat terkejut segera serunya, "Bong-siangkong,
kesadaran otaknya sudah punah ....kau
... kau cepat lari...."
Jeritan yang begitu keras dan
melengking ini cepat menyadarkan Bong
Thian-gak bahwa orang yang dihadapi bukan Thay-kun
melainkan Si-hun-mo-li.
Dengan langkah lembut gadis itu
makin lama semakin mendekati Bong
Thian-gak.
Bong
Thian-gak sendiri tidak tahu bagaimana harus menghadapi semua
ini, bagaimana tidak? Paras muka gadis itu sama sekali tidak
memancarkan rasa gusar ataupun permusuhan, yang ada cuma senyum
yang memukau.
Siapa lelaki di dunia ini yang mampu
melawan daya pesonanya? Lebih-lebih tiada seorang pun yang tega
turun tangan dan menghabisi nyawa seorang gadis yang polos.
"Cepat mundur
... cepat mundur
... dia akan membunuhmu," sekali
lagi Pat-hubuncu menjerit keras.
Bong
Thian-gak terkejut, tanpa sadar ia menggeser langkahnya dan
mundur setengah tindak.
Pada saat itulah Si-hun-mo-li dengan
gerakan seperti hendak menjatuhkan diri ke dalam pelukannya
telah menerjang tiba.
Pada saat yang bersamaan pula
Bong Thian-gak dapat melihat
betapa merah membaranya telapak tangan kirinya itu, kelima jari
tangan yang direntangkan lebar langsung diarahkan ke tubuh
bagian bawahnya.
Bong
Thian-gak benar-benar sangat terperanjat, dia menjatuhkan diri
ke belakang, lalu melejit ke samping.
Dengan gerakannya itu, maka serangan
Kau-ji-ti-tho (monyet sakti memetik buah Tho) Si-hun-mo-li
mengenai tempat kosong.
Padahal selama ini belum pernah ada
lelaki di dunia ini yang sanggup melepaskan diri dari
cengkeraman tangan mautnya.
Si-hun-mo-li kelihatan agak
tertegun, lalu sambil mendongakkan kepala dia tertawa cekikikan,
suaranya begitu merangsang membuat napsu birahi orang bangkit.
Siapa pun yang mendengar suara tawa
itu, hatinya pasti akan bergejolak, darahnya mendidih dan tanpa
sadar akan terbayang kembali adegan hubungan mesra antara laki
dan perempuan.
Begitulah di tengah suara cekikikan
yang penuh kejalangan, Si-hun-mo-li mulai melepas kancing
bajunya dan membentangkannya hingga terbuka lebar.
Yang mengejutkan adalah di balik
baju luarnya ternyata ia tidak mengenakan secuwil baju pun,
kulit badannya yang putih menawan, serta liukan badannya yang
aduhai....
Pokoknya
Bong Thian-gak dapat menyaksikan semua bagian
rahasia tubuh Si-hun-mo-li secara jelas.
Dengan suatu gerakan cepat mendadak
Bong Thian-gak mengegos
ke samping, lalu melompat ke sisi tubuh Pat-hubuncu, dengan
suatu gerakan cepat ia menyambar pinggangnya dan siap melarikan
diri.
Tapi bayangan orang kembali
berkelebat, tahu-tahu Si-hun-mo-li sudah mengejar ke muka.
Terpaksa
Bong Thian-gak harus bergeser ke samping kiri dan
kabur kembali.
Tapi untuk kesekian kalinya
Si-hun-mo-li kembali mendesak ke muka, kali ini
Bong Thian-gak sempat melihat
telapak tangan gadis itu sudah muncul di hadapannya, bahkan
segulung angin pukulan yang membuat sesak napas menekan ke arah
dadanya.
Bong
Thian-gak merasa sekujur badannya menjadi dingin, dada kanannya
termakan pukulan itu secara telak, saking sakitnya hampir saja
tubuh Pat-hubuncu yang berada dalam bopongannya terjatuh ke
tanah.
Walaupun
Bong Thian-gak sudah termakan oleh pukulan
Si-hun-mo-li, namun dia tak sampai roboh, malahan dengan
memanfaatkan tenaga pantulan itu dia melejit jauh dan melarikan
diri dari sana.
Di tengah kegelapan malam, terdengar
suara Ji-kaucu berseru dengan suara bangga, "Wahai
Jian-ciat-suseng, kau tak bakal hidup melampaui satu jam lagi,
sekarang kau telah termakan sebuah pukulan maut Si-hun-mo-li."
Benar, memang tiada seorang pun di
dunia yang mampu menahan serangan maut Si-hun-mo-li, bahkan
Ku-lo Hwesio yang termasyhur pun akhirnya tewas setelah terkena
pukulan itu tiga tahun berselang.
Sebab pukulan yang melukainya adalah
Soh-li-jian-yang-sin-kang yang tiada duanya di dunia ini.
Di tengah keheningan yang mencekam,
terdengar seorang dengan nada lirih dan lemah berkata,
"Siangkong, kau sudah terkena pukulan."
Di bawah sebatang pohon di sisi
hutan, duduk bersandar seorang gadis berkerudung berbaju merah.
Di hadapannya berjongkok seorang
pemuda berlengan tunggal.
"Benar,"
Bong Thian-gak manggut-manggut, "aku memang sudah
terkena pukulannya."
Dua baris air mata bercucuran
membasahi wajah Pat-hubuncu yang tertutup kain kerudung, katanya
sesenggukan, "Siangkong, gara-gara aku, kau harus mengorbankan
nyawamu."
"Aku tak bakal mati!"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Aku tahu, di dunia ini belum ada
seorang pun yang mampu bertahan atas pukulan
Soh-li-jian-yang-sin-kang Buncu."
Sekali lagi
Bong Thian-gak mengangguk.
"Benar, Soh-li-jian-yang-sin-kang
memang ilmu pukulan hebat."
"Oh, Siangkong," Pat-hubuncu
menangis tersedu-sedu, "mengapa kau kabur tadi? Kau kan tahu,
kepandaian silat Buncu begitu lihai."
"Sudah kubilang, aku tak bakal
mati!" Bong Thian-gak
tersenyum. "Kau membohongi aku."
"Soh-li-jian-yang-sin-kang memang
sangat lihai," Bong
Thian-gak kembali berkata dengan wajah bersungguh-sungguh,
"setiap orang yang terkena pukulannya akan merasa kesakitan pada
sekujur badannya, dia akan menggigil kedinginan, wajah memucat
dan seluruh kulit badan berkerut kencang, tapi kenyataan aku
tetap sehat walafiat sekarang, mengapa kau belum mau percaya?"
Pat-hubuncu segera membuka mata
lebar-lebar dan mengamati paras muka
Bong Thian-gak dengan seksama, lalu katanya dengan
wajah tidak mengerti, "Dengan jelas kulihat dada kananmu
terhajar oleh serangannya, mengapa kau
...."
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Sesungguhnya aku telah
berhasil melatih ilmu Tat-mo-khi-kang yang sangat dahsyat, daya
serangan Soh-li-jian-yang-sin-kang tak akan mampu melukai isi
perutku, itulah sebabnya aku sama sekali tidak terluka tadi."
"Benarkah itu?" Pat-hubuncu
kegirangan.
"Aku tidak bermaksud membohongimu,
sekarang kau tak perlu kuatir, yang perlu dirisaukan sebenarnya
adalah nyawamu sendiri." Pat-hubuncu tertawa rawan.
"Tiada berharga untuk merisaukan
nyawaku, karena nyawaku memang tiada harganya."
"Nyawa setiap manusia adalah sama,
tidak dibedakan mana yang berharga dan yang tidak. Lepaskan kain
kerudungmu, akan kulihat apakah kau keracunan atau tidak."
Pelan-pelan Pat-hubuncu melepas kain
kerudungnya, kemudian menjawab, "Perut bagian bawahku terkena
pukulan."
Dengan menggunakan sepasang matanya
yang mampu melihat dalam kegelapan, ujarnya sambil tertawa,
"Wajahmu amat cantik, beruntung sekali kau pun tidak terkena
serangan racun Ji-kaucu."
"Ah, Siangkong pandai menggoda
orang."
"Ayo kemarilah, kubantu dirimu
mengobati luka yang kau derita."
Sambil berkata pemuda itu lantas
menempelkan telapak tangan kirinya ke atas perut bagian bawah
nona itu, segulung hawa panas segera memancar keluar dari
telapak tangannya dan menyusup serta menyebar ke dalam tubuh
Pat-hubuncu.
Tindakan yang diambil anak muda itu
kontan saja membuat berdebar jantung Pat-hubuncu, merah padam
wajahnya lantaran jengah.
Selama hidup belum pernah dia
berdempetan dengan lelaki mana pun, apalagi
telapak
tangan
Bong Thian-gak menempel di atas perut bagian
bawahnya yang merupakan daerah rawan dan menimbulkan napsu
birahi.
Dengus napas Pat-hubuncu segera
bertambah cepat, dia pejamkan matanya dan hampir lupa dengan
rasa sakit yang dideritanya, suatu perasaan yang tak terlukiskan
dengan kata-kata segera menyelimuti perasaannya.
Secara diam-diam ia menyambut
kenikmatan itu tanpa berkata-kata, sayang sekali keadaan
itu
tidak berlangsung lama karena
Bong Thian-gak menarik kembali
tangannya sambil berbisik, "Nah, sudah selesai, keadaan lukamu
sekarang sudah tidak membahayakan lagi, kau boleh pulang."
Merah padam wajah Pat-hubuncu,
untung saja pada waktu itu malam sangat gelap sehingga
keadaannya tidak kentara.
Diam-diam ia menarik napas panjang,
"Betul juga, hawa sudah dapat berjalan lancar tanpa hambatan."
Hal itu membuatnya sangat kagum.
"Budi pertolongan Siangkong takkan
kulupakan untuk selamanya, aku ...."
"Kau tak perlu memikirkan hal itu
dalam hati," tukas Bong
Thian-gak sambil menggeleng kepala, "korban yang jatuh pada
malam ini cukup besar, hal itu membuat hatiku amat tak enak
... oya betul! Aku belum
bertanya siapa nama nona dan jabatanmu dalam perguruan
Hiat-kiam-bun."
"Aku adalah Pat-hubuncu, sejak kecil
sudah mendampingi Cong-hubuncu, dia memanggil aku Siau
Gwat-ciu!"
"Selama ini Cong-hubuncu kalian
selalu mengosongkan jabatan ketua, kesetian kalian benar-benar
mengagumkan."
"Siangkong," tiba-tiba Pat-hubuncu
bertanya. "Darimana kau tahu tentang asal-usul perguruan Hiat-
kiam-bun kami dengan begitu jelas?"
Bong
Thian-gak tersenyum.
"Gwat-ciu, kau cepat pulang saja,
kita pasti akan bersua kembali di masa mendatang, maaf kalau aku
harus mohon pamit terlebih dahulu ."
Seusai perkataannya, dia lantas
pergi dari situ.
Tentu saja dia lantas pulang ke kuil
Hong-kong-si.
Setelah menempuh perjalanan semalam
suntuk, ditambah pula menderita pukulan
Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Si-hun-mo-li secara telak,
kendati tidak mengakibatkan Bong
Thian-gak terluka, dia belum lega rasanya sebelum
bersemedi barang setengah jam.
Oleh karena itu begitu usai
bersemedi dia tertidur nyenyak saking lelahnya.
Ketika ia mendusin beberapa waktu
kemudian, suara ketukan pintu bergema dari luar ruangan.
"Siapa?" tegurnya kemudian.
"Aku, Hong-hong," suara merdu
terdengar dari luar. "Ada urusan apa?"
"Lapor Hwecu," kata Yu Hong-hong
dengan merdu, "di luar ada orang mohon berjumpa dengan Hwecu."
Bong
Thian-gak terkejut mendengar ucapan itu, tanyanya dengan kening
berkerut, "Siapakah dia?"
"Orang itu sudah berada di ruang
tamu, dia telah menunggu dua jam lamanya."
Dengan cepat
Bong Thian-gak membereskan
pakaiannya, lalu membuka pintu, Yu Hong-hong sudah berdiri di
luar pintu dengan senyuman aneh menghias bibirnya.
Begitu
Bong Thian-gak muncul, dia berbisik, "Hwecu,
jodohmu memang sangat baik."
"He,
Hong-hong! Apa maksudmu?" tanya Bong
Thian-gak.
Yu Hong-hong tertawa cekikikan. "Ada
seorang gadis yang datang berkunjung, katanya dia tak akan
beranjak dari situ sebelum bertemu dengan Hwecu, bayangkan
sendiri, bukankah jodoh Hwecu memang amat baik?"
"Seorang gadis? Siapakah dia?" pikir
Bong Thian-gak. "Mengapa
dia bisa tahu aku berdiam di sini?"
Berpikir demikian, dengan dahi
berkerut kencang Bong
Thian-gak bertanya lagi, "Dia berasal dari golongan mana?"
"Aku tidak kenal, dia pun tidak mau
menerangkan asal-usul perguruannya, tapi wajahnya cantik,
potongannya tinggi semampai, pinggangnya langsing lagi."
Mengikut di belakang Yu Hong-hong,
Bong Thian-gak menuju ke
ruang tamu, dari kejauhan dia sudah melihat seorang gadis tinggi
semampai berambut panjang sedang berdiri di depan jendela,
ketika mendengar suatu langkah mendekat, ia segera berpaling.
Bong
Thian-gak baru benar-benar tertegun sesudah melihat jelas paras
muka gadis itu, sebab wajah itu sangat asing baginya dan belum
pernah berjumpa sebelumnya.
Gadis cantik itu segera menjura
dalam-dalam begitu bertemu pemuda itu, lalu dengan senyum di
kulum katanya, "Bong-hwecu, rupanya kedatanganku mengganggu?"
"Ah, mana
... mana ...."
sahut Bong
Thian-gak tersenyum, "silakan duduk, silakan duduk!"
Sementara mulutnya menjawab, dalam
hati kembali dia berpikir, "Heran, siapa orang ini?"
Sesudah menempati kursinya, gadis
cantik itu baru menundukkan kepala dan berkata agak
tersipu-sipu, "Adapun kedatanganku pada hari ini adalah ingin
menyampaikan rasa terima kasihku atas pertolongan yang telah
Hwecu berikan semalam."
"Oh, rupanya kau adalah Pat-hubuncu
Hiat-kiam-bun," Bong
Thian-gak berseru tertahan sesudah mendengar perkataan itu.
Memang benar gadis ini tak lain
adalah Pat-hubuncu yang tol.ih diselamatkan
Bong Thian-gak tadi malam.
Sesudah berhenti sejenak, sambil
tertawa Bong Thian-gak
berkahi, "Pat-hubuncu, darimana kau bisa tahu bahwa aku berdiam
di sini?"
"Harap Hwecu sudi memaafkan,
sesungguhnya telah kukuntit Hwecu secara diam-diam semalam?"
sahut Pat-hubuncu agak tersipu.
Bong
Thian-gak tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, Pat-hu-buncu
memang betul-betul cerdas, aku orang
she Bong sungguh merasa amat kagum."
Kemudian sambil menunjuk ke arah Yu
Hong-hong yang berdiri di sampingnya, ia memperkenalkan, "Dia
adalah Hiangcu perkumpulan kami, Hwe-im-eng Yu Hong-hong!"
Buru-buru Yu
Hong-hong memberi hormat kepada
Pat-hubuncu sambil menyapa, "Pat-hubuncu, baik-baikkah kau?"
Setelah berhenti sejenak, tanyanya
lagi sambil tersenyum, "Pat-hubuncu, kunjunganmu sepagi ini
tentu bukan khusus menyampaikan rasa terima kasihmu kepada Hwecu
kami atas pertolongannya bukan?"
"Ucapan Yu-hiangcu memang benar,"
Pat-hubuncu manggut-manggut, "kedatanganku ini, di samping
hendak menyampaikan rasa terima kasihku atas pertolongan Hwecu,
juga kami mendapat perintah untuk mengundang Hwecu agar bersedia
mengunjungi perkumpulan kami guna suatu perbincangan."
"Pat-hubuncu, bila kau ada
persoalan, katakan saja terus terang," ucap Yu Hong-hong dingin.
Pat-hubuncu segera menunjukkan sikap
serba susah, katanya kemudian, "Aku hanya mendapat perintah
untuk mengundang Bong-hwecu saja."
"Apakah Ji-hubuncu partai kalian
yang menyuruh kau datang kemari?" tukas
Bong Thian-gak. Pat-hubuncu
menggeleng. "Bukan Ji-hubuncu, tapi Cong-hubuncu."
"Oh, jadi Cong-hubuncu pun sudah
tiba di Hopak?" Bong
Thian-gak keheranan.
"Benar," Pat-hubuncu
manggut-manggut, "dia orang tua memang telah tiba di Hopak."
"Ada urusan apa Cong-hubuncu
mencariku?"
"Entahlah, soal ini aku sendiri pun
tak tahu."
"Sekarang dia ada dimana?"
"Aku akan mengajak Bong-hwecu
menghadapnya."
"Baiklah,"
Bong Thian-gak mengangguk,
"harap Pat-hubuncu suka menjadi petunjuk jalan."
Tiba-tiba Yu Hong-hong menimbrung,
"Pat-hubuncu, aku rasa sebaiknya Cong-hubuncu kalian yang datang
ke Hong-kong-si!"
"Sesungguhnya Cong-hubuncu kami
mempunyai kesulitan yang tak bisa diungkapkan, mustahil baginya
menempuh perjalanan jauh," kata Pat-hubuncu serba susah.
Kontan saja Yu Hong-hong tertawa
dingin, "Jadi kau anggap Hwecu kami bisa menempuh perjalanan
jauh semaunya?"
"Hong-hong," tiba-tiba
Bong Thian-gak menyela, "kau tak
usah kuatir, aku akan menjumpai Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun itu."
Yu Hong-hong mengangkat kepala dan
memandang sekejap ke arah Bong
Thian-gak, lalu katanya, "Bong-hwecu, pihak Hiat-kiam-bun
pernah mempergunakan siasat yang amat licik hendak mencelakai
Hwecu, menurut pendapatku bisa jadi mereka berniat jelek
terhadapmu, apalagi mereka hanya mengundang Hwecu seorang."
"Hong-hong, kau tak usah kuatir,"
kata Bong Thian-gak
sambil menggeleng kepala berulang kali, "kau pun boleh ikut
bersamaku."
Pat-hubuncu berkerut kening
mendengar perkataan itu, cepat dia menyela, "Bong-siangkong,
Ji-hubuncu telah berpesan, mereka hanya mengharapkan kehadiran
Bong-siangkong seorang diri."
"Nah, sekarang ketahuan sudah
belangnya, bukankah kalian memang berniat jahat terhadap Hwecu
kami?" dengus Yu Hong-hong dingin.
Agaknya Pat-hubuncu mengerti bahwa
hal itu tak mungkin bisa dipaksakan lagi, maka akhirnya ia
menghela napas panjang, "Ai, kalau begitu baiklah, silakan nona
ikut bersama kami."
Sebagaimana diketahui,
Bong Thian-gak sudah mengetahui
jelas asal-usul perguruan Hiat-kiam-bun, dia pun tahu kedatangan
Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun untuk menjumpainya tanpa disertai
niat jahat.
Dalam pada itu Pat-hubuncu telah
bangkit dan berkata lagi, "Siangkong, bila kau tak ada urusan
lagi, mari kita segera berangkat!"
"Silakan Pat-hubuncu!"
Bong Thian-gak manggut-manggut.
Dengan langkah perlahan Pat-hubuncu
Siau Gwat-ciu bersama Bong
Thian-gak dan Yu Hong-hong meninggalkan kuil Hong-kong-si,
sepanjang jalan mereka bergerak tanpa berbicara, arah yang
dituju mula-mula adalah kota terlarang, tapi di tengah jalan
tiba-tiba Siau Gwat-ciu berbelok ke arah tenggara.
"Hei, bukankah kita akan pergi ke
kota terlarang?" Yu Hong-hong segera menegur.
Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu tersenyum.
"Jejak Cong-hubuncu perguruan kami
tak menentu, setibanya di wilayah Hopak, masa dia akan berdiam
dalam rumah penginapan yang
begitu gaduh dan bising?"
"Lantas dia berdiam dimana?" tanya
Yu Hong-hong dengan kening berkerut.
"Sebentar kau bakal mengetahui."
Yu Hong-hong memang sama sekali
tidak mengetahui asal-usul Hiat-kiam-bun, hal itu semakin
menimbulkan kecurigaan dalam hatinya, segera ia berbisik kepada
Bong Thian-gak, "Hwecu,
apakah kita harus mengikutinya?"
"Hong-hong, bukankah kita sudah
sampai di sini?" sahut Bong
Thian-gak sambil tersenyum, "kalau tidak mengikutinya,
kita harus ikut siapa?"
"Tapi...
Hwecu, aku sangat kuatir."
"Hong-hong, baiklah kuberitahukan
satu hal kepadamu," tukas Bong
Thian-gak, "ketahuilah, Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun
sekarang bisa jadi adalah sahabat karibku di masa lampau, oleh
sebab itulah aku perlu menjumpainya."
"Seandainya Cong-hubuncu
Hiat-kiam-bun bukan sahabat seperti yang kau duga lantas
bagaimana?" tanya Yu Hong-hong.
Tiba-tiba Pat-hubuncii Siau Gwat-ciu
berpaling dan ikut berbicara, "Perkataan
Bong Thian-gak rasanya sudah
menghilangkan kecurigaan yang semula mencekam Siauli, betul
tampaknya Cong-hubuncu kami memang kenal denganmu."
Kembali
Bong Thian-gak tersenyum.
"Aku hanya berbicara menurut
dugaanku saja, bisa juga Cong-hubuncu kalian bukan orang yang
kuduga."
Paras muka Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu
segera berubah sesudah mendengar itu, mendadak ia menghentikan
langkah seraya berpaling dan berkata, "Siangkong telah menanam
budi pertolongan kepadaku, tak nanti Siauli membiarkan Siangkong
mendapat ancaman bahaya sekecil apa pun."
"Apa maksud Pat-hubuncu?"
"Andaikata Siangkong adalah sahabat
karib Cong-hubuncu kami, maka perjalanan ini jelas tak ada
bahaya apa pun, tapi seandainya Cong-hubuncu kami bukan orang
yang Siangkong duga, maka bisa jadi Siangkong bakal dicelakai
olehnya."
"Mengapa hal ini tidak kau jelaskan
sedari tadi?" bentak Yu Hong-hong dengan wajah berubah.
Siau Gwat-ciu menghela napas sedih,
"Ai, aku telah mengkhianati Hiat-kiam-bun
... sekali pun kuungkap rahasia
itu pada saat ini, rasanya itu pun belum kelewat terlambat, coba
Siangkong pikir kembali dengan seksama, apakah kita perlu
meneruskan perjalanan ini?"
"Pat-hubuncu tak perlu kuatir,"
Bong Thian-gak tersenyum
manis, "sebelum kuambil keputusan untuk datang kemari, segala
sesuatunya telah kupertimbangkan masak-masak, andaikata
Cong-hubuncu kalian bukan orang yang kuduga, bisa jadi dia akan
berusaha membunuhku sepenuh tenaga serta berusaha melenyapkan
seorang musuh tangguh dari muka bumi ini."
"Lantas Siangkong tetap bertekad
akan berangkat ke sana juga?" tanya Siau Gwat-ciu tertegun.
"Tentu aku harus ke sana,"
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Bong-hwecu, kita hanya berdua,"
ujar Yu Hong-hong, "apakah kita harus menelan kerugian? Menurut
pendapatku, lebih baik kita ...."
"Hong-hong," tukas
Bong Thian-gak lantang, "bila
Tiong-yang-hwe kita ingin muncul di Bu-lim, kita wajib
menyingkirkan segenap partai atau pun aliran yang memusuhi kita,
cepat atau lambat Hiat-kiam-bun pasti akan bertemu
Tiong-yang-hwe, andaikata Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun memang
bukan orang yang kuduga, maka aku memutuskan untuk melenyapkan
organisasi ini terlebih dulu."
Paras muka Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu
segera berubah, serunya cepat, "Jago-jago dalam Hiat-kiam-bun
kami sangat banyak, terutama Cong-hubuncu kami, boleh dibilang
kepandaian silatnya lihai sekali. Kendati Siangkong tangguh dan
hebat, namun kekuatannya sangat sedikit."
Bong
Thian-gak tersenyum.
"Aku merasa berterima kasih sekali
atas maksud baik Pat-hubuncu yang telah memberi petunjuk dengan
bersungguh hati, Tiong-yang-hwe baru beberapa hari didirikan,
kami memang tidak memiliki banyak anggota, tapi setiap anggota
perkumpulan kami rata-rata memiliki daya tempur kuat dan tangguh
serta semangat juang yang sangat tinggi."
Mendengar perkataan itu, diam-diam
Siau Gwat-ciu mengagumi keberanian
Bong Thian-gak, meski demikian ia masih tetap
menaruh perasaan kuatir atas perjalanannya kali ini, kembali ia
berkata, "Siauli sudah pernah melihat sampai dimana taraf
kepandaian silat Siangkong, kau memang boleh disebut jagoan
kelas satu dalam Bu-lim, Cuma…”
Bong
Thian-gak tak membiarkan perempuan itu melanjutkan kata-katanya,
sesudah tertawa dia berkata, "Mari kita lanjutkan perjalanan."
Yu Hong-hong cukup mengetahui watak
Bong Thian-gak, setiap
persoalan yang telah ditetapkan atau diputuskan, bagaimana pun
juga tidak akan pernah diubah, oleh sebab itu dia pun tidak
berusaha untuk membujuk, meski di hati ia tetap merasa tidak
tenteram.
Sementara itu Siau Gwat-ciu telah
melanjutkan perjalanan tanpa bicara, mereka bertiga berjalan
lebih kurang setengah jam lamanya sebelum di depan sana muncul
sebuah hutan yang mengelilingi sebuah bayangan air beriak.
Yu Hong-hong mengangkat kepala dan
memperhatikan sekejap keadaan di depan sana, kemudian bisiknya,
"Di depan sana adalah telaga Kun-beng-oh!"
"Ya, Cong-hubuncu kami tinggal di
dalam sebuah kuil kecil di tepi telaga itu," Siau Gwat-ciu
menyambung.
Selama pembicaraan berlangsung,
mereka bertiga telah berjalan ke tengah hutan, di depan sana
tampak sebuah kuil kecil.
Suasana di tempat itu amat sepi,
hening, tak nampak sesosok bayangan pun, beberapa li di seputar
tepi telaga pun tak nampak rumah lain selain kuil itu, tempat
itu benar-benar sebuah tempat yang tenang, tersendiri dan
berpemandangan alam sangat indah.
Ketika mereka bertiga tiba di depan
pintu, tiba-tiba Siau Gwat-ciu berbisik kepada
Bong Thian-gak, "Harap Siangkong
menanti sebentar, biar Siauli masuk dulu untuk memberi laporan."
"Silakan!" sahutnya
Bong Thian-gak manggut-manggut.
Dengan langkah
ringan dan cepat, Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu segera masuk ke
dalam kuil.
Sepeninggal Siau Gwat-ciu,
Bong Thian-gak segera berpaling
dan ujarnya pada Yu Hong-hong, "Hong-hong, saat bertemu
Cong-hubuncu nanti, kuminta kau tetap tenang dan jangan membuat
keonaran secara gegabah."
"Aku akan turut perintah," gadis itu
manggut-manggut.
Meski sudah menyahut, tapi nada
suaranya tidak gembira.
Baru saja
Bong Thian-gak hendak menjelaskan, tampak Siau
Gwat-ciu telah muncul, nona itu berseru, "Siangkong, silakan
masuk!"
Bong
Thian-gak dan Yu Hong-hong bersama-sama masuk ke dalam halaman
kuil Nikoh yang berpintu empat.
Semua halaman dan ruangan nampak
bersih, tiada setitik debu atau pun daun kering yang berceceran
di sana, agaknya memang sering dibersihkan orang, hanya anehnya,
tak nampak sesosok bayangan pun yang berlalu-lalang di sana.
Pintu ruang pertama terbuka lebar,
waktu itu dari dalam ruangan tampak muncul tiga orang, yang
berada di tengah adalah seorang rahib setengah umur berwajah
kereng dan berwibawa, berkulit putih, bersih dan matanya saleh
penuh welas kasih, memancarkan cahaya tajam.
Di samping kanan rahib setengah umur
itu berdiri seorang Nikoh tua kurus kering dan berwajah amat
jelek.
Sedang di sebelah kirinya seorang
gadis berambut panjang yang berwajah terlebih jelek daripada
rahib tua itu.
Dengan sorot mata
Bong Thian-gak yang tajam, dalam
waktu singkat ia telah melihat jelas paras muka ketiga orang
itu, wajahnya tetap tenang dan sama sekali tiada luapan emosi,
sementara dalam hati ia berpikir, "Ah! Ternyata dia memang
Keng-tim Suthay Nyo Li-beng ...
sebaiknya tidak kukenali mereka dulu untuk sementara
waktu."
Dalam pada itu Cong-hubuncu
Hiat-kiam-bun sekalian bertiga, dengan sorot matanya yang tajam
sedang mengawasi pula wajah Bong
Thian-gak tanpa berkedip, akhirnya paras muka
Keng-tim Suthay Nyo Li-beng memperlihatkan perubahan serius
bercampur bingung.
Siau Gwat-ciu dan Yu Hong-hong yang
berada di samping dapat melihat pula gerak-gerik dan perubahan
wajah orang secara jelas. Perasaan Yu Hong-hong berat sekali,
sebab dia tahu Bong
Thian-gak bukanlah orang yang dicari Cong-hubuncu, berarti
Bong Thian-gak serta Yu
Hong-hong akan sulit lepas dari pembantaian.
Sementara semua orang masih
termenung, tiba-tiba Bong
Thian-gak tertawa ringan, suara tawanya segera menyadarkan
semua orang dari lamunan.
Sembari berkata, ia lantas menjura
ke arah Keng-tim Suthay Nyo Li-beng, "Aku
Bong Thian-gak merasa bangga
mendapat undangan Cong-hubuncu."
Seperti baru sadar dari lamunan,
Keng-tim Suthay manggut-manggut seraya tertawa, "Tak usah banyak
adat, silakan Siangkong masuk ke dalam untuk minum teh."
Bong
Thian-gak dan Yu Hong-hong jalan bersanding, masuk ke ruang
dalam, tempat itu merupakan ruang tamu yang luas, di bagian
tengah ada beberapa kursi, sementara empat orang gadis berbaju
merah berambut panjang siap melayani mereka di samping.
Dengan sorot mata tajam Yu Hong-hong
mengawasi sekejap setiap orang yang hadir di sini dengan
seksama, yang membuat hatinya agak lega adalah orang-orang itu
ternyata tak membawa senjata, penampilan mereka pun tidak
menunjukkan sesuatu gejala yang mencurigakan.
Dengan wajah serius Keng-tim Suthay
Nyo Li-beng menempati kursinya, sementara empat gadis berbaju
merah yang semula berdiri di samping menuangkan secawan air teh
bagi Bong Thian-gak
berdua.
Setelah suasana hening beberapa
saat, barulah Keng-tim Suthay berkata, "Belakangan ini saudara
telah menggetarkan dunia persilatan, nama besar Jian-ciat-suseng
ibarat guntur yang memekakkan telinga, beruntung Pinni bisa
bertemu denganmu hari ini."
Bong
Thian-gak tersenyum, "Kau kelewat sungkan, selama Suthay
memimpin Hiat-kiam-bun, justru kaulah ibarat naga sakti yang
nampak kepala tak kelihatan ekor, aku yang merasa sangat
beruntung karena hari ini bisa melihat raut wajah aslimu!"
Keng-tim Suthay tertawa, "Aku rasa
Pat-hubuncu perguruan kami tentu sudah menyampaikan maksud Pinni
mengundangmu bukan!"
"Pat-hubuncu hanya menyampaikan
undangan Suthay saja, soal lain sama sekali tidak disinggungnya,
karena itu aku mohon petunjuk darimu,"
Bong Thian-gak tersenyum.
Dalam pada itu Siau Gwat-ciu telah
berdiri di samping bersama keempat gadis berbaju merah lainnya,
ia berdiri dengan wajah serius dan dahi bekernyit.
"Ada satu hal ingin Pinni tanyakan,"
kata Keng-tim Suthay Nyo Li-beng, "dalam perjumpaan kita pertama
kali tadi bagaimana mungkin kau bisa mengetahui Pinni adalah
Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun." Bong
Thian-gak tersenyum.
"Seorang pemimpin selamanya
mempunyai kewibawaan sebagai pemimpin, hal itu tidak sulit untuk
diketahui."
Tiba-tiba Keng-tim Suthay menghela
napas panjang.
"Ai, sebenarnya maksud Pinni
mengundangmu tak lain adalah ingin melihat raut wajah aslimu."
"Hanya soal itu?"
"Pinni ingin tahu, apakah
Jian-ciat-suseng yang namanya telah menggetarkan seluruh kolong
langit ini memang seorang yang pernah kukenal dulu."
"Setelah bertemu, bagaimanakah
pendapat Suthay?" Bong
Thian-gak bertanya.
Keng-tim Suthay menggeleng kepala,
"Rasanya seperti pernah kenal tapi seperti juga tidak kenal."
"Siapa orang yang Suthay maksudkan?"
"Dia she Ko bernama
Hong."
Ketika mendengar nama itu, hati Yu
Hong-hong bergetar keras, hampir saja ia berseru tertahan.
Sepasang mata Keng-tim Suthay memang
benar-benar amat tajam, ia segera mengalihkan sorot matanya ke
wajah Yu Hong-hong, kemudian tanyanya, "Lisicu kenal dengannya?"
"Nama besar Ko Hong Tayhiap sudah
menggetarkan seluruh dunia persilatan pada tiga tahun berselang,
sayang aku hanya pernah mendengar namanya tapi belum pernah
bertemu orangnya," sahut Yu Hong-hong cepat.
"Lapor Suthay,"
Bong Thian-gak menyambung, "aku
kenal dengan manusia yang bernama Ko Hong itu."
Sekilas rasa gembira menghiasi wajah
Keng-tim Suthay, tanyanya dengan wajah berseri, "Sekarang dia
berada dimana? Bersediakah kau memberitahukan kepadaku?"
Bong
Thian-gak termenung sejenak, lalu jawabnya, "Bila Suthay ingin
kukatakan jejak Ko Hong, sebenarnya hal itu tidak sulit, tapi
pertama-tama ingin kuketahui dulu ada urusan apa Suthay
mencarinya?"
Keng-tim Suthay menghela napas
panjang.
"Ai, bukankah kau sudah tahu, hingga
sekarang perguruan kami masih belum mempunyai ketua?"
"Ya, aku memang mengetahui hal ini,"
pemuda mengangguk.
Sekali lagi Keng-tim Suthay menghela
napas, "Sebetulnya Hiat-kiam-bun mempunyai seorang ketua, tapi
nasib ketua kami ini belum diketahui, sebab itu jabatan itu
selalu kami kosongkan hingga sekarang."
"Bukankah ketua perguruan kalian
adalah Si-hun-mo-li?" tanya Bong
Thian-gak dengan suara dalam.
Keng-tim Suthay mengangguk, "Kemarin
malam kau sudah menyelamatkan jiwa Pat-hubuncu, maka kau pun
seharusnya tahu Si-hun-mo-li, ya, betul! Dia adalah ketua
Hiat-kiam-bun kami, cuma alasan di balik semua ini tak mungkin
bisa aku jelaskan kepadamu."
"Aku mengetahui jelas asal-usul
Si-hun-mo-li itu," pelan-pelan Bong
Thian-gak, berkata.
Keng-tim Suthay terkejut sekali.
"Kau mengetahui asal-usul
Si-hun-mo-li dengan jelas?"
"Ya, bukankah dia adalah Jit-kaucu
Put-gwa-cin-kau?"
Dengan nada tidak percaya Keng-tim
Suthay bertanya lagi, "Kalau begitu kau pun tahu dia adalah
ketua Hiat-kiam-bun?"
"Oleh karena dia adalah pendiri
Hiat-kiam-bun, maka kalian mengangkatnya sebagai ketua, bukankah
begitu?"
"Betul, Si-hun-mo-li adalah pendiri
Hiat-kiam-bun, darimana kau bisa tahu persoalan ini sedemikian
jelasnya?"
Bong
Thian-gak tersenyum.
"Semua ini aku tahu dari Ko Hong."
"Ehm, memang masuk akal, kalau
begitu kau memang benar-benar kenal Ko Hong Tayhiap."
Bong
Thian-gak tertawa.
"Suthay, kau belum menjelaskan
kepadaku ada urusan apa kau mencari Ko Hong?"
"Ai ...
Pinni mencari Ko Hong Tayhiap karena aku ingin
dialah yang memangku jabatan sebagai ketua Hiat-kiam-bun," ucap
Keng-tim Suthay setelah menghela napas panjang.
Bergetar perasaan
Bong Thian-gak mendengar itu,
ujarnya, "Ketua Hiat-kiam-bun adalah Si-hun-mo-li, mengapa
Suthay mencari Ko Hong untuk diangkat sebagai ketua?"
Untuk kesekian kali Keng-tim Suthay
menghela napas panjang, "Padahal ketua Hiat-kiam-bun yang
sebenarnya adalah Ko Hong, di saat Si-hun-mo-li mendirikan
Hiat-kiam-bun tempo hari, dia telah menunjuk Ko Hong sebagai
ketua Hiat-kiam-bun."
Bong
Thian-gak segera merasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya
mendidih, peristiwa yang terjadi pada tiga tahun berselang pun
satu demi satu melintas dalam benaknya.
Ketika ia berhasil menguasai kembali
perasaannya, dengan sedih ia berkata, "Sekarang aku ingin
menceritakan sebuah kisah kepadamu, ini terjadi pada tiga tahun
berselang di sebuah dusun petani di luar kota Kay-hong, dusun
petani itu merupakan kantor cabang Put-gwa-cin-kau untuk kota
Kay-hong. Pada saat itu segenap jago lihai Put-gwa-cin-kau telah
terhimpun, konon mereka hendak menyerang perkampungan Bu-lim
Bengcu, padahal bukan gedung Bu-lim Bengcu yang akan diserang,
yang menjadi sasaran utama mereka waktu itu adalah seorang
pengkhianat perkumpulan yakni Jit-kaucu Thay-kun
....
"Rupanya pentolan barisan pengawal
tanpa tanding nomor dua berhasil mendapat kabar bahwa Jit-kaucu
Thay-kun masih mempunyai hubungan dengan komandan pasukan
pengawal tanpa tanding nomor tiga Nyo Li-beng, bahkan secara
diam-diam sedang membentuk organisasi Hiat-kiam-bun yang cara
kerjanya menentang Put-gwa-cin-kau, itulah sebabnya Thay-kun
menjadi sasaran pembunuhan.
"Cong-kaucu segera mengutus Ji-kaucu
dan sekalian jago lihai untuk bersiap di dusun petani itu guna
menghabisi nyawa Thay-kun."
Sampai di sini,
Bong Thian-gak memandang sekejap
ke arah Keng-tim Suthay, setelah itu sambungnya, "Aku yakin
Suthay juga mengetahui peristiwa ini bukan? Sebab ketika itu
Suthay pernah memberi petunjuk kepada Ko Hong agar berangkat ke
dusun petani itu."
"Ya, cepat kau lanjutkan ceritamu!"
seru Keng-tim Suthay dengan perasaan sedih gembira bercampur
aduk.
Setelah menghembuskan napas panjang,
Bong Thian-gak berkata
lebih jauh, "Ko Hong serta Jit-kaucu Thay-kun tak bisa
menghindar dari pertarungan darah melawan kawanan iblis
Put-gwa-cin-kau ...
dengan dikerubut musuh yang berjumlah banyak, Thay-kun serta Ko
Hong terluka, terutama sesudah terkena racun Ji-kaucu, tapi
mereka masih tetap bertarung mati-matian untuk meloloskan diri
dari kepungan.
"Thay-kun dan Ko Hong dengan membawa
luka segera kabur ke Lok-yang dengan maksud mohon pengobatan
tabib sakti Gi Jian-cau, tapi Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau serta
komandan pasukan kedua pengawal tanpa tanding telah menunggu
kedatangan mereka di kaki bukit Cui-im-hong
... dalam pertarungan itu Ko
Hong kehilangan sebuah lengannya dan tertusuk dua puluh luka
pedang di badannya.
"Dalam keadaan terluka parah,
beruntung Ko Hong mendapat pertolongan dari seorang gadis lemah
sehingga mendapatkan kembali nyawanya, tiga tahun
... ya
... tiga tahun kemudian, Ko Hong
kembali muncul dalam Bu-lim, akan tetapi situasi dalam Bu-lim
telah berubah."
Bicara sampai distu, Keng-tim dan
sekalian anggota Hiat-kiam-bun menjatuhkan diri berlutut di atas
tanah, semua orang mendengarkan penuturan
Bong Thian-gak itu dengan air
mata bercucuran.
Ketika menyaksikan semua orang
berlutut, dengan terkejut Bong
Thian-gak segera menegur, "Suthay, mengapa kalian?"
Dengan kesedihan luar biasa Keng-tim
Suthay berkata, "Buncu, sudah amat lama kami mencarimu! Tiga
tahun belakangan ini, setiap saat kami selalu mencari jejakmu,
ternyata Thian melindungi Hiat-kiam-bun, akhirnya kami berhasil
menemukan kembali ketua kami."
"Ayo bangun, ayo bangun semua, kalau
ada urusan, mari kita rundingkan baik-baik," seru
Bong Thian-gak berulang kali.
Sambil berkata, pemuda itu segera
membangunkan Keng-tim Suthay sambil berkata, "Memang benar,
akulah Ko Hong, tapi Ko Hong bukan nama asliku, wajah yang
kalian jumpai sebagai Ko Hong dahulu pun bukan wajah asliku."
Ketika Keng-tim Suthay dan semua
orang sudah duduk kembali, si gadis jelek baru berseru merdu,
"Ketua, kau benar-benar telah menipu kami habis-habisan, kita
sudah berjumpa beberapa kali, namun tak pernah kusangka kau
adalah ketua Ko Hong yang sedang kami cari-cari siang dan malam,
ai! Aku merasa gembira sekali."
"Nona," kata
Bong Thian-gak sambil tertawa,
"andaikata kau tidak berkerudung hitam, asal-usul Hiat-kiam-bun
pasti sudah dapat kuduga sejak semula."
Si gadis jelek tertawa cekikikan.
"Justru karena Hiat-kiam-bun belum
menemukan ketuanya, maka kami malu berjumpa orang dengan wajah
asli, itulah sebabnya kami selalu menggunakan kain kerudung
hitam."
Bong
Thian-gak menghela napas,"
Ai, di bawah bimbingan ibumu, Hiat-kiam-bun sudah cukup
menggetarkan dunia persilatan, hasil yang diperoleh pun sudah
bagus sekali."
"Ketua, selanjutnya segala masalah
yang menyangkut Hiat-kiam-bun adalah menjadi wewenang ketua,
kami semua akan mengikuti perintah ketua," ucap Keng-tim Suthay
dengan sikap hormat.
Bong
Thian-gak termenung sambil berpikir sejenak, kemudian dia baru
berkata, "Ternyata Thay-kun menunjuk aku untuk menjabat ketua
Hiat-kiam-bun, kejadian ini benar-benar di luar dugaanku, bila
tugas dan beban yang amat berat ini harus kupikul sendiri,
sesungguhnya aku akan kepayahan, ai...
kekuatan yang ada di Bu-lim sekarang tercerai-berai
dan masing-masing menempuh jalan sendiri-sendiri, kita kaum
pemegang kebenaran apabila tak dapat bersatu-padu, memang sulit
rasanya untuk menghadapi kenyataan, baiklah! Kalau begitu akan
kuterima jabatan ini."
©
Jian-ciat-suseng
Bong Thian-gak ternyata ketua
Hiat-kiam-bun, kejadian itu benar-benar merupakan suatu kejadian
yang tak pernah disangka sebelumnya.
Tiba-tiba Keng-tim Suthay berkata,
"Cho-ji cepat ambil keluar Pek-hiat-kiam."
"Baik!" si gadis jelek mengiakan.
Dengan cepat ia masuk ke ruang
dalam, tak lama kemudian gadis itu telah muncul kembali sambil
membawa sebilah pedang, sarung pedangnya terbuat dari batu
pualam hijau, cukup dilihat dari sarungnya saja sudah dapat
diketahui benda itu adalah sebilah pedang yang tak ternilai
harganya.
Setibanya di depan Keng-tim Suthay,
dengan sikap yang sangat menghormat gadis itu menyerahkan pedang
tadi kepada ibunya.
Dengan memegang pedang tadi,
Keng-tim Suthay berkata kepada
Bong Thian-gak,
"Pek-hiat-kiam ini merupakan tanda kepercayaan ketua
Hiat-kiam-bun, harap ketua sudi menerima pedang ini."
Ketika Bong
Thian-gak menerima Pek-hiat-kiam itu, sekali lagi
Keng-tim Suthay sekalian menjatuhkan diri berlutut seraya berkata,
"Ketua, Tecu sekalian siap menerima perintah."
Bong Thian-gak
tidak mengira semua orang bakal berlutut di hadapannya, buru-buru
dia berkata, "Ayo cepat, semua bangun, harap kalian tak usah banyak
adat."
Sesudah mendengar perkataan itu,
Keng-tim Suthay sekalian baru bangkit.
Dengan suara dalam
Bong Thian-gak berkata lagi, "Hari
ini, aku baru pertama kali memangku jabatan yang amat berat ini,
oleh sebab aku kurang jelas terhadap semua orang dan persoalan yang
ada di sini, maka aku perintahkan Keng-tim Suthay agar tetap
memimpin dan memberi petunjuk kepada segenap anggota partai."
"Terima perintah," Keng-tim Suthay
berkata dengan hormat.
"Tentang jabatan dan sebutan segenap
anggota untuk sementara waktu masih tetap berlaku seperti keadaan
semula," Bong Thian-gak
menambahkan.
Tiba-tiba Yu Hong-hong bertanya, "Lapor
Bong-hwecu, bagaimana selanjutnya dengan nasib saudara-saudara kita
dalam Tiong-yang-hwe?"
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Jumlah anggota Tiong-yang-hwe kita baru
enam orang, kecuali aku dan Long
Jit-seng, hanya Hui-eng-su-kiam kalian berempat saja, karena
itu bila kalian berempat tidak merasa keberatan, mari kuajak kalian
untuk masuk menjadi anggota Hiat-kiam-bun saja."
Dengan sorot mata mengandung nada cinta,
Yu Hong-hong menyambut lirih, "Hui-eng-su-kiam sudah bertekad akan
mengikuti Bong-hwecu, biar badan hancur, biar harus naik ke bukit
golok atau terjun ke kuali minyak mendidih, kami tak akan menampik."
"Adikku dari keluarga Yu," tiba-tiba si
nona jelek tertawa cekikikan, "sejak hari ini, kau mesti menyebut
ketua kita sebagai Bong-buncu."
"Ah, betul, Bong-buncu!" Yu Hong-hong
tertawa.
Bong Thian-gak
bertanya kepada Keng-tim Suthay, "Tolong tanya
Suthay, bagaimana dengan keadaan
perguruan kita? Dapatkah Suthay menerangkan secara ringkas?"
Keng-tim Suthay segera mengeluarkan
sejilid kitab kecil dari dalam sakunya, kemudian berkata, "Kitab
kecil ini mencantumkan semua nama jabatan dan kedudukan anggota
kita, silakan Buncu memeriksanya."
Setelah Bong
Thian-gak menerima daftar anggota Hiat-kiam-bun itu,
Keng-tim Suthay berkata lebih jauh, "Secara garis besarnya, susunan
perguruan kita terbagi dalam sembilan wakil ketua setelah ketua
sendiri, di bawah setiap wakil ketua adalah anggota perguruan, semua
anggota berjumlah seratus delapan orang, tapi dengan kematian tiga
puluh orang akhir-akhir ini, mungkin jumlah kita tinggal tiga puluh
orang."
Bong Thian-gak
menghela napas sedih.
"Ai, kemarin malam saja kita sudah
kehilangan belasan orang anggota, semoga saja selanjutnya tiada
anggota Hiat-kiam-bun yang menjadi korban lagi."
Belum habis perkataan itu, tiba-tiba
terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang
setengah li di luar gedung.
Dengan wajah berubah Keng-tim Suthay
berseru, "Di luar sana telah terjadi peristiwa, Khi Cho (si nona
jelek) cepat kau periksa!"
"Jeritan ngeri tadi suaranya tinggi
melengking dan amat menusuk pendengaran," kata
Bong Thian-gak dengan suara dalam,
"jelas jeritan orang menjelang kematian."
Belum habis ia berkata, dari kejauhan
sana kembali berkumandang dua kali jeritan ngeri yang memilukan
hati, dari suaranya, jeritan-jeritan itu berasal dari kaum wanita.
"Biar Pinni pergi melihat keadaan!"
buru-buru Keng-tim Suthay berseru.
Sebelum ia bergerak, sesosok bayangan
orang telah berkelebat masuk dari luar, tahu-tahu Khi Cho sudah
melayang masuk sambil berseru dengan gelisah, "Orang-orang Kay-pang
telah menyerbu sampai di luar hutan Ang-hong-lim."
"Berapa orang yang datang?" tanya
Keng-tim Suthay.
"Hanya empat orang, tapi salah seorang
di antaranya berilmu silat sangat hebat, ketika memasuki hutan
Ang-hong-lim, dalam waktu singkat dia telah membabat habis tujuh
orang penjaga kita yang ditempatkan di atas pohon."
Dengan wajah berubah
Bong Thian-gak berseru, "Cepat
turunkan perintah, lepaskan musuh masuk kemari."
"Anggota perguruan kita sama sekali tak
bermaksud menghalangi jalan mereka," kata Khi Cho gelisah, "tapi
musuh berhati kejam dan buas, satu per satu dia telah menghabisi
anggota kita yang bersembunyi di pohon."
Mendengar perkataan ini, secepat
sambaran petir Bong Thian-gak
meluncur keluar dari ruang kuil.
Keng-tim Suthay segera menyusul di
belakangnya.
Gerakan Bong
Thian-gak sangat cepat, badan bergerak seakan-akan
melayang di atas dahan pohon, dalam waktu singkat pemuda itu sudah
mencapai puluhan tombak jauhnya.
Pada saat itulah kembali terdengar
jeritan ngeri yang memilukan bergema dari depan sana.
Bong Thian-gak
kembali berjumpalitan dan meluncur ke depan, kebetulan sekali tampak
segulung bayangan orang menggelinding lewat dari tepi pohon, lalu
...."Biak", terkapar di depannya.
Ternyata bayangan itu adalah perempuan
berkerudung merah.
Gadis itu terkapar lemas di atas tanah,
sebilah pisau kecil yang amat tipis menancap di tenggorokannya,
darah masih meleleh, tapi jiwanya sudah melayang.
Sepasang mata
Bong Thian-gak segera berubah menjadi merah berapi-api
karena gusar, pelan-pelan dia bergerak ke depan sambil melakukan
pencarian.
Akhirnya sorot mata itu berhenti di
depan sana, terhenti pada sepasang kaki yang berdiri kaku di atas
tanah.
Pelan-pelan pula sorot mata
Bong Thian-gak beralih dari sepasang
kaki itu bergerak naik ke atas.
Di depan sana berdiri seorang berbaju
hitam yang kurus kering.
Dia berjubah panjang warna hitam, lengan
baju kanannya berkibar terhembus angin, rupanya seorang berlengan
tunggal.
Paras muka orang berlengan tunggal itu
dingin kaku, sama sekali tidak menunjukkan hawa kehidupan, namun
sepasang matanya yang bulat besar justru memancarkan sinar tajam
yang menggidikkan.
Sementara itu Keng-tim Suthay sudah
memburu ke tempat itu.
Pada saat bersamaan dari balik pohon di
belakang orang baju hitam berlengan tunggal itu muncul lagi tiga
orang lelaki berpakaian pengemis berwarna hitam, mereka bertiga
berdiri berjajar di belakang orang berlengan tunggal itu.
Dengan seksama
Bong Thian-gak mengawasi paras muka
orang berlengan tunggal itu, katanya dalam hati, "Ah, dia!
To-pit-coat-to Liu Khi!"
Pada saat itulah orang berbaju hitam
berlengan tunggal itu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, "Cepat amat
gerakan tubuh saudara, hehehe, mungkin kau adalah Jian-ciat-suseng!"
Bong Thian-gak
tertawa dingin, "Kalau begitu, kau pastilah To-pit-coat-to Liu Khi!"
Tatkala Liu Khi mendengar
Bong Thian-gak menyebut namanya, dia
kelihatan agak tertegun, tapi kemudian sahutnya sambil tertawa,
"Lihai, sungguh amat lihai, tidak heran Han Siau-liong memujimu
setinggi langit."
Dalam pada itu Khi Cho dan Yu Hong-hong
serta Siau Gwat-ciu sekalian telah tiba di sana.
Sejak Keng-tim Suthay tahu musuh adalah
jago lihai nomor dua Kay-pang, si golok sakti berlengan tunggal Liu
Khi, dengan cepat dia perintahkan kepada Khi Cho sekalian agar
mundur.
Sementara itu
Bong Thian-gak telah berkata dingin, "Menurut cerita
orang persilatan, Liu Khi adalah manusia berhati kejam dan gemar
membunuh, setiap golok terbangnya dilepas, tentu akan mematikan
lawan, ternyata nama besarmu memang bukan nama kosong."
Liu Khi tertawa seram, "Mana, mana!
Semuanya ini hanya berkat kasih sayang sobat-sobat persilatan saja."
Bong Thian-gak
tertawa dingin.
"Sebenarnya aku berusaha menghindari
bentrok secara langsung dengan pihak Kay-pang, tapi anggota Kay-pang
kelewat sombong dan jumawa, oleh sebab itu terpaksa aku menanggapi
secara wajar."
Liu Khi mendengus dingin, "Hm, Liu Khi
sudah membunuh beribu-ribu orang, selama ini tak pernah kukerutkan
dahi, tapi untuk membunuhmu hari ini, aku merasa sedikit rada
sayang."
Bong Thian-gak
kembali tertawa dingin, "Walaupun engkau selalu menjadi panglima
yang menang perang, tapi aku percaya hari ini kau akan menghadapi
suatu cobaan yang sangat berat."
"Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau juga pernah
berkata seperti apa yang kau katakan sekarang," kata Liu Khi.
"Tapi kau tak mampu membunuh Ji-kaucu,"
jengek Bong Thian-gak.
"Dia adalah satu-satunya orang yang bisa
lolos dari ujung golokku dalam keadaan selamat."
"Tapi hari ini akan ada orang kedua."
PENDEKAR CACAT
Karya : Gu Long
Saduran : Can ID
Bagian 12 : Rahasia
harta karun Mo-lay-cing-ong
Liu Khi menarik muka, kemudian berkata,
"Kedatanganku hari ini sedang mengemban tugas lain, pertarungan di
antara kita lebih baik ditunda sampai hari mendatang."
"Aku ingin tahu, apa tujuanmu datang ke
Kun-beng-oh?" kata Bong
Thian-gak.
"Aku datang untuk mencari ketua
Hiat-kiam-bun."
"Ada urusan apa kau mencarinya?"
"Akan kutanya dimanakah
Long Jit-seng saat ini."
"Kau tahu siapakah ketua Hiat-kiam-bun?"
Liu Khi mengalihkan sorot matanya yang
tajam dan menggidikkan ke wajah Keng-tim Suthay yang berdiri di
sebelah kanan, kemudian ujarnya, "Sepanjang hidupku, aku Liu Khi
paling membanggakan daya penciuman, daya penglihatan, serta daya
pendengaran yang kumiliki, dia adalah ketua Hiat-kiam-bun."
Bong Thian-gak
tertawa seram, "Hanya bermaksud mencari tahu persoalan orang lain
saja kau telah pamer kekuatan dengan membunuh anggota Hiat-kiam-bun,
cara keji dan busuk ini sungguh membuat orang gusar."
"Sejak tiga tahun lalu, pihak
Hiat-kiam-bun sering turun tangan keji terhadap anggota perkumpulan
kami," ujar Liu Khi dengan suara hambar, "kekejaman dan kebuasan
mereka rasanya jauh lebih busuk dari perbuatan yang dilakukan kami."
Ucapan Liu Khi itu kontan membuat paras
muka Keng-tim Suthay serta Khi Cho yang berada di sisinya berubah
hebat.
Tiba-tiba Bong
Thian-gak teingat akan peristiwa yang berlangsung tiga
tahun berselang, saat itu Khi Cho telah membunuh anggota Kay-pang
secara keji.
Waktu itu pihak Kay-pang telah mengirim
orang melakukan penyelidikan, atas hasil kerja tiga orang Huhoat
Kay-pang, mereka beranggapan Khi Cho merupakan orang yang paling
mencurigakan, sebab itu mereka menyusul sampai ke kuil Keng-tim-an.
Pada saat Khi Cho melakukan pembantaian
atas jago-jago Kay-pang guna melenyapkan jejak mereka, alhasil
ketiga orang pelindung hukum Kay-pang itu turut terbunuh.
Atas persoalan ini,
Bong Thian-gak boleh dibilang
mengetahui dengan amat jelas, oleh sebab itu hatinya menjadi
terperanjat mendengar Liu Khi menyinggung kembali masalah itu, ia
tidak tahu dengan cara apakah pihak Kay-pang berhasil menyelidiki
masalah itu sedemikian jelasnya.
Dalam pada itu Liu Khi telah mengalihkan
sorot matanya yang tajam ke wajah Bong
Thian-gak, Keng-tim Suthay dan Khi Cho secara
bergantian, lalu katanya, "Kay-pang bisa membedakan antara budi dan
dendam secara jelas, belum pernah kami melepas orang yang punya
dendam dengan kami, permusuhan antara Hiat-kiam-bun dan Kay-pang
pada hakikatnya makin lama semakin mendalam."
Bong Thian-gak
tertawa dingin, katanya, "Bila Hiat-kiam-bun ingin merebut nama dan
kedudukan dalam Bu-lim, maka cepat atau lambat pasti akan bermusuhan
juga dengan pihak Kay-pang."
"Kalau memang begitu, mengapa kau
menuduh aku membunuh sembilan orang anggota Hiat-kiam-bun?" tanya
Liu Khi sambil tertawa seram.
"Liu Khi,"
Bong Thian-gak segera menukas, "percuma kita banyak
bicara, bersiap-siaplah kau menyambut jurus pedangku!"
Sementara itu
Bong Thian-gak dengan Pek-hiat-kiam terhunus di tangan
tunggalnya, selangkah demi selangkah bergerak maju, siap melancarkan
serangan.
"Tunggu dulu!" bentak Liu Khi.
"Hm, ibarat panah yang sudah
direntangkan di atas gendewa, mau tak mau harus kulepaskan juga."
Liu Khi mundur
selangkah, kemudian bentaknya, "Bila burung bangau dan kutilang
saling bertarung, nelayanlah yang bakal beruntung, apakah kau tidak
kuatir orang-orang Hiat-kiam-bun bakal merebut keuntungan dari
pertarungan kita."
Bong Thian-gak
tertawa dingin, "Liu Khi, kau salah besar, akulah Hiat-kiam-buncu!"
Hati Liu Khi bergetar keras mendengar
itu, mimpi pun dia tak mengira Jian-ciat-suseng bukan lain adalah
ketua Hiat-kiam-bun.
Tiba-tiba ia lihat sekilas cahaya
pedang, seperti terbitnya sang surya di ufuk timur, memercikkan
cahaya kemerahan-merahan yang amat menyilaukan mata.
Ternyata Bong
Thian-gak telah melolos Pek-hiat-kiam sambil
melancarkan sebuah bacokan.
Sejak terjun kembali ke dalam Bu-lim,
baru pertama kali ini Bong
Thian-gak melancarkan serangan lebih dulu terhadap musuhnya.
Latihan tekun selama tiga tahun membuat
ilmu pedang Bong Thian-gak
mencapai puncak kesempurnaan, serangan pedangnya boleh dikata
disertai kekuatan yang sangat mengerikan.
Liu Khi terhitung jagoan lihai kelas
satu di Bu-lim saat ini, sudah barang tentu ia cukup tahu kelihaian
serangan itu.
Diiringi jeritan kaget, tubuh Liu Khi
melejit ke tengah udara.
Pada saat itulah tiga titik cahaya tajam
tiba-tiba meluncur secara beruntun ke depan.
Daya serangan ketiga titik cahaya putih
itu sedemikian cepatnya, seakan-akan melebihi cahaya pedang berwarna
merah darah itu.
Semua gerakan ini boleh dibilang tidak
berselisih banyak, kalau dibilang berselisih, maka selisih itu hanya
beberapa detik saja.
Di tengah seruan kaget, terdengar
jeritan ngeri yang menyayat hati, bayangan orang segera bergeser.
Tiga batok kepala anggota Kay-pang
menggelinding ke atas tanah, tiga sosok tubuh tanpa kepala sambil
menyemburkan darah segera roboh ke atas tanah.
Di pihak lain, Khi Cho sudah tergeletak
di atas tanah. Bahu sebelah kanan Keng-tim Suthay juga berlumuran
darah, dengan langkah sempoyongan ia berjalan menghampiri Khi Cho.
Bong Thian-gak
dengan pedang disilangkan di depan dada, berdiri dengan wajah penuh
gusar, sepasang matanya melotot besar mengawasi Liu Khi yang berada
di hadapannya.
Waktu itu, Liu Khi berdiri dengan wajah
sedih dan kecewa, dia hanya berdiri kaku di tempat tanpa berkutik.
Di saat Liu Khi menghindarkan diri dari
serangan Bong Thian-gak tadi,
dia telah melepaskan tiga buah golok terbang yang masing-masing
menyerang Bong Thian-gak,
Keng-tim Suthay serta Khi Cho.
Nama besar Liu Khi sudah menggetarkan
dunia persilatan, ilmu sakti golok terbang boleh dibilang tak pernah
meleset dari sasaran selama ini, tapi kenyataannya pisau terbang itu
tidak memperlihatkan kelihaiannya di depan
Bong Thian-gak.
Di saat Bong
Thian-gak menghindarkan diri dari serangan pisau
terbang tadi, secara beruntun Pek-hiat-kiam berhasil pula
membinasakan tiga orang anak buah Liu Khi.
Dua pisau terbang Liu Khi yang lain
agaknya tidak menghasilkan apa-apa. Keng-tim Suthay hanya terkena
bahu kanannya, sedang Khi Cho roboh terkena pisau terbang.
Karena serangannya meleset dari sasaran
yang dikehendaki itulah Liu Khi merasa kecewa bercampur terkejut.
Sebaliknya
Bong Thian-gak sendiri pun dibuat terperanjat oleh
kelihaian Liu Khi dalam melepaskan pisau terbang.
Dengan kepandaian silat yang begitu
lihai seperti Keng-tim Suthay, ternyata ia berhasil dipecundangi
juga, peristiwa ini benar-benar membuatnya merasa terkesiap.
Mendadak Liu Khi memperdengarkan suara
tawa panjang yang membetot sukma, menyusul tubuhnya segera melejit
ke atas dahan pohon.
Bentakan dan hardikan marah bergema di
sana sini, para anggota Hiat-kiam-bun yang bersembunyi di seputar
sana serentak muncul dan menghadang jalan perginya.
Tiba-tiba Bong
Thian-gak berseru, "Segenap anggota Hiat-kiam-bun harap
mundur, biarkan musuh pergi dari sini."
Dari kejauhan sana terdengar suara Liu
Khi berkumandang, "Jian-ciat-suseng, di kemudian hari aku pasti akan
minta petunjuk ilmu pedangmu yang sangat lihai itu."
Sementara bicara, bayangan Liu Khi
tahu-tahu sudah lenyap.
Dengan cepat
Bong Thian-gak menarik kembali pedangnya, lalu berjalan
ke sisi Khi Cho.
Waktu itu Khi Cho sudah tergeletak dalam
pangkuan Keng-tim Suthay tanpa bergerak, sebilah pisau terbang kecil
telah menancap di tenggorokannya, darah mengucur membasahi sekujur
tubuhnya.
Para anggota Hiat-kiam-bun maupun
Keng-tim Suthay sendiri sama-sama berdiri dengan air mata
bercucuran.
Bong Thian-gak
maju mendekat, kemudian tanyanya, "Bagaimana keadaan Khi Cho?"
"Jantungnya telah berhenti berdenyut, ia
sudah meninggal dunia," sahut Keng-tim Suthay pedih.
Bong Thian-gak
segera memegang urat nadi tangan kiri Khi Cho, setelah diperhatikan
beberapa saat, tiba-tiba katanya, "Dia belum tewas!"
Sembari berkata, tiba-tiba
Bong Thian-gak mengayunkan telapak
tangan kanannya menghantam dada Khi Cho.
Jeritan ngeri yang menyayat hati segera
berkumandang dari mulut Khi Cho.
Pisau terbang kecil yang menancap di
tenggorokannya itu segera terpental keluar, menyusul tersembur darah
yang amat deras.
Cepat Bong
Thian-gak berseru kembali, "Segera kau totok jalan
darah Keng dan Tiong-mehnya, cegah, jangan sampai banyak darah
mengalir keluar."
Sebenarnya Keng-tim Suthay menyangka
putri kesayangannya telah tewas, mendengar perkataan itu, jari
tangannya segera bergerak menotok dua jalan darah penting di tubuh
Khi Cho itu, darah pun segera berhenti mengalir.
"Sekarang totoklah jalan darah tidurnya,
ai, seandainya pisau terbang itu bergeser sedikit saja lebih ke
atas, niscaya nyawa Khi Cho sudah melayang, sekarang suruh orang
menggotongnya masuk untuk beristirahat."
Keng-tim Suthay menurut dan segera
menotok jalan darah tidur Khi Cho. Siau Gwat-ciu dan Yu Hong-hong
segera maju pula ke depan untuk membopong tubuh si gadis jelek.
Bong Thian-gak
berpaling dan memandang sekejap bahu kanan Keng-tim Suthay yang
berdarah, pisau kecil itu masih menancap di bahunya, maka ia
berkata, "Suthay, cepat kau balut sendiri lukamu."
Saking sedihnya atas luka yang diderita
puteri kesayangannya, Keng-tim Suthay sampai lupa pada luka yang
dideritanya, mendengar perkataan itu ia baru merasa bahunya sakit
perih.
Pada saat itulah seorang Nikoh tua
datang membantu Keng-tim Suthay mencabut pisau kecil itu, kemudian
membalut pula lukanya.
"Beruntung Buncu datang memangku jabatan
pada hari ini," kata Keng-tim Suthay sambil menghela napas sedih,
"kalau tidak, segenap anggota Hiat-kiam-bun pasti akan tewas di
ujung pisau terbang Liu Khi, ai, orang persilatan mengatakan pisau
terbang Liu Khi lihai sekali, setelah menyaksikan sendiri hari ini,
terbukti kelihaiannya memang luar biasa."
Paras muka
Bong Thian-gak berubah serius, katanya, "Padahal Liu
Khi tidak lebih hanya jago nomor dua dalam Kay-pang."
la tidak melanjutkan kata-katanya, tapi
Keng-tim Suthay sudah tahu apa maksudnya.
Pelan-pelan Keng-tim Suthay berkata
pula, "Tapi Liu Khi sendiri pun sudah dipecundangi Buncu."
Sekali lagi
Bong Thian-gak menghela napas sedih.
"Aku melepaskan sebuah serangan, sedang
Liu Khi hanya melepas tiga pisau terbang, goloknya belum digunakan,
tenaga dalam orang ini rasanya jauh lebih tinggi daripada siapa
pun."
"Ai," Keng-tim Suthay menghela napas,
"andaikata keadaan Thay-kun bisa dipulihkan kembali, maka
Hiat-kiam-bun kita pasti dapat menghadapi perguruan atau perkumpulan
mana pun."
Tiba-tiba hati
Bong Thian-gak bergetar, segera ia
bertanya, "Apa kesadaran Thay-kun dapat dipulihkan kembali?"
"Tabib sakti Gi Jian-cau pasti sanggup
menyembuhkan sakitnya itu," pelan-pelan Keng-tim Suthay berkata.
"Ya, tugas utama kita sekarang adalah
menyelamatkan jiwa Thay-kun, bagaimana menurut pendapat Suthay?"
"Asal Buncu menurunkan perintah, segenap
anggota perguruan akan berjuang sekuat tenaga."
Bong Thian-gak
termenung sebentar, tiba-tiba tanyanya, "Apakah Ang Teng-siu
juga anggota Hiat-kiam-bun kita?" Keng-tim Suthay tersenyum.
"Agaknya Buncu masih belum cukup
memahami asal-usul serta nama anggota Hiat-kiam-bun kita, silakan
Buncu beristirahat di dalam kuil sekalian memeriksa daftar perguruan
kita."
Bong Thian-gak
tertawa geli, "Hahaha, sekarang aku sudah jadi ketua Hiat-kiam-bun,
tapi masih belum tahu anggota perguruan kita, kejadian semacam ini
kalau dipikir sungguh menggelikan."
Sembari berkata,
Bong Thian-gak dan Keng-tim Suthay
bersama-sama memasuki kuil itu.
Keng-tim Suthay mengajak
Bong Thian-gak memasuki sebuah
ruangan, kemudian memerintahkan kedua gadis berbaju merah untuk
melayani keperluan pemuda itu, sementara dia sendiri buru-buru pergi
menjenguk Khi Cho.
Bong Thian-gak
segera duduk, memandang sekejap kedua gadis berbaju merah yang
berdiri di samping pintu. Melihat kedisiplinan mereka, akhirnya ia
merasa tak tega, sapanya, "Silakan kalian berdua ikut duduk, tak
usah terlalu menuruti peraturan."
"Terima kasih Buncu, kami tidak berani."
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Siapakah nama kalian berdua?" kembali
ia bertanya.
Pemuda ini merasa kedua gadis itu
berwajah cantik, mukanya berbentuk kwaci, putih halus dan berusia di
antara tujuh belas tahun.
Setelah termangu sejenak, sekali lagi
Bong Thian-gak berkata, "Wah,
rupanya paras muka kalian berdua mirip satu sama lain."
"Lapor Buncu," kembali gadis di sebelah
kanan berkata dengan merdu, "budak bernama Cay-hong, sedangkan
adikku bernama Cay-im, kami adalah dua bersaudara kembar."
"Oh, tak heran paras muka kalian begitu
mirip, andaikata tiada perbedaan antara yang tinggi dan pendek, aku
benar-benar tak bisa membedakan mana Cay-hong dan mana Cay-im. Entah
apa jabatan kalian berdua dalam Hiat-kiam-bun?"
"Kami berdua adalah anak buah
Kau-hubuncu, tapi sejak Kau-hubuncu terkena musibah, untuk sementara
belum ada jabatan."
Menyinggung soal Kau-hubuncu,
Bong Thian-gak segera teringat gadis
muda yang tewas terkena tendangan pada alat kelaminnya oleh Thia
Leng-juan tempo hari, tanpa terasa ia menghela napas panjang, "Ai,
kematian Kau-hubuncu memang harus disesali, sungguh mengenaskan
sekali."
Tiba-tiba sepasang mata Cay-hong berubah
menjadLmerah, segera tanyanya, "Tolong tanya Buncu, sesungguhnya
siapakah pembunuh Kau-hubuncu?"
Bong Thian-gak
malah tertegun mendengar pertanyaan itu, segera ia berbalik
bertanya, "Bukankah kalian kakak beradik pernah berjumpa denganku
ketika berada di Hong-tok-ciu-lau?"
"Benar," Cay-hong mengangguk.
Bong Thian-gak
menghela napas panjang.
"Aku telah menjadi ketua Hiat-kiam-bun
pada hari ini, tentunya kalian merasa sedikit di luar dugaan bukan?"
Sekali lagi Cay-hong manggut-manggut,
"Tentu saja sama sekali di luar dugaan, namun kami pun merasa
gembira memiliki seorang ketua yang kepandaiannya sangat tinggi
untuk memimpin perguruan Hiat-kiam-bun."
Pelan-pelan
Bong Thian-gak berkata lagi, "Aku tahu siapakah
pembunuh yang sebenarnya Kau-hubuncu, di kemudian hari aku pasti
akan memberitahukan kepada kalian, ai! Pokoknya aku tak akan
membiarkan anggota perguruan kita berkorban dengan percuma."
Selesai berkata, dari dalam sakunya
Bong Thian-gak mengambil
daftar anggota Hiat-kiam-bun.
Saat ia membuka lembar pertama, di
tengahnya tertulis beberapa huruf.
Bong Thian-gak
sangat terharu di samping berterima kasih, dia sama sekali tidak
menyangka Keng-tim Suthay telah menyerahkan kedudukan itu sejak
dulu, dari sini bisa disimpulkan bahwa dalam tiga tahun ini Keng-tim
Suthay tentu berusaha keras untuk menemukan dirinya.
Bong Thian-gak
pun membaca lebih jauh.
Nama Thay-kun juga tercantum dalam
daftar anggota, dia adalah ketua pelindung hukum Hiat-kiam-bun.
Kemudian di antara kedua belas pelindung
lainnya, Bong Thian-gak hanya
mengenali dua orang, mereka adalah tabib sakti Gi Jian-cau serta Ang
Teng-siu.
Dengan kening berkerut
Bong Thian-gak berpikir, "Kumpulan
tiga belas pelindung hukum Hiat-kiam-bun mungkin merupakan kekuatan
inti perguruan, hanya tidak diketahui dimanakah rombongan itu kini?"
Belum habis ingatan itu melintas,
Keng-tim Suthay serta Yu Hong-hong dan Siau Gwat-ciu bertiga telah
berjalan keluar.
Keng-tim Suthay bertanya, "Apakah Buncu
telah memeriksa daftar nama anggota?"
Bong Thian-gak
manggut-manggut.
"Ya, sudah kubaca, hanya banyak yang
tidak kupahami serta mohon petunjuk darimu."
"Silakan Buncu bertanya."
"Dari kelompok tiga belas pelindung
hukum, apakah setiap orang di antaranya dapat dihubungi?"
"Kecuali ketua pelindung hukum, asal
Buncu menurunkan perintah, setiap orang dapat dipanggil dengan
segera."
"Sebagian besar pelindung hukum ini
tersebar dimana?" tanya Bong
Thian-gak.
"Kecuali Thay-kun, sembilan orang
lainnya menyelundupkan diri dalam Put-gwa-cin-kau, seorang berada
dalam kantor cabang Kay-pang kota Lok-yang, si tabib sakti juga
berada di kota Lok-yang, masih ada seorang lagi adalah Hongtiang
kuil kami, Keng-koan Suthay."
Diam-diam Bong
Thian-gak berpikir, "Yang disebut Keng-koan Suthay
mungkin si Nikoh tua itu."
Berpikir sampai di situ, maka setelah
termenung beberapa saat Bong
Thian-gak kembali berkata, "Menurut pendapat Suthay, apakah kedua
belas orang pelindung hukum itu perlu dipanggil?"
"Masalah ini silakan ketua yang
mengambil keputusan."
Kembali Bong
Thian-gak bertanya, "Pada halaman terakhir daftar
anggota, tercantum lima nama orang misterius, kelima orang itu
bukankah nama-nama orang yang sudah lama tiada?"
"Betul, kelima orang itu adalah si
Pukulan nomor wahid dari kolong langit Ma Kong, Pangcu Hek-huo-pang
Kwan Bu-peng, Luihong-khek Gi Peng-san, Tui-hun-pit Cia Liang dan
Thi-koan-im Han Nio-cu. Mereka adalah jago-jago lihai dunia
persilatan yang hilang secara misterius ketika sedang bertamu dalam
gedung Bu-lim Bengcu tiga tahun berselang."
"Aku benar-benar tidak mengerti,"
Bong Thian-gak menggeleng kepala
berulang kali, "Ma Kong berlima bukankah sudah bertamu dalam gedung
Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong? Mengapa dalam semalam saja mereka
bisa mati secara misterius, lagi pula jenazah mereka hilang. Tapi
seingatku beberapa hari berselang, Khi Cho pernah memerintahkan
seorang jagoan aneh untuk menyerangku ketika berada dalam
Hong-tok-ciu-lau, waktu itu Khi Cho tampaknya seperti memanggil nama
orang itu sebagai Ma Kong, jangan-jangan
...."
Keng-tim Suthay menghela napas panjang.
"Sesungguhnya Ma Kong berlima tidak
tewas."
"Jadi mereka benar-benar belum mati?"
tanya Bong Thian-gak dengan
terkejut.
Kembali Keng-tim Suthay menghela napas
panjang.
"Untuk mengetahui keadaan yang
sesungguhnya kejadian ini, kita harus kembali sejenak peristiwa tiga
tahun berselang. Pada waktu itu Thay-kun mendapat perintah
Cong-kaucu untuk menghabisi kelima jago lihai dunia persilatan yang
sedang bertamu dalam gedung Bu-lim Bengcu itu, mereka adalah Ma Kong
berlima."
"Agar bisa menyelamatkan jiwa kelima
orang ini, akhirnya Thay-kun memperoleh sebuah cara, dari tempat
kediaman si tabib sakti Gi Jian-cau dia berhasil memperoleh lima
butir pil Kia-bin-wan."
"Apakah pil Kia-bin-wan (obat pura-pura
tidur) itu?" tanya Bong
Thian-gak.
"Pil itu diberi nama begitu oleh Gi
Jian-cau sendiri, khasiat obat itu adalah barang siapa menelan pil
itu, maka denyut jantung serta semua kerja anggota badannya akan
terhenti sementara waktu, keadaan mereka tak ubahnya seperti mayat,
padahal orang-orang itu tidak mati secara sungguh-sungguh."
"Kalau begitu, setelah Ma Kong berlima
menelan Kia-bin-wan, Thay-kun mengangkut tubuh mereka, kemudian
keluar dari gedung Bu-lim Bengcu?" tanya
Bong Thian-gak.
Keng-tim Suthay
manggut-manggut.
"Benar, tubuh
Ma Kong berlima pada waktu itu dipindahkan ke kuil
Keng-tim-an."
"Kalau begitu Ma Kong berlima belum
meninggal?" sekali lagi Bong
Thian-gak bertanya.
Kembali Keng-tim Suthay manggut-manggut.
"Tentu saja mereka belum mati, cuma
keadaan mereka saat ini menyerupai seorang yang tak bersukma dan
berpikiran lagi."
"Ai, kalau begitu keadaan mereka berlima
tak jauh berbeda seperti keadaan Thay-kun sekarang," ucap
Bong Thian-gak sambil menghela napas
sedih.
"Ya, keadaan mereka memang tidak jauh
berbeda," kembali Keng-tim Suthay mengangguk.
"Apakah Ma Kong berlima masih bisa
dipulihkan kesadarannya?" Keng-tim Suthay mengangguk pelan.
"Asal Gi Jian-cau membuatkan lagi
semacam pil Hui-hun-wan (obat pembalik sukma) dan mencekokkan kepada
mereka, niscaya mereka akan memperoleh kembali kesadarannya."
"Jika begitu Gi Jian-cau belum sempat
membuat Hui-hun-wan?"
"Soal ini aku kurang mengerti," Keng-tim
Suthay menggeleng, "sejak Thay-kun dicekoki pil Kia-bin-wan oleh
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, si tabib sakti Gi Jian-cau sudah mulai
mengumpulkan bahan obat-obatan untuk membuat pil Hui-hun-wan guna
menyelamatkan jiwa Thay-kun, sudah tiga tahun Gi Jian-cau belum juga
menyelesaikan pekerjaannya, menurut tabib itu, dia masih kekurangan
tiga macam obat-obatan."
"Ai, rupanya di kolong langit
benar-benar terdapat obat semacam ini,"
Bong Thian-gak menghela napas panjang selesai
mendengarkan kisah itu. Demi meyelamatkan Thay-kun serta Ma Kong
berlima, Gi Jian-cau harus berhasil membuat pil Hui-hun-wan.
"Ai, saat ini Ma Kong berlima tak lain
adalah algojo-algojo andalan Hiat-kiam-bun, tujuan Thay-kun di masa
lampau, sebetulnya dia hendak mempergunakan kekuatan sakti mereka
untuk melawan jago lihai Put-gwa-cin-kau."
"Seandainya Hiat-kiam-bun kita sampai
berbuat demikian, aku rasa ini terlampau kejam, kelewat tidak
berperi-kemanusian," ucap Bong
Thian-gak sambil menggeleng kepala berulang kali.
Keng-tim Suthay manggut-manggut, "Buncu
penuh welas-asih, berjiwa besar dan berpandangan luas, hanya manusia
semacam inilah yang pantas disebut seorang pahlawan besar, seorang
pendekar sejati."
Bong Thian-gak
termangu sebentar, lalu ujarnya lagi, "Bila kita bicara menurut
kekuatan serta jumlah anggota Hiat-kiam-bun, rasanya sulit buat kita
untuk melawan pihak Kay-pang maupun Put-gwa-cin-kau, tapi kita pun
tak boleh hendak memperkuat kemampuan lantas kita memperalat Mo Keng
berlima Locianpwe yang sukma, pikiran serta perasaannya telah
terkendali.
"Ketika masih berada di
Hong-tok-ciu-lau, aku pernah bertarung melawan Ma Kong, menurut
pendapatku, walaupun saat ini dia garang seperti harimau dan kuat
seperti raksasa, namun berhubung akal budinya telah hilang,
akibatnya gerak-geriknya menjadi bodoh, kaku dan lucu, bila berjumpa
jago lihai atau mereka yang mempunyai senjata mustika, aku yakin Ma
Kong sekalian masih bisa dipunahkan secara mudah sekali.
"Sebaliknya bila kita bisa memulihkan
kesadaran serta akal budi Ma Kong berlima, dengan dukungan kekuatan
dan pikiran mereka, maka Hiat-kiam-bun kita akan dapat bersaing
dengan perkumpulan mana pun di daratan Tionggoan, serta memimpin
persilatan."
Keng-tim Suthay segera manggut-manggut.
"Pendapat Buncu memang benar, itulah
sebabnya kami selalu berharap si tabib sakti membuat pil Hui-hun-wan
secepatnya."
"Saat ini si tabib sakti berada dimana?"
tanya Bong Thian-gak setelah
termenung sebentar.
"Dia berada di suatu tempat rahasia
dalam kota Lok-yang."
"Masih berada di kaki bukit
Cui-im-hong?"
"Tidak, selama tiga tahun terakhir ini,
Gi Jian-cau sudah menjadi salah seorang buronan yang dicari pihak
Put-gwa-cin-kau, mana mungkin dia bisa tinggal lagi dalam
Cui-im-hong-san-ceng?"
"Yang paling kukuatirkan adalah
keselamatan jiwanya, kalau Suthay telah membuat persiapan yang
matang, aku pun tak usah kuatir lagi."
"Dalam tiga tahun ini, demi melindungi
jiwa Gi Jian-cau, Pinni telah memerintahkan dua orang
jago lihai yang telah kehilangan akal budinya yakni Han Nio-cu serta
Cia Liang untuk melindunginya. Beberapa hari berselang, waktu kau
hendak berangkat ke Hopak, aku pun telah mengutuskan Sam-hubuncu
untuk melindunginya, jadi aku rasa tak ada persoalan lagi."
"Bagus sekali, sekarang aku telah
mengetahui secara garis besar keadaan perguruan kita," kata
Bong Thian-gak.
"Adakah petunjuk Buncu untuk pergerakan
perguruan kita?" Bong
Thian-gak tersenyum, bukan menjawab dia malah bertanya, "Tolong
tanya, ada urusan apa Suthay datang ke Hopak?"
"Kedatangan Pinni ke Hopak kali ini,
pertama, karena kudengar laporan Khi Cho tentang gerak-gerik
Jian-ciat-suseng, dalam hati aku selalu mempunyai anggapan
Jian-ciat-suseng sedikit mirip ketua Ko Hong, oleh sebab itu aku
sengaja datang ke Hopak untuk membuktikan identitas
Jian-ciat-suseng, ternyata Thian memang tidak menyia-nyiakan
harapanku, akhirnya Hiat-kiam-bun kami mendapatkan ketuanya.
"Kedua, adalah untuk melihat operasi Khi
Cho memantau Si-hun-mo-li, apakah pekerjaannya sudah ada
perkembangannya atau tidak."
"Menurut pendapat Suthay, apakah pihak
kita perlu turut campur dalam operasi pencarian harta karun
peninggalan raja muda Mo-lay-cing-ong?"
Keng-tim Suthay segera menggeleng.
"Kekuatan perguruan kami sangat lemah,
untuk bisa turut dalam perebutan harta karun itu, rasanya kita harus
menemukan dulu ketua perguruan. Oleh sebab itu sebelum bertemu
Buncu, kami hanya bisa menunggu perkembangan perebutan harta karun
itu. Dan sekarang bila Buncu mempunyai suatu pandangan, silakan saja
diambil keputusan, Tecu sekalian pasti akan turut perintah."
Bong Thian-gak
manggut-manggut.
"Suthay memang cerdik dan cekatan,
terhadap situasi sendiri maupun keadaan musuh selalu dapat
diselidiki jelas, memang tahu diri. Tahu keadaan musuh, setiap
pertarungan baru dapat dimenangkan. Ucapan Suthay memang benar,
lebih baik perguruan kita bertindak mengikuti perkembangan
selanjutnya, perlu diketahui, tugas utama adalah membantu Gi
Jian-cau mendapatkan tiga macam obat-obatan yang masih kurang itu
hingga Hui-hun-wan dapat dibuat selekasnya."
Keng-tim Suthay tersenyum, "Thian
benar-benar melimpahkan rezeki untuk peguruan Hiat-kiam-bun,
perguruan kami benar-benar berhasil mendapatkan seorang pemimpin
yang arif bijaksana."
Bong Thian-gak
menghela napas panjang, "Aku berpengetahuan cetek, selanjutnya masih
banyak membutuhkan kerja sama setiap anggota perguruan untuk
bersama-sama mengangkat nama perguruan kita di mata masyarakat.
Terutama sekali Suthay, selanjutnya bilamana ada hal-hal yang perlu
dikemukakan, harap kau tak segan-segan untuk memberi petunjuk, di
antara kita pun aku harap tidak tersisa garis pemisah antara seorang
ketua dengan wakil ketua, karena sepantasnya Suthay lah yang
memangku jabatan ketua ini."
Keng-tim Suthay tersenyum, "Bong-buncu
masih muda namun gagah dan perkasa, kami tahu kemampuan serta
kecerdasan Buncu berada di atas kami dan tak mungkin berada di bawah
kami, Hiat-kiam-bun di bawah pimpinanmu pasti akan semakin cemerlang
seperti matahari yang makin menjulang ke angkasa."
"Aku kuatir akan menyia-nyiakan harapan
Suthay."
Keng-tim Suthay tersenyum, lalu
mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya, "Jika Buncu
memang tidak bermaksud mengambil tindakan terhadap harta karun
Mo-lay-cing-ong, maka anggota perguruan kita pun rasanya tak perlu
dihimpun lagi di wilayah Hopak ini."
"Aku rasa kita pun belum dapat
membubarkan mereka dari wilayah Hopak, terutama pada saat ini, perlu
diketahui, Thay-kun masih berada di bawah kekuasaan Put-gwa-cin-kau,
tentu saja Suthay dan aku tak boleh bersama-sama tinggal di tempat
ini."
"Lantas apa petunjuk Buncu?"
"Suthay, silakan kau memberi perintah
mewakili aku."
"Ah, hal ini mana boleh?"
"Aku belum lama menerima jabatan ketua,
terhadap organisasi serta orang yang menjadi anggota perguruan pun
belum begitu jelas, bila perintah kuberikan, tak mungkin segenap
kekuatan yang kita miliki bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,
apalagi Suthay memang Conghubuncu perguruan kita, siapa bilang kau
tak berhak memberi perintah?"
"Tapi sebelum memberi perintah, Pinni
merasa wajib mohon petunjuk Buncu terlebih dahulu."
Bong Thian-gak
tersenyum, "Bila demikian, silakan Cong-hubuncu katakan."
"Pinni harus secepatnya pulang untuk
membantu Gi Jian-cau mendapatkan ketiga macam obat-obatan yang masih
kurang itu, maka Pinni rasa untuk wilayah Hopak terpaksa mesti
ditangani oleh Buncu sendiri."
"Pendapat Cong-hubuncu memang mirip
dengan pikiranku," Bong
Thian-gak manggut-manggut, "berapa banyak kekuatan yang kau
butuhkan, silakan saja dibawa."
"Khi Cho, Pat-hubuncu serta Keng-koan
Suthay tetap tinggal di sini membantu Buncu, sedang Su-hubuncu,
Go-hubuncu, Liok-hubuncu dan Jit-hubuncu turut aku kembali ke
Lok-yang."
Bong Thian-gak
kembali mengangguk.
"Tugas utama perguruan kita saat ini
memang melindungi si tabib sakti, agar secepatnya membuat pil
Hui-hun-wan yang sangat penting artinya buat kita. Bilamana
Cong-hubuncu menjumpai hal-hal gawat selama di Lok-yang, harap
selekasnya kau mengirim berita padaku."
"Bila Buncu tiada persoalan lain, Pinni
ingin berangkat ke Lok-yang sekarang juga."
"Baik, silakan Suthay segera berangkat."
Keng-tim Suthay siap beranjak, mendadak
dia membalik badan, lalu dari sakunya mengeluarkan sepucuk surat,
katanya, "Lapor ketua, dalam surat ini tercantum ketiga macam bahan
obat-obatan yang harus kita peroleh secepatnya, andaikata terjadi
sesuatu peristiwa di luar dugaan, harap masalah pembuatan pil
Hui-hun-wan dilanjutkan oleh Buncu."
Mendengar perkataan itu, hati
Bong Thian-gak bergetar, seolah-olah
dia mendapat firasat jelek, tapi surat itu diterimanya juga.
"Suthay, andaikata di tempatmu terjadi
hal-hal yang di luar dugaan, harap kau selekasnya mengadakan
hubungan dengan kami," pesannya lagi dengan suara dalam.
Agaknya Keng-tim Suthay dapat memahami
perasaan Bong Thiangak, maka
ia hanya tersenyum.
"Hui-hun-wan merupakan benda yang amat
penting artinya bagi Hiat-kiam-bun kita, oleh sebab itu semua
masalah telah Pinni atur sedemikian rupa hingga terlihat rapi dan
tertata secara baik, harap Buncu tak usah kuatir, nah, Pinni mohon
diri lebih dahulu."
Maka berangkatlah Keng-tim Suthay dengan
membawa empat orang Hubuncu serta puluhan anggota Hiat-kiam-bun
kembali ke kota Lok-yang.
** ©**
Dalam waktu singkat, kuil Keng-koan
sudah berubah menjadi pusat komando perguruan Hiat-kiam-bun, sekali
pun kekuatan Hiat-kiam-bun untuk wilayah Hopak tidak terlalu besar,
tapi di bawah pimpinan Bong
Thian-gak, kuil Keng-koan telah diubahnya bagaikan sebuah sarang
naga gua harimau.
Dalam tujuh hari, nama besar ketua
Hiat-kiam-bun, Jian-ciat-suseng Bong
Thian-gak telah menggetarkan seluruh dunia persilatan.
Yang paling membuat umat persilatan
tercengang dan sama sekali tidak menyangka adalah Jian-ciat-suseng
ternyata tak lain adalah ketua Hiat-kiam-bun, berita itu membuat
pihak Put-gwa-cin-kau dan Kay-pang merasa amat terperanjat.
Pada dasarnya Hiat-kiam-bun memang sudah
merupakan suatu perkumpulan yang sangat misterius dalam Bu-lim, tapi
semenjak Bong Thian-gak
menjadi ketuanya, setiap anggota Hiat-kiam-bun yang berada dalam
Bu-lim tidak lagi menutup wajah mereka dengan kain kerudung merah,
mereka semua muncul dengan raut wajah asli.
Ketika mereka mulai memperlihatkan paras
muka aslinya, pihak Put-gwa-cin-kau serta Kay-pang baru tahu bahwa
di antara para Huhoat Hiat-kiam-bun ternyata terdapat pula anggota
perkumpulan mereka.
©
Kegelapan telah mencekam seluruh jagad.
Daerah tujuh li di sekitar kuil
Hong-kong-si merupakan tempat paling gelap, sepi dan rawan.
Pada saat itulah terlihat ada sesosok
bayangan orang sedang berlari mendekati dari arah barat.
Mendadak suara, bentakan keras menggema
memecah keheningan, "Siapa di situ?"
Si pejalan malam yang datang dari arah
barat telah menghentikan langkah dan mengangkat kepala sambil
mengawasi keadaan sekeliling tempat itu dengan seksama.
Di tengah jalan rupanya telah berdiri
seseorang, gelak tawa nyaring tadi berkumandang dari mulut si
penghadang itu.
Di tengah gelak tawanya, dia maju
beberapa langkah, katanya lantang, "Sam-kaucu, selamat bersua,
baik-baikkah kau selama berpisah."
Orang yang datang dari barat itu nampak
terkejut mendengar teguran itu, sorot matanya yang tajam untuk
mengawasi tempat itu.
Lawannya adalah seorang lelaki
berperawakan sedang berjubah merah, dia berwajah lebar dan berlengan
besar, raut mukanya seperti pernah dikenal, tapi tak teringat
olehnya dimanakah mereka pernah bertemu.
Setelah hening sesaat, pejalan malam itu
tertawa seram, "Hehehe, dari dandananmu itu, rupanya kau adalah
anggota Hiat-kiam-bun?"
"Betul," jawab lelaki berjubah merah itu
sambil tertawa tergelak, "aku adalah pelindung hukum Hiat-kiam-bun."
"Aku seperti kenal raut wajahmu," seru
si pejalan malam dingin.
Lelaki berjubah merah turut tertawa.
"Sam-kaucu, mengapa kau mudah lupa? Aku
she Ang bernama Teng-siu!"
Berubah hebat paras muka pejalan malam
itu, dia berseru tertahan dan berkata, "Oh, rupanya kau adalah
komandan pengawal Ji-kaucu, Ang Teng-siu."
"Betul, memang aku Ang Teng-siu."
Tiba-tiba pejalan malam itu menarik
muka, kemudian ujarnya, "Ang Teng-siu, kau pengkhianat, berani amat
kau halangi jalanku."
"Sam-kaucu," kembali Ang Teng-siu
tersenyum, "mengapa kau punya jalan ke surga enggan dilalui, tiada
jalan ke neraka kau terobos."
Sepasang mata pejalan malam yang tajam
mendadak mengawasi sekejap keadaan sekitar situ, kemudian berkata
dingin, "Ang Teng-siu, berapa orang yang kau bawa malam ini?"
Ang Teng-siu tertawa terbahak-bahak.
"Ketua Hiat-kiam-bun serta sepuluh
pelindung hukum telah hadir semua di sini."
Pejalan malam itu terkejut, dia segera
bertanya dengan gelisah, "Dimanakah Jian-ciat-suseng sekarang? Suruh
dia keluar menemuiku."
"Thia Leng-juan, harap tahu diri, malam
ini kami memang sengaja menunggu kedatanganmu, kau tak usah
kurangajar."
Agaknya Thia Leng-juan sudah merasa
gelagat malam ini sangat tidak menguntungkan pihaknya, dia masih
berusaha
mempertahankan ketenangan,
pelan-pelan ujarnya, "Biar naik ke bukit golok atau terjun ke kuali
berminyak mendidih, aku sudah pernah mematikan semuanya, memangnya
kalian masih mempunyai cara lain yang bisa membuat pecah nyaliku?"
"Sudahlah, kau tidak usah banyak bicara
lagi, ketua kami segera akan berjumpa denganmu, lebih baik turuti
kami saja, kalau
tidak, terpaksa kami akan berbuat kasar kepadamu."
"Jian-ciat-suseng berada dimana
sekarang?"
Sebelum Ang Teng-siu menjawab, dari
balik kegelapan «tulah muncul sesosok bayangan orang menjawab dengan
suara dingin, serius
dan keren, "Thia
Leng-juan, aku berada di sini."
"Mengapa kau tidak segera kemari?"
"Aku segera akan datang."
Belum habis perkataan itu, sesosok
bayangan orang berkelebat ke hadapan Thia Leng-juan dengan kecepatan
bagaikan sambaran kilat.
Thia Leng-juan cekatan sekali, dengan
cepat dia menggeser badan menghindar ke sisi kiri.
Biarpun dia menghindar dengan gerakan
cukup cepat, namun gerakan tubuh pendatang itu jauh lebih cepat
lagi, tahu-tahu lengannya sudah bergerak dan "Plak!!"
Thia Leng-juan mendengus tertahan,
kemudian orangnya sudah roboh tak sadarkan diri.
Sewaktu Thia Leng-juan sadar dari
pingsannya, ia menjumpai dirinya sudah duduk di atas kursi.
Duduk di hadapan seorang pemuda berjubah
merah berlengan tunggal, berwajah pucat dan bermata tajam bagaikan
sembilu.
Di sisi kiri dan kanan pemuda berjubah
merah itu masing-masing berdiri sepuluh orang laki-laki berjubah
merah, mereka semua berwajah kereng, bermata tajam dan kelihatan
sangat gagah.
Bergidik Thia Leng-juan menyaksikan
semua itu, dengan cepat dia teringat akan perbuatannya membunuh
Kau-hubuncu Hiat-kiam-bun di kamar tujuh Hong-tok-ciu-lau tempo
hari.
Ia pernah berjumpa dengan
Jian-ciat-suseng Bong
Thian-gak ketika berada di Hong-tok-ciu-lau, bahkan sewaktu terjadi
peristiwa berdarah itu, Jian-ciat-suseng hadir pula di tempat
kejadian.
Siapa sangka Jian-ciat-suseng tak lain
adalah ketua Hiat-kiam-bun, pemuda berjubah merah berlengan tunggal
itu.
Terpaksa Thia Leng-juan harus
mengeraskan hati menegur, "Apa maksudmu membawa aku kemari?"
"Demi menyelamatkan jiwamu," jawab
Bong Thian-gak hambar.
Thia Leng-juan tertegun, "Menyelamatkan
aku? Apa maksudmu?"
Bong Thian-gak
tertawa dingin.
"Asal kau bersedia menjawab beberapa
pertanyaan dengan jujur, aku bersedia menyelamatkan jiwamu, kalau
tidak, perbuatanmu membunuh Kau-hubuncu perguruan kami itu, tentu
hanya ada jalan kematian bagimu."
Thia Leng-juan mulai berpikir,
"Bagaimana pun juga kepandaian silatku tidak mungkin bisa menandingi
Jian-ciat-suseng."
Maka dia pun bertanya, "Jawaban apa yang
harus kuutarakan?"
"Bagaimana caramu memasuki
Put-gwa-cin-kau?"
Thia Leng-juan tertegun, lalu berdiri
melongo, lama kemudian baru dia balik bertanya, "Buat apa kau
menanyakan hal itu?"
"Kau cukup menjawab pertanyaanku,
hati-hati, salah bicara bisa berakibat hilangnya nyawamu," ancam
Bong Thian-gak sambil tertawa
dingin tiada hentinya.
Thia Leng-juan termenung lama sekali,
tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah tertawa dingin,
Bong Thian-gak berkata, "Bukankah
kau telah membunuh kawanan jago persilatan golongan putih untuk
merebut kepercayaan Cong-kaucu sehingga kau diterima menjadi anggota
Put-gwa-cin-kau."
Gemetar keras sekujur badan Thia
Leng-juan mendengar itu, bentaknya, "Aku tak pernah membunuh jago
mana pun dari Bu-lim Bengcu, aku sama sekali tidak melakukan
pembunuhan apa pun."
Mencorong sinar tajam dari balik mata
Bong Thian-gak, dia segera
mendesak lebih jauh, "Lantas mengapa Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau
menaruh kepercayaan padamu? Kau pernah menjadi musuh bebuyutan
Put-gwa-cin-kau, apakah kau mempunyai sesuatu persyaratan yang dapat
membuat perempuan jalang itu percaya serta tunduk kepadamu?"
"Benar, tentu saja aku mempunyai
syarat-syarat tertentu," kata Thia Leng-juan.
"Apa syaratnya? Cepat katakan!" hardik
Bong Thian-gak.
"Tidak sulit bila ingin kukatakan, hanya
kau harus menerangkan dulu kepadaku, apa maksudmu menanyakan
persoalan itu?"
"Thia Leng-juan, coba kau lihat wajahku
baik-baik, tahukah kau siapa aku?"
Thia Leng-juan tertawa dingin, "Hm,
siapa lagi? Tentu kau adalah Jian-ciat-suseng
Bong Thian-gak."
"Kau masih ingat dengan seorang
sahabatmu yang bernama Ko Hong tiga tahun berselang?"
Begitu mendengar nama Ko Hong, gemetar
tubuh Thia Leng-juan dibuatnya, matanya membelalak, kemudian
mengamati wajah Bong
Thian-gak dengan seksama, seakan-akan dia sedang berusaha mencari
sesuatu.
Tentu saja yang dicari olehnya adalah
bekas-bekas yang telah menghilang.
Mendadak paras muka Thia Leng-juan
berubah pucat-pias seperti mayat, kemudian gumamnya, "Kau adalah Ko
Hong, benarkah kau adalah Ko Hong?"
"Benar, aku adalah Ko Hong," jawab
Bong Thian-gak nyaring, "aku
adalah Ko Hong yang bersama-sama kau dan Pa-ong-kiong Ho Put-ciang
bertiga bertarung membunuh Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau yang telah
menyaru sebagai Ku-lo Hwesio."
Thia Leng-juan tak dapat membendung air
matanya lagi, ia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
Bong Thian-gak
tidak habis mengerti apa sebabnya dia menangis, padahal seorang
Enghiong tak akan melelehkan air mata dengan mudah bila tidak sedang
bersedih hati.
"Thia-tayhiap, kau tentunya tahu bukan
persoalan apakah yang hendak kutanyakan kepadamu!" kembali
Bong Thian-gak bertanya dengan suara
dingin.
Mendadak Thia Leng-juan mendongakkan
kepala, kemudian teriaknya, "Ko Hong, bunuhlah aku! Biarpun mati,
aku akan mati dengan mata meram!"
Bong Thian-gak
berkerut kening, sebab sikap lawan, dia dapat pula merasakan
kesedihan hatinya, dia membentak kembali, "Thia Leng-juan, bila kau
benar-benar seorang Enghiong, benar-benar seorang leleki sejati,
ayolah bicara lebih jelas!"
Thia Leng-juan tidak menjawab, dia hanya
membungkam.
Melihat lawan membungkam.
Bong Thian-gak bertanya kembali,
"Thia Leng-juan, dengarkan baik-baik, aku hanya ingin mengetahui
nasib Ho Put-ciang, Yu Heng-sui dan Oh Cian-giok sekalian."
Thia Leng-juan mendongakkan kepala
memandang wajah Bong
Thian-gak dan termangu, air matanya belum mengering sehingga
wajahnya nampak sangat mengenaskan.
Tiba-tiba ia menghela napas, lalu
berkata, "Mereka semua telah meninggal dunia."
Ucapan itu bagaikan guntur yang membelah
bumi di siang hari bolong, gemetar keras sekujur badan
Bong Thian-gak karena menahan emosi,
kembali ia membentak, "Apa yang menyebabkan kematian Toa-suhengku
sekalian? Siapa yang telah membunuh mereka?"
Gemetar keras tubuh Thia Leng-juan,
tanyanya, "Kau menanyakan Toa-suhengmu? Apakah Ho Put-ciang kakak
seperguruanmu?"
"Kau tak usah bertanya lagi," tukas
Bong Thian-gak, "cepat
katakan, apa yang menyebabkan kematian Toa-suheng sekalian?"
Pada saat itulah tiba-tiba Thia
Leng-juan teringat akan sesuatu, dia berseru tertahan, "Oh Ciang hu
mempunyai empat orang murid, salah seorang di antaranya bernama
Bong Thian-gak, Ah! Kalau
begitu kau adalah murid Oh Ciong-hu Locianpwe yang bernama
Bong Thian-gak."
Sinar tajam penuh napsu membunuh
memancar dari balik mata Bong
Thian-gak, bentaknya, "Thia Leng-juan, kau belum menjawab
pertanyaanku, jika kau tidak menjawab dengan sejujurnya, aku akan
membunuhmu sekarang juga."
Sembari berkata, dia mengangkat telapak
tangannya pelan-pelan.
Kesepuluh orang pelindung hukum
Hiat-kiam-bun yang berdiri mengelilingi arena mengerti, dalam
keadaan demikian asal Thia Leng-juan salah bicara sepatah kata saja,
niscaya dia akan tewas dihajar oleh ketua mereka.
Dalam waktu singkat seluruh arena telah
diliputi oleh suasana tegang dan mengerikan.
Thia Leng-juan menggetarkan bibirnya
seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah kata pun yang
terucap keluar, jika dilihat dari kerutan wajahnya serta tubuhnya
yang mengejang keras, dia sedang merasakan kengerian yang luar biasa
dalam menghadapi kematian.
Namun akhirnya Thia Leng-juan berhasil
menenangkan diri, ia menjawab pelan, "Akulah yang telah mencelakai
mereka semua."
Belum selesai perkataan itu diucapkan,
Bong Thian-gak telah
berteriak, "Mengapa kau harus mencelakai mereka?"
Telapak tangannya segera diayunkan ke
depan melepaskan sebuah bacokan kilat.
Jeritan ngeri yang memilukan hati segera
berkumandang memecah keheningan, badan Thia Leng-juan mencelat ke
udara dan melayang keluar lewat daun jendela, kemudian, "Bluk",
terbanting ke atas lantai.
Secepat sambaran petir
Bong Thian-gak melejit ke udara dan
menyusul dari belakang.
Thia Leng-juan telah terkapar di atas
tanah, dia berusaha meronta bangun, namun tak berhasil.
Dengan kasar
Bong Thian-gak mencengkeram bajunya, lalu mengangkatnya
ke atas, bentaknya, "Ayo cepat katakan, mengapa kau membunuh
mereka?"
Sementara itu paras muka Thia Leng-juan
pucat-pias seperti mayat, tampangnya kelihatan sangat mengerikan,
darah segar mengalir keluar lewat ujung bibirnya seperti sumber mata
air, membasahi pakaiannya dan menetes pula ke atas lantai.
Pukulan dahsyat
Bong Thian-gak telah mengguncang isi
perutnya, membuat dia sadar kematiannya sudah dekat.
"Bong ... Bong
Thian-gak, sempurna amat tenaga pukulanmu, aku
... aku gembira sekali kau memiliki
pukulan tenaga dalam sedemikian sempurna."
"Apakah kau tidak takut mampus?" seru
Bong Thian-gak agak tertegun
mendengar perkataan itu.
Kembali Thia Leng-juan tertawa pedih,
"Pukulanmu barusan telah mengantar aku tak jauh dari kematian, aku
... aku merasa bersalah
terhadap segenap rekan-rekan umat persilatan, walau mati, aku mati
dengan rela, sekarang ...
sekarang aku ingin memberitahukan beberapa hal kepadamu."
Ketika berbicara sampai di situ, secara
beruntun dia muntah darah beberapa kali, dengan matanya yang sayu
dia pun mencoba memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian
tanyanya bimbang, "Di ...
dimanakah aku sekarang?"
Bong Thian-gak
agak tercengang dan sama sekali tak menduga sikap Thia Leng-juan
itu, seandainya dia benar-benar seorang licik yang berakal bulus,
mengapa sikapnya dalam menghadapi kematian begitu wajar?
"Tempat ini adalah ruang depan kuil
Hong-kong-si, Hong-kong Hwesio dan muridnya berdiam di ruang
belakang, sayang sekali mereka tak akan mendengar jeritanmu tadi,
sudah barang tentu mereka pun tak akan kemari untuk menyelamatkan
jiwamu."
Ucapan Bong
Thian-gak itu diutarakan dengan suara datar dan hambar.
Thia Leng-juan berseru tertahan, "Ah!
Kau ... kau juga tahu kalau
aku tengah bersekongkol dengan Hong-kong Hwesio beserta muridnya?"
Bong Thian-gak tertawa
dingin.
"Beberapa malam berselang, semua
pembicaraanmu dengan Long
Jit-seng di ruang belakang telah kudengar semua."
"Kalau begitu kau
... kau juga sudah mengetahui
pertemuanku dengan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau," kembali Thia
Leng-juan bertanya dengan sedih.
Kembali Bong
Thian-gak tertawa dingin.
"Tentu saja, aku pun sempat melihat kau
seperti ular yang patut dikasihani, tunduk di bawah selangkangannya.
Hm, pada saat itu aku malu melihat perbuatanmu, juga merasa kasihan
untuk nasibmu, sungguh tak kusangka kau adalah seorang yang tak
berguna."
Tiba-tiba dua baris air mata bercucuran
membasahi pipi Thia Leng-juan, bisiknya lirih, "Umpatanmu memang
benar, umpatanmu memang tepat sekali."
Sesudah mengucapkan perkataan ini, tubuh
Thia Leng-juan semakin lama semakin lemah, kerongkongannya mulai
gemerutukan.
Dia berbisik lagi dengan suara yang
sangat lirih, "Kemungkinan besar Ho Put-ciang sekalian belum
... belum mati, kau
... kau harus bekerja sama dengan
Hong-kong Hwesio."
Bergetar keras perasaan
Bong Thian-gak mendengar perkataan
itu, tanyanya, "Apa kau bilang? Toa-suhengku sekalian belum mati?
Katakanlah cepat kau, katakan!"
Beberapa kali teriakan beruntun, namun
Thia Leng-juan sudah tak sanggup menjawab.
Thia Leng-juan telah menemui ajalnya,
tewas seketika. Tenaga serangan yang maha dahsyat
Bong Thian-gak agaknya betul-betul
sudah mehancurkan isi perutnya.
Kata-kata terakhir Thia Leng-juan justru
menenangkan gejolak perasaan Bong
Thian-gak yang sedang dipengaruhi oleh emosi.
Ia tak habis mengerti apa sebabnya Thia
Leng-juan mengakui Ho Put-ciang sekalian tewas di tangannya, tapi
kemudian dikatakan pula bisa jadi mereka belum tewas.
Bong Thian-gak
hanya berdiri termangu sambil mengawasi jenazah Thia Leng-juan, dia
tidak habis mengerti apa gerangan yang yang telah terjadi.
"Omitohud!" suara pujian sang
Buddha tiba-tiba berkumandang
seperti suara lonceng berdentang.
Bong Thian-gak
sadar dari lamunannya, ia mengangkat kepala. Tahu-tahu sudah berdiri
empat orang. Mereka adalah tiga orang
Hwesio dan seorang kakek berbaju hitam
yang kurus kecil.
Kakek berbaju hitam itu cukup dikenal
Bong Thian-gak, sebab dia tak
lain adalah Long Jit-seng.
Dari ketiga orang Hwesio lainnya, orang
yang berada di tengah adalah seorang Hwesio tua berwajah kuning emas
yang memelihara jenggot sepanjang dada, kedua alis matanya juga
memanjang ke telinga.
Yang aneh adalah kulit badan Hwesio tua
ini pun berwarna kuning keemas-emasan, alis mata serta jenggotnya
juga berwarna kuning emas, tak bisa disangkal lagi orang itu adalah
Hong-kong Hwesio, si pedang sinar kuning.
Di sisi kiri dan kanan Hwesio tua itu
masing-masing berdiri seorang Hwesio tua yang jenggotnya hitam
sepanjang dada, Bong
Thian-gak tahu kedua orang ini tentu murid Hong-kong Hwesio, hanya
tak pernah disangka kedua muridnya pun berusia setengah abad lebih.
"Omitohud! Siancay, Siancay
... ternyata Sicu telah membunuh
Thia-tayhiap."
Hong-kong Hwesio berbicara dengan suara
rendah dan berat, sikap yang serius dan setiap patah katanya cukup
menggetarkan perasaan Bong
Thian-gak.
Sementara kesepuluh orang pelindung
hukum Hiat-kiam-bun telah berdatangan secara beruntun, mereka
menempatkan diri di kedua sisi Bong
Thian-gak.
Bong Thian-gak
memandang sekejap mayat Thia Leng-juan yang tergeletak di atas
tanah, kemudian ujarnya dingin, "Apabila Hong-kong Hwesio mengetahui
asal-usulnya, tentu kau akan beranggapan bahwa kematian Thia
leng-juan sudah semestinya dia terima."
"Siancay, Siancay! Sicu telah salah
membunuh orang," ucap Hongkong
Hwesio dengan suara dalam. "Sesungguhnya Thia Leng-juan adalah
seorang Enghiong sejati, dia dapat direndahkan, dapat pula
menyesuaikan diri dengan keadaan. Pembunuhan yang Sicu lakukan
terhadap dirinya sungguh merupakan suatu kejahatan yang patut
disesalkan."
Bong Thian-gak
tertawa dingin, "Aku membunuhnya karena perbuatan jahat yang ia
lakukan sudah kelewat batas. Kalau kau menuduh aku salah
membunuhnya, apakah perbuatannya mencelakai sahabat serta
saudara-saudaranya bukan suatu perbuatan yang keji?"
Long Jit-seng
yang berdiri di sisi arena mendadak tertawa seram, lalu menimbrung,
"Bong Thian-gak, apakah
kedatanganmu ini bermaksud hendak mengajak aku masuk Hiat-kiam-bun?"
Bong Thian-gak
segera menarik muka.
"Hiat-kiam-bun tak akan membiarkan
manusia licik yang berbicara lain di mulut lain di hati semacam kau
untuk tetap hidup di dunia ini."
"Orang she
Bong," Long Jit-seng tertawa dingin. "Kau tidak
seharusnya membunuh Thia Leng-juan di kuil Hong-kong-si."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Sejak beberapa hari lalu, aku sudah
tahu kau hendak memperalat kekuatan Hong-kong Hwesio dan muridnya
untuk melenyapkan aku, itulah sebabnya sudah beberapa hari aku
membuat persiapan di sekitar kuil Hong-kong-si untuk menanti Thia
Leng-juan masuk perangkap, kemudian dengan cara demikian akan
kupancing keluar Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya. Coba kau
bayangkan? Apakah rencana dengan memasang perangkap semacam ini
merupakan perbuatan yang keliru."
Diam-diam Long
Jit-seng terkejut, tapi dengan cepat dia telah tertawa
licik kembali, sahutnya, "Betul, memang tak keliru, aku yang telah
memandangmu terlalu rendah."
"Omitohud!" sekali lagi Hong-kong Hwesio
memuji keagungan sang Buddha,
"bila Long Jit-seng
bermaksud memancing kemunculan kami guru dan murid membuka pantangan
membunuh, mungkin Hongkong
Hwesio tak akan memenuhi harapannya, namun Sicu telah membunuh
Thia-tayhiap, jadi terpaksa kami guru dan murid benar-benar akan
membuka pantangan membunuh."
"Mana ...
mana, sebagai seorang pendeta, kau ingin mencampuri
pula urusan pertikaian dunia persilatan, cepat atau lambat pasti
akan kau langgar juga pantangan membunuh itu."
"Sudah hampir lima puluh tahun lamanya
Pinceng menutup diri hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia
persilatan, sungguh tak disangka orang-orang Bu-lim telah berubah
menjadi lebih buas dan ganas."
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Kalau hidup mengasingkan diri dalam
lingkungan masyarakat, siapakah yang bisa melepaskan diri dari
keramaian dunia? Tak heran kau mungkin bersembahyang setiap hari,
namun belum bisa melepaskan diri dari pikiran keduniawian."
Hati Hong-kong Hwesio bergetar mendengar
perkataan itu, mencorong tajam matanya mengawasi wajah
Bong Thian-gak lekat-lekat.
"Siancay, Siancay! Bila kuamati
panca-indra Sicu serta pancaran kegagahan dari wajahmu, sama sekali
tidak mirip seperti manusia buas yang berhati keji, tapi mengapa
Sicu justru membunuh Thia-tayhiap?"
Tiba-tiba Bong
Thian-gak menarik muka, kemudian berkata dengan suara
lantang, "Biarpun Thia Leng-juan terhitung anak murid Siau-lim-pay,
tapi perbuatannya justru merusak nama baik perguruan, dia telah
berkhianat serta mengabungkan diri dengan pihak Put-gwa-cin-kau
membantu kaum sesat dan kaum laknat melakukan berbagai kejahatan
mencelakai umat persilatan dan membunuh kaum pendekar, apakah aku
tak pantas membunuh manusia semacam ini?"
"Omitohud, apakah Sicu mempunyai bukti
yang meyakinkan?" tanya Hong-kong Hwesio.
"Tiga tahun berselang, Thia Leng-juan
telah berkhianat dan menjual Ho Put-ciang serta puluhan jago
persilatan yang berada dalam gedung Bu-lim Bencu, apakah bukti ini
belum cukup kuat?"
Hong-kong Hwesio segera menggeleng
kepala, katanya, "Apakah Sicu mengetahui dengan pasti kisah yang
sebenarnya sampai seluruh orang dalam gedung Bu-lim Bengcu di kota
Kay-hong ditumpas orang pada tiga tahun berselang?"
Bong Thian-gak
tertegun mendengar pertanyaan itu, kemudian dengan kening berkerut
dia berkata, "Aku memang tidak mengetahui apa sebabnya gedung Bu-lim
Bengcu di kota Kay-hong sampai tertumpas, namun menurut hasil
penyelidikanku, kecuali Thia Leng-juan, segenap jago dalam gedung
Bu-lim Bengcu pada waktu itu tidak diketahui nasibnya, sampai
sekarang mati hidup mereka pun tetap merupakan teka teki."
"Oleh karena itu Thia Leng-juan menjadi
orang yang paling dicurigai membunuh kawanan jago itu, apalagi
sebelum ajalnya tiba tadi, Thia Leng-juan juga mengakui bahwa dialah
yang telah membunuh Ho Put-ciang serta yang lain-lain."
"Ai, Sicu betul-betul telah salah
membunuh orang," Hong-kong Hwesio menghela napas sedih, "Thia
Leng-juan pernah meceritakan kisah yang sesungguhnya sampai gedung
Bu-lim Bengcu ditumpas orang, ai, kematian Thia-tayhiap benar-benar
kelewat mengenaskan!"
Helaan napas berulang kali Hong-kong
Hwesio membuat perasaan Bong
Thian-gak bergetar keras, diam-diam dia bertanya pada diri sendiri,
"Mungkinkah aku telah salah membunuh? Mungkinkah Thia Leng-juan
adalah seorang baik?"
Dengan cepat
Bong Thian-gak membayangkan kembali setiap gerak-gerik,
setiap perkataan yang diucapkan Thia Leng-juan menjelang ajalnya
tiba.
Dia memang merasa banyak hal yang
mencurigakan, akan tetapi Bong
Thian-gak tidak habis mengerti, bila Thia Leng-juan memang
bersih dan tidak merasa bersalah, apa sebabnya dia pasrah kepada
nasib dan bersedia menerima kematian?
Mungkin Thia Leng-juan mempunyai
kesulitan yang tak mungkin bisa diutarakan? Tapi bukankah dia
sendiri mengakui telah membunuh Toa-suheng sekalian?
Bong Thian-gak
benar-benar merasa amat resah, masgul dan murung, terutama sekali
terhadap kata-kata terakhir Thia Leng-juan menjelang ajalnya tadi,
" ... besar kemungkinan Ho
Put-ciang sekalian belum mati."
Yang membuatnya ragu dan tak menentu
sekarang adalah perkataan Thia Leng-juan itu, benarkah? Atau omong
kosong?
Sekarang Bong
Thian-gak sedikit menyesal, dia menyesalkan apa
sebabnya tidak membuat duduk persoalan menjadi jelas lebih dulu
sebelum menindak Thia Leng-juan.
Padahal Bong
Thian-gak sendiri sama sekali tidak menyangka Thia
Leng-juan bakal tewas di tangannya.
Thia Leng-juan pun terhitung seorang
jago persilatan kelas satu dalam Bu-lim, kendatipun dia tak bisa
meloloskan diri dari serangan Bong
Thian-gak, namun mustahil dia bisa tewas hanya dalam satu
gebrakan saja.
Bong Thian-gak
menghela napas panjang, kemudian bertanya, "Hong-kong
Locianpwe, benarkah aku telah salah membunuh Thia Leng-juan?"
Hong-kong Hwesio menghela napas,
"Thia-tayhiap tak seharusnya tewas dalam keadaan demikian, dia harus
mengungkapkan kenyataan sebenarnya peristiwa dunia persilatan
sebelum mati."
"Dapatkah Hong-kong Locianpwe
menerangkan duduk persoalan ini lebih jelas lagi?" tanya
Bong Thian-gak dengan kening
berkerut kencang.
Tiba-tiba mencorong sinar membunuh yang
amat tebal dari balik mata Hong-kong Hwesio, dia berkata, "Sicu
telah membunuh Thia-tayhiap, apa lagi yang bisa dibicarakan
sekarang?"
Bong Thian-gak
dapat pula menangkap sorot mata Hong-kong Hwesio itu, maka dia pun
balik bertanya, "Hwesio tua, apa yang hendak kau lakukan?"
"Nyawa manusia tak ternilai harganya,
Sicu telah membunuh orang, maka kau harus memberi keadilan pula bagi
umat persilatan."
"Bila Lohwesio ingin membalas dendam
bagi kematian Thia Leng-juan, kuanjurkan lebih baik urungkan saja
niatmu itu," ucap Bong
Thian-gak dingin.
"Rupanya Sicu beranggapan Lolap tak
sanggup menghabisi nyawamu?"
"Bila Lohwesio ingin membunuh aku,
kemungkinan besar kau harus mengorbankan tenaga yang amat besar,
namun sebelum aku roboh ke atas tanah, mungkin kau sudah kehabisan
tenaga untuk menghadapi musuh tangguh yang datang dari luar."
Baru selesai
Bong Thian-gak berbicara, mendadak terdengar suara
gelak tawa yang amat keras bergema memenuhi seluruh ruangan, gelak
tawa itu mulanya berasal dari atas atap rumah, tahu-tahu di tengah
halaman telah berdiri seorang lelaki kekar.
Orang itu bukan lain adalah jago nomor
tiga Kay-pang, Han Siau-liong.
Setelah berdiri tegak, Han Siau-liong
berkata dengan lantang, "Ketajaman mata Jian-ciat-suseng sungguh
mengagumkan sekali, hahaha, hari ini aku Han Siau-liong akan
menantang kau berduel."
Bong Thian-gak
tersenyum, "Mana ... mana,
hari ini berapa banyak jagoan yang telah Han-heng bawa serta?"
Setelah tertegun, Han Siau-liong
menyahut sambil tertawa, "Kurang lebih seratus orang dan sekarang
seluruh kuil Hong-kong-si telah kami kepung."
"Apabila Han-heng bermaksud mencari
Long Jit-seng, orangnya
berada di sini sekarang, Han-heng boleh menangkapnya dengan segera,"
ucap Bong Thian-gak tertawa.
Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak,
"Hahaha, Jian-ciat-suseng betul-betul memahami taktik perang."
"Jangan kelewat sungkan, bila Han-heng
tidak turun tangan dengan segera, bila Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau
sampai menyusul kemari, belum tentu pihakmu mempunyai kemampuan
untuk membekuk Hek-ki-to-cu."
Kembali Han Siau-liong tertawa kering,
"Kau anggap pihak Put-gwa-cin-kau pasti ada orang yang akan muncul
ke sini?"
"Telinga umat persilatan saat ini
dibentangkan lebar-lebar, rahasia Hong-kong Hwesio bersama
Hek-ki-to-cu mengenai rahasia harta karun Mo-lay-cing-ong sudah
bukan rahasia pribadi lagi."
"Kalau begitu, aku seharusnya turun
tangan terlebih dahulu," Han Siau-liong tertawa.
"Tampaknya Han-heng kuatir orang
she Bong akan menjadi nelayan yang
beruntung?"
"Betul, aku memang menguatirkan hal
ini."
Bong Thian-gak
tersenyum, "Bila Han-heng tidak turun tangan lebih dulu, kemungkinan
besar kau akan didahului orang lain."
"Siapa yang akan mendahului diriku?"
tanya Han Siau-liong.
"Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng Mo
Hui-thian."
Selesai perkataan itu, dari tengah
ruangan telah berkumandang suara seorang bernada dingin, "Bocah
keparat, kau betul-betul sangat lihai, sampai-sampai jejakku pun kau
ketahui."
Suara itu hanya melambung di angkasa,
tak nampak sesosok bayangan orang pun yang muncul.
Paras muka Hong-kong Hwesio serta Han
Siau-liong yang berada di tengah arena berubah hebat, nama besar Mo
Hui-thian cukup termasyhur dalam Bu-lim dewasa ini.
Kembali Bong
Thian-gak tertawa terbahak-bahak, suaranya keras dan
memekakkan telinga, kemudian dia berkata, "Hahaha, semenjak beberapa
hari lalu aku sudah tahu Mo-locianpwe ada maksud mencari diriku,
oleh sebab itu untuk menghindari usaha Toa-cengcu melancarkan
serangan keji, terpaksa aku pun menguntitmu lebih dulu. Hahaha,
Toa-cengcu seperti sudah terpikat oleh harta karun Mo-lay-cing-ong
sehingga lupa menyusahkan diriku."
Hong-kong Hwesio memuji keagungan sang
Buddha, kemudian pelan-pelan
berkata, "Mo Hui-thian, sudah puluhan tahun kita tak bersua,
Lohwesio kangen sekali kepadamu."
Dari keheningan udara kembali
berkumandang suara Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng.
"Hwesio tua sahabat karibku, aku dengar
peta harta karun itu berada di sakumu, entah bersediakah kau
meminjamkan sebentar kepada sahabatmu ini?"
"Omitohud, siapa bilang tak boleh? Kalau
sobat karib yang meminjam, aku yakin tentu akan dikembalikan."
Mendadak Han Siau-liong berkata kepada
Bong Thian-gak, "Bong,
buncu, tampaknya untuk sementara waktu kita harus
menyingkirkan semua perselisihan pribadi di antara kita."
Bong Thian-gak
tersenyum, "Han-heng, aku lihat watakmu sudah banyak berubah."
"Ya, keadaan dan suasanalah yang
memaksaku berbuat demikian," ucap Han Siau-liong.
Kembali Bong
Thian-gak tersenyum, "Pihak Hiat-kiam-bun kami sama
sekali tidak tertarik pada peta harta karun itu, tapi
... kami pun enggan membiarkan peta
harta karun itu terjatuh ke tangan partai atau perguruan mana pun,
oleh karena itu dia adalah musuh Hiat-kiam-bun kami, jika Han-heng
berniat merebut peta harta karun itu, bukankah kita akan segera
berubah menjadi musuh bebuyutan?"
"Bagus, bagus sekali," Han Siau-liong
tertawa lebar, "pendapat Bong-buncu memang persis seperti
pendapatku, tapi berbicara dari situasi yang kita hadapi sekarang,
tampaknya kita harus menjalin kerja sama."
"Bagaimana cara kita menjalin kerja
sama?"
"Pertama-tama kita harus mencegah peta
harta karun itu jangan sampai terjatuh ke tangan siapa pun."
"Tapi peta harta karun itu berada di
tangan siapa sekarang?"
Menghadapi pertanyaan itu Han Siau-liong
tertegun, ia balik bertanya, "Bukankah peta itu berada di tangan
Hong-kong Hwesio?"
Mendadak dari tengah udara berkumandang
lagi suara teriakan Mo Hui-thian, "Hwesio tua sahabat karibku,
mengapa kau tidak berhasil menemukan peta harta karun itu?"
"Omitohud, Mo-cengcu, sampai sekarang
mengapa kau masih belum juga menampakkan diri?" Hong-kong Hwesio
berkata.
Tiba-tiba Han Siau-liong berpaling ke
arah Bong Thian-gak dan
bertanya sambil tertawa, "Bong-buncu, apakah kau tahu Mo-loji dimana
bersembunyi?"
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Menurut berita dalam Bu-lim, Toa-cengcu
ibarat naga sakti di balik mega yang nampak kepala tak nampak ekor,
setelah berjumpa hari ini terbukti bahwa namanya memang bukan nama
kosong belaka, hingga sekarang aku masih belum menemukan tempat
persembunyiannya, artinya kita berdua telah menderita kekalahan di
tangannya malam ini."
Mendengar ucapan itu, Han Siau-liong
tertawa terbahak, "Hahaha, bila ia tidak juga menampakkan diri,
selamanya jangan harap dia bisa
melepaskan serangan
pedangnya untuk melukaiku."
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Menurut cerita orang, selama bertarung
Mo Hui-thian tak pernah melancarkan serangan kedua, sebab saat dia
menampakkan diri, musuh sudah roboh terlebih dahulu karena tertusuk,
konon kecepatan gerak
pedangnya tidak berada di bawah kemampuan Liu Khi."
"Aku dengar Liu Khi sudah bertarung
melawan Bong-buncu?"
tiba-tiba Han Siau-liong bertanya.
"Aku tak lebih hanya mencoba pisau
terbang daun Liu-nya saja,"
kata Bong Thian-gak tertawa.
"Liu Khi dari partai kami memiliki jurus
serangan yang sangat lihai dan kelihaiannya terletak pada permaianan
golok mustika tersoreng di
pinggangnya itu."
"Ya, aku pun pernah mendengar orang
membicarakan hal itu," Bong
Thian-gak manggut-manggut.
"Menurut pendapat Bong-buncu, mungkinkah
antara Hong-kong Hwesio dengan Mo-loji telah terjalin suatu hubungan
yang sangat akrab dan sehidup semati?"
"Ah, aku rasa mereka hanya saling
memanfaatkan kelebihan lawan, padahal keduanya sama-sama mempunyai
rencana tertentu," jawab Bong
Thian-gak sambil sengaja meninggikan suaranya.
Han Siau-liong tertawa, "Hahaha, kalau
begitu di antara kita tak ada seorang pun yang berani turun tangan."
"Apakah Han-heng masih sanggup menahan
diri dan menunggu lebih lama?"
"Bila Siaute sudah memperoleh
persetujuan Bong-buncu, tentu saja tak akan menunggu lebih lama."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Dengan kekuatan kita berdua, rasanya
hanya mampu untuk melawan Hong-kong Hwesio dan muridnya, apakah
Han-heng tidak kuatir Mo Hui-thian akan menjadi si nelayan yang
beruntung?"
"Siaute tidak percaya Hong-kong Hwesio
dan muridnya begitu sukar dilawan."
Bong Thian-gak
tertawa ringan.
"Kalau begitu dengan kemampuan Han-heng
seorang pun sudah cukup untuk melawan Hong-kong Hwesio dan muridnya,
buat apa kau mesti mengajak aku bekerja sama?"
"Yang kukuatirkan adalah Mo Hui-thian
yang berada di sisi arena."
"Bukankah dari pihak kalian masih ada
Liu Khi?" tegur Bong
Thian-gak sambil tersenyum.
Han Siau-liong tertegun mendengar
perkataan itu, kemudian katanya sambil tertawa kering, "Wah,
tampaknya Bong-buncu bukan orang tolol."
"Mana ...
mana," Bong
Thian-gak mengangguk, "tahu diri, tahu keadaan lawan, setiap
pertarungan baru bisa dimenangkan dengan sukses dan gemilang."
"Sekali pun Bong-buncu tak bersedia
bekerja sama, dengan kemampuanmu seorang rasanya juga susah
menguasai keadaan."
Bong Thian-gak
tertawa.
"Seandainya aku bekerja sama dengan Mo
Hui-thian atau Hongkong
Hwesio beserta muridnya untuk melawan kalian, mungkinkah bagi
Han-heng serta Liu Khi meraih keuntungan besar?"
Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, sayang sekali Bong-buncu telah
membunuh Thia Leng-juan, kalau tidak, aku memang patut menguatirkan
kerja samamu dengan Hong-kong Hwesio."
Sekali lagi
Bong Thian-gak tersenyum.
"Biarpun Hong-kong Hwesio ingin membalas
dendam bagi kematian Thia Leng-juan, namun peta harta karun jauh
lebih penting artinya daripada membalas dendam, oleh sebab itulah
hingga sekarang Hong-kong Hwesio masih belum berani bertindak secara
sembarangan, masakah Han-heng tidak melihat?"
Sesungguhnya Han Siau-liong telah
berusaha keras memeras otak menarik Bong
Thian-gak demi kepentingan pihaknya, selain dipakai
juga untuk menghadapi Hong-kong Hwesio, tapi
Bong Thian-gak bukan orang bodoh, ia
cukup memahami maksud dan tujuan Han Siau-liong yang sebenarnya.
Alhasil usaha Han Siau-liong pun menjadi
sia-sia belaka.
Di pihak lain, Hong-kong Hwesio sendiri
pun bukan orang sembarangan, ia cukup tahu setiap orang yang
bersembunyi di sekitar kuil Hong-kong-si pada malam ini merupakan
jago-jago persilatan yang lihai. Bila dia berani menyerang satu di
antaranya, niscaya pihaknya akan menjadi sasaran pengeroyokan orang
lain.
Setelah melalui pengamatan seksama, ia
dapat merasakan bahwa musuh yang paling tangguh saat ini tak lain
adalah Jian-ciat-suseng Bong
Thian-gak.
Sementara itu dari tengah udara kembali
berkumandang suara Mo Hui-thian, "Hwesio sahabat karib, sudah hampir
enam puluh tahun kita berkenalan, masa kau tidak bersedia membagi
sebagian harta itu kepadaku? Keadaan sekarang sudah jelas, dengan
kemampuan kalian beberapa orang rasanya sulit untuk mempertahankan
peta harta karun itu, asal Lohwesio menyetujui, aku pun bersedia
mengerahkan semua kekuatan kami guna bersama-sama menghadapi partai
pengemis, Put-gwa-cin-kau serta Hiat-kiam-bun."
Baru selesai perkataan Mo Hui-thian
tadi, dari sisi sebelah barat wuwungan rumah tiba-tiba melintas
cahaya putih secepat sambaran kilat menyambar ke atas pohon waru
tepat di hadapannya.
Kecepatan cahaya itu sangat luar biasa,
sekilas tahu-tahu sudah lenyap dari pandangan mata.
Mendadak dari atas pohon waru berkelebat
kembali sesosok bayangan orang yang melayang turun ke tengah
halaman.
Baik Bong
Thian-gak maupun Han Siau-liong mendongakkan kepala.
Ternyata orang yang baru saja melayang
turun adalah seorang kakek berbaju abu-abu berbadan bungkuk,
menyoreng sebilah pedang antik serta mengenakan kaca mata berbentuk
antik.
Dari potongan badannya, siapa pun akan
menduga dia adalah Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng yang sudah
puluhan tahun termasyhur dalam dunia persilatan dan lebih dikenal
orang sebagai si Naga di balik mega Mo Hui-thian.
Agaknya Mo Hui-thian kena dipaksa
menampakkan diri oleh lintasan cahaya putih tadi, dia nampak marah
sekali, dengan suara dingin menyeramkan dia membentak, "Liu Khi,
malam ini aku telah merasakan kelihaian pisau terbangmu, mengapa kau
tak menampakkan diri mencoba sejurus pedang terbangku?"
Sementara itu di atas wuwungan rumah
sesosok bayangan orang berbaju hitam berdiri kaku di sana, tidak
terlihat bagaimana dia menekuk lutut, tahu-tahu dia sudah melayang
turun dan hinggap di sisi Han Siau-liong.
Kemudian dengan pandangan dingin dia
memandang sekejap ke arah Mo Hui-thian, setelah itu katanya,
"Mo-loji, kau bisa menghindari pisau terbangku dengan selamat, hal
ini sungguh membuat aku merasa sangat kagum."
Han Siau-liong yang berada di samping
segera menimbrung pula sambil tertawa, "Liu-susiok, aku dengar ilmu
silat Mo Hui-thian sangat hebat, tapi yang paling menonjol adalah
kemampuannya melukai orang secara diam-diam dengan pedangnya.
Sekarang dia telah dipaksa oleh pisau terbang Susiok menampakkan
diri, aku pikir, inilah kesempatan baik bagiku untuk mencoba ilmu
pedangnya."
Seraya berkata, Han Siau-liong segera
melintangkan pedang baja raksasanya di depan dada, lalu teriaknya,
"Mo-toacengcu, Han Siau-liong dari partai pengemis ingin mencoba
kepandaian ilmu pedangmu yang konon dianggap orang sebagai ilmu
pedang nomor wahid di kolong langit."
Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng Mo
Hui-thian memang pernah disebut orang sebagai jagoan nomor wahid di
dunia, Han Siau-liong ternyata berani menantangnya bertarung, boleh
dibilang tindakan ini sangat berani.
Mo Hui-thian sama sekali tidak
menggubris Han Siau-liong, malah mengawasi Jian-ciat-suseng
Bong Thian-gak dari ujung kepala
hingga kaki, kemudian dengan acuh tak acuh dia berkata, "Ilmu
pedangmu masih belum pantas melawanku, kau percaya atau tidak
terserah kepadamu sendiri."
Han Siau-liong mendongakkan kepala, lalu
tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, kalau aku belum pantas, siapa yang
pantas?"
Mo Hui-thian menuding
Bong Thian-gak sambil menjawab, "Dia
masih cukup pantas bertarung beberapa jurus melawanku."
Bong Thian-gak
yang mendengar perkataan itu tersenyum.
"Ah, terlalu sungkan, sungguh tak
kusangka Mo-toacengcu memandang tinggi diriku."
"Sudah semenjak tadi aku tertarik
kepadamu, beberapa puluh hari lalu kau pernah mengalahkan putra
sulungku, maka aku berencana membayar dengan sebuah tusukan pula
kepadamu."
"Aku akan menerima petunjukmu itu dengan
senang hati," Bong Thian-gak
menjawab dingin.
Dalam waktu singkat situasi di tengah
arena berubah, kini Bong
Thian-gak sudah menjadi musuh Hong-kong Hwesio serta Mo Hui-thian.
Han Siau-liong serta Liu Khi dari
Kay-pang merupakan orang-orang yang berakal tajam, mereka tahu
situasi yang mereka hadapi sekarang sudah menguntungkan pihaknya,
maka sambil berpeluk tangan mereka menantikan perubahan selanjutnya
dari sisi arena.
Sepuluh
pelindung hukum Hiat-kiam-bun masing-masing telah melolos pedang
yang bersinar tajam dari pinggangnya, serentak mereka bergerak
membentuk barisan berbentuk setengah lingkaran untuk melindungi
Bong Thian-gak.
Pada dasarnya kesepuluh orang pelindung
hukum Hiat-kiam-bun merupakan jago-jago kelas satu di Bu-lim,
apalagi selama beberapa hari belakangan ini
Bong Thian-gak telah mewariskan
serangkaian ilmu pedang yang aneh kepada mereka, boleh dibilang
orang-orang itu sudah terlatih menjadi seorang pengawal yang sangat
tangguh.
Tapi Bong
Thian-gak cukup tahu bahwa kesepuluh orang pelindungnya
masih belum cukup mampu untuk melawan tokoh sakti seperti Mo
Hui-thian.
Maka dia segera membentak dengan cepat,
"Sepuluh pelindung hukum, harap mundur!"
Baru saja dia berseru, mendadak Mo
Hui-thian telah berseru lebih dulu sambil tertawa dingin, "Sayang
terlalu lambat!"
Baru selesai dia berkata, tubuh Mo
Hui-thian sudah menerjang ke muka.
Cahaya pedang berkelebat dan
... "Blum".
Jeritan ngeri berkumandang memecah
keheningan malam, seorang pelindung hukum Hiat-kiam-bun sudah
tertusuk perutnya, darah segar segera menyembur keluar seperti
pancuran, setelah tubuhnya gontai beberapa kali, akhirnya dia roboh
tak bernyawa lagi.
Berhasil membacok seorang korban, Mo
Hui-thian maju selangkah ke depan, cahaya tajam kembali berkelebat
menyapu seorang yang lain.
Oleh karena serangan pedang yang
dilancarkan Mo Hui-thian kelewat cepat, pada hakikatnya
Bong Thian-gak serta para
pelindungnya tak sempat lagi memberikan pertolongan
"Blus", lagi-lagi seorang korban roboh
bergelimpangan di tanah dengan perut robek dan usus berhamburan
kemana-mana, darah segar berceceran membasahi seluruh permukaan
tanah.
Pelindung hukum kedua telah roboh
binasa.
Pada saat korban pertama roboh, korban
kedua menyusul pula roboh terkapar, boleh dibilang peristiwa itu
hampir pada saat yang bersamaan.
Kaki kanan Mo Hui-thian maju setengah
langkah, pedangnya berputar kembali dan kali ini membacok pelindung
hukum ketiga yang berdiri di sebelah kanan.
Tapi Mo Hui-thian kali ini tidak
berhasil dengan sasarannya, sebab baru saja jurus pedangnya
dilancarkan, sebuah lengan seperti cakar burung garuda telah
mencengkeram pergelangan tangan kanannya.
Bagi orang yang belajar ilmu silat, urat
nadi adalah bagian penting yang mematikan di tubuh manusia, di
samping dua jalan darah kematian lainnya, apalagi kelima jari tangan
yang mencengkeramnya membawa desingan angin serangan yang tajam dan
menyayat bagaikan bacokan pedang.
Oleh sebab itu mau tak mau Mo Hui-thian
menarik kembali pedangnya sambil melompat mundur.
Ketika mendongakkan kepala, tampak
Jian-ciat-suseng Bong
Thian-gak dengan wajah kereng dan serius sedang mengawasi dua sosok
mayat yang terkapar di tanah, kemudian terdengar ia bertanya dengan
suara pelan, "Ang Teng-siu, apakah yang menjadi korban adalah Pui
Se-hiong serta Lay
Siong-han?"
"Lapor Buncu," segera jawab Ang Teng-siu
dengan sedih, "mereka Pui Se-hiong serta
Lay Siong-han."
"Selama Pui Se-hiong dan
Lay Siong-han menyusup ke dalam
Put-gwa-cin-kau, entah berapa kali mereka harus menghadapi ancaman
bahaya maut dan berada di antara hidup dan mati, namun setiap kali
mereka selalu berhasil menyelamatkan diri, sungguh tak kusangka baru
pertama kali turut aku terjun ke gelanggang, mereka harus menemui
ajal secara mengenaskan, aku ...
aku merasa amat bersalah dan malu terhadap mereka."
Ketika mengutarakan kata-katanya yang
terakhir, suara Bong
Thian-gak terdengar gemetar, dari sini bisa diketahui betapa sedih
dan murungnya dia.
Sepasang mata Ang Teng-siu pun turut
berkaca-kaca, tapi dia sempat berkata dengan suara nyaring, "Harap
Buncu jangan bersedih, kami sepuluh pelindung hukum sudah bersumpah
akan mendampingi Buncu hingga titik darah penghabisan, setiap saat
kami rela berkorban demi Buncu."
Dari balik mata
Bong Thian-gak mendadak mencorong
sinar mata tajam yang menggidikkan, ditatapnya wajah Mo Hui-thian
lekat-lekat, kemudian ujarnya dengan suara dingin, "Mo Hui-thian,
Hiat-kiam-bun sudah bersumpah tak akan hidup berdampingan denganmu."
Terkesiap Mo Hui-thian menyaksikan sorot
mata Bong Thian-gak yang
menggidikkan hati itu, ia berpikir dalam hati, "Oh, betapa
mengerikan sorot mata orang ini!"
Berpikir demikian, dia lantas tertawa
dingin dengan suara yang menyeramkan, kemudian serunya, "Sejak kau
berhasil mengalahkan putraku, aku sudah mempunyai ikatan dendam
sedalam lautan dengan Hiat-kiam-bun."
"Mo Hui-thian, mengapa kau tidak
mengangkat pedangmu untuk membacok kemari?"
"Kau anggap aku tak berani?" jengek Mo
Hui-thian sambil tertawa dingin.
Tubuhnya secepat anak panah menerjang
tiba.
Cahaya pedang berkelebat, pedang di
tangan kanannya segera membacok ke muka, desingan angin tajam
menyapu tiba dari sisi sebelah kiri.
Pada hakikatnya jurus serangan yang
dipergunakan olehnya itu sangat aneh, sakti dan luar biasa.
Terutama sekali dalam hal kecepatan,
boleh dibilang sukar membuat orang melihat dengan jelas bagaimanakah
serangan itu dilancarkan.
"Sret", bayangan orang tahu-tahu telah
melejit dari bawah cahaya pedang.
Jian-ciat-suseng
Bong Thian-gak sudah melompat
mundur, pakaian bagian dadanya sudah tersambar robek, koyakan
kainnya berkibar ketika terhembus angin.
Mo Hui-thian memandang sekejap mata
pedang di tangan kanannya dengan pandangan tertegun, wajahnya penuh
rasa kaget dan keheranan, setelah itu katanya dengan suara sedingin
salju, "Sastrawan cacat, kau adalah orang pertama dalam Bu-lim yang
berhasil meloloskan diri dari jurus seranganku."
Mo Hui-thian disebut orang sebagai jago
pedang kelas satu dalam Bu-lim, sudah barang tentu kematangan dan
kesempurnaannya dalam permainan pedang luar biasa hebat, tapi setiap
jago yang berada dalam arena dapat menyaksikan bahwa permainan
pedangnya ternyata masih jauh lebih lihai dari apa yang dibayangkan
semula.
Mo Hui-thian memang cukup pantas disebut
orang sebagai jago pedang nomor wahid dalam Bu-lim.
Sejak Han Siau-liong, Liu Khi serta
Hong-kong Hwesio sekalian menyaksikan jurus pedang yang dipergunakan
Mo Hui-thian untuk menyerang Bong
Thian-gak, boleh dibilang semua sependapat.
Tiba-tiba Han Siau-liong tertawa
nyaring.
"Hahaha, ilmu pedang bagus, ilmu pedang
bagus, malam ini aku orang she
Han benar-benar telah bertambah pengalaman."
Setelah berhenti sejenak, dia
menyambung, "Mo-toacengcu, dapatkah kau memberitahukan kepada kami,
jurus pedang apakah yang kau pergunakan itu?"
Sambil tertawa bangga sahut Mo
Hui-thian, "Itulah ilmu pedang Wi-liong-kiam-hoat (ilmu pedang ekor
naga), satu di antara tiga belas jurus ilmu pedang ekor naga hasil
ciptaan orang she Mo."
"Lihai, benar-benar sangat lihai," seru
Han Siau-liong sambil tertawa, "bila serangan pedang tadi sedikit
maju, niscaya usus Jian-ciat-suseng sudah berhamburan kemana-mana."
"Biarpun dia mampu meloloskan diri dari
serangan pertama, kedua dan selanjutnya dari ilmu pedang ekor
nagaku, tapi jangan harap dia bisa lolos dari ketiga belas jurus
ilmu pedang ekor naga yang kuciptakan ini."
Han Siau-liong tertawa lebar.
"Wah, kalau begitu Jian-ciat-suseng
sudah dapat dipastikan akan mampus."
"Asal aku berhasrat membunuhnya, aku
rasa dia memang sulit untuk lolos dalam kematian."
Tiba-tiba Han Siau-liong tertawa dingin,
"Mo-toacengcu, aku pikir kau mesti menyiapkan langkah mundur bagi
perkataanmu itu."
"Mengapa harus begitu?"
Sekali lagi Han Siau-liong tertawa
mengejek, "Seandainya Jian-ciat-suseng terbukti tidak mampus oleh
tiga belas jurus ilmu pedang ekor nagamu, apakah Mo-toacengcu berani
mengatakan bahwa engkaulah yang tidak tega membunuhnya?"
Mo Hui-thian mendengus dingin.
"Han Siau-liong," ia berteriak, "jika
kau tidak percaya dengan ilmu pedangku, mengapa tidak kau coba
sendiri turun ke gelanggang."
"Mo-toacengcu tak usah terburu napsu,
cepat atau lambat pihak Kay-pang pasti akan berhadapan denganmu."
Sementara itu
Bong Thian-gak masih berdiri tegak di tempat semula
dengan wajah sedingin es setelah ia menerima serangan kilat Mo
Hui-thian tadi.
Dia seolah-olah sedang memikirkan suatu
masalah atau bisa jadi nyalinya sudah dibuat keder atas kelihaian
musuh.
Sementara Han Siau-liong dan Mo
Hui-thian masih berbincang-bincang, dia hanya berdiri tanpa bicara
ataupun melakukan sesuatu perbuatan.
Tiba-tiba sekilas perasaan girang
melintas di wajah Bong
Thian-gak, dia seperti orang yang tersesat di tengah gurun pasir dan
secara kebetulan menemukan sumber mata air yang bening, mukanya
berseri-seri dan semangatnya berkobar kembali.
Mendadak ia berteriak nyaring, "Mo
Hui-thian, mengapa kau tidak lagi melancarkan seranganmu yang
kedua?"
Dengan cepat Mo Hui-thian berpaling,
hatinya kontan bergetar keras menyaksikan perubahan mimik
Bong Thian-gak, segera pikirnya,
"Kalau dilihat dari raut wajahnya yang berseri-seri dan nampak
sangat gembira, jangan-jangan dia telah berhasil memecahkan
perubahan jurus pedangku?"
Berpikir demikian, dengan sikap sangat
hati-hati namun ingin tahu, Mo Hui-thian bertanya lagi, "Apakah kau
sudah menemukan sesuatu rahasia?"
"Betul," Bong
Thian-gak mengangguk, "aku telah berhasil tahu rahasia
jurus pedang ilmu ekor nagamu itu."
"Hehehe, masakah begitu? Aku kurang
percaya," jengek Mo Hui-thian sambil tertawa seram.
"Ilmu pedang ekor nagamu berdasarkan
kecepatan dan keanehan dalam gerakan, kalau dibilang cepat,
kecepatannya sanggup membuat orang tidak percaya, dibilang aneh,
keanehannya mencapai taraf yang luar biasa sekali. Bagi seorang yang
belajar silai, memang sulit untuk melatih diri hingga mencapai
tingkat kecepatan serta keanehan seperti apa yang kau miliki
sekarang, bahkan berlatih sampai mati pun belum tentu sanggup
mencapainya, kenyataan kau mampu melakukannya. Kau sungguh pintar,
ternyata bisa menggunakan teknik dan taktik yang tinggi untuk
menggenggam pedangmu secara bergantian antara tangan kiri dan
kanan."
Han Siau-liong yang mendengar perkataan
Bong Thian-gak itu segera
manggut-manggut seakan-akan baru memahami akan sesuatu, dia menyela,
"Ya, betul, ilmu pedang ekor naga milik Mo-toacengcu memang
merupakan teknik pertukaran antara genggaman tangan kiri dan kanan."
Berubah paras muka Mo Hui-thian
mendengar perkataan itu, pelan-pelan dia berkata, "Sungguh tak
kusangka kau telah berhasil memahami teknik permainan pedangku,
hehehe, sayangnya, walaupun kau sudah tahu rahasia pergantian tangan
kiri dan kananku, namun bagaikan sedang bermimpi bila ingin lolos
dari serangan ketiga belas jurus ilmu pedang ekor nagaku dengan
selamat."
"Kalau memang begitu, silakan saja kau
lancarkan seranganmu!" tantang Bong
Thian-gak sambil tersenyum.
Mo Hui-thian tertawa dingin.
"Sekali pun kau ingin mampus, buat apa
mesti terburu-buru? Tunggu sebentar lagi."
"Mo Hui-thian," ujar
Bong Thian-gak kemudian dengan suara
sedingin salju, "sebetulnya dengan jurus pedangmu yang aneh dan
hebat, kau masih bisa mengalahkan diriku dengan suatu serangan
mendadak yang tidak terduga, tapi sekarang kau sudah tidak memiliki
kekuatan lagi untuk mengungguli diriku."
"Kau yakin mampu menghindarkan diri dari
ketiga belas ilmu pedangku?" tanya Mo Hui-thian dengan nada tidak
percaya.
"Aku takkan memberi kesempatan kepadamu
untuk melancarkan ketiga belas jurus serangan, pada saat kau
melepaskan serangan yang pertama, kemungkinan besar pedangku telah
berhasil merenggut nyawamu."
Seolah-olah baru saja mendengar sebuah
lelucon yang sangat
menggelikan, Mo Hui-thian tertawa
terbahak-bahak.
"Hahaha, selama beberapa puluh tahun aku
berkecimpung dalam Bu-lim, tak pernah seorang pun sanggup
mengungguli satu jurus serangan pun dariku, ingin kulihat pada malam
ini, apa yang kau andalkan untuk mengungguliku?"
Baru selesai perkataan itu, jurus pedang
Mo Hui-thian telah dilancarkan.
"Sret", cahaya pedang tahu-tahu sudah
terhadang di tengah jalan oleh kilatan cahaya pedang berwarna merah.
"Cring", desingan nyaring yang
memekakkan telinga bergema, sambil menarik kembali pedangnya, Mo
Hui-thian melompat mundur.
Bong Thian-gak
berdiri sambil menghunus pedang darah, hawa pedang yang menyelimuti
senjata itu mengepul seperti kabut yang menyelimuti pedang itu.
"Mo Hui-thian, baju bagian dadamu sudah
kena tertusuk sebanyak tiga buah oleh mata pedangku."
Paras muka Mo Hui-thian pada saat itu
benar-benar amat tak sedap dipandang, ia amat tekejut, ngeri, takut,
sedih, kesal dan berbagai perasaan lainnya.
Mo Hui-thian menundukkan kepala
memeriksa, tentu saja dia tahu baju bagian dadanya telah bertambah
dengan tiga buah lubang pedang, sebab pada saat itu dia merasa kulit
badan dan bagian dadanya terasa perih dan sakit, bahkan ada cairan
pekat yang membasahi tubuhnya, sudah jelas banyak darah yang
bercucuran dari mulut luka itu.
Tapi dari sudut manakah pedang itu
menyerang masuk ke dalam tubuhnya?
Sekarang Mo Hui-thian baru betul-betul
bisa merasakan bahwa Jian-ciat-suseng memang benar-benar seorang
musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya, bisa jadi nama
besar yang telah dipupuknya selama ini akan hancur di ujung pedang
Jian-ciat-suseng itu.
Teringat akan hal itu, air muka Mo
Hui-thian segera berubah serius dan amat kereng, pedang disilangkan
di depan dada, semua kekuatan dihimpun dan bersiap menghadapi segala
kemungkinan.
Dengan menggenggam pedang darah di
tangan tunggalnya, Bong
Thian-gak berkata lagi dengan hambar, "Mo Hui-thian, tadi kau telah
berhasil menusuk robek pakaian di bagian perutku dan sekarang aku
pun berhasil melubangi baju bagian dadamu, menang kalah di antara
kita pun aku rasa sudah menjadi seri. Tapi kau mesti ingat, dalam
bentrokan berikut ini, bisa jadi di antara kita berdua bakal
menderita kekalahan total."
"Betul," jawab Mo Hui-thian dengan suara
sedingin es, "dalam bentrokan berikut, bisa jadi seorang di antara
kita bakal menemui ajal."
Tiba-tiba Bong
Thian-gak menghela napas panjang, lalu bertanya dengan
suara pelan, "Mo-toacengcu, yakinkah kau mampu mengalahkan diriku?"
Mo Hui-thian tertawa dingin.
"Paling tidak harus makan banyak
tenaga."
"Di saat kau berhasil mengalahkan aku,
tentunya kau tak akan mampu lagi menghadapi Liu Khi serta Han
Siau-liong."
Perkataan itu tepat mengenai pikiran dan
perasaan Mo Hui-thian, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia
terbungkam.
Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, Bong-buncu memang sangat pandai
menggoyahkan mental dan iman orang lain, perkataanmu barusan sungguh
merupakan pukulan batin yang paling berat baginya, cuma
... tujuan kita semua pada malam ini
adalah demi peta rahasia harta karun, bisa jadi kita semua harus
mengerahkan seluruh kekuatan untuk pertarungan antara hidup dan
mati."
"Han-heng, tahukah kau peta harta karun
itu berada dimana?" tanya Bong
Thian-gak.
Sambil tertawa Han Siau-liong menjawab,
"Persoalan ini cukup kau tanyakan kepada Hong-kong Hwesio, dia pasti
tahu."
"Kalau memang begitu, sudah sepantasnya
bila Han-heng segera turun tangan terhadap Hong-kong Hwesio dan
muridnya."
"Bong-buncu tak perlu kuatir," Han
Siau-liong tertawa, "seratus orang lebih jagoan lihai dari Kay-pang
telah mengepung rapat kuil Hong-kong-si ini, jadi setiap orang yang
berada dalam kuil Hong-kong-si jangan harap bisa meninggalkan tempat
ini dalam keadaan selamat."
"Oh, rupanya
Han-heng sudah membawa bala bantuan yang begitu besar,
tak heran kau tampak sangat tenang dan yakin bakal berhasil."
"Ah, mana ...
mana," Han Siau-liong tertawa, "Bong-buncu bakal
bekerja sama dengan Hong-kong Hwesio serta Mo-toacengcu untuk
menghadapi Kay-pang?"
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Bagi orang yang tahu keadaan dan bisa
mempertimbangkan untung ruginya, dia memang harus berbuat demikian."
Mendengar perkataan ini, Han Siau-liong
tertawa terbahak-bahak dengan nada menyeramkan, "Hahaha, sayang
seribu kali sayang, antara Bong
Thian-gak dan Hong-kong Hwesio maupun Mo-toacengcu sudah
terjalin keretakan serta permusuhan, ibarat api dengan air yang tak
mungkin bisa digabung."
"Hiat-kiam-bun dengan pihak Kay-pang pun
ibarat api dengan air," Bong
Thian-gak tertawa.
"Kalau begitu Buncu sudah menjadi musuh
besar beramai-ramai, -kita
bisa bekerja sama lebih dulu untuk menghilangkan kau dari muka
bumi."
"Tapi sayang, kalian tak berani berbuat
demikian," Bong Thian-gak
menjengek sambil tertawa. "Mengapa?"
Bong Thian-gak
tertawa dingin, lalu katanya, "Sebab siapa saja di antara kalian
bila ada yang berani menyerang diriku lebih dulu, maka dia bakal
terluka paling dulu di ujung pedangku ini."
Bong Thian-gak
telah berdiri pada posisi menguntungkan, Pek-hiat-kiam disilangkan
di depan dada, sementara dari posisinya secara lamat-lamat memancar
hawa membunuh yang amat mengerikan.
Kalau tadi tiada orang yang
memperhatikan hal itu, maka sekarang semua orang telah memperhatikan
posisi Bong Thian-gak dengan
seksama, diam-diam mereka terkejut.
Terutama Mo Hui-thian, tanpa terasa ia
membatin, "Sungguh berbahaya, kalau aku melancarkan serangan lagi
tadi, bisa jadi akan kalah total!"
Setiap jago yang hadir dalam arena
sekarang rata-rata merupakan jagoan kelas satu dalam Bu-lim, siapa
saja dapat melihat Bong
Thian-gak yang berdiri dengan pedang melintang, merupakan posisi
ilmu pedang tingkat tinggi yang mengandung kekuatan luar biasa.
Mendadak Bong
Thian-gak menghela napas panjang, kemudian katanya,
"Sejak Hiat-kiam-bun berdiri, kami tak pernah mengganggu atau
menyerang partai dan perguruan mana pun lebih dahulu, kedatangan
kami di kuil Hong-kong-si malam ini pun sama sekali tidak berniat
untuk mengincar atau memperebutkan peta harta karun Mo-lay-cing-ong,
terlebih kami pun tidak bermaksud memusuhi siapa pun, tentu saja aku
pun tidak bermaksud membantu pihak mana pun. Sekarang semua
keterangan telah kuutarakan secara jelas, tentunya kalian pun tidak
usah merasa waswas terhadap Hiat-kiam-bun kami!"
"Sungguhkah perkataan Bong-buncu itu?"
tiba-tiba Han Siau-liong bertanya.
"Han-heng boleh mencari peta harta karun
itu dengan lega!"
"Bong-buncu, seandainya kau tidak
berniat mendapatkan peta harta karun itu, aku siap menurunkan
perintah kepada anak buahku agar memberi jalan kepada kalian
meninggalkan kuil Hong-kong-si ini."
"Untuk meninggalkan kuil Hong-kong-si,
bisa segera kami lakukan, tetapi jiwa dua orang pelindung hukum
perguruan kami tak dapat dikorbankan dengan sia-sia di tangan Mo
Hui-thian."
"Asal Bong-buncu bersedia meninggalkan
tempat ini, aku orang she Han
bersedia pula membantu kalian menuntut balas atas kematian kedua
orang pelindung hukummu."
"Terima kasih Han-heng, sayang sekali
urusan Hiat-kiam-bun harus diselesaikan pula oleh orang-orang
Hiat-kiam-bun sendiri."
"Kalau memang demikian, mengapa
Bong-buncu tak melancarkan serangan terhadap Mo-toacengcu?"
"Sebab aku menguatirkan sesuatu, itulah
sebabnya hingga sekarang masih belum berani turun tangan."
Mendadak Han Siau-liong tertawa
terbahak-bahak, kemudian katanya, "Apakah Bong-buncu menguatirkan
kami?"
"Sedikit kuatir saja, yang terutama aku
kuatir penyerbuan secara besar-besaran dari pihak Put-gwa-cin-kau."
"Bong-buncu benar-benar seorang yang
berotak panjang, cuma saja perhitunganmu malam ini keliru besar,
hingga sekarang orang-orang Put-gwa-cin-kau masih belum mengetahui
peta harta karun itu."
Kontan Bong
Thian-gak tertawa dingin, "Pengetahuan Han-heng juga
kelewat sedikit. Bila dugaanku tidak salah, bisa jadi orang-orang
Put-gwa-cin-kau sudah menyerbu masuk ke dalam kuil Hong-kong-si
ini."
"Perkataan Bong-buncu sungguh sukar
dipercaya."
"Musuh tangguh sudah di depan mata,
biarpun Han-heng tidak percaya pun sekarang harus mempercayainya
juga."
Baru selesai perkataan itu diutarakan,
dari ujung gedung pelan-pelan berjalan keluar seseorang.
Gerak-gerik orang ini sama sekali tidak
menimbulkan suara, di tengah kegelapan hanya sepasang matanya yang
nampak mencorong terang seperti bintang timur, dalam sekejap saja
orang itu sudah sampai di tengah halaman.
"Si-hun-mo-li."
Long Jit-seng
yang pertama menjerit kaget lebih dahulu.
Betul, orang yang baru menampakkan diri
tak lain adalah gadis berbaju biru berwajah cantik jelita bak
bidadari dari kahyangan.
Tatkala Bong
Thian-gak menyaksikan pendatang itu adalah
Si-hun-mo-li, paras mukanya berubah hebat.
Mendadak Han Siau-liong berkata,
"Liu-susiok, biar aku pergi menengok keadaan
To Siau-hou."
Belum habis ia berkata,
Bong Thian-gak telah menghela napas
panjang, selanya, "Tidak usah ditengok lagi! Aku kira sebagian besar
anak murid kaum pengemis yang bersembunyi di sekeliling kuil
Hong-kong-si telah mengalami musibah."
"Darimana Bong-buncu bisa tahu?"
"Anak murid kaum pengemis yang
bersembunyi di seputar kuil Hong-kong-si dipimpin oleh
To Siau-hou, dengan kecerdasan dan
kepandaian silatnya, tak mungkin dia membiarkan musuh menyerbu ke
dalam kuil Hong-kong-si sedemikian mudahnya, tapi ia telah berjumpa
dengan Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau."
Belum habis perkataan
Bong Thian-gak, Han Siau-liong sudah
berubah hebat air mukanya, dia berseru tertahan, kemudian seperti
burung bangau terbang di udara, dia meluncur keluar gedung.
"Han-heng, hati-hati dengan
Si-hun-mo-li," mendadak dia berteriak.
Ketika teriakan
Bong Thian-gak masih mengalun di
tengah udara, Han Siau-liong sudah menjerit kaget, tubuhnya melejit
ke tengah udara, kemudian setelah berjumpalitan beberapa kali, dia
melayang kembali ke tempat semula.
Rupanya di saat Han Siau-liong sedang
berlari keluar, Si-hun-mo-li yang semula berdiri kaku di tengah
halaman gedung sudah menyongsong kedatangannya dengan cepat, bahkan
telapak tangannya yang berwarna merah dihantamkan secara langsung ke
dada Han Siau-liong.
Bagaimana pun juga Han Siau-liong
merupakan seorang jago persilatan berilmu tinggi, sudah barang tentu
dia cukup mengetahui kelihaian pukulan itu, serta-merta dia
menjatuhkan diri dan berguling di atas tanah untuk menghindarkan
diri dari sergapan kilat Si-hun-mo-li itu.
Gagal dengan sergapan mautnya,
Si-hun-mo-li segera melejit ke tengah udara dan berjumpalitan
beberapa kali secara indah dan manis, kemudian dengan lembut dan
enteng dia melayang ke depan menerjang Han Siau-liong.
Seperti guntur membelah bumi Han
Siau-liong membentak keras, pedang bajanya disertai gulungan angin
serangan yang amat dahsyat langsung membacok ke depan.
Si-hun-mo-li berteriak seperti kicauan
burung nuri, tubuhnya yang lembut seperti seekor ular menggeliat,
memutar badan menghindarkan diri dari bacokan pedang lawan, kemudian
begitu melayang turun di hadapan Han Siau-liong, telapak tangannya
yang indah menawan itu langsung dihantamkan ke dada lawan.
Kelihatannya saja serangan itu seperti
lemah tidak betenaga, namun dalam pandangan seorang ahli, kecepatan
gerak serangan itu benar-benar seperti sambaran petir.
Han Siau-liong berseru tertahan, sekujur
tubuh berikut pedangnya dijatuhkan ke sisi sebelah kiri, telapak
tangan Si-hun-mo-li itu pun menggelincir lewat di bawah iga kirinya.
Han Siau-liong
ternyata sanggup menghindar dari sergapan maut Si-hun-mo-li,
hal ini menunjukkan kepandaian silatnya cukup tangguh.
Akan tetapi perubahan jurus serangan
Si-hun-mo-li pun pada hakikatnya cepat sukar dibayangkan.
Terlihat lengannya yang telah menerobos
ke muka itu tiba-tiba menekuk terus menggaet, jari-jari tangannya
yang lembut tahu-tahu sudah menghantam pinggang sebelah kanan Han
Siau-liong.
Dalam anggapan para jago yang menonton
jalannya pertarungan dari sisi arena, kali ini Han Siu Liong tak
bakal mampu menghindar lagi dari serangan itu.
"Sret, sret", dua kali desingan tajam
mendengung, dua kilatan cahaya putih telah meluncur dari tangan Liu
Khi, langsung mengarah jalan darah tenggorokan serta urat nadi
tangan Si-hun-mo-li.
Senjata rahasia pisau terbang Liu Khi
memang termasyhur sebagai senjata rahasia yang tiada duanya di
kolong langit.
Setiap kali pisau terbangnya
dilancarkan, sudah pasti musuh akan terhajar secara telak hingga
tewas atau paling tidak terluka dan selama ini tidak pernah meleset,
Si-hun-mo-li pun tak dapat menghindarinya.
Tapi situasi dalam sekejap telah
berubah.
Pada saat kedua bilah pisau terbang Liu
Khi meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa, tiba-tiba
berkelebat pula serentetan cahaya merah yang amat menyilaukan mata
menyongsong sambaran itu.
Di tengah dentingan nyaring dan percikan
bunga api yang memancar kemana-mana, tahu-tahu pisau terbang yang
mengancam tenggorokan Si-hun-mo-li sudah terpental dan mengenai
tempat kosong.
Menyusul kemudian terdengar jerit
kesakitan tertahan.
Pisau terbang yang lain berhasil
menancap di lengan kiri Si-hun-mo-li, darah segar pun segera
bercucuran dengan derasnya.
Di tengah jeritan kagetnya, Si-hun-mo-li
segera melompat mundur beberapa tombak.
Bagaimana pun juga pisau terbang Liu Khi
telah berhasil menyelamatkan jiwa Han Siau-liong dari bencana maha
besar.
Sedangkan Bong
Thian-gak juga telah menyelamatkan jiwa Si-hun-mo-li.
Rupanya cahaya bianglala yang berkelebat
tadi tak lain adalah serangan pedang Bong
Thian-gak. Dengan serangan itu dia telah merontokkan
pisau terbang yang mangancam tenggorokan Si-hun-mo-li.
Mimpi pun kawanan jago yang berada dalam
halaman itu tak mengira Bong
Thian-gak bakal turun tangan menyelamatkan jiwa Si-hun-mo-li dari
ancaman maut.
Liu Khi tertawa dingin, lalu jengeknya,
"Wah, cepat benar gerakan pedang Bong-buncu!"
Sedangkan Han Siau-liong turut membentak
pula dengan keras, "Bong-buncu apa-apaan kau? Si-hun-mo-li adalah
musuh besar segenap umat persilatan, mengapa kau malah membgntu
dirinya?"
"Biarpun Si-hun-mo-li adalah musuh kita
semua," kata Bong Thian-gak,
"akan tetapi aku tidak dapat membiarkan kalian mencelakai jiwanya."
"Mengapa?" teriak Han Siau-liong
setengah menjerit.
"Kesadaran Si-hun-mo-li telah punah,"
ucap Bong Thian-gak dengan
suara dalam, "ia membunuh orang, mencelakai orang, karena semua
perbuatannya itu bukan muncul atas kehendaknya sendiri, dia pribadi
sebetulnya hanya seorang yang mengenaskan dan pantas untuk
dikasihani."
Sementara pembicaraan berlangsung,
Si-hun-mo-li yang berada di samping arena tertawa seram, tiba-tiba
dia menerjang ke arah Bong
Thian-gak.
Melihat datangnya terjangan itu
Bong Thian-gak menggerakkan
Pek-hiat-kiam melepaskan sebuah tusukan ke samping, tujuannya tidak
lain untuk membendung gerakan Si-hun-mo-li yang mendekati tubuhnya,
itulah sebabnya tenaga yang disertakan dalam serangan itu pun tidak
terlalu besar.
Siapa tahu Si-hun-mo-li segera
menggoyang pinggulnya dan tiba-tiba saja menerobos masuk melalui
bawah pedang, lalu telapak tangannya dengan kelima jari tangan mirip
cakar maut mencengkeram alat kelamin Bong
Thian-gak.
Jurus-serangan semacam ini pada
hakikatnya merupakan sebuah jurus serangan mematikan, kecepatan
gerakannya pun luar biasa.
Dalam terkejutnya
Bong Thian-gak segera mengayunkan
kaki kanannya melepaskan tendangan kilat ke arah lengan perempuan
itu.
Sampai kini kesadaran Si-hun-mo-li belum
pulih, dia seolah-olah cuma tahu menyerang musuh dan tidak mengira
musuh bakal melancarkan serangan balasan ke arahnya, oleh sebab itu
lengannya segera termakan tendangan kilat
Bong Thian-gak.
Tendangan itu persis menghajar mulut
lukanya, diiringi jerit kesakitan Si-hun-mo-li memegang tangan
kirinya dengan tangan kanan dan secara beruntun mundur tiga-empat
langkah.
Darah segar segera bercucuran dengan
derasnya dari lengannya, Bong
Thian-gak menjadi tidak tega menyaksikan rasa sakit yang
memancar dari wajah perempuan itu, tanpa terasa dia berseru lirih,
"Thay-kun, maafkanlah aku!"
Dari balik mata Si-hun-mo-li memancar
sinar buas menggidikkan hati, akan tetapi mendengar panggilan
"Thay-kun" dari Bong
Thian-gak itu perasaannya seakan-akan bergetar keras, sepasang
matanya yang jeli dan indah segera mengawasi wajah
Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Dia seakan-akan sedang membayangkan
suatu kenangan yang telah begitu lama dilupakan olehnya.
Agaknya sorot mata maupun suara
Bong Thian-gak masih tersisa setitik
bekas dan kesan dalam benak Si-hun-mo-li, oleh sebab itu untuk
beberapa saat lamanya Si-hun-mo-li menghentikan gerak serangannya.
Setelah menghela napas panjang,
Bong Thian-gak berseru kembali
dengan suara mengenaskan, "Thay-kun, masih ingatkah kau padaku? Aku
adalah Ko Hong."
"Ko Hong", begitu dua patah kata itu
meluncur, paras muka Si-hun-mo-li segera berubah hebat.
Kini paras mukanya berubah menjadi
sedih, murung dan amat mengenaskan sekali.
"Oh ...
Ko Hong ... wahai Ko
Hong, dimanakah kau berada? dimanakah kau berada? Sungguh
mengenaskan kematian itu."
Sejak Si-hun-mo-li terjun kembali ke
dalam Bu-lim, selama ini tak pernah seorang pun yang pernah
mendengar perempuan itu berbicara. Tapi malam ini, dia telah
berbicara seorang diri. Ucapannya amat memilukan, membuat orang
pedih, seakan-akan suara gumaman orang yang sedang mengigau.
Dengan suara rendah
Bong Thian-gak berkata lagi,
"Thay-kun, aku adalah Ko Hong, aku belum mati, hanya kehilangan
sebuah lengan saja. Thay-kun, aku pasti akan menyembuhkan
kesadaranmu yang telah punah itu."
Ketika mendengar perkataan itu, dengan
sepasang matanya yang jeli dan bening Si-hun-mo-li mengamati wajah
Bong Thian-gak beberapa saat,
mendadak dia menggeleng perlahan, sekulum senyuman genit yang
membetot sukma tahu-tahu tersungging di ujung bibirnya.
Senyuman itu penuh mengandung daya tarik
yang luar biasa, membuat Bong
Thian-gak jadi tertegun dibuatnya.
Segenap jago yang berada di halaman
gedung itu pun turut tertegun dan termangu-mangu dibuatnya.
Sementara senyuman yang manis memukau
hati orang masih menghiasi wajah Si-hun-mo-li, pada saat itu pula
tiba-tiba dia menggerakkan kakinya dan selangkah demi selangkah
berjalan menuju ke hadapan Bong
Thian-gak.
Gerak-geriknya itu dilakukan dengan
lemah lembut, sama sekali tiada niat permusuhan, bahkan senyuman
yang tersungging di bibirnya pun nampak begitu damai, lembut dan
nikmat.
Tapi pada saat itulah tiba-tiba
Si-hun-mo-li mengangkat telapak tangan kanannya ke tengah udara dan
pelan-pelan ditekan ke atas dada Bong
Thian-gak.
Pada saat bersamaan berkumandang pula
suara pujian kepada sang Buddha
yang keras seperti suara genta di fajar buta. "Omitohud!"
Serta-merta
Bong Thian-gak yang berdiri termangu seperti orang
kehilangan ingatan, segera sadar kembali.
Walaupun begitu, suara pujian kepada
Buddha itu berkumandang
sedikit rada terlambat.
Di saat Bong
Thian-gak mendusin dari rasa kagetnya, telapak tangan
kanan Si-hun-mo-li sudah menghantam dada
Bong Thian-gak secara pelan-pelan.
Dengusan tertahan bergema dari bibir
Bong Thian-gak, dadanya
serasa dihantam oleh batu raksasa yang beratnya ribuan kati dan
matanya berkunang-kunang, tenggorokan terasa, anyir dan darah segar
tahu-tahu sudah menyembur dari mulutnya.
Berbareng itu sekujur tubuhnya terlempar
beberapa tombak dari tempat semula.
Si-hun-mo-li tertawa seram, bagaikan
anak panah yang terlepas dari busurnya dia langsung menerkam ke
depan anak muda itu.
"Thay-kun," jerit
Bong Thian-gak dengan suara keras,
"kau ... kau benar-benar
kehilangan kesadaranmu."
Bong Thian-gak
melayang mundur lagi.
Sewaktu mendengar jeritan keras itu,
sekujur badan Si-hun-mo-li tampak gemetar keras, sekali lagi dia
berdiri tak bergerak di tempat.
"Omitohud, Sicu sudah terkena
pukulannya, berarti tiada obat yang bisa menyembuhkan jiwamu lagi,"
kata Hong-kong Hwesio sambil berjalan ke samping
Bong Thian-gak.
Melihat Hong-kong Hwesio mendekatinya,
Bong Thian-gak segera
menggerakkan pedang di tangan kanannya menciptakan sebuah gerakan
serangan yang ampuh, kemudian sambil tertawa dingin katanya, "Hwesio
tua, aku tidak bakal mati, bila kau ingin membalas dendam bagi
kematian Thia Leng-juan, kau mesti menyambut beberapa jurus
seranganku lebih dahulu."
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang
dan menggeleng kepala, katanya, "Lolap tak bermaksud bertarung,
berhubung aku mempunyai suatu masalah yang tak kupahami, maka
mumpung Sicu belum mati, aku ingin menanyakan sampai jelas, harap
Sicu bersedia menjawab pertanyaanku itu."
Sambil tertawa dingin
Bong Thian-gak berseru, "Aku tidak
bakal mati, bila kau ingin menanyakan sesuatu cepat utarakan!"
Pelan-pelan Hong-kong Hwesio bertanya,
"Belum pernah ada seorang pun yang bisa lolos dalam keadaan hidup
setelah terhajar secara telak oleh serangan Si-hun-mo-li, keadaan
Sicu saat ini benar-benar berbahaya sekali, ai! Adapun persoalan
yang ingin Lolap tanyakan adalah sebutan Ko Hong' yang Sicu
pergunakan tadi, benarkah Sicu adalah orang yang bernama Ko Hong?"
Bong Thian-gak
tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, dia berkata, "Hwesio
tua, aku tidak bakal mati dan sekali aku bilang tak akan mampus aku
tetap tak akan mampus. Ilmu pukulan paling lihai yang diandalkan
Si-hun-mo-li adalah ilmu sakti Soh-li-jian-yang-sinkang, padahal
Si-hun-mo-li hanya berhasil melatih ilmu pukulan
Soh-li-jian-yang-sin-kang pada tangan kiri. Sedangkan serangan yang
bersarang di tubuhku tadi berasal dari telapak tangan kanannya, oleh
sebab itu aku tidak bakal mati, aku hanya menderita luka parah isi
perutku saja."
Mendengar penjelasan ini, Hong-kong
Hwesio berkata, "Kalau demikian Sicu memang benar-benar adalah Ko
Hong, kalau tidak, mustahil kau bisa mengetahui asal-usul
Si-hun-mo-li sedemikian jelas."
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Ko Hong adalah nama samaranku pada tiga
tahun berselang, Bong
Thian-gak barulah namaku yang sebenarnya, Hwesio tua, ada keperluan
apa kau menanyakan tentang hal ini?"
Setelah menghela napas panjang,
Hong-kong Hwesio berkata, "Pernahkah Bong-sicu mengira, semasa
hidupnya dulu Thia Leng-juan pernah meminta kepada Lolap untuk
mencarikan seseorang yang bernama Ko Hong."
"Thia Leng-juan menyuruh kau mencari
aku? Apakah dia meminta kau untuk membunuhku?"
Sekali lagi Hong-kong Hwesio menghela
napas panjang, "Ai, Bong-sicu kau salah besar! Ketika Thia Leng-juan
Tayhiap meminta Lolap mencarimu, dia meminta Lolap membantu segala
sesuatu bagimu, dia berkata kau adalah murid penutup Ku-lo Sinceng
dari Siau-lim-pay, sebelum beliau menutup mata, kau pun pernah
mempelajari ilmu Tat-mo-khi-kang sehingga kaulah satu-satunya orang
yang bisa mematahkan serangan Soh-li-jian-yang-sin-kang dari
Si-hun-mo-li. Di samping menyerahkan pesannya itu kepada Lolap, Thia
Leng-juan juga pernah menjelaskan segala sesuatu alasannya
menggabungkan diri dengan pihak Put-gwa-cin-kau."
Tatkala mendengar semua itu, sekujur
badan Bong Thian-gak gemetar
keras, dengan sedih dia menyela, "Jadi Thia Leng-juan tidak pernah
menyeleweng dari kebenaran?"
Hong-kong Hwesio menghela napas sedih,
"Sejak permulaan sampai akhir Thia Leng-juan tak pernah menyeleweng
dari kebenaran. Untuk menghadapi cengkeraman iblis yang mulai meluas
di seluruh dunia persilatan, dia tak segan-segannya mengorbankan
diri. Biarpun di luar dia adalah Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau, padahal
sebetulnya dia adalah musuh dalam selimut,
itu hanya sebagian saja dari kecerdasan otaknya, ai, dalam keadaan
begini, Lolap tidak ada waktu untuk menerangkan segala sesuatunya
kepadamu secara jelas, Thian sungguh adil, Thia-tayhiap memang
benar-benar pahlawan sejati, pendekar perkasa harus mengorbankan
jiwanya secara demikian mengenaskan."
Dalam pada itu dalam benak
Bong Thian-gak seakan-akan terlintas
semua gerak-gerik serta ucapan Thia Leng-juan menjelang ajalnya
tadi.
Tiba-tiba sepasang matanya menjadi
merah, dengan terbata-bata dia berbisik, "Aku sangat menyesal, aku
telah bertindak gegabah."
Sambil bergumam, selangkah demi
selangkah dia berjalan menghampiri jenazah Thia Leng-juan, kemudian
menjatuhkan diri berlutut dan berkomat-kamit entah apa yang
didoakan.
Dia amat menyesal atas kecerobohan
sendiri.
Dia merasa amat sedih, kesal dan murung.
Tiba-tiba dari samping tubuhnya
berkumandang suara pujian syukur kepada sang
Buddha, kemudian Hong-kong Hwesio
berkata pelan, "Omitohud! Ai, Sicu tak perlu menyesal, kematian
Thia-tayhiap bukan seluruhnya dikarena kecerobohan Sicu
... aku masih ingat perkataannya
kepadaku tempo hari, 'Bila Ko Hong masih hidup, maka di saat dia
muncul lagi dalam Bu-lim, Thia Leng-juan merasa tiada kepentingan
lagi untuk tetap hidup di dunia ini'. Dari kata-katanya itu bisa
disimpulkan bahwa Thia-tayhiap memang sudah mempunyai rencana untuk
mengakhiri hidupnya setelah mengetahui bahwa Sicu adalah Ko Hong."
"Mengapa dia berencana mengakhiri
hidupnya setelah berjumpa dengan diriku?" tanya
Bong Thian-gak pedih.
"Kesulitan Thia-tayhiap tidak mungkin
bisa Lolap terangkan dengan sepatah dua patah kata saja, lebih baik
kita bicarakan lagi di kemudian hari. Sekarang yang penting Sicu
harus bersiap menghadapi kawanan musuh tangguh!"
Sementara mereka sedang berbincang, di
sekeliling halaman itu telah bermunculan bayangan orang dengan
cepat, rombongan orang berbaju hitam itu mengepung dengan
menggenggam tombak.
Dari kemampuan mereka berjalan tanpa
menimbulkan suara serta gerak-geriknya yang aneh dan misterius,
bahwasanya rombongan itu betul-betul merupakan sekelompok musuh
tangguh yang lihai.
Dengan sorot mata tajam
Bong Thian-gak memperhatikan sekejap
orang-orang yang berada di sekeliling tempat itu, kemudian dengan
cepat dia melompat bangun sambil bisiknya, "Ah, mereka adalah
orang-orang Put-gwa-cin-kau."
"Betul," Hong-kong Hwesio menghela napas
panjang, "mereka adalah orang-orang Put-gwa-cin-kau, sungguh tak
kusangka dia pun sudah muncul di wilayah Hopak."
"Dia? Siapa yang kau maksud?" tanya
Bong Thian-gak keheranan.
Hong-kong Hwesio memandang sekejap ke
arah Bong Thian-gak, kemudian
katanya, "Sicu, tahukah kau, manusia manakah yang merupakan musuh
terlihai di dalam Put-gwa-cin-kau?"
"Cong-kaucu serta Ji-kaucu?"
Dengan cepat Hong-kong Hwesio menggeleng
kepala berulang kali, katanya cepat, "Biarpun Ji-kaucu serta
Cong-kaucu sangat lihai, kedua orang itu tidak menakutkan."
Mendengar perkataan itu sekali lagi
Bong Thian-gak mengawasi
orang-orang berbaju hitam yang berada di sekeliling tempat itu,
mendadak ia berseru tertahan sambil serunya, "Ah, tampaknya
rombongan orang ini berasal dari pasukan pengawal tanpa tanding?"
"Ya, betul," Hong-kong Hwesio
mengangguk, "mereka adalah pasukan pengawal tanpa tanding dari
Put-gwa-cin-kau."
Bong Thian-gak
mengerut dahi, kemudian tanyanya, "Apakah orang paling lihai dari
Put-gwa-cin-kau yang kau maksudkan adalah komandan nomor satu
pasukan pengawal tanpa tanding ini?"
"Betul, dialah yang kumaksudkan."
"Apakah dia pun berada di sini?"
"Belum, tapi dia pasti akan muncul di
tempat ini, sebab ketiga belas pengawalnya sudah muncul."
Sementara itu Han Siau-liong yang
menyaksikan kemunculan ketiga belas orang berbaju hitam itu makin
percaya bahwa kawanan jago Kay-pang yang ditugaskan menjaga di luar
kuil Hong-kong-si telah mengalami musibah.
Han Siau-liong berpaling ke arah Liu
Khi, lalu katanya, "Susiok, aku rasa kita harus turun tangan lebih
dulu untuk menguasai keadaan."
Sejak muncul hingga sekarang, Liu Khi
jarang berbicara, pada saat itulah dia menjawab dengan suara dingin,
"Siau-liong, kau harus dapat mengendalikan diri, pertarungan yang
bakal berkobar dalam kuil Hong-kong-si hari ini, bisa jadi akan
merupakan pertarungan mati-matian yang jarang terjadi Bu-lim, barang
siapa bisa mempertahankan hidup dalam pertarungan nanti, dialah yang
mungkin akan mendapat harta karun peninggalan raja muda
Mo-lay-cing-ong."
Beberapa patah kata Liu Khi menggerakkan
hati kawanan jago yang berada di dalam arena, semua orang
seolah-olah dapat merasakan juga bahwa di dalam kuil Hong-kong-si
yang kecil itu bisa jadi akan berkobar pertempuran berdarah yang
belum pernah terjadi sebelumnya.
