pendekar cacad 10
Bagian 10 :
Menyelidiki Put-gwa-cin-kau
Dengan suara berat dan dalam Ji-hubuncu
Hiat-kiam-bun berkata lagi, "Bicara soal ilmu silat Jian-ciat-suseng
memang sangat lihai, tapi jika segenap jago lihai Hiat-kiam-bun
mengepungmu, biar kau punya sayap pun jangan harap bisa terbang
meninggalkan ruangan ini, maka kunasehati, berpikirlah tiga kali
sebelum bertindak."
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Aku merasa logat bicara nona sangat
kukenal, seperti pernah berjumpa di suatu tempat, bersediakah kau
melepas kain kerudungmu agar dapat kulihat raut wajah aslimu?"
Tergerak hati Ji-hubuncu, katanya pula,
"Betul, nada suaramu serta potongan badanmu seperti pernah kujumpai
di suatu tempat, namun tak dapat kuingat secara pasti."
"Benar, mungkin tiga tahun lalu nona
pernah bersua denganku," kata Bong
Thian-gak dengan suara dalam. "Dan mungkin juga aku pun pernah
bersua denganmu, cuma sekarang masing-masing merahasiakan paras muka
yang dulu, maka biarpun sekarang bersua kembali, kedua belah pihak
sama-sama tidak mengetahui siapakah lawan."
"Tak usah banyak bicara lagi," tukas
Ji-hubuncu dingin. "Hari ini kau akan mati ataukah ingin hidup?"
"Tentu saja masih ingin hidup," jawab
Bong Thian-gak dengan suara
hambar.
"Kalau ingin hidup, cepat katakan siapa
pembunuh Kau-hubuncu kami?"
"Boleh saja,"
Bong Thian-gak tertawa dingin. "Cuma kau harus
memperlihatkan dulu paras mukamu." Ji-hubuncu mendengus dingin.
"Selamanya aku tak pernah bertukar
syarat dengan orang lain."
Mendadak Bong
Thian-gak bangkit, kemudian katanya, "Kalau begitu
terpaksa aku mohon diri lebih dulu."
Yu Hong-hong turut bangkit, kemudian
bersama Bong Thian-gak
membalikkan badan dan berjalan keluar ruangan itu.
Tiba-tiba Ji-hubuncu membentak nyaring,
"Berhenti!"
Pelan-pelan
Bong Thian-gak membalikkan badan, mendadak ia
menyaksikan Ji-hubuncu sudah melolos pedang.
Pedang berwarna merah darah, jauh lebih
menyolok daripada pedang-pedang lainnya, seolah-olah sebilah pedang
yang baru saja digunakan membunuh orang dan masih berlepotan darah.
Dengan pedang itu Ji-hubuncu menuding ke
langit sambil melakukan gerakan-gerakan aneh, menyusul gerakan itu,
tiga orang aneh yang berdiri di belakangnya mengawasi pedang darah
itu dengan sorot mata yang mengerikan dan menggidikkan.
Tampaknya apabila pedang Ji-hubuncu itu
menunjuk ke depan, maka tiga orang aneh itu akan melaksanakan
perintahnya seperti orang kalap.
Sambil tertawa dingin Ji-hubuncu
berkata, "Hiat-kiam-bun bisa menggetarkan seluruh kolong langit
antara lain karena kami ditunjang oleh lima algojo yang tangguh,
bila pedang darah ini kutudingkan ke arahmu, maka penjagal-penjagal
berbaju merah ini akan membunuhmu secara keji dan kalap."
"Algojo-algojo berbaju merah ini bukan
manusia, melainkan setan iblis, biarpun kau Jian-ciat-suseng
mempunyai kepandaian silat yang lebih hebat pun, jangan harap bisa
membunuhnya, karena mereka mempunyai beribu lembar jiwa, mati satu
tumbuh seribu dan setiap kali mati mereka bisa hidup kembali."
Setengah percaya setengah tidak,
Bong Thian-gak tanpa terasa
bertanya, "Sungguhkah itu?"
"Aku tidak bohong."
Tiba-tiba Yu Hong-hong melolos pedang
dan berdiri di sisi kiri Bong
Thian-gak dengan siap siaga.
"Aku tak ingin bermusuhan dengan
Hiat-kiam-bun, aku pun tak ingin mencoba kekuatan algojo-algojo
berbaju merah itu, namun bila Ji-hubuncu mendesak terus, terpaksa
kami harus membela diri sepenuh tenaga."
Sembari berkata dia mundur ke belakang
selangkah demi selangkah, sedangkan Yu Hong-hong yang berada di sisi
kirinya ikut mundur pula dengan hati-hati dan tak berani gegabah.
Menyaksikan hal ini, ujung pedang darah
Ji-buncu Hiat-kiam-bun yang menuding ke langit pun pelan-pelan
digerakkan turun ke bawah.
Tiga pasang mata orang berjubah merah
itu pelan-pelan bergerak pula ke bawah mengikuti gerakan pedang
darah itu.
Mendadak Ji-hubuncu berteriak keras, "Ma
Kong, bunuh mereka!"
Berbareng dengan teriakan itu, pedang
darahnya segera menuding ke arah Bong
Thian-gak.
Jeritan keras seperti teriakan setan
segera berkumandang.
Orang berjubah merah yang berada di
posisi tengah melejit ke depan secepat terbang, kemudian dengan
cepat menerkam tubuh Bong
Thian-gak dan Yu Hong-hong.
Yang mengerikan adalah gerak-gerik orang
berjubah merah itu sedikit pun tidak mirip manusia, gayanya sewaktu
menerkam seolah-olah sedang terbang.
Yu Hong-hong membentak nyaring,
pedangnya menciptakan titik cahaya bintang segera membacok tubuh
orang berjubah merah itu.
Mendadak orang berjubah merah itu
memutar lengan kanan menangkis datangnya bacokan pedang itu.
"Cring", Yu Hong-hong merasa pergelangan
tangan kanannya sakit, senjatanya tahu-tahu sudah dipukul mental
oleh tangkisan lawan.
Kejadian ini benar-benar menggidikkan,
ternyata lengan si orang berjubah merah itu tidak mempan ditusuk
atau pun dibacok,
Selesai mementalkan pedang lawan, orang
berjubah merah itu segera mengayunkan pula telapak tangan kanannya
mencengkeram tubuh Yu Hong-hong.
Yu Hong-hong
segera melejit ke samping dan memutar tubuh, sekali lagi pedangnya
melancarkan tusukan ke depan.
"Cring", bunyi dentingan nyaring kembali
bergema
Kali ini tusukan pedang Yu Hong-hong
persis menusuk ke lambungnya, tapi pedang yang terbuat dari baja
asli itu malah patah menjadi dua bagian.
Rupanya sekujur tubuh si algojo berbaju
merah itu kebal tusukan senjata, kejadian ini kontan membuat Yu
Hong-hong tertegun, dia lupa cakar kanan orang sudah berada tiga
inci di depan tenggorokannya.
Bong Thian-gak
yang menyaksikan mara bahaya itu segera membentak, secepat kilat
tangan kirinya menyambar pinggang Yu Hong-hong sambil melompat
mundur, dengan gerakan manis dia telah menyelamatkan si nona dari
cengkeraman maut lawan.
Gagal dengan cengkeraman mautnya, orang
berjubah merah itu menjerit aneh, kali ini dia menerkam
Bong Thian-gak
.
Bong Thian-gak
sudah menduga musuh akan menerkam ke arahnya, cepat dia menurunkan
Yu Hong-hong. Sambil membentak gusar, segulung tenaga pukulan yang
amat dahsyat segera dilontarkan.
"Blam", ledakan keras yang memekakkan
telinga berkumandang.
Dada si orang berjubah merah terhajar
telak, sedemikian dahsyat serangan itu membuat orang aneh itu
terdorong mundur tiga-empat langkah.
Bong Thian-gak
berkerut kening menyaksikan itu, padahal kekuatan tadi mengandung
ribuan kati, betapa pun hebatnya seorang tokoh persilatan mustahil
bisa menyambut dengan kekerasan.
Tapi kenyataan lawan malah menerima
serangannya itu sambil membusungkan dada tanpa takut.
Agaknya pukulan yang maha dahsyat tadi
telah mengobarkan api kebuasan dan keganasan orang berjubah merah
itu, sambil berpekik keras, sekali lagi dia menyerang
Bong Thian-gak.
Kali ini Bong
Thian-gak sudah menggenggam gagang pedang kayunya,
apabila orang berjubah merah itu menyerang lagi, dia akan membalas
dengan mempergunakan jurus pedangnya.
Sejak Bong
Thian-gak muncul di Bu-lim, belum pernah ada orang yang
sanggup menerima jurus serangannya, maka setiap kali pedangnya
digunakan, korban pasti berjatuhan.
Betul pedangnya hanya terbuat dari kayu,
namun disaluri tenaga dalam yang sangat sempurna, pada hakikatnya
pedang itu lebih tajam daripada pedang mestika.
Mendadak Bong
Thian-gak berkata dengan suara dalam, "Hong-hong, di
bahumu masih terdapat sebilah pedang lain, cepat cabut keluar
apabila pedangku tidak mendatangkan manfaat yang kuharapkan,
terpaksa aku harus meminjam pedangmu itu."
Mendengar perkataan itu, dengan cepat Yu
Hong-hong melolos pedangnya yang tersoreng di bahu.
Sementara itu si orang berjubah merah
sudah menjerit keras dan menerkam dengan ganas.
Diiringi bentakan nyaring,
Bong Thian-gak melolos pedangnya.
"Crit", desingan tajam mendesis,
kemudian bergema teriakan setan yang menggidikkan hati.
Pedang kayu
Bong Thian-gak telah menembus tiga inci di bawah pusar
orang berjubah merah itu hingga tembus, menyusul dengan suatu
gerakan cepat kaki kanan Bong
Thian-gak melepaskan tendangan yang membuat tubuh musuh
mencelat.
Orang berjubah merah itu tewas, namun
dari mulut lukanya tiada cairan darah yang meleleh keluar.
Mencorong sinar aneh dari balik mata
Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun, tiba-tiba ujarnya, "Benar-benar jurus
pedang yang luar biasa, tak nyana tubuh 'si algojo berbaju merah pun
tembus. Namun jangan keburu bangga, sebentar lagi Ma Kong akan
bangkit kembali, sekarang dia cuma jatuh semaput."
Paras muka
Bong Thian-gak segera berubah serius, serunya,
"Hong-hong, berikan pedangmu kepadaku."
Ternyata tusukan pedang kayu
Bong Thian-gak dengan cepat sudah
ditarik dan dimasukkan ke sarungnya, sementara lengannya menerima
angsuran pedang dari Yu Hong-hong.
Setelah menggenggam pedang baja, ia
berseru lantang, "Ji-hubuncu, kau adalah seorang yang cerdik, pedang
kayuku saja bisa menembus tubuh si algojo berbaju merah itu apalagi
dengan pedang baja di tangan. Aku orang
she Bong percaya masih bisa mematahkan seluruh bagian
tubuhnya. Aku tidak percaya bila seseorang sudah tercincahg menjadi
tujuh-delapan bagian, dia masih dapat hidup kembali."
Sambil tertawa dingin,
Bong Thian-gak berkata lebih lanjut,
"Untuk mendididk dan melatih lima algojo berbaju merah ini, aku
yakin pihak Hiat-kiam-bun telah banyak mengeluarkan pikiran dan
tenaga, bila Ji-hubuncu menginginkan kerja kerasmu selama ini
porak-poranda dalam sekejap mata, maka terpaksa aku akan memusnahkan
mereka dari muka bumi."
"Padahal sesungguhnya, antara aku orang
she Bong dengan perguruan
kalian tidak mempunyai ikatan dendam ataupun sakit hati, aku pun tak
ingin melenyapkan algojo-algojo kalian itu, nah Ji-hubuncu, aku
sudah cukup memberi penjelasan, harap kau jangan mendesak diriku
lebih jauh."
Setelah itu
Bong Thian-gak berkata kepada Yu Hong-hong, "Ayo kita
segera mundur dari sini!"
Mendadak kesembilan gadis berkerudung
merah yang berdiri di depan pintu menggerakkan senjata dan maju
menyambut kedatangan mereka.
Tiba-tiba terdengar Ji-hubuncu berseru
nyaring, "Mundur, biarkan mereka mengundurkan diri dari sini!"
Mendapat perintah itu, kesembilan gadis
berkerudung merah segera menyingkir ke kiri dan ke kanan.
Dengan suara lantang
Bong Thian-gak berseru, "Terima
kasih Ji-hubuncu atas kemurahan hatimu, sampai jumpa di lain waktu."
Dia membuka pintu dan bersama Yu
Hong-hong mengundurkan diri dari situ.
Setibanya di luar pagar halaman, Yu
Hong-hong mendongakkan kepala memandang matahari yang bersinar
terik, tak tahan lagi gumamnya, "Ai, seperti baru saja bermimpi
buruk!"
"Siapa bilang bermimpi buruk? Kita
mengalami semua sebagai kenyataan," kata
Bong Thian-gak sambil mengembalikan pedang baja gadis
itu.
"Tapi hakikatnya melebihi setan iblis
dari neraka, benar-benar menggidikkan," bisik Yu Hong-hong dengan
jantung masih berdebar. Bong
Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, seandainya tidak kusaksikan dengan
mata kepalaku, aku benar-benar tak percaya akan peristiwa yang
mengerikan ini."
Yu Hong-hong bertanya pula dengan polos,
"Hwecu, bukankah kau dapat memusnahkan kelima setan iblis itu?
Mengapa kau tidak memanfaatkan kesempatan tadi untuk membinasakan
mereka?"
Bong Thian-gak
kembali menghela napas panjang, "Tadi sebenarnya aku sendiri pun
tidak yakin akan berhasil memotong-motong tubuh mereka dengan
menggunakan pedangmu, sesungguhnya Ji-hubuncu termakan oleh gertak
sambalku."
Yu Hong-hong mengedipkan mata
berulang-kali, lalu bertanya lagi, "Bukankah pedang kayu Hwecu
berhasil menembus tubuh setan iblis itu? Bila diganti dengan sebilah
pedang baja, masakah tak mampu mencabik-cabik tubuh mereka?
Bong Thian-gak
menggeleng kepala, "Untuk mengerahkan tenaga melepaskan tusukan,
tenaga yang kita gunakan akan jauh lebih besar, terutama bagi
seorang jago yang bertenaga dalam sempurna, memakai pedang kayu atau
pedang sungguhan sebenarnya tidak berbeda jauh, kecuali pedang yang
kita pergunakan adalah sebilah pedang mustika yang dapat mematahkan
benda apa saja."
"Wah, jika di kemudian hari
Hiat-kiam-bun melepas kelima algojonya malang-melintang dalam
Bu-lim, bukankah akan tercipta bibit bencana besar bagi umat
persilatan."
"Sekarang aku sedang berusaha
menanggulangi kejadian itu, untung saja kita diberi kesempatan
mengetahui rahasia Hiat-kiam-bun itu, kalau tidak, akibatnya di
kemudian hari tentu akan semakin serius."
Bicara punya bicara,
Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong
sudah sampai di halaman kamar nomor tiga puluh enam.
O
Malam semakin kelam, suasana amat sepi
dan tidak terdengar suara apa pun.
Cahaya lentera masih memancar keluar
dari bilik kamar nomor tiga puluh enam.
Bong Thian-gak
duduk di defpan meja sambil terpekur dan merenung seorang diri.
Tiba-tiba di luar kamar terdengar suara
gemerisik yang amat lirih.
Biarpun ada daun kering yang rontok
terhembus angin pun tidak akan lolos dari pendengaran
Bong Thian-gak, apalagi suara
gemerisik yang mengundang kecurigaan.
"Siapa di situ?" sambil membentak sorot
mata Bong Thian-gak dialihkan
keluar jendela dengan cepat.
Mendadak ia menyaksikan sesosok bayangan
tubuh yang ramping dan indah berdiri di tengah halaman.
Bagaikan disambar geledek
Bong Thian-gak membatin.
"Ah! Si-hun-mo-li! Ia benar-benar telah
datang."
Sementara itu bayangan indah di luar
jendela masih diam tak bergerak, namun sepasang matanya yang jeli
justru memancarkan cahaya tajam yang indah, sorot mata itu sedang
mengawasi Bong Thian-gak yang
berada di balik jendela tanpa berkedip.
Dengan suara rendah
Bong Thian-gak menegur, "Kalau sudah
datang, mengapa tidak masuk? Pintu tidak ditutup!"
Siapa tahu baru selesai perkataan itu
diucapkan, terdengar suara cekikikan merdu, lalu bayangan indah di
luar sana lenyap.
Bong Thian-gak
terkejut, dengan cepat dia melompat keluar melalui jendela dan naik
ke atas wuwungan rumah.
Di bawah cahaya bintang dan rembulan,
tampak sesosok bayangan tubuh indah sedang bergerak di ujung atap
rumah sebelah sana.
Bong Thian-gak
mengembangkan Ginkangnya dan melakukan pengejaran secara ketat.
"Bagaimana pun juga aku tak boleh
membiarkan dia lolos dari pengejaranku."
Inilah keputusan yang diambil
Bong Thian-gak, oleh karena ia tak
sempat melihat jelas paras muka Si-hun-mo-li, maka tidak diketahui
olehnya apakah Si-hun-mo-li itu benar Thay-kun atau bukan.
Pengejaran dilakukan
Bong Thian-gak dengan kecepatan
bagaikan sambaran petir.
Bayangan indah di depan sana pun berlari
tak kalah cepatnya. Dalam waktu singkat keduanya sudah berada di
luar kota, akan tetapi Bong
Thian-gak belum juga berhasil memperpendek jarak di antara mereka.
Sekarang pemuda itu baru terperanjat,
segera pikirnya, "Ai, tak nyana ilmu meringankan tubuh yang dia
miliki begitu cepat, tapi aku tak boleh kehilangan jejak, tidak
gampang mengundang kehadirannya ...
bila kali ini aku tak berhasil menjumpainya, maka selamanya
tak akan berjumpa lagi."
Sementara berbagai ingatan berkecamuk
dalam benak Bong Thian-gak,
ia semakin mempercepat gerak tubuhnya, seperti sedang terbang saja
kaki tidak menempel tanah.
Akhirnya jarak antara mereka berhasil
diperpendek.
Di hadapan mereka tiba-tiba muncul
sebuah gedung berloteng yang amat megah.
Bayangan langsing di depan sana
menerobos masuk ke dalam rumah yang berlapis-lapis itu dan sekejap
kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap.
Bong Thian-gak
menerjang masuk ke dalam bangunan itu, namun suasana di sekeliling
sana sepi dan hening, seolah-olah sebuah kota mati saja.
Tentu saja bayangan Si-hun-mo-li turut
lenyap, dia seolah-olah tertelan oleh kegelapan malam.
Ketika Bong
Thian-gak menginjak daun-daun kering yang berserakan di
tanah, segera disadari olehnya bahwa di perkampungan itu sudah lama
ditinggalkan orang dan tak berpenghuni lagi.
Si-hun-mo-li tentu bersembunyi di dalam
sana ... ya, dia pasti berada
di dalam gedung itu.
Bong Thian-gak
tidak putus-asa, pelan-pelan dia menelusuri bangunan itu dan
melakukan pencarian dengan seksama.
"Heran, mengapa Si-hun-mo-li tak berani
menjumpai diriku? Ya, dia sudah mengenali aku
... kalau begitu dia tentu Jit-kaucu
Thay-kun."
Teringat akan Thay-kun, dalam benak
Bong Thian-gak terlintas
kembali pengalamannya pada tiga tahun lalu, di kaki bukit
Cui-im-hong di luar kota Lok-yang, dimana mereka berdua sama-sama
mengunjungi rumah si tabib sakti Gi Jian-cau.
"Ai, bila Thay-kun sampai tertimpa
sesuatu musibah, tanggungjawabku akan bertambah berat."
Diam-diam Bong
Thian-gak menghela napas, sementara tubuhnya sudah
melalui tiga lapis halaman dan hampir setiap ruangan sudah diperiksa
dengan seksama, namun ia belum juga menemukan bayangan perempuan
itu.
Biarpun saat ini
Bong Thian-gak sudah jadi suami
Song Leng-hui, namun dalam
hati masih tetap dipenuhi bayangan Thay-kun.
Semua peristiwa yang dialami, tubuhnya
yang indah dan cantik, serta pesan wanti-wanti Ku-lo Sinceng,
pendeta agung Siau-lim-si itu.
Biarpun suasana dalam Bu-lim dewasa ini
sudah mengalami perubahan besar, tapi Bong
Thian-gak percaya Put-gwa-cin-kau tak akan lenyap
begitu saja.
Selama tiga bulan terakhir ini, dia
sudah menyelidiki keadaan dunia persilatan secara diam-diam,
Bong Thian-gak tahu Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau memang telah berkunjung ke markas besar Kay-pang di
wilayah Sucwan.
Itulah sebabnya tersiar berita yang
mengatakan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau telah dikalahkan oleh Pangcu
kaum pengemis dalam suatu duel yang sengit, akibatnya dia terikat
dan tak berani mengembangkan sayapnya lagi.
Ikatan itu adalah pihak Put-gwa-cin-kau
wajib mengasingkan diri dan tak boleh muncul kembali di Bu-lim.
Bisa jadi ikatan itu berlaku dalam batas
waktu tiga tahun.
Sebab dari kemunculan Si-hun-mo-li yang
baru tiga bulan, Bong
Thian-gak mengambil kesimpulan bahwa Si-hun-mo-li bisa jadi adalah
salah satu alat Put-gwa-cin-kau untuk melenyapkan umat persilatan
dari dunia ini.
Pada tiga tahun berselang, Thay-kun
telah ditangkap oleh Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Tak mungkin Cong-kaucu melepaskan
Thay-kun begitu saja, bisa jadi Thay-kun dijadikan iblis wanita
pembetot sukma.
Walaupun semua peristiwa itu merupakan
dugaan Bong Thian-gak, namun
apa yang diduganya itu memang cukup beralasan, untuk membuktikan
kebenaran dugaannya itu terpaksa dia harus menemui Si-hun-mo-li.
Gedung itu sangat besar, bisa jadi
pemiliknya di masa lampau adalah seorang pembesar kaya, biarpun
sudah lama gedung itu ditinggal penghuninya, namun semua
gunung-gunungan, gardu, loteng dan pagar, masih mencerminkan
keindahan dan kemegahan seperti dulu.
Setiap sudut bangunan telah diperiksa
Bong Thian-gak dengan
seksama, namun dia tak berhasil menemukan bayangan perempuan itu.
Mendadak satu ingatan melintas dalam
benak Bong Thian-gak,
bagaikan sukma gentayangan Bong
Thian-gak melompat naik ke atas loteng tertinggi, kemudian
menyembunyikan diri di situ.
Pemandangan di bawah loteng terbentang
luas, ia dapat dengan jelas mengawasi setiap gerak-gerik sekeliling
bangunan itu.
Mendadak Bong
Thian-gak seperti mengendus selapis bau harum bunga
anggrek yang amat tipis.
Bau harum itu seolah-olah datangnya dari
ujung langit sana yang menyebar kemana-mana.
Bong Thian-gak
mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling tempat itu,
namun di seputar sana tiada bunga anggrek, tiada pula bunga lain,
tapi bau harum itu makin lama makin tajam,
Bong Thian-gak merasa seolah-olah
pernah mengendus bau harum itu.
Mendadak pula paras muka
Bong Thian-gak berubah hebat. Ia
teringat sekarang, bau anggrek itu pernah diendusnya tiga tahun
berselang, tatkala dia berada di kaki bukit Cui-im-hong di luar kota
Lok-yang, tepatnya di rumah tabib sakti Gi Jian-cau. Waktu itu
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau muncul. Belum habis ingatan itu lewat,
Bong Thian-gak telah
menyaksikan munculnya sebuah tandu besar di tengah kebun di depan
sana, tandu itu berhenti di atas sebuah gardu.
Apa yang dilihat sekarang sungguh
mengejutkan Bong Thian-gak
hingga jantungnya berdebar keras.
"Mungkin Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau
muncul." Dendam kusumat yang dipendam sejak tiga tahun lalu segera
berkobar kembali, Bong
Thian-gak merasakan darah dalam tubuhnya mendidih, hampir saja dia
hendak menerkam ke depan.
Untung selama tiga tahun melatih diri
secara tekun di bukit terpencil membuat wataknya lebih tenang dan
pandai mengendalikan diri, akhirnya ia berhasil mengendalikan
gejolak perasaan benci dan dendam yang berada di dalam dadanya.
Rupanya pada saat itu
Bong Thian-gak menyaksikan munculnya
berpuluh sosok bayangan orang di sekeliling tandu.
Biarpun ilmu silat
Bong Thian-gak sekarang sudah
mencapai tingkat yang luar biasa, namun dia belum yakin dapat
menandingi kekuatan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, apalagi musuh
berjumlah lebih banyak, ia semakin tak berani bertindak gegabah.
Tiga tahun berselang, hampir saja ia
tewas di tangan lawan.
Sungguh tak disangka kemunculan kembali
tiga tahun kemudian dengan cepat mempertemukan dia dengan Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau.
Tiba-tiba dari balik tandu besar
berkumandang suara seseorang dengan nada merdu.
"Sam-kaucu, selama tiga bulan ini, tugas
yang kau laksanakan amat memuaskan hatiku, bertambahnya pembantu
semacam kau di dalam Put-gwa-cin-kau, hakikatnya seperti harimau
tumbuh sayap."
Mendengar panggilan "Sam-kaucu",
Bong Thian-gak terkejut, pikirnya,
"Bukankah Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau sudah terbunuh tiga tahun lalu
di pagoda Leng-Im-po-tah di luar kota Kay-hong? Waktu itu aku
bersama Toa-suheng Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang melaksanakan
pembunuhan ini, dimana jenazahnya dihancurkan Thia Leng-juan dengan
obat penghancur mayat. Mengapa bisa muncul Sam-kaucu lagi sekarang?
Jangan-jangan dia adalah Sam-kaucu baru yang belum lama bergabung
dengan mereka."
Berpikir sampai di sini,
Bong Thian-gak segera mengarahkan
pandangan matanya ke arah depan sana.
Di muka tandu besar itu berlutut seorang
berperawakan biasa sedang menjura pada Cong-kaucu yang berada di
dalam tandu besar, lalu katanya dengan hormat, "Terima kasih,
Cong-kaucu."
Mendengar logat suara orang itu,
Bong Thian-gak tertegun, pikirnya
dalam hati, "Heran, suara ini amat kukenal, sebenarnya siapakah
Sam-kaucu yang baru itu?"
Sementara itu Cong-kaucu yang berada di
dalam tandu telah berkata kembali, "Sam-kaucu, mengenai tugas yang
kau lakukan di kota terlarang, sudah sebagian besar kau rampungkan,
saat ini sebagian jago lihai dari berbagai perguruan telah muncul di
dalam kota, yang masih tersisa pun tinggal beberapa pentolan saja,
mungkin tak sampai setengah bulan lagi, sebagian besar akan
berkumpul di wilayah Hopak ini."
"Bukan suatu tugas yang sederhana bagi
Put-gwa-cin-kau kita menghadapi jago lihai sedemikian banyak, maka
aku sengaja berkunjung ke wilayah Hopak untuk memberi komando inti
kekuatan Put-gwa-cin-kau kita. Ji-kaucu serta komandan pertama
pasukan pengawal tanpa tanding sekalian dalam waktu singkat akan
datang semua ke Hopak, sampai waktunya orang yang akan memberi
komando adalah aku, Ji-kaucu, Sam-kaucu, komandan pertama pasukan
pengawal tanpa tanding serta komandan kedua pasukan tanpa tanding."
"Baik, terima kasih banyak atas
perhatian Cong-kaucu yang telah mencantumkan pula diri hamba dalam
kelompok komandan," jawab Sam-kaucu dengan hormat.
Kembali Cong-kaucu berkata, "Sam-kaucu,
belakangan ini di Bu-lim telah muncul Jian-ciat-suseng, apakah kau
tahu asal-usul orang itu?"
Bong Thian-gak
yang mendengar perkataan itu menjadi amat terperanjat, segera
pikirnya, "Benar-benar tak kusangka Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau telah
menaruh perhatian kepadaku."
Sementara itu Sam-kaucu termenung
sejenak, kemudian sahutnya, "Lapor Cong-kaucu, malam ini
Si-hun-mo-li berangkat mengunjungi Jian-ciat-suseng, hamba rasa dia
tak akan lolos dari cengkeraman Si-hun-mo-li."
Mendengar perkataan itu, pelan-pelan
Cong-kaucu menyahut, "Sam-kaucu, dalam melaksanakan pekerjaanmu kali
ini kau bertindak kelewat gegabah dan menyerempet bahaya, dewasa ini
Jian-ciat-suseng sudah termasuk di antara deretan jago lihai dalam
Bu-lim, sebelum kau selidiki dengan jelas asal-usul
Jian-ciat-suseng, sudah kau utus Si-hun-mo-li menghadapinya, jika
Si-hun-mo-li tak mampu menyelesaikan tugasnya atau menemui celaka di
tangan Jian-ciat-suseng, bukankah usaha kita selama ini akan sia-sia
belaka."
Teguran itu membuat Sam-kaucu
menundukkan kepala, tanpa menjawab ia berdiri kaku di tempat.
Setelah berhenti sesaat, Cong-kaucu
berkata lagi, "Sam-kaucu, aku lahu, kau percaya setiap lelaki yang
bertemu Si-hun-mo-li, dia tak akan mampu memberi perlawanan,
bukankah demikian?"
"Lapor Cong-kaucu, hamba memang
berpendapat begitu," jawab Sam-kaucu agak tergagap.
"Tak heran Sam-kaucu mempunyai pendapat
begitu, terus terang kukatakan, sepasang mata Si-hun-mo-li
sebetulnya sudah melatih ilmu Si-hun-tay-hoat (Ilmu pembetot sukma)
yang merupakan kepandaian rahasia perguruan Mi-tiong-bun di Tibet,
setiap umat persilatan yang memandang sepasang matanya pasti akan
terpikat dan terpengaruh pikirannya, tapi di Bu-lim ini masih
terdapat dua tokoh silat yang memiliki kemampuan untuk mematahkan
pengaruh Si-hun-tay-hoat itu."
"Siapakah kedua orang itu?" tiba-tiba
Sam-kaucu bertanya.
"Dia adalah Kay-pang Pangcu dan Cengcu
Kim-liong-kian-san- ceng!"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia
melanjutkan, "Aku rasa Jian-ciat-suseng pun bisa jadi memiliki
kemampuan untuk mematahkan pengaruh Si-hun-tay-hoat itu."
"Darimana Cong-kaucu bisa tahu
Jian-ciat-suseng memiliki kemampuan itu?" tanya Sam-kaucu
Cong-kaucu termenung sejenak, kemudian
ujarnya, "Senjata yang digunakan Jian-ciat-suseng adalah pedang,
bagi seorang jago lihai ahli pedang, kepandaian yang harus dilatih
terlebih dahulu adalah melatih ketajaman mata dan ketepatan hati,
ditinjau dari kemampuan Jian-ciat-suseng mengalahkan begitu banyak
jago lihai dalam tiga bulan terakhir ini, sudah jelas ilmu pedangnya
tidak kalah dibanding ilmu pedang Cengcu Kim-liong-kian-san-ceng Mo
Hui-thian dan Kay-pang Pangcu. Ketiga orang ini sama-sama
mengandalkan ilmu pedang mereka yang lihai."
"Biarpun aku belum tahu dengan jelas
asal-usul Jian-ciat-suseng, namun aku memuji kehebatan ilmu
pedangnya, dia merupakan salah satu musuh tangguh Put-gwa-cin-kau
kita."
"Nasehat Cong-kaucu akan hamba camkan
dalam hati," sahut Sam-kaucu dengan hormat
Tiba-tiba Cong-kaucu bertanya lagi,
"Beberapa bulan lalu, Sam-kaucu pernah mengatakan bahwa perkampungan
ini punya peralatan lengkap dan bisa digunakan sebagai kantor cabang
perkumpulan kita di wilayah Hopak, harap Sam-kaucu mengajak diriku
melihat-lihat keadaan di sekitar sini!"
"Perkampungan ini adalah bekas istana
raja muda Mo-lay-cing-ong di masa lampau, biarpun bangunan megah ini
enak dipandang, namun belum merupakan yang terhebat, karena bangunan
utama terletak di bawah tanah."
Pelan-pelan Cong-kaucu berkata pula,
"Raja muda Mo-lay-cing-ong, adik sepupu kaisar Ching Ko-cou, orang
ini berotak cerdas dan kepandaiannya jauh melampaui kaisar Ching
Ko-cou sendiri. Tatkala kaisar Ching Ko-cou melakukan pembersihan
terhadap bekas-bekas pembesar setianya, hanya Mo-lay-cing-ong yang
lolos dari pembersihan itu, ia tidak pergi jauh, melainkan
bersembunyi di dalam istana bawah tanah ini?"
"Cong-kaucu memang cerdas dan cermat,
jauh melampau siapa pun, betul waktu itu Mo-lay-cing-ong bersembunyi
di istana bawah tanah ini."
"Aku pernah berkunjung ke dalam istana
itu serta menemukan delapan belas sosok kerangka, satu di antaranya
berperawakan tinggi besar, sedang yang lain berperawakan kecil dan
lembut, kemungkinan adalah kerangka raja Mo-lay-cing-ong beserta
ketujuh belas selirnya."
"Aku dengar kekayaan raja muda
Mo-lay-cing-ong tiada taranya, apakah Sam-kaucu berhasil menemukan
sesuatu di bawah istana sana?"
"Menurut daftar yang dibuat kaisar Ching
Ko-cou atas orang-orang yang dikehendakinya, nama raja muda
Mo-lay-cing-ong terdaftar sebagai musuh nomor satu, konon yang
paling menakutkan adalah harta kekayaan raja muda itu."
"Setelah kusaksikan bangunan istana
dalam perkampungan ini, terpikir olehku bisa jadi semua harta
kekayaan raja muda Mo-lay-cing-ong berada di istana bawah tanahnya,
tapi karena istana itu dilengkapi alat rahasia, aku belum sempat
menggeledah setiap ruangan yang berada di situ, itulah sebabnya
hingga kini aku belum menemukan harta karun peninggalan raja muda
Mo-lay-cing-ong itu."
"Sam-kaucu tak usah kuatir, aku telah
mengundang seorang ahli bangunan dan ilmu tanah untuk menangani
persoalan ini, mungkin dalam beberapa hari mendatang rahasia istana
tanah Mo-lay-cing-ong akan berhasil kita temukan."
"Cong-kaucu telah mengundang seorang
ahli bangunan dan ilmu tanah?"
Baru selesai ucapan itu diutarakan,
mendadak terdengar seseorang menyambung dengan suara dingin, "Aku
Ji-kauculah orangnya!"
Bersama dengan selesainya ucapan itu,
dari balik bangunan lain tiba-tiba muncul sekelompok bayangan orang
yang langsung berjalan menuju ke arah gardu itu.
"Oh, cepat amat kedatangan Ji-kaucu!"
Cong-kaucu yang berada dalam tandu
berseru kegirangan, "Aku malah menduga besok malam Ji-kaucu baru
akan tiba di Hopak, tak disangka kau bisa datang sehari lebih awal,
mari ... mari
... mari
... Sam-kaucu belum pernah bicara dengan Ji-kaucu, biar
kuperkenalkan dahulu kalian berdua."
Sementara pembicaraan berlangsung,
Ji-kaucu beserta ketujuh-delapan anak buahnya telah berkumpul di
depan tandu besar itu.
Ji-kaucu memberi hormat lebih dulu
kepada tandu besar itu, ujarnya, "Ji-kaucu menyampaikan salam
sejahtera untuk Cong-kaucu."
"Tak usah banyak adat, kedatangan
Ji-kaucu memang sangat kebetulan, baru saja aku tiba di Hopak dan
belum mencari tempat pemondokan, harap Ji-kaucu mencarikan sebuah
ruangan dalam istana ini sebagai tempat pemondokan."
Sementara itu Sam-kaucu telah memberi
hormat kepada Ji-kaucu, "Sam-kaucu menyampaikan selamat bertemu pada
Ji-kaucu."
"Tak usah banyak adat," kata Ji-kaucu
pula dingin. "Sudah begini lama Cong-kaucu tiba di sini, mengapa
Sam-kaucu belum mencarikan tempat pemondokan bagi Cong-kaucu?"
"Hamba memang mengundang Cong-kaucu
untuk memasuki ruang bawah istana."
"Mengapa Sam-kaucu masih belum menunjuk
jalan?" tegur Ji-kaucu dingin.
"Kalau begitu dipersilakan Cong-kaucu
dan Ji-kaucu mengikuti diriku."
Selesai berkata, dia beranjak lebih dulu
menuju ruangan sebelah barat.
Tandu besar serta kedua puluh orang
serentak mengikut di belakangnya, tak selang beberapa saat kemudian
bayangan mereka telah lenyap di balik kegelapan sana.
Dengan menyembunyikan diri di atas
wuwungan loteng, Bong
Thian-gak dapat menyaksikan rombongan itu memasuki sebuah ruangan
gedung kecil di tengah halaman lapis keempat.
Sementara itu cahaya lentera memancar
keluar dari gedung tadi.
Menyaksikan rahasia besar itu, berbagai
pertanyaan yang mencurigakan dan tidak dipahami olehnya bermunculan
menyelimuti benak anak muda itu.
Sebenarnya siapakah Sam-kaucu itu?
Mengapa suaranya begitu dikenal?
Berhubungan jarak mereka kelewatan jauh,
maka Bong Thian-gak tidak
sempat menyaksikan dengan jelas paras muka setiap orang yang hadir
di sana.
Dari pembicaraan mereka, bisa jadi
Si-hun-mo-li, si momok perempuan yang disegani dan ditakuti setiap
umat persilatan tak lain adalah Jit-kaucu Thay-kun.
Tapi mengapa Thay-kun bisa berubah jadi
manusia seperti itu?
Tatkala Jit-kaucu Thay-kun belum
mengkhianati Put-gwa-cin-kau, kedudukannya dalam partai begitu
tinggi dan terhormat sehingga pada hakikatnya hanya berada pada
urutan kedua setelah Cong-kaucu, tapi kini dia justru dikendalikan
oleh Sam-kaucu, dari sini dapat disimpulkan bahwa gadis itu memang
sudah dicelakai oleh ketuanya sendiri.
Bila jadi Thay-kun yang sekarang hanya
robot hidup tanpa pikiran dan kesadaran.
Yang paling mengejutkan
Bong Thian-gak adalah di gedung itu
ternyata masih terdapat sebuah istana yang konon sangat megah.
Mo-lay-cing-ong adalah seorang panglima
perang kenamaan ketika tentara Ching menyerbu daratan Tionggoan,
konon sewaktu raja muda Mo-lay-cing-ong membawa tentara menyerbu
daratan, dia telah merampok semua harta kekayaan rakyat kecil hingga
dalam waktu singkat dia telah menjadi panglima perang terkaya di
seluruh negeri.
Ketika Ching Ko-cou naik tahta, dia
mendapat laporan bahwa raja muda Mo-lay-cing-ong sedang mencari
tentara dan membeli kuda dengan niat melakukan pemberontakan,
kejadian ini mengejutkan sang raja sehingga dia bertindak lebih dulu
dengan menjatuhi hukuman pancung kepala atas semua keluarga raja
muda itu.
Tapi kaisar Ching Ko-cou tak pernah
berhasil membunuh raja muda Mo-lay-cing-ong, karena tak seorang pun
yang tahu dimanakah dia menyembunyikan diri.
Ketika Mo-lay-cing-ong hilang, tahta
kerajaan waktu itu telah beralih ke tangan kaisar Yong Cing, ini
membuat sang kaisar tak pernah tenang dan memerintahkan anak buahnya
lebih giat melakukan pencariannya atas jejak si raja muda itu.
Dari pembicaraan Cong-kaucu dengan
Sam-kaucu, tampaknya raja muda Mo-lay-cing-ong telah menyembunyikan
diri di istana bawah tanahnya ketika itu.
Bila rahasia besar ini sampai tersiar,
bisa dibayangkan betapa gemparnya seluruh dunia.
Intan permata dan emas perak hasil
rampokan raja muda Mo-lay-cing-ong dari rakyat bangsa Han bisa jadi
disimpan juga di dalam istana bawah tanah ini, siapakah yang tidak
silau menyaksikan harta karun yang tak ternilai harganya itu?
Barang siapa berhasil menemukan harta
karun itu, dia akan segera menjadi jutawan yang tiada bandingannya
di seluruh negeri.
Bila harta karun itu sampai dikuasai
pihak Put-gwa-cin-kau, maka Put-gwa-cin-kau akan segera menguasai
seluruh dunia persilatan dan menjadi pemimpin dunia.
Itu berarti kekacauan dan kekalutan akan
merajarela di seluruh negeri, hidup rakyat kecil tak pernah tenang,
bencana manusia pun akan muncul berulang-ulang.
Bong Thian-gak
segera menyadari betapa beratnya kewajiban dan tugasnya setelah
berhasil menyadap rahasia besar itu, karena bukan cuma menyangkut
dunia persilatan saja, tapi sudah mencapai kolong langit.
Bagaimana pun juga, dia tak boleh
membiarkan pihak Put-gwa-cin-kau mendapatkan harta karun raja muda
Mo-lay-cing-ong itu.
Dia pun tak dapat membiarkan harta karun
itu jatuh ke tangan kerajaan Ching.
Sebab harta karun itu milik bangsa Han,
hasil rampokan raja muda Mo-lay-cing-ong dari rakyat bangsa Han
ketika dia menyerbu daratan Tionggoan dulu.
Sekarang dia sebagai bangsa Han wajib
melindungi keutuhan harta karun milik rakyatnya, sehingga tidak
dikangkangi pihak kerajaan Ching.
Harta karun itu sudah sewajarnya
dikembalikan kepada rakyat yang berhak memilikinya, rakyat bumi
putera anak keturunan kaisar Hong Te.
Dalam waktu singkat
Bong Thian-gak merasa darah yang
mengalir dalam tubuhnya mendidih, pikirannya kalut, dia telah
mengambil keputusan melakukan usaha besar bagi umat persilatan.
Mendadak terdengar beberapa kali jerit
kesakitan berkumandang dari arah gedung kecil di sebelah barat.
Perubahan ini terjadi sangat mendadak,
sama sekali di luar dugaan, untuk beberapa saat
Bong Thian-gak tidak mengetahui apa
gerangan yang telah terjadi?
Dengan cepat pemuda itu menengok ke arah
sumber suara.
Tiba-tiba tiga sosok bayangan orang
meluncur keluar dari balik gedung kecil itu dengan kecepatan tinggi.
Salah seorang di antaranya bergerak
cepat dan gesit, bagaikan sambaran petir dia melampaui dua orang
yang lain dan langsung meluncur ke arah
Bong Thian-gak berada.
Bersamaan dengan berkelebatnya tiga
sosok bayangan orang itu, dari arah belakang muncul pula seorang
berbaju hijau yang melakukan pengejaran dengan pedang terhunus.
Gerakan tubuh orang itu pada hakikatnya
jauh lebih cepat daripada gerakan burung elang, tampak dia melejit
dengan enteng dan tahu-tahu sudah melewati kepala kedua orang
berbaju hitam di mukanya.
Cahaya pedang berkelebat, dua kali
jeritan ngeri yang menyayat hati bergema memecah keheningan malam.
Tahu-tahu kedua orang berbaju hitam itu
sudah kena tusukan pedang dan roboh terjengkang ke atas tanah.
Selesai membunuh kedua orang itu, orang
tadi mengangkat kepala memandang ke depan, ketika dilihatnya korban
ketiga sudah kabur ke depan sana, ia tertawa dingin, lalu sambil
melejit dia melakukan pengejaran secepat kilat.
Ilmu meringankan tubuh orang itu
benar-benar sangat lihai, di saat sang korban sudah kabur ke gedung
dimana Bong Thian-gak
menyembunyikan diri, orang itu sudah bisa melampaui orang berbaju
hitam dan melayang turun di mukanya, sementara pedangnya langsung
dibabatkan ke muka.
Tampaknya kepandaian silat orang berbaju
hitam itu tidak lemah, melihat jalan perginya dihadang orang,
tubuhnya yang hampir menumbuk orang itu segera berputar setengah
lingkaran dan berhenti, dengan begitu dia pun berhasil lolos dari
tusukan pedang orang itu.
Bong Thian-gak
dapat melihat dengan jelas bahwasanya orang itu tak lain adalah
Ji-kaucu.
Sedangkan orang berbaju hitam yang
sedang melarikan diri itu adalah seorang kakek kurus kering.
Bertemu Ji-kaucu, kakek berbaju hitam
tadi nampak sedikit tegang, gugup dan ketakutan, tapi sebagai
seorang jago kawakan Bu-lim, dengan cepat pula dia berhasil
mengendalikan perasaan dan bersikap tenang kembali.
"Permainan pedangmu sungguh cepat dan
buas!" jengeknya sambil tertawa dingin. "Tujuh anak buahku mati di
tanganmu!"
Paras muka Ji-kaucu dingin menyeramkan,
sama sekali tak nampak perubahan apa pun, katanya kaku, "Kau pun
jangan harap bisa lolos dari kematian!"
Mendadak kakek berbaju hitam itu tertawa
seram.
"Kau adalah satu-satunya orang paling
buas dan kejam yang pernah aku orang she
Long jumpai sepanjang hidup."
"Hm, Hek-ki-to-cu
Long Jit-seng terhitung seorang buas
dan keji pula di sekitar kepulauan di laut timur."
Mendengar perkataan itu, kakek berbaju
hitam itu nampak terkejut dan berubah paras mukanya, "Tajam amat
pandangan matamu, ternyata kau masih mampu mengenali diriku."
"Ilmu silat Hek-ki-to-cu
Long Jit-seng hanya biasa saja,
namun ilmu lain seperti Ngo-heng-pat-kwa, ilmu perbintangan dan ilmu
bangunan, ilmu tanah dan ilmu membaca peta justru termasyhur di
seluruh kolong langit."
Bong Thian-gak
yang menyadap pembicaraan itu dari atas wuwungan rumah dapat
menangkap semua pembicaraan itu dengan jelas, dia memang pernah juga
mendengar nama besar Long
Jit-seng sebagai seorang ahli dalam ilmu-ilmu itu.
Padahal Long
Jit-seng berdiam di pulau Hek-ki-to yang berada di
tengah lautan timur, jauh-jauh dia mendatangi kota terlarang dan
muncul di gedung penuh rahasia itu, sebagai orang yang cerdas
Bong Thian-gak segera dapat menebak
maksud dan tujuan.
Jangan-jangan
Long Jit-seng sendiri pun mengetahui juga tentang
rahasia harta karun Mo-lay-cing-ong?
Sementara itu
Long Jit-seng tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, kau
terlampau memuji, biarpun ilmu kepandaian itu amat kukuasai, sayang
masih belum cukup untuk melindungi keselamatan jiwaku sendiri."
Ji-kaucu tertawa dingin.
"Ai, jika kau bersedia menjawab beberapa
pertanyaanku dengan sebaik-baiknya, bisa jadi ilmu yang kau miliki
itu dapat menjamin pula keselamatan jiwamu."
"Pertanyaan apa yang hendak kau ajukan?
Cepat diutarakan!"
"Kau mendapat perintah dari siapa untuk
menyusup ke dalam istana bawah tanah?"
Long Jit-seng
tertawa tergelak.
"Selama hidup belum pernah
Long Jit-seng diperintah orang,
apalagi tunduk di bawah lutut orang lain."
Ketika mendengar perkataan itu,
mencorong sinar membunuh dari balik wajah Ji-kaucu, kembali dia
berkata dengan suara sedingin salju, "Rahasia istana bawah tanah
Mo-lay-cing-ong ditemukan oleh Sam-kaucu perkumpulan kami, kecuali
dia membocorkan rahasia itu, mustahil ada orang bisa mengetahui."
"Mengapa kau tidak menuduh Sam-kaucu
kalian yang telah bersekongkol denganku?"
"Sam-kaucu baru saja menggabungkan diri
dengan perkumpulan kami, Cong-kaucu sangat menaruh kepercayaan
kepadanya dan aku pun amat percaya kepadanya."
"Jika demikian, mengapa kau masih
curiga?" Ji-kaucu tertawa dingin.
"Lantas darimanakah pihak Hek-ki-to
memperoleh rahasia ini?"
"Harta karun Mo-lay-cing-ong sudah
diketahui orang seantero jagad. Hehehe, apalagi ketika
Mo-lay-cing-ong membangun istana bawah tanah ini, dia telah
mengundang seorang ahli tukang kayu."
"Siapakah orang itu?" tukas Ji-kaucu.
"Dia adalah Susiok-co, adik kakek!"
"Jadi karena itu kau mengetahui rahasia
itu?"
"Betul, sejak tiga puluh tahun berselang
aku sudah mengetahui rahasia itu."
"Lantas mengapa kau tidak melakukan
pencarian sejak dulu, namun hari ini baru dilakukan?"
"Ilmu bangunan Susiok-co tiada bandingan
di dunia ini, terutama ilmu alat rahasia, ya, boleh dibilang tiada
kemungkinan bagi orang lain untuk memecahkan."
"Jadi maksudmu, alat rahasia dalam
bangunan istana bawah tanah itu cuma dia seorang yang bisa membuka
dan mencapai dimana harta karun itu tersimpan?" seru Ji-kaucu sambil
tertawa dingin tiada hentinya.
Long Jit-seng
tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kalau dilihat dari kemampuan
menemukan alat rahasia dalam ruang gedung begitu masuk tadi...
terbukti kau pun seorang yang mahir di dalam ilmu
bangunan, hehehe ... cuma
saja bila kau ingin membuka kedelapan puluh satu bilik bawah tanah
serta keempat puluh sembilan lorong rahasianya, aku pikir seumur
hidup tak akan dapat kau lakukan."
"Kau telah membantuku melaksanakan
sebagian besar tugasku, rasanya aku tak perlu banyak membuang tenaga
lagi dengan percuma," jengek Ji-kaucu dingin.
Paras muka
Long Jit-seng berubah hebat mendengar perkataan itu,
segera tanyanya, "Apa maksud ucapanmu?"
"Aku tahu kau sudah membuang banyak
tenaga dan pikiran untuk meraba peta dasar bangunan bawah tanah itu,
asal kuperoleh peta rahasia yang telah kau persiapkan itu, bukankah
aku bisa membuka setiap bilik dan lorong rahasia itu secara mudah
dan cepat?"
Ucapan itu mengejutkan
Long Jit-seng, namun paras mukanya
sama sekali tak berubah, katanya cepat sambil tertawa dingin, "Kau
benar-benar sangat lihai, betul aku memang sudah mempersiapkan
sebuah peta lengkap tentang seluruh bangunan istana bawah tanah itu,
namun peta itu tak berada di sakuku sekarang."
"Peta itu pasti ada di sakumu," seru
Ji-kaucu. Long Jit-seng
sadar, bilamana dia ingin meloloskan diri dari cengkeraman maut
Ji-kaucu, kuncinya terletak pada peta itu. Menyadari hal itu.
Long Jit-seng tertawa
terbahak-bahak. "Hahaha, engkau selalu yakin tebakanmu selamanya
tepat, namun kau gagal menebak secara tepat kali ini?"
"Bila aku berani membunuhmu, buat apa
banyak bicara hal-hal yang tak berguna denganmu?"
"Jadi mati-hidupku tergantung pada
keputusanku bersedia bekerja sama atau tidak?"
Long Ji Seng tertawa semakin keras.
"Hek-ki-to-cu termasyhur sebagai manusia
licik dan banyak akal muslihatnya, tentu saja kau dapat membedakan
bukan, mana yang menguntungkan dan yang merugikan sebelum mengambil
keputusan yang menguntungkan bagi dirimu sendiri."
Long Jit-seng
kembali tertawa terbahak-bahak. "Kau amat licik, berhati busuk dan
berbahaya, bila tujuanmu sudah tercapai, akhirnya aku bakal mati
juga di tanganmu." "Tapi sedikit banyak kau bisa hidup lebih lama."
Dari pembicaraan kedua orang itu, bisa diketahui betapa licik dan
berbahayanya kedua orang ini, mereka sama-sama cerdas dan bertujuan
dalam, kedua belah pihak sama-sama tidak saling percaya.
Ibarat dua ekor rusa bertemu, mereka
saling menipu, saling memasang perangkap untuk menjebak lawan.
Sudah barang tentu
Long Jit-seng berada pada posisi
yang tidak menguntungkan, sebab dia tahu, bagaimana pun juga
kepandaian silatnya masih belum sanggup menandingi lawan.
Dalam sekali gebrakan saja pihak lawan
mampu menghabisi ketujuh anak buahnya yang berilmu tinggi, peristiwa
ini sudah menggidikkan hati Long
Jit-seng, apalagi dalam istana bawah tanah masih terdapat
begitu banyak jago-jago lihai.
Andaikata pihak Put-gwa-cin-kau
benar-benar menghabisi nyawa Long
Jit-seng, biarpun dia hendak kabur ke ujung langit pun jangan
harap bisa lolos dalam keadaan selamat.
Bong Thian-gak
yang mengamati semua peristiwa itu dari atas wuwungan rumah dengan
cepat dapat menebak jalan manakah yang bakal dipilih
Long Jit-seng.
Sudah jelas jalan "kehidupan" yang bakal
dipilih olehnya.
Mendadak Bong
Thian-gak memperdengarkan suara dinginnya yang
menggidikkan dari atas wuwungan rumah.
Tertawa seram itu muncul sangat mendadak
dan sama sekali di luar dugaan orang, seketika itu juga Ji-kaucu
dibuat terkesiap dan kaget setengah mati.
Mimpi pun dia tak pernah menyangka kalau
di situ bakal hadir pihak ketiga yang bersembunyi di atas wuwungan
rumah yang berjarak sedemikian dekat dengannya tanpa disadari.
Padahal ia percaya pada ketajaman mata
maupun pendengaran sendiri, daun rontok pada jarak sepuluh tombak
pun takkan lolos dari pendengarannya, suasana gelap gulita pun bisa
dilihat olehnya dengan jelas, tapi mengapa ia tak menangkap suara
apa pun?
Nyatanya orang itu dapat lolos dari
pendengaran maupun penglihatannya, dari sini bisa diketahui bahwa
ilmu silat lawan betul-betul sangat lihai.
"Jago lihai darimanakah yang bersembunyi
di atas? Harap segera menampilkan diri."
Dengan suara menyeramkan dan mata
bersinar tajam Ji-kaucu mengawasi wuwungan dengan pandangan tak
berkedip.
"Mengapa Ji-kaucu tidak berani naik ke
atas?" sahut Bong Thian-gak
dingin.
"Jadi engkau tak berani turun?"
jengeknya.
"Siapa bilang aku tak berani?"
Selesai bicara, tubuh
Bong Thian-gak segera meluncur turun
darii wuwungan rumah, langsung menerkam Ji-kaucu.
Tubrukan Bong
Thian-gak dilakukan dengan kecepatan bagaikan] kilat,
dalam sekejap tubuhnya sudah sampai di atas kepala Ji-kaucu,
segulung tenaga maha dahsyat langsung menekan ke atas kepala lawan.
Sesungguhnya ilmu silat Ji-kaucu sangat
lihai, namun sekarang dia pun tak mempunyai keyakinan untuk berhasil
lolos dari ancaman maut itu.
Dalam keadaan begini, Ji-kaucu segera
memutar pedangnya menciptakan selapis kabut pedang melindungi batok
kepalanya, lalu secepat kilat tubuhnya menyingkir ke samping.
Long Jit-seng
adalah seorang cerdas, dia tak mau membuang kesempatan yang sangat
baik ini untuk meloloskan diri, secepat kilat dia melejit dan kabur
dari tempat itu.
Sesungguhnya tujuan
Bong Thian-gak menampakkan diri tadi
adalah memberi kesempatan kepada Long
Jit-seng untuk melarikan diri, maka dia sama sekali
tidak memberi kesempatan kepada Ji-kaucu untuk berganti napas, angin
pukulan kedua kembali dilontarkan dengan kekuatan luar biasa.
Cepat Ji-kaucu melejit ke samping, tapi
angin pukulan lain tahu-tahu sudah menyambar datang dari arah kiri.
Ji-kaucu benar-benar tidak menduga
gerakan lawan begitu cepat, aneh dan luar biasa.
Pada serangan pertama, ancaman datang
dari atas ke bawah, maka pada serangan kedua dia telah mengubah arah
dengan menerjang dari sisi kiri.
Ji-kaucu tertawa dingin, kali ini dia
tidak menghindar, segulung angin pukulan dilepaskan dari sisi kiri
untuk menyongsong datangnya ancaman lawan.
"Blam", kedua gulung angin pukulan itu
saling bentur, terjadilah angin berputar yang menerbangkan dedaunan
kering dan debu.
Akibat bentrokan ini, sepasang kaki
Ji-kaucu goyah dan mundur (iga langkah secara beruntun.
Sepanjang hidup belum pernah dia
menghadapi pukulan dahsyat seampuh ini, dalam gusarnya Ji-kaucu
segera melolos pedang dan melejit ke arah sisi lawan sambil
melancarkan sebuah tusukan.
Reaksinya cukup cepat, tapi gerakan
tubuh Bong Thian-gak jauh
lebih cepat lagi.
Bong Thian-gak
menjejakkan kaki kanannya dan melompat ke atas wuwungan rumah,
dengan demikian cahaya pedang Ji-kaucu hanya
menyambar lewat di bawah kakinya saja.
Gagal dengan serangan pedangnya,
Ji-kaucu dongkol setengah
j mati, sambil menjejakkan
kaki dia mengejar ke atas wuwungan rumah.
Tapi gerakan
Bong Thian-gak jauh lebih cepat, begitu tubuhnya
berkelebat, tahu-tahu dia sudah berada jauh di sana.
"Hei, kalau jantan kenapa tidak kau
hentikan langkahmu?" bentak
j Ji-kaucu
mendongkol.
Sambil membentak dia mengejar terus
secara cepat.
Dalam pada itu dari arah gedung
bermunculan beberapa sosok
J bayangan orang,
tampaknya orang itu dibuat terkejut oleh ledakan] dahsyat akibat
benturan dua kekuatan angin pukulan tadi.
Di antara bayangan-bayangan itu, nampak
sesosok bayangan j orang bergerak paling cepat,
langsung hendak menghadang di depan
Bong
Thian-gak.
Sayang sekali gerakan tubuh
Bong Thian-gak masih jauh lebihi
cepat lagi, ia tak sampai terhadang oleh lawan.
Sementara itu Ji-kaucu telah menyusul
pula ke sana, mendadakj dia berteriak keras, "Sam-kaucu, tak usah
dikejar lagi"
Ternyata bayangan orang yang mengejar
paling cepat adalah Sam-kaucu, ia menghentikan gerakan tubuhnya
begitu memperoleh perintah, tapi segera
tegurnya, "Ji-kaucu, mengapa kita biarkan musuh kabur begitu
saja?"
Ji-kaucu tertawa dingin.
"Ilmu meringankan tubuh orang itu amat
cepat, yakinkah Sam-kaucu berhasil menyusulnya?"
Sam-kaucu mendongakkan kepala, empat
penjuru amat sepi tak
terdengar suara apa pun,
sementara bayangan tubuh Bong
Thian-gak
yang semula berada di
depan sana, kini sudah lenyap.
Dengan wajah tertegun Sam-kaucu berkata,
"Wah, cepat benar gerakan
tubuh orang itu, siapakah dia?
Paras muka Ji-kaucu berubah sangat tak
sedap dilihat, namun dia
menjawab dengan suara
dingin, "Jika dilihat dari ujung lengan
baju
kanannya yang kosong terhembus angin,
tampaknya dia adalah seorang
berlengan tunggal."
Walaupun saat kejar mengejar tadi
Ji-kaucu belum berhasil melihat raut wajah lawan, namun bayangan
tubuh Bong Thian-gak,
terutama ujung lengan baju kanannya yang kosong dapat terlihat
olehnya dengan nyata.
"Ah, dia adalah Jian-ciat-suseng!" seru
Sam-kaucu tanpa terasa dengan paras muka berubah.
"Sam-kaucu, bukankah kau mendapat
perintah untuk menyusun persiapan besar di wilayah Hopak, bagaimana
persiapan yang telah kau lakukan hingga jejak kita dapat dibuntuti
lawan?"
"Selama aku berada di kota terlarang,
yakin belum ada seorang pun yang menemukan jejakku, apalagi
identitasku."
"Lantas bagaimana Jian-ciat-suseng bisa
sampai di gedung ini?"
"Barusan kulihat Si-hun-mo-li
kembali ke istana bawah tanah, bisa ditebak Si-hun-mo-li gagal dalam
tugasnya dan justru dialah yang memancing kehadiran
Jian-ciat-suseng."
Berubah hebat air muka Ji-kaucu.
"Kalau begitu pembicaraanmu dengan
Cong-kaucu serta segala macam rahasia kita telah diketahui oleh
Jian-ciat-suseng!"
"Tentang masalah itu, kita baru bisa
menganalisanya setelah tahu bagaimana cerita Ji-kaucu sampai
menemukan jejak Jian-ciat-suseng."
Ji-kaucu tertawa dingin.
"Sam-kaucu mengapa kau tidak berterus
terang saja mengatakan bahwa aku pun turut terkecoh oleh kehadiran
Jian-ciat-suseng sehingga gerak-geriknya tidak kuketahui sama
sekali?"
"Tidak berani, aku tak berani
berpendapat demikian."
"Sam-kaucu, apakah kau mengetahui tempat
tinggal Jian-ciat-suseng?" tiba-tiba Ji-kaucu menegur dengan suara
dingin menyeramkan.
"Kamar nomor tiga puluh enam
Hong-tok-ciu-lau."
"Dalam tiga hari, Sam-kaucu harus
berhasil membunuh Jian-ciat-suseng dengan cara apa pun."
"Cong-kaucu telah berpesan, sementara
kita tak akan membunuh Jian-ciat-suseng."
Ji-kaucu segera menarik muka mendengar
perkataan itu, katanya kemudian, "Kalau begitu segera kubicarakan
masalah ini dengan Cong-kaucu, mungkin saja dia mau berubah
pikiran."
Selesai berkata dia lantas meluncur
turun dari atas wuwungan rumah dan langsung menuju ke gedung kecil
tadi, Sam-kaucu mengikut di belakangnya.
Mendadak Ji-kaucu berpaling seraya
berkata, "Long Jit-seng telah
melarikan diri, harap Sam-kaucu segera mengirim orang mengejarnya,
bila gagal membekuknya hidup-hidup, mati pun tak apalah."
"Harap Ji-kaucu mengutus orang untuk
membantuku," sahut Sam-kaucu cepat.
Sementara itu enam orang berjubah hijau
telah bermunculan dari balik gedung.
Mendadak Ji-kaucu berseru kepada seorang
berjubah hijau yang gemuk pendek.
"Ang Teng-siu, lekas bawa tiga orang dan
bersama Sam-kaucu pergi mengejar Long
Jit-seng!"
"Baik!" jawab orang gemuk pendek itu
dengan sikap hormat.
Dengan cepatnya dia telah memilih tiga
orang rekan untuk mendampinginya, lalu sambil berjalan ke depan
Sam-kaucu dia berkata dengan lantang, "Ang Teng-siu siap menerima
komando Sam-kaucu!"
"Tak usah banyak bicara, ayo kita
berangkat," seru Sam-kaucu.
Kelima orang jago lihai Put-gwa-cin-kau
itu dengan cepat berangkat meninggalkan gedung itu mengejar
Long Jit-seng.
Long Jit-seng
keluar dari gedung dengan kecepatan luar biasa, ia kabur secepatnya
meninggalkan tempat itu.
Long Jit-seng
mengerti, bila orang-orang Put-gwa-cin-kau telah berhasil membunuh
orang yang membantunya, dengan cepat mereka akan mengejarnya kemari,
maka dia memilih daerah yang sepi di barat kota untuk menyelamatkan
diri.
Sesudah menempuh perjalanan setengah jam
dengan kecepatan « tinggi,
sampailah dia di tanah kuburan di sebelah barat kota, di situlah
Long Jit-seng baru
menghentikan perjalanannya.
Suasana di kompleks pekuburan itu
hening, sepi dan mengerikan.
.
Batu-batu nisan yang terbengkalai
porak-poranda menjadikan sekeliling sana sebagai tempat
persembunyian yang paling ideal.
Dengan langkah mantap
Long Jit-seng langsung menerobos
masuk ke dalam kompleks tanah kuburan itu.
Mendadak dari atas sebuah batu nisan
Long Jit-seng menyaksikan
munculnya sesosok bayangan orang.
Long Jit-seng
terperanjat, cepat ia mendongakkan kepala.
Orang itu berperawakan jangkung dengan
wajah cakap, termasuk seorang pemuda yang bermata tajam.
Sebilah pedang tersoreng di pinggangnya,
sementara lengan baju kanannya nampak kosong, mengikuti hembusan
angin malam, ujung baju itu bergoyang tiada hentinya.
Waktu itu dia sedang memandang ke
wajahnya dengan senyum di kulum.
Seandainya tiada senyumannya yang ramah,
niscaya Long Jit-seng akan
menyangka dia sebagai setan gentayangan di tanah kuburan itu.
Dengan terkesiap dan jantung berdebar
keras Long Jit-seng menegur,
"Kau ini sebetulnya manusia atau setan?"
"Manusia," sahut
Bong Thian-gak sambil tersenyum.
"Kalau begitu kau ini musuh atau
sahabat?"
"Musuh atau sahabat tergantung pada
keputusanmu."
Paras muka
Long Jit-seng berubah hebat, tanyanya lagi dengan
gemetar, "Jadi kau adalah anggota Put-gwa-cin-kau?"
"Tidak, aku bukan anggota
Put-gwa-cin-kau."
Rupanya Hek-ki-to-cu menjadi ketakutan
setengah mati karena mengira Bong
Thian-gak adalah anak buah Put-gwa-cin-kau, hatinya baru
merasa lega setelah mengetahui dugaannya meleset.
Sambil menghela napas pelan-pelan dia
bertanya, "Ada urusan apa kau menghadang jalan pergiku?"
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Baru saja aku mendirikan sebuah
perkumpulan baru dan sekarang sedang 'mencari umat persilatan yang
bisa diterima sebagai anggota baru perkumpulan, aku tertarik
denganmu."
Tergerak hati
Long Jit-seng mendengar tawaran itu, segera tanyanya,
"Apa nama perkumpulan itu? Siapa pemimpinnya?"
"Tiong-yang-hwe, akulah Hwecunya."
Mendadak Long
Jit-seng tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, kau tahu
siapakah aku?"
"Long Jit-seng
dari lautan timur, seorang tokoh persilatan mahir banyak ilmu."
"Ah, jadi engkau yang membantu
meloloskan diriku tadi?" Long
Jit-seng terkejut.
Kembali Bong
Thian-gak tersenyum.
"Aku tak ingin melihat kau terbunuh atau
diperalat Ji-kaucu." "Hahaha, mengapa tidak kau katakan bahwa kau
tak ingin melihat harta karun raja muda Mo-lay-cin-ong terjatuh ke
tangan orang-orang Put-gwa-cin-kau?" Long
Jit-seng tergelak makin keras.
Tiba-tiba Bong
Thian-gak menarik muka, kemudian berkata, "Orang-orang
Put-gwa-cin-kau tak akan melepas dirimu begitu saja, orang yang
menurunkan perintah membunuh atas dirimu adalah Ji-kaucu. Padahal
jagoan berilmu tinggi seperti Ji-kaucu banyak terdapat dalam
Put-gwa-cin-kau, sedang anak buahmu? Adakah jagoan dari Hek-ki-to
yang memiliki kepandaian untuk menandingi Ji-kaucu?"
"Perkataanmu memang benar,"
Long Jit-seng tertawa, "tapi sayang,
biarpun aku bergabung dengan perkumpulan kalian pun sulit rasanya
untuk meloloskan diri dari kematian."
Mencorong sinar tajam dari mata
Bong Thian-gak, ujarnya dengan suara
nyaring, "Biarpun Tiong-yang-hwe belum berkekuatan untuk melawan
kekuasaan Put-gwa-cin-kau, namun aku yakin masih sanggup melindungi
keselamatan jiwamu."
"Engkaukah Jian-ciat-suseng yang
belakangan ini termasyhur namanya dalam Bu-lim?"
"Betul," Bong
Thian-gak tertawa, "aku memang seorang cacat."
Tiba-tiba Long Jit-seng
berkata lagi, "Sepanjang hidupku, aku hanya tahu menurunkan perintah
dan memerintah orang lain, belum pernah kuperoleh perintah orang
lain untuk mengerjakan sesuatu. Oleh sebab itu, aku ingin melihat
dahulu kepandaianmu." Bong
Thian-gak tertawa.
"Bila kau bersedia menggabungkan diri
dengan Tiong-yang-hwe, berarti kau adalah Kunsu (juru pikir)
Tiong-yang-hwe, hal ini sama artinya kau hanya memberi perintah
kepada orang lain dan bukan orang lain yang memberi perintah
kepadamu."
Long Jit-seng
tertawa terbahak-bahak.
"Kau adalah ketua Tiong-yang-hwe,
berarti seorang Kunsu masih tetap di bawah tingkatan seorang Hwecu
bukan?"
"Long-kunsu,"
Bong Thian-gak tertawa, "kau ingin mencoba
keistimewaanku? Boleh saja, cuma dibanding kecerdasan otak dan akal
muslihatmu, aku mengaku kalah darimu."
Long Jit-seng
tertawa nyaring.
"Soal mengatur siasat dan menyiapkan
tipu muslihat, tentu saja bidang itu merupakan pekerjaan seorang
Kunsu. Sedangkan sebagai ketua, syarat yang dibutuhkan selain ilmu
silat yang tinggi dia mesti memiliki budi pekerti yang baik. Sebab
biarpun ilmu silat seseorang sangat tinggi, bila dia tidak memiliki
kemampuan seorang pemimpin dan kebajikan serta budi pekerti yang
baik, jadinya sebuah perkumpulan yang kaku, sebuah perkumpulan tanpa
nyawa, biasanya perkumpulan semacam ini tak pernah bisa menggetarkan
dunia persilatan."
"Aku mempunyai semacam kemampuan untuk
menilai orang dari wajah seseorang dan aku mengerti kau memang
memiliki budi pekerti serta kewibawaan sebagai seorang pemimpin.
Yang belum kuketahui sekarang adalah kepandaian hebat yang kau
miliki."
"Dengan cara apa Kunsu hendak mencoba
kepandaian silatku?" tanya Bong
Thian-gak sambil tersenyum.
Long Jit-seng
tertawa terbahak-bahak.
"Sesungguhnya bidang ilmu silat tak
perlu dicoba lagi, sebab dengan nama besar Jian-ciat-suseng, rasanya
sudah lebih dari cukup untuk menggetarkan seluruh dunia persilatan."
"Sungguh tak kusangka begitu cepat
Long Jit-seng bersedia
menggabungkan diri dengan Tiong-yang-hwe, kejadian ini sungguh
merupakan suatu keberuntungan bagi Bong
Thian-gak," pemuda itu berseru dengan nada terharu.
Long Jit-seng
membenahi pakaiannya, lalu maju ke hadapan
Bong Thian-gak dengan hormat, dia
membungkukkan badan menjura sambil berkata nyaring, "Hwecu di atas,
Long Jit-seng memberi salam
atas kebesaran Hwecu."
Buru-buru Bong
Thian-gak membangunkan Long
Jit-seng sambil menyahut, "Long-kunsu tak usah banyak
adat...."
Belum habis dia berbicara, tiba-tiba
Bong Thian-gak merasakan urat
nadi pada pergelangan tangan kirinya dicengkeram orang, dengan lima
jari tangannya yang kuat.
Pada saat bersamaan, telapak tangan kiri
Long Jit-seng disodokkan ke
muka.
Mimpi pun Bong
Thian-gak tak menyangka Long
Jit-seng bakal melancarkan serangan dengan cara
sedemikian kejinya.
Perlu diketahui, urat nadi pergelangan
tangan merupakan salah satu dari tiga tempat mematikan di tubuh
manusia, begitu urat nadi dicengkeram orang, betapa pun besarnya
kekuatan tidak mungkin bisa dikerahkan lagi.
Masih mending bagi mereka yang bertangan
utuh, Bong Thian-gak hanya
berlengan tunggal, bagaimana mungkin dia bisa meloloskan diri?
Itulah sebabnya serangan
Long Jit-seng benar-benar merupakan
sergapan maut yang kejam dan tak berperi-kemanusiaan.
Bong Thian-gak
tidak tahu bagaimana cara untuk menghindarkan diri ataupun berbuat
sesuatu, namun dia tetap berdiri tegak dengan senyum di kulum,
dengan dada dibusungkan dia menyambut datangnya sergapan
Long Jit-seng itu.
"Blam", pukulan dahsyat
Long Jit-seng menghajar telak di
atas dada Bong Thian-gak.
Dengan cepat
Long Jit-seng merasakan telapak tangan kirinya sakit
panas dan pedas, seolah-olah baru saja menghantam sepotong lempengan
besi baja.
Pada saat itulah
Bong Thian-gak memutar pergelangan
tangan kirinya dengan leluasa, seakan-akan pergelangan tangannya
terdiri dari kapas yang lunak, tahu-tahu saja sudah terlepas dari
cengkeraman baja kelima jari tangan kanannya!
Long Jit-seng
tertegun, mimpi pun dia tak menyangka ilmu silat
Bong Thian-gak telah mencapai
tingkatan begitu hebat.
Sambil tersenyum
Bong Thian-gak berkata, "Tipu
muslihat Long-kunsu benar-benar hebat, jika caramu ini digunakan
untuk mencoba kepandaian orang, memang sulit bagi orang lain untuk
menghindar."
Long Jit-seng
menghela napas panjang, "Hwecu memang pantas disebut seorang
Tay-enghiong. Bukan cuma berkepandaian silat tinggi, Hwecu pun
welas-asih dan bijaksana."
"Sesungguhnya barusan aku berniat jahat
dengan niat menghabisi nyawa Hwecu dalam sekali pukulan. Sedangkan
Hwecu pun sudah dapat meraba niat jahat diriku, namun kenyataan kau
sama sekali tidak mengungkapnya."
"Ai ...
atas kejadian ini Long
Jit-seng sungguh merasa menyesal, aku tidak pantas menjadi anggota
Tiong-yang-hwe!"
Beberapa patah kata
Long Jit-seng itu diucapkan dengan
tulus hati dan sejujurnya.
Bong Thian-gak
pada dasarnya memang pemuda yang berjiwa besar, sungguh ia dibuat
sangat terharu oleh kejadian itu.
Akhirnya sambil tersenyum
Bong Thian-gak berkata, "Kata Nabi
besar, tiada orang yang luput dari kesalahan. Asal kau bersedia
bertobat, dosa apa pun bisa dimaafkan. Tiong-yang-hwe sangat
membutuhkan orang-orang berbakat seperti Hek-ki-to-cu."
Berkilat mata
Long Jit-seng, segera ujarnya dengan suara lantang,
"Sekarang dan detik ini juga Long
Jit-seng bergabung dengan Tiong-yang-hwe, selama hidup aku
bersumpah akan setia sampai mati kepada Hwecu dan selalu
mendampingimu, bUa suatu hari aku melanggar sumpah, biar Thian
menjatuhkan hukuman berat kepadaku dan mati dengan hulu hati
tertembus pedang."
Selesai mengucapkan sumpah,
Long Jit-seng segera menjatuhkan
diri berlutut dan menyembah tiga kali ke arah langit.
"Long-sianseng, kesetiaan dan ketulusan
hatimu mengharukan hatiku," kata Bong
Thian-gak kemudian.
Air mata jatuh berlinang membasahi wajah
pemuda itu, dengan cepat dia membimbing bangun
Long Jit-seng yang masih berlutut,
kemudian pelan-pelan ujarnya, "Long-sianseng, mari kita pulang!"
"Hwecu tinggal dimana?"
"Rumah penginapan Hong-tok-ciu-lau."
"Tempat itu tak boleh didiami lagi."
"Ehm, ucapanmu memang benar,"
Bong Thian-gak mengangguk, "entah
bagaimanakah pendapat Sianseng?"
"Lebih kurang tiga li di luar kota
terlarang terdapat kuil Hong-kong-si, Hongtiang kuil itu Hong-kong
Hwesio adalah sahabat karibku, bila Hwecu tidak keberatan lebih baik
markas Tiong-yang-hwe dipindahkan saja untuk sementara waktu ke
situ."
Bong Thian-gak
termenung beberapa saat, kemudian sahutnya,
"Kuil Hong-kong-si pasti merupakan
kompleks kaum ibadah, rasanya kurang pantas bagi kita orang-orang
kasar dunia persilatan untuk mengganggu ketenangannya."
Long Jit-seng tersenyum.
"Di dalam kuil Hong-kong-si hanya
berdiam Hong-kong Hwesio serta kedua muridnya saja," tukasnya.
"Dalam kuil yang begitu luas hanya
didiami mereka bertiga?" Bong
Thian-gak heran.
Long Jit-seng
manggut-manggut sambil tertawa.
"Hong-kong Hwesio adalah seorang
berwatak aneh, belum pernah ada seorang Hwesio pun yang cocok hidup
bersamanya, maka itulah kuil Hong-kong-si tak pernah menerima
anggota baru."
"Apakah dia akan setuju bila kita
menempati kuilnya?" tanya pemuda itu sambil berkerut kening.
Long Jit-seng
tertawa.
"Dalam satu tahun ada tiga ratus enam
puluh lima hari, boleh dibilang sepanjang hari Hong-kong Hwesio dan
kedua orang muridnya hidup mengasingkan diri dalam sebuah kamar
gelap tak tembus cahaya, biar langit ambruk atau permukaan tanah
merekah mereka bertiga tak bakal meninggalkan kamarnya. Oleh sebab
itu kita tak usah meminjam kepada mereka, kita secara langsung
pindah saja ke situ."
Makin mendengar,
Bong Thian-gak semakin terkejut,
tanyanya kemudian, "Apakah mereka tidak bersantap?"
"Rangsum yang disimpan dalam kamar
membukit, sepanjang tahun mereka tidak bakal kekurangan rangsum atau
air."
'Ai, cara hidup mengasingkan diri
Hong-kong Hwesio ini benar- .
benar mengagumkan," tanpa terasa
Bong Thian-gak menghela napas.
"Hwecu, kalau begitu kita putuskan
demikian saja," kata Long
Jit-seng kemudian, "besok sebelum senja tiba, kita semua pindah ke
kuil Hong-kong-si."
"Kini Long-sianseng adalah Kunsu
Tiong-yang-hwe, tentu saja segala sesuatunya akan berjalan menurut
perkataanmu," Bong Thian-gak
tertawa.
Long Jit-seng
tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, Hwecu begitu percaya menyerahkan
beban berat itu kepadaku, mungkin aku tak bisa memikul tanggung
jawab ini."
Mendadak paras
Bong Thian-gak berubah, serunya
cepat, "Ssstt, ada orang datang, bisa jadi mereka adalah anggota
Put-gwa-cin-kau."
Baru selesai dia berkata, empat sosok
bayangan orang telah menerobos masuk ke dalam kompleks tanah kuburan
itu.
Jelas orang-orang itu sudah mengetahui
jejak Bong Thian-gak maupun
Long Jit-seng, maka tanpa
berhenti mereka langsung menuju ke arah mereka berada.
Bong Thian-gak
diam-diam terkejut, pikirnya, "Heran, mengapa para pendatang segera
mengetahui lokasi kami secara tepat?"
Belum habis ingatan itu melintas,
keempat sosok bayangan orang itu sudah berhenti di hadapan mereka.
Mereka berempat adalah orang berjubah
panjang hijau, sebilah pedang tersoreng di pinggang masing-masing,
sebagai pemimpin adalah seorang pemuda gemuk pendek berkulit putih.
Sementara itu orang gemuk pendek itu
tampak tertegun juga setelah bertemu Bong
Thian-gak serta Long
Jit-seng.
Berkilat sepasang mata
Bong Thian-gak, dia merasa orang
gemuk pendek itu seakan-akan pernah bersua di suatu tempat, paras
mukanya sangat dikenal, setelah tertegun sejenak, berbagai ingatan
berkecamuk dalam benaknya.
"Hehehe, tampaknya kehadiran kalian
berempat bermaksud untuk membekuk diriku?" jengek
Long Jit-seng sambil tertawa dingin.
Salah seorang menengok sekejap ke arah
pemuda gemuk pendek itu, lalu berkata, "Komandan regu Ang, orang
inilah Hek-ki-to-cu Long
Jit-seng!"
Mendadak Bong
Thian-gak berseru tertahan, lalu pikirnya, "Ang
Teng-siu! Kalau begitu dia adalah orang kepercayaan Thay-kun."
Tiga tahun berselang di suatu
perkampungan petani, Ang Teng-siu dan seorang dayang Thay-kun telah
bekerja sama membunuh seorang pembantu Ji-kaucu, waktu itu Ang
Teng-siu pernah memberi pertanyaan kepada
Bong Thian-gak bahwa Thay-kun adalah majikannya.
Sementara itu Ang Teng-siu telah berseru
dengan suara dalam, "Bunuh mereka semua!"
Begitu perintah diberikan, ketiga orang
berjubah panjang itu serentak melolos pedangnya sambil berjalan
mendekat.
"Berhenti!" bentak
Bong Thian-gak dengan suara dalam.
Di tengah bentakan,
Bong Thian-gak melompat ke muka dan
menghadang di hadapan Long
Jit-seng.
Tiga bilah pedang panjang ketiga orang
itu serentak menusuk tubuh Bong
Thian-gak dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.
Bong Thian-gak
tertawa dingin, tubuhnya selincah ikan melejit lewat di antara
celah-celah ketiga pedang itu, kemudian telapak tangan kirinya
diayunkan ke muka dan ... dua
kali dengusan tertahan bergema.
Kedua orang berjubah hijau itu
masing-masing terhajar dadanya oleh serangan
Bong Thian-gak sehingga terdorong
mundur sejauh tiga-empat langkah, pedang mereka terlilit oleh lengan
baju kanan Bong Thian-gak
yang kosong sehingga sebilah di antaranya mencelat ke udara.
Dalam satu gebrakan saja
Bong Thian-gak berhasil menaklukkan
ketiga orang berjubah hijau itu, kesempurnaan ilmu silat orang ini
segera menggetarkan hati semua orang. Untung saja
Bong Thian-gak masih punya belas
kasihan dengan meringankan tenaga serangannya, coba tidak, bisa jadi
ketiga orang berjubah hijau itu akan tewas.
Berubah hebat paras Ang Teng-siu, dengan
cepat ia menyerbu ke muka, sebuah pukulan dilontarkan ke arah
Bong Thian-gak dengan kecepatan luar
biasa.
Bong Thian-gak
menggeser langkah kakinya ke samping, tahu-tahu tubuhnya sudah
beralih ke samping, setelah itu bentaknya, "Tahan!"
"Apa lagi yang hendak kau ucapkan?"
tanya Ang Teng-siu dengan wajah tertegun.
"Bukankah kau
she Ang bernama Teng-siu?" tegur
Bong Thian-gak sambil menarik muka.
"Betul!" jawab Ang Teng-siu terkejut,
"darimana kau bisa tahu namaku? Siapa pula kau?"
Sambil tertawa dingin
Long Jit-seng segera menimbrung,
"Ketua Tiong-yang-hwe...
Jian-ciat-suseng!"
Mendengar nama itu, air muka Ang
Teng-siu berubah hebat, serunya kemudian, "Sudah lama kudengar nama
besarmu, apakafl kau kenal diriku?"
"Apakah Ang-heng mendapat perintah untuk
menangkap Hek-kito-cu?" kembali Bong
Thian-gak bertanya dengan suara dalam.
Ang Teng-siu termenung sambil berpikir
sejenak, kemudian baru menjawab, 'Dengan kehadiran saudara,
bagaimana mungkin kami bisa melakukan penangkapan terhadap Tocu?"
"Kalau memang begitu, cepat kalian
berempat mengundurkan diri dari sini!"
Sebelum Ang Teng-siu sempat menjawab,
mendadak dari balik kompleks tanah kuburan yang amat luas itu
berkumandang suara seseorang dengan suara merdu.
"Jian-ciat-suseng, kalian sudah
terkepung."
Seruan ini sungguh mengejutkan
Bong Thian-gak, dia tak pernah
mengira di kompleks tanah kuburan itu pun sudah tersembunyi musuh
yang siap menyerang.
Dengan cepat
Long Jit-seng berpaling.
Dari balik nisan yang porak-poranda dan
menyeramkan itu, sekejap mata telah bermunculan dua puluh sosok
bayangan orang berbaju merah, mereka semua berdiri di depan nisan
kuburan.
Memandang dari kejauhan, yang terlihat
hanya sorot mata mereka yang hijau berkilat seperti api setan.
Dari posisi mereka berada,
Bong Thian-gak dan
Long Jit-seng memang benar-benar
sudah terkepung.
"Apakah Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun yang
berada di situ?" Bong
Thian-gak segera menegur nyaring.
Yang berdiri paling dekat dengan
Bong Thian-gak adalah seorang
perempuan berkerudung merah, dia segera menjawab dengan merdu,
"Betul, memang aku."
"Ji-hubuncu, dengarkan baik-baik," seru
Bong Thian-gak dengan suara
lantang, "aku orang she Bong
tak ingin mempunyai perselisihan dengan pihak Hiat-kiam-bun, bila
Ji-hubuncu adalah orang pintar, harap kau segera mengundurkan diri
dari sini!"
"Mundur boleh saja," sahut Ji-hubuncu
Hiat-kiam-bun sambil tertawa seram. "Asal kau tinggalkan
Long Jit-seng di sini."
Mendengar ucapan itu, tiba-tiba
Long Jit-seng terbahak-bahak.
"Hahaha, aku orang
she Long sudah tua dan tak
bertenaga, bila nona menginginkan aku, aku tak berani menerima!"
"Yang kami inginkan adalah harta karun
Mo-lay-cing-ong," kata Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun dengan suara dingin,
"asal kau Hek-ki-to-cu bersedia bekerja sama, Hiat-kiam-bun tak
bakal melupakan jasamu itu."
"Mana ...
mana Hek-ki-to-cu tertawa, "sayang sekali Hiat-kiam-bun
datang terlambat, sebab aku sudah bergabung dengan perkumpulan
Tiong-yang-hwe."
"Soal itu aku bisa membicarakan dengan
Hwecu kalian."
Sebagai orang pintar,
Bong Thian-gak segera dapat meraba
duduknya persoalan mendengar pembicaraan itu, agaknya pihak
Hiat-kiam-bun juga sudah mengetahui tentang rahasia harta karun
milik raja muda Mo-lay-cing-ong itu dan agaknya
Long Jit-seng juga telah
membicarakan syaratnya dengan pihak Hiat-kiam-bun.
Maka setelah tertawa dingin,
Bong Thian-gak berkata, "Cara
menyerobot yang dilakukan Hiat-kiam-bun tak bisa diterima kami."
"Biarpun ilmu silat Jian-ciat-suseng
tiada tandingan, namun jangan harap bisa menandingi kerja sama tiga
orang penjagal berbaju merah kami. Tempo hari ketika masih berada di
rumah penginapan, tentunya kau sudah pernah merasakan kelihaian
penjagal berbaju merah bukan? Jadi aku tak usah memperkenalkan
lagi."
Dengan sorot mata tajam
Bong Thian-gak memandangnya
lekat-lekat, lamat-lamat dia dapat melihat di belakang Ji-hubuncu
Hiat-kiam-bun tiga pasang mata yang menggidikkan sedang mengawasi
dirinya dengan sorot mata hijau menyeramkan.
Penjagal berbaju merah memang merupakan
algojo-algojo andalan Hiat-kiam-bun.
Kalau di dalam pertarungan kemarin
Bong Thian-gak masih punya
keyakinan, maka sekarang dia sama sekali tidak berkeyakinan untuk
bisa menandingi ketiga algojo itu.
Melihat pemuda itu bungkam dan sampai
lama belum menjawab, Ji-hubuncu berkata lagi sambil tertawa, "Di
bawah pimpinanmu, aku percaya dalam waktu singkat Tiong-yang-hwe
bisa tampil sebagai suatu perkumpulan besar dalam Bu-lim, sebagai
seorang Tay-enghiong, hay
hokiat, dia mesti seorang
yang tahu gelagat dan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.
Jian-ciat-suseng masih bisa mencari kedudukan besar di kemudian
hari, kali ini kau mesti menerima dulu keadaan."
Bong Thian-gak
mendongkol bercampur geli, dia lantas berkata, "Aku benar-benar
berhasrat menyaksikan raut wajahmu, ingin kulihat bibir macam apakah
yang kau miliki sehingga begitu pandai bicara."
"Asal kau bersedia melepaskan
Hek-ki-to-cu, aku pun bersedia memperlihatkan wajah asliku."
"Aku tahu wajahmu sangat jelek,
karenanya aku tak ingin melihatnya lagi," tukas
Bong Thian-gak sambil tertawa
dingin.
Ternyata perkataan itu membuat
Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun terbungkam, sampai lama sekali dia tak
bicara lagi.
Untuk beberapa saat suasana di
sekeliling tempat itu menjadi
sunyi senyap, tegang dan mengerikan.
Ang Teng-siu dan ketiga orang berbaju
hijau berdiri di tempat semula, mereka juga membungkam.
Mendadak terdengar Ji-hubuncu berkata,
"Ang Teng-siu, kau sudah berhasil menemukan Buncu?"
Mimpi pun Bong
Thian-gak tak mengira kalau Ang Teng-siu pun berkomplot
dengan pihak Hiat-kiam-bun, berarti kedatangan Ang Teng-siu berempat
ke situ tadi bukan sungguh-sungguh hendak mencari
Long Jit-seng, melainkan sebelum
kejadian Ang Teng-siu memang sudah punya janji dengan pihak
Hiat-kiam-bun.
Dengan sikap menghormat, sahut Ang
Teng-siu, "Lapor Ji-hubuncu, jejak Buncu sudah kami ketahui dengan
jelas, cuma saat ini bukan saatnya untuk bicara, maaf kalau aku tak
bisa memberi laporan sekarang."
Mendadak Bong
Thian-gak tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya
lantang, "Ji-hubuncu, untuk menyusupkan Ang Teng-siu ke dalam
Put-gwa-cin-kau memang bukan suatu pekerjaan gampang, bisa jadi
banyak tenaga dan pikiran telah digunakan. Malam ini, bila aku bisa
lolos dari pengejaran kalian dan kulaporkan kejadian ini kepada
pihak Put-gwa-cin-kau, dapat dipastikan Ang Teng-siu tak bisa
melanjutkan pekerjaannya menyusup ke dalam tubuh Put-gwa-cin-kau."
"Hm, tampaknya reaksi pikiranmu
benar-benar cepat!" jengek Ji-hubuncu dingin.
Bong Thian-gak
tertawa.
"Mana ...
mana ... ikan
dan telapak beruang tak mungkin bisa diperoleh bersama-sama,
Ji-hubuncu, kau jangan kelewat tamak!"
Tiba-tiba Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun
menghela napas, lalu berkata, "Jian-ciat-suseng, silakan bawa
Hek-ki-to-cu meninggalkan tempat ini!"
"Terima kasih atas kemurahan hati
Ji-hubuncu!"
Selesai berkata, pemuda itu berpaling ke
arah Long Jit-seng dan
berkata lebih lanjut, "Long-sianseng, mari kita pergi!"
Tapi baru saja
Bong Thian-gak berjalan dua langkah,
mendadak dia berpaling lagi sambil bertanya kepada Ang Teng-siu,
"Ang Teng-siu, masih kenal padaku?"
Ang Teng-siu tertegun, lalu menggeleng
kepala.
"Kita baru bersua untuk pertama kali
ini, bagaimana mungkin bisa kenal?"
Dengan wajah serius dan
bersungguh-sungguh Bong
Thian-gak berkata, "Kita pernah bertemu walau Ang-heng belum ingat.
Siapa tahu dengan Ji-hubuncu kalian pun merupakan sahabat lama?
Waktunya memang sudah lama sehingga tidak ingat lagi."
Habis berkata dia lantas beranjak pergi.
Long Jit-seng
mengikut di belakang Bong
Thian-gak dengan mulut membungkam, setelah menempuh perjalanan
beberapa saat Long Jit-seng
berkata, "Hwecu benar-benar seorang naga sakti di antara manusia,
sungguh tak nyana Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun yang paling sukar
dihadapi pun bersedia memberi muka padamu."
Bong Thian-gak
menghela napas, "Ai, Ji-hubuncu membiarkan kita pergi dengan selamat
lantaran jejak Buncu mereka dipandang jauh lebih berharga dari apa
pun. Ai, semoga mereka bisa menemukan Buncunya."
"Siapa Buncu mereka?" tanya
Long Jit-seng tercengang.
Sekali lagi
Bong Thian-gak menghela napas, "Bila dugaanku tak
salah, bisa jadi Buncu Hiat-kiam-bun adalah Si-hun-mo-li."
Long Jit-seng
terkejut.
"Maksud Hwecu, Si-hun-mo-li adalah Buncu
Hiat-kiam-bun?"
Untuk kesekian kalinya
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, "Apa yang barusan kukatakan hanya merupakan dugaan saja,
tapi^ujuh puluh persen mungkin benar, ai
... mengenai hal ini baru bisa jelas bila dirunut
kejadian tiga tahun berselang ...
baiklah persoalan ini kita bicarakan di kemudian hari saja."
Ternyata setelah berjumpa Ang Teng-siu
hari ini, dia segera memperoleh jawaban yang tepat atas beberapa
teka-teki yang selama ini belum terjawab olehnya.
Tiga tahun berselang, di dalam
perkampungan petani yang menjadi markas kantor cabang
Put-gwa-cin-kau kota Kay-hong, dia telah bertemu Ang Teng-siu.
Ang Teng-siu adalah anak buah Jit-kaucu
Thay-kun, sedang Ang Teng-siu pun anggota Hiat-kiam-bun, dengan
cepat Bong Thian-gak jadi
teringat ucapan Thay-kun serta Keng-tim Suthay waktu itu.
"Sembilan hari lagi di Bu-lim bakal
muncul sebuah perkumpulan baru."
Ketika Bong
Thian-gak muncul kembali di Bu-lim, dia memang sudah
berkunjung ke gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong serta
Keng-tim-an, namun orang-orang yang menghuni di kedua tempat itu tak
satu pun yang berhasil ditemukan, tempat tinggal mereka dalam
keadaan kosong, sedang kabar penghuninya seolah lenyap begitu saja.
Tiga tahun kemudian, di Bu-lim muncul
sebuah partai baru yang disebut Hiat-kiam-bun.
Ketika itu
Bong Thian-gak berpikir dalam hati, "Jangan-jangan
Hiat-kiam-bun adalah partai baru yang didirikan Toa-suheng Ho
Put-ciang atau Keng-tim Suthay sekalian?"
Setelah dua kali perjumpaannya dengan
Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun, Bong
Thian-gak merasa baik nada suara maupun perawakan tubuhnya
seakan-akan pernah bersua di suatu tempat.
Akhirnya setelah kemunculan Ang Teng-siu
pada hari ini, Bong Thian-gak
baru dapat menebak bahwa Ji-hubuncu itu tidak lain adalah puteri
Keng-tim Suthay, si gadis jelek.
Hong-leng terletak di atas tanah
perbukitan di sebelah utara kota terlarang.
Waktu itu seorang pemuda berbaju putih
berdiri di atas undak-undakan pintu gerbang, sebilah pedang
tersoreng di pinggangnya, ia berwajah tampan.
Sebentar-sebentar ia mendongak mengawasi
sang surya yang semakin lama bergeser semakin ke tengah awang-awang.
Akhirnya tepat berada di atas kepala,
tengah hari telah tiba.
Pada saat itulah dari jalan raya di
kejauhan sana muncul seekor kuda yang dilarikan cepat, kuda itu
menuju ke depan undak-undakan batu sebelum penunggang kudanya
melejit ke udara dan turun di depan undak-undakan batu pertama.
Orang itu adalah seorang pemuda
berlengan tunggal berusia tiga puluhan, berwajah tampan, terutama
sorot matanya yang memancarkan sinar kewibawaan.
Melihat kemunculan pemuda berlengan
tunggal itu, pemuda berbaju putih tadi berseru sambil tertawa
terbahak-bahak, "Hahaha, Jian-ciat-suseng benar-benar memegang janji
tidak datang lebih awal, tidak pula terlambat, persis tengah hari."
"To-tongcu sudah menanti lama rupanya,"
kata Bong Thian-gak sambil
tersenyum.
Rupanya tengah hari ini adalah saat
dilangsungkannya duel antara Sin-tong Tongcu Kay-pang yakni
To Siau-hou dan
Bong Thian-gak.
Mendadak To
Siau-hou menarik muka, kemudian berkata, "Hari ini aku
orang she To dapat bertarung
dengan saudara, hal ini sungguh merupakan suatu kebanggaan bagiku."
Bong Thian-gak
menghela napas panjang.
"Kedatanganku memenuhi janji ini
sesungguhnya bukan untuk berduel denganmu."
"Lantas mau apa kau kemari?" seru
To Siau-hou dengan wajah berubah.
"Aku datang untuk minta maaf kepada
To-tongcu, bila kemarin Hui-eng-su-kiam bersaudara dari perkumpulan
kami telah mengusik perkumpulan kalian, harap kau sudi memaafkan."
To Siau-hou
tertawa dingin.
"Apakah kau beranggapan sebagai ketua
suatu perkumpulan besar akan kehilangan pamor dan derajat bila
berduel denganku?" "Oh, tidak!"
"Hm! Selama sastrawan berkelana di
Bu-lim, kau selalu berusaha mencari jago-jago lihai kenamaan untuk
diajak berduel, selama tiga bulan terakhir ini entah berapa banyak
jago lihai yang telah keok di tanganmu ...
cuma selama ini kau belum pernah mencari gara-gara
terhadap jago Kay-pang, entah lantaran kau jeri pada nama besar
Kay-pang ataukah memang tak ingin berselisih dengan pihak kami."
"Aku memang tak ingin berselisih dengan
orang-orang Kay-pang," kata Bong
Thian-gak sambil tersenyum.
"Seandainya Jian-ciat-suseng
berkeinginan menjadi tenar, maka cara yang terbaik adalah
mengalahkan para jago Kay-pang, dengan cara ini bisa jadi Tiong-yang-hwe
akan berhasil menancapkan kaki untuk selamanya dalam Bu-lim."
"To-tongcu masih muda dan berkepribadian,
keberhasilanmu di kemudian hari pasti akan luar biasa, sebagai anak
muda yang berjiwa panas, kuanjurkan janganlah kelewat banyak mencari
gara-gara, sebab cara ini bukan cara yang baik."
Bong Thian-gak
mengucapkan kata-katanya dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh.
To Siau-hou
tertawa dingin, "Sejak enam bulan lalu kuterima jabatan Tongcu
bagian Sin-tong partai kami, belum pernah kujumpai seorang jago
lihai yang pantas melangsungkan duel denganku, hari ini aku tertarik
duel denganmu. Bila kau enggan berduel melawanku hari ini, silakan
kau umumkan pembubaran perkumpulan Tiong-yang-hwe dari dunia
persilatan. Kau mesti tahu, tidak semua umat persilatan senang
menyaksikan munculnya partai baru."
"Bila kuterima tantangan untuk berduel
ini?" tanya Bong Thian-gak
sambil menarik wajah.
To Siau-hou
tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, bila kau sanggup melawanku,
To Siau-hou akan mengundurkan diri
dari Kay-pang dan selama hidup membaktikan diri untuk Tiong-yang-hwe."
"To-tongcu, kau sedang bergurau rupanya?"
tanya Bong Thian-gak dengan
kening berkerut.
"Seorang lelaki sejati tak pernah bicara
tanpa tanggung jawab."
"Ai, tidakkah To-heng pikirkan bahwa
taruhanmu kelewat besar?"
To Siau-hou
tertawa dingin, "Hehehe, jangan kuatir, aku pun mempunyai sebuah
syarat."
"Apa syaratmu?"
