pendekar cacad 09
Bagian 9 :
Perkumpulan Pedang Merah
Kemudian setelah termenung sejenak, dia
menyambung lebih lanjut, "Di balik semua itu, sebetulnya masih
mengandung satu makna lain, yakni aku pernah mati sekali dan
sekarang bangkit kembali ke alam semesta. Entah bagaimana pendapat kalian
tentang nama ini?"
Lo-sam dari Hui-eng-su-kiam yakni
Siau-hiang-eng (Burung harum) The Goan-ho segera bertepuk tangan
sambil berseru lantang, "Bagus, bagus! Nama Tiong-yang-hwe memang
bagus, tidak perlu memakai 'pang'
cukup memakai 'hwe', menunjukkan kesan halus dan berseni,
sehingga tidak ada hawa kekerasan sama sekali."
Dan perkumpulan Tiong-yang-hwe pun
secara resmi didirikan pada saat itu, dunia persilatan pun bertambah
lagi dengan satu organisasi baru.
Ketua Tiong-yang-hwe dijabat oleh
Jian-ciat-suseng, kecuali ketua, untuk sementara waktu tidak
diangkat jabatan lain.
Tiba-tiba Jian-ciat-suseng mengunjuk
sikap serius, katanya dengan suara dalam, "Setiap perkumpulan yang
didirikan pasti mempunyai peraturan perkumpulan, cita-cita, maksud
tujuan, serta tata-cara, namun sekarang karena belum ada waktu untuk
menyelesaikan hal ini, maka yang kita pegang sebagai prinsip
sekarang adalah kepercayaan, mulai hari ini Hui-eng-su-kiam sudah
merupakan bagian dari Tiong-yang-hwe, aku harap kalian suka memegang
prinsip hidup kita, yaitu setia, berbakti, bajik, cinta kasih, dapat
dipercaya, setia-kawan, kerukunan dan kedamaian. Asalkan kalian
melaksanakan kedelapan prinsip ini, sudah pasti perbuatan kalian
benar."
"Orang yang bergabung dengan perkumpulan
kita, bilamana melakukan pelanggaran, sudah tentu akan memperoleh
hukuman yang sangat berat."
"Tugas utama perkumpulan sekarang adalah
mengembangkan pengaruh organisasi serta menerima anggota baru, tapi
perkumpulan kita tidak memandang perlu mencari anggota
sebanyak-banyaknya, yang penting adalah mereka yang berhati murni
dan benar-benar berkemampuan tinggi, jadi setiap orang yang
bergabung harus memiliki ilmu silat dan watak yang baik, sebelum
dilakukan penyelidikan yang seksama, siapa pun tak akan diterima
menjadi anggota."
Dengat sikap hormat dan serius,
Hui-eng-su-kiam mendengar wejangan Jian-ciat-suseng, tak seorang pun
yang bersuara.
Ketika pemuda itu telah menyelesaikan
kata-katanya, Yu Hong-hong baru menghela napas panjang, katanya
lirih, "Kami berempat merasa bangga bisa menjadi anggota
Tiong-yang-hwe, namun ada satu hal yang membuat kami malu untuk
menjadi bagian Tiong-yang-hwe."
Dengan sorot mata tajam Jian-ciat-suseng
memandang sekejap ke arah gadis itu, tukasnya, "Apakah kalian merasa
ilmu silat yang kalian miliki terlalu cetek?"
"Benar!" Yu Hong-hong manggut-manggut.
"Ilmu silat Hui-eng-su-kiam terlalu cetek, sesungguhnya kami masih
belum pantas untuk bergabung dengan Tiong-yang-hwe."
Jian-ciat-suseng tersenyum.
"Ilmu silat yang kalian miliki sekarang
sudah boleh dibilang mencukupi, untuk menjadi seorang jago
persilatan yang berilmu tinggi, maka harus memiliki tiga syarat
utama, yakni guru yang pandai, waktu yang cukup, serta kecerdasan
yang melebihi orang lain. Bilamana ketiga syarat itu kurang satu,
maka sekali pun dia merupakan jago yang berilmu tinggi, mustahil
dapat mencapai tingkatan sempurna."
"Sekarang akan kukatakan asal-usulku
kepada kalian agar kalian tahu kisah perjalananku menempuh pelajaran
ilmu silat, cuma orang persilatan belum mengetahui jelas tentang
asal-usulku ini, aku harap setelah kalian tahu nanti, janganlah
disebar-luaskan kepada orang lain. Perlu kalian catat, dalam
menghadapi persoalan, semakin kita dapat merahasiakan sesuatu,
sesungguhnya hal ini semakin baik."
"Petunjuk Hwecu memang sangat tepat,
kami pasti akan menuruti petunjuk Hwecu," kata Gin-ho-eng Tio Im
dengan suara lantang.
Perlahan
Jian-ciat-suseng berkata, "Guruku yang pertama adalah
allmarhum Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh
Ciong-hu, Bengcu persekutuan dunia persilatan."
Mendengar nama itu, dengan terkejut Yu
Hong-hong segera bertanya, "Kalau begitu kau adalah si
Toan-jong-hong-liu Yu ...."
Sambil menggeleng kepala,
Jian-ciat-suseng menghela napas panjang,
sahutnya,
"Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui adalah Ji-suhengku, aku adalah murid terakhir Bu-lim Bengcu, mungkin kalian tak
mengenal namaku, sebab
sebelum aku terjun dan berkelana di Bu-lim, aku sudah
diusir dari perguruan oleh guruku.
Di bawah bimbingan Oh Ciong-hu bengcu
almarhum, aku sudah memperoleh pendidikan ilmu silat selama
lima belas tahun, aku mulai belajar
ilmu silat sejak berusia tujuh tahun."
"Setelah dikeluarkan dari perguruan, aku
telah berjumpa dengan seorang tokoh berilmu tinggi dimana aku
memperoleh pelajaran berbagai ilmu silat dari aliran yang ada di
dunia ini selama tujuh tahun, siapakah tokoh ini untuk sementara
waktu namanya aku rahasiakan lebih dulu, tapi dia adalah guruku yang
kedua."
"Guruku yang ketiga adalah Ku-lo Hwesio
dari Siau-lim-pay, dia hanya sempat memberi pelajaran silat semalam
kepadaku, namun kepandaian silat yang diwariskannya kepadaku justru
merupakan rahasia ilmu silat kaum lurus, itulah sebabnya dalam waktu
singkat aku telah berhasil menguasai ilmu berbagai aliran."
Mendengar sampai di sini,
Hui-eng-su-kiam merasa terperanjat, Oh Ciong-hu dan Ku-lo Hwesio
merupakan dua tokoh yang maha sakti dalam Bu-lim, tak disangka dua
tokoh sakti itu ternyata guru Hwecu mereka, tak heran ilmu silat
ketua mereka lihai sekali.
Tapi siapakah nama yang sebenarnya dari
ketua mereka?
Dari balik mata Hui-eng-su-kiam segera
terlintas sinar mata penuh tanda tanya.
Pelan-pelan Jian-ciat-suseng melanjutkan
kembali, "Sekali pun aku telah berjumpa dengan tiga orang guru
pandai dan mempelajari hampir seluruh ilmu silat yang ada di dunia
ini, namun berhubung waktu yang kurang, aku belum dapat meresapi
seluruh intisari kepandaian itu."
"Akibatnya tiga tahun berselang aku
telah dibunuh orang."
"Tapi Thian memang maha pengasih,
nampaknya ajalku belum tiba sehingga nyawaku dikembalikan lagi ke
alam semesta ini. Tiga tahun lamanya kuselami dan kupelajari semua
kepandaian silat yang pernah kupelajari, akhinya jerih-payahku tidak
sia-sia, aku berhasil menemukan kunci ilmu silat sesungguhnya."
"Sejak mulai belajar silat hingga
mencapai keberhasilan seperti saat ini, aku membutuhkan waktu dua
puluh tiga tahun lamanya, coba bayangkan sendiri baru berapa tahun
kalian berlatih ilmu silat? Itulah sebabnya seperti apa yang
kukatakan tadi, untuk menjadi seorang jago silat yang berilmu
tinggi, tak mungkin bisa dibina dan dipupuk dalam waktu singkat."
Tiba -tiba Yu Hong-hong bertanya,
"Bolehkah aku bertanya, bukankah nama Hwecu adalah Ko Hong?"
Jian-ciat-suseng tersenyum.
"Nama Ko Hong adalah nama samaran yang
telah kugunakan tiga tahun lalu, nama itu bukan namaku yang
sesungguhnya."
Mendengar hal ini, Hui-eng-su-kiam
bersama-sama menjerit kaget.
"O, rupanya kau adalah pendekar
misterius Ko Hong yang amat termasyhur namanya tiga tahun lalu, kami
benar-benar merasa gembira, sungguh tak disangka kami telah bertemu
pemimpin tulen yang ampuh
dan benar-benar
berkemampuan."
Jian-ciat-suseng menghela napas panjang,
katanya kemudian, '"Dikarenakan berbagai alasan, tiga tahun
berselang bukan saja aku telah berganti nama menjadi Ko Hong, bahkan
telah mengubah pula wajah asliku, maka semua orang tak mengetahui
asal-usul dan nama asliku."
"Sesungguhnya nama asliku adalah
Bong Thian-gak. Di kemudian hari
kalian boleh memanggil namaku ini secara langsung."
Rupanya Jian-ciat-suseng ini bukan lain
adalah Bong Thian-gak.
Rupanya setelah meninggalkan
Song Leng-hui,
Bong Thian-gak langsung berangkat
dari kota Lok-yang menuju ke gedung Bu-lim Hengcu di kota Kay-hong.
Siapa tahu gedung Bu-lim Bengcu telah
berubah menjadi gedung Kosong yang tak berpenghuni.
Dia pun berangkat ke kuil Keng-tim-an
untuk mencari Keng-tim
Nulhay, siapa tahu kuil
pun dalam keadaan kosong tak berpenghuni.
Hanya dalam tiga tahun, situasi dunia
persilatan telah mengalami perubahan
besar.
Padahal cita-cita serta tujuan yang
utama kemunculan Bong Thian-gak
kali ini adalah melenyapkan Put-gwa-cin-kau dari muka bumi.
Siapa tahu gerak-gerik maupun jejak
Put-gwa-cin-kau seakan-akan punah begitu saja
dari muka bumi.
Dalam putus asanya dan tiada cara lain
yang bisa diperbuat, akhirnya Bong
Thian-gak mulai menantang semua jago lihai dari
berbagai
partai dan perguruan untuk
merobohkan mereka satu per satu.
Hanya dalam tiga bulan saja ia telah
berhasil merobohkan ratusan jago persilatan, nama besar
Jian-ciat-suseng pun semakin membekas di
dalam hati para jago persilatan.
Sesungguhnya dia berbuat demikian karena
terpaksa, tak bisa disangkal lagi dia ingin memancing kemunculan
rekan-rekan lamanya yang telah menyembunyikan diri agar tampil
kembali ke dalam Bu-lim.
Di samping itu, tentu saja dia ingin
memancing munculnya orang-orang Put-gwa-cin-kau.
Pada saat bersamaan dengan munculnya
kembali Bong Thian-gak, dalam
Bu-lim dihebohkan oleh munculnya seorang iblis perempuan yang amat
lihai, Si-hun-mo-li (Iblis wanita perenggut nyawa).
Berdasar penuturan orang,
Bong Thian-gak menduga perempuan itu
adalah Jit-kaucu Thay-kun.
Oleh sebab itu di kala
Bong Thian-gak mendengar kabar bahwa
Si-hun-mo-li telah muncul di ibukota, maka dia pun segera berangkat
ke kota terlarang dengan tujuan hendak membuktikan apakah
Si-hun-mo-li itu benar Thay-kun atau bukan.
Dalam hati
Bong Thian-gak, Thay-kun telah menempati posisi yang
amat penting, walau antara mereka belum pernah mengucapkan kata
cinta, namun dalam hati kecil kedua orang itu sesungguhnya sudah
bersemi setitik bunga cinta.
Cuma sayang bibit cinta itu sudah hancur
dan musnah sejak tiga tahun berselang.
Dengan kesetia-kawanan, demi
peri-kemanusiaan, Bong Thian-gak merasa wajib untuk menyelidiki mati-hidup Thay-kun.
Apalagi mati hidup Thay-kun menempati
pula posisi yang maha penting dalam Bu-lim.
Bong
Thian-gak
berkata lagi, "Sejak kini kedudukan kalian berempat dalam
Tiong-yang-hwe menempati posisi yang amat penting, tentu saja
apabila ilmu silat yang kalian miliki tidak lihai dan melebihi orang
lain, sulit untuk menanggung tugas berat ini."
"Oleh sebab itu aku mengambil keputusan
hendak mewariskan semacam ilmu pedang maha sakti yang bisa dikuasai
dalam waktu singkat untuk kalian berempat."
Tak terlukiskan rasa kaget dan
gembiranya Hui-eng-su-kiam mendengar janji itu, pertama-tama Yu
Hong-hong yang menjatuhkan diri berlutut lebih dulu, katanya, "Budi
kebaikan yang Hwecu berikan tak pernah kami berempat lupakan."
Dengan suara dalam
Bong Thian-gak berkata lagi,
"Seseorang yang berlatih ilmu silat bukanlah bertujuan untuk mencari
nama atau merobohkan orang lain, baik-buruknya kepandaian silat pun
tergantung mental dan watak seseorang, jika orang itu berangasan
atau buas dan kejam, maka mustahil ilmu silatnya dapat mencapai
kesempurnaan, dalam hal ini kalian belum dapat memahami secara
keseluruhan, namun di kemudian hari bila ilmu silat yang kalian
miliki sudah memperoleh kemajuan pesat, sudah pasti akan kalian
sadari ucapan ini bukan omong kosong belaka."
"Ilmu pedang yang hendak kuwariskan
kepada kalian sekarang sebenarnya hanya terdiri dari satu jurus
saja, namun di balik satu jurus itu sebenarnya mengandung tiga
gerakan yang berbeda."
"Dari ketiga gerakan itu, hanya terdapat
satu gerakan yang merupakan jurus serangan, sedang dua gerakan yang
lain merupakan jurus pertahanan."
"Ilmu pedang satu jurus dengan tiga
gerakan ini walaupun cuma satu gerakan yang merupakan gerak
serangan, tapi serangan itu sangat ganas, dahsyat dan luar biasa,
begitu serangan dilepaskan, korban pasti roboh, oleh sebab itu aku
ingin berpesan kepada kalian, andaikata keadaan tidak terpaksa,
jangan sekali-kali kalian gunakan gerak serangan itu secara
sembarangan."
Serentak Hui-eng-su-kiam berkata, "Kami
akan menuruti perintah Hwecu, bila melanggar, kami bersedia menerima
hukuman."
Bong
Thian-gak
mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling tempat ini,
lalu berkata pula, "Sekarang mari kita mundur ke balik hutan sebelah
sana dan mulai berlatih ilmu pedang."
Selesai berkata,
Bong Thian-gak segera mengajak
Hui-eng-su-kiam berjalan menuju ke dalam sebuah hutan kecil di
sebelah kanan jalan.
Bong
Thian-gak
memungut sebatang ranting kering, kemudian pelan-pelan berkata,
"Jurus pedang dinamakan Coa-tin-toh (Peta barisan ular), dari
namanya tentu kalian sudah memahami, cara menggunakan jurus serangan
ini adalah sambil bertahan melancarkan serangan."
"Gerakan pertama disebut Coa-tin-in-sian
(Barisan ular mulai tampak), menghadapi jurus serangan macam apa
pun, kaki kiri mundur selangkah sambil memutar badan setengah
lingkaran, pedang bergerak dari ketiak kiri melintang ke depan."
"Gerakan kedua disebut Siu-heng-gi-wi
(Cabut badan bergeser tempat), merupakan gerak lanjutan, kaki kanan
bergeser selangkah ke kanan, tanpa mengubah posisi pedang, badan
berganti posisi, pedang kanan pun berubah ancaman, dengan mata
pedang menusuk permukaan tanah."
"Sedangkan gerakan ketiga disebut
Coa-si-ci-toh (Lidah ular menjulur keluar), menjatuhkan badan ke
arah lawan, namun pedang yang menusuk ke arah bawah tiba-tiba
meletik dan menusuk ke arah belakang."
"Jurus Coa-tin-toh ini boleh
dipergunakan secara beruntun, boleh juga digunakan tersendiri, tapi
daya pengaruh yang dipancarkan tentu saja jauh lebih besar bila kita
menggunakannya secara beruntun."
"Satu jurus dengan tiga gerakan ini
kelihatannya seperti sederhana sekali, namun untuk memahami
intisarinya kalian harus berlatih puluhan kali, dengan begitu kalian
bisa maju setapak lebih ke depan dan melatihnya hingga mencapai
kesempurnaan, pengaruhnya akan jauh lebih besar lagi."
"Asal satu jurus dengan tiga gerakan ini
sudah kalian kuasai, sekali pun menghadapi seorang jago pedang yang
berilmu sangat tinggi, tidak susah untuk menusuk hulu hatinya."
"Nah, sekarang aku akan pulang dulu ke
Hong-tok-ciu-lau, aku berdiam di kamar nomor tiga puluh enam,
selesai berlatih nanti kembalilah ke sana."
Begitu selesai berkata,
Bong Thian-gak membalikkan badan
keluar dari hutan kecil itu dan kembali ke penginapan
Hong-tok-ciu-lau.
©
Bulan sembilan di wilayah utara, udara
terasa sangat dingin merasuk tulang.
Rembulan tertutup awan, bintang
menyembunyikan diri, malam itu sangat gelap-gulita.
Dalam kamar nomor tujuh puluh sembilan
Hong-tok-ciu-lau, nampak cahaya lentera masih bersinar terang,
kendati tengah malam sudah lewat.
Kamar itu ditempati dua orang berbaju
putih, wajah kedua orang itu aneh sekali, yakni berwarna hitam dan
putih yang bercampur aduk, jelek dan aneh bukan kepalang.
Perawakan tubuh mereka kurus kering dan
jangkung, matanya melotot besar dan menyinarkan sinar kebuasan.
Waktu itu kedua orang itu sedang duduk
di ruang tamu, agaknya mereka sedang menantikan seseorang.
Mendadak orang di sebelah kiri berkata,
"Kentongan ketiga sudah lewat, aneh, mengapa mereka belum juga
datang?"
Orang yang di sebelah kanan menyahut
dengan suara yang menyeramkan pula, "Menurut keterangan si
perantara, tengah malam nanti dia pasti datang."
Baru selesai dia berkata, cahaya lentera
berguncang keras, lalu terendus bau harum yang menyegarkan.
Serentak kedua orang aneh itu
mendongakkan kepala.
Kedua orang itu terperanjat dengan mata
terbelalak lebar.
Rupanya di ruang tamu itu sudah berdiri
seorang gadis cantik rupawan, sepasang biji matanya yang sangat jeli
dan membetot sukma sedang mengawasi kedua orang berbaju putih yang
jelek dan aneh itu tanpa berkedip.
Tiba-tiba sekulum senyum manis menghiasi
wajahnya yang cantik hingga terlihat sepasang lesung pipinya yang
indah.
Pada dasarnya dia memang berwajah cantik
bak bidadari dari kahyangan, ditambah pula dengan senyuman yang
menawan, boleh dibilang siapa pun pasti akan terpikat olehnya.
Terutama senyumannya itu, begitu indah
dan cantik membuat sukma orang serasa mau terbang rasanya.
Kedua orang aneh berbaju putih itu
seakan-akan tak berani mempercayai apa yang terpampang di depan
matanya, mereka berpaling bersama, kemudian salah seorang di
antaranya segera menegur pelan, "Kau ...
kau ... kau
... adalah Si-hun-mo-li?"
Sesungguhnya pertanyaan orang aneh itu
berlebihan, sebab Si-hun-mo-li tidak akan sembarangan menampakkan
diri, dia memerlukan perantara untuk mencari langganannya.
Si-hun-mo-li baru akan muncul bagai
sukma gentayangan apabila si perantara sudah mengaturkan segalanya.
Kedua orang aneh berbaju putih ini
merupakan bajingan cabul yang termasyhur di kolong langit, mereka
memang gemar main perempuan, tapi setelah berjumpa dengan
Si-hun-mo-li hari ini, mereka berdua ketakutan, ngeri dan jeri
menghadapi kecantikannya itu.
Menurut kabar yang tersiar di Bu-lim,
barang siapa bermain cinta dengan Si-hun-mo-li, maka sukmanya akan
lenyap.
Berita yang tersiar itu menggidikkan
siapa pun yang mendengar.
Tapi sungguhkah itu? Atau cuma isapan
jempol belaka?
Oleh karena mereka berdua belum
membuktikan sendiri, maka kedua orang ini pun belum tahu.
Si-hun-mo-li tidak menjawab
pertanyaannya, sekulum senyuman kembali menghiasi wajahnya yang
cantik.
Senyuman untuk kedua kalinya ini membuat
kedua orang aneh berbaju putih itu tak dapat menggeser matanya.
Sebab pada saat itulah Si-hun-mo-li
telah melepas mantel luarnya sehingga nampak pakaian dalamnya yang
tipis dan berwarna kuning menerawangkan tubuh bagian dalamnya yang
putih mulus dan membetot sukma itu ....
Ya, gadis itu memang memiliki tubuh yang
indah, memukau hati, merangsang napsu birahi dan membuat hati orang
berdebar keras.
Orang aneh yang bersuara seperti jeritan
setan itu berseru lantang, "Loji, apakah kau sanggup bersabar?
Perempuan ini benar-benar menggairahkan, sekali pun seperti apa yang
dikabarkan orang. Semalam bercinta sukma melayang, kita patut
mencobanya, cuma apakah dia bersedia melayani kita secara bergilir?"
Orang berbaju putih lainnya segera
menyahut, "Lotoa, aku sudah tak mampu menahan diri, selama hidup
belum pernah kujumpai wanita yang begitu cantik dan menawan hati
seperti dia."
Si-hun-mo-li tersenyum lagi, senyuman
untuk ketiga kalinya.
Menyusul kemudian pakaian tipis pun
pelan-pelan terlepas dari atas badannya.
Tampaknya kedua orang berbaju putih itu
sudah tak mampu menahan diri lagi, secepat kilat mereka bertindak,
"Blam", pintu ruangan sudah ditutup rapat-rapat.
Di bawah cahaya lentera, terlihatlah
tubuh perempuan yang bugil
dan indah terpapar di depan mata.
Mata kedua orang berbaju putih itu
melotot memancarkan napsu birahi, tiada hentinya mengawasi tubuh
bugil Si-hun-mo-li.
Biar besok harus mati, malam ini mereka
merasa wajib mencari kepuasan.
©
Keesokan harinya, di kamar nomor tujuh
puluh sembilan Hok-tok-ciu-loo telah ditemukan dua sosok mayat.
Mereka tewas dalam keadaan telanjang
bulat, tertutup oleh kain dan baju yang kotor.
Yang lebih menggemparkan masyarakat
adalah kedua orang itu bukan lain adalah Hek-liong-kang-siang-cho
(sepasang manusia jelek dari Hek-liong-kang) yang termasyhur namanya
di Bu-lim.
Kepandaian silat serta kecabulan kedua
orang jelek dari Hek-liong-kang ini sudah cukup membuat orang
persilatan pusing dan bergidik, tapi nyatanya mereka berdua
ditemukan tewas dalam keadaan menyedihkan.
Bahkan tewas di tangan Si-hun-mo-li yang
cantik tapi berhati keji.
Selama tiga bulan ini, belum pernah ada
seorang lelaki pun di Bu-lim yang lolos dalam keadaan hidup setelah
bermain cinta semalam suntuk dengan Si-hun-mo-li.
Tentu saja tiada orang tahu macam apakah
Si-hun-mo-li itu hingga memukau hati orang.
Di kolong langit ini sesungguhnya hanya
seorang saja yang pernah melihatnya, baik wajah maupun tubuh bagian
rahasianya sekali pun.
Tapi siapakah dia?
Orang itu tak lain adalah
Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak.
Dalam benak
Bong Thian-gak, dia hanya berpendapat bahwa
Si-hun-mo-li adalah Thay-kun.
Sebab di kolong langit dewasa ini, tidak
mungkin ada perempuan kedua yang memiliki perawakan badan begitu
memukau perasaan laki-laki dan memiliki kekuatan yang begitu besar
sehingga lelaki mana pun bersedia mengorbankan jiwanya.
Bong
Thian-gak
yang berada dalam kamar nomor tiga enam Hong-tok-ciu-lau sedang
duduk di ruang tamunya dengan wajah serius, sedang di empat kursi
lainnya duduklah Hui-eng-su-kiam.
Lima orang dari Tiong-yang-hwe hanya
duduk termenung saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tiba-tiba terdengar
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, lalu berkata, "Benar, aku ingin bertemu dengan
Si-hun-mo-li, sebab tujuanku kemari adalah ingin bertemu dengannya."
"Tentu saja kami tak berani memaksa
Hwecu membatalkan niat itu," kata Yu Hong-hong dengan sedih. "Cuma
... bila Hwecu ingin bertemu
dengannya, jangan berangkat seorang diri."
Bong
Thian-gak
tersenyum.
"Tak usah kuatir," katanya,
"Si-hun-mo-li tak bakal melahapku."
Sewaktu mendengar ucapan ini, merah
padam wajah Yu Hong-hong karena jengah, bibirnya yang sudah bergetar
hendak bicara segera diurungkan, sementara kepala pelan-pelan
ditundukkan rendah-rendah.
Tio Im berkata, "Kepandaian silat maupun
ketenangan Hwecu memang melebihi siapa pun, cuma aku tidak tahu
dengan cara apakah Hwecu ingin bertemu Si-hun-mo-li? Konon dia tidak
muncul setiap saat."
Bong
Thian-gak
menyahut, "Ai, sesungguhnya persoalan inilah yang membuatku
kesulitan, tentu aku harus mencari dulu si perantara."
Siau-hiang-eng The Goan-ho yang selama
ini cuma membungkam tiba-tiba menimbrung, "Menurut pendapatku baik
si perantara maupun Si-hun-mo-li, bisa jadi semuanya berdiam pula
dalam rumah penginapan ini"
"Samte, tersiar di Hong-tok-ciu-lau ini
terdapat seratus delapan buah kamar, dengan cara apa kita bisa
memeriksa semua kamar?" seru Boan-thian-eng
(Burung pembalik jagad) Bu
Siau-hong.
"Sekali pun tidak bisa juga harus
diperiksa, kita tak boleh berpeluk tangan membiarkan Si-hun-mo-li
mencelakai laki-laki lain lagi, siapa tahu suatu ketika dia akan
mencari kita semua?"
"Tio Im," tiba-tiba
Bong Thian-gak bertanya. "Apakah kau
sudah berhasil memperoleh daftar tamu yang menginap di tempat ini?"
"Lapor Hwecu," jawab Gin-ho-eng Tio Im
dengan hormat, "daftar nama para tamu sudah kuperoleh, tapi sebagian
besar orang yang punya nama, mencantumkan nama palsu mereka di buku,
misalkan saja Mo Siau-pak dari Kim-liong-kiam-san-ceng serta
Siangkoan-lojin, mereka tinggal di sini, namun di daftar tidak
ditemukan namanya."
"Nama asli mereka tentu saja tak akan
tercantum dalam daftar itu," Bong
Thian-gak tertawa.
Mendengar itu, semua orang lantas
tertawa saling berpandangan penuh pengertian.
Tiba-tiba Yu Hong-hong berseru dengan
manja, "Bong-hwecu ...."
Karena sorot mata nona itu berkedip dan
mengawasi dirinya tanpa henti, tanpa tetasa
Bong Thian-gak bertanya, "Hong-hong,
kau ada urusan apa?"
"Ada satu masalah ingin kutanyakan
kepada Hwecu, tapi apakah Hwecu mengizinkan?"
"Katakan saja terus terang, kita kan
sudah orang sendiri."
"Apakah Hwecu kenal dengan
... dengannya?" tanya Yu Hong-hong
agak tergagap.
Tergetar perasaan
Bong Thian-gak mendengar pertanyaan
itu, sahutnya, "Aku hanya menduga saja, tidak terlalu pasti, itulah
sebabnya aku harus melihat dengan mata kepala sendiri sebelum
memastikan."
Tanya jawab kedua orang ini mengejutkan
Gin-ho-eng Tio Im bertiga, serentak mereka berpikir, "Yang dimaksud
Sumoay sebagai dia, sudah pasti Si-hun-mo-li."
Sementara mereka masih berpikir, Yu
Hong-hong telah berkata lagi dengan merdu, "Hwecu teliti dan cermat,
kecerdikanmu melebihi siapa pun, aku percaya apa yang kau duga tak
akan meleset, bisa jadi Si-hun-mo-li benar adalah orang yang diduga
oleh Hwecu."
"Hong-hong, apa yang hendak kau ucapkan?
Tak usah ragu-ragu, katakan saja semuanya!"
Setitik air mata tampak menggenang di
kelopak mata Yu Hong-hong, katanya, "Aku kuatir setelah Hwecu
bertemu dengannya, dia akan mencelakai jiwa Hwecu."
Bong
Thian-gak
menghela napas panjang, "Andaikan Si-hun-mo-li benar-benar orang
yang kuduga, dia tak akan
mencelakai jiwaku, bahkan siapa tahu dia enggan bertemu denganku."
"Ai, sebenarnya aku boleh saja
mengatakan siapa dia, tapi meski sudah kusebut namanya pun belum
tentu kalian kenal, lebih baik tak usah dikatakan saja."
Kembali Yu Hong-hong bertanya,
"Seandainya Si-hun-mo-li betul-betul adalah orang yang telah diduga
Hwecu, maka apakah tindakan yang akan Hwecu lakukan?"
Bong
Thian-gak
mengangkat kepala dan termenung beberapa saat, lalu gumamnya,
"Semoga saja bukan dia."
"Berita yang tersiar di Bu-lim, dia
dilukiskan sebagai setan iblis, perempuan siluman, gadis cabul, tapi
aku meragukan kebenarannya. Itulah sebabnya aku harus bertemu
dengannya, aku perlu membicarakan persoalan ini dengannya, sebab di
saat kami berpisah dulu, dia adalah seorang gadis pemurung dan mudah
putus asa, besar kemungkinan dia sudah tak bebas lagi."
Seandainya Si-hun-mo-li adalah Thay-kun,
Bong Thian-gak tahu gadis itu
patut dikasihani, sebab dia tahu Cong-kaucu tak menanti akan
melepaskan dirinya begitu saja.
Bila Thay-kun masih hidup, sekali pun
tubuhnya adalah tubuh kasar miliknya, namun roh dan jiwanya sudah
pasti bukan miliknya.
Tentu saja segala sesuatunya itu baru
dapat menjadi jelas bila Bong
Thian-gak telah bersua dengannya.
Untuk beberapa saat lamanya
Hui-eng-su-kiam berdiri kaget, tertegun dan kebingungan mendengar
perkataan Bong Thian-gak itu,
mereka tidak tahu hubungan apakah yang pernah terjalin antara
Hwecunya ini dengan Si-hun-mo-li.
Menyaksikan kesedihan dan kemurungan
yang menghiasi wajah Bong Thian-gak, Yu Hong-hong menghela napas panjang, katanya, "Harap
Hwecu sudi memaafkan kelancanganku menanyakan masalah itu hingga
mengungkap kembali kenangan pahit Hwecu di masa lampau."
Bong
Thian-gak
tersenyum.
"Hong-hong, aku tak menyalahkan dirimu,
aku hanya berharap agar kalian berempat mempercayai diriku,
Bong Thian-gak tidak akan
menyia-nyiakan kepercayaan untuk berbakti kepada Tiong-yang-hwe."
"Kami empat bersaudara sejak tiga tahun
lalu membentuk Huieng-su-kiam, selama ini kami selalu bersama, ada
kesulitan dipikul berbareng, hari ini kami telah menyerahkan diri
untuk berbakti kepada Tiong-yang-hwe, berarti mati-hidup kami telah
diserahkan pada Hwecu, sejak kini bila Hwecu ada perintah, maka baik
mendaki bukit golok maupun terjun dalam minyak mendidih, kami empat
bersaudara tak akan menampik."
Ucapan Tio Im ini diutarakan dengan
tegas dan penuh kegagahan.
Bong
Thian-gak
manggut-manggut.
"Aku sangat bangga dapat memperoleh
bantuan kalian berempat, semoga saja Tiong-yang-hwe bisa termasyhur
di Bu-lim."
Setelah berhenti sejenak, dia menyambung
lagi, "Sekarang aku mempunyai suatu tugas yang hendak kuserahkan
pada kalian berempat, sebelum matahari terbenam hari ini, kita
berlima memisahkan diri ke lima arah melakukan pemeriksaan seksama
terhadap setiap umat persilatan yang tinggal dalam Hong-tok-ciu-lau
ini, tapi ingat! Apabila keadaan tidak memaksa, jangan sampai
bentrok secara kekerasan."
"Baik," sahut Hui-eng-su-kiam serentak.
Begitu perintah diturunkan,
Hui-eng-su-kiam dan Bong Thian-gak berlima segera berpencar ke lima penjuru untuk mulai
bertugas.
Bong
Thian-gak
menuju ke arah tengah, dia berjalan lebih dulu menuju ke kamar nomor
tujuh, dia tahu ruangan ini ditempati oleh Thia Leng-juan.
Kamar itu yang termegah di
Hong-tok-ciu-lau, satu di antara dua belas kamar istimewa, empat
penjuru dikelilingi dinding rendah, pada arah timur dan barat
dinding terdapat dua buah kebun bunga kecil, ada gunung-gunungan,
gardu dan air mengalir.
Bong
Thian-gak
berdiri di luar dinding di halaman belakang di sebelah utara.
Rumah itu tertutup rapat, tampaknya Thia
Leng-juan sedang keluar kamar.
Bong
Thian-gak
berdiri termenung beberapa saat, mendadak dia melompati dinding
rendah itu dan langsung menuju ke kamar bagian belakang.
Mendadak dari belakang tubuhnya
berkumandang suara teguran dengan suara dingin seperti es,
"Thia-tayhiap sedang keluar, memasuki kamar tanpa permisi, apakah
kau tak kuatir disebut orang kurang adat?"
Suara teguran itu cukup dikenalnya,
pelan-pelan Bong Thian-gak
membalik badan.
Terlihat majikan muda
Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Siau-pak sedang berdiri di belakang
tubuhnya.
"Mo-siaucengcu mencari aku?" tegur
Bong Thian-gak hambar.
Mo Siau-pak tertawa dingin.
"Kau telah melukai Siangkoan-lotoa,
karena itu Mo Siau-pak tak akan melepas dirimu begitu saja."
Bong
Thian-gak
mengangkat kepala dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian ujarnya dengan suara hambar, "Di sini tiada orang, bila
ingin bertarung, cabutlah pedangmu dan lancarkan seranganmu!"
"Pedangku tak pernah disarungkan tanpa
hasil, kau tidak melolos pedangmu?"
"Sudah kukatakan, kalau ayahmu Mo
Hui-thian mungkin masih pantas bagiku untuk mempergunakan pedang,
bila kau menganggap tindakanku ini suatu penghinaan, lebih baik kau
jangan turun tangan."
Berubah hebat paras muka
Kiu-liong-sin-kiam Mo Siau-pak, bentaknya, "Baik, kalau kau enggan
menggunakan senjata, terpaksa aku akan mengalah tiga jurus, sekarang
lancarkan dulu seranganmu."
"Hanya cukup dengan satu gebrakan saja
kau akan keok, percaya tidak dengan perkataanku? Makanya aku selalu
memberi kesempatan kepada orang lain untuk melancarkan serangan
lebih dulu."
Mo Siau-pak benar-benar dibikin gusar
oleh ucapan itu, sambil tertawa dingin secepat kilat tubuhnya
menerjang ke muka.
Tatkala tubuhnya berada berhadapan
dengan Bong Thian-gak, pedang
naga sembilannya dilolos dengan tangan kanan.
Cahaya pedang menyambar bagaikan
bianglala lewat di sisi tubuh Bong
Thian-gak.
"Cring", dentingan nyaring berkumandang
memecah keheningan. Akibat bentrokan itu, Mo Siau-pak mencelat.
Sedangkan pedang sembilan naganya rontok
ke atas tanah, meski hawa pedang masih memancar, sayang sudah
kehilangan kemampuan untuk melukai orang.
Jian-ciat-suseng benar-benar hanya
menggunakan satu jurus serangan saja dan Mo Siau-pak telah menderita
kekalahan total.
Bukan hanya menderita kekalahan saja, Mo
Siau-pak bahkan tak sempat mengetahui jurus serangan apakah yang
telah dipergunakan lawan untuk merontokan pedang dalam genggamannya
itu.
Dia hanya merasa pergelangan tangannya
sakit sekali, tahu-tahu pedangnya sudah rontok ke atas tanah.
Mo Siau-pak benar-benar tidak percaya
dia menderita kekalahan dalam satu gebrakan saja, tapi kenyataan
sudah di depan mata, Jian-ciat-suseng memang tidak bergeser
selangkah pun.
"Bret",
pakaian bagian lengan kanan Jian-ciat-suseng rontok secara tiba-tiba
ke atas tanah dan robek menjadi dua.
Pada saat itulah terdengar
Bong Thian-gak berkata, "Kelihaian
ilmu pedangmu sungguh di luar dugaanku, andaikata lenganku ini masih
utuh, niscaya lenganku ini sudah pasti kau kutungi."
Perkataan Bong
Thian-gak ini sama sekali tidak membuat paras muka Mo
Siau-pak berubah, sebab dia tahu serangan pedangnya bukan menyerang
melalui sisi sebelah kanan, ujung lengan baju kanan lawan tersayat
putus oleh karena dia berhasil merontokkan pedangnya lebih dulu,
saat tubuhnya berputar, ujung lengan baju kanan yang berkibar tak
terkendali dan tersayat putus oleh mata pedangnya.
Beberapa patah kata Jian-ciat-suseng
barusan, tidak lebih hanya sebagai hiburan bagi seorang yang baru
menderita kekalahan.
Mendadak terdengar suara tawa bergema,
dengan perasaan kaget Bong Thian-gak dan Mo Siau-pak berpaling.
Dari balik halaman rumah pelan-pelan
berjalan keluar seorang sastrawan berbaju biru, dia bukan lain
adalah pendekar sastrawan Im-ciu Thia Leng-juan.
Sambil tersenyum Thia Leng-juan berjalan
menghampiri mereka, lalu membungkukkan badan mengambil pedang
sembilan naga yang tergeletak di tanah, katanya, "Hari ini mata
orang she Thia baru terbuka,
serangan pedang Mo-siaucengcu benar-benar dahsyat, sedangkan pukulan
Cuangcu ini pun hebat. Kalian berdua sama-sama tangguh dan hebat,
setali tiga uang, siapa pun tak ada yang kalah."
Sembari berkata dia membawa pedang
sembilan naga itu dan diangsurkan ke depan Mo Siau-pak.
Tiba-tiba Mo Siau-pak menghela napas
panjang, lalu berbisik, "Ai, aku telah kalah, cuma yang membikin
hatiku tak puas adalah mengapa saudara membiarkan aku kalah dalam
satu gebrakan, tiada jago lihai yang mampu mengalahkan aku dalam
satu gebrakan, kecuali ... kecuali ayahku sendiri."
Setelah menyerahkan pedang, Thia
Leng-juan membalik badan dan mengalihkan pembicaraan ke soal lain,
kepada Bong Thian-gak dia
bertanya, "Mungkinkah saudara datang untuk mencari aku orang
she Thia!"
Tergerak hati
Bong Thian-gak ketika dilihatnya Thia Leng-juan tidak
mengenali dirinya, pikirnya, "Ya, benar! Dulu aku telah menyaru
wajah dan sekarang muncul dengan wajah asli, tak heran Thia
Leng-juan tak mengenali diriku lagi!"
Kemudian sambil tersenyum dia menyahut,
"Benar, aku memang ingin menyambangi pendekar sastrawan dari
Im-ciu!"
Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak,
"Hahaha, kepandaian silat yang kau miliki sangat hebat, tak usah
bertarung pun aku orang she Thia mengakui aku bukan tandinganmu."
Rupanya Thia Leng-juan mengira
Bong Thian-gak mencarinya untuk
menantang duel.
Perbuatan Thia Leng-juan sebelum
bertarung sudah mengaku kalah pun merupakan perbuatan yang mustahil
dilakukan orang lain, mungkin di kolong langit ini tiada manusia
yang bisa berbuat seperti ini.
"Ai," Bong
Thian-gak menghela napas. "Jian-ciat-suseng bukan
seorang yang gemar mencari gara-gara tanpa alasan, harap
Thia-tayhiap jangan salah sangka."
"Kalau begitu, ada urusan apa kau
mencariku? Aku orang she Thia
siap mendengar penjelasanmu," kata Thia Leng-juan sambil tertawa.
Pelan-pelan
Bong Thian-gak berkata, "Seingatku, tiga tahun lalu
Thia Leng-juan pernah berada di gedung Bu-lim Bengcu di kota
Kay-hong."
Sampai di situ, dia lantas membungkam
dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya.
Sementara paras muka Thia Leng-juan
berubah hebat, tapi hanyi sebentar saja sekulum senyuman sudah
kembali menghiasi wajahnya, dia berkata pula, "Ya, aku pun merasa
seakan-akan pernah bersua denganmu di suatu tempat."
Hati Bong
Thian-gak bergetar, sebenarnya ia ingin mengungkap
asal-usul sendiri, tapi entah mengapa tiba-tiba saja dia merasa di
balik sorot mata Thia Leng-juan seakan-akan terpancar serentetan
sinar membunuh yang mengerikan.
Maka dengan kening berkerut, sahutnya
hambar, "Tengah hari kemarin, kita pernah bersua di tempat makan."
"Bukan hanya kemarin."
"Kalau begitu, dapatkah Thia-tayhiap
menerangkan dimanakah kita bersua lagi?"
Bong Thian-gak balik bertanya.
Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak,
"Hahaha, justru aku orang she
Thia tak bisa mengingatnya kembali."
"Padahal kita baru bersua pertama kali
di kota terlarang ini."
"Hahaha, aku orang
she Thia memang tidak pandai
melayani tamu, silakan saudara dan Mo-siaucengcu masuk untuk minum
teh!"
Sembari berkata, Thia Leng-juan segera
berjalan lebih dulu menuju ke ruang tamu.
Tapi secara tiba-tiba Mo Siau-pak
merangkap tangan menjura seraya berkata, "Mo Siau-pak masih ada
urusan lain yang mesti diselesaikan, karena itu ingin mohon diri."
Begitu selesai berkata, dia lantas
membalik badan dan melompat keluar tembok pekarangan.
Thia Leng-juan tidak bermaksud menahan
tamu, dia meneruskan perjalanannya menuju ke halaman depan diikuti
Bong Thian-gak di
belakangnya.
Tak selang lama mereka berdua sudah tiba
di depan undak-undakan pintu kamar.
Sembari membuka pintu, Thia Leng-juan
berkata, "Tahukah kau, semalam di rumah penginapan ini sudah terjadi
peristiwa besar?"
"Soal direnggutnya dua sukma sepasang
manusia jelek dari Hek-liong-kang oleh Si-hun-mo-li?" sahut
Bong Thian-gak hambar
Thia Leng-juan tertawa ringan, kemudian
mendorong pintu dan mendonggakkan kepala.
Tiba-tiba saja suara tawa Thia Leng-juan
terhenti.
Bong
Thian-gak
mendonggakkan kepala, tapi apa yang kemudian terlihatnya membuat dia
terperanjat.
Rupanya sembilan pedang darah yang
berwarna menyala telah mengancam tenggorokan Thia Leng-juan.
Pedang darah itu muncul dari balik kamar
dan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun.
Oleh karena peristiwa ini terjadi sangat
mendadak dan sama sekali di luar dugaan, lagi pula teknik yang
digunakan si penyergap untuk melancarkan serangan terlampau lihai,
oleh karena itu pada hakikatnya tidak sempat lagi bagi Thia
Leng-juan untuk menghindar, dia segera kena ditawan.
Orang yang memegang pedang Hiat-kiam
adalah perempuan berkerudung kain merah.
Rambutnya yang hitam memanjang terurai
ke belakang bahu, kecuali matanya yang jeli, sepasang tangan yang
putih halus, hampir anggota tubuh lainnya terbungkus di balik kain
berwarna merah itu.
"Kau adalah anggota perguruan pedang
darah?" Thia Leng-juan menegur dengan tenang.
Hiat-kiam-bun atau Perguruan pedang
darah merupakan suatu organisasi paling rahasia yang muncul di
Bu-lim semenjak lenyapnya Put-gwa-cin-kau dari peredaran dunia.
Kay-pang dan Hiat-kiam-bun merupakan dua
perkumpulan yang paling termasyhur di Bu-lim saat ini.
Hiat-kiam-bun termasyhur di Bu-lim
karena penyergapannya dan teknik membunuh orang yang tidak
meninggalkan bekas, membuat orang tak menduga sebelumnya.
Siapakah ketua mereka? Ternyata tak
seorang pun tahu.
Anggota mereka selalu membawa pedang
berwarna merah darah dan mengenakan pakaian berwarna merah, sehingga
nampak begitu menyeramkan dan menggidikkan.
Terdengar perempuan berkerudung merah
memerintah dengan suara sedingin es, "Cepat masuk ke dalam atau
pedang ini akan segera menembus tenggorokanmu!"
Oleh karena ancaman itu, Thia Leng-juan
tak bisa berkutik, terpaksa dia harus menurut perintah dan masuk ke
dalam kamar.
Pelan-pelan perempuan itu ikut mundur ke
dalam, namun ujung pedang merahnya tetap menempel di tenggorokan Thia
Leng-juan.
Bong
Thian-gak
ikut melangkah masuk, mendadak terdengar perempuan berkerudung merah
memerintah, "Tutup pintu dan jangan punya pikiran lain atau
tenggorokan orang ini akan segera berlubang."
Perkataan itu jelas merupakan
peringatan, terpaksa Bong Thian-gak harus turut perintah dan menutup pintu, kemudian berdiri
di samping sambil menanti perubahan situasi.
Dia merasa anggota Hiat-kiam-bun selain
memiliki kepandaian silat lumayan, orangnya pun amat cekatan, tenang
dan pandai melihat gelagat.
Dengan suara masih tenang, Thia
Leng-juan bertanya, "Apakah Hiat-kiam-bun hendak merenggut nyawaku?"
"Bila Buncu kami menghendaki nyawamu,
kau sudah tak dapat bicara sedari tadi," sahut perempuan itu dingin.
Thia Leng-juan tersenyum.
"Kalau begitu, mengapa pedang nona masih
menempel terus di tenggorokanku?"
"Buncu menginginkan kau mengucapkan
beberapa patah kata, bila menolak, nyawamu akan segera kurenggut!"
"Mana Buncu kalian?"
"Buncu kami bukan sembarangan orang
dapat menjumpainya." Thia Leng-juan tertawa ringan.
"Sekarang nona menempelkan pedang di
tenggorokanku, apakah bermaksud hendak memaksaku berbicara?"
Baru selesai dia berkata, mendadak dia
meringankan kepalanya ke samping dengan maksud hendak menghindari
tudingan ujung pedang lawan.
Siapa tahu baru saja ia menggerakkan
kepala, tahu-tahu terasa tenggorokan sakit sekali.
"Jika kau berani bergerak lagi secara
sembarangan, pedangku tidak akan kenal ampun."
Rupanya pedang pendek yang berada di
tangan perempuan berkerudung merah itu sudah menggores luka kulit
tenggorokannya, darah segar segera memancar keluar.
Agak berubah paras muka
Bong Thian-gak menyaksikan kejadian
itu, dia merasa perempuan ini memiliki kecerdasan luar biasa.
Kenyataan sukar bagi Thia Leng-juan
untuk melepaskan diri dari ancaman bahaya begitu saja.
Berpikir sampai di sini, diam-diam
timbul keinginan Bong Thian-gak untuk membantu Thia Leng-juan terlepas dari cengkeraman
lawan.
Terdengar perempuan berkerudung merah
berkata, "Thia-tayhiap pentang matamu lebar-lebar, orang-orang
Hiat-kiam-bun berani datang mencarimu, berarti kami memiliki
kemampuan menghadapimu, oleh sebab itu baik-baiklah menjawab
pertanyaanku, kemungkinan besar kau masih dapat mempertahankan
selembar nyawamu."
Dengan senyum manis masih menghiasi
wajahnya, Thia Leng-juan berkata, "Nona, kau ada urusan apa? Katakan
saja terus terang."
Mendadak terdengar
Bong Thian-gak berkata, "Nona,
pedangmu belum dapat dipakai membunuh orang."
"Mengapa belum dapat dipakai membunuh
orang?" tanyanya dengan tertegunnya.
Paras Bong
Thian-gak sama sekali tidak mengunjuk perubahan, hanya
katanya dengan suara hambar, "Pedang nona kalau memang bisa dipakai
untuk membunuh orang, apa salahnya coba ditusukkan ke depan?"
Sembari berkata pemuda itu berjalan
mendekat ke arahnya.
"Berhenti!" bentak perempuan itu dengan
suara menggelegar. "Bila kau berani maju selangkah lagi, dia
...."
Belum habis dia berkata,
Bong Thian-gak sudah mendesak ke
arahnya dengan kecepatan bagaikan sukma gentayangan.
Perempuan itu terperanjat, belum pernah
dia saksikan kepandaian silat semacam ini, cepat dia menggerakkan
tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan yang amat dahsyat ke arah
jalan darah Ciang-tay-hiat di dada Bong
Thian-gak.
Bong
Thian-gak
segera menggerakkan lengan kirinya, tangan yang kuat seperti jepitan
baja itu mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dengan kencang,
sementara lengan kosongnya melancarkan bacokan.
"Cring", dentingan nyaring bergema
memecah keheningan.
Dengan terperanjat gadis berkerudung
merah itu mundur tiga-empat langkah, sementara matanya mengawasi
pedang pendeknya yang kutung sebagian dengan wajah tertegun dan
melongo.
Rupanya pedang pendek yang berada di
tangan kanannya itu sudah digetarkan oleh pukulan
Bong Thian-gak hingga patah menjadi
dua bagian.
Demonstrasi tenaga dalam ini kontan
membuat setiap orang yang hadir di situ menjadi terperanjat dan
pecah nyalinya.
"Siapa kau?" dengan terkesiap dan kaget
gadis itu menegur.
Thia Leng-juan tertawa, mewakili
Bong Thian-gak sahutnya, "Dia adalah
Jian-ciat-suseng."
Sambil bicara, secepat kilat Thia
Leng-juan berkelit ke samping.
Kepandaian silat Thia Leng-juan memang
sudah lama termasyhur di Bu-lim, kalau tidak bergerak, tubuhnya
tetap kaku seperti batu karang, namun jika sudah bergerak,
kecepatannya melebihi sambaran petir.
Dalam terkejut dan terkesiapnya, cepat
perempuan itu memutar pedang kutung di tangan kanannya menciptakan
serentetan cahaya pelangi berwarna cerah, kemudian langsung membacok
ke bahu kanan Thia Leng-juan.
Di tengah gelak tertawa yang memekakkan
telinga, Thia Leng-juan mengeluarkan ilmu simpanan Siau-lim-pay yang
disebut Poh-liong-jin (Ilmu menangkap naga).
Dengan gerakan yang luar biasa, dia
mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan gadis itu, sementara
kaki kanan pada saat bersamaan menendang alat kelamin gadis itu.
Satu serangan terdiri tiga gerakan
berbeda, serangan Thia Leng-juan ini selain cepat, sempurna juga
keji dan tidak berperi-kemanusian.
Terutama yang membikin orang terperanjat
adalah tendangan Thia Leng-juan yang secara langsung mengarah bagian
rahasia gadis itu, p.ida hakikatnya tindakan keji ini tak mungkin
bisa dilakukan oleh seorang pendekar besar sejati, sebab serangan
itu selain terkutuk, rendah, sndis, juga amoral.
Lawan adalah seorang wanita, bila pria,
maka perbuatan Thia Leng-juan
mengarah alat kelamin lawan masih belum terhitung amoral.
Berubah wajah
Bong Thian-gak menyaksikan kejadian itu, serunya dengan
suara dalam, "Thia-tayhiap, jangan bertindak keji."
Dari jurus serangan yang digunakan Thia
Leng-juan, Bong Thian-gak
mengerti orang berniat menghabisi nyawa musuhnya.
Sayang seruan
Bong Thian-gak ini agak terlambat, walaupun gadis itu
dapat menghindari cengkeraman dan pukulan ke arah dadanya, namun
gagal menghindari tendangan ke arah kelaminnya.
"Aduh!" jeritan kesakitan yang menyayat
hati berkumandang.
Gadis berkerudung merah berikut
pedangnya tahu-tahu sudah mencelat hingga menumbuk dinding, kemudian
pelan-pelan terduduk di tanah.
Bong
Thian-gak
dapat menyaksikan dengan jelas semburan darah segar memancar dari
tubuh bagian bawahnya.
Dia belum mati, sepasang matanya yang
sayu mengawasi Bong Thian-gak
tanpa berkedip, dilihat dari mimik wajahnya, gadis itu seperti
hendak mengutarakan sesuatu kepada anak muda itu.
Bong
Thian-gak
berjalan ke depan, namun Thia Leng-juan telah mendahului, dengan
menggenggam kurungan pedang di tangan kanan dia tusuk dada gadis itu
hingga tembus.
Dengusan tertahan kembali bergema,
dengan sorot mata penuh kebencian, gadis itu menatap wajah Thia
Leng-juan lekat-lekat, lalu serunya tertahan, "Kau
... kau sungguh amat keji."
Dengan dua serangan yang mematikan
bersarang di tubuhnya, gadis berkerudung merah itu tak mampu
bertahan lagi, kepalanya segera terkulai lemas dan putus nyawa.
Bong
Thian-gak
segera maju ke muka dan pelan-pelan melepas kain kerudung yang
menutupi wajah gadis berbaju merah itu.
Dia berwajah bersih dan cantik, tapi
sekarang tewas dengan wajah penuh perasaan dendam dan benci.
Menyaksikan semua ini,
Bong Thian-gak menghela napas sedih,
ujarnya, "Thia-tayhiap, mengapa kau harus membunuhnya?"
Thia Leng-juan tertawa dingin.
"Hehehe, orang-orang Hiat-kiam-bun
termasyhur karena kebuas dan kekejamannya, mereka senang menyergap
dan membunuh orang, salahkah jika kulenyapkan seorang pembunuh dari
muka bumi? Hahah”
Selama tiga
bulan lebih malang melintang dalam Bu-lim, orang yang terbunuh di
tangan Jian-ciat-suseng pun mencapai ratusan orang lebih!"
Ketika mendengar perkataan itu,
pelan-pelan Bong Thian-gak
membalikkan badan, tiba-tiba saja ia menyaksikan selapis perasaan
licik dan sinis menghiasi wajah Thia Leng-juan, tergerak hatinya,
diam-diam dia berpikir, "Thia Leng-juan telah berubah, dia sudah
tidak mirip Thia Leng-juan tiga tahun lalu."
Menyaksikan kenyataan ini,
Bong Thian-gak semakin tak berani
mengungkap keadaan yang sebenarnya.
Mendadak dia membalikkan badan dan
beranjak pergi.
"Eeh, saudara! Harap tunggu sebentar,"
tiba-tiba Thia Leng-juan berteriak.
"Masih ada urusan apa?" tanya
Bong Thian-gak sembari berpaling.
Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, saudara memang seorang aneh,
bukankah kau sengaja kemari untuk mencariku orang
she Thia?"
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Benar, tapi sekarang aku sudah tidak
memerlukan hal ini lagi."
"Apakah saudara marah lantaran
menyaksikan aku membunuh seorang anggota Hiat-kiam-bun?"
"Tendanganmu itu terus terang sangat
memuakkan."
Sekali lagi Thia Leng-juan tertawa
terbahak-bahak.
"Hahaha, aku tidak memiliki kepandaian
silat selihai saudara, oleh sebab itu dalam melancarkan serangan mau
tak mau harus kupakai serangan keji yang mematikan, padahal
orang-orang Hiat-kiam-bun ...."
Dia tidak berkata lebih lanjut,
sedangkan Bong Thian-gak tahu
dia hendak berkata, "Terhadap orang-orang Hiat-kiam-bun, kita tak
perlu membicarakan peraturan dunia persilatan lagi."
Bong
Thian-gak
menengok sekejap ke arahnya, lalu berkata, "Aku lihat gadis ini
berwajah bersih dan menarik, tampaknya bukan jenis penjahat berhati
keji."
"Paras muka Si-hun-mo-li cantik jelita
seperti bidadari, orangnya pun mulus dan cerah, tapi kenyataannya
dia justru perempuan berhati ular yang membunuh orang tanpa
berkedip."
"Kau pernah bersua Si-hun-mo-li?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata
Bong Thian-gak. Thia
Leng-juan tertawa.
"Kalau pernah bertemu, aku tak akan
hidup sampai sekarang." Bong Thian-gak menghela napas panjang. "Ai, aku rada tidak percaya."
"Tidak percaya apa?"
Bong
Thian-gak
tidak berkata lebih lanjut.
Tapi Thia Leng-juan telah salah
mengartikan maksud Bong Thian-gak sebagai, "Aku tidak percaya, setelah bertemu Si-hun-mo-li,
aku akan mati."
Maka gelak tertawanya semakin bertambah
keras, ucapnya, "Hahaha, kalau kau tidak percaya, mengapa tidak
mencobanya sendiri?"
Mendadak tergerak hati
Bong Thian-gak mendengar perkataan
itu, segera tanyanya, "Bagaimana caraku menjumpainya?"
"Aku bukan si perantara, tentu saja aku
tak dapat mengajakmu bertemu dengannya," kata Thia Leng-juan sambil
tertawa. "Tapi aku pernah mendengar orang bilang, asal di hatimu
berkeinginan bertemu Si-hun-mo-li, maka perempuan itu akan datang
sendiri menjumpaimu."
"Ah, masa di kolong langit terdapat
kejadian seaneh ini?" seru Bong
Thian-gak dengan kening berkerut.
"Banyak kejadian aneh akan kau jumpai di
dunia ini, sebab tidak percaya pun kau pasti akan menjadi percaya
akhirnya."
"Baik! Aku memang ingin bertemu
dengannya, bahkan maksu kedatanganku kemari memang ingin bertemu
dengannya."
"Wah, itu lebih baik lagi, siapa tahu
tengah malam nanti Si-hu mo-li akan berkunjung ke dalam kamarmu."
"Tengah malam nanti dia benar-benar akan
datang?" kem sepasang mata Bong
Thian-gak berkilat.
Thia Leng-juan tertawa.
"Asal kau ingin bertemu dengannya,
perasaan halusnya pasti akan
merasakan hal itu."
"Kalau begitu aku mohon diri."
Sembari berkata
Bong Thian-gak menjura, kemudian
membalik badan dan berlalu dari situ.
Tiba-tiba saja
Bong Thian-gak merasakan suatu
firasat, terhadap Thia
Leng-juan, dia dapat melihat sorot mata Thia Leng-juan berkedip
tiada hentinya sepanjang pembicaraan, ini menunjukkan dalam hati
mempunyai suatu maksud dan tujuan tertentu.
Sebenarnya
Bong Thian-gak masih berniat mencari tahu kabar tentang
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang sekalian kakak seperguruannya, tapi
sekarang niat itu harus diurungkan untuk sementara waktu.
Karena dia tahu dunia persilatan adalah
suatu dunia yang penuh dengan mara bahaya, tiga tahun terakhir ini
bisa jadi Thia Leng-juan telah berubah, berubah menjadi seorang
laknat licik, kejam dan banyak akal muslihatnya.
Sambil berjalan
Bong Thian-gak memutar otak.
Mendadak dari depan sana terdengar
seseorang bersuara, "Lapor, Bong-hwecu!"
Dia lihat Yu Hong-hong sedang berlarian
mendekat dengan wajah gugup dan kebingungan.
"Hong-hong, apa yang telah terjadi?"
Bong Thian-gak segera menegur
dengan wajah keheranan.
"Bu Siau-hong dan The Goan-ho telah
ditangkap orang-orang Kay-pang."
"Hah? Apa yang telah terjadi hingga
mereka tertangkap?" tanya Bong
Thian-gak dengan perasaan bergetar.
"Sewaktu melakukan pemeriksaan atas
kamar nomor sembilan puluh sembilan, The Goan-ho menemukan di dalam
kamar itu berdiam banyak orang, dia pun menghubungi Bu Siau-hong
untuk melakukan penyelidikan, siapa tahu orang yang berdiam dalam
kamar itu adalah anggota Kay-pang, sewaktu mereka menyaksikan
munculnya Bu Siau-hong dan The Goan-ho di sana, dianggapnya ada
musuh sedang memata-matai mereka, maka ditangkaplah kedua orang
itu."
"Terjadi pertarungan?" tanya
Bong Thian-gak dengan kening
berkerut.
"Secara beruntun Bu Siau-hong dan The
Goan-ho telah melukai tujuh orang Kay-pang, tapi akhirnya mereka
dikalahkan oleh seorang jago muda."
Mendengar sampai di sini,
Bong Thian-gak menghela napas.
"Ai, Kay-pang merupakan perkumpulan yang
sedang jaya-jayanya dalam Bu-lim dewasa ini, dengan tindakan Bu
Siau-hong dan The Goan-ho yang telah melukai ketujuh anggota mereka,
niscaya akan besar sekali kesulitan yang bakal dijumpai."
"Hwecu, sesungguhnya kami tak seharusnya
mencari gara-gara untukmu, apa lagi dalam situasi seperti ini, tapi
orang-orang Kay-pang tidak tahu aturan."
Diam-diam Yu Hong-hong merasa amat
girang, namun ia tidak memperlihatkan rasa girangnya itu, katanya
setelah menghela napas panjang, "Hwecu adalah seorang ketua
perkumpulan, mana boleh kita jumpai mereka begitu saja?"
"Kemunculan Tiong-yang-hwe dalam Bu-lim,
cepat atau lambat tentu akan berakibat bentroknya kita dengan
orang-orang Kay-pang, tak usah banyak bicara lagi, sekarang juga
kita harus pergi menemui orang-orang Kay-pang, kalau tidak, niscaya
Bu Siau Bong dan The Goan-ho
akan menderita."
Yu Hong-hong tidak bicara lagi, lekas
saja mereka pun berangkat menuju ke kamar nomor sembilan puluh
sembilan.
Kamar nomor sembilan puluh sembilan
adalah kamar terbesar di Hong-tok-ciu-lau, dalam halaman tersendiri
itu terdapat tujuh buah bilik dan sekelilingnya terdapat pagar
pekarangan yang tingginya mencapai beberapa kaki.
Ketika Bong
Thian-gak dan Yu Hong-hong tiba di depan pintu,
terdengarlah suara yang amat mereka kenal sedang berseru dengan
suara lantang, "Kalian orang-orang dari Kay-pang benar-benar
kelewatan menghina orang, aku she
Tio sudah minta maaf kepada kalian, mengapa kalian masih juga
belum melepas orang?"
Bong
Thian-gak
tahu itu suara Gin-ho-eng Tio Im, maka dia mempercepat langkahnya
menuju ke sudut dinding.
Pada saat itulah Yu Hong-hong berseru,
"Ketua Tiong-yang-hwe telah tiba, harap orang-orang Kay-pang muncul
untuk menyambut."
Di halaman terlihat ada sembilan orang
berbaju putih penuh tambalan berdiri tegak, Tio Im sedang berdiri
dikurung oleh mereka.
Ketika mendengar seman Yu Hong-hong
tadi, kesembilan orang berbaju putih itu nampak tertegun, lalu
bersama-sama mengalihkan sorot matanya.
"Tiong-yang-hwe!"
Nama itu terasa sangat asing dalam
Bu-lim, oleh sebab itu setelah memandang ke arah
Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong,
tiba-tiba saja kepalanya mendongak dan terbahak-bahak dengan
kerasnya.
Gelak tawa itu penuh dengan nada
menghina, mengejek dan memandang rendah.
Jelas keadaan
Bong Thian-gak yang cacat dan buntung tangannya membuat
mereka memandang hina kepadanya.
Menyaksikan kesembilan orang itu tertawa
terbahak-bahak, tanpa terasa Yu Hong-hong mengerutkan dahi, kemudian
bentaknya nyaring, "Hei, sudah tuli semua kalian? Hwecu kami telah
datang, mengapa kalian tidak mengundang penerima tamu untuk
menyambut kedatangan beliau?"
Tiba-tiba Bong
Thian-gak berbisik, "Hong-hong, jangan gusar, mari kita
saja yang menghampiri mereka."
Sembari berkata
Bong Thian-gak berjalan mendekati
mereka.
Tatkala Gin-ho-eng Tio Im menyaksikan
Bong Thian-gak berjalan
mendekat, dia segera membalikkan badan hendak memberi hormat
kepadanya, tapi tiba-tiba saja salah satu orang berbaju putih itu
telah membentak keras, "Mundur!"
Sebuah pukulan dahsyat langsung
ditujukan ke arah dada Gin-ho-eng Tio Im.
Dengan cekatan Gin-ho-eng Tio Im
berkelit ke samping sambil membalikkan pergelangan tangannya ke
kanan, belum sempat pedang dilolos keluar, tiba-tiba
Bong Thian-gak sudah berteriak, "Tio
Im, jangan bertindak gegabah!"
Kemudian sambil menjura kepada
kesembilan orang berbaju putih itu, katanya lagi, "Sembilan saudara
pelindung hukum Kay-pang, bila aku Bong
Thian-gak melakukan kesalahan sukalah memberi
petunjuk."
Benar juga, kesembilan orang ini memang
benar-benar pelindung hukum Kay-pang, salah seorang di antaranya
berwajah putih dan gemuk pendek, agaknya merupakan komandan
kesembilan orang itu.
Dia memutar sepasang mata elangnya
mengawasi Bong Thian-gak
beberapa kejap, kemudian tanyanya dengan suara dingin, "Jadi kau
adalah ketua Tiong-yang-hwe?"
"Benar memang aku!" jawab
Bong Thian-gak tertawa.
"Apakah Hui-eng-su-kiam adalah anak
buahmu?" kembali kakek gemuk pendek itu bertanya.
"Tiong-yang-hwe belum lama didirikan,
jumlah anggota kami baru lima orang."
"Saudara sebagai ketua perkumpulan,
mengapa memerintahkan anak buahmu melakukan perbuatan terkutuk
dengan menyusup ke halaman rumah orang, kemudian mengintip rahasia
orang?"
Senyum manis masih tetap menghiasi wajah
Bong Thian-gak, katanya,
"Kami tidak tahu tempat ini sudah disewa perkumpulan kalian, coba
kalau tahu, tak nanti kami menyusup kemari."
Beberapa patah kata
Bong Thian-gak ini boleh dibilang
sudah cukup mengalah dan memberi muka kepada pihak Kay-pang.
Sayang kakek gemuk itu tak tahu diri,
sambil tertawa dingin katanya lagi, "Setiap orang yang berani
melanggar peraturan Kay-pang, maka dia harus menerima pemeriksaan
lebih dahulu dan menjalani hukuman, walaupun kau adalah seorang
ketua, sayang kami tidak memberi muka padamu, kuanjurkan lebih baik
cepat tinggalkan tempat ini."
Mendadak Bong
Thian-gak menarik muka dan menegur, "Siapa yang
ditugaskan untuk mewakili perkumpulan kalian di kota ini?' Kakek
gemuk itu tertawa dingin.
"Seorang pelindung hukum Kay-pang
mempunyai hak untuk bicara, setiap satu perkataan kami berarti
perintah, kuharap kau segera angkat kaki."
Mencorong sinar tajam dari balik mata
Bong Thian-gak, dengan suara
dalam tanyanya lagi, "Siapa yang ditugaskan mengepalai tempat ini?
Kalau kalian masih membungkam, terpaksa aku menggunakan kekerasan."
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, dia
sengaja mengerahkan tenaga dalam, setiap patah kata yang keluar dari
mulutnya seperti guntur menggelegar, mendengung hingga jauh, membuat
semua hadirin merasakan hawa darah di dada bergelora dan terasa tak
nyaman.
Sembilan orang berbaju putih itu
terhitung pelindung hukum yang tangguh, kepandaian silat mereka
tidak lemah, akan tetapi mendengar perkataan
Bong Thian-gak dengan suara auman
singa itu, tak terlukis rasa terkejut di hatinya, sadarlah mereka
kalau kepandaian silat orang ini cukup lihai.
Sambil tertawa dingin kakek gemuk pendek
itu berkata, "Auman singa saudara tak akan mengejutkan Tongcu kami,
Giok-bin-giam-lo To Siau-hou
pun sudah cukup lama mendampingi Pangcu kami."
Begitu nama To
Siau-hou disebut, Bong
Thian-gak tertegun, pikirnya, "Oh, rupanya dia,
To Siau-hou tidak tewas oleh pukulan
Jit-kaucu Thay-kun, tentu saja kejadian ini merupakan suatu
keajaiban, kalau begitu ketua Kay-pang benar-benar seorang yang maha
sakti."
Sementara itu si kakek gemuk pendek yang
menyaksikan paras muka Bong Thian-gak berubah tak menentu, disangkanya pemuda ini dibikin keder
oleh nama besar To Siau-hou,
tanpa terasa serunya dengan perasaan bangga, "Bagaimana? Bila
saudara pernah mendengar nama besar To
Siau-hou, lebih baik cepat mencawat ekor dan enyah dari
tempat ini!"
Tiba-tiba Bong
Thian-gak tertawa dingin, serunya, "Tio Im, beri
pelajaran kepada manusia takabur ini, tapi jangan sampai merengut
jiwanya, cukup melukainya saja."
Sejak tadi Gin-ho-eng Tio Im sudah
dibikin mendongkol oleh tingkah-laku pongah musuh, tapi tiada tempat
untuk melampiaskan rasa dongkolnya.
Begitu mendengar perintah, dia segera
membalikkan pergelangan tangan dan "Cring", ia melolos pedang dari
sarungnya.
Di antara getaran pergelangan tangannya,
tampak setitik cahaya bintang menusuk ke perut kakek gemuk itu
dengan kecepatan luar biasa.
Agaknya kakek bertubuh gemuk pendek itu
tidak menyangka serangan pedang Tio Im dilancarkan sedemikian
cepatnya, dalam kaget dan
ngerinya, cepat dia
memutar badan sambil bergeser ke sisi kiri.
Siapa tahu Gin-ho-eng Tio Im sudah
bertekad melukai musuhnya, maka dia sudah bersiap mengeluarkan ilmu
Coa-tin-toh yang diwariskan Hong Thian-gak
kepadanya.
"Kena!" bentaknya dengan lantang.
Gin-ho-eng Tio Im membungkukkan tubuh,
sementara pedangnya yang berada di tangan kanan sudah bergerak dari
bawah secara aneh langsung menusuk secepat kilat.
Jeritan tertahan bergema, bahu kiri
kakek gemuk pendek itu benar-benar terkena tusukan, darah segar
segera memancar keluar dan membasahi pakaiannya yang berwarna putih.
Betapa terkejut dan gusarnya delapan
orang berbaju putih lainnya menyaksikan komandannya menderita kalah
dalam dua gebrakan saja, diiringi bentakan nyaring, serentak
kedelapan orang itu melabrak maju bersama.
Mendadak terdengar bentakan nyaring,
"Kalian lekas mundur!"
Kedelapan orang berbaju putih itu
bersama-sama menghentikan gerakan tubuh mereka yang sedang menerjang
ke muka, lalu berpaling ke samping.
Di atas undak-undakan pintu kamar telah
berdiri seorang pemuda berbaju putih yang berwajah tampan, bertubuh
kekar dan gagah perkasa, sebilah pedang bersarung bambu tersoreng di
pinggangnya.
Sekilas pandang saja
Bong Thian-gak segera mengenali
pemuda di atas undak-undakan itu adalah Giok-bin-giam-lo
To Siau-hou, raut wajahnya tidak
banyak mengalami perubahan, tapi sikapnya jauh lebih tenang, serius
dan kereng.
Dengan sorot mata tajam
To Siau-hou mengawasi wajah
Bong Thian-gak lekat-lekat, bahkan
mengamati dari atas kepala sampai ke ujung kaki, setelah itu dia
baru berkata sambil tertawa dingin, "Sungguh tak kusangka
Jian-ciat-suseng telah menjadi ketua Tiong-yang-hwe."
Ketika kesembilan Huhoat Kay-pang
mendengar nama Jian-ciat-suseng, serentak paras muka mereka berubah
hebat, mimpi pun mereka tak pernah mengira ketua Tiong-yang-hwe ini
bukan lain adalah Jian-ciat-suseng yang amat termasyhur dalam Bu-lim
dewasa ini.
"Ah, syukur aku selamat!" seru kakek
gemuk pendek itu.
Dia bersyukur cukup bernasib baik hingga
bukan Jian-ciat-suseng yang dihadapinya tadi, kalau tidak, niscaya
selembar jiwanya sudah melayang meninggalkan raganya.
Sambil tersenyum,
Bong Thian-gak berkata,
"Tiong-yang-hwe baru didirikan tiga hari berselang, tentu saja bila
nama dan kedudukan kami dibandingkan perkumpulan kalian, keadaannya
ibarat rembulan dengan kunang-kunang."
Paras muka To
Siau-hou berubah serius sekali, ujarnya kemudian,
"Kalau Tiong-yang-hwe dipimpin Jian-ciat-suseng, sudah pasti masa
depannya akan semakin cerah."
"Terima kasih, terima kasih!"
Bong Thian-gak tertawa.
Dengan kening berkerut, kembali
To Siau-hou berkata, "Dengan
kehadiran saudara sendiri untuk minta kembali orangmu, semestinya
To Siau-hou harus segera
menyerahkannya kepadamu, namun aku tahu nama besar Jian-ciat-suseng
akhir-akhir ini ibarat matahari di tengah angkasa, setiap umat
persilatan yang berjumpa denganmu tak urung pasti akan menantangmu
berduel, oleh sebab itu mumpung ada kesempatan, aku pun ingin minta
petunjuk darimu."
"To-siauhiap masih muda dan berjiwa
panas, masalah bertanding ilmu silat memang suatu hal yang tak bisa
dihindari, cuma aku rasa pertarungan pada saat dan keadaan seperti
ini kelewat sembrono dan tidak cocok, maka aku ingin memilih waktu
lain saja untuk menantikan petunjuk darimu."
To Siau-hou
termenung sebentar, tiba-tiba ucapnya kepada kesembilan orang
berbaju putih itu, "Kalian lepaskan Boan Thian-eng serta Siau
Hiang-eng!"
Buru-buru Bong
Thian-gak menjura seraya katanya, "Kesediaan To-tongcu
memberi muka padaku, tak pernah oraing she
Bong lupakan."
"Tengah hari besok, kita bertemu di
Hong-leng, pintu kota sebelah utara," ucap
To Siau-hou dingin.
"Baik, sampai waktunya aku pasti
datang."
Baru selesai berkata, Boan Thian-eng, Bu
Siau-hong serta Siau-hiang-eng dan The Goan-ho sudah berjalan keluar
dari ruang tengah. Selain pakaian mereka yang terkena percikan
darah, segala sesuatunya tetap normal dan lengkap seperti sedia
kala.
Dengan cepat mereka menemui
Bong Thian-gak.
"Mari kita pergi," ucap
Bong Thian-gak dengan suara dalam.
Seusai berkata, dia melangkah keluar
lebih dulu dari pintu halaman dan langsung kembali ke kamar nomor
tiga puluh enam.
Hui-eng-su-kiam tidak banyak komentar,
mereka membuntuti di belakangnya, lalu duduk di kamar mereka.
Sesudah duduk,
Bong Thian-gak memandang mereka
sekejap, lalu pelan-pelan berkata, "Tampaknya kota terlarang sudah
menjadi pusat perkumpulan segenap jago lihai dari berbagai aliran
dan perguruan yang ada saat ini, menurut apa yang kuketahui, dua
perkumpulan raksasa dewasa ini, Hiat-kiam-bun dan Kay-pang telah
menampakkan diri secara terang-terangan."
"Padahal Tiong-yang-hwe kita baru saja
didirikan, anggotanya cuma kita berlima, dengan kekuatan ini,
mustahil kita bisa menandingi kekuatan lawan yang begitu besar,
karenanya kusarankan kepada kalian agar mengurangi segala
tindak-tanduk yang menyolok mata, kalau tidak, kita bisa dikeroyok
dan Tiong-yang-hwe bisa mati dalam rahim sebelum dilahirkan."
Ucapan Bong
Thian-gak barusan membuat Hui-eng-su-kiam menundukkan
kepala rendah-rendah, serentak mereka berkata, "Kami berempat merasa
bersalah kepada Hwecu atas peristiwa yang terjadi, kami bersedia
menerima hukuman dari Hwecu."
Bong
Thian-gak
tersenyum.
"Kalian tidak membuat gara-gara, tiada
kesalahan yang perlu dijatuhi hukuman. Apa yang barusan kuucapkan
tidak lebih hanya memperingatkan kalian saja agar tahu diri."
Terhadap sikap terbuka, bijaksana dan
kebesaran jiwa Bong Thian-gak, Hui-eng-su-kiam merasa amat kagum dan menaruh hormat,
mereka betul-betul tunduk atas keagungan pemimpinnya ini.
Tiba-tiba Hwe-im-eng Yu Hong-hong
berkata, "Lapor Hwecu! Dari dalam kamar nomor seratus delapan,
kutemukan banyak perempuan asing berkumpul di situ, sebelum aku
melakukan penyelidikan, Jiko sudah terlibat dalam pertarungan, oleh
karena itu aku belum sempat menyelidiki lebih jauh."
Tergerak hati
Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, ujarnya
kemudian, "Hong-hong, mari ikut aku menengok ke situ, sedang Tio Im
bertiga segera mencari berita ke kota!"
Dengan memisahkan diri dalam dua
rombongan, berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu.
Yu Hong-hong dan
Bong Thian-gak dengan langkah pelan
berjalan menuju halaman besar paling belakang sana.
Kamar nomor seratus delapan merupakan
kamar besar terpojok dalam rumah penginapan itu, letaknya di sudut
barat dan sekeliling ruangan dilapisi dinding pendek.
Dinding perkarangan sebelah barat
merupakan dinding yang paling tinggi, makin ke belakang makin
rendah.
Kamar itu termasuk terpencil dan tersepi
dalam penginapan itu.
Dengan pelan
Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong berjalan menuju ke
depan tembok pekarangan itu, sekeliling halaman itu sunyi senyap tak
terdengar sedikit suara pun.
"Aneh!" Yu Hong-hong berbisik. "Baru
saja kutemukan perempuan berlalu-lalang di sini, mengapa dalam waktu
singkat sudah sepi?"
"Tentu mereka mengawasi gerak-gerik kita
dari balik tembok pekarangan sana, kalau kita melakukan penyelidikan
dengan cara begini, mustahil kita dapat memperoleh berita yang
diperlukan, mari kita berjalan mengitari tembok pekarangan saja."
Baru selesai dia berkata, tiba-tiba
pintu halaman dibuka orang.
Dengan terbukanya pintu, dari balik
halaman muncul seorang gadis muda, langsung berjalan menghampiri
Bong Thian-gak dengan langkah
cepat.
"Majikan kami mempersilakan saudara
minum teh," ujarnya sambil tersenyum.
Yu Hong-hong berkerut kening, lalu
bertanya, "Siapakah majikan kalian? Mungkin salah orang?"
"Tak bakal salah," sahut nona berbaju
hijau itu sambil tertawa merdu. "Biarpun jago persilatan banyak
berkumpul di kota terlarang ini, namun hanya seorang yang berlengan
tunggal."
Waktu menjawab, nona itu tidak
menyinggung sama sekali nama majikannya.
Bong
Thian-gak
tersenyum.
"Harap nona menunjuk jalan!"
"Kita akan masuk?" Yu Hong-hong
berbisik.
"Kita tak dapat menampik undangannya
begitu saja?"
"Tapi undangan semacam ini tampaknya
sedikit tak beres."
Bong
Thian-gak
memandang sekejap ke arah Yu Hong-hong, lalu sahutnya lagi, "Setelah
datang, mengapa harus menolak?"
Yu Hong-hong tersenyum penuh arti,
sementara dalam hati pikirnya, "Ilmu silat yang memiliki Hwecu
sangat lihai, buat apa aku menguatirkan keselamatannya? Kalau tidak
memasuki sarang harimau, bagaimana mungkin bisa memperoleh anak
macan? Kita memang berniat mencari tahu siapa gerangan yang berdiam
dalam halaman itu?"
Sementara itu si nona berbaju hijau yang
berjalan di muka sudah memasuki pintu halaman dengan langkah cepat.
Bong
Thian-gak
dan Yu Hong-hong segera ikut masuk ke dalam, tiba-tiba saja
pandangan mereka terasa silau.
Ternyata dalam ruangan itu dipasang
tujuh batang lilin besar, terangnya seperti berada di siang hari
bolong, setiap sudut dan orang yang berada dalam ruangan itu
terlihat jelas.
Pada sisi dinding utara dan selatan
masing-masing berderet delapan belas orang perempuan berbaju dan
berkain cadar merah membawa pedang pendek berwarna merah darah pula.
Sementara itu dari arah belakang kembali
terdengar suara langkah manusia, menyusul sembilan orang perempuan
berkerudung merah dengan membawa pedang pendek berjalan masuk ke
dalam ruangan.
Pintu ditutup rapat, sedang kesembilan
perempuan berkerudung merah itu berdiri berjajar di depannya,
menghadang jalan pergi orang.
Dari keadaan yang terpampang di depan
mata, Yu Hong-hong segera tahu pihak lawan tidak berniat baik, namun
berhubung dilihatnya sikap Bong
Thian-gak masih tetap tenang seolah-olah seperti tidak pernah
terjadi sesuatu, terpaksa dia harus menenteramkan perasaannya sambil
menunggu perubahan selanjutnya.
Nona berbaju merah tadi menunjuk ke arah
meja dan kursi di ruang tengah, lalu katanya, "Harap kalian berdua
duduk lebih dulu, sebentar lagi majikan kami akan muncul."
Bong
Thian-gak
tersenyum, "Bila aku dapat bersua dengan ketua Hiat-kiam-bun hari
ini, tidak sia-sia perjalananku kali ini."
Seraya berkata, dia dan Yu Hong-hong
lantas duduk di kursi sudut tenggara.
Baru saja duduk, dari bilik sebelah
berat terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang.
Orang pertama yang berjalan masuk lebih
dulu adalah seorang gadis berbaju merah berkerudung merah pula.
Perempuan itu tidak membawa pedang
pendek, namun di balik bahunya tersoreng sepasang pedang panjang,
rambutnya yang mulus terurai di bahu, tubuhnya ramping dan menawan
hati, kalau dilihat dari umurnya mungkin tak lebih dari dua puluh
empat tahun.
Mengikut di belakangnya bukan wanita,
melainkan tiga orang aneh berperawakan tinggi besar berjubah merah
darah dan berjalan kaku seperti mayat hidup.
Ketiga orang aneh berjubah merah itu
tidak membawa senjata, namun tampang serta perawakannya mengerikan
dan menggidikkan, mendatangkan daya pengaruh yang lebih mengerikan
ketimbang perempuan-perempuan berkerudung merah lainnya.
Perempuan berkerudung merah yang
menyoreng pedang berjalan menuju ke tempat duduk tuan rumah,
kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun duduk di situ, sementara
ketiga orang aneh tadi berdiri berjajar di belakangnya.
Pikir Bong
Thian-gak, "Perempuan inikah ketua Hiat-kiam-bun?
Belum habis berpikir, terdengar
perempuan berkerudung merah yang menyoreng pedang berseru dingin,
"Gotong kemari mayat itu!"
Bersama dengan suara mengiakan, dari
halaman belakang muncul empat orang gadis berkerudung merah, mereka
menggotong sebuah papan persegi panjang, di atasnya berbaring
sesosok mayat perempuan berbaju merah pula.
Di atas dada mayat tertancap sebilah
kutungan pedang, sementara di antara belahan pahanya, tepatnya di
atas kemaluanya tampak darah masih mengucur dengan derasnya.
"Oh, dia!" pekik
Bong Thian-gak dalam hati.
Sang korban adalah nona berkerudung
merah yang dibunuh secara keji oleh Thia Leng-juan dalam kamar nomor
tujuh tadi, tapi mengapa secepat itu mayatnya sudah digotong kemari?
Bagaimana dengan Thia Leng-juan sendiri?
Apakah dia telah tertimpa suatu musibah?
Ingatan itu dengan cepat melintas dalam
benak Bong Thian-gak.
Dalam pada itu keempat gadis berkerudung
merah itu sudah menggotong masuk mayat tadi dan diletakkan di tengah
ruangan, kemudian mengundurkan diri ke samping.
Pada saat itulah si nona berkerudung
merah yang menyoreng pedang mencorongkan sepasang matanya yang
dingin mengawasi wajah Bong Thian-gak lekat-lekat, kemudian tegurnya dingin, "Hari ini,
Hiat-kiam-bun telah kehilangan seorang pembantu setia, atas kematian
yang mengenaskan itu segenap anggota Hiat-kiam-bun bertekad hendak
membalas dendam baginya, benar-benar tak disangka arwah sang korban
telah membantu usaha kita dan pembunuhnya bisa datang dengan
segera."
Berubah paras muka
Bong Thian-gak mendengar perkataan
itu, cepat tegurnya, "Maksud Buncu, aku yang telah membunuhnya?"
"Aku bukan ketua Hiat-kiam-bun, aku tak
lebih hanya wakil ketua kedua, sedang yang tewas adalah wakil ketua
kesembilan."
"Oh, kalau begitu siapakah Buncu
Hiat-kiam-bun?"
"Sampai sekarang kedudukan ketua
Hiat-kiam-bun masih lowong, untuk sementara waktu semua persoalan
perguruan ditangani oleh Cong-hubuncu. Aku adalah wakil ketua kedua,
boleh dibilang pentolan nomor dua perguruan Hiat-kiam-bun, biarpun
kau menjadi ketua Tiong-yang-hwe, namun kedudukanmu tak jauh dari
kedudukanku sekarang."
"Mengapa kursi ketua Hiat-kiam-bun masih
tetap lowong?" tanya Bong Thian-gak.
"Selama berkecimpung dalam Bu-lim,
Hiat-kiam-bun tidak punya rahasia yang kuatir diketahui orang, apa
sebabnya kedudukan ketua Hiat-kiam-bun masih kosong? Adalah karena
pendiri Hiat-kiam-bun masih belum diketahui jejaknya sampai
sekarang, maka kedudukan itu tetap lowong sampai saat ini, nah,
semua keterangan sudah aku berikan, kau Jian-ciat-suseng pun
termasuk manusia yang tahu keadaan, siapa membunuh orang dia harus
membayar dengan nyawa, bersiaplah untuk menerima kematian!"
Tiba-tiba Yu Hong-hong membentak gusar,
"Enak amat kalau bicara, kau anggap Tiong-yang-hwe bisa dipermainkan
semaumu?"
Sebaliknya
Bong Thian-gak bertanya sambil tersenyum, "Ji-hubuncu,
tolong tanya, apakah kau saksikan sendiri aku orang
she Bong yang membunuh Kau-hubuncu
partai kalian?"
Agaknya pertanyaan ini mencengangkan
Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun, ia tertegun dengan berdiri melongo untuk
beberapa saat, kemudian baru berkata, "Biar pun tidak kuketahui,
namun Thia Leng-juan jelas tidak mempunyai kemampuan untuk
membunuhnya."
Mendengar perkataan itu,
Bong Thian-gak berkerut kening
sambil pikirnya, "Jika kukatakan Kau-hubuncu tewas di tangan Thia
Leng-juan, dengan kemampuannya bagaimana mungkin Thia Leng-juan
dapat menandingi sedemikian banyak jago-jago lihai Hiat-kiam-bun?
Bila kuakui, maka mereka pun tak akan melepaskan diriku."
Saat ini Bong
Thian-gak benar-benar dibuat serba susah dan tak mampu
mengambil keputusan, tak heran dia membungkam.
Kembali Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun
berkata, "Kau-hubuncu sedang mendapat tugas menyelidiki suatu
rahasia besar, mungkin dia telah menemukan rahasia besar itu
sehingga musuh membunuh secara keji."
"Mula pertama musuh menggunakan
tendangan yang terkutuk Kou-im-tui untuk menendangnya, kemudian
menancapkan kutungan pedang di jantungnya hingga menyebabkan
kematian, cukup dilihat dari jurus serangan itu, jelas sudah
pembunuh adalah manusia laknat yang buas dan biadab!"
Tiba-tiba mencorong sinar aneh dari mata
Bong Thian-gak, tanyanya,
"Bila aku mau membunuh Kau-hubuncu, perlukah kugunakan jurus
Kou-im-tui?"
"Kalau memang bukan perbuatanmu, siapa
pembunuhnya?"
Bong
Thian-gak
tertegun sejenak, lalu balik bertanya, "Dimana kau temukan
jenazahnya?"
"Di dalam kamar nomor tujuh, Thia
Leng-juan yang mengutus orang datang mengabarkan musibah ini."
"Menurut Thia Leng-juan, siapakah
pembunuhnya?"
"Kau, Jian-ciat-suseng!"
Jawaban Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun ini
amat dingin dan hambar. "Apakah Ji-hubuncu percaya dengan perkataan
Thia Leng-juan?" dengan tenang Bong
Thian-gak tersenyum. "Aku memang rada tak percaya!"
Yu Hong-hong yang mendengar perkataan
itu segera menyahut, "Kalau tidak percaya, mengapa kau menuduh Hwecu
kami sebagai pembunuhnya?"
"Aku tidak mengatakan aku sama sekali
tidak percaya," kata Jihubuncu dengan suara dingin.
"Terus terang saja kukatakan padamu, di
saat Kau-hubuncu partai kalian tewas secara mengenaskan, aku orang
she Bong memang hadir di
arena, tapi bukan aku pembunuhnya, percaya atau tidak, terserah
kepadamu."
"Mengapa tidak kau katakan siapa
pembunuhnya?"
Bong
Thian-gak
menghela napas sedih, sahutnya kemudian, "Ai, aku hanya berharap kau
percaya bahwa pembunuhnya bukan aku."
"Bila tak kau katakan siapa pembunuhnya,
berarti kau pembunuh Kau-hubuncu kami," ujar Ji-hubuncu dengan suara
menyeramkan. "Karenanya kau harus meninggalkan selembar nyawamu hari
ini."
Kembali Bong
Thian-gak tersenyum.
"Jika kalian ingin menahanku, maka hal
ini harus kalian lakukan dengan membayar sangat mahal."
Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun
manggut-manggut, sahutnya, "Ya, ucapanmu memang benar, itulah
sebabnya sampai sekarang aku masih belum menurunkan perintah untuk
menyerang,"
"Kau tidak memerintahkan penyerangan,
karena kau ingin tahu lebih dulu rahasia apakah yang berhasil
diselidiki oleh Kau-hubuncu, bukankah demikian?"
Bong
Thian-gak
tersenyum.
Ucapan itu mengejutkan Ji-hubuncu, namun
ia mengangguk juga. "Dugaanmu benar, aku memang ingin mengetahui
rahasia itu." Bong Thian-gak
menghela napas panjang.
"Sayang sekali aku sendiri pun tak
mengetahui rahasia itu, kecuali kau katakan dulu masalah apakah yang
kau perintahkan kepada Kau-hubuncu untuk diselidiki, dari sana
mungkin aku bisa menebaknya."
Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun termenung
beberapa saat, kemudian ujarnya, "Aku memerintahkan Kau-hubuncu kami
untuk menyelidiki jejak Buncu kami."
Kembali Bong
Thian-gak berkerut kening.
"Dia sedang mencari jejak ketua Hiat-kiam-bun?"
Ji-hubuncu itu mengangguk.
"Benar, Hiat-kiam-bun tak boleh tiada
ketua, semenjak tiga tahun berselang setiap saat kami selalu mencari
jejak ketua kami itu, namun hingga kini masih merupakan tanda tanya
besar, oleh sebab itu aku bersikap sungkan kepadamu hari ini tak
lain adalah berharap agar kau mau bicara sejelas-jelasnya, agar
rahasia yang ditemukan Kau-hubuncu diketahui pula oleh kami, dari
situ mungkin kami bisa menemukan jejak Buncu Hiat-kiam-bun."
Mendengar perkataan itu,
Bong Thian-gak segera berpikir, "Kalau
begitu Thia Leng-juan mengetahui jejak ketua Hiat-kiam-bun, kalau
tidak, mengapa Kau-hubuncu itu mencarinya untuk berbicara?"
Mendadak pemuda itu bertanya, "Siapakah
nama ketua kalian? Bersediakah kalian ungkapkan, apakah kukenal
dengannya atau tidak."
"Sebelum jejak ketua kami diketahui, tak
akan kami sebutkan namanya," jawab Ji-hubuncu tegas.
Bong
Thia Gak
menghela napas panjang.
"Ai, tampaknya aku pun tak dapat
membantu kalian."
