pendekar cacad 08
Bagian 8 :
Berdirinya Tiong-yang-hwe
Pada hari biasa tentu
Bong Thian-gak tak takut terhadap
mereka, namun berbeda sekarang ini.
Dia sendiri telah keracunan hebat,
walaupun telah menelan Tok-liong-wan yang bisa mencegah beredarnya
racun menyerang isi perut, hingga pikirannya tetap jernih dan tak
ubahnya seperti keadaan sehat.
Padahal Bong
Thian-gak sendiri tahu lengan kanannya yang terluka
bacokan masih terasa linu dan kaku, tenaganya sama sekali tak mampu
dikerahkan ke situ.
Tapi menghadapi musuh yang semakin
mendesak, dia pun sadar, bila musuh tak segera dibinasakan,
akibatnya tak bisa dibayangkan.
Ingatan itu melintas di benaknya,
Bong Thian-gak segera meraung gusar,
telapak tangan kiri diayun ke depan dan langkah kakinya bergeser
berulang kali, kemudian melepaskan sebuah bacokan maut ke depan.
Dimana serangannya dilancarkan
seakan-akan sama sekali tak bertenaga, karena tak terdengar sedikit
suara pun.
Padahal siapa menduga dalam serangan ini
Bong Thian-gak telah
mengerahkan segenap kekuatannya.
Tiba-tiba saja terdengar dua kali
jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecah keheningan.
Dua orang pengawal tanpa tanding yang
maju ke muka berhenti di tengah jalan, tiba-tiba badannya berubah
seperti tak bertulang, dengan lemas dan tak bertenaga mereka roboh
terduduk ke tanah.
Namun setelah terduduk, mereka pun tak
pernah merangkak bangun kembali.
Seluruh tulang mereka telah terhajar
hancur oleh tenaga maha dahsyat itu, bagaimana mungkin mereka bisa
merangkak bangun? Mereka tewas seketika, tewas tanpa penderitaan
sedikit pun. Bong Thian-gak
sendiri sempoyongan setelah melancarkan dua buah serangan itu,
matanya berkunang-kunang dan kepala amat pening, hampir saja ia
roboh tak sadarkan diri, dadanya menjadi sesak dan tak
mampu bernapas.
Sungguh suatu penderitaan yang hebat,
dia sampai terbungkuk-bungkuk dibuatnya.
Jit-kaucu Thay-kun menjerit keras, "Ke
... kenapa kau?"
Dengan susah payah dia menggeser tubuh
mendekati Bong Thian-gak,
sementara air mata bercucuran membasahi wajahnya yang cantik.
Kulit Bong
Thian-gak mengencang keras, lalu serunya dengan suara
gemetar, "Kau ... kau
mundurlah ke sisiku, aku ...
aku ... aku sudah lak sanggup
mempertahankan diri lagi...."
Dalam pada itu orang berkerudung sudah
dibuat terpukau dan terkesiap oleh kedahsyatan serangan
Bong Thian-gak yang berhasil
membunuh kedua anak buahnya dalam sekali pukulan.
Dia berdiri tak berkutik, sementara
sepasang matanya mengawasi kedua sosok mayat yang tergeletak lemas
di tanah tanpa berkedip.
Dia pernah terhajar oleh serangan
Bong Thian-gak, dia pernah
menyaksikan pula Liok-kaucu terkena pukulannya hingga jatuh dari
lengah udara dan sekarang dia menyaksikan pula bagaimana musuh
membinasakan kedua pengawal tanpa tanding yang berilmu tinggi ikilam
sekali gebrakan saja.
Tenaga pukulan yang
begitu dahsyat dan mengerikan ini membuat
hatinya terkesiap.
Mendadak ia menyaksikan penderitaan yang
dialami Bong Thian-gak,
segera pikirnya dalam
hati, "Mungkin dia pura-pura kesakitan untuk memancing
keteledoranku, lalu secara tiba-tiba melancarkan
serangan
mematikan?"
Oleh karena bersangsi, maka untuk
beberapa saat orang itu tak herani berkutik, dia hanya berdiri diam.
Thay-kun yang berada di sisinya dapat
membaca suara hati orang berkerudung itu, ia memang kuatir orang itu
benar-benar melancarkan serangan pada saat demikian.
Maka sambil tertawa dingin jengeknya,
"Siau Cu-beng, mengapa kau
tidak melancarkan seranganmu?"
Orang berkerudung tertawa dingin,
"Jit-kaucu, berani amat kau menyebut namaku secara langsung?"
"Mengapa tidak? Sekarang aku sudah
mengundurkan diri dari Put-gwa-cin-kau, sejak kini semua perbuatan
terkutuk dan memalukan yang dilakukan orang-orang Put-gwa-cin-kau
akan segera terbeber di Bu-lim ...."
Belum selesai dia berkata, segulung
angin berhembus membawa segulung bau harum yang aneh, bau harum
mirip bau harum bunga anggrek, tapi seperti juga aroma tertentu.
Bau harum itu datangnya sedikit aneh,
seolah-olah disebarkan dari angkasa hingga permukaan bumi dipenuhi
bau harum itu.
Bong Thian-gak
yang sedang duduk bersila di atas tanah pun ikut menghirup bau itu,
hanya saja ia tak menaruh perhatian.
Berbeda dengan Thay-kun, paras mukanya
segera berubah pucat-pias seperti mayat, sekujur tubuhnya gemetar
keras, sementara dari balik matanya memancar rasa kaget, seluruh
wajahnya diliputi perasaan ngeri.
Siau Cu-beng segera menunjukkan reaksi
yang berlawanan, dari balik sorot matanya segera memancar perasaan
girang, bangga dan lega.
Pada saat itulah dari tengah kebun bunga
tabib sakti Gi Jian-cau telah bertambah dengan sebuah tandu. Tandu
yang luar biasa besarnya.
Di kedua sisi tandu berdiri dua baris
orang, ada lelaki ada pula perempuan, mereka berjumlah dua puluh
empat orang, tapi berhubung jaraknya kelewat jauh, apalagi suasana
di sekitar tempat itu gelap-gulita, sulit baginya untuk melihat
dengan jelas.
Padahal Thay-kun dan Siau Cu-beng tak
perlu memeriksa lagi juga sudah tahu siapa gerangan yang akan
muncul.
Bong Thian-gak
mendongakkan kepala, dia pun melihat bayangan tandu besar serta
bayangan orang itu.
Dengan perasaan bergetar, keluhnya dalam
hati, "Mungkinkah dia?"
"Siapakah dia?"
Tentu saja yang dimaksud adalah
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Suasana sekeliling tempat itu
sunyi-senyap, sedemikian heningnya sampai-sampai suara Thay-kun yang
gemetar keras dapat terdengar dengan jelas.
Pada saat inilah Thay-kun menyadari
nasibnya, betapa gawat
situasi yang sedang dihadapinya sekarang.
Kematian bukan sesuatu yang menakutkan,
yang patut disedihkan adalah Bong
Thian-gak bakal mati pula bersama dia.
Mendadak terdengar suara lembut dan
halus berkumandang memecah keheningan.
"Kun-ji, setelah bertemu diriku, mengapa
kau malah ketakutan setengah mati?"
Suara lembut itu berasal dari balik
tandu, besar di hadapan mereka, bukan saja suaranya lembut bahkan
sangat jelas, seakan-akan sedang berbicara berhadapan.
Thay-kun yang dipanggil menggigit bibir,
dengan suara penuh kebimbangan dia berkata, "Apa yang hendak kau
lakukan, silakan saja dilaksanakan atas diriku, bagiku kematian
bukan sesuatu yang terlalu menakutkan, dua puluh tahun lagi aku akan
muncul kembali sebagai manusia...."
"Murid murtad!" tiba-tiba Siau Cu-beng
membentak. "Berani kau bicara seperti itu terhadap Cong-kaucu."
Sementara itu suara lembut dan merdu
kembali berkumandang, "Kun-ji, kau benar-benar seorang yang lupa
budi, sia-sia aku mendidik dan merawatmu selama dua puluh tahun, ai
... perbuatanmu membuat
hatiku pedih."
Mendadak Thay-kun mendongakkan kepala
sambil tertawa terkekeh-kekeh, suaranya penuh dengan kepedihan dan
penderitaan.
Selesai tertawa, dengan suara dingin
ucapnya, "Dua puluh tahun belakangan ini, sudah amat besar
pengorbanan yang Thay-kun perbuat untuk membayar budi kebaikanmu itu. Thay-kun
merasa sudah tidak berhutang budi lagi kepadamu, sekarang
satu-satunya persoalan yang membuatku tak dapat melupakan adalah
asal-usulku ... mungkinkah
aku adalah putrimu?"
Hingga sekarang Thay-kun masih belum
tahu nama marganya, seingatnya dia sudah di sisi Cong-kaucu sejak
kecil, tapi dia tahu bahwa dirinya pasti bukan putri perempuan itu.
Kendati dia tahu, Thay-kun masih tetap
bingung dan kuatir.
Tampaknya Cong-kaucu enggan menjelaskan
pertanyaan itu, sampai lama sekali belum terdengar juga jawabannya.
Dalam pada itu
Bong Thian-gak telah bangkit, sambil
menepuk bahunya dengan tangan kiri, dia berbisik lirih, "Sumoay,
segala sesuatunya Thian yang menentukan, kematian bukan sesuatu yang
mengerikan, aku gembira sekali dapat mati bersamamu."
Sekujur badan Thay-kun gemetar keras,
bisiknya kemudian, "Suheng, kau tak boleh mati begitu saja, kau
harus membalas dendam, balas dendam bagiku, kau pun harus membalas
dendam bagi mereka yang telah dibunuh oleh orang-orang
Put-gwa-cin-kau."
Bong Thian-gak
tertawa pedih.
"Nasib kita terlalu tragis, terlalu
mengenaskan ...."
"Kau kan bisa melarikan diri."
"Dengan kondisi sekarang, mustahil! Aku
dapat melarikan diri cuma sejauh tujuh langkah!"
Tiba-tiba Thay-kun berbisik lirih, "Di
dalam sakuku masih terdapat empat buah butir Tok-liong-wan, pil itu
memang sengaja aku sediakan untukmu. Cepat ambil dari dalam sakuku
dan telanlah keempat butir itu sekaligus, siapa tahu setelah menelan
keempat butir pil itu, kau akan mati seketika, tapi kemungkinan juga
akan membangkitkan kekuatan dan hawa murni dalam tubuhmu."
"Aku tahu, meskipun demikian sungguh
berbahaya sekali, namun kita harus mencobanya."
"Andaikan nasib kita kurang beruntung
sehingga setelah menelan Tok-liong-wan ini kau mati, aku pun akan
segera menggigit lidahku untuk bunuh diri, aku dapat mati di sisimu.
Bila kau beruntung tidak mati, maka kau dapat berusaha menerjang
keluar dari kepungan ini, sedangkan aku akan berusaha keras
melanjutkan hidup, apabila masih ada harapan, tak nanti kau
membiarkan aku begitu saja."
Mendengar ucapan itu, ibarat orang di
tengah gurun yang tiba-tiba menemukan air, walaupun harapan itu
sedikit sekali, namun Bong
Thian-gak dapat merasakan betapa besarnya harapan itu.
Perkataan Thay-kun sudah cukup jelas,
seandainya dia tidak berbuat demikian, berarti dia mempunyai satu
jalan untuk mati. Atau dengan perkataan lain, persoalan sudah gawat,
tiada pilihan lain lagi.
Maka Bong
Thian-gak segera menggeser tangan kirinya ke arah
pinggang Thay-kun, kemudian merogoh ke dalam
sakunya dan mengambil keluar botol obat itu.
Dia tidak ragu-ragu lagi, dengan cepat
tutup botol dibuka, lalu hendak menuang seluruh isi botol ke dalam
mulutnya.
Belum selesai dia mengerjakan hal itu,
tiba-tiba terdengar Cong-kaucu berseru, "Wakil komandan Siau, bunuh
dulu yang pria, sedangkan Jit-kaucu akan kuhukum sendiri."
Siau Cu-beng bermata jeli, dapat melihat
perbuatan Bong Thian-gak,
secepat kilat dia melolos pedang pendeknya, kemudian secepat
sambaran kilat membacok ke depan.
Ilmu silat Siau Cu-beng sudah pernah
disaksikan Bong Thian-gak
beberapa hari berselang, dia pun tahu jurus pedangnya sangat aneh,
ganas dan cepat.
Bahkan beberapa hari yang lalu, karena
bersikap kurang waspada, Bong
Thian-gak telah merasakan tusukan pedang Siau Cu-beng, apalagi
sekarang tangan kirinya sedang meraih obat untuk ditelan, sedang
serangan musuh sudah meluncur tiba.
Siau Cu-beng memang tak malu disebut
seorang berakal busuk, dalam melancarkan sergapannya ini, pedang
yang satu menyerang Thay-kun, pedang yang lain menyapu tubuh bagian
tengah Bong Thian-gak,
sekaligus menutup jalan mundurnya.
Sebenarnya
Bong Thian-gak masih dapat melompat mundur menghindar,
tetapi dengan demikian Thay-kun pasti akan termakan tusukan pedang
itu.
Dalam keadaan gelisah dan cemas,
Bong Thian-gak sama sekali tidak
menyadari tusukan musuh terhadap Thay-kun hanya serangan tipuan
saja.
Maka dalam kaget dan cemasnya,
Bong Thian-gak menumbuk tubuh
Thay-kun dengan sikut kirinya, bersamaan itu pula tangan kanannya
melayang ke atas menyampuk pedang musuh yang membabat ke arah urat
nadi pergelangan tangan kirinya.
Waktu itu sepasang tangan Thay-kun telah
cacat, bagaimana mungkin dia dapat menghindarkan diri dari sikutan
anak muda itu.
"Aduh!"
Di tengah teriakan kerasnya, tubuh
Thay-kun roboh terjengkang. Namun dengan mata terbelalak Thay-kun
dapat melihat tusukan
pedang Siau Cu-beng yang semula ditujukan ke arahnya itu kini sudah
miring ke samping, bahkan secepat kilat membacok ke arah lengan
kanan Bong Thian-gak.
Waktu itu lengan kanan
Bong Thian-gak telah menjadi kaku,
untuk bergerak pun tak dapat, apalagi untuk menghadapi perubahan
jurus serangan Siau Cu-beng yang dilancarkan dengan begitu cepat,
ganas dan berbahaya.
Thay-kun menjerit kaget.
Di tengah jeritan itulah, lengan kanan
Bong Thian-gak telah terpapas
kutung sebatas bahu.
Darah segera mengucur dengan derasnya,
sedang Bong Thian-gak sendiri
pun mundur sejauh tiga langkah dengan sempoyongan.
Mimpi pun dia tak menyangka setelah dua
buah otot kaki kirinya dikutungi Siau Cu-beng pada tujuh tahun
berselang hingga membuatnya pincang, tujuh tahun kemudian dia harus
kehilangan lengan kanannya di tangan orang yang sama.
Pada hakikatnya keadaannya sekarang tak
ubahnya orang cacat.
Dalam gusar dan sedihnya, cepat dia
menelan empat butir Tok-liong-wan itu ke dalam mulut, kemudian
telapak tangan kiri melepaskan sebuah pukulan dahsyat dari jarak
jauh.
Selama ini Siau Cu-beng cukup tahu
kelihaian ilmu pukulan lawan, dia paling jeri menghadapi serangan
maut Bong Thian-gak.
Begitu angin pukulan lawan dilancarkan
ke depan, cepat dia menenteng pedangnya melompat ke samping untuk
menghindar.
Segulung angin pukulan yang amat dahsyat
dengan membawa debu dan pasir yang beterbangan di angkasa langsung
menyapu ke depan dan menyambar sejauh puluhan kaki.
Angin pukulan yang sangat dahsyat itu
benar-benar mengerikan, membuat setiap orang bergidik.
Gagal dengan serangannya yang maha
dahsyat itu, cahaya sinar pedang Siau Cu-beng segera menyusul tiba,
bagaikan dua ekor naga sakti yang terbang di angkasa hebatnya.
Pertarungan antara jago lihai, yang
diutamakan adalah kelihaian memanfaatkan kesempatan, kali ini
terpaksa Bong Thian-gak
mundur dari balik kepungan cahaya pedang itu.
Darah segar masih bercucuran deras dari
lengannya yang kutung itu, kini Bong
Thian-gak telah berubah menjadi manusia darah.
Thay-kun merasa sakit hati menyaksikan
kejadian itu, segera teriaknya keras, "Suheng, kenapa kau tidak
melarikan diri saja?"
Meski lengan kanan
Bong Thian-gak baru kutung, darah
masih bercucuran dengan amat derasnya, namun dia sama sekali tak
merasa sakit karena lengannya itu sesungguhnya sudah kaku dan hilang
rasa.
Sambil mengertak gigi, untuk kesekian
kalinya dia melancarkan pukulan menggunakan telapak tangan kiri.
Tentu saja Siau Cu-beng tak berani
menyambut serangan itu dengan kekerasan.
Kali ini Bong
Thian-gak bertindak lebih cerdik, baru saja dia
melancarkan pukulan, tubuhnya sudah melompat ke samping Thay-kun,
cepat tangan kirinya menyambar tubuh Thay-kun dan memeluknya
kencang.
Thay-kun tahu pemuda ini hendak
mengajaknya kabur, dia tidak membiarkan anak muda itu mewujudkan
keinginannya.
Setelah melepaskan diri dari pelukan
Bong Thian-gak, mendadak
gadis itu bergulingan di tanah, teriaknya, "Suheng, bila kau tidak
pergi, terpaksa aku menggigit lidah dan bunuh diri lebih dulu."
Suaranya mengenaskan seperti jeritan
monyet di selat Wa-sia atau lolongan serigala di tengah malam,
keadaannya sungguh menyeramkan.
Sementara itu Siau Cu-beng telah
menerjang maju, kali ini dia mengubah taktik permainan pedangnya,
sepasang pedangnya bagaikan dua buah pisau belati melepaskan
serangan dengan teknik menggaet, membabat dan menjojoh.
Dalam waktu singkat dia telah
melancarkan delapan serangan dahsyat.
Menghadapi serangan gencar musuh,
Bong Thian-gak terdesak hebat hingga
tiada kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.
Berada dalam keadaan seperti ini,
terpaksa dia harus berkelit sambil
mundur berulang-kali.
Tampaknya Cong-kaucu telah mengetahui
pemuda ini memiliki kepandaian silat melebihi orang lain, mustahil
bagi Siau Cu-beng untuk menaklukkan dirinya. Maka dengan cepat
perintahnya, "Dua belas pengawal, cepat bantu wakil komandan Siau
membunuh jahanam itu!"
Thay-kun cukup mengetahui ketangguhan
kedua belas pengawal lelaki-perempuan di samping tandu Cong-kaucu,
kepandaian silat mereka aneh, lihainya bukan kepalang.
Dengan perasan cemas dan gelisah,
kembali gadis itu berteriak, "Suheng, bila kau tidak pergi, kita
akan mati bersama di sini!"
Sementara itu dua belas sosok bayangan
orang telah melompati dinding pendek secara beruntun dan menerjang
tiba dengan kecepatan luar biasa.
"Baik!" seru
Bong Thian-gak emosi. "Aku akan pergi! Kau tak boleh
mati!"
Tampaknya Bong
Thian-gak telah berkeputusan, tubuhnya segera
meloloskan diri dari kepungan cahaya pedang, kemudian melompat jauh.
Tapi dua belas sosok bayangan orang yang
menerjang tiba itu seperti sudah menduga
Bong Thian-gak akan meloloskan diri dari kepungan, maka
enam di antara mereka menghadang ke arah selatan, sedang enam
sisanya mengepung dari arah utara.
Mereka adalah dua orang perempuan dan
seorang laki-laki, yang perempuan bersenjata pedang pendek, sedang
yang laki-laki bersenjata tombak panjang.
Pengawal bersenjata tombak melancarkan
tusukan lebih dahulu.
Tusukan itu dilancarkan dengan dahsyat.
Waktu itu Bong
Thian-gak sudah bertekad menerjang keluar dari kepungan
untuk melarikan diri, tiada ingatan untuk mundur, diiringi bentakan
gusar, telapak tangan kirinya segera diayunkan ke depan.
Meskipun jurus serangan baru saja
dilancarkan, namun hawa pukulan tak berwujud sudah meluncur ke depan
dengan cepat.
Pengawal bertombak itu sama sekali tak
menyangka musuh bakal melancarkan serangan di saat tombak itu sudah
berada di hadapannya, pertarungan ini untuk mengadu jiwa.
Asalkan gerak serangan
Bong Thian-gak selangkah lebih
lambat, sudah pasti dia tak akan lolos dari tusukan tombak itu,
tentu saja serangan pukulan pun ada kemungkinan membunuh lawannya.
Hanya saja pengawal bertombak itu sudah
melalaikan kecepatan angin pukulan yang dilancarkan
Bong Thian-gak.
Dengusan tertahan berkumandang,
tahu-tahu pengawal itu sudah terkena pukulan tak berwujud hingga
tubuh berikut tombak mencelat, tak dapat disangsikan lagi isi
perutnya hancur tak keruan.
Baru saja serangan itu dilepaskan,
sepasang pedang pendek kedua pengawal perempuan sudah menyerang tiba
dari kiri dan kanan.
Keadaan Bong
Thian-gak kini ibarat binatang buas yang terluka, di
antara putaran telapak tangan kirinya, segulung angin pukulan telah
meluncur ke depan dan menghajar orang di sebelah kanan, sedangkan
kaki kanan menendang orang yang berada di sebelah kiri.
Jurus serangan yang digunakan merupakan
jurus-jurus tangguh yang jarang ditemui dalam Bu-lim.
Benar juga, kedua orang pengawal itu
segera menjerit tertahan, kemudian roboh terjengkang di atas tanah.
Ilmu silat yang mengerikan itu
menggetarkan hati, dalam waktu singkat beruntun tiga pengawal lelaki
perempuan sudah roboh binasa.
Saat pembantaian agak terhenti inilah
sebilah pedang telah menyusup datang dari arah belakang punggung
Bong Thian-gak tanpa
menimbulkan sedikit suara pun.
Penyergapnya adalah Siau Cu-beng, hanya
dia yang bisa mencapai sasaran dalam waktu singkat.
Walau Bong
Thian-gak merasakan datangnya serangan pedang itu,
sayang tiada kesempatan lagi baginya untuk menghindar, terpaksa dia
harus menerjang ke depan dengan sepenuh tenaga.
Tahu-tahu pinggang kirinya sudah terasa
dingin dan panas. Di atas tubuh Bong
Thian-gak telah bertambah dengan sebuah luka memanjang,
untung hanya luka ringan, namun darah segera bercucuran dengan
derasnya.
Karena terhenti, dua orang pengawal
bertombak segera menyerbu,
satu
dari kiri dan yang lain dari kanan.
Bong Thian-gak
benar-benar terdesak hebat, sambil mengertak ^igi, pukulan tanpa
tandingannya sekali lagi dilontarkan ke depan.
Dimana angin pukulannya menyambar,
selalu ada yang roboh in
kapar, namun setiap kali Bong
Thian-gak berhasil membunuh orang, tubuhnya bertambah pula
dengan sebuah tusukan pedang Siau Cu-beng.
Secara beruntun
Bong Thian-gak telah membinasakan
delapan orang pengawal lelaki perempuan, namun tubuhnya pun sudah
tidak ada bagian yang utuh.
Keadaannya sekarang sudah tidak berwujud
manusia lagi, dia lebih mirip sesosok manusia darah, iblis berwajah
menyeramkan.
Namun semangatnya untuk mempertahankan
hidup membuat dia tak sampai roboh.
Pertempuran yang mendebarkan hati masih
berlangsung terus, berlangsung dan berkembang dengan hebatnya.
Bayangan mereka pun makin lama semakin
tertarik jauh di bawah sinar rembulan.
Thay-kun yang menyaksikan keberanian
serta kenekatan Bong
Thian-gak dalam melakukan perlawanan, segera bergumam, "Dia pasti
dapat menerjang keluar kepungan, dia pasti dapat hidup lebih jauh
...."
Ucapan itu diulang-ulang, sementara air
matanya bercucuran membuat pandangan matanya menjadi kabur, ia tak
dapat menyaksikan jalannya pertarungan lagi, tidak mendengar pula
suara apa pun.
ooOOoo
Cahaya rembulan menyinari tanah
perbukitan. Air mengalir deras menyusuri sungai yang meliuk-liuk di
antara celah bukit.
Di bawah sinar rembulan, tampak sesosok
bayangan sedang merangkak di atas jalanan batu di tepi sungai.
Dia adalah sesosok manusia darah, hampir
sekujur tubuhnya tubuhnya berlepotan darah.
Darah sudah hampir mengering dari
sekujur tubuhnya, mulut luka yang memenuhi sekujur tubuhnya seperti
sarang lebah, sedang mulut luka pada lengan kanannya yang kutung
kini sudah tidak nampak darah meleleh.
Setiap orang yang memandang luka-luka
itu pasti tak akan percaya kalau dia masih bisa hidup.
Benar, dia masih hidup, bahkan sedang
merayap di sisi sungai berusaha mencari air.
Namun keadaan tubuhnya yang begitu
lemah, membuatnya sukar untuk menggerakkan badannya barang
sejengkal.
Dia hanya bisa mencengkeram sebuah batu
kecil dengan kelima jari tangan kirinya yang dijulurkan ke depan,
bibirnya ternganga lebar penuh noda darah, sementara sepasang
matanya mengawasi air sungai tanpa berkedip.
Dia sangat haus, luka yang memenuhi
seluruh badannya membuat suhu badannya meningkat, dia membutuhkan
air untuk menghilangkan dahaganya, namun dia telah kehabisan tenaga
untuk maju.
Akhirnya dia putus-asa, dia tahu ajalnya
sudah berada di depan mata, segala macam penderitaan tak akan
menyiksa dirinya lagi.
Berada dalam keadaan dan situasi seperti
ini, dia tidak terpengaruh oleh perasaan benci dan dendam, dia pun
tak terpengaruh oleh napsu atau angkara murka.
Dia hanya tahu kelima jari tangan
kirinya makin melemas, matanya semakin kabur dan berat.
Di saat yang kritis inilah mendadak
telinganya seperti menangkap serangkaian irama nyanyian yang merdu
lincah dan penuh gairah.
Bong Thian-gak
tahu dirinya sudah hampir mencapai suatu dunia yang lain, entah
neraka, entah surga.
"Ah, mungkin inilah nirwana, kalau
tidak, mengapa terdengar suara nyanyian yang merdu merayu."
Suara nyanyian itu kian lama kian
bertambah dekat, namun suara itu makin lama semakin lemah dan
samar-samar.
Kejernihan otaknya makin lama semakin
membuyar.
Tak selang lama kemudian, dari ujung
sungai sana benar-benar muncul seorang gadis berjalan mendekat.
Sambil membawakan nyanyian yang merdu
dan penuh gembira, dia berjalan menyusuri sungai dan menuju ke arah
pemuda itu.
Meendadak ia menjerit kaget.
Ternyata dia telah menyaksikan
Bong Thian-gak dengan sekujur
tubuhnya yang penuh berlepotan darah, sepanjang hidupnya belum
pernah ia jumpai darah sebanyak ini, maka saking kaget dan cemasnya,
sekujur tubuhnya gemetar keras.
Bila suatu ketika menemukan sesosok
tubuh manusia yang bermandikan darah di tengah hutan belantara yang
jauh dari keramaian, siapakah yang tak terperanjat? Jangankan
seorang yang bernyali kecil, betapa pun besarnya nyali seorang, akan
dibikin ketakutan setengah mati, apalagi seorang gadis muda.
Tanpa banyak bicara, gadis itu
membalikkan badan dan segera melarikan diri.
Namun baru berlari empat-lima langkah,
dia menghentikan langkahnya, kemudian pelan-pelan berpaling
memandang tubuh Bong
Thian-gak yang tak berkutik.
"Dia kan manusia
...." gumamnya, "mengapa aku harus
takut...."
Setelah merasa yakin yang dihadapinya
adalah manusia, perasaan takutnya sedikit berkurang, bahkan
pelan-pelan dia menghampiri Bong
Thian-gak.
Kejernihan pikiran
Bong Thian-gak waktu itu sudah mulai
pudar, sekali pun dia tahu ada orang sedang menghampirinya, namun
dia sama sekali tidak punya kekuatan untuk membuka mata, apalagi
kekuatan untuk bicara.
Gadis itu membelalakkan matanya yang
jeli, setelah mengawasi tubuh Bong
Thian-gak, ia lihat pemuda itu masih bernapas.
Maka sambil menghela napas, gumamnya,
"Begini parah luka yang diderita orang ini, apakah dia masih bisa
hidup."
Dia lantas berjongkok sambil memegang
jidat Bong Thian-gak, namun
dengan terperanjat serunya, "Ah, panas sekali tubuhnya."
Bila panas, air dingin bisa
menghilangkan panas itu, inilah cara kuno untuk menurunkan suhu
panas tubuh manusia.
Dengan cepat gadis itu mengambil
sapu-tangannya, setelah direndam air sungai segera ditempelkan ke
atas jidat Bong Thian-gak.
Sebenarnya kesadaran
Bong Thian-gak sudah mulai memudar,
namun memperoleh rangsangan air dingin itu, sekujur tubuhnya segera
bergetar dan pikirannya pun jernih kembali.
"Air ...
air ...."
serunya lirih.
Walaupun dia mencoba berteriak,
sesungguhnya tiada sedikit suara pun yang terdengar.
Gadis itu pun dapat menyaksikan bibir
orang bergetar, namun dia tak tahu apa yang diucapkan olehnya, dia
hanya menunggu hingga sapu-tangan itu menjadi panas dan segera
direndam kembali ke dalam air, lalu setelah sapu-tangan itu menjadi
dingin, dia pun menempelkan pada jidatnya kembali.
Akhirnya Bong
Thian-gak dapat berbisik lirih, "Air
... air
...." Gadis itu berseru tertahan, dengan cepat dia
berjalan menuju ke sungai, digayungnya segenggam air, kemudian
dengan hati-hati sekali mengalirkan air ke mulut si pemuda melalui
celah-celah jari tangannya. "Aku haus ...
aku haus sekali...
air ... air
...."
Suara teriakan
Bong Thian-gak makin lama semakin
keras. Dengan cepat gadis itu menggayung air lagi dengan telapak
tangannya dan mengalirkan ke mulut pemuda itu.
Demikian seterusnya hingga tujuh kali
sebelum akhirnya pelan-pelan Bong
Thian-gak membuka matanya.
Waktu itu kentongan kelima sudah lewat,
dari ufuk timur muncul cahaya keemas-emasan, namun suasana dalam
lembah itu masih agak redup dan samar-samar, namun secara
lamat-lamat masih dapat melihat keadaan di sekitarnya.
Pemuda itu tahu gadis muda itulah yang
telah menyelamatkan jiwanya, dia memakai baju tipis berwarna biru.
"Nona ...
kau ... kaukah
yang telah menyelamatkan jiwaku."
"Ssst! Jangan bicara dulu, parah sekali
lukamu," cepat si nona menukas dengan suaranya yang merdu.
Sembari berkata, gadis itu kembali
mencelupkan sapu-tangannya ke sungai, kemudian mengompres kembali
jidat anak muda itu.
Lambat-laun hari semakin terang, kini si
nona dapat melihat jelas keadaan luka di sekujur tubuh
Bong Thian-gak.
Menyaksikan semua itu, si gadis
terbungkam saking terperanjat, tanpa terasa dia membatin, "Ah, mana
mungkin dia dapat hidup dalam keadaan semacam ini? Benar-benar suatu
kejadian yang luar biasa?"
Kini kesadaran
Bong Thian-gak benar-benar telah
jernih, dengan penuh rasa terima kasih katanya, "Nona, banyak terima
kasih atas pertolonganmu, andai aku dapat hidup lebih lanjut, budi
kebaikanmu ini pasti akan kubalas."
"Kau telah berkelahi dengan orang?"
tanya si nona lembut.
"Ai, orang-orang Put-gwa-cin-kau hendak
membunuhku," sahut Bong Thian-gak
dengan menghela napas panjang.
"Apa itu Put-gwa-cin-kau?" si nona
membelalakkan mata.
Segera Bong
Thian-gak sadar dia sedang berhadapan dengan seorang
gadis biasa, yang sama sekali tidak mengenal dunia persilatan.
Maka sembari menghela napas, katanya
kemudian, "Bila lukaku telah sembuh nanti, pasti akan kuceritakan
semua kejadian yang sebenarnya kepadamu."
"Aku berdiam dalam lembah sana dekat air
terjun, bagaimana kalau kau merawat lukanmu di gubukku saja?"
"Mungkin hidupku tak akan lama lagi,"
suara Bong Thian-gak agak
pilu.
"Kau pasti dapat hidup terus," hibur si
nona dengan suara lembut. "Aku tahu kau amat kuat dan gagah, kalau
tidak, dengan luka yang begini parah, kau pasti sudah tewas sejak
tadi."
Dengan cepat
Bong Thian-gak menggeleng.
"Aku bukan hanya menderita luka bacokan
di sekujur tubuhku, namun juga keracunan."
Begitu mendengar tentang keracunan,
gadis itu berseru pelan, "Ah, orang tuaku pun ajal karena
keracunan."
Sampai di situ, mata gadis itu pun
memerah, hampir saja air matanya jatuh bercucuran.
Agak tertegun
Bong Thian-gak oleh ucapan itu, cepat dia bertanya,
"Orang tuamu telah meninggal? Lantas kau tinggal bersama siapa?"
"Sejak tiga tahun lalu, ketika kedua
orang tuaku meninggal, aku tinggal seorang diri di tempat ini."
Bong Thian-gak
makin terharu mendengar ucapan itu, seorang gadis yang lemah
ternyata berdiam seorang diri di tengah lembah yang jauh dari
keramaian, sungguh kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang aneh.
Tiga tahun bukan jangka waktu yang
pendek, namun dia dapal hidup menyendiri di sana.
Bong Thian-gak
tidak ingin memikirkan hal itu, segera sahutnya, "Bila nona bersedia
menerimaku, untuk sementara waktu aku akan berteduh di rumahmu."
Gadis itu gembira sekali, dengan cepat
dia berseru, "Aku merana kesepian hidup seorang diri di sini, bila
kau bersedia menemaniku, hal ini memang jauh lebih baik."
Tanpa mengindahkan darah yang mengotori
sekujur tubuh Bong Thian-gak,
ia segera memapah tubuh pemuda itu, kemudian mereka pelan-pelan
berjalan menuju ke arah utara.
©
Sebuah air terjun yang mengalir dari
sembilan puncak, pelan-pelan memuntahkan airnya ke dasar lembah yang
dalam.
Air mengalir mengikuti sebuah sungai
yang berliku-liku dan membentang jauh ke depan.
Di tepi sungai di sebelah kiri air
terjun, berdiri tiga buah gubuk.
Dalam gubuk itu, berdiamlah seorang
lelaki dan seorang perempuan.
Yang lelaki adalah pemuda berlengan
buntung, berkaki pincang dan berwajah tampan, hanya sayang wajahnya
agak pucat.
Sedang yang perempuan adalah seorang
nona berkulit putih dan berwajah cantik.
Setiap hari selain menebang kayu mencari
kayu bakar, pemuda berlengan tunggal berkaki pincang itu
menghabiskan sebagian besar waktunya duduk melamun di atas batu
karang di tepi air terjun.
Selama tiga tahun ini siang-malam dia
selalu duduk menyendiri, entah apa saja yang sedang dipikirkan
olehnya?
Senja ini pemuda berlengan tunggal itu
kembali duduk bersila di atas batu karang sambil memejamkan mata
memikirkan sesuatu.
Mendadak pemuda cacat itu menggerakkan
lengan kirinya bagaikan kerasukan setan, gerakan itu dilakukan ke
arah air terjun itu.
Seandainya di situ hadir jago
persilatan, niscaya akan terperanjat menyaksikan tingkah-laku si
anak muda itu.
Ternyata setiap pukulan, setiap bacokan,
totokan jari maupun ««-ngkeraman yang dilancarkan pemuda cacat itu
hampir semuanya mengandung jurus yang tiada-taranya.
Selain jurus serangan maha dahsyat yang
dilancarkan pemuda itu
sangat banyak, tenaga
dalamnya pun sangat mengerikan, setiap terkena pukulannya, air
terjun yang sedang muntah ke bawah, selalu arah arusnya berubah dari
posisi semula.
Ada kalanya air yang mengalir terpotong
menjadi dua, ada kalanya muncul ruang di balik air terjun itu.
Pukulan tak berwujud yang dilancarkan olehnya bisa mengendalikan
curah air terjun di hadapannya.
Tenaga dalam semacam ini pada hakikatnya
mengerikan.
Tiba-tiba suara pekikan nyaring menggema
memecah keheningan, pemuda itu melompat bangun dari atas batu
karang, tahu-tahu pada genggaman tangan kirinya telah bertambah
dengan sebilah pedang kayu.
Tubuhnya melejit ke udara, kemudian
menerjang ke arah air terjun itu.
Dalam waktu singkat pemuda itu telah
melancarkan tujuh buah bacokan berantai dengan menggunakan pedang
kayunya, memainkan tujuh jurus serangan yang berbeda.
Kemudian dalam waktu singkat dia telah
melayang kembali ke atas batu karang.
Ia dengan cepat mengangkat pedangnya dan
memandang sekejap pedang kayunya itu.
Memang sukar untuk dipercaya, ternyata
pedang kayunya itu sama sekali tidak terkena percikan air.
Tadi jelas pemuda cacat itu telah
melancarkan tujuh buah bacokan kilat ke arah air terjun itu, namun
kenyataan pedang kayu itu sama sekali tidak basah oleh butiran air
yang memercik, dari sini dapat diketahui betapa cepatnya serangan
pedang yang dilancarkan pemuda itu.
Sedemikian cepatnya hingga pada
hakikatnya kecepatannya tak bisa dibandingkan dengan apa pun.
Tatkala pemuda cacat itu tidak menemukan
bekas air di atas kayunya, sekulum senyuman segera menghiasi
wajahnya yang tampak pucat-pias.
Itulah senyuman penuh kegembiraan dan
kepuasan.
Selama tiga tahun memeras otak, akhirnya
dia berhasil memahami ilmu pukulan yang maha dahsyat.
Kedua macam kepandaian sakti itu
berhasil dipahami olehnya sesudah lengannya kutung dan hidup
terpencil di lembah itu, dengan dasar tenaga Tat-mo-khi-kang dari
Siau-lim-pay tingkat sepuluh sebagai dasar kekuatan yang
dikombinasikan dengan ilmu sakti berbagai perguruan, ia berhasil
menciptakan kepandaian sakti itu.
Selama tiga tahun berjuang berlatih
dengan rajin dan tekun, akhirnya dia berhasil, perjuangannya selama
ini tidak sia-sia, ia merasa amat puas.
Tapi saat itulah si gadis berdiri di
belakangnya dengan wajah termangu, dari balik matanya yang jeli
nampak dua baris air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Pemuda cacat itu menarik kembali pedang
kayunya, lalu membalikkan badan, tiba-tiba saja dia lihat gadis itu
berdiri di situ.
"Siau-hui, kau menangis?" kata pemuda
cacat itu dengan suara pilu dan menghela napas sedih.
Dengan cepat nona baju biru itu menyeka
air mata yang membasahi pipinya, kemudian berkata dengan lembut,
"Bong-toako, aku tidak menangis."
Selama tiga tahun, beratus-ratus kali
Bong Thian-gak menyaksikan
gadis itu diam-diam melelehkan air mata, namun setiap kali dia
selalu mengatakan dirinya tidak menangis.
Mengapa dia menangis?
Tentu saja
Bong Thian-gak mengetahui perasaan gadis itu, namun dia
hanya bisa menghela napas secara diam-diam, lalu menghibur dan
membujuknya dengan nada seorang kakak yang mencintai adik
perempuannya.
Bong Thian-gak
turun dari batu cadas itu, lalu merangkul bahunya dengan mesra,
bisiknya lembut, "Leng-hui, nasinya sudah matang?"
"Sudah! Aku memang hendak memanggilmu
untuk bersantap," sahut si nona tersenyum manis.
Sambil berpelukan mesra, pelan-pelan
mereka berdua berjalan menuju ke gubuk.
Malam telah menyelimuti seluruh jagad,
terutama di dalam lembah yang terpencil itu.
Di ruang tengah gubuk itu nampak lentera
telah disulut, di atas
sebuah meja nampak
dihidangkan empat macam sayur, dua macam ayam
dan bakpao.
Kecuali hidangan itu, di atas meja
tersedia tiga botol arak wangi.
Menyaksikan botol arak di meja,
Bong Thian-gak nampak tertegun, lalu
sambil berpaling dan memandang sekejap ke arah si nona, tanyanya,
"Leng-hui, darimana datangnya arak?"
Selama tiga tahun ia berdiam di situ,
belum pernah dijumpai ada arak di situ, tentu saja dia pun tak
pernah mengendus bau arak.
"Arak itu peninggalan orang tuaku enam
tahun lalu," kata Song
Leng-hui. "Ayahku selalu menyimpan arak di gudang bawah tanah, besok
kau hendak pergi meninggalkan aku, maka malam ini aku hendak
mengantar kepergianmu."
Walaupun ucapan itu diutarakan dengan
menahan gejolak perasaan dan emosi, namun ketika sampai pada ucapan
yang terakhir, suaranya terdengar agak gemetar.
Bong Thian-gak
menghela napas sedih.
"Aku pasti akan balik kemari, aku tak
akan membiarkan kau hidup sebatang-kara di tengah bukit yang
terpencil ini." Song Leng-hui
tersenyum.
"Di saat Toako datang kemari, kau telah
menentukan pula akan pergi meninggalkan tempat ini, tiada perjamuan
di dunia ini yang tak bubar, apalagi hanya perpisahan sementara
waktu?"
Walau hatinya merasa kacau, namun
Song Leng-hui berusaha mengendalikan
diri.
Dia tahu, bagaimana pun juga dia tak
mungkin bisa menahan Bong
Thian-gak di sana, lantas buat apa dia mesti banyak bicara?
Tapi sikapnya yang berbeda itu membuat
Bong Thian-gak merasa lebih
sedih dan menderita.
Selama tiga tahun, siang-malam mereka
hidup bersama, dalam hati Bong
Thian-gak, Song
Leng-hui sudah menempati posisi yang kuat dan tak bisa diganggu
gugat lagi, sesungguhnya dia bukannya tak mencintainya, tetapi tak
berani untuk mencintai dirinya.
Dalam hatinya,
Song Leng-hui adalah bidadari, gadis
suci bersih.
Ia belum dijangkiti kebiasan jelek dari
masyarakat, dia nampak begitu suci, bersih dan menawan hati.
Oleh sebab itu
Bong Thian-gak selalu menganggapnya
seperti adik kandung sendiri, ia tidak berani mempunyai pikiran
sesat terhadap dirinya.
Sebab dia tahu dirinya tak lebih hanya
seorang tukang silat kasar, dia hanya manusia yang sepanjang
hidupnya luntang-lantung dalam Bu-lim, berduel dengan malaikat
elmaut, dia tak pantas untuk mencintai gadis suci itu.
Karena bila dia sampai mencintainya,
maka hal ini sama artinya dengan menyia-nyiakan dirinya, mencelakai
dirinya, maka dia hanya berusaha keras mengendalikan perasaannya itu
dan tidak membiarkan berkembang.
Seandainya
Bong Thian-gak boleh memilih di antara tiga gadis yang
pernah dijumpainya selama hidup, yakni Oh Cian-giok, Thay-kun dan
Song Leng-hui, maka orang
yang tak dapat dilupakan olehnya adalah
Song Leng-hui.
Dia tak pernah belajar ilmu silat, dia
tidak mempunyai kebiasaan jelek, dia nampak begitu lembut, begitu
halus, tenang, luwes dan cantik.
Bong Thian-gak
merasakan darah yang menggelora dalam dadanya bergolak keras,
katanya, "Siau-hui, aku ...
aku akan mengajakmu keluar dari tempat ini!"
Sudah berulang kali dia mengucapkan
kata-kata itu, akan tetapi setiap kali
Song Leng-hui selalu menggeleng kepala sambil berkata,
"Aku lelah bersumpah tak akan meninggalkan pusara orang tuaku untuk
selamanya, lagi pula kehadiranku di sisimu hanya akan menyusahkan
dirimu saja, aku tahu sepeninggalmu dari sini, kau akan membunuh
banyak orang jahat. Memang bagi seorang lelaki yang berlatih silat
lempat bergeraknya adalah dunia persilatan, sudah sewajarnya bila
melakukan suatu pekerjaan besar."
"Pergilah, aku akan tetap menantimu
hingga kau kembali," kata
Song
Leng-hui sambil memenuhi cawan Bong
Thian-gak dengan arak, sedangkan dia sendiri pun memenuhi
cawan sendiri dengan arak.
Setelah itu, sambil mengangkat cawan
araknya dia berkata, Semoga Toako sehat walafiat selalu."
Selesai berkata, gadis itu segera
meneguk habis cawannya.
Bong Thian-gak
pun segera meneguk cawannya sendiri.
Arak itu harum baunya, tak salah kalau
dikatakan arak bagus.
Di luar ruangan hanya suara pohon cemara
yang terhembus angin dan
suara air terjun.
Cahaya lentera yang redup menyoroti
wajah sepasang muda-mudi yang merah membara itu.
Besar sekali takaran minum
Song Leng-hui, cawan demi cawan dia
menemani Bong Thian-gak
meneguk habis arak di hadapannya, hawa arak telah membuat wajahnya
menjadi merah membara, namun justru karena itu dia jauh nampak lebih
cantik dan menarik.
Waktu itu Bong
Thian-gak sedang diliputi perasaan murung dan duka,
arak memang merupakan kebutuhan yang penting dalam suasana seperti
ini, dia hendak menggunakan arak untuk menghilangkan kemurungannya,
namun kemurungan serasa makin bertambah, dia ingin menggunakan arak
untuk membuatnya mabuk, apa mau dikata dia justru tak pernah menjadi
mabuk.
Sementara itu
Song Leng-hui telah bergeser duduk di sampingnya, lalu
dengan suara manja bisiknya, "Toako, kau harus kembali dengan cepat,
karena aku ... aku telah
menjadi milikmu untuk selamanya."
Sudah tiga tahun lamanya dia menyimpan
ucapan ini dalam hati, baru hari ini dapat diutarakan.
Arak memang racun yang mudah mengacaukan
jalan pikiran orang, apalagi tiga botol arak sekaligus, dengan cepat
arak itu berubah menjadi obat perangsang cinta yang amat kuat.
Ketika Song
Leng-hui bergeser dan duduk di sampingnya, pemuda itu
segera mengendus bau harum khas seorang gadis.
Akhirnya Bong
Thian-gak tak mampu mengendalikan gejolak hawa panas
dalam tubuhnya lagi, tak tahan dia segera merangkul gadis itu dan
memeluknya kencang.
"Ehm!" Song
Leng-hui mengerang lirih, seluruh tubuhnya segera
dijatuhkan ke dalam pelukannya.
Ketika rambutnya yang halus menempel di
leher Bong Thian-gak, segera
timbul perasaan gatal yang aneh.
Bong Thian-gak
semakin tak sanggup mengendalikan gejolak perasaannya lagi, dengan
cepat dia menundukkan kepala, mencium pipinya yang putih dan halus
dengan hangat penuh kemesraan.
Tampaknya malam ini
Song Leng-hui telah mengambil
keputusan untuk....
Dia membalikkan tubuh, kemudian balas
memeluk tubuh Bong Thian-gak
dengan hangat, bibirnya yang merah membalas ciuman pemuda itu dan
menghisap lidah Bong
Thian-gak dengan lembutnya.
Perasaan mereka seakan hendak melompat
keluar dari rongga dadanya, sukma mereka seakan-akan membumbung
tinggi ke udara.
Selama tiga tahun terakhir ini, baru
pertama kali ini mereka berdua berpelukan sambil berciuman dengan
mesra, dan ciuman itupun merupakan ciuman pertama, mereka belum tahu
apakah itu mesra, manis, hangat ataukah gembira.
Udara serasa berputar, bumi bagaikan
berguncang, mereka lupa apa akibatnya, lebih-lebih tak mengerti apa
yang dinamakan menjaga batas kesopanan.
Napas Bong
Thian-gak mulai memburu, dia memeluk tubuh si gadis
dengan semakin bernapsu.
Akhirnya Song
Leng-hui berbisik lirih, "Toako, apa yang ingin kau
lakukan, lakukanlah sekehendak hatimu, aku sudah menjadi milikmu,
seluruh tubuhku adalah milikmu."
Arak telah membuat
Bong Thian-gak melupakan
segala-galanya, dia mulai melangkah menuju ke tempat tidur.
Di sanalah terletak kamar tidur
Song Leng-hui, tampaknya gadis itu
sudah mempersiapkan segalanya, seprei, kasur, bantal, dan kelambu
lelah diatur dengan bersih dan menyenangkan.
Bong Thian-gak
membaringkan tubuhnya di atas pembaringan, sedang
Song Leng-hui seakan-akan sudah kaku
pikirannya, dia memeluk lubuh Bong
Thian-gak erat-erat dan menarik pemuda itu sehingga
bergulingan di atas pembaringan.
Kini pakaian yang dikenakan
Song Leng-hui sudah terlepas, kulit
badannya yang putih halus bagaikan salju, setengah terlihat setengah
tersembunyi di balik pakaian dalamnya.
Gemetar keras seluruh tubuh
Song Leng-hui, mendadak dia mulai
merintih, "Oh, Toako ... kau
... kau cepatlah."
Berada dalam keadaan seperti itu,
sekalipun Bong Thian-gak
berada dalam keadaan sadar pun, tak nanti bisa mengendalikan diri.
Apalagi sekarang pengaruh alkohol sudah
menguasai kesadaran biaknya dan lambat-laun mengobarkan api napsu
birahinya yang makin memuncak.
Dengan penuh kegarangan dan kebuasan,
Bong Thian-gak menerkam ke
depan dan menindih tubuh gadis itu.
Rintihan lirih dan dengusan napas
berdesis dari bibir Song
Leng-hui yang mungil.
Tentu saja kegembiraan dan kenikmatan
telah menghilangkan seluruh rasa sakit dan perih yang dirasakan
olehnya.
Hujan badai pun segera datang
menderu-deru dan menyapu seluruh jagat.
Cahaya lentera berkedip dimainkan angin
dan memercikkan setitik cahaya menerangi sebuah pembaringan.
Titik-titik noda merah memercik di atas
seprei berwarna putih dan menciptakan aneka bunga yang sangat indah.
Bong Thian-gak
membelalakkan mata mengawasi tubuh Song
Leng-hui yang bugil dan indah itu dengan termangu.
Pengaruh alkohol yang mempengaruhi
benaknya telah hilang sebagian besar, sekarang dia sedang menyesal,
mengapa dia secara keji harus merenggut kesucian tubuh gadis itu,
yang sudah dipertahankan selama dua puluh tahun.
Song Leng-hui
tidak menyesal, juga tidak malu, sesudah menghela napas sedih,
ujarnya, "Toako, kau jangan bersedih, asalkan mencintaiku sesungguh
hati, cepat atau lambat kita akan mengalami juga malam pertama
seperti ini, aku takut kau tak akan kembali lagi untuk selamanya,
maka aku telah bertekad mempersembahkan kesucian tubuhku padamu
malam ini juga. Kau tak usah memikirkan persoalan ini, cukup kau
ingat saja kalau di tengah sebuah lembah yang terpencil masih ada
seorang gadis bernama Song
Leng-hui yang setiap saat mengharapkan kembalinya dirimu, asal kau
ingat hal itu, sudah lebih dari cukup!"
Bong Thian-gak
ingin menangis, namun tak bisa mengeluarkan suara, tiba-tiba dia
menubruk ke badan Song
Leng-hui dan berkata lirih, "Siau-hui, mengapa kau berbuat begini?
Mengapa kau harus berbuat begini? Aku ...
aku merasa telah berbuat salah kepadamu, cinta kasih
yang kau berikan untukku tak nanti bisa kubalas untuk selamanya."
Song Leng-hui
memeluk tubuh Bong Thian-gak
dengan mesra dan membelai lengannya yang kutung dengan penuh kasih
sayang, lalu katanya lembut, "Setelah kepergianmu besok, kau harus
baik-baik menjaga dirimu, kau sudah menjadi orang cacat, aku tahu
kepandaian silatmu tinggi, namun di Bu-lim masih terdapat banyak
persoalan yang tak dapat diselesaikan dengan mengandalkan kepandaian
silat."
Keadaan Song
Leng-hui sekarang bagaikan ibu yang penuh kasih sayang
menasehati anaknya yang hendak pergi jauh.
Tiga tahun bukan jangka waktu yang
pendek, dunia persilatan yang luas bagaikan awan di angkasa,
berbagai perubahan sudah terjadi selama tiga tahun ini, bahkan boleh
dibilang perubahan yang amat besar.
Sejak Bong
Thian-gak lenyap dari dunia persilatan,
Put-gwa-cin-kau, perkumpulan rahasia yang amat besar itu turut
lenyap dari keramaian dunia persilatan.
Menyusul hilangnya perkumpulan itu, nama
besar Kay-pang dan Hiat-kiam-bun pun semakin menanjak dalam Bu-lim.
Kay-pang adalah perkumpulan yang
mempunyai sejarah paling lama di Bu-lim, cara kerja mereka antara
jalan lurus dan sesat, konon ketuanya adalah seorang yang sangat
lihai dan luar biasa.
Siapakah ketua Kay-pang? Tak seorang pun
tahu.
Namun pedang milik ketua pengemis pernah
menggidikkan hati setiap jago dunia persilatan.
Menurut kabar, sebab-musabab
menghilangnya Put-gwa-cin-kau dari dunia persilatan akibat kelihaian
pedang ketua Kay-pang.
Hiat-kiam-bun (Perkumpulan pedang darah)
adalah perguruan yang
amat rahasia, keji dan
buas. Gerak-gerik mereka di Bu-lim selalu dibarengi dengan
pembunuhan berdarah.
Siapakah ketua Hiat-kiam-bun? Tentu saja
lebih-lebih tiada orang yang tahu dengan jelas.
Para jago dari sembilan partai besar
yang berkumpul dalam gedung
Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong pun sejak tiga tahun lalu sudah
membubarkan diri.
Bubarnya persekutuan dunia persilatan
ini aneh sekali, konon
dalam satu malam saja
segenap anggota yang berada dalam gedung itu lenyap, mati hidupnya sampai kini masih
teka-teki. Peristiwa itu berlangsung tiga tahun berselang. Tiga
bulan terakhir ini di Bu-lim lagi-lagi muncul dua peristiwa yang
menggetarkan sukma.
Kedua peristiwa itu menyangkut seorang
laki dan seorang wanita.
Yang perempuan adalah iblis yang
berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.
Wajahnya yang begitu cantik dan menawan,
pada hakikatnya banyak sudah lelaki yang dipikatnya, bahkan
perempuan itu bersedia digauli semalam suntuk, cuma esok harinya
lelaki itu ditemukan tewas.
Dalam tiga bulan belakangan ini sering
tersiar berita tentang ditemukannya jenazah lelaki yang terkapar
dengan telanjang bulat.
Sebaliknya yang lelaki berilmu sangat
tinggi, selama tiga bulan terakhir ini sudah ada seratus orang lebih
yang kalah di tangannya.
Kelihaian lelaki itu konon melebihi
kedahsyatan Mo-kiam-sin-kun To
Tian-seng yang pernah menggetarkan dunia persilatan puluhan
tahun lalu.
Asalkan pedangnya sudah dilolos dari
sarungnya, tak pernah ada korban yang dibiarkan hidup.
Namun jago pedang yang muncul ini punya
sedikit perbedaan dengan Mo-kiam-sin-kun
To Tian-seng, karena pedang yang tersoreng di
pinggangnya bukanlah pedang mustika, melainkan pedang kayu tumpul,
bahkan jago pedang itu seorang cacat, berlengan tunggal dan pincang.
oo©oo
Musim gugur sudah tiba, daun kering
berguguran terhembus angin kencang.
Seekor kuda ras Mongolia yang tinggi
besar pelan-pelan berjalan menelusuri jalan raya ibukoTa,
penunggangnya adalah seorang pemuda berwajah pucat dan berlengan
kanan kosong, agaknya seorang yang belum lama kehilangan lengannya.
Lelaki itu menjalankan kudanya ke bawah
pohon di tepi jalan.
Rupanya waktu itu dari depan sana telah
muncul empat ekor kuda yang dilarikan kencang, lelaki cacat itu
kuatir kudanya tertumbuk, dia menyingkir ke samping.
Tatkala empat ekor kuda itu sampai di
hadapan lelaki cacat itu, mendadak mereka menarik tali kudanya
secara serentak.
Penunggangnya adalah tiga orang lelaki
dan seorang gadis.
Yang pria adalah Kongcu-kongcu tampan
yang menyoreng pedang di punggungnya.
Sedang yang perempuan berparas cantik
genit dan mengenakan baju merah menyala, dia pun menyoreng sepasang
pedang di punggung.
Dilihat dari cara mereka menunggang
kuda, ketiga pria dan seorang gadis ini memiliki kepandaian silat
yang lumayan.
Mereka berdiri berjajar di tengah jalan,
persis menghadang jalan lelaki cacat itu.
Salah seorang Kongcu yang berparas kurus
dan mempunyai tahi lalat di wajahnya tertawa terbahak-bahak,
kemudian sembari menjura tegurnya, "Bolehkah aku tahu, apakah kau
Jian-ciat-suseng (Sastrawan cacat)?"
Pria cacat itu tersenyum, "Tidak berani,
tidak berani, tampaknya kalian berempat adalah Hui-eng-su-kiam
(Empat pedang unggas terbang) yang namanya telah menggetarkan
wilayah Kanglam."
Lelaki kurus bertahi lalat itu kembali
tertawa tergelak, "Tajam benar pandangan saudara, hahaha, tiga bulan
terakhir ini dunia persilatan telah dihebohkan oleh nama besarmu,
hal ini membuat kami Hui-eng-su-kiam merasa risau dan tak enak
sendiri, itu sebabnya malam ini aku ingin menantang kau berduel!"
"Berduel untuk mambuktikan siapa lebih
unggul bukanlah suatu peristiwa luar biasa, cuma sayang malam ini
aku tidak ada waktu, maka seandainya kalian Hui-eng-su-kiam ingin
mencoba kepandaian silatku, tak ada salahnya dicoba sekarang!" kata
Jian-ciat-suseng hambar.
Mendengar perkataan itu, si nona
berkerut kening, lalu bentaknya penuh gusar, "Manusia cacat, besar
amat lagakmu, orang lain boleh takut kepadamu, tapi kami
Hui-eng-su-kiam tak takut menghadapi dirimu." Jian-ciat-suseng
tertawa.
"Di antara empat pedang unggas terbang,
aku dengar terdapat seorang yang bernama Hwe-im-eng (Burung api),
wataknya konon serupa dengan julukannya, mungkin nonalah yang
dimaksud?"
Di wilayah Kanglam, nama besar
Hui-eng-su-kiam memang sangat termasyhur, setiap jago dari berbagai
perguruan yang bertemu dengan mereka pasti akan menyebut Siauhiap
atau Lihiap untuk menghormati mereka.
Mimpi pun tak menyangka Jian-ciat-suseng
tidak memandang sebelah mata pun kepada mereka, betapa gusarnya
mereka menyaksikan kenyataan itu, terutama Burung api Yu Hong-hong
yang dasarnya memang sombong, tinggi hati dan berangasan.
"Tutup mulut!" bentaknya nyaring. "Nama
besar nonamu bukan sembarangan orang boleh menyebut, apalagi manusia
cacat seperti kau."
Tiba-tiba Jian-ciat-suseng menarik muka
dan menegur, "Nona, watak berangasan dan jahatmu harus mulai diubah,
jika kau tak mampu mengubah diri, niscaya usiamu tak akan panjang."
Yu Hong-hong tertawa dingin.
"Hehehe, aku justru ingin tahu usia
siapa yang tak panjang. Manusia cacat, cepat lolos pedangmu, nona
ingin memberi pelajaran setimpal padamu."
Sementara berbicara, Yu Hong-hong telah
melolos sepasang pedang pendeknya dan siap melancarkan serangan.
Dengan suara hambar Jian-ciat-suseng
berkata, "Begitu pedangku ini terlolos dari sarungnya, kepala
manusia tentu akan menggelinding, aku tahu kalian Hui-eng-su-kiam
cuma manusia berdarah panas yang ingin mencari nama, perbuatan
kalian belum terhitung jahat."
Belum selesai dia berkata, sepasang kaki
Yu Hong-hong sudah menjejak perut kudanya dan secepat kilat
menerjang ke arah Jian-ciat-suseng.
Jian-ciat-suseng masih tetap duduk di
atas pelana sekokoh batu karang, bergerak sedikit pun tidak.
Yu Hong-hong benar-benar merasa gusar
sekali, sepasang pedangnya seperti dua naga yang muncul dari air,
langsung mengancam dua jalan darah mematikan di tubuh
Jian-ciat-suseng, sedemikian cepatnya serangan itu sehingga tak malu
disebut jagoan kelas satu.
Jian-ciat-suseng sama sekali tak
berkutik, lengan kanannya
yang kosong tiba-tiba dikebaskan ke muka dan memelintir sepasang
tangan Yu Hong-hong.
Yu Hong-hong membentak gusar, "Belum
tentu kungfumu sangat hebat!"
Rupanya jurus serangan
Siang-liong-jut-cui (Sepasang naga keluar dari air) yang
dipergunakan Yu Hong-hong adalah serangan tipuan, di tengah bentakan
nyaring, sepasang pergelangan tangannya merendah ke bawah, pedangnya
seperti naga sakti membentuk gerakan setengah lingkaran dan
menciptakan beribu titik bintang di angkasa, seperti tusukan seperti
pula bacokan dia menyerang Jian-ciat-suseng.
Kali ini Jian-ciat-suseng tidak bergerak
sama sekali, ujung lengan baju kanannya yang kosong pun tak
berkutik, sepasang pedang Yu Hong-hong secepat sambaran petir
langsung menerobos masuk.
Tiga orang lainnya yang menyaksikan
jalanya pertarungan dari sisi arena segera berpikir setelah
menyaksikan kejadian itu.
"Seandainya Jian-ciat-suseng tidak jatuh
dari kudanya, kendatipun ilmu silatnya lebih hebat pun tak nanti dia
bisa lolos dari serangan Yu Hong-hong."
Belum habis mereka berpikir, tampak
Jian-ciat-suseng sudah menggerakkan tangan kirinya.
Diiringi jeritan kaget Yu Hong-hong,
sepasang pedang pendeknya tahu-tahu sudah berpindah tangan.
"Pletakk", diiringi suara nyaring, kedua
pedang pendek yang terbuat dari kayu itu sudah digetarkan patah
menjadi empat bagian oleh lengan kiri Jian-ciat-suseng dan terjatuh
ke atas tanah.
Demonstrasi tenaga dalam serta
kepandaian silat semacam ini tentu akan menjerakan hati orang yang
melihat.
Namun dasar si Burung api burung Yu
Hong-hong, dari malu dia menjadi gusar, sambil membentak nyaring
tubuhnya melesat ke depan, lalu telapak tangannya dengan mengerahkan
segulung tenaga dahsyat langsung menghantam ke dada Jian-ciat-suseng
itu.
Berkerut kening Jian-ciat-suseng
menghadapi ancaman ini, tangan kirinya segera menyambar ke depan dan
mencengkeram lengan kanan Yu Hong-hong, begitu si nona kehilangan
tenaga, dia lantas mengangkat tubuh gadis itu ke tengah udara.
"Lepaskan aku, lepaskan aku!" teriak Yu
Hong-hong dengan gusar.
Jian-ciat-suseng memutar lengan kirinya
dan mengayunkannya ke depan.
Tak ampun lagi tubuh Yu Hong-hong
terlempar ke udara dan persis terjatuh kembali ke atas pelana
kudanya.
Sejak terjun ke dunia persilatan, belum
pernah Yu Hong-hong menderita kekalahan seperti hari ini, dia segera
menangis tersedu-sedu.
Tiga rekan lainnya dibikin terperanjat
oleh kelihaian ilmu silat Jian-ciat-suseng, untuk beberapa saat
mereka hanya bisa berdiri tertegun.
Mereka baru sadar mendengar isak tangis
Yu Hong-hong yang memilukan.
Tapi apa pula yang dapat mereka lakukan?
Kepandaian silat Jian-ciat-suseng terlampau lihai, sekali pun mereka
bertiga turun tangan bersama pun tak ada gunanya.
Isak tangis Yu Hong-hong sungguh
mengenaskan, air matanya bercucuran dengan amat derasnya.
Agaknya si sastrawan paling takut
melihat perempuan menangis, sambil menghela napas, pelan-pelan dia
berkata, "Yang paling penting dalam ilmu silat adalah tenang dan
gesit, tenang harus melebihi perawan, gesit harus melebihi kelinci,
bila saat menyerang perasaan sudah diliputi napsu, ketenangan akan
goyah dan kacau, kegesitan akan berubah menjadi lembek. Bila
menyerang seperti itu, bukan musuh yang dihajar, salah-salah diri
sendiri yang akan terluka."
Selesai mengucapkan perkataan itu, tanpa
berpaling lagi dia menjalankan kudanya pelan-pelan berlalu dari
tempat itu.
Yu Hong-hong berhenti menangis. Dalam
benaknya terlintas perkataan terakhir Jian-ciat-suseng, kemudian dia
merenung dan memikirkannya berulang kali.
Tiba-tiba dengan sikap seperti mengerti
seperti tidak, dia bergumam lirih, "Hari ini aku menderita kalah,
kekalahan yang benar-benar memilukan hatiku, ai! Ilmu silatnya
terlampau tinggi, kepandaian silatnya benar-benar tinggi."
Hong-tok-ciu-lau di barat daya kota
terlarang merupakan penginapan dan rumah makan terbesar dan termegah
di ibukota.
Di balik pintu gerbang, Hong-tok-ciu-lau
tampak berdiri anggun dan berderet-deret mencapai ratusan ruangan.
Orang yang menginap di Hong-tok-ciu-lau
pun meliputi berbagai lapisan masyarakat.
Waktu itu di sebuah meja yang berada di
sudut selatan rumah makan termegah yang bagaikan keraton itu
berduduk tiga orang perlente dan seorang gadis cantik berbaju merah
menyala.
Mereka sedang bersantap dan minum arak
sambil berbincang-bincang ke utara selatan.
Mendadak terdengar si gadis berkata
dengan suara merdu, "Tio-toako, tahukah kau siapa kedua orang tokoh
silat yang paling tersohor di kolong langit dewasa ini?"
Pemuda kurus bertahi lalat yang duduk di
sisinya segera menyahut sambil tertawa, "Yu-sumoay, masa kau tidak
tahu? Kedua orang itu adalah Si-hun-mo-li (Iblis perempuan pembetot
sukma) dan Jian-ciat-suseng."
"Tio-toako," kembali si gadis berbaju
merah bertanya manja. "Konon Jian-ciat-suseng sudah sampai di
ibukota, ada urusan apa orang itu mendatangi kota terlarang?"
"Konon Jian-ciat-suseng mengejar
Si-hun-mo-li, karena iblis perempuan ini berada di ibukota, padahal
bukan hanya Jian-ciat-suseng saja yang sudah sampai di Hopak, konon
segenap jago lihai secara berbondong-bondong sudah datang ke wilayah
Hopak sini."
"Ada urusan apa para jago Bu-lim
berkumpul di ibukota?" "Apalagi? Tentu saja karena Si-hun-mo-li dan
Jian-ciat-suseng," sahut pemuda kurus itu tertawa.
"Ah, apa maksudmu?" seru gadis berbaju
merah itu terkejut. Tiba-tiba pemuda kurus itu berpaling dan
memandang sekejap ke arah meja di sudut kiri ruangan, lalu katanya
dengan lantang, "Hanya tiga bulan Jian-ciat-suseng muncul di Bu-lim,
berbagai jago lihai dari berbagai perguruan besar telah keok di
tangannya, orang bilang, pohon tinggi mengundang datangnya angin,
nama termasyhur mengundang datangnya bencana, maka para jago
persilatan berbondong-bondong datang ke ibukota untuk membalas
dendam atau ingin merobohkannya sehingga sekali gebuk memperoleh
nama besar."
Sampai di sini pemuda kurus itu berdehem
pelan, entah sengaja atau tidak dia kembali mengalihkan sorot
matanya ke meja sebelah kiri.
Ternyata di tempat itu duduk pemuda
berlengan buntung dan berbaju hitam, dia berdandan seorang
sastrawan, namun sebilah pedang tersoreng di pinggangnya.
Mendadak gadis berbaju merah itu berkata
lagi, "Tio-toako, menurut pendapatmu dapatkah Jian-ciat-suseng
mengalahkan begitu banyak jago persilatan?"
Pemuda kurus tersenyum.
"Menurut penilaianku, ilmu silat
Jian-ciat-suseng sudah terhitung wahid di kolong langit, mana
mungkin kawanan jago yang mencari gara-gara padanya mampu menyambut
sebuah serangannya?"
Baru saja dia berkata, mendadak dari
sisi meja sebelah kanan terdengar suara orang berseru sambil tertawa
dingin tiada henti.
"Hehehe, boleh saja Hui-eng-su-kiam tak
mampu menerima satu gebrakan Jian-ciat-suseng, namun orang lain
tidaklah demikian."
Ucapan itu seketika membuat paras pemuda
perlente dan gadis berbaju merah itu berubah hebat sehingga mereka
bersama-sama berpaling ke arah meja di samping mereka.
Di situ duduk seorang kakek dan seorang
pemuda.
Yang tua berperawakan kurus dan hitam
dengan baju berwarna hitam, jenggot kambingnya panjang dan sepasang
matanya macam mata ikan, berkedip tajam, jelas tenaga dalamnya telah
sempurna.
Sedang yang muda berpakaian perlente
dengan sebilah pedang berwarna kuning emas tersoreng di pinggangnya,
tampan dan gagah, cuma sayang di antara kerutan dahinya terbayang
setitik hawa cabul.
Suara tertawa seram tadi tak lain
berasal dari pemuda berbaju perlente itu.
Serentak Hui-eng-su-kiam melompat
bangun, hawa amarah menyelimuti sekujur wajah mereka dalam waktu
singkat, pertarungan sengit bakal berlangsung di tengah ruangan itu.
Pada saat itulah mendadak dari tengah
ruangan berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring, kemudian
dari sudut ruangan sebelah utara pelan-pelan berjalan keluar
sastrawan berbaju biru yang berusia tiga puluh tahun.
Orang ini memiliki wajah kereng dan
lamat-lamat memancarkan kewibawaan besar.
Ketika sastrawan buntung yang duduk di
sudut kiri menyaksikan kemunculan sastrawan yang mengenakan baju
biru itu, paras mukanya berubah hebat, hampir saja dia berteriak.
Dengan tergelak nyaring sastrawan
berbaju biru itu mengambil tempat duduk di depan kursi
Hui-eng-su-kiam, kemudian berkata, "Hui-eng-su-kiam, mari! Aku orang
she Thia ingin memperkenalkan
kalian, Su-hiap yang duduk di kursi utama itu tentunya Siaucengcu
dari perkampungan Kim-liong-kiam-san-ceng yang berjuluk
Kiu-liong-sin-kiam (Pedang sakti sembilan naga)
Mo Siau-pak."
"Sedangkan yang tua adalah Congkoan dari
Kim-liong-kiam-san-ceng (perkampungan pedang naga emas) yang
berjuluk Hek-kut-siu (Kakek tulang hitam) Siangkoan-lotoa
...."
Begitu sastrawan berbaju biru itu
menyebutkan nama-nama itu, tak sedikit sorot mata yang dialihkan ke
sana.
Setelah diperkenalkan, agaknya
Hui-eng-su-kiam terpengaruh oleh nama besar lawan, paras mereka
pelan-pelan berubah agak lembut.
Kim-liong-kiam-san-ceng merupakan
keluarga persilatan yang termasyhur di Bu-lim, nama besar mereka
sudah merata di wilayah utara sungai Kuning.
Bahkan boleh dibilang setiap orang tahu
di wilayah itu terdapat Kim-liong-kiam-san-ceng yang dikepalai
Im-tiong-liong (Naga di balik mega) Mo Hui-thian.
Begitu lihainya ilmu pedang tokoh sakti
ini sehingga orang menyebutnya sebagai Bu-lim-te-it-kiam (Jago
pedang nomor wahid dunia persilatan).
Pemuda berbaju perlente itu yang bernama
Mo Siau-pak agaknya tak berani menunjukkan sikap angkuh ataupun
tinggi hati terhadap sastrawan berbaju biru itu, dengan cepat dia
melompat bangun dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak, "Hahaha,
kukira siapa, sungguh tak disangka Im-ciu-tay-ji-hiap Thia Leng-juan
adanya."
"Mana ...
mana ... aku
orang she Thia baru saja
datang ke ibukota dan dimana-mana kujumpai teman-teman lama,
nampaknya di sini akan terjadi sebuah pertemuan puncak para jago."
Mo Siau-pak tertawa dingin.
"Hm, apa sebabnya berbagai jago
berdatangan ke kota terlarang, aku rasa tak usah dibilang pun semua
orang sudah tahu dengan jelas."
Sembari berkata, dia mengangkat kepala
dan menengok ke arah sudut selatan.
Siapa tahu Jian-ciat-suseng yang duduk
di tempat itu, entah sedari kapan sudah pergi meninggalkan tempat
itu.
Berubah hebat paras Mo Siau-pak, dengan
cepat dia melompat bangun, kemudian serunya, "Thia-heng, maaf aku
tak bisa menemani lebih lama."
Agak tergopoh-gopoh dia berlalu dari
ruangan itu.
Ketika melihat Mo Siau-pak beranjak
pergi, kakek berbaju hitam itu tanpa berbicara sepatah kata pun
turut menguntit di belakangnya meninggalkan ruangan.
Hui-eng-su-kiam yang menyaksikan
kejadian itu, dalam hati segera mengerti apa sebabnya Mo Siau-pak
pergi meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa, dengan cepat
mereka berempat saling bertukar pandang sekejap, lalu katanya kepada
Thia Leng-juan, "Kami pun ingin segera mohon diri."
Hui-eng-su-kiam buru-buru keluar ruangan
dan menyusul di belakang Mo Siau-pak.
Ketika Mo Siau-pak dan Siangkoan-lojin
menyusul keluar dari Hong-tok-ciu-lau, terlihat sesosok bayangan
hijau dengan ujung lengan baju kanan berkibar terhembus angin sedang
bergerak di depan.
Sambil tertawa dingin, Mo Siau-pak
mempercepat langkahnya dan mengejar dari belakang.
Siapa tahu kendati sudah menyusul sampai
keluar kota, namun Mo Siau-pak belum juga berhasil mengejar orang
itu.
Sasaran yang sedang mereka kejar masih
tetap berjalan lambat, lebih kurang tiga puluh depa di depan sana.
Mo Siau-pak segera mendengus dingin,
dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dia mengejar semakin
kencang.
Pada saat itulah, pemuda di depan sana
tahu-tahu lenyap tanpa bekas di sebuah tikungan hutan kecil.
Dengan beberapa kali lompatan saja Mo
Siau-pak telah menyusul sampai di tikungan hutan, lalu sambil
memutar badan dia menghentikan gerakan.
Rupanya di balik hutan terbentang sebuah
sungai, jembatan kayu membentang di tengah sungai, di sana berdiri
tegak seorang sastrawan yang buntung tangannya.
Waktu itu dengan sorot matanya yang
tajam bagaikan sembilu, dia sedang mengawasi Mo Siau-pak yang berada
di bawah jembatan.
"Mo-siaucengcu, ada urusan apa kau
menyusul diriku?"
Mo Siau-pak tertawa dingin, sahutnya,
"Bukankah kau adalah Jian-ciat-suseng?"
"Benar, lengan kananku buntung, kaki
kiriku pincang, orang persilatan menyebutku Jian-ciat-suseng dan aku
pun senang sekali dengan nama indah ini."
Sementara itu Siangkoan-lotoa telah
menyusul tiba dan segera berdiri di sisi kiri Mo Siau-pak.
Dengan wajah senyum tak senyum Mo
Siau-pak berkata, "Untuk merobohkan seratus jago lihai dunia
persilatan, apakah pedang kayu yang tersoreng di pinggangmu itu yang
kau gunakan?"
"Masih ada di antara mereka yang tidak
perlu kuhadapi dengan pedang kayuku ini."
"Lantas pantaskah aku menghadapimu
dengan pedang kayu itu?"
"Seandainya ayahmu, Mo Hui-thian, hadir
di sini, mungkin dia masih pantas untuk kuhadapi dengan pedang kayu
ini."
Ucapan ini sudah jelas artinya, yaitu Mo
Siau-pak masih belum cukup berharga baginya untuk dihadapi dengan
pedang kayu.
Anehnya, ternyata Mo Siau-pak tidak
menjadi gusar, setelah tertawa dingin 4ia malah bertanya, "Jadi kau
menyuruh aku yang melolos pedang?"
"Bila Siaucengcu melolos pedang, bisa
jadi nama besarmu akan hancur di ujung jembatan ini, aku mengerti
kau seorang pintar, tentunya kau tahu bukan, seharusnya pedang itu
harus dicabut atau tidak?"
Mo Siau-pak tidak menjawab, bungkam
dalam seribu bahasa.
Mendadak Siangkoan-lojin berseru
lantang, "Majikan muda harap mundur, biar Lohu yang mencoba beberapa
jurus serangannya."
Sembari berkata, Siangkoan-lojin maju ke
ujung jembatan dan melepaskan sebuah bacokan dahsyat ke dada lawan.
Jangan dilihat Siangkoan-lojin
berperawakan kurus kecil, ternyata angin pukulan yang dilancarkannya
sangat dahsyat dan mengerikan.
Berdiri di ujung jembatan,
Jian-ciat-suseng tak bergerak sedikit pun, dia menunggu sampai
telapak tangan kanan Siangkoan-lojin berada setengah kaki di depan
dadanya, saat itulah telapak tangan kirinya baru secepat kilat
membabat urat nadi tangan musuh.
"Bocah keparat, ternyata kau memiliki
kepandaian juga!" bentak Siangkoan-lojin.
Sembari berkata, sepasang lengannya yang
hitam dan kering-kerontang bagai sambaran petir meluncur ke muka dan
mengembangkan serangkaian serangan berantai.
Serangan yang dilancarkan itu selain
cepat bagaikan sambaran kilat, juga disertai tenaga yang amat
dahsyat.
Pukulan demi pukulan dilancarkan
bagaikan ombak menggulung ke tepian dan memecah terkena batu karang,
benar-benar mengerikan.
Dalam waktu singkat Siangkoan-lojin
sudah melepaskan tiga belas pukulan telapak tangan dan delapan
jotosan kilat.
Dalam menghadapi kedua puluh satu
serangan itu, Jian-ciat-suseng masih tetap berdiri tegak tak
bergerak, dia hanya membendung dan menangkis setiap ancaman yang
datang dengan lengan tunggalnya.
Kendati demikian, ternyata
Siangkoan-lojin tak sanggup maju barang selangkah pun.
Siangkoan-lojin mestinya tahu diri dan
mengundurkan diri, namun sebagai Congkoan Kim-liong-kiam-san-ceng
yang mempunyai kedudukan tinggi dan sudah lama termasyhur dalam
Bu-lim, sudah barang tentu tak mungkin baginya untuk mundur begitu
saja, apa lagi di hadapan majikan mudanya sekarang.
Mendadak terdengar Siangkoan-lojin
membentak, mendadak tubuhnya mundur tiga langkah, sementara kepalan
tangan kanannya pelan-pelan dihantamkan ke arah dada musuh.
Serangan ini tampaknya seperti tidak
disertai tenaga, namun dalam pandangan seorang ahli silat, akan
segera diketahui pukulan itu disertai tenaga yang sangat hebat.
Berubah hebat paras muka
Jian-ciat-suseng, mendadak telapak tangan kirinya diayunkan ke
depan.
Dengusan tertahan segera menggema
memecah keheningan.
Dengan sempoyongan Siangkoan-lotoa
mundur tujuh langkah, kemudian darah kental menyembur dari mulutnya.
Paras muka Mo Siau-pak berubah hebat,
cepat dia memburu ke depan untuk membimbing tubuh Siangkoan-lojin,
lalu tegurnya, "Siangkoan-lotoa, kau masih sanggup bertahan?"
Kulit wajah Siangkoan-lotoa mengejang
keras, menahan derita yang sedang dialaminya, dia berkata, "Majikan
muda, harap kau jangan bertindak gegabah. Ilmu silat orang ini
benar-benar kelewat dahsyat."
Sementara itu Jian-ciat-suseng telah
membalikkan badan dan menuruni jembatan itu ke arah lain.
Sambil tertawa dingin Mo Siau-pak
berseru, "Hm, aku akan mencoba sampai dimanakah kelihaiannya."
Sembari berkata, lekas dia mengejar ke
ujung jembatan sana, sementara tangan kanannya meraba gagang pedang
yang tersoreng di pinggangnya.
Pada saat itulah mendadak
Jian-ciat-suseng menghentikan langkah, tanpa berpaling katanya, "Aku
tinggal di rumah penginapan Hong-tok-ciu-lau, kapan saja aku akan
menantikan kedatanganmu. Sekarang Siangkoan-lojin sudah terluka,
terutama pada sekitar urat nadi Liau-lok-keng-meh, jika kau tidak
segera mengurut jalan darahnya dengan menggunakan tenaga dalam,
seperempat jam lagi dia akan muntah darah tiada hentinya, dalam
keadaan seperti itu, meski ada obat dewa pun jangan harap bisa
menyelamatkan jiwanya."
Dingin perasaan Mo Siau-pak mendengar
itu, meski tangan kanannya sudah meraba gagang pedang, namun senjata
itu tak dicabut.
Dia tertawa dingin, lalu ujarnya,
"Baiklah! Aku Mo Siau-pak pasti akan menyambangimu."
Dalam pada itu Jian-ciat-suseng sudah
berada sejauh tujuh-delapan depa dari tempat semula, dia tidak
mungkin berpaling atau memberikan reaksi, dengan langkah tetap terus
menelusuri sungai.
Dari kejauhan dia nampak begitu
menyendiri dan kesepian.
Benar, sejak dia terjun kembali ke dunia
persilatan, selama tiga bulan terakhir ini dia telah mengunjungi
gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong. Dia pun telah berkunjung ke
kuil Nikoh Keng-tim-an.
Namun tak seorang ditemukan, pada
dasarnya dia sudah seorang diri, sekarang semakin merana dan
menyendiri lagi.
Hari ini, sewaktu berada di
Hong-tok-ciu-lau, dia telah bertemu dengan seorang kenalan lama,
pendekar sastrawan dari kota Invciu Thia Leng-juan, sebenarnya dia
ingin sekali bercakap dengannya, namun satu ingatan lain membuatnya
harus mengurungkan niatnya itu.
Dia tahu dengan tenaga dalam maupun ilmu
silatnya sekarang, cukup baginya untuk menjagoi dunia persilatan,
namun meski dia berhasil meraih gelar tokoh nomor wahid di kolong
langit, apakah artinya semua itu?
Nama Jian-ciat-suseng sudah cukup
menggetarkan sukma setiap umat persilatan di kolong langit, dia tahu
saat guntur menggelegar dan hujan badai berhembus akan tiba, oleh
sebab itu dia harus secepatnya menyelesaikan masalah-masalah yang
mengganjal hatinya, kemudian secepatnya mengundurkan diri dari
keramaian dunia persilatan dan mencicipi kehidupan yang penuh
bahagia.
Seseorang yang sangat mencintainya kini
hidup sebatangkara di rumah gubuk di tengah bukit yang terpencil,
dia tak boleh meninggalkan dirinya terlalu lama.
Dalam perjalanannya ke ibukota kali ini,
seandainya jejak orang-orang Put-gwa-cin-kau belum juga ditemukan,
terpaksa dia harus pulang ke gunung secepatnya, sebab perjalanan di
Bu-lim telah membuatnya jemu, bosan dan muak.
Entah sejak kapan Jian-ciat-suseng telah
berhenti di tepi sungai, menundukkan kepala dan memandang arus air
dengan terpesona.
Mendadak dia mengangkat kepala dan
menegur dengan suara sedingin salju, "Mengapa kalian berempat
mengikutiku terus?"
Sewaktu bicara, mata Jian-ciat-suseng
masih saja memandang arus air sungai dengan termangu, berpaling pun
tidak.
Rupanya entah sedari kapan, di
belakangnya telah muncul tiga orang pemuda berbaju perlente dan
seorang gadis berbaju merah, mereka berempat bukan lain dari
Hui-eng-su-kiam.
Pemuda kurus bertahi lalat yang
merupakan pimpinan Hui-eng-su-kiam yakni Gin-ho-eng (Burung sungai
perak) Tio Im segera menuju ke depan dan menyahut dengan hormat,
" Hui-eng-su-kiam membuntuti.
saudara karena kami ada satu persoalan yang hendak
dibicarakan!"
Jian-ciat-suseng belum juga berpaling,
hanya tanyanya dengan suara hambar, "Masalah apa?"
"Kami empat bersaudara memohon padamu
untuk menerima kami sebagai anak buahmu."
Ketika mendengar perkataan itu,
pelan-pelan Jian-ciat-suseng membalik badan dan mengawasi wajah
Hui-eng-su-kiam dengan sorot mata tajam bagaikan sembilu, dia
mengawasi orang-orang itu dari atas sampai ke bawah, namun mulutnya
tetap membungkam.
Dengan suara merdu Yu Hong-hong berkata,
"Ilmu silat Tayhiap sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, tentu
saja kemampuan kami berempat tak banyak membantu, namun kami empat
bersaudara amat mengagumi sepak terjang Tayhiap dan ingin sekali
membaktikan diri padamu, entah sebagai pembawa barang atau pesuruh
sekali pun, hal ini akan merupakan suatu kebanggaan bagi kami.
Itulah sebabnya kami memohon kepada Tayhiap sudilah menerima kami."
Tiba-tiba Jian-ciat-suseng menghela
napas panjang, ujarnya pelan-pelan, "Ai, baiklah aku bersedia
menerima kalian."
"Sungguhkah itu?" Yu Hong-hong tak kuasa
menahan rasa gembiranya, dia segera berteriak, "Kau
... kau tidak membohongi kami?"
Sekali lagi Jian-ciat-suseng menghela
napas panjang, "Ai, aku tak membohongi kalian, yang kubutuhkan
sekarang adalah melakukan suatu usaha besar yang akan menggemparkan
dunia persilatan."
Dia berhenti sejenak dan mengangkat
kepala memandang sekejap ke arah Hui-eng-su-kiam, kemudian
lanjutnya, "Aku bukan menerima kalian sebagai pesuruhku, melainkan
mengundang kalian berempat untuk menggabungkan diri dalam
perkumpulanku, yakni perkumpulan Tiong-yang-hwe!"
Pelan-pelan Jian-ciat-suseng mengangguk,
"Benar, hari ini adalah bulan sembilan tanggal sembilan dari
Tiong-yang, perkumpulan kami ini merupakan perkumpulan yang
didirikan pada saat ini di kala kalian
Hui-eng-su-kiam menggabungkan diri, oleh sebab itu
kunamakan perkumpulan ini sebagai Tiong-yang-hwe."
