pendekar cacad 07
Bagian 7 :
Sepasang kekasih mesti berpisah
Delapan orang pemusik berjubah panjang
warna hijau dengan diiringi sebuah tandu besar yang megah dan mewah
pelan-pelan berjalan mendekat, tandu itu sangat besar dan digotong
oleh delapan orang berjubah panjang warna hijau pula.
Bong Thian-gak
berbaur dengan orang banyak dan menyaksikan gaya jumawa Ji-kaucu,
diam-diam menyumpah dalam hati, "Keparat cucu kura-kura, pandai
sekali dia mencari kenikmatan hidup."
Dalam waktu singkat tandu itu sudah
berhenti di depan pintu gerbang, irama musik pengiring berhenti
pula, seorang lelaki berjubah panjang warna hijau berseru dengan
suara lantang, "Ji-kaucu tiba ...."
Ucapan terakhir sengaja ditarik panjang,
suara yang nyaring berkumandang hingga sejauh sepuluh li lebih di
tengah keheningan malam.
Semua serentak membungkukkan badan
memberi hormat pada tandu besar itu sambil berseru, "Menyambut
dengan hormat kedatangan Ji-kaucu!"
Bong Thian-gak
yang mencampurkan diri di antara kerumunan orang ikut menundukkan
kepala, pada kesempatan itu ia mendongakkan kepala dan menyapu
sekejap ke arah orang-orang yang berada di sekitar sana.
Pada barisan depan dekat pintu gerbang
berdiri seorang aneh berambut awut-awutan, di kiri-kanannya
masing-masing berdiri dua orang berbaju perlente berkerudung.
Kecuali terhadap tiga orang yang dikenal
Bong Thian-gak sebagai
Liok-kaucu serta dua orang pengawal tanpa tanding, yang lain
semuanya berwajah asing dan tak seorang pun yang dikenalnya.
Dalam arena tak nampak Jit-kaucu
Thay-kun, Kiu-kaucu Ni Kiu-yu serta orang berkerudung berjubah hitam
yang dikenal sebagai komandan pasukan kedua pengawal tanpa tanding.
Dari mulut dayang berbaju biru,
Bong Thian-gak tahu Jit-kaucu serta
Kiu-kaucu telah meninggalkan perkampungan petani itu dan hingga kini
belum pulang, tapi kemana pula perginya si oraii}», berkerudung
hitam?
Sementara dia melamun, kain tirai tandu
disingkap orang, lalu pelan-pelan berjalan keluar seorang sastrawan
berbaju hijau.
Dia berwajah keren dengan jenggot
sepanjang dada, sorot matanya tajam bagaikan sembilu, perawakan
tubuhnya jangkung dan berwajah cerah, sekilas pandang siapa pun tak
akan menduga dia seorang kakek berusia lima puluh sembilan tahun,
karena wajahnya seperti jauh lebih muda sepuluh tahun.
Di bawah petunjuk Keng-tim
Suthay, Bong Thian-gak sudah tahu
ciri khas Ji-kaucu ini, betul juga pada ujung alis mata sebelah
kirinya terdapat sebuah tahi lalat hitam, sebilah pedang antik
tersoreng di pinggangnya.
Begitu dia turun dari tandu, Liok-kaucu
maju menyambut kedatangannya sambil berbisik-bisik membicarakan
sesuatu dengan suara amat lirih.
Kemudian Ji-kaucu mendongakkan kepala
dan memandang wajah semua orang sekejap, mendadak dia bertanya,
"Mana Jit-kaucu, Kiu-kaucu dan komandan Siau?"
Sementara itu Ang Teng-siu dan seorang
lelaki setengah umur berdandan petani telah maju menyambut ke depan.
Lelaki setengah umur berdandan petani
itu berkata lebih dulu, Lapor Ji-kaucu, komandan Siau masih
berbaring di ranjang untuk merawat luka-lukanya, oleh sebab itu dia
tidak dapat menyambut kedatangan Ji-kaucu. Sedangkan Jit-kaucu dan
Kiu-kaucu telah meninggalkan perkampungan satu jam yang lalu untuk
menyelesaikan suatu persoalan."
Ji-kaucu memandang sekejap petani itu,
kemudian bertanya, "Mungkin kaukah kepala kantor cabang kota
Kay-hong, Ki Su-teng?"
"Benar, hamba adalah Ki Su-teng!" jawab
lelaki setengah umur herdandan petani dengan hormat.
Ji-kaucu mengulap tangan menitahkan dia
mundur, kemudian rombongan pun meneruskan perjalanannya masuk ke
halaman tengah.
Bong Thian-gak
kuatir jejaknya ketahuan lawan, dia tak berani membuntuti masuk ke
dalam, secara diam-diam dia menyelinap ke lulaman belakang.
Sementara dia tak tahu apa yang harus
dilakukan.
Mendadak dari balik kegelapan sana
muncul sesosok bayangan
kecil mungil, sambil
berjalan mendekat katanya dengan suara merdu,
"Siangkong, payah amat, kucari dirimu
kemana-mana."
Bong Thian-gak
mendongakkan kepala, ternyata gadis yang berjalan mendekat itu
adalah si dayang berbaju biru yang dijumpainya dalam kebun tadi.
Waktu itu tubuhnya basah oleh peluh,
napasnya tersengal-sengal dan wajahnya nampak tegang.
"Ada urusan apa?"
Bong Thian-gak segera bertanya.
Mendadak dayang berbaju biru itu menarik
tangan kiri Bong Thian-gak
sambil berujar, "Ayo cepat sedikit, tempat ini bukan tempat untuk
berbincang-bincang."
Ia mengajak
Bong Thian-gak berlalu dari situ dengan langkah amat
cepat, dalam waktu singkat mereka sudah melalui dua lapis halaman
yang sangat lebar dan tiba di sebuah bangunan mungil di sisi kebun
bunga.
Dari dalam bangunan mungil itu nampak
cahaya lentera memancar keluar, dua sosok bayangan orang tertera
jelas di balik jendela.
"Siangkong tiba
...." kata dayang berbaju biru.
Sembari berkata dia mendorong pintu,
lalu bersama Bong Thian-gak
masuk ke dalam ruangan.
Bong Thian-gak
tahu satu di antara kedua sosok bayangan itu adalah Jit-kaucu
Thay-kun, maka dia masuk ke kamar baca dengan langkah cepat.
Betul juga, Jit-kaucu Thay-kun sedang
duduk dekat jendela bersama seorang dayang berbaju biru.
Waktu itu Thay-kun sedang bermuram
durja, sepasang alis matanya bekernyit, sorot matanya memancarkan
sinar pedih.
Ketika Thay-kun melihat paras muka
Bong Thian-gak, dia nampak
agak tertegun, kemudian katanya, “Dandananmu
sekarang benar-benar jelek dan amat tak sedap dilihat."
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Bagaimana pun aku menyaru, nampaknya
tak pernah lolos dari ketajaman matamu!"
"Tadi He
Hong melaporkan kejadian itu kepadaku, sudah kuduga
pasti kau yang datang, ayo cepat duduk!"
Bong Thian-gak
tahu, yang dimaksud sebagai He
Hong pastilah si dayang
yang membawanya kemari barusan.
Dia mencari sebuah kursi, lalu duduk,
katanya pelan, "Ji-kaucu telah
datang!"
Thay-kun tertawa getir.
"Duduknya persoalan sudah jelas
sekarang, Ji-kaucu sengaja diutus untuk menghadapi diriku."
"Apa maksudmu berkata demikian?"
Jit-kaucu Thay-kun menghela napas sedih.
"Ai, Cong-kaucu tahu Ji-kaucu merupakan
satu-satunya orang yang bisa menandingi diriku, ai! Aku sama sekali
tidak menduga Ji-kaucu bisa begitu cepat muncul di kota Kay-hong."
"Aku mendapat pesan terakhir dari Ku-lo
untuk melindungimu, aku
bersumpah akan
melaksanakan perintah ini dengan sebaik-baiknya,"
kata
Bong Thian-gak
nyaring.
"Sekali pun Ji-kaucu memiliki tiga
kepala enam lengan, aku tetap bertekad
untuk bertarung sampai titik darah penghabisan dengannya."
"Kemampuan Ji-kaucu sedikit sekali
yang kau ketahui, padahal menurut taktik
ilmu pertempuran dikatakan,
‘Tahu kekuatan sendiri
berarti tahu kekuatan lawan, setiap
pertarungan tentu akan menang'. Ai, seandainya
malam nanti terjadi
sesuatu yang
luar biasa. Keng-tim
Suthay
dapat menyampaikan segala sesuatunya kepadamu."
"Barusan aku suruh
He Hong mengundangmu kemari,
maksudku tak
lain adalah ingin menyuruh
kau meninggalkan perkampungan ini secepatnya, selama hidup aku belum
pernah memohon bantuan kepadaorang
lain, sekarang aku ingin
memohon kepadamu, bersediakah kau menuruti perkataanku?"
Mendengar perkataan itu,
Bong Thian-gak tertawa.
"Aku pun belum pernah memohon kepada
orang lain, tapi sekarang aku
sangat berharap kau sudi mengizinkan diriku untuk mendampingimu,
bersediakah kau?"
Tiba-tiba sepasang biji mata Jit-kaucu
Thay-kun berkaca-kaca, hampir
saja titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dengan
sedih
dia berkata, "Bila
demikian, maka hanya jalan kematian saja yang
akan
kau peroleh, bila kau dan
aku mati masih tidak menjadi masalah, tapi kalau sampai beribu-ribu
umat persilatan diperbudak selamanya oleh orang Put-gwa-cin-kau
... Suheng, selama bukit
tetap hijau, tak usah takut kehabisan kayu bakar, pergilah kau!"
"Mengapa kita tidak pergi bersama-sama?"
kata Bong Thian-gak dengan
cepat.
"Aku ingin melanjutkan cita-cita Ku-lo
Sinceng melenyapkan Ji-kaucu dari muka bumi."
"Bila Ji-kaucu mati bersamamu, lalu
siapa yang akan melenyapkan Cong-kaucu dari muka bumi?"
Jit-kaucu termenung sambil berpikir
beberapa saat lamanya, kemudian ujarnya setelah menghela napas
panjang, "Ai, kalau begitu, aku akan membeberkan segala sesuatu
mengenai Ji-kaucu."
Baru saja berbicara sampai di situ, dia
berhenti sejenak sambil berkata dengan gelisah, "Mereka telah
datang."
Sembari berkata telapak tangannya segera
diayunkan ke depan, serentak api lilin dipadamkan.
Bong Thian-gak
sudah beberapa kali bertemu Jit-kaucu Thay-kun, tapi setiap saat dia
selalu bersikap tenang bila menghadapi persoalan, selamanya belum
pernah menunjukkan kepanikan serta ketegangan seperti apa yang
diperlihatkan sekarang, mungkinkah Ji-kaucu benar-benar lihai?
Belum habis ingatan itu melintas,
mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara rendah, "Ji-kaucu
tiba!"
"Sumoay, bagaimana dengan diriku?"
Bong Thian-gak berseru dengan
cepat.
"Tetap tinggal di sini dan jangan
sembarangan bergerak, mereka masih belum mengetahui kehadiranmu
dalam perkampungan petani ini."
"Andaikata pertempuran sampai berkobar,
kehadiranku di sini pasti di luar dugaan orang."
"Suheng, kau harus ingat, bahwa sekujur
tubuh Ji-kaucu penuh dengan racun keji, dia dapat melukai orang
tanpa wujud."
Selesai berkata, dia bersama kedua orang
dayangnya segera beranjak dari tempat duduk.
"Kalian hendak kemana?"
Bong Thian-gak bertanya.
"Kami hendak keluar menyambut kedatangan
Ji-kaucu."
Begitulah, Jit-kaucu Thay-kun diiringi
kedua dayang di kiri dan kanan pelan-pelan berjalan keluar ruangan
itu.
Dengan cepat
Bong Thian-gak menyelinap ke bawah jendela, kemudian
mengintip melewati celah-celah jendela.
Bayangan orang nampak bermunculan di
luar pintu, dua puluhan orang mengiringi sebuah tandu yang amat
besar.
Jit-kaucu Thay-kun berdiri menanti di
depan halaman.
Ketika sampai di depan pintu gerbang,
tandu besar itu baru berhenti, sementara dua puluhan orang yang
berada di sekelilingnya menyebar ke kiri dan kanan membuat setengah
lingkaran.
Kepada tandu besar itu Thay-kun
membungkukkan badan memberi hormat, kemudian katanya, "Jit-kaucu
menyambut kedatangan Ji-kaucu."
Ji-kaucu melangkah keluar dari tandunya,
kemudian dengan suara menyeramkan berkata, "Aku ke kota Kay-hong
untuk melaksanakan perintah Cong-kaucu, dipersilakan Jit-kaucu
mengikuti diriku kembali ke markas besar."
Selesai berkata dia merogoh ke dalam
sakunya, mengambil suatu benda dan dilemparkan ke hadapan Jit-kaucu.
Di antara kilauan sinar lentera,
ternyata benda itu adalah sebuah borgol emas.
Jit-kaucu Thay-kun memandang borgol emas
itu sekejap, kemudian dengan wajah tak berubah tanyanya, "Tolong
tanya kesalahan apakah yang telah kulakukan? Mengapa Ji-kaucu datang
menunjukkan borgol emas Put-gwa-cin-kau?"
Sesungguhnya segenap anggota
Put-gwa-cin-kau yang berada di sekeliling tempat itu, termasuk
Liok-kaucu sendiri sama sekali tidak mengetahui apa maksud
kedatangan Ji-kaucu ke tempat ini.
Rupanya borgol ini merupakan alat
hukuman tertinggi Put-gwa-cin-kau,
benda itu melambangkan kehadiran Cong-kaucu pribadi, oleh
sebab
itu siapa yang melihat
borgol emas itu seperti juga mereka menjumpai Cong-kaucu pribadi.
Dosa dan kesalahan apakah yang telah
dilakukan Jit-kaucu? Tak seorang
pun tahu.
Sementara itu suasana arena diliputi
keseraman dan ketegangan yang mencekam, setiap orang merasakan
munculnya suatu tenaga tekanan yang amat berat menindih di atas dada
masing-masing.
Ji-kaucu membentak, "Setelah bertemu
borgol Put-gwa-cin-kau, mengapa kau tidak berlutut menerima hukuman?
Tampaknya kau hendak membangkang perintah dan melakukan perlawanan?"
"Sesudah menyaksikan borgol
Put-gwa-cin-kau secara tiba-tiba, aku merasa seperti disambar
geledek di siang bolong, itulah sebabnya aku harus menanyakan
persoalan ini dengan jelas."
Ji-kaucu tertawa dingin.
"Baiklah, aku beritahukan kepadamu, kau
telah melakukan pengkhianatan terhadap perkumpulan."
"Pengkhianatan? Kapan aku mengkhianati
perkumpulan?" seru Jit-kaucu lantang.
Kembali Ji-kaucu tertawa dingin.
"Hehehe, sejak tiga tahun lalu kau sudah
punya niat melakukan pengkhianatan. Bukti dan saksi semuanya sudah
lengkap, apakah kau hendak membantah?"
"Kalian mempunyai bukti dan saksi apa?
Mengapa tidak segera diperlihatkan?"
Mendadak Ji-kaucu berseru, "Undang
kemari komandan Siau!"
Seorang pengikutnya segera beranjak
pergi dari situ.
Suasana hening beberapa saat lamanya,
kemudian terdengar Ji-kaucu berkata, "Secara diam-diam perkumpulan
kita telah membentuk suatu organisasi kekuatan yang dipimpin
langsung oleh Cong-kaucu sejak beberapa tahun berselang, adapun
tugas organisasi itu adalah mengawasi gerak-gerik setiap anggota
perkumpulan, komandan Siau adalah utusan khusus yang ditugaskan
organisasi untuk mengawasi gerak-gerikmu, sebentar kau dapat
mendengar laporannya."
Sementara itu paras muka Jit-kaucu
Thay-kun telah berubah menjadi amat serius, dia tidak nampak
sesantai tadi, bukannya kuatir dia akan dijatuhi suatu tuduhan,
melainkan kuatir semua rahasianya terbongkar.
Mendadak terdengar seorang berseru
lantang, "Komandan Siau tiba!"
Tampak seorang berkerudung berjubah
hitam, diiringi dua orang berbaju perl^ntei^rkerudung pelan-pelan
berjalan mendekat.
Sepasang
pedang masih tetap tersoreng di pinggang orang berkerudung berjubah
hitam itu, setelah memberi hormat kepada Ji-kaucu, ujarnya kepada
Jit-kaucu Thay-kun, "Pada tiga tahun berselang,
Hun-tui-tiang (komandan) mendapat
perintah dari Cong-kaucu untuk melakukan suatu tugas di Kamsiok
bersama Jit-kaucu, siapa tahu Jit-kaucu lalai dalam tugas dan
membiarkan musuh meloloskan diri, akibat kelalaiannya itu, tugas itu
tak dapat terlaksana sebagaimana mestinya."
Thay-kun tertawa dingin, "Hehehe, orang
yang kulepas waktu itu adalah seorang perempuan yang bunting tua dan
hampir melahirkan, darimana komandan Siau bisa membuktikan bahwa dia
adalah musuh kita?"
"Hasil dari pemeriksaan yang kemudian
dilakukan membuktikan perempuan bunting tua itu adalah seorang
dayang komandan ketiga pasukan pengawal tanpa tanding Nyo Li-beng
yang berkhianat."
Mendengar perkataan itu,
Bong Thian-gak yang bersembunyi
dalam ruangan terkesiap, segera pikirnya, "Nyo Li-beng? Bukankah
nama asli Suthay Keng-tim adalah Nyo Li-beng?"
Sementara itu Jit-kaucu Thay-kun telah
berkata lagi, "Bagaimana caramu membuktikan hal itu setelah
berlangsungnya peristiwa itu?"
Kembali orang berkerudung tertawa
dingin.
"Hehehe, setelah peristiwa itu, kami
berhasil menangkap kembali Perempuan itu, apa yang diakuinya sangat
tidak menguntungkan kedudukan Jit-kaucu dalam perkumpulan."
"Pengakuan yang diperoleh dengan cara
menyiksa orang secara keji
tak bisa dipercayai begitu saja."
"Hm, sejak peristiwa itu, Jit-kaucu
telah menunjukkan gejala pengkhianatan, diam-diam Cong-kaucu telah
memerintahkan kepadaku
untuk menyelidiki dan
mengamati terus terang gerak-gerik Jit-kaucu."
"Apa hasil penyelidikanmu itu?"
"Aku berhasil mengetahui bahwa Nyo
Li-beng masih hidup, Jit-kaucu pun mempunyai hubungan dengannya,
bahkan sekarang sedang mempersiapkan suatu tindakan pengkhianatan."
Dengan suara menyeramkan Ji-kaucu
berkata pula, "Sejak kemarin malam aku sudah sampai di kota Kay-hong
sambil secara diam-diam melakukan penyelidikan atas sejumlah
persoalan, kubuktikan bahwa Jit-kaucu punya hubungan pula dengan
pihak gedung Bu-lim Bengcu."
"Beberapa hari berselang, ketika
komandan Siau membawa pasukan menyerang gedung Bu-lim Bengcu,
ternyata Jit-kaucu ada niat menghalangi usaha komandan Siau
melakukan serangan terhadap gedung Bu-lim Bengcu."
Jit-kaucu Thay-kun tertawa dingin.
"Cong-kaucu telah melimpahkan kekuasaan
penyerangan gedung Bu-lim Bengcu kepadaku, komandan Siau berani
melakukan operasi sendiri, hal ini sudah berarti membangkang
perintah. Waktu itu aku telah memperhitungkan kekuatan lawan dengan
cermat, di dalam gedung Bu-lim Bengcu terhadap dua orang jago lihai
yang menunjang kekuatan mereka, yakni Ku-lo Hwesio serta Ko Hong
yang asal-usulnya tidak jelas. Oleh karena aku merasa bukan
tandingan mereka, maka aku bermaksud mencegah mereka. Kita harus
melakukan tindakan secara tidak gegabah."
"Buktinya komandan Siau menderita luka
parah di tangan Ko Hong sehingga harus menggeletak selama beberapa
hari di atas ranjang, semua ini menunjukkan dugaanku sama sekali tak
salah, mengapa kau malah menuduh aku melakukan suatu pelanggaran
besar?"
"Semenjak satu tahun lalu, Cong-kaucu
telah memerintahkan dirimu menyusun rencana dan melenyapkan gedung
Bu-lim Bengcu itu dari muka bumi, mengapa hingga kini kau masih
belum menyelesaikan tugasmu itu? Tindakanmu yang sama sekali tidak
mengacuhkan tugas dan tanggung-jawab ini sudah merupakan suatu
kesalahan dan dosa besar."
"Hehehe ...."
Jit-kaucu Thay-kun tertawa dingin. "Bengcu gedung
Bu-lim Bengcu yang lalu, Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu baru
mati beberapa hari lalu, kini muncul seorang Ko Hong, coba kau
bayangkan, dengan kekuatan yang kau miliki, bagaimana mungkin bisa
menyelesaikan tugas itu secepatnya?"
"Sejak delapan tahun berselang,
Jit-kaucu telah melaporkan kematian Ku-lo Hwesio, akibat keteledoran
itu Sam-kaucu kita yang berilmu tinggi harus menjadi korban, untuk
keteledoran ini pun Jit kaucu pantas menerima hukuman mati. Nah,
apalagi yang hendak kau katakan sekarang? Mengapa tidak segera kau
kenakan borgol emas itu? Apakah kau hendak menunggu aku turun
tangan?"
"Hm!" Jit-kaucu Thay-kun mendengus
dingin. "Kecuali Cong-kaucu datang sendiri, kalau tidak, jangan
harap aku sudi mengenakan borgol emas itu."
"Hehehe, Cong-kaucu telah menduga kau
akan melakukan perlawanan, ternyata dugaannya tepat. Itulah sebabnya
Cong-kaucu melimpahkan kekuasaan paling tinggi untuk menentukan
mati-hidupmu, jika kau melawan, terpaksa aku harus menurunkan
perintah membinasakan dirimu!"
Beberapa saat lamanya arena diliputi
oleh suasana tegang.
Ilmu silat Jit-kaucu Thay-kun bukan
biasa-biasa saja, kecuali sekawanan jago lihai dari tingkat Kaucu,
siapa yang berani mencari penyakit bagi diri sendiri?
Oleh karena itu tak seorang pun dari antara
kawanan jago Put-gwa-cin-kau berani mengambil tindakan secara
gegabah.
Mendadak Ji-kaucu
menurunkan perintahnya, "Mo-ing-pat-hiong (Delapan jago irama iblis)
terima perintah!"
Begitu perintah diturunkan, mendadak
dari balik kegelapan muncul delapan orang berjubah hijau yang
membawa berbagai macam alat musik, bagaikan sukma gentayangan mereka
muncul dari balik kegelapan dan secepat kilat melakukan pengepungan
dari arah luar.
Mungkin Ji-kaucu sudah menduga
kemungkinan digunakannya kekerasan untuk menangkap Jit-kaucu
Thay-kun, maka sejak tadi kedelapan orang berjubah hijau ini sama
sekali tidak menampakkan diri.
Begitu perintah diturunkan, delapan
orang berjubah hijau itu segera muncul dari arah yang berlawanan,
dalam waktu singkat mereka telah mengepung Jit-kaucu serta kedua
orang dayang berbaju biru itu di tengah arena.
Peristiwa ini berlangsung sangat
tiba-tiba, untuk beberapa saat Jit-kaucu Thay-kun tidak mengetahui
bagaimana caranya mengatasi perubahan itu, apalagi gerakan tubuh
mereka dilakukan dengan cepat.
Menanti kedelapan orang berjubah hijau
itu mengambil posisi masing-masing, gadis itu baru sadar dia sudah
kalah posisi, diam-diam pekiknya dalam hati, "Aduh celaka!"
Sementara itu Ji-kaucu segera mengunjuk
senyuman licik penuh kebanggaan setelah menyaksikan kedelapan orang
itu mengambik-posisi masing-masing, pelan-pelan dia berkata, "Kini
barisan Mo-ing-pat-hiong-tin telah terbentuk, jagoan yang bagaimana
pun lihai jangan harap bisa meloloskan diri dari kurungan, Jit-kaucu
lebih baik kenakan saja borgol emas itu tanpa melawan, siapa tahu
Cong-kaucu masih mengingat hubungan kalian sebagai guru dan murid,
lalu membebaskan dirimu dari hukuman mati."
"Ji-kaucu," kata Jit-kaucu Thay-kun
hambar, "dengan susah-payah kau menciptakan delapan manusia yang tak
mirip manusia, setan tak mirip setan ini, apakah tujuannya untuk
menandingiku?"
Rupanya kedelapan orang itu semuanya
berambut panjang terurai ke bahu, wajahnya jelek, betul-betul tiga
bagian mirip manusia tujuh bagian mirip setan, ditambah lagi paras
muka mereka berdelapan amat menyeramkan dan mengerikan, semua ini
membuat bergidik bagi yang melihatnya.
Sambil tersenyum Jit-kaucu berkata,
"Ji-kaucu, kau orang pintar, tentunya kau tahu seluk-beluk ilmu
silatku dengan jelas, namun aku tak akan membiarkan harapanmu
tercapai begitu saja pada malam ini."
"Hm, semua perkataan halus telah
kugunakan, namun kau masih saja tak mau sadar akan kesalahanmu,
baiklah, terpaksa aku akan membiarkan sepasang matamu terbuka."
Bicara sampai di situ dia berpaling ke
arah para jago lainnya dan menitahkan, "Kecuali Mo-ing-pat-hiong,
yang lain diharap mundur."
Para jago perkumpulan yang berada di
sekeliling tempat itu segera menurut dan bersama-sama mengundurkan
diri keluar arena.
Hanya orang berkerudung berjubah panjang
hitam dan Liok-kaucu berdua masih tetap berdiri di tempat.
Mendadak Ji-kaucu berteriak dengan suara
lantang, "Jit-kaucu, dengarkan baik-baik, mengapa Kiu-kaucu bisa
lenyap?"
Begitu ucapan itu diutarakan, paras muka
Jit-kaucu segera berubah hebat, kemudian serunya dingin, "Kau apakan
Kiu-kaucu?"
"Hm, main catur ada menang ada kalah,
maka aku telah menjadikannya sebagai sandera."
Jit-kaucu tertawa dingin, "Hehehe,
Kiu-kaucu tak pandai menjaga diri, kalau dia mati, itu kesalahannya
sendiri, apa sangkut-pautnya dengan diriku?"
Jit-kaucu Thay-kun tertawa ringan.
"Cong-kaucu ingin melenyapkan aku
seorang, tapi sudahkah dia pikirkan bahwa Put-gwa-cin-kau bakal
menderita kerugian amat besar?"
Ji-kaucu menarik napas dalam-dalam, lalu
membentak dengan keras, "Mo-ing-pat-hiong, dengar baik-baik, tangkap
perempuan ini hidup-hidup."
Begitu perintah diturunkan, kedelapan
orang berjubah hijau itu mulai bergerak maju.
Mendadak terdengar Ji-kaucu membentak
lagi, "Irama iblis mulai!"
Perintah menggeledek disambut oleh
kedelapan orang itu dengan memainkan delapan alat musik, dalam waktu
singkat berkumandanglah permainan alat musik yang amat memekakkan
telinga.
Kedelapan alat musik itu adalah tambur,
gembrengan, harpa, seruling dan lain sebagainya.
Permainan irama musik mereka terdengar
sangat aneh, entah irama lagu apakah yang sedang mereka bawakan.
Pada mulanya semua
orang masih belum merasakan apa-apa, Thay-kun serta kedua orang
dayang berbaju biru masih berdiri di tempat semula dengan gagah,
semeritara mata mereka mengawasi kedelapan orang itu memainkan irama
musik yang aneh dan tak sedap didengar itu.
Mendadak suara gembreng dibunyikan
bertalu-talu, menyusul kemudian tambur dipukul tiga kali....
Mengikuti suara tambur tadi, jerit
kesakitan yang memilukan bergema memecah keheningan.
Kedua dayang berbaju biru yang berdiri
di sisi Thay-kun segera memegang hulu hati masing-masing sembari
berjongkok di tanah, wajah mereka pucat-pias seperti kertas,
tampaknya mereka sedang merasakan suatu penderitaan yang luar biasa.
"Aduh celaka!" pekik Jit-kaucu Thay-kun
setelah menyaksikan kejadian itu, ia segera membentak, "Cepat tutup
lubang telinga kalian!"
Baru habis berbicara, suara tambur
kembali berkumandang.
Bagaikan orang kerasukan
setan,
kedua dayang berbaju biru itu
bergulingan di
tanah sambil
menjerit-jerit, tangan
mereka
mendekap
hulu
hati
kencang-kencang,
sementara badannya bergulingan
ke sana-kemari,
jelas kedua orang itu mengalami penderitaan hebat.
Berada dalam keadaan seperti ini,
Thay-kun tidak berkemampuan lagi untuk mengurusi kedua orang
dayangnya, sebab di saat suara tambur itu berkumandang, dia sendiri
pun merasakan semacam getaran keras yang melanda tubuhnya,
serentetan pukulan keras tambur itu membuat jantungnya berdebar
keras.
Dalam posisi yang amat tidak
menguntungkan ini, dia hanya bisa memusatkan segenap pikiran dan
perhatiannya melawan suara itu, dia harus menenangkan pikiran dari
pengaruh suara itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sudah
sempurna, tidak sulit bagi Thay-kun untuk menghindarkan pengaruh
suara iblis itu. Suasana menjadi tenang kembali, keadaan kini ibarat
sebuah bukit batu karang, seakan-akan lupa segala-galanya.
Tapi berbeda keadaannya dengan kedua
dayang berbaju biru itu. Jeritan ngeri masih terdengar, sepasang
tangan mereka mulai mencakar dada sendiri, sementara tubuhnya
bergulingan ke sana kemari. Dalam waktu singkat pakaian bagian atas
sudah terlepas. Tak selang beberapa saat kemudian kulit tubuhnya
yang putih bersih itu sudah hancur oleh cakar-cakar mautnya, luka
memanjang disertai cucuran darah memenuhi sekujur tubuh, sungguh
mengerikan sekali keadaan mereka.
Mendidih rasanya darah panas yang
menggelora dalam dada Bong
Thian-gak menyaksikan kejadian itu, dia hendak mendobrak jendela
menerobos keluar, namun setelah menyaksikan keadaan Thay-kun yang
tenang dan berdiri kokoh bagaikan batu karang di tengah arena,
tergetar hatinya, cepat dia berpikir, "Jelas kedua dayang itu sudah
tak bisa tertolong lagi, satu-satunya tindakan yang harus kulakukan
sekarang adalah mencari akal membongkar dan menghancurkan barisan
ini, kemudian berusaha menolong Thay-kun dari ancaman bahaya."
Sementara kedelapan orang itu menggeser
barisan sembari tetap memainkan aneka alat musik itu.
Akhirnya kedua dayang berbaju biru itu
tak mampu menahan diri, mereka tewas dalam keadaan mengerikan, tubuh
mereka yang telanjang bulat bermandikan darah terkapar tak berkutik
di tengah arena.
Pada saat inilah
Bong Thian-gak sudah dapat melihat
pergeseran barisan yang dilakukan kedelapan orang itu, menggunakan
langkah Pat-kwa-tin.
Penemuan yang di luar dugaan ini kontan
menggirangkan hati Bong Thian-gak, diam-diam dia menggeser tubuhnya melompat keluar melalui
jendela belakang, kemudian setelah melewati kebun ia menyusup ke
balik kawanan orang yang sedang menonton jalannya pertempuran itu.
Sementara itu para anggota
Put-gwa-cin-kau yang berada di sisi arena terpukau oleh kehebatan
ilmu barisan yang sedang berlangsung di tengah arena pertempuran,
sudah barang tentu mereka tidak mengetahui
Bong Thian-gak telah menyelundup di
antara mereka.
Bong Thian-gak
lihat Thay-kun sedang bersiap melancarkan serangan. Berarti dia pun
harus memanfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan sergapan pula,
kerja sama dalam waktu serta ketepatan tak boleh meleset sedikit
pun.
Sesungguhnya cara berpikir
Bong Thian-gak ini memang benar,
akan tetapi dia telah melupakan sekawanan pembunuh dari luar
barisan, pembunuh yang sebenarnya bukan kedelapan orang berjubah
hijau yang berdiri pada posisi barisan Pat-kwa, pembunuh yang
sesungguhnya bukan lain daripada Ji-kaucu sendiri yang berada di
luar barisan.
Barisan ini bernama
Pat-kwa-an-kiu-kiong-tin.
Saat Jit-kaucu Thay-kun membuka mata
itulah mendadak dia saksikan Ji-kaucu yang berada di luar arena
sedang memandang ke arahnya dengan sorot mata setajam sembilu dan
hawa membunuh yang menyala-nyala.
Tergerak hatinya setelah menyaksikan
kejadian itu, ia berseru tertahan dalam hati, "Ah, rupanya
Pat-kwa-an-kiu-kiong-tin, habis sudah riwayatku kali ini!"
Pat-kwa-an-kiu-kiong-tin merupakan
barisan yang luar biasa, semacam siasat perang yang aneh, luar
biasa, di luar dugaan dan teramat keji.
Belum habis ingatan itu melintas dalam
benak Thay-kun, tiba-tiba terdengar Ji-kaucu berpekik nyaring,
kemudian tubuhnya melejit tinggi dan menerjang ke arah Jit-kaucu.
Tak terlukiskan rasa terkejut
Bong Thian-gak setelah menyaksikan
kejadian ini, dengan cepat dia melejit pula ke udara dan menerjang
ke tengah arena dari posisi lain.
Dia telah mengambil keputusan untuk
melakukan duel mati-hidup yang menentukan posisi kedua belah pihak.
Arah sasaran
Bong Thian-gak kali ini adalah kedelapan orang yang
berada di luar arena, yang diterkam lebih dahulu adalah seorang
berjubah hijau yang membawa seruling.
Jeritan ngeri yang memekakkan segera
berkumandang.
Termakan oleh pukulan
Bong Thian-gak yang maha dahsyat
itu, orang berjubah hijau itu tergetar keras tubuhnya dan mencelat
ke udara.
Dengan berkurangnya salah satu kekuatan
pada barisan Pat-kwa itu, kontan barisan menjadi kacau, namun
pembunuh yang menempati barisan Kiu-kiong sama sekali tidak
merasakan pengaruhnya.
Tampak Ji-kaucu menerobos masuk ke dalam
dengan kecepatan luar biasa.
Diam-diam Thay-kun mengertak gigi,
tangan kiri segera diangkat, cahaya merah memancar keluar dari balik
telapak tangannya, ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang yang merajai
kolong langit telah disiapkan.
Ketiga orang itu masing-masing merupakan
jagoan sakti dunia persilatan, pada saat bersamaan masing-masing
mengeluarkan ilmu andalannya, untuk merobohkan musuh sebanyak
mungkin.
Untuk beberapa saat suasana menjadi
kacau.
Jerit kesakitan dan dengusan tertahan
bergema, menyusul tubuh Bong Thian-gak berkelebat, satu demi satu musuh bergelimpangan.
Munculnya Bong
Thian-gak di arena pertarungan sama sekali di luar
dugaan siapa pun, tak heran sergapannya segera menimbulkan kepanikan
yang luar biasa.
Sementara itu Ji-kaucu sudah menerobos
masuk ke dalam arena, tampak ujung bajunya berhembus kian kemari,
seperti segulung asap putih saja.
Dalam waktu singkat tubuh Thay-kun dan
Ji-kaucu sudah terkurung oleh asap tebal itu.
Cahaya merah memancar keluar memenuhi
angkasa, serangan Jian-yang-ciang dari Jit-kaucu Thay-kun tidak
mengenai sasaran.
Di tengah lapisan kabut yang sangat
tebal, terdengar suara deru angin pukulan yang memekakkan telinga,
jelas Jit-kaucu Thay-kun sudah terlibat dalam pertarungan yang amat
seru.
Mimpi pun Bong
Thian-gak tidak mengira Ji-kaucu bakal mengeluarkan
asap semacam itu, tatkala dia menyadari akan hal itu dan siap
menerobos kabut itu, tubuh Thay-kun sudah mundur dari lapisan kabut
dengan sempoyongan.
Cepat Bong
Thian-gak melompat maju, kemudian serunya dengan cemas,
"Kau terluka?"
"Aku terkena sergapan mereka, cepat
kabur dari sini!" seru Thay-kun gelisah.
Dalam pada itu kawanan jago
Put-gwa-cin-kau yang menonton jalannya pertarungan dari sisi arena
telah melihat bayangan tubuh Bong
Thian-gak, serentak mereka membentak nyaring, di tengah
jeritan keras, dua puluh orang menerjang datang melakukan
pengepungan.
"Kalau harus mati biarlah kita mati
bersama, kalau harus pergi kita pergi bersama,"seru
Bong Thian-gak lantang.
Di tengah seruan itu,
Bong Thian-gak menyambar pinggangnya
dengan tangan kiri, kemudian membopong tubuhnya sambil berpekik
nyaring, tubuhnya melejit ke tengah udara.
Serentetan suara tawa aneh bergema,
Liok-kaucu melompat ke muka melakukan penghadangan.
Dalam keadaan gawat dan berbahaya ini,
Bong Thian-gak segera
mengerahkan tenaga dalamnya, melihat datangnya terjangan itu, sebuah
pukulan segera dilontarkan ke depan.
Serangan pukulan ini sungguh hebat dan
mengerikan.
Seketika itu juga tubuh Liok-kaucu
terlempar ke belakang dan |atuh terkapar di tanah.
Begitu berhasil merobohkan Liok-kaucu,
cepat Bong Thian-gak
membopong tubuh Thay-kun melejit ke atas pohon, kemudian dengan
meminjam tenaga jejakan itu dia melompat naik ke atas atap rumah.
Gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran
kilat, lincah melebihi monyet.
Diiringi bentakan nyaring para anggota
Put-gwa-cin-kau, mereka melakukan pengejaran serentak.
Tiba-tiba Ji-kaucu muncul dari balik
kabut yang tebal, lalu membentak keras, "Tak usah dikejar lagi,
gerakan tubuhnya kelewat cepat, tak nanti kalian bisa menyusulnya."
Ternyata keadaan waktu itu sungguh
mengenaskan, bukan saja kawanan jago kelas satu Put-gwa-cin-kau
telah menderita luka, Liok-kaucu serta pemimpin pasukan pengawal
tanpa tanding barisan kedua pun terluka pula.
Yang tersisa kini tinggal jago-jago
kelas tiga saja, bagaimana bisa menyusul
Bong Thian-gak?
Padahal serangan maha dahsyat
Bong Thian-gak sudah cukup membuat
kawanan jago Put-gwa-cin-kau ketakutan setengah mati.
Memandang bayangan punggung
Bong Thian-gak yang berlalu sambil
membopong Thay-kun itu, Ji-kaucu memperlihatkan sekulum senyuman
dingin yang licik dan penuh kebanggaan, gumamnya, "Jit-kaucu sudah
tersingkir, hehehe, kau si bocah keparat pun sudah terkena
seranganku, paling lambat tiga hari kemudian kau pun akan mampus,
meski kepandaian silat yang kau miliki sangat lihai."
Mendengar gumaman itu, orang berkerudung
berjubah hitam yang berdiri di sisinya segera bertanya, "Apakah
orang itu terkena sergapan Ji-kaucu?"
Dengan bangga Ji-kaucu tertawa
terbahak-bahak.
"Hahaha, komandan Siau, tahukah kau nama
asapku itu?"
"Asap itu amat aneh, tebalnya luar biasa
dan tidak menyebar atau membuyar meski terkena hembusan angin, sudah
pasti merupakan asap yang luar biasa."
Ji-kaucu tertawa.
"Asap ini bernama In-ing-tok-wu-im-ciang
(Kabut beracun himpunan hawa langit dan bumi), barang siapa terkena
kabut itu, baik manusia maupun binatang tak nanti lolos dari ancaman
maut."
"Tapi orang itu tak pernah memasuki
lingkaran kabut itu?"
"Tapi sekujur tubuh Jit-kaucu telah
terkena kabut itu, sedangkan dia berlari sembari membopong tubuhnya,
tanpa dia sadari sebenarnya ia pun terkena serangan racun itu."
"Kepandaian silat orang itu amat lihai,
Liok-kaucu pun terluka di tangannya, entah siapakah orang ini?"
"Dari raut wajahnya, jelas sudah dipoles
obat penyaru, besar kemungkinan orang ini adalah pemuda yang bernama
Ko Hong itu."
Orang berkerudung berbaju hitam
menggeleng kepala berulangkah.
"Pemuda Ko Hong telah terkena sebuah
tusukanku, lukanya amat dalam dan terluka parah, mana mungkin
kesehatan tubuhnya bisa pulih secepat itu?"
Dalam pada itu Ji-kaucu telah berjalan
mendekati Liok-kaucu, kemudian menegur, "Parahkah lukamu,
Liok-kaucu?"
Liok-kaucu sedang duduk bersila di atas
tanah dengan wajah merah membara, tiba-tiba dia memuntah darah
sebanyak tiga kali.
Darah yang keluar berwarna hitam pekat
seperti warna tinta bak.
Menyaksikan kejadian ini, berubah hebat
paras muka Ji-kaucu, secepat kilat telapak tangan kirinya menepuk
tiga buah jalan darah penting di punggung Liok-kaucu.
Sebenarnya Liok-kaucu sudah tak mampu
berkutik lagi, tapi setelah ditepuk keras punggungnya, dia baru
menghembuskan napas panjang, katanya dengan suara gemetar,
"Ji-kaucu, lukaku parah sekali. Entah ilmu silat apa yang
dipergunakan olehnya."
Ji-kaucu membungkam, dia hanya
mendongakkan kepala sambil berdiri termangu-mangu.
Kemudian dia berpaling dan ujarnya
kepada orang berkerudung itu, "Komandan Siau, harap kau mewakili
diriku mengawasi sebentar keadaan di sini, aku hendak mengejar
mereka."
Belum selesai berkata, Ji-kaucu telah
menggerakkan bahu dan meluncur ke depan, dalam waktu singkat
bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik kegelapan.
Tentu saja yang dimaksud "mereka" oleh
Ji-kaucu adalah Bong Thian-gak berdua.
ooOOoo
Suasana amat hening, malam mencekam
seluruh jagad, angin berhembus kencang membuat suasana terasa dingin
menggigilkan.
Dengan merangkul pinggang Jit-kaucu
Thay-kun dengan tangan kirinya, Bong
Thian-gak melakukan perjalanan tiada hentinya sejauh
dua puluh li lebih.
Tiba-tiba terdengar suara rintihan
lirih, cepat Bong Thian-gak
menghentikan larinya dan menundukkan kepala.
Tampak Thay-kun telah membuka matanya
yang indah menawan sambil memandang wajah
Bong Thian-gak dengan termangu.
Memeluk gadis cantik dalam rangkulan,
timbul suatu perasaan aneh, bau harum semerbak menembus lubang
hidung.
"Kau lelah?" pemuda itu menegur.
Thay-kun manggut-manggut.
"Kau bisa berjalan sendiri?" kembali
Bong Thian-gak bertanya
lirih. Thay-kun tertawa, "Mengapa kau tidak menurunkan aku?"
Bong Thian-gak mengiakan dan cepat
menurunkan tubuhnya ke atas tanah.
Sambil menggeliat Thay-kun berkata
dengan sedih, "Ai, aku tak mungkin bisa lolos dari kematian."
"Mengapa?"
Bong Thian-gak tertegun. Kembali Thay-kun menghela
napas panjang.
"Ai, karena aku telah terkena sebatang
jarum beracun Hu-kut-tok-ciam dari Ji-kaucu."
"Jarum beracun pelumat tulang? Terkena
di bagian mana?" Bong Thian-gak semakin terperanjat.
"Pada lengan kananku."
"Tapi bukankah kau masih berada dalam
keadaan baik-baik saja sekarang?"
Sambil tertawa getir Thay-kun menggeleng
kepala berulang-kali. "Kini lengan kananku menjadi kaku."
Mendengar perkataan itu,
Bong Thian-gak segera berpaling
sambil memperhatikan lengan kanannya, betul juga, lengan kanannya
itu sudah terkulai lemas ke bawah dan sama sekali tak bisa
digerakkan.
"Memangnya tiada cara untuk mengobati
luka itu?"
Thay-kun menggeleng.
"Ji-kaucu adalah tokoh yang amat lihai
dalam menggunakan racun, apalagi dia berniat membinasakan diriku,
sudah dapat dipastikan jarum beracun yang dilepaskan olehnya
menggunakan racun yang nanti tak dapat diobati!"
Bong Thian-gak
melihat gadis itu tetap tenang, tidak gugup, tidak panik,
seakan-akan bukan dia yang terkena jarum beracun dan bakal menemui
ajalnya.
Maka dengan nada tak percaya dia
bertanya lagi, "Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Apa gunanya kubohongi dirimu?" Thay-kun
berkata sedih. "Semut pun ingin hidup apalagi manusia."
"Tidak mungkin
... tidak mungkin," gumam
Bong Thian-gak, "tak mungkin di
dunia ini terdapat racun yang mematikan tanpa bisa terobati lagi."
Sembari berkata
Bong Thian-gak mengeluarkan tangan
siap merangkul kembali pinggang Thay-kun.
Mendadak Thay-kun menghindar sambil
menyelinap mundur, tegurnya, "Mau apa kau?"
Bong Thian-gak
sendiri pun tertegun.
"Aku hendak mencari orang untuk
mengobati racun di lenganmu itu."
Thay-kun menghela napas panjang.
"Ai, bukankah sudah kukatakan kepadamu,
tiada orang di dunia ini yang bisa menyelamatkan jiwaku! Sekarang
aku harus memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengemukakan suatu
rahasia dunia persilatan yang mungkin tidak diketahui oleh siapa
pun."
"Menjelang ajalnya, Ku-lo Hwesio telah
berpesan kepadaku bahwa di Bu-lim hanya kau seorang yang dapat
menghadapi Cong-kaucu, kau tak boleh mati, tak boleh mati begini
saja."
Thay-kun tertawa sedih.
"Perhitungan Ku-lo Sinceng sesungguhnya
memang tepat, di Bu-lim memang cuma aku seorang yang bisa
menghadapinya, tapi perhitungan
manusia tak mampu melawan perhitungan takdir, rupanya nasibku memang
harus berakhir sampai di sini."
Mencorong sinar aneh dari balik mata
Bong Thian-gak, dia berkata,
"Sumoay, aku telah mempelajari hampir seluruh ilmu silat yang
berhasil Suhu curi sepanjang hidupnya, apakah di antara sekian
banyak kepandaian itu, tak satu pun yang bisa digunakan untuk
mengobati luka beracun itu?"
Thay-kun menghela napas panjang.
"Memang sepanjang hidup Suhu, beliau
berhasil mencuri kitab pusaka berbagai perguruan dan partai mana
pun, sayang di antara sekian banyak kepandaian itu tak sebuah pun
yang merupakan kitab ilmu pertabiban dan ilmu beracun. Itulah
sebabnya dia orang tua pun tewas akibat racun yang dideritanya."
"Apa? Suhu pun mati akibat keracunan?"
Bong Thian-gak terperanjat.
Thay-kun manggut-manggut.
"Benar, dia orang tua tewas karena
keracunan hebat, ai! Sekarang aku sudah tiada waktu lagi untuk
memberitahukan semua ini padamu, pokoknya pembunuhnya adalah
Cong-kaucu."
Bong Thian-gak
memang telah menduga Jian-bin-hu-li Ban Li-biau tewas secara
mengenaskan dalam gua akibat perbuatan Cong-kaucu, ternyata
dugaannya memang tepat.
Sebenarnya dia ingin tahu keracunan
apakah Ban Li-biau sampai menemui ajal, namun Thay-kun telah
mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya, "Ku-lo Hwesio
dari Siau-lim-pay bisa menduga aku bermaksud mengkhianati
Put-gwa-cin-kau, hal ini menunjukkan semasa hidupnya dulu, ia telah
berjumpa dengan Nyo Li-beng. Nyo Li-beng telah memberitahukan
rencana busuk Cong-kaucu serta asal-usulnya. Kalau begitu Ku-lo
Sinceng pun sudah pasti telah mempunyai rencana yang matang
mengatasi situasi dunia persilatan di masa mendatang, bila demikian
adanya, meski aku telah memejamkan mata untuk selamanya, aku pun
bisa mati dengan perasaan lega."
Agak bingung juga
Bong Thian-gak mendengar perkataan
yang tiada ujung pangkalnya itu, dia tak tahu apa maksud Thay-kun
berkala demikian.
Maka sembari berkerut kening ujarnya
kemudian, "Sumoay, bagaimana kalau kau kuajak menuju ke kuil
Keng-tim-an?"
Tergetar perasaan Thay-kun mendengar
perkataan itu, ucapnya cepat, "Kuil Keng-tim-an merupakan pasukan
tersembunyi kita, pasukan tersembunyi itu belum boleh muncul dalam
Bu-lim pada saat ini, sebab kalau tidak, bisa jadi kekuatan
tersembunyi itu bisa ditumpas ludes."
"Mengapa? Bukankah Keng-tim Suthay telah
berkata, 'Sembilan hari lagi di Bu-lim akan muncul perkumpulan
baru', berarti sembilan hari lagi mereka sudah bersiap melakukan
gerakan?"
Thay-kun tersenyum.
"Benar, hal ini akan terjadi sembilan
hari lagi, bukan sekarang!"
"Mengapa harus menunggu sembilan hari
lagi?"
"Sebab sampai waktunya baru akan muncul
tokoh yang mampu menandingi kemampuan Cong-kaucu."
"Aku tidak memahami maksud perkataanmu
itu."
"Sewaktu masih berada dalam gedung
Bu-lim Bengcu tempo hari, bukankah pernah kau dengar dalam tiga hari
setelah meninggalnya Oh Ciong-hu Bengcu, lima orang mati secara
misterius, tapi beberapa hari setelah kematiannya, jenazah mereka
lenyap?"
"Ya, aku dengar kelima orang itu adalah
si Pukulan nomor wahid dari kolong langit Ma Kong Loenghiong dari
perguruan Sin-kun-bun, Liong-thau Pangcu dari perkumpulan
Hek-huo-pang Kwan Bu-peng, Congpiauthau dari tujuh perusahaan
ekspedisi gabungan wilayah Kanglam Lui-hong-khek (Jago angin guntur)
Gi Peng-san, Loapcu dari benteng Jit-seng-po Tui-hun-pit (Pena
pengejar sukma) Cia Liang dan Thi-koan-im (Koan-im baja) Han Nio-cu,
tapi bukankah mereka semua lelah mati?"
Thay-kun manggut-manggut.
"Benar, mereka telah mati satu kali,
tapi kini telah hidup kembali."
"Masa orang yang sudah mati dapat hidup
kembali?" seru Bong Thian-gak
terkejut bercampur keheranan.
"Sembilan hari lagi mereka akan muncul
dan hidup kembali dari kuil Keng-tim-an."
Dengan terperanjat
Bong Thian-gak mengawasi wajah
Thay-kun sambil
termangu-mangu, sedang di hati kecilnya berpikir, "Kejernihan
olaknya
masih tetap meyakinkan, tapi mengapa
perkataannya masih sukar
dipercaya."
Sambil tersenyum manis kembali Thay-kun
berkata, "Semua teka-teki ini
akan terungkap sembilan hari lagi, bila ku tarakan sekarang kau pun
belum tentu mau percaya."
"Baik, baik
...." gumam Bong
Thian-gak. "Terpaksa aku harus menunggu sembilan hari lagi."
Thay-kun menghela napas sedih, kembali
dia berkata, "Apa yang hendak kusampaikan kepadamu, kini telah habis
kuucapkan, nah kau boleh pergi meninggalkan tempat ini!"
"Pergi? Aku harus pergi kemana?"
"Makin jauh semakin baik, pokoknya kau
baru boleh kembali ke kota Kay-hong sembilan hari lagi!"
Bong Thian-gak
tertawa bodoh. "Kau pun hendak pergi bersamaku?"
"Ai, mengapa kau tak pernah menuruti
perkataanku?" keluhnya.
"Aku mendapat perintah melindungi
keselamatanmu, tak nanti aku meninggalkan dirimu begini saja."
Tiba-tiba Thay-kun menarik muka,
katanya, "Tahukah kau, Ji-kaucu akan segera menyusul kemari untuk
membinasakan kita berdua?"
Bong Thian-gak
tertawa nyaring.
"Mengapa kau begitu takut kepada
Ji-kaucu?" serunya.
"Ai, siapa angkuh dia pasti akan kalah,
kau terlalu memandang remeh kemampuan Ji-kaucu," ucap Thay-kun
menghela napas.
"Padahal Ji-kaucu telah datang kemari!"
kata Bong Thian-gak dengan
suara pelan.
Berubah hebat paras Thay-kun mendengar
perkataan itu, ia mendongakkan kepala dan memandang sekejap
sekeliling tempat itu, angin malam berhembus, kabut menyelimuti
permukaan tanah, kecuali suara hembusan angin dan suara binatang
kecil, tak sesosok bayangan orang pun yang nampak.
Bong Thian-gak
membalikkan tubuh sembari mengayun tangan kanan ke depan, serentetan
cahaya segera menyebar di tengah udara seperti deru angin.
Semua cahaya tajam itu meluncur ke arah
sebatang pohon yang terletak
tak jauh dari situ.
Pohon itu berada delapan depa jauhnya,
siapa pun tak mengira senjata rahasia yang disambitkan
Bong Thian-gak bisa mencapainya.
Mendengar suara desingan senjata rahasia
itu, Thay-kun berseru tertahan, "Ah! Jarum Lui-hong-sin-hong!"
Setelah menyambitkan senjata rahasia,
Bong Thian-gak pun
memperhatikan sinar hitam yang menyusup ke dalam kegelapan itu,
namun yang didapat hanya suasana hening sepi dan tiada terdengar
sedikit suara pun.
Dengan paras muka berubah hebat
Bong Thian-gak segera berbisik
lirih, "Sumoay, apakah Lui-hong-sin-hong dari Suhu dapat disambut
dengan tangan kosong?"
"Lui-hong-sin-hong mampu menembus
bebatuan menghancurkan karang, keras dan tajamnya luar biasa, tiada
manusia di dunia ini yang mampu menyambut ancaman, cuma jarak
timpukanmu terlampau jauh.," kata Thay-kun dengan wajah berubah
hebat.
Bong Thian-gak
tidak bicara lagi, mendadak dia beranjak dari tempatnya dan
menerjang ke muka.
"Berhenti!" Thay-kun berseru.
Mendengar bentakan itu,
Bong Thian-gak segera berhenti,
tanyanya dengan cepat, "Ada apa?"
"Seandainya Ji-kaucu bersembunyi di
tempat gelap, mengapa dia lidak segera muncul? Jelas dia bermaksud
memancing kedatanganmu ke situ, kemudian menyergap dan melukaimu."
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Ia telah terluka."
"Siapa?"
"Ji-kaucu."
Baru selesai ia berkata, tampak sesosok
bayangan orang seperti setan saja pelan-pelan berjalan keluar dari
tempat kegelapan.
Dia memakai baju model sastrawan
berwarna hijau, berjenggot panjang sedada, menyoreng pedang dan
bermata setajam sembilu, kalau I
mi
kan Ji-kaucu siapa lagi dia?
Baik Thay-kun maupun
Bong Thian-gak dapat melihat jelas,
i.mgan kiri Ji-kaucu seakan-akan menggenggam sebuah benda, namun
darah kental bercucuran dari
balik sela-sela telapak tangannya dan membasahi permukaan tanah.
Sepasang mata
Bong Thian-gak seolah-olah terkena sihir, tanpa
berkedip dia mengawasi Ji-kaucu maju
selangkah demi selangkah.
Walaupun suasana di sekeliling tempat
itu sangat hening dan tiada suara apa pun, namun suasana penuh
diliputi ketegangan dan keseraman yang menggidikkan.
Walaupun semua orang tahu bahwa serangan
yang dilancarkan Ji-kaucu pasti mengerikan dan dahsyat bukan
kepalang, namun mereka tidak gentar menghadapinya, apalagi setelah
menyaksikan Ji-kaucu terluka.
Sementara itu Thay-kun telah menggeser
tubuh ke samping kiri Bong Thian-gak dan bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tak
diinginkan.
Dalam suasana hening seperti ini,
Bong Thian-gak serta Thay-kun
seperti mendengar suara nyamuk yang amat ramai, suara itu seperti
ada seperti tiada, sedemikian lembutnya hingga tak tertangkap oleh
telinga.
Seandainya mereka tidak sedang
memusatkan perhatian, sulit rasanya menangkap suara itu.
Mendadak terdengar Thay-kun menjerit
kaget, "Hati-hati dengan nyamuk!"
Thay-kun segera melontarkan telapak
tangan kirinya yang merah membara itu ke depan, kembali dia telah
melancarkan sebuah pukulan dengan ilmu Soh-li-jian-sin-kang.
Pukulan yang maha dahsyat itu
dilontarkan tiga kaki di depan tubuh Bong
Thian-gak, dimana angin pukulan itu berhembus, beberapa
ratus ekor nyamuk segera rontok ke atas tanah.
Tapi gara-gara harus memperhatikan
keselamatan Bong Thian gak,
akibatnya Thay-kun sendiri pun kena digigit tiga ekor nyamuk pada
pergelangan tangan kirinya, rasa sakit yang kemudian timbul boleh
dibilang merasuk sampai ke tulang sumsum.
Thay-kun berseru tertahan, tubuhnya
berguncang lebih keras lagi.
Pada saat inilah mendadak Ji-kaucu
mengayunkan tangan kiri, segulung cahaya berwarna hitam dengan
membawa suara dengungan suara lebah laksana sambaran petir menyambar
ke tubuh Thay-kun.
Mimpi pun Bong
Thian-gak tak mengira Ji-kaucu bisa menyerang Thay-kun,
bahkan menggunakan Lui-hong-sin-hong.
Dalam gelisahnya, sambil membentak
Bong Thian-gak mengayun
telapak tangan kanannya ke depan.
Angin serangan
yang dahsyat dan kuat secara tepat menghajar rontok
Lui-hong-sin-hong itu.
Namun Lui-hong-sin-hong merupakan
senjata andalan Jian-bin-hu-li Ban Li-biau di masa lalu,
kedahsyatannya luar biasa walaupun angin serangan
Bong Thian-gak berhasil menghajar
senjata rahasia itu, bukan berarti senjata itu dapat dirontokkan
seluruhnya.
Dengusan tertahan berkumandang memecah
keheningan, tahu-tahu punggung kanan Thay-kun terkena serangan dan
roboh tidak sadarkan diri.
Rupanya serangan yang digunakan Ji-kaucu
untuk melancarkan serangan itu telah menggunakan teknik yang tinggi,
bersamaan dengan babatan telapak tangan kanan
Bong Thian-gak, Ji-kaucu telah
melayang maju.
"Cring", berkumandang suara gemerincing,
tahu-tahu Ji-kaucu telah melolos pedangnya, digunakan untuk
melancarkan serangan.
Kendatipun
Bong Thian-gak tahu musuh akan menggunakan pedang,
namun dia tak menyangka terjangan lawan dilakukan dengan kecepatan
luar biasa, bahkan jurus serangan yang digunakan pun begitu sempurna
dan ganas.
Terdengar desingan angin tajam,
tahu-tahu lengan kanan Bong
Ihian-gak
telah mengucurkan darah, sementara tubuhnya melayang mundur,
sedangkan tangan kiri melolos sebilah pedang emas.
Tapi pedang antik Ji-kaucu seakan sudah
puas menjilat darah dan menyusup kembali ke sarungnya, pedang telah
disarungkan kembali.
Benarkah serangan pedangnya begitu cepat
dan dahsyat sehingga Mikar
diikuti pandangan mata?
Benar, serangan yang dilancarkan
Ji-kaucu memang hanya sejurus,
j.u.ing ada jago
lihai dunia persilatan yang berhasil lolos dari ujung
priLingnya
dalam keadaan selamat, oleh sebab itulah
ia belum pernah melancarkan serangan kedua.
Suara tertawa dingin menyeramkan
berkumandang dari bibir Ji-kaucu.
Terdengar dia berkata, "Sudah sepuluh
tahun lamanya aku tak berlatih
melolos pedang, tak nyana
kau telah memaksaku melanggar kebiasaanku, bahkan tidak menemui ajal
dalam satu gebrakan."
"Selama empat puluh tahun ini, kau
merupakan jago lihai pertama yang kujumpai, kau pun pantas menjadi
musuhku, meski akhirnya kau akan mati juga, kau boleh bangga dan
gembira karena kehormatan ini."
Kata-kata ini diucapkan tidak cepat
tidak pula lambat, seperti lagi menghibur seperti juga lagi memuji,
bahkan membawa keangkuhan.
Darah segar telah membasahi lengan kanan
Bong Thian-gak, dalam waktu
singkat separoh tubuhnya telah basah kuyup, walaupun mulut lukanya
terasa sangat panas dan sakit, namun dia tak berani bersikap gegabah
teledor, segenap perhatiannya dipusatkan menantikan datangnya
serangan kedua Ji-kaucu.
Saat inilah
Bong Thian-gak baru merasakan betapa menakutkan
Ji-kaucu, hingga kini pemuda itu belum juga mengerti bagaimana cara
ia melancarkan serangannya, dia pun tak tahu bagaimana dirinya bisa
terbabat oleh mata pedang lawan.
Ketika menghindar tadi, sudah jelas dia
lolos dari mata pedang itu sejauh setengah kaki, tapi mengapa pula
mata pedang musuh bisa memancar setengah kaki dari arah serangan?
Dengan suara tenang dan lembut kembali
Ji-kaucu berkata, "Ia telah terkena jarum beracun pelumat tulangku,
sekarang pun sudah digigit nyamuk bangkai dari wilayah Biau,
ditambah pula terhajar jarum rahasia Sin-hong pada bagian mematikan,
aku rasa meski ada dewa yang turun dari kahyangan pun tidak bisa
menyelamatkan jiwanya. Sedang kau? Tentu saja kau pun tak bisa hidup
lebih lanjut, karena tanpa kau sadari kau pun telah terkena racun
jahat, paling lambat tiga hari kemudian, racun itu akan bekerja yang
mengakibatkan kematian."
"Mengapa kau tak berani melancarkan
seranganmu yang kedua?" jengek Bong
Thian-gak sambil tertawa dingin.
Sudah jelas Ji-kaucu hendak melancarkan
serangan kedua, tapi berhubung pertahanan yang dilakukan
Bong Thian-gak sangat ketat, hal itu
membuatnya tidak berkesempatan melakukan penyerangan.
"Kini kau ibarat seorang yang hampir
mati," kata Ji-kaucu dengan lembut. "Mati sekarang atau mati
beberapa hari lagi, apa pula bedanya!"
"Baik, jika kau enggan menyerang,
biarlah aku yang melancarkan serangan lebih dulu."
Begitu selesai berkata,
Bong Thian-gak membabatkan pedangnya
bagaikan bianglala, secara beruntun dia melepaskan tiga buah
serangan dahsyat.
Tentu saja ketiga buah serangan itu
dilancarkan Bong Thian-gak
dengan jurus serangan yang paling tangguh, begitu serangan
dilepaskan, cahaya tajam segera menyambar.
Di bawah cecaran ketiga jurus serangan
itu, dengan enteng dan cekatan Ji-kaucu menghindarkan diri ke sana
kemari.
Sementara itu
Bong Thian-gak telah melompat ke sisi Thay-kun setelah
melancarkan ketiga buah serangannya itu, kemudian tangan kanannya
menyambar dan memeluk pinggang Thay-kun, bersamaan itu juga pedang
di tangan kirinya diayunkan ke muka.
Sebilah pedang yang lemas tahu-tahu
sudah berubah menjadi tujuh dalam sekali ayunan tangan, seakan-akan
tujuh pisau terbang yang meluncur bersama menyerang Ji-kaucu.
Sedangkan anak muda itu sendiri segera
melompat ke udara dan kabur dari situ.
Dia tak sempat melihat lagi apakah
Ji-kaucu berhasil meloloskan diri dari sergapan mautnya atau tidak,
sekarang dia hanya tahu bagaimana mengerahkan ilmu meringankan tubuh
untuk melarikan diri secepatnya dari situ.
Sudah barang tentu Ji-kaucu dapat
melolos diri dari ancaman ketujuh pisau terbang itu, hanya saja dia
tak melakukan pengejaran.
Sekulum senyuman dingin penuh perasaan
bangga menghiasi wajahnya, kemudian terdengar ia bergumam, Tiada
seorang pun di dunia ini yang dapat lolos dari ujung pedangku dalam
keadaan selamat, tidak terkecuali dirimu."
ooOOoo
Kabut fajar telah
menyelimuti angkasa, begitu tebal
dan padat sehingga sulit
untuk melihat keadaan di sekitar tempat itu.
Sambil membopong Thay-kun,
Bong Thian-gak melakukan perjalanan
dengan amat cepat.
Tiba-tiba ia merasa kepala pening
sekali, tenggorokan kering
seperti mau retak,
keempat anggota badannya lemas tak bertenaga.
Keadaan ini mengejutkan
Bong Thian-gak, diam-diam pikirnya,
"Kalau aku benar sudah terkena serangannya, wah celaka! Apakah kami
berdua harus tewas begini saja."
Ia berhenti untuk memperhatikan
sekeliling tempat itu, mendadak ia mendengar suara ombak memecah
pantai, sayang empat penjuru diselimuti kabut tebal sehingga dia
sendiri pun tak tahu sedang berada dimana.
"Mungkin kita berada di tepi sungai,"
pikir Bong Thian-gak.
Berpikir sampai di situ, mendadak
perutnya terasa mual ingin muntah, sayang tak setitik benda pun yang
bisa dimuntahkan.
Mendadak kakinya terasa lemas,
Bong Thian-gak bersama Thay-kun yang
berada dalam bopongannya roboh terjengkang ke atas tanah.
Waktu itu Thay-kun telah pingsan, mata
terpejam rapat, wajahnya pucat-pias seperti mayat, sedangkan di bahu
kanannya masih tertancap jarum Hui-hong yang masuk ke dalam daging,
keadaannya mengerikan sekali.
Waktu itu lengan kanannya sudah terkulai
lemas, sementara tangan kirinya merah bengkak.
Menyaksikan semua ini,
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, kemudian gumamnya, "Tidak enteng luka yang diderita
olehnya, ai ... sedangkan aku
sendiri pun tak jauh dari kematian."
Terbayang akan kematian, hati pemuda ini
merasa pilu.
Dia menundukkan kepala memandang sekejap
wajah cantik dalam pelukannya, tanpa terasa dia merasa terhibur
juga, gumamnya sambil tertawa bodoh, "Thian benar-benar suka
mempermainkan umatnya, siapakah yang akan menduga aku akan mati
sambil memeluk gadis tercantik di dunia saat ini, ah!"
"Perubahan yang terjadi dalam alam
semesta memang sukar diduga, sebenarnya dia terhitung musuhku yang
boleh diampuni, tapi kini telah berubah menjadi sahabat karibku
dalam perjalanan pulang ke alam baka, hal ini tak pernah kubayangkan
sebelumnya."
"Perhitungan Ku-lo Sinceng pun amat
tepat, entah dia telah memperhitungkan keadaanku dan Thay-kun belum?
Sesudah kami berdua tiada, Put-gwa-cin-kau pasti akan meraja-rela
tanpa seorang pun yang bisa membendung mereka. Mungkinkah dunia
persilatan akan dikuasai orang-orang Put-gwa-cin-kau?"
"Mungkinkah berbagai perguruan besar
akan musnah di tangan mereka?"
Menghadapi ajal di depan mata, tak urung
berbagai macam pikiran muncul dalam benaknya, apalagi kesadaran
Bong Thian-gak mulai surut,
tak aneh pikirannya tambah kalut.
Tiba-tiba terdengar suara rintihan lirih
yang menghentikan jalan pikiran Bong
Thian-gak, cepat dia berpaling.
Tampak Thay-kun sedang mengerahkan
tenaga lalu mengedipkan mata dan membukanya pelan-pelan.
Ketika menyaksikan wajah
Bong Thian-gak berada di hadapannya,
sambil tersenyum lantas dia berkata, "Dalam impian aku seperti
dipeluk olehmu, ternyata kau benar-benar sedang memelukku."
Bong Thian-gak
tersenyum.
"Aku yakin kau pasti akan sadar,
nyatanya kau benar-benar sadar!"
"Tapi dengan sadarku ini, kemungkinan
besar saat kematianku akan semakin dekat!" ucap Thay-kun sedih.
"Aku sendiri pun tak akan hidup lama."
Thay-kun terkejut oleh perkataan itu,
serunya pula, "Kau pun tak dapat hidup lama?"
"Ya, aku telah terkena serangan
Ji-kaucu."
"Kau
pun keracunan?"
Sampai di situ si nona telah melihat
lengan kanan Bong Thian-gak
terluka, buru-buru katanya lagi, "Luka pada lenganmu amat parah,
apakah terluka oleh babatan pedang Ji-kaucu?"
Bong Thian-gak
tak menjawab, dia hanya manggut-manggut.
Dengan sedih Thay-kun menghela napas
panjang, "Pedang Ji-kaucu amat lihai, konon sudah direndam racun
yang amat jahat, kalau begitu kau benar-benar telah terkena racun."
Bong Thian-gak
tertawa getir.
"Memang sepantasnya kita mati bersama!"
"Kau tak boleh mati, kau pasti tak akan
mati."
"Jika Thian menyuruh kita berpulang,
siapa mampu menolak?"
"Mari kita pergi mencari seseorang."
"Tapi aku sudah tidak mampu bergerak
lagi." Thay-kun menghela napas sedih.
"Ai, kalau begitu, terpaksa kita berdua
harus menunggu kematian di sini."
"Coba tunggu sebentar, bila aku telah
bertenaga lagi barulah kita lanjutkan perjalanan."
Mendadak Thay-kun memejamkan mata, lalu
berkata lembut, "Hingga sekarang aku belum mengetahui namamu yang
sesungguhnya serta raut wajah aslimu."
"Buat apa kau menanyakan hal ini?"
Thay-kun tertunduk malu, bisiknya manja,
"Sejak dilahirkan, belum pernah aku dipeluk orang seperti ini."
"Ah!" Bong
Thian-gak berseru tertahan. "Tapi aku tak bermaksud
mencari keuntungan dengan cara ini."
"Masih ingat malam itu
...." bisik Thay-kun lirih, ia tak
melanjutkan kata-katanya.
Walau begitu
Bong Thian-gak telah mengetahui apa gerangan yang
dimaksud, buru-buru dia berkata, "Tapi aku tidak bermaksud
mengintipmu."
"Sudahlah! Sekarang aku sudah hampir
mati, bersediakah kau memberitahukan nama aslimu kepadaku?"
Bong Thian-gak
menghela napas panjang.
"Tentu saja bersedia, aku
she Bong bernama Thian-gak."
"Ah! Kalau begitu kau adalah murid
keempat Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu!"
"Aku telah dikeluarkan dari perguruan,"
bisik pemuda itu sedih.
"Aku bisa memahami nasib tragis yang
menimpa dirimu, kau ingin mempertahankan nama baik Oh Ciong-hu
dengan cara begini, aku yakin arwah Oh-bengcu di alam baka tentu
sudah tahu akan hal ini dan bersedia menerimamu kembali sebagai
anggota perguruannya."
"Darimana kau bisa tahu tentang
pengalaman tragis yang menimpa diriku?" tanya
Bong Thian-gak terkejut dan
keheranan.
Thay-kun tertawa, "Tahukah kau siapakah
Go-kaucu Put-gwa-cin-kau yang menyelinap dalam gedung Bu-lim Bengcu?
Dia tak lain adalah istri Oh Ciong-hu, Pek Yan-ling adanya!"
Bong Thian-gak
tidak mengira Go-kaucu adalah ibu gurunya sendiri, darah yang
menggelora dalam dada Bong Thian-gak serasa mendidih, sambil menggigit bibir, katanya, "Sampai
sekarang wanita cabul itu belum juga menyesal, bila aku masih dapat
hidup, akan kucincang tubuhnya hingga hancur berkeping-keping."
"Masih ada satu hal perlu aku
beritahukan kepadamu, kau anggap Siau Cu-beng sudah mati?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata
Bong Thian-gak, serunya
dengan cepat, "Siau Cu-beng! Sam-suhengku Siau Cu-beng?"
"Kalau bukan dia, siapa lagi?"
Mendengar ucapan itu, hati
Bong Thian-gak bergetar keras, dari
nada bicara Thay-kun, agaknya ia benar-benar mengetahui amat jelas
kejadian lama yang pernah menimpanya bersama semua aib yang telah
menimpa perguruannya.
Mungkinkah Sam-suhengnya Siau Cu-beng
yang terjatuh ke dalam jurang benar-benar belum mati? Tapi dimanakah
dia sekarang?
Berpikir sampai di situ, sorot matanya
segera dialihkan ke arah Thay-kun.
"Walaupun Siau Cu-beng telah terhajar
hingga tercebur ke jurang
oleh pukulanmu,
sesungguhnya dia tak mati," kata Thay-kun pula. "Ia benar-benar
belum mati?" "Buat apa aku membohongi dirimu!" "Lantas dimanakah
Siau Cu-beng sekarang?"
"Sewaktu jatuh ke dalam jurang tempo
hari, sesungguhnya Siau Cu-beng
sudah sekarat dan tinggal menunggu ajal saja, pada saat itulah
muncul seorang bintang penolong yang telah menyelamatkan jiwanya."
"Siapakah bintang penolongnya?"
"Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau! Bukan saja
ia telah menyelamatkan liwanya, bahkan dalam tujuh tahun yang
singkat, ia telah mewariskan ilmu silat yang maha dahsyat
kepadanya."
"Ah!" Bong
Thian-gak menjerit kaget, "kalau begitu Siau Cu-beng
adalah...."
"Komandan nomor dua pasukan pengawal
tanpa tanding Put-gwa-cin-kau
atau tepatnya orang berkerudung jubah hitam itu."
Mendadak Bong
Thian-gak berteriak, "Aku tak boleh mati, aku harus
hidup lebih lanjut, aku tak dapat membiarkan Siau Cu-beng
segar-bugar di dunia ini."
Entah darimana datangnya kekuatan,
dengan cepat dia merangkul kembali tubuh Thay-kun dengan lengan
kirinya, kemudian bertanya, "Kita harus berjalan menuju ke arah
mana?"
"Ke kota Lok-yang!"
"Itu berarti dua perjalanan," seru
Bong Thian-gak dengan
tertegun. Thay-kun segera mengangguk.
"Ya, tempat ini adalah Tio-ko, bila
menempuh perjalanan sejauh satu li lagi kita akan sampai di kota,
kemudian dari situ kita dapat menumpang kereta menuju ke kota
Lok-yang."
oo©oo
Fajar baru saja menyingsing, sang surya
memancarkan cahaya keemas-emasannya dari ufuk timur, di hadapan
mereka terbentang sebuah sungai.
Sambil merangkul Thay-kun, selangkah
demi selangkah pelan-pelan Bong
Thian-gak bergerak menuju ke depan sana, tanyanya, "Ke
Lok-yang kita harus mencari siapa?"
"Seorang tabib kenamaan yang
mengasingkan diri di bawah bukit Cui-im-hong, asalkan dia bersedia
mengobati luka kita, betapa pun parahnya luka yang kita derita,
sudah pasti dia bisa menyelamatkan jiwa kita dari ancaman bahaya."
"Seandainya dia menampik?" tanya
Bong Thian-gak dengan rasa kuatir.
Thay-kun tersenyum.
"Dia tak akan menampik permintaan kita!"
Dari nadanya, tampaknya gadis itu telah
lama mengenal tabib sakti itu, maka perasaannya menjadi tenang
kembali.
Yang dikuatirkan olehnya sekarang adalah
seandainya dia serta Thay-kun tak bisa bertahan sampai kota
Lok-yang.
Mendadak Thay-kun berseru tertahan, lalu
melanjutkan, "Bong-suko, di pinggangku terdapat sebuah botol kecil,
tolong ambilkan!"
"Botol? Buat apa botol itu?"
Bong Thian-gak tertegun.
"Di dalam botol terdapat lima butir
Tok-liong-wan, pil itu berkhasiat melenyapkan berbagai macam
pengaruh racun, bila orang menelan sebutir, dalam tiga tahun dia tak
usah takut terrhadap serangan hawa racun, bahkan bisa menguatkan isi
perut."
Mendengar ucapannya itu,
Bong Thian-gak menurut dan segera
merogoh pinggangnya
Benar juga di sana terdapat sebuah botol
kecil berwarna putih, sambil mengambil keluar benda itu, tanyanya,
"Botol kecil inikah yang kau butuhkan?"
"Benar, bukalah tutup botol itu dan
ambillah sebutir, langsung telan ke dalam mulut."
Pelan-pelan
Bong Thian-gak membuka tutup botol itu dan mengeluarkan
sebutir pil sebesar kacang kedelai, terendus bau harum semerbak.
Tanpa terasa dia membuka mulut dan
menelan sebutir, rasanya memang agak getir namun seketika itu juga
semangatnya terasa segar kembali.
"Ehm, obat bagus, obat bagus, ai,
mengapa kau tidak menelan sebutir?"
Thay-kun menghela napas sedih,
"Seandainya aku tidak menelan sebutir Tok-liong-wan lebih dulu,
mungkin sejak tadi nyawaku sudah melayang meninggalkan raga
kasarku!"
"Benar, konon ilmu beracun Ji-kaucu
tiada taranya di dunia ini, sedangkan Thay-kun telah terkena
beberapa racun jahat sekaligus, nyatanya dia masih dapat hidup
hingga sekarang, nampaknya kita masih ada kesempatan untuk hidup."
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia
telah menunjukkan wajah berseri.
Terdengar Thay-kun berkata lagi,
"Tok-liong-wan ini merupakan h.idiah tabib sakti yang hidup
mengasingkan diri di bawah puncak Cui-ini-hong
di luar kota Lok-yang, tiga tahun berselang ia menghadiahkan enam butir pil itu untukku."
"Menurut dia sendiri, pil ini dibuat
dengan susah-payah, bukan saja
harus dimasak selama tiga
tahun, juga cuma dibuat delapan belas
bulir
saja, itulah sebabnya Tok-liong-wan ini
tak ternilai harganya."
"Ai, ternyata ucapan itu memang benar,
Tok-liong-wan telah menyelamatkan jiwa kita."
"Walaupun Tok-liong-wan memiliki khasiat
luar biasa, namun ilmu beracun Ji-kaucu bukan sembarang orang bisa
menandinginya, oleh karena itu lebih baik kita secepatnya berangkat
menuju ke kota Lok-yang."
Sejak menelan Tok-liong-wan, lambat-laun
Bong Thian-gak merasa betapa
segar dan nyamannya sekujur tubuhnya, tidak seperti tadi perutnya
selalu mual dan ingin muntah saja, penderitaannya bukan
alang-kepalang.
"Ai! Sesampainya di kota Lok-yang nanti,
aku harus berterima kasih kepada tabib sakti itu!"
"Tabib itu berwatak aneh dan suka
menyendiri," Thay-kun menerangkan. "Sesampainya di sana nanti kau
mesti menuruti semua perkataanku, aku kuatir bila dia menampik
mengobati lukamu."
Mendengar ucapan itu,
Bong Thian-gak tertawa.
"Asal kau dapat sampai di situ dengan
selamat, soal mati-hidupku bukan masalah yang terlalu penting."
"Kalau harus mati, kita mati bersama,"
bisik Thay-kun pelan.
Sekali pun ucapan itu sangat sederhana
dan tiada sesuatu yang luar biasa, namun jauh melebihi beribu-ribu
kata lain, karena dari ucapan itu dia telah mengemukakan seluruh
perasaan hatinya yang sebenarnya.
Rupanya ucapan itu diutarakan ketika
Bong Thian-gak masih berada
di dusun petani, ketika mendengar perkataan itu diutarakan, hatinya
tergetar, dia tak tahu haruskah merasa girang atau sedih ataukah
murung?
Sekali pun sedang bermimpi,
Bong Thian-gak juga tak berani
menyangka gadis cantik jelita ini menaruh perasaan kepadanya.
Tapi sekarang sudah jelas kalau dia
telah mengutarakan perasaan hatinya itu.
Dia nampak begitu cantik, siapakah
lelaki di dunia ini yang tak jatuh hati kepadanya, tidak ingin
mempersunting dan menjadikannya istri tercinta?
Justru karena dia kelewat cantik maka
Bong Thian-gak berani
mengutarakan perasaannya itu, dia tak tahu haruskah murung, sedih
atau takut.
Akhirnya Bong
Thian-gak dan Thay-kun menyewa sebuah kereta di kota
Tio-ko untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Lok-yang.
Sebenarnya
Bong Thian-gak ingin duduk bersama kusir di depan, tapi
berhubung Thay-kun takut jejak mereka ketahuan lawan, terpaksa kedua
orang itu harus menumpang kereta bersama-sama.
Dengan demikian benih cinta yang baru
ditanam di hati mereka berdua pun dengan cepat bersemi dan tumbuh
menjadi besar.
Mungkin inilah suratan takdir yang telah
menentukan jodoh mereka.
Sejak Bong
Thian-gak menelan Tok-liong-wan, keadaannya boleh
dibilang mirip orang biasa, sama sekali tidak menunjukkan gejala
keracunan, bahkan luka di lengan kanannya juga tidak menunjukkan
gejala merah atau bengkak.
Thay-kun sendiri pun kelihatan amat
jernih pikirannya, namun sepasang lengannya sudah tidak mau menurut
perintahnya lagi, tak ubahnya seperti orang cacat.
Kereta berlari kencang di atas jalan
berbatu, guncangan di dalam kereta terasa amat kencang dan keras,
membuat Thay-kun yang duduk di sebelah kanan hampir saja jatuh
terjengkang.
Untung Bong
Thian-gak bergerak cepat dengan menyambar pinggang
kirinya, lalu membiarkan dia bersandar di pinggang sendiri.
Tiba-tiba Thay-kun berkata sambil
tertawa manja, "Suheng, seandainya sepasang tanganku benar-benar
cacat, apakah kau masih letap mencintai diriku?"
"Sekali pun kau telah berubah menjadi
abu pun, aku akan tetap mencintai dirimu," sahut
Bong Thian-gak tanpa pikir panjang.
"Benarkah itu?"
"Selamanya aku tak pernah berbohong,
terutama di hadapan gadis,
aku lebih-lebih tak ingin membohonginya."
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas
panjang seraya berkata lembut "Suheng, aku pernah membunuh banyak
orang, dalam agama Buddha dikatakan, 'siapa menanam kejahatan, dia akan mendapat balasan yang
setimpal'. Sekarang aku benar-benar kuatir, bila suatu ketika aku
tewas dalam keadaan yang mengenaskan."
Bong Thian-gak turut menghela napas pula.
"Tiada manusia di dunia ini yang lolos
dari kesalahan, orang yang tahu salah dan mau bertobat itulah
tindakan kebajikan yang sejati! Bila sejak dulu kau telah memutuskan
untuk meninggalkan Put-gwa-cin-kau, mungkin akan banyak dosa dan
siksaan yang bisa dihindari."
Mata Thay-kun berkaca-kaca menahan
linangan air mata.
"Mengapa aku tak dapat melupakan
Put-gwa-cin-kau? Karena perkumpulan ini ada sangkut-pautnya dengan
asal-usulku."
"Asal-usulmu?"
"Hingga sekarang aku belum dapat
membuktikan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau adalah ibu kandungku atau
bukan."
'Seandainya dia benar-benar adalah
ibumu?" tanya Bong Thian-gak
dengan perasaan tergetar.
"Semoga saja dia bukan ibuku, seandainya
dia adalah ibuku, tak nanti dia menurunkan perintah kepada Ji-kaucu
untuk membunuhku."
"Sumoay, karena ingin membuktikan hal
itu maka kau ragu."
"Sejak kecil aku sudah dibesarkan dalam
lingkungan demikian, lagi pula dalam benakku sudah tertanam bahwa
Cong-kaucu adalah ibu kandungku, bayangkan saja, bagaimana mungkin
aku dapat lolos dari samudra penderitaan begitu saja?"
Mendengar perkataan itu, diam-diam
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, pikirnya, "Aku tak boleh menyalahkan dia, setiap orang bila
sedang dalam keadaan begini, dia pun akan terperosok lebih jauh,
hari ini dia bisa meloloskan diri dari pengaruh Put-gwa-cin-kau pun
sudah merupakan sesuatu yang luar biasa."
Seseorang bila sedang dalam tekanan dan
ancaman, walau ingin melawan dan meloloskan diri dari keadaan itu,
maka dibutuhkan keberanian yang sangat besar.
Biasanya keberanian semacam ini tak
dimiliki setiap orang.
ooOOoo
Cui-im-hong merupakan nama sebuah bukit
yang terletak di luar kota Lok-yang sebelah utara, di depan bukit
itu terdapat sebuah sungai yang berhubungan dengan sungai Lok-sui,
di balik bukit merupakan rangkaian gunung berlapis-lapis dan
sambung-menyambung tiada ujungnya.
Menyusuri tepi sungai terbentang sebuah
jalan raya yang amat lebar, semakin ke arah bukit semakin sedikit
pula manusia berlalu lalang di sana.
Di tengah keheningan malam yang mencekam
jagad, tiba-tiba terdengar suara roda kereta yang bergema di jalan
raya, lalu muncul sebuah kereta mendekati tempat itu. Akhirnya
kereta ini berhenti di sebuah rumah.
Bangunan itu meliputi suatu daerah yang
sangat luas, empat penjuru sekeliling tempat itu penuh ditumbuhi
aneka macam bunga yang beraneka warna, dari kejauhan pun sudah,
dapat terendus bau harum bunga yang semerbak.
Setelah berhenti sejenak, dari balik
kereta kemudian berjalan keluar seorang sastrawan pincang, dalam
bopongannya menggelendot seorang gadis cantik yang lumpuh sepasang
lengannya.
Dari sakunya
Bong Thian-gak mengeluarkan sekeping uang perak untuk
membayar ongkos kereta, kemudian dia mengangkat kepala dan memandang
sekejap bangunan itu, katanya pelan, "Tampaknya orang sudah tidur."
Thay-kun ikut mengangkat kepala
memandang keadaan cuaca, kemudian menyahut, "Sekarang tak lebih
kentongan pertama."
Bicara sampai di situ, tiba-tiba firasat
jelek melintas di benaknya.
Ternyata suasana di dalam bangunan besar
di kaki bukit ini gelap gulita, tiada cahaya lentera, tiada suara
manusia, keadaan tak jauh berbeda dengan kota mati.
Sementara itu kereta sudah pergi jauh,
di bawah kaki bukit tinggal mereka berdua saja.
Mendadak paras muka
Bong Thian-gak berubah hebat,
bisiknya, "Ada
orang datang."
Tampak tiga bayangan orang muncul di
situ, mereka bukan keluar dari
balik pintu gerbang, melainkan melompat turun dari atas atap
mmah,
dalam dua kali lompatan saja mereka
sudah melayang turun di hadapan Bong
Thian-gak.
Ketiga orang itu terdiri dari dua orang
lelaki berperawakan tinggi besar dan seorang berkerudung berbaju
hitam.
Berhadapan dengan orang berkerudung
berbaju hitam itu, kontan mencorong sinar berapi-api dari balik mata
Bong Thian-gak.
Sedangkan paras Thay-kun juga berubah
hebat, tanyanya dengan suara gemetar, "Berapa orang di antara kalian
yang telah datang?"
Orang berkerudung berbaju hitam itu
tertawa dingin.
"Racun yang dilepaskan Ji-kaucu mungkin
saja kehilangan kehebatannya di tubuh kalian berdua, namun
perhitunganku tak akan pernah meleset."
"Jit-kaucu, apabila kau tahu diri,
ikutlah aku pulang, siapa tahu Cong-kaucu akan meninggalkan sebuah
jalan kehidupan bagimu!"
Sementara itu berbagai pikiran telah
berkecamuk dalam benak Bong Thian-gak, dia lantas berpikir, "Sanggupkah aku seorang melawan
mereka bertiga?"
Seandainya dalam keadaan biasa,
Bong Thian-gak percaya masih sanggup
bertarung melawan ketiga orang itu, seandainya kalah, ia masih
sanggup melarikan diri.
Tapi sekarang dia menyadari tak
mempunyai kekuatan seperti itu.
"Gi Jian-cau berada di dalam," sahut
orang berkerudung berbaju hitam hambar.
"Kau telah melukainya?"
"Dia pernah menyelamatkan jiwaku, dia
masih terhitung tuan penolongku sendiri, karenanya aku tak mungkin
berbuat demikian, kau pun tak usah berbuat demikian."
Mendengar ucapan itu, Thay-kun menghela
napas panjang, "Ai, kenapa aku tak pernah berpikir kau pun pernah
menjadi tamu di rumah kediaman tabib sakti Gi Jian-cau."
Orang berkerudung tertawa dingin,
"Betul, ilmu pertabiban G i Jian-cau memang luar biasa, terutama
kemampuannya membuat obat, boleh dibilang tiada duanya di dunia ini
dan hal ini rasanya hanya diketahui oleh Cong-kaucu, kau dan aku
bertiga saja."
"Tapi sekarang telah bertambah banyak
orang yang mengetahui rahasia ini."
Mencorong sinar tajam dari bilik mata
orang berbaju hitam itu, ujarnya kemudian sambil tertawa, "Apakah
malam ini kalian masih ingin meninggalkan tempat ini dalam keadaan
hidup?"
Mendadak Bong
Thian-gak berseru, "Siau Cu-beng, aku hendak
membunuhmu!"
Tergetar keras perasaan orang berbaju
hitam itu setelah namanya disebut Bong
Thian-gak, kemudian setelah tertawa dingin, serunya,
"Sungguh tak kusangka Jit-kaucu telah mengingkari sumpah sendiri
dengan membocorkan rahasia terbesar partai kita, kalau begitu dosa
dan kesalahan Jit-kaucu sudah tak bisa dimaafkan lagi!"
Ternyata rahasia terbesar Put-gwa-cin-kau
adalah menghilangkan nama asli tokoh-tokohnya dengan mengganti
namanya memakai urutan nomor, itulah sebabnya hingga kini
orang-orang yang berkumpul dalam Put-gwa-cin-kau sebagai pemimpin
jarang diketahui asal-usulnya oleh orang lain, bahkan dianggap
misterius sekali.
Perbuatan pertama yang harus dilakukan
setiap orang yang bergabung dengan Put-gwa-cin-kau adalah bersumpah
untuk tidak membocorkan rahasia tokoh-tokoh dalam perkumpulan itu,
barang siapa berani melanggar sumpah itu, maka dosanya tidak
terampuni lagi, malah bisa dijatuhi siksaan yang paling keji.
Thay-kun sendiri pun terperanjat sekali
mendengar Bong Thian-gak
menyebutkan nama Siau Cu-beng, serunya pula, "Suheng, kau
... kau tidak boleh
...."
Mendengar seruan itu
Bong Thian-gak amat terperanjat, ia
tahu gadis itu melarang dirinya mengungkap asal-usulnya yang
sebenarnya.
Akan tetapi gerak-gerik mereka ini
semakin mencurigakan Siau Cu-beng, dia segera berpikir, "Siapakah
dia? Bukankah dia adalah Ko Hong?"
Berpikir demikian, orang berkerudung
kemudian berkata, "Pandai amat saudara menyaru, sebenarnya siapakah
dirimu?"
"Ko Hong!" jawab
Bong Thian-gak hambar.
"Kau bukan Ko Hong!" bentak orang
berkerudung. "Hm! Aku mempunyai cara untuk mengetahui asal-usulmu
yang sebenarnya!"
Begitu selesai berkata, dia lantas
mengulap tangan kirinya, kedua
orang yang berdiri
di sisinya serentak maju dengan langkah lebar.
Kepandaian silat pasukan berbaju
perlente pengawal tanpa tanding telah dilihat dan dicoba oleh
Bong Thian-gak beberapa hari lalu,
di saat mereka menyerbu ke dalam gedung Bu-lim Bengcu tempo hari.
Waktu itu Goan-ko Taysu dari Siau-lim-si
serta Wan-pit-kim-to (Golok emas berlengan monyet) Ang Thong-lam
dari Tiam-jong-pay melakukan pertarungan sengit melawan mereka, hal
ini menunjukkan betapa hebatnya ilmu mereka.
