pendekar cacad 06
Bagian 6 :
Persaingan Ji-kaucu dan Jit-kaucu
Kebun buah-buahan itu
luas sekali, mungkin mencapai belasan hektar lebih. Empat penjuru
dikelilingi pagar pendek terbuat dari bambu, jelas tempat itu
merupakan kebun buah-buahan yang dijaga orang.
Bong
Thian-gak bertanya, "Apakah sekeliling tempat ini
terdapat perkampungan atau dusun?"
"Dua li dari sini
terdapat sebuah dusun kecil, hanya sekitar dua puluh kepala
keluarga."
"Apa hasil
penyelidikanmu terhadap dusun itu?"
Tan
Thiam-ka termenung sejenak, kemudian sahutnya, "Di
tempat itu tidak kutemukan sesuatu, pada pagi dan siang hari
kebanyakan rumah petani tutup, hanya ada beberapa anak kecil bermain
di luar pagar rumah, benar-benar suasana dusun kaum petani."
Pada saat itulah
mendadak dalam kebun buah-buahan itu berkumandang suara bentakan
serta caci-maki.
Dengan kening
berkerut Bong Thian-gak
berkata, "Mari kita tengok!"
Suara bentakan itu
berasal setengah li dari tempat itu, suaranya tidak begitu keras.
Buru-buru
Bong Thian-gak dan
Tan Thiam-ka berputar ke kebun buah
sebelah utara, di situ mereka menyaksikan sekelompok orang
mengerubuti seseorang.
Menyaksikan itu, hati
Bong Thian-gak terkesiap.
Rombongan itu terdiri
dari tiga belas orang, mereka mengenakan baju hijau penuh tambalan,
tak usah ditanya lagi mereka adalah orang-orang Kay-pang.
Orang yang sedang
dikepung ketiga belas orang Kay-pang itu
adalah seorang gadis berbaju hitam.
Bong
Thian-gak dapat melihat pula raut wajah gadis berbaju
hitam Itu dengan jelas, dia berkulit hitam dengan hidung besar,
mulut lebar dan mata melotot. Tampang semacam itu benar-benar jelek
setengah mati.
Bong
Thian-gak terkejut, sambil menarik tangan
Tan Thiam-ka menuju ke tempat
peristiwa itu, bisiknya lirih, "Komandan
Tan, coba kau perhatikan, diakah yang menyampaikan
surat itu kepadamu?"
Setelah melihat jelas
paras muka gadis berbaju hitam itu, Tan
Thiam-ka berseru tertahan, "Ah, betul! Ko-siauhiap,
dialah orangnya."
Bong
Thian-gak manggut-manggut.
"Bagus sekali, mari
kita lihat keadaan dan berpeluk tangan dulu."
Sementara itu kawanan
pengemis Kay-pang dan gadis berwajah jelek itu sudah melihat pula
kehadiran Bong Thian-gak
serta Tan Thiam-ka.
Sebenarnya
orang-orang Kay-pang itu mengira Bong
Thian-gak dan Tan
Thiam-ka adalah teman gadis berwajah jelek itu, mereka baru
menyadari kesalahan itu setelah menyaksikan kedua orang itu
berhenti.
Mendadak terdengar
gadis berwajah jelek itu tertawa, kemudian menegur, "Kalian kawanan
pengemis tak tahu diri, di siang hari bolong begini pun berani
membegal aku?"
Salah seorang di
antara pengemis itu, yang berusia agak lanjut, tertawa aneh,
"Hehehe, bocah perempuan jelek, pentang matamu lebar-lebar, kami
anggota Kay-pang bukan manusia yang membiarkan diri dihina orang
semaunya sendiri. Sekarang aku si pengemis tua hanya ingin bertanya
saja kepadamu, siapa dua orang gadis yang baru saja kau bunuh itu?"
Gadis berparas jelek
itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Hehehe, kalian
kawanan pengemis rudin, untuk mencari makan sehari tiga kali saja
sudah sulit, ternyata berani mencampuri urusan orang lain. Aku cuma
menasehatimu secara baik-baik, kalau mau hidup langgeng, lebih baik
cepat tinggalkan tempat ini dan jangan ceritakan apa yang telah kau
lihat tadi, kalau tidak, kalian akan mampus di sini tanpa liang
kubur."
Mendadak pengemis tua
itu membentak gusar, "Bocah perempuan jelek, kenalkah kau dengan
Lohu?"
"Kau tak lebih dari
seorang pelindung hukum ruang siksa Kay-pang?" kata si nona hambar.
Pengemis tua itu
tertawa dingin.
"Seorang pelindung
hukum ruang siksa Kay-pang mempunyai hak menurunkan perintah
membantai setiap musuh yang dijumpai. Bila tahu diri, lebih baik
cepat sebutkan identitas serta asal-usul kedua orang itu."
Mendadak gadis yang
berwajah jelek itu menarik muka dan mencorongkan sinar membunuh dari
balik matanya, dengan suara dingin dia berkata, "Sekarang kalian
sudah mengetahui rahasiaku membunuh orang, kukira sudah sepantasnya
bila kubunuh kalian agar rahasia ini tidak bocor ke orang lain, hm,
belum lagi aku melakukan pembunuhan itu, sungguh tak nyana kalian
telah memojokkan aku dengan perkataanmu itu."
Bong
Thian-gak yang menyaksikan kejadian ini berpikir dalam
hati, "Aduh celaka, gadis ini sudah diliputi hawa membunuh."
Sementara dia
berpikir, pengemis tua telah berteriak, "Bagus nekali! Arak
kehormatan tidak mau, kau justru memilih arak hukuman. Pengawal!
Tangkap dulu budak jelek itu!"
Begitu bentakan
dilontarkan, empat orang anggota Kay-pang segera menerjang ke depan
sambil memutar tongkat bambu mereka.
Siapa tahu, dengan
satu lejitan tahu-tahu gadis berwajah jelek itu sudah menyongsong
kedatangan keempat orang itu.
Menyusul "Plak! Plok]
Plak! Plok!", empat kali tamparan nyaring berkumandang memecah
keheningan.
Keempat orang
pengemis yang melakukan terjangan itu masing-masing mendengus
tertahan, kemudian tergeletak di tanah dan tidak berkutik lagi.
Ilmu pukulan yang
demikian cepat dan luar biasa ini membuat Hong Thian-gak yang
menyaksikan kejadian itu mengerut dahi.
Sementara para
pengemis Kay-pang diliputi perasaan kaget, ngeri
dan tertegun.
Agaknya gadis
berwajah jelek itu sudah didorong nafsu untuk melakukan pembunuhan
secara besar-besaran guna melenyapkan semua
saksi hidup, dengan suatu gerakan
yang amat cepat dia menyerbu ke tengah kerumuman orang banyak.
Segera berkumandang
jeritan kaget tertahan serta jerit kesakitan di
sana-sini. Bayangan orang mencelat
dan berkelebat ke sana kemari, dalam waktu singkat telah ada dua
belas orang anggota Kay-pang tergeletak di tanah.
Dalam keadaan seperti
ini, Bong Thian-gak tidak
mengetahui apakah dia harus mencampuri urusan ini atau tidak?
Sementara itu si nona
berwajah jelek sudah berjalan menuju ke depan pengemis tua itu
begitu berhasil membinasakan kedua belas anggota Kay-pang tadi.
Mendadak
Bong Thian-gak membentak nyaring,
"Tahan!"
Waktu itu si nona
berwajah jelek sudah mengangkat telapak tangan siap melancarkan
serangan maut, ketika mendengar suara bentakan itu, gerakannya
segera dihentikan.
Dengan suatu gerakan
cepat Bong Thian-gak
menghampiri nona berwajah jelek itu, kemudian katanya, "Nona, jangan
kau lakukan pembantaian secara besar-besaran."
"Ko-siangkong, harap
menyingkir dulu," kata gadis berwajah jelek itu pelan. "Sekarang aku
telah membinasakan dua belas orang anggota partainya dan aku tak
boleh membiarkan dia kabur untuk membocorkan rahasia ini."
Paras muka
Bong Thian-gak berubah hebat sesudah
mendengar perkataan itu, ujarnya, "Nona, kepandaian silat yang kau
miliki lihai sekali, justru karena aku tak bisa mengambil keputusan
dengan cepat, akibatnya aku tak sempat mencegah perbuatan kejimu."
"Siangkong, apabila
kau menghalangi perbuatanku ini, maka kau bakal menyesal sepanjang
masa. Harap kau segera menyingkir."
Dalam pada itu si
pengemis tua masih berdiri di situ dengan wajah termangu.
Bong Thian-gak yang menyaksikan hal
itu segera membentak, "Hei, mengapa kau tak segera melarikan diri?
Kau hendak menunggu sampai kapan?"
Pengemis tua itu
terkejut sesudah mendengar seruan itu.
Dia
segera membalikkan badan dan melarikan
diri.
Mendadak gadis itu
mengayunkan pergelangan tangan kanan.
"Sret", setitik
cahaya bintang yang terang bagaikan sambaran
petir
dengan cepat menyambar ke belakang tubuh
si pengemis tua itu.
Mimpi pun
Bong Thian-gak tidak mengira gadis
berwajah jelek itu
bakal melancarkan
serangan dengan menggunakan senjata rahasianya,
ia
membentak keras, telapak tangan kirinya
segera diayun ke depan melepaskan pukulan kosong membabat ke titik
cahaya bintang itu.
Walaupun dia
bertindak agak terlambat, senjata rahasia tadi tersapu juga oleh
sambaran angin pukulannya, dengan begitu kekuatan serangannya
menjadi berkurang dan tak menyeramkan lagi.
"Aduh!" berkumandang
jerit kesakitan yang memilukan hati.
Pengemis tua itu
sempoyongan, lalu melarikan diri makin cepat meninggalkan tempat
itu.
Di saat
Bong Thian-gak mengayunkan telapak
tangan kirinya melancarkan serangan tadi, tangan kanannya juga
secepat kilat menghantam bahu gadis berwajah jelek itu.
Dengan cekatan gadis
berwajah jelek itu mundur tiga-empat langkah, ujarnya setelah
menghela napas sedih, "Siangkong, dengan perbuatanmu ini hanya akan
menambah kesulitanku saja, bahkan bisa jadi akan mempengaruhi
situasi dunia persilatan."
"Mengapa?" tanya
Bong Thian-gak dengan suara
dalam.
"Siangkong, tahukah
kau siapakah kawanan pengemis itu?" tanya gadis berwajah jelek itu
sambil menghela napas sedih.
"Para anggota
Kay-pang!"
"Kay-pang adalah
perkumpulan paling besar di Bu-lim dewasa ini. Pengaruh organisasi
itu meliputi hampir setiap pelosok dunia persilatan, kini kau telah
membiarkan pengemis tua itu melarikan diri, mungkin tidak sampai dua
belas jam kemudian, pihak Kay-pang sudah akan mengutus jago-jagonya
datang kemari mencari balas."
"Nona, kalau kau tak
ingin disusahkan oleh orang-orang Kay-pang, mengapa pula kau
membunuh anggota mereka?"
Dengan polos gadis
berwajah jelek itu menjawab, "Asalkan kau tidak menghalangiku tadi,
maka aku akan berhasil membunuh mereka semua, perbuatanku ini tak
akan diketahui siapa pun, bahkan aku bisa mengalihkan balas dendam
mereka ke arah yang salah. Bukankah ini justru akan mendatangkan
keuntungan bagi diriku?"
"Nona kau berasal
dari perguruan atau aliran mana?" tanya
Bong Thian-gak kemudian dengan kening berkerut.
Gadis berwajah jelek
itu tertawa cekikikan.
"Aku tidak punya
perguruan maupun partai."
"Bukankah nona yang
menyuruh dia mengantar surat untukku?" l.mya
Bong Thian-gak lagi dengan suara
dalam.
Sembari berkata dia
menunding ke arah Tan
Thiam-ka yang berdiri di samping.
"Betul! Aku yang
menitipkan surat itu kepadanya," gadis berwajah jelek itu
membenarkan.
"Seingatku belum
pernah berjumpa atau berkenalan dengan nona, darimana nona mengenali
diriku? Apa pula maksud nona mengirim surat itu kepadaku?"
"Walaupun aku tidak
kenal padamu, tapi besar kemungkinan majikan kami kenal
Ko-siangkong."
"Ai, apakah kau masih
mempunyai majikan? Siapakah nama majikan kalian itu?"
"Aku juga tidak
mengetahui siapa nama majikan kami."
Kali ini
Bong Thian-gak benar-benar dibikin
bingung dan tak habis mengerti, sebenarnya dia mengira Jit-kaucu
Thay-kun yang menyuruh gadis ini menyampaikan surat kepadanya, siapa
tahu kenyataan sama sekali berbeda dengan apa yang diduganya semula.
Lantas siapakah
majikannya?
Ilmu silat gadis
berwajah jelek itu kelihatan amat aneh dan istimewa, boleh dibilang
Bong Thian-gak sama sekali
tak mengenalinya.
Setelah termenung dan
memutar otak, Bong Thian-gak
bertanya, "Nona, dapatkah kau mengajakku pergi menjumpai majikanmu?"
"Tentu saja boleh,
cuma aku kuatir majikan tidak bersedia bertemu denganmu."
Mendadak satu ingatan
melintas dalam benak Bong
Thian-gak, katanya, "Dalam surat itu, dia menyuruh aku datang
menjumpainya."
"Kau tidak bohong?"
gadis berwajah jelek itu menegas. "Tidak!"
Gadis itu memandang
ke arah Tan Thiam-ka sekejap,
kemudian katanya, "Majikan kami tak mengizinkan orang lain
menjumpainya."
Tentu saja
Bong Thian-gak cukup memahami maksud
ucapannya itu, maka katanya kepada Tan
Thiam-ka, "Komandan Tan,
kau boleh pulang lebih dulu."
"Baik!" sahut
Tan Thiam-ka.
Dengan mengerahkan
Ginkang, dia lantas kembali ke gedung Bu-lim Bengcu.
Sepeninggal
Tan Thiam-ka, gadis itu baru berkata
sambil tersenyum, "Siangkong, mari kita berangkat!"
Selesai berkata dia
lantas membalik badan dan berangkat ke arah utara.
Bong
Thian-gak juga tidak banyak bicara, dengan ketat dia
mengikut di samping kiri gadis bermuka jelek itu.
Mendadak gadis itu
berkata, "Siangkong, apakah kau tidak mencurigai diriku sebagai
anggota Put-gwa-cin-kau?"
"Ehm, aku sudah
menduga ke situ," sahut Bong
Thian-gak dengan suara hambar.
"Seandainya aku
benar-benar anggota Put-gwa-cin-kau, apa yang hendak Siangkong
lakukan?"
"Akan kubunuh dirimu
sekarang juga!"
Gadis bermuka jelek
itu tertawa cekikikan. "Tak usah kuatir," katanya, "kedua gadis yang
kubunuh tadi tak lain adalah anggota Put-gwa-cin-kau."
"Mengapa kau
membinasakan mereka," tanya si pemuda dengan terkejut bercampur
keheranan.
"Sebab aku sedang
melaksanakan perintah majikan!"
"Sesungguhnya siapa
majikanmu itu?" desak Bong
Thian-gak tiba-tiba sambil menghela napas.
"Bagaimana pun juga
kau bakal bertemu dengannya, setelah bersua nanti kau akan tahu
dengan sendirinya."
"Majikanmu itu
seorang lelaki atau perempuan?"
"Seorang perempuan."
Kini
Bong Thian-gak diliputi perasaan
bimbang, tidak habis mengerti dan curiga, namun dia tidak berdaya
mengatasi kecurigaan itu, maka selain membuang jauh-jauh pikiran itu
untuk sementara waktu, sorot
matanya dialihkan ke
sekeliling tempat itu sambil mengawasi pemandangan alam.
Lambat-laun matahari
tenggelam di langit barat, senja pun menjelang tiba.
Suasana tengah malam
yang sepi berlapiskan cahaya keemas-rmasan yang sangat indah.
Akhirnya sampailah
mereka di depan sebuah hutan kecil, dari balik hutan lamat-lamat
nampak sebuah kuil.
"Kita sudah hampir
sampai," bisik gadis itu tiba-tiba. "Apakah kuil di depan sana?"
pemuda itu bertanya.
"Ya, kuil kaum
Nikoh!"
Sementara pembicaraan
berlangsung, mereka berdua sudah memasuki halaman muka kuil itu.
Saat itulah si nona
yang bermuka jelek itu baru menghentikan langkahnya dan berpaling ke
arah Bong Thian-gak, katanya,
"Harap kau suka menunggu sebentar di luar kuil!"
Tidak menanti jawaban
Bong Thian-gak, dia sudah
menerobos ke balik pintu gerbang kuil itu.
Meminjam sinar senja
berwarna keemas-emasan. Bong
Thian-gak mencoba mengawasi kuil itu, ternyata kuil itu bernama
Keng-tim-an.
Kuil Keng-tim-an
tidak terhitung besar, namun juga tidak kecil. Seluruh bangunan
terdiri dari lima lapis halaman.
Waktu itu di ruang
tengah amat sepi dan tidak nampak sesosok bayangan orang pun.
Suasana diliputi oleh
keheningan, kesepian yang luar biasa.
Diam-diam
Bong Thian-gak berpikir, "Andaikata
tempat ini hanya merupakan suatu perangkap Put-gwa-cin-kau,
bagaimana caraku menghadapi mereka dan meloloskan diri?"
Belum habis dia
berpikir, tiba-tiba nampak gadis bermuka jelek itu sudah berjalan
keluar dari ruang tengah, kemudian katanya dengan suara dingin,
"Siangkong, kau pandai berbohong. Dalam suratnya, majikan kami tidak
mengundangmu kemari!"
Tak usah marah-marah,
nona, sesungguhnya terdorong oleh rasa ingin tahuku, maka aku kemari
ingin berjumpa dengan majikan kalian."
"Gara-gara ulahmu
itu, akibatnya aku yang didamprat majikan habis-habisan.
Untung majikan
mempunyai pandangan lain kepadamu sehingga dia bersedia bertemu
dengan kau."
"Terima kasih banyak
atas bantuan nona, harap kau suka membawaku masuk ke dalam!"
"Setelah masuk ke
dalam kuil nanti, harap kau jangan mengusik para Nikoh."
"Apakah ada Nikoh
yang berdiam di sini?"
"Ya, mereka adalah
Nikoh yang menjalani pantangan berat, jumlahnya mencapai tujuh
puluhan orang."
Sementara berbicara,
gadis itu sudah berjalan lebih dahulu untuk menunjukkan jalan.
Sesudah memasuki
pintu kuil, benar juga pada sisi pagar bangunan itu nampak ada
puluhan orang Nikoh sedang menyirami bunga, menanam sayur dan
membabat rumput.
Mereka langsung
menuju ke ruang tengah.
Di depan patung
Buddha di ruang tengah,
nampak asap dupa mengepul memenuhi angkasa, tiga orang Nikoh sedang
berdoa di situ dengan khidmat.
Gadis bermuka jelek
itu langsung mengajak Bong
Thian-gak menuju ke halaman lapis keempat.
Waktu itu dalam semua
kamar di masing-masing halaman telah diterangi cahaya lentera.
Gadis berwajah jelek
itu membawa Bong Thian-gak
menuju ke depan sebuah rumah yang terpencil di tengah halaman. Dari
luar tampak sesosok bayangan orang sedang duduk di tepi jendela.
Bayangan tubuh seorang perempuan cantik dan menarik,
Bong Thian-gak seakan-akan pernah
mengenalinya di suatu tempat.
Pada saat itulah,
gadis itu berkata dengan sikap hormat, "Lapor majikan, Ko-siangkong
telah tiba."
Dari dalam ruangan
segera berkumandang suara merdu dan lembut, "Silakan Siangkong
masuk!"
"Siangkong, silakan
masuk!" kata gadis itu.
Sekali pun
Bong Thian-gak diliputi perasaan
bingung dan penuh ruriga, namun terdorong rasa ingin tahunya yang
besar, ia segera beranjak memasuki ruangan itu.
Setibanya dalam
ruangan dia mendongakkan kepala.
"Ah, kau!"
Bong Thian-gak segera menjerit
kaget.
Di bawah cahaya
lentera yang terang-benderang, seraut wajah yang cantik jelita
muncul di hadapannya.
Waktu itu Jit-kaucu
tidak menampilkan perasaan girang, gusar maupun murung, dia hanya
berkata hambar, "Suheng, silakan duduk."
Dipanggil "Suheng"
oleh gadis itu, Bong
Thian-gak merasakan suatu perasaan canggung. Tanpa mengucapkan
sepatah kata pun, dia lantas mengambil tempat duduk.
Pelan-pelan Jit-kaucu
Thay-kun bangkit dan menuang secawan air teh, kemudian disodorkan ke
hadapan Bong Thian-gak,
katanya, "Silakan minum air teh!"
Memandang kesepuluh
jari tangannya yang putih dan ramping, tanpa terasa
Bong Thian-gak menerima angsuran
cawan teh itu dengan cepat, namun tidak segera meneguknya.
Beberapa saat sesudah
termenung, pemuda itu baru berkata, "Jadi kau yang menulis surat
itu?"
"Ya, aku yang
menulis," Jit-kaucu Thay-kun mengangguk.
"Tindak-tandukmu
sungguh membuat aku bingung dan merasa tak habis mengerti."
Jit-kaucu menarik
wajah, kemudian berkata, "Cong-kaucu telah menurunkan perintah agar
aku membinasakan dirimu."
"Cepat atau lambat
perintah ini akan diturunkan juga!"
"Kau memang tolol,"
tegur Jit-kaucu dingin. "Memang kau harus memperlihatkan
kebolehanmu? Seandainya pada tiga hari lalu kau tidak melukai
komandan nomor dua pasukan pengawal tanpa tanding, tak nanti
Cong-kaucu memandang serius dirimu."
Mendapat teguran itu,
timbul perasaan aneh dalam hati Bong
Thian-gak, dia tidak bisa melukiskan bagaimana
perasaannya waktu itu, karenanya dia hanya menerima teguran itu
dengan mulut bungkam.
Kembali Jit-kaucu
Thay-kun berkata, "Sembilan hari lagi, Cong-kaucu akan datang
sendiri ke kota Kay-hong ini."
"Kalau begitu
sembilan hari lagi merupakan saat ajal bagimu," kata
Bong Thian-gak sambil tertawa
dingin.
Paras muka Jit-kaucu
Thay-kun lantas saja berubah hebat, serunya tanpa terasa, "Apa
maksud perkataanmu itu?"
"Setelah Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau memerintahkan kau membunuh Ku-lo Hwesio dan aku,
maka sasaran ketiga adalah dirimu sendiri! Sesungguhnya kehadirannya
di kota Kay-hong tak lain adalah untuk membunuhmu!"
"Ku-lo Sinceng
benar-benar telah meninggal dunia?"
Bong
Thian-gak mengangguk.
"Ya, sudah meninggal
dunia! Tapi dia bukan mati lantaran terhajar oleh pukulan
Soh-li-jian-yang-sin-kang."
"Ai, dunia persilatan
telah kehilangan seorang tokoh yang luar biasa," gumam Jit-kaucu
sedih.
"Sumoay," bisik
Bong Thian-gak lirih.
Dia hanya mampu
menyebut itu saja, kemudian paras mukanya berubah merah padam dan
tak mampu berkata lebih lanjut.
Jit-kaucu sendiri
paras mukanya mengunjuk suatu perubahan sangat aneh mendengar
panggilan "Sumoay" itu.
Sepasang mata mereka
saling pandang tanpa berkedip ...
lama-lama ... lebih
kurang sepeminunan teh kemudian Bong
Thian-gak baru melanjutkan kata-katanya, "Semua
perkataanku bukan cuma bualan belaka."
Jit-kaucu Thay-kun
berkerut kening, lalu gumamnya, "Dengan susah-payah Suhu mendidikku
selama dua puluh tahun lebih, entah berapa banyak pikiran dan tenaga
yang telah dikorbankan untukku, mungkinkah dia akan
...."
Bicara sampai di
situ, mendadak gadis itu menghentikan gumamannya dan tidak
dilanjutkan.
Bong
Thian-gak menghela napas sedih, ujarnya, "Dari dulu
hingga sekarang, banyak benggolan dunia persilatan yang cuma
mengutamakan keuntungan dan keberhasilan pribadi mereka, seakan
sudah kehilangan hati nurani, bahkan terhadap anak kandung sendiri
pun tega untuk dikorbankan."
"Suhu mendidik dan
membinaku justru karena ingin mewujudkan cita-citanya menguasai
dunia Kangouw, kenapa dia harus melenyapkan aku?"
"Untuk mencapai
ambisi gilanya, dia telah mengubah kau dari seorang gadis biasa
menjadi luar biasa, tujuannya tak lain adalah untuk menjadikan kau
sebagai alatnya dalam menaklukkan dunia persilatan. Kini orang yang
dia segani dan takuti telah mati semua, maka dia pun lidak
memerlukan alat itu lagi, bila alat yang lihai ini dibiarkan hidup
terus, hal itu akan menimbulkan ketidak-tenangannya di masa-masa
mendatang."
"Mengapa bisa
begitu?"
"Alasan yang terutama
adalah karena ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang yang kau miliki justru
merupakan tandingan kepandaian silatnya."
Jit-kaucu Thay-kun
berkerut kening, "Darimana kau tahu Soh-li-jian-yang-sin-kang
merupakan tandingan segenap kepandaian sakti guruku? Apakah kau
sudah mengetahui asal-usul Cong-kaucu?"
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Ai
... aku memang tidak jelas tentang
asal-usul Cong-kaucu, namun persoalan ini diketahui Ku-lo Sinceng
sesaat sebelum dia meninggal dunia."
Thay-kun tertawa
dingin. "Begini cara sembilan partai besar dari daratan Tionggoan
mengadu domba kekuatan kami?" ejeknya.
Bong
Thian-gak menarik muka dan berkata dengan wajah serius,
"Semua perkataan yang kuucapkan hari ini adalah sejujurnya,
kuucapkan dengan maksud dan tujuan baik."
Mendadak Jit-kaucu
Thay-kun bertanya, "Apakah si jelek telah menyampaikan sesuatu
kepadamu?"
"Si jelek? Si jelek
yang mana?"
"Gadis yang membawamu
kemari itu."
Bong
Thian-gak menggeleng.
"Tidak!"
"Mengapa kau tidak
menyayangi keselamatan jiwamu sendiri?" pelan-pelan Jit-kaucu
Thay-kun bertanya.
"Dilahirkan saja
sukar, siapa bilang aku tidak menyayangi jiwaku?"
"Sekarang Cong-kaucu
sudah berhasrat melenyapkan kau dari muka bumi, apa rencanamu untuk
menghadapinya?" "Melawan sampai titik darah penghabisan."
"Kau harus tahu,
Put-gwa-cin-kau memiliki kekuatan luar biasa, mengertikah kau akan
hal ini?"
"Kecuali kau, aku
yakin masih mampu menghadapi yang lain."
"Tampaknya kau
menaruh kepercayaan yang kelewat besar terhadap kemampuan ilmu
silatmu?"
"Aku sudah pernah
mengalahkan beberapa orang jago lihai Put-gwa-cin-kau."
"Bagaimana menurut
pendapatmu tentang ilmu silat komandan nomor dua pasukan pengawal
tanpa tanding itu?"
"Lihai sekali."
"Sampai dimanakah
taraf kelihaianmu?"
Bong
Thian-gak termenung beberapa saat, kemudian baru
berkata, "Jauh lebih lihai daripada Sam-kaucu, tapi aku yakin masih
bisa mengalahkan dia, bahkan sekalian mencabut jiwanya."
Jit-kaucu Thay-kun
menghela napas sedih, "Ai, orang itu merupakan salah seorang jago
muda yang berhasil dididik Cong-kaucu hanya dalam tujuh tahun. Dari
tingkat ilmu silat orang itu, tentunya kau bisa membayangkan bukan
sampai taraf macam apakah kepandaian silat Cong-kaucu!"
"Selain Cong-kaucu,
ilmu silat Ji-kaucu (ketua kedua) serta komandan nomor satu pasukan
pengawal tanpa tanding juga luar biasa hebatnya, sampai dimanakah
kehebatan mereka bahkan aku sendiri pun tak bisa menduganya secara
tepat."
"Terutama Ji-kaucu,
bukan saja ilmu silatnya sangat lihai, dia pun memiliki berbagai
ilmu hitam dan ilmu sesat lainnya yang mengerikan. Dia menjabat
sebagai Kunsu (juru pikir) Put-gwa-cin-kau, semua rencana dan ide
keluar dari benak orang ini, aku benar-benar kuatir dia datang ke
kota Kay-hong ini."
Bong
Thian-gak yang mendengar perkataan itu diam-diam
terperanjat, tapi rasa terkejut tidak diperlihatkan di mukanya.
"Dapatkah kau
sebutkan nama mereka?" tanyanya kemudian dengan suara lembut.
Paras muka Jit-kaucu
Thay-kun bertambah berat, tegasnya dengan nnda dingin,"Sudah terlalu
banyak rahasia yang kuutarakan kepadamu."
"Terima kasih banyak,
Sumoay!"
"Untuk menyelamatkan
jiwamu, hari ini aku telah menitahkan si jelek untuk membunuh
anggota Put-gwa-cin-kau. Dengan matinya mereka, untuk sementara
rahasia pertemuan kita dapat dipertahankan, oleh sebab itu dalam
sembilan hari kau harus menghindarkan diri, kau harus menghindari
pengejaran dan usaha pembunuhan orang-orang Put-gwa-cin-kau."
Bong
Thian-gak menghela napas pelan.
"Sumoay, belakangan
ini gara-gara aku, kau telah mengkhianati
Put-gwa-cin-kau, mengapa kau tidak melepaskan jalan
sesat untuk kembali ke jalan yang benar saja?"
Jit-kaucu Thay-kun
menghela napas sedih, "Aku harus menanti...."
Sampai di situ dia berhenti dan tidak melanjutkan
kata-katanya. "Sumoay, apa yang sedang kau nantikan?"
"Aku tidak percaya
Cong-kaucu adalah seorang yang tidak berdarah dan berdaging, masakah
dia sama sekali tak berperasaan."
Mendengar perkataan
itu, Bong Thian-gak jadi
girang, pikirnya, "Dari kata-katanya, bukankah terbukti dia sudah
punya perasaan tidak percaya terhadap Cong-kaucu
.... Kalau sekarang dia masih belum
menantangnya secara langsung dan terang-terangan, sesungguhnya
kejadian ini pun merupakan peristiwa yang lumrah. Bagaimana pun juga
Cong-kaucu adalah gurunya, penolong yang telah memelihara dan
mendidiknya hingga dewasa. Perasaan itu memang lebih dalam daripada
samudra dan mustahil bisa dilupakan orang begitu saja. Oleh sebab
itu kendati dia tahu pada akhirnya Cong-kaucu hendak turun tangan
keji kepadanya, tapi untuk membuktikan hal ini terpaksa dia harus
menanti sampai Cong-kaucu benar-benar memperlihatkan wajah yang
sesungguhnya."
Kemudian
Bong Thian-gak bertanya, "Apakah
kuil Keng-tim-an ini merupakan salah satu markas besar
Put-gwa-cin-kau?"
Jit-kaucu Thay-kun
menggeleng, "Put-gwa-cin-kau sama sekali tidak tahu aku sedang
berada di kuil Nikoh ini."
"Siapakah Hongtiang
(ketua) kuil Keng-tim-an ini?"
"Suhunya si jelek."
"Mengapa si jelek
menyebutmu sebagai majikan?"
Jit-kaucu Thay-kun
mengangkat kepala dan memandang sekejap ke arah
Bong Thian-gak, kemudian dia
tersenyum sambil berkata, "Aku adalah majikan kuil Keng-tim-an ini,
termasuk Hongtiangnya, mereka memanggilku sebagai majikan."
"Aku tidak mengerti,"
kata Bong Thian-gak sambil
menggeleng kepala dengan perasaan tidak mengerti.
Jit-kaucu Thay-kun
termenung sejenak, katanya, "Sekarang masih belum waktunya, aku tak
ingin membongkar rahasia ini lebih dulu. Sebentar akan kuperkenalkan
dirimu dengan Keng-tim Suthay, apabila kau menemui kesulitan di
kemudian hari, mereka akan membantumu."
Jit-kaucu Thay-kun
segera bangkit, setelah mengangkat kepala memandang cuaca, dia pun
berbisik lirih, "Waktu sudah tidak pagi, aku tak bisa berdiam lebih
lama di sini."
Baru selesai dia
berkata, mendadak dari luar ruangan terdengar suara langkah kaki
berkumandang datang, menyusul terdengar seorang berkata dengan suara
yang lembut dan manis, "Lapor majikan, apakah akan bersantap di
sini?"
Mendengar ucapan itu,
Bong Thian-gak segera tahu
orang yang berada di luar sana adalah si nona muka jelek.
"Tidak usah," jawab
Jit-kaucu Thay-kun dengan suara merdu. "Aku akan segera pergi
meninggalkan tempat ini, lebih baik kau sediakan hidangan malam
untuk Ko-siangkong saja."
Bong
Thian-gak ikut bangkit, katanya, "Tidak usah, aku harus
buru-buru kembali."
Tidak menanti
Bong Thian-gak berkata lebih jauh,
Jit-kaucu Thay-kun menukas, "Si jelek, apakah Keng-tim Suthay telah
menyelesaikan semedinya?"
"Ibu telah
menyelesaikan sembahyang malamnya," jawab nona itu dengan hormat,
dia melangkah masuk ke dalam ruangan dengan pelan.
"Jika begitu harap
kau mengundangnya kemari," perintah Jit-kaucu.
"Baik!" sahut si
nona.
Dia segera
membalikkan badan dan berlalu dari ruangan itu.
Sepeninggal nona
bermuka jelek, Jit-kaucu berkata kepada
Bong Thian-gak, "Suheng, tak ada salahnya kau bersantap
malam dulu di sini sebelum pergi, kau pun perlu berbincang-bincang
dengan Keng-tim Suthay dan si
jelek agar kedua belah pihak saling kenal lebih mendalam."
Sesungguhnya
Bong Thian-gak memang menaruh
perasaan bingung, curiga dan ingin tahu terhadap kuil Keng-tim-an.
Dalam hati pemuda itu bersedia tetap tinggal di situ melakukan
penyelidikan.
Selang beberapa saat
kemudian dari luar ruangan terdengar lagi
mum langkah kaki manusia, dengan cepat muncul bayangan
orang dari luar ruangan.
Tampak seorang Nikoh
setengah umur yang mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu,
membawa tasbih di tangan, berdiri di depan pintu, di belakangnya
mengikut si nona bermuka jelek itu.
Dengan sorot mata
tajam Nikoh setengah umur itu memandang sekejap wajah
Bong Thian-gak, kemudian dia
merangkap tangan dan memberi hormat kepada Jit-kaucu Thay-kun.
"Pinni sedang
bersemedi dalam ruangan hingga tak mengetahui kedatangan majikan di
sini, bilamana tak menyambut kedatanganmu harap majikan sudi
memaafkan."
Sekarang
Bong Thian-gak baru sempat melihat
wajah Nikoh setengah umur itu, mukanya bulat dengan kulit putih
bersih, panca indranya sempurna dan memancarkan keanggunan.
Menyaksikan hal itu,
tanpa terasa dia berpikir, "Mungkinkah dia adalah ibu si jelek?"
Lalu ia
memperkenalkan diri, "Namaku Ko Hong, harap Suthay sudi banyak
memberi petunjuk."
Jit-kaucu Thay-kun
menuding ke arah Nikoh setengah umur itu sembari berkata, "Dia
adalah Hongtiang kuil ini, Keng-tim Suthay, sedang ini adalah
Ko-siauhiap."
Keng-tim Suthay
tersenyum dan manggut-manggut, katanya, "Ko-siauhiap, belakangan ini
nama besarmu menggetarkan dunia persilatan, sudah lama Pinni
mendengar nama besarmu."
"Ah, aku hanya
seorang pemuda yang baru terjun ke dunia persilatan, Suthay
terlampau memuji!"
"Keng-tim Suthay,"
kata Jit-kaucu pula, "harap kalian menemani.
Ko-siangkong berbincang-bincang, bilamana Siangkong
membutuhkan bantuan kalian di kemudian hari, harap kalian suka
membantu sepenuh tenaga. Maaf, aku harus segera pergi."
"Apakah majikan masih
akan meninggalkan pesan lain?"
"Sembilan hari lagi,
bila aku belum kembali di kuil Keng-tim-an ini, kau boleh
menyampaikan semua petunjuk itu kepada Siangkong."
Selesai berkata ia
segera berkelebat dan tanpa menimbulkan sedikit suara pun berlalu
dari situ.
Menyaksikan ilmu
meringankan tubuh Jit-kaucu Thay-kun ya begitu sempurna, diam-diam
Bong Thian-gak berpikir,
"Kepandai silatnya benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaan."
Sementara dia masih
termenung, Keng-tim Suthay berkata
dengan
suara lembut, "Siangkong, harap minum
air teh."
Sembari berkata, nona
bermuka jelek dan Keng-tim Suthay masing-masing mengambil tempat
duduk, kemudian memenuhi cawan Bong
Thian-gak dengan air teh baru.
Bong
Thian-gak menghela napas panjang.
"Suthay, ucapannya
sebelum pergi tadi sungguh membuat hati orang merasa kuatir."
Keng-tim Suthay
tersenyum, "Ko-sicu tak usah murung. Segala sesuatunya telah diatur
oleh takdir."
"Suthay, aku
mempunyai beberapa persoalan yang tak kupahami, bersediakah kau
memberi petunjuk?" tanya Bong
Thian-gak kemudian dengan kening berkerut.
Keng-tim Suthay
tertawa, "Majikan telah berpesan, oleh karena saatnya belum tiba,
kurang baik untuk membongkar rahasia itu. Maaf apabila Pinni tak
bisa banyak membantumu."
Mendengar ucapan itu,
kembali Bong Thian-gak
berpikir, "Kalau dilihat dari kemampuan si nona bermuka jelek dalam
melakukan pembunuhan atas kedua belas orang anggota Kay-pang itu,
sudah dapat diketahui dia adalah seorang jago lihai yang berilmu
tinggi, sedangkan Keng-tim Suthay juga bermata amat tajam, tampaknya
kesempurnaan tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan.
Dengan bekal kepandaian ilmu silat yang begitu tinggi, nyatanya
sikap mereka terhadap Jit-kaucu Thay-kun begitu hormat, sesungguhnya
hubungan apakah yang terjalin di antara mereka bertiga?"
Sementara dia
termenung memikirkan persoalan itu, mendadak tampak paras muka
Keng-tim Suthay berubah hebat, kemudian tanyanya dengan lirih,
"Siangkong, apakah kau datang bersama sahabatmu?"
Mendengar ucapan itu,
Bong Thian-gak segera pasang
telinga baik-baik, segera ia tahu di atas atap rumah telah
kedatangan dua orang pejalan malam.
Bong
Thian-gak agak kuatir kalau mereka adalah anggota
gedung Bu-lim Bengcu, siapa
tahu mereka tidak tega membiarkan dia pergi ftcnrang diri, maka
secara diam-diam mengutus orang menguntit.
Maka untuk beberapa
saat dia tidak mampu menjawab pertanyaan Keng-tim Suthay.
Sementara itu
Keng-tim Suthay sudah membentak dengan suara dalam, "Sicu
darimanakah yang telah mengganggu ketenangan kami? Mengapa tidak
segera turun?"
"Hehehe," suara tawa
menyeramkan berkumandang memecah keheningan malam.
Kemudian "Sret", di
tengah halaman telah bertambah dengan dua sosok manusia.
Dengan suatu lompatan
kilat, Bong Thian-gak
menyusup keluar melalui jendela, sementara Keng-tim Suthay dan nona
bermuka jelek itu pun telah keluar ruangan.
Di bawah cahaya
lentera yang memancar keluar dari dalam ruangan, tampak dua orang
aneh berbaju putih telah berdiri di tengah halaman, jubah putih
mereka diberi beberapa tambalan dari kain kuning.
Begitu melihat siapa
gerangan dua orang tamu tak diundang itu, diam-diam
Bong Thian-gak mengeluh dalam hati,
"Aduh celaka! Rupanya anggota Kay-pang yang telah kemari."
Sementara itu si nona
bermuka jelek pun mengeluh dalam hati.
Dalam pada itu
Keng-tim Suthay telah merangkap tangan di depan dada sambil menegur,
"Omitohud, apakah Sicu berdua adalah anggota Kay-pang?"
Kedua orang lelaki
berbaju putih itu berusia empat puluh tahunan, orang di sebelah kiri
berperawakan tinggi kekar, memelihara jenggot pendek. Sedangkan
orang di sebelah kanan berwajah bersih tapi mencorong tajam sinar
matanya, jelas dia lebih cekatan dan hebat.
Sejak menampakkan
diri di situ, mereka berdua dengan tajam mengawasi nona bermuka
jelek dan Bong Thian-gak
tanpa berkedip, wajah mereka dihiasi hawa amarah yang amat tebal.
Mendadak terdengar
lelaki berwajah bersih menyahut sambil tertawa dingin, "Benar, kami
berdua adalah Hiangcu ruang hukuman Kay-pang."
Dari mimik wajah
mereka yang kurang cerah, Keng-tim Suthay tahu kedatangan mereka
disebabkan suatu persoalan, dia merangkap tangan kembali, tanyanya,
"Entah ada urusan apa Hiangcu berdua berkunjung ke kuil kami?"
"Hm, tanyakan
kepadanya bila ingin tahu," seru lelaki bermuka bersih sambil
menunjuk ke arah nona bermuka jelek itu.
Keng-tim Suthay
berpaling dan memandang sekejap ke arah nona bermuka jelek itu,
tanyanya pula, "Si jelek, apa yang telah kau lakukan sehingga
membuat marah mereka berdua? Ayo cepat minta maaf kepada kedua Sicu
ini!"
"Minta maaf?" jengek
lelaki bertubuh kekar itu ketus. "Hm, tak segampang itu urusan bisa
dibikin selesai."
"Ibu, aku telah
membunuh dua belas orang mereka," bisik nona bermuka jelek itu
lirih.
Setelah mengetahui
duduk persoalannya, Keng-tim Suthay baru menyadari betapa gawatnya
persoalan itu, dengan suara dalam dia lantas menegur, "Si jelek,
mengapa kau melakukan perbuatan tolol itu?"
Bong
Thian-gak tahu semua kesulitan itu gara-garanya, coba
kalau dia memberi kesempatan nona bermuka jelek itu menghabisi nyawa
pengemis terakhir tadi, sudah pasti tak akan terjadi kesulitan
seperti ini.
Kay-pang merupakan
perkumpulan terbesar yang mempunyai kekuasaan paling luas dalam
Bu-lim, jago-jago lihainya banyak, tak bisa dihitung, cara kerja
mereka pun antara sesat dan lurus, baik golongan putih maupun hitam
biasanya suka mengalah terhadap masalah-masalah yang melibatkan
pihak kaum pengemis.
Menghadapi situasi
saat ini mau tak mau Bong
Thian-gak harus memutar otak mencari akal.
Mendadak terdengar
lelaki berwajah bersih itu berkata dengan suara dingin, "Hutang uang
bayar uang hutang nyawa harus dibayar nyawa, kami akan pergi dari
sini bila pembunuhnya telah diserahkan!"
Tiba-tiba
Bong Thian-gak maju sembari menjura,
kemudian katanya, "Saudara berdua, peristiwa terbunuhnya beberapa
orang anggota perkumpulan kalian di tangan nona ini, di kemudian
hari aku pasti akan berkunjung sendiri ke markas besar kalian di
Sucwan untuk memberikan keadilan kepada kalian. Bagaimana kalau
kalian berdua menyudahi persoalan sampai di sini dulu?"
Lelaki berwajah
bersih itu tertawa dingin.
"Siapa namamu? Apakah
dengan bekal beberapa kata-katamu itu kami harus menghabisi dendam
kesumat sedalam lautan begitu saja?"
"Aku
she Ko bernama Hong. Harap kau sudi
memberi petunjuk," kata Bong
Thian-gak menahan sabar.
Nama "Ko Hong" ini
sudah berubah menjadi nama yang amat termasyhur dalam Bu-lim dewasa
ini, paras muka kedua orang Hiangcu Kay-pang itu segera berubah
hebat.
"Bagus!" seru lelaki
bertubuh kekar sambil tertawa tergelak, "Ji-siauya partai kami
Giok-bin-giam-lo (Raja akhirat berwajah pualam)
To Siau-hou pernah menyinggung nama
besarmu setelah sadar dari pingsannya tempo hari, katanya bila ingin
mengetahui Put-gwa-cin-kau paling
baik menemukan dirimu. Hari ini kau harus mengikuti kami pergi dari
sini."
Bong
Thian-gak tersenyum.
"Sebetulnya aku
bersedia mengikuti kalian pergi dari sini, sayang aku masih ada
urusan penting lainnya yang harus segera diselesaikan, hingga...."
"Kuanjurkan kepada
saudara, lebih baik jangan mengikat tali permusuhan dengan
Kay-pang!" bentak lelaki kekar itu dengan wajah membesi.
Tiba-tiba saja paras
muka Bong Thian-gak berubah
pula, dingin seperti es, ucapnya ketus, "Kalian tak akan mampu
menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik, kuanjurkan kepada
kalian lebih baik cepat pulang saja, tak usah mencari penyakit buat
diri sendiri."
Beberapa patah kata
itu kontan membuat kedua orang Hiangcu itu naik darah.
Kedudukan Hiangcu
dalam Kay-pang hanya sedikit di bawah Tongcu, merupakan orang ketiga
yang berkuasa dalam perkumpulan, apalagi mereka adalah Hiangcu ruang
hukuman, kekuasaan maupun kedudukannya tinggi sekali.
Lelaki berwajah
bersih itu tertawa seram.
"Hehehe, mendengar
perkataanmu itu, kami jadi tak tahu diri
dan
ingin sekali mengetahui apa yang menjadi modalmu hingga berani
bersikap jumawa!"
Si nona bermuka jelek
yang selama ini hanya diam saja, mendadak berkata, "Bukankah kalian
berdua ingin mengajakku pergi? Baiklah,
aku
bersedia pergi bersama kalian."
Si jelek berpaling ke
arah Keng-tim Suthay, kemudian berkati pelan, "Ibu, siapa membunuh
orang, dia harus membayar dengan nyawa pula, putrimu merasa sudah
sepantasnya mengikuti mereka untuk menerima hukuman, harap kau orang
tua jangan kuatir."
Kemudian sambil
berpaling ke arah kedua orang itu, dia berkata lagi, "Semua
perbuatan itu merupakan tanggung-jawabku, mari kita pergi!"
Bong
Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu punya firasat
permainan apakah yang hendak dilakukan gadis bermuka jelek itu.
Namun berhubung
perkembangan peristiwa itu telah mencapai keadaan seperti ini, tentu
saja dia tak dapat menghalangi niatnya lagi.
Dalam hati dia hanya
bisa berdoa secara diam-diam, "Semoga Thian mengampuni
dosa-dosanya!"
Begitulah dua orang
Hiangcu dari Kay-pang segera membawa nona bermuka jelek itu berlalu
dari situ.
Memandang bayangan
punggung mereka lenyap dari pandangan, Keng-tim Suthay menghela
napas sedih, katanya, "Dosa! Dosa! Dendam berdarah ini makin lama
semakin mendalam, tampaknya ikatan permusuhan ini tak bakal berakhir
untuk selamanya."
"Semoga saja sejak
kini hilang semua bukti-bukti nyata, kalau tidak, entah bagaimana
akhirnya nanti?"
"Omitohud," bisik
Keng-tim Suthay pelan, "Ko-siangkong, silakan duduk di dalam."
Bong
Thian-gak dan Keng-tim Suthay masuk dan duduk di ruang
dalam.
Saat itulah Keng-tim
Suthay berkata, "Siangkong, apakah kau telah menyaksikan pertarungan
itu?"
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Menjelang senja
tadi, putrimu dikejar oleh tiga belas jago Kay-pang
...."
Secara ringkas
Bong Thian-gak menceritakan
bagaimana peristiwa pembunuhan itu terjadi.
Begitu selesai
mendengar penuturan itu, Keng-tim Suthay menghela napas panjang dan
berkata, "Ai, perbuatan yang dilakukan si jelek memang tugas yang
dibebankan majikan kepada kami menyangkut keselamatan seluruh umat
persilatan, apabila rahasia itu sampai dibocorkan anggota Kay-pang,
bukan saja keselamatan jiwa majikan kami terancam bahaya, bahkan
akan menyangkut keselamatan jiwa puluhan orang lainnya."
Bong
Thian-gak terperanjat mendengar perkataan itu, katanya,
"Apa maksud perkataanmu itu?"
"Di kemudian hari
Siangkong bakal tahu dengan sendirinya, ai! Kekuatan Put-gwa-cin-kau
saat ini mengancam keselamatan umat persilatan, kekuatan sembilan
partai besar dunia persilatan pun sudah dipaksa musuh hingga berada
dalam posisi tak mampu melawan lagi."
Keng-tim Suthay
berhenti sejenak, lanjutnya pula, "Untuk menyelamatkan dunia
persilatan dari berbagai pembunuhan itu, Put-gwa-cin-kau harus
ditumpas sampai ke akar-akarnya dan untuk itu tampaknya hanya
...."
Berkata sampai di
sini Keng-tim Suthay menutup mulut.
Makin mendengar
Bong Thian-gak makin memahami
akan suatu rahasia besar dunia persilatan, lekas dia bertanya,
"Hanya apa? Mengapa Suthay tidak melanjutkan perkataanmu dengan
terus-terang?"
Keng-tim Suthay
memandang sekejap ke arah Bong
Thian-gak, lalu ujarnya, "Siangkong adalah orang pandai,
tentunya telah menduga garis besar duduknya persoalan bukan? Yang
jelas sembilan hari lagi di Bu-lim akan muncul suatu organisasi baru
yang berkekuatan besar."
"Ah! Mengapa aku
belum mendengar persoalan ini," seru Bong
Thian-gak dengan terperanjat. "Siapa yang memimpin
perkumpulan baru ini? Apakah dia?"
Pada saat itulah
dalam ruangan telah berjalan masuk si nona bermuka jelek itu, hanya
kali ini dia muncul dengan pakaian bernoda darah dan peluh membasahi
jidat.
Bong
Thian-gak maupun Keng-tim Suthay tahu apa yang telah
diperbuat nona itu, kendatipun demikian dia tak tahan untuk tidak
bertanya, "Nona, bagaimana caramu menghukum mereka?"
"Membantainya sampai
mampus!" sahut nona itu dengan hambar.
Bong
Thian-gak berkerut kening dan bergumam, "Korban yang
mengenaskan nasibnya."
"Bila kita tidak
melenyapkan mereka, pihak Kay-pang pasti
akan
mencari balas tiada hentinya."
"Apa sebabnya nona
tak menyembunyikan diri sementara waktu?M
"Si jelek, perkataan
Ko-siangkong memang benar," sahut Keng-tim Suthay. "Untuk sementara
waktu kau bersembunyi saja dalam kuil sembari menunggu petunjuk
selanjutnya dari majikan."
Bong
Thian-gak segera bangkit, kepada Keng-tim Suthay ia
berkata, "Aku tak bisa berdiam lebih lama lagi di sini, untuk
sementara waktu mohon diri dahulu, tapi sebelum pergi bolehkah aku
bertanya kepada Suthay, apakah kau mengetahui tempat tinggal majikan
kalian?"
"Majikan pernah
memberitahu kepada Pinni bahwa Put-gwa-cin-kau telah menurunkan
perintah untuk membunuh Siangkong. Kini Siangkong menanyakan tempat
kediaman majikan, apakah kau hendak mengantar diri ke mulut
harimau?"
Paras muka
Bong Thian-gak berubah serius,
katanya dengan nada sungguh-sungguh, "Kini keselamatan jiwanya
berada dalam bahaya, bagaimana pun juga aku harus melindunginya
secara diam-diam."
"Majikan telah
dilindungi keselamatan jiwanya oleh empat orang
jago
lihai, aku pikir keselamatan jiwanya
tidak terlampau berbahaya."
"Tapi lebih banyak
yang melindunginya lebih baik? Kehadiranku
hanya
akan mendatangkan keuntungan saja
baginya?"
"Tapi jika sampai
terjadi mengusik rumput mengejutkan ular, bagaimana?"
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, aku mendapat
perintah melindungi keselamatan jiwanya, bagaimana pun juga aku
harus
berupaya dengan segala kemampuanku untuk
melaksanakan lugasku sebaik-baiknya, andai aku harus mencari secara
membuta, tindakan
itu malahan akan mengusik
rumput mengejutkan ular dan mempengaruhi situasi."
"Omitohud, tak nyana
ketajaman lidah Siangkong tidak berada di
bawah
kepandaian ilmu silatmu," kata Keng-tim
Suthay kewalahan.
Bong
Thian-gak tersenyum.
"Sungkan! Sungkan,
harap Suthay utarakan dengan cepat!"
"Kantor cabang
Put-gwa-cin-kau didirikan di kota Kay-hong,
berada
dalam sebuah kampung
petani kecil, lebih kurang tiga puluh li di
luar
kota sebelah utara, kepala kampung
tempat itu pun anggota Put-gwa
cin-kau, apabila Siangkong
ingin menyelundup ke dalam dusun itu, aku
rasa
hal ini jauh lebih sulit daripada
mendaki langit."
"Terima kasih banyak
atas petunjuk Suthay, sekali pun harus mendaki bukit golok atau
menembus sarang naga gua harimau, aku akan tetap berupaya menyusup
ke sana."
Kembali Keng-tim
Suthay menghela napas panjang.
"Ai, baiklah kalau
Siangkong berkeras kepala, tampaknya Pinni harus menanggung resiko
bakal ditegur majikan."
Sembari berkata, dari
sakunya Keng-tim Suthay mengeluarkan sebatang panah pendek tanpa
bulu.
Panah itu panjangnya
cuma tiga inci dengan kepala panah terbuat dari emas murni,
sementara batang panah berwarna hitam, agaknya terbuat dari kayu
besi.
Di atas panah itu
tertera banyak ukiran, hanya tidak diketahui ukiran apakah itu.
Sambil memegang panah
kecil tak berbulu itu, Keng-tim Suthay berkata, "Panah kecil ini
merupakan lencana Put-gwa-kim-ciam-leng dari Put-gwa-cin-kau,
lencana itu melambangkan Cong-kaucu. Di dalam Put-gwa-cin-kau, orang
yang mempunyai lencana panah emas ini pun hanya Ji-kaucu sampai
Kiu-kaucu ditambah tiga orang komandan pasukan pengawal tanpa
tanding."
Setelah berhenti
sejenak, sambungnya lebih jauh, "Aku harap lencana emas ini kau
simpan dengan sebaik-baiknya!"
Setelah menerima anak
panah kecil itu, Bong
Thian-gak berkata, "Apakah anak panah emas ini milik majikanmu?"
Keng-tim Suthay
menggeleng,
"Bukan!" sahutnya
sambil tertawa.
Mendadak satu ingatan
melintas dalam benak pemuda itu, katanya kemudian, "Kalau begitu,
Suthay juga ...."
"Ya, dulu Pinni
memang anggota Put-gwa-cin-kau, tapi sekarang bukan."
"Bolehkah aku tahu
apa kedudukan Suthay dalam perkumpulan tempo hari?"
"Pinni adalah seorang
di antara tiga komandan pasukan pengawal tanpa tanding, ai! Kejadian
sedih di masa lampau tak usah dibicarakan lagi."
Dalam diamnya
Bong Thian-gak mengangguk, pikirnya
pula.
"Sungguh tak kusangka
dia pun salah seorang anggota Put-gwa-cin-kau, tampaknya pada waktu
yang lampau dia mengalami suatu peristiwa yang amat memedihkan
hatinya."
Berpikir sampai di
situ, anak muda itu segera bertanya, "Tolong tanya Suthay, bagaimana
caraku mempergunakan anak panah emas ini?"
"Kecuali terhadap dua
belas orang pentolan Put-gwa-cin-kau, terhadap anggota perkumpulan
yang lain kau boleh menggunakan lencana panah emas ini dan
memberikan perintah kepada mereka."
"Dengan membawa
lencana ini kau bisa masuk keluar di dalam perkampungan itu dengan
leluasa."
"Terima kasih banyak,
Suthay!"
Untuk kesekian
kalinya Keng-tim Suthay memberi peringatan, "Ingat baik-baik, kedua
belas pentolan Put-gwa-cin-kau itu saling mengenal wajah
masing-masing, kau tak boleh membiarkan mereka tahu lencana panah
emas ini!"
Bong
Thian-gak manggut-manggut.
"Aku pasti
mempergunakannya dengan hati-hati," sahutnya.
Keng-tim Suthay
mengangkat kepala dan termenung beberapa saat, kemudian berkata,
"Harap Siangkong suka memperhatikan baik-baik, terutama terhadap
Ji-kaucu, orang ini licik, berbahaya, kejam dan penuh dengan tipu
daya, selain matanya tajam, dia pun gampang menaruh curiga terhadap
seseorang, boleh dibilang dia merupakan manusia paling berbahaya di
dunia ini, dengarkan baik-baik, Pinni akan mencoba melukiskan raut
wajah orang itu."
"Suthay begitu
menaruh perhatian kepadaku, sungguh membuat aku merasa berterima
kasih sekali."
Keng-tim Suthay
tersenyum.
"Di kemudian hari
kita akan menjadi rekan seperjuangan dalam Bu-lim, harap Siangkong
tak usah sungkan-sungkan lagi."
Setelah berhenti
sejenak, sambungnya pula, "Ji-kaucu berusia lima puluh tahun, tapi
dipandang dari luar, usianya seperti jauh lebih muda, berdandan
seorang sastrawan dan gemar memakai jubah warna hijau, potongan
badannya tinggi gagah seperti potongan seorang dewa. Yang menjadi
ciri khas darinya, ia mempunyai sebuah tahi lalat berwarna hitam
pada ekor alis mata sebelah kirinya, dia pun suka menggembol pedang
tembaga hijau di pinggangnya."
"Dandanan semacam ini
tidak sukar untuk dikenali”
kata Bong Thian-gak.
"Tentang ilmu silat
Ji-kaucu ini, kepandaian silatnya yang lihai adalah ilmu beracun
yang membunuh orang tak nampak darah, bila bertemu dengannya, lebih
baik jangan berdiri bertentangan dengan arah datangnya angin."
"Majikan kalian
pernah menyinggung pula tentang berbahayanya Ji-kaucu ini, aku pasti
akan bertindak menurut keadaan. Beruntung sekali aku telah bertemu
dengan Suthay hari ini sehingga banyak rahasia Put-gwa-cin-kau yang
berhasil kuketahui, umat persilatan pasti akan berterima kasih atas
petunjuk Suthay ini."
"Aku minta kau jangan
memberitahukan apa yang kita bicarakan hari ini kepada orang lain,
tentunya Siangkong dapat menjaga rahasia secara baik-baik bukan?"
"Mengapa?"'
"Ada satu hal mesti
kau tahu, dalam gedung Bu-lim Bengcu terdapat mata-mata yang
mendekam di situ, bahkan orang-orang Put-gwa-cin-kau menganggap
Pinni sudah meninggal dunia sejak belasan tahun berselang. Apabila
rahasia ini sampai terbongkar, sudah pasti pihak Put-gwa-cin-kau
akan turun tangan membekuk semua jago, hal ini dapat mempengaruhi
berpuluh-puluh jiwa jago berilmu tinggi."
Bong
Thian-gak termenung beberapa saat lamanya, setelah itu
katanya, "Hingga sekarang di dalam gedung Bu-lim Bengcu masih
terdapat seorang mata-mata yang mendekam di situ, konon adalah
Cap-go-kaucu. Apakah Suthay mengetahui asal-usul Cap-go-kaucu ini?"
"Sudah belasan tahun
Pinni tak pernah mencampuri urusan perkumpulan, rahasia semacam itu
hanya diketahui majikanku saja."
"Persoalan ini tak
mungkin bisa ditunda-tunda lagi, aku ingin mohon diri sekarang
juga."
"Apakah Siangkong
tidak bersantap dulu? Bersantaplah sebelum pergi!"
"Terima kasih banyak,
sampai bertemu lagi di lain kesempatan." Selesai berkata, dengan
cepat pemuda ini berangkat meninggalkan kuil Nikoh itu.
Setelah keluar dari
kuil, Bong Thian-gak
menentukan arah tujuannya, kemudian dengan mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya buru-buru berangkat kembali ke gedung Bu-lim
Bengcu.
Sementara Ho
Put-ciang sekalian sudah menunggu di halaman tengah, mereka sedang
menanti dengan perasaan sangat gelisah.
Orang-orang itu
menjadi amat gembira setelah menyaksikan
Bong Thian-gak muncul kembali dalam keadaan selamat.
Pendekar sastrawan
dari Im-ciu Thia Leng-juan segera bertanya, "Ko-heng, apakah
menemukan sesuatu perkembangan baru?"
Bong
Thian-gak tersenyum.
"Ya, tidak sia-sia
perjalananku kali ini."
"Apa yang berhasil
Ko-siauhiap temukan? Apakah kau dapat memberitahukan?"
Dengan cepat
Bong Thian-gak menggeleng.
"Aku telah berjanji
kepada orang lain untuk tidak membocorkan rahasia itu, harap saudara
sekalian sudi memaafkan, cuma kalian pun lak akan menanti terlalu
lama."
"Sembilan hari lagi
segala sesuatunya akan menjadi terang."
"Sebagai anggota
persilatan, janji memang harus ditepati, kalau begitu Ko-siauhiap
tak usah mempersoalkan itu."
"Sembilan hari lagi,
dunia persilatan akan mengalami suatu perubahan yang amat pesat,
sekarang aku harus melaksanakan tugas pertama
yang dibebankan Ku-lo
Sinceng sebelum ajal, yaitu melindungi keselamatan Jit-kaucu."
"Apakah kau telah
berhasil menemukannya?"
"Ya, aku telah
berhasil menemukan jejaknya!"
"Jadi orang-orang
Put-gwa-cin-kau belum meninggalkan kota Kay-hong?"
tiba-tiba Thia Leng-juan
berkata.
"Oya, hampir saja aku
lupa memberi keterangan kepada kalian, dalam sembilan hari ini,
pihak Put-gwa-cin-kau akan mendatangkan
semua
jago intinya ke kota Kay-hong,
mungkin pertempuran akan segera berlangsung,
kita harus bersiap menghadapi setiap perubahan."
"Ji-kaucu
Put-gwa-cin-kau pandai dalam ilmu beracun dan membunuh orang tanpa
wujud, kita harus berhati-hati terhadap orang Ini.
jangan sampai dia berhasil
menyelundup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu dan meracuni kita semua.
Ciri muka Ji-kaucu adalah…Secara
ringkas Bong Thian-gak
melukiskan raut wajah maupun ciri khas Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau ini
kepada para jago.
Setelah para jago
dalam gedung Bu-lim Bengcu mendapat berita itu dari mulut
Bong Thian-gak, mereka mulai
melakukan persiapan menghadapi setiap perubahan yang bakal terjadi.
Sementara itu
Bong Thian-gak sendiri sudah
meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu berangkat ke tempat tujuan.
O
Sebelah utara kota
Kay-hong merupakan sebuah padang rumput, luasnya mencapai puluhan
li, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh
Bong Thian-gak melesat ke depan
dengan kecepatan luar biasa.
Kurang lebih setengah
jam kemudian dia sudah menempuh perjalanan dua puluh li.
Diam-diam
Bong Thian-gak berpikir, "Menurut
keterangan Keng-tim Suthay, perkampungan itu terletak tiga puluh li
di sebelah utara kota ini,
berarti aku sudah makin mendekati sasaran."
Berpikir demikian,
dia lantas mempertinggi kewaspadaan dan melanjutkan perjalanan ke
depan.
Padang rumput yang
liar kini telah menjadi sawah yang berpetak-petak, luasnya mencapai
puluhan li.
Bong
Thian-gak harus berjalan menelusuri jalan yang diapit
olei hektaran sawah yang tiada batasnya, akhirnya dia menangkap
titik-titik cahaya lampu di
kejauhan sana.
Rupanya dia telah
mendekati sebuah perkampungan deng bangunan yang berlapis-lapis.
Sekeliling
perkampungan itu dipagari dinding kayu besar ya amat tinggi,
sepintas keadaan mirip sebuah benteng yang kokoh.
Bong
Thian-gak segera memperlambat gerak tubuhnya, beberaj
kali lompatan saja dia sudah mencapai bawah dinding sebelah barat.
Setelah
mendongakkan kepala dan memperhatikan sekejap
keadaan sekeliling tempat itu, tanpa menimbulkan sedikit suara pun
menyelinap ke balik pagar yang tingginya mencapai satu depa lebih.
Mendadak segulung
bayangan hitam dengan membawa bau busuk menerkam datang dengan
kecepatan luar biasa, Bong
Thian-gak sangat terkejut, dengan cepat dia memutar tubuh seperti
gangsingan dan menyelinap, menanti dia membalikkan badan, pemuda itu
terperanjat.
Rupanya di hadapannya
mendekam seekor serigala yang besarnya seperti anak kerbau, bulunya
yang putih dengan sepasang mata berwarna hijau sedang melotot
gusarnya ke arahnya, dilihat dari gayanya, dia sedang bersiap
melancarkan tubrukan kedua.
Selama hidup belum
pernah Bong Thian-gak
menyaksikan serigala sebesar itu, hatinya kontan bergidik, cepat dia
memutar otak mencari suatu akal, pikirnya, "Kalau aku melarikan
diri, pasti serigala itu akan menggonggong, sebaliknya kalau tidak
pergi, bisa jadi serigala-serigala lain akan berdatangan dan semakin
memusingkan kepala."
Baru saja ingatan itu
melintas, serigala itu sudah menerjang datang lagi bagai segulung
angin puyuh yang menderu-deru.
Bong
Thian-gak menghindar, dia hanya sedikit menggeser bahu
kirinya, lalu tangan kiri disodokkan ke atas, secara telak
mencengkeram serigala itu, menyusul telapak tangan kanan diayunkan
ke bawah melancarkan sebuah bacokan maut.
Ilmu silat
Bong Thian-gak telah mencapai puncak
kesempurnaan, cengkeraman ini dilakukan setajam bacokan pedang atau
golok.
Seketika itu juga
tulang leher serigala itu terbabat putus, apalagi ditambah bacokan
telapak tangan kanannya, tak sempat bersuara lagi mampuslah serigala
besar itu.
Selesai membinasakan
serigala itu, Bong Thian-gak
segera membuang bangkai serigala itu ke tengah sawah, kemudian
melompat melewati tembok pekarangan, tanpa berhenti dia meluncur
naik ke atas atap rumah.
Malam itu tak
berbulan, hanya bintang bertaburan di angkasa membiaskan cahaya
redup, namun bagi Bong
Thian-gak yang bertenaga dalam sempurna, ia dapat menyaksikan
pemandangan yang berada -tengah li di sekeliling tempat itu.
Sambil mendekam di
atas atap rumah Bong
Thian-gak mencoba mengamati keadaan sekeliling sana.
Rupanya tempat itu
merupakan sebuah perkampungan yang terdiri dari dua ratus orang
kepala keluarga, kebanyakan merupakan rumah petani yang sederhana,
hanya di sudut utara sana berdiri kokoh sebuah gedung yang sangat
besar.
Satu-satunya
keistimewaan dusun ini adalah setiap rumahnya teratur rapi dan
bersih dengan jalan raya yang lebar, di tepi jalan tertanam
pepohonan yang rindang, betul-betul sebuah perkampungan yang sangat
nyaman.
Mendadak
Bong Thian-gak menyaksikan dari
jalan raya dalam perkampungan bermunculan kawanan serigala melakukan
perondaan kian-kemari, tampaknya serigala-serigala itu memang
sengaja disebar di setiap sudut perkampungan sebagai penjaga.
Terkesiap
Bong Thian-gak menyaksikan kejadian
itu, diam-diam pikirnya, "Tak heran perkampungan petani ini tanpa
seorang pun, rupanya mereka menggunakan serigala untuk melakukan
perondaan malam."
Hampir saja
Bong Thian-gak kehabisan daya
setelah menyaksikan begitu banyak anjing serigala yang berkeliaran
di sana, dia tak tahu dengan cara bagaimana dirinya harus
menyelundup ke perkampungan petani itu.
Waktu itu baru
menjelang malam, namun perkampungan petani yang amat luas itu tak
nampak seorang pun yang berlalu-lalang, dari dua ratus kepala
keluarga yang berdiam di situ, hanya beberapa rumah saja yang
memancarkan cahaya.
Kembali
Bong Thian-gak berpikir, "Kepala
perkampungan tani ini mungkin berdiam dalam gedung yang megah itu,
bila Jit-kaucu Thay-kun berada dalam perkampungan ini sudah pasti
dia berada di dalam situ."
Berpikir demikian,
dengan berhati-hati Bong
Thian-gak melompat ke atas atap rumah dan bergerak menuju ke arah
gedung megah di sebelah timur laut dengan gerakan hati-hati sekali.
Dia tahu betapa tajam
daya penciuman serta pendengaran serigala-serigala itu, tubuhnya
bergerak seperti burung walet dan secepat sambaran kilat meluncur ke
muka tanpa menimbulkan sedikit suara pun.
Akhirnya dia berhasil
melewati pengawasan kawanan serigala itu dan melayang turun di atas
sebatang pohon Pek-yang yang berada di balik bangunan gedung megah
itu.
Setibanya di atas
pohon Pek-yang yang rimbun itu, sekali lagi
Bong Thian-gak mengamati keadaan
sekeliling tempat itu
Di sekitar halaman
bangunan itu tidak nampak seekor serigala pun, juga tak nampak orang
melakukan perondaan, semua itu membuat
Bong Thian-gak lega.
Dia hanya takut
terhadap serigala, namun tidak takut kepada para peronda.
Dengan sepasang
matanya yang tajam bagaikan burung hantu
Bong Thian-gak memusatkan segenap perhatian memeriksa
keadaan di situ, siapa tahu dia menemukan sesuatu.
Mendadak dari
kejauhan sana terdengar suara langkah kaki manusia yang berkumandang
makin mendekat.
Dengan cepat
Bong Thian-gak mendongakkan kepala.
Dari balik sebuah
pintu gerbang, tampak dua orang berjubah hijau muncul dan berjalan
ke arah pohon Pek-yang dimana Bong
Thian-gak bersembunyi.
Dengan terkesiap anak
muda itu berpikir, "Ah, jangan-jangan dia sudah mengetahui jejakku?"
Berpikir demikian,
tanpa terasa dia meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga segala
kemungkinan yang tak diinginkan.
Tampak kedua orang
berjubah hijau itu berjalan menuju ke bawah pohon Pek-yang dan
tiba-tiba berhenti.
Orang yang agak
pendek sebelah kiri berdehem pelan, lalu dengan suara rendah, berat
dan parau ia berkata, "Hay-heng, bukankah Ji-kaucu akan datang pada
malam nanti?"
Mendengar nama
Ji-kaucu, Bong Thian-gak
berkesiap, segera pikirnya, "Ah, gembong iblis itu akan datang,
betul-betul suatu kejadian yang sama sekali di luar dugaan, mungkin
keadaan rada kurang beres."
Berpikir sampai di
situ, orang she Hay itu
menjawab agak dingin, "Ang-heng, Ji-kaucu memang seharusnya sampai
di sini sejak kemarin malam."
"Hay-heng, tahukah
kau bahwa kehadiran Ji-kaucu di kantor rahang kota Kay-hong ini
menunjukkan duduk persoalan agak sedikit luai biasa?" kembali orang
berjubah hijau she Ang itu
bertanya.
"Ya, betul! Duduknya
persoalan memang terasa agak luar biasa, kalau tidak, Ji-kaucu tak
akan mengutus kita berdua untuk datang kemari tiga hari lebih awal!"
Orang
she Ang itu tertawa kering, "Kita
berdua adalah utusan pembuka jalan Ji-kaucu, setiap kali Ji-kaucu
hendak berkunjung ke suatu tempat, kita berdualah yang selalu diutus
melakukan penyelidikan terlebih dahulu keadaan di sekitar daerah
kunjungannya, kebanggaan seperti ini sesungguhnya kita patut
gembirakan."
Dari pembicaraan itu
Bong Thian-gak segera tahu
bahwa kedua orang ini adalah orang kepercayaan Ji-kaucu, menyaksikan
cara mereka berjalan maupun bertingkah-laku, bisa diduga ilmu silat
yang mereka miliki bukan kepandaian silat kelas dua.
Kenyataan itu membuat
Bong Thian-gak semakin tak
berani bertindak gegabah, bahkan untuk bernapas pun dia telah
menggunakan ilmu Kui-si-hoat (ilmu bernapas kura-kura).
Tiba-tiba terdengar
orang she Hay berkata
kembali, "Sekali pun tugas yang dibebankan kepada kita merupakan
suatu kebanggaan tersendiri, namun tanggung-jawabnya besar sekali,
bahkan sedikit kesalahan pun tak boleh terjadi. Ketika kemari,
sebenarnya aku merasa sedikit kurang tenang."
"Mengapa?"
"Mengapa? Tidakkah
kau lihat, berapa banyak sudah pentolan dari tingkat lencana panah
emas yang berdatangan ke gedung ini?"
"Kan baru Jit-kaucu,
Liok-kaucu, Kiu-kaucu serta komandan pasukan pengawal tanpa tanding
nomor dua!"
"Dari empat orang
pentolan tingkat lencana panah emas yang telah hadir itu, tiga di
antaranya adalah murid Cong-kaucu yang paling disayang, terutama
sekali kedudukan Jit-kaucu, mereka sama-sama mempunyai kekuasaan
besar."
"Hay-heng, keanehan
apa yang terdapat di balik semua itu?" tanya orang
she Ang itu keheranan.
Orang
she Hay tertawa dingin, "Ehm, masa
kau tak pernah mendengar pepatah mengatakan, 'Di atas sebuah bukit
tak boleh dihuni sepasang harimau'? Baik Jit-kaucu maupun Ji-kaucu
boleh dibilang sama-sama punya kekuasaan besar dalam
Put-gwa-cin-kau, menurut pendapatmu, apa sebabnya Cong-kaucu
mengirim mereka berdua ke satu tempat yang sama? Itulah sebabnya
bisa kuduga di sini telah terjadi suatu peristiwa maha besar."
Orang
she Ang termenung beberapa saat,
lalu berkata, "Hay-heng, menurutmu, kekuasaan Jit-kaucu dan Ji-kaucu
sama besarnya, tapi menurut pendapatku, kedudukan Ji-kaucu jauh
lebih tinggi."
"Ah, kau ini tahu
apa?" kata orang she Ang
dingin.
Setelah berhenti
sejenak, ia berkata lebih jauh, "Ang-heng baru tiga tahun bergabung
dengan perkumpulan kita, tentu saja kau tidak mengetahui rahasia
besar Cong-kaucu kita itu."
"Rahasia besar apa?"
Tiba-tiba orang
she Hay itu merendahkan
suaranya dan berkata, "Ang-heng, aku bersedia memberitahu soal ini
kepadamu, tapi jangan beri tahukan lagi kepada orang lain."
"Tak usah kuatir
Hay-heng, aku merasa amat cocok denganmu, bahkan kau sudah kuanggap
sebagai saudara sendiri, masa aku bakal mengkhianati dirimu?"
"Kalau begitu
kuberitahukan kepadamu, meski Jit-kaucu adalah
anak
angkat serta murid Cong-kaucu, padahal
yang benar Jit-kaucu merupakan Suhu Cong-kaucu."
Orang
she Ang seperti terkejut sekali,
segera tanyanya dengan perasaan tidak habis mengerti, "Hay-heng, kau
bilang Jit-kaucu adalah guru
Cong-kaucu? Atas
dasar apa kau berkata demikian?"
"Sebab ilmu silat
Cong-kaucu adalah atas ajaran Jit-kaucu," bisik
orang
she Hay.
"Beberapa tahun berselang, aku pernah ditugaskan
memikul
tanggung-jawab sebagai komandan pasukan
pengawal dari istana bagian
dalam, itulah sebabnya aku mengetahui persoalan ini."
Ketika mendengar
perkataan itu, dengan suara heran orang
she Ang
berseru, "Jadi kalau
begitu ilmu silat Jit-kaucu masih jauh di atas kepandaian
Cong-kaucu?"
Dengan cepat orang
she Hay menggeleng kepala
berulang-kali.
"Soal itu aku kurang
tahu," sahutnya. Kemudian setelah berhenti
sejenak,
dia melanjutkan, "Ang-heng, oleh sebab
itu hubungan Jit-kaucu dengan
Cong-kaucu sesungguhnya
sangat kacau, kendatipun dibilang kedudukan serta kekuasaan
Jit-kaucu masih di bawah Ji-kaucu, namun karena Jit-kaucu mempunyai
hubungan yang amat istimewa dengan Cong-kaucu maka atas dasar apa
kau mengatakan kedudukan siapa lebih tinggi dari siapa?"
Mendadak orang
she Ang merendahkan suaranya, sambil
berbisik, "Hay-heng, menurut pendapatmu, kejadian apakah yang
mungkin akan terjadi di sini?"
Dengan cepat orang
she Hay menggeleng kepala
berulang-kali.
"Aku kurang jelas dan
tak berani memastikan. Pokoknya kita berdua harus melaksanakan tugas
seperti apa yang diperintahkan Ji-kaucu, setia dan taat pada
pekerjaan serta perintah."
Bicara sampai di
situ, dia mendongakkan kepala dan memandang sekejap keadaan cuaca,
kemudian melanjutkan, "Ang-heng, malam ini kau bertugas sampai
tengah malam nanti, sedang tengah malam nanti sampai pagi adalah
giliranku!"
'Ah, tanpa terasa
setengah jam sudah kita lewatkan untuk berbincang-bincang. Hay-heng,
silakan pergi beristirahat!"
"Silakan Ang-heng!"
seru orang she Hay.
Sembari berkata,
orang she Hay membalikkan
badan dan masuk kembali ke dalam gedung.
Kini di bawah pohon
Pek-yang tinggal lelaki berjubah hijau she
Ang itu seorang.
Mendadak satu ingatan
melintas dalam benak Bong
Thian-gak, segera pikirnya, "Mengapa aku tidak memanfaatkan
kesempatan ini untuk melenyapkan kedua orang ini lebih dulu."
Tapi ingatan lain
segera melintas dalam benaknya, "Bila mereka dilenyapkan dan
Ji-kaucu tiba kemari, bagaimana jadinya?"
Baru saja dia
berpikir sampai di situ, mendadak orang
she Ang itu sudah lenyap tak ketahuan kemana perginya.
Bong
Thian-gak berkerut kening, pikirnya, "Ilmu silat orang
ini sangat lihai, tak nyana gerak-geriknya sama sekali tak
menimbulkan suara."
Untuk beberapa saat
Bong Thian-gak duduk termangu
di bawah pohon Pek-yang, selang tak lama dia baru mengeluarkan
sebuah botol obat dan mengambil sebutir di antaranya, lalu dengan
kukunya merobek kulit obat tadi, diletakkan di atas telapak tangan
dan digosok-gosok sebentar, kemudian dioleskan ke wajah sendiri.
Paras muka
Bong Thian-gak yang semula
pucat-pias itu mendadak berubah merah padam, usianya yang berumur
sekitar dua puluh lima-enam tahun pun sekarang nampak sepuluh tahun
lebih tua.
Ternyata isi botol
obat itu adalah Pek-pian-gi-yong-wan (Pil perubah selaksa wajah)
peninggalan Jian-bin-hu-li Ban Li-biau di masa lampau.
Pil obat semacam ini
merupakan obat sangat mujarab, ketika Ban Li-biau dikejar umat
persilatan di masa lampau, dengan mengandalkan pil penyaru muka
inilah dia berhasil meloloskan diri dari pengejaran sehingga orang
persilatan tak pernah menemukan dirinya.
Selesai mengubah
wajah, sementara itu Bong
Thian-gak sudah melompat turun dari atas pohon Pek-yang.
Dia lantas berpikir,
"Sekarang aku telah mengubah wajah, meski berjumpa orang yang
kukenal, belum tentu mereka bisa mengenali diriku dengan gampang."
Karena berpendapat
demikian, nyali Bong
Thian-gak semakin besar, pertama-tama dia mengelilingi gedung itu
satu lingkaran lebih dulu, kemudian melakukan penelitian terhadap
setiap sudut halaman gedung itu.
Mendadak dari balik
pintu halaman sebelah kiri Bong
Thian-gak mendengar suara nyaring, dengan cekatan pemuda itu
menyelinap di balik pepohonan dan menyembunyikan diri.
Tampak sesosok
bayangan menerobos keluar dari balik jendela.
Di bawah cahaya
bintang yang redup, dia dapat melihat orang itu
seorang
dayang berbaju biru.
Usia dayang itu
antara tujuh-delapan belas tahun, dengan amat seksama dia memeriksa
keadaan sekeliling tempat itu, kemudian berjalan menuju ke sebuah
kebun bunga kecil di sebelah utara.
Bong
Thian-gak merasa betapa mencurigakan gerak-gerik dayang
itu, didorong perasaan ingin
tahu, secara diam-diam dia menguntitnya.
Dengan ilmu
meringankan tubuh yang begitu sempurna, tentu »rt)a
gerak-geriknya tidak
diketahui pihak lawan.
Setelah masuk ke
dalam kebun bunga, mendadak dayang berbaju bini itu duduk di atas
gunung-gunungan sambil bertopang dagu, sementara sorot matanya
dialihkan ke atas entah sedang memikirkan apa? Atau mungkin juga ia
sedang menantikan seseorang?
Dengan sabar dan
tenang Bong Thian-gak
menunggu beberapa saat, ketika tidak menjumpai sesuatu yang
mencurigakan, sebenarnya dia hendak berlalu dari sana.
Siapa tahu pada saat
inilah dari balik kebun bunga muncul sesosok bayangan orang yang
bergerak seperti sukma gentayangan.
Orang itu berjubah
panjang berwarna hijau, berperawakan gemuk tapi kekar.
"Ah! Bukankah dia
orang she Ang."
Ya, orang itu memang
salah satu di antara dua petugas yang diutus Ji-kaucu dan tadi
sedang berbincang-bincang di bawah pohon Pek-yang itu.
Orang
she Ang itu langsung berjalan menuju
ke arah dayang berbaju biru, ia berkata, "Cong-kaucu telah mengambil
keputusan tak datang ke kota Kay-hong, yang datang adalah Ji-kaucu."
"Kapan Ji-kaucu
sampai di sini?"
"Seharusnya kemarin
malam, tapi sampai sekarang belum nampak muncul di sini, mungkin
malam nanti atau mungkin juga besok."
Tanya-jawab dilakukan
kedua orang ini secara singkat, tapi jelas sebelumnya tidak saling
menyapa, tampaknya kedua belah pihak sama-sama didesak oleh waktu.
Selesai mendengar
tanya jawab itu, tergerak hati Bong
Thian-gak, ia lantas berpikir, "Oh, rupanya orang
she Ang ini seorang mata-mata! Tapi
mata-mata siapa? Mungkinkah mata-mata yang dikirim oleh Jit-kaucu
Thay-kun?"
Berpikir sampai di
situ, Bong Thian-gak jadi
teringat perkataan yang pernah disampaikan Keng-tim Suthay
kepadanya, "Di sekeliling Jit-kaucu terdapat banyak jago lihai yang
melindungi keselamatannya."
Belum habis dia
berpikir, dayang berbaju biru berkata, "Majikan bertanya, apakah
keadaanmu aman?"
"Aman sekali," jawab
orang she Ang, "Tolong
sampaikan kepada majikan, katakan aku sudah dipergunakan oleh
Ji-kaucu."
"Majikan berpesan,
bila menjumpai sesuatu yang aneh, segera meloloskan diri, jangan
melakukan pengorbanan sia-sia."
"Ehm, aku tahu,
hubungan kita malam ini sampai di sini dulu." Dayang berbaju biru
tak bicara lagi, mendadak ia bangkit dan siap berlalu dari situ.
Siapa tahu pada saat
itu juga mendadak dari balik kebun bunga melompat keluar sesosok
bayangan orang.
"Ah!" dengan terkejut
dayang berbaju biru berteriak.
Dengan cekatan orang
she Ang pun membalikkan
badan, tapi segera pula ia tertegun pula.
Bong
Thian-gak melihat pula kehadiran orang itu.
Orang yang muncul
dari balik kebun bunga itu berwajah dingin menyeramkan, dia adalah
orang berjubah hijau she Hay
itu. Dengan terkejut bercampur heran Bong
Thian-gak membatin.
Dia menyadari apa
gerangan yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu orang
she Ang sudah tahu rahasianya
terbongkar, dia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Hahaha, belum tidur
saudara," dengan senyum yang amat tenang orang
she Ang itu menegur pelan.
Orang
she Hay tertawa dingin. "Ang
Teng-siu, aku sudah cukup lama menantikan kedatanganmu di sini."
Sembari berkata,
selangkah demi selangkah orang she Hay
itu menuju ke kebun dekat gunung-gunungan dan langsung
menghampiri dayang berbaju biru serta orang
she Ang itu.
"Hay
Tiong-kim, kau terlalu menyiksa diri!" seru Ang
Teng-siu sambil tertawa.
Hay
Tiong-kim menarik wajah dan berkata dingin, "Siapakah
dayang ini? Asal kau mau
mengaku terus-terang, aku orang she Hay
masih akan mengingat hubungan kita di masa lampau
dengan memohonkan hukuman yang lebih ringan dari Ji-kaucu, kalau
tidak, hm, malam
ini kau Ang Teng-siu sudah
ditakdirkan untuk mampus!"
"Siapa yang bakal
mampus, saat ini masih sukar untuk diduga,
lebih baik jangan bicara
sembarangan," kata Ang Teng-siu tertawa.
Sambil berkata,
seperti sambaran angin puyuh Ang Teng-siu menerjang ke arah
Hay Tiong-kim.
Dengan cekatan
Hay Tiong-kim bersiap melancarkan
serangan balasan.
Siapa tahu, pada saat
itulah dari belakang tubuhnya berhembus datang segulung angin
pukulan yang sangat kuat, Hay
Tiong-kim segera merasakan isi perutnya hancur berantakan, tak
sempat mendengus lagi tubuhnya mencelat ke depan dan roboh
terjengkang ke atas tanah.
Kebetulan sekali Ang
Teng-siu juga sedang melancarkan serangan ke depan. "Duk!", bagaikan
layang-layang putus benang, tubuh Hay
Tiong-kim mencelat.
"Blam", debu dan
pasir beterbangan memenuhi angkasa, setelah
Hay Tiong-kim tak pernah merangkak
bangun lagi.
Kepandaian silat Ang
Teng-siu memang lihai, begitu serangannya bersarang di tubuh
Hay Tiong-kim, dia segera merasakan
tubuh musuh bagaikan sesosok mayat saja, segulung tenaga perlawanan
pun tidak ada.
Maka dengan cekatan
dia menyelinap ke depan, kemudian membangunkan mayat
Hay Tiong-kim itu.
Tampak darah kental
mengucur dari tujuh lubang indra Hay
Tiong-kim, jantungnya waktu itu sudah berhenti
berdenyut.
Sementara itu dayang
berbaju biru telah menerjang datang pula, melihat
Hay Tiong-kim sudah tewas, ia
berkata sambil menghela napas panjang, "Kepandaian silat Ang-tayhiap
benar-benar luar biasa, malam ini sepasang mataku benar-benar
terbuka."
Dengan wajah serius
Ang Teng-siu bangkit, kemudian dengan sorot mata tajam bagaikan
kilat dia mengawasi keadaan sekeliling tempat itu. Lama, lama
kemudian, dia baru menghela napas panjang.
"Ai,
Hay Tiong-kim bukan mati di
tanganku," dia berkata. "Di dunia dewasa ini mungkin hanya majikan
seorang yang memiliki tenaga pukulan sehebat itu dan mampu
membinasakan musuh dalam sekali pukulan saja."
"Apa?
Hay Tiong-kim bukan mati di
tanganmu?" seru dayang berbaju biru itu terkejut.
Ang Teng-siu
menggeleng kepala berulang kali.
"Dengan kepandaian
silat Hay Tiong-kim, tak
mungkin aku orang she Ang
sanggup membunuhnya dalam sekali ayunan tangan saja."
Paras dayang berbaju
biru itu segera berubah hebat.
"Tapi majikan...."
"Kenapa dengan
majikan?"
"Satu jam berselang
majikan telah pergi bersama Kiu-kaucu!"
Sementara itu
Bong Thian-gak yang bersembunyi
pelan-pelan telah melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dan
maju menghampiri mereka.
Pandangan Ang
Teng-siu dan dayang berbaju biru itu serentak dialihkan ke wajah
Bong Thian-gak dan menatapnya
lekat-lekat.
Mendadak
Bong Thian-gak berhenti, berhenti di
hadapannya.
"Siapakah kau?" Ang
Teng-siu menegur dengan suara rendah.
Bong
Thian-gak mengangkat tangan kirinya, sekilas cahaya
emas memancar keempat penjuru, tahu-tahu tangannya telah bertambah
dengan sebilah anak panah kecil tanpa bulu.
Paras muka Ang
Teng-siu berubah hebat, segera serunya dengan terkejut, "Ai, lencana
Put-gwa-kim-ciam-leng!"
Dengan cepat
Bong Thian-gak menyimpan kembali
lencana panah emas itu ke dalam sakunya, kemudian berkata pelan,
"Segala sesuatunya telah kusaksikan dengan jelas."
"Apakah kau komandan
pasukan ketiga pengawal tanpa tanding?"
Pertanyaan itu
diajukan Ang Teng-siu dengan suara agak gemetar, sudah jelas dia
dicekam perasaan takut.
"Ang Teng-siu!" ujar
Bong Thian-gak kemudian.
"Kalian tak usah takut, apa yang telah kusaksikan malam ini, tak
akan kuberitahukan kepada orang kedua, tapi kalian pun jangan
memberitahukan pihak ketiga kalau telah berjumpa denganku."
Selesai berkata, dia
membalikkan badan dan siap berlalu dari situ.
Mendadak seru Ang
Teng-siu, "Saudara, harap tunggu sebentar!"
"Masih ada urusan
apa?" tanya Bong Thian-gak
seraya berpaling.
"Tolong tanya, apakah
Hay Tiong-kim tewas oleh
pukulanmu?"
"Benar, oleh karena
aku muak menyaksikan tingkah-lakunya, maka aku telah membunuhnya."
Ternyata
Bong Thian-gak kuatir pertarungan
antara Ang Teng-siu dan
Hay
Tiong-kim bisa mengejutkan orang lain, maka dia mengerahkan
Ilmu
Tat-mo-khi-kang yang maha dahsyat,
serangan itu kontan saja membuat isi perut
Hay Tiong-kim hancur.
Ang Teng-siu segera
menghembuskan napas lega, sesudah mengetahui
Hay Tiong-kim tewas di tangan
Bong Thian-gak, dia seperti lepas
dari tindihan batu cadas seberat seribu kati.
Dengan hormat dia
menjura dalam-dalam kepada Bong
Thian-gak, lalu ujarnya, "Terima kasih banyak atas bantuan
yang telah kau berikan kepadaku."
Bong
Thian-gak tertawa dingin.
"Bila Ji-kaucu datang
nanti, bagaimana caramu menghadapinya?"
"Itu soal gampang,
asal kubuatkan suatu cerita yang seram lalu melenyapkan jenazah
Hay Tiong-kim, urusan akan
menjadi beres dengan sendirinya."
"Kalau memang begitu,
kalian boleh segera bekerja!"
Selesai berkata, dia
membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ, namun baru berjalan
beberapa langkah, dia sudah membalikkan badan seraya berkata,
"Cengcu berdiam dimana?"
"Di halaman lapis
keempat, ada urusan apa kau mencarinya?"
"Baru saja aku
kemari, sekarang aku membutuhkan suatu tempat untuk beristirahat."
Tergerak hati Ang
Teng-siu mendengar perkataan itu, cepat dia berkata, "Kini
Hay Tiong-kim sudah mati, bila kau
tidak menaruh curiga, silakan menginap semalam di loteng itu."
"Di loteng itu,
selain kau dan Hay Tiong-kim,
masih ada siapa?"
"Hanya kami berdua!"
Bong
Thian-gak manggut-manggut.
"Bagus sekali, kalau
begitu aku jalan duluan!"
Dengan sepasang mata
terbelalak lebar, Ang Teng-siu dan dayang berbaju biru itu
menyaksikan bayangan punggung Bong
Thian-gak lenyap di ujung kebun sana.
Setelah bayangan
pemuda itu hilang dari pandangan, dayang berbaju biru itu baru
berkata lirih, "Ang-tayhiap, gerak-gerik orang ini amat
mencurigakan, sebenarnya siapa orang ini?"
Ang Teng-siu
menggeleng kepala berulang-kali.
"Seandainya orang ini
benar-benar merupakan salah satu pentolan Put-gwa-cin-kau, sudah
pasti dia Go-kaucu atau Su-kaucu, atau bisa jadi komandan pasukan
ketiga pengawal tanpa tanding."
"Kalau dilihat dari
tenaga serangannya yang dipakai untuk membunuh
Hay Tiong-kim, sudah jelas dia
menggunakan ilmu pukulan bertenaga dalam dahsyat. Orang ini berwajah
biasa tapi kelihaian ilmu silatnya tak bisa ditandingi oleh kau
maupun aku."
"Jika majikan sudah
pulang nanti, cepat laporkan bentuk wajah orang itu untuk mendapat
kepastian. Soal jenazah Hay
Tiong-kim, biar aku saja yang mengurus."
Ang Teng-siu dan
dayang berbaju biru itu pun berpisah untuk melakukan pekerjaannya
masing-masing.
Dalam pada itu
Bong Thian-gak telah menuju ke
loteng seorang diri, lentera dalam ruangan belum padam, dalam
ruangan yang besar nampak meja kursi lengkap, segala sesuatunya
diatur sangat rajin dan bagus, kamar tidur berada di atas loteng dan
terbagi dalam empat bilik tersendiri.
Bong
Thian-gak memeriksa setiap bagian rumah itu secara
seksama, dua di antaranya nampak bekas dipakai. Sementara dua
ranjang lain masih tetap rapi dan rajin, selimut maupun seprei masih
licin dan rapi.
Bong
Thian-gak memilih kamar yang tak berlampu untuk tinggal
di
situ, mula-mula dia membuka daun
jendela, kemudian menutup pintu dan duduk bersila sambil mengatur
pernapasan.
Kurang lebih setengah
jam kemudian dari atas loteng terdengar suara langkah kaki dan
kemudian terdengar suara Ang Teng-siu bertanya, "Tuan, kau berdiam
di kamar yang mana?"
"Ruang ketiga."
"Aku ingin berbicara
denganmu," kembali Ang Teng-siu berkata dari luar ruangan.
"Pintu kamar hanya
dirapatkan, masuklah!"
Ang Teng-siu yang
berada di luar pintu nampak agak sangsi, sesaat
kemudian pelan-pelan dia
membuka pintu kamar dan masuk ke
dalam
dengan sepasang telapak tangannya
disilangkan di depan dada.
"Apakah jenazah
Hay Tiong-kim sudah kau
bereskan?"
"Seujung rambut pun
tak tertinggal."
"Persoalan apakah
yang hendak kau sampaikan kepadaku?"
"Hamba ingin
mengetahui nama dan kedudukanmu di dalam perkumpulan
kita?"
Tanyakan saja kepada
Jit-kaucu, dia pasti tahu."
"Ada satu hal yang
tidak hamba ketahui, mengapa kau membunuh
Hay Tiong-kim? Andaikata peristiwa ini sampai berhasil
diselidiki Ji-kaucu ...."
Sambil tertawa dingin
Bong Thian-gak menukas,
"Lencana panah emas mempunyai kekuasaan menentukan hidup mati
seseorang, atas dasar apa Ji-kaucu hendak mengurus tindakan ini?"
"Walaupun perkataanmu
benar, tapi kau telah mengikat tali permusuhan pribadi dengan
Ji-kaucu ...."
Belum habis perkataan
itu diucapkan, mendadak Bong
Thian-gak bertanya, "Hei, coba dengar, suara apakah itu?"
Ang Teng-siu agak
tertegun mendengar perkataan itu, katanya, "Ah, suara apa? Aku tidak
mendengar suara apa pun."
Rupanya
Bong Thian-gak telah menangkap
serentetan suara irama musik yang berkumandang datang secara
lamat-lamat dari kejauhan sana.
Suara musik itu ada
tambur, gembrengan serta aneka macam alat musik lainnya, irama yang
dibawakan juga irama yang aneh sekali, sedemikian anehnya hingga
siapa pun yang mendengar seakan-akan tertidur.
Dalam pada itu Ang
Teng-siu telah mendengar suara musik itu. Dengan paras muka berubah
hebat ia menjerit kaget, "Ah, Ji-kaucu telah datang!"
Mendengar nama
"Ji-kaucu", hati Bong
Thian-gak bergetar keras, dia berkata, "Kau maksudkan Ji-kaucu telah
datang?"
"Irama musik itu
merupakan irama Im-siau-biau-hun-lok (Buaian awan sukma melayang)
dari Ji-kaucu."
Bicara sampai di situ
mendadak Ang Teng-siu seperti teringat akan sesuatu, dia segera
berpikir, "Aneh, mengapa ia tidak memahami irama
Im-siau-biau-hun-lok dari Ji-kaucu?"
Sementara itu
walaupun Bong Thian-gak sudah
menduga secara lamat-lamat Ang Teng-siu adalah komplotan Jit-kaucu
Thay-kun, namun berhubung dia belum berjumpa dengan Thay-kun, maka
ia tak bisa menerangkan identitas sendiri secara terang-terangan.
Dalam pada itu irama
musik makin lama terdengar semakin jelas, tentu mereka sudah semakin
dekat dengan perkampungan petani itu.
Tiba-tiba Ang
Teng-siu bertanya lagi, "Sebenarnya siapa kau? Sebentar lagi
Ji-kaucu akan tiba di sini, kita harus mencari akal untuk menghadapi
keadaan ini."
"Siapakah aku, untuk
sementara waktu tak usah kau urus, pokoknya aku sealiran dan
setujuan denganmu."
"Sebentar lagi
Ji-kaucu sudah sampai di perkampungan petani ini, apa yang hendak
kau lakukan?"
"Aku telah
mempersiapkan segalanya bagi diriku sendiri, lebih baik kau
mengerjakan saja pekerjaanmu."
"Kalau begitu aku
harus pergi menyambut kedatangan Ji-kaucu."
"Silakan pergi."
"Kau harus baik-baik
menjaga diri."
Selesai berkata Ang
Teng-siu membalik badan dan berjalan keluar ruangan, lalu turun dari
loteng.
Bong
Thian-gak sendiri masih tetap duduk bersila di atas
pembaringan, sementara benaknya berputar, berusaha menemukan cara
terbaik untuk menghadapi keadaan itu.
Tugasnya sekarang
adalah melindungi keselamatan jiwa Jit-kaucu Thay-kun secara
diam-diam, tapi sekarang Thay-kun tidak berada dalam perkampungan,
apa yang harus dilakukan?
Pikir punya pikir,
bagaikan sambaran angin berpusing Bong
Thian-gak melompat turun dari pembaringan dan menerobos
keluar melalui jendela dan melayang ke atas atap rumah.
Bintang bertaburan di
angkasa, udara malam itu amat bersih, tapi suasana hening mencekam
seluruh perkampungan petani itu.
Waktu itu setiap
rumah penduduk telah memasang lentera, kelihatan bayangan orang
bergerak kian kemari.
Dengan mengerahkan
ilmu meringankan tubuhnya, beberapa kali Itimpatan saja
Bong Thian-gak telah sampai di depan
pintu gerbang halaman muka dan membaurkan diri di antara kerumunan
orang banyak.
Sementara itu suara
musik yang sangat aneh dan membuai
perasaan
itu sudah semakin
mendekati tempat itu.
Akhirnya dari ujung
jalan perkampungan muncul serombongan
orang.
