pendekar cacad 05

Bagian 5 :  Wasiat Ku Lo Hwesio

 

Dalam kejutnya, cepat Bong Thian-gak duduk bersila di atas tanah dan mulai memejamkan mata mengikuti pelajaran itu dan dihapalkan dalam hati.

Sepatah demi sepatah Ku-lo Hwesio membaca rahasia Tat-mo-khi-kang dengan sabar dan jelas.

Sementara Bong Thian-gak juga menghimpun segenap pikiran dan perhatiannya mendengarkan dan mengingat sambil memahami.

 

Dalam waktu singkat kedua orang itu seakan-akan lupa akan segala persoalan, mereka memusatkan pikiran dan pendengaran dalam mempelajari kepandaian sakti Tat-mo-khi-kang, biar di samping mereka ada suara ledakan keras pun belum tentu mereka mendengar.

 

Waktu berlalu dengan cepat....

Tengah hari telah lewat ... matahari pun mulai tenggelam, Ku-lo Hwesio dan Bong Thian-gak yang berada di atas loteng masih melanjutkan pelajaran Tat-mo-khi-kang, Bong Thian-gak mengulangi ketiga tingkat ilmu itu, kemudian kedua pihak saling membahas dan memecahkan.

 

Dalam pada itu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang dan para jago yang ada di luar pendopo tak berani lengah, tak pernah mengendorkan tugas mengawasi dan melindungi daerah sekitar situ, sekeliling pendopo dijaga sedemikian ketatnya ibarat sebuah benteng yang terbuat dari baja.

 

Kini senja telah lewat, namun Ku-lo Hwesio dan Bong Thian-gak yang berada di atas loteng masih belum nampak sesuatu gerakan.

Pada saat itulah dari depan halaman gedung Bu-lim Bengcu tiba-tiba berkumandang suara tambur bertalu-talu, menunjukkan keadaan dalam bahaya.

Mendengar tanda bahaya itu, paras muka Ho Put-ciang dan sekalian jago segera berubah hebat.

 

Dengan cepat Ho Put-ciang menurunkan perintah, "Ada musuh tangguh menyerang gedung Bu-lim Bengcu, harap semua orang tetap berjaga di sini, Yu-heng! Oh-sumoay, kalian berdua menengok keadaan di luar, segera utus orang untuk memberi laporan!"

Toan-cong-hong-liu Yu Heng-sui dan Oh Cian-giok menerima perinlah dan segera berangkat menuju ke halaman depan.

 

Kemudian Ho Put-ciang berkata kepada Thia Leng-juan, "Thia­heng, harap naik ke loteng dan bertahan di anak tangga, Goan-ko Taysu dan Ang Thong-lam berjaga di pintu gerbang, sedangkan Ui-hok Totiang, Yu-koancu dan aku bertiga masing-masing bertahan pada tiga lorong tembus halaman samping."

 

Ho Put-ciang tak malu disebut pemimpin dunia persilatan, selain reaksinya cepat, perintahnya tegas. Begitu menerima perintah, kawanan jago segera membubarkan diri untuk melakukan tugasnya masing-masing,

Dalam tempo singkat suasana berubah menjadi tegang, seram dan mengerikan.

Dari depan gedung sana lamat-lamat terdengar suara benturan senjata, teriakan, jerit kesakitan serta gelak tawa melengking seperti jeritan setan dan lolong serigala.

 

Begitu mendengar suara gelak tertawa yang mengerikan itu, paras muka Ho Put-ciang berubah hebat, ternyata dari gelombang suara tertawa lawan yang melengking, Ho Put-ciang tahu musuh memiliki tenaga dalam yang luar biasa.

Mendadak dari luar halaman sana terdengar suara langkah kaki berlari mendekat, ternyata orang itu adalah Oh Cian-giok.

 

Ho Put-ciang menyongsong kedatangannya sambil bertanya, "Sumoay, musuh tangguh darimanakah yang telah menyantroni kita?"

Paras muka Oh Cian-giok pucat-pias seperti mayat, sahutnya dengan cemas, "Tenaga dalam pihak lawan sangat tangguh, dalam sekejap ia telah melukai dua puluh orang pengawal gedung ... Ji-suheng lelah terjun ke gelanggang, tapi agaknya dia tak sanggup bertahan."

"Hanya seorang?"

"Ya, hanya seorang! Musuh berperawakan tinggi besar kurus seperti mayat hidup."

"Yang datang pasti tak bermaksud baik, yang bermaksud baik tak akan datang, musuh berani menyerang gedung Bu-lim Bengcu sudah pasti kepandaian silatnya amat lihai, dengan kemampuannya sudah pasti para pengawal gedung tak mampu bertahan, daripada korban berjatuhan lebih banyak, cepat turunkan perintah agar semua mundur ke dalam, suruh Yu-sute segera mundur kemari!"

 

Baru saja Oh Cian-giok mendapat perintah dan berlalu, mendadak berkumandang gelak tawa yang tajam menyeramkan dan memekakkan telinga.

Sesosok bayangan orang secepat sambaran kilat sudah meluncur datang dari arah depan sana.

Dengan terkejut Pa-ong-kiong Ho Put-ciang membentak keras, "Siapa yang datang? Harap melaporkan nama!"

Di tengah bentakannya, dua gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat sudah dilontarkan ke depan.

 

Ilmu silat orang itu betul-betul sangat lihai, tubuhnya yang sedang meluncur datang itu sudah berjumpalitan dan meloloskan diri dari sambaran kedua gulung serangan maut itu, kemudian tubuhnya melayang turun.

Tidak begitu saja, mendadak lengannya yang panjang diayun melepaskan segulung pukulan hawa dingin dari kejauhan, berbareng badannya meluncur ke arah sebelah kiri.

 

 

 

Ho Put-ciang adalah seorang Bu-lim Bengcu, pengetahuannya tentu saja sangat luas, begitu menyaksikan datangnya pukulan hawa dingin musuh, dia segera tahu serangan itu beracun.

Dalam keadaan begini, dia tak berani menyambut datangnya serangan itu dengan kekerasan, cepat badannya mundur.

Posisi dimana Ho Put-ciang mundur persis menyambut datangnya serangan musuh dari sebelah kiri.

 

Agaknya orang itu tidak menyangka gerakan tubuhnya yang begitu cepat bisa dihadang oleh lawan. Dalam keadaan tertegun, dia segera menghentikan gerak badannya dan tak melakukan serangan lagi.

Dengan demikian Ho Put-ciang dapat melihat jelas paras muka pendatang itu dengan jelas.

 

Musuh mempunyai sepasang mata cekung ke dalam, kedua bola matanya berwarna hijau, rambutnya panjang terurai sebahu, tidak laki tidak perempuan, perawakannya tinggi ceking hingga pada hakikatnya tinggal kulit pembungkus tulang, ibarat bambu menancap di atas tanah saja.

Yang paling istimewa adalah sepasang tangannya yang begitu panjang hingga terkulai melebihi lutut, dilihat dari kejauhan bentuknya menyerupai dua kaki cadangan.

 

Makhluk aneh itu melototi wajah Ho Put-ciang dengan bola matanya yang hijau mengerikan, kemudian sambil tertawa seram, ia berkata, "Kaukah Bengcu baru dari gedung Bu-lim Bengcu ini?"

Paras muka Ho Put-ciang amat serius, jawabnya cepat, "Benar, akulah Ho Put-ciang, tolong tanya siapa nama anda?"

"Hehehe ...." orang aneh itu tertawa seram. "Aku adalah Liok-kaucu (ketua nomor enam) Put-gwa-cin-kau!"

Mendadak dari delapan penjuru gedung Bengcu berkumandang suara tambur yang dibunyikan bertalu-talu.

 

Paras muka Ho Put-ciang segera berubah hebat, tegurnya tanpa terasa, "Berapa orang yang dikirim Put-gwa-cin-kau kemari hari ini?"

"Untuk melenyapkan gedung Bu-lim Bengcu dari muka bumi, buat apa mesti mengutus banyak orang?" jawab Liok-kaucu dengan suara menyeramkan, "Liok-kaucu dan Kiu-kaucu (ketua nomor sembilan) dari Put-gwa-cin-kau pun sudah lebih dari cukup!"

"Hanya kalian berdua?" tegur Ho Put-ciang pula dengan kening berkerut kencang.

 

Rupanya dari empat penjuru gedung Bu-lim Bengcu sudah terdengar suara pertempuran yang berlangsung amat seru, agaknya di seputar gedung sudah kedatangan musuh dalam jumlah banyak.

Liok-kaucu tertawa, "Masih ada lagi tiga orang pengawal tanpa tanding yang biasanya mengawal di samping Cong-kaucu."

"Kalau begitu dari perkumpulan kalian telah datang lima orang jago bukan?"

"Benar."

 

"Hm, hanya mengandalkan kekuatan lima orang perkumpulan kalian pun sudah ingin menumpas gedung Bu-lim Bengcu, apakah kalian tidak merasa perbuatan itu benar-benar kelewatan."

Liok-kaucu tertawa dingin, "Hehehe, apabila tidak percaya, mengapa tidak dilihat sendiri?"

 

Mendadak pada saat itulah dari depan sana berlarian mendekat Oh Cian-giok, dengan napas tersengal-sengal dia berkata, "Lapor Toa-suheng, Ji-suheng telah dilukai olehnya. Dari arah timur, barat, utara dan selatan telah muncul musuh tangguh melancarkan serbuan, pengawal gedung kita banyak yang terluka dan tewas."

Paras muka Ho Put-ciang berubah amat serius, katanya kemudian dengan suara dalam, "Cepat turunkan perintah agar semua pengawal mengundurkan diri, tak usah menghalangi serbuan musuh!"

 

Tindakan yang dilakukan oleh Ho Put-ciang ini memang sangat lumrah, pada saat itu segenap kekuatan inti gedung Bu-lim Bengcu dipusatkan di sekitar loteng itu untuk melindungi keselamatan Bong Thian-gak, mereka boleh dibilang tak mampu bergeser dari posisi masing-masing, itulah sebabnya satu-satunya jalan yang bisa mereka tempuh adalah membiarkan musuh menyerang sampai ke halaman itu, kemudian para jago berusaha membendung serbuan lawan.

 

Jika tidak demikian, mereka akan terkena siasat memancing harimau turun gunung yang sengaja dilakukan pihak lawan.

Liok-kaucu tertawa seram, "Hehehe, bocah perempuan jangan pergi dulu!"

Di tengah bentakannya, lengan kiri diayun ke muka melancarkan sebuah pukulan dahsyat, langsung menghantam tubuh Oh Cian-giok yang berada di depannya.

 

Ho Put-ciang sama sekali tidak menyangka pihak lawan bakal melancarkan serangan ke arah Oh Cian-giok, buru-buru teriaknya, "Sumoay, jangan kau sambut serangan itu!"

Sayang terlambat, diiringi jeritan tertahan, tubuh Oh Cian-giok sudah tertumbuk oleh angin pukulan itu hingga mencelat dan roboh terkapar di atas tanah.

Ho Put-ciang gusar, dengan suara menggeledek ia membentak nyaring, "Tua bangka sialan, kau berani berbuat kejahatan?"

 

Dengan garang dia menubruk ke depan, kelima jari tangan kanannya diputar melepas lima gulung desiran angin tajam yang secara langsung menghajar bagian mematikan tubuh lawan.

Serangan Ho Put-ciang yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini menggunakan ilmu silat perguruannya yang paling hebat, yakni ilmu Thi-ciang-sin-ci (Telapak tangan baja jari sakti).

 

Lima gulung desiran angin tajam dengan kecepatan tinggi langsung meluncur ke depan dan menghajar lawan.

Liok-kaucu bukan orang bodoh, agaknya dia tahu juga kelihaian jurus ini, sambil tertawa seram, telapak tangannya secara beruntun melancarkan beberapa serangan berantai, sementara kaki juga berputar secepat sambaran petir, menjauh dari serangan lawan.

 

Melihat serangan dahsyatnya tidak mengenai sasaran, Ho Put-ciang siap menerjang ke depan, tiba-tiba terdengar Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay berkata, "Ho-bengcu, cepat ke depan dan periksa luka adik seperguruanmu itu, biar Pinto yang menghadapi lawan!"

Sementara itu Ui-hok Totiang dengan pedang terhunus sudah memburu ke depan, pedangnya diputar menciptakan beribu titik cahaya bintang, kemudian bersama-sama menggulung ke tubuh Liok-kaucu.

 

Ui-hok Totiang adalah jago pedang kenamaan dari Bu-tong-pay, ilmu pedangnya sudah tentu lihai sekali, begitu turun tangan dia segera mengembangkan ilmu pedang Thay-khek-kiam-hoat yang lihai.

Hawa dingin yang lembut menyusul gelombang pedang yang datang menggulung, langsung mengurung sekujur tubuh lawan secara ketat.

Ho Put-ciang tahu akan kesempurnaan tenaga dalam Ui-hok Totiang, kendati bukan tandingan musuh, untuk sementara tak sampai kalah, maka buru-buru dia menghampiri Oh Cian-giok.

 

Tampak paras muka si nona pucat-pias oleh penderitaan yang hebat, dia sedang meronta dari tanah dan duduk.

Ho Put-ciang segera membimbingnya sembari menegur, "Sumoay, parahkah lukamu?"

Oh Cian-giok menggerakkan bibir seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi kemudian dia memuntahkan darah segar dan tak sadarkan diri.

Ho Put-ciang benar-benar sakit hati menyaksikan kejadian itu, sambil membopong tubuh Oh Ciang Giok, dengan cepat dia melayang masuk ke dalam loteng sebelah timur.

 

Pendekar sastrawan dari Im-ciu Thia Leng-juan yang bertugas di loteng segera menegur dengan cemas, "Bagaimana keadaan Oh-sumoay?"

"Thia-tayhiap, lindungi keselamatan Sumoayku ini, keadaan di luar amat gawat, mungkin pihak musuh akan melancarkan sergapan kilat."

Belum habis dia berkata, Goan-ko Taysu dari Siau-lim-pay yang bertugas di depan pintu gerbang berteriak, "Sicu, harap berhenti!"

 

Segera Ho Put-ciang membaringkan tubuh Oh Cian-giok ke atas tanah, lalu mengangkat kepala.

Entah sejak kapan di depan pintu telah muncul orang berbaju hitam berkerudung yang menggembol sepasang pedang di punggung, orang itu sedang berjalan menuju pintu gerbang dengan langkah lebar.

Goan-ko Taysu cepat bertindak, dia melejit ke depan dan menghadang di depan pintu gerbang.

 

Orang berkerudung berbaju hitam itu membungkam dalam seribu bahasa, begitu melangkah ke depan, mendadak ia mendesak sambil melancarkan terkaman, sepasang telapak tangan diayunkan kian kemari, secara beruntun dia telah melepaskan tiga serangan berantai ke arah Goan-ko Taysu.

Ketiga serangan itu hampir semuanya merupakan jurus serangan yang lihai, setiap gerakan dilancarkan dari sudut yang tak terduga, meluncur datang secara beruntun dalam waktu singkat, seluruh angkasa bagaikan diselimuti oleh hawa serangan yang tajam.

 

Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang melihat situasi itu amat terperanjat, mereka tahu Goan-ko Taysu bakal celaka.

Betul juga, Goan-ko Taysu tak mampu menghindarkan diri dari ketiga serangan itu, bahu kirinya kena pukulan hingga mundur dengan sempoyongan dan terjatuh menindih palang pintu sebelah kiri.

Dengan gusar Ho Put-ciang membentak, "Siapa kau?"

 

Secepat kilat tubuhnya menerjang ke depan, telapak tangan kirinya menciptakan beribu bayangan telapak tangan yang menyelimuti angkasa, segulung demi segulung diayunkan ke depan tiada hentinya.

Serangan yang dilancarkan ini ibarat hembusan angin lembut di musim semi, meluncur dan menyapu tiada hentinya, dalam satu gebrakan saja seolah-olah terdiri dari seribu pukulan.

 

Selapis hawa pukulan yang dahsyat ibarat amukan ombak di tengah badai, menggulung ke depan mengikuti gerak serangan tadi.

Mencorong sinar tajam yang menggidikkan dari balik mata orang berkerudung berbaju hitam itu, bentaknya dengan suara rendah, "Ah, Te-jian-thian-ciu-jian-jiu (Seribu telapak tangan mengguncang bumi mengaduk langit)."

Tubuhnya tidak mundur, malah maju dan langsung menyongsong datangnya serangan itu, tiba-tiba sepasang lengannya bergetar secara aneh.

Beberapa benturan nyaring berkumandang.

 

Akibat benturan itu, orang berkerudung berbaju hitam maupun Ho Put-ciang sama-sama tergetar mundur tiga langkah.

Paras muka Ho Put-ciang diliputi rasa kaget dan tercengang, dia tak menyangka pihak musuh dapat menyebut nama pukulan sakti yang digunakannya itu dalam waktu cepat, bahkan berhasil pula mematahkan serangan Te-jian-thian-ciu-jian-jiu yang sudah puluhan tahun lamanya merajai dunia persilatan.

Sesungguhnya siapakah orang ini?

 

Ho Put-ciang membelalakkan mata mengawasi lawan tanpa berkedip, apa mau dikata, muka lawan ditutupi cadar hitam yang tebal menutupi seluruh wajah aslinya.

Mendadak orang berkerudung menggerakkan telapak tangannya ke belakang bahu, dua bilah pedang pendek yang memancarkan cahaya tajam langsung digenggam di telapak tangan kiri dan kanan.

Kemudian tubuhnya menerjang ke muka, tanpa mengucapkan sepatah kata pun sepasang pedangnya menusuk dada Ho Put-ciang.

 

Ho Put-ciang tahu tenaga dalam lawan sangat lihai, gerak serangannya mungkin menggunakan jurus yang amat sederhana dan biasa, namun hakikatnya cukup mematikan siapa pun yang berani menghadapinya.

Menyaksikan datangnya tusukan pedang yang menyambar amat cepat itu, serta-merta ia mundur dua langkah.

 

Siapa tahu jurus serangan orang itu hanya jurus tipuan belaka, di saat Ho Put-ciang mundur, sepasang bahunya bergerak dan menerobos masuk melalui sisi kiri-kanan Ho Put-ciang, langsung menerjang ke arah mulut tangga.

Pada waktu itu Thia Leng-juan telah bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan, sambil menghentak kipas di tangan menciptakan herlapis-lapis bayangan serangan yang mengancam berpuluh titik darah I anting di separoh bagian tubuh orang berkerudung itu.

 

Dengan cekatan orang itu membalik badan menghindari serangan kipas Thia Leng-juan, bersamaan pula sepasang pedang di tangannya diputar secepat kilat, gerakan pedang bergetar bagaikan cahaya bintang membelah angkasa.

Jurus pedang dipakai menghindar, juga untuk melancarkan serangan ini betul-betul luar biasa hebatnya.

 

Thia Leng-juan merasa terkecoh oleh gerakan lawan, "Crit", tak ampun lengan kirinya tersambar oleh sabetan pedang lawan hingga terluka memanjang ke bawah, darah segar segera muncrat membasahi seluruh lengannya.

Rasa kaget Ho Put-ciang kali ini benar-benar luar biasa, dia tak mengira pihak musuh memiliki ilmu silat yang begitu lihai, sadarlah jagoan ini bahwa keadaan yang dihadapi hari ini sangat gawat.

 

Berada dalam situasi seperti ini, dia tidak peduli kedudukan lagi, sekali melompat tahu-tahu tubuhnya sudah melayang turun di samping Thia Leng-juan, maksudnya mereka akan menggunakan kekuatan dua orang untuk bersama-sama menghadapi serangan musuh.

Orang berkerudung itu tertawa dingin, jengeknya, "Apabila kalian berdua tahu diri, cepatlah melarikan diri! Kalau tidak, hm ... hm ... sudah pasti kalian akan terkubur di sini!"

"Siapa kau? Mengapa tidak kau tunjukkan paras aslimu?" tegur Ho Put-ciang.

"Hm, aku adalah komandan nomor dua pasukan pengawal tanpa tanding Put-gwa-cin-kau!"

 

Ho Put-ciang tahu tak mampu memaksa lawan mengutarakan nama aslinya, maka dia bertanya lagi, "Apakah kau adalah pimpinan penyerbuan ke gedung Bu-lim Bengcu malam ini?"

"Benar, akulah orangnya!"

"Apa maksudmu menyerbu gedung Bu-lim Bengcu malam ini?" Orang berkerudung itu tertawa riang.

"Untuk membalas dendam kematian Sam-kaucu!" sahutnya.

"Akulah orangnya yang telah membunuh Sam-kaucu, bila ada persoalan boleh disampaikan kepadaku," seru Ho Put-ciang dengan suara berat dan dalam.

Orang berkerudung tertawa dingin.

"Hehehe, hanya mengandalkan kemampuan Ho-bengcu seorang juga ingin membunuh Sam-kaucu kami? Hm ... hm ... pembunuhnya terdiri dari empat orang, yang menjadi otak pembunuhan ini adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay, pembunuhnya adalah Ho-bengcu, Thia Leng-juan serta seorang yang bernama Ko Hong!"

 

Terkejut juga Ho Put-ciang mendengar perkataan itu, katanya dengan kening berkerut, "Benar, kami bertiga pembunuhnya, mau apa kau sekarang?"

"Siapa berhutang nyawa, dia harus membayar dengan nyawa, kalian bertiga hariis mengembalikan nyawa Sam-kaucu!"

"Sekarang kalian harus mengundurkan diri dari gedung Bengcu lebih dulu, besok kami bertiga pasti akan menanti kedatanganmu."

Kembali orang berkerudung tertawa dingin, "Hehehe, masih ada satu hal lagi, aku hendak berjumpa dengan Ku-lo Hwesio!"

 

Baru selesai dia berkata, dari atas loteng berkumandang suara sahutan seseorang dengan suara nyaring, "Belum lama Ku-lo Sinceng telah kembali ke alam baka, sayang kedatanganmu terlambat!"

Ucapan itu kontan membuat ketiga orang yang berada di situ menjadi amat terperanjat, Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan serentak berpaling ke belakang.

 

Ternyata orang yang barusan berbicara adalah Bong Thian-gak, saat ini dia sedang berdiri di mulut anak tangga dengan wajah murung, sedih dan pedih.

Thia Leng-juan berseru, "Ko-heng, apakah Ku-lo Supek dia orang lua ...."

"Ai ... dia orang tua telah menghembuskan napasnya yang penghabisan," jawab Bong Thian-gak sambil menghela napas sedih.

 

Walaupun Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan sudah tahu Ku-lo Hwesio bakal tewas akibat luka parah yang dideritanya, namun tidak menduga kepergiannya begitu cepat, maka mendengar jawaban itu mereka malah tertegun sampai tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Dengan sinar mata tajam dan menggidikkan, orang berkerudung mengawasi Bong Thian-gak dari ujung kepala sampai ujung kakinya, Krmudian menegur dengan dingin, "Kaukah yang bernama Ko Hong?"

"Ya, akulah orangnya!" jawab Bong Thian-gak hambar.

 

Sejak tiba di situ, sikap maupun gerak-gerik orang berkerudung itu amat angkuh, jumawa dan tidak pernah memandang sebelah mata terhadap orang lain, tapi jawaban Bong Thian-gak sekarang justru terasa pula amat menghina dan memandang rendah lawan.

Kontan dia tertawa terkekeh-kekeh seram, kemudian menegur lagi, "Aku dengar Sam-kaucu tewas di tanganmu, benarkah itu?"

"Semua iblis dan siluman yang bergabung dalam Put-gwa-cin-kau bakal mampus di telapak tanganku!"

 

Ucapan itu segera disambut orang berkerudung dengan gelak tawa, "Sudahkah kau mendengar suara jeritan ngeri dan lolong kesakitan yang berkumandang dari luar sana? Hahaha, tahukah kau malam ini gedung Bu-lim Bengcu akan berubah menjadi gedung mati!"

Sementara itu suara bentrokan nyaring, jeritan ngeri dan rintih kesakitan masih berkumandang tidak hentinya dari luar sana, jelas halaman depan gedung sudah berubah menjadi ajang pertarungan yang amat sengit.

 

Mendadak Bong Thian-gak berkata dengan suara dalam, "Ho-bengcu, Thia-tayhiap, cepat keluar membantu rekan-rekan lain, serahkan orang itu kepadaku!"

Ho Put-ciang sudah mendengar jeritan ngeri dan rintih kesakitan yang berkumandang dari kawanan jago di luar ruangan, namun dia kuatir musuh yang dihadapinya ini berilmu silat kelewat tinggi hingga Thia Leng-juan tak mampu menghadapinya, itulah sebabnya dia tak berani gegabah.

Kini mendengar ucapan itu, segera ujarnya kepada Thia Leng-juan, "Thia-heng, kau tetap tinggal di sini membantu Ko-siauhiap, aku akan keluar membantu mereka!"

 

Seusai berkata, Ho Put-ciang segera melompat ke udara dan menerobos keluar melalui pintu gerbang utama.

Di dalam ruang gedung bertingkat itu sekarang tinggal Thia Leng-juan, Bong Thian-gak dan orang berkerudung berbaju hitam.

Sementara itu Bong Thian-gak sudah melangkah turun dari anak tangga, kemudian tegurnya dengan suara dingin, "Ada urusan apa kau hendak berjumpa dengan Ku-lo Sinceng?"

 

Dengan sepasang pedang terhunus, orang berkerudung berdiri tegak di tempat, dia menjawab, "Aku hendak memeriksanya, apakah dia benar-benar Ku-lo Sinceng ataukah bukan!"

"Dia adalah Ku-lo Sinceng yang keasliannya terjamin, sedikit pun tak bakal salah!"

"Kau mengatakan Ku-lo Hwesio telah mati, sekarang dimanakah jenazahnya?"

"Jenazah Sinceng tidak boleh dipertontonkan di hadapan kaum kurcaci dan sampah masyarakat seperti kau."

 

Orang berkerudung tertawa seram.

"Hehehe, aku tak percaya kau mampu menghalangi jalan pergiku."

Bicara sampai di situ pedang pendek di tangan kirinya segera diayun menciptakan beribu bayangan pedang, sementara pedang di tangan kanannya secepat kilat menusuk ke dada Bong Thian-gak.

Dua jurus serangan pedang yang amat dahsyat digunakan secara bersamaan, kedahsyatannya benar-benar tak boleh dianggap enteng.

 

Bong Thian-gak menyaksikan jurus pedang itu dengan berkerut kening, kemudian serunya sambil tertawa dingin, "Mundur!"

Dia bukannya mundur, namun malah maju, tangan kanan diayunkan ke depan menyongsong datangnya tusukan pedang kanan orang berkerudung, sementara tangan kiri secepat kilat mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri lawan. Sekali pun serangannya dilancarkan belakangan, tetapi sampai sasaran lebih dahulu, berbareng badannya turut menerobos maju.

 

Tatkala Thia Leng-juan menyaksikan orang berkerudung itu melancarkan serangan tadi, sesungguhnya dia pun hendak turun tangan menyambut, akan tetapi setelah menyaksikan jurus serangan yang digunakan Bong Thian-gak ternyata jauh lebih tangguh dari lawan, dia malah tertegun.

Tampaknya orang berkerudung cukup tahu kelihaian serangan itu, cepat dia menarik kembali sepasang pedangnya sambil mundur.

 

Dengan sinar mata mencorong, rasa kaget dan tercengang, ia segera bertanya, "Ilmu silat apakah ini?"

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Hehehe, inilah ilmu Tat-mo-goan-sian-jiu dari Siau-lim-pay. Hari ini jangan harap kau bisa meloloskan diri dari maut."

Seusai berkata, tubuh Bong Thian-gak bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya langsung menerjang ke depan, sepasang telapak tangannya diayun berulang kali melepaskan tiga serangan berantai.

Ketiga serangan itu seluruhnya gerakan yang aneh dan sakti, seperti pukulan telapak tangan dan juga bagai ilmu mencengkeram Kim-na-jiu yang amat dahsyat.

 

Orang berkerudung membentak dingin, sepasang pedangnya meluncur ke depan dengan pancaran sinar tajam yang membias kemana-mana, dengan pedang mengunci telapak tangan, secara beruntun dia melancarkan tiga bacokan berantai dan maha dahsyat.

Gerak serangan yang digunakan kedua orang itu sama-sama dilakukan dengan kecepatan luar biasa, sekali pun tenaga dalam Thia Leng-juan amat sempurna, masih susah untuk melihat perubahan jurus yang digunakan mereka.

Kedua orang itu telah beralih dua kali dari posisi semula.

 

Mendadak terdengar orang berkerudung mendengus tertahan, sambil menarik kembali pedang, ia mundur empat langkah, sepasang matanya memancarkan rasa kaget dan tercengang.

Pada saat itulah tiba-tiba Bong Thian-gak menyaksikan Oh Cian-giok yang sedang berbaring tak berkutik di sisi kiri anak tangga, dalam kagetnya dia segera menyelinap ke depan sana sambil bertanya, "Thia-tayhiap, mengapa dengan nona Oh?"

 

Setelah ditegur, Thia Leng-juan baru teringat pada Oh Cian-giok yang terluka parah, segera sahutnya, "Nona telah dihantam musuh hingga terluka parah!"

Oh Cian-giok adalah adik seperguruan Bong Thian-gak, sejak kecil mereka dibesarkan bersama dalam gedung Bengcu, hubungan batin kedua insan ini pun boleh dibilang cukup mendalam.

Maka sewaktu Bong Thian-gak menyaksikan gadis itu tergeletak tak berkutik di atas tanah dengan wajah pucat dan noda darah membasahi bibir, dia menjadi sangat gelisah.

"Siapa yang telah melukainya?" ia menegur.

 

Dalam pada itu tangan kanan Bong Thian-gak sudah memegang nadi pergelangan tangan Oh Cian-giok, sembari memeriksa denyut nadinya, dengan sorot mata penuh amarah dia pelototi wajah orang berkerudung tanpa berkedip, hawa membunuh menyelimuti wajahnya.

Tiba-tiba orang berkerudung berpekik nyaring, dengan sepasang pedangnya diluruskan ke depan, secepat sambaran petir ia menerjang ke arah Bong Thian-gak.

 

Perubahan yang amat mendadak dan di luar dugaan ini sungguh membuat Thia Leng-juan tertegun dan dalam posisi tak memungkinkan hakikatnya mustahil baginya memberikan bantuan.

Dalam terperanjatnya, jagoan ini segera berteriak, "Ko-heng!...."

Terdengar Bong Thian-gak mendengus tertahan, bahu kirinya yang tak sempat menghindar kena tertusuk pedang lawan, darah segera memancar keluar bagaikan semburan mata air.

Tapi di saat bersamaan tangan kanan Bong Thian-gak diayunkan pula ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Kembali terdengar dengus tertahan menggema.

Pedang pendek orang itu terlepas, sementara tubuhnya terpental ke belakang dan darah segar muntah dari mulutnya.

 

Kemudian dengan sepasang bahu yang gemetar keras dan tubuhnya yang sempoyongan, mendadak ia membalikkan badan dan kabur dari ruangan itu.

Sebenarnya Thia Leng-juan ingin mengejar, namun berhubung dia sangat menguatirkan luka yang diderita Bong Thian-gak, maka dengan cepat dihampirinya anak muda itu sembari menegur, "Ko-heng, parahkah luka yang kau derita?"

Darah kental mengucur dari bahu kiri Bong Thian-gak dan membasahi lantai, sudah jelas luka yang dideritanya itu cukup parah.

 

Dengan cepat Bong Thian-gak menggunakan jarinya menotok beberapa jalan darah penting di tubuh sendiri, setelah menghentikan darah yang mengalir, sahutnya sambil tertawa rawan, "Thia-heng, aku tidak apa-apa, dia berilmu tinggi dan sangat hebat, bila sampai keluar dari sini, sudah pasti tiada orang yang mampu menahannya, tolong kau jaga baik-baik nona Oh, aku hendak keluar menghadapi musuh."

Jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang susul-menyusul di luar sana, jelas orang berkerudung sedang melakukan pembantaian secara besar-besaran di sana.

 

Thia Leng-juan yang menyaksikan luka Bong Thian-gak amat parah menjadi gelisah, serunya lagi, "Ko-heng, luka pedang itu sangat parah, harap kau balut dahulu luka itu, biar aku saja yang menyambut serangan mereka."

Sementara itu Bong Thian-gak sudah bangkit, mendengar ucapan itu dia segera menggeleng, kemudian katanya dengan suara nyaring, "Kini darah sudah berhenti mengalir, luka ini pun tak akan merenggut nyawaku."

Tidak sampai selesai perkataan itu diutarakan, tubuhnya sudah melompat keluar dari ruangan, ketika memandang ke depan ....

 

Di tengah lapangan sedang berlangsung beberapa kelompok pertarungan, sementara di atas tanah tergeletak mayat-mayat para pengawal gedung Bu-lim Bengcu, darah yang menganak sungai, mayat membukit, membuat pemandangan di situ tampak sangat mengerikan.

Sementara itu di luar lapangan sedang berlangsung pertarungan yang amat seru.

 

Ho Put-ciang sedang bertarung melawan seorang gadis berbaju merah, dia adalah Kiu-kaucu Ni Kiu-yu.

Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong dari Khong-tong-pay sedang bertarung melawan seorang lelaki berbaju perlente.

Goan-ko Taysu dari Siau-lim-pay dan Ang Thong-lam dari Tiam-jong-pay bersama-sama menghadapi lelaki berbaju perlente lainnya.

Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay bertarung seorang diri melawan orang aneh berambut panjang, dialah Liok-kaucu Put-gwa-cin-kau.

 

Sementara di luar arena pertarungan, di sekeliling lapangan berdiri berlapis-lapis para pengawal gedung bersenjata lengkap, namun waktu itu orang berkerudung berbaju hitam sudah menerjang masuk ke dalam kelompok pengawal gedung, pedang pendeknya yang tinggal sebelah membabat kian kemari tanpa tandingan, jeritan ngeri dan lolong kesakitan bergema silih berganti, darah segar pun bercucuran menganak sungai.

 

Bong Thian-gak yang menyaksikan adegan itu menjadi gusar sekali, sambil berpekik nyaring ia melejit ke udara seperti burung alap-alap dan melayang turun di depan orang berkerudung.

Melihat munculnya pemuda sakti ini, orang berkerudung menjadi ketakutan, cepat dia berteriak dengan keras, "Liok-kaucu, Kiu-kaucu ... semuanya mundur!"

Begitu perintah diturunkan, dia segera melejit lebih dulu dan melarikan diri dengan terbirit-birit dari tempat itu.

"Mau kabur kemana kau?" bentak Bong Thian-gak dengan suara menggeledek.

Tubuhnya segera melejit ke udara dan melakukan pengejaran.

 

Siapa tahu pada saat itulah berkumandang suara dengusan tertahan, tertampak Ui Hiok Totiang dari Bu-tong-pay yang sedang bertarung melawan Liok-kaucu kena dihajar oleh musuh sehingga mencelat ke udara dan langsung menumbuk tubuh Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak berjumpalitan, tangan kanannya dengan cepat menyambar ke muka mencengkeram tubuh Ui-hok Totiang, kemudian melayang turun ke permukaan tanah dengan tenang.

Tampak paras muka Ui-hok Totiang pucat seperti mayat, kulit wajahnya mengejang penuh penderitaan, teriaknya dengan suara parau, "Terima kasih banyak, Ko-siauhiap ...."

Belum habis dia berkata, orangnya sudah roboh tak sadarkan diri di atas tanah.

 

Mendadak terdengar Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berseru dengan suara lantang, "Biarkan musuh mengundurkan diri, jangan dikejar!"

Dengan cepat Bong Thian-gak meletakkan Ui-hok Totiang ke tanah, baru saja dia akan melakukan pengejaran, ketika mendongakkan kepala, ternyata kawanan musuh yang sedang bertarung sengit sudah membubarkan diri, pertarungan telah berhenti, di bawah sinar kegelapan nampak para musuh sedang melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap.

 

Kemudian dia saksikan Ho Put-ciang sedang berjalan mendekat dengan langkah sempoyongan, lalu ujarnya kepada Bong Thian-gak, "Ai ... korban yang berjatuhan kelewat banyak ... korban yang berjatuhan kelewat banyak...."

Hanya ucapan itu saja yang mampu diucapkan, sementara air matanya berderai dengan deras.

Ya, siapa bilang Enghiong tidak bisa mengucurkan air mata? Memangya saat bersedih saja ....

Ketika jumlah korban dihitung ... ternyata tujuh puluh enam pengawal mendapat celaka, dua puluh lima orang menderita luka termasuk Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui, Oh Cian-giok dan lainnya, semuanya mencapai seratus tujuh orang.

 

Lima musuh ternyata dalam waktu satu jam berhasil menciptakan korban seratus tujuh orang, prestasi itu benar-benar merupakan suatu peristiwa yang memilukan.

Paras muka Bong Thian-gak pucat-pias seperti mayat, dia mengangkat kepala dan memandang sekejap tumpukan mayat yang berserakan dimana-mana, mendadak mencorong sinar tajam dan buas penuh dendam dari balik matanya, ia berdiri tegak di tempat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Yu Ciang-hong, Goan-ko Taysu dan Ang Thong-lam bersama-sama berjalan mendekat pula dengan kepala tertunduk sedih.

Untuk beberapa saat suasana di situ diliputi kesedihan yang tebal.

 

***

 

Helaan napas sedih bergema memecah keheningan, Thia Leng-juan berjalan keluar dari balik ruang loteng dengan langkah perlahan, katanya, "Hari ini seandainya Ko-heng tidak berada di sini dan memukul mundur lawan, korban yang berjatuhan dalam gedung Bengcu sudah pasti akan lebih banyak."

Benar, lima orang musuh dari Put-gwa-cin-kau yang muncul itu, terutama orang berkerudung berbaju hitam benar-benar berkepandaian silat amat tinggi, pada hakikatnya tiada orang yang mampu memberikan perlawanan.

Andaikata bukan Bong Thian-gak yang memukul mundur, akibat yang timbul sukar dilukiskan dengan kata-kata.

 

Selang beberapa saat kemudian, pelan-pelan Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berhasil menenangkan kembali gejolak perasaan sedih yang mencekam hatinya, melihat darah bercucuran dengan derasnya dari bahu kiri Bong Thian-gak, buru-buru dia menegur, "Ko-heng, parahkah luka yang kau derita?"

"Gara-gara mengurusi nona Oh, Ko-heng telah kena ditusuk musuh," seru Thia Leng-juan dari samping. "Namun pihak lawan pun terkena pukulan Ko-heng, nampaknya tidak ringan luka dalam yang dideritanya, dia kabur sambil muntah darah."

 

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, walaupun orang itu terkena pukulanku hingga muntah darah, namun luka pada sisi perutnya tidak seberapa parah, ai ... kawanan siluman dari Put-gwa-cin-kau memang tangguh dan rata-rata berilmu tinggi, kenyataan ini di luar dugaan siapa pun."

Sementara itu Ho Put-ciang telah berseru kepada para pengawal dengan suara nyaring, "Kalian harap segera membereskan jenazah rekan-rekan lain, usahakan menolong dan menyelamatkan jiwa mereka yang terluka terlebih dulu."

 

Selewatnya pertempuran itu, kekuatan gedung Bu-lim Bengcu benar-benar menderita kerugian besar.

Setelah memperoleh pengobatan dan perawatan yang tekun, Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui, Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay berhasil diselamatkan jiwanya.

Hanya Oh Cian-giok yang menderita luka agak parah, sehingga meski sudah memperoleh pengobatan, ternyata belum sadar.

 

Dalam pada itu para jago sudah berkumpul di bawah loteng.

Dengan seksama Bong Thian-gak memeriksa denyut nadi Oh Cian-giok, kemudian ia bertanya lirih, "Dia terluka di tangan siapa?"

"Cian-giok dan Ui-hok Totiang sama-sama terluka di bawah pukulan Liok-kaucu," jawab Ho Put-ciang cepat.

"Dasar tenaga dalam nona Oh amat cetek, pukulan musuh telah melukai isi perutnya, bila ingin menyadarkan dia, kita membutuhkan seorang jago bertenaga dalam sempurna, dengan pengerahan tenaga melalui jalan darah Ciang-tay-hiat, gumpalan darah yang menyumbat dalam tubuhnya baru akan terbebaskan."

 

"Ciang-tay-hiat terletak hanya dua inci di bawah puting susu orang, padahal Oh Cian-giok adalah seorang perawan, tentu saja sulit bagi seorang pemuda untuk memberi pertolongan."

Tentu saja Ho Put-ciang cukup mengetahui pantangan itu, tapi  dengan suara dalam dia berkata, "Demi menyelamatkan jiwa Sumoayku, harap kalian tak usah mempersoalkan pantangan lagi."

 

"Ho-bengcu, nona Oh adalah adik seperguruanmu, paling baik bila Hobengcu sebagai Toasuhengnya yang turun tangan memberikan pertolongan," usul Bong Thian-gak cepat.

Ucapan itu menyulitkan Ho Put-ciang. "Aku tidak pandai ilmu pengobatan, bagaimana seandainya terjadi hal-hal yang tak diinginkan?" serunya.

"Nona Oh sudah dijodohkan dengan Yu-sute, seandainya luka yang diderita Yu-sute bisa cepat sembuh dan pulih, hal ini lebih baik lagi," sambung Thia Leng-juan.

 

Mengetahui Oh Cian-giok sudah bertunangan dengan Yu Heng-sui, Bong Thian-gak menjadi sedih, murung dan kosong pikirannya.

Di samping Suheng-moay sekalian, hanya Bong Thian-gak yang berhubungan agak rapat dengan Oh Cian-giok. Sejak kecil mereka sudah bermain dan bergurau bersama, di antara kedua orang itu sesungguhnya sudah tertanam semacam perasaan.

Betul di antara mereka terjalin hubungan cinta, namun semacam perasaan senang tertanam juga di dalam hati kecil masing-masing.

 

Seandainya Bong Thian-gak tidak diusir dari perguruan, tentu saja antara Oh Cian-giok dan Bong Thian-gak sudah merupakan sepasang kekasih ideal.

Dalam pada itu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang menggeleng kepala sambil berkata, "Yu-sute masih terluka, sekali pun bisa disembuhkan namun paling tidak masih membutuhkan waktu tiga-empat hari, apalagi tenaga dalamnya kurang sempurna, aku pikir lebih baik kita memohon bantuan Ko-siauhiap saja untuk mengobati Sumoay, cuma Ko-siauhiap menderita luka pada bahu kirinya ... apakah kau mampu memberikan pertolongan?"

 

Bong Thian-gak segera menggeleng kepala berulang-kali.

"Sampai besok aku baru bisa mengerahkan tenaga dalamku, namun luka nona Oh amat parah dan harus diobati sekarang juga, apabila tidak dilakukan pencegahan, bisa jadi keadaan lukanya akan mengalami perubahan."

Ho Put-ciang berkata lagi, "Ai, walaupun antara kaum lelaki dan wanita dibatasi norma kesusilaan, namun tabib dan sebangsanya tidak terkena batasan itu, harap Ko-siauhiap sudi memberi pertolongan!"

 

Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas, "Ai, keselamatan nona

Oh berada di ujung tanduk dan memang tak bisa ditunda-tunda lagi, baiklah harap Ho-bengcu suka mengundang dua orang dayang untuk membantu!"

Tentu saja semua orang tahu maksud Bong Thian-gak memanggil dua orang dayang itu.

Ho Put-ciang manggut-manggut sembari berkata, "Sebelumnya atas nama Sumoayku, kuucapkan banyak terima kasih atas bantuan Ko-siauhiap!"

 

Maka di bawah bimbingan beberapa orang dayang, Oh Cian-giok diantar menuju sebuah ruangan dan dibaringkan di atas ranjang, kemudian kecuali menahan Siau Kiok dan Siau Hiang, dua orang dayang kepercayaan Oh Cian-giok, para dayang lainnya segera diperintahkan meninggalkan tempat itu.

Kedua dayang ini merupakan dayang-dayang cilik yang pernah melayani Oh Ciong-hu dahulu, tentu saja Bong Thian-gak kenal mereka berdua.

 

Dengan suara lirih Bong Thian-gak berkata kepada Siau Kiok dan Siau Hiang, "Sekarang harap kalian melepaskan dulu pakaian luar nona."

"Ko-siangkong, luka yang kau derita amat parah, apakah tidak beristirahat terlebih dahulu?" seru Siau Kiok merdu.

Bong Thian-gak menggeleng, "Ah, hanya luka luar yang tak seberapa tidak menjadi soal."

Siau Kiok mengedipkan mata setelah memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, katanya, "Ko-siangkong, kau mirip sekali dengan seseorang."

"Mirip siapa?"

"Su-suheng nona!"

 

Bong Thian-gak terkejut sekali, dia tak menyangka Siau Kiok memiliki ketajaman mata luar biasa, untuk menutupi rasa kagetnya itu, dia tertawa tergelak.

"Ah, jangan bergurau lagi, ayo kita segera turun tangan."

Tiba-tiba Siau Kiok menghela napas sedih, kembali katanya, "Ai, sudahlah! Seandainya Bong Thian-gak masih hidup, mungkin Yu Heng-sui akan bersedih."

 

Ucapan itu segera menggigilkan sekujur tubuh Bong Thian-gak, diam-diam dia berpikir, "Entah apa maksud Siau Kiok berkata demikian? Mungkinkah Sumoay selalu teringat akan diriku?"

Terbayang bagaimana dia dan Sumoaynya hidup berdampingan sejak kecil... segala sesuatunya terasa syahdu dan nyaman ....

Bong Thian-gak masih ingat, suatu ketika ia bersama Sumoaynya bermain jadi pengantin, mereka berdua bersama-sama tidur dalam gua yang dijadikan kamar pengantin mereka ....

"Siangkong, apa yang sedang kau pikirkan? Pakaian luar nona sudah dilepas."

 

Seperti baru tersadar dari impian, Bong Thian-gak berpaling.

Tampaklah tubuh bugil Oh Cian-giok muncul di depan mata, kulit yang halus dan putih itu membuat gairah setiap pria ....

Buru-buru Bong Thian-gak memejamkan mata rapat-rapat, lalu berkata lagi, "Sekarang lepas pakaian dalamnya, kemudian letakkan tangan kananku di atas jalan darah Ciang-tay-hiat di atas payudaranya."

"Ah, Siangkong benar-benar lelaki jujur," puji Siau Kiok.

 

Sementara itu Bong Thian-gak telah memejamkan mata dan duduk bersila di sisi pembaringan, segenap perhatian terpusat menjadi satu, sementara hawa murninya dihimpun.

Selang beberapa saat kemudian Bong Thian-gak bertanya, "Sudah siap?"

"Sudah siap."

"Kalau begitu, lakukan seperti apa yang kukatakan tadi!"

 

Siau Hiang segera mengangkat telapak tangan kanan Bong Thian-gak dan pelan-pelan diletakkan di atas puting susu payudara sebelah kanan Oh Cian-giok.

Hati Bong Thian-gak tergetar begitu tangannya menyentuh tubuh Oh Cian-giok.

Untung Bong Thian-gak memiliki tenaga dalam sempurna, buru-buru dia memusatkan seluruh perhatiannya mengerahkan tenaga dalam.

Tak selang lama kemudian, dari dasar telapak tangannya muncul segumpal bola api yang bergetar, membakar seputar payudara si nona.

Telapak tangannya menggosok dan memijit payudara sebelah kanan si nona hampir seperempat jam lamanya, baru kemudian beralih ke atas jalan darah Ciang-tay-hiat pada payudara sebelah kiri.

 

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya terdengar Oh Cian-giok merintih.

Bong Thian-gak terkejut, buru-buru dia menarik tangannya dan turun dari pembaringan, bisiknya cepat, "Sebentar dia akan sadar, cepat kenakan pakaiannya, harap kalian jangan memberitahu kepadanya bahwa aku telah menyembuhkan lukanya."

Selesai berkata, masih dalam keadaan terperanjat, dengan cepat Bong Thian-gak membuka pintu kamar dan berlalu dari situ.

 

Tak lama setelah Bong Thian-gak keluar ruangan, Oh Cian-giok membuka mata sambil berkata dengan sedih, "Siau Kiok, barusan apakah Ko-siangkong?"

Siau Kiok serta Siau Hiang sama-sama terperanjat, serentak berseru tertahan, "Nona telah sadar kembali?"

Sambil tetap berbaring, Oh Cian-giok manggut-manggut.

"Ya, sebelum dia berlalu tadi, aku telah mendusin, Ai! Dia benar-benar seorang Kuncu sejati."

"Nona, enci Kiok bilang dia mirip sekali dengan Bong Thian-gak," tiba-tiba Siau Hiang berkata.

 

Perih hati Oh Cian-giok mendengar perkataan itu, tanyanya, "Bong Thian-gak? Maksudmu Suheng Bong Thian-gak?"

Siau Kiok mengerling sekejap ke arah Siau Hiang, kemudian buru-buru katanya, "Budak hanya merasa dia agak mirip dengan Bong-siangkong, aku pun hanya iseng bertanya saja!"

"Lantas bagaimana jawabnya?" tanya Oh Cian-giok gelisah.

"Dia tidak menjawab."

 

Mendadak Oh Cian-giok berseru tertahan, katanya, "Ya, ya, teringat aku sekarang, waktu dia baru datang ke gedung ini tempo hari, aku pun merasa seperti raut wajahnya kukenal, seperti pernah kujumpai di suatu tempat, namun tak bisa kuingat lagi. Ya, betul! Dia memang agak mirip dengan Su-suheng Bong Thian-gak."

Setitik sinar terang itu segera mengalutkan pikiran dan perasaan Oh Cian-giok, untuk beberapa saat dia melamun seorang diri.

 

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah meninggalkan ruangan kecil dan menuju ke ruang tengah. Di sana para jago sudah menunggu untuk merundingkan suatu masalah besar.

Pa-ong-kiong Ho Put-ciang yang pertama-tama berdiri lebih dulu, segera tegurnya, "Apakah Oh-sumoay telah mendusin?" Bong Thian-gak mengangguk.

"Ya, gumpalan darahnya telah hilang, sekarang kesehatannya sudah tidak membahayakan lagi."

"Ko-siauhiap pasti sudah banyak kehilangan tenaga murni, silakan segera beristirahat!"

 

Bong Thian-gak tersenyum.

"Kesegaranku masih baik, bukankah begitu?"

Sambil berkata dia lantas menatap orang-orang dengan sorot mata berkilauan, sedikit pun tidak menunjukkan keletihan.

Hanya paras mukanya saja yang memang berwarna kuning pucat macam orang penyakitan.

Thia Leng-juan memuji, "Ko-heng, sungguh amat sempurna tenaga dalammu, membuat orang kagum."

"Ai, tampaknya tenaga dalamku telah memperoleh kemajuan pesat dalam sehari saja," ucap Bong Thian-gak sedih. "Padahal semua ini pemberian Ku-lo Sinceng."

 

Bicara sampai di situ, Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Sebelum menghembuskan napas penghabisan, Ku-lo Sinceng telah membantuku menembus urat mati hidupku, sehingga taraf tenaga dalamku mencapai suatu keadaan yang luar biasa. Budi kebaikan yang ditanam Sinceng kepadaku benar-benar tak terlupakan selamanya."

"Ai, sekarang aku masih ada satu persoalan penting yang hendak kusampaikan kepada kalian."

"Persoalan apa? Harap Ko-siauhiap suka menerangkan secara langsung," kata Ho Put-ciang.

"Jit-kaucu belum mati!"

 

Ucapan itu bagaikan guntur di siang hari bolong, seketika saja menggetarkan hati setiap orang yang hadir dalam ruangan itu.

"Bukankah kematian Ku-lo Supek merupakan pengorbanan yang sia-sia," teriak Thia Leng-juan dengan suara menggeledek.

"Sebenarnya luka Ku-lo Sinceng masih bisa disembuhkan, tetapi untuk membantu ilmu silatku, dia telah mengorbankan diri."

"Ai, waktu itu luka yang diderita Sinceng amat parah, lagi pula dia menganggap Jit-kaucu sudah tewas di bawah pukulan Tat-mo-khi-kang, maka aku tak berani memberitahu yang sebenarnya kepada dia."

"Tindakan yang diambil Ko-siauhiap memang benar, bagi orang yang berlatih silat, jika mengetahui kegagalan yang dideritanya, maka kekecewaan dan kesedihan yang dirasakan saat itu mungkin jauh lebih parah daripada mati," kata Ho Put-ciang.

 

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Sudah tujuh-delapan tahun lamanya Sinceng melatih diri untuk menguasai ilmu Tat-mo-khi-kang, tujuannya tidak lain adalah untuk mematahkan ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Jit-kaucu."

"Ai, apa mau dikata, Soh-li-jian-yang-sin-kang terlalu sempurna, sedangkan Tat-mo-khi-kang Sinceng baru mencapai tingkat ketiga, itulah sebabnya Ku-lo Sinceng mengalami kekalahan."

 

Maka secara ringkas Bong Thian-gak mengisahkan pertarungan Ku-lo Sinceng melawan Jit-kaucu Thay-kun.

Selesai mendengar kisah itu, dengan wajah serius, Ho Put-ciang berkata, "Dengan masih hidupnya Jit-kaucu, berarti dunia persilatan tak akan memperoleh ketenangan untuk selamanya!"

Bong Thian-gak termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya, "Bibit bencana yang sebenarnya bagi umat persilatan sekarang sesungguhnya bukan Jit-kaucu!"

"Apa maksudmu?"

 

Maka Bong Thian-gak menceritakan bagaimana dia menggali liang kubur, bagaimana bertarung dan berbincang dengannya.

Mendengar kisah itu, Thia Leng-juan lantas bertanya, "Ko-heng, menurut kau, Jit-kaucu adalah murid Jian-bin-hu-li Ban Li-biau?"

Bong Thian-gak mengangguk.

"Benar, pada usia lima tahun dia telah memperoleh warisan ilmu silat guruku yang kedua."

"Lantas atas dasar apa Ko-heng mengatakan bibit bencana bagi dunia persilatan bukan Jit-kaucu?"

 

Bong Thian-gak termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata, "Dari pembicaraan Jit-kaucu, pentolan atau dalang semua bencana di Bu-lim dewasa ini adalah orang yang mengajarkan ilmu silat kepadanya saat ini, yakni gurunya, Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau!"

"Ucapan Ko-siauhiap memang benar," Ho Put-ciang manggut-manggut. "Tentang ilmu silat, kemungkinan besar ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang Jit-kaucu sudah jauh melampaui Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, tapi dari tindakan Jit-kaucu yang memberi petunjuk kepada Ko-siauhiap agar mengobati penyakit yang diderita Ku-lo Sinceng serta pertanyaan kepada Ko-siauhiap apakah dia adalah utusan rahasia Cong-kaucu ... hal itu membuktikan watak Jit-kaucu yang sebenarnya adalah saleh dan baik, dia terpaksa membunuh orang atas petunjuk serta desakan orang lain."

 

"Apabila dugaanku tidak salah, tiap kali Jit-kaucu membunuh orang, hatinya merasa menyesal."

Bong Thian-gak mengangkat kepala dan memandang sekejap ke arah semua orang, kemudian katanya, "Kalau dihitung, Jit-kaucu masih terhitung Sumoayku, aku berkewajiban menyelamatkannya dari jurang kehancuran, seandainya ia tak bisa dididik jadi baik, aku yakin masih mampu menandinginya."

 

Bong Thian-gak berhenti sejenak, kemudian baru sambungnya, "Padahal hampir setiap orang yang tergabung dalam Put-gwa-cin-kau memiliki ilmu silat yang sangat lihai, dari kepandaian silat kelima orang itu boleh dibilang mereka adalah gembong-gembong iblis berilmu tinggi."

"Kemampuan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau untuk menaklukkan serta mengendalikan kaum iblis di bawah kekuasaannya, bisa diduga sampai dimanakah kemampuannya? Ai ... apa yang diucapkan Ku-lo Sinceng memang benar, musuh paling tangguh bagi kita sesungguhnya adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau ... Ku-lo Taysu adalah tokoh agung dari Siau-lim-pay, mungkin dia telah menyiapkan segala sesuatunya! untuk kita."

 

Ho Put-ciang manggut-manggut membenarkan, "Ucapan Ko siauhiap memang benar, beberapa hari berselang Sinceng memang telah memberi dua buah kantung kepadaku dan berpesan agar yang satu; untuk Ko-siauhiap dan satu untukku. Dia orang tua berpesan kantung hanya boleh diserahkan kepada Ko-siauhiap, bila dia sudah berpulang alam baka. Tadi oleh karena ada serangan musuh tangguh, aku telah melupakan hal ini."

 

Mendengar ucapan itu, segera terlintas rasa girang di wajah Bong Thian-gak, serunya dengan cepat, "Ah, rupanya dugaanku memang benar, Sinceng telah menyiapkan segala sesuatunya."

Sementara itu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang sudah merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan dua buah kantung yang terbuat dari kain yang amat indah. Ho Put-ciang mengambil satu di antaranya dan diserahkan kepada Bong Thian-gak, sambil berkata, "Yang ini buat Ko-siauhiap!"

 

Bong Thian-gak menyambut kantung itu, lalu bertanya, "Apakah Ho-bengcu telah memeriksa isi kantung itu?"

"Belum, Ku-lo Sinceng telah berpesan, apabila ia sudah kembali ke alam baka, isi kantung itu baru boleh dibuka, maka aku masih belum mengetahui apa isinya."

"Sekarang mungkin kau sudah boleh membukanya, bukan?"

 

Bong Thian-gak segera merogoh ke dalam kantung itu dan mengeluarkan isinya, ternyata di situ terdapat tiga pucuk sampul surat yang dilipat menjadi empat persegi, di antara sampul tertera huruf satu, dua dan tiga secara berurutan.

Bong Thian-gak mengambil sampul surat pertama, kemudian membaca tulisan di atasnya:

"Saat membuka sampul pertama, Sinceng sudah kembali ke alam baka."

 

Pelan-pelan Bong Thian-gak merobek sampul itu, tampak di atas kertas dalam sampul tertulis beberapa huruf yang berbunyi:

"Selamatkan Jit-kaucu!"

Di sisi sebelah kiri ditulis nama, tertera pula dua deret kalimat yang ditulis dalam huruf kecil:

"Bila Jit-kaucu sudah tewas sebelum kematian Pinceng, isi surat ini batal"

 

Membaca petunjuk itu, untuk beberapa saat Bong Thian-gak termenung dan mengerut dahi, dia seperti tidak memahami apa arti petunjuk itu.

Waktu itu kendati para jago lain terdorong oleh rasa ingin tahu ingin turut membaca apa isi surat Ku-lo Sinceng, namun oleh karena Bong Thian-gak bungkam seribu bahasa, maka tak seorang pun yang berani bertanya.

Semua orang hanya mengawasi Bong Thian-gak dengan wajah termangu-mangu.

 

Bong Thian-gak termenung sampai lama sekali, akhirnya dia meletakkan surat itu ke atas meja sembari berkata, "Silakan kalian baca isi surat itu, kemudian pikirkan apa artinya?"

Sementara itu para jago sudah dapat melihat jelas tulisan itu, kontan semua orang mengerut dahi.

Thia Leng-juan pun tidak habis mengerti, katanya kemudian, "Menyelamatkan Jit-kaucu? Tulisan itu mengandung dua arti yang berbeda, satu di antaranya adalah menyelamatkan roh atau jiwanya dan yang lain berarti menjaga keselamatannya."

"Apa pula bedanya antara roh, jiwa dan keselamatan?" tanya Goan-ko Taysu dari Siau-lim-pay keheranan.

 

"Menyelamatkan roh atau jiwanya, berati Jit-kaucu sudah terlalu banyak membunuh orang, banyak melakukan kejahatan sehingga kita diharuskan membawanya dari jalan sesat kembali ke jalan yang benar serta tidak melakukan kejahatan lagi."

"Kalau menolong keselamatannya berarti keselamatan jiwa Jit-kaucu terancam bahaya dan kita harus menolongnya, jangan sampai dia tewas terbunuh oleh orang lain."

 

"Penjelasan Thia-tayhiap tepat sekali!" seru Ang Thong-lam pula, "Memang tulisan itu bisa punya dua maksud, tapi dengan kedudukan Jit-kaucu sekarang, kecuali kita hendak membunuhnya, masa ada orang lain yang hendak membunuhnya pula?"

"Ku-lo Supek adalah seorang pintar dan pandai menganalisa suatu keadaan, perintahnya memang mengandung arti mendalam, sehingga aku sendiri pun tak dapat memastikan."

 

"Tulisan 'Selamatkan Jit-kaucu' memang mengandung arti yang dalam, untuk sementara waktu sulit bagi kita menduganya, aku rasa kita turuti saja perintahnya dan menyelamatkan Jit-kaucu," sela Ho Put-ciang.

Sementara itu Bong Thian-gak sedang memejamkan mata sambil memutar otak memikirkan sesuatu.

 

Setelah melalui pemikiran yang panjang, akhirnya Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, perintah Ku-lo Sinceng ini memang benar-benar sukar dipahami pikiran kita, ya, mungkin cuma waktulah yang bisa membuktikan hal ini!"

"Kantung berisi surat yang ditinggalkan Ku-lo Supek untukku belum sempat kubuka, siapa tahu surat itu menyinggung tentang hal ini?" kata Ho Put-ciang tiba-tiba.

 

Selesai berkata dia segera mengambil kantung yang ditujukan kepadanya itu.

Dalam kantung hanya tersimpan sepucuk surat saja, di atas sampul surat tertulis:

"Surat wasiat Siau-lim Ku-lo."

Membaca tulisan itu, hati semua orang bergetar keras, mereka berpikir, "Ternyata Ku-lo Hwesio telah mengetahui tentang kematiannya, maka dia sengaja menulis surat wasiatnya."

 

Pelan-pelan Ho Put-ciang mengeluarkan surat dari dalam sampul dan membaca isinya yang berbunyi:

"Siancay! Kehidupan di jagad ini berlangsung karena perputaran bumi, pertemuan antara unsur Im dan Yang serta perputaran lima unsur Ngo-heng, maka terwujudlah kehidupan yang ada di alam semesta ini dengan kehadiran manusia yang berakal budi.

Takdir menetapkan kehidupan Ku-lo harus berakhir pada tahun Kau bulan Sin hari Cu dan saat Yu. Itulah sebabnya kematian Pinceng merupakan kemauan takdir.

Ku-lo tahu pertempuran melawan Jit-kaucu akan lebih banyak bahayanya daripada keberuntungan, andaikata beruntung Pinceng bisa merenggut nyawa Jit-kaucu, maka pasti ia akan mati pada hari ini, kemungkinan besar situasi dunia persilatan akan berubah menjadi semakin tidak menguntungkan bagi kita.

Sebaliknya jika Jit-kaucu tidak mati, sedang Ku-lo mati lebih dulu, hal ini bisa berakibat munculnya suatu perubahan besar.

Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau telah berhasil menciptakan seorang tokoh tangguh seperti Jit-kaucu dengan bekal ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang, bila ilmu itu mencapai tingkat kesepuluh, maka orang akan menjadi kebal dan tahan pukul maupun dibacok. Saat itulah bisa jadi Jit-kaucu akan menjadi seorang jagoan yang tak ada tandingannya di kolong langit. Itulah sebabnya bila Pinceng meninggal, sudah pasti Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau   akan   berusaha   keras   melenyapkan   Jit-kaucu   guna menghilangkan bibit bencana di kemudian hari.

Demi perubahan situasi dalam Bu-lim, terutama bagi keuntungan pihak kita, kalian harus berusaha sekuat tenaga untuk melindungi keselamatan jiwa Jit-kaucu.

Saat ini Cong-kaucu  Put-gwa-cin-kau  telah berhasil mempelajari berbagai macam ilmu sakti, hanya ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang serta Tat-mo-khi-kang saja yang mampu membunuh biang keladi itu. Oleh sebab itu tugas pertama kalian adalah menyelamatkan Jit-kaucu terlebih   dahulu.   Ingat!  Ingat!   Dapatkah   dunia  persilatan  kita dipertahankan? Semuanya tergantung pada tindakan in."

 

Setelah para jago membaca isi surat Ku-lo Hwesio, hampir semuanya terkejut bercampur kagum. Sudah jelas terbukti sekarang bahwa dalam pertarungan Ku-lo Hwesio melawan Jit-kaucu, agaknya pendeta itu tidak bermaksud membinasakan perempuan itu.

Dengan kening berkerut Ho Put-ciang berkata, "Ku-lo Supek pandai ilmu rahasia langit, dari isi surat wasiatnya, bisa diduga dia sudah tahu siapa gerangan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau itu."

"Ai, tak perlu ditebak lagi," ujar Bong Thian-gak sambil menghela napas panjang. "Mungkin dia orang tua sudah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau itu."

 

Mendadak Thia Leng-juan berkata, "Bukankah Ku-lo Supek masih memberi dua pucuk surat lagi untuk Ko-siauhiap? Bagaimana kalau Ko-siauhiap keluarkan surat itu dan sekalian diperiksa isinya?"

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak segera membuka sampul kedua dan sampul ketiga, namun di atas sampul itu ternyata sudah dicantumkan saatnya untuk membuka.

 

Di atas sampul kedua ditulis dengan jelas saat untuk membuka surat itu.

"Surat ini dibuka saat Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng muncul" Sedangkan sampul ketiga bertuliskan:

"Di buka saat hendak menaklukkan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."

Di samping lain sampul surat itu dicantumkan pula peringatan agar jangan membuka surat itu apabila saatnya belum sampai.

 

Bong Thian-gak tentu saja tak berani melanggar peringatan itu, maka pemuda itu menyimpan kembali kedua pucuk surat itu.

Mendadak Thia Leng-juan berseru tertahan, "Ah, mungkinkah Cong-kaucu Put-gwa-cfh-kau adalah Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng?"

"Dari surat wasiat Ku-lo Supek, tampaknya Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau agak mirip dengan Tio Tian-seng," sahut Ho Put-ciang.

"Aku rasa bukan Tio Tian-seng," seru Bong Thian-gak.

"Atas dasar apa Ko-heng mengatakan bukan dia?" tanya Thia Leng-juan cepat.

"Seandainya orang itu adalah Tio Tian-seng, tak mungkin Ku-lo Sinceng jual mahal pada kita. Ai ... siapakah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau? Cepat atau lambat kita akan mengetahui juga. Persoalan paling penting yang harus kita hadapi sekarang adalah bagaimana caranya melaksanakan perintah Sinceng serta menyelamatkan jiwa Jit-kaucu."

 

Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong yang selama ini hanya membungkam mendadak berkata, "Ah, agaknya Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau akan mulai melaksanakan rencananya membunuh Jit-kaucu begitu mendengar berita kematian Sinceng, bisa jadi saat ini Cong-kaucu sudah berada di kota Kay-hong."

 

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Ya, benar! Tujuan yang sesungguhnya serbuan musuh ke gedung Bu-lim Bengcu hari ini adalah untuk mencari tahu mati-hidup Ku-lo Sinceng, ya ... segala sesuatunya memang berjalan seperti apa yang ditulis Sinceng dalam surat wasiatnya, kalau begitu kita tak boleh ayal dalam usaha kita menyelamatkan jiwa Jit-kaucu."

"Tapi tindakan apakah yang harus kita ambil? Harap kalian semua sudi mengajukan pendapat," seru Ho Put-ciang.

 

Dengan suara berat Thia Leng-juan berkata, "Ku-lo Supek telah menyerahkan isi kantung itu kepada Ko-heng, jelas tugas ini hanya Ko-heng seorang yang mampu memikulnya, mana mungkin orang lain bisa mencampurinya."

Seperti menyadari sesuatu, Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berkata, "Betul, tampaknya Ku-lo Supek sudah tahu Jit-kaucu pun ahli waris Jian-bin bu-li Ban Li-biau seperti juga halnya Ko-siauhiap."

"Ai, Ku-lo Sinceng benar-benar merupakan tokoh sakti yang luar biasa kata Bong Thian-gak. "Tampaknya ia sudah tahu asal-usul semua tokoh di Bu-lim."

 

"Ai, kematiannya benar-benar merupakan suatu kerugian besar bagi dunia persilatan."

"Dalam surat wasiatnya, Ku-lo Supek berpesan bahwa kematian merupakan kemauan takdir, apakah seorang kaisar bisa memperpanjang usianya bila saat ajalnya sudah tiba? Ko-siauhiap, aku rasa kau tak perlu bersedih karena kematiannya!"

"Jika begitu aku harus segera mencari Jit-kaucu sekarang juga."

 

"Aku rasa persoalan ini pun tak perlu dikerjakan terlalu tergesa-gesa, kini luka pada bahu kiri Ko-siauhiap masih belum sembuh, lagi pula lelah berjuang sehari semalam, tak ada salahnya kau beristirahat dulu selama tiga-empat hari sebelum melakukan sesuatu tindakan."

"Luka yang kuderita tidak jadi soal. Yang kukuatirkan sekarang seandainya orang-orang Put-gwa-cin-kau melakukan penyerbuan sekali lagi kemari."

 

Ho Put-ciang tertawa sedih.

"Walaupun pada pertempuran hari ini pihak gedung Bengcu menderita kerugian besar, tapi asalkan yang datang bukan Cong-kaucu atau Jit-kaucu Put-gwa-cin-kau, gedung Bengcu yakin masih bisa mempertahankan diri."

Bong Thian-gak termenung beberapa saat, kemudian katanya pelan-pelan, "Ho-bengcu, ada satu hal perlu kuingatkan kepadamu, ketahuilah bahwa dalam gedung Bu-lim Bengcu sekarang bersembunyi seorang pentolan Put-gwa-cin-kau, kalau tak salah pentolan itu adalah Cap-go-kaucu! Aku harap kau bertindak

lebih waspada."

 

"Sekarang orang yang menjadi kekuatan inti gedung Bu-lim Bengcu adalah Ko-siauhiap, Thia Leng-juan Laute, Ang-tayhiap, Goan-ko Taysu, Ui-hok Totiang beserta kami Suheng-te. Semua rahasia yang kita ketahui tak mungkin bocor ke telinga orang lain, bila rahasia itu sampai bocor, berarti Cap-go-kaucu Put-gwa-cin-kau berada di antara kita bersembilan dalam gedung Bu-lim Bengcu, entah bagaimana pendapat kalian?" kata Ho Put-ciang.

 

"Betul," ujar Thia Leng-juan cepat, "apa yang kita bicarakan hari ini menyangkut keselamatan dunia persilatan, jelas siapa pun dilarang membocorkan keluar."

Yu Ciang-hong, Ang Thong-lam dan Goan-ko Taysu sekalian segera bersumpah pula untuk memegang rahasia itu rapat-rapat.

Malam itu lewat tanpa kejadian, para jago pun kembali ke kamar masing-masing untuk mengatur pernapasan dan merawat luka.

Keesokan harinya, luka yang diderita Ui-hok Totiang serta Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui telah sembuh, sementara luka yang diderita Oh Cian-giok sudah jauh membaik.

 

Bong Thian-gak dan Thia Leng-juan bersama-sama tidur di loteng sebelah barat, pada hari ketiga luka tusukan pada bahu kiri Bong Thian-gak pun telah sembuh.

Selama tiga hari itu dari pihak Bu-lim Bengcu telah mengirim banyak mata-mata untuk menyelidiki keadaan serta gerak-gerik orang-orang Put-gwa-cin-kau, anehnya puluhan li di seputar kota Kay-hong ternyata tidak dijumpai satu pun orang persilatan, tentu saja tidak diketahui pula gerak-gerik orang-orang Put-gwa-cin-kau.

 

Keadaan itu tentu saja mendatangkan perasaan tak tenang bagi para jago yang berkumpul dalam gedung Bu-lim Bengcu.

Setiap orang tahu, sebelum datangnya hujan badai biasanya didahului oleh suasana sunyi senyap yang aneh.

Tengah hari itu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang bersama pendekar sastrawan dari Im-ciu Thia Leng-juan dan Bong Thian-gak bertiga berkumpul di ruangan tengah bangunan loteng sebelah barat.

"Ho-toako, menurut pendapatmu mungkinkah orang-orang Put-gwa-cin-kau telah mengundurkan diri secara diam-diam dari kota Kay-hong?"

 

Pertanyaan itu ditujukan kepada Ho Put-ciang dengan suara lantang.

Ho Put-ciang menggeleng.

"Dalam tiga hari ini suasana memang terasa kurang beres. Jika memang orang Put-gwa-cin-kau masih berada di kota Kay-hong, mata-mata yung kita kirim paling tidak akan menemukan jejak mereka."

"Aku pikir Jit-kaucu tak mungkin meninggalkan tempat ini begitu cepat” seru Bong Thian-gak pula.

"Ko-heng, apa maksudmu?" tanya Thia Leng-juan cepat.

 

"Jit-kaucu mendapat tugas menghancurkan gedung Bu-lim bengcu, sebelum tugas yang dibebankan ke atas pundaknya diselesaikan, bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan kota Kay-hong? Menurut dugaanku, Put-gwa-cin-kau masih akan melakukan penyerangan secara besar-besaran terhadap gedung Bu-lim Bengcu kita!"

"Bagaimana Ko-heng bisa berkata demikan? Kalau dibilang Jit-kaucu mendapat perintah untuk menghancurkan gedung Bu-lim Bengcu, apa sebabnya pada penyerbuan musuh tempo hari kita tak menjumpai Jit-kaucu?"

"Sebab rencana penyerbuan gedung Bengcu yang terjadi dua hari lalu bukan atas prakarsa Jit-kaucu."

"Kalau bukan diprakarsai dia, lantas siapa?"

"Orang berkerudung berbaju hitam itu!"

 

Tiba-tiba Thia Leng-juan berseru tertahan, sambil berpaling ke arah Ho Put-ciang katanya, "Ho-toako, orang berkerudung itu pernah memperkenalkan diri. Katanya dia adalah pentolan nomor dua pasukan pengawal tanpa tanding Put-gwa-cin-kau, dengan kepandaian silatnya yang hebat serta sikapnya yang angkuh, mestinya pasukan pengawal tanpa tanding mempunyai kedudukan tinggi dalam Put-gwa-cin-kau."

"Bisa jadi pasukan pengawal tanpa tanding merupakan pelindung Kaucu Put-gwa-cin-kau," pendapat Ho Put-ciang.

"Benar, pasukan pengawal tanpa tanding adalah para pelindung Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."

 

Thia Leng-juan segera termenung sambil berpikir sejenak, lalu katanya, "Perkataan Ko-heng memang benar, kemungkinan besar Put-gwa-cin-kau akan melakukan serbuan kedua terhadap gedung Bu-lim Bengcu kita ini."

"Tapi anehnya mengapa hingga kini belum juga dilakukan?" tanya Ho Put-ciang dengan kening berkerut.

"Sebuah pukulan dahsyat Ko-heng yang bersarang tepat di tubuh orang berkerudung berbaju hitam itu menyebabkan mereka tak berani menganggap enteng kekuatan kita," kata Thia Leng-juan mengemukakan pendapatnya. "Selain itu, nampaknya mereka masih menaruh curiga terhadap kematian Ku-lo Supek."

 

Ho Put-ciang manggut-manggut.

"Benar, Jit-kaucu pun terhajar hingga terluka oleh Ku-lo Supek dan dengan jumlah anggota Put-gwa-cin-kau yang berada di kota Kay-hong sekarang, mereka memang belum berani melakukan penyerbuan lagi. Kemungkinan mereka belum berani berkutik dalam beberapa hari mendatang, bisa jadi sedang minta bala bantuan sambil menyiapkan serangan berikutnya."

"Ai, tapi yang pasti, orang yang memimpin penyerbuan kedua ini pun pasti bukan Jit-kaucu!" kata Bong Thian-gak sambil menghela napas panjang.

"Ko-heng, siapa menurut dugaanmu?"

"Kemungkinan besar Cong-kaucu yang akan memimpin secara langsung penyerangan ini."

 

Paras muka Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berubah hebat mendengar perkataan itu, katanya cepat, "Lantas bagaimana cara kita menghadapi?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, hari ini aku baru menemukan gelagat kurang baik, bila kita hendak meminta bantuan orang sembilan partai besar, aku rasa air yang berada di tempat jauh tak mungkin bisa memadamkan api di depan mata!"

"Tapi kita bisa membendung air bah, kita hadapi serbuan lawan dengan kekuatan, asal kita bertekad berjuang sampai titik darah penghabisan, aku rasa kekuatan musuh masih dapat kita imbangi."

 

"Aku pikir lebih baik kita mundur saja dari gedung ini sambil melindungi kekuatan yang tersisa," ucap Bong Thian-gak dengan wajah nerius.

Belum habis perkataan Bong Thian-gak, mendadak dari bawah anak tangga sana terdengar suara langkah kaki, disusul kemudian munculnya Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui.

"Yu-sute, ada urusan penting apa?" Ho Put-ciang segera berpaling «I.m menegur.

 

Dengan suara lantang Yu Heng-sui menyahut, "Seorang mata-mata yang kita utus untuk mencari berita telah berjumpa dengan seorang perempuan misterius di luar kota Kay-hong sebelah barat. Perempuan Itu telah menitipkan sepucuk surat kepada mata-mata kita supaya disampaikan kepada Ko-siauhiap."

 

Sembari berkata, dari dalam sakunya dia mengeluarkan sepucuk surat berwarna biru.

Bong Thian-gak segera menerima surat itu, di atas sampul tertera beberapa huruf dengan gaya tulisan yang sangat indah: "Ditujukan khusus untuk Ko Hong."

 

Bong Thian-gak berkerut kening, setelah berpikir sebentar, lalu tanyanya, "Siapakah perempuan itu?" Terus saja ia merobek sampul surat itu dan membacanya isinya.

"Tidak mudah untuk mempertahankan hidup ini, cepat pergi dari sini

untuk hidup seratus tahun lagi."

Di bawah surat tidak dicantumkan tanda tangan.

 

Selesai membaca, Bong Thian-gak segera menyerahkan surat itu kepada Ho Put-ciang serta Thia Leng-juan sekalian.

"Siapa penulis surat ini?" Thia Leng-juan bertanya kemudian.

"Jit-kaucu," sahut Bong Thian-gak sambil menghela napas panjang.

Ho Put-ciang menghela napas pula.

"Kejadian ini semakin membuktikan dugaan kita tak salah, Put-gwa-cin-kau memang sudah mempersiapkan diri memusnahkan gedung kita."

"Ai, belum tentu begitu, kemungkinan juga sasaran mereka hanya aku seorang."

"Bukankah dia sudah memberi peringatan kepada Ko-heng? Tak mungkin dia turun tangan keji terhadap Ko-heng!" kata Thia Leng-juan lagi.

"Jit-kaucu adalah seorang gadis yang berwatak aneh, senang gusarnya tidak menentu, lagi pula semua gerak-geriknya seakan-akan sudah berada di bawah cengkeraman Cong-kaucu."

 

Ho Put-ciang bertanya kepada Yu Heng-sui, "Yu-sute, siapakah mata-mata itu? Cepat kau panggil dia agar menghadap kemari."

"Baik!" sahut Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui dari bawah loteng.

Tak selang lama kemudian Yu Heng-sui telah muncul kembali diikuti seorang lelaki berbaju hitam.

Begitu melihat raut wajah lelaki itu, Pa-ong-kiong Ho Put-ciang segera mengetahui dia adalah komandan pasukan mata-mata angkatan kedelapan yang bernama Tan Thiam-ka.

 

Sesudah memberi hormat kepada semua orang, Tan Thiam-ka segera berdiri di samping dengan kedua tangan diluruskan ke bawah.

"Komandan Tan, darimana kau dapatkan surat ini?" Ho Put-ciang berkata dengan suara nyaring.

"Di sebelah barat kota Kay-hong, lebih kurang empat-lima li di luar kota."

"Macam apakah bentuk wajah orang yang menyerahkan surat itu kepadamu?" sela Thia Leng-juan.

"Dia adalah seorang gadis yang berusia enam-tujuh belas tahunan, berwajah jelek tapi bersuara amat merdu dan manis. Awalnya dia bertanya kepadaku apakah merupakan anggota gedung Bengcu, setelah itu ujarnya lagi, katanya dia ada surat yang hendak diserahkan kepada Ko Hong Siauhiap, maka surat itu pun diserahkan kepada hamba sebelum pergi meninggalkan tempat itu."

 

Mendengar penjelasan itu, paras muka Ho Put-ciang sekalian segera berubah hebat, dalam hati mereka berpikir, "Berwajah jelek? Kalau begitu orang itu bukan Jit-kaucu?"

Walaupun Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan sekalian belum pernah menyaksikan raut wajah Jit-kaucu, namun Bong Thian-gak pernah melukiskan paras mukanya yang cantik ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan, lagi pula usianya juga tidak cocok.

 

"Komandan Tan, apakah kau tidak salah melihat?" Ho Put-ciang segera bertanya.

"Tecu tak bakal salah melihat."

Ho Put-ciang manggut-manggut.

'Baiklah kalau begitu, komandan Tan dan Yu-sute boleh mengundurkan diri dari sini."

"Baik!" seru mereka berdua bersama-sama.

Seusai berkata, mereka membalikkan badan siap meninggalkan lompat itu.

"Tunggu sebentar!" mendadak Bong Thian-gak berseru.

"Ada urusan apa Ko-siauhiap?" Ho Put-ciang segera bertanya.

"Ho-bengcu, aku ingin membawa komandan Tan berkunjung ke tempat penyerahan surat itu."

"Apakah luka Ko-siauhiap telah sembuh?"

"Tak usah kuatir, Bengcu, lukaku sudah tak jadi masalah lagi."

"Apakah Ko-siauhiap kenal si pengantar surat itu?"

 

"Tidak!" Bong Thian-gak menggeleng. "Belum pernah kujumpai wanita itu."

"Musuh kita amat licik dan mempunyai banyak tipu muslihat, mungkinkah kepergian Ko-siauhiap akan terjebak siasat licik mereka?" "Apa maksud perkataanmu itu?"

"Aku kuatir Ko-siauhiap salah menduga akan si pengirim surat itu."

 

"Andaikan musuh menantangmu secara terang-terangan untuk berduel, mereka kuatir kita mempersiapkan diri lebih dahulu, maka dia sengaja mengirim surat itu untuk memancing rasa ingin tahumu hingga kau melakukan penyelidikan seorang diri. Akhirnya kau termakan oleh tipu muslihat mereka."

 

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak tersenyum.

"Untuk mewujudkan tugas yang dibebankan Ku-lo Sinceng kepadaku, sudah seharusnya aku mulai bertindak sekarang."

"Kalau begitu apakah Ko-siauhiap membutuhkan bantuan orang kami?"

"Tidak usah," Bong Thian-gak menampik sambil menggeleng. "Sekarang juga aku akan berangkat."

 

Ho Put-ciang lantas berpaling ke arah lelaki berbaju hitam itu sambil berpesan, "Komandan Tan, dampingi Ko-siauhiap, kau harus menuruti semua petunjuk dan perintah Ko-siauhiap tanpa membantah."

"Baik!" sahut Tan Thiam-ka dengan hormat.

Setelah berkata, dia lalu berpaling ke arah Bong Thian-gak sambil bertanya, "Ko-siauhiap, apakah akan berangkat sekarang juga?"

 

Bong Thian-gak berkata kepada Ho Put-ciang sekalian, "Setiap saat aku akan mengadakan kontak dengan kalian, harap Bengcu tak usah kuatir, kami segera akan berangkat."

Selesai berkata Bong Thian-gak dan Tan Thiam-ka segera pula berangkat meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu.

 

Setelah perjalanan selama setengah jam lebih, sampailah Tan Thiam-ka dan Bong Thian-gak di depan sebuah hutan buah-buahan.

"Di sinikah kau bertemu dengan gadis berwajah jelek itu?" Bong Thian-gak bertanya.

"Ya, waktu itu hamba sedang duduk beristirahat di bawah pohon kelengkeng, mendadak muncul perempuan berwajah jelek itu."

Bong Thian-gak mendongakkan kepala memandang sekejap ke arah hutan buah-buahan itu.