pendekar cacad 05
Bagian 5 :
Wasiat Ku Lo Hwesio
Dalam kejutnya, cepat
Bong Thian-gak duduk bersila
di atas tanah dan mulai memejamkan mata mengikuti pelajaran itu dan
dihapalkan dalam hati.
Sepatah demi sepatah
Ku-lo Hwesio membaca rahasia Tat-mo-khi-kang dengan sabar dan jelas.
Sementara
Bong Thian-gak juga menghimpun
segenap pikiran dan perhatiannya mendengarkan dan mengingat sambil
memahami.
Dalam waktu singkat
kedua orang itu seakan-akan lupa akan segala persoalan, mereka
memusatkan pikiran dan pendengaran dalam mempelajari kepandaian
sakti Tat-mo-khi-kang, biar di samping mereka ada suara ledakan
keras pun belum tentu mereka mendengar.
Waktu berlalu dengan
cepat....
Tengah hari telah
lewat ... matahari pun mulai
tenggelam, Ku-lo Hwesio dan Bong
Thian-gak yang berada di atas loteng masih melanjutkan
pelajaran Tat-mo-khi-kang, Bong
Thian-gak mengulangi ketiga tingkat ilmu itu, kemudian kedua
pihak saling membahas dan memecahkan.
Dalam pada itu
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang dan para jago yang ada di luar pendopo tak
berani lengah, tak pernah mengendorkan tugas mengawasi dan
melindungi daerah sekitar situ, sekeliling pendopo dijaga sedemikian
ketatnya ibarat sebuah benteng yang terbuat dari baja.
Kini senja telah
lewat, namun Ku-lo Hwesio dan Bong
Thian-gak yang berada di atas loteng masih belum nampak
sesuatu gerakan.
Pada saat itulah dari
depan halaman gedung Bu-lim Bengcu tiba-tiba berkumandang suara
tambur bertalu-talu, menunjukkan keadaan dalam bahaya.
Mendengar tanda
bahaya itu, paras muka Ho Put-ciang dan sekalian jago segera berubah
hebat.
Dengan cepat Ho
Put-ciang menurunkan perintah, "Ada musuh tangguh menyerang gedung
Bu-lim Bengcu, harap semua orang tetap berjaga di sini, Yu-heng!
Oh-sumoay, kalian berdua menengok keadaan di luar, segera utus orang
untuk memberi laporan!"
Toan-cong-hong-liu Yu
Heng-sui dan Oh Cian-giok menerima perinlah dan segera berangkat
menuju ke halaman depan.
Kemudian Ho Put-ciang
berkata kepada Thia Leng-juan, "Thiaheng, harap naik ke loteng dan
bertahan di anak tangga, Goan-ko Taysu dan Ang Thong-lam berjaga di
pintu gerbang, sedangkan Ui-hok Totiang, Yu-koancu dan aku bertiga
masing-masing bertahan pada tiga lorong tembus halaman samping."
Ho Put-ciang tak malu
disebut pemimpin dunia persilatan, selain reaksinya cepat,
perintahnya tegas. Begitu menerima perintah, kawanan jago segera
membubarkan diri untuk melakukan tugasnya masing-masing,
Dalam tempo singkat
suasana berubah menjadi tegang, seram dan mengerikan.
Dari depan gedung
sana lamat-lamat terdengar suara benturan senjata, teriakan, jerit
kesakitan serta gelak tawa melengking seperti jeritan setan dan
lolong serigala.
Begitu mendengar
suara gelak tertawa yang mengerikan itu, paras muka Ho Put-ciang
berubah hebat, ternyata dari gelombang suara tertawa lawan yang
melengking, Ho Put-ciang tahu musuh memiliki tenaga dalam yang luar
biasa.
Mendadak dari luar
halaman sana terdengar suara langkah kaki berlari mendekat, ternyata
orang itu adalah Oh Cian-giok.
Ho Put-ciang
menyongsong kedatangannya sambil bertanya, "Sumoay, musuh tangguh
darimanakah yang telah menyantroni kita?"
Paras muka Oh
Cian-giok pucat-pias seperti mayat, sahutnya dengan cemas, "Tenaga
dalam pihak lawan sangat tangguh, dalam sekejap ia telah melukai dua
puluh orang pengawal gedung ...
Ji-suheng lelah terjun ke gelanggang, tapi agaknya dia tak
sanggup bertahan."
"Hanya seorang?"
"Ya, hanya seorang!
Musuh berperawakan tinggi besar kurus seperti
mayat hidup."
"Yang datang pasti
tak bermaksud baik, yang bermaksud baik tak
akan datang, musuh berani menyerang
gedung Bu-lim Bengcu sudah pasti kepandaian silatnya amat lihai,
dengan kemampuannya sudah pasti
para pengawal gedung tak mampu bertahan, daripada korban berjatuhan
lebih banyak, cepat turunkan perintah agar semua mundur ke
dalam, suruh Yu-sute segera mundur
kemari!"
Baru saja Oh
Cian-giok mendapat perintah dan berlalu, mendadak berkumandang gelak
tawa yang tajam menyeramkan dan memekakkan telinga.
Sesosok bayangan
orang secepat sambaran kilat sudah meluncur datang dari arah depan
sana.
Dengan terkejut
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang membentak keras, "Siapa yang datang? Harap
melaporkan nama!"
Di tengah
bentakannya, dua gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat sudah
dilontarkan ke depan.
Ilmu silat orang itu
betul-betul sangat lihai, tubuhnya yang sedang meluncur datang itu
sudah berjumpalitan dan meloloskan diri dari sambaran kedua gulung
serangan maut itu, kemudian tubuhnya melayang turun.
Tidak begitu saja,
mendadak lengannya yang panjang diayun melepaskan segulung pukulan
hawa dingin dari kejauhan, berbareng badannya meluncur ke arah
sebelah kiri.
Ho Put-ciang adalah
seorang Bu-lim Bengcu, pengetahuannya tentu saja sangat luas, begitu
menyaksikan datangnya pukulan hawa dingin musuh, dia segera tahu
serangan itu beracun.
Dalam keadaan begini,
dia tak berani menyambut datangnya serangan itu dengan kekerasan,
cepat badannya mundur.
Posisi dimana Ho
Put-ciang mundur persis menyambut datangnya serangan musuh dari
sebelah kiri.
Agaknya orang itu
tidak menyangka gerakan tubuhnya yang begitu cepat bisa dihadang
oleh lawan. Dalam keadaan tertegun, dia segera menghentikan gerak
badannya dan tak melakukan serangan lagi.
Dengan demikian Ho
Put-ciang dapat melihat jelas paras muka pendatang itu dengan jelas.
Musuh mempunyai
sepasang mata cekung ke dalam, kedua bola matanya berwarna hijau,
rambutnya panjang terurai sebahu, tidak laki tidak perempuan,
perawakannya tinggi ceking hingga pada hakikatnya tinggal kulit
pembungkus tulang, ibarat bambu menancap di atas tanah saja.
Yang paling istimewa
adalah sepasang tangannya yang begitu panjang hingga terkulai
melebihi lutut, dilihat dari kejauhan bentuknya menyerupai dua kaki
cadangan.
Makhluk aneh itu
melototi wajah Ho Put-ciang dengan bola matanya yang hijau
mengerikan, kemudian sambil tertawa seram, ia berkata, "Kaukah
Bengcu baru dari gedung Bu-lim Bengcu ini?"
Paras muka Ho
Put-ciang amat serius, jawabnya cepat, "Benar, akulah Ho Put-ciang,
tolong tanya siapa nama anda?"
"Hehehe
...." orang aneh itu tertawa seram.
"Aku adalah Liok-kaucu (ketua nomor enam) Put-gwa-cin-kau!"
Mendadak dari delapan
penjuru gedung Bengcu berkumandang suara tambur yang dibunyikan
bertalu-talu.
Paras muka Ho
Put-ciang segera berubah hebat, tegurnya tanpa terasa, "Berapa orang
yang dikirim Put-gwa-cin-kau kemari hari ini?"
"Untuk melenyapkan
gedung Bu-lim Bengcu dari muka bumi, buat apa mesti mengutus banyak
orang?" jawab Liok-kaucu dengan suara menyeramkan, "Liok-kaucu dan
Kiu-kaucu (ketua nomor sembilan) dari Put-gwa-cin-kau pun sudah
lebih dari cukup!"
"Hanya kalian
berdua?" tegur Ho Put-ciang pula dengan kening berkerut kencang.
Rupanya dari empat
penjuru gedung Bu-lim Bengcu sudah terdengar suara pertempuran yang
berlangsung amat seru, agaknya di seputar gedung sudah kedatangan
musuh dalam jumlah banyak.
Liok-kaucu tertawa,
"Masih ada lagi tiga orang pengawal tanpa tanding yang biasanya
mengawal di samping Cong-kaucu."
"Kalau begitu dari
perkumpulan kalian telah datang lima orang jago bukan?"
"Benar."
"Hm, hanya
mengandalkan kekuatan lima orang perkumpulan kalian pun sudah ingin
menumpas gedung Bu-lim Bengcu, apakah kalian tidak merasa perbuatan
itu benar-benar kelewatan."
Liok-kaucu tertawa
dingin, "Hehehe, apabila tidak percaya, mengapa tidak dilihat
sendiri?"
Mendadak pada saat
itulah dari depan sana berlarian mendekat Oh Cian-giok, dengan napas
tersengal-sengal dia berkata, "Lapor Toa-suheng, Ji-suheng telah
dilukai olehnya. Dari arah timur, barat, utara dan
selatan telah muncul musuh tangguh
melancarkan serbuan, pengawal gedung kita banyak yang terluka dan
tewas."
Paras muka Ho
Put-ciang berubah amat serius, katanya kemudian dengan suara dalam,
"Cepat turunkan perintah agar semua pengawal mengundurkan diri, tak
usah menghalangi serbuan musuh!"
Tindakan yang
dilakukan oleh Ho Put-ciang ini memang sangat lumrah, pada saat itu
segenap kekuatan inti gedung Bu-lim Bengcu dipusatkan di sekitar
loteng itu untuk melindungi keselamatan
Bong Thian-gak, mereka boleh dibilang tak mampu
bergeser dari posisi masing-masing, itulah sebabnya satu-satunya
jalan yang bisa mereka tempuh adalah membiarkan musuh menyerang
sampai ke halaman itu, kemudian para jago berusaha membendung
serbuan lawan.
Jika tidak demikian,
mereka akan terkena siasat memancing harimau turun gunung yang
sengaja dilakukan pihak lawan.
Liok-kaucu tertawa
seram, "Hehehe, bocah perempuan jangan pergi dulu!"
Di tengah
bentakannya, lengan kiri diayun ke muka melancarkan sebuah pukulan
dahsyat, langsung menghantam tubuh Oh Cian-giok yang berada di
depannya.
Ho Put-ciang sama
sekali tidak menyangka pihak lawan bakal melancarkan serangan ke
arah Oh Cian-giok, buru-buru teriaknya, "Sumoay, jangan kau sambut
serangan itu!"
Sayang terlambat,
diiringi jeritan tertahan, tubuh Oh Cian-giok sudah tertumbuk oleh
angin pukulan itu hingga mencelat dan roboh terkapar di atas tanah.
Ho Put-ciang gusar,
dengan suara menggeledek ia membentak nyaring, "Tua bangka sialan,
kau berani berbuat kejahatan?"
Dengan garang dia
menubruk ke depan, kelima jari tangan kanannya diputar melepas lima
gulung desiran angin tajam yang secara langsung menghajar bagian
mematikan tubuh lawan.
Serangan Ho Put-ciang
yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini menggunakan ilmu silat
perguruannya yang paling hebat, yakni ilmu Thi-ciang-sin-ci (Telapak
tangan baja jari sakti).
Lima gulung desiran
angin tajam dengan kecepatan tinggi langsung meluncur ke depan dan
menghajar lawan.
Liok-kaucu bukan
orang bodoh, agaknya dia tahu juga kelihaian jurus ini, sambil
tertawa seram, telapak tangannya secara beruntun melancarkan
beberapa serangan berantai, sementara kaki juga berputar secepat
sambaran petir, menjauh dari serangan lawan.
Melihat serangan
dahsyatnya tidak mengenai sasaran, Ho Put-ciang siap menerjang ke
depan, tiba-tiba terdengar Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay berkata,
"Ho-bengcu, cepat ke depan dan periksa luka adik seperguruanmu itu,
biar Pinto yang menghadapi lawan!"
Sementara itu Ui-hok
Totiang dengan pedang terhunus sudah memburu ke depan, pedangnya
diputar menciptakan beribu titik cahaya bintang, kemudian
bersama-sama menggulung ke tubuh Liok-kaucu.
Ui-hok Totiang adalah
jago pedang kenamaan dari Bu-tong-pay, ilmu pedangnya sudah tentu
lihai sekali, begitu turun tangan dia segera mengembangkan ilmu
pedang Thay-khek-kiam-hoat yang lihai.
Hawa dingin yang
lembut menyusul gelombang pedang yang datang menggulung, langsung
mengurung sekujur tubuh lawan secara ketat.
Ho Put-ciang tahu
akan kesempurnaan tenaga dalam Ui-hok Totiang, kendati bukan
tandingan musuh, untuk sementara tak sampai kalah, maka buru-buru
dia menghampiri Oh Cian-giok.
Tampak paras muka si
nona pucat-pias oleh penderitaan yang hebat, dia sedang meronta dari
tanah dan duduk.
Ho Put-ciang segera
membimbingnya sembari menegur, "Sumoay, parahkah lukamu?"
Oh Cian-giok
menggerakkan bibir seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi kemudian
dia memuntahkan darah segar dan tak sadarkan diri.
Ho Put-ciang
benar-benar sakit hati menyaksikan kejadian itu, sambil membopong
tubuh Oh Ciang Giok, dengan cepat dia melayang masuk ke dalam loteng
sebelah timur.
Pendekar sastrawan
dari Im-ciu Thia Leng-juan yang bertugas di loteng segera menegur
dengan cemas, "Bagaimana keadaan Oh-sumoay?"
"Thia-tayhiap,
lindungi keselamatan Sumoayku ini, keadaan di luar amat gawat,
mungkin pihak musuh akan melancarkan sergapan kilat."
Belum habis dia
berkata, Goan-ko Taysu dari Siau-lim-pay yang bertugas di depan
pintu gerbang berteriak, "Sicu, harap berhenti!"
Segera Ho Put-ciang
membaringkan tubuh Oh Cian-giok ke atas tanah, lalu mengangkat
kepala.
Entah sejak kapan di
depan pintu telah muncul orang berbaju hitam berkerudung yang
menggembol sepasang pedang di punggung, orang itu sedang berjalan
menuju pintu gerbang dengan langkah lebar.
Goan-ko Taysu cepat
bertindak, dia melejit ke depan dan menghadang di depan pintu
gerbang.
Orang berkerudung
berbaju hitam itu membungkam dalam seribu bahasa, begitu melangkah
ke depan, mendadak ia mendesak sambil melancarkan terkaman, sepasang
telapak tangan diayunkan kian kemari, secara beruntun dia telah
melepaskan tiga serangan berantai ke arah Goan-ko Taysu.
Ketiga serangan itu
hampir semuanya merupakan jurus serangan yang lihai, setiap gerakan
dilancarkan dari sudut yang tak terduga, meluncur datang secara
beruntun dalam waktu singkat, seluruh angkasa bagaikan diselimuti
oleh hawa serangan yang tajam.
Ho Put-ciang dan Thia
Leng-juan yang melihat situasi itu amat terperanjat, mereka tahu
Goan-ko Taysu bakal celaka.
Betul juga, Goan-ko
Taysu tak mampu menghindarkan diri dari ketiga serangan itu, bahu
kirinya kena pukulan hingga mundur dengan sempoyongan dan terjatuh
menindih palang pintu sebelah kiri.
Dengan gusar Ho
Put-ciang membentak, "Siapa kau?"
Secepat kilat
tubuhnya menerjang ke depan, telapak tangan kirinya menciptakan
beribu bayangan telapak tangan yang menyelimuti angkasa, segulung
demi segulung diayunkan ke depan tiada hentinya.
Serangan yang
dilancarkan ini ibarat hembusan angin lembut di musim semi, meluncur
dan menyapu tiada hentinya, dalam satu gebrakan saja seolah-olah
terdiri dari seribu pukulan.
Selapis hawa pukulan
yang dahsyat ibarat amukan ombak di tengah badai, menggulung ke
depan mengikuti gerak serangan tadi.
Mencorong sinar tajam
yang menggidikkan dari balik mata orang berkerudung berbaju hitam
itu, bentaknya dengan suara rendah, "Ah, Te-jian-thian-ciu-jian-jiu
(Seribu telapak tangan mengguncang bumi mengaduk langit)."
Tubuhnya tidak
mundur, malah maju dan langsung menyongsong datangnya serangan itu,
tiba-tiba sepasang lengannya bergetar secara aneh.
Beberapa benturan
nyaring berkumandang.
Akibat benturan itu,
orang berkerudung berbaju hitam maupun Ho Put-ciang sama-sama
tergetar mundur tiga langkah.
Paras muka Ho
Put-ciang diliputi rasa kaget dan tercengang, dia tak menyangka
pihak musuh dapat menyebut nama pukulan sakti yang digunakannya itu
dalam waktu cepat, bahkan berhasil pula mematahkan serangan
Te-jian-thian-ciu-jian-jiu yang sudah puluhan tahun lamanya merajai
dunia persilatan.
Sesungguhnya siapakah
orang ini?
Ho Put-ciang
membelalakkan mata mengawasi lawan tanpa berkedip, apa mau dikata,
muka lawan ditutupi cadar hitam yang tebal menutupi seluruh wajah
aslinya.
Mendadak orang
berkerudung menggerakkan telapak tangannya ke belakang bahu, dua
bilah pedang pendek yang memancarkan cahaya tajam langsung digenggam
di telapak tangan kiri dan kanan.
Kemudian tubuhnya
menerjang ke muka, tanpa mengucapkan sepatah kata pun sepasang
pedangnya menusuk dada Ho Put-ciang.
Ho Put-ciang tahu
tenaga dalam lawan sangat lihai, gerak serangannya mungkin
menggunakan jurus yang amat sederhana dan biasa, namun hakikatnya
cukup mematikan siapa pun yang berani menghadapinya.
Menyaksikan datangnya
tusukan pedang yang menyambar amat cepat itu, serta-merta ia mundur
dua langkah.
Siapa tahu jurus
serangan orang itu hanya jurus tipuan belaka, di saat Ho Put-ciang
mundur, sepasang bahunya bergerak dan menerobos masuk melalui sisi
kiri-kanan Ho Put-ciang, langsung menerjang ke arah mulut tangga.
Pada waktu itu Thia
Leng-juan telah bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan, sambil
menghentak kipas di tangan menciptakan herlapis-lapis bayangan
serangan yang mengancam berpuluh titik darah
I anting di separoh bagian tubuh
orang berkerudung itu.
Dengan cekatan orang
itu membalik badan menghindari serangan kipas Thia Leng-juan,
bersamaan pula sepasang pedang di tangannya diputar secepat kilat,
gerakan pedang bergetar bagaikan cahaya bintang membelah angkasa.
Jurus pedang dipakai
menghindar, juga untuk melancarkan serangan ini betul-betul luar
biasa hebatnya.
Thia Leng-juan merasa
terkecoh oleh gerakan lawan, "Crit", tak ampun lengan kirinya
tersambar oleh sabetan pedang lawan hingga terluka memanjang ke
bawah, darah segar segera muncrat membasahi seluruh lengannya.
Rasa kaget Ho
Put-ciang kali ini benar-benar luar biasa, dia tak mengira pihak
musuh memiliki ilmu silat yang begitu lihai, sadarlah jagoan ini
bahwa keadaan yang dihadapi hari ini sangat gawat.
Berada dalam situasi
seperti ini, dia tidak peduli kedudukan lagi, sekali melompat
tahu-tahu tubuhnya sudah melayang turun di samping Thia Leng-juan,
maksudnya mereka akan menggunakan kekuatan dua orang untuk
bersama-sama menghadapi serangan musuh.
Orang berkerudung itu
tertawa dingin, jengeknya, "Apabila kalian berdua tahu diri,
cepatlah melarikan diri! Kalau tidak, hm
... hm ... sudah
pasti kalian akan terkubur di sini!"
"Siapa kau? Mengapa
tidak kau tunjukkan paras aslimu?" tegur Ho Put-ciang.
"Hm, aku adalah
komandan nomor dua pasukan pengawal tanpa tanding Put-gwa-cin-kau!"
Ho Put-ciang tahu tak
mampu memaksa lawan mengutarakan nama aslinya, maka dia bertanya
lagi, "Apakah kau adalah pimpinan penyerbuan ke gedung Bu-lim Bengcu
malam ini?"
"Benar, akulah
orangnya!"
"Apa maksudmu
menyerbu gedung Bu-lim Bengcu malam ini?" Orang berkerudung itu
tertawa riang.
"Untuk membalas
dendam kematian Sam-kaucu!" sahutnya.
"Akulah orangnya yang
telah membunuh Sam-kaucu, bila ada persoalan boleh disampaikan
kepadaku," seru Ho Put-ciang dengan suara berat dan dalam.
Orang berkerudung
tertawa dingin.
"Hehehe, hanya
mengandalkan kemampuan Ho-bengcu seorang juga ingin membunuh
Sam-kaucu kami? Hm ... hm
... pembunuhnya terdiri dari
empat orang, yang menjadi otak pembunuhan ini adalah Ku-lo Hwesio
dari Siau-lim-pay, pembunuhnya adalah Ho-bengcu, Thia Leng-juan
serta seorang yang bernama Ko Hong!"
Terkejut juga Ho
Put-ciang mendengar perkataan itu, katanya dengan kening berkerut,
"Benar, kami bertiga pembunuhnya, mau apa kau sekarang?"
"Siapa berhutang
nyawa, dia harus membayar dengan nyawa, kalian bertiga hariis
mengembalikan nyawa Sam-kaucu!"
"Sekarang kalian
harus mengundurkan diri dari gedung Bengcu lebih dulu, besok kami
bertiga pasti akan menanti kedatanganmu."
Kembali orang
berkerudung tertawa dingin, "Hehehe, masih ada satu hal lagi, aku
hendak berjumpa dengan Ku-lo Hwesio!"
Baru selesai dia
berkata, dari atas loteng berkumandang suara sahutan seseorang
dengan suara nyaring, "Belum lama Ku-lo Sinceng telah kembali ke
alam baka, sayang kedatanganmu terlambat!"
Ucapan itu kontan
membuat ketiga orang yang berada di situ menjadi amat terperanjat,
Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan serentak berpaling ke belakang.
Ternyata orang yang
barusan berbicara adalah Bong
Thian-gak, saat ini dia sedang berdiri di mulut anak tangga
dengan wajah murung, sedih dan pedih.
Thia Leng-juan
berseru, "Ko-heng, apakah Ku-lo Supek dia orang lua
...."
"Ai
... dia orang tua telah
menghembuskan napasnya yang penghabisan," jawab
Bong Thian-gak sambil menghela napas
sedih.
Walaupun Ho Put-ciang
dan Thia Leng-juan sudah tahu Ku-lo Hwesio
bakal tewas akibat luka parah yang dideritanya, namun tidak menduga
kepergiannya begitu cepat, maka mendengar jawaban itu mereka malah
tertegun sampai tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Dengan sinar mata
tajam dan menggidikkan, orang berkerudung mengawasi
Bong Thian-gak dari ujung kepala
sampai ujung kakinya, Krmudian menegur dengan dingin, "Kaukah yang
bernama Ko Hong?"
"Ya, akulah
orangnya!" jawab Bong
Thian-gak hambar.
Sejak tiba di situ,
sikap maupun gerak-gerik orang berkerudung itu amat angkuh, jumawa
dan tidak pernah memandang sebelah mata terhadap orang lain, tapi
jawaban Bong Thian-gak
sekarang justru terasa pula amat menghina dan memandang rendah
lawan.
Kontan dia tertawa
terkekeh-kekeh seram, kemudian menegur lagi, "Aku dengar Sam-kaucu
tewas di tanganmu, benarkah itu?"
"Semua iblis dan
siluman yang bergabung dalam Put-gwa-cin-kau bakal mampus di telapak
tanganku!"
Ucapan itu segera
disambut orang berkerudung dengan gelak tawa, "Sudahkah kau
mendengar suara jeritan ngeri dan lolong kesakitan yang berkumandang
dari luar sana? Hahaha, tahukah kau malam ini gedung Bu-lim Bengcu
akan berubah menjadi gedung mati!"
Sementara itu suara
bentrokan nyaring, jeritan ngeri dan rintih kesakitan masih
berkumandang tidak hentinya dari luar sana, jelas halaman depan
gedung sudah berubah menjadi ajang pertarungan yang amat sengit.
Mendadak
Bong Thian-gak berkata dengan suara
dalam, "Ho-bengcu, Thia-tayhiap, cepat keluar membantu rekan-rekan
lain, serahkan orang itu kepadaku!"
Ho Put-ciang sudah
mendengar jeritan ngeri dan rintih kesakitan yang berkumandang dari
kawanan jago di luar ruangan, namun dia kuatir musuh yang
dihadapinya ini berilmu silat kelewat tinggi hingga Thia Leng-juan
tak mampu menghadapinya, itulah sebabnya dia tak berani gegabah.
Kini mendengar ucapan
itu, segera ujarnya kepada Thia Leng-juan, "Thia-heng, kau tetap
tinggal di sini membantu Ko-siauhiap, aku akan keluar membantu
mereka!"
Seusai berkata, Ho
Put-ciang segera melompat ke udara dan menerobos keluar melalui
pintu gerbang utama.
Di dalam ruang gedung
bertingkat itu sekarang tinggal Thia Leng-juan,
Bong Thian-gak dan orang berkerudung
berbaju hitam.
Sementara itu
Bong Thian-gak sudah melangkah turun
dari anak tangga, kemudian tegurnya dengan suara dingin, "Ada urusan
apa kau hendak berjumpa dengan Ku-lo Sinceng?"
Dengan sepasang
pedang terhunus, orang berkerudung berdiri tegak di tempat, dia
menjawab, "Aku hendak memeriksanya, apakah dia benar-benar Ku-lo
Sinceng ataukah bukan!"
"Dia adalah Ku-lo
Sinceng yang keasliannya terjamin, sedikit pun tak bakal salah!"
"Kau mengatakan Ku-lo
Hwesio telah mati, sekarang dimanakah jenazahnya?"
"Jenazah Sinceng
tidak boleh dipertontonkan di hadapan kaum kurcaci dan sampah
masyarakat seperti kau."
Orang berkerudung
tertawa seram.
"Hehehe, aku tak
percaya kau mampu menghalangi jalan pergiku."
Bicara sampai di situ
pedang pendek di tangan kirinya segera diayun menciptakan beribu
bayangan pedang, sementara pedang di tangan kanannya secepat kilat
menusuk ke dada Bong
Thian-gak.
Dua jurus serangan
pedang yang amat dahsyat digunakan secara bersamaan, kedahsyatannya
benar-benar tak boleh dianggap enteng.
Bong
Thian-gak menyaksikan jurus pedang itu dengan berkerut
kening, kemudian serunya sambil tertawa dingin, "Mundur!"
Dia bukannya mundur,
namun malah maju, tangan kanan diayunkan ke depan menyongsong
datangnya tusukan pedang kanan orang berkerudung, sementara tangan
kiri secepat kilat mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri
lawan. Sekali pun serangannya dilancarkan belakangan, tetapi sampai
sasaran lebih dahulu, berbareng badannya turut menerobos maju.
Tatkala Thia
Leng-juan menyaksikan orang berkerudung itu melancarkan serangan
tadi, sesungguhnya dia pun hendak turun tangan menyambut,
akan tetapi setelah menyaksikan jurus serangan yang digunakan
Bong Thian-gak ternyata jauh lebih
tangguh dari lawan, dia malah tertegun.
Tampaknya orang
berkerudung cukup tahu kelihaian
serangan itu, cepat dia
menarik kembali sepasang pedangnya sambil mundur.
Dengan sinar mata
mencorong, rasa kaget dan tercengang, ia segera bertanya, "Ilmu
silat apakah ini?"
Bong
Thian-gak tertawa dingin, "Hehehe, inilah ilmu Tat-mo-goan-sian-jiu
dari Siau-lim-pay. Hari ini jangan harap kau bisa meloloskan diri
dari maut."
Seusai berkata, tubuh
Bong Thian-gak bagaikan anak
panah yang terlepas dari busurnya langsung menerjang ke depan,
sepasang telapak tangannya diayun berulang kali melepaskan tiga
serangan berantai.
Ketiga serangan itu
seluruhnya gerakan yang aneh dan sakti, seperti pukulan telapak
tangan dan juga bagai ilmu mencengkeram Kim-na-jiu yang amat
dahsyat.
Orang berkerudung
membentak dingin, sepasang pedangnya meluncur ke depan dengan
pancaran sinar tajam yang membias kemana-mana, dengan pedang
mengunci telapak tangan, secara beruntun dia melancarkan tiga
bacokan berantai dan maha dahsyat.
Gerak serangan yang
digunakan kedua orang itu sama-sama dilakukan dengan kecepatan luar
biasa, sekali pun tenaga dalam Thia Leng-juan amat sempurna, masih
susah untuk melihat perubahan jurus yang digunakan mereka.
Kedua orang itu telah
beralih dua kali dari posisi semula.
Mendadak terdengar
orang berkerudung mendengus tertahan, sambil menarik kembali pedang,
ia mundur empat langkah, sepasang matanya memancarkan rasa kaget dan
tercengang.
Pada saat itulah
tiba-tiba Bong Thian-gak
menyaksikan Oh Cian-giok yang sedang berbaring tak berkutik di sisi
kiri anak tangga, dalam kagetnya dia segera menyelinap ke depan sana
sambil bertanya, "Thia-tayhiap, mengapa dengan nona Oh?"
Setelah ditegur, Thia
Leng-juan baru teringat pada Oh Cian-giok yang terluka parah, segera
sahutnya, "Nona telah dihantam musuh hingga terluka parah!"
Oh Cian-giok adalah
adik seperguruan Bong
Thian-gak, sejak kecil mereka dibesarkan bersama dalam gedung
Bengcu, hubungan batin kedua insan ini pun boleh dibilang cukup
mendalam.
Maka sewaktu
Bong Thian-gak menyaksikan gadis itu
tergeletak tak berkutik di atas tanah dengan wajah pucat dan noda
darah membasahi bibir, dia menjadi sangat gelisah.
"Siapa yang telah
melukainya?" ia menegur.
Dalam pada itu tangan
kanan Bong Thian-gak sudah
memegang nadi pergelangan tangan Oh Cian-giok, sembari memeriksa
denyut nadinya, dengan sorot mata penuh amarah dia pelototi wajah
orang berkerudung tanpa berkedip, hawa membunuh menyelimuti
wajahnya.
Tiba-tiba orang
berkerudung berpekik nyaring, dengan sepasang pedangnya diluruskan
ke depan, secepat sambaran petir ia menerjang ke arah
Bong Thian-gak.
Perubahan yang amat
mendadak dan di luar dugaan ini sungguh membuat Thia Leng-juan
tertegun dan dalam posisi tak memungkinkan hakikatnya mustahil
baginya memberikan bantuan.
Dalam terperanjatnya,
jagoan ini segera berteriak, "Ko-heng!...."
Terdengar
Bong Thian-gak mendengus tertahan,
bahu kirinya yang tak sempat menghindar kena tertusuk pedang lawan,
darah segera memancar keluar bagaikan semburan mata air.
Tapi di saat
bersamaan tangan kanan Bong
Thian-gak diayunkan pula ke depan melancarkan sebuah pukulan
dahsyat.
Kembali terdengar
dengus tertahan menggema.
Pedang pendek orang
itu terlepas, sementara tubuhnya terpental ke belakang dan darah
segar muntah dari mulutnya.
Kemudian dengan
sepasang bahu yang gemetar keras dan tubuhnya yang sempoyongan,
mendadak ia membalikkan badan dan kabur dari ruangan itu.
Sebenarnya Thia
Leng-juan ingin mengejar, namun berhubung dia sangat menguatirkan
luka yang diderita Bong
Thian-gak, maka dengan cepat dihampirinya anak muda itu sembari
menegur, "Ko-heng, parahkah luka yang kau derita?"
Darah kental mengucur
dari bahu kiri Bong Thian-gak
dan membasahi lantai, sudah jelas luka yang dideritanya itu cukup
parah.
Dengan cepat
Bong Thian-gak menggunakan jarinya
menotok beberapa jalan darah penting di tubuh sendiri, setelah
menghentikan darah yang mengalir, sahutnya sambil tertawa rawan,
"Thia-heng, aku tidak apa-apa, dia berilmu tinggi dan sangat hebat,
bila sampai keluar dari sini, sudah pasti tiada orang yang mampu
menahannya, tolong kau jaga baik-baik nona Oh, aku hendak keluar
menghadapi musuh."
Jeritan ngeri yang
memilukan hati berkumandang susul-menyusul di luar sana, jelas orang
berkerudung sedang melakukan pembantaian secara besar-besaran di
sana.
Thia Leng-juan yang
menyaksikan luka Bong
Thian-gak amat parah menjadi gelisah, serunya lagi, "Ko-heng, luka
pedang itu sangat parah, harap kau balut dahulu luka itu, biar aku
saja yang menyambut serangan mereka."
Sementara itu
Bong Thian-gak sudah bangkit,
mendengar ucapan itu dia segera menggeleng, kemudian katanya dengan
suara nyaring, "Kini darah sudah berhenti mengalir, luka ini pun tak
akan merenggut nyawaku."
Tidak sampai selesai
perkataan itu diutarakan, tubuhnya sudah melompat keluar dari
ruangan, ketika memandang ke depan ....
Di tengah lapangan
sedang berlangsung beberapa kelompok pertarungan, sementara di atas
tanah tergeletak mayat-mayat para pengawal gedung Bu-lim Bengcu,
darah yang menganak sungai, mayat membukit, membuat pemandangan di
situ tampak sangat mengerikan.
Sementara itu di luar
lapangan sedang berlangsung pertarungan yang amat seru.
Ho Put-ciang sedang
bertarung melawan seorang gadis berbaju merah, dia adalah Kiu-kaucu
Ni Kiu-yu.
Hian-thian-koancu Yu
Ciang-hong dari Khong-tong-pay sedang bertarung melawan seorang
lelaki berbaju perlente.
Goan-ko Taysu dari
Siau-lim-pay dan Ang Thong-lam dari Tiam-jong-pay bersama-sama
menghadapi lelaki berbaju perlente lainnya.
Ui-hok Totiang dari
Bu-tong-pay bertarung seorang diri melawan orang aneh berambut
panjang, dialah Liok-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Sementara di luar
arena pertarungan, di sekeliling lapangan berdiri berlapis-lapis
para pengawal gedung bersenjata lengkap, namun waktu itu orang
berkerudung berbaju hitam sudah menerjang masuk ke dalam kelompok
pengawal gedung, pedang pendeknya yang tinggal sebelah membabat kian
kemari tanpa tandingan, jeritan ngeri dan lolong kesakitan bergema
silih berganti, darah segar pun bercucuran menganak sungai.
Bong
Thian-gak yang menyaksikan adegan itu menjadi gusar
sekali, sambil berpekik nyaring ia melejit ke udara seperti burung
alap-alap dan melayang turun di depan orang berkerudung.
Melihat munculnya
pemuda sakti ini, orang berkerudung menjadi ketakutan, cepat dia
berteriak dengan keras, "Liok-kaucu, Kiu-kaucu
... semuanya mundur!"
Begitu perintah
diturunkan, dia segera melejit lebih dulu dan melarikan diri dengan
terbirit-birit dari tempat itu.
"Mau kabur kemana
kau?" bentak Bong Thian-gak
dengan suara menggeledek.
Tubuhnya segera
melejit ke udara dan melakukan pengejaran.
Siapa tahu pada saat
itulah berkumandang suara dengusan tertahan, tertampak Ui Hiok
Totiang dari Bu-tong-pay yang sedang bertarung melawan Liok-kaucu
kena dihajar oleh musuh sehingga mencelat ke udara dan langsung
menumbuk tubuh Bong
Thian-gak.
Bong
Thian-gak berjumpalitan, tangan kanannya dengan cepat
menyambar ke muka mencengkeram tubuh Ui-hok Totiang, kemudian
melayang turun ke permukaan tanah dengan tenang.
Tampak paras muka
Ui-hok Totiang pucat seperti mayat, kulit wajahnya mengejang penuh
penderitaan, teriaknya dengan suara parau, "Terima kasih banyak,
Ko-siauhiap ...."
Belum habis dia
berkata, orangnya sudah roboh tak sadarkan diri di atas tanah.
Mendadak terdengar
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berseru dengan suara lantang, "Biarkan
musuh mengundurkan diri, jangan dikejar!"
Dengan cepat
Bong Thian-gak meletakkan Ui-hok
Totiang ke tanah, baru saja dia akan melakukan pengejaran, ketika
mendongakkan kepala, ternyata kawanan musuh yang sedang bertarung
sengit sudah membubarkan diri, pertarungan telah berhenti, di bawah
sinar kegelapan nampak para musuh sedang melarikan diri
terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Dalam waktu singkat
bayangan tubuh mereka sudah lenyap.
Kemudian dia saksikan
Ho Put-ciang sedang berjalan mendekat dengan langkah sempoyongan,
lalu ujarnya kepada Bong
Thian-gak, "Ai ... korban
yang berjatuhan kelewat banyak ...
korban yang berjatuhan kelewat banyak...."
Hanya ucapan itu saja
yang mampu diucapkan, sementara air matanya berderai dengan deras.
Ya, siapa bilang
Enghiong tidak bisa mengucurkan air mata?
Memangya saat bersedih saja
....
Ketika jumlah korban
dihitung ... ternyata tujuh
puluh enam pengawal mendapat celaka, dua puluh lima orang menderita
luka termasuk Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui, Oh Cian-giok dan
lainnya, semuanya mencapai seratus tujuh orang.
Lima musuh ternyata
dalam waktu satu jam berhasil menciptakan korban seratus tujuh
orang, prestasi itu benar-benar merupakan suatu peristiwa yang
memilukan.
Paras muka
Bong Thian-gak pucat-pias seperti
mayat, dia mengangkat kepala dan memandang sekejap tumpukan mayat
yang berserakan dimana-mana, mendadak mencorong sinar tajam dan buas
penuh dendam dari balik matanya, ia berdiri tegak di tempat tanpa
mengucapkan sepatah kata pun.
Yu Ciang-hong,
Goan-ko Taysu dan Ang Thong-lam bersama-sama berjalan mendekat pula
dengan kepala tertunduk sedih.
Untuk beberapa saat
suasana di situ diliputi kesedihan yang tebal.
***
Helaan napas sedih
bergema memecah keheningan, Thia Leng-juan berjalan keluar dari
balik ruang loteng dengan langkah perlahan, katanya, "Hari ini
seandainya Ko-heng tidak berada di sini dan memukul mundur lawan,
korban yang berjatuhan dalam gedung Bengcu sudah pasti akan lebih
banyak."
Benar, lima orang
musuh dari Put-gwa-cin-kau yang muncul itu, terutama orang
berkerudung berbaju hitam benar-benar berkepandaian silat amat
tinggi, pada hakikatnya tiada orang yang mampu memberikan
perlawanan.
Andaikata bukan
Bong Thian-gak yang memukul
mundur, akibat yang timbul sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Selang beberapa saat
kemudian, pelan-pelan Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berhasil menenangkan
kembali gejolak perasaan sedih yang mencekam hatinya, melihat darah
bercucuran dengan derasnya dari bahu kiri
Bong Thian-gak, buru-buru dia menegur, "Ko-heng,
parahkah luka yang kau derita?"
"Gara-gara mengurusi
nona Oh, Ko-heng telah kena ditusuk musuh," seru Thia Leng-juan dari
samping. "Namun pihak lawan pun terkena pukulan Ko-heng, nampaknya
tidak ringan luka dalam yang dideritanya, dia kabur sambil muntah
darah."
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, walaupun orang
itu terkena pukulanku hingga muntah darah, namun luka pada sisi
perutnya tidak seberapa parah, ai ...
kawanan siluman dari Put-gwa-cin-kau memang tangguh dan
rata-rata berilmu tinggi, kenyataan ini di luar dugaan siapa pun."
Sementara itu Ho
Put-ciang telah berseru kepada para pengawal dengan suara nyaring,
"Kalian harap segera membereskan jenazah rekan-rekan lain, usahakan
menolong dan menyelamatkan jiwa mereka yang terluka terlebih dulu."
Selewatnya
pertempuran itu, kekuatan gedung Bu-lim Bengcu benar-benar menderita
kerugian besar.
Setelah memperoleh
pengobatan dan perawatan yang tekun, Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui,
Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay berhasil diselamatkan jiwanya.
Hanya Oh Cian-giok
yang menderita luka agak parah, sehingga meski sudah memperoleh
pengobatan, ternyata belum sadar.
Dalam pada itu para
jago sudah berkumpul di bawah loteng.
Dengan seksama
Bong Thian-gak memeriksa denyut nadi
Oh Cian-giok, kemudian ia bertanya lirih, "Dia terluka di tangan
siapa?"
"Cian-giok dan Ui-hok
Totiang sama-sama terluka di bawah pukulan Liok-kaucu," jawab Ho
Put-ciang cepat.
"Dasar tenaga dalam
nona Oh amat cetek, pukulan musuh telah melukai isi perutnya, bila
ingin menyadarkan dia, kita membutuhkan seorang jago bertenaga dalam
sempurna, dengan pengerahan tenaga melalui jalan darah
Ciang-tay-hiat, gumpalan darah yang menyumbat
dalam tubuhnya baru akan
terbebaskan."
"Ciang-tay-hiat
terletak hanya dua inci di bawah puting susu
orang,
padahal Oh Cian-giok adalah seorang
perawan, tentu saja sulit bagi seorang pemuda untuk memberi
pertolongan."
Tentu saja Ho
Put-ciang cukup mengetahui pantangan itu, tapi
dengan
suara dalam dia berkata, "Demi menyelamatkan jiwa Sumoayku, harap
kalian tak usah mempersoalkan pantangan lagi."
"Ho-bengcu, nona Oh
adalah adik seperguruanmu, paling baik bila Hobengcu sebagai
Toasuhengnya yang turun tangan memberikan pertolongan," usul
Bong Thian-gak cepat.
Ucapan itu
menyulitkan Ho Put-ciang. "Aku tidak pandai ilmu pengobatan,
bagaimana seandainya terjadi hal-hal yang tak diinginkan?" serunya.
"Nona Oh sudah
dijodohkan dengan Yu-sute, seandainya luka yang diderita Yu-sute
bisa cepat sembuh dan pulih, hal ini lebih baik lagi," sambung Thia
Leng-juan.
Mengetahui Oh
Cian-giok sudah bertunangan dengan Yu Heng-sui,
Bong Thian-gak menjadi sedih, murung
dan kosong pikirannya.
Di samping
Suheng-moay sekalian, hanya Bong
Thian-gak yang berhubungan agak rapat dengan Oh Cian-giok.
Sejak kecil mereka sudah bermain dan bergurau bersama, di antara
kedua orang itu sesungguhnya sudah tertanam semacam perasaan.
Betul di antara
mereka terjalin hubungan cinta, namun semacam perasaan senang
tertanam juga di dalam hati kecil masing-masing.
Seandainya
Bong Thian-gak tidak diusir dari
perguruan, tentu saja antara Oh Cian-giok dan
Bong Thian-gak sudah merupakan
sepasang kekasih ideal.
Dalam pada itu
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang menggeleng kepala sambil berkata, "Yu-sute
masih terluka, sekali pun bisa disembuhkan namun paling tidak masih
membutuhkan waktu tiga-empat hari, apalagi tenaga dalamnya kurang
sempurna, aku pikir lebih baik kita memohon bantuan Ko-siauhiap saja
untuk mengobati Sumoay, cuma Ko-siauhiap menderita luka pada bahu
kirinya ... apakah kau mampu
memberikan pertolongan?"
Bong
Thian-gak segera menggeleng kepala berulang-kali.
"Sampai besok aku
baru bisa mengerahkan tenaga dalamku, namun luka nona Oh amat parah
dan harus diobati sekarang juga, apabila tidak dilakukan pencegahan,
bisa jadi keadaan lukanya akan mengalami perubahan."
Ho Put-ciang berkata
lagi, "Ai, walaupun antara kaum lelaki dan wanita dibatasi norma
kesusilaan, namun tabib dan sebangsanya tidak terkena batasan itu,
harap Ko-siauhiap sudi memberi pertolongan!"
Sekali lagi
Bong Thian-gak menghela napas, "Ai,
keselamatan nona
Oh berada di ujung
tanduk dan memang tak bisa ditunda-tunda lagi, baiklah harap
Ho-bengcu suka mengundang dua orang dayang untuk membantu!"
Tentu saja semua
orang tahu maksud Bong
Thian-gak memanggil dua orang dayang itu.
Ho Put-ciang
manggut-manggut sembari berkata, "Sebelumnya atas nama Sumoayku,
kuucapkan banyak terima kasih atas bantuan Ko-siauhiap!"
Maka di bawah
bimbingan beberapa orang dayang, Oh Cian-giok diantar menuju sebuah
ruangan dan dibaringkan di atas ranjang, kemudian kecuali menahan
Siau Kiok dan Siau Hiang, dua orang dayang kepercayaan Oh Cian-giok,
para dayang lainnya segera diperintahkan meninggalkan tempat itu.
Kedua dayang ini
merupakan dayang-dayang cilik yang pernah melayani Oh Ciong-hu
dahulu, tentu saja Bong
Thian-gak kenal mereka berdua.
Dengan suara lirih
Bong Thian-gak berkata kepada
Siau Kiok dan Siau Hiang, "Sekarang harap kalian melepaskan dulu
pakaian luar nona."
"Ko-siangkong, luka
yang kau derita amat parah, apakah tidak beristirahat terlebih
dahulu?" seru Siau Kiok merdu.
Bong
Thian-gak menggeleng, "Ah, hanya luka luar yang tak
seberapa tidak menjadi soal."
Siau Kiok mengedipkan
mata setelah memandang sekejap ke arah Bong
Thian-gak, katanya, "Ko-siangkong, kau mirip sekali dengan
seseorang."
"Mirip siapa?"
"Su-suheng nona!"
Bong
Thian-gak terkejut sekali, dia tak menyangka Siau Kiok
memiliki ketajaman mata luar biasa, untuk menutupi rasa kagetnya
itu, dia tertawa tergelak.
"Ah, jangan bergurau
lagi, ayo kita segera turun tangan."
Tiba-tiba Siau Kiok
menghela napas sedih, kembali katanya, "Ai,
sudahlah! Seandainya
Bong Thian-gak masih hidup, mungkin
Yu Heng-sui
akan bersedih."
Ucapan itu segera
menggigilkan sekujur tubuh Bong
Thian-gak, diam-diam dia berpikir, "Entah apa maksud Siau Kiok
berkata demikian? Mungkinkah Sumoay selalu teringat akan diriku?"
Terbayang bagaimana
dia dan Sumoaynya hidup berdampingan sejak kecil...
segala sesuatunya terasa syahdu dan nyaman
....
Bong
Thian-gak masih ingat, suatu ketika ia bersama
Sumoaynya bermain jadi pengantin, mereka berdua bersama-sama tidur
dalam gua yang dijadikan kamar pengantin mereka
....
"Siangkong, apa yang
sedang kau pikirkan? Pakaian luar nona sudah dilepas."
Seperti baru tersadar
dari impian, Bong Thian-gak
berpaling.
Tampaklah tubuh bugil
Oh Cian-giok muncul di depan mata, kulit yang halus dan putih itu
membuat gairah setiap pria ....
Buru-buru
Bong Thian-gak memejamkan mata
rapat-rapat, lalu berkata lagi, "Sekarang lepas pakaian dalamnya,
kemudian letakkan tangan kananku di atas jalan darah Ciang-tay-hiat
di atas payudaranya."
"Ah, Siangkong
benar-benar lelaki jujur," puji Siau Kiok.
Sementara itu
Bong Thian-gak telah memejamkan mata
dan duduk bersila di sisi pembaringan, segenap perhatian terpusat
menjadi satu, sementara hawa murninya dihimpun.
Selang beberapa saat
kemudian Bong Thian-gak
bertanya, "Sudah siap?"
"Sudah siap."
"Kalau begitu,
lakukan seperti apa yang kukatakan tadi!"
Siau Hiang segera
mengangkat telapak tangan kanan Bong
Thian-gak dan pelan-pelan diletakkan di atas puting
susu payudara sebelah kanan Oh Cian-giok.
Hati
Bong Thian-gak tergetar begitu
tangannya menyentuh tubuh Oh Cian-giok.
Untung
Bong Thian-gak memiliki tenaga dalam
sempurna, buru-buru dia memusatkan seluruh perhatiannya mengerahkan
tenaga dalam.
Tak selang lama
kemudian, dari dasar telapak tangannya muncul segumpal bola api yang
bergetar, membakar seputar payudara si nona.
Telapak tangannya
menggosok dan memijit payudara sebelah kanan si nona hampir
seperempat jam lamanya, baru kemudian beralih ke atas jalan darah
Ciang-tay-hiat pada payudara sebelah kiri.
Entah berapa lama
sudah lewat, akhirnya terdengar Oh Cian-giok merintih.
Bong
Thian-gak terkejut, buru-buru dia menarik tangannya dan
turun dari pembaringan, bisiknya cepat, "Sebentar dia akan sadar,
cepat kenakan pakaiannya, harap kalian jangan memberitahu kepadanya
bahwa aku telah menyembuhkan lukanya."
Selesai berkata,
masih dalam keadaan terperanjat, dengan cepat
Bong Thian-gak membuka pintu kamar
dan berlalu dari situ.
Tak lama setelah
Bong Thian-gak keluar
ruangan, Oh Cian-giok membuka mata sambil berkata dengan sedih,
"Siau Kiok, barusan apakah Ko-siangkong?"
Siau Kiok serta Siau
Hiang sama-sama terperanjat, serentak berseru tertahan, "Nona telah
sadar kembali?"
Sambil tetap
berbaring, Oh Cian-giok manggut-manggut.
"Ya, sebelum dia
berlalu tadi, aku telah mendusin, Ai! Dia benar-benar seorang Kuncu
sejati."
"Nona, enci Kiok
bilang dia mirip sekali dengan Bong
Thian-gak," tiba-tiba Siau Hiang berkata.
Perih hati Oh
Cian-giok mendengar perkataan itu, tanyanya,
"Bong Thian-gak? Maksudmu Suheng
Bong Thian-gak?"
Siau Kiok mengerling
sekejap ke arah Siau Hiang, kemudian buru-buru katanya, "Budak hanya
merasa dia agak mirip dengan Bong-siangkong, aku pun hanya iseng
bertanya saja!"
"Lantas bagaimana
jawabnya?" tanya Oh Cian-giok gelisah.
"Dia tidak menjawab."
Mendadak Oh Cian-giok
berseru tertahan, katanya, "Ya, ya, teringat aku sekarang, waktu dia
baru datang ke gedung ini tempo hari, aku
pun merasa seperti raut wajahnya kukenal, seperti pernah kujumpai
di suatu tempat, namun tak
bisa kuingat lagi. Ya, betul! Dia memang agak mirip dengan Su-suheng
Bong Thian-gak."
Setitik sinar terang
itu segera mengalutkan pikiran dan perasaan
Oh Cian-giok, untuk beberapa saat
dia melamun seorang diri.
Dalam pada itu
Bong Thian-gak telah meninggalkan
ruangan kecil
dan
menuju ke ruang tengah. Di
sana para jago sudah menunggu untuk merundingkan suatu masalah
besar.
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang yang pertama-tama berdiri
lebih dulu, segera tegurnya, "Apakah Oh-sumoay telah mendusin?"
Bong Thian-gak mengangguk.
"Ya, gumpalan
darahnya telah hilang, sekarang kesehatannya sudah tidak
membahayakan lagi."
"Ko-siauhiap pasti
sudah banyak kehilangan tenaga murni, silakan segera beristirahat!"
Bong
Thian-gak tersenyum.
"Kesegaranku masih
baik, bukankah begitu?"
Sambil berkata dia
lantas menatap orang-orang dengan sorot mata berkilauan, sedikit pun
tidak menunjukkan keletihan.
Hanya paras mukanya
saja yang memang berwarna kuning pucat macam orang penyakitan.
Thia Leng-juan
memuji, "Ko-heng, sungguh amat sempurna tenaga dalammu, membuat
orang kagum."
"Ai, tampaknya tenaga
dalamku telah memperoleh kemajuan pesat dalam sehari saja," ucap
Bong Thian-gak sedih.
"Padahal semua ini pemberian Ku-lo Sinceng."
Bicara sampai di
situ, Bong Thian-gak menghela
napas panjang, "Sebelum menghembuskan napas penghabisan, Ku-lo
Sinceng telah membantuku menembus urat mati hidupku, sehingga taraf
tenaga dalamku mencapai suatu keadaan yang luar biasa. Budi kebaikan
yang ditanam Sinceng kepadaku benar-benar tak terlupakan selamanya."
"Ai, sekarang aku
masih ada satu persoalan penting yang hendak kusampaikan kepada
kalian."
"Persoalan apa? Harap
Ko-siauhiap suka menerangkan secara langsung," kata Ho Put-ciang.
"Jit-kaucu belum
mati!"
Ucapan itu bagaikan
guntur di siang hari bolong, seketika saja menggetarkan hati setiap
orang yang hadir dalam ruangan itu.
"Bukankah kematian
Ku-lo Supek merupakan pengorbanan yang sia-sia," teriak Thia
Leng-juan dengan suara menggeledek.
"Sebenarnya luka
Ku-lo Sinceng masih bisa disembuhkan, tetapi untuk membantu ilmu
silatku, dia telah mengorbankan diri."
"Ai, waktu itu luka
yang diderita Sinceng amat parah, lagi pula dia menganggap Jit-kaucu
sudah tewas di bawah pukulan Tat-mo-khi-kang, maka aku tak berani
memberitahu yang sebenarnya kepada dia."
"Tindakan yang
diambil Ko-siauhiap memang benar, bagi orang yang berlatih silat,
jika mengetahui kegagalan yang dideritanya, maka kekecewaan dan
kesedihan yang dirasakan saat itu mungkin jauh lebih parah daripada
mati," kata Ho Put-ciang.
Bong
Thian-gak manggut-manggut.
"Sudah tujuh-delapan
tahun lamanya Sinceng melatih diri untuk menguasai ilmu
Tat-mo-khi-kang, tujuannya tidak lain adalah untuk mematahkan ilmu
Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Jit-kaucu."
"Ai, apa mau dikata,
Soh-li-jian-yang-sin-kang terlalu sempurna, sedangkan
Tat-mo-khi-kang Sinceng baru mencapai tingkat ketiga, itulah
sebabnya Ku-lo Sinceng mengalami kekalahan."
Maka secara ringkas
Bong Thian-gak mengisahkan
pertarungan Ku-lo Sinceng melawan Jit-kaucu Thay-kun.
Selesai mendengar
kisah itu, dengan wajah serius, Ho Put-ciang berkata, "Dengan masih
hidupnya Jit-kaucu, berarti dunia persilatan tak akan memperoleh
ketenangan untuk selamanya!"
Bong
Thian-gak termenung sambil berpikir sejenak, kemudian
katanya, "Bibit bencana yang sebenarnya bagi umat persilatan
sekarang sesungguhnya bukan Jit-kaucu!"
"Apa maksudmu?"
Maka
Bong Thian-gak menceritakan
bagaimana dia menggali liang kubur, bagaimana bertarung dan
berbincang dengannya.
Mendengar kisah itu,
Thia Leng-juan lantas bertanya, "Ko-heng, menurut kau, Jit-kaucu
adalah murid Jian-bin-hu-li Ban Li-biau?"
Bong
Thian-gak mengangguk.
"Benar, pada usia
lima tahun dia telah memperoleh warisan ilmu silat guruku yang
kedua."
"Lantas atas dasar
apa Ko-heng mengatakan bibit bencana bagi
dunia persilatan bukan Jit-kaucu?"
Bong
Thian-gak termenung beberapa saat lamanya, kemudian
baru
berkata, "Dari pembicaraan
Jit-kaucu, pentolan atau dalang semua bencana di Bu-lim dewasa ini
adalah orang yang mengajarkan ilmu silat kepadanya saat ini, yakni
gurunya, Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau!"
"Ucapan Ko-siauhiap
memang benar," Ho Put-ciang manggut-manggut. "Tentang ilmu silat,
kemungkinan besar ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang Jit-kaucu sudah
jauh melampaui Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, tapi dari tindakan
Jit-kaucu yang memberi petunjuk kepada Ko-siauhiap agar mengobati
penyakit yang diderita Ku-lo Sinceng serta pertanyaan kepada
Ko-siauhiap apakah dia adalah utusan rahasia Cong-kaucu
... hal itu membuktikan watak
Jit-kaucu yang sebenarnya adalah saleh dan baik, dia terpaksa
membunuh orang atas petunjuk serta desakan orang lain."
"Apabila dugaanku
tidak salah, tiap kali Jit-kaucu membunuh orang, hatinya merasa
menyesal."
Bong
Thian-gak mengangkat kepala dan memandang sekejap ke
arah semua orang, kemudian katanya, "Kalau dihitung, Jit-kaucu masih
terhitung Sumoayku, aku berkewajiban menyelamatkannya dari jurang
kehancuran, seandainya ia tak bisa dididik jadi baik, aku yakin
masih mampu menandinginya."
Bong
Thian-gak berhenti sejenak, kemudian baru sambungnya,
"Padahal hampir setiap orang yang tergabung dalam Put-gwa-cin-kau
memiliki ilmu silat yang sangat lihai, dari kepandaian silat kelima
orang itu boleh dibilang mereka adalah gembong-gembong iblis berilmu
tinggi."
"Kemampuan Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau untuk menaklukkan serta mengendalikan kaum iblis di
bawah kekuasaannya, bisa diduga sampai dimanakah kemampuannya? Ai
... apa yang diucapkan Ku-lo
Sinceng memang benar, musuh paling tangguh bagi kita sesungguhnya
adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau ...
Ku-lo Taysu adalah tokoh agung dari Siau-lim-pay,
mungkin dia telah menyiapkan segala sesuatunya! untuk kita."
Ho Put-ciang
manggut-manggut membenarkan, "Ucapan Ko siauhiap memang benar,
beberapa hari berselang Sinceng memang telah memberi dua buah
kantung kepadaku dan berpesan agar yang satu; untuk Ko-siauhiap dan
satu untukku. Dia orang tua berpesan kantung
hanya boleh diserahkan kepada Ko-siauhiap, bila dia
sudah berpulang alam baka. Tadi oleh karena ada serangan musuh
tangguh, aku telah melupakan hal ini."
Mendengar ucapan itu,
segera terlintas rasa girang di wajah Bong
Thian-gak, serunya dengan cepat, "Ah, rupanya dugaanku
memang benar, Sinceng telah menyiapkan segala sesuatunya."
Sementara itu
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang sudah merogoh ke dalam sakunya dan
mengeluarkan dua buah kantung yang terbuat dari kain yang amat
indah. Ho Put-ciang mengambil satu di antaranya dan diserahkan
kepada Bong Thian-gak, sambil
berkata, "Yang ini buat Ko-siauhiap!"
Bong
Thian-gak menyambut kantung itu, lalu bertanya, "Apakah
Ho-bengcu telah memeriksa isi kantung itu?"
"Belum, Ku-lo Sinceng
telah berpesan, apabila ia sudah kembali ke alam baka, isi kantung
itu baru boleh dibuka, maka aku masih belum mengetahui apa isinya."
"Sekarang mungkin kau
sudah boleh membukanya, bukan?"
Bong
Thian-gak segera merogoh ke dalam kantung itu dan
mengeluarkan isinya, ternyata di situ terdapat tiga pucuk sampul
surat yang dilipat menjadi empat persegi, di antara sampul tertera
huruf satu, dua dan tiga secara berurutan.
Bong
Thian-gak mengambil sampul surat pertama, kemudian
membaca tulisan di atasnya:
"Saat membuka sampul
pertama, Sinceng sudah kembali ke alam baka."
Pelan-pelan
Bong Thian-gak merobek sampul itu,
tampak di atas kertas dalam sampul tertulis beberapa huruf yang
berbunyi:
"Selamatkan
Jit-kaucu!"
Di sisi sebelah kiri
ditulis nama, tertera pula dua deret kalimat yang ditulis dalam
huruf kecil:
"Bila Jit-kaucu sudah
tewas sebelum kematian Pinceng, isi surat ini batal"
Membaca petunjuk itu,
untuk beberapa saat Bong
Thian-gak termenung dan mengerut dahi, dia seperti tidak memahami
apa arti petunjuk itu.
Waktu itu kendati
para jago lain terdorong oleh rasa ingin tahu ingin turut membaca
apa isi surat Ku-lo Sinceng, namun oleh karena
Bong Thian-gak bungkam seribu
bahasa, maka tak seorang pun yang berani bertanya.
Semua orang hanya
mengawasi Bong Thian-gak
dengan wajah termangu-mangu.
Bong
Thian-gak termenung sampai lama sekali, akhirnya dia
meletakkan surat itu ke atas meja sembari berkata, "Silakan kalian
baca isi surat itu, kemudian pikirkan apa artinya?"
Sementara itu para
jago sudah dapat melihat jelas tulisan itu, kontan semua orang
mengerut dahi.
Thia Leng-juan pun
tidak habis mengerti, katanya kemudian, "Menyelamatkan Jit-kaucu?
Tulisan itu mengandung dua arti yang berbeda, satu di antaranya
adalah menyelamatkan roh atau jiwanya dan yang lain berarti menjaga
keselamatannya."
"Apa pula bedanya
antara roh, jiwa dan keselamatan?" tanya Goan-ko Taysu dari
Siau-lim-pay keheranan.
"Menyelamatkan roh
atau jiwanya, berati Jit-kaucu sudah terlalu banyak membunuh orang,
banyak melakukan kejahatan sehingga kita diharuskan membawanya dari
jalan sesat kembali ke jalan yang benar serta tidak melakukan
kejahatan lagi."
"Kalau menolong
keselamatannya berarti keselamatan jiwa Jit-kaucu terancam bahaya
dan kita harus menolongnya, jangan sampai dia tewas terbunuh oleh
orang lain."
"Penjelasan
Thia-tayhiap tepat sekali!" seru Ang Thong-lam pula, "Memang tulisan
itu bisa punya dua maksud, tapi dengan kedudukan Jit-kaucu sekarang,
kecuali kita hendak membunuhnya, masa ada orang lain yang hendak
membunuhnya pula?"
"Ku-lo Supek adalah
seorang pintar dan pandai menganalisa suatu keadaan, perintahnya
memang mengandung arti mendalam, sehingga aku sendiri pun tak dapat
memastikan."
"Tulisan 'Selamatkan
Jit-kaucu' memang mengandung arti yang dalam, untuk sementara waktu
sulit bagi kita menduganya, aku rasa kita turuti saja perintahnya
dan menyelamatkan Jit-kaucu," sela Ho Put-ciang.
Sementara itu
Bong Thian-gak sedang memejamkan
mata sambil memutar otak memikirkan sesuatu.
Setelah melalui
pemikiran yang panjang, akhirnya Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, perintah Ku-lo
Sinceng ini memang benar-benar sukar dipahami pikiran kita, ya,
mungkin cuma waktulah yang bisa membuktikan hal ini!"
"Kantung berisi surat
yang ditinggalkan Ku-lo Supek untukku belum sempat kubuka, siapa
tahu surat itu menyinggung tentang hal ini?" kata Ho Put-ciang
tiba-tiba.
Selesai berkata dia
segera mengambil kantung yang ditujukan kepadanya itu.
Dalam kantung hanya
tersimpan sepucuk surat saja, di atas sampul surat tertulis:
"Surat wasiat
Siau-lim Ku-lo."
Membaca tulisan itu,
hati semua orang bergetar keras, mereka berpikir, "Ternyata Ku-lo
Hwesio telah mengetahui tentang kematiannya, maka dia sengaja
menulis surat wasiatnya."
Pelan-pelan Ho
Put-ciang mengeluarkan surat dari dalam sampul dan membaca isinya
yang berbunyi:
"Siancay! Kehidupan
di jagad ini berlangsung karena perputaran bumi, pertemuan antara
unsur Im dan Yang serta perputaran lima unsur Ngo-heng, maka
terwujudlah kehidupan yang ada di alam semesta ini dengan kehadiran
manusia yang berakal budi.
Takdir menetapkan
kehidupan Ku-lo harus berakhir pada tahun Kau bulan
Sin hari Cu dan saat Yu. Itulah
sebabnya kematian Pinceng merupakan kemauan takdir.
Ku-lo tahu
pertempuran melawan Jit-kaucu akan lebih banyak bahayanya daripada
keberuntungan, andaikata beruntung Pinceng bisa merenggut nyawa
Jit-kaucu, maka pasti ia akan mati pada hari ini, kemungkinan besar
situasi dunia persilatan akan berubah menjadi semakin tidak
menguntungkan bagi kita.
Sebaliknya jika
Jit-kaucu tidak mati, sedang Ku-lo mati lebih dulu, hal ini bisa
berakibat munculnya suatu perubahan besar.
Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau telah berhasil menciptakan seorang tokoh tangguh
seperti Jit-kaucu dengan bekal ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang, bila
ilmu itu mencapai tingkat kesepuluh, maka orang akan menjadi kebal
dan tahan pukul maupun dibacok. Saat itulah bisa jadi Jit-kaucu akan
menjadi seorang jagoan yang tak ada tandingannya di kolong langit.
Itulah sebabnya bila Pinceng meninggal, sudah pasti Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau akan berusaha
keras melenyapkan Jit-kaucu guna
menghilangkan bibit bencana di kemudian hari.
Demi perubahan
situasi dalam Bu-lim, terutama bagi keuntungan pihak kita, kalian
harus berusaha sekuat tenaga untuk melindungi keselamatan jiwa
Jit-kaucu.
Saat ini Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau telah berhasil mempelajari berbagai macam ilmu
sakti, hanya ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang serta Tat-mo-khi-kang
saja yang mampu membunuh biang keladi itu. Oleh sebab itu tugas
pertama kalian adalah menyelamatkan Jit-kaucu terlebih
dahulu. Ingat! Ingat! Dapatkah
dunia persilatan kita dipertahankan? Semuanya tergantung
pada tindakan in."
Setelah para jago
membaca isi surat Ku-lo Hwesio, hampir semuanya terkejut bercampur
kagum. Sudah jelas terbukti sekarang bahwa dalam pertarungan Ku-lo
Hwesio melawan Jit-kaucu, agaknya pendeta itu tidak bermaksud
membinasakan perempuan itu.
Dengan kening
berkerut Ho Put-ciang berkata, "Ku-lo Supek pandai ilmu rahasia
langit, dari isi surat wasiatnya, bisa diduga dia sudah tahu siapa
gerangan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau itu."
"Ai, tak perlu
ditebak lagi," ujar Bong
Thian-gak sambil menghela napas panjang. "Mungkin dia orang tua
sudah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau itu."
Mendadak Thia
Leng-juan berkata, "Bukankah Ku-lo Supek masih memberi dua pucuk
surat lagi untuk Ko-siauhiap? Bagaimana kalau Ko-siauhiap keluarkan
surat itu dan sekalian diperiksa isinya?"
Mendengar perkataan
itu, Bong Thian-gak segera
membuka sampul kedua dan sampul ketiga, namun di atas sampul itu
ternyata sudah dicantumkan saatnya untuk membuka.
Di atas sampul kedua
ditulis dengan jelas saat untuk membuka surat itu.
"Surat ini dibuka
saat Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng muncul"
Sedangkan sampul ketiga
bertuliskan:
"Di buka saat hendak
menaklukkan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."
Di samping lain
sampul surat itu dicantumkan pula peringatan agar jangan membuka
surat itu apabila saatnya belum sampai.
Bong
Thian-gak tentu saja tak berani melanggar peringatan
itu, maka pemuda itu menyimpan kembali kedua pucuk surat itu.
Mendadak Thia
Leng-juan berseru tertahan, "Ah, mungkinkah Cong-kaucu
Put-gwa-cfh-kau adalah Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng?"
"Dari surat wasiat
Ku-lo Supek, tampaknya Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau agak mirip dengan
Tio Tian-seng," sahut Ho Put-ciang.
"Aku rasa bukan Tio
Tian-seng," seru Bong
Thian-gak.
"Atas dasar apa
Ko-heng mengatakan bukan dia?" tanya Thia Leng-juan cepat.
"Seandainya orang itu
adalah Tio Tian-seng, tak mungkin Ku-lo Sinceng jual mahal pada
kita. Ai ... siapakah
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau? Cepat atau lambat kita akan mengetahui
juga. Persoalan paling penting yang harus kita hadapi sekarang
adalah bagaimana caranya melaksanakan perintah Sinceng serta
menyelamatkan jiwa Jit-kaucu."
Hian-thian-koancu Yu
Ciang-hong yang selama ini hanya membungkam mendadak berkata, "Ah,
agaknya Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau akan mulai melaksanakan
rencananya membunuh Jit-kaucu begitu mendengar berita kematian
Sinceng, bisa jadi saat ini Cong-kaucu sudah berada di kota
Kay-hong."
Bong
Thian-gak manggut-manggut.
"Ya, benar! Tujuan
yang sesungguhnya serbuan musuh ke gedung
Bu-lim
Bengcu hari ini adalah untuk mencari tahu mati-hidup Ku-lo Sinceng,
ya ... segala sesuatunya
memang berjalan seperti apa yang ditulis Sinceng dalam surat
wasiatnya, kalau begitu kita tak boleh ayal dalam usaha kita
menyelamatkan jiwa Jit-kaucu."
"Tapi tindakan apakah
yang harus kita ambil? Harap kalian semua
sudi
mengajukan pendapat," seru Ho Put-ciang.
Dengan suara berat
Thia Leng-juan berkata, "Ku-lo Supek telah menyerahkan isi kantung
itu kepada Ko-heng, jelas tugas ini hanya Ko-heng
seorang yang mampu
memikulnya, mana mungkin orang lain bisa mencampurinya."
Seperti menyadari
sesuatu, Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berkata,
"Betul,
tampaknya Ku-lo Supek
sudah tahu Jit-kaucu pun ahli waris Jian-bin
bu-li Ban Li-biau seperti
juga halnya Ko-siauhiap."
"Ai,
Ku-lo Sinceng benar-benar merupakan
tokoh sakti yang luar biasa”
kata Bong
Thian-gak. "Tampaknya ia sudah tahu asal-usul semua
tokoh
di Bu-lim."
"Ai,
kematiannya benar-benar merupakan
suatu kerugian besar bagi dunia
persilatan."
"Dalam surat
wasiatnya, Ku-lo Supek berpesan bahwa kematian merupakan kemauan
takdir, apakah seorang kaisar bisa memperpanjang usianya bila saat
ajalnya sudah tiba? Ko-siauhiap, aku rasa kau tak perlu bersedih
karena kematiannya!"
"Jika begitu aku
harus segera mencari Jit-kaucu sekarang juga."
"Aku rasa persoalan
ini pun tak perlu dikerjakan terlalu tergesa-gesa, kini luka pada
bahu kiri Ko-siauhiap masih belum sembuh, lagi pula lelah berjuang
sehari semalam, tak ada salahnya kau beristirahat dulu selama
tiga-empat hari sebelum melakukan sesuatu tindakan."
"Luka yang kuderita
tidak jadi soal. Yang kukuatirkan sekarang seandainya orang-orang
Put-gwa-cin-kau melakukan penyerbuan sekali lagi kemari."
Ho Put-ciang tertawa
sedih.
"Walaupun pada
pertempuran hari ini pihak gedung Bengcu menderita kerugian besar,
tapi asalkan yang datang bukan Cong-kaucu atau Jit-kaucu
Put-gwa-cin-kau, gedung Bengcu yakin masih bisa mempertahankan
diri."
Bong
Thian-gak termenung beberapa saat, kemudian katanya
pelan-pelan, "Ho-bengcu, ada satu hal perlu kuingatkan kepadamu,
ketahuilah bahwa dalam gedung Bu-lim Bengcu sekarang bersembunyi
seorang pentolan Put-gwa-cin-kau, kalau tak salah pentolan itu
adalah Cap-go-kaucu! Aku harap kau bertindak
lebih waspada."
"Sekarang orang yang
menjadi kekuatan inti gedung Bu-lim Bengcu adalah Ko-siauhiap, Thia
Leng-juan Laute, Ang-tayhiap, Goan-ko Taysu, Ui-hok Totiang beserta
kami Suheng-te. Semua rahasia yang kita ketahui tak mungkin bocor ke
telinga orang lain, bila rahasia itu sampai bocor, berarti
Cap-go-kaucu Put-gwa-cin-kau berada di antara kita bersembilan dalam
gedung Bu-lim Bengcu, entah bagaimana pendapat kalian?" kata Ho
Put-ciang.
"Betul," ujar Thia
Leng-juan cepat, "apa yang kita bicarakan hari ini menyangkut
keselamatan dunia persilatan, jelas siapa pun dilarang membocorkan
keluar."
Yu Ciang-hong, Ang
Thong-lam dan Goan-ko Taysu sekalian segera bersumpah pula untuk
memegang rahasia itu rapat-rapat.
Malam itu lewat tanpa
kejadian, para jago pun kembali ke kamar masing-masing untuk
mengatur pernapasan dan merawat luka.
Keesokan harinya,
luka yang diderita Ui-hok Totiang serta Toan-jong-hong-liu Yu
Heng-sui telah sembuh, sementara luka yang diderita Oh Cian-giok
sudah jauh membaik.
Bong
Thian-gak dan Thia Leng-juan bersama-sama tidur di
loteng sebelah barat, pada hari ketiga luka tusukan pada bahu kiri
Bong Thian-gak pun telah
sembuh.
Selama tiga hari itu
dari pihak Bu-lim Bengcu telah mengirim banyak mata-mata untuk
menyelidiki keadaan serta gerak-gerik orang-orang Put-gwa-cin-kau,
anehnya puluhan li di seputar kota Kay-hong ternyata tidak dijumpai
satu pun orang persilatan, tentu saja tidak diketahui pula
gerak-gerik orang-orang Put-gwa-cin-kau.
Keadaan itu tentu
saja mendatangkan perasaan tak tenang bagi para jago yang berkumpul
dalam gedung Bu-lim Bengcu.
Setiap orang tahu,
sebelum datangnya hujan badai biasanya didahului oleh suasana sunyi
senyap yang aneh.
Tengah hari itu
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang bersama pendekar
sastrawan dari Im-ciu Thia Leng-juan
dan Bong Thian-gak bertiga
berkumpul di ruangan tengah bangunan loteng sebelah barat.
"Ho-toako, menurut
pendapatmu mungkinkah orang-orang Put-gwa-cin-kau
telah mengundurkan diri secara diam-diam dari kota Kay-hong?"
Pertanyaan itu
ditujukan kepada Ho Put-ciang dengan suara
lantang.
Ho Put-ciang
menggeleng.
"Dalam tiga hari ini
suasana memang terasa kurang beres. Jika
memang orang Put-gwa-cin-kau masih berada di kota
Kay-hong, mata-mata yung kita kirim paling tidak akan menemukan
jejak mereka."
"Aku pikir Jit-kaucu
tak mungkin meninggalkan tempat ini begitu
cepat” seru Bong
Thian-gak pula.
"Ko-heng, apa
maksudmu?" tanya Thia Leng-juan cepat.
"Jit-kaucu mendapat
tugas menghancurkan gedung Bu-lim bengcu,
sebelum tugas yang
dibebankan ke atas pundaknya diselesaikan, bagaimana mungkin dia
bisa meninggalkan kota Kay-hong? Menurut dugaanku, Put-gwa-cin-kau
masih akan melakukan penyerangan secara besar-besaran terhadap
gedung Bu-lim Bengcu kita!"
"Bagaimana Ko-heng
bisa berkata demikan? Kalau dibilang Jit-kaucu mendapat perintah
untuk menghancurkan gedung Bu-lim Bengcu, apa sebabnya pada
penyerbuan musuh tempo hari kita tak menjumpai Jit-kaucu?"
"Sebab rencana
penyerbuan gedung Bengcu yang terjadi dua hari lalu bukan atas
prakarsa Jit-kaucu."
"Kalau bukan
diprakarsai dia, lantas siapa?"
"Orang berkerudung
berbaju hitam itu!"
Tiba-tiba Thia
Leng-juan berseru tertahan, sambil berpaling ke arah Ho Put-ciang
katanya, "Ho-toako, orang berkerudung itu pernah memperkenalkan
diri. Katanya dia adalah pentolan nomor dua pasukan pengawal tanpa
tanding Put-gwa-cin-kau, dengan kepandaian silatnya yang hebat serta
sikapnya yang angkuh, mestinya pasukan pengawal tanpa tanding
mempunyai kedudukan tinggi dalam Put-gwa-cin-kau."
"Bisa jadi pasukan
pengawal tanpa tanding merupakan pelindung Kaucu Put-gwa-cin-kau,"
pendapat Ho Put-ciang.
"Benar, pasukan
pengawal tanpa tanding adalah para pelindung Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau."
Thia Leng-juan segera
termenung sambil berpikir sejenak, lalu katanya, "Perkataan Ko-heng
memang benar, kemungkinan besar Put-gwa-cin-kau akan melakukan
serbuan kedua terhadap gedung Bu-lim Bengcu kita ini."
"Tapi anehnya mengapa
hingga kini belum juga dilakukan?" tanya Ho Put-ciang dengan kening
berkerut.
"Sebuah pukulan
dahsyat Ko-heng yang bersarang tepat di tubuh orang berkerudung
berbaju hitam itu menyebabkan mereka tak berani menganggap enteng
kekuatan kita," kata Thia Leng-juan mengemukakan pendapatnya.
"Selain itu, nampaknya mereka masih menaruh curiga terhadap kematian
Ku-lo Supek."
Ho Put-ciang
manggut-manggut.
"Benar, Jit-kaucu pun
terhajar hingga terluka oleh Ku-lo Supek dan dengan jumlah anggota
Put-gwa-cin-kau yang berada di kota Kay-hong sekarang, mereka memang
belum berani melakukan penyerbuan lagi. Kemungkinan mereka belum
berani berkutik dalam beberapa hari mendatang, bisa jadi sedang
minta bala bantuan sambil menyiapkan serangan berikutnya."
"Ai, tapi yang pasti,
orang yang memimpin penyerbuan kedua ini pun pasti bukan Jit-kaucu!"
kata Bong Thian-gak sambil
menghela napas panjang.
"Ko-heng, siapa
menurut dugaanmu?"
"Kemungkinan besar
Cong-kaucu yang akan memimpin secara langsung penyerangan ini."
Paras muka
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berubah hebat mendengar perkataan itu,
katanya cepat, "Lantas bagaimana cara kita menghadapi?"
Bong
Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, hari ini aku
baru menemukan gelagat kurang baik, bila kita hendak meminta bantuan
orang sembilan partai besar, aku rasa air yang berada di tempat jauh
tak mungkin bisa memadamkan api di depan mata!"
"Tapi kita bisa
membendung air bah, kita hadapi serbuan lawan dengan kekuatan, asal
kita bertekad berjuang sampai titik darah penghabisan, aku rasa
kekuatan musuh masih dapat kita imbangi."
"Aku pikir lebih baik
kita mundur saja dari gedung ini sambil melindungi kekuatan yang
tersisa," ucap Bong Thian-gak
dengan wajah nerius.
Belum habis perkataan
Bong Thian-gak, mendadak dari
bawah anak
tangga sana terdengar suara langkah
kaki, disusul kemudian munculnya Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui.
"Yu-sute, ada urusan
penting apa?" Ho Put-ciang segera berpaling «I.m
menegur.
Dengan suara lantang
Yu Heng-sui menyahut, "Seorang mata-mata
yang kita utus untuk
mencari berita telah berjumpa dengan seorang perempuan misterius di
luar kota Kay-hong sebelah barat. Perempuan Itu telah menitipkan
sepucuk surat kepada mata-mata kita supaya
disampaikan
kepada Ko-siauhiap."
Sembari berkata, dari
dalam sakunya dia mengeluarkan sepucuk
surat berwarna biru.
Bong
Thian-gak segera menerima surat itu, di atas sampul
tertera beberapa huruf dengan gaya tulisan yang sangat indah:
"Ditujukan khusus untuk Ko Hong."
Bong
Thian-gak berkerut kening, setelah berpikir sebentar,
lalu tanyanya, "Siapakah perempuan itu?" Terus saja ia merobek
sampul surat itu dan membacanya isinya.
"Tidak mudah untuk
mempertahankan hidup ini, cepat pergi dari sini
untuk hidup seratus
tahun lagi."
Di bawah surat tidak
dicantumkan tanda tangan.
Selesai membaca,
Bong Thian-gak segera
menyerahkan surat itu kepada Ho Put-ciang serta Thia Leng-juan
sekalian.
"Siapa penulis surat
ini?" Thia Leng-juan bertanya kemudian.
"Jit-kaucu," sahut
Bong Thian-gak sambil
menghela napas panjang.
Ho Put-ciang menghela
napas pula.
"Kejadian ini semakin
membuktikan dugaan kita tak salah, Put-gwa-cin-kau memang sudah
mempersiapkan diri memusnahkan gedung kita."
"Ai, belum tentu
begitu, kemungkinan juga sasaran mereka hanya aku seorang."
"Bukankah dia sudah
memberi peringatan kepada Ko-heng? Tak mungkin dia turun tangan keji
terhadap Ko-heng!" kata Thia Leng-juan lagi.
"Jit-kaucu adalah
seorang gadis yang berwatak aneh, senang gusarnya tidak menentu,
lagi pula semua gerak-geriknya seakan-akan sudah berada di bawah
cengkeraman Cong-kaucu."
Ho Put-ciang bertanya
kepada Yu Heng-sui, "Yu-sute, siapakah mata-mata itu? Cepat kau
panggil dia agar menghadap kemari."
"Baik!" sahut
Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui dari bawah loteng.
Tak selang lama
kemudian Yu Heng-sui telah muncul kembali diikuti seorang lelaki
berbaju hitam.
Begitu melihat raut
wajah lelaki itu, Pa-ong-kiong Ho Put-ciang segera mengetahui dia
adalah komandan pasukan mata-mata angkatan kedelapan yang bernama
Tan Thiam-ka.
Sesudah memberi
hormat kepada semua orang, Tan
Thiam-ka segera berdiri di samping dengan kedua tangan
diluruskan ke bawah.
"Komandan
Tan, darimana kau dapatkan surat
ini?" Ho Put-ciang berkata dengan suara nyaring.
"Di sebelah barat
kota Kay-hong, lebih kurang empat-lima li di luar kota."
"Macam apakah bentuk
wajah orang yang menyerahkan surat itu kepadamu?" sela Thia
Leng-juan.
"Dia adalah seorang
gadis yang berusia enam-tujuh belas tahunan, berwajah jelek tapi
bersuara amat merdu dan manis. Awalnya dia bertanya kepadaku apakah
merupakan anggota gedung Bengcu, setelah itu ujarnya lagi, katanya
dia ada surat yang hendak diserahkan kepada Ko Hong Siauhiap, maka
surat itu pun diserahkan kepada hamba sebelum pergi meninggalkan
tempat itu."
Mendengar penjelasan
itu, paras muka Ho Put-ciang sekalian segera berubah hebat, dalam
hati mereka berpikir, "Berwajah jelek? Kalau begitu orang itu bukan
Jit-kaucu?"
Walaupun Ho Put-ciang
dan Thia Leng-juan sekalian belum pernah menyaksikan raut wajah
Jit-kaucu, namun Bong
Thian-gak pernah melukiskan paras mukanya yang cantik ibarat
bidadari yang baru turun dari kahyangan, lagi pula usianya juga
tidak cocok.
"Komandan
Tan, apakah kau tidak salah
melihat?" Ho Put-ciang segera bertanya.
"Tecu tak bakal salah
melihat."
Ho Put-ciang
manggut-manggut.
'Baiklah kalau
begitu, komandan Tan dan
Yu-sute boleh mengundurkan diri dari sini."
"Baik!" seru mereka
berdua bersama-sama.
Seusai berkata,
mereka membalikkan badan siap meninggalkan lompat itu.
"Tunggu sebentar!"
mendadak Bong Thian-gak
berseru.
"Ada urusan apa
Ko-siauhiap?" Ho Put-ciang segera bertanya.
"Ho-bengcu, aku ingin
membawa komandan Tan
berkunjung ke tempat
penyerahan surat itu."
"Apakah luka
Ko-siauhiap telah sembuh?"
"Tak usah kuatir,
Bengcu, lukaku sudah tak jadi masalah lagi."
"Apakah Ko-siauhiap
kenal si pengantar surat itu?"
"Tidak!"
Bong Thian-gak menggeleng. "Belum
pernah kujumpai wanita itu."
"Musuh kita amat
licik dan mempunyai banyak tipu muslihat, mungkinkah kepergian
Ko-siauhiap akan terjebak siasat licik mereka?" "Apa maksud
perkataanmu itu?"
"Aku kuatir
Ko-siauhiap salah menduga akan si pengirim surat itu."
"Andaikan musuh
menantangmu secara terang-terangan untuk berduel, mereka kuatir kita
mempersiapkan diri lebih dahulu, maka dia sengaja mengirim surat itu
untuk memancing rasa ingin tahumu hingga kau melakukan penyelidikan
seorang diri. Akhirnya kau termakan oleh tipu muslihat mereka."
Mendengar perkataan
itu, Bong Thian-gak
tersenyum.
"Untuk mewujudkan
tugas yang dibebankan Ku-lo Sinceng kepadaku, sudah seharusnya aku
mulai bertindak sekarang."
"Kalau begitu apakah
Ko-siauhiap membutuhkan bantuan orang kami?"
"Tidak usah,"
Bong Thian-gak menampik sambil
menggeleng. "Sekarang juga aku akan berangkat."
Ho Put-ciang lantas
berpaling ke arah lelaki berbaju hitam itu sambil berpesan, "Komandan
Tan, dampingi Ko-siauhiap,
kau harus menuruti semua petunjuk dan perintah Ko-siauhiap tanpa
membantah."
"Baik!" sahut
Tan Thiam-ka dengan hormat.
Setelah berkata, dia
lalu berpaling ke arah Bong
Thian-gak sambil bertanya, "Ko-siauhiap, apakah akan berangkat
sekarang juga?"
Bong
Thian-gak berkata kepada Ho Put-ciang sekalian, "Setiap
saat aku akan mengadakan kontak dengan kalian, harap Bengcu tak usah
kuatir, kami segera akan berangkat."
Selesai berkata
Bong Thian-gak dan
Tan Thiam-ka segera pula berangkat
meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu.
Setelah perjalanan
selama setengah jam lebih, sampailah Tan
Thiam-ka dan Bong
Thian-gak di depan sebuah hutan buah-buahan.
"Di sinikah kau
bertemu dengan gadis berwajah jelek itu?"
Bong Thian-gak bertanya.
"Ya, waktu itu hamba
sedang duduk beristirahat di bawah pohon kelengkeng, mendadak muncul
perempuan berwajah jelek itu."
Bong
Thian-gak mendongakkan kepala memandang sekejap ke arah
hutan buah-buahan itu.
