pendekar cacad 04
Bagian 4 : Tat Mo Khi-kang
dari Ku Lo Sinceng
Mereka bertiga segera
mengerahkan ilmu meringankan tubuh dan keluar dari pintu pagoda
dengan cepat, setelah itu menjauh dengan kecepatan tinggi.
Setelah cukup jauh,
Thia Leng-juan baru berani bertanya dengan nada cemas, "Ko-heng,
benarkah ada jejak musuh?"
"Ya, pihak lawan
memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna, entah sejak
kapan ia sudah mendekam di atas pagoda itu, jika tanpa sengaja aku
tidak mendongakkan kepala dan menangkap dua titik cahaya putih, tak
mungkin kutemukan jejak musuh itu."
Ho Put-ciang
terperanjat, serunya dengan gelisah, "Wah, kalau begitu kita kan tak
bisa melaksanakan langkah berikutnya?"
"Itulah sebabnya
bagaimana pun juga kita tak boleh membiarkan orang itu lolos!
Sekarang kita harus pergi menjauh setengah li lagi, kemudian
serentak berpencar dan balik ke Leng-im-po-tah, usahakan agar
mengepung orang itu rapat-rapat."
Sementara itu mereka
bertiga sudah berlari sejauh setengah li, mendadak
Bong Thian-gak putar badan dan balik
ke arah semula dari sudut barat daya.
Ho Put-ciang berputar
melalui timur laut dan Thia Leng-juan menelusuri jalanan semula.
Ginkang ketiga orang
itu sudah mencapai puncak kesempurnaan, maka setengah li perjalanan
balik yang mereka tempuh dicapai dalam waktu singkat.
Dipimpin oleh Thia
Leng-juan, dengan cepatnya mereka sudah balik ke depan pagoda
Leng-im-po-tah.
Sedangkan
Bong Thian-gak, Ho Put-ciang datang
hanya selisih sedikit sekali, mereka menerobos masuk melalui arah
barat daya serta timur laut.
Di bawah cahaya
rembulan, betul juga, di tengah lapangan tampak berdiri sesosok
bayangan tubuh yang langsing dan ramping.
Ketika dilihatnya
Bong Thian-gak bertiga muncul
kembali di situ tanpa menimbulkan sedikit suara pun, wajahnya
kelihatan tertegun, peristiwa ini sama sekali di luar dugaannya.
Dengan wajah
termangu-mangu, dia mengawasi ketiga orang itu berjalan mendekat ke
arahnya.
Sekarang Ho Put-ciang
dan Thia Leng-juan harus mengagumi dan memuji ketajaman mata
Bong Thian-gak, sesungguhnya mereka
masih setengah percaya mendengar perkataan
Bong Thian-gak tadi, namun
kenyataannya musuh memang muncul di tempat itu, inilah yang membuat
hati mereka terkejut bercampur tercengang.
Di bawah sinar
rembulan, tampak bayangan yang ramping itu tak lain adalah seorang
gadis berbaju merah, rambutnya yang disisir kepang dua terurai di
belakang bahu, wajahnya bersih, cantik dan usianya antara lima-enam
belas tahun, mukanya masih kekanak-kanakan.
Menyaksikan
kemunculan Ho Put-ciang bertiga, dia gerakkan sepasang matanya yang
bulat dan jeli memperhatikan mereka sekejap, sambil tersenyum
ujarnya, "Selamat berjumpa Hiapsu bertiga!"
"Selamat berjumpa
nona," sahut Bong Thian-gak
sambil tertawa dingin. "Entah karena persoalan apakah kau
bersembunyi di tempat kegelapan sebelah kiri pagoda pada tingkat
keempat?"
Mendengar pertanyaan
itu, nona berbaju merah tertawa, sahutnya,
“Engkoh ini betul-betul memiliki
ketajaman mata yang mengagumkan, ketika kau sedang melancarkan
serangan ketiga untuk membinasakan
orang,
aku naik ke atas pagoda melalui belakang
bangunan."
"Nona seorang yang
pintar, hari ini kau sampai di sini dan menyaksikan terbunuhnya
Sam-kaucu di tangan kami, kau anggota Put-gwa-cin-kau
atau bukan, yang jelas kami tak akan membiarkan kau pergi begitu
saja dari tempat ini."
Gadis berbaju merah
mengedipkan matanya yang bulat besar lalu
serunya, "Dengan cara apakah kalian hendak menghadapi
diriku?"
Sementara itu paras
muka Ho Put-ciang telah berubah serius, pelan-pelan
dia berkata, "Pertama, kami ingin mengetahui lebih dahulu
Siapakah
nona dan berasal darimana?"
"Aku
she Ni bernama Kiu-yu, rumahku ada
di selatan propinsi hamsiok, tak punya ayah dan ibu lagi, hanya ada
seorang nenek yang hidup bersamaku."
Selain lincah dan
genit, gadis ini pun tanpa ragu mengutarakan nama serta
asal-usulnya.
Ho Put-ciang dan Thia
Leng-juan yang menyaksikan hal ini segera mengerut dahinya
rapat-rapat.
Hanya
Bong Thian-gak seorang yang
mengawasi terus gerak-gerik si nona berbaju merah lekat-lekat,
sementara mulutnya membungkam.
Sekali lagi Ho
Put-ciang bertanya, "Siapakah nama nenekmu?"
"Hei, banyak amat
yang kalian tanyakan," omel gadis berbaju merah. "Nenekku
she Kang, setelah kawin dengan
kakek, dia bernama Ni-hong!"
"Siapa yang
mewariskan ilmu silat kepada nona?"
"Wah, wah, wah
... kalian betul-betul cerewet, tahu
begini, aku tak akan kemari menonton keramaian."
"Nona Ni, dengarkan
baik-baik," kata Ho Put-ciang dengan wajah serius. "Hari ini kau
telah terlibat dalam peristiwa ini dan mendatangkan bencana bagi
diri sendiri, seandainya kau tidak bersedia menjawab dengan
sejujurnya, lebih baik salah membunuh satu orang daripada membiarkan
kau pergi begitu saja."
"Bukankah kalian
jago-jago persilatan yang berjiwa ksatria? Masa kalian akan
menganiyaya seorang bocah perempuan seperti aku?"
Pertanyaan yang tajam
dan mengena ini kontan saja membuat paras muka Ho Put-ciang
tersipu-sipu karena malu, sesaat lamanya dia tak mampu menjawab.
Thia Leng-juan
menyela, "Sekarang ucapan kami sudah diutarakan cukup jelas, paling
baik nona Ni bersedia menjawab dengan sejujurnya."
Nona berbaju merah
menghela napas sedih, "Ai, sudahlah, anggap saja memang lagi apes,
ilmu silat ini kuperoleh dari nenekku, nah, sudah cukup bukan?"
Sementara itu hawa
membunuh telah menyelimuti seluruh wajah
Bong Thian-gak, sambil tertawa dingin serunya, "Nona
Ni, kau adalah anggota Put-gwa-cin-kau, sudahlah lebih baik tak usah
berpura-pura lagi!"
Melihat
Bong Thian-gak menuduh dengan nada
serius dan bersungguh-sungguh, mau tak mau Ho Put-ciang bertanya,
"Ko-siauhiap, apakah kau berhasil menemukan sesuatu?"
"Perempuan ini masih
muda belia, tapi memiliki keberanian luar biasa, tak mungkin orang
biasa memiliki kelebihan seperti apa yang dia miliki itu!"
Si nona berbaju merah
mendengus dingin, "Hm, kalian bukan setan iblis atau siluman yang
berwajah menakutkan? Mengapa aku harus takut kepada kalian?"
"Nona bisa tak kuatir
terhadap kami, tentu saja karena punya kemampuan yang bisa dijadikan
pegangan, tapi bila kau ingin melarikan diri dari sini dengan mudah,
aku pikir hal itu akan jauh lebih sukar daripada memanjat ke langit,
kalau tak percaya silakan dicoba."
Nona berbaju merah
tertawa, "Kau menghendaki aku mengaku sebagai anggota
Put-gwa-cin-kau? Baiklah, kalau begitu kuakui!"
"Tentu saja kau
anggota Put-gwa-cin-kau, bahkan kedudukanmu di dalam perkumpulan itu
pasti amat penting ...."
"Darimana kau bisa
tahu?"
"Semacam perasaan
halus!"
Mendadak nona berbaju
merah tertawa cekikikan, "Kau telah salah melihat, aku bukan anggota
Put-gwa-cin-kau, tetapi aku tahu sedikit mengenai Put-gwa-cin-kau
itu."
"Apa yang nona Ni
ketahui?" buru-buru Ho Put-ciang bertanya.
"Aku tahu kalian
telah membunuh Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau dan orang-orang dari
Put-gwa-cin-kau tak melepas kalian begitu saja."
Dengan perasaan
dongkol bercampur geli, Ho Put-ciang berkata, "Soal ini tak usah kau
katakan, kami pun sudah mengetahui dengan amat jelas!"
"Kalau kalian telah
tahu Put-gwa-cin-kau hendak melancarkan balas dendam, mengapa kalian
tidak segera kabur menyelamatkan diri?"
Mendadak
Bong Thian-gak menukas sambil
membentak nyaring, "Tak usah banyak bicara lagi, sekarang hanya ada
dua jalan yang bisa kau pilih, pertama ikut bersama kami kembali ke
gedung Bengcu atau ingin mampus dibunuh?"
"Membunuh aku? Hm!"
nona berbaju merah mendengus dingin. "Tak akan semudah apa yang kau
bayangkan, bila tak percaya silakan dicoba sekarang!"
"Baik, kalau begitu
sambutlah seranganku!" seru Bong
Thian-gak sambil
tertawa dingin.
Bong
Thian-gak bergerak secara aneh dan menerjang ke sisi
kanan gadis berbaju merah dengan kecepatan luar biasa, kemudian
telapak tangan kirinya secara aneh diayun ke depan langsung
menghantam ke wajah gadis berbaju merah itu.
Menyaksikan datangnya
ancaman yang begitu dahsyat, nona berbaju merah tak berani ayal,
cepat kaki kirinya berputar ke dalam, sementara telapak tangan kanan
menyapu keluar langsung membacok urat nadi pergelangan tangan kiri
Bong Thian-gak.
Agaknya
Bong Thian-gak tahu gadis itu
memiliki kepandaian silat yang sangat lihai, maka begitu turun
tangan jurus-jurus serangan yang dipergunakan diselipi suatu ancaman
yang berbahaya.
Sementara itu telapak
tangan kirinya disodokkan, membentuk gerakan setengah busur di
udara, tangan kirinya seperti ular sakti menerobos melalui lubang
kosong di antara tangkisan tangan kanan gadis berbaju merah dan
secepat kilat menotok jalan darah Khi-hay-hiat.
Serangan ini selain
ganas dan sakti, juga aneh bukan kepalang.
Paras muka gadis
berbaju merah berubah hebat, kakinya segera memainkan langkah tujuh
bintang, dalam waktu singkat dia sudah mundur sejauh beberapa kaki.
Begitu nona berbaju
merah mundur, dia sama sekali tak memberi peluang bagi
Bong Thian-gak untuk menguasai
keadaan lagi, telapak tangannya diayunkan ke depan, kesepuluh jari
tangannya dibentangkan dan langsung menyentil ke depan, secara tepat
dia menerjang ke muka dan mengancam sepuluh jalan darah penting di
tubuh Bong Thian-gak.
Serangan balasan itu
dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Bong
Thian-gak menjerit kaget, tubuhnya segera berkelit ke
samping secara aneh, kemudian mundur sejauh tujuh-delapan kaki.
"Apakah nona anak
murid Mi-tiong-bun?" serunya dengan wajah terperanjat.
Nona berbaju merah
tersenyum, "Tadi sewaktu kau melepaskan pukulan untuk membinasakan
Sam-kaucu, aku lihat di balik pukulanmu itu kau sembunyikan juga
ilmu sakti dari Mi-tiong-bun yang disebut Tat-lay Lhama Sin-kang,
kalau begitu kau pun anak murid Mi-tiong-bun dari Tibet?"
Bong
Thian-gak benar-benar terkejut, segera tanyanya dengan
suara dalam, "Sebenarnya nona murid siapa? Cepat utarakan atau aku
akan turun tangan keji kepadamu."
"Sekali pun kau
berhasil mencuri belajar ilmu Tat-lay Lhama Sin-kang dari
Mi-tiong-bun, bukan berarti kau pasti dapat membunuhku, buat apa kau
mendesak orang terus-menerus?"
Setelah menyaksikan
dua gebrakan yang barusan berlangsung dan mendengarkan tanya-jawab
kedua orang itu, paras muka Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan berubah
hebat.
Perlu diketahui, ilmu
silat Mi-tiong-bun dari Tibet selamanya hanya diwariskan kepada kaum
Lhama, selama ratusan tahun ini mereka tak pernah menurunkan
kepandaian itu kepada orang lain.
Tapi kenyataan hari
ini ada dua orang preman yang dapat mempergunakan ilmu sakti
Mi-tiong-bun, tidak heran mereka jadi terperanjat bercampur
keheranan.
Bong
Thian-gak sendiri semenjak mengetahui gadis berbaju
merah memiliki kepandaian silat ajaran Mi-tiong-bun, paras mukanya
segera berubah menjadi serius dan berat.
Dalam waktu singkat
sepasang tangannya sudah disilangkan di depan pusar, kemudian sambil
memejamkan mata rapat-rapat dia berdiri diam.
Sebenarnya gadis
berbaju merah itu pun bersikap acuh tak acuh, namun
setelah menyaksikan cara
Bong Thian-gak itu, rasa
tegangnya segera
menyelimuti wajahnya, cepat telapak tangannya satu di depan yang
lain di belakang disilangkan di depan dada, sementara kakinya pun
terus bergeser ke arah samping kiri, sementara sorot matanya yang
tajam tiada hentinya
mengawasi wajah Bong
Thian-gak.
Dari sikap
Bong Thian-gak yang berdiri tegak
bagai batu karang, Ho
Put-ciang dan Thia
Leng-juan segera tahu serangan yang hendak
dilancarkan pemuda itu pasti semacam
kepandaian sakti yang maha dahsyat.
Ketika memandang pula
ke arah gadis berbaju merah itu, dia pun
telah menghimpun
seluruh kekuatan dan tenaganya untuk bersiap sedia, tampaknya dia
tahu jurus serangan yang hendak dilepaskan
Bong Thian-gak
itu merupakan jurus
serangan yang menakutkan.
Bong
Thian-gak memejamkan mata, tetapi ia terus mengikuti
pergeseran badan si gadis berbaju merah itu, tampaknya dia sudah
mengincar korbannya secara jitu dan telak.
Suasana tempat itu
diliputi keheningan, hawa membunuh yang mengerikan membuat suasana
terasa menegangkan.
Sepasang kaki nona
berbaju merah sudah saling silang, bagaikan siput yang berjalan
saja, pelan-pelan dia bergeser menuju ke arah sebelah kiri, wajahnya
telah basah oleh butiran keringat sebesar kacang kedelai.
Tampaknya gerakan
semacam itu cukup memeras tenaga maupun pikiran kedua belah pihak.
Mendadak terdengar
gadis berbaju merah menghela napas sedih, kemudian ujarnya,
"Sudahlah, kita tak usah bertarung lebih jauh, aku mengaku kalah
saja!"
Sembari berkata dia
segera menarik kembali sepasang telapak tangannya.
Akan tetapi
Bong Thian-gak masih tetap
memejamkan mata rapat-rapat. Seluruh pikiran, perasaan dan hawa
murninya telah terhimpun menjadi satu, dia tak menjawab atau pun
bergerak.
Menyaksikan keadaan
itu, paras nona berbaju merah itu berubah hebat, tampaknya dia
terkejut bercampur takut, segera serunya lagi, "Untuk bertanding,
biasanya orang hanya membatasi sampai saling menutul saja, apakah
kau baru puas setelah membinasakan diriku?"
Ho Put-ciang dan Thia
Leng-juan yang mendengar perkataan itu mengerut dahinya rapat-rapat,
mereka berdua saling pandang sekejap, kemudian bibir bergerak
seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu
diurungkan.
Keadaan
Bong Thian-gak waktu itu tak jauh
berbeda dengan seorang pendeta yang sedang bersemedi dan lupa
segala-galanya, dia seperti tidak mendengar perkataan gadis berbaju
merah itu.
Melihat hal itu, nona
berbaju merah terkejut bercampur gugup, mendadak saking gelisahnya,
dia langsung menangis tersedu-sedu, serunya dengan suara iba, "Kau
jangan membunuh aku, kau jangan membunuh diriku
... cepat kau tarik kembali
seranganmu itu ...."
Perubahan ini membuat
Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan bingung setengah mati, "Benarkah
Bong Thian-gak hendak
membunuhnya? Sekali pun nona ini adalah anggota Put-gwa-cin-kau,
tidak seharusnya dia membinasakan dirinya?
Isak tangis nona
berbaju merah makin memilukan, bagaimana pun juga suara tangisan
gadis cilik memang gampang membangkitkan perasaan iba orang lain.
Siapa pun yang
menyaksikan kejadian ini, lambat-laun hatinya akan menjadi lembek
juga.
Akhirnya Ho Put-ciang
menghela napas panjang, serunya, "Ko-siauhiap, tariklah kembali
ilmumu itu!"
Ketika mendengar
suara Ho Put-ciang itulah Bong
Thian-gak membuka kembali sepasang matanya.
Tapi di saat yang
sangat singkat itulah mendadak nona berbaju merah melejit ke tengah
udara, kemudian dengan gerakan yang amat cepat bagaikan sambaran
kilat dia berkelebat melalui atas kepala Thia Leng-juan dan
melarikan diri dari situ.
Bong
Thian-gak membentak, sepasang telapak tangannya dari
kiri kanan segera diayun ke tengah udara melepaskan pukulan dahsyat.
Terasa segulung angin
lembut berhembus, tahu-tahu gadis berbaju merah sudah berada sejauh
tujuh-delapan tombak, kemudian dengan sekali lompatan, bayangan
tubuhnya sudah lenyap di balik kegelapan sana.
Bong
Thian-gak menjadi gusar, segera ia menyumpah, "Aku
sudah tahu
dia bakal kabur, ternyata
akhirnya termakan juga oleh siasat busuknya!"
Ho Put-ciang dan Thia
Leng-juan sekali lagi saling pandang
sekejap,
mereka saling membungkam, sementara paras mukanya dilapisi
rasa
malu dan menyesal.
Setelah menghela
napas panjang, kata Ho Put-ciang, "Semuanya j;ara-gara
aku, coba kalau aku tidak iba, tak mungkin dia dapat lolos dari
sini,
aku benar-benar telah
berbuat salah, aku telah membuat Ko-Siauhiap
kecewa."
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, setelah ditatapnya
wajah Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan sekejap,
katanya kemudian, "Ho-beng-cu
tak usah terlalu
menyalahkan diri sendiri, ya, sesungguhnya
isak pekannya memang amat memelas
hati, sekali pun orang yang berhati baja pun pasti akan iba
mendengarnya, ai ... tiap
anggota Put-gwa-cin-kau rata-rata licik bagaikan
rase, nampaknya dunia persilatan
benar-benar sudah terancam oleh mara bahaya besar."
"Ko-heng, apa kau
yakin perempuan tadi anggota Put-gwa-cin-kau?" tanya Thia Leng-juan
dengan wajah serius.
Bong
Thian-gak menggeleng, "Aku tak berani memastikan, tapi
sembilan puluh persen dia adalah orang penting dalam
Put-gwa-cin-kau, bila dugaanku tidak keliru, gadis berbaju merah
yang masih muda belia tadi adalah Kiu-kaucu."
Thia Leng-juan
menghela napas, "Ai, kalau begitu percuma saja kita membunuh
Sam-kaucu, mata-mata dalam Bu-lim Bengcu-hu juga tak bisa dibasmi
secara tuntas!"
Bong
Thian-gak turut menghela napas, "Ai, semua ini
gara-gara diriku yang kurang tegas, coba kalau aku tega melancarkan
serangan ganas, tak mungkin dia kabur dari sini. Yang penting
sekarang kita harus segera kembali dulu ke gedung Bu-lim Bengcu dan
menceritakan segala peristiwa ini kepada Ku-lo Locianpwe, kemudian
kita baru berunding menyusun rencana berikutnya."
Maka ketiga orang itu
pun segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh kembali ke gedung
Bu-lim Bengcu.
Waktu itu sudah
mendekati tengah malam, Ho Put-ciang, Thia Leng-juan dan
Bong Thian-gak langsung menuju ke
loteng di sebelah timur.
Baru saja mereka
bertiga tiba di bawah loteng, cahaya lampu sudah muncul dalam
ruangan, tampak Ku-lo Sinceng telah menunggu di depan mulut tangga
dengan wajah serius.
Ho Put-ciang bertiga
pun membungkam, mereka buru-buru naik ke atas loteng.
Tampaknya Ku-lo
Sinceng sudah tidak sabar menunggu lebih jauh, ia menegur,
"Bagaimana dengan tugas kalian?"
Hu Put-ciang menghela
napas panjang, "Ai, gara-gara Wanpwe bersikap teledor, usaha kita
selama ini sia-sia belaka."
Dengan cepat keempat
orang itu sudah duduk dalam ruang tamu, secara ringkas dan jelas Ho
Put-ciang menceritakan semua peristiwa yang telah berlangsung kepada
Ku-lo Sinceng.
Selesai mendengar
cerita itu, Ku-lo Sinceng memejamkan mata sambil termenung sejenak,
kemudian pelan-pelan berkata, "Ho-hiantit sekalian berhasil membunuh
Sam-kaucu, berarti usaha kalian sukses besar, mengapa dibilang usaha
kalian sia-sia belaka? Gadis berbaju merah memang di luar dugaan
siapa pun, tidak tahu bagaimana harus menghadapi, apalagi kalian
telah mengerahkan segenap kemampuan."
Bong
Thian-gak menghela napas, segera katanya pula, "Semakin
Locianpwe tidak menegur, Wanpwe justru merasa semakin menyesal!"
Ku-lo Sinceng
menggeleng kepala berulang kali, "Perkataan Ko-siauhiap kelewat
serius, mengenai kemunculan gadis berbaju merah itu membuat Pinceng
menemukan suatu petunjuk yang berharga sekali, mungkin petunjuk itu
jauh lebih penting artinya daripada melenyapkan kaum mata-mata di
gedung Bengcu ini."
"Kalian harus tahu,
mata-mata yang diselundupkan ke dalam gedung Bengcu ini adalah orang
pintar, tapi orang yang paling penting seperti Sam-kaucu yang
menyaru sebagai Pinceng kini telah berhasil dilenyapkan, aku pikir
sisanya sudah tidak mempunyai arti yang amat penting, sebab sisa
mata-mata yang berada dalam gedung ini cepat atau lambat akan
menampakkan wujudnya masing-masing dan berusaha kabur dari sini."
Dengan serius Thia
Leng-juan bertanya, "Ku-lo Supek, kau telah berhasil menemukan
petunjuk penting?"
Ternyata pendekar
sastrawan dari Im-ciu ini adalah murid Sute Ku-lo Hwesio yang
merupakan orang pereman, oleh karena itu dia memanggil Supek kepada
Ku-lo Hwesio.
Pendeta agung itu
termenung sejenak, lalu berkata, "Asal kita dapat membuktikan gadis
berbaju merah itu adalah anggota Put-gwa-cin-kau, ini membuktikan
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau mempunyai hubungan yang sangat erat
dengan perguruan Mi-tiong-bun di Tibet."
Bicara sampai di
situ, Ku-lo Sinceng mengalihkan sorot matanya yang tajam ke wajah
Bong Thian-gak, kemudian
lanjutnya lebih jauh, "Ko-siauhiap, apakah kau dapat menerangkan
dari siapa mempelajari ilmu sakti perguruan Mi-tiong-bun itu?"
Bong
Thian-gak menghela napas sedih, "Dia adalah seorang
kakek penyendiri yang keempat anggota tubuhnya cacat, Wanpwe tidak
tahu nama serta asal-usul orang tua itu, dia memiliki ilmu silat
sangat hebat, hampir semua ilmu berbagai perguruan dapat diyakinkan
olehnya."
"Dia orang tua sudah
meninggal dunia, Wanpwe berkumpul selama tujuh tahun lamanya dengan
orang itu, dia meninggal pada tiga bulan berselang."
"Tokoh sakti itu
sudah cacat keempat anggota badannya, tapi Ko-siauhiap yang cuma
menerima pelajaran teori darinya pun sudah berhasil memiliki
kepandaian silat begini sempurna, sudah jelas ilmu silat orang itu
hebat sekali," kata Ho Put-ciang.
Bong
Thian-gak tersenyum.
"Sebelum aku bertemu
dengannya, aku sudah pernah berguru selama belasan tahun, oleh
karena itu meskipun hanya mendapat teori saja dari Suhuku yang kedua
ini, sedikit banyak rahasia ilmu silatnya berhasil juga kupahami."
"Ko-siauhiap,
tampaknya kemujuran orang memang tak dapat diminta, secara beruntun
kau dapat memperoleh didikan dari dua orang guru kenamaan, hal itu
patut diberi ucapan selamat."
Pelan-pelan
Bong Thian-gak mengangkat kepala,
lalu memandang sekejap ke arah Ku-lo Sinceng, katanya, "Semua
perkataan yang Wanpwe ucapan adalah kata-kata jujur dan sama sekali
tidak bohong. Tentang ilmu silat aliran Mi-tiong-bun, setahuku
kepandaian mereka tak pernah diwariskan kepada orang luar, Wanpwe
tahu jelas akan hal ini. Si kakek yang menyendiri itu pun bukan anak
murid Mi-tiong-bun, namun ilmu silat yang diketahuinya sangat luas,
bahkan ilmu sakti Siau-lim-pay juga diketahuinya dengan jelas."
"Wanpwe dan dia orang
tua hidup bersama dalam gua di sebuah lembah, tujuh tahun lamanya
hidup berdampingan, meski sudah kuusahakan dengan segala cara untuk
mencari tahu asal-usul orang tua itu, namun usahaku itu tak pernah
berhasil."
"Kalau begitu dendam
Sicu terhadap Put-gwa-cin-kau merupakan masalah gurumu yang
pertama?" tiba-tiba Ku-lo Sinceng bertanya.
Bong
Thian-gak mengangguk, "Tepat dugaan Locianpwe."
Ku-lo Sinceng
menghela napas dalam-dalam.
"Ai
... apakah Sicu bersedia melukiskan
bagaimanakah raut wajah orang sakti itu?" pintanya.
"Sewaktu aku bertemu
dengan Suhuku yang kedua ini, dia sudah berdiam cukup lama di dalam
gua itu, badannya sudah tersiksa hingga tinggal kulit pembungkus
tulang, sehingga pada hakikatnya sukar untuk dilukiskan bagaimanakah
raut wajahnya."
"Dia tak pernah
menjelaskan cara bagaimana keempat anggota badannya itu menjadi
cacat kepadamu?" tanya Ku-lo Sinceng dengan kening berkerut kencang.
Bong
Thian-gak menghela napas panjang.
"Sesaat sebelum
meninggal, dia orang tua hanya mengucapkan beberapa patah kata saja,
'Selama hidup Lohu sudah banyak melakukan kejahatan, terpengaruh
oleh napsu sendiri sehingga menggunakan cara yang keji dan licik
untuk memperoleh nama, pahala dan kekayaan, tapi akhirnya tujuh
puluh tahun hidupku hanya terkurung percuma
... ai dendam kesumat dalam Bu-lim
memang tak pernah berakhir, hukum karma selalu berlaku atas
dosa-dosaku ini, Lohu harus merasa tersiksa selama tiga puluh tahun,
hukuman memang tak akan pernah terhindar dariku
....'."
Sampai di situ,
Bong Thian-gak berhenti
sejenak, lalu sambungnya lebih jauh, "Di saat dia menghembuskan
napas yang penghabisan itulah dia orang tua berkata lagi padaku,
'Kau ... kau adalah orang
kedua yang pernah mendapat warisan ilmu silat dariku, semoga kau
dapat baik-baik mempergunakannya ....'."
Thia Leng-juan
menyela bertanya, "Siapakah orang pertama?"
Bong
Thian-gak tertawa getir. "Bila aku mengetahui hal ini,
berarti aku
akan mengetahui asal-usul Suhuku yang
kedua," jawabnya.
Pelan-pelan Thia
Leng-juan menggelengkan kepala berulang-kali, }\yimamnya,
"Tak kusangka di dunia ini terdapat banyak orang dan Kejadian aneh."
"Di saat guruku yang
kedua meninggal dunia, dia berusia tujuh puluh tahun, dari
kata-katanya menjelang ajal, peristiwa tragis itu terjadi
saat
dia berusia tiga puluh
tahun, keempat anggota badannya menjadi cac
at dan harus hidup menyepi
di gua kematian dalam lembah terpencil, Ku-lo
Locianpwe, dapatkah kau merenungkan jago persilatan manakah
yang mirip dengan pengalaman guruku yang
kedua ini."
Di saat
Bong Thian-gak selesai menuturkan
pesan terakhir gurunya tadi, Ku-lo Hwesio sudah memejamkan mata
termenung.
Tak lama kemudian,
dia baru membuka matanya dan menjawab dengan suara dalam, "Jago
persilatan yang paling termasyhur pada waktu itu adalah Bu-lim
Bengcu Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu, lalu Pak-hiap (pendeta
dari utara) Thian-kay Lojin, Say-pit-ceng Ih Hoan, Mo-kiam-sin-kun
To Tian-seng serta perempuan
paling cantik di wilayah Kanglam Ho Lan-hiang...."
Sampai di sini,
kembali Ku-lo Hwesio memejamkan mata rapat-rapat, kemudian baru
melanjutkan, "Dari kelima orang ini, hampir boleh dibilang mereka
tidak pernah melakukan kejahatan besar, dari usia mereka,
Say-pit-ceng Ih Hoan dan Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng yang agak
mendekati, lagi pula asal-usul mereka memang sangat misterius."
Mendengar ini,
Bong Thian-gak segera mengerut dahi,
katanya kemudian, "Mungkinkah Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng? Tapi
waktu Tio Tian-seng terjun ke dunia persilatan baru berusia dua
puluh enam tahun, ditambah tiga puluh tujuh tahun berarti usianya
sekitar enam puluh lima tahun!"
"Kalau dibilang
Say-pit-ceng Ih Hoan," sela Ku-lo Hwesio, "pada tiga puluh tujuh
tahun lalu dia telah berusia empat puluh tahun, berarti dia berusia
tujuh puluh tahun lebih."
"Selain kelima orang
ini, apakah masih ada orang yang pantas dicurigai?"
"Masih ada empat
orang buas lagi, mereka adalah To-ci-kim-kong (Malaikat raksasa
berjari tunggal) Lui Ko
Hoatsu, Jian-bin-hu-li (Rase
berwajah seribu) Ban Li-biau, Thian-san-him-ong (Raja beruang dari
Thian-san ) Ho Lak serta
Hiat-bin-mo (Setan muka darah) Si Jit-ciang
...."
"Tapi dari keempat
orang itu, ada tiga orang di antaranya telah dibunuh oleh Suhu,"
timbrung Ho Put-ciang cepat.
"Siapakah di antara
mereka yang tidak berhasil dibunuh Oh-bengcu almarhum?" cepat
Bong Thian-gak bertanya.
"Jian-bin-hu-li Ban
Li-biau!"
"Kejahatan apa saja
yang pernah dilakukan olehnya?"
Ku-lo Hwesio menghela
napas sedih, katanya pelan, "Tiga puluh tujuh berselang, Ban Li-biau
merupakan tokoh penjahat ulung dunia persilatan, selain memperkosa,
membunuh, mencuri dan merampok dia pun sering melakukan perbuatan
jahat lainnya, hingga menimbulkan amarah segenap umat persilatan
waktu itu, semua orang bergabung untuk bersama-sama menghabisi orang
ini...." "Bagaimana
akhirnya?"
Ku-lo Hwesio menghela
napas panjang, "Sama sekali tiada kabar beritanya."
"Mengapa?"
"Ban Li-biau berjuluk
Jian-bin-hu-li, membuktikan kecerdikan dan kelicikannya, selain itu
dia pun pandai menyaru dan berganti muka, jarang ada orang di Bu-lim
yang pernah melihat wajah aslinya, mana mungkin orang dapat
membekuknya untuk dijatuhi hukuman? Untung tiga puluh tahun lalu
Jian-bin-hu-li sudah lenyap."
Bong
Thian-gak menghela napas sedih, "Ai
... sungguh tidak kusangka Suhuku
yang kedua adalah Jian-bin-hu-li Ban Li-biau!"
"Apakah Ko-siauhiap
yakin akan dia?" tanya Ho Put-ciang.
"Dari ucapan dia
orang tua menjelang ajal serta rasa tobatnya dari kejahatan yang
pernah dilakukan, hal ini membuktikan dia adalah Jian-bin-hu-li Ban
Li-biau ...."
Ku-lo Hwesio turut
menghela napas, "Betul, guru kedua Ko-siauhiap mungkin sekali adalah
Ban Li-biau, sebab kecuali dia, tiada orang kedua di dunia ini yang
bisa dicurigai!"
"Sebenarnya Pinceng
menduga Jian-bin-hu-li adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, kalau
dipikirkan sekarang, kemungkinan besar Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau
adalah orang lain."
Ketika selesai
mengucapkan perkataan itu, paras muka Ku-lo Sinceng kembali berubah
serius dan kereng, jelas benak Ku-lo Hwesio sekarang sedang dipenuhi
persoalan lain.
Karena kecurigaan
atas Jian-bin-hu-li Ban Li-biau sebagai pentolan
Put-gwa-cin-kau gugur, dia berusaha
memeras otak dan menduga lagi siapa gerangan orang yang cocok untuk
dicurigai sebagai pentolan Put-gwa-cin-kau
itu.
Bong
Thian-gak memahami perasaan Ku-lo Sinceng sekarang,
maka dengan perasaan berat semua orang pun bungkam.
Selang beberapa saat
kemudian, barulah terdengar Ku-lo Hwesio hrrkata dengan lembut,
"Fajar sudah menjelang tiba, kalian bertiga pergilah beristirahat
dulu!"
Ho Put-ciang
bertanya, "Ku-lo Supek, tolong tanya perlukah kita mengumumkan
kepada para jago tentang peristiwa Sam-kaucu itu?"
"Lebih baik kita
merahasiakan dulu persoalan ini, tunggu sampai tiba kesempatan yang
lebih cocok sebelum diumumkan."
"Tapi
...." Ho Put-ciang menunjukkan
keraguannya. "Kehadiran Ko-siauhiap dalam gedung Bu-lim Bengcu ini...."
"Oya
... hampir saja Pinceng lupa, antara
Ko-sicu dengan para pendekar telah terjadi perselisihan
... padahal kehadiran para pendekar
ke gedung Bu-lim Bengcu pun hanya untuk berbela-sungkawa atas
kematian Oh-bengcu, sedang jenazah Oh-bengcu pun telah diputuskan
untuk disimpan dalam gedung es, Pinceng rasa para jago persilatan
boleh membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing, lebih baik
besok siang kita umumkan segala sesuatunya pada mereka, di samping
mengumumkan peristiwa Sam-kaucu, juga menjelaskan kepada para jago
yang hendak menangkap Ko-siauhiap."
"Ku-lo Supek, tolong
tanya apa tindakan kita selanjutnya untuk menghadapi
Put-gwa-cin-kau?" tanya Thia Leng-juan pula.
Ku-lo Hwesio menghela
napas panjang, "Kini bencana telah meluas di seluruh dunia
persilatan, terpaksa bertemu satu membunuh satu, kita berusaha terus
menumpas mereka sampai ludes."
"Kalau memang
demikian, bukankah Jit-kaucu kini berada dalam kota Kay-hong,
mengapa kita tidak ke situ untuk membekuknya?"
Dengan suara dalam
Ku-lo Hwesio berkata, "Mengenai Jit-kaucu, hampir Lolap lupa
meninggalkan pesan, perempuan ini telah berhasil memiliki ilmu
Soh-li-jian-yang-sin-kang, boleh dibilang kepandaiannya sudah tiada
tandingan lagi di dunia ini, bila kalian bertemu dengannya, lebih
baik menyingkir, jangan coba menghadapi dengan kekerasan."
Mendengar itu, Thia
Leng-juan tertegun. "Supek, memangnya kita harus duduk diam menunggu
kematian dan membiarkan Jit-kaucu datang mencari kita?" serunya.
Mencorong tajam mata
Ku-lo Hwesio.
"Sudah delapan tahun
lamanya Pinceng duduk menutup diri dalam ruangan, Lolap sudah
bertekad menaklukkannya."
"Locianpwe, caramu
menaklukkannya berarti kerugian besar bagi umat persilatan?"
tiba-tiba Bong Thian-gak
menimbrung dari samping.
Diam-diam Ku-lo
Hwesio terperanjat mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian, "Masa
dia dapat menebak suara hati Lolap?"
Pada saat itulah Thia
Leng-juan bertanya lagi, "Supek, apakah kau hendak menghadapi
Jit-kaucu seorang diri?"
"Menurut apa yang
Lolap ketahui, di dunia dewasa ini tiada orang kedua yang bisa lolos
dari pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang itu tanpa menemui ajal."
"Supek, kalau engkau
harus bertarung melawan Jit-kaucu dan seandainya terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan ...."
Thia Leng-juan tak mampu melanjutkan kata-katanya, dia bungkam
dengan sedih.
Ku-lo Hwesio tertawa
getir, "Setelah melakukan penyelidikan selama delapan tahun, Pinceng
percaya musuh pun takkan memperoleh keuntungan apa-apa."
Mendadak Thia
Leng-juan bertanya lagi, "Apakah Supek telah menulis surat tantangan
untuk berduel dengan Jit-kaucu? Harap Supek jangan merahasiakan
persoalan ini kepada kami...."
Begitu ucapan itu
diutarakan, Bong Thian-gak
dan Ho Put-ciang amat terperanjat, mereka membelalakkan mata
lebar-lebar dan menanti jawaban Ku-lo Hwesio.
Agak emosi Ku-lo
Hwesio menjawab, "Lolap tidak menulis surat tantangan terhadap
Jit-kaucu, tetapi telah menetapkan hari kematian untuk Pinceng."
"Apakah maksud
perkataanmu itu?" tanya Bong
Thian-gak dengan terkejut.
Dari dalam sakunya
Ku-lo Hwesio mengeluarkan sepucuk surat dan diletakkan di bawah
sinar lentera, kemudian ujarnya, "Surat ini baru kuterima setengah
jam sebelum kalian pulang kemari."
Sementara itu
Ho Put-ciang, Thia Leng-juan dan
Bong Thian-gak hersama-sama
mengalihkan sorot matanya ke atas surat itu.
Di atas kertas tadi
tercantum beberapa kalimat yang berbunyi:
Kepada yang terhormat Ku-lo Taysu dari
Siau-lim-si. Kematian Sam-kaucu merupakan tanggung-jawabku, apabila
Cong-kaucu menegur, akulah yang mendapat hukuman.
Oleh sebab itu
kumohon kepada Taysu agar berbelas kasihan dengan
mengakhiri hidupmu
dalam tiga hari mendatang atau pada malam hari keempat aku akan
datang merenggut nyawamu. Tertanda: Jit-kaucu Put-gwa-cin-kau
Selesai membaca surat
itu, Ho Put-ciang bertiga menjadi gusar dan terkejut.
Sambil tertawa dingin
Bong Thian-gak berkata,
"Sungguh amat besar nada bicara orang ini!"
Thia Leng-juan
termangu beberapa saat, kemudian tanyanya, "Dengan cara bagaimana
surat ini disampaikan kemari?"
"Waktu itu Pinceng
sedang duduk bersemedi di atas loteng, kudengar ada dua orang
pejalan malam sedang melintas, menyusul dari balik jendela melayang
masuk sepucuk surat. Waktu itu Pinceng agak ragu sejenak, ternyata
si pengantar surat itu telah pergi, Ginkangnya tak malu disebut
sebagai jagoan wahid di kolong langit."
Bong
Thian-gak berkerut kening.
"Ketika si nona
berbaju merah Ni Kiu-yu melarikan diri, jaraknya dengan waktu kita
pulang cuma setengah jam, bagaimana mungkin ia bisa melapor lebih
dulu berita kematian Sam-kaucu ini kepada Jit-kaucu?" gumamnya.
Begitu nama Ni Kiu-yu
disinggung, Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan turut merasakan suatu
keanehan.
"Tatkala kalian
sedang menuturkan pertarungan melawan Sam-kaucu tadi, Lolap sudah
merasa curiga," kata Ku-lo Hwesio, "Mungkin Jit-kaucu juga turut
menyaksikan terbunuhnya Sam-kaucu dari atas pagoda Leng-im-po-tah,
namun dia tidak muncul, di saat kalian sedang berusaha menangkap
gadis berbaju merah itu, dia berangkat ke gedung Bengcu."
Thia Leng-juan
manggut-manggut.
"Ya benar,
kemungkinan memang begitu, namun sewaktu kami kembali ke pagoda
Leng-im-po-tah untuk menangkap gadis berbaju merah itu, sama sekali
tidak kujumpai ada orang melarikan diri dari situ," serunya
kemudian.
"Atau kemungkinan
juga Jit-kaucu sudah tahu kita hendak turun tangan membunuh
Sam-kaucu," kata Ku-lo Hwesio.
"Bukankah persoalan
ini hanya diketahui kita berempat? Siapa yang membocorkan rahasia
ini?" tanya Bong Thian-gak.
"Tentu saja tak ada
orang yang membocorkan rahasia itu. Mungkin jejak Lolap sudah
diketahui oleh Jit-kaucu dan dia pun telah dapat membedakan mana
yang asli dan mana yang gadungan!"
Bong
Thian-gak menghela napas.
"Ai...
benar. Dari tulisan Jit-kaucu, tampaknya dia sudah tahu
kita berencana membunuh Sam-kaucu ...."
Ku-lo Hwesio berkata
lebih lanjut, "Kehadiran gadis berbaju merah di pagoda
Leng-im-po-tah pun sudah pasti bukan suatu peristiwa yang kebetulan,
mungkin sekali sedang melaksanakan perintah Jit-kaucu untuk memberi
bantuan, sayang kedatangannya terlambat satu langkah dan Sam-kaucu
telah tewas dipukul Ko-siauhiap."
Ho Put-ciang menghela
napas panjang. "Ai, kalau begitu tindakan kita melepas gadis berbaju
merah dari Leng-im-po-tah merupakan suatu Undakan yang keliru
besar," keluhnya.
"Yang sudah lewat
biarlah lewat, kita tak usah menyinggungnya! Sedangkan mengenai
tantangan Jit-kaucu, Pinceng bermaksud untuk menghadapinya seorang
diri, itulah sebabnya aku tidak berniat memberitahukan kepada
kalian."
Bong
Thian-gak merasa darah panas dalam dada bergolak keras,
serunya kemudian, "Locianpwe, soal tantangan Jit-kaucu, biar Wanpwe
saja yang mewakili."
Ku-lo Hwesio
tersenyum.
"Ko-siauhiap gagah
dan mempunyai ilmu tinggi, dengan masa depan panjang, selain
Jit-kaucu jangan lupa, masih ada Cong-kaucu yang merupakan musuh
kita paling tangguh."
"Supek, Tecu mohon
agar akulah yang pergi memenuhi janji itu," pinta Thia Leng-juan.
Kembali Ku-lo Hwesio
menggeleng kepala berulang-kali.
"Thia-hiantit, ilmu
silat yang kau miliki sekarang sudah mencapai tingkatan luar biasa
dan jauh mengungguli gurumu, tapi ilmu pukulan
Soh-li-jian-yang-sin-kang dari
Jit-kaucu bukanlah ilmu silat biasa!"
"Ku-lo Supek,
bagaimana rencanamu menyambut tantangan Jit-kaucu itu?" Ho Put-ciang
bertanya.
Ku-lo Hwesio
menggeleng kepala berulang-kali.
"Pinceng jelas belum
mengambil keputusan, tapi sudah pasti dalam empat hari ini...."
Berbicara sampai di
sini, dia berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, "Soal pertarungan
Lolap melawan Jit-kaucu, harap kalian tak usah risau, terus terang
Lolap sudah mempunyai rencana cukup matang."
"Jika Ku-lo Supek
menghadapi musuh sendirian, bisa jadi musuh akan menggunakan cara
kita membunuh Sam-kaucu ...."
Mendengar perkataan
Ho Put-ciang itu, paras muka Ku-lo Hwesio berubah hebat, selanya,
"Pinceng pun telah mempertimbangkan hal ini, harap Ho-hiantit tak
usah kuatir."
"Tapi aku benar-benar
tidak tenang ...."
Kentongan kelima
sudah berbunyi, dari luar jendela sana tampak cahaya api sudah
memancar menembus kegelapan, malam yang panjang pun telah berakhir.
Pelan-pelan Ku-lo
Hwesio bangkit, berjalan ke sisi jendela dan menarik napas panjang,
kemudian pelan-pelan ujarnya, "Sejak Oh Ciong-hu menjabat sebagai
Bu-lim Bengcu, dunia persilatan telah melewatkan masa yang tenang
dan aman, namun setiap kejadian di dunia ini seakan-akan mempunyai
masa berlaku, sebab Thian telah mengatur semua kejadian ini untuk
kita. Sekali pun Lolap mungkin akan mati dalam pertarungan ini,
namun setelah terjadinya perubahan di Bu-lim, sudah pasti akan
muncul seorang penolong yang akan menenteramkan kekacauan dan
melenyapkan semua kejahatan dari muka bumi...."
Sampai di sini, dia
membalikkan badan dan duduk kembali di atas kasurnya, setelah itu
katanya lebih jauh, "Ko-siauhiap, Ho-hiantit, Thia-hiantit, kalian
bertiga merupakan tonggak dunia persilatan di masa mendatang, jaya
atau kacaunya dunia persilatan di kemudian hari, keadilan dan
kebenaran di dunia ini tergantung pada perjuangan kalian, oleh sebab
itu keselamatan kalian jauh lebih penting daripada orang lain, aku
minta kalian jangan bertindak hanya karena dorongan emosi."
"Kalian harus tahu,
seorang Tay-enghiong, Tay-ho-kiat banyak membutuhkan persyaratan,
bukan terbentuk mengandal keberanian saja, contoh yang jelas, di
masa Sam-kok dulu, Lu Poh paling berani, tapi dia berani tanpa
disertai rencana yang matang sehingga tak lebih hanya seorang
panglima kasar. Sebagai seorang Enghiong sejati dibutuhkan
penyesuaian diri dengan keadaan, bisa maju bisa pula mundur, bisa
keras bisa juga lunak, segalanya harus diatur dengan perencanaan
jangka panjang yang sempurna."
Nasehat Ku-lo Hwesio
ini kontan membuat beban pikiran Ho Put-ciang, Thia Leng-juan dan
Bong Thian-gak semakin berat,
lamat-lamat mereka merasakan suatu firasat jelek yang sudah
menjelang datang di hadapan mereka.
"Nah, sekarang kalian
boleh pergi beristirahat!" Ku-lo Hwesio mengakhiri kata-katanya.
Maka Ho Put-ciang
bertiga pun memberi hormat kepada Ku-lo Hwesio dan mengundurkan
diri, mereka menuju ke loteng sebelah barat.
Setelah masuk ke
dalam ruang tamu, Pa-ong-kiong Ho Put-ciang yang pertama-tama
berkata, "Ku-lo Supek telah memutuskan untuk menghadapi Jit-kaucu
seorang diri, dari nada suaranya, dia orang tua telah bertekad untuk
mengorbankan diri demi terwujudnya cita-cita yang luhur, sekarang
bagaimana baiknya?"
"Yang kita kuatirkan
Jit-kaucu merencanakan suatu pengeroyokan, atau menggunakan siasat
busuk untuk mencelakainya," kata Thia Leng-juan mengemukakan pula
rasa kuatirnya.
Pelan-pelan
Bong Thian-gak berkata, "Yang perlu
kita ketahui sekarang adalah kapan dan dimanakah Ku-lo Locianpwe
menerima tantangan dari Jit-kaucu?"
"Bagaimana cara kita
mengetahuinya?" keluh Ho Put-ciang sedih.
"Mulai sekarang,
secara bergilir kita harus mengawasi gerak-gerik Ku-lo Locianpwe,
bila ia menunjukkan suatu tindakan, kita harus segera
mengetahuinya."
"Benar," kata Thia
Leng-juan. "Dengan demikian bisa dicegah pihak lawan melakukan
pengerubutan."
Tapi Ho Put-ciang
menggeleng kepala, ujarnya, "Mendengar nasehat terakhir Ku-lo Supek
tadi, lamat-lamat aku punya firasat dia lelah menyadari bahwa
pertempuran ini lebih banyak bahayanya bagi
dia daripada keberuntungan
...."
Bong
Thian-gak menghela napas, "Jauh pada delapan tahun
berselang, Ku-lo Locianpwe pernah menerima serangan Jit-kaucu,
mungkin selama delapan tahun ini dia orang tua telah menyelidiki dan
mendalami ilmu untuk melawan Soh-li-jian-yang-sin-kang, kalau dia
orang tua sampai menderita kekalahan di tangan Jit-kaucu, siapa lagi
di Bu-lim dewasa ini yang mampu menandingi perempuan ini?"
"Bagaimana pun juga
Jit-kaucu harus dilenyapkan, cepat atau lambat Ku-lo Locianpwe juga
akan berhadapan dengannya, hanya soal waktu saja, mungkin
pertarungan ini berlangsung jauh lebih awal."
"Thia-heng,
Ko-siauhiap, harap kalian beristirahat dulu, biar aku yang mengawasi
gerak-gerik Ku-lo Supek dari sini," ujar Ho Put-ciang kemudian.
"Ho-bengcu, bila kau
ada urusan silakan saja, aku belum berminat tidur," sahut
Bong Thian-gak.
Meskipun pertarungan
sengit yang berlangsung semalam amat memeras tenaga dan semua orang
merasa lelah sekali, tapi setiap orang sedang dicekam perasaan
tegang dan berat, maka Bong
Thian-gak bertiga sama sekali tidak beristirahat.
Tengah hari itu Ho
Put-ciang mengumpulkan semua jago dunia persilatan beserta
Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui dan Oh Cian-giok, untuk mengumumkan
penyaruan Sam-kaucu sebagai Ku-lo Sinceng serta perubahan situasi
dunia persilatan akhir-akhir ini.
Sebagai kesimpulan
terakhir, para jago yang diwakili sembilan partai besar mengutus
Goan-ko Taysu dari Siau-lim-pay, Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay,
Wan-pit-kim-to (Golok emas berlengan monyet) Ang Thong-lam dari
Tiam-jong-pay dan Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong dari
Khong-tong-pay untuk berdiam dalam gedung Bu-lim Bengcu guna
membantu Ho Put-ciang membangun kembali pamor Bu-lim Bengcu atau
persekutuan dunia persilatan.
Sedangkan yang lain
kembali ke partai masing-masing untuk melaporkan keadaan kepada
ketua masing-masing, di samping secara diam-diam membersihkan
mata-mata Put-gwa-cin-kau yang menyusup dan meningkatkan kewaspadaan
untuk menghadapi setiap bentrokan yang mungkin meletus dengan pihak
Put-gwa-cin-kau.
Sejak itu sembilan
partai dunia persilatan dalam sehari saja telah berubah menjadi
kelompok kekuatan yang maha dahsyat dan sanggup menghadapi segala
perubahan yang mungkin terjadi.
Mengenai tantangan
Jit-kaucu kepada Ku-lo Sinceng, kecuali
Bong Thian-gak, Thia Leng-juan dan Ho Put-ciang, yang
lain tidak diberitahu.
Waktu berlalu dengan
cepat, tiga hari sudah lewat, suasana dalam gedung Bu-lim Bengcu pun
tenang, namun ratusan manusia yang berada dalam gedung itu tak
sedikit pun merasa tenang.
Terutama
Ho Put-ciang, Thia Leng-juan dan
Bong Thian-gak, selama
beberapa hari ini paras muka mereka kelihatan kusut dan sayu.
Ku-lo Hwesio dari
Siau-lim-si juga tak pernah meninggalkan loteng sebelah timur barang
selangkah pun selama tiga hari ini.
Bong
Thian-gak bertiga berada di bangunan sebelah barat,
dapat menyaksikan keadaan Ku-lo Hwesio dengan jelas, ia masih tetap
duduk bersila di atas kasur duduknya dengan tenang.
Matahari senja telah
condong ke barat, kabut malam pun lambat-laun menyelimuti angkasa.
Kini Ho Put-ciang, Thia
Leng-juan dan Bong Thian-gak
telah berkumpul di atas loteng sebelah barat.
Sambil menghela napas
panjang, Ho Put-ciang berkata, "Malam ini Ku-lo Supek tidak memasang
lentera, jelas hendak melakukan tindakan pada malam ini."
"Ya, batas waktu yang
diberikan Jit-kaucu bagi Ku-lo Supek untuk bunuh diri akan berakhir
tengah malam nanti," sambung Thia Leng-juan.
Mendadak
Bong Thian-gak menyela, "Mulai
sekarang, kita bertiga harus memisahkan diri mengawasi tempat itu
dari tempat terpisah."
Maka mereka bertiga
pun segera keluar. Mereka berdandan sebagai pengawal gedung dan
berpencar melakukan pengawasan.
Bong
Thian-gak berada di balik kegelapan di sudut gedung
sebelah barat laut.
Malam ini rembulan
memancarkan sinar terang, membuat suasana tidak terlalu gelap,
pemandangan pada radius seratus kaki masih dapat terlihat dengan
jelas.
Angin malam berhembus
membawa udara dingin, malam pun makin kelam.
Mendadak tampak
sesosok bayangan orang berjalan melalui mangan sebelah utara, di
bawah sinar rembulan, tampak kepala orang Itu gundul, tak salah lagi
inilah kepala seorang pendeta.
Dengan gerakan enteng
seperti burung walet. Bong
Thian-gak segera melompat
keluar dari tempat persembunyiannya dan melakukan penghadangan dari
arah timur laut.
Bukan hanya
Bong Thian-gak saja yang melakukan
penguntitan, Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang berjaga di
tenggara dan barat daya pun serentak mengerahkan Ginkangnya
melakukan penguntitan.
Gerakan tubuh keempat
orang itu cepat sekali, cekatan dan hati-hati. Sekali pun penjagaan
dalam gedung Bu-lim Bengcu amat ketat, ternyata tak seorang pun di
antara mereka yang mengetahui jejaknya.
Tak selang beberapa
lama, mereka sudah keluar pekarangan gedung Bengcu.
Pada saat itulah
bayangan orang yang sedang berlari di depan sana mempercepat gerakan
tubuhnya menuju ke arah tenggara.
Setelah melakukan
pengejaran sejauh satu li, akhirnya Bong
Thian-gak, Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan bertemu satu
sama lain.
Di tengah pengejaran
itu, mendadak Bong Thian-gak
berseru tertahan, katanya, "Aneh, seandainya orang di depan sana
adalah Ku-lo Locianpwe, mengapa dia berlari secara terang-terangan
dan sama sekali tidak berusaha menyembunyikan diri?"
Rupanya
Bong Thian-gak teringat tantangan
Jit-kaucu atas diri Ku-lo Hwesio dirahasiakan terhadap orang lain,
berarti gerak-geriknya pasti akan dilakukan dengan hati-hati sekali,
paling tidak dia akan mencari tempat tertutup atau sering menengok
ke belakang.
Tapi orang yang
sedang berlari di depan sana tak pernah berhenti, langsung menuju ke
arah hutan tanpa sangsi atau curiga.
Baru saja
Bong Thian-gak mengemukakan hal itu,
Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan juga merasa orang di depan sedikit
pun tidak mirip Ku-lo Sinceng.
Akhirnya Ho Put-ciang
berseru tertahan, "Aduh celaka, kita sudah termakan siasat memancing
harimau turun gunung."
"Lantas siapakah
orang di depan sana?" tanya Bong
Thian-gak kemudian.
"Mungkin Goan-ko
Taysu!"
"Mari kita
menyusulnya!"
Selesai berkata,
mereka segera mempercepat langkah, seperti anak panah terlepas dari
busur, tak lama telah berhasil menyusul di belakang orang itu.
Sementara itu orang
di depan sana merasa jejaknya sedang diikuti, mendadak saja ia
memperlambat gerak tubuhnya.
Bong
Thian-gak, Ho Put-ciang, Thia Leng-juan bertiga segera
melampaui orang itu sambil berpaling.
Tampak orang itu
berwajah bulat, berkulit putih dan berwajah merah, mengenakan jubah
abu-abu yang kedodoran dan panjang.
Siapa lagi orang ini
kalau bukan Goan-ko Taysu?
Ketika Goan-ko Taysu
menyaksikan Ho Put-ciang bertiga telah menyusul, sekulum senyuman
segera menghiasi wajahnya, katanya, "Toa-supek Pinceng menyuruh aku
meninggalkan gedung Bengcu secara diam-diam pada tengah malam ini
menuju ke arah tenggara, katanya aku akan segera bertemu dengan
Ho-bengcu sekalian, ternyata kalian bertiga datang tepat pada
waktunya, entah ada urusan apa kalian memanggil Pinceng datang
kemari?"
Ketika mendengar
perkataan itu, Bong Thian-gak
sekalian merasa gelisah bercampur geli.
Ho Put-ciang tidak
menjawab pertanyaan Goan-ko Taysu, sebaliknya bertanya cemas,
"Ko-siauhiap, bagaimana cara menyusul Ku-lo Supek?"
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Di saat kita
mengejar Goan-ko Taysu tadi,
Ku-lo Locianpwe sudah pasti telah berangkat untuk memenuhi janji,
kemana kita harus menemukannya sekarang?"
"Kita sekarang
berempat, mari kita berpencar ke empat penjuru mencarinya, ya
... apa boleh buat, lebih baik kita
mengadu untung
...."
kata Thia Leng-juan kemudian.
Agaknya Goan-ko Taysu
masih bingung dan tak habis mengerti .ikan duduknya persoalan,
segera tanyanya, "Ho-bengcu, sebenarnya apa y.ing telah terjadi?"
"Sekarang waktu amat
mendesak dan tidak mungkin diceritakan, mari kita berpencar mencari
Ku-lo Supek, begitu menemukan jejaknya kita harus membantunya secara
diam-diam."
"Baik," sambung Thia
Leng-juan, "Kita pakai gedung Bu-lim llen^cu sebagai pusat, mari
kita berpencar."
Selesai berkata dia
membalik tubuh dan berlalu lebih dulu.
Ho
Put-ciang segera melakukan pencarian ke arah utara.
Kini tinggal
Bong Thian-gak dan Goan-ko Taysu
yang masih berdiri tak berkutik.
Melihat itu, Goan-ko
Taysu segera bertanya, "Ko-sicu hendak mencari ke arah mana?"
"Ke arah selatan!"
Selesai berkata, dia
lantas berangkat menuju ke arah barat.
Sepeninggal semua
orang. Bong Thian-gak
mendongakkan kepala memandang letak bintang, lalu menyapu pandang
sekeliling tempat itu, akhirnya dia bergumam, "Ku-lo Sinceng
memerintahkan Goan-ko menuju ke tenggara, menanti kita merasa
tertipu dan balik kembali ...
kalau begitu tempat yang dituju kalau bukan timur pasti
selatan. Ke arah timur menuju ke pantai pesisir, sedang ke arah
selatan merupakan kuburan dan dataran bukit...
ah, betul! Sudah pasti tempat itu."
Selesai bergumam
Bong Thian-gak segera
mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna menuju ke
selatan.
Ilmu meringankan
tubuhnya sangat sempurna, tak lama kemudian dia telah menempuh
perjalanan sejauh puluhan li dan tiba di sebuah tanah
berbukit-bukit.
Sejak kecil
Bong Thian-gak hidup di kota
Kay-hong, maka dia pun tahu tempat ini bernama Kui-thau-nia (Tebing
kepala setan).
Sejauh mata
memandang, di sana-sini hanya berupa tanah berbukit yang tinggi
rendah tak menentu, berlapis-lapis memanjang ke arah selatan, tiap
tebing berketinggian hampir tiga puluh kaki dengan bentuk seperti
kepala manusia, oleh sebab itulah tebing itu dinamakan Tebing kepala
setan.
Bong
Thian-gak ragu sejenak, akhirnya dia mengerahkan
Ginkang menuju tebing paling tinggi dari Kui-thau-nia, dari tempat
ketinggian itulah dia mencoba memeriksa keadaan di sekitar sana.
Sinar rembulan yang
memancarkan sinar lembut membantu penerangan sekitar sana, tapi
suasana di sekeliling Kui-thau-nia amat sepi bagaikan kota mati
saja.
"Mungkinkah aku salah
menduga?" Bong Thian-gak
berpikir.
Tapi ia segera
berpikir lagi, "Tapi selain tempat ini, di sebelah selatan tak
terdapat tempat lain yang cocok untuk melangsungkan pertarungan."
Sementara dia masih
tertegun dan berdiri termangu, mendadak dari arah bukit sebelah
utara Bong Thian-gak
menyaksikan ada sesosok bayangan orang sedang meluncur datang dengan
kecepatan tinggi.
Waktu itu
Bong Thian-gak sudah memilih tempat
persembunyian, matanya mengawasi pendatang itu tanpa berkedip.
Sementara pendatang
itu semakin mendekati bukit Kui-thau-nia.
Ternyata pendatang
ini tak lain adalah Ku-lo Sinceng dari kuil Siau-lim-si.
Ku-lo Hwesio
mengenakan baju berwarna kuning, tasbihnya tergantung di depan dada,
tangannya memegang Hud-tim dan berjalan naik ke atas bukit dengan
langkah amat tenang.
Ku-lo Hwesio yang
bermata tajam memandang sekejap ke sekeliling tempat itu, kemudian
berjalan ke tanah rumput dan duduk bersila di sana.
Tempat persembunyian
Bong Thian-gak berada di
belakang batu karang di sebelah kiri Ku-lo Hwesio, di depan batu
cadas itu kebetulan tumbuh dua batang pohon pinus yang rendah
sehingga menutupi batu karang tadi.
Bong
Thian-gak menyangka Ku-lo Hwesio baru akan muncul pada
saat ini, ketika ia mencoba mendongakkan kepala, tengah malam baru
lewat seperempat jam, ia tak tahu jam berapakah Jit-kaucu menantang
Ku-lo Hwesio untuk bertarung di sini?
Sementara itu Ku-lo
Hwesio sudah duduk bersila di situ sembari bersemedi,
Bong Thian-gak juga tak berani
bertindak sembarangan, dia lahu saat Ku-lo Sinceng bersemedi,
telinganya yang tajam dapat menangkap suara napas yang berada dua
puluh kaki sekitar tempat itu.
Maka
Bong Thian-gak segera menggunakan
ilmu Kui-si-hoat (ilmu napas kura-kura) dengan menempelkan diri di
batu cadas itu.
Waktu berlalu detik
demi detik, menit demi menit ...
tengah malam lewat...
jam satu tiba ....
Jam satu lewat, jam
dua pun menjelang ...
akhirnya malam yang panjang akan berakhir.
Diam-diam
Bong Thian-gak berpikir, "Aneh,
mengapa Jit-kaucu belum juga
datang? Atau mungkin Ku-lo Hwesio akan menunggu
seharian di sini?"
Belum habis ingatan
itu melintas, di keheningan yang mencekam di Kui-thau-nia, mendadak
berkumandang suara teguran dingin bagai es, "Ku-lo Hwesio, sejak
kapan kau sampai di sini?"
Bong
Thian-gak amat terkejut mendengar ucapan itu, dengan
cepat dia mencoba mencari dengan mengarahkan ketajaman matanya.
Di tengah kegelapan
malam yang paling gelap menjelang tibanya fajar, Jit-kaucu
menampakkan diri.
Sesosok bayangan
tubuh yang putih melayang keluar dari balik kabut yang tebal,
seperti sosok bayangan setan tahu-tahu sudah berdiri di hadapan
Ku-lo Hwesio.
Sementara itu Ku-lo
Hwesio masih tetap duduk di atas tanah, sahutnya, "Menjelang tengah
malam, Pinceng sudah sampai."
"Hwesio tua, begitu
pagi kau sampai di sini, apakah kuatir aku memasang jebakan di
sini?"
"Pinceng tidak
berani."
Kembali Jit-kaucu
tertawa dingin, "Sam-kaucu telah dikerubut di pagoda Leng-im-po-tah
hingga menemui ajal, hari ini mengapa kau tak mengundang
orang-orangmu itu, sehingga Kaucu tak usah repot-repot?"
Bong
Thian-gak yang mendengar perkataan itu terkejut, segera
pikirnya, "Mungkinkah dia tahu aku bersembunyi di sini?"
Sementara dia masih
berpikir, Ku-lo Hwesio telah menyahut, "Bila ada orang yang
menyembunyikan diri di sini, rasanya juga tak bakal lolos dari
pengintaian Li-sicu."
"Bagus," kata
Jit-kaucu dingin. "Perjanjian kita pada kentongan kelima merupakan
perjanjian menentukan mati hidup kita, sekarang kita boleh
melangsungkan pertarungan."
"Tunggu dulu!" seru
Ku-lo Hwesio tiba-tiba.
"Apakah kau hendak
meninggalkan pesan terakhirmu?"
"Sebelum pertarungan
dimulai, Pinceng ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada
Li-sicu."
"Persoalan apakah
yang hendak kau pahami?"
"Pertama-tama,
Pinceng ingin mengetahui lebih dulu apakah LW sicu adalah
Li-siausicu yang pernah muncul di ruang belakang kuil Siau-j lim-si
pada delapan tahun berselang?"
"Daya ingatmu sangat
bagus!"
Si Hwesio sudah
mengira, tapi mendengar pengakuan itu, tak urung hatinya terperanjat
juga.
Setelah berhenti
sesaat, Ku-lo Hwesio kembali berkata, "Delapan tahun berselang,
Li-sicu telah menggunakan ilmu Jian-yang-ciang untuk menghantam
Pinceng, entah perselisihan atau dendam kusumat apakah yang terjalin
antara Pinceng dengan Li-sicu?"
Jit-kaucu tertawa
dingin, "Delapan tahun berselang, aku sudah menerangkan kepadamu
bahwa aku mendapat perintah mencabut nyawamu, sama sekali tiada
ikatan dendam atau sakit hati pribadi!"
"Omitohud!" puji
syukur Ku-lo Hwesio untuk keagungan Sang Ikiddha. "Li-sicu memiliki
ilmu silat yang amat dahsyat, namun perbuatanmu justru mencelakai
orang secara sembarangan, apakah kau lak merasa bahwa tindakanmu ini
melanggar norma-norma hukum Thian?"
,
"Suhuku telah
membuang waktu selama dua puluh tahun untuk mendidikku siang malam,
Hwesio tua, kau tak usah bersilat lidah lagi." "Siapakah Suhu
Li-sicu? Dapatkah memberitahu kepadaku?" "Dia adalah Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau."
"Apakah Cong-kaucu
itu pria atau wanita?" kembali Ku-lo Hwesio bertanya sambil menghela
napas panjang.
"Perempuan!
Sebenarnya persoalan itu tidak boleh kuberitahukan kepadamu, tapi
mengingat kau akan kembali ke langit barat, tidak ada salahnya
kuberitahukan kepadamu!"
Sekali lagi Ku-lo
Hwesio menghela napas, "Bila begitu, perkiraan Pinceng tak salah,
kalau Li-sicu telah mengatakannya, mengapa tak kau hehutkan juga
nama gurumu itu?"
"Sudah diberi hati
minta ampela ... ai, padahal
aku sendiri pun tak tahu siapa namanya."
"Masih ada satu hal
lagi yang hendak kutanyakan, yaitu ilmu Soh-It )ian-yang-sin-kang
yang dilatih Li-sicu sudah berhasil mencapai tingkat berapa?"
"Sudah mencapai
tingkat kesembilan, Hwesio tua, buat apa kau menanyakan persoalan
ini?"
Dengan sedih Ku-lo
Hwesio menghela napas panjang, "Sebab di
dalam pertarungan ini, Pinceng sama sekali tidak
mempunyai keyakinan untuk menang, andai aku tewas di tangan Li-sicu,
mungkin di Bu-lim dewasa ini tidak ada orang yang bisa menghadapimu
lagi."
Jit-kaucu tertawa
terkekeh-kekeh, "Kau adalah jago lihai nomor satu dalam Bu-lim, bila
aku dapat membunuhmu, apakah di Bu-lim masih ada orang yang bisa
mengungguli diriku lagi?"
Dengan suara dalam
Ku-lo Hwesio berkata, "Ilmu silat amat luas dan dalam, sama sekali
tiada batasannya. Sejak dulu pun banyak orang berbakat yang berhasil
mempelajari ilmu sakti dan menganggap dirinya tanpa tanding di
kolong langit, tapi akhirnya mereka justru tewas di tangan orang
lain. Li-sicu adalah seorang cerdik, tentunya kau dapat memahami
perkataanku bukan?"
"Hm, kini kentongan
kelima sudah lewat, kau tak usah banyak bicara lagi!" tukas
Jit-kaucu dingin.
"Omitohud, para Nabi
pernah berkata, tiada manusia yang tak pernah berbuat kesalahan,
tapi siapa yang mau mengubah kesalahannya, dialah manusia bijaksana,
Li-sicu mumpung belum terperosok lebih dalam lagi, lepaskanlah golok
pembunuhmu, karena bila kau berpaling, di sanalah akan kau jumpai
tepian."
Beberapa patah kata
itu diutarakan dengan suara nyaring sehingga menggetarkan seluruh
bukit dan mendengung tiada hentinya.
Paras muka Jit-kaucu
berubah hebat, segera bentaknya, "Hari ini aku mengundangmu datang
bukan untuk mendengarkan kuliah Taysu, bila Taysu memiliki ilmu
sakti pelindung badan, gunakan saja dengan segera!"
Sementara itu fajar
telah menyingsing di ufuk timur, cahaya keemas-emasan pun mulai
memancar ke empat penjuru.
Jit-kaucu mengenakan
pakaian berwarna putih dengan mantel yang terbuat dari bulu
rase putih, begitu anggun, cantik
dan memukau.
Sebaliknya Ku-lo
Hwesio dari Siau-lim-si duduk bersila di tanah dengan sikap kereng
dan serius, ia mengenakan kain berwarna kuning dengan tasbih
tergantung di leher, sepasang tangannya dirapatkan menjepit sebatang
Hud-tim.
Kini kedua tokoh
sakti dari dunia persilatan ini berdiri dalam jarak dekat/empat mata
memancarkan sinar tajam saling tatap, pertempuran sengit akan segera
berlangsung.
Bong
Thian-gak berada puluhan kaki dari arena, matanya yang
tajam mengawasi gerak-gerik kedua orang itu tanpa berkedip.
Mendadak Jit-kaucu
melejit ke tengah udara, kemudian secepat kilat menerjang ke arah
Ku-lo Hwesio.
Terhadap terjangan
Jit-kaucu itu, Ku-lo Hwesio bersikap seakan-akan tidak melihat, dia
tetap duduk bersila sambil memegang kebutnya tanpa bergerak.
Ketika terjangan
Jit-kaucu hampir mencapai tubuh Ku-lo Sinceng, mendadak dia melesat
dengan cepat, lalu melayang turun, kemudian dengan suara dingin
bentaknya, "Hwesio tua, tenaga dalammu benar-benar amat sempurna,
rupanya kau telah menguasai ilmu Tat-mo-khi-kang!"
Begitu selesai
berkata, Jit-kaucu melejit kembali ke tengah udara.
Pertarungan sengit
dengan kecepatan tinggi pun segera berkobar.
Tatkala tubuh
Jit-kaucu telah berada dekat Ku-lo Sinceng, tangan kanannya diayun
berulang-kali dan secara beruntun melancarkan empat serangan
berantai.
Ku-lo Hwesio segera
melancarkan serangan balasan, sepasang telapak tangannya yang
menjepit kebut mendadak menyambar ke samping, kebut tadi telah
menari-nari dengan cepat.
"Wes", hembusan tajam
menderu.
Untuk kedua kalinya
terjangan Jit-kaucu mengalami kegagalan dan tubuhnya segera mundur.
Bong
Thian-gak menonton jalannya dua kali bentrokan
kekerasan dari Ku-lo Sinceng dan Jit-kaucu, hatinya terperanjat,
pikirnya, "Kalau aku yang
dihadapkan dengan serangan itu, mungkin serangan yang pertama
Jit-kaucu pun tak mampu kutahan."
Setelah gagal dengan
serangannya, tiba-tiba Jit-kaucu menghindar
dengan wajah serius, selapis hawa
dingin mencekam wajahnya, dihiasi
pula dengan hawa nafsu membunuh yang
mengerikan.
Sementara itu paras
muka Ku-lo Hwesio juga berubah serius.
Mendadak Jit-kaucu
mengangkat telapak tangan kirinya pelan-pelan,
kemudian telapak tangan
yang putih dan halus itu diluruskan ke depan, pada telapak tangannya lamat-lamat
tampak cahaya merah membara
seperti bola api
yang berputar kencang.
Dengan kening
berkerut. Bong Thian-gak
membatin, "Mungkin serangan inilah yang dinamakan ilmu
Soh-li-jian-sin-kang yang hebat itu!"
Belum habis ingatan
itu melintas, tubuh Jit-kaucu sudah melejit lagi ke tengah udara dan
melancarkan tubrukan ketiga kalinya.
Mungkin dalam
serangan inilah akan ditentukan menang-kalah kedua belah pihak.
Pertarungan itu
mungkin tidak akan berlangsung terlampau lama, oleh sebab itu
Bong Thian-gak mengalihkan sorot
matanya yang tegang mengawasi jalannya pertarungan tanpa berkedip.
Tampak Jit-kaucu
pelan-pelan bergerak ke depan dan lambat-laun mendekat ke arah Ku-lo
Hwesio.
Tiba-tiba telapak
tangan kiri Jit-kaucu yang putih memancarkan cahaya merah yang amat
menyilaukan mata, ibarat matahari yang baru terbit, bola api
berputar-putar.
Di saat itu pula
telapak tangan Jit-kaucu segera memanfaatkan kesempatan untuk
menerobos masuk.
Kenyataan membuktikan
bahwa ilmu pukulan Soh-li-jian-sin-kang Jit-kaucu telah berhasil
memecah pertahanan Tat-mo-khi-kang yang disalurkan Ku-lo Hwesio
untuk melindungi tubuhnya.
Dalam waktu yang amat
singkat itulah telapak tangan kedua belah pihak memainkan berbagai
macam jurus serangan yang aneh tapi amat sakti.
Suara jeritan keras
bergema di udara dan mengakhiri pertarungan itu.
Tubuh Jit-kaucu
mencelat ke samping kanan kemudian jatuh terbanting ke tanah,
kemudian tak berkutik lagi.
Sebaliknya jubah
kuning yang dipakai Ku-lo Hwesio juga banyak terdapat lubang di
sana-sini, namun dia masih tetap berdiri dan diam di tempat semula.
Bong
Thian-gak yang menyaksikan adegan itu menjadi gembira,
akhirnya Jit-kaucu berhasil juga dikalahkan.
Sebenarnya ia ingin
keluar dari tempat persembunyiannya untuk memburu ke depan, tapi
setelah menyaksikan Ku-lo Hwesio masih tetap berdiri tak berkutik di
tempat semula, ia tertegun.
Tak lama kemudian,
Ku-lo Hwesio menghembus napas panjang dengan sedih, lalu melangkah
ke depan menuju ke arah Jit-kaucu yang terkapar di tanah itu.
Kini
Bong Thian-gak dapat melihat muka
Ku-lo Hwesio pucat-pias seperti mayat, tampaknya dia telah banyak
kehilangan hawa murninya.
Setelah mengawasi
beberapa kejap tubuh Jit-kaucu yang tak berkutik itu, Ku-lo Hwesio
baru membalikkan badan dan berlalu dari situ.
Bong
Thian-gak ingin memanggil, namun setelah termenung
sebentar dia lantas berpikir, "Entah bagaimanakah keadaan
Jit-kaucu?"
Teringat akan
Jit-kaucu, Bong Thian-gak
segera teringat pula keindahan tubuh si nona yang telanjang bulat
itu.
Ku-lo Hwesio berlalu
dengan sangat cepat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Pada saat itulah
Bong Thian-gak muncul dari
balik batu karang dan berjalan mendekat.
Matahari pagi telah
memancarkan sinarnya menembus awan tebal dan menyoroti wajah
Jit-kaucu.
Tampak Jit-kaucu
memejamkan mata rapat-rapat, wajahnya yang cantik kini pucat
keabu-abuan, tiada luka di atas tubuhnya, namun ujung bibirnya
tampak noda darah, pakaiannya juga penuh dengan noda darah.
Diam-diam
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, pikirnya, "Gadis yang begini cantik akhirnya harus menemui
ajal dalam keadaan mengenaskan, tak lama kemudian dia akan berubah
menjadi sekerat tulang-belulang."
Berpikir sampai di
sini, dia lantas merenung lebih jauh, "bagaimana pun juga dia sudah
mati, kasihan jenazahnya dibiarkan telantar disinari terik matahari,
ditimpa air hujan atau mungkin akan menjadi santapan serigala
kelaparan .... Ai, bagaimana
pun juga Kematian akan mengakhiri segala-galanya, biarlah kubuatkan
sebuah liang untuk mengubur jenazahnya!"
Bong
Thian-gak segera mencabut pedangnya yang tajam dan
menggunakan pedang sebagai sekop untuk menggali sebuah liang kubur
di situ.
Setelah membuang
waktu hampir setengah jam lamanya, dia telah berhasil membuat sebuah
liang.
Di kala
Bong Thian-gak berpaling untuk
mengubur jenazah Jit-kaucu, mendadak dia tertegun.
Rupanya jenazah itu
sudah lenyap entah kemana perginya.
Sementara
Bong Thian-gak terkejut, tiba-tiba
terdengar seorang menegur dengan suara merdu, "Buat apa kau menggali
liang kubur?"
Mendengar teguran itu
kembali ia berpaling, hampir saja pemuda itu menjerit keras.
Ternyata Jit-kaucu
sudah duduk di bawah pohon kurang lebih belasan kaki di hadapannya.
Jadi dia belum mati?
Bong
Thian-gak sungguh terperanjat, sekali lagi ia mengawasi
tubuh nona itu dengan seksama, ternyata ujung bibirnya masih penuh
noda darah, pakaiannya juga masih berlepotan darah, hanya paras
mukanya yang semula pucat-pias, kini sudah nampak lebih baikan.
Menyaksikan
Bong Thian-gak lama sekali
membungkam, Jit-kaucu menghela napas sedih, kemudian katanya,
"Apakah kau membuat liang kubur itu untuk mengubur jenazahku?"
"Kau
... kau belum mati?"
Bong Thian-gak berseru tergagap.
"Kalau sudah mati,
bagaimana mungkin bisa bicara?" jawab Jit-kaucu hambar.
Bong
Thian-gak segera menggerakkan badannya seraya berseru
lantang, "Jika kau belum mati, maka aku harus mencabut jiwamu."
"Mengapa engkau
hendak mencabut nyawaku?" tegur Jit-kaucu tanpa berubah wajah.
Bong
Thian-gak tertegun oleh pertanyaan itu, setelah
termenung sebentar, ia baru menjawab, "Kau adalah pentolan yang
menerbitkan berbagai keonaran dalam Bu-lim, sebelum kau mati, dunia
persilatan tak akan memperoleh kedamaian."
"Ku-lo Hwesio saja
tak mampu mencabut nyawaku, apalagi kau
... kau tak mungkin berhasil."
"Jadi kau hanya
pura-pura mati?" tanya Bong
Thian-gak dengan perasaan bergetar keras.
"Aku jatuh tak
sadarkan diri tapi tidak mati, ilmu silat Hwesio tua itu memang
sangat lihai, sangat sempurna, cuma sayang dia
...."
"Dia kenapa?" seru
Bong Thian-gak cepat.
"Dia tak bisa hidup
lebih tujuh hari," kata Jit-kaucu.
"Mengapa tak dapat
hidup lebih tujuh hari?"
"Tadi dia telah
menggunakan pertarungan adu jiwa yang bisa menyebabkan kedua belah
pihak sama-sama terluka, pada kesempatan itu jalan darah Jin-meh dan
Tok-meh Hwesio tua itu telah kulukai dengan pukulan
Soh-li-jian-yang-sin-kang. Dia tidak segera tewas karena tenaga
dalamnya sempurna, tapi akhirnya tak akan lolos juga dari kematian."
Bong
Thian-gak benar-benar terperanjat mendengar ucapan itu,
"Sungguh perkataanmu itu?"
"Apa yang kuucapkan
tentu saja sungguh-sungguh."
Paras
Bong Thian-gak berubah hebat, dia
tak menyangka jerih-payah Ku-lo Hwesio untuk melenyapkan Jit-kaucu
dari muka bumi menjadi punah tak berbekas, dia tak segan
mengorbankan jiwa sendiri dengan melakukan pertarungan adu jiwa.
Baginya, asal
Jit-kaucu bisa dilenyapkan, sekali pun harus mati dia tak sayang,
namun ia bertindak kurang teliti, sebelum memeriksa mati-Hidup
lawan, ia telah berlalu begitu saja dan akibatnya usaha yang
dilakukan selama ini menjadi sia-sia belaka.
Tadi selagi Jit-kaucu
tak sadar, bila Ku-lo Hwesio mengetahui gadis
itu belum mati tentu akan menambahi dengan sebuah
pukulan mematikan, sudah pasti Jit-kaucu takkan bisa hidup lebih
lama.
Bong
Thian-gak pun menyesal mengapa tak memeriksa lebih dulu
atau mungkin Jit-kaucu memang belum ditakdirkan untuk mati?
Terdengar Jit-kaucu
berkata, "Kau yang menjumpai aku mati ternyata tak tega membiarkan
jenazahku terbengkalai di tanah terbuka,
bahkan menggalikan liang lahat untuk mengubur
jenazahku, meski aku lak
jadi mati, namun kebajikan
serta kemuliaan hatimu sungguh membuat aku terharu dan tidak akan
melupakan kebaikanmu itu untuk selamanya."
Sementara itu pikiran
Bong
Thian-gak amat kalut,
dalam keadaan dan kondisi seperti ini sudah
seharusnya ia menampilkan diri dan menggunakan segenap kekuatan yang
ada untuk menyelesaikan tugas Ku-lo
Sinceng yang belum terselesaikan itu.
Begitu niat itu
melintas. Bong Thian-gak
segera mengambil keputusan dalam hati, sesudah tertawa dingin,
katanya, "Aku tidak peduli bagaimana ilmu silatmu, aku bertekad
bertarung melawanmu."
"Aku pun mengambil
keputusan untuk tidak mencelakai jiwamu, sebagai ucapan terima
kasihku atas kebaikanmu membuat liang lahat bagiku tadi."
"Maaf kalau begitu!"
sambil berkata dia segera maju sembari melancarkan sebuah tusukan
kilat.
Ilmu silat
Bong Thian-gak sekarang telah
mencapai tingkat yang luar biasa, tusukan itu pun disertai tenaga
yang amat dahsyat, itulah ilmu pedang terbang Cwan-sim-kiam-hoat
(Ilmu pedang penembus hati).
Jit-kaucu masih duduk
di bawah pohon tanpa bergerak, menanti serangan itu datang,
tiba-tiba saja dia menyentilkan jari tangannya ke depan.
Bunyi bergemerincing
yang memekakkan telinga berkumandang memecah keheningan.
Sambil menarik
kembali senjatanya, Bong
Thian-gak mundur sejauh tiga-empat langkah, kemudian serunya dengan
terperanjat, "Hm, ilmu jari Kiam-goan-ci!"
"Betul, inilah
Kiam-goan-ci, ilmu sakti perguruan Mi-tiong-bun di Tibet. Kiu-kaucu
perkumpulan kami pernah memberitahu kau punya ilmu sakti aliran
Mi-tiong-bun, nampaknya apa yang dia laporkan memang benar."
"Kau maksudkan si
nona berbaju merah itu?"
"Ya, betul! Ni
Kiu-yu!"
Bong
Thian-gak memang sudah menduga gadis berbaju merah yang
muncul di pagoda Leng-im-po-tah itu tentu merupakan anggota
Put-gwa-cin-kau, ternyata apa yang diduga memang betul, gadis muda
itu adalah Kiu-kaucu.
Jit-kaucu berkata
lagi, "Hingga sekarang aku belum berhasil menduga riwayat hidupmu,
tapi dari aliran ilmu silat yang kau miliki, bukan saja memahami
ilmu silat Mi-tiong-bun dan menguasai seluruh aliran ilmu silat
semua partai di kolong langit, bila dugaanku tidak salah hanya dua
orang di kolong langit dewasa ini yang bisa mengajar seorang murid
semacam kau ini."
"Siapakah kedua orang
itu?" tanya Bong Thian-gak
keheranan.
"Pertama adalah
Cong-kaucu perkumpulan kami!"
"Kau maksudkan
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau?" seru Bong
Thian-gak
tertegun.
"Hari ini aku ingin
kau bicara blak-blakan, benarkah kau utusan khusus yang dikirim
Cong-kaucu untuk mengawasi diriku?"
Semakin mendengar,
Bong Thian-gak semakin
bingung, tapi dari perkataan Jit-kaucu ini pula dia tahu bahwa
antara sesama anggota Put-gwa-cin-kau
sebenarnya saling tidak percaya dan curiga.
Kemungkinan besar
Put-gwa-cin-kau terbentuk karena usaha
Cong-kaucu
yang mempengaruhi orang dengan kekerasan.
Sekarang
Bong Thian-gak dihadapkan pada suatu
masalah penting yang harus diputuskan dengan cepat, tanpa terasa dia
berkerut kening sambil
termenung.
Dengan sorot mata
tajam Jit-kaucu mengawasi wajah
Bong
Thian-p.ak
lekat-lekat, gumamnya,
"Selama puluhan tahun terakhir ini, Suhu amat
baik terhadapku, mengapa aku harus mencurigai dia?"
Mendengar perkataan
itu, Bong Thian-gak
mengangkat kepala dan memandang sekejap ke arah Jit-kaucu, kemudian
katanya, "Tadi Ku-lo Sinceng
telah berkata kepadamu,
dari dulu hingga sekarang terdapat pentolan persilatan yang ingin
menjadi raja dunia persilatan, coba berapa
banyak
orang yang tewas dengan nama rusak dan tubuh binasa?
Bilamana kau pintar, sudah
seharusnya berpaling ke jalan benar, mumpung sekarang masih belum
terlambat."
"Kau menginginkan aku
berbuat apa?" tanya Jit-kaucu dengan miara
hambar.
"Melepas jalan sesat
kembali ke jalan yang benar."
Jit-kaucu tersenyum.
"Kau belum menjawab
pertanyaanku tadi?" serunya.
"Aku bukan anggota
Put-gwa-cin-kau!" jawab Bong
Thian-gak.
"Oh, kalau begitu kau
adalah muridnya?"
"Murid siapa?"
"Jian-bin-hu-li
Ban Li-biau!"
Mendengar itu kontan
paras muka Bong Thian-gak
berubah hebat, tanyanya, "Kau pun kenal nama itu?"
"Tiada nama jago
lihai di dunia ini yang tidak kukenal."
Diam-diam
Bong Thian-gak terkejut, dengan
cepat dia berpikir, "Sebelum menemui ajal. Suhu kedua telah berkata,
ada seorang lain pernah memperoleh pelajaran ilmu silat darinya,
mungkinkah orang itu adalah Jit-kaucu?"
Berpikir sampai di
situ Bong Thian-gak segera
bertanya, "Kau pernah berjumpa dengannya?"
"Kau ini bagaimana?
Mengapa tidak menjawab dulu pertanyaan orang?"
"Ya, betul! Dia
adalah guruku," jawab Bong
Thian-gak kemudian dengan suara tegas.
Paras muka Jit-kaucu
berubah hebat, tanyanya, "Sudah matikah dia?"
"Ya, baru beberapa
bulan berselang."
Jit-kaucu menghela
napas, "Ai, pernahkah dia menceritakan sesuatu tentang diriku?"
"Sebenarnya ada
hubungan apakah antara kau dengan dia orang tua?"
"Guru yang memberi
pelajaran ilmu silat selama empat puluh sembilan hari kepadaku."
Dengan terkejut
Bong Thian-gak berkata,
"Jit-kaucu, kau adalah orang pertama yang memperoleh warisan ilmu
silat dari dia orang tua?"
"Benar, peristiwa itu
berlangsung dua puluh tahun berselang, aku hanya empat puluh
sembilan hari berada bersamanya."
"Dua puluh tahun
berselang? Lantas pada umur berapa kau bertemu dengan dia orang
tua?"
"Waktu berumur lima
tahun."
Bong
Thian-gak menggeleng kepala berulang-kali.
"Sejak usia lima
tahun sudah berlatih silat, bahkan memperoleh pelajaran silat selama
empat puluh sembilan hari."
"Waktu itu aku masih
belum memahami ilmu silat, tapi dia orang tua membacakan teori ilmu
silat dan suruh aku menghafal di luar kepala, maka aku pun ingat
terus sampai sekarang."
Bong
Thian-gak menghela napas sedih, "Ai, sebelum meninggal,
Suhu Ban Li-biau telah berkata kepadaku, 'Selama hidup Lohu hanya
melakukan kejahatan, kemaruk akan nama, harta dan kedudukan, selalu
berusaha mencapai harapan dengan menggunakan cara apa pun, tapi
akibatnya tujuh puluh tahun hidupku di dunia ini sia-sia belaka
... Ai budi dendam dalam
Bu-lim selamanya merupakan perputaran dari hukum karma, siksaan
hidup yang Lohu alami selama tiga puluh tahun ini betul-betul
merupakan suatu hukuman yang paling adil....'."
"Hanya mengucapkan
kata-kata itu saja?" tanya Jit-kaucu.
"Dia masih berkata
bahwa ia pernah mewariskan ilmu silat kepada seorang lain, dia suruh
aku baik-baik mempergunakan ilmu itu."
"Ai, dia orang tua
memang kelewat mengenaskan nasibnya, kelewat kesepian," ujar
Jit-kaucu menghela napas.
"Tahukah kau mengapa
dia orang tua menjadi cacat seperti itu?"
"Tidak!"
Dengan suara dalam
Bong Thian-gak berkata, "Kau
dan aku boleh dibilang berasal dari perguruan yang sama, kata-kata
terakhir dari Jian-bin-hu-li Ban Li-biau sudah jelas menerangkan
bagaimana akibatnya bila seseorang melakukan kejahatan, sekarang
bagaimana perasaanmu?"
Paras muka Jit-kaucu
berubah. "Kau jangan menasehati aku," katanya.
"Aku harus memberi
peringatan padamu agar jangan bercerita kepada siapa pun bahwa kau
pernah belajar ilmu silat dari Ban Li-biau,
sebab
bila rahasia ini sampai bocor, maka
keselamatan jiwamu akan terancam."
"Aku tidak takut
menghadapi kematian, asal kematianku itu berharga, setiap saat aku
bersedia mengorbankan diri demi keadilan dan kebenaran."
"Ya, kini kau dan aku
sudah menjadi Suheng-moay," ucap Jit-kaucu
sedih. "Tapi kita pun berhadapan sebagai musuh,
bagaimana aku harus
menyelesaikan persoalan ini?"
Setelah mengucapkan
kata-kata itu, wajahnya menampilkan perasaan sedih dan murung yang
tak berlukiskan.
Bong
Thian-gak sendiri pun merasa betapa cepatnya perubahan
ini
berlangsung, sebetulnya
hari ini dia bertekad akan mengadu jiwa dengannya, tapi kenyataan
membuktikan bahwa mereka adalah sesama saudara seperguruan,
bagaimana mungkin dia bisa turun tangan?
Mendadak
Bong Thian-gak menarik kembali
pedangnya dan berkata dengan wajah serius, "Tentang usulku agar kau
kembali ke jalan yang benar harap dipikirkan masak-masak,
tindak-tandukmu di kemudian hari yang akan menentukan segalanya."
Usai berkata dia
membalikkan badan dan siap berlalu dari situ.
Mendadak Jit-kaucu
berseru, "Tunggu dulu!"
Pelan-pelan
Bong Thian-gak membalikkan badan,
lalu bertanya, "Masih ada urusan apa lagi?"
Dengan wajah dingin
Jit-kaucu berkata, "Apabila Ku-lo Hwesio masih ingin mempertahankan
jiwanya atas luka yang dideritanya, suruh dia mengurungi sepasang
kakinya sebatas lutut dalam tiga jam, biarkan darah mengalir keluar
hingga berubah menjadi merah segar, kemudian baru hentikan aliran
darah itu, bila melewati waktu yang ditentukan, maka dia akan
berubah menjadi cacat!"
Bong
Thian-gak tertegun.
"Mungkin dia
mempunyai cara pengobatan yang lebih baik," katanya kemudian.
"Hanya cara ini saja
yang bisa mempertahankan ilmu silatnya hingga tidak punah, percaya
atau tidak terserah kepadamu."
"Siapa tahu dia tidak
menderita begitu parah seperti apa yang kau ucapkan?"
"Ku-lo Sinceng memang
telah berhasil menemukan ilmu silat yang bisa menandingi
Soh-li-jian-yang-sin-kang, namun dia telah salah memperhitungkan
kesempurnaan tenaga dalamku."
Sampai di situ dia
berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Aku bernama Thay-kun, di Bu-lim
hanya kau seorang yang mengetahui namaku itu."
"Thay-kun? Kau
berasal dari marga apa?" tanya Bong
Thian-gak dengan kening berkerut.
"Belum kuketahui apa
margaku."
Walaupun
Bong Thian-gak agak tercengang oleh
jawaban itu, namun dia juga tidak banyak bertanya, katanya kemudian,
"Sampai jumpa lain waktu!"
Dia membalikkan badan
dan beranjak pergi dari tempat itu.
Jit-kaucu Thay-kun
memandangnya hingga bayangan punggung pemuda itu lenyap dari
pandangan, kemudian sambil menghela napas gumamnya, "Mengapa aku
memberitahu banyak hal kepadanya ...
mengapa aku harus memberitahu namaku kepadanya
...."
Dia pun bangkit dan
mengayunkan langkah meninggalkan tebing Kui-thau-nia itu.
Bong
Thian-gak mengerahkan Ginkang menuju gedung Bu-lim
Bengcu.
Sepanjang jalan,
banyak persoalan yang dipikirkan olehnya.
Dia sama sekali tidak
menyangka Jit-kaucu adalah ahli waris lain Jian-bin-hu-li Ban
Li-biau.
Di usia lima tahun,
ternyata selama empat puluh sembilan hari dia digembleng ilmu silat
oleh Ban Li-biau, peristiwa itu membuat orang sukar percaya.
Dari keberhasilan
Jit-kaucu Thay-kun menguasai ilmu silat, mau tak mau orang harus
percaya juga.
Dia adalah salah
seorang ahli waris Ban Li-biau, bagaimana pun juga dia harus memberi
kesempatan baginya untuk menempuh hidup baru.
Ai, perubahan yang
terjadi atas segala persoalan ini memang berlangsung sangat
mendadak, perlukah masalah itu diberitahukan kepada Ku-lo Sinceng?
Teringat akan Ku-lo
Hwesio, Bong Thian-gak segera
mempercepat langkahnya, setengah jam kemudian dia telah tiba di
depan pintu gerbang gedung Bu-lim Bengcu.
Pengawal pintu yang
menyaksikan kedatangan Bong
Thian-gak, segera menyongsong seraya berkata dengan penuh rasa
hormat, "Ko-siauhiap, Bengcu telah berpesan, bila Siauhiap telah
kembali dipersilakan segera menuju loteng sebelah timur."
Bong
Thian-gak sudah menduga akan duduk masalahnya, dia
segera menerobos ke dalam gedung dan menuju ke loteng sebelah timur.
Begitu masuk ke
loteng, ia saksikan di ruang tamu sudah menunggu Ho Put-ciang, Thia
Leng-juan, Toan-jong-hong-liu Yu Heng-Sui,
Oh Cian-giok, Ui-hok
Totiang dari Bu-tong-pay, Wan-pit-kim-to Ang
Thong-lam, Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong serta
Goan-ko Taysu.
Sedang di atas kasur
duduk bersila Ku-lo Hwesio, saat itu dia sedang memejamkan mata
dengan wajah memucat, mukanya sama sekali tidak nampak warna darah.
Begitu Pa-ong-kiong
Ho Put-ciang menyaksikan Bong
Thian-gak kembali, buru-buru dia menyongsong seraya berseru,
"Ko-siauhiap, Ku-lo Supek ada pesan yang hendak disampaikan
kepadamu."
Sorot mata
Bong Thian-gak yang tajam dengan
cepat menyapu semua wajah orang dengan serius, murung dan sedih, ia
segera mengetahui apa gerangan yang telah terjadi.
Buru-buru dia maju,
menjatuhkan diri dan berlutut, ujarnya kepada Ku-lo Sinceng, "Wanpwe
menjumpai Sinceng, entah Sinceng ada pesan apa yang hendak
disampaikan?"
Waktu itu Ku-lo
Hwesio sudah memejamkan mata rapat-rapat, namun bibirnya masih dapat
bergerak mengeluarkan suara yang amat lirih, terdengar dia berbisik,
"Ko-siauhiap, Pinceng sudah tak dapat hidup lebih lama lagi...
Jit-kaucu juga telah mati...."
Sebenarnya
Bong Thian-gak hendak memberitahu
kepadanya bahwa Jit-kaucu belum mati, namun kuatir Ku-lo Hwesio
terlalu kaget, maka dia hanya berkerut kening dan untuk sementara
waktu tidak berkata apa-apa.
Terdengar Ku-lo
Hwesio berkata lebih jauh, "Selanjutnya musuh-musuh tangguh dari
Put-gwa-cin-kau ... harus
... harus kalian dan
Ho-hiantit menghadapinya! Pinceng sengaja menunggumu karena aku
hendak mewariskan ilmu Tat-mo-khi-kang kepadamu
... sayang bila ilmu sakti ini
sampai hilang dari dunia ini ...
Tat-mo-khi-kang sudah ratusan tahun lenyap dari dunia
persilatan, Pinceng pun harus mengorbankan waktu delapan tahun untuk
mencapai tingkat tiga."
"Dari tingkat empat
sampai tingkat sepuluh ...
kitab itu sudah hilang sejak tiga puluh tahun lalu, kitab itu dicuri
orang dari tempat penyimpanan oleh orang tak dikenal...
orang itu mungkin adalah
...."
"Toa-supek, siapakah
orang itu?" Goan-ko Taysu berseru keras.
Ku-lo Hwesio tidak
menjawab pertanyaan itu, sebaliknya berkata lebih lanjut, "Meskipun
ia berhasil mencuri kitab Tat-mo-khi-kang dari tingkat keempat
hingga sepuluh, tapi tak pernah berhasil mempelajari ilmu sakti itu,
sebab dasar utama ilmu Tat-mo-khi-kang justru terletak pada tingkat
pertama dan kedua, bila dasarnya tak ada, maka sulit untuk mencapai
tingkat keempat yang jauh lebih dalam isinya
...."
"Bila seseorang bisa
melatih ilmu Tat-mo-khi-kang hingga tingkat ketujuh, maka sudah
cukup menjagoi kolong langit dan sukar untuk dicari tandingannya."
"Bila dugaan Pinceng
tak salah dan bila orang yang mencuri kitab pusaka Tat-mo-khi-kang
dari tingkat keempat sampai kesepuluh itu benar-benar dia, maka
Ko-siauhiap sudah pasti telah memperoleh ilmu warisan darinya."
Ketika Ho Put-ciang
dan Thia Leng-juan mendengar sampai di situ, mereka tahu siapa orang
yang dimaksud Ku-lo Hwesio, sudah pasti orang yang mencuri kitab
pusaka Tat-mo-khi-kang dari tingkat empat sampai sepuluh itu adalah
Jian-bin-hu-li Ban Li-biau.
Bong
Thian-gak sendiri ketika mendengar ucapan itu, segera
teringat suatu peristiwa di saat Ban Li-biau hendak mewariskan ilmu
silat kepadanya.
Maka dengan cepat
Bong Thian-gak menjawab, "Apa
yang diduga Sinceng memang benar, orang yang mencuri kitab itu
memang dia orang lua."
Ku-lo Hwesio
memejamkan mata rapat-rapat, dia lantas bertanya, "Mengapa kau
merasa yakin?"
"Suatu waktu tatkala
dia orang tua sedang memberi pelajaran ilmu
silat kepadaku, beliau telah
mewariskan ketujuh kupasan ilmu itu dengan catatan aku hanya boleh
menghafal tidak boleh melatihnya dengan akibat bisa mendatangkan
bibit bencana. Pada saat itu meski aku merasa heran, besar
kemungkinan ilmu itu adalah Tat-mo-khi-kang."
Paras muka Ku-lo
Hwesio segera nampak berseri, tanyanya dengan
cepat, "Ko-siauhiap, apakah kau masih
hapal semua ilmu itu?"
Bong
Thian-gak menjawab, "Ai, waktu itu dia orang tua
berkata, Hanya menghapal dan
jangan dilatih, karena bisa mengakibatkan
kematian,
oleh sebab itu Wanpwe
merasa ilmu itu tak ada gunanya, maka liku tidak mengingatnya secara
baik, bahkan dua-tiga bagian yang terakhir
berhubung ada huruf dan kata yang asing, seperti bukan huruf
lian,
pada hakikatnya sulit
buatku untuk mengingatnya."
Mendengar itu Ku-lo
Hwesio menghela napas panjang, "Sayang, sayang sekali, kalau begitu
ilmu Tat-mo-khi-kang tak pernah akan menjadi utuh
... perkataan Ko-siauhiap memang
benar, kitab pusaka Tat-mo-khi-kang memang ditulis sendiri oleh
Tat-mo Cosu pendiri kuil Siau-lim-si kami, ketika itu semua tulisan
dicatat dalam huruf negeri Thian-tiok sehingga sulit bagi orang yang
tidak memahami. Selama ratusan tahun belakangan ini, banyak sudah
tokoh Siau-lim-si yang mendalami ilmu itu, namun selama ini hanya
seorang saja yang berhasil hingga mendalami tingkat ketujuh, sebab
kecuali tingkat satu sampai tingkat tujuh yang ada terjemahannya
dalam bahasa Han, dari tingkat delapan sampai sepuluh memang ditulis
dalam huruf Sansekerta!"
"Kecuali tiga bagian
yang terakhir tidak mampu Wanpwe hafalkan secara baik, empat bagian
yang pertama mungkin masih bisa diingat dengan baik."
Dengan gembira Ku-lo
Hwesio berkata, "Bagus sekali kalau begitu, berarti dunia persilatan
bisa ditolong."
Cepat
Bong Thian-gak berkata, "Walau
Locianpwe sudah terkena pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang, belum
tentu luka itu menyebabkan kematian, sebab Wanpwe mempunyai cara
untuk menyelamatkan Locianpwe, sekarang paling baik kalau kita
mengobati dulu luka yang diderita Locianpwe."
"Ko-siauhiap,
dengarkan baik-baik," Ku-lo Hwesio berkata dengan cemas. "Kematian
Pinceng tiada sesuatu yang perlu disayangkan, persoalan yang paling
Pinceng kuatirkan adalah hilangnya Tat-mo-khi-kang ini dari dunia
persilatan, sebab hanya ilmu Tat-mo-khi-kang yang merupakan dasar
ilmu silat, asal Tat-mo-khi-kang ini bisa diwariskan kepada
seseorang, maka ilmu sesat macam apa pun jangan harap bisa
menandinginya."
"Oleh sebab itu
sekarang aku harus memanfaatkan kesempatan yang amat pendek ini
untuk mewariskan ketiga bagian Tat-mo-khi-kang itu kepadamu, asal
kau mampu menguasai ilmu itu, berarti dunia persilatan akan
menemukan bintang penolong."
Bong
Thian-gak tahu Ku-lo Hwesio tidak percaya bila dia
mampu menyembuhkan luka itu, dalam keadaan demikian dia tak berani
lagi mengungkapkan bahwa Jit-kaucu sebetulnya belum mati.
Kini ia dihadapkan
pada persoalan yang sukar untuk diputuskan. Terdengar Ku-lo Hwesio
berkata, "Pinceng pun mempunyai cara untuk mengobati luka ini, tapi
tidak terlalu yakin, maka Pinceng lebih suka mengorbankan nyawaku
daripada membuang waktu dengan percuma. Ko-siauhiap, kau orang
pintar, kau harus mempunyai pilihan yang tepat. Sekarang cepat kau
kumpulkan semua perhatian dan pikiranmu untuk mendengar pelajaranku
ini .... Semua orang yang
berada di loteng harap mengundurkan diri dari sini dan jaga keamanan
di sekitar pagoda ini, jangan biarkan orang memasuki tempat ini."
Begitu Ku-lo Hwesio
selesai berkata, Ho Put-ciang sekalian segera beranjak dan
mengundurkan diri dari situ.
Bong
Thian-gak segera berteriak, "Ho-bengcu, jangan pergi
dulu, aku masih ada persoalan yang hendak disampaikan."
Dengan paras muka
serius, Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berpaling, kemudian sahutnya, "Ko-siauhiap,
bila kau tidak memiliki keyakinan seratus persen, lebih baik menurut
saja perkataan Sinceng."
"Sinceng adalah tokoh
persilatan yang berilmu tinggi, apakah kita harus membiarkan dia
mati begitu saja?"
"Sinceng setia kawan
dan rela mengorbankan jiwa, lebih baik Ko-siauhiap pusatkan segenap
perhatianmu ...."
Belum selesai berkata,
dia sudah membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ.
Bong
Thian-gak berpaling ke arah Ku-lo Hwesio, dilihatnya
pendeta itu sedang memejamkan mata, kulit mukanya yang kurus kering
n.impak kekuning-kuningan, tak tahan lagi ia berbisik, "Locianpwe!"
Kembali ia menjatuhkan diri berlutut di hadapannya. Ternyata pada
saat itu Bong Thian-gak
teringat cara penyembuhan yang diajarkan Jit-kaucu Thay-kun
kepadanya, untuk menyembuhkan luka Ku-lo Hwesio memang belum tentu
bisa.
Berada dalam keadaan
seperti ini, dia tak berani banyak bicara, ditambah Ku-lo Sinceng
telah memusatkan perhatiannya mewariskan Ilmu rahasia itu.
"Tingkat pertama
Tat-mo-khi-kang berbunyi: Dasar pernapasan
merupakan
akar kepandaian, kendorkan
badan, atur pernapasan, aliran darah
harus dasar ...."
