pendekar cacad 03
Bagian 3 :
Menjebak Sam kaucu, si Ku Lo Hwesio palsu
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, pada peristiwa
kemarin dulu, biar kujelaskan
nanti secara pelan-pelan, malam ini aku
….”
"Ada urusan apa?"
"Aku ingin bertanya
kepada Jit-kaucu, dengan ilmu pukulan apakah kau melukai
Giok-bin-giam-lo?"
"Dia belum mampus?"
tanya perempuan itu hambar.
"Belum, tapi sudah
tak jauh dari ambang pintu kematian."
"Kalau sudah mampus
lebih baik lagi, buat apa kau menanyakan ilmu pukulan yang kupakai
untuk membunuhnya?"
Bong
Thian-gak mengerut dahi, lalu menjawab dengan suara
dalam, "Mengapa kau memandang enteng nyawa manusia? Ketahuilah,
Thian menciptakan manusia dengan harapan banyak berbuat kebajikan,
kegemaran Jit-kaucu membunuh orang benar-benar telah melanggar
perintah Thian."
Tiba-tiba perempuan
cantik itu tertawa dingin, suaranya amat menyeramkan penuh dengan
nada membunuh, membuat orang yang mendengar berdiri bulu kuduknya.
Mendadak suara tawa
itu sirap, lalu terdengar perempuan cantik itu bertanya lagi dengan
hambar, "Kau berani masuk kemari?"
Terkesiap hati
Bong Thian-gak, segera sahutnya,
"Mengapa tidak?"
Sambil berkata,
pelan-pelan Bong Thian-gak
berjalan menuju ke pintu dan mendorongnya.
Pintu itu tidak
terkunci dan segera terbuka ketika didorong,
Bong Thian-gak yang berilmu tinggi
dan bernyali besar segera melangkah masuk dengan dada dibusungkan.
Waktu itu Jit-kaucu
sedang duduk membelakangi pintu, sekali pun tahu
Bong Thian-gak masuk, namun sama
sekali ia tidak berpaling, hanya tangan kirinya yang putih bersih
menuding ke sebuah kursi bulat di sampingnya, katanya, "Duduklah!"
Dengan sorot mata
tajam Bong Thian-gak
memandang sekejap kursi bulat itu, setelah tidak melihat sesuatu
gejala aneh, dia pun menurut dan berduduk.
Kini separoh wajah
nona yang cantik sudah kelihatan dengan jelas.
Di bawah cahaya
lentera, terlihat jelas perempuan itu memang berwajah cantik jelita,
kecantikannya ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan.
Diam-diam
Bong Thian-gak menghela napas,
pikirnya, "Dengan wajah yang begitu cantik, mengapa justru
dilahirkan dengan hati yang busuk, jelek dan jahat? Ai, benar-benar
patut disayangkan!"
Mendadak terdengar
Jit-kaucu menegur, "Hei, apa yang sedang kau pikirkan?"
Suaranya merdu bagai
kicau burung nuri, sungguh mempesona hati siapa pun.
Entah sedari kapan
Jit-kaucu telah membalikkan badan, kini jarak kedua orang itu dekat
sekali, ketika angin berhembus, terendus bau harum semerbak yang
membuat hati menjadi mabuk.
Bong
Thian-gak menarik napas, kemudian berkata dengan suara
nyaring, "Aku sedang berpikir, mengapa Kaucu berwajah begitu
cantik."
"Dan kau pun sedang
berpikir, mengapa hatiku begitu kejam tak kenal perasaan begitu,
bukan?" sela Jit-kaucu sambil tersenyum.
Bong
Thian-gak tertegun, kemudian ujarnya, "Benar-benar amat
lihai! Darimana kau tahu akan jalan pikiranku?"
Tiba-tiba paras muka
Jit-kaucu berubah hebat, serunya lagi, "Nyalimu sungguh besar,
mungkin di kolong langit dewasa ini belum ada orang kedua yang
berani duduk sedemikian dekat denganku."
"Bila Jit-kaucu
hendak turun tangan keji kepadaku, tadi kau sudah turun tangan!"
Jit-kaucu segera
bangkit, lalu pelan-pelan berjalan menuju ke depan pintu, dia
mendongakkan kepala memandang kegelapan malam, sambil membetulkan
rambutnya yang panjang terurai ia berjalan kembali.
Langkah kakinya yang
lemah gemulai itu sangat menawan dan mendatangkan daya pikat, pada
hakikatnya kecantikan maupun gerak-gerik perempuan itu dapat membuat
orang lupa daratan.
Pelan-pelan dia
berjalan ke hadapan Bong
Thian-gak, kemudian secara tiba-tiba menempelkan telapak tangannya
ke jalan darah Pek-kwe-hiat di ubun-ubun
Bong Thian-gak.
Sambil tertawa
terkekeh-kekeh, Jit-kaucu menyingkirkan kembali
telapak tangannya, lalu berkata, "Ko
Hong, sebelumnya kau sudah tahu bila aku tidak berniat membunuhmu,
maka kau bersikap begini tenang dan bernyali!"
"Apa maksud
perkataanmu itu?"
"Ketika di hutan
depan kuil, bukankah kau telah mendengar banyak rahasia perkumpulan
kami?"
Mendengar itu,
Bong Thian-gak menjadi terkejut,
pikirnya, "Kalau begitu dia sudah tahu aku sudah menyadap
pembicaraannya dari dalam hutan! Jadi kematian Lo Gi, pelindung
Sam-kaucu adalah gara-gara perbuatanku ."
Sementara itu
Jit-kaucu telah berkata lagi sambil tersenyum, "Kalau kau sudah
mendengar sebagian besar rahasia kami, maka sekarang hanya ada dua
jalan yang bisa kau pilih, pertama adalah jalan kematian, sedang
kedua adalah masuk menjadi anggota Put-gwa-cin-kau. Asal kau
bersedia, aku dapat memberi kedudukan sebagai seorang Kaucu."
"Kau mengundang aku
masuk menjadi anggota Put-gwa-cin-kau, apakah kau tidak kuatir aku
akan menyusahkan dirimu?"
"Apa maksudmu?"
"Kau belum tentu tahu
riwayat hidupku dan lagi setelah menjadi anggota perkumpulan, belum
tentu aku setia pada perkumpulan dengan tulus hati, apalagi menyuruh
aku mencapai Put-gwa (tanpa aku)?"
Jit-kaucu
manggut-manggut, "Benar, kalau begitu kau hanya ingin menempuh jalan
kematian?"
Kembali
Bong Thian-gak tersenyum, "Dari dulu
hingga kini tiada seorang pun yang bisa lolos dari kematian, apa
yang kutakuti? Cuma ...."
"Cuma kenapa?"
"Aku tak akan mati
muda," sahut Bong Thian-gak
dengan sinar mata mencorong tajam.
Mendadak Jit-kaucu
menatap wajah Bong Thian-gak
lekat-lekat.
Bong
Thian-gak tertegun, lalu berpikir, "Mungkinkah dia akan
turun tangan keji kepadaku?"
Maka secara diam-diam
dia lantas menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap.
Lewat setengah jam
kemudian, terdengar Jit-kaucu berkata lagi dengan suara hambar,
"Hampir saja aku kena kau kelabui, rupanya wajahmu telah kau ubah
dengan obat penyamar, kalau begitu Ko Hong pun bukan namamu yang
sebenarnya!"
Bong
Thian-gak merasa perempuan ini lihai sekali, "Padahal
obat penyaruan yang kugunakan merupakan obat paling baik di dunia,
malah penyaruanku amat sempurna, buktinya Ku-lo Hwesio dan
Toa-suheng serta para jago tiada yang tahu, tak nyana dia berhasil
mengetahui sekali pandang saja."
Jit-kaucu berkata,
"Sebenarnya kau telah melakukan perbuatan apa yang malu diketahui
orang hingga tak berani memperlihatkan raut wajah aslimu?"
"Bukankah Jit-kaucu
pun demikian?"
Jit-kaucu tertegun,
lalu serunya, "Tapi aku tidak menyaru!"
"Walaupun kau tak
menyaru, tapi gerak-gerikmu sangat rahasia, tanpa nama, tanpa
asal-usul, bukankah kau pun sudah melakukan suatu perbuatan yang
takut diketahui orang?"
"Siapa bilang aku tak
punya nama?" teriak Jit-kaucu gusar.
"Kalau begitu siapa
namamu?"
"Kau tidak berhak
mengetahui namaku."
Mendadak
Bong Thian-gak menunjukkan wajah
serius, katanya, "Apa nama ilmu pukulanmu?"
"Buat apa kau
menanyakan soal ini?"
"Aku hendak mengobati
luka To Siau-hou."
Mendengar itu,
Jit-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, "Kau anggap setelah mengetahui
ilmu pukulanku, maka nyawa To
Siau-hou bisa diselamatkan? Hehehe, kalau begitu kuberitahu
kepadamu!"
"Apa namanya?"
kembali Bong Thian-gak
bertanya dengan cemas
"Itulah pukulan
Jian-yang-ciang (Pukulan cacat) salah satu jurus dari ilmu
Soh-li-jian-yang-sin-kang!"
"Soh-li-jian-yang-sin-kang," seru Bong
Thian-gak terkejut.
Dengan wajah berubah
hebat dia melompat bangun, kemudian bagaikan burung walet menembusi
jendela, dia lantas berlalu.
Bong
Thian-gak tidak menunjukkan pertanda hendak berlalu
ditambah pula gerakan tubuhnya kelewat cepat, dalam waktu singkat
bayangan tubuhnya tahu-tahu
sudah lenyap.
Jit-kaucu yang
menyaksikan kejadian itu tertegun dan duduk melongo, seperti merasa
kehilangan sesuatu dia duduk dengan wajah bingung.
Sementara itu
Bong Thian-gak dengan suatu gerakan
yang amat cepat telah meninggalkan loteng itu, dia segera
mengembangkan ilmu meringankan tubuhnya keluar kota Kay-hong
langsung menuju ke pinggir kota.
Malam sudah semakin
kelam, tengah malam pun sudah menjelang tiba, di tengah keheningan
yang mencekam terasa suatu kemisteriusan yang menyeramkan.
Dengan hati risau dan
gelisah Bong Thian-gak menuju
tempat persembunyian To
Siau-hou, siapa tahu suasana di sekeliling tempat itu sangat hening
dan tak nampak bayangan orang pun.
Dengan kening
berkerut dan sorot mata tajam, Bong
Thian-gak memandang sekejap sekeliling tempat itu.
Angin malam berhembus
menggoyang rumput dan dedaunan, kecuali bunyi jangkrik dan binatang
kecil, suasana di situ amat hening hingga terasa menakutkan,
ternyata tak nampak bayangan To
Siau-hou.
Bong
Thian-gak menjadi amat gelisah, segera teriaknya,
"To-heng! Dimana kau?"
Ia berteriak berulang
kali, tapi malam tetap hening, tiada jawaban.
Bong
Thian-gak tahu To
Siau-hou sudah menderita luka sangat parah, mustahil dia bisa
meninggalkan tempat itu, maka dia mulai berjalan mengelilingi tempat
itu melakukan pencarian dengan seksama.
Aneh! Sudah beberapa
kali dia melakukan pencarian, tapi tetap tak nampak bayangan
To Siau-hou?
"Jangan-jangan dia
sudah ditolong orang?"
"Tapi siapakah yang
menolongnya?"
Bong
Thian-gak memeras otak memikirkan ini.
Pencarian pun kembali
dilakukan ke sekeliling tempat itu.
Akhirnya di atas
sebuah batu cadas di pinggir jalan, Bong
Thian-gak menemukan sesosok bayangan sedang duduk
bersila di sana.
Dengan dua kali
lompat saja Bong Thian-gak
sudah mencapai depan batu cadas itu.
Ternyata adalah
Hwesio tua berbaju abu-abu, sepasang kakinya tertekuk membentuk
sikap bersila, di atas lututnya terletak sebuah Hud-tim, sedang di
atas dadanya tergantung seuntai tasbih.
Waktu itu si Hwesio
duduk sambil memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya sama sekali tidak
bergerak.
Sesudah melihat jelas
raut wajah Hwesio tua itu, Bong
Thian-gak membatin, "Ah, Ku-lo Sinceng."
Ternyata Hwesio tua
yang duduk di atas batu cadas itu adalah Ku-lo Hwesio dari
Siau-lim-pay.
Dia menjadi teringat
peringatan To Siau-hou,
"Ku-lo Hwesio telah menurunkan perintah untuk membunuhmu".
Dengan terkesiap dan
tanpa mengucap sepatah kata pun, Bong
Thian-gak segera membalikkan badan dan berlalu dari
situ.
"Omitohud! Harap Sicu
tunggu sebentar," suara sapaan lembut berkumandang.
Bong
Thian-gak membalikkan badan dengan kecepatan bagaikan
kilat.
Tampak mencorong
sinar lembut dari balik mata Hwesio tua itu, meski lembut tapi tajam
sekali hingga menggetarkan perasaan orang.
"Sinceng ada petunjuk
apa?" tanya Bong Thian-gak
dengan suara nyaring.
Hwesio tua itu tetap
duduk di atas batu cadas tanpa bergerak, tapi wajahnya agak
bergetar, ujarnya, "Sicu, usiamu masih muda, tapi tenaga dalammu
sudah sampai puncak kesempurnaan, tolong tanya, Siauhiap berasal
dari perguruan mana?"
Bong
Thian-gak tertegun, kemudian jawabnya, "Taysu, maaf
bila Wanpwe mempunyai kesulitan yang tak dapat diutarakan."
Hwesio tua itu
termenung sebentar, lalu sambil mengelus jenggot putihnya dia
bertanya lagi, "Sicu, apakah kau sedang mencari To-siauhiap dari
Kay-pang?"
Bong
Thian-gak mengangguk, "Tolong tanya apa Taysu melihat
jejaknya?"
"To-siauhiap telah
menderita luka yang cukup parah, nyawanya dalam keadaan gawat, Lolap
telah memerintahkan dua orang muridku untuk mengirimnya ke suatu
tempat yang tenang guna memperoleh perawatan dan pengobatan yang
diperlukan."
Mendengar perkataan
itu, Bong Thian-gak merasa
agak lega, buru-buru dia bertanya lagi, "Tolong tanya, apakah luka
yang diderita To-siauhiap makin parah?"
"Ketika Lolap
menemukannya, dia sudah pingsan, nyawanya berada di ujung tanduk.
Sicu, dapatkah kau terangkan To-siauhiap terluka oleh pukulan apa?"
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Dia terkena pukulan
Jit-kaucu, ai! Mungkin luka itu sukar untuk disembuhkan!"
Mendengar perkataan
itu, paras si Hwesio berubah hebat.
"Kalau begitu,
To-siauhiap telah terkena pukulan Jian-yang-ciang dari
Soh-li-jian-yang-sin-kang?"
Dengan terkesiap
Bong Thian-gak segera
berpikir, "Sungguh lihai sekali Hwesio ini, ternyata dia pun
mengetahui tentang ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang, mungkinkah dia
sudah bertemu dengan Jit-kaucu?"
Berpikir demikian,
sahutnya kemudian sambil menghela napas, "Benar, To-siauhiap memang
terkena pukulan Jian-yang-ciang dari Jit-kaucu!"
Mendengar ucapan itu,
tiba-tiba mencorong tajam mata Hwesio tua itu, ia menatap wajah
Bong Thian-gak lekat-lekat,
kemudian bertanya pula, "Sicu, darimana kau bisa mengetahui ilmu
pukulan Jian-yang-ciang?"
"Wanpwe mengetahui
hal ini dari mulut Jit-kaucu sendiri."
Rasa kaget dan
tercengang segera menghias wajah Hwesio tua itu, segera tegurnya
dengan suara dalam, "Sicu, sebenarnya siapa kau?"
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Taysu, tidak usah
menaruh curiga terhadap Wanpwe, aku bukan anggota Put-gwa-cin-kau!"
Hwesio tua itu
semakin terperanjat, kembali dia berkata, "Sicu, agaknya kau telah
mengetahui banyak rahasia, dari sembilan partai persilatan dewasa
ini, kecuali Lolap seorang, boleh dibilang tidak banyak orang yang
mengetahui Put-gwa-cin-kau?"
Sampai di situ Ku-lo
Hwesio berhenti sejenak, seolah termenung beberapa saat, dia pun
melanjutkan, "Sicu, kau enggan menyebut nama perguruanmu, tapi
bersedia menyebutkan namamu bukan?"
Bong
Thian-gak tertegun, lalu sahutnya, "Aku bernama Ko
Hong, buat apa Sinceng mesti menaruh prasangka jelek kepadaku?"
Terlintas cahaya
tajam dari balik mata Hwesio tua itu, tiba-tiba dia berkata,
"Siancay! Siancay! Lolap baru pertama kali ini berjumpa dengan Sicu,
sebelum malam ini kita tak pernah berjumpa, mengapa Lolap mesti
berprasangka buruk terhadap Sicu? Tapi setiap ucapan Sicu justru
merupakan rahasia yang sedang diselidiki semua umat persilatan,
apakah hal ini tak membuat Lolap terperanjat?"
Ucapan itu membuat
Bong Thian-gak tertegun,
serunya kemudian dengan wajah tercengang, "Sinceng, mengapa kau
mengatakan malam ini adalah perjumpaan kita yang pertama kali?"
Secara tiba-tiba saja
Bong Thian-gak merasa apa
yang diucapkan Ku-lo Hwesio malam ini terdapat banyak keanehan,
tindak-tanduk maupun gerak-geriknya berbeda dengan tempo hari.
Mungkinkah dia bukan Ku-lo Hwesio pendeta agung dari Siau-lim-si?
"Omitohud! Sicu,
apakah kau tahu siapakah Loceng?" tanya Hwesio tua itu tiba-tiba.
Bong
Thian-gak tertegun. "Wanpwe justru ingin menanyakan
nama Sinceng!" serunya cepat.
Bong
Thian-gak tidak percaya kalau matanya telah salah
melihat orang, meski dia dan Ku-lo Hwesio hanya bersua secara
sepintas saja, jika berjumpa kembali pada waktu yang sangat lama,
bisa saja kekeliruan itu terjadi.
Tetapi dia baru saja
berpisah dengan Ku-lo Hwesio pagi ini, lagi pula raut wajah pendeta
itu sekali pun dia diharuskan melukis dengan mata terpejam pun,
pemuda itu sanggup melakukannya, bagaimana mungkin bisa keliru.
Hwesio tua ini sudah
jelas adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay.
Tatkala Hwesio tua
itu menyaksikan paras muka Bong
Thian-gak berubah tak menentu, pelan-pelan dia berkata. "Lolap
adalah Ku-lo dari Siau-lim-si...."
"Benar! Kau memang
Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si!" pekik Bong
Thian-gak dalam hati.
Sementara itu Hwesio
tua itu telah melanjutkan kembali katakatanya setelah berhenti
sejenak, "Sejak delapan tahun lalu, Pinceng selalu menutup diri di
dalam kuil Siau-lim-si, baru belakangan ini Pinceng menyelesaikan
semediku dan buru-buru menuju ke Kay-hong, sampai di sini pun paling
baru beberapa jam lalu, mengapa Lolap tak boleh mengatakan
pertemuanku dengan Sicu pada malam ini adalah pertemuan kita yang
pertama kali?"
Benak
Bong Thian-gak mendengung keras
sesudah mendengar ucapan itu, pikirnya, "Aneh, mengapa bisa muncul
dua orang Ku-lo Sinceng? Yang satu sudah tiba di gedung Bu-lim
Bengcu sejak tiga hari berselang, sedang yang lain baru tiba di
Kay-hong pada malam ini, padahal raut wajah mereka berdua persis.
seperti pinang dibelah dua, lantas yang manakah baru
Ku-lo Sinceng yang asli?"
Benar-benar merupakan
suatu peristiwa besar, munculnya Ku-lo Sinceng ganda menandakan pula
betapa berbahayanya situasi dalam Bu-lim dewasa ini.
Diam-diam
Bong Thian-gak membayangkan
gerak-gerik Hwesio tua itu serta membandingkan dengan gerak-gerik
Ku-lo Hwesio yang dijumpainya dalam gedung Bu-lim Bengcu.
Tiba-tiba
Bong Thian-gak menjerit kaget, "Ah!
Kalau begitu dia adalah Kaucu ...."
Paras muka
Bong Thian-gak pada saat itu
benar-benar berubah hebat sekali.
Sementara Hwesio tua
itu pun seakan-akan telah menyadari akan datangnya ancaman bahaya,
dengan wajah serius ujarnya, "Sicu telah menemukan masalah besar
apa?"
"Celaka!" seru
Bong Thian-gak dengan gelisah.
"Keselamatan jiwa para jago yang berada dalam gedung Bu-lim Bengcu
terancam oleh bahaya maut."
"Bagaimana penjelasan
Sicu tentang perkataan ini?"
Dengan sinar mata
berkilat Bong Thian-gak
menatap wajah Hwesio tua itu lekat-lekat, kemudian katanya, "Taysu,
aku ingin tahu bagaimana caramu membuktikan bahwa kau benar-benar
Ku-lo Sianceng dari Siau-lim-si?"
"Apakah di Bu-lim
muncul seorang Ku-lo lagi?" tanya Hwesio tua itu dengan paras muka
berubah.
Bong
Thian-gak segera manggut-manggut, "Benar, bahkan kalian
berdua mempunyai wajah dan bentuk badan yang persis sama, bahkan
perawakan tubuh kalian pun tidak berbeda."
Mendengar perkataan
itu, tiba-tiba Hwesio tua itu memejamkan mata sambil termenung,
tiba-tiba wajahnya berubah kembali.
"Siancay! Siancay!
Sungguh tak disangka peristiwa yang terjadi pada delapan tahun
berselang kini telah berkembang menjadi suatu ancaman besar yang
mengerikan."
Sampai di situ, dia
memejamkan kembali matanya sambil termenung seorang diri.
Kurang lebih setengah
peminuman teh kemudian Hwesio itu baru membuka mata, setelah
menghela napas sedih, katanya, "Sejak delapan tahun lalu,
Put-gwa-cin-kau sudah melakukan pembunuhan terhadap jago-jago
persilatan, setelah melewati delapan tahun yang panjang,
perkembangan mereka sudah benar-benar mencapai titik yang paling
berbahaya untuk keselamatan dunia persilatan."
"Ai! Andaikata
Pinceng dapat menyadari akibatnya semenjak delapan tahun berselang,
lalu mengambil tindakan pengamanan, niscaya keadaan tak akan
berkembang menjadi begini. Oh Ciong-hu pun tak sampai terbunuh."
Bong
Thian-gak berkerut kening mendengar perkataan itu.
Melalui berbagai dugaan dan analisanya, dia yakin Hwesio tua di
hadapannya sekarang benar-benar adalah Ku-lo Hwesio dari
Siau-lim-si, tapi dia tak habis mengerti mengapa Ku-lo Hwesio yang
asli ini baru keluar dari masa semedinya hari ini?
Sebab kalau didengar
dari pembicaraannya, pendeta itu seperti sudah mengetahui gejala
pergerakan Put-gwa-cin-kau, mengapa dia tak berusaha menghalangi
penyebaran pengaruh Put-gwa-cin-kau?
Berpikir demikian,
dengan penuh emosi Bong
Thian-gak berkata, "Seandainya sejak delapan tahun lalu Sinceng tahu
pergerakan Put-gwa-< in-kau,
mengapa kau biarkan berkembang lebih jauh?"
Ku-lo Hwesio menghela
napas panjang mendengar teguran Bong
Thian-gak itu, ucapnya, "Sicu jangan emosi, sebenarnya
hingga sekarang pun Pinceng belum mengetahui keadaan yang
sesungguhnya Put-gwa-cin-kau
itu, delapan tahun berselang aku pun tak lebih hanya berjumpa
seorang anak perempuan dari Put-gwa-cin-kau."
Setelah berhenti
sejenak dan menghela napas panjang, Hwesio itu menyambung lebih
jauh, "Bercerita tentang kejadian delapan tahun berselang, suatu
malam bulan purnama, Pinceng sedang membaca doa di ruang belakang
kuil Siau-lim-si, tiba-tiba muncul seorang gadis muda di hadapanku,
gadis itu berusia empat belas tahunan, berparas cantik, senyumnya
menawan hati dan membuat orang terkesima. Sejak hari itulah setiap
malam selama empat puluh sembilan hari berturut-turut gadis itu
selalu muncul di bukit bagian belakang untuk menyaksikan Pinceng
berlatih, selama itu dia tak pernah mengucapkan sepatah kata pun,
pada malam kelima puluh itulah untuk pertama kalinya dia berbicara
dengan Pinceng."
Dengan perasaan
tercengang Bong Thian-gak
bertanya, "Apa yang dia katakan kepada Sinceng?"
"Dia bilang, dia
murid Put-gwa-cin-kau, berhubung mendapat perintah Cong-kaucu untuk
mencelakai Pinceng, maka dia minta Pinceng berbuat bajik dengan
menyerahkan jiwaku kepadanya."
"Lantas bagaimana
jawaban Taysu?"
"Mendengar perkataan
bocah perempuan yang lucu dan sama sekali tidak membawa hawa sesat
itu Pinceng cuma tersenyum, apalagi aku belum pernah mendengar di
Bu-lim terdapat Put-gwa-cin-kau, Pinceng anggap ucapan itu hanya
perkataan bocah kecil, itulah sebabnya Pinceng pun menjawab, 'Bila
kau menginginkan jiwa Pinceng, baiklah akan Pinceng serahkan
kepadamu!'."
"Maka bocah perempuan
itu pun turun tangan terhadap Taysu?"
Kembali Ku-lo
mengangguk, "Benar, bocah perempuan itu segera berjalan mendekat dan
memukul punggung Pinceng sebanyak empat kali, kemudian ujarnya
kepadaku bahwa dia telah menggunakan ilmu pukulan untuk melukai
delapan nadi penting dalam tubuhku, biasanya orang lain akan tewas
pada hari ketujuh, tapi berhubung tenaga dalam Pinceng sempurna,
maka saat kematiannya dapat diundur."
"Selesai mengucapkan
perkataan itu, bocah perempuan itu segera pergi, sedangkan Pinceng
pun tidak mengingat kejadian itu lagi, sebab pukulan bocah perempuan
itu di atas punggungku amat pelan, bukan saja tak bertenaga dalam,
tenaga sedikit pun tak ada. Ai, siapa tahu ilmu silat yang ada di
kolong langit memang sukar diduga sebelumnya."
"Apakah Taysu
menderita luka?" tanya Bong
Thian-gak keheranan bercampur kaget.
Ku-lo Hwesio menghela
napas panjang, "Sejak itulah Pinceng merasakan peredaran darahku
tidak lancar, terutama bila sampai pada delapan nadi pentingku,
segera akan terasa sumbatan pada aliran darahku, lambat-laun
sumbatan itu terasa makin berat dan parah, saat itulah Pinceng baru
merasa terperanjat sekali."
Bicara sampai di
situ, dia menghela napas panjang, lanjutnya, "Semua jago yang ada di
kolong langit, termasuk juga anak murid partai kami, siapa yang
menduga pengumuman pengunduran diri Pinceng pada delapan tahun
berselang sesungguhnya untuk mengobati luka dalamku?"
Bong
Thian-gak benar-benar terperanjat sekali. "Hanya dengan
empat tepukan ringan si bocah perempuan itu, Pinceng harus berbaring
delapan tahun di atas ranjang?" serunya.
"Dalam masa delapan
tahun duduk bersila menghadap dinding, Pinceng menyadari pukulan
maut itu tak lain adalah Soh-li-jian-yang-sin-kang, tentunya
Ko-siauhiap bisa membayangkan sampai dimanakah kelihaian pukulan
sakti itu."
"Masa gadis cilik itu
memiliki kepandaian sakti yang begitu jahat? Kalau begitu dia adalah
Jit-kaucu!" seru Bong
Thian-gak terperanjat.
"Dalam kitab ilmu
silat, Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan salah satu di antara tiga
ilmu pukulan sakti, kepandaian semacam ini tidak setiap orang bisa
mempelajari. Konon untuk berlatih kepandaian itu, dia harus berlatih
sejak berusia tiga tahun, sampai latihan itu berhasil,
keperawanannya tak boleh hilang. Ketika kuperiksa keadaan luka yang
diderita To-sicu dari Kay-pang tadi, segera kubuktikan bahwa dia
terluka akibat pukulan Jian-yang-ciang, menurut dugaan Pinceng,
orang yang telah mencelakai To-sicu itu kemungkinan besar adalah si
bocah perempuan yang pernah Pinceng jumpai pada delapan tahun
berselang."
Mencoba memperkirakan
usia Jit-kaucu, katanya, "Betul, Jit-kaucu adalah si bocah perempuan
itu."
"Setelah delapan
tahun bersemedi untuk mengobati luka yang kuderita, Pinceng telah
memahami bagaimana cara mengobati luka itu, Pinceng rasa nyawa
To-sicu dari Kay-pang itu tak akan terancam lagi, namun ilmu
silatnya sulit pulih kembali seperti sedia kala!"
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, menurut catatan
dalam kitab ilmu silat, Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan pukulan
yang tak terobati, sekali pun To
Siau-hou harus kehilangan ilmu silatnya, bisa selamat dari
ancaman kematian pun telah terhitung luar biasa, ai
... tampaknya di antara orang-orang
Put-gwa-cin-kau, Jit-kaucu merupakan musuh paling tangguh bagi dunia
persilatan."
"Bila dihitung bocah
perempuan itu mulai berlatih ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang mulai
berusia tiga tahun, hingga hari ini mungkin sudah ada dua puluh
tahun hasil latihannya, ia sudah berlatih hingga mencapai tingkat
kesembilan, bila dibiarkan mendalami ilmu itu selama tiga tahun
lagi, maka dia akan menyelesaikan kepandaian itu, saat itu tubuhnya
akan kebal dan tiada orang yang bisa menandinginya lagi."
Ketika berbicara
sampai di situ, sepintas rasa pedih melintas pada wajah Ku-lo
Sinceng.
Walaupun
Bong Thian-gak tidak memahami
seluk-beluk ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang, tapi dari sebuah kitab
dia pernah membaca catatan tentang ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang
dan ilmu itu memang merupakan ilmu paling sesat dan paling dahsyat
di kolong langit ini.
Tiba-tiba
Bong Thian-gak berkata dengan suara
dalam, "Tolong tanya Taysu, apakah di dunia saat ini sudah tiada
orang yang bisa melawan Soh-li-jian-yang-sin-kang lagi?"
Sambil menggeleng
kepala Ku-lo Siceng menghela napas panjang, "Hingga kini Lolap belum
berjumpa lagi dengan Jit-kaucu, aku pun belum begitu jelas sampai
tingkat berapakah ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kangnya, andai benar
telah mencapai tingkat kesembilan, maka hal ini benar-benar gawat."
"Jauh hari sebelum
Pinceng keluar dari pengasingan, telah kuutus jago-jago dari kuil
kami untuk menyelidiki situasi dalam Bu-lim serta organisasi
Put-gwa-cin-kau yang makin berkembang. Menurut hasil penyelidikan,
Kaucu pertama sampai Kaucu kesembilan Put-gwa-cin-kau boleh dibilang
merupakan jago-jago berilmu tinggi, persoalan yang paling rumit
dewasa ini adalah asal-usul serta gerakan yang dilakukan kesembilan
orang Kaucu itu."
"Situasi dunia
persilatan sekarang, musuh berada di tempat gelap sedang kita di
tempat terang, bila umat persilatan ingin mengubah situasi, maka
harus mengubah diri ke tempat gelap, dengan cara gelap lawan gelap
itulah usaha kita untuk menyelamatkan dunia persilatan baru akan
mendatangkan hasil yang diinginkan."
"Apa yang dimaksud
dengan siasat gelap melawan gelap?"
"Yang dimaksud siasat
gelap lawan gelap adalah di luar lingkaran sembilan partai
persilatan daratan Tionggoan, kita harus membentuk suatu organisasi
penyerang yang tangguh dan khusus untuk menjegal gerak-gerik musuh."
Sesudah mendengar
ucapan Ku-lo Hwesio ini, Bong
Thian-gak merasa Hwesio tua ini agaknya sudah mempunyai suatu
rencana yang matang untuk menghadapi pertarungan melawan
Put-gwa-cin-kau di masa mendatang.
Sejak delapan tahun
lalu, Put-gwa-cin-kau telah turun tangan keji terhadap Ku-lo Hwesio,
rencana busuk mereka ini boleh dibilang keji sekali.
Dunia persilatan
dewasa ini terdapat dua pemimpin yang paling berkuasa, mereka adalah
Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si serta Oh Ciong-hu, Bengcu dunia
persilatan.
Bila dua orang ini
sampai terbunuh, secara otomatis dunia persilatan akan kehilangan
pemimpin mereka.
Sekarang
Put-gwa-cin-kau telah mengutus orang untuk menyamar sebagai Ku-lo
Hwesio dan menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu Dari tindakan
mereka ini, tampaknya orang-orang Put-gwa-cin-kau menyangka Ku-lo
Hwesio telah tewas.
Justru karena
peristiwa ini, asal umat persilatan menggunakan siasat melawan
siasat, kemudian menangkap Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau yang menyaru
sebagai Ku-lo Hwesio, bisa jadi orang itu akan tertangkap basah.
Maka setelah melalui
pemikiran yang mendalam, Bong
Thian-gak berkata dengan suara dalam, "Taysu, Wanpwe hendak
memberitahu satu hal kepadamu, Put-gwa-cin-kau telah mengutus
Sam-kaucu menyaru sebagai Sinceng dan kini menyusup ke dalam gedung
Bu-lim Bengcu."
Secara ringkas dia
lantas menceritakan semua peristiwa yang terjadi belakangan ini
kepada Ku-lo Hwesio, hanya soal asal-usulnya saja yang tetap dia
rahasiakan.
Sehabis mendengar
keterangan itu, Ku-lo Hwesio berkerut kening, lalu menghela napas
dengan sedih, katanya, "Hanya untuk menjaga jangan sampai mengacau
situasi dunia, Pinceng muncul agak terlambat, terhadap mata-mata
yang menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu pun tidak melakukan
suatu tindakan apa pun, ai, siapa tahu tindakanku ini justru
mengakibatkan kematian Kongsun-sicu, ai
...."
"Dari berita Ko-sicu
tadi, berarti musuh yang menyusup ke dalam Bu-lim Bengcu sekarang
adalah Sam-kaucu (ketua ketiga) serta Cap-go-kaucu yang telah
diketahui, tapi siapa pula Cap-go-kaucu itu?"
"Soal ini Wanpwe
kurang begitu jelas," kata Bong
Thian-gak sambil menggeleng kepala.
Mendadak Ku-lo Hwesio
berkata lagi dengan serius, "Ko-sicu adalah pemuda berbudi luhur,
gagah dan perkasa, sudah pasti bukan pesilat kasaran, bagaimana pun
Pinceng memeras otak, tidak pernah berhasil mengetahui asal-usul
Sicu, bersediakah Sicu menjelaskan asal-usulmu yang sebenarnya agar
umat persilatan pun tidak menaruh curiga kepadamu?"
Dengan wajah sedih
Bong Thian-gak Thian-gak
menghela napas panjang, sahutnya, "Wanpwe tak dapat menerangkan
asal-usulku karena aku benar-benar mempunyai kesulitan yang tak
dapat diterangkan, sebenarnya Wanpwe ingin menjauhi masalah ini dan
mengasingkan diri dari dunia persilatan, tetapi dendam berdarah atas
kematian guruku belum terbalas, sehingga sulit bagiku untuk
mengundurkan diri begitu saja."
"Siapakah musuh besar
Ko-sicu?"
"Put-gwa-cin-kau,
tapi belum kuketahui siapa yang melakukan."
Ku-lo Hwesio menghela
napas panjang, "Ai, Ho Put-ciang Sutit selalu murung karena tidak
mengetahui asal-usul Ko-sicu, dia telah minta kepada Pinceng
menyelidiki persoalan ini, tetapi bila Sicu mempunyai kesulitan, ya
tak usah dibicarakan lagi."
"Oh, jadi Bengcu dan
Taysu ...."
Agaknya Ku-lo Hwesio
telah mengetahui apa yang hendak dia tanyakan, dengan cepat dia
menjawab, "Ho Put-ciang Sutit telah tahu pihak lawan telah menyaru
sebagai Pinceng."
Mendengar perkataan
itu Bong Thian-gak menjadi
gembira, segera serunya, "Bagus sekali bila begitu, dengan demikian
kita pun tak usah menyampaikan kabar itu kepada Ho-tayhiap, kalau
tidak, entah berapa banyak tenaga dan waktu yang harus kita butuhkan
lagi?"
"Ko-sicu, Pinceng
hendak minta bantuanmu, bersediakah kau mengabulkannya?"
"Biar mati pun Wanpwe
bersedia."
"Pinceng rasa Sicu
tentu sudah mengerti, apa sebabnya aku tak menampilkan diri untuk
sementara waktu, cuma gedung Bu-lim Bengcu saat ini berbahaya
sekali, Pinceng kuatir Ho-hiantit yang berada di situ sendirian tak
mampu menghadapi situasi yang semakin gawat, oleh karena itu Pinceng
mohon bantuan Sicu membantu mereka."
Mendengar ucapan itu,
Bong Thian-gak berkerut
kening, lalu ujarnya, "Wanpwe pernah bertempur melawan para
pendekar, Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau sekalian juga telah mengenali
wajah asliku, entah bantuan macam apakah yang bisa Wanpwe berikan
untuk Ho-tayhiap? Harap Taysu sudi memberi petunjuk."
Ku-lo Hwesio
termenung sebentar, kemudian ujarnya, "Bantuan yang Pinceng harapkan
dari Ko-sicu adalah membantu Ho Put-ciang Hiantit membekuk
Sam-kaucu."
"Mengapa Sinceng
tidak langsung mengambil tindakan saja?"
Kembali Ku-lo Hwesio
menghela napas, "Gerak-gerik Put-gwa-cin-kau dalam Bu-lim amat
rahasia, hingga saat ini bahan yang berhasil Pinceng kumpulkan
tentang perkumpulan ini masih sedikit, oleh sebab itu Lolap dan
Ho-hiantit telah memutuskan untuk sementara jangan menggebuk rumput
mengejutkan ular."
"Sam-kaucu yang
menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu saat ini telah melaksanakan
siasat keji membunuh para jago persilatan satu per satu, apabila
orang semacam ini dibiarkan mengendon terus di situ, kemungkinan
besar akan lebih banyak jago persilatan dalam gedung Bengcu yang
akan menjadi korban."
Ku-lo Hwesio
manggut-manggut, "Pinceng merasa serba salah, ai,
cepat atau lambat kita pasti akan
bentrok juga secara kekerasan dengan pihak Put-gwa-cin-kau, tapi
yang membikin Pinceng ngeri adalah tidak diketahuinya berapa banyak
mata-mata Put-gwa-cin-kau yang telah diselundupkan ke berbagai
perguruan dewasa ini, seandainya kita melakukan suatu tindakan,
mungkinkah pihak lawan akan segera melancarkan pembantaian secara
besar-besaran lewat mata-mata mereka itu?"
Mendengar perkataan
itu, Bong Thian-gak merasakan
pula betapa gawatnya situasi yang mereka hadapi, tampaknya kekuatan
serta pengaruh Put-gwa-cin-kau telah menguasai seluruh dunia
persilatan dan mendesak umat persilatan, tak heran sejak awal sampai
akhir Ku-lo Hwesio selalu menunjukkan sikap amat tegang dan serius.
Mendadak satu ingatan
melintas dalam benak Bong
Thian-gak, ujarnya kemudian dengan suara nyaring, "Taysu, mengapa
kita tidak mencoba membekuk salah seorang anggota mereka, lalu
disiksa agar mengungkapkan segala persoalan yang ada?"
Ku-lo Hwesio menghela
napas, "Pusat kekuatan dan kekuasaan yang sebenarnya dari
Put-gwa-cin-kau sebagian besar terletak di tangan Kaucunya, hal ini
tak akan mengungkap banyak berita penting yang berguna untuk kita."
"Ah, betul! Mengapa
Wanpwe tidak mencoba membekuk Jit-kaucu saja?"
Ku-lo Hwesio
menggeleng kepala berulang kali, "Jit-kaucu memiliki ilmu
Soh-li-jian-yang-sin-kang yang maha dahsyat, lebih baik Ko-sicu tak
usah mengusik dirinya."
"Jit-kaucu sangat
telengas, membunuh tanpa berkedip, bila perempuan itu tidak dibasmi,
dunia persilatan tak akan bisa tenang."
"Ko-sicu, aku minta
kau jangan bertindak secara gegabah," ucap Ku-lo Hwesio. "Bukan
Pinceng sengaja mengagulkan lawan dengan merendahkan kegagahan
sendiri, tapi hingga kini sudah ada puluhan jago lihai persilatan
yang tewas oleh pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang, delapan tahun
lalu Pinceng telah merasakan empat kali pukulannya dan harus
berbaring selama bertahun-tahun, hingga kini pun penyakit itu belum
sembuh seratus persen, oleh sebab itu Pinceng anjurkan kepada Sicu,
lebih baik jangan terlalu menuruti emosi sendiri."
Dengan perasaan apa
boleh buat Bong Thian-gak
menghela napas panjang, "Ya sudahlah, kalau begitu Wanpwe akan
melaksanakan seperti apa yang Taysu perintahkan."
Ku-lo Hwesio berkata,
"Ko-sicu, Pinceng telah berkeputusan untuk turun tangan lebih dahulu
terhadap Sam-kaucu, harus diketahui, kita tak boleh mengorbankan
lebih banyak jago persilatan lagi di tangannya!"
Dengan berseri
Bong Thian-gak bertepuk tangan
kegirangan, "Keputusan ini memang paling bagus, penyaruan Sam-kaucu
atas diri Sinceng boleh dibilang demikian miripnya sehingga sukar
dibedakan lagi mana yang asli dan mana yang palsu, maka Sinceng pun
dapat memanfaatkan peluang itu untuk menyelundup ke dalam
Put-gwa-cin-kau."
Diam-diam Ku-lo
Hwesio terkejut mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian sambil
menghela napas, "Kecerdasan otak Sicu sungguh mengagumkan,
sebenarnya Pinceng telah berkeputusan untuk melakukan tindakan ini,
tapi berhubung Ho-hiantit sekalian menolak, maka hingga malam baru
bisa dilakukan."
Tiba-tiba
Bong Thian-gak merasa bahwa Ku-lo
Hwesio merupakan pemimpin pasukan penyergap dunia persilatan,
apabila dia sudah menyusup ke dalam barisan musuh, lalu siapa yang
akan memimpin pasukan? Apalagi menyusup ke sarang harimau merupakan
suatu tindakan yang berbahaya sekali.
Berpikir sampai di
sini, dengan cemas Bong
Thian-gak berkata, "Taysu, aku rasa keputusan ini...."
Sebelum anak muda itu
menyelesaikan perkataannya, Ku-lo Hwesio
telah menukas, "Ko-sicu tak usah ragu-ragu, Pinceng sudah lama
menyusun rencana dengan rapi untuk penyusupan ke tubuh lawan, sedang
mengenai tugas Pinceng selama ini pun telah kuatur semuanya dongan
rapi, yang paling penting buat Ko-sicu adalah besok pukul lima
sore harap kau datang di
pagoda Leng-im-po-tah yang terletak tiga li di tenggara kota
Kay-hong untuk bergabung dengan seorang pendekar lagi, kemudian kita
bersama-sama membasmi Sam-kaucu dari muka bumi. Sekarang Pinceng
masih ada urusan penting lainnya untuk segera diselesaikan sehingga
tak mungkin memberi penjelasan lebih jauh."
"Baiklah, kita
berpisah sampai di sini dulu, segala sesuatunya
besuk
harap Sicu bersedia menuruti perkataan
pendekar itu saja."
Selesai berkata Ku-lo
Hwesio segera bangkit, tampaknya persoalan sudah tak bisa
ditunda-tunda lagi, dia mengebaskan ujung bajunya dan melompat turun
dari atas batu cadas.
"Wanpwe akan
mengikuti petunjuk Locianpwe!" seru Bong
Thian-gak lantang, sementara Ku-lo Hwesio sudah pergi
jauh.
Setelah menempuh
perjalanan sehari penuh, Bong
Thian-gak merasa lelah, maka malam itu dia menginap di dalam
kota Kay-hong, semalaman dilewatkan dengan tenang. Ketika menjelang
kentongan kelima, seperti apa yang dipesan Ku-lo Hwesio,
Bong Thian-gak segera mengerahkan
Ginkangnya menuju ke arah tenggara, setelah berjalan tiga-empat li,
betul juga ada sebuah pagoda yang tinggi menjulang ke angkasa, di
bawah sinar rembulan bangunan itu nampak megah dan mentereng.
Bong
Thian-gak baru saja mendekati bukit kecil itu, mendadak
dari atas pagoda di samping kiri melayang turun sesosok bayangan
orang menyongsong kedatangannya, kemudian menegur, "Apakah
Ko-cuangsu?" '
"Betul, aku Ko Hong,
siapakah saudara?"
Di bawah cahaya malam
terlihat seorang pemuda berdandan sastrawan, dia mengenakan pakaian
berwarna biru, memegang sebuah kipas di tangan kirinya dan bersikap
amat lembut, siapa menduga kalau pemuda sastrawan ini sebenarnya
merupakan seorang pendekar besar yang menggetarkan sungai telaga?
Sastrawan berbaju
biru itu memperhatikan Bong
Thian-gak beberapa kejap, lalu katanya, "Aku Thia Leng-juan, atas
pesan Ku-lo Sinceng khusus datang kemari untuk menanti kedatangan
Ko-cuangsu."
Begitu mendengar nama
"Thia Leng-juan", timbul perasaan hormat dalam hati
Bong Thian-gak, buru-buru sahutnya
dengan hormat, "O, rupanya Im-ciu-tay-ji-hiap, sudah lama kudengar
nama besarmu, maaf bila kau menunggu terlampau lama."
Tay-ji-hiap (pendekar
sastrawan) Thia Leng-juan dari kota Im-ciu termasyhur belakangan
ini, Bong Thian-gak sama
sekali tak menyangka dia seperti sastrawan lemah yang berusia tiga
puluh tahunan, namun merupakan seorang pendekar yang disegani orang.
Thia Leng-juan
menjura, kemudian katanya, "Ko-cuangsu tak perlu sungkan, persoalan
yang dipesankan Ku-lo Sinceng
tentunya telah Ko-heng pahami bukan?"
"Ya, aku siap
menunggu perintah Thia-tayhiap."
"Ku-lo Sinceng
berpesan agar kita bekerja sama dengan Ho-tayhengcu untuk
bersama-sama menaklukkan Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau, Ku-lo Sinceng
juga berpesan agar gempuran ini harus berhasil, tak boleh gagal,
itulah sebabnya kita perlu merundingkan suatu cara untuk menghadapi
dirinya."
"Apakah Thia-tayhiap
sudah mengatur persiapan?"
Im-ciu-tay-ji-hiap
Thia Leng-juan mendongak memandang cuaca, lalu katanya, "Menjelang
tengah malam masih ada satu jam, tak ada salahnya kita naik dahulu
ke atas pagoda dan berunding di sana, sambari berunding kita pun
bisa mengawasi gerak-gerik di sekeliling tempat itu dengan jelas."
"Ucapan Thia-tayhiap
memang benar."
Seusai berkata,
mereka berdua segera berjalan menuju ke arah pagoda itu.
"Mari kita berada di
sebelah kiri pagoda saja," ajak Thia Leng-juan kemudian. Selesai
berkata dia melompat naik ke atas lebih dahulu.
Lompatannya mencapai
empat depa tingginya, lalu tampak Thia Leng-juan berjumpalitan
sekali dan tangan kanan menekan di atas atap rumah pagoda tingkat
empat.
Dengan meminjam
tenaga tekanan itulah tubuhnya seenteng bulu melayang kembali tiga
depa dan melayang turun pada tingkat teratas.
Demonstrasi ilmu
meringankan tubuh yang amat sempurna itu segera menimbulkan rasa
kagum Bong Thian-gak, dengan
cepat dia ikut menyusul dari belakang, namun naik setingkat demi
setingkat.
Gerakan tubuh yang
digunakan pemuda itu dilakukan dengan kecepatan luar biasa, hanya
dalam beberapa kejap saja Bong
Thian-gak pun sudah tiba pula di puncak pagoda itu.
Thia Leng-juan agak
tertegun melihat kepandaiannya itu sehingga tanpa terasa tegurnya,
"Ko-heng, apakah ilmu meringankan tubuh yang kau gunakan itu adalah
Im-ti-peng (Lari di awan)?"
Bong
Thian-gak tersenyum, "Masih selisih jauh, belum
berhasil mencapai ilmu lari di awan, harap Thia-tayhiap jangan
menertawakan."
Walaupun dari Ku-lo
Sinceng Thia Leng-juan sudah mendengar ilmu silat
Bong Thian-gak lihai sekali, tapi
waktu berjumpa dengan Bong
Thian-gak untuk pertama kalinya tadi, sedikit banyak timbul juga
rasa tak percaya di dalam hatinya.
Tapi sekarang setelah
menyaksikan dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang bergitu
hebat, baru ia terperanjat.
"Ternyata pemuda ini
benar-benar memiliki kepandaian amat tangguh," dia berpikir. "Sudah
jelas ilmu Im-ti-peng yang digunakan barusan sudah mencapai
tingkatan yang amat sempurna, dari tingkatan ilmu meringankan
tubuhnya itu seandainya dia mau melompat mungkin sekali lompat saja
dapat mencapai ketinggian empat depa!"
Berpikir sampai di
situ, dia lantas berkata sambil tertawa ringan, "Ko-heng bisa
merahasiakan kelihaian, sungguh luar biasa, tampaknya Ku-lo Sinceng
memang tak salah memilih."
"Pujian Thia-tayhiap
benar-benar membuat aku malu sendiri."
Thia Leng-juan
tertawa. "Ko-heng, mari kita duduk di atas wuwungan saja," ajaknya
kemudian.
Mereka berdua pun
duduk saling berhadapan.
"Thia-tayhiap," ujar
Bong Thian-gak kemudian,
"Sam-kaucu adalah seorang licik bagai
rase, seandainya dia mengetahui titik kelemahan dalam
rencana kita ini, mungkin dia tidak datang bersama Ho-bengcu, apa
yang harus kita lakukan?"
"Rencana untuk
menyingkirkan Sam-kaucu merupakan rencana yang ditetapkan Ku-lo
Sinceng semalam, hanya Ho-bengcu, Ko-heng dan aku saja yang
mengetahui rencana ini, jadi aku pikir tak mungkin rahasia ini
bocor, Ho-bengcu sendiri pun tak mungkin membocorkan rahasia itu,
jadi menurut pendapatku, yang perlu kita kuatirkan sekarang adalah
seandainya Sam-kaucu berhasil meloloskan diri dari kepungan dan
melarikan diri."
"Walaupun ilmu silat
Sam-kaucu sangat lihai, namun Ho-bengcu sendiri pun bukan orang
sembarangan, apalagi dibantu Thia-tayhiap, aku pikir sekali pun
musuh adalah makhluk berkepala tiga berlengan enam belum tentu
sanggup mempertahankan diri."
Thia Leng-juan
manggut-manggut, ujarnya pula, "Ya, semoga saja sesuatunya berjalan
lancar, kalau tidak, entah bagaimana akibatnya?
Cuma untuk menjaga
segala hal yang tidak diinginkan, kita perlu merundingkan sesuatu
rencana yang matang untuk menghadapi lawan."
"Ya, memang
seharusnya begitu," Bong
Thian-gak mengangguk.
Thia Leng-juan
termenung beberapa saat, ujarnya kembali, "Sebentar bila Ho-bengcu
dan Sam-kaucu tiba di pagoda Leng-im-po-tah nanti, Ho-bengcu akan
membuka kartu Sam-kaucu dan membongkar rahasia lawan, maka
pertarungan pasti segara berkobar, seandainya Ho-bengcu tidak
sanggup mempertahankan diri, saat itulah aku akan terjun ke dalam
arena untuk bersama-sama mengembut Sam-kaucu, sedang Ko-heng
bertanggung jawab menghadang musuh yang mencoba melarikan diri, atau
seandainya aku dan Ho-bengcu tidak sanggup mempertahankan diri dari
gempuran lawan, harap Ko-heng segera tampil dan ikut terjun ke dalam
pengerubutan itu."
"Thia-tayhiap, aku
ingin bertukar tugas dengan dirimu, apakah kau bersedia?"
"Ya, begitu pun boleh
juga."
"Bila Sam-kaucu sudah
sampai di sini nanti, aku ingin segera muncul dan bertarung
dengannya jauh sebelum Ho-bengcu bertarung lebih dahulu dengannya,
karena Ho Put-ciang adalah seorang Bengcu dunia persilatan, tidak
baik jika dia dibiarkan bertempur begitu saja."
Thia Leng-juan
memanggut, "Perkataan Ko-heng memang benar, cuma hal ini akan
merepotkan dirimu!"
Bong
Thian-gak tersenyum, "Aku ada dendam kesumat sedalam
lautan dengan Put-gwa-cin-kau, merupakan musuh besarku pula, maka
aku telah bertekad membasmi mereka sampai ke akar-akarnya."
"Ko-heng, sekarang
harap kau periksa dulu sekeliling tempat ini, kemudian pilihlah
tempat untuk menyembunyikan diri, sampai saat ini waktu yang
dijanjikan tinggal tiga perempat jam saja."
"Menurut pendapatku,
Thia-tayhiap lebih baik berjaga di sini saja, perlu diketahui,
seandainya Sam-kaucu melarikan diri, kemungkinan hesar dia akan
memilih ruang kosong, maka andaikata dia kabur menuju ke arah tiga
bagian dari pagoda lainnya, aku akan mencegatnya dari
sebelah kanan pagoda, kita perlu
berebut waktu dengannya."
Thia Leng-juan
memanggut, "Penjelasan Ko-heng memang tepat, aku yakin Sam-kaucu tak
akan bisa lolos dari cengkeraman kita."
"Sekarang saatnya
sudah hampir tiba, mumpung mereka belum datang, aku harus
bersembunyi dulu di sebelah kanan pagoda daripada Sam-kaucu melihat
jejak kita dari kejauhan."
Selesai berkata dia
lantas melompat turun dan menggelinding ke arah belakang, kemudian
bergerak menuju ke sebelah kanan pagoda dan duduk bersila di balik
kegelapan di depan pagoda itu.
Thia Leng-juan yang
berada di atas secara lamat-lamat dapat menyaksikan bayangan tubuh
Bong Thian-gak.
Sementara itu suasana
di sekeliling tempat itu amat sepi, malam itu tiada rembulan, hanya
bintang yang bertaburan di angkasa, seluruh jagad hanya dikilapi
oleh setitik sinar.
Walaupun waktu
bergerak amat lambat, akhirnya tengah malam menjelang juga.
Mendadak
Bong Thian-gak mendengar ada suara
orang berjalan di atas tanah di kejauhan sana.
Dengan cepat dia
membuka mata, tak lama kemudian dari depan pintu pagoda muncul dua
sosok bayangan orang.
Orang yang berada di
sebelah depan mengenakan jubah berwarna abu-abu dengan sebuah tasbih
tergantung di depan dada, tangan kanan menggenggam sebuah kebutan.
Tak bisa disangkal
lagi, dia adalah Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau yang menyaru sebagai
Ku-lo Hwesio.
Di belakangnya
mengikut seorang lelaki setengah umur yang berbadan kekar,
Bong Thian-gak dapat mengenali
sebagai Toa-suhengnya, si Busur raja lalim Ho Put-ciang.
Tampaknya Ho
Put-ciang sudah menyusun suatu rencana yang masak, maka begitu masuk
ke dalam pintu, dia segera memperlambat gerak tubuhnya untuk
mencegat jalan pergi Hwesio gadungan itu.
Ternyata Sam-kaucu
cukup cekatan, setelah maju beberapa langkah, mendadak dia berhenti
sambari membalik tubuh, lalu menegur, "Ho-hiantit, ada urusan apa
kau mengajak Pinceng kemari?"
Sebelum Ho Put-ciang
sempat menjawab, dengan cepat Bong
Thian-gak melompat ke arah mereka, sahutnya, "Ho-bengcu
sengaja mengajakmu kemari untuk bertemu denganku."
Ketika selesai
berkata, Bong Thian-gak sudah
berada beberapa kaki saja di hadapan Sam-kaucu.
Sam-kaucu yang
menyaru sebagai Ku-lo Hwesio nampak agak tertegun, kemudian serunya,
"Oh, rupanya Ko-sicu, Pinceng dan Ho-bengcu memang sedang
mencarimu."
Bong
Thian-gak tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, Sam-kaucu
kau tak usah berlagak sok alim lagi, Ku-lo Taysu dari Siau-lim-si
belum wafat, malam ini ada baiknya kalau kau memperlihatkan wajah
aslimu, daripada harus merasakan siksaan hidup."
Beberapa patah
perkataannya membuat paras muka Sam-kaucu berubah hebat, tanpa
terasa dia berpaling dan memandang sekejap ke arah Ho Put-ciang,
dengan cepat dia merasa gelagat tak menguntungkan.
Walaupun begitu, dia
masih bersikap tenang, katanya dengan suara lembut, "Ko Hong apa kau
katakan? Pinceng sedikit pun tidak mengerti...."
"Sam-kaucu," saat
itulah Ho Put-ciang buka suara. "Asal kau bersedia menjawab beberapa
pertanyaan, kami pun belum tentu akan membunuhmu, tentang
penyaruanmu sebagai Ku-lo Sinceng, sudah lama aku orang
she Ho mengetahuinya."
Sekarang Sam-kaucu
sadar bahwa rahasianya sudah terbongkar dan kini terperangkap dalam
jebakan orang.
Tapi nampaknya dia
sama sekali tidak memandang sebelah mata terhadap dua jago lihai
yang berada di hadapannya sekarang, dengan tenang dia tertawa seram,
"Hehehe, bagus sekali!"
"Aku tahu, cepat atau
lambat akhirnya kita bakal bentrok juga, Kaucu memang ditugaskan
untuk memusnahkan persekutuan dunia persilatan, untuk mewujudkan
tugasku ini, terpaksa harus menghabisi pemimpinnya lebih dahulu."
"Sam-kaucu, dengar
baik-baik, siapa Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau?" bentak Ho Put-ciang
dengan suara kereng.
Sam-kaucu tertawa
seram, "Tanyakan sendiri kepada raja akhirat, dia pasti akan
memberitahukan semua itu kepadamu."
Ho Put-ciang kembali
mengerut dahi, "Urusan sudah begini, siapakah
kau masih tetap belum sadar? Malam ini kami sengaja membuka kartu,
karena kami telah bertekad akan membinasakan kau, tak nanti kami
izinkan kau melarikan diri, bila kau bersedia bekerja sama, mungkin
aku masih dapat mempertimbangkan mengampuni jiwamu."
"Hm, hanya
mengandalkan kekuatan kalian berdua?" jengek Sam-kaucu sinis. "Aku
rasa kemampuan kalian masih belum cukup untuk mengendalikan
gerak-gerik serta kebebasanku."
Kembali
Bong Thian-gak tertawa
terbahak-bahak, "Hahaha, mana, mana, tak ada salahnya kita mencoba
kemampuan masing-masing."
Sementara itu
sepasang mata Sam-kaucu yang tajam memandang sekejap ke empat
penjuru dengan cepat, dari perubahan wajahnya jelas dia tidak
berhasil menemukan bayangan orang lain.
Sekali lagi Ho
Put-ciang membentak dengan suara keras, "Siapa Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau? Ayo cepat jawab."
"Bila kalian
mengetahui namanya berarti kalian tak bisa hidup melewati kentongan
kelima, lebih baik tak usah disebut," jawab Sam-kaucu hambar.
Bong
Thian-gak tertawa dingin, "Hehehe, aku justru tidak
percaya dengan segala takhayul, ayo katakan saja!"
Dengan sepasang
matanya yang tajam, Sam-kaucu memandang sekejap ke arah
Bong Thian-gak, lalu ujarnya, "Dasar
ilmu silat yang kau miliki amat sempurna, sebenarnya Kaucu pun
bermaksud mengajakmu bergabung dengan perkumpulan kami dan memangku
kedudukan tinggi, sekarang kau masih punya waktu untuk
mempertimbangkan tawaranku ini, jangan kau sia-siakan kesempatan
baik ini."
Bong
Thian-gak tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, semalam aku
sudah mengetahui hal ini dari mulut seorang pelindung hukum
Sam-kaucu, Jit-kaucu juga telah menyinggung masalah itu kepadaku,
tapi aku menampik tawaran ini, karena aku ingin mengetahui siapa
orang yang berhak memerintah diriku."
Paras muka Sam-kaucu
segera berubah menjadi dingin dan kaku, katanya kemudian, "Tampaknya
banyak rahasia perkumpulan kami yang telah kau ketahui, bila kau
tidak bersedia bergabung dengan kami, berarti hanya ada jalan
kematian untukmu."
"Mengapa kau tidak
menguatirkan keselamatanmu sendiri?"
"Tidak sampai
setengah jam, wilayah seluas sepuluh li di sekitar sini akan
dipenuhi oleh anak murid perkumpulan kami, mereka akan mengepung
tempat ini secara berlapis-lapis, coba bayangkan, bagaimana caranya
kalian meloloskan diri?"
Ketika mendengar
ucapan itu, Ho Put-ciang berkerut kening, lalu tegurnya, "Apakah kau
tidak berbohong?"
Sam-kaucu tertawa,
"Tentu saja bukan gertak sambal."
"Ho-tayhiap, jangan
kau percayai perkataannya itu," Bong
Thian-gak berseru lantang.
Sam-kaucu
terbahak-bahak, "Hahaha, niat untuk berjaga-jaga tak boleh tiada.
Ketika aku dan Ho-heng datang kemari tadi, jejak kita sudah
dibuntuti anak buah kami secara diam-diam, oleh karena itu
kedatanganku ke tempat ini pun tak pernah lolos dari pengamatan
mereka. Di sinilah kelebihan Put-gwa-cin-kau, juga kekurangan
Put-gwa-cin-kau kami."
"Kelebihan dan
kekurangan? Apa maksudmu?" tanya Bong
Thian-gak tertegun.
"Kelebihannya adalah
dapat berkomunikasi terus secara utuh dan tiada putus-putusnya,
setiap saat kami bisa mengadakan kontak secara terus-menerus, dapat
pula berjaga-jaga agar tidak terperangkap ke dalam jebakan musuh.
Kekurangannya adalah tidak adanya perasaan saling percaya
mempercayai antara segenap anggota Put-gwa-cin-kau, sehingga mereka
harus saling awas-mengawasi."
Bong
Thian-gak tersenyum, "Put-gwa-cin-kau menggunakan nama
Put-gwa atau tiada aku, artinya setiap orang yang bergabung dalam
perkumpulan ini, dia harus mempersembahan jiwa dan raganya untuk
perkumpulan sehingga mencapai keadaan Tanpa aku' (Put-gwa). Tapi
sekarang kau berani melancarkan kritik terhadap prinsip perkumpulan,
hal ini membuktikan kau merasa tak puas dengan keadaan itu, kalau
memang begitu mengapa kau tak memanfaatkan kesempatan ini untuk
meninggalkan jalan sesat dan kembali ke jalan benar?"
Mendengar ucapan itu,
paras muka Sam-kaucu berubah hebat.
"Tutup mulut!"
bentaknya keras. "Kini kedudukanku adalah Sam-kaucu dalam
Put-gwa-cin-kau, kedudukanku amat tinggi dan menguasai segenap jago
persilatan, kekuasaanku hanya di bawah satu orang tapi di atas
laksaan orang, aku pun memegang hak hidup banyak orang, siapa
hilang
aku tidak puas?"
"Bila demikian,
terpaksa kami harus turun tangan."
Selesai berkata,
Bong Thian-gak segera turun
tangan, sepasang telapak tangannya secepat kilat meluncur ke depan
melepas pukulan dahsyat.
Dimana serangan ini
dilepaskan, segulung angin tajam yang menggiriskan dengan membawa
deru angin yang mengerikan, bagaikan amukan gelombang dahsyat segera
meluncur dan menyapu ke tubuh lawan.
Serangan
Bong Thian-gak dilancarkan secepat
sambaran petir, bahkan sebelumnya tidak pernah memperlihatkan suatu
gejala apa pun, bagaimana pun lihai dan liciknya Sam-kaucu, tidak
urung dibikin kelabakan juga oleh datangnya ancaman itu.
Menanti Sam-kaucu
menyadari datangnya bahaya, angin pukulan yang kuat bagaikan baja
itu secepat petir sudah menekan tiba.
Menghadapi situasi
seperti ini, terpaksa dia harus menyambut datangnya ancaman itu
dengan keras lawan keras.
Diiringi suara
bentakan nyaring, Sam-kaucu segera merangkap sepasang telapak
tangannya di depan dada, kemudian bersama-sama dilontarkan ke depan.
Suara ledakan keras
yang memekakkan telinga berkumandang memecah keheningan.
Tubuh Sam-kaucu
mencelat ke tengah udara melewati kepala
Bong Thian-gak dan seperti seekor burung bangau
langsung kabur ke atas pagoda.
Tampak
Bong Thian-gak seperti sudah menduga
pihak lawan akan memanfaatkan datangnya angin pukulan itu untuk
melejit ke tengah udara dan melarikan diri.
Entah sedari kapan,
tahu-tahu dalam genggaman Bong
Thian-gak telah bertambah dengan sebilah pedang yang
memancarkan cahaya tajam berkilauan.
Tampak cahaya pelangi
hawa pedang secepat petir mengejar ke atas, lalu diiringi suara
dentingan nyaring terciptalah beribu bayangan pedang yang segera
menyebar ke empat penjuru.
Terkurung oleh cahaya
pedang itu, tubuh Sam-kaucu yang sedang melejit ke udara itu segera
berputar balik dan melayang turun ke bawah.
Cahaya pelangi segera
sirap dan Bong Thian-gak
dengan pedang terhunus sudah menghadang di depan Sam-kaucu.
Paras muka Sam-kaucu
kini diliputi perasaan kaget bercampur tercengang, sepasang matanya
tanpa berkedip mengawasi wajah Bong
Thian-gak, mungkin keampuhan dan kelihaian ilmu silat
Bong Thian-gak sama sekali di luar
dugaannya.
Selama hidup belum
pernah dia menjumpai suasana tegang, seram dan terancam keselamatan
jiwanya seperti apa yang dialaminya hari ini.
Semenjak gempuran
kekerasan itu disambut dengan keras lawan keras, dia sadar tenaga
dalam musuh masih tiga bagian lebih tangguh daripada kemampuan
sendiri, terutama serangan pedangnya yang amat lihai itu, kalau tadi
dia tidak berkelit dengan cepat, niscaya dia sudah keok sejak tadi.
Bukan itu saja, di
situ masih hadir Ho Put-ciang yang sudah diketahui ketangguhan ilmu
silatnya.
Bagaimana caranya
meloloskan diri dari situasi yang berbahaya ini?
Berbagai ingatan
segera berkecamuk dalam benaknya.
Tentu saja
Bong Thian-gak tidak memberi
kesempatan kepadanya untuk berpikir, kembali dia bergerak
melancarkan serangan dahsyat.
Pelan-pelan pedangnya
digetarkan, lalu ditujukan ke arah jalan darah Sim-kan-hiat di tubuh
Sam-kaucu.
Sepintas serangan
pedang itu nampaknya amat sederhana dan seakan-akan tidak disertai
tenaga, padahal di balik semua itu tersimpan suatu perubahan jurus
yang amat jahat, perubahan yang tak terhingga banyaknya.
Sam-kaucu bukan
manusia sembarangan, tentu saja dia tahu ancaman itu amat serius,
maka setelah menyaksikan gerakan itu, dia segera berdiri kaku sambil
bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Melihat musuh tidak
terpancing oleh jurus pedangnya, maka dia lantas mengubah gerakan
dan melepaskan tusukan secepat kilat.
Hawa tajam memancar
ke depan, bayangan orang berkelebat, tahu-tahu
Sam-kaucu itu sudah meloloskan diri dari ancaman lawan.
Bong
Thian-gak memang memiliki ilmu silat yang mengerikan,
begitu jurus serangan dilancarkan, semua dilakukan dengan kecepatan
bagaikan sambaran petir, di antara perputaran pergelangan tangannya,
hawa pedang menderu-deru, ia melancarkan serangkaian serangan ke
atas maupun ke bawah.
Sam-kaucu yang kena
didahului lawan jangankan melancarkan serangan balasan, untuk
menghindarkan diri dari babatan pedang musuh pun sulit bukan
kepalang.
Tampak dia merangkap
telapak tangan di depan dada, lalu menggenggam tasbih di lehernya,
berkelit ke kiri menghindar ke kanan, secara beruntun dia sudah
meloloskan diri dari ketiga belas jurus serangan pedang
Bong Thian-gak.
Dalam waktu singkat
kedua belah pihak sudah bergebrak belasan jurus, hal ini membuat Ho
Put-ciang dan pendekar sastrawan Thia Leng-juan yang bersembunyi di
balik pagoda merasa terperanjat.
Mereka berdua merasa
kelihaian ilmu pedang Bong
Thian-gak pada hakikatnya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa,
sebaliknya Sam-kaucu pun merupakan musuh tangguh yang tak boleh
dianggap remeh.
Sementara kedua orang
masih bertarung dengan serunya, dari sisi pinggangnya Ho Put-ciang
telah melolos busur besi baja andalannya, bersiap menghadapi segala
kemungkinan yang tak diinginkan.
Tatkala dia
menyaksikan ketujuh belas jurus serangan pedang
Bong Thian-gak semuanya mengenai
sasaran kosong, tanpa terasa ia berteriak nyaring, "Ko-siauhiap,
apakah kau memerlukan bantuan?"
Ho
Put-ciang kuatir Bong
Thian-gak tak senang bila dibantu orang, maka hingga kini dia
belum turun tangan.
Mendengar seruan itu,
Bong Thian-gak segera
menyahut dengan suara lantang, "Ho-bengcu, silakan turun tangan,
kita harus berlomba dengan waktu menyelesaikan pertarungan ini
secepat mungkin."
Menggunakan
kesempatan di saat Bong
Thian-gak bicara hingga pikirannya bercabang, Sam-kaucu tertawa
seram, tasbihnya diayunkan ke depan.
Seratus delapan biji
tasbih bagai peluru besi segera berhamburan di angkasa dan
bersama-sama menyambar ke tubuh Bong
Thian-gak.
Serangan senjata
rahasia yang amat dahsyat itu benar-benar luar biasa, betapa pun
lihai ilmu silat seseorang, sulit rasanya untuk menghindarkan diri
dari sergapan seratus delapan biji tasbih yang dilepaskan dari jarak
dekat.
Tak terlukiskan rasa
kaget Ho Put-ciang melihat keadaan itu, segera teriaknya,
"Ko-siauhiap ...."
Selanjutnya dia
membungkam, namun panah baja tanpa bulu yang sudah disiapkan di
busurnya serentak dibidikkan ke depan.
Busur Pa-ong-cian Ho
Put-ciang termasyhur di kolong langit sebagai salah satu kepandaian
yang tangguh di dunia ini, begitu panah dibidikkan, sulit bagi orang
menangkap bayangannya, kecepatannya pun sukar dilukiskan dengan
kata-kata.
Begitu melepaskan
serangan biji tasbih tadi, Sam-kaucu mengegos ke sebelah kanan
dengan gerakan cepat, tapi kelitannya itu belum berhasil juga
meloloskan diri dari ancaman Pa-ong-cian Ho Put-ciang.
Dengusan tertahan
segera berkumandang memecah keheningan, panah baja tanpa bulu yang
kuat itu menyambar pinggang sebelah kiri Sam-kaucu hingga tembus
pinggang bagian depan, darah segar segera menyembur membasahi
seluruh jubahnya.
Kendati bidikan panah
itu tidak mengenai bagian tubuh yang mematikan, namun cukup membuat
Sam-kaucu terluka parah.
Di saat Sam-kaucu
mendengus tertahan itulah bahu kiri Bong
Thian-gak juga kena terhajar oleh dua biji tasbih
sehingga tembus ke dalam, darah muncrat, pedang di tangan kanannya
juga kena terhajar tiga biji
tasbih hingga terlepas dan mencelat jauh.
Menyaksikan
Bong Thian-gak terancam bahaya maut,
buru-buru Ho Put-ciang
berseru, "Ko-siauhiap, bagaimana keadaan lukamu?"
"Ho-bengcu, aku tidak
apa-apa, cepat halangi musuh melarikan diri," bentak
Bong Thian-gak cepat.
Ternyata pada saat
itulah Sam-kaucu sudah melejit ke tengah udara, lantas kabur menuju
ke arah sebelah kiri pagoda.
Pada saat itulah Thia
Leng-juan yang bersembunyi di sebelah kiri pagoda segera berpekik
nyaring, secepat kilat dia menerjang turun ke
bawah dan menyongsong kedatangan
Sam-kaucu.
Mimpi pun Sam-kaucu
tidak menyangka seorang musuh tangguh yang
sembunyi di atas pagoda,
padahal tadi ia sudah memperhatikan
keadaan
sekeliling tempat itu, maka di saat keselamatan jiwanya terancam,
terpaksa dia harus melancarkan serangan sekuat tenaga.
Tampak Sam-kaucu
meletik di tengah udara, kemudian sepasang telapak tangannya
didorong ke depan melepaskan pula dua pukulan maha dahsyat.
Empat gulung angin
pukulan maha dahsyat diiringi suara ledakan yang memekakkan telinga
saling bentur.
Untuk kedua kalinya
Sam-kaucu mendengus tertahan, tubuhnya bagai layang-layang putus
benang meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi.
Sebaliknya Thia
Leng-juan sendiri pun merasa hawa darah di dalam dada bergolak keras
akibat benturan yang maha dahsyat itu, tanpa terasa dia
berjumpalitan beberapa kali di tengah udara.
Ketika tubuh
Sam-kaucu terjun ke bawah tadi, ternyata sepasang kakinya masih
sempat mencapai tanah dengan mantap. Wajahnya menyeringai seram
sekali, darah menodai ujung bibirnya, sepasang matanya merah
membara, dengan penuh gusar dia melotot ke arah Ho Put-ciang dan
Bong Thian-gak yang mulai
mengurungnya dari sisi kiri dan kanan.
Sementara itu Thia
Leng-juan juga telah melayang turun, dia mengambil posisi di
belakang Sam-kaucu.
Agaknya Sam-kaucu
menyadari jiwanya terancam mara bahaya, bagaimana pun tangguhnya
dia, jangan harap bisa lolos dari gencetan dan kerubutan tiga orang
jago lihai sekaligus.
Tiba-tiba ia
mendongakkan kepala, lalu memperdengarkan suara gelak tertawa keras
yang memekakkan telinga, suara tawanya itu amat tak sedap didengar,
bagai lolongan srigala di tengah malam buta.
Dengan suatu gerakan
yang amat cepat Sam-kaucu melejit ke tengah udara, lalu secara ganas
menerjang ke arah Bong
Thian-gak.
Rupanya dia
berpendapat Bong Thian-gak
sudah terhajar oleh tasbihnya, berarti dia adalah kunci terlemah di
antara ketiga orang itu, maka sekali pun dia harus binasa hari ini,
paling tidak dia pun harus membunuh salah seorang lawan untuk
mendapatkan kembali modalnya.
Itulah sebabnya
terjangannya terhadap Bong
Thian-gak boleh dibilang dilakukan dengan ganas dan luar biasa.
Tampaknya Ho
Put-ciang sudah menduga sejak tadi bahwa Samkaucu bakal menerjang
ke arah Bong Thian-gak, oleh
sebab itu baru saja pihak lawan menggerakkan tubuh, kembali Ho
Put-ciang menggetarkan busur bajanya dan melakukan babatan melintang
ke depan.
Walau Sam-kaucu
menyerang seperti banteng terluka, melihat datangnya busur baja yang
begitu kuat dan dahsyat, sepasang telapak tangannya segera
dibalikkan, lalu mencengkeram busur baja itu.
"Pletaak", iga kiri
Sam-kaucu kena terhajar oleh sapuan dahsyat busur baja Ho Put-ciang
hingga patah sepotong.
Pada saat itu
Sam-kaucu melancarkan serangan balasan yang mematikan, telapak
tangan kanannya bagaikan seekor ular sakti langsung membacok ke dada
sebelah kiri Ho Put-ciang.
Segulung tenaga
pukulan tak berwujud menggetarkan tangan Ho Put-ciang sehingga busur
besinya terlepas dan badannya terlempar.
Begitu berhasil
mendesak mundur Ho Put-ciang, dengan langkah lebar Sam-kaucu segera
menerjang ke arah Bong
Thian-gak, sepasang telapak tangannya disilangkan ke depan dan
memancarkan berlapis-lapis angin puyuh disertai kekuatan dahsyat
menerjang ke arah depan.
Bong
Thian-gak terkesiap menyaksikan jurus serangan mengadu
jiwa yang digunakan Sam-kaucu, tapi Bong
Thian-gak yang pada dasarnya keras kepala tak sudi
menyerah begitu saja.
Dia tahu musuh sudah
nekat dan ancamannya tak boleh disambut dengan kekerasan, namun dia
bukannya berkelit, sebaliknya malah memutar sepasang telapak
tangannya membentuk satu jalur sinar berbentuk busur, lalu
menyongsong datangnya ancaman itu.
Benturan keras lawan
ini tampaknya merupakan saat paling sial bagi
Sam-kaucu.
Keunggulan
Bong Thian-gak justru terletak pada
permainan telapak tangannya, apalagi serangan itu dilepaskan dengan
tenaga pukulan maha dahsyat, pada hakikatnya bagaikan amukan
gelombang dahsyat di tengah samudra yang sedang dilanda angin puyuh.
Dalam bentrokan keras
yang pertama ini kedua belah pihak sama-sama
tetap berdiri tegak tanpa berkutik.
Tatkala benturan
keras terjadi untuk kedua kalinya, kedua belah pihak sama-sama
mundur tiga langkah.
Ketika untuk ketiga
kalinya mereka akan beradu kekuatan.
Mendadak Sam-kaucu
menyilangkan tangan kiri dan kanannya membentuk gerakan salib, lalu
pelan-pelan didorong ke depan.
Sebaliknya
Bong Thian-gak membentak keras,
tangan kanannya setengah mengepal seperti bacokan seperti juga
pukulan langsung diayun ke depan.
Dengusan tertahan
bergema, dengan tubuh sempoyongan Bong
Thian-gak mundur lima langkah, mukanya pucat, tubuhnya
langsung jatuh terduduk di atas tanah.
Sebaliknya Sam-kaucu
masih tetap berdiri tegak, sepasang telapak tangannya yang membuat
gerakan salib masih belum sempat ditarik, sementara sepasang matanya
melotot bulat seperti mata kerbau.
Ho Put-ciang dan Thia
Leng-juan yang menyaksikan kejadian ini bersama-sama membentak
keras, lalu serentak menubruk ke muka, bekerja sama menyerang
Sam-kaucu.
Siapa tahu baru saja
tubuh mereka menerjang ke depan dan belum lagi melancarkan serangan,
tubuh Sam-kaucu yang masih berdiri tegak tak berkutik itu tahu-tahu
roboh terjungkal ke tanah dalam posisi kaku.
Sekarang Ho Put-ciang
dan Thia Leng-juan baru sempat melihat noda darah yang membasahi
wajah, kulit dan lengan Sam-kaucu, darah kental seakan memancar
keluar dari beribu-ribu pori kulit badannya.
Kenyataan ini kontan
membuat kedua orang itu tertegun, siapa pun tidak menyangka
Sam-kaucu menemui ajal di tangan Bong
Thian-gak dalam bentrokan yang terakhir tadi.
Kepandaian silat
apakah yang telah dipergunakan Bong
Thian-gak dalam melancarkan serangannya itu? Mengapa dia bisa
menghajar tubuh Sam-kaucu hingga darah segar memancar dari pori-pori
badannya?
Walaupun pertempuran
sengit telah berhenti, tapi keseraman pertarungan itu menggidikkan
hati, kenekatan dan keberanian Sam-kaucu bertarung sampai titik
darah penghabisan membuat hati mereka menciut.
Akhirnya suara helaan
napas panjang berkumandang memecah keheningan, pelan-pelan Ho
Put-ciang berjalan ke hadapan Bong
Thian-gak, kemudian sambil menjura dalam-dalam ia berkata,
"Hari ini seandainya tiada bantuan Ko-siauhiap yang berilmu tinggi,
mungkin tak akan mudah bagi kami untuk membereskan nyawa Sam-kaucu,
aku orang she Ho benar-benar
sangat berterima kasih atas bantuan ini. Entah bagaimana dengan
keadaan luka Ko-siauhiap?"
Walaupun paras muka
Bong Thian-gak pada saat ini
pucat-pias seperti mayat, tapi dengan cepat dia melompat bangun,
kemudian balas memberi hormat.
"Ho-bengcu, harap kau
jangan berkata begitu," serunya. "Ai ...
sungguh tak pernah kusangka Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau
ternyata begini perkasa, seandainya hari ini tiada bantuan Ho-bengcu
dan Thia-tayhiap, tak mungkin bagiku bisa menandingi keampuhannya."
Ucapan itu segera
membuat paras muka semua orang berubah serius, kemurungan dan
kesedihan pun menyelimuti wajah mereka.
Keperkasaan Sam-kaucu
telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri, kalau Sam-kaucu
saja begini tangguh, dapat dibayangkan bagaimana tangguhnya
Kaucu-kaucu lain, hal ini merupakan ancaman serius bagi keamanan
serta keselamatan dunia persilatan.
Thia Leng-juan
tertawa getir, kemudian katanya, "Akhirnya rencana kita pada hari
ini berhasil dilaksanakan dengan sukses, apakah
Ho-bengcu menghendaki kepunahan jenazah Sam-kaucu?"
"Ya, tolong Thia-heng
suka mengerjakannya."
Dari dalam saku Thia
Leng-juan mengeluarkan sebuah botol kecil porselen putih, lalu
membuka tutupnya dan menaburkan sedikit bubuk hijau di atas mayat
itu.
Baik Ho Put-ciang
maupun Bong Thian-gak
keduanya tahu di Bu-lim terdapat semacam obat yang dinamakan
Siau-kut-hua-si-san (Bubuk pelenyap tulang pelumat jenazah), maka
mereka tak memberikan reaksi apa-apa.
Setelah Thia
Leng-juan menaburkan bubuk obat itu ke atas jenazah
Sam kaucu, tak lama kemudian jenazah Sam-kaucu yang
kaku mulai melumat lalu
menyusut.
Mayat telah melumat
menjadi segumpal darah, yang tersisa hnggal kuku, rambut dan
pakaian.
Kedahsyatan daya
kerja obat itu benar-benar mengerikan.
Setelah melumerkan
jenazah Sam-kaucu, Thia Leng-juan segera membakar pakaian dan benda
lainnya hingga tak berbekas.
Thia Leng-juan
menghela napas panjang, katanya, "Sekarang Samkaucu sudah
dimusnahkan, tapi kita belum berhasil mengumpulkan sedikit pun bahan
tentang Put-gwa-cin-kau, apakah kita akan tetap melanjutkan rencana
menyelundupkan Ku-lo Locianpwe menggantikan kedudukan Sam-kaucu?"
"Soal ini perlu kita
pertimbangkan lagi masak-masak," jawab Ho Put-ciang dengan suara
dalam, "Kini Ku-lo Locianpwe sudah berada dalam gedung Bu-lim
Bengcu, apa salahnya kita berunding di sana?"
"Aku tidak setuju
bila harus mengirim Ku-lo Locianpwe memasuki Put-gwa-cin-kau, sebab
tindakan semacam ini terlampau berbahaya," tiba-tiba
Bong Thian-gak berseru dengan suara
lantang.
"Mengapa Ko-heng
tidak setuju?"
"Seandainya Ku-lo
Locianpwe harus menyaru sebagai Sam-kaucu dan menyelundup ke dalam
Put-gwa-cin-kau, maka cepat atau lambat jejaknya tentu akan
ketahuan, bisa jadi jiwanya akan terancam malah, cuma kita boleh
saja membiarkan Sinceng berada dalam gedung untuk sementara waktu,
agar ia berhubungan terus dengan mata-mata musuh yang menyelundup
dalam gedung Bengcu, dengan demikian kita bisa melanjutkan usaha
menyingkirkan semua mata-mata yang berada dalam gedung itu."
"Asal semua mata-mata
dalam gedung Bu-lim Bengcu berhasil dimusnahkan, kita pun boleh
secara terang-terangan menantang Put-gwa-cin-kau untuk menyelesaikan
persoalan secara kekerasan."
Ho Put-ciang
manggut-manggut, "Pendapat Ko-siauhiap memang bagus, kita memang
harus bertindak lebih dulu, cuma Ku-lo Locianpwe mengatakan, kita
hanya sedikit tahu hal yang ada sangkut-pautnya dengan
Put-gwa-cin-kau, seandainya Put-gwa-cin-kau segera menarik
kekuatannya, maka umat persilatan di daratan Tionggoan pun akan
kehilangan titik terang."
Bong
Thian-gak tersenyum, "Rencana Put-gwa-cin-kau menguasai
dunia persilatan dan menteror umat persilatan akan dipersiapkan
dalam satu dua hari, tak mungkin mereka menarik seluruh pasukannya
hanya karena kematian Sam-kaucu mereka yang diselundupkan ke dalam
gedung Bengcu sebagai mata-mata, menurut perhitunganku, justru
karena peristiwa ini Put-gwa-cin-kau akan mempercepat rencana
melakukan serangan secara terang-terangan."
"Apa yang diucapkan
Ko-heng memang masuk akal," kata Thia Leng-juan, "tapi menurut
pendapatku, persoalan paling penting yang harus kita lakukan
sekarang adalah membersihkan dulu gedung Bengcu dari unsur-unsur
lawan serta mata-mata yang sengaja diselundupkan ke pihak kita, mari
kita bergerak dulu ke persoalan itu."
Mendadak Ho Put-ciang
seperti teringat akan sesuatu, dia berseru tertahan, "Sebelum tewas
Sam-kaucu telah berkata bahwa anggota Put-gwa-cin-kau selalu
menguntit di belakangnya untuk memperoleh berita, entah ucapannya
itu benar atau tidak?"
"Tadi aku bersembunyi
di atas pagoda, dari ketinggian aku bisa memperhatikan semua gerakan
di seputar tempat ini dengan jelas, tadi aku tidak menjumpai adanya
bayangan orang di sekeliling tempat ini."
"Aku rasa apa yang
dikatakan Sam-kaucu tadi tak lebih hanya bermaksud mengulur waktu
saja sambil mencari akal untuk meloloskan diri, Ho-bengcu, buat apa
kau terus memikirkan persoalan itu?" kata
Bong Thian-gak pula sambil tertawa.
"Orang-orang yang
tergabung dalam Put-gwa-cin-kau merupakan kawanan orang yang tangguh,
tiada lubang yang tak bisa mereka terobos, lagi pula gerak-gerik
mereka amat rahasia, membuat hati orang bergidik, sebelum aku dan
dia datang kemari, telah kuperhatikan di sekeliling tempat itu tiada
orang yang menguntit, ya, mungkin saja dia hanya menggertak saja."
Siapa tahu baru saja
dia selesai berkata, mendadak terdengar
Bong Thian-gak berkata dengan ilmu menyampaikan suara
dengan nada gelisah sekali, "Aduh celaka! Ternyata benar-benar ada
musuh yang menguntit sampai di sini, kini di sisi kiri tingkat
keempat pagoda itu terdapat seorang musuh yang menyembunyikan diri,
sekarang lebih baik kita jangan bersuara dulu, secepatnya
mengundurkan diri dari sini, kemudian balik lagi dengan posisi segi
tiga dan kepung orang itu rapat-rapat, jangan biarkan musuh
meloloskan diri."
Ucapan ini kontan
saja membuat Thia Leng-juan dan Ho Put-ciang terperanjat, kedua
orang ini pun tidak berani celingukan memeriksa keadaan.
Sementara mereka
berpikir, Bong Thian-gak
berkata lagi dengan suara
nyaring, "Ho-bengcu, sekarang sudah siang, kita harus segera kembali
ke gedung Bu-lim Bengcu!"
"Mari kita berangkat!"
seru Thia Leng-juan dan Ho Put-ciang bersama-sama.
