pendekar cacad 02
Bagian 2 :
Si Maha Cantik dalam sarang pelacuran
Gadis penyergap itu berseru tertahan, kemudian untuk
kedua kalinya dia menerjang ke muka dengan kecepatan luar biasa.
Kali ini dia
menyerang dengan sebilah pisau belati di tangan, serangannya buas
dan nekat, membuat hati orang bergidik.
Bong
Thian-gak mendengus dingin, sepasang kakinya sedikit
membengkok, lalu sepasang tangannya seperti cakar burung elang balas
menyambar ke depan.
Jeritan kaget
terdengar, tubuh si gadis penyergap itu mengelak ke belakang bagai
layang-layang putus benang, kemudian menggelinding keluar pintu.
Bong
Thian-gak tak tinggal diam, dengan lompatan lebar dia
menyusul keluar.
"Sreet", serentetan
cahaya dingin menyambar.
Bong
Thian-gak bertindak sigap, dia miringkan tubuhnya
sambil menyambar benda itu, tahu-tahu pisau belati tadi sudah
berpindah ke tangannya.
Gadis penyergap itu
memang lihai, gerak-geriknya lincah dan cekatan.
Di saat
Bong Thian-gak merontokkan serangan
pisau belati tadi, ia segera melompat ke depan, lalu melarikan diri
turun ke bawah loteng.
Bong
Thian-gak membentak gusar menyaksikan musuh hendak
kabur, tangannya cepat diayun ke depan, pisau belati yang berhasil
disambarnya tadi tahu-tahu sudah disambitkan balik ke tubuh lawan.
Serangan balasan itu
dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, tampak cahaya tajam
berkilau, tahu-tahu gadis penyergap itu menjerit kesakitan.
Pisau belati itu
menancap telak di bahu kirinya, darah segera berhamburan
kemana-mana, setelah sempoyongan sesaat, ia melarikan diri dari
situ.
Bong
Thian-gak mengejar secepat angin puyuh, tapi si gadis
penyergap sudah kabur sejauh tujuh-delapan depa.
Terkejut juga
Bong Thian-gak menyaksikan pihak
musuh masih sanggup melarikan diri kendatipun tubuhnya sudah terluka
parah, kuatir musuh keburu kabur, cepat dia melompati atap rumah dan
berniat menghadang jalan perginya dengan cepat.
Siapa tahu baru saja
Bong Thian-gak melompati dua
buah rumah, gadis berbaju hitam itu sudah berbelok ke samping dan
menyusup ke dalam bangunan rendah di sisi loteng, langsung kabur
menuju ke halaman belakang.
Dengan begitu selisih
kedua belah pihak menjadi semakin lebar.
Bong
Thian-gak segera menjejakkan kaki ke tanah, seperti
burung bangau raksasa dia melambung ke angkasa dan mengejar dari
belakang.
Kejar-kejaran segera
berlangsung sengit, setelah melalui tiga halaman rumah, gadis
berbaju hitam itu sudah berada tiga depa saja di hadapannya, tapi
pagar pekarangan menuju ke tempat tinggal kaum wanita dalam Bu-lim
Bengcu pun tinggal beberapa depa lagi.
Bong
Thian-gak mengerti, seandainya gadis itu berhasil kabur
ke gedung sebelah dalam, pasti dia akan menjumpai banyak kesulitan,
buru-buru dia melepaskan sebuah pukulan yang amat lihai.
Angin pukulan yang
menderu-deru seperti amukan ombak di tengah samudra, dengan cepat
melesat ke depan.
Gadis berbaju hitam
itu mendengus tertahan, tubuhnya mencelat ke udara, lalu terbanting
keras ke atas tanah.
Tubuhnya terkapar
lemas di atas tanah, setelah berkelejetan beberapa kali, akhirnya
sama sekali tak berkutik lagi.
Bong
Thian-gak menyusul datang dari belakang, buru-buru dia
membungkukkan badan memegang nadi pergelangan tangan lawan, namun
pemuda itu segera tertegun, ternyata denyutan nadi lawan sudah
berhenti, musuh tewas dalam keadaan mengerikan.
Menghadapi keadaan
itu, Bong Thian-gak menghela
napas sedih, serunya sambil mendepak-depakkan kakinya berulang kali.
"Ai, dengan susah
payah aku berhasil mengungkap titik terang ini, siapa tahu ia justru
sudah mampus!"
Baru saja dia
bergumam, segulung angin berhembus, lalu terdengar seorang berkata,
"Omitohud, ilmu pukulan Ko-sicu benar-benar kuat, tajam dan berdaya
kemampuan menghancurkan bebatuan cadas, kini isi perut musuh sudah
hancur, nadinya sudah putus, mana mungkin hidup lebih jauh?"
Bong
Thian-gak berpaling ke tengah-tengah kegelapan malam,
tampak Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si sudah berdiri tegak di situ.
Menyusul kemudian
bayangan orang berkelebat berulang kali, secara beruntun jago-jago
lainnya bermunculan pula di sana.
Yu Heng-sui dan Ho
Put-ciang juga hampir bersamaan waktunya muncul di tempat kejadian.
Memperhatikan jenazah
yang membujur di sana, Ho Put-ciang berkata dengan wajah serius,
"Ji-sute, coba kau lepaskan kain kerudung hitamnya!"
Sementara itu paras
muka para jago pun berubah menjadi amat serius, berpuluh pasang mata
bersama-sama dialihkan ke wajah jenazah itu.
Pelan-pelan Yu
Heng-sui merobek kain kerudung mukanya, dengan cepat muncul seraut
wajah yang mengerikan, dari tujuh lubang indranya darah kental masih
mengucur hingga muka jenazah itu penuh berlepotan darah.
Tapi bagi Yu Heng-sui
maupun Ho Put-ciang, raut wajah itu tak asing lagi bagi mereka,
mereka cukup tahu siapa gerangan perempuan penyergap itu.
Kontan saja paras
muka kedua orang itu berubah hebat, jelas perempuan itu pun anggota
gedung Bu-lim Bengcu.
Bong
Thian-gak tidak kenal perempuan itu, mungkin orang itu
baru masuk ke gedung Bu-lim Bengcu setelah ia meninggalkan tempat
itu, kalau dilihat dari raut wajahnya, gadis itu kira-kira baru
berusia dua puluhan tahun, mungkin dayang atau pelayan.
Cepat Ho Put-ciang
memerintahkan kepada adik seperguruannya, "Yu-sute, cepat gotong
pergi jenazah ini dan bersihkan lantai dari noda darah, jangan
mengganggu ketenangan tidur orang lain."
Kemudian sambil
menjura kepada para jago, orang she
Ho itu berkata lebih jauh, "Toa-heng sekalian, asal-usul
pembunuh itu baru akan kuumumkan besok pagi, bagaimana kalau
sekarang dipersilakan kembali ke kamar masing-masing?"
Berhubung para
pendekar tidak mengenali siapakah perempuan yang tewas itu, tentu
saja tak seorang pun di antaranya yang bersuara, ditinjau dari paras
muka Ho Put-ciang, dapat diduga orang itu adalah salah seorang
anggota gedung Bu-lim Bengcu.
Waktu itu malam masih
kelam, terpaksa semua orang balik ke kamar masing-masing untuk
beristirahat.
Menanti semua jago
telah berlalu, Bong Thian-gak
baru berkata lertahan dalam hati, dia seperti menemukan sesuatu yang
tidak beres.
Ternyata di antara
para jago yang bermunculan, ia tidak nampak kemunculan Kongsun
Phu-ki si kunyuk tua itu.
Ho Put-ciang
memandang sekejap ke arah Bong
Thian-gak, lalu ujarnya sambil tertawa getir, "Harap
Ko-cuangsu sudi memaafkan, ternyata pihak musuh benar-benar telah
menyusup ke setiap bagian gedung Bu-lim Bengcu ini, perempuan tadi
adalah salah seorang dayang Subo kami."
Mendengar nama 'Subo'
disinggung, hati Bong
Thian-gak bergetar keras, bagaikan dihantam martil berat, sekujur
tubuhnya gemetar keras.
"Omitohud!" Ku-lo
Hwesio berkata, "Ho-hiantit mungkin masih
ada urusan lain yang harus diselesaikan, untuk
sementara waktu Lolap kembali dulu."
Selesai berkata,
pendeta itu segera berlalu lebih dulu.
Bong
Thian-gak tahu Toa-suhengnya bakal menjumpai banyak
kesulitan dalam melakukan penyelidikan, agar tidak menyusahkannya,
maka dia pun segera mohon diri pula.
Kembali ke kamar, ia
tidur di pembaringan sambil membayangkan peristiwa yang baru saja
lewat, diam-diam ia merasa menyesal karena turun tangan kelewat
berat.
Setelah menghela
napas panjang, Bong Thian-gak
bergumam,
"Konon pembunuh itu
adalah salah seorang dayang Subo, mungkinkah Subo masih seperti
tujuh tahun berselang, hatinya belum puas sebelum pembunuh yang
dikirimnya berhasil membunuh diriku?"
Saat itulah dalam
benak Bong Thian-gak melintas
peristiwa yang berlangsung tujuh tahun lalu, peristiwa tragis yang
sangat memalukan.
Peristiwa itu terjadi
pada suatu malam di musim panas, waktu itu dia bersama Sam-suhengnya
Siau Cu-beng sedang dalam perjalanan pulang setelah menjemput
Subonya di kota Ci Kang.
Malam itu berhubung
mereka tersesat di atas bukit hingga kemalaman, maka terpaksa harus
bermalam di tengah gunung.
Udara pada malam itu
panas sekali, karena tak tahan, maka di tengah malam buta secara
diam-diam dia pergi ke sungai untuk menyegarkan badan, tetapi ketika
selesai mandi dan kembali ke tempat semula, dia tidak menemukan Subo
dan Sam-suhengnya.
Maka dengan gelisah,
ia melakukan pencarian di sekeliling tempat itu dan akhirnya di
dalam sebuah hutan kecil, ia saksikan suatu adegan yang menyeramkan,
tapi juga amat memalukan.
Di atas tanah
berumput di bawah sinar rembulan, tampak sepasang laki perempuan
sedang saling berpelukan dalam keadaan telanjang bulat, waktu itu
mereka sedang bersenang-senang menikmati surga dunia, berbuai mesum
seperti apa yang sering dilakukan antara suami istri.
Yang memegang peranan
sebagai sang suami ternyata Sam-suhengnya Siau Cu-beng, sedangkan
yang memegang peranan istri tak lain adalah ibu gurunya sendiri.
Kontan saja hawa
amarah menggelora di dalam dadanya, dengan geram ia keluar dari
tempat persembunyian dan mengagetkan sepasang sejoli yang sedang
berbuat mesum.
Beberapa saat
kemudian, Sam-suhengnya Siau Cu-beng telah selesai berpakaian dan
pelan-pelan berjalan keluar dari hutan dengan senyum menyeringai
menghias wajahnya, lalu disusul ibu gurunya.
Dilihat dari paras
muka Siau Cu-beng dan ibu gurunya, dapat diketahui mereka hendak
membunuh orang untuk melenyapkan saksi.
Kemarahan dan
kesedihan yang melampaui batas membuat ia menerjang Siau Cu-beng
seperti binatang buas, ia bertekad hendak melenyapkan pengkhianat
itu dari muka bumi dan membersihkan nama gurunya yang ternoda.
Pertempuran sengit
tak bisa dihindari lagi, seorang diri dia harus bertarung menghadapi
kerubutan Siau Cu-beng dan ibu gurunya.
Entah siapa yang
membantunya, dalam pertarungan itu makin bertarung ia nampak makin
gagah ... akhirnya dalam
suatu kesempatan dia berhasil menghajar Siau Cu-beng hingga terjatuh
ke dalam jurang.
Jerit kaget Siau
Cu-beng yang terjatuh ke dalam jurang telah mengagetkan ibu gurunya,
ia segera berhenti menyerang, kemudian sambil menutup muka menangis
tersedu-sedu, seperti merasa menyesal dengan perbuatannya itu.
Diiringi isak-tangis
yang memedihkan hati, ibu gurunya lantas menceritakan bagaimana dia
dirayu oleh Siau Cu-beng untuk berbuat iseng, bagaimana dirangsang....
Dalam kesedihan itu,
ia hanya memohon kepada dirinya agar tidak menceritakan peristiwa
yang memalukan itu kepada gurunya.
Mendengar ucapan ibu
gurunya, gejolak emosinya segera menjadi reda, kesadarannya pun
pulih, ia sadar bila gurunya yang berhati bajik sampai mengetahui
peristiwa tragis yang memalukan itu, sudah pasti gurunya akan
menderita tekanan batin.
Padahal gurunya
merupakan seorang Bu-lim Bengcu yang memimpin seluruh umat
persilatan di dunia, ia begitu dihormati, disanjung oleh setiap
orang, bagaimana jadinya bila berita yang memalukan itu sampai bocor
ke dunia persilatan?
Sudah pasti nama baik
dan wibawa gurunya akan hancur. Bila sampai terjadi hal ini, sungguh
tragis akibatnya.
Ibu gurunya ini
merupakan istri ketiga, waktu itu umurnya baru tiga puluh tujuh
tahun, masih muda, bila Suhu sampai mengetahui penyelewengannya,
apakah ibu gurunya akan dibiarkan hidup terus?
Demi menyelamatkan
nama baik gurunya, demi menjaga semangat gurunya agar tidak
menderita tekanan batin, juga demi kaselamatan ibu gurunya, maka dia
lantas mengarang suatu cerita untuk merahasiakan kejadian yang
sesungguhnya.
Siapa tahu Subonya
begitu keji, ternyata dia telah mengirim pembunuh bayaran untuk
mencari jejak dan melenyapkan jiwanya.
Berpikir sampai di
situ, sepasang mata Bong
Thian-gak berkaca-kaca, ia bergumam, "Perempuan rendah yang tak tahu
malu, apakah kau tahu bahwa aku Bong
Thian-gak telah kembali ke sini? Kau kuatir aku
membocorkan perbuatan terkutukmu yang tak tahu malu itu, sehingga
segera kau kirim pembunuh-pembunuhmu untuk melenyapkan aku dari muka
bumi."
"Hm" seorang diri
Bong Thian-gak mendengus
berulang kali, ia menyumpah lebih jauh, "Perempuan terkutuk, aku
benar-benar tak menyangka kau masih bisa bertebal muka tetap tinggal
di dalam gedung Bu-lim Bengcu ini, masih punya perasaan hidup terus
di dunia ini."
"Hm, kau sepantasnya
mampus, suatu ketika aku Bong
Thian-gak pasti akan membunuhmu, aku takkan membiarkan kau
tetap hidup di dunia ini hanya untuk berbuat kejahatan!"
Bicara sampai di
situ, mencorong sinar buas yang menggidikkan dari balik mata anak
muda itu, ia sudah mengambil keputusan bulat.
Mendadak satu ingatan
melintas kembali dalam benak Bong
Thian-gak, "Mungkinkah Subo adalah mata-mata yang
diselundupkan musuh kemari?"
Pendapatnya itu
ibarat sumber air yang ditemukan di tengah gurun pasir, segera
membuat semangatnya berkobar kembali.
Dilihat dari
perbuatan ibu gurunya yang mengkhianati cintanya dengan berbuat
mesum bersama Siau Cu-beng, kemudian ditinjau pula dari ilmu silat
pembunuh perempuan yang muncul pada malam ini, Subonya itu memang
satu-satunya orang yang paling mencurigakan.
Setelah berhasil
menemukan titik terang itu, hati Bong
Thian-gak agak tenang, tanpa terasa dia pun tertidur
dengan cepat.
"Tok, tok, tok", dari
luar gedung sana berkumandang lima kali kentongan sebagai pertanda
kentongan kelima telah tiba.
Entah lama saat sudah
lewat, akhirnya Bong
Thian-gak bangun dari tidurnya oleh suara pembicaraan yang gaduh.
Tampak Siau Kiok yang
manis sudah berdiri di sisi pembaringan, begitu melihat pemuda itu
membuka mata, dia lantas berkata, "Siangkong! Siangkong! Nona telah
datang ...."
Bong
Thian-gak segera mengalihkan sorot matanya ke arah
lain, sambil berseru tertahan buru-buru dia melompat bangun dan
duduk.
Ternyata di kursi
dekat dinding kamarnya telah duduk kakak seperguruannya, Oh
Cian-giok.
Bong
Thian-gak melompat turun dari pembaringan dan menuju ke
arah Oh Cian-giok sambil katanya, "Nona Oh, sejak kapan kau sampai
di sini? Maaf jika aku bersikap kurang sopan."
Oh Cian-giok masih
mengenakan pakaian putih tanda berkabung, hanya wajahnya nampak amat
murung, selapis hawa dingin menghiasi raut wajahnya.
"Ko-siangkong,"
ujarnya, "maaf jika aku mengganggu tidurmu, tapi berhubung dalam
gedung telah terjadi suatu peristiwa besar, terpaksa Toa-suheng
mengutusku kemari mengundang kedatangan Ko-siangkong."
"Apa yang terjadi?"
seru Bong Thian-gak dengan
terperanjat. "Kongsun-tayhiap ditemukan tewas!"
Berita buruk ini
segera membuat Bong Thian-gak
amat terkesiap, serunya tertahan, "Apa? Kau mengatakan Kongsun
Phu-ki telah tewas?" Pelan-pelan Oh Cian-giok mengangguk, "Benar ia
mati terbunuh."
"Bagaimana
tewasnya?"
"Ketika datang
memanggilnya pagi tadi, ia ditemukan mati kaku di atas pembaringan,
anggota badannya telah kaku dan mendingin, jelas sudah putus nyawa
cukup lama, tapi sebab kematiannya belum jelas. Kini Ku-lo Hwesio
dan sebagian jago sedang menantikan kedatangan Ko-siangkong di
ruangan bawah sana."
Bong
Thian-gak tidak banyak bicara lagi, cepat ia
membetulkan pakaiannya, lalu mengikuti Oh Cian-giok menuju ke kamar
Kongsun Phu-ki.
Waktu itu para jago
sudah berkumpul dalam ruang tamu yang kecil, kebetulan Ho Put-ciang
dan Yu Heng-sui sedang berjalan keluar dari dalam kamar, para jago
segera bertanya, "Apa yang menyebabkan kematian Kongsun Phu-ki?"
Baik Ho Put-ciang
maupun Yu Heng-sui tidak menjawab, mereka hanya menggeleng kepala
berulang kali.
Menyaksikan
Bong Thian-gak muncul, Ho Put-ciang
berkata hambar, "Ko-cuangsu silakan masuk, Ku-lo Sinceng sedang
menanti kedatanganmu di dalam sana."
Bong
Thian-gak mengiakan dan buru-buru ia masuk ke dalam
kamar.
Di atas pembaringan
kayu dalam ruangan, tergeletak kaku seorang kakek kurus kering,
dialah Kongsun Phu-ki, salah satu di antara Ciong-lam-sam-lo.
Di sisi pembaringan
duduk Ku-lo Hwesio, dia sedang meneliti setiap bagian tubuh Kongsun
Phu-ki.
Bong
Thian-gak ikut mengamati jenazah itu, tampak paras muka
Kongsun Phu-ki pucat-pias, kulit wajahnya cekung ke dalam sehingga
boleh dibilang tinggal kulit pembungkus tulang belaka.
Keadaannya saat ini
mirip seorang yang tewas setelah puluhan tahun menderita penyakit
parah.
Ku-lo Hwesio
mendongakkan kepala dan memandang sekejap ke arah
Bong Thian-gak, mendadak ia bangkit
dan berkata, "Di atas tubuhnya tidak ditemukan luka apa pun, juga
tidak ditemukan gejala keracunan, kalau begitu
...."
Mendadak ia berhenti
sejenak sambil beranjak keluar dari kamar, kemudian baru melanjutkan
sambil menghela napas, "Itu berarti dia tewas akibat sari darah dan
tulang sumsumnya mengering."
Dugaan itu segera
disambut para jago dengan wajah berubah hebat, hampir bersamaan
mereka berseru, "Sari darah dan tulang sumsum mengering? Mengapa
sari darah dan tulang sumsum bisa mengering dalam semalaman saja?"
Dalam ruangan itu
hanya Bong Thian-gak seorang
yang secara lamat-lamat bisa menduga apa gerangan yang terjadi, tapi
karena dilihatnya Oh Cian-giok hadir pula di situ, maka ia merasa
agak sungkan untuk bertanya lebih jauh kepada Ku-lo Hwesio.
Mendadak Ku-lo Hwesio
berkata lagi dengan wajah amat serius, "Ko-sicu, Lolap ingin bicara
empat mata denganmu sebentar, datanglah ke loteng sebelah timur
bersama Ho-hiantit dan Yu-hiantit...."
"Baik, aku akan
segera ke sana!" jawab Bong
Thian-gak dengan suara lantang.
Selesai berkata, dia
mengikut di belakang Ku-lo Sinceng keluar ruangan itu. Tak selang
beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di ruang tamu loteng
sebelah timur. Ternyata Ho Put-ciang dan Yu Hengsui telah berada
pula di sana.
Setelah semua orang
mengambil tempat duduk, Ku-lo Hwesio barulah berkata, "Kongsun-sicu
tewas akibat sari darah dan tulang sumsumnya mengering atau dengan
kata lain dia mati akibat air maninya telah kering."
"Jadi dia benar-benar
tewas akibat air maninya telah mengering?"
Ku-lo Hwesio
manggut-manggut, "Ya, Kongsun-sicu memang tewas di tangan seorang
perempuan."
"Ah, kematiannya
benar-benar di luar dugaan."
"Ko-sicu, semalam kau
yang menguntit di belakang Kongsun-sicu, tentunya kau tahu bukan
kemana dia telah pergi?"
Diam-diam
Bong Thian-gak terkejut juga, dia
tidak menyangka perbuatannya menguntit di belakang Kongsun Phu-ki
tak lolos dari pengawasan Ku-lo Hwesio. Dengan cepat lantas dia
menjawab, "Kongsun-tayhiap telah berkunjung ke rumah pelacuran
Kang-san-bi-jin-lau, tapi berhubung aku tidak masuk ke dalam, maka
tidak kuketahui apa yang dilakukannya!"
Maka
Bong Thian-gak menceritakan secara
ringkas bagaimana dia menguntit Kongsun Phu-ki semalam, hanya soal
mengintip seorang perempuan cantik dalam keadaan telanjang saja yang
sengaja dia rahasiakan.
Seusai mendengar
penuturan itu, Yu Heng-sui berkata sambil menghela napas, "Ah, sudah
satu bulan lebih Kongsun-tayhiap berdiam di sini, tiap hari dia
tentu keluar satu kali, aku pun pernah menguntitnya secara
diam-diam, dia memang pergi ke sarang pelacuran untuk melepaskan
napsunya."
"Lolap sendiri pun
pernah mendengar Kongsun-sicu tak mampu mengendalikan birahi, tapi
dia cukup berjiwa jujur dan lurus, selama ini belum pernah
mengganggu anak gadis atau istri orang. Namun kalau dibilang ia
mengalami musibah akibat peristiwa ini, rasanya juga tak mungkin."
Bong
Thian-gak pun merasakan banyak hal yang mencurigakan
dalam kejadian itu, dia berkata, "Kalau dibilang Kongsun Phu-ki mati
akibat dia kehabisan air mani setelah berbuat iseng dengan pelacur,
mengapa justru tewas dalam gedung Bu-lim Bengcu, apalagi dia seorang
jago yang memiliki tenaga dalam amat sempurna, tak mungkin dia
berbuat iseng hingga kelewat batas, sampai air maninya mengering dan
berakibat kematian."
"Kalau bukan suatu
musibah, apa. mungkin suatu pembunuhan?" kata Ho Put-ciang
tiba-tiba.
"Menjelang tengah
malam Lolap menyaksikan Kongsun-sicu pulang seorang diri, menyusul
kemudian Ko-sicu baru pulang setengah jam kemudian, waktu itu
Ko-sicu pernah menjenguk pula ke kamar Kongsun-sicu."
Bong
Thian-gak semakin terkejut mendengar ucapan itu, ia
tidak menyangka semua gerak-geriknya tak lepas dari pengawasan Ku-lo
Hwesio, maka jawabnya dengan lantang, "Apa yang dikatakan Taysu
memang tepat sekali, oleh karena aku kuatir Kongsun-tayhiap belum
sampai di rumah, sengaja aku datang ke kamarnya untuk mengintip dan
membuktikan apakah dia telah kembali ke rumah atau belum!"
"Biasanya orang yang
mati akibat kehabisan sumsum tulangnya, dia akan mati seketika
setelah selesai melakukan senggama," Ku-lo Hwesio menerangkan.
"Mustahil berjalan pulang lebih dulu dari jauh sebelum akhirnya
tewas di rumah. Ah! Mungkin Kongsun-sicu tidur semalaman tak pernah
mendusin untuk selamanya!"
"Supek, lantas berada
dalam keadaan apakah Kongsun-tayhiap menemui ajalnya?" tanya Yu
Heng-sui kemudian.
"Dua ratus tahun
berselang, di Bu-lim pernah beredar sejilid kitab Tay-im-keng yang
mencantumkan sejenis ilmu yang disebut Soh-li-sut (kepandaian
perempuan suci), tegasnya kepandaian itu merupakan sejenis ilmu
penghisap hawa Yang dari tubuh lelaki untuk memupuk kekuatan Im
tubuh perempuan yang digauli. Ilmu sesat semacam itu pernah muncul
di Bu-lim sebelum ini, tapi bila dibicarakan, gejalanya persis
seperti gejala kematian Kongsun-sicu sekarang, itulah sebabnya Lolap
jadi teringat kitab aneh Tay-im-keng itu."
Mencorong sinar tajam
dari balik mata Bong
Thian-gak sesudah mendengar penjelasan itu, katanya cepat, "Jadi
maksud Taysu, kematian Kongsun-sicu disebabkan oleh perbuatan
seorang perempuan yang mengerti ilmu Soh-li-sut, dan telah menghisap
hawa Yangnya hingga mengering?"
"Ya, sebab kematian
Kongsun-sicu memang demikian adanya."
Bong
Thian-gak menjerit kaget, "Ah, mungkinkah dalam rumah
pelacuran Kang-san-bi-jin-lau terdapat perempuan semacam ini?"
"Kalau dibilang dalam
rumah pelacuran bisa muncul perempuan seperti ini, sesungguhnya
sesuatu yang mustahil dan sukar untuk dipercaya, sekali pun ada, tak
mungkin dia mencelakai orang tanpa sebab, ah
... itulah sebabnya Lolap sekali
lagi ingin bertanya kepada Ko-sicu, kemarin malam Kongsun-sicu telah
pergi kemana?"
Bong
Thian-gak tertegun. "Jadi Taysu tidak percaya dengan
perkataanku?" tanyanya.
"Sejak beberapa hari
berselang, musuh telah menetapkan hari kematian untuk Kongsun-sicu,
mungkin hal ini disebabkan pihak lawan tahu Kongsun-sicu gemar
bermain perempuan, maka ia sengaja menyiapkan seorang perempuan yang
pandai ilmu Soh-li-sut untuk merayunya di tengah jalan sehingga
rencana pembunuhan mereka tercapai, apabila dibilang di dalam rumah
pelacuran bisa terdapat perempuan macam begini, sesungguhnya hal ini
sukar untuk dipercaya."
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, apa yang
kukatakan sebenarnya merupakan kenyataan, namun bila Taysu sekalian
tidak percaya, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa."
Padahal
Bong Thian-gak pun terkejut
bercampur keheranan atas kematian Kongsun Phu-ki.
"Baiklah," kata Ku-lo
Hwesio kemudian, "Untuk sementara waktu Lolap tak usah membicarakan
dulu kematian Kongsun-sicu semalam."
Dilihat dari sikap
Ku-lo Hwesio yang bernada memeriksa dirinya,
Bong Thian-gak segera sadar bahwa
Hwesio tua yang teliti ini pun sudah mulai menaruh curiga padanya,
siapa tahu Hwesio itu sudah lama menaruh curiga padanya, sehingga
sengaja mengajaknya turut menghadiri rapat rahasia itu. Kemudian
mengintai dan menyelidikinya secara diam-diam.
Terdengar Ku-lo
Hwesio berkata, "Pembunuh gelap yang dibunuh Ko-sicu itu merupakan
salah satu dayang kepercayaan Oh-bengcu Hujin. Kini Lolap ingin
bertanya kepada Sicu, mengapa dayang itu mencari Sicu sebagai
sasaran pembunuhan?"
Bong
Thian-gak segera mengeluarkan kartu merah dari dalam
sakunya, kemudian berkata dengan lantang, "Silakan Taysu memeriksa
kartu ini terlebih dahulu!"
Ku-lo Hwesio menerima
kartu itu dan diperiksa sebentar, kemudian diberikan kepada Ho
Put-ciang, setelah itu dia baru berkata, "Seandainya Sicu adalah
orang dari golongan kami, setelah musuh memberikan kartu peringatan
itu kepadamu, Sicu pasti akan berusaha menawan mata-mata itu,
kemudian disiksa supaya mengaku, apa sebabnya kau malah membunuh
orang itu secara keji?"
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, tentang
kesalahan tanganku, aku membunuh pembunuh gelap itu, aku merasa
menyesal sekali."
Tiba-tiba mencorong
sinar tajam dari balik mata Ku-lo Hwesio, dia menatap wajah
Bong Thian-gak lekat-lekat, kemudian
ujarnya dengan suara dalam, "Maaf jika Lolap menaruh prasangka
kepada Sicu, harap Sicu dapat memberikan bantahan setelah tuduhanku
ini kuucapkan."
"Katakan saja,
Taysu."
"Seandainya Lolap
menuduh Sicu adalah utusan lihai musuh yang mendapat perintah untuk
menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu, entah bagaimanakah sanggahan
Sicu?"
Bong
Thian-gak untuk kesekian kalinya menghela napas
panjang, "Ah, asal kuutarakan asal-usulku, sudah pasti Taysu tak
akan menaruh curiga lagi kepadaku, bila seseorang yang tidak
diketahui asal-usulnya tiba-tiba muncul dalam gedung Bu-lim Bengcu,
bagaimana pun juga hal ini memang mencurigakan orang lain!"
"Apa yang hendak Sicu
tanyakan?"
"Apa yang ingin
kuketahui adalah soal kematian Kongsun Phu-ki, benarkah dia tewas
akibat kehabisan sumsum Goan-yang?"
Tiba-tiba paras muka
Ku-lo Hwesio berubah, tapi sebentar saja sudah lenyap, pelan-pelan
dia berkata, "Ko-sicu telah menyaksikan jenazah Kongsun-sicu dengan
mata kepala sendiri, bagaimana tanggapanmu tentang kematiannya?"
Bong
Thian-gak tertegun, sahutnya pula, "Dilihat dari gejala
kematiannya, dia memang tewas akibat kehabisan sumsum Goan-yang!"
"Kalau begitu, apa
lagi yang Sicu sangsikan?"
"Ah, aku harus
membuktikan dulu sebab kematian Kongsun Phu-ki
sebelum menyelelidiki siapa pembunuhnya."
"Sicu, setelah sampai
di sini, Lolap terpaksa mesti berterus terang kepadamu!" kata Ku-lo
Hwesio kemudian dengan suara dalam. "Semua jago yang hadir di sini
maupun pejabat Bengcu merasa keberatan bila ada seorang yang tak
jelas identitas dan asal-usulnya turut serta dalam persoalan
persekutuan dunia persilatan ini."
Sambil tertawa getir
Bong Thian-gak
manggut-manggut, "Aku akan segera meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu
ini, tapi jangan harap bisa mengetahui asal-usulku yang sebenarnya!"
Tiba-tiba Yu Heng-sui
tertawa dingin, "Ko-heng, jika kau tidak mengungkap asal-usulmu,
mungkin kau tak akan dapat mengundurkan diri dari gedung Bengcu ini
dengan selamat."
Mendengar itu,
Bong Thian-gak berkerut kening, lalu
ujarnya lagi dengan suara dalam, "Kalian tak mau mengurusi masalah
yang sesungguhnya, buat apa mendesak diriku mengungkap asal-usulku?"
"Semua ini mengikuti
keinginan para jago," sahut Yu Heng-sui tertawa. "Kini mereka telah
menanti dirimu di bawah loteng sana."
Bong
Thian-gak menghela napas panjang mendengar ucapan itu,
"Ai, bila kalian tak mau percaya kepadaku, suatu ketika kalian akan
menyesal."
Setelah menghela
napas lagi, dia berpaling ke arah Ho Put-ciang, lalu ujarnya lebih
jauh, "Kalau kalian tak percaya kepadaku sejak awal, mengapa kalian
izinkan diriku mencampuri urusan ini? Sekarang kalian pun tidak
memperkenankan aku pergi dari sini, sebenarnya apa yang hendak
kalian lakukan?"
"Ko-cuangsu, mengapa
kau tidak mengungkap asal-usulmu secara jujur?"
Bong
Thian-gak menggeleng, "Maaf, aku tidak bisa menjawab."
"Jika kau enggan menjawab, para jago akan menghalangimu pergi dari
sini."
Kembali
Bong Thian-gak tertawa, "Bila hal
ini terjadi, terpaksa aku suruh mereka saksikan kelihaian ilmu
silatku!"
Selesai berkata,
pemuda itu segera beranjak turun dari loteng itu.
Yu Heng-sui tertawa
dingin, dia segera melompat bangun sambil bersiap-siap melancarkan
serangan.
Tiba-tiba
Ho Put-ciang berkata dengan suara
dalam, "Ji-sute, jangan bertindak gegabah!"
Yang dikuatirkan oleh
Bong Thian-gak selama ini
adalah bilamana dia mesti bertarung melawan Toa-suhengnya, betapa
lega hatinya setelah Toa-suhengnya mencegah Ji-suhengnya turun
tangan.
Selangkah demi
selangkah dia turun dari anak tangga, setelah tiba di depan pintu
gerbang, tampak kawanan jago itu benar-benar telah berdiri
mengelilingi halaman gedung, puluhan pasang mata yang tajam
bersama-sama ditujukan ke tubuhnya.
Bong
Thian-gak bersikap acuh tak acuh, seakan-akan sama
sekali tidak melihat kehadiran mereka, dengan dada dibusungkan dia
langsung berjalan menuju ke tengah halaman.
Sementara itu Ku-lo
Hwesio bersama Ho Put-ciang dan Yu Heng-sui telah turun dari loteng
pula, mereka bertiga berdiri di depan pintu gerbang dengan wajah
serius.
Ketika
Bong Thian-gak sudah hampir keluar
pintu halaman, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring,
"Berhenti!"
Bayangan orang
berkelebat, seorang lelaki kekar bercambang hitam pekat seperti
pantat kuali, dengan perawakan tinggi besar dan berjubah biru telah
menghadang di depan Bong
Thian-gak.
Bong
Thian-gak segera mengenali orang ini sebagai salah
seorang dari Tiam-jong-siang-kiat yang dijuluki Wan-pit-kim-to
(golok emas berlengan monyet) Ang Thong-lam.
"Ang-tayhiap, apakah
engkau hendak memberi sesuatu petunjuk kepadaku?" tegurnya.
Golok emas berlengan
monyet Ang Thong-lam tertawa terbahak-bahak, "Aku orang
she Ang ingin mohon petunjuk dari
saudara!"
"Silakan turun
tangan, Ang-tayhiap."
Sikap santai dan
tenang Bong Thian-gak ini
membuat si Golok emas berlengan monyet tertegun dan berdiri
termangu-mangu di tempat.
Setelah tertawa
dingin, kembali Bong
Thian-gak berkata, "Ang-tayhiap, mengapa tidak melancarkan
serangan?"
Tiba-tiba saja Ang
Thong-lam menganggap Bong
Thian-gak berniat mempermainkan dirinya, dia jadi naik darah dan
segera membentak nyaring, "Bagus sekali,
akan kulihat seberapa hebat kepandaian silatmu hingga
begitu sinis padaku."
Begitu selesai
berkata, dia lantas mengayun tinjunya menghantam wajah
Bong Thian-gak, serangannya dahsyat,
tenaga pukulannya mematikan.
Bong
Thian-gak tertawa dingin, kaki kanannya maju ke
Tiong-kiong, lalu telapak tangan kanan diayun ke muka membabat urat
nadi pergelangan tangan musuh.
Sekali orang
menyerang, segera akan diketahui berisi atau tidak, seketika itu
juga paras muka para jago di sekeliling halaman itu berubah hebat.
Ang Thong-lam
merupakan adik seperguruan ketua Tiam-jong-pay sekarang,
kesempurnaan ilmu silatnya termasuk juga kemampuan seorang ketua
partai, ia segera menyadari pukulan tangan kanannya akan meleset.
Sambil membentak
keras bagaikan harimau ganas keluar dari sarang, secepat kilat
tangan kirinya menghantam pinggang musuh.
Serangan ini
merupakan ilmu pukulan Kiong-ciang-kun (Pukulan busur panah) yang
amat termasyhur dari Tiam-jong-pay, serangannya dilepaskan dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat, hebat luar biasa.
Semua jago yang
menyaksikan jalannya pertandingan itu dari samping, segera dapat
merasakan pukulan Ang Thong-lam itu sangat hebat dan membuat orang
sukar menghindarkan diri.
Sikap
Bong Thian-gak cukup tenang, tampak
dia berjongkok, kemudian membentak nyaring, "Lihat serangan!"
Suara benturan keras
menggelegar di udara, badan Ang Thong-lam berguncang keras, kemudian
dengan sempoyongan mundur sejauh liga-empat langkah, lengan kirinya
terkulai lemas, sementara wajahnya basah oleh keringat.
Dalam bentrokan itu,
para jago dapat mengikuti kejadian itu dengan jelas, rupanya di saat
yang paling kritis, Bong
Thian-gak telah mengubah babatan tangan kanannya yang mengancam urat
nadi pada lengan kanan Ang Thong-lam itu menjadi serangan menyikut,
di antara posisi setengah berjongkok itulah dia berhasil menyikut
persendian hilang lengan sebelah kiri musuh.
Dalam bentrokan
barusan, kedua belah pihak memang belum menggunakan kepandaian yang
sebenarnya, tapi menang kalah di antara mereka sudah ditentukan.
Seorang jago lihai
yang termasyhur namanya di Bu-lim ternyata menderita kalah total di
tangan seorang pemuda tak dikenal, kejadian ini benar-benar di luar
dugaan siapa pun.
Hasil pertempuran
yang mengejutkan ini kontan saja membuat paras muka para jago
berubah hebat.
Kepada Ku-lo Hwesio
kata Ho Put-ciang, "Ku-lo Supek, sodokan sikutnya benar-benar
dilakukan dengan amat jitu dan hebat, ilmu silat orang ini tidak
boleh dipandang enteng."
Ku-lo Hwesio
manggut-manggut, "Betul, sodokan sikut itu dilancarkan di antara
sela-sela peralihan jurus pertama ke jurus kedua, dari sini dapat
diketahui ilmu silat orang ini benar-benar hebat sekali."
Dalam pada itu
Bong Thian-gak telah menjura kepada
semua jago setelah berhasil mengalahkan Ang Thong-lam, katanya
dengan lantang, "Ang-tayhiap, terima kasih atas kesediaannya
mengalah!"
Setelah berkata, dia
lantas beranjak pergi.
"Tunggu sebentar
saudara! Lohu ingin mohon petunjuk pula," tiba-tiba seseorang
berkata dengan suara parau.
Tampak seorang kakek
berbaju hitam menggembol pedang, pelan-pelan berjalan keluar dan
menghadang di depan Bong
Thian-gak.
Setelah melihat jelas
paras muka kakek itu, dengan kening berkerut
Bong Thian-gak berkata, "Yu-koancu,
harap kau sudi memberi jalan untukku!"
Ternyata kakek baju
hitam berperawakan jangkung dan berwajah kurus ini adalah Koancu
kuil Hian-thian-koan di bukit Khong-tong, Yu Ciang-hong adanya.
Dengan sebilah pedang
Ci-thian-kiam, dia berhasil menguasai tiga belas macam ilmu pedang
Khong-tong-pay hingga mencapai puncak kesempurnaan, menurut berita
di Bu-lim, konon Yu Ciang-hong telah berhasil pula menguasai
Yu-kiam-sut atau ilmu pedang terbang.
Hian-thian-koancu Yu
Ciang-hong tersenyum.
"Ko-cuangsu, Lohu
mohon petunjuk beberapa jurus seranganmu untuk menambah
pengetahuanku, apa tidak boleh?"
Bong
Thian-gak sadar, andai dia tidak memperlihatkan
kelihaian ilmu silatnya pada hari ini, mustahil dia bisa pergi
meninggalkan tempat itu dengan mudah.
Setelah berpikir
sebentar, katanya dengan suara nyaring, "Kalau memang begitu,
terpaksa aku mengiringi keinginanmu."
"Selama hidup Lohu
menekuni ilmu pedang, boleh dibilang pedang tak pernah terlepas dari
tanganku, entah senjata apakah yang hendak saudara pergunakan?
Silakan saja segera dilolos."
"Aku lebih meyakini
ilmu telapak tangan, silakan Yu-koancu melancarkan serangan!"
Yu Ciang-hong agak
tertegun, kemudian ujarnya, "Kalau begitu terpaksa Lohu bertindak
lancang."
Begitu selesai
berkata, Yu Ciang-hong segera mundur setengah langkah, dengan cepat
tangan kanannya menyambar ke belakang untuk melolos pedangnya.
"Sret", cahaya tajam
segera berkilauan memenuhi angkasa. Begitu Ci-thian-kiam dilolos,
tanpa banyak bicara lagi ia melepas sebuah tusukan kilat ke arah
dada Bong Thian-gak
.
Yu Ciang-hong adalah
jago pedang kenamaan di Bu-lim, cukup dilihat dari caranya mencabut
pedang bisa diketahui sampai dimana taraf kesempurnaan orang ini.
Sudah lama para jago
persilatan tahu bahwa Yu Ciang-hong termasyhur karena ilmu pedangnya
yang lihai, kendatipun demikian jarang ada orang menyaksikan dia
memainkan ilmu pedangnya di depan umum, oleh sebab itu semua orang
lantas memusatkan segenap perhatiannya menyaksikan jalannya
pertarungan itu.
Agaknya
Bong Thian-gak pun sadar ilmu pedang
lawan lihai sekali, dia tak berani memandang enteng, dengan sorot
mata berkilau tajam dia mengawasi gerak pedang lawan, sementara
telapak tangan kirinya dengan setengah ditekuk mengebas pergi
serangan pedang lawan.
Paras muka
Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong berubah hebat menyaksikan datangnya
ayunan telapak tangan kiri Bong
Thian-gak, mendadak dia tekuk pinggang sambil menarik
senjatanya.
Setelah itu pedang
Ci-thian-kiam sekali lagi digetarkan ke muka, dari kiri menusuk ke
kanan, lalu dari kanan menyapu ke tengah, dalam waktu yang singkat
dia telah melepaskan tiga serangan berantai.
Tampak cahaya tajam
berkilauan memenuhi angkasa, dengan gerakan pedang yang aneh,
seperti menotok juga menggunting, dia menghajar musuh.
Ku-lo Hwesio yang
menonton jalannya pertarungan itu dari sisi arena segera saja
menghela napas panjang, katanya, "Kebasan tangannya itu merupakan
ilmu Hud-meh-ceng-hiat (Menyapu nadi menggetarkan jalan darah) yang
hebat sekali, ilmu silat orang itu benar-benar mencapai tingkatan
yang luar biasa!"
Baik Ho Put-ciang
maupun Yu Heng-sui dapat menyaksikan pula kebasan tangan
Bong Thian-gak tadi, dengan wajah
serius bercampur tegang mereka mengikuti jalannya pertarungan itu
dengan seksama.
Sementara itu
Bong Thian-gak telah terdesak mundur
sejauh tiga langkah oleh gencetan tiga serangan berantai lawan, tapi
secara mudah sekali dia berhasil meloloskan diri dari ancaman itu.
Yu Ciang-hong memang
tak malu disebut jago pedang yang termasyhur, ia tak memberi
kesempatan pada musuh untuk melepaskan serangan balasan, kaki
kirinya segera maju selangkah, lalu pedangnya ditebaskan ke samping,
sebuah tusukan kuat disodokkan ke muka.
Kini
Bong Thian-gak tidak menghindar
lagi, mencorong sinar tajam dari balik matanya, setelah membentak
nyaring, pergelangan tangan kanannya diayunkan ke muka membabat
punggung pedang, seketika itu juga muncul segulung angin pukulan
yang mendesak pedang lawan miring ke samping.
Sedangkan tangan
kirinya tidak tinggal diam, tiba-tiba saja ia mencengkeram
pergelangan tangan kanan musuh yang menggenggam pedang.
Hian-thian-koancu Yu
Ciang-hong amat terkejut, cepat dia mundur tiga langkah, tiba-tiba
saja gerakan pedangnya berubah.
Terdengar angin
menderu, cahaya kilat berkilauan di angkasa, segulung angin puyuh
yang maha dahsyat menggulung tiba.
Bong
Thian-gak mendengus dingin, ujung bajunya berkibar
terhembus angin, dengan cepat dia menerjang ke tengah gulungan angin
pedang Yu Ciang-hong yang gencar, dengan tangan kiri menangkis
pedang, tangan kanan menyerang musuh, sepasang telapak tangannya
berubah silih berganti, bagaikan dua naga bermain di air,
kelihaiannya benar-benar luar biasa.
Kawanan jago
persilatan itu rata-rata adalah pemimpin suatu perguruan besar, ilmu
silat mereka tentu saja lihai sekali, tatkala mereka menyaksikan
jalannya pertarungan itu, serentak keningnya berkerut.
Rupanya mereka tidak
bisa membedakan lagi mana gerakan tubuh
Bong Thian-gak dan mana jurus pedang Yu Ciang-hong.
Dalam waktu singkat
kedua belah pihak sudah saling bertarung puluhan gebrak.
Tiba-tiba terdengar
dengusan tertahan memecah keheningan. Di tengah lapisan bayangan
pedang yang menyelimuti udara, mendadak
Bong Thian-gak melejit ke tengah udara dan melayang
turun, kemudian dia membalik tubuh dan dalam beberapa kali lompatan
saja bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik halaman gedung sana.
Perubahan yang
berlangsung tiba-tiba ini amat mencengangkan semua orang, membuat
semua jago yang hadir di arena tak seorang pun sempat melakukan
penghadangan, mereka hanya berdiri tegak di tempat dengan wajah
termangu.
Akhirnya suara helaan
napas panjang menyadarkan para jago dari lamunan, sewaktu mereka
mengangkat kepala, tampak Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong berdiri
lemas dengan pedang Ci-thian-kiam terkulai ke bawah.
"Kalah total
... kalah total
... tiga puluhan tahun Lohu berlatih
dengan tekun, siapa tahu hari ini mesti menderita kekalahan di
tangan jago muda yang sama sekali tak dikenal," gumamnya lirih.
"Koancu, bukankah kau
berhasil melukai lengan kirinya?" seru Yu Heng-sui dengan nyaring.
"Siapa yang menderita kekalahan?"
Hian-thian-koancu Yu
Ciang-hong mendongakkan kepala dan dengan sedih sahutnya, "Betul,
Lohu memang berhasil melukai lengan kirinya, namun telapak tangannya
justru berhasil menghantam dadaku lebih dulu, coba kalau pukulan itu
disertai dengan tenaga dalam, Lohu sudah tewas sejak tadi, bagaimana
mungkin masih dapat melukai lengannya dengan pedang?"
Rupanya dalam
gebrakan penentuan yang berlangsung dengan amat cepat tadi, kecuali
Ku-lo Hwesio, Ho Put-ciang, Ui-hok Totiang dan beberapa orang yang
sempat melihat jelas, sisanya masih belum tahu bagaimana kedua belah
pihak menentukan menang kalahnya, mereka cuma menyaksikan
Bong Thian-gak melarikan diri dengan
membawa luka.
Dalam pada itu Ku-lo
Hwesio telah memejamkan mata rapat-rapat seakan sedang mengambil
suatu keputusan yang amat penting, tiba-tiba dia membuka mata, lalu
berkata dengan suara dalam, "Kelihaian ilmu silat orang ini
benar-benar jauh di luar dugaan, terutama aliran ilmu silatnya,
susah buat kita untuk menduganya, andaikata dia adalah musuh, hal
ini benar-benar amat merisaukan buat kita."
Paras muka Ho
Put-ciang berubah menjadi serius sekali, setelah ,termenung sejenak,
tiba-tiba bisiknya kepada Ku-lo Hwesio, "Ilmu pukulan orang ini
sangat aneh dan sulit diduga, akan tetapi tidak kehilangan sifat
jujur dan terbukanya, bahkan gaya serangannya pun mirip sekali
dengan...."
Ketika berbicara
sampai di situ mendadak dia tutup mulut, kemudian setelah menggeleng
kepala dia melanjutkan, "Akan tetapi di balik sikapnya yang gagah
dan perkasa membawa juga serangan keji yang licik dan tak kenal
ampun, sungguh membuat orang tidak mengerti!"
Ku-lo Hwesio menatap
wajah Ho Put-ciang lekat-lekat, kemudian tanyanya pelan, "Menurut
Ho-hiantit, ilmu silat orang itu mirip aliran mana?"
"Mirip sekali dengan
ilmu pukulan guruku, tapi bila diamati lagi dengan seksama seperti
tak mirip, ya, ilmu silat di dunia memang bersumber satu, mungkin
otakku kelewat tumpul hingga telah salah melihat!"
Mendengar itu, Ku-lo
Hwesio membungkam, sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat seperti
sedang bersemedi.
Mendadak terdengar
Ku-lo Hwesio berkata dengan suara yang dalam dan berat, "Ho-hiantit,
cepat kirim orang untuk mengejar dan membunuh Ko Hong!"
Ho Put-ciang tertegun
oleh seruan itu, "Mengapa Ku-lo Supek mengambil keputusan begini?"
Mencorong sinar tajam
dari balik mata Ku-lo Hwesio, serunya kemudian, "Lolap sudah
teringat sekarang, kemungkinan besar orang itu adalah anak murid
Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng."
Begitu ucapan itu
diutarakan, paras muka para jago segera berubah hebat.
Gara-gara dugaan itu,
Bong Thian-gak bakal
menjumpai banyak kesulitan dalam pengembaraannya di Bu-lim di
kemudian hari.
Dalam pada itu
Bong Thian-gak telah mengerahkan
ilmu meringankan tubuhnya melewati atap rumah dan kabur dari gedung
Bu-lim Bengcu.
Ia langsung menuju ke
tempat terpencil yang jauh dari keramaian, tiga li kemudian pemuda
itu baru berhenti berlari, sementara lukanya mulai terasa sakit.
Ternyata darah segar
telah membasahi lengan kirinya, sakitnya bukan kepalang.
Sambil menggigit
bibir dia lantas merobek secarik kain dan membalut luka itu,
kemudian setelah menghembuskan napas kesal, gumamnya seorang diri,
"Ilmu pedang Khong-tong-kiam-hoat milik Yu Ciang-hong memang
benar-benar lihai, bila tujuh tahun belakangan ini aku tidak belajar
ilmu sakti yang kutemukan tanpa sengaja, bisa jadi aku tewas di
ujung pedang orang itu!"
Pelan-pelan dia
berjongkok dan duduk bersila di bawah rimbunnya pohon.
Memandang awan di
angkasa, tanpa terasa gumamnya lagi, "Masa depan suram, dunia amat
luas, besok aku akan kemana dan berbuat apa? Ai, sungguh tak
kusangka setelah aku memasuki gedung Bu-lim Bengcu dan bisa menginap
di sana, sehari kemudian aku dipaksa berkelana lagi tanpa tujuan."
"Oh, Suhu! Apakah
arwah kau orang tua yang tidak berkenan aku memasuki pintu gerbang
gedung Bu-lim Bengcu lagi? Oh Suhu! Seandainya arwahmu di alam baka
tahu, kau harus mengerti bahwa tujuh tahun berselang aku tidak
melakukan kesalahan apa-apa, kubunuh Siau Cu-beng dikarenakan aku
hendak membersihkan perguruan kau orang tua dari manusia-manusia
laknat!"
Keluh-kesah
Bong Thian-gak ini makin lama
semakin memilukan, dia merasa nasib sendiri benar-benar amat buruk,
sepanjang hidup harus berkelana tanpa tujuan, dimana-mana mendapat
kesulitan, seakan-akan perjalanan hidup penuh dengan duri.
Teringat akan
nasibnya yang buruk, tanpa terasa ia teringat pula pada ibu gurunya,
Pek Yan-ling, yang menggemaskan, tak tahu malu dan menjengkelkan
itu.
Andai bukan gara-gara
perbuatan cabul Pek Yan-ling, mungkin dia tak akan mengalami nasib
yang begini tragis seperti saat ini.
Sambil menundukkan
kepala dan membelai kaki kirinya yang pincang, api kebencian membara
lagi dalam benaknya, saking tak kuasa menahan diri, dia segera
mencaci-maki kalang-kabut, "Perempuan jalang, tujuh tahun berselang
kau telah membacok otot kaki kiriku hingga membuatku pincang,
semalam kau lagi-lagi mengirim orang untuk membunuhku. Ah, aku
Bong Thian-gak bersumpah tak
akan melepaskan dirimu begitu saja."
Pikir punya pikir
sambil bersandar di pohon dan dibuai angin yang berhembus
silir-semilir, tanpa terasa akhirnya Bong
Thian-gak jatuh tertidur.
Ketika mendusin dari
tidurnya, matahari sudah tenggelam di langit barat, cuaca mulai
remang-remang.
Sambil melemaskan
otot-ototnya yang kaku, Bong
Thian-gak melompat bangun, tiba-tiba berhembus segulung angin yang
membawa bau harum daging semerbak.
Seketika pemuda itu
merasa perutnya lapar sekali sehingga sukar ditahan, sambil menelan
air liur dia mulai celingukan ke sana-kemari mencari sumber
datangnya bau harum itu.
Akhirnya dari balik
sebuah hutan kecil tak jauh dari situ, dia saksikan ada selapis
cahaya api yang sedang berkobar, di sampingnya duduk berjongkok
seseorang berdandan pengemis, tampak di atas jilatan api sedang
terpanggang sesuatu, dari situlah bau daging tadi terendus.
Waktu itu
Bong Thian-gak lapar sekali, dia
lantas berpikir, "Untuk membeli makanan di kota, aku mesti berjalan
dua-tiga li, mengapa tidak kubeli separoh ayam dari pengemis itu
untuk menangsal perut?"
Berpikir sampai di
situ, dia lantas berjalan menuju hutan kecil itu.
Benar juga, ternyata
benda yang sedang dipanggang adalah seekor ayam yang sangat gemuk,
waktu itu si pengemis sedang mencongkel bara api di bawah panggangan
dengan sebatang ranting, dia seperti belum tahu kehadiran
Bong Thian-gak.
"Permisi sobat!"
Bong Thian-gak segera
menegur. Pengemis itu tidak berpaling, juga tidak mengangkat kepala,
sambil meneruskan pekerjaannya dia berkata, "Hihihi, silakan duduk,
silakan duduk sobat aku tahu perutmu lapar."
Mendengar perkataan
itu, dengan perasaan rikuh Bong
Thian-gak berkata, "Aku ingin membeli separoh ayam panggangmu
itu, berapa pun harganya pasti kubayar."
Tiba-tiba pengemis
itu mendengus dingin, "Hm, harta kekayaan seperti awan di angkasa,
uang seperti kotoran manusia, kalau berbicara soal uang, lebih baik
tidak kujual saja!"
Bong
Thian-gak tertegun, "Kita tak pernah mengenal satu sama
lain, bagaimana boleh kuminta ...."
Belum selesai dia
berkata, pengemis itu sudah menukas dengan suara dingin, "Kalau
begitu lebih baik pergi saja dengan menahan lapar!"
Bau harum yang
semerbak membuat Bong
Thian-gak harus menelan air liur berulang-kali, sebagai orang jujur,
dia kasihan kalau harus meminta makanan yang mungkin didapat dari
dermaan orang, berpikir sampai di situ ada baiknya bilamana diberi
sedikit uang sebagai imbalan separoh ayam itu, bagaimana pun juga ia
tetap merasa rikuh untuk minta makanan dari seorang pengemis.
Karena ragu-ragu,
untuk sesaat dia hanya berdiri di tempat. Mendadak terdengar
pengemis itu berseru dengan gembira, "Sudah matang, sudah matang!"
Ia segera membuang
ranting itu dan mencengkeram panggang ayam yang masih panas itu
dengan tangannya.
Bong
Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu segera
berteriak, "Hati-hati, jangan sampai menyengat tangan!"
Belum habis dia
berkata, pengemis itu sudah menyobek paha ayam dan dimakan dengan
lahapnya.
Saat itulah
Bong Thian-gak melihat dengan jelas
paras muka pengemis itu, tanpa terasa keningnya berkerut kencang.
Ternyata usia
pengemis itu sangat muda, kurang lebih dua puluh tiga-empat
tahun,wajahnya amat tampan, telinga besar dan mata jeli, bukan saja
hidungnya mancung, kulit tubuhnya juga putih, halus dan bersih.
Coba kalau dia tidak
mengenakan jubah panjang yang penuh tambalan, siapa yang percaya
kalau orang ini adalah pengemis? Orang tentu akan menganggapnya
sebagai seorang Kongcu yang romantis!
Pengetahuan
Bong Thian-gak cukup luas, sekarang
dia sudah menduga, besar kemungkinan pengemis muda ini adalah
anggota Kay-pang yang termasyhur di Bu-lim selama seratus tahun
belakangan ini.
Kay-pang atau
perkumpulan pengemis merupakan perkumpulan terbesar di Bu-lim,
selain anggotanya sangat banyak, jumlah mereka pun tersebar rata di
setiap pelosok dunia.
Mereka tidak pernah
menggabungkan diri dengan persekutuan dunia persilatan, selamanya
bekerja sendiri tanpa terikat oleh perguruan lain, selain jarang
mengadakan hubungan dengan berbagai perguruan silat, perkumpulan ini
pun merupakan satu-satunya perkumpulan yang berdiri antara aliran
lurus dan sesat.
Belasan tahun
berselang, ketika guru Bong
Thian-gak masih menjadi Bengcu persekutuan dunia persilatan, pihak
Kun-lun-pay sebagai anggota persekutuan pernah bentrok dengan
orang-orang Kay-pang.
Gara-gara peristiwa
itu hampir saja pihak Kay-pang melakukan pertarungan terbuka dengan
pihak persekutuan dunia persilatan.
Akhirnya Bu-lim
Bengcu harus berkunjung ke markas besar Kay-pang untuk minta maaf
kepada ketua perkumpulan itu sebelum urusan bisa didamaikan.
Ditinjau dari
kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa pengaruh Kay-pang dalam Bu-lim
waktu itu sama sekali tidak berada di bawah kemampuan sembilan
partai besar daratan Tionggoan.
Sementara itu si
pengemis muda menyaksikan Bong
Thian-gak hanya berdiri termangu, mendadak dia menyambar
sepotong paha ayam dan dilempar ke depan
Bong Thian-gak, serunya, "Nih, sambutlah!"
Paha ayam itu
meluncur dengan kecepatan tinggi, Bong
Thian-gak dengan gugup segera menerimanya.
Kini dia sudah
menduga pengemis itu kemungkinan besar adalah anggota Kay-pang, maka
sikapnya pun tidak sungkan-sungkan lagi.
Dia lantas berjongkok
dan melalap paha ayam itu dengan lahapi, malah lebih lahap daripada
pengemis muda itu, dalam waktu singkat paha
ayam tadi sudah disikat hingga tinggal tulangnya.
Dengan
mata melotot dan tertawa
cekikikan, pengemis muda
itu berkata
"Kolong langit seperti
tetangga, empat samudra adalah saudara sendiri silakan makan,
silakan makan!"
Bong
Thian-gak tertawa bodoh, tanpa sungkan lagi dia pentang
kelima jarinya dan merobek sepotong daging ayam gemuk itu, langsung
dikirim ke dalam mulutnya.
Hanya dalam waktu
singkat seekor ayam gemuk seberat tiga-empat kati itu sudah tinggal
tulang.
Setelah kenyang,
Bong Thian-gak
baru
bertanya dengan suara lantang, "Bolehkah
aku tahu siapa namamu?"
Pengemis muda itu
melototkan matanya, kemudian sahutnya, "Dilihat dari tampangmu, sama
sekali tidak menunjukkan sikap seorang pelajar, tapi heran,
tingkah-lakumu justru penuh dengan segala tetek-bengek, siapa namamu
sendiri?"
Bong
Thian-gak menaruh kesan baik terhadap pengemis muda
itu, setelah tertawa nyaring dia menyahut, "Aku
she Ko bernama Hong."
"Nama palsu, shenya
juga palsu!"
Bong
Thian-gak jadi tertegun, "Maksudmu?"
"Tiada manusia yang
bernama demikian di Bu-lim."
Diam-diam
Bong Thian-gak terperanjat, pikirnya
kemudian, "Pengemis muda ini sudah pasti seorang yang punya
kedudukan tinggi dalam Kay-pang, kalau dilihat dari kemampuannya
merobek daging ayam tadi, pasti tenaga dalamnya telah sempurna!"
Berpikir demikian,
sambil tersenyum Bong
Thian-gak berkata, "Kalau begitu kau pun seorang dari dunia
persilatan?"
"Jika kau sudah tahu
aku anggota Kay-pang, buat apa kau mesti banyak bertanya?"
"Tapi kau belum
memberitahukan namamu kepadaku?"
"Aku
she To bernama Siau-hou!"
"Oh, rupanya To-heng,
terima kasih banyak atas hidangan daging ayammu pada malam ini!"
"Ayam gemuk itu dapat
kucuri dari dalam gedung Bu-lim Bengcu, jadi berterima kasihlah
kepada mereka!"
Bong
Thian-gak tertegun mendengar itu, segera serunya, "Jadi
kau pun telah berkunjung ke gedung Bu-lim Bengcu?"
"Aku pun telah
menyaksikan pertarunganmu melawan Yu Ciang-hong. Hm, orang-orang
dari sembilan partai memang benar-benar tak tahu malu, sudah kalah
masih menghadiahkan tusukan kepada orang!"
Bong
Thian-gak terkejut mendengar ucapan terakhir itu,
To Siau-hou ini selain sudah
menyusup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu tanpa diketahui siapa pun,
bahkan setiap gerakan serangan yang digunakan sewaktu bertarung
melawan Hian-thian-koancu pun dapat diketahuinya, dari sini dapat
disimpulkan kepandaian silatnya benar-benar sangat lihai.
To
Siau-hou memandang sekejap ke arah
Bong Thian-gak, kemudian tanyanya,
"Bukan memujimu, ilmu silatmu memang sangat tinggi, orangnya juga
jujur dan terbuka, kami orang-orang Kay-pang paling suka dengan
orang macam dirimu, apakah kau ingin masuk menjadi anggota?"
Bong
Thian-gak tersenyum, "Sekarang aku tak punya beban tak
punya ikatan, hidup bebas tanpa terikat oleh suatu apa pun, buat apa
To-heng mesti memberi belenggu padaku?"
To
Siau-hou ikut menghela napas panjang, "Cara untuk
menjadi anggota perkumpulan kami selamanya sangat ketat, justru
lantaran aku merasa amat berkesan kepada Ko-heng sejak pertemuan
pertama, seakan-akan kita seperti sudah berteman lama saja, maka
... sudahlah! Ko-heng, di
kemudian hari bila kau bersedia menjadi anggota perkumpulan kami,
katakan saja kepadaku."
"To-heng memiliki
watak yang gagah, terbuka, berjiwa besar dan hangat terhadap setiap
orang, Siaute benar-benar telah mendapat seorang sahabat sehati."
Tiba-tiba
To Siau-hou bangkit, kemudian
katanya, "Kini aku sedang mendapat tugas rahasia dari Pangcu kami
untuk menyelidiki beberapa persoalan di kota Kay-hong, tugas yang
amat berat itu mesti kulakukan secepatnya, hingga tak ada waktu buat
kita untuk banyak bicara, kalau begitu kita bersua lagi di lain
waktu saja!"
Selesai berkata dia
lantas menjura dalam-dalam kepada Bong
Thian-gak, setelah itu membalik badan dan beranjak
pergi dari situ.
"Baik-baiklah menjaga
dirimu To-heng, sampai jumpa lain waktu," seru
Bong Thian-gak lantang.
Setelah berjalan
beberapa langkah, tiba-tiba To
Siau-hou berhenti dan membalik tubuh, katanya, "Ko-heng, kini
Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay telah menurunkan perintah untuk
mencari dan membunuh dirimu, kau harus lebih waspada untuk menjaga
diri!"
Mendengar itu
Bong Thian-gak menghela napas
panjang, "Terima kasih banyak atas peringatan To-heng, aku bisa
menghadapinya dengan hati-hati."
To
Siau-hou tidak banyak bicara lagi, dia membalik badan
dan melompat pergi, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah
lenyap dari pandangan mata.
Memandang bayangan
punggung To Siau-hou yang
menjauh, tiba-tiba Bong
Thian-gak seperti kehilangan sesuatu, sobat barunya ini seakan-akan
meninggalkan kesan yang amat mendalam dalam hatinya.
Pesan sebelum
kepergian To Siau-hou tadi
membuat Bong Thian-gak makin
bertambah kesal, perintah yang diturunkan Ku-lo Hwesio itu
kemungkinan besar bisa mengakibatkan dia saling bentrok dengan
sesama saudara seperguruannya.
"Ai, apakah sebaiknya
aku mengundurkan diri dan mengasingkan diri di tengah gunung yang
terpencil?"
Bintang-bintang
bertaburan di angkasa dan berkelip tiada henti, persis seperti
perasaan Bong Thian-gak yang
tak menentu sekarang, dia tidak tahu harusnya dia tetap tinggal di
Kay-hong ataukah melanjutkan penyelidikannya atas pembunuh yang
membinasakan gurunya itu?
Dia tahu, meski dunia
persilatan kehilangan dia, namun dia bertekad tetap melakukan
penyelidikan terhadap kematian gurunya. Agar mereka jangan sampai
salah sasaran, dia memang sepantasnya mengundurkan diri dari
keramaian dunia.
Angin dingin
berhembus mengibarkan ujung baju Bong
Thian-gak, dengan pikiran kusut pelan-pelan dia
berjalan meninggalkan tempat itu.
Malam terasa aneh dan
penuh misteri.
Mendadak terdengar
suara keliningan yang nyaring, membuat suasana malam menjadi
bertambah misterius.
Mendengar suara itu,
Bong Thian-gak segera
berpaling, di tengah kegelapan malam segera terlihat olehnya
bayangan sebuah tandu yang muncul dari balik kegelapan.
Rupanya suara
keliningan itu berasal dari tandu itu.
Dengan kening
berkerut Bong Thian-gak
segera menyelinap ke balik semak belukar dan menyembunyikan diri,
tampak olehnya tandu itu makin lama makin mendekat.
Itulah sebuah tandu
kecil yang digotong dua orang, yang lebih mengherankan lagi, pemikul
tandunya adalah dua orang gadis yang masih berusia muda, di sisi
kanan tandu tampak pula seorang gadis mengiringi.
Tirai tandu ditutup
rapat, sehingga tidak diketahui siapakah yang duduk dalam tandu itu.
Sekilas pandang kedua
gadis muda itu nampak lemah-gemulai dan halus sekali, meski sedang
memikul tandu, langkah mereka tetap cepat dan ringan, jelas
orang-orang itu mempunyai kepandaian silat sangat tinggi.
Dengan cepat tandu
misterius itu lewat di hadapan Bong
Thian-gak dan bergerak menuju ke arah barat daya.
Memandang bayangan
tandu yang menjauh, pelan-pelan Bong
Thian-gak berjalan keluar dari balik semak belukar,
kemudian dengan perasaan tidak mengerti ia menggeleng kepala
berulang kali, pikirnya, "Pada umumnya pemikul tandu adalah
laki-laki kekar, mana ada gadis muda yang menggotong tandu? Hendak
kemanakah mereka?"
Perasaan ingin tahu
yang meluap membuat anak muda itu segera mengerahkan tenaga dan
mengejar ke arah bayangan tandu itu lenyap.
Kurang lebih empat li
sudah lewat, tapi anehnya bayangan tandu itu tidak nampak juga,
malah suara keliningan yang amat nyaring itu pun sudah tak terdengar
lagi.
Dengan tertegun
Bong Thian-gak segera
berpikir, "Masa secepat itu pemikul tandu itu berjalan? Mengapa
bayangan mereka bisa lenyap? Ah, mungkinkah aku telah salah arah!"
Berpikir demikian,
Bong Thian-gak segera
membalik badan dan mencari kembali ke tempat semula.
Sekali pun dia sudah
kembali ke semak belukar dimana dia menyembunyikan diri tadi, tandu
itu belum juga ditemukan.
"Benar-benar aku
sudah bertemu setan," gumam Bong
Thian-gak dalam hati, untuk sesaat dia berdiri termangu di
situ.
Mendadak di tengah
heningnya suasana, lagi-lagi muncul seorang pejalan malam, ilmu
meringankan tubuh orang itu hebat sekali, berjalan di tengah
kegelapan seakan-akan segulung hembusan angin saja.
Dengan cekatan
kembali Bong Thian-gak
menyembunyikan diri di balik semak belukar.
Tak selang lama
kemudian, pejalan malam itu sudah berhenti di h.idapannya, sepasang
matanya yang tajam tiada hentinya celingukan ke
sana kemari melakukan pemeriksaan.
Melihat itu
Bong Thian-gak berpikir, "Mungkin
dari kejauhan orang ini melihat di sini ada bayangan orang!"
Ternyata dugaannya
benar, terdengar orang itu bergumam, "Mungkin bayangan pohon
cemara!"
Dia lantas
mengembangkan ginkangnya dan
lewat di hadapan Hong Thian-gak, orang itu bergerak menuju ke arah
barat daya.
Dengan sepasang mata
Bong Thian-gak yang tajam,
dia dapat melihat pakaian yang dikenakan orang itu adalah pakaian
seragam pengawal gedung Bu-lim Bengcu.
Satu ingatan segera
melintas dalam benak Bong
Thian-gak.
Dengan cepat ia
mengembangkan Ginkang pula dan melakukan pengejaran.
Ginkang
Bong Thian-gak telah mencapai puncak
kesempurnaan, dengan selisih jarak puluhan depa, bagaikan sukma
gentayangan saja dia menguntit dari belakang.
Setengah jam kemudian
mendadak ia menyaksikan orang itu menyelinap ke balik hutan lebat di
sisi jalan.
Bong
Thian-gak segera melanjutkan penguntitannya melalui
arah lain.
Hutan itu gelap
gulita tak ada setitik sinar pun, tentu saja sulit bagi pemuda itu
untuk mengawasi orang itu dengan lebih seksama.
Untung
Bong Thian-gak memiliki ketajaman
pendengaran, dari suara langkah kaki si pejalan malam menginjak
dedaunan, ia bisa menduga orang itu berada di depannya dan sedang
menerobos ke arah selatan hutan itu.
Setelah berjalan
masuk ke dalam, tiba-tiba dari depan sana muncul setitik cahaya,
ternyata di situ berdiri sebuah kuil.
Mimpi pun
Bong Thian-gak tidak mengira dalam
hutan lebat ini bisa tersembunyi sebuah kuil, dengan perasaan ingin
tahu ia segera bersembunyi dalam hutan itu sambil menanti
perkembangan selanjutnya yang akan terjadi.
Tampaknya kuil itu
tidak berpenghuni, di dalam ruang gelap gulita tak nampak setitik
cahaya lentera pun, lagi pula sebagian tembok pekarangannya sudah
roboh, rumahnya juga kuno dan bobrok, suasana amat menyeramkan.
Dengan memperingankan
langkah kakinya, orang itu langsung bergerak menuju ke dalam kuil
bobrok itu.
Mendadak dari ruang
tengah kuil berkumandang suara teguran seorang perempuan, "Apakah
kau adalah utusan yang dikirim Sam-kaucu (ketua ketiga)?"
Ketika mendengar
teguran itu, orang itu nampak terperanjat, lalu buru-buru menjawab,
"Be ... benar, hamba adalah
Huhoat (pelindung) di bawah pimpinan Sam-kaucu, apakah Jit-kaucu
(ketua ketujuh) sudah datang?"
Sekali lagi dari
dalam ruang kuil berkumandang suara dengusan dingin perempuan itu,
"Hm, Jit-kaucu telah datang sedari tadi, mengapa kau tidak segera
berlutut menerima perintah?"
Lelaki berbaju hitam
itu benar-benar bertekuk lutut mendengar perkataan itu, wajahnya
nampak gugup dan tegang.
Sementara itu
Bong Thian-gak yang bersembunyi
dalam hutan pun diam-diam merasa terperanjat, "Sam-kaucu, Jit-kaucu,
sebenarnya perkumpulan macam apakah itu? Kalau lelaki berbaju hitam
itu salah satu di antara pengawal gedung Bu-lim Bengcu, penemuanku
pada malam ini boleh dibilang penting sekali."
Dalam pada itu, dari
dalam ruang kuil berkumandang lagi suara pembicaraan perempuan lain,
perempuan itu sedang bertanya dengan suara hambar, "Kau adalah
Huhoat nomor berapa di bawah Sam-kaucu?"
Suara perempuan ini
merdu bagaikan burung nuri yang sedang berkicau, tapi di balik suara
yang merdu itu terselip kewibawaan yang menggidikkan.
Dengan suara gemetar,
lelaki berbaju hitam itu segera menjawab, "Hamba adalah pelindung
nomor dua puluh sembilan Lo Gi."
"Lo Gi?" kembali
suara perempuan itu bertanya. "Tahukah kau di antara Kaucu dalam
perguruan kita, Kaucu nomor berapakah yang mempunyai peraturan
paling ketat?"
"Jit-kaucu!"
Perempuan dengan
suara berwibawa itu kembali berkata, "Aku telah menunggu hampir
setengah jam lamanya di tempat ini, persoalan apakah yang membuat
kedatanganmu terlambat tiga perempat jam?"
"Secara tiba-tiba di
gedung Bu-lim Bengcu diadakan pemeriksaan pasukan, oleh sebab itu
hamba datang terlambat, harap Jit-kaucu sudi memaafkan dosa hamba
ini."
Kepala
Bong Thian-gak serasa mendengung
keras sesudah mendengar tanya jawab itu, apa yang didengarnya ini
ternyata benar, orang adalah mata-mata musuh yang sengaja
diselundupkan ke dalam gedung Bu-lim Bengcu.
Ini berarti perguruan
rahasia itulah yang sesungguhnya musuh umum seluruh umat persilatan.
Sementara itu dari
dalam ruang kuil kembali terdengar Jit-kaucu berkata, "Perintah
apakah yang diberikan Sam-kaucu untuk disampaikan kepadaku? Cepat
katakan."
"Sam-kaucu hanya
menyerahkan tiga hal, pertama, ia minta pada Jit-kaucu untuk
menyelidiki seorang yang bernama Ko Hong."
"Manusia macam apakah
Ko Hong itu? Mengapa harus Kaucu yang melakukan penyelidikan ini?"
tegur Jit-kaucu dari dalam ruangan dengan suara sedingin es.
"Sam-kaucu yang
mengharapkan demikian, menurut Sam-kaucu, Ko Hong mempunyai ciri
khas, dia berwajah kuning macam orang penyakitan, kaki kirinya
pincang, ilmu silatnya amat lihai dan usianya antara dua puluh
tujuh-delapan tahunan."
"Sam-kaucu menitahkan
kepada Jit-kaucu untuk menyelidiki asal-usulnya dan berusaha
menariknya agar bergabung dengan perkumpulan kita, apabila
usaha ini mustahil, mumpung belum menimbulkan ancaman,
dia mesti cepat disingkirkan dari muka bumi."
Bong
Thian-gak yang mendengar perkataan itu menjadi amat
terkesiap, dia tidak menyangka perkumpulan ini pun akan turun tangan
keji terhadapnya.
Jit-kaucu yang berada
dalam ruangan kuil nampaknya sedang termenung, selang beberapa saat
kemudian ia baru bertanya, "Masih ada persoalan apa lagi, cepat
katakan."
"Kedua, menurut
Sam-kaucu, beberapa hari mendatang mungkin Yu Heng-sui hendak menuju
ke kantor cabang kita untuk melakukan penyelidikan, bila perlu
Jit-kaucu boleh mengambil keputusan sendiri untuk menentukan mati
hidupnya."
Berita ini lagi-lagi
membuat Bong Thian-gak
terperanjat, cepat pikirnya, "Entah dimanakah letak kantor cabang
mereka? Bila aku tidak berusaha keras memberitahu kabar ini kepada
Ji-suheng, bisa jadi keselamatan Ji-suheng akan terancam mara
bahaya!"
Sementara itu lelaki
berbaju hitam berkata lagi, "Soal ketiga, kata Sam-kaucu,
Cap-go-kaucu (ketua kelima belas) pernah mengirim pembunuh ke gedung
Bu-lim Bengcu untuk melenyapkan jiwa Ko Hong, tapi usaha pembunuhan
itu menemui kegagalan, malah rahasia Sin-li-tui (pasukan gadis suci)
perkumpulan kita ikut bocor, kemungkinan hal itu akan mempengaruhi
rencana kita secara keseluruhan, Sam-kaucu minta Jit-kaucu
menyampaikan berita ini kepada Cong-kaucu untuk menetapkan langkah
selanjutnya dari Cap-go-kaucu."
"Hanya tiga soal
inikah yang dipesankan Sam-kaucu?" tanya Jit-kaucu hambar.
"Benar!"
Pelan-pelan Jit-kaucu
berkata lagi, "Peraturan perkumpulan kita amat ketat, tak
mengizinkan anggota partai melakukan kesalahan?"
Lelaki berbaju hitam
itu nampak tertegun, kemudian sahutnya, "Bagi yang melakukan
kesalahan berat hukumannya mati, sedangkan yang ringan disekap untuk
menyesali dosanya."
"Lo Gi, kemari kau,"
tiba-tiba Jit-kaucu berkata dengan suara pelan.
Tampaknya lelaki
berbaju hitam itu belum tahu bencana besar sudah berada di ambang
mata, dengan menurut sekali dia berjalan
masuk ke dalam ruangan.
Ruangan itu gelap
gulita tak nampak setitik cahaya pun, semenjak lelaki berbaju hitam itu masuk ke dalam,
suasana sekeliling tempat itu berubah menjadi hening, sepi dan tak
terdengar sedikit suara pun ....
Dengan mengerahkan
segala kemampuannya, Bong
Thian-gak mencoba memeriksa sekeliling ruang itu,
namun belum juga ditemukan sesuatu gerakan pun,
lama-kelamaan timbul juga rasa curiga dalam hatinya, dia segera berpikir, "Aneh! Paling tidak
dalam ruangan itu terdapat
dua orang atau lebih,
ditambah orang berbaju hitam yang masuk ke dalam, mengapa dalam waktu singkat
suasana berubah menjadi
hening dan tak terdengar
sedikit pun suara?"
Bong
Thian-gak menunggu lagi hingga setengah jam lamanya,
akan tetapi suasana dalam ruangan tetap
hening.
"Jangan-jangan mereka
sudah kabur melalui ruang belakang?" Ingatan itu dengan cepat melintas dalam
benaknya.
Berpikir sampai di
situ, Bong Thian-gak segera
menyumpah dalam hati,
"Siluman
rase, benar-benar licik kau!"
Dia segera melompat keluar dari dalam hutan
dan berlari ke arah eedung
utama dengan kecepatan
tinggi.
Mendadak
Bong Thian-gak menyaksikan lelaki
berbaju hitam itu masih
berlutut di depan pintu
kuil itu.
"Jangan-jangan mereka
belum pergi?" diam-diam Bong
Thian-gak berpikir.
Tapi untuk
menyelidiki asal-usul perkumpulan lawan dan untuk membalas dendam
bagi kematian gurunya, bagaimana pun juga dia hams menawan musuh dalam keadaan hidup.
Tanpa rasa jeri
barang sedikit pun, selangkah demi selangkah Nnng Thian-gak berjalan menuju ruang kuil.
Siapa tahu kendati
dia sudah berdiri di belakang lelaki berbaju hitam itu, suasana dalam ruangan kuil masih tetap
hening tak terdengar bunyi apa pun, lelaki berbaju hitam yang sedang berlutut itu pun tak
berpaling.
Bong
Thian-gak tertawa dingin, dengan satu lompatan lebar
dia menerjang masuk ke dalam ruangan tengah,
lalu tangan kirinya secepat kilat mencengkeram urat nadi
pergelangan tangan kanan lelaki itu.
Siapa tahu tangannya
yang berhasil mencengkeram nadi lawan hanya menyentuh tubuh yang
telah dingin dan kaku, tubuh lelaki itu tahu-tahu roboh terjengkang
ke tanah.
Di bawah cahaya
bintang yang menyinari sekitar situ, Bong
Thian-gak menemukan wajah yang amat tak sedap dipandang
dari lelaki berbaju hitam itu, saking kagetnya ia sampai melepas
cengkeramannya dan mundur.
Ternyata lelaki itu
sudah tewas, wajahnya pucat-pias, seluruh daging wajahnya telah
lenyap sehingga wujudnya sekarang tinggal kulit membungkus tulang.
"Ah, keadaan seperti
ini agaknya seperti amat kukenal!" pikir pemuda itu kemudian.
Tapi dengan cepat
Bong Thian-gak teringat mayat
Kongsun Phu-ki, mayat mereka berdua pada hakikatnya mirip sekali.
Menurut penilaian
Ku-lo Hwesio, sebab kematian Kongsun Phu-ki adalah kehabisan sumsum
akibat hubungan senggama yang kelewat batas, tapi lelaki berbaju
hitam ini tak melakukan hubungan senggama, mengapa dia pun tewas
akibat kehabisan sumsum?
"Ilmu silat apakah
itu? Ya, ilmu silat apakah itu? Mengapa dia bisa menghisap sari
tubuh lelaki kekar yang nampak bertubuh segar menjadi sesosok mayat
yang bertubuh kulit membungkus tulang hanya dalam sekejap mata?"
Betul-betul suatu
peristiwa yang amat mengerikan. Sebetulnya perempuan macam apakah
Jit-kaucu itu?
Dari sini dapat
disimpulkan bahwa kematian Kongsun Phu-ki pun. disebabkan perbuatan
Jit-kaucu ini.
Dengan cepat
Bong Thian-gak masuk ke ruang
tengah, menembus dua halaman dan di belakang kuil dia menemukan
sebuah hutan yang amat lebat.
Tanpa pikir panjang
lagi, dia segera memasuki hutan lebat itu.
Dari balik hutan yang
sangat lebat dan seakan-akan tak bertepian itu, mendadak terdengar
suara bentakan nyaring.
Bagaikan seorang yang
tersesat di padang gurun pasir dan secara tiba-tiba menemukan sumber
mata air saja, Bong Thian-gak
segera mengerahkan Ginkangnya menyusul ke depan.
Di tengah semak
belukar yang lebat, akhirnya ia temukan sebuah tandu kecil diparkir
di sana, dua gadis muda berbaju hijau memikul tandu itu, sedang
gadis berbaju hijau lainnya berdiri di muka tandu
dengan senjata terhunus.
Di depan gadis
berbaju hijau yang bersenjata terhunus itu berdiri seorang pemuda
berbaju compang-camping yang berwajah tampan.
Dengan cepat
Bong Thian-gak dapat mengenali
pemuda itu sebagai To
Siau-hou, anggota Kay-pang yang baru saja dikenalnya semalam.
Sementara itu
To Siau-hou juga sudah mengenali
Bong Thian-gak, paras mukanya
segera berubah hebat.
Rupanya
To Siau-hou salah mengira
Bong Thian-gak berasal sealiran
dengan gadis-gadis itu, sambil tertawa dingin ia menyindir, "Sungguh
tak kusangka kau adalah pelindung bunga. Hahaha, bila begitu aku
telah salah memilih teman."
"To-heng, jangan
salah paham," buru-buru Bong
Thian-gak berkata. "Aku sama sekali tak punya hubungan apa-apa
dengan mereka."
"Kalau memang
demikian, harap Ko-heng berpeluk tangan saja di sisi arena!"
Sementara
itu si gadis bersenjata pedang telah menuding ke arah
To Siau-hou sambil membentak, "Hei,
kau si pengemis, mengapa berdiri menghadang di tengah jalan?
Memangnya telah bosan hidup?"
To
Siau-hou tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, tidak sulit
bila tandu nona ingin lewat tempat ini, cuma aku harus memeriksa
dulu mang macam apakah yang sedang duduk di dalam tandu itu."
Bong
Thian-gak menyaksikan semua itu, dengan cepat ia dapat
menduga orang yang berada dalam tandu itu pasti adalah Jit-kaucu
yang keji dan tak berperi-kemanusiaan itu.
Ketika nona baju
hijau selesai mendengarkan ucapan itu, alisnya segera bekernyit,
hawa membunuh menyelimuti wajahnya, dia segera membentak, "Rupanya
kau ingin mampus!"
Mendadak dia menekuk
pinggang, lalu secepat sambaran petir menerjang ke muka dan melepas
bacokan kilat.
To
Siau-hou menggoyang bahu berkelit tiga kali ke samping,
kemudian melangkah maju menghampiri tandu kecil itu
Gadis berbaju hitam
itu membentak nyaring, jurus pedangnya segera berubah, beruntun dia
melancarkan tiga buah serangan berantai, cahaya tajam yang berkilau
bagaikan beribu bintang dengan cepat menyapu ke depan dan mengurung
sekujur badan To Siau-hou.
Terdesak oleh tiga
serangan berantai itu, To
Siau-hou mundur dua langkah, bayangan orang berkelebat, lagi-lagi
gadis berbaju hitam itu sudah melintangkan pedangnya menghadang di
depan tandu.
Rupanya
To Siau-hou dibikin gusar pula oleh
perbuatan musuh, keningnya berkerut dan matanya memancarkan cahaya
berkilauan, pelan-pelan tangan kanannya mencabut sebatang tongkat
bambu dari balik bahunya.
Dengan tangan kiri
menggenggam tongkat bambu, tangan kanan pelan-pelan bergerak ke
muka, sebilah pedang tajam tahu-tahu sudah dilolos pula dari
sarungnya.
Pada saat itulah dari
dalam tandu berkumandang suara merdu dan lembut menegur hambar, "Aku
duga kau pastilah Giok-bin-giam-lo (Raja akhirat berwajah kemala)
To Siau-hou, salah satu di
antara Cho-yu-siang-siau (Sepasang muda kiri kanan) yang mendampingi
Liong-thau Pangcu dari Kay-pang!"
Cho-yu-siang-siau
dari Kay-pang jarang melakukan perjalanan di Bu-lim, oleh sebab itu
nama mereka jarang diketahui orang, agak terperanjat juga hati
To Siau-hou setelah nama dan
julukannya berhasil disebut orang secara tepat.
Sambil melintangkan
pedang di depan dada, ia segera membentak dengan suara dalam,
"Siapakah kau?"
"Jit-kaucu!"
"Bagus sekali,
Jit-kaucu. Sebelum Bu-siang-long-hou-ciang dari perkumpulan kami
menemui ajal, ia pernah menyinggung nama besar Jit-kaucu, sekarang
aku ingin bertanya kepadamu, apakah saudara kami ini tewas di
tanganmu?"
"Dia tewas di tangan
Ji-kaucu (ketua kedua)!" jawab Jit-kaucu dengan suara dingin.
"Siapakah Ji-kaucu
itu?" bentak To Siau-hou
dengan kening berkerut.
"Pertanyaanmu itu
terlalu lampau bersifat kekanak-kanakan, Jikaucu adalah Ji-kaucu,
kau tak usah banyak bertanya lagi."
Bong
Thian-gak berkerut kening mendengar ucapan itu, belum
pernah ia jumpai suatu perkumpulan dengan sejumlah pimpinan begini
aneh, ditinjau dari pembicaraan malam ini, lalu dianalisa kembali,
dapat disimpulkan bahwa pimpinan tertinggi organisasi rahasia ini
mungkin disebut "Kaucu!".
Sedang orang yang
paling berkuasa di antara deretan Kaucu-kaucu itu tentulah
Cong-kaucu (Kaucu nomor satu), tapi berapa banyak Kaucu yang
terdapat dalam perkumpulan itu?
Dari pembicaraan
malam ini, agaknya angka terbesar yang pernah disebut adalah kelima
belas, yakni Cap-go-kaucu.
Sementara itu
Giok-bin-giam-lo To Siau-hou
tertawa dingin, lalu ujarnya, "Jika aku berhasil membekuk kau malam
ini, aku tak kuatir anak murid perguruanmu itu tak akan menampakkan
batang hidungnya."
"Begitu yakin akan
kemampuanmu?"
"Mengapa tidak
dibuktikan saja!" seru To
Siau-hou sambil tertawa nyaring.
Mendadak terdengar
Jit-kaucu berseru, "Turunkan tandu, kalian bertiga boleh segera
mengundurkan diri!"
Begitu perintah
diturunkan, kedua gadis berbaju hitam segera menurunkan tandu, lalu
bersama gadis berpedang mengundurkan diri dengan cepat ke sisi kiri,
kanan dan belakang tandu.
Giok-bin-giam-lo
To Siau-hou segera
merentangkan pedang di depan dada, kemudian tertawa terbahak-bahak,
"Hahaha, kalau begitu aku ingin mencoba sampai dimanakah taraf
kepandaian silat yang kau miliki!"
Mendadak terdengar
Bong Thian-gak membentak
dengan suara dalam, "Tunggu dulu!"
Dengan langkah lebar
dia berjalan mendekat, lalu sambil menjura kepada
To Siau-hou, katanya, "To-heng,
harap kau bersedia memberi kesempatan bagiku mengajukan beberapa
pertanyaan dulu kepadanya sebelum pertarungan dilakukan!"
Giok-bin-giam-lo
To Siau-hou memandang sekejap
ke arah Bong Thian-gak,
kemudian katanya, "Silakan Ko-heng!"
Dengan suara lantang
Bong Thian-gak berseru,
"Jit-kaucu, dengar baik-baik! Aku punya beberapa persoalan yang tak
kupahami dan ingin minta petunjuk darimu, aku harap kau sudi memberi
petunjuk!"
"Soal apa? Katakan
saja!" ucap Jit-kaucu dari dalam tandu dengan suara hambar.
"Aku ingin bertanya,
Bu-lim Bengcu Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu tewas dalam keadaan
bagaimana?"
"Ada hubungan apa
antara kau dan Oh Ciong-hu?" Jit-kaucu balik bertanya.
"Kami adalah
sahabat!"
Jit-kaucu termenung
beberapa saat lamanya, setelah itu baru berkata lagi, "Sebab
kematian Oh Ciong-hu hanya diketahui satu orang saja dan orang itu
bukan diriku sehingga aku pun tak bisa memberikan keterangan apa-apa
kepadamu."
"Apakah orang itu
adalah Cong-kaucu perkumpulan kalian?"
"Benar!"
Mencorong sinar tajam
dari balik mata Bong
Thian-gak, kembali dia bertanya, "Apa nama perkumpulan kalian?"
Jit-kaucu yang berada
di dalam tandu tertawa riang, "Sejak saat ini nama perkumpulan kami
akan berkumandang di seluruh penjuru dunia dan membekas dalam hati
setiap orang, kuberitahukan kepadamu pun tak ada salahnya,
perkumpulan kami bernama Put-gwa-cin-kau!"
"Put-gwa?" seru
Bong Thian-gak terperanjat.
"Put-gwa (tiada aku)
merupakan persembahan kita terhadap partai, demi kepentingan partai,
kami tak akan mempersoalkan hati sendiri, tubuh dan hati kami semua
adalah milik partai."
"Benarkah Cong-kaucu
kalian adalah Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng!"
"Benar atau tidak,
maaf aku tak bisa memberitahukan kepadamu."
Tiba-tiba
Bong Thian-gak menghela napas
panjang. "Baiklah, terima kasih banyak atas jawabanmu!" katanya
kemudian.
Selesai berkata, dia
lantas mengundurkan diri ke samping To
Siau-hou sambil berbisik, "To-heng, orang ini memiliki
ilmu pukulan yang amat sakti dan jahat sekali, kau harus
berhati-hati."
"Andai aku mati,
tolong Ko-heng sudi mengirim jenazahku kembali ke markas Kay-pang!"
Dalam pada itu
Jit-kaucu hanya duduk diam di dalam tandu, tirai tandu masih
tertutup rapat sehingga secara lamat-lamat cuma nampak bayangan
orang saja.
Dengan pedang
terhunus To Siau-hou berjalan
ke muka dan baru berhenti di depan tandu, kemudian tegurnya,
"Jit-kaucu, dengan cara inikah kau hendak menerima seranganku?"
"Hm, tak usah banyak
bicara, lancarkan saja seranganmu!" seru Jit-kaucu dingin.
Dengan kening
berkerut To Siau-hou segera
mengayun pedang menyambar tirai tandu.
"Kau ingin mampus
rupanya!" bentakan nyaring berkumandang.
Bagaikan sukma
gentayangan tiba-tiba muncul sebuah lengan putih mulus dari balik
tandu, kemudian jari tangannya yang ramping menyentil ke muka.
Pedang
To Siau-hou terpental oleh suatu
kekuatan maha dahsyat.
"Aduh, celaka!" pekik
To Siau-hou.
Dia ingin membuang
pedangnya sambil mundur, siapa tahu telapak tangan membalik ke atas.
Sekilas cahaya merah segera memancar keluar, segulung tenaga pukulan
yang maha dahsyat bagaikan gelombang ombak di tengah samudra
langsung menghajar tubuh To
Siau-hou.
Dengusan tertahan
bergema, To Siau-hou berikut
pedangnya terpental oleh tenaga pukulan yang maha dahsyat itu.
Sekali pun sepasang
kakinya dapat mencapai tanah lebih dahulu hingga tubuhnya tidak
terbanting, tak urung tubuhnya berguncang keras, lutut gemetar dan
hampir saja tak sanggup menahan diri.
Dengan cepat
Bong Thian-gak memburu ke muka,
serunya dengan cemas, "To-heng, parahkah lukamu?"
Sementara itu peluh
dingin telah bercucuran membasahi wajah To
Siau-hou, kulit mukanya mengejang menahan penderitaan
yang luar biasa, katanya dengan suara gemetar, "Ilmu silat perempuan
ini teramat hebat, harap Ko-heng jangan menghadapinya dengan
kekerasan."
Kedua gadis muda itu
sudah menggotong kembali tandunya dan siap berlalu dari situ.
Dengan cepat
Bong Thian-gak melompat ke depan
sambil membentak nyaring, "Tunggu sebentar!"
Sepasang telapak
tangannya diayunkan ke depan melepas dua gulung angin pukulan
dahsyat ke tubuh kedua gadis muda itu.
"Turunkan tandu dan
cepat mundur!" seruan nyaring Jit-kaucu berkumandang dari balik
tandu.
Tapi sayang, keadaan
terlambat, kedua gulung angin pukulan Bong
Thian-gak secepat sambaran petir telah menyapu ke
depan.
Dua jeritan kaget
segera berkumandang memecah keheningan.
Kedua gadis pemikul
tandu terhantam oleh kedua gulung angin pukulan itu hingga badannya
terpental dan roboh terjengkang ke atas tanah.
Tandu kecil itu pun
terjatuh ke tanah.
Begitu berhasil
menyapu kedua gadis itu, dengan serangan bagaikan naga sakti bermain
di udara, Bong Thian-gak
segera menerjang tandu itu.
Mendadak sebuah
pergelangan tangan menerobos keluar dari balik tandu, dengan cepat
Bong Thian-gak mengayun
telapak tangan kanannya melepaskan sebuah bacokan dengan kecepatan
tinggi.
Tetapi telapak tangan
lawan bergerak sangat lincah, sedikit menggeser tahu-tahu sudah
terhindar dari bacokan, kemudian dengan lima jari dibentangkan
bagaikan kaitan, dia balik mematuk pergelangan tangan kanan
Bong Thian-gak.
Begitulah, kedua jago
lihai masing-masing melepas serangan dengan menggunakan tangan
sebelah, kedua belah pihak bergerak dengan kecepatan luar biasa
serta kelincahan yang mengagumkan. Pertarungan berlangsung bertambah
sengit.
Perlu diketahui, arah
ancaman serangan kedua orang itu selalu berkisar antara jalan darah
Huo-ko-hiat dan Meh-bun-hiat, padahal kedua jalan darah itu
merupakan Hiat-to mematikan di tubuh manusia, sekali salah
perhitungan maka akibatnya akan mengenaskan.
Bong
Thian-gak membentak keras, tiba-tiba dia mengayun kaki
kanannya menendang urat nadi pergelangan tangan lawan, kemudian
tangan kanan menyambar ke bawah mencengkeram tirai yang menutup
tandu itu.
Agaknya Jit-kaucu
yang berada dalam tandu pun sudah dibikin berkobar amarahnya,
tangannya bagaikan ular lincah yang keluar dari gua bergerak kian
kemari dengan teramat cepat, secara lincah dan cekatan dia selalu
berhasil meloloskan diri dari serangan gencar
Bong Thian-gak.
Mendadak Jit-kaucu
menarik telapak tangannya ke dalam, tapi secara tiba-tiba
dikeluarkan kembali, selisih waktunya hanya beberapa detik saja.
Ketika telapak
tangannya keluar dari balik tirai, sekilas cahaya merah segera
memancar keempat penjuru.
Bong
Thian-gak segera tahu perempuan itu hendak mengeluarkan
ilmu pukulan maha saktinya, dia membentak keras, segenap tenaga
dalamnya dihimpun pada tangan kiri, lalu diayun ke muka mengikuti
gerakan tubuhnya yang menyelinap keluar.
Dalam waktu singkat
dua gulung tenaga pukulan telah saling bentur, ledakan nyaring
menggelegar, pusaran angin disertai desingan angin tajam
menderu-deru di angkasa.
Bong
Thian-gak melayang turun, berbareng tangan kanannya
telah bertambah dengan sebuah kain cadar hitam, akhirnya wajah asli
Jit-kaucu kelihatan juga di depan mata.
Setelah tirai tandu
terlepas, tampaklah di dalam tandu duduk seorang gadis cantik
berbaju biru, sepasang matanya jeli memancarkan sinar tajam membetot
sukma, saat itu sorot matanya sedang memandang wajah
Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Sebaliknya
Bong Thian-gak yang dapat melihat
wajah cantik dalam tandu itu segera merasa tubuhnya gemetar keras
tanpa terasa, cadar itu sudah terlepas ke atas tanah.
Ternyata raut wajah
si nona cantik ini amat dikenal olehnya, sekali pun memejamkan mata
Bong Thian-gak pun bisa
melukiskan setiap bagian tubuhnya secara nyata dan jelas.
"Ah, rupanya dia!"
pekik anak muda itu dalam hati.
Dia menggeleng kepala
berulang kali sambil memejamkan mata, kemudian sekali lagi menatap
wajah gadis itu lekat-lekat.
"Ya, betul! Memang
dia, dialah si gadis telanjang bulat di rumah pelacuran
Kang-san-bi-jin-lau."
Sementara itu
perempuan cantik dalam tandu itu seolah teringat pula akan sesuatu
persoalan setelah menyaksikan sikap Bong
Thian-gak yang melongo itu, dia pun berseru tertahan,
lalu mukanya berubah merah padam, tubuhnya gemetar keras karena
emosi.
Suasana hening
menyelimuti tempat itu, sepasang muda-mudi itu dengan membawa
rahasia masing-masing hanya termenung sambil membungkam.
Dalam keadaan
demikian, bukan cuma To
Siau-hou saja, bahkan ketiga gadis berbaju hijau pun tidak habis
mengerti apa sebabnya kedua orang itu tertegun dan termangu-mangu
seperti orang kehilangan sukma setelah saling bertatap muka.
Mendadak terdengar
Jit-kaucu yang berada dalam tandu berkata, "Sialan, bocah keparat
yang tidak tahu malu!"
Ucapan itu membuat
Bong Thian-gak merasa malu
sekali sehingga menundukkan kepala, namun dia tak mengucapkan
sepatah kata pun.
Mendadak terdengar
Jit-kaucu membentak keras, "Ing Soat, kalau tidak pergi mau tunggu
apa lagi?"
Kedua gadis pemikul
tandu dan gadis baju hijau yang membawa pedang buru-buru mengangkat
tandu kecil itu dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun berlalu dari
situ.
Suara keliningan
nyaring berkumandang makin menjauh.
Menanti suara
keliningan itu menjauh, Bong
Thian-gak seolah baru mendusin dari lamunannya, ia berseru tertahan
sambil berpaling.
Dijumpainya
Giok-bin-giam-lo To Siau-hou
telah menempelkan pedang di atas pinggang kiri sendiri.
"To-heng, apa
maksudmu?" tegur Bong
Thian-gak.
Dengus napas
To Siau-hou agak tersengal, katanya,
"Siapakah perempuan itu?"
"Siapa lagi, tentu
saja Jit-kaucu!" sahut Bong
Thian-gak dengan wajah tertegun.
To
Siau-hou tertawa dingin, "Ko-heng, kau tak usah
berlagak pilon, sewaktu mata kalian saling bertemu, paras muka
kalian berdua segera berubah tak menentu, sudah jelas kalian adalah
kenalan lama, mengapa Ko-heng mengatakan tidak tahu?"
Bong
Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, betul,
sebelumnya aku memang pernah sekali berjumpa dengannya, tapi aku
tidak tahu siapakah dia. Ucapan Siaute adalah sejujurnya bila aku
bohong biar Thian mengutuk aku!"
Mendadak
To Siau-hou menarik kembali
pedangnya, kemudian dia muntah darah sebanyak dua kali, setelah
mundur sempoyongan, tubuhnya roboh terjengkang ke tanah.
Menanti
Bong Thian-gak membalik tubuhnya,
To Siau-hou sudah tergeletak
dengan wajah pucat-pias seperti mayat, tanpa terasa teriaknya dengan
terkejut, "To-heng, mengapakah kau?"
"Ko-heng, maafkanlah
aku, aku telah salah sangka kepadamu," bisik
To Siau-hou dengan lemah.
"Aku.mungkin sudah tak bisa ditolong lagi! Ilmu pukulannya sangat
jahat dan lihai ... sekarang
tubuhku mulai terasa berkerut kencang, sekujur tubuhku kedinginan
setengah mati."
Bong
Thian-gak pernah menyaksikan bagaimana cara Jit-kaucu
membunuh orang, ia menjadi terperanjat sekali, segera pikirnya,
"Entah apa nama pukulan ilmu saktinya itu? Aku tak bisa ilmu
pengobatan. Ai, apa yang mesti kulakukan sekarang?"
Makin dipikir hatinya
semakin gelisah sehingga tanpa terasa dia menghentakkan kaki ke
tanah, serunya kemudian, "To-heng, apa yang harus kita lakukan
sekarang?"
Agaknya
To Siau-hou sudah tahu tiada harapan
baginya untuk hidup, sikapnya malah tampak jauh lebih tenang,
katanya, "Ko-heng, setelah aku mati, tolong antarkan jenazahku ke
markas besar Kay-pang di Sucwan, kemudian ceritakanlah nasib yang
kualami ini kepada guruku, ketua Kay-pang
"To-heng, cepat kau
pikirkan sebentar apakah di sekitar sini ada tabib pandai!" seru
Bong Thian-gak gelisah.
Sambil tertawa getir
To Siau-hou menggeleng kepala
berulang kali, "Tidak ada! Sebelum menemui ajal
Bu-siang-long-hou-ciang pernah berkata bahwa Jit-kaucu telah
berhasil memiliki sejenis ilmu pukulan maha sakti yang tiada
tandingan di dunia ini, barang siapa terkena pukulannya itu, hanya
kematian yang akan dialaminya, tiada obat yang bisa
menyembuhkannya!"
"Ai, aku memang
kelewat tinggi hati dan gegabah, sekali pun tahu kelihaian ilmu
pukulan lawan, aku tetap nekat menghadapinya, aku memang patut
mampus!"
Cepat
Bong Thian-gak menggeleng, katanya,
"Tiada pukulan yang tak bisa disembuhkan di dunia ini, asal
diketahui namanya, aku bisa mengusahakan penyembuhan bagimu. Cuma
aku kuatir waktu tidak mengizinkan lagi."
"Aku pun mengerti
sedikit ilmu pertabiban, menurut keadaan luka yang kuderita
sekarang, mungkin tak akan bisa bertahan sampai tengah malam nanti."
Tiba-tiba
Bong Thian-gak berkata, "To-heng,
mari kubimbing kau pergi ke tempat sepi, kemudian aku akan mencari
Jit-kaucu, aku akan bertanya kepadanya ilmu pukulan apa yang telah
dia pergunakan untuk melukai dirimu."
"Terima kasih
Ko-heng!" To Siau-hou tertawa
sedih. "Ilmu silat Jit-kaucu sudah kau ketahui sendiri, bila Ko-heng
mengalami hal-hal yang tak diinginkan gara-gara urusanku, bagaimana
mungkin arwahku di alam baka bisa tenteram?"
Mencorong sinar tajam
di balik mata Bong Thian-gak,
serunya, "Kecuali berbuat demikian, tiada cara lain yang bisa
dipakai untuk menyelamatkan nyawa To-heng."
Meski hanya beberapa
patah kata yang singkat, namun terpancar sifat ksatria dan kegagahan
Bong Thian-gak.
"Ko-heng, budi
kebaikanmu sungguh sangat mengharukan, sampai mati pun Siaute tak
akan melupakanmu."
Bong
Thian-gak tak bicara lagi, dia segera memayang
To Siau-hou dan membawanya ke balik
semak yang agak tersembunyi, lalu katanya, "Harap To-heng menunggu
di sini, Siaute akan segera mengejar Jit-kaucu, paling lambat satu
setengah jam aku akan balik ke sini."
"Tidak usah! Lebih
baik menemani aku saja di sini!"
"To-heng!" seru
Bong Thian-gak dengan suara
dalam. "Meski kau menganggap kematian bagaikan pulang ke rumah, tapi
pernahkah kau bayangkan kematianmu merupakan hilangnya seorang
Enghiong bagi dunia Kangouw? Pihak manusia laknat akan kehilangan
musuh tangguh?"
Air mata meleleh
membasahi wajah To Siau-hou,
serunya pelan, "Ko-heng, bila kepergianmu mengundang bencana bagimu
sendiri, dunia persilatan lebih-lebih akan kehilangan seorang
pendekar berjiwa ksatria, apa lagi dengan kematian kita berdua maka
tak ada yang tahu siapakah pembunuh kita itu."
"Tak usah kuatir,
To-heng," ucap Bong Thian-gak
sambil menahan rasa pedih dalam hati. "Aku tak bakal mati di tangan
Jit-kaucu, nah, aku pergi dulu."
Tidak menanti jawaban
To Siau-hou lagi, dia segera
melompat bangun dan berlalu dari situ dengan mengerahkan Ginkangnya.
Sejak dapat melihat
jelas raut muka Jit-kaucu, Bong
Thian-gak yakin dia adalah gadis yang pernah dijumpainya di
Kang-san-bi-jin-lau, maka dia segera mengerahkan Ginkangnya menuju
ke Kay-hong.
Tak lama kemudian
Bong Thian-gak telah masuk ke
kota Kay-hong, buru-buru dia menuju ke tempat hiburan dan berhenti
di luar rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau.
Setelah ragu sejenak,
dia membalik badan menuju ke halaman belakang, dari situ dia masuk
dengan melompati pagar, ketika tiba di luar loteng, ia saksikan
cahaya lentera menerangi seluruh ruangan, sesosok bayangan bertubuh
indah sedang duduk di dekat jendela.
Bong
Thian-gak memeriksa sekeliling tempat itu, ia jumpai
cahaya lampu pun menerangi hampir setiap jendela, suara pembicaraan
tiada hentinya berkumandang, tapi di halaman kecil yang terpencil
itu justru suasananya amat hening, tak seorang pun ditemukan di
situ.
Tanpa ragu lagi dia
melompat naik ke atas pagar loteng, agaknya perempuan cantik di
balik jendela telah mengetahui kedatangannya, dia menggoyang sedikit
kepalanya untuk berpaling, sementara tubuhnya masih tetap duduk di
kursi.
Setelah berdehem
pelan, Bong Thian-gak segera
menyapa, "Jit-kaucu di dalam?"
Perempuan cantik di
balik jendela tidak bergerak, tapi terdengar ia menegur dengan suara
sedingin es, "Kau adalah berandal hidung bangor, besar betul
nyalimu!"
"Jit-kaucu, aku bukan
berandal cabul...."
Tidak menanti
Bong Thian-gak menyelesaikan
kata-katanya, kembali perempuan itu mengumpat, "Kalau kau bukan
berandal cabul hidung bangor, mengapa di tengah malam buta mengintip
kamar tidur kaum wanita?"
